Terbang Harum Pedang Hujan 7

Eps 7 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

"Paman, ibuku harus minum obat apa baru bisa sembuh?"

"Penyakit di hati harus diobati dengan hati. Jika hati ibumu sudah terbuka tidak perlu minum obat apa pun, dia pasti akan sembuh."

Remaja berbaju putih itu meneteskan air mata.

"Harus... dengan... cara... apa... baru bisa membuat ibu membuka hatinya?"

Biksu beralis merah itu mengelus tangan Wei-er, dia menghibur.

"Tidak perlu terburu-buru, nanti tidak akan ada gunanya. Asalkan ibumu bisa bertemu dengan orang ini dia bisa sembuh. Tapi aku kira kapan kita bisa mencari orang ini, ayahmu mungkin sudah mencarinya terlebih dulu bila ibumu sekali lagi terguncang mungkin pikirannya bisa sembuh."

Remaja ini menghapus air matanya dan berkata.

"Paman, aku pulang dulu!"

Dari balik bajunya biksu ini mengeluarkan sebungkus obat dan memberikannya pada Wei-er.

"Obat ini berikan kepada ibumu supaya pikirannya tenang."

Remaja ini sepertinya terbiasa menerima obat itu.

Dia mengangguk dan membawa obat itu pergi dari kuil Ling-feng.

Kuil Ling-feng mempunyai sebuah lapangan, bila berbelok ke kiri akan menuju gunung.

Di sana ada sebuah rumah beratap merah yang berhadapan dengan Xi-hu.

Setiba di pekarangan, dia mendorong pintu pekarangan.

Baru saja membuka sebelah daun pintu, dari dalam terlihat ada bayangan merah, Kemudian dia bersembunyi di balik tubuh remaja berbaju putih, dari dalam keluar lagi seorang anak laki laki berumur sekitar 8-9 tahun.

Anak lakilaki ini bermata besar dan beralis tebal.

Dia tampak terlihat seperti seekor kerbau.

Melihat yang datang adalah remaja berbaju putih, dia berteriak.

"Kakak Tertua, kakak perempuan merebut pedang kayuku!"

Dengan tertawa remaja berbaju putih berkata.

"Kerbau yang baik, nanti Kakak akan mengambil pedang kayu itu, kalian jangan bertengkar Dia memegang gadis berbaju merah yang bersembunyi di belakangnya. Gadis itu berteriak.

"Kakak licik, Kakak berpihak pada kerbau air, tidak membantu Xuan-uan. Xuan-xuan akan membuat kacau, Xuan-xuan akan...."

Remaja berbaju putih itu mengerutkan alis. Melihat adiknya begitu galak entah apa yang harus dia lakukan.

"Kakak Xuan, nanti ibu akan terbangun padahal ibu baru saja tertidur. Jika dia bangun pasti akan marah-marah lagi...."

Dari pekarangan muncul lagi seorang anak gadis berbaju hijau. Begitu melihat gadis berbaju hijau itu, dia berkata.

"Kau tidak perlu mengurusku, aku tidak takut kepada ibu. Ibu hanya membenciku, tidak ada orang yang sayang kepada Xuan-xuan!"

Kemudian dia melihat pemuda berbaju putih, dia juga menangis.

"Adik Xuan, jangan menangis, jika menangis Kakak akan marah."

Kata remaja itu "Kakak harus membantu Xuan-xuan dan berpihak pada Xuan-xuan, artinya Kakak sayang Xuanxuan dan Xuan-xuan akan berhenti menangis."

Remaja itu tidak mempunyai cara lain, terpaksa dia berkata.

"Kerbau air, berikan pedang kayu itu pada kakak kedua."

Di antara keempat anak itu hanya kerbau yang terjelek.

Dia tidak mirip kedua kakaknya.

Gadis kecil berbaju merah dan hijau itu seperti anak kembar, mereka sangat mirip dan sangat cantik.

Tapi mereka juga tidak mirip dengan pemuda berbaju putih itu.

Kerbau air dengan marah berkata.

"Kakak kedua selalu merebut pedangku. Ayah baru membelikan pedang kayu ini untukku. Setelah selesai bermain Kakak harus mengembalikannya padaku."

Tapi Xuan-xuan ingin bermain licik.

"Aku tidak akan mengembalikan kepadamu, orang hitam! Ayah menyayangimu, apa pun akan dibelikan untukmu. Kami tidak akan kebagian, ayah hanya sayang kepadamu, tidak menyayangi kami, mainan ini tidak akan kukembalikan."

Kerbau air siap akan menangis lagi.

Gadis kecil berbaju hijau kelibatan lebih tenang, umurnya baru 10 tahun lebih sedikit, dia sangat cantik.

Dari balik bajunya dia mengeluarkan gundu berwarna-warni dan memberikannya pada kerbau air.

"Jangan menangis lagi, kakak ketiga akan memberikan gundu ini kepadamu."

Dengan senang kerbau air menerima gundu berwarna itu dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakak ketiga.

Masalah pedang kayu sudah dilupakannya, dia berlari ke pekarangan untuk berrmain.

Xuan-xuan tampak cemberut, kemudian dia melempar pedang kayu itu ke dinding hingga patah menjadi 2 bagian.

Dengan marah dia berkata.

"Siapa yang butuh pedang jelek itu?"

Dengan terkejut gadis berbaju hijau itu berkata.

"Kakak kedua, mengapa kau mematahkan pedang itu? Jika ayah pulang, dia pasti akan memarahimu!"

Dengan keras Xuan-xuan menjawab.

"Siapa yang takut kepada ayah! Dia bukan ayahku, dia tidak mirip dengan kita, hanya kerbau ini yang mirip dengannya."

Remaja berbaju putih itu marah.

"Adik kedua, jika kau sembarangan bicara lagi, kakak akan memukulmu!"

"Kakak juga tidak menyukai Xuan-xuan, ibu menyayangi Yun-yun, ayah menyayangi kerbau air, hanya Xuan-xuan tidak ada yang menyayangi."

Remaja berbaju putih itu marah.

"Siapa yang tidak sayang kepadamu? Lihat sendiri Yun-yun sangat penurut, dia memberikan kelereng yang disukainya kepada kerbau, sedangkan kau? Seharian kau hanya membuat keributan, siapa yang akan menyayangi gadis liar sepertimu. Kau harus belajar seperti Yun-yun."

"Kakak sayang Yun-yun, tidak sayang kepada Xuan-xuan!"

Dia berlari kebawah gunung. Remaja berbaju putih itu memanggil-manggil terus.

"Xuan-xuan, kembalilah! Kembali!"

Yun-yun juga berteriak.

"Kakak jangan lari terus, sebentar lagi ayah akan pulang!"

Dari bawah gunung tampak seorang laki-laki setengah baya berjalan ke arah mereka, dia bertubuh hitam, mukanya lebar dan alisnya tebal.

Kulitnya yang hitam bertambah hitam karena cahaya gelap.

Dia tidak tampan juga tidak jelek, hanya saja kedua telinganya habis ditebas, meninggalkan bekas luka berbentuk bulat.

Laki-laki setengah baya itu berjalan tepat mencengkram Xuan-xuan yang sedang lari turun gunnug.

Begitu melihat yang mencengkramnya adalah ayahnya, dia memberontak.

Laki-laki setengah baya itu berkata.

"Gadis kecil, kau mulai nakal lagi, ayo ikut aku pulang!"

Xuan-xuan mencium bau arak yang menyengat.

Dia tahu kalau ayahnya mabuk lagi.

Setiap kali jika ayahnya mabuk, dia pasti akan memukul lebih keras lagi dia merasa sangat takut.

Tapi tangannya sudah terpegang, terpaksa dia menendang laki-laki itu dan dengan nada takut berkata.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"

Karena terus ditendang, laki-laki itu jadi marah dan dia pun menampar Xuan-xuan yang masih muda. Karena sakit, Xuan-xuan terus berteriak.

"Lepaskan aku, kau jahat, kau bukan ayahku, bukan ayahku!"

Laki-laki itu melepaskan Xuan-xuan, dalam hati dia berpikir, 'Aku bukan ayahnya, mana boleh aku memukulnya.

Kalau begitu bukankah aku jadi tukang pukul anak?' Fu-hu-jin-gang, Ruan Da-cheng yang tinggal di propinsi Si-chuan adalah pesilat yang sangat terkenal, sifatnya sangat terbuka, banyak yang suka kepadanya, meski istrinya tidak begitu waras.

Dia sangat menyayangi istrinya maka dia pun membawa istrinya pergi jauh meninggalkan kampung halamannya, pindah ke tempat yang pemandangannya indah agar istrinya bisa beristirahat dan cepat sembuh.

Tapi sudah 10 tahun berlalu penyakit istrinya tidak membaik, kesedihan dalam hatinya sangat dalam.

Kalau kesal, dia hanya bisa marah-marah atau memukuli 3 anak yang memang bukan anak kandungnya.

Ini adalah hal yang sangat wajar, tapi dia sangat sayang kepada putra kandungnya.

Ternyata ketika dia menikahi istrinya ini, istrinya sudah mempunyai anak yang berusia 3 tahun lebih.

Seorang anak yang baru berusia beberapa bulan, selain itu dia mengandung seorang anak lagi.

Mungkin kalau orang lain tidak akan mau memperistri perempuan seperti itu.

Tapi dia sangat mencintai istrinya, bukan karena dia jelek atau karena dia bukan perawan lagi lalu tidak mencintainya.

Dia menikahinya dan memberikan marga kepada 3 orang anak yang entah siapa ayah mereka.

Sekarang dia sakit hati mendengar kata-kata Xuan-xuan yang polos.

Dia tidak tahu dia tidak berhak memukul anak ini.

Ruan Da-cheng mendorong Xuan-xuan, karena terkejut, dia berhenti menangis.

Melihat wajah Xuan-xuan ada bekas jarinya, dia merasa menyesal, karena itu dia menggendong Xuan-xuan dan membawanya kembali ke gunung.

Xuan-xuan mengira Ruan Da-cheng masih akan memukulinya lagi, maka dia pun berteriak.

"Aku tidak mau pulang! Tidak mau pulang!"

Ruan Da-cheng menundukkan kepalanya yang tidak bertelinga. Dengan sabar dia berkata.

"Anak baik, jangan berteriak lagi. Ayah sudah berbuat tidak baik, ayah sudah memukulmu. Besok aku akan membelikan pedang kayu untukmu."

Xuan-xuan terkejut, mengapa hari ini ayahnya begitu baik kepadanya?

Dengan bingung dia pun mengangguk.

Sesampainya mereka di pekarangan, dia menurunkan Xuan-xuan dan bertanya kepada remaja berbaju putih.

"Wei-er, bagaimana kondisi ibumu?"

Ruan-wei dan Ruan-yun dengan hormat memanggil ayahnya.

"Menurut Adik Yun, ibu sudah tertidur. Tadi aku ke kuil Ling-feng untuk meminta obat kepada Paman Wu-yin. Obatnya di sana."

Jawab Ruan-wei Dengan senang Ruan Da-cheng berkata.

"Berikan obat itu kepadaku. Jika bukan karena obat pemberian Paman Wu-yin, mungkin penyakit ibumu akan bertambah parah."

Gadis berbaju hijau itu berkata.

"Ayah, sebelum tidur ibu berpesan jika ayah pulang, ayah jangan ke kamar ibu dulu."

Ruan Da-cheng menarik nafas. Obat yang baru diambil dari Ruan-wei dikembalikannya lagi.

"Berikan saja kepada ibumu, aku akan tidur di kamar baca."

Dia masuk ke pekarangan lalu berteriak.

"Kerbau, kerbau, ikut ayah ke kamar."

Ruan-wei menuntun Xuan-xuan dan berkata.

"Adik kedua, jangan membuat kakak marah, ayo ikut kakak ke kamar ibu."

Ruan-xuan melepaskan pegangan Ruan-wei dan berkata.

"Siapa yang mau menengok ibu, sebentar gila, sebentar melotot, sepertinya Xuan-xuan musuh besarnya."

Ruan-yun melangkah ke depan memegangi tangan Ruan-wei dan berkata.

"Kakak, Yun-yun ikut."

Tapi Xuan-xuan melepaskan pegangan Yun-yun yang memegangi kakaknya dan berkata.

"Kakak, Xuan-xuan ikut."

Dia pun memegang erat tangan Ruan-wei. Ruan-wei mengedipkan bola matanya yang hitam. Dengan nakal dia berkata.

"Bukankah kau takut ke kamar ibu?"

"Ada kakak, Xuan-xuan tidak takut kepada apa pun."

Jawab Xuan-xuan Polos Ruan-wei tertawa dan menuntun Ruan-xuan masuk ke pekarangan.

Malam menutupi bumi.

Orang-orang yang sedang membaca kitab suci di kuil Ling-feng sudah bubar.

Di ruangan ada 2 kamar.

Kamar paling kanan di dalamnya dihiasi sangat mewah juga indah.

Keempat dinding kamar tergantung lukisan dan tulisan kaligrafi.

Semua kaligrafi itu memuji kebaikan dan keadilan Ruan Da-cheng.

Di bawahnya ada tanda tangan dan tempat pembuatan.

Kamar itu sangat luas, di dalamnya berisi perabot rumah yang terbuat dari kayu murah masih ada barang-barang antik.

Di sudut kamar ada sebuah ranjang terbuat dari kayu merah dan dihiasi kain sutra.

Hari sudah malam.

Lampu yang terletak di atas rak tinggi masih menyala dan mengeluarkan cahaya lembut, cahaya lembut itu menyinari wajah seorang perempuan yang tertidur di ranjang.

Jika dilihat sekilas perempuan ini sangat cantik tapi...

Begitu dekat, wajah perempuan ini penuh dengan bekas luka.

Memang lukanya sudah lama dan setelah sembuh terlihat agak mulus tapi tetap saja membuat siapa pun takut melihatnya.

Perempuan berwajah bopeng ini sedang tertidur pulas, wajahnya terlihat sangat tenang.

Tirai disibakkan, Ruan-wei dan adik-adiknya masuk ke kamar.

Karena ibunya sedang tertidur pulas, Ruan-wei tidak tega membangunkannya tapi jika ibunya tidak meminum obat pemberian Paman Wu-yin maka penyakit ibunya akan kambuh.

Pelan-pelan Ruan-wei memasukkan obat itu ke dalam cawan dan setelah sedikit hangat dia memapah ibunya duduk dan sedikit demi sedikit memasukkan obat ke mulut perempuan itu.

Tidak lama kemudian secawan obat itu sudah habis diminum.

Ruan-wei membaringkan kembali perempuan itu, sepertinya perempuan itu tidak terganggu.

Dia masih tertidur pulas.

Ruan-yun masih kecil tapi dia sangat menyayangi ibunya.

Ketika Ruan-wei menyimpan cawan, dia segera menyelimuti ibunya.

Ruan-xuan berdiri agak jauh, dia tidak memperhatikan ibunya.

Setelah Ruan-wei merapikan kamar, dia melambaikan tangan kepada Ruan-yun dengan pelan berkata.

"Adik ketiga, ayo kita keluar, biar ibu tidur."

Baru saja Ruan-yun membalikan tubuh, belum ada 3 langkah, perempuan bopeng itu terbangun dan berteriak.

"Siapa?"

Ruan-wei cepat mendekat ibunya.

"Ibu, ini Wei-er dan Xuan-xuan juga ada Yun-yun menjenguk ibu."

Perempuan bopeng itu segera marah.

"Siapa suruh Xuan-xuan masuk? Suruh dia keluar, melihat dia, rasanya ibu ingin marah, suruh dia keluar, keluar!"

Ruan-wei memberi tanda kepada Xuan-xuan supaya dia keluar kamar.

Karena kesal Xuan-xuan menangis.

Dia membuka tirai dan pergi.

Mungkin karena perempuan bopeng itu sudah meminum obat pemberian Biksu Wu-yin, dia agak sadar.

Ruan-wei berkata pelan.

"Bu, Xuan-xuan sudah keluar."

Perempuan bopeng itu mengangguk.

Yun-yun segera mendekatinya.

Perempuan bopeng itu melihat wajah Yun-yun yang mirip Xuan-xuan, alisnya dikerutkan lagi.

Dalam hati dia ingin marah tapi dia berusaha menahannya.

Akhirnya dia menyuruh Yun-yun mendekatinya, dia mengelus-elus rambut Yun-yun, terpancar kasih sayang seorang ibu.

Mulut Ruan-wei beberapa kali bergerak tapi apa yang ingin diucapkan tidak keluar-keluar.

Sekarang melihat ibunya agak sadar, dia memberanikan diri bertanya.

"Bu, siapakah Nan-ren?"

Dengan bingung perempuan itu menjawab.

"Kau menanyakan apa kepada ibu? Nan-ren seperti nama seseorang, siapakah dia, ibu juga tidak tahu."

"Coba ibu pikirkan siapa orang ini? Dia tinggal di mana? Kata Paman Wu-yin di kuil Ling-feng, asalkan ibu tahu siapa dia dan bertemu dengannya, mungkin penyakit ibu akan sembuh."

Perempuan bopeng itu dengan tidak sabar berkata.

"Jangan cerewet! Ibu tidak mau berpikir, jika berpikir kepala ibu sakit. Keluarlah, biarkan aku beristirahat."

Baru saja Ruan-wei akan keluar kamar, perempuan itu bertanya lagi.

"Wei-er, mana ayahmu?"

"Ayah sudah pulang, dia dan kerbau berada di kamar baca, kata ayah malam ini dia akan tidur disana "

Perempuan bopeng itu berkata sendiri.

"Udara begitu dingin mengapa dia tidur di kamar baca?"

Dia tampak ragu sebentar akhirnya berkata.

"Wei-er, suruh ayahmu kemari."

Tidak lama Ruan Da-cheng membuka tirai dan berkata.

"Aku datang, istriku, ada apa?"

Perempuan bopeng itu tertawa.

"Sudah tua, masih saja suka bercanda!"

Ruan Ba-cheng mendekatinya dan duduk di sisinya.

"Tadi pagi kau begitu galak kepadaku, hampir-hampir kau mau membunuhku."

"Siapa yang galak kepadamu, bukankah aku baru bangun?"

Ruan Da-cheng tahu istrinya tidak begitu waras maka dia tidak berniat untuk menjelaskan. Ruan Da-cheng hanya berkata.

"Mengapa jika malam-malam saat kau tidur, kau selalu berteriak 'Nan-ren, Nan-ren...' Aku kira Nan-ren sudah mati!"

Karena tidak diberi tahu, perempuan bopeng itu juga tidak bertanya lagi.

Malam semakin larut, udara semakin dingin, Ruan Da-cheng masih duduk di sisi ranjang dan gemetar.

Perempuan bopeng itu tertawa juga marah.

"Orang bodoh, mengapa tidak naik ke ranjang untuk tidur? Aku tidak pernah tidak mengijinkanmu tidur di sini bukan?"

Pikir Ruan Da-cheng, 'Bukankah tadi sore kau menyuruh Yun-yun memberitahuku kalau aku tidak boleh masuk kamar ini?

Aku juga bukan orang bodoh, ada ranjang tapi tidak tidur malah terus duduk di sini.' Sebenarnya perempuan ini tidak tahu kata-kata apa saja yang dia ucapkan sebelum tidur.

Perempuan ini sudah lupa sama sekali.

Ruan Da-cheng masuk ke dalam selimut untuk menghangatkan tubuh kemudian berkata.

"Besok aku akan pergi mengantar kerbau untuk belajar ilmu silat. Kerbau sudah besar sudah waktunya untuk belajar ilmu silat. Aku akan mengantarkan dia ke kuil Shao-lin, mungkin harus I bulan baru bisa kembali."

Perpisahan sementara membuat sepasang suami istri ini menjadi penuh cinta dan kasih sayang.

o-o-o BAB 88 13 jurus pedang naga langit Bulan 9 musim dingin di Xi-hu sangat dingin tapi Ruan-wei masih mengenakan baju putih tipis.

Diam-diam dia membuka pintu pekarangan.

Angin dingin meniup bajunya membuatnya gemetar karena dingin.

Dalam udara dingin seperti ini dia tetap berjalan ke kuil Ling-feng.

Langit masih gelap, dia berjalan seorang diri di tanah yang penuh dengan salju.

Di tanah kosong ini tampak hanya ada Ruan-wei saja.

Hanya dalam waktu singkat, Ruan-wei sudah berada di gunung kecil yang ada di utara kuil Ling-feng.

'Wang-hai-ting' seperti tertutup oleh salju.

Ruan-wei masuk ke pondok itu, dia duduk di kursi yang terbuat dari batu yang menghadap ke Xi-hu.

Sebelumnya dia membersihkan salju yang bertumpuk di kursi itu, baru duduk bersila.

Dia duduk bersila sambil memejamkan mata.

Begitu hari terang, dia baru membuka mata.

Dengan bersemangat dia meloncat turun dari kursi batu itu, dia merasa sangat bersemangat, dalam hati dia merasa ingin terbang juga berteriak, sepertinya dengan melakukan hal ini dia baru merasa nyaman.

Di tengah-tengah ada meja yang terbuat dari batu, salju yang masuk mulai mencair dan menetes.

Karena nakal dan iseng, Ruan-wei pun merabanya.

Begitu tangannya mengenai meja bagian tengah, dia merasa aneh, dia menundukkan kepala untuk melihat, ternyata di tengah meja ada ukiran, ukiran ini sepertinya belum lama.

Dengan aneh Ruan-wei menggores setiap ukiran yang memakai rumput itu.

Jarinya bisa masuk karena ada celah.

Ruan-wei diam-diam berpikir, 'Apakah ukiran rumput ini digores oleh jari orang dewasa?' Tanpa banyak berpikir dia pun menerus-kan perjalanan ke kuil Ling-feng.

Pelajaran pagi hari sudah diselesaikannya.

Begitu tiba di kuil Ling-feng, dia berpapasan dengan Biksu Wu-yin yang baru datang dari luar.

Dengan hormat Ruan-wei menyapa.

"Pagi Paman, apakah Paman baru pulang dari jalan-jalan?"

Wu-yin tertawa sambil mengangguk dan dia juga bertanya.

"Apakah pelajaran pagi sudah beres?"

"Sudah Paman. Beberapa hari ini Wei-er merasa aneh, setiap kali setelah berlatih ilmu tenaga dalam yang Paman ajarkan, aku selalu merasa ingin meraung, entah apa sebabnya?"

"Apa? Kau sudah mencapai tahap ini?"

Kata Wu-yin terkejut "Apakah ada yang salah, Paman?"

Tanya Ruan-wei bingung Wu-yin tertawa terbahak-bahak.

"Tidak, tidak! Itu sangat baik, aku tidak menyangka kau bisa maju pesat seperti itu, harus kau ketahui, aku sendiri pun belum bisa mencapai tahap 'singa mengaum'. Tapi kau baru 7 tahun berlatih silat hampir mencapai tahap ilmu 'singa meraung'. Benar-benar diluar dugaan-ku."

Meski Ruan-wei merasa senang dipuji tapi dia tetap dengan sopan berkata.

"Aku bisa mencapai tahap ini karena ajaran paman juga."

"Tenaga dalam harus mengandalkan kemampuan sendiri, bukan mengandalkan orang yang mengajarkannya. Pertama, harus rajin belajar. Kedua, mempunyai bakat, kalau tidak, tidak mungkin dalam waktu 7 tahun kau bisa mencapai tahap ini."

Ruan-wei sangat berbakat.

Setiap pagi belajar di 'Wang-hai-ting', pemandangan dan suarasuara orang yang membaca kitab suci agama Budha membuatnya bisa cepat maju.

Setelah mendengar perkataan Paman Wu-yin, Ruan-wei pamit pulang dan berkata.

"Wei-er harus pulang, begitu ayah dan ibu bangun pasti banyak pekerjaan yang harus Wei-er kerjakan."

"Wei-er, aku lupa memberitahumu, kata ayahmu, dia akan membawa adikmu si 'kerbau' ke Song-shan, Shao-lin untuk belajar ilmu silat, maka kau harus membantu ayahmu mengurus ibu dan adik-adikmu. Sesudah ibumu minum obat dariku, biarkan dia tidur dan jangan bangunkan dia. Bila hari sudah siang dia akan bangun sendiri itu lebih baik untuk penyembuhan penyakitnya."

"Adik pergi belajar ilmu silat ke Shao-lin, menurut Paman apakah ini baik?"

"Shao-lin-si adalah tempat di mana ilmu silat kalangan lurus berasal. Adikmu bisa belajar ilmu silat di sana, kenapa tidak? Masa depannya pasti akan lebih cerah!"

Tiba-tiba Ruan-wei teringat hal yang dia temukan di meja batu itu, dia bertanya.

"Paman, tadi pagi Wei-er menemukan hal aneh. Kemarin pagi aku belum melihat ukiran itu, tadi setelah aku berlatih tenaga dalam di 'Wang-hai-ting,' aku melihat di meja bagian tengah seperti ada orang yang telah mengukir dengan rumput di tengah meja itu."

Wu-yin terkejut dan bertanya.

"Apakah kau menghitung ada berapa batang rumputnya? "13 batang."

Wajah Wu-yin segera berubah.

"13 batang! 13 batang!"

Dia berlari seperti sebuah panah ke Wang-hai-ting.

Ruan-wei masih tercenung berdiri di sana, belum sempat berpikir apa-apa, Wu-yin sudah berlari kembali.

Dia menepuk pundak Wei-er dan dengan suara bergetar berkata.

"Wei-er, ikuti aku!"

Tadinya kuil Ling-feng milik pemerintahan kota Hang-zhou, delapan tahun yang lalu dibeli oleh biksu beralis merah, maka kuil itu menjadi milik pribadinya.

Pengurusnya pun dia sendiri, 5 biksu kecil pengikutinya bertanggung jawab membersihkan kuil.

3 biksu tua bertanggung jawab membaca kitab suci.

Biksu beralis merah tidak membaca kitab Budha juga tidak mengajar-kan pekerjaan apa saja yang harus dilakukan di kuil.

Wu-yin membawa Ruan-wei masuk ke kamarnya.

Dengan sedih dia berkata.

"Wei-er, sebenarnya aku sudah tidak bisa hidup lebih lama."

Dengan terkejut Ruan-wei bertanya.

"Paman begitu sehat, mengapa bicara seperti itu?"

Dari baju bagian dalam, Wu-yin mengeluarkan sehelai kain putih sebesar telapak tangan. Dia memberikannya kepada Ruan-wei dan berkata.

"Simpanlah kain ini baik-baik!"

Ruan-wei yang masih terkejut dengari teliti menyimpannya di balik dada. Wajah Wu-yin pucat tapi dia dengan tenang tetap berkata.

"Ingat, kain ini tidak boleh diperlihatkan kepada siapa pun, termasuk ayahmu sendiri."

Ruan-wei mengangguk. Dia meraba kain yang ada di balik dadanya, seperti takut akan hilang. Wu-yin dengan cemas berkata.

"Jangan terus mengingat ada kain di balik dadamu, itu akan membuat orang menjadi curiga. Kau juga tidak boleh mengeluarkannya untuk dilihat. Kau hanya boleh menyimpannya di bagian dadamu dan tidak boleh hilang."

Ruan-wei benar-benar merasa aneh mengapa Paman Wu-yin mengatakan hal-hal aneh.

Melihat wajah Ruan-wei yang polos dan kedua matanya yang bersorot kebingungan, dia juga tidak terlihat ada niat jahat.

Wu-yin merasa aman bila kain ini diberikan kepada Ruan-wei, tapi bagi Ruan-wei sendiri apakah hal ini adalah hal baik atau akan membawa bencana baginya?

Diamdiam dia menarik nafas.

"Wei-er, bukannya aku tidak mengijinkanmu melihat kain itu karena di atas kain itu berisi tulisan dalam bahasa India, kau tidak akan mengerti. Jika terlihat oleh orang lain kau akan dibunuh."

Wu-yin berpesan lagi.

"Semua ini terlihat kalau kau berjodoh dengan kain ini. Setelah berhasil menguasai bahasa India kau baru boleh melihat isi kain ini, apakah kau mengerti?"

Ruan-wei mengangguk. Wu-yin melambaikan tangannya dan berkata.

"Baiklah, sekarang kau pulang dulu. Hari ini belum pukul satu, kau jangan keluar rumah dan jaga kedua adik perempuanmu. Jangan biarkan mereka keluar. Sebelum pukul satu apa yang terjadi disini, kau jangan ikut campur. Sesudah pukul satu kau bisa berlaku seperti biasa lagi."

"Paman, bagaimana dengan dirimu?"

Wu-yin sangat sedih melihat Ruan-wei dan berkata.

"Kau berlatih ilmu pedang dengan baik seperti yang tercantum dalam kain itu, bila aku mati, itu tidak apa-apa. Pergilah, jangan banyak tanya lagi!"

Ruan-wei tahu hidup atau mati Wu-yin pasti ada hubungannya dengan kain ini, maka tanpa ragu sedikit pun dia mengeluarkan kain itu dan meletakkannya di atas meja.

"Wei-er, ada apa denganmu?"

Tanya Wu-yin Dengan tenang Ruan-wei menjawab.

"Sejak Wei-er kecil telah belajar ilmu silat kepada Paman, membuat tubuh Wei-er yang lemah menjadi sehat. Paman sudah memberikan kesehatan untuk Wei-er, budi ini belum Wei-er balas. Sekarang Paman ada kesulitan mana boleh Wei-er mengambil kain yang menyangkut nyawa Paman. Kain ini kecil manfaatnya sedangkan nyawa Paman sangat penting bagiku."

Wu-yin tergesa-gesa berkata.

"Apakah kau tahu kalau kain ini berisi catatan tentang ilmu pedang tertinggi di dunia ini? Sisa nyawaku ditukar dengan kain ini apakah tidak pantas? Cepat ambil, kalau tidak aku akan marah."

Ruan-wei tetap menundukkan kepala dan menjawab.

"Walaupun ini adalah benda termahal di dunia ini tapi nyawa Paman bisa hilang karena benda ini. Wei-er tidak akan mau!"

Kata-katanya sangat tegas, hal ini mem-buat Wu-yin meneteskan air mata, katanya.

"Walaupun aku memberikankan ini kepada mereka, aku tetap akan dibunuh, untuk apa aku memberikannya kepada mereka?"

"Apakah musuh Paman adalah orang yang meninggalkan 13 tangkai rumput di Wang hai ting ?"

"Benar! Aku tidak mau menyalakannya kepadamu karena musuhku ini terlalu kuat jika kita melawan mereka sama seperti telur diadu dengan batu."

Dengan polos Ruan-wei berkata lagi.

"Kita tidak bisa mengalahkan musuh itu, mengapa Paman tidak melarikan diri saja?"

Wu-yin tertawa sedih.

"Shi-san-tai-bao (13 Tai-bao) melakukan kejahatan dan selalu meninggalkan 13 tangkai rumput yang selalu menjadi ciri khas mereka. Orang yang mereka cari kalau tidak melarikan diri, dia akan terbunuh. Jika kabur dia yuga akan mati, bentrok dengan 13 orang pasti mati."

"Siapakah Shi-san-tai-bao ini?"

Tanya Ruan wei.

"Aku akan memberitahumu tapi kau harus mengikuti kata-kataku, kalau tidak kau adalah orang yang tidak setia kawan. Apakah kau mau menjadi orang yang tidak setia kawan?"

Dengan serius Ruan-wei menjawab.

"Aku masih kecil dan tidak berpengalaman tapi aku tidak akan menjadi orang yang tidak setia kawan!"

"Baik! Kau benar-benar anak baik! Duduklah, biar aku menceritakannya padamu...."

Wu-yin duduk bersila di atas ranjang dan Ruan wei duduk di depannya. Pelan-pelan dia berkata.

"Shi-san-tai-bao adalah 13 saudara angkat yang baru mengangkat nama di dunia persilatan. Ilmu silat mereka di bawah ketua berbaju kuningTian-zheng-jiao dan 4 pesilat tangguh Zheng-yibang...."

"Siapa Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang itu?"

Wu-yin menggelengkan kepala.

"Kau terlalu banyak bertanya! Aku hanya bisa memberitahumu kalau Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang dalam kurun waktu 10 tahun ini mempunyai kedudukan tinggi di dunia persilatan. Jika Zheng-yi-bang mau ikut campur dalam hal ini, aku tidak akan takut kepada Shi-san-tai-bao. Tapi aku tidak kenal dengan mereka, mana mungkin aku meminta bantuan kepada mereka?"

Wu-yin memejamkan mata seperti mengenang masa lalu. Wu-yin membuka mata dan berkata lagi.

"Puluhan tahun ini ada berita di dunia persilatan yang mengatakan bahwa selama ratusan tahun ini perkembangan di Zhong-yuan sangat pesat. Setiap perkumpulan masing-masing mempunyai ilmu andalan. Tapi dibandingkan dengan kuil Tian-long di India, Zhong-yuan masih ketinggalan jauh."

"Kuil Tian-long berada di India. Kuil ini didirikan khusus untuk menjaga negara ini. Semua biksu di kuil itu usianya hampir 100 tahun. Kecuali biksu-biksu tua yang paham dengan ilmu Budha, mereka juga pesilat tangguh. Biksu-bisku yang ada di kuil itu sejak kecil sudah terpilih dan diberi jabatan biksu penjaga negara. Karena itu hingga tua mereka berada di kuil untuk memperdalam ilmu Budha dan ilmu silat. Yang perlu diketahui negara India adalah negara dengan agama Budha nya sangat maju. Di negara itu buku Budha sangat banyak, buku-buku yang terbuat dari bambu menjadi benda paling berharga bagi negara India. Tempat penyimpanan buku berharga itu adalah di kuil Tian-long."

"Karena benda berharga ini sering dicuri oleh negara tetangga maka biksu yang tinggal di kuil Tian-long sejak kecil dipaksa untuk berlatih ilmu silat. Karena sering berdiskusi mengenai ilmu silat maka ilmu silat biksu-biksu di kuil Tian-long sangat tinggi. Apalagi jurus 'Tian-long-shi-san-jian' (13 jurus pedang naga langit). Jurus ini digunakan untuk menjaga kuil Tian-long, jurus-jurusnya sangat dalam, tidak ada pesilat-pesilat Zhong-yuan yang bisa menandingi mereka."

"Menurut orang-orang dunia persilatan, jurus pedang ini harus berlatih dengan 13 orang dan digunakan oleh 13 orang juga. Satu orang berlatih satu jurus pun sangat sulit, apalagi bila satu orang harus menguasai 13 jurus pedang, itu sangat tidak mungkin. Sekalipun bisa, orang ini pasti orang yang sangat-sangat berbakat. Jika ketiga belas orang ini bergabung, maka dunia ini akan menjadi milik 13 orang ini, karena tidak ada seorang pun yang bisa melawan mereka."

Wu-yin terus melihat Ruan-wei.

Dia berharap setelah mendengar cerita ini, dia akan tertarik dengan jurus-jurus pedang yang tiada tandingannya tapi Ruan-wei hanya diam dan terus mendengar kelanjutan cerita.

Wu-yin benar-benar kecewa, selama 7 tahun mi mereka sering bertemu, dia tahu bagaimana sifat Ruan-wei.

Dia ditakdirkan tidak mempedulikan nama dan keuntungan, jika bukan karena tubuh Ruan-wei dari kecil sangat lemah maka diajarkan ilmu silat agar badannya sehat, baru dia tertarik dengan ilmu silat.

Kalau tidak, mungkin dia masih menolak belajar ilmu silat.

Wu-yin bertanya lagi.

"Apakah Wei-er tahu mengapa aku adalah biksu tapi tidak membaca kitab suci juga tidak berdoa serta bersembahyang?"

Ruan-wei menggelengkan kepala.

"Memang aku merasa aneh karena begitu mendengar Paman harus membaca kitab suci, alis Paman langsung dikerutkan dan di atas kepala Paman tidak ada tanda biksu (di kepala biksu yang botak sering ada tanda) tapi aku tidak tahu apa alasannya."

Wu-yin diam-diam memuji ketelitian Ruan-wei. Dia merasa senang dan terhibur.

"Wei-er, aku bukan seorang biksu!"

Ruan-wei terkejut tapi dia tidak bertanya "Kau mungkin merasa aneh aku mengenakan pakaian biksu dan belajar agama Budha, semua ini hanya untuk menutupi identitasku.

Aku terpaksa berpura-pura menjadi seorang biksu suci tapi sejak kecil aku sangat membenci biksu maka walaupun aku menjadi biksu tapi aku tetap makan daging."

"Sebenarnya seumur hidupku, aku adalah orang yang paling dibenci agama Budha ..aku adalah seorang perampok."

Ruan-wei benar-benar terkejut dia ingin bicara tapi Wu-yin sudah menyambung "Wei-er, jangan khawatirkan keadaanku.

Memang aku adalah perampok tapi uang dan harta yang kurampok digunakan untuk menolong fakir miskin.

Orang yang kurampok adalah pejabat yang korupsi, tuan tanah yang jahat, dan orang kaya yang jahat!"

Ruan-wei agak tenang.

"Sejak kecil aku sangat benci orang yang seperti itu. Sewaktu remaja aku masuk 'Ku-lun-pai', di sana aku belajar ilmu silat beraliran keras dan lembut. Di dunia persilatan aku termasuk lapisan kedua. Begitu berkelana di dunia persilatan terhadap perbedaan antara si miskin dan kaya begitu jauh, aku merasa semua ini tidak adil tapi perkumpulan Kun-lun mempunyai peraturan sangat ketat, tapi aku tidak peduli, aku rnenjadi perampok supaya menjadi kaya. Dengan ryang pantas melampiaskan kebencianku maka tidak lama kemudian aku pun mendapat julukan perampok 'Chimei-da-xian' (Dewa besar alis merah)."

Wu-yin beristirahat sebentar lalu melanjutkan lagi.

"Aku lupa memberitahu kepadamu, semenjak aku mendapat julukan Chi-mei-da-xian, gerak gerikku diketahui oleh ketua Kun lun pai. Sebenarnya dia ingin memusnahkan ilmu silatku tapi setelah tahu tujuan muliaku, maka dosa dosaku diampuni. Tapi aku diusir dari Kun-lun-pai. Selama 7 tahun ini aku hanya mengajarimu ilmu tenaga dalam dari Kun-lun-pai aku tidak berani mengajarimu ilmu silat Kun-lun-pai. Di satu pihak, aku takut akan mengganggumu. Di lain pihak, aku takut jika kau menguasai ilmu silat Kun-lun sedangkan kau bukan orang Kun-lun, mereka akan mencari masalah denganmu. Kau akan mempunyai banyak musuh!"

Ruan-wei meneteskan air mata dan berkata.

"Kelak Wei-er akan membantu Paman menjadi murid Kun-lun-pai kembali!"

Chi-mei-da-xian Zhuang Shi-yan tersenyum gembira. Dia seperti percaya kalau Ruan-wei bisa melakukan hal ini. Dia bercerita lagi.

"Sembilan tahun yang lalu di musim panas, supaya bisa merampok seorang pejabat kerajaan yang jahat, aku mengejarnya sampai Propinsi Xin-jiang."

"Waktu itu pertama kalinya aku pergi ke Xin-jiang. Aku tidak mengenali daerah sana. Begitu tiba di Di-hua, aku memasuki sebuah penginapan sepi dan mencari tahu jalan yang harus ditempuh selanjutnya."

"Begitu aku mendapatkan informasi tentang jalannya dengan jelas dan bersiap akan pergi, aku merasa aneh mengapa di sebelah kamarku selalu ada yang merintih. Aku bertanya kepada pelayan, ternyata di sebelah kamarku didiami oleh seorang biksu tua yang sedang sakit berat. Semenjak aku menjadi perampok, berbagai jenis orang miskin sudah pernah kutolong, hanya biksu yang belum pernah kutolong, karena aku benci biksu. Menurutku biksu itu hanya bisa membuka mulut untuk makan dan mereka adalah orang yang tidak berguna."

"Suara rintihan semakin lama semakin keras sehingga membuat perasaanku tidak enak juga sedih, maka aku menyuruh pelayan memberikan satu uang emas kepadanya."

"Ketika aku bersiap-siap akan meninggal kan penginapan, ada pelayan yang berlari dan mengembalikan uang emas itu kepadaku dan memberitahu bahwa biksu itu menolak pemberianku. Dalam hidupku ada pantangan yaitu aku takut bila ada orang yang tidak mau menerima pemberian uangku karena orang itu curiga dengan asal usul uang ini. Mungkin karena aku tidak peraya diri."

"Ketika itu aku sangat marah, dan membawa uang itu masuk ke kamar biksu itu dan melemparkan uang itu ke atas ranjang. Aku berteriak, 'Apakah kau mengira uangku kotor!' Tadinya biksu itu tidur menghadap ke dinding, setelah mendengar teriakanku, dia berusaha duduk. Dengan suara gemetar dia berkata.

"Tuan jangan salah paham, aku adalah seorang biksu, tidak boleh sembarangan menerima pemberian orang. Sekarang Tuan langsung memberikannya padaku maka aku tidak akan sungkan lagi menerimanya.' Begitu melihat tubuhnya hanya berselimut tulang dan wajahnya hitam, hatiku menjadi luluh tapi begitu mendengar kata-katanya, rasa curigaku malah muncul."

"Dia memakai bahasa Zhong-yuan tapi nadanya aneh. Setelah diteliti ternyata wajahnya tampan. Aku baru tahu dan berteriak, 'Kau adalah biksu dari India!' Tadinya dia menyelimuti tubuhnya sewaktu duduk, begitu mendengar teriakanku, selimutnya terjatuh dan tubuhnya terus gemetar."

"Tubuh yang tadinya tertutup selimut segera terlihat. Begitu aku melihatnya, yang tadi-nya benci kepada biksu berubah menjadi kasihan. Ternyata karena sakit, baju biksu yang dikenakannya disobek-sobek dan kulitnya merah."

"Begitu melihat luka itu, aku tahu kalau dia telah terkena pukulan telapak beracun. Dalam hati aku berpikir orang yang memukulnya benar-benar kejam maka aku pun memanggil tabib untuk mengobatinya dan aku selalu berada di sisi biksu India itu, mengurusnya selama 3 hari 3 malam."

"Pada hari keempat, dia mulai terlihat segar. Sambil berbaring dia menarik tanganku dan berkata, 'Seumur hidupku belum pernah melihat ada orang seperti kau begitu baik. Di tubuhku ada buku kecil yang berharga.' "Tangannya gemetar mengeluarkan sebuah kain dari balik dada. Dia memberikannya kepadaku dan berkata, 'Buku ilmu pedang ini ditulis dengan bahasa India kuno. Bawalah kuas dan tinta, aku akan membantumu menerjemahkan ke bahasa Han. Waktu itu aku tidak menanggapinya, aku mengira itu hanya buku ilmu pedang biasa. Tadinya aku tidak menginginkan buku itu tapi aku takut dia akan sedih maka terpaksa aku meminjam kuas dan tinta kepada pelayan penginapan."

"Tapi pelayan tidak mempunyai kuas maupun tinta, begitu pula dengan kasir, laci terkunci, tidak ada cara lain. Pelayan berlari ke penginapan lain untuk meminjam, tapi kuas sulit didapat, waktu itu waktu telah berlalu setengah jam dan waktu itu aku baru akan memberikan kuas dan tinta kepada biksu India itu. Ternyata dia sudah meninggal. Ada pepatah yang mengatakan. jika ingin menjadi orang baik harus berbuat sampai tuntas, mengantar Budha harus sampai ke langit. Aku mengurus upacara pemakamannya termasuk membelikannya peti mati, memanggil biksu untuk mendoakannya, setelah dua hari, baru di kubur-kan."

"Setelah itu kain buku pemberian biksu itu kusimpan di balik dada. Pejabat korupsi itu telah pergi jauh, pekerjaanku tidak jadi, terpaksa aku kembali ke Zhong-yuan untuk mengincar perjabat lainnya tapi aku tidak berhasil mendapatkannya aku malah mendapat berita yang menyakitkan."

"Ternyata buku kain yang ada di tubuhku adalah buku yang dicari-cari oleh orang Zhong-yuan, yang bernama Tian-long-shi-san-jian'." --BAB 89 Gongzi Shi-san-tai-bao Setelah mendengar cerita ini, Ruan-wei melihat buku kain itu. Dalam hati berpikir, 'Tidak disangka buku ini berisi catatan tentang ilmu pedang nomor satu.' Zhuang Shi-yan berdiri, dia memegang buku kain itu, kemudian kembali duduk dan berkata.

"Dari Xin-jiang aku kembali ke Zhong-yuan. Mendengar kabar dunia persilatan kalau di kuil Tian-long ada seorang biksu yang meninggalkan kuil itu, dia membawa 'Tian-long-jian-jing' dan kabur ke negara kita."

"Begitu kabar ini menyebar, semua pesilat pedang yang hanya mempunyai sedikit nama jadi berniat mendapatkan buku ini. Maka orang dari golongan hitam maupun putih, beramai-ramai mencari biksu India ini."

"Karena itu aku tahu buku yang tidak sengaja kudapatkan adalah buku Tian-long-jian-jing, dalam pikiranku mungkin ketika biksu itu kabur dari kuil Tian-long dia terkena pukulan biksu penjaga kuil itu. Karena dia mempunyai ilmu silat tinggi maka dia masih bisa berjalan jauh sampai ke Xin-jiang. Karena lukanya semakin parah terpaksa dia menginap di penginapan kecil dan bertemu denganku."

"Sesudah aku mendapatkan 'Tian-long-jian-jing', aku merasa senang tapi juga takut. Yang membuatku senang adalah jika buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Han, setelah beberapa tahun berlatih, aku akan menjadi ahli pedang nomor satu di dunia persilatan ini. Aku bisa mengembalikan namaku di hadapan ketua Kun-lun dan saudara-saudara di Kun-lun. Yang kutakutkan jika ada orang lain mengetahui aku mempunyai buku ini, dengan ilmu silatku saat itu, aku tidak akan sanggup melindungi buku ini. Ini benar-benar hal yang sangat berbahaya."

"Sesudah beberapa bulan berlalu, berita tentang biksu India itu sudah menyebar sampai ke Zhong-yuan, karena tidak ada tanda-tanda keberadaannya, maka semakin lama kabar ini semakin dilupakan. Aku kira di dunia ini tidak ada lagi yang tahu bahwa aku mempunyai Tian-long-jian-jing. Aku jadi bersiap-siap menterjemahkan ke dalam bahasa Han."

"Tapi sebelum aku berhasil mendapatkan orang yang bisa menerjemahkannya, Gongzi(hok. kongcu) Shi-san-tai-bao telah mencium gerak-gerikku. Suatu hari, ketika aku lewat Gan-su, aku dihadang oleh 13 orang itu dengan dandanan seperti tuan muda. Salah satu dari mereka berperawakan pendek dan gemuk memakai baju mewah, dia bertanya kepadaku, 'Chi-mei-da-xiau, Pendekar Zhuang, kami 13 saudara telah mencari lalui dari Xin-jiang, Tuan dengan upacara besar mengubur seorang biksu miskin. Kami 13 bersaudara berunding dan kami pun sempat membuka peti mati itu, kami tidak menyangka ternyata biksu yang Tuan kubur adalah biksu dari India!' "Setelah aku mendengar perkataannya, aku benar-benar menyesal telah meninggalkan jejak."

"Gongziyang berperawakan pendek dan gemuk itu tertawa.

"tuan mengambil Jian Jing untuk sendiri, itu bukan hal mudah. Lebih baik serahkan kepada kami 13 bersaudara untuk kami latih. Bagaimana?"

"Tentu saja aku tidak mau. Aku tahu aku tidak sanggup melawan salah satu dari mereka, tapi aku tetap melawan mereka. Hanya dalam beberapa jurus, aku sudah terluka di 3 tempat. Ketika nyawaku terancam, kebetulan ada seorang pendekar tua yang lewat. Dia menolongku, tapi aku tidak melihat pendekar tua itu mengalahkan mereka, aku hanya melihat 13 bersaudara ini lari terbirit-birit."

"Sebelum pergi, Gongzi yang pendek dan gemuk itu meninggalkan pesan. Chi-mei-da-xian kemana pun kau kabur, kami akan terus mengejarmu. Tapi mereka sama sekali tidak menyebutnyebut Tian-long-jian-jing. Mungkin mereka tidak ingin orang lain tahu, karena bila bertambah satu orang yang tahu, sama artinya bertambah satu orangyang ingin merebut buku itu."

"Sekarang setelah dipikir-pikir aku telah tinggal di sini selama 8 tahun, tidak ada orang yang mencariku, tapi akhirnya aku tetap berhasil mereka temukan, berarti di dunia persilatan ini sekarang hanya 13 orang ini yang tahu kalau aku memiliki Tian-long-jian-jing."

"Pendekar tua yang menolongku men-engar Gongzi yang pendek dan gemuk itu memanggilku Chi-mei-da-xian, dengan senang dia berkata, 'Kau adalah perampok Chi-mei-da-xian yang mempunyai hati penolong. Ha, ha, ha! Kau benar-benar seperti temanku yang telah meninggal, dia juga seorang perampok tapi sayang ilmu silatmu terlalu rendah. Mari, aku akan mengajarimu satu jurus. Kau harus benar-benar menguasai jurus ini. Jika bertemu dengan musuh kuat, kau bisa menggunakan jurus ini untuk melarikan diri. Jurus ini dinamakan 'An-ying-fu-xiang'. Mari aku ajari jurus ini!"

Zhuang Shi-yan menarik nafas panjang katanya.

"Bakat setiap orang tidak sama, jurus 'An-ying-fu-xiang' sudah kulatih selama 7 tahun tapi tetap tidak bisa menyamaimu, meski baru beberapa bulan berlatih."

Chi-mei-da-xian menaruh buku kain ini ke tangan Ruan-wei dan berkata.

"Dengar baik-baik, ambil buku ini, kalau tidak kau adalah orang yang tidak setia kawan!"

Ruan-wei menyimpan Tian-long-jian-jing ke dalam bajunya.

"Maksud kedatangan Gongzi Shi-san-tai-bao ke sini adalah untuk mengambil buku ini, kita berikan saja kepada mereka, apakah mereka masih akan membunuh Paman?"

Chi-mei-da-xian menggelengkan kepala.

"Jika Gongzi Tai-bao adalah pendekar sejati, aku akan memberikan Tian-long-jian-jing kepada mereka. Tapi walaupun berpakaian seperti pelajar, hati mereka sangat kejam dan jahat. Mereka membunuh orang seperti mem-bunuh semut. Jika mereka berhasil menguasai Tian-long-shi-sanjian, berapa"

Orang lagi yang akan mati di tangan mereka?

Wei-er, apakah kau tahu maksud Paman?

Simpan baik-baik buku ini, kelak ada jika ada kesempatan latihlah ilmu ini.

Kau harus mengabdikannya pada banyak orang, jangan menyia-nyiakan harapanku padamu!"

Ruan-wei berlutut didepan Chi-mfti da-xian.

"Paman tenanglah, sepanjang hidup Wei-er tidak akan lupa apa yang Paman katakan tadi!"

Tidak terasa 2 jam telah berlalu, hari sudah siang. Chi-mei-da-xian memapah Ruan wei bangun dan berkata.

"Dengar kata-kataku, pulanglah dan uruslah keluargamu, jangan pedulikan aku. Aturan Gongzi Shi-san-tai-bao membunuh orang tidak akan lewat dari satu jurus. Ciri-ciri yang kau lihat, mereka meninggalkannya semalam di sana, nanti jam 12 mereka akan datang. Cepat pulang, karena pukul 1 hampir tiba."

Ruan-wei menangis.

"Paman apakah dengan ilmu silat yang kita miliki tidak bisa mengalahkan mereka?"

"Jika satu lawan satu aku percaya setelah 8 tahun terus menerus berlatih, aku sanggup mengalahkan mereka. Tapi Gongzi Shi-san-tai-bao masing-masing mempunyai ilmu silat andalan, seperti dengan jari mengukir rumput di meja batu. Jari orang ini sangat kuat. Kekuatan tenaga jari mereka lebih hebat dari jurus Shao-lin 'Jin-gang-zhi' (jari emas) dan cara mereka bertarung tidak pernah sendiri-sendiri. Mereka mempunyai formasi yang sangat kuat dan dengan ilmu andalan masing-masing menyerang musuh."

Chi-mei-da-xian melihat Ruan-wei.

"Wei-er, tanggung jawabmu sangat besar, jangan korbankan nyawamu dengan sia-sia. Aku akan mengatur semuanya, kau cepat pulang sekarang."

Setelah itu, dia duduk bersila dan tidak melihat Ruan-wei lagi.

Ruan-wei memberi hormat dan pamit pulang.

Semenjak Ruan Da-cheng menikah dengan istri yang tidak waras, dia mempekerjakan seorang pembantu dan seorang pengasuh.

Beberapa tahun ini Ruan-wei, Ruan-xuan, dan Ruan-yun diasuh oleh kedua orang ini.

Baru Ruan-wei memasuki pekarangan, Ruan-xuan berlari mendekat dan mengomel.

"Kakak, dari pagi pergi ke mana? Kedua pengasuh juga tidak mau menemani kami, benar-benar menyedihkan!"

Karena banyak yang harus dipikirkan, maka Ruan-wei menjawab apa adanya sambil mengerutkan alisnya.

Sejak kecil Ruan-xuan tidak disayangi oleh ayah atau ibunya maka dia merasa sangat rendah diri.

Sekarang dengan cemberut dia berkata.

"Apakah Kakak tidak sayang kepadaku lagi?"

"Xuan-xuan, hari ini banyak hal harus kakak pikirkan, maka kau jangan keluar untuk bermain, diamlah di rumah."

Ruan-yun yang berdiri di depan pintu, sedang cemberut. Ruan-wei sudah tahu kalau Xuan-xuan membuat masalah lagi. Dia mendekati-nya dan bertanya.

"Yun-yun, apakah ibu sudah bangun?"

"Pagi-pagi ayah sudah membawa kerbau pergi, karena ibu masih tidur maka ayah tidak membangunkannya. Ayah memberitahu kalau dia akan ke luar kota dan menyuruh kami menurut kepada kedua pengasuh juga kakak. Tadi kakak kedua berteriak, karena ibu masih tidur maka kedua pengasuh melarangnya untuk ribut tapi dia malah balik memarahi kedua pengasuh."

Ruan-xuan berteriak.

"Kalian tidak berniat baik kepadaku untuk apa aku mendengar perkataan kalian. Coba lihat hari sudah siang, mengapa tidak boleh bicara agak keras?"

Ruan-wei marah.

"Xuan-xuan, kau semakin lama semakin nakal, ibu sedang sakit masa tidak boleh tidur? Kalau kau nakal lagi, aku juga tidak akan menyayangimu lagi."

Sifat Ruan-xuan sangat keras, orang lain tidak boleh memarahi atau memukulnya.

Dia tidak akan marah hanya saja dia tidak sanggup menerima kemarahan Ruan-wei maka dengan sedih dia menutup wajahnya dan berlari ke belakang rumah.

Ruan-wei yang melihat Xuan-xuan begitu dia hanya diam, dia tidak ingin tahu apakah Ruanxuan sedih atau tidak.

Dia masuk ke kamar ibunya.

Ketika Ruan-wei masuk, perempuan bopeng itu sudah bangun, dia segera bertanya.

"Bu, apa hari ini keadaanmu lebih baik?"

Dengan penuh tawa perempuan bopeng itu tertawa.

"Hari ini aku merasa lebih nyaman, mana ayahmu?"

"Tadi pagi ayah sudah membawa kerbau pergi ke Shao-lin, katanya kerbau akan belajar ilmu silat di sana."

Perempuan bopengku rada marah.

"Mengapa ayahmu tidak memberitahukannya kepadaku?"

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Semalam ayah pasti sudah mengatakannya kepada ibu, hanya saja ibu pasti sudah lupa!' Tapi dia tidak mengungkapkan pikirannya.

Pembantu masuk dan membantu perempuan bopeng ini menyisir dan mengantarkan sarapan pagi.

Ruan-wei masih berada di kamar ibunya.

Melihat waktu pukul 12 hampir tiba, hati Ruan-wei sangat cemas, dia terus melihat pedang yang tergantung di atas ranjang ibunya.

Dia ingin mengambil pedang itu kemudian berlari membantu Chi-mei-da-xian melawan musuh.

Lama Ruan-wei menunggu pukul 12, ternyata di luar tidak terjadi apa-apa.

Ruan-wei agak lega dan berpikir.

"Mungkin Gongzi Shi-san-tai-bao pukul 12 malam baru tiba."

Dia melihat pedang yang tergantung di dinding dan berpikir dengan cara apa pun dia harus bisa mengambil pedang ayahnya yang tergantung untuk bersiap-siap jika musuh datang malammalam.

Setelah menghabiskan sarapan, pelayan pun keluar, Ruan-wei ikut pamit keluar.

Sesampainya di pintu kamar, tiba-tiba perempuan bopeng itu bertanya.

"Wei-er, apa yang terjadi di luar?"

"Tidak ada, bu!"

Dia pergi menuju kamarnya.

Rumah mereka sangat besar.

Ruan-wei mempunyai kamar besar, di dalam kamar ada sebuah ranjang, sebuah meja, dan sebuah kursi, yang lain hanya ada buku-buku.

Ternyata sejak kecil tubuh Ruan-wei sangat lemah, dia tidak bisa belajar ilmu silat ayahnya yang beraliran keras.

Ruan Da-cheng juga malas mengajarinya.

Dia hanya berharap Ruan-wei bisa sukses dalam bidang sastra maka dia pun membelikan banyak buku dan meletakkannya di kamar Ruan-wei.

Ruan Da-cheng tidak peduli apakah Ruan-wei mengerti atau tidak.

Jika ada buku, dia akan segera membelinya.

Tapi Ruan-wei sangat pintar, di masa kecil dia hanya belajar pada seorang guru tua yang dipanggil ayahnya, 2 tahun kemudian dia sudah bisa membaca dan menulis.

Maka buku yang dibelikan ayahnya semua habis dibaca 5-6 tahun tinggal di tempat yang tenang dengan pemandangan yang indah, dia mendapatkan banyak pengetahuan dalam bidang sastra.

Ruan-wei duduk di sebuah kursi, dia juga malas membaca buku dia sangat mengkhawatirkan pada masalah yang, akan terjadi malam nanti.

Ruan-yun masuk dan bei lei lak "Kakak, ayo makan siangi"

"Aku tidak lapar. Katakan kepada peng asuh aku tidak ingin makan!"

"Kalau Kakak tidak makan, kakak kedua juga tidak makan, aku juga tidak akan makan."

"Jangan urusi aku. Beritahu Xuan-xuan jika dia tidak makan, aku tidak akan bicara lagi dengannya."

Dengan kesal Yun-yun mencari Xuan-xuan.

Ruan-wei dengan cemas duduk di kamar.

Makan malam pun tidak disentuhnya.

Ruan-wei berpikir ibunya pasti sudah tidur, diam-diam ke dapur untuk makan nasi dingin kemudian pelan-pelan berjalan ke depan kamar ibunya.

Lampu di kamar ibu belum dipadamkan, perempuan bopeng itu sedang batuk.

Terpaksa Ruan-wei menunggu dengan cemas.

Begitu ibunya tertidur, dia akan mencuri pedang itu.

Setengah jam sudah berlalu, perempuan bopeng itu belum tidur juga, Ruan-wei merasa cemas seperti semutyang berada di atas kuali panas.

Dia berputar-putar terus.

Tiba-tiba dari dalam kegelapan muncul bayangan hitam yang membuat Ruan-wei terkejut.

Bayangan itu bersuara.

"Kakak belum tidur?"

Hati Ruan-wei baru merasa tenang, dia segera menjawab.

"Apakah Yun-yun belum tidur juga?"

Dengan suara gemetar Yun-yun menjawab.

"Setelah makan malam Kakak Xuan pergi, sampai sekarang belum kembali."

"Apa?"

"Tadi sewaktu makan malam, Kakak Xuan melihat Kakak tidak makan, dia berkata bahwa Kakak Wei marah kepadanya, di rumah ini tidak ada yang menyayanginya lagi. Nasi belum habis, dia sudah berlari dan sampai sekarang belum kembali."

Ruan-wei berteriak dengan cemas.

"Mengapa baru sekarang memberitahuku?"

Yun-yun menangis.

"Kakak tidak makan, wajah Kakak pun seram, Yun-yun tidak berani mengatakannya. Sekarang, sekarang... aku ingin memberitahu pada ibu."

"Yun-yun, jangan menangis, ibu sudah mendengar semuanya."

Dengan terkejut Ruan-wei berkata.

"Ibu!"

Tapi dia sudah melihat perempuan bopeng itu memakai baju ketat hitam dan memegang pedang berkilau. Segera Ruan-wei berkata.

"Bu, ibu tidak sehat, kembalilah tidur. Aku dan Yun-yun akan mencari Xuan-xuan."

Perempuan bopeng itu tertawa dingin.

"Kau kira ibu adalah orang bodoh tidak tahu kalau kau menginginkan pedang ini? Dari siang ibu sudah melihatmu terus memandangi pedang ini. Apa yang terjadi sehingga kau begitu menginginkan pedang ini?"

Ruan-wei segera menjawab.

"Tidak ada apa-apa, ibu kembali tidur saja!"

Pedang diayunkan, tirai terjatuh, perempuan bopeng itu berkata.

"Apakah kau menganggap ibu adalah orang yang tidak berguna?"

Ruan-wei sama sekali tidak menyangka kalau ibunya ternyata seorang pendekar wanita yang berilmu hebat. Perempuan bopeng itu berjalan ke pekarangan. Ruan-wei mengejarnya dari belakang dan berteriak.

"Ibu, ibu, lawan berjumlah 13 orang dan ilmu silat mereka tinggi. Ibu tidak boleh ke sana kata Paman Wu-yin."

Mungkin perempuan bopeng ini tiba-tiba teringat sesuatu dan berkata.

"Apakah Wu-yin adalah biksu Ling-feng yang sering memberikan obat untuk ibu?"

Ruan-wei mengangguk.

Perempuan itu berlari keluar.

Ruan-wei tidak tenang melihat ibunya, dia segera berlari keluar.

Yun-yun ikut keluar.

Baru saja keluar dari pekarangan, mereka melihat 3 pemuda yang berpenampilan seperti tuan muda.

Yang terdepan adalah Gongzi pendek dan gemuk.

Gongzi yang gemuk dan pendek ini adalah kakak tertua dalam Shi-san-tai-bao, bernama Shenlong-shou Li Ming-zheng.

Ilmu silatnya sangat tinggi.

Dia menuntun seorang gadis kecil.

Gadis kecil itu sedang mengobrol dan bercanda dengannya.

Mereka sepertinya sudah lama saling mengenal.

Gadis kecil itu tidak lain adalah Ruan-xuan.

Begitu melihat Xuan-xuan, perempuan bopeng itu berkata.

"Xuan-xuan kemarilah, ibu di sini."

Tadinya begitu Xuan-xuan melihat kakaknya, dia ingin berlari ke sana tapi begitu mendengar ibunya memanggil, dia malah tidak berani ke sana.

'Shen-long-shou' Li Ming-zheng menuntun tangan kecil Xuan-xuan.

Dia mendekat sekitar 3 meter dari perempuan bopeng itu dan bertanya.

"Nyonya, apakah ini putrimu?"

Perempuan bopeng itu mengangguk dengan dingin. Li Ming-zheng tertawa terbahak-bahak.

"Sangat baik, biar gadis kecil ini menjadi muridku!..."

Ruan-wei berteriak.

"Xuan-xuan, jangan, cepat kembali!"

Ruan-xuan sengaja membuat kakaknya marah. Dia sengaja tidak mau kesana malah mencengkram erat tangan gemuk Li Ming-zheng. Dengan senang Li Ming-zheng tertawa.

"Lihat! Anak ini sangat berjodoh denganku, aku akan menerima dia menjadi muridku!"

Seorang Gongzi yang tinggi dan agak bungkuk tiba-tiba berkata.

"Kakak, kau lihat anak ini sangat mirip dengan Xiao-wu, apakah...."

"Jangan banyak bicara! Di dunia ini orang yang sangat mirip banyak!"

Tapi begitu perempuan bopeng mendengar nama Xiao-wu, dia segera gemetar, pedang diangkat dan ditusukkan ke Gongzi bungkukitu.

Dia adalah Lao-san (nomor 3) dari Gongzi Shi-san-tai-bao, namanya adalah Hua Li-ji.

Dengan jurus pentung dia telah mengalahkan 22 orang pesilat.

Melihat dirinya diserang dari lengan baju kanannya keluar sebuah pentungan emas yang berkilau.

Pentungan segera dilayangkan.

Perempuan bopeng yang menusuk tidak mengenai Hua Li-ji, langsung menepis pentungan emas itu.

tapi karena sudah lama tidak berlatih ilmu silat, tenaga pergelangan tangannya sudah berkurang dan pedangnya hampir terbang karena digetarkan oleh Hua Li-ji.

Perempuan bopeng itu menganggap Hua Li-ji adalah Xiao-wu, begitu serangannya tidak mengenai sasaran, dia tidak mundur malah menyerang lebih gencar lagi.

Gongzi Shi san-taibao tidak pernah bertarung masing-masing.

Satu musuh dihadapi 13 orang secara bersamaan bertarung.

Meski bertarung dengan 100 musuh.

Tadinya Li Ming-zheng tidak ingin bertarung dengan ibu anak ini karena dia ingin menjadikan anak ini sebagai muridnya.

Tapi melihat perempuan itu menyerang mereka seperti macan, dia takut kalau adik ketiganya akan kalah, maka dia pun ikut bertarung dengan menggunakan tangan kosong.

Setiap jurus Hua Li-ji tidak jauh dari nadi penting perempuan bopeng itu, tapi perempuan itu tidak takut dan tidak peduli pada ancaman berbahaya ini.

Pedang seperti pelangi berkilau menusuk ke arah tenggorokan Hua Li-ji.

Di sebelahnya ada seorang Gongzi yang tampan.

Dia melihat di belakang Ruan-wei ada seorang gadis kecil yang cantik, lebih cantik dari yang dituntun kakaknya.

Maka dalam sekelebat dia menggendong Ruan-yun dan berlari turun gunung.

Ruan-wei terkejut dan berteriak.

"Lepaskan Yun-yun, jangan bawa Yun-yun!"

Dari kuil Ling-feng, keluar seorang biksu. Dia berteriak.

"Ma-xin-jian, letakkan anak itu, Zhuang Shi-yan berada di sini!"

Ma-xin-jian adalah Lao-wu (nomor 5) dalam Gongzi Shi-san-tai-bao.

Ilmunya yang paling menonjol adalah ilmu meringankan tubuh maka dalam sekelebat dia sudah menghilang.

Tapi Zhuang Shi-yan terus mengejar, Ruan-wei ikut mengejar tapi dia mendengar teriakan memilukan yang keluar dari mulut ibunya.

Ternyata demi menolong adik ketiganya ketika melihat pedang datang Li Ming-zheng benarbenar sangat lihai, dia tidak mau tahu lagi bahwa perempuan ini adalah ibu dari muridnya.

Dengan tangan kirinya dia memukul nadi penting perempuan bopeng itu.

Ruan-wei melihat ibunya bersimbah darah dan terbaring di bawah, dia berteriak dan mendekati ibunya.

Perempuan bopeng itu dipapah oleh Ruan-wei.

Dia masih terus muntah darah.

Ruan-wei terus menangis tapi Li Ming-zheng dengan dingin dan kejam hanya melihatnya.

Dia menggendong Xuan-xuan.

Hua Li-ji yang tadinya ingin membunuh Ruan-wei supaya Ruan-wei tidak bisa membalas dendam kepada mereka.

Perempuan bopeng itu dalam situasi seperti itu tiba-tiba dia sangat sadar.

Dia melihat Ruanwei, dan berkata.

"Kau... kau., bukan bermarga Ruan... melainkan... tapi bermarga... bermarga... Lu."

Setelah bicara seperti itu, dia menghembuskan nafas terakhirnya.

"Aku... aku,..."

Kata Ruan-wei gemetar Ma-xin-jian berlari dari bawah gunung dan berteriak.

"Kakak tertua, Tangan Terampil Xu-bai datang!"

Wajah Ma-xin-jian pucat, tangannya kosong, di manakah Ruan-yun?

Dalam situasi kacau seperti itu, Hua Li-ji masih ingin membunuh Ruan wei.

Ketika penuangannya sudah diangkat dan siap memukul, terdengar di bawah gunung ada suara raungan.

Rumput dan pohon tidak ada angin tapi bergerak terus.

Shen-long-shou Li Ming zheng tangan kirinya menggendong Ruan-xuan, sedangkan tangan kanannya mencengkram Hua Li ji dan berteriak.

"Adik ketiga, cepat lari!"

Mereka bertiga seperti anjing yang terkena pukulan terus berlari ke jalan lain. Ruan-wei meloncat, dengan ilmu 'An-ying-fu-xiang' dia seperti panah yang dilepaskan, terdengar teriakannya.

"Kembalikan nyawa ibuku!"

Dari bawah gunung datang seorang pak tua berpakaian putih, cambangnya saling terikat, dia menggendong seorang gadis kecil, dialah Ruan-yun.

Melihat mayat ibunya tergeletak di bawah, dia memberontak turun dan menangis sekeraskerasnya.

Angin terus bertiup dengan kencang, di sekeliling sepi dan menakutkan.

Pendekar tua berpakaian putih menarik nafas panjang.

"Anak, jangan menangis! Ikutlah denganku, aku tidak akan membiarkanmu terlantar!"

Angin kencang bertiup, daun terus berguguran, bumi terlihat lebih sedih lagi.

Cahaya bulan begitu terang dan bersih, bumi seperti sebuah lukisan.

Ruan-wei sangat sedih.

Dendam karena ibunya terbunuh, membuatnya dia menggunakan seluruh tenaga mengejar Shen-long-shou Li Ming-zheng.

Ma-xin-jian berada di depan, Hua Li-ji di belakang.

Li Ming-zheng menggendong Ruan-xuan.

Mereka takut kepada Xu-bai maka mereka kabur dengan cepat.

Ruan-wei hanya bisa satu jurus 'An-ying-fu-xiang', jurus ini cocok jika berhadapan dengan musuh.

Sambil berlari dia menggunakan ilmu 'An-ying-fu-xiang', Ruan-wei berlari lumayan cepat tapi dibandingkan dengan Gongzi Shi-san-tai-bao tampak masih jauh.

Tidak lama kemudian Ruan-wei berada di jalan Hang-zhou dan kehilangan jejak mereka bertiga tapi Ruan-wei terus mencari-cari di jalan yang agak sepi itu.

Tiba-tiba dia melihat di ujung jalan ada sebuah rumah besar, lampu masih menyala terang.

Walaupun malam sudah larut tapi lampu masih menyala dalam hati dia berpikir, 'Apakah mereka tinggal di sini?"

Api dendam membakar dada Ruan-wei membuatnya kehilangan akal sehat, dia sudah tidak berpikir jauh apakah dia bisa melawan Gongzi Shi-san-tai-bao atau tidak.

Begitu melihat tempat yang mencurigakan, tanpa ragu dia memanjat dinding dan masuk ke pekarangan.

Cahaya lampu keluar dari ruang utara.

Suara angin berhembus mengantarkan suara orang yang sedang berbicara.

Diam-diam dia mendekati sebuah jendela, suara daun berguguran yang tertiup angin menutup suara langkah kakinya.

Da melubangi kertas jendela.

Begitu melihat ke dalam, di ruangan itu duduk berkeliling 12 pemuda berpenampilan seperti tuan muda.

Wajah mereka tidak ada yang mirip dan sebagian malah terlihat aneh.

Ma-xin-jian duduk berhadapan dengan jendela dan dia berkata.

"Semenjak kita menghadang 'Chi-mei-da-xian' untuk mendapatkan 'Tian-long-jian-jing' tiba-tiba Pencuri Selatan muncul membuat Chi-mei-da-xian bisa bersembunyi selama 8 tahun. Sekarang dalam waktu 8 tahun kita baru bisa menemukan persembunyiannya tapi tidak di-sangka Pencuri Selatan itu datang lagi untuk menolongnya."

Yang duduk di sebelah Mai tian-jian adalah Hua Li-ji. Dengan marah dia berkata"

"Pencuri tua ini benar-benar musuh kita. Kita 13 bersaudara harus berkumpul untuk melawannya."

Salah seorang yang duduk memunggungi jendela berkata.

"Bukannya aku meremehkan kemampuan kita, 8 tahun yang lalu kita menyalahkan diri kita sendiri karena tidak mempunyai ilmu tinggi, sehingga kita tidak bisa melawan Xu-bai. Setelah 8 tahun ini kita menganggap ilmu kita sudah maju pesat tapi tadi kita 10 saudara telah kalah bertarung dengannya. Kita tetap tidak bisa mengalahkannya. Jika kita tidak kabur lebih cepat mungkin kali ini beberapa orang di antara kita akan mati."

Gongzi yang duduk di sisi bertubuh kurus berkata.

"Kata-kata Lao-jiu (nomor 9) tidak salah. Menurut kakak ketiga bila kita 13 orang bertarung dengan pencuri tua itu belum tentu kita bisa menang."

Gongzi yang memunggungi jendela berkata lagi.

"Jurus pencuri itu seperti ada 10 bayangan lebih yang menyerang. Walaupun kita mempunyai formasi bagus dan ilmu silat yang lumayan, untuk orang lain kita masih bisa hadapi tapi untuk pencuri tua itu percuma saja."

"Tangan Terampil selalu melindungi Chi-mei-da-xian, apakah selamanya kita tidak bisa mendapatkan 'Tian-long-jian-jing'?"

Kata Hua Li-ji Gongzi yang kurus berkata.

"Kalau begitu lebih baik kita jangan berhadapan langsung dengan Xu-bai. Kata orang-orang persilatan Xu-bai adalah tetua Zheng-yi-bang, jika kita bermusuhan dengan Zheng-yi-bang, kita tidak akan bisa berdiri di dunia persilatan lagi."

Seorang Gongzi berwajah bulat dan seram tiba-tiba berkata.

"Setelah 'Chi-mei-da-xian' mati, kita baru periksa mayatnya."

Yang satu yang berwajah hitam seperti monyet berkata.

"Dengan pukulan kakak kedua paling telat satu bulan kemudian Chi-mei-da-xian baru akan mati!"

Sesudah mendengar Paman Zhang akan mati karena terluka parah, Ruan-wei benar-benar sedih.

Dia ingin masuk ke dalam dan memukul Gongzi yang berwajah bulat itu tapi dia belum melihat Li Ming-zheng, terpaksa dia harus sabar menunggu agar bisa membalaskan dendam ibunya.

"Mengapa Da-ge (kakak tertua) belum muncul?"

Tanya Gongzi yang kurus "Jurus Fen-jing-huan-gu bukan jurus mudah.

Kalau tidak berhati-hati gadis kecil itu akan mati!" (mengurai nadi mengganti tulang).

Jawab Ma-xin-jian Gongzi yang duduk membelakangi jendela sepertinya senang bicara, dia berkata lagi.

"Kakak tidak sabaran, baru menerima murid, dia sudah berharap muridnya mempunyai ilmu silat kuat seperti dia!"

"Da-ge membunuh ibunya kemudian menerima anaknya menjadi murid, sepertinya hal ini kurang baik!"

Kata Hua Li-ji "Tapi gadis kecil ini tidak menganggap perempuan itu adalah ibunya. Jika betul ibunya, wajahnya pasti terlihat sedih!"

Kata Ma-xin-jian "Gadis kecil ini benar-benar berpikiran sesat!"

Kata Hua Li-ji. Tiba-tiba ada yang tertawa serak, masuk seorang Gongzi gemuk. Dia menuntun Ruan-xuan dan tertawa.

"Kalian jangan bingung, aku benar-benar menyayangi gadis kecil ini. Dia sangat berbakat, kelak kalian harus mengajarkan ilmu silat kepadanya!"

"Kita akan mengajarinya jurus andalan kita masing-masing, setelah 5 tahun berlalu dunia persilatan akan bertambah seorang pendekar berilmu tinggi dan masih muda!"

Melihat Li Ming-zheng muncul, melihat wajah adik keduanya sama sekali tidak terlihat sedih, malah menganggap penjahat adalah ayah-nya, Ruan-wei benar-benar marah.

Dia bersiap-siap memecahkan jendela untuk masuk dan melawan Li Ming-zheng.

Kedua tangannya siap mendorong jendela.

Sesudah 7 tahun berlatih ilmu tenaga dalam, tenaganya sangat besar, terdengar KRAK...!

Suara ini mengejutkan Gongzi Shi-san-tai-bao karena jendela hancur digetarkan oleh Ruan-wei dan kayu pun berhamburan.

Begitu Gongzi Shi-san-tai-bao melihat, di luar sama sekali tidak ada siapa pun.

Ma-xin-jian keluar melalui jendela, yang lain juga ikut keluar tapi di luar tidak ada siapa pun juga tidak ada yang dicurigai.

"Lao-wu (nomor 5), apa yang kau temukan?"

Tanya Li Ming-zheng Ilmu meringankan tubuh Ma-xin-jian berada di atas Gongzi Shi-san-tai-bao, di dunia persilatan dia termasuk pesilat yang bisa dihitung jari kehebatannya.

Terlihat dengan serius dia menjawab.

"Apakah Da-ge percaya kepada ilmu meringankan tubuhku?"

Dengan aneh Li Ming-zheng berkata.

"Aku percaya, ilmu meringankan tubuh adik kelima juga tenaga telapak adik kedua dan ilmu pentung adik ketiga, ilmu jari adik keempat, jurus kalian tidak ada yang sanggup melawan!"

Ma-xin-jian menarik nafas.

"Hanya saja 8 tahun yang lalu, aku dikalahkan oleh Tangan Terampil Xu-bai tapi hari ini aku melihat ada seorang yang ilmu meringankan tubuhnya berada di atasku."

Gongzi yang berdiri membelakangi jendela, berbadan pendek, giginya bertaring, matanya sipit, dia adalah Lao-jiu (nomor 9) dari Gongzi Shi-san-tai-bao, namanya adalah Tu Tao, senjatanya adalah sempoa besi.

Dia bisa menyerang dan menahan semua senjata rahasia musuh.

Dia bertanya.

"Apakah orang itu Tangan Terampil Xu-bai?"

"Ketika aku keluar, hanya melihat bayangan nya saja. Walaupun tidak melihat dengan jelas, tapi aku berani mengatakan kalau itu bukan Tangan Terampil Xu-bai."

"Siapa pun dia berarti tempat ini sudah ada yang tahu, kita harus bersiap-siap pindah!"

Seru Li Ming-zheng. Di luar kota Hang-zhou, di sebuah kuburan berdiri 2 bayangan orang, yang satu dengan suara marah berkata.

"Kau membawaku kemari, apa maksudmu?"

Di bawah sinar bulan terlihat ada seseorang memakai baju hitam, kepalanya dibungkus oleh kain berwarna tua.

Dia adalah seorang gadis cantik berumur 16-17 tahun.

Gadis itu mengerutkan alisnya yang tipis dan berkata.

"Dengan baik hati aku menolong nyawamu, apakah itu salah?"

Orang yang pertama bicara adalah Ruan-wei.

Karena jawaban gadis itu masuk akal maka Ruanwei tidak membantahnya lagi, dia malah membalikkan tubuh bersiap-siap pergi.

Gadis itu dengan suara cemas bertanya.

"Kau mau ke mana?"

"Dari mana aku datang, aku akan kembali kesana,"

Jawab Ruan-wei.

"Apakah setelah orang menolongmu, kau sama sekali tidak mengucapkan terima kasih?"

"Mengapa Nona tahu sudah menolong Ruan-wei?"

"Oh, ternyata namamu adalah Ruan-wei!"

Ruan-wei teringat sebelum ibunya meninggal ibunya mengatakan kalau dia bukan bermarga Ruan tapi bermarga Lu.

Karena itu siapa ayah kandungnya dia tidak tahu, maka dia pun merasa sedih.

Pelan-pelan gadis itu berkata.

"Ayahku bermarga Gongsun."

Dia malu menyebut marganya sendiri, tadinya dia ingin memberitahukan namanya tapi karena melihat Ruan-wei begitu acuh dan tidak mendengar perkataannya maka dia berteriak.

"Hai!"

Ruan-wei terkejut dan seperti baru tersadar, dia segera berkata.

"Nona Gongsun!"

"Ternyata kau mendengar kata-kataku juga. Aku membantu ayah melakukan satu hal yaitu mengikuti jejak Gongzi Shi-san-tai-bao. Semalam aku melihatmu berjalan mengelilingi Hang-zhou, aku merasa aneh kemudian aku melihatmu berjalan ke arah tempat tinggal Gongzi Shi-san-taibao. Aku mulai mengerti. Tapi ilmu silatmu terlalu rendah, apakah kau tidak tahu kelihaian Gongzi Shi-san-tai-bao?"

"Aku tahu, Nona tidak perlu merasa cemas."

Semua orang mempunyai gengsi. Nona Gongsun mengatakan ilmu silat Ruan-wei rendah maka Ruan-wei tidak sungkan menjawabnya. Tapi Nona Gongsun tidak merasakannya, dia tetap bicara.

"Kau mengintip di jendela, aku mendengarkan dari atas atap. Tiba-tiba kau memecahkan jendela dan tidak memikirkan akibatnya, benar-benar membuatku tidak mengerti. Maka tanpa perlu pikir panjang aku mencengkram pinggangmu dan membawamu kemari!"

"Apakah Nona mengira perbuatan Nona ini benar?"

"Kalau aku tidak menolongmu, mereka 13 orang, apakah kau masih bisa hidup sekarang?"

"Memang aku tidak ingin hidup lagi, aku harus membunuh orang yang telah membunuh ibuku tapi kau sudah ikut campur sehingga aku tidak bisa balas dendam." --BAB 90 Anak yatim luntang-lantung "Orang sepertimu tidak akan bisa membalas dendam, malah hanya mengorbankan nyawamu sendiri!"

Seru Nona Gongsun. Setelah dihina begitu perasaan tidak suka kepada Nona Gongsun jadi bertambah tapi Ruan-wei tetap berusaha menahan diri dan berkata.

"Ruan-wei bisa mengurus diri sendiri, silah-kan Nona jalan sendiri."

Setelah berkata seperti itu dia berlari kembali ke tempat Gongzi Shi-san-tai-bao.

Lampu sudah dipadamkan, bayangan Gongzi Shi-san-tai-bao sudah tidak terlihat, yang ada hanya rumah kosong.

Ruan-wei mengeluh karena musuhnya sudah pergi tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Nona Gongsun karena Ruan-wei adalah orang yang tahu aturan.

Ketika itu hatinya penuh api dendam maka sikapnya menjadi tidak sopan kepada Nona Gongsun.

Di bagian timur mulai terang, Ruan-wei teringat pada lukanya Paman Zhang juga mayat ibunya yang belum dikubur, dia segera berlari kembali ke kuil Ling-feng.

Sesampainya di kuil Ling-feng, hari sudah terang.

Angin bulan 9 mulai terasa dingin tapi di pagi begitu sepi malah menambah keindahan bumi ini.

Dengan berat hati Ruan-wei naik ke gunung.

Di benaknya selalu teringat sewaktu ibunya terluka dan meninggal maka dia pun mempercepat langkah kakinya.

Sesampainya di kuil Ling-feng disana tidak ada siapa pun, mayat seorang perempuan bopeng pun tidak ada, tanah yang penuh dengan darah juga telah dibersihkan.

TANG...!

Lonceng kuil berbunyi.

Sekarang adalah waktu membaca kitab suci untuk orang-orang kuil.

Di depan ada seorang biksu kecil, kedua tangannya terrangkap menjadi satu.

Dia berkata.

"Guru ada di kamarnya, beliau sedang beristirahat!"

Ruan-wei mengangguk, dia segera pergi ke kamar Paman Zhuang. Chi-mei-da-xian perlahan membuka matanya, dengan suara serak berkata.

"Kau sudah datang Wei-er, mayat ibumu sudah dimasukkan ke dalam peti, sekarang berada di belakang kuil!"

"Paman, Anda... luka Anda.."

Kata Ruan-wei Chi-mei-da-xian tersenyum.

"Tidak apa, pukulan Shen Long Zhang tidak mengenai nadi pentingku jadi aku masih bisa bertahan. Untuk kedua kalinya Tetua Xu menolongku, jika bukan karena beliau ada di bawah gunung aku pasti sudah dicincang oleh Gongzi Shi-san-tai-bao."

"Dimana Yun-yun?"

Tanya Ruan-wei. Chi-mei-da-xian tertawa.

"Nasib Yun-yun sangat bagus, pendekar tua membawanya pergi. Dari surat yang ditulis pendekar tua itu, aku tahu kalau dia akan mene-rima Yun-yun menjadi muridnya dan 5 tahun kemudian Yun-yun akan bisa membalaskan dendam ibunya."

"Wei-er ingin berkelana di dunia persilatan untuk mencari orang yang membunuh ibu dan... Wei-er ingin mencari ayah kandungku."

Chi-mei-da-xian terkejut, berkata.

"Apakah Ruan Da-cheng bukan ayah kandungmu?"

"Kata ibu aku sebenarnya bermarga Lu, tapi ibu tidak memberitahuku siapa ayahku!"

Chi-meida-xian menarik nafas.

"Dunia begitu luas, kau akan mencari kemana?"

Pelan-pelan Ruan-wei berkata.

"Aku tidak bisa menjaga peti mati ibu, biarlah menunggu ayah pulang baru membereskan jenasah ibu."

"Tenanglah, aku akan menyuruh orang untuk mengurusnya. Tapi kau seorang diri berkelana di dunia persilatan, aku khawatir padamu."

"Wei-er percaya asalkan kita mempunyai niat, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Aku pasti akan berhati-hati, kecuali mencari ayah kandung dan membalaskan dendam ibu, aku tidak akan membuat masalah dengan siapa pun. Hanya saja tubuh Paman...."

"Kau tidak perlu khawatir padaku!"

Dari balik baju dadanya dia mengeluarkan sebuah plakat, terbuat dari perak, di atas plakat terukir 8 huruf.

yang memaksa pasti gagal, yang adil pasti sukses!

Di sekelilingnya terukir Mei-hua.

Chi-mei-da-xian dengan senang berkata.

"Aku tidak sangka ternyata Tetua Xu-bai masuk menjadi anggota Zheng-yi-bang. Pendekar tua itu meninggalkan surat berikut plakat, berarti Zheng-yi-bang sudah ikut campur untuk masalah ini. Walaupun Gongzi Shi-san-tai-bao sangat berani tapi mereka akan berpikir untuk melawan Zhengyi bang."

"Apakah Zheng-yi-bang begitu hebat?"

Tanya Ruan-wei. Dengan senang Chi-mei-da-xian menjawab.

"Di dunia persilatan ini, di timur ada Wan-sheng-dao, Huang Zheng-guo, dia seorang pelatih silat, dia mempunyai banyak murid. Di selatan ada Ba-gua-zhang Fan Chong-pin, masih ada Meihua-jian, Du Chang-qin dan Huo-shen-ye Yao Qing-yu, dan banyak lagi yang lainnya."

Setelah menyebutkan beberapa nama orang terkenal, dia seperti kelelahan dan berhenti sejenak lalu dia menyambung lagi.

"Mereka semua adalah pendekar terkenal tapi dibandingkan dengan Zheng-yi-bang, mereka berbeda."

"Bagaimana pengaruh Zheng-yi-bang terhadap dunia persilatan?"

Tanya Ruan-wei.

"Semenjak Zheng-yi-bang berdiri 10 tahun lalu, mereka telah melakukan banyak hal untuk dunia persilatan. Tapi ada Zheng-yi-bang juga ada Tian-zheng-jiao, mereka berseberangan maka banyak pendekar Zheng-yi-bang yang mati di tangan Tian-zheng-jiao."

Dia berhenti sebentar lalu berpesan.

"Wei-er, jika kau berkelana di dunia persilatan, kau harus menghormati orang-orang Zheng-yibang dan jangan membuat masalah dengan orang-orang Tian-zheng-jiao, kau harus ingat pesanku!"

Lalu Ruan-wei pamit pada Paman Zhang dan membawa barang bawaan yang sangat ringan.

Dia tetap berpakaian tipis berwarna putih lalu meninggalkan daerah Xi-hu.

Hari ini dia tiba di Kabupaten Jia-xing.

Di jalan di kota Jia-xing, di bawah langit yang gelap, seperti akan hujan tapi tidak hujan, udara seperti ini siapa pun tidak merasa tenang.

Ruan-wei membawa uang cukup.

Semua uang itu adalah pemberian Chi-mci d.i-xian.

Dia menginap di sebuah penginapan besar.

Walaupun Ruan-wei baru berusia 14 taun, tapi tubuhnya sangat tinggi dan besar, tampak seperti sudah berusia 16-17 tahun.

Pelayan penginapan menganggapnya sebagai orang dewasa dan mengira kalau dia seorang pelajar.

Ruan-wei senang membaca buku maka dalam barang bawaannya berisi banyak buku.

Begitu dia berada di dalam kamarnya, dia mulai membaca.

Di luar sedang hujan gerimis, Ruan-wei tidak mau keluar dari kamarnya, maka dia bersiap-siap memikirkan tempat yang akan dituju esok hari.

Pelayan mengantarkan makan malam.

Melihat Ruan-wei sedang membaca, dia bertanya.

"Apakah Tuan akan pergi ke ibukota untuk mengikuti ujian?"

"Oh, tidak! Tidak!"

Jawab Ruan-wei. Dengan aneh pelayan itu bertanya lagi.

"Tuan begitu tampan mengapa tidak mengikuti ujian musim gugur di ibukota?"

Ruan-wei menggelengkan kepala, bertanya.

"Apakah di kota Jia-xing ini ada orang dunia persilatan yang terkenal?"

Pelayan itu bertambah aneh mengapa seorang pelajar malah menanyakan orang dunia persilatan, maka dengan sungkan dia menjawab.

"Di kota Jia-xing yang ilmu silatnya terkenal adalah Pendekar Huang Zhen-guo. Murid-nya di kota Jia-xing sangat banyak. Jika Tuan ingin belajar ilmu silat untuk menjaga diri sangat cocok menjadikan Huang Zhen-guo sebagai guru!" 'Paman juga pernah menceritakan orang ini, dia banyak murid berarti dia sangat mengenal dunia persilatan. Lebih baik besok aku pergi ke tempatnya untuk mencari tahu,' pikir Ruan-wei. Ruan-wei memberikan tip kepada pelayan, karena senang pelayan jadi menawarkan diri.

"Apakah Tuan ingin diantar? Aku bisa mengatarkan Tuan!"

Melihat Ruan-wei begitu murah hati, dia jadi ingin mendapatkan uang lebih banyak tapi Ruanwei menolak dan menjawab.

"Aku akan mencarinya sendiri."

Hari kedua pagi, setelah berlatih, Ruan-wei segera mencari tempat latihan guru Huang Zhenguo.

Meskipun Huang Zhen-guo hanya seorang pelatih silat tapi hidupnya sangat mewah.

Di depan pintu utama yang berwarna hitam tampak ada dua orang berdandan pelayan sedang berjaga.

Setelah mendekati mereka, Ruan-wei dengan suara kecil bertanya.

"Apakah pahlawan tua Huang Zhen-guo tinggal di sini."

Dengan sorot mata tidak bersahabat, pelayan yang pendek menjawab.

"Betul, ini tempat tinggal Pendekar Huang!"

Dengan rendah hati Ruan-wei bertanya lagi.

"Apakah aku bisa bertemu dengan Pendekar Huang?"

Pelayan pendek itu dengan nada tidak sabar menjawab.

"Jika ingin mengunjungi Pendekar Huang mengapa kau begitu tidak tahu aturan?"

"Aturan apa?"

Tanya Ruan-wei terkejut.

"Kalau ingin menjadi murid Pendekar Huang masa pada kunjungan pertama tidak membawa hadiah atau lainnya, kalau tidak membawa apa-apa, boleh... asalkan kau bisa mengangkat gembok batu sebelah sana, kau boleh bertemu dengan Pendekar Huang!"

Ruan-wei melihat di sisi pintu masing-masing ada gembok setinggi 1.50 meter terbuat dari batu. Gembok itu penuh dengan lumut, kelihatannya sudah lama tidak dibersihkan atau digeser. Ruan-wei tertawa.

"Maksud kedatanganku kemari bukan untuk menjadi murid Pendekar Huang tapi aku ingin bertanya sesuatu pada beliau."

Pelayan yang pendek tampak lebih marah lagi.

"Apalagi kalau ingin minta tolong pada Pendekar Huang, lebih-lebih diharuskan membawa hadiah."

Karena Ruan-wei datang tergesa-gesa, dia tidak tahu ada aturan seperti itu, maka dia hanya bisa menjawab.

"Ini... ini...."

Pelayan yang pendek itu melihat gembok bat u dan tertawa dingin.

"Jika kau tidak sanggup menggeser gembok itu, belilah dulu hadiah untuk Pendekar Huang, baru kembali ke sini."

Pelayan melihat Ruan-wei masih muda, apalagi seperti pelajar, dia merasa yakin Ruan wei tidak akan bisa menggeser gembok batu itu.

Apalagi udara begini dingin, dia hanya mengenakan baju tipis, pasti dia hanya pelajar miskin dan dat.inj-, kesana hanya untuk meminta uang kepada majikannya maka nada bicaranya sangat sombong.

Ruan-wei tidak menyangka pendekar yajij begitu terkenal hanya seorang kerdil yang begitu licik.

Tapi Ruan-wei juga berpikir mungkin ini hany.

i kesombongan penjaga pintu maka dia tetap tersenyum dan berkata.

"Aku hanya ingin menanyakan satu hal kepada Pendekar Huang, aku lupa membawa hadiah, apakah aku boleh kembali nanti?"

Pelayan pendek itu tertawa terbahak-bahak. Dengan nada menghina dia berkata.

"Jika semua orang seperti Tuan, apakah tuanku akan memberitahukan begitu saja?"

Sejak kecil Ruan-wei memang banyak membaca buku tapi dia seorang pemuda, tentu saja lama-lama dia tidak bisa menahan diri.

Dalam hati dia berpikir, 'Dari mana datangnya aturan meminta hadiah seperti ini?' Maka dia pun marah.

Dengan tenang dia lalu berjalan ke gembok batu itu, sedikit membungkukkan tubuh, dia berhasil mengangkat gembok batu itu.

Ratusan kilogram gembok berhasil diangkat Ruan-wei kemudian pelan-pelan diletakkan kembali ke tempatnya lalu dia berjalan ke arah penjaga pintu.

"Apakah aku sudah boleh bertemu dengan Pendekar Huang?"

Penjaga itu segera menjawab.

"Boleh, boleh, silakan, silakan!"

Ruan-wei tidak suka dengan orang kerdil sepertiitu maka tanpa sungkan lagi dia pun masuk.

Kedua penjaga itu saling berpandangan dan tidak bisa mengatakan apa-apa.

Ternyata setiap tamu yang ingin bertemu dengan Huang Zhen-guo, tahu kalau Huang Zhenguo orang yang rakus dengan hadiah maka semua orang selalu membawakan hadiah untuk minta bertemu dengannya dan tidak ada seorang pun yang bisa dan berani mengangkat gembok batu itu.

Sesudah berjalan di jalan yang terbuat dari batu lalu berbelok.

Terlihat ada sebuah tanah lapang seluas 100 meter persegi.

Cuma tampaknya akan hujan tapi masih banyak laki-laki yang sedang berlatih silat, tubuh atasnya tidak memakai baju.

Di sisi lapang ada sebuah rumah besar.

Ruan-wei berjalan menuju ke sana.

Orang-orang yang berlatih silat di lapangan melihatnya masuk, tapi tidak ada seorang pun yang menyapanya.

Mereka mengira Ruan-wei datang untuk berlatih silat.

Begitu memasuki rumah itu ada sebuah ruangan besar, ruangan itu dilapisi dengan permadani tebal.

Di sekelilingnya ditempeli kertas putih berhuruf hitam.

Ternyata kertas itu berisi tulisan tentang jurus-jurus ilmu silat.

Di sana ada beberapa pasang pemuda sedang berlatih silat dengan senjata golok.

Di ruangan hanya ada satu jalan masuk mungkin di sana tempat tinggal Wan-sheng-dao Huang Zhen-guo.

Ruan-wei berdiri di depan, segera seorang pemuda yang membawa golok datang menghampirinya dengan nada galak bertanya.

"Kau mencari siapa?"

Sebenarnya ketika Ruan-wei datang dia berniat akan bersikap sopan tapi karena tadi di depan pintu dia telah dicegat dengan tidak sopan maka dia pun menaruh sikap tidak hormat.

Apalagi orang yang bicara dengannya sekarang, wajahnya penuh dengan hawa membunuh maka dia pun mulai marah, jawabnya.

"Aku ingin bertemu Huang Zhen-guo!"

Tiba-tiba ada yang melintas di dekat Ruan-wei, dia berbisik kepada orang itu.

Ternyata orang ini adalah salah satu penjaga yang tubuhnya agak tinggi.

Sesudah mendengar bisikan orang itu, wajahnya segera berubah.

Sambil tertawa dia bertanya.

"Umur Tuan masih begitu muda, tapi sudah mempunyai tenaga begitu besar, ada keperluan apa mencari guruku?"

Mendengar dia jadi bertanya dengan sopan, Ruan-wei dengan senyum menjawab.

"Aku mencari Pendekar Huang, ada sedikit hal yang ingin kutanyakan pada beliau."

Dari dalam keluar seorang pak tua yang tinggi dan besar, dia tertawa terbahak-bahak.

"Siapa yang mencariku?"

Nada bicaranya sangat sombong. Pemuda ini segera mendekatinya lalu berbisik kepada pak tua ini. Mata pak tua itu melihat Ruan-wei kemudian tertawa lagi.

"Masih muda tapi sudah mempunyai ilmu tinggi, benar-benar hebat. Teman kecil, ada apa mencariku?"

Ruan-wei sudah tidak suka kepada Wan-sheng-dao, tapi dia tetap dengan sopan menjawab.

"Sudah lama aku mendengar nama besar pahlawan tua dan mengetahui tuan memiliki banyak murid, aku bisa bertemu dengan Tuan benar-benar sangat beruntung."

"Apakah betul sahabat kecil ini mempunyai dendam dengan Gongzi Shi-san-tai-bao?"

Ruan-wei tidak menaruh curiga, dia segera menjawab.

"Betul! Memang aku mempunyai dendam yang dalam pada Gongzi Shi-san-tai-bao!"

"Apakah hanya karena bisa mengangkat gembok batu jadi bisa mengalahkan Gongzi Shi-santai-bao, hmm...kemampuanmu masih jauh."

"Apakah kau tahu ilmu golok Sun-xiao-tian? Dia belajar padaku."

Sun xiao-tian adalah salah dari Gongzi Shi-san-tai-bao.

Sebenarnya ilmu golok Sun-xiao-tian, orang yang paling kecil dari Gongzi Shi-san-tai-bao, bukan belajar dari Huang Zhen-guo.

Hanya saja ketika Sun-xiao-tian masih remaja dia pernah belajar di tempat Huang Zhen-guo.

Dia bisa terkenal di dunia persilatan karena dia belajar kepada seorang pesilat aneh.

Huang Zhen-guo dengan muka tebal mengaku-ngaku bahwa dia adalah guru Sun-xiao-tian, sebenarnya ini hanya untuk memasang namanya saja.

Sebenarnya Huang Zhen-guo bisa terkenal, alasan pertamanya karena kulit mukanya tebal.

Kedua, muridnya sangat banyak, padahal ilmu silatnya tidak seberapa.

Begitu Ruan-wei tahu, salah seorang Gongzi Shi-san-tai-bao adalah murid Huang Zhen-guo, maka dia segera membalikkan tubuh dan pergi dari sana.

Huang Zhen-guo dengan dingin berkata.

"Apakah sahabat kecil akan pergi begitu saja?"

Ruan-wei masih terus berjalan, begitu keluar dari ruangan, dia merasa di belakangnya ada angin kencang menyerang.

Maka dengan jurus An-ying-fu-xiang' dia menghindari serangan dari belakang itu.

Pemuda yang menyerang itu tidak melihat cara Ruan-wei menghindar, lalu dia menusuk lagi dari samping.

Perlu diketahui, serangan golok biasanya menyabet dulu lalu menusuk tapi pemuda ini melakukannya dengan cara menusuk dulu kemudian diubah menjadi menyabet agar Ruan-wei tidak bisa kabur.

Ruan-wei tidak menyukai pemuda ini, karena dia diam-diam menyerang Ruan-wei dari belakang.

Melihat lawan menusuk dengan tenaga lemah, walaupun dia tidak bisa ilmu silat tapi dia mengambil kesempatan ini bersiap-siap memukul wajahnya.

Golok yang ditusukkan lalu ditarik kembali, terdengar BUG..., wajahnya terkena pukulan Ruanwei.

Tenaga yang dikeluarkan Ruan-wei tidak terlalu besar tapi membuat wajah pemuda itu berlumuran darah.

Dia jatuh terduduk, goloknya pun terjatuh di samping tubuhnya.

Huang Zhen-guo tidak menyangka muridnya begitu tidak berguna, hanya satu jurus saja sudah dikalahkan oleh orang lain.

Jurus-jurus yang digunakan Ruan-wei tampak sangat aneh.

Dia sendiri merasa dia belum tentu bisa mengalahkan anak muda ini.

Murid-muridnya memang banyak tapi mereka tetap seperti gentong nasi, belajar ilmu silat hanya 1-2 juru s umum.

Maka tidak ada seorang pun yang berani mende-kati dan menyerang Ruan-wei.

Wajah Huang Zhen-guo menjadi merah, dia ingin menutupi kekalahan ini.

Tiba-tiba ada bayangan berkelebat, di sisi Huang Zhen-guo berdiri seorang gadis berusia sekitar 15 tahun memakai baju dan celana berwarna kuning.

Gadis itu menarik tangan Huang Zhen-guo dan bertanya.

"Kakek, apa yang terjadi?"

Melihat cucunya datang, Huang Zhen-guo sangat senang karena sejak berusia 6 tahun, dia sudah dikirim oleh ayahnya ke guru Lei yin di E-mei-shan, untuk menjadi muridnya.

Setiap tahun hanya pulang satu kali, sekarang sudah tahun kesembilan.

Huang Zhen-guo yang tidak enak harus bertarung dengan Ruan-wei, begitu cucunya datang, dia ingin cucunya yang bertarung untuk merebut kembali gengsinya yang sudah hilang.

Sengaja Huang Zhen-guo berkata.

"Bocah ini telah melukai paman gurumu."

Sejak kecil Huang Xiao-ying belajar ilmu silat di gunung, sifatnya sangat keras. Dia membentak kepada Ruan-wei.

"Hei, kenapa kau melukai paman guruku?"

Melihat lawannya adalah seorang anak perempuan, Ruan-wei malas meladeninya maka dia pun segera membalikkan tubuh dan berniat pergi. Huang Xiao-ying kembali membentak.

"Berhenti!"

Kemudian dia melempar sesuatu ke arah Ruan-wei.

Ruan-wei melihat ada benda yang dilempar ke arahnya, dia mengira itu adalah senjata rahasia.

Maka Jurus 'An-ying-fu-xiang' segera dikeluarkan menghindar.

Senjata rahasia itu pun terjatuh, begitu dilihat ternyata hanya sebuah gelang tangan.

Dalam hati Huang Xiao-ying berpikir, 'Jurus apa tadi?' Dia segera menyerang mengikuti gelang tangan yang dilemparnya.

Ruan-wei tetap menghindar dengan cara tadi.

Tapi Huang Xiao-ying gadis yang pintar, serangan tangan segera diganti dengan tendangan.

Ruan-wei yang sedang berusaha menghindar terkena tendangan kaki Huang Xiao-ying.

Ruan-wei tidak bisa ilmu silat, dia tidak bisa lolos dari tendangan Huang Xiao-ying.

Pinggang yang tertendang terasa sakit dan dia jatuh terguling-guling.

Ruan-wei tertendang dan jatuh terduduk di bawah.

Huang Zhen-guo tertawa terbahak-bahak.

"Teman kecil, cucuku saja tidak sanggup kau lawan, masih ingin membalas dendam. Sekalipun kau mempunyai 10 nyawa, itu pun tidak akan cukup."

Terdengar suara petir berbunyi, kemudian turun hujan sangat besar.

Huang Zhen-guo dan lainlain sudah masuk ke ruangan, hanya tinggal Ruan-wei duduk seperti patung di bawah siraman air hujan.

Tubuh Ruan-wei sudah basah kuyup, rambutnya juga basah.

Dia terus berkata.

"Dengan cara apa aku bisa membalas dendam, dengan cara apa aku bisa membalas dendam...."

Huang Zhen-guo sudah berpesan kepada pemuda yang telah dipukul Ruan-wei tadi.

"Usir bocah tengik itu!"

Karena merasa dendam, pemuda itu segera memanggil kedua temannya, mereka siap mengusir Ruan-wei.

Ruan-wei seperti tidak melihat kedatangan mereka.

Dia hanya membuka kedua matanya yang besar.

Dari pandangan matanya tampak dia sedang kecewa juga sedih.

Tiba-tiba Huang Xiao-ying berteriak.

"Sudahlah, biarkan dia pergi sendiri."

Kemudian balik berkata kepada Huang Zhen-guo.

"kakek, biarkan dia pergi sendiri, dia sudah kutendang sampai terluka."

Huang Zhen-guo sangat menyayangi cucunya ini apalagi dalam satu tahun baru bisa berkumpul sekali. Dia tidak ingin mengecewakan cucunya maka dia membentak Ruan-wei.

"Pergi, cepat! Apakah kau masih ingin dipukul lagi?"

Ruan-wei melihat HuangXiao ying kemudian berusaha bangun.

Dengan terhuyung huyung dia meninggalkan lapangan itu.

Sampai sosok Ruan-wei menghilang, Huang Xiao-ying tetap tenggelam dalam lamunannya.

Ruan-wei meninggalkan tempat itu, apakah itu dia harus berterima kasih atau membenci, mungkin semuanya telah bercampur menjadi satu.

Salju baru turun, tidak begitu lebat.

Pejalan kaki tidak sebanyak musim kemarau.

Orang yang berjalan mulai memakai baju tebal dan berat.

Ruan-wei menunggang kuda, di dalam hatinya seperti ada ribuan kuda yang sedang berlari, 'Aku harus belajar ilmu silat tinggi tapi di mana aku bisa mencari guru untuk belajar silat?' Setelah keluar dari rumah Huang Zhen-guo, dia membeli seekor kuda dan membiarkan kuda membawa berlari entah kemana.

Tujuannya hanya satu yaitu bertemu dengan seorang pesilat hebat untuk dijadikan guru.

"Permisi, permisi!"

Di belakang terdengar ada yang berteriak, kemudian seekor kuda melintas di depannya.

Ruan-wei menghindar ke pinggir kemudian tetap dengan tidak bersemangat dia menghela kudanya, kuda yang berlari cepat itu kembali lagi ke sisi Ruan-wei, kemudian berhenti, nafas kudanya terengah-engah.

Tapi orang yang ada di atas kuda dengan tenang bertanya.

"Saudara kecil, kau mau ke mana?"

Ruan-wei melihat orang yang menunggang kuda itu adalah seorang laki-laki sekitar 30 tahun lebih, wajahnya tampan dan sikapnya kuat, dia berpakaian sutra berwarna abu, punggungnya tegak lurus, dia tampak sangat tenang.

Ruan-wei merasa aneh dengan kedatangan orang ini.

Dia menggelengkan kepala, berarti entah mau ke mana, dia sendiri pun tidak jelas.

Penunggang kuda ini pelan-pelan berjalan beriringan dengan Ruan-wei dan bertanya.

"Saudara kecil, kau bermarga apa?"

"Aku bermarga Ruan."

Penunggang kuda itu seperti sangat kecewa terhadap sikap pemuda yang begitu acuh kepadanya.

Dia merasa aneh karena orang yang di depannya lebih acuh dibandingkan dirinya sendiri.

Sebenarnya Ruan-wei sedang berpikir harus pergi ke mana untuk mencari guru belajar ilmu silat, dia tidak merasa aneh jika adaorangyang menanya-kan marganya.

Penunggang kuda ini bicara sendiri.

"Aku lihat kau seperti temanku!"

Tapi dia juga menertawakan dia sendiri.

"di dunia ini orang yang mirip sangat banyak, kenapa aku harus merasa aneh?"

Dia tersenyum dan berkata lagi.

"Saudara kecil, aku lihat wajahmu penuh dengan rasa khawatir, apayang telah kau alami?"

Karena Ruan-wei sedang berpikir untuk mencari guru silat, maka dia segera menjawab.

"Aku ingin mencari guru silat tapi ke mana aku harus mencarinya?"

Karena masalah ini sudah dipikirkan sejak lama maka dia mengungkapkannya dengan sangat alami. Dia seperti mengungkapkan masalah yang sulit dipecahkan.

"Di depan ada seorang guru terkenal, mengapa kau tidak meminta menjadi gurumu?"

"Siapa dia dan tinggal di mana?"

Penunggang kuda itu tertawa.

"Orang ini Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin!"

"Fan Zhong-pin! Fan Zhong pin!"

Tiba-tiba Ruan-wei teringat nama ini karena Paman Zhuang pernah bercerita tentang orang ini.

"Apakah dia seperti Huang Zhen-guo? Jika benar lebih baik aku tidak usah pergi ke sana."

Kata penunggang kuda itu.

"Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin sangat terkenal di dunia persilatan. Saudara kecil, kalau kau mencarinya pasti tidak salah!"

Setelah bicara seperti itu, dia melarikan lagi kudanya.

Lengan baju bagian kanannya beterbangan.

Ruan-wei tidak menyangka, orang yang begitu sehat ternyata hanya mempunyai sebelah tangan.

Ruan-wei berpikir, 'Kelihatannya orang itu pun seorang pesilat.

Guru yang dikaguminya pasti bukan orang sembarangan.' Karena itu Ruan-wei sudah menentukan pilihannya, dia berangkat ke kota Qi-men.

Di sebelah selatan kota Qi-men ada sebuah rumah besar, karena semalam hujan salju maka sekarang pekarangan tertutup oleh salju putih.

Pintu rumah terbuka, keluarlah seorang pelayan tua, rambutnya putih seperti salju.

Dia melihat ke sekeliling, di bawah pohon cemara duduk seorang pemuda berbaju putih.

Pak tua itu bicara sendiri, 'Anak muda yang tidak bisa menjaga tubuh, mengapa hari masih begitu pagi kau sudah ada di sini?' Begitu mendengar suara pintu dibuka, pemuda itu membuka matanya, dia berdiri untuk melemaskan kakinya yang kaku juga membersihkan salju yang menempel di bajunya.

Pelan-pelan dia berjalan ke arah pelayan tua yang sedang menyapu salju.

Sambil membungkukkan tubuh dia memberi hormat dan bertanya.

"Paman, apakah Tetua Fan sudah pulang?"

Pak tua itu menggelengkan kepala dan dia menyapu lagi. Remaja berpakaian putih itu tidak banyak berbicara, dia kembali lagi ke tempatnya. Karena tidak tega pelayan itu bertanya.

"Tuan kecil, setiap hari kau datang ke sini menanyakan Pendekar Fan, dan sudah berlangsung selama setengah bulan, apakah kau tidak merasa bosan?"

Remaja berpakaian putih itu sambil tersenyum menggelengkan kepala. Pelayan tua itu menarik nafas dan berkata.

"Entah kapan tuan besar baru pulang, besok jangan datang lagi, udara begitu dingin nanti kau akan sakit."

Dengan penuh berterima kasih remaja ini berulang kali mengucapkan.

"Terima kasih."

Dan dia pun meninggalkan tempat itu.

Pelayan tua itu sungguh tidak mengerti mengapa remaja ini begitu bersikukuh harus berguru kepada tuan besarnya.

Sesudah mendapatkan ilmu silat lalu apa gunanya?

Hari kedua pagi, salju turun lebih lebat.

Pintu pekarangan rumah dibuka lebih awal setengah jam dari hari biasa.

Begitu pelayan itu menoleh, remaja berpakaian putih sudah duduk bersila menunggu di bawah pohon.

Tampak pak tua itu sedikit tidak tenang, tapi dia pura-pura seperti tidak terjadi sesuatu.

Dia masih menyapu salju.

Dengan hormat remaja itu mendekatinya dan bertanya.

"Paman, apakah Tetua Fan sudah pulang?"

Pak tua itu akhirnya tertawa.

"Kemarin malam beliau sudah puking."

Dengan senang Ruan-wei berkata.

"Apakah Paman bisa memberi tahu kepada beliau kalau Ruan-wei ingin bertemu dengannya?"

Pelayan tua itu menggelengkan kepala.

"Tuan besar kemarin malam hai u pulang, tapi segera pergi lagi."

Ruan-wei terlihat kecewa. Pelayan tua itu tertawa.

"Tapi aku sudah menceritakan kepada beliau kalau setiap pagi kau datang ke sini untuk mencarinya. Sepertinya tuan besar terpengaruh dengan ceritaku, beliau mengatakan akan menerimamu menjadi muridnya."

Rvian-wei benar-benar merasa senang, dia ingin memeluk pelayan tua ini. Kemudian dari balik pintu keluar pelayan itu mengeluarkan setumpuk hadiah yang terikat rapi dan berkata.

"Kata tuan besar beliau akan menerimamu menjadi murid, tapi dia tidak mau menerima hadiahhadiah ini, kau harus membawa kembali."

Dengan malu-malu Ruan-wei menerima kembali hadiah-hadiah itu tapi dalam hati dia memuji, 'Ini baru benar-benar sikap seorang pendekar, dia tidak mau menerima hadiahku sedikit pun!' Pelayan tua itu berpesan lagi.

"Tuan besar setuju menjadikanmu sebagai muridnya tapi ada satu hal yang harus kau lakukan."

Dengan serius Ruan-wei bertanya.

"Tetua berpesan apa, aku yang muda akan sekuat tenaga melakukannya."

Pelayan tua itu tampak agak khawatir.

"Aku rasa hal ini bukan hal yang mudah!"

Dia membawa Ruan-wei masuk ke pekarangan, di depan rumah sekitar 3 meter dari sana ada sebuah tiang setinggi satu orang dewasa dan lebarnya satu pelukan orang dewasa.

Pelayan tua itu menunjuk tiang batu itu dan berkata.

"Kata tuan besar jika kau ingin belajar ilmu silat darinya, pertama-tama kau harus sanggup mencabut tiang batu ini, kalau tidak beliau tidak mau menerimamu menjadi muridnya."

Dengan diam Ruan-wei mencoba-coba memeluk tiang batu itu dan mencabutnya.

Tapi tiang batu itu seperti berakar, sedikit pun tidak bergeming.

Dia mundur dan jatuh terduduk di bawah kemudian dia pun duduk bersila untuk mengatur nafas, setelah merasa tubuhnya kembali segar, dia maju lagi mencoba mencabut tiang batu itu.

Kali ini dia tidak mencabut tiang batu melainkan menggoyang-goyangkannya.

Salju di atas tiang batu sudah meleleh menjadi air dan salju yang turun menempel memenuhi tubuhnya, kemudian meleleh menjadi air membasahi bajunya.

Tapi tiang batu itu tetap berdiri dengan kokoh seperti semula.

Melihat Ruan-wei begitu lelah, pelayan tua itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Tidak lama kemudian Ruan-wei duduk di bawah karena dia merasa terlalu lelah.

Begitu jatuh dia segera duduk bersila untuk mengatur nafas.

Sesudah tubuhnya kembali segar, dia berdiri untuk memeluk tiang batu itu, berusaha menggoyangkan tiang batu itu agar bisa dicabut.

Dengan cara seperti itu dia terus melakukannya sampai tiga kali tapi tetap tidak berhasil.

Dengan penuh air mata Ruan-wei menurunkan lengan bajunya dan pelan-pelan berjalan keluar.

Ketika pelayan tua itu datang membawakan teh panas dan kue-kue, tapi Ruan-wei sudah pergi entah ke mana.

Setengah bulan sudah berlalu, udara semakin dingin.

Ruan-wei hanya mengenakan baju tipis.

Setiap pagi dia datang untuk mencabut tiang batu sampai lelah kemu dian baru meninggalkan tempat itu.

Setiap hari Ruan-wei hanya menemukan pelayan tua itu.

Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin belum pernah terlihat.

Dia juga malas menanyakan apakah Ba-gua-zhang sudah pulang atau belum, dia tetap berusaha mencabut tiang batu itu.

Hari ini, pagi-pagi Ruan-wei sudah berada di pekarangan.

Dia merasa kelelahan selama 10 hari lebih ini berusaha mencabut tiang itu, hal ini membuat jantungnya seperti tertekan dan merasa tidak nyaman.

Dia juga tidak mengatur nafas lagi.

Begitu tiba di depan tiang batu, dia membuka baju dan memeluk tiang itu menggunakan tenaga dalam yang sudah dilatihnya selama 7 tahun.

Dia membentak.

"Lepas!"

Tiba-tiba dia merasa tenggorokannya gatal dan tidak tahan, baru saja dia membuka mulutnya darah sudah menyembur keluar membuat tiang batu penuh dengan darah.

Tubuh Ruan-wei jadi lemas, dia jatuh terduduk dan air mata terus mengalir.

Dia benar-benar sedih, darah masih terus keluar dari mulutnya.

Dalam hati dia berpikir, seumur hidupnya, dia tidak akan bisa mencabut tiang ini maka dia mengambil bajunya kembali, berusaha berdiri dan melangkah keluar.

Tiba-tiba dari samping terdengar suara lembut.

"Jangan banyak bergerak!"

Dia merasa ada telapak tangan yang menekan punggungnya.

Tangan itu keluar hawa panas.

Ruan-wei segera duduk dan mengatur nafas agar aliran panas ini bisa menyatu dengan nafasnya.

Kira-kira 20 menit kemudian, Ruan-wei mulai bisa mengambil nafas dengan lancar.

Telapak di punggungnya sudah diangkat.

Ruan-wei bersujud.

"Terima kasih, Tetua sudah menolongku, membuat Ruan-wei tidak kehilangan tenaga dalam yang sudah dilatih selama 7 tahun."

Di depan Ruan-wei duduk seorang pendekar tua, alis dan janggutnya sudah memutih, dahinya berkeringat. Sambil tertawa dia berkata.

"Bangun! Bangunlah!"

Ruan-wei menuruti perintahnya dan berdiri. Pendekar tua itu menunjuk tiang batu.

"Benda itu terkubur 3 meter lebih, jika tidak mempunyai tenaga dalam 30 tahun, jangan harap bisa mengangkatnya. Setiap hari kau berusaha mencabutnya, hari ini tiang batu itu bergoyang. Umurmu masih muda tapi tenaga dalammu sudah tinggi, itu sangat sulit didapat."

Ruan-wei merasa senang sekali tapi pendekar tua itu berkata.

"Tapi aku tetap tidak bisa menerimamu menjadi muridku."

Pelan-pelan pendekar tua itu berdiri. Ketika bicara tadi, tenaganya sudah pulih. Dengan senang dia berkata.

"Kau punya semangat pantang menyerah, aku sungguh kagum. 11 tahun yang lalu di Zhongnan-shan, aku pernah menyadari satu hal. Hal ini membuatku merasa kalau ilmu silatku biasabiasa saja walaupun aku mempunyai nama tersohor."

Dia melihat Ruan-wei dan berkata.

"Walaupun aku mengajarimu apa yang aku bisa kuajarkan tapi ilmuku hanya begitu-begitu saja. Jika bertemu dengan pemuda yang 11 tahun lalu, tidak perlu 10 jurus kau pasti akan kalah, untuk apa aku mengajarimu ilmu silat?"

Dia menarik nafas.

"Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin sangat terkenal di dunia persilatan, tapi 11 tahun yang lalu dia sudah kecewa pada dirinya dan bersumpah tidak akan membanggakan diri dengan ilmu silatnya. Jika ada orang yang ingin belajar ilmu silat kepadanya, kecuali kalau orang itu sanggup mengangkat tiang batu yang 11 tahun lalu dikubur di depan rumah. Jika tidak walaupun dia sangat berbakat, aku tetap tidak akan menerima menjadi muridku."

Hatinya bergejolak karena orang yang sanggup mencabut tiang batu ini mana mungkin akan menjadikan dia sebagai guru.

Maksudnya tidak lain adalah menolak permintaan orang-orang yang ingin menjadi muridnya, karena dia menganggap ilmu silatnya tidak pantas untuk diajarkan.

Ruan-wei merasa sangat berterima kasih kepada Fan Zhong-pin karena telah menolongnya, dia juga tidak akan memaksa Fan Zhong-pin menerimanya menjadi murid.

Dengan penuh sikap hormat dia berkata.

"Aku sangat kagum dengan sikap Tetua. Sebelum kemari, aku tidak tahu apa kesulitan Tetua, aku mohon maaf. Tapi Tetua telah menolongku, budi ini tidak akan kulupakan."

Fan Zhong-pin tertawa.

"Itu masalah kecil, tidak perlu diingat-ingat, sahabat kecil, karena kau terluka maka aku harus membantumu."

"Budi ini tidak bisa diungkapkan dengan ucapan terima kasih. Aku pamit dulu."

Fan Zhong-pin mengatar Ruan-wei hingga ke depan pintu, dengan bangga dia berkata.

"Dengan bakat begitu besar, sahabat kecil, kau pasti akan mendapatkan ilmu silat yang sangat tinggi." --BAB 91 Tawa Gongsun Lan Setelah pamit pada Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin, Ruan-wei berlari ke penginapan di mana dia menginap. Luka beratnya baru sembuh. Setelah tiba di penginapan, wajahnya masih pucat seperti kertas. Tiba-tiba di belakangnya ada yang memanggil.

"Saudara Ruan! Saudara Ruan!"

Seorang laki-laki memakai kemeja, tangan kirinya menuntun kuda, lengan baju kanannya kosong dan berkibar tertiup angin.

Di atas kuda terikat dua bungkusan.

Dia adalah orang yang sebulan lalu bertemu dengannya dan memberi tahu Ruan-wei untuk mencari Fan Zhong-pin.

Orang yang tangannya tinggal satu itu tersenyum mendekatinya.

Ruan-wei dengan hormat berkata.

"Ternyata Paman, apa kabar?"

Orang yang tangannya tinggal satu itu tertawa.

"Aku datang mencari seorang tetua, tapi aku tidak menemukannya. Untung aku bertemu dengan teman lama. Sebulan ini aku bermain hingga puas dan aku membawa pulang teh yang terkenal dari sana, benar-benar perjalanan yang menyenangkan."

Sambil berkata seperti itu dia menunjuk bungkusan yang terikat di punggung kuda, dengan bersemangat dia berkata.

"Istriku paling senang minimi teh jenis ini, kali ini aku membawa begitu banyak, dia pasti merasa senang!"

Mengingat istrinya, dia tertawa. Dari sini dapat diketahui kalau dia sangat sayang pada istrinya. Ruan-wei melihat orang begitu gembira. Ruan-wei merasa iri.

"Paman, hatimu benar-benar baik!"

Sekarang orang yang tangannya tinggal satu itu baru melihat wajah Ruan-wei yang pucat. Dengan aneh dia bertanya.

"Saudara kecil, ada apa, kenapa wajahmu...."

Mengingat masa depannya yang suram, Ruan-wei menundukkan kepalanya. Orang yang tangannya tinggal satu itu bertanya lagi.

"Saudara kecil, apakah kau sudah menemui Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin?"

Melihat dia begitu ramah seperti perlakukan keluarga sendiri, Ruan-wei menarik nafas dan berkata.

"Aku bodoh maka aku tidak diterima oleh Tetua Fan!"

Dengan pandangan tidak percaya orang yang tangannya tinggal satu itu berkata.

"Orang yang begitu berbakat sepertimu ditolak oleh Pak Tua Fan, apakah ini tidak salah?"

Kemudian dia berkata lagi.

"Mari kita bicara di rumah makan dulu."

Mereka pun pergi ke rumah makan yang berada paling dekat, setelah memilih tempat khusus, sambil sarapan mereka mengobrol dan Ruan-wei menceritakan apa alasannya sehingga dia ditolak oleh Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin.

Sesudah mendengar itu orang yang tangannya tinggal satu itu berkata.

"Pantas Fan Zhong-pin tidak mau menerima murid lagi. Sebenarnya ilmu silatnya sangat tinggi tapi jika dibandingkan dengan murid-murid yang diajar oleh orang aneh itu, diajauh tertinggal!"

Kemudian dia memejamkan mata, sepertinya dia sedang mengenang masa lalu kemudian dia berkata.

"Ketika itu tepatnya 11 tahun yang lalu, aku juga pernah mendengar kalau pemuda itu adalah murid pak tua tanpa nama dari Qing-hai. Ilmu silatnya tinggi dan sombong. Mungkin hal ini telah melukai hati Fan Zhong-pin tapi Fan Zhong-pin sendiri terlalu meremehkan ilmu silatnya."

Dengan aneh Ruan-wei bertanya.

"Siapa pak tua tanpa nama itu? Dia bisa mengajarkan ilmu silat yang membuat Tetua Fan menjadi gentar!"

Mata orang yang tangannya tinggal satu itu bersorot bingung. Dia berkata.

"Pak tua tanpa nama ini masih mengajar seorang murid yang mempunyai ilmu silat tinggi, pintar, juga lincah tapi sayang... hhhh! Mana boleh aku menjelekkan orang lain di belakang mereka...."

Tapi dengan cepat dia sudah kembali tenang dan berkata pada Ruan-wei.

"Pak tua tanpa nama ini di dunia persilatan termasuk orang yang sangat aneh. Hanya beberapa orang saja yang pernah bertemu dengannya, yang lain hanya tahu kalau di Qing-hai ada seorang pak tua tanpa nama yang sifatnya aneh."

Ruan-wei tiba-tiba teringat sesuatu, dia tertawa dan bertanya.

"Xiao Wei belum mengetahui nama Paman?"

Orang yang tangannya tinggal satu itu tertawa.

"Aku menanyakan namamu tapi Aku sendiri lupa memperkenalkan diri. Namaku adalah Zhongjing, aku tinggal di Jin-ling, aku mempunyai istri dan seorang putri. Mertua perempuanku tinggal bersama kami."

"Paman Zhong, kau datang jauh dari Jin-ling, benar-benar bukan hal mudah."

"Ketika di Jin-ling, aku mendengar ada seorang tetua yang selama 10 tahun tidak pernah bertemu, muncul di sini maka istriku menyuruhku ke sini untuk melihat. Jika tetua ini muncul di tempat lebih jauh pun, aku tetap akan datang untuk melihatnya. Jika bukan karena tetua ini mengobatiku, seumur hidup aku hanya tinggal di ranjang dan menjadi orang cacat."

Zhong-jing mengganti topik pembicaraan.

"Adik kecil, mengapa kau meninggalkan keluargamu dan berkelana di dunia persilatan, dan mencari guru untuk belajar ilmu silat?"

Wajah Ruan-wei terlihat sedih.

"Aku sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Ibuku dibunuh, adik laki-laki dan adik perempuan sudah terpencar entah ke mana, dan... dan... siapa ayah kandungku pun, aku tidak tahu...."

"Apakah ayah kandungmu bukan bermarga Ruan?"

Ruan-wei menggelengkan kepala.

"Aku meninggalkan kampung halaman karena ingin belajar ilmu silat demi membalaskan dendam ibuku. Alasan satu lagi adalah mencari ayah kandungku. Ketika ibu meninggal, dia memberitahuku kalau ayah kandungku bermarga Lu...."

Degan terkejut Zhong-jing berdiri. Dengan suara gemetar dia bertanya.

"Apakah kau benar-benar bermarga Lu?"

Karena Zhong-jing berdiri, dari loteng dia bisa melihat jelas pejalan kaki yang lalu lalang.

Tibatiba di antara pejalan kaki itu terlihat sosok tinggi besar memakai baju pelajar juga berwajah tampan.

Dia adalah tetua yang dicarinya setengah mati.

Dengan terburu-buru dia keluar tapi tidak lupa berpesan kepada Ruan-wei.

"Jangan pergi dulu, ada hal sangat penting yang ingin kubicarakan denganmu. Sekarang aku ada urusan penting, sebentaraku akan kembali...."

Dia berlari turun dari loteng.

Dari atas loteng Ruan-wei melihat Zhong-jing berlari ke arah orang yang dicarinya.

Kuda yang ditungganginya pun lupa dibawa.

Dengan penuh tanda tanya Ruan-wei duduk kembali, 'Ada apa sehingga dia harus pergi dengan tergesa-gesa?

Apakah telah terjadi sesuatu?

Apa yang membuatnya terkejut?

Sepertinya dia telah melihat tetua yang dicarinya!

Tapi begitu mendengar aku bermarga Lu, kenapa dia begitu terkejut?

Ada hal penting apa yang ingin dibicara-kan denganku?"

Matahari sudah terbenam, malam sudah tiba.

Ruan-wei masih terus menunggu di rumah makan itu tapi Zhong-jing belum kembali.

Rumah makan akan tutup, terpaksa Ruan-wei meninggalkan rumah makan ini.

Sambil menuntun kuda Zhong-jing, dia kembali ke penginapan.

Malam sudah tiba.

Pejalan kaki masih berlalu lalang.

Dengan susah payah Ruan-wei baru tiba di penginapan tapi dari tidak jauh dari sana ter-dengar ada suara perempuan yang memanggil.

"Ruan-wei! Ruan-wei!..."

Ruan-wei menoleh.

Jalan masih ramai, siapakah yang memanggilnya?

Karena Ruan-wei tidak kenal dengan seorang gadis pun, mungkin Ruan-wei telah salah dengar.

Dia masuk ke penginapan dan berpesan agar pelayan mengurusi kuda yang dibawanya.

Barang yang terikat di punggung kuda diturunkan dan dibawanya masuk ke dalam.

Begitu masuk kamarnya, dia mulai merasa tidak enak badan, kepalanya sakit.

Setelah duduk, dia mulai batuk kemudian dari mulutnya mengeluarkan darah lagi.

Ternyata luka dalamnya masih belum sembuh total walaupun sudah diobati oleh Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin dadanya tetap sakit.

Setelah melewati satu hari penuh, lukanya kambuh lagi.

Baru saja dia mengeluarkan satu tangannya untuk menyeka darah di bibirnya, pintu kamarnya diketuk.

Karena mengira yang datang adalah pelayan maka dia berseru.

"Masuklah!"

Pintu kamar terbuka, muncul seorang gadis cantik yang kepalanya dibungkus oleh kain dan berbaju ungu ketat.

Di balik punggungnya terselip pedang.

Ruan-wei segera mengenali gadis ini.

Gadis ini adalah penolongnya dan yang membawa meninggalkan tempat tinggal Gongzi Shi-santai-bao, nona Gongsun.

Dia juga yang mengatakan kalau ilmu silat Ruan-wei sangat rendah.

Ruan-wei segera menyembunyikan sapu tangan kebelakang tubuhnya, kalau tidak, nona itu pasti akan menertawakannya lagi.

Karena terburu-buru membersihkan darah, di bibirnya masih tersisa darah.

Sorot mata gadis ini tajam dan dia sudah melihatnya.

Dia ingin tertawa dan berkata.

"Jangan terlalu tegang, aku tahu kau terluka di tempat Paman Fan!"

Di luarnya Ruan-wei tampak sangat ramah, sebenarnya di dalam hati dia sangat tinggi hati.

Dari kata-kata nona Gongsun tadi, sepertinya nona ini sudah tahu asal usul luka dalam Ruanwei.

Karena malu, dia pun muntah darah lagi.

Gadis berpakaian ungu itu tampak sangat cemas juga terkejut.

Dia berteriak.

"Tahan nafas dulu!"

Kemudian dari balik baju dadanya, dia mengeluarkan sepasang botol kecil berwarna putih kemudian dia mengeluarkan pil merah sebesar kelengkeng. Dia berkata.

"Cepat minum obat ini!"

Pil ini mengeluarkan wewangian yang sedap, membuat orang yang telah mencium wangi ini merasa segar.

Ruan-wei tahu itu adalah obat untuk luka dalam.

Tapi karena dia membenci gadis ini, maka mulutnya, tetap terkatup rapat sambil menggelengkan kepala menolak memakan obat ini.

Gadis berpakaian ungu ini jadi cemas, maka dia segera menotok nadi dada Ruan-wei kemudian tangan kirinya mendorong dahi Ruan-wei, lalu obat itu dimasukkan ke mulut Ruan-wei.

Karena Ruan-wei tidak bisa bergerak, begitu obat itu masuk ke mulutnya, dia segera menelannya.

Gadis berpakaian ungu seperti tidak tahu aturan bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh terlalu dekat.

Dia menggendong Ruan-wei dan diletakkan di atas ranjang kemudian membuka baju luar Ruan-wei dan mencopot sepatunya.

Dari kecil Ruan-wei banyak membaca buku maka dia sangat tahu aturan yang berlaku di masyarakat.

Sekarang dia diperlakukan seperti ini oleh gadis berpakaian ungu, dia benar-benar malu dan wajahnya pun menjadi merah.

Melihat Ruan-wei begitu malu, gadis berpakaian ungu itu tertawa terbahak-bahak.

Dia seorang gadis yang teliti, setelah membuka baju dan sepatu Ruan-wei, dia pun menyelimuti Ruanwei, benar-benar sangat telaten.

Melihat gadis ini begitu baik kepadanya, Ruan-wei meiasa berterima kasih dan diam-diam berpikir, 'Umur gadis ini lebih tua beberapa tahun dengan dariku, jika dia mengurus aku seperti seorang kakak, mengapa kami tidak boleh dekat-dekat?"

Karena berpikir seperti ini, sikapnya tidak kaku lagi. Gadis berpakaian ungu itu berpesan.

"Tidurlah! Besok pagi kau akan sembuh, aku akan berpesan kepada pelayan supaya jangan mengganggumu."

Gadis itu lalu keluar kamar.

Begitu terbangun hari sudah siang.

Ruan-wei tertidur selama 5-6 jam.

Saat duduk tubuhnya terasa lebih segar, lalu dia pun duduk bersila untuk mengatur nafas.

Tubuhnya benar-benar terasa segar.

Diam-diam dia merasa terkejut dan berpikir, 'Benar-benar aneh, mengapa aku bisa mengatur nafas lebih cepat dari biasanya beberapa kali lipat?' Sebetulnya obat yang diminum semalam adalah obat 'Long-hu-wan' (pil naga dan harimau) yang dibuat oleh 'Fei-long-jian ke' Pendekar Gongsun yang bersembunyi selama beberapa puluh tahun di perbatasan Xi-zhang (Tibet).

Setelah dia minum 'Long-hu-wan' kecuali tenaga dalamnya bertambah kuat 3 tahun, obat ini melancarkan darah di sekujur tubuhnya.

Pintu kamar lalu dibuka, nona Gongsun sudah mengganti bajunya dengan baju panjang berwarna ungu, pundaknya tertutup oleh syal kulit berwarna ungu.

Dia membawa makanan yang masih mengepul dan berjalan ke arahnya.

Sarapan pagi yang panas.

Gadis itu tertawa.

"Apakah kau merasa lebih baik? Makanlah, kau akan merasa lebih baik dan nyaman."

Karena sangat berterima kasih, Ruan-wei memanggil.

"Kakak...."

Nona Gongsun malah dengan malu-malu berkata.

"Jangan panggil aku kakak. Ayahku memanggilku Lan-er, kau juga bisa memanggilku Lan-er."

Sejak kecil Gongsun Lan ikut ayahnya tinggal di perbatasan Tibet, sifatnya sudah seperti perempuan Tibet, sangat terbuka dan ramah. Ruan-wei memanggilnya lagi.

"Lan... Kakak Lan...."

Dia tetap tidak terbiasa memanggil Lan-er maka nona Gongsun pun mulai marah.

"Kakak Lan, sama dengan memanggil kakak juga!"

"Kakak Lan, terima kasih...."

Katanya lagi Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih, perkataan lainnya tidak bisa terucap. Gongsun Lan jadi tertawa.

"Sudahlah, jangan terus memanggilku kakak, ayo cepat makan!"

Ruan-wei menurut, dia pun duduk dan mulai makan.

Karena dari sore kemarin dia belum makan maka dia merasa sangat lapar, makanan nya terasa wangi dan manis.

Gongsun Lan yang berdiri di sisinya ingin tertawa melihat cara Ruan-wei makan.

Ruan-wei telah menghabiskan makanan yang ada di dalam piring, tapi, dia masih merasa lapar.

Dengan malu-malu dia berkata.

"Kakak Lan, mengapa bisa mengenal Tetua Fan?"

Sambil tertawa Gongsun Lan menjawab.

"Sebenarnya aku tidak sengaja tahu kalau kau terluka. 7 tahun yang lalu, Paman Fan pernah datang ke Tibet, ke rumahku. Setiap hari beliau selalu mengobrol dengan ayahku. Saat itu usiaku baru 10 tahun, setiap hari aku selalu berada di dekatnya agar beliau mau mengajariku ilmu silat. Kali ini aku datang ke Zhong-yuan untuk mengunjunginya."

Melihat Ruan-wei penuh perhatian mendengar perkataannya, dia merasa lebih bersemangat lagi untuk bercerita.

"Kau baru meninggalkan tempat Paman Fan, dan aku kebetulan akan ke sana. Melihat dia termenung di depan pintu, aku menanyakan dari mana asalnya darah ini? Awalnya beliau tidak ingin memberitahukannya padaku, tapi karena aku terus mendesak akhirnya beliau baru menceritakan kejadiannya dari awal sampai akhir, kau ingin belajar ilmu silat kepadanya. Maka aku pun segera menyusulmu."

Setelah itu Gongsun Lan tertawa melihat Ruan-wei.

Ruan-wei duduk dengan tenang.

Sehabis mendengar cerita Gongsun Lan, kebencian pada Nona Gongsun pun menghilang, dia juga tidak mempermasalahkan keadaannya karena gagal menjadi murid Fan Zhong-pin.

Dengan santai dia berkata.

"Aku mempunyai dendam yang dalam dan harus dibalas. Kali ini Tetua Fan tidak bisa menerimaku menjadi muridnya, aku harus mencari guru lain. Walaupun merasa lelah dan sulit, aku tetap akan berjalan untuk mencari guru."

"Ikutlah denganku ke Tibet, biar ayahku yang mengajarimu ilmu silat."

Karena sifat Gongsun Lan sangat terbuka, dia tidak berpikir panjang mencetuskan pikirannya. Ruan-wei dengan nada berterima kasih bertanya.

"Kakak Lan, apakah ayahmu tidak akan meremehkanku?"

Gongsun Lan melihat Ruan-wei setuju dengan idenya. Dengan senang dia berkata.

"Menurut Paman Fan, kau adalah orang yang sangat berbakat dalam ilmu silat. Ayahku tidak mirip Paman Fan. Jika dia bertemu dengan-mu, dia pasti akan mengajarimu ilmu silat."

Dengan pelan-pelan Ruan-wei berkata.

"Aku... ke Tibet, sepertinya tidak akan leluasa."

Maksud Ruan-wei adalah seorang laki-laki dan perempuan melakukan perjalanan jauh sepertinya tidak akan leluasa. Tapi Gongsun Lan sudah berkata.

"Mengapa tidak leluasa? Jarak dari sini ke Tibet memang jauh tapi aku hafal jalan ke sana, aku jamin kita tidak akan tersesat asalkan kita tidak berpencar maka keadaan akan aman-aman saja."

Mendengar Gongsun Lan begitu sungguh-sungguh, Ruan-wei jadi bertekad mengikutinya ke Tibet, daripada dia seorang diri berkelana di Zhong-yuan.

Hari ini karena Ruan-wei harus menunggu Zhong-jing ditambah lagi dia baru sembuh maka Gongsun Lan tidak tergesa-gesa melanjutkan perjalanan dan berjanji besok akan berangkat ke Tibet bersama dengan Ruan-wei.

Gongsun Lan seperti seekor burung pipit dia mengobrol dan tertawa senang di kamar Ruanwei, dia juga menyiapkan keperluan besok untuk melakukan perjalanan jauh.

Walaupun dia lebih tua tiga tahun dari Ruan-wei tapi dalam pembicaraan atau pekerjaan, dia lebih pintar dan lincah.

Setelah malam tiba, semua orang tertidur, keramaian yang terjadi di pagi hari tidak terdengar.

Akhirnya bumi menjadi hening.

Ruan-wei juga sudah tidur, di dalam tidur dia bermimpi, dia seperti mendengar ada suara jendela dibongkar maka dia pun segera bangun.

Orang yang berada di luar jendela sepertinya tahu suara ini membangunkan Ruan-wei maka orang itu pun segera berhenti membongkar.

Tidak lama kemudian terdengar ada suara dari luar yang berkata.

"Aku orang yang telah membunuh ibumu!"

Tadinya Ruan-wei mengira yang membongkar jendela adalah pencuri tapi begitu mendengar kalau orang itu adalah orang yang telah membunuh ibunya yaitu 'Shen-long-shou' Li Ming-zheng, karena dendam, tanpa pikir panjang dia langsung membuka jendela dan meloncat keluar.

Di depan jendela dalam jarak beberapa meter, bayangan seseorang yang gemuk melambai-kan tangan.

Melihat orang itu adalah Li Ming-zheng, dia tidak berpikir panjang apakah ini adalah perangkap atau bukan.

Hanya beberapa menit, mereka sampai di lapangan pinggiran kota.

Orang yang pendek dan gemuk itu tiba-tiba berhenti menunggu Ruan-wei.

Dia tertawa terbahak-bahak kemudian dari balik pohon keluar dua bayangan manusia.

Mereka berdiri di kiri dan kanan Ruan-wei.

Begitu dilihat dengan benar, mereka adalah Hua Li-ji dan Ma-xin-jian.

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Gongzi Shi-san-tai-bao telah datang 3 orang.' Karena Ruan-wei dikurung oleh 3 orang, maka dia tidak berani menyerang Li Ming-zheng untuk membalaskan dendam ibunya.

Wajah bulat Li Ming-zheng tertawa seram.

"Bocah, orang yang telah membunuh ibumu ada di sini, ayo kemarilah!"

Tapi Ruan-wei tampak tenang, dia tahu jika pukulannya tidak mengena Li Ming-zheng, maka dia akan mati di tangan ketiga orang ini.

Diam-diam dia mengerahkan semua tenaganya di sepasang tangannya, asalkan dia bisa membunuh salah satu dari mereka, mati pun dia rela.

Li Ming-zheng berteriak.

"Bocah tengik. Kau harus tahu diri, cepat keluarkan buku kain pemberian setan Zhuang, baru kami akan memaafkanmu dan tidak membunuhmu."

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Mengapa mereka tahu aku menyimpan Tian-long-jian-jing milik Paman Zhuang?' Tiba-tiba dia teringat pada keselamatan Paman Zhuang, dengan suara gemetar dia bertanya.

"Apa yang kalian lakukan terhadap Paman Zhuang?"

Wajah Li Ming-zheng bergetar, dengan nada seram dia menjawab "Setan Zhuang mempunyai plakat Zheng-yi-bang, kami Gongzi Shi-san-tai-bao bukan orang bodoh, kami tidak akan mencarinya.

Tapi umurnya juga tidak akan panjang, tidak butuh waktu satu bulan dia pasti akan mati."

Mendengar perkataan ini, Ruan-wei benar-benar sedih, air matanya menetes. Li Ming-zheng tertawa.

"Menurut para biksu di kuil itu, di dunia ini hanya kau yang menjadi keluarganya. Tampaknya kata-kata ini tidak salah."

Dengan galak Ruan-wei menjawab.

"Kalau benar, lalu kenapa?"

Li Ming-zheng tertawa.

"Kalau benar, itu lebih baik, karena setelah dia mati, kami mencari barang peninggalan setan Zhuang ternyata tidak ada, benar-benar membuat kami kecewa. Untung adik kesembilan pintar, dia mengatakan bahwa setan Zhuang sadar dia tidak akan hidup lama dia pasti memberikan benda yang paling berharga..Tian-long-jian-jing kepada orang yang terdekat. Kami pikir kata-kata Lao-jiu (nomor 9) tidak salah. Begitu kami mencari tahu, benar saja, orangyang dekat dengannya, ...kau!"

Ruan-wei menangis.

"Seumur hidup Paman Zhuang hanya sendiri, kalian benar-benar orang yang tidak punya perasaan, mengapa kalian membunuhnya?"

TawaLi Ming-zheng seperti burung hantu.

"Di dunia ini hanya kau yang membelanya, sungguh membuat dia bahagia. Tapi dia tidak tahu kalau Tian-long-jian-jing yang diberikan kepada-mu malah akan membuatmu sengsara!"

Segera Ruan-wei teringat pada pesan Zhuang Shi-yan, dia mengatakan supaya jangan ada orang yang mengetahui bahwa 'Tian-long-jian-jing' berada di tangannya, maka dia pun berhenti menangis dan berteriak.

"Aku tidak mengerti apa maksudmu, lebih-lebih tidak mengerti apa itu 'Tian-long-jian-jing'?"

"Kau benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?"

Li Ming-zheng tertawa "Aku hanya tahu kau yang membunuh ibu dan pamanku!"

Jerit Ruan-wei Pelan-pelan Li Ming-zheng mendekatinya, dengan nada seram dia berkata.

"Cobalah ilmu silatku, setelah itu aku akan melepaskan urat dan tulangmu. Waktu itu kau pasti akan tahu tentang semua ini."

Ruan-wei menyiapkan tenaga untuk melawan.

Saat itu sebuah cahaya datang seperti kilat, Li Ming-zheng segera meloncat ke atas.

Cahaya itu lewat di bawah kakinya.

Kemudian terdengar suara perempuan yang berkata.

"Kalian jangan memaksanya!" --BAB 92 Biksu tuli dan bisu dari India Dibarengi suara bentakan, datang seorang perempuan berpakaian ungu dengan pedang terselipkan di punggung, di pinggangnya terselip secara berjajar pisau terbang berbentuk daun Yang Liu. Dua pisau terbang siap diarahkan ke jantung Li Ming-zheng, dia berteriak.

"Jika kau berani maju selangkah lagi, kau boleh merasai 'Zui-ming-dao' milikku!" (pisau pengejar arwah). Zui-ming-dao, ketiga kata ini menggetarkan hati 3 Gongzi Tai-bao yang berada di sana. Sejak beberapa tahun lalu Zui-ming-dao sangat terkenal di dunia persilatan. Senjata rahasia ini milik 'Fei-long-jian ke' Pendekar Gongsun. Ruan-wei berteriak.

"Kakak Lan, jangan lepaskan mereka, mereka telah membunuh Pendekar Zhuang!"

"Ternyata Nona Gongsun, apa demi marga Zhuang Nona akan bermusuhan dengan kami?"

Kata Li Ming-zheng Gongsun Lan berteriak kepada Ruan-wei.

"Hayo kembali, mereka mempunyai niat tidak baik kepadamu!"

Li Ming-zheng tertawa terbahak-bahak.

"Apakah Nona sendiri berniat baik kepadanya?"

Hua Li-ji yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata dengan dingin.

"Kami sudah memeriksa tubuh Chi-mei-da-xian, tidak disangka ada juga seorang gadis yang berani memeriksanya."

"Semua karena Tian-long-jian-jing'!"

Kata Ma-xin-jian. Alis Gongsun Lan berdiri, dia membentak.

"Diam!"

Li Ming-zheng malah tertawa terbahak-bahak dan menyindir.

"Kami 13 bersaudara membagi menjadi beberapa kelompok untuk mencari tuan kecil ini, tidak disangka kami kalah cepat dari Nona."

Hua-li-ji menyambung.

"Bukan hanya terlambat, kita hampir tertipu pergi ke Tibet."

Ma-xin-jian menambahkan.

"Jika kita terlambat, tuan kecil ini tidak bisa kita temukan lagi!"

Gongsun Lan mengeluarkan pedangnya dan membentak.

"Jika kalian sembarangan bicara lagi, aku akan melanggar aturan ayah dan akan membunuh kalian!"

Wajah Ruan-wei mulai memucat, dia berkata dengan pelan-pelan.

"Biarkan mereka berkata yang sebenarnya."

Dengan wajah marah Li Ming-zheng berkata.

"Sebulan lalu Nona telah mengikuti kami, apakah di kira kami tidak tahu? Dulu di Tibet karena kami tidak hati-hati bicara membuat ayahmu tahu kalau kami mengetahui keberadaan 'Tian-longjian-jing'. Seumur hidupnya 'Fei-long-jian ke' sangat menyukai pedang. Sekarang dia mengetahui keberadaan sebuah ilmu pedang, mana mungkin dia akan melepaskan kesempatan ini. Beberapa tahun ini dia selalu menyuruh Ba-gua-zhang Pak tua Fan untuk menguntit kami. Tidak disangka sekarang sudah digantikan oleh putrinya."

Segera Ma-xin-jian berkata.

"Jurus Pendekar Gongsun memang lihai, hampir-hampir Tian-long-jian-jing dibawa ke Tibet."

Kemarahan Gongsun Lan memuncak, dia jadi melupakan pesan ayahya. Pedang mengayun, menyerang Ma-xin-jian. Hua Li-ji dengan dingin berkata.

"Kau menguntit kami selama sebulan, dari gerakanmu hari ini, kami sudah mengetahui maksudmu!"

Tangan kiri Gongsun Lan sudah memegang pisau terbang, dia menyerang Li Ming-zheng dan Hua Li-ji.

Karena dalam keadaan marah menyerang, maka sasarannya j adi tidak tepat, pisau terbangnya bisa ditahan.

Li Ming-zheng dan Hua Li-ji bersama-sama menyerang Gongsun Lan.

Ilmu Gongsun Lan sangat tinggi.

Meski mereka bertiga bergabung pun masih tetap kalah darinya, tapi karena marah dan mereka terus menyindir membuat Gongsun Lan tidak bisa bersikap tenang.

Ratusan jurus sudah berlalu tapi tetap tidak ada yang kalah ataupun menang, mereka tidak sadar Ruan-wei tahu-tahu sudah menghilang.

Begitu melihat Ruan-wei sudah tidak ada di tempat, Gongsun Lan yang sejak tadi tidak tenang bertarung segera mengeluarkan jurus aneh.

Tiga Gongzi Tai-bao tidak mengenal jurus aneh ini maka mereka mundur dengan cepat.

Kesempatan ini digunakan oleh Gongsun Lan untuk keluar dari kepungan tiga Gongzi Tai-bao, dan dengan cepat kembali ke kota.

Sesampainya di penginapan, pelayan baru saja membuka mata dan masih mengantuk, dia membuka pintu.

Dengan tergesa-gesa Gongsun Lan bertanya.

"Apakah tadi ada yang pergi?"

Karena pelayan merasa kesal, maka dia pun mengomel.

"Hari sudah malam, masih bersikeras membawa kuda, benar-benar seperti orang gila!"

Begitu melihat kamar Ruan-wei kosong, dan barang-barangnya sudah dibawa semua. Gongsun Lan bertanya lagi kepada pelayan.

"Ke arah mana perginya tamu tadi?"

Pelayan mengomel lagi.

"Aku masih mengantuk, mana tahu dia pergi ke mana?"

Gongsun Lan menghentakkan kakinya, dia berlari ke jalan untuk mencari sosok Ruan-wei, tapi bayangannya pun. sudah tidak tampak. Dengan sedih Gongsun Lan meneteskan air mata.

"Ruan-wei, kau salah paham kepadaku, kau sudah menafsirkan jelek kebaikanku...."

Dari mulut tiga Gongzi Tai-bao, Ruan-wei mengetahui kalau Gongsun Lan ternyata juga mengincar Tian-long-jian-jing'.

'Pantas setelah pergi dari kediaman Fan Zhong-pin, dia segera mencariku, ternyata semua itu demi Tian-long-jian-jing!' "Pantas di penginapan dia berpura-pura mengurusku dengan baik, ternyata semua itu hanya mencari simpatiku agar aku memberitahu kan keberadaan Tian-long-jian-jing!"

"Dia masih menginginkan aku pergi ke Tibet untuk belajar ilmu silat kepada ayahnya, ternyata ini hanya kedok saja. Setibanya aku sampai di Tibet, aku akan bujuk oleh ayahnya dan tanpa syarat aku memberikan 'Tian-long-jian-jing'! Segera saja dalam benaknya terpikir, apa yang ada hubungannya dengan Gongsun Lan selalu dihubungkan dengan 'Tian-long-jian jing'! Ruan-wei merasa tertipu mentah-mentah, perasaannya berubah menjadi begini. Ketika seseorang berperasaan semakin dalam, begitu tahu semua itu hanya kebohongan, dia akan merasa sakit yang sangat dalam. Hari baru terang, dengan bingung Ruan-wei melihat keadaan di sana. Ternyata tempat ini adalah gunung. Gunung itu bernama 'Jun-shan', yang berada di sebelah selatan kota tadi. Ruan-wei menunggang kuda Zhong-jing, dia tidak melihat arah hanya memilih tempat yang sepi dan melarikan kudanya. Dalam hatinya berpikir, 'Lebih baik aku naik ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindar bertemu dengan orang dan hal-hal yang memusingkanku,' dia terus berjalan. Jalan di gunung berliku-liku. Begitu hari terang, Ruan-wei melihat gunung penuh dengan salju. Walaupun tenaga dalam Ruan-wei sangat tinggi tapi dia merasa dinginnya cuaca begitu menusuk tulang. Kuda sudah tidak tahan udara dingin dan nafasnya mulai terengah-engah, keempat kakinya terus menendang. Karena takut kudanya kedinginan, Ruan-wei membawa kudanya berlari di puncak gunung. Begitu kudanya berkeringat karena terus berlari, mereka sudah berada di puncak sebuah gunung. Ruan-wei turun dari kuda maksudnya adalah ingin mengeluarkan nafas yang sudah lama terpendam di dalam hati. Puncak gunung sangat terjal. Dengan susah payah Ruan-wei mendakinya. Di puncak gunung ada lapangan dengan luas sekitar 20 meter persegi. Di tengah lapang duduk seorang lelaki, dia adalah Paman Zhong Zhong-jing yang menghilang selama 2 hari 2 malam. Ruan-wei berlari dengan cepat dan memanggil.

"Paman!". Begitu Zhong-jing menoleh dia melihat Ruan-wei, segera berteriak.

"Saudara kecil, ternyata kau!"

Ternyata kemunculan Ruan-wei yang secara tiba-tiba membuatnya merasa aneh, tapi karena ada masalah penting, membuatnya tidak antusias melihat Ruan-wei.

Dengan aneh Ruan-wei melihat ke tengah lapangan, tampak ada seseorang, yang satu adalah seorang laki-laki setengah baya berpakaian pelajar, tulang pipinya tinggi, kedua matanya cekung, hidungnya mancung, berwajah pucat.

Yang di sisi lainnya ada seorang biksu berwajah hitam tapi wajahnya sangat ramah.

Dia memakai baju usang dan tipis.

Telapak tangan yang sebelah berwarna putih dan sebelah lagi berwarna hitam saling menempel, kedua mata mereka terpejam dan mereka tidak bergerak.

Tiba-tiba Zhong-jing menarik nafas.

"Orang berpakaian putih adalah tetua yang selama ini kucari, yaitu Tuan Jian!"

Dengan aneh Ruan-wei bertanya.

"Mengapa... Tetua beradu telapak dengan biksu itu?"

"Ketika aku berada di rumah makan aku melihat sosok Tuan Jian maka aku pun tergesa-gesa mengejarnya tapi Tuan Jian berjalan seperti terbang. Ketika aku mengejarnya sampai di sini, mereka berdua sudah bertarung. Aku tidak berani mengganggu mereka maka aku pun hanya duduk di sini untuk melihat, ternyata mereka sudah dua hari dua malam bertarung."

Ruan-wei tidak tahu bahwa di dunia persilatan Tuan Jian adalah orang misterius.

Dia memiliki wibawa yang sangat tinggi.

Sekarang mendengar mereka bisa bertarung 2 hari berturut-turut, dia merasa terkejut.

Zhong-jing dengan nada cemas berkata.

"Sekarang mereka sudah berhenti bertarung, hanya beradu telapak. Ini adalah suatu pertarungan yang berbahaya dan menguras tenaga dalam. Mereka telah beradu telapak selama lima jam."

"Apakah Paman menemani mereka di sini selama dua hari dua malam?"

Zhong-jing mengangguk.

"Karena mereka belum tampak kalah menangnya, aku jadi tidak bisa meninggalkan tempat ini."

Mendengar ini Ruan-wei mengambil kesempatan ini turun gunung. Dari pelana dia mengambil makanan dan membawanya lagi ke puncak gunung. Dia memberikan makanan itu kepada Zhongjing.

"Paman sudah dua hari tidak makan, sekarang makanlah sedikit!"

Di dalam bungkusan berisi ayam bakar, daging sapi, dan kol. Zhong-jing hanya melihat sekilas, dia berkata dengan pelan.

"Aku tidak selera makan, simpan saja dulu!"

Selama dua hari ini Zhong-jing selalu mengkhawatirkan keadaan Tuan Jian, dia sudah lupa kalau perutnya lapar.

Makanan ini dibungkus kembali dan diletakkan di pinggir.

Dengan diam Ruan-wei duduk di sisi Zhong-jing.

pembawaan Tuan Jian ketika bertarung memancarkan kalau orang luar tidak diijinkan membantu.

Zhong-jing yang punya niat membantu jadi tidak berani bergerak, kalau tidak, asalkan dia memukul biksu itu pelan-pelan, maka dia akan mati.

Ruan-wei sangat polos.

Dalam hati berpikir, 'Jika bertarung harus dengan cara jujur,"

Dia juga tidak berniat jahat, diam-diam menyerang dari belakang.

Dalam udara yang begitu dingin tidak ada orang yang mau naik ke gunung ini, maka di puncak gunung ini hanya ada mereka berempat yang duduk seperti patung.

Kecuali suara angin yang berhembus tidak terdengar suara lainnya.

Sedetik demi sedetik berlalu, langit mulai gelap.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan.

Dua orang yang beradu telapak tergetar dan terbang.

Terdengar Tuan Jian berteriak.

"Biksu bisu tuli, Long-hu (naga harimau) benar-benar hebat!"

Mereka bersama-sama terlempar ke atas, mereka juga bersama-sama turun ke bawah.

Hasil akhir pertarungan ternyata sama kuat.

Zhong-jing dengan cepat berlari ke sisi Tuan Jian.

Terlihat darah terus keluar dari sudut mulutnya.

Darah membasahi tubuh dan wajahnya, walaupun kedua mata terbuka tapi tidak terlihat bersemangat.

Zhong-jing memeluk Tuan Jian.

Dengan penuh air mata dia berteria.

"Paman Guru Jian! Paman Guru Jian!..."

Beberapa kali dia memanggil, mulut Tuan Jian terbuka, tapi dia tidak bisa menjawab. Zhong-jing segera berpesan kepada Ruan-wei.

"Aku akan menggendong Tuan Jian turun gunungdan menyembuhkan lukanya...."

Biksu itu terus berbaring di bawah dan tidak bergerak, mungkin karena kulitnya hitam dan bajunya sudah usang, tidak terlihat apakah dia muntah darah atau tidak.

Tapi salju yang ada di bawahnya terlihat ada darah.

Matanya memandang ke tempat jauh tapi pandangannya begitu kosong dan kesepian....

Ruan-wei mengikuti Zhong-jing dari belakang, tapi sewaktu dia menoleh pada biksu itu, dia melihat sorot mata kecewa.

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'aku pernah mendengar dari Tuan Jian tentang biksu Harimau bisu tuli, aku kira orang itu adalah dia.

Seumur hidupnya karena bisu dan tuli, hidupnya sudah cukup sengsara, jika sekarang kami meninggalkannya di sini, dia akan mati kedinginan mungkin juga mati kelaparan!' Ruan-wei tidak tega melihat biksu itu mati dengan cara seperti itu.

Karena itu dia berkata kepada Zhong-j ing.

"Paman, di bawah ada seekor kuda, kuda itu adalah kuda yang paman tinggalkan di penginapan. Barang yang ada di atas kuda masih utuh, paman naik kuda itu saja! Aku... aku... akan mengurus biksu itu...."

Zhong-jing mengkhawatirkan luka Tuan Jian, dia sudah tidak peduli hal lain lagi. Baju kulit yang dipakainya dilemparkannya kepada Ruan-wei dan berkata.

"Malam hari di gunung sangat dingin. Aku harus pergi sekarang!"

Hari semakin malam.

Ruan-wei mengambil baju kulit itu.

Dia menggendong biksu bisu tuli itu turun dari lapangan atas.

Dia ingin turun gunung mencari penginapan tapi sudah tidak sempat, terpaksa dia mencari sebuah gua untuk menghindari dinginnnya udara malam hari.

Hari sudah gelap.

Ruan-wei berhasil mendapatkan sebuah gua kering dan tertutup.

Karena dia menggendong biksu itu sambil berlari maka biksu itu tergetar hingga muntah darah lagi.

Darah membasahi baju depan Ruan-wei.

Ruan-wei menyobek sehelai kain dari dadanya.

Dia membersihkan darah yang mengalir dari mulut biksu bisu tuli, dan membiarkannya tertidur di atas baju kulit.

Dari balik dada dia mengeluarkan sebuah botol.

Itu adalah arak bagus untuk mengusir rasa dingin.

Pelan-pelan dia memberi minum kepada biksu itu.

Walaupun sudah minum arak tapi Ruan-wei masih terus gemetar.

Ruan-wei membuka baju kulit yang dipakainya untuk menutupi tubuh biksu.

Udara sangat dingin.

Ruan-wei merasa sangat lelah dan lemas, dia berbaring di sisi biksu dan tertidur pulas.

Hari kedua, hari sudah siang.

Ruan-wei terbangun.

Dia merasa dia tertidur di atas baju kulit.

Tapi biksu itu sudah tidak ada.

Dengan cepat Ruan-wei pun bangun, dia melihat biksu itu sedang duduk bersila mengatur nafas.

Ruan-wei membuka bungkusan makanan.

Dia memakan daging sapi dan kue dan keluar gua mengambil salju untuk diminum.

Dia meletakkan ayam bakar dan kue di depan biksu itu kemudian keluar gua untuk menggerakkan tubuh dan berjalan-jalan.

Setengah jam kemudian dia pun kembali, terlihat biksu itu masih duduk bersila.

Ayam bakar tidak disentuh-nya sama sekali tapi kue yang disediakan sudah habis.

Diam-diam Ruan-wei menertawakan dirinya sendiri, 'dia seorang biksu, mana mungkin makan daging?' "Biksu ini sudah bisa makan mungkin lukanya tidak terlalu berat."

Pikirnya, maka dia pun mulai membereskan barang-barangnya, siap untuk turun gunung. Baru saja Ruan-wei keluar dari gua, terdengar suara.

"Ya! Ya!"

Ada suara yang memanggil. Dia masuk kembali lagi ke dalam gua, terlihat biksu itu dengan dua mata besar melihatnya. Dengan hormat Ruan-wei bertanya.

"Tetua ingin mengatakan apa?"

Biksu itu menunjuk telinga juga mulut. Ruan-wei berpikir, 'dia tuli, terpaksa aku berbicara dengan cara menulis."

Ruan-wei senang belajar, maka di dalam bungkusannya selalu ada kuas, kertas, tinta, dan buku. Dia mengeluarkan kertas, tinta, dan kuas. Dia mulai menulis.

"Tetua ada pesan apa?"

Biksu itu mengambil koasnya dan menulis.

"Aku ingin buah Anmeluo, tolong carikan untukku!"

Buah Anmeluo adalah buah mangga.

Anmeluo adalah bahasa India.

Dulu di Tiongkok tidak ada buah ini.

Nama mangga berasal dari bahasa Jepang.

Mangga berasal dari India.

Mangga adalah raja dari ratusan macam buah.

Saat Dinasi Tang, seorang biksu besar Xuan-zhuang membawa pohon buah ini dari India ke Tiongkok.

Dulu Tiongkok kuno menyebut buah ini Xiang-gai (menutupi wangi) setelah nama mangga dipakai orang Jepang.

Xianggai mulai jarang disebut.

Jaman Tiongkok kuno, buah ini sangat disukai orang-orang kaya.

Walaupun tumbuh di negara bermusim panas, tapi banyak orang menyimpannya buah ini di gudang bawah tanah maka pada musim dingin masih bisa makan.

Tentu saja harganya sangat mahal!

Biksu itu ingin makan buah Anmeluo, dia menulis di kertas tanpa sungkan.

Tapi Ruan-wei adalah anak yang baik hati, dia tidak enak hati untuk menolak, apalagi uangnya masih banyak.

Maka dia pun pergi ke kota untuk membeli beberapa buah untuknya.

Dia segera mengangguk.

Dia membalikkan tubuh dan segera turun gunung.

Dia ingin segera kembali, mungkin biksu itu bisa sembuh dari luka beratnya kalau sudah memakan buah ini.

Pada saat dia pulang dari kota hari sudah sore hari walaupun Ruan-wei berlari ke gunung itu.

Biksu itu masih duduk di dalam gua dan tidak bergerak sama sekali.

Kuas dan tinta masih ada di depannya, tapi kertas-kertasnya sudah tidak ada.

Ruan-wei membuka bungkusan yang dibawanya.

Di dalam bungkusan ada 2 botol arak dan masih ada sebuah kotak.

Separuh kotak berisi sayuran, separuhnya lagi diisi 5 buah Anme yang dibungkus dengan kertas.

Kertas ini adalah kertas kerut.

Begitu melihat ada Anmeluo, biksu itu sangat senang tapi dia tidak mengucapkan berterima kasih, hanya sebentar lima buah Anme habis dimakan, hanya tertinggal kulit dan bijinya saja.

Sesudah memakan buah itu dia membersihkan bibirnya dengan lidah, seperti masih ingin mengingat manisnya buah ini.

Dia melihat kotak yang berisi sayur, dia tersenyum kepada Ruan-wei.

Sepertinya dia sedang memuji Ruan-wei karena teliti mengurusnya.

Tapi dia tidak memakan sayur yang dibawa Ruanwei.

Dari balik tubuhnya dia mengeluaikan segulung kertas.

Kertas itu adalah kertas yang tadinya berada di dalam tas Ruan wei tapi sekarang penuh dengan tulisan.

Begitu Ruan-wei menerimanya, dia melihat di kertas itu tertulis.

"Rumus Tian-long-shi-san-jian!"

Ruan-wei segera meraba buku kain pemberian 'Chi-mei-da-xian' di dadanya tapi buku itu sudah tidak ada.

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'pasti semalam terjatuh di gua ini dan dipungut oleh biksu ini.' Ruan-wei terus melihatnya.

Di kertas masih tertulis.

"karena hatimu baik maka aku membantumu menerjemahkan buku 'Tian-long-jian-jing'. Rumus pedang ini memang bagus dan tidak terkalahkan, tapi jika kau tidak belajar ilmu yoga dulu, ilmu pedang ini sulit dikuasai. Maka aku menuliskan jurus-jurus yoga ku untukmu. Kedua ilmu ini adalah ilmu sakti dari India. Kedua ilmu ini milik India, tidak pernah dikuasai oleh orang lain, maka ilmu sakti ini hanya untukmu saja. Setelah menguasainya kau tidak boleh mengajar-kan kepada orang lain, ingat, ingat! empat tahun kemudian, carilah aku di perbatasan Tibet. Jika kau bertemu temanmu Paman Zhong, suruh dia memberitahu pada Tuan Jian lima tahun kemudian di Jun-shan, kami akan bertarung lagi untuk menentukan siapa yang menang agar menuntaskan dendam dan budi yang ditinggalkan oleh leluhur kami. Yang bertanda tangan adalah biksu harimau bisu tuli dari India."

Begitu Ruan-wei membuka halaman pertama, di dalamnya ada jurus-jurus yoga dan jurus-jurus Tian-long-shi-san-jian.

Di bawah masih ada buku kain pemberian 'Chi-mei-da-xian'.

Dengan penuh berterimakasih Ruan-wei melihat biksu harimau bisu tuli itu.

Gua itu sudah kosong, ternyata biksu itu sudah pergi.

Ruan-wei keluar gua.

Di luar hanya ada salju putih yang menutupi bumi, tidak terlihat ada bayangan biksu harimau bisu tuli.

Ruan-wei segera naik ke tempat lebih tinggi lagi, dia melihat ke bawah, tetap tidak terlihat ada bayangan biksu tersebut.

Hanya sebentar, biksu bisu tuli itu sudah pergi jauh.

Dalam hati Ruan-wei berpikir orang aneh di dunia ini tidak banyak tapi hari ini dia telah bertemu dengan dua orang aneh.

Sekarang dia mempunyai buku misterius, dia harus rajin berlatih agar bisa menguasai ilmu-ilmu tinggi dan aneh.

Waktu itu dia bersiul panjang dan diam-diam bertekad dia akan berlatih di gunung ini selama beberapa tahun.

Hari sudah gelap, dengan bantuan pantulan sinar salju, Ruan-wei membaca habis Tian-longshi-san-jian' tapi dia merasa jurus-jurus pedang ini sangat aneh.

Jika hanya belajar dengan cara mengira-ngira, itu tidak mungkin.

Dia teringat lagi tulisan biksu harimau, 'Jika tidak belajar yoga dulu, ilmu pedang ini sulit untuk dikuasai dengan baik...

apakah benar harus belajar ilmu yoga dulu baru belajar Tian-long-shi-san-jian?"

Dia membuka lagi buku jurus ilmu yoga.

Setelah membaca dengan teliti, dia merasa ilmu yoga tidak sama dengan ilmu tenaga dalam yang diajarkan Chi-mei-da-xian dan caranya sangat sulit.

Jika tidak mempunyai kesabaran dan semangat sulit untuk melatihnya.

Dia membaca sampai halaman belakang, Ruan-wei merasa lelah dan kembali ke gua.

Dia menyelimuti tubuhnya dengan baju kulit, dia tertidur pulas.

Hari kedua pagi dia bangun dan berjalan keluar dari gua.

Dia berpikir karena harus tinggal selama beberapa tahun di sini, paling sedikit dia harus mengenali lingkungan di sini.

Apalagi untuk makanan dan minuman, dia pun berjalan keluar hutan.

Jun-shan seperti dipotong menjadi bentuk persegi empat, tingginya 500 meter, sangat berbahaya.

Jalan gunung berliku-liku dan banyak air terjun.

Ruan-wei berjalan ke sisi jurang.

Di bawah jurang terdengar ada orang yang memukul batu, dia merasa aneh dan melihat ke bawah.

Ternyata di bawah jurang yang terjal, sekira 50 meter di bawah, ada batu yang menonjol keluar, seperti perut perempuan hamil.

Dari sana berdiri seorang laki-laki gagah, tubuhnya diikat dengan tali sebesar kepalan tangan.

Tali ini diikat di pohon besar yang keluar dari celah-celah jurang.

Orang ini menggulung celana panjangnya, terlihat bulu kakinya yang hitam.

Kaki ini menahan di dinding jurang agar tubuhnya seimbang.

Dia memegang kapak sangat besar, dia sedang menebang dinding jurang.

Batu di jurang itu sudah tidak rata, kelihatannya sUdah lama dia mengerjakan hal ini ini.

Ketika Ruan-wei merasa aneh, dari belakangnya datang dua pembantu kecil.

Mereka memakai mantel kulit.

Mereka sangat ramah, sepertinya mereka adalah pembantu seorang pejabat.

Mereka berdua berjalan sampai di sisi Ruan-wei, mereka tidak melihatnya hanya melihat ke bawah dan berteriak.

"Waktunya sudah tiba! Naiklah untuk beristirahat!"

Sesudah itu, mereka tidak melihat apakah laki-laki itu mendengar teriakan mereka atau tidak, mereka menurunkan keranjang sambil tertawa kemudian meninggalkan tempat itu.

Laki-laki berbaju pendek itu seperti menurut kepada kedua pembantu kecil ini.

Dia segera memanjak naik.

Begitu tiba di atas, dia tidak melihat Ruan-wei, hanya berjalan ke sisi keranjang dan duduk bersila.

Awalnya dia membuka sebuah keranjang.

Di dalamnya berisi mantou berwarna putih, sedangkan keranjang lainnya berisi dua piring buah kering dan dua piring sayur.

Porsi makan laki-laki ini sangat besar, hanya dalam waktu singkat setengah keranjang mantou habis dimakannya tapi buah kering dan sayur belum disentuh, mungkin dia terlalu lapar sampai tidak ada waktu untuk memakan sayur dan buah kering.

Pagi hari cuaca di gunung sangat dingin apalagi sekarang musim dingin.

Angin dingin berhembus menusuk tulang.

Karena Ruan-wei telah lama berdiri tanpa bergerak maka dia mulai merasa kedinginan.

Tapi baju laki-laki itu sangat tipis, dia tidak terlihat takut kepada udara dingin malah terkadang menyeka keringat yang mengalir di dahinya.

Hal ini membuat Ruan-wei terkejut.

Karena tidak kuat menahan dingin, Ruan-wei mengeluarkan arak untuk mengusir rasa dingin dan meminum beberapa teguk.

Penciuman laki-laki itu sangat tajam, dia membalikkan tubuh melihat arak yang ada di tangan Ruan-wei dan berkata.

"Arak bagus! Arak bagus!"

Belum minum tapi sudah bisa mencium bau arak, benar-benar orangyang menyukai arak.

Ruan-wei mendekatinya, dia memberikan arak itu kepada laki-laki berbaju pendek itu.

Laki-laki itu tidak sungkan dengan cepat sebotol arak habis diminumnya.

Dia membersihkan sisa arak di bibirnya dan berkata'-"Sudah 20 tahun lebih aku tidak minum arak, sekarang aku bisa minum, aku benar-benar sangat senang."

Dia melihat Ruan-wei kemudian memperlihatkan tangannya yang besar dan keras. Karena kulit tangannya tebal, otot-ototnya bertonjolan berwarna hijau.

"Anak muda, silakan duduk! Silakan duduk!"

Sifat Ruan-wei agak terbuka, walaupun merasa dingin, dia tetap mendekat dan duduk di sana.

Begitu mendekati orang itu, dari balik cambang yang memenuhi wajahnya tampak kerutan tua.

Umurnya kira-kira sudah 60 tahun.

Tapi di luarnya tampak dia seorang laki-laki gagah padahal dia adalah seorang laki-laki tua.

Dia memperkenalkan diri.

"Aku Gong Shu-yang. Anak muda, siapa namamu?"

Melihat umur laki-laki yang pantas menjadi kakeknya. Ruan-wei pun dengan hormat menjawab.

"Aku yang muda Ruan-wei."

"Nama yang bagus! Nama yang bagus! Ayo sarapan bersamaku, jangan sungkan!"

Ruan-wei tahu sifat orang dunia persilatan yang jarang mau menerima kebaikan orang lain.

Tadi dia sudah meminum araknya, jika dia tidak makan, lelaki itu pasti tidak senang.

Maka dia pun mengambil satu mantou dan memakannya.

Gong Shu-yang sangat senang, dia tertawa, dia juga ikut makan mantou.

Sekeranjang mantou, empat piring sayur dan buah kering habis dimakannya.

Setelah kenyang, Gong Shu-yang memejamkan mata, mengambil sikap Da-zuo (duduk beristirahat), hanya sebentar dia sudah mendengkur, mungkin semalaman dia terus bekerja hingga kelelahan, sampai dalam sikap duduk pun bisa tertidur nyenyak."

Ruan-wei pelan-pelan berjalan ke sebuah batu yang permukaannya agak rata, dia melatih jurus yoganya, menuruti petunjuk-petunjuk yang tertulis di kertas.

Ruan-wei berlatih yoga selama dua jam membuat dirinya terus berkeringat.

Salju yang ada di sekelilingnya meleleh karena panas tubuhnya.

Dua jam dilewati Ruan-wei dengan sulit.

Tapi dia tidak merasa teknik yoganya ada kemajuan.

Jika bukan karena hafal dengan tenaga dalam Kunlun-pai yang diajarkan Chi-mei-da-xian, mungkin sekarang dia sudah mati kedinginan.

Ruan-wei menarik nafas, dia tidak memaksa berlatih lagi, dia pun turun dari batu itu.

Dia bersiap-siap akan berjalan-jalan lagi, lalu dia melihat Gong Shu-yang yang duduk tertidur pulas.

Tapi keranjang yang ada di depannya sudah tidak ada, mungkin sudah diambil oleh kedua pembantu tadi.

Baru saja berjalan sebentar, dari arah depan datang lagi dua pembantu dengan pakaian-nya yang sama tapi wajah mereka berbeda dengan yang tadi.

Begitu tiba di depan Gong Shu-yang, mereka berteriak.

"Ayo bangun! Bangun ! Sudah tiba waktunya menjalani hukuman api!"

Gong Shu-yang terbangun kemudian tertawa kecut kepada Ruan-wei.

Dia segera mengikuti kedua pembantu itu.

Ruan-wei merasa aneh, dalam hati berpikir, 'Mengapa Gong Shu-yang yang berilmu tinggi bisa takut kepada pembantu-pembantu yang masih muda itu?' Karena tidak tahu apa alasannya, dia kembali ke batu itu untuk berlatih yoga.

Sesudah 1 jam berlalu dia merasa latihannya percuma.

Karena kesal dan teringat pada Gong Shu-yang apakah sudah pulang atau belum, maka dia kembali mencari Gong Shu-yang.

Kebetulan Gong Shu-yang datang dengan tergopoh-gopoh.

Gong Shu-yang kembali ke tempat di mana dia duduk tadi pagi, tubuhnya basah oleh keringat, nafasnya terengah-engah.

Kerutan yang tadi tidak terlihat sekarang terlihat jelas, benar-benar sangat dikasihani.

Ruan-wei tidak tega melihatnya, dia ingin menghibur tapi tidak tahu caranya, terpaksa dia duduk diam menemani Gong Shu-yang.

Sampai siang hari Gong Shu-yang baru bisa pulih kembali.

Ruan-wei tidak tahu siksaaan api seperti apa yang membuatnya begitu tersiksa.

Tidak lama kemudian datang lagi dua pembantu membawa keranjang.

Keranjang diletakkan, dan mereka pergi sambil mengobrol.

Melihat keranjang itu, Gong Shu-yang merasa sangat senang.

Satu keranjang berisi nasi putih, satu keranjang lagi berisi empat piring sayur.

Gong Shu-yang mengeluh.

"Sayur begitu enak, jika ada arak itu tentu lebih baik!"

Ruan-wei teringat, ketika kemarin membeli Anme, sekalian membeli dua botol arak.

Biksu harimau bisu tuli tidak meminum arak, sekarang pasti masih ada di dalam gua itu dia ingin mengambilnya.

Dia berlari dan kembali membawa dua botol arak, lalu diletakkan di depan Gong Shu-yang.

Dengan senang Gong Shu-yang berkata.

"Ayo! Kita makan bersama! Makan bersama!"

Di dalam keranjang ada dua buah mangkuk juga dua pasang sumpit, mungkin pembantupembantu itu sudah tahu ada tamu yang mencari Gong Shu-yang maka tanpa dipesan mereka sudah menyiapkan.

Ruan-wei merasa lapar, dia duduk, hanya sebentar empat mangkuk nasi sudah habis mereka sikat.

Sebotol arak dihabiskan oleh Gong Shu-yang.

Sehabis makan, Gong Shu-yang duduk dan bersiap tidur, sepertinya harus dengan tidur dia baru bisa memulihkan kembali kondisinya.

Ruan-wei kembali lagi berlatih ilmu yoga.

Dia berlatih satu jam lebih, tapi kali ini dia baru menemukan rumus rahasianya, pantas dia tadi berlatih beberapa jam tidak ada hasilnya.

Ternyata dalam yoga ini yang terpenting adalah harus bertahan, harus dengan perasaan sakit baru bisa meminjam tenaga ini.

Kalau tidak dengan cara ini, dengan cara apa pun berlatih tidak ada gunanya.

Dari pagi Ruan-wei berlatih, dia melatih yoga harus seperti dia berlatih tenaga dalam Kun-lun-pai.

Karena itu dia turun dari batu itu berusaha mencari tekanan dari luar untuk membantunya berlatih yoga.

Baru sampai di tempat Gong Shu-yang, ada dua pelayan datang dan berteriak.

"Waktunya sudah tiba, hukuman air sudah menunggumu!"

Gong Shu-yang terbangun, alisnya dikerutkan, begitu bangun dia siap mengikuti dua pembantu itu untuk dihukum. Melihat Gong Shu-yang begitu tersiksa, Ruan-wei tidak tega, dia berteriak.

"Tetua Gong Shu, biar aku menggantikanmu menerima hukuman air."

Kedua pembantu itu terkejut, mereka melihat Ruan-wei. Dengan berterima kasih Gong Shu-yang berkata.

"Anak baik! Anak baik! Tenaga dalammu memang bagus tapi kau tetap tidak akan kuat menahan hukuman ini. Aku terima kebaikanmu!"

Ruan-wei dengan tegas berkata.

"Apakah Tetua tidak percaya kepadaku?"

Gong Shu-yang menarik nafas.

"Jika aku meremehkanmu, aku adalah orang yang tidak tahu bagaimana bagusnya batu kumala."

Artinya dia memuji Ruan-wei sangat cocok untuk berlatih silat, seperti sebatang giok. Mengapa dia meremehkannya? Ruan-wei sudah berteriak.

"Jika Tetua tidak meremehkanku, mengapa tahu aku tidak akan bisa menahan siksaan ini?"

Dia balik berkata pada kedua pembantu itu.

"Ayo jalan!"

Kedua pembantu itu tampak berpikir, Tuan berpesan sehari dua kali memberi siksaan api dan air kepada Gong Shu-yang, tapi beliau juga berpesan boleh diwakilkan oleh orang lain.

Pemuda ini benar-benar tidak tahu diri, siksa saja dia, biar tahu rasa!' Kedua pembantu itu tidak bicara apa-apa lagi mereka membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Gong Shu-yang tidak bisa menjawab pertanyaan Ruan-wei, dia hanya melihat Ruanwei mengikuti kedua pembantu itu.

Ruan-wei berjalan mengikuti kedua pembantu ke sebuah tempat rahasia.

Di lapangan itu berdiri sepuluh orang pembantu berpakaian sama.

Mereka mengelilingi sebuah batu giok putih dan besar.

Giok itu sangat tebal.

Papan ini terkubur di sebuah lubang tertutup oleh es.

Papan giok ini tertimbun di dalam tanah sekitar 7.5 centimeter.

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Apakah ini adalah siksaan air?

Paling-paling giok itu terasa dingin, mana mungkin bisa membuatku mundur?' Dia pun membuka baju, hingga tersisa celana dalamnya dan dia pun meloncat naik ke atas papan giok.

Tapi begitu kakinya menginjak papan giok, terasa ada hawa dingin yang menembus tulang dan menyebar ke seluruh tubuh, dia berteriak karena kedinginan.

Kedua belas pelayan itu tertawa terbahak-bahak.

Ruan-wei jadi ingat di salah satu buku pernah tertulis.

di daerah utara ada semacam giok dingin yang usianya ribuan tahun, dingin giok ini melebihi dinginnya salju.

Kelihatannya usia papan giok ini sudah 10 ribu tahun lebih, apalagi papan itu dikelilingi oleh es.

Sekalipun musim panas jika ada orang berani tidur di atas papan giok ini, dia akan mati-kedinginan.

Dengan tenaga dalam Kun-lun-pai dia mencoba melindungi tubuhnya dari hawa dingin, tapi tidak berhasil.

Tiba-tiba dia teringat pada ilmu yoga yang baru dipelajarinya, dia segera mencoba dilakukannya.

Memang rasa dingin ini membuat sekujur tubuhnya terasa sakit tapi tidak akan merusak organ tubuh bagian dalamnya.

IVIan-pelan dengan cara bertahan dia berusaha mengatasinya.

Satu jam sudah berlalu.

Kedua belas pelayan itu mulai terkejut.

Ruan-wei juga terkejut sekaligus senang, ternyata dalam waktu satu jam hawa papan giok yang dingin telah menyatu dengan ilmu yoga yang telah dilatihnya.

Begitu turun dari papan giok putih itu, dengan penuh semangat dia pun pamit pada keduabelas pelayan itu.

Kedua belas pelayan itu menganggap dia orang aneh.

Mereka terus melihatnya sampai sosoknya menghilang.

Dia kembali ke tempat Gong Shu-yang.

Gong Shu-yang yang melihat dia tidak merasa kedinginan malah sangat bersemangat, dia pun merasa aneh.

Tapi karena Ruan-wei menggantikan menjalani hukuman, maka dia juga tidak banyak bertanya.

Apalagi malam nanti masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan.

Dia hanya tersenyum kepada Ruan-wei kemudian memejamkan mata untuk melakukan Da-zuo (duduk bersila mengatur nafas).

Ruan-wei juga mengikuti Gong Shu-yang untuk melakukan Da-zuo.

Tidak lama kemudian datang dua pelayan mengantarkan makan malam.

Melihat dua belas pelayan datang bergiliran mengantarkan makanan, tapi tidak pernah terlihat tuan mereka.

Ruan-wei merasa aneh.

Sesudah makan malam, mereka masih diam, dengan Da Zuo beristirahat.

Ketika memejamkan mata untuk Da-zuo, Ruan-wei akhirnya tertidur.

Saat lewat pukul dua belas malam, terdengar ada yang memahat batu lagi.

Ruan-wei membuka mata melihat.

Ternyata Gong Shu-yang sudah tidak ada.

Dia lalu berjalan ke tepi jurang dan melihat ke bawah ternyata Gong Shu-yang sedang menebang dinding jurang.

Dengan tubuh penuh keringat, dengan cepat dia mengayunkan kapaknya.

Tenaganya benarbenar kuat, dalam sekejap dinding jurang terlihat sebuah bentuk.

Ruan-wei baru tahu ternyata Gong Shu-yang sedang mengukir sesuatu dengan ukuran besar.

Satu jam kemudian, hari mulai terang, dua pelayan datang mengantar sarapan dan memerintahkan Gong Shu-yang berhenti bekerja.

Gong Shu-yang dengan nafas terengah-engah naik ke atas.

Tidak lama kemudian dia baru meluruskan pinggangnya.

Ruan-wei bukan orang yang senang bertanya, dia tidak menanyakan mengapa Gong Shu-yang harus memahat gunung?

Setelah sarapan mereka masing-masing beristirahat.

Dalam istrirahatnya Ruan-wei berlatih yoga.

Tidak lama kemudian 2 pelayan datang lagi membawa Gong Shu-yang menjalani siksaan api.

Ruan-wei ingin menggantikan dia lagi.

Gong Shu-yang tahu kekuatan Ruanwei, dia tidak menolak juga tidak berterima kasih.

Ruan-wei mengikuti pelayan itu ke sebuah lapang di gunung.

Terlihat di sekeliling batu yang menonjol terikat tali yang terbuat dari baja.

Tali diikat di sebuah papan giok yang tipis dan tergantung di tengah-tengah udara.

Baca Juga: Tiga Maha Besar 2

Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger