Eps 10 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long
Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.
Dewi Wan-miao tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar perempuan tidak tahu malu!"
Tiba-tiba kedua telapaknya menyerang Wen-yi yang sedang duduk di ranjang.
Sebenarnya Wen-yi sudah mengisap Mi Hun Fen dan tidak akan bisa sadar tapi karena dibantu Ruan-wei dengan ilmu yoga membuat Wen-yi sadar lebih awal.
Dewi Wan-miao mendekati Wen-yi dan berkata.
"Nona berilmu tinggi, Ketua Tian-mei jiao ingin mencoba kepandaianmu!"
Memang Wen-yi sudah sadar tapi ilmunya belum pulih seluruhnya, dia hanya bisa duduk dan gerakannya belum begitu lancar. Sambil tertawa menghina Wen-yi berkata.
"Kau belum pantas bertarung denganku."
Dewi Wan-miao segera mengeluarkan kegenitannya ju ga tertawa.
"Jangan urus aku memakai baju atau tidak, jika aku senang aku bisa bertarung dengan tubuh telanjang!"
"Kau benar-benar tidak tahu malu!"
Wen-yi melihat ke pinggir.
"Jika Nona tidak mau bertarung denganku, jangan salahkan kalau aku tidak sopan!"
Wen-yi sangat marah.
Jika tubuhnya bisa digerakkan, sudah sejak tadi dia turun dan memukulnya.
Setengah bulan dia bersama dengan Wen-yi, Ruan-wei sangat mengetahui sifatnya.
Dia sombong dan tidak mudah tunduk tapi lembut dan pengertian.
Ruan-wei menebak pasti Wen-yi belum bisa bergerak maka dia berusaha menahan diri.
Ruan-wei meloncat dan menghadang di depan Dewi Wan-miao dan berteriak.
"Adik Yi berilmu tinggi tapi dia tidak ingin bertarung denganmu. Apa kepandaianmu, biar aku yang meladenimu!"
"Kau hanya bisa setengah ilmu kepalan, kau bukan tandinganku, lebih baik kau mundur nanti kakak akan memberi kenikmatan untukmu."
Dia mendekati Ruan-wei, wajah Ruan-wei menjadi merah.
"Walaupun aku tidak bisa mengalahkanmu, aku yakin kau juga tidak akan bisa mengalahkanku."
"Aku tidak percaya,"
Dewi Wan-miao tertawa genit.
"Kalau tidak percaya, coba saja!"
Ruan wei mulai marah.
"Lihatlah yang awas!"
Segera dua telapaknya berputar dan menepuk.
Telapaknya seperti dua ekor ular beracun terus mendekat.
Memang hanya dui telapak tapi lebih berbahaya dibandingkan dengan ilmu kepalan Jing-yu.
Tubuh Ruan-wei bergerak seperti panah dengan cepat menghindar tapi telapak Dewi Wan-miao berubah lagi.
Telapak tangannya seperti gunung, benar-benar sulit dihindari.
Nama jurus ini adalah You-she-zhang' (telapak ular bermain).
Ilmu ini adalah ilmu andalannya.
Biasanya jika tidak bertemu dengan musuh kuat, jarang dia keluarkan.
Karena ilmu silat Ruan-wei tinggi, maka dengan cara ini dia ingin menang cepat.
Sesudah 10 jurus berlalu, telapak Dewi Wan-miao mulai menyerang titik-titik penting di tubuh Ruan-wei.
Dia menyerang dengan perhitungan sangat tepat, tapi Ruan-wei tidak menggerakkan tubuh, kakinya pun tidak bergerak.
Begitu dia meloncat, dia sudah keluar dari serangan You-shezhang' milik Dewi Wan-miao.
Dewi Wan-miao dengan bengong melihat gerakan Ruan-wei.
Dia belum mengerti dengan cara apa Ruan-wei meloncat keluar dari kurungan You-she-zhang.
Berkelana di dunia persilatan selama 10 tahun lebih, tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari kurungan You-she-zhang.
Sampai sekarang dia masih tidak percaya kalau Ruan-wei bisa melakukannya.
Maka dengan penasaran dia merubah serangan telapaknya, dia mengurung Ruanwei dengan ilmu You-she-zhang' lagi.
Ruan-wei tetap berdiri di tempat, melihat tapi tidak bergerak, dia sama sekali tidak melayani jurus-jurus Dewi Wan-miao yang bukan sebenar-nya, membiarkan dia berputar terus.
Begitu ilmu sebenarnya dikeluarkan, dengan cara 'Bai-bian-gui-ying' dia meloncat keluar lagi.
Dengan cara itu dia terus melakukannya, akhirnya Dewi Wan-miao percaya Ruan-wei memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.
Dia tidak bisa mengalahkan Ruan-wei, sebaliknya Ruan-wei juga tidak bisa menyerang Dewi Wan-miao.
Wen-yi yang di pinggir tidak bisa memberi petunjuk karena ilmu telapak Dewi Wan-miao terlalu tinggi dan cepat.
Sesudah 20 jurus berlalu, diam-diam Dewi Wan-miao berpikir, 'Jika pertarungan ini tersiar keluar, dia tidak bisa mengalahkan seorang pemuda yang masih muda, itu tentu akan memalukan."
Maka dia segera mengeluarkan tiga ilmu andalannya.
Setiap orang dunia persilatan boleh dikatakan pasti mempunyai beberapa jurus andalan, biasanya jurus ini untuk menolong dirinya.
Ilmu andalan ini jarang digunakan kalau nyawa mereka belum benar-benar terancam.
Pinggang Dewi Wan-miao bergerak seperti ular bergoyang, dua telapaknya seperti bunga yang berguguran terus saling menepuk, seperti bukan suatu jurus andalan tapi Ruan-wei tetap tidak bergerak.
Karena dalam ilmu 'Bai-bian-gui-ying' tercatat bahwa semua serangan bisa diatasi, hanya harus tahu dari mana datangnya serangan tersebut.
Jurus ini bernama 'Shui-she-duan-yao' (ular air memutuskan pinggang).
Ini adalah salah satu ilmu andalan dari 'You-she-zhang'.
Jurus ini bisa membuat musuh bingung, membingungkan serangan datang dari arah mana.
Terlihat serangan telapak hampir sampai, Ruan-wei dengan cepat mencari lowong untuk meloncat tapi jurus 'Shui-she-duan-yao' benar-benar hebat.
Tampak tidak mengikuti aturan, tapi setiap jurusnya adalah jurus memotong gerakan lawan.
Begitu Ruan-wei bergerak ke tempat lowong, tempat itu segera diisi oleh bayangan-bayangan telapak.
Begitu Ruan-wei meloncat, Dewi Wan-miao langsung bisa menangkap nadi pergelangan tangan dan Ruan-wei tidak bisa bergerak lagi.
Dengan tertawa genit, Dewi Wan-miao tertawa.
"Bagaimana? Akhirnya aku bisa mengalahkanmu."
Karena Ruan-wei tertangkap dengan jurus tidak jelas, maka dia tidak terima dan berteriak.
"Jika hebat, coba tangkap aku lagi!"
Dewi Wan-miao sangat menyukai ketampanan Ruan-wei. Dia tertawa.
"Apa sulitnya? Jika sekali lagi kau tertangkap, kau harus mendengarkan kata-kata kakak, setuju?"
"Jika sanggup tangkaplah aku! Tidak perlu basa-basi!"
Ruan-wei marah dan menyerang.
Dewi Wan-miao tertawa sambil menghindar.
Dewi Wan-miao mulai menggunakan jurus 'You-she-zhang' lagi, terpaksa Ruan-wei melarikan diri dari serangan itu.
Baru saja dia meloncat, sekali lagi dia tertangkap oleh Dewi Wan-miao dengan ilmu 'Shui-she-duan-yao'.
Dewi Wan-miao langsung menotok nadi Ruan-wei, membuat lemas dan menjepit Ruan-wei di bawah ketiaknya kemudian mendekati Wen-yi.
Ruan-wei marah juga malu karena kepalanya dijepit di atas buah dada Dewi Wan-miao.
Tubuh Dewi Wan-miao yang mengeluarkan aroma menggoda, Ruan-wei tidak bisa berbuat apa-apa, dengan terpaksa dia melihat Wen-yi.
Wen-yi duduk sambil memejamkan mata, dia seperti sedang berpikir.
Dewi Wan-miao tertawa.
"Nona, saudaramu sudah tertangkap olehku, bagaimana denganmu?"
Alis Wen-yi berkerut, dia tidak melihat juga tidak menjawab.
Karena Dewi Wan-miao marah, maka dia melambaikan tangan untuk menotok.
Dan Wen-yi pun roboh, hal ini membuat Dewi Wan-miao terkejut, dia tidak menyangka Wen-yi sama sekali tidak melawannya.
Dewi Wan-miao menjepit Ruan-wei dan berjalan ke sebelah kanan, dia tertawa.
"Gadis itu tertidur lemas di ranjang, obat ada di sisi ranjang."
Sambil tertawa sinis Jing-yu berterima kasih kemudian tubuhnya yang gemuk berlari ke sisi ranjang.
Dalam hati Ruan-wei benar-benar marah.
Dia memelototi Jing-yu, diam-diam berpikir, 'Jika kau berani memegang Wen-yi, aku akan membunuhmu!' Dewi Wan-miao tertawa genit.
"Jangan terburu-buru, mari anak-anak, kita tinggalkan tempat ini, jangan ganggu Tuan Rui."
Di dalam kamar ada 5 orang gadis yang lolos dari kejaran marga Rui.
Mereka selalu mengikuti Dewi Wan-miao kemana pun dia pergi, maka sekarang mereka ikut keluar.
Waktu itu terdengar ada suara yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Suara itu seperti teriakan naga terus bergema di udara.
Dalam suara tawa itu terdengar seseorang ingin masuk tapi dihalangi oleh orang-orang Tian-meijiao.
Dari suara itu, Ruan-wei bisa tahu kalau Long-zhang-shen-gai datang.
Karena mengkhawatirkan keadaan Wen-yi, maka dia berteriak.
"Tetua Rui! Tetua Rui...."
Tenaga dalam Ruan-wei memang kuat, suaranya bisa mencapai jarak jauh, tapi Dewi Wanmiao segera menotok nadinya agar dia tidak bisa bicara.
Tapi suaranya sudah terdengar oleh Long-zhang-shen-gai.
Dia segera membentak.
"Kembali...."
Jing-yu sangat mengenal ilmu silat Long-zhang-shen-gai, walaupun ilmu Dewi Wan-miao tinggi tapi dia tetap tidak akan sanggup melawannya dan jika Jing-yuan mengetahui dia ada di sini dan melaporkannya kepada Fu-ye, dia akan dihukum.
Dia tidak berani berpikir hal lain, dia bersiap-siap memakai baju untuk kabur melalui jendela.
Dewi Wan-miao tahu ilmu silat Long-zhang-shen-gai sangat tinggi, dia juga tidak berani melawannya.
Otaknya berputar, dia segera menotok semua tubuh Wen-yi kemudian menjepit di sebelah ketiaknya.
Tidak lama kemudian Long-zhang-shen-gai seperti angin topan menabrak masuk ke kamar Dewi Wan-miao membentak.
"Long-zhang-shen-gai, diam di sana!"
Melihat sahabat yang ingin ditolongnya berada di bawah ketiak musuh dia ingin segera merebutnya. Tapi Dewi Wan-miao sudah mengancam.
"Pengemis tua, jika kau berani mendekat, aku akan mencederai mereka."
Nadi 'Qi-men' kedua bocah itu berada dalam pegangan Dewi Wan-miao.
Jika dia bertindak gegabah dan benar Dewi Wan-miao menekan nadi itu, kedua anak muda itu akan mati karena itu dia berhenti bergerak.
Dengan senang Dewi Wan-miao tertawa.
"Pengemis tua jangan harap bisa menolong dua bocah ini, Kembalilah!"
Long-zhang-shen-gai menahan kemarahannya.
"Letakkan dua orang itu, kita bicara baik-baik!"
Dewi Wan-miao benar-benar senang, tidak disangka dengan ancaman dua bocah ini, dia bisa membuat Long-zhang-shen-gai yang sombong dan kuat tunduk kepadanya.
Ini kesempatan untuk memperalatnya.
Dewi Wan-miao adalah orang licik, sejak ketua Tian-mei jiao yang dulu menerimanya menjadi murid, karena kelicikannya membuat Tian-mei jiao sangat terkenal di dunia persilatan.
Demi mendapatkan Long-xing-ba-zhang, Dewi Wan-miao jauh-jauh datang dari Gui-zhou.
Di depan mata ada orang yang satu-satunya menguasai Long-xing-ba-zhang.
Kesempatan ini mana bisa dilepaskan begitu saja.
Tiba-tiba berkelebat cahaya melintas di otak, dia terpikir suatu akal yang licik.
Dengan licik dia bertanya.
"Apakah pengemis tua menginginkan kedua bocah ini tetap hidup?"
"Jika kau membunuh mereka, kau tidak beralasan bisa hidup terus di dunia ini!"
Long-zhangshen-gai menahan emosinya tapi tetap menjawab.
"Aku tidak tega membunuh mereka, untuk melukai mereka pun aku masih harus pikir-pikir."
Kemarahan Long-zhang-shen-gai mereda, dia tertawa.
"Itu lebih baik, lepaskanlah mereka, aku akan sangat berterima kasih kepadamu."
Dewi Wan-miao tahu akal-akalannya berhasil, dia terlihat lebih senang lagi dan berkata.
"Hanya berterima kasih saja apa gunanya, sepasang telingaku tidak bisa dijaga."
"Kenapa kau tahu Lao Rui ingin memotong telingamu?"
"Rahasia ini tidak bisa kuberitahu kepadamu, jika aku melepaskan dua bocah ini, apakah pengemis tua masih menginginkan kedua telingaku?"
Long-zhang-shen-gai tidak berani melanggar aturan keluarga Rui, dia menjawab gugup.
"...ini... aku tidak...."
"Aku tidak senang memaksa tapi satu tahun kemudian kau bisa mengambil telingaku, dalam setengah tahun ini kau tidak boleh mengangguku."
"Syarat ini mudah, selama setengah tahun kau harus menjaga telingamu baik-baik."
Dewi Wan-miao tertawa licik.
"Jika pengemis tua tetap tidak melepaskan telingaku, kau harus menyetujui satu syaratku, baru aku akan melepaskan mereka berdua."
"Coba katakan, asal tidak macam-macam, Lao Rui pasti akan setuju!"
"Buat anak muda yang laki-laki dengan ilmu telapaknya dia harus bisa mengalahkanku, baru mereka boleh meninggalkan tempat ini, kalau tidak jangan harap aku akan melepaskan mereka."
Long-zhang-shen-gai pernah melihat ilmu silat Ruan-wei, diam-diam dia berpikir, 'Anak ini memiliki ilmu silat tinggi, ilmu telapaknya juga pasti tinggi.' Maka dia pun setuju.
"Baiklah, setiap saat pun marga Ruan bisa mengalahkanmu, baru Lao Rui membawa mereka meninggalkan tempat ini."
Di dunia persilatan, kata-kata yang sudah terucap harus dipegang teguh.
Long-zhang-shen-gai adalah orang yang paling menepati janji, maka Dewi Wan-miao tertawa dengan ringan dan menyerahkan Ruan-wei dan Wen-yi kepada Long-zhang-shen-gai.
Buru-buru Long-zhang-shen-gai menepuk Ruan-wei untuk membuka totokan nadi, Wen-yi segera berteriak.
"Ruan-wei sama sekali tidak menguasai ilmu telapak, mana mungkin dia bisa bertarung dengan Wan-miao?"
Long-zhang-shen-gai tidak menyangka, dia melihat ilmu pedang Ruan-wei begitu lihai tapi dia tidak bisa ilmu telapak.
Wan-miao justru menggunakan kesempatan Ruan-wei yang tidak bisa ilmu telapak.
Dia ingin memancing Long-zhang-shen-gai demi mencapai tujuannya, kecuali kalau Longzhang-shen-gai harus mengajarkan ilmunya kepada Ruan-wei.
Karena tahu dia tertipu, Long-zhang-shen-gai marah besar, tubuhnya berputar, dia berteriak lima kali, lima perempuan yang ada di kamar itu ditarik satu per satu dengan cepat.
18 murid Wan-miao yang dibawa ke kampung Rui, 13 orang tertangkap dan telinga mereka dipotong.
Sekarang telinga kelima gadis itu tetap dipotong di depan ketua mereka.
Wan-miao benar-benar terkejut, sudah lama dia mendengar ilmu Long-zhang-shen-gai sangat tinggi, tapi dia belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri.
Hari ini dia menyaksikan, dengan hanya melayangkan tangannya, dia telah memotong telinga muridnya, dia benar-benar terkejut.
Kemudian terlihat tangan Long-zhang-shen-gai menyentil, 10 telinga yang copot itu menyerang Wan-miao.
Wan-miao menyambutnya satu per satu.
Long-zhang-shen-gai membentak.
"Keluar! Keluar! Besok Lao Rui akan menyuruh Ruan-wei bertarung denganmu!"
Wan-miao takut pada wibawa Long-zhang-shen-gai, diam-diam dia membawa kelima muridnya yang merintih kesakitan meninggalkan kamar. Wen-yi tidak tega melihatnya, dia menarik nafas.
"Lao Rui, mengapa kau memotong telinga lima perempuan itu?"
Long-zhang-shen-gai memang bukan orang yang kejam, dia pun hanya bisa menghela nafas.
"Aturan keluarga Rui memang seperti itu, Lao Rui tidak bisa melanggarnya."
Long-zhang-shen-gai bertanya.
"Apa benar kau tidak bisa ilmu telapak?"
Dengan jujur Ruan-wei mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan mengajarkan satu jurus ilmu telapakku, tapi kau harus belajar dengan sungguh-sungguh supaya besok baru bisa melawan Dewi Wan-miao,"
Sahut Long-zhang-shen-gai.
Dalam waktu setengah jam Long-zhang-shen-gai menjelaskan cara-cara dan teknik ilmu telapaknya.
Juga semua perubahan jurus tersebut kepada Ruan-wei.
Ruan-wei memang mengerti tapi pada saat berlatih, dia mengalami kesulitan.
Setengah hari telah berlalu, dia baru bisa menguasai dengan pas-pasan.
Demi mendapatkan ilmu Long-xing-ba-zhang, Dewi Wan-miao tidak berani berbuat macammacam.
Malam hari dia membawakan kuah ginseng untuk mereka bertiga, hal ini membuat Long-zhangshen-gai merasa aneh.
Tapi perutnya sudah lapar, setelah beristirahat sejenak dia menyuruh Ruan-wei berlatih lagi.
Hari kedua pagi satu jurus telapak yang diajarkan Long-zhang-shen-gai telah dikuasai Ruan-wei dengan lancar.
--BAB 102 Dua kuda melakukan perjalanan jauh Racun di tubuh Wen-yi belum semuanya keluar.
Maka dia masih merasa lemas, setelah tidur semalaman begitu membuka mata, dia melihat Ruan-wei masih berlatih ilmu silat, tapi dia tidak melihat Long-zhang-shen-gai.
Jurus telapak Ruan-wei hanya satu kali dan itu-itu saja, hal ini membuat Wen-yi bosan.
"Kakak, untuk apa sejak tadi kau hanya berlatih satu jurus itu saja?"
"Adik Yi, kau sudah bangun. Tetua Rui hanya mengajariku satu jurus saja, aku sudah belajar satu hari, aku masih belum menguasai inti jurus itu, aku benar-benar merasa malu."
"Apa? Lao Rui hanya mengajari kakak satu jurus?"
"Benar! Kalau Tetua Rui mengajariku satu jurus lagi, aku tidak akan sanggup belajar lagi."
"Bagaimanapun tingginya ilmu telapak tapi kalau kau hanya menguasai satu jurus, mana mungkin bisa melawan perempuan genit itu?"
Tiba-tiba terdengar suara, seseorang masuk melalui jendela.
"Bocah, jangan anggap remeh satu jurus telapak dari Lao Rui. Walaupun tidak bisa menang, posisinya juga tidak akan kalah dengan lawan."
Karena pernah melihat ilmu telapak Dewi Wan-miao maka Wen-yi masih tetap tidak percaya. Seorang laki-laki tegap berbaju hitam datang, ketua mereka telah menunggu di depan ruangan.
"Kalau kau tidak percaya, kita bisa pergi bersama-sama ke ruang depan untuk melihat bagaimana kekuatan Ruan-wei!"
Sesampainya di ruang depan, perabot rumah telah disingkirkan, dan ruangan itu menjadi kosong, ruangan cukup luas cukup untuk 10 orang lebih bertarung.
Wan-miao berdiri di tengah ruangan menunggu mereka.
Di sisinya ada orang lain.
Hari ini dandanan dia sangat rapi, mengenakan baju ketat berwarna merah muda, rambutnya dibungkus dengan kain sutra berwarna merah muda, sepatunya pun berwarna merah muda.
Ditambah dengan kulitnya yang putih, dari jauh dia terlihat seperti segumpal awan berwarna.
Penampilannya lebih sopan dibandingkan kemarin.
Demi keadilan, Long-zhang-shen-gai menyuruh Wen-yi berdiri di sisi ruangan.
Hanya Ruan-wei yang pergi ke tengah ruangan mendekati Dewi Wan-miao.
Dan Dewi Wan-miao menyerang sebanyak tiga kali Ruan-wei tidak berani menyambut, dia hanya menghindar ke belakang.
Tapi Dewi Wan-miao terus menyerang, sejurus demi sejurus seperti gelombang sungai.
Long-zhang-shen-gai berkata pelan-pelan.
"Begitu datang menyerang, asalkan Ruan-wei bisa membalasnya satu kali telapak, dia tidak akan bisa bertahan."
Karena Ruan-wei terus didesak, maka telapak kanan bergerak ke depan, telapak kiri di keluarkan dengan cepat.
Tangan Ruan-wei menepuk kepala Dewi Wan-miao yang terbungkus kain.
Kalau telapak Ruan-wei sedikit diturunkan, kepala Wan-miao akan hancur.
Hal ini membuat Dewi Wan-miao terkejut tapi gerakan itu tidak berubah, dia tetap menggunakan telapak DaHe.
Dengan senang Long-zhang-shen-gai melihat Wen-yi, seperti ingin berkata.
"Sekali serang hampir mengenai kepala lawan, aku tidak bohongkan?"
Wen-yi tersenyum, dalam hati dia merasa aneh.
"Mengapa Dewi Wan-miao selalu menggunakan ilmu telapak Da-he yang sangat biasa saat menghadapi musuh?"
Kira-kira satu jam kemudian, Ruan-wei telah menyerang sebanyak 13 kali, tiap serangannya hampir mengenai Dewi Wan-miao.
Walaupun Dewi Wan-miao merasa terkejut tapi ilmu telapaknya tidak beriibah, kelihatannya dia ingin mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan rahasia pukulannya Ruan-wei.
Long-zhang-shen-gai tahu kalau Ruan-wei hari ini tidak bisa menang dari Dewi Wan-miao, dia mulai membentak.
"Kembalilah, Ruan-wei! Besok kau baru bertarung lagi dengannya!"
Ruan-wei keluar dari ruangan, Dewi Wan-miao tertawa dan berdiri, dia tidak mengejar. Tanpa suara Long-zhang-shen-gai kembali ke kamar dan bertanya.
"Bagaimana hasil pertarungan hari ini?"
Dengan sikap hormat Ruan-wei menjawab.
"Seranganku memang kuat, tapi terakhir masih kurang tenaga, maka dia masih bisa melarikan diri!"
"Kalau begitu aku akan mengajarkan satu jurus lagi."
Jurus telapak kali ini ternyata lebih sulit dibandingkan jurus yang kemarin.
Baru setengah jam berlalu, keringat telah mengucur deras di tubuh Ruan-wei.
Wen-yi sangat mengerti dan dia tidak mau mengganggu Ruan-wei berlatih, dia memutuskan untuk tidur karena kesehatannya belum pulih dengan benar.
Maka setelah berada di ranjang dia langsung tertidur pulas.
Dalam waktu satu hari satu malam, Ruan-wei baru bisa menguasai jurus kedua.
Long-zhangshen-gai tetap menemaninya dan tidak tidur.
Dini hari dia membawakan sebuah botol kecil berwarna putih dan menyuruh Ruan-wei meminumnya.
Setelah meminumnya Ruan-wei merasa tubuhnya menjadi enak dan bersemangat.
Pertarungan kali ini ilmu pukulan tangan yang digunakan oleh Dewi Wan-miao adalah ilmu pukulan terkenal di Shang Dong bernama 'Pi-shan-zhang' (telapakmembelah gunung).
Jurus Pi-shan-zhang lebih lihai dibandingkan dengan jurus 'Da-he-zhang', dia menggunakan jurus ini untuk melawan Ruan-wei, tetap jurus berbahaya.
Sampai jurus ke-10, segenggam rambutnya berhasil tertebas oleh Ruan-wei.
Tapi setelah 13 jurus berlalu, wajah Long-zhang-shengai tampak kalau dia marah dan dia menyuruh Ruan-wei kembali dan bertarung kembali esok hari.
Wen-yi merasa aneh, mengapa Dewi Wan-miao tidak mengeluarkan jurus-jurusnya yang lihai?
Dia tidak tahu demi mendapatkan rahasia ilmu telapak dari Ruan-wei, dia rela mendekati Ruanwei, dengan mendekati Ruan-wei dan menghadapi bahaya, dia baru bisa mencuri ilmu Ruan-wei.
Setelah kembali ke kamar, Long-zhang-shen-gai masih tampak berpikir, tapi dia segera mengajarkan jurus ketiga kepada Ruan-wei.
Dalam hati Ruan-wei merasa sedih, karena dia melihat saat Long-zhang-shen-gai menurunkan ilmunya kepada Ruan-wei dia tampak sedih.
Sebenarnya dia tidak ingin belajar, tapi melihat sikap Long-zhang-shen-gai begitu serius, dia tidak berani menolaknya, diam-diam dia bertekad dia harus lebih maju dalam belajar supaya pada hari ketiga dia bisa mengalahkan Dewi Wan-miao.
Pagi-pagi sewaktu Long-zhang-shen-gai pergi, Ruan-wei telah hafal dengan jurus ketiga, sudah sehari semalam dia tidak beristirahat.
Ruan-wei hampir tidak tahan, tiba-tiba Long-zhang-shen-gai telah kembali, dia membawa lagi sebotol kecil berisi air berwarna putih, setelah Ruan-wei meminumnya, dia merasa sangat aneh, dia merasa bersemangat dan rasa lesunya pun menghilang.
Tiap kali Long-zhang-shen-gai membawa sebotol air putih untuk diminum Ruan-wei, dia tampak lesu dan lelah.
Hari ini begitu bertarung, Dewi Wan-miao segera menggunakan jurus 'You-she-zhang', dia tahu setelah Ruan-wei menguasai 3 jurus telapak, kalau tidak dihadapi dengan ilmu yang lihai, dia tidak akan bisa menahan serangan Ruan-wei.
'You-she-zhang' ini benar-benar sangat lihai, dengan jurus ini dia menghadapi 3 jurus Ruanwei, memang sedikit mengejutkan, tapi tidak membahayakan.
Diam-diam Wen-yi berpikir, 'Ternyata hari ini kau baru mengeluarkan ilmu sebenarnya.' Setelah Wen-yi meneliti jurus-jurus Dewi Wan-miao ternyata dia belum mengeluarkan semua jurusnya, maka bahaya bisa terus terjadi.
Sekarang Ruan-wei baru mengerti mengapa Dewi Wan-miao tidak mengeluarkan ilmu sebenarnya mungkin karena dia ingin memancing Ruan-wei memperagakan satu per satu jurus yang dipelajarinya dari Long-zhang-shen-gai.
Long-zhang-shen-gai sendiri terus memantau kedua orang itu, begitu melihat dalam 13 serangan Ruan-wei tidak bisa menang dia memanggil Ruan-wei untuk kembali.
Long-zhang-shen-gai pun tahu kalau Dewi Wan-miao telah mengeluarkan jurus andalannya, karena baru pertama kali melihat jurus-jurus 'You-she-zhang', diam-diam dia mengagumi ilmu ini.
Karena itu muncul keinginan untuk menang dari jurus 'You-she-zhang' di dalam hatinya.
Tanpa pikir panjang jurus keempat telah dia ajarkan kepada Ruan-wei.
Dia percaya dengan 4 jurus ini Ruan-wei bisa mengalahkan ilmu silat Dewi Wan-miao yang aneh.
Ruan-wei tidak beristirahat, hari kedua pagi, dia baru bisa menghafal keempat jurus ini.
Seperti biasa dari luar Long-zhang-shen-gai membawa sebotol kecil air putih.
Walaupun semalaman Ruanwei tidak tidur tapi begitu meminum air ini, dia seperti baru terbangun dari tidur dan merasa sangat bersemangat.
Setelah Ruan-wei menguasai jurus keempat dan bertarung kembali dengan Dewi Wan-miao, jurus keempat ini berbeda dengan 3 jurus terdahulu.
Jurus 'You-she-zhang' milik Dewi Wan-miao tertutup oleh keempat jurus ini malah dia tidak bisa memperagakannya dengan baik.
Beberapa kali dengan jurus keempat ini Dewi Wan-miao hampir mati.
Tapi Dewi Wan-miao tetap bisa melewati 13 jurus.
Kali ini benar-benar membuat Long-zhang-shen-gai marah, dia hanya duduk diam di kursinya dan tidak bicara sepatah kata pun.
Ruan-wei merasa malu dan hampir meneteskan air mata, dengan tidak tenang dia berkata.
"Aku benar-benar tidak berbakat dan tidak sanggup memenuhi harapan Tetua... ini... ini...."
"Bukan salahmu!... bukan salahmu! Aku tidak menyangka Dewi Wan-miao begitu kuat, seharusnya dia sudah kalah, tapi dia tetap tidak kalah. Baiklah, aku akan mengajarimu jurus kelima, aku ingin tahu apakah dia masih bisa menyambutnya?"
"Aku tidak mau belajar lagi!"
"Mengapa?"
Long-zhang-shen-gai terkejut.
"Tetua begitu lelah mengajariku selama 4 hari ini, Tetua tampak kurus dan lelah, aku jadi tidak tenang, kalau Tetua mengajariku satu jurus lagi, Tetua akan lebih kurus lagi!"
Long-zhang-shen-gai memegang pipinya, pipinya memang cekung, Long-zhang-shen-gai berkata.
"Lao Rui tidak apa-apa, kau harus belajar jurus kelima, kalau tidak kau tidak akan bisa menang dari Dewi Wan-miao, kau tidak akan bisa keluar dari sini, bukankah kerja keras kita terdahulu akan sia-sia?"
"Tetua sudah empat malam tidak tidur, hari ini Anda harus tidur, besok aku akan menggunakan empat jurus itu bertarung lagi dengan Dewi Wan-miao. Kalau bisa menang, bukankah itu sangat bagus? Kalau aku kalah, kalau kalah nanti kita pikirkan lagi."
Sudah empat malam Long-zhang-shen-gai memang tidak tidur.
"Sekarang aku ingin tidur, kalau kau tidak belajar jurus kelima, kau mempersiapkan nyawa bertarung besok, apakah benar?"
Ruan-wei mengangguk tanpa suara. Long-zhang-shen-gai tertawa.
"Kau tidak mau menjaganya lagi?"
Dia menunjuk Wen-yi yang tertidur di ranjang. Ruan-wei terkejut.
"Aku benar-benar egois, mengapa melupakan Adik Yi? Aku mati tidak apa, kalau Adik Yi jatuh ke tangan mereka, itu... itu."
Mengingat bahaya yang terjadi hari itu, keringat Ruan-wei terus menetes. Dengan serius Long-zhang-shen-gai berkata lagi.
"Jurus kelima ini kudapat dari 'Yi Jing', kata Yi Jing...."
Dengan penuh semangat Ruan-wei mendengar Long-zhang-shen-gai menceritakan jurus kelima.
Ruan-wei tahu setiap jurus lebih sulit dan lebih lihay dibandingkan jurus sebelumnya.
Tapi jurus kelima yang lihai ini, kalau belum mempelajari jurus 1-4 dan langsung belajar jurus kelima, jangankan belajar, mendengarnya saja tidak akan mengerti.
Hari berikutnya, setelah Long-zhang-shen-gai keluar dan Ruan-wei sedang berlatih, Wen-yi bangun dan turun dari ranjang, dia berteriak.
"Kakak!"
Dengan penuh perhatian Ruan-wei menghentikan latihannya dan mendekati Wen-yi.
"Mengapa sudah bangun? Tidurlah kembali, istirahatlah yang cukup!"
"kakak, dari kemarin pun aku sudah sembuh."
Kata Wen-yi Sambil tertawa Wen-yi dengan diam melihat Ruan-wei berlatih jurus kelima yang dilakukan berulang-ulang. Tiba-tiba dia berkata.
"Kalau kakak telah menguasai jurus kelima, kakak pasti bisa mengalahkan Dewi Wan-miao."
Ruan-wei tahu kalau Wen-yi mempunyai pertimbangan kuat, dengan senang dia berteriak.
"Apakah benar?"
"Tapi kalau perempuan siluman itu menggunakan jurus yang bisa menangkap kakak dua kali, kakak tetap tidak bisa mengalahkannya!"
Jurus yang dimaksud Wen-yi adalah salah satu jurus andalan 'You-she-zhang' yang ber-nama 'Shui-she-duan-yao'.
Mengingat dia pernah tertangkap, jurus yang dipakai siluman perempuan itu memang bagus.
Sekalipun dia telah menguasai lima jurus telapak yang diajarkan Long-zhang-shen-gai belum tentu bisa menang dari siluman itu.
Wen-yi berkata lagi.
"Ketika siluman perempuan dalam keadaan terjepit, dia akan mengeluarkan jurus itu dan kakak tidak akan sanggup mengalahkan dia kecuali belajar satu jurus lagi, baru ada harapan menang."
Ruan-wei menggelengkan kepala, dia tidak mau merepotkan Tetua Rui lagi.
"Lihat hanya beberapa hari saja rambut putih tetua Rui bertambah banyak, jika aku belajar lagi jurus ke-6, mana mungkin aku tega melakukannya!"
"Baiklah, Da-ge, aku akan memberitahukan cara untuk menang dari Dewi Wan-miao."
Ternyata ketika Dewi Wan-miao menangkap Ruan-wei, Wen-yi merasa sangat aneh.
Maka dalam beberapa hari ini dia selalu mencari cara untuk memecahkan jurus ini.
Tadinya Wen-yi tidak ingin mengungkapkan bagaimana caranya, dia ingin belajar bersamasama dengan Ruan-wei, karena menurut Wen-yi ini adalah kesempatan yang baik, tapi karena Ruan-wei tidak ingin membuat Tetua Rui bertambah cemas dan lelah, maka Wen-yi setuju dengan pemikiran Ruan-wei.
"Jurus siluman perempuan itu sangat lihay, siapa pun yang berhadapan dengan jurus ini, dia pasti akan kalah, dia tidak akan menggunakan jurusnya kecuali bertemu dengan pesilat tangguh. Tapi ketika bertarung dengan kakak, secara kebetulan aku melihatnya. Sesudah memikirkannya selama beberapa hari ini, aku kira dengan jurus-jurus ayahku yaitu 'Jiu-gong-lian-huan-bu', bisa memecahkan jurusnya." (Sembilan langkah berantai). Ruan-wei pernah belajar Jiu-gong-lian-huan-bu dari Wen-yi, mendengar ucapannya dia merasa sangat senang. Kemudian Wen-yi mengajari cara-caranya. Begitu Ruan-wei sangat lancar melakukannya, Long-zhang-shen-gai baru kembali. Seperti biasa Long-zhang-shen-gai memberikan sebotol air putih kepada Ruan-wei. Dia mengembalikannya kepada Long-zhang-shen-gai dan mempersilakan dia untuk meminumnya. Tapi Long-zhang-shen-gai menggelengkan kepala, dia berjalan ke pinggir dan duduk bersila untuk mengatur nafas. Ruan-wei menarik nafas, dia meminumnya, semangatnya langsung pulih kembali. Ketika bertarung dengan Dewi Wan-miao, Ruan-wei telah menguasai 5 jurus. Jurus You-shezhang milik Dewi Wan-miao mulai tidak bisa digunakan untuk menghadapi lawannya. Setelah menyerang dengan jurus ke-4, jurus ke-5 pun mulai dikeluarkan, Dewi Wan-miao memaksa untuk melihat perubahan 5 jurus. Dia tidak tahu dia sudah tidak sanggup melawan musuh. Terlihat jurus ke-5 hampir memecah otaknya. Segera dia mengeluarkan jurus 'Shui-she-duan-yao'. Tampak gerakan tidak teratur, tapi sangat aneh, jurus itu memang bukan serangan tapi bisa digunakan untuk menghindari serangan ke-5 dari Ruan-wei dan masih bisa menyerang kembali, hampir saja mengenai tangan Ruan-wei. Melihat jurus yang dikeluarkan Dewi Wan-miao, wajah Long-zhang-shen-gai mulai pucat dan menarik nafas.
"Habis sudah! Habis sudah! Hari ini Ruan-wei pasti tidak bisa mengalahkannya, mungkin bisa kalah. Aku harus mengajarinya satu jurus lagi, satu jurus lagi, tapi jika aku melakukan ini, apakah aku tidak akan bersalah pada nenek moyang!"
Ketika dia ingin memanggil Ruan-wei, di lapangan jurus ke-5 sudah dikeluarkan.
Telapak Ruan-wei benar-benar lihai, seperi gelombang laut, sejurus demi sejurus semakin kencang.
4 jurus sudah dikeluarkan, Dewi Wan-miao seperti ular melata, membuat lingkaran semakin besar.
Begitu jurus ke-5 Ruan-wei mulai dikeluarkan.
Lingkaran Dewi Wan-miao tiba-tiba mengecil, dia seperti rela mati, demi mendekati Ruan-wei.
Ruan-wei tahu dalam bahaya ini, jurus aneh Dewi Wan-miao akan keluar, maka belum semua jurus ke-5 dikeluarkan, dia bersiap, dia takut jika jurus-jurus lawan akan berubah.
Dewi Wan-miao seperti takut dengan jurus ke-5 Ruan-wei.
Begitu mendekat, dia segera mengeluarkan jurus 'Shui-she-duan-yao'.
Dia tidak tahu kalau Ruan-wei sudah bersiap-siap, musuh tidak berubah, maka dia juga tidak akan berubah.
Begitu musuh berubah, kakinya segera bergerak melakukan gerakan 'Jiu-gong-lianhuan-bu'.
Jiu-gong-lian-huan-bu sangat aneh.
Jurus ini benar-benar merupakan bintang kematian untuk Shui-she-duan-yao.
Jurus Dewi Wan-miao memang aneh tapi Ruan-wei selalu menempel di belakangnya, karena itu Dewi Wan-miao merasa terkejut.
Dia ingin mengubah jurus untuk menjaga dirinya tapi terlambat, Ruan-wei sudah berada di depannya.
Tangan kanannya melingkar kemudian tangan kiri terjulur keluar.
Terdengar Dewi Wan-miao berteriak dengan suara memilukan, ternyata dua tulang telapaknya patah karena sakit air matanya terus menetes.
Ruan-wei meloncat ke belakang Long-zhang-shen-gai.
Long-zhang-shen-gai berteriak.
"Pergilah! Setengah tahun ini kau harus menjaga telingamu baik-baik!"
Sebenarnya Wen-yi masih ingin membalas dendam tapi melihat dua telapak Dewi Wan-miao dipukul Ruan-wei hingga patah maka dia tidak jadi membalas dendam.
Sesudah Dewi Wan-miao pergi, Long-zhang-shen-'gai berkata.
"Tadi langkah-langkahmu sungguh bagus!"
Kata-kata Long-zhang-shen-gai mengandung tawa.
"Jika Tetua tidak mengajariku lima jurus telapak, aku tidak mungkin bisa menang dari siluman itu."
Long-zhang-shen-gai dengan dingin berkata.
"Belum tentu, kau bisa ?Jiu-gong-lian-huan-bu', seharusnya kau tahu kau bisa menang dari Dewi Wan-miao, tapi mengapa kau tidak memberitahuku? Apakah kau sengaja melakukannya karena ingin belajar ilmu telapak Lao Rui?"
Long-zhang-shen-gai mengenal 'Jiu-gong-lian-huan-bu', dia melihat Wen-yi. Dengan marah dia bertanya.
"Apakah kau putri Nan-gu, Wen Tian-zhi?" (Nan-gu=lembah selatan). Wen-yi tertawa.
"Lao Rui, jangan marah? Memang akulah yang mengajari kakak jurus 'Jiu-gong-lian-huan-bu' tapi dia berhasil mematahkan dua tulang telapak siluman itu, bukankah kakak melakukannya dengan jurus telapak ke-5 yang kau ajari?"
Memang demikian, tapi jika Ruan-wei tidak bisa jurus Jiu-gong-lian-huan-bu, dia tidak akan bisa mengalahkan Dewi Wan-miao. Semua orang melihatnya. Long-zhang-shen-gai marah.
"Bocah, jangan terus memuji Lao Rui, semua orang tahu 'Jiugong-lian-huan-bu' milik ayahmu dan sangat terkenal. Tapi ilmu kepalan pak tua Wen belum tentu lebih baik dari Lao Rui."
Sudah berpuluh-puluh tahun ilmu kepalan dan ilmu 'Jiu-gong-lian-huan-bu' milik Wen Tian Zhi terkenal di dunia persilatan.
Memang setiap orang ingin menjunjung tinggi ilmu keluarganya.
Sekarang Wen-yi diam tidak berkata apa-apa, tapi dari wajah terlihat kalau dia tidak suka apa yang dikatakan Lao Rui.
Dia tidak percaya ilmu telapak Lao Rui berada di atas kemampuan ayahnya.
Long-zhang-shen-gai berteriak.
"Baiklah, kau kira ayahmu benar-benar hebat? Ruan-wei baru belajar lima jurus telapakku, jika dia bisa menguasai delapan jurus telapakku, walaupun dia tidak bisa 'Jiu-gong-lian-huan-bu' milik ayahmu, dalam tiga jurus lagi dia bisa mengalahkan Dewi Wanmiao. Jika berhadapan dengan pak tua Wen dia akan tidak kalah."
Kata-kata Long-zhang-shen-gai memang benar, karena 'Long-xing-ba-zhang' harus dikuasai seluruhnya baru bisa digunakan dengan leluasa.
Jika hanya menguasai lima jurus, setiap jurus hanya bisa mengeluarkan 30% tenaga.
Mulut Wen-yi masih belum berhenti bicara.
"Aku tidak percaya."
Dia sengaja berkata demikian, dia sengaja membuat Long-zhang-shen-gai marah agar sisa tiga jurus lagi diajarkan kepada Ruanwei.
Benar saja, Long-zhang-shen-gai terpancing emosinya, dengan marah dia ber-teriak.
"Bocah kemarilah! Lao Rui akan mengajarimu 3 jurus lagi!"
Tapi Ruan-wei tiba-tiba berlutut dan bersujud 5 kali.
Long-zhang-shen-gai mengira sesudah Ruan-wei mendengar dia akan mengajarinya sisa jurus Long-xing-ba-zhang, demi berterima kasih dia berlutut dan bersujud.
Tapi Ruan-wei dengan suara bercekat berkata.
"Aku pantas mati, pantas mati! Aku sudah membuat Tetua melanggar aturan keluarga."
Begitu mengangkat kepalanya, tangan kiri mencengkram telapak kanan, dia ingin mematahkan tangannya sendiri. Wen-yi berteriak, Long-zhang-shen-gai mencengkram tangan Ruan-wei dengan kuat.
"Kau mau apa?"
Ruan-wei meneteskan air mata dan berkata.
"Demi menolong kami, Tetua sudah melanggar aturan keluarga dan mengajari ilmu keluarga, tapi... tapi... aturan keluarga Rui sangat ketat, aku tidak boleh mencelakai Tetua. Aku rela tanganku dipatahkan dan 5 jurus yang telah kupelajari dimusnahkan segera."
Long-zhang-shen-gai menarik nafas panjang.
"Mengapa kau tahu aturan keluarga Rui kalau Long-xing-ba-zhang tidak boleh diwariskan kepada orang lain?"
Ruan-wei menceritakan apa yang didengarnya dari pembicaraan Jing-yu dengan Dewi Wanmiao. Long-zhang-shen-gai menarik nafas panjang.
"Tidak disangka dalam keluarga Rui ada pengkhianat yang memalukan. Ini merupakan kesialan bagi keluarga Rui. Pantas Dewi Wan-miao berani mengancam dengan nyawa, karena dia ingin mempelajari Long-xing-ba-zhang. Jurus ini tidak mudah dipelajari, biarkan dia berpikir selama beberapa tahun, aku yakin dia hanya menguasai kulit luarnya saja. Tidak perlu mengkhawatirkan hal ini."
Kemudian dia melepas kedua tangan Ruan-wei dan berkata.
"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, sebenarnya aku bukan secara sengaja ingin mengajarimu, apalagi kau belum menguasai semuanya. Tahun depan ketika rapat diadakan, aku akan mengaku kepada Fu-ye, aku yakin Fu-ye tidak akan terlalu marah kepadaku."
Long-zhang-shen-gai berhenti bicara sebentar lalu menarik nafas lagi.
"Setiap kali aku mengajarimu, hatiku terasa sangat sakit. Aku seperti bersalah dan melanggar peraturan keluarga maka setiap pagi aku berlari ke Hua Shan utara untuk menghabiskan tenagaku dan mendapat ketenangan batin."
Hua Shan terletak di San-xi, dengan tinggi 5.000 meter.
Dari kampung Rui ke Hua Shan jaraknya 50 kilometer ditambah dengan melakukan perjalanan dengan memanjat gunung.
Longzhang-shen-gai dalam satu jam bisa pulang pergi, kecepatannya benar-benar mengejutkan, dapat dinilai bagaimana resahnya hati Long-zhang-shen-gaj.
Wen-yi seorang perempuan, dengan penuh haru dia berkata.
"Lao Rui, kau tidak perlu menyalahkan dirimu."
"Pada hari kedua, ketika aku sedang meminta ampun kepada Tuhan, tiba-tiba aku bertemu seorang teman. Sudah setahun lebih kami tidak bertemu. Dia dijuluki Tabib Sakti. Dia bersembunyi di Hua-shan. Ketika aku pulang, dia memberiku sebotol air putih, katanya itu adalah air 'Ling-zhi' (obat untuk menguatkan badan) tapi aku tidak meminumnya, aku membawa pulang obat ini."
Tabib itu dijuluki Tie-zhi-yi-yin (tabib jari besi yang tinggal bersembunyi).
Dia salah satu dari lima orang aneh dunia persilatan.
Namanya berada sedikit di bawah Long-zhang-shen-gai.
Dia sangat menguasai ilmu pengobatan.
Karena tidak mau diganggu, maka dia selalu berpindahpindah, seringkali dia tinggal di tempat yang sulit ditemukan maka dia dijuluki Yi-yin (tabib bersembunyi).
Wen-yi paham dengan kehebatan obat Ling-zhi (obat ini untuk menguatkan badan.
Pada jaman Tiongkok kuno hanya raja yang bisa meminum obat ini).
Dengan terkejut dia berseru.
"Pantas kakak tidak tidur selama lima hari tapi dia tidak terlihat lelah. Ternyata kakak meminum air Ling-zhi."
"Setiap subuh aku naik gunung, dia akan memberi sebotol air Ling-zhi. Sekarang dipikir-pikir kau bisa menang, sebagian karena jasa Tie-zhi-yi-yin. Kelak jika kau bertemu dengannya, jangan melupakan kebaikannya."
Ruan-wei bersujud lagi.
"Tetua tidak meminumnya malah membawa pulang untukku, hutang budi ini harus kubayar dengan apa?"
Long-zhang-shen-gai marah.
"Obat itu bukan milikku, kenapa kau harus berterima kasih kepadaku? Jika kau ingin membalas budi, balaslah kepada Tie-zhi-yi-yin, apakah kau mengerti?"
Ruan-wei mengangguk. Long-zhang-shen-gai memapah bangun Ruan-wei dan berpesan.
"Mengenai aku yang mengajarimu 5 jurus telapak, simpan saja di dalam hati. Tadi kau telah bersujud lima kali, itu sudah cukup bagiku."
Dia berpesan kepada Wen-yi.
"Aku harap tahun depan pada saat Tiong-qiu, tunggu aku di kampung Rui!"
Wen-yi berkata dengan bahasa biasa pada Long-zhang-shen-gai, bukan dengan bahasa sopan kepada yang lebih tua.
Tapi sebenarnya di dalam hati dia sangat mengagumi Long-zhang-shengai.
Dia mengangguk dan menjawab.
"Aku pasti akan menepati janji!"
"Kalau begitu kita bertemu tahun depan, waktu itu Lao Rui akan memintamu untuk menyelesaikan satu urusan."
Belum sempat Ruan-wei dan Wen-yi berpamitan, Long-zhang-shen-gai sudah menghilang.
"Benar-benar orang gagah yang bersifat terbuka!"
Sahut Wen-yi.
Ruan-wei tidak bicara, dalam hati dia sedikit menyalahkan perjanjian antara Wen-yi dan Lao Rui, jika Wen-yi akan menikah dengan orang lain, dia akan merasa sedih.
Wen-yi tidak tahu maksud Long-zhang-shen-gai mengadakan perjanjian setahun kemudian, dia juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ruan-wei.
Dia mengajak Ruan-wei.
"Kakak, mari kita pergi!"
Di pasar mereka membeli 2 ekor kuda tinggi dan besar, mereka pergi menuju kampung Rui dengan menunggang kuda.
Sore hari, Ruan-wei seorang diri masuk ke rumah Long-zhang-shen-gai untuk mengambil bungkusan kain dan Fei-long-jian.
Dari putra Long-zhang-shen-gai, Ruan-wei mengetahui bahwa Jing-yu dibunuh oleh Fu-ye di kuil Ling-yin.
Ruan-wei mengerti, pasti gara-gara Jing-yu pergi ke kuil Ling-yin untuk mencuri buku rahasia Long-xing-ba-zhang.
Karena ketahuan oleh Fu-ye dan dikira musuh yang menyelinap maka Fu-ye membunuhnya.
Setelah keluar dari kampung Rui, Ruan-wei dan Wen-yi pergi ke Tibet.
--Tibet berada di sebelah barat daya, merupakan dataran tinggi, berudara dingin, sering terjadi angin topan.
Manusia sulit tinggal di tempat seperti itu maka penduduknya pun sangatjarang.
Penduduk Tibet beragama la-ma'.
Kuil di sana sangat banyak tapi jarang yang terkenal.
Pemimpin mereka ada dua, yang satu adalah pemimpin agama, sedangkan yang satu lagi adalah pemimpin politik.
Pemimpin mereka yang satu dinamakan 'Da-lai', yang satu Ba-chan.
Mereka masing-masing tinggal di kota La Sha dan kota Re-ge-ze.
Kedua kota ini terkenal sebagai pusat budaya, ekonomi, dan politik.
Jarak dari Shen Xi ke Tibet ada ribuan kilometer, jalannya pun sangat sulit.
Dari Shan Xi masuk ke San-xi.
Sore hari mereka baru tiba di kota 'Cao Yi'.
Kota ini adalah kota kuno tapi sangat ramai.
Mereka tidak terburu-buru sampai di Tibet maka ketika melihat ada tempat melancong, mereka pun melancong dulu.
Wen-yi membeli kain juga keperluan sehari-hari, diletakkan di sisi sadel.
Tiba-tiba dari depan datang seorang pak tua berambut putih.
Pak tua berambut putih itu sangat gemuk dan bungkuk, ketika berjalan harus menggunakan tongkat.
Jalannya pun sangat pelan dan terlihat setiap saat dia bisa terjatuh.
Hal ini menimbulkan rasa kasihan.
Tapi begitu Wen-yi melihatnya, wajahnya berubah, dia segera menuntun Ruan-wei berjalan ke sisi lain.
Setelah berjalan beberapa menit, Ruan-wei bertanya dengan aneh.
"Apakah ada yang tidak beres?"
Dengan sikap tidak tenang Wen-yi menjawab.
"Tidak... apa... apa...."
Baru saja mereka berbelok, di depan mereka berdiri seorang pak tua berambut putih, dia memegang tongkat dan berdiri di sisi jalan.
Ruan-wei terkejut karena dia tahu pak tua itu adalah pak tua yang tadi dilihatnya tadi.
Melihat pak tua itu, Wen-yi segera menuntun Ruan-wei dan pergi dari sana.
Dari belakang Ruan-wei mendengar suara TUK...
TUK...
Itu adalah suara tongkat yang mengenai tanah berarti pak tua itu mengikuti mereka.
Ruan-wei tidak tahu mengapa Wen-yi tidak mau bertemu dengan pak tua itu.
Pak tua itu bersuara.
"Nona, pembantumu ini sudah tua, tidak sanggup berjalan jauh lagi!"
Wen-yi membalikkan badan dan marah.
"Siapa yang menyuruhmu terus mengikutiku, kau benar-benar mencari kesulitan sendiri!"
Tubuh pak tua itu gemetar.
"Tuan terus mengkhawatirkan keadaan Nona, pulanglah...."
Wen-yi tertawa dingin.
"Jangan sembarangan bicara, mati pun ayah tidak akan peduli padaku!"
Pak tua itu hampir tidak bisa berdiri, Ruan-wei menasehati.."Adik Yi, pak tua itu sudah tua, bicaralah baik-baik!"
Dia mendekati pak tua itu untuk memapahnya.
"Kakak, jangan menganggap remeh A-fu, dia berpura-pura seperti itu hanya untuk menarik perhatianmu. Sebenarnya kehebatan ilmu meringankan tubuhnya bisa dihitung dengan jari di dunia persilatan."
Ruan-wei mulai berpikir, 'tadi pak tua itu berada di belakang mereka sekarang tahu-tahu sudah berada di depan, berarti dia sudah berputar satu kali.
Jika tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi tidak akan begitu cepat tiba di sana.' Maka dia segera berhenti melangkah.
A Fu tertawa kepada Ruan-wei kemudian meluruskan pinggangnya dan tertawa.
"Nona, bukankah biasanya A-fu sangat menyayangimu? Demi Nona, kakiku hampir putus mencarimu. Cepatlah pulang!"
"Kenapa tidak berpura-pura lagi menjadi orang tua yang bungkuk. Pulanglah, aku tidak mau pulang! Kau tidak perlu menasehatiku, dan kebaikanmu akan selalu kuingat!"
A Fu menggelengkan kepala.
"Di dunia ini tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, untuk apa kau membantah terus ayahmu?"
Tiba-tiba Wen-yi meneteskan air mata.
"Jika ayah dan ibu sayang kepadaku, mengapa mereka tidak mencariku? Hanya kau yang mencariku. Mereka tidak menganggapku putri kandung mereka. Jika aku mati, ayah dan ibu pasti tidak akan mengurus mayatku!"
"Mana mungkin! Mana mungkin! Tuan dan nyonya tahu Nona berada di luar tidak akan dihina, maka mereka tidak keluar dari lembah. Nona sudah tahu kalau tuan sudah bersumpah, seumur hidupnya tidak akan keluar dari lembah!"
"Aku tidak akan pulang! Lebih baik kau sendiri yang pulang!"
Kata Wen-yi marah Ruan-wei tidak bisa berkata apa-apa, terpaksa menuntun kuda mengikuti Wen-yi dari belakang.
"Ketika A-fu datang ke sini, nyonya sambil menangis berkata kepadaku agar menyuruh nona pulang. Seorang perempuan berada di luar mudah ditipu orang."
Begitu mendengar itu, Wen-yi berhenti melangkah, alis dikerutkan dan dia berdiri terpaku. Mengambil kesempatan ini A Fu berkata.
"Semenjak Nona pergi, nyonya terus menangis. Terlihat kalau beliau sangat menyayangimu, Nona pulanglah, jangan menyakiti hati nyonya."
"Aku tidak percaya! Biasanya jika ibu melihatku, seperti melihat musuh, dia tidak pernah ramah kepadaku. Kau bohong, aku tidak akan tertipu mentah-mentah!"
A Fu mengeluh.
"Nyonya selalu baik kepada Nona, hanya saja tidak terlihat di luar!"
Wen-yi tiba-tiba menggelengkan kepala.
"Aku tidak percaya! Tidak percaya! Ibu tidak sayang kepadaku, lebih-lebih ayah. Demi berlatih ilmu silat dia selalu memukulku, aku tidak mau bertemu dengannya!"
"Karena perjanjian 20 tahun yang lalu maka tuan memaksa Nona supaya rajin berlatih ilmu silat!"
Wen-yi menangis.
"Semenjak aku lahir, aku tidak pernah hidup enak sehari pun. Menyuruhku berlatih silat, biar aku berlatih setiap hari pun ayah tidak pernah baik kepadaku. Mengapa masih sering memukulku?"
"Nona harus tahu, Tuan tidak pernah sehari hidup tenang maka dia bersikap demikian terhadap Nona!"
"Kenapa hati ayah tidak tenang? Masa 10 tahun lebih tidak pernah tenang? Aku tidak percaya! Tidak percaya...."
"Betul, aku sudah ikut tuan selama 10 tahun lebih, belum pernah aku melihat tuan tenang...."
"Kenapa? Kenapa____"
Wen-yi bertanya kepada A Fu. Dia bersiap-siap akan pergi. A Fu mengikuti Wen-yi sambil memanggil.
"Nona! Nona...."
"Kau terus teriak apa? Aku tidak mau pulang!"
"Apakah Nona tidak ingn membantu tuan memenuhi perjanjian 20 tahun lalu?"
Wen-yi berhenti melangkah.
"Perjanjian 20 tahun lalu menyangkut nama baik tuan."
"Sudahlah, jangan menasehatiku lagi, aku tidak mau pulang!"
"Mana boleh... mana boleh...."
"Setelah dua tahun dan waktu perjanjian itu tiba, aku akan membantu ayah melaksanakan perjanjian itu!"
"Dalam waktu dua tahun ini Nona akan pergi ke mana?"
"Kau tidak perlu tahu, aku ingin hidup bebas selama dua tahun, setelah itu baru pulang. Pulanglah, sampaikan kepada ayah pesanku ini. Cepat pergi! Jangan cerewet lagi!"
A-fu tahu dinasehati pun percuma maka dia pun pergi. A-fu melihat Wen-yi dan berpesan.
"Nona, jaga dirimu baik-baik!"
Dia pergi, hanya sebentar sudah tidak terlihat jejaknya, kalau tadi dia tidak terlihat bungkuk dan berjalan memakai tongkat rasanya Ruan-wei tidak percaya. Wen-yi terpaku kemudian berkata.
"Mari kita pergi!"
"Pergi ke mana?"
"Bukankah kita akan pergi ke Tibet?"
Diam-diam Ruan-wei menertawakan dirinya yang pikun.
Dia segera memberikan tali kekang kuda kepada Wen-yi dan naik kuda.
Mereka berangkat bersama-sama menuju Tibet.
Sepanjang jalan Ruan-wei merasa leluasa walaupun Wen-yi adalah perempuan, dia tetap menganggap Wen-yi adalah adik laki-laki, kadang-kadang di penginapan kecil, dan kamar tidak banyak mereka sering menginap dalam satu kamar dan mengobrol sampai pagi.
Perasaan antara orang sering terjadi karena lama bersama, sepanjang jalan mereka bersama, memang mereka tidak mengungkapkan rasa suka mereka, tapi sebenarnya mereka sudah saling menyayangi dan berjanji sehidup semati.
Musim dingin mereka sudah berada di Qing-hai.
Dari sini menuju Tibet perjalanannya semakin sulit dan sepi.
Biasanya orang yang pergi ke Tibet harus mengikuti barisan pedagang.
Di Mongolia, Xin-jiang, pedagang selalu menggunakan unta untuk mengangkut barang.
Dalam ribuan kilometer perjalanan di gurun pasir berpuluh-puluh atau ratusan unta menjadi satu barisan.
Tapi di Tibet tidak ada gurun pasir hanya ada dataran yang sangat tinggi.
Unta tidak kuat hidup di tempat seperti itu maka barisan pedagang sering memakai binatang pengangkut sejenis kerbau untuk membawa barang.
Ruan-wei dan Wen-yi membeli kuda di Qing-hai dan juga mengikuti barisan pedagang.
Sesampainya di cekungan Cai-da-mu, mereka mengganti kuda mereka dengan kerbau dan mengikuti barisan pedagang masuk ke Tibet.
Sebulan lebih, musim dingin sudah tiba, mereka membeli baju berbulu untuk melewati musim dingin.-Sekarang mereka sudah tiba di kota La-sha, kota terbesar di Tibet.
--BAB 103 Karena marah menjadi biksu Agama Lama adalah salah satu cabang dari agama Budha, berasal dari India kemudian menyebar sampai ke Tibet dan Mongolia.
Penduduk di sana menyebut biksu agama Lama menjadi Lama.
Kota La Sha adalah tempat tinggal salah satu pemimpin politik Da-lai La-ma.
Di sana banyak kuil tinggi dan besar, ekonominya makmur, banyak orang berlalu lalang dijalan.
Dalam hati Ruan-wei berpikir, 'Biksu harimau bisu dan tuli itu adalah biksu India, dia datang ke Tibet pasti tinggal di kuil.' Maka dia pun coba-coba bertanya.
Kuil itu termasuk kuil terbesar di La Sha.
Ruan-wei mengira dari kuil besar ini dia pasti lebih mudah mencari informasi.
Begitu masuk ke kuil dan bertanya-tanya kepada biksu di sana, karena mereka adalah suku bangsa Tibet mereka tidak mengerti bahasa Han.
Ruan-wei dan Wen-yi tidak bisa berbahasa Tibet maka saat mereka bicara tidak ada seorang pun yang mengerti.
Di Tibet jarang ada orang Han, maka mereka sulit mencari orang yang bisa menterjemahkan bahasa Han.
Seorang biksu tua melihat mereka berdua tidak membakar dupa dan sembanyang, hanya bertanya ini itu, maka dia segera mendekat dan bertanya.
"Kedua tuan ini apakah ingin mencari orang Han?"
Bahasanya berlogat Han, tapi Ruan-wei dan Wen-yi harus lama baru mengerti maksudnya. Ruan-wei mengangguk.
"Betul! Kami mencari orang suku Han."
Dia berpikir lagi jika di kuil ini ada orang Han, hanya dengan bertanya bukankah masalah ini akan selesai. Dengan nada aneh Biksu tua berkata lagi.
"Kalian tunggu sebentar!"
Kemudian dia membawa seorang biksu setengah baya pelan-pelan berjalan mendekati mereka.
Diam-diam Ruan-wei berpikir, 'Mengapa Lama lagi?
Sepertinya ini tetap tidak akan berhasil.' Karena Ruan-wei melihat beberapa biksu di sana adalah penduduk Tibet maka dia mengira La-ma pasti orang Tibet juga.
Tidak disangka orang Han juga ada yang menjadi La-ma.
Sesudah La-ma setengah baya itu datang, Ruan-wei bertanya.
"Apakah Anda mengerti bahasa Han?"
Dia bicara dengan pelan satu per satu kata diucapkan, karena dia takut biksu itu tidak akan mengerti. Tapi biksu setengah baya itu segera menjawab dengan jelas.
"Aku adalah suku bangsa Han maka aku mengerti bahasa Han."
Logatnya menegaskan kalau dia berasal dari Jin-ling. Ruan-wei merasa sangat mengenal suara ini, maka dengan teliti dia melihat biksu setengah baya itu. Hal ini membuat dia terkejut dan berteriak.
"Paman Zhong, kau ada di sini, mengapa kau menjadi... menjadi biksu?"
Ternyata biksu itu adalah Zhong-jing, ketika di Jun-hua-shan, orang yang menolong Tuan Jian yang terluka berat dan tidak pernah kembali ke rumah.
Ruan-wei sama sekali tidak menyangka, Zhong-jing meninggalkan istri dan anaknya di Jinling, selama empat tahun dia tidak bertemu Zhong-jing dan dia menjadi biksu.
Jika tidak mendengar suaranya, Ruan-wei tidak akan menyangka kalau biksu botak itu adalah Zhong-jing.
Karena teriakan Ruan-wei membuat biksu di sekeliling sana melihat mereka.
Zhong-jing telah menjadi biksu selama tiga tahun lebih, dia melupakan kehidupan dunia luar.
Karena teriakan Ruan-wei, dia baru mengenal pemuda tinggi besar ini adalah Ruan-wei.
Karena melihat biksu-biksu di sekeliling sana terus melihat mereka, maka dia mengajak mereka ke belakang.
Di belakang kuil sangat luas, kamar-kamar tersusun rapi, mungkin ada 100 kamar lebih, mungkin itu adalah tempat tinggal biksu-biksu.
Begitu Ruan-wei dan Wen-yi masuk ke kamarnya, dia segera berkata.
"Aku sekarang adalah seorang biksu, namaku Wang-cheng, silakan duduk!"
Suaranya sangat tenang, dia seperti tidak mengenali Ruan-wei.
"Apakah Paman tidak mengenaliku lagi, aku adalah Ruan-wei!"
Wang-cheng duduk bersila di ranjang, dia melihat Ruan-wei yang bersemangat, Wang-cheng menggelengkan kepala dan pelan-pelan memejamkan matanya. Dengan sedih Ruan-wei berkata.
"Apakah Paman sudah tidak mengenaliku, ini tidak apa-apa. Apakah Paman juga melupakan istri di Jin-ling yang menunggumu kepulanganmu?"
Ruan-wei mengira karena Zhong-jing terpukul hingga lupa ingatan.
Dengan kata-kata tadi, Ruan-wei berharap pikiran Zhong-jing bisa pulih.
Tapi Wang-cheng tetap duduk dengan tenang, sepertinya di dunia ini tidak ada orang yang disayangi dan dirindukannya.
Ruan-wei pelan-pelan berkata.
"Apakah kau tega membiarkan putrimu setiap hari menunggu ayahnya pulang? Membiarkan seorang anak gadis tidak mempunyai ayah?"
Alis Wang-cheng bergerak sepertinya hatinya mulai tergerak. Ruan-wei berkata lagi.
"Apakah kau tahu kalau mertuamu setiap hari terus mengkhawatirkanmu dan setiap hari terus menangis? Apakah kau tega membiarkan orang tua itu sedih?"
Ketika Zhong-jing cacat karena sebelah tangannya ditepis oleh ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu, Sun-ming tidak tinggal diam, dia mengobatinya dan menjodohkannya dengan putri tunggalnya.
Sesudah mereka menikah, Ling-lin tidak pernah baik kepadanya dan sering mempermainkannya.
Tapi setiap kali Sun-ming yang melerai mereka, dia sangat baik kepada Zhong-jing dan menyayanginya seperti kepada anaknya.
Ketika Zhong-jing mendengar mertuanya menjadi sedih dan menangis terus karena tidak ada kabar mengenainya, dia tidak tahan lagi dan membuka mata.
"Apakah kau pernah bertemu dengan Nyonya Sun?"
Ruan-wei melihat Zhong-jing mulai bicara dan tahu dia belum meninggalkan dunia nyata secara keseluruhan. Dengan senang dia berkata.
"Aku pernah bertemu dengan Nyonya Sun, aku pernah bertemu!"
"Apakah beliau sehat?"
"Beliau sehat...."
Begitu mendengar keadaan mertuanya sehat, matanya terpejam lagi. Ruan-wei mendekat dan menggoyang-goyang pundaknya.
"Paman! Paman! Jangan memejamkan mata lagi, kau harus pulang! Jangan biarkan Nyonya Sun terus mengkhawatirkanmu setiap hari!"
"Aku adalah Wang-cheng, mengapa kau selalu mengatakan hal-hal sebelum aku menjadi biksu?"
Tiba-tiba Wen-yi yang ada di pinggir tertawa.
"Orang yang menjadi biksu, hatinya tidak kotor jika sudah meninggalkan dunia biasa, tapi dalam hati pasti ada hal yang tidak bisa dilupakan. Daripada setiap hari tidak bisa tenang, lebih baik ceritakan semuanya, bukankah akan terasa lebih ringan?"
Zhong-jing membuka matanya dan berkata.
"Wu-chen! Wu-chen, orang yang sudah menjadi biksu harus Wu-cheng (tidak ada dunia nyata). Mengapa aku dinamakan Wang-cheng (melupakan dunia nyata)?"
Wen-yi tertawa.
"Berarti Paman masih belum dapat melupakan hal-hal yang ada di dunia nyata, maka Paman dinamakan Wang-cheng. Paman ingin melupakan semua orang yang hidup di dunia ini, sangat singkat, mengapa Paman harus menjadi biksu untuk melupakan semua hal yang ada di dunia ini? Untuk apa menjadi biksu?"
Ruan-wei ikut bicara.
"Betul, betul! 100 tahun kemudian semua orang pasti akan mati... Paman mempunyai keluarga, Paman harus berhenti menjadi biksu."
"Mereka bukan keluargaku, untuk apa aku berhenti jadi biksu?"
"Mengapa mereka bukan keluarga Paman? Bukankah Bibi Ling-lin adalah istri Paman...."
"Bukan, bukan! Dia bukan istriku...."
Kata Zhong-jing marah Ruan-wei terpaku, diam berpikir, 'Mengapa bukan istrinya?' "Jika dia adalah istriku, mengapa dia tidak pernah menyayangiku...."
Sebelum Ling-lin menikah dengan Zhong-jing, dia sangat mencintai Lu Nan-ren, setelah dia mengira Lu Nan-ren mati di dalam jurang, memang dia tidak seratus persen percaya tapi karena dijodohkan oleh ibunya, maka dia pun menikah dengan Zhong-jing.
Sesudah mereka menikah, karena Lu Nan-ren, dia sering melampiaskan kemarahannya kepada Zhong-jing.
Tapi Zhong-jing sangat mencintainya, setiap hari selalu menelan pelampiasan Ling-lin (lihat di bab sebelumnya).
Zhong-jing masih menundukkan kepala dan menarik nafas.
"Waktu itu aku meninggalkan Jun-hua-shan, aku menunggu paman guru kembali sehat, setelah itu-aku ingin cepat-cepat pulang. Karena aku sudah meninggalkan rumah beberapa bulan, memang Ling-lin tidak pernah mencintaiku. Tapi aku merindukannya. Demi diriku dia melahirkan seorang putri untukku. Aku merasa dia sudah milikku, aku tidak peduli dia cinta kepadaku atau tidak, yang penting dia mau hidup bersamaku, aku sudah merasa bahagia dan puas."
"Ketika sampai di rumah, tadinya aku ingin diam-diam masuk, maksudnya ingin memberi kejutan, tapi di kebun bunga aku melihatnya mengobrol dengan seorang laki-laki, dengan penuh semangat dia bercerita. Selama kami menikah, belum pernah aku melihat dia begitu senang dan tertawa begitu bahagia."
"Waktu itu aku sadar. Pantas seteluh menikah, dia selalu berusaha menyiksaku juga tidak pernah mencintaiku, ternyata hatinya sudah menjadi milik orang lain..."
"Laki-laki itu sangat terkenal di dunia persilatan, orangnya tampan dan luwes tidak seperti aku yang cacat. Dia lebih awal mengenal Ling-lin dan Ling-lin bisa mendapatkan kebahagiaan bersama dengannya. Untuk apa aku mengganggu mereka? Untuk apa aku menjadi suami yang selalu diperalat untuk pelampias kekesalannya? Aku merasa hidup di dunia ini sangat hampa. Aku ingin meninggalkan dunia ini, maka aku berkelana ke tempat yang paling terpencil. Setelah beberapa bulan, aku berkelana sampai ke Tibet. Aku menolong seorang La-ma tua dari perampok. La-ma ini sangat mengerti agama Budha. Sesampainya di kota La-sha, aku mengikutinya menjadi biksu di kuil ini."
"Selama dua tahun ini aku sering bermimpi kembali ke dunia dulu tapi selalu ragu. Aku kira hatiku ingin masuk menjadi biksu begitu kuat, aku tidak tahu bahwa dalam agama Budha memang ada Wu-chen (Wu=tidak ada, Chen=dalam agama Budha menunjukkan dunia biasa). Aku adalah orang biasa, ingin masuk agama Budha menjadi seorang bisku, tapi belum tentu aku bisa!"
Wen-yi menjawab.
"Orang biasa ingin menjadi biksu pasti bisa. Hanya saja dalam hati Paman, masih terus merindukan bibi, tidak dapat melupakan...."
Dia ingin mengatakan 'keluarga', tapi dia malu mengatakannya. Zhong-jing dengan kuat memukul kepalanya, dengan marah dia berkata.
"Aku harus melupakan dia! Melupakan dia...."
Dia berteriak sepuluh kali lebih. Teriakan terakhirnya membuat suaranya serak dan akhir-nya tidak ada suara.
"Siapakah laki-laki itu? Benar-benar keterlaluan!"
Ruan-wei mulai marah.
"Kenapa keterlaluan?"
Dengan suara serak Zhong-jing bertanya.
"Bibi Lin sudah menikah dengan Paman, bagaimana pun laki-laki itu tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan, Paman tidak ada di rumah, dia malah menggoda Bibi Ling. Jika aku bertemu dengan dia, aku akan menghajarnyaa!"
Zhong-jing dengan tenang bertanya.
"Jika dia keluargamu sendiri, bagaimana?"
"Jika begitu lebih bagus, lebih mudah bagiku mencarinya untuk mendapat keadilan. Jika dia benar-benar berniat tidak baik, aku tidak akan mengakuinya sebagai keluargaku!"
Zhong-jing ragu tapi tetap berkata.
"Dia ketua Zheng-yi-bang, Lu Nan-ren!"
Ruan-wei terkejut hingga berteriak, karena dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menggoda Bibi Ling adalah orang yang menjadi ketua Zheng-yi-bang.
"Ketua Zheng-yi-bang sangat terkenal di dunia persilatan, aku hanya seperti cahaya kunangkunang."
"Paman harus pulang supaya nenek Sun tidak mengkhawatirkan paman terus, apalagi yang disebut keluarga jangan sampai terbuang dan tidak terurus."
"Dari pada setiap hari bersedih di sini, lebih baik paman pulang untuk melihat mereka, mungkin ini hanya kesalahpahaman...."
Wen -yi iku t bicara.
Dengan susah payah Zhong-jing kembali ke rumah dan melihat istrinya mengobrol dengan kekasihnya, dia mengira istrinya tidak setia, maka dia sangat marah dan memutuskan untuk menjadi biksu.
Selama beberapa tahun ini dia selalu bertanya-tanya, sebenarnya apakah dia harus menanyakannya dengan jelas?
Maka dia segera menjawab.
"Baiklah, kalian jangan bicara lagi, aku akan pulang untuk melihat keadaan keluargaku dalam beberapa hari ini...."
Ruan-wei sangat senang, Wen-yi pun ikut tertawa.
"Kalau Paman pulang, jangan seperti biksu, kalau tidak bila bibi ingin berkumpul kembali dengan Paman, tidak akan leluasa baginya."
"Mengapa?"
Ruan-wei bertanya aneh.
"Dandanan membuatnya tidak leluasa."
"Sembarangan bicara!"
Karena gurauan mereka, untuk sementara kekesalan Zhong-jing jadi hilang, dan bertanya.
"Kalian datang ke sini mau apa?"
Ruan-wei segera bercerita yang terjadi di Jun-shan, setelah Zhong-jing membawa Tuan Jian yang terluka pergi dan apa yang terjadi pada dirinya. Zhong-jing memuji.
"Kau benar-benar jujur, kau berjodoh dengan ilmu silat aneh, Tian-long-shi-san-jian adalah ilmu pedang terkenal, masa depanmu pasti cerah."
Zhong-jing berpikir sejenak lalu berkata.
"Menurut orang-orang Tibet, di pegunungan Kun-lun, di gunung Kuku Shen-si-shan, gunung ini tingginya 9.000 meter, di sana berdiri sebuah kuil, katanya kuil itu pada jaman kuno dulu adalah kuil suci. Patung-patung Budha dan tiang penyangga kuil semua terbuat dari emas. Tapi tidak ada seorang pun yang pernah pergi ke sana, juga tidak ada orang yang berani ke sana, karena gunung itu sepanjang tahun selalu ditutup oleh salju dan es abadi. Di sana adalah daerah terdingin di Tibet. Kalau pergi ke sana, sering mati tenggelam di dalam salju dan terkubur hidup-hidup."
"Beberapa tahun yang lalu dari India ada dua biksu pergi ke Tibet, mereka mengatakan ingin mencari kuil itu, mungkin salah satu dari mereka adalah biksu harimau bisu tuli. Dia berjanji bertemu denganmu empat tahun kemudian, apakah dia mengatakan bertemu di mana?"
Ruan-wei menggelengkan kepala.
"Tidak, kami berjanji bertemu di sana, mungkin dia menungguku di Kuku Shen-li-shan, berarti aku harus berangkat ke sana untuk melihat."
"Keponakan berilmu silat tinggi, pasti tidak akan takut menghadapi salju dan es. Dari sini ke Kuku Shen-li-shan masih ada 1.000 kilometer lagi, perjalanan ke sana sangat sulit, susah untuk mencapai tempat itu."
"Apakah ada barisan pedagang yang lewat ke sana?"
Tanya Ruan-wei.
"Memang ada, tapi jarang ada yang melewati Tibet sampai ke Kun-lun dan Xin-jiang, mereka akan berputar di Qin-hai,"
Jelas Zhong-jing.
"Kalau begitu, keponakan pamit dulu."
Ruan-wei dan Wen-yi berpamitan dengan Zhong-jing, setelah menghabiskan waktu beberapa hari mereka baru mendapatkan barisan pedagang yang menggunakan alat angkut kerbau, dengan menempuh bahaya mereka ingin melakukan perjalanan pintas ke Xin-jiang.
Mereka pun mendaftarkan diri.
Hari kedua mereka pun berangkat.
Sepanjang perjalanan sangat dingin dan angin pun sangat besar.
Suhu di pagi hari dan di malam hari sangat jauh perbedaannya.
Pemandangan di sepanjang jalan sangat indah, penduduk di dataran tinggi tidak seperti penduduk La-sha.
Karena di daerah La-sha masih bisa bercocok tanam dan mereka bisa menetap, karena itu mereka membuat rumah dari batu.
Tapi di dataran tinggi, penduduknya hidup menggembala di gunung dan mereka mengguna-kan tenda untuk tempat berteduh.
Tenda mereka berbeda dengan tenda biasa, tenda mereka di satu sisi pasti menyandar ke dinding gunung.
Maka bentuk tenda mereka persegi dan di atasnya ditutupi dengan kulit kerbau Li yang tebal.
Mereka menggunakan kotoran kerbau untuk dijadikan dinding pendek yang dibuat untuk menahan angin yang berhembus dingin.
Terkadang dalam satu hari bisa melihat beberapa tenda seperti itu dan terkadang mereka masih memelihara banyak biri-biri dan kerbau Li tapi terkadang dalam sehari tidak tampak ada satu tenda pun.
Setelah melakukan perjalanan selama 8 hari, mereka tidak pernah berpapasan dengan seorang pun, karena udara di sana tipis, mereka mulai merasa nafas mereka tidak enak.
Beberapa pedagang sering lewat, sikap mereka sangat gugup, dari wajah mereka tampak sepertinya bakal ada bencana yang datang.
Pedagang tua yang memimpin barisan menyuruh semua orang untuk lebih berhati-hati terhadap kerbau yang mereka tunggangi tapi tidak menyebutkan alasan lainnya.
Ruan-wei dan Wen-yi yang mempunyai ilmu silat tinggi, mereka tidak melihat ada yang aneh, maka mereka sama sekali tidak peduli.
--Saat sore tiba, di langit terlihat ada petir, Ruan-wei dan Wen-yi mengira akan turun hujan, maka guntur terus berbunyi.
Semua pedagang tampak kalang kabut, saat Ruan-wei menanyakan apa sebabnya, di sebelah barat terdengar suara HU!
HU!
yang sangat keras, ternyata salju besar sedang turun, begitu besarnya sampai jari sendiri pun tidak terlihat.
Salju itu bukan berasal dari langit, tapi datang dari dataran salju yang menumpuk karena tertiup angin maka salju pun beterbangan ke arah mereka.
Karena angin sangat besar, Ruan-wei tidak bisa berdiri dengan kuat, suara keras dari sana membuat telinganya serasa tuli, karena tidak bisa melihat ke depan, dia berteriak.
"Adik Yi! Adik Yi! di mana? Kau di mana?"
Tenaga dalamnya memang kuat tapi begitu dia bersuara, langsung tertiup angin, lama tidak terdengar jawaban dari Wen-yi.
Karena Wen-yi tidak terlihat, Ruan-wei berjalan dalam hembusan angin sambil berteriak.
"Adik Yi... Adik Yi... Adik Yi...."
Tiba-tiba ada salju datang lagi disertai hembusan angin besar, Ruan-wei tidak kuat berdiri dia jatuh terguling ke dalam salju dan tidak sadarkan diri....
oo BAB 104 Kacau seperti teriknya sinar matahari Ruan-wei jatuh terguling di atas salju, setelah cukup lama dia baru sadarkan diri, waktu itu hari telah gelap, begitu membuka matanya, dia berteriak.
"Adik Yi... Adik Yi...."
Dia belum tahu sekarang dia berada di sebuah tenda, dia mengira masih berada di gurun pasir yang luas.
Di dalam tenda hanya ada cahaya lilin yang terbuat dari minyak sapi.
Cahaya terus bergoyang-goyang menyinari tubuh yang tiba-tiba duduk.
Bayangannya bergoyang-goyang seperti hantu gentayangan.
Terdengar owa...
owa.., suara tangisan bayi.
Ternyata teriakan Ruan-wei membuat bayi yang tertidur nyenyak jadi terbangun karena kaget.
Tenda ini sangat besar, mungkin ada sampai puluhan meter luasnya, di tengah-tengah tenda dihalangi oleh sehelai kain terpal, sehingga tenda terbagi menjadi dua bagian.
Seorang perempuan langsing dengan cemas masuk ke dalam tenda.
Karena masih terkejut dalam peristiwa angin besar yang menerpa, Ruan-wei masih termenung melihat sekeliling.
Seorang wanita menggoyang-goyang bayi itu, tangisan bayi semakin kecil.
Perempuan langsing itu dengan lembut mendekati Ruan-wei dan menyuruhnya berbaring, menyelimutinya dengan selimut hangat, 10 jari dengan lembut memijat nadi Tai Yang yang ada di pinggir telinga agar Ruan-wei bisa kembali tidur.
Kedua mata Ruan-wei yang lebar terus melihat perempuan langsing itu.
Pelan-pelan perempuan itu bertanya.
"Apakah kau kenal denganku? Kau kenal denganku?"
Ruan-wei tidak mengangguk juga tidak menggelengkan kepala, dia hanya melihat perempuan itu.
Karena lelah matanya dipejamkan.
Perempuan langsing itu masih terus menggosok nadi Tai-yang Ruan-wei tapi air matanya menetes dan terjatuh di atas wajah Ruan-wei yang pucat, Ruan-wei tidak merasakannya karena dia sudah tertidur pulas....
Di ufuk timur muncul cahaya tapi di dalam tenda masih sangat sepi.
Di luar, angin masih bertiup dengan kencang membuat tenda yang terbuat dari kulit terus berbunyi.
Pintu kulit tersibak, muncul kepala seseorang yang penuh cambang, angin telah berhenti.
Dengan bahasa Tibet dia berkata marah.
"Sial sekali udara di sini!"
Dengan sekuat tenaga dia mendorong salju yang menumpuk di depan pintu tenda.
Salju menumpuk setinggi pintu tenda.
Begitu keluar dan melihat sekeliling, yang dia lihat hanyalah salju.
Biri-biri dan kerbau sudah tidak ada.
Laki-laki yang penuh dengan cambang itu mengira binatang peliharaannya hilang tertiup angin maka dia pun tergesa-gesa pergi ke tenda sebelah.
Dengan menggunakan bahasa Tibet yang keras dia berkata.
"Orang rumah, cepat bangun! Binatang peliharaan kita semua habis terbawa angin!"
Dari dalam tenda muncul seorang perempuan setengah baya bersuku bangsa Tibet, sambil menguap dia bertanya.
"Kau meributkan apa?"
Laki-laki itu mengomel.
"Kau sudah tidur 3 hari, apa masih belum cukup, lihat semua binatang peliharaan kita sudah tidak ada!"
Ternyata angin kencang sudah berlangsung selama 3 hari.
Di Tibet, laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama tapi ada sebagian tempat di mana derajat perempuan lebih tinggi dari laki-laki, maka dalam hubungan suami istri terkadang kedudukan istri lebih tinggi dari suami dan suami harus mendengarkan semua kata-kata istrinya.
Perempuan itu menguap lagi, dia menggosok-gosok matanya dan berkata.
"Pagi-pagi sudah berteriak seperti setan! Apakah benar binatang peliharaan kita hilang tertiup angin, apakah sudah kau periksa dengan benar?"
"Di luar kosong, tidak ada apa-apa, aku harus mencari apa?"
Perempuan itu berjalan ke tempat di mana biasanya binatang peliharaan mereka dikurung.
Sambil mendorong salju yang menumpuk dan baru saja menggali, terdengar suara sapi dan kambing terdengar, dia berteriak.
"Hei, cepat kemari, bantu aku menggali! Binatang peliharaan kita tidak terbawa oleh angin tapi terkubur di dalam salju."
Mereka berdua dengan sekuat tenaga menggali salju.
Setengah jam kemudian semua sapi dan kambing berhasil dikeluarkan.
Tubuh mereka penuh dengan salju, mereka mengeluarkan uap nafas putih.
Kerbau dan biri-biri paling tahan dengan cuaca dingin, mereka terkubur selama 3 hari tapi tidak mati kedinginan.
Laki-laki bercambang itu menghitung jumlah kerbau dan biri-biri, semuanya ada 70 ekor lebih, kurang dua ekor, mungkin tergulung oleh angin besar.
Dengan senang dia berkata.
"Istriku, kita sangat beruntung, angin begitu besar tapi hanya dua ekor biri-biri yang terbawa angin."
Angin di Tibet memang sangat aneh juga sangat besar, biasanya sering membuat orang di sana rugi besar.
Karena angin bertiup dari arah barat laut maka penduduk Tibet selalu menganggap angin itu adalah Dewa Wang-di-shi-shen, maka angin ini dinamakan angin Wang-di-shi.
Perempuan Tibet itu marah.
"Pagi-pagi belum tahu apa-apa sudah ribut, jika Nona Lan terbangun akan kukupas kulitmu!"
"Sekarang sudah siang bukan pagi-pagi lagi,"
Protes laki-laki bercambang itu. Perempuan Tibet itu menatap langit, matahari bersembunyi di balik awan hitam. Dengan terkejut dia berkata.
"Betul, hari sudah siang! Suamiku, cepat kumpulkan kerbau dan biri-biri, sebelum malam kita harus pindahkan mereka ke tempat yang berumput."
Perempuan Tibet itu masuk ke dalam tenda.
Tampak Nona Lan sedang tertidur nyenyak di atas tubuh laki-laki yang ditolongnya dari tumpukan salju.
Dia tidak mau membangunkan Nona Lan, dia tahu semenjak Nona Lan menolong laki-laki itu, sudah 3 hari dia tidak tidur nyenyak.
Melihat Nona Lan tertidur nyenyak, perempuan Tibet itu benar-benar tidak percaya kalau dewi ini adalah orang yang paling ditakuti oleh perampok-perampok Tibet dan dia juga adalah perempuan jantan nomor satu, Da-lai La-ma dari istana Bu-da-la di kota La-sha menyebutnya demikian.
Dari tenda sebelah terdengar tangisan bayi lagi.
Suara itu membuat perempuan Tibet ini tersadar dari lamunannya, dengan cepat dia berlari ke tenda sebelah karena takut tangisan bayi ini akan membangunkan Nona Lan yang masih tidur nyenyak.
Tapi tangisan bayi itu sudah membangunkan Nona Lan, dia tidak menyangka karena terlalu lelah dia tertidur di atas tubuh laki-laki itu.
Laki-laki itu dengan mata lebar melihatnya.
Wajah Nona Lan menjadi merah, pahlawan perempuan nomor satu di Tibet ini merasa malu juga tidak tenang karena dilihat oleh seorang laki-laki ketika sedang tertidur.
Bayi itu sudah berhenti menangis, tenda di sebelah menjadi sangat sepi, tidak ada seorang pun yang bicara, tiba-tiba Nona Lan teringat pada sakit laki-laki dan kondisinya, melihat dia masih dengan keadaan bingung melihatnya.
Karena itu Nona Lan meneteskan air mata dan berkata.
"Ruan-wei! Ruan-wei! Apakah kau tidak mengenali Kakak Lan? Apakah kau tidak kenal...."
Tapi Ruan-wei masih tetap bengong melihatnya. Dia tidak ingat kejadian yang telah lalu tapi mulutnya selalu memanggil.
"Adik Yi... AdikYi... Adik Yi...."
Semenjak ditolong oleh Nona Lan dari tumpukan salju, setiap kali terbangun dia selalu berteriak.
"AdikYi... AdikYi...."
Ternyata Nona Lan adalah Gongsun Lan yang disangka Ruan-wei berpura-pura baik tapi tujuannya adalah mengambil buku rahasia Tian-long-shi-san-jian miliknya.
Semenjak Ruan-wei menyangka kebaikan Gongsun Lan cuma pura-pura maka Gongsun Lan ingin menjelaskan hal sebenarnya kepada Ruan-wei.
Dia terus mencari Ruan-wei ke mana-mana hingga ke Yun Nan, nyawanya hampir melayang tapi dia tidak berhasil menemukan Ruan-wei.
Setelah mengobati racunnya di rumah 'Ba-gua-zhang' Fan Zhong-pin, dia merasa kecewa, maka dia pun meninggalkan pedang Fei-long-jian yang sangat disayanginya dan menitipkannya kepada Fan Zhong-pin untuk diberikan kepada Ruan-wei.
Gongsun Lan pun kembali Tibet.
Gongsun Lan adalah putri tunggal Fei-long-jian-ke, yang pasti dia tidak ingin jauh dari ayahnya dan juga tidak ingin berkelana di Zhong-yuan.
Fei-long-jian berada di sisi Ruan-wei, semenjak Gongsun Lan melihat Fei-long-jian, dia baru tahu kalau laki-laki yang sedang pingsan itu adalah Ruan-wei yang waktu itu baru berusia 14 tahun.
Ruan-wei sekarang sudah lebih tinggi dan lebih dewasa.
Pertama kali saat bertemu dengan Ruan-wei dia merasa sangat senang dan mengira, begitu dia terbangun mereka akan mengobrol tentang semua hal semenjak mereka berpisah.
Tapi sesudah Ruan-wei sadar, dia hanya bisa berteriak memanggil 'Adik Yi', yang lainnya dia sama sekali tidak tahu.
Hal ini membuat Nona Lan sedih, dengan cara apa pun dia berusaha bercerita, tapi Ruan-wei hanya melotot dengan mata besar dan tidak ada reaksi sedikit pun.
Air matanya mengalir.
Perempuan Tibet itu berkata.
"Nona Lan, jangan menangis, pendekar perempuan nomor satu di Tibet tidak akan menangis karena hal ini!"
Gongsun Lan menghapus air matanya dan berkata kepada perempuan Tibet itu.
"Wu-mao-shao, apakah angin besarnya sudah berhenti?"
Bahasa yang digunakan Nona Lan adalah bahasa Tibet.
"Sudah lama berhenti, Nona Lan."
"Apakah kerbau dan biri-biri yang kita pelihara masih ada?"
Dengan senang perempuan Tibet itu berkata.
"Kita benar-benar dilindungi oleh Tuhan, kerbau kita masih utuh, biri-biri hanya hilang 2 ekor."
Nona Lan mengeluarkan uang dan memberikannya kepada perempuan Tibet itu.
"Ketika aku datang kemari, kudaku terbawa angin dijalan. Aku titipkan uang ini kepada Kakak Wu-mao, tolong belikan aku 2 ekor kerbau Li."
"Baiklah! Aku akan berpesan kepada Wu-mao untuk menyiapkan kerbau Li."
Dengan lembut Nona Lan membantu Ruan-wei memakai mantel kulit berwarna hitam, topi kulit, penutup telinga sampai dahi kemudian pedang dan mantel diikat dengan kencang.
Jika malam mantel besar ini bisa dijadikan selimut.
Semua sudah selesai dipersiapkan.
Karena Gongsun Lan sering berada di dataran tinggi Tibet maka makanan kering dan peralatan untuk menginap di luar disiapkan dengan baik.
Ruan-wei seperti patung, semua diatur oleh Nona Lan, dia tidak bicara juga tidak bergerak, ditarik oleh Gongsun Lan, dia ikut keluar dari tenda.
Wu Mao di luar sudah menyiapkan 2 ekor kerbau Li.
Begitu Nona Lan keluar, dia segera membawakan barang-barang Nona Lan dan diikat dengan kencang di tubuh kerbau.
Perempuan Tibet itu membawa 2 kantong yang terbuat dari kulit sapi.
Kulit itu berwarna putih, itu adalah kulit kerbau Li berwarna putih yang mahal.
Kulit kerbau ini jika sudah diisi dengan teh panas walaupun udara dingin tapi teh tetap panas dalam waktu satu malam.
Dia memberikannya kepada Nona Lan dan berpesan.
"Di dalam ada teh panas yang baru dimasak!"
Gongsun Lan sangat berterima kasih tapi sifat suku bangsa Tibet tidak suka dengan sikap sungkan. Maka Gongsun Lan hanya berkata.
"Terima kasih!"
Tapi ketika Gongsun Lan naik ke atas kerbau, dia memberikan Wu-mao uang emas dan Wu Mao berteriak.
"Dewi Lan, Dewi Lan, aku tidak mau!"
Tapi Nona Lan sudah pergi sambil membawa tali kekang kerbau yang ditunggangi Ruan-wei. Perempuan Tibet itu berkata.
"Sudahlah! Sudahlah! Nona Lan tidak pernah menerima pemberian orang lain begitu saja!"
Begitu Gongsun Lan pergi, suami istri itu dengan cepat membongkar tenda, membereskan barang-barang mereka.
Mereka berencana sebelum pagi harus tiba di tempat yang berumput.
Di dataran tinggi ini di mana-mana hanya terlihat salju.
Walaupun belum hujan salju tapi hujan angin selama beberapa hari yang lalu membuat bumi tertutup salju.
Gongsun Lan mengikat tali kerbau Ruan-wei ke belakang kerbaunya.
Dengan begitu kerbau yang ada di belakangnya tidak akan lepas dan tersesat.
Hari semakin malam, mereka belum keluar dari lingkaran salju, tapi mulai terlihat ada pohon besar.
Hutan yang ada di sini ditumbuhi dengan pohon-pohon yang tahan dingin seperti cemara dan lainnya.
Gongsun Lan tahu malam ini mereka tidak akan bisa tiba di tempat yang ada pasarnya.
Dia takut Ruan-wei tidak tahan dengan udara dingin, maka dia mencari sebuah kaki gunung untuk memasang tenda.
Ruan-wei terlihat sangat tenang dalam perjalanan setengah hari ini.
Dia duduk dengan tegak di punggung kerbau, dan tidak terlihat mengantuk, dia tetap tidak bicara, dengan mata melotot dia terus melihat ke depan.
Gongsun Lan memapahnya turun, dia pun turun.
Melihat Ruan-wei seperti tidak kedinginan malah membuat Gongsun Lan merasa aneh karena dia sendiri mulai merasa kedinginan.
Dengan aneh Gongsun Lan bertanya.
"Apakah kau tidak merasa dingin?"
Tapi Ruan-wei tidak menjawab. Gongsun Lan menarik nafas.
"Sebenarnya kau sakit apa?"
Tenda dilapisi dengan kulit yang sangat tebal.
Tenda ini sangat kecil, biasanya tenda ini digunakan untuk seorang.
Gongsun Lan membuka mantel dan sepatu kulit Ruan-wei dan membiarkannya berbaring.
Tidak ada tempat untuk bergerak.
Jika mereka berdua tidur di tempat ini harus saling berpelukan baru bisa meletakkan sedikit makanan dan peralatan-peralatan lainnya.
Gongsun Lan mengeluarkan kayu bakar.
Di luar tenda dia membuat api unggun.
Api besar dan terang, udara menjadi panas sudah masuk ke dalam tenda.
Tenda kecil terasa hangat seperti musim semi.
Karena di belakang tenda adalah dinding gunung maka udara panas tidak menyebar keluar.
Hal ini membuat Gongsun Lan merasa panas dan dia pun membuka mantel kulitnya.
Hari berlalu lagi, sepanjang jalan Gongsun Lan berburu beberapa binatang kecil menggunakan senjata rahasianya, dia mengupas kulit binatang dan membersihkan organ dalam binatang.
Sekarang dia memoles minyak sapi ke atas tubuh binatang itu untuk dipanggang.
Daging terbakar dan wangi.
Gongsun Lan membagi daging itu menjadi dua bagian kemudian mengeluarkan makanan kering.
Teh di dalam kantong kulit masih terasa panas dan dia menuangkan teh itu ke dalam cangkir yang terbuat dari kayu.
Kemudian dia memapah Ruan-wei dan menyuapi Ruan-wei.
Sesudah makan, Gongsun Lan membantunya tidur lagi.
Kali ini Ruan-wei tidak menurut, dia ingin duduk bersila.
Ketika Gongsun Lan tidak sengaja mengenai dadanya, dia baru tahu ternyata aliran ada udara bergejolak.
Ternyata Ruan-wei sedang mengatur nafas.
Ruan-wei tidak seperti biasanya, duduk bersila dan matanya dipejamkan.
Dengan termenung dengan dua mata melotot dia mengatur nafas.
Kelihatannya dia belum kembali normal.
Gongsun Lan tidak percaya orang yang hilang ingatan bisa mengatur nafas seperti itu.
Biasanya orang yang memiliki tenaga dalam yang tinggi baru akan seperti itu, apakah tenaga dalam Ruan-wei sudah mencapai tahap itu?
Gongsun Lan tidak tahu kalau Ruan-wei telah belajar ilmu sakti yoga.
Yoga tidak seperti ilmu silat di Zhong-yuan.
Jika dia tahu Ruan-wei sering duduk di punggung kerbau dan mengatur nafas, dia akan lebih terkejut lagi.
Gongsun Lan tidak tahu keadaan Ruan-wei maka dia selalu mengkhawatirkan keadaan Ruanwei.
Dia juga tidak mau mengganggu Ruan-wei.
Gongsun Lan memakan sisa makanan Ruan-wei agar dia sendiri tidak kelaparan.
Setelah makan, rasa lelah mulai menyerang.
Kayu bakar ditambah.
Setelah mengatur nafas, Ruan-wei berbaring untuk tidur.
Gongsun Lan juga kelelahan dan tertidur.
Tengah malam Ruan-wei beberapa kali terbangun, dia selalu memanggil.
"AdikYi, AdikYi!"
Gongsun Lan dengan sabar merawat Ruan-wei dan mengelus-elus nadi Tai Yang agar Ruanwei bisa tertidur nyenyak.
Gongsun Lan baru bisa tertidur dini hari.
Siang hari Gongsun Lan baru terbangun, api unggun di luar sudah padam tapi dia merasa tubuhnya hangat.
Begitu membuka matanya, dia baru sadar ternyata dia sedang berpelukan dengan Ruan-wei.
Dia merasa sangat malu karena ini pertama kalinya dia berpelukan dengan lakilaki.
Untung mereka memakai baju tebal jika tidak Gongsun Lan benar-benar malu.
Dengan malu dia membangunkan Ruan-wei.
Begitu mata Ruan-wei terbuka, Gongsun Lan merasa lebih malu lagi.
Dia cepat-cepat membantu Ruan-wei memakai mantel kulit dan juga membereskan barang-barang, mengambil poci yang semalam diletakkan di sisi api unggun.
Dari poci dia menuang air hangat dan membantu Ruan-wei mencuci muka kemudian menyikat gigi.
Ruan-wei benar-benar diperlakukan seperti anak kecil, semua harus diurus oleh Gongsun Lan.
Siang hari mereka baru berangkat.
Belum sampai sore, mereka sampai di sebuah kota.
Kota itu kecil, penduduknya juga sedikit.
Kebanyakan mereka adalah pengembala dan pemburu.
Kebanyakan mereka mengenali Gongsun Lan.
Melihatnya datang, dengan hormat mereka memanggil.
"Dewi Lan, apa kabar?"
Perempuan-perempuan melihatnya, sambil tertawa mereka memanggil.
"Nona Lan, sudah lama kita tidak ber-jumpa!"
Gongsun Lan menyapa mereka satu per satu sambil tertawa tapi mereka merasa aneh mengapa Nona Lan membawa seorang laki-laki idiot.
Tapi tidak ada yang berani bertanya kepadanya.
Gongsun Lan menukar dua ekor kerbau Li dengan 2 kuda Tibet yang tinggi dan besar dan tergesa-gesa melanjutkan perjalanan lagi.
Pagi hari berjalan, malam mereka tidur.
Malam hari Gongsun Lan masih harus mengurusi Ruan-wei.
Mereka tetap tidur di dalam tenda kecil itu.
Setelah beberapa hari berlalu, pada malam hari Ruan-wei jarang terbangun.
Gongsun Lan sudah terbiasa dengan Ruan-wei dan tidak malu-malu lagi seperti seorang gadis yang belum menikah.
Lama kelamaan walaupun Ruan-wei masih lupa ingatan tapi dia mulai mengenali Gongsun Lan.
Jika Gongsun Lan meninggalkannya sebentar, saat kembali Ruan-wei akan tersenyum kepadanya.
Ada suatu kali karena Gongsun Lan pergi berburu binatang dan lama tidak pulang, Ruan-wei pergi menelusuri jalan yang dilalui Gongsun Lan.
Pada waktu Gongsun Lan pulang dia tidak melihat Ruan-wei, dia terkejut dan berteriak mencarinya ke mana-mana.
Dengan susah payah baru dia baru berhasil menemukan Ruan-wei.
Semenjak itu Gongsun Lan tidak berani meninggalkannya lagi.
Sepuluh hari telah berlalu, mereka tiba di Gunung La-wa.
Dari Gunung La-wa hingga Wu-ke-lun harus berjalan 3 hari lagi baru akan terlihat Long Shan.
Gunung La-wa tidak tinggi tapi luas.
Gunung itu gersang, jarang ada salju, maka di waktu malam bisa melihat gunung yang hijau.
Siang hari mereka mulai mendaki gunung.
Saat malam tiba mereka belum keluar dari gunung itu.
Terlihat Gongsun Lan sangat cemas.
Dia seperti-nya sangat takut dengan tempat ini.
Pegunungan ini sangat luas, jalannya pun berliku-liku.
Ternyata mereka tersesat, terpaksa harus menginap di dalam hutan cemara.
Begitu hari terang, mereka baru bisa mencari jalan keluar.
Gongsun Lan mengumpulkan kayu bakar dan di sekeliling tenda memasang beberapa api unggun, setelah itu dia baru berani membawa Ruan-wei tidur.
Tengah malam, Ruan-wei terkejut dan bangun.
Dia terduduk.
Gongsun Lan yang tidur dalam pelukan Ruan-wei ikut terbangun.
Dia mengira Ruan-wei akan berteriak tapi kali ini Ruan-wei hanya diam.
dia hanya melotot dan melihat keluar tenda.
Gongsun Lan tahu di luar tenda ada sesuatu yang tidak beres.
Begitu membuka pintu tenda, terlihat di sekeliling tenda penuh dengan serigala.
Jumlah mereka mungkin ada ribuan ekor.
Serigala biasanya takut dengan api.
Jika di luar tenda tidak dipasang api unggun mungkin sejak tadi serigala-serigala itu sudah masuk ke dalam tenda.
Serigala itu terlihat kelaparan.
Begitu mencium ada bau manusia, mereka mengelilingi tenda.
Lidah mereka terjulur keluar dengan panjang dan mereka tidak mau meninggalkan tempat itu.
Wajah Gongsun Lan mulai pucat, dia tidak menyangka gerombolan serigala di Gunung La Wa akan berkumpul di sini.
Jumlah mereka semakin bertambah.
Kayu bakar memang sudah disiapkan banyak tapi hanya bisa bertahan sampai besok pagi, begitu kayu bakar habis, gerombolan serigala itu akan menyerang mereka.
Hari mulai terang, api unggun semakin mengecil.
Dalam hati Gongsun Lan berpikir, kecuali menghadapi gerombolan serigala itu, tidak ada cara lain supaya bisa keluar dari kepungan serigala liar itu.
Maka dia mulai mengumpulkan sisa kayu bakar, membereskan tenda.
Ruan-wei duduk di tengah.
Gongsun Lan memasang kayu bakar di sekeliling Ruan-wei, kemudian mengikat baju dan celana dengan kencang, pedang di tangan.
Api semakin kecil.
Dini hari tidak terlihat begitu terang.
Gerombolan serigala mulai bergerak, mereka sering melolong karena kelaparan.
Ada beberapa ekor serigala mendekati api.
Dengan cepat Gongsun Lan menyalakan api unggun yang mengelilingi Ruan-wei.
Salah satu api unggun yang semalam dipasang baru padam.
Puluhan serigala setinggi pinggang menyerang mereka.
Untung Gongsun Lan sudah siap, segera pedangnya ditusukkan.
Setiap serangan Gongsun Lan mengenai tenggorokan serigala, maka 10 ekor lebih serigala langsung mati.
Tubuh serigala yang mati mengganggu loncatan Gongsun Lan.
Kecuali membunuh serigala, dia masih harus menendang bangkai-bangkai serigala yang mati agar berada di luar jangkauan api unggun.
Sifat serigala memang kejam, melihat ada serigala yang mati ditendang jatuh, mereka segera memakannya.
Seekor serigala mati baru beberapa detik mati sudah dimakan bersih oleh temannya sendiri.
Darah serigala mengalir ke mana-mana.
Serigala yang ada di belakang karena tidak kebagian dan mencium darah maka sifat buas mereka pun muncul.
Mereka mulai menyerang ke api unggun.
Karena berdesak-desakan, ratusan serigala sudah berada di dalam lingkaran api unggun.
Api unggun diinjak-injak hingga padam.
Begitu api mati, serigala mulai menyerang, 2 ekor kuda tidak bisa lolos, hanya sekejap 2 ekor kuda dimakan bersih.
Yang tersisa hanya 2 pelana, tulangnya pun tidak tersisa.
Karena membunuh serigala terus, mata Gongsun Lan mulai menjadi merah.
Pedang diletakkan di depan untuk berjaga, begitu serigala datang, kilauan pedang segera terlihat.
Kadang-kadang hanya terkena sebelah kaki, tapi serigala yang terluka itu segera dimakan oleh teman mereka.
Ruan-wei yang duduk di tengah-tengah lingkaran api karena api semakin besar maka serigala tidak berani mendekat.
Sementara waktu dia terlihat masih aman-aman saja.
Tapi Ruan-wei seperti tahu karena kedua matanya melotot dengan besar melihat Gongsun Lan yang sedang membunuh serigala, kadang-kadang sorot mata-nya mengeluarkan perasaan.
Sorot seperti itu belum pernah terlihat semenjak dia sakit.
Karena sorot matanya selalu terlihat datar dan tidak ada perasaan.
Terakhir kaki Gongsun Lan mulai terasa lemas begitu pula dengan tangannya, cahaya pedang Gongsun Lan terlihat semakin lambat.
Kain pembungkus kepala sudah hilang entah ke mana, rambutnya acak-acakan, tubuhnya penuh dengan darah serigala.
Seekor serigala menyerang Gongsun Lan dari belakang, tiba-tiba Ruan-wei berteriak.
"Bahaya!"
Ruan-wei dengan cepat mengayun tangannya, pedang membunuh serigala seperti membelah labu, bersih, dan cepat.
Dalam jarak 5 meter serigala tidak berani mendekat.
Tapi jumlah serigala semakin banyak, sepertinya serigala yang ada di Gunung La-wa semua datang ke sana.
Ruan-wei memang belum begitu sadar, tapi ilmunya sedikit pun tidak berkurang.
Semua yang dia keluarkan adalah jurus Tian-long-shi-san-jian.
Yang dia pikirkan di otaknya adalah bagaimana menolong Gongsun Lan dia ingin mendekati ke arah Gongsun Lan.
Sambil membunuh serigala dia berjalan mendekati Gongsun Lan.
Sampai terakhir pedang Gongsun Lan menjadi tumpul.
Karena pedang terus menggulung ke atas, jika tidak menggunakan tenaga besar tidak akan bisa membuat serigala terluka.
Lama kelamaan tenaga Gongsun Lan habis dan ilmu silatnya semakin melambat.
Keadaan sangat membahayakan.
Melihat Ruan-wei yang membunuh hampir 500 ekor serigala.
Jarak dengan Gongsun Lan sekitar 5 langkah lagi.
Gongsun Lan sudah kehabisan tenaga.
Seekor serigala menggigit pedangnya.
Dia mencabut pedang, serigala lain menyerangnya.
Karena terkejut, berteriak pun sudah tidak bisa.
Dia berpikir kali ini dia pasti akan mati, tiba-tiba merasa tubuhnya terasa sangat ringan seperti terbang.
Begitu melihat dengan benar ternyata Ruan-wei sudah menggendong dia.
Karena agak tenang dia memeluk Ruan-wei dan rasa lelah membuatnya tertidur.
Ruan-wei tahu serigala tidak akan bisa terbunuh sampai habis, satu-satunya cara adalah kabur dari sana.
Karena itu dia menggendong Gongsun Lan.
Dia menginjak tubuh serigala, dia meloncat di atas serigala.
Ilmu meringankan tubuh Ruan-wei memang tinggi walaupun sedang menggendong Gongsun Lan tapi dia terlihat ringan seperti tidak membawa apa-apa.
Hanya sebentar dia sudah meloncat meninggalkan gerombolan serigala.
Setelah turun, dia segera berlari, serigala masih terus mengejar mereka tapi setelah puluhan meter mereka sudah tertinggal jauh dari Ruan-wei.
Angin dingin terus menyerang hingga kedalam tulang.
Karena kedinginan Gongsun Lan pun terbangun.
Begitu matanya dibuka, dia benar-benar merasa malu.
Ruan-wei tidak tahu Gongsun Lan sudah bangun.
Begitu menaruh Gongsun Lan, baju bagian pundaknya disobekkan.
Baju ikut tersobek, terlihat tubuhnya yang mulus.
Buah dadanya pun terlihat.
Tapi Ruan-wei sama sekali tidak tertarik.
Dia sedang memeriksa luka Gongsun Lan di pundak yang digigit serigala tadi.
Gigi serigala masih tertinggal dan menancap di pundak Gongsun Lan.
Setelah lama Ruan-wei baru bisa mencabut semua gigi itu dan membersihkan lukanya.
Begitu gigi serigala dicabut, darah pun bercucuran.
Gigi serigala mengandung racun.
Jika darah yang berwarna ungu tidak mengalir bersih, maka Gongsun Lan akan terkena racun.
Tapi darah mengalir sangat pelan, Ruan-wei tidak mengerti cara untuk membersihkan racun maka dia hanya bisa menyedot darah yang beracun kemudian darah kotor ini dibuang.
Lalu berpindah ke luka lain dan menyedot lagi.
Tangan Gongsun Lan dipegang dan disedot.
Hal ini membuat wajah Gongsun Lan menjadi merah tapi demi Ruan-wei dia juga tidak takut kotor.
Gongsun Lan merasa berterima kasih.
10 hari lebih bersusah payah mengurus dan merawatnya, sekarang semua menjadi perasaan yang lembut.
Perasaan berputar di dada menjadi perasaan manis.
Melihat darah sudah tidak mengalir lagi, Ruan-wei berhenti menghisap.
Dia dengan bengong melihat Gongsun Lan.
Ketika Gongsun Lan membunuh seigala, dia tidak menggunakan mantel kulit, hanya menggunakan rompi.
Karena jika memakai mantel dia tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Sekarang rompinya habis tercakar oleh serigala maka dia menarik baju yang sudah sobek untuk menutupi pundak.
Tapi karena terlalu kuat, pundak sudah tertutup malah bagian dada terlihat.
Ketika dia sedang merasa malu, terdengar Ruan-wei berkata.
"Pakailah baju ini!"
Dengan malu-malu Ruan-wei melihat dan Gongsun Lan menerima mantel pemberian Ruan-wei dan mengucapkan terima kasih. Karena tidak ada yang bicara, maka Gongsun Lan berkata.
"Adik Wei...."
"Kau memanggil siapa?"
Dengan bengong Ruan-wei bertanya.
"Aku memanggilmu!"
Teriak Gongsun Lan.
"Namaku Adik Wei?"
Tanya Ruan-wei.
"Bukankah namamu Ruan-wei?"
"Namaku Ruan-wei? Siapakah Ruan-wei?"
Gongsun Lan melihat Ruan-wei seperti kebingungan dan bukan pura-pura. Maka Gongsun Lan pun bertanya.
"Siapa namamu?"
"Aku tidak tahu."
"Apakah kau tahu siapa Adik Yi?"
Ruan-wei terpaku kemudian seperti sangat sedih berkata.
"Adik Yi... Adik Yi... Adik Yi...."
Gongsun Lan melihat dia kembali termenung. Untuk membantunya mengingat masa lalu, dia masih terus bicara.
"Siapa AdikYi?"
Ruan-wei yang sudah dewasa tiba-tiba menangis."Dia...d ia... adalah... seorang... anak yang... sangat baik...."
"Apakah kau tahu siapa anak itu?"
Ruan-wei menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu."
Sambil meneteskan air mata, Gongsun Lan berkata.
"Mengapa kau tidak tahu? Ruan-wei adalah namamu. Kau adalah Ruan-wei, kau harus tahu! Harus tahu!"
Ruan-wei menghapus air mata Gongsun Lan dan pelan-pelan berkata.
"Jangan menangis! Jangan menangis! Aku akan berpikir pelan-pelan siapa aku sebenarnya. Kau... kau... jangan menangis...."
Gongsun Lan memegang tangannya dan meletakkan di bibirnya.
"Asalkan kau bisa pulih, aku rela umurku lebih pendek 10 tahun. Aku mohon... kepada Tuhan... bantulah dia...."
Angin gunung masih berhembus, di sini adalah kaki Gunung La Wa.
Setengah hari lagi mereka akan tiba di kota Wu-ke-lun.
Sambil memapah Ruan-wei, Gongsun Lan dan Ruan-wei bersama-sama berjalan ke Wu-ke-lun.
Di bawah sinar matahari musim dingin, mereka melewati padang rumput yang luas.
Di padang rumput masih bisa melihat gunung salju.
Rumput liar di dataran tinggi ini mempunyai daya tahan terhadap cuaca dingin.
Walaupun sudah musim dingin tapi rumput-rumput tidak layu dan kering.
Seorang remaja Tibet menunggang kuda sambil bernyanyi.
Ketika dia sedang bernyanyi dengan riang, terdengar ada yang memanggil.
"Ke-li-wu! Ke-li-wu!"
Dia mencari sumber suara ini. Dari arah Gunung La-wa datang 2 orang Han. Begitu mereka dekat, dia seperti orang gila berteriak.
"Bibi Lan! Bibi Lan!"
Dengan cepat dia menunggang kuda ke depan.
Begitu sampai di depan Gongsun Lan, dia menghentikan kudanya.
Kuda berhenti, dengan lincah Ke-li-wu turun dan berlutut.
Di Tibet hormat yang paling tinggi adalah mencium jari kaki orang yang dihormati tapi Ke-li-wu tidak berani mencium.
Beberapa tahun ini tidak ada seorang laki-laki Tibet yang pernah memegang Gongsun Lan.
Sambil tertawa Gongsun Lan bertanya.
"Apakah ibumu baik-baik saja, Ke-li-wu?"
Ke-li-wu berdiri dan merasa aneh mengapa Bibi Lan hari ini tidak seperti biasanya.
Bibi Lan jarang tertawa tapi hari ini dia tertawa begitu manis seperti bunga di gurun salju.
Dengan terpaku dia melihat Gongsun Lan, Gongsun Lan tertawa sambil marah.
"Anak kecil, kau lihat apa? Cepat carikan 2 ekor kuda untuk bibi!"
Ke-li-wu tertawa.
Karena dia melihat Bibi Lan sedang berpengangan tangan dengan laki-laki di sisinya, jika berita ini tersebar akan membuat pemuda Wu-ke-lun terkejut.
Ke-li-wu bersiul dengan kencang, segera puluhan kuda Tibet berlarian datang.
Pengembala kuda juga ikut kemari.
Melihat Gongsun Lan, mereka segera turun dari kuda dan bersujud.
"Dewi, apa kabar?"
Ke-li-wu sudah berpesan agar memilihkan 2 ekor kuda putih yang gagah. Sambil tawa Gongsun Lan bertanya.
"Apakah kau bisa menunggang kuda tanpa pelana?"
"Belum pernah tapi aku kira aku bisa,"
Jawab Ruan-wei.
"Kau naik dulu, hati-hati!"
Ruan-wei seperti burung terbang dan meloncat ke atas punggung kuda.
Kedua tangan-nya menarik surai kuda.
Kuda itu terus memberontak.
Jika tidak terbanting hingga jatuh berarti kuda itu sudah jinak.
Menjinakkan kuda adalah hal yang sangat seru.
Maka Ke-li-wu dan beberapa pengembala mendekat dan berteriak untuk mendukung Ruan-wei.
Ruan-wei belum pernah menunggang kuda liar.
Awalnya beberapa kali dia hampir terbanting dia tahu kuda ini masih sangat liar maka dua kaki dengan kuat menjepit perut kuda.
Kuda tidak tahan jepitan kaki Ruan-wei maka tidak lama kemudian kuda ini pun bisa ditaklukan.
Pengembala-pengembala belum pernah melihat ada orang dengan cara seperti ini menaklukan kuda, maka dalam hati mereka berseru.
"Sahabat Dewi Lan benar-benar luar biasa!"
Gongsun Lan sambil tertawa berkata.
"Ke-li-wu, pilihkan 2 ekor kuda terbaik, Bibi ingin pergi ke Kan-long-shan."
"Bibi Lan, besok ada rapat besar yang diadakan 1 tahun sekali untuk memilih laki-laki Wu-kelun paling pemberani. Apakah Bibi Lan tidak ingin menontonnya?"
Gongsun Lan menggelengkan kepala.
"Besok kami akan berangkat ke Kan-long-shan, jangan lupa pilihkan 2 ekor kuda terbaik yang bisa memanjat gunung."
Dia tertawa kepada Ruan-wei.
"Kami pergi dulu!"
Kedua kaki Ruan-wei dilonggarkan, kuda itu segera berlari.
Gongsun Lan mengikutinya di belakang.
Kuda berlari dengan kencang, walaupun kuda baru ditaklukkan dan berlari di padang rumput luas tapi kuda itu tidak berani memberontak karena tekanan dua kaki yang kuat.
Tidak lama kemudian Gongsun Lan membawa Ruan-wei memasuki kota Wu-ke-lun.
Penduduk Wu-ke-lun kebanyakan adalah penggembala karena itu rumah tinggal mereka selalu mengikuti binatang yang mereka gembalakan.
Tapi ada juga yang membiayai orang lain untuk menggembalakan sedangkan dia tinggal di kota.
Orang-orang Wu-ke-lun sepertinya kenal dengan Gongsun Lan.
Melihat dia datang dengan menunggang kuda, mereka segera ke pinggir, anak-anak berteriak.
"Bibi Lan! Bibi Lan!"
Gongsun Lan masuk ke sebuah tempat yang sudah dipagari.
Di dalam pagar ada ratusan sapi, kuda, dan kambing.
Di belakang kandang adalah sebuah rumah besar.
Begitu sampai di depan rumah itu, Gongsun Lan sgera turun dan membiarkan kudanya pergi sendiri.
Ruan-wei juga turun, kudanya juga dilepaskan.
Kudanya berlari mengikuti kuda betina milik Gongsun Lan.
Dari dalam rumah keluar sepasang suami istri yang sudah tua dan seorang gadis cantik.
Begitu nona itu melihat Gongsun Lan, dia mendekat dan memeluk juga memanggil.
"Bibi Lan!"
Gongsun Lan dan nona itu tumbuh bersama, mereka sangat akrab. Gongsun Lan berteriak.
"Jangan mendekat, tubuhku sangat kotor dan bau!"
Dengan manja nona itu berkata.
"Tidak kotor, tidak kotor dan masih wangi!"
Tiba-tiba dia melihat Ruan-wei yang terus melihatnya maka wajahnya menjadi merah.
Ruan-wei tidak mengerti apa yang mereka katakan tapi dia seperti mengenali gadis ini.
Maka sejak tadi dia terus dengan melihat dengan bingung.
Perempuan Tibet tua itu membentak.
"A-mina, turunlah, jangan tidak sopan!"
Karena dilihat oleh Ruan-wei terus, maka jantung A-mina terus berdebar-debar. Dengan malumalu dia bersembunyi di belakang perempuan Tibet itu. Gongsun Lan tertawa.
"Kenapa A-mina malu? Ibumu hanya berkata seperti itu, kau sudah merasa malu."
Perempuan Tibet dan pak tua Tibet datang memberi hormat dan bertanya.
"Nona Lan, sudah lama Anda tidak kemari."
Sepasang suami istri Tibet, mereka mengasuh Gongsun Lan dari kecil hingga besar, karena ibu Gengsun Lan meninggal, maka Fei-long-jian Ke membawa putrinya yang masih bayi ke perbatasan Tibet.
Di Wu-ke-lun dia membeli kambing, kuda, dan sapi yang sangat banyak dan mempekerjakan suami istri ini.
Perempuan Tibet ini waktu itu baru melahirkan seorang putra tapi meninggal maka susunya masih ada.
Karena itu Fei-long-jian Ke meninggalkan putrinya di sini, kemudian seorang diri tinggal bersembunyi di Kan-long-shan.
Karena Gongsun Lan meminum susu perempuan Tibet ini maka dia memanggil perempuan ini ibu.
Kemudian perempuan ini melahirkan seorang putri dan putra lagi.
Anak perempuannya lebih kecil dari Gongsun Lan, berarti seumur dengan Ruan-wei, dia adalah A mina.
Yang laki-laki adalah remaja yang mereka temui di padang rumput tadi, dia adalah Ke-li-wu, tahun ini dia baru berusia 15 tahun.
Selama 21 tahun suami istri ini dengan begitu setia mengurusi peternakan Fei-long dan makanan juga keperluan Fei-long-jian Ke di gunung.
Mereka pasti mengantar keperluan Fei-long tepat waktunya.
Tahun berganti tahun, suami istri yang tadinya setengah baya ini sekarang sudah tua.
Tapi mereka tetap menganggap Gongsun Lan adalah majikan kecil mereka.
Gongsun Lan sambil tertawa menjawab.
"Betul! Hampir setahun aku tidak pulang, apakah ibu baik-baik saja?"
Perempuan tuaTibet mengenang.
"Karena rejeki tuan besar, kami hidup dengan baik. Yang ibu khawatirkan adalah A-mina."
Gongsun Lan tertawa.
"Lihat! Ibu khawatir dengan perjodohan-mu."
Dengan malu-malu A-mina menjawab.
"Bibi Lan, jangan menertawakanku!"
Suami istri Tibet itu dengan tertawa tapi juga marah berkata.
"Nona Lan, orang seperti A-mina yang tidak dewasa, laki-laki mana yang berani mempersunting dia?"
Sifat perempuan Tibet ini sebaliknya dengan sifat suaminya.
Orang Tibet itu setelah memberi hormat, hanya diam terkadang tertawa, tapi istrinya berbeda.
Walaupun sudah berumur tapi dia masih senang bercanda.
Di depan laki-laki asing membicarakan perjodohan, A-mina benar-benar merasa malu.
Dia menutup telinga dan berkata.
"Aku tidak mau dengar! Tidak mau dengar!"
Karena kemanjaannya membuat Ruan-wei semakin termenung.
Dia merasa gadis ini mirip seseorang, siapakah dia, dia tidak tahu.
Dia juga tidak tahu apa yang sedang mereka katakan karena mereka berbahasa Tibet.
Melihat ada seorang laki-laki, perempuan Tibet itu bertanya.
"Siapakah pemuda ini?"
Dengan sekilas Gongsun Lan berkata.
"Dia adalah tamu ayah."
Begitu tahu Ruan-wei adalah tamu tuan besar, dia dan suaminya segera mendekat, mempersilahkan Ruan-wei masuk untuk minum teh.
Ruan-wei tidak mengerti apa yang mereka katakan tapi dia tahu yang dimaksud mereka maka dia pun pelan-pelan masuk.
A-mina di belakang menarik lengan baju Gongsun Lan.
Dengan bahasa Han dia bertanya.
"Apakah betul dia adalah tamu Kan-long-shan?"
Sejak kecil dia sudah pintar, maka dia sering belajar bahasa Han kepada Gongsun Lan.
Sejak kecil Gongsun Lan sering pergi ke Kan-long-shan untuk mengunjungi ayahnya maka waktu berkumpul dengan ayahnya lebih banyak dibandingkan saat di Wu-ke-lun, karena itu bahasa Han Gongsun Lan tetap lancar dan logatnya adalah logat Beijing.
"Betul, dia adalah tamu ayahku!"
"Aku tidak percaya, dia pasti calon Bibi Lan...."
Kata A-mina.
"Jangan sembarangan bicara!"
A-mina tertawa dan berlari masuk ke dalam.
Penduduk Tibet paling senang minum teh.
Mereka menyuguhkan teh kepada tamu tapi teh mereka tidak sama dengan teh suku bangsa Han.
Mereka memasak teh sampai mendidih kemudian dicampur dengan susu kambing atau mentega, lalu ditambahkan sedikit garam.
Maka rasa tehnya bukan teh asli.
Ruan-wei meminum teh, dia segera meletakkan cangkirnya dan melihat A-mina lalu termenung.
A-mina sangat perasa, begitu masuk dia tahu ada orang yang terus melihatnya kemudian dia melihat sepasang mata Ruan-wei.
Karena itu pandangan mereka saling beradu, dan tidak bisa lepas lagi.
Tawa di wajah tetap ada.
Tawa ini adalah tawa yang dikenal Ruan-wei, tapi Ruan-wei tidak ingat di mana dia pernah melihat mata ini.
Dia berusaha berpikir, air matanya pun menetes.
A-mina terkejut.
"Apakah air mata ini menetes karena dirinya?"
Gongsun Lan masuk sambil tertawa bertanya.
"Kau sedang memikirkan apa, A-mina?"
A-mina terkejut dan bangun.
Dia tidak bisa diam di ruangan ini lagi.
Dengan wajah merah dia memberi senyum kepada Gongsun Lan tapi dengan cepat masuk ke kamarnya.
Ketika makan malam tiba, Ke-li-wu membawa dua ekor kuda hitam dengan bulunya mengkilat.
Semua barang sudah disiapkan dengan lengkap di atas kuda.
Dengan senang Gongsun Lan mencoba kuda itu di pekarangan.
Ke-li-wu sangat pandai memilih kuda, Gongsun Lan terus memujinya.
Suku bangsa Tibet jika makan selalu duduk berkeliling di bawah.
Di tengah-tengah terhidang daging dan Li-ba.
Li-ba adalah makanan pokok suku bangsa Tibet.
Cara dibuat dari semacam tumbuhan yang dinamakan Qing-guo, disangrai matang kemudian dijadikan tepung lalu dicampur teh, susu sapi, dan mentega, untuk dijadikan semacam kue.
Sesudah Ruan-wei dan Gongsun Lan duduk, suami istri Tibet itu baru duduk bersama Ke-li-wu.
Begitu duduk Ke-li-wu bertanya.
"Kenapa kakak belum keluar?"
"Kakakmu mengatakan kalau dia sakit kepala, jangan memanggilnya,"
Kata perempuan Tibet itu. Dengan aneh Gongsun Lan berkata.
"Tadi dia baik-baik saja, mengapa tiba-tiba sakit kepala?"
"Hari ini dia memang terlihat sangat aneh, sudahlah jangan pedulikan dia!"
Kata perempuan Tibet.
Orang Tibet makan tidak menggunakan sumpit, mereka menggunakan tangan.
Kata orang Han.
mereka makan dengan cakar.
Pertama kali Ruan-wei harus makan dengan mencakar, dia tidak terbiasa.
Sambil tertawa Gongsun Lan mengajarinya.
Makan malam terjadi dalam suasana akrab.
Malam hari perempuan Tibet membereskan kamar untuk Ruan-wei.
Gongsun Lan berada di kamarnya' sendiri.
Walaupun jarang digunakan tapi kamar itu tetap rapi juga bersih.
Malam sudah larut, Ruan-wei tidak bisa tidur.
Dia keluar dari kamar dan berjalan di pekarangan.
Pekarangan sangat luas, Ruan-wei bersandar di sebuah pohon sambil melihat bulan.
Dia ingin berpikir sesuatu tapi dia tidak bisa mengingat apa pun.
Cahaya bulan sangat terang.
Cahaya melewati dedaunan menyinari wajah Ruan-wei.
Wajah Ruan-wei yang kebingungan.
Dia menarik nafas karena tidak ada yang bisa diingatnya.
Tiba-tiba terdengar suara seperti hantu gentayangan.
"Kau... kau... kenapa menghela nafas?"
Begitu melihat sosok itu ternyata adalah gadis Tibet yang ditemuinya pagi hari.
Malam begitu dingin dia hanya mengenakan pakaian tipis.
Rambutnya terurai, angin sepoi-sepoi membuat bajunya berkibar, benar-benar seperti dewi turun dari langit, begitu suci.
Karena dia memakai baju tidur putih, maka dia mirip seorang pelajar.
Ruan-wei bergetar, dan memohon.
"Apakah kau bisa tertawa untukku?"
Dalam suasana yang begitu indah, A-mina tidak bisa menolak permintaan Ruan-wei.
Dia tertawa indah seperti bunga tulip.
Tawa ini menggetarkan syaraf otak Ruan-wei.
Hanya tawa ini yang bisa membantu Ruan-wei menangkap masa lalunya.
Karena itu dia menjadi sedikit gila.
Dia memeluk A-mina dan meminta.
"Teruslah tertawa... jangan berhenti... teruslah tertawa... jangan berhenti...."
Tubuh A-mina bergetar, dengan suara gemetar, dia berkata.
"Kau... kau... apakah kau suka kepadaku..."
Ruan-wei mengangguk.
"Aku senang melihatmu tertawa. Aku tidak bisa melupakan tawa ini...."
A-mina tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Ruan-wei.
Dia hanya tahu Ruan-wei mengatakan, dia suka kepadanya dan tidak akan melupakan dirinya.
Maka dia merasa sangat bahagia.
Pelan-pelan A-mina berkata.
"Dari kecil aku senang bicara dengan bahasa Han karena Bibi Lan mengajariku. Sekali belajar aku langsung bisa maka hari ini kita bisa berkomunikasi... orang lain selalu mengatakan kalau bahasa Hanku bagus, aku juga tidak tahu mengapa bisa seperti ini, tapi adikku tidak bisa. Aku sering berpikir mungkin aku berjodoh dengan suku bangsa Han. Maka sekali belajar langsung lancar...."
"Apakah semua ini betul? Hari ini begitu melihatmu, aku langsung tahu aku adalah orang yang kau maksud, seperti belajar bahasa Han, aku selalu merasa kalau aku akan menikah dengan orang Han. Kau adalah orang Han, apakah kau benar-benar suka kepadaku?"
Ruan-wei tenggelam dalam tawa yang dikenalnya, dia tidak mendengar apa yang dikatakan Amina.
Dia hanya mengangguk.
Angin dingin berhembus.
A-mina tidak malu-malu lagi, dia memeluk pinggang Ruan-wei, dengan suara manis dia berkata.
"Hari ini ibu berkata kepadaku, dia mengkhawatirkan perjodohanku, dia tidak tahu kalau aku sama sekali tidak senang dengan suku Tibet. Beberapa pemuda Wu-ke-lun datang untuk melamarku, aku mengusir mereka maka tidak ada seorang pun yang berani melamarku. Ibu mengkhawatirkan kalau aku sampai tidak menikah, aku tidak mau menikah dengan suku Tibet. Aku ingin menikah dengan suku Han, menikah dengan...."
Ruan-wei menutup mulutnya dan berkata.
"Jangan teruskan lagi, tertawa saja!"
A-mina berhenti bicara, dia mulai tertawa, tawa yang membuat Ruan-wei menjadi bingung.
Ruan-wei ingin menangkap tawa yang membuatnya tidak bisa melupakannya.
Karena itu dia mendekat, wajah yang penuh tawa itu tidak berhenti menciumnya.
Tubuh A-mina bergetar, dia merasa tubuhnya menjadi panas.
Dengan tubuh gemetar dia mendorong Ruan-wei dan berkata.
"Tidurlah! Aku... aku... pasti akan menjadi milikmu...."
Ruan-wei tidak rela meninggalkan A-mina.
Setelah lama Ruan-wei pelan-pelan masuk ke kamar.
Dia tenggelam dalam tawa manis, tawa yang sangat diingatnya....
Ketika Ruan-wei pelan-pelan kembali ke kamar, dari balik pohon lain keluar seorang perempuan.
Dengan penuh air mata dia menangis, dia...
dia adalah Gongsun Lan....
--BAB 105 Apa itu cinta?
Mengapa cinta menimbulkan benci?
Hari kedua.
Ruan-wei bangun sangat siang.
Di luar sangat ramai seperti ada pesta.
Begitu keluar dari kamar, Ruan-wei bertemu dengan Ke-li-wu.
Dengan senang Ke-li-wu menyapa "Paman, apakah tidak ingin pergi menonton festival orang paling pemberani di Wu-ke-lun?"
Ruan-wei tidak mengerti bahasa Tibet, maka dia hanya bisa menggelengkan kepala, dia tidak mengerti apa yang dimaksud Ke-li-wu. Ke-li-wu yang naif dan lucu segera menuntun Ruan-wei.
"Paman, pergilah, jika Paman pergi, Bibi Lan pasti akan ikut. Jika Bibi Lan ke sana, pemudapemuda Wu-ke-lun akan merasa bangga."
Mendengar Ke-li-wu terus berbicara, Ruan-wei tidak mengerti, sekarang apa yang harus dia jawab? Mengangguk atau menggelengkan kepala? Terpaksa dengan tergagap-gagap dia bertanya.
"Kau... kau... kau mengatakan apa?"
Ke-li-wu tidak mengerti apa yang Ruan-wei katakan. Dia mengira Ruan-wei menolak. Dengan sungguh-sungguh dia meminta.
"Paman, mintalah pada Bibi Lan supaya besok baru pergi ke Kan-long-shan. Dia pasti akan pergi ke festival Wu-ke-lun karena setiap tahun dia mengikuti festival ini."
Ruan-wei tidak mengerti apa yang dikatakan Ke-li-wu, tapi dia melihat sikap Ke-li-wu sungguhsungguh. Dalam hati dia hanya teringat pada nona Tibet itu yang bisa bahasa Han maka dia berkata.
"Panggil A-mina kemari."
Begitu mendengar kata A-mina, Ke-li-wu berkata.
"A-mina tidak enak tubuh dan tidak bisa bangun, lebih baik Paman sendiri yang mencari Amina."
A-mina keluar. Dengan bahasa Tibet dia berkata.
"Ke-li-wu, jangan merepotkan dia! Dia tidak mengerti bahasa Tibet!"
"Dia itu siapa?"
Tanya Ke-li-wu aneh. Wajah A-mina memerah dan berkata.
"Pergilah dulu ke festival itu, nanti aku akan menasehati Bibi Lan supaya pergi."
Dengan tidak mengerti Ke-li-wu bertanya.
"Bukankah pagi tadi Kakak tidak bisa bangun?"
Kemarin malam karena kedinginan maka dia jatuh sakit. Tapi karena dia merindukan Ruan-wei walaupun sakit, dia tetap datang. Tapi dia terlihat lemas, dia membentak.
"Jangan cerewet! Pergilah!"
Dari kecil Ke-li-wu takut kepada kakaknya karena itu dia pergi sambil berlari dan masih sempat berteriak kepada kakaknya.
"Suruh paman mengajak Bibi Lan ke festival itu!"
"Apa yang dia katakan, aku tidak mengerti?"
Tanya Ruan-wei. Dengan penuh cinta A-mina bertanya.
"Apakah kau... kau.. akan pergi hari ini?"
"Aku tidak tahu."
"Baiklah, bicaralah kepada Bibi Lan supaya beberapa hari lagi baru berangkat ke Kan-long-shan, hanya dengan cara itu kau... tidak akan... meninggalkanku."
"Untuk apa pergi ke Kan-long-shan? Aku tidak mau ke sana, aku ingin melihatmu tertawa."
"Aku tidak akan tertawa. Kau selalu menyuruhku tertawa, jika aku mati karena tertawa, bagaimana?"
Tawa A-mina terlihat lebih manis lagi. Karena syaraf otak Ruan-wei tergetar, kedua tangannya memegang pundak A-mina dan ingin mencium pipinya. A-mina tertawa.
"Aku tidak mau dicium. Semalam kau menciumku, hampir membuatku sesak nafas...."
Ruan-wei sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan A-mina, dia hanya ingin mencium bibir yang membuatnya tidak bisa lupa pada seseorang.
A-mina takut ciuman Ruan-wei terlalu panas, takut membuatnya meleleh.
Pelan-pelan dia masuk kamar untuk menghindar tapi Ruan-wei kehilangan akal sehat.
Dia berlari mengejar.
Kemarin malam karena masuk angin tubuh A-mina masih sakit.
Karena terus bergerak juga terlalu senang, dia merasa pusing dan tidak sanggup berdiri.
A-mina tidak tertawa, Ruan-wei segera kembali pada sikap biasa.
Dia memapah A-mina yang hampir jatuh dan bertanya cemas.
"Kenapa wajahmu begitu pucat? Ada apa?"
A-mina mengerutkan dahi.
"Kepalaku sakit... tolong papah aku ke Keng...."
Orang Tiongkok utara menamakan tempat tidur adalah Keng.
A-mina belajar bahasa Han dengan logat Bei-jing maka dia menyebut tempat tidur Tibet yang empuk adalah Keng.
Sebetulnya Keng terbuat dari bata dan semen seperti ranjang.
Ruan-wei memapah A-mina ke tempat tidur yang empuk yang dilapisi dengan kulit binatang.
Ruan-wei pelan-pelan melepaskan mantel tebal A-mina.
Dalam hati A-mina salah tafsir, dia mengira Ruan-wei ingin....
Dia memegang sepasang tangan Ruan-wei kemudian diletakkan di depan dadanya tidak membiarkan Ruan-wei terus membuka bajunya.
Ruan-wei pelan-pelan melepaskan tangan itu.
Jantung A-mina mulai berdebar-debar....
Tapi sebenarnya gerakan Ruan-wei bukan seperti yang diperkirakan A-mina, dia hanyai meletakkan sepasang tangannya di atas perut A mina kemudian menggosok-gosok perut itu.
A-mina mulai merasa perutnya menjadi hangat, ada aliran hangat masuk ke dalam tubuhnya, membuat tubuhnya merasa nyaman, hanya 20 menit, angin yang ada di dalam perut bisa dikeluarkan oleh Ruan-wei dengan tenaga dalamnya.
Kepala A-mina merasa tidak pusing lagi, malah lebih nyaman dari sebelumnya, tapi dia tetap memejamkan mata untuk merasakan aliran hangat yang terus bergerak-gerak.
A-mina tidak tahu bahwa pengobatan dengan tenaga dalam akan membuat Ruan-wei kehilangan banyak tenaga dalam.
Melihat matanya masih terpejam, Ruan-wei mengira A-mina masih belum sembuh maka Ruan-wei bertambah cepat menggosoknya.
Sepuluh menit berlalu, A-mina merasa lemas.
Hatinya juga mulai bergetar, dia tertawa.
"Kakak, jangan gosok lagi...."
Panggilan kakak dan wajah penuh tawa segera menyerang otak Ruan-wei, dia mulai melupakan rasa lelah karena mengobati A-mina.
Begitu matanya dibuka, A-mina melihat wajah Ruan-wei penuh dengan keringat.
Dia terkejut, dan bertanya.
"Kau... kenapa... kau...."
A-mina mengeluarkan sapu tangannya yang harum, dengan penuh kasih sayang dia membantu Ruan-wei menyeka keringat.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, panggil aku sekali lagi."
Dua tangan menutupi wajah, dengan malu-malu A-mina memanggil lagi.
"Kakak...."
Suara panggilan kakak ini terdengar oleh Ruan-wei, dia sangat kenal, dia seperti teringat kalau dulu ada seseorang yang selalu di sisinya dan selalu memanggilnya kakak.
Karena itu dia mulai menangkap kenangan akan orang itu.
Dia menyingkirkan tangan A-mina, seperti mimpi dia berkata.
"Coba kau tertawa untuk kakak... tertawa untuk kakak...."
Wajah A-mina semakin merah.
Dia tertawa malu-malu manis dan penuh godaan.
Tawa ini membuat Ruan-wei menjadi gila lagi karena itu dia mulai mencium A-mina dengan panas.
A-mina mulai terengah-engah.
Darah mulai bergejolak.
A-mina tidak puas dengan ciuman Ruan-wei pada pipinya saja yang terus tertawa.
Dengan gemetar bibir yang merah perlahan mulai mendekat....
Pelan...
pelan...
mendekat....
Jantung A-mina hampir meloncat keluar.
Darah hampir keluar dari nadinya...
akhirnya bibir bersatu".
Dua bibir melekat menjadi satu....
Ruan-wei tenggelam dalam kenangannya tapi rasa panas yang ditakdirkan bagi seorang perempuan keluar dari tubuh A-mina.
Kedua tangannya seperti 2 ekor ular melilit pinggang Ruanwei...
Dia menikmati ciuman pertamanya dengan Ruan-wei.
Mereka berdua tenggelam dalam ciuman panas dan mereka lupa pintu kamar tidak ditutup.
Ketika Gongsun Lan datang memberitahu Ruan-wei kalau dia ingin segera berangkat ke Kanlong-shan agar ayahnya bisa mengobati Ruan-wei, dia sudah berdiri lama maka semua dilihatnya dengan jelas....
Dia tidak tahan melihat lagi, air matanya mengalir seperti air....
Gongsun Lan mundur dengan terburu-buru juga pelan-pelan menutup pintu, tidak ada suara yang keluar maka mereka berdua sama sekali tidak tahu.
Begitu keluar dari kamar, Gongsun Lan bertemu dengan Ke-li-wu.
Karena tidak bisa menutup kesedihan hatinya, dia kembali ke kamarnya sambil menutup wajahnya.
Ke-li-wu berteriak.
"Bibi Lan! Bibi Lan!"
Dia tidak tahu bahwa Bibi Lan tidak bisa berhenti untuk bicara dengannya.
Ke-li-wu kemari karena festival memilih orang pemberani sudah dimulai, tapi dia belum melihat Bibi Lan maka dia datang untuk bertanya kepada kakaknya, dia berteriak.
"Kakak... Kakak...."
Mendengar teriakan adiknya, A-mina terkejut.
Dia bukan tipe wanita cabul, maka dia mendorong Ruan-wei.
Semenjak hilang ingatan, peraturan ketat hilang dari ingatannya.
Demi menyalurkan rasa birahinya, dia melakukan apa yang dia inginkan.
A-mina mendorong Ruan-wei, wajahnya masih merah.
Dia tidak berani melihat Ruan-wei.
Dengan suara kecil dia berkata.
"Adikku memanggilku, aku akan keluar untuk melihat."
Ruan-wei hanya diam. A-mina merapikan pakaiannya dan memakai kembali mantelnya, dia langsung keluar. Ke-li-wu berteriak sambil berjalan, dia berada di depan kamar A-mina. A-mina bertanya.
"Ada apa memanggilku?"
Sebenarnya Ke-li-wu ingin marah tapi begitu melihat kakaknya, dia takut dan tertawa.
"Kak, apakah penyakitmu sudah sembuh?"
A-mina ingat sebenarnya Ruan-wei datang untuk mengobatinya tapi dia mengira Ruan-wei ingin...
maka dia tertawa dengan malu.
Ke-li-wu belum pernah melihat kakaknya seperti itu, maka dia pun bingung dan berpesan.
"Kakak cepat berbaring, aku lihat penyakitmu belum sembuh."
"Aku tidak sakit, cepat katakan ada apa?"
"Festival pemilihan orang pemberani sudah dimulai. Kata Kakak, Bibi Lan pasti ke sana, tapi aku belum melihatnya. Banyak orang Wu-ke-lun bertanya kepadaku, aku menjawab dia akan segera datang, tapi...."
Karena sudah sembuh maka A-mina ingin melihat festival ini, dia berpesan kepada Ke-li-wu.
"Pergilah dulu, aku akan segera memanggil Bibi Lan."
"Aku akan menunggumu, aku akan pergi bersama dengan Kakak!"
Ke-li-wu takut A-mina berbohong kepadanya.
Jika benar Bibi Lan tidak pergi, dia akan merasa malu.
A-mina dengan cepat kembali ke kamar Ruan-wei.
Melihat Ruan-wei masih duduk di ranjang, posisinya masih seperti tadi.
Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
A-mina tertawa.
"Kakak bodoh, apa yang sedang kau pikirkan?"
A-mina tidak boleh tertawa, jika dia tertawa Ruan-wei akan bingung lagi.
"Apakah kau sedang memikirkan aku?"
Ruan-wei mengangguk. Dalam hati berpikir.
"Betul, aku sedang memikirkan tawamu. Apakah kau mau tertawa kepadaku?"
Dengan malu-malu A-mina berkata.
"Adikku ingin aku datang menonton festival pemilihan orang pemberani. Ajaklah Bibi Lan, biar dia akan ikut menonton. Orang-orang Wu-ke-lun ingin bertemu dengan perempuan paling pemberani di Tibet. Aku akan menunggumu di sana, kau harus membawa Bibi Lan ke sana!"
A-mina tertawa lagi dan Ruan-wei ingin memeluknya lagi.
Tapi A-mina cepat-cepat pergi meninggalkan Ruan-wei yang masih tenggelam dalam tawa yang membuatnya selalu bingung.
Setelah lama Ruan-wei baru kembali normal.
Kemudian dia berjalan ke tengah ruangan.
Perempuan Tibet tua membawanya ke belakang untuk mencuci muka dan juga makan pagi.
Dengan bahasa tubuh Ruan-wei bertanya di mana kamar Gongsun Lan dan dia pun berjalan ke sana.
Kamar Gongsun Lan dihias seperti kamar nona Han lainnya.
Selimut, sarung bantal disulam, diberi tirai dan penuh wewangian.
Di sudut kamar sudah disiapkan barang yang akan mereka bawa.
Ada dua pelana kuda.
mungkin Gongsun Lan bersiap-siap akan berangkat ke Kan-longshan.
Ruan-wei masuk ke kamar tapi tidak menemukan Gongsun Lan.
Ketika dia akan pergi dia melihat di balik kelambu ada seorang perempuan sedang tertidur.
Pelan-pelan Ruan-wei berjalan mendekati ranjang dan memanggil.
"Kakak Lan! Kakak Lan!"
Gongsun Lan dengan cepat menghapus air matanya yang masih mengalir, dia menyibak kelambu dan turun dari ranjang, sambil tertawa bertanya.
"Ada apa?"
Ruan-wei dengan pelan mengelus mata Gongsun Lan yang bengkak dan dengan kaget bertanya.
"Kau menangis?"
"Aku... aku tidak menangis...."
"Jangan bohongi aku, kau menangis begitu sedih, matamu pun bengkak karena terus menangis, kau... kau... jangan menangis...."
Gongsun Lan tidak tahan lagi, dia menangis sejadi-jadinya di dada Ruan-wei.
Dada yang memeluknya selama 10 hari lebih di malam hari...dada yang sangat dikenalnya.
Hingga bau tubuh Ruan-wei pun bisa dibedakannya.
Wajahnya menempel di leher Ruan-wei, matanya masih penuh dengan air mata, tapi dia tetap berkata.
"Aku tidak menangis... aku tidak menangis"
Ruan-wei membiarkan Gongsun Lan bersandar di dadanya, dia mulai menaruh perasaan kepada Gongsun Lan, hanya saja perasaan ini dalam otaknya tidak berani menerimanya karena dia akan bersalah pada seseorang.
Setelah semua kesedihannya terlampiaskan, Gongsun Lan kembali ceria seperti dulu, dia berkata.
"Ayo, kita pergi!"
"Ke mana?"
"Kita teruskan perjalanan kita, kita akan berangkat ke Kan-long-shan."
"Untuk apa pergi ke Kan-long-shan?"
Gongsun Lan tidak ingin memberitahu Ruan-wei kalau ayahnya akan mengobati otak dan ingatannya, karena dia takut Ruan-wei akan marah.
"Kita akan pergi menemui ayahku, ayahku pasti akan menyukaimu."
"Beberapa hari lagi kita baru pergi, bagaimana?"
Gongsun Lan tidak mau lama-lama berada di tempat ini, lebih cepat mengobati luka di otak Ruan-wei itu akan lebih baik. Tapi dia tidak mau membantah perkataan Ruan-wei, maka dengan lembut dia berkata.
"Baik... baik...."
"Kalau begitu sekarang kita pergi ke festival pemilihan orang pemberani, bagaimana?"
Sejak kecil setiap tahunnya Gongsun Lan pasti akan melihat festival ini, tahun ini supaya Ruanwei bisa cepat berada di Kan-long-shan, dia tidak ikut, sekarang Ruan-wei ingin melihat festival itu.
Belum sempat menjawab, Ruan-wei telah menuntunnya, dengan senang dia berkata.
"Aku akan membawamu ke sana."
Mereka sampai di jalan besar, tapi di jalan sangat sepi tidak terdengar satu suara pun, ternyata penduduk Wu-ke-lun semua pergi melihat festival itu.
Ruan-wei tidak tahu di mana festival diadakan, maka tiba di jalan besar dia berhenti melangkah dan tampak ragu, melihatnya seperti itu Gongsun Lan tertawa dan mendesak.
"Bukankah kau yang akan membawaku ke sana?"
Dengan tergagap dia menjawab.
"Aku., aku... tidak tahu dimana festival itu."
"Kalau begitu, lebih baik kau yang mengikutiku,"
Dia menuntun Ruan-wei dengan lari dengan cepat.
Festival pemilihan orang pemberani artinya setelah memasuki musim dingin, diadakan pertarungan ilmu silat untuk mengusir rasa malas karena cuaca dingin.
Tiap tahun festival ini diadakan di sebuah lapangan yang letaknya di luar kota, pesertanya adalah para penggembala peternakan yang masih muda, tapi kadang-kadang ada juga orang tua yang ikut, mereka ingin mengenang masa lalu.
Maka sampai hari ini, laki-laki, perempuan, tua, muda, semua ikut serta.
Suara nyanyian, bunyi genderang, dan suara teriakan terdengar dari arah padang rumput, semua suara seperti suara gemuruh guntur, suara ini bisa menyapu rasa dingin di musim dingin.
Begitu Ruan-wei dan Gongsun Lan tiba di sana, para penggembala sedang mengadakan pertandingan olah raga.
Melihat Dewi Lan datang, para penggembala muda segera menyapanya, semua peserta festival karena melihat Gongsun Lan datang mereka berhenti sementara.
Gongsun Lan tiba di tempat pertandingan, orang yang ikut pertandingan berlutut, bersujud, juga berteriak.
"Kita sambut orang paling pemberani, Dewi Lan!"
Gongsun Lan mendapat julukan ini yang diberikan oleh Da Lai, semua orang Tibet tahu, penduduk Wu-ke-lun merasa bangga karenanya, mereka sering berkata.
"Lihatlah! Perempuan pemberani di Tibet berada di Wu-ke-lun!"
Itu terjadi setahun lalu, di kota La Sha setiap tahunnya harus diadakan pemilihan satu orang yang paling pemberani.
Selama puluhan tahun penduduk Wu-ke-lun belum pernah kebagian gelar ini, maka mereka dijadikan bahan tertawaan dari daerah lain.
Sejak dilahirkan Gongsun Lan tinggal di Wu-ke-lun, berarti dia adalah orang Wu-ke-lun.
Tahun lalu Gongsun Lan pura-pura menjadi penggembala dari Wu-ke-lun mewakili daerahnya untuk bertarung.
Dalam pertarungan itu Gongsun Lan mengalahkan 48 orang dari masing-masing daerah, begitu Da Lai memberikan penghargaan kepadanya, mereka baru tahu kalau Gongsun Lan adalah seorang perempuan, maka mereka segera memberi julukan kepadanya.
Perempuan paling pemberani di Tibet.
Julukan perempuan paling kuat lebih mulia dan lebih tinggi dibandingkan julukan laki-laki paling kuat, karena di Tibet hanya dia satu-satunya perempuan yang paling kuat, maka penduduk Wuke-lun merasa bangga.
Penduduk se-Tibet pun merasa bangga, karena di Tibet muncul satusatunya perempuan terkuat.
Maka laki-laki Tibet memanggil Gongsun Lan 'Dewi Lan', sedangkan perempuan Tibet memanggilnya 'Nona Lan', karena dia menjadi cahaya bagi perempuan Tibet, dan lebih akrab dipanggil Nona Lan.
Begitu melihat Gongsun Lan.
para perempuan itu berteriak.
"Kita sambut baik Nona Lan... Nona Lan...."
A-mina juga berada di antara kerumunan para perempuan, dia ikut berteriak.
"Bibi Dewi Lan!"
Dia gembira, karena dia bangga kepada Bibi Lan.
Waktu itu beberapa penggembala menggotong sebuah kurungan yang terbuat dari balok kayu besar.
Di dalam kurungan terkurung seekor kuda hitam secara keseluruhan, hanya kuku kakinya berwarna putih, orang Tibet menyebut jenis kuda ini adalah 'Bai-ti-ma' (kuda kaki putih).
Setiap tahun Wu-ke-lun selalu memilih seekor kuda terbaik.
Bai-ti-ma ini secara tidak sengaja di tangkap oleh seorang penggembala.
Kuda ini adalah kuda liar, dia mempersembahkan kuda ini untuk festival ini, maka festival ini menjadi ramai dan meriah.
Di kepala Bai-ti-ma terikat sebuah mahkota yang terbuat dari emas murni.
Bila Bai-ti-ma dilepaskan dan bila ada seseorang bisa menangkap kuda ini maka kuda ini akan menjadi miliknya begitu pula dengan mahkota emasnya.
Dan mahkota ini boleh dia persembahkan kepada perempuan yang paling dicintainya atau paling dihormatinya.
Perempuan tersebut dalam waktu satu tahun akan menjadi orang yang dihormati dan disayangi oleh orang-orang Tibet.
Dalam jarak lima kilometer, ratusan penduduk Tibet tua sambil menunggang kuda, mereka memegang tali dan mengelilingi lapangan supaya Bai-ti-ma tidak keluar dari tempat yang telah ditentukan.
Semua laki-laki yang ikut festival menunggangi kuda yang paling mereka sayangi.
Bila Bai-ti-ma dilepaskan mereka akan segera mengejar dan menangkap kuda yang bisa membuat mereka bangga.
Jumlah mereka yang ikut ada 12 orang, mereka menunggang kuda dengan cepat, kemudian berbisik-bisik setelah itu mereka ber-teriak.
"Tahun ini, siapa pun yang mendapat mahkota emas, dia akan mempersembahkan kepada orang yang bisa membawa rasa bangga Wu-ke-lun, dia adalah Dewi Lan!"
Segera semua penduduk bersorak dan berteriak.
"Persembahkan mahkota emas kepada perempuan terkuat di Tibet, Dewi Lan...."
Ruan-wei tidak mengerti apa yang mereka teriakkan. Tapi dia tahu kalau seruan itu dituju-kan kepada Gongsun Lan, karena itu dia ikut merasa senang untuk Gongsun Lan, dan tertawa.
"Kau... kau... benar-benar membanggakan!"
Setiap diadakan festival Gongsun Lan pasti akan disambut dengan baik, semenjak dia mendapat julukan perempuan terkuat Tibet mereka lebih tergila-gila lagi kepadanya.
Gongsun Lan terharu dengan sikap hangat penduduk Wu-ke-lun, maka dia memegang erat tangan Ruan-wei tanpa sengaja.
Perempuan Tibet muda meliha itu dan berbisik.
"Lihat, lihat, Nona Lan sudah mempunyai kekasih!"
Kata-kata ini terdengar oleh A-mina, dia merasa sedih, air matanya pun menetes, Ke-li-wu yang berada di sisinya bertanya.
"Kak, mengapa kau menangis?"
"Aku tidak menangis, aku terharu melihat Bibi Lan."
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar seperti gemuruh badai, ternyata Bai-ti-ma sudah dilepaskan dari kurungan.
12 orang terus mengejarnya.
Para penonton masing-masing memberi dukungan kepada saudara mereka yang ikut mengejar kuda.
Bai-ti-ma benar-benar kuat, keempat kakinya berlari seperti terbang, kakinya seperti tidak menapak tanah.
Tidak ada seorang penunggang kuda pun yang bisa mengejarnya.
Kalau di sekeliling lapangan itu tidak dibatasi dengan pagar manusia, mungkin kuda Bai-ti-ma sudah lari entah ke mana.
Karena kedua belas orang ini tidak bisa menangkap kuda itu, mereka menggunakan teknik mengepung.
Sebenarnya kedua belas orang itu mengepung dengan cara mereka masing-masing, dan kuda tidak bisa lari lagi, kuda meloncat ke timur, meloncat ke barat, dia terlepas lagi dari celah lapangan.
Kedua belas orang itu tetap tidak sanggup menangkap Bai-ti-ma dengan cara ini.
Bai-ti-ma mulai lari ke arah kurumunan orang, pagar yang dibentuk dari orang-orang tua Tibet mulai berteriak karena mereka tidak menyangka kalau Bai-ti-ma berani menyerang manusia.
Dan Bai-ti-ma lari dari tempat yang sudah ditentukan.
Orang-orang di sana berteriak karena mengira mahkota emas akan terlepas dan tidak bisa didapatkan, dan ini adalah pertanda tidak baik, karena itu mereka merasa takut dan kaget, tapi apa boleh buat Bai-ti-ma lari terlalu cepat.
Waktu itu juga, Ruan-wei mengambil keputusan dengan ilmu 'Bai-bian-gui-ying' dia mengejar kuda itu.
Ilmu 'Bai-bian-gui-ying' sangat jarang diketahui orang, begitu melihat Ruan-wei hanya meloncat 3 kali, begitu mendarat dia tepat duduk di atas punggung Bai-ti-ma.
Padang rumput tergetar oleh suara sorakan penduduk Tibet, semua berteriak mendukung Ruan-wei.
Bai-ti-ma tidak seperti seekor kuda lagi, melainkan seperti seekor naga, benar-benar menakutkan.
Ruan-wei sangat menyukai kuda ini, maka dia tidak tega menendangnya, hanya memeluk leher panjangnya kemudian mengatur nafas, tubuh Ruan-wei ringan seperti seekor burung walet, dengan cara apa pun kuda ini membantingnya, Ruan-wei tidak merasa terganggu.
Hampir setengah jam berlalu, Bai-ti-ma sadar dia telah mempunyai seorang tuan yang menyayanginya, maka dia pun berhenti berlari dan berdiri tidak bergerak, juga tidak meringkik, bahkan terlihat seperti tidak pernah berlari.
Penduduk Tibet berteriak.
"Dia mengaku kalah, mengaku kalah...."
Mahkota emas diambil kemudian tangan kiri Ruan-wei menarik surai Bai-ti-ma, dengan menurut Bai-ti-ma kembali ke tempat. Melihat mahkota emas berhasil diambil, semua orang berteriak.
"Persembahkan kepada perempuan pertama yang menjadi orang terkuat se-Tibet...."
Tapi Ruan-wei tidak mengerti apa yang mereka teriakkan, dia dengan perlahan kembali, dia melihat tawa yang tidak bisa dia lupakan....
Tawa yang membuat syaraf otaknya bergetar....
Tawa ini berasal dari A-mina yang ada di kerumunan perempuan Tibet, dia merasa senang, dia tertawa karena bangga karena Ruan-wei....
Tawa itu membuat Ruan-wei menghentikan kudanya, juga membuat dia turun dari kuda.
Karena itu para perempuan Tibet terkejut, mereka tidak tahu kepada siapa mahkota itu akan dipersembahkan.
Jantung A-mina berdebar-debar, kakinya lemas dan gemetar, tangannya terkepal dengan erat....
Akhirnya mahkota itu dipasang di atas kepalanya, dia kebingungan, juga meneteskan air mata....
Para perempuan Tibet bernyanyi.
Bunga darah yang sombong!
Tumbuh di gunung yang penuh salju.
Kapankah baru bisa dipetik?
Perempuan-perempuan yang ada di sebelah sana ikut bernyanyi .
A-mina yang cantik Seperti bunga darah di gunung salju Sekarang sudah dipetik Sekarang baru ada orang yang dia cintai --BAB 106 Seperti punya perasaan tapi seperti tidak A-mina memakai mahkota emas, wajahnya penuh kegembiraan, dia sangat bahagia saat pulang bersama Ruan-wei dan Ke-li-wu.
Sewaktu semua orang memuji-muji A-mina, tidak ada yang memperhatikan Gongsun Lan.
Begitu semua teringat kembali pada Gongsun Lan, sosok Gongsun Lan tidak terlihat, dia sudah pergi sambil menutup wajahnya....
Ketika semua orang bernyanyi dan menari untuk A-mina, Ke-li-wu terus melihat dari pinggir.
Dia tidak mengerti, Ruan-wei sebenarnya adalah pacar Bibi Lan, mengapa dia mempersembahkan mahkota itu untuk kakaknya bukan untuk Bibi Lan?
Sepanjang jalan Ke-li-wu tidak besuara, dia sangat senang karena kakaknya ternyata telah mempunyai pacar tapi dia tidak berharap Ruan-wei adalah pacar kakaknya.
Karena melihat A-mina terus tertawa, Ruan-wei menjadi lupa diri, dia terus mengenang tawa yang seperti dikenalnya.
A-mina tenggelam dalam kebahagiaan, dia tidak ingin bicara sepatah kata pun, dia juga tidak malu menuntun tangan Ruan-wei, dia benar-benar menganggap Ruan-wei adalah pacarnya.
Ketika mereka bertiga masuk ke rumah, perempuan Tibet itu ternyata sudah menunggu mereka.
Dengan senang A-mina memanggil ibunya, hanya Ke-li-wu yang tidak bicara.
Dengan sikap berbeda perempuan Tibet itu mengangguk dan menyuruh mereka kembali ke kamar untuk beristirahat tapi sorot matanya terus melihat mahkota yang berada di atas kepala Amina.
Sesudah A-mina mengantar Ruan-wei ke kamarnya, dengan sepenuh hati dia mengantarkan teh dan membawakan pakaian tidur ayahnya untuk Ruan-wei.
Dia benar-benar melayani Ruan-wei seperti layaknya kepada seorang suami, karena dia mengira Ruan-wei akan lama tinggal di sana.
Melihat Ruan-wei merasa nyaman, A-mina sambil tersenyum kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuh.
Ketika dia kembali ke kamar, ibunya sedang duduk di tempat tidur menunggu kedatangannya.
Wajahnya terlihat sedih.
Dengan senang dia mendekati ibunya dan berkata.
"Ibu, lihatlah mahkota tahun ini ada di kepala A-mina yang selama ini ibu selalu khawatir Amina tidak mendapatkan jodoh."
"Apa kau benar-benar menyukai pemuda Han itu?"
Orang Tibet bersifat sangat terbuka dan tidak suka berpura-pura, maka A-mina menjawab dengan tegas.
"Aku suka kepadanya. Pada pandangan pertama aku sudah jatuh cinta kepadanya. Ibu, dia juga mencintaiku, di depan banyak gadis Tibet dia hanya memberikan mahkota ini kepadaku. Bu, berarti dia juga mencintai A-mina!"
Perempuan Tibet itu berkata dengan pelan.
"Di kepala siapa pun mahkota itu berada, dia adalah pacar orang pemberani di Tibet...."
A-mina tertawa bahagia. Tapi perempuan Tibet itu berkata lagi.
"Nak, apakah kau tahu dia adalah pacar Bibi Lan?"
Wajah A-mina tiba-tiba menjadi pucat, dia sangat menghormati dan menyayangi Bibi Lan, mereka sudah seperti kakak beradik, dia tidak tega merebut pacar Bibi Lan, maka dengan tegas dia menggelengkan kepala.
"Bukan, dia hanya tamu Kakek Gongsun di Kan-long-shan, dia bukan... bukan... pacar Bibi Lan."
Perempuan Tibet itu merasa serba salah. Kesedihan membuatnya meneteskan air mata.
"Ayah Bibi Lan sangat baik kepada kita, budi beliau seberat Gunung Tai. Sejak kecil sampai Nona Lan dewasa, belum pernah ibu melihat Nona Lan begitu sedih dan menangis. Hari ini ibu melihatnya bersedih, perempuan terkuat di Tibet menangis. Nak...."
A-mina terkejut. Mengapa Bibi Lan menangis? Dia adalah perempuan terkuat di Tibet, tidak mungkin dia menangis...
"Tapi dia benar-benar menangis karena itu ibu merasa tidak tenang. Jika Nona Lan merasa tertekan, kita sekeluarga akan bersalah kepada Tuan Gongsun. Waktu itu ibu masuk ke kamarnya dan bertanya mengapa dia menangis, tapi dia malah menjawab. aku tidak menangis, tidak menangis! Dia ingin menutupi kesedihannya tapi air matanya terus mengalir seperti air sungai!"
"Mengapa Bibi Lan begitu sedih?"
A-mina bertanya dengan sedih.
"Ibu terus bertanya padanya tapi dia tidak mau menjawab. Begitu ibu keluar, dia menangis lagi, dia... mengapa begitu sedih?"
"Begitu kalian pulang, ibu tahu dari Ke-li-wu semuanya! Apakah kau tahu Non Lan tidak pernah mau dipegang oleh seorang laki-laki, tapi Ke-li-wu melihat mereka berdua ketika datang dari Gunung La Wa dengan berpegangan tangan dan tubuh mereka saling berdekatan. Ke-li-wu mengatakan ketika di gunung Bibi Lan bertemu dengan segerombolan serigala, orang Han itu yang menyelamatkannya, apakah kau tahu...."
A-mina baru ingat dan mengerti, ketika Bibi Lan pulang, dia bercanda, laki-laki itu adalah calon Bibi Lan...
Belum menyebut suami saja wajah Bibi Lan sudah menjadi merah.
Jika bibi tidak mencintainya, bibi tidak akan bertingkah seperti itu.
Bibi biasanya mengatakan jangan biarkan lakilaki yang tidak dikenal memegangnya.
Hari ini di padang rumput, bibi berpegangan tangan dengannya.
Perempuan-perempuan di padang rumput saja merasa terkejut, ini...
ini berarti dia telah menganggap pemuda itu adalah kekasihnya....
A-mina sekarang baru mengerti maka bibirnya pun gemetar.
"Aku harus bagaimana? Bagaimana...."
Perempuan Tibet itu meneteskan air mata.
"Ibu juga tidak tahu harus bagaimana, yang satu adalah Nona Lan yang tidak bisa kita lupakan budinya. Yang satu lagi adalah putri kesayangan, A-mina. Laki-laki Han itu adalah pacar mereka, ini sulit bagiku... aku harus membela siapa?"
Tiba-tiba Ke-li-wu datang dengan terengah-engah.
"Bibi Lan sudah pergi! Dia mengatakan akan kembali ke Zhong-yuan untuk menyelesaikan sesuatu...."
A-mina terlihat cemas.
"Untuk apa Bibi Lan kembali ke Zhong-yuan, bukankah dia akan pergi ke Kan-long-shan?"
"Dulu setiap bulan Nona Lan pergi ke Kan-long-shan, kali ini dia telah meninggalkan rumah hampir 1 tahun tapi dia belum kembali ke Kan-long-shan, sekarang malah pergi lagi ke Zhongyuan."
Kata Ke-li-wu.
"Bibi Lan tidak pergi ke Kan-long-shan, dia memberitahuku ketika dia akan berangkat agar kekasih kakak segera diantarkan ke Kan-long-shan, karena kepalanya terantuk dan terluka sehingga dia lupa masa lalunya. Jika terlambat tidak akan bisa diobati lagi. Ketika Bibi Lan bicara denganku, dia masih meneteskan air mata, aku tidak berani bertanya ada apa dengannya. Aku melihatnya membawa barang bawaan dan pergi dengan menunggang kuda hitam."
A-mina berteriak.
"Tidak! Tidak! Dia adalah kekasih Bibi Lan, A-mina telah merebutnya! Seharusnya yang mengantarkan dia ke Kan-long-shan adalah Bibi Lan!"
Dia berlari ke kamar Ruan-wei. Ruan-wei sedang bersiap-siap keluar untuk melihat Gongsun Lan, dia bertabrakan dengan A mina yang ingin masuk ke kamarnya.
"Ada apa, A-mina? Mengapa tergesa-gesa?"
"Bibi Lan sudah pergi?"
"Dia pergi ke mana?"
"Jangan tanya lagi! Cepat kejar dia!"
Ruan-wei tidak tahu mengapa Gongsun Lan tidak memberitahu padanya kalau dia pergi, maka dia segera menjawab.
"Aku akan mengejarnya agar dia kembali!"
A-mina memegang tangan Ruan-wei.
"Pergilah ke Kan-long-shan bersama Bibi Lan."
"Mengapa?"
"Tidak apa-apa, dengarkan saja kata-kataku!"
Ruan-wei mengangguk tapi ketika dia berpikir jika dia pergi ke Kan-long-shan, dia tidak akan bisa melihat tawa yang dikenalnya ini. Maka dia memohon.
"Tertawalah dulu untukku, baru aku akan pergi."
Dalam suasana seperti ini, mana bisa A-mina tertawa.
Tapi dia menghapus air matanya, dan memaksakan diri untuk tertawa.
A-mina ingin tertawa untuknya.
Karena A-mina tahu ini adalah terakhir kalinya dia bisa tertawa kepada orang yang dia cintai, sesudah itu Ruan-wei bukan kekasihnya lagi.
Begitu melihat tawanya, Ruan-wei mulai terlihat kebingungan dan tidak bisa beranjak.
Pelan-pelan A-mina mendorong Ruan-wei.
Begitu Ruan-wei pergi, air matanya segera bercucuran.
Dengan suara gemetar dia berkata.
"Kita berpisah... berpisah selamanya... selamanya...."
Di pekarang, Ke-li-wu telah menyiapkan kuda berwarna hitam.
Ketika Ruan-wei akan naik ke punggung kuda, di luar ada beberapa penggembala.
Ada yang menarik dan ada yang mendorong Bai-ti-ma masuk ke pekarangan.
Mereka bersama-sama berteriak.
"Bai-ti-ma milik orang yang memenangkan festival itu!"
Ke-li-wu benar-benar merasa senang. Ada Bai-ti-ma pasti masih bisa mengejar Bibi Lan. Maka pelana yang ada di punggung kuda hitam segera dipindahkan ke punggung Bai-ti-ma. Ruan-wei berteriak.
"Terima kasih, Adik!"
Dia terbang ke punggung kuda kemudian berlari seperti angin. Ke-li-wu tidak tahu apa yang Ruan-wei teriakkan, tapi dia tahu Ruan-wei berpamitan kepadanya, dia melambaikan tangannya. Dalam hati berdoa.
"Semoga kau bisa cepat bertemu dengan Bibi Lan lagi!"
Gongsun Lan yang masih penuh dengan kesedihan, memacu kudanya dengan cepat di padang rumput.
Dia berlari ke Gunung La-wa.
Dia ingin belari secepat mungkin untuk melupakan kesedihannya.
Dia meninggalkan Ruan-wei tapi sebenar-nya juga tidak ingin meninggalkan Ruan-wei.
Sejak pagi dia belum makan, di punggung kuda terlihat banyak bekas pecu tan.
Sesampainya di tempat yang sangat dikenalnya, hari sudah sore.
Di dalam hutan cemara, di tanah yang luas, terlihat banyak tulang belulang putih.
Tulang belulang ini adalah tulang serigala yang dibunuh oleh Ruan-wei dan dia sendiri.
Mungkin setelah meninggalkan tempat ini, bangkai-bangkai serigala tersebut dimakan oleh teman-temannya sendiri hingga tandas.
Melihat keadaan ini, Gongsun Lan teringat ketika dia membunuh serigala demi melindungi Ruan-wei.
Terakhir Ruan-wei ikut melawan.
Ketika itu dia merasa sangat senang bisa mati bersama dengan Ruan-wei dan dia tidak merasa menyesal karenanya.
Dia juga teringat, setelah Ruan-wei menolongnya, di kaki Gunung La-wa, karena terhika Ruan-wei menyedot darah kotor dari lukanya.
Ketika itu Ruan-wei tampak penuh perasaan kepadanya.
Sekarang baru satu hari berlalu, Ruan-wei telah melupakan dirinya.
Dia lebih suka kepada Amina, dia tidak mempunyai perasaan kepadanya lagi.
Mengapa begitu cepat Ruan-wei melupakan dirinya?
10 hari lebih mereka bersama masih jauh dibandingkan dengan A-mina yang baru dikenalnya sehari.
Setiap hari mereka berciuman dengan mesra, ini adalah bukti yang kuat.
Karena sedih, dia berlari ke sebuah padang rumput dan menangis sekeras-kerasnya.
'Dia benar-benar tidak mempunyai perasaan...
apakah dia mempunyai perasaan...
dia tidak mempunyai perasaan....' Sore hari, dia berbaring di padang rumput yang basah.
Walaupun merasa dingin tapi dia tidak ingin bangun, dan berpikir, 'Biar saja aku membeku di sini, biar aku mati!
Untuk apa hidup hanya sendiri yang tidak mempunyai arti?"
Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara lembut.
"Bangunlah... nanti kau akan kedinginan."
Gongsun Lan merasa sangat senang, karena dia tahu suara itu adalah milik Ruan-wei.
Dia benar-benar ingin membalikkan tubuh untuk memeluk Ruan-wei dengan erat tapi dia tidak melakukannya.
Mengingat Ruan-wei berciuman dengan A-mina, dia kecewa dan tetap berbaring tanpa bergerak.
Ruan-wei ingin memapah Gongsun Lan bangun dan menggendong Gongsun Lan bangun.
Tapi dia malah mendorong tangan Ruan-wei.
Karena tidak melihat wajah Gongsun Lan yang sedang tengkurap maka Ruan-wei tidak tahu mengapa Gongsun Lan menolaknya.
Karena tidak mengerti, dia hanya duduk termenung di sisi Gongsun Lan dan melihat punggungnya.
Karena Gongsun Lan marah, dia tidak peduli udara dingin sudah menyerang hingga ke tulang, dia tetap tidak bergerak.
Suhu di Gunung La Wa, pagi dan malam hari sangat berbeda jauh.
Sekarang udara dingin.
Ruan-wei yang duduk di rumput mulai merasa kedinginan, maka dia memohon.
"Cepat bangun! Bangun...."
Gongsun Lan sekarang ini tidak bisa bangun karena rasa dingin membuat tubuhnya membeku tapi dia belum tahu kalau tubuhnya sudah membeku dan tidak bisa bergerak.
Dia bertahan terus berbaring di bawah.
Di gunung terdengar suara lolongan serigala dan suara itu semakin dekat, sepertinya serigala-serigala itu sedang berlari ke arah mereka.
Ruan-wei melihat Gongsun Lan tidak bangun, dia tidak berani memaksa, maka dia hanya duduk di pinggir untuk menemani Gongsun Lan.
Dia juga tidak peduli pada gerombolan serigala yang akan menyerang mereka.
Gongsun Lan mulai takut, seperti kata pepatah.
sekali digigit ular, melihat tali pun menjadi takut.
Luka di pundak karena gigitan serigala masih terasa nyeri.
Dia benar-benar terkejut dan tidak marah lagi, dan berkata.
"Mengapa kau masih di sini, cepat kabur! Kabur!"
Dengan mata terpejam Ruan-wei menjawab.
"Jika kau tidak bangun, aku juga tidak akan berdiri!"
Dia benar-benar tidak bergerak, dia benar-benar ingin menemani Gongsun Lan.
Serigala mulai mencium bau mereka dan datang dengan cepat.
Sekarang serigala berjarak ratusan meter dengan mereka.
Kuda yang Gongsun Lan tunggangi mulai gelisah tapi Bai-ti-ma milik Ruan-wei tetap tenang tidak bergerak.
Kuda yang benar-benar bagus, benar-benar luar biasa.
"Aku bangun, kau cepat pergi!"
Begitu mendengar Gongsun Lan akan bangun, maka dengan tenang Ruan-wei berkata.
"Kau bangun, kita pergi bersama."
Gerombolan serigala berjarak 30 meter lagi dengan mereka. Gigi serigala yang putih mulai terlihat jelas. Gongsun Lan mulai cemas dan menangis.
"Aku... aku... aku tidak bisa bangun! Kau cepat pergi dari sini!"
"Mengapa kau tidak mengatakannya sejak tadi? Di mana kau terluka?"
Dengan cepat dia menggendong Gongsun Lan dan berlari ke arah Bai-ti-ma.
Kuda itu masih tenang seperti biasanya tapi kuda hitam karena merasa takut kakinya menjadi lemas dan jongkok.
Dengan cepat Ruan-wei mengambil barang bawaan Gongsun Lan dan saat itu serigala sudah datang dan segera menyerang kuda hitam.
Begitu Ruan-wei meloncat ke atas Bai-ti-ma, dia segera memacu kudanya dan berlari dengan kencang, gerombolan serigala segera tertinggal jauh.
Setengah jam kemudian, mereka turun dari Gunung La Wa.
Ruan-wei teringat pada tubuh Gongsun Lan, maka dia turun dari kudanya, kemudian menurunkan barang bawaan Gongsun Lan, mengeluarkan selimut tebal.
Dia membaringkan Gongsun Lan di sana.
Dengan ramah Ruan-wei bertanya.
"Kau terluka di bagian mana?"
Kepala Gongsun Lan miring ke pinggir dan tidak mau bicara. Ruan-wei mengeluh.
"Mengapa kau marah kepadaku? Mengapa kau marah kepadaku...."
Suaranya semakin kecil, terlihat Ruan-wei benar-benar sedih. Karena terpengaruh oleh suara Ruan-wei, Gongsun Lan dengan pelan berkata.
"Tulangku masuk angin dingin maka aku tidak bisa bergerak."
Ruan-wei terkejut, dengan cepat dia duduk dan mulai melakukan gerakan ilmu yoganya.
Kedua telapaknya mulai panas seperti api.
Kedua telapaknya dimasukkan ke dalam tubuh dan mulai menggosok-gosok tubuh Gongsun Lan.
Dengan ilmu yoga Ruan-wei mengobati luka dalam Gongsun Lan khasiatnya sangat hebat, puluhan menit kemudian wajah pucat Gongsun Lan mulai menjadi merah.
Tapi ingin mengeluarkan udara dingin di dalam tubuh bukan hal yang mudah.
Setengah jam kemudian hari mulai gelap.
Di bawah sinar bulan mereka berdua bisa melihat wajah mereka masing-masing.
Ruan-wei mulai merasa lelah.
Gongsun Lan merasa kasihan melihatnya, apalagi tubuhnya mulai bisa digerakkan.
Jika berhenti, semuanya akan gagal, maka perasaan berterima kasih disimpan di dalam hati.
Ketika Ruan-wei menggosok tubuhnya, keringat menetes di wajah Gongsun Lan.
Tubuh Gongsun Lan mulai panas.
Sekarang tetesan keringat dan tangan Ruan-wei membuat Gongsun Lan mulai tidak tenang dan jantungnya berdebar-debar.
Pada saat yang penting ini, jika Gongsun Lan menuruti nafsu birahinya, hal ini akan sangat berbahaya.
Tiba-tiba Gongsun Lan duduk, kedua tangannya memegang erat Ruan-wei.
Ruan-wei membentak.
"Diam!"
Pada kesempatan ketika Gongsun Lan terkejut dan berhenti bergerak, Ruan-wei mempercepat tenaga dalamnya masuk ke dalam tubuh Gongsun Lan.
Sepuluh menit sudah berlalu.
Ruan-wei duduk dengan lemas tidak lama kemudian dia roboh dan menyandar di dada Gongsun Lan.
Pelan-pelan Gongsun Lan memapah Ruan-wei duduk, air matanya terus menetes.
Dia sudah sembuh tapi Ruan-wei malah lemas dan tidak bertenaga.
Dia memeluk Ruan-wei dengan erat.
Dengan suara gemetar dia berkata.
"Benar-benar membuatmu repot...."
Ruan-wei mulai mencium wangi seorang perawan. Karena lemas dia hanya bisa memanggil.
"Kakak... Kakak... Kakak...."
Gongsun Lan menutup mulutnya dan berkata dengan lepas.
"Aku tidak mau menjadi kakakmu, aku ingin memanggilmu kakak... Dia teringat tadi pagi A-mina memanggil Ruan-wei dengan sebutan kakak. Karena dia sangat mencintai Ruan-wei, dia lupa kalau dia adalah seorang gadis. Dengan penuh perasaan dia mencium Ruan-wei. Berapa kali mencium dia sendiri sendiri tidak tahu. Karena terlalu lelah Ruan-wei tertidur dengan nyenyak. Pelan-pelan Gongsun Lan menaruh Ruan-wei ke bawah kemudian dengan cepat memasang tenda dan menyalakan api unggun. Gongsun Lan tidur di sisinya dan melihat Ruan-wei. Dalam hati Gongsun Lan berpikir, 'Dia tidak seperti orang yang tidak berperasaan! Perasaannya seperti bulan dan seperti matahari, aku tidak akan marah lagi. Besok aku akan membawamu ke Kan-long-shan dan bertemu dengan ayah. Ayah pasti bisa mengobati lukamu....' Malam begitu sepi tanpa suara. Fajar sebentar lagi akan tiba.... --Bersambung
Jilid 5
Jilid KE LIMA BAB 107 Mencari ilmu tanpa menggunakan pedang Hari kedua.
Ruan-wei dan Gongsun Lan bersama-sama menunggang Bai-ti-ma terus menuju Kan-long-shan.
Seharusnya perjalanan mereka harus memakan waktu 3 hari tapi pada hari kedua siang mereka telah tiba di pegunungan Kan-long.
Tadinya Gongsun Lan ingin cepat-cepat bertemu dengan ayahnya supaya ayahnya bisa membantu Ruan-wei pulih seperti semula, maka dia memacu kudanya lebih cepat.
Tapi begitu tiba di pegunungan Kan-long-shan, Ruan-wei ternyata sudah bisa mengatur nafas dan bisa mengembalikan semua tenaga dan ilmu silatnya.
Kan-long-shan merupakan tempat yang tidak terlalu tinggi.
Walaupun musim dingin tapi udara di sana tidak begitu dingin.
Tapi karena jalan berliku-liku dan sangat banyak danau di sana maka perjalanan sangat sulit.
Para penggembala pun jarang yang lewat tempat ini.
Karena takut Bai-ti-ma kelelahan maka mereka berdua turun dan berjalan.
Gongsun Lan sangat mengenali jalan gunung di daerah ini.
Awalnya terlihat seperti tidak ada jalan tapi saat dia berbelok ke timur, lalu berputar ke barat dan muncul lah sebuah jalan kecil.
Sepanjang jalan mereka mengobrol, bercanda, dan di sebuah jalan kecil yang sepi yang hanya bisa dilewati oleh seekor kuda, Gongsun Lan berjalan dulu di depan dan Ruan-wei di belakang sambil menuntun kuda.
Baru berjalan sebentar, di depan tikungan ada sebuah batu yang menonjol dan terlihatlah lapangan dengan lebar 5 meter.
Di sana berdiri 5 pendeta dengam rambut masih hitam.
Dalam hati Gongsun Lan berpikir, 'Apakah mereka adalah tamu ayah?' Ketika mereka mendekati para pendeta itu, kelima pendeta itu hanya melihat mereka tapi tidak bicara sepatah kata pun.
Mereka berdiri di tengah-tengah jalan, menghalangi mereka naik gunung.
"Permisi Paman-Paman, kalian datang ke Kan-long-shan ada keperluan apa?"
Tanya Gongsun Lan sambil tertawa.
"Kalian sendiri datang bagaimana?"
Seorang pendeta putih balik bertanya. Gongsun Lan tidak menjawab, dia terpaku. Ruan-wei segera menjawab.
"Kami datang untuk melancong."
Sebenarnya Ruan-wei sendiri tidak tahu maksud kedatangannya ke Kan-long-shan, dia hanya membantu Gongsun Lan menjawab saja.
"Di gunung ini tidak ada tempat melancong. Menurutku lebih baik kalian cepat turun gunung!"
"Mengapa Paman tahu di gunung ini tidak ada tempat melancong?"
Tanya Gongsun Lan. Kata-kata ini membuat mereka tidak bisa balik menjawab. Setelah lama mereka baru menjawab.
"Karena gunung ini sangat sepi, jalan sangat sulit ditempuh, jika banyak tempat melancong pasti ada pengunjung yang datang. Tidak ada pengunjung berarti tempat ini tidak ada tempat melancong."
"Apakah Paman pernah datang ke gunung ini?"
Tanya Gongsun Lan. Karena dia seorang pendeta, maka dia menjawab dengan jujur.
"Tidak pernah."
"Paman salah! Di gunung ini banyak tempat melancong, jika Paman mengatakan tidak ada pelancong yang datang bukankah kelima paman pelancong juga?"
Tanya Gongsun Lan.
"Mengapa Nona tahu di sini banyak tempat melancong?"
"Karena aku pernah tinggal di gunung ini, maka aku sangat apal daerah ini. Jika kelima paman tidak tahu jalannya, aku bisa membawa kelima paman pergi melancong,"
Gongsun Lan tertawa. Seorang pendeta hitam berteriak sambil bertanya.
"Apa hubungan Nona dengan Gongsun Qiu-jian?"
Dengan serius Gongsun Lan menjawab.
"Dia ayahku!"
Baca Juga: Pendekar Setia 6
Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 3