Eps 9 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.
Bentak pemuda berpakaian biru itu. Melihat tamunya marah, pelayan segera tertawa. Dengan aneh perempuan berpakaian mewah itu berkata.
"Mengapa Tuan Mu da tidak...."
Pemuda berpakaian biru itu tertawa.
"Kalau tuan mudamu yang ingin bertemu denganku, maka dia yang harus pindah kemari."
Wajah perempuan itu mulai terlihat resah, dan berkata.
"Ini...."
Tuan muda gemuk itu berteriak.
"Chun-nu (budak Chun), kemarilah! Kalau saudara kecil itu tidak ingin datang ke sini, biar Kakak saja yang kesana saja!"
Dia menunggu pemuda berpakaian biru itu setuju, dia sudah memanggil pemuda itu saudara kecil.
Pemuda berpakaian biru itu kelihatan tidak senang, dia melihat keluar jendela.
Wajah bulat tuan muda gemuk bertambah senang, tangannya menepuk-nepuk, dia berjalan menghampiri meja pemuda berpakaian biru itu.
Perempuan-perempuan itu segera memindahkan semua sayur dan arak.
Tuan muda gemuk itu berdiri di depan pemuda berpakaian biru dan memperkenalkan dirinya.
"Kakak bermarga Jian dan bernama Shao-wu, siapakah marga Adik?"
Dengan sopan pemuda berpakaian biru itu menjawab.
"Margaku Wen dan namaku Yi."
"Ternyata Adik Yi...."
Dia memberi tanda dengan tangannya, sayur dan arak sudah berada di atas meja. Jian Shao-wu tanpa sungkan menarik kursi dan duduk di sana, dia tertawa.
"Aku sudah berteman dengan banyak orang. Melihat Saudara begitu tampan, terpaksa dengan muka tebal aku jadi ingin berteman."
Pemuda berpakaian biru itu tertawa dengan terpaksa.
"Aku tidak berpengalaman dan tidak senang mengobrol, nanti akan membuat Tuan Muda kecewa."
Jian Shao-wu tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak akan kecewa, tidak akan kecewa! Adik begitu tampan, jika didandan akan menjadi seorang perempuan yang sangat cantik, dan membuat banyak lelaki jatuh cinta."
Dia membalikkan kepala dan bertanya.
"Apakah kata-kataku ini benar?"
"Jika Tuan Muda. Wen didandan menjadi seorang perempuan, dia pasti akan lebih cantik 30% dariku!"
Jawab Chun-nu. Jian Shao-wu berkata lagi.
"Sana, sana! Mana bisa kalian bersaing dengannya, jangan menghina adikku."
Sikapnya sangat cabul, dia menjadikan pemuda berpakaian biru itu seperti pacarnya.
Wen-yi benar-benar marah, Ruan-wei juga merasa tidak enak mendengar kata-kata penghinaan tadi.
Jian Shao-wu berkata lagi.
"Chun-nu, tuangkan arak!"
Perempuan berpakaian mewah itu menuangkan dua cangkir besar arak. Dengan tangannya yang gemuk, Jian Shao-wu memberi-kan secangkir arak pada Wen-yi.
"Adik kecil, mari kita bersulang!"
Wei Yi mulai marah kepada tuan muda gemuk ini, mana mungkin dia sudi meminumnya. Dia menolak.
"Aku tidak bisa minum, silakan Tuan minum sendiri!"
Dia membawa dompet dan siap-siap akan membayar. Dengan muka tebal Jian Shao-wu berkata lagi.
"Adik kecil, mengapa sudah memesan sayur dan arak malah tidak dimakan? Berarti kau berbohong, bagaimana pun arak ini harus kau minum."
Wen-yi mengerutkan alis.
"Aku benar-benar tidak bisa minum. Aku harap kau jangan memaksaku."
Sifat asli Tuan muda Jian mulai terlihat.
Dia sama sekali tidak mau tahu, tangan kirinya menutup, tangan kanan mencekok arak dengan memaksa.
Wen-yi tidak menyangka orang ini akan memaksa minum dengan cara seperti itu.
Gelas hampir mencapai bibirnya, dia menarik lehernya untuk menghindar dan berkata dengan terkejut.
"Tidak! Tidak...."
Ruan-wei sudah sedikit mabuk, dia tidak tahan lagi dengan kelakuan mereka dan membentak.
"Hentikan!"
Jian Shao-wu berhenti dan tertawa dingin.
"Siapa yang berani berkata tidak sopan?"
Ruan-wei mendekati tuan muda gemuk itu, dengan gagah dia berkata.
"Kakak Wen tidak bisa minum, jangan dipaksa. Sekarang hari masih siang, kau sudah begitu kurang ajar!"
Wajah gemuk Jian Shao-wu terus bergetar, begitu tangannya melambai, gelas arak itu sudah melayang ke arah dinding.
"Bocah! Wakili dia minum arak ini!"
Arak yang ada di dalam cangkir satu tetes pun tidak tumpah.
Dengan tenang gelas itu melayang, Ruan-wei berpikir, 'Jika cangkir ini disambut begitu saja, aku tentu terluka!' Begitu cangkir tinggal tiga puluh centimeter lagi, tiba-tiba Ruan-wei meloncat dan memburu cangkir itu, kemudian menyedot dengan mulutnya, dia menghabiskan arak yang ada di dalam gelas kemudian dia bergerak kembali ke tempat semula.
Gelas terus melayang dan menabrak dinding hingga pecah.
Dengan tenang Ruan-wei berkata.
"Aku sudah mewakili Kakak Wen minum, apakah kau sudah puas?"
Dengan sudut matanya, Jian Shao-wu melihat Ruan-wei. Di bawah berserakan pecahan gelas tapi setetes arak pun tidak tampak. Segera dia berteriak.
"Coba terima segelas lagi!"
Satu cangkir arak melayang kembali dari tangannya.
Orang yang tahu kemampuan tuan muda gemuk itu melihat melayangnya gelas ini lebih sulit disambut dibandingkan gelas tadi.
Ruan-wei mengambil sebuah sumpit dari atas meja, dia mengangkat sumpit dan menjadikan pedang lalu menusuk ke depan.
Cara ini adalah jurus dasar Tian-long-shi-san-jian yang ber-nama 'Xiao-fu-zhi-tian' (Budha tertawa menunjuk langit).
Terdengar TAK, sumpit itu melewati cangkir dan berhenti di tengah udara.
Cangkir arak diberhentikan dan arak ditumpahkan.
"Aku hanya mewakili Kakak Wen minum satu cangkir arak, yang lainnya tidak!"
Jian Shao-wu tertawa terbahak-bahak.
"Hari ini dengan cara apa pun aku harus memaksa saudara tampan ini untuk minum, kau mau apa?"
Dia menuangkan secangkir arak lagi dan memaksa Wen-yi minum.
Cangkir belum sampai di bibir, Wen-yi sudah berteriak, dia sepertinya sangat lemah.
Ruan-wei mulai marah, dia memukul wajah Jian Shao-wu dan berteriak.
"Letakkkan kembali, binatang!"
Tangan Jian Shao-wu berputar, dia menyerang Ruan-wei dengan kepalan tangannya.
Gelas arak belum sampai di depan, Ruan-wei sudah merasa angin gelas sangat kencang.
Dia segera menarik tangannya, tapi Jian Shao-wu tidak berhenti.
Dia memegang cangkir dan masih mengejar, tangannya dengan cepat mencengkram dada depan Ruan-wei.
Ruan-wei hanya menguasai ilmu pedang, ilmu kepalan dan ilmu telapak dia sama sekali tidak dimengerti dan dia tidak bisa membalasnya.
Terpaksa dengan ilmu meringankan tubuh yang diajarkan Xiao San-ye, dia berusaha menghindar.
Ilmu meringankan tubuh milik Xiao San-ye memang habat.
Semua serangan Jian Shao-wu bisa dihindari oleh Ruan-wei.
Tapi ilmu telapak Jian Shao-wu sangat aneh.
Tangan kanan yang memegang cangkir mencoba memukul ketiak kiri Ruan-wei.
Ruan-wei menghindar, tapi Jian Shao-wu sudah memperhitungkan kalau dia akan menghindar ke kanan maka tangan kiri dengan lima jari terbuka sudah menunggu menyerang Ruan-wei.
Melihat keadaan seperti ini, Ruan-wei terkejut.
Dia mundur menghindar serangan tapi telapak Jian Shao-wu seperti garuk tiba-tiba membuka dan mencengkram lengan baju Ruan-wei.
Ruan-wei sudah seperti sebuah bola dilempar ke bawah loteng.
Sambil tertawa terbahak-bahak dia meletak kan cangkir arak.
Setetes arak pun tidak tumpah, dengan sombong Jian Shao-wu melihat Wen-yi dan berkata.
"Kepandaian telapak kakakmu bagus bukan? Bocah itu hanya seperti kunang-kunang di depan mataku."
Wen-yi sudah memalingkan wajahnya, dia tidak suka dengan perkataan Jian Shao-wu.
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat, ternyata Ruan-wei sudah loncat dari bawah ke atas loteng lagi.
Dengan kepalan dia menyerang Jian Shao-wu lagi.
Tapi ilmu mereka berbeda jauh, hanya beberapa jurus, baju bagian dadanya sudah dicengkram dan dia terbanting lagi ke bawah.
Tamu-tamu yang duduk di loteng sudah berlari keluar rumah makan karena ketakutan.
Hanya tinggal Jian Shao-wu, Ruan-wei dan sepuluh orang perempuan berpakaian mewah.
Tidak lama kemudian, Ruan-wei naik lagi.
Sifat Ruan-wei memang seperti itu, pantang mundur.
Walaupun tidak bisa mengalahkan tuan muda gemuk itu, paling sedikit dia tidak boleh menghina Wen-yi lagi.
Tidak lewat dari lima jurus, Ruan-wei terlempar lagi.
Wen-yi tahu kalau Ruan-wei tidak bisa melawan tuan muda gemuk, dia tidak tega melihat Ruan-wei tersiksa karena dirinya, maka dia pun berteriak.
"Kakak Jian, 'Perjanjian Bei-bao 20 tahun' masih ada dua tahun lagi, apakah Bei-bao (wisma utara) tidak bisa menepati janji?"
Tuan muda gemuk itu terkejut.
"Apa? Kau adalah 'Nan-gu-wen'...." (Wen dari lembah selatan).
"Tidak perlu banyak bicara lagi, jika Kakak Jian bisa menepati janji, 2 tahun lagi kita baru bertemu."
Tuan muda gemuk itu tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, baiklah! Kita akan bertemu dua tahun lagi."
Kemudian dia membawa perempuanperempuan itu pergi, Begitu Ruan-wei naik lagi ke loteng, di loteng hanya tinggal Wen-yi, dia sedang berdiri sambil tersenyum. Ruan-wei mendekatinya dan bertanya.
"Kemana tuan jahat itu?"
"Kakak dengan gagah sudah melawannya, dia tidak bisa melawanmu maka dia pun pergi."
Kata Wen-yi tersenyum. Ruan-wei menggelengkan kepala.
"Tidak! Aku bukan lawannya, mengapa dia tiba-tiba pergi begitu saja?"
Diam-diam Wen-yi memuji, dia lucu dan jujur. Dengan serius dia berkata.
"Aku Wen-yi, Kakak sudah membantuku, apakah aku boleh tahu marga dan nama Kakak?"
"Aku bermarga Ruan, namaku Wei. Tadi hanya sedikit bantuan tidak perlu diingat, asalkan tuan muda jahat itu tidak menghina Kakak Wen lagi, aku sudah merasa tenang."
Kemudian dia memberi hormat dan pamit.
Melihat dia berpakaian seperti pelajar tapi memiliki sifat pendekar Wen-yi mengaguminya.
Ruan-wei turun dan membayar makanannya di kasir.
Dengan terhuyung-huyung dia meninggalkan tempat itu karena sedikit mabuk.
Matahari sudah terbenam, hari sudah sore.
Ruan-wei sudah menempuh perjalanan lumayan jauh dia selalu merasa ada orang yang mengikutinya.
Apakah orang itu adalah orangTian-zhengjiao?
Tiba-tiba dia berbelok ke suatu tempat untuk bersembunyi, benar saja di belakang ada seorang datang dengan terburu-buru.
"Apakah kau mencariku?"
Bentaknya "Kakak Ruan, aku adalah Wen-yi!"
Teriak orang itu "Mengapa kau mengikutiku?"
Wen-yi meneteskan air mata, dengan sedih dia menjawab.
"Aku hanya seorang diri, aku tidak tahu harus pergi ke mana maka aku memutuskan mengikuti Kakak."
"Apakah Kakak Wen tidak mempunyai orang tua?"
"Ayahku sangat ketat. Ibu dan ayah tidak akur juga tidak menyayangiku. Walaupun mempunyai ayah ibu tapi sama seperti tidak punya."
"Di dunia ini tidak ada orang tua yang mengabaikan putra-putrinya. Aku beri nasehat, lebih baik kakak Wen kembali saja ke rumah."
"Aku harap kau jangan menasehatiku, karena aku bertengkar dengan ayah lalu pergi meninggalkan rumah. Jika kau terus menasehatiku, aku akan marah."
"Dunia persilatan sangat berbahaya, kau hanya seorang diri berkelana, sangat mudah tersesat."
"Jika Kakak Ruan selalu memberi petunjuk, aku tidak akan menempuh jalan sesat."
"Aku mempunyai dendam yang sangat dalam juga mempunyai banyak masalah yang harus kuselesaikan, maka aku tidak ada waktu mengurusimu."
"Tidak apa-apa. Kemana pun Kakak pergi, aku akan mengikuti Kakak."
"Mana boleh seperti itu!"
"Apa Kakak akan membiarkan aku seorang diri berkelana di dunia persilatan?"
Wen-yi menangis sambil meninggalkan tempat itu.
"Kakak Wen, ayo kembali!"
"Apakah Kakak Ruan setuju?"
"Baiklah, baiklah!"
Jawab Ruan-wei terpaksa "Berapa usia Kakak Ruan?"
"17 tahun."
"Aku baru 16 tahun, aku akan menganggapmu sebagai kakak. Lebih baik kita bersumpah mengangkat saudara angkat di bawah bulan."
"Baiklah!"
Ruan-wei tertawa. Di bawah sinar bulan mereka berlutut dan bersumpah. Kemudian Ruan-wei berdiri dan memanggil.
"Adik!"
Dengan penuh tawa Wen-yi berteriak.
"Da-ge." (Toako). Tadi mereka hanya dua orang yang berjalan bersama, sekarang mereka sudah menjadi saudara angkat, mereka merasa senang dan terus tertawa. Sesampainya di kota Kai-feng hari sudah malam. Mereka berputar-putar di kota, baru mencari penginapan. Pelayan datang menghampiri mereka dan bertanya.
"Apakah Tuan ingin kamar spesial?"
"Satu kamar besar sudah cukup!"
Jawab Ruan-wei.
"Kamar besar banyak, silakan masuk!"
"Jangan, jangan! Cukup kamar yang kecil saja,"
Wen-yi cepat-cepat menyela.
"Tarif kamar kecil tidak berbeda jauh dengan kamar besar,"
Sahut pelayan.
"Aku ingin kamar yang kecil, jangan cerewet!"
Bentak Wen-yi.
"Adik, kakak masih banyak uang, kita sewa yang besar saja!"
"Apa,"
Wen-yi terkejut, tapi dia segera berkata.
"Bukan, aku tidak rriau kamar yang besar, aku tidak bisa tidur dengan orang lain dalam satu kamar."
"Kalau yang kecil, kita tetap akan satu kamar?"
"Oh, tidak! Kita memesan dua kamar kecil saja, kita tidur di kamar terpisah."
"Mudah saja. Tuan-tuan, di sini kamar kecil sangat banyak, silakan masuk!"
"Adik, lebih baik kau tidur sekamar dengan kakak. Kita bisa mengobrol sepanjang malam, bukankah itu lebih baik?"
"Aku mempunyai sifat tidak baik, jika tidur bersama orang lain dalam satu kamar, aku tidak bisa tidur nyenyak,"
Jelas Wen-yi.
"Benar-benar penyakit aneh."
"Apakah Kakak marah?"
"Aku tidak akan marah, ini hanya hal kecil tapi aku berharap kebiasaanmu ini harus diubah. Jika tidak bagaimana nanti?"
"Nanti, nanti... baru dibicarakan...."
Wajah Wen-yi menjadi merah.
"Tuan-tuan, silakan masuk!"
"Kakak, kalau kita terus mengobrol akan menganggu waktu tidur orang lain."
Ruan-wei masuk ke kamarnya.
Ketika sedang tidur tiba-tiba dari kamar sebelah terdengar suara BUG.
Dan Wen-yi tidur di kamar sebelah, Ruan-wei sangat terkejut.
Dengan cepat dia keluar dari kamarnya.
Sambil mengetuk pintu, dia terus berteriak.
"Adik, apa yang terjadi!"
Wen-yi memegang kerah bajunya, dia seperti sedang bersiap-siap akan tidur. Dengan santai dia menjawab.
"Tidak ada apa-apa, hanya ada yang orang mengintip maka aku memukulnya."
Tapi Ruan-wei masih merasa tidak tenang.
Memang ada sebuah cangkir yang pecah berantakan di bawah jendela.
Kertas jendela pun robek, air teh membasahi jendela.
Ruan-wei membuka jendela.
Di luar jendela bulan bersinar sangat terang tapi tidak terlihat ada bayangan seorang pun.
Dia berlari keluar dan naik ke atas dinding, tetap tidak terlihat sosok seorang pun.
Karena malam semakin larut maka semua kejadian tadi tidak sampai membuat tamu-tan penginapan terbangun.
Dengan bingung dia kembali ke kamar Wen-yi.
Wen-yi membawa sebuah karung dan diletakkan di atas meja, dia sedang termenung melihat nya Pelan-pelan Ruan-wei bertanya.
"Dari mana datangnya benda ini?"
"Aku ambil dari jendela...."
Dengan aneh Ruan-wei berkata.
"Benda ini milik Gai-bang, apakah karena terburu-buru, barang ini tertinggal di sini? Mengapa orang Gai-bang mengintip Adik?"
Dengan ekspresi tidak mengerti Wen menggelengkan kepala.
"Aku juga tidak tahu. semenjak dari Guan-xi, sepanjang jalan selalu ada pengemis yang mengikutiku terus, aku tidak tahu apa sebabnya."
"Apakah Adik pernah berselisih dengan Gaibang?"
"Aku tidak tahu di dunia persilatan ini ada Gai-bang."
"Ha... benar-benar aneh."
"Aneh tidak aneh, yang penting aku tidak berbuat salah, kita tidak perlu takut kepada siapa pun. Mungkin Gai-bang salah melihat orang. Mereka mengira aku adalah orang yang mereka cari."
Ruan-wei mengangguk.
"Kakak, kita sudah tidak mengantuk bagaimana jika kita ke taman bunga penginapan dan berjalan-jalan, setelah itu baru kembali tidur?"
Ruan-wei merasa sudah tidak mengantuk maka dia setuju dengan tawaran Wen yi.
Mereka keluar dari kamar menuju taman, hanya sebentar mereka sudah sampai di sana.
Penginapan itu sangat besar.
Di taman ditumbuhi dengan bermacam-macam bunga, wangi bunga membuat orang merasa segar.
Mereka duduk di sebuah bangku taman.
Dengan diam, mereka menikmati malam yang begitu indah.
Tiba-tiba dari dalam lengan bajunya, Wen-yi mengeluarkan sebuah seruling kuno dengan tujuh lubang.
"Apakah Adik ingin meniup seruling?"
"Apakah Kakak sering meniup seruling?"
"Sejak kecil aku memang menyukai musik, tapi tidak bisa meniupnya dengan baik."
"Bagaimana jika aku meniupkan sebuah lagu untuk Kakak, harap Kakak memberiku masukan setelannya."
Suara seruling mengalun sangat indah, membuat orang terbuai, apalagi di malam yang begitu hening, benar-benar menggetarkan sukma.
Hanya meniup sebentar, Ruan-wei sudah tahu ini adalah 'Bei-fen-shi' (sajak sedih dan marah).
Sampai lagu terakhir, Ruan-wei mengikuti alunan musik dengan membaca syair-syair lagu ini.
Akhirnya suara semakin kecil dan seruling juga berhenti.
Yang mendengar alunan musik ini seperti tertarik ke dalam cerita ini.
Yang meniup suling pun sama-sama sudah masuk ke dalam indahnya sajak-sajak ini.
Mereka lupa bicara juga lupa berkatakata....
Lagu ini menceritakan tentang seorang perempuan berbakat, karena perang membuatnya terkena banyak bencana.
Seumur hidup dia selalu berada dalam kesedihan....
Melihat Ruan-wei sedih, Wen-yi segera meniup lagi sebuah lagu ringan dan penuh kehangatan..
Lagu ini bernama 'Feng Qiu Feng' (phoenix jantan mendapatkan phoenix betina).
Irama lagu ini penuh godaan.
Karena sedari kecil Ruan-wei suka membaca dan menulis sajak begitu terdengar lagu ini, langsung syair terucap dari mulutnya.
Sebenarnya dia tidak bermaksud apa-apa.
Tapi wajah Wen-yi sudah menjadi merah, sehabis meniup suling, dia merasa malu.
Ruan-wei tidak melihat keanehan sikap Wen-yi, dia memegang tangan Wen-yi.
"Adik benar-benar pandai meniup seruling. Jika terus menerus mendengar kau memainkannya, kakak akan merasa seperti seorang dewa!"
"Pepatah sering berkata. lagu berada di atas langit, di dunia jarang terdengar. Sekarang kakak baru mengerti perumpamaan ini tidak bohong."
"Jika kakak menyukainya, seumur hidup aku akan berada di sisi kakak dan meniupkan lagu untuk kakak, bagaimana?"
"Mana boleh, kakak bukan perempuan, mana boleh selalu berada di sisimu?"
"Jika aku perempuan, selamanya aku ingin berada di sisi kakak...."
Ruan-wei tertawa terbahak-bahak.
"Sudahlah, jangan bergurau terus. Malam sudah larut, kita harus kembali ke kamar dan tidur!"
Sambil berjalan Ruan-wei berkata.
"Besok kakak akan ke pergi Tibet, katanya perjalanan ke Tibet sangat sulit ditempuh, apakah adik ingin ikut?"
"Kata-kata seorang tuan tidak akan berubah, sesulit apa pun perjalanan itu, adik pasti akan mengikuti kakak, sekalian mencari pengalaman di dunia persilatan."
O-o-o "Aku juga senang adik bisa ikut ke Tibet! Besok pagi kita berangkat."
"Apakah kakak harus buru-buru sampai di Tibet?"
"Asal dalam waktu setengah tahun bisa sampai ke sana, yang lainnya tidak masalah."
"Jika begitu, kita main dulu di Kai-feng, di sana banyak tempat melancong. Kita bisa menambah pengetahuan."
Ruan-wei masih muda, begitu tahu ada tempat melancong, dia segera setuju.
"Besok kita bermain setelah itu baru berangkat ke Tibet!"
"Besok pagi kita bermain ke pagoda besi!"
Ajak Wen-yi.
"Besok kita harus mencuci muka dulu dan maka baru pergi."
Mereka bercanda dan kembali ke kamar Wen-yi.
"Biar kakak tidur di kamarmu, kita masih bisa mengobrol sampai besok, bagaimana?"
"Apa...."
Melihat wajah Ruan-wei begitu serius dan tidak bermaksud apa-apa, Wen-yi berkata.
"Tidak, tidak! Aku sudah lelah, aku harus tidur kalau tidak, besok tidak bersemangat bermain."
"Baiklah, sampai bertemu besok pagi."
Setelah Ruan-wei masuk ke kamarnya, Wen-yi baru menutup pintu.
BAB 98 Formasi batu 5 ketua Gai-bang Kota Kai-feng adalah ibu kota di jaman Tiongkok kuno.
Dulu negara Song dan negara Da-liang menjadikan kota Kai-feng sebagai ibukota, Dinasti Song lebih lama menjadikan kota ini sebagai ibukota.
Maka bangunan sejarah di kota ini sangat banyak, yang paling terkenal adalah Tie-Ta (pagoda besi).
Hari ini udara cerah.
Ruan-wei dan Wen-yi sudah tiba di Tie-ta.
Tie-ta bersudut delapan, memiliki 13 tingkat, dengan tinggi 50-60 meter.
Mereka bersama-sama memasuki Tie-ta.
Di dalam Tie-ta terlihat patung Budha yang duduk bersila sejajar demi sejajar, dari yang ukurannya besar hingga kecil.
Ternyata dinding pagoda terukir gambar Budha.
Dalam hati Ruan-wei merasa ada penghormatan.
Dia merasa tempat ini sangat cocok dengan sifatnya.
Ilmu silat Tian-long-shi-san-jian memiliki teknik yang berhubungan erat dengan ajaran-ajaran agama Budha.
Jika tidak mengerti aturan-aturan agama Budha, tenaga pedangnya hanya bisa dikeluarkan sebesar 50% saja dan tidak mungkin bisa mencapai tingkat tertinggi.
Tie-ta adalah bangunan yang mewakilkan agama Budha.
Walaupun Ruan-wei belum mempelajari ajaran-ajaran agama Budha, tapi karena dia sudah berlatih Tian-long-shi-san-jian, maka dia tanpa sadar telah mempelajari agama Budha.
Melihat patung Budha, dia seperti melihat orang yang sudah dikenalnya tapi yang sudah lama terlupakan.
Dia teras melihat, hatinya seperti tenggelam ke dunia lain.
Dia hampir melupakan semua yang ada di dunia ini.
Melihat dia seperti tergila-gila pada patung Budha, dalam hati Wen-yi berpikir, 'Kakak benarbenar seperti anak kecil, melihat patung Budha sampai tergila-gila seperti itu.' Dia menggoyanggoyangkan tangan dan memanggil.
"kakak, kakak!"
Ruan-wei terkejut dan segera tersadar. Wen-yi terus menertawakannya.
"Aku merasa seperti pernah datang kemari,"
Sahut Ruan-wei dengari kebingungan.
"Bukankan kau mengatakan kalau kau belum pernah datang ke He-nan?"
"Betul!"
"Kau betul-betul kebingungan. Di kota Kai-feng hanya ada satu Tie-ta, kapan kau pernah melihatnya?"
"Aku benar-benar bingung, juga membuat adik ikut bingung."
"Sudahlah, ayo kita ke atas."
Tangga pagoda dibuat dengan cara memutar dan bisa mencapai ujung tertinggi dari pagoda.
Tapi karena pagoda tinggi dan sudah lama tidak diperbaiki, maka jika tidak memiliki tubuh sangat sehat atau pemberani, tidak ada yang berani mencoba sampai ke tingkat atas.
Biasanya para wisatawan hanya sampai di tingkat 6.
Sampai di tingkat ketujuh, sudah tidak ada pelancong di sana.
Wen-yi adalah pelajar lemah maka Ruan-wei tertawa dan berkata.
"Adik, apakah kita turun saja?"
Wen-yi adalah orang yang pintar melihat, dia segera mengerti maksud Ruan-wei. Dia segera berteriak.
"Kakak, apakah kau tidak percaya kepada kemampuan adikmu?"
"Baiklah, baiklah! kita naik lagi untuk melihat!"
Sambil tertawa Ruan-wei berkata.
"Jika sudah sampai di atas, dan kau mengeluh lelah, aku tidak akan meladenimu, kau benar-benar seperti anak kecil."
Wen-yi tersenyum.
Dia benar-benar berterima kasih kepada perhatian Ruan-wei.
Di tingkat teratas pagoda itu sangat sempit tapi tetap bisa menampung 10 orang lebih.
Di setiap tingkat pagoda terdapat lubang seperti jendela untuk melihat keluar.
Sampai di tingkat 13, Ruan-wei melihat Wen-yi tidak terengah-engah juga terlihat sangat tenang.
Dalam hati Ruan-wei memuji kekuatan Wen-yi.
Mereka melihat keluar melalui lubang itu.
Huang He yang bergelombang seperti sebuah tali kuning yang berliku-liku dan diletakkan di atas hamparan pasir putih yang luas.
Tiba-tiba Wen-yi berteriak.
Ternyata air Huang He seperti lebih tinggi dari tembok dinding kota Kai-feng.
Kota Kai-feng seperti berada di bawah kapak.
Kalau sampai dinding penghalang Huang-He roboh, seluruh kota Kai-feng akan terendam.
Melihat keadaan seperti itu, hati Ruan-wei seperti air Huang He terus bergejolak.
Dia berharap pedangnya bisa menjadi penghalang tembok agar Huang He tidak banjir.
Dia teringat pada kesaktian Tian-long-shi-san-jian, dia membalikkan tubuh dan terus berpikir.
Di depan setiap lubang jendela ada patung Budha yang terbuat dari kaca kuning dengan tinggi 1.5 meter, jumlah patung itu ada 48 buah.
Karena melihat patung Budha begitu mulia, pikiran Ruan-wei memasuki dunia kosong.
Dia terus berkata.
"Ajaran Budha benar-benar tiada batasnya...."
Dia mulai mengeluarkan rasa percaya diri pada kemampuannya untuk melakukan jurus-jurus Tian-long-shi-san-jian.
Melihat Ruan-wei terus bengong, Wen-yi segera berpikir, 'Sepertinya pagoda ini memberikan sedikit rasa gaib, aku tidak akan membiarkan kakak terus di sini, akan membuatnya terlihat aneh."
Maka dia berteriak.
"Kakak, ayo kita turun!"
"Apakah Adik takut?"
Wen-yi mengangguk.
Dia sangat berharap bisa segera meninggalkan tempat ini.
Karena sudah tersimpan pendapatnya di dalam hati, Ruan-wei menyetujui usul Wen-yi.
Baru sampai di tingkat lima, dari lubang jendela terlihat di depan pagoda banyak orang yang sedang berkerumun.
Wisatawan menghindar jauh-jauh.
Di dalam kerumunan itu ada dua orang yang sedang bertarung.
Salah satu orang yang bertarung terlihat di punggungnya menggendong tiga karung dan menggunakan golok, dia seperti seorang pengemis.
Setelah dilihat lagi dengan teliti, Ruan-wei baru sadar yang sedang bertarung ternyata adalah orang Gai-bang dengan orang Tian-zheng-jiao.
Orang yang bertarung dengan pengemis itu menggunakan senjata pena, berpakaian ungu, dia adalah orang Tian-zheng-jiao kelompok baju ungu.
Di sekeliling masih terlihat ada enam orang Tian-zheng-jiao yang berbaju biru dan sedang bersiap-siap membantu temannya.
Dari Gai-bang hanya ada satu orang yang bertingkat tiga karung.
Kekuatan Gai-bang waktu itu berada di bawah Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang, tapi jika membicarakan keberadaan Gai-bang di dunia persilatan, sekali menyebut Gai-bang, orang akan segera mengangkat jempol dan memuji Gai-bang.
Mereka selalu membela keadilan, wibawa Gai-bang setingkat dengan Zheng-yi-bang.
Ilmu silat pengemis bertingkat tiga karung itu tidak setinggi orang Tian-zheng-jiao.
Pakaian-nya sudah usang dan sobek-sobek, ditambah lagi dengan sobekan karena digores pena dan darah mulai menetes dari tubuhnya.
Terlihat pengemis bertingkat tiga karung itu akan segera mati karena senjata pena orang Tianzheng-jiao.
Karena takut pada kekuatan Tian-zheng-jiao, maka para pelancong di sana tidak ada yang berani membantunya, mereka hanya melihat dari jauh.
Tapi pengemis itu tidak berniat kabur, dia diam dan terus mengacungkan goloknya untuk melawan.
Tiba-tiba gerakan si baju ungu terlihat ada celah, maksudnya memancing agar si pengemis menyerangnya dan dia akan berputar ke belakangnya, membuat senjatanya bisa menusuk ke punggung pengemis itu.
Karena pengemis itu memang ingin menang, dia sama sekali tidak menyangka kalau musuh membuat jebakan untuknya.
Ruan-wei selalu mendengar Xiao San-ye memuji kehebatan Gaibang, sekarang melihat murid Gai-bang akan terbunuh, dia tidak tega.
Dia terbang turun dari lubang jendela itu.
Begitu turun, kedua jarinya membentuk seperti kaitan dan siap mengait mata orang berpakaian ungu.
Orang berpakaian ungu itu mengira ada dewa turun dari langit, maka dia melepaskan musuhnya dan menjaga dirinya, dia juga mundur.
Ilmu meringankan tubuh Ruan-wei lebih tinggi dari si baju ungu, hanya sekejap dia sudah berada di belakang orang berpakaian ungu itu.
Dia langsung menendang pantatnya.
Tendangan itu membuat orang berpakaian ungu jatuh terjengkang.
Lalu dia cepat-cepat berdiri, dan dengan cepat membawa enam orang berpakaian biru itu pergi dari sana.
Pengemis bertingkat tiga karung itu berkata dengan penuh terima kasih.
Wen-yi mendekati Ruan-wei dengan tertawa memuji.
"Kakak, benar-benar hebat!"
Ruan-wei balas memberi hormat pada pengemis.
"Di jalan bertemu dengan perlakuan tidak adil, memang patut menolong."
"Kita bertemu lagi di kesempatan lain, aku harus pergi mencari Cao Jiao-hai. Aku pamit dulu!"
"Tunggu dulu!"
Kata Wen-yi tiba-tiba. Dari balik dadanya dia mengeluarkan uang perak dan memberikannya kepada pengemis itu.
"Lukamu cukup berat, bawalah uang ini untuk berobat."
"Apakah Tuan bermarga Wen?"
"Betul, bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya Wen-yi aneh Pengemis itu melempar kembali uang perak pemberian Wen-yi, dengan marah dia berkata.
"Walaupun aku terluka sampai mati, aku tidak akan memakai uang bermarga Wen untuk berobat."
Dengan marah, dia membalikkan tubuh dan pergi dari sana. Melihat adik angkatnya dihina, Ruan-wei ingin membela tapi Wen-yi sudah melarangnya dan berkata.
"Mungkin dia salah melihat orang, menganggap aku adalah musuhnya."
"Sifatmu benar-benar penyabar!"
"Kakak jangan memuji, asal jangan mengatakan kalau aku seperti anak kecil, itu sudah cukup."
Mereka tertawa dan meninggalkan tempat itu.
Di Kota Kai-feng terdapat dua danau besar.
Jika disatukan namanya disebut danau Pan Yang.
Jika dipisah, yang satu bernama Danau Pan, yang satu lagi bernama Danau Yang.
Kedua danau itu mengalirkan air ketempat yang sama, tapi ketika airnya di telusuri, perbedaannya akan terlihat jelas.
Danau Yang bersih dan bening, sedangkan Danau Pan kotor.
Katanya Danau Pan pada jaman Dinasti Song adalah rumah kediaman Pan-mei.
Sedang Danau Yang adalah rumah kediaman Yang-ye.
Karena keturunannya sering menggali barang peninggalan, maka lama-kelamaan tempat itu menjadi sebuah danau.
Yang-ye adalah seorang jenderal jaman itu.
Anak cucunya biasa disebut orang-orang Yang Jiajiang (Jenderal keluarga Yo).
Dengan setia mereka membela Dinasti Song.
Terakhir karena tentara yang dipimpin Yang-ye kekurangan makanan karena kiriman makanan terputus, maka Yang Ye bunuh diri tapi dia tetap tidak menyerahkan diri kepada bangsa lain.
Maka setelah dia gugur, air danau selalu bening, bersih, itu semua melambangkan kesucian dan kebersihan keluarga Yang.
Pan-mei adalah pejabat yang berkhianat.
Dia tidak akur dengan Yang-ye.
Beberapa kali berusaha mencelakai Yang Jia-jiang, membuat kondisi negara Song semakin turun.
Maka setelah dia mati, danaunya pun menjadi kotor, melambangkan kotornya hati Pan-mei.
Ruan-wei dan Wen-yi melewati sebuah jalan kecil, di kedua sisi jalan itu adalah Danau Pan dan Danau Yang.
Sambil bermain mereka mengobrol, mereka menceritakan tentang sejarah kedua danau ini.
Begitu tiba di tengah danau, mereka melihat lima orang pengemis tua berambut putih.
Setiap mengemis menggendong enam buah karung, berarti mereka adalah pengemis bertingkat enam karung.
"Lima tetua Gai-bang!"
Teriak Ruan-wei "Mereka berdiri di tengah jalan sedang menunggu siapa?"
Tanya Wen-yi. Tiba-tiba dari belakang pohon muncul seorang pengemis bertingkat tiga karung. Tubuhnya dibalut kain putih.
"Kakak lihat, pengemis tadi pagi yang terluka ternyata ada di sana!"
"Apakah dia adalah Cao Jiao-hui yang kita temui tadi pagi?"
Ketika mereka sampai di depan Lima tetua Gai-bang itu, salah satu orang Gai-bang bertubuh tinggi berkata.
"Di antara kalian berdua, siapa yang bermarga Wen?"
"Pasti yang lebih pendek!"
Kata tetua Gai-bang yang bertubuh lebih pendek.
"Lima tetua mencari adik angkatku, ada apa?"
Tanya Ruan Yi hormat. Pengemis paling tua itu menjawab.
"Keempat orang ini adalah adik angkatku, kami sudah lupa dengan nama kami sendiri. Di dunia persilatan kami biasa dipanggil tetua satu, tetua dua, tetua tiga, tetua empat, dan tetua lima."
Ruan-wei dengan cepat mengingat nama-nama mereka. Karena namanya sesuai dengan tinggi tubuh mereka. Tetua satu sangat sungkan terhadap Ruan-wei mereka terus mengobrol.
"Apakah saudara angkatmu bermarga Wen?"
Tanya tetua empat dengan tidak sabar "Betul, aku bermarga Wen, untuk apa aku berbohong kepada Anda?"
Tetua lima paling tidak sabaran, dia berteriak.
"Baiklah!"
Setelah itu dia memindahkan sebuah batu ke sisi jalan. Tiba-tiba tetua tiga bertanya.
"Apakah ayahmu masih hidup?"
Dia juga memindahkan sebuah batu ke tengah-tengah jalan. Dengan nada marah Wen-yi berkata.
"Tentu saja ayahku masih hidup, kalian yang sudah tua yang pantas dikubur dulu!"
Tetua dua Gai-bang tertawa.
"Betul, kami memang sudah pantas dikubur, tapi sebelumnya kami ingin membawa seorang setan tua mengikuti kami!"
Sambil tertawa dia juga meletakkan sebuah batu di balik tubuh Ruanwei.
"Siapa yang ingin kalian bawa?"
Tanya Wen-yi-"Menurutmu siapa?"
Tanya tetua lima, dia juga tergesa-gesa meletakkan batu ke pinggir.
"Apa yang mereka lakukan?"
Tanya Ruan-wei dalam hati.
"Tentunya bukan aku dan kakak?' tanya Wen-yi sambil tertawa. Tetua satu Gai-bang juga meletakkan batu di depan sambil mengeluh.
"Apakah keadaan ayahmu baik?"
"Jangan khawatir, ayahku sangat sehat. Dia sering mengatakan jika teman lamanya belum mati semua, dia tidak akan mati duluan."
Tetua empat sibuk memindahkan batu mengelilingi Ruan-wei dan Wen-yi. Kata tetua satu.
"Sejak dulu siapa yang tidak ingin mati sebenarnya bisa lebih awal mati itu lebih baik. untuk apa ayahmu harus menunggu semua temannya mati duluan baru dia mau mati?"
Ruan-wei mulai melihat kalau mereka menyusun sebuah formasi batu, diam-diam berpikir, 'Kemampuanku tentang formasi batu sampai di tahap mana? akan kucoba sekarang!"
"Kau mengatakan lebih baik mati dulu tapi mengapa kalian belum mati juga? Hidup di dunia hanya menjadi seorang pengemis, benar-benar sangat dikasihani!"
Segera lima tetua itu menumpukkan batu-batu di sekeliling Wen-yi dan Ruan-wei. Kemudian lima tetua Gai-bang berteriak.
"Jangan banyak bicara dengan bocah itu, biar dia yang menggantikan setan tua Wen mengantar nyawanya."
Tetua dua Gai-bang tertawa.
"Ayahmu paling pandai memecahkan formasi, sekarang coba kau pecahkan formasi ini."
"Formasi apa ini?"
Tanya Wen-yi. Lima tetua Gai-bang bersama-sama menjawab.
"Formasi batu lima tetua Gai-bang."
Mereka dengan cepat menyusun batu lagi.
Tadinya Ruan-wei bisa melihat lima tetua yang ada di luar formasi batu, tapi begitu batu terus ditumpuk, keadaan di luar sama sekali jadi tidak terlihat.
Dengan terkejut Ruan-wei berkata.
"Formasi apa ini?"
Lima tetua yang ada di luar bersama-sama berteriak.
"Ini adalah formasi batu dari lima tetua Gai-bang, formasi ini khusus untuk mengurung keluarga Wen!"
"Apakah kakak tahu ini formasi apa?"
"Sejak kecil aku memang senang membaca buku tentang formasi, tapi aku tidak tahu ini formasi apa."
"Lalu kita harus bagaimana?"
Ruan-wei tidak bisa menjawab, dia hanya termangu berdiri di sana. Tapi Wen-yi tidak terlihat tegang. Sambil tertawa dia berkata.
"Jika kakak bisa keluar dulu, aku sendiri bisa memecahkan formasi ini."
Ruan-wei tidak mengerti maksud Wen-yi. Wen-yi berkata lagi.
"Gai-bang tidak akan mengurung orang yang sudah berbudi kepada mereka!"
Tiba-tiba ada cahaya merah yang masuk, ternyata formasi bagian barat sudah terbuka dan tampak pemandangan. Ruan-wei berteriak.
"Cepat! Adik, kita keluar dari sini!"
"Tidak mungkin semudah itu. Kakak, coba lihat!"
Terlihat lima tetua Gai-bang sudah berjaga di tempat terbuka. Jika memaksa keluar dari sana mereka akan dibunuh oleh lima tetua itu.
"Mengapa mereka membuka sebagian formasi ini?"
Tanya Ruan-wei.
"Mereka ingin melepaskan kakak!"
Benar saja, dari luar formasi, tetua satu berteriak.
"Pendekar Ruan, silakan keluar dari formasi ini!"
"Lima tetua Gai-bang sangat terkenal, untuk apa membuat sulit orang muda, aku ingin adik angkatku yang keluar lebih dulu dari formasi ini!"
Tetua lima Gai-bang berteriak.
"Jangan bicara sembarangan! Karena kau telah menolong murid Gai-bang Cao Jiao-hui, maka kami membuka sebagian formasi untukmu tapi bukan untuk pencuri kecil keluarga Wen!"
Tetua empat ikut bicara.
"Jika kami melepaskan pencuri kecil keluarga Wen, tetua enam akan mati sia-sia."
Ternyata Gai-bang tadinya memiliki enam ketua.
10 tahun yang lalu tetua enam menghilang, tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa menghilang, tidak disangka ternyata tetua enam mati di tangan ayah Wen-yi.
Tetua tiga berkata.
"Dulu kami enam bersaudara berkelana di dunia persilatan selalu bersama-sama. Kami benarbenar merasa senang, tapi di Guang-xi, ketika kami berniat akan bersenang-senang, penjahat tua Wen telah mengurung tetua enam dengan formasi yang dibuatnya sampai mati. Maka hari ini kami juga akan mengurung mati orang keluarga Wen dengan formasi kami."
Wen-yi tertawa dingin.
"Bagaimana bisa formasi ini mengurung ayahku? Aku saja bisa dengan mudah memecahkan formasi ini dan keluar dari sini!"
"Baiklah, silahkan kau mencobanya!"
Sahut tetua dua.
"Silakan Pendekar Ruan keluar!"
Pesan tetua satu.
"Aku mohon adik angkatku juga dilepaskan, aku akan membalas kebaikan kalian!"
Mohon Ruan-wei.
"Kenapa kau begitu cerewet, jika kau tidak mau keluar, kami akan menutup kembali formasi ini,"
Teriak tetua lima.
"Baiklah, silahkan tutup kembali formasi ini,"
Teriak Ruan-wei.
"Kakak, cepat keluar, aku pasti bisa keluar dari formasi ini."
"Adik sendirian dalam formasi mana mungkin kakak bisa tenang."
"Kakak keluar dulu, formasi ini tidak begitu sulit bagiku. Cepat keluar, jika telat bisa terjadi perubahan."
Terdengar SREEEK, keadaan di luar sudah tidak terlihat dan gelap. Lima tetua sudah berteriak.
"Kami ingin tahu kalian punya kelebihan apa sehingga bisa keluar dari formasi ini!"
Suara mereka kecil dan sulit terdengar, ternyata formasi sudah ditutup kembali. Ruan-wei tersenyum.
"Hidup atau mati ditentukan oleh Tuhan. Formasi sudah ditutup, kau tidak bisa memaksaku keluar dari formasi ini!. Wen-yi meneteskan air mata, pelan-pelan berkata .
"Kakak...."
"Ada apa...."
Tanya Ruan-wei.
"Untuk apa kau mati demi diriku?"
"Kita adalah saudara angkat, ada kebahagiaan kita nikmati bersama, ada kesulitan kita hadapi bersama, mana mungkin kakak meninggalkanmu seorang diri di dalam formasi ini?"
"Formasi ini terlihat sederhana tapi lima tetua Gai-bang menghabiskan waktu 10 tahun menyusun formasi ini. Yang pasti tidak ada aturan formasi lagi, jika ingin memecahkan formasi ini harus melihat situasi waktu itu!"
"Betul, pantas sejak tadi aku tidak melihat sedikit celah pun, ternyata mereka tidak mengikuti aturan formasi yang berlaku!"
Kata Ruan-wei. Dengan lembut Wen-yi berkata.
"Ayahku di dunia persilatan sangat terkenal dengan kepandaian formasinya, lima tetua Gai-bang sadar dengan formasi biasa, mereka tidak bisa mempersulit ayahku maka mereka berusaha mencari jalan lain. Tapi semua formasi di dunia ini bagaimana pun sulit dan anehnya, semua pasti ada dasarnya dan tidak berubah. Aku percaya kita bisa keluar dari formasi ini, hanya ketika aku berhasil memecahkan formasi ini, aku tidak bisa membawa kakak...."
Ruan-wei tertawa.
"Aku akan tinggal di sini, jika terus mengikutimu, tentunya akan menyulitkanmu. Keluarlah dulu, aku dan Gai-bang tidak ada dendam, mereka tidak akan membuat masalah denganku."
"Kakak begitu baik kepadaku, mana mungkin aku akan meninggalkan kakak dalam formasi ini. Kita keluar bersama-sama, jangan bicarakan keluar sendiri lagi."
"Baik, baiklah! Hari ini kita keluar bersama-sama. Kakak benar-benar senang bisa mendapat teman sehidup semati seperti Adik."
"Adik pun demikian, aku benar-benar beruntung mengenal kakak, hidup ini serasa sempurna!"
Wen-yi berada di depan, Ruan-wei mengikutinya dari belakang.
Mereka mulai mencari jalan keluar dari formasi ini.
Begitu masuk formasi, terlihat di dalam formasi penuh dengan kabut juga asap, batu-batu disusun sangat aneh, membuat orang sulit berjalan, seperti berada di sebuah parit besar dalam lembah.
Ruan-wei sering membaca buku tentang mengatur prajurit dan juga aturan-aturan formasi tapi dia belum pernah melihat formasi seperti ini.
Kata pepatah.
melihat sekali lebih baik daripada beratus kali membaca.
Sekarang begitu melihatnya secara langsung, dia juga tidak tahu dengan cara apa bisa keluar dari sini.
Seperti teori-teori ilmu silat atau hal lainnya jika hanya dimengerti tapi tidak dipraktekkan, jadi tidak akan ada gunanya.
Ruan-wei tidak berani berbuat ceroboh.
Dia terus mengikuti di belakang Wen-yi.
Terlihat Wenyi sangat tenang, di depan jalan buntu tapi dia berbelok kiri lalu berbelok kanan, dan keluar lagi.
Wen-yi takut Ruan-wei tersesat maka dia selalu menoleh ke belakang baru berjalan lagi beberapa langkah.
Sebuah batu menghadang mereka, Wen-yi berteriak.
"Kakak, hati-hati!"
Ternyata Wen-yi sudah berputar-putar kemudian kehilangan jejak. Ruan-wei terkejut, dia mencari-cari dan tidak bisa melangkah lagi. Dalam hati berpikir.
"Jika sembarangan berjalan, aku akan terperangkap dalam formasi ini. Dan Wen-yi tidak bisa mencariku."
Dia terus menunggu tapi Wen-yi tidak Kembali mencarinya. Dia segera berteriak.
"Adik Yi, Adik Yi...."
Terdengar Wen-yi menjawab.
"Kakak, kembalilah ke tempat semula...."
Tadi sewaktu berjalan, Ruan-wei mengingat jalan yang dilaluinya, sekarang ketika harus kembali ke tempat semula jadi tidak sulit baginya.
Sesampainya di tempat semula, tidak lama kemudian Wen-yi sudah kembali.
Wajah Wen-yi mulai pucat.
"Benar-benar hebat, formasi batu lima tetua Gai-bang benar-benar hebat!"
"Kenapa kau begitu cepat menghilang?"
Tanya Ruan-wei.
"Aku pernah mendengar ayah mengatakan kalau formasi tersulit jika formasi disusun di wilayah sempit. Hari ini mereka membuat formasi hanya menggunakan tempat beberapa puluh meter luasnya tapi 8 sudut bercampur dengan 5 jalan pertahanan. Tadi begitu melihat keadaan di sini, aku segera mengubah jalan. Ketika aku menoleh ke belakang aku tidak melihat kakak. Ingin kembali ke tempat semula sudah tidak ada jalan, terpaksa aku mencari jalan lain kemari."
"Bagaimana jika kita menggunakan ilmu meringankan tubuh dan meloncat keluar?"
Tanya Ruan-wei. Wen-yi menggelengkan kepala.
"Ketika aku berusia enam tahun, aku melihat ayahku di tempat 10 meter persegi memasang formasi dan dia bisa mengurung seorang pengemis tua. Ilmu silat pengemis tua itu sangat tinggi, dia terus meloncat keluar dari formasi tapi tetap tidak berhasil keluar."
"Apakah pengemis tua itu adalah ketua Gai-bang yang ke-enam?"
"Sekarang setelah dipikir-pikir, pengemis tua yang dulu dikurung ayahku dengan formasi adalah ketua Gai-bang ke-6. Semenjak itu aku tidak melihat pengemis tua itu lagi, mungkin dia sudah mati di tangan ayahku."
Ruan-wei menarik nafas.
"Kalau begitu lima tetua Gai-bang mempunyai dendam kepada ayahmu...."
"Sekarang kita jangan membicarakan masalah ini dulu, jika kakak ingin keluar dari formasi ini hanya beberapa meter, kau harus belajar dulu langkah 'Jiu-gong-lian-huan-bu' (Sembilan langkah berantai). Jika tidak walaupun kakak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi, begitu tersesat dalam formasi ini, kau tidak akan bisa keluar lagi."
Lalu Wen-yi menjelaskan dengan terperinci bagaimana cara melakukan 'langkah sembilan irama berturut-turut'.
Dalam satu hari Ruan-wei berhasil berlatih 'Jiu-gong-lian-huan-bu' dengan lancar.
Satu hari berlalu, dia dan Wen-yi mulai berjalan dalam formasi batu ini.
Menghadapi perubahan-perubahan yang ada dalam formasi, ditambah lagi dengan apa yang dipelajari Ruanwei, mereka mulai mendapatkan sedikit arah.
Hari ketiga pagi, Ruan-wei dan Wen-yi berhasil keluar dari formasi walaupun sudah dua hari mereka tidak makan dan minum tapi mereka tetap terlihat bersemangat.
Di luar formasi tidak terlihat ada seorang pun, ke manakah lima tetua Gai-bang itu?
Dengan aneh Wen-yi berkata.
"Mengapa lima tetua Gai-bang meng-hilang?"
"Mereka mengira dengan formasi ini bisa mengurung kita sampai mati maka mereka memutuskan meninggalkan tempat ini. Lebih baik seperti ini jika tidak begitu Adik keluar, mereka berusaha menghadang kita."
Wen-yi menggelengkan kepala.
"Lima tetua Gai-bang membuat formasi ini, mereka sedang mencoba apakah formasi ini bisa mengurung orang bermarga Wen. Jika mereka tidak melihat aku mati di dalam formasi, mereka tidak akan meninggalkan tempat ini, aku kira pasti tentu ada alasan lain."
"Formasi batu lima tetua Gai-bang khusus dibuat untuk mengurung orang bermarga Wen yang tidak membela kebenaran."
Kata-kata ini membuat Ruan-wei jadi ingin tahu lebih banyak tentang keluarga Wen-yi dan memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di dalam hatinya.
Sekitar 250 meter dari sana terdengar ada yang sedang bertarung.
"Kita kesana untuk melihat!"
Kata Wen-yi Mereka berlari kesana, sepanjang jalan Wen-yi selalu berada di belakang Ruan-wei.
Ilmu meringankan tubuhnya ternyata tidak rendah, Ruan-wei tahu Wen-yi mempunyai kepandaian tapi dalam hatinya berpikir Wen-yi yang begitu kecil dan pendek, apalagi dia terlihat lemah, ilmu silatnya pasti tidak seberapa.
Mereka berlari menuju kesebuah pondok, ternyata pondok itu berada di dalam istana peninggalan Dinasti Song, karena sudah lama tidak dirawat maka istana ini menjadi bobrok dan sebagian roboh karena itu para pelancong jarang datang kesana.
Sesampainya mereka di depan pondok itu, di bawah ada sebuah panggung yang terbuat dari batu setinggi 20 meter, lebarnya puluhan meter, dipinggirnya terdapat ukiran naga.
Terlihat sangat indah juga megah.
Kedua sisinya terdapat beratus-ratus anak tangga batu.
Suara orang bertarung keluar dari dalam istana tua itu.
Begitu menaiki tangga terlihat jelas di atas panggung orang sedang bertarung, ternyata mereka adalah lima tetua Gai-bang yang menghilang tadi, mereka sedang dikurung oleh tujuh orang Tianzheng-jiao berpakaian emas.
Tampak lima tetua Gai-bang sedang berada di bawah angin, mereka tampak kesulitan menahan serangan orang-orang Tian-zheng-jiao.
Tujuh orang berpakaian emas adalah ketua berbaju emas Tian-zheng-jiao.
Tampaknya dari lima tetua Gai-bang akan ada yang mati karena kepungan mereka bertujuh itu.
Ruan-wei tidak menyukai Tian-zheng-jiao, dia membentak dan membuka bungkusan kainnya, Fei-long-jian pun dikeluarkan.
"Kakak, kau mau apa?"
"Memang Gai-bang bermusuhan dengan kita, tapi mereka adalah orang yang selalu membela keadilan, aku tidak mau mereka terbunuh oleh Tian-zheng-jiao,"
Jelas Ruan-wei. Suara Ruan-wei terdengar jelas oleh orang-orang di sana. Di dalam bahaya lima tetua Gai-bang masih sempat mendengar, alis mereka segera terangkat.
"Tapi kakak... kau... kau... tidak akan sanggup melawan mereka."
Ketika bertarung dengan tuan muda gemuk, Wen-yi sudah tahu bagaimana kemampuan ilmu silat Ruan-wei yang tidak tinggi.
Teringat hal itu dia berteriak.
Ruan-wei tidak mendengar kata-kata Wen-yi, dia mengandalkan hati membela keadilan, dengan cepat mendekati orang-orang itu kemudian dia memutar pedangnya dan mengeluarkan bunga api.
Dia mulai menyerang ketua berbaju emas.
Jurus ini adalah jurus keempat Tian-longshi-san-jian yaitu "Jin-tong-bai-fu' (anak emas menyembah Budha).
Tiga orang ketua berbaju emas menggunakan pedang, begitu merasa desiran pedang yang datang, mereka tidak bisa menghindar, maka dengan cepat mereka membalikkan tubuh mengangkat pedang untuk bertahan.
Jurus 'Jin-tong-bai-fu' adalah jurus khusus untuk menyabet pergelangan musuh.
Untung mereka cepat mengubah jurus.
TANG!
TANG!
TANG!
tiga pedang ditepis hingga putus, hampir saja pergelangan tangan mereka disabet putus.
Tiga ketua berbaju emas dengan cepat mundur dari sana, sedangkan empat ketua berbaju emas lainnya tampak terkejut.
Mereka berhenti menyerang.
Jika lima tetua Gai-bang bertarung satu lawan satu dengan ketua berbaju emas Tian-zheng-jiao, mereka tetap akan kalah.
Karena mereka sudah bertarung semalaman, mereka sangat lelah.
Begitu pertarungan berhenti mereka segera duduk untuk mengatur nafas.
Tiga ketua berbaju emas yang pedangnya .
terputus adalah pesilat pedang terkenal berjuluk 'Yan-shan-san-jian', Lao-da nya, Zhong-jian (pedang berat) ChenZhong-quan.
Lao-er, Chang-jian (pedang panjang) Hu Zhong-rui, dan Lao-san, Qing-jian (pedang enteng) Zhong Rong-hui.
Pedang Chen Zhong-quan beratnya 5 kali lipat dari pedang biasa.
Pedang Hu Zhong-rui lebih panjang setengah meter dari pedang biasa.
Pedang Zhong Rong-hui lebih ringan dari pedang biasa.
Sebetulnya bila ketiga pedang itu digabung menjadi satu maka akan menjadi kekuatan yang tidak terkalahkan, tidak disangka hanya dalam satu jurus pedang mereka ditebas hingga putus oleh seorang pemuda yang tidak terkenal, hal ini akan membuat geger dunia persilatan.
Zhongjian Chen Zhong-quan berteriak.
"Fei-long-jian!"
Chang-jian Hu Zhong-rui membentak.
"Bocah, Fei-long-jian siapamu?"
Ruan-wei tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dengan lantang dia berkata.
"Apakah kau mau mencari seseorang di kota Kai-feng, di Tie-ta akulah yang memukul muridmurid Tian-zheng-jiao, tidak ada hubungan-nya dengan lima tetua Gai-bang, kalian jangan mencari mereka untuk melampiaskan kemarahan kalian!"
Tetua satu Gai-bang berkata.
"Pendekar Ruan, Tian-zheng-jiao selalu berseberangan dengan Gai-bang, kau jangan melawan mereka seorang diri. Asalkan lima tetua Gai-bang masih bisa bernafas, kami akan terus melawan mereka."
Seorang pak tua gemuk dan pendek, yang memegang senjata aneh jala ikan, dengan pelan mendekati Ruan-wei.
"Saudara kecil, apakah kau benar-benar bermarga Ruan?"
"Betul, aku adalah Ruan-wei, ada apa?"
Begitu melihat, Ruan-wei sudah tahu kalau dia adalah Qi-hai-yu-zi Wei Ao-wu yang sering diceritakan oleh Kakek Xiao. Wei Ao-wu tertawa.
"Apakah kau adalah pesilat pedang yang pernah membuntungi pergelangan tangan dua ketua kami di Jin-ling?"
"Akulah yang melakukannya, aku yang bertanggung jawab, pemuda itu adalah aku yang menyamar. Jika kalian ingin membalas, carilah aku, jangan mencari orang yang tidak ada sangkut pautnya denganku."
Lima tetua Gai-bang sangat terkejut, sampai Wen-yi sendiri pun tidak menyangka kalau Ruanwei adalah pemuda yang telah membuat permusuhan dengan Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang.
Wajah gemuk Wei Ao-wu tertawa sinis.
"Katanya senjata rahasia Tuan sangat lihai, jika Tuan menang, aku tidak akan mencari masalah lagi dengan lima tetua Gai-bang."
Qing-jian Zhong Rong-hui berkata dengan cepat.
"Aku juga tidak merasa malu, 20 tahun yang lalu aku pernah kalah oleh 'Fei-long-jian' Gongsun Qiu-jian. Bekas luka ini adalah pemberiannya."
Begitu lengan bajunya digulung, tangan kanannya terdapat bekas luka tusukan pedang sebesar mangkuk.
Zhong Jian Chen Zhong-quan, Chang-jian Hu Zhong-rui diam-diam menggulung lengan baju mereka.
Di lengan mereka pun terdapat bekas luka karena pedang.
Posisinya sama dengan Zhong Rong-hui.
Sepertinya teknik pedang Fei-long-jian ke sangat tinggi.
Sekali menyerang, ketiga lengan orang itu terdapat bekas luka dengan keadaan sama, benar-benar mengejutkan.
Qing-jian Zhong Rong-hui berkata.
"Yan-shan-san-jian telah mendapat penghinaan begitu besar, maka selama 20 tahun ini kami terus memperdalam ilmu pedang dan kami ingin sekali bertarung dengan Fei-long-jian ke. Tapi Fei-long-jian ke menghilang, apakah dia tahu kalau kami mencarinya untuk membalas dendam dan dengan cepat dia bersembunyi dari kami?"
Ruan-wei bukan murid Gongsun Qiu-jian tapi menurut kakek, Gongsun Qiu-jian adalah orang yang sangat keras.
Ruan-wei memegang pedangnya, dia tidak boleh merusak nama besarnya.
Maka dengan marah Ruan-wei menjawab.
"Fei-long-jian ke bukan orang yang takut mati, aku ingin melihat orang yang mengeluarkan kata-kata tidak enak."
Chang-jian Hu Zhong-rui tertawa terbahak-bahak.
"Hari ini kami akan membunuh yang lebih muda dulu, yang tua pasti akan menyusul. Ayo!"
"Bukankah pedang mereka telah ditebas hingga putus oleh kakak, dari mana mereka mempunyai pedang lagi?"
Dari balik dinding yang kotor muncul tiga orang laki-laki berpakaian biru, mereka masingmasing membawa sebilah pedang dengan dua tangan terangkat.
Chen Zhong-quan berlari ke depan mereka dan menerima sebilah pedang berat, membuat orang yang membawanya pun kesulitan berjalan.
Hu Zhong-rui mengambil sebilah pedang panjang.
Zhong Rong-hui mengambil sebilah pedang ringan, tipis, dan kecil.
Chong Jian Hu Zhong-rui tertawa terbahak-bahak.
"Tadi karena tidak berhati-hati maka pedang kami ditebas buntung oleh bocah ini, sekarang aku ingin tahu apakah kau masih sanggup menebasnya?"
Chen Zhong-quan mengangkat pedang dan menjadikannya seperti kapak.
Dia berniat memenggal kepala Ruan-wei.
Karena datang dengan sangat kencang maka Ruan-wei tidak berani menyambut, dia hanya menghindar ke kanan.
Hu Zhong-rui yang ada di kanan segera mengambil kesempatan.
Dengan pedangnya dia menebas pinggang Ruan-wei, pedang sangat panjang.
Pedang panjang menutup jalan mundur sebelah kanan.
Jurus Hu Zhong-rui sangat cepat, apalagi pedangnya panjang, sulit menghindar, tapi Ruan-wei meloncat ke atas.
Dia dengan ringan turun ke kiri.
'Qi-hai-yu-zi' Wei Ao-wu mengenal ilmu meringankan tubuh ini.
Dia berteriak.
"Bai-bian-gui-ying (setan berubah seratus bayangan)!"
Zhong Rong-hui yang ada di sebelah kiri menyerang dari kiri, kanan, dan depan.
Pedang bergerak sangat cepat seperti 10 pesilat pedang secara bersamaan menyerang.
Hal ini membuat Ruan-wei terkejut.
Begitu kakinya baru menapak di tanah, dia segera meloncat ke belakang.
'Yan-shan-san-jian' menyerang dengan pedang-pedang mereka yang aneh serta formasi pedang yang sangat kuat.
Ruan-wei baru meloncat, Hu Zhong-rui dan Zhong Rong-hui sudah menunggu di belakang.
Jika Ruan-wei ingin turun harus melewati pedang mereka.
Ruan-wei ingin meloncat ke depan tapi sudah tidak sempat karena pedang berat Chen Zhongquan sudah diayunkan.
Ruan-wei menarik nafas kemudian dia sedikit menghentikan laju tubuhnya.
Fei-long-jian dikeluarkan.
Segera tampak di sana dipenuhi dengan bayangan pedang.
Pedang mengeluarkan cahaya perak, Yan-shan-san-jian-ke sama sekali tidak menyangka Ruan-wei yang berada di posisi yang tidak menguntungkan bisa mengeluarkan sebuah jurus yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Jurus ini adalah jurus khusus menyerang dari atas menyerang ke bawah, ini adalah jurus kedua dari Tian-long-shi-san-jian yang bernama 'Fei-iong-zai-tian'.
Terdengar TANG, TANG, TANG, tiga pedang Yan-shan-san-jian ditebas hingga patah oleh Ruanwei, dengan terkejut Yan-shan-san-jian segera meloncat jauh.
Saat pertama kali pedang Yan-shan-san-jian ditebas hingga putus, mereka seperti tidak menganggap ini suatu kepandaian, karena tadi saat Ruan-wei tiba-tiba menyerang mereka dan sama sekali tidak ada persiapan.
Kali ini saat kembali berhadapan dengan Ruan-wei mereka bertiga telah memasang formasi pedang, tapi pedang mereka tetap bisa ditebas hingga putus, hal ini membuat mereka kaget.
Dengan marah Hu Zhong-rui berteriak.
"Ambil pedang!"
Segera dari balik dinding tua dan kotor muncul lagi tiga lelaki berbaju biru kedua tangan mereka mengangkat pedang.
Yan-shan-san-jian takut kalau Ruan-wei akan mengejar mereka, maka mereka berlari mengambil pedang.
Sewaktu mereka menoleh, Ruan-wei sudah berada di belakang mereka.
Pedang terjulur ke bawah dan menunggu aksi mereka.
Wen-yi baru mengerti, diam-diam tertawa.
"Pantas mereka menyiapkan banyak pedang, mungkin mereka tahu kalau pedang Fei-long-jian ke bisa menebas besi seperti menebas tanah."
Dugaan Wen-yi memang tidak salah, dulu Yan-shan-san-jian kalah oleh pedang Gongsun Qiujian, waktu itu pedang mereka tidak sampai patah, setelah itu mereka terus mencari tahu, ternyata lawan mempunyai Fei-long-jian yang bisa menebas besi seperti menebas tanah, mereka menganggap mereka sudah sanggup melawan Gongsun Qiu-jian.
Selama beberapa tahun mereka mencarinya dan mereka pun menyiapkan cadangan pedang sebanyak 5 buah.
Kalau-kalau pedang mereka putus, bisa segera digantikan.
Ruan-wei tidak menunggu mereka menyerang, dia menebas ke depan, segera 3 bunga pedang memutari kaki kanan Yan-shan-san-jian.
Jurus ini khusus menepis kaki musuh, ini adalah jurus kelima Tian-long-shi-san-jian yang bernama 'Long-zhan-yu-ye'.
Terpaksa mereka menahan serangan itu dengan pedang mereka.
Terdengar suara TANG, TANG, TANG, tiga kali bunyi terdengar dan tiga pedang kembali putus.
Hu Zhong-rui tidak patah semangat dia berteriak.
"Ambil pedang!"
Mereka bertiga tahu kalau Ruan-wei tidak akan mengambil kesempatan menyerang mereka, begitu orang berbaju biru mengeluarkan pedang, dengan pelan mereka mengambil pedang, secara tiba-tiba membalikkan tubuh dan terbang untuk menyerang Ruan-wei.
Ruan-wei masih tidak bergerak, sampai pedang menyerang dekat didadanya, dia menarik dadanya, kemudian menegakkan punggungnya.
Ini adalah jurus ilmu yoga yang aneh.
Dadanya tiba-tiba melesak 0.50 meter ke dalam, pedang menahan di depan dada, kemudian pedang diputar ke kiri juga ke kanan.
Jurus ini adalah jurus keenam dari Tian-long-shi-san-jian yang bernama 'Yi-jian-qing-tian' (pedang naik ke langit).
Jurus ini terbagi menjadi 4 bagian.
Ruan-wei hanya menggunakan setengah jurus, hasilnya telah membuat orang ketakutan.
Kemudian terdengar tiga pedang terputus lagi, pedang Yan-shan-san-jian kembali tertebas hingga putus.
Cheng Zhong-quan membentak lagi.
"Bawa pedang.'"
Hu Zhong-rui telah kehilangan semangat, tenaga untuk berteriak pun sudah tidak ada.
Tiga pedang diantar ke hadapan mereka.
Tapi Yan-shan-san-jian sudah tidak mempunyai semangat untuk mengambil dan tidak bersemangat menyerang.
Mereka hanya memegang pedang, dengan melotot melihat Ruan-wei, tiba-tiba Ruan-wei duduk di bawah.
Yan-shan-san-jian mengira Ruan-wei memandang remeh mereka, maka mereka pun membentak, tiga pedang disatukan menjadi sebuah titik.
Mereka menyerang ke arah kepala Ruanwei.
Tiga pedang dengan berat berbeda, tapi angin pedang yang bergabung menjadi satu, seperti pusaran air sungai besar terus mengarah ke kepala Ruan-wei.
Orang yang berdiri di pinggir merasa tegang dan mengeluarkan keringat dingin, mereka mengkhawatirkan keadaan Ruan-wei.
Mereka tidak tahu kalau Ruan-wei harus mengambil posisi duduk terlebih dulu baru bisa mengeluarkan 100% dasar dari Tian-long-shi-san-jiun yaitu jurus 'Xiao-fu-zhi-tian'.
Begitu salah jurus Tian-long-shi-san-jian ini dikeluarkan, tiga pedang yang menyerang membawa .mgin kencang segera lenyap.
Belum diketahui apa sebabnya ke tiga pedang itu sudah terputus lagi.
Yan-shan-san-jian masih berdiri dengan termangu, mereka tidak sanggup bicara sepatah kata pun.
Qing-jian Zhong Rong-hui kelihatan masih bersemangat.
Dia berteriak.
"Bawa pedang kemari!"
Dari luar dinding datang seseorang dengan terburu-buru, dengan gemetar dia berkata.
"Lapor Ketua, pedangnya sudah habis!"
"Apa! Pedang sudah habis?"
Mungkin karena terburu-buru mereka lupa menyiapkan pedang, 5 pedang semua sudah terputus semua. Wajah Hu Zhong-rui sangat pucat, dia menarik nafas.
"Sudahlah, selama beberapa tahun ini kita hanya ingin membalas dendam tidak disangka hanya menghadapi murid Fei-long-jian saja, kita sudah kalah telak."
Cheng Zhong-quan dengan dingin berkata.
"Hari ini kita mendapat penghinaan lagi, kami bersumpah kalau tidak membunuh Gongsun Qiu-jian, kami tidak akan menjadi manusia!"
Ruan-wei berdiri, dengan tegas dia berkata.
"Aku bukan murid Gongsun Qiu-jian, aku dan dia tidak mempunyai hubungan apa pun. Kalau kalian ingin mencatat dendam kalian, catat dengan nama Ruan-wei, kalian tidak bisa mencari Tetua Gongsun Qiu-jian!"
Hu Zhong-rui tertawa kecut.
"Baiklah, tentang masalah ini suatu hari pasti akan diperhitungkan."
Mereka melempar pedang mereka yang putus dan mundur dari sana, lalu berdiri di pinggir. Wei Ao-wu tertawa dengan terpaksa.
"Tuan sungguh mempunyai ilmu silat bagus, apakah aku bisa mencoba senjata rahasiamu?"
Dia tidak bersikap sesombong tadi, nada bicaranya pun terdengar sungkan.
Jala ikan milik Wei Ao-wu terbuat dari campuran sutra kawat juga seperti bulu orang utan dan dianyam menjadi jala, khusus dibuat untuk memecahkan berbagai macam senjata rahasia, senjata ini lebih hebat dari senjata rahasia, dia mengira dengan senjatanya, dia bisa membuat Ruan-wei bertekuk lutut di hadapannya, paling sedikit bisa mengembalikan nama baik Tian-zheng-jiao yang telah dipermalukan tadi.
"Kalau aku menang, apakah kalian tidak akan mengganggu lima tetua Gai-bang lagi?"
Sambil menepuk dadanya, Wei Ao-wu berjanji, asalkan Ruan-wei bisa menang mereka akan melepaskan lima tetua Gai-bang.
"Sebenarnya aku dan lima tetua Gai-bang masih ada sedikit salah paham yang yang belum dibereskan, aku kira lima tetua Gai-bang belum tentu takut kepada kalian, hanya saja karena kedatangan kalian berniat membalaskan dendam Tang dan Yin, jadi aku tidak akan membiarkan lima tetua Gai-bang menerima kemarahan kalian, dengan wibawa Gai-bang yang besar, belum tentu kalian akan memperoleh keuntungan."
Lima tetua Gai-bang yang duduk bersila untuk mengatur nafas, mendengar kata-kata Ruan-wei, mereka jadi merasa berterima kasih.
"Silakan, beri petunjuk,"
Wei Ao-wu tertawa. Selesai membungkus pedangnya, Ruan-wei melempar bungkusan itu kepada Wen-yi dan bercanda.
"Dari mana Adik belajar ilmu senjata rahasia?"
Wen-yi menyambut pedang itu sambil tertawa.
"Sewaktu aku kecil, ayah berpesan di dunia persilatan banyak anjing galak, dan cara memukul anjing yang paling bagus adalah dengan senjata rahasia, maka sedari kecil aku telah belajar senjata rahasia."
"Berarti Adik sangat paham dengan jenis senjata rahasia?"
"Sejak kecil aku sudah malas dan tidak berniat belajar, ayah marah dan mengatakan, 'Kalau kau tidak menguasai ilmu senjata rahasia, begitu bertemu anjing gemuk dan pendek, yang siapsiap menggigitmu dan kau tidak akan bisa memukulnya.'"
Melihat mereka terus mengobrol dan sering menghinanya, Wei Ao-wu mulai marah.
"Cepatlah kalau ingin bertarung! Jangan banyak cingcong!"
Wen-yi tertawa, di depan Wei Ao-wu dia berkata.
"Kakak, hati-hati dengan jala anjing galak ini!"
"Dengan cara apa kita bertarung?"
Ruan-wei bertanya.
"Kita bertarung tanpa taruhan nyawa!"
"Bagaimana cara bertarung tanpa taruhan nyawa?"
Wen-yi tertawa.
"Pertarungan tanpa taruhan nyawa adalah kau berdiri biar dia menembakmu dengan senjata rahasia sampai puas, kau tidak boleh membalas juga tidak boleh lari, hanya boleh menghindar!"
"Kata-kata pemuda cerewet itu benar,"
Wei Ao-wu menjawab dengan dingin, karena dia takut dengan ilmu pedang Ruan-wei, dia tidak berani memarahi Wen-yi.
"Siapayang maju pertama?"
Tanya Wen-yi.
"Karena kau sudah meletakkan pedang dan tidak punya senjata untuk menahan serangan, maka kau yang menyerang terlebih dulu!"
Wei Ao-wu berkata dengan nada sombong.
"Ide yang bagus, biar orang lain yang melempar dulu, yang penting kau mempunyai cara untuk menahannya, nanti kau baru membalasnya, kalau aku punya perkiraan seperti itu aku pun rela diserang lebih dulu oleh orang lain."
Wei Ao-wu marah dan dia melotot memandang Wen-yi, Ruan-wei bermaksud membantu lima tetua Gai-bang, maka dari dalam kantongnya dia mengeluarkan segenggam 'Wu-mang-zhu' dan berteriak.
"Hati-hati!"
Kemudian lima butir Wu-mang-zhu dibagi menjadi dua menyerang ke depan dan tiga menyerang belakang, semua dilemparkan ke arah Wei Ao-wu.
Wei Ao-wu tidak sempat bicara, dia mengangkat jalanya, 3 butir Wu-mang-zhu bagian belakang tiba-tiba mengejar dua butir Wu-mang-zhu yang ada di depan, Wei Ao-wu tidak menyangka ada perubahan seperti itu.
Walaupun bisa menyambut lima butir Wu-mang-zhu tapi tetap membuatnya kalang kabut.
Jala baru ditebarkan, kedua tangan Ruan-wei melayang lagi, tangan kanannya menebarkan Wu-mang-zhu dua di depan tiga di belakang, Wei Ao-wu mengira ada celah, dia mengira tenaganya pasti terkumpul di tiga Wu-mang-zhu yang ada di belakang, sewaktu jala terpasang berbeda dengan cara pertama tadi, tapi tangan kanan dengan tenaga terkumpul mengarah dua butir Wu-mang-zhu di depan, kali ini walaupun Wei Ao-wu bisa menyambutnya, tapi dia pasti akan lebih kalang kabut dibandingkan pertama tadi.
"Benar-benar hebat, tenaga tangan kanan dan kiri tidak sama, itu yang disebut Yin Yang Shou, anjing galak hampir saja kena pukulan."
Orang lain bisa melihat bagaimana kalang kabutnya Wei Ao-wu tapi tidak melihat perubahan pada tangan Ruan-wei, maka begitu Wu-mang-zhu terjerat di dalam jala, baru terjadi perubahan tenaga tangan.
Begitu mendengar Yin Yang Shou, membuat orang-orang di sana terkejut, Wen-yi bicara sambil tertawa.
Kedua tangan Ruan-wei mengeluarkan segenggam Wu-mang-zhu lagi, dengan posisi berjajar tiga.
Dia menembak baris pertama terdiri dari tida butir.
Baris kedua terdiri dari dua butir, baru ketiga terdiri dari lima butir, sepuluh butir Wu-mang-zhu dengan tenang melaju ke depan.
Wei Aowu tidak berani menyambut dengan tangannya, dengan mata melotot dia melihat sepuluh butir Wu-mang-zhu itu, di depan tiga butir Wu-mang-zhu itu berhenti sejenak, di tengah-tengah dua butir Wu-mang-zhu melaju sangat pelan, terakhir lima butir Wu-mang-zhu berjalan dengan sangat cepat.
Begitu melihat Wei Ao-wu telah mengambil kesempatan kalau tenaga itu terkumpul di lima butir Wu-mang-zhu yang ada di belakang kemudian tenaga selanjutnya terkumpul di dua butir Wu-mang-zhu yang ada di tengah.
Maka dia menyambutnya dengan jala.
Penglihatan orang memang sangat terbatas, gerakan tangan kiri Ruan-wei sedikit dipelankan tapi perubahan yang terjadi pada tangan kanan berbeda jauh, perubahan yang terjadi dua butir mengejar tiga butir Wu-mang-zhu yang ada di depan, lima butir Wu-mang-zhu yang ada di belakang sama sekali tidak terjadi perubahan.
Tenaga tangan kanan sama sekali berbeda.
Jala Wei Ao-wu seperti kemasukan seekor kucing besar, jalanya terus bergoyang-goyang, hal ini membuat Wei Ao-wu sangat malu.
"Shi-jin-san-xian-yin-yang-shou yang bagus!"
Kata Wen-yi sambil tertawa.
Dalam istilah senjata rahasia hanya ada kata 'Yin-yang-shou' sedangkan Shi-jin-san-xian hanyalah karangan Wen-yi saja.
(sepuluh bagus, tiga enak, biasanya digunakan untuk memuji orang kalau masakannya enak dan memperlihat-kan warna masakan yang indah).
Ketua berbaju emas itu tidak berkata apa-apa, tapi lima tetua Gai-bang tahu, tapi dalam hati mereka marah.
"Mulut bocah itu lebih tajam dari ayahnya."
Tapi karena Ruan-wei membantu mereka, maka sindiran Wen-yi kepada Wei Ao-wu pun mereka dengar dengan senang.
Terdengar Ruan-wei membentak, kedua tangannya terjulur keluar, lemparan Wu-mang-zhu kali ini terdiri dari 24 butir.
Karena Wei Ao-wu tidak bisa membedakan mana yang serangannya kuat dan mana yang serangannya lemah, maka dia hanya mengandalkan perasaannya saja.
24 butir Wu-mang-zhu masuk ke dalam jala, segera terjadi 8 macam perubahan tenaga, walaupun Wei Ao-wu sangat kuat, tapi tetap tidak bisa membedakannya, tiba-tiba Wu-mang-zhu yang terjerat di dalam jalan terus bergerak, dua butir Wu-mang-zhu keluar dari jala dan menyerang ke dada Wei Ao-wu.
Karena tahu bagaimana lihainya Wu-mang-zhu, terpaksa Wei Ao-wu melepaskan jalanya, dan dia meloncat untuk menghindar.
Selama puluhan tahun ini baru pertama kalinya Wei Ao-wu melepaskan jalanya dan melarikan diri, dia tidak menyangka Wu-mang-zhu bisa berubah sebanyak delapan kali.
Dulu Xiao San-ye saja hanya bisa melakukan enam kali perubahan.
Karena Wei Ao-wu telah melepaskan jalanya, artinya dia sudah kalah, tapi dia masih berniat membalas kekalahannya, tiba-tiba kedua tangannya melayang, puluhan jarum beracun keluar, membentuk kain yang menutupi langit, dan siap menutupi kepala Ruan-wei.
Orang yang telah terkena jarum beracun pasti akan mati, tapi puluhan jarum telah menyerang Ruan-wei membuat orang yang berdiri di pinggir merasa kaget sekaligus takut.
Dengan cepat Wen-yi berteriak.
"Pukul dengan angin telapak!"
Orang biasanya menggunakan angin telapak untuk meloloskan diri dari bahaya.
Tapi sekarang Ruan-wei dengan kedua tangannya mencakar-cakar di udara, hanya dalam waktu singkat kedua tangan Ruan-wei masing-masing telah memegang 20 lebih jarum kecil sebesar bulu kerbau dan jarum-jarum itu beracun.
Wen-yi berteriak.
"Itu adalah jurus Qian-shou-guan-yin-shou-bao!" (tangan seribu Kuan-Im menerima barang berharga). Dengan wajah pucat Wei Ao-wu berkata.
"Semua ilmu aneh milik Xiao San-ye telah kau kuasai."
"Apakah Tuan mengenal kakekku?"
"Ayahmu sendiri saja kau tidak tahu, masa sembarangan memanggil Xiao San-ye kakek, benarbenar anak haram!"
Kata Wei Ao-wu.
"Apa kau bilang?"
Ruan-wei membentak.
Ternyata dulu sewaktu Xiao-xiang-fei-zi menjadi gila, dia merebut bayi perempuan yang bernama Ruan-xuan yang baru lahir, bayi itu adalah anak Xiao-wu dan Xue Ruo-bi.
Dia juga merebut putra Xue Ruo-bi dari tangan istri Lu Nan-ren yang bernama Wan-hong.
Putra ini adalah anak dari Lu Nan-ren dan Xue Ruo-bi.
Semua ini disaksikan Wei Ao-wu dengan mata kepala sendiri, maka dia tahu persis sejarah mereka.
Tadi Wei Ao-wu melihat wajah Ruan-wei yang mirip dengan Lu Nan-ren, dia sudah curiga kalau Ruan-wei bukan bermarga Ruan.
Kemudian dia melihat ilmu senjata rahasia yang digunakan Ruan-wei adalah milik Xiao San-ye, dan Ruan-wei memanggil Xiao San-ye dengan sebutan kakek, berarti Xiao San-ye belum mati maka dia sudah tahu bahwa Xiao Nan-pin yang tidak waras menganggap putra Lu Nan-ren adalah putra sendiri dan dia bisa mendapatkan ilmu senjata rahasia langsung dari Xiao San-ye.
Dengan sombong Wei Ao-wu berkata.
"Kalah ya kalah, kau tidak perlu tahu aku bicara apa!"
Ruan-wei tidak tahu siapa ayah kandungnya, dia paling tidak senang dikatai anak haram maka dia sangat marah dan meloncat ke depan untuk menggampar Wei Ao-wu.
Karena Wei Ao-wu sudah kalah, dia sama sekali tidak mengira kalau Ruan-wei akan menggunakan ilmu Bai-bian-gui-fa.
Terdengar PAK!
Wei Ao-wu terkena gamparan Ruan-wei.
Wei Ao-wu kalah total, walaupun digampar, dia hanya memegang pipinya yang sakit kemudian mundur ke pinggir.
Ruan-wei benci dikatai anak haram, kedua matanya terus melotot kepada Wei Ao-wu.
Masih ada tiga ketua berbaju emas, mereka adalah tiga saudara kandung, mereka menguasai ilmu telapak.
Lao-da'Hei-sha-zhang' Li Zhuang-ling, 1 ao-er 'Fen-bei-shou' Li Zhuang-jing, dan Laosan Ti-li-shou' Li Zhuang-qi.
Mereka bertiga perlahan mendekati Ruan-wei.
Lao-da Hei-sha-zhang memberi hormat.
"Kami sangat tidak tahu diri, kami ingin mencoba ilmu telapak Tuan."
"Aku tadi sudah berjanji dengan si gemuk yang memakai jala jika aku menang, kalian tidak boleh mencari gara-gara dengan lima tetua Gai-bang. Sekarang aku sudah menang, kenapa kalian masih cerewet?"
"Apa yang dijanjikan Ketua Wei, kami tidak akan langgar, kapan pun lima tetua Gai-bang ingin pergi kami tidak akan melarangnya, kami hanya tertarik dengan ilmu telapak Tuan maka kami meberanikan diri untuk bertarung dengan Tuan."
Ruan-wei benar-benar tidak berpengalaman.
Dalam hati dia berpikir, 'Bila aku menggunakan Bai-bian-gui-ying, mereka tidak akan bisa memukulku, aku akan menggampar mereka agar mereka tahu salah dan pergi dari sini."
Maka dia setuju dan berkata.
"Baiklah, kalian bertiga boleh sama-sama maju!"
Wen-yi yang berdiri di pinggir sangat cemas karena dia melihat ilmu telapak tiga bersaudara ini sangat kuat, apalagi 'Hei-sha-zhang' (tangan hitam) Li Zhuang-ling.
Kedua telapaknya hitam dan berkilau, berarti 'Hei-sha-zhang'nya sudah benar-benar dikuasainya.
Sedang ilmu telapak dan kaki Ruan-wei tidak tinggi, karena itu sewaktu di rumah makan beberapa kali dia dibanting oleh tuan muda gemuk.
Kali ini jika Ruan-wei bertarung dengan mereka, dia pasti akan kalah.
Dengan cemas Wen-yi berteriak.
"Kalian benar-benar tidak tahu malu, sudah kalah Dua babak masih tidak pergi dari sini, apakah kalian ingin bertarung secara bergantian?" 'Fen-bei-shou' Li Zhuang-jing memukul sebuah batu setinggi orang, batu itu segera hancur berantakan, dia berteriak.
"Bocah, kau bicara apa? Kalau tidak terima, kau boleh ikut bertarung, aku akan menghancurkanmu sama seperti batu itu!" 'Pi-li-shou' (tangan geledek) Li Zhuang-qi bersuara lebih keras lagi.
"Aku lihat kau tidak seperti laki-laki, juga tidak seperti seorang perempuan, satu pukulanku juga tidak akan bisa kau terima!"
Karena marah, mata Wen-yi menjadi merah, air matanya hampir menetes. Dia ingin membalas tapi Ruan-wei sudah menghadang.
"Adik jangan marah, kakak akan membantumu membalas penghinaan ini."
Wen-yi dengan sangat berterima kasih berkata.
"Kau... kau...."
Tadinya dia ingin berkata, kau juga tidak akan sanggup melawan mereka. Tapi kalimat ini tidak tega diucapkan, tiba-tiba terdengar suara aneh yang berkata.
"Kurang ajar, apakah semalaman masih kurang ribut? Teriakan kalian seperti bebek dan setan, apakah kalian menganggap aku gampang dihina?"
Li Zhuang-qi ikut berteriak.
"Siapa yang tidak tahu malu, berani-beraninya bicara seperti itu kepada kami, kalau berani keluarlah! "Bagus!"
Jawab suara aneh itu Tiba-tiba di bawah patung dewa, dari balik sebuah tiang batu, muncul seorang pengemis tua berusia sekitar 60 tahun dengan malas-malasan.
Pengemis tua itu berwajah kotak, bertelinga besar, dari wajahnya terlihat, dia adalah orang dari pandangan lurus hanya saja suaranya sangat keras juga aneh.
Dia tertawa.
"Siapa yang menyuruhku...pengemis tua ini Keluar?"
"Aku yang menyuruhmu keluar!"
Jawab Li Zhuang-qi.
"Ternyata kau, aku kira siapa. Ternyata hanya setan hitam dari istana dewa kematian, untuk apa kau ke dunia ini dan marah-marah. Kau membawa udara yang tidak enak!"
Ternyata 'Pi-li-shou' Li Zhuang-qi memang berkulit hitam tapi dia paling benci orang menyebutnya hitam.
Sekarang dia dihina seperti itu mana mungkin dia tahan?
Terdengar suara kelebat angin telapak membawa suara, Li Zhuang-qi-menepis kepala pengemis tua.
(Pi-li=petir yang sangat keras).
Pengemis tua itu seperti tidak melihat, dia masih terus tertawa.
Setelah serangan Li Zhuang-qi hampir mengenai hidungnya, dia baru melambaikan tangannya dan mencengkram nadi tangan Li Zhuang-qi.
Li Zhuang-jing ingin menolong adiknya, jurus Fen-bei-shou menyerang ke pinggang pengemis tua itu tapi tangan kanan pengemis tua itu bergerak seperti kilat, dia mencengkram nadi Li Zhuang-jing lagi.
Lao-da Li Zhuang-ling terkejut, kedua tangannya langsung menyerang wajah pengemis.
Karena tangan pengemis tua itu sedang mencengkram Lao-er dan Lao-san, maka dia tidak bisa menahan, terpaksa menendang dengan kaki kiri dan tepat mengenai selangkangannya.
Karena kesakitan Li Zhuang-ling terhuyung-huyung dan terjatuh.
Kedua tangan pengemis tua itu menenteng dua orang itu dan dilempar ke udara.
Li Zhuang-qi dan Li Zhuang-ling seperti dua butir peluru, terbang ke atas dan terjatuh ke danau yang berjarak puluhan meter dari sana.
Melihat keadaan seperti itu, Li Zhuang-ling berlari terbirit-birit ke arah danau.
Pengemis tua itu tertawa dan berteriak.
"Setan kecil, kau masih ingin kabur!"
Dia mengejar tiga bersaudara itu.
Wei Ao-wu dan Yan-shan-san-jian takut terjadi sesuatu pada marga Li, maka mereka ikut berlari ke arah danau.
Lima tetua Gai-bang sudah pulih keadaannya, mereka berdiri, Ruan-wei mendekat dan berkata.
"Sungguh Gai-bang mempunyai banyak orang berbakat, siapakah Long-zhang-shen-qi itu?" (pengemis sakti telapak naga). Tetua satu sambil tertawa menjawab.
"Kami berterima kasih karena Pendekar Muda telah menolong kami."
"Oh, tidak, tidak! Aku yang membuat lima tetua menjadi seperti ini, aku mohon maaf."
Tetua dua menghela nafas.
"Tian-zheng-jiao selalu berbuat jahat kepada dunia persilatan, Gai-bang yang biasanya selalu menegakkan kebenaran dan keadilan tidak bisa berbuat apa-apa, benar-benar memalukan."
Tetua lima berkata.
"Saudara kecil, aku sungguh kagum kepadamu. Tadi aku sudah menyulitkanmu, aku minta maaf. Orang dalam Gai-bang yang bisa mengalahkan ketua berbaju emas Tian-zheng-jiao hanya ketua sendiri. Jika tadi bukan Saudara yang menolong, kami pasti akan mati."
"Di Gai-bang banyak harimau dan naga yang masih bersembunyi, lima tetua terlalu merendah, benar-benar membuatku malu."
Tetua satu mengeluh.
"Tadi Long-zhang-shen-qi bukan orang Gai-bang, apakah kau tahu?"
"Tetua tadi memakai baju yang ditambal-tambal, penampilan seperti itu masa bukan orang Gaibang?"
Tetua satu berkata.
"Semua pengemis memang termasuk Gai-bang, hal ini sudah diketahui semua orang, tapi hanya pengemis tua bermarga Rui merupakan pengecualian. Hal ini jarang ada yang tahu."
"Apakah Long-zhang-shen-qi bermarga Rui?"
"Betul. Di dunia persilatan kecuali Tian-zheng-jiao dan Zheng-yi-bang, beberapa tahun ini muncul Lima Qi (5 orang aneh) yang menggegerkan dunia persilatan. Ilmu silat mereka tidak kalah dengan ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu dan ketua Zheng-yi-bang Lu Nan-ren. Long-zhanshen-qi adalah salah satu dari Lima Qi."
Tadinya Ruan-wei ingin bertanya Lima Qi itu siapa saja dan mengapa pengemis bermarga Rui tidak termasuk orang Gai-bang, tapi melihat mereka sangat lelah juga belum pulih dengan benar, maka dia mengurungkan niatnya dan pamit pergi.
Dari balik dadanya tetua satu mengeluarkan sebuah plakat terbuat dari bambu berwarna ungu.
Dia memberikannya kepada Ruan-wei.
"Kau sangat berjasa kepada Gai-bang, plakat bambu ini adalah benda terpenting di Gai-bang. Sekalipun ketua yang melihat plakat ini, dia pasti akan menuruti perintah dari plakat ini. Kami berharap kau bisa menyimpannya dengan baik."
Dengan hormat Ruan-wei menerima dan mengucapkan terima kasih.
"Aku akan menjaga dengan baik plakat ini, kita bertemu di lain waktu."
Dia menuntun Wen-yi dan membalikkan tubuh dan pergi dari sana. Tiba-tiba tetua empat berkata.
"Semoga Tuan Wen bisa tinggal di sini."
"Formasi kalian berhasil kupecahkan,mengapa aku harus tinggal?"
Tetua dua menyambung.
"Formasi batu lima tetua Gai-bang yang sudah diteliti selama 10 tahun lebih, dalam waktu tiga hari bisa kau pecahkan, kami berlima merasa malu, sepertinya kami tidak bisa membalaskan dendam Lao Liu."
Wen-yi dengan senang berkata.
"Tentu, ayahku banyak akal, kalian ingin mengurungnya, itu adalah hal yang tidak mungkin. Menurutku, ketua keenam belum tentu mati di tangan ayahku, mengapa kalian begitu yakin kalau ketua keenam mati di tangan ayahku?"
Tetua empat berkata lagi.
"Kau tinggallah di Gai-bang sampai ayahmu datang untuk menjelaskan mengenai hidup atau matinya adik keenam kami. Kau adalah teman baik Saudara Ruan maka kami tidak akan menyulitkanmu."
"Maksud kalian tidak lain adalah ingin menculikku kemudian memancing ayahku datang dan masuk perangkap kalian."
Tetua dua berkata.
"Kami tidak berani berkata kalau kami menculikmu, kami hanya ingin Tuan Wen bisa tinggal lebih lama di Gai-bang karena ayahmu sulit untuk keluar dari lembah selatan, terpaksa kami merepotkanmu!"
"Kalau aku tidak mau tinggal bagaimana?"
Tetua dua menarik nafas.
"Terpaksa kami memakai kekerasan."
Wen-yi marah.
"Ujung-ujungnya kalian tetap tidak akan melepaskanku. Tetua satu, apakah kalian tidak malu menghinaku?"
Dia melihat tetua satu lebih ramah dibandingkan yang lain maka Wen-yi bertanya langsung kepada dia. Tetua satu dengan gagap menjawab.
"Ini... ini... terpaksa merepotkanmu...."
Tiba-tiba Ruan-wei mendekati mereka, dia memberikan plakat ungu itu kepada tetua satu.
"Semua orang Gai-bang dengarkan!"
Tetua lima dengan tergesa-gesa berkata.
"Apakah Adik tahu kalau plakat ini hanya bisa memberikan perintah satu kali saja pada Gai-bang?"
"Jika perintah sudah diturunkan, orang Gai-bang dengan segenap tenaga akan melaksanakannya,"
Kata tetua empat "Jika kau mengalami hal berbahaya, puluhan ribu orang Gai-bang akan datang membantumu,"
Kata tetua tiga Tetua dua mengeluh.
"Jika kau secara sembarangan memakai plakat yang ibaratnya menggunakan lima nyawa ketua, kau akan merasa menyesal, karena ketika kau berada dalam bahaya dan membutuhkan bantuan, kau tidak akan bisa menggunakan plakat itu lagi."
Tetua satu membentak.
"Bukankah aku sudah memberitahu agar hati-hati memakainya? Jika kau tetap memberikan perintah plakat kepada kami, kami akan melaksanakan satu hal untukmu tapi budi yang telah kau beri kepada kami juga akan terhapus. Aku harap kau pikirkan ini baik-baik."
Tapi Ruan-wei tetap dengan tegas berkata.
"Gai-bang, dengarkan perintah plakat!"
Lima tetua itu menarik nafas, mereka bersama-sama bersujud dan menjawab.
"Lima tetua Gai-bang mewakili semua murid Gai-bang mendengarkan perintah."
Dengan tegas Ruan-wei berkata.
"Meski telah terjadi permusuhan antara Ketua Wen dengan Gai-bang, tapi putranya Wen-yi sama sekali tidak ada hubungannya maka Gai-bang tidak boleh mengganggu Wen-yi!"
Lima tetua Gai-bang bersama-sama menjawab.
"Lima tetua Gai-bang mewakili semua murid Gai-bang menerima perintah, yang melanggar harus dihukum mati."
Sesudah lima tetua menjawab, mereka duduk dan memejamkan mata, mereka tidak ingin berbicara.
"Jika ada yang menyinggung perasaan kalian, aku mohon maaf,"
Ruan-wei berkata dengan tidak tenang. Tetua lima dengan suara tajam berteriak.
"Pergi, pergi! Jangan banyak bicara lagi!' "Pergilah! Di dalam hatiku tetap akan tersimpan perasaan terima kasih kepadamu, jaga dirimu baik-baik!"
Kata tetua satu Ruan-wei tahu lima tetua Gai-bang sudah kehilangan kesempatan membalas dendam maka hatinya menjadi tidak tenang. Wen-yi memegang tangan Ruan-wei, dengan lembut berkata.
"Kakak, mari kita pergi dari sini!"
"Adik, jika tetua keenam belum mati, kau nasehati paman agar segera melepaskannya!"
Kata Ruan-wei. Wen-yi tertawa kecut.
"Baiklah! Apa yang kau katakan pasti akan kudengar."
Tetua satu tiba-tiba berkata.
"Harap Tuan Wen memperhatikan hal ini."
Enam tetua Gai-bang memiliki hubungan sangat akrab.
Mereka tahu jika ingin menolong adik keenam mereka dari Wen-tian-zhi lebih sulit dibandingkan naik ke langit.
Asal bisa menyelamatkan nyawa adik keenam, apa pun akan mereka lakukan.
Tetua empat datang dan berkata.
"Jika adik keenam belum mati, dendam kami dengan keluarga Wen impas."
Dari jauh terdengar suara tawa Long-zhang-shen-qi. Walaupun hanya bertemu sekali tapi Ruanwei sudah merasa seakan dia kerabatnya. Dia ingin sekali bertemu dengannya maka dia pun berteriak.
"Ayo, kita jalan!"
Dia menuntun Wen-yi dan berlari hampir seperti terbang.
o-o-o BAB 99 Orang aneh, tempat aneh, dan peraturan aneh Setelah berjalan sekitar setengah kilometer, mereka tiba di pan Hu (danau Pan), di Pan Hu tampak ada 2 orang yang sedang terapung, kadang-kadang tenggelam, setelah dilihat dengan teliti ternyata mereka adalah 'Fen-bei-shou' Li Zhuang-jing dan 'Pi-li-shou' Li Zhuang-qi.
Ada juga seorang sedang mengambang di Yang-hu, dia adalah 'Hei-sha-shou' Li Zhuang-ling.
Qi-hai-yu-zi Wei Ao-wu dan Yan-shan-san-jian sedang berdiri di kejauhan melihat, mereka tidak berani menolong.
Long-zhang-shen-gai (Qi) berdiri di sisi Yang-hu.
Sambil tertawa dia berkata.
"Kalau berani naiklah!" 'He-sha-zhang' Li Zhuang-ling pandai berenang, dia berteriak.
"Kalau berani turunlah!"
Mungkin Long-zhang-shen-gai tidak bisa berenang, dia menggaruk-garuk kepalanya.
Li Lao-er dan Li Lao-san berada di belakang Long-zhang-shen-gai, mereka hanya terapung di danau tapi tidak berani naik ke darat, mungkin setelah terkena pukulan mereka tidak berani naik.
Melihat Wen-yi dan Ruan-wei datang, Long-zhang-shen-gai sangat senang.
Dia bertanya kepada Wen-yi.
"Kau tampak pintar, apakah kau bisa menipunya supaya naik ke darat? Kalau kau bisa melakukannya, aku akan memberikan hadiah besar."
Melihat Long-zhang-shen-gai tidak memperhatikan mereka, Li Zhuang-jing dan Li Zhuang-qi diam-diam naik ke darat.
Long-zhang-shen-gai tertawa terbahak-bahak, dia memungut batu sebesar kacang dengan membalikkan tangan dia melemparnya ke belakang.
Li Zhuang-jing dan Li Zhuang-qi yang mempunyai ilmu silat tinggi ternyata tidak bisa menghindari sambitan batu ini, kaki mereka terkena sambitan dan kembali terjatuh ke danau.
"Kalian jangan diam-diam naik, sekali lagi berbuat seperti itu aku akan melempar batu ini ke mata kalian!" 'Hei-sha-zhang' Li Zhuang-ling marah.
"Penjahat tua, apakah karena tidurmu terganggu maka kau harus membunuh kami?"
Long-zhang-shen-gai tertawa.
"Siapa yang ingin membunuh kalian, aku hanya ingin memukul untuk melampiaskan kekesalan, setelah itu aku akan melepaskan kalian."
"Siapa yang percaya pada kata-katamu? Kalau kau ingin memukulku, aku tidak akan naik. Kalau berani kau saja yang turun!"
"Aku mempunyai cara menipunya supaya mau naik ke darat,"
Wen-yi berkata tiba-tiba.
"Cara apa? Cepat katakan! Jika betul bisa menipu dia naik ke darat, aku tidak akan melupakan kebaikanmu,"
Kata Long-zhang-shen-gai. Wen-yi tertawa.
"Aku tidak berharap akan mendapat kebaikan dari Tetua, aku hanya ingin tahu mengapa Lao Da itu harus naik ke darat?"
"Coba kau tebak!"
Wen-yi menggelengkan kepala.
"Hal-hal yang disimpan di dalam hati, mana mungkin aku tahu."
"Apakah Tetua ingin melemparnya ke Pan-hu?"
Tanya Ruan-wei. Long-zhang-shen-gai berteriak.
"Betul! Bocah, kenapa kau bisa tahu?"
Dengan hormat Ruan-wei menjawab.
"Orang Tian-zheng-jiao adalah orang yang penuh dengan kejahatan, jika terjatuh di Danau Yang yang airnya bersih yang melambangkan kebersihan keluarga Yang bukankah itu suatu penghinaan terhadap Yang-hu?"
Wen-yi baru mengerti.
"Karena itu Tetua ingin Hei-sha-zhang yang terjatuh di Yang-hu tetap berada di Pan-hu bersama 2 saudara mereka?"
"Betul, Betul,"
Puji Long-zhang-shen-gai Wen-yi berteriak kepada Li Zhuang-ling yang masih berada di danau.
"Kalau kau tidak berani jangan naik ke darat, teruslah berendam di sana!"
"Jika Li Lao-da ingin naik tidak ada orang yang bisa melarangnya."
Teriak Li Zhuang-ling Wen-yi tertawa.
"Apakah benar kau berani naik?"
Wen-yi membalikkan tubuh dan berkata.
"mari kita pergi dari sini, tiga saudara itu tidak akan berani naik ke darat."
Belum sampai mereka berjalan selangkah, Hei-sha-zhang yang ada di belakang sudah berteriak.
"Aku sudah naik, siapa yang berani melarangku!"
"Hantam,"
Kata Wen-yi dengan suara kecil.
Reaksi Long-zhang-shen-gai sangat cepat, dia sudah memungut dua batu kecil dan menyentilnya.
Li Zhuang-ling ingin menghindar dan meloncat kembali ke danau tapi terlambat, dia sudah terjatuh.
Long-zhang-shen-gai tertawa terbahak-bahak dan berlari ke depan, seperti menjinjing seekor ayam kecil.
Dia membawa Li Zhuang-ling ke depan Pan Hu.
Dan menendang pantat Li Zhuang-ling dia berseru.
"Pergilah!"
Di tengah udara Li Zhuang-ling berteriak.
"Setan tua! Kau sudah menotok dua nadi kakiku, apakah kau ingin aku mati tenggelam?"
Tapi Li Zhuang-ling benar-benar terkejut, begitu masuk tubuhnya ke dalam danau, dia menggelepar tiba-tiba dia merasa kakinya bisa bergerak lagi, dan karena nadinya baru terbuka, gerakannya belum begitu lincah, dia jadi minum air danau.
Ketika kedua adiknya datang, mereka segera memapahnya, saat itu dia sudah kekenyangan minum air danau.
Tiga saudara itu terus marah-marah tapi mereka tidak berani naik ke darat karena takut sentilan batu dari Long-zhang-shen-gai akan mengenai mereka.
Wen-yi tertawa.
"Benar-benar ilmu yang hebat!"
Dalam ilmu silat ada cara memukul kerbau di balik gunung, membuka totokan ini pun caranya sama.
Misalnya menotok di dada, hanya dengan menendang pantat, totokan di dadanya akan terbuka.
Seperti tadi saat menendang pantat bisa membuka totokan di kaki.
Ilmu ini sangat hebat, orang yang menguasai ilmu ini bisa dihitung dengan jari.
"Ini teknik biasa, yang lebih hebat adalah caramu menipunya naik ke darat benar-benar hebat!"
Puji Long-zhang-shen-gai.
"Itu teknik menunggang keledai!"
Wen-yi tertawa.
"Teknik menunggang keledai?"
"Keledai sebagai dewa kami mempunyai sifat paling nakal, jika kita menyuruhnya berjalan ke barat, dia pasti akan berjalan ke timur, atau sebaliknya, tadi terpaksa kita melakukan dengan cara seperti itu baru bisa berhasil sesuai dengan tujuan,"
Wen-yi tertawa.
"Betul, betul! Di dunia ini banyak orang seperti keledai,"
Long-zhang-shen-gai tertawa.
Wei Ao-wu dan Yan-shan-san-jian yang masih ada di sebelah sana terus berbisik, tidak ada satu pun yang berani bertarung dengan Long-zhang-shen-gai.
Mereka juga tidak berani meninggalkan tempat itu karena tiga saudara Li masih berada di danau.
Jika meninggalkan mereka, artinya mereka melanggar peraturan Tian-zheng-jiao.
"Melihat kaki tangan Tian-zheng-jiao saja aku sudah benci!"
Long-zhang-shen-gai mengerutkan alis.
"Apakah kita juga akan memberikan pelajaran kepada empat keledai yang di darat?"
Tanya Wen-yi tertawa.
"Empat keledai itu tidak membuatku marah, aku tidak ingin memberi mereka pelajaran,"
Longzhang-shen-gai tertawa.
"Itu sangat mudah, bagaimana jika kakak dan aku maki-maki ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu, mungkin mereka akan segera keluar untuk memarahi kami,"
Kata Wen-yi. Ruan-wei tidak biasa melakukan hal seperti ini, dengan Xiao-wu dia tidak mempunyai permusuhan, dia ingin maki-maki pun tidak bisa, akhirnya dengan wajah menjadi merah dia berkata.
"Aku... aku... tidak bisa keluar... kata-kata marah...."
Long-zhang-shen-gai tertawa terbahak-bahak.
"Biar aku saja yang maki-maki."
Dia berteriak.
"Xiao-wu kurang ajar! Xiao-wu harus mati! Xiao-wu sudah memelihara keledai-keledai bodoh!"
Ketua Tian-zheng-jiao adalah orang yang sangat kejam.
Dulu murid kesayangannya Zhong-jing karena melakukan hal yang tidak berkenan di hatinya, sebelah tangannya dibuntungi.
Sekarang ada orang secara terang-terangan memakinya, jika terdengar olehnya, orang itu pasti akan mendapatkan siksaan berat.
Wei Ao-wu dan Yan-shan-san-jian memang takut kepada Long-zhangshen-gai, tapi mereka juga tidak akan membiarkan orang lain menghina ketua mereka.
Maka terdengar suara raungan, mereka sudah berlari mendatangi.
Qi-hai-yu-zi Wei Ao-wu berteriak.
"Menghina ketua Tian-zheng-jiao harus di hukum."
"Menghina pengemis Lao Rui, apa hukumannya?"
Long-zhang-shen-gai melihat keatas "Orang yang menghina Lao Rui harus menerima hukuman di tendang dan di pukul,"
Jawab Wen-yi tertawa.
"Memukul keledai tidak ada artinya, malah mengotori tangan dan juga kakiku."
Kata Longzhang-shen-gai angkuh "Aku ada ide, lebih baik lempar mereka ke Danau Pan supaya bisa minum air kotor di Pan Hu,"
Usul Ruan-wei.
"Ide yang bagus, ide ini sama dengan ideku,"
Long-zhang-shen-gai bertepuk tangan.
Biasanya ketua-ketua berbaju emas Tian-zheng-jiao sangat angkuh dan berwibawa, hari ini mereka terus-menerus dihina, mereka tidak tahan lagi.
empat orang itu berteriak, mereka mulai menyerang Long-zhang-shen-gai.
Tubuh Long-zhang-shen-gai bergerak seperti seekor naga yang sedang bermain, telapak tangannya bergerak berganti-ganti dan tertawa terbahak-bahak.
Hanya dalam beberapa jurus dia berhasil menangkap mereka dan satu per satu dilempar ke Pan-hu.
Walaupun hanya beberapa jurus tapi jurusnya membuat Ruan-wei begitu terkagum-kagum.
Ilmu telapaknya begitu aneh juga hebat, jurusnya tidak kalah dari Tian-long-shi-san-jian.
"Ilmu telapak ini sangat lihai, Lao Rui, apa nama ilmu telapak ini?"
Kata Wen-yi iri Long-zhang-shen-gai termenung.
Urutan generasinya sangat tinggi, ada yang menyebut dirinya Lao Rui.
Semua orang dunia persilatan menyebutnya tetua, tidak pernah ada yang menyebutnya Lao Rui.
Tapi sifatnya memang sangat terbuka, setelah termenung sebentar, dia tertawa.
"Ilmu telapak ini adalah ilmu sakti warisan keluarga, namanya Long-xing-ba-zhang (delapan telapak naga keluar). Jangan coba-coba berniat untuk mempelajarinya, kalau bukan keluarga sendiri ilmu telapak ini tidak akan diwariskan."
"Tadi kau berjanji jika aku bisa menipu Li Lao Da naik ke darat akan mendapatkan hadiah besar. Aku tidak menginginkan hadiah besar hanya saja kakak tidak bisa ilmu telapak tangan, walau bagaimanapun kau harus menurunkan Long-xing-ba-zhang kepadanya!"
"Mana boleh____"
Long-zhang-shen-gai mengambil segenggam kerikil kemudian menyentilnya.
Terdengar empat suara teriakan lalu ada yang terjatuh lagi ke dalam danau.
Ternyata mereka secara sembunyi-sembunyi sedang naik ke darat.
"Dua bocah, kalian mau ke mana?"
"Aku dan adik angkatku akan pergi ke perbatasan Tibet."
"Apakah kalian akan mengunjungi pak tua Fei-long-jian ke Gongsun Qiu-jian."
"Sekalian kami akan mengunjungi beliau,"
Jawab Ruan-wei.
"Jika kalian mau keperbatasan Tibet, kalian harus melalui Shan-xi. Ayo kalian ikut Lao Rui ke Shan-xi, nanti akan kuberi kalian hadiah."
Sambil berkata seperti itu dia sudah berjalan. Tujuh orang yang masih ada di danau benarbenar baik dan penurut. Mereka terapung di danau, tidak ada yang berani naik ke darat.
"Keledai-keledai, cepat naik, Lao Rui akan pergi!"
Long-zhang-shen-gai tertawa.
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, mereka tiba di wilayah Shan-xi.
Sepanjang jalan mereka terus mengobrol dan bercanda.
Long-zhang-shen-gai semakin menyukai Ruan-wei dan Wen-yi.
Hari ini mereka sampai di sebuah kota kuno.
Kota ini dikelilingi oleh dinding kota yang tinggi.
Dinding kota berwarna-warni, terlihat sangat kuno tapi ada sebagian berwarna hijau karena lumut.
Mungkin karena kota ini sudah berdiri lama sekali.
Sampai di pintu kota, di atas pintu tertulis 'Rui-zheng-fu' (rumah/kampung keluarga Rui).
Goresan huruf sangat indah dan tegas.
Di sebelah kanan rumah ada sebaris kata-kata larangan.
"Perempuan yang bukan saudara atau teman lama dilarang masuk kampung ini." 'Larangan ini benar-benar aneh, kampung ini juga aneh,' pikir Ruan-wei. Wen-yi tidak mengerti dan bertanya.
"Apa arti kata-kata ini?"
Long-zhang-shen-gai tertawa.
"Kata-kata ini adalah kata-kata peringatan dari keluarga Rui, jangan meladeni kata-kata ini, ayo kita masuk kampung! Setahun lebih aku tidak pulang kampung, aku sudah kangen."
Tiba-tiba tiga laki-laki berpakaian mewah keluar dari pintu kampung, dengan gagah mereka berjalan ke depan Long-zhang-shen-gai dengan memberi hormat.
"Paman sudah kembali!"
"Betul, aku sudah pulang, apakah kalian bertiga akan pergi untuk berbelanja?"
"Betul, Paman!"
Long-zhang-shen-gai dengn senang berjalan sambil bergoyang memasuki kampung.
Ruan-wei dan Wen-yi dengan aneh mengikutinya di belakang.
Di dalam kampung, rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan tersusun rapi.
Begitu berada di tengah kampung, orang yang berlalu lalang dan berpakaian mewah tapi begitu melihat Long-zhang-shen-gai, mereka selalu menyapanya dengan sikap hormat.
Kadang-kadang ada beberapa orang pengemis, begitu melihat Long-zhang-shen-gai mereka hanya mengangguk.
Sepertinya generasi mereka sama.
Tiba-tiba di depan mereka berdiri seorang biksu tua berusia sekitar 80 tahun lebih.
Segera Long-zhang-shen-gai memberi hormat.
"Apa kabar, Pu-ye?"
"Satu tahun sudah berlalu lagi."
Biksu tua itu tertawa "Satu tahun berkelana di dunia persilatan, aku sudah kangen dengan rumah."
Jawab Longzhang-shen-gai hormat "Sebentar lagi kau akan berusia 70 tahun, tapi kau masih saja nakal. Nanti setelah menjadi Fu (Budha), kau akan susah."
"Kata-kata Fu-ye benar."
Jawab Long-zhang-shen-gai.
"Cepatlah pulang untuk berkumpul dengan keluargamu!"
Dengan hormat Long-zhang-shen-gai parnit. Karena sejak tadi merasa aneh, Ruan-wei bertanya.
"Apa yang dimaksud pengemis keluarga Rui, Tetua?"
"Aku tahu begitu memasuki kampung, kalian pasti merasa aneh. Mari, ikutlah ke rumah-ku, nanti baru akan kujelaskan."
Sebuah rumah mewah dan besar muncul di depan mata.
"Ini adalah gubukku,"
Long-zhang-shen-gai menunjuk rumah itu.
"Jika rumah seperti itu disebut gubuk, berarti semua rumah yang lain adalah kandang?"
Sebenarnya umur Long-zhang-shen-gai cocok sebagai kakek Wen-yi tapi karena mereka sudah akrab, apa lagi sifat Long-zhang-shen-gai sangat terbuka maka pembicaraan mereka terasa lepas.
Baru saja memasuki rumah besar itu, anak-anak dengan pakaian mewah segera keluar.
Ada yang memanggil ayah, ada yang memanggil kakek.
Keadaan rumah menjadi ramai dan kacau.
"Jangan ribut! Jangan ribut! Ada tamu yang berkunjung ke rumah kita,"
Teriak Long-zhangshen-gai.
Begitu mendengar ada tamu, anak-anak itu segera diam dan berdiri membagi menjadi dua kelompok.
Begitu melihat tamu yang datang hanya berusia sekitar 15-16 tahun, anak-anak yang memanggil Long-zhang-shen-gai dengan sebutan Ye-ye, hampir berusia 13-14 tahun.
Mereka hanya sedikit lebih kecil maka mereka berteriak.
"Yang datang hanya dua tamu kecil!"
"Apa tamu kecil, tamu besar! Cepat panggil ibu keluar!"
Di tengah ruangan mewah dan indah, meja dan kursi terbuat dari kayu merah, tertata dengan rapi.
Begitu Ruan-wei dan Wen-yi duduk, dari belakang tercium aroma kayu wangi yang dibakar, dua orang pelayan datang membawakan teh juga makanan, mereka memberi hormat kepada Long-zhang-shen-gai.
"Tuan Besar, Anda sudah pulang."
Kemudian seorang perempuan anggun, dengan umur sekitar 50 tahun, datang bersama tiga orang laki-laki setengah baya berpakaian pelajar. Perempuan itu dengan lembut berkata.
"Suamiku, setahun kita tidak bertemu, apakah keadaanmu baik-baik saja?"
Lalu ada Laki-laki setengah baya berlutut dan menyapa.
"Ayah!" 'Pantas di luar banyak anak kecil, ternyata Long-zhang-shen-gai mempunyai banyak anak,' pikir Wen-yi.
"Tidak perlu banyak aturan, bangunlah, bangun!"
Tiga menantu membawa banyak anak, datang memberi hormat. Long-zhang-shen-gai tertawa dan berkata kepada Wen-yi.
"Aku benar-benar takut pulang, karena ketika aku pulang, aku menerima banyak penghormatan, aku bosan mendengar dan melihatnya."
Perempuan anggun itu tertawa.
"Kau selalu berbuat macam-macam, kalau tidak menyuruh anak-anak memberi hormat, bukankah itu sama dengan merusak peraturan rumah?"
"Betul! Istriku, Chen-er bawalah tamu kecil untuk beristirahat,"
Long-zhang-shen-gai tertawa.
Dalam hati Ruan-wei berpikir.
'Mereka harus berkumpul, kita jangan ganggu mereka.' Maka dia memberi kode kepada Wen-yi dan mengikuti laki-laki itu ke belakang rumah.
Laki-laki itu membawa mereka ke sebuah kamar tamu yang dihias sangat indah.
"Kalian berdua beristirahat dulu, ayahku akan segera datang!"
Setelah laki-laki itu pergi, Wen-yi tertawa.
"Tidak disangka Long-zhang-shen-gai mempunyai keluarga begitu besar."
"Aku benar-benar tidak mengerti, Tetua Rui mempunyai usaha dan keluarga begitu besar, mengapa harus menjadi pengemis di dunia persilatan?"
"Orang aneh dan hal aneh seringkah tidak bisa dijelaskan,"
Jawab Wen-yi. Hari hampir gelap, pelayan datang membawa sayur dan nasi. Sayur ada bermacam-macam jenis. Ketika mereka berdua sedang mengobrol, Long-zhang-shen-gai datang.
"Tuan rumah datang!"
Wen-yi berseru.
"Telingamu sungguh peka,"
Sahut Long-zhang-shen-gai dengan senang dan berdiri.
"Duduklah, duduk! Jangan sungkan!"
Diapun duduk.
"Tetua sungguh beruntung!"
Sahut Wen-yi.
"Beruntung apa? Keluarga besar Rui semakin sedikit, hanya aku yang membuat keluarga besar Rui bertambah anggotanya. Aku mempunyai lima orang putra."
"Punya berapa orang putra baru bisa disebut beruntung?"
Tanya Wen-yi. Tiba-tiba Long-zhang-shen-gai mengeluh.
"Ketika kalian masuk ke kampung ini bukankah kalian melihat larangan 'perempuan yang bukan saudara atau teman, jangan masuk ke kota ini'. Katakata ini sepertinya sangat sederhana juga aneh, sebenarnya kata-kata ini dibuat setelah nenek moyangku mengalami gejolak percintaan dan menyesal, baru memasang larangan ini agar perempuan dari luar jangan masuk ke kampung ini. maka keluarga Rui juga jarang menikah, membuat anggota keluarga besar Rui semakin berkurang."
"Tetua sudah punya keluarga, buat apa berkelana di dunia persilatan?"
Tanya Ruan-wei.
"Apakah kau bertanya mengenai aku yang menjadi pengemis? Semua marga Rui jika bisa bertahan hidup sampai 50 tahun, dia akan menjadi pengemis selama 20 tahun."
"Berarti harus menjadi pengemis sampai usia 70 tahun?"
Tanya Wen-yi.
"Tahun ini umurku 63 tahun, aku sudah menjadi pengemis selama 13 tahun, masih ada 7 tahun lagi harus mengemis di dunia persilatan, dan aturan menentukan satu tahun aku hanya boleh pulang tiga hari untuk berkumpul dengan keluarga."
Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Pantas tadi biksu tua itu mengatakan satu tahun sudah tiba, berarti tahun ini dia baru pulang untuk pertama kalinya.' "Aku hidup susah di luar, hari ini baru bisa pulang untuk menginap selama tiga hari."
"Mengapa marga Rui harus menyiksa diri dengan cara seperti ini?"
Tanya Wen-yi.
"Ini aturan yang sudah ada sejak dulu dan berlaku sampai sekarang, siapa pun tidak bisa mengubahnya!"
"Jika keluarga Rui ada yang menjadi pejabat, saat usianya 50 tahun, apakah dia harus mengundurkan diri dari jabatannya untuk menjadi pengemis?"
Tanya Wen-yi. Long-zhang-shen-gai menggelengkan kepala.
"Selama ratusan tahun ini keluarga besar selalu menuruti aturan yang sudah ada, secara turun temurun tidak ada yang menjadi pejabat."
"Aku tidak mengerti, nenek moyang kalian mendapat musibah cinta apa, sampai-sampai membuat peraturan begitu aneh?"
Tanya Wen-yi.
"Aku harap tujuh tahun bisa berlalu dengan cepat, Tetua bisa berkumpul selamanya dengan keluarga."
"Aku harap waktu bisa berlalu lebih perlahan karena tujuh tahun kemudian aku harus mati!"
Jelas Long-zhang-shen-gai.
"Tubuh Tetua begitu sehat, mengapa membicarakan kematian?"
Ruan-wei bertanya dengan aneh.
"Apakah kalian ingat biksu tua yang kita temui tadi di kota? Aturan keluarga Rui menentukan jika dalam 70 tahun tidak mati, dia harus menjadi biksu!"
"Apakah menjadi biksu berarti mati! Aduh, mengapa di dunia ini ada aturan keluarga begitu ketat?"
Wen-yi mengeluh.
"Bisa hidup sampai menjadi biksu itu sudah lumayan, setelah menjadi biksu, keluarga Rui harus memangilnya 'Fu-ye'. Sekarang di keluarga Rui ada 4 'Fu-ye'."
"Keluarga Rui menjadi pengemis, mengapa tidak masuk Gai-bang saja?"
Tanya Ruan-wei.
"Gai-bang adalah perkumpulan pengemis dan perkumpulan ini menghidupi mereka sendiri sedangkan keluarga Rui menentukan menjadi pengemis hanya mengemis, tidak boleh mendapat bantuan dari luar. Maka sejak dulu keluarga Rui selalu belajar ilmu silat untuk membela diri. Kami juga meneliti dan memperdalam ilmu silat. Ilmu-ilmu ini dipersiapan untuk menjaga diri di masa tua karena kami harus hidup sendiri."
Dia berhenti sejenak lalu berkata lagi.
"walaupun demikian, banyak tetua Rui pada masa mengemis karena tidak kuat menahan dingin dan lapar atau karena diserang oleh perkumpulan lain, maka mereka meninggal dengan cepat."
Wen-yi meneteskan air mata.
"Benar-benar kejam! Kejam! 20 tahun harus hidup sendiri, siapa yang bisa tahan?"
Long-zhang-shen-gai tertawa.
"Aku...Lao Rui tidakmerasa ini adalah kehidupan susah, hanya orang yang menjadi pengemis baru bisa merasakan bagaimana kehidupan yang dingin dan hangat. Menurut orang-orang, setelah tiga tahun menjadi pengemis, ditawari menjadi raja pun dia, akan berpikir-pikir dahulu. Kejujuran tidak akan berbohong kepada kita."
Ruan-wei dan Wen-yi merasakan betapa besar lapang dada Long-zhang-shen-gai. Tiba-tiba ada orang yang berteriak.
"Ayah, rapat akan segera dimulai!"
Long-zhang-shen-gai berdiri dan membujuk.
"Ikutlah Lao Rui dalam rapat keluarga Rui yang diadakan setahun sekali."
"Sepertinya kami tidak akan ikut."
Jawab Ruan-wei pelan-pelan. Long-zhang-shen-gai tertawa.
"Rapat besar keluarga Rui menyambut baik bila ada orang luar yang ikut. Mari ikutlah denganku!"
Begitu keluar dari kamar tamu, mereka melihat seorang pelayan membawakan sebuah lukisan setinggi orang.
Orang yang ada di dalam lukisan itu adalah seorang perempuan.
Perempuan itu sangat cantik, tubuhnya tinggi semampai seperti seorang dewi.
"Kemana kau akan membawa lukisan ini?"
Tanya Long-zhang-shen-gai. Dengan gugup pelayan itu menjawab.
"Nyonya menyuruh hamba untuk membersihkannya lalu ditempel ulang karena lukisan ini terlihat usang...."
Alis Long-zhang-shen-gai berkerut.
"Untuk apa ditempel kembali, gambarnya pun masih bagus, kembalikan lagi ke tempat semula!"
Dengan perasaan tidak tenang pelayan itu berkata.
"Hamba tidak berani melanggar perintah nyonya."
"Bila ditempel kembali tidak apa-apa, Lao Rui, jangan membuat pelayan menjadi serba salah,"
Wen-yi tertawa. Begitu melihat lukisan itu, Long-zhang-shen-gai terlihat sedih. Dia melambaikan tangan.
"Baiklah, cepat bawa ke sana!"
Pelayan itu dengan cepat berlari dari sana. Tapi Long-zhang-shen-gai masih termenung berdiri di sana. Dia seperti memikirkan sesuatu.
"Lao Rui, siapakah perempuan yang ada di dalam lukisan itu? Mengapa membuatmu begitu sedih?"
Tanya Wen-yi. Long-zhang-shen-gai menarik nafas.
"Itu adalah lukisan adik perempuanku!"
"Dia sangat cantik, dimana sekarang dia berada?"
Tanya Wen-yi lagi. Long-zhang-shen-gai berhenti berjalan, dengan sedih dia menjawab.
"Adik perempuanku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu!"
"Oh, maaf, seharusnya aku tidak bertanya, malah membuatmu sedih!"
Teriak Wen-yi.
"Setiap kali aku pulang, jika melihat lukisan itu aku akan sedih selama beberapa hari bukan salahmu"
"Istrimu sangat baik kepadamu!"
Kata Wen-yi Long-zhang-shen-gai merasa aneh mengapa Wen-yi berkata seperti itu. Wen-yi berkata lagi.
"Istrimu takut setelah melihat lukisan itu kau akan sedih, maka dia menyuruh pelayan untuk menempel ulang."
Long-zhang-shen-gai tidak terpikir sampai kesana "Tapi niat baik istrimu gagal karena secara kebetulan kau melihat pelayan membawa lukisan itu, maka begitu pelayan tadi bertemu denganmu dia menjadi begitu gugup.
Mungkin istrimu sudah berpesan agar jangan sampai terlihat olehmu."
Ruan-wei yang berdiri di pinggir diam-diam memuji adik angkatnya yang begitu teliti. Orang lain tidak melihat, tapi dia bisa melihatnya dengan teliti, benar-benar tidak mudah.
"Kau benar-benar pintar, aku tidak pernah memikirkan istriku yang begitu baik kepadaku!"
"Sekarang kau sudah tahu, kau harus baik kepada istrimu!"
Kata Wen-yi sambil tertawa.
"Sudah terlambat! Kami sudah tua, sudah tidak ada perasaan seperti anak muda!"
Begitu membicarakan istrinya, Long-zhang-shen-gai terlihat lebih sedih lagi, maka dengan cepat Ruan-wei bertanya.
"Hubungan antara Tetua dengan adik Tetua begitu baik, ini benar-benar patut dipuji!"
Long-zhang-shen-gai mengangguk.
"Lao Rui hanya mempunyai seorang adik perempuan. Sejak kecil kami tumbuh bersama dan jarang bertengkar. Bukan Lao Rui ingin memuji diri sendiri, hubungan seperti kami benar-benar jarang ada."
"Mengapa dia bisa meninggal?"
Tanya Wen-yi dengan aneh. Dalam hati Long-zhang-shen-gai sangat menyukai Ruan-wei dan Wen-yi, maka dengan sungguh-sungguh dia berkata.
"Sambil berjalan aku akan menceritakannya kepada kalian."
Di dalam hembusan angin malam yang sepoi-sepoi, mereka keluar dari pintu pekarangan. Long-zhang-shen-gai bercerita.
"Adik perempuanku bernama Rui Jing Hua, dia menikah dengan orang yang terkenal di dunia persilatan 'Fei-long-jian ke', Gongsun Qiu-jian...."
"Fei-long-jian ke!"
Teriak Ruan-wei Long-zhang-shen-gai terus mengenang masa lalu, dia tidak menjawab pertanyaan Ruan-wei.
"Fei-long-jian ke adalah pendekar paling terkenal waktu itu, tapi adikku salah karena telah memilihnya...."
"Mengapa?"
Wen-yi tidak mengerti.
"Salah karena adikku kenal dulu dengannya...."
"Itu tidak apa bukan, mengenalnya terlebih dulu bukankah itu lebih baik?"
Tanya Wen-yi.
"Aturan keluarga Rui sangat ketat, perempuan tidak boleh kenal lebih dulu dengan laki-laki, harus dijodohkan baru bisa menikah. Dia tidak mempunyai hak untuk menikah...."
"Kalau begitu benar-benar tidak adil bagi perempuan!"
Teriak Wen-yi Pelan-pelan dia berkata lagi.
"Jika ada aturan seperti itu, aku tidak akan menurutinya!"
"Suatu waktu, dalam rapat keluarga Rui, Gongsun Qiu-jian ikut sebagai tamu, begitu adik-ku melihatnya dia langsung jatuh cinta kepada-nya...."
"Kadang-kadang adikku ke luar kota untuk bertemu dengannya. Lama kelamaan hal ini diketahui oleh orang tua kami...."
Karena teringat pada aturan keluarga Rui yang begitu ketat, maka Wen-yi berteriak.
"Lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Tadinya adikku harus dihukum berat tapi karena ayah dan ibuku mempunyai wibawa tinggi dalam keluarga Rui, maka mereka terus memohon pengurangan hukuman, tapi dia harus segera menikah dengan orang lain...."
Wen-yi sudah tahu kalau adik Long-zhang-shen-gai menikah dengan Gongsun Qiu-jian, tapi dia tetap berteriak karena terkejut.
"Bagaimana dengan Fei-long-jian ke?"
"Adikku bersifat keras, malam itu dia melarikan diri keluar kota ini dan menikah dengan Gongsun Qiu-jian...."
"Baik, itu baik sekali! Aku juga akan ber-buat seperti itu,"
Seru Wen-yi. Ruan-wei menarik tangannya.
"Ada apa denganmu?"
"Apakah kakak mengira adik perempuan Lao Rui yang salah?"
Ruan-wei tersenyum tapi tidak menjawab. Long-zhang-shen-gai berhenti sebentar dan mengangguk.
"Sebenarnya aku juga setuju dengan jalan yang diambil oleh adikku, tapi karena itu membuat ibu dan anak, adik dan kakak seumur hidup tidak bisa bertemu...."
"Mengapa dia tidak pulang untuk menengok kalian? Atau kalian yang pergi ke sana untuk mengunjunginya?"
Tanya Wen-yi.
"Mana berani kami bertemu lagi, seharus-nya mereka berdua dihukum mati tapi karena wibawa ayah maka sesuai aturan keluarga, adikku telah diusir dari keluarga Rui. Karena sudah tidak tercatat sebagai anggota keluarga Rui, maka kami tidak boleh bertemu lagi dengannya. Jika tidak, dosanya adalah menghina nenek moyang."
"Benar-benar tidak masuk akal! Tidak masuk akal...."
Teriak Wen-yi "19 tahun yang lalu, kami baru tahu kalau adikku telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Setelah dipikir-pikir, jika dia tidak menikah dengan Gongsun Qiu-jian, dia tidak akan mati seperti itu...."
Dari kata-katanya terlihat kalau hubungan mereka sangat erat sebagai adik dan kakak.
Mereka bertiga diam tidak bicara.
Ruan-wei dan Wen-yi yang berjalan di belakang terus mengenang almarhum wajah Rui.
oo BAB 100 Tian-mei-jiao menggoda orang Sampai di sebuah lapangan, malam itu bulan bersinar terang karena Tong-qiu hampir tiba, maka lapangan itu begitu terang.
Lapangan telah dipenuhi dengan ratusan orang, usia mereka kebanyakan telah 30 ke atas atau orang tua.
Di tempat terhormat diisi oleh beberapa lelaki yang rambutnya tekah memutih.
Mereka adalah orang yang dihormati oleh keluarga besar Rui.
Kata Long-zhang-shen-gai.
"Semua yang ikut rapat hari ini adalah para kepala keluarga, kalian ikut denganku jangan pergi ke tempat tamu."
Long-zhang-shen-gai duduk di depan, karena dia sudah tua maka dia termasuk sebagai generasi atas.
Ruan-wei dan Wen-yi duduk di sisinya, orang-orang di sekeliling mereka semua-nya telah berambut putih, mereka berdua yang paling muda.
Lapangan sangat ramai, tiba-tiba berdiri seseorang dan berkata.
"Aku adalah pembawa acara, aku akan mengumumkan kalau rapat akan segera dimulai."
Segera suasana lapangan menjadi sunyi, pembawa acara berbadan tinggi dan besar, berwajah kotak, dan terlihat sedikit bodoh.
"Celaka, ternyata Kak Jing-yu yang menjadi pembawa acaranya,"
Keluh Long-zhang-shen-gai.
"Orang tinggi besar itu menjadi pembawa acara bukankah itu sangat baik?"
Sahut Wen-yi.
"Jing-yu selalu tidak akur denganku, hari ini dia menjadi pembawa acaranya, dia pasti akan mengambil kesempatan ini untuk menyerangku,"
Jelas Long-zhang-shen-gai.
"Silakan Fu-ye mengumumkan aturan-aturan keluarga Rui,"
Ucap pembawa acara Jing-yu. Terlihat seorang biksu tua berbaju putih berdiri, dia berjalan ke tangah lapangan, dia membuka sebuah kartu emas, dengan penuh semangat memuji.
"Aturan keluarga Rui yang kesatu, kalau perempuan bukan saudara atau teman lama, dilarang masuk kampung ini, aturan kedua...."
Jumlah aturan keluarga Rui ada 13, salah satunya berbunyi.
"Tidak boleh menjadi pejabat! Tidak boleh menjadi orang terkenal! 50 tahun harus menjadi pengemis, 70 tahun harus menjadi biksu, dan lain-lain."
Setelah biksu tua itu selesai membacakan peraturan keluarga Rui, kemudian dia mengumumkan tentang perdagangan dengan pihak luar, dan membereskan masalah lainnya. Tiba-tiba Jing-yu berteriak.
"Kita mulai, selama satu tahun ini siapa yang telah melanggar peraturan keluarga?"
Segera suasana menjadi ramai, tapi tidak ada seorang pun yang berdiri untuk mencari kesalahan orang lain. Tiba-tiba Jing-yu berdiri dan berkata.
"Aku ingin mengungkapkan kesalahan seseorang, harap Fu-ye dengan jelas memberikan keputusan."
Dalam rapat keluarga ini, perkataan seorang pembawa acara paling didengar, segera orang yang berada di lapangan terdiam. Mereka ingin tahu siapa yang akan ditunjuk kesalahannya.
"Kau ingin menunjuk kesalahan siapa? Coba sebutkan namanya dulu!"
Jing-yu berteriak.
"Nama yang akan kutunjuk adalah Kakak Jing-yuan."
Waktu itu juga terdengar suara ribut-ribut, karena pada rapat hari ini kecuali Fu-ye, generasi yang paling tinggi adalah generasi Jing, yang biasanya selalu berbuat kesalahan adalah generasi bawah.
Tahun ini giliran generasi tinggi yang membuat kesalahan, ini pertama kalinya terjadi.
Dengan serius biksu tua itu berkata.
"Coba kau perjelas buktinya!"
Jing-yu berkata.
"Aturan-aturan keluarga Rui yang telah berlaku selama ratusan tahun ini jarang ada atau bahkan dikatakan tidak ada yang berani melanggarnya, kalau generasi muda melanggar peraturan, kami akan memaafkan mereka, karena mereka masih muda. Tapi kalau generasi tua yang melanggar, ini benar-benar memalukan keluarga Rui!"
Begitu melihat semua orang tertarik dengan perkataannya, Jing-yu terlihat lebih bersemangat.
"Aturan keluarga Rui yang ketiga berisi apa?"
"Tidak boleh membuat nama sendiri terkenal,"
Jawab Long-zhang-shen-gai "Kalau terkenal, bukankah itu akan membuat nenek moyang menjadi bangga? Mengapa tidak diijinkan?"
Kata Wen-yi tertawa. Terdengar lagi Jing-yu dengan suara keras berteriak.
"Kakak Jing-yuan sudah 13 tahun mengemis, di dunia persilatan dia telah mendapat nama, dia disebut sebagau salah satu dari Lima Qi (5 orang aneh)...Long-zhang-shen-gai. Bukankah semua ini telah melanggar peraturan keluarga Rui yang ketiga?"
"Apakah orang yang dimaksud olehnya adalah Lao Rui?"
Wen-yi bertanya dengan aneh.
"Aku sudah tahu kalau hari ini akan menjadi bulan-bulanan seseorang,"
Keluh Long-zhangshen-gai.
Semua orang menjadi ribut, karena pertama kalinya orang-orang Rui mendengar Jing-yuan dijuluki Long-zhang-shen-gai.
Jing-yu melambaikan tangan untuk menghentikan suara ribut dan berkata.
"Long-xing-ba-zhang yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang, saat berada di tangan Jing-yuan tidak disangka ilmu ini bisa membuatnya terkenal di dunia persilatan, menurut kalian apakah ini salah atau benar?"
Dia mengira dia akan mendapatkan sambutan rarnai dari para hadirin, dan dia akan menjatuhkan kesalahan kepada Jing-yuan dan akan diberi hukuman.
Tapi keadaan malah sepi, tidak ada seorang pun yang menyahut, ternyata ingin terkenal adalah penyakit semua orang.
Walaupun di keluarga Rui banyak pesilat tangguh, tapi mereka tidak terkenal.
Hari ini ada keluarga Rui yang bisa terkenal dan dijuluki 'lima orang aneh dunia persilatan' semua keluarga Rui menjadi bangga karenanya.
Jing-yu sudah tidak sabar, sekali lagi dia bertanya.
"Menurut kalian, apa dia harus diberi hukuman?"
Di sekeliling tetap tidak ada suara dan tidak ada seorang pun yang setuju dengan pendapatnya. Wajah Jing-yu menjadi merah. Biksu tua itu dengan lantang bertanya kepada Jing-yu.
"Apakah keponakan Yu hafal dengan aturan keluarga Rui yang ke-13?"
Karena Fu-ye telah bersuara maka suasana lapangan segera hening kembali.
"Aku tidak berani bicara kalau tidak ada bukti tapi menyalahkan orang kalau tidak terbukti, aku terima hukuman keluarga Rui,"
Kata Jing-yu.
"Baiklah, katakan!"
Biksu tua itu menarik nafas. Jing-yu membentak Long-zhang-shen-gai.
"Kakak Jing-yuan, apa aturan keluarga Rui yang pertama?"
Pembawa acara bertanya, Long-zhang-shen-gai berdiri dengan sikap hormat dan menjawab.
"Aturan keluarga Rui yang pertama, perempuan kalau bukan saudara atau teman akrab, tidak diijinkan masuk kampung ini."
"Maksudnya kampung ini adalah kampung apa?"
Jing-yu bertanya.
"Maksud kampung di sini adalah kampung Rui!"
Dengan hormat Long-zhang-shen-gai menjawab.
"Kakak Jing-yuan mengetahui aturan ini, tapi mengapa masih membawa perempuan asing masuk kampung ini?"
"Siapa yang dimaksud oleh pembawa acara?"
Long-zhang-shen-gai mulai marah. Sambil menunjuk Wen-yi, Jing-yu Membentak.
"Dia! Wen-yi sama sekali tidak merasa gugup, walaupun saat itu semua mata melihatnya. Jing-yu merasa kakinya gemetar, tangannyapun telah berkeringat dingin. Ternyata Jing-yu mengatakan kalau Wen-yi adalah perempuan, karena dia terburu-buru melihat Wen-yi seperti perempuan, dia segera melontarkan pendapatnya. Demi menjatuhkan wibawa Long-zhang-shen-gai di depan keluarga Rui, dia telah melanggar peraturan ketiga keluarga Rui yaitu . menghina orang untuk mencapai tujuan. Melihat sikap Wen-yi begitu tenang, Long-zhang-shen-gai menjadi sedikit tenang, dia tertawa.
"Kalau pembawa acara selalu ingin menunjuk kesalahanku, lebih baik mengatakan, 'Akulah perempuan.' untuk apa menyalahkan orang lain dan merusak nama keluarga Rui?"
Melihat Wen-yi begitu tenang, dahi Jing-yu mulai menetes keringat, diam-diam berpikir, 'Mati aku!
Di dunia ini banyak laki-laki tampan seperti perempuan, mengapa aku bisa sembarangan bicara?
Aku benar-benar pantas mati!
Pantas mati!' Dengan serius biksu tua itu berkata.
"Keponakan Yu, apa yang ingin kau sampaikan, katakanlah, karena aku akan menjatuhkan hukuman!"
Karena terburu-buru, Jing-yu berkata.
"Kalau kalian tidak percaya, suruh bocah itu untuk membuka celananya, dan kita bisa melihat apakah dia laki-laki atau perempuan!"
Karena tergesa-gesa, dia tidak menutupi kata-katanya lagi, tapi kata-kata ini membuat wajah Wen-yi menjadi merah. Ruan-wei mulai marah.
"Kau benar-benar bukan seorang tetua yang pantas dihormati, mana boleh sembarangan menyuruh orang membuka celana?"
Mata Jing-yu memang jeli, dia melihat wajah Wen-yi menjadi merah, maka sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata.
"Kalau dia tidak berani di depan para lelaki membuka celana, dia pasti seorang perempuan!"
Wen-yi malah berkata.
"Kalau aku perempuan memangnya kenapa? Apakah perempuan tidak boleh menjadi tamu keluarga Rui?"
Kata-kata ini telah terucap, berarti dia mengaku kalau dia adalah perempuan, maka orang-orang bermarga Rui pun bergejolak, suara mereka seperti guntur.
Diam-diam Long-zhang-shen-gai menyalahkan dirinya sendiri.
"Benar-benar ceroboh! Mengapa Lao Rui sampai tidak melihatnya?"
Ruan-wei pun tampak kebingungan, dia duduk terpaku, Jing-yu dengan senang tertawa.
"Sejak dulu sampai saat ini di keluarga Rui kecuali perempuan yang terpilih untuk dijadikan istri, perempuan yang bukan saudara atau teman karib, dilarang masuk kampung ini, ini semua karena keturunan marga Rui takut akan berbuat macam-macam, maka kecuali laki-laki yang ditunjuk untuk keluar berdagang, lelaki bermarga Rui lainnya tidak diijinkan keluar kota, semua ini demi menjaga supaya mereka tidak bercampur dengan perempuan-perempuan bermarga lain!"
Dia tertawa terbahak-bahak dan dengan tenang berkata.
"Tidak disangka, Kakak Jing-yuan membawa perempuan bermarga lain masuk kota Rui, apa hukumannya?"
Ruan-wei berdiri dan berkata dengan tegas.
"Kakak, kita di sini tidak disambut dengan baik, lebih baik kami pergi!"
Wen-yi segera berdiri mengikuti Ruan-wei baru beberapa langkah dia mengomel.
"Mengapa perempuan tidak boleh menjadi tamu di sini?"
Jing-yu lari menghadang mereka, dengan marah berkata.
"Begitu gampangkah kau keluar dari sini? Dari dulu sampai sekarang tidak ada perempuan yang bukan saudara masuk kampung ini, kami akan menyambut dengan baik tamu laki-laki, tidak menyambut tamu perempuan, kalian berdua duduk kembali untuk bersiap menerima hukuman!"
Long-zhang-shen-gai mendekati mereka.
"Ini semua adalah kesalahanku, aku yang sudah buta, aku rela dihukum, mereka tidak bersalah, lepaskan mereka!"
Jing-yu tertawa dingin.
"Aturan nenek moyang tidak boleh dilanggar, kecuali kalau perempuan itu mau menikah dengan salah satu dari laki-laki keluarga Rui, kalau tidak, ha, ha, ha...."
"Kalau tidak bagaimana?"
Wen-yi marah.
"Kalau tidak wajahmu akan dirusak dengan pisau, supaya kelak tidak akan datang lagi untuk menggoda laki-laki keluarga Rui!"
Wen-yi benar-benar ketakutan, tapi Ruan-wei sudah menjaga di depannya, dia seperti siap bertarung, kalau ada orang yang mencoba menyerang mereka, dia akan melawannya.
"Hei, perempuan! Apakah kau mau menikah dengan putra keluarga Rui?"
Bentak Jing-yu "Aturan mana yang memaksa orang menikah? Aku tidak setuju?"
Jawab Wen-yi marah Jing-yu berkata pada biksu tua itu.
"Fu-ye, aku akan mulai bertindak!"
Biksu tua itu menghela nafas dan berteriak.
"Keponakan Yuan, kemarilah!"
Dia menyuruh Long-zhang-shen-gai mendekatinya dengan maksud jangan menghalangi Jing-yu bertindak, ternyata biksu tua itu tidak berani melanggar peraturan keluarga Rui dan dia membiarkan Jing-yu melakukan kejahatan.
Dari balik dadanya Jing-yu mengeluarkan sebuah belati kecil, selangkah demi selangkah dia mendekati Wen-yi.
Long-zhang-shen-gai tidak berani membantah perintah Fu-ye, tapi dia juga tidak mau kehilangan hati membela keadilan dan membiarkan teman yang dibawanya mengalami sesuatu, dia berada di posisi maju tak bisa mundur pun tak mungkin.
Tiba-tiba terdengar tawa seorang perempuan, yang membuat semua orang terkejut, di sebelah sana datang puluhan gadis berbaju seksi.
Udara di bulan 8 yang dingin, tapi para perempuan itu mengenakan baju tipis, lekukan tubuh mereka terlihat jelas.
Orang yang melihat mereka pasti akan merasa kaget.
Para perempuan itu walaupun berbaju sangat tipis tapi mereka tidak tampak merasa kedinginan.
18 orang perempuan cantik dan belia berjalan ke tengah-tengah lapang, mereka berdiri menjadi dua baris, dari tengah dengan pelan muncul seorang perempuan berbaju merah muda dengan rambut digelung.
Rambutnya dipenuhi dengan hiasan, dia seorang perempuan cantik dan tampak menggairahkan.
Begitu dia berjalan ke depan, dia memberi hormat lalu berkata dengan manja.
"Aku adalah ketua Tian-mei-jiao, namaku adalah Dewi Wan-miao."
Dan dia memberi hormat.
Orang yang ada di sekeliling berdiri, tadinya mereka mengira kalau perempuan itu adalah putri dari keluarga Rui.
Mungkin tahun sekarang acara rapat ada sesuatu yang berbeda, di tengah acara mereka diberi hiburan.
Ternyata mereka adalah para perempuan dari marga lain.
Kampung Rui tidak pernah kedatangan perempuan marga lain, tidak disangka orang pertama yang mengetahuinya adalah pembawa acara, tentu saja itu sudah membuat kaget orang-orang di sana, sekarang sekaligus datang 19 orang perempuan, hal ini benar-benar belum pernah terjadi.
Putra-putra marga Rui yang ada di lapangan, kebanyakan sudah menikah, mereka belum pernah keluar dari kota Rui, sekarang begitu melihat ada perempuan yang datang dari luar begitu seksi, mereka bengong melihatnya.
Biksu tua melihat pembawa acara, dia ingin tahu apa yang akan dikatakan Jing-yu atas masalah ini, pisau kecil yang dipegang Jing-yu terjatuh.
Dia bengong melihat kejadian yang terjadi di depan matanya.
Pada kesempatan ini Long-zhang-shen-gai membawa Wen-yi dan Ruan-wei duduk di pinggir, dia bersiap-siap kalau ada kesempatan mengantar mereka keluar dari kota ini.
Tidak ada yang keluar untuk menyapa Miao-xian-nu, dia tertawa.
"Aku dengar kampung Rui sangat hebat, tapi sekarang setelah tiba di sini, ternyata tidak ada yang keluar untuk menyapa kami, benar-benar membuat aku kecewa."
Dia tidak tahu kalau keluarga Rui sangat menganggap penting aturan-aturan keluarga. Walaupun semua merasa kaget tapi kalau pembawa acara tidak bicara, yang lain tidak akan berani bertanya.
"Mungkin kalian sudah merasa lelah karena mengikuti rapat. Kami akan menyumbangkan sebuah tarian untuk membuat kalian bersemangat."
Dewi Wan-miao tertawa manja Dia bertepuk tangan, lalu 18 perempuan itu mulai menari.
Semua perempuan marga Rui adalah perempuan baik-baik.
Orang-orang yang ada di lapangan tidak pernah melihat ada tarian yang begitu menggoda, semakin mereka menari tarian mereka semakin menggoda.
Maka dalam waktu seperminuman teh, hampir seluruh orang-orang di sana tenggelam dalam tarian mereka.
Dalam tarian menggoda ini tiba-tiba terdengar teriakan seperti naga menjerit, segera mereka tersadar.
Tapi 18 gadis yang menari segera berhenti menari dan mereka jatuh terduduk di bawah.
Dewi Wan-miao terkejut, dengan kaget mereka melihat biksu tua, dan berpikir.
"Sungguh hebat ilmu keluarga Rui, raungan tadi dalam agama Budha tidak akan sampai melukai orang tapi bisa membuat murid-muridku terluka. Ilmu ini sangat cocok digunakan. Teknik ini di dunia ini tiada duanya."
Dia berputar dengan ringan, menepuk nadi 18 gadis yang tergetar oleh raungan tadi. Jing-yu segera membentak.
"Hayo pergi dari sini! Apa kalian cari mati!"
Mata genit Dewi Wan-miao berputar, dia melihat Ruan-wei dan Wen-yi, kemudian hatinya bergetar, pelan-pelan dia mendekat. Begitu sampai lima meter di depan Wen-yi, dia tertawa.
"Kurasa kita pernah bertemu."
Long-zhang-shen-gai mengira perempuan ini mengenal Wen-yi, maka dia menoleh.
"Apakah kalian berdua tidak mengenaliku?"
Ruan-wei dan Wen-yi tampak kebingungan, sewaktu mereka akan bertanya, tangan Dewi Wanmiao yang sedang membereskan rambut telah diturunkan dan jarinya telah menyentil.
Begitu tercium Long-zhang-shen-gai, dia berteriak.
"Mi-hun-den!" (obat bius). Karena kepalanya pusing, reaksinya jadi kurang cepat, Dewi Wan-miao dengan kedua tangannya telah menggendong Ruan-wei dan Wen-yi, dia meloncat dan kembali ke tengah lapang. Begitu Long-zhang-shen-gai tersadar, dia melihat 18 gadis muda telah mengelilingi Dewi Wanmiao dan dia tidak bisa berbuat banyak. Dewi Wan-miao tertawa.
"Tadi Tian-mei-jiao telah menyumbang tarian, kami menyampaikan rasa hormat kepada keluarga Rui. Sekarang kami pamit pergi."
Dia mulai tahu kehebatan ilmu keluarga Rui yang sangat lihai.
Dia tidak berani tinggal lebih lama di sana dan ingin segera meninggalkan tempat ini.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba biksu tua itu berkata.
"Dasar Jing-yu tidak berguna, sekarang semua tangkap dewi itu!"
Orang-orang yang berada di lapangan adalah para tetua yang berilmu tinggi, begitu mendengar perintah Fu-ye, mereka segera menghalangi jalan mundur Tian-mei-jiao.
Dewi Wan-miao membentak, dia yang pertama keluar, ilmu silatnya memang tinggi, tapi tangannya sedang membawa dua orang, membuatnya tidak leluasa bertarung.
18 anak buahnya tidak memiliki ilmu silat setinggi dia, dalam sekejap 13 anak buahnya telah tertangkap.
Long-zhang-shen-gai ikut dalam pertarungan, terlihat dia bertarung dengan Dewi Wan-miao, tapi sebenarnya dia sedang menghadang orang-orang bermarga Rui menyerang ke depan.
Tiba-tiba Dewi Wan-miao mendengar ada suara seperti nyamuk berkata.
"Cepat pergi, nanti tidak akan keburu!"
Dengan pandangan aneh Dewi Wan-miao melihat Long-zhang-shen-gai dia tidak mengerti mengapa Long-zhang-shen-gai menolongnya, sebenarnya Long-zhang-shen-gai meminjam tangannya untuk menolong Ruan-wei dan Wen-yi.
Ilmu silat Dewi Wan-miao sangat tinggi, dia bisa melarikan diri dengan membawa lima orang anak buahnya, Ruan-wei, serta Wen-yi.
Begitu para marga Rui mengejar mereka sampai ke pintu kampung, para penjaga telah pingsan terkena obat bius, pantas mereka dengan mudah masuk kota ini.
Karena harus menuruti peraturan keluarga Rui walaupun melihat Dewi Wan-miao membawa Ruan-wei dan Wen-yi pergi, mereka tetap tidak berani meninggalkan kampung Rui.
Setelah lama Ruan-wei baru tersadar tapi dia merasa tubuhnya tidak bertenaga.
Begitu melihat sekeliling, yang dilihatnya hanyalah warna merah muda.
Di kamar ini dihias dengan mewah dan indah, seperti kamar seorang gadis kaya.
Di luar terdengar teriakan Wen-yi.
Begitu mendengar suara teriakan Wen-yi, hati Ruan-wei cemas.
Dia berpikir, 'Dia adalah seorang perempuan, mana boleh jatuh ke dalam situasi berbahaya!' Dia membentak, tidak disangka dia bisa berdiri.
--BAB 101 Melanggar aturan mengajar ilmu telapak Obat bius Mi-hun adalah obat terkuat di Tian-mei jiao, sangat terkenal di dunia persilatan, beberapa kali lipat lebih hebat dibandingkan obat bius biasa.
Tapi karena Ruan-wei menguasai ilmu yoga yang sakti, sekalipun Mi-hun begitu lihai tapi sesudah mengatur nafas untuk membuang pengaruh obat tersebut, perasaan lemas dan lesu segera menghilang.
Dia berdiri, meninggalkan tempat tidur dan keluar dari kamar, Terlihat kamar menyatu dan terus menyambung, Teriakan Wen-yi berasal dari kamar terakhir.
Ketika Wen-yi sadar, dia merasa lemas dan tidak bertenaga, tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Tiba-tiba tercium olehnya wewangian, masuklah empat perempuan berpakaian tipis.
Sambil tertawa mereka mulai membuka baju Wen-yi.
Wen-yi masih perawan, tidak mungkin dia mengijinkan orang lain membuka pakaiannya, tapi dia belum pernah mempelajari ilmu yoga, obat Mi-hun membuat dia kehilangan tenaga dan kepandaiannya untuk melawan, dia hanya bisa berteriak meminta tolong.
Keempat perempuan itu tahu kalau dia tidak bisa bergerak.
Walaupun Wen-yi berteriak, mereka tetap memaksa untuk membuka pakaiannya.
Pakaian pendek telah dibuka, terakhir celana dan baju dalam perempuan.
Kempat perempuan itu melihat Wen-yi mengenakan baju dalam perempuan, mereka terkejut.
Waktu itu terdengar suara yang membentak keras.
"Hentikan!"
Mata Ruan-wei mengeluarkan cahaya yang membuat orang takut. Dia membentak.
"Kalian keluar!"
Begitu keempat perempuan itu melihat ada orang yang datang, dan orang itu adalah Ruan-wei, 8 mata terus melihat Ruan-wei.
Wajah mereka terlihat bingung.
Seorang perempuan dengan perawakan tinggi tertawa.
"Anak muda, kau menyuruh kami keluar untuk apa?"
"Apa yang kalian melakukan pada adikku?"
Jawab Ruan-wei dengan marah Perempuan itu menunjuk ranjang yang empuk dan berkata.
"Adik laki-lakimu sedang tertidur di sana!"
"Adik, apa yang kau rasakan?"
Tanya Ruan-wei cemas Tirai berlapis-lapis, tapi tidak ada yang menjawab.
Tiba-tiba terdengar ada yang sedang menangis.
Ruan-wei mengira Wen-yi telah diperkosa, dalam keterkejutannya, kedua telapaknya sudah menyerang.
Empat perempuan itu tahu kalau mereka tidak akan bisa mengalahkan Ruanwei, maka mereka dengan cepat menyingkir ke pinggir.
Ruan-wei ingin segera mengetahui apa yang terjadi dengan Wen-yi, maka dia cepat-cepat masuk.
Terdengar perempuan tinggi itu sambil tertawa berkata.
"Jika kau tergesa-gesa masuk, adik laki-lakimu akan menangis lebih sedih lagi!"
Ruan-wei benar-benar marah.
"Kalian sudah melakukan apa kepadanya?"
Tiba-tiba terdengar suara Wen-yi yang lemah.
"Kakak, beri tamparan kepada mereka!"
Ruan-wei bergerak, empat kali suara PAK terdengar jelas.
Empat perempuan itu masing-masing terkena sebuah pukulan ringan dari Ruan-wei.
dia tidak ingin memukul mereka dengan keras tapi itu sudah membuat sebagian wajah mereka menjadi merah.
Empat perempuan ini pernah mengikuti Dewi Wan-miao ke kampung Rui, mereka pernah merasakan pukulan dari ilmu keluarga Rui, dari 18 orang yang ada hanya tersisa 5 orang.
Sekarang melihat Ruan-wei mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, mereka mengira Ruan-wei orang bermarga Rui, maka mereka tidak berani membalas, hanya dengan ketakutan mereka keluar dari kamar.
Pelan-pelan Ruan-wei mendekati tempat tidur, sambil bertanya.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Dengan cemas Wen-yi berkata.
"Jangan kemari...."
Kata Wen-yi cemas Ruan-wei berhenti melangkah, melihat tirai tipis yang berlapis-lapis dia bertanya.
"Apakah kau bisa berdiri?"
"Aku tidak bisa bergerak."
"Kalau aku tidak ke sana, bagaimana aku bisa membawamu meninggalkan tempat ini?"
Setelah lama Wen-yi baru berkata sambil.
"Baiklah, kakak, kemarilah!"
Ruan-wei membuka tirai berlapis-lapis itu, dia segera melihat tubuh putih mulus setengah telanjang yang sedang berbaring di atas ranjang.
Walaupun belum sampai telanjang bulat tapi karena Ruan-wei sudah tahu dia adalah perempuan, maka Wen-yi menangis lebih keras lagi karena malu.
Dengan terkejut Ruan-wei berkata.
"Adik Yi... Adik Yi... Adik Yi...."
Wen-yi masih terus menangis, Ruan-wei menenangkan dirinya dan bertanya.
"Di mana lukamu?"
"Aku... aku... tubuhku lemas...."
Wen-yi memberi tahu Ruan-wei sambil menangis.
"Sudahlah, jangan bersedih lagi, nanti kakak akan membalas penghinaan ini!"
Wen-yi berhenti menangis, dengan malu-malu dia memohon.
"Cepat bantu aku mengenakan pakaian!"
Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdebardebar, tangan Ruan-wei yang gemetar mengenai tubuh Wen-yi yang putih dan mulus.
Walaupun sudah bersusah payah tapi tetap tidak bisa memasukkan baju ke tubuh Wen-yi.
"Ka... kak.. kenapa...."
Tanya Wen-yi malu Karena ditanya Wen-yi, hati Ruan-wei lebih kacau lagi.
Dada Wen-yi yang montok terbungkus kain sutra berwarna merah muda.
Kain ini dengan kencang membungkus dadanya yang montok.
Ruan-wei terpaku.
Dalam hati ber-pikir, 'Ternyata Adik Yi benar-benar seorang perempuan.' Wen-yi yang dilihat terus oleh Ruan-wei, dia tidak marah, malah merasakan ada perasaan manis.
Dengan susah payah Ruan-wei selesai membantu Wen-yi mengenakan pakaiannya.
Karena Wen-yi tidak bisa bergerak, terpaksa Ruan-wei menggendongnya.
Wen-yi yang berada di dalam pelukan Ruan-wei, tampak dengan jelas masih ada sisa air mata di wajahnya.
Mereka saling berpandangan dan saling mengerti apa yang harus mereka ucapkan.
Baru berjalan beberapa langkah, Dewi Wan-miao menghadang di depan pintu.
"Kami tidak mempunyai dendam dengan perkumpulan kalian, mengapa dengan cara begitu rendah kalian membius kami berdua?"
Dewi Wan-miao tertawa genit.
"Kalian berdua berjodoh denganku, maka bisa sampai di sini, jika tidak, orang yang ingin datang kemari juga tidak akan diijinkan!"
"Apa untungnya datang ke sini? ayo minggir, biarkan kami pergi!"
Dewi Wan-miao menggoyangkan pinggangnya yang ramping kemudian tertawa.
"Keuntungan tinggal di sini sangat banyak, tinggallah beberapa hari di sini dan kau akan tahu, untuk apa cepat-cepat meninggalkan tempat ini?"
"Jika kau tidak minggir, jangan salahkan aku bertindak tidak sopan,"
Ruan-wei marah.
"kau benar-benar tidak tahu malu, seorang perempuan berpakaian seperti itu masih berani berdiri di depan lak-laki."
Dewi Wan-miao hanya memakai baju dalam, di luar hanya ditutup dengan sehelai kain tipis dan tembus pandang, benar-benar terlihat cabul.
"Apakah kau seorang laki-laki?"
Wajah Wen-yi menjadi merah. Ruan-wei marah.
"Apakah kau tidak mau minggir?"
"Jika kau mampu menggendong laki-laki palsu itu keluar dari sini, lakukanlah!"
Dengan cepat Ruan-wei berlari ke kiri tapi Dewi Wan-miao menggoyang pinggangnya seperti ular, dua telapaknya sudah menyerang.
Kaki Ruan-wei berputar, dia bisa menghindari telapak yang membawa angin kencang itu.
Dengan ringan dia menghindar ke kanan.
"Ilmu meringankan tubuh yang hebat!"
Dewi Wan-miao berseru.
Telapaknya berubah, kedua telapaknya berganti menjadi cakar.
Dia mencoba mencengkram Ruan-wei.
Tapi perubahan jurus Ruan-wei yang terjadi sangat cepat, gerakan tubuhnya pun ikut berubah.
'Bai-bian-gui-ying' segera dikeluarkan, dia terus berjalan mendekati Dewi Wan-miao dan berusaha meloncat keluar melalui atas kepalanya.
Karena terkejut Dewi Wan-miao tidak sempat menghadang, kedua tangannya terus bergerak mencengkram, angin telapak keluar bercampur dengan 'Mi-hun-fen' (tepung obat bius).
Ruan-wei mencoba menahan nafas tapi terlambat, sambil menggendong Wen-yi, dia pingsan dan roboh.
Dewi Wan-miao berpesan kepada perempuan tinggi.
"Jie-hua, ambilkan obat 'Po-hun-yin-yang-he-he-san'!" (Bubuk campuran memecahkan roh Yinyang). Jie-hua terkejut.
"Apakah perlu memakai obat itu?"
Obat Po-hun-yin-yang-he-he-san adalah obat paling lihai di antara obat-obatan Tian-mei jiao. Setelah memakan obat itu, jika Yin dan Yang tidak menyatu, dia akan kekeringan sampai mati.
"Ilmu silat kedua orang ini sangat tinggi, jika tidak menggunakan obat ini, mereka tidak akan tunduk kepadaku. Cepat bawa kemari!"
Perintah Dewi Wan-miao.
Tidak lama kemudian Jie-hua membawa kotak yang terbuat dari kayu.
Dewi Wan-miao mengeluarkan sebungkus obat yang dibungkus oleh kain sutra merah dari dalam kotak.
Dia berpesan kepada dua perempuan tadi.
"Berikan kepada mereka!"
Dewi Wan-miao sangat menyayangi Jie-hua, maka Jie-hua memberi tahu.
"Laki-laki yang lebih pendek itu adalah perempuan, apa gunanya ketua memberikan obat 'Pohu n-yin-yang-he-he-san' ?"
"Tadi dia telah berbuat tidak sopan kepadaku aku ingin melampiaskan kekesalanku!"
Sahut Dewi Wan-miao.
Dua perempuan itu menyiapkan 2 cangkir air putih.
Tangan mereka memegang Po-hun-yin-yang-he-he-san dan mendekati ranjang, mereka siap memberikan obat itu kepada Ruan-wei dan Wen-yi.
Jie-hua menarik nafas panjang, dia tidak menarik nafas karena kasihan kepada Ruan-wei, melainkan untuk Wen-yi.
Bila Ruan-wei yang meminum obat ini, dia pasti akan bersetubuh dengan ketua karena ketua adalah perempuan cabul dan bernafsu birahi tinggi.
Tapi setelah Wen-yi meminum obat ini, dia akan kehausan selama tiga hari kemudian mati begitu saja.
Waktu itu, seorang perempuan datang melapor kepada Dewi Wan-miao.
"Ketua, di luar ada seorang pengemis tua bermarga Rui menunggu Anda. Sepertinya ada hal penting."
Alis Dewi Wan-miao berkerut, dia berpesan.
"Bawa dia ke kamar sebelah dan suruh dia menungguku."
Setelah perempuan itu pergi, Dewi Wan-miao berpesan kepada Jie-hua.
"Jaga kedua anak ini, aku akan berdandan dulu sebentar."
Ruan-wei mulai sadar karena sebelum pingsan dia telah menahan nafas membuat racun keluar dari tubuhnya.
Ilmu yoganya memang sangat hebat, walaupun dalam keadaan tidur, begitu ada yang menyerang, ilmu yoga ini akan bergerak secara otomatis.
Kedua perempuan itu akan memberi obat pada Wen-yin dan Ruan-wei, tapi Jie-hua berpesan.
"Tidak perlu buru-buru, begitu ketua kembali, kalian baru beri obat Po-hun-yin-yang-he-he-san kepada mereka."
Kata-kata Jie-hua ini malah membuat Ruan-wei dan Wen-yi tertolong.
Ruan-wei sudah sadar tapi tenaganya belum ada, pelan-pelan dia mengatur nafas untuk menjalankan ilmu yoga dan memulihkan kembali tubuhnya.
Pak tua bermarga Rui yang berkunjung adalah Jing-yu, dia disambut oleh perempuanperempuan itu dan dipersilakan menunggu di kamar Ruan-wei.
Dia menanti dengan cemas.
Dewi Wan-miao telah mengganti baju tipisnya yang tembus pandang berwarna merah muda dengan baju lain, dari tubuhnya keluar wewangian yang menggoda, rambutnya digelung.
Begitu melihat Jing-yu, dengan manja dia bertanya.
"Apakah buku rahasia Long-xing-ba-zhang, sudah kau bawa?"
Melihat tubuh Dewi Wan-miao yang merangsang dan menggoda, Jing-yu menelan air liurnya, dia mengeluh.
"Kau telah merusak rencanaku!"
Mata genit Dewi Wan-miao berputar.
"Merusak rencana apa? Jika hari ini kau tidak menyerahkan buku Long-xing-ba-zhang, aku tidak akan memaafkanmu!"
Tapi Jing-yu sudah tidak tahan dengan godaan Dewi Wan-miao. Dia berniat memeluk tapi Dewi Wan-miao menghindar sambil tertawa.
"Mengapa terburu-buru? Serahkan dulu buku rahasia itu kepadaku."
Karena tidak berhasil memeluk Dewi Wan-miao maka Jing-yu hanya bisa tertawa kecut.
"Kau sudah tahu kalau ilmu Long-xing-ba-zhang adalah ilmu rahasia keluarga Rui, mana bisa kudapatkan dengan mudah?"
Wajah Dewi Wan-miao berubah, dengan ekspresi dingin dia berkata.
"Betul, kalau tidak sulit masa Tian-mei jiao meminta bantuanmu."
"Jangan marah, aku hanya mengatakan tidak mudah mendapatkannya bukan berarti aku tidak bisa membantu perkumpulan kalian mendapatkan buku ini."
Dia berhenti sejenak lalu mengeluh lagi.
"Ilmu Long-xing-ba-zhang hanya diturunkan kepada satu orang. Dalam keluarga Rui, dari generasi Jing hanya Kak Jing-yuan yang belajar ilmu Long-xing-ba-zhang. Jika kita ingin mendapatkan ilmu ini, satu-satunya cara adalah dari Kakak Jing-yuan."
Dewi Wan-miao tertawa.
"Apa kau ingin mendapat ilmu Long-xing-ba-zhang dari Long-zhang-shen-gai? bukan hal yang mudah. Aku kira lebih baik kau cari cara lain."
"Long-xing-ba-zhang dalam keluarga Rui hanya Kak Jing-yuan yang menguasai, kecuali dia tidak ada yang bisa ilmu ini."
"Jika Long-zhang-shen-gai mati, bukankah ilmu dahsyat ini pun akan musnah?"
Dewi Wan-miao berkata dengan terkejut.
"Karena ilmu ini adalah ilmu warisan secara turun-temurun, nenek moyang kami takut keturunannya bila sudah menguasai ilmu ini akan melakukan kejahatan, maka diputuskan dalam keluarga Rui hanya satu orang yang masih hidup yang boleh menguasai ilmu ini dan tidak diturunkan kepada orang kedua."
"Ilmu dahsyat ini mengapa bisa terjaga dalam keluarga Rui sampai ratusan tahun?"
Dewi Wan miao dengan aneh bertanya.
"Nenek moyang kami menentukan setelah yang tua meninggal, yang muda baru diperbolehkan mempelajarinya, berarti setelah Jing-yuan mati, generasi selanjutnya hanya ada satu orang yang beruntung yang bisa menguasai ilmu ini."
Dewi Wan-miao tidak percaya.
"Di dunia ini hanya Long-zhang-shen gai yang menguasai Longxing-ba-zhang. Jika dia mati berarti ilmu ini akan musnah, generasi seterusnya mana mungkin bisa mempelajarinya? Kau jangan bohong, kau pernah mencoba manisnya Tian inci jiao, apakah kau ingin mengingkari janjimu?"
Wajah Jing-yu terlihat sedih.
"Apakah kau masih tidak tahu isi hatiku. Semenjak kenal denganmu, aku telah menjadi seorang pendosa bagi keluarga Rui, kau masih mengatakan kalau aku tidak berusaha?"
Dewi Wan-miao tertawa genit.
"Semua ini kau yang menginginkannya, jangan menyalahkanku!"
Dia terus tertawa, tampak dia sangat senang, sedang Jing-yu tertawa kecut. Dewi Wan-miao dengan genit berkata lagi.
"cepat beritahu padaku, dengan cara apa aku bisa mendapatkan ilmu Long-xing-ba-zhang? Aku akan memberimu hadiah...."
Jing-yu mulai bersemangat.
"Setelah Kak Jing-yuan mati, ilmu ini tidak akan musnah karena buku rahasia Long-xing-ba zhang masih tersimpan di kampung Rui, tepatnya dii kuil 'Ling-yin'. Kuil ini dijaga oleh Fu-ye bermarga Huang...."
Dewi Wan-miao tertawa.
"Aku mengerti jika Long-zhang-shen-gai mati, keluarga Rui akan memilih seseorang untuk belajar ilmu ini dan Fu-ye dari keluarga Rui yang akan mengajarinya."
"Bukan begitu, Fu-ye bermarga Huang sendiri tidak bisa ilmu Long-xing-ba-zhang, lebih-lebih tidak berani mempelajarinya secara diam-diam. Jika Kak Jing-yuan mati, buku ini akan diserahkan Fu-ye kepada orang terpilih dan diawasi oleh Fu-ye selama 3 bulan, lalu buku itu akan ditarik kembali. Seberapa banyak ilmu yang bisa dikuasainya, itu tergantung bakat dari orang yang terpilih."
Dewi Wan-miao sudah tidak sabar.
"Lebih baik kau pergi ke kuil 'Ling-yin' dan mencuri buku rahasia itu, bukankah itu lebih mudah?"
Jing-yu segera menggoyangkan tangannya.
"Tidak bisa! Tidak bisa! Fu-ye dalam keluarga Rui mempunyai ilmu silat sangat tinggi. Jangankan aku, semua pesilat tangguh bila dikumpulkan untuk menyerang ke kuil Ling-yin pun tetap tidak akan bisa mendapatkan buku itu."
Karena Dewi Wan-miao pernah bertemu dengan Fu-ye ketika masuk kampung Rui, maka dia pun percaya kata-kata Jing-yu, kemudian dia tertawa.
"Cara apa yang akan kau gunakan agar bisa belajar Long-xing-ba-zhang dari Long-zhang-shengai?"
"Karena itulah, kalian telah merusak rencanaku!"
"Merusak rencana apa, coba jelaskan!"
"Dalam aturan keluarga Rui ada satu peraturan yaitu jika orang yang menguasai Long-xing-bazhang, begitu melanggar aturan, ilmu silat yang dikuasai harus dimusnahkan tapi hal itu dilakukan setelah mewariskan ilmu ini kepada saudara segenerasinya. Aturan keluarga Rui menentukan jika generasi yang bawah terpilih harus diambil dari surat wasiatnya dan jika dia melanggar aturan, maka surat wasiat tersebut tidak akan berlaku lagi. Maka Fu-ye akan menurunkan ilmu sakti ini kepada generasi setingkat dengan orang tersebut."
"Apakah kau adalah orang yang generasinya tertinggi?"
"Kecuali Fu-ye, dari generasi Jing, akulah yang tertua jika Jing-yuan mati."
"Kalau begitu sesudah Long-zhang-shen gai mati, Long-xing-ba-zhang pasti akan menjadi milikmu?"
"Benar, begitu dia melanggar aturan keluarga, surat wasiatnya yang disimpan di kuil Ling yin tidak akan berguna lagi...."
"Kami benar-benar merusak rencanamu!"
"Betul, kemarin malam adalah rapat keluarga Rui, hanya diadakan setahun sekali. Long-zhang shen-gai membawa 2 orang yang kau tangkap itu Dia tidak tahu kalau salah satunya adalah perempuan. Hal ini secara kebetulan diketahui olehku. Keluarga Rui paling melarang perempuan bermarga lain masuk ke kampung Rui. Aku langsung menunjuk kalau dia telah melangar aturan pertama. Bukti sudah ada, dia tidak bisa mengelak maka dia harus menerima hukumannya, tapi tepat waktu itu kau datang membawa 18 muridmu...."
Dewi Wan-miao tetap tidak menerima tuduhan Jing-yu.
"Aku berniat baik, karena kau menjadi pembawa acara aku ingin melihatnya juga mendukungmu. Siapa yang tahu kalau keluarga Rui memiliki aturan-aturan begitu banyak."
Sebetulnya Dewi Wan-miao berencana membuat keributan di kampung Rui karena kabar di dunia persilatan mengatakan kalau orang-orang kampung Rui sangat lihai, orang luar sulit memasuki tempat ini.
Maka dia ingin dalam rapat yang diadakan setahun sekali membuat keributan.
Dengan cara seperti itu dia akan terkenal di dunia persilatan.
Siapa yang tahu, ingin mencuri ayam, ayam tidak dapat, umpan beras malah habis, dan 13 muridnya tertangkap.
Jing-yu hanya bisa marah di dalam hati, tapi dia berkata.
"Kampung Rui belum pernah didatangi perempuan bermarga lain, maka segera terjadi keributan dalam rapat itu. Kau meninggalkan tempat itu tapi rapat keluarga Rui masih terus berlanjut. Tapi perempuan yang menyamar seperti laki-laki itu dibawa olehmu, karena itu bukti sudah tidak ada maka Fu-ye memerintahkan Kak Jing-yuan harus melakukan 2 hal untuk menebus dosanya...."
"Dua hal apa?"
"Pertama, dalam satu tahun dia harus menangkap kembali perempuan yang menyamar menjadi laki-laki, jika dia perempuan, maka dia harus menikah dengan putra bermarga Rui. Kedua, karena kalian bukan perawan maka kalian akan dihukum dengan hukuman berat untuk mengembalikan nama baik keluarga Rui di dunia persilatan, selain itu agar perempuan bermarga lain tidak gegabah masuk ke kampung Rui."
Dengan wajah pucat Dewi Wan-miao menanyakan tentang nasib 13 muridnya. Dengan santai Jing-yuu berkata.
"Sesudah tahu 13 muridmu bukan perawan lagi dan tidak bisa menikah dengan keluarga Rui, maka mereka pun dihukum yaitu kedua telinga mereka harus dipotong dulu baru dilepaskan. Aku kira sebentar lagi mereka akan kembali."
Alis Dewi Wan-miao berdiri.
"Aku tidak percaya, apakah benar Long-zhang-shen-gai begitu hebat. Jika dia datang, aku akan menyuruhnya mencoba 'Xiao-hun-zhu-gu'!" (kena tulang hancurkan roh). Jing-yu tertawa dingin.
"Kau tidak perlu segalak itu, jika kau bukan perawan, kedua telingamu tetap akan melayang."
PAK! Dewi Wan-miao menampar Jing-yu, membuat Jing-yu terhuyung mundur.
"Setan tua, kau berani menertawaiku! Jika aku melaporkan apa yang kau lakukan pada kampung Rui, aku ingin tahu kau bisa bertahan hidup berapa lama!"
Jing-yu mengelus-elus wajahnya yang ditampar, sambil tertawa dia berkata.
"Aku hanya bercanda, kenapa kau harus marah? Long-zhang-shen-gai sendiri tidak akan sanggup melawan Tian-mei-jiao!"
"Rasanya tua bangka ini masih bisa diperalat, aku tidak mau membuatnya marah dulu, nanti dia akan dendam kepadaku."
Karena itu wajahnya segera berubah. Sambil tertawa genit dia mendekati Jing-yu, kedua tangannya memegang pipi gemuk Jing-yu, dengan nada menggoda berkata.
"Kenapa kau membuatku marah, jika tidak mana mungkin aku memukulmu?"
Dia menempelkan tubuhnya yang seksi kepada Jing-yu.
SRRRT!
Kedua tangan Jing-yu bergerak terus.
Sambil tertawa genit Dewi Wan-miao menghindar ke pinggir.
Dewi Wan-miao selalu teringat pada Ruan-wei, dia tidak ingin banyak bermain dengan orang tua ini.
Sambil tertawa dia berkata.
"Perempuan yang menyamar menjadi laki-laki itu sudah kucekok untuk makan 'Po-hun-yinyang-he-he-san', nanti kau bisa menikmatinya...."
Jing-yu pernah menggunakan 'Po-hun-yin-yang-he-he-san' dan tahu bagaimana khasiatnya. Dia sudah membayangkan wajah Wen-yi yang cantik. Dia segera bertanya.
"Dimana sekarang dia berada? Di mana?"
"Beritahu dulu kepadaku dengan cara apa bisa mendapatkan ilmu rahasia Long-xing-ba-zhang?"
"Cara tentu ada, nah bawalah aku ke sana."
"Jika kau tidak membantuku mendapatkan Long-xing-ba-zhang, aku akan memberimu obat 'Pohun-yin-yang-he-he-san', aku akan mengurungmu selama tiga hari."
Dengan terkejut Jing-yu berkata.
"Bukankah nyawaku akan melayang?"
"Waktu itu nyawa sudah tidak penting lagi, yang bisa kau lakukan hanyalah meminta agar kau cepat mati."
Dengan terburu-buru Jing-yu berkata.
"Walaupun aku mati, aku akan membantumu mendapatkan ilmu Long-xing-ba-zhang, apakah kau tidak percaya padaku?"
"Jika kau bisa mendapatkan ilmu Long-xing-ba-zhang, aku tidak akan merugikanmu. Ayo, jalan! Biar kau menikmati perempuan itu dulu."
Jing-yu benar-benar seorang laki-laki cabul, dia berjalan di belakang Dewi Wan-miao menuju kamar Ruan-wei.
Ruan-wei berada di atas tempat tidur.
Pembicaraan Jing-yu dan Dewi Wan-miao terdengar dengan jelas.
Diam-diam dia ber-pikir, 'Untung perempuan tinggi itu tadi melarang meminumkan dulu obat itu, jika tidak Adik Yi akan tersiksa karena obat itu!' Begitu melihat Wen-yi, dia masih tertidur pulas, sepertinya dia bisa tertidur sampai 3 -4 jam dan baru sadar.
Ruan-wei benar-benar cemas.
Ilmunya sudah mulai pulih, dia memegang nadi Wen-yi, dengan tenaga dalamnya dia membantu Wen-yi supaya lebih cepat sadar.
Dewi Wan-miao membawa Jing-yu ke kamar Jie-hua yang menyambutnya.
"Apakah kau sudah memberikan 'Po-hun yin-yang-he-he-san'?"
Jie-hua dengan gugup menjawab.
"Belum... belum...."
Terlihat Dewi Wan-miao tidak menaruh di hati perkataan Jie-hua.
"Cepat ambil 'Mi-hun-fen' dan 'Po-hun-yin-yang-he-he-san' dan sekaligus berikan kepada mereka."
Jie-hua mengambil obat tersebut, tapi Jing-yu tampak cemas seperti seekor monyet.
"Mana gadis itu?"
Dewi Wan-miao menunjuk ranjang.
"Dia terbaring seperti mayat, apakah sekarang juga kau menginginkannya...."
Jing-yu benar-benar tidak tahu malu.
"Sekarang aku tidak bisa menikmatnya, sesudah makan obat baru bisa kunikmati...."
Ruan-wei marah besar, dia bangun dan menampar Jing-yu.
Gamparan ini lebih sakit daripada gamparan Dewi Wan-miao beberapa puluh kali lipat.
Dewi Wan-miao benar-benar tidak menyangka kalau Ruan-wei bisa sadarkan diri sebelum waktunya dan bisa memulihkan ilmu silat dengan cepat serta menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi.
Jing-yu tinggi, besar, juga gemuk, dia sangat malas berlatih ilmu silat maka ilmu silatnya jauh di bawah Jing-yuan.
"Sungguh kau orang yang tidak tahu malu!"
Kata Ruan-wei marah Umur Jing-yu beberapa kali lipat di atas Ruan-wei, sekarang dia terkena tamparan dari Ruanwei, dia benar-benar tidak senang dan merasa ini adalah suatu penghinaan besar.
Setelah termenung sebentar, dengan marah dia pun menyerang.
Jing-yu dalam keluarga Rui memang bukan orang baik tapi ilmu telapaknya lumayan kuat.
Ruan-wei tidak bisa ilmu kepalan dan tidak bisa menahan serangan itu, dia hanya bisa menghindar ke kiri dan ke kanan dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Serangan Jing-yu masih bisa dihindari.
Sesudah menghabiskan waktu beberapa lama, Jing-yu tetap tidak bisa memukul Ruan-wei.
Ruan-wei juga tidak bisa menang.
Semakin lama Ruan-wei semakin tidak sabar dan mulai terlihat kacau.
Diam-diam Dewi Wan-miao tertawa.
"Aku kira bocah ini memiliki ilmu tinggi dan tidak takut dengan 'Mi-hun-fen', ternyata ilmu silatnya biasa-biasa saja, hanya ilmu meringankan tubuhnya lumayan tinggi."
Dia tidak tahu jika ada sebilah pedang di tangan Ruan-wei, dalam tiga jurus dia bisa mengalahkan Jing-yu.
Tapi sayang 'Fei-long-jian' yang dia miliki masih tertinggal di rumah Longzhang-shen-gai dan tidak terbawa, maka ilmu pedang yang dimilikinya tidak bisa digunakan.
Tampak Ruan-wei segera akan kalah, tiba-tiba dari balik tirai ada yang membentak.
"Jalan ke arah Xun (salah satu titik Ba-gua)!"
Ruan-wei tahu itu adalah suara Wen-yi, dia benar-benar senang, maka dia pun mengikuti petunjuk itu.
Jalan Xun dan tangan kepalan memukul ke arah Gan.
Ruan-wei memang belajar ilmu sakti yoga tapi sejak kecil dia juga belajar ilmu tenaga dalam Kun-lun, maka tenaganya besar.
Kepalan tangan memang tidak ada jurusnya tapi tenaganya sangat besar.
Jing-yu menghindar dengan cepat.
Wen-yi berkata lagi.
"Berjalan ke sisi Yie dan pukul titik Gan."
Ruan-wei mengikutinya.
Sudah 10 jurus berjalan, Ruan-wei mengikuti petunjuk Wen-yi.
Jing-yu sudah lemas dan tubuhnya penuh keringat.
Sekarang yang dia pikirkan, bagaimana caranya kabur dari sana.
Ilmu kepalan Dewi Wan-miao sangat tinggi, dia tahu Wen-yi masih terbaring di ranjang, dia bisa mengikuti jurus yang akan dikeluarkan Jing-yu, maka Jing-yu hanya menunggu untuk dipukul.
Terlihat beberapa jurus lagi Jing-yu akan kalah.
Dia segera mendekat, dengan kedua telapaknya, dia menutupi serangan Ruan-wei dan berteriak dengan marah.
"Hayo mundur!"
Jing-yu tahu diri, dia segera mundur. Dewi Wan-miao tertawa.
"Anak muda, kau juga tidak mampu melawanku, lebih baik kau juga mundur ke pinggir untuk melihat!"
Ruan-wei tidak sudi bertarung dengan Dewi Wan-miao karena Dewi Wan-miao hanya menggunakan baju tipis dan tembus pandang.
Dia membalikkan tubuh dan ke pinggir.
Karena malu dia pergi dari sana.
Baca Juga: Pendekar Pengejar Nyawa 1
Baca Juga: Naga Kemala Putih 1