Terbang Harum Pedang Hujan 8

Eps 8 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

Jarak papan giok itu dengan tanah sekitar lima meter.

Di bawahnya penuh dengan kayu bakar.

Enam pelayan sedang membakar kayu ini.

Kayu dibakar dengan api sangat besar, sangat menakutkan.

Dua pelayan menyuruh Ruan-wei naik ke papan giok itu.

Bajunya dibuka dan dia pun berbaring di atasnya.

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Tubuh orang bukan terbuat dari besi, jika naik atas pasti akan terbakar hingga mati!"

Tapi dia telah berjanji menggantikan orang lain untuk menerima siksaan, mana mungkin da miundur, karena itu dia tetap meloncat ke atas.

Sesudah meloncat, di sekelilingnya terasa panas, dan bisa membuat orang terbakar hingga hangus.

Tapi papan giok itu tidak panas, Ruan-wei bisa berbaring di sana.

Jika itu adalah papan besi, walaupun mempunyai ilmu dalam yang sangat tinggi tetap tidak akan bisa berbaring di sana.

Dia segera menggunakan ilmu yoganya, dengan cara 'bertahan' dia melewati siksaan, bagi orang biasa mungkin tidak akan bisa bertahan.

Satu jam kemudian dia kembali ke tempat Gong Shu-yang.

Gong Shu-yang sedang tertidur lelap.

Dia seperti tahu kalau Ruan-wei pasti bisa menahan hukuman api ini.

Hari berganti hari.

Waktu telah berlalu setengah tahun.

Dalam waktu setengah tahun ini Gong Shu-yang telah mengukir sebuah patung dewa Ru-lai (Ru-lai-fo) yang tingginya sepuluh meter dan lebar tiga meter di dindingjurang itu.

Ruan-wei telah melatih semua ilmu yoganya.

Sekarang dia tidak perlu tersiksa lagi, dia bisa menguasai ilmu yoganya karena itu dia bisa mengatur aliran darah dengan ilmu yoga.

Suatu pagi, Gong Shu-yang membereskan pahatan terakhirnya.

Dia tertawa kepada Ruan-wei.

"Pagi hari kau menggantikanku menerima siksaan agar pada malam hari aku bisa mengukir patung dewa dengan tenang. Sebenarnya untuk mengukir patung ini membutuhkan waktu 2 tahun baru bisa menyelesaikannya, tidak disangka dalam waktu setengah tahun bisa selesai."

Ruan-wei hanya tertawa tapi tidak menjawab. Gong Shu-yang menarik nafas dan berkata.

"Patung dewa telah selesai diukir, tapi aku harus mengukir yang lain lagi, hari ini aku harus pamit denganmu."

Dalam waktu setengah tahun ini Ruan-wei jarang berbicara dengannya tapi sebenarnya di antara mereka telah terjalin persahabatan yang kental.

Begitu mendengar mereka harus berpisah, Ruan-wei merasa sedih.

Dengan suara serak Gong Shu-yang berkata.

"Jika kita berjodoh harus puluhan tahun baru bisa bertemu kembali dengan tubuh bebas-ku."

Ruan-wei bertanya dengan suara serak.

"Mengapa begitu lama baru bisa bertemu?"

"Aku akan menceritakan semuanya kepadamu!"

"Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah iblis jahat di dunia persilatan. Aku tidak mau ber-bohong kepadamu, aku benar-benar orang yang sangat jahat, aku sering membunuh orang."

"Pada suatu hari aku mendengar kabar dari dunia persilatan bahwa 400 tahun yang lalu, Donghai-tu-long-xian-zi (Dewi Tu-long dari laut timur) meninggalkan seorang cucu murid perempuan. Dia berkata akan datang ke Zhong-yuan dan berharap iblis di dunia persilatan menghentikan perbuatan jahat dan membunuh orang!"

"Sesudah aku mendengar kata-kata ini, aku marah besar. Diam-diam aku berkata, Aku akan pergi kesana untuk mengalahkan cucu murid Dong-hai-tu-long-xian-zi kemudian menjadikan dia sebagai istri muda. Aku akan membuat dunia persilatan kagum dan tahu kelihaian Gong Shuyang."

"Karena itu aku menyeberang ke Dong-hai (laut timur) mencari cucu murid Dong-hai-xian-zi. Ternyata cucu muridnya baru berumur 20 tahun lebih. Begitu melihat dia masih begitu muda, aku mentertawakan dan menghinanya, semua kata hinaan aku keluarkan."

"Dia tidak marah dan menerima tantanganku, dia juga bertanya bagaimana jika dia yang menang."

"Aku menjawab dengan sombong, 'Jika kau menang, seumur hidup aku akan menjadi budakmu dan mendengar apa yang diperintahkan!' "Kami pun bertarung, aku mengira aku bakal menang, tapi baru 10 jurus berjalan, aku berhasil ditangkap hidup-hidup! Karena itu dia mengurungku di Dong-hai selama 20 tahun. Aku memang orang jahat tapi tetap harus mentaati janjiku dengannya maka aku pun membiarkan dia mengurungku."

"Sesudah 20 tahun berlalu dia melihatku tidak jahat lagi maka dia jadi tidak tega lagi mengurungku. Dia ingin melepaskanku, tapi dia masih takut aku belum berubah total maka dia pun menyuruhku mengukir dua belas dewa jam setinggi sepuluh meter dan lebar tiga meter. Dewa jam 1 dan dewa jam 2, menghabiskan waktu empat tahun, untuk dewa ketiga, aku menduga harus dua tahun baru bisa selesai. Tidak disangka kau membantuku sehingga dalam waktu setengah tahun bisa selesai."

"Masih ada sembilan dewa jam lagi. Setiap dewa jam harus menghabiskan waktu dua tahun untuk mengukirnya, maka 18 tahun kemudian aku baru bebas dan bisa bertemu denganmu."

"Dia masih takut sifatku belum berubah total maka setiap hari dia memberikan waktu dua jam untuk melatihku agar tidak marah-marah."

"Dia tidak tahu kalau aku yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Tapi perintah tetap tidak boleh kubantah, terpaksa setiap hari aku harus menerima siksaan sampai semua ukiran dewa selesai. Untung kau telah membantu-ku, membuatku bisa menghemat satu setengah tahun lebih awal untuk bebas."

Sesudah mendengar cerita yang tidak banyak diketahui orang, hati Ruan-wei benar-benar bergejolak dan lama dia tidak bisa bicara.

"Kapan kau akan meninggalkan tempat ini?"

"Aku harus berlatih ilmu pedang, mungkin dalam waktu dekat masih akan berada di sini!"

Dua pelayan datang mengantarkan sarapan. Melihat Gong Shu-yang, dengan aneh mereka bertanya.

"Mengapa kau naik ke atas sendirian?"

"Karena pekerjaanku sudah selesai maka aku naik ke atas!"

Dua pelayan itu menoleh, ternyata benar pekerjaannya sudah selesai dan mereka juga bertanya.

"Dewa jam berikutnya dimana kau akan mengukirnya?"

"Pelan-pelan baru akan kucari."

Kemudian dia berbisik kepada dua pelayan itu dan mereka pun pergi dengan tergesa-gesa.

"Sebenarnya dia sudah percaya padaku, kalau tidak mana mungkin hanya menyuruh dua belas pelayan mengikutiku dan mengurusku. Dia hanya menyuruhku berlatih untuk mengurangi sifat jahatku."

Sebenarnya Ruan-wei ingin bertanya siapa Tu-long-xian-zi?

Dan siapa cucu muridnya?

Tapi melihat Gong Shu-yang yang selalu menyebut-nya 'dia, dia...' berarti dia tidak ingin memberitahukan marga dan namanya maka Ruan-wei tidak banyak bertanya.

Tidak lama kemudian dua pelayan datang mengantarkan sepiring emas kuning.

Gong Shu-yang berkata.

"Kau seorang diri tinggal di gunung ini, tidak ada uang untuk belanja bagaimana bisa bertahan hidup? Aku memberi emas ini, tidak ada maksud apa pun hanya karena persahabatan kita aku memberikannya. Kau jangan menolak."

Begitu mendengar kata persahabatan, Ruan-wei tidak bisa menolak.

Dia terima dengan sangat berterima kasih.

Pada sore hari mereka berpisah sambil bercucuran air mata.

Hari kedua, dengan emas pemberian Gong Shu-yang, Ruan-wei ke kota untuk membeli sebuah pedang dan makanan.

Saat kembali ke gunung, dengan memusatkan pikiran dia pun berlatih ilmu pedang.

Jun-shan sangat sepi.

Hari demi hari dilewati.

Karena gunung sangat tinggi, jarang ada pengunjung yang datang ke sana.

Tapi di malam hari dan di dalam kesepian, puncak gunung seperti mengeluarkan cahaya putih seperti pelangi.

Karena itu orang-orang di bawah gunung selalu berkata, 'Di gunung itu tinggal seorang dewa!' Tapi tidak ada seorang pun yang berani datang untuk membuktikannya.

--BAB 93 Berkelana di dunia persilatan Hari berganti hari.

Tanpa terasa 3 tahun sudah berlalu.

Suatu pagi, hujan salju turun terus.

Pintu rumah Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin pelan-pelan terbuka.

Pembantu tua yang rambutnya sudah memutih sedang menyapu seperti biasanya.

Tanpa sengaja dia melihat ke depan.

Di bawah pohon berdiri seorang pemuda berbaju putih, perawakannya tinggi dan besar.

Pembantu tua itu dengan terkejut menunjuk pemuda itu.

"Kau... kau... apakah kau...."

Dengan tersenyum pemuda itu mendekat.

"Aku adalah Ruan-wei yang sudah 3 tahun tidak bertemu dengan Paman."

Pembantu itu terus mengangguk.

"Sudah 3 tahun kita tidak bertemu, Adik semakin tinggi, besar, juga tampan, hampir-hampir aku tidak mengenalimu."

"Apakah Tetua Fan ada di rumah?"

Dengan cepat pak tua itu menjawab.

"Ada! Ada! Tuan selalu menyayangkan hal yang terjadi tiga tahun lalu karena orang seperti Adik jarang ada."

Sambil berkata demikian dia membawa Ruan-wei masuk ke pekarangan.

Tiang yang terbuat dari batu masih berdiri dengan kokoh di sana, membuat Ruan-wei teringat masa lalunya.

Dia tidak sengaja berhenti sebentar untuk melihat-nya.

Pembantu tua itu menggelengkan kepala dan mengeluh.

"Anak muda, kenapa harus belajar ilmu silat, bukankah masih banyak hal yang bisa dipelajari?"

Melihat Ruan-wei masih termenung dan tidak menjawab pertanyaannya, dia berpikir, 'Batu tiang itu begitu berat, siapa yang sanggup mencabutnya?

Pemuda ini hanya mencari kesulitan!' Dia berkata kepada Ruan-wei.

"Tunggulah di sini, aku akan memanggil tuan besar kemari."

Setelah pembantu itu masuk, dalam hati Ruan-wei berkata, 'Ilmu apa yang kudapat selama tiga tahun ini?' Dia mulai mencoba mengerahkan kepandaiannya.

Dengan sebelah telapak tangannya dia menepuk kemudian mendorong lalu ditarik.

Tiang batu itu seperti menempel di telapaknya dan mulai bergoyang.

Ruan-wei benar-benar senang, telapak kiri bagian belakang dipukulkan, tiang batu seperti berpegas dan tiba-tiba meloncat keluar.

"Ilmu yang bagus!"

Ruan-wei sangat senang, tangan kirinya sekali lagi memukul, tiang batu itu turun dan masuk kembali ke tempat asal, sedikit pun tidak bergeser.

Ba-gua-zhang Fan Zhong-pin pelan-pelan mendekatinya.

Dia terkejut.

"Saudara kecil, tiga tahun kita tidak bertemu, ilmu silatmu maju pesat!"

Ruan-wei memberi hormat.

"Tiga tahun aku tidak bertemu Tetua. Tetua masih begitu sehat dan bersemangat. Kali ini aku datang karena ada satu hal yang merepotkan Tetua."

Sejak tadi dia melihat ilmu silat Ruan-wei sangat aneh tapi dia tidak tahu dari mana asalusulnya ilmu silat itu?

Melihat Ruan-wei tidak menyombongkan diri karena punya ilmu silat tinggi, dia benar-benar kagum.

Dia segera menjawab.

"Saudara kecil, tidak perlu sungkan, katakanlah!"

Dari balik baju dadanya Ruan-wei mengeluarkan sebuah kotak persegi. Dari dalam kotak dia mengeluarkan sebuah ginseng berbentuk manusia. Fan Zhong-pin segera berseru.

"Ah! Raja ginseng yang usianya sudah ribuan tahun!"

Dengan tenang Ruan-wei memberikannya kepada Fan Zhong-pin dan berkata.

"Tiga tahun yang lalu, aku menerima sebuah pil pemberian Nona Gongsun, dia telah menolongku. Aku dengar Tetua mengenal Nona Gongsun."

Fan Zhong-pin dengan cepat menggoyangkan tangannya menolak.

"Ini... ini., terlalu mewah... apalagi waktu Nona Gongsun menolongmu, dia tidak mengharapkan sesuatu. Kalau kau begitu... artinya terlalu menghina...."

Fan Zhong-pin mulai tidak senang.

"Saudara kecil, jangan salah paham pada Nona Gongsun. Aku sangat mengetahui bagai-mana sifat Lan Er, dia tidak bermaksud apa-apa kepadamu. Jika dia mempunyai maksud tertentu, dia tidak akan menolongmu, lebih-lebih tidak akan berbuat baik kepadamu."

Ruan-wei memotong kata-katanya.

"Tetua jangan membelanya lagi, tolong sampaikan kepada Nona Gongsun, aku sangat berterima kasih kepadanya. Hal lainnya aku tidak mau dengar!"

Lalu dia melempar ginseng itu kepada Fan Zhong-pin. Fan Zhong-pin dengan tergesa-gesa menyambutnya, kemudian dia mendengar, 'Aku pamit dulu!' Baru berjalan beberapa langkah, Fan Zhong-pin membentak.

"Tunggu, jangan pergi dulu!"

Dia tergesa-gesa masuk ke dalam, ketika keluar dia membawa sebuah bungkusan yang dibungkus dengan kain ungu.

Tanpa banyak bicara dia memberikannya kepada Ruan-wei.

Bungkusan itu sangat berat, pasti di dalamnya berisi banyak barang.

Tanpa menunggu Ruan-wei bertanya, Fan Zhong-pin berkata.

"Aku mewakili dia menerima ginseng ini. Bungkusan ini adalah titipan Lan-er setelah mencarimu selama dua bulan. Dan berharap aku akan memberikan kepada Tuan!"

Fan Zhong-pin marah karena Ruan-wei tidak peduli, tapi Ruan-wei tidak mau menerima-nya. Fan Zhong-pin berkata lagi.

"Kau tidak perlu banyak bicara, barang ini adalah titipan Lan Er untukmu. Jika kau tidak mau, silakan kembalikan sendiri kepadanya. Jika kau tidak mau menerima sekarang, itu adalah penghinaan terhadapku!"

Melihat matanya melotot dan jenggotnya berdiri, Ruan-wei terpaksa menerima bungkusan ini dan berkata.

"Terima kasih, aku pamit sekarang!"

Karena Ruan-wei sangat sungkan, terpaksa Fan Zhong-pin menjawab.

"Ya! Ya!..."

Tiba-tiba BRAK!

Pintu pekarangan roboh ditendang seseorang.

Salju tergetar dan jatuh berhamburan.

Tiba-tiba muncul dua orang laki-laki dengan perawakan gagah juga tegap.

Mereka berdiri di kiri dan kanan pintu.

Tidak lama kemudian masuk dengan perlahan seorang pak tua yang sangat jelek dan berpakaian merah.

Dia membawa tongkat berkepala naga dengan panjang sekitar 3 meter.

Begitu masuk pekarangan dia berhenti melangkah dan berdiri di sana.

Wajah Fan Zhong-pin berubah dan dia tampak marah.

"Ke Lao-tou (Pak Tua Ke) sudah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak tahu, untuk apa kau datang lagi? Apakah kau belum puas dengan pertarungan kita?"

Pak tua berpakaian merah itu sama sekali tidak meladeni perkataannya, matanya melotot, dia berdiri dan tidak bergerak.

Fan Zhong-pin merasa aneh, masuk lagi sembilan orang gadis berpakaian kuning.

Mereka masing-masing memegang alat musik berbeda yaitu kecapi, suling, dan lain-lain.

Kemudian masuklah sebuah tandu yang digotong oleh empat orang laki-laki berbadan tegap dan berpakaian sama dengan dua laki-laki yang datang lebih awal.

Tandu itu sangat mewah.

Tandunya dilapis dengan wol hijau juga dipasang rumbai-rumbai.

Pakaian keempat laki-laki yang menggotong tandu pun tampak mewah.

Tandu berhenti di tengahtengah pekarangan, sembilan gadis berpakaian kuning terbagi menjadi dua baris.

Laki-laki berpakaian merah itu berteriak.

"Ketua Tian-du-jiao datang!" (perkumpulan racun langit). Melihat keadaan ini, wajah Fan Zhong-pin yang tadinya pucat sekarang bertambah pucat lagi. Dengan suara bergetar dia berkat a.

"Saudara kecil, cepat pergi sekarang juga!"

Tirai tandu terbuka, orang yang ada di dalam tandu belum keluar tapi terdengar suara manja,.

"Siapa yang ingin pergi!"

Mata Ruan-wei bercahaya karena gadis yang turun dari tandu mengenakan mantel putih, baju sutra putih, sepatu bot putih, dan berkulit putih seperti salju.

Semuanya serba putih dan sangat mengejutkan orang, hanya rambutnya yang sepanjang bahu tampak hitam berkilau.

Sejak kecil Ruan-wei menyukai warna putih secara tidak sengaja dia melihat wajah putih yang sangat cantik.

Dalam hati dia berpikir, 'Perempuan ini begitu cantik, mengapa Tetua Fan merasa takut kepadanya?' Fan Zhong-pin mendekat.

Dia berusaha tenang tapi suaranya gemetar.

"Adik kecil ini baru datang, harap kalian jangan menyulitkan dia!"

Perempuan berpakaian putih itu memutar bola matanya kemudian tertawa.

"Siapa bilang aku ingin membuat masalah dengan anak kecil ini? Pendekar Fan terlalu berlebihan."

Tapi kemudian dia berkata dengan dingin.

"Orang yang terus melihatku, jika dia akan pergi dia harus meninggalkan kedua matanya yang sejak tadi terus melihatku."

Sesudah mendengar kata-kata tadi, wajah Ruan-wei menjadi merah, dia marah pada dirinya mengapa begitu ceroboh. Fan Zhong-pin melihat Ruan-wei, dia segera berkata.

"Dia masih kecil, tidak tahu aturan, jika telah membuat Ketua tidak berkenan, aku mohon maaf!"

Perempuan berpakaian putih itu keluar dari tandu.

Fan Zhong-pin tidak berani melihatnya.

Dia tahu di dunia persilatan ada gosip yang mengatakan bahwa ketua Tian-du-jiao sangat cantik seperti bunga tapi dia tidak senang bila dilihat oleh laki-laki.

Diam-diam dia menyalahkan Ruan-wei mengapa begitu ceroboh.

Tiba-tiba Fan Zhong-pin membalikkan tubuh menghadap Ruan-wei.

Dengan dingin dia berkata.

"Sekarang Tuan boleh pergi!"

Sebenarnya Ruan-wei tahu Fan Zhong-pin sedang membelanya.

Dia sangat takut orang Tiandu-jiao akan membunuh Ruan-wei.

Dan sebenarnya Ruan-wei ingin tinggal lebih lama untuk membantunya tapi melihat Fan Zhong-pin tampak begitu dingin, sepertinya takut kalau dia akan menghalangi maka Ruan-wei pun marah, dia membalikkan tubuh dan berjalan keluar.

Baru saja dia berjalan melewati ketua Tian-du-jiao, laki-laki tua berpakaian merah itu menghadang Ruan-wei.

Kedua matanya dengan sombong melihatnya.

"Apakah kau tidak mendengar kata-kata ketua kami? Jika ingin pergi kau harus meninggalkan kedua matamu."

Dalam hati Ruan-wei berpikir, mana ada aturan seperti ini, hanya melihat sebentar, matanya harus dicungkil.

Mungkin perempuan ini telah banyak mencungkil mata orang.

Ruan-wei jadi marah karenanya.

Dia menyerang dada pak tua berpakaian merah itu.

Pak tua berpakaian merah itu tertawa sinis, dia menyambut dengan telapak tangannya.

"Jangan bertarung!"

Teriak Fan Zhong-pin Tapi Ruan-wei tidak mendengar.

Pak tua berpakaian merah itu tertawa lebih sinis lagi.

Tapi begitu telapaknya beradu dengan telapak Ruan-wei, dia merasa telapak lawannya seperti tidak bertulang dan tenaganya sama sekali tidak bisa keluar.

Belum sempat berteriak, dia sudah tergetar dan mundur beberapa langkah kemudian jatuh terduduk.

Melihat keadaan ini, perempuan berpakaian putih itu sangat terkejut.

Fan Zhong-pin juga tidak menyangka kalau Ruan-wei mempunyai kepandaian begitu tinggi.

Dia bisa mengalahkan orang berkepandaian setingkat dengannya.

Dia adalah 'Hua-da-jun'.

Tapi dia tahu kalau telapak Hua-da-jun beracun maka dia memandang Ruan-wei dengan khawatir.

Ruan-wei merasa telapaknya perih.

Begitu dilihat ternyata telapak sudah ada lima lubang kecil berwarna hitam.

Lubang itu meneteskan darah hitam.

Tangan Ruan-wei mulai kaku, dia benarbenar terkejut.

Dia segera mengatur nafas, membuat racun tidak menyebar ke tempat lain.

Perempuan berpakaian putih itu berkata dengan dingin.

"Hai, anak kecil! Kau boleh pergi sekarang!"

Dia tahu Ruan-wei tidak akan hidup lebih lama maka dia tidak melarang Ruan-wei pergi.

Dia malah mengharapkan Ruan-wei cepat pergi dari sana.

Tapi Ruan-wei malah diam tidak beranjak dari sana.

Dia berdiri diam, pelan-pelan dia berusaha mengeluarkan racun dari telapak tangannya.

Pak tua berpakaian merah itu berdiri, dia segera berjalan ke arah perempuan berpakaian putih itu.

Perempuan berpakaian putih itu sambil tertawa berkata.

"Pendekar Fan, sudah dua kali aku menyuruh orang mengundangmu datang ke Yun Nan, meng-apakau selalu menolak undanganku?"

Ternyata ketua Tian-du-jiao dalam waktu dekat telah diganti dengan ketua yang cantik.

Dia membuat markas pusatnya di Yun-nan.

Dia juga membunuh para pendekar Yun-nan.

Kematian mereka sangat mengenaskan maka orang dunia persilatan menganggap kalau Yun-nan adalah tempat yang mengerikan.

Fan Zhong-pin takut juga marah, dia terus melangkah mundur.

Tubuh ketua Tian-du-jiao Gu Ling-ji penuh dengan racun.

Di dunia persilatan tidak ada orang yang berani mendekatinya, maka orang-orang menyebutnya She Xie Hua (ular kalajengking bunga).

Fan Zhong-pin marah dan meraung.

"Jangan mendekat, aku akan marah!"

Perempuan berpakaian putih itu tertawa.

"Ke Si-jun sudah 2 kali bertarung dengan Pendekar Fan tapi dia tidak bisa mengalahkanmu, apakah kau takut aku akan meracunimu?"

"Jangan mendekat, aku beritahu kepada kalian, aku benar-benar tidak tahu dimana obat penawar 'Shi-gu-sheng-shui' (air suci penghancur tulang)? Walaupun Ketua sendiri yang datang, aku tetap tidak bisa memberitahukan soal itu."

She-xie-hua Qu Ling-ji mengerutkan alis, dengan wajah dingin dia berkata.

"Apakah kau benar-benar tidak tahu?"

"Aku benar-benar tidak tahu,"

Jawab Fan Zhong-pin.

"Tiga tahun yang lalu, ada seorang perempuan terkena Shi-gu-sheng-shui, bukankah kau sendiri yang menolongnya?"

Fan Zhong-pin tampak sedikit ragu akhir-nya dia menjawab.

"Betul!"

Gu Ling-ji tertawa dingin.

"Seratus tahun yang lalu, Wu-du-zhen-jun membuat Shi-gu-sheng-shui, kecuali dia yang bisa membuat obat penawarnya, belum pernah aku mendengar ada orang bisa menawarkan racun ini."

Gu Ling-ji berjalan ke depan, Fan Zhong-pin terus mundur ke sisi tiang batu.

Gu Ling-ji berhenti.

Dia melambaikan tangannya, sembilan gadis berpakaian kuning segera datang kemudian berpencar.

Gu Ling-ji berkata lagi.

"Ilmu silat perempuan itu sangat tinggi. Walaupun dia berusaha membuat racunnya tidak menyebar tapi jika tidak ada obat penawarnya, dia tidak akan bisa sembuh total."

Dengan mata indahnya Gu Ling-ji melihat wajah Fan Zhong-pin. Dengan suara manja dia berkata.

"Benar-benar aneh, orang yang hampir mati di awal tahun ini masih ditemukan oleh Ke Qinglong di perbatasan Tibet."

Wajah Fan Zhong-pin berubah tapi Gu Ling-ji pura-pura tidak melihatnya.

"Perkumpulan kami terus mencari tahu, ternyata perempuan yang terkena racun ini, pernah datang ke rumah Pendekar Fan dan menginap beberapa hari di sini."

Tawa Gu Ling-ji berhenti, dengan serius dia berkata.

"Shi-gu-sheng-shui adalah racun yang paling ganas tapi sayang tidak ada obat penawar-nya maka perkumpulan kami jarang memakainya. Sesudah tahu ada obat penawarnya maka kami tidak akan melepaskan kesempatan ini."

Gu Ling-ji maju lagi.

Di belakang tiang batu adalah rumah tinggal.

Fan Zhong-pin tidak bisa mundur lagi, dia berputar ke belakang tiang batu kemudian maju ke pintu pekarangan tapi dia sudah dikepung oleh sembilan gadis berpakaian kuning.

Tubuh Gu Ling-ji mulai mengeluarkan aura membunuh.

"Jauh-jauh aku datang dari Yun-nan, aku harus berhasil mendapatkan obat itu. Hei marga Fan, apakah kau masih tetap tidak akan mengatakannya?"

"Aku memang tidak tahu. Sampai mati pun aku tetap tidak tahu."

Kedua tangan Gu Ling-ji melambai. Dengan penuh aura membunuh dia berkata lagi.

"Aku tidak perlu membunuhmu, tapi aku akan membuatmu hidup tidak bisa, mati pun tidak bisa!"

Tiba-tiba seruling ditiup, gadis-gadis lain mulai memainkan alat musik mereka.

Awalnya suara seruling sangat enak didengar tapi lama kelamaan sembilan macam suara alat musik bercampur menjadi nada yang tidak enak didengar.

Membuat darah di dalam dada terus bergejolak dan perasaan pun jadi tidak enak.

Gu Ling-ji berhadapan dengan Fan Zhong-pin tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah kecapi yang berbentuk aneh.

Dia memeluk kecapi itu kemudian memainkan dengan lima jari tangan kirinya.

Suara aneh keluar dan melejit di antara sembilan suara tadi, membuat gendang telinga terus berdenging.

Begitu mendengar suara musik berbunyi, Fan Zhong-pin duduk bersila untuk mengatur nafas, tujuannya untuk menahan suara ini.

Tenaga dalamnya kuat tapi begitu mendengar sembilan macam suara yang keluar dari sembilan macam alat musik, dadanya terasa tidak enak.

Begitu mendengar suara kecapi Gu Ling-ji, dia segera meloncat berdiri dan meraung, membuat udara yang tidak enak di dalam dadanya dikeluarkan.

Begitu dia berdiri, dua kepalan tangannya dengan sekuat tenaga memukul lututnya kemudian dengan cepat dia duduk bersila dan mengatur nafas.

Jurus pertama Gu Ling-ji tidak mendapatkan hasil.

Dalam hati Gu Ling-ji berpikir, 'Aku ingin melihat kau bisa bertahan berapa lama?"

Kelima jarinya terus memainkan kecapi.

Ruan-wei yang berdiri di pinggir begitu mendengar suara musik berbunyi, dia menggunakan ilmu yoga yang dilatihnya selama 3 tahun.

Ilmu yoga ini sangat aneh, dalam keadaan berdiri atau berjalan tetap masih bisa dilatih dan dipakai, tidak seperti ilmu silat Zhong-yuan harus duduk bersila atau melakukan Da-zuo.

Awalnya dia tidak begitu merasa aneh walaupun musik ini keluar dari sembilan jenis alat musik tapi begitu Gu Ling-ji memainkan kecapi, hatinya merasa tidak enak.

Dia menoleh ke sekeliling, pak tua berpakaian merah dan enam laki-laki gagah tampak menutup telinga mereka, mata mereka pun dipejamkan dan kepala ditundukkan.

Mereka duduk bersila.

Hanya wajah Fan Zhongpin terlihat sangat sulit bertahan.

Dia tahu jika Gu Ling-ji terus memetik kecapi, dia juga tidak akan bisa bertahan lagi.

Ketika dia menerima bungkusan dari Fan Zhong-pin, dia merasa di dalamnya ada senjata berbentuk panjang.

Sekarang dia membuka bungkusan itu, dia meraba sebilah pedang yang diukir dengan gambar ikan hiu berwarna hitam.

Wajah Gu Ling-ji terlihat tawa yang aneh.

Suara seruling keluar dari jari-jarinya.

Baru beberapa memainkan irama, Fan Zhong-pin sudah tidak tahan.

Dia meloncat dan menarik baju bagian dadanya, sampai-sampai murid Tian-du-jiao yang menutup telinga pun mulai tidak tahan.

Tapi...tiba-tiba ada suara seperti guntur, tangan Gu Ling-ji berhenti memainkan kecapi dan Ruanwei masuk ke dalam lingkaran sembilan gadis berpakaian kuning.

Ruan-wei berdiri dengan diam.

Tangan kirinya membawa pedang dan diturunkan, dia mengatur nafas kemudian berkata.

"Jika kau tidak menghentikan musiknya, jangan salahkan kalau aku bertindak tidak sopan!"

Setiap kata yang terucap suaranya sangat kuat, kesembilan gadis itu tergetar dan berhenti.

Mereka sampai lupa meniup atau memetik.

Dalam hati Gu Ling-ji mengetahui kemampuan ilmu silat Ruan-wei sangat tinggi.

Dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan bunyi alat musik yang mereka mainkan, semua itu karena tenaga dalam Ruan-wei sangat tinggi.

Ruan-wei sekarang berdiri sambil tangan kirinya memegang pedang.

Dalam hati Gu Ling-ji berpikir.

"Tangan kanannya sudah terluka, dia memegang pedang dengan tangan kiri untuk bertarung, dia pasti tidak akan bisa mengeluarkan kepandaian yang sesungguhnya."

Karena itu dia sama sekali tidak menghiraukan kata-kata Ruan-wei.

Tangannya melambai lagi, dan kesembilan orang gadis itu mulai memainkan musik lagi.

Ternyata dugaan Gu Ling-ji salah, karena selama tiga tahun Ruan-wei berlatih ilmu pedang Tian-long-shi-san-jian, dalam ilmu pedang itu malah terdapat ketentuan harus menggunakan tangan kiri memegang dan memakai pedangnya.

Melihat Gu Ling-ji sama sekali tidak meladeni perkataannya, Ruan-wei membentak.

"Lihat ilmu pedang orang kecil ini!"

Tangan kiri memegang pedang, Ruan-wei memutar tubuhnya, kemudian mengikuti ayunan pedang naik ke atas.

Di sekeliling hanya terlihat cahaya pedang berkilau.

Sembilan gadis itu merasa semua pedang menusuk ke arah mereka tapi sosok orangyang memakai pedang tidak terlihat.

Terdengar suara TANG, TANG, TANG...

Suara TANG belum selesai, dia sudah menghenti-kan ayunan pedangnya dengan tenang.

Lalu terdengan Gadis-gadis itu berteriak, karena alat musik mereka telah ditebas oleh pedang Ruan-wei dan semua terbelah menjadi dua.

Gu Ling-ji tidak marah, dia malah tertawa, dengan santai dia berkata.

"Fei-long-jian yang hebat, memotong besi seperti membabat tanah. Anak kecil, apakah kau adalah murid Fei-long-jian ke?"

Semua alat-alat musik gadis-gadis itu terbuat dari giok, ilmu silat mereka memang hebat tapi mana mungkin bisa menahan serangan Tian-long-shi-san-jian yang mana ilmu pedangnya satu orang bisa melawan banyak musuh.

Hanya dengan satu jurus 'Jin-tong-bai-fu' (anak emas menyembah Budha), Ruan-wei berhasil memotong alat-alat musik mereka.

Dalam hati dia benarbenar merasa pedang ini sangat berguna.

Setelah tertawa dengan santai, kecapi yang ada di tangannya segera dimainkan lagi oleh Gu Ling-ji.

Ruan-wei melihat tawa Gu Ling-ji, tawanya penuh dengan godaan cabul.

Tangannya mulai memetik senar kecapi.

Iramanya penuh kelembutan dan membuat hati orang serasa terbang.

Setelah alat musik gadis-gadis itu patah, Fan Zhong-pin mulai sadar kembali, karena dia membelakangi Gu Ling-ji maka dia tidak melihat tawa Gu Ling-ji yang penuh dengan godaan.

Apalagi dia sudah tua, nafsu birahinya sudah turun maka lagu yang dimainkan oleh Gu Ling-ji tidak mengganggu pikirannya.

Tapi Ruan-wei masih muda, dia tertarik oleh suara kecapi ini, apalagi dia tidak mengatur nafasnya, maka dia pun mulai tergoda.

Melihat situasi ini, Fan Zhong-pin terkejut dan berteriak.

"Saudara kecil, hati-hati!"

Karena Ruan-wei masih berada di tahap tergoda awal, maka dia segera tersadar.

Pedang membabat kecapi Gu Ling-ji.

Gerakan Ruan-wei sangat cepat, gerakan Gu Ling-ji lebih cepat lagi.

Tubuhnya bergerak lincah seperti seekor ular.

Tadi Ruan-wei tidak melancarkan jurus Tian-long Jian Fa.

Dia berpikir, 'Ketua Tian-du-jiao sangat aneh, jika bertarung lama dengannya aku pasti akan terkena tipuannya.

Tapi jika tidak membabat, maka mereka tidak akan mengaku kalah."

Tangan kiri segera diangkat sejajar dengan alis.

Posisinya terlihat sangat aneh.

Melihat dengan irama kecapinya dia tidak bisa menggoda Ruan-wei, Gu Ling-ji mulai tahu ilmu pedang Ruan-wei tidak boleh dibuat mainan.

Segera dari balik mantelnya dia mencabut sebilah pedang ular lemas sepanjang tiga perempat meter.

Pedangnya berkilau mengeluarkan cahaya hitam.

Ruan-wei tertawa terbahak-bahak, dia seperti biksu Budha Mi Le menunjuk ke langit barat.

Pedang diangkat seperti memancarkan pelangi.

Pedang ini tidak menyerang Gu Ling-ji melainkan menetis tiang batu.

Jurus ini bernama 'Xiao-fu-zhi tian' (Budha tertawa menunjuk langit).

Adalah jurus pembukaan ilmu Tian-long-shi-san-jian.

Terlihat kilauan pedang berkelebat, begitu semua mata melihat jelas, jurus pedang ini telah selesai di mainkan oleh Ruan-wei.

Dengan tangan kiri memegang pedang, dia berhadapan dengan Gu Ling-ji.

"Jika kalian belum mau pergi juga, jangan salahkan aku!"

Gu Ling-ji menurunkan mantelnya, wajah yang cantik tampak jelas sekarang.

Sebelum dia mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba ada angin kencang membawa salju besar berhembus ke arah mereka, tubuh, rambut, dan wajah Gu Ling-ji jadi penuh dengan salju.

Kemudian terdengar suara KRAAK......ternyata tiang batu itu telah roboh terputus menjadi dua, putus dengan miring tapi rata.

Gu Ling-ji sangat terkejut, dia sama sekali tidak menyangka tebasan Ruan-wei tadi memotong tiang batu itu.

Jika bukan karena angin kencang berhembus, tidak ada yang tahu kalau tiang batu itu sudah terpotong sejak tadi.

terbayang betapa ilmu pedang ini begitu sakti dan hebat.

Gu Ling-ji segera menarik kembali pedang ularnya.

Kedua tangannya sedikit melayang, dan anak buahnya segera mundur.

Dia tersenyum.

"Ilmu pedang Tuan lebih hebat dibandingkan dengan guru Tuan!"

Ruan-wei sedikit tertegun, tapi dia segera menjawab.

"Aku bukan murid Fei-long-jian ke, hal ini perlu kau ketahui supaya jelas."

Kemudian Gu Ling-ji berkata lagi.

"Kalau kau tidak disukai oleh Pendekar Gongsun. Bagaimana dia bisa memberikan pedang sakti Fei Long yang dulu pernah membuat-nya terkenal."

Ruan-wei meraba pedang ini. Dalam hati berpikir, 'Jika aku mempunyai pedang ini, berarti ilmu pedang Tian-long benar-benar tidak akan terkalahkan.' Gu Ling-ji bertanya lagi.

"Apa hubungan tuan dengan Pendekar Gongsun? Sampai pedangnya pun diberikan kepada tuan."

"Hal ini tidak perlu kau pikirkan, yang penting kau mau pergi atau tidak!"

Gu Ling-ji segera menarik tawanya, dengan wajah dingin dia berkata.

"Aku tidak ingin melihat tuan, aku hanya merasa aneh saja, ketika kecil dulu aku pernah ikut ayahku dan pernah bertemu satu kali dengan Fei-long-jian ke. Aku tidak mempunyai maksud apaapa!"

Kemudian dia tertawa lagi.

"Jika kau ingin bentrok dengan perkumpulan kami, kami akan mengalah. Tapi jika Fan Zhongpin masih ada di dunia ini, kami tidak akan melepaskannya, kecuali dia memberitahukan pada kami di mana obat penawar 'Shi-gu-sheng-shui'."

Gu Ling-ji menepuk tangannya, empat orang laki-laki datang menghampirinya meng-gotong tandu.

Dia naik ke dalam tandu.

Ketika menurunkan tirai, dia masih sempat menoleh melihat tangan kanan Ruan-wei kemudian dia bertepuk tangan lagi.

sembilan gadis berpakaian kuning berjalan ke depan tandu.

'Hua-du-jun' Ke Qing-long baru berjalan dua langkah, Ruan-wei sudah membentak.

"Tunggu dulu!"

Begitu 'Hua-du-jun' membalikkan badan, pedang Ruan-wei datang menghampirinya.

Ke Qinglong terkejut dan mundur.

Begitu tangannya dibuka dia melihat jarum-jarum beracun yang terselip di jarinya sudah tidak ada.

Dia diam dan terus mengikuti tandu dari belakang dan pergi dengan tergesa-gesa.

Ujung pedang Ruan-wei masih tergantung sebuah cincin berwarna sama dengan kulit manusia.

Dia menyesali kecercbohan-nya sendiri tadi hingga terkena tipuannya.

Tapi juga memberi pelajaran padanya agar kelak jangan ceroboh lagi.

Dengan penuh perhatian Fan Zhong-pin bertanya.

"Apakah tanganmu tidak sakit?"

Ruan-wei merasa kaku di telapaknya sudah hilang. Lubang akibat serangan jarum tadi mengeluarkan darah. Dia dengan tenang berkata.

"Tidak apa-apa, sekarang aku pamit!"

Fan Zhong-pin menarik nafas panjang.

"Jika kau mau pergi, aku juga tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Aku harus bersembunyi dulu, kekejaman Tian-du-jiao benar-benar membuat siapa pun takut!"

Ruan-wei mengangguk. Dia menganggap perkumpulan racun ini sering muncul tidak terduga. Fan Zhong-pin berkata lagi.

"Apakah kau tahu tiga tahun yang lalu, siapa perempuan yang terkena Shi-gu-sheng-shui?"

Ruan-wei menggelengkan kepala, Fan Zhong-pin menyambung.

"Dia Gongsun Lan!"

Ruan-wei terkejut dan berteriak. Fan Zhong-pin bercerita.

"Lima tahun yang lalu nama Tian-du-jiao masih belum begitu terkenal seperti sekarang di dunia persilatan. Suatu hari tiba-tiba rumahku didatangi seseorang yang sangat terkenal."

Dari wajah Fan Zhong-pin tampak kalau dia sangat mengagumi orang ini.

"Awalnya dengan ramah dia mengobrol denganku kemudian dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan memberitahu kepadaku kalau isi botol kecil itu adalah obat penawar Shi-gu-sheng-shui. Aku merasa aneh mengapa dia memberikan obat penawar itu kepadaku. Dia menceritakan bahwa Tian-du-jiao di Yun-nan telah membunuh semua pendekar yang ada di sana dan mendirikan markas pusatnya di sana. Yang pasti mereka menggunakan racun yang sangat ganas jika tidak mereka tidak akan dengan mudah membunuh pendekar-pendekar di sana. Setelah orang ini mencari tahu dan ternyata racun yang mereka gunakan bernama Shi-gu-sheng-shui milik Wu Du Zhen Jun yang sudah ada sejak 500 tahun yang lalu. Sangat sulit membasmi perkumpulan ini. Tapi Shi-gu-sheng-shui adalah racun air yang paling lihai, jika tidak waspada racun air ini akan membahayakan dunia persilatan karena itu penawar Shi-gu-sheng-shui yang disimpannya sejak lama dibagikan kemudian disimpan di lima tempat berbeda. Agar bila ada yang terkena racun ini bisa segera bisa tertolong. Kebaikan hatinya benar-benar membuat orang terharu. Salah satu tempat penyimpannya adalah di sini. Aku tidak menyangka orang yang begitu terkenal masih ingat pada keselamatanku."

Dengan aneh Ruan-wei bertanya.

"Siapa dia? Tetua terus-menerus memuji nya."

Fan Zhong-pin dengan senang menjawab.

"Dia adalah ketua Zheng-yi-bang dan dulu dijuluki Tie-ji-wen-hou, Lu Nan-ren!"

Siapa yang tidak tahu nama Lu Nan-ren di dunia persilatan?

Siapa yang tidak hormat padanya?

Ruan-wei diam-diam berpikir, 'Bagaimana dengan ayah kandungku dia seperti apa?

Jika dia gagah seperti ketua Zheng-yi-bang, walaupun dia telah bersalah kepada ibu, aku tetap akan menghormatinya.' Ruan-wei tidak tahu siapa ayahnya, tapi di dalam hati dia mempunyai perkiraan kalau ayahnya bersalah kepada ibunya, sehingga membuat ibunya menikah lagi dengan Ruan Da-cheng.

Fan Zhong-pin menarik nafas, berkata lagi.

"Tiga tahun yang lalu demi mencarimu, Lan Er mencari sampai ke Yun-nan dan Gui-zhou, tanpa sengaja dia telah membuat Tian-du-jiao marah. Tapi karena ilmu silatnya tinggi, bisa dikatakan setingkat dengan ayahnya, maka orang-orang Tian-du-jiao tidak bisa mengalahkannya begitu saja. Akhirnya mereka menggunakan racun Shigu-sheng-shui yang tidak berbau dan tidak berwarna untuk meracuninya. Sambil menahan racun tidak menyebar Lan-er berhasil kabur dari kejaran musuh. Dengan bersusah payah baru bisa lari kemari. Untung Tuhan berbaik hati, di sini ada obat penawarnya dan aku pun menolongnya, kalau tidak mungkin dia akan mati."

Kemudian Fan Zhong-pin menarik nafas dan berkata lagi.

"Setelah beristirahat selama beberapa hari, dia meninggalkan bungkusan ini dan menyuruhku memberikan padamu. Dia mengatakan bahwa dia sudah pergi ke mana-mana untuk mencarimu tapi tidak berhasil menemukanmu. Banyak kata-kata yang harus disampaikannya kepadamu. Ketika dia akan pergi, aku lihat dia sangat sedih. Dia berkata lagi bahwa kau pasti akan datang lagi ke rumahku. Jika datang, dia menyuruhku menyampaikan kepadamu pergilah ke Tibet. Dia menunggumu di sana. Banyak kesalah-pahaman yang harus dia jelaskan kepadamu."

"Untuk apa menjelaskan lagi? Dia menyuruhku ke Tibet pasti ada niat tidak baik!"

Ruan-wei marah. Fan Zhong-pin juga marah.

"Jangan jadi orang tidak berperasaan! Lan Er bukan orang yang berniat jahat, dia selalu jujur kepada siapa pun!"

"Aku tidak mau membicarakan masalah ini lagi. Aku pamit dulu!"

Ruan-wei mengerutkan alisnya.

Sebenarnya Fan Zhong-pin ingin mengikuti Ruan-wei pergi ke perbatasan Tibet, menghindari musuh yang mencarinya tapi melihat Ruan-wei sama sekali tidak berniat pergi ke sana maka dengan kecewa dia berkata.

"Pergilah! Hitung-hitung Lan-er salah menilai orang, sampai-sampai Fei-long-jian miliknya pun diberikan kepadamu!"

Ruan-wei membuka bungkusan berwarna ungu itu. Fan Zhong-pin tahu apa yang akan dilakukan Ruan-wei. Dia segera membentak.

"Jika kau ingin mengembalikan pedangnya, silakan kembalikan sendiri kepada orangnya. Jika kau mengembalikannya kepadaku, jangan salahkan kalau aku kurang sopan kepadamu!"

Terpaksa Ruan-wei membawa bungkusan itu lagi. Fan Zhong-pin berpesan lagi.

"Bukan karena aku cerewet, tapi jangan sebarkan tentang obat penawar Shi-gu-sheng-shui! Jika ketahuan oleh Tian-du-jiao maka akan membuat dunia persilatan bertambah kacau."

"Aku bukan orang yang banyak bicara."

Sesudah itu dia pun berlalu begitu saja.

Dalam hati Fan Zhong-pin berpikir, 'Di dunia persilatan satu generasi baru pasti akan mengganti generasi sebelumnya.

Aku sudah tua, benar-benar sudah tidak berguna lagi.' Setelah dia menyelesaikan urusan di rumah.

Hari kedua dia meninggalkan rumah untuk menghindari kejaran Tian-du-jiao.

Setelah musim dingin berlalu, musim semi pun tiba.

Demi mencari Zhong-jing, untuk memberitahukan pertarungan yang terjadi antara Tuan Jian dan biksu harimau bisu dan tuli, sebagai penentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah dia pun pergi berkelana.

Waktu yang tersisa tinggal dua tahun kurang, maka Ruan-wei terus mencari Zhong-jing dan sekarang dia sedang berjalan menuju Jin-ling.

Perjalanan harus ditempuh selama setengah bulan.

Dalam terpaan angin dan hujan akhirnya dia sampai di Jin-ling.

Sekarang sudah musim semi tapi karena kelelahan dia terserang penyakit dan terbaring di sebuah penginapan besar.

Sakit Ruan-wei sangat parah dan dia tidak bisa keluar untuk mencari Zhong-jing.

Setiap hari dia hanya berbaring di ranjang, tubuhnya panas, dan hanya ingin makan makanan dingin.

Untung dia masih punya banyak uang, pelayan pun sangat rajin dan sering membelikan buah pir yang dingin serta makanan lainnya.

Kadang dia membelikan es batu yang besar lalu dipecahkan supaya bisa dimakan Ruan-wei.

Walaupun musim dingin sudah berlalu tapi udara masih terasa sangat dingin.

Ruan-wei masih tetap ingin makan makanan dingin, benar-benar aneh.

Tapi Ruan-wei harus makan, jika tidak makan makanan dingin, tubuhnya akan terasa panas tidak tertahankan.

Suatu sore, lampu di kamar menyala hanya sebesar kacang dan pelayan belum datang mengantarkan es untuknya, karena panas Ruanwei tidak tahan, akhirnya dia merintih, tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Ruan-wei tergesa-gesa duduk.

Dari luar masuk seorang pak tua bungkuk dengan berpakaian seperti seorang kasir.

Dia membawa sepiring makanan yang ditutup dengan kain basah.

Ruan-wei membuka bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

Dia melihat makanan dingin yang tersimpan di atas piring dan mulutnya mengeluarkan suara meminta.

Pak tua bungkuk itu menaruh piring di atas meja dan mendekati Ruan-wei.

Dia bertanya.

"Apakah kau merasa tidak enak badan?"

Ruan-wei hanya menginginkan benda yang ada di dalam piring itu.

Mendengar pertanyaan pak tua itu, diam-diam dia berpikir, 'Benar-benar kurang ajar, jika tidak sakit untuk apa aku terus merintih?' Tapi dia adalah seorang terpelajar.

Dia menahan rasa panas seperti dibakar di bagian dadanya.

Pelan-pelan mengangguk tapi dia terus menatap ke arah piring.

Pak tua itu terus menggelengkan kepalanya.

"Dengan cara seperti itu hanya bisa bertahan untuk 'sementara supaya tidak haus tapi akan merusak tubuh."

Benda yang ditutup dengan kain basah karena panas maka meneteskan air. Dalam hati Ruanwei berpikir, 'Benda yang ada di dalam piring pasti buah yang dingin."

Maka tenggorokan terus berbunyi KRRUUUK, KRRUUUK tapi pak tua itu seperti sengaja tidak mau memberikan makanan itu kepadanya. Ruan-wei menahan amarahnya. Dengan lemah dia berkata.

"Pak tua, apakah Anda adalah orang penginapan ini?"

Pak tua bungkuk itu mengangguk dan menjawab.

"Aku adalah kasir penginapan ini, biasanya aku jarang mengurusi hal-hal yang tidak ada hubungannya denganku, tapi aku melihat pelayan selalu membelikan buah-buahan dingin untukmu maka aku merasa aneh dan aku pun datang ke sini untuk melihatmu."

Karena Ruan-wei marah, dia berkata.

"Apakah Anda bisa memberikan barang yang dititipkan itu kepadaku, pak tua?"

Pak tua bungkuk itu seperti tidak mendengar perkataan Ruan-wei. Dia melihat piring itu kemudian pelan-pelan berkata.

"Apakah kau terkena racun?"

Walaupun tubuh Ruan-wei panas seperti terbakar api tapi dia berusaha menahan emosinya dan mengangguk.

"Betul! Betul! Tolong berikan piring itu kepadaku!"

"Kau benar-benar terkena racun?"

Ruan-wei ingin bangun sendiri untuk mengambil makanan yang ada di dalam piring tapi dia tidak bertenaga karena itu dia sengaja tidak mau melihat benda di dalam piring dan menjawab apa yang ingin diketahui oleh pak tua itu.

Dia menahan rasa sakitnya dan menjawab.

"Setengah bulan yang lalu aku terkena serangan Tian-du-jiao tapi aku sudah membaik. sekarang aku hanya ingin makan makanan yang dingin saja."

Pak tua berteriak.

"Hua-du! Hua-du!" (racun bunga). Wajahnya penuh dengan keanehan.

"Betul, orang yang melukaiku bernama Hua-du-jun!"

Hua-du-jun Ke Qing-long berlatih racun Tao-hua.

Orang yang terkena racunnya jika dalam waktu tiga hari tidak mendapatkan obat penawarnya maka tubuhnya akan membusuk sampai mati.

Ilmu yoga yang dikuasai Ruan-wei merupakan tenaga dalam tingkat tinggi.

Dia bisa menahan bermacam-macam racun tapi hanya sementara waktu beredarnya racun beberapa kali lipat supaya tidak mati.

Sebenarnya tubuh Ruan-wei sudah harus berbau busuk, karena ilmu yoga nya maka racun masih berkumpul di dalam tubuh tapi tidak sampai menyebar.

Sebetulnya waktu itu belum semua racun dikeluarkan, sebagian racun mengikuti aliran darah di dalam tubuh.

Racun mengendap di dalam darah, tidak mengeluarkan reaksinya.

Pak tua bungkuk itu menarik nafas.

"Orang yang bisa membuat racun Tao Hua menjadikan racun itu untuk melukai orang, memang dia harus dinamakan 'Hua-zhong-du-jun'!" (tuan racun didalam bunga). Dia berkata lagi, 'Jika itu adalah racun bunga, mengapa tubuhmu tidak membusuk?' "Aku tidak tahu. Tuan, tolong berikan piring itu kepadaku!"

Pak tua itu membuka tutup piring, di dalam berisi dua pir yang dingin yang sudah dikupas.

Ruan-wei segera mengambil, dalam sekejap buah pir itu habis dimakan, sampai bijinya pun tidak disisakan.

Pak tua bungkuk itu mengambil kembali piring dengan tangannya yang kurus.

Dia terus menggelengkan kepala.

"Kalau terus menerus seperti ini, itu bukan cara yang baik!"

Setelah makan pir dingin, untuk sementara Ruan-wei bisa menahan rasa panas di dalam jantungnya dan berhenti memberontak karena kepanasan.

Dia merasa lelah dan mengantuk akhirnya dia tertidur dengan nyenyak.

Pak tua bungkuk itu duduk sendirian di dalam kamar.

Dia mengerutkan alisnya kemudian pelanpelan berdiri dan berjalan ke tempat penyimpanan barang-barang Ruan-wei.

Bungkusan Ruan-wei sangat sederhana, satu bungkusan berwarna ungu dan satu bungkusan lagi berwarna putih.

Bungkusan pertama yang dibuka oleh pak tua itu adalah bungkusan ungu.

Di dalam bungkusan itu ada sebilah pedang yang terukir ikan hiu hitam dan sehelai sapu tangan pembungkus emas.

Sapu tangan tersebut tersulam beberapa kuntum Lan-hua (anggrek).

Wajah pak tua itu segera tersenyum sepertinya dia mengenang masa mudanya.

Pasangan kekasih sering saling memberikan benda yang bermakna cinta.

Dia mencabut pedang itu dan melihatnya.

Pedang itu dalam cahaya redup memantulkan kilauan dingin.

Dia memuji.

"Pedang bagus!"

Pegangan pedang terukir seekor naga terbang. Pak tua bungkuk itu segera berkata.

"Ternyata dia adalah murid Gongsun Qiu-jian, pantas tenaga dalamnya sangat kuat dan dia bisa menahan racun bunga selama setengah bulan, benar-benar hebat! Hebat!"

Pelan-pelan pak tua itu membungkus kembali barang-barang ke dalam kain ungu.

Walaupun ada pedang sakti yang tidak ternilai dan sebongkah emas tapi dia sama sekali tidak tertarik untuk mengambil.

Dia memejamkan mata berpikir, sepertinya dia sedang mengambil keputusan yang sulit ditentukan.

Akhirnya dia berkata.

"Aku ingin tahu tentang dirinya."

Karena itu dia pun segera membuka bungkusan berwarna putih.

Isinya adalah pakaian seharihari, tanpa sengaja dia melihat ada bungkusan yang dibungkus oleh kertas.

Di dalam ada beberapa helai kertas dan buku.

Dalam hati pak tua berpikir, 'Ternyata dia seorang pelajar!' Tapi masih ada bungkusan kecil yang dibungkus dengan kain sutra putih.

Dalam hati dia berpikir, 'Barang apa ini?

Mengapa disimpan begitu terselubung?' Demi mengetahui diri Ruan-wei dan memecahkan banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati, terpaksa pak tua itu harus melanggar etika yang berlaku.

Tampak kain sutra itu ada tulisan.

langit yang luas, rumput seperti gelombang, bayangan ibu sangat jauh, putramu sangat merindukanmu.

Hanya beberapa kata tapi sudah memperlihatkan perasaan hati yang begitu rindu kepada ibunya.

Kerinduan ini membuat pak tua ini menarik nafas panjang tapi juga diam-diam memuji.

Dia membuka bungkusan kain putih itu, ada dua buah tusuk konde yang terbuat dari giok.

Warna gioknya hijau tua, berbentuk burung phoenic.

Melihat tusuk konde ini, pak tua itu merasa sangat kenal dengan benda ini.

Begitu dilihat dengan teliti lagi, setiap tusuk konde terdapat ukiran huruf Nan-pin.

Pak tua itu gemetaran, air mata segera membasahi wajahnya.

Dia terus berkata.

"Pin Er! Pin Er!"

Suaranya seperti sedang menangis, dia benar-benar sedih.

Pelan-pelan dia berjalan ke depan ranjang, Ruan-wei masih tertidur pulas.

Tangannya yang kurus mengelus kepala Ruan-wei dan tidak berhenti bicara.

"Cucu yang baik! Cucu yang baik! Kakek pasti akan mengobati racunmu, pasti akan mengobati racunmu...."

Ternyata pak tua bungkuk dan kecil ini adalah ayah Xiao-xiang-fei-zi Xiao Nan-pin, yang bernama Xiao San-ye.

18 tahun yang lalu tersebar berita bahwa Xiao San-ye sudah meninggal.

Penyebab kematiannya tidak ada yang tahu dengan jelas tapi sama sekali tidak disangka sekarang dia berada di kota Jin-ling dan menjadi seorang kasir di sebuah penginapan.

Ilmu meringankan tubuh, senjata rahasia, dan ilmu ketrampilan mengubah wajah adalah keahliannya nomor satu di dunia persilatan.

Sedangkan kemampuan ilmu silatnya, setingkat dengan Tuan Jian, Fei-long-jian ke, dan San-xin-shen-jun.

Semua senjata rahasia, baik yang beracun maupun tidak jika sudah berada di tangan Xiao San-ye akan menjadi tidak berguna.

Cincin Hua-du-jun untuk menyimpan jarum beracun termasuk salah satu senjata rahasia.

Setelah mengetahui asal usul racun ini, bagiXiao San-ye semua ini tidak masalah.

Tiga hari kemudian Ruan-wei baru sadar.

Begitu sadar dia melihat ke sekeliling, dia baru tahu kalau dia sekarang berada di sebuah rumah bagus bukan di penginapan usang.

Di luar terlihat ada taman bunga, ditanami banyak pohon Mei-hua.

Setiap pohon Mei-hua penuh dengan Mei-hua berwarna merah membuat taman bunga itu menjadi penuh kehidupan.

Dengan santai Ruan-wei menarik nafas, dia merasa tubuhnya sudah tidak ada perasaan tidak enak, rubuhnya juga sudah tidak bengkak lagi.

Diam-diam dia berpikir.

"Aneh, mengapa penyakitku mendadak sembuh?"

Dia tidak tahu, dalam tiga hari ini pak tua bungkuk itu telah menghabiskan banyak tenaga dan obat, baru berhasil menyembuhkannya.

Dia membalikkan tubuh dan berdiri, tapi dia terjatuh lagi, ternyata dia masih belum bisa berjalan.

"Jangan tergesa-gesa, kau harus istirahat selama beberapa bulan, baru akan sembuh total. Apakah kau merasa lebih baikan?"

Tanya pak tua. Dalam hati Ruan-wei berpikir, penyakitnya pasti telah disembuhkan oleh pak tua ini, maka dia segera berkata.

"Terima kasih Tuan sudah menolongku. Aku masih kecil dan tidak berpengalaman, jika bukan karena Tuan aku pasti sudah mati di tangan Hua-du-jun!"

Pak tua bungkuk itu tertawa melihat Ruan-wei.

Dia benar-benar menyukainya tapi dia tidak akan menanyakan marganya, dia juga tidak akan memberitahukan identitas dirinya, lebih-lebih dia tidak akan memberitahukan Ruan-wei tentang kematian"Xiao Nan Pin.

"Istirahatlah!"

Dia hanya berkata itu saja Setelah itu setiap hari pak tua itu pasti beberapa kali menengoknya, kadang-kadang Ruan-wei menanyakan namanya tapi dia selalu berkata.

"Umurku cocok untuk menjadi kakekmu, panggil saja aku Kakek Xiao."

Karena Ruan-wei sangat berterima kasih kepadanya, dia tidak banyak berpikir.

Setiap hari dia selalu memanggilnya Kakek Xiao.

Mereka banyak bercerita tentang dunia persilatan.

Ruan-wei sangat sedikit mengetahui tentang dunia persilatan, sekarang mendengar cerita Kakek Xiao, dia sangat tertarik, apalagi cerita tentang ilmu silat.

Kakek Xiao tambah semangat menceritakan tentang ilmu senjata rahasia, ilmu meringankan tubuh, dan ilmu keterampilan tangan.

Ruan-wei sangat pintar, dia cepat menangkap maka dalam waktu dua bulan dia telah mendapatkan banyak pengetahuan tentang ketiga ilmu ini.

--BAB 94 Bercerita kejadian masa silam Mewariskan ilmu andalannya Sesudah dua bulan berlalu, pepohonan dan rumput-rumput mulai mengeluarkan tunas.

Sekarang memasuki musim semi yang indah.

Selama dua bulan ini Ruan-wei belajar banyak cara melempar senjata rahasia juga tenaga dalam dan tidak ketinggalan belajar mengubah wajah.

Hanya saja dia kurang praktek.

Hari ini Ruan-wei merasa tubuhnya sudah sehat dan dia ingin turun dari tempat tidur untuk melemaskan tubuhnya yang kaku.

Begitu dia menggunakan tenaga dalamnya, bisa dikatakan tubuhnya benar-benar sudah sehat.

Dengan senang dia berjalan-jalan ke taman bunga.

Taman bunga sangat luas, bermacammacam aroma wangi bunga membuat orang merasa segar.

Ruan-wei menggunakan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan Kakek Xiao.

Tubuh Ruan-wei seperti bola melambung ke atas dan ke bawah, kadang-kadang seperti burung kenari terbang di langit.

Ruan-wei semakin tertarik, tubuhnya ditekuk dan meloncat.

Dia seperti sebuah panah melesat ke semak-semak.

Ini adalah ilmu meringankan tubuh yang bernama 'Li-guang-shi-jian'.

Ilmu ini bisa dikatakan sangat jarang dikuasai orang.

Ketika tubuhnya melejit ke arah semak-semak, dia teringat satu cara melempar senjata rahasia, maka dia segera menepuk kedua tangannya.

Puluhan bunga bergerak ke pinggir, seperti ada seorang dewi yang sedang menabur bunga.

Dengan cara indah dia mendarat.

Walaupun ini pertama kalinya berlatih, tapi terlihat caranya sangat jitu.

Yang harus diketahui, bila di tengah-tengah udara siapa pun tidak dapat bergerak bebas dan sulit mencapai sasaran, jarang ada orang yang bisa menggunakan senjata rahasia di tengah-tengah udara.

Tapi jurus ini diciptakan oleh Xiao San-ye, dan jurus ini adalah jurus senjata rahasia seperti hujan, tidak mementingkan sasaran.

Tapi cara aneh ini asal digunakan, memenuhi langit dengan menggunakan senjata rahasia pasti akan mengenai musuh.

Ruan-wei baru sembuh, tubuhnya masih lemas keringat terus menetes.

Tiba-tiba di belakang ada yang berkata.

"Apakah kau sudah merasa sehat?"

Begitu membalikkan tubuh, Xiao San-ye sudah berdiri di belakang sekitar satu meter dari Ruanwei.

Ruan-wei berpikir, 'Jika dia musuh, dan dari belakang memukulku, aku tidak akan tahu.

Sungguh memalukan, benar-benar memalukan.' Dia berkata.

"...sudah baik... sudah membaik...."

Punggung Xiao San-ye yang bungguk agak ditegakkan. Dengan bersemangat dia berkata.

"Dalam waktu dua bulan aku mengajar ilmu silat, bagaimana hasilnya?"

Xiao San-ye tidak pernah mengatakan akan mengajarkan ilmu silat tapi Ruan-wei bukan orang bodoh.

Dari kata-kata Kakek Xiao, dia tahu kalau Kakek Xiao bermaksud mengajarkan ilmu silat.

Dan dia sudah menganggap Kakek Xiao adalah gurunya.

Maka dengan penuh hormat dia menjawab.

"Aku merasa ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasia Kakek Xiao adalah ilmu terbaik di dunia ini."

Kata-katanya tadi tidak bermaksud menjilat, melainkan setelah dipraktekkan baru diketahui ilmu kakek Xiao benar-benar bagus dan dia mengatakan dengan hati tulus.

"Apakah kau bisa mempraktekkan ilmu silat yang hanya kuajarkan dengan cara bercerita?"

"Aku kira... mungkin ini tidak masalah...."

Ruan-wei berkata dengan sedikit ragu. Xiao San-ye masih mengenakan baju kasir. Dia menyelipkan baju itu ke tali pinggang dan berkata.

"Sebisa-bisanya kau memperagakan ilmu meringankan tubuh yang sudah kau mengerti, aku akan berdiri di sini, aku tidak akan bergeser, kau harus bisa meraba benda yang ada di tubuhku. Kau baru akan merasa tidak malu kalau aku telah menolongmu?"

Tubuh Xiao San-ye kecil, kurus, dan kering, dilihat dari sudut manapun tidak terlihat kalau dia adalah orang yang mempunyai ilmu silat tinggi.

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Jika kau berlari, tidak mungkin aku bisa mengejarnya.

Tapi jika diam tidak bergerak, masa aku tidak bisa meraba benda di tubuhmu?

Aku benar-benar tidak percaya.' Ruan-wei bukan orang yang senang memuji diri sendiri, tapi begitu mendengar kata-kata Xiao San-ye tadi, dia benar-benar tidak berani bertin-dak ceroboh.

Dia benar-benar takut tidak sanggup meraba benda itu jika begitu dia pasti akan merasa malu.

Dan Kakek Xiao pasti akan marah karena dia melupakan ilmu yang telah diajarkan olehnya.

Karena itu gerakan tubuh Ruan-wei berubah.

Dengan teliti dia memakai jurus-jurus yang selama dua bulan ini dipelajarinya dari kakek Xiao dan setiap jurus menyerang ke arah tubuhnya Benar saja posisi berdiri Kakek Xiao tidak bergeser sedikit pun.

Begitu Ruan-wei meraba tubuhnya, dia meloncat.

Bila datang dari kiri, dia akan meloncat ke kanan begitu sebaliknya.

Berkali-kali dia menggunakan jurus tapi tetap tidak sanggup memegang baju Kakek Xiao dan posisi berdirinya tidak bergeser.

Karena begitu dia meloncat, saat turun, posisi berdirinya masih berada di tempat tadi.

Posisi Ruan-wei semakin terjepit, terpaksa dia mengeluarkan jurus-jurus yang paling dikuasainya yaitu 'An-ying-fu-xiang'.

Xiao San-ye meloncat ke atas lagi.

Dia segera menambah satu jurus lagi.

Dua jurus hanya berlangsung sebentar.

Dalam hati dia berpikir, 'Kakek Xiao pasti tidak akan bisa lolos lagi.' Tapi Xiao San-ye berputar di udara, tetap turun dengan miring di tempat semula.

Ruan-wei tetap tidak berhasil mendapatkan apa pun.

Kegagalan Ruan-wei kali ini membuatnya patah semangat dia menghapus keringat di dahinya.

Dengan terengah-engah dia berkata.

"Aku merasa malu! Merasa malu...."

Dia tidak tahu kalau ilmu meringankan tubuh Xiao San-ye adalah ilmu meringankan tubuh terhebat di dunia persilatan, yang bernama 'Bai-bian-gui-ying' (bayangan setan berubah beratus-ratus).

Jangankan satu Ruanwei, sepuluh Ruan-wei pun tetap tidak akan bisa memegangnya.

Xiao San-ye tidak melihat Ruan-wei, pelan-pelan dia menggunakan jurus Bai-bian-gui-ying dan menyebutkan cara-caranya.

Setengah jam kemudian dia pun pergi.

Sebelum pergi dengan dingin dia berkata.

"Jika kau merasa malu, cobalah berlatih sungguh-sungguh, setelah itu baru kau beritahu kepadaku."

Ruan-wei tinggal di rumah itu dengan tenang.

Jika tiba waktunya, pelayan penginapan akan mengantarkan makanan.

Kecuali berlatih ilmu 'Bai-bian-gui-ying' dan bermacam-macam jenis senjata rahasia, yang lainnya tidak dipikirkan oleh Ruan-wei.

Satu bulan berlalu, Ruan-wei sudah sangat sehat.

Apa yang sudah diajarkan oleh Xiao San-ye, dilatihnya hingga lancar.

Dalam waktu satu bulan ini Xiao San-ye tidak datang mengganggunya.

Suatu hari dia seperti tahu kalau Ruan-wei telah menguasai ilmu yang diajarkan, maka dia datang lagi ke taman bunga ini.

Menjelang sore, ketika Ruan-wei baru selesai berlatih ilmu silat.

Xiao San-ye bertanya.

"Apakah kau sudah mencobanya?"

Ruan-wei menggelengkan kepala.

"Kakek Ye, aku seperti katakdalam tempurung. Aku tidak tahu di luar langit masih sangat luas. Satu bulan berlatih 'Bai-bian-gui-ying' aku merasa ilmu silat ini sangat dalam dan luas tiada batasnya. Di luar manusia ada manusia, di luar langit masih ada langit. Aku tidak berani mencoba...."

Kata-katanya keluar dari lubuk hatinya, sesudah mendengar kata-katanya, Xiao San-ye tidak mengatakan apa-apa. Ruan-wei takut Kakek Xiao akan salah paham kepadanya, dia berkata lagi.

"Ada satu hal penting yang harus kuselesai-kan, aku... aku... ingin pamit."

Xiao San-ye menarik nafas panjang, berkata.

"Aku tidak akan memaksamu, kau adalah orang baik, kau ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini berarti masalah ini sangat penting. Marii, kita mengobrol di kamar."

Ketika Xiao San-ye masuk ke rumah, pelayan membawakan lampu dan Xiao San-ye berpesan untuk menyiapkan teh.

Pelayan dengan sikap hormat mengantarkan teh, setelah itu dia pamit dan meninggalkan cucu dan kakek ini.

Sesudah minum Xiao San-ye berkata.

"Kau ingin pergi, aku tidak akan memaksa mu tinggal. Sekarang aku ingin mengatakan sebuah rahasia kepadamu. Hal ini sudah ku simpan selama 18 tahun, jika hari ini bisa terungkap, hatiku tidak akan tertekan lagi. Aku minta, jika aku sedang bercerita, jangan banyak bertanya...."

Ruan-wei mengangguk. Xiao San-ye menarik nafas panjang.

"18 tahun yang lalu, di dunia persilatan terkenal dengan empat orang si cantik, salah satunya adalah putriku...."

Ruan-wei bergetar, karena ketika masih kecil dia pernah mendengar Ruan Da-cheng menceritakan tentang empat orang si cantik dari dunia persilatan.

Dan mengatakan jangan melihat keadaan ibunya seperti sekarang, dulu dia adalah salah satu dari empat orang si cantik, yang bernama Xiao-xiang-fei-zi.

"Ibu bermarga Xiao, Kakek Xiao bermarga Xiao, ada hubungan apa antara ibu dengan Kakek Xiao?"

Di ingin bertanya tapi dia teringat Kakek Xiao berpesan dia tidak boleh banyak bertanya, terpaksa dia diam....

"Kau pasti merasa aneh orang jelek seperti diriku mengapa bisa mempunyai seorang putri cantik sampai dijuluki si cantik dari dunia persilatan, Ha ha ha., .aku memang jelek, kurus, dan kecil tapi aku mempunyai seorang istri yang cantik dan anggun. Kau bisa tahu kalau aku benarbenar menyayangi istriku dan sama sekali tidak ada kepura-puraan...."

Wajah Xiao San-ye terlihat memancarkan cahaya bahagia. Suaranya seperti jatuh ke alam mimpi.

"Aku tahu kalau aku sangat jelek tapi aku juga tahu kalau istriku sungguh mencintaiku, kami benar-benar saling mencintai. Setiap hari berkumpul, semenit pun tidak ingin berpisah."

Xiao San-ye sudah berusia 70 tahun lebih, setiap dia bercerita tentang cintanya yang begitu dalam, Ruan-wei tidak merasa ingin tertawa tapi malah terharu oleh perasaan Kakek Xiao yang tulus.

Air mata mulai membasahi wajah Ruan-wei.

"Kesukaanku adalah menikmati keindahan pemandangan gunung dan sungai. Aku tidak mau berpisah dengan istriku maka bila ada tempat yang bagus, aku selalu mengajak istriku. Waktu itu putriku sudah berusia 20 tahun, tidak perlu diurus lagi. Apalagi dia cantik, namanya lebih terkenal dibandingkan aku. Kami berdua tidak mempunyai kekhawatiran apa-apa, dan kami pergi melancong menikmati keindahan alam...."

"Suatu hari aku tidak sengaja membaca sebuah puisi. Puisi itu menceritakan tentang keindahan alam yang begitu menakjubkan...."

"Maka hari kedua aku membawa istriku yang ingin melihat pegunungan yang indah dari Propinsi Gui-zhou sampai ke Guang-xi, Gui-lin. Sesampainya di kota Liu-zai, kami melihat banyak gunung aneh dan juga bebatuan aneh. Begitu sampai di He-chi, gunung yang ada di sisi jalan berbentuk seperti bawang daun yang kami tanam, begitu lurus, ada juga seperti berbentuk seperti bendera yang dikibarkan atau dua binatang yang sedang bertarung. Ada juga seperti burung sedang bertengker di atas pohon, benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya menjadi kagum. Seumur hidup baru pertama kali aku melihat pemandangan yang begitu aneh...."

Dalam hati Ruan-wei mulai muncul rasa ingin tahu. Melihat Kakek Xiao bercerita begitu mendetil, dia pun tertarik. Xiao San-ye lebih teliti lagi menceritakan kisahnya.

"Ketika kami tiba di Jun-cheng-jiang, di sekeliling sana adalah gunung dan jurang. Apalagi Gunung Qing-lian benar-benar indah. Orang yang melancong di Gunung Qing-lian seperti berjalanjalan di atas bunga teratai. Aku benar-benar tidak menyangka di dunia ini ada pemandangan yang begitu indah, apalagi ditemani oleh istri tercinta, benar-benar tidak bisa dilupakan seumur hidup...."

Xiao San-ye bercerita dengan seru, Ruan-wei mendengarnya sampai terkagum-kagum.

Dia benar-benar ingin segera pergi ke sana untuk menikmati keindahan pemandangan yang sebenarnya.

Xiao San-ye sedang bersedih meng-enang semua ini tapi demi Ruan-wei supaya bisa mengetahui keberadaan pemandangan di sana maka dia pun menahan kesedihannya dan terus bercerita.

Mengenang masa lalu, hati terasa sakit, dia menarik nafas panjang.

Sesudah minum beberapa teguk teh pahit, dengan sedih Xiao San-ye bercerita lagi.

"Pepatah mengatakan. disaat sangat senang sering terjadi kesedihan. Hhhhh...! ternyata katakata ini benar-benar terjadi padaku. Ketika sudah sampai di Liu-zhou. Di Guang-xi, gunung itu berbentuk bulat, gunung seperti ini memang banyak tapi di Liu-zhou di Gui-lin lebih banyak lagi. Maka begitu tiba di Liu-zhou pada hari kedua pagi, aku membawa istriku melancong kesanakemari."

"Pada siang hari, di kota Liu-zhou aku mendengar tempat yang paling berbahaya adalah Qinglian-shan. Sebenarnya gunung itu tidak bernama, hanya saja bentuknya seperti kuncup bunga teratai maka orang Liu-zhou menamakan tempat itu Qing-lian-shan. Begitu tahu tempat itu sangat bagus, aku tidak mendengar nasehat orang lain juga tidak peduli karena gunung itu sangat luas. Orang yang pergi kesana sering tersesat dan tidak bisa pulang, dan ada alasannya lainnya...."

Xiao San-ye berhenti sejenak dan tampak sorot bingung dari matanya. Dia menggelengkan kepala dan berkata lagi.

"Benar saja, begitu memasuki gunung itu sampai sore hari kami tidak bisa menemukan jalan keluar, kami hanya melihat kabut tebal di mana-mana, tidak terlihat ada siapa pun di sana. Aku marah dan berpikir, sekalian saja aku menginap semalam di sana, besok hari baru mencari jalan keluar."

"Gunung ini seperti jantung bunga teratai. Dibawah gunung banyak batu. Dalam kabut tebal aku melihat ada sebuah rumah batu dengan luas sekitar puluhan meter persegi. Aku pikir ada rumah batu pasti ada yang tinggal di sana dan berpikir aku dan istri bisa menginap semalam di sana."

"Batu gunung besar-besar dengan ukuran 100 meter lebih. Berdiri di atasnya bisa melihat rumah terbuat dari batu itu tapi begitu masuk ke dalam, terlihat batu aneh di sana dan sini. Yang aneh tidak terlihat lagi rumah batu itu ada di mana."

"Akhirnya istriku mengatakan, ternyata gunung itu telah disusun membentuk sebuah barisan oleh pemilik rumah batu itu. Pantas berjalan kesana-kemari tetap kembali ke tempat semula...."

Dari kecil Ruan-wei sering membaca buku yang isinya aneh, dia juga sering membaca buku tentang susunan barisan.

Diam-diam dia berpikir apakah ini adalah barisan batu lima susun yang ada dalam barisan Ba-gua.

Xiao San-ye berkata lagi.

"Begitu tahu kami tidak bisa keluar, aku duduk dan berteriak, berharap empunya rumah keluar dan menunjukkan jalan kepada kami. Tiba-tiba terdengar suara musik. Suara musik itu terkadang datang dari kiri dan terkadang dari kanan. Kami mengikuti suara musik itu dan sampai di rumah batu itu. Kamar yang ada di rumah batu itu ada tiga, tapi kami belum bertemu dengan empunya rumah. Di pintu ada tulisan. harap menginap di kamar tengah."

"Aku pikir mungkin pemilik rumah ini adalah orang yang sedang tersembunyi dan dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Maka aku menuruti peraturan dunia persilatan. Tidak melihat dua kamar lainnya, aku dan istriku menginap di kamar tengah."

"Hari kedua pagi, kami tetap belum bertemu dengan tuan rumah. Aku merasa tuan rumah ini benar-benar aneh maka aku tidak ingin berlama-lama tinggal di sana. Aku meninggalkan sejumlah uang dan sepucuk surat sebagai ucapan terima kasih dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu."

"Tapi tuan rumah telah muncul. Ketika kami akan pergi, dia menunggu di depan pintu kamar. Aku melihat tuan rumah memakai baju panjang berwarna coklat. Dia seperti seorang pendeta yang sedang bersembunyi di tempat terpencil. Karena itu aku mendekatinya dan mengucapkan terima kasih tapi pendeta tua ini seperti tidak melihatku. Kedua matanya terus melihat istriku yang berdiri di belakangku. Aku tidak bisa menahan penghinaan ini. Aku memegang tangan istriku dan cepat-cepat pergi dari sana. Aku juga tidak menoleh lagi pada pendeta tua itu."

"Tapi baru saja kami berjalan beberapa langkah, pendeta tua itu berkata, 'Lembah ini bernama bisa datang dan tidak bisa pergi. Jika Tuan ingin keluar dari lembah ini, aku pikir akan lebih sulit dibandingkan memanjat langit.

"Aku ingat di sekeliling rumah batu itu telah disusun sebuah barisan, memang tidak mudah keluar dari sana. Maka aku pun berkata, 'Aku tidak tahu lembah ini punya peraturan seperti itu. Ada pepatah mengatakan. Jika tidak tahu berarti bukan sengaja, maka harap Tetua Lembah bisa memberikan petunjuk untuk keluar dari sini.' "Aku tahu orang aneh selalu mempunyai sifat aneh, maka aku bicara dengan sangat sopan tapi pendeta tua itu dengan angkuh ber-kata, Apakah arti nama 'bisa masuk tidak bisa keluar' hanya main-main? Kalian sudah masuk, apalagi disini sudah menginap 1 malam, jangan harap bisa keluar lagi dari sini.' "Ketika itu aku sudah marah, 'Apakah sama sekali tidak ada kelonggaran?' "Dengan serius pendeta tua itu men-jawab.

"Ada, tapi apakah tuan setuju atau tidak?"

"Aku tidak curiga dan bertanya, 'Apa syaratnya, boleh tuan katakan?' "Tanpa rasa malu pendeta itu berkata "

Aku lihat istrimu begitu cantik, aku ingin agar isterimu tinggal di lembah ini menemaniku seumur hidup. Dan kau tanpa syarat bisa keluar dari lembah ini"

"Aku sama sekali tidak menyangka kalau pendeta tua itu akan berkata seperti itu, maka aku marah sampai tidak bisa bicara."

"Pendeta tua itu berkata lagi, 'Tuan sangat lincah dan menyimpan Wu-mang-zhu, aku kira kau sangat menguasai senjata rahasia dan ilmu meringankan tubuh. Jika tuan bisa. mengalahkan aku, Tuan tadi masuk dari mana maka bisa keluar dari sana.' "Aku marah kepadanya, 'Apakah pantas seorang pendeta berkata seperti itu? Benar-benar tidak tahu malu! Walaupun aku mati, aku tetap akan menyobek mulutmu!' "Pendeta itu tiga kali menghindari seranganku sambil tertawa dengan sombong, 'Hanya dengan ilmu seperti ini, bagiku ini sangat enteng, tidak perlu menggunakan kedua tangan pun, aku bisa mengalahkanmu.' Pendeta itu benar-benar menaruh tangannya di ikat pinggang bagian belakang."

"Ilmu meringankan tubuh dan ilmu senjata rahasiaku waktu itu bisa dikatakan sangat jarang tandingannya di dunia persilatan. Begitu mendengar kata-kata gila pendeta tua itu, aku marah dan berteriak, 'Jika aku kalah dan tidak ada harapan lagi untuk membalas dendam, seumur hidup aku tidak akan muncul lagi di dunia persilatan.' "Pendeta tua itu tertawa terbahak-bahak, dia mulai menyerangku. Aku ingat dalam tiga jurus saja, dia telah menendang roboh dan menotokku dengan kakinya. Dia berhenti tertawa dan berkata, 'Tidak bisa tawar menawar lagi, istrimu harus tinggal denganku!' "Kemudian dia menendangku sambil membuka totokan nadiku. Dengan senang berkata, 'Ayo jalan! Aku akan mengantarmu keluar dari barisan ini!' "Begitu jalan darahku dibuka, aku menyerang lagi tapi tetap dalam tiga jurus dia kembali berhasil menjatuhkanku dan jalan darahku ditotok kembali oleh tendangannya."

"Sampai tujuh kali aku menyerangnya tapi selalu gagal. Bajuku sudah sobek-sobek, darah terus mengalir, istriku tidak bisa ilmu silat. Dia sangat cemas tapi tidak bisa membantuku."

Apa yang kau inginkan aku bisa memberikannya kepadamu, hanya ada satu-satunya syarat, jangan harap aku akan melepaskan istriku.

Walaupun aku harus mati seratus kali, aku tidak akan setuju.' "Dia membuka jalan darahku lagi.

Tubuhku sudah lemas tidak bertenaga, tapi aku tetap dengan sekuat tenaga menyerangnya."

"Waktu itu aku mendengar istriku berteriak, 'Suamiku, aku akan pergi mendahuluimu!' "Dia berlari cepat kemudian menabrakan diri ke batu besar dan mati seketika...."

Xiao San-ye yang sudah tua sekarang menangis seperti seorang bayi. Ruan-wei tenggelam dalam cerita Kakek Xiao. Teriakan.

"Suamiku, aku pergi mendahuluimu!"

Terus terngiang di telinganya. Dia lupa menghibur Kakek Xiao. Lama... Xiao San-ye baru berhenti menangis.

"Istriku melihat aku tidak bisa mengalahkan pendeta tua itu, dia juga takut akan dinodai hingga membuatku malu maka dia pun bunuh diri. Waktu itu aku jatuh pingsan. Hari kedua pagi, aku baru sadar dan aku sudah tertidur di luar barisan batu. Tanpa pikir panjang, begitu bangun aku langsung masuk barisan batu itu dan siap melawan pendeta tua itu."

"Tapi baru saja berjalan sepuluh langkah lebih, aku sudah tersesat. Aku duduk dan berpikir sebuah pepatah mengatakan. Jika ingin membalas dendam, sepuluh tahun pun belum terlambat untuk apa mengandalkan keberanian sementara. Setelah hatiku agak tenang dan masuk barisan tidak begitu dalam, aku segera keluar dari barisan itu dan kembali ke Liu-zhou lalu segera meninggalkan Liu zhou. Tapi sampai sekarang aku masih menyesal mengapa tidak membawa pulang mayat istriku."

Dia sekaligus menghabiskan teh pahit yang ada di dalam cangkir dan berkata.

"Setelah kehilangan istri tercinta, aku malu muncul di dunia persilatan juga tidak bersemangat hidup dan malu bertemu dengan putriku. Karena jika bertemu dengan putriku, aku akan teringat pada istri tercintaku. Di sini aku bertemu dengan seorang pelajar yang pernah kutolong. Karena dulu dia tidak lulus ujian, dia ingin bunuh diri. Tidak disangka dia sekarang sudah menjadi seorang pedagang dan membuka sebuah penginapan, dan lumayan ramai. Dia memintaku membantunya. Dalam hati aku berpikir aku tidak mempunyai tempat untuk singgah, lebih baik aku bekerja di penginapan ini sampai tua dan mati. Di sini adalah tempat tinggal yang diberikan pelajar itu. Aku tidak mau diam begitu saja maka aku sering membantunya menjadi kasir, lama kelamaan aku menjadi kasir penginapan."

"Dalam kurun waktu 18 tahun ini setiap saat aku selalu teringat pada dendam ini. Mayat istriku masih tertinggal di sana. Demi membalas-kan dendam ini, selama 18 tahun aku selalu berlatih silat untuk memecahkan barisan batu itu. Memang ilmu silatku ada kemajuan. Tapi jurus 'Bai-bian-gui-ying' belum selesai kupelajari. Tapi jika sudah berhasil kupelajari pun belum tentu bisa mengalahkan pendeta tua itu. Aku mempunyai banyak cara melempar senjata rahasia tapi aku belum memberitahukannya kepadamu."

Sambil melihat Ruan-wei, Xiao San-ye bertanya.

"Apa kau tahu hubunganku denganmu?"

Dengan suara gemetar Ruan-wei bertanya.

"Kakek Xiao, apakah anda Xiao San-ye?"

Xiao San-ye mengangguk. Ruan-wei langsung berlutut dan memanggil.

"Kakek... Kakek...."

Sejak kecil Ruan-wei sering mendengar Ruan Da-cheng bercerita tentang Xiao San-ye.

Dia merasa bangga mempunyai mertua begitu terkenal.

Air mata membasahi wajah Ruan-wei.

Xiao San-ye memapah Ruan-wei bangun dan berkata.

"Cucu yang baik, bangunlah! Bangun!"

Ruan-wei duduk kembali. Xiao San-ye menghapus air mata.

"Karena di dunia persilatan tersebar kabar kalau aku sudah mati, aku tidak mau orang lain tahu. Jika bukan karena dalam bungkusanmu ada barang peninggalan putriku, aku tidak akan menolongmu."

Ruan-wei memberitahukan penyebab kematian ibunya.

Dia berkata kalau Ruan Da-cheng adalah ayahnya dan tidak memberitahu kalau ayah kandungnya bermarga Lu.

Setelah mendengar kematian putrinya, Xiao San-ye benar-benar sedih.

"Mengapa baru sekarang kakek memberitahu semua ini?"

Tanya Ruan-wei "Pertama, karena kau baru sembuh.

Aku takut hatimu terlalu bergejolak malah membuat kesehatanmu terganggu.

Kedua, aku ingin nn-m bantumu lebih cepat menguasai ilmu silat.

Jika aku bercerita dahulu, kau akan terbagi pemusatan pikirannya.

Karena ingin cepat menguasai ilmu silat, aku berlatih ilmu dalam dengan terburu-buru hingga organ dalam tubuhku terluka.

Kelihatannya balas dendam nenekmu tidak akan bisa terlaksana."

Ruan-wei berlutut lagi.

"Kakek sudah menceritakan semua dengan jelas, Wei-er akan membalaskan dendam nenek. Kakek tenang saja!"

Sesudah dipapah bangun, Xiao San-ye berkata lagi.

"Aku sendiri pun berpikiran seperti itu tapi ilmu silat penjahat tua itu benar-benar lihai dan jarang ada. Kau jangan menganggap remeh dia!"

"Di dunia ini tidak ada hal yang sulit, biar Wei-er berlatih dulu, aku akan membalaskan dendam ini!"

"Ngomong-ngomong ada perlu apa sampai kau harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini?"

Ruan-wei bercerita tentang Tuan Jian yang akan bertarung dengan biksu harimau bisu tuli dari India di Jun-shan. Dan dia dalam waktu tiga tahun belajar ilmu yoga di Jun-shan. Xiao San-ye mengangguk.

"Kau sudah menguasai ilmu yoga dan ilmu pedang nomor satu di dunia ini. Dasar ilmu silatmu sudah kuat, balas dendam ini pasti ada harapan. Dendam Kakek harus kau yang laksanakan."

Ruan-wei mengangguk. Xiao San-ye berkata lagi.

"Masalah mencari Zhong-jing di Jin-ling, aku akan menyuruh orang membantu asalkan dia masih tinggal di Jin-ling pasti bisa segera ditemukan."

"Kapan baru bisa menemukannya?"

"Jin-ling bukan kota kecil, harus menghabiskan waktu beberapa bulan untuk menemukannya. Karena aku hanya tahu namanya saja itu pun masih untung, tangannya hanya sebelah itu adalah ciri-cirinya, mungkin ini akan lebih mudah."

Setelah semalam mengobrol, hari mulai terang. Xiao San-ye menunjuk tempat tidur dan berkata.

"Kau tidur dulu, besok jangan terganggu pemusatan pikiranmu dengan hal-hal lain, berlatihlah dengan penuh semangat!"

Sore hari Ruan-wei baru bangun.

Setelah makan, Xiao San-ye membawakan pakaian dan celana yang terbuat dari karet.

Dia berpesan agar Ruan-wei memakainya.

Baju yang menyambung dengan celana ini, tebalnya beberapa inchi.

Sesudah dipakai Ruan-wei menjadi tampak gemuk dan berat.

Ruan-wei tidak terbiasa memakainya, jalan pun terasa sulit.

Baju itu berisi gambar-gambar nadi manusia.

Xiao San-ye tertawa.

"Jangan meremehkan baju karet ini. Menjahit baju ini harus menghabiskan waktu beberapa bulan."

Ruan-wei baru tahu kalau baju ini dipesan oleh kakek untuknya, tapi apa ada gunanya? Ruanwei tidak tahu.

"Senjata rahasia di dunia ini ada bermacam macam. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang mengatakan kalau dia adalah nomor satu, karena senjata rahasia di dunia ini selalu berubahubah."

"Bukankah Kakek mengatakan kalau chuan Tang Men adalah orang paling lihai menggunakan senjata rahasia di dunia ini?"

Xiao San-ye mengangguk.

"Betul! Di Zhong-yuan Si-chuan Tang men yang paling lihai dalam bidang senjata rahasia hanya bidang racun saja, mengenai perubahan pada senjata, dia masih jauh."

"Mengapa senjata rahasia bisa berubah"

Sambil terbatuk Xiao San-ye menjawab.

"Ada senjata rahasia dalam radius 30 meter bisa melukai tapi ada senjata rahasia harus dalam jarak dekat baru bisa melukai. Ada senjata rahasia yang berbentuk, ada senjata rahasia yang tidak berbentuk."

"Senjata rahasia dalam jarak 30 meter bisaa melukai orang, senjata ini lebih lihai dibandingkan dengan senjata rahasia yang digunakan dalam jarak dekat, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Contohnya kau telah terluka oleh cincin yang tersimpan jarum beracun oleh 'Hua-du-jun'. Cincin adalah salah satu jenis senjata rahasia jarak dekat, apakah dalam tidak bisa disebut lihai?"

Teringat dia terkena jarum racun Hua-du-jun, sehingga membuatnya beberapa bulan tidak bisa bergerak, maka Ruan-wei langsung mengakui kalau senjata rahasia jarak dekat sangat lihai.

Xiao San-ye berkata lagi.

"Senjata rahasia dalam jarak dekat terus mengalami perubahan. Jika aku mengatakannya satu persatu kepadamu, sehari semalam pun tidak akan habis kuceritakan. Sebenarnya, senjata rahasia dalam jarak dekat sangat berbahaya. Beberapa macam senjata rahasia itu sangat lihai, melukai orang secara tiba-tiba, membuat siapa pun tidak waspada. Kadang-kadang jarang ada yang bisa bertahan hidup jika sudah terkena racun ini...."

"Apakah semua orang harus belajar senjata rahasia jarak dekat?"

"Belum tentu!"

Jawab Xiao San-ye. Dari saku dia mengeluarkan sebuah kantong. Dari kantong itu dia mengeluarkan segenggam Wu-mang-zhu dan berkata.

"Wu-mang-zhu adalah senjata rahasia yang sering kupakai. Senjata ini bisa melukai orang dalam jarak 30 meter. Senjata rahasia biao dan panah termasuk senjata rahasia yang dilancarkan secara terang-terangan."

"Semua senjata rahasia dalam jarak dekat jika kebetulan diarahkan pada orang yang mempunyai Qi-gong (ilmu pernapasan) yang kuat maka senjata ini tidak akan berfungsi."

"Memang senjata rahasia banyak jenisnya tapi jika kau menguasai satu macam senjata rahasia ini pasti banyak manfaatnya. Jika kau tidak benar-benar menguasainya hingga lancar, mempelajarinya pun akan percuma."

"Senjata rahasia tidak berbentuk itu seperti apa?"

Tanya Ruan-wei.

"Senjata rahasia tidak berbentuk lebih berbahaya dibandingkan senjata rahasia jarak dekat."

"Apakah benar di dunia ini ada senjata rahasia tidak berbentuk?"

"Semua senjata rahasia adalah benda nyata. Yang disebut tidak berbentuk seperti obat bubuk yang tersimpan di kuku atau di lengan baju panjang. Setelah obat ditebarkan akan menyebar kemana-mana, membuatmu tidak bisa melihat dan berjaga-jaga!"

"Terkadang bagi orang yang mempunyai tenaga dalam kuat, mereka bisa menggunakan daun untuk melukai orang. Menggunakan beras menotok nadi orang. Semua ini adalah kekuatan tenaga dalam."

"Apakah Kakek akan mengajarkan Wei-er cara melemparkan Wu-mang-zhu?"

"Sekantong Wu-mang-zhu ini telah membuatku terkenal di dunia persilatan selama 20 tahun lebih, semuanya ada 13 jenis. Dengan bakat seperti yang kau miliki tidak sulit untuk menguasainya."

"Terima kasih kakek mau mengajarkanku!"

"Sebelum mengajarimu cara melemparkan Wu-mang-zhu, Kakek akan mengajarimu bagaimana cara menghindari senjata rahasia. Jika tidak walaupun kau bisa melemparkan Wu-mang-zhu, tapi kau tetap akan terluka karena tidak bisa menghindari senjata rahasia orang lain."

"Tapi jika kau punya kepandaian menghindari senjata rahasia, dengan satu macam perubahan kau bisa menjadikan beribu-ribu macam cara, tidak akan ada yang bisa melukaimu dengan senjata rahasia!"

Ruan-wei memakai baju karet pemberian kakeknya.

Walaupun tenaga dalamnya sangat tinggi tapi bila dipakai di musim semi seperti ini membuatnya merasa kepanasan juga tidak nyaman seringkali dia menarik-narik baju karet bagian leher agar angin bisa masuk ke dalam baju.

Melihat Ruan-wei bertingkah seperti itu, Xiao San-ye tertawa.

"Baju ini baru boleh kau buka jika kau sudah bisa menghindari Wu-mang-zhu yang kutebarkan dan bila teknik menghindarmu sudah bagus, berarti kau sudah lulus."

Mereka berlatih di pekarangan tapi karena baju Ruan-wei terbuat dari karet dan terlalu berat maka dia selalu terkena tembakan dari Xiao San-ye.

Wajah Ruan-wei memerah, dia merasa malu.

Xiao San-ye tertawa dan menghibur.

"Di dunia ini tidak ada masalah yang sulit. Pelan-pelan saja berlatih, suatu hari kau walaupun kau memakai baju tebal ini, kau bisa menghindari lemparan senjata rahasia Kakek."

Xiao San-ye juga mengajarkan Ruan-wei cara-cara menghindari senjata rahasia.

Semua menggunakan ilmu meringankan tubuh tapi lebih sulit berlatih dibandingkan ilmu meringankan tubuh.

Hari ketujuh, ketika Xiao San-ye sedang melatih Ruan-wei, Ruan-wei sudah bisa menghindar salah satu senjata rahasia yang dilempar Xiao San-ye walaupun memakai baju karet berat itu.

Setengah bulan telah berlalu, walaupun Xiao San-ye menembak dengan cara apa pun tetap tidak bisa mengenai Ruan-wei.

Siang harinya Xiao San-ye berpesan kepada Ruan-wei agar membuka baju karet itu dan mencobanya lagi.

Kedua tangan Xiao San-ye mengeluarkan jurus-jurus tinggi, sampai jurus terlihai 'Man Tian Hua Yu' pun dikeluarkan.

Ruan-wei menghindar dengan lincah.

Sekarang berpuluh-puluh Wu-mang-zhu dilempar ke arahnya tapi tidak ada satu pun yang mengenainya.

...

"Kakek, setelah Wei-er membuka baju karet ini, Wei-er seperti mempunyai sayap!"

Xiao San-ye mengangguk.

"Jika kau masih memakai baju karet, kau tidak akan bisa menghindari jurus 'Man Tian Hua Yu'. Sesudah membuka baju karet itu, berarti ilmu silatmu sudah bertambah satu kali lipat, senjatasenjata rahasia apapun tidak akan bisa mengenalmu."

Ruan-wei benar-benar senang, selama setengah bulan ini dia merasa tersiksa karena memakai baju berat, sekarang dia melihat ada hasilnya.

Xiao San-ye masih mengajarkan cara-cara menghindari senjata rahasia.

Menghabiskan waktu 2 hari, Ruan-wei sudah mempelajari semua cara menghindari senjata rahasia.

"Wei-er, semua cara sudah kau pelajari, sekarang hanya dengan mengandalkan praktek kau baru bisa maju!"

"Apakah Wei-er boleh mempelajari bagaimana cara melemparkan senjata rahasia Wu-mang-zhu yang kakek miliki?"

"Mulai hari ini Kakek akan mengajarimu bagaimana cara melepaskan Wu-mang-zhu. Melepaskan senjata rahasia ini harus digabung dengan ilmu meringankan tubuh, baru ada hasil yang sempurna."

Xiao San-ye mengajarkan cara melepaskan senjata rahasia dan perubahan ilmu meringankan tubuh. --Bersambung ke

Jilid 4

Jilid KE EMPAT BAB 95 Curiga Musim semi telah berlalu, musim panas pun tiba.

Ruan-wei tidak peduli pada teriknya sinar matahari.

Setiap hari dia terus belajar ilmu silat.

Yang satu mengajar dengan teliti, yang satu belajar dengan sungguh-sungguh.

Sesudah satu bulan berlalu, Ruan-wei telah menguasai kepandaian yang telah didalami selama 18 tahun oleh Xiao San-ye, termassuk ilmu senjata rahasia juga ilmu meringankan tubuh.

Suatu pagi, Xiao San-ye berkata kepda Ruan-wei.

"Semua hal tentang senjata rahasia dan ilmu meringankan tubuh sudah kuajarkan kepadamu, sekarang kita belajar keterampilan mengubah wajah dan ilmu memecahkan barisan."

Sejak kecil Ruan-wei sering membaca buku tentang cara memecahkan barisan, apalagi Xiao San-ye memberitahukan padanya hasil jerih payahnya memecahkan barisan selama 18 tahun, hanya beberapa hari Ruan-wei sudah bisa menguasainya.

Mengenai keterampilan mengubah wajah harus mempunyai bakat.

Misalnya berubah menjadi seorang kakek tua, wajah mudah diubah, tapi cara berjalan, gerak gerik, dan cara bicara harus ikut berubah.

Jika tidak mempunyai bakat, tidak akan bisa berhasil.

Wajah bisa diubah tapi orang yang berpengalaman sekali melihat langsung tahu orang merubah wajahnya.

Tangan Terampil Xiao San-ye memang luar biasa, dia mempunyai bakat hebat.

Tapi Ruan-wei tidak kalah dengannya.

Banyak ilmu aneh yang diajarkan oleh Xiao San-ye kepadanya.

Karena sejak kecil Ruan-wei banyak membaca buku maka sekali belajar dia mudah menguasainya.

Tidak sampaj setengah bulan dia telah-mempelajari semua ilmu Xiao San-ye.

Suatu hari, dengan senang Xiao San-ye berteriak kepada Ruan-wei dari belakang rumah.

"Sudah kutemukan! Sudah kutemukan!"

"Kakek, apa yang sudah kau temukan?"

"Setiap hari aku menyuruh orang mencari di kota Jin-ling, sekarang aku berhasil menemukan Zhong-jing."

"Apa benar?"

"Tidak salah lagi, karena orang yang bernama Zhong-jing ini hanya mempunyai satu tangan."

"Di manakah dia?"

"Di sisi Yu Hua Tai... Anehnya menurut tetangga, sudah 3 tahun Zhong-jing tidak pulang."

"Apa? Kalau begitu...."

"Menurut ceritamu, dia sangat menyayangi istrinya. Bagaimanapun setelah menolong Tuan Jian dalam kurun waktu 3 tahun ini dia pasti pulang, tidak ada alasan dia tidak pulang, kecuali...."

Kata Xiao San-ye.

"Kecuali apa?"

"Kecuali dia mengalami kecelakaan dan tidak bisa pulang, kalau tidak, tidak ada alasan dia tidak pulang."

Dari penuturan Ruan-wei, Xiao San-ye tahu bagaimana seorang Zhong-jing. Dia mengira-ngira dalam hati dan bisa berkata seperti itu. Karena cinta antara suami istri tidak ada yang bisa menghalangi.

"Kakek, Wei-er akan mencari tahu sendiri. Jika Paman Zhong-jing tidak mati, perjanjianku dengan biksu harimau bisu dan tuli harus ditepati, Wei-er harus memberitahukan semua padanya."

Xiao San-ye mengangguk dan memuji.

"Seorang laki-laki harus bertanggung jawab atas pesan orang lain. Waktu perjanjian mereka bertarung masih ada 1 tahun lebih, kau pasti bisa melaksanakan tugasmu dengan baik!"

"Kalau begitu... begitu...."

"Kakek tidak mengkhawatirkanmu kalau kau ingin segera berkelana di dunia persilatan. Kakek sudah 18 tahun tinggal di sini, walaupun tubuh sudah tidak begitu sehat tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku."

"Kalau begitu, besok Wei-er...."

"Tidak perlu menunggu besok. Kau sudah menguasai ilmu silatku, sekarang juga kau bisa pergi. Mengenai sakit hati Kakek, setelah kau berkelana di dunia persilatan dan sudah punya banyak pengalaman menghadapi musuh, kau baru bileh ke sana, tidak perlu tergesa-gesa. Kakek sudah menahan sakit hati ini selama 18 tahun, kalau harus menunggu selama beberapa tahun lagi juga tidak masalah."

Ruan-wei mengikuti pesan Xiao San-ye, dia segera kembali ke kamar untuk menyiapkan barang bawaannya kemudian membawa Fei-long-jian keluar. Xiao San-ye menunjuk Fei-long-lian dan berkata.

"Pedang ini adalah senjata kesayangan Pendekar Gongsun, dia telah mengalahkan banyak musuh dengan pedang ini, mengapa bisa ada di tanganmu?"

Dengan hormat Ruan-wei menceritakan tentang Tian-du-jiao yang muncul di tempat Fan Zhong-pin dan pedang ini dititipkan oleh Gongsun Lan di tempat Fan Zhong-pin.

"Jika begitu putri Gongsun Qiu-jian sangat baik kepadamu. Jangan menyalahgunakan perasaan orang lain!"

Xiao San-ye tertawa.

Sebetulnya Ruan-wei ingin menceritakan kalau ini hanya kepura-puraan Gongsun Lan saja.

Tujuannya hanya ingin mendapatkan jurus Tian-long-shi-san-jian.

Tapi Xiao San-ye sudah menyambung.

"Kekuatan Tian-du-jiao semakin besar, kau harus berhati-hati. Usiamu masih begitu muda, membawa pedang berharga akan membuat orang dunia persilatan mengincarmu. Memang kau tidak akan takut tapi akan mendatangkan banyak kesulitan bagimu, lebih baik wajahmu diubah sedikit tua agar orang dunia persilatan yang bermaksud tidak baik akan segan kepadamu."

Karena Ruan-wei sudah mahir dengan keterampilan mengubah wajah, hanya sebentar dia sudah mengubah wajahnya menjadi seorang pesilat berusia 25 tahun. Dengan senang Xiao San-ye tertawa.

"Sekarang kau seperti orang yang telah berpengalaman di dunia persilatan. Orang tidak akan sembarangan mencari masalah denganmu dan orang-orang Tian-du-jiao juga tidak akan mengenalimu."

Ruan-wei segera pamit pada Xiao San-ye. Xiao San-ye terus berpesan.

"Jangan terburu-buru ingin membalas dendam nenekmu. Penjahat tua itu benar-benar orang misterius. Sampai sekarang Kakek belum tahu siapa dia sebenarnya, sampai-sampai namanya pun aku tidak tahu. jika kau ingin ke sana, ilmu silatmu harus lebih maju, sehingga kau bisa sekaligus membunuh penjahat tua itu dan membawa pulang tulang-tulang nenekmu."

Sesudah pamit pada Xiao San-ye, Ruan-wei melangkah menuju Qu-bao-men.

Karena Jin-ling adalah kota besar, maka sungai untuk melindungi kota pun sangat panjang, lebarnya mencapai 50-60 meter.

Sungai ini hanya mempunyai sebuah jembatan kecil yang terbuat dari bambu.

Karena jembatan terlalu kecil maka kebanyakan orang menggunakan perahu untuk menyeberang.

Melihat perahu penyeberangan begitu sibuk maka beberapa rumah makan yang letaknya dekat dengan pintu kota sangat ramai dikunjungi para pengelana.

Ruan-wei memasuki salah satu rumah makan di sana.

Dia memilih tempat agak sepi.

Sambil minum teh dengan santai dia menikmati pemandangan sungai.

Tiba-tiba terdengar ada yang berkata.

"Kakak Tao, apakah hari ini ketua akan datang?"

Ada suara nyaring yang berkata.

"Belum tentu. Ketua berpesan supaya kita berhati-hati agar musuh jangan sampai mengikuti kita."

Kelihatannya yang bernama Kakak Tao adalah pemimpin kelompok itu. Kemudian ada yang berkata.

"Menurutku, kaki tangan Tian-zheng-jiao sudah lama menguntit kita. Setiap kali jika kita pergi, mereka pasti menguntit kita, kali ini pun tidak terkecuali."

"Jika begitu, gerakan kita harus lebih hati-hati. Sebaliknya kita pun harus memperhatikan gerak-gerik musuh. Jika kita ceroboh akan membuat teman ketua terluka atau terbunuh. Itu akan membuat ketua repot." 'Musuh mereka adalah Tian-zheng-jiao. Sepertinya yang akan datang adalah ketua Zheng-yibang. Ada apa sebenarnya?' pikir Ruan-wei. Tiba-tiba Tao Da-ge berkata.

"Perahu sudah kosong, ayo kita pergi!"

Meja dan kursi digeser, dari belakang Ruan-wei muncul beberapa orang.

Untuk melihat lebih jelas siapa yang keluar, Ruan-wei pura-pura terkejut mendengar suara meja dan kursi berbunyi.

Ruan-wei pura-pura menoleh ke belakang.

Yang pertama keluar adalah seorang laki-laki berwajah kotak, berpakaian putih, di baju bagian dada tersulam 3 kuntum bunga merah kecil.

Tinggal selama tiga bulan bersama Xiao San-ye, Ruan-wei mengetahui banyak tentang dunia persilatan.

Apalagi keadaan dunia persilatan sekarang, Xiao San-ye memberitahunya dengan teliti.

Di belakang laki-laki berwajah kotak ada 4 orang pesilat berpakaian putih.

Baju mereka tersulam 2 kuntum bunga merah kecil.

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Mereka adalah pesilat 3 bunga dan 2 bunga dari Zheng-yi-bang.

Yang tersulam 3 bunga itu pasti Kakak Tao.' Begitu melihat di depan pintu duduk seorang pesilat pedang muda yang tidak mereka kenal.

Wajah mereka berubah dan berhenti beraksi.

Ruan-wei tidak bergerak, dia terus melihat ke depan.

Rumah makan ini sangat besar, semua orang yang datang ke sini kebanyakan sedang menunggu perahu untuk menyeberang.

Di luar banyak kursi tapi Ruan-wei tidak duduk di sana.

Dia memilih masuk ke dalam mendekati mereka, tingkahnya memang pantas dicurigai.

Seorang pesilat dengan 2 kuntum bunga, yang bersifat berangasan, dia berkata;

"Sahabat duduk di sini, mendengarkan pembicaraan kami, apa maksudnya?"

Ruan-wei tahu jika dia duduk di sana memang akan membuat orang menaruh curiga kepadanya, maka dia hanya tersenyum tanpa menjawab.

Tao Da-ge mengangkat tangan menyuruh pendekar berbunga 2 jangan marah.

Sambil tertawa dan berkata.

"Saudaraku, sebaiknya kita pergi saja. Ada orang menyukai tempat sepi, mana boleh kita marah?"

Dia tersenyum kepada Ruan-wei untuk meminta maaf kemudian pergi dari sana.

Ruan-wei kagum kepada orang-orang Zheng-yi-bang.

Mereka tahu aturan dan tidak main kekerasan untuk menekan orang.

Mereka pergi karena ada tempat untuk menyeberang, Ruan-wei meninggalkan tempat itu.

Yu Hua Tai di Jin-ling adalah sebuah tempat wisata.

Di sana penuh dengan batu-batu bercorak, benar-benar lucu dan indah.

Di daerah sana terdapat beberapa desa.

Orang di sana kebanyakan bermata-pencaharian sebagai petani.

Pagi berangkat saat matahari terbenam baru kembali, mereka hidup makmur tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Ruan-wei sudah menemukan rumah Zhong-jing.

Sebuah rumah kecil, di kiri dan kanan rumah itu tidak ada tetangga.

Tetangga paling dekat sekitar 50 meter dari sana.

Ruan-wei melihat ada beberapa orang berpakaian biru mondar mandir di sana.

Sekali melihat dia tahu kalau mereka mempunyai niat jahat terhadap Zhong-jing.

Pintu rumah tertutup rapat.

Ketika Ruan-wei sedang berpikir harus berbuat apa, tiba-tiba pintu terbuka, muncul seseorang dengan pakaian bercorak bunga.

Laki-laki berpakaian biru tidak menyangka ada orang keluar dengan cara seperti itu, mereka segera menghindar.

Tapi bayangan berbaju bunga itu sudah membentak.

"Tunggu!"

Di antara orang berpakaian biru berjumlah 4 orang itu, hanya ada satu orang tidak berusaha menghindar, dengan sikap angkuh dia berdiri.

Orang berpakaian bunga itu ternyata seorang gadis kecil berusia 13 tahun.

Dia memegang sebilah pedang.

Dia tampak marah.

"Aku lihat kalian bukan orang baik-baik, seharian mondar mandir di sekitar sini, seperti ingin mencuri saja."

Salah satu dari mereka yang agak tua berkata.

"Gadis kecil, jangan sembarangan memarahi orang!"

"Orang baik tidak akan kumarahi, beda dengan orang jahat!"

Salah satu dari mereka mengeluarkan senjata berbentuk pisau arit. Dia membentak.

"Kau cari mati!"

Seorang laki-laki gagah dengan tidak tahu malu mengayunkan senjatanya ke kepala gadis itu.

Tapi gadis kecil itu tidak takut.

Begitu senjata arit hampir sampai di depannya, dia baru menghindar, hingga tidak mengenai sasaran, tiba-tiba ada cahaya berkilau yang datang menyerangnya, dalam rasa terkejutnya, dia menggulingkan diri untuk menghindar.

Senjata berbentuk arit pantang digunakan dengan cara menepis.

Mungkin orang berpakaian biru mengira lawan adalah seorang anak kecil jadi mereka menganggap enteng.

Setelah bergulingguling di bawah, dia segera berdiri dan mulai memperlihatkan ilmu kaitnya yang lihai, dia ingin mengembalikan mukanya yang telah hilang.

Gadis kecil itu malah tertawa, dia seperti senang bertarung, dia tidak menggunakan pedang lagi.

Dengan lincah dan ringan dia meloncat-loncat menghindari ilmu kait orang berpakaian biru itu.

Sesudah berpuluh-puluh jurus berlalu, orang berpakaian biru itu sama sekali tidak bisa melukai gadis itu malah sering terkejut terkena tendangan dan serangan tangan yang tidak diduganya.

Tiga orang berpakaian biru melihat keadaan ini merasa terkejut.

Mereka sama sekali tidak menyangka gadis kecil itu begitu lihai.

Orang berpakaian biru yang terlihat tua bersiul dan bersiapsiap ikut bertarung.

Tiba-tiba terdengar suara simbal berbunyi dua kali.

Orang berpakaian biru itu ketika mendengar suara simbal, mereka terkejut dan berhenti bertarung.

Orang yang bersenjata arit karena berhenti bertarung, dia ditendang oleh gadis kecil itu hingga jatuh terguling tapi dia segera berdiri lagi.

Di hutan bambu ada sosok bayangan ungu yang berkelebat.

Empat orang berpakaian biru mengikuti bayangan itu pergi dan menghilang.

Tadinya Ruan-wei melihat pertarungan mereka dari jarak agak jauh dan dia bersembunyi kemudian melihat gadis kecil itu berkelahi dengan orang berpakaian biru.

Dia takut gadis kecil itu akan terluka maka dia mendekat.

Sekarang jarak-nya dengan gadis kecil ini tinggal 10 meter.

Dia mulai mendekati gadis kecil itu.

Karena orang berpakaian biru tadi telah menghilang maka gadis kecil itu berpikir, 'Mengapa begitu mendengar suara simbal, mereka segera mundur dan pergi?"

Sambil berpikir dia membalikkan tubuh ketika itu dia melihat Ruan-wei yang datang dengan pedang terselip di punggunggnya. Dia mengacungkan pedangnya dan membentak;

"Apa masih tidak mau menerima kalah?"

Ruan-wei terus menggoyangkan tangan.

"Nona sudah salah paham."

"Aku tidak akan salah paham, kalian datang setiap hari dengan tujuan menguntit kami dan bersembunyi sambil terus menyelidiki kami, kalian pasti bukan orang baik-baik."

"Aku Ruan-wei, apakah Nona, putri Paman Zhong?"

Ruan-wei bertanya dengan serius. Gadis itu menyimpan pedangnya, tertawa.

"Ternyata kau teman ayah, maaf, maaf!"

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Setelah tertawa, dia lebih mirip Paman Zhong!' "Kalau kau mau mencari ayahku, mungkin malah akan membuatmu kecewa."

"Betul, aku datang untuk mencari ayahmu!"

Gadis itu terburu-buru berkata.

"Tapi sudah 3 tahun ini ayah tidak pulang, bagaimana kau bisa mencarinya?"

"Kalau begitu tolong katakan pada ibumu, 3 tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan ayahmu, kali ini aku datang ingin mengetahui ke mana perginya ayahmu."

Gadis kecil itu dengan senang menjawab.

"Itu juga baik, aku akan memberitahukan pada ibu...."

"Namaku Zhong-jie. Kakak Ruan harap menunggu sebentar...."

Kata-katanya baru selesai, dia sudah berlari masuk.

Wajah Ruan-wei penuh senyum, dalam hati berpikir, 'Paman Zhong mempunyai keluarga begitu bahagia, mengapa dia tidak pulang?' Dia berdiri di pekarangan, dengan teliti melihat sekeliling tempat itu.

Di kirinya ada beberapa pohon, di balik pohon ada bayangan putih berkelebat.

Penglihatan Ruan-wei sangat tajam, dia tahu orang itu adalah Tao Da-ge dan anak buahnya.

Dalam hati dia berpikir, 'Ternyata yang mereka maksud teman ketua adalah Paman Zhong.

Pantas orang Tian-zheng-jiao terus menyelidiki rumah ini.

Tapi mengapa ketua Zheng-yi-bang bisa datang kemari?"

Zhong-jie berlari keluar dan berteriak.

"Silakan masuk, Kakak Ruan. Nenek sudah menunggumu di ruang tamu."

Ruan-wei merapikan pakaiannya dan berjalan di belakang Zhong-jie melewati taman bunga dan masuk ke sebuah ruangan.

Ruangannya sangat sepi dan bersih, hiasan rumah pun sangat indah, di tengah-tengah ruangan ada meja dan kursi.

Seorang perempuan setengah baya dan seorang perempuan berusia 20 tahun lebih duduk di sana.

Perempuan berusia 20 tahun lebih itu berpakaian putih dan panjang, rambutnya di gelung, dia anggun dan cantik, dia memegang cangkir teh yang terbuat dari giok putih dan sedang menikmati teh panas.

Mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, dia segera menoleh.

Tapi dia terkejut, tangannya gemetar, membuat cangkir yang dipegangnya terjatuh dan pecah.

Perempuan setengah baya memakai baju panjang berwarna coklat, dengan sorot mata aneh melihat perempuan yang berusia 20 tahun lebih itu bereaksi.

Tapi ketika dia menoleh melihat Ruan-wei, dia pun terkejut dan berteriak.

Lama...

baru bisa menenangkan diri.

Melihat Ruan-wei, perempuan setengah baya itu berteriak.

"Sangat mirip... mirip sekali...."

Zhong-jie yang ada di pinggir merasa aneh, dia terpaku kemudian berkata.

"Nenek! Ibu! Ini adalah Kakak Ruan-wei yang ingin bertemu ayah!"

Perempuan berusia 20 tahun lebih itu pelan-pelan menasehati.

"Jie-er, jangan berbuat tidak sopan, umur Tuan ini cukup untuk menjadi pamanmu, mengapa kau memanggilnya kakak?"

Ternyata Ruan-wei sudah menyamar menjadi seperti seorang pemuda yang berusia 20 tahun lebih.

Dia terlihat sedikit lebih muda dibandingkan perempuan berpakaian putih.

Ruan-wei tahu dia hanya berbeda 4 tahun lebih tua dari Zhong-jie, mana boleh memanggil-nya paman, maka dia segera berkata.

"Tidak! Tidak! Dengan umurku, aku hanya bisa menjadi kakak dari Adik Zhong."

Setelah berkata-kata seperti itu, dia jadi membocorkan identitasnya, bahwa sebenarnya dia sedang menyamar dengan keterampilan mengubah wajah.

Melihat wajah Ruan-wei yang malu, Zhong-jie tertawa terbahak-bahak.

Perempuan setengah baya itu tertawa sambil marah.

"Xiao Jie, jangan tidak sopan!"

Segera Zhong-jie dengan serius berkata.

"Paman yang terhormat, ini adalah nenekku, dan ini adalah ibuku!"

Dengan wajah gugup Ruan-wei berkata.

"Aku tidak berani disejajarkan dengan Paman Zhong, maaf!"

"Nenek, dia tidak ingin menjadi paman Zhong-jie, aku harus bagaimana?"

"Jika begitu kau harus memanggilnya kakak!"

Perempuan setengah baya itu adalah janda Pendekar Ling Bei-xiu, Sun-ming. Sedangkan perempuan berusia 20 tahun lebih adalah putrinya Ling-lin. Pelayan datang membawakan teh.

"Ada apa Tuan mencari Zhong-jing?"

Tanya Sun-ming.

"Tiga tahun yang lalu, aku pernah bertemu dengan Paman Zhong sampai 3 kali, dan terakhir di Jun-shan."

"Jun-shan? Jing-er pergi ke sana untuk apa?"

Tanya Sun-ming.

Sepertinya kata-kata ini untuk Ling-lin, tapi Ling-lin seperti sedang memikirkan sesuatu.

Dia tidak mendengar apa yang ditanyakan perempuan setengah baya itu.

Pelan-pelan dia memanggil.

"Ling-er!"

Zhong-jie yang di berada pinggir sedikit mendorong ibunya.

"Ibu, nenek memanggilmu!"

Ling-lin terkejut, Sun-ming melihat Ruan-wei.

"Tuan, apakah tahu mengapa dia bisa berada di Jun-shan?"

"Karena Paman Zhong ingin mencari Tuan Jian dan Tuan Jian sedang bertarung dengan seseorang di Jun-shan."

Dengan senang Sun-ming berkata.

"Tidak disangka ternyata Jing-er benar-benar bertemu dengan Tuan Jian!"

Dia berkata sendiri.

"Siapa yang berani bertarung dengan Tuan Jian, dia benar-benar tidak tahu diri,"

Kata Ling-lin. Dari kata-katanya terdengar dia sangat mempercayai kehebatan Tuan Jian.

"Tapi pertarungan itu membuat Tuan Jian terluka parah!"

Jelas Ruan-wei.

Karena dalam hatinya dia membela biksu harimau bisu tuli itu, sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana luka Tuan Jian?

Tapi dia pikir luka biksu harimau tidak begitu berat, berarti biksu harimau menang dari Tuan Jian.

Sun-ming terkejut berteriak.

"Apa! Tuan Jian... dia... dia... terluka parah...."

Ling-lin tidak percaya.

"Mana mungkin Guru Jian bisa kalah dari orang lain? Ini tidak mungkin!"

"Dia benar-benar terluka parah, setelah itu Paman Zhong menggendongnya turun gunung."

"Ini lebih tidak mungkin. Walaupun Guru Jian terluka berat, dia tidak perlu harus digendong oleh Zhong-jing untuk turun gunung,"

Seru Lihg-lin. Dalam hati Ruan-wei merasa marah, 'Kau benar-benar keterlaluan, kau tidak mengkhawatirkan keadaan suamimu, malah membela guru yang tidak ada artinya, benar-benar keterlaluan...."

"Jing-er menggendong Tuan Jian ke mana?"

Tanya Sun-ming dengan suara gemetar.

"Semenjak itu aku tidak pernah bertemu dengan Paman Zhong lagi."

Suara Sun-ming terdengar lebih gemetar lagi.

"Jing-er sudah tiga tahun tidak pulang, apakah... apakah... Tuan Jian dan dia sama-sama telah terbunuh...."

"Ibu! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Guru Jian adalah orang sakti, dia memiliki ilmu silat tinggi, siapa yang bisa melukainya?"

Melihat Ling-lin tidak mengkhawatirkan keselamatan suaminya, malah membela hal yang tidak dia ketahui. Ruan-wei jadi tidak senang kepadanya. Tiba-tiba Zhong-jie berteriak.

"Ibu! Di luar ada seseorang yang sedang berdiri!"

Di rumah itu ada tiga orang pesilat yang bukan pesilat sembarangan tapi mereka tidak mendengar ada orang yang sudah berdiri di depan pintu. Mereka benar-benar terkejut.

"Tuan Jian,"

Sun-ming berteriak senang.

"Tuan Jian...."

"Guru Jian,"

Ling-lin juga berteriak.

'Tuan Jian sudah sehat, dia pasti tahu keberadaan Paman Zhong....' pikir Ruan-wei.

--BAB 96 Jago Tian-long Tuan Jian tiba-tiba muncul.

Pakaian panjangnya yang berwarna putih tampak berkibar, wajahnya tampak sangat serius, dibandingkan 3 tahun lalu ketika bertemu di Jun-shan, dia tidak berubah banyak.

Ling-lin sudah menuntun Zhong-jie untuk mendekat dan berkata.

"Jie-er! Mari bertemu Kakek Guru Jian!"

Melihat Zhong-jie, wajah Tuan Jian berseri-seri.

Mereka telah berpisah selama 10 tahun lebih, tidak disangka Ling-er yang polos sudah mempunyai seorang putri yang sudah tumbuh besar.

Biasanya saat Zhong-jie berlatih silat selalu mendengar ibunya menceritakan tentang Tuan Jian.

Dalam hati dia ingin sekali bertemu dengan orang aneh dan misterius itu, maka dia segera berlutut dan dengan hormat bersujud tiga kali di hadapannya.

Tuan Jian segera memapah Zhong-jie.

Sambil tertawa dia berkata.

"Kakek guru tidak mau gratis menerima sujudmu, mulai besok kakek guru akan mengajarmu beberapa jurus silat."

"Apakah guru tidak akan pergi lagi?"

Ling-lin bertanya dengan senang. Tuan Jian mengangguk. Dia mendekati Sun-ming dan memberi hormat.

"Semenjak berpisah 10 tahun lalu, tidak disangka kita masih bisa bertemu...."

Dia menghela nafas. Tarikan nafas itu, apakah karena waktu begitu cepat berlalu? Atau karena dia menahan perasaannya di dalam hati. Akhirnya sorot mata itu melihat wajah Sun-ming dan bertanya.

"Apakah keponakan Zhong ada di rumah?"

Wajah Sun-ming berubah.

"Bukankah 3 tahun yang lalu Jing-er sudah bersamamu?"

"Siapa yang berkata seperti itu?"

"Aku yang mengatakannya,"

Jawab Ruan-wei. Karena dia sudah tidak berhubungan dengan biksu harimau, maka dia tidak begitu sungkan kepada Tuan Jian. Sorot mata Tuan Jian yang tajam melihat Ruan-wei.

"Sepertinya aku kenal dengan Tuan ini,"

Kata Tuan Jian.

"Guru, dia mengatakan ketika Guru berada di Jun-shan Guru dipukul sampai terluka, sungguh dia bicara sembarangan!"

Kata Ling-lin.

"Benar, seumur hidupku, ini pertama kalinya aku terluka."

Ling-lin menundukkan kepala.

"Apakah Jing-er yang menggendong Guru turun dari gunung?"

Tanya Sun-ming.

"Betul, jika bukan karena keponakan Zhong-jing, mungkin hari ini aku tidak bisa datang kemari malah terkubur di Jun-shan!"

"Kalau begitu... begitu...."

Kata Sun-ming. Tiba-tiba Tuan Jian seperti teringat sesuatu dan bertanya pada Ruan-wei.

"Apa margamu?"

Dengan tegas Ruan-wei berkata.

"Margaku Ruan."

Dia ingin mengatakan kalau marganya Lu, tiba-tiba dia enggan memberitahukannya. Tuan Jian tertawa dingin.

"Sebetulnya kau masih sangat muda, mengapa kau berdandan menjadi orang dewasa?"

Diam-diam Ruan-wei mengagumi penglihatan Tuan Jian yang tajam, tapi dia tetap dengan angkuh menjawab.

"Ini adalah urusanku, Tuan tidak perlu tahu apa alasannya."

"Tiga tahun yang lalu aku bertarung dengan murid musuh ayahku di Jun-shan, akhirnya duaduanya terluka. Keponakan Zhong-jing menggendongku turun gunung untuk berobat. Begitu lukaku sembuh, karena aku ada perlu, aku harus pergi ke Yun-nan dan keponakan Zhong-jing mengkhawatirkan keadaan rumah maka dia tergesa-gesa pulang...."

Ling-lin berteriak, Sun-ming menarik nafas, karena tidak tahu apa sebabnya, Tuan Jian dengan kebingungan melihat mereka. Dia berkata lagi.

"Ketika kami bertarung di Jun-shan, hari. ketiga datang seorang remaja berusia sekitar 14 tahun, dia seperti kenal dengan keponakan Zhong. Di dunia ini hanya mereka berdua yang tahu aku bertarung dengan biksu India hingga terluka. Sekarang...."

Sorot mata Tuan Jian seperti api melihat Ruan-wei.

"Dia tahu aku terluka dan wajahnya sangat mirip dengan wajah remaja itu, tapi mengapa kau harus mengubah wajahmu dengan keterampilan mengubah wajah?"

Sun-ming menangis, Zhong-jie terus menggoyang-goyang tangan neneknya.

"Nek! Nenek!..."

Tuan Jian berjalan ke depan Sun-ming, dengan pelan dia bertanya.

"Kau... kau... mengapa menangis?"

"Sudah tiga tahun... Jing-er... tidak pernah pulang...."

Sun-ming terus menangis. Wajah Tuan Jian berubah. Dengan terkejut dia berkata.

"Apa? Mengapa keponakan Zhong-jing tidak pulang?"

Dia melihat Ling-lin dengan sorot bertanya.

Ling-lin menundukkan kepala.

Tuan Jian sudah bisa menebak diam-diam berpikir, 'Mengapa dia tidak peduli kepada keponakan Zhong-jing, tidak peduli, dia hidup atau mati?

Jika dia perhatian kepada suaminya mengapa dia tidak terlihat sedih?"

Sun-ming memegang tangan Zhong-jie dengan sedih berkata.

"Jing-er seumur hidupnya selalu susah, sekarang entah apakah dia masih hidup atau sudah mati, harus bagaimana kita sekarang?"

"Apakah tiga tahun ini tidak terdengar kabar beritanya?"

Tanya Tuan Jian.

"Tiga tahun yang lalu, Jing-er melihat kau muncul di Wan Nan, dia merasa sangat berterima kasih kepadanya karena 13 tahun yang lalu kau telah mengobatinya dan juga mengembalikan ilmu silatnya, maka dia ingin pergi ke Wan-nan untuk mencarimu. Dia mengatakan jika bukan jasa Tuan Jian, sampai sekarang dia pasti masih seperti orang cacat. Maka walau bagaimanapun dia ingin bertemu denganmu untukmembalas budimu...."

Tuan Jian menarik nafas.

"Karena keinginan keponakan Zhong-jing membalas budi, membuat Tuhan mengaturnya pergi ke Wan-nan. Dan karena dia pergi ke Wan-nan, dia menolong nyawaku!"

Sun-ming menyambung lagi.

"Setelah itu hampir dua tahun Jie-er tidak pulang. Aku dan Ling-er setiap hari mengkhawatirkannya. Kami dua orang perempuan kemana bisa mencarinya? Kami sudah tidak tahan dan memberitahukan kepada ketua Zheng-yi-bang...."

Ruan-wei baru mengerti, berpikir, 'Ternyata ketua Zheng-yi-bang muncul di sini dan membuat orang-orangTian-zheng-jiao mencari tahu.

Ternyata orang-orang Zheng-yi-bang datang untuk mencari Paman Zhong.

Tapi mengapa setelah minta bantuan perkumpulan yang begitu terkenal mencari Paman Zhong, tetap tidak berhasil menemukan Paman Zhong?

Apakah benar Paman Zhong sudah mati?..."

Alis Tuan Jian terangkat.

"Katanya 10 tahun lebih ini Zheng-yi-bang yang dipimpin Lu Nan-ren sudah berbuat banyak kebaikan untuk dunia persilatan dan sudah banyak mendapatkan pahala maka wibawa perkumpulan ini semakin kuat."

Sun-ming menarik nafas, khawatir.

"Sudah hampir dua tahun lebih Lu Nan-ren mencari hingga ke semua penjuru tapi tetap tidak berhasil menemukan jej ak Jing-er...."

Dengan terkejut Tuan Jian berkata.

"Apakah keponakan Zhong-jing terkena musibah...."

"Sepertinya begitu, kalau tidak mengapa Zheng-yi-bang tidak bisa menemukan jejak Jing-er?"

Sun-ming menjawab dengan pelan. Dengan sedih Tuan Jian berkata.

"Di Yun-nan di buku-buku peninggalan ayahku, aku menemukan semacam golok yang hanya bisa dipakai menggunakan tangan kiri. Aku datang kemari bermaksud mengajarkannya ilmu golok tangan kiri kepada keponakan Zhong-jing agar dia bisa berkelana di dunia persilatan, tapi... hhhh...."

Dengan nada marah Tuan Jian berkata lagi.

"Seseorang tanpa alasan sudah mengubah dirinya, hal ini membuat orang curiga dan orang ini yang terakhir bertemu dengan keponakan Zhong-jing, entah apa yang sedang direncanakan di dalam hatinya?"

Dengan angkuh Ruan-wei berkata.

"Jika bicara mengenai kehilangan Paman Zhong berhubungan dengan orang terakhir yang bertemu dengannya, sayang orang yang terakhir bertemu dengan Paman Zhong bukan aku. Orang yang terakhir bertemu dengan Paman Zhong seharusnya bisa menjelaskan tentang hilangnya Paman Zhong."

Sudah pasti kata-kata Ruan-wei ditujukan kepada Tuan Jian.

Tuan Jian adalah seorang pesilat terkenal yang pasti sifat menahan dirinya sangat kuat.

Tapi setelah mendengar kata-kata ini, wajahnya berubah.

"Sebenarnya apa margamu?"

Tanya Ling-lin tiba-tiba Ruan-wei menganggap Ling-lin adalah perempuan tidak baik.

Mana ada seorang istri tidak mempedulikan keselamatan suaminya sendiri, karena itu dia tidak menyukai Ling-lin dan tidak sudi menjawab pertanyaannya.

Dengan lembut Sun-ming bertanya.

"Hari ini kau datang ke rumah kami apa yang ingin kau sampaikan?"

Ruan-wei merasa Sun-ming memang harus dihormati, maka dengan sopan dia menjawab.

"Secara kebetulan aku mengenal Paman Zhong. Setelah berpisah di Jun-shan karena aku harus mengurus seorang tetua yang terluka parah karena bertarung maka kami pun berpisah. Setelah tetua ini sembuh dia menitipkan pesan kepada Paman Zhong. Inilah sebabnya mengapa aku datang. Aku bukan datang karena tidak ada hal penting."

Kalimat terakhirnya seperti menjawab pertanyaan Tuan Jian. Pelan-pelan Ruan-wei berkata kepada Sun-ming.

"Tetua itu menitipkan pesan kepadaku bahwa tiga tahun kemudian di Jun-shan, dia akan bertarung lagi dengan Tuan Jian untuk menentukan kemenangan. Untung masih ada tenggang waktu setengah tahun lagi akhirnya aku bisa menyampaikan pesan ini dan tidak terlambat."

"Biksu harimau bisu dan tuli itu masih tidak puas. Saat itu kita akan bertemu di Jun-shan!"

Tuan Jian membalikkan kepala dengan penuh arti melihat Ruan-wei dan berkata.

"apakah kau sudah menerima kebaikan dari biksu harimau?"

Ruan-wei mengangguk.

"Benar, biksu itu telah memberiku banyak kebaikan."

Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi.

"menurutku jika dua harimau bertarung pasti ada salah satu yang kalah. Lebih baik Tuan Jian jangan pergi ke Jun-shan. Dengan begitu dua tetua bisa menghindari pertarungan yang membuat salah satu terluka atau bahkan mati."

"Kau benar-benar pintar, ingin membuatku mengakui kekalahan dan menyuruhku tidak menepati janji. Sepertinya biksu harimau bisu dan tuli itu benar-benar telah memberimu banyak kebaikan."

"Bagaimana hasil pertarungan di Jun-shan? Ada pepatah mengatakan jika bisa memaafkan orang, maafkanlah orang itu. Dengan menahan diri bukankah menguntungkan dua belah pihak?"

Kata Ruan-wei.

"Jika kau tidak memberitahu janji pertarunganku dengan biksu harimau, bukankah akan menjadi seperti yang kau inginkan?"

Tanya Tuan Jian. Dengan serius Ruan-wei menjawab.

"Pesan orang lain harus disampaikan dengan baik, mana boleh menjadi orang yang tidak bertanggung j awab?"

"Jika hari ini kau tidak bertemu denganku, apa yang akan kau lakukan?"

Tanya Tuan Jian sambil tertawa. Ruan-wei benar-benar tidak suka, dengan lantang dia menjawab.

"Jika tidak bertemu dengan Tetua, aku akan mencari Paman Zhong. Di mana pun dia berada, aku akan memberitahu janji pertarungan di Jun-shan. Jika tidak berhasil menemukan Paman Zhong, aku akan pergi ke Jun-shan untuk meminta maaf kepada tetua harimau."

Tuan Jian mengangguk.

"Kebaikan yang diberikan biksu harimau tidak sia-sia. Kalau begitu, kau nasehati biksu harimau untuk membatalkan janji pertarungan di Jun-shan, aku akan menurunkan semua ilmu silatku kepadamu."

Segera Ling-lin ikut menasehati.

"Terimalah syarat dari guruku. Kau harus tahu ilmu silat ketua Zheng-yi-bang yang terkenal itu berasal dari guruku."

Ruan-wei marah.

"Kalian menganggap Ruan-wei itu siapa? Walaupun kau ingin melatihku menjadi orang nomor satu di dunia persilatan, aku tidak akan mau menjadi orang kerdil."

Setelah itu dia melangkah keluar. Dengan marah Tuan Jian membentak.

"Tunggu! Kau sudah berani berbuat tidak sopan kepadaku!"

Ruan-wei sudah hampir keluar dari ruangan, mendengar teriakan itu, dengan marah dan angkuh dia berkata.

"Kata-kataku sudah selesai, aku tidak perlu tinggal di sini lagi, lebih baik aku pergi."

Dengan dingin Tuan Jian berkata.

"Dengan nama besarku di dunia persilatan, aku menyuruhmu tidak boleh pergi. Kau harus menurut!"

Sun-ming mengerutkan alis, 'Mengapa hari ini Tuan Jian berubah? Mengapa dia berkata seperti itu?"

Zhong-jie dengan manja berkata.

"Kakek Guru, biarkan Kakak Ruan pergi dari sini!"

"Jie-er, jangan ikut campur!'' bentak Ling-lin Dengan nada membangkang Ruan-wei berkata.

"Jika aku mau pergi tidak ada seorang pun yang bisa melarangku."

Tiba-tiba dari pekarangan terdengar suara yang kuat berkata.

"Harap semua yang ada di dalam rumah keluar!"

Kata-katanya begitu sombong membuat orang-orang yang ada di dalam rumah terkejut.

Sebagai tuan rumah, Sun-ming langsung keluar.

Tiba-tiba tubuhnya seperti tersengat listrik, dia mundur beberapa langkah.

Dengan wajah pucat dia berkata.

"Pembunuh! Pembunuh...."

Ling-lin dengan cepat mendekati ibunya. Begitu melihat siapa orang yang dilihat ibunya, dia segera mengangkat alis, wajah penuh aura membunuh segera terlihat. Tuan Jian segera berkata.

"Siapa yang datang, Ling-er?"

"Pembunuh ayahku!"

Sun-ming menangis tersedu-sedu.

"Almarhum suamiku mati di tangan mereka...."

"Nenek, jangan menangis, Xiao Jie akan membalaskan dendam kakek!"

Hibur Zhong-jie "Kau masih kecil, mana bisa melawan musuh yang begitu kuat,"

Ling-lin berteriak. Zhong-jie berhenti melangkah, dia cemberut, pedangnya terus diacung-acungkan karena marah. Suara dari pekarangan terdengar lagi.

"Apakah tidak ada yang berani keluar untuk melawanku?"

Terdengar suara tajam berkata.

"Da-ge, biar mereka mau keluar atau tidak, kita bakar saja rumah ini!"

Sun-ming berusaha untuk tenang. Dari dalam rumah dia mengeluarkan dua buah pedang. Yang satu dilemparkannya kepada Ling-lin. Wajahnya dingin seperti es, dia berpesan.

"Xiao Jie, kau tetap di dalam rumah, jangan keluar! Ling-er, kita lawan orang itu!"

Mereka berdua berjalan sampai di depan pintu, Tuan Jian tetap diam di tempatnya, sepertinya pertarungan ini tidak ada hubungan dengannya. Ling-lin merasa aneh.

"Ada apa dengan guru? Dia tampak tidak peduli dengan dendam muridnya sedikit pun?"

Hal ini membuat Ruan-wei yang berdiri di pinggir merasa marah. Dalam hati berpikir, 'Masa membiarkan dua orang perempuan bertarung dengan pesilat tangguh...ketua baju emas Tianzheng-jiao!"

Maka dia segera mencegah Sun-ming dan Ling-lin. Dengan hormat dia berkata.

".....Biar aku yang bertarung dengan mereka. Jika aku kalah melawan mereka, baru kalian keluar. Biar aku menyumbang sedikit tenaga."

Sun-ming terharu dan menangis melihat remaja yang membela keadilan. Dengan penuh berterima kasih dia berkata.

"Tidak... tidak...."

Ling-lin tertawa dingin.

"Anak muda, jangan tidak tahu diri, apakah kau kira sanggup melawan Qi-ling-fei-hong dan Wan-du-tong-zi?"

Ternyata orang yang ada di pekarangan adalah orang Tian-zheng-jiao yang paling mempunyai nama, Wan-du-tong-zi, Tang-geng (Anak beracun Tang-geng).

Qi-ling-fei-hong Yin Bao-lin (Tujuh pelangi terbang).

Ruan-wei dengan suara keras berkata.

"Asal aku tahu lawanku bukan orang baik-baik, walaupun dia mempunyai ilmu silat setinggi apapun, aku tetap akan bertarung dengannya."

Ling-lin berkata dengan dingin.

"Kau benar-benar tidak tahu diri, kasihan ayah ibumu yang telah membesarkanmu, cepat minggir!"

Dengan penuh air mata Sun-ming berkata.

"Kebaikanmu akan kami ingat seumur hidup. Almarhum suamiku mati di tangan dua penjahat itu, kali ini aku harus membunuh mereka dengan senjataku sendiri."

"Aku memang tidak tahu diri, tapi aku dan Paman Zhong adalah sahabat baik, biar aku yang pergi ke sana melawan mereka sehingga harga diri mereka lenyap!"

Terdengar di pekarangan ada yang sedang menyalakan api.

Begitu terdengar Ruan-wei, dengan cepat dari sebuah kantong kecil dia mengeluarkan Wu-mang-zhu dan melemparkan dengan sangat cepat, membuat siapa pun tidak sempat melihatnya.

Di pekarangan terdengar suara teriakan berturut-tirut sebanyak lima kali.

Lima orang Tianzheng-jiao yang berniat membakar rumah sudah terkena lemparan Wu-mang-zhu.

Setelah Wu-mang-zhu dilemparkan, Ruan-wei berlari keluar.

Sun-ming ingin melarangnya tapi Tuan Jian berkata dengan suara kecil.

"Biarkan dia pergi!"

Tidak tampak Tuan Jian bergerak, tahu-tahu dia sudah berada di sisi Sun-ming.

"Dia adalah anak muda yang senang menolong orang, apakah dia adalah putra Lu Nan-ren?"

Dia bicara seperti itu karena wajah dan sifat Ruan-wei sangat mirip dengan Lu Nan-ren.

"Apakah lemparan senjata rahasia tadi, ilmu dari Xiao San-ye?"

Tuan Jian mengangguk.

"Wu-mang-zhu hanya dibuat oleh Xiao Lao-san dengan cara handal."

"Kalau begitu dia pasti putra kandung Kakak Nan!"

Setelah Ruan-wei tiba di pekarangan, di bawah tergeletak lima orang laki-laki hitam, mata mereka melotot tapi tidak bisa bergerak.

Di depan masih berdiri dua orang dengan penampilan sangat aneh.

Yang satu kurus dan tinggi.

Tingginya mengejutkan orang, juga hitam.

Yang satu adalah pak tua pendek berwajah merah.

Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Pak tua berwajah merah ini pasti orang yang telah membuat orang dunia persilatan takut kepadanya dan selalu menggunakan racun lihai, Wan-du-tong-zi, sedangkan yang satu lagi adalah Qi-ling-fei-hong."

Dengan suara rendah Wan-du-tong-zi tertawa.

"Cara Tuan melepaskan senjata rahasia benar-benar menunjukkan bakat orang terkenal."

Dengan suara melengking Qi-ling-fei-hong berkata.

"Apakah hanya memiliki sedikit ilmu ini kau sudah berani datang bertarung dengan kami? Lebih baik cepat pergi dari sini mumpung masih ada waktu."

Ruan-wei tidak takut.

"Hutang uang dibayar uang, membunuh orang dibayar dengan nyawa. Kalian berdua telah membunuh orang juga menganggu ketentraman dunia persilatan, apakah kalian tahu hukuman Tuhan tidak akan bisa kalian hindari?"

Wajah merah Wan-du-tong-zi seperti bayi yang selalu tertawa.

"Kata-kata Tuan membuatku merasa aneh."

"Kalian datang mau apa?"

Selidik Ruan-wei.

"Membunuh orang! Orang Tian-zheng-jiao membunuh orang tidak pernah berpikir apakah dia akan dihukum Tuhan atau tidak!"

Jawab Qi-ling-fei-hong dengan suara seram.

"Kalian ingin membunuh siapa?"

Tanya Ruan-wei.

"Semua orang yang ada di rumah ini akan kami bunuh, termasuk anjing dan ayam."

Walaupun Wan-du-tong-zi mengeluarkan kata-kata begitu sadis tapi dia tetap tertawa.

"Apakah kau tahu di rumah itu siapa yang tinggal?"

Tanya Ruan-wei. Qi-ling-fei-hong tertawa.

"Tidak peduli siapa pun dia, asalkan dia kenal dengan ketua Zheng-yi-bang harus kami bunuh!"

"Bagaimana denganku?"

Tanya Ruan-wei.

"Apakah kau kira kau bisa hidup lebih lama?"

Qi-ling-fei-hong mulai marah. Ruan-wei tertawa menghina.

"Mengapakalian begitu sombong dan percaya diri?"

"Bocah tengik, kau cari mati!"

Qi-ling-fei-hong mengeluarkan tali hitam yang panjangnya enam meter.

Setiap satu meter terikat sebuah lonceng yang berkilau dan tujuh macam senjata aneh.

Dengan cepat Ruan-wei mundur dan membalikkan tangan mencabut Fei-long-jian yang bersinar dingin.

Tali Qi-ling-fei-hong bergulung, segera lonceng berbunyi, dia siap menyerang.

Waktu itu, di atas dinding terdengar suara bentakan.

"Tunggu dulu!"

Segera ada pesilat empat bunga meloncat turun. Pesilat empat bunga dari Zheng-yi-bang, berarti ilmu silatnya setingkat dengan ketua baju emas di Tian-zheng-jiao. Pesilat tiga bunga Kakak Tao berkata.

"Ketua Tang dan Ketua Yin, apakah kau tahu tuan rumah ini kenal dengan Zheng-yi-bang?"

Dengan penuh tawa Wan-du-tong-zi Tang-geng menjawab.

"Pihakmu dengan pihak kami sudah 10 tahun lebih tidak pernah berjanji, jika ada yang kenal dengan salah satu pihak, tidak dibunuh!"

"Betul, belum ada perjanjian seperti ini tapi mulai hari ini orang yang ada di rumah itu masuk dalam pelindungan kami. Jika kalian menyerang tuan rumah ini, berarti kalian tidak memandang Zheng-yi-bang."

"Hal sekecil itu tidak perlu dibicarakan,"

Wan-du-tong-zi tertawa.

Di depan pesilat empat bunga, Qi-ling-fei-hong tidak berani bersikap sombong.

Dia terus melihat Tang-geng, seperti mengandalkan dia.

Wan-du-tong-zi menarik tawanya, dengan serius dia berkata.

"Hari ini kami memandang Kakak Tao, sementara kami akan mundur dulu tapi kelak hutang ini akan kami tagih lagi."

Wan-du-tong-zi Tang-geng adalah orang licik, melihat Tao-chu muncul, dia tahu akan kesulitan menghadapi Tao-chu maka dia memang-gil Qi Ting-fei-hong dan siap-siap mundur dari sana.

"Ketua Tang, lima orang yang tergeletak di bawah, apakah mereka adalah murid perkumpulan kalian?"

"Orang yang sudah membuat malu perkumpulan kami, tidak akan diakui lagi,"

Wan-du-tong-zi menjawab sambil terus berjalan. Tapi Ruan-wei sudah membentak.

"Kalian berhenti!"

"Apakah kau bicara kepada kami?"

Tanya Wan-du-tong-zi.

"Betul!"

Jawab Ruan-wei.

"Ternyata ada yang ingin mencari keuntungan,"

Qi-ling-fei-hong berkata dengan tertawa sinis.

"Membunuh harus mengganti dengan nyawa, ini adalah hal biasa."

"Apakah nyawa boleh sembarangan di tinggal?"

Qi-ling-fei-hong mulai marah.

"Membunuh orang harus diganti dengan nyawa, hari ini kalian berdua datang tepat pada waktunya."

"Apakah Tuan sudah gila?"

Tao-chu ikut membentak. Tangan kiri Ruan-wei memegang pedang. Pedang dijuntai ke bawah, kaki membentuk angka delapan (Huruf Tionghoa). Caranya sangat aneh tapi luwes.

"Sedikit pun aku tidak gila!"jawab Ruan-wei "Kalau Tuan tidak gila, silakan tinggalkan tempat ini agar tuan rumah di sini tidak terbawa masalah anda!"

Ruan-wei tertawa dingin.

"Walaupun aku meninggalkan tempat ini, tuan rumah pasti tidak akan membiarkan kedua orang itu pergi hidup-hidup. Aku hanya menggantikan tuan rumah melaksanakan tugas ini."

"Maksudmu tuan rumah dengan Qi-ling-fei-hong dan Wan-du-tong-zi mempunyai dendam yang dalam?"

Tanya Tao-chu.

"Betul!"

Jawab Ruan-wei.

"Membunuh orang harus diganti dengan nyawa, siapa yang sudah kubunuh? Coba beritahu kepadaku!"

Kata Wan-du-tong-zi sambil tertawa.

"Ling Bei-xiu!"

Jawab Ruan-wei. Qi-ling-fei-hong tertawa menghina.

"Ternyata dia adalah janda Ling Bei-xiu. Ha ha ha! 10 tahun lebih jika bukan karena ketua kami yang melindungi mereka, apakah mereka masih bisa hidup di dunia ini?"

Wan-du-tong-zi menurunkan Hu-lu besi (hiolo) dari balik punggungnya. Dengan serius dia berkata.

"Apakah Tuan tetap mau membantu janda Ling Bei-xiu membalas dendam?"

Melihat dia mengeluarkan senjata, Ruan-wei tahu kalau pertarungan akan segera dimulai.

Maka dengan penuh konsentrasi dia menatap lawan.

'Siapakan pemuda ini, membuat Wan-du-tong-zi seperti melawan seorang musuh besar?' Taochu diam-diam berpikir.

Sambil mengeluarkan Duo-hun-suo (Tali besar pencabut nyawa), Qi-ling-fei-hong membentak.

"Aku tidak ingin membunuh orang yang tidak ternama, bocah, siapa namamu?"

Mata Ruan-wei sama sekali tidak berkedip.

"Aku Ruan-wei."

Segera Wan-du-tong-zi berkata.

"Ruan-wei! Ruan-wei! kau tidak akan menang dari kami-kami yang sudah terkenal pada pertarungan kali ini, maka kau harus berhati-hati menghadapinya!"

Wan-du-tong-zi memang lebih licik dan teliti.

Lemparan senjata rahasia tadi telah membuatnya terkejut.

Walau bagaimana pun dia harus memberitahukan hal ini kepada Qi-ling-fei-hong agar dia bergabung dengannya membunuh Ruan-wei Pedang Ruan-wei terjulur ke bawah, dia tidak bergerak.

Qi-ling-fei-hong tidak sabar.

Duo-hunsuo berlonceng tujuh mulai menyerang.

Tiba-tiba sebuah cahaya putih menahan Duo-hun-suo.

Tao-chu memegang tombak peraknya dan membentak.

"Nanti dulu!"

"Apakah Zheng-yi-bang akan ikut lagi dalam hal ini?"

"Perkumpulan kami tidak membantu melainkan membantu tuan rumah membalas dendam."

Qi-ling-fei-hong marah.

"Jangan berpura-pura, jika ingin membantu, majulah semuanya, kami akan membereskan kalian juga. Tidak peduli kalian ada berapa orang!"

Dua pesilat empat bunga mencabut senjata mereka.

Mereka seperti malas untuk bicara.

Ilmu silat mereka berada di atas Tao-chu tapi mereka sangat patuh kepada perintah Tao-chu.

Diam-diam Wan-du-tong-zi terkejut.

Dua saudara bermarga Wang ini ilmu silatnya setingkat dengannya, jika mereka berdua bergabung, mereka benar-benar akan kalah total.

Ternyata dua orang pesilat dengan empat bunga ini adalah kakak beradik.

Si kakak bernama Wan g Shu-yuan, sedangkan adiknya bernama Wan Shu-tian.

Perawakan mereka tinggi juga besar, gabungan ilmu pedang mereka sangat terkenal di dunia persilatan.

Ruan-wei menyerang dan membentak.

"Jika aku kalah, dua kakak baru boleh menyambung bertarung dengan mereka."

Wan-du-tong-zi, QiTing-fei-hong, dan Ruan-wei mulai bertarung.

Tao-chu dan dua bersaudara Wang berada di pinggir melihat.

Ruan-wei berada di antara Duohun-suo dan Tie-hu-lu, dia meloncat kesana kemari, terkadang menyerang satu kali dengan pedang.

Walaupun lihai tapi gerakannya tidak teratur.

Ruan-wei hanya bisa melakukan Tian-long-shi-san-jian, sekarang dia tidak menggunakan jurus Tian-long-shi-san-jian, hanya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan Xiao San-ye.

Serangan dari dua pesilat tangguh, bisa dihindari Ruan-wei dengan tenang.

Setelah sepuluh jurus berlalu, Ruan-wei tidak tampak akan kalah, hal ini membuat Tao-chu dan dua pesilat Wang bersaudara merasa heran dan melihat gerakan Ruan-wei dengan mata melotot.

Sun-ming dan Ling-lin yang berada di pekarangan melihat Ruan-wei bertarung.

Jika saja Ruanwei terdesak, mereka akan segera datang membantu.

Mereka tidak akan membiarkan satusatunya putra Lu Nan-ren terluka karena serangan musuh mereka.

Setelah seratus jurus berlalu, gerakan Duo-hun-suo Qi-ling-fei-hong berubah.

Tali diayunkan mengeluarkan bunyi lonceng.

Walaupun mengganggu penglihatan atau konsentrasi lawan tapi tidak membuat orang terganggu.

Sekarang jurus tali telah berubah.

Suara lonceng terus berbunyi, mengeluarkan suara seperti sebuah lagu.

Denting lagunya seperti membuat orang akan roboh.

Setiap jurus mengeluarkan sebuah irama, terdengar lonceng mengantarkan jurusnya.

Diam-diam dua bersaudara Wang ber-pikir, 'Kami pernah mendengar jurus 'Qi-ling-fei-suo' (7 lonceng tali terbang) yang telah melukai banyak orang dan belum pernah terkalahkan.

Sepertinya dia akan menggunakan jurus ini."

Hu-lu besi yang dipegang Wan-du-tong-zi berubah arah. Mulut Hu-lu berhadapan dengan Ruanwei. Tiba-tiba dua bersaudara Wang bersama-sama berteriak.

"Hati-hati, senjata beracun!"

Begitu mendengar teriakan itu, Ruan-wei mulai memperhatikan mulut Hu-lu. Dalam hati berpikir, 'Jika pada pertarungan ini dia mengeluarkan senjata beracun, aku akan sulit menghindar."

Setelah beberapa jurus berlalu, Ruan-wei beralih rada berada di bawah angin, hal ini terjadi karena dia terus mengawasi senjata rahasia Wan-du-tong-zi yang beracun juga harus konsentrasi menahan suara lonceng yang dikeluarkan dari Qi-ling-fei-suo.

Karena mereka berdua mengeluarkan jurus andalan masing-masing hingga Ruan-wei tidak bisa menggunakan jurus Tian-long-shi-san-jian.

Dia ingin bertarung dengan pedang yang dimilikinya untuk menepis senjata mereka agar dia bisa menggunakan jurus Tian-long-shi-san-jian.

Melihat Ruan-wei hampir kalah, Sun-ming dan Ling-lin bersiap-siap membantu, mulut Hu-lu besi Tang-geng sudah terbuka.

Dari mulut Hu-lu keluar lima panah kecil beracun.

Dalam jarak dekat bisa tampak panah yang keluar adalah panah beracun.

Hal ini membuat orang yang berada di arena pertarungan terkejut dan mereka mengira Ruan-wei tidak akan bisa menghindari serangan ini.

Tapi bayangan Ruan-wei seperti hantu gentayangan.

Dia keluar dari kepungan Wan-du-tong-zi dan Qi-ling-fei-hong, lima anak panah beracun itu berhasil dihindari oleh Ruan-wei.

Semua orang yang berada di arena pertarungan tidak melihat Ruan-wei menggunakan cara apa untuk menghindarinya.

Hanya Tuan Jian yang ada di dalam rumah, dari balik jendela melihat semua pertarungan dan tahu jurus yang digunakan adalah ilmu meringankan tubuh yang telah lama menghilang, yang bernama Bai-bian-gui-ying (bayangan setan berubah-ubah).

Setelah berhasil keluar dari kepungan musuh, dia memegang pedang dengan tangan kirinya dan pedang diarahkan tegak lurus ke bawah.

Dia mulai mengatur nafas melakukan jurus-jurus yoga dan bersiap-siap menggunakan jurus Tian-long-shi-san-jian.

Tang-geng sama sekali tidak menyangka kalau Ruan-wei berhasil menghindari 'Du-chang-jian' (panah usus beracun).

Qi-ling-fei-hong tidak percaya ada orang yang bisa lolos dari jurus Qi-ling fei-suo miliknya.

Tapi buktinya Ruan-wei berhasil meloncat keluar, hal ini membuat mulut mereka ternganga karena merasa aneh.

Qi-ling-fei-hong tidak percaya ada ilmu menghilang.

Dia mengayunkan tali dan siap mengeluarkan jurus talinya yang paling lihai.

Tangan Tang-geng memegang Hu-lu besi.

Begitu ada kesempatan, dia akan melepaskan panah beracun ke arah Ruan-wei.

Tapi Ruan-wei berdiri tegar seperti gunung, sikapnya sangat tenang, sampai mereka berjalan ke harapannya, dia segera tertawa.

Pedang diangkat dan menunjuk ke arah langit.

Ini adalah pembukaan dari jurus Tian-long-shi-san-jian, yang bernama 'Xiao-fu-zhi-tian' (Budha tertawa menunjuk langit).

Qi-ling-fei-hong merasa senang, diam-diam dia berpikir, 'Apakah bocah ini tidak bisa menggunakan pedang?

Mana ada jurus pedang menusuk langit, benar-benar tidak waras!' Tang-geng mempunyai pikiran sama dengan Qi-ling-fei-hong.

Mereka segera menyerang Ruanwei.

Tapi justru dasar dari Tian-long-shi-san-jian yaitu 'Xiao-fu-zhi-tian' digunakan untuk memancing lawan.

Begtu jurus dikeluarkan, ilmu yoganya segera dikeluarkan.

Ruan-wei seperti seekor naga terbang ke atas.

Tang-geng dan Qi-ling-fei-hongyang terus memusatkan serangannya.

Tidak menyangka musuh bisa menghilang.

Mereka malah merasa ada angin dari pedang terus menyerang ke arah kepala mereka.

Mereka terkejut, segera mereka mengeluarkan jurus menyelamatkan diri, menghindar dari jurus kedua Tian-long-shi-san-jian yang bernama 'Feng-long-zai-tian' (naga terbang kelangit).

Ketika mereka menjaga kepala mereka, Ruan-wei seperti seekor naga turun ke bumi.

Cahaya pedang seperti kilat menyerang pinggang mereka.

Tang-geng dan Yin Bao-lin tidak menyangka di dunia ada jurus pedang begitu aneh, maka mereka mengeluarkan ilmu andalan mereka untuk menghindari jurus ketiga dari Tian-long-shi-sanjian.

Tiba-tiba Ruan-wei bersiul seperti naga berteriak kemudian cahaya pedang tampak berputar.

Sosok Ruan-wei mengikuti pedang terbang, di sekeliling hanya terlihat kilauan pedang tapi tidak terlihat bayangan Ruan-wei.

Jurus keempat Tian-long-shi-san-jian adalah 'Jin-tong-bai-fu' (anak emas menyembah Budha).

Begitu dikeluarkan, Tang-geng dan Yin Bao-lin segera berteriak karena tangan kanan mereka telah tersabet hingga putus dari pergelangan, dan senjata mereka terjatuh.

Sisa tenaga jurus keempat 'Jin-tong-bai-fu' masih seperti gelombang terus menyerang mereka.

Orang-orang yang melihat pertarungan ini benar-benar terkejut.

Untung ada senjata yang menahan tenaga kuat ini.

Hanya saja pedang dua bersaudara Wang terlempar oleh tenaga ini, mereka selamat tidak terjadi sesuatu.

Tapi pedang Sun-ming dan Ling-lin terbabat putus.

Ilmu silat Tao-chu paling rendah, tombak peraknya pun terputus, pergelangan tangannya terluka.

Ini karena Ruan-wei telah berusaha mengurangi tenaganya.

Jika tidak, orang yang ada di arena pertarungan itu pasti tidak akan sanggup menahan hempasan tenaga ini.

Jurus keempat 'Jin-tong-bai-fu' telah digunakan Ruan-wei, tenaganya tidak terkendali.

Jurus kelima 'Long-zhanyu-ye' hanya di keluarkan setengah jurus, (naga bertarung dengan harimau liar).

Tang-geng dan Yin Bao-lin sudah terluka dan tidak bisa bertarung lagi tapi jurus 'Long-zhan-yuye' masih terus membabat kaki mereka.

Begitu jurus Tian-long-shi-san-jian di keluarkan satu jurus lebih lihai dari jurus sebelumnya.

Walaupun 'Long-zhan-yu-ye' hanya dikeluarkan setengah jurus tapi angin dari pedang seperti kilat membabat kaki mereka berdua.

Waktu itu, dari luar dinding ada bayangan hijau berkelebat.

Sebelah tangan mengangkat leher baju Tang-geng, sedangkan tangan lainnya memegang tali pinggang Yin Bao-lin.

Tapi cahaya pedang menutup jalan mundur mereka.

Bayangan hijau ini sangat lihai, dia bersalto keluar dari kurungan cahaya pedang.

Dia masih sempat menendang kepala Ruan-wei.

Setengah jurus Ruan-wei yang digunakan, memaksakan tubuhnya bergerak ke belakang dan menghentikan jurus-jurus pedangnya.

Tendangan bayangan hijau itu tidak berhasil mengenainya.

Bayangan itu mengangkat Tang-geng dan Yin Bao-lin kemudian meletakkan mereka dengan posisi berdiri.

Ternyata yang datang adalah seorang pemuda berusia sekitar 30 tahun, wajahnya dingin dan sadis.

Kedua matanya terus melihat ke atas, benar-benar sangat angkuh.

Dengan dingin dia berkata.

"Jurus-jurus Tuan benar-benar lihai, nanti Qian-yi akan mencari waktu untuk mencobanya."

Dia melihat Tang-geng dan Yin Bao-lin. Dengan dingin dia berkata.

"Ayo kita pergi!"

Dengan menahan sakit, Qi-ling-fei-hong dan Wan-du-tong-zi mengikuti Qian-yi pergi dari sana.

Sun-ming dan Ling-lin tahu kalau Qian-yi adalah murid pak tua tanpa nama yang tinggal di Qing-hai, sekarang dia adalah wakil ketua Tian-zheng-jiao.

karena nama besarnya, maka Sun-ming dan Ling-lin tidak berniat mengejarnya.

Sesudah Ruan-wei mengeluarkan jurus-jurus Tian-long-shi-san-jian, dia merasa sangat senang, melihat sosok Qian-yi, dia berteriak.

"Jika ilmu pedangku kalah di tangan Tuan, aku akan memberikan kepalaku untukmu."

Tiba-tiba terdengar bentakan.

"Bocah sombong!"

Begitu menoleh, Ruan-wei melihat Tuan Jian berada di belakangnya. Dia marah.

"Kenapa begitu membuka mulut Tetua menyakiti hati orang?"

Dengan dingin Tuan Jian menjawab.

"Kau kira setelah biksu harimau mengajarmu Tian-long-jian-fa, maka kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan? Menurutku, itu hanya kepandaian anak-anak."

Tuan Jian tidak tahu kalau Ruan-wei mempelajari ilmu pedang itu sendiri, tidak diajarkan oleh biksu harimau.

Mendengar Tuan Jian menghina biksu harimau yang begitu dihormatinya, maka Ruan-wei dengan marah berkata.

"Ilmu yang diajarkan biksu harimau tidak akan kalah darimu!"

"Dengan kemampuan ilmu silatmu tadi, dalam tiga jurus, aku akan mematahkan pedangmu!"

Seru Tuan Jian.

"Apakah Tetua tidak malu mengatakan ini?"

Tanya Ruan-wei.

"Kalau tidak percaya, boleh coba?"

Tuan Jian tertawa.

"Baik, aku tidak takut kepada siapa pun!"

Ruan-wei berkata dengan marah.

Ruan-wei memusatkan tenaganya, pedang dipegang di tangan kiri dan terjulur ke bawah.

Dia seperti menghadapi musuh kuat tapi waktu berlalu lama Tuan Jian masih belum bergerak.

Ruanwei tidak sabar dan berkata.

"Mengapa Tetua tidak mencabut pedang?"

Tuan Jian pura-pura terkejut.

"Apakah aku harus memakai pedang? Oh, tidak, tidak! Jika aku menggunakan pedang, dalam satu jurus saja kau akan kalah, aku tidak mau melakukannya!"

Dia mematahkan tangkai pohon dan membersihkan daunnya, jadilah sebuah pedang dengan panjang 2.5 meter dan lebar 7.5 centimeter. Dia melambaikan pedang kayu itu, dengan lagak angkuh berkata.

"kau menyuruhku menggunakan pedang, jadi aku menggunakan pedang kayu ini agar tidak membuatmu terluka dan orang lain tidak akan mengatakan orang tua menghina anak kecil!"

Ruan-wei benar-benar marah karena merasa terhina. Tapi dia masih menahan diri dengan sopan berkata.

"Silakan...."

Tuan Jian malah menatap langit dan tidak melihat Ruan-wei.

Tapi Ruan-wei tetap dengan hormat menunggu gerakan Tuan Jian dia memberi hormat lagi tapi Tuan Jian tidak menerima hormatnya.

Karena marah, jurus dasar Tian-long-shi-san-jian yaitu 'Xiao-fu-zhi-tian' pun dikeluarkannya.

Pedang Ruan-wei tinggal 2 cm lagi akan mengenai tenggorokan Tuan Jian.

Pedang kayu menempel pada Fei-long-jian, dan menepis besi seperti menepis tanah.

Tinggal 1 cm lagi Ruan-wei menusuk, tapi pedangnya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Dia ingin menarik kembali pedangnya ternyata tidak bisa ditarik.

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Ini bukan pertarungan pedang, melainkan seperti menggunakan ilmu gaib,' Tapi Ruan-wei adalah seorang anak pintar, melihat ilmu lawan sudah terlatih sedemikian rupa, hingga jurus pertamanya tidak berhasil.

Dia tidak peduli apakah pedangnya bisa ditarik atau tidak, jurus kedua 'Fei-long-zai-tian' pun dikeluarkan.

Segera tampak kehebatan 'Fei-long-zai-tian'.

Tempelan pedang Tuan Jian hampir gagal dan pedang hampir bisa ditarik kembali tapi tiba-tiba badan Tuan Jian mengikuti tubuh Ruan-wei.

Ruan-wei turun, dia ikut turun, tapi pedang kayu masih tetap menempel di atas pedang Ruan-wei.

Jurus ketiga Xian-long-zai-tian' kemudian dikeluarkan.

Tuan Jian mengikuti pedangnya berputar tapi pedang kayu tetap menempel di atas pedang Ruan-wei.

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Akan kukeluarkan jurus keempat, saat itu kepalamu akan pusing karena berputar-putar, aku akan menarik pedangku untuk memotong pedang kayumu!' Tapi baru saja jurus keempat akan dikeluarkan, dia merasa ada tenaga masuk ke dalam tubuhnya, dikatakan kecil juga tidak, dia hanya merasa kalau dia harus melepaskan Fei-long-jian maka dia pun melepaskan Fei-long-jian dengan tidak berdaya.

Tuan Jian menyambut pedang Fei-long-jian, sambil tertawa dia berkata.

"Tian-long-jian-fa digunakan olehmu lebih ganas dibandingkan digunakan anak kecil. Belajarlah beberapa tahun lagi, setelah itu baru bisa bertarung denganku' Sambil tertawa dia melempar Fei-long-jian kepada Ruan-wei. Wajah Ruan-wei menjadi merah dan menerima Fei-long-jian nya kembali. Dia sedih dan berpikir, 'Kepandaianku ternyata masih rendah. Ilmu pedang yang katanya nomor satu, di tanganku tetap tidak bisa melewati 3 jurus orang lain, benar-benar memalukan!"

Dia menyimpan pedangnya dan memberi hormat kepada Tuan Jian.

"Terima kasih, Tetua telah mengembalikan pedang ini kepadaku."

Dia teringat kalau pedang ini milik Gongsun Lan dan harus dikembalikan padanya. Sambil tertawa dingin Tuan Jian berkata.

"Pergilah! Setelah berlatih dengan baik, baru temui aku lagi!"

Ruan-wei malu kalau terus berada di sana, dia meloncat ke atas dinding. Sun-ming berteriak.

"Kau mau ke mana? Bukankah kau ingin mencari ayahmu?"

Dengan sedih Ruan-wei menggelengkan kepala.

"Aku tidak tahu siapa ayahku, kemana aku harus mencarinya? Sampai jumpa lagi!"

Dia tidak berpikir mengapa orang lain bisa menanyakan hal ini, dia hanya merasa sedih dan ingin menangis.

Dia takut kalau sampai terlihat orang lain maka hanya dalam waktu sebentar dia melayang seperti seekor burung terbang entah ke mana.

Sun-ming berteriak.

"Kembalilah, ayahmu adalah Lu Nan-ren..."

Tapi Ruan-wei sudah jauh dari sana dan tidak mendengarnya. Sun-ming membalikkan tubuh dan bertanya kepada Tuan Jian.

"Mengapa hari ini kau tidak seperti biasanya, selalu melakukan tindakan tanpa menggunakan perasaan? Bukankah kau tahu, dia adalah putra Lu Nan-ren?"

Tuan Jian mengangguk.

"Aku memang curiga dia adalah putra Lu Nan-ren maka dengan segala cara aku harus mengujinya. Dia benar-benar seorang anak yang mempunyai hati membela keadilan!"

"Tapi, mengapa... mengapa... kau membuatnya marah dan pergi dari sini? Mengapa tidak memberinya kesempatan untuk bertemu dengan ayahnya?"

Tanya Sun-ming dengan bingung.

"Anak ini telah menguasai ilmu senjata rahasia serta ilmu meringankan tubuh yang hebat dari Xiao San-ye, sampai-sampai ilmu pedang Tian-long-shi-san-jian dan ilmu sakti Yoga dari India pun dikuasainya, tapi ilmunya belum terkuasai dengan baik. ilmu pedang Tian-long-shi-san-jian baru dikuasainya sebanyak 30%, aku sengaja membuatnya marah dan pergi dari sini, dia pasti akan pergi mencari biksu harimau dan memberitahu kalau aku setuju bertarung dengan-nya di Junshan. Dia pasti akan belajar lebih baik lagi kepada biksu harimau dan bisa menguasai Tian-longshi-san-jian dengan baik dan tepat. Jika anak ini telah menguasai Tian-long-shi-san-jian dengan baik, maka dia akan menjadi pesilat nomor 1 di dunia persilatan. Apalagi Tian-long-shi-san-jian selalu menjadi incaran pesilat-pesilat dunia persilatan. Jika dia tidak benar-benar menguasai ilmu itu dan tidak menjaga dirinya, nyawanya akan cepat melayang."

"Aku telah salah paham kepadamu, tidak disangka kau lebih memperhatikan dia,"

Sun-ming tersenyum. Dengan senang Tuan Jian berkata.

"Lebih baik dia tidak tahu bahwa dia adalah putra ketua Zheng-yi-bang, agar hatinya lebih tenang berlatih silat. Apakah tiga pesilat Zheng-yi-bang bisa menjaga rahasia ini?"

Dua bersaudara Wang dan Tao-chu menyaksikan sendiri bagaimana hebatnya ilmu silat Tuan Jian tadi, mereka benar-benar kagum kepadanya. Mereka segera menjawab.

"Kami janji akan merahasiakan!"

Zhong-jie yang sejak tadi diam di dalam rumah sekarang berlari keluar. Dia mendekati Sun-ming. Sun-ming mengelus-elus rambutnya, dan berkata.

"Entah kapan ayah Xiao Jie baru bisa bertemu denganmu? Jika dia seperti almarhum suamiku, bagaimana dengan Xiao Jie dan Ling-er?"

Ling-lin mengomel.

"Ibu, jangan terus membicarakan hal ini!"

Dia seperti tidak suka mendengar nama Zhong-jing disebut. Tuan Jian menuntun tangan Xiao Jie, dengan serius dia berkata.

"Seumur hidupku, aku belum pernah menerima murid. Ling-er hanya belajar beberapa jurus dariku, dia bukan muridku. Aku sudah tua, hampir masuk liang kubur, aku tidak mau ilmu silatku terkubur bersamaku, Xiao Jie ikutlah kakek guru beberapa tahun. Aku akan menurunkan ilmuku padamu. Dendam kakek dan pencarian ayahmu, kau yang harus melakukan."

Sun-ming dengan senang berkata.

"Xiao Jie, cepat berterima kasih kepada kakek guru!"

Xiao Jie segera berlutut dan berkata.

"Terima kasih, kakek guru!"

"Jie-er, kau telah mengabulkan harapan ibu."

Kata Ling-lin juga senang.

"Jika kau ingin belajar, aku tetap akan mengajarimu, untuk apa berebut dengan putri sendiri?"

Tuan Jian tersenyum.

"Aku sudah tua untuk apa belajar ilmu silat lagi? Asal Jie-er bisa menguasai sepersepuluh ilmu guru, aku sudah merasa senang dan puas."

"Lihat anak ini, di depan Tuan Jian mengatakan kalau dia sudah tua, benar-benar memalukan."

Sun-ming tertawa "Umur tidak bisa dibohongi, generasi muda akan terus muncul, aku benar-benar merasa sudah tua,"

Ucap Tuan Jian. Sun-ming mengganti topik pembicaraan.

"Anak Ruan-wei benar-benar mempunyai masa depan cerah, baik sekali jika dijodohkan dengan Xiao Jie!"

"Betul! Ini ide yang bagus. Jika Xiao Jie telah mempelajari ilmu silatku, ilmu silatnya tidak akan jauh dari Ruan-wei. Kelak kalau kalian berdua berkelana di dunia persilatan akan membuat dunia persilatan menjadi cerah."

Xiao Jie berusia 13 tahun, dia sudah mengerti hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dengan malu-malu dia berlari masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba Ling-lin berkata.

"Aku tidak mau Xiao Jie menikah dengan Ruan-wei...."

Suaranya sangat kecil tapi Sun-ming bisa mendengarnya dan bertanya.

"apa yang kau katakan tadi?"

"Menurutku, tinggal terus di sini kalian sudah tidak aman lagi, lebih baik kalian pindah ke wilayah kekuasaan Zheng-yi-bang."

Kata Tao-chu "Betul!

Aku akan membawa Jie-er pergi dari sini, tidak ada yang menjaga kalian berdua, apalagi Tian-zheng-jiao sangat jahat.

Kalian tidak bisa menjaga diri, lebih baik kalian ikut Pendekar Tao pergi,"

Usul Tuan Jian. Sun-ming bertanya dengan sedih.

"Apakah kau akan pergi lagi?"

Tuan Jian tidak berani menatap Sun-ming, dia hanya menjawab.

"Xiao Jie akan ikut ke gunung untuk belajar silat, aku jamin dia akan bisa menguasai ilmu silat tinggi."

Ling-lin dengan senang berkata.

"Bu, jika Xiao Jie pergi, kita sama-sama pergi ke markas Zheng-yi-bang. Di sana ada Kakak Lu yang bisa melindungi kita sehingga kita tidak akan merasa kesepian."

"Apakah kau tidak senang kesepian?"

Tanya Sun-ming.

BAB 97 Remaja yang penuh teka teki Dengan sedih Ruan-wei meninggalkan Jin-ling, sepanjang jalan dia terus berpikir mengapa jurus yang katanya nomor satu di dunia persilatan, dalam 3 jurus berhasil dikalahkan oleh Tuan Jian.

Akhirnya dia menemukan suatu alasan, selama 3 tahun belajar sendiri, dia belum memahami inti sari dari kedasyatan Tian-long-shi-san-jian.

Dia teringat biksu harimau pernah berkata.

"empat tahun kemudian kau harus pergi ke perbatasan Tibet mencariku."

Kata-katanya pasti bukan tanpa alasan.

Setelah dihitung-hitung, janjinya dengan tetua biksu harimau masih ada waktu setengah tahun lagi.

Jika dia berangkat sekarang masih cukup waktunya.

Apalagi persetujuan pertarungan antara biksu harimau dengan Tuan Jian harus diberitahukan kepada biksu harimau, karena itu dia mengambil keputusan untuk pergi ke Tibet.

Selama beberapa hari perjalanan, Ruan-wei mendengar kabar mengenai dirinya.

"Seorang pemuda berusia sekitar 25-26 tahun, di Jin-ling telah berhasil menebas putus pergelangan dua ketua berbaju emas Tian-zheng-jiao dan melukai pesilat tiga bunga Tao-chu dari Zheng-yi-bang."

Begitu kabar ini menyebar, dunia persilatan menjadi geger.

Siapakah orang yang berani bermusuhan dengan Tian-zheng-jiao juga Zheng-yi-bang?

Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang adalah dua perkumpulan terbesar di dunia persilatan.

Orang-orang yang berilmu rendah selalu mencari kesempatan untuk bergabung dengan Tianzhengjiao atau Zheng-yi-bang, mereka menganggap adalah suatu kebanggaan jika bisa masuk menjadi anggota dua perkumpulan itu.

Tapi pesilat muda ini dalam waktu bersamaan berhasil melukai orang-orang terpenting dari dua perkumpulan itu.

Karena kabar ini, semua pesilat menebak kalau pemuda itu pasti seorang yang mempunyai dukungan kuat.

Tapi begitu mereka mencari tahu pemuda yang tidak terkenal ini dan identitasnya, yang tidak jelas dari pemuda ini ternyata bermarga Ruan.

Karena kabar ini terus menyebar, pemuda bermarga Ruan ini menjadi sosok sangat misterius.

Kabar ini tidak membuat Ruan-wei merasa senang, dia malah merasa malu karena penghinaan yang diterinanya dari Tuan Jian, dalam tiga jurus telah dikalahkan oleh Tuan Jian.

Dia takut kalau orang-orang akan mengenalinya.

Karena itu dia kembali merubah ke wajah aslinya, pakaiannya pun diganti menjadi pakaian seorang pelajar, 'Fei-long-jian' dibungkus dengan kain hitam dan dijepit di ketiaknya.

Dia juga membeli buku-buku dan dibungkus menjadi buntelan dan digendongnya di pundak.

Sekarang dia seperti seorang pelajar berusia 17-18 tahun.

Musim panas telah berlalu, musim gugur telah tiba.

Ruan-wei sudah sampai di selatan Huang He.

Sekarang Ruan-wei memasuki kota 'Kai-feng'.

Di kota ini jalan-jalan sangat ramai.

Kota Kai-feng terlihat sangat makmur.

Karena lapar Ruan-wei masuk ke sebuah rumah makan besar.

Di rumah makan itu tamunya tidak terlalu banyak, masih banyak tempat yang kosong.

Dia memilih tempat yang agak pojok dan duduk di sana.

Dia memesan beberapa macam sayur terkenal, setelah melakukan perjalanan jauh dia merasa lelah.

Arak yang dipesan juga arak terkenal di sana yang bernama Zhu Ye-qing.

Sambil minum arak dengan santai, Ruan-wei melihat tamu-tamu yang turun naik di rumah makan itu.

Meski hanya minum sedikit arak dia sudah membuat wajahnya menjadi merah karena dia tidak terbiasa minum arak.

Tiba-tiba terdengar suara denting lonceng yang sangat nyaring, ternyata ada lima perempuan cantik dan anggun datang.

Mereka berdandan sangat menor dan terus tertawa-tawa.

Suara gemerincing lonceng terdengar dari tangan dan kaki mereka, penampilan lima perempuan ini bukan pelayan juga bukan istri muda dari tuan kaya, tapi siapakah orang yang mempunyai nasib begitu bagus, bisa memiliki perempuan-perempuan yang begitu cantik?

Begitu mereka menaiki loteng, mereka memilih tempat tepat di depan Ruan-wei.

Mereka terus mengobrol dan tertawa tapi tidak ada yang duduk.

Ruan-wei merasa kelima perempuan itu sangat cantik tapi sepertinya mereka bukan perempuan baik-baik maka muncul perasaan tidak suka.

Dengan perasaan tidak suka dia melihat mereka.

Tidak lama kemudian datang seorang tuan muda dengan perawakan gemuk, dia berpakaian biru dan hijau, kulitnya sangat putih, sekali melihat sudah tahu kalau dia adalah anak orang kaya yang sejak kecil hidupnya dimanja.

Di belakangnya ada lima orang perempuan ber-pakaian mewah yang mengikutinya.

Kelima perempuan itu juga seperti bukan perempuan baik-baik.

Melihat tuan muda gemuk itu datang, kelima perempuan di loteng itu segera mengham-pirinya.

Mereka seperti mengangkat seekor burung phoenix, mengangkatnya ke sisi meja untuk duduk.

Melihat begitu banyak tamu, pelayan segera mengantarkan sayur-sayur hingga memenuhi meja.

Perempuan-perempuan itu mengeliling tuan muda yang gemuk itu.

Mereka mengobrol dan tertawa tapi tidak ada yang berani duduk.

Sesudah semua sayur lengkap disajikan, tuan muda yang gemuk itu baru tertawa mempersilakan mereka duduk.

Begitu mendapat perintah duduk, mereka segera menuangkan teh atau ada yang mengambilkan sayur untuk tuan muda yang gemuk itu, mereka mengurusnya seperti mengurus anak yang baru berusia tiga tahun.

Ruan-wei selalu merasa mata tuan muda gemuk itu terus berkedip-kedip.

Sepertinya dia adalah seorang pesilat tangguh, jika dia bukan seorang pesilat mengapa begitu tidak tahu diri?

Dia segera berpaling ke tempat lain, tidak sudi melihat orang seperti itu.

Tiba-tiba ada seorang perempuan yang tertawa dan berkata.

"Tuan Muda, malam ini aku tidak bisa menemuimu. Tadi Kakak Chun mengatakan kalau Anda sudah lama tidak mencarinya, malam ini carilah dia!"

Tuan muda itu tertawa.

"Hari ini aku memilihmu untuk menemaniku."

Perempuan yang lain terus menggoda perempuan yang bernama 'Ju-mei'. Ada yang berkata.

"Tuan Muda sudah jatuh cinta kepadamu."

Ju-mei dengan suara kecil berkata.

"Aku tidak bisa menemaini Tuan, karena hari ini aku...."

Tawa penuh birahi membahana ke seluruh rumah makan, membuat kepala Ruan-wei menmbesar.

Dia sama sekali tidak menyangka di hari yang masih begitu terang mereka berani mengeluarkan kata-kata begitu mesum.

Dia memandang tuan muda gemuk yang tubuhnya seperti tumpukan sampah itu.

Banyak tamu melihat situasi tidak enak ini, mereka dengan cepat pergi sambil menggelenggelengkan kepala.

Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Walaupun perempuan itu adalah istri mudanya, tapi tidak layak begitu terang-terangan berkata seperti itu didepan umum, apalagi mereka adalah dayang-dayangnya."

Maka Ruan-wei cepat-cepat makan dan ingin segera meninggalkan tempat ini.

Pada waktu itu datang seorang pemuda berpakaian biru.

Gurauan di meja makan segera berhenti, mereka terus melihat ke arah pemuda yang masih berdiri di depan pintu.

Karena merasa aneh, Ruan-wei ikut melihat.

Pemuda itu beralis melengkung, hidung mancung, mata bening seperti air, kulitnya licin berminyak, tubuhnya bergerak ringan, sepertinya dia mempunyai daya tarik yang sangat kuat.

Dia lebih tampan beratus-ratus lipat dibandingkan pemuda-pemuda umumnya.

Begitu dilihat dengan teliti, dia seperti seorang perempuan cantik.

Dia berdiri di depan pintu sambil mencari tempat duduk kosong.

Akhirnya dia duduk di sisi Ruan-wei.

Ketika pelayan datang, dia berkata.

"Bawakan sayur dan arak!"

Tadinya para tamu mengira dia adalah perempuan yang berpakaian laki-laki tapi setelah melihat gerak gerik dan suaranya, mereka baru sadar kalau perkiraan mereka salah.

Dalam hati semua orang mengeluh, 'Bagaimana di dunia ini bisa ada laki-laki begitu tampan?' Sayur dibawakan oleh pelayan.

Seorang perempuan yang tadinya melayani tuan muda gemuk itu datang dan berkata.

"Sayur dan arak pesanan tuan ini tolong pindahkan ke meja tuan mudaku."

Pelayan hanya orang kecil, melihat tuan muda gemuk itu seperti orang kaya, dia tidak bertanya lebih dulu kepada pemuda berpakaian biru itu.

Sayur dan arak segera ingin dipindahkan ke meja tuan muda gemuk itu.

Pemuda berpakaian biru itu menjadi marah dan melarangnya.

Dia berkata kepada perempuan berpakaian mewah.

"Aku tidak kenal dengan tuan mudamu, mengapa tanpa bertanya sudah mengambil keputusan sendiri?"

Perempuan itu tertawa.

"Tuan muda kami sangat suka berteman dengan Tuan, melihat Tuan begitu tampan, dia ingin berkenalan dengan Tuan."

"Apakah benar tuan mudamu ingin berteman denganku?"

"Tentu saja! Tuan mudaku berkata kalau kami harus berteman sebanyak-banyaknya."

"Letakkan sayur itu!"

Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 13

Baca Juga: Pisau Terbang Li Gu Long

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger