Terbang Harum Pedang Hujan 6

Eps 6 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

Dia tahu kalau dia melakukan tindakan seperti ini merupakan perbuatan yang sangat kejam.

Mereka berdua berlutut di sisa mayat-mayat itu, tidak ada yang menoleh ke belakang.

Mereka tidak tahu sekarang...

Sekarang ini di luar pondok seorang pemuda berjalan keluar tanpa suara.

Tubuhnya yang kurus tapi terlihat kuat, memakai baju berwarna kuning muda...seperti warna emas.

Kedua tangannya yang panjang membawa sebuah kotak yang terbuat dari kayu dengan ukuran setengah meter persegi.

Tubuhnya bergerak sangat ringan, berjalan pun tanpa bersuara, tapi sorot matanya berat, sangat berat dan terus melihat Ling-lin.

Dia melihat Ling-lin dengan terpaku, matanya mengeluarkan cahaya api yang panas kemudian dia terbatuk...

Yi-feng dan Ling-lin terkejut, dengan cepat mereka menoleh ke belakang dan membentak.

"Siapa!"

Pemuda ini berjalan ke sisi pondok, kedua tangannya mengangkat kotak kayu itu tinggi-tinggi. Dia berkata.

"Aku diperintahkan oleh guru untuk menemui 'Tie-ji-wen-hou' Pendekar Besar Lu!"

Tubuh Yi-feng bergetar, matanya bersorot seram. Dia membentak.

"Siapa kau? Siapa gurumu?"

Dia sama sekali tidak menyangka kalau nama asli yang sudah lama disimpannya, sekarang ini tiba-tiba diketahui oleh seorang pemuda yang tidak dikenalnya.

Seperti jarum tajam yang ditusukan ke jantung yang sudah mati rasa.

Waktu itu dia merasa darah di sekujur tubuhnya yang tadinya sudah membeku mulai mengalir lagi.

Sorot mata Yi-feng seperti kilat melihat pemuda itu, pemuda ini tetap berdiri tegak dan berkata.

"Namaku adalah Zhong-jing, aku diperintahkan oleh guruku untuk menyerahkan kotak kayu ini kepada Pendekar Lu. Jika Tuan adalah Pendekar Lu, harap Anda menerima kotak ini, jika Anda bukan Pendekar Lu, aku akan pamit sekarang."

Kedua tangannya yang kurus mengangkat kotak kayu yang terukir indah.

Sikapnya tenang, suaranya jelas, Yi-feng belum pernah melihat pemuda masih begitu muda tapi sikapnya begitu tenang, sepertinya semua perubahan yang terjadi tidak membuatnya terkejut.

Tapi ketika matanya melihat Ling-lin, sorot matanya yang tenang terlihat seperti mengeluarkan asap panas.

Sorot mata seperti ini tidak seimbang dengan wajahnya yang tenang, seperti dimusim dingin ada binatang jatuh yang lewat.

Alis Yi-feng terangkat, dia menerima kotak kayu itu.

Lin Lin dengan mata besar melihat mereka, setelah Zhong-jing menyerahkan kotak kepada Yifeng, dia segera membalikkan tubuhnya dan akan pergi dari sana.

Tiba-tiba Ling-lin membentak.

"Tunggu dulu!"

Pemuda yang bernama Zhong-jing terpaku, dia berhenti melangkah, wajah tetap datar. Jika kau melihat dengan teliti, kau akan tahu kalau otot di wajahnya sudah membeku. Pelan-pelan dia berkata.

"Tugasku sudah selesai, apa Pendekar Lu masih ada pesan lain yang akan disampaikan?"

Yi-feng melihat kotak kayu yang diukir itu dan berkata.

"Maaf, tolong bukakan kotak ini."

Yi-feng mulai menaruh curiga.

Dia takut kalau di dalam kotak kayu itu tersimpan sesuatu yang bisa mencelakainya maka dia pun berkata demikian.

Zhong-jing melihatnya dengan dingin kemudian pelan-pelan berkata.

"Guruku hanya memerintahkan agar membawa kotak kayu ini kepada Pendekar Lu, tidak menyuruhku membukakan kotak kayu ini untuk Pendekar Lu. Jika Pendekar Lu tidak berniat membuka kotak kayu ini, tidak ada hubungannya denganku."

Suara pelan tapi sangat jelas, hal ini membuat alis Yi-feng berdiri. Baru saja dia akan menjawab, Ling-lin sudah membentak.

"Jika dia menyuruhmu membuka kotak ini kau harus membukanya, tidak perlu banyak omong!"

Zhong-jing terdiam.

Dia seperti sedang menimbang-nimbang, kemudian tanpa mengata-kan apa-apa dia mengambil kotak kayu itu dari tangan Yi-feng.

Yi-feng melihat sikap pemuda ini tenang, matanya terang, wajahnya tampan, dia berbalik melihat Ling-lin.

Matanya yang bersinar terang seperu' ada sedikit rasa senang.

Sepertinya dia memuji Ling-lin karena mampu membuat pemuda ini mendengar kata-katanya.

Yi-feng bertanya.

"Berapa umurmu?"

Karena pertanyaan ini begitu mendadak, membuat pemuda ini hanya terpaku. Matanya berputar, dia menjawab dengan tenang.

"Aku berumur 17 tahun."

Dengan nada dingin dia berkata lagi.

"pertanyaan ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Pendekar Lu, sebenarnya aku tidak perlu menjawabnya tapi karena ini pertama kalinya Pendekar Lu bertanya maka aku harus menjawab, lain kali...."

Dia berhenti bicara kemudian tangan kanannya melayang, kotak kayu itu terbuka. Lu Nan-ren mengeluh.

"Sikap pemuda ini tenang dan tidak banyak bicara, tapi jika sekali bicara kata-katanya tajam. Menyikapi sikap seseorang sangat tepat tapi dia sedikit sombong. Dia tidak rendah diri, benarbenar sifat seorang pemuda. Siapa yang bisa mengajar muridnya hingga bisa menjadi seperti ini... apakah...."

Tiba-tiba Ling-lin berteriak kemudian wajahnya ditutup dan membalikkan kepalanya.

Yi-feng melihat dengan teliti, pemuda ini tetap mengangkat kotak itu dengan lurus lalu berdiri di tangga, sorot matanya tidak beralih.

Di dalam kotak kayu yang terukir sangat indah terdapat sehelai kertas berwarna kuning muda.

Kotak itu berisi sebuah kepala orang yang sudah tidak berdarah.

Rambut orang itu berantakan.

Yi-feng merasa tubuhnya gemetar.

Dia merebut kotak itu untuk melihatnya lebih jelas.

Wajah orang itu sudah tua dan pucat, tidak ada setetes darah pun di sana, lebih-lebih tidak ada warna darah, sepertinya terbuat dari lilin.

Begitu melihat kepala ini, dia berteriak dengan suara gemetar dia berkata.

"Zhu-sha-zhang You Da-jun!"

Dia sama sekali tidak menyangka kalau kepala yang di dalam kotak kayu itu adalah milik orang Tian-zheng-jiao, ketua berbaju kuning dari kantor pusat, Zhousha-zhangYou Da-jun.

Karena terkejut Yi-feng membentak.

"Berdiri di sana, siapa yang menyuruhmu membawanya kemari?"

Zhong-jing tertawa dingin.

"Sejak tadi aku tidak ingin pergi, sekarang bahkan lebih tidak ingin pergi lagi. Harap Pendekar Lu tidak perlu merasa khawatir."

Kemudian dia berkata dengan dingin lagi.

"Sebenarnya siapa yang menyuruhku kemari, aku kira Pendekar Lu bisa menebaknya. Jika Pendekar Lu belum bisa menebaknya, bacalah surat yang ditulis oleh guruku, kau pasti akan segera mengetahuinya."

Sorot matanya terus melihat ke depan dan tidak beralih.

Sepertinya dia takut melihat gadis berbaju merah muda itu.

Begitu surat itu dibaca, di dalamnya berisi.

Tuan Tie-ji-wen-hou yang terhormat, Nama Tuan sangat terkenal di dunia persilatan tapi aku merasa menyesal karena kita belum pernah bertemu.

Setahun yang lalu tiba-tiba aku mendengar berita kematian Tuan, aku merasa sangat terkejut, tapi aku baru tahu sekarang kalau itu hanyalah sekedar kabar burung.

Dengan ide cemerlang, Tuan membohongi orang-orang di dunia ini.

Aku benar-benar memuji kepintaran Tuan.

Aku dan Tuan sebenarnya mempunyai kemampuan yang sama, sekarang aku sedang membalas dendam di Bao-ding-zheng.

Karena di kota Bao-ding inilah orang itu menyerangmu satu kali dan kepala orang bodoh ini kuberikan pada Tuan.

Aku juga membunuh putra yang tidak tahu diri ini, membantu Tuan membunuh istri yang tidak setia dan genit..."

Sesudah membaca sampai di sini, mata Yi-feng hampir mengeluarkan api.

Dalam surat itu tertulis lagi.

Dari sini Tuan bisa tahu kalau aku benar-benar membantu menegakkan keadilan tapi mengapa Tuan selalu berseberangan pendapat denganku.

Hal ini benar-benar membuatku sedih."

Yi-feng benar-benar marah.

"Tidak tahu malu, rendah, dan tidak tahu diri!"

Surat itu masih tertulis.

"Sekarang aku ada keperluan lain dan harus pergi ke Jiang-nan maka aku tidak bisa bertamu dengan Tuan, sungguh sangat disayang-kan!"

Yi-feng tertawa dingin.

"Aku merasa lega tidak bisa bertemu dengannya."

Dia ingin memakan dagingnya dan mengupas kulitnya.

Surat itu masih tertulis.

Tahun ini di bulan lima Duan-yang-jie (hari pecun), aku akan bersulang arak Ai (ai=semacam daun, biasa dikeringkan kemudian digulung seperti rokok untuk menghangatkan nadi-nadi tertentu di badan manusia).

Di Nan-hu di rumah makan Yan-yu aku harap Tuan bisa datang dan kita bertemu di sana.

Waktu itu aku yakin kita bisa mengobrol lebih banyak dan minum.

Sekian dan terima kasih dan semoga Tuan sehat selalu.

Yang bertanda tangan di bawah.

Ketua Tian-zheng-jiao, Xiao-wu.

Karena marah telapak Yi-feng gemetar, dia ingin menyobek surat yang ditulis dengan dingin ini di belakang surat itu masih ada tulisan lain.

"Ada dua hal di mana aku harus mengucapkan terima kasih padamu. Pertama, Tuan telah membuka topeng yang membuat Tuan mirip denganku, hal ini membuatku menjadi tenang. Kedua, kuda yang biasa Anda tunggangi benar-benar seekor kuda bagus, membuatku jadi sangat leluasa. Tuan memberikan kuda ini kepadaku, pantas orang di dunia persilatan mengatakan Anda bukan orang yang pelit."

Masih ada lagi.

"Sekarang orang dunia persilatan sudah tahu kalau Tuan belum mati, mengapa Tuan membuang nama pemberian orang tua, bukankah ini sangat disayangkan?"

Ling-lin diam-diam menoleh, dia memang tidak "jelas membaca surat yang Yi-feng baca tapi dari raut wajah Yi-feng, dia tahu surat itu pasti berisi kata-kata yang tidak berkenan di hati Yifeng.

Karena itu diam-diam dia menjulurkan tangannya memegang tangan Yi-feng.

Tapi...

Tiba-tiba Yi-feng membalikkan tangannya, kotak kayu berwarna ungu itu terbang ke luar.

Surat itu pun disobeknya menjadi dua, Zhong-jing yang masih berdiri di depan Yi-feng tidak bergerak.

Dia hanya melihat wajah dan mata Yi-feng seperti akan mengeluarkan api.

--BAB 73 Kembali memakai nama asli Kotak berwarna ungu itu sudah terbang jauh, kepala orang yang ada di dalam kotak terguling ke tanah.

Tiba-tiba.

Tubuh tinggi Yi-feng seperti kilat dan seperti panah yang dilepas dari busur terbang jauh menyambut kepala orang itu yang hampir terjatuh keluar kemudian ujung kakinya bertumpu.

Dia sudah kembali ke tempatnya lagi kemudian pelan-pelan meletakkan kepala itu ke dalam kotak dan diletakkan di bawah.

Karena marah dia melempar kepala ini tapi begitu kepala itu terbang, dia baru teringat kalau dia tidak boleh bertindak sekejam ini kepada yang sudah mati.

Ling-lin menarik nafas.

Wajah pemuda bernama Zhong-jing yang selalu datar itu sepertinya terlihat sedikit terkejut melihat kepandaian Yi-feng yang begitu tinggi.

Terdengar Yi-feng tertawa dingin.

"Ternyata kau adalah murid Xiao-wu."

Dengan tenang Zhong-jing menjawab.

"Betul! Jika Tuan tidak ada pesan lain lagi, aku akan pamit sekarang."

Alis Yi-feng berkerut, tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak sambil melihat langit lalu berkata.

"Jika kau murid orang jahat ini, mengapa kau tidak pergi? Kau benar-benar sangat pemberani."

Tawanya berhenti, wajahnya pelan-pelan menyiratkan hawa membunuh, dia membentak.

"Apakah kau tidak takut kalau aku akan membunuhmu?"

Dengan tenang Zhong-jing menjawab.

"Dua negara berperang, tidak akan memenggal utusannya. Aku tahu Pendekar Lu tidak bermaksud membunuhku."

Lalu katanya lagi.

"jika Pendekar Lu mempunyai keinginan membunuh juga belum tentu aku akan merasa takut!"

Wajah Yi-feng sangat dingin dan membentak.

"Gurunya seperti itu, muridnya pasti tidak akan jauh dari gurunya. Jika membiarkan kau terus hidup di dunia ini, akan menambah banyak orang jahat, mengapa aku tidak boleh membunuhmu?"

Diiringi suara bentakan, tangan Yi-feng melayang ke wajah Zhong-jing.

Diam-diam Ling-lin melihat semua itu.

Pukulan telapak Yi-feng sudah berada di depan hidung pemuda ini tapi pemuda itu tidak berusaha menghindar juga tidak berusaha menahannya.

Wajahnya tetap datar, sepertinya dia yakin kalau pukulan itu tidak akan mengenainya.

Tapi...

Tiba-tiba tangan Yi-feng berhenti di depan wajah pemuda ini dengan jarak sekitar 1 centimeter lagi.

Ling-lin diam-diam menarik nafas, terdengar Yi-feng dengan dingin membentak.

"Mengapa kau tidak berusaha melawan?"

Zhong-jing pelan-pelan menjawab.

"Pendekar Lu dan guruku, apakah kawan atau lawan, aku tidak tahu, tapi kemampuan guruku sederajat dengan Pendekar Lu maka aku tidak berani berlaku tidak sopan."

Mata Yi-feng berputar, wajahnya sudah tidak menjadi merah. Dia menarik kembali tangan-nya dan berkata.

"Kau masih muda, masih mempunyai masa depan yang cerah, mengapa tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat? Apakah kau tidak tahu, Xiao-wu jahat atau tidak?"

Zhong-jing menundukkan kepala, dengan terpana terus melihat anak tangga, dia pelan-pelan berkata.

"Aku yatim piatu, dulu hidupku sangat susah, untung guru mau menerimaku apa adanya. Budi dan kebaikan guru sedalam lautan, jadi walau bagaimana pun aku harus membalas budi guru, mungkin dengan membalas budinya, aku bisa melunasi satu sepersepuluh ribu nya saja."

Kemudian dia berkata lagi.

"aku sangat menghormati Pendekar Lu, aku juga tidak berani berbuat salah kepada Pendekar Lu tapi jika Pendekar Lu terus menerus menghina guruku, mungkin aku akan bertindak tidak sopan kepada Pendekar Lu."

Lu Nan-ren terus melihat pemuda inT, tiba-tiba dia menarik nafas panjang, kemudian dia melambaikan tangannya.

"Pergilah! Pergi!"

Zhong-jing memberi hormat kemudian pelan-pelan membalikkan kepalanya, dia pergi dengan langkah yang besar.

Wajahnya yang dari tadi datar sekarang terlihat ada kesedihan yang sulit diungkapkan.

Melihat bayangannya yang menghilang di dalam hutan lebat, Yi-feng baru bisa menghela nafas.

"Tidak disangka siluman Xiao-wu ternyata mempunyai seorang murid begitu baik."

Ling-lin pelan-pelan berkata.

"Tadi aku takut kalau kau akan membunuhnya."

Katanya lagi.

"waktu itu aku berpikir kalau kau bukan orang seperti itu, belakangan...."

Ling-lin pelan-pelan menunduk-kan kepala.

"kau benarbenar tidak membuatku kecewa."

Yi-feng berusaha menekan hatinya yang bergejolak, pelan-pelan dia membalikkan kepala.

Linglin berjalan ke depannya kemudian memungut jari yang terpotong dari mayat pak tua itu.

Dia bengong sebentar akhirnya dia menyobek bajunya untuk membungkus jari-jari itu, dia mengangkat kepalanya melihat Yi-feng kemudian pelan-pelan berkata.

"Ini... aku bantu menyimpannya dulu."

Pelan-pelan Yi-feng melihat kemudian menundukkan kepalanya lagi, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan sekarang. Terdengar Ling-lin berkata lagi.

"Ada sesuatu ingin kuberikan pada-mu."

Tampak ada sebuah plakat terbuat dari gading.

Di atas plakat terukir 3 hati.

Yi-feng diam-diam mengeluh, bermacam-macam perasaan tibul di hatinya.

Apakah ini adalah rasa sedih, khawatir, ataukah benci?

Tapi dia tetap memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata.

"Ling-er, benda ini...lebih baik kau yang menyimpannya!"

"Mengapa?"

"Memberikan benda secara sembarangan kepada orang lain akan membuat ibumu marah!"

Tangan putih sudah berada di depan Yi-feng.

"Ini adalah pemberian guruku, mengapa ibu harus marah?"

Matanya berputar.

"Kau selalu berkelana di dunia persilatan jika ada plakat ini mungkin nanti akan ada gunanya. Lihat di atas plakat ini ada tanda 'San-xin-shen-jun' mengapa kau menolaknya? Apakah...."

Nada bicaranya mulai sedih, dia seperti takut kalau Yi-feng akan menolak pemberiannya. Yi-feng terpaku, akhirnya pelan-pelan menerima plakat ini dan tertawa terpaksa.

"Ling-er ingin memberikan plakat itu kepadaku, mengapa aku menolaknya?"

"Itu lebih baik...Wei, aku tanya kepadamu, mengapa tiba-tiba kau memanggilku Ling-er...tapi nama Ling-er juga bagus, apakah betul Yi-feng?"

Kedua alis Yi-feng berkerut.

"Kau jangan memanggilku Yi-feng lagi."

Alis Ling-lin terangkat, kemudian turun lagi. Dengan takut dia bertanya.

"Mengapa, mengapa... apakah kau tidak suka kalau aku memanggilmu Yi-feng?"

Mata Yi-feng melihat Ling-lin yang polos tapi penuh kesedihan dan ketakutan. Sepasang matanya yang terang seperti meneteskan air mata. Yi-feng merasa kacau tapi tetap memaksakan diri untuk tertawa.

"Tidak apa...kelak aku tidak akan menggunakan nama Yi-feng lagi. Kau... kau lebih baik memanggilku Nan-ren."

Ling-lin yang cantik dan polos merasa sangat senang. Diam-diam dia mengedipkan matanya yang terang dan pelan-pelan berkata.

"Nan-ren... Nan-ren... itu nama yang bagus!"

Dalam hati diam-diam dia berpikir, 'Aku tahu kalau nama ini bisa menggegerkan dunia persilatan.' --BAB Terlatih menjadi kuat Dia melihat Lu Nan-ren lalu melihat plakat San-xin-shen-jun, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Pelan-pelan dia berkata.

"Yi... Nan-ren, apa yang kau pikirkan?"

Lu Nan-ren terpaku.

"Aku pikir, bisa mendapatkan guru seperti San-xin-shen-jun, sungguh sangat beruntung."

Ling-lin mengedipkan mata.

"Aku beritahu padamu, aku juga punya seorang guru lagi, dia adalah Tuan Jian. Tadinya di Zhong-nan-shan aku sudah diangkat menjadi muridnya tapi setelah turun gunung, suatu malam tiba-tiba saja dia pergi, hanya meninggalkan sepucuk surat. Dia menyuruh Guru San-xin mengajariku dulu."

"Itu lebih baik!"

Kata Lu Nan-ren.

Karena dia sedang memikirkan sesuatu maka dia menjawab dengan asal-asalan tapi Ling-lin sekarang sedang mengkhayal yang indah maka dia tidak merasakan ada yang janggal.

Begitu mata Lu Nan-ren melihat mayat di bawah, sikap bingungnyaa berubah.

Sambil menarik nafas dia menyusun 4 mayat ini menjadi satu jajar.

Di tubuh mereka masing-masing tertancap sebuah pisau melengkung berwarna kuning, ada yang menancap di tulang rusuk, di pinggang, semua menancap di nadi vital.

Dia menarik nafas panjang.

"Ilmu silat Xiao-wu sungguh hebat, dalam waktu bersamaan dia bisa menyerang tepat mengenai nadi vital keempat orang ini, caranya sungguh kejam....aku tidak tahu kalau dia begitu tega membunuh orangyang dekat dengannya!"

Dia menyimpan 4 buah pisau melengkung itu ke baju bagian dadanya.

"Bulan 5 Duan-yang... bulan 5 Duan-yang,"

Diam-diam dia bersumpah pada bulan 5 Duan-yang, dia akan menancapkan 5 pisau ini ke tubuh Xiao-wu.

Di Xi-liang-shan bertambah 5 kuburan baru.

Kelima kuburan itu digali oleh Lu Nan-ren dan Linglin dengan susah payah dan terburu-buru karena mereka mengkhawatirkan keadaan Sun-ming dan Xu-bai yang ada di gunung.

"Mengapa ibu tidak turun gunung, apakah yang telah terjadi sesuatu?"

Ling-lin berkata pada dirinya sendiri, dia merasa dia semakin dewasa karena dia telah melihat orang mati dan pernah menggali kuburan untuk mereka.

Bagaimana dengan Lu Nan-ren?

Yang pasti dia merasa sedih dan terbeban, dalam waktu setengah hari sudah menguburkan banyak orang, dan mengerti arti hidup dan mati hanya dipisarfkan oleh satu garis saja.

Yang paling membuatnya marah dan sedih adalah, 'Orang yang tidak pantas mati malah mati, orang yang pantas untuk mati malah tidak mati-mati.' Angin terus meniup pepohonan.

Dia berlutut di depan kuburan baru dan terus berdoa.

Walaupun dia tidak percaya ada setan atau dewa di dunia ini tapi sekarang demi pahlawanpahlawan ini dia pun berlutut dan berdoa.

Dia berdoa berharap mereka naik surga.

Dia berlari ke gunung karena merasa kemarahan dan kesedihannya telah berlalu, dia merasa sekarang hatinya kosong.

Banyak hal yang harus dia pikirkan tapi tidak ada satu pun yang bisa terpikir olehnya.

Hal yang tidak perlu dipikir terus melayang-layang di dalam pikirannya.

Dia menoleh ke belakang, baru dia melihat ternyata Ling-lin yang terus berada di sisinya seperti sangat lelah.

Melihat Lu Nan-ren sedang melihatnya, Ling-lin tertawa.

"Kepandaianmu sangat baik, aku tahu kau sudah lama tidak beristirahat juga tidak makan tapi kau tidak juga merasa lelah. Aku... aku benar-benar merasa lelah."

Lu Nan-ren tersenyum dan berkata.

"Kau mempunyai guru hebat, kelak kepandaianmu pasti lebih baik dibandingkan denganku."

Tiba-tiba dia merasa, Ling-lin yang sudah lama belajar silat dari San-xin-shen-jun, mengapa ilmu silatnya tidak maju secepat dirinya?

Sedang dia hanya belajar satu kali pada Tian-xing-mi-ji' tapi dia mengalami kemajuan sangat pesat.

Berarti buku 'Tian-xing-mi-ji' benar-benar sebuah buku sakti.

Dia berpikir lagi.

"Di dalam bajuku tersimpan benda sakti jika diketahui oleh orang lain pasti akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Untung orang yang tahu tentang buku ini tidak banyak. Tuan Jian, San-xin-shen-jun, dan Nyonya Ling juga tidak tahu apakah aku berhasil mendapatkan benda ini atau tidak...tapi benda ini sebenarnya milik Tuan Jian, jika bertemu dengannya nanti aku harus mengembalikan padanya."

Kemudian dia berkata lagi.

"Tapi Wan Tian-pin sudah tahu kalau buku ini ada di tanganku, mungkin karena banyak hal yang terjadi maka dia tidak sempat merebutnya. Jika sekarang aku kembali ke sana, dia pasti akan merebut buku ini. Sekarang dengan kepandaian yang kumiliki aku belum bisa mengalahkannya. Apa yang harus kulakukan?'' Langkah kakinya sedikit melambat tapi Ling-lin maju beberapa langkah. Dengan aneh dia bertanya.

"Ada apa?"

Lu Nan-ren tertawa dengan terpaksa.

"Tiba-tiba aku teringat sesuatu..."

"Apakah kau tidak ingin pergi bersamaku?"

Tanya Ling-lin sedikit terkejut. Diam-diam Lu Nan-ren mengeluh.

"Seorang laki-laki sejati ketika dia harus berjalan dia akan terus berjalan, ketika berhenti dia harus berhenti. Lu Nan-ren! Lu Nan-ren! Seumur hidup kau adalah seorang yang lincah juga lurus, tapi kurang keberanian, kau berpura-pura mati, sekarang kau sedang ditertawakan oleh Xiao-wu. Ketika seorang laki-laki sejati menang, dia harus menang, ketika kalah harus bisa menerima kekalahannya. Hidup dan mati adalah hal biasa, sekarang kau banyak berhutang budi. Jika bukan karena dirimu, Xiao Nan-pin tidak akan seperti itu. Kelak jika menghadapi suatu masalah kau masih bertindak seperti itu, kau benar-benar bukan seorang lelaki, bisa dikatakan kau bukan manusia."

Ling-lin melihat dia menundukkan kepala berpikir dan tidak menjawab pertanyaannya. Wajahnya terlihat penuh kesedihan, dia menarik nafas dan berkata.

"Jika kau tidak ingin berjalan bersama-ku...."

Kata-katanya belum berhenti, Lu Nan-ren sudah menegakkan dadanya dan berkata.

"Aku pasti akan menemanimu kesana, ada suatu tempat di mana aku ingin pergi ke sana."

Ling-lin tertawa, pelan-pelan berkata.

"Itu lebih baik, aku takut...."

Dia merapikan rambutnya dan berlari ke depan. Melihat sosoknya yang langsing, Yi-feng terlihat khawatir juga ada sedikit kegembiraan. Baru beberapa puluh meter Ling-lin berteriak.

"Nan Ren, ayo cepat lari!"

Dia menenangkan diri kemudian ikut berlari.

Lu Nan-ren adalah seorang yang sangat pintar dan sifatnya memang seperti itu.

Sejak kecil dia tumbuh tanpa ada halangan apa pun.

Ketika remaja namanya sangat baik.

Berkeluarga atau usahanya sangat sukses.

Lu Nan-ren tumbuh besar dalam lingkungan seperti itu maka membuatnya kurang kuat dan berani.

Setahun yang lalu istrinya mengkhianatinya, dia dikejar-kejar musuh, ini adalah kejadian pertama kali dalam hidupnya dia mengalami kesulitan.

Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Akhirnya setelah berpikir dan berencana, di kota Bao-ding, dia berpura-pura mati untuk menghindari kejaran Tian-zheng-jiao.

Rencana ini dilakukannya untuk menyusun rencana balas dendam di kemudian hari.

Dia menganggap hal ini adalah ide cemerlang tapi tidak ada keberanian.

Sampai hari ini bisa dikatakan dia sudah kenyang dengan cobaan yang dihadapi.

Ada pepatah yang mengatakan jika giok tidak diasah maka tidak akan menjadi sebuah giok yang bagus.

Siksaan yang berat, pukulan yang bertubi-tubi, membuat besi berkualitas bagus menjadi bajayangkuat.

Sekarang dia berubah dikarenakan dalam waktu sehari semalam dia menyaksikan hal yang terlalu kejam dan peristiwa ini terlalu dalam menusuk hingga kedalam hatinya.

Ada pepatah mengatakan air Huang He bisa membeku menjadi es bukan hanya dalam waktu sehari di musim dingin.

Dia berubah sedikit demi sedikit menjadi es.

Hidup dan mati dianggap santai, apalagi dia sangat jujur, untung dan rugi tidak dilihatnya.

Menjadi orang tidak bertindak macam-macam tapi yang namanya 'tidak takut' bukan hal yang mudah!

Angin berhembus, sangat kencang.

Ling-lin sedikit mengangkat bahunya dan mengomel.

"Kita naik gunung berlawanan dengan arah angin, pantas aku begitu lelah."

Lu Nan-ren tersenyum.

"Angin datang berlawanan pasti ada angin yang searah. Tidak ada angin berlawanan mana ada angin yang searah."

Ling-lin bengong. Dia merasa kedua kata ini sangat sederhana tapi begitu tepat. Pelan-pelan dia menarik nafas.

"Hal begitu sederhana mengapa sulit dimengerti?"

Dia melihat wajah Lu Nan-ren yang tampan dan bercahaya, sama sekali tidak tercermin rasa takut.

Dia mulai mengerti laki-laki tampan dan kuat ini bisa menjadi sandaran bagi semua perempuan di dunia ini.

Sandaran yang sangat nyaman, karena itu dia tersenyum.

Angin kencang tetap berhembus tapi Ling-lin tidak mengomel lagi.

"Walaupun ada angin kencang, matahari tetap menyinari tubuhku." --BAB 75 Sedih dan senang bercampur jadi satu Mereka memasuki hutan dan berjalan di jalan gunung yang kecil. Di sekeliling sangat sepi. Suara Tangan Terampil Xu-bai yang marah-marah sudah tidak terdengar. Lu Nan-ren dan Ling-lin saling pandang. Mereka curiga dan terkejut. Mereka naik lagi beberapa puluh meter, hati Lu Nan-ren seperti tenggelam karena di sisi jurang itu tidak ada orang. Xu-bai dan Sun-ming entah pergi ke mana. Ling-lin berteriak.

"Ibu!"

Tubuhnya yang langsing seperti orang gila terus berlari kesana kemari.

Jantung Lu Nan-ren berdebar-debar tapi dia berusaha menenangkan diri.

Terdengar di atas seperti ada suara perempuan menangis dan suara seseorang yang sedang menasehati.

Hati Lu Nan-ren bergetar dan berpikir, 'Apakah pepatah yang mengatakan, dua harimau berkelahi pasti salah satu akan terluka?

Apakah salah satu dari mereka sudah mati?"

Karena itu dia segera berlari lebih kencang lagi, hanya sebentar dia sudah berada tempat paling atas.

Terlihat Sun-ming berdiri terpaku di sisi jurang.

Matanya melihat rumah yang ada di Seberang jurang.

Di seberang sana ada rumah tinggal berloteng, Wan-Hong telungkup di tubuh ibunya.

Mereka berdua terus menangis, 2 orang pelayan di sisi mereka berusaha terus menasehati mereka.

Sunming dengan lembut menasehati.

Di pondok paling atas terlihat ada 2 utas tali besar terjulur ke bawah.

Tali sangat panjang dan terjuntai ke bawah jurang.

Bayangan Xu-bai dan Wan Tian-pin tidak terlihat.

Begitu melihat Sun-ming, Ling-lin merasa tenang tapi begitu melihat keadaan di seberang, dia terkejut tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Setelah lama dia baru memanggil.

"Ibu, aku ada di sini!"

Sun-ming membalikkan kepala.

Dari jauh Lu Nan-ren melihatnya, wajah Sun-ming penuh dengan kesedihan.

Melihat Wan-hong dan ibunya menangis seperti itu, dia tahu telah terjadi sesuatu pada Tie-mian-gu-xing-ke Wan Tian-pin.

Terlihat Sun-ming sangat tenang, tapi juga seperti menyalahkan.

"Kalian baru kembali!"

Ibu dan anak bermarga Wan bersama-sama melihat mereka.

Begitu melihat Lu Nan-ren, mata Wan-hong terbuka, air matanya mengalir seperti anak sungai.

Dia berlari ke sisi jurang, menjulurkan tangan menunjuk jurang yang dalam dan gelap.

"Ayah... dan... marga Xu itu... keduaduanya... ada di bawah."

Lu Nan-ren benar-benar terkejut.

Dia melihat ke bawah jurang.

Walaupun matahari sangat terang tapi tetap tidak bisa melihat sampai ke bawah.

Lu Nan-ren menarik nafas berpikir, 'Tidak disangka dua orang aneh itu benar-benar harus mati dulu baru bisa berhenti bertarung, tapi...demi apa mereka melakukan semua ini?' Sejak awal dia sudah tahu, kalau mereka berdua yang satu adalah Yin sedangkan yang satu lagi adalah Yang, yang satu keras sedangkan yang satu lembut, yang satu lurus sedangkan yang satu sesat.

Kelak akan terjadi hal yang menyedihkan.

Sekarang dia melihat hal ini telah terjadi maka dia merasa sangat sedih dan sambil menarik nafas dia berkata.

"Hhhhh......kedua orang ini benar-benar musuh bebuyutan, malah berakhir seperti itu. Kelak antara aku dan Xiao-wu akan terjadi apa?"

Dia sadar, belum tentu dia bisa mengalahkan Xiao-wu.

Tapi dalam hati dia tidak berniat melepaskan orang jahat ini.

Dendam antara dia dan Xiao-wu sudah sangat dalam.

Walaupun diantara mereka tidak ada dendam yang dalam, dia tidak akan takut untuk terus maju.

Hatinya benar-benar sedih.

Ling-lin yang berdiri di sisinya pelan-pelan bertanya.

"Apakah kita juga akan pergi ke sana?"

Terlihat di seberang jurang sudah ada 2 utas tali berwarna yang dilempar ke arah mereka.

Dia pernah mengalami satu kali cara mereka menyambut tamu maka dia tidak merasa aneh.

Tiba-tiba dia teringat pada Ling-lin yang sudah kelelahan maka dia bertanya.

"Apakah kau bisa menyeberangi jurang ini?"

Dalam nadanya terdengar Lu Nan-ren penuh perhatian, hati Ling-lin terasa hangat.

Semua kesulitan jadi tidak dianggapnya.

Dia terbang sambil tertawa...

Lu Nan-ren terkejut, dia tidak memikirkan hal lain lagi, dia ikut meloncat.

Loncatannya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.

Dia mendengar teriakan Sunming yang datang dari seberang.

Maka sebelah tangannya memegang tali berwarna, sedangkan tangan yang lainnya memegang pinggang Ling-lin.

Tali berwarna itu melambai, dia sudah berada di seberang loteng.

Jarak antara bibir jurang yang satu dengan bibir jurang yang lain beberapa puluh meter, di bawah sana adalah jurang yang sangat dalam.

Dia tidak tahu dari mana datangnya keberanian hingga dia bisa melakukan hal begitu berbahaya.

Yang perlu kita ketahui, cara menyebrang seperti ini menggunakan suatu teknik.

Satu orang menyeberang bukan hal mudah apalagi ini dilakukan berdua.

Jika tidak berhatihati, akan kehilangan nyawanya.

Sekarang jantungnya masih berdebar-debar kencang, matanya terpejam.

Dia menenangkan dirinya.

Ling-lin masih berada di dalam pelukannya dan masih terengah-engah.

Sepasang tangan memegang erat pundaknya.

Hatinya bergetar dan dia membuka mata.

Dia melihat sepasang mata milik Wan-hong.

Tampak sorot matanya seperti sedih, marah, benci, dia juga melihat Sun-ming tanpa berkedip melihatnya.

Ling-lin masih terkejut.

Dia menyandar ke dada yang kekar dan lebar, dia merasa senang dan terhibur.

Dia memejamkan mata dan tidak ingin membukanya lagi.

Dia memegang kuat pundak Nan Ren dan hampir tidak mau dilepas.

Tapi Lu Nan-ren sudah menepuk-nepuk pundaknya.

Dengan lembut berkata.

"Ling-er, kita sudah sampai."

Ling-lin pelan-pelan mengangkat kepala dan tersenyum.

Pipinya menjadi merah.

Dia masuk ke dalam pelukan ibunya.

Sun-ming melihat putrinya, sekarang dia merasa tenang tapi seperti-nya dia telah kehilangan sesuatu.

Lu Nan-ren tidak berani melihat sorot mata Sun-ming, lebih-lebih tidak berani melihat sorot mata Wan-hong.

Dia terpaku dan berkata.

"Dimana Xu-bai... dan Wan Tian-pin?"

Dia berkata demikian karena baru teringat tadi Nyonya Wan dan Wan-hong sedang menangis tersedu-sedu, tapi dia malah menanyakan 'Tangan Terampil' Xu-bai.

Tampak Nyonya Wan seperti kebingungan dan menggelengkan kepala kemudian menangis tersedu-sedu.

Wan-hong bengong berdiri di sana.

Dia seperti tidak mendengar apa pun.

Lu Nan-ren berbalik melihat Sun-ming dan bertanya.

"Bagaimana keadaan kedua tetua?"

Sun-ming menarik nafas panjang, dia belum menjawab terdengar Ling-lin diam-diam dari pelukannya berkata.

"Ibu, dia sedang bertanya padamu."

Sorot mata lembut Sun-ming sekali lagi melihat putrinya.

Hatinya sedih bercampur senang.

Melihat keadaan seperti ini, dia tahu kalau putrinya sudah jatuh cinta kepada Lu Nan-ren.

Dia tidak akan melarangnya malah merasa sangat senang karena dia tahu pemuda yang ada di depannya bisa dipercaya tapi dia juga takut kalau cinta putrinya hanya bertepuk sebelah tangan.

Dia tahu bagaimana sifat Ling-er jika terjadi seperti itu, akan membuatnya sedih.

Dia terpaku sebentar lalu berkata.

"Jika saja kalian datang lebih awal. Hhhh..... aku benar-benar tidak menyangka di dunia ini ada orang seperti ini."

Dengan sedih dia terus menarik nafas.

"Ketika kalian baru pergi sebenarnya aku ingin ikut tapi begitu aku membalikkan tubuh, kakak iparku dan...Kakak Wan sudah keluar. Dia melihatku, awalnya hanya terpaku. Kakakku keluar melihatku, dia segera memanggilku. Aku dan kakak sudah lama tidak bertemu. Tempo hari aku datang kemari, Bei-xiu..."

Matanya memerah dan dia berkata lagi.

"Hhhhh!......waktu itu marga Xu marah-marah. Aku melihat wajah Kakak Wan pucat seperti kertas. Kakak terus mengatakan di antara mereka sebenarnya ada dendam apa, sudah puluhan tahun bertarung masih belum cukup. Mengapa harus ada yang mati baru merasa puas?"

"Tapi Kakak Wan seperti tidak mendengar apa yang dikatakan kakakku. Aku melihat marga Xu dan Kakak Wan saling melotot, sepertinya masing-masing sudah membunuh ayah mereka dan saling mendendam. Aku mencoba menasehati mereka.

"Pendekar Xu di dunia ini tidak ada dendam yang tidak bisa diselesaikan untuk apa Anda seperti ini. Dendam harus dihilangkan jangan terus dilanjutkan, mengapa Anda begitu keras. Dua ekor harimau berkelahi salah satu pasti akan terluka!"

"Tapi...hhhh...! Mata marga Xu itu melolot seperti lonceng. Dia seperti tidak mendengar apa yang telah kukatakan."

Lu Nan-ren menark nafas. Dalam hati berpikir, 'Sepertinya semenjak di Wu Liang Shan, dendam antara kedua orang ini semakin dalam."

Dia teringat perkataan Xu-bai.

"Kembalikan darah-ku!"

Dia benar-benar bergetar.

"Karena itu aku berteriak kepada Kakak Wan yang ada di seberang, 'Kakak Wan, apakah kau tidak berpikir nasib kakak dan keponakanku. Jika kau terus begitu...' kata-kataku belum selesai,kakak Wan sudah melemparkan satu tali berwarna ke seberang jurang. Marga Xu tertawa terbahak-bahak dan berkata, 'Monyet tua, kau tidak ber-bohong, tawanya belum selesai dia sudah menyeberang ke sana."

Sun-ming menarik nafas. Di dalam hati dia benar-benar salut kepada marga Xu ini tapi yang pasti dia tidak akan membicarakannya. Dia berkata lagi.

"Aku kira begitu marga Xu itu menyeberang jurang mereka akan segera bertarung. Tapi begitu sampai di seberang, dia memberi hormat kepada kakakku yang sedang menangis. Dia berkata kalau antara dirinya dan Kakak Wan ada hutang piutang yang tidak bisa diselesaikan. Hari ini siapapun yang terbunuh, dia akan meminta maaf kepada kakakku. Dia berkata, 'Membiarkan orang yang tidak bersalah tersiksa benar-benar perbuatan tidak baik. Tapi semua ini adalah kesalahan marga Wan bukan marga Xu.' Kakakku menanyakan ada hutang piutang apa antara mereka sampai begitu dalam. Dia melihat Hong-er, melihat kakak kemudian menggelengkan kepala lalu tertawa terbahak-bahak. Tapi tidak ada yang dia katakan."

Lu Nan-ren berpikir, 'Tangan Terampil Xu-bai benar-benar lelaki sejati. Dia tidak ingin memberitahu istri musuhnya. Hhhhh...dia lembut tapi kurang pemaaf maka akhirnya terjadilah hal seperti itu."

Pelan-pelan dia berkata.

"Hhhh...memang di antara mereka ada masalah yang tidak bisa diselesaikan."

"Apakah kau tahu masalahnya apa?"

Lu Nan-ren melihat semua orang sedang menantikan jawabannya.

Diam-diam dia menyalahkan dirinya, dia benar-benar ceroboh kalau sampai membocorkan rahasia ini.

Segera dia menggelengkan kepala dan berkata.

"Aku hanya menduga saja... lalu bagaimana?"

Dengan cepat dia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan apa yang terjadi.

--BAB 76 Jurang yang mengejutkan Tampak Sun-ming menepuk putrinya dengan marah.

Dia menyalahkan putrinya yang bicara begitu ceroboh.

Sorot mata dingin Wan-hong melihat Ling-lin.

Ketika Lu Nan-ren kebetulan melihat itu, dalam hati dia tidak enak karena sorot mata Wanhong sekarang sangat mirip dengan ayahnya, Tie-mian-gu-xing-ke.

Wajah yang dingin, sikap yang galak dan sadis terlihat dari sikapnya.

Dia takut juga waspada terhadap gadis ini karena dia tahu apa arti dari sorot mata ini.

Terdengar Sun-ming berkata lagi.

"Marga Xu masih bicara, mereka berdua selama puluhan tahun ini selalu ingin mati bersama tapi selalu gagal. Hari ini lebih baik 2 orang berdiri tanpa bergerak, membiarkan lawan memukul 3 kali. Kalau begitu...perkataan marga Xu belum selesai, Kakak Wan bertanya dengan dingin siapa yang akan memukul terlebih dulu. Marga Xu kebingungan dan tidak bisamenjawab."

Lu Nan-ren berpikir, 'Ilmu silat mereka berdua hampir setara, siapa pun yang memukul duluan, tidak akan bisa bertahan.

Jika Wan Tian-pin terlebih dulu yang memukul, jika Xu-bai tidak mati juga tidak akan sanggup membalasnya.

Pertanyaan Wan Tian-pin benar-benar tidak bisa dijawab."

Sun-ming berkata lagi.

"Mereka berdua saling memandang dengan lama. Aku lihat wajah Kakak Wan semakin seram. Aku benar-benar takut dan mencoba menasehati mereka lagi, tapi Kakak Wan tiba-tiba berlari ke belakang. Marga Xu seperti rnarah tapi dia berusaha bertahan."

"Tidak lama kemudian Kakak Wan sudah kembali, kedua tangannya membawa segulung tali besar. Gulungan tali begitu besar membuat seluruh tubuhnya tertutup. Seumur hidup aku tidak pernah melihat tali begitu banyak. Marga Xu juga merasa aneh, dia bertanya. 'Mo...! Kau melakukan apa?' Tapi Kakak Wan tidak menjawab. Dia menaruh gulungan tali itu di bawah tiba-tiba dari balik baju dia mengeluarkan sebuah lempengan besi dan melayangkannya di depan Marga Xu..."

"Alat cahaya berputar!"

Teriak Lu Nan-ren "Alat cahaya berputar?"

Sun-ming Bengong Lu Nanren tidak bisa menjawab, mata Ling-lin berputar melihat Lu Nan-ren. Dia berkata.

"Ibu, teruskan ceritamu!"

Sun-ming menarik nafas panjang kemu-dian melihat Lu Nan-ren tapi pelan-pelan berkata.

"Kalau itu benar adalah alat cahaya berputar. Marga Xu melihatnya, dia berteriak tapi wajah Kakak Wan sama sekali tidak berubah. Kemudian dia melempar benda itu ke dalam jurang. Marga Xu terkejut, dia mengira Kakak Wan sudah gila dan membentak, 'Apa yang kau lakukan?' Dia belari ke pinggir pagar untuk melihat alat cahaya berputar itu jatuh kemana tapi alat ini sudah terjatuh ke dalam jurang. Bayangannya juga tidak terlihat, suara jatuhnya pun tidak terdengar."

"Tidak lama kemudian Kakak Wan pelan-pelan berkata. 'Kita sama-sama turun ke bawah, siapa yang mendapatkan alat itu terlebih dulu, dialah pemenangnya!' Perkataan Kakak Wan sangat singkat. Kami yang mendengarnya pun terkejut, marga Xu ikut terkejut. Tapi segera dia tertawa terbahak-bahak dan terus menerus berkata, 'Cara yang baik. Kali ini di antara kita pasti ada salah satu yang mati.' Tapi Kakak Wan menjawab dengan dingin, 'Mungkin kita tidak bisa kembali lagi ke sini.'"

Lu Nan-ren menarik nafas panjang.

"Untuk apa?"

Teriak Ling-lin Sun-ming bercerita lagi.

"Kami juga sangat terkejut ketika mendengar kata-katanya. Apalagi kakak, dia terus menangis, kemudian marga Xu itu berkata, 'Tali ini benar-benar sangat panjang.' Kakak Wan berkata, 'Tali ini akan dibagi menjadi dua bagian. Kita turun ke bawah dengan tali ini.' Marga Xu melihat tali itu lalu berkata, 'Memang tali ini sangat panjang tapi apakah bisa terjulur sampai ke bawah?' Kakak Wan berkata, 'Aku juga tidak tahu, mungkin jarak tali dengan dasar jurang masih ada ratusan meter lagi.' Marga Xu tertawa terbahak-bahak, 'Kalau begitu, kita benar-benar tidak mungkin bisa kembali lagi ke sini.'"

Ling-lin pelan-pelan menarik nafas katanya.

"Aneh, mengapa mereka tidak takut mati?"

Usianya masih begitu muda, dia tidak tahu manusia terkadang demi suatu alasan, mereka menganggap kematian adalah hal biasa...alasan seperti itu layaknya seperti cinta yang dalam, dendam yang dalam, terkadang hanya demi kebenaran dan keadilan.

Mata Sun-ming berputar.

Dia seperti menyalahkan putrinya ikut bicara tapi dia bercerita lagi.

"Suara tawa Marga Xu dan suara tangisan kakak membuatku bergetar. Tapi marga Xu sudah berkata, 'Jika kau mau pergi, kita pergi sekarang!' Kakak Wan menjawab, 'baik!'"

"Mereka bersama-sama melemparkan tali itu ke dalam jurang dan ujung tali diikat ke sebuah pohon. Kakak dan Hong-er terus memeluk Kakak Wan, mungkin sebenarnya Kakak Wan juga merasa sedih. Tapi dia berkata dingin, 'Untuk apa kalian menangis, belum tentu aku akan mati!' Dia mendorong kakak sampai terjatuh."

Lu Nan-ren turut memberi menasehat.

"Jurang ini sangat dalam tapi tali ini juga sangat panjang ditambah lagi ilmu silat mereka tinggi. Mungkin sekarang mereka masih hidup,"

Dia memang berusaha menghibur tapi kata-katanya masuk akal juga. Sun-ming menarik nafas panjang.

"Mungkin akan terjadi seperti itu tapi di antara mereka berdua ada permasalahan begitu dalam, dalam keadaan seperti ini mereka akan terus bertarung, berusaha membunuh lawannya, mana mungkin bisa selamat turun sampai ke dasar jurang?"

Lu Nan-ren menundukkan kepala. Sun-ming melanjutkan.

"Dalam keadaan seperti itu tidak ada seorang pun yang bisa mencegah mereka. Marga Xu berjalan mendekati pagar, dia mundur lagi dan berkata, 'Tidak bisa, tidak bisa!' Dalam hati aku benar-benar senang. Aku kira dia tidak mau bertarung lagi dengan Kakak Wan, kakakku juga sambil menangis sambil terus memohon kepada-nya. Tapi dia berkata lagi, 'Kita sama-sama turun. Jika orang yang ada di atas memotong taliku, bukankah nyawaku yang akan melayang duluan?"

Lu Nan-ren berpikir, 'Hhhh...dua orang ini ilmu silatnya tinggi, otak pun berputar sangat cepat.

Hhhh Tuhan sudah menciptakan Tie-mian-gu-xing-ke Wan Tian-pin, mengapa menciptakan lagi Tangan Terampil Xu-bai?"

Sun-ming berkata lagi.

"Sesudah aku mendengar perkatan marga Xu, dengan cepat aku membenarkan perkataan-nya dan menyuruh mereka mencari cara lain. Memang aku sadar tidak mungkin bisa menasehati mereka, tapi aku berharap aku mengulur waktu siapa tahu mereka berubah pikiran. Tapi Kakak Wan dengan dingin berkata.

"suruh mereka masuk ke dalam, mereka tidak akan tahu tali mana milikku dan tali mana milikmu."

Tadinya aku ingin terus memberitahu mereka tapi aku melihat wajah kakakku tersenyum.

Waktu itu aku berpikir setelah kami ke dalam kami akan segera keluar.

Apakah kami tidak tahu tali mana milik Kakak Wan dan tali mana milik marga Xu."

"Tapi marga Xu tiba-tiba tertawa. Sambil tertawa dia berputar. Tiba-tiba aku merasa bagian bawah ketiakku kaku, ternyataku sudah ditotok, kakak, Hong-er, dan semua pelayan pun ditotok. Kakak Wan berdiri tidak bergerak. Waktu itu aku merasa heran melihat tangan marga Xu bergerak begitu cepat..."

Belum habis cerita Sun-ming, Lu Nan-ren sudah menarik nafas.."Tetua Wan tidak bergerak, karena dia sudah menebak maksud Xu-bai."

Sebenarnya Lu Nan-ren juga bisa menebak maksud Xu-bai. oo BAB 77 Hidup atau mati siapa yang tahu Sun-ming mengangguk.

"Hhhh! Apa yang kau tebak tidak salah lagi...hanya sebentar Marga Xu sudah menotok banyak orang kemudian dia berkata, 'Aku menotok kalian ada batasnya. Kalian ditotok tapi tidak merusak organ kalian. Setelah sejam nadi kalian pasti akan terbuka dengan sendirinya.' Kakak Wan hanya tertawa dingin berkata, 'aku tahu!' Marga Xu tertawa terbahak-bahak, 'kalau kau sudah tahu mengapa kau rnembiarkanku menotok mereka?"' "Kedua orang ini benar-benar tidak bisa akur."

Sun-ming sedikit diam mungkin dia sedang mengingat-ingat kembali kejadian waktu itu.

"Aku melihat mereka turun satu persatu tapi aku tidak mampu menghalanginya, suaraku pun tidak bisa kelu ar..."

Ling-lin ikut bicara.

"Nanti jika aku bertemu dengan Marga Xu, aku akan menotoknya. Biar dia merasakan bagaimana jika rasanya ditotok."

Alis Sun-ming berkerut, dia ingin memarahi putrinya, tapi terdengar Wan-hong bersuara "Huh!..."

Seperti tidak senang. Sun-ming merasa aneh juga berpikir.

"Ling-er ada di pihak kalian mengapa kau begitu terhadapnya."

Tapi begitu melihat kedua alis Lu Nan-ren berkerut, dia tampak sangat khawatir kemudian dia baru mengerti, diam-diam berpikir, 'ternyata Hong-er juga sudah jatuh cinta kepada Lu Nan-ren.

Bagaimana ini?"

Tapi pelan dia memarahi putrinya.

"Jangan sembarangan bicara nanti kau akan ditertawakan orang lain."

Ling-lin ingin mengatakan sesuatu lagi tapi Lu Nan-ren sudah bertanya.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Mereka bergerak sangat cepat, hanya sebentar mereka sudah menghilang, aku benar-benar merasa cemas, di sana-sini seperti terdengar suara detak jantung, aku tahu semua orang di sini merasa cemas. Tidak lama kemudian terdengar suara marga Xu membentak. Suara ini terdengar dari bawah, setelah itu tidak terdengar suara lagi. Dalam hati aku berpikir dia pasti sudah mati."

Lu Nan-ren diam-diam menarik nafas.

"Mungkin Wan Tian-pin menyerang secara diam-diam. Dalam keadaan seperti itu pasti Xu-bai tidak waspada."

Tapi begitu melihat ibu dan putri Wan dia merasa aneh.

"Kalau begitu pasti tidak terjadi apa-apa pada Wan Tian-pin, tapi mengapa mereka menangis?"

Sun-ming meneruskan ceritanya.

"Belum habis aku berpikir, di bawah terdengar suara Kakak Wan kemudian suara tawa marga Xu dan bentakannya. Mereka bersama-sama berteriak...dan kemudian tidak terdengar lagi suara apa-apa."

Setelah Sun-ming selesai bicara di tempat itu kecuali suara desah nafas tidak terdengar suara lainnya. Lu Nan-ren terdiam, kemudian dia berkata.

"Hidup dan mati seseorang ditentukan oleh nasib, mereka berdua mempunyai ilmu silat tinggi, dalam hidup mereka, pasti telah melewati banyak bahaya, mungkin kali ini mereka juga bisa melewatinya..."

Perkataannya baru selesai, ibu dan anak bermarga Wan itu yang sejak tadi telah berhenti menangis, sekarang tiba-tiba menangis dengan histeris.

Lu Nan-ren ingin menghibur mereka, tapi Nyonya Wan telah berlutut di depannya, dan menarik-narik bajunya, Lu Nan-ren terkejut dan bertanya.

"Nyonya... ada apa?"

Nyonya Wan menangis sambil memohon.

"Tolonglah mereka... tolonglah mereka...."

Lu Nan-ren menjawab dengan kebingungan.

"Asalkan aku sanggup aku pasti akan menolong...."

Nyonya Wan terus memohon.

"Aku tahu ilmu silatmu sangat tinggi, cobalah kau turun melihat... dia... dia apakah dia sudah mati atau masih hidup?"

Lu Nan-ren terpaku, Nyonya Wan berkata lagi.

"Hong-er, kau juga berlutut... Adik, bantu-lah aku agar dia mau menolongku... aku... aku sudah lama, aku...."

Wan-hong ikut berlutut.

Telinga Lu Nan-ren jadi penuh dengan suara minta tolong, sebenarnya dia masih meragukan kemampuannya sendiri, tapi dalam keadaan seperti ini dia tidak sanggup menolak permintaan perempuan tua ini.

Terdengar Nyonya Wan menangis berkata.

"Selama puluhan tahun ini... aku dan Tian Pin hanya berkumpul... berkumpul selama beberapa bulan saja, sekarang... walaupun dia sudah meninggal, kau... kau tolong cari mayatnya, Adik... tolong mohon kepadanya... Hong-er... mintalah padanya... mengapa kau tega meninggal-kanku?"

Dia juga memohon kepada Sun-ming lagi.

"adik, bantulah aku memohon kepadanya...."

Sun-ming sekarang hanya terpaku. Dia berkata dengan bingung.

"Yi-feng... kau...."

Dia bersaudara sepupu dengan Nyonya Wan, tapi mana mungkin dia minta pekerjaan yang tidak masuk akal? Apalagi lelaki ini begitu dicintai putrinya. Wan-hong masih berlutut di depan Lu Nan-ren.

"Kepadamu, kepadamu... apakah kau tahu... aku tahu bagaimana kemampuan ilmu silatmu."

Nyonya Wan segera berkata.

"Kalau kau pergi sendiri tidak akan berbahaya, kau...."

Mata Lu Nan-ren terpejam, kemudian dia membuka matanya kembali, dia lalu berjalan kedepan pagar, dia mencengkram sebuah tali besar dan membelahnya menjadi dua.

Mata Sunming membesar, Ling-lin dengan terkejut berdiri di depannya, lalu berkata dengan nada ketakutan.

"Kau... kau akan melakukan apa?"

Mata Lu Nan-ren terus melihat tangannya, lalu pelan-pelan menjawab.

"Aku akan membawa tali ini, kalau tali ini tidak cukup panjang, aku akan menyambungnya lagi, apakah kau mengerti?"

Sepasang mata Ling-lin penuh air mata.

"Kau... ingin... turun... ke bawah?"

Suara Ling-lin bergetar.

"Aku akan turun, aku kira tidak akan terjadi apa-apa padaku."

Ling-lin menarik tangannya, dengan nada takut dia berkata.

"Kau, mengapa, kau... orang lain kepadamu.."

Perkataan Ling-lin belum selesai, Nyonya Wan sudah datang menghampirinya, dia memeluk pinggang Ling-lin sambil marah dan menangis.

"Kau benar-benar tidak punya hati nurani, apakah kau tahu kalau Wan Tian-pin adalah pamanmu? Dia... dia adalah...."

Sun-ming masih berdiri dengan bengong di sini, sekarang apa yang harus dia lakukan, dia sendiri kebingungan. Ling-lin menangis dan berteriak.

"Lepaskan aku, suamimu mungkin mati, kau menyuruh orang lain ikut mati...."

Sun-ming berkata.

"Ling-er, kau tidak boleh bicara seperti itu!"

Tapi suara Sun-ming tidak keras, walaupun keras Ling-lin tetap tidak bisa mendengarnya. Tiba-tiba Lu Nan-ren membentak dengan suara menggelegar.

"Semua jangan bicara lagi!"

Suara gelegar ini seperti mempunyai tenaga sihir yang kuat, membuat suara tangisan menjadi kecil, perlahan dia membalikkan tubuh menghadap Nyonya Wan, lalu berkata.

"Tolong, lepaskan tanganmu!"

Nyonya Wan merasa sorot mata Lu Nan-ren membuat orang menjadi takut, dia melepaskan tangannya dan mundur selangkah, lalu berdiri tegak.

Perlahan Lu Nan-ren mengulurkan tangannya lalu mengelus-elus rambut Ling-lin, dengan lembut berkata.

"Ling-er, apakah kau mau aku menjadi seorang penakut?"

Sambil meneteskan air mata, Ling-lin menggeleng. Lu Nan-ren dengan pelan berkata lagi.

"Apakah kau mau, karena aku takut bahaya dan kesulitan, maka aku tidak membantu orang lain? Kau harus mengerti membantu orang bukan hanya kepada saudara saja, tapi kepada setiap orang yang menghadapi masalah. Kalau mereka benar-benar membutuhkan bantuan, kau harus mengulurkan tanganmu, dalam menolong orang kau tidak boleh memilih. Sekarang keadaan tetua Wan dan tetua Xu, apakah masih hidup atau sudah mati, tidak ada seorang pun yang tahu. Aku turun ke sana mungkin bisa menolong mereka."

Ling-lin terus menangis, Sun-ming pun tidak kuasa, dia menitikkan air mata. Ling-lin sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia menangis histeris.

"Tapi... kau sendiri bagaimana... apakah kau tidak memikirkan dirimu, kau... sebenarnya melakukan ini karena apa, apakah... apakah demi gadis itu?"

Sambil berkata dia membalikkan kepala, tangannya yang gemetar menunjuk Wan-hong yang masih berlutut di bawah.

Sorot mata Wan-hong bersorot benci, marah, dan kejam melihat ke arah Ling-lin.

Kemudian dia menundukkan kepalanya lagi.

Karena semua orang sedang berada dalam keadaan kacau, maka tidak ada seorang pun yang memperhatikan mata yang bersorot penuh kebencian itu.

--BAB 78 Langit tidak bersuara Alis Lu Nan-ren berdiri, dia merasa sedih juga marah, kemudian dia menarik nafas panjang dan berkata dengan pelan.

"Anak bodoh, mana boleh berkata seperti itu, mana mungkin karena dia aku melakukan semua ini, kau tahu kecuali lucu, polos, dan lembut...."

Dia berkata dengan pelan, dia seperti melihat bayangan Xiao Nan-pin kemudian menarik nafas dan berkata lagi.

"Dan baik hati... untuk anak seperti kau, aku akan melakukan apa saja! Hal ini aku lakukan bukan untuk orang lain, tapi karena aku merasa hal seperti ini harus kulakukan, kalau aku merasa tidak perlu melakukannya, aku tidak akan melakukannya. Tidak ada seorang pun yang bisa mengendalikanku. Anak bodoh, apakah kau mengerti? Ayo, mengangguklah, biarkan aku turun, kau diam di sini dan tunggu sampai aku kembali, aku pasti akan kembali, apakah kau percaya?"

Ling-lin terus mengangguk, tapi air mata-nya sudah membasahi bajunya. Sun-ming, perempuan kuat ini pelan-pelan mendekati mereka. Walaupun matanya masih penuh dengan air mata dia tetap berkata.

"Yi-feng, kau... jaga dirimu baik-baik, dan berhati-hatilah.."

Yi-feng mengangguk, dia menaruh tali yang sudah digulungnya di pinggang, kemudian dia memutar-mutar tubuhnya, tangan, juga kaki, dia melakukan pemanasan. Tiba-tiba dia berkata.

"Panggil aku Nan-ren, namaku adalah Lu Nan-ren sekarang Yi-feng sudah tidak ada lagi di dunia ini "

Dengan cepat dia membalikkan tubuh, lalu meluncur mengikuti tali ke bawah, dia berusaha tidak melihat ke atas, tapi dia masih mendengar pesan untuk berhati-hati dan juga suara tangisan.

Dia menertawakan dirinya sendiri, 'Benar-benar sifat seorang perempuan.' Kemudian dengan tabah dia berkata pada dirinya sendiri, 'aku tidak akan mati, walaupun di bawah sangat berbahaya, asalkan bisa mengandalkan tali ini, aku tidak perlu merasa takut, aku akan naik lagi, waktu itu..

.mereka akan tertawa.' Semakin lama....

Suara tangisan dari atas semakin kecil, kemudian tidak terdengar suara apapun.

Semakin lama....

Keadaan di bawah semakin berbahaya, dinding jurang banyak terdapat batu-batuan tajam, juga ada lumut hijau yang licin.

Terkadang ada pohon entah dari mana bisa tumbuh keluar dari celahcelah batu.

Tampak keadaan sangat berbahaya.

Lu Nan-ren tidak berani melihat ke bawah.

Dia bergerak perlahan ke bawah.

Tiba-tiba...

hatinya bergerak.

Dia teringat sesuatu...

Tapi...baru saja timbul pikiran ini, tiba-tiba tangannya terasa berat, dia kehilangan benda yang menjadi pegangannya, dia terjatuh ke jurang yang dalam dan tidak diketahui dasarnya.

Dia berteriak dan berpikir, 'mengapa tali ini bisa putus?"

Dia melihat di dinding jurang ada sebuah gua, dia menjulurkan tangan merangkak, tapi tubuhnya terus terjatuh ke bawah Terjatuh ke bawah....

...

terjatuh ke bawah....

Aneh!

Mengapa tali ini bisa putus?

Dengan sedih Ling-lin bersandar ke pagar jurang, dia melihat bayangan Lu Nan-ren yang semakin mengecil, dia tidak kuasa menahan sedih dan masuk ke dalam pekikan ibunya lalu menangis lagi.

Sun-ming mengelus-elus punggung putrinya berusaha menghibur.

"Anak baik, jangan terus menangis, dia pasti akan kembali, bukankah tadi dia sudah berjanji?"

Dia berusaha membuat wajah yang penuh dengan air mata itu tertawa.

"Apakah kau tidak percaya padanya? Dia pasti akan selamat."

"Apakah benar, dia akan selamat, Bu?"

Sun-ming menahan tangisnya tersenyum.

"Dia akan kembali dengan selamat, juga membawa pamanmu...untuk apa kau terus menangis? Apakah kau sudah gila?"

Sewaktu Ling-lin sedang tenggelam dalam hiburan ibunya, tiba-tiba dia mendengar ibunya membentak, Ling-lin terpaku, kemudian...

Teriakan Lu Nan-ren terdengar sampai atas.

Ling-lin dengan terkejut melihat ibunya, ibunya berdiri dengan terpaku, wajahnya pucat, melihat di belakang...

Dia membentak, membalikkan kepala melihat, tampak wajah Wan-hong yang sedang tertawa dengan kejam, dia berdiri di sisi jurang.

Tali yang diikat di pagar hanya tersisa satu meter lagi!

Ling-lin merasa terkejut, dia merasa semua berputar di sekelilingnya, setelah itu tidak tahu apa yang terjadi....

Wan-hong tertawa seperti orang gila.

"Aku ingin dia mati, supaya tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkannya... Ha ha ha...semua tidak akan berhasil mendapatkannya!"

Tawanya gila, teriakannya seperti orang gila, sampai ibunya sendiri pun terkejut, matanya membelalak lebar, dengan bengong melihatnya, lalu dengan pelan berkata.

"Gila... sudah gila...."

Perlahan...tawa gila itu berubah menjadi tangisan juga teriakan. Dia menjulurkan tangan mencakar wajahnya sendiri. Tiba-tiba... Ling-lin mendekat dan berteriak.

"Kau jahat, kau sadis, akan kubunuh kau, harus kubunuh dirimu...."

Ling-lin juga seperti orang gila terus berteriak, seperti orang gila terus memukul tubuh dan kepala Wan-hong.

Hati Ling-lin sangat sakit dan kacau, dia lupa mengeluarkan kemampuan ilmu silat yang dikuasainya, malah mengeluarkan senjata yang paling kuno, yaitu dengan kuku dia mencakar tubuh dan kepala Wan-hong.

Sun-ming, perempuan kuat itu sekali lagi dengan pikiran yang kuat berhasil menenangkan putrinya.

Karena sekarang ini hanya dia yang dalam keadaan sadar, dia meloncat, memeluk kedua tangan putrinya dan berkata.

"Ling-er, sadarlah... Ling-er, sadarlah...."

Wan-hong seperti orang gila naik ke atas atap, Ling-lin lari mengejar. Ibunya dengan sekuat tenaga memeluknya, hati Ling-lin seperti terkena panah, setetes demi setetes keluar darah, dia berteriak.

"Kalian benar-benar jahat... demi kalian dia rela turun ke bawah... tapi kalian berhati jahat malah mencelakainya!"

Semakin lama suaranya semakin lemah, suara di sekelilingnya pun semakin kecil...termasuk teriakannya sendiri.

Akhirnya suara apapun tidak terdengar, dia jatuh pingsan.

Kesedihan yang terlalu dalam dan berlangsung tiba-tiba, membuat gadis polos ini tidak kuat dan akhirnya pingsan.

Begitu dia sadar, matahari telah terbenam, perlahan dia membuka matanya, sinar matahari terbenam menyinari wajahnya, angin menghembus rerumputan.

Dia berada di atas sebuah batu hijau yang ada di hutan.

"Mengapa aku bisa berada di sini?"

Pikirannya masih kosong, dia tidak tahu bagaimana dia dan ibunya bisa meninggalkan loteng itu, dengan teliti dan hati-hati dia membawa melewati jurang yang dalam, melewati hutan yang lebat dan sampai di sini.

Waktu itu dia tidak ingat apa yang telah terjadi.

Waktu itu dia belum pingsan.

Tapi itu hanya sebentar, semua hal yang terjadi seperti gelombang besar menerpa hatinya.

Dia merintih dengan sedih, berusaha berdiri.

Sepasang tangan lembut memeluknya, dia baru sadar ternyata dia berbaring dalam pelukan ibunya!

Karena itu dalam pelukan hangat ibunya dia menangis lagi.

"Ibu, mereka mencelakainya, mencelakainya... aku harus balas dendam, demi dia aku harus balas dendam!"

Dia menangis, berteriak, dan merasalelah.

Sun-ming yang sedih dan lelah tidak bicara apa-apa.

Dia hanya diam sambil terus memeluk putrinya.

Di saat seperti sekarangini apa yang harus dia katakan?

Lu Nan-ren, pemuda yang disukainya, kalau dia mati, dia juga akan sedih.

Dia ingat pemuda itu, demi dia dan putrinya, sampai terluka parah.

Dengan khawatir dia mengurusnya.

Bisa dikatakan dia lebih mengkhawatirkan pemuda itu dibandingkan putrinya sendiri.

Belakangan nasib pemuda itu sangat beruntung, dia bertemu dengan orang aneh, lukanya sembuh, malah mendapatkan rejeki dari orang aneh itu.

Tapi sekarang dia telah mati, demi adiknya, Sun-ming merasa sedih, tapi dia berusaha menghibur putrinya, sebenarnya hatinya juga sakit seperti diperas.

Dia bertanya-tanya pada langit, 'Mengapa begitu kejam terhadap pemuda pemberani, baik, berpandangan lurus, dan senang menolong ini?' Tapi sinar matahari terbenam tetap terang seperti biasanya, Tuhan tidak berkata apa-apa, hanya tangisan putrinya dan desiran angin berhembus yang terdengar.

Bumi seakan ditutup oleh kegelapan malam!

Orang itu akan beristirahat selamanya dalam kegelapan.

Diam-diam dia berpikir, 'Lu Nan-ren, selamanya kau akan hidup di dalam hatiku, tidak hanya di dalam hatiku tapi di hati banyak orang, apakah benar menurut pendapatmu?

Kalau benar, aku akan membisikkan dengan pelan kepadamu...." --BAB 79 Es yang dingin dan api yang panas Sewaktu Sun-ming dan putrinya sedang berpelukan tanpa bicara.

Di luar hutan, dijalan gunung yang berliku, seorang pemuda yang pembawaannya diam dan juga tenang, dengan sepasang matanya yang jernih melihat mereka dari balik pepohonan.

Angin musim semi membawa pasir dan debu yang menghembus bajunya yang berwarna kuning.

Tapi matanya tidak beranjak sama sekali.

Semakin lama...

Sorot matanya yang terang dan bening tertutup oleh lapisan kebingungan.

Melewati lapisan kebingungan, pohon hijau, debu dan pasir berwarna kuning, berubah menjadi merah muda.

Bayangan kedua orang ini seperti bercahaya terang dan suci.

Karena itu dia mulai melangkah, dia berjalan perlahan ke arah mereka.

Suara tangisan semakin lemah, tapi debaran jantung semakin cepat dan kencang.

Alis Sun-ming berkerut, dia membentak.

"Siapa?"

Pemuda itu menghentikan langkahnya, jantungnya berdetak lebih cepat, sorot matanya mengeluarkan banyak perasaan.

Tapi....

Wajahnya begitu tenang dan diam.

Garis wajahnya terlihat jelas.

Ini adalah ciptaan Tuhan.

Dia seperti sebuah patung batu yang terbuat dari lempengan batu yang paling keras.

Di bawah sinar matahari terbenam, Ling-lin yang sedang menangis melihat kedatangannya kemudian bola matanya berputar.

"Ternyata kau!"

Dia menghapus air matanya dan berteriak.

Sorot mata pemuda itu terang, seperti bertambah terang lagi, hatinya yang berat terus berdebar-debar karena dia merasa senang ternyata Ling-lin tidak lupa padanya, dengan pelan dia memberi hormat.

"Aku, Zhong-jing, aku tidak sengaja berada di sini, kalau Nyonya tidak keberatan aku memberanikan diri menawarkan bantuan."

Dia bicara kepada Sun-ming tapi matanya melihat Ling-lin terus Sun-ming bengong melihat pemuda ini, sekarang dia tahu kalau putrinya ternyata kenal dengan pemuda itu, entah kapan putrinya kenal dengan pemuda ini dan mengapa bisa mengenalnya dia tidak tahu sama sekali.

Karena itu ibu yang hidupnya penuh derita ini mulai cemas dengan keadaan putrinya.

Kecuali rasa khawatir dia juga merasa aneh melihat gerak gerik pemuda yang terlihat tenang dan berwajah damai ini.

Melihat wajah pemuda yang tenang ini dia tidak merasa khawatir, dia hanya khawatir terhadap sorot mata pemudaku.

Sun-ming telah melewati kehidupan selama 30 tahun lebih, bisa dikatakan dia telah lama memasuki masyarakat umum, dia ditakdirkan mempunyai ketenangan yang berbeda dengan orang lain.

Dia pun mempunyai sepasang mata yang bisa mengenali jiwa orang.

Belum pernah dia melihat seorang pemuda yang tenang dan tidak banyak bicara.

Pemuda ini mempunyai sorot mata yang bisa menyengat, seperti sebuah gunung berapi yang sudah lama tertutup oleh es selama ribuan tahun dan membeku, sekarang karena adanya perubahan maka gunung es ini terbuka sedikit celah.

Api yang sudah lama tertutup ini sekarang mulai keluar dari celah.

Sun-ming tahu, bila mengulurkan bantuan ada dua orang perempuan yang sedang menangis di hutan adalah kewajiban dari seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, tapi sorot mata pemuda ini membuatnya terpaku.

Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan pemuda yang menawarkan kebaikan ini.

Zhong-jing berdiri tegak, karena Sun-ming tidak menjawab pertanyaannya, dia menjadi tidak tenang.

Mulutnya terkatup rapat, matanya masih tampak berkilau.

Tiba-tiba Ling-lin dengan pelan berkata.

"Kau datang tepat pada waktunya, baru saja aku ingin mencarimu!"

Sun-ming terkejut, dia merasa aneh, mengapa putrinya bisa bicara seperti itu? Terlihat wajah Zhong-jing yang tenang tampak berubah sedikit.

"Apa pesan Nona? Aku pasti menurut."

Suaranya pelan dan rendah, sepertinya dia sedang menekan sesuatu, tangan Sun-ming telah memegang tangan putrinya, dia tidak ingin putrinya mengatakan hal yang membuatnya terkejut, sekalipun hanya satu kalimat, seperti kata yang diucapkannya tadi.

Terdengar Ling-lin menghembuskan nafas panjang.

"Surat yang tadi kau berikan pada Nan-ren, Tie-ji-wen-hou, Pendekar Lu, apakah kau tahu apa yang ditulis dalam surat itu?"

Zhong-jing menjawab dengan tegas.

"Guru memang memerintahkan membawa surat itu untuk Pendekar Lu, tapi apa yang tertulis di dalamnya, aku tidak pernah membaca-nya!"

Ling-lin memejamkan matanya, air mata-nya menetes lagi, terdengar Zhong-jing berkata dengan pelan.

"Nona begitu sedih, apakah Pendekar Lu pergi tanpa pamit?"

Ling-lin mengangguk dan menangis, pelan-pelan Zhong-jing memutar matanya, dengan tidak bersemangat dia melihat ke arah hutan.

"Nona, kalau ingin bertemu dengan Pendekar Lu, di bulan lima Duan-yang, pergilah ke Nan-hu Yan-yu-lou, kau pasti akan bertemu dengannya."

Tiba-tiba Ling-lin membuka kedua matanya.

"Apakah benar?"

Cahaya matahari yang terbenam membuat kebingungan berlapis merah muda berubah menjadi abu, tapi sorot mata itu masih terang dan berkata.

"Bulan lima Duan-yang adalah hari di mana guruku berjanji akan bertemu dengan Pendekar Lu. Pendekar Lu pasti akan datang ke sana, harap dengan ini Nona bisa menjadi tenang."

Ling-lin memejamkan matanya dan berkata.

"Bulan lima Duan-yang... Nan-hu Yan-yu-lou... dia pasti akan ke sana, pasti akan ke sana... Ibu, aku juga harus ke sana."

Diam-diam Sun-ming menarik nafas, dia sangat mengenal putrinya sama seperti dia sangat mengenal tilapan bajunya.

Dia tahu putrinya sedih tapi tidak sampai putus asa.

Orang yang saling mencintai tidak akan percaya kalau orang yang dicintainya benar-benar sudah meninggal.

Kecuali kalau dia sendiri melihat dengan mata kepala sendiri tubuh yang tidak bernyawa itu, dan dia sendiri yang memegang tubuh yang sudah dingin....

Ling-lin seperti itu, dia percaya Lu Nan-ren akan keluar dari jurang yang dalam itu, dan secara mujizat muncul di depannya.

Sun-ming menarik nafas dalam.

"Ling-er, dia tidak akan pergi ke sana!"

Kalimat pendek ini keluar dari mulut seorang ibu yang putrinya sedang sedih, ini adalah perkataan yang sulit diucapkan. Mata Zhong-jing secepat kilat melihat Ling-lin dan bertanya.

"Mengapa?"

Tapi Ling-lin hanya menggelengkan kepala dan dengan pelan berkata.

"Dia akan ke sana... dia tidak mati, orang seperti dia kalau mati bukankah Tuhan telah berlaku tidak adil? Apakah benar?...apakah benar?"

Kalimat pertama 'apakah benar' dia tujukan kepada ibunya, sedangkan yang kedua dia tujukan kepada Zhong-jing.

Sewaktu sepasang mata yang penuh dengan air mata itu melihat Zhong-jing, Zhong-jing berusaha menghindarinya, karena sekarang ini banyak hal yang tidak boleh diketahui oleh Ling-lin.

Tapi dia tetap bertanya.

"Kalau begitu, sepertinya Pendekar Lu telah mengalami musibah?"

Ling-lin menangis, Sun-ming dengan sedih mengangguk, sampai sekarang dia belum tahu siapa pemuda ini, lebih baik dia tidak tahu kalau pemuda ini adalah murid Xiao-wu, musuh besar-nya.

Sun-ming hanya menarik nafas.

"Nan Ren memang terkena musibah, sepertinya... sepertinya... Hhhhh, harapan hidupnya tidak banyak, aku harap kau bisa menyampaikan kepada gurumu, perjanjian di Duan-yang tidak bisa... tidak bisa ditepati!"

Zhong-jing terpaku, tiba-tiba dia menarik nafas panjang, pelan-pelan berkata.

"Tidak disangka, Pendekar Lu tidak bisa bertemu dengan guruku! Sepertinya Pendekar Lu mati pun tidak bisa menutup mata, musibah memang tidak bisa dihindari. Tadi pagi aku masih sempat bertemu dengan Pendekar Lu, sekarang dia sudah...."

Kata-katanya belum selesai, Ling-lin sudah meloncat bangun, mencengkram baju ibunya, dia menangis.

"Bu, kita yang akan ke... Nan-hu Yan-yu-lou!"

Sun-ming menarik nafas, dengan penuh kasih sayang dia menepuk-nepuk tangan putrinya, dia tidak ingin mengatakan kata-kata yang membuat putrinya kecewa, tapi dia tetap harus bicara, siapa pun walau ilmu silatnya tinggi kalau sudah terjatuh ke jurang yang dalam, harapan untuk hidup sangat tipis.

Karena itu dengan berat hati dia berkata.

"Anak bodoh, kehidupan tidak seperti cerita atau legenda, tidak seindah dongeng. Kehidupan sangat kejam, kehidupan nyata lebih kejam, kalau kita selalu hidup dalam cerita dongeng yang tidak nyata, bagaimana dengan hidup ini? "Kalau aku menemanimu ke Nan-hu Yan-yu-lou, itu hanya cerita dongeng saja. Orang yang sudah mati apakah bisa hidup kembali? Anak bodoh, apakah sampai sekarang kau belum mengerti?"

Zhong-jing dengan sepenuh hati mendengarkan ucapan Sun-ming, seumur hidupnya, belum pernah dia mendengar nasihat begitu lembut, lebih-lebih tidak terpikirkan olehnya di balik katakata lembut itu mengandung banyak makna dalam tentang kehidupan.

"Kehidupan sangat kejam... kenyataan lebih kejam lagi... mengapa kehidupan begitu kejam? Membiarkanku...."

Pikirannya belum habis, Ling-lin berteriak lagi.

"Dia pasti akan pergi ke sana, kalau benar dia sudah mati, rohnya yang akan ke sana. Aku tahu rohnya akan ke sana untuk membunuh Xiao-wu yang jahat!"

Tubuh Sun-ming segera terasa dingin.

"Apa? Xiao-wu?"

Dia mengepal tangannya, sorot matanya yang lembut berubah menjadi ganas.

Dengan pelan dia berdiri, lalu melihat Zhong-jing, sorot mata yang dibencinya, seperti sebuah pisau, dengan lurus menancap ke hati Zhong-jing.

Zhong-jing merasa dingin, rasa dingin memenuhi sekujur tubuhnya.

Dia menundukkan kepala, sekata demi sekata dia menjelaskan.

"Benar, guruku adalah ketua Tian-zheng-jiao,Xiao-wu!"

Setiap perkataan yang keluar dari mulut-nya, dia merasa sorot mata kejam dan benci seperti pisau makin dalam menusuk jantungnya.

Dia mulai sadar, ibu dan putrinya ini mempunyai dendam dengan gurunya, dan dendam ini sangat dalam.

Dalam hati dia berteriak.

"Mengapa kehidupan begitu kejam? Mengapa membiarkanku bertemu dengannya?"

Sorot mata Sun-ming seperti ingin melihat isi hati terdalam pemuda ini, dengan mata tidak berkedip terus melihatnya.

Zhong-jing sama sekali tidak bergerak, sinar matahari terbenam mulai berkurang, awan-awan yang tadinya berwarna mulai berubah menjadi gelap.

Kegelapan diam-diam memasuki hutan, mengenai wajahnya yang pucat.

Dalam kegelapan wajahnya bertambah pucat.

Matanya yang abu di dalam kegelapan bertambah abu.

Setelah lama.

Sun-ming baru berkata dengan pelan.

"Aku tidak akan menyalahkanmu, menyalahkanmu... setiap hal yang dimiliki seseorang tidak ada hubungannya dengan orang lain, kau adalah murid Xiao-wu, tapi semua ini tidak ada hubungannya denganmu, kau... kau pergilah!"

Zhong-jing terlihat ragu, dia menarik nafas dan berkata.

"Dendam generasi lama tidak ada hubungannya dengan generasi sekarang, lapang dada seperti Nyonya baru pertama kali kutemui. Dendam antara guru dan Nyonya bisa dibereskan dengan cara apa? Di mana pun aku berada, aku akan terus berdoa, berdoa untuk kesehatan Nyonya, musibah yang menimpa Pendekar Lu aku turut merasa sedih, aku harap Pendekar Lu yang berada di surga, bisa mengerti isi hatiku, hanya sajahidupku sudah...."

Perkataannya belum selesai, dia sudah menarik nafas panjang membalikkan tubuh dan pergi dari sana.

Sinar matahari terbenam menyinari punggungunya membentuk bayangan panjang, sepertinya kesedihan hatinya begitu berat.

--BAB 80 Terus menerus dinasihati Pandangan Sun-ming mengikuti sosok itu pergi, tiba-tiba dia merasa sedih, dan dia tahu kesedihan ini bukan karena dirinya juga bukan karena orang lain, tapi karena pemuda yang telah terikat oleh benang nasib yang panjang.

Dia menoleh ke belakang, melihat mata Ling-lin masih penuh dengan air mata, mata itu sedang memandang sosok pemuda yang pergi meninggalkan mereka.

Waktu itu tiba-tiba dia merasa harus menolong pemuda itu agar dia keluar dari kejahatan dan sesat.

Dia pasti mengerti tentang kehidupan ini dengan dalam.

Demi putrinya, demi balas dendam, dia tidak akan terkubur oleh kesedihan, dia malah bisa hidup sampai sekarang dengan tegar.

Dia merasa walaupun arti kehidupan ini sangat banyak, tapi membangun dunia ini adalah hal lebih penting.

"Bagi manusia, menolong orang yang baik lebih berarti dibandingkan membunuh seorang penjahat."

Tiba-tiba Sun-ming berteriak.

"Kau...kembali dulu!"

Langkah kaki Zhong-jing berhenti, pelan-pelan dia menoleh ke belakang, wajahnya tetap tenang.

Tidak ada yang bisa melihat kegembiraan hati dari ekspresi wajahnya.

Dia terpaku, kata-kata Sun-ming sudah pasti ditujukan padanya, maka dia pun berjalan kembali ke tempat Sun-ming, dia tidak bicara apa pun.

Karena dia tahu diam pun terkadang berarti bertanya.

"Sudah berapa lama kau ikut Xiao-wu?"

Tanya Sun-ming Zhong-jing menjawab sambil menundukkan kepala.

"Sejak kecil aku sudah yatim piatu, guru menerimaku mengajariku ilmu silat, karena itu darah dan tulangku adalah pemberian guru."

Dia mengerti maksud nyonya baik hati ini bertanya padanya dan Sun-ming pun tahu arti dari jawaban Zhong-jing. Sun-ming menarik nafas dan berkata.

"Apakah kau tahu di dunia ini banyak orang seperti dirimu, sejak kecil sudah tidak punya orang tua karena orang tua mereka telah dibunuh oleh Xiaowu."

Zhong-jing menundukkan kepala tidak menjawab. Dengan perlahan Sun-ming kembali berkata.

"Kita berada di dunia ini harus tahu yang baik dan yang jahat dengan jelas, lebih jelas dibandingkan dengan budi dan dendam! Aku tahu kau seorang pemuda baik hati juga pintar, kau tentu mengerti apa yang kumaksud."

Kepala Zhong-jing ditundukkan lebih dalam, mata Sun-ming sudah penuh dengan air mata, dia masih melanjutkan.

"Suamiku, Ling Bei-xiu, dalam hidupnya bila tahu ada yang mendapat kesusahan tangan-nya pasti akan terulur, tapi... dia dibunuh oleh Xiao-wu, kalau orang yang membunuhnya demi membela kebenaran, meski hatiku sedih tapi aku tidak akan membalaskan dendam suamiku. Tapi Bei-xiu dibunuh oleh orang jahat, kecuali hatiku sedih, masih ada amarah, aku harus membalas dendam kepada Xiao-wu, aku membalas dendam bukan hanya demi suamiku juga demi orang-orang baik di dunia ini, aku tahu kau sangat mengerti semua ini."

"Kalau Nyonya menyuruhku kembali hanya untuk mendengarkan cerita tentang ini, sekarang lebih baik aku pamit dulu."

Ling-lin yang sejak tadi terus menangis dan hanya melihat, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dilarang oleh Sun-ming, dia hanya bertanya dengan pelan.

"Kemana kau akan pergi?"

Sampai saat ini Zhong-jing belum melihat Sun-ming karena dia tidak berani berhadapan dengan perempuan yang berpandangan lurus dan baik hati ini, maka dengan kepala masih menunduk dia menjawab.

"Aku akan ke Jia-xing, untuk melapor pada guruku!"

Sun-ming terdiam, tiba-tiba dia menepuk tangan Ling-lin dengan pelan dan dengan mantap dia berkata.

"Mari kita juga pergi ke Jia-xing!"

Ling-lin berbalik menangkap tangan ibunya, sepertinya dia merasa berterima kasih pada ibunya, tapi dalam hati diam-diam berteriak.

"Dia tidak akan mati... dia akan pergi ke Nan-hu Yan-yu-lou!"

Harapan ini membuat Ling-lin mengangkat kepalanya, dia menatap langit, langit tampak gelap, awan berwarna telah tertutup oleh kegelapan malam....

Dari Xi-liang-shan menuju Jia-xingjarak-nya cukup jauh, tapi jalan menuju Jia-xing bagi Zhongjing bagaikan sebuah mimpi, mimpi hangat yang bercampur dengan rasa dingin.

Ringan bercampur, dengan berat, hiburan dan mimpi sedih.

Begitu jauh dan lama tapi terasa pendek dan terburu-buru.

Dia sangat tahu dan mengerti, sepanjang jalan Sun-ming yang baik hati selalu memberi nasihat padanya, apa arti nasihatnya dia tidak ingin tahu, lebih-lebih tidak ingin mengerti, karena pengertian ini akan membawanya merasa sakit yang keluar dari hati nuraninya.

"Mati rasa!"

Terkadang Sun-ming berpikir demikian.

"Apakah karena anak ini diajar oleh siluman itu sehingga dia mati rasa?"

Zhong-jing mendengar nasihatnya, tapi wajahnya tetap datar, tetap tenang, seperti tidak ada perasaan sedikit pun.

Pastinya...kecuali dari sorot matanya, dia melihat Ling-lin tanpa sengaja.

Yang aneh adalah perasaan kasihan, polos, dan sikap baik hati yang Ling-lin miliki bisa membakar hati siapa pun, termasuk Zhong-jing yang tidak berperasaan.

Ling-lin pun sepertinya mati rasa, mati rasanya dikarenakan dia bersedih.

Sedih karena kehilangan orangyang dia cintai.

Mungkin karena dia masih muda, orang-orang akan mengatakan kalau dia masih muda, belum mengerti apa artinya cinta, dan juga belum merasakan arti benar-benar mencintai.

Tapi perasaannya begitu tulus dan dalam, dia tidak mengerti dan tidak mau mengerti, dia hanya tahu mencintai dan dicintai, mungkin ini adalah pemberian Tuhan...karena setahunya ini yang disebut cinta.

Pohon Yang Liu, tampak beterbangan.

Bulan kelima, bulan lima tanggal empat, matahari musim semi menyinari jalanan.

Jalan seperti direndam air hujan, begitu bersih.

Sawah terlihat kehijauan, semua memperlihatkan cahaya kehidupan.

Zhong-jing menoleh ke sebuah penginapan sepi, karena saat itu Sun-ming dan Ling-lin berdiri di dekat pintu penginapan.

Dia melihat Sun-ming juga Ling-lin, kemudian dari sudut mulutnya terlihat ada sedikit senyum.

Kemudian dengan langkah mantap dia berjalan ke depan.

Tersenyum...

Sun-ming dan Ling-lin sangat jelas melihat senyum itu, itu adalah senyum pertama yang muncul di bibir pemuda itu.

Walaupun senyum itu terlihat ada kekhawatiran dan kesedihan karena mereka akan berpisah, tapi senyum itu seperti cahaya yang memancar dari langit gelap.

Cukup membuat Sun-ming yang baik hati merasa senang, hangat, dan terhibur.

Dia merasa dia sudah sekuat tenaga membuat pemuda itu berjalan di jalan lurus, tapi sampai sekarang dia belum tahu hasil kerja kerasnya apakah berhasil atau gagal.

Karena sekarang Zhong-jing sedikit pun tidak ragu kembali ke tempat gurunya.

Walaupun sepanjang jalan dia belum pernah bertemu dengan orang-orang Tian-zheng-jiao atau hal-hal yang berkaitan dengan Tian-zheng-jiao, tidak ada satu kekuatan pun yang bisa membuatnya terus tinggal di sini.

Akhirnya dia pun pergi.

Matahari telah terbenam.

Malam pun tiba....

Semakin lama....

Sun-ming dan Ling-lin tiba-tiba merasa kebingungan dan ketakutan.

Apalagi Sun-ming mulai memikirkan banyak hal yang membuatnya takut.

"Xiao-wu kejam, sadis, dan jahat, dia juga pintar, apakah dia sudah tahu kalau murid kesayangannya mempunyai perasaan yang dalam kepada istri dan putri dari musuhnya?"

"Kalau dia tahu, hukuman apa yang akan diberikan kepada muridnya.. .Zhong-jing?"

Memikirkan hal ini, hati Sun-ming bergetar.

"Murid-murid Tian-zheng-jiao ada di mana-mana, kami berjalan bersama dengan Zhong-jing, apakah mereka tidak akan tahu?"

Dia menggelengkan kepala dan berkata pada dirinya sendiri.

"Mereka pasti sudah tahu, tapi mengapa mereka tidak membunuh kami? Apakah karena Zhongjing atau apakah mereka memancing kami masuk ke dalam jebakan mereka? Atau apakah siluman Xiao-wu mempunyai rencana lain?"

Sejak tadi Ling-lin terus menundukkan kepalanya berpikir, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan bertanya.

"Ibu, tadi kau mengatakan apa?"

Sun-ming tersenyum dan berkata lembut.

"Ling-er, apa yang sedang kau pikirkan?"

Ling-lin menarik nafas panjang.

"Aku sedang memikirkan...."

Terlihat air matanya lagi.

"Aku sedang berpikir besok adalah bulan lima hari Duan-yang, entah...entah... Hhhhh! Apakah dia akan datang?"

Sun-ming tiba-tiba merasa sedih, sampai saat ini dia baru mengerti mengapa putrinya begitu mencintai Lu Nan-ren.

Karena gadis polos ini tidak mengkhawatirkan siapa pun, sampai bahaya yang menimpanya pun tidak terpikirkan olehnya, di dalam hatinya hanya ada 5 huruf, 'Apakah dia akan datang ke sana?' Lampu tempel bercahaya kuning, menyinari wajah Ling-lin yang merah, Sun-ming dengan termangu melihat putrinya, terlalu banyak kesedihan, terlalu banyak kebingungan membuatnya lama tidak bisa berkata-kata, karena dia telah mendapatkan jawaban yang benar, dan jawaban pastinya adalah.

dia tidak akan datang.

oo BAB 81 Saling mengandalkan Ibu dan dan anak ini saling berhadapan, mereka tidak merasa mengantuk.

Di luar sudah malam dan suasana sangat sepi, hanya angin malam yang terus meniup kertas jendela.

Kertas jendela terus berbunyi.

Ada satu kalimat yang selalu berputar-putar di tenggorokan Sun-ming, dia ingin bertanya.

"Jika dia tidak datang bagaimana?"

Tapi kalimat ini seperti mempunyai beban yang sangat berat, walaupun dia ingin bertanya tapi tidak berani. Dia takut jawabannya akan membuat hati putrinya sedih, maka dia hanya mengatakan.

"Hari ini angin sangat besar..."

Kalimat yang santai, kata-kata biasa sudah memancarkan perhatian seorang ibu.

Angin bertiup dan lewat.

Tiba-tiba jendela yang tertutup rapat karena ada angin lewat membuat jendela terbuka.

Angin malam akhirnya bertiup ke dalam ruangan ini.

Sun-ming dan Ling-lin melihat, bersamaan waktu mereka berteriak.

"Ternyata adalah kau!"

Di dalam kegelapan seorang pemuda yang berbaju kuning, kaki menginjak kusen dan dia berdiri di jendela.

Angin malam terus meniup pakaiannya tapi tubuh dia seperti patung batu sama sekali tidak bergerak.

Dengan penuh tawa Sun-ming berkata.

"Zhong-jing, akhirnya kau datang juga!"

Dalam nada penuh kegembiraan, hati yang terhibur membuat dia yang berdiri di jendela memejamkan mata.

Tapi di dalam hati dia menarik nafas yang panjang.

Begitu matanya dibuka, wajahnya sudah kembali dingin yang sama sekali tidak ada perasaa manusia.

Sun-ming sedikit terkejut, tapi dia tetap dengan lembut berkata.

"Turunlah! Di luar angin sangat besar, di sini masih ada teh panas, kau minum dulu untuk mengusir dingin kemudian baru memberitahu kepadaku..."

Suara Sun-ming belum selesai tiba-tiba suara CANG...

LANG....

Sun-ming dan Ling-lin sudah terkejut.

Zhong-jing sudah mencabut pedangnya.

Cahaya pedang yang dingin dan berwarna hijau menyinari baju ketat diayang berwarna kuning juga menyinari wajahnya yang pucat, membuat Sun-ming merasa hatinya dingin.

Dengan suara gemetar dia berkata.

"Kau...kau untuk apa..."

Sorot mata Zhong-jing terus melihat pedang yang di tangan.

Angin bertambah besar, bajunya berkibar lebih kencang tapi sorot mata dia tidak berkedip...

Dalam keheningan ini membuat orang merasa sulit.

Zhong-jing yang diam tiba-tiba berkata pelan-pelan.

"Ketua Tian-zheng-jiao generasi kedua Zhong-jing diperintahkan oleh ketua Tian-zheng-jiao sendiri, datang untuk mengambil kepala janda dan putri Ling Bei Xiu."

Pada waktu itu Sun-ming seperti terkena ledakan.

Dia tidak bisa berdiri, lemas, dan terus mundur ke belakang.

Cangkir dan poci semua terbawa oleh lengan baju jatuh ke bawah.

Mata Sun-ming melotot, dia hampir tidak mempercayai matanya, dan tidak mempercayai telinganya.

"Apa yang kau katakan?"

Teriak Ling-lin. Sorot mata Zhong-jing masih terus melihat pedang yang ada di tangannya dan pelan berkata.

"Zhong-jing dari Tian-zheng-jiao diperintahkan datang untuk mengambil kepala kalian. Apakah harus aku yang membunuh? Harap kalian mengambil keputusan sendiri."

Ling-lin menjadi terkejut tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Baik! baiklah......yang pasti kau harus bergerak sendiri, apakah kau kira kami akan bunuh diri? Tapi aku khawatir pembunuh sepertimu belum tentu bisa melawan kami berdua."

Dia sambil tertawa sambil berkata dan tawanya membuat tubuhnya terus bergoyangan, seperti tiba-tiba menemukan hal yang paling lucu di dunia ini tapi suara tawanya juga terdengar sedih.

Apa arti suara tawa ini?

kecuali Zhong-jing tidak ada yang bisa mengerti dan merasakannya.

Air mata sudah menetes ke bawah, siapa yang menangis?

Dua mata Ling-lin yang sedang ter-tawa meneteskan air mata.

Tapi sorot mata Zhong-jing masih terus melihat pedang yang berada di tangannya.

Suara tawa Ling-lin berhenti, dia ingin maju melawan Zhong-jing tapi lengan bajunya sudah ditarik oleh ibunya.

Ling-lin dengan suara berat berteriak.

"Ibu..."

Sorot mata Sun-ming yang lembut juga baik tapi tegas tidak melihat putrinya, dia hanya melihat Zhong-jing dan pelan-pelan berkata.

"Kau dengan cara seperti ini menghadapi kami, karena perintah guru tidak boleh ditolak maka aku mengetahui kesulitanmu. Aku sedikit-pun tidak menyalahkanrnu juga tidak membencimu, hanya tadi aku merasa heran kenapa sepanjang jalan Xiao-wu tidak membunuh kami, sekarang aku baru tahu dia ingin kau yang menanggung dosa ini."

Sambil menghembuskan nafas, Sun-ming berkata lagi.

"Aku tidak terbiasa memarahi orang tapi orang seperti Xiao-wu walaupun aku memarahi dengan bahasa paling kasar, aku masih merasa tidak cukup. Aku tidak sedih karena aku dan anakku, aku sedih karena di dunia persilatan bisa muncul siluman yang begitu jahat!"

Diam-diam dia memejamkan mata.

"Aku dan putriku tahu dengan tenaga kami tidak akan bisa lolos dari cengkramannya. Jika kau tidak membunuh kami malam ini kami juga akan mati di tangan orang lain maka aku sangat senang jika kau yang membunuh kami. Itu lebih baik dibandingkan mati di tangan murid-murid Tian-zheng-jiao yang lain. Kau bunuhlah kami, kami berdua tidak akan membalas!"

Dia lembut, pelan tapi berkata dengan berat kemudian 2 mata dipejamkan.

Dia benar-benar menunggu kedatangan Zhong-jing.

Ling-lin terus melihat ibunya kemudian dia juga memejamkan mata, bumi begitu sepi sepertinya angin juga sudah berhenti bertiup.

Tapi Zhong-jing tetap dengan mata tidak berkedip melihat pedangyang berada di tangannya.

Mata Sun-ming dibuka lagi, dia tertawa.

"Cepatlah, aku tidak akan menyalahkan-mu! Jika kau merasa sedih, sesudah kami mati kau kuburkan kami berdua kemudian..."

Tiba-tiba Ling-lin membuka mata dan berkata.

"Nanti berharap di depan mayat atau peti mati kami beritahu kepadaku...beritahu kepadaku besok apakah dia sudah datang..."

Suaranya semakin rendah kemudian di sekeliling sepi seperti semua sudah mati.

Tiba-tiba...

FENG...

pedang panjang Zhong-jing sudah bergerak.

Putaran pedang memenuhi ruangan.

Udara benar-benar dingin.

Dari jurus ini terlihat Zhong-jing berilmu tinggi.

Hal ini membuat Ling-lin membuka mata, tapi dia tersenyum sedih.

Dia memejamkan mata untuk menerima kematian.

Tapi...

Pedang di tangan Zhong-jing sudah mengeluarkan suara sepertinya Zhong-jing sudah mengeluarkan perasaannya di pedang ini lalu dia membalikkan tangan.

Sebuah pedang sudah menusuk tenggorokannya!

Sun-ming dan Ling-lin berteriak karena pedang sudah berada depat di tenggorokan pemuda ini.

Karena terkejut, mereka lupa menolong.

Angin lewat lagi...

Ada suara yang dingin juga sadis mengikuti angin masuk.

Suara angin yang kejam juga kencang membawa cahaya hitam mengikuti suara angin melewati jendela.

DANG...., gendang emas itu sudah berbunyi!

CHANG..., pedang yang dipegang Zhong-jing terjatuh!

Sun-ming dan Ling-lin dengan cepat mundur.

Zhong-jing memutarkan pergelangan, dia terkejut dan memutarkan tubuh.

Tampak...

Di dalam kegelapan tidak tahu kapan sudah ada bayangan yang tinggi berdiri di luar jendela.

Sun-ming dan Ling-lin walaupun dengan sekuat tenaga mata untuk melihat tapi tetap tidak terlihat wajahnya.

Terlihat sepasang cahaya mata seperti 2 bintangyang berkilauan.

Pada waktu itu juga Sun-ming dan putrinya merasa barang di dalam bumi ini sudah berubah warna karena mereka tahu bayangan orang yang berdiri di luar jendela adalah ketua Tian-zhengjiao Xiao-wu.

Kemudian tawa dingin mengikut angin masuk, terlihat bayangan orang itu berkata.

"Zhongjing, keluar!"

Dengan cepat Zhong-jing sudah berjalan ke depan jendela kemudian meloncat keluar jendela.

Pelan-pelan dia berjalan ke arah bayangan orang ini lalu berlutut dan menundukkan kepala lalu pelan-pelan berdiri.

Satu patah kata juga tidak keluar, sedikit suara tidak ada.

Sun-ming dan Ling-lin terus melihat bayangannya keluar dari jendela.

Di kamar terasa semakin dingin.

Ling-ling pelan-pelan berjalan mendekati ibunya.

Ibu dan anak ini yang saling mengandalkan ini sampai sekarang tidak ada orang yang ingin berjauhan.

Karena jika mati, mereka akan mati bersama!

oo BAB 82 Apakah dia datang Perlahan Sun-ming menjulurkan tangan-nya memegang tangan putrinya yang kecil.

Tiba-tiba saja keberaniannya muncul.

Walaupun yang berdiri di depan jendela adalah siluman yang tidak berani dilawan oleh siapa pun tapi demi putrinya dia akan berusaha melawan.

Dia mengepalkan tangannya, lalu pelan-pelan berkata.

"Ling-er, jangan takut!"

Ling-lin menggelengkan kepala dan pelan-pelan berkata.

"Aku tidak takut, aku hanya... sedih, apa dia masih hidup atau sudah mati? Aku tidak tahu...."

Sorot mata Sun-ming dengan cepat melihat keluar jendela, tapi... Bayangan di luar jendela itu tiba-tiba tertawa dan berkata.

"Kalian tidak perlu takut, aku datang kemari tidak bermaksud mencelakai kalian. Kalian tidak perlu khawatir."

Sun-ming terpaku, terlihat tangan orang itu melayang.

Sebuah cahaya berwarna kuning masuk melewati jendela dan terjatuh ke bawah, ternyata itu adalah sebuah simbal kecil terbuat dari emas.

Bayangan itu berkata lagi.

"Simbal emas ini adalah benda rahasia yang bisa menjaga keselamatan masing-masing di Tianzheng-jiao, kelak jika kalian berkelana di dunia persilatan dan bertemu dengan hal yang tidak bisa menyulitkan, keluarkanlah simbal emas ini di tempat ramai dan pukullah 3 kali. Waktu itu pasti akan ada murid Tian-zheng-jiao yang datang untuk menolong kalian."

Baru saja perkataannya habis, dia sudah berkata lagi.

"Pergilah sekarang!"

Begitu dia bergerak, ternyata sudah berada beberapa puluh meter dari sana.

Sun-ming terkejut dan terpaku.

Zhong-jing sepertinya juga terkejut tapi dia segera berlari keluar.

Malam yang gelap itu telah menelan kedua bayangan itu dalam sekejap mata.

Sun-ming dan putrinya saling mendekat, yang pasti mereka sedikit merasa lega tapi di lain pihak juga bertambah berat.

Jika simbal kecil itu tidak mengeluarkan cahaya berkilau, semua ini serasa mimpi buruk yang membuat siapa pun tidak akan percaya.

"Mengapa siluman Xiao-wu tidak membunuh kami? Dia tidak membunuh kami malah memberikan simbal emas ini untuk melindungi keselamatan kami?"

Walaupun pertanyaan ini terpikirkan oleh Sun-ming selama 10 tahun, tidak terpikirkan sampai sekarang apa penyebabnya.

Kabupaten Jia-xing berada di bagian selatan sekitar 2 kilometer, ada sebuah danau yang ditumbuhi pohon Yang Liu dan bunga teratai, perahu hilir mudik membawa para pelancong yang datang melancong ke sana.

Tempat itulah Nan-hu yang sangat terkenal.

Di tengah-tengah danau Nan-hu (hok.

Lam-ouw), airnya berkilauan, terdapat sebuah pulau kecil.

Yan-yu-lou yang sangat terkenal berada di pulau kecil itu.

Bulan 5 Duan-yang (Bei-cun) di pinggir danau banyak para pelancong yang sedang berjalanjalan.

Di permukaan danau banyak perahu kecil yang membawa penumpang, mendayung, teratai hijau, bunga merah, air yang berkilauan.

Hai!

Pemandangan begitu indah.

Walaupun sudah memasuki bulan lima tapi di Nan-hu masih seperti musim semi.

Di Yan-yu-lou sepasang bayangan orang tampak sedang bersandar ke pagar.

Terdengar suara laki-laki yang sedang membaca puisi di belakang mereka.

Orang yang membaca puisi itu terdengar penuh semangat.

Tapi begitu melihat, ternyata dia adalah lelaki setengah baya berpakaian biru.

Mereka sekalikali menarik nafas dengan kesal.

Mereka kesal karena sampai sekarang mereka belum melihat orang yang mereka tunggutunggu.....

Lu Nan-ren, dan yang sedang menunggu Lu Nan-ren adalah Sun-ming serta putrinya.

Hari belum begitu terang mereka sudah tiba di Nan-hu.

Dia tidak bisa menghalangi keinginan Ling-lin.

Tidak ada yang dipikirkan dan tidak ada yang perlu ditakuti, yang dia pikirkan hanyalah.

"Apakah benar dia akan datang?"

"Mungkin dia tidak akan datang."

Hari semakin terang, para pelancong yang datangke Nan-hu semakin banyak.

Tempat wisata di sekitar Nan-hu penuh dengan para pelancong tapi Lu Nan-ren tetap tidak tampak.

Orang yang datang semakin banyak, Ling-lin semakin cemas, sepasang matanya yang bening mulai tertutup oleh garis-garis merah yang tipis.

Dia merasa aneh.

"Mengapa Xiao-wu memilih tempat ini untuk bertemu dengan Lu Nan-ren?"

"Dia tidak datang, mengapa siluman Xiao-wu juga tidak terlihat?"

Ling-lin bertanya terus kepada ibunya. Sun-ming hanya bisa menggelengkan kepala dengan sedih. Walaupun Xiao-wu sudah datang, mereka tetap tidak akan mengenalinya.

"Apakah dia tidak akan datang? Tidak akan datang...."

Kalimat ini terus berputar di dalam hati Ling-lin, setiap kali pikirannya berputar seperti ada palu yang memukul jantung-nya.

Sore sudah tiba....

Malam pun menjelang....

Di sisi Nan-hu tampak lampu-lampu sudah dipasang.

Nan-hu di malam hari terlihat lebih indah dibandingkan pagi hari.

Tapi...

"Apakah dia akan datang? Apakah dia akan datang? Datangkah dia....?"

Malam semakin larut....

Orang-orang banyak yang sudah meninggalkan tempat ini....

Lampu-lampu berkilauan, bintang-bintang kelap-kelip di langit, perahu yang berlayar sudah kembali, dayung menerpa permukaan air.

Akhirnya perahu-perahu pun tidak tampak, hanya tersisa bunga-bunga teratai yang berada di atas permukaan air......

dan masih ada sepasang bayangan orang yang berada di Yan-yu-lou.

"...dia tidak akan datang!"

Akhirnya Sun-ming mengatakan kalimat yang sangat berat ini.

Dia memegang erat tangan Linglin sedikit pun tidak dilonggarkan.

Tapi Ling-lin seperti mati rasa.

Dia melihat bintang-bintang di langit, dia menarik nafas.

"Dia... benar-benar... tidak... datang...."

Tubuhnya lemas, diajatuh pingsan. Sun-ming sangat terkejut, dia memegang pinggang putrinya dan berteriak.

"Ling-er, bagaimana keadaanmu?"

Tidak ada jawaban, tidak terdengar suara sedikitpun.

Di bawah sinar bulan wajahnya yang cantik tampak sepucat kertas.

Tanyannya yang kecil dingin seperti es.

Tiba-tiba..

Sehelai kertas kuning melayang masuk, masuk dari luar jendela.

Kertas ini seperti memiliki roh dan terjatuh di tangan Sun-ming.

Walaupun hari sudah malam tapi kata-kata yang tertulis di atas kertas sangat jelas.

"Sudah lama aku menunggu tapi kau tidak datang. Aku pergi dulu!"

"Xiao-wu!"

Teriak Sun-ming Dia meloncat ke atas atap, tapi hanya terdengar semilir angin malam yang berhembus sepoi-sepoi, di sekeliling sana tetap hening seperti tadi.

Bintang kelapkelip tapi tidak terlihat ada bayangan apa pun.

Dia terpaku kemudian kembali ke tempat tadi.

Ling-lin yang pingsan sekarang mulai siuman.

Dia menarik nafas panjang, sedih, rasa sakit mengikuti tiupan angin malam terus melayang, melayang keluar....

o-o-o BAB 83 Hati seperti ular beracun Malam musim semi yang hening, di jalan yang sepi tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu memecahkan kesunyian malam.

Pelayan penginapan yang bani terbangun, dengan masih terkantuk-kantuk membukakan pintu penginapan dan dengan terkantuk-kantuk membawa sang tamu...Sun-ming dan putrinya, melewati teras menuju sebuah kamar.

Dan dengan terkantuk-kantuk dia membukakan pintu kamar....

Tiba-tiba...

Terdengar teriakan.

Dia mundur 3 langkah!

Pelayan yang tadi terkantuk-kantuk sekarang sudah sadar sepenuhnya.

Dengan gemetar dia menunjuk ke arah kamar yang terbuka dan berteriak.

"Kau... siapa kah?"

Hati Sun-ming bergetar, wajahnya berubah, dia berlari ke depan pintu dan melihat ke dalam. Tiba-tiba... Dia juga berteriak terkejut. Dengan tangan gemetar dia berteriak.

"Kau... ternyata kau!"

Kedua mata Ling-lin terbuka dan bertanya.

"Siapa dia? Apakah dia adalah Nan-ren?"

Dia berlari ke sisi Sun-ming dan melihat ke dalam.... Dia juga berteriak. Dia. menunjuk ke dalam, dengan gemetar dia berteriak.

"Kau... mengapa kau ?" 3 kali teriakan ini ada yang terdengar lebih dulu tapi terjadi dalam waktu bersamaan. 3 orang dengan 6 mata melihat ke dalam. Terlihat di sebuah kursi duduk seorang pemuda dalam keadaan sedang terpaku. Tubuhnya bersimbah darah, wajahnya pucat, sorot matanya kosong, tangan kanannya putus dari bagian pundak tapi lukanya tidak dibalut. Dia bengong melihat Sun-ming dan putrinya, dan dia merasa sepertinya seumur hidup dia tidak akan pernah melihat mereka berdua, apalagi menjawab pertanyaan Ling-lin. Dengan cepat Sun-ming berlari ke sisinya. Air mata karena terkejut juga cemas menetes di wajahnya. Dia hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dengan cemas dia bertanya.

"Bagaimana... keadaanmu? Kau... mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kau... apa yang terjadi padamu?"

Orang yang duduk tetap tidak bergerak, tidak bergerak sedikit pun....

"Zhong-jing, kau tidak mengenali kami?"

Bola mata Zhong-jing pelan-pelan berputar, akhirnya jatuh di wajah Ling-ling sorot matanya yang kosong mulai terlihat ada cahaya.

Tapi dia tetap tidak bergerak juga tidak bicara.

Dengan hati-hati Sun-ming membalut lukanya.

Dengan lembut dia bertanya.

"Katakan padaku... siapa, siapa yang telah begitu jahat, kejam, dan begitu sadis?"

Zhong-jing tidak menjawab. Zhong-jing tidak perlu menjawab. Karena Sun-ming dan putrinya sudah tahu jawabannya.

"Membantah perintah guru, hukumannya adalah dibunuh tapi karena aku baik hati maka hanya membuatmu cacat. Semua hal terjadi karena dirimu sendiri yang menginginkannya maka kau harus bertanggung jawab seumur hidup!"

Kertas berwarna kuning, tulisan yang ditulis menggunakan tinta hitam, persis seperti surat yang diterima oleh Sun-ming di Yan-yu-lou sekarang kertas itu diletakkan di bawah cangkir milik Zhongjing.

Sun-ming segera mengambil dan menyobeknya menjadi dua.

Dia tidak menyangka kalau Xiaowu tega menganiaya muridnya sendiri sehingga menjadi seperti ini.

Dengan lembut dia memapah Zhong-jing.

Ketika tangannya memegang daging di tubuh Zhongjing, tubuh yang biasanya berotot sekarang terasa lembek seperti kapas.

Dia sadar ilmu silat pemuda ini sudah dimusnahkan oleh gurunya yang memiliki hati seperti ular beracun.

Dia menarik nafas panjang dan membaringkan di atas ranjang.

Dia tidak berani dan tidak tega memikir-kan keadaan pemuda ini.

Seorang pemuda yang kuat, tenang, sehat, lincah, dan tampan, sekarang telah berubah menjadi mati rasa, tidak bersemangat hidup, pucat, bergerak lamban, dan cacat.

Perubahan ini hanya terjadi dalam waktu sehari.

Diamdiam Sun-ming menoleh ke belakang.

Air matanya menetes lagi.

Di luar jendela di ufuk timur terlihat cahaya putih.

Hari telah berganti lagi...

Bagaimana dia menghadapi hari-hari mendatang....

Sun-ming mulai merasa menyesal mengapa dia harus pergi ke Xi-liang-shan, jika dia tidak ke sana banyak hal tidak akan terjadi.

Paling sedikit Lu Nan-ren tidak akan jatuh ke dalam jurang itu....

Dia tidak mengungkapkan pikiran-pikirannya ini karena dia takut akan membuat putrinya bertambah sedih lagi.

Dia hanya dengan pelan berkata.

"Tuan Jian dan gurumu mungkin bisa menyembuhkan lukanya, tapi... ke mana kita harus mencari mereka berdua?"

Ling-lin dengan cemas duduk di dekat jendela melihat langit.

"Mereka mungkin bisa mengobati luka Zhong-jing, tapi... bagaimana dengan Nan Ren? Apakah mereka bisa menolong Nan Ren keluar dari jurang itu?"

Sun-ming pelan-pelan berkata.

"Anak ini lukanya sangat parah, ilmu silatnya pun sudah musnah, sepertinya dia tidak akan kuat jika harus naik kereta yang berjalan bergoyang-goyang, terpaksa kita harus menunggu hingga lukanya sembuh... lukanya sembuh... mana mungkin lukanya bisa sembuh? tubuhnya sudah cacat, luka dalamnya tidak akan bisa sembuh!"

Ling-lin masih bengong sambil melihat ke luar jendela.

"Tapi dia masih hidup, Bu! Paling sedikit dia masih hidup!"

Topik pembicaraan kembali lagi pada Lu Nan-ren.

Dia rela mengorbankan semua kebaha-giaan dan tawanya untuk menggantikan nyawa Lu Nan-ren.

Tapi nyawa dari orang yang sudah mati apakah bisa digantikan oleh sesuatu?

Akhirnya luka Zhong-jing semakin membaik, tangan yang sudah putus tidak akan bisa Uimbuh kembali, apalagi luka di dalam hati lebih-lebih tidak akan bisa cepat sembuh.

Dari pagi hingga siang, dari siang hingga malam, dari malam hingga pagi lagi...

Zhong-jing hanya duduk termenung.

Wajahnya pucat, sorot matanya kosong...kecuali sewaktu dia melihat Ling-lin tampak ada sedikit cahaya kehidupan tapi sepertinya Ling-lin juga mati rasa.

Mereka tinggal beberapa hari di penginapan.

Mereka tidak pernah keluar dari penginapan.

Semua hal yang terjadi di dunia ini sepertinya dalam beberapa hari tidak ada hubungannya dengan mereka.

Yang dipikirkan Zhong-jing hanya Ling-lin.

Yang dipikirkan Ling-lin hanya Lu Nan-ren.

Dan Sunming, dia sulit membagi kasih sayangnya pada mereka.

Lu Nan-ren, Ling-lin, Zhong-jing, orang aneh juga terkenal Tuan Jian, serta San-xin-shen-jun.

Akhirnya...

Luka Zhong-jing sudah menutup juga mengering, keadaannya sudah tidak berbahaya lagi.

Akhirnya Sun-ming bisa bernafas lega tapi Ling-lin mulai memaksa ibunya untuk kembali ke Xiliang-shan.

"Walaupun seumur hidup tidak bisa bertemu dengan Lu Nan-ren, tapi walau bagaimana pun aku tetap harus melihat mayatnya!"

Ini adalah keinginan Ling-lin. --BAB 84 Kabar dari udara Pintu kamar tiba-tiba diketuk seseorang. Ling-lin mengerutkan alis dan membuka pintu. Begitu melihat siapa yang datang, wajahnya berubah.

"Siapakah Tuan? Ada perlu apa mencari kami?"

Di luar pintu berdiri 4 orang laki-laki berbaju warna perak, kepala mereka terbungkus dengan kain warna perak.

Ikat pinggang mereka pun berwarna perak.

Mereka membawa baki berwarna perak.

Salah satu dari mereka memberi hormat.

"Kami diperintahkan oleh ketua untuk mengantarkan barang ini, harap diterima!"

Sun-ming terkejut dan bertanya.

"Kalian dari perkumpulan mana? Dan siapa ketua anda?"

Laki-laki itu tersenyum, dia melihat kedua perempuan ini adalah orang persilatan maka sikap mereka yang canggung tadi berubah jadi santai.

"Perkumpulan kami baru berdiri sebulan yang lalu dan aku yakin kalian belum pernah mendengar nama perkumpulan kami."

Setelah tertawa dia berkata lagi.

"Tapi kami berjanji, tidak perlu sampai 3 bulan, semua orang persilatan pasti akan mengenal perkumpulan kami, seperti kalian mengenal Tian-zheng-jiao!"

Wajah Sun-ming sedikit berubah, kedua alisnya berkerut lebih dalam. Sun-mmg bertanya.

"Setiap rumah menerima hadiah dari perkumpulan kalian, apakah perkumpulan kalian telah menyiapkan begitu banyak hadiah?"

Dengan tersenyum laki-laki itu menjawab.

"Benar!"

Setelah memberi hormat, dia keluar dari kamar dan menutupnya kembali. Sun-ming masih bingung. Keempat laki-laki berbaju perak itu sudah keluar dari halaman.

"Kalau begitu berarti kalian bukan orang Tian-zheng-jiao? Apa hubungan perkumpulan Anda dengan Tian-zheng-jiao?"

Dengan serius laki-laki itu menjawab.

"Perkumpulan kami tidak ada hubungannya dengan Tianzheng-jiao dan... kelak kalian akan mengetahuinya juga."

Kemudian dia membungkukkan tubuh memberi hormat dan meletakkan 4 baki perak itu di atas meja, laki-laki itu melihat Zhong-jing yang duduk terpaku.

Sepertinya dia sedikit terkejut.

Sun-ming bertanya lagi.

"Siapakah nama ketua kalian? Kita tidak saling kenal mana boleh sembarangan menerima pemberian ini? Lebih baik kalian bawa kembali barang-barang ini!"

Sun-ming yang berpengalaman curiga dengan maksud mereka memberikan benda-benda itu. Laki-laki itu tersenyum, perlahan berkata.

"Setiap rumah yang ada di kota Jia-xing menerima hadiah dari perkumpulan kami. Jika kalian tidak mau menerima hadiah kami, dengan alasan apa aku harus menerangkannya pada atasan kami?"

Sun-ming dan Ling-lin dengan terkejut 4 kotak warna perak ini tersimpan dengan rapi di atas meja.

Sebuah kertas berwarna perak tertempel dengan rapi di ujung kotak.

Ada 18 kata yang tertulis dengan rapi.

"Kekuasaan yang memaksa pasti akan musnah, kebenaran akan ditegakkan. Empat kotak hadiah ini harap diterima dengan senang! Yang bertanda tangan di bawah adalah, Ketua Zheng-yi-bang."

Siapakah ketua Zheng-yi-bang?

Mengapa dia mengeluarkan begitu banyak biaya untuk memberikan hadiah kepada penduduk kota Jia-xing?

Anehnya dia mempunyai begitu banyak uang dan tenaga.

Jangankan barang yang di dalam kotak, kotaknya saja berjumlah ratusan ribu kotak.

Bukan orang biasa yang bisa melakukan tindakan seperti ini.

Sun-ming memang banyak pengalaman tapi dia tetap merasa bingung.

Dia tidak menyangka kalau di dunia ini ada orang yang bisa berbuat seperti ini!

Dia terdiam sebentar, lalu segera berlari keluar.

Dia ingin mencari jawaban akan hal ini tapi keempat laki-laki misterius itu telah menghilang.

Tiba-tiba...

Terdengar alunan musik indah mengikuti hembusan angin.

Alis Sun-ming berkerut, dia mencari sumber suara ini.

Dia keluar dari kamar dan berlari ke depan penginapan.

Di sana sudah banyak orang yang berkumpul, mereka tampak sedang berbisik-bisik, dia berjalan ke depan, begitu melihat keadaannya, dia segera menarik nafas panjang, karena...

di ujung jalan sana ada sekelompok kuda dan penunggangnya yang sedang berjalan dengan perlahan.

36 gadis cantik meniup seruling dan alat musik lain berwarna perak.

36 ekor kuda berwarna putih dan tampak gagah.

pelananya berwarna perak, tali kekangnya pun berwarna perak dituntun 36 pemuda tampan.

Mengikuti alunan musik berjalan dengan pelan, terlihat sebuah tandu berwarna perak, atap tandu terbuat dari perak asli, tirai berumbai sebanyak 16 buah.

Laki-laki yang berpakaian ketat berwarna perak tampak memegang kipas, mereka berjalan dengan pelan.

72 pasang gadis dan pemuda, tangan mereka masing-masing membawa sebuah kotak berwarna perak berjalan mengikuti tandu.

Matahari mulai tenggelam.

Sinar matahari menyorot barisan misterius.

Mungkin mereka adalah orang-orang Zheng-yi-bang, yang duduk di dalam tandu adalah ketua Zheng-yi-bang.

Sun-ming ingin sekali berlari kesana dan membuka tirai yang menutupi jendela melihat siapa yang duduk di dalam tandu itu.

Dia begitu misterius seperti naga sakti yang baru turun dari langit.

Siapakah ketua Zheng-yi-bang?

Dari dulu hingga sekarang banyak orang yang bukan orang terkenal di dunia persilatan.

Dari orang biasa tiba-tiba menjadi orang yang sangat terkenal.

Tapi tidak ada seorang pun seperti ketua Zheng-yi-bang begitu misterius juga aneh....

Diam-diam Sun-ming berpikir.

'Mungkin dia memang sudah terkenal tapi mengapa dia harus bersikap begitu misterius, apakah.

Pikirannya belum selesai, alunan musik yang tadinya terdengar lembut tiba-tiba menjadi keras dan gagah.

Alunan musik berubah, 72 pasang pemuda dan pemudi itu, tiba-tiba berhenti melangkah.

Tangan melayang, kotak berwarna perak dibuka....

Terdengar suara lonceng kemudian beberapa ratus ekor burung merpati berwarna perak terbang keluar.

Setiap kotak berwarna perak masing-masing berisi 4 ekor burung merpati berwarna perak.

Dan setiap kaki burung merpati itu terikat sebuah kain sepanjang 5-6 meter.

Waktu itu juga....

Terdengar suara lonceng membahana memenuhi langit.

Kain yang diikat di kaki burung tampak melambai-lambai.

Ratusan kain tertulis dengan tinta perak.

Di bawah sinar matahari terlihat berkilauan.

Sun-ming melihatnya.

Di atas kain ada yang tertulis.

Ketua Zheng-yi-bang menentang ketua Tian-zheng-jiao, Xiao-wu!

Ada yang ditulis.

Bulan delapan Zhong-qiu (Tiong-qiu) bertemu di Yan-yu-lou, harap datang.

Di bawah sinar bulan walaupun ada yang penglihatannya kurang tapi tetap bisa membaca dengan jelas huruf-huruf yang tertulis dengan warna perak itu.

Musik berganti lagi, sekarang alunan musik menjadi siulan dengan nada tinggi.

Terlihat 4 ekor burung merpati memben-tuk satu kelompok ada yang terbang ke timur, ada yang ke barat, ada yang ke utara, ada juga yang ke selatan.

Hanya sebentar mereka telah menjauh dari sana, hanya terlihat kain tetap berkibar-kibar dan suaraloncengyang terus berdentang.

Tapi...

"Ketua Zheng-yi-bang telah menantang ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu."

Berita ini membuat geger dunia persilatan.

Kabar ini disebar melalui burung-burung merpati itu ke selatan, utara, barat, dan timur....

Menyebar ke seluruh dunia persilatan dan menyebar ke setiap penjuru.

--BAB 85 Pembicaraan di jendela Setelah barisan itu menjauh, Sun-ming masih tetap berdiri dengan termenung.

Dia hanya mendengar bisikan dan suara terkejut.

Dia juga melihat beberapa orang laki-laki berbaju hitam yang tadinya berada di jalan sekarang diam-diam mengikuti barisan itu.

Dia sedikit ragu-ragu tapi dia melihat di seberang jalan ada 2 orang laki-laki berbaju hitam dengan pandangan galak melihatnya.

Diam-diam dia kembali ke penginapan tapi sebenarnya dia ingin mengikuti barisan tadi.

Pengalaman hidupnya memberitahu kalau keinginannya ini harus diabaikan.

Dia sendiri tahu kalau dia sendiri masih banyak yang harus dikerjakan.

Orang seperti dia masih banyak pekerjaan, tidak perlu mengurusi hal .

yang tidak ada hubungannya dengan dia walaupun hal ini terasa sangat aneh.

Kotak masih ada di atas meja.

Sun-ming membaca surat yang ditempel di sudut kotak.

"Kekuasaan yang memaksa pasti kalah, kebenaran pasti akan menang..."

Dari sudut mulutnya muncul senyum kecil, putrinya masih tampak duduk termenung di dekat jendela.

Dia melihat sepasang pemuda-pemudi yang tampak bersedih, senyumannya segera hilang.

Banyak kata-kata yang tersimpan di dalam hati.

Dia tidak tahu apakah dia harus mengatakannnya atau tidak.

Tapi begitu melihat pemuda itu, dia telah mengambil sebuah keputusan.

"Aku harus memberi tahu hal ini kepada-nya, mungkin kegembiraan ini akan mengurangi hatinya yang takut dan bersedih...."

Melihat pemuda itu dia ingin dengan kekuatannya menyalakan kembali kembang hati yang telah padam di dalam jiwa pemuda ini.

Satu hari telah berlalu lagi.

Malam sudah tiba.

Di kota Jia-xing tiba-tiba ada bayangan seperti asap mengikuti hembusan angin.

Dia datang seperti angin, begitu lincah, ringan, dia meluncur dari satu atap ke atap lain, tidak ada yang bisa melihatnya dengan jelas.

Langit bulan 5, bintang-bintang masih berkilauan, dia berhenti di sebuah atap rumah besar kemudian dia menarik nafas.

Dalam helaan nafasnya terdengar ada kesedihan dan rasa cemas tapi juga bahagia dan gembira seperti seorang pelancong yang berjalan di padang pasir akhirnya tiba di tujuan.

Pandangan matanya seperti kilat berputar dan dia melihat arah dan posisinya berada.

Tanpa ragu lagi dia berlari ke penginapan di mana Sun-ming dan putrinya menginap....

Penginapan sangat sepi, hanya di bagian barat terlihat lampu di sebuah kamar masih menyala dengan redup.

Sorot matanya memancarkan cahaya kegembiraaan.

Sekali bergerak, dia bisa mencapai beberapa meter.

Dia sudah masuk di ruangan depan yang ada di kamar itu.

Tiba-tiba dari jendela terdengar helaan nafas sedih dan lesu.

Helaan nafas ini membuat orang yang herilmu meringankan tubuh tinggi ini seperti terkena hipnotis, tiba-tiba berhenti melangkah dan berdiri di depan jendela.

Terdengar dari jendela suara helaan nafas l.igi.

Suara yang pelan, rendah, dan nada penuh kasih sayang keluar dari mulut seorang perempuan dewasa.

Dengan penuh kasih sayang perempuan itu berkata.

"Ling-er, tidurlah dulu, ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Kakak Jing."

"Aku tidak mau tidur, tidak mau, mau bicara apa sampai aku tidak boleh mendengar-nya?"

Suaranya lembut walaupun tidak terlalu keras tapi terdengar keras di malam yang begitu sepi maka setiap perkataan dengan jelas terdengar di telinga orang yang berdiri di depan jendela.

Pelan-pelan kakinya bergeser, terdengar suara penuh nada kasih sayang berkata lagi.

"Sebenarnya sudah lama aku ingin menyampaikan hal ini padanya tapi... tapi... Ling-er, apa isi hati ibu, kukira kau pasti sudah tahu. Kematian Nan-ren pasti sangat membuatmu sedih, aku pun demikian tapi kau masih muda, jalanmu ke depan masih panjang. Kau... kau... kau...."

Kata-katanya berhenti, bayangan di luar tampak gemetar.

Apakah karena terlalu sedih atau malam ' terlalu dingin atau ada alasan yang lain yang menyebabkan orang itu bergetar?

Tiba-tiba dari dalam jendela terdengar lagi helaan nafas panjang.

"Bu, sekarang aku baru tahu apa yang disebut kesedihan... kesedihan ini akan menemaniku seumur hidup. Aku merasa ini sudah cukup karena bersamaan datangnya kesedihan masih tersisa kenangan manis, bukankah ini sangat indah? Bu, tenanglah, lebih baik ibu tidur dulu!"

Suaranya yang sedih seperti lagu indah dan masuk ke telinga bayangan orang itu.

Matanya yang terang seperti ada air mata, telapak tangannya dikepal, pelan-pelan diangkat dan siap mengetukjendela.

Terdengar dari dalam ada yang berkata lagi.

"Ling-er, kau benar, sebagian orang tidak mempunyai apa-apa lagi di dunia ini, sampai-sampai kenangan pun tidak ada, yang ada hanya kesedihan dan kegelapan."

Dari kertas jendela terlihat bayangan seseorangyang cantik. Bayangan ini mengangguk. Suara yang penuh kasih berkata lagi.

"Demi cinta, Jing-er telah berkorban, aku tidak perlu panjang lebar menjelaskannya, kau pun pasti sudah tahu. Sedalam apa cintanya padamu, kau mengetahuinya lebih jelas diban-dingkan diriku. Seumur hidupnya selalu susah dan kesepian, sekarang dia tidak memiliki apa pun termasuk ilmu silat, hanya ada tubuh yang cacat. Hati yang telah mati, kesedihannya tidak terbendu ng lagi...."

"Ibu, untuk apa kau mengatakan semua ini kepadaku?"

Suara lembut berubah menjadi tegas.

"Ling-er, aku tidak ingin kau bicara sekejam itu. Kalian sama-sama mempunyai masa depan yang cerah. Demi kita dia rela mengobankan semua kebahagiaannya. Apakah kita tidak bisa membalas budinya? Ayahmu... sewaktu beliau masih hidup bukankah beliau sering mengatakan padamu, orang yang tidak tahu balas dendam adalah orang pengecut, orang yang tidak tahu balas budi, lebih rendah dari anjing dan babi. Apakah kau sudah melupakan kata-kata ini?"

Bayangan di dalam jendela tampak menundukkan kepala... Demikian juga bayangan di luar jendela tampak menundukkan kepala. Angin berhembus, bumi begitu gelap. Suara itu kembali berkata lagi.

"Pergilah ke kamar, suruh Jing-er kemari. Hhhh... anak itu sudah beberapa jam hanya duduk diam di sana, sama sekali tidak bergerak.."

Bayangan di dalam kamar dengan perlahan berdiri dan berjalan dengan pelan, dia menoleh dan bertanya.

"Ibu, kau menyuruhku melakukan sesuatu, aku mengerti maksud ibu, tapi aku harus pergi ke Xi-liang-shan dulu untuk melihat mayatnya, lalu menguburkannya...."

Belum selesai perkataannya, dia berlari keluar kamar, dari dalam terdengar helaan nafas berat, di luar jendela terdengar helaan nafas tanpa suara.

Lama hanya diam, di dalam kertas jendela terlihat ada bayangan seseorang yang hitam dan kurus, dan garis wajah bayangan orang ini sangat jelas dan kuat.

Pelan-pelan dia duduk tapi sepatah kata pun tidak ada yang keluar dari mulutnya, sepertinya dia tidak sudi dengan bahasa apa pun menyampaikan apa yang sedang dia pikirkan di dalam hatinya.

Dia hanya diam dan diam....

Kemudian terdengar suara lembut berkata.

"Jing-er, walaupun kau tidak mau bicara, tapi dari pandangan matamu aku bisa melihat kalau kau sedang mendengarkan apa yang akan kukatakan."

Tidak ada jawaban, sampai gerakan menggelengkan kepala atau mengangguk tidak ada. Suara lembut itu berkata lagi.

"Aku ingin memberitahu sesuatu padamu, cintamu kepada Ling-er bukan hanya Ling-er yang tahu, aku pun sudah tahu, dan kami merasa berterima kasih karenanya, karena di dunia ini tidak ada hal yang lebih indah daripada cintamu."

Dia berhenti bicara seperti sedang menantikan ekspresi pemuda itu. Kemudian terdengar suara helaan nafas lagi.

"Demi cintamu... cukup untuk membuat gadis mana pun di dunia ini akan membalas cintamu, kau... kau istirahatlah, sembuhkan lukamu, setelah lukamu sembuh, aku, aku... akan menikahkan Ling-er padamu, saat menyembuhkan lukamu, kau tidak perlu cemas lagi, apakah kau mengerti?"

Bayangan di luar jendela tampak gemetar...

karena dia mendengar kabar yang mengejutkan.

Bayangan di luar kendela terkejut...demi apakah dia melakukan semua ini?

Dia dengan pelan membalikkan tubuh, tubuhnya tadi bergerak lincah, sekarang tampak berat, dia berusaha agar suaranya tidak keluar.

Tapi beban di dalam hatinya sudah tidak terbendung.

Pembicaraan di dalam kamar masih berlanjut.

Bayangan di luar jendela sudah tidak ingin mendengar kelanjutan pembicaraan itu lagi, dia membalikkan tubuh dan tubuhnya yang panjang meloncat tinggi.

Dia berlari seperti orang gila.

Langit malam di bulan 5, bintang masih berkilau-an, tapi manusia yang ada di kolong langit...

suara helaan nafas, tidak ada kebahagiaan dan kegembiraan.

Bayangan itu menghela nafas seperti hembusan angin malam, menghilang dalam kegelapan.

--BAB 86 Memberi perhiasan kepada seorang tuan Jendela yang tertutup rapat, tiba-tiba dibuka...

Wajah yang tadinya pucat sekarang bercampur dengan rasa terkejut, tegang, tidak ada ekspresi, sekarang terlihat kegembiraan yang amat kental.

Dia melihat cahaya bintang, pelanpelan berkata.

"Apakah hari sudah terang... apakah hari sudah terang?"

Terdengar suara lembut yang menjawab.

"Bukan hari yang sudah terang, tapi kau harus melihat dengan mata hatimu, apakah kau mengerti? Kalau kau ingin bahagia, kau harus membahagiakan dirimu terlebih dulu."

Jendela perlahan ditutup kembali, dia berkata.

"Di luar angin sangat kencang, lukamu belum sembuh total."

Kemudian dia berkata pada Linglin.

"Ling-er, aku sudah lama mengobrol dengan Kakak Jingmu, sekarang...."

Belum selesai perkataannya, di malam yang hening itu tiba-tiba terdengar derap langkah kuda yang berlari dengan terburu-buru seperti mengikuti arah angin.

Suara itu berhenti di depan penginapan, kemudian terdengar ada yang menge-tuk pintu dan terdengar suara seseorang...

kemudian terdengar lagi kuda berlari menjauh dari penginapan.

Alis Sun-ming berkerut, dia merasa aneh dan bertanya.

"Mengapa kuda itu berlari dengan terburu-buru?"

Kemudian...Terdengar langkah orang dan suara serak yang bertanya.

"Apakah Nyonya belum tidur?"

Sun-ming bangun dan membuka pintu, tampak pelayan penginapan yang masih ter-kantukkantuk membawa sebuah kotak yang terbuat dari kayu wangi, dia berdiri di depan kamar dengan termangu, sambil tertawa dia berkata.

"Tadi ada yang mengantarkan kotak ini, dia menyuruhku memberikan kotak ini kepada Nyonya, dia juga mengatakan kalau di dalam kotak ini ada benda berharga, maka aku langsung membawanya ke sini, untung Nyonya belum tidur...."

Sun-ming merasa terkejut, dia berusaha menjawab dengan nada biasa.

"Aku tahu."

Dia menerima kotak kayu itu dan berkata lagi.

"tengah malam seperti ini telah mengganggumu, aku minta maaf!"

Dia memberi uang tip kepada pelayan itu, kemudian membawa kotak itu masuk ke dalam kamar.

Kotak itu diukir dengan indah.

Kotak kayu seperti ini biasanya digunakan oleh keluarga kaya.

Ukiran itu menggambarkan sepasang burung phoenix, dia bertanya.

"Apa yang tersimpan di dalamnya? Siapa yang mengantarkannya ke sini?"

Ling-lin sama bengongnya dengan ibunya, Sun-ming dengan pelan membuka kotak itu. Tibatiba! Cahaya berkilau dari pantulan perhiasan keluar dari dalam kotak, Ling-lin bertanya.

"Apa ini, Bu?"

Tapi Sun-ming malah gemetar, wajahnya pucat, dan PRAK...

kotak kayu itu terjatuh dari pegangannya.

Kotak terjatuh ada mutiara yang jatuh menggelinding ke bawah meja, Ling-lin berteriak, tapi tangan ibunya masih gemetar, sepucuk surat dipegang dalam tangannya.

Ling-lin menghampiri ibunya dan mengambil surat itu, di bawah cahaya lampu yang redup terlihat tulisan kaligrafi, setiap kata tertulis dengan indah, di sana tertulis.

"Aku mendengar berita menggembirakan, maka aku memberikan hadiah mutiara dan perhiasan, cahaya perhiasan akan menyinari wajah pengantin perempuan, semoga bahagia selamanya!"

Kata-kata biasa, kaligrafi biasa, tidak ada nama penerima dan tidak ada nama pengirimnya.

Sebenarnya tidak ada hal yang membuat Sun-ming merasa aneh!

Ling-lin melihat ibunya, tiba-tiba dia mundur tiga langkah dengan lemas dia berteriak.

"Ini darinya! Apakah dia? Apakah dia?"

Pandangan Sun-ming terus melihat mutiara yang masih berjatuhan di lantai, diam-diam dia berpikir, Apakah benar dia?

Apakah mungkin itu dia?

Apakah dia tidak mati?

Kecuali dia siapa lagi?' Firasatnya mengatakan kalau orang yang memberikan perhiasan dan mutiara ini adalah dia!

Tapi Sun-ming tetap berkata.

"Ling-er, apa yang kau katakan tadi? Mengapa kau merasa kalau orang itu adalah dia?"

Mata Ling-lin yang besar tampak melotot.

"Ibu, kau juga pasti merasakan kalau pengirim benda-benda ini adalah dia, kalau tidak mengapa Ibu bisa sampai terkejut seperti ini? Apakah ini benar, Bu?"

Ling-lin terus melanjutkan.

"apakah benar?"

Dia sampai memegang erat pundak ibunya, sepertinya dia ingin mendapatkan kepastian dari mulut ibunya dia ingin membuktikan pemikirannya ini.

"Apa yang kita bicarakan tadi, sepertinya dia sudah mendengarkan semuanya, tapi.... mengapa dia tidak masuk saja? Apakah... apakah..."

Ling-lin terus berkata sendiri, air matanya mulai menetes lagi, air matanya meleleh, air matanya lebih berharga dibandingkan dengan inutiarayang berserakan di lantai.

Sun Ling mengelus-elus rambut putrinya.

"Anak bodoh, mengapa kau begitu yakin kalau orang itu adalah dia?"

Diluar jendela angin masih terus berhembus tiba-tiba Ling-lin berteriak.

"Dia belum pergi jauh, dia masih ada di luar!"

Dengan cepat Ling-ling membuka jendela dan melihat ke sekelilingnya, tiba-tiba dia berteriak lalu mundur, sambil membentak.

"Siapa kau? Ada keperluan apa datang ke sini?"

Bentakannya belum selesai, terdengar sebuah tawa masuk dari jendela.

Dengan bantuan cahaya bintang, terlihat bayangan orang itu, tubuhnya yang pendek berdiri di depan jendela.

Hati Sun ming benar-benar menjadi dingin, dengan cepat dia mengeluarkan sebuah pisau tajam untuk memadamkan sumbu lampu, tapi sosok orang itu malah tertawa keras.

"Jangan terkejut, aku tidak berniat jahat!"

Di bawah cahaya lampu, bayangan orang itu masuk melalui jendela, bajunya yang berwarna kuning tampak berkilau, dia tampak gemuk, tapi gerakannya luwes dan cepat, hal ini membuat Sun-ming gemetar, dia membentak.

"Siapakah sahabat? Kalau tidak berniat jahat mengapa malam-malam seperti ini mengganggu waktu istirahat kami, ada urusan apa?"

Orang itu baru berdiri dengan tegak, dia melihat Zhong-jing yang berada di sudut kamar, kemudian dia memberi hormat kepada Sun-ming.

"Aku adalah Wei Ao-wu, aku dan Pendekar Ling telah beberapa kali bertemu, apakah Nyonya masih ingat kepadaku?"

Perlahan Sun-ming memasukkan kembali pisaunya, tapi dari pandangannya terlihat kalau dia merasa aneh, lelaki pendek dan gemuk ini tidak lain adalah 'Qi-hai-yu-zi' Wei Ao-wu yang terkenal di dunia persilatan.

Wei Ao-wu tertawa terbahak-bahak.

"Pendengaran Nona Ling benar-benar lihai, aku baru saja sampai di atas atap, Nona sudah langsung tahu, kelak kalau ada penjahat kecil yang berniat tidak baik kepada Nona Ling, berarti mata orang itu benar-benar sudah buta!"

Wajah Ling-lin seperti air, dia sama sekali tidak mendengar pujian tadi, Wei Ao-wu tertawa dan berkata lagi.

"Malam-malam seperti ini aku telah mengganggu kalian, aku benar-benar minta maaf, tapi aku datang ke sini karena Nyonya."

Alis Sun-ming berkerut dan bertanya.

"Tuan dan kami tidak saling kenal, kata-kata Tuan tadi benar-benar membuatku tidak mengerti, apakah dengan masuk ke kamar perempuan, lalu masih mengatakan..."

Sun-ming tahu kalau 'Qi-hai-yu-zi' Wei Ao-wu bisa dipastikan dia adalah orang Tian-zheng-jiao, maka dia tidak sungkan berkata seperti itu.

Tapi perkataan Sun-ming belum selesai, Wei Ao-wu sudah menyela.

"Aku bicara tidak berkepala dan tidak berbuntut, pantas Nyonya tidak mengerti."

Dia duduk di bangku yang ada di dekatnya, tanpa sungkan dia bercerita.

"Jika Nyonya mengerti apa maksudku, Nyonya tidak akan marah lagi!"

"Hari ini aku mendengar anak buahku melapor, Nyonya sangat tertarik dengan 'Zheng-yi-bang' maka aku pun segera menyuruh anak buahku mencari tahu mengenai keberadaan mereka. Sekarang aku mencari Nyonya karena aku berhasil mendapatkan tempat mereka. Apakah Nyonya tertarik, dengan suka rela aku akan menunjukkan jalan kepada Nyonya."

Diam-diam Sun-ming berpikir, 'Sepertinya dalam Tian-zheng-jiao banyak orang berbakat.

Pagi tadi ketika aku berada di depan pintu penginapan ada 2 laki-laki yang berdiri di depan penginapan itu bisa langsung menebak.

Marga Wei datang kemari pasti ingin menjadikanku batu loncatan untuk menanyakan jalan."

Diam-diam dia tertawa dingin, dalam hati dia segera menyusun rencana. Dia segera bertanya.

"Apakah benar Ketua Wei sudah mengetahui tempat Zheng-yi-bang?"

Wei Ao-wu tertawa terbahak-bahak.

"Aku mendapatkan perintah dari ketua kalau sekarang Nyonya telah menjadi keluarga Tian-zheng-jiao. mana mungkin aku masih berani membohongi Nyonya?"

Sun-ming berusaha menekan amarahnya karena dia sudah mempunyai suatu dugaan. Dia ingin membuktikan apakah dugaannya ini benar, maka dia pun berkata.

"Apakah sekarang kita bisa pergi?"

Wei Ao-wu mengangguk dan tertawa.

"Asalkan Nyonya bersedia, aku pasti akan menemani Nyonya."

Dengan mata rakus dia terus melihat ke arah perhiasan dan mutiara yang berserakan di bawah. Sun-ming memasukkan kembali pisaunya dan berkata.

"Ling-er, kau di sini saja temani......beristirahat, aku akan segera kembali!"

Ling-er yang pintar tidak bisa menebak apa yang diinginkan ibunya. Dia masih terpaku, ibunya sudah membentak.

"Ayo, kita pergi sekarang!"

Wei Ao-wu tertawa terbahak-bahak.

"Nona, tunggu sebentar!"

Dia berbisik kepada Zhong-jing kemudian baru keluar melalui jendela. Tadi Ling-lin secara tidak jelas mendengar kata-katanya.

"...asalkan kau mau... pesan ketua... segera akan bisa... aku menasehatimu...."

Tapi Zhong-jing masih duduk dengan termenung dan membuka matanya lebar-lebar seperti tidak mendengar apa yang Wei Ao-wu katakan.

Angin masih berhembus, bintang masih kelap-kelip di langit.

Sun-ming dan Wei Ao-wu sudah pergi jauh.

Suara genderang dari orang yang meronda memecahkan kesepian malam.

Sun-ming berlari di dalam kesepian malam, ilmu silatnya memang tidak begitu tinggi tapi sudah termasuk lumayan di dunia persilatan.

Tidak lama kemudian mereka sudah berada di luar kota, melewati jembatan kecil dan danau.

Danau di malam hari begitu indah.

Sun-ming bertanya.

"Apakah kita sudah sampai?"

Wei Ao-wu yang selalu berada di sisi Sun-ming dengan tersenyum menjawab.

"Tidak lama lagi."

Dia berlari semakin cepat, angin meniup baju kuning dan terus berbunyi.

Saat melewati sebuah hutan, dia membuka bajunya yang berwarna kuning dan memakai baju hitam ketat yang sudah dipakainya sejak tadi.

Dengan tersenyum dia pun berkata.

"Nyonya, di depan sana ada beberapa rumah, sebenarnya tempat ini milik seorang pejabat tinggi di kerajaan, entah mengapa bisa menjadi markas pusat kelompok orang tersebut. Aku belum pernah ke sana, tapi katanya di sana banyak pepohonan jadi jika Nyonya masuk ke sana harus berhati-hati.

"Jangan sampai terpisah dariku. Memang tampak sepi, tapi sebenarnya tempat ini bagai kandang harimau..."

"Aku hanya akan menemani Nyonya, sebenarnya situasi di sini sangat berbahaya!"

Sun-ming tertawa dingin. Benar saja, di hutan sana ada sebuah rumah besar. Dia menekan gejolak hatinya dan bertanya kepada dirinya sendiri.

"Apakah benar orang yang ada di dalam sana adalah oiang-orang Zheng-yi-bang? Apakah ketua Zheng-yi bang adalah orang yang kuduga?"

Suara detak jantung sampai terdengar olehnya, jika dugaannya benar, ini tidak akan menjadi masalah, tapi jika salah, dia secara tidak topan telah masuk ke tempat rahasia perkumpul-an oiang lain.

Bukankah berarti juga mengantar-kan Kematiannya sendiri?

Tapi demi mendapatkan jawaban pasti, dia tidak berpikir panjang lagi.

Dua bayangan naik ke bubungan atap.

Lampu penginapan yang ada di kota Jia Xing dari yang tadinya redup sekarang terlihat putih.

Di bumi ini selalu terjadi perubahan, begitu pula dengan manusianya.

Tapi perubahan ini hanyalah perubahan rupa saja.

Setelah terjadi perubahan akhir, semua yang terjadi di dunia ini akan terjadi dalam sekejap saja.

Bukankah begitu?

Kalau betul begitu, dari awal hingga akhir bukankah cerita ini akan sangat sedikit?

Jika betul seperti itu aku ingin berkata.

"Hal yang terjadi di dunia ini bisa dikatakan telah selesai, hal yang telah selesai bisa dikatakan belum selesai, karena jarak antara selesai dan belum selesai sangat pendek. oo Hampir Zhong-qiu (Tiong-qiu), sinar bulan yang terang seperti mata uang perak menyinari kota Jia-xing. Di kota Jia-xing, di sebuah kebun, kebun yang ditumbuhi pepohonan, di tengahnya berdiri sebuah rumah megah. Katanya di sini tinggal seorang pejabat tinggi kerajaan. Entah karena alasan apa pejabat itu dihukum mati bersama dengan seluruh keluarganya. Karena itu tempat dengan pemandangan sangat indah, besar, serta bangunannya yang kokoh, tidak ada yang mendiami. Malam itu, pukul 3 dini hari, di tempat yang tidak berpenghuni itu tiba-tiba muncul 2 bayangan manusia. Kedua bayangan ini meloncat ke atap agak pendek lalu melihat ke kiri dan kanan. Ketika mereka akan meloncat ke ruang utama, tiba-tiba terdengar siulan dari daun bambu. Suara ini semakin keras dan saling beradu. Kedua bayangan ini, yang satu bertubuh pendek dan gemuk, sedangkan yang satu lagi bertubuh kecil dan langsing, sepertinya dia seorang perempuan. Tibatiba yang gemuk berteriak tertahan.

"Celaka!"

Perempuan itu segera bertanya.

"Ketua Wei, ketua Zheng-yi-bang berada di rumah yang mana?"

Kata-katanya belum selesai, di sekeliling pohon muncul sekelompok laki-laki berpakaian perak, dengan ikat pinggang perak, dan kain pembungkus kepala berwarna perak, di mulut setiap orang terlihat menggigit selembar daun bambu.

Sambil meniup daun tersebut, mereka berjalan ke dalam hutan.

Orang pendek itu adalah 'Cji-hai-yu-zi' Wei Ao-wu yang terkenal di dunia persilatan.

Dengan tergesa-gesa dia berkata.

"Nyonya, situasi di sini tidak menguntungkan, ketua Zheng-yi-bang akan muncul. Aku harus pergi dulu."

Setelah bicara seperti itu dia segera turun dari atap dan berlari ke jalan yang mereka lewati tadi.

Tidak lama kemudian, puluhan lelaki berbaju perak dari segenap penjuru berlari ke arah Wei Ao-wu.

Mereka sama sekali tidak mempedulikan perempuan yang masih berada di atas atap.

Melihat hal seperti itu, perempuan yang berada di atas atap berpikir, 'Munculnya laki-laki berpakaian perak sepertinya bukan karena aku, apakah ada musuh kuat yang datang kemari?"

Perempuan itu berlari ke dalam hutan ke sebuah tempat yang agak tersembunyi.

Suara siulan dari daun bambu tidak terdengar.

Di sekeliling tempat itu kembali sepi.

Semua lelaki berpakaian perak seperti patung hanya berdiri diam.

Mereka berdiri seperti angka satu (Tulisan Cina) dijalan itu.

Wajah mereka terlihat sangat tegang sepertinya bernafas pun harus pelan-pelan.

Di langit awan hitam menutupi cahaya bulan.

Begitu awan menghilang dan cahaya bulan muncul kembali, di depan para laki-laki berpa-kaian perak sekitar 10 meter dari sana, berdiri puluhan laki-laki berpakaian hitam dengan pembungkus kepala berwarna hitam pula, ikat pinggang mereka pun berwarna hitam.

Kedua belah pihak saling berhadapan di lapangan.

Sangat menegangkan!

Dalam suasana tegang itu, para laki-laki berpakaian hitam tiba-tiba terbagi menjadi 2 barisan.

Di kerumunan muncul seorang pemuda terpelajar berpakaian kuning.

Dia tampan, putih, tidak berjanggut maupun berkumis tapi terlihat licik.

Di belakangnya berdiri seorang pak tua dengan perawakan gemuk pendek, dia adalah Wei Ao-wu yang tadi berniat kabur.

Pemuda terpelajar berpakaian kuning itu mendekati laki-laki berpakaian perak, tangan kirinya mengeluarkan kipas lipat.

Wei Ao-wu membisikkan seseuatu kepadanya, pemuda itu mengangguk.

Terdengar Wei Ao-wu berkata.

"Ketua Tian-zheng-jiao mengunjungi Zheng-yi-bang."

Tapi barisan laki-laki berpakaian perak itu tidak bergerak, dengan serius mereka berdiri dengan diam.

Terdengar siulan dari daun bambu kemudian barisan lelaki berbaju perak terbagi lagi menjadi 2.

Dari tengah muncul seorang laki-laki tinggi dengan wajah persegi, berpakaian perak.

Di dadanya terpasang 3 kuntum bunga merah.

Laki-laki itu membentak.

"Apa itu Tian-zheng-jiao? Mana ada aturan malam-malam begini datang berkunjung?"

Wei Ao-wu dengan dingin menjawab.

"Apakah yang bicara ketua Zheng-yi-bang?"

"Ketua kami tidak akan sembarangan menerima tamu, aku adalah Tombak Perak Tao-chu."

Dengan sombong Wei Ao-wu berkata.

"Aku tidak pernah mendengar mendengar nama itu di dunia persilatan."

Ilmu silat Tombak Perak Tao-chu tidak begitu tinggi tapi pengalamannya sangat banyak.

Apalagi ilmu meringankan tubuh, di dunia persilatan dia sudah memiliki nama.

Sekarang dia di hina di depan banyak orang dia tidak tahan.

Dia membentak.

"Memang Tao-chu tidak berguna, tapi tidak takut kepada Tian-zheng-jiao."

Wei Ao-wu dengan dingin berkata.

"Orang tidak tahu diri, terimalah seranganku!"

Kakinya menyapu, hal ini membuat Tao-chu dengan cepat meloncat.

Tapi ini adalah serangan tipuan, begitu kakinya turun, dia baru menyerang sungguh-sungguh.

Pukulan ini diarahkan ke perut Tao-chu.

Tao-chu masih berada di tengah udara, kali ini serangan itu pasti mengenai perutnya.

Waktu itu sebuah panah berwarna perak sudah meluncur keluar.

Bersamaan dengan sebuah bayangan telapak mengangkat tangan kanan Wei Ao-wu kemudian jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menotok ke tengah alis Wei Ao-wu.

Melihat orang yang datang mempunyai ilmu .

silat begitu tinggi, Wei Ao-wu segera mundur menyelamatkan dirinya.

Orang yang datang berdiri dengan tegak.

Wajahnya tampan, sikapnya luwes, pakaian abu-abu, tapi bunga yang terpasang di dadanya berjumlah 5 kuntum.

Dia tersenyum.

"Akulah ketua Zheng-yi-bang."

Perempuan yang sejak tadi bersembunyi di hutan begitu melihat orang ini, dia pun berseru.

"Ternyata benar. Dia tidak mati... Zhong-jing... harus bagaimana dia?"

Orang terpelajar berbaju kuning emas itu segera maju.

"Perkiraanku tidak meleset, kecuali Lu Nan-ren, siapa yang sanggup mendirikan Zheng-yi-bang (Perkumpulan Keadilan)?"

Begitu melihat orang itu, hati Lu Nan-ren sudah panas seperti dibakar api tapi dia berusaha menahan diri. Pelan-pelan dia berkata.

"Xiao-wu, kita sudah berjanji akan bertarung pada hari Zhong-qiu di Yan-yu-lou, tidak disangka kalian tiba-tiba datang kemari. Baiklah! Sekarang kita bertarung untuk menentu-kan siapa yang bisa bertahan hidup atau sebaliknya!"

Mata Xiao-wu bersorot sadis.

"Lu Nan-ren, kau benar-benar tidak memandangku. Selama 3 tahun ini aku selalu tidak ingin berselisih denganmu. Jika tidak, walau-pun kau mempunyai 10 nyawa, kau akan mati di tanganku."

Dengan tegas Lu Nan-ren menjawab.

"Dendam karena membunuh istri, aku tidak taruh di dalam hati, tapi kau tidak boleh membunuh Fei-hong-qi-jian yang telah merawatmu seperti seorang anak dan menyayangimu seperti seorang sahabat...."

Dia mengangkat tangan kiri, memperlihatkan jari kelingkingnya yang putus dan berkata lagi.

"Aku telah bersumpah di depan mayat-mayat Fei-hong-qi-jian jika tidak berhasil membunuhmu, aku akan bernasib sepertijari ini...."

Lu Nan-ren mulai menyerang nadi-nadi penting di tubuh Xiao-wu. Dengan lincah Xiao-wu menghindar ke kiri dan kanan, sambil berkata dengan marah.

"Sekarang kau berhasil mendirikan Zheng-yi-l>ang, tapi aku tidak akan membiarkanmu hidup terus...."

Sejak kecil Xiao-wu berlatih ilmu silat di Chang-bai-shan kemudian karena nasibnya 1 Mruntung dia bertemu dengan 'pak tua tanpa nama' dari Qing-hai.

Pak tua aneh ini mengajarkan semua ilmu silatnya kepada Xiao-wu.

Xiao-wu menggabungkan kedua ilmu silat yang telah diperoleh hingga dia lebih unggul dibandingkan Qian-yi yang sejak kecil telah belajar ilmu silat kepada pak tua aneh itu.

Maka saat mereka bertarung, Xiao-wu bisa menyerang sambil bertahan.

Ketika bertahan, pertahanannya sangat rapat, tidak ada lowongan sedikitpun, ketika menyerang, sangat cepat seperti kilat dan sangat lihai.

Sesudah puluhan jurus berlalu, Lu Nan-ren mulai merasa dia tidak bisa bertahan lagi.

Sekarang dia benar-benar merasa ilmu silat Xiao-wu sangat hebat, jika bukan karena beberapa bulan ini dia berlatih ilmu Tian-xing-mi-ji' mungkin sejak tadi dia sudah kalah.

Catatan yang ada dalam buku Tian-xing-mi-ji adalah catatan tentang ilmu silat yang sangat tinggi, hanya saja waktu untuk belajar ilmu tersebut terlalu singkat, maka dia hanya bisa mengeluarkan kemampuannya sebesar 40%.

Dari pihak Xiao-wu, semakin bertarung dia semakin terkejut, hingga terakhir dia merasa jurusjurus Lu Nan-ren semakin lama semakin aneh.

Dia merasa seperti dijadikan umpan, semakin menyerang, jurus-jurusnya semakin hebat dan leluasa.

Jika hari ini dia tidak membunuh Lu Nanren, kelak dia tentu akan kalah di tangan Lu Nan-ren.

Karena cemas, dia mulai mengeluarkan 3 jurus andalan yang dipelajarinya dari 'pak tua aneh' itu.

Jurus pertama dilancarkan tapi tidak berhasil, lalu jurus kedua juga dikeluarkan, kali ini jurusnya tampak lebih dahsyat.

Dengan jurus-jurus di Tian-xing-mi-ji, Lu Nan-ren berusaha untuk menghadapinya.

Pada jurus ketiga, Lu Nan-ren mulai merasa pusing, di sekelilingnya hanya ada bayangan Xiaowu.

Karena terdesak Lu Nan-ren tidak sengaja mengeluarkan jurus 'tangan terampil Xu-bai' yang didapatkanya dengan cara mencuri belajar.

Jurus ini bernama 'Fu-yun-shou'.

Memang Fu-yun-shou sangat lihai tapi jurus ini hanya bisa digunakan untuk menyerang bukan untuk bertahan.

Xu-bai membuat jurus ini untuk menyerang Tie-mian-gu-xing-ke, Wan Tian-pin, maka jurus yang keluar adalah serangan yang sangat hebat.

Tapi dengan jurus 'Wu-suo-bu-zhi', Xiao-wu berputar ke belakang Lu Nan-ren dan tangan kanannya menyerang punggung Lu Nan-ren.

Jurus 'Fu-yun-shou' Lu Nan-ren menjadi gagal.

Dia merasa di belakang tubuhnya ada tenaga kuat yang menyerang.

Dalam situasi seperti ini, dia mengerahkan tenaga dalam ke punggungnya siap menerima pukulan Xiao-wu.

Tapi ketika telapak yang kuat hampir mengenai punggungnya, tiba-tiba sesosok bayangan kurus secepat kilat datang pada mereka, dengan dua kakinya orang itu menendang kepala Xiao-wu.

Demi menyelamatkan dirinya, Xiao-wu terpaksa menarik kembali telapaknya dan meloncat ke belakang.

Walaupun demikian Lu Nan-ren tetap terdorong maju beberapa langkah karena punggungnya sempat terkena angin pukulan dari telapak Xiao-wu yang hebat.

Orang yang datang dengan cara seperti itu tampak tujuannya hanya ingin menyelamatkan Lu Nan-ren.

Begitu Xiao-wu berhenti menyerang, orang itu pun pun berhenti menyerang dan bersuara.

"Adik Xiao, apa kau masih mengenalku?"

Setelah diamati, Xiao-wu baru melihat orang yang datang itu bertubuh kurus seperti kayu, tulang rusuknya terlihat dengan jelas, tulang pipinya pun sangat tinggi dan masih ada kumis.

Di atas baju peraknya tertancap 6 kuntum bunga merah.

Dalam hati Xiao-wu marah, 'Tidak disangka, Perampok Utara yang terkenal dengan julukan Tie-mian-gu-xing-ke ternyata telah masuk Zhengyi-bang....' Wajah Wan Tian-pin yang pucat tersenyum.

"Adik Xiao, ketika berada di Wu-liang-shan kau telah menolongku, membuatku bisa bertahan hidup hingga saat ini, tapi sekarang aku belum bisa membalas budi ini, aku merasa malu. Sekarang aku...."

Xiao-wu sudah menyela.

"Tetua tidak perlu banyak bercerita tentang masa lalu, sekarang aku sudah tahu kalau Tetua telah masuk Zheng-yi-bang maka mulai saat ini kau adalah musuh Tianzheng-jiao."

Otot di wajah Wan Tian-pin terus bergetar, dia tidak tahu harus menjawab apa.

Dia tampak bimbang, kemudian terdengar dia menarik nafas panjang, lalu dia membalikkan tubuh pergi, saat ini secepat kilat Xiao-wu bergerak memukul nadi penting di punggung Wan Tian-pin.

Wan Tian-pin sama sekali tidak menyangka kalau Xiao-wu akan menyerang dan ingin membunuhnya, dia tidak sempat menghindar dari serangan ini.

Tubuhnya terpental, darah segera muncrat keluar dari mulutnya dan dia roboh seketika itu juga.

Karena serangannya berhasil, Xiao-wu tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Siapa yang berani bermusuhan denganku, harus mati!"

Di belakang seorang laki-laki berbaju perak, terbang keluar, seorang yang berambut acak acakan, janggutnya saling membelit, bajunya berwarna perak, bagian depannya tidak terkancing, terlihat bulu dadanya yang tebal.

Seorang laki-laki tinggi dan besar mencengkram baju belakang Xiao-wu dan membentak.

"Orang hina, bisanya hanya menyerang orang dari belakang!"

Xiao-wu terkejut, dia mencoba meloloskan diri dari cengkraman ini, terdengar BREEET...

bagian belakang bajunya telah sobek.

Xiao-wu menoleh, kembali dia terkejut, ternyata yang mencengkramnya adalah Pencuri Selatan si Tangan Terampil Xu-bai.

Di baju depan Xu-bai terpasang 6 kuntum bunga merah, jelas dia pun telah masuk Zheng-yibang.

Xiao-wu sama sekali tidak menyangka Lu Nan-ren bisa menyatukan Pencuri Selatan dan Perampok Utara yang telah saling bermusuhan selama puluhan tahun, bisa membuat mereka masuk Zheng-yi-bang.

Xiao-wu adalah pesilat tangguh yang sangat licik.

Dia melihat ke pinggir kiri dan kanannya, ada dua ketua berbaju emas, dia merasa situasinya tidak menguntungkan, lawan tampak sangat kuat maka dia tanpa ingat gengsi lagi, dia membentak lalu melarikan diri dari sana.

Tangan Terampil Xu-bai yang mempunyai ilmu meringankan tubuh tinggi, tidak memberi kesempatan baginya untuk lari.

Dia membentak.

"Jangan kabur, diam di sana!"

Dia ingin mengejar tapi ketua Zheng-yi-bang sudah berteriak.

"Tetua Xu, musuh yang sudah kalah jangan dikejar lagi, cepat kemari untuk melihat keadaan Tetua Wan, sepertinya beliau tidak akan tertolong lagi...."

Walaupun Tangan Terampil Xu-bai bermusuhan dengan Wan Tian-pin sudah sepuluh tahun lebih, permusuhan di antara mereka juga sangat dalam tapi begitu melihat dia terluka parah karena diserang dari belakang, dalam hati dia juga ikut merasa sedih.

Pelan-pelan dia berjalan mendekati Wan Tian-pin.

Lu Nan-ren memeluk Wan Tian-pin yang mulutnya penuh dengan darah, nafasnya sudah sangat lemah, air mata Lu Nan-ren menitik setetes demi setetes ke wajah Wan Tian-pin.

Dengan lemah Wan Tian-pin berkata.

"Baik, baik! Aku sudah dipukul oleh Xiao-wu dengan begitu hutangku telah lunas. Aku tidak berhutang budi lagi kepadanya...."

Lu Nan-ren tetap memeluknya dan dengan gemetar berkata.

"Tetua Wan, aku pasti akan membalaskan sakit hatimu ini... aku pasti akan membalaskan dendammu...."

Tampak Wan Tian-pin tidak tahan, tubuhnya terus gemetar dan merintih kesakitan.

Segera tangan kanan Lu Nan Jen di tempelkan ditubuh Wan Tian-pin, dengan mengerahkan tenaga dalam, pelan-pelan dia menyalurkan pada tubuh Wan Tian-pin, beberapa menit kemudian kepalanya sudah berkeringat.

Tangan Terampil Xu-bai menarik nafas dan berkata.

"Ketua, jangan menghamburkan tenaga dalammu, nadi Lao Wan nya sudah putus, sepertinya dia tidak akan tertolong lagi!"

Wajah Wan Tian-pin memperlihatkan kalau dia sangat kesakitan, dengan suara berdengung seperti nyamuk dia berkata.

"Lao Xu, jika aku mati, musuhmu berkurang satu lawan di dunia ini. Ha, ha, ha! Sebenarnya aku tidak mau mati lebih dulu darimu...."

Wan Tian-pin bukan orang yang takut mati, sekarang walaupun sudah mendekati ajal tapi kata kata Wan Tian-pin masih terdengar sangat gagah, malah Tangan Terampil Xu-bai dengan suara sedih berkata.

"Lao Wan, jika kau mati kau sudah tenang, tidak perlu mendengar perintah ketua lagi. Aku masih harus mengabdi selama 10 tahun kepada Zheng-yi-bang! Jika kau sudah masuk surga, tolong disana pesankan tempat untukku. Jangan-jangan jika aku mati tempat di surga sudah penuh sesak dan aku disuruh pergi ke neraka!"

Dengan sedih Wan Tian-pin berkata.

"Baiklah, baik! baik!"

Ternyata ketika Wan Tian-pin dan Xu-bai berjanji di Xi-liang-shan, siapa pun yang mendapatkan alat cahaya berputar berarti dialah yang akan menjadi pemenangnya, maka mereka bersamasama turun ke jurang.

Tapi karena tali kurang panjang mereka malah mendapat bahaya.

Jurang sangat terjal, dinding ditumbuhi lumut membuat tangan tidak bisa memegang apa pun di dinding itu, maka mereka berdua tidak berani mengambil resiko untuk turun tapi karena Wan Tian-pin sangat ingin menang maka dengan cakar elang dia menancapkan jari-jarinya ke dinding dan dengan cara seperti itulah dia turun ke jurang.

Tapi Xu-bai tidak sabaran, setelah ikut Wan Tian-pin turun sejauh 10 meter, dia berteriak tapi dia tidak bisa turun.

Akhirnya dia terpikir satu cara.

Dari balik dadanya dia mengeluarkan senjata rahasia berjenis biao.

Biao ini ditancapkan ke sela-sela batu.

Dengan cara menancapkan biao secara bergantian mencabut dia pun bisa turun ke jurang.

Dengan cara seperti itu hanya sebentar dia berhasil mendekati Wan Tian-pin.

Karena Wan Tian-pin sudah lama tidak menggunakan senjata rahasia maka di badannya tidak tersimpan benda keras.

Dia tahu dengan cara yang dilakukan Xu-bai sekarang ini, dia pasti akan kalah, dia tidak bisa menerima kekalahan itu.

Maka muncullah pikiran jahat.

Dengan berpura-pura tenaganya tidak cukup, dia melepas tangan kirinya hanya dengan tangan kanan dia menggelantung di dinding jurang, keadaannya sangat berbahaya!

Xu-bai yang mendapat kesempatan segera turun ke sisi Wan Tian-pin.

Dia menotok nadi Wan Tian-pin di bagian tulang rusuk dengan dua jarinya.

Sebetulnya maksud Wan Tian-pin menggelantung di dinding gua adalah menunggu Xu-bai, ketika Xu-bai datang Wan Tian-pin akan menotoknya, dan dia akan berayun menggunakan tangan kanannya, kaki kirinya mengikuti ayunan tangan, dia akan menendang nadi pingsan Xu-bai.

Tapi karena Wan Tian-pin menggelantung terlalu lama, tangan sudah tidak bertenaga maka dia tidak bisa mengayunkan tangannya.

Dia terkejut, kaki kirinya menendang dia siap mati bersama Xu-bai.

Xu-bai sama sekali tidak menyangka kalau Wan Tian-pin memiliki niat untuk mati bersama.

Mereka berdua saling menotok nadi pingsan, karena itu tubuh mereka seperti dua batu besar meluncur ke bawah.

Mungkin nasib mereka memang bagus dan dewa kematian belum berniat menjemput mereka, akhirnya mereka berdua terjatuh di atas sebuah pohon yang tumbuh keluar dari sela-sela dindingjurang.

Begitu Lu Nan-ren turun mengikuti tali untuk mencari mereka berdua, baru setengah jalan, putri Wan Tian-pin, Wan-hong karena cemburu, telah memotong tali dan Lu Nan-ren seperti sebuah batu besar terjatuh ke bawah.

Secara kebetulan dia pun terjatuh ke pohon itu.

Lu Nan-ren mencengkram dahan pohon dengan erat, dia baru melihat Wan Tian-pin dan Xu-bai juga berada di sana tapi mereka dalam keadaan pingsan.

Lu Nan-ren sangat gembira.

Dengan bantuan tali yang dibawanya, dia mengikatkan tali itu ke dahan pohon dan membiarkan tali itu terjulur ke bawah.

Dengan bantuan tali Lu Nan-ren membawa Xu-bai dan Wan Tian-pin turun.

Dengan bersusah payah dia baru bisa membuka totokan mereka.

Mereka saling menotok nadi pingsannya maka setelah mereka sadar, mereka tidak memiliki tenaga untuk bertarung.

Mereka berdua adalah laki-laki bersifat keras tapi mereka juga orang yang tahu membalas budi.

Kali ini mereka tidak mati karena telah ditolong oleh Lu Nan-ren maka mereka sangat berterima kasih kepadanya.

Dengan menggunakan kesempatan ini Lu Nan-ren menasehati agar mereka menghilangkan permusuhan yang terjadi di antara mereka.

Tapi utak mereka benar-benar seperti batu, sama sekali tidak mau menerima saran Lu Nan-ren.

Lu Nan-ren jadi berteriak marah.

"Aku telah menolong kalian berdua, aku tidak ingin kalian membalas budi, aku hanya meminta kalian dalam waktu 10 tahun ini jangan bertarung lagi."

Wan Tian-pin dan Xu-bai adalah orang yang tahu diri, mereka setuju dalam waktu 10 tahun ini mereka tidak akan bertengkar dan juga mau menerima perintah apa pun dari Lu Nan-ren.

Inilah alasan mengapa Pencuri Selatan dan Perampok Utara yang sangat terkenal bisa masuk Zheng-yibang.

Tadinya Lu Nan-ren tidak setuju pada perjanjian ini tapi ketika melihat tempat yang tidak jauh darinya ada alat cahaya berputar yang terjatuh dari tubuh kedua tetua itu, saat dia mengambilnya, alat itu segera bergoyang dengan kencang.

Dibantu oleh Wan Tian-pin dan Xu-bai mereka berhasil menemukan sebuah tempat penyimpan harta karun yang telah tersimpan selama ratusan tahun dan dalam jumlah banyak.

Karena itu Lu Nan-ren mengubah pikirannya dan menerima perjanjian mereka, Lu Nan-ren juga menggunakan harta karun itu untuk mendirikan Zheng-yi-bang (perkumpulan keadilan) untuk melawan Tian-zheng-jiao.

Lu Nan-ren sama sekali tidak menyangka kalau perkumpulan yang baru didirikannya selama beberapa bulan ini harus kehilangan orang terpenting, maka kesedihan pun tidak bisa di bendungnya.

Tiba-tiba wajah Wan Tian-pin menjadi merah.

Lu Nan-ren tahu ini adalah ciri-ciri orang yang akan meninggal maka dia pun memeluk Wan Tian-pin dengan erat.

Dengan wajah yang tersenyum lemas Wan Tian-pin berkata.

"Seumur hidup Tian-pin telah banyak berbuat dosa, mati pun tidak perlu ada yang disesalkan, hanya ada satu hal yang membuatku tidak tenang."

Dengan suara gemetar Lu Nan-ren berkata.

"Nyawaku merupakan pemberian Tetua, hal apa yang Nan-ren bisa lakukan?"

Wan Tian-pin muntah darah lagi tapi tetap tertawa dia berkata.

"Kalau begitu putriku Wan-hong, aku t itipkan kepada Ketua."

Hal ini membuat Lu Nan-ren terkejut.

"Ini... ini...."

Tadinya dia ingin menolak tapi melihat keadaan Wan Tian-pin dia tidak ingin membuatnya kecewa, dia menjawab.

"Sepulangku nanti, aku akan mengatakan pada semua orang di perkumpulan ini kalau aku akan menikah dengan putri Tetua."

Wan Tian-pin tertawa dengan senang. Dia muntah darah lagi. Dengan lemah dia berkata.

"Menantu... yang baik, me..nan...tu... menantu baik...."

Sinar bulan menyinari wajah Wan Tian-pin yang pucat. Sambil tersenyum Wan Tian-pin meninggalkan dunia ini. Lu Nan-ren menangis sekeras-kerasnya. Xu-bai ikut menangis.

"Lao Wan, ilmu silatku tidak sehebat dirimu .."

Perempuan yang sejak tadi bersembunyi di hutan sekarang berjalan ke depan Wan Tian-pin dan berteriak.

"Kakak ipar!"

Perempuan ini tidak lain adalah Nyonya Pendekar San-xiang, Sun-ming. Lu Nan-ren dengan suara gemetar bertanya.

"Ling... Ling-lin... apa dia baik-baik saja?"

Sun-ming tertawa dengan terpaksa.

"Nan-ren, kau tidak perlu merasa khawatir, aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Pada hari pernikahanmu nanti, Ling-er dan Jing-er juga akan menikah. Hong-er sangat baik, kau harus baik-baik kepadanya."

Dia berhenti sebentar lalu berkata lagi.

"Mengenai upacara pemakaman kakak ipar, aku tidak bisa banyak membantu. Besok aku harus berangkat ke Jin-ling dengan Ling-er dan Jing-er. Kau tahu tentang Jing-er...Hhhh! Jin-ling adalah tempat ramai, mungkin baik untuk keadaan Jing-er."

Lu Nan-ren hanya bisa menjawab Oh! Oh! Dia sedih dan kebingungan. Sun-ming maju beberapa langkah kemudian berkata.

"Aku pergi sekarang! Jika ada waktu mainlah ke Jin-ling...."

Lu Nan-ren masih memeluk mayat Wan Tian-pin, sambil melihat sosok Sun-ming yang semakin jauh.....

10 tahun sudah berlalu.

Dalam kurun waktu 10 tahun ini Tian-zheng-jiao selalu berseberangan dengan Zheng-yi-bang...

dan bersamaan dengan itu ada dua perkumpulan rahasia lainnya yang semakin membesar.

Mereka adalah 'Tian-du' dan Tian-mei'.

Karena itu.....

BAB 87 Keluarga ayah cacat ibu gila Kota Hang-zhou adalah kota terkenal di Tiongkok, banyak pemandangan indah di sana, apalagi Xi-hu (hok.

See Ouw).

Pemandangan di sana bisa dikatakan sangat terkenal.

Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan.

di atas adalah surga, di bawah adalah Shu-hang (Shu-zhou dan Hang-zhou).

Dari sini dapat diketahui kalau Hang-zhou sangat terkenal sejak jaman dulu.

Dari Xi-hu kita bisa menyewa perahu untuk melewati Ye-fen kemudian berjalan ke gunung berliku, dan tiba di kuil Ling-feng.

Kuil Ling-feng tidak begitu terkenal di Hang-zhou, mungkin karena gunung itu sangat tinggi dan kuilnya sangat kecil maka sangat jarang para pelancong yang datang berkunjung.

Sebenarnya pemandangan di kuil Ling-feng sangat indah.

Di sebelah utara ada gunung kecil, di sana ada sebuah pondok bernama 'Wang-hai-ting' (pondok melihat l.ait).

Dari pondok ini kita bisa melihat Sungai Qian-tang juga pemandangan Xi-hu.

Di dalam kuil di bagian barat di sana tamannya banyak ditumbuhi pohon Mei-hua.

Sekarang adalah bulan sembilan musim dingin.

Matahari telah terbenam.

Seorang remaja berusia 14-15 tahun sedang berjalan mondar mandir ditaman.

Remaja ini sangat tampan, berdahi lebar, mata bagus, apalagi sorot matanya terlihat sangat jernih.

Sebenarnya bulan sembilan cuaca biasanya masih dingin tapi dia masih mengenakan baju putih tipis tapi tidak terlihat kalau dia kedinginan.

Dia seperti cemas dan seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.

Semua sedang belajar membaca kitab suci terdengar suara mereka juga harumnya bunga Mei-hua.

Tiba-tiba remaja ini berteriak.

"An-ying-fu-xiang (jurus bayangan gelap timbul wangi)."

Dia berlari hampir seperti terbang. Ilmu silat An-ying-fu-xiang memang hebat. Di tempat dimana suara itu terdengar, seorang biksu tinggi besar muncul. Sambil tertawa dia berkata.

"Wei-er, jurus 'An-ying-fu-xiang' milikmu lebih bagus dariku!"

Remaja berbaju putih itu memberi hormat kepada biksu tua dan berkata.

"Paman terlalu memuji. Wei-er terus berlatih selama beberapa hari tapi hasilnya tidak begitu memuaskan. Tadi karena aku terdengar ada yang membaca kitab suci dan juga mencium harumnya Mei-hua maka aku tidak sengaja telah memperagakannya tapi aku tidak tahu apakah jurusku betul atau salah?"

Biksu beralis merah ini berkata lagi.

"Ilmu meringankan tubuh ini kugunakan ketika aku belum menjadi biksu, karena telah bertindak membela kebenaran maka seorang pendekar tua bermarga Xu mengajariku jurus ini untuk memberi pujian. Tapi selama beberapa tahun ini aku tidak bisa menguasainya dengan baik. Hhhh! Tidak disangka hanya beberapa hari belajar kau sudah mendapat kemajuan begitu cepat!"

Biksu beralis merah melihat remaja itu lagi lalu bertanya.

"Wei-er, apakah kau tahu mengapa aku selalu tidak mau menerimamu menjadi muridku?"

Mata besar remaja ini berkedip.

"Paman, sampai sekarang aku terus memikirkan hal ini tapi aku tidak pernah bisa mendapatkankan jawabannya. Apakah karena Wei-er bodoh dan...."

Biksu beralis merah itu menggelengkan kepala.

"Bukan! Bukan itu! Jangan berpikir demikian. Tubuh dan tulangmu sangat baik, bisa dikatakan di antara ratusan remaja pun jarang ada. Karena ini pula aku tidak menerimamu menjadi murid. Aku takut kau akan kehilangan kesempat-an untuk berguru kepada orang yang lebih berbakat. Apalagi...aku... hhhh, yang terpenting kau akan bertemu dengan seorang guru yang ribuan kali lipat lebih baik dariku."

Remaja berbaju putih itu dengan nada tidak senang berkata.

"Paman, menurut orang-orang jika satu hari telah menjadi guru, maka seumur hidup dia akan menjadi guru. Wei-er sejak kecil sudah belajar ilmu silat pada Paman, bukankah Paman telah mengajariku ilmu silat yang bernama 'An-ying-fu-xiang'. Paman tidak mengaku kalau Wei-er adalah murid Paman tapi dalam hati Wei-er selalu menganggap paman adalah guru Wei-er."

Biksu beralis merah itu menarik nafas panjang, dia segera menuntun Wei-er dan berkata.

"Aku sangat ingin menerimamu menjadi muridku tapi aku hanya bisa jurus-jurus silat yang sederhana. Jika aku mengajarimu, itu akan mengganggumu belajar silat. Jurus 'An-ying-fu-xiang' itu tidak sama, jika aku tidak memiliki ilmu meringankan tubuh ini, mungkin aku sudah mati 10 kali lebih."

Alis remaja berbaju putih ini berkerut karena mendengar kata-kata biksu tadi mengenai kematian. Dengan lembut biksu beralis merah itu bertanya.

"Wei-er, apakah penyakit ibumu kambuh lagi?"

Dengan sedih remaja berbaju putih itu mengangguk.

"Tadi siang ibu masih dalam keadaan normal, sore hari ketika ayah pulang entah apa sebabnya ibu marah-marah kemudian penyakitnya kambuh lagi. Ayah terkejut dan pergi. Tadi sewaktu ibu berbaring di tempat tidur dia menangis dan terus memanggil... Nan-ren!... Nan Ren...."

Lu Nan-ren (Nan=selatan, Ren=orang). Biksu beralis merah itu mengerutkan alisnya dan berkata.

"Penyakit ibumu sangat aneh. Selama beberapa tahun ini aku jarang mendengar dia kambuh. Menurutku mungkin dulu dia terlalu sedih. Kesedihan ini membuatnya sangat terguncang hingga sampai sekarang belum sembuh-sembuh...."

Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 12

Baca Juga: Hong Lui Bun Khu Lung

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger