Terbang Harum Pedang Hujan 2

Eps 2 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

Ternyata Yi-feng tadi belum tertidur pulas, sejak tadi semua perkataan orang-orang di sana didengarnya dengan jelas.

Dalam hatinya tiba-tiba muncul suatu pengharapan, membuatnya mengeluarkan suara untuk menyampaikan pendapatnya.

Sewaktu dia mendengar cerita ini, dia tidak melihat wajah orang yang bicara adalah dewa pedang yang terhormat, dan semenjak 10 tahun lalu telah terkenal di dunia persilatan, dengan suara lemah dia pun berkata.

"Tadi aku mendengar cerita Tetua, aku pun benar-benar merasa sedih, dan hal ini sangat tidak berperikemanusiaan, tapi tetua itu mengatakan, di dunia ini tidak ada orang yang nasibnya lebih tragis darinya', aku tidak berpendapat seperti itu."

Kata-katanya baru keluar, semua orang di sana terkejut mendengarnya, Tuan Jian mengangkat kepalanya untuk melihat Yi-feng. Yi-feng berkata lagi.

"Kesedihan itu ada berbagai macam, ada yang merasa sedih sangat dalam ada yang tidak, tapi dua jenis kesedihan ini tidak sama. Aku kira aku sendiri pun tidak bisa membandingkannya, apalagi kalau bukan kita sendiri yang mengalami kesedihan itu, siapa pun tidak akan bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh masing-masing orang."

"Tetua terhormat itu hidupnya memang sangat tersiksa dan juga menyedihkan, tapi kalau mengatakan tidak ada yang hidupnya lebih tersiksa darinya, aku kira itu belum tentu."

"Tetua itu berkelana sekian lama untuk mencari orang yang nasibnya sama seperti dirinya, dan beliau melihat tidak ada yang hidupnya lebih menyedihkan darinya, karena tetua itu sendiri tidak pernah mencoba merasakan kesedihan orang lain, mana mungkin beliau bisa merasakan kesedihan orang lain bukan?"

Suara Yi-feng terdengar lemah, tapi setiap perkataannya mengandung makna yang dalam.

Sanxin-shen-jun mengangguk, Sun-ming mendengar perkataan Yi-feng dengan teliti.

Apalagi dengan Tuan Jian, dia hanya diam sambil terus mendengarkan.

Sejak dulu belum pernah ada orang yang mengatakan tentang hal seperti ini juga tidak ada orang yang membahas tentang kesedihan dengan begitu mendalam.

Yi-feng melanjutkan kembali.

"Misalkan ada seseorang, dia mempunyai istri dan anak yang hidup terpisah darinya, mereka dihina oleh orangorang jahat, mungkin di depan orang itu, orang-orang jahat ini menghina dan memperkosa istrinya. Disebut kesedihan apakah ini? Dia tidak bernasib seperti tetua terhormat itu, beliau mempunyai ilmu silat tinggi, dan orang ini hanya bisa menyimpan kesedihannya di dalam hati, apakah nasibnya lebih mujur dari tetua ini?"

Tuan Jian mendengarkan semua perkataan Yi-feng dan mencoba menganalisa-nya.

Dari sorot matanya memancar cahaya yang membuat siapa pun tidak mengerti maksudnya, seperti setuju juga seperti ingin membantah.

Yi-feng berkata kembali.

"Seperti aku, istriku digaet oleh ketua Tian-zheng-jiao, istriku mengkhianatiku dan pergi dengan laki-laki itu, keluargaku yang hangat dihancurkan oleh Tian-zheng-jiao. Aku merasa sangat sedih, tapi bagaimana aku bisa melawan kekuatan Tian-zheng-jiao yang begitu hebat di dunia persilatan?"

Alis San-xin-shen-jun tampak berkerut, Yi-feng bercerita lagi.

"Masih ada lagi, ketua Tian-zheng-jiao harus melihatku mati dia baru akan berhenti mengejarku, untuk menghindari pengejaran Tian-zheng-jiao dengan terpaksa aku harus berpurapura mati, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi sekarang. Sampai keinginan untuk membalas dendam pun sudah tidak ada harapan lagi. Menurut Tetua, jenis kesedihan seperti apakah yang aku alami ini?"

Suaranya yang lemah sarat dengan kesedihan dan juga mengandung kemarahan. Tidak disangka oleh Sun-ming, pemuda ini pun ternyata mengalami kesedihan yang begitu dalam. Miao-ling mendekat dan bertanya.

"Apakah Tuan adalah 'Tie-ji-wen-hou' Pendekar Lu?"

Dengan suara lemah Yi-feng menjawab.

"Benar, aku adalah Lu Nan-ren, tapi Lu Nan-ren sudah mati...kecuali kalau dia bisa membalas dendam dan membersihkan nama baik akibat istrinya telah direbut oleh laki-laki lain."

San-xin-shen-jun mulai marah.

"Apa Tian-zheng-jiao? Mengapa mereka berani menghina orang lain?"

Sun-ming tiba-tiba memikirkan sesuatu dan berkata. Tian-zheng-jiao dan Tian-du-jiao, apakah kedua perkumpulan ini ada hubungannya?"

Sejak tadi Tuan Jian hanya menundukkan kepalanya sedang berpikir, sekarang tiba-tiba saja dia berdiri.

Dia memutari kamar itu dua kali, seperti sedang memutuskan sebuah hal penting.

Di luar jendela terdengar suara hujan menerpa jendela, sepertinya Tuhan juga telah mendengar hal yang begitu menyedihkan, dan sekarang Dia meneteskan air matanya.

Biksu Miao-ling melihat ke arah jendela dan berkata.

"Malam ini akan ada beberapa orang yang meninggal lagi."

Tuan Jian tiba-tiba memutar tubuhnya dan berjalan ke depan Yi-feng, dengan serius dia berkata.

"Sekarang dengan tenaga dalamku aku akan membantumu melancarkan dua nadi hidup matimu, tapi kalau aku sudah mengeluarkan tenaga dalam sulit untuk menghentikannya, kalau tidak berhati-hati mungkin bisa melukai organ dalammu, bahkan mungkin juga kau bisa mati. Tapi kalau kedua nadi itu berhasil dilancarkan alirannya, lukamu akan segera sembuh, ilmu silatmu akan bertambah beberapa kali lipat, kau bisa membalas dendam kepada musuhmu. Apakah kau siap dengan taruhan nyawa demi mendapatkan semua ini?"

Yi-feng tertawa dengan sedih.

"Aku adalah orang yang sudah mati, aku sudah tidak peduli dengan keselamatan nyawaku, jangankan hal ini mengandung resiko berhasil atau gagal, asalkan aku bisa membalas dendam, apa pun akan kulakukan. Tetua tidak perlu bertanya lagi, Anda boleh mencobanya, kalau berhasil aku akan membalas budi Tetua yang begitu dalam kepadaku, kalau gagal aku akan mati dengan tenang, aku tidak akan menyalahkan Tetua."

Tuan Jian menarik nafas panjang.

"Kelihatannya di dunia ini masih banyak orang demi membalas dendam sudah tidak peduli lagi pada hidup dan matinya."

Dia membalikkan badan dan berkata pada Biksu Miao-ling.

"Tempat penyimpanan obat penawarnya ada di Gunung Wu-liang, kalau nadi orang ini telah dilancarkan, dia akan sembuh, besok dia bisa pergi ke Wu-liang-shan. Tapi dalam waktu 3-5 hari belum tentu bisa dengan cepat kembali. Apakah tempat penyimpanan obat penawarnya adalah tempat berbahaya atau tidak, aku pun tidak tahu. Dan aku pun tidak tahu apakah orang ini sanggup membantu kita mencapai tujuanmu?"

Dari kata-kata Tuan Jian, dia ingin mengatakan di mana tempat rahasia penyimpanan benda berharga itu.

Sun-ming benar-benar senang melihat pemuda itu bisa mendapatkan kesempatan langka, apalagi Yi-feng sendiri masih antara percaya dan tidak percaya kalau dia bisa mendapatkan nasib begitu baik.

Kedua matanya tampak berkaca-kaca, tapi itu bukan air mata kesedihan.

Biksu Miao-ling berlutut di depan Tuan Jian.

"Aku tidak berguna, membuat Zhong-nan-pai menjadi seperti ini, kalau Paman Guru sudah mengambil keputusan ini, aku benar-benar berterima kasih pada Paman Guru, apakah ini akan berhasil atau gagal, semua menjadi rahasia Tuhan, aku hanya...."

"Racun 'Chu-gu-sheng-shui' tidak bisa kutawarkan, tapi ilmuku yang bernama 'Hu-xin-shenfang" (resep sakti melindungi jantung) paling sedikit bisa memperpanjang nyawa mereka selama beberapa hari, kita berdoa saja berharap Tuhan akan melindungi kita, dan semuanya bisa berjalan dengan lancar."

Orang aneh seperti San-xin-shen-jun sekarang pun bisa percaya pada kehendak Tuhan. Tubuh Tuan Jian melayang, dia duduk di atas tempat tidur di dekat Yi-feng.

"Sekarang aku akan melancarkan kedua nadi hidup matinya, hanya saja cara ini terlalu berbahaya, lebih baik kalian keluar dulu dari kamar ini supaya aku bisa memusatkan pikiran dengan penuh, kalau tidak aku takut akan terjadi bencana besar."

Diam-diam Sun-ming mendekati Ling-lin, tiba-tiba mata Ling-lin terbuka, dan memanggil.

"Ibu!"

Ternyata dia sudah sadar.

Sun-ming benar-benar senang.

Diam-diam Biksu Miao-ling melambaikan tangan memberi tanda supaya mereka mengikuti ke kamar lain.

San-xin-shen-jun menutup pintu dia pun ikut pergi dari sana.

Lampu di kamar lebih diterangkan, Ling-lin di baringkan di atas tempat tidur, Sun-ming mengelus kepalanya, tapi dalam hati dia masih merasa tegang.

Dia takut kalau tenaga dalam Tuan Jian terlalu banyak dikeluarkan, Lu Nan-ren akan...

dia memejamkan matanya.

Tidak berani berpikir lebih jauh lagi.

Tapi dia pun tahu, nasib baik ini bisa dikatakan jarang bisa diperoleh siapa pun, karena orang yang mempunyai tenaga dalam 'Xian-tian-zi-qi' seperti Tuan Jian sudah jarang ada di dunia persilatan ini.

Apalagi Tuan Jian mengorbankan sebagian tenaga dalamnya untuk melancarkan dua nadi orang lain.

Menurut San-xin-shen-jun, selama hidupnya belum pernah ada yang bisa melakukan hal seperti ini.

"Anak muda seperti Lu Nan-ren benar-benar bernasib baik, jalan darah 'Du' dan 'Ren' (hok. Jin dan Tok) ku, sewaktu aku berusia 50 tahun baru bisa lancar, kali ini kalau dia beruntung dia tidak akan mati. Dan di dunia persilatan akan bertambah lagi seorang pesilat tangguh. Bisa dikatakan karena bencana malah mendapatkan rejeki."

Satu jam demi satu jam berlalu, hari semakin terang, hujan pun sudah berhenti.

Di luar hanya terdengar suara air yang menetes dari atap, kamar tertutup rapat, tidak terdengar ada suara apa pun dari dalam sana.

Yang paling merasa cemas adalah Biksu Miao-ling, karena Lu Nan-ren Yi-feng, hidup dan matinya menyangkut keselamatan nyawa ratusan murid Zhong-nan-pai.

Sun-ming dan San-xin-shen-jun pun merasa cemas, satu jam telah berlalu lagi, hari sudah terang, lampu di kamar padam karena minyak lampu telah habis.

Dari kamar Tuan Jian dan Yifeng tetap tidak terdengar ada suara.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, wajah Tuan Jian tampak berseri-seri, lalu dia pun dengan pelan berjalan keluar dari kamar itu.

--BAB 14 Terburu-buru Setelah turun dari Zhong-nan kemudian menyeberangi sungai Wu-he, melewati Han-zhong, dan tempat-tempat yang penuh dengan bahaya alam.

Kemudian tiba di Ba-zhong-fu.

Yi-feng pergi dengan terburu-buru, dari pagi sampai malam dia terus berjalan, dia ber-harap bisa tiba lebih awal di Wu-liang-shan.

Dalam waktu satu hari, Yi-feng menerima pengobatan dari dua orang pesilat tangguh, apalagi dari Tuan Jian yang sudah melancarkan kedua aliran nadi mati hidupnya.

Ini adalah keanehan dalam ilmu silat, hari pertama Yi-feng terluka parah dan pada hari kedua dia sudah bisa pergi jauh.

Dia sendiri tidak tahu begitu nadi 'Du' dan 'Ren' nya (hok.

nadi Jin dan Tok) sudah tembus, ilmu silatnya jadi meningkat beberapa kali lipat.

Selama beberapa hari ini, siang dan malam dia terus berjalan, di pagi hari dia menyewa kereta, sedangkan di malam hari dia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya berlari, dia sama sekali tidak merasa lelah.

Dari sini dapat diketahui kalau ilmunya telah bertambah beberapa kali lipat.

Propinsi Si-chuan dikelilingi oleh gunung, setiba di Ba-zhong, dataran di sana baru terasa lebih rendah.

Yi-feng selalu teringat tugas berat yang diembannya, maka saat berada di Ba-zhong dia hanya beristirahat sebentar, dia segera menyewa kereta kuda untuk meneruskan perjalanan.

Di dalam kereta dia berusaha tidur, menyiapkan tenaga untuk melakukan perjalanan di malam hari.

Anehnya selama 2-3 hari ini, asal dia duduk mengatur nafas, dia akan segera kembali bersemangat.

Dia tahu tenaga dalamnya sudah memperoleh kemajuan pesat Baru 4 hari lebih, dengan mujizat yang dialaminya dia telah melewati Si-chuan.

Di perbatasan Si-chuan dan Yun-nan, dia baru merasa butuh istirahat barang sebentar.

Untuk menghindari perhatian orang-orang, dia mengenakan baju biasa yang tidak menarik perhatian setiap orang yang ditemuinya.

Karena sekarang musim dingin, dia menarik topi kulitnya hingga ke bawah untuk menutupi mata dan dia pun memanjangkan janggut dan kumisnya.

Setiba di Xu-zhou, dia menginap di sebuah penginapan kecil, dia berusaha menghindari perhatian Tian-zheng-jiao, karena waktu tetap hal terpenting baginya, setelah masuk ke dalam penginapan, dia merasa di sana ada kejadian aneh, hatinya mengeluh.

Ternyata walaupun penginapan itu terletak di luar kota, tapi bangunannya lumayan besar.

Tempat membayar dan memesan kamar berada di paling depan.

Di pinggir kasir ada 10 kursi lebih di mana orang bisa beristihat di sana.

Sekarang kursi-kursi itu sudah terisi penuh, seorang lelaki yang mengenakan baju hitam terus menyorotnya.

Dalam hati Yi-feng berpikir, 'Celaka!

Apakah dia adalah orang-orang Tian-zhengjiao?' diam-diam dia menyalahkan dirinya, mengapa dia bisa salah memilih penginapan, dan malah datang ke tempat seperti ini.

Tapi dia tidak bisa mundur lagi, terpaksa dia berjalan masuk ke penginapan itu.

Dia berharap di sini tidak ada seorang pun yang mengenalinya, dan lebih berharap pelayan akan mengatakan.

"Kamar sudah penuh!"

Tapi pelayan penginapan dengan ramali sudah berkata.

"Nasib Anda sangat baik, kamar masih banyak."

Kemudian pelayan membawanya ke arah barat untuk memperlihatkan kamarnya.

Ternyata penginapan ini sangat luas dibandingkan dengan penginapan yang ada di kota, di sini juga sepi, mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa orang lebih memilih menginap di sini.

Pelayan sudah masuk ke dalam kamar untuk membersihkan kamar, sementara Yi-feng berdiri menanti di pekarangan, dia sedang menghitung-hitung jarak perjalanan yang masih harus ditempuhnya.

Tiba-tiba di belakangnya terdengar langkah orang, dia tidak membalikkan tubuh untuk melihat, tapi pundaknya telah ditepuk dengan keras.

Dia terkejut ternyata yang menepuknya adalah laki-laki berbaju hitam yang tadi dilihatnya di depan, dengan kasar laki-laki itu bertanya.

"Sahabat, kau datang dari mana?"

Yi-feng bertambah terkejut, dan dia berpikir. 'Apakah ada yang mengenaliku? Kalau tidak, mengapa orang Tian-zheng-jiao ini bisa bertanya begitu padaku?' tapi Yi-feng segera menjawab.

"Aku datang dari utara."

Laki-laki berbaju hitam itu melihatnya dari atas ke bawah lalu mengangguk.

Yi-feng merasa lebih terkejut lagi, bukan karena dia takut kepada laki-laki ini, tapi dia takut akan timbul kerewelan, dan hal ini tentunya akan menghambat perjalanannya.

Laki-laki itu tertawa dan berkata lagi.

"Sahabat, kau bernasib baik."

Yi-feng terkejut lagi, laki-laki itu berkata lagi.

"Mulai hari ini, kau menjadi saudaraku, aku lihat kau adalah seorang pedagang tapi tidak terlihat sebagai orang sukses, lebih baik kau ikut denganku aku jamin kau akan mendapatkan kebaikan."

Laki-laki itu berkata dengan perkataan yang tidak menentu, benar-benar membuat Yi-feng hanya bisa terpaku, saat dia akan menjawab pertanyaan laki-laki itu, terlihat kalau laki-laki berbaju hitam itu sudah tidak sabaran.

Yi-feng berkata.

"Terima kasih, kebaikan Tuan ku terima di dalam hati, tapi...."

Kata-katanya belum selesai, laki-laki berbaju hitam itu terdengar marah.

"Bocah tengik, jangan tidak tahu diri, bapakmu merasa cocok denganmu, kau mau apa? Bapakmu...."

Dia terus mengatakan 'bapakmu', Yi-feng tidak tahu kalau itu adalah kebiasaan orang Si-chuan saat bicara, dia malah marah dan membentak.

"Tutup mulutmu dan pergi dari sini!"

Laki-laki berbaju hitam itu tidak menyangka kalau Yi-feng akan membentaknya, maka dia masih berdiri dengan bengong, kemudian dia seperti tersadar dan ikut marah, tangan kanannya membentuk kepalan siap memukul dada Yi-feng.

Yi-feng yang mempunyai kepandaian tinggi, mana mungkin dia akan roboh hanya karena jurus kampungan seperti itu, tapi dia segera memutar otaknya, dia menghindari serangan itu, sengaja menjulurkan kepalanya, supaya laki-laki itu bisa memukul kepalanya Laki-laki itu tertegun lagi, tiba-tiba dia mengangkat kedua tangannya dan pergi dari tempat itu, mungkin dia tahu kalau kali ini dia telah bertemu dengan pesilat tangguh.

Yi-feng tersenyum, darah di dalam tubuh-nya masih terus bergejolak, orang dengan sifat seperti dia, setelah tahu kalau ilmu silatnya maju pesat dia tidak akan mau mengalah terusterusan.

Apalagi dia belum sempat mencoba ilmunya, dalam hati dia berpikir.

"Kalau terjadi apa-apa, aku akan segera membereskannya, setelah itu baru pergi dari sini, mereka tidak akan bisa mengejarku."

Dia berjalan ke arah kamar, pelayan itu dengan tertawa berkata.

"Tuan sungguh hebat, tuan adalah orang yang bisa melihat gelagat, seorang laki-laki sejati!"

Yi-feng tersenyum, dia menyuruh pelayan itu pergi dan tidak lupa menyuruh menutup pintunya, dia berniat untuk beristirahat.

Dia ingin mencoba kekuatan Tian-zheng-jiao yang semakin lama semakin kuat kedudukannya di dunia persilatan.

Tidak lama kemudian, benar saja ada yang mengetuk pintu kamarnya, sambil tertawa dingin Yifeng pun berpikir, 'Mereka sudah datang mencariku.' dia pun membuka pintu, di depan kamar telah berdiri seorang gadis cantik.

Gadis itu mengenakan baju berwarna hijau muda, celananya ada sulaman bunga, rambutnya disanggul tinggi, sepasang matanya bening seperti air.

Setelah melihat Yi-feng, mata yang tadinya terlihat marah berubah menjadi tawa.

Gadis itu belum begitu dewasa, tapi pembawaannya terlihat sudah dewasa, matanya memancarkan tawa, membuat siapa pun yang melihatnya segera dapat mengartikan kalau dia mempunyai keinginan tidak pantas, dia tertawa centil, mulutnya sedikit terbuka katanya.

"Aku dengar dari orang bodoh yang datang melapor kepadaku, bahwa ada seorang pesilat tangguh di sini, dengan tenaga dalam pesilat ini telah menggetarkan tangannya, aku katakan padanya mengapa di penginapan sekecil ini bisa kedatangan seorang pesilat tangguh? Maka karena penasaran aku pun datang kemari untuk melihatnya sendiri, siapa tahu..."

Dia berhenti bicara lalu tertawa centil lagi, suaranya nyaring menggunakan logat Bei Jing, membuat nada bicaranya enak didengar. Yi-feng berpikir dengan aneh.

"Siapakah gadis ini? Apakah dia adalah salah satu pesilat tangguh dari Tian-zheng-jiao? Tapi walau bagaimanapun bahasa yang mau dikeluarkan untuk memaki ternyata tidak jadi dikeluarkan."

Sambil tertawa manja, gadis itu berkata lagi.

"Aku ingin bertanya pada Anda, siapa nama dan marga Anda? Anda mempunyai tenaga dalam begitu hebat, Anda pasti seorang pahlawan yang telah lama terkenal bukan?"

Dia tidak menunggu Yi-feng mempersilakan masuk dan dia menyelonong masuk ke dalam, dengan sikap tidak senang Yi-feng hanya mengerutkan alisnya dan berpikir, 'Gadis ini benar-benar tidak tahu malu!' Tapi sebelum tahu identitas gadis ini dia tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi pertanyaannya sudah terjawab, Yi-feng pun berpikir seperti itu.

"Aku hanya pesilat biasa, bukan pesilat terkenal, tadi aku telah melukai pengurusmu, aku minta maaf!"

Mata gadis itu tampak berputar-putar melihat wajah Yi-feng, tawanya seperti bunga mawar yang baru mekar, dengan manja dia berkata.

"Kalau Anda tidak mau mengatakan padaku, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa, yang salah adalah orang bodoh itu, punya mata tapi tidak bisa mengenali orang yang hebat, benar-benar pantas mati, tapi..."

Dia pun tertawa.

"Apakah kau mau berteman denganku?"

Yi-feng mengerutkan alisnya kembali, dia benar-benar merasa gadis ini sangat genit, dulu sewaktu dia berkelana di dunia persilatan memang sering terjadi peristiwa seperti ini, maka dia tidak merasa begitu kaget.

Sambil tertawa dingin dia berkata.

"Karena hati pemaaf yang dimiliki Nona, aku merasa beruntung, tapi sekarang aku ingin beristirahat sebentar, kalau ada kesempatan lain, kita akan...."

Mata gadis itu sudah berputar, dia tertawa manis, dan dia memotong perkataan Yi-feng.

"Kalau begitu, apakah kau mau berteman denganku?"

Bukan Yi-feng tidak tergoda oleh gadis ini, dia hanya tidak mau membuat nona ini merasa kecewa, bagaimanapun nona ini punya niat baik, manusia selalu tidak bisa menolak kebaikan orang lain, entah niat orang itu baik atau jahat, itu adalah urusan kesekian.

Apalagi yang ada di hadapan Yi-feng adalah seorang gadis, walaupun centil tapi tidak terlalu genit.

Gadis itu keluar kamar sambil tertawa.

"Kau ada urusan, aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi kalau bertemu di lain kesempatan, jangan pura-pura tidak kenal denganku!"

Yi-feng melihat sosok belakangnya yang berjalan ke depan pintu, tiba-tiba gadis itu membalikkan badan, dari balik bajunya dia mengeluarkan sesuatu dan meletakkan di atas meja, dia berkata lagi.

"Ini... adalah nama-ku."

Kemudian dia pun berlalu dari sana seperti angin.

Yi-feng terpaku, ternyata gadis itu meletakkan sehelai kertas berwarna merah muda, di kertas itu tertulis.

Zhi-feng-mai-hui dari Tian-mei-jiao.

Setelah membaca tulisan Tian-mei-jiao, hati Yi-feng bergetar!

Kertas itu mengeluarkan wangiwangian yang membuatnya pusing, begitu dia sadar akan hal ini, semua sudah terlambat!

Dengan lemas dia pun ambruk ke lantai kamar....

--Bab 15 Tian-mei-jiao Sewaktu dia sadar, tangan dan kakinya terasa lemas, sedikit tenaga pun tidak ada.

Nadi-nya seperti ditotok tapi juga seperti tidak.

Apalagi kepalanya masih terasa pusing, dia merasa terkejut, 'Racun apa yang digunakannya?

Mengapa bisa begitu kuat?"

Perlu diketahui setelah dua nadinya yaitu nadi 'Du' dan 'Ren' nya tembus, tenaga dalamnya Yifeng telah bertambah 10 kali lipat.

Sebelum kedua nadinya dilancarkan, obat biasa pun tidak akan mempengaruhi dirinya sampai seperti itu, apalagi ini hanya kertas kecil berwarna merah muda, tidak ada hal aneh dalam kertas itu.

Tapi siapa sangka ternyata di kertas itu bisa ada racun yang begitu lihai?

Dia melihat ke sekelilingnya, semua hanya terlihat warna merah muda, kamar itu tidak begitu luas, tapi berkesan sangat mewah, seperti kamar tidur seorang putri kaya.

Dia segera tahu apa yang telah terjadi padanya, dengan marah dia pun meludah ke lantai, dia ingin menggunakan tenaga dalam untuk mengeluarkan sisa racun dari dalam tubuhnya, tapi dia merasa gelap...

Setelah keadaan terang, dia melihat hal aneh lagi, di kamar itu ternyata sudah ada 4 orang gadis.

Salah satu dari gadis itu adalah Zhi-feng-mai-hui, mereka mengenakan baju yang terbuat dari kain ringan dan tipis.

Empat orang gadis itu sama cantiknya, tubuh mereka memancarkan kecabulan, mereka berjalan berlenggak lenggok ke tempat tidur Yi-feng.

Lalu mereka berempat duduk di sisi tempat tidur.

Yi-feng dengan konsentrasi penuh menghadapi empat gadis yang tertawa centil kepadanya.

Hati Yi-feng mulai terasa panas, tapi dia sendiri pun terkejut!

Kaki dan tangannya terasa lemas dan tidak bertenaga, dia tidak berdaya melawan, empat gadis itu, yang tertawa dengan senang, mereka terus memainkan jari-jari mereka, membuat Yi-feng hampir tidak tahan lagi.

Tapi Yi-feng yang berilmu silat tinggi tidak sama dengan laki-laki lain, sebelum kehilangan pertahanan dirinya, dia berusaha tidak melihat ke arah empat gadis itu, dia berusaha mengumpulkan tenaga.

Empat gadis itu melihat wajah Yi-feng memancarkan kemarahan.

Matanya yang bagus menjadi buram, dia seperti mabuk dan tingkah-nya seperti orang idiot.

Salah satu dari empat orang gadis itu dengan perawakan agak pendek dan sangat seksi, sambil tertawa berkata.

"Sudah cukup!"

Dia berkata pada Zhi-feng-mai-hui dan seorang gadis.

"Adik ketiga dan adik keempat, kalian pergi dan panggil ketua ke sini! Ternyata bocah ini hanya memiliki kemampuan seperti itu, mengapa harus kita berempat yang menghadapinya?"

Zhi-feng-mai-hui melihat Yi-feng, dia tertawa.

"Karena tadi dia menggunakan ilmu 'Qi-shuang-wan' menggetarkan anak buah kita, kelihatannya dia sangat lihai, aku kira dia mempunyai ilmu tinggi! Siapa yang tahu..."

Dia tertawa.

"benar-benar tidak berguna!"

Kemudian dia menarik seorang gadis yang tubuhnya lebih tinggi dan berkulit putih, diam-diam mereka keluar dari kamar.

Yi-feng mendengar semua perkataan itu, dia berpikir diam-diam, Tian-mei-jiao tampaknya bukan perkumpulan sembarangan, kalau aku tidak berhati-hati, aku bisa masuk ke dalam perangkap mereka!' dia memejamkan matanya dan diam-diam mengatur nafasnya.

Setelah mengatur nafas pikirannya jadi kosong, semua udara dikumpulkan di kepala, kemudian ujung lidahnya ditekankan ke atas langit-langit, dari luar dia masih terlihat seperti mabuk, tapi sebenarnya Yi-feng sangat sadar.

Tidak lama kemudian, ada suara tawa dari arah luar, terdengar dengan nyaring, Zhi-feng-maihui berkata.

"Ketua sudah datang!"

Yi-feng telah bersiap, dia ingin melihat seperti apa ketua Tian-mei-jiao itu?

Setelah tirai disibakkan, Zhi-feng-mai-hui dengan seorang gadis datang sambil memapah seseorang masuk ke kamar itu, dalam hati dia ingin tertawa, ingin marah tapi juga merasa kecewa.

Sebelumnya Yi-feng mengira kalau ketua Tian-mei-jiao adalah seorang yang gagah, paling sedikit begitu melihatnya dia adalah orang terkenal.

Hampir saja dia memuntahkan nasi yang sudah dimakannya beberapa hari yang lalu.

Ternyata ketua Tian-mei-jiao adalah seorang perempuan gemuk, dia seperti gadis lain, memakai baju dengan bahan tipis, tubuhnya yang gemuk menyangga seraut wajah jelek, wajahnya dibubuhi bedak tebal, begitu melihat Yi-feng mulutnya yang besar segera tertawa.

"Aya! Tidak disangka di tempat terpencil seperti ini ada orang begitu tampan. Hui Er, kau benar-benar anak baik!"

Yi-feng benar-benar ingin menutup telinganya, suara perempuan itu serak dan kasar, dibuatbuat untuk memberikan kesan manja.

Bisa dibayangkan bagaimana kalau kita sendiri yang mendengarnya!

Diam-diam Yi-feng merasa aneh, mengapa orang sejelek ini bisa menjadi ketua Tian-mei-jiao.

Yi-feng tidak tahu kalau ketua Tian-mei-jiao yang bernama "Wan-miao-xian-niang' sadar kalau dirinya jelek, maka sejak awal orang-orang yang dijebak masuk ke dalam perangkapnya selalu digoda terlebih dulu oleh empat orang gadis cantik yang menjadi anak buahnya, setelah itu baru...

Yi-feng merasa dia tidak usah bergerak dulu, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh ketua Tian-mei-jiao ini kepadanya.

Ketua Tian-mei-jiao melambaikan tangannya, memberi tanda supaya empat gadis itu mundur dari sana.

Empat gadis itu segera menutup mulut dan mundur dari sana, alis Yi-feng mulai berkerut dia siap menyerang perempuan jelek itu.

Wan-miao-xian-niang seperti terburu-buru, dia mendekati tempat tidur Yi-feng, kemudian duduk di sisinya, dia mengeluarkan tangannya yang selebar kipas, mulai mengusap wajah Yi-feng.

Diam-diam Yi-feng mengatur nafas, setelah merasa tidak ada gangguan, perasaan pusing dan perasaan tidak bisa menahan dirinya sudah lenyap tidak berbekas.

Sewaktu tangan Wan-miao-xian-niang hampir mengenai wajah Yi-feng, kepalannya sudah menyerang perempuan jelek itu, kedua tangan dengan cepat dikeluarkan, dia menotok dua nadi penting ketuaTian-mei-jiao itu.

Jurus yang dilakukan Yi-feng sangat cepat, apalagi sewaktu lawan sedang tidak waspada, tenaga yang dikeluarkan 90%, Yi-feng sudah bertekad akan membunuh orang jelek ini dengan telapaknya.

Wan-miao-xian-niang benar-benar terkejut, dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda yang telah terkena obat biusnya 'Cha-nu-zhi' ternyata masih bisa menyerangnya, tapi dia pun ternyata punya keahlian yang tidak disangka oleh Yi-feng.

Di saat semua berlangsung cepat dan kepepet, tangan yang dikeluarkan untuk mengelus wajah Yi-feng, tiba-tiba berputar setengah lingkaran, kemudian dua jari seperti dua pedang menotok nadi di bawah hidung Yi-feng, angin dari jari berhembus dengan kencang, tampaknya dia mempunyai ilmu hebat!

Kalau dengan keadaan seperti ini walaupun bisa menotok dua nadi penting perempuan jelek itu, tapi tubuhnya tetap akan terkena totokan lawan, dan dengan jari sekuat jari Wan-miao-xianniang, dia tetap akan mati karenanya.

Apalagi saat ini Yi-feng berada di sarang musuh, kalau dia ditotok, maka tenaganya akan hilang.

Dan empat gadis yang ada di luar adalah pesilat tangguh.

Bahaya yang dihadapinya tentu akan lebih banyak lagi.

Kepandaiannya memang bertambah beberapa kali lipat tapi saat menghadapi musuh dia masih menggunakan ilmu silatnya yang dulu itu pun sudah cukup memadai, tapi seperti-nya perempuan jelek ini bukan orang sembarangan.

--BAB 16 Bersiasat Berkali-kali Yi-feng berjodoh mendapatkan penemuan aneh, dia mendapatkan tenaga dalam yang kuat dari seorang aneh yang bernama Tuan Jian, dan membantunya melancarkan dua urat nadinya yaitu nadi 'Du' dan 'Ren' nya.

Dia juga mendapatkan sebuah peta berharga yang menjadi petunjuk, pergi ke perbatasan Yun-nan.

Siang dan malam dia berjalan akhirnya dia tiba di Si-chuan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Yun-nan.

Dia berharap bisa mendapatkan kitab rahasia, obat langka, dan obat penawar peninggalan dari seorang tetua sebelum meninggal yang dikuburkan di Gunung Wu-liang.

Semua ini dilakukan oleh Yi-feng untuk menolong nyawa murid-murid Zhong-nan-shan yang terkena racun ganas dan hampir mati.

Tapi manusia yang berkehendak, Tuhan yang mengatur semuanya.

Karena Yi-feng bertindak ceroboh, dia terkena obat bius yang diberikan oleh Zhi-feng-mai-hui, dalam keadaan tidak sadarkan diri akhirnya dia pun tertangkap, lalu dibawa ke markas Tian-mei-jiao...

Keadaannya sekarang benar-benar sulit, Yi-feng tahu dia tidak akan bisa melukai ketua Tianmei-jiao yang jelek ini, karena dia sendiri pun akan balas ditotokoleh ketuaTian-mei-jiao itu.

Di kandang harimau, dengan keadaan nadi ditotok, akibat yang akan terjadi tidak bisa dibayangkan olehnya!

Tapi situasi yang berlangsung semuanya terjadi dengan tiba-tiba.

Di saat seperti itu, dia mengambil suatu keputusan tepat, dan nyawanya tergantung pada keputusannya ini.

Pikirannya berputar dengan cepat, tenaga yang telah terkumpul di tangannya segera ditarik kembali.

Sewaktu dia menarik tenaganya, tubuhnya pun bergeser sekitar 5 sentimeter, dan bersamaan waktu itu mulutnya dibuka.

Kalau ketua Tian-mei-jiao tidak menarik jurusnya, jarinya malah akan masuk ke dalam mulut Yifeng dan Yi-feng akan segera menggigit jari itu Wan-miao-xian-niang tertawa, tubuhnya bergeser 1 meter, dia berkata.

"Anak muda, ilmu silatmu lumayan bagus!"

Kemudian dia melayangkan tangan kirinya, seperti ada asap yang keluar dari lengan bajunya yang lebar, dengan cepat Yi-feng menahan nafasnya.

Karena Yi-feng telah mencoba kelihaian obat mereka, maka dia tahu kalau tercium sedikit saja asap yang keluar dari lengan baju perempuan jelek itu, maka keadaannya akan seperti tadi lagi.

Tangan dan kakinya akan terasa lemas dan tidak bertenaga.

Semua telah diatur mereka.

Yi-feng sudah lama berkelana di dunia persilatan, dia bukan orang baru, dalam keadaan seperti itu dia masih bisa menjaga ketenangannya.

Dia melihat ke sekeliling, di dalam kamar mewah itu sama sekali tidak ada jendela.

Ini membuat Yi-feng yang tadinya berniat melarikan diri melalui jendela, akhirnya membatalkan niatnya.

Yang perlu diketahui jalan keluar kamar itu pun dijaga oleh empat orang gadis tadi, kalau terganggu sedikit saja, mana mungkin mereka akan melepaskannya begitu saja?

Dan dia tidak akan bisa keluar dari sana.

Sekarang ketua Tian-mei-jiao pun menjadi diam tidak bergerak, ternyata dia pun sedang memperhitungkan apa yang harus dia lakukan, karena dia sudah tahu ternyata pemuda ini memiliki kepandaian sangat tinggi, dan biasanya kalau orang yang mempunyai kepandaian begitu tinggi, tentu bukan orang sembarangan.

Ternyata sejak muda Wan-miao-xian-niang sudah tinggal di perbatasan Yun-nan, dia datang ke Zhong-yuan belum begitu lama, orangnya jelek, tapi dia sangat teliti dan berilmu tinggi.

Sekarang bukan karena dia takut pada ilmu silat Yi-feng, maka dia tidak bertindak, melainkan karena dia takut kalau Yi-feng mempunyai hubungan dengan perkumpulan yang sealiran dengan perkumpulannya, dan dia tidak mau membuat kawan dari perkumpulan lainnya menjadi marah.

Wan-miao-xian-niang tahu kali ini dia bisa mendirikan perkumpulannya di Zhong-yuan, semua karena berhubungan dengan suatu rencana besar, maka segala sesuatunya harus dilakukan dengan teliti.

Suasana dua orang di kamar itu berubah menjadi aneh, yang satu dengan mata terbuka masih dalam keadaan berbaring di tempat tidur, yang satu berdiri di sisi tempat tidur, berdiri dengan terpaku.

Di antara mereka ada asap putih yang belum menghilang sampai sekarang.

Asap ini membuat dua orang itu yang tadinya tampak aneh menjadi biasa.

Dalam hati mereka berdua, masing-masing mempunyai rasa takut, karena itu semua menyebabkan mereka tidak berani bergerak lebih jauh dulu.

Apalagi Yi-feng yang sama sekali tidak mengenal ataupun pernah mendengar nama ketua Tianmei-jiao, pikirannya benar-benar kusut, tiba-tiba dia berpikir, 'Kecuali Tian-zheng-jiao, yang meracuni murid-murid Zhong-nan-shan adalah Tian-du-jiao, dan sekarang yang meracuniku adalah Tian-mei-jiao, apakah di antara ketiga perkumpulan ini saling berkaitan?' Yi-feng adalah orang pintar, begitu memikirkan hal ini, dia segera mencari alasan, dengan tujuan supaya dia bisa lolos dari cengkraman perempuan jelek ini.

Diam-diam dia berpikir, 'Sekarang posisi lawan kuat sedangkan aku lemah, apalagi aku masih mempunyai urusan penting, aku tidak bisa terus-menerus berdiam di sini dengan perempuan tidak tahu malu ini.' "Tapi dengan kekuatan sendiri tidak mungkin aku bisa menyingkirkan mereka, satu-satunya cara adalah..."

Ketua Tian-mei-jiao melihat anak muda yang masih berbaring membuka matanya dengan lebar, tapi tidak bergerak, juga tidak sampai terkena racun yang dikeluarkan olehnya, dia pun merasa semakin aneh.

Dua tangan digerakkan, Yi-feng langsung duduk, dia berkata dengan suara tegas.

"Aku diperintahkan oleh ketua Tian-zheng-jiao karena ada suatu keperluan aku harus pergi ke Yun-nan, tapi secara tidak sengaja telah berselisih dengan perkumpulan kalian, karenanya aku minta maaf. Harap Ketua sudi melepaskan aku, kelak kalau aku telah bertemu dengan ketua Tianzheng-jiao aku akan membalas kebaikan Ketua."

Dia tahu kalau bertindak keras melawan keras, yang akan rugi adalah dirinya, maka dia pun menggunakan akal-akalan ini.

Dia memakai nama Tian-zheng-jiao.

Dia pun berpikir, 'Kalau benar Tian-zheng-jiao dan Tianmei-jiao mempunyai keterkaitan, maka keadaanku akan lebih baik, mungkin demi nama Tianzheng-jiao mereka akan memberikan muka kepadaku!' Tampak ketua Tian-mei-jiao itu tertawa, dalam hati dia berpikir, 'Ternyata pemuda ini berasal dari aliran yang sama, untung aku tidak jadi menganiayanya, kalau tidak sekali kabar ini tersebar, aku akan malu sendiri.' Dia masih asing terhadap situasi Zhong-yuan, maka Yi-feng pun mencoba mengakali perempuan jelek itu, siasatnya jadi berhasil kalau tidak mana mungkin di dunia ini bisa ada hal yang terjadi begitu mudahnya?

Melihat sikapnya, diam-diam Yi-feng merasa senang, dia tahu kalau siasatnya berhasil, tapi dia merasa pusing, dan dia pingsan lagi dengan roboh ke ranjang.

Ternyata sewaktu dia membuka mulut untuk bicara kepada perempuan jelek itu, dia tidak menahan nafasnya, maka asap yang lama tidak hilang-hilang itu malah tersedot masuk ke dalam mulutnya, asap ini adalah obat rahasia milik Wan-miao-xian-niang.

Dalam ketidaksadarannya, tiba-tiba dia mencium ada wangi pedas, kemudian dia pun bersin.

Setelah itu dia segera sadar.

Saat membuka mata, ada seraut wajah jelek sedang melihatnya sambil tertawa.

Dia adalah ketua Tian-mei-jiao.

Tawa jelek ini membuatnya ingin muntah, maka dia pun memejamkan matanya kembali, supaya dia tidak perlu menatap wajah jelek itu.

Tapi telinganya tetap mendengar suara ketua Tian-mei-jiao yang cempreng dan jelek seperti wajahnya.

"Anak muda, jangan takut, bukalah matamu, aku tidak akan memakanmu!"

Sejak kecil Wan-miao-xian-niang sudah tinggal di perbatasan, walaupun dia tidak lupa dengan bahasa Zhong-yuan, tapi sekarang dia tidak menggunakannya dengan lancar dan terdengar kaku.

Ditambah lagi suaranya seperti suara setan di malam hari, membuat suaranya tidak enak didengar.

Terpaksa Yi-feng membuka matanya.

Wan-miao-xian-niang membuka mulutnya yang besar dan tertawa lagi.

"Aku sudah menebak kalau kau adalah murid Tian-zheng-jiao, kalau bukan karena 'San-tian' punya persilat tangguh seperti dirimu, pak tua kami akan marah-marah sampai mati. Hei, menurutku..."

Dia terus bicara, Yi-feng sama sekali tidak mendengarnya.

Sekarang dia sedang berpikir, 'Tian-zheng-jiao, Tian-du-jiao, Tian-mei-jiao, ketiga perkumpulan ini satu dengan yang lain ada keterkaitan, maka si jelek ini selalu mengatakan San Tian, menurut ceritanya tadi, di antara ketiga perkumpulan ini masih ada seorang pak tua yang posisinya paling tinggi, diakah yang menguasai gerakan ketiga perkumpulan ini?

Siapakah pak tua itu?' Dia terus berpikir, tapi mulutnya terus berusaha menjawab pertanyaan ketua Tian-mei-jiao.

"Pak tua ini pasti mempunyai keinginan serakah, dia ingin membunuh semua pendekar di Zhong-yuan, maka dia pun mendirikan tiga perkumpulan yang tidak sama."

Diam-diam Yi-feng berpikir dan mengingat dendamnya yang begitu dalam kepada Tian-zhengjiao, sepertinya niat untuk mem-balas dendam akan semakin sulit.

Dia menarik nafas, terdengar ketua Tian-mei-jiao berkata lagi.

"Adik kecil, mungkin kita berjodoh, aku tidak rela kau begitu saja pergi, kalau bisa tinggallah beberapa hari lagi di sini."

Dia memainkan matanya, kejelekannya bertambah lagi. Dengan cepat Yi-feng menjawab.

"Keramahan dan kepedulian Ketua kepadaku sangat kuterima, aku merasa sangat berterima kasih karenanya, hanya saja aku benar-benar ada urusan penting lain, dan tugasku ini sama sekali tidak boleh diganggu siapa pun."

Dia melihat mata ketua Tian-mei-jiao yang tampak bercahaya, dengan cepat Yi-feng berkata lagi.

"Kalau tugasku di Yun-nan sudah selesai, aku pasti akan datang lagi ke sini untuk menengok Ketua."

Wan-miao-xian-niang menatapnya, seperti tidak rela dia melepaskan kepergian Yi-feng, dia berkata.

"Kalau kau benar-benar ada tugas penting yang harus kau laksanakan, pergilah sekarang, tapi waktu kau pulang nanti jangan lupa untuk menengokku, kalau tidak lain kali begitu bertemu denganmu lagi, aku akan membunuhmu!"

Yi-feng benar-benar sedang terburu-buru, asalkan dia bisa pergi dari sana sekarang, yang lain baru akan dia pikirkan lagi.

Wan-miao-xian-niang bertepuk tangan, empat gadis itu masuk dan terus tertawa-tawa.

Zhi-feng-mai-hui berjalan paling depan, sambil tertawa diaberkata pada Yi-feng.

"Selamat ya!"

T Di Gunung Wu Wajah Yi-feng menjadi merah, ketiga gadis lainnya tertawa terbahak-bahak sambil memain-kan mata mereka kepada Yi-feng.

Yi-feng merasa punggungnya seperti ada yang menusuk, dengan cepat dia meninggalkan tempat itu.

--BAB 17 Di Gunung Wu-liang Sewaktu Yi-feng keluar dari tempat Tian-mei-jiao, hari mulai terang.

Dia menarik nafas panjang, akhirnya dia bisa kabur dari sarang siluman itu.

Tidak lama kemudian Yi-feng telah berada di Wu-liang Shan, Gunung Wu-liang adalah gunung terkenal di Yun-nan dan letaknya di tengah Yun-nan.

Puncak gunung berada di bagian barat, gunung itu sangat tinggi.

Sore hari Yi-feng tiba di Jing Dong, dia menginap semalam di sana, pagi-pagi dia segera naik gunung.

Kabut pagi belum menghilang, karena itu cuaca terasa dingin dan orang-orang enggan untuk keluar rumah dalam cuaca dingin seperti itu.

Di gunung tidak ada siapa pun, Yi-feng melewati jalan berliku, Yi-feng terus naik dan naik, udara semakin dingin, maka dia pun mencari tempat untuk menghindari rasa dingin yang menusuk tulang ini.

Dia duduk bersila untuk beristirahat sambil mengatur nafasnya.

Dia baru merasa suhu tubuhnya telah kembali normal kembali.

Peta yang menunjukkan tempat penyimpanan benda-benda rahasia itu, dengan teliti dilihat dan dipelajarinya lagi.

Peta itu dengan sangat jelas menunjukkan lokasi benda-benda berharga itu.

Tapi di gunung sebesar dan luas seperti ini untuk mencari sebuah gua bukan hal yang mudah.

Dia melihat ke sekeliling, gunung di sana saling menyambung.

Di dalam gunung ada gunung lagi, gunung begitu tinggi hingga menembus awan.

Tempat penyimpanan benda-benda berharga itu berada di sana.

Setelah makan makanan kering, dia mencari jalan untuk naik, saat dia berjalan burung-burung terkejut dan terbang melewatinya.

Tubuhnya bergerak lincah, ringan, dan juga cepat.

Gerakannya tidak kalah dengan burung-burung yang tinggal di gunung.

Setelah mendaki beberapa gunung, dia mulai merasa panas dan lelah, tapi tujuannya sudah ada di depan mata, dia tidak berniat untuk beristirahat.

Tapi dia pun tahu kalau bukan karena tenaga dalamnya yang maju pesat, sejak tadi dia sudah merasa kelelahan dan terbaring dengan payah.

Akhirnya dia menemukan gunung yang ditunjukkan dalam peta tempat penyimpanan benda berharga itu.

Dia tidak segera mendaki gunung itu.

Dia kembali melihat peta, tempat penyimpanan benda berharga itu berada di sebuah gua, dan gua itu terletak di ujung sebuah sungai.

Semakin berjalan semakin jauh, sepertinya awan berada di bawah kakinya.

Yi-feng masih terus berjalan.

Di manakah tempat itu?

Yi-feng merasa semakin cemas, tiba-tiba dia mendengar di antara suara pohon cemara yang tertiup angin, terdengar suara air yang mengalir, dia menjadi bersemangat dan mencari sumber suara itu.

Dia berjalan memutari gunung, dia melihat ada mata air, air itu mengalir dari atas gunung ke bawah, air mengalir ke bawah mengikuti batu-batuan dan menimbulkan percikan air.

Di hari gelap seperti sekarang ini, pemandangan seperti itu tampak sangat indah.

Yi-feng berjalan menyelusuri aliran sungai itu, air sungai membuat sepatu dan kaus kakinya basah.

Karena tertiup angin maka dia pun menggigil kedinginan.

Dia melihat ke bawah lagi, awan putih berada di sekelilingnya, begitu melihat ke atas, puncak !

gunung berada di depannya.

Tiba-tiba dia melihat di antara dua gunung, ada sebuah sungai, dan air sungai itu berasal dari seberang gunung.

Dia segera menjadi bersemangat dan berlari ke sana, melewati jalan di antara dua gunung itu.

Malam semakin larut, udara terasa semakin dingin, tapi Yi-feng masih bersemangat, karena tempat yang ditunjuk di dalam peta sudah berada di depan matanya.

Dia teringat banyak pendekar yang menginginkan benda yang akan dia dapatkan sekarang.

Maka jantungnya pun berdebar-debar, dia menambah kecepatan ayunan langkah kakinya.

Tapi begitu masuk di antara dua gunung itu, dia malah terpaku.

Tempat itu sangat luas, di depan gunung masih ada sebuah air terjun.

Air mengalir turun seperti sebuah rantai putih, dan terus mengalir ke bawah mengalir melalui sela gunung dan turun ke bawah lagi.

Yang membuat Yi-feng terkejut adalah di sisi air terjun ternyata ada sebuah rumah yang sudah terpasang lampu.

Dia berhenti melangkah dan melihat keadaan di sana.

Tapi tempat itu dan tempat yang ditunjuk dalam peta sangat pas, artinya benda berharga itu tersimpan di belakang air terjun, tepatnya di sebuah gua.

"Tapi mengapa di sana bisa ada lampu? Siapa yang tinggal di sana? Apakah barang berharga itu telah diambil oleh orang lain?"

Karena masih dalam keadaan kaget dia tidak berani meneruskan ayunan langkah kakinya.

Dia tahu orang yang tinggal di tempat itu, kalau bukan untuk menghindari orang yang berniat membalas dendam pasti adalah orang yang sedang mengasingkan diri.

Atau mungkin sedang melatih suatu ilmu rahasia.

Tapi walau bagaimanapun orang itu pasti pesilat tangguh.

Tapi Yi-feng tidak berniat membalikkan badan dan pergi dari sana.

Tanggung jawab yang dipikulnya sangat berat.

Ratusan nyawa murid Zhong-nan-pai berada di tangannya.

Sekarang dia harus terus maju bukan mundur karena takut.

Suara air mengalir masih terdengar, suara angin terdengar jelas.

Ditutupi suara itu, dengan cepat dia berlari masuk ke bawah cahaya redup.

Yi-feng melihat ke sisi air terjun, ada sebuah rumah yang terbuat dari batu.

Ada dua jendela di sisi rumah itu, cahaya lampu tersorot dari jendela.

Sekarang Yi-feng bisa melihat cahaya lampu yang menyorot dari jendela itu, cahaya yang menyilaukan, itu bukan lampu biasa.

Ditambah lagi atap rumah terbuat dari batu, penuh dengan rotan liar yang merambat ke atas.

Angin gunung di malam hari, suara air terjun yang mengalir, kegelapan dan kesepian di sekeliling tempat itu begitu terasa.

Hal ini membuat Yi-feng merasa dingin, dan rasa dingin itu menyerang ke punggungnya.

Tangannya mengeluarkan keringat dingin.

Dia terpaku, diam-diam menyalahkan dirinya, 'Lu Nan-ren!

Lu Nan-ren!

Mengapa kau jadi begitu penakut?

Apakah kau lupa kalau ratusan nyawa murid Zhong-nan-shan dan dendammu semua tergantung padamu?

Mengapa kau jadi begitu penakut?

Bagaimana kau bisa menghadapi orang lain?

Bagaimana kau bisa bertanggung jawab terhadap semuanya ini?' Karena itu dia segera berlari ke depan dan terus berjaga-jaga supaya tidak ada suara yang keluar.

Dalam kegelapan diam-diam dia melihat ke dalam jendela.

Keadaan di dalam rumah hampir membuatnya berteriak, kedua matanya tidak bergerak melihat keadaan dalam rumah...

Rumah yang terbuat dari batu itu terlihat sangat besar, sudut rumah di bagian barat penuh dengan umbi-umbian, Fu-ling, Shou-wu (tanaman obat-obatan), juga ada makanan kering untuk manusia.

Di bagian utara dan selatan, menumpuk batu-batu perhiasan, dan bebatuan itu memancarkan cahaya yang menyilaukan membuat mata orang sakit saat melihatnya.

Bebatuan itu pula yang membuat rumah batu itu menjadi terang benderang.

Yi-feng baru mengerti, mengapa cahaya yang keluar dari jendela rumah ini tidak sama dengan cahaya lampu di rumah biasa.

Semua ini membuat Yi-feng terkejut.

Tapi Yi-feng terkejut juga karena hal lain.

Di tengah ruangan duduk dua orang saling berhadapan, orang yang menghadap ke arah timur, kaki kirinya dilipat, kaki kanannya diangkat, dia memakai baju tua yang penuh dengan minyak.

Sepertinya sudah beberapa tahun dia tidak mengganti bajunya.

Dia pun tidak memakai sepatu, jarinya terus membersihkan tanah yang menempel di sela-sela jari kakinya.

Rambutnya berantakan, janggutnya tampak lengket, hanya sepasang matanya memancarkan cahaya terang dan bersemangat.

Sedangkan orang yang duduk menghadap ke arah barat, tubuhnya kurus seperti bambu, kedua pipinya cekung, tulang pipir.ya sangat tinggi.

Janggutnya carang dan sangat panjang.

Dia mengenakan baju panjang berwarna biru, tapi karena sering dicuci jadi terlihat seperti warna putih.

Dia duduk bersila sambil memejamkan mata.

Seperti sebuah patung dengan posisi sedang duduk bersila.

Keadaan aneh seperti mi membuat Yi-feng terkejut, setelah melihat situasi di rumah itu, pertama yang dia pikirkan adalah kedua orang itu sudah lama tinggal di rumah ini.

Kedua, dia tahu kalau kedua orang itu pasti mempunyai ilmu silat sangat tinggi.

Tapi yang membuatnya merasa aneh adalah, 'Siapakah mereka?

Mengapa bisa berada di rumah batu di gunung ini, dan mengapa mereka sedang duduk-duduk?' Dia pun dengan jelas mengetahui kalau masalah ini sulit untuk mendapatkan jawabannya, diam-diam dia berpikir, 'Lebih baik aku masuk ke gua secara diam-diam, kemudian secara diamdiam pula keluar dari sini.' Dia berpikir seperti itu, sebenarnya dia tahu cara ini mungkin tidak bisa dilakukan karena mereka berdua bukan orang tuli.

Dia merasa cemas, tapi dia merasa lebih terkejut lagi, saat dia melihat ke dalam lagi, hal itu benar-benar membuatnya terkejut!

Ternyata laki-laki bercambang itu meloncat, kemudian tertawa, tawanya membuat telinga Yifeng menjadi sakit dan berdenging terus, dengan terkejut dia berpikir, 'Apakah dia telah melihatku...' Pikirannya belum selesai, tiba-tiba laki-laki bercambang itu memutar tubuhnya, putaran tubuhnya membuat Yi-feng lebih kaget lagi.

Karena perputaran tubuh laki-laki itu, tubuh bagian atasnya mengarah ke kiri, sedang-kan tubuh bagian bawahnya mengarah ke kanan.

Pinggangnya terbagi menjadi dua arah, pinggangnya bisa menekuk dan berputar.

Kaki kanannya berputar dan mengait tangan kanannya, lalu melayang ke kanan.

Jari telunjuk dan jari tengahnya mengait ke kiri, tangan kanannya membentuk lingkaran, kemudian keluar menyerang melalui tangan kirinya.

Tapi dia masih bisa berkata.

"Tubuh bagian atasku berputar ke kiri, bulan kemarin jurus tangan kananmu tepat melewati sisi kiriku, tubuh bagian bawah berputar ke kanan, tujuannya adalah menghindari tangan kirimu yang menyerang dengan miring. Tangan kiriku mengait untuk menotok nadi yang berada di belakang telinga kananmu. Telapak tangan kananku menyerang keluar, kalau kau meng-hindar ke kiri, tangan kiriku dengan cepat akan mencegah jalan mundurmu, kalau kau meng-hindar ke kanan, kaki kananku akan melingkar dan mengaitmu, dan dengan tepat bisa menendang nadi yang ada di ujung kakimu. Maka kau pun akan terpaksa mundur, waktu itu telapak tangan-ku akan tepat berada di sana!"

Dia tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata lagi.

"Kalau aku tidak menguasai ilmu 'Chai-gu-hen-gu' (membongkar tulang, menekan tulang), aku akan kalah dari jurus yang kau keluarkan bulan kemarin."

Yi-feng yang berada di luar jendela, terus meneteskan keringat dingin. Kepandaian laki-laki bercambang itu benar-benar membuat kaget siapa pun yang melihatnya. Dalam hati Yi-feng berfikir "

Kalau orang ini menyerangku dengan ilmunya tadi, aku pasti akan mati "

Dia melihat ke dalam lagi, pak tua kurus itu seperti seorang biksu tua tetap duduk tidak bergerak, dia seperti tidak mendengar lelaki bercambang itu bicara kepadanya.

--BAB 18 Pencuri selatan, Perampok utara Laki-laki bercambang itu tertawa keras, kemudian dia ke belakang mengambil sepotong daging sapi asin yang kerasnya sudah seperti batu lalu duduk kembali ke tempat tadi untuk makan.

Yifeng mulai merangkai semua hal ini, dalam hati dia menebak-nebak, 'Kedua orang itu pasti sedang beradu ilmu silat.' Tapi ada pertanyaan lagi dalam pikiran-nya, 'Mengapa mereka mengadu ilmu silat memilih di tempat seperti ini?

Bila melihat keadaan di sini, sepertinya mereka telah berada di sini lebih dari setahun, apakah mereka selalu mengadu ilmu silat mereka di sini?' Ketika sedang berpikir untuk menemukan jawabannya, laki-laki bercambang itu meloncat berdiri dan tertawa keras.

"Tidak disangka di tempat terpencil seperti ini, ada tamu yang datang berkunjung, sahabat yang ada di luar, silakan masuk!"

Suara tawanya bisa memecahkan batu.

Suara yang keluar dari mulutnya seperti bunyi lonceng, sehingga menimbulkan gema di sekeliling gunung.

Yi-feng terkejut oleh ilmu silat laki-laki bercambang itu.

Dia berpikir, 'Aku tidak bersuara sama sekali, mengapa dia tahu aku ada di sini?' Dia tidak sadar karena tegang nafasnya tadi menjadi berat.

Awalnya kedua orang itu sedang berkonsentrasi pada satu masalah, maka mereka tidak mendengar nafas Yi-feng, sekarang setelah membeberkan jurus-jurus untuk memecahkan jurus lawan, laki-laki itu baru memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Laki-laki bercambang itu berkata lagi.

"Tamu yang berada di luar jendela, jika Anda tidak masuk, empunya rumah akan keluar untuk mengundang Anda masuk."

Nada bicaranya berubah menjadi galak.

Sesudah Yi-feng melihat sendiri kehebatan ilmu silatnya, dia sadar jika dia ingin melarikan diri, rasanya tidak mungkin dan dia tidak mempunyai alasan untuk melarikan diri dari sana.

Apalagi dia seorang laki-laki sejati, walaupun dia mempunyai kesempatan kabur, dia tidak akan melakukannya.

Maka dengan suara keras dia menjawab.

"Tuan rumah mengundangku masuk, aku tidak akan menolaknya."

Setelah dilihat dengan teliti, Yi-feng baru tahu kalau rumah ini hanya memiliki jendela dan tidak mempunyai pintu. Laki-laki bercambang itu tertawa keras.

"Dulu ketika pak tua itu membangun rumah ini, dia lupa membuat pintu. Sahabat, masuklah melalui jendela."

Yi-feng yang sejak tadi mendengar dia selalu mengatakan dia adalah, pak tua, suaranya keras seperti lonceng, tubuhnya sehat dan lincah, entah dari mana dia mirip dengan orang tua?

Dalam kegelapan, Yi-feng hanya mengangkat bahu dan tertawa kecut.

Kedua tangannya memegang jendela kemudian meluncur masuk ke dalam rumah seperti seekor ular yang menyusup.

Setelah masuk, dia memberi hormat.

Yi-feng sering berkelana di dunia persilatan, dia seorang terkenal, dan seorang di mana kalau dia bertemu dengan suatu masalah dia bisa bersikap tenang.

Ditambah lagi dengan postur tubuhnya yang tinggi, wajah yang tampan, gerakannya dengan alamiah memancarkan keluwesan dan bersikap santai.

Setelah memberi hormat, dia berkata.

"Aku secara tidak sengaja telah memasuki tempat tinggi Tetua, harap Tetua memaafkan dan memberi hukuman kepadaku!"

Laki-laki bercambang itu melihat Yi-feng dari atas ke bawah, tiba-tiba dia tertawa terbahakbahak.

"Di tempat terpencil seperti ini jarang ada yang datang berkunjung, sekarang kami kedatangan seorang tamu gagah dan tampan, sungguh membuatku senang!"

Dia berkata kepada biksu kurus yang sejak tadi tidak bergerak.

"Pak tua yang kesepian, jangan berpikir terus, lihatlah tamu kita yang tampan ini!"

Tiba-tiba pak tua kurus ini membuka matanya, sorot matanya seperti petir menyambar, membuat Yi-feng tidak kuat melihat sorot matanya.

Dia tidak berani menatap sorot mata yang tajam seperti pisau.

Wajah pak tua kurus itu tampak datar, dia hanya melihat Yi-feng sebentar, lantas berkata dengan dingin.

"Anak kecil, kau datang kemari ada tujuan apa?"

Dia segera memejamkan matanya kembali seperti layaknya seorang biksu tua, dia duduk bersila, apa yang terjadi di sekelilingnya seperti tidak ada hubungan dengannya.

Yi-feng merasa tidak suka, diam-diam dia berpikir, 'Mengapa pak tua ini seperti tidak berperasaan?' Diam-diam dia lebih menyukai laki-laki bercambang itu.

Dia memberi hormat kepada laki-laki itu.

"Aku sudah mengganggu ketenangan kedua tetua, aku merasa tidak enak, aku...."

Laki-laki bercambang itu melambaikan tangannya memotong kata-kata Yi-feng yang belum selesai dan tertawa.

"Tidak perlu merasa sungkan! Tidak perlu merasa sungkan! Pak tua dan aku sudah bertarung selama sepuluh tahun di sini, aku sudah bosan karena setiap hari hanya melihat wajahnya. Hari ini secara kebetulan kami kedatangan seorang pemuda tampan yang bisa menemaniku mengobrol, aku benar-benar merasa senang!"

Yi-feng menghembuskan nafas panjang.

"Jadi kedua orang ini sudah bertarung disini selama hampir 10 tahun,"

Diam-diam dia berpikir, 'apa yang menyebabkan mereka jadi seperti itu?' Dia melihat baju usang dan kotor yang dikenakan laki-laki itu, dalam hati dia berpikir lagi.

'Selama sepuluh tahun ini mereka pasti merasa kesepian.

Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa menahan rasa sepi ini?' Matanya berputar melihat ke tempat lain, melihat batu perhiasaan yang tampak berkilau, dia lebih tidak mengerti lagi dengan keadaan mereka!

Laki-laki bercambang itu mengangkat tangannya, memotong daging sapi yang kerasnya seperti batu.

Daging itu seperti sebuah tahu saja di tangannya dan telah terpotong menjadi dua.

Dia memberikan sepotong daging itu kepada Yi-feng.

"Anak muda, kau makan dulu daging ini kemudian istirahatlah, biar tua bangka itu terus berpikir."

Yi-feng tertawa, dia menerima sepotong daging dan menurunkan bungkusan kain yang dibawanya.

Di dalam bungkusan ada daging ayam yang baru dibelinya tadi pagi, masih ada sebotol kecil arak untuk menahan rasa dingin yang menyergap.

Begitu melihat bawaannya, laki-laki bercambang itu tertawa terbahak-bahak.

Yi-feng dengan cepat memberikan makanan itu kepada-nya.

Tanpa sungkan-sungkan laki-laki bercambang itu langsung memakannya, hanya dalam waktu singkat makanan itu langsung ludes dimakannya.

Arak yang dibawa Yi-feng pun habis sampai setetes pun tidak tersisa.

Pak tua kurus yang sepertinya selalu tidak peduli, tidak melihat, juga tidak mendengar, dia seperti sebuah patung batu hanya diam dan duduk bersila.

Yi-feng tahu kalau pak tua kurus itu sedang berpikir memecahkan jurus-jurus laki-laki bercambang itu dengan kemampuan ilmu silat yang telah dimilikinya selama puluhan tahun.

Melihat laki-laki bercambang makan dan minum sesukanya, Yi-feng berpikir, Tadi laki-laki ini mengatakan kalau dia memecahkan jurus pak tua kurus ini bulan kemarin, apakah dia memikirkannya selama sebulan....' Dia belum tahu kalau kedua orang ini terkadang malah menghabiskan waktu lebih panjang mencari jurus untuk memecahkan jurus-jurus lawan.

Laki-laki bercambang itu memegangi perutnya yang kenyang dan tertawa.

"Anak muda, kau datang ke gunung tinggi ini.untuk apa?"

Yi-feng segera menjawab.

"Aku senang mendaki gunung maka dari Jiang-nan sampai ke Yun-nan mendengar kalau gunung ini sangat terkenal, dan aku pun datang kemari."

Dari awal dia tahu kalau dia pasti akan mendapatkan pertanyaan seperti ini, maka dia sudah mempersiapkan jawabannya.

Sekarang tanpa ragu dia segera menjawabnya.

Hanya saja jawabannya tidak disusun dengan sempurna.

Laki-laki bercambang itu seperti percaya kata-katanya, dia mengangguk-angguk.

"Mendaki gunung adalah hal paling baik! Hal terbaik! Tubuh pun akan sehat!"

Dia tertawa lagi kemudian menundukan kepala untuk mencari potongan daging yang jatuh saat dia memakannya tadi.

Kemudian dia pun memakannya.

Yi-feng melihat dia begitu rakus, dia ingin tertawa tapi dia tidak berani mengeluarkan suara.

Laki-laki bercambang itu tiba-tiba tertawa.

"Apakah kau bertanya-tanya mengapa kami bisa bertarung di sini sampai 10 tahun lamanya?"

"Betul, memang sempat terbersit dalam benakku, hanya saja aku tidak berani bertanya kepada Tetua."

"Mengatakan padamu apa alasannya tidak apa-apa, yang terpenting..."

Dia berhenti bicara sebentar, berkata lagi.

"Anak muda, apakah kau pernah mendengar kalau 30 tahun yang lalu, di dunia persilatan ada 2 orang, jika mereka melihat uang maka mereka akan tertawa? Yang satu kerjaannya mencuri, sedangkan yang satu lagi merampok. Cara mereka tidak sama tapi tujuannya sama. Walaupun uang ini berasal dari golongan hitam ataupun putih, asalkan itu adalah uang mereka pasti akan mengambilnya, saudara pun tidak terkecuali. Orang-orang dunia persilatan tidak ada yang sanggup mengalahkan mereka."

"Apa yang Tetua maksudkan adalah Pencuri Selatan dan Perampok Utara yang sangat terkenal itu? Tangan Terampil Xu-bai dan Wajah Besi Wan Tian-pin, kedua tetua itu yang Tetua maksudkan? Mereka berdua selalu membuat orang dunia persilatan merasa sakit kepala baik itu dari golongan hitam ataupun putih?"

Yi-feng melihat laki-laki bercambang itu, dalam hati dia berpikir, 'Apakah tetua ini adalah perampok utara?' Laki-laki bercambang itu tertawa terbahak-bahak dan berkata lagi.

"Betul, Pencuri Selatan dan Perampok Utara adalah aku dan pak tua kurus itu. Satu di selatan, satu di utara, yang satu mencuri, yang satu merampok. Kami tidak pernah saling mengganggu, tapi..."

Dari balik dadanya dia mengeluarkan sesuatu dan berkata lagi.

"Demi benda ini kami bertemu bukan hanya bertemu tapi kami juga berkelahi dan terus berkelahi hingga 10 tahun lamanya."

Yi-feng melihat benda yang dipegang oleh lelaki bercambang, benda itu berupa sebuah besi dengan panjang 30 centimeter.

Walaupun besi itu mengeluarkan cahaya tapi tidak terlihat apa bagusnya besi itu.

Yi-feng merasa aneh, 'Pencuri Selatan Perampok Utara sudah lama terkenal, benda berharga yang mereka dapatkan selama ini sudah sangat banyak, mengapa demi sepotong besi hitam ini, mereka harus berkelahi hingga 10 tahun lamanya?' Karena merasa aneh, dia melihat laki-laki bercambang itu.

Terlihat perampok besar itu sedang memainkan potongan besi nya, dia seperti sangat menyayangi besi itu.

Dengan teliti Yi-feng melihat besi itu lagi, bentuknya sangat jelek tapi seperti barang antik, Jika ada yang mengatakan demi barang itu kedua pesilat bertarung untuk memperebutkannya, Yi-feng benar-benar tidak mengerti.

--Bab 19 Alat bercahaya yang bisa berputar Lama laki-laki bercambang itu memainkan potongan besi hitam, kemudian baru dia berbicara sambil tertawa kepada Yi-feng.

"Benda ini bernama alat bercahaya yang bisa berputar, dari luar terlihat sangat jelek tapi benda ini sangat berguna!"

Dia berkata lagi.

"benda ini bisa mendeteksi apakah cuaca besok akan hujan atau cerah, juga bisa menawarkan racun, bisa digunakan untuk mengusir serangga dan ular. Yang paling aneh, benda ini bisa mendeteksi tempat yang terdapat batu-batu berharga sekali-pun batu itu ada di tubuh seseorang atau bahkan dibawah tanah. Ha,ha, ha! Ini benar-benar benda langka."

"Sayangnya aku hanya memiliki separuh, karena itu aku berusaha untuk mendapatkan separuhnya lagi."

Yi-feng dengan teliti mendengar semuanya, sejak kecil sampai sekarang ini dia belum pernah mendengar kalau di dunia ini ada benda yang begitu aneh, maka dia pun melihat benda itu lagi, benda yang disebut 'alat bercahaya yang berputar'.

Apa anehnya dengan alat ini?

Laki-laki bercambang itu tertawa keras.

"Saat kami berdua bertemu, kami baru tahu kalau benda yang kami cari ternyata kami masingmasing memegangnya, kami pun tahu jika ingin mendapatkan benda yang berada pada lawan, itu bukan hal yang mudah!"

"Karena itu kami berjanji waktu dan tempat untuk bertarung, siapa yang menang, maka dia yang akan mendapatkan alat bercahaya yang bisa berputar ini..."

Dia menunjuk perhiasaan dan bebatuan yang menumpuk di sudut ruangan dan berkata.

"Selain itu mendapatkan warisan dari lawan seumur hidup, dan itu barang-barangnya."

Yi-feng baru mengerti mengapa meeka berdua bisa menahan kesusahan dan kesepian di gunung terpencil seperti ini hingga bertahun-tahun.

Dia bertanya pada dirinya, 'Menghabiskan waktu 10 tahun hanya untuk mendapatkan benda seperti itu, apakah ini pantas?' Dia menggelengkan kepala tidak mengerti, demi benda seperti ini, kedua tetua itu telah menghabiskan waktu selama 10 tahun di sini.

Laki-laki bercambang itu melanjutkan.

"Tempat kami berjanji untuk bertarung adalah di Wu-liang-shan, kami datang tepat pada waktunya. Di bawah kaki gunung ini kami bertarung selama 7 hari 7 malam, ilmu silat yang kami pelajari sama sekali berbeda, tapi kemampuan kami sama maka selama 7 hari 7 malam itu, tidak ada yang menang ataupun kalah."

Diam-diam Yi-feng berpikir, 'Kalian berdua, yang satu pencuri sedangkan yang satu lagi adalah perampok, pasti ilmu kalian tidak sama.' Laki-laki bercambang melanjutkan lagi.

"Tapi kami tidak bisa berhenti bertarung sampai di sana saja, karena jika kami berhenti maka selamanya kami hanya akan memiliki separuh alat tadi, dan benda ini tidak akan ada gunanya!"

Diam-diam Yi-feng mengeluh, 'Manusia memang makhluk aneh, mereka tidak mau bekerja sama, lebih memilih menghabiskan waktu 10 tahun untuk memperebutkan lempengan besi ini, apakah ini yang disebut kepintaran manusia?' Laki-laki bercambang itu tidak tahu apa yang dipikirkan Yi-feng.

Dia melanjutkan lagi.

"Karena itu pula mengapa kami mencari tempat ini, membuat rumah batu. Di dalam rumah ini kami bisa mencari jurus apa yang harus digunakan supaya lawan kalah."

Dalam hati Yi-feng marah, 'Lalu mengapa kalian memilih tempat ini padahal masih banyak tempat lain!' Tapi dia bertanya.

"Jika satu orang membutuhkan waktu 10 tahun untuk berpikir, bukankah lawan pun harus menunggu 10 tahun lagi?"

Laki-laki bercambang itu tertawa keras.

"Itu sudah pasti, kami sudah menetapkan jangka waktunya. Kami menentukan waktu 40 hari menjadi satu paket, jika dalam kurun waktu 40 hari tidak bisa memikirkan jurus apa untuk mengalahkan lawan artinya dia kalah."

Dia berhenti sejenak, lalu menyambung lagi.

"Selama 10 tahun ini, kami belum pernah kalah. Pernah satu kali, waktu sudah menunjukkan hari ke-39, pak tua kurus ini belum terpikirkan cara untuk memecahkan jurusku yang bernama 'Fei Yun Shou'. Aku mengira dia akan kalah, siapa yang sangka pada malam ke 40, dia berhasil memikirkan cara memecahkan jurusku."

Yi-feng menarik nafas, diam-diam dan berpikir.

"Selama 10 tahun ini, mereka telah berhasil membuat banyak jurus tinggi yang tidak sanggup terpikirkan oleh siapa pun."

Karena teringat pada hal ini, Yi-feng mencoba bertanya.

"Jurus Fei Yun Shou yang Tetua ciptakan bagaimana gerakannya?"

Sepertinya laki-laki bercambang ini sedang merasa gembira, tiba-tiba dia berdiri, kedua tangannya dibuka kemudian mengeluarkan tangannya.

Yang paling aneh, sewaktu tangannya melambai, kakinya berganti 3 arah dan terakhir menjadi 4 arah.

Yi-feng merasa jurus ini seperti hanya melihat bayangan telapak tangan yang terus beterbangan, seperti tangan dewi-dewi yang sedang menabur bunga.

Perawakan besar laki-laki bercambang itu sewaktu memperagakan jurus ini, seperti tangan seorang dewi, gerakannya begitu indah, Yi-feng benar-benar kagum pada pak tua bercambang ini.

Dia duduk kembali sambil tertawa senang.

"Jurus Fei Yun Shou ini hanya ada satu jurus, tapi ketika kau menggunakannya seperti tenaga dari 12 pesilat tangguh menyerang satu orang secara bersamaan. Tapi pak tua kurus ini masih bisa terpikir cara untuk memecahkannya."

Dari kata-kata lelaki bercambang ini.

berarti di dunia ini kecuali pak tua kurus ini, tidak ada seorang pun yang sanggup menyambut jurusnya.

Dari kata-katanya terdengar kalau dia sangat senang.

Suara tawanya belum selesai, dia berkata lagi.

"Kami berdua telah melewati waktu 10 tahun di rumah batu ini, sampai sekarang tidak ada yang bisa mengalahkan lawannya, yang membuat kami merasa kesulitan adalah ketika lawan sedang memikirkan cara untuk memecahkan jurus. Perasaan kesepian benar-benar membuat kita sulit bertahan."

Kata-katanya mengandung rasa sedih. Ketika Yi-feng sedang diam-diam menarik nafas, laki-laki bercambang itu tertawa.

"Tapi kelak jika ada kau yang menemani kami di sini kami mempunyai teman mengobrol, aku tidak akan merasa kesepian lagi."

Yi-feng terkejut dan berkata.

"Di sini aku memang bisa menemani Tetua mengobrol, tapi aku masih ada...."

Kedua mata laki-laki bercambang itu membuka dengan lebar, sorot matanya tajam seperti pisau melotot pada Yi-feng. Dengan kasar dia berkata.

"Aku tidak memandang remeh kepadamu tapi kau benar-benar tidak tahu diri. Apakah setelah masuk rumah ini. Kau bisa pergi seenaknya?"

Yi-feng benar-benar terkejut.

Dengan nada agak lambat laki-laki bercambang itu berkata lagi."Anak muda, kau juga orang dunia persilatan, jika kau menemaniku di sini kau pasti akan mendapatkan kebaikan.

Kau bisa mendapatkan ilmu silat tinggi, saat kau pulang nanti, kau masih bisa membawa sekantong batu-batuan berharga dan perhiasan."

Laki-laki ini sejak beberapa tahun lalu sudah terkenal dengan sifat anehnya, selama 10 tahun ini karena hatinya kesepian, maka sekarang dia bersikap sungkan kepada Yi-feng.

Yi-feng mulai terpengaruh.

Tapi ada kekuatan lebih besar yang mendorongnya berkata.

"Kebaikan Tetua Wan aku terima di hatiku...."

Laki-laki bercambang itu melambaikan tangan, dengan cepat dia berkata.

"Anak muda! Aku beritahu kepadamu, margaku bukan Wan, pak tua kurus itu baru bermarga Wan, margaku adalah Xu, namaku adalah Xu-bai, apakah jelas!"

Yi-feng terpaku Dia tidak menyangka laki-laki tinggi dan besar ini ternyata adalah orang yang bisa menguasai benda ringan dan kecil.

Dia adalah pencuri selatan yang terkenal di dunia persilatan...

bisa mengejar angin beribu-ribu kilometer dan jika berjalan bisa sekelebat menghilang, dialah si Tangan Terampil Xu-bai.

Sedang pak tua kurus kering ini menguasai jurus cakar elang digabung 12 jurus telapak benteng batu, mempunyai ilmu pernafasan yang kuat, dia adalah si Wajah Dingin Wan Tian-Pin.

Melihat wajah dan postur mereka, dia teringat pada ketua Tian-mei-jiao, perempuan jelek itu, apakah dia akan tertawa atau menangis karenanya.

Tapi mulutnya berkata.

"Ya, kebaikan Tetua aku terima di dalam hati, hanya saja aku benar-benar ada keperluan lainnya...."

Tiba-tiba Xu-bai tertawa terbahak-bahak. Yi-feng terkejut dan berhenti berbicara. Setelah tawanya berhenti, kedua matanya bersinar buas, dia membentak.

"Jika kau tidak mau memenuhi permintaanku tidak apa-apa, tapi kau harus menceritakan apa yang membuatmu menolak mimpi yang diinginkan oleh siapa pun? Jika aku menganggap alasanmu tepat, aku akan melepaskanmu, kalau tidak...Hmm!"

Sekarang Yi-feng baru tahu kalau Xu-bai adalah orang yang sulit diberi mengerti, dia juga tahu walaupun ilmu silatnya maju pesat tapi jika kemampuannya dibandingkan dengan mereka, dia masih kalah sangat jauh!

Berarti tidak pilihan lain lagi.

Dia melihat orang kurus yang masih diam duduk bersila sepertinya jika langit runtuh pun, seperti tidak ada hubungan dengannya.

Yi-feng menarik nafas panjang dan berpikir, 'Mengapa kedua orang ini tidak mau mengerti alasanku?' Dia tidak berpikir jika sifat mereka tidak seperti ini, mana mungkin mereka bisa tinggal di hutan dan di gunung seperti ini selama 10 tahun?

Yi-feng berpikir lagi, 'Sepertinya aku harus menemani mereka untuk sementara di sini, yang terpenting suatu hari nanti pasti akan ada yang menang dan ada yang kalah.

Bila hari itu tiba aku akan mencari buku dan obat penawar Wu Qu-jun.

Waktu itu pula aku telah mendapatkan ilmu yang diwariskan dari kedua pesilat tangguh ini ditambah jika aku memakan 'Du-long-wan', aku bisa membalas dendamku,' dengan senang dia berpikir itu.

Tapi begitu berpikir lebih jauh lagi, dia mengkhawatirkan nyawa murid Zhong-nan-shan yang menunggu kedatangannya, semua membuat-hatinya tidak tenang.

Wajahnya sebentar menjadi hijau sebentar menjadi putih, hatinya bergejolak.

Semua orang-orang didunia tahu, makhluk yang bernama manusia adalah makhluk egois, jadi tidak aneh, tapi jika sifat egois ini sampai merugikan orang lain dan kerugiannya sangat besar, itu harus dihentikan secepat mungkin.

Sekarang batin Yi-feng sedang berperang, dia sadar jika dia mengatakan tujuannya datang ke Gunung Wu-liang, 'Tian-xing-mi-ji' yang langka di dunia persilatan ini dan butiran obat yang dahsyat yang bernama Du-long-wan, dia tidak akan bisa memperolehnya.

Tapi bagaimana akibatnya jika dia tidak bicara secara terus terang?

Ratusan nyawa murid Zhong-nan-shan sedang menunggu obat penawar, dia akan terlambat dan tidak akan bisa menolong nyawa mereka.

Tapi bagi Yi-feng yang selalu berdiri diatas kebenaran dan keadilan, dia tidak bisa berpangku tangan begitu saja!

Di luar hari semakin gelap.

Angin malam yang dingin masuk melalui celah jendela, berhembus ke tubuh Yi-feng.

Tapi Yi-feng seperti tidak merasakannya.

Dia dihina dan bertekad akan membalas dendam, tapi jika sekarang dia mengatakan tempat rahasia itu, apakah Pencuri Selatan dan Perampok Utara akan membiarkan dia mengeluarkan 'Tian-xing-mi-ji' dan 'Du-long-wan' begitu saja?

Kalau tidak maka harapan-nya untuk membalas dendam akan sirna begitu saja.

Tapi suara rintihan kesakitan di Zhong-nan-shan seperti jarum terus menusuk tubuhnya.

Baru saja dia membuka mulut untuk bersuara dia segera mengurungkan niatnya.

Selama ini belum pernah dia bertemu dengan masalah begitu rumit seperti sekarang ini!

Tangan Terampil Xu-bai membuka kedua matanya yang tajam seperti sembilu, melihat Yi-feng.

Dalam hati sebenarnya dia pun merasa aneh, mengapa pemuda ini berlaku seperti itu?

Si Wajah Dingin masih duduk seperti patung, apakah dia mendengar pembicaraan mereka?

Yifeng sudah mengambil keputusan..

--BAB 20 Masing-masing punya rencana sendiri Yi-feng berkata dengan suara keras.

"Karena tetua terus memaksaku, terpaksa aku mengatakannya."

Maka dengan lantang dia berkata lagi.

"bukan karena aku lebih menyayangi waktu dan nyawaku sendiri, aku terpaksa mengatakan hal ini. Aku mengatakan semua ini karena masalah ini menyangkut nyawa ratusan orang...."

Tangan terampil Xu-bai tampak mengerutkan keningnya, tampak dia sudah tidak sabar mendengar kata-kata Yi-feng sepertinya dia juga tidak percaya.

Menurutnya, di dunia ini tidak akan terjadi hal seperti yang Yi-feng ceritakan.

Yi-feng masih terus bicara.

"Aku datang ke Wuliang-shan berkaitan dengan sebuah rahasia besar dunia persilatan, yaitu menyangkut kejadian ratusan tahun lalu, ada orang yang berilmu tinggi yang bernama Wu Qu-jun, dia meninggalkan benda-benda rahasianya...."

Si Wajah Dingin yang sejak tadi diam seperti patung mulai membuka matanya.

Apalagi si Tangan Terampil Xu-bai, dia mengeluarkan gerak rasa ingin tahu.

Melihat sikap mereka seperti itu, diam-diam Yi-feng menarik nafas.

Dia merasa kedua orang ini memang mempunyai ilmu silat tinggi tapi sikap kedua orang mi ternyata sangat rendah.

Dia khawatir, 'Tian Ming Mi Ji' akan jatuh ke tangan mereka, membuat dia seperti membantu mereka melakukan kejahatan tapi jika dia tidak berbuat seperti itu, mana mungkin Yi-feng bisa menolong ratusan nyawa murid Zhong-nan-shan?

Dia menarik nafas melanjutkan.

"Sebelum Wu Qu-jun meninggal, dia menuliskan ilmu silat di sebuah buku...Tian Ming Mi Ji' dan sebutir 'Du-long-wan'. Semua dikuburkan di Wu-liang-shan, di sisi rumah kedua Tetua...."

Si Tangan Terampil Xu-bai dan si Wajah Dingin segera tampak bersemangat!

Karena mereka tahu jika mereka berhasil mendapatkan kitab rahasia yang sudah lama diincar oleh kalangan persilatan, ditambah dengan ilmu silat mereka yang sudah puluhan tahun mereka miliki, dalam waktu singkat mereka akan menjadi pesilat nomor satu di dunia ini.

Maka mata mereka memancarkan nafsu serakah.

Dengan teliti mereka mendengar lagi cerita Yi-feng, mereka takut kalau pemuda ini tidak akan mau mengatakan di mana tempat penyimpanan benda berharga itu.

Xu-bai terus berkata.

"Cepat katakan cerita selanjutnya!"

Tapi Yi-feng sengaja berhenti sebentar, sehingga membuat mereka berdua semakin ingin tahu, dia meneruskan ceritanya.

"Kedua benda itu diincar oleh kalangan persilatan tapi aku akan melepaskan kedua benda ini, aku berniat akan memberikannya pada 2 Tetua, tapi...."

Dia sengaja berhenti bicara kemudian pelan-pelan melanjutkan kembali.

"Tapi, aku berniat ingin mendapatkan peninggalan Wu Qu-junyang satu lagi."

Si Tangan Terampil dan si Wajah Dingin serentak bertanya.

"Benda apa yang kau maksud?"

Yi-feng mengetahui sifat serakah mereka, sambil tertawa dia berkata.

"Benda itu adalah satu-satunya obat penawar dari 'Chu-gu-sheng-shui'. Aku ingin mendapatkannya karena ingin menyelamatkan ratusan nyawa murid Zhong-nan-shan yang keracunan."

Dia merasa tidak perlu memanggil mereka dengan sebutan tetua lagi.

Sepertinya kedua orang ini tidak peduli mereka dipanggil apa oleh Yi-feng.

Mereka berdua merasa aneh, mengapa pemuda ini akan melepaskan 2 macam benda berharga yang diincar di dunia persilatan lebih memilih obat penawar yang tidak ada hubungan dengan dirinya.

Mereka juga berpikir, mungkin dibalik semua kata-kata Yi-feng tersimpan rencana busuk tapi mereka percaya kepada kemampuan ilmu silat mereka yang tinggi.

Walaupun Yi-feng mempunyai rencana busuk, mereka tidak akan takut.

"Jika kalian berdua melepaskanku, aku akan membawa kalian ke tempat penyimpanan barang berharga itu. Asalkan aku bisa mendapatkan obat penawar itu, aku akan segera pulang, mengenai 2 barang berharga lainnya, terserah kalian mau apakan."

Mata si Tangan Terampil Xu-bai dan Wajah Besi Wan Tian-pin tampak berputar-putar, mereka serentak berkata.

"Boleh, kami setuju!"

Si Tangan terampil Xu-bai menunjuk keluar.

"Hari sudah terang, waktu yang tepat untuk mulai bekerja."

Dia berbalik melihat Wan Tian-pin.

"Persoalan di antara kita, nanti kita selesaikan setelah urusan ini beres "

Sebenarnya dia sudah mempunyai rencana lain. Si Wajah Besi pun seperti itu, tanpa berpikir panjang lagi dia langsung menyetujui. Si Tangan Terampil tertawa terbahak-bahak.

"Mari kita jalan sekarang!"

Tubuh besarnya mulai bergerak, dia keluar melalui jendela.

Yi-feng menarik nafas, dalam hati ber-pikir, 'Ilmu meringankan tubuhnya begitu tinggi, pantas dia dijuluki Pengejar Angin.

Hanya sayang, mempunyai ilmu tinggi tapi akhlaknya begitu rendah.' Ketika dia sedang berpikir seperti itu, si Wajah Besi dengan cepat juga meloncat keluar.

Yi-feng ikut berlari keluar melalui jendela.

Hari belum begitu terang, tapi cahaya yang ada cukup untuk mencari tempat penyimpanan barang berharga itu.

Dia melihat ke atas langit, dia sedang berpikir apakah bila dia melakukan hal ini maka dia akan bersalah kepada Tetua Wu Qu-jun?

Tapi jika tidak dengan cara seperti ini, apakah ada jalan lain?

Sambil menarik nafas dia berpikir "Mungkin di alam sana, beliau akan memaafkanku, aku pun terpaksa melakukan tindakan ini.' Dinding gunung ditumbuhi lumut hijau.

Dia berjalan mengikuti terjun, matanya terus mencaricari.

Di atas dinding gunung yang ditumbuhi dengan lumut, dia menemukan tanda 7, tanda yang diberikan oleh Tuan Jian.

Di dinding gunung ada 7 segitiga berukuran kecil.

Disusun sesuai dengan susunan rasi bintang, jika tidak melihat dengan teliti tanda ini tidak terlihat telah diukir dengan ilmu silat jari 'Jin Gang'-"Di sini tempatnya!'' teriak Yi-feng Xu-bai dan Wan Tian-pin yang berada di belakangnya segera berhenti dan terlihat tegang.

Yi-feng mencari rasi bintang yang terpenting di antara 7 rasi bintang lainnya, kemudian mendorong dinding gunung itu, tapi dinding gunung itu tidak bergerak sama sekali.

Dia terkejut, kemudian mengumpulkan semua tenaga dalamnya.

Sambil berteriak kedua telapak tangannya mendorong...

Segera terdengar suara keras di gunung sepi itu.

Dinding gunung bagian kanan secara perlahan bergeser ke dalam, sedangkan dinding kiri bergeser ke luar, dari balik dinding gunung muncullah sebuah gua.

Yi-feng benar-benar senang, dia sangat kagum kepada tetua berilmu silat tinggi itu, beliau begitu teratur dan teliti.

Terdengar 2 suara kuat melewatinya, ternyata si Tangan Terampil Xu-bai dan Wajah Besi Wan Tian-pin berebut masuk ke dalam gua.

Yi-feng tertawa dingin, dia pun ikut masuk ke gua tempat penyimpanan barang berharga tersebut.

Karena hari sudah terang, cahaya bisa masuk melalui pintu gua, karena itu keadaan di dalam gua tidak terlalu gelap, tapi ujung dalam tetap sangat gelap.

Tangan Terampil Xu-bai melayangkan tangan kepada Yi-feng, setelah dilihat dengan teliti ternyata korek api yang tersimpan di balik bajunya sudah berpindah tangan dan sekarang berada di tangan Xu-bai.

Dia tertawa kecut dan berpikir, 'Ternyata aku pun sempat merasakan keahlian tangannya.' Tangan Terampil menyalakan korek api dan dia yang pertama masuk, Wan Tian-pin mengikutinya, malah Yi-feng yang berjalan paling belakang, dia tidak pedulikan.

Baru saja berjalan kira-kira 30-50 meter, gua mulai terasa sempit.

Tiba-tiba di depan mereka terlihat sebuah meja terbuat dari batu dan menghalangi jalan.

Mereka bertiga melihat di atas meja ada sebuah kotak terbuat dari besi.

Xu-bai dan Wan Tianpin dalam waktu bersamaan serentak mencengkram kotak besi itu.

Mereka saling pandang dan sama-sama mempersiapkan tenaga.

Tangan Wan Tian-pin memutar gembok yang mengunci kotak besi itu dan kotak itu langsung hancur.

Yi-feng datang menghampiri mereka, dia terus melihat kotak itu.

Kotak besi dibuka oleh mereka.

Benda pertama yang terlihat adalah sehelai kertas yang sudah menguning.

Mereka berdua saling memandang lagi dan perlahan-lahan menarik tangan masing-masing.

Dengan bantuan cahaya korek api terlihat di atas kertas yang agak menguning itu tertulis.

"Orang yang telah masuk ke dalam gua ini adalah orang yang telah bertekad untuk mati, karena itu setelah membuka kotak besi ini, harus segera minum obatnya. Obat ini menghasilkan tenaga besar sesudah itu kau baru boleh masuk ke belakang gua dan bisa mendapatkan kitab rahasiaku____"

Sesudah Xu-bai dan Wan Tian-pin membaca pesan yang tertulis di dalam kertas itu mereka secara bersamaan menjulurkan tangan dan terdengar suara PAK!

Dua telapak saling beradu, masing-masing mundur satu langkah.

Yi-feng terus membaca surat itu lagi.

"...mendapatkan kitab rahasiaku, obat ini bernama 'Yin Xiao', mempunyai banyak khasiat tapi obat ini mengandung racun yang dahsyat. Orang yang telah memakan obat ini, 3 tahun kemudian dia pasti akan mati karena muntah darah, tapi dalam kurun waktu 3 tahun ini, dia bisa menikmati hidup, bisa melakukan apa saja karena tidak ada yang bisa melawan kekuatannya."

Selesai membaca, Xu-bai dan Wan Tian-pin segera menarik tangan mereka dan terkejut sampai tidak bisa bicara, mereka tidak ingin hidup hanya 3 tahun, karena itu mereka tidak mau minum obat itu.

"Kalian berdua tidak ingin minum obat ini, biar aku saja yang meminumnya."

Kata Yi-feng Tiba-tiba ada suara angin yang lewat, sebuah tangan telah memegang pergelangannya.

Sebuah tangan lagi ingin menotok nadinya.

Terpaksa dia menarik kembali tangannya.

Terdengar Wajah Besi Wan Tian-pin berkata dengan dingin.

"Kau juga tidak boleh minum obat ini!"

Yi-feng terkejut.

Hal terpenting baginya sekarang adalah membalas dendam, sesudah minum obat ini walaupun dia hanya bisa hidup selama 3 tahun lagi tapi jika dia mempunyai tenaga besar dia bisa membalas dendam, mati pun tidak masalah baginya.

Dia terpaku, tidak lama kemudian dia baru mengerti, 'Mengapa mereka berdua tidak mau minum obat ini, karena mereka ingin hidup lebih lama tapi mereka juga melarangku minum obat ini.

Mereka takut tenagaku tidak terbendung bisa menjadi ancaman bagi mereka, apa karena alasan itu maka mereka melarangku minum obat itu?' Dia tertawa dingin dan mundur untuk melihat.

Benar saja, Xu-bai dan Wan Tian-pin berpikiran seperti itu.

Mereka berpikir seperti itu tapi tetap tidak mempunyai cara untuk mengatasi masalah ini.

Perlahan Tangan Terampil Xu-bai berkata.

"Kita ambil dulu obat ini setelah itu kita teruskan perjalanan kita. Mungkin kita sudah ditakdirkan membuka gua belakang Wu Qu-jun dengan kekuatan kita bertiga. Kalau begitu sebaiknya obat ini dibuang saja."

Wan Tian-pin mengangguk, diam-diam ternyata dia sudah membawa kotak besi itu.

Tangan Terampil Xu-bai melihatnya, diam-diam berpikir, 'Kau membawa kotak besi ini dengan sebelah tanganmu, nanti kau akan kekurangan satu tangan untuk berebut denganku.' Dia sangat senang tapi tidak terlihat dari wajahnya.

Mereka bertiga berjalan melewati meja batu itu dan terus melangkah ke depan.

--Bab 21 Wu-qu-xing-jun Perjalanan diteruskan, lebar gua semakin menyempit.

Tapi mereka masih bisa berjalan beriringan dan Yi-feng sengaja berjalan paling belakang.

Baru saja mereka berjalan beberapa puluh langkah, di depan ada sebuah batu besar yang menghadang.

Batu besar ini terselip di antara dinding gua.

Batu itu sangat besar, mungkin beratnya beberapa ratus kilogram.

Tidak mungkin ada yang sanggup memindahkan batu itu seorang diri.

Wan Tian-pin melihat keadaan itu, dia berpikir sejenak lalu berkata.

"Ayo kita bersama-sama mendorong batu ini. Jika kita bisa masuk ke dalam gua, obat penawar 'Chu-gu-sheng-shui' akan menjadi milik adik ini. Tapi bagaimana cara kita membagi 'Tian-xing-miji' dan 'Du-long-wan'?"

Dia melihat Xu-bai, tampak dia sedang tertawa keras dan dengan tenang menjawab.

"Aku tidak mempunyai pendapat apa pun mengenai hal ini, lebih baik kita menebaknya saja, bagaimana?"

Wan Tian-pin mengangguk. Si Tangan Terampil Xu-bai melayangkan tangannya lagi, kali ini Yi-feng tidak melihat tempat lain. Xu-bai tertawa keras.

"Anak muda, kau benar-benar pintar!"

Dia menepuk-nepuk pundak Yi-feng, sebelum Yi-feng waspada.

Tangan Xu-bai yang satu lagi sudah memegang uang logam yang jumlahnya puluhan dan uang logam itu diambil dari saku Yifeng.

Si Tangan Terampil Xu-bai tertawa keras, dia berkata kepada Wan Tian-pin.

"Di tanganku ada beberapa keping uang logam, coba kau tebak apakah jumlahnya ganjil atau genap. Jika benar, 'Tian-xing-mi-ji' akan menjadi milikmu, jika salah Tian-xing-mi-ji' akan menjadi milikku, bagaimana?"

Wan Tian-pin terdiam. Xu-bai meletakkan tangannya di belakang kemudian menjulurkannya ke depan. Tangannya dikepal lalu bertanya kepada Wan Tian-pin.

"Tebaklah!"

"Genap!"

Wan Tian-pin menjawab. Xu-bai membuka tangannya, ternyata benar jumlahnya 6. Ternyata tebakan Wan Tian-pin benar. Xu-bai tampak seperti sangat menyesal, katanya.

"Tian-xing-mi-ji menjadi milikmu."

Wajahnya Wan Tian-pin tidak berobah, tapi sebenarnya dia merasa sangat senang.

Wu-qu-xing-jun berilmu sangat tinggi, di dunia persilatan tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya.

Kitab rahasia ini pasti akan lebih berguna dibandingkan Du-long-wan.

Xu-bai terlihat sangat menyesal tapi sebenarnya dia merasa sangat senang.

Diam-diam dia berpikir, 'Pak Tua Wan, kau tertipu lagi, jika nanti aku telah minum Du-long-wan, kemampuan ilmu silatku pasti akan lebih tinggi darimu.

Kitab yang kau dapatkan tidak mungkin bisa segera kau kuasai Aku akan merebut buku Tian-xing-mi-ji' darimu.

Kau pintar seumur hidup tapi berbuat ceroboh saat ini!' Ternyata dalam hati dia telah menyusun rencana, maka dia pun mengusulkan cara menebak jumlah keping uang logam.

Si Tangan Terampil Xu-bai terkenal dengan 'tangan terampilnya'.

Kepandaiannya sangat hebat, dia tidak mungkin akan melakukan kesalahan sedikit pun, baginya merubah jumlah uang logam ditangannya bukan hal yang sulit.

Wan Tian-pin memang pintar, tapi sedikit ceroboh, sesaat hatinya merasa senang, dia berkata.

"Semua sudah menyetujui untuk pembagiannya, sekarang kita sama-sama dorong batu besar ini!"

Dia berjalan terlebih dulu ke arah batu besar itu.

Tiga orang sama-sama mengerahkan tenaga sepenuhnya mendorong batu itu.

Dengan tenaga yang dahsyat, batu besar itu pun bergeser ke belakang.

Terbuka jalan selebar 1 meter lebih.

Mereka berhenti mendorong dan segera berlari masuk ke dalam gua.

Di dalam gua ternyata sangat luas, gua itu besar dan juga merupakan ujung dari gua ini.

Si Tangan Terampil Xu-bai dengan korek api berusaha melihat keadaan gua.

Dia melihat di dalam gua ada sebuah meja.

Di atas meja tergeletak 2 kotak besi.

Mereka berdua segera berlari ke arah meja, masing-masing mengambil sebuah kotak besi dan membuka kunci gemboknya.

Kotak besi yan g dibuka Xu-bai berisi sebuah botol, di atas botol tertulis.

'Du-long-wan'.

Tanpa melihat raut wajah Wan Tian-pin, dia segera mengeluarkan sebutir Du-long-wan dan dimasukkan ke mulutnya.

Obat itu benar-benar wangi, dia segera menelannya.

Begitu Yi-feng masuk ke dalam gua, di atas meja sudah tidak ada apa-apa.

Wan Tian-pin saat itu sedang membaca buku yang tersimpan di dalam kotak besi dan Tangan Terampil Xu-bai sedang menikmati harumnya Du-long-wan.

Yi-feng terkejut, pikirnya, 'Apakah obat penawarnya tidak ada di gua ini?' Dia sering berkelana di dunia persilatan, walaupun bukan orang yang peduli pada sesama, tapi sekarang ini dia benar-benar memikirkan keselamatan nyawa ratusan murid Zhong-nan-pai.

Dia mencari-cari ke seluruh sudut gua, ternyata di atas gua ada sebuah batu yang mencuat ke atas.

Di atas batu itu ada sebuah botol.

Karena itu dengan cepat dia meloncat, di sana kecuali ada botol juga ada sehelai kain kuning yang dipenuhi tulisan.

Dia berpikir, 'Wu-qu-xing-jun meletakkan obat penawarnya terpisah dari kedua kotak besi itu, pasti ada maksud tertentu.' Maka itu sebelum dia meloncat turun, tangan kirinya mengambil kain kuning itu.

Dengan bantuan cahaya yang redup dia mulai membaca huruf yang ada pada kain itu, di atas kain tertulis.

"Seumur hidup aku selalu membela kebenaran dan keadilan, tapi aku mati karena berita yang tidak benar. Tuhan.' Tuhan! Mengapa bisa terjadi hal seperti itu? Menjadi seperti ini? Orang-orang di dunia ini bertindak tidak adil terhadapku, maka aku tidak akan berbuat tidak adil kepada orang di dunia ini. Aku tidak ingin ilmu silatku tenggelam selama-lamanya maka aku mencatat ilmu silatku di sebuah buku yang bernama Tian-xing-mi-ji dan 'Du-long-wan'. Aku menyimpannya di sini. Jika orang yang tidak mempunyai niat untuk siap mati, walaupun sudah masuk ke dalam gua ini, dia tetap tidak akan bisa mendapatkan buku rahasiaku dan ilmu silatku yang bisa menjadikannya sebagai nomor satu di dunia ini. 'Du-long-wan' yang tersimpan di dalam gua ini dibuat oleh Guru Tu-long dengan menggunakan bahan obat-obatan terbaik, manfaatnya sangat hebat tapi obat ini bersifat tenaga Yang. Sebelum minum obat yang bernama 'Yin-xiao-dan' yang kuletakkan di gua terdepan, apalagi bila dia menggunakan tenaga-nya mendorong batu, maka dalam waktu setengah jam dia akan muntah darah sampai...."

Membaca sampai di sana, Yi-feng gemetar.

Dia melihat ke bawah, Wan Tian-pin dengan bernafsu melihat-lihat buku itu, tapi kedua tangan Xu-bai mencengkram meja batu itu.

Tubuhnya kejang-kejang.

Yi-feng jadi punya perasaan yang tidak bisa diungkapkan.

Dia melanjutkan membaca.

"Orang yang masuk ke dalam guaku belum tentu akan mati, asalkan dia tidak minum pil Yinxiao, lalu dengan cara lain masuk ke dalam gua ini, dia tidak akan mati. Orang yang berjodoh denganku akan mendapat buku rahasiaku, orang yang tidak berjodoh, dia akan mati. Aku mati karena kabar yang tidak benar, ketika menulis surat wasiat ini, aku merasa masih banyak hal yang belum sempat terungkap!"

Tulisannya semakin kacau, tulisan cakar ayam itu berisi.

"Wu-qu-xing-jun sebelum meninggal."

Yi-feng membaca dengan terburu-buru, dia menarik nafas panjang dan meloncat turun.

Sekarang Wan Tian-pin baru memperhatikan keberadaan Yi-feng melihatnya memegang sehelai kain berwarna kuning, dia berlari dan berusaha merebut kain itu.

Yi-feng tidak ingin berebut dengannya, dia mundur selangkah.

Dengari cepat Wan Tian-pin membaca tulisan itu sampai habis, tiba-tiba dia tertawa seperti orang gila.

Hati Yi-feng bergetar.

Dia melihat Xu-bai yang masih kejang-kejang, keringat mulai menetes dari dahinya.

Suara tawa Wan Tian-pin semakin histeris, suaranya menggetarkan seluruh gua dan terdengar bergema di mana-mana, seperti banyak Wan Tian-pin yang sedang tertawa.

Si Tangan Terampil Xu-bai mulai membentak.

"Apa yang kau tertawakan?'' Wan Tian-pin masih tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat kain kuning itu, membacakan kalimat isi kain itu satu persatu. Baru saja membaca setengahnya, Xu-bai berteriak lalu mendekat, tubuhnya seperti kepanasan. Tubuhnya yang kekar sekarang tampak kejang-kejang, bajunya yang usang dan kotor hancur berhelai-helai. Wan Tian-pin tahu kalau kepandaiannya seimbang dengan Xu-bai, melihatnya datang, dia tidak menghiraukan. Dia tertawa dingin dan membentak.

"Orang yang akan mati untuk apa masih memberontak?"

Kotak besi yang berisi 'Tian-xing-mi-ji' terkepit dengan erat di ketiaknya.

Pil Yin-xiao berada di tangannya.

Sekarang dia melayangkan tangan kanannya memukul Xu-bai yang mendekatinya seperti seekor harimau gila.

Walaupun Xu-bai hampir gila tapi ilmu silatnya yang sudah puluhan tahun tidak dilupakan begitu saja.

Dia menyambut serangan musuhnya, telapak kirinya menyerang ke depan, jari tangan kanannya dibuka, dia mencengkram dada Wan Tian-pin.

Wan Tian-pin tertawa dingin dan berpikir, 'Benar-benar cari mati!"

Dengan sekuat tenaga dia menyerang Xu-bai.

Ilmu silatnya memang seimbang dengan Xu-bai, tapi ilmu silatnya menggunakan tenaga 'Jingang'.

Jika melawan telapak Xu-bai yang terkenal yang bernama Ilmu Telapak Lemah, Xu-bai pasti tidak akan bisa melawannya.

Apalagi Wan Tian-pin menggunakan telapak kanan sedangkan Xu-bai menyambut dengan tangan kiri.

Begitu dua telapak saling beradu, Wan Tian-pin malah merasa terkejut, tubuhnya bergetar, belum sempat dia berpikir, tangan kanan Xu-bai telah mencengkram dadanya.

Wan Tian-pin berteriak, ketiga jari Xu-bai sudah menancap ke dalam dadanya.

Ternyata Du-long-wan benar-benar mengandung tenaga Yang yang bersifat keras.

Di dunia ini tidak ada seorang pun yang berani minum Du-long-wan begitu saja.

Sebab begitu minum satu macam obat ini, maka dia akan kepanasan seperti dibakar dan muntah darah.

Tangan Terampil Xu-bai pun tidak terkecuali, setelah meminum obat ini, tenaga dalam Xu-bai bertambah jadi beberapa kali lipat.

Tapi rasa sakitnya tidak mudah ditahan, maka begitu beradu telapak, Wan Tian-pin lah yang mendapat kerugian.

Yi-feng yang berdiri di kejauhan menyaksikan keganasan dua manusia ini.

Walaupun dia tidak suka pada kedua orang itu tapi dia merasa iba juga.

Karena dadanya sakit, Wajah Besi Wan Tian-pin segera berteriak.

Dengan tenaga yang masih tersisa, tangan kanannya menghantam dan BUG!

Tangannya mengenai dada Xu-bai.

Kedua mata Xu-bai tampak menjadi merah, pukulan kuat Wan Tian -pin tidak sampai membuatnya terpelanting tapi membuat tulang dadanya retak beberapa buah.

Tenaga yang sangat aneh terus menahan sisa tenaganya.

Tangan kirinya yang lincah mengeluarkan 5 jari berbentuk seperti pisau dan menancap di tenggorokan Wan Tian-pin.

Darah Wan Tian-pin muncrat ke wajah juga tubuhnya, dan membuat wajah yang dipenuhi cambang bertambah menyeramkan.

Darah yang keluar dari lubang ditubuh Xu-bai setetes demi setetes berjatuhan dari wajahnya.

Kedua orang yang berbakat dan juga mempunyai ilmu silat tinggi ini, terkenal karena sikap mereka yang aneh, sekarang karena keserakahannya, masing-masing jadi berakibat seperti itu, sungguh sangat disayangkan, semua ini sangat tidak pantas bagi mereka?

Tapi walau bagaimanapun juga Yi-feng sudah menjadi saksi satu-satunya atas kejadian ini, terhadap kematian dua orang ini dia tetap merasa sedih.

Korek api yang menyala tadi, diletakkan oleh Tangan Terampil Xu-bai di sisinya, begitu mengenai meja batu, api langsung padam.

Gua bertambah hening seperti berada dalam kuburan.

Gelap seperti kuburan...

Yi-feng berdiri terpaku, dia memejamkan mata, semua seperti berhenti di benaknya, mungkin kelak dia akan lebih berprinsip bila menjadi orang.

Dia meraba-raba sampai ke sisi meja dan menemukan korek apinya.

Dia menyalakan korek, tampak tubuh Pencuri Selatan dan Perampok Utara saling tindih.

Darah mereka mengalir menjadi satu.

Semua kebaikan, dendam sebelum mati, berikut keserakahan sebelum mati, sekarang menghilang mengikuti kematian mereka dan selamanya menghilang.

Tidak terdengar ada suara, sampai-sampai suara hembusan angin dan bunyi serangga pun tidak terdengar, kecuali suara nafasnya sendiri, Yi-feng tidak mendengar apa pun.

Pelan-pelan dia melangkah mendekati kedua mayat pendekar aneh itu...

Dia memindahkan kedua mayat itu ke atas meja batu.

Sampai sekarang Wan Tian-pin masih menjepit kotak besi yang berisi Tian-xing-mi-ji'.

Yi-feng menarik nafas panjang, dengan susah payah dia baru bisa melepaskan kotak besi itu dari ketiak Wan Tian-pin yang sudah kaku.

Awalnya dia sangat membenci kedua orang itu tapi kebenciannya sekarang ini telah hilang mengikuti kematian mereka berdua.

Dia mengeluarkan sapu tangannya yang putih membersihkan darah dari wajah mereka.

Sekali lagi dia meloncat ke atas batu untuk mengambil botol yang berisi obat penawar.

Sekarang otaknya seperti kosong, kecuali hanya mengingat pertarungan antara kedua orang tadi, dia tidak sanggup memikirkan apa-apa lagi.

Dia mencium wangi yang sangat pekat, dia malas mencari asal wewangian ini.

Dia hanya merasa ada udara yang menekan ke dalam dadanya.

Dia ingin segera meninggalkan tempat ini, dia tergesa-gesa membuka kotak besi itu dan mengambil Tian-xing-mi-ji.

Dia memegang botol obat, botol ini bisa menyelamatkan banyak nyawa orang.

Dia segera membalikkan tubuh keluar dari gua itu.

Meninggalkan 2 mayat pendekar aneh yang terbaring di atas meja batu dan juga meninggalkan 2 buah benda berharga di dalam gua.

Kedua benda berharga itu tidak akan tenggelam selamanya.

Siapakah yang akan berjodoh mendapatkan kedua benda berharga itu?

--BAB 22 Bernasib sama Yi-feng dengan kecepatan yang tinggi keluar dari dalam gua.

Di luar sangat terang sepertinya sekarang sudah tengah hari.

Dia melihat sekelilingnya, gunung masih ada, rumah batu masih berdiri dengan di sana.

Bagaimana dengan tuan rumahnya?

Dia menarik nafas panjang.

Dia merasa seperti baru keluar dari dalam kubur!

hatinya sekarang terasa sepi, otaknya kosong, hanya kakinya yang bergerak berjalan meninggalkan tempat ini.

Dia berjalan ke kaki gunung, setibanya di kaki gunung dia baru teringat kalau di sudut rumah batu itu, masih ada benda-benda berharga seperti perhiasan dan batu hias.

Benda-benda itu cukup menjadi bekal baginya untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan.

Dia masih teringat Pencuri Selatan dan Perampok Utara masih menyimpan sebuah benda yang lebih berharga dibandingkan tumpukan perhiasan...

alat bercahaya yang bisa berputar.

Dia ingin kembali ke dalam gua untuk mengambil kembali benda berharga itu, tapi di lubuk hatinya yang terdalam, ada kekuatan yang melarangnya melakukan hal ini.

Kematian Tangan Terampil dan Wajah Besi, rintihan murid-murid Zhong-nan-shan...semua begitu nyata melintas di otaknya.

Karena itu tanpa memikirkan hal lain, dia segera berlari ke kaki gunung, hanya dengan cara seperti itu hatinya baru merasa tenang.

Walaupun kau mempunyai benda berharga tapi jika hatimu merasa tidak tenang, hidupmu pun tidak akan senang, apakah betul?...paling sedikit sebagian orang akan merasa seperti itu.

Awan putih terus berjalan, tadinya berada di bawah kakinya, sekarang berada di atas kepalanya, didepan ada belokan, dia harus melewati 2 gunung lagi baru bisa kembali ke tempat di mana dia masuk gunung tadi.

Karena itu langkah kakinya semakin cepat, dia ingin segera tiba di Zhong-nan-shan.

Setelah melewati sebuah gunung, tiba-tiba dia mendengar ada helaan nafas.

Suara itu berasal dari sisi hutan.

Helaan nafas ini penuh dengan kemarahan karena perlakuan tidak adil dan juga seperti menyalahkan.

Di gunung sepi ini semua benar-benar terdengar sangat jelas.

Hembusan angin dingin ini berhembus semakin jauh dan jauh...

Yi-feng berhenti dan berpikir, 'Mengapa orang yang terluka di dunia ini begitu banyak!' Belum habis berpikir, dari dalam hutan terdengar lagi suara sedih.

Dia seperti bicara sendiri.

Yifeng tidak begitu jelas mendengar suara itu, tapi karena sejak kecil dia telah berlatih ilmu silat, maka pendengarannya lebih tajam di-bandingkan orang biasa.

Dia seperti mendengar.

"Sudahlah...selamat tinggal...."

Yi-feng merasa terkejut.

"Apakah ada yang akan bunuh diri di hutan ini?"

Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari mencari suara itu.

Dugaannya tidak salah, di hutan itu benar-benar ada orang yang berusaha ingin bunuh diri, karena itu dia segera berlari ke sumber suara itu.

Saat memasuki hutan, di sebuah pohon besar tampak tergantung seseorang.

Dia segera berlari, dia tiba di tempat itu.

Tangan kanannya melambai, tali sebesar jari itu segera putus, tubuh yang tergantung segera jatuh ke tanah.

Tangan kanan Yi-feng mengibas lagi, dia memeluk tubuh yang terjatuh dan dengan pelan meletakkannya di bawah, dia mencoba nafas orang itu.

Ternyata dia masih bernafas.

Maka dia segera mengurut 36 jalan darah orang itu.

Orang itu menghembuskan nafas kemudian dia segera sadar.

Sorot matanya yang lemah terus melihat Yi-feng.

Yi-feng tersenyum dan berkata.

"Hidup lebih baik daripada mati, Sahabat! Kau masih muda mengapa ingin bunuh diri?"

Orang itu berbaju usang, wajahnya juga lesu, tapi dari wajah lesu itu tetap terlihat kalau dia sangat tampan dan berumur paling-paling 20 tahun lebih.

Hal ini membuat Yi-feng jatuh iba kepadanya.

Sorot mata orang itu berputar dengan kaku, seperti ingin membuktikan kalau dia sudah tidak berniat hidup di dunia ini lagi, mengapa dia ditolong?

Mendengar pertanyaan Yi-feng, dia hanya menarik nafas panjang.

"Mengapa kau menolongku? Hatiku sudah mati, hidup pun apa gunanya?"

Dia berkata lagi.

"Jika seseorang tidak pernah tertimpa kesedihan dia tidak akan tahu bagaimana rasa sedihku ini."

Logatnya berasal dari Si-chuan.

Kata-katanya sangat lancar, kalimatnya juga bagus.

Sangat cocok dengan penampilannya, tampak dia seperti orangyang terluka hatinya.

Yi-feng tersenyum dan berpikir, 'Mana mungkin kau bisa tahu kalau aku juga orang yang hatinya sedang sedih?' Tapi dia tetap berkata.

"Sahabat, apa yang membuatmu sedih? Ceritakanlah, siapa tahu aku bisa membantumu."

Nada bicaranya ramah, dia tidak melihat kalau pemuda ini adalah orang yang licik.

Orang itu menarik nafas dan menceritakan kisahnya...

Ternyata dia berasal dari keluarga pelajar yang tinggal di kota Ping-shan di Propinsi Si-chuan, dia bernama Wen-hua.

Dia bukan seorang pemuda yang sangat berbakat, tapi kalau belajar cepat bisa memahami, hanya saja nasibnya kurang baik.

Dia jatuh miskin dan menjadi seorang pelajar yang tidak berguna.

Setelah harta warisannya habis, dia tidak sanggup bertahan hidup lagi.

Karena itu di membawa istri tercintanya dari Si-chuan menuju Yun-nan.

Di Wu-liang-shan, dia bekerja menjadi pemulung kayu bakar tapi bagi pelajar, hal ini menjadikan dirinya sangat menderita.

Karena istrinya tidak tahan lalu dia pun meninggalkan gunung, dia pergi mengikuti seorang pedagangyangbaru dikenalnya.

Wen-hua menceritakan riwayat hidupnya dengan singkat.

Ini adalah salah satu kehidupan orang kecil dan sering menemukan hal seperti ini, tapi saat Yifeng mendengarnya, dia merasa-kannya dengan perasaan yang dalam.

Dia terpaku, hatinya bergejolak, bukankah riwayat hidupnya hampir sama?

Ditinggalkan istri, ini membuatnya ikut merasa sedih.

Wen-hua menarik nafas.

"Kita baru bertemu, aku berterima kasih karena Tuan telah menolongku. Tapi Tuan menolong tubuhku, bukan menolong hatiku!"

"Hhhh! Uang memang sangat jahat tapi juga sangat dibutuhkan!"

Yi-feng terpikir pada perhiasan yang menumpuk di rumah batu itu. Karena itu dia tersenyum pada Wen-hua.

"Kita bisa bertemu di sini berarti kita memang berjodoh. Di gunung itu aku menyimpan sebagian hartaku. Aku tidak memerlukannya tapi mungkin bisa sedikit membantumu...."

Dia berkata lagi.

"Jangan menolaknya, setelah mendapatkan harta itu jika kau masih ingin bunuh diri, aku tidak akan melarangmu lagi. Masih banyak perempuan di dunia ini, jika istrimu tega meninggalkanmu, untuk apa kau...."

Dia berhenti bicara, dia bisa menasehati orang lain, bagaimana dengan dia sendiri?

--BAB 23 Kembali Merindukan kehidupan adalah hal biasa bagi seorang manusia.

Akhirnya Wen-hua mengikuti Yi-feng naik ke gunung.

Tangan kanannya dipegang oleh Yi-feng.

Dia merasa tubuhnya melayang di atas awan.

Dia sangat iri kepada Yi-feng.

Kaki Yi-feng terus melangkah, tapi hatinya memikirkan sebuah tempat...

Di sebuah jembatan kecil di Jiang-nan.

Awan sore berwarna merah, tampak sangat indah, karena disinari oleh matahari terbenam, rumput-rumput di kedua sisi sungai memantulkan warna indah, air pun mengalir di bawah jembatan, bukankah hal seperti ini surga bagi manusia?

Di tempat inilah Yi-feng bertemu dengan istrinya...waktu itu dia masih belum menjadi istrinya.

Gadis itu menunggang seekor kuda berwarna putih, dia berjalan di sisi jembatan.

Sinar matahari terbenam menyinar wajahnya, rambutnya terburai mengikuti hembusan angin musim semi, wajahnya terlihat bersemu cantik.

Yi-feng mengenang masa lalu...

"Tangan kanannya yang putih melambaikan jerami. Dia tertawa manis kepadanya, tawa inilah yang membuat dia melupakan segalanya! Dan Jiangnan, dia terus mengikutinya. Setiba di Jiang-bei, sepanjang perjalanan sepertinya gadia itu pun suka kepadanya tapi juga seperti tidak suka kepadanya. Saat bertemu dengan teman baiknya, Tombak Perak Tao-chu, dia baru tahu kalau dia adalah si Cantik nomor satu dari Jiang-nan, seorang perempuan yang bisa membuat roh laki-laki terlepas dari raganya."

Yi-feng tersenyum dan berpikir,'Kemudian setelah menikah namanya berubah menjadi Nyonya Pencabut Roh.' "Dia mengikutinya sepanjang ribuan kilometer, tapi tidak mempunyai kesempatan berkenalan dengannya."

"Hingga suatu hari di sebuah jalan Jian-men, dia bertemu dengan 'Jian-men-wu-ba' (Lima Penjahat Jian-men). Pecut Peraknya ternyata tidak sanggup menahan 5 senjata yang digunakan Jian-men-wu-ba. Tidak terbayangkan akibatnya jika sampai kalah! Tentu saja dia segera menolongnya. Melalui kesempatan inilah dia baru bisa berkenalan dengannya. Waktu itu dia masih muda, demi dirinya, dia menciptakan banyak musuh di dunia perslatan. Suatu hari, demi dirinya, dia membuat marah Tang Men yang terkenal dengan senjata rahasia beracunnya di Si-chuan. Dia terkena 3 senjata rahasia beracun. Sejak saat itulah dirinya baru mau berbuat sedikit baik kepadanya. Ketika itu dia hampir mati, sekarang setelah dipikir-pikir dia merasa curiga, apa gunanya dia berbuat seperti itu? Semenjak saat itu dia benar-benar baik kepadanya. Mereka menunggang kuda bersama-sama, bertamasya ke Jiang-nan dan Jiang-bei, sampai ke perbatasan. Saat itu kehidupan dia benar-benar bahagia. Suatu hari mereka duduk di kolong langit yang dipenuhi dengan bintang. Dia menunjuk rasi bintang penenun dan mengatakan kalau itu adalah dirinya dan menunjuk rasi bintang pengembala dan mengatakan kalau itu adalah dia. Lalu dia mengatakan jika penenun dan pengembala bertemu hanya satu kali dalam setahun, mungkin itu terlalu menyedihkan. Dia ingat akan tawa manisnya waktu itu, apalagi saat itu dirinya mengatakan jika kami benarbenar saling mencintai, tidak perlu sering bertemu, asalkan bisa terus saling mencintai, setahun sekali bertemu pun tidak apa-apa. Ketika dirinya mengatakan demikian, jika saat itu dia menyuruhku mati di depannya, dia tidak akan ragu melakukannya! Kemudian mereka tinggal bersama. Di sebuah rumah yang tidak begitu mewah tapi bagiku itu seperti surga! Sekalipun hujan atau angin berhembus, musim dingin ataupun musim semi, mereka berdua hidup dengan bahagia. Terkadang mereka hanya duduk sambil mendengarkan suara hujan semalam tapi mereka merasa bahagia dan gembira. Waktu itu dia tidak melakukan apa pun, hingga keluar rumah pun enggan. Apa pun yang terjadi di dunia persilatan, dia sudah tidak peduli. Jika dirinya meninggalkan dia, dia akan sendiri lagi, lalu, apa gunanya hidup sendiri? Tapi dia tidak menyangka kalau dirinya benar-benar akan meninggalkan dia dan menjadi istri muda dari Ketua Tian-zheng-jiao. Awalnya dia tidak tahu apa alasannya, kemudian dia baru mengerti ternyata ilmu silat ketua Tian-zheng-jiao lebih tinggi dari dia, kekuasaannya lebih besar darinya. Di sana dia bisa lebih menikmati apa yang tidak dia miliki, istrinya telah mengkhianatinya. Hati dia mulai marah, dia mengasihani dirinya sendiri, menyalahkan diri sendiri, dan harga dirinya dihina, membuat dia tidak bisa bernafas. Hatinya panas, kobaran api dendam terus membakar hatinya."

Dia melihat Wen-hua yang berada di pinggir dan berpikir lagi, 'Jika aku memberikan semua barang berharga di rumah batu itu, membiarkan dia menikmati kesenangan dunia ini, apakah istrinya yang genit dan tidak tahu malu itu akan merasa menyesal karena telah meninggalkannya?"

Maka dia pun bertanya kepada Wen-hua.

"Kelak jika istrimu meminta maaf kepadamu, kau harus menumpahkan perasaan sedih, dan terhina kepadanya, kemudian kau boleh mengusirnya."

Dengan bingung Wen-hua terus mengangguk-angguk.

Dia merasa aneh mengapa orang seperti ini mempunyai pandangan yang sama dengannya?

Dia tidak tahu Yi-feng juga merasakan apa yang dia rasakan!

Terdengar suara air mengalir, mereka kembali ke gua itu.

Dengan semangat Yi-feng terus berlari ke atas tapi dia mulai merasa tubuhnya lemas.

Dia melewati jalan kecil seperti semula.

Dia mulai melihat mulut gua.

Batu besar itu masih berada di tempat semula gua masih terlihat gelap.

Yi-feng menunjuk rumah batu itu dan berkata kepada Wen-hua.

"Perhiasan yang ada di dalam rumah itu cukup untuk membuatmu melakukan apa saja!"

Dia menambahkan lagi, 'barang-barang berharga ini bukan milikku, tapi aku mempunyai hak untuk mengaturnya."

Sekarang Wen-hua benar-benar mengagumi Yi-feng.

Mendengar kata-kata Yi-feng dia terus mengangguk-angguk.

Sesampainya di rumah batu itu, mereka melihat ke dalam melalui jendela.

Mereka berdua sangat terkejut.

Yang membuat Wen-hua terkejut adalah, perhiasan di dalam rumah itu ternyata sangat banyak, dia seperti bermimpi.

Mengingat barang ini akan menjadi miliknya, jantungnya berdebar kencang, dia tidak percaya apakah semua ini nyata baginya?

Yang membuat Yi-feng terkejut adalah, perhiasaan yang ada di dalam rumah itu sudah berkurang banyak, mungkin sekarang ini hanya tinggal sepersepuluh dari yang tadi pagi.

Siapa yang mengambilnya?

Dengan terkejut Yi-feng bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Dia melihat ke sekeliling berharap bisa mendapatkan jawaban.

Tapi dia merasa kecewa.

Barang-barang yang ada di sana tidak bergeser sedikit pun, dia mencari jejak kaki seseorang yang tertinggal, mungkin pernah ada yang datang ke sini sebelumnya..Tapi dia kecewa lagi.

Tiba-tiba dia melihat ada setetes darah.

Darah itu mulai mengering tapi dari pengalamannya selama ini berkelana di dunia persilatan, dia tahu, darah ini adalah darah segar.

"Siapa pemilik darah ini?"

Dia bertanya kepada dirinya sendiri, seperti seekor anjing pelacak dengan teliti terus melihat keadaan sekeliling.

Tiba-tiba di dekat gua, dia menemukan tetesan darah kedua.

Dengan cepat dia berlari ke arah gua.

Tetesan darah kedua ini seperti tetesan darah pertama, walaupun kering tapi masih segar.

Tanpa ragu lagi dia masuk ke dalam gua.

Dia menyalahkan korek api.

Dia berjalan dengan pelan hingga sampai di belakang batu besar yang masih berada di sana.

Dengan hati-hati dia masuk lagi ke tempat itu, korek api mengikuti putaran tubuhnya sehingga menjadi gelap.

Begitu api agak membesar, Yi-feng berteriak karena terkejut.

Ternyata 2 mayat yang tadi dia letakkan di atas meja batu sekarang hanya ada Tangan Terampil Xu-bai.

Dan posisi mayat Xu-bai juga sudah berubah.

Yi-feng merinding ngeri, 'Kemana mayat Wajah Besi Wan Tian-pin?

Siapa yang mengambil mayatnya?

Untuk apa?

Jika dicuri orang, berarti...' Dia merinding lagi dan tidak berani terus memikirkan kelanjutannya.

Api redup terus menyinari mayat Xu-bai dan genangan darah yang berada di bawah membuat gua yang sudah seram bertambah seram dan menakutkan!

Melihat genangan darah, mengingat pada 2 tetesan darah tadi, Yi-feng cepat-cepat meninggalkan gua ini.

Begitu membalikkan tubuh, dia segera berlari keluar dari gua.

Langit di luar gua lebih gelap dibandingkan waktu dia masuk tadi.

Angin sepoi-sepoi berhembus, meniup baju Yi-feng membuat dia gemetar.

Ketika dia melihat lagi, dia terkejut bukan kepalang.

Ternyata Wen-hua yang masuk bersama dengannya tadi sekarang sudah tidak ada, dia berlari ke sisi jendela rumah dan melihat ke dalam, dia segera mundur kembali karena tidak tega melihatnya.

Ternyata Wen-hua sudah berbaring kaku di rumah batu itu.

Di sisinya banyak tetesan darah.

Selain takut Yi-feng merasa terkejut, otaknya sudah tidak bisa diajak berpikir.

Jangan salahkan dia seperti itu, siapa pun jika bertemu dengan situasi seperti ini pasti akan sama terkejutnya seperti dia.

Tiba-tiba di belakangnya terdengar tertawa yang sangat menyeramkan.

Ternyata di belakangnya sudah ada seseorang yang berdiri tegak, tubuhnya bersimbah darah tapi sorot matanya masih begitu tajam.

Yi-feng sendiri yang menyaksikan kalau dia sudah terluka berat dan lukanya tidak mungkin bisa sembuh lagi.

Dia mati di depan Yi-feng...Wan Tian-pin.

--BAB 24 Hidup kembali Begitu Yi-feng berbalik untuk melihat, darah dan tulangnya serasa membeku...

Orang yang tertawa seram di belakangnya ternyata adalah orang yang tenggorokan dan dadanya dipukul keras oleh Xu-bai, dia adalah Wan Tian-pin yang sudah mati dan Yi-feng sendiri menyaksikan dia telah mati.

Yi-feng mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya.

Malam hampir tiba tapi bumi belum begitu gelap.

Dia percaya dengan penglihatannya dia percaya kalau dia tidak akan salah melihat.

Mengapa Wan Tian-pin yang sudah mati, sekarang bisa berdiri di depannya?

Darah segar membasahi tubuh Wan Tian-pin, wajahnya yang kurus kering, di balik noda darah terlihat tawa yang menakutkan.

Suara tawanya terbawa angin terus menyebar menimbulkan gema dan terdengar ke seluruh pelosok membuat orang merinding ketakutan.

Gunung dengan suasana seram bertambah seram lagi.

Suara sungai seperti suara setan menangis.

Begitu pandangan Yi-feng menatap Wan Tian-pin dengan nanar, perasaannya seperti membeku, dia jatuh ke dalam pusaran perasaan takut.

Suara yang membuat hati orang bergetar ngeri, selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati Yi-feng.

Sorot mata yang seram seperti hantu gentayangan itu, begitu tajam dan tidak berperasaan.

Dia tertawa seram.

"Kau kembali lagi, ini sangat baik...."

Yi-feng tidak bisa membedakan apakah itu adalah kata-kata yang diucapkan manusia atau kata-kata yang diucapkan hantu?

Yi terus mundur saat Wan Tian-pin mendekatinya...

Sorot mata Yi-feng seperti ada kekuatan besar yang menyedotnya terus menatap tidak berdaya.

Matanya tidak berkedip, dia terus melotot pada Wan Tian-pin.

Sorot mata terkejut membuat suara tawa Wan Tian-pin semakin keras.

Tiba-tiba Yi-feng merasa dia terhalang dinding rumah, dia tidak bisa mundur lagi.

Wan Tian-pin yang seperti hantu gentayangan dengan kuat menekan jantung Yi-feng.

Perasaan takut membuat Yi-feng yang mempunyai ilmu silat tinggi dan berpengalaman di dunia persilatan, kehilangan tenaga untuk melawan ataupun lari dari sana.

Dia hanya berdiri terpaku menunggu Wan Tian-pin mendekatinya...

Mengikuti langkah Wan Tian-pin, udara di sekelilingnya seperti memukul Yi-feng.

Dia merasa kaki dan tangannya sudah kaku.

Semakin lama jarak mereka semakin dekat, hanya tersisa 7-8 langkah lagi.

Pesilat tangguh seperti mereka tentu akan mengeluarkan tangan supaya bisa memukul lawannya.

Tangan Wan Tian-pin pelan-pelan dijulurkan.

Tampak tangannya berlumuran darah.

Pesilat tangguh yang terkenal dengan ilmu cakar elangnya, mengejutkan Yi-feng ketika melihat darah yang memenuhi telapaknya.

Tangan kurus dan kering berlumuran darah, apakah berbeda dengan cakar hantu?

Tiba-tiba Wan Tian-pin berhenti tertawa.

Walaupun terdengar suara air mengalir, tapi di sekeliling tempat itu segera menjadi hening seperti mati.

Yi-feng berusaha bertahan tapi entah mengapa tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku.

Sekarang ini asalkan Wan Tian-pin memakai sedikit tenaga, maka Yi-feng akan terluka oleh tangan kurus kering itu.

Hal ini terjadi dengan cepat tapi di depan mata Yi-feng semuanya seperti menjadi pelan.

Hal yang terjadi di dunia ini terkadang sulit untuk dijelaskan.

Yang pasti seorang penulis tidak bisa hanya dengan satu pena dalam waktu bersamaan bisa menuliskan 2 hal yang terjadi di dua tempat yang berbeda.

Demi nyawa murid-murid Zhong-nan-shan, Yi-feng pergi ke Yuan-nan Wu-liang-shan, dan sekarang dia menemukan peristiwa aneh yang terjadi di sini.

Dia mengalami peristiwa yang berbahaya dan bisa membuatnya mati, tapi ratusan nyawa murid Zhong-nan-shan bisa terlepas dari kematian.

Semenjak Yi-feng meninggalkan Zhong-nan-shan, di kuil Zhong-nan setiap orang di sana kecuali menunggu tidak ada hal yang bisa mereka perbuat.

Menunggu bagi orang lain mungkin adalah hal biasa dan sering terjadi tapi bagi Tuan Jian dan San-xin-shen-jun, ini menjadi persoalan aneh.

Semenjak beberapa puluh tahun Tuan Jian dan San-xin-shen-jun telah terkenal, sekarang mereka hampir menjadi orangyang tidak akan mati.

Dengan ilmu mereka, hal apa pun yang ada di dunia ini, mereka bisa lakukan, jadi mereka tidak perlu menunggu lama, tapi sekarang ini, 2 orang aneh ini mengalami kesulitan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya!

Kuil begitu besar, di mana-mana terasa suasana menyedihkan.

Setiap hari, ada beberapa yang meninggal, ketua Zhong-nan-pai terpaksa membiarkan mayatmayat ini berada di kamar.

Setiap hari setiap malam, perkumpulan terkenal Zhong-nan-pai selalu berada dalam keadaan menyedihkan.

Tuan Jian dan San-xin-shen-jun sekarang berada di belakang sebuah pondokan, mereka sedang bermain catur.

Tapi pikiran mereka tidak ada di tempat ini.

Luka Ling-lin semakin membaik.

Setelah dirinya sadar, apa yang dilihatnya membuatnya merasa aneh juga kaget, ibunya segera menceritakan apa yan g mereka alami sebelumnya.

Tapi gadis kecil yang pintar ini sama sekali tidak merasa berterima kasih kepada Yi-feng.

Pikir dia, 'Jika tidak ada Yi-feng, kami tidak akan bertemu dengan 2 Mayat Pencabut Nyawa.' Sun-ming tidak bisa mengatakan apa-apa.

Kecuali menyayangi dan melindungi putrinya yang pintar ini, dia tidak bisa berbuat banyak.

Tapi Ling-lin merasa beruntung bisa bertemu dengan 2 orang aneh yang berilmu tinggi dan merasa sangat berterima kasih kepada mereka.

Lukanya semakin membaik tapi dia tetap tidak bisa terus bergerak, dia harus beristirahat di ranjang.

Umurnya masih kecil tapi jalan hidupnya berliku-liku, semua membuatnya dewasa dibanding usia sebenarnya.

Yang paling aneh dia membenci biksu yang tidak banyak bicara...ketua Zhong-nan-pai Miaoling.

Sejak pertama kali melihatnya, Ling-lin sudah menaruh rasa benci.

Dia sendiri pun tidak bisa menjelaskan apa alasannya.

--Kecuali harus mengurus Tuan Jian dan San-xin-shen-jun yang berada di pondok, Sun-ming masih harus menemani putri tunggalnya.

Hatinya harus terbagi menjadi 3!

Kecuali melindungi dan menyayangi putrinya, dia sering mengenang masa lalunya.

Perempuan yang nasibnya selalu berubah-ubah ini, sekarang bertambah cemas, menunggu membuatnya mempunyai perasaan yang sulit diungkapkan.

Menunggu dengan cemas, semua demi Yi-feng, tiba-tiba merasa mengkhawatirkan keadaan Yifeng, apakah dia bisa membawa pulang obat penawar?

Dia juga berharap Yi-feng bisa cepat kembali ke Zhong-nan-pai.

Kita bisa mengerti penantian dan kecemasannya karena sewaktu dia merawat Yi-feng yang sedang terluka parah, kedudvikan Yi-feng di hatinya setara dengan putrinya.

Tapi perasaannya pada Tuan Jian tidak bisa jelaskan.

Dia sangat mengerti keadaannya, dari sudut mana pun mereka jauh berbeda.

Dia juga tahu kalau Tuan Jian yang terlihat masih berusia setengah baya ini sebenarnya sudah tua.

Sekarang tanpa sengaja dia berharap pada Tuan Jian.

Hanya dilihat oleh Tuan Jian saja, dia sudah merasa senang.

Ini akan menjadi rahasianya yang paling dalam.

Terpikirkan keadaan ini, dia merasa malu.

Setelah Ling-lin mendengar kalau orang-orang Tian-zheng-jiao yang membubuhkan racun ke dalam air, dia selalu memikirkan masalah ini.

Masalah ini membuat Sun-ming lupa pada perasaan yang selalu mengganggunya.

BAB 25 Terus menerus curiga Pertanyaan pertama yang ditanyakan Ling-lin adalah.

"Kalau begitu berarti semua biksu Zhong-nan-shan terkena racun karena telah minum mata air yang mengandung racun Chu-gu-sheng-shui, apakah kami berempat juga telah meminum air dari mata air tersebut?"

Hal ini dijawab oleh Sun-ming.

"Semenjak kita ada di sini, Tuan Jian telah menyuruh Biksu Miao-ling untuk mengambil air minum dari mata air yang lain. Tujuannya tidak lain adalah menghindar supaya jangan terkena racun lagi."

Tapi Ling-lin bertanya lagi.

"Jika air minum para biksu Zhong-nan-shan diambil dari mata air, mereka tidak mungkin akan terkena racun semua. Karena air di sana terus mengalir, air beracun tidak mungkin akan di situ terus, dan bila mengambil air pun tidak akan di sana terus. Ini artinya tidak mungkin orang Tianzheng-jiao membubuhkan racun di mata air itu kecuali ada yang sengaja membubuhkan racun ke dalam tempat penyim-panan air di kuil."

Sun-ming tampak berpikir sebentar, dia mengangguk menyetujui kata-kata putrinya. Mata Ling-lin berputar sambil merapikan rambutnyayang acak-acakan, dia berkata lagi.

"Banyak biksu Zhong-nan-shan minum dari air yang sama, siapa yang terkena racun ada yang lebih awal atau lebih akhir, mungkin ini berhubungan dengan ilmu silat yang nereka kuasai, sedangkan pemimpin Zhong-nan-shan tidak terkena racun, bukankah ini aneh? Apakah ada orang Tian-zheng-jiao yang diam-diam membubuhkan obat penawar ke dalam air minumnya? Tapi itu tidak mungkin, kecuali...."

Tiba-tiba dia berhenti bicara, dia melihat ke arah pintu, Sun-ming tidak memperhatikan tingkah laku putrinya, karena dia sedang memikir-kan pendapat putrinya.

Dia mulai merasa ada yang patut unutk dicurigai, tiba-tiba Ling-lin berkata.

"Bu, coba Ibu lihat di luar sepertinya ada orang."

Sun-ming terpaku, lalu dia membuka pintu, di luar hanya ada tiupan angin tapi tidak ada bayangan seseorang. Sun-ming berkata sambil tersenyum.

"Mungkin kau salah dengar, di luar tidak ada siapa pun."

Tapi Ling-lin menggelengkan kepalanya, dia menatap langit-langit, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk dipecahkan.

Yang paling merasa lelah adalah ketua Zhong-nan-pai, Biksu Miao-ling, karena dia harus turun ke dapur untuk membantu memasak.

Malam hari dia harus memasakkan semangkuk kuah ginseng untuk Ling-lin.

Dengan penuh rasa terima kasih Sun-ming melihat Biksu Miao-ling.

Ling-lin tertawa manja, dia mengambil mangkuk berisi kuah ginseng itu, tapi segera menarik kembali tangannya dan berkata.

"Aduh, panas!"

Dia meletakkan mangkuk itu di atas meja.

Wajah Miao-ling bergerak kemudian pelan-pelan dia keluar dari kamar.

Alisnya berkerut menjadi satu.

Selama dua hari ini alis ketua Zhong-nan-pai selalu berkerut, dia selalu terlihat khawatir.

Ketika dia kembali untuk mengambil mangkuk kosong Ling-lin, luka Ling-lin sepertinya bertambah parah lagi, dia terus merintih.

Bibir tipis Biksu Miao-ling bergerak lalu dengan ter-buruburu membawa mangkuk kosong itu keluar.

Sun-ming segera meninggalkan pondok untuk melihat keadaan Ling-lin, dia kembali lagi ke pondok untuk memanggil San-xin-shen-jun.

Begitu San-xin-shen-jun tiba di kamar itu, terlihat dia terus menggelengkan kepalanya tapi tidak bicara apa pun.

Wajahnya dingin dan menyeramkan seperti es gunung.

Hati Sun-ming terus tenggelam.

Ling-lin tidak sadarkan diri lagi, dia terus meracau.

San-xinshen-jun dan Tuan Jian tetap bermain catur di malam hari, seperti tidak terjadi apa-apa di sana.

Malam semakin larut, tidak ada yang berjaga malam, kira-kira jam 3 subuh...

Ada bayangan seseorang melintas di belakang kamar jejeran ketiga.

Bayangan itu terus berjalan, hanya sebentar bayangan itu sudah berada di bawah dinding.

Dia berlari ke bawah bayangan dinding yang disinari cahaya bulan yang redup.

Orang itu sepertinya adalah ketua Zhong-nan-pai, Biksu Miao-ling!

Awalnya dia melihat dulu keadaan di sekeliling, setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, kedua jarinya tangan kanannya mengetuk-ngetuk dinding sebanyak 3 kali, kemudian menempelkan telinganya ke dinding untuk mendengar lebih jelas.

Tidak lama kemudian dari balik dinding ada 3 kali balasan suara sentilan jari.

Wajah Biksu Miaoling terlihat sangat senang tapi rasa senang di wajahnya tetap tidak bisa menutupi kecemasan dan ketakutannya.

Di kejauhan bayangan seseorang berkelebat, kecepatannya sangat hebat.

Apalagi di bawah sinar bulan kecepatannya hampir tidak terlihat oleh mata manusia.

Biksu Miao-ling melihat ke sekeliling lagi.

Di sana sangat sepi hanya terdengar tiupan angin, dan baju biksunya mengeluarkan suara SHAT, SHAT!

Setelah dia membereskan ikat pinggangnya kemudian menekan dan meloncat ke atas.

ilmu meringankan tubuhnya bernama 'di dalam tanah kering mencabut bawang'.

Dari sini dapat diketahui kalau ilmu silat ketua Zhong-nan-pai, Biksu Miao-ling sangat tinggi.

Dia meloncat kira-kira tiga meter lebih, kemudian dia memegang dinding, tubuhnya yang lincah berbalik.

Dia keluar tanpa mengeluarkan suara.

Baru saja turun dari atas dinding, ada bayangan seseorang yang menyambutnya.

Bayangan orang itu terlihat langsing.

Di malam yang begitu gelap, tetap terlihat pancaran hawa kegenitan yang terpancar dari tubuhnya.

Dia berlari ke sisi Biksu Miao-ling, mereka segera berpegangan tangan dengan erat.

Jakun Miao-ling terus bergerak dari atas ke bawah, dia menarik perempuan itu ke balik bayangan dinding, kemudian terdengar suara dari tenggorokannya...

"Lihat, kau masih seperti ini, masih takut seperti seekor tikus! Aku tidak percaya kalau 2 setan kurus itu begitu lihai, sampai-sampai kau tidak...."

Miao-ling seperti berbisik.

"Mei-niang, ke sebelah sini sedikit...."

Terdengar bisikan seperti orang mimpi.

"Tunggu sebentar, apakah kau tidak tahu kalau permasalahan ini tidak bisa ditarik lebih panjang lagi? Kami tidak cukup orang, kau...kau harus mencari akal!"

Miao-ling menarik nafas dan berkata.

"Mei Niang, demi dirimu, aku...hhhh! Mei-niang, apakah kau tahu kedua orang ini... rencana kau hampir 90% selesai, tapi kedua orang ini tiba-tiba saja datang ke sini, sekarang entah apa yang harus kulakukan. Mei-niang, kau yang membuat rencana semua ini, aku melakukan apa yang kau rencanakan semuaini demi dirimu."

Mei-niang tertawa dan berbisik.

"Lihat kau ini, seorang ketua Zhong-nan-pai, masih berkelakuan seperti anak kecil saja! Asalkan kau menaburkan sedikit racun ke dalam makanan mereka, bukankah semua bisa selesai dengan cepat?"

Tidak terdengar suara, sepertinya Miao-ling sedang mempertimbangkan sesuatu.

Tapi kedua orang yang tidak bersuara itu, tidak benar-benar sedang diam, mereka tetap bergerak-gerak di dalam kegelapan.

Gerakan mereka tidak teratur, ini adalah irama jaman purba.

Angin berhembus, di dunia ini seperti hanya ada mereka berdua.

Tapi...di dinding sana ada bayangan seseorang yang berdiri sambil melihat mereka.

Dia tampak sangat marah, raut wajahnya seperti menunjukkan ekspresi seperti, 'menyayangkan' dan 'tertipu'.

"Tidak disangka dia tega melakukan hal seperti ini! Tidak disangka...untuk apa dia melakukan semua ini?"

Begitu mendengar suara ,"Ya, ya ya!", dia baru mendapatkan jawabannya kemudian dia pun menarik nafas panjang.

Miao-ling dan Mei-niang yang ada di sana tenggelam dalam nafsu birahi tapi begitu mendengar ada seseorang yang menarik nafas panjang, mereka terkejut dan mulai mencari-cari sumber suara itu.

Begitu mereka melihat sosok orang itu, mereka seperti membeku.

Bayangan orang ini seperti segumpal asap terbang ke arah mereka, dengan dingin dia berdiri di depan mereka.

Miao-ling terkejut dan berteriak, tanpa terasa dia mundur.

Dia tidak berani melarikan diri dari sana, karena dia sadar dengan cara apa pun tidak akan bisa kabur dari sana.

Tapi Mei-niang memberontak, tubuhnya bergerak-gerak, tangannya melayang dan menepis ke arah bayangan orang itu.

Bayangan itu tertawa dengan nada menghina.

Dia tidak bergerak.

Mei Niang seperti seekor burung walet terbang, tangan kanan dengan lima jarinya menotok ke arah tenggorokan, tangan kirinya menepis ke pundak kiri orang itu.

Satu jurus dengan dua serangan.

Bisa dikatakan kalau ini adalah jurus yang kejam, tepat, dan cepat, tidak ada yang menyangka kalau jari lembut ini bisa berubah menjadi jari pembunuh hanya dalam waktu singkat!

Orang itu tetap tidak bergerak, saat jarinya hampir mengenai tubuhnya, dia bergeser beberapa sentimeter ke arah kanan.

Walaupun hanya bergeser beberapa sentimeter, tapi telah membuat jurus Mei-niang yang kejam, tepat, dan cepat tidak bisa mengenai sasaran.

Ketika orang ini muncul, dalam kegelapan Miao-ling tampak pucat seperti orang mati, dia segera sadar kalau pemilik bayangan ini adalah San-xin-shen-jun.

Saat dia kecil dulu, dia sudah hafal dengan ilmu silat San-xin-shen-jun.

Ketika Mei-niang menyerang San-xin-shen-jun, dalam otak Miao-ling terus memikirkan cara, dia mulai menyelusuri dinding, dan berlari dengan cepat, dia mendengar jeritan Mei Niang dan tahu kalau Mei-niang sudah mati!

Tapi dia tidak berani melihat ke belakang, harapan ingin terus hidup membuatnya berlari lebih cepat.

Sekarang dia hanya berpikir apakah dia bisa terlepas dari cengkraman orang ini?

Tiba-tiba dia merasa ada yang menghadang di depannya, tidak lama kemudian terdengar jeritan, jeritannya sangat memilukan dan menusuk telinga di malam yang begitu larut ini.

Dia melihat tubuh Mei-niang yang seksi.

Dia melihat darah mengalir dari mulut yang tadi sempat mengeluarkan suara UGH, UGH!

Matanya yang memancar genit seperti air di musim gugur sekarang terpejam rapat.

Dia segera berlari ke sana...

--BAB 26 Terbongkarnya rencana jahat Miao-ling merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh Mei-niang, tapi tidak tepat.

Setelah melihat dengan benar ternyata yang berdiri di depannya adalah San-xin-shen-jun dengan wajah dingin.

Miao-ling sekarang bertingkah seperti orang gila, dia meraung, dengan telapak yang kuat, dia terus menyerang San-xin-shen-jun.

BAG!

Kedua telapaknya mengenai seseorang tapi itu bukan tubuh San-xin-shen-jun.

Ternyata ketika kedua telapaknya menyerang dengan keras, San-xin-shen-jun sedikit mundur, dia melindungi tubuhnya dengan mayat Mei-niang, dan menyambut pukulan Miao-ling.

Miao-ling meraung lagi, kedua tangannya yang kuat terus memukul San-xin-shen-jun.

Ketakutan, rasa tidak tenang, dan kebohongan selama beberapa hari ini, sekarang dilampiaskan.

Dia berada di gunung ini sudah puluhan tahun.

Dia hidup tenang dan bersih, apa yang terjadi di dunia ini dia sama sekali tidak tahu dan tidak peduli.

Perasaan manusia dan nafsu birahi, pernah dia rasakan tapi belum pernah melakukannya.

Tapi dia tidak tahan dengan godaan perempuan.

Mei-niang mendapatkan misi rahasia, dengan menggunakan segala cara, dia berusaha mendekati Miao-ling, membuat Miao-ling yang belum pernah dekat dengan perempuan terlena dibuatnya, dengan tubuh-nya yang seksi, Mei-niang membuat Miao-ling tega memberikan racun sehingga ratusan nyawa murid Zhong-nan-pai hilang begitu saja.

Dia sendiri yang membubuhkan racun itu, dia sendiri yang meracuni anak buahnya, kemudian berpura-pura di depan semua orang, membuat Zhong-nan-shan yang telah berdiri ratusan tahun diberikan pada orang lain.

Karena pikirannya sendiri telah diracun oleh nafsu birahi, asalkan dia bisa selalu dekat dengan Mei-niang, dia tega menutup hati nurani-nya dan mengkhianati nenek moyang!

Di luar dugaannya, Tuan Jian dan San-xin-shen-jun tiba-tiba saja datang ke Zhong-nan-shan, semua ini membuatnya takut!

Dia sangat pintar berbohong, siapa pun tidak menyangka atau curiga kalau yang menabur racun adalah ketua mereka sendiri.

Tapi karena hatinya selalu tidak tenang, maka otot wajahnya tertarik kencang dia takut kalau rahasianya akan terbongkar.

Siapa pun yang tidak mempunyai hati nurani, kebohongannya tanpa sengaja akan terlihat keluar.

Dari luar pintu, dia mendengar Ling-lin mengobrol dengan ibunya, dia segera merasa tidak tenang.

Dia mengira Ling-lin mengetahui rencananya, padahal semua ini hanyalah kecurigaan saja.

Karena itu dengan sengaja dia membuatkan kuah ginseng untuk Ling-lin dan membubuhkan racun ke dalam kuah itu.

Dia berniat membunuh Ling-lin agar tutup mulut, tapi Ling-lin adalah anak pintar, dia memindahkan kuah ginseng itu ke mangkuk lain.

Ketika Miao-ling datang kembali untuk mengambil mangkuk kosong, dia mengira Ling-lin telah menghabiskan kuah ginsengnya.

Kemudian Ling-lin berpura-pura kalau penyakitnya bertambah parah.

Begitu San-xin-shen-jun datang memeriksanya, dia menceritakan kecurigaannya serta semangkuk kuah ginseng beracun itu.

San-xin-shen-jun yang mempunyai ilmu pengobatan tinggi, begitu melihat kuah itu, dia langsung tahu kalau kuah itu mengandung racun ganas.

Tapi dia hanya diam, diam-diam mengawasi keadaan.

Karena itu Miao-ling berbuat kesalahan dan dia sendiri yang sudah menghancurkan masa depan, nama baik, sampai harus kehilangan nyawa.

Sekarang Miao-ling bertindak seperti orang gila.

Dengan dingin San-xin-shen-jun membentak.

"Haram jadah! Jangan kabur!"

Dia bergerak mengeliling Miao-ling, jarinya menotok 2 nadi Miao-ling.

Totokan ini adalah jurus yang hampir musnah dari dunia persilatan.

Nadi yang ditotok adalah nadi penting.

Miao-ling adalah seorang pemimpin, dia mempunyai ilmu silat tinggi, tapi karena sekarang dia sudah setengah gila, apalagi lawannya adalah seorang pesilat tangguh maka dia tidak bisa menahan serangan ini.

Jari San-xin-shen-jun sudah bergerak, tapi dia hanya mengerahkan 20% tenaganya.

Tangannya bergerak mengikuti lengan bajunya yang berputar dan membawa Miao-ling yang ada di belakang dan meloncat.

Dia berlari ke dalam kuil.

Kedua alis Tuan Jian tampak berkerut.

Sun-ming merasa aneh kenapa ketua Zhong-nan-pai yang selalu mempunyai nama baik, bisa melakukan tindakan seperti ini?

Wajah dingin San-xin-shen-jun mulai tersenyum, dia bertanya kepada Ling-lin.

"Kau lebih pintar, kami 2 orang tua kalah darimu!"

Ling-lin tertawa, dia merasa sedikit bangga tiba-tiba dia bangun dari tempat tidur dan berkata.

"Kakek, cobalah buka nadi Biksu Miao-ling, tanyakan kepadanya, mungkin racun yang dia tabur bukan 'Chu-gu-sheng-shui', aku pikir...."

San-xin-shen-jun meloncat bangun.

"Betul! Racun yang dia tabur bisa membuat ratusan orang terkena racun. Racun ini pasti racun biasa."

San-xin-shen-jun tertawa dan berkata kepada Tuan Jian.

"Semakin tua kita menjadi orang bingung, kita terus memikirkan racun tapi tidak memeriksa racun apa yang ada di dalam tubuh murid-murid Zhong-nan-pai. Tidak disangka kau juga bisa ceroboh!"

Tuan Jian tertawa kecut, dia sama sekali tidak menyangka kalau Miao-ling bisa berbohong.

Dia telah mengambil keputusan, ratusan biksu Zhong-nan-pai terkena racun 'Chu-gu-sheng-shui', karena di dunia ini tidak ada racun yang begitu dasyat.

Sekarang semua sudah menjadi jelas, karena Miao-ling adalah ketua Zhong-nan-pai dan dengan racun apa pun dia bisa membuat semua anak buahnya terkena racun.

Dia tertawa kecut lalu melihat ke arah Ling-lin, kedua mata anak ini bersorot pintar.

Tuan Jian tersenyum.

"Anak ini sangat berbakat dan lincah, benar-benar jarang ada selama ratusan tahun ini. Asalkan sedikit diasah, dia akan lebih maju dibandingkan orang lain. Dia juga akan menyinari dunia persilatan."

Tiba-tiba Sun-ming berlutut pada Tuan Jian. Tuan Jian sedikit terkejut, Sun-ming segera berkata.

"Ling Er sejak kecil sudah kehilangan ayah dan dia mempunyai dendam yang harus dibalas, tapi karena ilmu silatnya tidak tinggi maka cita-citanya tidak bisa tercapai, apakah Tetua...."

Sun-ming mengemukakan niatnya, dia ingin Tuan Jian mengambil putrinya menjadi murid Tuan Jian.

Ling-lin yang pintar dan lincah segera mengetahui jika dia bisa menjadi murid Tuan Jian maka semua akan menjadi keberuntungannya, maka dia ikut berlutut di atas ranjang memohon kepada Tuan Jian mengangkatnya menjadi muridnya.

Diam-diam San-xin-shen-jun menggelengkan kepala, karena selama ratusan tahun ini belum pernah Tuan Jian mengangkat murid.

Dia menganggap permintaan ibu dan anak ini terlalu muluk dan pasti akan ditolak oleh Tuan Jian.

Tapi Tuan Jian berpikir sebentar, dia menjawab.

"Berdirilah, aku setuju permintaan kalian."

San-xin-shen-jun terpaku, dia sama sekali tidak menyangka kalau Tuan Jian akan mengangkat murid.

Dia tidak tahu selama beberapa hari ini, hati Tuan Jian selalu bergejolak.

Gejolak ini sebagian dikarenakan masa lalunya tapi sebagian lagi karena Sun-ming.

Perubahan pada perasaan manusia sangat aneh, orang lain tidak akan bisa menebaknya.

Yang pasti San-xin-shen-jun tidak menyangka mengenai hubungan Tuan Jian dan Sun-ming.

Tuan Jian sendiri pun merasa aneh dengan perasaannya.

Dia selalu berusaha menjelaskan kepada dirinya kalau semua ini hanya perasaan biasa saja, tapi apakah betul?

Dia sendiri pun tidak bisa menjawab.

Tapi walau bagaimanapun juga dia tidak bisa menolak permintaan Sun-ming, tidak seperti kebiasaannya.

Dia mau menerima Ling-lin menjadi muridnya.

Ling-lin sendiri mempunyai persyaratan cukup untuk membuatnya menjadi murid satu-satunya dari orang berilmu silat tinggi.

Dengan kepintarannya, dia bisa membuat rencana Tian-zheng-jiao yang begitu tertutup rapat terbongkar.

Sekarang San-xin-shen-jun mengetahui kalau murid-murid Zhong-nan-pai bukan terkena racun 'Chu-gu-sheng-shui', tapi racun ini pun ternyata lumayan hebat.

Tapi semua ini tidak membuat San-xin-shen-jun kerepotan.

Ratusan nyawa murid Zhong-nan-pai akan tertolong sebelum Yi-feng kembali.

Biksu Miao-ling yang sebelumnya selalu mempunyai nama baik di dunia persilatan, karena nafsu pribadinya, dia kehilangan masa depan yang cerah juga nyawanya..Banyak yang berperilaku seperti itu, tapi jika belum terbukti jelas, siapa yang menyangka?

Tuan Jian dan yang lainnya masih tinggal di Zhong-nan-shan selama beberapa hari menunggu kepulangan Yi-feng, mereka tidak tahu kalau sekarang Yi-feng sedang menghadapi bahaya maut!

--BAB 27 Antara hidup dan mati Semua pikiran dan tenaga terasa membeku karena ketakutannya.

Dia melihat tangan kurus dan kering milik Wan Tian-pin yang berlumuran darah, pikirannya melayang, dia merasa kematian sedang menunggunya.

Kedua mata Wan Tian-pin terus melihatnya, tapi dia tidak menyerang, entah apa sebabnya?

Tubuhnya sudah terluka berat di dua tempat, dan tidak perlu meragukan kondisinya kalau dia dianggap sudah mati, mengapa tiba-tiba dia bisa hidup kembali?

Tiba-tiba Wan Tian-pin tertawa kering, membuka mulutnya yang penuh darah, dengan kaku dan dingin dia berkata.

"Anak kecil, cepat kembalikan Tian-xing-mi-ji'! Kalau tidak...."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena apa yang dia maksud sudah bisa diduga.

Hati Yi-feng tergerak.

Wan Tian-pin yang posturnya seperti hantu gentayangan tiba-tiba menjadi orang asing baginya.

Karena orang hidup baru memiliki keinginan, jika sudah menjadi setan untuk apa dia masih menginginkan 'Tian-xing-mi-ji' lagi?

Diam-diam dia menghembuskan nafas, dia melihat Wan Tian-pin yang terluka di tenggorokan dan ada lubang hitam, membuat siapa pun yang melihatnya menjadi takut.

Yi-feng tahu kalau luka ini berasal dari jari Xu-bai, asal ditambah satu serangan lagi cukup membuat orang ini langsung mati.

"Mengapa dia bisa hidup kembali?"

Begitu ketakutan Yi-feng berkurang, perasaan anehnya muncul lagi. Dia melihat Wan Tian-pin tapi pertanyaannya tetap tidak terjawab. Wan Tian-pin maju lagi selangkah dan membentak.

"Keluarkan Tian-xing-mi-ji."

Yi-feng berpikir lagi, 'Kepandaiannya lebih tinggi dariku dan 'Tian-xing-mi-ji' ada di tanganku.

Dengan kemampuan ilmu silatnya, dia bisa langsung merebutnya, mengapa dia menyuruhku mengeluarkannya?

Dia dijuluki Perampok Utara, aneh jika dia melakukan ini.' Yi-feng adalah orang pintar dan lincah, dia bisa berpura-pura mati untuk menghindari kejaran Tian-zheng-jiao.

Sekarang dia berpikir, 'Apakah sesudah dia terluka parah kemudian dia mendapatkan mujizat dan bisa hidup kembali, tapi dengan ilmu yang biasa dia miliki, tidak mungkin dia bisa melakukan semua ini.' Karena itu Yi-feng menjawab dingin.

"Kalau aku tidak mau mengeluarkan obat itu, kau mau apa?"

Dia malah memegang pinggangnya dan maju selangkah.

Wajah Wan Tian-pin berubah, sorot mata penuh dengan kemarahan.

Yi-feng melihat ke depan, jika tafsirannya salah, begitu Wan Tian-pin menyerang, dia tidak akan sanggup bertahan.

Bagaimanapun juga dia harus menyimpan rasa tegang di dalam hatinya agar tidak terlihat oleh lawan.

Pandangan mereka saling beradu, mereka masing-masing menebak apa yang sedang dipikirkan oleh lawannya.

Wan Tian-pin tertawa.

"Aku nasehatkan, lebih baik keluarkan buku itu. Bagi kita itu akan berguna."

Nada bicaranya semakin pelan.

Kata-kata ancaman sekarang sudah berkurang.

Diam-diam Yi-feng menghembuskan nafas, dia memastikan tebakannya tidak meleset.

Dia segera memutar otaknya.

Dengan tertawa dingin dia berkata.

"Aku beritahu kepadamu hei marga Wan, mengenai Tian-xing-mi-ji', tidak perlu kau ungkit lagi! Jika kau masih ingin hidup dan bisa keluar dari lembah ini, kau harus tanya apakah aku akan mengijinkannya atau tidak?"

Kata-kata Yi-feng berubah, dari posisi terancam menjadi posisi mengancam.

Wan Tian-pin terkejut.

Seperti perkiraan Yi-feng semula, walaupun Wan Tian-pin tidak mati tapi ilmu silatnya belum pulih.

Dalam rasa terkejutnya, dia sengaja tertawa dan membentak.

"Aku, Wan Tian-pin sudah lama berkelana di dunia persilatan, tidak ada seorang pun yang berani berbicara dengan nada seperti itu padaku!"

Sambil bicara sorot mata terus melihat wajah Yi-feng. Mereka berdua sedang mengukur kepintaran masing-masing, yang pertama dia sudah kalah. Tiba-tiba Yi-feng dengan dingin berkata.

"Serahkan kepadaku!"

Wan Tian-pin terpaku. Yi-feng berkata lagi.

"Jika kau tidak mau menyerahkan alat cahaya berputar itu, jangan harap bisa keluar dari lembah ini!"

Nada bicaranya sangat sombong, lebih sombong dibandingkan saat dia meminta buku Tian-xing-mi-ji' tadi.

Wajah Wan Tian-pin langsung memucat, dia mundur selangkah, diam-diam mulai mengatur nafas.

Yi-feng terus melihatnya, tapi belum berani menyerangnya.

Malam bertambah larut, angin berhembus bertambah kencang.

Jika sekarang Yi-feng pergi pun, Wan Tian-pin tidak akan menghalanginya juga tidak akan bisa menghalanginya.

Tapi orang sering bingung dan Yi-feng tidak terpikir akan hal ini.

Dia tidak berniat mendapatkan 'alat cahaya berputar', dia hanya ingin sekedar menghina Wan Tian-pin.

Kekesalannya tadi belum sempat dilampiaskan.

Apalagi pelajar yang ingin bunuh diri itu masih terbaring di rumah batu, apakah dia masih hidup atau sudah mati, dia tidak ingin pergi begitu saja dari tempat ini.

Apalagi dalam hati dia masih bertanya-tanya, dia ingin tahu mengapa Wan Tian-pin bisa hidup kembali?

Karena itu dia tidak berkeinginan untuk kabur dari sana.

Wan Tian-pin berdiri tegak tapi tidak mengatakan apa-apa.

Tiba-tiba Wan Tian-pin melihat Yi-feng.

Yi-feng terkejut dan berpikir, 'Sorot matanya tiba-tiba menjadi terang dan kuat, apakah dalam waktu begitu singkat ilmu silatnya sudah pulih?

Tapi ini tidak mungkin!' Yi-feng tidak tahu apa yang terjadi di dunia ini tidak selalu seperti yang diperkirakan olehnya, sekarang ilmu silat Wan Tian-pin sudah pulih, bahkan mungkin lebih hebat dari sebelum dia terluka!

Ternyata sesudah Wan Tian-pin terluka parah dan nyawanya hampir tidak tertolong, Yi-feng memindahkan dia dan mayat Xu-bai ke atas meja batu.

Karena tubuh mereka berdekatan, maka darah mengalir dari tubuh Xu-bai ke mulut Wan Tian-pin.

Darah si Tangan Terampil mengandung zat Du-long-wan.

Obat ini adalah obat paling berguna dan berkhasiat, sesudah meminum obat terbagus di dunia ketika pingsan Wan Tian-pin masih sempat merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya.

Kemudian pelan-pelan dia mulai sadar.

Begitu sadar dia hanya sempat terpikir sebentar, berdasarkan pengalamannya yang banyak, dia sadar apa yang harus dia lakukan ketika hidup kembali.

Karena itu dia menyedot darah Xu-bai sampai habis.

Hingga akhirnya dia sudah hidup kembali.

Dia mengambil 'alat cahaya berputar' milik Xu-bai, kemudian meninggalkan gua itu.

Dia membungkus perhiasan yang ada di rumah batu dan akan membawanya pergi dari sana.

Karena Xu-bai sudah mati, dia tidak perlu tinggal di hutan ini lagi.

Wan Tian-pin tadinya celaka sekarang malah mendapatkan rejeki, hanya saja Tian-xing-mi-ji' yang menjadi jatahnya sekarang menghilang.

Dia merasa sangat menyesal tapi dia tidak tahu identitas pemuda itu, karena dia tahu sewaktu dia dan Xu-bai berebut dan bertarung, pemuda ini mengambil keuntungan dari mereka.

Ketika dia sedang berpikir, Yi-feng tiba-tiba kembali, Wan Tian-pin tidak menduga sekarang nyawanya bisa dipungut kembali.

Tapi kaki dan tangannya masih terasa lemas.

Du-long-wan mulai berfungsi mulai bereaksi di dalam tubuhnya, jika dia bisa menyatukan ilmu silatnya dengan kehebatan obat itu, semua itu akan menambah kekuatannya beberapa kali lipat!

Tapi kesempatan langka ini disia-siakannya begitu saja.

Sebetulnya Du-long-wan dapat mengembangkan 100% tenaganya tapi di dalam tubuhnya hanya bereaksi 20%.

Tapi kekuatan 20% ini cukup untuk menambah kemampuan ilmu silatnya.

Yang penting dia berhasil merebut kembali nyawanya dari maut.

Karena lemas maka dia tidak segera muncul di hadapan Yi-feng.

Begitu Yi-feng masuk ke dalam gua dan pelajar itu melihat ada perhiasan di dalam rumah batu, maka pelajar miskin itu segera memanjat masuk melalui jendela.

Melihat caranya masuk ke dalam rumah, Wan Tian-pin tahu pelajar itu tidak bisa ilmu silat, maka dia pun segera melempar pelajar itu dengan batu kecil.

Ilmu silat Wan Tian-pin sangat tinggi, sebutir batu telah membuat tangan kanan pelajar itu putus dan membuatnya pingsan.

Ketika Yi-feng keluar dari gua, tiba-tiba Wan Tian-pin muncul di depan Yi-feng.

Hal ini membuat Yi-feng terkejut bukan kepalang.

Tapi bila beradu bicara, Wan Tian-pin berada di bawah Yi-feng, maka Wan Tian-pin berharap ilmu silatnya bisa cepat pulih.

Butuh waktu singkat untuk mengatur nafas dan Du-long-wan mulai bereaksi di dalam tubuhnya.

Dia mulai merasa tenaganya kembali, dia bersiap-siap menyerang Yi-feng.

Sambil tertawa dingin, kedua telapaknya membentuk lingkaran kemudian menyerang Yi-feng dengan cepat.

Hanya terlihat bayangan telapak tangan, maksudnya tidak lain adalah untuk mengacaukan penglihatan lawan, setelah itu baru menyerang.

Yi-feng benar-benar terkejut, dia berputar ke kanan, tangan kanan segera menyerang, Yi-feng memang termasuk pesilat tangguh dan terkenal, tapi jurus-jurusnya tidak ada yang istimewa.

Jurus 'Feng-huang-zhan-chi' (Phonix mengibas sayap) sangat tepat.

Di dunia persilatan boleh dikatakan ini adalah jurus hebat.

Tapi jurus ini di mata Wan Tian-pin terasa sangat biasa.

Membuat Wan Tian-pin tertawa dingin, dia berputar, kedua telapak tangannya sekali lagi menyerang.

Hanya saja teknik memukulnya diganti dengan teknik mencengkram.

Kesepuluh jarinya dibuka dengan lebar.

Ini adalah jurus cakar elang andalannya yang membuat dunia persilatan menjadi geger.

Jurus ini mengurangi waktu untuk mengubah jurus, yang pasti gerakannya sangat cepat.

Telapak kiri Yi-feng baru dijulurkan, dia merasakan angin telapak lawan mencengkram perut dan tenggorokannya.

Yi-feng menghembus nafas.

Selama berkelana di dunia persilatan, dia telah bertarung ratusan kali, tapi jurus Wan Tian-pin baru pertama kali dilihatnya.

Sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal lain, dia memutar pinggangnya, mundur 3 langkah tapi Wan Tian-pin seperti bayangan terus menempel.

Dua telapaknya melingkar lagi, ujung telapak sedikit ditekuk, dia menyerang ke dada Yi-feng.

Jurusnya berubah-rubah tapi pergelangan tangannya tidak ditekuk sama sekali.

Jurus ini seperti jurus yang biasa ada di dunia persilatan.

Yi-feng sangat mengerti jika ujung jari lawan mengenainya sedikit saja, tenaga yang datang akan bertubi-tubi.

Dia juga tahu walaupun Wan Tian-pin kurus kering tapi tenaga dalam dan ilmu silatnya sangat hebat, maka dia tidak berani menyambut serangan telapak lawannya.

Terpaksa Yifeng mundur beberapa langkah.

Karena takut dia hanya bisa menghindar dan tidak berani menyerang.

Sebenarnya jika dia tenang sedikit saja, dengan dua nadi 'Du' dan 'Ren' yang sudah dilancarkan, dan dengan kemampuan ilmu silatnya melawan Wan Tian-pin, walaupun tidak menang tapi setidaknya posisinya tidak akan begitu memalukan.

Wan Tian-pin tertawa dingin, dia berkata dengan nada menghina.

"Ternyata ilmu silatmu hanya begini saja, tapi kau berani berkata dengan sombong di depanku!"

Kemudian telapaknya membawa angin kencang juga bayangan yang memenuhi langit.

Dia menyerang ke kiri dan kanan Yi-feng.

Yi-feng terus bertahan, tapi karena ilmu silat di bawah Wan Tian-pin, dia hanya bisa mundur selangkah demi selangkah.

Sesudah berjalan 10 jurus, posisi Yi-feng bertambah lemah lagi.

Wan Tian-pin mengubah jurusnya, dia menyerang dengan keras lalu berputar-putar, maksudnya tidak lain ingin menghina dan meremehkan pemuda ini dulu.

Karena pemuda ini tadi telah berbuat tidak sopan kepadanya setelah itu baru dia membunuh Yi-feng.

Maka serangannya tidak sekuat tadi lagi.

Nadi yang diserangnya pun bukan nadi penting.

Tapi bibirnya selalu keluar kata-kata marah dan menghina Yi-feng.

Yi-feng merasa marah, dia sadar dengan kemampuan ilmu silatnya tidak mungkin dia bisa melawan Wan Tian-pin, ingin kabur pun dia sudah tidak mempunyai kesempatan lagi.

--BAB 28 Di malam larut terjadi hal aneh PAK!

Bahu Yi-feng terkena pukulan.

Walaupun sakit untungnya tidak mengenai tulang dan nadinya.

Yi-feng mengetahui maksud Wan Tian-pin, tapi dengan cara telapak angin yang terus berbunyi dengan kencang tetap tidak bisa melukai lawan sedikit pun.

Dia terus mundur, ketika dia memutar tubuhnya, tiba-tiba dia melihat ada sebuah batu besar di depannya.

Batu besar itu tadinya berada di tengah.

Dari tengah batu, bisa melihat ke dalam gua yang sangat gelap.

Yi-feng berpikir, segera kakinya melangkah.

Dia bergeser ke dalam gua.

Bayangan telapak Wan Tian-pin masih terus bergerak, telapaknya seperti dua ekor kupu-kupu yang terbang di sisi Yi-feng.

Dia terkenal di dunia persilatan, yang pasti ilmu silatnya memiliki keistimewaan.

Tangan kirinya memutar, dia mengeluarkan serangan sambil mengejek.

"Anak kecil, serahkan Tian-xing-mi-ji' kepadaku, kau juga harus berlutut di hadapanku. Kalau kau membuatku senang mungkin aku bisa melepaskanmu. Jika nasibmu baik mungkin aku akan menerimamu menjadi muridku...."

Yi-feng membentak, dengan sekuat tenaga menyerang Wan Tian-pin.

Tubuh Wan Tian-pin sedikit condong ke belakang tapi jurus Yi-feng bukan menerjang maju.

Di tengah-tengah dia mundur kemudian bersalto ke belakang.

Dia memperkiraan jaraknya dengan gua itu, tubuhnya berputar di udara, begitu kakinya sampai ditanah, segera berlari masuk ke dalam gua itu.

Wan Tian-pin sedikit terkejut, dia segera meloncat, dia ikut masuk ke dalam gua itu, tapi di belakang terdengar suara angin menderu.

Dia berbalik untuk melihat, ternyata batu besar yang menutup gua mengikutinya.

Ketika dia menengok, batu besar yang ada di mulut gua itu sudah menutup.

Dengan terkejut Wan Tian-pin melihat ke sekeliling.

Di dalam gua tidak ada sinar sama sekali.

Dengan cepat dia menahan nafas, kedua telapak diletakkan di depan dada karena dia takut Yi-feng akan menyerang dari kegelapan.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yi-feng sudah memperhitungkan semuanya, begitu masuk ke dalam gua, dia langsung memutar batu.

Tapi Yi-feng sudah keluar pada batu besar sebelum tertutup rapat.

Ketika posisinya sudah tepat Yi-feng langsung bertindak, cara ini harus dimiliki oleh orang yang berpikiran matang.

Mengurung orang di dalam gua tapi dalam waktu hitungan detik, dia harus segera berlari keluar.

Karena bertindak ceroboh, Wan Tian-pin sudah terkurung di dalam gua yang gelap dan dingin.

Rencana ini berhasil, ketika dia menarik nafas terasa angin dingin berhembus, Yi-feng dadanya sangat nyaman.

Jantungnya yang berdebar-debar mulai berdetak dengan tenang.

Yi-feng segera berlari ke rumah batu dan masuk melalui jendela.

Dengan bantuan cahaya redup dia melihat pelajar itu masih tergeletak di bawah.

Yi-feng bernafas panjang dan ber-pikir, 'Tadinya aku ingin menolongnya tapi aku malah mencelakainya.' Dia berjongkok mencoba apakah pelajar itu masih bernafas atau sudah mati ternyata dia masih hidup.

Dia hanya pingsan.

Perhiasan yang tersisa di rumah itu dibungkus rapi oleh Yi-feng, dia tidak mencari perhiasan lainnya.

Kemudian memapah pelajar miskin yang pingsan itu, keluar dari rumah batu dan turun ke kaki gunung.

Sesudah pelajar miskin ini siuman, dia membawa perhiasan pemberian Yi-feng lalu pergi ke kota, kelak di kemudian hari dia menjadi orang kaya.

Sejak awal sampai akhir dia tidak mengenal orang yang membuatnya menjadi kaya.

Yi-feng dengan menggunakan pikirannya yang lincah berhasil mengalahkan lawan kuat.

Dia juga berhasil mendapatkan buku rahasia 'Tian-xing-mi-ji' dan obat penawar, hatinya merasa sangat senang.

Sambil menikmati rasa senang, dia mulai merasa lelah.

Tubuh sekuat Yi-feng walaupun bisa melewati perjalanan begitu lama tanpa tidur dan istirahat ditambah dengan ketegangan serta pertarungan hebat, sekarang dia mulai merasa lelah.

Sesampainya di Jing Dong, dia mengambil keputusan untuk beristirahat.

Dia tertidur pulas selama beberapa hari ini.

Tidurnya merupakan suatu kenikmatan yang jarang dinikmatinya.

Dia bermimpi kalau istrinya kembali ke sisinya, saat terbangun dia kebingungan.

Di luar masih sangat gelap, ternyata hari sudah malam.

Dia tidak ingin bangun, maka dia pun berbaring kembali di ranjang, sambil mendengarkan suara angin yang berhembus di luar jendela.

Tiba-tiba dia mempunyai pikiran yang berbeda terhadap situasi dunia persilatan.

Wajah istrinya yang cantik terus ter-bayang-bayang, kadang terasa sangat jelas, kadang tidak.

Tiba-tiba dia mendengar suara hembusan angin di luar jendela membawa suara kelepak baju orang yang sedang berjalan di malam hari.

Dulu dia pasti akan segera keluar tanpa ragu dan mencari tahu siapa orang itu.

Sekarang dia hanya berbaring di ranjang.

"Untuk apa aku mengurusi masalah orang lain?"

Dia berpikir lagi, 'Bukankah masalah yang sedang kuhadapi pun tidak ada yang membantu?

Di Su-dong, aku dikepung oleh 3 ketua bagian Tian-zheng-jiao, hampir saja aku terbunuh, siapa yang membantuku waktu itu?

Setelah istriku lari dengan "laki-laki lain, aku dikejar-kejar untuk dibunuh, siapa yang keluar membelaku?' Dengan sedih dia menarik nafas.

Dulu pikirannya sangat lurus, sekarang berbelok-belok mengikuti masalah yang terjadi dan kehidupannya tidak sebahagia dulu.

Malam-malam merenung, dia terpikirkan banyak orang sampai-sampai dia teringat pada Zhifeng-mai-hui yang mungil...

Tiba-tiba dari luar jendela terdengar jeritan, membuat Yi-feng terkejut.

Dia menganggap kalau dia adalah orang egois tapi begitu mendengar jeritan memilukan, dia tidak bisa berdiam diri begitu saja di atas ranjang.

Berkali-kali dia memperingati dirinya supaya jangan terlalu banyak mengurusi masalah orang lain, hal terpenting sekarang ini adalah dia harus mengantarkan obat penawar ke Zhongnanshan, tapi darah pendekar yang masih ada di dalam tubuhnya tidak bisa menahan kekuatan ini.

"Aku akan melihat sebentar, tidak akan menghabiskan waktu banyak."

Sambil mengenakan sepatu, dia ber-pikir, 'Apakah akan terjadi hal aneh lagi?

Ataukah akan ada orang aneh yang muncul lagi?

Dulu sewaktu aku masih berkelana di dunia persialtan, apa yang terjadi saat itu langsung bisa ku-selesaikan di tempat.' Dia mencari alasan untuk dirinya sendiri.

Buku dan obat penawar dibungkus dan disimpan dengan rapi di balik baju bagian dada.

Dia sudah lama berkelana di dunia persilatan maka apa pun yang dilakukannya pasti dikerjakan dengan sangat teliti.

Kemudian dia meloncat keluar melalui jendela dan berlari menuju suara teriakan itu.

Rumah-rumah yang ada di bawah kakinya sangat gelap dan sepi, teriakan memilukan itu pun hanya terdengar sekali tidak ada teriakan susulan.

Di sekeliling sana sangat sepi dan tidak terasa ada aneh.

Yi-feng menyalahkan dirinya, 'Mengapa tadi aku tidak cepat-cepat keluar?' Dia melihat ke sekeliling, dia sudah lama tidak keluar di malam hari.

Sekarang dia berada di luar, dia merasa darahnya mulai bergejolak, sifatnya yang bebas muncul kembali.

Dia berusaha menenangkan dirinya lalu mulai memperhatikan dan mendengarkan suara yang ada di sana.

Ketika dia mulai putus asa, tiba-tiba terdengar suara yang memohon-mohon.

Yi-feng tidak ragu lagi, dia segera berlari ke arah suara itu.

Kecepatannya seperti seekor burung walet di musim semi.

Tiba-tiba dia melihat salah satu jendela di sebuah rumah masih bercahaya, karena itu dia berhenti dan mengait mengaitkan kakinya ke atap dan tubuhnya terjulur ke bawah.

Di dalam rumah itu ada sebuah lampu minyak, seseorang sedang duduk di sana, tangan kanannya memegang pedang, jari tengah tangan kirinya memegang pedang.

Ada seseorang sedang berlutut di depan orang itu, wajahnya bersimbah darah, mungkin teriakan memilukan itu berasal dari orang ini.

Yi-feng melihat keadaan di sana, dalam hati berpikir, 'Apa yang sedang terjadi di sini?' Terlihat orang yang memegang pedang itu menggetarkan pedangnya, dia menyabet telinga orang yang sedang berlutut.

Darah muncrat dari telinganya.

Pedang berputar, telinga orang itu berada di pedang.

Orang ini berteriak memilukan!

Begitu dilihat dengan teliti, ternyata dua telinganya sudah putus.

Yi-feng marah!

Dia berpikir, 'Orang ini benar-benar kejam!' Tubuhnya yang tergantung di atap segera meluncur turun.

Yi-feng mengira orang yang memegang pedang itu akan segera berlari keluar.

Orang itu dengan dingin melihat keluar jendela, tapi dia tetap duduk dengan tenang di kursinya dan tidak bergerak sama sekali.

Yi-feng terpaku.

Orang itu dengan santai mengambil teh di atas meja kemudian minum sambil menghadap ke arah jendela.

Dia tersenyum, dengan suara senang dia berkata.

"Sahabat di luar jendela yang suka ikut campur urusan orang lain, di luar sangat dingin, masuklah dan duduk bersamaku!"

Wajah orang ini pucat tapi dia termasuk tampan, kumisnya pendek tapi tidak menambah kejantanannya.

Yi-feng menertawakan dirinya sendiri, mengapa semua hal yang ditemuinya selalu tidak masuk akal?

Orang pucat ini menebas dua telinga orang lain, tapi dia masih bisa duduk dengan tenang.

Yi-feng melihat jendela masih terbuka, maka dia pun masuk dan berdiri di sisi orang yang masih berlutut itu.

Terdengar orang yang memegang pedang itu berkata.

"Sahabat, sungguh hebat kepandaiannya. Sepertinya Anda adalah pendekar yang membela keadilan! Ha, ha, ha!"

Tawanya seperti memuji tapi juga seperti menghina. Yi-feng melotot, dia bertanya.

"Di antara Tuan dan orang ini tersimpan dendam apa? Dia sudah berlutut artinya dia telah mengaku kalah, mengapa Tuan terus memaksakan kehendak? Bukan karena aku ingin ikut campur, tapi aku merasa Tuan terlalu kejam!"

Yi-feng selesai bicara, orang itu malah tertawa, tapi laki-laki yang masih berlutut itu tiba-tiba saja meloncat berdiri. Dia menyerang dada Yi-feng, sambil marah-marah.

"Untuk apa kau ikut campur?"

Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 4

Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger