Terbang Harum Pedang Hujan 3

Eps 3 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

Kemudian orang itu menyerang dengan ilmu Shao-lin Fu-hu-quan (Ilmu kepalan harimau mendekam).

Sepertinya ilmu Fu-hu-quan ini mengandung tenaga latihan 30 tahun.

Karena serangan orang itu begitu tiba-tiba, hampir saja kepalannya mengenai dada Yi-feng.

Yifeng sama sekali tidak menyangka kalau yang akan menyerangnya adalah orang yang sedang berlutut bukan orang yang memegang pedang.

Karena terkejut tanpa terasa dia menggeser kakinya.

Laki-laki itu berilmu silat tinggi, jurusjurusnya cepat dan lancar.

Sekarang dia sudah mengeluarkan dua kepalannya, dengan cepat dia menyerang pundak dan dada Yi-feng.

Yi-feng marah besar dan membentak.

"Apakah kau sudah gila?"

Dengan ilmu silatnya yang tinggi dia pun balas menyerang laki-laki itu.

Laki-laki itu dalam 10 jurus masih bisa menahan jurus-jurus Yi-feng, tapi mangkuk dan cangkir yang ada di atas meja sudah hancur berantakan.

Orang yang memegang pedang masih tetap duduk di kursinya sambil tertawa dingin, tapi matanya terus memperhatikan langkah-langkah Yi-feng.

Kadang-kadang dia menyentil punggung pedang agar mengeluarkan suara.

Entah Yi-feng harus marah atau tertawa, diam-diam dia memarahi dirinya sendiri karena terlalu banyak ikut campur urusan orang lain.

Sambil marah laki-laki itu terus menyerangnya.

"Mengapa kau melarangku berlutut? Jangankan telinga, nyawa pun akan kuberikan padanya."

Karena marah Yi-feng menggerakan telapak tangannya untuk menyerang.

Bayangan telapak tangan mengelilingi laki-laki yang selalu bicara kasar itu.

Orang yang memegang pedang tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Menurut kata orang kuno, lebih baik jangan mencampuri urusan orang lain. Sahabat, apa kita harus menuruti perkataan orang kuno?"

Yi-feng benar-benar marah kali ini, dia mundur tiga meter, lalu membentak.

"Baiklah, aku tidak akan ikut campur tangan lagi urusan kalian..."

Kata-katanya belum selesai, laki-laki itu datang dan menyerang wajah Yi-feng, dia masih tetap marah-marah.

Jika bisa mungkin Yi-feng dibunuh dengan kata-katanya saat itu juga.

Yi-feng merasa aneh, dia tidak mengerti mengapa laki-laki ini malah ingin membunuhnya?

Padahal Yi-feng berniat menolongnya.

Terdengar laki-laki itu marah lagi.

"Kau benar-benar kurang ajar, kau merusak rencanaku, aku harus membunuhmu sekarang juga!"

Orang yang memegang pedang tetap tertawa, sedangkan Yi-feng masih bengong tidak mengerti.

Diam-diam dia berpikir, 'Dua telinga orang ini sudah putus ditebas oleh orang pucat itu, aku menolongnya tapi dia malah mengatakan kalau aku telah merusak rencananya, apakah dia sudah gila?

Atau dia bukan orang normal?

Hhhh!

Aku benar-benar sial!"

Dengan cara apa pun dia tidak bisa menjelaskan alasannya, terpaksa dia mengakui kalau dia sedang sial.

oo BAB 29 Si cantik dari dunia persilatan Karena Yi-feng sedang berpikir, laki-laki itu mengambil kesempatan menyerangnya sambil membentak.

"Jika hari ini aku tidak bisa membunuhmu, aku akan mengganti nama Fu-hu-jin-gang ini!"

Yi-feng baru mengerti ternyata laki-laki ini bernama Fu-hu-jin-gang.

Dia berpikir lagi, 'Mengapa dia berting-kah seperti orang gila?' Nama Fu-hu-jin-gang, Ruan Dacheng sangat terkenal di Propinsi Si-chuan, dia adalah seorang laki-laki yang sangat terbuka, sangat dikagumi oleh orang-orang, begitu mendengar nama Fu-hu-jin-gang, Yi-feng merasa bertambah aneh.

Karena Ruan Da-cheng bukan orang gila tapi mengapa sekarang dia berperilaku seperti itu?

Orang yang memegang pedang masih duduk di sana sambil tertawa melihat Yi-feng.

Melihat mereka bertarung tanpa sebab, dia malah sangat senang.

Hanya sebentar mereka sudah bertarung beberapa jurus lagi, tapi Yi-feng sudah tidak tahan karena kepandaiannya berada di bawah Ruan Da-cheng.

Dan di antara dia dan Ruan Da-cheng tidak ada dendam sama sekali dan dia datang ke sana bermaksud menolongnya, dia tidak berniat melukainya.

Kaki kanan Ruan Da-cheng sudah maju, kepalan tangan kanan dikeluarkan dengan posisi lurus.

Kedua telapaknya melingkar, dengan cepat Yi-feng menyerang ke tenggorokkan dan dada bawah Fu-hu-jin-gang.

Fu-hu-jin-gang menekuk menghindari serangan itu tapi tubuh Yi-feng sudah berputar.

Kedua telapaknya siap memukul tubuh Ruan Da-cheng.

Dua jurus ini sangat ringan juga indah.

Jurus ini didapatkannya ketika dia sedang bertarung dengan Wan Tian-pin ketika mengubah jurus, kecepatannya lebih cepat satu kali lipat dibandingkan dengan dari orang lain.

Maka sebelum Ruan Da-cheng mengubah jurusnya, dia sudah terkena pukulan dan terjatuh.

Kedua matanya menatap Yi-feng dengan aneh, kenapa Yi-feng bisa mengeluarkan 2 jurus begitu aneh?

Orang yang memegang pedang malah menyentil pedang sambil tertawa.

"Baik! Ini sangat baik! Sahabat, kau benar-benar berilmu tinggi, aku kagum kepadamu."

Mata Yi-feng bergerak dari kiri ke kanan melihat dua orang itu, dia tidak mengerti apa hubungan di antara mereka?

Apakah mereka majikan dan pelayan?

Tapi pikirannya segera disingkirkannya jauh-jauh, tidak mungkin Fu-hu-jin-gang menjadi pelayan.

Fu-hu-jin-gang merangkak berdiri dengan marah.

Walaupun dia berhasil dipukul dia tidak terima dan masih ingin bertarung lagi dengan Yi-feng.

Orang yang memegang pedang tertawa.

"Sudahlah, Ruan Lao-da, kau bukan lawannya, apalagi hari ini karena diriku kau sudah mengorbankan 2 telingamu. Kelak jika masih ada kesempatan kau boleh mencobanya lagi, yang penting...yang penting.. .kau mengerti diriku."

Yi-feng yang sedang kebingungan sekarang bertambah bingung.

Dia merasa ingin tertawa karena orang yang memegang pedang malah menasehati Fu-hu-jin-gang supaya jangan bertengkar lagi dan dia pun tidak mengerti kenapa mereka bisa sampai bertengkar?

Dia harus melampiaskan kekesal-an ini kepada siapa?

Orang yang memegang pedang itu perlahan berdiri, tersenyum pada Yi-feng.

"Sahabat, siapa marga dan nama anda? Kita bertemu di malam hari seperti ini, aku harap Anda bisa tinggal dan mengobrol lebih lama denganku."

Dia menuangkan secangkir teh untuk Yi-feng dan tertawa.

"Malam larut seperti ini datang bertamu, terpaksa aku hanya bisa menyuguhkan teh menggantikan arak."

Yi-feng terpaku, dia tidak bisa menebak siapa orang yang membawa pedang ini.

Orang ini terkadang menghinanya, terkadang bertingkah sopan, Entah dengan cara apa Yi-feng harus menghadapi orang ini?

Apa harus bersikap seperti kawannya?

Atau pergi dari sana begitu saja?

Dia sungkan duduk berteman dengan orang aneh ini.

Ketika dia sedang ragu, Fu-hu-jin-gang datang menghampirinya malah ingin berteman dengannya.

"Jangan melihat wajahnya yang putih, hatinya tidak sebaik aku. Demi dirimu, telingaku sudah ditepis, apakah kau tidak merasa kasihan kepadaku sedikit pun?"

Setelah mendengar kata-kata ini, Yi-feng terkejut lagi.

"Apakah benar Ruan Da-cheng sudah gila? Mengapa sekarang dia malah berkata seperti itu?"

Yi-feng benar-benar bingung. Wajah orang yang memegang pedang seperti memerah, tiba-tiba dia memutar pedangnya membuat pedang itu mengeluarkan warna biru. Dia juga membentak.

"Ruan Lao-da, jangan sembarangan bicara! Mengapa setiap hari kau selalu mengikutiku, jika kau bukan laki-laki sejati, sejak dulu aku sudah memenggal kepalamu. Kau memintaku menebas telingamu, aku baru mau melakukannya, apakah aku salah telah bertindak seperti itu?"

Yi-feng benar-benar kebingungan.

Tapi wajah Ruan Da-cheng seperti akan menangis.

Wajahnya seperti ayahnya saat meninggal, dia berdiri tegak, dua telinganya yang telah putus masih meneteskan darah.

Melihat Ruan Dacheng, Yi-feng merasa kasihan juga ingin tertawa, tapi dia pun merasa aneh.

Diam-diam dia berpikir, 'Fu-hu-jin-gang adalah orang terkenal di dunia persilatan, mengapa sekarang dia menjadi seperti ini?' Dia melihat orang yang memegang pedang itu kemudan berpikir, 'Jika dia adalah seorang perempuan, mungkin Ruan Da-cheng melakukan semua ini karena cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi orang ini dari ujung kaki sampai ujung rambutnya tidak mirip perempuan sama sekali.' Di dunia persilatan banyak perempuan yang berdandan seperti laki-laki.

Yi-feng terbiasa melihatnya tapi dia selalu tahu apakah orang itu adalah perempuan yang sedang menyamar menjadi laki-laki.

Orang yang memegang pedang ini memang berwajah putih juga tidak terlihat kasar tapi kumis pendek yang tumbuh di atas bibirnya, setiap helainya menempel di kulit, hal seperti ini jarang ada perempuan yang bisa melakukannya.

Kumis yang hanya ditempelkan dengan kumis asli, bagi orang yang kurang pengalaman sulit untuk dibedakan.

Tapi orang seperti Yi-feng yang banyak pengalaman begitu melihat langsung mengetahui perbedaannya.

Karena itu dia mulai merasa kasihan terhadap Ruan Da-cheng.

Ruan Da-cheng sedang duduk lemas di sana.

Seorang laki-laki terkenal bisa menjadi seperti ini, benar-benar sulit dipercaya!

Orang yang memegang pedang itu tersenyum lagi.

"Sejak tadi Tuan diam saja, apakah Tuan tidak sudi berteman denganku?"

Yi-feng sedikit terpaku, dengan gugup menjawab.

"Oh, tidak, tidak! Bukan karena itu"

Sinar matahari mulai masuk melalui jendela.

Di luar jendela ternyata ada sebuah taman yang sangat indah.

Sekarang Yi-feng baru tahu, tempat di mana dia berada sekarang adalah kamar belakang dari seorang yang kaya.

Dia merasa lebih aneh lagi, dia segera membalikkan tubuh melihat orang yang memegang pedang itu.

"Namaku adalah Yi-feng, aku hanya orang kecil di dunia pesilatan. Jika tuan ingin berteman denganku, aku benar-benar merasa beruntung..."

Sebenarnya dia ingin menanyakan marga dan nama orang itu, karena merasa tidak pantas maka dia mengurungkan niatnya.

Orang yang memegang pedang itu berkata lagi."Dengan kepandaian yang Tuan miliki, Tuan masih mengatakan kalau Tuan adalah orang kecil, apakah Tuan tidak terlalu merendahkan diri?"

Dia pelan-pelan berjalan mendekati jendela. Yi-feng baru melihat ternyata orang ini tidak tinggi, hanya setinggi sampai batas hidungnya. Dia segera terpikirkan pada satu hal. Dia tertawa lagi.

"Namaku adalah Xiao Nan, akulah yang baru orang kecil di dunia persilatan. Apa yang terjadi pada malam ini kau pasti merasa aneh, tapi setelah aku menjelaskannya, Tuan pasti akan segera mengerti."

Yi-feng dengan teliti mendengar semuanya.

Orang yang bernama Xiao Nan ini langsung diam.

Dia tidak menjelaskan apa yang telah dia janjikan tadi Yi-feng tetap tidak mengerti.

Xiao Nan tiba-tiba membalikkan tubuh menepuk pundak Ruan Da-cheng, dia mengganti nada bicaranya.

"Ruan Lao Da, untuk apa kau masih berdiri di sini, hari sudah terang!"

Fu-hu-jin-gang mengerutkan keningnya dan berteriak.

"Kau menyuruh marga Yi tetap tinggal sedangkan aku disuruh pergi, mengapa kau begitu tega?"

Kedua mata Xiao Nan membelalak dengan lebar, mata yang bercahaya itu mengeluarkan sinar setajam silet.

Ruan Da-cheng segera menundukkan kepalanya.

Yi-feng menarik nafas, dia merasa kepala-nya membesar, kata-kata Fu-hu-jin-gang malah membuatnya merasa kasihan padanya hal yang tidak perlu diributkan dia heboh sendiri, maka dia hanya bisa tersenyum.

Yi-feng masih melihat ujung pedang Xiao Nan yang masih menusuk 2 telinga Fu-hu-jin-gang.

Dia merasa ingin muntah, dia juga benci kepada Xiao Nan tapi harus bagaimana lagi?

Yang satu ingin memukul, yang satu lagi minta dipukul?

Orang luar bisa berbuat apa?

Karena itu dia dengan sikap hormat dia pun pamit."Hari sudah terang, aku pamit dulu."

Ruan Da-cheng melotot.

"Jika kau pergi, aku juga pergi. Jika kau tidak pergi, aku akan menunggu, kita pergi bersamasama."

Ketika mereka baru melangkah, dari arah taman terdengar suara manja yang berkata.

"Hei, aku baru datang mengapa sudah ada yang akan pergi, apakah kalian tidak senang aku datang kemari?"

Dari luar masuk seseorang, rambutnya digelung, wajahnya cantik. Begitu dia masuk membuat seisi kamar menjadi ramai. Dia tertawa dan berkata kepada Xiao Nan.

"Kau tetap mempunyai banyak cara, baru saja datang, hari pertama sudah kedatangan 2 orang tamu. Kakakmu sudah tinggal di sini selama 3 tahun tapi belum pernah ada yang mencarinya."

Xiao Nan tertawa.

"Siapa yang berani mencarimu? Kecuali kalau orang itu sudah memakan empedu harimau untuk menambah keberaniannya, kalau tidak aku yakin tubuhnya pasti penuh dengan lubang."

Mereka berdua terus bercanda, dan sepertinya mereka sangat akrab.

Ruan Da-cheng dengan bingung berdiri di sana, tapi Yi-feng terus melihat Xiao Nan.

--BAB 30 Xiao-xiang-fei-zi (putri cantik) di Hunan Begitu perempuan cantik ini keluar, Yi-feng merasa mengenalnya.

Sekarang setelah mendengar kata-kata Xiao Nan, dia langsung tahu siapa perempuan itu.

Melihat wajah Xiao Nan yang terus berseri-seri, tapi tetap tidak terlihat ada ekspresi, dia lalu menghubung-hubungkan dengan 'kecemburuan' Ruan Da-cheng, dia jadi mengerti apa yang terjadi di sana.

'Ternyata Xiao Nan adalah si Cantik dari Hunan, dia bernama Xiao Nan-pin.

Pantas saja Ruan Da-cheng begitu tergila-gila kepadanya, tapi aku tidak sadar kalau dia seorang gadis, Putri Xiao San-ye kalau telah menyamar, dijamin tidak ada yang mengenalinya.' Yi-feng melihat perempuan cantik itu dan berpikir, 'Orang itu pasti adalah istri dari Ahli Api, Huo-shen-ye yang terkenal di dunia persilatan, yang bernama 'La-shou-xi-shi' (Perempuan tangan pedas), Gu Xiao-jing.

Aku pernah bertemu dengannya satu kali, apakah dia masih mengenalku?

Anehnya mengapa kota Jing Dong yang begitu kecil bisa ada 2 cantik dari 4 orang tercantik di dunia persilatan, dan secara tidak sengaja bertemu denganku."

Dalam kekacauan pikirannya, dia teringat kembali pada istrinya, Xiao-hun-fu-ren Xue Ruo-bi.

Ternyata yang bernama Xiao Nan ini adalah putri kesayangan dari si tangan terampil dan ahli senjata rahasia Xiao Xi-xiao, Xiao San-ye yang bernama Xiao-xiang-fei-zi...dan wanita cantik itu adalah istri Huo-shen-ye Yao Qing-yu...La-shou-xi-shi Gu Xiao-jing.

Ketika itu nama 4 orang cantik dari dunia persilatan sangat terkenal.

Nomor satu adalah istri Yifeng 'Xiao-hun-fu-ren'.

Lalu Xiao-xiang-fei-zi Xiao Nan-pin, 'La-shou-xi-shi' Gu Xiao-jing, dan putri ketua Kun-lun-pai Zhui-feng, disebut-sebut sebagai '4 orang cantik dari dunia persilatan'.

Kemudian Nyonya Xiao-hun menikah dengan Lu Nan-ren dan tinggal di Jiang-nan.

'La-shou-xishi', Gu Xiao-jing menikah dengan pembuat senjata nomor satu, Jiao Qing Yu.

Xiao-xiang-fei-zi disukai oleh banyak orang, tapi dia selalu bersikap dingin.

Banyak pendekar yang tergila-gila kepadanya, tapi mereka selalu terluka karena pedangnya, karena itu pula dunia persilatan marah dibuatnya.

Dia juga tenggelam.

Nama Kun Lun Yu Nu juga menghilang dari dunia persilatan.

Karena itu hal tentang '4 cantik dari dunia persilatan'jarang ada yang mengungkitnya lagi.

Xiao Nan-pin tertawa.

"Yang satu memanggilku nona, yang satu memanggil adik, aku tidak bisa menjadi seorang lakilaki."

Kemudian dia membersihkan wajahnya.

Muncullah seraut wajah cantik.

Yi-feng benar-benar kagum dengan keterampilan tangan mengubah wajah Xiao San-ye.

Dia berpikir, 'Pantas Xiao San-ye pernah muncul dengan 11 nama di dunia persilatan.

Jika bukan dia sendiri yang mengumumkan 11 nama ini, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, dari sini dapat diketahui bagaimana hebatnya keterampilan tangannya.' Mata Yi-feng tanpa sengaja melihat Xiao Nan-pin.

Gu Xiao-jing tertawa.

"Kalian duduk dulu, aku akan membawa bubur kemari."

Kemudian dia menarik nafas.

"Beberapa tahun ini tubuh Yao Lao Er semakin melemah, sampai sekarang pun belum bangun."

Xiao Nan-pin tertawa.

"Apakah kakak ipar belum bangun? Semenjak menikah denganmu, dia tidak pernah sehat."

Setelah bicara seperti itu, wajah Xiao Nan-pin memerah. Gu Xiao-jing juga marah.

"Mulutmu benar-benar tidak bisa dijaga, jika ada yang mau menikah denganmu, dia pasti akan lebih sial dari Lu Nan-ren!"

Yi-feng diam-diam menarik nafas panjang.

Orang dunia persilatan menganggapnya sebagai pembawa sial, dia merasa malu juga merasa kasihan pada dirinya sendiri, dan merasa tidak perlu berlama-lama berada di sini, maka dia pun berkata.

"Nona Gu, jangan repot-repot..."

Tapi Gu Xiao-jing dengan sepasang mata yang bercahaya melihatnya.

"Hei, mengapa kau tahu kalau aku bermarga Gu?"

Matanya berkedip-kedip dan berkata lagi.

"Hei, semakin dilihat sepertinya kita pernah bertemu, di mana kita pernah bertemu ya?"

Yi-feng terkejut, dengan cepat dia menyela.

"Aku tidak berkesempatan bisa berkenalan dengan Nona, hanya saja nama 'La-shou-xi-shi' sangat terkenal, aku sering mendengar nama Nona dan aku bisa tahu secara langsung."

"Oh begitu!"

Tapi dia tetap tidak percaya dan seperti sedang memikirkan sesuatu.

Yi-feng diam-diam berpikir, 'Aku harus cepat pergi dari sini, jika Huo-shen-ye kemari juga, dia akan segera mengenaliku.

Jika kabar kalau aku berpura-pura mati tersebar ke seluruh dunia persilatan, aku akan menjadi bahan tertawaan.

Tian-zheng-jiao akan kembali mencariku.

Saat itu jika aku ingin berlatih ilmu silat pun akan terganggu karenanya."

Dia segera berjalan ke depan pintu, kemudian berpamitan.

"Maaf, aku sudah mengganggu kalian, aku mohon maaf. Jika ada kesempatan, aku akan datang berkunjung kembali."

Tanpa menunggu jawaban mereka, dia berjalan keluar.

Dia tidak berpikir apakah dia akan dicurigai karena perbuatannya ini.

Setibanya di taman, pohon-pohon tampak sudah layu, teratai yang terapung di atas kolam pun hanya tersisa batangnya yang sudah layu.

Salju belum mencair angin berhembus sangat dingin.

Dia melangkah dengan cepat, tidak ada waktu untuk menikmati keindahan taman di musim dingin ini.

Dari sudut matanya Yi-feng melihat ada sebuah pintu dicat dengan warna merah dan dengan cepat dia berjalan ke arah sana.

--BAB 31 Terbuka penyamarannya Dengan cepat dia berjalan mendekati pintu kecil itu, tiba-tiba terdengar suara angin yang lewat.

Ternyata La.-shou-xi-shi dan Xiao-xiang-fei-zi dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh berlari ke depannya.

Mereka berdiri menghadang di depan pintu, sambil tertawa melihat Yi-feng.

Yi-feng tidak mengerti apa maksud mereka, tapi Gu Xiao-jing menunjuknya sambil tertawa.

"Jangan pergi dulu! Aku sudah ingat siapa kau, kau adalah Tie-ji-wen-hou, Lu Nan-ren."

"Mungkin mata Nona salah mengenal orang."

Gu Xiao-jing tertawa.

"Jangan terburu-buru, aku tidak akan pernah salah melihat orang, aku pernah melihat-mu di Tai Shan, sekarang aku baru ingat..."

Yi-feng dengan cepat berlari, dia ingin kabur dari sana, Gu Xiao-jing tertawa.

"Kenapa lari?"

Dia mencoba mencengkram Yi-feng.

Yi-feng berputar di tengah udara, telapak tangan kanannya menepis Gu Xiao-jing, tapi dia bergerak ke arah kiri untuk meloncati dinding dan kabur dari sana.

Tapi terdengar suara bentakan.

"Siapa yang berani membuat keributan di sini!"

Yi-feng tidak sempat membalikkan kepala untuk melihat, dia hanya merasakan ada angin kencang yang menyerang ke rusuk kirinya.

Suara angin itu sangat keras, berarti orang yang melempar senjata rahasia mempunyai tenaga sangat besar, sepertinya senjata rahasia yang dilempar orang itu akan mengenai Yi-feng.

Pada saat menegangkan itu, terdengar suara POK!

Dia melihat di sisi kirinya ada api biru yang menyala, ternyata ada yang melempar senjata rahasia untuk menghalau senjata rahasia yang menyerang ke sisi kirinya.

Yi-feng benar-benar terkejut karena dia tahu senjata rahasia yang dilepaskan itu adalah 'Huoshen-zhu', (Mutiara dewa api) yang ditakuti semua orang.

Karena tidak berkonsentrasi maka pukulannya ke arah Gu Xiao-jing jadi meleset.

Yi-feng tahu kalau dia sudah tidak bisa kabur dari sini, maka dia pun mendarat turun.

Seorang laki-laki pendek dengan cepat datang menghampiri mereka dan membentak.

"Adik Xiao, mengapa kau melepaskan senjata rahasiaku?"

Dia berhenti di depan Yi-feng, dia berniat memukul Yi-feng. Ketika melihat Yi-feng dia malah berteriak.

"Bukankah kau adalah Lu Nan-ren, Adik Lu? Mengapa kau bisa berada di sini? Sungguh baik... baik!"

Sambil tertawa dia menarik Yi-feng.

"Kabar Burung yang beredar di dunia persilatan mengatakan kalau kau sudah mati, aku tidak mempercayainya. Senjata Tie-ji milikmu begitu hebat, mana mungkin kau gampang dibunuh? Aku tahu kau hanya berpura-pura...."

Dia tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Yi-feng.

"Cepat masuk, cepat masuk! Kita masuk untuk mengobrol."

Yi-feng mengangguk tapi dalam hati dia merasa tidak enak, dia memang kenal dengan Yao Qing-yu.

Tapi hubungan mereka tidak terlalu akrab, sekarang dengan ramah dia melayani Yi-feng, dia juga merasa senang.

Tapi sekarang rahasianya sudah terbongkar, pasti akan timbul banyak masalah.

Gu Xiao-jing datang sambil tertawa.

"Tadi dia bersembunyi karena takut identitasnya ketahuan! Hei, Adik Lu, kau seorang pahlawan terkenal, mengapa sekarang kau seperti itu? Apa yang harus kau takuti? Istri boleh kabur, tapi kau jangan ikut kabur."

Yi-feng...dia sudah bersumpah jika dendamnya belum terbalas, dia tidak akan menggunakan nama Lu Nan-ren lagi.

Karena itu sekarang tetap menggunakan nama Yi-feng...

hatinya sekarang seperti bumbu dapur yang telah diaduk menjadi satu, rasanya sangat kacau.

Walaupun dia tahu kalau suami istri Yao Qing-yu tidak akan mengkhianatinya, identitas-nya yang sudah terbongkar tetap membuatnya merasa tidak tenang, tapi di sisi lain dia juga merasa berterima kasih kepada suami istri yang sangat memperhatikan keadaannya.

Begitu mendengar perkataan Gu Xiao-jing, dia teringat kembali pada istrinya, dia memang malu tapi juga marah.

Karena itu dia hanya berdiri terpaku dalam hembusan angin dingin.

Otaknya kacau.

Sampai Yao Qing-yu menariknya masuk ke ruang tamu dan menyuruh duduk di sebuah kursi besar, pikirannya masih bingung.

Dia menjawab semua pertanyaan mereka.

Saat mengungkit orang yang memiliki hubungan erat dengannya di masa lampau, dia mulai merasa tidak tenang.

Karena selama dua tahun ini dia hampir melupakan semua hal yang pernah dialaminya dulu.

Dia selalu berkata pada dirinya sendiri.

"Aku adalah Yi-feng, aku tidak mempunyai nama dan marga, aku hanya orang kecil di dunia persilatan bukan seorang Tie-ji-wen-hou Lu Nan-ren yang sangat terkenal di dunia persilatan."

Dia sendiri pun hampir lupa pada keadaannya sekarang, tiba-tiba dia ditarik ke masa lalunya, karena orang-orang ini mengenalnya sebagai Lu Nan-ren.

Dia tertawa sendiri dan berpikir, 'Apa anggapan mereka kepadaku?

Apakah mereka menganggapku sebagai orang yang tidak sanggup menjaga istrinya sendiri?' Ketika Yao Qing-yu bertanya kepadanya, dia melihat Yi-feng seperti orang kebingungan, walaupun mereka bertiga tertawa tapi dalam hati mereka kasihan padanya.

Apalagi Xiao Nan-pin, sepasang matanya yang bersinar terang, sejak awal sampai sekarang selalu melihat Yi-feng.

Walaupun Yi-feng bersikap dingin kepadanya atau boleh dikatakan menghinanya, tapi dia tetap sangat memperhatikan Yi-feng.

Malah berlebihan.

Yao Qing-yu tertawa.

"Adik Lu, tinggallah selama beberapa hari di sini, aku akan membawamu jalan-jalan. Kau jangan khawatir, jika kau tidak ingin ada yang mengetahui identitasmu, kami tidak akan mengatakannya kepada orang lain."

Yi-feng merasa berterima kasih, dia tertawa.

"Terima kasih atas kebaikan Kakak Yao, aku masih mempunyai hal penting, aku harus cepatcepat kembali ke Zhong-nan-shan."

Yao Qing-yu bertanya.

"Apakah kau akan pergi ke Zhong-nan-shan?"

Dia memegang dahinya dan berkata lagi."

Tapi rapat Zhong-nan-shan masih setengah bulan lagi, aku akan berangkat beberapa hari lagi, mengapa kau tergesa-gesa harus segera ke sana? Apakah memang ada hal sangat penting?"

Yi-feng bertanya karena terkejut.

"Rapat apa yang akan diadakan di Zhong-nan-shan?"

Dia mengira rapat yang diadakan yaitu rapat tentang pembacaan ayat-ayat kitab suci untuk mendoakan arwah para biksu yang telah meninggal.

"Apakah murid-murid Zhong-nan-shan meninggal semua?"

Yao Qing-yu bertanya.

"Apakah kau tidak tahu apa yang terjadi?"

Di Zhong-nan-shan pasti sudah terjadi sesuatu, ketua Zhong-nan-shan, Biksu Miao-ling tiba-tiba saja meninggal, karena itu Zhong-nan-pai mengundang semua perkumpulan, pada bulan 2 tanggal 24 akan memilih ketua Zhong-nan-shan yang baru.

Undangan tersebut baru tiba kemarin malam, diantar langsung oleh murid Zhong-nan-shan.

"Anehnya aku pernah bertanya kepada murid Zhong-nan-pai itu, kenapa pemimpin mereka tiba-tiba meninggal? Dia terlihat gugup dan tidak berani menjawab. Kemudian aku bertanya lagi padanya sudah berapa lama ketua mereka meninggal, dia menjawab baru 2 hari lalu. Mengapa ketua mereka baru saja meninggal 2 hari, tapi sudah cepat-cepat memilih ketua baru dan murid yang mengantar undangan ini tidak mengenakan baju hitam (tanda sedang berduka) juga tidak terlihat sedih. Aku rasa pasti telah terjadi sesuatu di sana!"

Yi-feng terpaku lagi.

Dia tidak mengerti mengapa murid Zhong-nan-shan yang keracunan tidak mati?

Yang mati malah ketua mereka yang tadinya tidak terkena racun.

Rupanya ketika dia meninggalkan Zhong-nan-shan, telah terjadi perubahan besar di sana.

Tapi apa yang terjadi di sana, dia sendiri tidak tahu.

Dia teringat pada Sun-ming dan putrinya, apakah mereka masih ada di sana?

Dia sangat memperhatikan keadaan mereka, apa alasannya dia bisa seperti itu?

Dia sendiri pun tidak tahu mengapa dia bisa begitu memperhatikan mereka.

Sekarang pikirannya mulai berputar, yang muncul malah sorot mata Sun-ming yang ramah dan hangat, dia berusaha menahan diri dan tidak mengingat mereka lagi.

Dia mengangkat kepalanya, sorot matanya bertabrakan dengan sorot mata Xiao Nan-pin.

Yi-feng yang berpengalaman mengerti maksud mata Xiao Nan-pin, segera muncul pikiran aneh.

Selama beberapa hari ini dia selalu bertemu dengan hal aneh.

Dia menertawakan perubahan hidup yang dialaminya semua karena perempuan.

"Perempuan...."

Dia tertawa kecut.

"Aku harus pergi atau tinggal beberapa hari di sini?"

Dia terombang-ambing ragu.

Banyak alasan yang membuatnya harus tinggal di sana.

Banyak alasan juga yang membuatnya harus segera pergi dari sini.

Dia sudah memastikan kalau murid-murid Zhong-nan-shan yang terkena racun sudah tertolong dan tidak perlu menunggu obat penawar yang dibawanya.

Tapi dia ingin tahu perubahan apa yang telah terjadi di Zhong-nan-shan dan dia telah bertemu dengan orang-orang yang ingin dia temui, ini adalah alasan yang membuat dia ingin tinggal lebih lama.

Dia terus berpikir akan terus tinggal atau pergi dari sini, kedua-duanya berdampak pada perubahan besar terhadap dirinya seumur hidup.

--BAB 32 Tempat hangat dan lembut Yi-feng masih terus berpikir apakah harus tinggal atau pergi.

Sambil melihat Xiao Nan-pin, La-shcu-xi-shi tertawa.

"Jika kau mau pergi, pergilah! Jika mau tinggal, tetaplah tinggal di sini. Mengapa seorang lakilaki sejati begitu sulit mengambil keputusan yang begitu mudah?"

Yao Qing-yu juga tertawa.

"Adik, setelah kita bertemu aku sudah merasa cocok denganmu. Kita mengobrol saja dulu. Jika kau pergi, berarti kau meremehkan keberadaanku."

Dia tertawa lagi.

"beberapa hari lagi, kita bisa pergi bersama-sama ke Zhong-nan-shan. Ha, ha, ha! Sepertinya Zhong-nan-shan akan sangat ramai karena banyak orang yang mengambil kesempatan ini untuk muncul kembali!"

Yang perlu diketahui, seorang ketua dari suatu perkumpulan kebanyakan diwariskan secara turun temurun, tapi entah mengapa kali ini seperti tidak kepastian apa alasannya.

Cara ini jarang digunakan di dunia persilatan, di sana pasti tidak hanya memilih ketua, akan terjadi banyak hal di luar kehendak siapa pun.

Yao Qing-yu tertawa.

"Pasti banyak keramaian yang bisa kita tonton di sana."

Yi-feng terdiam lama, baru berkata.

"Tadinya sebelum rapat, aku ingin segera sampai di Zhong Nan karena...."

Dia menarik nafas lagi.

"aku sudah bersumpah jika belum bisa balas dendam, aku tidak akan menggunakan nama 'Lu Nan-ren' saat muncul kembali...."

"Apakah kau takut orang akan mengenali wajah aslimu dan akan membuat siapa pun merasa aneh mengapa orang yang telah mati tiba-tiba bisa hidup kembali?"

Tanya Gu Xiao-jing. Dia tertawa manja.

"Kau benar-benar terlalu banyak berpikir, ini sangat mudah..."

Dia menunjuk Xiao Nan-pin yang terus menatap Yi-feng, lalu berkata.

"Di sini ada Putri Xiao San-ye, asalkan dia bersedia memoles wajahmu, kau sendiri pun belum tentu bisa mengenali wajahmu sendiri."

Terdengar tawa berderai di ruangan itu. Huo-shen-ye berkata sambil tertawa.

"Kau benar-benar mempunyai banyak cara!"

Dalam keadaan seperti itu, Yi-feng tidak bisa menolak. Dia berkata.

"Aku akan merepotkan Nona Xiao."

Sorot matanya bertatapan dengan mata Xiao Nan-pin.

Kedua mata itu sejak tadi terlihat penuh perasaan kepada Yi-feng sehingga membuat hati Yi-feng menjadi panas.

Banyak pikiran membuatnya lupa mengalihkan sorot matanya.

Wajah Xiao Nan-pin menjadi merah, dia menundukkan kepala dan berkata.

"Tidak apa-apa!"

Huo-shen-ye tertawa terbahak-bahak, karena Xiao Nan-pin yang berpenampilan seperti seorang laki-laki tapi sikapnya seperti seorang gadis pemalu, jadi semua itu terlihat sangat lucu.

Sambil tertawa Gu Xiao-jing pun berdiri.

"Ini baru mirip sikap seorang laki-laki. Sejak tadi kita sibuk, aku akan mencarikan makanan untuk kalian."

Tangannya menunjuk Yao Qing-yu.

"Untuk apa kau terus duduk di sini? Cepat bantu aku!"

Awalnya Yao Qing-yu hanya terpaku, tapi setelah melihat isyarat mata dari istrinya, dia segera melihat Xiao Nan-pin dan segera mengerti maksud istrinya, maka dia pun berpura-pura menggoyangkan kepala.

"Kau selalu menyuruhku bekerja."

Dia membalikkan kepala dan berkata.

"Adik, duduk-duduklah dulu di sini, aku akan segera kembali."

Yi-feng melihat punggung mereka berdua yang meninggalkan ruang tamu.

Dia teringat ketika di Jiang-nan di kota Su-zhou, dia pernah mempunyai keluarga seperti mereka, suasananya tenang, nyaman, menyenangkan, dan hangat.

Dia hanya bisa menarik nafas.

Dia menatap keluar jendela, pekarangan di sana tidak terlalu luas tapi banyak pohon bunga dahlia.

Di kedua sisi pekarangan ditanami Mei-hua dan tanaman lainnya, sebagian pohon hanya tersisa ranting yang layu karena udara dingin.

Manusia sulit untuk melepaskan kenangan masa lalunya.

Masa lalu seperti bayangan yang menempel di tubuh setiap orang, saat kesempatan datang kenangan itu akan menyerang hingga ke jantung.

Dengan ekspresi kesepian dia membalikkan kepalanya.

Yi-feng hampir lupa di dalam kamar ini, kecuali dirinya masih ada satu orang lagi.

Saat pikirannya kembali ke dunia nyata, dia baru sadar melihat ada seorang perempuan di sana.

Wajahnya tampak penuh pengertian dan jatuh kasian pada Yi-feng.

Waktu itu Yi-feng merasa dia membutuhkan semua ini.

Tapi karena dia sudah lama merasa tertindas, gejolak hatinya tidak sampai terlihat di wajahnya.

Sepi, sangat sepi, hingga angin berhem-bus yang lewat pun bisa terdengar jelas.

Dalam hembusa angin, tercium wangi Mei Hua.

Yi-feng tersenyum.

"Apakah Nona Xiao menyukai Mei-hua?"

Sambil malu-malu Xiao Nan-pin menundukkan kepala.

Suasana hening lebih menunjukkan beribu bahasa.

Orang kesepian paling mudah menerima perasaan orang lain.

Begitu pula dengan Yi-feng sekarang.

Tiba-tiba terdengar tawa manja memecahkan kesunyian.

Gu Xiao-jing datang membawa sebuah nampan besar.

"Kalian berdua jangan terus berdiri sambil bengong, hayo makanlah bubur panas ini untuk mengusir rasa dingin."

Kemudian dia melihat Xiao Nan-pin.

"Kenapa wajah siluman perempuan ini begitu merah, apakah kau telah menghinanya?"

Xiao Nan-pin dengan malu-malu menjawab.

"Jangan berkata kelewatan seperti itu!"

Tapi dari sudut matanya dia terus melihat Yi-feng.

Yi-feng merasa senang sekaligus juga bingung.

Sekarang dia lupa pada masa lalunya.

Sepertinya dia sudah membagi hidupnya menjadi dua bagian.

Sebisa mungkin selama dia tinggal di keluarga hangat ini, dia akan menikmati ketenangan yang sudah lama dia bisa dia nikmati.

Dia juga menikmati saat-saat manis yang sudah lama dia tidak bisa dia nikmati...

kehang-atan seorang gadis.

Dua hari kemudian di rumah Huo-shen-ye tiba-tiba ramai.

Xiao Nan-pin mengeluarkan sebuah topeng dari dalam tasnya.

Topeng tersebut sangat tipis, terbuat dari kulit manusia, topeng kulit manusia ini sudah lama terkenal di dunia persilatan tapi Yifeng belum pernah melihatnya.

Begitu melihat, membuat bulu kuduknya merinding.

Di balik topeng itu ada beberapa lubang kecil mungkin itu adalah lubang mata, hidung, dan mulut.

Setelah Yi-feng mengenakan topeng itu, dia merasa ingin muntah.

Setelah dipakaikan topeng oleh Xiao Nan-pin, di antara wajah dan topeng diselipkan suatu benda kemudian Yi-feng pun bercermin, dia tidak bisa mengenali dirinya sendiri.

Karena itu dia bisa merasa tenang bergaul dan bercakap-cakap dengan para tamu yang hadir di rumah Huo-shen-ye.

Di antara teman-teman Huo-shen-ye, Yi-feng kenal dengan beberapa orang tapi mereka tidak mengenalinya.

Sesudah beberapa hari tinggal di sana, tentu saja hubungan Yi-feng dan Xiao Nan-pin semakin akrab.

Banyak pendekar merasa aneh karenanya, Xiao-xiang-fei-zi yang biasanya terlihat dingin sekarang terlihat menyukai orang kecil yang tidak terkenal di dunia persilatan.

Pendekar terus berdatangan, dalam waktu sehari terkadang yang datang bertamu jumlahnya bisa mencapai 10 orang bahkan lebih.

Ternyata mereka adalah orang-orang yang akan pergi ke Zhong-nan-shan untuk menghadiri rapat dan mampir ke sana untuk beristirahat sejenak.

Ada juga beberapa teman dekat Yao Qing-yu, mereka tinggal menetap, sambil menunggu beberapa hari, untuk pergi bersama-dengan Yao Qing-yu.

Walaupun yang datang sangat banyak tapi mereka hanya pendekar biasa.

Murid-murid dari 9 perkumpulan penting tidak terlihat di sana.

Walaupun Yi-feng merasa aneh, tapi dia tidak begitu peduli.

Sekarang dia malah tidak ingin cepat-cepat pergi ke Zhong-nan-shan, tapi Huo-shen-ye malah sudah bersiap-siap untuk berangkat.

Terpaksa Yi-feng harus meninggalkan tempat yang begitu ramah dan lembut ini.

Bayangan Xiao Nan-pin mengikutinya terus selama beberapa hari ini, perlahan tapi pasti meninggalkan jejak di benak Yi-feng.

Walaupun tidak begitu dalam tapi sulit untuk dilupakan.

Hari demi hari berlalu, walaupun tidak lama tinggal di sana tapi kehangatannya sangat terasa.

Karena hal ini pula Yi-feng harus membayar dengan harga mahal, tapi kita tidak akan membahasnya terlebih dulu karena waktunya belum tiba.

--BAB 33 Tujuh pedang pelangi terbang Udara masih terasa dingin, bumi masih dipenuhi dengan salju.

Di kejauhan, gunung tampak bertumpuk-tumpuk, seperti akan mencapai awan.

Langit terlihat rendah, awan tampak bertumpuk, terus hingga ke tengah gunung.

Ini adalah pemandangan Zhong-nan-shan.

Yi-feng melihat suami istri Yao Qing-yu yang berjalan di depannya.

Xiao Nan-pin berjalan di sisinya.

Masih ada beberapa pendekar yang berangkat bersama.

Mereka terlihat bersemangat, karena mereka hampir tiba di tempat tujuan.

Mereka menitipkan kuda-kuda mereka di kota Chang-an.

Kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Mereka sempat berpapasan dengan banyak pendekar di sana.

Kebanyakan dari mereka mengenal Huo-shen-ye, melihat La-shou-xi-shi dan Xiao-xiang-fei-zi, mata mereka melotot dengan lebar.

Xiao Nan-pin tidak suka dipandang seperti itu, dia menolehkan kepalanya dan tertawa kepada Yi-feng.

Tiba-tiba ada seekor kuda berlari dengan kencang ke arah mereka.

Alis Yi-feng sedikit terangkat, tubuhnya sedikit dicondongkan ke sisi, kemudian kurang lebih ada 8 ekor kuda berlari melewati mereka, dan kuda-kuda itu terus berderap di atas salju yang baru saja mencair.

Gu Xiao-jing tampak marah, Huo-shen-ye maju selangkah, kemudian menepis dengan telapaknya, dia menepis ke arah pantat kuda yang berada di paling belakang.

Karena sakit kuda itu mengangkat kedua kaki depannya, penunggangnya pun ikut berdiri.

Ternyata ilmu penunggang kuda itu sangat tinggi, dia membawa kudanya yang terkejut berputar membentuk sebuah lingkaran.

Kedua kaki penunggang kuda itu seperti mempunyai alat hisap, dia menjepit kakinya dengan erat di pelana kuda, cemetinya diayunkan, dia membentak, cemeti diarahkan ke Yao Qingyu.

Alis tebal Yao Qing-yu tampak berdiri, dia melangkah ke depan dan dia sudah berada di depan kebasan cemeti.

Kemudian dia melayang-kan telapaknya, dan menepis ke arah leher kuda.

Kali ini dia menggunakan 80% tenaganya.

Kuda itu tidak bisa bertahan terhadap tenaga sebesar itu.

Kuda itu roboh dan dari mulutnya keluar buih berwarna putih.

Orang yang berada di atas punggung kuda dengan cepat meloncat tinggi, dia marah dan membentak.

"Apa kalian tidak punya mata dan sudah bosan hidup?!"

Untuk kedua kalinya dia mengayunkan cemetinya ke arah Huo-shen-ye.

Sebenarnya saat Yao Qing-yu memukul kuda dan penunggangnya, itu merupakan suatu kecerobohan.

Tapi sekarang orang itu bertindak lebih ceroboh lagi.

Dia tidak melihat dulu siapa lawannya langsung mengajak bertarung.

Karena ayunan cemeti membuat para pendekar berdatangan ke sana.

Yao Qing-yu yang marah pun sudah mendekati orang itu, penunggang kuda lainnya yang telah berlari terlebih dulu, membalikkan kepala dan mereka berlari arah menuju tempat Yao Qing-yu dan kawan-kawan.

Yi-feng berdiri di sisi, dia tahu kalau sebentar lagi pasti akan terjadi pertarungan di sana.

Orang itu kembali melayangkan cemetinya ke arah Yao Qing-yu, dia melayangkan cemetinya dengan cepat, tepat, kejam, tapi juga mantap.

Yao Qing-yu marah, dia tidak berusaha untuk menghindar, dia malah menyambut serangan itu, dia berniat mengambil ujung cemeti orang itu, dia memperhitungkan waktu dan posisi yang pas.

Orang itu seperti terkejut tapi karena ujung cemetinya telah dicengkram oleh Yao Qing-yu, dia berteriak.

"Roboh!"

Dia menarik dengan tenaga penuh, tapi posisi kuda-kuda orang itu begitu mantap, setengah langkah pun tidak bergeser dari posisi berdirinya. Yi-feng merasa aneh.

"Pesilat tangguh ini entah datang dari mana? Yao Qing-yu termasuk pendekar terkenal, orang ini masih asing, tapi saat beradu tenaga dalam, mereka sama kuat!"

Terlihat dua penunggang turun dari kudanya, salah satu dari mereka bergerak seperti seekor burung walet, dengan cepat dia bergerak dan sudah berada di depan, kemudian dia memotong cemeti yang ditarik oleh Yao Qing-yu menggunakan tangannya.

Cemeti itu terputus menjadi dua, seperti dipotong oleh sebuah pisau tajam.

La-shou-xi-shi tertawa dingin, tangannya melayang, dia menyerang kedua penunggang kuda itu dengan tangannya, dia masih sempat membentak.

"Roboh!"

Tapi lelaki yang memotong cemeti dengan tangan, telah membalikkan tangannya, lalu menyapu enam titik terang yang ditembakkan Gu Xiao-jing.

Empat bintang berhasil ditepis hingga jatuh.

Sedangkan lelaki yang satu lagi, dengan tenang menyapu senjata rahasia yang menyerangnya, dia menepis dengan potongan pecut yang telah terbagi dua tadi.

Dengan beberapa gerakan mereka berhasil menghalau serangan.

Tapi dalam hati masingmasing mereka tahu kalau mereka telah bertemu dengan orang yang tidak biasa.

Karena itu mereka segera berhenti bertarung.

Orang yang memotong cemeti itu melihat ke sekeliling, kemudian berkata dengan dingin.

"Saudara dan teman-temanku berjalan di jalan masing-masing, tapi kalian malah memukulnya, apa sebabnya? Aku, Mao Wen-qi ingin mengetahui alasan kalian!"

"Kalian jalan tidak menggunakan mata, kalau semua berjalan seperti kalian, tidak perlu berjalan lagi! Siapa kalian ini sebenarnya? Mengapa kalian begitu tidak tahu aturan?"

Mao Wen-qi datang dari Chang-bai-shan, mereka telah seharian melakukan perjalanan dengan menunggang kuda, mereka tidak pernah berjalan dengan pelan juga tidak bisa berjalan dengan pelan.

Mendengar kata-kata Gu Xiao-jing, dia tertawa panjang.

"Baiklah, baiklah, aku Mao Wen-qi, pertama kali datang ke dunia persilatan Zhong-yuan. Sepertinya perempuan Zhong-yuan selalu ingin menguasai para lelaki."

Logatnya berasal dari utara. Begitu kata-kata itu keluar, membuat orang-orang Zhong-yuan marah. Mao Wen-qi tertawa dingin.

"Baiklah, baiklah! Memang Mao Wen-qi mempunyai 4 orang teman, tapi kami tidak berniat bertarung dengan orang Zhong-yuan, apakah kalian ingin satu lawan satu? Atau satu lawan banyak orang? Asalkan kalian beritahu kami dulu, kami akan melayani kalian dengan baik!"

Dia tertawa dengan sombong. Kedua alis Yao Qing-yu terangkat, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Gu Xiao-jing telah menyelanya dulu.

"Empat orang utan ini datang dari mana? Aku bermarga Gu, berjalan dari utara hingga ke selatan, belum pernah melihat orang yang tidak tahu aturan seperti kalian!"

Yi-feng selalu berdiri di sisi, dia tidak muncul untuk bicara.

Tapi dia terus menatap keempat orang itu, mata mereka terlihat bersemangat, mereka pun bergerak dengan lincah.

Apalagi lelaki yang bernama Mao Wen-qi itu, tenaga dalamnya sangat hebat, ilmu telapaknya lebih tinggi dari jurus 'Zhu-sha-zhuang' milik You Da-jun.

Dia tahu kalau keempat orang itu bukan orang kecil, dia berpikir, 'Aku tidak akan membiarkan mereka ribut karena masalah kecil.' Dia mendekati Mao Wen-qi lalu memberi hormat, sewaktu Yi-feng berusaha untuk menjelaskan, wajah Mao Wen-qi berubah dan menunjuknya, lama dia tidak bisa bicara.

Melihat sikap Mao Wen-qi seperti itu, Yi-feng tanpa terasa melangkah mundur karena terkejut.

Dia pun melihat dua orang lainnya, mereka juga sama kagetnya melihat Yi-feng.

Sampai-sampai orang yang sejak tadi hanya duduk di atas kuda langsung turun, dia berdiri dengan bengong menatap Yi-feng.

Karena itu bukan hanya Yi-feng yang merasa aneh, Yao Qingyu, Xiao Nan-pin, Gu Xiao-jing pun merasa aneh, apa yang keempat orang itu lakukan?

Setelah lama Mao Wen-qi baru bisa menguasai dirinya dan dengan suara gemetar dia berkata.

"Adik ketiga, walaupun kau telah melukai kaki kakak tertua, tapi karena sejak kecil kau telah kuasuh, aku...aku dan kau sudah seperti saudara kandung, jangankan kau berbuat tidak sengaja, sekalipun kau ingin memotong kedua kakiku, aku tidak akan menyalahkanmu, mengapa kau...."

Dia yang tertua di antara keempat orang itu, dia sampai tidak bisa bicara karena gejolak hatinya, pelan-pelan dia mendekati Yi-feng, dia berjalan dengan terpincang-pincang.

Kedua orang itu terus memanggil Yi-feng dengan sebutan adik ketiga dan mereka memanggilnya dengan penuh perasaan, hal ini malah membuat Yi-feng bingung, dia melihat pak tua pincang itu telah berjalan mendekatinya., entah apa yang harus Yi-feng lakukan.

"Adik ketiga, beberapa tahun ini kau pergi ke mana saja? Mengapa kau menjadi kurus dan hitam begini? Adik ketiga, kau... kakakmu ini sudah tua, kaki pun sudah tidak bisa bergerak lincah, kalau bukan karena masih ada sedikit harapan mencarimu, aku benar-benar tidak akan meninggalkan Chang-bai-shan. Adik ketiga, walau bagaimanapun kau harus ikut kami pulang, kau mau apa pasti akan kuberikan."

Sambil berkata seperti itu dia menghela nafas, hal ini membuat Yi-feng bingung, pelan-pelan dia berkata.

"Kau...."

Gu Xiao-jing pun tampak kebingungan, dia berjalan ke arah mereka, lalu berdiri di depan pak tua itu.

"Hei, apakah kau sudah gila! Siapa yang kau sebut adik ketigamu? Lebih baik kau lihat dengan jelas terlebih dulu!"

Tubuh pak tua itu tadi sedikit bungkuk, sekarang tiba-tiba saja dia meluruskan tubuhnya, sorot matanya memancarkan cahaya menakutkan, dia membentak Gu Xiao-jing.

"Siapa kau? Berani sekali mencampuri urusanku!"

Dia berkata sebentar, kemudian dengan marah dia membentak.

"Ternyata kau, siluman kecil. Kau menarik adik ketiga turun dari Chang-bai-shan!"

Dia membalikkan kepalanya dan memberi perintah.

"Adik kedua dan adik keempat, tangkap perempuan ini!"

Kata-katanya baru selesai, Mao Wen-qi dan kedua lelaki itu berlari dan mengepung Gu Xiaojing.

Kemudian dari balik ikat pinggang mereka mengeluarkan sebuah benda dan melayangkannya, ternyata itu sebilah pedang panjang.

Pedang itu bisa menjadi pedang lemas atau keras, pedang itu terbuat dari baj a kuat.

Melihat istrinya dihina mereka, Huo-shen-ye membentak dan dari dalam tasnya dia melayangkan sesuatu ke arah Mao Wen-qi.

Dia pun berlari ke arah pak tua pincang itu dan mulai menyerangnya.

Senjata rahasia Huo-shen-ye yang dahsyat itu baru keluar, senjata rahasia itu bernama 'Wuleizhu"

Yang sangat terkenal di dunia persilatan.

Saat senjata itu mengenai ujung pedang, langsung meledak, api biru membakar pedang itu.

Mao Wen-qi terkejut, dia melayangkan pedang panjangnya, berniat memadamkan api biru itu, tapi api berkobar semakin besar, sepertinya api itu akan membakar tangannya.

Dalam keadan bahaya ini, dia tidak bisa banyak berpikir, dia menusukkan pedang sepanjang 1.50 meter itu ke dalam salju.

Hanya terlihat pegangan pedangnya sekitar 10 sentimeter yang mencuat ke atas.

Yao Qing-yu berteriak, dia terus mundur hingga 2-3 meter.

Kemudian dia pun roboh.

Ternyata tadi dia menyerang pak tua itu dengan kedua tangannya.

Pak tua itu tidak berusaha menghindar, malah menyambut serangan Yao Qing-yu, terjadilah adu telapak tangan.

Yao Qing-yu tergetar.

Gu Xiao-jing berteriak, dia ingin berlari mendekati suaminya, tapi ada seseorang yang sudah menghadangnya, para pendekar di sana berteriak, ada yang berlari karena melihat Yao Qing-yu terluka, ada yang marah-marah, tapi tidak ada seorang pun tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Orang yang tahu bagaimana hebatnya tenaga dalam pak tua itu, diam-diam memuji.

Xiao Nan-pin yang sejak tadi diam tidak bersuara, sekarang meliha situasi begitu kacau, dia ingin berlari ke sana, tapi pak tua itu sudah membentak, suaranya besar menutupi suara orang yang marah-marah dan juga suara hingar bingar di sana.

Menggetarkan gendang telinga sehingga telinga orang-orang di sana berdenging.

Pak tua itu melihat ke sekeliling dan berteriak.

"Aku adalah salah satu dari Fei-hong-jian, Hua Pin-qi, sekarang kami sedang membereskan urusan keluarga, kalau kalian ingin ikut campur berarti kalian ingin bermusuhan dengari Changbai-pai. Aku nasihati kalian, lebih baik kalian mengurungkan niat kalian itu!"

Kata-katanya terdengar sangat sombong, tapi Fei-hong-jian Hua Pin-qi (Pedang pelangi terbang) keenam huruf ini begitu diucapkan, tidak ada yang berani menyalahkan sikap sombongnya.

Ternyata Fei-hong-jian, Hua Pin-qi adalah ketua Chang-bai-pai.

Chang-bai-fei-hong-jian adalah ilmu pedang dari semua jurus pedang.

Dulu dia pernah ke Zhong-yuan dan namanya sangat terkenal.

Tapi sudah sekian lama dia tidak muncul, maka tidak ada seorang pun yang menyangka kalau pak tua yang pincang itu adalah ketua Chang-bai-pai.

Para pendekar yang berkerumun di sana, walaupun ada yang terkenal, tapi begitu dibandingkan dengan ketua perkumpulan itu, rasanya mereka masih terlalu jauh.

Semua orang di sana hanya bisa termangu, suara ribut-ribut pun telah berhenti.

Suasana menjadi hening.

Hua Pin-qi melihat ke sekeliling, kemudian dia menolehkan kepalanya melihat adik keenamnya, Gong Tian-qi yang masih bertarung, tapi dia tidak berusaha menghenti-kannya.

Dia memutar kepalanya melihat Lao-san, Zhong Ying-qi yang tergabung dalam Fei-hong-qi-jian, yang telah lama menghilang tanpa kabar.

oo BAB 34 Salah paham Ternyata setelah wajah Yi-feng dipasang dengan topeng dari kulit manusia, wajahnya menjadi mirip dengan pendekar ketiga dari Fei-hong-qi-jian yang bernama Zhong Ying-qi.

Karena mereka sangat mirip sampai-sampai saudara seperguruannya pun yang sejak kecil tumbuh bersama tidak bisa membedakannya.

Hua Pin-qi menatap Yi-feng yang diam dan bermuka datar.

Dia lebih bisa memastikan kalau Yifeng benar-benar adik ketiganya yang sejak kecil dirawat dan diurusnya sampai dia dewasa.

Belakangan karena satu dan lain hal, adik ketiganya tanpa sengaja telah melukai kaki kanannya, karena itu Zhong Ying-qi melarikan diri.

Maka dia pun berteriak.

"Adik ketiga, kemarilah, biar kakak tertuamu melihatmu dengan jelas!"

Gu Xiao-jing termasuk salah satu dari '4 cantik dari dunia persilatan' tapi ilmu silatnya tidak terlalu tinggi.

Sekarang dia sedang berusaha melawan pendekar keenam dari Fei-hong-qi-jian, Gong Tian-qi.

Setelah melewati puluhan jurus, dia sudah tidak kuat dan terus berkeringat.

Apalagi dia mengkhawatirkan keselamatan suaminya, maka dia pun berteriak.

"Hei marga Hua, lihat yang jelas dulu, aku adalah La-shou-xi-shi, Gu Xiao-jing, mengapa aku bisa ada hubungan dengan kalian?"

Baru saja kata-katanya selesai, pedang melintas ke arah tangan kanannya, mantel yang dipakainya jadi robek dengan garis memanjang. Hua Pin-qi berkata.

"Nama La-shou-xi-shi bukan nama yang baik, adik ketiga, tangkap dia!"

Dari awal hingga sekarang, Yi-feng masih dalam keadaan terpaku, sekarang dia baru mengerti apa yang terjadi, dan sadar karena dia tanpa sengaja mengenakan topeng kulit maka membuatnya mirip dengan adik ketiga Hua Pin-qi.

Dia menjadi serba susah, tapi keadaan mengharuskannya bergerak.

Xiao Nan-pin terlihat berlari ke arahnya, dengan pelan dia berkata.

"Kakak Nan, sepertinya salah paham ini harus segera dijelaskan!"

Dari mulutnya tercium bau harum dan menusuk hidung Yi-feng.

Yi-feng tersenyum, dia pun berpikir, 'Kalau perempuan berpendapat seperti tidak memberikan pendapat, apakah aku tidak tahu kalau semua ini adalah salah paham?' Dia melihat Xiao Nan-pin, saat itu tepat matanya bertatapan dengan mata Xiao Nan-pin yang tampak penuh perhatian pada Yi-feng.

Dia tertawa, sekali bergerak dia sudah berada di depan Gu Xiao-jing, katanya.

"Hentikan pertarungan!"

Gu Xiao-jing terengah-engah berkata.

"Kalau kau tidak datang, aku akan celaka!"

Dia bersembunyi di balik tubuh Yi-feng, tapi pedang Gong Tian-qi telah menusuk ke arah Yifeng.

Tampak cahaya pedang berkilau, hampir saja mengenai Yi-feng.

Yi-feng tersenyum, sekarang Gong Tian-qi yang terkejut, dia berteriak.

"Kakak ketiga..."

Tapi pedangnya telah meluncur, tenaga sudah dikerahkan, pedang pun tidak bisa ditarik, terus meluncur siap menusuk Yi-feng.

Hua Pin-qi berteriak.

Tapi masih dalam keadaan tersenyum, Yi-feng sama sekali tidak menggerakkan bahunya, tubuhnya tidak ditekuk, dia sudah menjauh 3 meter.

Hua Pin-qi seorang pemimpin dan juga seorang ketua, melihat ilmu meringankan tubuh Yi-feng begitu tinggi, dia benar-benar kaget.

"Adik ketiga, ilmu silatmu maju pesat!"

Yi-feng tersenyum lagi, dia tahu semenjak jalan darah 'Du' dan 'Ren' nya tembus, ilmu silatnya maju pesat. Sampai-sampai ketua Chang-bai-pai pun mengaguminya. Dia memberi hormat kepada Hua Pin-qi.

"Namaku adalah Yi-feng, aku sudah lama mendengar nama besar Tetua Hua, tapi aku tidak mempunyai kesempatan untuk berkunjung, hari ini kita bisa bertemu, aku merasa sangat beruntung!"

Kata-katanya belum selesai, Hua Pin-qi sudah menyela.

"Adik ketiga, apa maksudmu? Apakah... apakah selama beberapa tahun ini kau belajar pada guru terkenal? Dan kau tidak mau mengakui kalau kami adalah kakak dan adik seperguruanmu? Kau...kau tidak boleh melakukan hal ini!"

Dia bicara dengan suara bergetar.

Para pendekar yang berkerumun di sekitar sana tidak tahu apa yang terjadi di sana.

Mereka hanya melihat Yi-feng dengan pandangan menghina, karena orang yang telah mengkhianati perkumpulan adalah orang yang telah melakukan kesalahan besar.

Apalagi melihat sikap Hua Pin-qi sekarang, benar-benar membuat siapa pun menjadi sedih karenanya!

Yi-feng baru berniat akan menjelaskan, tapi Mao Wen-qi sudah mendekatinya dan membentak.

"Adik ketiga, kau benar-benar keterlaluan! Kau dan kakak tertua memang hanya mempunyai hubungan sebagai kakak dan adik seperguruan, tapi semenjak guru wafat ilmu silat yang kau miliki semua itu kakak tertua yang mengajar-kannya, sekarang kau bersikap seolah tidak mengenal kami, tapi mana mungkin kau sampai tidak mau mengenal kami? Kau.. .benar-benar.. .tidak punya perasaan!"

Yi-feng menghela nafas dalam-dalam, dia tahu kalau hal ini sangat sulit untuk dijelaskan.

Tapi di depan orang-orang persilatan, dia tidak bisa membuka topengnya dan menyebutkan identitasnya begitu saja.

Dia terdiam sebentar, lalu berkat.

"Namaku adalah Yi-feng, mungkin aku mirip dengan adik ketiga Tetua, hingga terjadi salah paham ini, aku tidak bisa menjelaskan..."

Xiao Nan-pin tiba-tiba berlari ke arah mereka dan berkata.

"Tetua Hua, dengarkan logat bicaranya, sama sekali tidak mirip dengan kalian, apakah dia orang asli Chang-bai-shan atau bukan bisa langsung ketahuan, logat bicaranya berasal dari Jing Nan."

Diam-diam Yi-feng memuji kepintaran Xiao Nan-pin, dia merasa kalau perempuan biasanya lebih teliti dalam hal seperti ini, dia memper-hatikan hal yang tidak diperhatikan orang lain.

Hua Pin-qi, Mao Wen-qi, Gong Tian Qi, dan seorang lelaki yang sejak tadi diam saja yang bernama Huang Zhi Qi, empat orang dari Fei-hong-qi-jian, sekarang hanya bisa termangu, mereka dengan teliti menatap Yi-feng.

Gu Xiao-jing memapah Yao Qing-yu yang tergetar dan sekarang terluka ke arah mereka, dia marah kepada Fei-hong-qi-jian.

"Hei marga Hua! Kau sembarangan melukai orang, selama gunung masih menjulang air masih mengalir, kami suami istri pasti akan mencarimu untuk membalas perbuatanmu ini!"

Dia menghentakkan kakinya lalu melihat ke sekeliling.

"Sobat-sobat sekalian, kalian lihat sendiri, ketua Chang-bai-pai tidak bisa mengurus adik seperguruannya, hingga adiknya malah melarikan diri, maka dia pun menangkap orang yang ada di jalan dan memaksanya menjadi adik seperguruannya, nama 'Fei-hong-qi-jian' memang terkenal, dan orang-orang tidak akan berdaya..."

Karena marah, Hua Pin-qi menjadi gemetar, dia marah lalu berteriak.

"Hentikan kata-katamu!"

Tapi Gu Xiao-jing malah menghentakkan kakinya lagi, dia mendekat dan bertanya.

"Kau mau apa? Mau apa? Apa karena ilmu silatmu lebih tinggi lalu kau bisa sembarangan menghina orang? Lihat dulu yang jelas, apakah memang benar dia adalah adik seperguruanmu? Dunia ini benar-benar aneh, memaksa orang lain menjadi adik seperguruannya!"

Suaranya nyaring, bicaranya cepat, membuat Hua Pin-qi tidak bisa menanggapinya, wajahnya tampak berubah-rubah. 'La-shou-xi-shi' berhenti sejenak, melihat Yi-feng dan Xiao Nan-pin.

"Adik Yi dan Xiao San-mei, kami akan pergi dulu, suamiku terluka, sepertinya kami tidak jadi pergi ke Zhong-nan-shan!"

Dia menghentakkan kakinya lagi.

"Entah mengapa tiba-tiba bisa datang masalah seperti ini. Hei, Xiao San-mei, cepat bawa Adik Yi pergi dari sini, jangan sampai digigit anjing gila kalau terus di sini!"

Banyak yang tertawa sampai keluar suara, Hua Pin-qi membentak.

"Kalau tidak melihat kau adalah seorang perempuan bodoh, hari ini aku akan membunuhmu!"

Gu Xiao-jing membalikkan kepala dan menjawab.

"Marga Hua, jangan sembarangan bicara! Siapa yang bodoh! Kau atau aku! Siapa yang memaksa orang lain menjadi adikmu? Adik Yi, kau..."

Yi-feng takut kalau dia akan membocorkan kalau dia sedang menyamar, maka dengan cepat dia berkata.

"Tetua Hua, semua ini hanya salah paham, siapa pun tidak bisa menjelaskan keadaan sebenarnya, tapi aku berani bersumpah demi Tuhan kalau aku belum pernah bertemu dengan Tuan, dan aku bukan adik ketiga Tuan, di dunia ini orang yang mirip sangat banyak, kelak kalau aku bertemu dengan adik ketiga Tuan, aku pasti akan mengabarkan kepadanya tentang hal ini, sekarang aku pamit dulu..."

Hua Pin-qi membentak.

"Apakah kau benar bukan Zhong Ying-qi?"

Yi-feng tersenyum menggelengkan kepala.

"Nama Zhong Ying-qi saja baru sekarang kudengar."

Setelah selesai bicara, Hua Pin-qi bergerak, hanya sebentar di langit tampak ada yang berkilau.

Yi-feng tidak menyangka bayangan pedang siap menindihnya!

Jurus itu cepat seperti kilat, membuat Yi-feng tidak ada waktu untuk berpikir mengapa Hua Pinqi berniat membunuhnya.

Dia hanya merasa jurus Hua Pin-qi seperti air yang ditumpahkan.

Semua tempat seakan terkena jurus ini.

Tubuhnya telah tertutup bayangan pedang.

Di antara mati dan hidup, kakinya terus bergeser, dia melihat ada celah di sisi kiri bawah.

Karena telah berpengalaman, dia memutar kakinya dan berlari ke arah kiri.

Baru saja dia bergerak, bayangan yang memenuhi langit itu seakan sudah tahu kalau Yi-feng akan bergerak ke arah sana, tiba-tiba bayangan yang memenuhi langit itu berubah dari cahaya menjadi suara yang membawa angin kencang.

Dan suara itu mengikuti Yi-feng yang berlari, dia tidak bisa menghindar lagi.

Dia memejamkan matanya, seperti sedang menunggu sabetan pedang.

Perubahan yang terjadi begitu tiba-tiba, setelah semua orang melihat dengan jelas, cahaya biru telah berada di dada Yi-feng.

Para pendekar berteriak, Xiao Nan-pin hampir pingsan.

Tapi cahaya biru yang berasal dari pedang Hua Pin-qi ketika hampir mengenai dada Yi-feng tiba-tiba berhenti begitu saja.

Yi-feng membuka matanya, dia melihat kedua mata Hua Pin-qi yang tampak bersemangat menatapnya.

Dalam keadaan serba cepat ini, membuat Yi-feng banyak berpikir mengenai serangan pedang itu, serangan itu datang saat dia tidak waspada, berarti walaupun dia mengalami sedikit kemajuan untuk tenaga dalamnya tapi untuk kemampuan ilmu silatnya, dia masih berada di bawah orang lain.

Kalau tidak dia tidak akan mengalami peristiwa seperti ini.

Dia merasa menyesal, mengapa sewaktu berada di rumah Yao Qing-yu dia tidak membaca buku Tian-xing-mi-ji', malah terus menerus merasakan dan menikmati kehangatan seorang perempuan.

"Kalau terus seperti ini, kapan aku bisa membalas dendam?"

Hua Pin-qi menarik pedangnya dan menghela nafas panjang. Saat seperti ini, tiba-tiba dia menjadi sangat tua, dia menghela nafas kembali dan berkata pada Mao Wen-qi.

"Dia bukan Lao-san...tapi mengapa dia begitu mirip?"

Mao Wen-qi menundukkan kepala, Gon Tian-qi berlari dan menunggang kembali kudanya.

Hua Pin-qi menatap kuda yang telah roboh, pedangnya melayang dan menusuk tubuh kuda itu berkalikali, diiringi suara ringkikannya, kuda itu pun langsung mati.

Hua Pin-qi menghela nafas lagi, dia berlari ke arah kuda Mao Wen-qi.

Tiga ekor kuda dengan empat orang, seperti kedatangan mereka tadi, sekarang pun mereka kembali berlari dengan kencang ke arah depan.

Yi-feng masih terpana, sewaktu dia mengangkat kepalanya, Xiao Nan-pin tersenyum lembut kepadanya dan berkata.

"Jangan bersedih, pak tua itu memang sangat lihai..."

Yi-feng tersenyum mendengar hiburan yang diberikan Xiao Nan-pin.

Xiao Nan-pin tahu dia tidak perlu bercerita panjang lebar, karena melihat senyum Yi-feng tadi, dia tahu kalau Yi-feng sudah mengerti kondisinya.

Gu Xiao-jing memapah Yao Qing-yu yang tampak pucat, pelan-pelan dia berjalan ke arah mereka.

"Pak tua itu sepertinya gila, lihat tanpa banyak bicara, dia langsung pergi entah ke mana."

Dia melihat Yi-feng dan Xiao Nan-pin, mulutnya penuh dengan tawa.

"Lukanya tidak begitu berat, tapi juga tidak bisa dianggap ringan, aku harus tetap mengantarkannya pulang. Hei, San-mei (adik ketiga seperguruan), kau mau ikut pulang bersamaku, atau ikut dengannya?"

Wajah Xiao Nan-pin menjadi merah, Gu Xiao-jin g tertawa.

"Lebih baik kau ikut dengannya, aku tidak berani membawa siluman perempuan ini."

Dia berkata pada Yi-feng.

"Aku serahkan San-mei ku ini kepadamu. Kau harus berbaik hati padanya, jangan menghinanya, kalau kau menghinanya, aku tak akan sudi mengampunimu!"

Yi-feng tertawa kecut, wajah Xiao Nan-pin menjadi merah lagi, perempuan ini biasanya terkenal dengan kekejamannya karena sering membunuh orang.

Beberapa hari ini dia terlihat begitu lembut, orang yang pintar, pasti akan tahu apa yang telah mengubahnya menjadi seperti ini.

Sejak dulu hingga sekarang, kekuatan yang mengubahnya adalah 'cinta'.

Xiao Nan-pin sendiri tidak menyadarinya, entah sejak kapan dia mulai mempunyai perasaan seperti ini.

Awalnya dia berusaha menjelaskan pada dirinya sendiri kalau dia hanya merasa kasihan kepada laki-laki yang telah kehilangan istri itu.

Tapi sekarang, dia sendiri pun tidak bisa mengingkari kalau itu adalah rasa cinta.

--BAB 35 Rapat di Zhong-nan-shan Yi-feng masih terpaku, walaupun tusukan pedang Hua Pin-qi tidak sampai melukainya tapi ternyata sudah melukai hatinya.

Para pendekar tadi sudah berlalu dari sana, tapi sorot mata mereka terlihat aneh, terkejut, dan sorot itu seperti membayangi di sekeliling Yi-feng, membuatnya malu untuk mengangkat kepala.

Yao Qing-yu dan Gu Xiao-jing sudah pergi dari sana, ketika Yi-feng melihat lagi, matanya beradu dengan sepasang mata Xiao Nan-pin yang lembut dan penuh perasaan kepadanya.

Sorot mata yang begitu perhatian membuat Yi-feng tersenyum.

Tiba-tiba terdengar suara lonceng dari arah kuil, Xiao Nan-pin mendekatinya.

"Sekarang kita harus naik gunung."

Kemudian dia berkata dengan pelan.

"Maaf, aku sudah membuatmu menghadapi kesulitan seperti ini, anehnya adik ketiga mereka bisa begitu mirip denganmu!"

"Bukan salahmu..."

Yi-feng tersenyum. Orang yang berkerumun sudah bubar. Dari kejauhan terlihat seorang biksu muda berpakaian biru mendekati mereka sambil melambaikan tangan.

"Perkumpulan kami sedang mengadakan pemilihan ketua, jika kalian datang untuk mengikuti rapat ini, cepatlah naik gunung sekarang."

Yi-feng mengucapkan terima kasih kepada biksu muda itu.

Dia segera berangkat bersama dengan Xiao Nan-pin.

Karena Xiao Nan-pin masih berpakaian seperti seorang laki-laki, maka mereka bisa berjalan dengan leluasa.

Baru saja mereka berjalan sebentar, seorang biksu datang lagi, dan bertanya.

"Tuan datang dari mana? Apakah perlu aku membawa Tuan naik gunung?"

Menilik usia biksu itu belum terlalu tua, Yi-feng terpikirkan sesuatu, dia bertanya.

"Aku tidak berani merepotkan Guru, kami akan naik gunung sendiri."

Biksu itu menatap mereka dengan bingung, kemudian tanpa bertanya dia pun pergi.

Di depan ada belokan, di sana terdapat sebuah rak.

Di atas rak diletakkan segentong air teh.

Seorang biksu muda sedang menuang-kan teh.

Melihat Yi-feng dan Xiao Nan-pin datang, dia menyapa.

"Sahabat, minumlah dulu baru melanjutkan perjalanan."

Yi-feng tertawa dan mengucapkan terima kasih tapi dalam hati dia memikirkan sesuatu.

Terlihat ada 2 biksu muda datang lagi dari arah jalan kecil, pakaian mereka masih terlihat baru dan berwarna biru.

Salah satu dari mereka tertawa kepada Yi-feng.

"Sahabat, cepatlah naik gunung, rapat akan segera dimulai!"

Semakin memanjat naik, Yi-feng semakin merasa curiga.

Diam-diam dia berpikir, 'Melihat usia dan ilmu silat biksu-biksu tadi, dari cara mereka berjalan, paling-paling mereka hanya generasi ketiga.

Tapi Biksu Miao-ling pernah mengatakan murid generasi kedua, karena ilmu silat mereka tidak terlalu tinggi, mereka sudah keracunan hingga meninggal, dari mana datangnya begitu banyak biksu muda..."

Ketika dia sedang berpikir, ada 2 biksu muda yang lewat lagi, mereka tersenyum kepada Yifeng. Xiao Nan-pin melihat mereka dan tertawa.

"Mengapa semua biksu yang kita lihat, semua mengenakan baju baru dan wajah mereka terlihat sangat gembira, tidak terlihat kalau mereka sedang berduka karena ketua mereka baru meninggal. Sepertinya biksu-biksu Zhong-nan-shan tidak menjaga peraturan kuil."

Perempuan memang lebih memperhati-kan pakaian. Yi-feng mendengar perkataaan Xiao Nan-pin, dalam hati terpikirkan sesuatu lagi, 'Biksu-biksu itu mencurigakan...' Dia bertanya kepada Xiao Nan-pin.

"Apakah kau ingat, biksu-biksu tadi memanggil kita dengan sebutan apa?"

Xiao Nan-pin tampak berpikir sejenak, dia seperti baru menyadarinya.

"Benar, mereka tidak memanggil kita dengan sebutan tuan melainkan 'Sahabat', berarti biksubiksu tadi hanya berpura-pura."

Xiao Nan-pin berkata lagi.

"Aku curiga, biksu-biksu itu baru memakai pakaiannya itu hari ini, mungkin saja kemarinkemarin mereka hanya perampok-perampok kecil."

Dia tertawa lagi.

"sebenarnya aku tidak berniat menghina mereka, kau lihat mereka dari atas ke bawah, apakah mereka seperti seorang biksu?"

Yi-feng mengerutkan alis, dia merasa curiga juga khawatir, 'Apa yang telah terjadi di Zhongnan-shan ketika aku pergi mencari obat penawar?

Mengapa ketua mereka tiba-tiba bisa meninggal?

Apakah Tuan Jian, Sun-ming, serta putrinya masih berada di Zhong-nan-shan?' Dia mempercepat langkahnya, memutari beberapa belokan.

Setiap belokan selalu terlihat ada 1-2 biksu muda yang menjaga dan memberi tamu yang lewat minum.

Dia merasa curiga tapi dia tidak berani bertanya pada biksu-biksu tersebut, karena dia belum mendapatkan bukti.

Dia berharap Tuan Jian dan yang lainnya masih berada di gunung.

Jika begitu semua kecurigaan-nya akan terjawab.

Maka dia mempercepat lagi langkah kakinya.

Xiao Nan-pin terus berjalan di sisinya, dia tidak tahu apa yang sedang Yi-feng pikirkan, juga tidak bisa menebak apa yang sedang Yi-feng pikirkan.

Semenjak dia memakai topeng kulit manusia, ekspresi wajahnya tidak terlihat.

Satu kali belokan lagi mereka sudah berada di depan kuil.

Yi-feng masuk dengan tergesa-gesa, dua pintu kuil berwarna merah sekarang terbuka dengan lebar.

Seorang biksu setengah baya tampak berdiri di sana.

Yi-feng berpikir sebentar kemudian berjalan men dekatinya.

Dengan sebelah telapak diberdirikan, biksu itu bertanya kepada Yi-feng.

Sikapnya terlihat lebih serius dibandingkan dengan biksu-biksu muda tadi.

Melihat Yi-feng datang, dengan hormat dia pun bertanya.

"Tuan, silahkan langsung ke ruang Lu-zhu, rapat akan mulai, Tuan masih sempat untuk mengikuti-nya!"

Yi-feng mengucapkan terima kasih lalu bertanya.

"Apakah Guru tahu mengenai dua orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang tinggal di sini, apakah mereka masih di sini?"

Karena dia merasa curiga, dia tidak menyebutkan nama Tuan Jian. Biksu setengah baya itu melihat Yi-feng, sikapnya terlihat lebih hormat lagi lalu berkata.

"Apakah Tuan adalah teman dari 2 tetua yang telah menolong beberapa ratus murid Zhongnan-pai?"

Tiba-tiba dia menarik nafas panjang.

"Kedua tetua itu sudah pergi beberapa hari lalu."

Yi-feng segera bertanya.

"Apakah Guru mengetahui mereka telah berapa lama pergi dan ke mana perginya mereka? Apakah mereka meninggalkan pesan?"

Biksu itu menggelengkan kepalanya, dia menarik nafas.

"Jika aku tahu mereka pergi ke mana, aku tidak akan bersikap seperti ini."

Dia melihat ke sekeliling kemudian menarik Yi-feng ke pinggir berkata dengan pelan-pelan.

"Jika Tuan adalah teman dari 2 tetua itu, Tuan pasti tahu mengapa ketua kami bisa meninggal? Hal ini telah membuat murid-murid Zhong-nan-shan bersedih! Karena itu perkumpulan kami mengadakan rapat untuk memilih ketua. Siapa saja yang menjadi murid Zhong-nan-shan, dengan kemampuan ilmu silatnya mereka bisa merebut kedudukan sebagai ketua, tapi..."

Dia bercerita dengan terburu-buru, tiba-tiba dia berhenti bicara.

Dari sudut matanya, Yi-feng melihat ada 2 orang biksu sedang berjalan ke arah mereka.

Dari kejauhan mereka sudah memberi hormat lalu bertanya.

"Rapat akbar sudah mulai, di dalam sangat ramai, mengapa Tuan masih belum masuk?"

Mereka berdiri di sisi Yi-feng dan tidak berniat untuk pergi.

Biksu setengah baya itu tidak bicara lagi, wajahnya yang tadi terlihat serius sekarang penuh dengan kekhawatiran.

Yi-feng membawa Xiao Nan-pin masuk, dia tidak mengerti.

"Dari pembicaraan guru tadi, kematian ketua mereka sangat misterius, mengapa begitu ada yang datang, pembicaraannya langsung berhenti? Aku salah karena tinggal di rumah Yao Qing-yu selama beberapa hari. Walaupun hanya beberapa hari tapi aku tidak bisa bertemu dengan Tuan Jian dan Sun-ming juga putrinya. Di sini telah terjadi banyak hal aneh yang aku sendiri tidak tahu apa sebabnya."

Diam-diam dia menyalahkan dirinya sendiri dia merasa cemas, kemanakah perginya Tuan Jian?

Sambil berpikir, dia berjalan masuk.

Begitu me-lihat ke dalam, aula besar itu sudah penuh sesak dengan tamu-tamu.

Dia terpikir-kan sesuatu, diam-diam dia berputar masuk melalui sebuah pintu kecil dan duduk di dekat dinding.

Orang-orang yang ada di dalam memperhatikan seorang pak tua yang sedang berdiri di depan, tidak ada yang yang memperhatikan Yi-feng ketika dia masuk.

Pak tua itu berkata.

"Sudah lama aku tidak berkelana di dunia persilatan, tidak disangka teman-teman belum melupakanku Dia tertawa lagi.

"Kalian memilihku untuk menjadi pembawa acara ini, aku merasa sangat berterima kasih. Rapat ini bukan rapat biasa, mungkin tidak cukup hanya aku yang membawakan acara, lebih baik kita pilih beberapa orang lagi, aku takut mataku tidak dapat melihat dengan jelas jurus-jurus dari murid-murid Zhong-nan-pai."

Dia tertawa lagi, kelihatannya dia sangat berbangga hati menj adi pembawa acara.

Yi-feng tidak mengenali pak tua itu, tapi dia bisa menebak kalau pak tua ini dipilih oleh banyak orang untuk membawakan acara dalam rapat akbar ini.

Setelah pak tua itu selesai bicara, orang-orang yang ada di ruangan itu segera ribut, mungkin mereka sedang memilih 2 orang lainnya lagi.

Yi-feng melihat ruangan bagian kiri, kanan, dan tengah, di sana dipenuhi dengan para pendekar, mereka mengobrol dengan suara kecil.

Di sisi ruangan, berdiri biksu-biksu yang mengenakan baju berwarna biru, mungkin mereka adalah murid-murid Zhong-nan-pai.

Tiba-tiba Xiao Nan-pin menarik lengan bajunya dan berbisik.

"Kakak Nan, bukankah pak tua itu adalah Ba-gua-shen-zhong Fan Chong-pin? Tidak di sangka dia muncul di Zhong-nan-shan, apakah Kakak Nan mengenalnya?"

Yi-feng menggelengkah kepala.

"Aku tidak kenal dengannya, tapi aku tahu dia sangat terkenal."

Mata dia masih terus melihat para pendekar yang ada di aula itu.

Walaupun suasana masih ribut tapi belum ada seorang pun yang berhasil mereka pilih, mungkin mereka menganggap tidak ada orang yang pantas membawakan acara.

Fan Chong Pin berdiri di depan meja sembahyang, dia tersenyum, sikapnya terlihat sangat sombong.

Pak tua itu sangat percaya diri, dan sangat menyukai ketenarannya, dia memang mempunyai ilmu silat tinggi.

Tidak lama kemudian seseorang berdiri di antara kerumunan pendekar.

Dia memberi hormat dan berkata.

"Aku ingin menunjuk seseorang, dia masih muda tapi berwibawa. Ilmu silatnya tinggi, cukup bertanggung jawab."

Dia menunjuk ke arah tiang batu yang ada di sisi kanan ruangan, kemudian berkata lagi.

"Aku menunjuk Mei-hua-jian, Pendekar Du yang berdiri di dekat tiang itu."

Dia tertawa terbahak-bahak.

Semenjak Tie-ji-wen-hou Lu Nan-ren dikabarkan mati di luar kota Bao-ding, di dunia persilatan tidak ada yang bisa menandingi ketampanan dan ilmu silat Pendekar Du.

Banyak yang setuju dengan usul orang itu.

Xiao Nan-pin yang berdiri di sisi Yi-feng tertawa.

Mei-huan-jian Du Chang-qian dari E-mei adalah junior yang sangat terkenal.

Dia, Yi-feng, dan Gu Zi-ang sama-sama sangat terkenal.

Karena usia ketiga orang itu hampir sebaya begitu pula dengan ilmu silat mereka sama-sama tinggi, sama-sama tampan dan luwes maka mereka selalu menjadi sosok terkenal.

Sekarang Yi-feng mendengar tiba-tiba ada yang menyebut namanya, dalam hati dia benarbenar merasa sedih.

Siapa pun tidak ada yang menyangka, laki-laki yang duduk di pojok, di tempat gelap adalah Tie-ji-wen-hou Lu Nan-ren.

Para pendekar beramai-ramai memilih Mei-hua-jian, Du Chang-qin menjadi pembawa acara.

Mei-hua-jian Du Chang-qin memiliki sosok tinggi besar, wajahnya tampan, sebilah pedang terselip di pinggangnya.

"Aku masih muda, ilmu silatku pun rendah mana bisa menanggung beban begitu berat?"

Tapi mereka tidak peduli dan mereka sudah bersorak menyambutnya, akhirnya dia berdiri di sisi Ba-gua-shen-zheng Fan Zhong-pin. Sikapnya sangat tenang. Fan Zhong-pin tertawa.

"Baiklah, baiklah, di dunia persilatan banyak pesilat muda yang berbakat, aku benar-benar senang."

Dia berkata kepada Mei-hua-jian Du Chang-qin yang berdiri di sisinya.

"Dulu aku dan Guru Xue-yin adalah teman, sekarang Pendekar Du telah tumbuh dewasa, benar-benar menjadi pemuda tampan dan luwes. Temanku ternyata mempunyai penerus hebat, aku ikut merasa senang."

Begitu mendengar Fan Zhong-pin membicarakan tentang gurunya, Du Chang-qin segera membungkukkan tubuhnya sambil mengucapkan terima kasih lalu memberi hormat. Fan Zhong-pin berkata lagi.

"Kecuali aku yang sudah tua ini serta Pendekar Du yang masih muda, kita akan memilih kembali satu orang."

Di antara pendekar-pendekar segera ada yang berdiri dan berkata.

"Aku ingin memilih seorang tetua dengan wibawa tinggi, beliau seorang pahlawan tua yang saat ini sedang duduk di bawah pohon, beliau bernama Wan-sheng-dao, Huang Zheng-gua (Golok menang sepuluh ribu). Pak Tua Huang di daerah Zhe-jiang, telah mengajar banyak murid. Beliau seorang yang bertanggung jawab, aku kira beliau sangat pantas menjadi pembawa acara."

Wan-sheng-dao sudah tua, dia sudah ingin keluar sejak tadi, tapi karena namanya belum disebut dia tidak berani keluar.

"Pak tua ini tidak tahu diri, belum lagi ada sambutan baik dari pendekar lainnya, dia sudah keluar."

Tiba-tiba di antara para pendekar ada yang tertawa dingin, seseorang segera muncul.

"Namaku adalah Qian-yi, orang yang ingin ku perkenalkan adalah diriku sendiri!"

Begitu orang itu keluar dan berkata seperti itu, membuat pendekar-pendekar di sana menjadi ribut, apalagi orang itu masih terlihat muda tapi sikapnya sangat sombong, tidak menganggap pendapat orang lain.

Orang yang memperkenalkan Wan-sheng-dao segera keluar, dia keluar sambil menunjuk pemuda itu lalu bertanya.

"Siapa Anda? Aku sering berkelana di dunia persilatan tapi belum pernah melihat orang seperti kau. Kau anggap dirimu itu siapa? hormatilah Pendekar Huang!"

Pemuda yang bernama Qian-yi itu tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak mempedulikan orang yang protes itu, dia tetap dengan dingin berkata.

"Orang-orang yang kalian tunjuk seharusnya mempunyai ilmu silat tinggi, mata harus jeli baru bisa menjadi seorang wasit yang adil. memang aku tidak bisa memenuhi semua persyaratan tapi walau bagaimanapun aku lebih baik dibandingkan pak tua yang sudah terlihat payah ini, maka aku memberanikan diri memperkenalkan diriku."

Dia selesai bicara, para pendekar di ruangan itu ribut lagi. Hal ini membuatnya marah, nafasnya terengah-engah, dia berkata.

"Baiklah, baiklah, aku hanya seorang pak tua yang tidak berguna tapi aku ingin mencoba ilmu silat seperti apa yang kau miliki. Bocah tengik tidak tahu diri, berani-beraninya di depan banyak pendekar menyombongkan diri. Kita tarung sekarang."

Dia membuka baju panjangnya, lengan bajunya digulung, dia bersiap-siap bertarung dengan pemuda itu. -0-0-0 Bersambung

Jilid 2....

Jilid KE DUA BAB 36 Tamu dari kota Qing-hai Qian-yi melihatnya sebentar, Tapi dia tidak menganggapnya.

Kesombongannya membuat pendekar-pendekar menjadi ramai membicarakannya.

Wajah Huang Zhen-guo memucat, dia menyerang dari belakang.

Orang yang bernama Qian-yi itu sama sekali tidak bernama di dunia persilatan, dia tidak bergerak.

Pukulan Huan Zhen-guo tepat mengenai tubuhnya.

Para pendekar melihat kepalan Wan-sheng-dao mengenai tubuh pemuda itu, tapi baru saja kepalannya mengenai baju orang itu, Huang Zhen-guo malah seperti kesurupan, dia melayang di udara kemudian terjatuh ke bawah.

Pendekar-pendekar di sana menjadi ramai.

Ada yang berteriak.

"Jurus 'Zhan-yi-shi-ba-shi' (Baju rendam 18 jurus)!!"

Ternyata pemuda tidak bernama ini menggunakan jurus 'Zhan-yi-shi-ba-shi'.

Jurus ini adalah ilmu silat tingkat tinggi, pendekar-pendekar di sana merasa aneh.

Yi-feng diam-diam mengagumi ilmu silat pemuda itu.

Dia merasa aneh.

"Mengapa pemuda ini belum pernah terdengar sekalipun muncul di dunia persilatan?"

Wajah Ba-gua-shen-zhang tampak berubah, pelan-pelan dia melihat pemuda itu dan berkata.

"Sahabat yang masih muda ini ternyata mempunyai ilmu silat begitu tinggi, siapa gurumu? Apakah beliau adalah Guru Wu-dang?"

Qian-yi tersenyum tapi senyumnya masih terlihat penuh dengan kesombongan, dia menjawab.

"Aku datang dari Qing-hai, guruku pernah menyebutkan nama Tetua Fan. Aku kira Pendekar Fan tentu masih ingat guruku?"

Wajah Ba-gua-shen-zhang berubah, dia segera memberi hormat.

"Ternyata Pendekar Muda Qian datang dari gunung Bu-ke-ma-yin, gurumu adalah orang yang berilmu tinggi. Dulu aku pernah bertemu dengannya. Sekarang Pendekar Muda Qian mulai berkelana di dunia persilatan, ini sangat baik, baik sekali!"

Pendekar-pendekar di sana terkejut melihat ilmu silat pemuda itu, sekarang melihat Ba-guashen-zhang yang selalu menyombong-kan diri pun begitu menaruh hormat kepada pemuda itu, mereka jadi bertanya-tanya.

Pemuda yang bernama Qian-yi itu tersenyum, dengan sombong dia berkata.

"Tetua Fan, apakah aku akan terlihat memalukan jika menjadi wasit pertarungan ini?"

Segera Ba-gua-shen-zhang tertawa.

"Pendekar Qian adalah murid kesayangan salah satu tetua dunia persilatan, nama tetua ini adalah 'Pak Tua Tanpa Nama', kalian yang sering berkelana di dunia persilatan pasti pernah mendengar nama 'Pak tua tanpa nama' dari Qing-hai!"

Begitu mendengar nama 'Pak Tua Tanpa Nama', para pendekar di sana menjadi ramai lagi.

Wan-sheng-dao Huang Zhen-guo, ketika mendengar 4 kata ini, segera melarikan diri dari pintu pinggir.

Ketika mendengar nama ini, Yi-feng ikut terkejut, dia terus melihat pemuda yang bernama Qian-yi ini.

Ternyata kabar dunia persilatan yang menyebar bahwa di Qing-hai tepatnya di Gunung Bu-kema-yin tinggal seseorang berilmu silat tinggi.

Selama puluhan tahun orang dunia persilatan mengetahui tentang keberadaan orang aneh ini, ilmunya sudah sangat sakti, tapi tidak seorang pun yang pernah bertemu dengan orang ini.

Semua orang hanya tahu dia disebut 'Pak Tua Tanpa Nama'.

Qian-yi adalah murid orang aneh ini, maka Ba-gua-shen-zhang pun sangat menghormatinya.

Qian-yi berdiri dengan sombong melihat ke sekeliling ruangan.

Ba-gua-shen-zhang berjalan ke meja sembahyang, memberi hormat kepada biksu Zhong-nan-pai yang ada di belakang meja sembahyang.

"Sekarang para pendekar telah memilih 3 orang untuk menjadi wasit pertarungan, pertarungan bisa segera dimulai."

Yi-feng melihat biksu setengah baya itu sedang bicara dengan 2 biksu lainnya dengan suara kecil.

Umur kedua biksu itu sudah tua, sambil mendengar perkataan biksu itu, mata mereka mencari-cari.

Yi-feng berpikir, 'Apakah mereka sedang mencariku?' Salah satu biksu berambut putih berjalan ke arahnya, dia menyapa semua orang kemudian berkata.

"Ketua perkumpulan kami yaitu Biksu Miao-ling karena sakit lalu meninggal. Karena beliau meninggal secara tiba-tiba maka kedudukan ketua ini tidak sempat diwariskan olehnya kepada yang berhak menyandang gelar ketua. Maksud kami adalah di antara ratusan murid Zhong-nan-pai yang berilmu silat tinggi bertarung untuk memperoleh kedudukan ketua Zhong-nan-pai generasi keenam. Kami berharap para pendekar akan mendukung kami."

"3 orang yang telah kalian pilih adalah orang-orang ternama dari dunia persilatan. Mereka akan menjadi saksi dalam rapat ini. aku mewakili semua murid Zhong-nan-pai berterima kasih kepada kalian."

Kedua alisnya berkerut, wajahnya sedih dan khawatir, dia berkata.

"Di antara murid-murid Zhong-nan-pai, yang kuketahui yang ikut pemilihan ketua hanya ada 7 orang. Ketujuh orang ini adalah orang-orang terkuat tapi aku berharap orang-orang ini bisa menjadi penanggung jawab yang handal. Sekarang aku persilakan ketujuh murid Zhong-nan-pai ini keluar dan memberi salam kepada para pendekar."

Tiba-tiba Ba-gua-shen-zhang tertawa.

"Biksu Miao-fa, apakah Anda tidak berniat mengikuti pemilihan ini?"

Biksu berambut putih itu tertawa.

"Aku sudah tua, tulang dan ototku sudah mengendur, mana bisa aku seperti Tuan Fan yang begitu bersemangat?"

Fan Chong-pin tertawa.

"Aku tahu kalau Guru seperti seekor burung bangau, sangat bebas! Kalau begitu, kita persilakan saja ketujuh guru ini untuk keluar. Aku yakin semua orang di sini pasti ingin melihat calon ketua Zhong-nan-pai yang baru."

Pendekar-pendekar setuju dengan usul Fan Chong-pin.

Guru Miao-fa tersenyum, dia berputar ke belakang.

Ketujuh biksu Zhong-nan-pai yang mengenakan baju biru keluar.

Ketujuh orang ini ada yang kurus, tinggi, pendek, tua, muda, tidak ada yang sama, persamaan mereka adalah sama-sama terlihat bersemangat, langkah mereka pun mantap.

Mata mereka bersinar, mereka terlihat seperti pesilat tangguh.

Setelah ketujuh biksu itu keluar, telapak tangan mereka tampak menempel menjadi satu, mereka memberi hormat.

Para pendekar berdiri, balas memberi hormat kepada ketujuh biksu itu.

Yang perlu diketahui di antara ketujuh biksu itu, salah satunya akan menjadi ketua Zhong-nanpai generasi berikutnya.

Karena itu pula para pendekar di sana tidak ada yang berani bersikap kurang ajar.

Yi-feng masih berdiri di belakang, dia terus memperhatikan ketujuh biksu itu.

Dia mempunyai firasat tidak enak, rapat akbar ini diadakan pasti ada alasan tertentu.

Hanya saja apa alasannya masih belum terlihat jelas.

Aula itu sangat luas, kecuali di sana tampak para pendekar yang duduk mengelilingi aula, di tengah ada ruang kosong dengan luas 10 m.

Sekarang tampak seorang biksu dengan usia sekitar 30 tahun berdiri di tengah aula, kedua tanganya dikatupkan, lalu memberi hormat.

Dia berlutut dan memberi hormat kepada para leluhur.

"Murid generasi keenam dari Zhong-nan-pai, Xuan-hua, berharap paman guru dan kakak seperguruan mau memberikan petunjuk."

Kemudian dia pun memasang kuda-kuda, baju biksu panjangnya diselipkan ke tali pinggangnya.

Kedua matanya terbuka dengan lebar, sepertinya ilmu silatnya cukup tinggi.

Setelah Xuan-hua berdiri, para tamu langsung mengetahui ilmu silatnya paling sedikit telah berusia 20 tahun.

Diam-diam banyak yang berpikir, 'Murid-murid Zhong-nan-pai ternyata ada juga yang berilmu silat tinggi.' Salah satu biksu berdiri dan berjalan keluar, dia memberi hormat kepada para tamu dan juga kepada patung dewa.

Kemudian dia menyelipkan baju biksunya ke tali pinggang, dia memberi hormat kepada Xuan-hua, dan kedua tangannya dikatupkan menjadi satu.

"Xuan-ji berharap kakak seperguruan sudi memberikan petunjuk."

Dia berdiri dengan diam, dengan penuh konsentrasi dia siap menghadapi Xuan-hua.

Biksu Xuan-hua membentak, kemudian tangan kirinya dilayangkan, tangan kanannya menepis, kakinya maju dia bergerak mendekati Xuan-ji.

Tiba-tiba kedua tangannya terjulur keluar dan menyerang, yang satu ke arah wajah, sedangkan yang satu lagi ke perut bagian bawah.

Kaki Xuan-ji bergeser, tubuhnya berputar membentuk lingkaran, kemudian tangan kanannya menyerang.

Dalam ruangan dengan luas 10 m, tampak dipenuhi dengan bayangan telapak tangan, tubuh mereka bergerak secepat kilat.

Ilmu yang mereka pakai adalah ilmu dari perkumpulan mereka.

Selain terlihat ringan tapi kemantapannya tidak hilang.

Dalam kemantapannya terasa seperti awan yang berjalan dihembus angin atau seperti air yang mengalir.

Setiap jurus terus bersambung dan selalu berubah.

Saat jurus telapak tangan digunakan, para pemdekar baru mengetahui ternyata ilmu telapak tangan Zhong-nan-pai begitu sempurna dan bagus.

Sewaktu para pendekar sedang asyik menyaksikan semua jurus kedua biksu itu, tiba-tiba bayangan mereka terpisah, Biksu Xuan-ji telah berdiri di tempat jauh dan berkata.

"Jurus kakak seperguruan sangat bagus, aku mengaku kalah!"

Dia mengatupkan kedua tangannya, lalu dengan pelan kembali ke tempatnya. Ba-gua-shen-zhang tertawa tergelak-gelak.

"Ini adalah pertarungan antara pesilat tangguh, dan ini yang baru disebut sebagai orang yang berilmu silat tinggi!"

Dia melihat ke sekeliling, sambil tertawa dia berkata lagi.

"Tadi Guru Xuan-ji hanya kalah 1/2 jurus, tapi dia sudah mengaku kalah, ini sikap yang sangat baik, harap semua bisa belajar dengan semangat Guru Xuan-ji ini!"

Kemudian dia mengacungkan ibu jarinya, dan tertawa, para pendekar sangat kagum, ada sebagian tamu yang belum melihat jelas apa yang dilakukan Biksu Xuan-ji, tapi semua ikut mengacungkan ibu jarinya.

Yang perlu kita ketahui, ini adalah pertarungan untuk mendapatkan posisi sebagai seorang ketua, tapi Biksu Xuan-ji menganggap menang atau kalah adalah hal biasa, kebesaran hatinya begitu luas, tidak semua orang bisa melakukannya.

Tidak lama kemudian, ada dua orang biksu yang kalah lagi.

Dia tetap berdiri di tengah aula, dan dia adalah Biksu Xuan-hua.

Dalam dua kali pertarungan sejak awal mereka bertarung hingga batas yang ditentukan, yang kalah dengan rela hati mundur dari arena, tidak ada yang mencari gara-gara.

Yi-feng diam-diam memuji tindakan murid-murid Zhong-nan-pai.

Dia pun kagum kepada Biksu Xuan-hua yang dalam tiga kali pertarungan masih tampak tenang dan berdiri dengan santai.

Tiba-tiba Mei-hua-jian, Du Chang-qin mendekati Fan Chong-pin lalu bicara dengan pelan.

Terlihat Fan Chong-pin mengangguk-angguk seperti setuju dengan perkataan Du Chang-qin.

oo BAB 37 Bersaing menjadi ketua Dari balik tubuh ketiga biksu itu, muncul seorang biksu berjanggut panjang, dia adalah adik seperguruan Biksu Miao-ling.

Dia berada satu generasi di atas Xuan-hua, maka pada saat biksu ini keluar, Xuan-hua segera memberi hormat.

"Apakah Paman Guru Kelima akan memberikan petunjuk?"

Biksu itu adalah salah satu murid dari ketua Zhong-nan-pai, yaitu Yu Zhen-ren, yang bernama Miao-yuan, sekarang dia terlihat tersenyum dan berkata.

"Kita akan bertarung, kau tidak boleh dengan sengaja mengalah padaku, kalau tidak pertarungan ini akan kehilangan artinya, yaitu perebutan posisi menjadi ketua Zhong-nan-pai."

Dengan hormat Xuan-hua berkata.

"Aku akan menuruti apa yang Paman Guru katakan."

Dia berdiri dan siap menyerang, tiba-tiba Ba-gua-shen-zhang datang menghalangi mereka dan berkata.

"Guru, tunggu sebentar! Maksud Pendekar Muda Du tadi, Guru Xuan-hua telah bertarung 3 kali, dia harus beristirahat dulu, sekarang tiga biksu bertarung dulu, yang menang akan bertarung kembali dengan Guru Xuan-hua. Apakah kalian setuju dengan usul ini?"

Xuan-hua mundur dari sana. Miao-yuan menjawab.

"Silahkan guru Fan yang mengambil keputusan."

Dalam dua pertarungan kali ini, Biksu Miao-yuan yang menang, kemudian ada Biksu Miao-tong yang bertarung dengan Biksu Miao-yuan.

Tapi dalam beberapa jurus Biksu Miao-tong kalah dari Biksu Miao-yuan.

Para pendekar melihat beberapa orang pesilat tangguh Zhong-nan-pai bertarung untuk merebut posisi sebagai ketua, mereka terlihat seperti sedang latihan biasa.

Sama sekali tidak terjadi hal berbahaya atau menegangkan.

Mereka memuji kebesaran hati murid-murid Zhong-nanpai yang berlapang dada luas.

Tapi mereka juga menyayangkan dalam rapat akbar kali ini tidak ada tontonan yang menegangkan.

Para pendekar datang dari berbagai tempat jauh.

Mereka mempunyai perangai buruk manusia.

Mereka berharap akan terjadi pertarungan berdarah, tapi dari kelima pertarungan yang telah berlalu, ternyata hanya begitu saja, maka para tamu pun merasa agak kecewa.

Sekarang sisa pertarungan yang ada yaitu pertarungan antara Miao-yuan dan Xuan-hua.

Maka perhatian para pendekar pun tertuju pada mereka berdua.

Siapa pun yang menang, dia akan menjadi ketua Zhong-nan-pai, ini adalah hal penting bagi dunia persilatan.

Ba-gua-shen-zhang tertawa.

"Harap kedua guru beristirahat terlebih dulu, setelah itu kembali bertarung untuk merebut posisi sebagai ketua. Aku masih mempunyai kesempatan menyaksikan pertarungan antar pesilat tangguh."

Dia membalikkan kepalanya melihat Du Chang-qin dan Qian-yi.

"Apakah kalian pun mempunyai perasaan seperti itu?"

Qian-yi tampak sedang bersandar di sebuah kursi, sejak tadi dia tidak bergerak, sekarang dia terlihat mengangguk, seperti ada yang ingin dia katakan. Tiba-tiba Biksu Miao-fa mendekat dan berkata.

"Adik seperguruan Miao-yuan dan keponakan Xuan-hua, lebih baik bertarung sekarang! Yang menang di hadapan pada pendekar dan patung para dewa akan disumpah menjadi ketua Zhongnan-pai yang baru, kita tidak butuh upacara lainnya lagi!"

Kedua alis Fan Chong-pin berkerut, diam-diam dia merasa aneh, mengapa Biksu Miao-fa yang biasanya sangat teliti, sekarang begitu terburu-buru?

Sebenarnya ini adalah masalah penting, mengapa beristirahat pun tidak diperbolehkan?

Yi-feng yang masih berdiri di sisi, melihat wajah Miao-fa yang penuh dengan kekhawatiran.

Dia selalu memandang keluar pintu, dia seperti takut pada sesuatu.

Takut kalau tiba-tiba seseorang datang dan mengacaukan keadaan di sana.

Maka dia ingin Miao-yuan dan Xuan-hua segera bertarung untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Xiao Nan-pin tidak peduli dengan semua yang terjadi di sana, dia hanya menyandar dengan bahagia di sisi Yi-feng.

Karena tempat di sana sangat terbatas, semua pendekar terlihat berdesakan, maka Xiao Nan-pin hampir bersandar ke tubuh Yi-feng.

Hal ini tidak terlihat aneh dalam pandangan orang-orang!

Ruangan itu hening, karena semua sedang berkonsentrasi melihat kedua pesilat tangguh Zhong-nan-pai yang akan bertarung.

Miao-yuan dan Xuan-h.ua sedang memusatkan pikiran, para biksu Zhong-nan-pai sebelum bertarung biasanya selalu diam dan mengumpulkan tenaga terlebih dulu.

Mereka tidak berani bertindak ceroboh, tapi pada saat ada yang menang atau kalah, ada salah satu yang segera mundur, ini adalah sikap yang sangat baik.

Saat semua orang sedang diam dan suasana sangat hening, sampai nafas para tamu pun terdengar, tiba-tiba para pendekar yang berada di tengah aula, mengeluarkan suara ricuh, mereka bergeser ke pinggir.

Wajah Biksu Miao-fa berubah, Yi-feng pun terkejut.

Tebakannya tepat, rapat akbar ini tidak akan berlalu dengan tenang.

Ba-gua-shen-zhang dan Mei-hua-jian terkejut, dari luar terlihat ada sekelompok biksu berbaju biru masuk ke dalam aula.

Para pendekar di sana tidak tahu apa yang terjadi.

Yang berjalan di baris terdepan adalah seorang biksu.

Tubuhnya kurus kering, pedang panjangnya terselip di punggungnya.

Panjang pedang itu hampir mengenai tanah.

Tapi dia tetap berjalan dengan mantap.

Sorot matanya tajam, begitu melihatnya langsung dapat diketahui kalau dia seorang pesilat tangguh.

Sekelompok biksu itu berjumlah 10 orang lebih, masing-masing membawa pedang yang terselip di punggung mereka.

Yang menjadi perhatian Yi-feng adalah baju biksu yang mereka kenakan.

Semua terlihat masih baru, hal ini membuat Yi-feng teringat kembali pada biksu muda yang mereka temui di kaki gunung.

Biksu kurus kering itu dengan mata elangnya melihat ke sekelilng, kemudian dia tertawa.

"Kakak seperguruan Miao-fa, kau tidak boleh bertindak seperti itu! Aku telah memerintahkan muridku datang melapor kepada Kakak kalau adikmu yang tidak berguna ini akan datang untuk meramaikan rapat akbar ini, mengapa Kakak malah membuka rapat ini tanpa menungguku? Apakah setelah 10 tahun lebih kita tidak bertemu, Kakak telah melupakan adikmu yang tidak berguna ini?"

Kemudian dia melihat para pendekar sambil tertawa dia berkata lagi.

"Aku adalah Biksu Miao-yu, aku adalah salah satu murid Zhong-nan-pai. Kalian telah datang dari jauh, maka aku memerintahkan para muridku supaya di setiap belokan menyiapkan air teh untuk para pendekar, kalau kakakku kurang bisa melayani kalian dengan baik, aku yang akan meminta maaf di sini!"

Begitu perkataannya keluar, membuat para pendekar di sana terpaku karena tiba-tiba saja muncul orang ini.

Yi-feng mengerti dan berpikir, 'Ternyata orang-orang yang menyedikan air minum tadi adalah murid-murid Biksu Miao-yu.

Kalau Biksu Miao-yu adalah murid Zhong-nan-pai, mengapa Biksu Miao-fa berundak seperti ini?"

Biksu-biksu yang ada di kaki gunung, bersikap seperti biksu yang tadi ditemui Yi-feng di depan pintu kuil tadi, seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tapi begitu ada yang datang dia tidak mengatakannya lebih lanjut.

Sekarang kelakuan mereka satu per satu melintas di benak Yi-feng.

Yi-feng tahu kali ini kedatangan Biksu Miao-yu pasti mengandung maksud tertentu.

Apa maksudnya belum terlihat jelas, dia harus menunggu tindakan Biksu Miao-yu selanjutnya.

Para pendekar saling pandang, pikiran mereka sama dengan Yi-feng.

Biksu Miao-fa terlihat melotot kepada Biksu Miao-yu, dengan dingin dia berkata.

"Miao-fa tidak berguna, aku tidak berani mengaku sebagai kakak seperguruan Tuan, guru sudah meninggal, kalau beliau tahu, beliau tidak akan mau mengakui Tuan sebagai muridnya..."

Miao-yu tertawa dingin.

"Apa yang Kakak katakan? Walaupun aku telah meninggalkan Zhong-nan-shan selama 10 tahun lebih, tapi dalam hati aku selalu teringat pada perkumpulan kita ini. Walaupun aku jauh dari perkumpulan tapi aku tidak pernah merasa terusir dari perguruan kita, apakah hari ini Kakak akan mengusirku dari perguruan?"

Dengan wajah seram dia berkata lagi.

"Sewaktu guru masih hidup pun beliau tidak pernah mengusirku, karena itu aku tetap murid Zhong-nan-pai. Kalau Kakak tidak suka padaku, tidak boleh ada balas dendam pribadi. Dan Kakak tidak bisa mengatakan kalau aku bukan murid Zhongnan-pai lagi!"

Wajah Miao-fa tampak lebih marah lagi. Miao-yuan berjalan mendekati Miao-yu dan memberi hormat. Miao-yu tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha! Baiklah, adik kelima, kau tidak lupa kalau aku masih kakak seperguruanmu."

Miao-yuan tertawa dan menjawab.

"Kami tidak pernah lupa kakak seperguruan, tapi Kakaklah yang melupakan kami."

Miao-yuan melotot dan membentak.

"Aku ingin bertanya pada Kakak, kalau Kakak belum melupakan perguruan kita, mengapa sewaktu guru meninggal, Kakak tidak datang? Duo-shouzhen-ren (Biksu tangan banyak) Xie Yuxian terkenal di mana-mana, tapi tidak ada yang tahu kalau Duo-shou-zhen-ren adalah murid Zhong-nan-pai? Mengapa saat diadakan pemilihan ketua baru, Kakak baru ingat kalau Kakak adalah murid Zhong-nan-pai? Apakah posisi sebagai ketua begitu menarik perhatian Kakak?"

Dengan suara lebih keras dia berkata lagi.

"Dulu kita kakak beradik berjumlah 6 orang, guru bersikap paling baik kepada Kakak. Tapi kau tidak menjaga nama baik perguruan, kau mem-buat kejahatan di dunia persilatan. Walaupun begitu saat guru meninggal, beliau masih saja terus mengkhawatirkanmu dan tidak berniat mengusirmu keluar dari perguruan. Kakak, kalau kau masih mempunyai hati nurani, kau harus mengubah sikapmu dan kembalilah ke perguruan kita, tapi kau... kau malah masuk ke...."

Biksu Miao-yu dengan sikap dingin mendengarkan semuanya, tiba-tiba dia membentak.

"Miao-yuan, jika kau masih terus banyak bicara, di depan banyak pendekar aku akan menghajarmu. Dasar tidak tahu sopan santun kepada kakak seperguruan sendiri!"

Miao-yuan hanya tertawa dingin.

"Di dunia persilatan, siapa yang tidak kenal dengan Duo-shou-zheng-ren? Aku mengatakannya atau tidak sepertinya akan sama, hanya saja kata-kata ini menjadi beban di hati, kalau tidak dibicarakan, hatiku tidak enak!"

Para pendekar baru tahu ternyata biksu tua yang kurus dan kering ini adalah siluman paling jahat di daerah Si-chuan dan Yun-nan yang berjuluk ..

.Duo-shou-zheng-ren.

Mereka lebih-lebih tidak menyangka kalau Duo-shou-zheng-ren Xie Yu-xian adalah murid Zhong-nan-pai.

Hubungan tidak baik antara Biksu Miao-yu dan Zhong-nan-pai baru diketahui para pendekar di sana, dan dari kata-kata yang terucap oleh Biksu Miao-yuan masih dibahas oleh mereka.

Tapi mereka hanya bicara dengan suara kecil, tidak ada seorang pun yang berani bicara dengan suara keras.

Biksu Miao-fa membentak.

"Apalagi kau telah menjadi anggota Tian-zheng-jiao, kau tidak punya hak kembali ke sini dan merebut posisi sebagai ketua, apakah kau mengira kelakuanmu di luar sana tidak adayang tahu?"

Begitu kata-kata ini keluar membuat Yi-feng bertambah terkejut.

Duo-shou-zheng-ren ternyata masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao.

Sekarang dia kembali untuk merebut posisi sebagai ketua, apa keinginan dia sebenarnya?

Semua orang pasti penasaran.

Sepertinya tujuan Tian-zheng-jiao selain ingin menguasai dunia persilatan mereka masih berniat menguasai semua perkumpulan.

Kalau Zhong-nan-pai berhasil mereka kuasai, entah bagaimana nasib perkumpulan lainnya.

Yi-feng beberapa kali ingin keluar dan melabrak Miao-yu, tapi Ba-gua-shen-zhang sudah bicara dengan keras.

"Sesuai dengan aturan yang berlaku, Guru Miao-yu belum dikeluarkan dari perkumpulan Zhongnan-pai, maka dia tetap menjadi murid Zhong-nan-pai, tapi kalau Guru Miao-yu telah masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao, aku rasa itu agak sulit...."

Tiba-tiba Biksu Miao-yu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggetarkan sekeliling aula, membuat debu yang ada di atas langit-langit tampak berjatuhan.

Para pendekar saling pandang, tawa Miao-yu telah berhenti tapi gemanya terus terdengar.

Biksu Miao-yu membuka matanya yang besar dan berkata.

"Siapa yang mengatakan kalau murid Zhong-nan-pai tidak boleh menjadi anggota Tian-zhengjiao? Dan siapa yang mengatakan murid Tian-zheng-jiao tidak boleh menjadi murid Zhong-nanpai? Aku, Miao-yu, walaupun sudah masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao tapi tetap menjadi murid Zhong-nan-pai, mengapa aku tidak boleh ikut pemilihan ketua?"

Dengan sombong dia melihat ke sekeliling dan tertawa dingin.

"Semua murid Zhong-nan-pai dengarkan kata-kataku dengan jelas, bukan hanya aku, Miao-yu yang kembali ke Zhong-nan-pai, dari Chang-jiang dan dari kedua sungai, semua pesilat pedang terkenal masuk perkumpulanku...Zhong-nan-pai."

Dia menunjuk 10 orang lebih biksu berbaju biru yang tadi mengikutinya masuk, lalu dia berkata lagi.

"Tiga bersaudara Lao-shan, Pendekar Hu, dua bersaudara Nan-gong-shuang-jian, Yan-shansan-jian, Tai-hu-yi-jian. Apakah kalian pernah mendengar nama besar mereka?"

Dia tertawa terbahak-bahak dan berkata lagi.

"Sekarang semua pesilat pedang terkenal telah masuk Zhong-nan-pai, maka Zhong-nan-pai akan berjaya di dunia persilatan. Guru yang ada di alam sana pasti akan tersenyum karena senang dan bangga."

Dia tertawa sombong.

Dia terus menyebutkan nama-nama orang terkenal, maksudnya tidak lain adalah menyombongkan diri.

Para pendekar yang ada di sana tahu apa maksud dari Miao-yu, tapi mereka tidak berani melawannya.

Walaupun dalam hati para pendekar itu marah, tapi tidak ada yang berani bersebrangan pendapat dengan Tian-zheng-jiao, begitu pula dengan para pesilat pedangyang terkenal itu.

Karena itu semua orang duduk tidak bergerak dan tidak ada seorang pun yang berani bersuara.

Wajah Ba-gua-shen-zhang terlihat tidak suka, sewaktu dia mengerutkan alisnya akan --BAB 38 Lonceng berdentang 10 kali Tiba-tiba Biksu Miao-yuan yang berdiri di sisi berkata dengan suara besar.

"Jika kau bisa menang dariku, kau boleh merebut posisi sebagai ketua Zhong-nan-pai."

Angin yang dihasilkan dari telapak menyerang ke dada Biksu Miao-yu. Miao-yu tertawa dingin.

"Baiklah, biar kakak melihat kemampuanmu, aku ingin tahu apakah selama beberapa tahun ini ilmu silatmu mengalami kemajuan?"

Dia bergerak, serangan telapak tangan Biksu Miao-yuan begitu cepat tapi tidak mengenai sasaran, telapak tangan kanannya ditarik, lalu diputar dan menepis.

Jari tangan kirinya diarah-kan ke bawah siap menotok dada Biksu Miao-yu.

Diiringi tawa Miao-yu, dia menggeser kakinya dan berkata.

"Biar kakak mengalah dulu kepadamu tiga jurus!"

Kedua tangan Miao-yuan menyerang tapi tidak mengenai sasaran lagi, dia menarik kembali tangannya, kemudian dengan jurus 'Pai Shan Zhang' dia menyerang Miao-yu.

Serangan kali ini dilakukan dengan sepenuh tenaga, angin telapak terasa besar, membuat baju Miao-yu sedikit terangkat.

Kali ini kita bisa melihat bagaimana kuatnya ilmu silat yang dimiliki Duoshou-zheng-ren.

Dia bersalto ke belakang, tubuhnya yang kurus kering dengan lurus direbahkan ke bawah, lalu dengan cara Tie-ban-qiao' (Jembatan papan besi) dengan posisi sangat berbahaya berusaha menghindari serangan Miao-yuan.

Ilmu Tie-ban-qiao bila dipakai saat pesilat tangguh bertarung, kecuali dilakukan dalam keadaan terpaksa, biasanya jarang dipergunakan.

Karena begitu tubuh bersalto, bagian atas, tengah, dan bawah akan terlihat ada celah.

Artinya itu memberikan kesempatan kepada lawan untuk menyerang.

Bila lawan menyerang dari atas, maka lawan akan mendapat kesempatan untuk memukul.

Dengan mudah Miao-yu menggunakan jurus ini, membuat para pendekar terkejut.

Tapi Miao-yu telah menarik kembali tenaga serangannya, kedua telapaknya menepis ke bawah.

Dalam keadaan seperti itu, dia masih sempat memutar tumitnya, tubuhnya yang telah berada di bawah telah berganti posisi.

Kedua telapak Miao-yuan tidak mengenai sasaran lagi.

Sewaktu tenaga Miao-yuan sudah habis, dan tenaganya belum pulih, tubuh Miao-yu telah terangkat, telapaknya terangkat dengan posisi miring, dia menyerang ke ketiak kiri Miao-yuan.

Tubuh Miao-yuan bergoyang tapi tidak sampai ambruk, ternyata serangan tadi Miao-yu hanya menggunakan 50% tenaganya, dia menatap Miao-yuan dan tertawa dingin.

"Adik, kau masih harus belajar beberapa tahun lagi."

Nadanya penuh dengan penghinaan.

Tiga kali serangan Miao-yuan tidak mengenai sasaran.

Sekarang sekali Miao-yu memukulnya langsung mengenainya dengan telak.

Dia terpaku tidak mampu bicara.

Para pendekar terkejut, mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana hebat-nya ilmu silat Miao-yuan tadi, tapi sekali Miao-yu menyerangnya, langsung membuat Biksu Miao-yuan kalah.

Mereka terpaku melihat ilmu silat Miao-yu.

Dengan wajah pucat Biksu Miao-fa menghampiri mereka, dengan pelan dia mendorong Biksu Miao-yuan.

"Adik kelima, kau istirahat saja dulu!"

Kemudian kedua matanya terbuka lebar, dia memelototi Miao-yu dan membentak.

"Ternyata selama beberapa tahun ini ilmu silatmu telah maju pesat, walaupun ilmu silatmu tinggi, tapi kami murid-murid Zhong-nan-pai tidak akan mau mengakui orang yang telah berkhianat sebagai ketua."

Miao-yu tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba ada yang suara tawa yang lebih besar lagi, terdengar dari depan meja sembahyang.

Para pendekar harus menutup telinga dan terus mencari-cari sumber suara itu, ternyata yang tertawa adalah tamu dari Qing-hai...Qian-yi.

Dia melangkah keluar sambil terus tertawa.

Sambil tertawa matanya yang bersorot tajam melihat sekeliling, kemudian tawa itu berubah menjadi tawa dingin, dia melihat Miao-fa dan dengan pelan berkata.

"Aku benar-benar tidak mengerti, kali ini kalian memilih ketua dan banyak pendekar yang sudah datang, aku kira ini hanya sekedar demi 'keadilan', Biksu Miao-yu adalah murid Zhong-nan-pai, mengapa Tuan di depan para pendekar, mungkir atas kata-kata kalian sendiri, bukankah hal ini lucu?"

Dia tertawa dengan dingin dan seram. Biksu Miao-fa membentak.

"Ini adalah urusan perkumpulan kami, biar kami sendiri yang membereskannya, kami tidak butuh bantuan Tuan untuk membereskannya."

Walaupun sedang marah, tapi biksu yang biasanya terlihat kalem ini, ternyata masih bisa menahan diri. Qian-yi tertawa lagi.

"Semua hal yang terjadi di dunia ini, wajib diurus, hal yang terjadi di Zhong-nan-pai, kalau tidak menginginkan orang luar membereskannya, mengapa membiarkan para pendekar yang telah datang dari jauh harus turut membereskannya? Apakah kami harus mendengar aturan Tuan?"

Biksu Miao-fa memang tidak pandai bicara, kata-kata Qian-yi membuatnya marah hanya mampu ditelannya. Miao-yu memberi hormat kepada Qian-yi dan tertawa.

"Tuan telah membela keadilan dunia persilatan, aku ucapkan banyak terima kasih!"

Kemudian dia melanjutkan kembali.

"Mulai hari ini, aku, Miao-yu menjadi ketua Zhong-nan-pai...."

Belum habis berkata, Miao-fa membentak.

"Pengkhianat, turun kau!"

Diiringi suaranya, dia sudah menyerang Miao-yu.

Kesepuluh jarinya terbuka dan menceng-kram ke arah tenggorokan Miao-yu.

Jurus ini benar-benar sangat berbahaya.

Melihat jurus ini, Miao-yu merasa terkejut, dia menghindar 3 meter, tapi dia masih sempat merasakan ada angin yang lewat.

Kemudian terdengar suara memilukan.

Setelah dilihat dengan seksama, ternyata Miao-fa terjatuh, Qian-yi masih berdiri dan tertawa dingin di sisinya sambil memain-mainkan ikat pinggangnya, dia tertawa dingin.

"Aku, Qian-yi harus membela keadilan di dunia persilatan, mengapa Biksu Miao-yu tidak boleh menjadi ketua Zhong-nan-pai?"

Ternyata serangan Miao-fa tadi pada saat menyerang bagian dadanya terbuka, ini melanggar cara pertarungan, Qian-yi dengan cepat berlari ke kanan dan menyerang dada Miao-fa.

Tubuh mereka bergerak dengan cepat, para pendekar hanya melihat sekelebat bayangan.

Miao-fa terjatuh dengan posisi duduk di bawah.

Dalam satu jurus bisa terlihat siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Hal ini membuat para pendekar terkejut dan berteriak.

Kedua mata Qian-yi menatap ke atas, kembali dia tertawa dingin.

"Di antara murid-murid Zhong-nan-pai, kalau ada yang tidak setuju Miao-yu menjadi ketua, silakan keluar dan bertarung dengannya untuk merebut posisi sebagai ketua. Para pendekar, kalau ada yang tidak setuju juga dengan tindakanku ini, boleh keluar untuk bertarung denganku!"

Dia melihat di belakang sebelah kanan tergantung sebuah lonceng besar terbuat dari tembaga.

Sambil tersenyum dia melihat lonceng besar itu lalu terdengar suara TANG!

Lonceng berdentang karena sentilan jarinya.

Para pendekar terkagum-kagum dengan kemampuan jarinya yang begitu sakti.

Dia tertawa dan dengan sombong berkata.

"Sekarang lonceng telah berdentang satu kali, kalau lonceng itu telah berdentang 10 kali, dan di antara kalian tidak ada yang mampu mengalahkan Miao-yu, berarti Miao-yu yang akan menjadi ketua Zhong-nan-pai."

Kemudian dia menggerakkan jarinya lagi, lonceng besar itu berdentang lagi mengeluarkan suara besar.

Ba-gua-shen-zhang menarik nafas panjang, dia sadar, memang dia mempunyai ilmu silat yang telah berusia puluhan tahun, tapi dia tetap bukan lawan Qian-yi.

Diiringi suara nafasnya dia pergi, karena dia malu kalau terus berada di sana.

TANG!

Lonceng kembali berbunyi.

Biksu Xuan-huan keluar, tapi tiba-tiba terlihat bayangan yang berkilau, ternyata puluhan biksu bawaan Miao-yu telah mengeluarkan pedang mereka.

Begitu Xuan-huan bergerak pertarungan pun segera terjadi.

Dentang kelima, keenam...

Pikiran Biksu Xuan-huan sangat kacau, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, dia juga sadar kalau dia bukan lawan Qian-yi.

Tapi dia pun tidak bisa membiarkan Biksu Miao-yu menjadi ketua Zhong-nan-pai.

Lonceng berdentang untuk ketujuh kalinya.

Tiba-tiba dari bagian kiri aula, ada yang berteriak dengan lantang.

"Tunggu!"

Bayangan berkelebat berwarna abu, dia keluar seperti seekor burung bangau berwarna abu di udara, bayangan itu keluar dengan menginjak kepala para pendekar lalu mendarat, dia adalah Yi-feng yang sejak tadi hanya diam.

Para pendekar terkejut, Qian-yi tertawa dingin, dia melihat wajah Yi-feng, kemudian dia mundur dan tertawa.

"Baik! Baik! Ternyata kau pun datang ke sini, hitung-hitung aku terlalu ikut campur!"

Kemudian lengan bajunya bergerak, diikuti pandangan aneh para pendekar, dia bergerak secepat kilat, dia berlari keluar.

Yi-feng merasa aneh, dia merasa sedikit bingung, apa yang terjadi dia sendiri pun tidak tahu, kemudian dia berkata.

"Biksu Miao-yu memang murid Zhong-nan-pai, tapi dia tidak diinginkan oleh banyak orang untuk menjadi ketua, mana mungkin dia bisa menjadi ketua?"

Dia masih tidak mengerti ada apa dengan Qian-yi, dan mengapa dia pergi begitu saja.

Maka dia hanya sekedar bertanya.

Beberapa ratus pasang mata berputar melihat Yi-feng.

Miao-yu dan puluhan biksu yang memegang pedang, tidak tahu apa yang telah terjadi, murid-murid Zhongnan-pai dengan wajah berseri-seri melihat Yi-feng.

Biksu Miao-yu dengan sorot mata kebingungan dan terkejut melihat Yi-feng, kemudian dia membalikkan tubuh keluar dari ruangan.

Sebelum keluar, dia sempat melihat Yi-feng kembali, tapi begitu matanya bertatapan langsung dengan mata Yi-feng, dia langsung menundukkan kepalanya, seperti memikirkan, lalu berkata.

"Baiklah, jika semua ingin seperti itu, aku akan pergi!"

Baru saja perkataannya baru selesai, dia segera berlari keluar.

Para pendekar menahan rasa terkejut mereka.

Melihat pemuda yang telah membuat Qian-yi dan Miao-yu yang sombong itu kabur dari sana.

Di bawah curahan sinar bulan, biksu-biksu yang mengenakan baju biru kehilangan batang hidung mereka.

--BAB 39 Dalam helaan nafas Begitu Yi-feng dan Xiao Nan-pin datang ke Zhong-nan-shan, mereka merasakan ada sesuatu hal yang lain.

Saat tiba di depan kuil, mereka merasa biksu setengah baya itu akan mengatakan suatu tapi kemudian mengurungkan kembali niatnya.

Mereka segera sadar bahwa di Zhong-nanshan telah terjadi sesuatu..Tidak lama kemudian Miao-yu muncul, Yi-feng tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah dia menunggu dengan tenang, benar saja rencana-rencana busuk dari pihak tertentu langsung bermunculan.

Ternyata Tian-zheng-jiao memperalat seorang pengkhianat Zhong-nan-pai, yang bernama Miao-yu untuk menguasai Zhong-nan-pai yang selama ini mempunyai nama bersih.

Jika mereka bisa mengambil alih Zhong-nan-pai, maka wibawa Tian-zheng-jiao akan semakin tinggi di dunia persilatan.

Perasaan Yi-feng kepada Tian-zheng-jiao, kecuali adanya dendam pribadi, Yi-feng masih memiliki niat menjaga kebenaran dan keadilan dunia persilatan.

Dia tidak akan membiarkan rencana busukTian-zheng-jiao terlaksana.

Dan cara yang dilakukan Tian-zheng-jiao sangat jahat, cara mereka begitu rapi, dalam rapat akbar untuk pemilihan ketua baru Zhong-nan-pai, mereka mengutus Miao-yu membuat kekacauan di sana.

Karena dulunya Miao-yu adalah murid Zhong-nan-pai, dan secara peraturan dia belum diusir dari Zhong-nan-pai, maka secara terangterangkan dia ingin merebut posisi sebagai ketua baru.

Di satu pihak, Tian-zheng-jiao beserta pesilat pedang dari 2 sisi Chang-jiang, serta puluhan pesilat pedang lainnya, menjadikan mereka sebagai pelindung ditambah seorang tamu yang datang dari Qing-hai...Qian-yi, dengan kemampuan ilmu silatnya yang tinggi dia berhasil membuat para pendekar tidak berani muncul untuk memberi dukungan kepada Zhong-nan-pai.

Hingga Ba Gua Zhang yang bersifat terbuka, mempunyai nama dan wibawa tinggi pun, dalam keadaan itu terpaksa meninggalkan tempat, apalagi dengan orang lain!

Begitu Qian-yi memberi batas waktu dengan membunyikan lonceng besar, Yi-feng mengambil suatu keputusan, dia tidak akan membiarkan Miao-yu mendapatkan posisi sebagai ketua Zhongnan-pai.

Tapi dia sadar hanya dengan tenaganya sendiri dia baru mampu melawan rencana lawan yang sangat sempurna, dan dia akan terlihat lemah.

Saat itu, dia ingin mencari suatu cara yang dianggapnya tepat untuk situasi seperti saat itu.

Lonceng berdentang 7 kali.

Dia sadar sudah tidak banyak waktu lagi, membuatnya berpikir, dalam keadaan terdesak seperti itu, niatnya yang ingin menjaga keadilan dan kebenaran berhasil memerangi perasaan takutnya.

"Walaupun aku akan menjadi abu, aku tidak akan membiarkan orang ini mendapatkan kedudukan sebagai ketua Zhong-nan-pai!"

Dia mengambil keputusan seperti itu kemudian terbang keluar dari kerumunan para pendekar.

Yi-feng sadar jika dia keluar, hal yang jelek yang terjadi pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan hal bagus, belum tentu juga dia bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.

Tapi dia tidak akan mengijinkan rencana Tian-zheng-jiao terlaksana, maka dia tanpa ber-pikir lagi dia segera muncul, ini adalah salah satu sifat seorang laki-laki sejati.

Tapi hal yang terjadi di luar dugaannya.

Saat dia muncul, tiba-tiba Qian-yi meninggalkan tempat itu disusul oleh Biksu Miao-yu serta puluhan pesilat pedang lainnya.

Yang tersisa hanya Yifeng dan para pendekar.

Ruangan menjadi sepi dan tenang, kemudian terdengar suara ribut karena mereka sedang membicarakan hal yang baru saja terjadi.

Tiba-tiba terlihat bayangan seseorang, dia terbang dan mendarat di sisi Yi-feng.

Kali ini tidak perlu ditanyakan lagi, orang itu adalah Xiao Nan-pin.

Sesudah sadar dari rasa terkejut, murid-murid Zhong-nan-pai merasa sangat berterima kasih dan juga merasa aneh mengapa pemuda tidak bernama di dunia persilatan ini mempunyai wibawa begitu tinggi?

Begitu dia muncul, dia bisa membuat para pesilat tangguh di dunia persilatan mundur seketika dari sana.

Yang pasti mereka tidak bisa menanyakan langsung tentang hal ini kepada Yi-feng.

Biksu Xuan-hua melangkah maju dan memberi hormat kepada Yi-feng.

"Pendekar telah mengulurkan tangan membantu kami, murid-murid Zhong-nan-pai sangat berterima kasih atas kebaikan Pendekar. Kami berharap Tuan bersedia beristirahat di tempat kami, biarkan kami para murid Zhong-nan-pai mengucapkan terima kasih kepada Tuan."

Dengan cepat Yi-feng menyela.

"Aku telah banyak menerima kebaikan dari perkumpulan Guru, sekarang bisa membantu perguruan Guru, merupakan keberuntunganku."

"Dan sudah seharusnya aku membantu Zhong-nan-pai."

Hatinya memang masih kacau tapi dalam kekacauan hatinya dia masih mampu mencari alasan untuk menjawab perkataan Biksu Xuan-hua.

Biksu Xuan-hua tidak mengerti maksud Yi-feng dengan 'mendapat banyak kebaikan'.

Biksu Miao-fa berdiri dari posisi jatuh, dia dipapah oleh Miao-tong dan Miao-yuan.

Dadanya sudah dipukul oleh Qian-yi, tapi lukanya tidak begitu berat.

Sekarang dia berjalan mendekati Yifeng, sambil terengah-engah dia berkata.

"Apakah Tuan adalah orang yang tadi bertanya mengenai Tuan Jian? Aku sempat mendengar dari Xuan-dan, begitu tahu ada yang mencari Tuan Jian, aku tahu kalau Tuhan masih melindungi kami, dan tidak membiarkan orang jahat seperti Miao-yu mendapatkan kekuasaan. Tuan adalah orang telah yang berbudi kepada Zhong-nan-pai juga sebagai dewa penolong dunia persilatan."

Dia berlutut dan berkata lagi.

"Terimalah penghormatan ini!"

Yi-feng segera melarangnya.

"Guru jangan bertindak seperti itu! Perguruan Anda benar-benar telah berbudi kepadaku, walaupun saling tidak kenal, tapi dalam menghadapi masalah seperti ini kita tetap harus saling membantu."

Mei-hua-jian, Du Chang-qin yang berdiri di sisi merasa malu mendengarnya.

Miao-fa dan Miao-yuan terpaku.

Mereka tidak tahu ketika Yi-feng terluka berat dan hampir mati, di kuil inilah dia diobati hingga sembuh.

Dia masih mendapatkan banyak pengalaman langka.

Itulah yang dimaksud oleh Yi-feng, dia mendapatkan banyak kebaikan dari kuil ini.

Yang terjadi ketika dia diobati oleh Tuan Jian, bagi Yi-feng adalah titik balik dalam hidupnya.

Tadinya dia mengira harapan yang tidak bisa tercapai sekarang mulai muncul titik terang.

Maka dia selalu mengatakan kalau dia telah menerima banyak kebaikan Zhong-nan-pai.

Hal ini membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi bingung.

Melihat wajah mereka yang kebingungan, Yi-feng tahu kalau mereka tidak mengerti dan dia tidak berusaha ingin menjelaskan, dengan tersenyum dia berkata.

"Guru tidak perlu merasa sungkan karenanya, aku akan mencari tempat lain untuk beristirahat, lebih baik Guru membereskan masalah yang sudah terjadi di sini agar para pendekar tidak merasa terlalu lama menunggu."

"Kalau begitu silakan Tuan beristirahat dulu, aku akan menyelesaikan masalah di sini, setelah itu baru aku akan menemui Tuan!"

Tanggap Miao-fa. Dia menarik nafas panjan.

"Bagaimanapun juga hari ini tetap harus diadakan pemilihan ketua, kami takut semakin lama dibiarkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan."

Dia menarik nafas lagi,"sebenarnya selama beberapa tahun ini orang yang berbakat di dunia persilatan semakin sedikit, begitu pula dengan Zhong-nan-pai."

Karena itu pula biksu tua ini terus menghela nafas.

Biksu Miao-fa adalah murid pertama dari Biksu Yu-ji.

Yu-ji dijuluki sebagai pesilat pedang di antara 7 orang lainnya di dunia persilatan.

Sifat Miao-fa tidak ingin berurusan dengan dunia persilatan.

Dia benar-benar seorang pengikut Budha yang bersih.

Dia tidak begitu tertarik pada ilmu silat juga tidak berilmu tinggi.

Setelah Biksu Yi Ji meninggal, kedudukan ketua diserahkan kepada adik keduanya yaitu Miaoling.

Dia menghabiskan waktu dengan memperdalam ajaran agama Budha.

Tapi karena Miao-ling tidak kuat terhadap godaan perempuan akhirnya nama baiknya pun tercoreng, nyawanya pun melayang, hal ini membuat Miao-fa sedih.

Orang berbakat di Zhong-nan-pai sangat jarang, di perkumpulan lain sering muncul orang berbakat salah satunya seperti Yi-feng atau Qian-yi dari Qing-hai.

Mereka adalah orang-orang berilmu silat tinggi.

Dia tidak menyukai ilmu silat, tapi walau bagaimanapun dia telah 10 tahun mempelajari ilmu silat, tapi saat bertarung hanya dalam satu jurus dia langsung terpelanting.

Dia memang telah bertindak ceroboh, tapi tetap saja ilmu silatnya berada di bawah orang lain, apalagi dibandingkan dengan murid-murid generasi bawah.

Ini menjadi kesedihannyaa tapi di depan para pendekar dia tidak bisa terlihat lemas dan tidak berdaya.

Maka ketika dia dipapah oleh Miao-tong dan Miao-yuan, dia berusaha maju beberapa langkah dan berkata.

"Perkumpulan kami mempunyai seorang pengkhianat, aku tidak sanggup membersihkan nama baik perguruan kami. Demi dunia persilatan harus membasmi orang yang tidak berguna itu, dan aku juga telah membuat pada hadirin menunggu lama, aku benar-benar tidak berguna."

Miao-fa tersenyum dan berkata lagi.

"Selama beberapa tahun ini banyak orang telah membuat dunia persilatan menjadi kacau! Hal ini mungkin dirasakan juga oleh para pendekar. Kali ini perkumpulan kami memilih ketua dengan cara seperti ini, dan kami berharap bisa menyelesaikan masalah ini. Demi dunia persilatan kami akan bertanggung jawab, untung ada yang berani keluar untuk membantu kami, jika tidak maka akibatnya tidak dapat dibayangkan."

Dengan sedih dia berkata lagi.

"Aku berharap di depan para pendekar, kami bisa memilih seorang ketua yang bertanggung jawab terhadap perguruan. Hal ini kami lakukan supaya bisa membalas kebaikan kalian yang telah jauh-jauh datang untuk menyaksikan peristiwa penting ini."

Dia tersenyum bukan karena merasa senang dan berkata kembali.

"Tunggu sebentar di sini, kami telah menyiapkan arak untuk bersulang mendoakan keselamatan perjalanan pulang para hadirin."

Setelah itu biksu berambut putih itu bernafas dengan terengah-engah, mungkin karena dia telah terluka ataukah dia merasa sedih.

Dalam waktu singkat, dia terlihat sangat tua.

Setelah para pendekar mendengar perkataannya, mereka segera berdiri, mungkin karena mereka merasa malu.

Apalagi murid-murid Zhong-nan-pai, mereka berdiri sambil menundukkan kepala, diam tidak berbicara.

Xiao Nan-pin yang hati yang dipenuhi cinta dan bahagia menyaksikan semua ini.

dia ikut menarik nafas.

Miao-fa menahan nafasnya yang sesak, kemudian berkata lagi.

"Sekarang aku persilakan adik seperguru-an Miao-yuan dan keponakan Xuan-hua merebut posisi sebagai ketua. Siapa pun yang menang atau kalah, tetap murid terbaik Zhong-nan-pai. Siapa pun yang menjadi ketua, aku tetap akan merasa senang!"

Biksu Miao-yuan diam tidak banyak bicara, tiba-tiba dia terlihat marah dan melepaskan tangannya yang sedang memapah Miao-fa. Dia berlutut kepada patung dewa. Dengan sedih berkata.

"Miao-yuan tidak berguna, tidak bisa mengalahkan musuh demi perguruan, Miao-yuan tidak pantas menjadi ketua. Keponakan Xuan-hua masih muda, dalam hal ilmu dia yang terbaik, sangat cocok menjadi ketua. Aku berharap dia bisa menerima tanggung jawab ini...."

Dia menghela nafas. Dia menundukkan kepala dan berkata.

"Miao-yuan-...bersumpah di depan patung Budha dan roh nenek moyang, mulai sekarang akan menutup pintu untuk berlatih silat. Jika ada kemajuan berarti aku tidak menyia-nyiakan didikan guru selama ini. Kalau tidak, Miao-yuan akan terus berada di gunung ini dan tidak akan berurusan dengan dunia luar."

Dalam satu jurus dia kalah oleh kakak seperguruan Miao-yu. Dia merasa sedih dan malu. Maka setelah bersumpah seperti itu, dia merasa sedikit lega. Biksu Miao-fa tersenyum.

"Kalau keinginan adik kelima seperti itu, aku turut merasa senang."

Sehabis bicara, Xuan-hua segera maju berkata.

"Murid tidak berguna. Murid...."

Miao-fa melambaikan tangan, melarangnya melanjutkan perkataannya.

"Jangan terus berusaha mendorong tanggung jawab ini, sekarang kau bertanggung jawab menjadi ketua, ini adalah keuntungan sekaligus kerugianmu!"

Suaranya yang sedih membuat Xuan-hua segera berlutut. Miao-fa menarik nafas dan menatap langit, pelan-pelan dia berkata lagi.

"Aku berharap kau akan rajin dan melakukan tugasmu dengan baik. Jangan melanggar ajaran nenek moyang juga jangan berlaku seperti gurumu yang telah wafat...."

Di depan banyak pendekar dia tidak bisa mengatakan kalau guru Xuan-hua, yaitu adik seperguruannya dan juga ketua Zhong-nan-pai, Miao-ling karena godaan perempuan dia sampai kehilangan arah.

Tiba-tiba dia berhenti bicara dan mengeluh.

"Dia...mati terlalu awal."

Para pendekar mata mana mungkin mengerti maksud perkataannya dan mana mungkin tahu kalau di balik semua itu masih tersimpan cerita penting?

Pikiran Yi-feng dipenuhi dengan hal aneh.

Tapi dia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan hal lain, karena itu walaupun keadaan sangat menyedihkan, tapi ada ketua Zhong-nan-pai yang terpilih.

--BAB 40 Berlapis-lapis tebakan Yi-feng berusaha menenangkan pikirannya yang kacau.

Dia berharap bisa menjelaskan hal aneh yang telah terjadi tadi.

"Mengapa setelah mereka melihatku, tiba-tiba saja mereka melepaskan rencana mereka dan pergi dengan tergesa-gesa? "Duo-shou-zheng-ren adalah orang terkejam di dunia persilatan, nama jeleknya sudah lama kudengar, pasti bukan karena dia takut kepadaku lalu kabur dari sini. Tie-ji-wen-hou memang terkenal di dunia persilatan, tapi tidak sampai mengejutkan seorang siluman seperti Duo-shouzheng-ren.

"Apalagi wajahku telah diubah oleh tangan terampil Xiao Nan-pin, tidak ada yang bakal tahu kalau aku adalah Tie-ji-wen-hou.

"Jelas mereka seperti takut pada seseorang dan wajahku yang telah diubah oleh tangan Xiao Nan-pin, ternyata sangat mirip dengan orang ini, maka mereka pun takut kepadaku."

Dia segera teringat, ketika di kaki gunung saat dia bertemu dengan Fei-hong-qi-jian dan beberapa pendekar. Ekspresi dan kata-kata mereka saat melihatnya, membuatnya terus berpikir.

"Tidak mungkin aku sampai mirip dengan sosok 2 orang, Duo-shou-zheng-ren dan pendekarpendekar Chang-bai-shan menganggapku orang itu. Berarti Duo-shou-zheng-ren menganggapku pesilat bermarga Zhong itu."

"Tapi mengapa mereka begitu takut kepada pesilat dari Chang-bai-shan itu?"

Dia bertanya kepada dirinya sendiri, dia pun menjawab pertanyaannya sendiri.

"Marga Zhong setelah meninggalkan Chang-bai-shan, ketika dia masuk ke suatu perkumpulan. Dia pasti telah mengganti nama juga marganya, dan namanya menjadi sangat terkenal di dunia persilatan, membuat orang seperti Duo-shou-zheng-ren pun takut kepadanya."

Karena itu dia segera teringat kembali pada Qian-yi yang sombong dan ketika raut wajah Qianyi saat bertatapan muka dengannya.

Dia terus berpikir, 'Qian-yi pasti kenal dengan orang ini, artinya Qian-yi kenal dengan orang yang wajahnya mirip denganku sekarang.

Qian-yi adalah murid dari 'pak tua tanpa nama' yang tinggal di Qing-hai.

Qian-yi sama sekali tidak bernama di dunia persilatan, padahal dengan ilmu silat yang dimiliki-nya, itu sangat tidak mungkin dia sampai tidak dikenal orang, apakah karena dia belum pernah berkelana di dunia persilatan?

Tapi mengapa dia bisa mengenali orang itu?

Dan sepertinya mereka pun sangat akrab?...' Pikiran Yi-feng terus berjalan, 'Sepertinya mereka telah lama saling kenal tapi menurut Feihong-jian, marga Zhong itu sejak kecil belajar ilmu silat di Chang-bai-shan.

Satu-satunya kemungkinan yang ada adalah marga Zhong ini semenjak dia meninggalkan Chang-bai-shan, dia telah menjadi murid 'pak tua tanpa nama' dari Qing-hai, maka Qian-yi bisa mengenalinya.' Yi-feng tersenyum dan berpikir, 'Jika Qian-yi dan marga Zhong ini satu perkumpulan, saat melihatku di sini, dia pasti telah salah sangka, berarti wajahku yang telah diubah oleh keterampilan tangan Xiao Nan-pin, sangat mirip dengan marga Zhong itu.' Sebenarnya dia harus kembali dari awal untuk mengurutkannya, Fei-hong-jian yang sejak kecil telah tumbuh bersama Zhong Ying-qi saja bisa salah mengenali orang, berarti kemiripan mereka hampir 100%.

Memang "pak tua tanpa nama' sangat terkenal di dunia persilatan, tapi muridnya belum tentu bisa membuat seorang Duo-shou-zheng-ren dan beberapa pesilat tangguh saat melihatnya segera meninggalkan tempat ini.

Apalagi Duo-shou-zheng-ren dan beberapa pesilat pedang itu pasti telah mempunyai rencana Tian-zheng-jiao.

Dengan kekuasaan Tian-zheng-jiao di dunia persilatan, tidak mungkin demi seseorang, mereka akan mengubah semua rencana yang telah disepakati, sekali pun yang muncul itu adalah murid'pak tua tanpa nama'.

Semua masalah itu berputar-putar di dalam otak Yi-feng, terkadang dia seperti mendapatkan jawaban tapi segera disusul dengan pertanyaan lain, dia menundukkan kepala lagi.

Semua ini masuk kembali dalam pikirannya.

Xiao Nan-pin berdiri di sisinya, karena murid-murid Zhong-nan-pai masih begitu sedih, dia pun terbawa dalam suasana sedih ini.

Xuan-hua masih muda tapi dia telah menjadi ketua Zhong-nan-pai dan para pendekar menjadi saksinya, dia dinobatkan dalam suatu upacara sederhana dan serius.

Dia memberi hormat pada patung-patung Budha dan leluhur-leluhur mereka.

Dia menjadi ketua termuda sejak Zhong-nanpai didirikan.

Setelah itu suasana terasa lebih santai, para pendekar saling berkelompok untuk memberi hormat kepada ketua Zhong-nan-pai yang baru.

Xiao Nan-pin membalikkan tubuh melihat Yi-feng.

Dia melihat Yi-feng sedang mengerutkan alisnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Dengan pelan dia memegang pundaknya dan bertanya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Yi-feng melihat sebentar, lalu menundukkan kepalanya lagi.

Xiao Nan-pin sudah lama berpenampilan seperti seorang laki-laki, maka dia terbiasa dengan pakaian laki-laki, tapi sekarang dia sudah lupa kalau dia adalah 'laki-laki'.

Mulut kecil dimanyunkan dan berkata.

"Apa yang kau pikirkan, aku bicara denganmu, tapi kau seperti tidak mendengar perkataanku."

Yi-feng yang sedang banyak pikiran dia hanya menjawab asal-asalan. Tapi kata-katanya cukup membuat gadis yang sedang jatuh cinta ini merasa senang. Dia tertawa manja.

"Aku tahu kau sedang memikirkan apa, kau sedang memikirkan kalau hal ini sangat aneh bukan?"

Dia berhenti sebentar seperti bicara sendiri.

"Tapi ini memang aneh, mengapa orang-orang itu saat melihatmu langsung pergi dari sini? Apakah bukan karena kau adalah ketua perkumpulan mereka!"

Tadinya dia ingin mengatakan 'kau bukan bapak mereka', tapi seorang perempuan sulit mengatakan 'bapak mereka'.

Karena itu wajahnya menjadi merah, karena malu dan karena tergesa-gesa, maka kedua kata ini tidak sadar terlontar keluar.

Tapi perkataan ini begitu masuk ke telinga Yi-feng, dia hampir meloncat dan segera mencengkram tangan Xiao Nan-pin dan bertanya.

"Apa yang tadi kau katakan?"

Xiao Nan-pin terpaku, tanpa menunggu jawaban Xiao Nan-pin, Yi-feng sudah berkata.

"Betul, betul!..."

Dia terus memegang tangan Xiao Nan-pin.

Wajah Xiao Nan-pin menjadi merah, hatinya bahagia, dia tidak melepaskan pegangan tangannya dari Yi-feng.

Dia melihat orang-orang di sekeliling sana, tidak ada yang memperhatikan mereka maka dengan tenang dia menikmati genggaman Yi-feng, hatinya dipenuhi dengan perasaan lembut dan manis, sepertinya dunia ini hanya ada mereka berdua.

Perasaan bahagia dirasakan oleh Xiao Nan-pin sedangkan Yi-feng tidak merasakannya sama sekali.

Sesudah Yi-feng mendengar kata 'ketua' yang dilotarkan Xiao Nan-pin, muncul pikiran aneh di otaknya.

Keanehan ini membuatnya merasa terkejut, tapi dia terus berpikir menurut pikiran anehnya ini.

Karena pikiran aneh ini sangat masuk akal.

"Begitu orang-orang melihatku mereka segera pergi, apakah karena aku...mirip dengan ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu dan Xiao-wu tidak lain adalah adik ketiga Chang-bai-jian Pai, Fei-hong-qi-jian. Pantas begitu Duo-shou-zheng-ren melihatku, dia segera pergi dari sini, mengira kalau ketua mereka datang kemari. Ketua mereka datang ke sini, berarti ada perubahan rencana semula. Duo-shou-zheng-ren memang galak dan jahat, tapi dia masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao, dia tidak berani membantah perintah ketuanya. Walaupun ini terasa aneh, tapi dengan terpaksa dia harus meninggalkan tempat ini."

"Sedangkan Qian-yi yang baru berkelana di dunia persilatan begitu mengetahui kalau ketua Tian-zheng-jiao adalah satu perguruan dengannya dan begitu mendengar Duo-shou-zheng-ren masuk menjadi anggota Tian-zheng-jiao, maka dia pun keluar untuk membantu Duo-shou-zhengren. Akhirnya setelah dia melihatku, dia mengira kalau Xiao-wu telah kemari. Setelah mendengar kata-kataku, dia pun segera pergi karena dia mengira dia tidak perlu ikut campur dalam masalah ini."

"Mungkin juga mereka sebenarnya berencana bertemu di sini bukan secara kebetulan Qian-yi bisa datang kemari."

Banyak masalah kecil yang tidak lagi dipikirkan Yi-feng karena dia telah mendapatkan jawaban dan jawaban inilah yang paling masuk akal.

Semenjak Tian-zheng-jiao didirikan, ketua Tian-zheng-jiao menjadi sangat terkenal di dunia persilatan tapi tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajah Xiao-wu, ketua Tian-zheng-jiao ini, mereka hanya tahu kalau markas pusat Tian-zheng-jiao berada di Jiang-nan, tepatnya berada di mana tidak ada seorang pun yang tahu.

Yi-feng sedang berpikir, wajahnya yang sekarang ini sangat ditakuti oleh Duo-shou-zheng-ren, tapi banyak pendekar tidak mengenalinya, berarti kecuali ketua-ketua baju emas Tian-zheng-jiao, tidak ada seorang pun yang melihat wajah asli Xiao-wu.

Bukankah ini sangat masuk akal?

Walaupun dia telah mempunyai titik terang, tapi hal ini tetap membuatnya kacau lagi.

Dia bimbang apakah dia harus membuka topeng kulit yang membuatnya mirip dengan orang yang sangat dibencinya?

Atau membiarkan topeng ini tetap terpasang di wajahnya, agar dia bisa menggunakan topeng ini untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan orang lain?

Dia sangat sadar kalau topeng wajah ini bisa dimanfaatkannya, tapi saat dia berkaca, dia akan melihat wajah orang yang telah merebut isterinya.

--BAB Pergi untuk kembali Tiba-tiba ada suara batuk membuat Xiao Nan-pin yang tenggelam dalam perasaan cintanya dan membuat Yi-feng yang sedang berpikir segera tersadar.

Ternyata ketua baru Zhong-nan-pai yaitu Biksu Xuan-hua telah berdiri di depan Yi-feng, lalu dengan sikap hormat berkata.

"Aku mewakili semua murid Zhong-nan-pai berterima kasih kepada Tuan!"

Dia berlutut di depan Yi-feng.

Yi-feng terkejut, ratusan pasang mata menyaksikan Xuan-hua menjadi ketua baru dan sekarang berlutut di depannya.

Karena terkejut Yi-feng ikut berlutut, tapi Xuan-hua malah memapahnya berdiri.

"Kalau Anda tidak mau menerima Bai dari kami, hati kami tidak akan merasa tenang."

Yi-feng masih terus berlutut, dia tidak ingin berdiri, entah apa yang harus dia lakukan sekarang, tiba-tiba di luar ruangan terdengar suara ribut.

Yi-feng yang masih berlutut dia tidak bisa melihat apa-apa, terdengar Xiao Nan-pin berkata.

"Hi, mengapa Fei-hong-qi-jian datang lagi?"

Yi-feng cepat memapah Xuan-hua berdiri.

"Guru, jangan berbuat seperti ini, aku jadi tersiksa karenanya!"

Dia berkata lagi.

"Sebenarnya aku yang telah ditolong oleh perkumpulan kalian!"

"Jadi bangunlah tidak usah bersikap seperti ini!"

Tadinya dia masih bingung, begitu mendengar Fei-hong-qi-jian datang, hatinya jadi kacau, dia terlihat seperti orang linglung.

Mao Wen-qi, HuaPin-qi dari 'Fei-hong-qi-jian' melihat Yi-feng sedang berlutut, mereka buruburu mendesak maju ke depan, dari jauh mereka telah membentak.

"Sobat, kemarilah, ada yang ingin ditanyakan oleh saudaraku!"

Ternyata pesilat tangguh dari Chang-bai-shan Hua Pin-qi ketika menyerang Yi-feng dengan jurus Tian-dao-qian-kun' (Membalikkan langit dan bumi) dia tahu kalau Yi-feng memang bukan murid Chang-bai-pai, jadi mereka meninggalkan tempat itu.

Kali ini mereka kembali tidak lain adalah ingin mencari orang yang wajahnya mirip dengan 'Fei-hong-qi-jian' Zhong Ying-qi.

Begitu melihat Yi-feng mereka langsung membentak.

Mereka telah lama tinggal di daerah utara, maka sifat mereka tidak sabaran.

Tapi adat istiadat di Jian-nan berbeda dengan daerah utara.

Orang-orang di Jian-nan tidak senang mereka berkata dengan tidak sopan.

Miao-fa dan Miao-tong tidak senang.

"Tuan berasal dari mana? ingin mencari siapa? Ini hanya sebuah kuil, kalau bicara Tuan harus menghaluskan suara!"

Hua Pin-qi tidak senang ditegur seperti itu, tapi karena melihat Yi-feng berlari menghampirinya dan menghalangi di depan Miao-tong, Hua Pin-qi hanya bisa diam, lalu Yi-feng memberi hormat kepada Hua Pin-qi.

"Bukankah tadi Tetua sudah pergi, mengapa sekarang kembali lagi mencariku, ada petunjuk apa?"

Biksu Miao-tong melihat orang kasar ini ternyata teman dari orang yang telah berbudi pada mereka, maka dia pun tidak banyak bersuara lagi. Hua Pin-qi tertawa dingin, dia membentak.

"Yang aku cari adalah nyawamu!"

Yi-feng masih termangu, tapi dari langit tampak sesuatu yang berkilauan, ternyata diiringi suara bentakannya, Hua Pin-qi telah mencabut pedangnya.

Masih dengan jurus Tian-dao-qian-kun' dia menyerang Yi-feng.

Yang pasti seperti tadi pagi, cahaya memenuhi langit, cahaya itu berubah menjadi cahaya hijau, mengejar Yi-feng kemana pun dia menghindar, tapi yang berbeda sekarang adalah sewaktu Hua Pin-qi memegang pedang dan menusukkannya pada Yi-feng, tiba-tiba di sisinya ada cahaya pedang lainnya yang datang.

Berniat menusuk nadi yang berada di ketiaknya.

Nadi yang terdapat di sana adalah nadi terpenting dalam tubuh manusia, jurus ganas ini dilancarkan menyerang pada Hua Pin-qi.

Hua Pin-qi tertawa dingin, dia menggeser kakinya, dia menghindar sejauh 3 meter.

Dia tidak peduli dengan pedang yang menyerangnya, ternyata pedang itu diarahkan oleh Mei-hua-jian, Du Chang-qin.

Dia malah tertawa dan berkata kepada Mao Wen-qi.

"Adik kedua, apa yang kau katakan tadi ternyata benar!"

Dia menolehkan kepalanya melihat Yi-feng.

"Adik ketiga, kau tidak perlu membohongi kami lagi, kesulitan apa pun yang kau alami, katakanlah kepada kami, apakah karena kita telah lama tidak berkumpul maka kau tidak mempunyai sedikit pun perasaan kepada kami?"

Yi-feng terpaku, dia mengerti sekarang, setelah Fei-hong-qi-jian memastikan kalau dia bukan adik seperguruan mereka, mereka mengalah dan pergi, tapi mengapa sekarang mereka kembali dan mengatakan tentang semua ini?

Dia tidak tahu setelah Hua Pin-qi dan yang lainnya pergi dari tempat itu sambil menunggang kuda, MaoWen-qi mengomel.

"Kakak tertua, kau benar-benar terlalu jujur! Kalau adik ketiga tidak mau mengenali kita lagi, dia bisa saja berpura-pura tidak mengerti jurus 'Tian-dao-qian-kun', karena dia tahu kalau Kakak pasti tidak akan melukainya!"

Maka keempat Fei-hong-qi-jian ini kembali mencari Yi-feng.

Hua Pin-qi sekali lagi dengan jurus 'Tian-dao-qian-kun' menyerang Yi-feng.

Sekarang hati Yi-feng berada dalam keadaan tenang.

Beberapa jam lalu dia berhasil menghindari jurus ini walaupun dengan sulit.

Sekarang walaupun dia tidak bisa menghindari jurus ini, dia akan mencoba menghindar dengan cara sama seperti yang dilakukannya beberapa jam lalu.

Orang terbodoh pun akan menghindar dengan cara demikian juga.

Maka Hua Pin-qi memutuskan kalau Yi-feng memang sengaja berbuat demikian.

Kalau tidak mengapa mereka memutuskan secara sepihak kalau dia adalah adik ketiga mereka yang telah menghilang?

Para pendekar yang masih berkumpul di ruang itu tampak termangu mendengar perkataan Hua Pin-qi.

Mei-hua-jian Du Chang-qin dan murid-murid Zhong-nan-pai merasa aneh mendengar Hua Pin-qi memanggil Yi-feng dengan sebutan 'adik ketiga', Yi-feng pun seperti mengakuinya, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Karena mereka sendiri tidak tahu identitas asli Yi-feng, maka mereka pun seperti bingung menghadapi situasi seperti ini.

Yang pasti ratusan pasang mata terus melihat Yi-feng.

Hingga Xiao Nan-pin pun bingung dengan keadaan yang terjadi.

Yi-feng sendiri sadar kalau hal ini tidak mungkin dijelaskan dengan satu atau dua patah kata, maka dia pun segera mengambil keputusan, tapi Hua Pin-qi telah berkata.

"Adik ketiga, hal yang terjadi antara kita dulu, tidak perlu dibicarakan di depan banyak orang, lebih baik kau ikut denganku turun gunung! Hhhh..."

Dia menghela nafas lagi.

"Karena masalah kecil untuk apa kau harus sampai berbuat seperti itu?"

Xiao Nan-pin sudah tidak tahan lagi.

"Hei marga Hua, mengapa kau begitu cerewet? Aku akan memberitahumu...."

Tapi Yi-feng telah menarik lengan bajunya, melarangnya meneruskan perkataannya, dengan berbisik dia berkata.

"Aku akan ikut 'Fei-hong-qi-jian', tunggulah aku di rumah Kakak Yao Qing-yu!"

Tanpa menunggu sahutan Xiao Nan-pin, dia memberi hormat kepada murid-murid Zhong-nanpai yang masih terkejut.

"Aku masih ada keperluan, aku pamit dulu, kalau kita berjodoh, kita akan bertemu di lain kesempatan!"

Biksu Miao-fa tidak mengerti asal usul kejadian ini, maka dia hanya merangkapkan kedua tangannya.

"Tuan seperti prajurit langit, datang dengan terburu-buru pergi pun terburu-buru. Walaupun aku menginginkan Tuan tinggal lebih lama di sini, tapi karena Tuan mempunyai keperluan mendesak, aku tidak berani menahan kepergian Tuan. Kita hanya bertemu sebentar, tapi kebaikan Tuan telah membuat murid Zhong-nan-pai selamanya akan mengenang kebaikan Tuan!"

Wajah Hua Pin-qi terlihat senang, dia menganggap 'adik ketiga' nya ini telah menemukan jalan untuk kembali.

Dia tidak tahu kalau Yi-feng ingin menggali informasi dari mulut 'Fei-hong-qi-jian' tentang Xiao-wu.

Karena sampai saat ini, yang dia ketahui selain wajah mereka yang sama, yang lainnya dia tidak tahu.

Yang paling menyedihkan adalah Xiao Nan-pin, yang ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.

Sebenarnya dia adalah seorang gadis pintar, tapi karena cinta membuatnya menjadi seorang gadis bodoh!

Cinta pertama memang selalu seperti itu!

Sebagian pendekar di sana pernah menyaksikan peristiwa sebelumnya, sedangkan sebagian lagi tidak tahu menahu.

Sore telah tiba, langit barat hanya tersisa sedikit awan merah, cahaya ini menyinari pepohonan, menambah keindahan alam Zhong-nan-shan.

Yi-feng mengikuti 'Fei-hong-qi-jian' turun gunung, mereka masing-masing mempunyai beban pikiran.

Karena itu sepanjang jalan mereka berjalan tanpa suara.

Hanya sekali-kali Hua Pin-qi menghela nafas panjang memecahkan kesunyian sementara.

Hari mulai gelap, karena mereka adalah orang-orang persilatan, maka mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Jalan di gunung sepi, hanya terlihat beberapa bayangan orang yang lewat di sana.

Setelah tiba di kaki gunung, tiga ekor kuda yang ditunggangi Fei-hong-qi-jian masih terikat erat di bawah pohon.

Hua Pin-qi melihat Yi-feng dan berkata.

"Adik ketiga, kita naik satu kuda."

Dia menghela nafas dan berkata lagi.

"Apakah kau masih ingat, 20 tahun lalu waktu itu aku menggendongmu naik kuda! Hhhh! Sekarang kau telah tumbuh dewasa, sedangkan aku... sudah tua!"

Tarikan nafasnya terus terdengar.

Yi-feng merasa kasihan melihat pak tua itu, dalam hati perasaan bencinya kepada Xiao-wu semakin bertambah.

Xiao-wu pasti sesosok manusia yang tidak berperasaan, kalau tidak, tidak mungkin terjadi hal seperti ini!

Sewaktu dia sedang berpikir, tiba-tiba ada yang memanggil dari arah gunung, dan suara itu sangat tajam, setelah mendengar dengan jelas Yi-feng segera tahu kalau Xiao Nan-pin yang memanggilnya.

Suara panggilannya begitu keras, membuatnya merasa bersalah, pelan-pelan dia menolehkan kepalanya.

Benar saja, dari arah gunung sebelah sana, tampak seseorang sedang berlari ke arah mereka.

Lalu berdiri di sisinya.

Nafasnya terengah-engah, dahinya bermandikan keringat.

"Kakak Nan! Aku... aku akan pergi bersamamu!"

Sorot mata Xiao Nan-pin tampak lembut, seperti mengharapkan belas kasihan dari Yi-feng.

Angin malam berhembus, meniup langit yang telah gelap.

Tapi Yi-feng masih bisa melihat kedua pipi Xiao Nan-pin yang memerah, rambut-nya berantakan, walaupun mengenakan baju lakilaki dia tetap terlihat cantik.

Gadis terburuk pun pada saat sedang jatuh cinta akan terlihat cantik, apalagi Xiao Nan-pin yang kecantikannya seperti sekuntum bunga.

Sebenarnya Yi-feng pun menaruh perasaan kepada Xiao Nan-pin, tapi perasaan ini bila dibandingkan dengan perasaan Xiao Nan-pin Kepadanya sangat berbeda jauh.

Dia menyuruh Xiao Nan-pin menunggunya di rumah Yao Qing-yu, sebenarnya apakah dia akan pergi ke sana atau tidak, dia sendiri masih belum jelas, dia tidak tahu apakah dia akan pergi ke rumah Yao Qing-yu untuk mencari gadis yang setia menunggunya?

Maka dalam hati dia merasa sedikit bersalah, dia tidak berani menjawab permintaan Xiao Nanpin.

Hua Pin-qi mengerutkan alisnya, dia terus mendesak supaya Yi-feng segera pergi dari sana.

Xiao Nan-pin tahu kalau perasaannya telah lama dipendam, sekarang dia telah menemukan pelabuhan hatinya, tapi pelabuhan hatinya ini tidak jelas, tidak jelas seperti awan di langit.

Lama...

Yi-feng masih belum memberikan jawaban.

Gengsinya sebagai seorang gadis telah mencabik hatinya.

Perasaan ini lebih sakit dibandingkan ditusuk belati.

Dia mulai merasa darahnya terus naik hingga ke ubun-ubun.

Matanya buram tidak bisa melihat dengan jelas, sosok Yi-feng pun hampir tidakjelas.

Yi-feng melihat gadis ini sedang bersedih, dia terharu dengan cinta tulus gadis ini.

Saat itu hampir saja Yi-feng meletakkan semua masalah dan pergi bersama gadis ini.

Biar mereka berdua pergi ke tempat jauh dan tidak ada yang bisa mencari mereka.

Karena Yi-feng merasakan kalau perasaan gadis ini kepadanya begitu tulus, berat, begitu berat hingga membuat hatinya tertindih dan tidak ada celah untuk ditempati hal lainnya.

Sewaktu dia akan mengatakan sesuatu, Xiao Nan-pin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian dia berlari dari sana dengan kencang.

Angin malam meniup baju pelajar besar yang dikenakannya, menjadikannya terlihat seperti seekor kupu-kupu yang sedang terbang.

Membuat irama hati Yi-feng mengalun sedih!

Akhirnya sosok Xiao Nan-pin yang mungil lenyap ditelan kegelapan malam.

Tapi Yi-feng masih berdiri seperti sebuah patung, terpaku tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, apakah dia menyalahkan dirinya sendiri?

Ataukah merasa kasihan kepada dirinya sendiri?

Yang dirasakannya saat ini adalah langit dan bumi begitu hening.

Manusia terkadang selalu menjadi makhluk terbodoh, sering kali melepaskan sesuatu yang berharga.

Perasaan menjaga benda berharga ini tidak merasa penting, karena saat dia menikmatinya dia tidak sadar betapa berharganya benda ini.

Setelah dia merasakan kalau benda ini sangat berguna, dan sangat ingin dijaganya, hal ini sudah terlambat.

Karena benda ini telah jauh darinya dan sulit untuk menggapainya lagi.

Tiba-tiba Yi-feng merasa ada yang menepuk bahunya, dia menoleh untuk melihat, ternyata orang yang menepuknya adalah Hua Pin-qi yang sedang menatap dengan pandangan aneh.

"Adik ketiga, ayo kita berangkat sekarang, aku harap malam ini kita bisa tiba di kota Chang An. Aku memiliki banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu."

Dengan sedih Yi-feng naik ke atas kuda, tapi hatinya seperti telah bertumpuk menjadi satu.

Sekarang dia tidak bisa membedakan perasaan apa yang sedang melandanya.

Kuda terus berlari dijalan pegunungan yang berliku-liku, malam semakin larut.

Yi-feng duduk di belakang, dia terus berusaha melihat ke arah depan.

Dia merasa ranting pohon yang telah layu akan memukuli kepalanya.

dia rela dipukul biar otaknya yang sedang bingung saat dipukul bisa tenang untuk sementara.

Tapi ranting-ranting itu hanya melewatinya, jangankan kepala bajunya pun tidak sampai terkena ranting pohon.

Dari sini dia mengerti satu hal, yaitu di dunia ini banyak hal terjadi, dan satu hal telah menimpanya, tapi akhirnya hanya lewat begitu saja.

Kita tidak akan bisa menebaknya, manusia mana mungkin tahu apa yang akan terjadi padanya?

Dia tidak tahu apakah semua yang dia pikirkan ini masuk ke dalam logikanya?

Tapi walau bagaimana pun juga, dia bisa tersenyum.

Di depan terlihat banyak cahaya lampu.

Apakah mereka akan segera tiba di kota Chang-an?

--BAB 42 Jurus Man-tian-hua-yu Xiao Nan-pin gadis yang sedang dimabuk cinta, perasaannya seperti terjatuh dalam kabut tebal.

Dia merasa sangat sedih, karena dia melihat orang yang dicintainya dengan perasaan yang dalam ternyata tidak mencintainya, tidak seperti dia yang begitu dalam mencintai laki-laki itu.

Dia tidak menyesali perasaan yang dia keluarkan...karena ini adalah cinta pertamanya...

dia hanya merasa sedih karena Yi-feng ternyata tidak menaruh perhatian besar padanya.

Setelah dia berlari seperti orang gila, dia merasa ingin muntah.

Dia telah berlari melebihi batas kemampuan ilmu silat yang dimilikinya.

Dia ingin melupakan rasa sakit hatinya.

Dia mulai merasa kecewa.

Tersiksanya hati karena batinnya merasa, perasaannya tidak berkurang malah semakin sakit.

Terpaksa dia melambatkan langkahnya, dengan bingung dia berjalan di tempat terpencil ini.

Dia seperti telah kehilangan jati diri juga kehilangan arah untuk berjalan.

"Sekarang kemana aku harus pergi?"

Dia melihat ke sekeliling, di sana hanya ada kegelapan.

Kesepian terasa di sekeliling tempat itu, bagi orang yang sedang bersedih, hal ini malah menambah kesedihannya.

Dia bukan seorang perempuan lemah, dia juga tidak bisa mengemis dan tidak akan mau mengemis cinta kepada orang lain.

Dia pernah menyiksa hati banyak lelaki yang mencintainya, sekarang sewaktu dia sedang jatuh cinta kepada laki-laki itu, perasaannya pun menjadi tersiksa karena laki-laki ini.

Dia tidak membenci Yi-feng, dia hanya merasa sedih karena dia sendiri yang mencari masalah ini.

Di dalam kesedihan ada rasa penyesalan, menyesali mengapa dulu dia tega menyakiti banyak lelaki yang mencintainya?

Malam hening.

Dalam susana malam yang hening, dia mendengar ada yang sedang bicara, mereka sepertinya sedang berdebat mengenai suatu masalah, karena itu Xiao Nan-pin berhenti melangkah.

Suara mereka semakin keras, sumber suaranya berasal dari hutan itu...

"Ketua bagian Xie, bukan karena aku tidak mempercayaimu, tapi ketua telah pergi ke Yun-nan, sewaktu beliau pergi, beliau berkata kalau 'pencuri selatan dan perampok utara' belum mati. Mereka juga tidak bersembunyi, sekarang mereka berada di Yun-nan tengah, tepatnya di Wuliangshan. Mereka sedang memperebutkan sebuah benda langka. Kali ini kepergian ketua ke sana tidak lain adalah mencari tahu tentang masalah ini."

Lalu yang satu lagi berkata.

"Apa maksudmu, ketua bagian Wei? Aku sebenarnya ingin menjadi ketua Zhong-nan-pai! Apakah karena itu aku membuat gosip untuk membohongimu? Ketua ternyata muncul di kuil Xuan-guan. Ketua bagian Hu pun melihat dengan mata kepalanya sendiri, bukan hanya aku sendiri yang melihatnya,"

Jelas Xie-yuxian (Miao-yu).

Kata-kata ini satu-satu masuk ke telinga Xiao Nan-pin.

Saat itu hatinya sedang bingung tapi ketika mendengar perkataan mereka, dia sempat kaget.

Karena dia tahu yang sedang bicara adalah Xie-yu-xian atau Duo-shou-zhen-ren, yang satu lagi pasti ketua bagian Tian Zhen Jiao.

Yang membuatnya terkejut bukan karena itu, melainkan setelah wajah Yi-feng diubah dengan tangan terampilnya, ternyata wajah Yi-feng dengan wajah ketua Tian-zheng-jiao Xiao-wu begitu mirip.

Padahal semua ini hanya kebetulan, dia sendiri pun tidak percaya dengan kata-kata mereka, tapi setelah memastikannya bahwa semua itu benar, dia menjadi bingung.

Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.

Kedua orang yang ada di dalam hutan itu tidak bersuara, mungkin karena obrolan mereka tidak menyambung.

Kedua alis Xiao Nan-pin tampak mengerut, dia berniat secepatnya meninggalkan tempat ini, supaya tidak perlu berhubungan dengan masalah ini.

Baru saja dia bergerak, dari dalam hutan ada yang membentak.

"Siapa!"

Kedua bayangan menyebar mengikuti suara bentakan tersebut, mereka keluar dengan cepat.

Karena tadi Xiao Nan-pin telah berlari dengan kencang, tenaganya terkuras dan sekarang belum pulih, tapi dari sudut mata dia melihat kedua orang itu bergerak sangat ringan juga cepat.

Ilmu meringankan tubuh mereka bisa dikatakan termasuk kategori pesilat tangguh.

Xiao Nan-pin berpikir, 'Aku tidak punya dendam dengan Tian-zheng-jiao, jadi aku tidak perlu melarikan diri untuk menghindari masalah.' maka dia pun berhenti melangkah.

Di belakangnya terdengar bentakan lagi.

"Siapa? Kalau masih ingin berniat lari, aku Xie Yu-zhen, akan menghajarmu!"

Xiao Nan-pin tertawa dingin.

Xiao-xiang-feng-zi sangat terkenal dengan kesombongannya, apalagi sekarang.

Sambil membentak dia terlihat sudah naik pitam.

Kedua tangannya sedikit dibuka, dia memutar pinggangnya di udara, memaksa tubuhnya berubah arah.

Sewaktu dia mengubah arah laju tubuhnya, angin kencang datang menyerangnya.

Dalam kegelapan angin ini terasa kencang juga cepat serta berwarna hitam.

Posisi datangnya senjata rahasia sangat tepat, dua senjata rahasia menyerang ke dada, sedangkan yang satu lagi menyerang wajahnya masih ada dua senjata yang dilepaskan ke kedua sisinya.

Xiao Nan-pin meloncat ke atas dan berlari ke sisi, dia berhasil menghindari senjata rahasia dan senjata rahasia lewat di bawahnya.

Cara orang ini melepaskan senjata rahasia sangat hebat.

Senjatanya berwarna hitam, artinya senjata itu telah dibubuhi racun.

Orang yang melepaskan senjata rahasia sebelumnya berkata.

"Serang!"

Sebelum tahu apakah orang yang ada di depannya itu adalah kawan atau lawan, tanpa peduli dia menggunakan cara kejam, aturan dunia persilatan tidak dihiraukannya.

Tapi jika membicarakan mengenai senjata rahasia, dulu 'Xiao San-ye"

Boleh dikatakan yang terhebat.

Xiao Nan-pin adalah putrinya, otomatis dia sangat menguasai ilmu ini dan juga sudah lama terkenal di dunia persilatan.

Sekarang dia baru pulih, tapi dari arah angin yang datang, dia bisa membedakan dari mana datangnya senjata rahasia, maka dia segera bersalto ke belakang.

Setelah senjata rahasia itu melewatinya, dia melambaikan tangan dan memukul 3 senjata rahasia berwarna hitam itu ke bawah.

Dua buah senjata rahasia lainnya memang bukan diarahkan ke tubuhnya, dia tidak bergerak, maka dengan sendirinya senjata itu langsung terjatuh.

Orang yang melemparkan senjata kearah-nya pasti Du-shou-zhen-ren, Xie-yu-xian.

Dia tertawa dingin dan membentak.

"Sobat, kau sungguh hebat, terimalah lagi!"

Kedua tangannya melayang, puluhan cahaya hitam keluar dari telapak tangannya.

Senjata rahasia yang dipakai Xie-yu-xian adalah 'Wu-ling-she-gu-zhen' yang selama ini ditakuti di dunia persilatan.

(Lima kerucut segi lima dari tulang ular) Senjata rahasia ini terbuat dari tulang ular beracun yang direndam dalam racun ganas, tergores sedikit saja, orang akan segera mati.

Tidak perlu membutuhkan waktu satu jam dia akan kehilangan nyawanya.

Cara yang dia gunakan adalah kedua tangan secara bersamaan seperti sedang menabur bunga.

Cara ini sangat aneh dan tidak lazim di dunia persilatan, jika tidak, mengapa Xie-yu-xian disebutsebut sebagai Duo-shou-zhen-ren (Manu-sia bertangan banyak sekali)?

Tapi dia tidak menyangka sama sekali orang yang dia hadapi sekarang adalah seorang ahli dibidang senjata rahasia.

Setelah mengatur nafas untuk menenangkan diri, tangan Xiao Nan-pin bersiap-siap mengepal senj ata' Wu -mang-zhu'.

'Wu-mang-zhu' termasuk senjata rahasia umum yang sering digunakan.

Tapi meski senjata rahasia biasa bila berada di tangan seorang ahli senjata rahasia, tenaga yang dihasilkan akan sangat dasyat.

Sekarang Xiao Nan-pin melayangkan telapak tangannya, 7 cahaya membawa suara tidak terlalu keras, menyambut cahaya hitam yang datang dari Xie-yu-xian, Xiao Nan-pin serentak maju 6 meter.

Terdengar suara TING, TANG beberapa kali, cahaya hitam yang ditembakkan oleh Duo-shouzhen-ren terjatuh setengahnya, sedangkan ke tujuh cahaya ini masih terus melaju ke arah Xie-yuxian.

Suaranya sangat kencang kelihatannya tenaga yang keluar dari 'Wu-mang-zhu' sangat dasyat!

Alis Xie-yu-xian mengerut, tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan berusaha menghindari senjata rahasia itu, dia sempat menangkap sebutir 'Wu-mang-zhu'.

Setelah dilihat, dia segera membentak.

"Sahabat, berhenti dulu, coba jelaskan apa hubunganmu dengan 'Xiao San-ye'? Aku akan mengampuni-mu kalau kau menjawab."

Xiao Nan-pin tertawa dingin, dia tahu Xie-yu-xian mengenali senjata rahasia yang telah menggegerkan dunia persilatan yaitu senjata rahasia ayahnya.

Kedua alisnya yang panjang naik sebelah, dengan nada dingin membentak.

"Siapa yang butuh pengampunanmu?"

Kedua tangan melayang, dia mengeluarkan ilmu senjata rahasia andalannya yaitu 'Man-tian-hua-yu' (Langit penuh hujan bunga).

Diiringi suara bentakan, terlihat puluhan cahaya dilepaskan lagi ke arah Duo-shou-zhen-ren.

Ketika puluhan 'Wu-mang-zhu' hampir berada di depan Xie-yu-xian, terlihat seperti ada sesuatu yang menahannya kemudian terdengar suara kecil.

Kemudian seperti ada dinding emas menggulung senjata rahasia Xiao Nan-pin, puluhan butir 'Wu-mang-zhu' menghilang dari depan Xie-yu-xian.

Xiao Nan-pin merasa terkejut, dia melihat di sisi Xie-yu-xian ternyata ada seseorang mengenakan baju berwarna emas.

Perawakannya gemuk, terlihat tangannya memegang sesuatu, dia melihat benda yang dipegangnya adalah benda penakluk senjata rahasia.

'Qi-hai-yu-zi' Wei-ao-wu.

Orang yang berkelana di dunia persilatan sangat segan bertemu dengan Qi-hai-yu-zi, Wei-ao-wu karena senjata yang digunakan orang ini sangat aneh.

Senjatanya berbentuk jala penangkap ikan.

Jala ini bukan jala biasa, bahannya terbuat dari emas aneh dicampur dengan emas hitam.

Dia bisa menaklukan senjata rahasia dari perkumpulan mana pun dan jurus yang digunakan sangat aneh.

Maka senjatanya ini sangat terkenal di dunia persilatan.

Di dunia persilatan yang memakai senjata jenis ini hanya Qi-hai-yu-zi Wei-ao-wu.

Orang yang biasa memakai senjata rahasia akan mengenali orang ini, begitu melihat jala emas dan melihat caranya menaklukkan senjata rahasia, mereka akan segera tahu siapa yang mereka hadapi.

Xiao Nan-pin sadar kalau laki-laki pendek dan gendut yang memakai baju emas adalah orang yang menggegerkan dunia persilatan...Qi-hai-yu-zi, Wei-ao-wu.

Xiao Nan-pin merasa terkejut dan aneh.

"Biasanya Wei-ao-wu kemana-mana selalu sendiri, mengapa sekarang dia bisa masuk Tianzheng-jiao?" --BAB 43 Qi-hai-yu-zi Tangan kanan Qi-hai-yu-zi (Nelayan 7 samudra) bergerak, dia mengeluarkan 'Wu-mang-zhu' dari jalanya kemudian tertawa keras.

"Sahabat dari aliran hitam atau aliran putih? Apakah sahabat adalah murid 'Xiao San-ye'? Mengapa tidak mau menyebutkan nama? Malam begitu larut dan Anda mencuri dengar pembicaraanku dengan Xie-yu-xian, karena apa semua ini? Untuk apa Anda kemari? Tolong beritahu padaku, walaupun aku bukan orang terkenal tapi kau harus mengatakannya. Kalau sahabat tidak mau berterus terang, jangan salahkan kalau aku I >ertindak tidak sopan!"

Wei-ao-wu masih tertawa tapi setiap perkataaanya mengandung makna tertentu. Dalam hati Xiao Nan-pin memang takut tapi mulutnya tidak mau kalah, dia tertawa dingin.

"Jalan ini boleh dilewati semua orang, apakah jalan ini telah kau beli? Jika belum dibeli, mengapa aku tidak boleh jalan di sini?"

Dia tertawa dingin lalu menyambung lagi.

"Aku tidak berniat mencuri dengar pembicaraan kalian, apa yang disebut memberikan pengampunan, aku tidak mengerti!"

Sambil bicara, sebenarnya dia semakin takut karena dari kejauhan datang lagi 2 orang, sedangkan dia hanya sendiri, 'Dua orang ini saja sudah sulit dihadapi sekarang ditambah lagi dengan 2 orang, aku berada di pihak yang dirugikan, aku harus pandai berkelit.' Sejak kecil sifatnya memang sombong.

Saat berkelana orang-orang selalu takut dengan ilmu silatnya, karena wajah cantiknya ditambah dengan nama besar ayahnya Xiao San-ye, maka orang selalu mengalah kepadanya.

Dan sifat angkuhnya semakin menjadi-jadi.

Sekarang posisinya sedang lemah, tapi dia masih bicara keras dan tidak berniat tunduk sedikit pun.

Duo-shen-zhen-ren dan Qi-hai-yu-zi Wei-ao-wu tertawa dingin yang seram.

Xie-yu-xian berkata.

"Kalau begitu silakan Tuan tinggalkan sepasang telinga yang tadi digunakan untuk mendengar pembicaraan kami, kalau tidak...."

Dia tertawa dingin lagi.

Orang yang datang belakangan berlari ke belakang Wei-ao-wu.

Dari kegelapan dia melihat Xiao Nan-pin, kemudian terlihat dia berbisik kepada Wei-ao-wu.

Xiao Nan-pin sudah bersiap-siap.

Orang yang baru datang kemari adalah 2 orang laki-laki muda, mungkin mereka adalah orang Tian-zheng-jiao yang berpura-pura menjadi biksu ketika Xiao Nan-pin bertemu dengan mereka di Zhong-nan-shan.

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 18

Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger