Terbang Harum Pedang Hujan 5

Eps 5 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

Wan Tian-pin mulai marah Dari jalanan gunung tampak datang seseorang seperti terbang, dari jauh dia terlihat seperti seekor kupu-kupu berwarna hijau.

Dia membawa sebuah keranjang.

Baju hijaunya tertiup angin melambai-lambai, benar-benar sangat indah.

Begitu Wan-hong datang, keranjang yang dibawanya segera diletakkan di bawah.

Di dalamnya berisi dua piring sayur, semangkuk mie, masih ada sepoci arak.

Tadi dia berlari kencang tapi mie yang berada di dalam mangkuk, arak yang ada di dalam poci tidak ada satu pun yang tumpah.

Wan Tian-pin membalikkan tubuh.

Xiao Nan-pin tampak berpikir, 'Mengapa gadis ini begitu baik kepada Kakak Nan?' Karena cemburu, dia marah tapi perasaannya tidak dikeluarkan.

Sejak ribuan tahun lalu, perempuan yang tidak merasa cemburu sepertinya tidak ada.

Wan-hong berjalan ke sisi jurang.

Dia mengangkat sebuah batu besar dan meletakkannya di depan Yi-feng, kemudian mengeluarkan sayur dan arak lalu ditaruh di atas batu.

Sambil tertawa dia berkata.

"Mungkin setelah kau masuk harus dalam jangka waktu lama baru bisa keluar dari sana. Di dalam sana tidak ada makanan, makanlah dulu, baru masuk...keadaan begitu terburu-buru, kalau tidak aku bisa memasak dulu untukmu."

Dia memberikan sumpit yang terbuat dari perak kepada Yi-feng.

"Sekarang cepatlah makan, jika sudah dingin tidak akan enak!"

Yi-feng melihat gadis naif ini. Dia menerima sumpitnya karena dia tidak tega menolak. Setelah menerima sumpit yang terlihat sangat berat ini, pelan-pelan dia berkata.

"Nona, terima kasih atas kebaikanmu!"

Kemudian dia membalikkan tubuh memberikan sumpit itu kepada Xiao Nan-pin dan berkata.

"Nan Pin, kau makanlah dulu!"

Tapi Xiao Nan-pin malah marah dan membalikkan tubuh. Yi-feng terpana. Tangan kiri ditarik seseorang, suara manja dan marah terdengar.

"Aku memberikan sumpit untukmu, untuk apa kau merasa sungkan?"

Xiao Nan-pin membalikkan tubuh, terlihat wajahnya yang dingin dan berkata.

"Siapa yang butuh? Aku tidak ingin makan."

Di dalam hati Yi-feng ingin tertawa, tapi mana mungkin tawanya bisa bertahan lama?

Dia memegang sumpit itu, melihat ada 2 orang gadis yang cemburu karenanya, melihat sayur yang dihidangkan di atas batu.

Sumpit terbuat dari perak, sinar matahari tampak berkilau.

Ini adalah sebuah pemandangan indah, tapi apakah bisa bertahan lama?

Karena itu Yi-feng menarik nafas.

Sumpit perak diletakkannya kembali ke atas batu dan berkata.

"Terima kasih Nona, tapi aku tidak bisa makan makanan ini."

Mata Wan-hong terlihat menjadi merah, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Wan Tian-pin sudah menyela.

"Tidak ingin makan, jangan dipaksa!"

Kemudian tangannya melayang, sayur, mie, dan arak berjatuhan dari atas batu kemudian dia menunjuk ke celah-celah gunung yang jaraknya hanya satu meter.

"Cepat masuk!"

Bentaknya Alis Yi-feng berkerut, dia mulai marah, tapi Xiao Nan-pin sudah memegangi tangannya.

"Apa sulitnya masuk ke dalam?"

Mereka melangkah tapi seseorang berbaju hijau menghalangi mereka. Dia membentak.

"Ayahku menyuruh dia masuk, untuk apa kau ikut masuk?"

Xiao Nan-pin melotot dan menjawab.

"Kau tidak perlu tahu!"

Kemudian dia berbalik kepada Yifeng.

"Mari, kita masuk sekarang, mati pun kita harus bersama."

Wan-hong tertawa dingin.

"Belum pernah aku melihat ada orang sepertimu, wajah jelek seperti itu masih memaksa ingin menuntun tangan orang. Apakah kau tidak takut orang itu tidak akan suka karenanya?"

"Apa maksudmu?"

"Maksudku adalah kau!"

Tiba-tiba Xiao Nan-pin tertawa keras.

"Kata-kata seperti ini baru kudengar, tidak disangka ada orang yang mengatakan kalau aku, Xiao Xiang Fei Zi adalah si jelek? Kakak Nan, apakah ini hanya sebuah lelucon?"

Kedua alis Yi-feng berkerut. Wan-hong tertawa tergelak-gelak.

"Kau memang tidak jelek, kau sangat cantik, cantik!"

Dia mengeluarkan sebuah cermin dari balik baju dadanya dan menaruhnya di depan Xiao Nanpin. Dengan penuh nada penghinaan dia berkata.

"Lihat sendiri, kau cantik atau jelek?"

Yi-feng dengan cepat menyambar cermin itu, tapi Wan-hong bergerak lebih cepat lagi.

Dia menaruhnya di depan Xiao Nan-pin.

Yi-feng bergerak lagi.

Dia merebut cermin itu diri tangan Wan-hong.

Sambil tertawa, Wan-hong meluncur kemudian tangannya melayang.

Dia melempar cermin itu ke arah Xiao Nan-pin dan berkata sambil tertawa.

"Lihatlah sendiri!"

Yi-feng ingin merebut kembali cermin itu, tapi dia merasa ada angin menyerang rusuknya.

Wan-hong dengan kukunya yang berwarna merah menyerang Yi-feng.

Kukunya berwarna merah maka tangannya terlihat sangat putih seperti giok.

Tangan ini menotok ketiak Yi-feng.

Yi-feng terkejut.

Kedua telapaknya keluar dan menepis pergelangan Wan-hong tapi Wan-hong tiba-tiba menarik kembali telapaknya.

Dia meluncur ke sisi dan berkata.

"Aku tidak mau berkelahi denganmu!"

Yi-feng sedikit terpana dan membalikkan tubuhnya.

Xiao Nan-pin yang saat itu sudah memegang cermin terus melihat ke cermin, sorot matanya membeku.

Wan Tian-pin tertawa dingin.

Apa yang terjadi di depan matanya, dia seperti tidak melihat juga tidak mendengar.

Hati seorang ayah, apalagi menjadi orang tua seorang gadis yang sedang jatuh cinta, tidak akan dimengerti Yi-feng.

Dia merasa aneh melihat sikap Wan Tian-pin, tapi keadaan ini tidak mengijinkannya banyak berpikir.

Dia berlari ke depan Xiao Nan-pin dan dengan lembut berkata.

"Nan Pin, jangan takut, luka di wajahmu hanya luka luar, nanti juga akan sembuh."

Pelan-pelan dia mengambil cermin yang masih dipegang Xiao Nan-pin.

Tapi Xiao Nan-pin memegang cermin sangat kuat seperti jepitan besi, sedikit pun tidak dikendurkan.

Wan-hong mengambil sepotong rotan kering, lalu memotongnya, sambil tertawa dia berkata.

"Kakak Nan, untuk apa kau harus terus membohonginya? Walaupun luka di wajahnya sudah sembuh, dia tetap akan bopeng."

Tadi dia mendengar Xiao Nan-pin memanggil Yi-feng dengan sebutan Kakak Nan, maka dia pun ikut-ikutan memanggil Kakak Nan.

Suara lembut dan merdu terdengar seperti manisnya madu.

Yi-feng berbalik melihatnya dengan pandangan marah.

Xiao Nan-pin tertawa terbahak-bahak, dia melempar cermin itu ke dinding jurang.

Yi-feng terkejut, kedua tangannya memegang Xiao Nan-pin.

"Nan Pin, ada apa denganmu?"

Xiao Nan-pin tertawa terus, air matanya terus mengalir turun.

Mengalir melewati wajahnya dan menetes ke bawah.

Air matanya berubah menjadi merah.

Dia memberontak dari pegangan Yi-feng.

Suara tawa berubah menjadi tangisan, suara tangisan seperti suara tawa kemudian mengeluarkan suara yang membuat orang sekalipun hatinya terbuat dari besi juga akan merasa sedih!

Xiao-xiang-fei-zi gadis tercantik di dunia persilatan, orang yang pernah berkelana di dunia persilatan pasti akan tahu kalau dia sangat cantik seperti dewi di langit, tapi sekarang....

Hati Xiao Nan-pin seperti rotan kering yang dipegang Wan-hong, sepotong demi sepotong, diputus lalu terjatuh ke tanah.

Dia sadar sekarang dia tidak pantas bersanding lagi dengan Yi-feng tapi kehangatan semalam yang dia rasakan masih terasa di hati Xiao Nan-pin.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Dunia begitu luas tapi tidak adajalan yang bisa dilaluinya.

Dalam kebingungan, dia seperti Fu-hu-jin-gang Ruan Da-cheng dan laki-laki lain yang pernah dihinanya, mereka akan menunjuknya sambil mengejek.

Bayangan orang-orang itu berputar-putar di otaknya, semakin berputar semakin cepat, akhirnya menjadi pusing.

Dengan terkejut Yi-feng melihatnya dan entah apa yang harus dia lakukan.

Wan-hong yang berdiri di pinggir jurang dengan termangu melihat kejadian ini.

Dia merasa sedikit menyesal...dia seorang gadis polos.

Tie-mian-gu-xing-ke tertawa dingin.

"Hari sudah siang, masuklah! Apa yang kupesan setelah sebulan nanti, kalau kau tidak mau kau masih ada kesempatan untuk memilih lagi."

Tiba-tiba Xiao Nan-pin dengan tangan berlumuran darah menutupi wajahnya sambil menangis. Dia berlari dengan cepat dari sana. Yi-feng menghalanginya.

"Nan-pin, apa yang kau lakukan? Apa pun bentuk wajahmu, aku... aku akan tetap suka padamu."

Tapi Xiao Nan-pin malah menangis semakin sedih.

Sebenarnya banyak hal yang ingin dia ungkapkan, tapi kata-kata itu tersumbat di tenggorokannya, tidak ada satu kata yang bisa keluar.

Akhirnya dengan sedih dia berkata.

"Kakak Nan, kau... kau... kau masuklah! Asalkan kau tidak mati... aku... aku pasti akan menjadi istrimu. Kemarin malam... aku... bukankah aku sudah menyerahkan semuanya padamu?"

Wan Tian-pin tertawa dingin, dia berlari menghampiri mereka dan berkata.

"Mungkin kau hanya mimpi? Kemarin malam bocah tengik ini berada...."

Kata-katanya belum selesai, tangan kiri Yi-feng menepis ke arah wajah, tangan kanannya menyerang ke dada Wan Tian-pin.

Tenaga telapaknya sangat kuat seperti harimau gila!

Karena semua serangan yang dilancarkan ini adalah serangan terhebat, maka Wan Tian-pin yang berilmu silat tinggi pun, sekarang terpaksa harus berhenti untuk menghindar.

Serangan Yi-feng tidak mengenai sasaran, dia tidak memberi kesempatan pada Wan Tian-pin bernafas.

Dia menyerang tubuh Wan Tian-pin.

Wan Tian-pin tertawa dingin, kakinya membentuk kuda-kuda, lengan baju dilambaikan, beberapa serangan berhasil Yi-feng dihindari.

Yang perlu diketahui, Yi-feng memang bukan lawan Wan Tian-pin.

Di Wu-liang-shan walaupun Yi-feng bisa menekan Wan Tian-pin, itu semua dikarenakan saat itu Wan Tian-pin terluka dan tenaganya belum pulih.

Sekarang tenaga Wan Tian-pin sudah pulih.

Semenjak dia meminum darah Xu-bai yang mengandung obat mujarab, ilmu silatnya maju pesat.

Dia tidak takut kepada Yi-feng.

Sesudah beberapa kali menyerang, Yi-feng mulai tidak kuat.

Dengan dingin Wan Tian-pin berkata.

"Perempuan itu sudah pergi untuk apa kau mempertaruhkan nyawa? Aku benar-benar tidak mengerti laki-laki sepertimu terlihat pintar tapi sekarang menjadi begini bodoh? Yang mana yang benar, yang mana yang salah, kau tidak bisa membedakannya."

Yi-feng masih terus menyerangnya tapi matanya terus mencari Xiao Nan-pin. Bayangan Xiao Nan-pin sudah tidak terlihat.

"Apakah kau ingin kabur?"

Lengan bajunya berkibar, tenaga telapak menghasilkan angin kencang membuat Yi-feng harus terus mundur. Sekarang ingin membalas pun sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Wan Tian-pin membentak.

"Kau ingin mati atau hidup?"

Yi-feng meraung dan menyerang lagi tapi pergelangannya tiba-tiba dipegang kuat oleh Wan Tian-pin.

Sekarang mata Yi-feng terlihat mengeluarkan api, mata merahnya terus melihat Wan-hong, kemudian dengan marah membentak.

"Semua gara-garamu, maka berakhir seperti ini!"

Dia ingin melepaskan tangan kanannya tapi tangan itu seperti dijepit oleh penjepit besar, kemudian nadi pergelangannya terasa mati rasa dan tenaga di sekujur tubuhnya serasa menghilang.

Tie-mian-gu-xing-ke terkenal dengan tenaga telapaknya.

Tenaga tangannya sangat mengejutkan, Yi-feng yang dipegang erat olehnya, tentu saja tidak akan bisa terlepas dari cengkramannya.

"Kau ingin mati atau hidup?"

Tanya Wan Tian-pin lagi Sorot mata Yi-feng berkobar seperti api melihat Wan Tian-pin, bibirnya terkatup rapat.

Seumur hidup Tie-mian-gu-xing-ke, dia telah membunuh banyak orang tapi melihat sorot mata Yi-feng sekarang, dia juga terkejut.

'Orang ini bersifat sangat keras, jika hari ini aku melepaskannya kelak dia pasti akan berusaha membalas dendam kepadaku.' Di mata Wan Tian-pin terlihat ada aura membunuh, pelan-pelan dia mengangkat tangan kiri dan memukul wajah Yi-feng.

Tapi baru saja telapaknya dikeluarkan, Wan-hong berlari menghalangi serangan telapak ayahnya.

Dengan manja dia berkata.

"Ayah, lebih baik kurung dia saja di dalam gua itu, biar dia bisa berpikir jernih di dalam sana. Mungkin... mungkin nanti dia bisa menjadi murid ayah."

Diam-diam Tie-mian-gu-xing-ke menarik nafas, dia tahu putrinya sudah jatuh cinta pada Yifeng.

Seumur hidup dia sering menyalati hati banyak orang, sekarang dia tidak ingin putrinya merasa sedih.

Karena itu pelan-pelan dia menarik kembali tangannya.

Kedua mata Yi-feng terlihat masih dipejamkan, dia tidak peduli apakah dia akan mati atau hidup.

Wan Tian-pin mengeluh, tangan kirinya mencengkram pergelangan tangan Yi-feng dan menarik Yi-feng ke celah-celah gunung kemudian menotok nadi punggungnya, lalu mendorong Yi-feng masuk ke celah gunung.

Wan-hong melihat ayahnya mendorong laki-laki yang dicintai ke dalam celah-celah gunung, lalu mendorong 2 bongkah batu besar, sepertinya memang sudah dipersiapkan untuk menutupi celah itu karena ukurannya sangat pas.

Kedua batu besar ini beratnya mungkin ada ribuan kilogram.

Tie-mian-gu-xing-ke yang tersohor di dunia persilatan ketika mendorong batu itupun harus sekuat tenaga, apalagi Yi-feng yang saat itu sudah ditotok, mana mungkin dia bisa membukanya.

Tie-mian-gu-xing-ke menaruh 2 bongkah batu besar lagi di luar.

Wan-hong menundukkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu.

Hari di musim dingin lebih pendek, sekarang matahari sudah terbenam, angin gunung semakin kencang berhembus dia merasa dingin.

Ketika Wan-hong sedih, ayahnya tertawa.

"Hong-er, kau tidak perlu bersedih, 5-6 hari kemudian, ketika dia mulai lapar, aku akan melepaskannya. Anak bodoh, masak ayah tidak tahu apa yang kau pikirkan?"

Wan-hong tetap menundukkan kepalanya tapi wajahnya menjadi merah dan dengan malu-malu dia masuk ke dalam pelukan ayahnya.

"Apa yang ayah tahu, apakah ayah tahu aku sedang memikirkan apa?"

Tapi dia tetap bertanya.

"Ayah, totokan tadi jika dalam waktu lama tidak dibuka apakah akan membuatnya terluka?"

Wan Tian-pin tertawa terbahak-bahak.

"Anak bodoh, kau tenang saja! Ayah tahu sampai di mana batasnya, tidak sampai 2 jam nadinya akan terbuka sendiri."

Perampok besar ini sekarang tertawa senang.

Dia menjawab pertanyaan putrinya kalau totokan Yi-feng harus 2 jam lagi baru terbuka.

Sebenarnya setelah setengah jam pun, nadinya akan terbuka dengan sendirinya, hanya saja aliran darah orang ini memerlukan waktu satu bulan baru bisa berjalan lancar kembali.

Maka walaupun Yi-feng mempunyai 'Tian-xing-mi-ji' dia tetap tidak bisa belajar di dalam gua.

Seumur hidup Wan Tian-pin berkelana di dunia persilatan, dia sangat teliti dan sangat cerdik, jarang orang bisa menandinginya, dan dia juga terkenal karena tenaga telapaknya.

Dia sangat percaya kalau totokannya telah mencapai tahap tertinggi maka semua tidak akan menjadi masalah.

Dia bisa menguasai tenaga totokannya.

Tapi orang cerdik dan berpengalaman banyak dalam hal ini sama sekali tidak menyang-ka kalau orang yang ditotoknya tadi tidak membutuhkan waktu sampai 2 jam untuk membuat nadinya terbuka.

--BAB 57 Seperti Mimpi bisa bertemu kembali Tangan Yi-feng yang dicengkram, dan pinggangnya ditotok oleh Tie-mian-gu-xing-ke, Yi-feng sama sekali tidak berdaya.

Dia didorong masuk ke celah gunung, kemudian terdengar suara berat yang bergeser, ternyata mulut celah gunung itu telah ditutup oleh sebuah batu besar.

Hanya ada sedikit cahaya langit yang masuk melalui celah kecil pegunungan, di dalam gelap seperti di dalam liang kuburan.

Sampai-sampai jari sendiri pun tidak terlihat.

Nadinya ditotok, tubuhnya tidak bisa bergerak, darah pun tidak bisa mengalir dengan lancar, tapi dia masih sadar, pikirannya kacau.

Dalam kegelapan, wajah Xiao Nan-pin seperti seribu jurus menyerangnya, wajahnya yang cantik seperti bunga, tawanya yang manis.

Tapi terlihat ada darah di wajahnya, membuat siapa pun yang melihatnya menjadi tidak tega.

Tapi wajah itu tetap memiliki mata yang sama yaitu mata yang selalu menatapnya dengan lembut dan penuh kesedihan.

Yi-feng sendiri tidak tahu bagaimana perasaan sebenarnya kepada Xiao Nan-pin?

Tapi dia tahu dengan jelas kalau Xiao Nan-pin sangat mencintainya.

Selama beberapa tahun ini, hatinya seperti sebatang pohon layu, perasaan hangat ini malah menjadikannya beban yang berat.

Menekan ke segenap penjuru dirinya, hatinya seakan siap meledak.

Sewaktu Xiao Nan-pin pergi sambil menangis dan tertawa, sampai sekarang suara itu terus terngiang di sisi telinganya, 'Nan Pin, kau pergi ke mana?' Yang paling parah, sekarang dia tidak bisa bergerak sama sekali, hanya berbaring di gua gelap dan juga lembab, keadaan di sana sangat menyeramkan.

Mungkin jika tiba-tiba saja ada ular yang menjalar keluar dan siap mematuknya, dia juga tidak akan bisamelawan...

Sekalipun dia bisa menghindari patukan ular dan serangan binatang lainnya, tapi bagaimana caranya dia bisa keluar dari gua ini?

Dia mulai berkhayal, sewaktu dia sedang kelaparan dan tubuhnya lemas, Tie-mian-gu-xing-ke sambil tersenyum berdiri di depannya, dan menyuruhnya menuruti semua perintahnya.

Dia sadar lebih baik dia memilih mati daripada harus menuruti persyaratan Tie-mian-gu-xing-ke.

Kalau seseorang telah menentukan hidup dan matinya, nasib selanjutnya dia sudah tidak peduli lagi.

Karena itu sekarang dia hanya memejamkan matanya, mendengar bunyi detak jantungnya sendiri, 'Kapankah suara ini akan berhenti?"

Dia tersenyum.

Tiba-tiba dia teringat sewaktu dia kecil dulu, dia pernah mendengar sebuah cerita, ceritanya kira-kira seperti ini.

ada seorang kaya membawa semua hartanya pergi bertamasya ke padang pasir, dengan uang ini dia berniat membangun sebuah tempat yang selalu dia impikan selama ini.

Bagi siapa pun, dia dianggap sebagai seorang yang beruntung karena dia mempunyai harta yang banyak dibandingkan dengan orang lain.

Dan orang ini selalu menyombongkan dirinya sendiri.

Tapi suatu ketika, ternyata uangnya tidak berguna lagi, karena di padang pasir itu tidak ada air juga tidak ada makanan.

Karena itu orang yang menganggap uang adalah segalanya, di padang pasir mati dengan ditemani hartanya yang banyak, karena dia tidak bisa makan dan juga tidak bisa minum.

Yi-feng tidak tahu mengapa tiba-tiba dia memikirkan cerita ini.

Cerita ini didengarnya sudah sejak lama, di malam terang bulan purnama, dia duduk di sebuah kursi kecil yang terbuat dari anyaman bambu.

Seorang pak tua menceritakan kisah ini kepadanya, banyak bagian yang telah terlupakan, tapi dia merasa dia seperti orang kaya yang ada di dalam cerita itu.

Sejak kecil dia telah belajar ilmu silat, dia menganggap asalkan mempunyai ilmu sila tinggi, maka semua hal yang tidak disukainya tidak akan menimpanya.

Walaupun sampai menimpanya, dengan kemampuan ilmu silatnya dia mampu mengatasinya.

Terakhir dia tahu kalau di dunia ini banyak hal yang tidak bisa dibereskan dengan ilmu silat.

Seperti halnya tidak selalu dengan uang bisa mengatasi semua masalah.

Sekarang dia terkurung di dalam gua ini, di dalam bajunya tersimpan kitab rahasia Tian-xingmi-ji' yang diinginkan oleh banyak orang.

Sekarang ini membaca pun dia tidak sanggup.

Dalam kitab Tian-xing-mi-ji' disebutkan cara membuka totokan nadi sendiri.

Tapi sekarang dia merasa dia sangat tidak berguna.

Semakin dipikir, dia malah merasa semakin kacau.

Tiba-tiba dia merasa cerita tadi tidak mirip dengan nasibnya, lebih mirip dengan cerita lainnya.

Dia merasa tiba-tiba saja Xiao Nan-pin berada di depannya, lalu tiba-tiba melihat tawa Wan Tian-pin yang sadis....

Di dunia ini hal yang paling sulit dikuasai adalah pikiran manusia.

Banyak keresahan yang timbul di dunia ini, semua ini terjadi karena pikiran manusia sendiri, ada hal yang tidak perlu dipikirkan malah dipikirkan, yang harus dipikirkan malah tidak dipikirkan.

Yi-feng pun seperti ini, semakin ingin menenangkan pikirannya, hal yang dipikirkannya semakin banyak.

Sewaktu dia sedang merasa kacau, di dalam gua itu tiba-tiba terdengar suara langkah orang.

Karena Yi-feng tergeletak di bawah, maka dia bisa mendengarnya dengan jelas.

Suara langkah itu terdengar pelan, tapi semakin jelas, berarti orang itu ada di depan.

Yi-feng yang pikirannya sedang kacau tadi, sekarang beban di pundaknya serasa menghilang, berganti dengan kecurigaan, 'Mengapa di dalam gua ini terdengar ada langkah orang?

Apakah itu langkah binatang buas yang mencium bau manusia., .mungkin Wan Tian-pin tahu ada binatang buas tinggal di sini maka dia mengurung-ku di sini dan menotokku terlebih dulu supaya aku lebih mudah dimakan binatang buas.

Tangannya berlumuran darah, dia tidak ingin putrinya melihat dia membunuhku!' Dia merasa hatinya menjadi dingin, punggungnya yang menempel ke tanah pun ikut merasa dingin.

Dia melihat ke dalam, gua yang tadinya gelap, sekarang tiba-tiba ada cahaya terang, cahaya itu mengikuti langkah yang datang.

Dia menertawakan kebodohannya sendiri, dan tahu kalau suara langkah tadi bukan langkah binatang buas, karena binatang tidak mungkin bisa membawa lampu.

"Tapi siapa yang datang?"

Dia ingin berbalik untuk melihat, tapi dia tidak sanggup, terpaksa dia hanya bisa menatap ke atas.

Gua panjang itu mulai terlihat bayangan seseorang, dia memegang sebuah lampu.

Di tempat gelap seperti ini terlihat sangat terang.

Dia memejamkan matanya, kemudian membuka matanya lagi, bayangan orang itu sudah ada di depan mata.

Dengan bantuan cahaya lampu, dia melihat siapa yang datang.

Ternyata dia seorang perempuan, memakai sepatu yang disulam, mengenakan celana berwarna ungu, setelah melihat ke atas lagi, terlihat ada tangan putih membawa lampu yang terbuat dari tembaga.

Yi-feng terkejut, dia berharap perempuan yang dilihatnya di dalam gua ini bisa maju selangkah lagi, supaya Yi-feng bisa melihat lebih jelas siapa perempuan itu.

Tapi begitu perempuan itu berjalan ke depannya, dia berhenti dan tidak jadi melangkah.

Dengan cara apa pun Yi-feng tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu.

Terdengar perempuan itu berteriak, dia berlari mendekati Yi-feng dan berlari ke mulut gua, dia berusaha mendorong batu besar itu.

Batu besar menutupi mulut gua, dia merasa aneh.

Sekarang Yi-feng bisa melihat dengan jelas sosok perempuan itu.

Tapi hanya melihat kalau rambut perempuan itu digelung tinggi dan dibungkus dengan kain berwarna ungu.

Dia juga mengenakan baju berwarna ungu.

Tapi baju yang dipakainya longgar tidak sesuai dengan tubuhnya yang ramping.

Yi-feng semakin merasa aneh, terdengar perempuan itu menghela nafas, dengan pelan dia membalikkan tubuhnya.

Hati Yi-feng tergetar, dia memejamkan mata, tadinya dia ingin melihat wajah orang yang datang.

Tapi sekarang ini dia tidak berani melihatnya, dia takut begitu perempuan itu membalikkan tubuhnya, wajahnya berupa tengkorak.

Terdengar perempuan itu berteriak, lampu yang dipegangnya terjatuh.

Yi-feng ikut merasa terkejut dan membuka matanya.

Gua kembali gelap.

Sosok perempuan itu sama sekali tidak terlihat.

Banyak yang ingin ditanyakan oleh Yi-feng, tapi dia tidak bisa bicara, diam-diam dia berpikir.

"Mungkin perempuan itu melihat di dalam gua ada seseorang, maka dia pun terkejut, melihat caranya berjalan, ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi. Kalau dia menganggap aku adalah penjahat, dan tanpa bertanya langsung membunuhku...hhhh, aku berkelana di dunia persilatan, beberapa kali hampir mati, tapi aku berusaha berjuang untuk tetap hidup. Sekarang kalau tanpa tahu apa pun tiba-tiba saja mati di tangan perempuan ini, aku sungguh tidak rela."

Yi-feng memang tidak siap untuk mati sekarang tapi kalau sekarang ini dia benar-benar harus menghadapi kematian, dia masih menyimpan banyak pertanyaan.

Ini adalah salah satu kelemahan manusia.

Yi-feng adalah manusia, dan t idak terkecuali akan mengalami hal ini.

Dalam kegelapan, terdengar desah nafas perempuan itu berat, itu dikarenakan hatinya sedang bergejolak.

Yi-feng merasa aneh, mengapa perempuan itu bisa begitu?

Dia mendengar gemerisik baju, ternyata perempuan itu masuk ke dalam gua.

Di antara suara derap larinya, masih terdengar nafas perempuan itu semakin berat.

Hanya sebentar, suara itu tertelan ke dalam gua.

Gerakan itu di luar dugaan Yi-feng, dia tidak menyangka kalau perempuan itu tiba-tiba saja meninggalkannya, sampai satu kata pun belum sempat ditanyakan.

Dalam keadaan seperti itu, kelakuan perempuan itu memang tidak masuk akal.

Yi-feng terus memikirkannya, tapi dia tidak berhasil memperoleh jawabannya.

Sewaktu hatinya sedang dilanda keanehan, dari dalam gua terdengar ada yang datang lagi, kali ini langkah kakinya lebih cepat dan lebih jelas.

Yi-feng dengan berkonsentrasi penuh mendengarnya, kecuali suara langkah kaki, masih terdengar ada suara anak yang bicara, anak itu sepertinya belum lancar berbicara.

Saat Yi-feng masih terus berpikir, suara langkah itu sudah berada di depan, dari desir angin yang terasa, Yi-feng mencium harum lembut dan manis.

Bayangan itu berdiri di sisinya, terlihat dia menggendong seorang anak balita.

Sosok itu berdiri dengan lama, kemudian dia berjongkok dan menjulurkan tangannya.

Satu tanganya memegang Yi-feng, kemudian dia membalikkan tubuh Yi-feng.

Terdengar suara BUG sebanyak 5 kali, ternyata dengan cepat dia menepuk punggung Yi-feng.

Yi-feng terkejut, dan berpikir, 'Celakalah aku!' tapi seiring dengan dahak kental yang dikeluarkannya, dia merasa darah di sekujur tubuhnya mulai mengalir dengan lancar.

Dia terpana, dia berdiri, dan sosok orang itu masih berdiri dengan diam di depannya.

--Di dalam gua tidak terdengar suara apa pun.

Anak yang berada dalam gendongan perempuan itu sepertinya masih belajar bicara.

Tiba-tiba...

Perempuan itu menyalakan korek api.

Yi-feng terkejut dan melihat wajah perempuan itu.

Saat itu juga dia merasa bumi dan langit terus berputar.

Otaknya terasa kacau, dia hampir tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri.

Karena orang yang berdiri di depannya dan sedang menggendong seorang bayi gemuk adalah Xiao-hun-fu-ren...Xue Ruo-bi!

oo BAB 58 Kehidupan seperti ini Api dari korek memang tidak terlalu terang tapi cukup untuk membuat mereka bisa melihat dengan jelas.

Cahaya api memantul ke dinding gua, membuat dinding gua yang ditumbuhi lumut memancarkan cahaya hijau yang menyeramkan, seperti warna wajah Yi-feng sekarang.

Dia melihat perempuan itu tanpa berkedip, dia melihat perempuan yang telah membuatnya kehilangan semangat hidup.

Sepasang tangannya gemetar.

Anak yang berada dalam gendongan Xue Ruo-bi terus menatap Yi-feng, kemudian dia menangis.

Kedua mata Yi-feng tampak merah, dia melihat Xue Ruo-bi, pandangannya turun ke tubuh Xue Ruo-bi yang dulu terlihat langsing sekarang menjadi gemuk.

Setelah dilihat dengan lebih teliti, ternyata dia sedang hamil.

Hal ini membuat hati Yi-feng merasa sakit seperti hampir meneteskan darah, tapi Xue Ruo-bi tertawa dan berkata.

"Nan Ren, pasti kau tidak menyangka akan bertemu denganku di sini bukan? Jangan bersikap seperti itu melihatku..."

Yi-feng membentak.

"Kau masih berani menemuiku?"

Karena hatinya terlalu sakit dan masih bergejolak, membuat Yi-feng tidak bisa menahan diri, dalam keadaan seperti ini siapa yang mampu menahan dirinya?

Tangan kiri Xue Ruo-bi menggendong anak, tangan kanannya memegang korek, dia meluncur ke sisi dari berkata.

"Nan Ren, mengapa kau jadi seperti ini? Begitu galak kepadaku? Kau mengejutkan putra-mu sendiri!"

Kata-kata ini seperti anak panah yang menusuk ke jantung Yi-feng, waktu itu juga dia merasa darah di seluruh tubuhnya membeku, pelan-pelan dia membalikkan badan dan mem-bentak.

"Apa yang kau katakan barusan?"

Xue Ruo-bi menggoyang-goyang anak yang ada di dalam pelukannya, dengan lembut dia berkata.

"Xiao Nan, jangan menangis, ini ayahmu, ayo tertawalah kepada ayahmu..."

"Apa yang kau katakan!"

Bentak Yi-feng Dia berjalan mendekati Xue Ruo-bi dengan perlahan. Xue Ruo-bi tertawa, pelan menjawab.

"Ini adalah putramu, sekarang usianya sudah 3 tahun, tapi dia belum pernah bertemu dengan ayahnya!"

Tangan kirinya mengangkat anak yang ada di dalam gendongannya, lalu menyorongkannya ke depan Yi-feng.

Anak itu merentangkan tangannya dan berhenti menangis.

Dia masuk ke dalam pelukan Yi-feng.

Yi-feng masih terpaku, hatinya terasa kosong.

Terpaksa dia menerima uluran tangan anak itu, terdengar Xue Ruo-bi tertawa dan berkata.

"Lihat, Xiao Nan sangat pintar, dia bisa langsung mengenali ayahnya!"

Tangan kirinya membereskan rambutnya, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke tempat lebih dalam.

"Di sini sangat gelap, ayo ikut denganku, kalau tidak Xiao Nan akan ketakutan."

Yi-feng masih terpana dan masih menggendong anak itu, anak itu tertawa dengan polos kepadanya.

Sepasang tangannya terus digoyang-goyangkan, dia seperti telah mengenal Yi-feng, dengan cepat Yi-feng melangkah ke depan dan membentak.

"Ruo...Xue Ruo-bi, apakah kau berniat menipuku lagi?"

Xue Ruo-bi terus berjalan dengan cepat, kemudian terdengar suara sengau keluar dari hidungnya.

"Kau boleh menghitungnya, sewaktu aku meninggalkanmu, sudah berapa besar anak ini?"

Yi-feng menggendong anak ini dengan erat, dia tidak bisa menerima hal ini.

Tapi perasaan yang terjalin antara ayah dan anak tidak bisa dibiarkan begitu saja, hal ini membuatnya lupa akan segala hal.

Dia melang-kah ke depan, tapi Xue Ruo-bi sudah berputar, masuk ke sebuah gua yang luasnya sekitar 50-60 meter.

Hidup manusia benar-benar aneh.

Di dalam gua ini, Xue Ruo-bi mengubah nasib Yi-feng, sekarang dia bercanda lagi dengan Yi-feng.

Dengan bengong dia melihat anak yang ada di dalam gendongannya.

Anak ini adalah darah dagingnya.

Tapi anak ini terlahir dari seorang perempuan cabul.

Sekarang perempuan ini sedang mengandung lagi.

Anak yang dikandungnya adalah darah daging orang yang paling dibencinya.

Siapa yang bisa memberitahukan Yi-feng, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Dalam keadaan seperti itu Yi-feng pasti merasa kebingungan.

Dia berdiri dengan terpaku di tengah gua.

Xue Ruo-bi memasang api di sebuah lampu yang tergantung di dinding gua dan langsung memadamkan korek api.

Pelan-pelan dia berbaring di atas ranjang dan tertawa, berkata.

"Sekarang kau harus percaya kalau anak ini adalah anakmu tapi...aku merasa aneh mengapa kau bisa berada di sini? Dan kau ditotok pula, mulut gua ditutupi dengan sebuah batu besar. Saat aku melihat yang terbaring di gua adalah kau, aku benar-benar merasa terkejut."

Di dalam hati Yi-feng merasa sangat marah.

Dulu dia benar-benar buta.

Setelah dilihat-lihat orang seperti ini dijadikan sebagai istrinya.

Sekarang dia telah menyadari, kecantikan dari dalam hati jauh lebih baik dibandingkan dengan kecantikan di luar.

Pelajaran ini dia dapatkan dengan cara yang sangat pahit!

Dia melihat perempuan yang pernah dicintainya yang sekarang sedang berbaring di atas ranjang yang terbuat dari batu.

Hatinya panas dan berpikir, 'Tadi dia melihatku tapi dia tidak berani menatapku langsung karena dia tahu kalau aku akan membunuhnya, maka dia segera membawa anak ini...aku memang membencinya, tapi bagaimana aku bisa membunuh ibu dari putraku?' "Xue Ruo-bi, kau masih tetap cantik seperti dulu, tapi hatimu lebih jahat dibandingkan dulu.

Oh Tuhan, mengapa Kau selalu membiarkan masalah semacam ini menimpaku?

Bukankah ini tidak adil bagiku?"

Xue Ruo-bi membalikkan tubuh, sambil tertawa dia berkata.

"Hei, mengapa kau tidak bicara? Jangan lupa kalau aku sudah menolongmu. Jika tadi aku berniat membunuhmu, itu akan sangat mudah, jika aku tidak menolongmu apakah kau bisa bertahan hidup lama di sana? Kau... kau benar-benar tidak mempunyai hati nurani. Kau tidak tahu berterima kasih kepadaku."

Yi-feng menekan kemarahannya katanya.

"Di mana suamimu, Xiao-wu? Kau tidak ikut dengannya malah datang kemari, untuk apa?"

Xue Ruo-bi duduk di atas ranjang. Wajah yang tadinya penuh dengan tawa, sekarang tiba-tiba seperti tertutup salju. Dengan marah dia bertanya kepada Yi-feng.

"Untuk apa kau bertanya tentangnya?"

Yi-feng tertawa dingin.

"Jika bukan aku yang bertanya, lalu siapa yang akan bertanya? Dia sudah menghancurkan keluargaku, merebut istriku, apakah aku harus berterima kasih kepadanya karena berkatnya aku bisa melihat isi hatimu yang cabul dan jahat. Jika bukan karena dia, seumur hidup aku harus tinggal bersama dengan orang seperti dirimu."

Cahaya lampu menyinari wajah Xue Ruo-bi yang cantik.

Wajah itu seperti bunga, alisnya melengkung seperti gunung, matanya bening seperti air, tertutup oleh bulu mata yang lentik, bibirnya merah dan kecil, hidungnya mancung.

Ini adalah gambaran Xiao-hun-fu-ren Xue Ruo-bi, benar-benar cantik tapi sorot matanya sekarang terlihat tidak tenang.

Raut wajahnya pun terlihat berubah-ubah.

Dia adalah seorang perempuan yang sulit ditebak isi hatinya.

Dia menarik nafas panjang, mengulurkan tangannya yang putih seperti giok untuk menghapus air mata di sudut matanya, dia berkata.

"Nan Ren, aku tahu kau sangat membenci-ku tapi kau harus bisa memaafkanku. Aku hanya seorang perempuan lemah, ilmu silatku pun tidak tinggi, mana mungkin aku bisa melawan Xiaowu. Apalagi...waktu itu kau tidak ada di rumah. Nan Ren, kita sudah lama menjadi suami istri, banyak hal yang harus kusampaikan kepada-mu. Apakah kau tahu, aku... aku., dalam hatiku... masih...."

Kemudian perempuan cantik ini mulai menangis.

Dia tampak sedih, sampai-sampai pundaknya terus bergetar karena menangis.

Yi-feng melihat pundak yang bergetar karena menangis, dia malah merasa membencinya, tapi ada perasaan tertentu yang sulit diungkapkan.

Anak yang berada dalam gendongannya menangis.

Hati Yi-feng seperti besi, dia juga tahu kalau perempuan yang sedang menangis di ranjang itu, dari luar tampak seperti sedang menangis tapi di dalam hatinya pasti sedang menyusun rencana lain.

Tapi tangisan kedua orang ini membuat hatinya kacau.

Ingin menolak permintaan dari mantan istri adalah hal yang sangat menyedihkan.

Hatinya benar-benar berat.

Dia menjulurkan sepasang tangannya yang pernah mengalahkan banyak pesilat tangguh, menepuk-nepuk anak kecil yang terlihat polos dan lucu ini.

Dia ingin mengucapkan sesuatu tapi entah apa yang harus dia katakan kepada anak ini.

Terpaksa dia berjalan pelan-pelan mendekati ranjang.

Tiba-tiba Xue Ruo-bi terduduk di ranjang sambil menghapus air matanya, dia berkata.

"Aku tidak mau tahu apakah kau masih menginginkanku atau tidak. Kita terkurung di sini. Batu di mulut gua itu sangat berat, kita berdua tidak akan sanggup menggesernya dan... jujur kukatakan padamu, aku juga tidak ingin hidup lagi. Tapi mungkin Tuhan masih mengasihaniku, Dia membiarkan aku bisa bertemu denganmu di sini. Aku... aku tidak ingin mendengar perkataaan yang tidak enak, jika kau masih begitu membenciku, bunuh saja aku!"

Melihat anak yang berada dalam pelukannya, dia menarik nafas berat.

Seumur hidup dia telah banyak menemui kesulitan tapi belum pernah sesulit sekarang.

Dia terus berpikir, anak yang berada dalam pelukannya sudah berhenti menangis.

Dia menjulurkan sepasang tangannya yang kecil dan mengelus-elus wajah Yi-feng yang tampan dan terlihat sedikit lelah.

Sepasang tangan ini seperti membawa tenaga sangat besar, membuatnya kembali bersemangat untuk hidup.

Yi-feng mengangkat kepalanya, melihat dia dan berkata.

"Apa di sini masih ada makanan?"

Xue Ruo-bi mengangguk. Wajahnya terlihat marah dan berkata.

"Nan Ren, apakah kau tahu tempat apa ini? Ini adalah tempat di mana Xiao-wu bermain perempuan. Perempuan-perempuan yang didapatnya di luar sana akan dibawanya kemari. Dia mengira aku tidak tahu perbuatannya."

Yi-feng melihat perempuan yang dari luar terlihat cantik tapi hatinya jahat, dia merasa ingin muntah. Terdengar dia berkata.

"Tapi aku sama sekali tidak menyangka perempuan yang semalam dibawanya..."

Dengan perasaan benci dia mengeluarkan sehelai sapu tangan dan berkata.

"Perempuan itu Xiao Nan-pin." --BAB 59 Xu-bai hidup kembali Yi-feng merasa di sisi telinganya ada yang menyalakan petasan. Dia segera menyambar sapu tangan itu. Sapu tangan itu berwarna hijau muda, di ujung sapu tangan tersulam huruf 'Nan-pin' dengan benang berwarna biru tua. Xue Ruo-bi memeluk anak yang masih menangis sambil mengomel.

"Ketika aku datang kemari, ranjang ini tampak berantakan dan aku memungut sapu tangan yang terjatuh di bawah ranjang ini. Ternyata sapu tangan ini milik Xiao Nan-pin..."

"Diam!"

Bentak Yi-feng Dengan terkejut Xue Ruo-bi melihat Yi-feng. Yi-feng menghembuskan nafas terpaksa berkata.

"Hal memalukan ini jangan dibicarakan terus di depanku."

Sekarang dia tidak berniat menutupi perasaannya lagi.

Otot di wajahnya terus bergetar.

Tidak ada bahasa di dunia ini yang bisa melukiskan kebenciannya kepada Xiao-wu!

Tapi Xue Ruo-bi sama sekali tidak mengerti apa yang Yi-feng pikirkan.

Sekarang dia sedang mengayam sebuah jala perasaan berwarna merah muda, sekali lagi dia ingin menjerat orang yang pernah mencintainya masuk kembali ke dalam jala.

Gua misterius ini sepertinya sudah diatur, karenanya kebutuhan sehari-hari tampak lengkap dan tersimpan di kolong tempat tidur yang terbuat dari batu.

Sebotol asinan mentimun, sebuah paha daging matang, masih ada daging dari dada rusa, dua ekor ayam, 4 ekor bebek, ditambah seguci arak yang masih disegel, dan sebotol air bersih.

Semua ini sudah diatur oleh ketua Tian-zheng-jiao, sedemikian teliti dan sempurna.

Xue Ruo-bi membereskan makanan itu dengan teliti.

Dia ingin membawa Yi-feng kembali ke masa lalu.

Tapi Yi-feng tidak bereaksi apa-apa.

dalam hati dia terus berpikir, 'Makanan ini hanya cukup untuk bertahan hidup selama 20 hari lebih.

Bila dalam waktu 20 hari aku bisa belajar ilmu 'Tianxing-mi-ji'.

Setelah 20 hari Wan Tian-pin jika tidak mengingkari janjinya...' Dia tersenyum, senyuman ini terlihat sangat sedih.

Dua orang di dalam gua, masing-masing mempunyai pikiran berbeda.

Anak itu melihat ayah dan ibunya dengan matanya yang polos.

Dia tidak menyimpan dendam atau pun budi.

bukankah dia adalah orang yang paling berbahagia di dunia ini?

Kecuali bermain dengan putranya, Yi-feng hanya diam.

Dia tidak ingin melihat Xue Ruo-bi atau mengajaknya berbicara.

Setelah Xue Ruo-bi dan anaknya tertidur.

Yi-feng baru mengeluarkan Tian-xing-mi-ji, lalu dengan bantuan sinar lampu dia mulai membaca.

Kadang-kadang dia berdiri untuk memperagakan jurus-jurus yang ada di dalam buku, kemudian duduk kembali dengan perasaan senang.

Selama 3 hari ini, dia telah mempelajari banyak jurus silat yang belum pernah dipelajari sebelumnya.

Selama 3 hari ini dia tidak tidur.

Xue Ruo-bi sepertinya juga marah kepadanya dan tidak mau mengajaknya bicara.

Yi-feng lebih suka dengan keadaan seperti itu.

Tapi lama-lama siapa pun pasti akan merasa lelah karena tidak tidur, karena itu dia pun menyandarkan tubuhnya ke dinding dan tertidur.

Dalam tidurnya, dia memimpikan Tie-mian-gu-xing-ke yang marah kepadanya.

Tian-xing-mi-ji' yang tersimpan di balik baju dadanya ingin direbut oleh Tie-mian-gu-xing-ke.

Karena terkejut dia meraung kemudian terbangun.

Ketika dia membuka matanya, Xue Ruo-bi sedang berdiri di depannya tanpa alas kaki.

Walaupun dia menyandar ke dinding, tapi setiap saat dia akan terbangun jika ada yang mendekatinya.

Satu hari, dua hari....

Beberapa hari telah berlalu, masalah datang, air minum sudah habis, terpaksa mereka membuka guci arak, menganggap kalau arak itu sebagai pengganti air.

Tapi bagaimana dengan anak itu?

Anak itu terpaksa minum arak.

Yi-feng menaruh arak ke mulutnya dengan sumpit supaya dia bisa pelan-pelan menyedotnya.

Lama-lama anak ini terbiasa dengan bau arak.

Dia jadi bisa meminum arak.

Arak ini adalah arak Chao-xing.

Rasanya manis tapi setelah meminumnya akan sering mabuk.

Awalnya anak kecil ini yang mulai mabuk kemudian disusul dengan Xue Ruo-bi.

Yi-feng melihat perut Xue Ruo-bi yang buncit, dalam hati dia merasa tidak enak, kemudian dia pun berbaring di sisi dinding gua, dia tertidur.

Tidak ada sinar matahari yang masuk ke dalam gua jadi mereka tidak tahu waktu yang lewat sudah berapa lama.

Xue Ruo-bi haus, dia minum arak.

Setelah minum arak dia mabuk lagi, dia terus mabuk...

Yi-feng pun seperti itu.

Karena setiap hari minum arak, maka dia pun merasa pusing.

Hanya saja dia adalah seorang laki-laki, maka tidak sampai benar-benar mabuk...

Hari demi hari berlalu.

Yi-feng sudah membuka Tian-xing-mi-ji dari bab awal hingga bab akhir.

Karena dia mempunyai dasar ilmu silat dan juga orang ber-bakat maka tidak begitu sukar dia bisa memahami ilmu dalam Tian-xing-mi-ji.

Memang ada yang tidak dimengerti dari buku itu tapi ini hanya membutuhkan waktu untuk mempelajarinya lebih dalam saja.

Dia merasa ilmu silatnya sekarang berbeda dengan ilmunya sebelum dia masuk ke gua ini.

Dia percaya dengan kemampuan ilmu silatnya sekarang bisa bersaing dan bertarung dengan Wan Tian-pin.

Dia merasa sangat senang.

Dari atas meja dia mengambil sepotong daging, sambil menggigit daging dia melihat putranya yang tertidur pulas dan dia juga berpikir...

Tiba-tiba terdengar suara besar dari arah mulut gua.

Yi-feng dengan cepat berjalan keluar dari tempat itu, kemudian dia berlari.

Dia ingin memeluk anak yang masih tertidur pulas itu.

Selama beberapa hari ini, hubungannya dengan anak ini semakin akrab dan dekat...

hubungan ayah dan anak lebih kental dibandingkan dengan perasaan apa pun di dunia ini.

Hubungan darah tidak bisa dipaksakan.

Tiba-tiba Xue Ruo-bi membalikkan tubuhnya.

Dia melindungi anak ini dengan tubuhnya dan membentak.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Dia adalah anakku, aku tidak akan membiarkan dia ikut denganmu!"

Bentak Yi-feng pula Xue Ruo-bi mendekap anak itu dengan erat. Dengan mata melotot dia menjawab.

"Dengan alasan apa kau ingin mengambil anak ini? Xiao Nan lahir dari rahimku dan aku yang telah membesarkannya, apa kau ingin merebutnya dariku?"

Yi-feng tertawa dingin, dia tidak menjawab.

Tangan kanannya membalikkan tubuh Xue Ruo-bi, tangan kirinya merebut anak itu.

Anak itu pun terbangun dan menangis.

Xue Ruo-bi seperti orang gila yang kumat.

"Jika kau mengambil anak ini, aku akan membunuhnya dulu kemudian aku akan menyusulnya mati, kami akan mati bersama di depan-mu."

Jurus telapak besi yang akan dikeluarkan Yi-feng berhenti seketika kemudian ditarik kembali. Dia menarik nafas.

"Untuk apa kau begitu menginginkan anak ini? Apakah kau mau dia ikut Xiao-wu... kemudian disiksa oleh Xiao-wu?... jika kau masih memikirkan perasaan kita sebagai mantan suami istri, serahkanlah anak ini padaku...aku... aku akan merasa berterima kasih kepadamu seumur hidup!"

Tiba-tiba Xue Ruo-bi tertawa, dia merapi-kan rambutnya yang acak-acakan dan berteriak.

"Perasaan suami istri?...Hah! Apakah kau tahu bagaimana yang disebut sebagai perasaan suami istri? Kau hanya menginginkan anakmu, Lu Nan-ren, aku memang bersalah padamu, tapi..."

Suara tawa sambil berteriak berhenti. Sambil mengelus-elus wajah anak ini dia berkata.

"Aku tahu kalau aku salah, mengapa..."

Dia menarik nafas panjang dan tidak meneruskan katakatanya.

Dia tidak perlu banyak bicara lagi, Yi-feng sudah tahu apa yang dimaksud olehnya.

Xue Ruo-bi adalah seorang perempuan pintar, dia ingin meninggalkan Xiao-wu untuk kembali ke sisinya maka dia menjadikan anak ini sebagai senjata.

Hanya saja karena dia terlalu pintar, maka dia menganggap orang lain bodoh...

Yi-feng tertawa.

"Xue Ruo-bi, kau orang pintar, seharusnya kau tahu..."

Kata-katanya belum habis, dari mulut gua terdengar ada yang tertawa dengan suara keras. Seseorang dengan suara keras seperti lonceng berkata.

"Aku merasa aneh, mengapa monyet tua Wan Tian-pin seperti orang bodoh hanya duduk di depan gua. Sebenarnya mulut gua tertutup oleh batu besar tapi masih saja ditunggui. Ternyata ada kau di sini."

Yi-feng terkejut dan membalikkan badannya.

Setelah melihat siapa yang bicara, dia terkejut dan berteriak.

Cahaya dari lampu tempel sangat redup, cahaya kuning menyinari sosok orang yang ada di mulut gua itu.

Orang itu terlihat tinggi juga besar, kepalanya botak, rambut acak-acakan, diikat dengan asal-asalan, kemudian dililitkan ke atas kepalanya.

Baju panjangnya terbuat dari sutra, kancing depannya terbuka semua terlihat dadanya yang dipenuhi bulu dan beberapa bekas luka yang sudah menghitam.

Alisnya hitam, mata besar, sorot matanya seperti kilat, janggutnya keras seperti besi.

Dia adalah si Tangan Terampil Xu-bai.

Yi-feng merasa telapak tangannya basah oleh keringat, tubuhnya berkeringat dingin.

Di Wu-liang-shan dengan mata dan kepala sendiri dia melihat 'Pencuri Selatan' deng-an 'Perampok Utara' saling menyerang dan mati.

Tapi Perampok Utara, Tie-mian-gu-xing-ke Wan Tian-pin ternyata bisa hidup kembali.

Bila jarak waktunya tidak begitu lama masih masuk akal.

Tapi si Tangan Terampil Xu-bai tibatiba muncul di depan matanya sekarang, benar-benar membuat siapa pun tidak mengerti.

Kaki Yi-feng seperti berakar dan tidak bisa bergerak dari tempatnya.

Xue Ruo-bi juga merasa terkejut.

Anak itu berhenti menangis.

Si Tangan Terampil Xu-bai tertawa terbahak-bahak dan melangkah masuk ke dalam gua.

Dia melihat ke sekeliling, melihat ke atas meja yang terbuat dari batu, masih terhidang daging ayam yang belum habis dimakan dan arak.

Dia tertawa.

"Tidak disangka, tidak disangka, di dalam gua seperti ini masih ada arak dan daging!"

Dia mencomot daging, sedangkan tangan yang lainnya memegang guci arak. Dia mulai meminum arak itu sambil berkata.

"Arak yang enak! Enak sekali!"

Sambil makan daging ayam, dia berkata.

"Daging ayam ini enak!"

Melihat Yi-feng, dia pun tertawa.

"Anak kecil, ternyata kau menyulitkan rohku. Sesampainya di 'Nan-tian-men' (pintu akhirat), Sun Go-kong mengatakan aku terlalu jelek maka dengan tongkat ajaibnya dia memukulku, aku terjatuh ke dalam neraka, tapi penjaga pintu berkepala sapi dan kuda mengusirku dari sana, aku terpaksa kembali mencari tempat ini. Di sini tempat yang bagus, ada arak, ada daging. Aku merasa senang, aku tidak akan membalas dendam. Mengapa wajahmu terlihat begitu khawatir?"

Yi-feng gemetar.

Dia tidak percaya kalau di dunia ini ada setan tapi sekarang ini Xu-bai yang sudah lama mati, berdiri di depannya.

Siapa yang bisa menjelaskan hal ini?

Xue Ruo-bi berusaha melindungi anaknya yang ketakutan dan hampir menangis.

Dia membentak.

"Siapa kau?"

Si Tangan Terampil membuang tulang ayam ke bawah, melihat Xue Ruo-bi kemudian meminum arak lagi. Sambil tertawa dia menjawab.

"Tidak disangka anak kecil ini bisa kau dapatkan dari seorang istri yang begitu cantik."

Dia berjalan ke sisi Yi-feng kemudian dengan tangannya yang besar dia menepuk-nepuk pundak Yi-feng dan berkata.

"Anak kecil jangan takut, aku akan memberitahumu mengapa aku tidak mati. Jika aku mati pun, rohku tidak akan gentayangan mencarimu, karena apa kau takut?"

Dia mengangkat guci araknya dan berniat ingin minum lagi tapi arak sudah habis. Dia menarik nafas.

"Araknya enak tapi sayang terlalu sedikit isinya!"

Dia melempar guci kosong itu ke dinding gua, suara dentingan keras membuat anak yang terbaring di atas ranjang kembali menangis.

Yi-feng terpaku kemudian dengan terpaksa tertawa, dia berkata dengan pelan.

"Beberapa hari kita tidak bertemu, Tetua masih tetap gagah seperti dulu."

Dia berkata lagi.

"Kita berpisah di Wu-liang-shan paling sedikit ada satu bulan lebih, mengapa Tetua Xu kembali ke Wu-liang-shan?"

Si Tangan Terampil Xu-bai tertawa terbahak-bahak.

"Anak kecil, jika bicara jangan berputar-putar. Apakah kau merasa aneh mengapa aku tidak mati?"

Dengan paha bebek dia menunjuk ke atas ranjang dan berkata.

"Kau dan istrimu duduk di sana! Aku akan memberitahumu..."

Melihat di dalam cangkir masih ada sedikit arak, dia segera menyambar cangkir dan minum, sambil bercerita.

"10 tahun lalu, aku dan si monyet tua Wan Tian-pin naik ke Wu-liang-shan. Tadinya kami mengira selama 10 hari atau paling lama setengah bulan, masalah antara kami akan selesai. Ternyata si monyet tua itu memang mempunyai ilmu silat tinggi. Kami bertanding hingga menghabiskan waktu sampai 10 tahun."

Sambil memakan daging bebek, dengan kata-kata tidak jelas, dibantu dengan gerakan tangan juga kaki dia berkata.

"Dalam kurun waktu 10 tahun itu...kami lewati dengan perasaan tidak enak hingga akhirnya kau datang, setelah kau menceritakan tentang buku rahasia bernama Tian-xing-mi-ji'. Ketika itu aku sadar pertandingan antara aku dan monyet tua itu akan berakhir, tanpa ada penyelesaian karena Tian-xing-mi-ji' ternyata lebih berharga dibandingkan dengan 'alat cahaya berputar', saat itu hatiku pun tergerak."

"Terakhir apa yang terjadi, kau sudah tahu, tapi ada satu hal yang tidak kau ketahui. Ketika kami sedang memilih benda berharga yang kami inginkan, aku membiarkan monyet tua itu mendapatkan Tian-xing-mi-ji'. Aku berpikir setelah aku memakan 'Du-long-wan' dan tenaga yang lebih besar darinya, aku akan merebut 'Tian-xing-mi-ji'. Biar si monyet tua itu merasa senang dulu. Tapi...hhhh! Perhitungan manusia tidak sehebat perhitungan Tuhan. Aku mengira aku cukup cerdik ternyata malah membuatku terjebak."

Diam-diam Yi-feng berpikir, 'Ternyata demikian.

Waktu itu aku merasa aneh, Xu-bai terkenal dengan keterampilan tangannya, mengapa saat menebak koin, dia tidak bermain licik.

Ternyata dia mempunyai rencana lain.' Terdengar Xu-bai tertawa dan berkata lagi.

"Anak kecil, aku tahu kau sedang marah karena aku telah tidak jujur. Kau harus tahu, seumur hidupku bila melakukan suatu pekerjaan, asalkan memberi keuntungan kepada diriku sendiri itu sudah cukup. Apalagi Wan Tian-pin adalah orang yang sangat licik, untuk apa aku berlaku jujur padanya..."

Alis Yi-feng terangkat. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu dia tidak tahan tidak bicara lagi tapi tidak jadi dilakukannya. Xu-bai mengeluarkan tulang dari dalam mulut dan berkata lagi.

"Tapi sekarang aku sadar kalau menjadi orang itu jangan terlalu pintar. Kalau terlalu pintar pun bukan berarti tidak ada hoki. Sewaktu itu aku menelan Du Long Wan", awalnya tidak terasa apaapa, akhirnya aku malah merasa pusing. Belakangan apa yang terjadi aku sudah tidak tahu karena aku sudah pingsan."

Ceritanya sampai di sini, wajah orang yang sangat terkenal ini pun terlihat berubah, seperti-nya apa yang terjadi waktu itu, masih membuat-nya merasa takut.

Dia membersihkan minyak yang menempel di sudut mulutnya, lalu berkata lagi.

"Sewaktu aku sedikit tersadar, aku mulai merasa ada seseorang yang telungkup di atas badanku dan mulai menyedot darahku. Waktu itu aku merasa sangat takut tapi aku tidak berani melakukan apa pun karena aku tidak bertenaga untuk melawan."

Yi-feng gemetar, dia mundur 2 langkah dan duduk kembali di atas ranjang.

Melihat Xue Ruo-bi, wajah cantiknya yang seperti sekuntum bunga tampak pucat seperti sehelai kertas putih.

Si Tangan Terampil Xu-bai bercerita lagi.

"Tapi ini sangat aneh, semakin dia menghisap darahku, aku malah merasa semakin nyaman. Lama kelamaan kepalaku sudah tidak pusing lagi, tubuku pun tidak terasa bengkak, aku merasa ringan dan seperti ingin terbang. Aku pun tertidur."

"Ketika aku terbangun, aku tidak tahu sudah berapa hari aku pingasn. Begitu membuka mata, di dalam gua itu sudah tidak ada siapa pun dan aku terbaring di atas meja yang terbuat dari batu...Hei, anak kecil, apakah kau yang meletakkanku di sana?"

Yi-feng mengangguk, jantungnya berdebar-debar dengan kencang.

Dulu ada hal yang tidak dimengerti olehnya, sekarang dia mulai mengerti apa yang terjadi.

Tapi cerita penuh pertumpahan darah ini membuat hatinya sedih.

Si Tangan Terampil Xu-bai bercerita lagi.

"Orang yang menghisap darahku pasti si monyet tua Wan Tian-pin."

Yi-feng tidak menjawab. Xu-bai berkata lagi.

"Waktu itu aku sudah sadar tapi aku merasa lubuh dan tulangku serasa akan copot, sakit, pegal, dan linu, sedikit tenaga pun tidak ada. Untung sejak kecil aku sudah berlatih ilmu silat selain itu aku masih perjaka tulen. Hal ini tidak bisa disaingi oleh si monyet tua itu..."

Dengan bangga dia tertawa lagi.

"Diam-diam aku pun mengatur nafas kemudian aku mendengar ada suara TING TING TONG TONG, terkadang berhenti, terkadang berbunyi. Aku merasa aneh dan berusaha merangkak berdiri. Aku melihat di bawah meja ada genangan darah yang sudah mengering, aku merasa pusing dan terjatuh lagi. Aku sadar aku telah kehilangan banyak darah. Saat itu jika ada anak 3 tahun memukuliku, aku akan segera mati. Karena itu aku pun berusaha merangkak naik ke atas meja lagi dan tidak berani bergerak tapi secara diam-diam aku mulai mengatur nafas."

Xue Ruo-bi memeluk anaknya dengan erat.

Si Tangan Terampil Xu-bai berdiri perlahan dan dia mendekat ke lamput tempel, menarik sumbu lampu agar lebih panjang kemudian gua segera terlihat lebih terang.

Dia membalikkan tubuhnya.

Sinar lampu menyinari wajahnya yang terlihat hijau seperti sebatang besi.

Xue Ruo-bi memegang lengan anaknya.

Dia merasa tangannya basah, ternyata telapak tangannya berkeringat dingin.

Si Tangan Terampil berkata lagi.

"Aku lama berbaring di atas meja, suara TING TING TONG TONG terus terdengar, seperti ada seseorang yang memukul sesuatu."

"Tubuhku terasa lemas, aku pikir dengan cara berbaring seperti itu bukan cara baik, maka aku pun merangkak bangun dan keluar dari sana. Suara itu ternyata berasal dari mulut gua, karena itu aku bergerak lebih berhati-hati dan tidak berani bersuara, aku bersembunyi di celah batu sambil melihat keluar.. Dia tertawa dan berkata.

"Ternyata monyet tua Wan Tian-pin juga terkurung di dalam. Dia berdiri di mulut gua sambil memukul dinding gua berharap ada seseorang yang bisa membuka mulut gua. Tapi..."

Dia tertawa.

"Kau tentu berpikir, itu mana mungkin? "Aku melihat dengan lebih teliti ternyata monyet tua itu pun sudah tidak berguna lagi. Gerakannya seperti tidak bertenaga dia hanya memukul beberapa kali setelah itu dia harus berhenti untuk mengatur kembali nafasnya."

"Waktu itu jika aku mempunyai tenaga sepersepuluh dari biasanya, aku bisa membunuhnya. Tapi sayang aku sendiri pun saat itu tidak berguna."

Tiba-tiba dia bertanya.

"Anak kecil, apakah sewaktu kau meninggalkan gua itu kau menutupnya?"

Yi-feng menggelengkan kepala dan menceritakan bagaimana dia menipu Wan Tian-pin kemudian menutup pintu gua. Xu-bai sangat senang, dia tertawa.

"Bagus, bagus! Rubah tua itu ternyata bisa tertipu juga! Benar-benar membuatku senang."

Dia terus tertawa, hatinya memang sedang gembira.

--BAB 60 Benang kusut cinta Yi-feng melihat Xu-bai dengan sikap termangu.

Dalam hati dia berpikir, 'Si Tangan Terampil Xubai berbadan tinggi juga besar, suaranya keras seperti bunyi lonceng, apa pun yang sedang dia pikirkan akan terlihat dari wajahnya.

Wan Tian-pin bersosok kurus juga kering, tubuhnya pun kecil, belum pernah terlihat ekspresi apa pun dari wajahnya, jika bicara suaranya tajam.

Kedua orang ini, yang satu beraliran Yin sedangkan yang satu lagi beraliran Yang, mereka seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi musuh bebuyutan.

Apa yang akan terjadi nanti tidak ada seorang pun yang akan tahu."

Terdengar Xu-bai berkata lagi.

"Waktu itu aku harus bernafas dengan pelan, aku pikir kalau pintu gua tidak bisa dibuka itu akan lebih baik. Aku tidak bisa hidup lagi begitu juga dengannya. Tapi dari luar gua ternyata ada yang berbicara. Aku tidak mendengarnya dengan jelas tapi monyet tua itu setelah mendengar suara itu, segera meloncat-loncat karena kegirangan. Ha, ha, ha! Jika waktu itu kau melihatnya, dia benar-benar seperti seekor kera!"

"Dia meloncat-loncat sebentar kemudian menempelkan mulutnya ke dinding gua, berteriak ke luar, dia memberitahu orang yang ada di luar bagaimana caranya membuka pintu gua itu. Waktu itu tenaganya telah terkurang maka dia harus mengatakannya sebanyak 2-3 kali, orang yang ada di luar baru bisa mendengarnya dengan jelas. Benar saja pintu itu pun akhirnya bisa dibuka."

"Dari luar ada cahaya dan ada angin yang berhembus masuk. Angin meniup tubuhku, aku benar-benar merasa senang. Dari luar terlihat ada seseorang yang masuk, dia setinggi dirimu, dia mengenakan baju yang sangat mewah, terlihat sangat luwes."

"Dia adalah ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu."

Sambung Yi-feng "Dari mana kau bisa tahu?"

Tanya si Tangan Trampil Xu-bai dengan aneh "Beberapa hari lalu aku telah bertemu dengan marga Wan."

Xu-bai menyambung.

"Orang itu menyebutkan kalau dia ber-marga Xiao bernama Wu. Awalnya aku mengira dia adalah orang tanpa nama, terakhir aku baru tahu dia adalah orang terkenal di dunia persilatan. Dia adalah ketua Tian-zheng-jiao."

"Waktu itu aku bersembunyi di tempat gelap dan mendengar pembicaraan antara Xiao-wu dengan monyet tua itu. Sorot matanya terkadang seperti tanpa sengaja melihat ke tempat persembunyianku. Aku tidak begitu memperhatikannya. Monyet tua itu mengikutinya keluar dari gua, aku tidak berani ikut, aku hanya duduk di tempat gelap sambil menarik nafas. Aku takut monyet tua itu akan kembali maka aku pun merangkak kembali ke sudut gua. Tapi baru saja sebentar, ternyata Xiao-wu kembali. Dengan berjalan lurus dia berjalan menuju tempat di mana aku bersembunyi, dengan sikap hormat dia berkata.

"Apakah Tetua adalah Wan Li Zui Feng, tangan terampil Xu?" (Mengejar angin 10 ribu kilometer).

"Aku benar-benar terkejut, dalam hati aku benar-benar kagum kepadanya. Xiao-wu masih muda, tapi sudah sangat hebat. Tidak sembarang orang bisa berpikir seperti itu."

Kemudian Xu-bai tertawa terbahak-bahak.

"Aku sadar kalau aku tidak bisa berbohong kepadanya, aku menceritakan apa yang sudah terjadi padanya. Begitu dia mendengar tentang alat cahaya berputar yang ada di tangan Wan Tian-pin, terlihat wajahnya seperti memikirkan sesuatu. Dalam hatiku, aku berpikir jika sejak tadi dia tahu mungkin ketika tadi monyet tua itu sedang lemah dia berhasil merebutnya. Maka saat itu aku pun sudah tahu kalau orang ini bukan orang baik-baik."

"Pandangan Tetua benar-benar hebat dibandingkan dengan orang lain!"

Si Tangan Terampil memasukkan kembali daging ke mulutnya, kemudian tertawa keras.

"Aku berkelana di dunia persilatan sudah berpuluh-puluh tahun. Orang itu memang pintar tapi mana mungkin bisa mengalahkanku? Waktu itu aku malah terus memujinya, dia pun demikian. Dia juga memapahku turun gunung. Di perjalanan kami berburu rusa, aku membunuh rusa dan meminum darahnya, setelah itu baru merasa ada sedikit semangat."

"Tapi aku merasa aneh mengapa marga Xiao ini begitu baik kepadaku?"

"Terakhir dia mengatakan padaku, kalau antara dia dan monyet Wan Tian-pin berjanji akan bertemu di Wu-liang-shan. Setelah mengobrol lama, aku baru mengerti ternyata dia berniat menyuruhku membantunya membunuh Wan Tian-pin, tapi dia sendiri tidak mau turun tangan, maka dia menyuruhku mewakilinya untuk membunuh. Waktu itu aku berpikir kalau dia bukan orang baik-baik, ternyata dia lebih jahat beberapa puluh kali lipat dari yang kukira!"

"Ternyata dia tahu antara aku dan monyet tua, yang satu adalah pencuri, sedangkan yang satu lagi adalah perampok, selama beberapa tahun ini kami pasti berhasil mendapatkan banyak uang dia berniat membagi hasil denganku. Belakangan aku membicarakan tentang kelebihan alat cahaya berputar ini, dia tertarik maka dia melakukan ini agar orang dunia persilatan mengetahui kalau Pencuri Selatan dan Perampok Utara ditolong olehnya. Karena itu aku dan monyet tua akan merasa berhutang budi kepada-nya seumur hidup. Jika terjadi sesuatu padanya, kami harus menolongnya."

Yi-feng menarik nafas, dia merasa di dunia ini banyak hal yang tidak bisa dimengerti.

Diam-diam dia juga berpikir, 'Xiao-wu benar-benar mempunyai bakat menjadi pemimpin orang jahat.

Semua ini tidak bisa sembarangan terpikir oleh siapa pun...dia mempunyai rencana begitu dalam, kelak jika ingin membasminya bukan hal yang mudah!"

Xu-bai mengelus janggutnya dan tertawa.

"Orang ini mempunyai rencana baik tapi aku juga bukan orang bodoh. Setelah kami berpisah, aku mencari sebuah tempat kemudian mencari makanan penambah darah dan tenaga. Setelah memakan makanan bergizi selama 10 hari lebih, tenagaku pulih dan aku kembali ke Xi-liang-shan. Aku melihat monyet tua Wan Tian-pin sedang duduk di depan gua ini. Di sisinya ada seorang gadis yang sedang memohon-mohon kepadanya agar memindahkan batu penutup mulut gua. Begitu melihat wajah monyet tua ini, aku langsung merasa ingin marah. Tadinya aku mempunyai rencana ketika Xiao-wu datang aku akan membuat mereka saling berkelahi dulu."

Waktu itu, darah di tubuh Xu-bai sudah naik hingga ke ubun-ubun.

Yi-feng berpikir, 'Tangan Terampil memang licik tapi dalam kehidupan sehari-hari, dia seorang laki-laki sejati, dia lebih baik dibandingkan tuan-tuan yang banyak menipu.' Tiba-tiba Xu-bai menarik nafas panjang dan berkata.

"Seumur hidup bila aku melakukan sesuatu selalu dirugikan karena 'tidak bisa menahan diri'. Anak kecil, kau masih muda dan mempunyai masa depan yang cerah, kau harus belajar menahan diri baru bisa berhasil. Bukan karena aku ingin menasehatimu. Ini berdasarkan pengalaman sebenarnya."

Yi-feng mengangguk, dia mulai merasa dekat dengan pak tua ini.

Terlihat Xu-bai menggebrak meja yang terbuat dari batu, membuat tulang ayam, buku, dan benda lainnya meloncat ke atas.

Dia menyabet sepotong daging ayam, berkata lagi.

"Aku merasa marah dan berniat meloncat keluar, menunjuk Wan Tian-pin sambil marah-marah. Monyet tua Wan Tian-pin melihatku, dia segera terkejut, wajahnya memucat dan dia terus berlari dari sana. Gadis yang ada di sisinya pun ikut terkejut. Dia terus memanggil-manggil ayah-nya kemudian dia pun ikut berlari dari sana."

"Aku terus berpikir dan melihat ilmu meringankan tubuh si monyet tua itu sepertinya lebih maju dibandingkan biasanya. Walaupun aku bisa mengejarnya saat itu, belum tentu aku bisa melawannya. Apalagi aku merasa aneh mengapa dia terus duduk menunggu di depan gua. Maka dengan segala cara aku berusaha membuka gua ini...."

Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi.

"Hal ini benar-benar menghabiskan waktuku. Akhirnya aku menemukan sebuah pentung besi baru bisa membuka batu besar itu. Aku salut kepada monyet tua, dari mana tenaganya hingga dia bisa memindahkan batu begitu besar? Tenaga-nya sungguh membuat siapa pun terkejut."

Semua kata-kata Xu-bai membuat banyak teka teki yang tersimpan di hati Yi-feng terjawab satu per satu.

Xue Ruo-bi sama sekali tidak bergerak tapi terus mendengar.

Cahaya lampu tempel tiba-tiba bergoyang.

Lampu itu memang diisi dengan banyak minyak tapi karena telah digunakan selama beberapa hari maka minyak pun hampir habis.

Tiba-tiba...ketika cahaya lampu bergoyang-goyang, dari luar gua terlihat bayangan seseorang berlari masuk.

Mata Xu-bai terbuka, wajahnya berubah.

Orang yang berlari masuk itu adalah putri Wan Tianpin.

Gadis ini tetap mengenakan baju ungu tapi rambutnya berantakan, wajahnya pun terlihat lelah, bajunya kusut.

Begitu memasuki gua, dia segera mencari-cari.

Begitu melihat si Tangan Terampil Xu-bai, wajahnya berubah.

Dia juga melihat Xue Ruo-bi ada di sana kemudian dia berlari ke depan Yifeng.

Mulutnya terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Di gua ini kecuali Yi-feng ternyata masih ada orang lain, ini di luar dugaannya.

Di dalam gua ini masih terlihat ada meja, ranjang, benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya akan terkejut.

Di dalam keterkejutannya, dia juga merasa senang karena orang yang dicintainya yaitu Yi-feng terlihat sangat bersemangat, jauh dari yang dia bayangkan selama ini.

"Nona, mana ayahmu?"

Bentak Xu-bai Wan-hong melihatnya sebentar seperti tidak mendengar pertanyaan Xu-bai. Dia membalikkan tubuh dan bertanya kepada Yi-feng.

"Apakah selama beberapa hari ini kau baik-baik saja?"

Kedua mata Xu-bai mengeluarkan kilat. Yi-feng segera berdiri dan tertawa.

"Masih banyak hal yang ingin kami bicarakan lebih baik kita keluar dulu baru bercerita lebih detil. Aku sudah terkurung selama 10 hari lebih, aku sudah bosan di sini!"

Dengan dingin dia melihat Xue Ruo-bi.

"Apakah kau mau keluar, kau sendiri yang menentukannya, tapi...."

Kedua tangannya mengambil anak yang ada di atas pangkuan Xue Ruo-bi, sambil berkata.

"Anak itu harus kau serahkan padaku."

"Kau mau apa?"

Xue Ruo-bi membentak Kedua tangannya berusaha melindungi anak itu, kemudian kaki kirinya menendang Yi-feng.

Yi-feng sedikit berjongkok.

Tangan kanan-nya menepis ke bawah, tangan kirinya berusaha merebut anak itu dari pelukan Xue Ruo-bi.

Xue Ruo-bi menarik kakinya kembali, kaki kanannya dengan cepat menendang lagi.

Walau-pun perutnya mulai membesar tapi kedua tendangan ini terasa sangat keras dan tidak berkurang kelincahannya.

Ilmu silat Yi-feng sudah berbeda jauh dengan yang dulu, tapi dia tetap kesulitan untuk menyelamatkan diri.

Yi-feng hanya bermaksud mengambil anak itu tanpa berniat melukai Xue Ruo-bi maka dia pun menyerang tidak benar-benar menggunakan jurus andalannya.

Yi-feng meluncur ke samping, dia siap menyerang lagi.

Alis Xu-bai berkerut, dia menghadang di depan Yi-feng dan tertawa terbahak-bahak.

"Seumur hidup aku tidak pernah menikah, tapi aku paling benci mendengar suami istri yang bertengkar. Wei, anak kecil, kau dan istrimu bertengkar karena apa? Ceritakanlah semuanya padaku, biar aku menjadi penengah dan memberi nasehat kepada kalian."

Wan-hong mundur beberapa langkah, wajahnya memucat, dengan bengong dia melihat Yifeng. Terlihat wajah Yi-feng penuh kemarahan, kedua mata berkobar seperti mengeluarkan api dan membentak.

"Siapa yang sudi memperistri perempuan jalang ini! Tetua Xu...."

Xu-bai dengan aneh bertanya kepada Xue Ruo-bi.

"Apa hubunganmu dengan anak ini?"

Xue Ruo-bi duduk di ranjang dan menjawab.

"Dia adalah putraku."

Dia menunjuk Yi-feng.

"Katakan, apakah dia adalah putramu?"

"Tetua, kau harus mengambil keputusan tepat untukku. Aku benar-benar bernasib kurang baik, aku...."

Dia menangis tersedu-sedu. Kedua mata Yi-feng memerah karena marah. Suaranya berubah, dia menghentakkan kakinya.

"Dasar perempuan jalang... anakku tidak akan mempunyai ibu seperti dirimu! Tetua Xu, apakah kau tahu perempuan ini sudah melanggar banyak aturan... aku... mana mungkin aku memberitahu apa yang sebenarnya terjadi."

Xu-bai yang pintar sudah mulai bisa menebak apa yang terjadi di antara mereka. Bola matanya berputar, entah apa yang harus dia katakan sekarang. Wan-hong tiba-tiba tertawa, dia mendekat dan berkata.

"Mungkin dia adalah istri ketua Tian-zheng-jiao. Pantas selama beberapa hari ini ketika aku dan ayahku sedang berjaga di luar banyak laki-laki dengan baju berwarna-warni datang ke sini, mereka mengatakan sedang mencari istri ketua dan mereka memberitahu kalau mereka adalah murid-murid Tian-zheng-jiao. ayahku tidak mengijinkan mereka masuk, malah mengusir mereka pulang."

Dia melihat Yi-feng kemudian tertawa.

"Mengapa... mengapa kau begitu menginginkan anak orang lain? Kalau kau menginginkan seorang anak...."

Dia tertawa dan wajahnya pun menjadi merah. Yi-feng marah, dia tidak mendengar perkataan Wan-hong dan bertanya.

"Siapa saja yang datang?"

Wan-hong tertawa.

"Aku tidak ingat siapa mereka tapi dari sikap dan pembawaan mereka, bisa dipastikan kalau mereka bukan orang baik-baik. Ada satu yang lebih aneh lagi, senjatanya adalah jala ikan. Ilmu silatnya paling tinggi, dengan susah payah ayah baru berhasil mengusirnya. Yang lain ilmu silatnya hanya biasa-biasa saja."

Yi-feng dengan dingin berkata.

"Nyonya Ketua, ketuamu sudah menurunkan perintah mengutus beberapa orang untuk menjemputmu, cepatlah pergi dari sini, tapi... kalau kau tidak bersedia meninggalkan anak ini, jangan harap...."

Kata-kata Yi-feng belum selesai, Xue Ruo-bi berdiri dari ranjang, tangannya melayang kemudian terlihat cahaya berkilau menyerang Yi-feng.

Anak sudah berada dalam gendongan, dengan menggunakan tubuh Xu-bai dan Wan-hong sebagai penghalang, dia berlari keluar dari gua.

Yi-feng marah juga terkejut.

Dia mengibaskan lengan bajunya, dia menyapu 'Luo-sha-jin-si' yang dilepaskan Xue Ruo-bi.

Dia juga sangat terkejut hingga mengeluarkan keringat dingin.

Ternyata 'Luo-sha-jin-si' adalah semacam senjata rahasia.

Senjata ini terdiri dari jarum dengan jumlah banyak, bentuknya seperti bulu sapi, dan setiap jarumnya mengandung racun.

Jika terkena jarum ini, maka kulitnya akan membusuk, walaupun tidak mati tapi keadaannya akan setengah mati.

Sebelum Xue Ruo-bi menikah dengan Yi-feng, dia selalu menggunakan senjata ini saat berkelana di dunia persilatan.

Yi-feng menikah dengan Xue Ruo-bi selama beberapa tahun, dia sudah tahu bagaimana lihainya senjata ini.

Maka dengan cara melambaikan lengan baju, dan mundur, dia berhasil menghindari hujan jarum ini.

Xue Ruo-bi menggendong anak itu keluar dari gua.

Yi-feng membentak dan mengejarnya tapi baru saja sampai di mulut gua, dari luar datang serangan senjata rahasia lagi.

Terasa di sisinya seperti ada angin.

Semua senjata rahasia terjatuh.

Terdengar Xu-bai berteriak.

"Kejar!"

Tubuh Xu-bai bergerak seperti asap mengejar keluar.

Yi-feng juga tidak ragu, dia mengikuti Xu-bai keluar.

Dalam hati Yi-feng berpikir, 'Xu-bai dijuluki 'Qian-li-zui-feng', ini benar-benar tidak salah.

Ilmu meringankan tubuhnya benar-benar tidak tersaingi siapa pun."

Yi-feng berpikir, 'Apakah Tuan Jian dan San-xin-shen-jun bisa menyaingi Xu-bai...."

Dia teringat pada janda pendekar besar San-xiang dan putrinya, di mana mereka sekarang? Wan-hong yang ada di belakang berteriak.

"Tunggu aku!"

Terlihat ilmu meringankan tubuh Wan-hong lumayan tinggi sekarang dia bisa mengejar mereka yang sudah ada di depan.

Yi-feng lebih cepat lagi, tubuhnya bergerak lincah berlari di dalam gua sempit ini.

Beberapa kali turun dan naik, dia sudah berada di mulut gua.

Terlihat mulut gua sudah ditutup lagi oleh batu besar.

Xu-bai memegang korek api, satu tangannya mendorong batu besar itu.

Xue Ruo-bi berada di sisi sambil menggendong anaknya.

Dengan takut dia berdiri di sudut, karena selama beberapa hari ini dia terus minum arak, anaknya seperti mabuk dan belum terlalu sadar.

Kedua matanya yang besar terus melihat kesana dan kemari tapi dia tidak menangis.

Pipinya yang gemuk terlihat agak kurus.

Yi-feng merasa kasihan kepada anak ini.

Dia melihat Xue Ruo-bi, si cantik nomor satu di dunia persilatan sekarang terlihat kurus.

Mata-nya yang genit tampak ketakutan dan cemas.

Yi-feng menarik nafas, 'Ini adalah pilihannya, jangan salahkan orang lain.' Tapi dia segera menekan rasa kasihan ini.

Dia berjalan ke sisi Xu-bai dan beranya.

"Tetua Xu, siapa yang melakukan semua ini?"

Xu-bai tertawa dingin, dia memberikan korek api kepada Wan-hong yang sudah sampai di sana sambil berkata.

"Kecuali monyet tua itu siapa lagi, kalau dipikir-pikir lebih baik kita semua diam di dalam. Kita lihat siapa yang mati kelaparan dulu,"

Kata Xu-bai dengan nada marah. Yi-feng melihat Wan-hong.

"Apakah ayahmu tahu kau berada di sini?"

Wan-hong menggelengkan kepala. Xu-bai membentak.

"Ayo anak kecil, bantu aku menggeser batu ini. Heh, Wan Tian-pin, kau benar-benar sudah salah menafsirku, masa satu batu ini saja bisa mengurungku sampai mati?" --BAB 61 Hawa pedang naik ke awan Dia memasang kuda-kuda mendorong batu. Xu-bai sekuat tenaga mendorong batu besar itu. Yi-feng juga tidak ragu-ragu, ikut mendorong batu itu. Dua orang itu mengerahkan tenaganya, sebentar saja berhasil membuka sedikit celah. Di luar terdengar ada suara orang bertarung, sepertinya mereka sedang bertarung dengan seru. Xu-bai dan Yi-feng saling pandang dan bersama-sama bersuara. Empat tangan yang mendorong batu. dengan berat ribuan kilogram hampir saja sampai terpelanting. Tangan Terampil Xu-bai sangat terkenal dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, tenaganya pun sangat kuat, jarang ada yang bisa menandinginya. Walau Yi-feng masih muda juga termasuk pesilat tangguh. Setelah kedua nadi 'Du' dan 'Ren' nya telah terbuka oleh Tuan Jian, ilmu silat dan tenaganya maju pesat sampai 10 kali lipat lebih kuat. Apalagi sewaktu tinggal di gua itu, dia telah mempelajari ilmu Tian-xing-mi-ji. Maka bisa terbayangkan tenaga kedtia orang ini bagaimana hebatnya. Mungkin orang lain dalam waktu 10 tahun pun belum tentu bisa mendorong batil besar ini. Begitu batu besar berhasil digeser, cahaya di luar masuk menyoroti gua. Xu-bai dengan senang berkata.

"Tidak disangka ilmu silatmu, hebat juga."

"Tetua terlalu memuji...."

Kata-katanya belum selesai, Xue Ruo-bi sudah berlari keluar.

Yi-feng membentak, dia seperti sebuah panah meluncur keluar.

Xue Ruo-bi melewati batu besar, Yi-feng segera merentangkan kedua tangannya.

Seperti bayangan menempel di.i mencengkram pundak Xue Ruo-bi, membentak.

"Kembalikan anak itu padaku!"

Tapi di depan mereka sudah ada 4 pedang berkilau yang menghadang. Ujung pedang mengarah pada Yi-feng. Ujung pedang terus bergetar. Seseorang dengan nada dingin berkata.

"Sahabat, apa yang sedang kau lakukan?"

Yi-feng melihat ke sekitarnya, ada puluhan laki-laki memegang pedang dan berdiri di depan mereka, dan orang yang bicara kepadanya adalah Duoshou-zhen-ren, Xie Yu-xian.

Di Zhong-nan-shan dia pernah bertemu dengan Xie Yu-xian, hanya saja saat itu dia dirias oleh tangan terampil Xiao Nan-pin, mereka tidak mengenali wajah aslinya.

Sekarang dia tahu Xie Yuxian tapi Xie Yu-xian tidak mengenalnya.

"Lepaskan dia", Xie Yu-xian membentak. Kemudian pedang pun langsung menye-rang. Ketiga orang lainnya ternyata juga pesilat pedang. Mereka adalah 'Lao-shan-san-jian' yang pernah datang ke Zhong-nan-shan. Sekarang mereka bersama-sama menyerang Yi-feng. Empat pedang berkilau, serentak menyerang. Yi-feng berputar dan tubuhnya meluncur jauh. Dia melihat Xu-bai dan Tie-mian-gu-xing-ke saling berhadapan. Wan-hong berada di sisi ayahnya. Di sisi mereka ada beberapa orang memegang pedang dan berkumpul. Mereka dengan dingin melihat Wan Tian-pin. Sepertinya tadi mereka telah bertarung dengan sengit. Begitu Yi-feng bergerak, kecepatan tubuhnya membuat orang-orang terkejut tapi dia sendiri tidak merasakannya. Duo-shou-zhen-ren terkejut dan menghentikan serangannya, dia bersalto ke depan Xue Ruo-bi dan memberi hormat padanya, juga memberi isyarat kepada 'Lao-shan-san-jian'. Lalu berlari ke bawah sebuah pohon. Di sana ada dua orang laki-laki yang sedang berdiri, dia bicara dengan perlahan kepada kedua laki-laki ini. Dua orang yang sedang berdiri di bawah pohon itu yang satu tersenyum dingin, kedua matanya menatap ke atas, sambil memainkan ikat pinggangnya, dia adalah pemuda tampan dari Qing-hai, yang bernama Qian-yi. Sedangkan yang satu lagi Yi-feng tidak mengenalnya, tapi dari sikapnya tampak kalau dia juga seorang pesilat tangguh. Dia melihat keadaan sekeliling, situasi tidak menguntungkan baginya, kalau hari ini dia berniat merebut anaknya dari tangan Xue Ruo-bi, itu bukan hal yang mudah. Dengan perlahan dia berjalan ke sisi Xu-bai, Pencuri Selatan dan Perampok Utara saling melotot, Wan Tian-pin tiba-tiba berkata.

"Hei marga Xu, tidak disangka ternyata kau belum mati, di sini bukan tempat yang cocok untuk kita mengobrol, kalau kau mau kita cari tempat lain!"

Si Tangan Terampil tertawa.

"Baiklah, di sini banyak tempat yang sudah kuhafal, kau. Saja yang membawa jalan!"

Kalau mereka berdua pergi begitu saja dari sana, Yi-feng akan sulit menghadapi orang-orang itu, maka dia pun berkata.

"Tetua Xu...."

Wan Tian-pin tertawa dingin.

"Perhitungan di antara kami berdua belum selesai, kau. jangan banyak bicara!"

Dia membalikkan tubuhnya siap-siap pergi dari sana, tapi dari belakang terdengar sebuah tawa panjang, terlihat Qian-yi dengan satu tangannya memegang ikat pinggang, dengan perlahan berjalan mendekat.

Dia berdiri di antara Yi-feng dan Wan Tian-pin, kedua matanya masih melihat ke atas, tawanya telah berhenti, dengan dingin dia bertanya.

"Kalian jangan pergi, masih ada yang ingin kutanyakan pada kalian!"

Alis Xu-bai terangkat, wajah Wan Tian-pin tetap datar, dia balik bertanya.

"Ada apa?"

Sambil memainkan ikat pinggangnya Qian-yi tertawa dingin.

"Tadi Tuan dengan sepasang tangan berhasil menahan serangan 6 pedang, ilmu. silat Tuan benar-benar tinggi. Anda pasti seorang tetua dunia persilatan, aku hanya ingin bertanya gua ini bukan Tuan yang membuatnya, juga tidak Tuan beli, mengapa berkali-kali Tuan melarang semua saudara kami masuk ke sana? Apakah di dalam ada hal yang tidak boleh diketahui siapa pun?"

Setelah bicara seperti itu dia membalikkan tubuh, dia tidak menunggu jawaban dari Wan Tianpin, lalu bertanya lagi.

"Masih ada... sahabat ini!"

Dia menunjuk Yi-feng.

"Tuan sangat tampan, ilmu silat Tuan pun tinggi, aku juga ingin tanya, antara Tuan dan kakak iparku apakah ada hubungan persaudaraan atau...."

"Kalau tidak ada hubungan persaudaraan, apakah Tuan tidak tahu, kalau seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak boleh berdekatan tapi Tuan malah menarik tangan kakak iparku."

Dia menunjuk gua dan berkata lagi.

"Gua itu sangat dalam dan juga gelap, di dalam kalian telah melakukan apa saja? Mulut gua masih ditutup pula oleh sebongkah batu besar dan menyuruh seorang pak tua berjaga di pintu gua... Ha ha ha!..."

"Aku benar-benar tidak mengerti!"

Wajah Wan Tian-pin mulai pucat, kumis Xu-bai tampak mulai berdiri, mata Wan-hong melotot, alis Yi-feng berkerut, mereka berempat benar-benar marah dan berniat menjawab, tapi Xue Ruo-bi seperti angin, berlari sambil berlinangan air mata, dengan terpatah-patah dia berkata.

"Adik kedua, kau... mengapa kau baru datang sekarang, kemana kakak seperguruanmu?"

Qian-yi menjawab dengan pelan.

"Kakak seperguruan tidak ada di sini, tapi adik berada di sini, itu kan sama saja. Kalau, ada yang menghina kakak ipar, walaupun adik orang tidak berguna, aku akan menghadapi mereka!"

Tangan Terampil Xu-bai berteriak.

"Bocah tengik, kalau bicara harus jelas, kalau kau berani macam-macam, aku akan...."

"Aku akan diapakan?"

Kata-katanya belum habis, bayangan tangan sudah menutupi kepalanya, jurusnya aneh, terkadang ada di depan, terkadang di belakang, terkadang di kiri, terkadang di kanan, keadaannya seperti ada beberapa orang pesilat tangguh yang menyerangnya secara bersamaan.

Anak yang berada dalam gendongan Xue Ru.o-bi terus menangis, Yi-feng mengerutkan alisnya, dia datang, tangan kirinya sedikit diayunkan, tangan kanannya terjulur dengan cepat merebut anak itu.

Xiao-hun-fu-ren, Xue Ruo-bi berteriak, dia mundur 3 langkah, tapi Yi-feng terus mengikutinya, di depan Yi-feng sudah ada kilauan pedang yang menghadangnya, dan siap menusuk Yi-feng.

Mereka adalah 'Lao-shan-san-jian'.

Tiba-tiba Qian-yi bersiul panjang, tubuh-nya yang panjang seperti pohon Liu yang tertiup angin terus bergoyang tidak tentu arah..

Dari jauh terlihat tubuhnya seperti tidak bisa berdiri dengan tegak.

Bayangan telapak tangan Xu-bai seperti tidak bisa mengenai sasaran.

Karena itu mereka berdua terkejut, Qian-yi tidak menyangka kalau lawannya begitu lihai, Tangan Terampil Xu-bai lebih tidak menyangka karena pukulannya tadi adalah pukulan yang dipelajarinya dengan menghabiskan banyak waktu di Wu Liang Shan, tapi pemuda itu berhasil menghindari serangannya.

Maka Xu-bai pun berhenti sebentar, tapi setelah itu mereka saling serang lagi.

Terdengar angin dari telapak tangan terus berbunyi.

Hanya terlihat bayangan orang tapi sudah tidak dapat dibedakan siapa pemilik bayangan itu.

Wan Tian-pin melihat sekitarnya, katanya.

"Hong-er, kau pulanglah dulu!"

Dia membalikkan tubuh menyerang beberapa pesilat pedangyang mengejarnya.

Dengan perlahan kaki Wan-hong bergeser, tiba-tiba saja dia sudah berada di sisi Xue Ruo-bi, kemudian tangan kirinya telah menotok nadi di pinggang Xue Ruo-bi, tangan kanannya melingkar, menepis dada kirinya.

Xue Ruo-bi sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan menyerangnya, maka dengan terkejut dia melayangkan tangannya untuk menahan serangan Wan-hong, anak yang berada dalam gendongannya berada di tangan kanan, berhasil direbut oleh Wan-hong.

Semua terjadi dengan cepat, Xie Yu-xian dan Qi-hai-yu-zi yang masih berdiri di bawah pohon hanya mendengar teriakan Xue Ruo-bi, kemudian orang berbaju hijau sudah berkelebat, berlari dengan cepat dari sana, tampak bayangannya beberapa kali turun dan naik, lalu menghilang di balik hutan.

Hanya tinggal Xue Ruo-bi yang sedang hamil tua terus berteriak.

"Apakah anda terluka,"

Tanya Qi-hai-yu-zi yang bahunya telah terkena pukulan Wan Tian-pin, hingga tulang bahunya hampir hancur, maka dia berdiri jauh-jauh di bawah pohon, sekarang dia bertanya dengan dingin, maksudnya dengan 'Anda tidak terluka' adalah 'terjadi sesuatu padaku, untuk mengejar pun sudah tidak keburu'.

Duo-shou-zhen-ren mengerti maksudnya, maka dia pun segera mengejar bayangan berbaju, hijau itu.

Wei Ao-wu melihat bayangan Xie Yu-xien, dengan pelan dia berkata pada dirinya sendiri, 'Lebih baik anak itu diambil dari pada dia tinggal di sini, setelah besar dia akan menjadi sumber mala petaka!' Ternyata Qi-hai-yu-zi sangat dekat dengan Xiao-wu, hingga banyak masalah pribadi Xiao-wu yang dia ketahui, dia tampak berpikir sebentar, lalu melihat ke arah pertarungan.

Cahaya pedang terus berkekebatan, bayangan orang terlihat beterbangan.

Mereka bertarung dengan sengit, bukan karena seorang anak direbut maka pertarungan pun berhenti.

Dia mengelus pundak kanannya yang terluka kemudian dengan perlahan mendekati mereka yang sedang bertarung, sepertinya dia ingin melihat lebih jelas.

Angin gunung berhembus semakin kencang, matahari sudah terbenam, hari semakin gelap, di Xi-liang-shan hawa pedang semakin kental.

--BAB 62 Masing-masing mengerahkan kemampuan Dari jauh terlihat bayangan pedang dan telapak berbaur menjadi satu, yang mana bayangan orang pun tidak jelas, tapi kalau dilihat dengan teliti, semua terbagi menjadi 3 bagian.

Tie-mian-gu-xing-ke melawan 5 orang.

Perampok besar yang sangat berpengalaman ini benarbenar sangat lihai.

Tapi ilmu pedang kelima orang ini sangat kompak, kekompakan mereka seperti satu orang yang menyerang.

Wan Tian-pin mulai mengerutkan alisnya, dia tidak menyangka kalau murid-murid Tian-zhengjiao mempunyai ilmu yang begitu tinggi.

Dia tahu kalau mereka sudah terkenal di dunia persilatan, tapi sekarang mereka berlima pun terlihat mulai cemas, kecemasan mereka lebih menonjol.

Ternyata di antara kelima orang ini, 3 orang yang tubuhnya lebih pendek adalah 'Yan-shan-sanjian' yang sangat terkenal di dunia persilatan.

Tiga bersaudara ini berkelana di dunia persilatan dan mereka selalu bertiga.

Maka kalau mereka bertarung tiga pedang akan bekerja bersama-sama.

Mereka tidak pernah mengalami kesulitan berkelana di dunia persilatan.

Sekarang tiga melawan satu orang dan masih ada lagi 'Nan-l'ongshuang-jian' yang ikut membantu, tapi mereka tetap sulit memenangkan pertarungan.

Maka dalam bati mereka mencoba menebak siapa pak tua yang kurus ini, berasal dari mana.

Sedangkan dua orang lagi dengan tubuh tinggi, wajah hampir sama, mereka adalah satusatunya penerus dari 'Pendekar Xi-gong"

Dan mereka adalah pendekar terkenal dari Jiang-nan 'Nan-gong-shuang-jian'.

Tubuh Nan-gong-shuang-jian bergerak sangat ringan.

Dua tubuh bergerak mengikuti gerakan pedang, pedang mengikuti gerakan tubuh mereka, tubuh tidak meninggalkan pedang, pedang tidak meninggalkan tubuh.

Dua cahaya pedang terus berputar, setiap pedang tidak bergerak jauh nadi-nadi penting Wan Tian-pin.

Posisi Tie-mian-guxing-ke bisa dikatakan berada di atas angin, tapi dalam waktu, singkat dia tidak bisa memenangkan pertarungan ini.

Qi-hai-yu-zi mengangguk pikirnya, 'Nan-gong-shuang-jian benar-benar tidak bernama kosong, seharusnya aku menarik mereka kemari, kalau mereka bersahabat dengan Xie Yu-xian, di masa yang akan datang, akan sulit menghadapi mereka."

Ternyata perselisihan antara Wei Ao-wu dan Xie Yu-xian semakin dalam, maka dia bisa berpikiran seperti ini.

Dia pun melihat pemuda yang datang dari Qing-hai, Qian-yi.

Begitu melihat pemuda itu, alisnya langsung berkerut.

Karena dia tahu bagaimana kemampuan ilmu silat Qian-yi, tadinya dia merasa pasti dia berada di atas angin, tapi sekarang setelah dia melihat ilmu silat dari pak tua kasar yang tinggi dan berbaju mewah itu, dia bergerak seperti angin topan mengurung Qian-yi dengan semua jurusnya, dia pun berpikiran seperti Xu-bai.

Dia tinggal di pulau Qing-hai yang berudara panas selama 10 tahun lebih, dia menguasai ilmu silat dari "pak tua tanpa nama' hampir 90% nya.

Kali ini dia turun gunung untuk berkelana, dia mengira dengan kemampuan ilmu silatnya yang tinggi dia akan dengan mudah menaklukkan para pesilat Jiang-nan, ternyata pak tua yang dihadapinya sekarang, tubuhnya sebentar bergerak ke kiri lalu ke kanan, membuat setiap jurusnya menjadi terkekang dan tidak bisa mengembangkan kemampuan ilmu silatnya.

Dengan cepat lawan berlari ke depan, dalam waktu sebentar saja ratusan jurus telah dikeluarkan.

Kecemasan di dalam hati terus bertambah, sebelum mereka bertarung mereka tidak tahu identitas masing-masing.

Mereka telah salah tafsir.

Sekarang setelah tahu kemampuan ilmusilat lawannya yang ternyata di luar dugaan, mereka masing-masing merasa aneh dan hanya bisa terpaku.

--BAB 63 Sang nyonya mendapat kesulitan Xie Yu-xian berlari kencang ke sisi Wei Ao-wu, nafasnya masih terengah-engah, dia melihat ke sekeliling, suara senjata yang beradu terus terdengar.

Udara dipenuhi dengan bayangan senjata, tubuh Tie-mian-gu-xing-ke berputar seperti angin.

Kedua lengan bajunya terus berkibar, telapak tangannya sangat kuat memukul senjata rahasia yang menyerangnya.

Senjata rahasia itu mempunyai efek sangat kuat, senjata rahasia itu terkadang terlihat menyerang maju-terkadang mundur.

Terkadang ke kiri tapi sebenarnya menyerang ke kanan.

Menyerang ke atas tapi tiba-tiba saja menyerang ke bawah, siapa pun tidak akan mendtiganya.

Ilmu silat Tie-mian-gu-xing-ke memang tinggi, tenaga telapaknya pun kuat, tapi sekarang dia tampak mulai kacau, meski tidak akan sampai kalah.

Yi-feng dengan tangan kosong bertarung dengan 'Pi Li-pai' Lao-shan-san-jian, semakin bertarung semakin tampak jurus indah yang dikeluarkan Yi-feng.

Membuat Lao-shan-san-jian harus mengerahkan semua kekuatannya melawan Yi-feng.

Maka cahaya pedang yang keluar dari tiga orang biksu ini bertambah kuat dan mengejutkan semua orang.

Qian-yi yang datang dari Qing-hai, dengan sekuat tenaga dan hati yang mulai diliputi rasa takut masih bertarung dengan Qian Li Zui Feng, Tangan Terampil Xu-bai yang telah lama terkenal di dunia persilatan.

Pertarungan telah mencapai tahap siapayang menang dan siapa yang kalah.

Atau jurus cepat melawan cepat, sebenarnya cara bertarung ini jarang dipergunakan oleh pesilat tangguh di dunia persilatan.

Karena mereka saling tahu, sedikit saja berbuat ceroboh mereka lah yang akan terbunuh.

Di antara mereka memang tidak tersimpan dendam yang dalam tapi karena sekarang ini mereka seperti menunggang harimau dan sulit untuk berhenti, sekarang ingin melepaskan tangan pun sepertinya sudah tidak bisa.

Tiba-tiba Duo-shou-zhen-ren Xie Yu-xian berbisik kepada Wei Ao-wu, wajah Wei Ao-wu tampak berubah dan bertanya.

"Apakah benar?"

Xie Yu-xian mengangguk dan berkata lagi.

"Kita jangan ragu-ragu lagi, lebih baik Kakak Wei cepat ke sana, hhhh... hhhh, walaupun aku... hhhh, tapi bertemu dengan masalah ini, aku benar-benar tidak bisa membantu!"

Dia terus menghela nafas, Qi-hai-yu-zi seperti sulit mengambil keputusan dan berpikir dengan lama, tiba-tiba dia membentak dengan kuat.

"Hentikan!"

Suaranya besar seperti guntur, membuat semua orang terkejut.

Dua bersaudara Li 'Nan-gong-shuang-jian' dari jauh terlihat sudah menghentikan jurusnya, dan dengan cepat berlari ke sisi Wei Ao-wu dan bertanya.

"Ada apa?"

Sewaktu 'Lao-shan-san-jian' bertarung, dia melihat jurus lawan semakin bertarung semakin aneh, kekuatannya terus bertambah kuat, dalam hati mereka terkejut dan merasa aneh.

Sebenarnya mereka bertiga tidak berniat menjual nyawa mereka kepada Tian-zheng-jiao.

Sekarang mendengar teriakan itu mereka segera mengayunkan tangan kiri tangan kanan yang memegang pedang dari arah kiri ke kanan menggambar setengah lingkaran.

Ketiga orang itu secara bersamaan mengeluarkan jurus pedang 'Tai-ji'.

Tiga cahaya pedang seperti pelangi memenuhi langit, saling tumpang tindih.

Kemudian dari mulut 'Lao-shan-san-jian' terdengar bentakan dengan suara kecil, lalu bersama-sama berhenti melangkah dan mundur sejauh 5 meter.

Yi-feng sejak tadi sudah tahu.

kalau, ketiga orang itu tidak benar-benar bertarung, sekarang melihat tingkah mereka dia hanya sedikit terkejut.

Tiga orang pesilat pedang berlari ke sisi Qi-haiyu-zi dan bertanya.

"Ada apa?"

Yan-shan-san-jian' adalah keluarga dekat dari pesilat pedang yang dulu sangat terkenal yaitu Chang Man-tian, mereka mempelajari teknik rahasia 'Chang-shi-shen-wan' (butiran sakti Changshi) hanya secara kebetulan.

Mereka bertiga adalah saudara sepupu, sejak kecil mereka tumbuh bersama, berlatih ilmu silat pun tidak pernah terpisah.

Ini adalah salah satu kesu.ksesan mereka bisa menguasai 'Chang-shishen-wan'cerita tentang suami istri pesilat pedang Chang Man-tian dan bagaimana mereka bisa terkenal, dan bagaimana lahirnya 'Chang-shi-shen-wan', bisa di baca dari buku 'Pedang Sakti Langit Hijau' bab 7.

Sekarang bentakan Qi-hai-yu-zi membuat Yan-shan-san-jian sangat terkejut.

Pergelangan kirinya dibalikkan, pedang sudah berada di sisi.

Tangan yang selalu berada di atas, tempat senjata rahasia yang terbuat dari kulit berhenti menyerang.

Mereka berlari ke sisi Qi-hai-yu-zi bertanya.

"Ada apa?"

Nan-gong-shuang-li, Lao-shan-san-jian, Yan-shan-san-jian bersama-sama berlari ke sisi Wei Aowu dan bertanya.

"Ada apa?"

Kedua alis Qi-hai-yu-zi berkerut, dia menarik nafas, pelan-pelan menggelengkan kepala. Duoshou-zhen-ren dengan berat berkata.

"Istri ketua mengalami kesulitan, dia berada di hutan sana." 'Nan-gong-shuang-li', 'Lao-shan-san-jian', dan 'Yan-shan-san-jian' merasa terkejut. Qi-hai-yuzi berkata.

"Permasalahan yang terjadi di sini kita tunda dulu, kalian...kalian pergi ke sana untuk melihat keadaan...."

Dia berkata kepada Xie Yu-xian.

"Maaf merepotkan Kakak Xie."

Alis Xie Yu-xian berkerut.

"Kakak Wei, apakah kau tidak akan ikut ke sana?"

"Aku tidak mengerti mengenai hal ini, percuma aku pergi ke sana. Kakak Xie.. .aku kira kau lebih mengerti banyak dibandingkan aku!"

Mata Xie Yu-xian terus melihat wajah Wei Ao-wu, akhirnya dia menghentakkan kaki dan berkata.

"Ayo ikut aku!"

Dia berlari masuk ke hutan.

Melihat sikap Xie Yu-xian dan Qi-hai-yu-zi, Nan-gong-shuang-li', 'Lao-shan-san-jian', dan 'Yanshan-san-jian' merasa aneh.

Mereka tidak mengerti mengapa istri ketua bisa mendapatkan kesulitan, mengapa Qi-hai-yu-zi seperti ketakutan dan terus tertawa kecut, sepertinya mereka bakal menghadapi hal-hal yang sangat sulit dikatakan.

Wan Tian-pin yang dari tadi terkurung oleh 'Chang-shi-shen-wan' sekarang tangannya bisa menyapu senjata-senjata rahasia.

Dia melihat murid-murid Tian-zheng-jiao tiba-tiba pergi.

Dia berbalik melihat Yi-feng.

Yi-feng juga terlihat kebingungan.

Di dalam hati mereka bertanya-tanya.

"Perangkap apa lagi yang sedang dibuat orang-orang Tian-zheng-jiao?"

Tiba-tiba. Tangan Terampil Xu-bai membentak dengan suara seperti guntur.

"Roboh!"

Berikutnya terdengar beberapa kali bunyi kemudian terdengar suara Qian-yi yang tajam dan tinggi, berkata dengan tawa dingin.

"Belum tentu.."

Wan Tian-pin dan Yi-feng bersama-sama melihat.

Qian-yi dan Xu-bai sudah berhenti bertarung dan saling memandang, saling berhadapan.

Xu-bai sedikit membungkukkan tubuhnya, kedua mata bersorot tajam seperti kilat melihat Qian-yi.

Urat-urat di tangannya berbentuk seperti kipas, terkadang tangannya dikepal dan dibuka kemudian pelan-pelan dikeluarkan atau ditarik kembali.

Suara KRETEK bunyi tulang berderak terus terdengar.

Dia seperti ingin segera membunuh pemuda yang ada di hadapannya.

Qian-yi yang berdiri di depan Xu-bai masih tampak sombong, tapi dari sorot matanya terlihat dia sedikit ketakutan.

Dengan marah dia melihat musuh yang ada di depannya.

Kedua tangan yang terjuntai kadang-kadang terlihat bergetar.

Tapi getaran ini jika tidak diperhatikan dengan benar tidak akan terlihat.

Tubuh yang berdiri masih gagah dan kokoh seperti sebuah gunung.

Sorot mata mereka beradu, tidak ada yang bicara, tidak ada yang mundur, walaupun hanya setengah langkah.

Tadi mereka telah beradu telapak tangan sebanyak 2 kali.

Tadinya Xu-bai ingin menggunakan tenaga kuat yang telah dilatihnya selama puluhan tahun untuk menga-lahkan pemuda yang masih beliaitu.

Walaupun ilmu silat Qian-yi tinggi tapi tenaga dalamnya kalah hebat.

Qian-yi sudah 10 tahun berlatih silat, dia mendapat warisan 90% ilmu dari "pak tua tanpa nama'.

Dia bisa bertahan, ini di luar dugaan Xu-bai, sampai-sampai Wan Tian-pin yang ada di pinggir melihat pertarungan mereka, diam-diam mengerutkan alisnya dan bertanya-tanya siapakah pemuda ini sebenarnya?

Mengapa bisa mempunyai ilmu silat begitu tinggi?

--BAB 64 Bertarung sampai mati Dua alis dikerutkan, Qi-hai-yu-zi, Wei Ao-wu menyaksikan 'Yan-shan-san-jian' dan yang lainnya menghilang ke dalam hutan.

Bentakan Xu-bai yang keras membuatnya membalikkan kepala untuk melihat, kemudian dia melangkah meng-hampiri mereka.

Sorot mata yang dingin dari Tie-miangu-xing Wan Tian-pin berhenti di wajahnya, tapi dia tetap berjalan mendekatinya dan memberi hormat.

"Perkumpulan kami dan Anda memang tidak ada dendam, karena istri ketua kami sedang mengalami kesulitan, maka kami harus pamit, apakah kita akan menjadi teman atau musuh, Tuan bisa memilihnya sendiri."

Sambil berkata seperti itu dia berjalan mendekati Qian-yi dan membisikkan sesuatu.

Sepasang mata Qian-yi tanpa berkedip melihat Xu-bai, sepertinya dia tidak mendengar apa yang Wei Ao-wu katakan.

Semua yang ada di sana, masing-masing mempunyai budi dan dendam yang saling berhubungan.

Hal ini tidak akan dimengerti orang luar, hanya Yi-feng dan Tian-zheng-jiao mempunyai dendam paling dalam.

Qi-hai-yu-zi melihat Wan Tian-pin.

Apa yang harus dia katakan kepada Wan Tian-pin, dia sendiri tidak tahu..

Tiba-tiba...

Terdengar Xu-bai membentak lagi, tubuhnya berputar seperti seekor harimau, kelima jarinya dibuka membentuk seperti cakar elang, telapak kiri dibalikkan, dia menyerang ke sisi kanan Qian-yi, tangan kanan mengarah ke nadi di dada kiri Qian-yi.

Jurus ini seperti tidak ada keistimewaan tapi jurus ini adalah jurus andalan dari si Tangan Terampil Xu-bai selama puluhan tahun ketika dia bertanding dengan Tie-mian-gu-xing Wan Tianpin.

Tadi Qian-yi sempat beradu telapak tangan dengan Xu.-bai, dari luar seperti tidak terlihat ada perubahan tapi sebenarnya tenaga dalamnya sudah terkuras habis.

Sekarang jikaXu-bai menyerangnya lagi, dia tidak akan sempat berpikir untuk menghindari jurus itu.

Wan Tian-pin tertawa dan membentak.

"Telapak kiri tangan kosong menangkap naga, telapak kanan burung phoenix siap terbang."

Kata-katanya sangat cepat tapi Qian-yi langsung mengerti.

Dia nrulai bersuara kemudian telapak kiri ditekuk dan dikeluarkan.

Dia benar-benar mengeluarkan jurus 'tangan kosong menangkap naga' tapi tangan kanannya tidak menghasilkan gerakan apa pun.

Ternyata kata-kata Wan Tian-pin tadi terlalu cepat, dia hanya mendengar sebagian saja.

"Anak goblok!"

Qi-hai-yu-zi mundur 3 langkah.

Melihat Qian-yi mengeluarkan jurus 'tangan kosong menangkap naga', dia sangat terkejut.

Sebenarnya bila ingin melawan jurus Xu-bai ini asalkan pundak kirinya sedikit dimundurkan, kaki kanannya ditekuk, baru menyerang dengan telapak maka jurus ini akan berhasil.

Dalam hati dia menyalahkan Qian-yi yang mendengar kata-kata musuh.

Yi-feng tahu dendam antara Tangan Terampil Xu-bai dan Tie-mian-gu-xingWan Tian-pin, dia juga tahu mereka sudah bertarung selama 10 tahun di Wu-liang-shan.

Dia tahu apa yang dikatakan Wan Tian-pin tadi adalah jurus-jurus khusus dari Wan Tian-pin untuk memecahkan jurus Xu-bai.

Terlihat Xu-bai menarik tangannya lalu.

memutar tubuhnya.

Dia menarik kembali tangannya yang akan menyerang.

Jika Qian-yi mengikuti kata-kata Wan Tian-pin, kakinya maju kekanan dan berhenti di tengah, dia pasti akan menang dalam pertarungan ini.

Qi-hai-yu-zi dengan aneh melihat Qian-yi kemudian melihat Xu-bai.

Benar itu adalah jurus tangan kiri menangkap naga, tangan kanan siap terbang.

Xu-bai marah, sorot matanya terlihat tajam dan tubuhnya berputar, tubuhnya yang tinggi dan besar tiba-tiba menyerang Wan Tian-pin.

Perubahan tiba-tiba ini membuat Wei Ao-wu dan Qian-yi terpaku.

Xu-bai juga membentak.

"Hei marga Wan, kembalikan darahku!"

Suaranya bernada tajam juga sedih.

Di dunia ini tidak ada bahasa yang bisa melukiskan perasaan ini, juga tidak ada bahasa yang bisa mengungkapkan suara ini.

Suara ini membuat Yi-feng, Qian-yi, dan Wei Ao-wu bergetar.

Dalam otak Yi-feng, terbayang kembali ketika di Wu-liang-shan, mereka berebut Tian-xing-mi-ji hingga terjadi pertarungan seru kemudian seorang pak tua kurus kering dengan muka menyeramkan telungkup di atas tubuh seorang pak tua yang tubuhnya bersimbah darah dan mengisap darahnya.

Yi-feng sejak dulu adalah seorang pemberani tapi sekarang tangannya basah karena keringat dingin.

Qian-yi dan Wei Ao-wu tidak tahu menahu mengenai kejadian ini tapi teriakan Xu-bai tadi membuat punggung mereka terasa dingin.

Sekarang tubuh Xu-bai bergerak seperti seekor harimau gila.

Dari gerakan kaki atau tangannya memperlihatkan jurus mematikan.

Pertarungan di antara mereka dibandingkan dengan pertarungan antara Xu-bai dengan Qian-yi terlihat lebih seru beberapa kali lipat.

Yi-feng tahu dendam yang ada di antara mereka, juga sadar jika ingin memisahkan mereka, benar-benar sulit seperti memanjat naik ke atas langit.

Terlihat Qian-yi dengan terpaku melihat mereka berdua bertarung.

Wei Ao-wu menarik nafas dan membisikkan beberapa kata lagi kepadanya.

Wajah Qian-yi terlihat berubah kemudian dia berkata dengan suara keras.

"Selang 3 tahun kemudian Qian-yi akan menunggu Tuan di tempat ini."

Xu-bai yang sedang bertarung dengan Wan Tian-pin tertawa terbahak-bahak.

"Baik, baik, setelah 3 tahun...."

Dia mengeluarkan 4 kali serangan telapak.

Serangan ini seperti guntur berbunyi.

Tempat yang diserang benar-benar di luar dugaan siapa pun.

Qian-yi menarik nafas, berpikir, 'Ilmu silat orang ini begitu aneh!' Kemudian dia menolehkan kepalanya dan berkata kepada Wei Ao-wu.

"Apa pun yang terjadi di sana, kalian yang harus menyelesaikannya, aku... aku...."

Dia menarik nafas panjang kemudian meninggalkan tempat itu begitu saja. Wajah Qi-hai-yu-zi berubah.

"Pendekar Muda Qian, kau...."

Perkataan-nya belum selesai, sosok Qian-yi yang tinggi sudah lari beberapa meter.

Sebentar saja dia sudah menghilang di balik jalan gunung itu.

Wei Ao-wu terpaku kemudian dia berlari ke arah gunung di mana Xie Yu-xian masuk tadi.

Yi-feng ingin mengikutinya tapi Wan Tian-pin dan Xu-bai masih bertarung dengan sengit.

Yifeng tahu jika dia juga pergi dari sana, mereka akan bertarung sampai mati.

Sekarang tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang bakal terluka, mungkin mereka berdua akan mati.

Sebenarnya antara dia dan kedua orang itu tidak mempunyai hubungan apa pun juga tidak ada hutang budi, tapi sifat Yi-feng memang seperti itu.

Dia tidak tega meninggalkan mereka begitu saja.

Sekarang dia terus berpikir, dia sadar dengan dasar ilmu silat miliknya jika melihat kedua orang itu bertarung, dia bisa mendapat banyak kebaikan.

Tapi sekarang dia tidak peduli sama sekali.

Dia berpikir, tiba-tiba dia membentak.

"Wan-hong, apa yang terjadi padamu?"

Dia meloncat dan berlari masuk ke dalam hutan. Seumur hidup 'Tie-mian-gu-xing' terkenal dingin juga kejam tapi begitu mendengar kata 'Wanhong', dia segera berhenti bertarung dan bertanya.

"Ada apa dengan Hong-er?"

Kemudian dia meninggalkan Xu-bai, berlari mengikuti Yi-feng.

Di dunia ini pasti ada suatu hal yang bisa membuat hati seseorang tergerak.

Yi-feng tahu jika ingin membuat mereka berdua berhenti ber-tarung sementara, hanya bisa dilakukan dengan satu cara yaitu menghentikan salah satu dari mereka.

Tapi dua orang yang bersifat sangat aneh, harus menggunakan akal tertentu baru bisa membuat mereka berhenti bertarung.

Akhirnya kecuali hubungan antara ayah dan anak, tidak ada cara lain lagi.

Wan Tian-pin tidak melihat Wan-hong, tapi dari teriakan Yi-feng tadi membuat Wan Tian-pin mengikuti Yi-feng dari belakang, maka dia berlari lebih cepat lagi.

Tangan Terampil Xu-bai hanya terpaku sebentar, dia berkata dengan dingin.

"Kemana pun kau lari, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!"

Dia ikut berlari.

Karena mereka bertiga sama-sama mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi, maka dalam sekejap mereka sudah masuk ke dalam hutan.

Di dalam hutan daun-daun tampak bergoyangan tertiup angin, burung berkicau seperti sangat senang.

Tapi...

Dari dalam hutan yang sepi itu tiba-tiba terdengar suara rintihan kesakitan.

Yi-feng terkejut dan mencari suara rintihan itu.

Setelah mendengar suara rintihan itu, Wan Tian-pin merasa terkejut, dia berteriak.

"Hong-er, apakah itu kau? Apa yang terjadi padamu?" 2 kali dia turun naik, dia melewati hutan yang ditumbuhi banyak pohon dan berada di sisi Yi-feng.

"Apakah itu Hong-er? Apa yang terjadi padanya?"

Yi-feng menggelengkan kepala, dia tetap berlari, pohon yang tumbuh di sana sangat banyak dan tempatnya semakin turun.

Di tempat yang agak tersembunyi, Yi-feng melihat ada bayangan seseorang yang bergerak.

Setelah di-lihat dengan teliti ternyata orang-orang tadi adalah Yan-shansan-jian dan yang lainnya.

Hati Tie-mian-gu-xing sangat kacau, dia secepat kilat berlari kesana.

Terlihat 'Nan-gongshuang-li', 'Lao-shan-san-jian', dan 'Yan-shan-san-jian', Xie Yu-xian, Wei Ao-wu berdiri di depan semak-semak.

Suara rintihan kesakitan itu berasal dari balik semak-semak itu.

Mereka melihat Wan Tian-pin masuk ke dalam hutan, tapi mereka segera memperhatikan kearah semak-semak lagi.

Dari wajah terlihat mereka sangat cemas dan terkejut.

"Siapa yang di sana?"

Tanya Wan Tian-pin Setelah mendengar suara itu bukan suara putrinya maka hatinya agak tenang.

Mereka yang ditanya hanya saling memandang tapi tidak ada yang menjawab pertanyaan Wan Tian-pin.

Suara rintihan semakin keras.

Wajah Xie Yu-xian dan Wei Ao-wu semakin tegang tapi tidak ada seorang pun yang melihat ke dalam semak-semak.

'Tie-mian-gu-xing' yang sering berkelana di dunia persilatan juga tidak pernah melihat hal seperti ini maka dalam hati dia merasa aneh.

"Siapa yang sedang merintih? Sepertinya ada hubungannya dengan murid-murid Tian-zhengjiao tapi mengapa mereka tidak berusaha membantunya? Apakah ada seorang pesilat tangguh yang senang menyiksa seorang perem-puan dengan kejam?" --BAB 65 Melahirkan Yi-feng segera berlari ke sana, kakinya berhenti melangkah, mendengar suara rintihan itu, tibatiba wajahnya berubah dan dia berlari ke pinggir semak-semak tapi sepertinya dia teringat sesuatu dan berhenti melangkah, malah mundur 2 langkah. Dia melihat Lao-shan-san-jian. Lao-shan-sanjian saling pandang dan mengangguk kepada Yi-feng. Mereka tahu apa yang terjadi tapi tidak ada yang mau bicara. Tiba-tiba... Daun-daun terus berguguran, seseorang sudah turun. Wan Tian-pin tertawa dingin.

"Tenang, aku tidak akan kabur!"

"Kau ingin kabur juga percuma!"

Ternyata yang datang adalah Tangan Terampil Xu-bai.

Karena dia agak lambat maka dia yang terakhir tiba di sana.

Setelah berada di hutan, Yi-feng dan Wan Tian-pin menghilang entah ke mana.

Mendengar rintihan itu, dia segera ke sana.

Tapi karena hutan ini banyak pohon, dia tidak sabar berlari dan dia menggunakan ilmu meringankan tubuh meloncat dari satu pohon ke pohon lain, berlari kemari.

Tidak lama kemudian suara rintihan itu berhenti tapi semua orang di sana malah menjadi tegang.

Xu-bai melihat sekeliling, mengapa wajah orang-orang di sana begitu tegang.

Dia merasa aneh dan berkata.

"Mengapa kalian masih berdiri di sini, ayo kita masuk untuk melihat apa yang terjadi!"

Dia berniat melangkah masuk.

Tapi 'Duo-shou-zhen-ren', Qi-hai-yu-zi, dan Yan-shan-san-jian bersama-sama menghalanginya.

Xu-bai marah juga melotot kemudian membentak.

Begitu melihat Yi-feng ada di sana, dia segera berlari ke samping Yi-feng dan berkata.

"Ternyata ada yang sedang melahirkan."

Dia bertanya kepada Yi-feng,"Apakah yang melahirkan itu adalah istrimu?"

Yi-feng merasa malu sekaligus marah. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Duo-shou-zhen-ren membentak.

"Jika ada orang yang tidak menghormati istri ketua kami, dia akan celaka tanpa kecuali."

Wan Tian-pin dengan dingin berkata kepada Xu-bai.

"Hal yang terjadi belum kita selesaikan, kau malah menanyakan tentang orang lain, benarbenar bodoh!"

Kedua tangan Xu-bai terkepal, pelan-pelan dia berjalan ke depan Wan Tian-pin. Begitu pandangan mata mereka saling beradu, mereka siap berkelahi lagi. Qi-hai-yu-zi tertawa dingin.

"Di tempat di mana seorang perempuan akan melahirkan kalian malah bertengkar, apakah kalian adalah laki-laki sejati?"

Terdengar rintihan lagi, semua orang memang cemas tapi tidak ada seorang pun yang mau maju sekalipun hanya selangkah.

Jantung Xu-bai berdebar-debar, dia seperti sedang menahan amarahnya kemudian dia membentak kepada Wan Tian-pin.

"Urusanmu dan aku belum selesai, untuk apa kau berdiri di sini? Ayo kita keluar berkelahi!"

Qi-hai-yu-zi tertawa dingin.

"Benar! Benar! Di sini tidak ada urusan penting lagi, lebih baik kalian pergi saja!"

Semua orang bicara dengan pelan dan berbisik-bisik karena tidak ingin mengganggu orang yang sedang melahirkan.

Tiba-tiba...

Dari dalam hutan ada yang tertawa.

Juga terdengar ada suara perempuan yang sedang marahmarah kemudian sosok seorang perempuan langsing, dengan cepat masuk ke dalam hutan.

Melihat banyak orang di sana dan seperti-nya mereka tidak terkejut dengan kehadirannya, dia berhenti berlari kemudian melihat, dia bercanda dengan anak yang ada dalam gendong-annya yang sedang tertawa dengan senang.

Tapi orang-orang di sana ketika melihat perempuan ini, diam-diam merasa terkejut karena perempuan ini langsing dan bergerak dengan ringan tapi baju yang dipakainya terlihat compang camping.

Begitu melihat wajahnya, semua orang menghembuskan nafas.

Orang-orang itu sudah biasa berkelana di dunia persilatan dan sudah banyak pengalaman, tapi tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajah yang begitu jelek.

Melihat orang ini, wajah Tie-mian-gu-jung berubah.

Dia mundur 2 langkah.

Qi-hai-yu-zi berusaha menenangkan diri dan membentak.

"Siapakah Nona? Mengapa menggendong anak ketua kami?"

Perempuan ini seperti tidak mendengar kata-katanya.

Begitu Yi-feng melihat wajah perempuan ini, dia seperti disambar geledek, tidak bisa bergerak.

Setelah bisa menenangkan diri, dengan cepat dia berlari ke depannya dan memegang pundaknya berkata.

"Nan Pin, apa yang terjadi padamu?"

Ternyata rambutnya yang panjang dan acak-acakan, bajunya compang camping, dan wajah sangat jelek adalah milik seorang gadis yang dahulu sangat cantik, sombong, bersih, anggun, dan sangat perasa, dia tidak lain adalah 'Xiao-xiang-fei-zi Xiao Nan-pin'.

Sekarang dia dengan bengong melihat Yi-feng, dari matanya seperti ada cahaya kegembiraan dan kesedihan tapi segera berubah menjadi kebingungan.

Dengan dingin dia berkata.

"Siapa kau?"

Tangan kirinya menggendong anak itu lebih erat kemudian tangan kanannya menepiskan tangan Yi-feng jauh-jauh.

Yi-feng terpaku, dia sedih juga menyesal.

Dari luar hutan ada yang berlari masuk ternyata seorang perempuan lagi.

Dia membentak.

"Perempuan jelek, mengapa kau merebut anakku?"

Sorot mata Wan Tian-pin bergerak, tubuhnya bergerak cepat seperti angin, dia berlari kedepan perempuan itu dan mencengkram perge-langannya.

"Ayah!"

Teriak perempuan itu Wan Tian-pin marah.

"Apakah kau juga sudah gila?"

Dia menarik tangan Wan-hong untuk pergi dari sana. Xu-bai berteriak di belakangnya.

"Kau mau ke mana?"

Dia ikut berlari. Yi-feng bengong melihat kelakuan mereka.

"Nan-pin, kau istirahatlah dulu, biar aku yang menggendong anak itu!"

Sorot mata Xiao Nan-pin terlihat bingung, tapi tiba-tiba dia tertawa.

"Kau menginginkan anakku, aku tidak akan memberikannya padamu."

Duo-shou-zhen-ren, Lao-shan-san-jian, Yan-shan-san-jian, Nan-gong-shuang-li, dan Qihai-yu-zi Wei Ao-wu, melihat Yi-feng kemudian melihat perempuan jelek dan seperti orang gila Mereka kebingungan.

Di balik semak-semak terdengar tangisan bayi.

Wajah semua orang di sana berubah, Xiao Nan-pin tertawa dengan senang.

"Masih ada satu anak lagi."

Dia sudah berlari masuk ke dalam semak-semak.

Karena dia mengalami tekanan batin tang berat, maka jiwanya mulai terganggu, dan menjadi gila.

Setelah dia melemparkan cermin yang terbuat dari tembaga ke atas batu, dia berlari ke gunung.

Setiap hari kerjanya hanya menangis, setelah menangis dia mengelilingi gunung itu.

Dia tidak tahu apa yang harus dia kerjakan sekarang.

Setiap hari dia hanya berjalan dan berjalan.

Hari ini tiba-tiba dia bertemu dengan Wan-hong yang sedang menggendong seorang anak dan berlari dengan kencang.

Walaupun dalam keadaan setengah gila, dia masih bisa mengenali Wan-hong.

Dia segera menghadang Wan-hong.

Karena terkejut, anak yang ada dalam gendongan Wan-hong segera direbut olehnya.

Orang yang jiwanya terganggu seringkali mencari sesuatu untuk menghiburnya.

Sekarang yang dianggapnya bisa menghibur adalah anak itu.

Begitu mendengar ada suara tangisan bayi dari semak-semak, dia segera berlari ke sana.

Qi-hai-yu-zi dan yang lainnya berniat mencegahnya tapi sudah tidak sempat.

--BAB 66 Tewas Yi-feng melihat bayangan belakang Xiao Nan-pin, dalam hati dia benar-benar tidak enak.

Dia menarik nafas sambil melihat sekeliling, terlihat murid-murid Tian-zheng-jiao berkumpul di depan semak-semak, tidak adayang berani masuk.

Dari semak-semak terdengar suara tawa Xiao Nan-pin.

"Bayi yang putih dan gemuk, sangat lucu, sangat..."

Ketika dia bicara, suara terdengar dekat tapi terakhir suaranya sudah jauh.

Tampak dia membawa bayi yang baru lahir itu pergi dari sana.

Yi-feng terkejut, merasa aneh, dan berpikir, 'Murid-murid Tian-zheng-jiao melihat anak ketua mereka direbut Nan Pin, mengapa mereka tidak berani mendekat?

Walaupun mereka sungkan tapi tidak harus seperti ini!"

Dia kembali berpikir, putranya dibawa oleh Xiao Nan-pin yang sudah setengah gila, dia merasa cemas, mana ada waktu memikirkan orang lain. Wajah Qi-hai-yu-zi bergerak, matanya berkedip, dia bertanya.

"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja? Kami ada di sini menunggu. Nyonya tidak perlu merasa khawatir, begitu Nyonya sudah bersih-bersih kami akan masuk untuk membereskan semuanya."

Selesai bicara, dia mundur ke bawah sebuah pohon untuk duduk dan beristirahat.

Semua mengikutinya.

Kedudukan Qi-hai-yu-zi di Tian-zheng-jiao adalah tertinggi, jika dia hanya melakukan ini, orang lain pasti tidak akan berani sembarangan bergerak.

Sekarang Yi-feng tidak tahu bagaimana rasa hatinya.

Dia ingin mengejar Xiao Nan-pin tapi kakinya tidak bisa melangkah.

Dia berdiri di bawah sebuah pohon dan terpaku.

Angin bertiup ke dalam hutan membuat daun-daun terus bergoyangan.

Tapi suara nafas setiap mereka yang ada di sana terdengar jelas.

Suara rintihan belum selesai, terdengar lagi suara baju berbunyi, mungkin Xue Ruo-bi berusaha menahan sakit.

Setelah melahirkan dan sekarang dia berusaha membereskan bajunya.

Saat semua orang sedang menanti, dari balik semak-semak terdengar lagi suara teriakan memilukan.

Teriakan memilukan ini berasal dari Xiao-hun-fu-ren Xue Ruo-bi.

Setelah teriakan itu, terdengar lagi suara Xue Ruo-bi yang lemah.

Dengan terpatah-patah dia berkata.

"Kau... maafkan aku... aku tidak berani...."

Suaranya berhenti sejenak.

Tapi teriakan memilukan terdengar lagi.

Semua orang terkejut mendengar suara ini.

Yi-feng tidak tahan lagi, dia menyibak semaksemak dan berlari masuk.

Yan-shan-san-jian' dan 'Duo-shou-zhen-ren' mengikutinya masuk.

Terlihat di balik semak-semak itu ada sebuah tempat sekitar 3 meter persegi.

Di bawah penuh dengan darah.

Xue Ruo-bi sedang meringkuk di bawah.

Seseorang berbaju hijau muda lari keluar dari sana melewati celah-celah pohon.

Yan-shan-san-jian' dan 'Duo-shou-zhen-ren' bersama-sama berlari mendekat Xue Ruo-bi.

Begitu mereka melihat keadaan Xue Ruo-bi, wajah mereka segera berubah dan berteriak kemudian dengan tergopoh-gopoh mundur 3 langkah.

Yi-feng curiga dengan orang itu, tapi setelah mendengar teriakan mereka, dia menoleh.

Wajahnya juga berubah dan dia ikut berteriak kemudian mundur 3 langkah!

Ternyata 'Xiao-hun-fu-ren' Xue Ruo-bi terbaring di bawah berlumuran darah, kedua matanya terpejam.

Wajahnya pucat seperti kertas, dia tidak bernafas lagi.

Pisau yang menancap di dadanya masih tetap seperti tadi.

Darah merah mengalir melalui lubang pisau.

Lao-shan-san-jian, Nan-gong-shuang-li, Qi-hai-yu-zi masuk dan berteriak.

Tapi teriakan mereka sangat pendek mereka memegang pisau berwarna kuning keemasan.

Hal ini membuat wajah mereka ter-kejut dan segera membeku.

Waktu itu juga langit dan bumi juga seperti ikut membeku.

Qi-hai-yu-zi menarik nafas panjang, tiba-tiba dia melambaikan tangan, tanpa berkata apa pun dia pergi dari sana.

Yan-shan-san-jian', 'Duo-shou-zhen-ren', dan 'Nan-gong-shuang-li', saling memandang, diam-diam menarik nafas kemudian tanpa suara keluar dari semak-semak.

Sorot 'Lao-shan-san-jian' dengan iba melihat Xue Ruo-bi kemudian mereka melihat Yi-feng.

Sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan kepada Yi-feng tapi akhirnya mereka mengurungkan niatnya.

Mereka hanya menarik nafas kemudian berlari keluar dari semak-semak.

Suara helaan nafas mereka masih bergema di dalam hutan.

Dengan terpaku Yi-feng melihat mayat Xue Ruo-bi.

Perasaannya benar-benar tidak karuan, melihat mereka tiba-tiba pergi dia juga merasa aneh.

'Aneh, mengapa murid-murid Tianzhengjiao ketika melihat istri ketua mereka terkena musibah tidak mengatakan sesuatu malah pergi begitu saja dan membiarkan mayat yang pernah membuat banyak laki-laki tergila-gila.' Tapi ada kesedihan yang sulit diutarakan, membuatnya berhenti bertanya-tanya.

Dia mengenang masa lalunya yang begitu indah.

Dia teringat saat mereka bertemu di depan sebuah jembatan kecil.

Janji-janji yang mereka ukir di bawah bulan dan bintang, kata-kata manis yang terucap di rumah kecil dan indahnya ketika saling berpandangan...

Semua ini baginya begitu nyata tapi juga begitu jauh.

Dia melihat langit, kegelapan mulai menutupi bumi.

Angin malam di hutan lebih dingin dibanding hari-hari biasanya.

Dia mengenang kembali mimpi indah masa lalunya.

Karena itu pelan-pelan dia berjongkok dan menjulurkan tangannya, memegang tangan yang indah tapi pucat dan mulai dingin itu.

Setetes air mata mengalir keluar dari sudut matanya kemudian menetes ke tangan yang indah dan pucat itu.

Air matanya seperti sebuah mutiara yang berkilau.

Jika Xue Ruo-bi masih memiliki perasaan juga masih bisa merasakan dinginnya air mata itu, dia akan merasa terhibur dan merasa puas.

Karena seumur hidupnya dia tidak pernah mendapatkan apa-apa, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu penuh dengan perasaan.

Ketika dia meninggal, laki-laki ini masih menjaga di sisinya.

Akhirnya matahari pun terbenam, malam begitu gelap seperti mimpi tiba-tiba menutupi gunung ini, bumi ini.

Yi-feng terus memegang tangan perempuan ini.

Perempuan yang pernah dia cintai.

Dalam benaknya kecuali kenangan indah, seperti-nya dia tidak ingin memikirkan yang lainnya lagi.

Manusia benar-benar aneh, dia selalu melupakan kesalahan orang-orang yang telah meninggal, dia hanya teringat pada kebaikannya saja.

Mungkin karena alasan inilah manusia disebut mahluk yang paling pintar.

Waktu.

Pelan-pelan dan tidak mempunyai perasaan pergi begitu saja.

Malam sudah tiba.

Yi-feng berdiri di sisi semak-semak, dia menggali sebuah lubang yang dalam.

Pekerjaan ini membuat tangannya mati rasa.

Kukunya penuh dengan tanah.

Tapi dia tidak merasakannya.

Dengan pelan dan hati-hati dia membawa mayat Xue Ruo-bi dan meletakkannya di dalam lubang itu kemudian dia mulai menguburkan Xue Ruo-bi.

Tiba-tiba...

Sorot mata Yi-feng melihat pisau melengkung dengan pegangannya yang berwarna kuning emas.

Dia mencabut pisau itu dan dengan hati-hati menyimpannya di balik dada.

Sekarang dia belum sempat melihat pisau ini dengan teliti karena hatinya masih diliputi dengan perasaan sedih.

Jika orang sedang bersedih, dia tidak akan peduli dengan hal lain.

Akhirnya lubang pun tertutup.

Si cantik yang dulu begitu cantik dan membuat banyak laki-laki tergila-gila padanya, sekarang hanya menjadi seonggok tanah.

Yi-feng menarik nafas panjang.

Dia ke pinggir mencari batu yang agak rata kemudian mengeluarkan pisau melengkung itu.

Pelan tapi dengan teliti dia mengukir 4 huruf.

'Kuburan istriku Xue Ruo-bi'.

Kata-kata ini memang terasa biasa tapi dihati mengandung berjuta kata maaf, juga perasaan Yi feng padanya.

Bagi Xue Ruo-bi yang sudah meninggal, keempat kata ini bukankah bisa membuatnya terhibur dan tersenyum?

Kemudian Yi-feng menancapkan batu itu dan hanya menyisakan sedikit untuk dijadikan tenda.

Karena dia tidak ingin mayat Xue Ruo-bi diganggu oleh orang lain.

Yi-feng duduk di bawah sebuah pohon untuk menunggu tibanya hari esok.

Cahaya bulan masuk melalui celah-celah pohon membuat bayangan Yi-feng menjadi panjang.

Bayangan ini menutupi lubang yang baru ditutupnya.

Seperti dulu 'Tie-ji-wen-hou' Lu Nan-ren, dengan kedua tangan memeluk istri tercintanya dengan erat.

Angin bertiup, daun melambailambai.

Mereka sepertinya ikut menarik nafas demi laki-laki yang mempunyai perasaan begitu dalam.

--BAB 67 Gadis belia Matahari seperti ikut merasa sedih karena kejadian kemarin malam, pagi ini dia muncul lebih pagi.

Cahaya matahari membuka kegelapan malam juga mengeringkan embun yang berada di atas daun...

Matahari dengan semangat muncul di pegunungan hijau ini.

Jalan penuh dengan batu dan pasir, karena sinar matahari ini membuat jalan menjadi terang dan berwarna kuning.

Di pagi hari di musim semi bagi manusia benar-benar indah.

Tiba-tiba...di jalan gunung yang penuh dengan cahaya, angin menghantarkan lagu indah.

Suara yang merdu dan lembut tidak jelas apa yang dinyanyikannya.

Sepertinya ada seorang gadis remaja yang sedang bernyanyi.

Nyanyian itu semakin dekat, diiringi nyanyian ini dari sebuah jalan gunung muncul seorang gadis remaja dengan umur berkisar 13-14 tahun.

Sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin, dia mengambil sehelai rumput.

Seperti seekor burung nuri, dengan santai dia bernyanyi dengan gembira.

Di dunia ini banyak terdapat lukisan.

Apakah pernah melihat lukisan gunung dan kolam ini.

Di dunia ini banyak terdapat puisi-puisi.

Apakah puisi ini pernah melukiskan keindahan alam ini Keindahan alam tidak bisa dilukiskan Ah!

Di dunia ini ada berapa puisi?

Aku tidak tahu, aku juga tidak tahu di dunia ini ada berapa yang memuji.

Memuji keindahan pagi hari di gunung di awal musim semi.

Tapi aku tahu pujian dari dulu sampai sekarang tidak ada yang secantik dan seindah nyanyian gadis ini.

Lagu ini terdengar begitu alami, seperti angin berhembus dan air mengalir, juga seperti bahasa serangga di malam hari...

dengan lagu alami memuji keindahan alam, bukankah lagu ini bisa menggerakan hati setiap orang?

Di dunia ini ada berapa banyak lukisan, aku tidak tahu, aku tidak tahu di dunia ini ada berapa banyak orang yang bisa melukis?

Walaupun ada yang bisa melukiskan kedua matanya yang indah, tapi tidak bisa melukiskan cahaya yang memancar dari matanya.

Walaupun ada orang bisa melukiskan tawanya yang manis tapi tidak bisa melukiskan manisnya tawa ini.

Walaupun ada orang yang bisa melukiskan keindahan tubuhnya, tapi tidak ada yang bisa melukiskan tubuhnya yang dipenuhi semangat muda.

Dengan ringan dan gembira, dia turun dari gunung.

Bajunya berwarna merah muda, berada di pegunungan yang hijau ini, benar-benar seperti awan di sore hari yang berjalan di langit yang biru dan luas.

Kesedihan dan ketidak beruntungan pergi karena kedatangannya.

Nyanyian sudah usai.

Matanya yang berkilau melihat setiap benda yang ada di alam yang tertiup angin.

Langkahnya tetap ringan, rambutnya melambai-lambai.

Tapi...

Di pagi dan di tempat yang begitu indah, bumi yang hijau, mengapa terdengar ada yang menarik nafas begitu sedih?

Dia berhenti melangkah dan mendengarnya.

Suara helaan nafas itu berasal dari jalan gunung itu.

Dari sebuah hutan kecil dan dari sebuah pondok yang beratap merah, sepertinya di sana tidak hanya ada satu orang.

Dia mengerutkan alis tapi tawa di sudut mulutnya tidak hilang.

Dia hanya terlihat ragu sebentar, lalu mulai berjalan ke arah pondok itu.

Terdengar suara PAK seperti 2 kepalan tangan beradu juga seperti ada yang sedang menarik meja.

Kemudian ada seorang pak tua berjalan pelan-pelan berkata.

"Lao Er, apakah kau tidak merasa aneh mengapa sampai sekarang dia belum datang. Hhhh..."

Dia menarik nafas lagi.

"Adik ketiga selalu bersifat egois, dia tidak mau tahu apakah kita mencemaskannya atau tidak? Lao Er, apakah kau dengar dengan jelas kalau adik ketiga akan bertemu kita di tempat ini?"

Yang satu lagi sambil menarik nafas pelan-pelan berkata.

"Kakak tertua, adik ketiga pasti akan datang! Dia...Hhhh!"

Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi tertutup oleh helaan nafas. Suara pertama yang terdengar berasal dari seorang pak tua, dengan berat dia berkata.

"Dia akan datang... akan datang. Semoga dia akan datang. Hhhh... adik ketiga, apakah kau tahu kalau kakak tertuamu ini tidak akan membencimu. Adik ketiga, apakah kau tidak mengerti perasaanku?"

Suara tua yang penuh perasaan dan sedih ini terdengar hingga jauh.

Suara ini masuk ke telinga gadis ini.

Dia mengedip-ngedipkan mata kemudian naik ke atas gunung.

Pondok di gunung itu tidak terlalu besar, ada sebuah meja yang terbuat dari batu, 4 kursi terbuat dari batu, di atas kursi duduk 2 orang setengah baya.

Dagu mereka ditumbuhi sedikit janggut.

Mereka menundukkan kepala dan duduk dengan diam di kursi sepertinya mereka merasa sangat khawatir dan tampak sangat lelah.

Pagar pondok berwarna hijau.

Seseorang yang sama terlihat khawatir dan lelah, bersandar ke pagar pondok.

Dia melihat ke tempat jauh sepertinya sedang menunggu seseorang.

Gadis itu datang ke tempat mereka.

Begitu pandangan mereka beradu, hati gadis itu bergetar karena sorot mata keempat orang itu sangat tajam.

Walaupun khawatir juga lelah tapi sorot mata mereka tetap tidak berkurang tajamnya.

Dia mengedipkan matanya dan mendekat.

Mulut sudah menyunggingkan tawa manis dan dengan senang dia berkata kepada keempat laki-laki yang tidak dikenalnya.

"Cuaca hari ini sangat baik, apakah benar?"

Keempat orang itu terpaku dan saling bertukar pandangan.

Karena mereka tahu di antara mereka tidak ada seorang pun yang mengenal gadis ini.

Mereka melihat ke belakang, di sekeliling sana kosong.

Kecuali mereka tidak ada orang lain.

Mereka tahu kalau gadis itu sedang bicara dengan mereka tapi mereka tidak mengenalinya juga tidak tahu alasan apa dia mengajak bicara kepada mereka.

Empat pasang mata seperti kilat melihat gadis itu.

terlihat senyumnya begitu manis, tatapan matanya begitu baik, juga membuat siapa pun tidak tega menolak pertanya-annya.

Pak tua yang penuh dengan rasa khawatir itu memaksakan diri untuk tersenyum kemudian mengangguk.

"Betul, gadis kecil, cuaca hari ini sangat bagus."

Mata gadis itu tidak berkedip menatap pak tua itu, melihat pak tua itu tertawa, dia tertawa lebih manis lagi. Dengan senang dia bertepuk tangan dan tertawa.

"Baik, baik sekali! Tadinya aku mengira Anda tidak bisa tertawa!"

Pak tua itu batuk dan menoleh kepada ketiga orang lainnya, terlihat di mata mereka juga ada tawa, hanya saja mereka menahannya supaya tidak tertawa keluar.

Seumur hidup dia selalu sangat serius, semua orang menganggapnya sebagai kakak atau ayah yang disiplin keras, tidak ada yang pernah berkata seperti itu di depannya.

Sekarang dia melihat tawa manis gadis itu, hati yang dipenuhi dengan rasa kekhawatiran mulai terasa hangat.

Dengan lembut dia berkata.

"Gadis kecil, kau mau ke mana? Hutan ini sagnat lebat, apakah kau tidak takut tersesat?"

Ketiga orang itu dengan aneh saling bertukar pandang karena selama ini mereka belum pernah melihat kakak tertua mereka berkata seperti itu.

Apalagi berkata pada seorang gadis kecil yang berumur 15-16 tahun.

Tapi mereka tidak berani mengungkapkan perasaan aneh ini.

Terlihat gadis itu mengedipkan matanya yang indah dan terang, sambil tertawa dia menjawab.

"Aku tidak akan tersesat, aku datang bersama ibu dan paman. Aku datang kemari hanya berharap, Anda jangan terus menarik nafas. Lihatlah langit begitu biru, pohon begitu hijau, musim dingin baru berlalu. Sekarang musim semi begitu indah, apa yang tidak bisa diselesaikan di dunia ini? Paman, untuk apa kau terus menarik nafas?"

Suaranya terdengar manja dan lembut, tawanya yang manis, dan kata-katanya yang lembut dalam menasehati, membuat keempat orang yang ada di pondok yang sedang berada dalam keadaan cemas dengan cepat berganti menjadi senyum.

Karena itu dengan puas dia mengangguk dan tertawa.

"Aku akan pergi sekarang! Aku harus menemani ibu mencari seseorang, aku berharap orang yang kalian tunggu akan segera datang."

Kemudian dengan tersenyum dia melambaikan tangan, seperti seekor kupu-kupu sekali lagi dengan ringan dia berjalan ke arah gunung.

--BAB 68 Kupu-kupu yang memberi kabar Langkah gadis itu terlihat lebih ringan, hatinya juga lebih senang karena dia merasa telah membantu orang, bisa membuat hati yang cemas dan khawatir menjadi senang.

Dengan senang dia berkata.

"Ternyata membantu orang adalah hal yang menyenangkan...."

Tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang melewatinya, dia berkata.

"... terbang kesini lalu kesana, apakah kau juga ingin menasehati orang?"

Dia mengusir kupu-kupu ini tapi hanya sebentar kupu-kupu itu terbang ke arahnya lagi.

Dia mengerutkan hidungnya, tiba-tiba kedua tangannya dibuka, dia berusaha menangkap kupu-kupu itu, tapi kupu-kupu itu merentangkan sayapnya lalu terbang jauh, di bawah sinar matahari dia melihat sayap kupu-kupu berwarnaitu sangat indah.

Dia melihat sekelilingnya, tidak ada siapa pun, tiba-tiba dia mengangkat kakinya, dia berlari beberapa meter untuk menangkap kupu-kupu itu.

Tapi tidak berhasil juga.

Dia membentak, ujung kakinya bertumpu keranting pohon, tubuhnya yang langsing terbang ke atas.

Dia bertekad, kali ini harus berhasil menangkap kupu-kupu itu.

Tubuhnya yang ringan, bajunya berwarna merah muda terbang di udara, bukankah dia sama seperti seekor kupu-kupu yang berwarna-warni?

Ujung kakinya bertumpu ke atas daun, dia maju beberapa meter.

Melihat sayap kupu-kupu yang indah, tangannya dengan pelan menepuk.

Dari telapaknya keluar angin lembut.

Angin diarahkan kepada kupu-kupu itu dan kupu-kupu itu pun terjatuh.

Dia tertawa senang, dia berlari ke tempat di mana kupu-kupu itu jatuh tadi.

Tempat kupu-kupu jatuh adalah semak-semak hutan.

Dia berpikir jika kupu-kupu itu terjatuh kesana dia harus bisa menyambutnya maka dia mengatur nafas dan siap untuk terbang.

Tapi...

Ketika dia melihat, dia terkejut dan berteriak.

Kedua tangannya direntangkan, dia naik 3 meter lagi.

Ternyata ketika dia akan turun, di sana ada seseorang yang sedang duduk seperti patung.

Begitu mendengar teriakannya, pelan-pelan orang itu menoleh.

Begitu pandangan mereka beradu....

Dia berteriak lagi, dia turun di sisi orang itu.

Dia menunjuk orang yang sedang duduk, lalu berkata dengan nada terkejut.

"Kau... kau... Lu Nan-ren!"

Di musim semi yang masih terasa dingin, duduk sambil menghadap kearah gundukan tanah kuburan istrinya orang itu adalah Yi-feng.

Dia duduk semalaman di sini.

Begitu menoleh, dia melihat ada seorang gadis belia memanggilnya dengan nama yang hampir dilupakannya sama sekali.

Dia bergerak untuk melihat.

Dia berkata dengan senang.

"Kau... kau putri Pendekar Ling?"

Gadis itu tertawa.

"Benar, aku adalah Ling-lin, tidak disangka kau masih ingat kepadaku."

Kemudian dia melihat ada gundukan tanah yang masih baru, kemudian dia melihat Yi-feng, matanya berkedip. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi terakhir dengan pelan dia berkata.

"Lu...Paman Lu, mengapa kau duduk di sini? Apakah... apakah...."

Yi-feng menarik nafas memotong.

"Sudah lama kita tidak bertemu, kau sudah besar. Aku... aku juga sudah semakin tua... tua."

Pelan-pelan Yi-feng berdiri, dengan kaku dia melihat Ling-lin.

"Mengapa kau bisa berada di sini? Di mana ibumu? Selama ini kalian tinggal di mana?"

Kemudian Yi-feng tiba-tiba teringat kalau ibu dan anak ini berjanji akan mempelajari ilmu silat yang diajarkan San-xin-shen-jun. Maka dia pun bertanya.

"Mengapa kau tidak belajar ilmu silat kepada Tetua Sanxin malah berada di sini?"

Sorot mata terang Ling-lin melihat wajah Yi-feng yang pucat, tiba-tiba dia tertawa.

"Baru setahun lebih berlalu, mengapa Paman Lu mengatakan kalau Paman sudah tua?"

Yi-feng tertawa kecut.

"Kau masih muda, kau pasti tidak akan tahu, ada sebagian orang dalam waktu semalam dia akan cepat tua. Hhhhh...seperti waktu 10 tahun tapi sebagian orang melewati waktu 10 tahun itu hanya sekejap mata."

Suara Yi-feng terdengar pelan juga rendah seperti menjawab pertanyaan Ling-lin juga seperti bicara pada dirinya sendiri.

Ling-lin melihat gundukan tanah yang baru itu, dia tahu di dalam gundukan tanah itu pasti ada yang membuat Paman Lu menjadi sedih tapi dia tidak berani bertanya.

Dia hanya tertawa ringan.

"Tadinya aku dan ibuku belajar ilmu silat kepada guru, hanya saja sepertinya guru sedang banyak urusan. Beliau hanya mengajariku selama beberapa bulan, lalu beliau mengatakan ingin pergi ke gunung untuk mencari obat. Ketika beliau akan pergi beliau berpesan kepadaku agar belajar silat selama setengah tahun sendiri, kemudian bila aku pergi, beliau menyerahkan keputusannya padaku."

Yi-feng menjawab dengan Oh, sorot matanya yang kaku melihat Ling-lin.

Dia merasa hanya dalam waktu setahun lebih, telah terjadi perubahan besar.

Dulu Ling-lin adalah gadis kecil sekarang dia sudah tumbuh besar.

Melihat ini, hati Yi-feng merasa hangat.

Dia dan ibu anak ini belum begitu lama bertemu tapi mereka bersama-sama melewati hari-hari antara hidup dan mati.

Waktu yang telah mereka lewati tidak akan pernah dilupakan oleh Yi-feng, sekarang melihat Ling-lin, dia seperti bertemu teman lama yang sudah lama tidak ditemuinya.

Karena itu dari sudut mulut Yi-feng muncul senyum tipis dan berkata.

"Karena itu kau hanya berlatih silat selama setengah tahun lantas kau keluar untuk bermain, apakah ibumu tidak merasa khawatir?"

Ling-lin terus melihatnya karena dia sebenarnya hampir melupakan Yi-feng, hanya saja ibunya sering memberitahu padanya ada seseorang yang sangat pemberani juga berpandangan lurus, telah menolong nyawanya dari siluman 'Duo-ming-shuang-si'.

Sampai sekarang dia baru tahu walaupun hanya bertemu sekali dan dalam keadaan tergesagesa, tapi sudah memberikan kesan yang sangat mendalam, sampai dia melihatnya sekarang, Ling-lin langsung tahu siapa Yi-feng.

Ling-lin terus melihat Yi-feng, dia begitu tampan juga dewasa, sorot matanya tajam, seperti bisa tahu apa yang sedang dia pikirkan, hidungnya yang mancung memberikan kesan kalau dia sangat kuat.

Tapi ketika dia tersenyum, wajahnya yang kuat berubah menjadi begitu lembut.

Begitu Ling-lin mengangkat kepalanya, pandangannya bertemu dengan mata Yi-feng, sepertinya dia masih menunggu jawaban Ling-lin, karena itu dengan pelan Ling-lin tertawa.

"Aku bukannya kabur, tapi aku kemari bersama ibu, dia kemari karena ingin mencari seseorang, karena itu aku ikut ibu kemari."

Dia membereskan rambutnya, berkata lagi.

"Paman Lu, sepertinya kau sedang mengalami sesuatu yang tidak enak di hati, apakah Paman bisa memberitahuku? Biarkan... biarkan aku membantumu, kata ibu kalau ada hal yang tidak enak dan selalu tersimpan di hati itu sangat tidak baik. Paman Lu, apakah perkataan ibu itu benar?"

Yi-feng tertawa, tiba-tiba dia merasa gadis ini masih polos dan lucu.

Pelan-pelan dia berjalan mendekat, dia menepuk-nepuk pundak Ling-lin, tawanya tetap tidak bisa menutupi wajah pucatnya, lebih-lebih tidak bisa menutupi sorot matanya yang sedih.

Tapi Yifeng berusaha untuk tertawa, dia merasa tangan yang menepuk pundaknya begitu besar dan hangat.

Siapa pun akan menyerahkan hidupnya di tangan orang seperti Yi-feng.

Yi-feng tertawa dan berkata.

"Apa pun yang dikatakan ibumu pasti benar... kelak... aku akan memberitahumu apa yang kurasakan tidak enak ini."

"Apakah benar, Paman Lu? Jangan bohongi aku."

Diam-diam Yi-feng berpikir, 'Hatiku yang terluka, kepada siapa aku bisa berbagi? Hhhhh..."

Melihat mata Ling-lin begitu serius, dalam hati Yi-feng mengeluh, tapi di mulut dia berusaha berkata.

"Aku tidak akan membohongimu, sekarang apakah kau akan membawaku mencari ibumu?"

Ling-lin tertawa, di pipinya yang kemerahan terlihat ada dua lesung pipi yang dalam, dengan senang Ling-lin menarik tangan besar Yi-feng dan mengajaknya berjalan sambil tertawa.

"Baiklah aku akan membawa Paman mencari ibu, kalau ibu bertemu dengan Paman, ibu pasti akan merasa gembira. Paman Lu, apakah kau tahu ibu selalu menyebut-nyebut nama Paman, dan menurut ibu, Paman adalah seorang yang pemberani serta sangat baik kepada kami, hanya sayangnya ibu tidak tahu selama ini Paman pergi ke mana. Ha ha ha!...kalau ibu melihat Paman muncul bersama denganku, tebak lah apa yang akan terjadi?"

Yi-feng mengikutinya keluar dari hutan, sebelum meninggalkan tempat itu, Yi-feng menoleh ke belakang melihat ke arah gundukan tanah baru itu.

Karena di dalam gundukan itu ada orang yang akan beristirahat selamanya di sana.

Orang itu adalah orang yang pernah dia cintai.

Dia membalikkan kepalanya lagi ke depan, di depannya sekarang terhampar sinar matahari yang cerah, dedaunan berwarna hijau, bumi yang memperlihatkan kehidupan, serta tawa yang lembut dan manis.

Yi-feng menghela nafas, dia merasa hidupnya tetap indah, dunia yang penuh dengan cinta terhadap sesama manusia untuk apa terus tenggelam di dalam kesedihan?

Karena itu dia segera menegakkan dada, memegang erat tangan kecil Ling-lin yang terasa hangat dan siap melangkah ke depan.

o-o-o BAB 69 Musim semi yang sedih Sebenarnya Sun-ming datang bersama dengan Ling-lin ke Xi-liang-shan, tapi setelah berada di Xi-liang-shan, melihat pemandangan indah di sana, hatinya malah terasa tertekan.

Dia sendiri tidak tahu mengapa bisa berperasaan seperti ini, dia juga tidak ingin mencari jawabannya, dia hanya merasa hatinya sedih.

Sampai-sampai dia sendiri tidak tahu kesedihan ini apakah karena dirinya ataukah karena musim semi?

Karena itu dia membiarkan putrinya yang masih muda naik dulu ke Xi-liang-shan dan dengan rela dia membiarkan dirinya disiksa kesedihan ini.

Melihat bayangan punggung putrinya yang terlihat penuh dengan kehidupan, dia merasa puas, bayangan berwarna merah muda adalah bayangan dari dirinya 20 tahun yang lalu.

Di jalan kecil seperti lukisan itu, dengan pelan dia melangkah, masa lalunya mulai mengalir seperti air.

Masa lalu, masa lalu...tidak akan bisa putus begitu saja, sekarang dipikir pun hatinya masih terasa kacau.

Mengapa manusia selalu mengenang masa lalu?

Kalau manusia melihat masa depan, bukankah hidupnya akan lebih bahagia dibandingkan sekarang?

Masa muda seperti air sungai yang mengalir, setelah mengalir tidak akan pernah kembali lagi.

Air yang mengalir di sungai, daun merah yang bergantung di pohon, senyum seseorang, bahasa cinta yang tiada habisnya....

Di sana sini dipenuhi dengan pemandang-an musim semi.

Tapi perempuan ini tidak merasakannya, padahal usianj'a belum begitu tua.

Dia memang tidak terlihat tua, tapi di hatinya yang terdalam, walaupun sekarang musim semi, tapi masih terasa dingin seperti di musim dingin.

Dia tidak tahu apa yang dia cari, dalam kehidupan ini sepertinya tidak ada yang dicarinya lagi.

Kecuali sosok merah muda itu.

Akhirnya dia mempunyai tempat di mana dia bisa menitipkan kehidupannya, tidak lewat dari 100 tahun dan dilewati dengan terburu-buru, tapi jiwanya sudah ada pewarisnya.

Langkah kakinya dipercepat, dia berusaha berjalan tanpa melihat ke sekeliling juga berusaha tidak memikirkan sesuau.

Kemudian...

Dia mendengar tawa putrinya, terdengar teriakan putrinya yang begitu gembira.

"Ibu!"

Dia membersihkan debu tipis yang menempel di wajahnya juga menghilangkan raut kekhawatiran dari wajahnya, segera tersenyum menjawab sapaan putrinya.

"Ling-er, aku di sini!"

Dijalan kecil itu, tampak dua bayangan yang berlari, itu adalah bayangan putrinya, tapi... Siapa pemilik bayangan yang satu lagi? Dia melihat.

"Ya..."

Dia ikut berteriak.

"Tidak disangka, benar-benar tidak disangka, Lu... Nan-ren, Nan-ren, kau ada di sini!"

Perempuan berusia sekitar 35 tahun seharusnya bisa.

menguasai diri, tapi sekarang dia tidak bisa menutupi perasaan gembiranya.

Dia mengangkat gaunnya dan berlari ke arah mereka.

Dia bergerak dengan cepat membuat siapa pun terkejut, Yi-feng tertawa, pertama kali dalam beberapa hari ini, dia bisa tertawa lepas kepada seorang perempuan yang rambutnya digelung dan bergaun, serta terlihat anggun.

Tapi sekarang dia berperilaku seperti seorang laki-laki, mengangkat gaunnya dan berlari dengan cepat ke arah mereka.

Yi-feng tidak menyangka, dalam kehidupannya ini dia bisa melihat peristiwa lucu ini.

Tawa Yi-feng mengandung sejuta penghiburan, dia juga segera berlari menghampiri Sun-ming, sambil tertawa dia berkata.

"Sun... Nyonya Ling, aku... aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Anda di sini."

Kebiasaan membuatnya mengubah nama panggilan kepada Sun-ming, dia tertawa.

"Nyonya? Lebih baik kau memanggilku kakak!"

Dia melihat tawa Yi-feng mengandung kesedihan dan wajahnya terlihat pucat, dia berkata pada Ling-lin.

"Ling-er, di mana kau bertemu dengan Paman Lu?"

Ling-lin dengan cepat bercerita dengan lancar, setelah selesai bercerita kedua alis Sun-ming tampak berkerut, sekali lagi dia melihat Yi-feng, sorot matanya penuh dengan tanda tanya, dia ingin bertanya pada Yi-feng, 'Mengapa kau duduk sendirian di sana?

Apakah banyak hal yang membuatmu tidak enak hati?' Tapi dia tidak menanyakannya pada Yi-feng.

Walaupun dia tidak bertanya tapi Yi-feng sudah tahu Sun-ming ingin menanyakan itu padanya, dia menundukkan kepalanya pura-pura tertawa, dengan ringan dia berkata.

"Kakak, tolong suruh putrimu jangan memanggilku Paman Lu, karena aku... aku sekarang sudah tidak bermarga Lu lagi, panggil saja aku Yi-feng."

Sekarang dia tidak bisa berpura-pura gembira, karena Sun-ming tahu kalau hati Yi-feng diliputi banyak kesedihan dan kekhawatiran, di lain pihak dia pun tahu Yi-feng tidak ingin mengungkapkannya, dia tidak banyak bertanya lagi.

Terlalu banyak kesusahan, terlalu banyak kesedihan, membuat Sun-ming mengerti dan menjadi iba kepadanya.

Dia mencoba mengalih-kan percakapan dan tertawa.

"Aku akan memanggilmu Yi-feng, apakah Ling-er juga harus memanggilmu Yi-feng?"

Sambil tertawa Ling-lin melihat Yi-feng, Yi-feng pun melihat Ling-lin, dia tertawa dengan terpaksa.

"Mengapa tidak boleh?"

Tawa Ling-lin semakin lebar. Dia melihat ibunya, sepertinya dia sudah dewasa dan berkata.

"Yi-feng tidak apa-apa. bagaimana kalau kita bawa dia ke bibi tertua?"

Dia sengaja menyebut nama Yi-feng dengan jelas, Sun-ming sedikit marah melihat putrinya.

Tapi sewaktu pandangan Sun-ming melihat wajah Yi-feng, kemudian melihat Ling-lin, sorot marah-nya tadi karena melihat sesuatu tiba-tiba dia teringat sesuatu.

Wajahnya mengeluarkan tawa hangat.

Karena itu dia memberitahu Yi-feng kali ini kedatangannya ke Xi-liang-shan karena dia ingin mengunjungi sepupunya yang sudah lama tidak ditemuinya.

"Sudah lama aku tidak bertemu dengan-nya, aku sama sekali tidak berencana mencarinya, tapi karena sekarang...."

Dia tertawa.

"Mungkin karena aku telah berumur, tiba-tiba aku teringat masih ada keluarga di sini, maka aku pun mencarinya."

Dari tawanya terdengar ada sedikit keluhan.

"Kalau kau tidak ada hal penting, bagai-mana kalau kita pergi bersama-sama?"

Tiba-tiba dengan gembira dia berkata.

"aku beritahu padamu, kakak sepupuku ini adalah seorang perempuan aneh, dia juga menikah dengan laki-laki aneh, dan tinggal di tempat aneh, kalau kau ke sana, aku tanggung kau tidak akan merasa kecewa."

Yi-feng berpikir sejenak, 'Sekarang kemana aku harus pergi?' walaupun banyak hal yang harus dia lakukan, sekarang yang mana yang harus dikerjakannya dulu, dia sendiri masih bingung, karena itu dia memutuskan untuk ikut dengan mereka saja.

Dengan cepat mereka naik gunung, Sun-ming terus mengajaknya mengobrol, Ling-lin di sisi mereka terus melihat Yi-feng.

Kata Sun-ming.

"Sudah lama aku tidak ke sini, tapi aku pernah datang kemari sekali, waktu itu aku datang bersama dengan Bei-xian."

Matanya terlihat jadi merah, kemudian dia berusaha tertawa.

"sampai sekarang aku masih ingat jalan menuju rumah mereka, karena rumah mereka aneh."

Dalam hati Yi-feng berkata, 'Apakah maksudnya adalah dia?' Terdengar Sun-ming bertanya.

"Apa sempat bertemu dengan Tuan Jian?"

Yi-feng menggelengkan kepala.

"Aku pun sudah lama tidak bertemu dengannya,"

Kata Sunming.

"Kau pergi ke Wu Liang Shan, mengapa begitu lama? Apakah terjadi sesuatu?...ohh, benda yang kau cari, apakah berhasil kau temukan?"

Yi-feng menghela nafas lalu dia menceritakan apa yang terjadi setahun lalu. Sun-ming tiba-tiba berteriak.

"Kita sudah tiba!"

"Sesampainya di sana, kau bisa menerus-kan ceritamu tadi, aku tahu ceritanya pasti sangat panjang."

Melihat gunung begitu tinggi, dia berkata sendiri.

"Di sini pasti dia sudah berlari ke depan.' Awal musim semi, pohon-pohon masih belum mengeluarkan tunasnya, jantung Yi-feng berdebar-debar, karena dugaannya semua telah terbukti.

"Kakak sepupunya, ternyata benar adalah istri Tie-mian-gu-xing-ke, dia memang perempuan aneh dan mendapat suami aneh pula. Tempat tinggalnya pun aneh. Hhhh...bagaimana aku bisa ikut dengannya ke tempat tinggal Wan Tian-pin?"

Hanya Ling-lin yang tampak senang, begitu memasuki hutan, dia memegang erat tangan Yifeng, dia berjalan dengan senang dan tidak merasa tangan Yi-feng bergetar begitu mendengar Sun-ming berkata.

"Sewaktu aku datang kemari, kakak iparku tidak ada di rumah, sekarang dia pasti sudah pulang!"

Sekarang Yi-feng menjadi serba salah, seharusnya dia tidak perlu ikut Sun-ming ke sana, tapi melihat ibu dan anak ini, apalagi melihat wajah Ling-lin yang polos, dia tidak tega menolak permintaan mereka.

Begitu memasuki hutan, langkah mereka semakin cepat, setelah berbelok ke kanan, ada jalan dengan lebar sekitar 4 meter, melihat jalan ini terus naik ke atas, Yi-feng bingung, 'Bagaimana aku harus bertindak sekarang?' --BAB 70 Perubahan yang mengejutkan Tiba-tiba...

Di jalan gunung itu terdengar ada yang marah-marah.

"Monyet tua, kau bersembunyi di sana dan tidak mau keluar, apakah itu adalah perbuatan seorang laki-laki sejati? Ha, ha, ha...Aku mengira Tie-mian-gu-xing-ke adalah seorang lelaki sejati, ternyata hanya seekor beruang."

Yi-feng terkejut.

Dia mendengar pemilik suara itu adalah si Tangan Terampil Xu-bai.

Sun-ming dan Ling-lin pun terkejut.

Sun-ming pernah mendengar tentang Pencuri Selatan dan Perampok Utara yang selalu bertarung.

Dia segera bertanya.

"Apakah si Tangan Terampil Xu-bai juga datang kemari?"

Ling-lin bertanya.

"Siapakah dia? Mengapa begitu tidak tahu diri. Ayo, kita ke sana untuk melihat lebih jelas!"

Dia menarik tangan Yi-feng, dengan cepat mereka berjalan naik ke atas gunung.

Yi-feng masih tampak ragu tapi langkahnya tetap mengikuti Ling-lin ke atas gunung.

Tubuh Ling-lin bergerak dengan ringan dan indah, ilmu silatnya lebih tinggi dibandingkan setahun lalu, dalam hati Yi-feng diam-diam memuji, 'San-xin-shen-jun benar-benar mengajarinya dengan tepat, dalam waktu setahun dia bisa mendapatkan seorang murid begitu istimewa."

Setelah berlari sekitar 50-60 meter, mereka tiba di ujung jalan. Terlihat ada sesosok bayangan tinggi dan besar, dia berdiri di ujung jalan dan berteriak.

"Siapa?"

Pemilik sosok ini pasti adalah Tangan Terampil Xu-bai. Setelah membentak, sorot matanya yang tajam segera mengetahui siapa yang berlari kearahnya. Dia tertawa terbahak-bahak.

"Ternyata kau. Ha...mengapa kau membawa seorang gadis cilik?"

Dia menyambung lagi.

"bukan hanya satu malah dua orang."

Ling-lin yang masih marah melihat orang yang ingin dimarahinya kenal dengan Yi-feng, dia terpaku dan kata-kata yang dilontarkan, segera ditarik kembali. Sun-ming terkejut dan bertanya.

"Yi-feng, apakah kau kenal dengannya?"

Yi-feng mengangguk. Tangan Terampil Xu-bai tertawa terbahak-bahak. Dia mendekati Yi-feng dan memegang pundak Yi-feng.

"Kau datang tepat pada waktunya, kau bisa melihat bagaimana rupa si monyet tua Wan Tianpin. Aku bertarung sampai di tempat ini tiba-tiba dari pondok itu muncul seorang perempuan. Dia berteriak kepada Wan Tian-pin. Ha, ha, ha! Kau tahu seumur hidupku, aku paling tidak senang bicara dengan perempuan karena itu aku berhenti berkelahi. Biar dia yang bicara dengan perempuan itu sampai puas tapi tiba-tiba datang seutas tali. Monyet tua Wan Tian-pin sudah menarik tali itu dan menyeberang ke sana."

Dia memukul tangannya sendiri, lalu tertawa lagi.

"Begitu dia sudah kesana, dia tidak muncul sampai sekarang. Aku marah-marah sudah setengah hari, dia seperti seekor kura-kura...."

Alis Ling-lin berkerut, tiba-tiba dia tertawa dingin memotong kata-kata Xu-bai.

"Siapa kau? Mengapa marah-marah kepada pamanku? Umur sudah tua tapi kelakuan masih seperti anak kecil yang hanya bisa marah-marah kepada orang lain, apakah kau tidak tahu apa yang disebut dengan malu?"

Tangan Terampil Xu-bai terpaku.

"Pamanmu?"

Dia melihat Yi-feng kemudian melihat Ling-lin kemudian dua bola matanya berputar-putar, tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

"baik, baik! Gadis kecil, selama puluhan tahun tidak ada yang berani memarahiku, sekarang kau mengatakan kalau aku seperti anak kecil yang tidak tahu malu. Ha, ha, ha!"

Dia menunjuk Yi-feng dan berkata.

"Anak muda, gadis-gadis yang kau bawa semakin lihai."

Wajah Yi-feng menjadi merah, belum sempat menjawab, Sun-ming menjawab dengan dingin.

"Apakah Tuan adalah Tangan Terampil Pendekar Xu-bai?"

Tangan Terampil Xu-bai terpaku dan mengangguk.

"Betul, aku adalah Xu-bai."

"Nama Pendekar Xu sangat terkenal di dunia persilatan, seharusnya kata-katamu tadi lebih pantas Anda ucapkan supaya para junior bisa belajar lebih banyak kepada Anda."

Tangan Terampil ingin marah.

Tubuhnya yang tinggi dan besar terlihat lebih tinggi lagi.

Tapi Sun-ming tidak tampak takut, sepertinya di dunia ini tidak ada yang bisa membuat perempuan kuat ini takut.

Tiba-tiba Xu-bai tertawa.

"Ha, ha, ha! Kau salah, aku bukan seorang pendekar, aku seorang pencuri!"

Tawanya berhenti, sorot matanya yang tajam terlihat lagi. Dia berkata.

"aku ingin bertanya kepadamu. Siapa kau ? Untuk apa mengurusi masalahku?"

Dia bertanya kepada Yi-feng.

"jika bukan karena aku kenal denganmu, sejak tadi aku sudah...."

Yi-feng segera berkata.

"Dia adalah Nyonya Ling dan suaminya adalah 'San-xiang-da-xia' yang sangat terkenal itu dia adalah putri San-xiang, dan kakak Nyonya Ling adalah istri Tetua Wan,"

Dengan susah payah dia baru bisa menceritakan hubungan antara mereka dengan Wan Tian-pin. Tangan Terampil Xu-bai hanya menjawab.

"Oh!"

Perlu diketahui dulu nama 'San-xiang-da xia' itu sangat terkenal maka orang persilatan seperti Xu-bai bila mendengar nama ini maka mereka akan merasa hormat kepada nama ini.

Ini hanya sikap hormat antar pesilat bukan karena Tangan Terampil Xu-bai takut kepada Ling Bei-xiu.

Dia tertawa dan berkata lagi.

"Karena nama anak kecil dan Ling Bei-xiu, aku tidak akan memarahi monyet tua itu lagi, tapi aku tetap akan terus menunggunya di sini, dia tidak mungkin selamanya bersembunyi di sana.... Ha, ha, ha! Apakah mungkin selamanya dia tidak akan keluar?"

Dia berjanji tidak akan marah-marah, tapi dia tetap memanggil nama "monyet tua'.

Dalam hati Yi-feng ingin tertawa, Ling-lin juga merasa pak tua ini sangat lucu.

Dia melihat Xubai kemudian tertawa.

Karena Ling-lin sangat polos, dia tidak menaruh dendam kepada siapa pun apalagi pak tua ini kenal dengan Yi-feng.

Hanya wajah Sun-ming terlihat datar, tapi dia ingin memberitahu Wan Tian-pin kalau dia sudah datang kemari.

Tapi dia takut jika Wan Tian-pin melihat Xu-bai mereka akan kembali bertarung, maka dia hanya diam saja, menghadap ke rumah berloteng yang ada di seberang jurang sambil duduk bersila.

Tidak ada yang seorang pun yang berbicara karena tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Ling-lin terus melihat ke seberang, setelah lama dia baru mengeluh.

"Sebenarnya apa yang sedang kalian tunggu? Menunggu itu hal pkerjaan yang paling tidak enak. Ketika aku sedang naik gunung, aku sempat melihat seorang pak tua sedang menunggu adik ketiganya. Mereka sepertinya sudah menunggu sehari semalam..."

Dengan cepat Yi-feng bertanya.

"Apakah orang yang menunggu adik ketiganya itu apakah adalah seorang pak tua yang tubuhnya kurus dan wajahnya penuh dengan kesedihan?"

Ling-lin melotot sambil mengangguk.

"Betul, kecuali pak tua itu masih ada 3 orang lainnya. Mereka memakai baju berwarna biru. Apakah kau kenal dengan mereka?"

Hati Yi-feng bergetar, dia berpikir cepat.

"Apakah mereka adalah Hua Pin-qi dan yang lainnya, dan mereka sedang menunggu adik ketiga mereka?"

Alisnya berkerut, dia menarik Ling-lin dan bertanya.

"dimana sekarang mereka berada?"

Ling-lin merasa aneh, pelan-pelan dia menjawab.

"Di tengah gunung, di sebuah pondok beratap merah, mereka sedang menunggu adik ketiganya."

Tubuh Yi-feng bergetar, 'Adik ketiga?

Berarti mereka sedang menunggu Xiao-wu.

Apakah mereka telah bertemu dengan Xiao-wu?' Tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan berlari secepat kilat menuju jalan yang mereka lewati tadi.

Sekarang dia tidak ingat apa-apa, hanya teringat pada 'Xiao-wu', dia sama sekali tidak bisa berpikir.

Jika bertemu dengan Xiao-wu, apa yang harus dia lakukan?

Lebih-lebih tidak terpikirkan apakah dia bisa melawan ketua Tian-zheng-jiao ini?

Dia hanya berharap bisa melihat lawannya yang begitu kejam dan sadis.

Dendam yang sudah lama bercokol di dalam hati sekarang seperti gunung berapi yang siap meledak.

Seperti orang gila dia berlari turun gunung.

Xu-bai, Ling-lin, dan Sun-ming hanya bisa saling pandang.

Ling-lin berteriak.

"Ibu, aku akan mengikutinya untuk mengetahui apa yang terjadi."

Sosok Yi-feng yang tinggi seperti seekor burung walet terbang ke hutan.

Ling-lin tidak menyangka Yi-feng bisa berlari begitu cepat.

Walaupun mengejar dengan sekuat tenaga, dia tidak sanggup mengejarnya.

Terpaksa dia berteriak.

"Yi-feng, tunggu aku..."

Suaranya keras, tapi Yi-feng sama sekali tidak mendengarnya.

Yi-feng mulai merasa dia berlari lebih cepat dari biasanya.

Ilmu silat memang sangat aneh, sedari kecil dia belajar ilmu silat, dia mempunyai dasar ilmu silat yang kuat, apalagi semenjak nadinya sudah dilancarkan oleh Tuan Jian, maka tenaga dalamnya bertambah sepuluh kali lipat.

Kemudian di dalam gua di saat dia terkurung, dia belajar dari buku 'Tian-xing-mi-ji', tenaga dalam yang paling tinggi dalam bidang ilmu silat, membuat kemampuannya maju pesat.

Hanya dia sendiri tidak menyadarinya.

Sekarang karena dia mengeluarkan seluruh tenaganya dia baru tahu kalau ilmu silatnya maju pesat.

Dia berlari seperti orang gila.

Pohon di kedua sisinya seperti bergerak mundur dengan cepat, 'Apakah betul Xiao-wu akan pergi ke pondok itu dan bertemu dengan Hua Pin-qi?

Apakah sekarang dia sudah pergi dari sana?' Dia berpikir, 'Sekarang aku sudah memiliki ilmu silat lebih tinggi dari terakhir, apakah aku bisa melawan Xiao-wu?"

Dia sangat ingin mengetahui jawabannya karena itu dia berlari lebih cepat lagi. Bersambung

Jilid 3

Jilid KE TIGA BAB 71 Mati tanpa menutup mata Gunung di sinari matahari memantulkan cahaya berwarna emas.

Yi-feng mengedipkan matanya.

Otot di wajahnya terasa kaku juga kering.

Tiba-tiba dia teringat pada wajahnya sendiri yang sudah lama tidak terkena sinar matahari dan sudah beberapa hari tidak dicuci.

Setelah dibentuk oleh ketrampilan tangan Xiao Nan-pin, wajahnya selalu tertutup oleh topeng maka sekarang kulit wajahnya seperti kulit ikan yang kering karena ditiup angin.

Dia menertawakan dirinya sendiri.

'Ternyata mengubah wajah dengan keterampilan tangan merupakan hal yang sangat merepotkan.

Aku hanya berrbah selama beberapa bulan saja sudah tidak tahan, sedangkan Xiao San-ye dulu menyamar menjadi beberapa orang, bagaimana caranya melewati semua ini?' Sambil berlari dia meraba-raba wajahnya yang kering, 'aku harus mencari air!' Dia berpikir, 'tapi akan kulakukan setelah bertemu dengan Xiao-wu!' Dia tidak tahu kalau dendam bisa membuat seseorang bertahan terhadap hal yang sulit dilewati.

Sekarang dia sudah mengetahuinya dengan jelas.

Pikirannya kacau dan darah dalam tabuhnya terus bergejolak.

Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berlari mungkin hanya dalam sekejap mata.

Terlihat di antara pegunungan hijau ini ada sebuah pondok beratap merah.

Dia jadi merasa senang, lalu menarik nafas panjang, dia mulai berlari.

Hanya beberapa kali turun naik, pondok beratap merah seperti disihir sudah berada di depan matanya, benar-benar sebuah kenikmatan baginya.

Jika tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi, tentu saja tidak akan bisa merasakan perasaan senang ini.

Kemudian dia meloncat sekali lagi, sekarang dia sudah berada di dalam pondok.

Pada waktu itu, dia merasa bumi dan langit berputar.

Dia hampir terjatuh setelah maju beberapa langkah.

Dia memegang pagar pondok berwarna hijau, terdengar suara PRAK...!

Pagar yang terbuat dari bambu terbelah dan hancur.

Dia tidak bergerak, matanya berkobar seperti ada api di dalamnya.

Dia melihat...

4 mayat di pondok ini.

Pagi hari di musim semi, bumi laksana seorang gadis cantik, menyimpan mantel yang tebal dan mengganti baju yang basah karena berkeringat.

Pemuda yang penuh cinta selalu melihat tubuh gadis yang langsing dan selalu menyanyikan lagu cinta.

Sekalipun dia sudah tua, dia akan meletakkan sebuah kursi di depan rumah untuk menikmati sinar matahari yang hangat.

Tapi....

'Fe-hong-qi-jian'.

Fe-hong-qi-jian' yang datang dari luar Jiang-nan!

--BAB 72 Ini adalah kepala SREEKK!

Ling-lin menyobek bajunya untuk membungkus luka di telapak Yi-feng.

Yi-feng merasa mati rasa, dendam membuatnya menjadi mati rasa.

Tapi hati yang disangkanya telah mati rasa sekarang mulai terasa ada sedikit getaran.

Dia berusaha memberontak, dia ingin mengeluarkan jantungnya dari rasa gemetar ini.

Dia menarik tangannya dari genggaman sepasang tangan yang kecil dan putih, Yi-feng melihat mata yang merah karena telah menangis, melihat rambutnya yang berantakan.

Baca Juga: Tengkorak Maut 1

Baca Juga: Lembah Nirmala 14

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger