Eps 4 Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id
Baca online Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id
Cersil Romantika Sebilah Pedang - Gu Long Tjan Id.
Sebuah ucapan yang mengenaskan, tapi sewaktu diutarakan dari mulutnya, justru kedengaran membawa aroma yang berbeda.
"Kalau toch tidak minum, buat apa kau memasak air teh?"
"Belum tentu orang yang masak air teh, dia harus seorang peminum teh."
Banyak sekali kejadian di dunia yang persis seperti keadaan tersebut, sebagai orang muda tentu saja dia tidak akan memahami teori tersebut.
Cong Hoa telah menerima cawan berisi penuh dengan air teh.
Teh itu masih panas, meski cawannya agak besar da kasar namun tanpa ragu gadis itu meneguknya hingga habis.
Setiap kali sedang minum, baik minum teh maupun minum arak, dia selalu meneguknya dengan cepat.
Dalam mengerjakan tugas apa pun, dia juga selalu melakukannya dengan cepat.
Apakah ini disebabkan diapun merasa bahwa kehidupan sendiri segera akan berakhir?
Kini air teh telah dikeringkan, apakah diapun akan segera mati?
"Ada sepatah kata ingin kuutarakan,"
Kata Cong Hoa sambil tertawa.
"aku harap kau jangan terperanjat."
"Katakan saja!"
"Aku adalah seseorang yang mendekati ajal!"
"Setiap manusia, begitu dilahirkan maka dia sudah mulai menunggu saat kematiannya!"
"Aku bersungguh-sungguh!"
"Aku tahu."
"Kau tidak mengusirku turun dari sampan mu?"
"Setelah naik ke atas sampan, kenapa pula harus kuusir?"
Jawab kakek itu tenang.
"Tapi setiap saat mungkin aku bakal mati disini, mati dihadapanmu."
"Aku sudah kenyang melihat manusia dilahirkan di dunia ini, sudah sering pula melihat manusia mati meninggalkan dunia ini."
"Kalau aku jadi kau, aku pasti tidak ingin menyaksikan seorang asing mati diatas perahuku."
"Perkataanmu memang betul!"
Kata si kakek.
"Sayang kau bukan aku, kaupun tidak bakal mati diatas perahuku."
"Kenapa?"
Seru Cong Hoa terperanjat.
"Sebab kau telah bertemu dengan Bu Capsa."
"Bu Capsa? Siapa itu Bu Capsa?"
Tanya Cong Hoa.
"Aku!"
"Kau?"
Kembali Cong Hoa berseru.
"Berjumpa dengan kau berarti aku tidak bakal mati?"
"Benar,"
Suara kakek itu dingin lagi hambar.
"Setelah bertemu aku, biar ingin mati pun tidak bakalan bisa mati."
"Kenapa?"
"Karena akupun tidak ingin menyaksikan seorang asing mati diatas sampan ku."
Begitu mendengar jawaban tersebut, Cong Hoa segera tertawa.
"Kau anggap aku tidak sanggup selamatkan jiwamu?"
Kembali kakek itu bertanya.
"Kau hanya menyaksikan lukaku,"
Kata Cong Hoa sambil mengawasi sepasang tangan sendiri.
"Tapi tidak melihat kalau aku sudah keracunan, oleh sebab itu kau beranggapan dapat selamatkan nyawa ku."
"Oya?"
"Biarpun luka ku hanya luka lecet, tapi racun yang datang dari tempat kejauhan kini sudah merasuk hingga ke tulang sumsum."
"Oya?"
Mimik muka kakek itu tetap hambar.
"Tidak seorang pun sanggup memunahkan racun dalam tubuhku."
"Tidak seorang pun?"
"Mungkin masih ada satu orang,"
Kata Cong Hoa sambil mengawasi kejauhan.
"Siapa?"
Cong Hoa tertawa getir, sambil menepuk bajunya dan bangkit berdiri, ujarnya.
"Yang pasti orang itu bukan kau."
"Oleh sebab itu kau ingin pergi?"
"Aku tidak ingin mati diatas perahumu!"
"Kau tidak bakal bisa pergi!"
"Kenapa?"
"Karena kau telah minum secawan teh getirku."
"Teh getir? Kau minta ganti kerugian?"
"Kau tidak bakalan bisa mengganti, tidak mungkin bisa mengganti..."
Kakek itu kembali mencukil arang dibawah tungku nya.
Cong Hoa ingin tertawa namun tidak sanggup, tibatiba dia merasa jari tangan dan jari kakinya mulai kesemutan bahkan rasa kesemutan itu lambat laun menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.
"Tahukah kau, air teh apa yang barusan kau minum?"
"Air teh apa?"
"Ngo-ma-san,"
Jawab kakek itu hambar.
"ngo yang artinya lima, Ma yang artinya mati rasa dan San yang berarti bubuk."
"Ngo-ma-san? Bukankah resep itu berasal dari Tabib Hoa Tuo? Konon sudah lama resep itu punah dari dunia ini?"
"Tapi ada seseorang yang bertekad akan menemukan kembali resep langka itu, dia telah mengorbankan enam belas tahun lamanya sebelum berhasil menciptakan kembali resep tersebut."
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, lamat-lamat kelihatan sepasang mata kakek itu berkaca-kaca.
"Dan orang tersebut adalah kau?"
Tanya Cong Hoa. Kakek itu tidak menjawab, tiba-tiba pancaran sinar matanya kembali berubah jadi dingin.
"Bayangkan sendiri, sanggupkah kau mengganti air teh seperti ini?"
"Aku tahu, tidak mungkin aku bisa menggantinya,"
Sahut Cong Hoa sambil tertawa getir.
"Tapi andaikata sejak awal aku tahu air teh macam apakah itu, tidak nanti aku akan meminumnya!"
"Tapi sayang sekarang kau telah meneguknya!"
Cong Hoa tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.
"Oleh sebab itu, sekarang ke empat anggota badanmu pasti sudah kaku dan mati rasa, seandainya aku mengiris kulit badanmu, kau pun tidak akan merasa sakit."
"Benarkah begitu?"
Kakek itu tidak menjawab, perlahan-lahan dia mengeluarkan sebuah kotak kulit berwarna coklat tua dari sakunya.
Sebuah kotak kulit berbentur lonjong dan pipih, sekalipun sudah amat kuno namun kelihatan licin dan bersinar karena kelewat sering dipegang orang.
Perlahan-lahan kakek itu membuka kotak kulit itu, dari dalam kotak segera terpancar keluar semacam cahaya terang berwarna hijau muda.
Cahaya tajam dari mata pisau.
Tiga belas bilah pisau.
Tiga belas bilah pisau berbentuk aneh, ada yang berupa kaitan, ada yang berupa gergaji, ada yang pajang langsing, ada pula yang melengkung bagai bulan sabit.
Dari ketiga belas bilah pisau itu hanya ada satu kesamaan...
mata pisau amat tipis, tipis tapi tajam.
Kakek itu mulai mengawasi ketiga belas bilah pisaunya, dari balik sorot mata yang sayu tiba tiba memancar keluar sinar yang lebih tajam dari mata pisau.
"Dengan ketiga belas bilah pisau inilah aku akan menghadapimu,"
Ujar si kakek dengan wajah serius.
"Pisau itu begitu tipis, bila dipakai untuk mengiris pasti tidak akan terasa sakit,"
Kata Cong Hoa, dia ingin sekali tertawa namun senyumannya justru kelihatan kaku.
Obat pemati rasa itu memang menakutkan, kini sekujur badannya nyaris mati rasa, kecuali matanya bisa melihat, mulutnya masih bisa berbicara.
Kini dia sedang mengawasi ketiga belas bilah pisau itu, mau tidak mau dia harus melihatnya.
Arus sungai masih mengalir sangat tenang, api dibawah tungku kian lama kian bertambah redup, namun kabut tebal masih menyelimuti seluruh permukaan.
Kakek itu sudah mengambil sebilah pisau yang sempit lagi panjang, pisau itu panjang sembilan inci dan lebar enam mili.
"Mula-mula aku akan menggunakan pisau ini untuk menyayat dagingmu!"
Kata si kakek sambil memegang tangan gadis itu.
"Sebagian daging ditanganmu ini sudah mulai membusuk."
"Kemudian?"
"Kemudian aku akan menggunakan pisau yang ini untuk menghadapimu!"
Kembali si kakek mengambil sebilah pisau berbentuk kaitan.
"Dengan pisau ini akan kucongkel daging bagian bawah."
"Lalu?"
Si kakek meletidakkan kembali pisau berbentuk kaitan itu dan memilih pisau jenis lain.
"Setelah itu aku akan menggunakan pisau ini untuk mengorek tulangmu, mengorek keluar seluruh sisa racun yang mengendap disitu, mengoreknya hingga tuntas berikut seakar akarnya."
Kakek itu benar benar membelah daging dilengan Cong Hoa, mengorek tulangnya dan membersihkan racun yang tersisa disitu, selama operasi berjalan, gadis itu sama sekali tidak mengerdipkan matanya, dia malah mengawasi terus cara kerja si kakek dengan ketiga belas bilah pisau bedahnya.
"Kujamin kau tidak akan merasakan sakit barang sedikitpun,"
Kata si kakek sambil menatap wajahnya.
"Lantaran aku sudah minum bubuk Ngo-ma-san?"
Cong Hoa balik bertanya.
"Benar, inilah kasiat utama dari bubuk Ngo-ma-san."
"Kau tahu kalau aku sudah keracunan?"
"Racun jenis ini sangat jahat dan mengerikan, hanya manusia bejad dari negeri Hu-Siang (Jepang) yang bisa melakukannya,"
Kata kakek itu sambil mengawasi tangannya.
"Ilmu tanpa penyesalan? Hmmmm, tidak nyana bangsa kerdil pun bisa memikirkan nama seindah itu."
"Berarti kau sudah tahu kalau aku keracunan?"
Tegas Cong Hoa sambil menatap tajam wajah kakek itu.
"Karena sudah tahu, maka kau siapkan cara terbaik ini untuk menolongku?"
"Benar."
"Darimana kau bisa tahu?"
"Karena aku telah berhutang budi kepada seseorang."
"Hutang budi? Kepada siapa?"
"Seseorang,"
Sahut si kakek sambil memandang ke tempat kejauhan.
"Seorang sahabat karib yang sudah tua, tua sekali."
"Siapakah orang itu?"
"Aaai, kalau orang sudah tua, biasanya gampang kelupaan. Aku pun sudah lupa siapakah orang itu."
Jelas dia sedang berbohong. Cong Hoa tahu akan hal ini tapi dia enggan membongkarnya. Dia memang tidak senang memaksa orang lain melakukan apa yang tidak ingin dilakukan.
"Jadi dia yang memintamu untuk menolong aku?"
Tanyanya hambar.
"Benar."
"Kalau aku enggan menerima pertolonganmu?"
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, Cong Hoa sudah merasakan rasa kesemutan yang menakutkan itu mulai menjalar ke otaknya, ke jantungnya...
"Apa kau ingin mati?"
Dia mendengar kakek itu bertanya.
"Tidak!"
Lamat-lamat dia mendengar jawaban sendiri.
Suara terakhir yang terdengar oleh Cong Hoa adalah suara ujung pisau yang sedang mengorek diatas tulang.
Jelas tulang itu adalah tulang sendiri.
Tapi anehnya, dia sama sekali tidak merasakannya, sama sekali tidak terasa sakit...
Fajar telah menyingsing, kabut pun sudah membuyar.
Salju yang sudah lama tidak nampak, kini mulai melayang dan bertaburan di udara.
Malam kemali menjelang.
Salju masih turun dengan derasnya.
Diujung putik bunga bwee kini sudah penuh dilapisi bunga salju.
Entah di pagi hari ataupun di malam hari, kehidupan manusia selalu akan mengalami satu sisi yang paling indah.
Bila seseorang masih bisa hidup, mengapa pula dia harus mati?
.....
Sejujurnya, siapa sih manusia di dunia ini yang benar-benar ingin mati?
BAB 4.
Irama sendu dari rebab tiga senar.
Sebuah lorong sempit, sebuah warung bakmi, seorang kakek, sebatang huncwee.
Malam sudah sangat larut, namun salju masih turun dengan derasnya.
Dalam iklim seperti ini, dalam udara sedingin ini, siapa yang akan datang membeli bakmi?
Kakek Tan sadar tidak akan ada orang yang mau bersantap malam dalam suasana begini, dia pun sadar sudah saatnya mulai bebenah untuk menyimpan sayur asin dan bakmi yang tersisa, walaupun biasanya dia akan berjualan hingga fajar.
Sebetulnya sudah lama Dia ingin pensiun, namun setiap kali terbayang sobat-sobat miskinnya yang setiap hari datang bertandang, dia tetap berjualan hingga pagi menyingsing.
Bakmi yang dia jual selain enak, harganya murah sekali bahkan boleh berhutang lagi.
Bila suatu hari secara tiba-tiba kakek Tan berhenti berjualan, bisa jadi banyak orang akan menahan kelaparan.
Langit begitu dingin, bumi begitu membeku, penghidupan tiap haripun begitu sengsara dan menderita, sementara kehidupan paling hanya berlangsung sekejap, mengapa dia harus berjualan hingga larut malam?
Mengapa Dia tidak tidur lebih awal?
.....Kehidupan seseorang di dunia ini terkadang bukan hidup demi diri sendiri, banyak orang justru hidup demi kelangsungan hidup orang lain, sekali kau sudah memikul beban tersebut maka jangan harap beban itu bisa kau lepas dengan seenaknya.
Kakek Tan menghela napas dalam hati, dengan ibu jarinya dia tekan sisa tembakau yang ada didalam huncwee, kemudian menghisapnya kuat kuat, dia berusaha untuk menghidupkan kembali percikan api yang sedang membakar tembakaunya.
Asap tipis perlahan-lahan menyembur keluar dari lubang hidung kakek Tan.
Warung bakmi itu terletak dalam sebuah lorong persis di belakang penjara, kebetulan letaknya berada disisi kiri pintu rumah Lo Kay-sian.
Oleh sebab itu terkadang bila tidak ada urusan penting, Lo Kay-sian kerap duduk nongkrong di warung kakek Tan sambil minum arak.
Bakmi kecut pedas buatan kakek Tan sangat membangkitkan selera makan Lo Kay-sian, apalagi di malam dingin yang begini membeku, bisa menikmati semangkuk bakmi pedas yang hangat sudah merupakan satu peristiwa yang paling menyenangkan.
Malam ini, sedari awal Lo Kay-sian sudah bersembunyi di balik selimut, tapi sudah setengah harian dia bolakbalik kesana kemari namun belum juga tertidur, hatinya seakan sedang dililit beribu macam masalah yang tidak terpecahkan.
Akhirnya dia memutuskan untuk nongkrong di warung bakmi kakek Tan sambil minum berapa cawan arak, biasanya bila dua orang kakek rentan kumpul berbareng, waktu akan berlalu tanpa terasa.
Baru tiba di depan warung bakmi, belum sempat Lo Kay-sian buka suara, dia sudah menyaksikan kakek Tan sedang memandang wajahnya dengan perasaan kaget bercampur keheranan.
"Kau sakit?"
Tegur kakek Tan tercengang.
"Sakit?"
Lo Kay-sian melengak.
"Tidak!"
"Kalau bukan lagi sakit, biasanya disaat ini kau sudah tidur dibalik selimutmu, mau apa kau malah nongkrong di sini?"
"Apa lagi kalau bukan kangen dengan arakmu!"
Jawab Lo Kay-sian sambil mencari tempat duduk.
"Di udara sedingin ini, keliru besar kalau tidak menenggak berapa cawan arak."
"Sama seperti biasanya?"
"Benar."
"Benar, benar..."
Gumam kakek Tan.
"Setiap kali pesan lima piring sayur asin, sisanya tetap lima piring sayur asin."
Dia seakan tidak tahu, ada sementara orang ketika minum arak dia enggan makan sayur, yang dinamakan sayur biasanya hanya dijadikan pelengkap, sebagai tontonan.
Tingkah lakunya memang seperti orang yang takut kesepian, padahal didalam rumah tersedia ikan, daging dan arak kelas satu, tapi dia lebih suka duduk nongkrong dipinggir jalan sambil menikmati arak murahan.
Yang dia cari memang bukan arak atau hidangan, dia sedang menikmati manusia yang ada disitu, hawa dari manusia manusia itu.
Sepiring tahu kering, sepiring kuping babi, sepiring babi sam-can, sepiring daging sapi asin, sepiring kacang goreng.
Lima macam hidangan sudah berjajar diatas meja, cawan ada dua, poci arak pun ada dua.
Lo Kay-sian dan kakek Tan duduk saling berhadapan, masing-masing ditemani sebuah cawan dan sepoci arak.
Dalam cawan penuh dengan arak, arak putih Sau-tocu.
"Sepoci arak didepan meja, hingga kapan mata baru terpejam?"
Gumam Lo Kay-sian sambil meneguk secawan arak.
"Menginap diluar rumah, meja sebelah ditemani si tukang arak,"
Sambung kakek Tan sambil meneguk pula secawan arak. Lo Kay-sian tertawa, sambil memandang ke tempat kejauhan kembali gumamnya.
"Orang kalau sudah tua, biasanya jadi cerewet, banyak bicara, padahal mereka bukannya bawel, yang benar mereka takut akan kesepian."
Apa yang dia ucapkan memang kenyataan. Orang tua kalau banyak omongnya, cerewet, bawel, bukan berarti mereka itu suka bicara, mereka hanya takut akan kesepian.
"Sepi"
Sebetulnya hanya sebuah kata yang amat bersahaya, biasa, amat sederhana, tapi justru merupakan sebuah kata yang sukar dipahami, susah dicerna.
Orang tua banyak bicara, karena mereka kuatir tidak bisa bicara.
Binatang yang selalu berisik pun karena mereka takut akan kesepian.
"Oleh sebab itu bila usia seseorang makin tua, bicaranya pasti makin banyak, semakin bawel, bukan begitu?"
Ujar kakek Tan.
"Betul, tepat sekali!"
"Padahal kebawelan mereka karena bicara menurut pengalaman yang pernah dialaminya,"
Kakek Tan menghela napas.
"Tapi biasanya, generasi muda segan mendengarkan, mereka segan menuruti nasehat orang tua."
"Itulah sebabnya di dunia ini orang tua dan orang muda selalu dipisahkan oleh pandangan yang bertolak belakang."
"Begitu sekarang, begitu juga seribu tahun mendatang, bahkan mungkin sejuta tahun lagi pun keadaan tidak akan jauh berbeda."
Gelak tertawa kedua orang itupun bergema memecahkan keheningan, mengalun dari warung bakmi lalu meluas ke empat penjuru.
Belum putus gelak tertawa kedua orang itu, tiba tiba diatas wajah mereka terlintas semacam perubahan mimik muka yang sangat aneh.
.....
Terlepas perubahan mimik muka macam apakah itu, yang pasti bukan mimik muka orang sedang gembira.
Dari balik kegelapan malam yang sepi bagaikan liang kubur, tiba-tiba berkumandang irama lagu yang dipetik dari rebab bersenar tiga, dentingan itu sedih, rendah, berat dan datang dari kejauhan mengikuti hembusan angin.
Dalam suasana, saat dan keadaan seperti ini, dentingan lagu dari rebab bersenar tiga itu seolah datang dari dalam neraka.
.....
Kau pernah mendengar suara yang berasal dari neraka?
Lantas bagaimana pula suara yang datang dari Nirwana?
Belum pernah ada yang mendengar, belum ada yang tahu.
Dapat dipastikan, belum pernah ada yang mendengar!
Bila ada semacam suara sewaktu kau dengar dapat membuat perasaan hatimu yang paling dalam terjadi perubahan, balikan dapat membuat seluruh tubuhmu seolah melebur dan menyatu dalam "irama musik"
Itu, orang pasti akan menganggap suara tersebut sebagai suara yang datang dari Nirwana.
Lo Kay-sian maupun kakek Tan tidak terlebur, mereka sudah mabuk berat, mabuk didalam alunan musik yang dipetik dari rebab bersenar tiga itu.
Irama rebab makin lama semakin bertambah dekat, menyusul kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang.
Biarpun lorong itu sempit, sebetulnya tidak terlalu panjang, dari mulut lorong muncullah seorang kakek yang membopong sebuah rebab bersenar tiga.
Semestinya dia memiliki perawakan tubuh yang sangat tinggi, tapi sekarang sudah bongkok dan layu seperti ebi kering, rambutnya telah beruban, wajahnya penuh keriput, begitu banyak keriputnya hingga susah dihitung satu per satu.
Dalam iklim sedingin ini, mau apa dia muncul di lorong yang serba sempit ini?
Mau jajan bakmi?
Atau mau menabuh rebab?
Seandainya mau menabuh rebab, mau didengarkan kepada siapa?
Irama yang ditabuh kelewat memedihkan hati, gampang membuat orang merasa sedih, gampang membuat orang teringat kembali kejadian masa lampau...
Lo Kay-sian berdua masih duduk dengan tenang, mendengarkan dengan seksama.
Irama rebab bersenar tiga semakin sendu, seakan akan muncul dari mulut seorang dayang yang sudah lama hidup dalam lingkungan istana, seakan dia sedang menuturkan seluruh suka duka yang dialaminya sepanjang masa.
Walaupun dalam kehidupan ada masa masa gembira, namun hanya sekejap mata semuanya telah sirna, hanya kepedihan yang berlangsung langgeng, mengapa kehidupan manusia sangat pendek?
Mengapa dari dulu hingga kini selalu ada manusia yang berperan sebagai orang jahat?
Manusia mengapa harus berjuang?
Mengapa harus mengalami pelbagai penderitaan?
Mengapa hanya kematian yang bisa mendatangkan ketenteraman?
"Criiing, criiing...!"
Menyusul kemudian irama rebab kembali berubah, kini dia mengisahkan tentang betapa tenteramnya sebuah kematian, betapa indahnya alam baka, semacam keindahan dan ketenteraman yang tidak bisa diungkap melalui perkataan, hanya bisa diutarakan melalui irama lagu.
.....
Karena dia sendiri sebetulnya sudah mabuk di dalam impian indah tentang "kematian".
Tangan malaikat elmaut seolah ikut membantunya memetik ketiga senar rebab itu, membujuk orang agar mau melepaskan semua beban, mau berangkat ke alam kematian untuk mencari ketenteraman yang abadi.
Disana, bukan saja tiada penderitaan, juga tidak perlu berjuang, tidak perlu bersaing dengan siapa pun.
Di sana tidak ada orang ingin membunuh orang lain, juga tidak ada orang yang memaksa seseorang untuk pergi membunuh orang lain.
Irama rebab semacam ini tidak disangkal merupakan sebuah daya tarik yang susah ditentang, susah dilawan oleh siapa pun.
Tangan kakek Tan mulai gemetar, pakaian yang dikenakan mulai basah oleh keringat dingin.
.....
Kalau toh kehidupan amat pahit dan penuh penderitaan, mengapa harus hidup terus?
Malam semakin kelam, irama rebab terdengar semakin menyayat hati.
Tiada harapan, tiada cahaya terang.
Irama rebab seakan sedang memanggil manggil, kakek Tan seolah menyaksikan mendiang istrinya sedang mengawasinya sambil tersenyum, memandangnya dari "tempat sana".
Kemudian dia mulai menggapai.
Apakah dia sedang membujuk, agar ikut bersamanya pergi menikmati ketenangan yang penuh keindahan dan kedamaian itu?
Salju masih turun, irama rebab yang memilukan hati seakan datang bersama hembusan angin yang menderu.
Irama lagu yang mengalun, persis seperti suara sapaan, suara panggilan mesra dari orang yang dicintainya, panggilan yang datang dari tempatjauh.
Dari lubuk hati Lo Kay-sian yang paling dalam mulai tumbuh reaksi yang aneh, dia merasa seolah seluruh tubuhnya sudah melebur dan menyatu dengan irama rebab tersebut.
Janji janji kesetiaan, kejadian kejadian berdarah, peristiwa pembunuhan, tiba-tiba berubah jadi amat jauh...
jauh sekali.
Lo Kay-sian merasa seluruh otot tubuhnya mengendor, irama rebab telah menggiringnya menuju ke alam yang lain, disana tidak ada hawa sesat, tidak ada golok, tidak ada pembunuhan, tidak ada kekerasan, juga tidak ada "sumpah setia".
Sorot mata Lo Kay-sian lambat laun memancarkan cahaya yang membingungkan, sementara tubuhnya makin lama makin bertambah kendor.
Tapi tangannya masih menggenggam cawan arak, menggenggamnya kuat kuat.
Saking kuatnya menekan, ibu jarinya telah berubah jadi putih memucat.
Salju turun semakin lebat, irama rebab melantun makin memilukan hati.
Seluruh tubuh kakek Tan sudah tergeletak lemas, sementara jari tangan Lo Kay-sian bertambah pucat, bahkan kini mulai gemetar keras.
Mendadak cawan yang digenggam Lo Kay-sian diayunkan ke udara dan meluncur lewat...
Irama rebab seketika terhenti, senar rebab tiba tiba putus.
Mengapa dia harus melempar cawan untuk memutuskan tali senar rebab?
Kakek pemetik rebab mendongakkan kepalanya, mengawasinya dengan pandangan terkesiap.
Begitu irama rebab terhenti, Lo Kay-sian merasa seluruh tubuhnya seakan terbebas dari belenggu, keringat dingin masih membasahi jidatnya, wajah yang pucat pasi kelihatan bagaikan pualam putih ditengah kegelapan.
"Biarpun irama rebabku tidak berkenan dalam pendengaran anda, ketiga senar itu tidak bersalah, mengapa kau harus memutusnya?"
Tegur kakek pemetik rebab gusar.
"Kenapa kau tidak langsung saja memecah batok kepalaku?"
"Tiga senar tidak bersalah, manusia pun tidak bersalah,"
Jawab Lo Kay-sian hambar.
"Daripada aku mati, lebih baik senar yang putus."
"Aku tidak mengerti!"
"Kau pasti mengerti, tapi rasanya memang ada banyak hal yang tidak kau pahami."
Setelah memandang kakek pemetik rebab itu sekejap, lanjutnya.
"Boleh saja kau memberitakan betapa pendeknya kehidupan manusia, kau boleh mengajarkan bahwa pada akhirnya manusia bakal mati, tapi tahukah kau bahwa kematian pun ada banyak ragamnya." ... Mati ada yang enteng bagai bulu angsa, ada pula yang berat bagai bukit Thay-san.
"Karena seseorang telah dilahirkan di dunia ini, sekalipun harus mati, diapun mesti mati dengan membawa sebuah keberhasilan yang luar biasa, dengan begitu dia baru bisa mati dengan perasaan tenang,"
Ucap Lo Kay-sian.
.....Arti yang sesungguhnya dari kehidupan adalah berjuang terus, asal kau sudah memahami akan makna ini maka mustahil kehidupanmu tanpa arti.
Kepedihan yang dialami umat manusia, pada dasarnya merupakan pekerjaan rumah yang harus diperjuangkan setiap orang untuk mengendalikan dan mengatasinya.
Seluruh tubuh kakek penabuh rebab itu sudah dilapisi bunga salju, perlahan-lahan ia berjalan menuju ke warung bakmi, menilik dari raut mukanya yang murung dapat diketahui betapa sedih dan menderitanya kakek ini.
"Aku hidup hanya untuk menderita,"
Katanya dengan suara yang kedengaran amat sendu.
"Kalau begitu berusahalah untuk melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat, dengan melakukan hal itu maka penderitaanmu akan berkurang, jika tidak kau lakukan, biar sudah matipun kau tetap akan menderita,"
Kata Lo Kay-sian.
"Mati bukan berarti bisa menyelesaikan semua persoalan, hanya orang bodoh lemah yang tidak sanggup menghadapi tekanan akan menyelesaikan persoalannya dengan sebuah kematian."
"Tapi penderitaanku hanya bisa diselesaikan dengan kematian!"
Kata kakek penabuh rebab.
"Kenapa?"
"Karena aku..."
Ucapan kakek itu makin lama makin bertambah lirih. Lo Kay-sian sama sekali tidak mendengar apa yang sedang dia katakan, maka tegurnya.
"Hey, kau bicara apa? Keras sedikit suara mu."
Biarpun bibirnya bergetar namun tidak kedengaran jelas apa yang sedang diucapkan kakek penabuh rebab itu, kepalanya makin tertunduk rendah, seolah ia sedang menahan penderitaan yang luar biasa.
"Bicaralah lebih keras!"
Lo Kay-sian pingin tahu kenapa orang itu harus menggunakan kematian untuk meng-atasi penderitaannya, maka terpaksa dia maju lebih mendekat, menempelkan wajahnya dekat bibir kakek itu.
Kembali teriaknya.
"Mengapa hanya kematian yang bisa membebaskan penderitaanmu?"
"Sebab..."
Tiba-tiba kakek itu mendongakkan kembali kepalanya dan tertawa.
"Sebab jika kau tidak mati, akulah yang harus mampus."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, kakek penabuh rebab telah menggunakan rebab bersenar tiga nya untuk mencekik tengkuk Lo Kay-sian.
Perubahan ini terjadi mendadak dan sama sekali diluar dugaan, kakek Tan jadi ketakutan setengah mati.
Lo Kay-sian dengan menggunakan sepasang tangannya berusaha menyingkirkan senar rebab dari atas tengkuknya, tapi kakek itu menjepit dan menekannya semakin kuat.
Paras muka Lo Kay-sian telah berusah jadi merah padam, merah karena kehabisan napas.
Buru buru ia menjejakkan kakinya sambil menekuk pinggang, dengan sepenuh tenaga dia membalik badannya melalui samping kepala kakek itu.
Begitu melayang turun ke sisi lain, senar rebab yang melilit tengkuknya pun ikut mengendor dan terlepas.
Baru saja Lo Kay-sian ingin meraba tengkuknya yang sakit, kakek tersebut kembali melancarkan serangan dengan senar senar rebabnya, hanya kali ini dia tidak mencekik melainkan menusuk dengan senarnya yang telah menegang bagai paku baja.
Tusukan demi tusukan dilancarkan secara berantai, dalam waktu singkat dia telah melancarkan lima kali lima, dua puluh lima buah tusukan ke arah tenggorokan lawan.
Nyaris sulit bagi Lo Kay-sian untuk meloloskan diri dari serangkaian serangan berantai itu, masih untung dalam warung bakmi itu berjajar banyak sekali meja dan bangku yang bisa digunakan untuk menangkis.
Ketika selesai melancarkan tusukan yang kedua puluh lima, mendadak kakek itu menghentikan serangannya, mengawasi Lo Kay-sian dengan tenang.
"Bagus, bagus sekali, tidak malu disebut orang Pendekar kerinduan!"
Pujinya. Lo Kay-sian melengak, ditatapnya kakek itu dengan penuh ragu.
"Sri.. .siapa kau?"
Tegurnya. Kakek penabuh rebab itu tertawa terbahak-bahak.
"Sebelum malam ini, tidak seorangpun mengenali aku, mulai besok pagi, orang akan membicarakan tentang aku,"
Sahutnya.
"Jadi kau khusus datang untuk membunuhku?"
"Betul!"
Kata kakek itu lagi sambil tertawa.
"Kau adalah rencana pertamaku dari dua belas rencana lain yang tersisa."
"Kau ada tiga belas rencana? Apa saja ketiga belas rencana mu itu?"
"Setibanya didepan raja akhirat, dia pasti akan beritahu kepadamu."
"Baiklah,"
Kata Lo Kay-sian kemudian sambil tertawa.
"Setibanya disana, aku pasti tidak lupa untuk bertanya."
"Sebelum kau mati, akan kuperlihatkan semacam barang kepadamu."
Dari punggungnya kakek penabuh rebab itu melepaskan sebuah buntalan.
Ternyata di belakang punggungnya terikat sebuah bungkusan, tadi Lo Kaysian tidak memperhatikan oleh sebab itu dia tidak melihatnya.
Buntalan itu diletidakkan diatas meja, dengan senyuman penuh arti perlahan-lahan kakek itu membuka buntalan tersebut.
"Kujamin setelah menyaksikan benda itu bukan saja kau tidak akan percaya, bahkan pasti akan terperanjat setengah mati!"
Katanya.
"Aku sudah hidup lima-enam puluh tahunan, kalau mesti terperanjat, mungkin yang bisa membuatku terperanjat sudah habis."
"Benarkah begitu?"
Akhirnya si kakek membuka buntalan itu, dia mengambil sesuatu benda dari balik buntalan lalu mengangkat wajahnya menatap Lo Kay-sian.
Perlahan tangannya diangkat ke udara, sekilas cahaya berkilat segera meluncur menyusul gerakannya itu.
Tiba-tiba saja Lo Kay-sian berdiri terpaku.
Disaat tangan si kakek meninggalkan buntalan tadi, dia sudah melihat dengan jelas benda apakah itu, tapi dia masih berharap matanya yang kabur hingga salah melihat, menunggu tangan kakek itu sudah terangkat seluruhnya, mau tidak mau dia harus percaya bahwa pandangannya tidak keliru, itulah sebabnya dia berdiri terpaku, terperangah!
Mustahil, bagaimana mungkin benda tersebut bisa berada ditangannya?
Lo Kay-sian membelalakkan matanya semakin lebar, dia ingin melihat benda itu dengan lebih seksama.
Ternyata tidak salah.
Dengan perasaan tidak percaya Lo Kay-sian gelengkan kepalanya berulang kali, gumamnya.
"Mana mungkin? Mana mungkin?"
"Inilah salah satu peralatan utama yang akan membantuku menyelesaikan ketiga belas rencanaku,"
Kata kakek penabuh rebab itu sambil tertawa bangga.
Sebenarnya benda apa yang telah diperlihatkan kakek penabuh rebab itu hingga membuat Lo Kay-sian terperangah?
Benda apa lagi di kolong langit yang bisa membuatnya terkejut, keheranan dan tidak percaya?
Sebenarnya bukan suatu benda istimewa yang berada dalam genggaman kakek penabuh rebab itu, dia hanya menggenggam sebilah senjata.
Sejenis senjata yang bentuknya agak aneh dan lain daripada bentuk senjata pada umumnya.
Sebilah senjata yang golok tidak mirip golok, pedang tidak mirip pedang, meskipun ujungnya melengkung bagai kaitan namun jelas bukan senjata yang digunakan untuk menggaet sesuatu.
Lo Kay-sian menatap senjata aneh itu tanpa berkedip, dengan suara yang gemetar bisiknya.
"Kait perpisahan...!"
BAGIAN -3 Salah? Salah? Salah? BAB 1. Kakek penabuh rebab bersenar tiga.
"Kakek penabuh rebab bersenar tiga?"
Ketika Cong Hoa mendengar nama tersebut, Lo Kaysian sudah mati selama tiga hari. Sekarang Cong Hoa berdiri disamping tubuh Lo Kaysian. Tubuh Lo Kay-sian berbaring dalam ruang "kedamaian"
Yang ada di pesanggrahan pengobatan Coan-sin-ie-khek.
Dua batang hio ditancapkan didepan kakinya, asap tipis mengepul tidak berdaya di udara.
Dengan termangu mangu Cong Hoa berdiri didepan altar panjang dimana tubuh Lo Kay-sian berbaring, sudah hampir setengah jam dia berdiri dalam posisi begitu, garis darah sudah muncul dalam kelopak matanya, air mata pun sudah hampir tidak terbendung lagi.
Bibirnya sudah penuh noda darah, darah yang muncul dari luka bekas gigitan sendiri .....Bukankah menyiksa diri termasuk salah satu cara untuk melampiaskan kekesalan sendiri?
Lo Kay-sian merupakan korban kedua yang harus "berpisah"
Dari sisinya.
Orang pertama adalah Cong Hui-miat, kendatipun hingga kini dia belum tahu bagaimana nasibnya.
Orang kedua adalah Lo Kay-sian, kendatipun sewaktu kejadian dia tidak hadir disampingnya, tapi secara moral dia merasa turut bertanggung jawab.
Paling tidak senjata kait perpisahan direbut musuh dari tangannya.
Bila dia tidak kehilangan senjata kait perpisahan, tidak mungkin kakek pemetik rebab bisa memaksa Lo Kay-sian "berpisah dari dunia"
Dengan senjata kaitan tersebut.
Apa pun yang terjadi, dia akan menagih hutang ini kepada perkumpulan Cing Liong Hwee.
Tapi sayang para pemimpin perkumpulan Cing Liong Hwee seperti orang yang punya hutang bermilyar-milyar tahil banyaknya, sampai hari ini tidak seorangpun berani tampil didepan umum.
Dengan termangu Cong Hoa mengawasi sepasang mata Lo Kay-sian yang terpejam rapat.
Mungkin ada seseorang yang bisa membantunya menemukan Cing Liong Hwee, paling tidak orang itu masih ada sedikit hubungan dengan organisasi rahasia itu.
Cong Hoa memutuskan akan berhadapan dengannya, dia tidak akan menghindari dirinya lagi.
Cepat atau lambat bakal berjumpa, mengapa dia harus selalu menghindar?
"Menghindar"
Bukan sebuah penyelesaian yang bijaksana.
Bunga bwee yang menghiasi kamar tidur Nyoo Cing meski sudah ditaruh berapa hari, bunga-bunga itu tampak masih segar dan indah.
Hingga kini Nyoo Cing masih berbaring diatas pembaringan, dia belum mampu turun dari ranjang, namun dibandingkan berapa hari berselang, paras mukanya tampak jauh lebih segar, jauh lebih bertenaga.
Kini, dia sedang mengawasi wajah Cong Hoa dengan sorot mata yang penuh semangat.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu?"
"Yaa, masih tersisa lima hari lagi."
Hari ini adalah bulan sepuluh tanggal tujuh, dari batas waktu lima belas hari masih ada sisa lima hari.
"Kelihatannya daya ingatmu sangat bagus!"
Puji Nyoo Cing sambil tertawa getir.
"Mau tidak mau terpaksa harus kuingat terus secara baik,"
Sahut Cong Hoa.
"Orang itu kupinjam dari tanganmu, aku pula yang menyanggupi batas waktu lima belas hari."
"Kalau toh sudah kau setujui, sekarang pun masih ada sisa waktu lima hari, buat apa kau datang lebih awal?"
"Tidak mungkin lagi bagiku untuk tidak dating!"
"Kenapa?"
"Aku tidak pingin jadi kura-kura yang selalu sembunyikan kepalanya, orang memang hilang ditanganku, kait perpisahan pun direbut orang dari tanganku."
Setelah menatap tajam wajah Nyoo Cing, lanjutnya.
"Sekarang terserah keputusanmu!"
"Biarpun tinggal lima hari, lima hari adalah waktu yang cukup lama, banyak pekerjaan yang masih bisa dilakukan,"
Sahut Nyoo Cing sambil membuang pandangan matanya ke tempat kejauhan. Nun jauh disana, terlihat ada segumpal awan sedang bergerak pelan.
"Tentang senjata kait perpisahan, aku sama sekali tidak menyalahkan dirimu,"
Kembali Nyoo Cing menambahkan.
"Perkumpulan Cing Liong Hwee memang bersumpah akan mendapatkan senjata tersebut, walau dengan cara apa pun, bila orang lain yang pergi mengambil, mungkin hasilnya jauh lebih parah ketimbang kau."
Reaksi yang diperlihatkan Nyoo Cing sama sekali diluar dugaan Cong Hoa.
Melepaskan narapidana kelas satu merupakan dosa yang bisa diancam dengan hukuman penggal kepala, tapi Nyoo Cing seolah tidak acuh.
Kehilangan senjata kait perpisahan pun dia anggap seperti seorang pendekar pedang yang terpapas kutung sebuah jari tangannya, biar tidak bisa menggunakan senjata lagi seumur hidup, namun Nyoo Cing tetap tidak acuh.
Dengan sinar mata tidak percaya Cong Hoa memandang Nyoo Cing, dia seakan sedang memandang seekor dinosaurus yang aneh dan langka.
"Sebetulnya kau ini manusia atau bukan?"
Tanya Cong Hoa. Nyoo Cing tertawa, berpaling, dengan pandangan penuh senyuman ditatapnya wajah Cong Hoa.
"Kau heran mengapa reaksiku sama sekali berbeda dari orang lain?"
"Bukan hanya berbeda, pada hakekatnya reaksimu bukan reaksi normal dari seorang manusia."
"Lantas apa yang harus kuperbuat hingga memenuhi kriteria pandanganmu? Apakah menangkapmu? Menjebloskan kau ke dalam penjara?"
"Paling tidak kau mesti bertanya kepadaku, kemana larinya Cong Hui-miat, siapa yang telah merebut Kait perpisahan."
"Tidak perlu!"
"Apa artinya tidak perlu?"
"Tidak perlu artinya aku percaya kepadamu."
"Percaya kepadaku?"
Tanya Cong Hoa.
"Apa yang dipercayanya?"
"Percaya kau pasti dapat memberi hasil akhir yang sangat memuaskan,"
Ujar Nyoo Cing sambil tertawa.
"Dengan tabiatmu, sifatmu dan cara kerjamu, memangnya kau akan biarkan semua kejadian berlalu dengan begitu saja?"
"Tidak mungkin! Aku bersumpah akan memenggal kepala naga hijau busuk itu dan memasaknya jadi kaldu."
"Nah, itulah dia! Kalau begitu, cepatl laksanakan!"
"Sayang kepala naga itu tidak ubahnya seperti kurakura, sepanjang hari hanya menyembunyikan kepalanya dalam kerangka."
"Konon, jika ingin memaksa si kura-kura memperlihatkan kepalanya, kau mesti membe-tot ekornya."
"Aku pun tidak berhasil menemukan ekornya,"
Kata Cong Hoa.
"Tidak menemukan ekornya, mana mungkin bisa dibetot?"
Nyoo Cing tidak menjawab, kembali dia mengalihkan pandangan matanya keluar jendela. Di halaman luar ruangannya terlihat ada banyak pasien sedang berjalan jalan.
"Musuh terbesar bagi umat manusia adalah diri sendiri,"
Ujar Nyoo Cing.
"Tapi musuh yang paling menakutkan adalah sahabat."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan lagi dengan hambar.
"Tapi ada sejenis musuh yang paling menyedihkan dan paling membuat kita tidak berdaya."
"Musuh macam apa itu?"
"Mata-mata."
"Mata-mata?"
"Betul!"
Kata Nyoo Cing.
"Untuk menjadi seorang mata-mata yang sukses maka syarat pertama adalah menghilangkan identitas sendiri. Itu berarti kau harus mengorbankan semua persoalan yang paling bisa membuat kau bahagia, terkadang kaupun harus bisa menerima segala macam penghinaan, siksaan dan cemoohan yang tidak terbayangkan sekalipun, ada kalanya untuk menyukseskan sebuah tugas, diapun tidak segan menghabisi nyawa orang yang paling dikasihi."
Kembali Nyoo Cing berhenti, ditatapnya wajah Cong Hoa lekat lekat, kemudian melanjutkan.
"Tahukah kau mata-mata mana yang selama ini paling mengenaskan hidupnya?"
"See Si?"
"Betul, dan tahu mata-mata mana yang paling sukses menjalankan misinya?"
"Siapa?"
"See Si!"
"Dia juga?"
"Benar,"
Ujar Nyoo Cing.
"Demi membantu Kou Jian membangun kembali negerinya, Huan Tay-hu tidak segan mengirim wanita kesayangannya, See Si menjadi seorang mata-mata, demi cinta See Si menjalankan misinya, tahukah kau betapa tersiksa dan menderitanya penghidupan wanita itu?"
"Aku dapat menyelami penderitaannya."
"Akhirnya Kou Jian berhasil membangun kembali negerinya, sebenarnya See Si ingin bunuh diri, tapi demi menenteramkan perasaan hatinya Huan Tay-hu tidak segan melepaskan jabatannya dengan membawa wanita itu hidup menyepi di desa kelahirannya."
"Oleh sebab itu See si menjadi mata-mata yang paling mengenaskan hidupnya, tapi paling berhasil menjalankan misinya?' kata Cong Hoa.
"Benar."
Sekali lagi Cong Hoa menatap Nyoo Cing.
"Secara tiba-tiba kau menyinggung soal mata-mata, apakah..."
Nyoo Cing menggoyangkan tangannya mencegah gadis itu bicara lebih lanjut, dari atas pot bunga diambilnya sebatang bunga bwee kemudian ditatapnya dengan termangu.
"Konon bunga sakura yang tumbuh di negeri Husiang, juga berbunga di musim dingin,"
Kata Nyoo Cing.
"Sekarang adalah musim dingin, sudah pasti bunga sakura pun sedang mekar-mekarnya."
"Bunga sakura? Negeri Hu-siang (Jepang)?"
Cong Hoa seakan teringat akan sesuatu, berbinar sepasang matanya, ia nampak sangat gembira.
"Betul, bunga sakura memang berkem-bang di saat musim salju!"
Serunya. Dengan penuh kepuasan Nyoo Cing menatap wajah gadis itu, katanya.
"Asal bunga sakura dari negeri Husiang dikirim kemari, belum tentu tidak akan berbunga."
Perawakan tubuhnya setinggi enam kaki delapan inci, kurus kering bagai tongkat bambu, tidak heran kalau orang menyebutnya Ui si bambu ceking.
Tahun ini berusia tiga puluh delapan tahun, bermarga Ui bernama Ceng-piau.
Dia berada di urutan pertama sebagai lotoa, dirumah masih punya dua orang adik, seorang cici dan seorang moay-moay.
Wataknya suka mencari keuntungan kecil, sikapnya terhadap khalayak ramai terhitung "cukup ramah.".
Bininya dari marga "Hie", terhitung seorang wanita cantik.
Hanya sayang sejak kecil tubuhnya lemah dan penyakitan, tidak tahan terhadap hembusan angin, tidak kuat dengan teriknya matahari.
Ilmu silatnya bersumber dari Siau-lim-pay, beragam, sayang tidak cukup matang.
Resminya dia adalah seorang tauke sebuah toko kelontong, diapun termasuk "mata-mata"
Dari Nyoo Cing dengan kode panggilan "Tiong-ie". Dalam daftar tiga belas rencana. Kode panggilan.
"Tiong-ie"
Nama dalam daftar perencanaan.
Ui Ceng-piau.
Julukan.
Ui si bambu ceking.
Usia.
38 tahun.
Pekerjaan.
tauke toko kelontong.
Ilmu silat.
aliran Siau-lim-pay.
Ilmu andalan.
ilmu toya Ciang-mo-kun dari Siau-lim.
Batas waktu.
30 hari.
Yang perlu diwaspadai.
bini.
Alasan.
menjadi mata-mata Nyoo Cing dengan kode rahasia Tiong-gi.
"Tauke, siapkan dua kati telur!"
Teriak enso Cho yang ada dirumah tetanggal memang keras lagi nyaring.
"Segera!"
Jawab Ui Ceng-piau cepat.
"Delapan belas butir telur, persis dua kati!"
Setelah menerima pembayaran, sembari tertawa kembali Ui Ceng-piau bertanya.
"Enso Cho, memangnya lagi cia-po (makan bergizi tinggi)?"
"Tidaklah!"
Enso Cho tertawa cekikikan.
"Suamiku senang makan telur, lagi pula menurut tabib banyak makan telur bisa menambah tenaga kelakiannya!"
"Waah, kalau engkoh banyak makan telur dan napsunya tambah kuat, enso Cho yang paling senang!"
"Aaah, salah kau!"
Goyangan pinggul dan pantat enso Cho bertambah keras. Ui Ceng-piau mengawasi goyangan pantat orang hingga lenyap dari pandangan, kemudian baru bergumam sambil tertawa getir.
"Waah, biar sudah tua, kelihatannya malah bertambah joss!"
Ui Ceng-piau gelengkan kepalanya berulang kali, belum lagi memutar tubuh, tiba-tiba matanya menangkap bayangan seorang kakek sedang berjalan mendekat dari ujung jalan sana.
Seorang kakek yang seharusnya memiliki perawakan tubuh yang sangat tinggi, namun karena dimakan usia, sekarang sudah bongkok dan berkeriput hingga mirip ebi kering, rambutnya sudah beruban dan wajahnya penuh keriput.
Yang paling mencolok adalah sebuah rebab bersenar tiga yang berada dalam bopongannya.
Caranya berjalan pun sangat istimewa, mula-mula kaki kanannya melangkah duluan kemudian kaki kirinya baru perlahan-lahan menyusul ke muka.
Kakek itu berjalan sangat lambat, tapi anehnya hanya sekejap kemudian ia sudah tiba di muka pintu toko kelontong.
Sepasang matanya yang sayu mengawasi Ui Ceng-piau beberapa kejap.
"Lo-sianseng, kau ingin membeli apa?"
Sapa Ui Cengpiau sambil tertawa.
"Persediaan barang kami lengkap, silahkan memilih sesuai dengan yang dibutuhkan."
"Aku datang untuk membunuhmu!"
Ujar si kakek dengan suara yang lirih tidak bertenaga. Mula-mula Ui Ceng-piau terperangah, menyusul kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Losianseng memang senang bergurau!"
Katanya. Kakek itu menggeleng, ujarnya lagi sambil menghela napas.
"Heran, kenapa setiap kali aku berbicara, orang selalu tidak mau percaya."
Dari punggungnya kakek itu melepaskan sebuah buntalan kemudian perlahan-lahan membukanya.
"Bukankah kau bernama Ui Ceng-piau?"
Tanyanya kemudian.
"Benar!"
Jawab Ui Ceng-piau sambil tertawa, namun diam-diam dia sudah mening-katkan kewaspadaannya.
"Bukankah kode rahasiamu Tiong-Ie?"
Senyuman diwajah Ui Ceng-piau kontan membeku, diawasinya kakek itu dari atas hingga ke bawah.
"Kau adalah Cuang?"
"Aku?"
Kembali kakek itu tertawa.
"Aku tidak lebih hanya seorang kakek pemetik rebab bersenar tiga."
"Kakek pemetik rebab bersenar tiga?"
Ui Ceng-piau mulai terkesiap.
"Jadi kaulah orangnya?"
"Sekarang sudah percaya bukan kalau kedatanganku untuk membunuhmu?"
Akhirnya kakek itu membuka buntalannya.
"Siapa disitu? Ditengah hari bolong sudah ribut mau membunuh?"
Seorang perempuan kecil mungil berwajah cantik menyingkap tirai pintu dan berjalan keluar. Kemudian sambil menggapai bahu Ui Ceng-piau, lanjutnya.
"Ceng-Piau, keluarga mana yang mau bunuh ayam untuk cia-po?"
Kelihatannya dia masih belum sadar kalau ada gelagat tidak beres, malah sambil picingkan matanya dan tertawa kembali menambahkan.
"Apakah lo sianseng ini?"
"Enso cilik, aku memang ingin potong ayam untuk ciapo, tapi nanti, setelah selesai membunuh suamimu,"
Jawab si kakek sambil picingkan pula matanya.
Ketika mendengar separuh perkataannya yang diatas, perempuan itu masih tertawa, tapi begitu selesai mendengar semua ucapannya, paras muka perempuan itu telah berubah jadi pucat pias.
"Ceng.... piau, dia... dia... apakah dia... sedang bergurau?"
Nada suaranya mulai kedengaran agak gemetar, gemetar lantaran takut.
"Masuklah dulu, sebentar semua akan beres,"
Bujuk Ui Ceng-piau.
"Baik.... baiklah....."
Dengan tubuh gemetar perlahan-lahan dia mundur ke belakang, mungkin saking takutnya, kakinyajadi lemas dan nyaris jatuh tertelungkup, terpaksa dia berdiri bersandar dimeja sambil mengawasi kakek itu dengan pandangan penuh ketakutan.
Ui Ceng-piau mengawasi terus buntalan itu tanpa berkedip, apakah isi buntalan itu adalah kait perpisahan yang amat menakutkan?
Bila senjata ini berada ditangan Nyoo Cing, mungkin saja semua kehebatannya akan terpancar keluar, tapi sekarang benda itu berada ditangan orang lain, apakah dia pun bisa mengerahkan seluruh kehebatannya?
Diam diam ia mengambil keputusan, terlepas bakal selamat atau mati, dia ingin menjajal kekuatannya.
Maka diam diam dia menghimpun tenaga dalamnya dan disalurkan ke ujung jari tangan, dalam waktu singkat ujung jari itu berubah jadi merah tua.
Kepandaian silat yang paling diandalkan Ui Cengpiau memang ilmu cakar elang dari Hway-lam.
Orang persilatan tahunya dia mempelajari ilmu toya penakluk iblis dari Siau-lim-pay, padahal ilmu tersebut baru dipelajari selama berapa tahun terakhir.
Kepandaian yang sangat diandalkan olehnya adalah ilmu Eng-jiau-kang, ilmu cakar elang yang maha sakti.
Cakar elang selalu mencengkeram mangsanya secara jitu, cepat, tepat dan telengas.
Akhirnya kakek itu mencabut keluar kait perpisahan, kening Ui Ceng-piau pun berkerut makin kencang.
"Inilah kait perpisahan!"
Kata kakek itu.
"Aku tahu."
"Sekali kait langsung berpisah, sebetulnya untuk bersua,"
Kata kakek itu lagi dengan suara hambar.
"Meskipun kau bakal berpisah dengan dunia ini, tapi dengan cepat akan bersua lagi dengan rekan-rekan lamamu yang sudah berada di alam baka, bukankah kejadian semacam ini amat menggembirakan hati?"
Ui Ceng-piau tidak bicara lagi, tiba tiba sepasang tangannya diayunkan ke muka, kiri kanan saling mendukung melancarkan segulung cakar maut yang mengerikan.
Lingkaran cakar yang terbentuk dari kecil makin mengembang lebar, gulung demi gulung menghimpit tubuh kakek itu.
Si kakek sama sekali tidak bergerak.
Mendadak gaya serangan Ui Ceng-piau kembali berubah, berubah jadi amat sederhana.
Cakar yang sederhana, langsung mencekik ke leher kakek itu.
Kembali si kakek tidak bergerak, Cuma senjata kait perpisahan yang berada dalam genggamannya mulai beraksi.
Begitu kait perpisahan menyambar, lagi-lagi sebuah perpisahan telah terjadi.
Tiba-tiba percikan darah segar menyembur membasahi wajah kakek itu, kemudian bagaikan bunga salju berhamburan ke mana-mana.
Sebuah telapak tangan telah rontok ke tanah, tangan dengan jari berwarna merah tua.
Tangan kiri Ui Ceng-piau memegangi lengan kanannya yang masih menyemburkan darah segar, wajahnya tampak sangsi, dia masih tidak percaya kalau lengan kanannya telah "berpisah".
Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya, menanti kepalanya terangkat, tiba-tiba dia pun dapat menyaksikan tengkuk sendiri.
Aneh!
Bagaimana mungkin seseorang dapat menyaksikan bentuk dari tengkuk sendiri?
Bukan saja Ui Ceng-piau dapat menyaksikan tengkuk sendiri, diapun sempat menyaksikan semburan darah yang memancar keluar dari tengkuknya itu, kemudian diapun sempat mendengar jeritan ngeri dari bininya, setelah itu dia tidak dapat melihat apa-apa lagi, tidak bisa mendengar apaapa lagi.
Kakek itu mengeluarkan selembar saputangan berwarna putih, perlahan-lahan dia menggosok kait perpisahan sementara sepasang matanya mengawasi perempuan di belakang meja tanpa berkedip.
"Sekarang aku sudah siap cia-po,"
Katanya dengan mata setengah terpicing. Dengan tubuh gemetar perempuan itu bangkit berdiri, tubuhnya menggigil keras.
"Aaaaii,"
Kembali kakek itu menghela napas panjang.
"Mestinya, orang seusia ku sudah tidak pantas melakukan perbuatan semacam ini."
Ditatapnya perempuan itu lekat-lekat, kemudian tambahnya.
"Tapi kecantikanmu benar-benar membuat aku tidak tahan, kalau tidak kulakukan, rasanya aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
Dia simpan kembali senjata kait perpisahan, lalu dengan wajah kesemsem selangkah demi selangkah maju menghampiri. Tampaknya perempuan itu semakin ketakutan, terdengar dia sedang bergumam.
"Satu, dua, tiga......."
Begitu angka ketiga disebut, tiba-tiba kakek itu menghentikan langkahnya, kening berkerut kencang, paras mukanya mendadak berubah jadi amat tidak sedap.
Sepasang matanya masih mengawasi perempuan itu tanpa berkedip.
"Kau..."
Perempuan itu tertawa. Rasa ketakutan, tubuhnya yang tadi menggigil, tiba-tiba hilang lenyap tidak berbekas, dengan penuh daya pikat dia bangkit berdiri.
"Tampaknya kau lupa kalau aku bermarga Hie!"
Ujarnya merdu.
"Hie?"
Mendadak pancaran sinar ngeri melintas diwajah kakek itu.
"Hie Bijin (perempuan cantik), Hie Bojin (tidak ada manusia)..?"
"Tepat sekali!"
Suara tertawa perempuan itu makin memikat.
"Hie Bo-jin..."
"Atasan telah mengingatkan agar aku lebih berhati hati terhadapmu, aku... rupanya aku telah memandang ringan kemampuanmu,"
Kata kakek itu kemudian.
"Tidak kusangka ternyata kau adalah putri dari si ratu racun Hie Ciu-si, ternyata kau adalah Hie Bwee-jin!"
"Belum pernah ada orang yang mampu meloloskan diri dari racunku,"
Kembali Hie Bwee-jin berkata.
"Sekalipun lotoa dari Cing Liong Hwee dating!"
Dia tertawa makin keras, tertawa makin gembira.
Si kakek sudah kesakitan hingga sepasang kakinya mengejang keras, perlahan-lahan tubuhnya berjongkok ke bawah, rasa menyesal, benci, dendam terpancar dari balik matanya.
Disaat rasa bencinya makin menebal itulah, mendadak dari balik toko kelontong menyembur keluar selapis kabut yang sangat tebal.
Dengan cepat kabut itu menyelimuti kakek pemetik rebab bersenar tiga, menyelimuti juga Hie Bwee-jin.
Kabut itu muncul secara tiba-tiba, buyar pun secara tiba-tiba.
"Aneh benar kabut ini,"
Terdengar Hie Bwee-jin bergumam keheranan.
"Muncul secara tiba-tiba, hilangpun secara mendadak."
"Kau merasa heran?"
Si kakek yang semula sudah keracunan hingga terjongkok, mendadak bangkit berdiri lagi, semua rasa sakit dan tersiksa yang terpancar diwajahnya kini hilang lenyap tidak berbekas, seolah lenyap bersama berlalunya gumpalan kabut itu.
"Racun dari si Ratu racun memang susah dihadapi,"
Kata si kakek lagi sambil tertawa.
"Aaai! Sayangnya, walaupun ada orang pandai melepaskan racun, tapi ada pula yang pandai memunahkannya."
Diawasinya perempuan itu dengan senyuman mengejek, lanjutnya.
"Ada sementara orang, bukan saja pandai memunahkan racun, diapun sanggup melepaskan racun, percaya kau?"
Hie Bwee-jin tidak menjawab, peluh sebesar kacang kedele membasahi jidatnya, paras mukanya pun lambat laun berubah jadi menghitam.
"Orang yang barusan memunahkan racunku tidak lain adalah liong-tau (ketua) dari Cing Liong Hwee!"
Kembali kakek itu berkata.
"Dia juga yang telah meracunimu!"
Seluruh tubuh Hie Bwee-jin telah berubah jadi hitam, namun sepasang matanya justru bersinar terang.
Seterang batu kristal!
Angin dingin berhembus lewat menggoyang kuntum bunga diatas ranting.
Bunga bergerak, bunga pun berguguran.
Ketika bunga mulai berguguran, bunga pun akan tumbuh kembali.
Siau-tiap perlahan-lahan bangkit berdiri, dengan tangannya yang lembut dia petik sebatang bunga.
Bunga bwee.
Siau-tiap kelihatan sangat riang, seriang kupu-kupu yang beterbangan mengelilingi bunga, persoalan yang selama dua puluh tahun membuat pusing para pemimpin Cing Liong Hwee, akhirnya berhasil dia selesaikan secara sukses.
Jelas keberhasilannya merupakan sebuah pahala besar, bagaimana mungkin dia tidak merasa gembira?
Cong Hoa pun sangat gembira, bagaimana tidak?
Begitu memasuki kebun bunga Soat-lu, dia sudah menyaksikan orang yang sedang dicarinya...
Siau-tiap.
Dengan wajah penuh senyuman dia berdiri di depan pintu "Soat-lu", mengawasi terus gerak-gerik Siau-tiap, rasa tercengang bercam-pur kagum terlintas diwajahnya.
Kecantikan Siau-tiap sungguh diluar dugaannya.
Kecantikan wajah Siau-tiap ibarat sekuntum bunga...
bunga...
aaah betul!
Ibarat sekuntum bunga sakura.
Selembut, seindah dan sehalus bunga sakura.
Hari ini dia mengenakan setelan baju berwarna kuning dengan sebuah ikat pinggang berwarna merah menyala, tubuhnya yang semampai kelihatan bergoyang bagai ranting pohon yang-liu yang terhembus angin.
Rambutnya yang hitam berkilat sama seperti senyumannya yang manis, sangat menggetarkan perasaan siapa pun yang memandangnya, yang lebih penting lagi, keseluruhan dari nona itu mendatangkan perasaan nyaman bagi siapa pun.
Cong Hoa mengawasi terus Siau-tiap tanpa berkedip, diakah orang yang menyergapnya ditengah hutan bunga bwee, diluar rumah kayu kecil pada malam itu?
Sama-sama berasal dari negeri Hu-siang, bunga sakura berasal dari negeri Hu-siang!
Ninja pun berasal dari negeri Hu-siang!
Setelah memetik setangkai bunga bwee, dengan riang gembira Siau-tiap bangkit berdiri, lalu dia pun menyaksikan Cong Hoa berdiri persis di depan pintu.
Dengan pandangan tercengang Siau-tiap mengawasi tamu tidak diundang itu, kemudian dia membalikkan tubuh meski sorot matanya masih mengawasi terus wajah Cong Hoa.
"Siapa kau?"
Tegur Siau-tiap kemudian.
"Cong Hoa, Cong yang berarti sembunyi, Hoa yang berarti bunga."
"Mau apa datang kemari?"
"Menengok kau."
"Menengok aku?"
Siau-tiap pura-pura tercengang.
"Apa bagusku untuk ditengok?"
"Banyak sekali,"
Kata Cong Hoa sambil tertawa.
"Wajahmu amat cantik."
"Karena kecantikanku, kau khusus datang menengokku?"
"Sejujurnya aku ingin sekali menjawab begitu, tapi sayang kedatanganku lantaran maksud lain."
"Apa tujuanmu?"
"Aku ingin melihat, kau kah orang yang akan membunuhku di hutan bunga bwee pada berapa hari berselang?"
"Aku?"
Siau-tiap segera tertawa merdu.
"Aneh jika orang itu adalah kau, suara orang itu kasar dan serak seperti suara babi, tapi terus terang, perawakan tubuhnya maupun gerak-geriknya, persis sekali dengan dirimu."
"Sungguh?"
"Betul."
"Jadi kau menganggap aku adalah ninja itu?" ... Ninja? Aneh sekali, padahal dia tidak menyinggung soal ninja, kenapa begitu buka mulut, dia sudah menyinggung soal ninja? Tentu saja Cong Hoa mendengar juga akan hal ini, dia tahu Siau-tiap telah salah bicara, namun dia sama sekali tidak menegurnya, yang dilakukan sekarang hanya tertawa, tertawa puas.
"Bila bunga tidak disirami setiap hari, apakah dia tetap nampak cantik?"
Tanya Cong Hoa kemudian.
"Tidak mungkin!"
"Kalau disirami setiap hari?"
"Tergantung apakah kau bersungguh hati atau tidak, tulus hati atau tidak?"
"Bersungguh hati? Tulus hati? Masa menyirami bunga pun harus bertulus hati?"
"Benar, dalam melakukan pekerjaan apa pun, tulus hati merupakan hal pokok yang harus ada."
Setelah berhenti sejenak, ditatapnya wajah Cong Hoa, kemudian lanjutnya.
"Jika kau melakukan semua pekerjaan secara tulus hati, paling tidak bisa bertanggung jawabkan pada diri sendiri."
"Aku percaya dengan perkataanmu itu,"
Cong Hoa balas menatap tajam Siau-tiap.
"Aku selalu melakukan semua pekerjaan secara sungguh sungguh dan tulus hati, itulah sebabnya dengan perasaan "tulus"
Hari ini aku datang menyambangimu."
"Buat apa menyambangi aku? Memangnya ada yang bisa kau nikmati?"
"Ada, tubuhmu, wajahmu, gerak-gerikmu, potongan rambutmu, bedak dan gincumu, sepasang matamu."
Setelah tertawa lebar, tambahnya.
"Tapi yang paling utama adalah ingin melihat ke tulusan hatimu."
"Ketulusan hatiku? Kenapa mesti aku?"
Tanya Siautiap tercengang.
"Karena kau mempunyai ketulusan hati menjadi begundal orang,"
Sepatah demi sepatah Cong Hoa berkata.
"Begundal orang?"
Tampaknya Siau-tiap semakin tercengang.
"Rela diperintah orang, rela tunduk kepada orang, kalau bukan begundal lantas apa namanya?"
Siau-tiap tidak bicara, dia hanya tertawa, tentu saja suara tertawanya tidak leluasa karena dia seolah mendengar bunga bunga yang tumbuh disekelilinginya pun ikut tertawa.
Hanya Cong Hoa yang tidak tertawa, dia hanya mengawasi Siau-tiap dengan tenang.
Siau-tiap tertawa, tiba tiba dia menghentikan tertawanya secara mendadak.
Dari balik sepasang matanya yang jeli bagai cahaya matahari dimusim semi, sekonyong konyong memancar keluar sinar yang lebih tajam dari mata pisau.
"Nyoo Cing memang tidak malu menjadi Nyoo Cing,"
Perkataan Siau-tiap pun setajam mata golok.
"tampaknya sejak aku memasuki istana raja muda, ia sudah mengetahui identitasku yang sebenarnya."
Cong Hoa tidak menjawab.
"Kalau memang sejak awal sudah mengetahui rahasiaku, kenapa baru hari ini dia bongkar kedokku?"
Cong Hoa masih tetap tidak menjawab.
"Apakah dia baru merasakan seriusnya permasalahan setelah kehilangan senjata kait perpisahan?"
Kata Siautiap.
"Oleh karena itu kau diminta datang untuk menanyai aku?"
Cong Hoa tetap tidak menjawab.
"Bila dia suruh kau menanyakan siapa yang telah merebut kait perpisahan, organisasi macam apakah Cing Liong Hwee itu dan siapa liong-taunya? Maaf, aku tidak nanti akan menjawab semua pertanyaan itu."
Walaupun salju tidak sedang turun, langit berwarna keabu abuan, seluruh jagad pun terlihat keabu-abuan, pemandangan di dalam Soat-lu bagaikan sebuah lukisan cat air yang sangat tawar, seolah semua warna yang ada telah terlebur dalam warna kelabu.
Cong Hoa sendiripun seakan terlebur ke dalam warna abu-abu, seperti juga baru menetas dari balik gumpalan berwarna abu abu.
"Kau keliru!"
Ujarnya kemudian sambil memandang Siau-tiap dengan hambar.
"Aku keliru? Dimana letak kekeliruanku?"
"Mungkin saja sejak awal Nyoo Cing sudah mengetahui rahasiamu, tapi belum pernah dia minta kepadaku untuk membongkar rahasia ini,"
Kata Cong Hoa dingin.
"Sebab dia beranggapan, dari dulu hingga sekarang, pekerjaan yang paling mengenaskan dan paling tidak berdaya adalah menjadi seorang matamata."
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Seorang mata-mata bukan saja tidak memiliki kebebasan, setiap saat dia perlu mengorbankan diri, bahkan bila perlu orang yang terdekat pun akan dikorbankan."
Siau-tiap hanya mendengarkan dengan seksama, sementara sepasang matanya memancarkan sinar yang lebih tajam dari sembilu.
"Oleh sebab itu dia selalu memberi kesempatan kepadamu,"
Lanjut Cong Hoa.
"dia selalu memberi peluang agar kau sadar akan kesalahan dan kembali ke jalan benar."
Angin dingin di akhir musim gugur berpusing didalam pesanggrahan salju, mengalir diantara sela sela tubuh kedua orang itu.
Bunga sedang bergerak, pakaian sedang berkibar, rambut panjang Siau-tiap pun sedang berkibar, berkibar seolah ranting pohon liu yang sedang meliuk liuk.
"Dalam kehidupan manusia hanya ada tiga kali "kesempatan baik", bila kau tidak dapat memanfaatkannya secara baik dan selalu melepaskannya dengan begitu saja, maka pada akhirnya "kesempatan yang paling biasa"
Pun tidak akan kau peroleh,"
Ujar Cong Hoa sambil menatap wajah gadis itu.
"Maka dari itu, hari ini akupun akan memberi sebuah peluang kepadamu."
"Peluang apa?"
"Asalkan dapat merobohkan aku, kau boleh pergi dari sini."
"Mau pergi, mau tetap tinggal disini, siapa yang sanggup menghalangi aku?"
"Jadi kau anggap gampang untuk meninggalkan tempat ini?"
Jengek Cong Hoa hambar.
"kau anggap Nyoo Cing dan Tay Thian adalah orang mampus?"
Bicara sejujurnya, memang bukan pekerjaan yang mudah untuk meninggalkan tempat itu. Siau-tiap mencoba untuk memeriksa sekeliling tempat itu, dia ingin mencari adakah suatu tempat yang "menguntungkan"
Baginya, terakhir pandangan matanya terhenti disekeliling tembok pembatas. Agaknya Cong Hoa dapat membaca jalan pikirannya, dengan suara hambar kembali ujarnya.
"Kujamin diluar dinding pembatas itu paling tidak ada lima puluh pasang busur, tiga puluh bilah golok dan dua puluh batang tombak yang sedang menanti kedatanganmu!"
Siau-tiap berkerut kening, kembali dia mengalihkan pandangan matanya ke wajah Cong Hoa, tampaknya ia sedang mencari tahu dari mimik muka gadis itu, apakah ucapannya bisa dipercaya atau tidak.
"Hanya ada satu cara bila kau ingin meninggalkan tempat ini dengan selamat,"
Kata Cong Hoa.
"kalahkan aku!"
"Kalau aku yang kalah?"
Tanya Siau-tiap.
"Yang menang jadi raja, yang kalah jadi perampok,"
Cong Hoa tertawa.
"Sebagai orang yang asor tentu saja harus bersikap sebagai orang yang asor!"
"Maksudmu, jika aku kalah maka aku harus menjawab semua pertanyaanmu?"
"Benar."
"Kalau aku segan menjawab?"
"Aku sendiripun tidak bisa berbuat apa-apa,"
Kata Cong Hoa hambar.
"Tapi aku dengar, paling tidak Tay Thian mempunyai tujuh puluh macam cara untuk memaksa orang bicara jujur, entah kau sempat melihat berapa macam?"
Paras muka Siau-tiap berubah hebat, tentu saja dia sangat mengerti cara Tay Thian menyiksa orang.
Jagad raya yang semula berwarna keabu abuan, mendadak berubah jadi gelap.
Entah sejak kapan, awan gelap telah menyelimuti seluruh angkasa, kelihatannya sebentar lagi akan turun hujan badai.
Melihat perubahan cuaca yang sedang berlangsung, diam diam Siau-tiap kegirangan.
Kepandaian yang dipelajarinya memang termasuk cara meloloskan diri dalam situasi seburuk apapun, semakin buruk cuaca disitu, semakin menguntungkan baginya.
Cong Hoa ikut mendongakkan kepalanya melihat perubahan cuaca, dia hanya gelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.
"Kelihatannya Thian lagi lagi memberi kesempatan kepadamu,"
Ujarnya.
"Bila hari ini kau tidak baik-baik manfaatkan peluang ini, perbuatanmu benar benar telah menghina Thian."
Siau-tiap tidak menjawab, bunga yang berada ditangannya digetarkan perlahan, sementara mimik mukanya menunjukkan perubahan yang aneh.
Orang tidak tahu apakah dia sedang sedih atau gembira.
Dengan tangan kiri memegang bunga, tangan kanan meraba putik bunga, dalam waktu singkat gadis itu telah berubah seratus delapan puluh derajat.
Dulu Siau-tiap tidak lebih hanya seorang nona yang cantik, polos dan suci, sama sekali tidak berbau orang persilatan, tapi sekarang, dia seakan akan seorang jago pedang yang sangat berpengalaman.
Perubahan ini mirip sekali dengan sebilah pedang tajam yang disarungkan dalam sebuah sarung kuno yang amat jelek, begitu diloloskan keluar, segera terpancarlah sinar yang berkilauan.
Seluruh tubuhnya seolah memancarkan cahaya terang, cahaya itu membuat dia tampak lebih berhawa, hawa napsu membunuh.
.....
Memang sangat aneh, mengapa begitu menggenggam bunga, dia langsung berubah jadi begitu menakutkan...
atau pada dasarnya dia memang seseorang yang sangat menakutkan?
Bunga bergoyang dimainkan angin, angin berhembus menembusi tanaman bunga.
Siau-tiap lama sekali menatap bunga yang berada dalam genggamannya, mendadak dia menggunakan bunga sebagai pengganti pedang dan melancarkan sebuah tusukan.
Padahal tangkai bunga itu sangat lembek, mana mungkin bisa digunakan sebagai pedang untuk melancarkan tusukan?
Tapi begitu Siau-tiap melancarkan tusukan, tangkai bunga itu seketika berubah, berubah lebih bercahaya, lebih bernyawa, lebih mengandung hawa pembunuhan.
Tampaknya dia telah menyalurkan segenap kekuatan yang dimilikinya ke dalam tangkai bunga itu.
Tusukan tersebut tampaknya saja amat ringan, sama sekali tidak ada perubahan, tapi begitu perubahan dimulai maka semuanya mengalir selancar alur air di sungai.
Tangkai bunga itu seketika berubah bagai kapak sakti milik Lu Pan, senjata pena ditangan Kiang Ci, pedang dalam genggaman Sam sauya, bukan saja bernyawa, bahkan punya roh, punya hawa pembunuhan.
Dengan gerakan yang ringan dan cepat, dalam waktu singkat tangkai bunga itu sudah melancarkan tujuh buah tusukan maut.
Semua tusukan tertuju ke sepasang mata Cong Hoa serta bagian mematikan lainnya.
Cong Hoa hanya merasa ada cahaya terang berkelebatan didepan mata, semuanya terasa bagai mengambang di angkasa, perubahan yang terjadi sudah melampaui kekuatan manusia biasa, nyaris membuat siapa pun sukar mempercayainya.
Kini, benda yang berada ditangan Siau-tiap sudah bukan berupa tangkai bunga lagi, tapi sebilah senjata maut yang bisa mencabut nyawa siapa pun.
Tiba-tiba dia menggetarkan tangkai bungannya, putik bunga yang ada ditangkai seketika meluncur ke depan dan mengancam tubuh musuh, perubahan yang terjadi ini sama sekali diluar dugaan siapa pun.
Sebuah jurus serangan yang sangat mematikan.
Bukan saja jurus serangan itu aneh, ganas, telengas dan tepat sasaran, bahkan mengarah bagian tubuh Cong Hoa yang tidak terduga sebelumnya.
Dalam jurus serangan ini selain disertai seluruh inti kemampuan yang dimiliki, bahkan terkandung pula inti sari dari ilmu perang yang menakutkan.
Jurus serangan itu sangat menakutkan, sebuah jurus serangan yang mematikan, dia yakin musuhnya pasti akan tumbang oleh serangan mautnya ini.
Sayang dugaannya meleset, kecuali Cong Hoa, di dunia ini memang tidak ada orang kedua yang sanggup menghindari serangan maut itu, sebab dikolong langit tidak ada orang kedua yang begitu memahami Siautiap ketimbang Cong Hoa.
Dia bisa lolos dari ancaman tersebut bukan lantaran dia sudah memperhitungkan waktu serta tempat sasaran serangan itu, melainkan karena dia sudah memperhitungkan bagaimanakah watak Siau-tiap yang sesungguhnya.
....
Dia tahu, semua manusia yang datang dari negeri Hu-siang, tidak nanti akan melancarkan serangan secara gagah berani, terus terang dan terbuka.
Dia sudah perhitungkan secara tepat, dibalik jurus serangan yang digunakan Siau-tiap sekarang pasti masih tersembunyi jurus serangan lain yang lebih mematikan.
Maka ketika sekilas cahaya terang melintas didepan matanya, diapun segera pejamkan matanya rapat rapat.
.....
Jika kau tidak menggunakan matamu untuk melintas, mana mungkin silaunya cahaya bisa mempengaruhi dirimu.
Begitu memejamkan matanya, Cong Hoa mulai pasang telinga baik-baik, kemudian dia pun mendengar suara desiran angin yang sangat lirih.
Waktu itu seluruh bunga telah melesat meninggalkan tangkai, semua putik bunga telah menyebar ke udara, beribu ribu helai bunga bagaikan serangan senjata rahasia mengancam perut Cong Hoa.
Jika waktu itu Cong Hoa tidak pejamkan mata, dia pasti akan terpengaruh oleh silaunya cahaya, bila konsentrasinya telah buyar, bagaimana mungkin dia bisa mendengar serangan mematikan yang justru tersembunyi di belakang cahaya terang yang menyilaukan itu?
Bukan begitu saja, ternyata Cong Hoa cukup mengayunkan sepasang tangannya, beribu helai bunga yang menyerang bagaikan hujan senjata rahasia itu tahu-tahu hilang lenyap tidak berbekas.
Walaupun Siau-tiap merasa sangat terperanjat namun reaksinya cukup cepat, sambil menarik tangannya memutar pinggul, dia sudah berpusing bagaikan sebuah gangsingan.
Menanti putaran tubuhnya berhenti, dalam genggaman Siau-tiap telah bertambah dengan sebilah pedang samurai yang panjangnya satu kaki delapan inci.
Samurainya diayun ke udara, jurus serangan pun ikut berubah, berubah jadi lebih kuat, lebih bertenaga, tanpa perasaan.
Kalau tadi serangan dengan tangkai bunganya ibarat awan hitam yang menyelimuti seluruh angkasa, dipenuhi hawa pembunuhan yang menakutkan, maka setelah samurainya dihunus, keadaannya seperti awan hitam yang mulai membuyar dan muncul cahaya matahari, bukan saja hawanya panas menyengat bahkan memancarkan cahaya emas yang amat menyilaukan mata.
"Sebuah ilmu samurai yang hebat!"
Puji Cong Hoa tanpa terasa.
Baru selesai kata pujian itu meluncur keluar, lagi-lagi Siau-tiap melancarkan empat buah bacokan, hampir semuanya seakan mengandung perubahan yang tidak terhingga, terkadang seperti melayang, terkadang seperti melesat, nyaris semua ancamannya ganas dan telengas.
Cong Hoa tidak melancarkan serangan balasan, diapun tidak menangkis.
Dia bahkan hanya meperhatikan......
seakan seorang pemuda yang baru pertama kalinya melihat perempuan cantik telanjang bulat.
Biarpun ke empat buah serangan itu sangat ganas dan mematikan, akan tetapi jangan lagi melukai Cong Hoa, menyentuh pun tidak.
Siau-tiap keheranan, ke empat serangannya itu jelas sudah diarahkan ke tenggorokan lawan, tapi entah mengapa semua serangannya itu seolah tergelincir dan lewat dengan begitu saja, bacokan yang seharusnya bersarang di dada, apa mau dikata tidak satupun yang berhasil menyentuh ujung bajunya.
Setiap gerak serangan, setiap perubahan yang terjadi, seolah olah sudah berada dalam dugaan Cong Hoa.
Tiba tiba Siau-tiap mengubah gaya serangannya, kali ini dia menyerang dengan sangat lambat, lambat sekali.
Begitu goloknya dibacokkan ke depan dengan gerakan melambat, Cong Hoa tidak sanggup menghindarkan diri lagi, bahu kirinya segera tersambar hingga muncul sebuah mulut luka yang memanjang.
Rupanya gerak serangan yang nampaknya sangat lambat itu sebenarnya telah mencapai batas kecepatan yang paling luar biasa, begitu cepatnya hingga sulit dilukiskan dengan perkataan.
Ketika samurai itu diayunkan ke depan, Cong Hoa sama sekali tidak bergerak, seluruh gerakan tubuhnya seakan terhenti secara tiba tiba.
Tampak ayunan samurai yang lambat lagi bebal itu membacok ke tubuhnya, kemudian seluruh udara pun seakan memercikkan selapis hujan bunga......
Bunga samurai memenuhi angkasa, bunga darah memercik di udara.
Bunga samurai kembali berputar, dari lambat berubah jadi cepat, dari bebal berubah jadi cepat, sekonyong-konyong selapis cahaya bianglala kembali membias di udara.
Bianglala berwarna tujuh, tujuh buah bacokan samurai, begitu semarak begitu beraneka warna...
Darah bercucuran dari bahu kirinya, tapi Cong Hoa tidak ambil perduli, keningnya berkerut, ditatapnya wajah Siau-tiap setengah ragu.
"Jadi inikah yang disebut ilmu samurai tujuh warna?"
Siau-tiap hanya membungkam, membungkam berarti mengakui.
"Bagus, sebuah ilmu samurai yang hebat!"
Cong Hoa menghela napas panjang.
"Hanya sayang, sayang sekali."
"Sayang? Apanya yang sayang?"
Tidak tahan Siautiap bertanya.
"Sayang kau hanya memiliki satu serangan, andaikata ada serangan kedua, aku tentu sudah mati."
"Apa mungkin ada serangan yang kedua?"
"Ada, pasti ada,"
Cong Hoa sedang termenung, lewat lama kemudian ia baru berkata lebih jauh.
"sebenarnya pada serangan yang kedua lah seluruh inti sari dari ilmu samurai itu terhimpun."
Seluruh perubahan dan kekuatan yang terkandung dalam ilmu samurai tujuh warna hanya berhasil melukai bahu Cong Hoa pada ayunan yang kedua, waktu itu dia sudah kehabisan tenaga, dalam tangan pun tidak bersenjata, dalam keadan seperti itu mustahil dia bisa lolos dari serangan berikut.
Masih untung hujan turun dengan derasnya waktu itu, air hujan membuat bajunya basah kuyup, membuat rambutnya ikut basah kuyup.
Ketika cahaya samurai berkelebat, gadis itupun mengebaskan rambutnya dengan sepenuh tenaga, dengan kebasan kepalanya, rambut pun ikut menggulung ke atas, rambut yang basah membuat ayunan itu jadi bertenaga.
Bila orang biasa yang mengebaskan rambutnya, tentu saja tidak akan menghasilkan kekuatan apa-apa, tapi Cong Hoa yang memang secara sengaja mengebaskan rambutnya segera membuat air hujan yang membasahi rambutnya itu memercik keluar bagai rentetan tembakan senapan mesin.
"Criiing, criiiing!"
Bacokan samurai yang terbentur air hujan menggaungkan suara dentingan nyaring.
Bukan hanya samurai itu yang terpercik air hujan, wajah Siau-tiap pun terpercik keras bagaikan diserang jarum tajam, buru buru dia pentangkan ke lima jari tangannya untuk melindungi mata, sementar samurai ditangan kanannya kembali melanjutkan bacokan ke depan.
Sebetulnya sasaran yang dituju adalah tenggorokan Cong Hoa, tapi Siau-tiap merasa hanya tempat kosong yang tersentuh, rupanya bacokan itu mengenai sasaran kosong.
Ke mana perginya Cong Hoa?
Ketika bacokan mengenai tempat kosong, Siau-tiap pun tidak bergerak lagi, sebab ia mendengar suara tertawa dari Cong Hoa berkumandang dari balik hujan, suara itu berada di belakang tubuhnya, lebih kurang dua depa di belakangnya.
"Serangan ketiga yang hebat!"
"Dengan cara apa kau berhasil lolos dari seranganku ini?"
"Karena Thian telah memberi kesempatan kepadaku."
Siau-tiap membalikkan tubuhnya, dia tahu Cong Hoa berada di belakang tubuhnya, dia pun dapat menyaksikan luka memanjang yang menghiasi tengkuknya, persis seperti sebuah pita merah yang dikalungkan di leher seorang gadis.
"Seandainya aku sedikit terlambat untuk menghindar, andaikata tidak ada hujan ini, mungkin tengkuk ku butuh berapa jahitan untuk menyambungnya kembali."
Kini samurai ditangan Siau-tiap sudah terkulai lemas, semua keangkerannya sirna, semua hawa membunuhnya lenyap, yang tersisa hanya kepolosan wajahnya sebagai seorang gadis muda.
"Aku kalah!"
Bisiknya. Suara dari Siau-tiap itu kedengaran tanpa perasaan. Cong Hoa tidak bicara, dia hanya mengawasi gadis itu dengan tenang.
"Sudah dua puluh tahun aku belajar silat, sudah dua puluh kali aku bertempur sengit, tapi belum pernah sekali pun menderita kekalahan,"
Kata Siau-tiap sambil membuang pandangan matanya ke tempat kejauhan.
"Semula aku mnegira, hujan yang turun sangat deras akan menguntungkan posisiku, tidak disangka justru kau yang telah mendapatkan keuntungan itu."
Dengan pandangan mata yang agak cemas dia menatap wajah Cong Hoa, kemudian tambahnya.
"Sekalipun kau yang berhasil menang, sayang tidak akan kau peroleh jawaban dari mulutku."
"Kenapa?"
"Sebab kabut segera akan datang!"
Cong Hoa melongo, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Siau-tiap dengan perkataan itu.
"Kabut? Kenapa kabut segera akan datang?"
Siau-tiap tidak menjawab, sambil memandang nun jauh ke depan sana dia berbisik lagi.
"Sejak menyadari kalau aku sudah kalah, tiba-tiba saja aku seperti jadi memahami akan semua hal."
Setelah tarik napas panjang, terusnya.
"Sebetulnya apa yang telah kita berdua kerjakan dan rencanakan, tidak lebih hanya merupakan sebiji anak catur yang sedang dimainkan orang lain."
Cong Hoa masih belum paham.
"Nyoo Cing memang cukup cerdik, tapi pada akhirnya dia akan sadar kalau langkahnya keliru besar."
Tiba-tiba Siau-tiap mendongakkan kepalanya dan tertawa kalap, cara tertawanya sama sekali tidak mirip seperti tertawa seorang nona kecil.
Caranya tertawa pada hakekatnya lebih mirip tertawa orang gila.
Begitu dia mulai tertawa, kabut tebal pun mulai muncul.
Sama seperti suara tertawa itu, kabut muncul secara tiba tiba dan sama sekali diluar dugaan.
Dengan pandangan terperangah Cong Hoa mengawasi Siau-tiap, mengawasi kabut tebal yang tibatiba menyelimuti sekeliling tubuhnya.
Dalam waktu singkat kabut tebal telah menggulung seluruh tubuh Siau-tiap, sebentar lagi Cong Hoa pun akan segera tergulung di dalamnya.
Tiba tiba gadis itu mengernyitkan dahinya dengan wajah berubah hebat, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya dia melejit keluar dari dalam pesanggrahan salju.
Senyuman Siau-tiap mulai kaku, mulai membeku, paras mukanya mulai menghitam, makin lama makin pekat, tapi gelak tertawanya masih bergema di udara.
BAB 2.
Bungkusan obat dari Nyoo Cing.
Nama.
Siau-tiap.
Usia.
24 tahun.
Tempat lahir.
negeri Hu-siang.
Kepandaian andalan.
Ninja, ilmu samurai tujuh warna.
Kode rahasia.
bulan tiga tanggal tujuh.
Keahlian.
bercocok tanam, ikebana.
Lokasi.
Seputar istana raja muda, sebagai tukang kebun Nyoo Cing.
Tinggi badan.
lima kaki tiga inci.
Berat badan.
delapan puluh empat kati.
Itulah data yang tercatat dalam buku catatan rahasia Cing Liong Hwee.
Disuatu tempat rahasia yang lain, ternyata tercatat pula data yang agak berbeda, data itu berbunyi.
Nama.
Siau-tiap.
Usia.
24 tahun.
Tempat lahir.
negeri Hu-siang.
Kepandaian andalan.
Ninja, ilmu samurai tujuh warna.
Kode rahasia.
bulan tiga tanggal tujuh.
Tanggal kematian.
bulan sepuluh tanggal tujuh.
Pembunuh.
Cong Hoa.
Catatan.
karena sebab tertentu, akhirnya "utusan kabut"
Yang melaksanakan eksekusi terakhir.
"Lagi-lagi obat ini."
"Ini obat lambung, untuk melindungi lambungmu dari luka,"
Dia membuka bungkusan berisi obat.
"Tapi lambungku tidak bermasalah."
"Darimana kau bisa tahu kalau lambungmu tidak bermasalah,"
Perempuan itu membantu Nyoo Cing untuk duduk lebih enak.
"Sekalipun lambungmu tidak bermasalah, diminum pun tidak akan merugikan!"
Bagaikan seorang bocah saja Nyoo Cing minum obat itu dengan terpaksa, kemudian cepat-cepat minum seteguk air hangat.
Melihat gaya Nyoo Cing itu, perempuan itu tertawa, kembali dia mengeluarkan sebuah bungkusan obat yang bentuknya jauh lebih kecil.
"Bungkusan obat apa lagi itu?"
"Entahlah, bungkusan obat ini baru dibuka resepnya pada hari ini, mungkin untuk mengobati tulang belulangmu."
Nyoo Cing kembali meneguk air hangat, kemudian setelah menarik napas panjang dia memejamkan matanya.
"Belum pernah ada orang takut minum obat sepertimu,"
Kata perempuan itu sambil tertawa.
Tidak lama sepeninggal perempuan itu, Nyoo Cing baru membuka matanya kembali, memandang pintu kamarnya sekejap, ketika yakin pintu sudah tertutup, dia baru memuntahkan seluruh obat yang baru ditelannya, membungkus dengan selembar kertas dan disembunyikan dibawah bantal.
Pada saat itulah kedengaran pintu kamarnya diketuk orang.
"Tok, tok tok tok tok, tok tok!"
Setiap kali mengetuk pintu, Tay Thian selalu menggunakan irama ketukan tertentu.
"Apa yang dikatakan Hong Coan-sin?"
Nyoo Cing segera mengajukan pertanyaan begitu berjumpa dengan Tay Thian.
"Sama seperti Tu Bu-heng serta Un-hwee sekalian,"
Jawab Tay Thian.
"Termasuk keracunan oleh "buah opium", sari racun menyusup masuk melalui pori kulit dan detak jantung pun segera terhenti, sebuah cara kematian yang sama sekali tidak menimbulkan penderitaan."
"Bagaimana dengan jenasah Siau-tiap?"
"Sudah dikirim ke rumah perdamaian."
Nyoo Cing mulai meraba ujung hidungnya, setiap kali berjumpa dengan permasalahan yang tidak terpecahkan, dia akan selalu meraba ujung hidung sendiri.
"Untuk membina seorang kader jagoan macam Siautiap, bukankah butuh banyak waktu, tenaga dan uang?"
Dia bertanya.
"Benar."
"Setelah bersusah payah membina seorang jagoan macam begini, kenapa secara tiba-tiba perkumpulan Cing Liong Hwee mematikan peranannya?"
"Rahasia identitasnya sudah terbongkar, dia sudah tidak memiliki nilai untuk dipergunakan lagi,"
Kata Tay Thian.
"Bagi organisasi semacam Cing Liong Hwee, sudah pasti dia akan membungkam mulut kadernya yang sudah tidak berguna."
"Sebetulnya tidak harus bertindak sekeji itu,"
Gumam Nyoo Cing.
"kalau bisa membunuhnya, seharusnya bisa juga untuk selamatkan dirinya, lagipula Siau-tiap adalah seorang jagoan berbakat yang banyak kegunaannya."
Tay Thian tidak menjawab, rupanya dia sedang termenung, alis matanya berkerut kencang, keraguan dan rasa sangsi menyelimuti perasaan hatinya.
.....
Sekalipun identitas Siau-tiap sudah terbongkar, tidak seharusnya gadis itu dibunuh.
.....
Hingga detik terakhir, dia sama sekali tidak membongkar rahasia perkumpulan naga hijau, dia pun tidak menunjukkan sikap akan berkhianat, kenapa orang-orang Cing Liong Hwee justru menghabisi nyawanya?
.....Apakah pihak perkumpulan naga hijau tidak berkemampuan untuk menyelamatkan dirinya dari dalam istana raja muda?
Mustahil, mana mungkin ada pekerjaan yang tidak mampu mereka laksanakan?
...
Kenapa?
Kenapa perkumpulan naga hijau harus membunuh Siau-tiap?
Jelas dibalik semua peristiwa ini masih tersimpan rahasia lain yang tidak diketahui orang.
"Belum pernah pihak perkumpulan naga hijau melakukan pengorbanan secara percuma, apalagi manusia macam Siau-tiap merupakan manusia berbakat yang bisa diandalkan,"
Kata Nyoo Cing.
"sudah pasti mereka berbuat demikian karena mereka punya alasan yang jelas, pasti mereka mempunyai maksud tujuan tertentu."
Setelah berpikir sejenak, sesaat kemudian kembali ia berkata.
"Disamping itu, ada satu hal lagi membuat aku keheranan."
"Soal apa?"
"Ketika masih berkelana dalam dunia persilatan dulu, apa julukan Lo Kay-sian?"
"Si pendekar pedang kerinduan!"
"Kendatipun sudah dua puluh tahun dia tinggalkan dunia persilatan, sekalipun orang lain belum tentu mengetahui taraf kepandaian silat yang dimilikinya, tapi kita berdua toch tahu sangat jelas,"
Ujar Nyoo Cing.
"Kalau mesti bertarung beneran, belum tentu kita berdua sanggup merobohkan dirinya dalam lima puluh gebrakan."
Tay Thian manggut-manggut tanda sependapat.
"Tapi menurut kakek Tan si penjual bakmi, Lo Kay-sian cepat sekali menemui ajalnya,"
Ujar Nyoo Cing lebih jauh.
"Begitu kakek penabuh rebab bersenar tiga membuka buntalannya, belum lagi bertarung sebanyak tiga gebrakan, kepala Lo Kay-sian telah berpisah dari tengkuknya."
"Bahkan tidak sampai tiga gebrakan."
"Mungkin saja kait perpisahan akan memancarkan kehebatannya dikala berada ditanganku, bila terjatuh ke tangan orang lain, paling banter senjata tersebut hanya sebilah senjata berbentuk aneh, kenapa Lo Kaysian tidak bisa bertahan lebih dari tiga gebrakan?"
"Mungkin si kakek penabuh rebab bersenar tiga pun menguasai ilmu silat rahasia mu?"
"Tidak mungkin!"
Kata Nyoo Cing.
"Setelah ayahku berhasil mempelajari jurus serangan kait perpisahan, dia telah memusnahkan kitab pusaka tersebut, tidak mungkin di kolong langit terdapat orang kedua yang sanggup menggunakan jurus serangan dari kait perpisahan."
Nyoo Cing mengalihkan pandangan matanya ke luar jendela, mengawasi rembulan yang ada di angkasa, lama, lama kemudian ia baru berkata lagi.
"Jika masih ada orang kedua yang mampu menggunakan jurus serangan tersebut, maka orang itu pastilah dia!"
"Dia?"
Berbinar sorot mata Tay Thian.
"Maksudmu Ti Cing-ling?"
"Benar!"
"Kakek penabuh rebab bersenar tiga adalah penyamaran Ti Cing-ling?"
"Rasanya hanya kemungkinan ini yang bisa menjelaskan kenapa Lo Kay-sian menemui ajalnya secepat itu."
Kakek penabuh rebab bersenar tiga yang peyot lagi tua itu adalah si bangsawan ganteng Ti Cing-ling? Tiba tiba Nyoo Cing bertanya kepada Tay Thian.
"Bukankah Cu congkoan mempunyai seorang saudara jauh yang sangat mahir dalam masalah obat obatan dan ramuan obat?"
"Benar,"
Sahut Tay Thian.
"Orang itu bernama Cu Hayjing, berusia tiga puluh dua tahun, bukan saja mahir dalam masalah obat-obatan dan ramuan, dia pun sangat ahli dalam soal obat beracun, dia mampu mengenali dan membedakan setiap jenis racun yang dijumpai."
"Bagus sekali!"
Nyoo Cing segera mengeluarkan bungkusan berisi obat yang disembunyikan dibawah bantalnya itu dan diserahkan ke tangan Tay Thian.
"Suruh Cu Liok berangkat malam ini juga, minta tolong saudara jauhnya itu untuk melacak apa isi dari bubuk obat yang ada dalam bungkusan ini."
Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.
"Suruh Cu Liok menunggu, begitu peroleh hasil, segera balik untuk memberi laporan."
"Baik."
"Awas, jangan sampai ada orang ketiga yang tahu."
"Baik."
Sepeninggal Tay Thian, Nyoo Cing baru merasakan hatinya lega, diapun mulai kantuk dan tidak lama kemudian sudah terlelap tidur.
Menjelang fajar.
Setitik cahaya terang mulai muncul di ufuk timur, sebentar lagi langit akan mendusin dari tidurnya, tapi suasana di dalam kota kecil itu masih amat sepi, para penghuninya masih terlelap dalam tidur yang nyenyak.
Ketika Cu Liok tiba di kota kecil itu, sudah ada dua tiga rumah yang dapurnya mulai mengepul asap, beberapa ekor anjing terlihat bergerombolan disudut jalan.
Rumah saudara jauhnya berada di selatan kota, dalam sebuah lorong disudut jalan besar.
Didalam lorong itu, sebagian besar bangunan rumah sudah berdinding batu bata, hanya rumah saudara jauhnya merupakan satu satunya rumah yang terbuat dari bambu.
Mengawasi bangunan rumah dari bambu itu cu Liok gelengkan kepalanya berulang kali.
Saudara jauhnya ini pandai dalam semua hal, wataknya pun tidak terhitung jelek, sayang dia mempunyai sebuah penyakit, tidak suka tinggal di rumah yang terbuat dari bata.
Dia beranggapan, tinggal dalam rumah berbatu bata serasa tinggal dalam ruang penjara, bisa mendatangkan perasaan tertekan, tidak bebas dan susah napas.
Berbeda bila tinggal di rumah bambu, selain tembus angin, bermanfaat pula bagi kesehatan badan.
Cu Liok masih ingat, dulu sebelum fajar menyingsing, biasanya Cu Hay-jing sudah mempersiapkan peralatanya, siap naik ke gunung untuk mencari daun obat.
Kini langit belum terang, pintu rumah bambu pun masih tertutup rapat, mungkinkah penghuninya belum bangun dari tidurnya?
Cu Liong mendekati pintu bambu, lalu serunya keras keras.
"Tabib Cu, tabib Cu!"
Seperminum teh kemudian baru kedengaran ada orang bangun dari tidurnya.
"Siapa disitu? Kenapa datang pagi-pagi? Apakah terserang angin duduk?"
"Piauko, aku yang datang! Cu Liok!"
Pintu bambu terbuka dan muncul seorang lelaki setengah umur yang masih terkantuk-kantuk, sambil mengucak matanya dia awasi Cu Liok sekejap, kemudian dengan wajah berseri ia baru berseru.
"Cu Liok?"
"Benar aku,"
Sahut Cu Liok gembira.
"Piauko, sudah lama kita tidak bersua!"
Masih untung cawan yang ada di rumah piauko bukan terbuat dari bambu, Cu Liok mengangkat cawannya dan meneguk satu tegukan teh panas.
"Piaute, kedengarannya hidupmu dalam berapa tahun terakhir bertambah makmur?"
"Aaah, siapa bilang?"
Sahut Cu Liok sambil menatap sekejap wajah kakak misannya.
"Tidak seperti kau, Cu Hay-jing, tabib Cu, anak kecil berusia tiga tahun pun pasti tahu!"
"Hahahaha... sudah tua..."
Cu Hay-jing tertawa tergelak.
"eeh.. ada urusan apa sepagi ini kau datang mencari aku?"
"Aaah, hanya satu urusan kecil!"
"Ada apa?"
"Dua hari lalu iparmu merasa kepala pusing dan tubuh lemas, akupun datang ke toko obat It-sim-tong untuk beli obat, tapi setelah minum obat tersebut keadaannya bertambah parah."
"Panasnya lebih tinggi?"
"Bukan, dia malah berak-berak!"
Jawab Cu Liok cepat.
"Tentu saja akupun minta pertanggungan jawab dengan pihak kamar obat, tapi mereka ngotot bilang resep obat itu untuk pusing kepala, padahal aku sama sekali tidak paham soal obat obatan, dalam jengkelnya tiba-tiba aku teringat dengan piauko."
"Mana obatnya?"
Dari dalam saku Cu Liok segera mengeluarkan bungkusan obat yang diserahkan Tay Thian kepadanya itu.
Cu Hay-jing menerima bungkusan itu, membukanya dan mengendus sebentar, kemudian dia ambil sebutir obat, setelah diremas hancur, dicicipinya diujung lidah.
"Aaah, ini mah campuran daun Ok-put-si-cau dengan Kau-kan-cay ditambah sedikit rumput pencegah angin yang dicampur sedikit madu,"
Kata Cu Hay-jing menjelaskan.
"Biasanya dipakai untuk mengobati tulang retak, tapi ada kasiatnya juga untuk mengobati sakit kepala atau turunkan panas."
"Sungguh? Tapi kenapa berak terus? Atau... mungkin obat itu ada racunnya?"
"Semua orang yang tahu tentang obat-obatan pasti bisa membeli bahan obat semacam ini di rumah obat."
"Berarti sakit perutnya iparmu bukan lantaran obatobatan ini?"
"Bukan."
"Waah, kalau begitu aku telah salah menuduh orang."
Cu Hay-jing tertawa, dia bungkus kembali obat itu dan diserahkan kepada Cu Liok.
Buru buru Cu Liok menyimpan bungkusan obat tadi, berpamitan dan perlahan lahan meninggalkan lorong.
Waktu itu fajar baru menyingsing, terlihat ada berapa orang penduduk kota mulai berlalu lalang.
Tanpa membuang waktu lagi Cu Liok melompat naik ke atas kudanya, karena terburu-buru dia baru teringat tangan kirinya masih memegangi bungkusan obat itu, sambil tertawa dia segera masukkan bungkusan itu ke dalam saku kemudian baru melarikan kudanya meninggalkan tempat itu.
Belum berapa kaki dia pergi, mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, tubuhnya kontan jadi kaku, wajahnya berubah sangat hebat, diawasinya tangan kiri sendiri dengan tertegun.
Tangan kiri.
Sejak kecil Cu Hay-jing sudah gemar memanjat pohon, suatu hari ketika berusia sepuluh tahun, dia terjatuh dari atas pohon hingga patah tangan kanannya.
Sejak itu dia hanya bisa melakukan kegiatan sehari harinya dengan tangan kiri, bahkan sewaktu makan pun dia harus menggunakan tangan kirinya.
Tapi Cu Liok masih ingat, orang itu mengerjakan semua hal dengan tangan kanannya, menerima bungkusan obat, membuka bungkusan, meremuk obat, semuanya menggunakan tangan kanan.
Mana mungkin Cu Hay-jing bisa melakukan semua pekerjaannya dengan tangan kanan?
Apakah tangan kanannya sudah sembuh?
Tanpa terasa Cu Liok berpaling dan sekali lagi menengok ke arah bangunan bambu dalam lorong.
Ketika Cu Liok masuk kembali ke rumah bambu itu, dia benar benar dibuat bodoh, bukan saja terperangah, bahkan sorot matanya mengawasi sekeliling ruangan dengan pandangan orang tolol.
Kursi bambu yang baru saja diduduki, kini hilang tidak berbekas, yang tersedia kini adalah sebuah bangku yang terbuat dari kayu.
Cawan air teh yang sebelum meninggalkan ruangan masih tergeletak di meja, sekarang ditempat yang sama terletak sebuah vas bunga seruni yang besar.
Bukan Cuma itu saja, pada hakekatnya semua perabot, semua dekorasi yang ada dalam ruangan itu sudah berubah sama sekali.
Jangan-jangan dia salah masuk ke rumah orang, atau sedang bermimpi buruk?
Cu Liok dengan perasaan tidak percaya mencoba meraba bangku kayu itu, dengan perasaan ragu ragu ia mencoba untuk mendudukinya.
Mana mungkin bisa terjadi hal seperti ini?
Mengapa hanya di dalam waktu singkat, segala sesuatu yang ada disini telah berubah?
Ke mana perginya Cu Hay-jing?
Sudah kabur ke mana orang itu?
Jangan jangan dia sudah dicelakai orang?
Berpikir sampai disitu, dengan perasaan terkesiap Cu Liok segera menerjang masuk ke ruang dalam, tapi kembali dia dibuat tertegun.
Dari dalam kamar muncul seorang gadis muda, sebetulnya si nona sedang berjalan keluar dengan wajah berseri, tapi begitu melihat kehadiran Cu Liok, rasa gembiranya segera berubah jadi ketakutan.
Dengan penuh ketakutan gadis itu mengawasinya, serunya gemetar.
"Si... siapa kau Kenna... kenapa bisa berada di kamarku? Mau.... mau apa kau?"
"Aku..."
Dalam keadaan begini Cu Liok tidak tahu mesti bicara apa, dia hanya berdiri bodoh ditempat, mengawasi nona itu dengan pandangan goblok.
Agaknya tampang Cu Liok tidak mirip orang jahat, sesaat kemudian si nona sudah tidak setakut tadi lagi, agak ragu tegurnya.
"Apakah kau.....kau tidak salah masuk rumah orang?"
"Tampaknya memang begitu,"
Jawab Cu Liok sambil tertawa getir.
Yaa, dalam keadaan begini dia memang hanya bisa tertawa getir.
Bayangkan saja, jika anda yang mengalami kejadian seperti ini, kecuali tertawa getir, apa lagi yang bisa kau perbuat?
Tiba tiba gadis itu tertawa cekikikan.
"Tadi, kusangka kau adalah perampok!"
Serunya.
"Mana ada perampok yang begitu goblok macam aku?"
"Memang tidak ada,"
Sahut si nona sambil tertawa.
"Apakah kau datang mencari seseorang?"
"Benar, bukankah rumah ini milik tabib Cu?"
"Tabib Cu? Apakah Cu Hay-jing yang kau maksud?"
"Benar,"
Sahut Cu Liok.
"Apakah dia ada dirumah?"
"Tentu saja ada di rumah."
"Boleh aku bertemu dengannya?"
"Kalau itu mah aku tidak bisa berbuat apa-apa!"
"Kenapa?"
"Dia memang ada di rumah, tapi aku tidak tahu di mana rumahnya,"
Jawab nona itu sambil tertawa.
"Kalau aku tidak tahu di mana tempat tinggalnya, mana mungkin bisa kuundang dia keluar?"
"Apa? Dia.... dia tidak tinggal di sini?"
Seru Cu Liok tertegun.
"Dulu disini, tapi sekarang tidak!"
"Sekarang tidak disini?"
Gumam Cu Liok.
"Benar."
"Kau tinggal disini dengan siapa? Sudah berapa lama kalian pindah kemari?"
"Hampir lima tahun, aku tinggal bersama nenekku."
"Semalam kalian tidak pernah meninggalkan tempat ini?"
"Jangan lagi semalam, sejak lima tahun berselang kami tidak pernah meninggalkan tempat ini."
"Pagi tadi jam berapa kalian bangun dari tidurmu?"
"Pagi sekali, karena hari ini adalah ulang tahun nenekku, maka aku bangun lebih awal."
"Dan selama ini tidak pernah meninggalkan rumah?"
"Benar."
"Wah, kalau begitu aku benar benar telah salah masuk,"
Kata Cu Liok sambil tertawa getir.
"Terkadang setiap, orang bisa melakukan kesalahan yang tidak disengaja, kau tidak perlu bersedih hati,"
Hibur gadis itu sambil tertawa.
"Setelah sampai disini, bagaimana kalau makan dulu sebelum pergi, hari ini aku memotong seekor ayam."
"Tidak usah, terima kasih banyak atas penawaranmu, aku masih banyak urusan, lain kali saja akan berkunjung kembali."
Selesai berkata dia membalikkan badan siap beranjak pergi, mendadak ujung matanya menemukan sesuatu benda yang terasa amat dikenalnya, benda itu berada diatas meja bambu.
Dengan satu gerakan cepat dia lari ke depan meja, menjepit benda yang tergeletidak disitu kemudian tertawa.
Dia tertawa sangan riang.
Benda yang ditemukan Cu Liok dari meja bambu itu tidak lain adalah bubuk obat yang diremukkan Cu Hayjing tadi.
"Semestinya kau sudah berada dalam perjalanan menuju ke rumahmu,"
Kata nona itu kemudian sambil menatap wajah Cu Liok.
"Rasanya memang seharusnya begitu."
"Sebenarnya kesalahan apa yang telah kami perbuat hingga kau bisa menaruh curiga?"
"Kesalahan kalian hanya terletak tidak terlampau paham akan diri Cu Hay-jing,"
Cu Liok menerangkan.
"Aku tidak tahu darimana kau bisa tahu kalau aku akan datang kemari, semua yang kalian atur disini meski cermat dan bagus, sayang kurang sempurna, aku tidak menyangka orang yang menyamar sebagai Cu Hay-jing pun mirip sekali dengan Cu Hay-jing."
Ditatapnya gadis itu sekejap, kemudian lanjutnya.
"Bukan hanya gerak-geriknya, cara berbicara maupun gayanya memang mirip dengan Cu Hay-jing, nyaris aku berhasil kalian kelabuhi. Tapi sayang, kalian telah teledor memperhatikan satu gerakan Cu Hay-jing yang "normal"
Baginya tapi tidak normal bagi orang pada umumnya."
"Apa itu?"
"Waktu kecil piaukoku pernah patah tangan kanannya, meskipun telah diobati namun belum sembuh seratus persen, oleh sebab itu dalam melakukan pekerjaan apa pun, dia selalu menggunakan tangan kirinya."
Gadis itu balas menatap Cu Liok, ujarnya tiba tiba.
"Keteledoran kami akan menjadi kesialan bagimu!"
Mimik muka Nyoo Cing sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.
Benar-benar tidak menunjukkan perubahan apapun.
Dia hanya berbaring diatas ranjang, sementara sorot matanya mengawasi Tay Thian dengan termangu.
"Jenasahnya dijumpai sore tadi di lembah Hui-yasan,"
Ujar Tay Thian dengan wajah tanpa perasaan.
"Kudanya si arak tua, tergeletak pula disamping tubuhnya."
"Arak tua"
Adalah nama kuda, seekor kuda jempolan, seekor kuda yang mampu berlari cepat.
"Dengan kekuatan larinya, sebelum tengah hari seharusnya dia sudah tiba di rumah?"
Tanya Nyoo Cing hambar.
"Benar!"
"Walaupun bukit Hui-ya-san amat curam dan berbahaya, sudah beribu kali Cu Liok melewati tempat itu, mengapa dia bisa terpeleset hingga jatuh ke dalam jurang?"
"Semalam dia berangkat dengan menunggang si arak tua, menjelang fajar sudah tiba di tempat tujuan,"
Kata Tay Thian.
"Tapi satu jam kemudian, ada orang melihat dia bersama seorang lelaki dan dua orang wanita minum arak di dalam kedainya janda Ciu."
"Kemudian?"
"Menurut janda Ciu, mereka berempat minum hampir satu jam lamanya, kemudian setelah membayar rekening mereka pun berangkat menuju ke timur."
"Menuju ke timur?"
Seru Nyoo Cing.
"Bukankah arah itu menuju ke desa Hohan?"
"Benar, setibanya di desa Hohan, mereka berdua masing-masing membawa seorang wanita masuk ke dalam kamar losmen."
"Kemudian?"
"Kemudian? Sudah tidak ada lagi!"
"Tidak ada?"
"Sejak masuk ke dalam losmen hingga jenasahnya ditemukan di dasar jurang, tidak seorangpun tahu kabar beritanya lagi."
Kalau Tay Thian sudah mengatakan tidak seorangpun, berarti dalam kenyataan tidak mungkin ada orang tahu jejaknya lagi.
"Bagaimana dengan bungkusan obat itu?"
"Masih berada didalam sakunya, hanya salah satu obatnya sudah diremuk orang."
"Apa mungkin dia kebanyakan minum arak hingga susah mengendalikan diri dan terpeleset jatuh ke dalam jurang?"
"Kalau ditinjau dari situasi yang ada, semestinya memang begitu ceritanya, apa perlu kukirim bungkusan obat itu ke tempat lain......"
"Tidak perlu,"
Tidak menunggu Tay Thian menyelesaikan perkataannya Nyoo Cing telah menukas.
"Aku berani jamin, obat yang berada dalam bungkusan itu pasti hanya berisi obat penambah darah."
Kemudian dia bertanya lagi.
"Apakah Cu Hay-jing masih hidup?"
"Entahlah, tapi yang pasti dia sudah tidak tinggal di rumah bambu lagi, sudah pindah sejak lima tahun berselang, tidak seorangpun yang tahu ia sudah pindah ke mana!"
Nyoo Cing kembali menarik batang hidungnya dengan tangan kiri.
Tay Thian tahu, lagi lagi ia sedang memikirkan persoalan itu, setiap kali Nyoo Cing sedang menarik hidungnya, lebih baik kau jangan mengusik ketenangan hatinya.
Lama, lama kemudian, akhirnya Nyoo Cing menghentikan juga perbuatannya.
"Bagaimana dengan si arak tua? Apakah mati juga karena terpeleset?"
Tanya Nyoo Cing.
"Benar, kuda itu mati disamping Cu Liok."
"Berapa selisih jarak antara mereka berdua?"
"Tidak tercantum dalam laporan."
Tapi begitu perkataan itu diucapkan, sepasang mata Tay Thian segera berbinar, serunya lagi.
"Sekarang juga aku akan ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan."
"Soal ini penting sekali."
"Aku tahu."
Semula Tay Thian memang tidak terlalu perhatian, tapi sekarang dia sadar kalau hal tersebut merupakan sebuah keteledoran.
Bila dia bisa memperhitungkan jarak antara bangkai kuda dengan jenasah Cu Liok, kemudian ditambah dengan jarak ketinggian tebing maka denga cepat bisa diketahui apakah mereka terpeleset sendiri ataukah memang sengaja dilemparkan orang ke dalam jurang.
"Moga-moga saja masih sempat,"
Nyoo Cing menghela napas panjang.
"Sekarang juga akan kulaksanakan."
"Tidak ada gunanya berangkat ditengah malam buta, perkiraanmu bisa meleset."
"Kalau begitu aku segera akan berangkat setelah terang tanah nanti..."
"Yang betul berangkat ditengah malam dan tiba disitu persis disaat fajar telah menyingsing,"
Nyoo Cing menambahkan.
"Baik."
"Apa yang akan kau lakukan dengan bangkai si arak tua dan jenasah Cu Liok?"
"Silahkan memberi perintah,"
Nyoo Cing tertawa.
"Kalau tidak ada orang lain, kau tidak usah bersikap resmi,"
Katanya.
"Baik."
"Kalau begitu serahkan saja kepada Siau tua!"
"Aaah, cocok dengan jalan pikiranku."
BAB 3.
Jarum Pembetot sukma Langit dan Bumi.
Tahun ini lo-Siau atau si Siau tua telah berusia tujuh puluh tiga tahun.
Orang tua yang dihari hari biasa mirip seorang kakek rentan yang hampir masuk peti mati, begitu ada pekerjaan yang harus dilakukan, Dia sama sekali berubah, berubah jadi lebih bersemangat, bahkan gerak-geriknya mirip seorang lelaki yang baru berusia empat puluh tahunan, berubah menjadi seorang ahli.
Lo-Siau bernama Siau Pek-cau, dia adalah seorang yang sangat ahli melakukan pembedahan jenasah.
Ia tinggal disebuah rumah yang berjarak dua gang dari penjara besar, tempat tinggalnya merupakan juga tempatnya bekerja.
Pekerjaan utamanya adalah membedah jenasah.
Oleh sebab itu tempat tinggalnya tidak banyak dikunjungi orang luar.
Di siang hari saja jarang ada yang singgah, apalagi ketika malam telah menjelang tiba, yang tersisa hanya deruan angin yang berhembus kencang.
Kini malam sudah menjelang tiba, angin malam berhembus sangat kencang.
Kecuali suara angin, suasana amat hening, sepi, tidak kedengaran sedikit suara pun.
Jenasah Cu Liok sudah tiba di rumah lo-Siau, diletakkan diatas meja altar berbentuk panjang.
Wajah lo-Siau yang semula nampak kelelahan, murung dan kesepian, dengan cepat berubah jadi lebih bersemangat, dia sedang mengawasi jenasah Cu Liok yang tergeletidak dihadapannya.
"Dia adalah seorang yang sangat baik,"
Kata lo-Siau dengan suara yang berduka.
"seringkali dia membawa arak ditengah malam dan datang mencariku, aku sangat tahu maksud kedatangannya, dia bukan mencari aku untuk menemaninya minum, tapi dia memang khusus datang untuk menemani aku."
Tay Thian mendengarkan, dia hanya mendengarkan.
"Tahukah kau, setelah orang seusia ku, apa yang paling ditakuti?"
Tidak menanti Tay Thian memberi jawaban, Dia sudah menjawab duluan.
"Kesepian,"
Kata lo-Siau lebih jauh sambil tertawa getir.
"biasanya yang menemani kami hanya kesepian. Seakan akan setiap orang yang sudah menjadi tua hanya sebuah barang pajangan." ..... Kesepian, memang merupakan sebuah ketidak berdayaan didalam kehidupan.
"Semakin besar usia seseorang, semakin sedikit teman yang dimiliki, bahkan aku tidak memiliki walau seorangpun,"
Ujar lo-Siau lebih jauh dengan wajah kesepian.
"yaa, bicara sejujurnya, siapa sih yang sudi bergaul dengan seorang kakek yang setiap saat hanya bergumul dengan mayat?"
Ini memang sebuah kenyataan, sebuah kesedihan bagi seseorang yang bertugas sebagai petugas autopsi.
Kesedihan semacam ini merupakan kesedihan yang merasuk ke dalam tulang, merupakan sebuah kesepedihan yang menunjukkan ketidak berdayaan.
"Usia makin tua, hidup makin kesepian, semakin hidup kesepian makin susah untuk tidur malam,"
Lo-Siau kembali menatap jenasah Cu Liok.
"oleh sebab itu hanya dia yang sering datang menemani aku, minum arak hingga fajar, bahkan terkadang aku pun diajak makan siang bersama, makan di rumah makan......."
Dia mulai meraba rambut Cu Liok.
"Coba kau lihat, rambutnya masih hitam, tidak seperti aku, telah beruban semua,"
Katanya.
"Aaai, hidup manusia memang bagai awan putih yang bergerak di angkasa..."
Dia bungkukkan tubuh, mengeluarkan sebuah tas kulis dari bawah altar, lalu dibukanya.
Dalam tas itu penuh berisikan pelbagai peralatan bekerja serta botol-botol yang berbentuk aneh, dalam botol-botol itu berisikan aneka ragam bubuk obat.
Kemudian dia mulai membuka kelopak mata Cu Liok dan memeriksanya sekejap, setelah itu kembali gumamnya.
"Aku tidak menyangka suatu saat bakal mengautopsi tubuhmu.
"Lo-Siau, kau masih bisa mengendalikan diri?"
Tegur Tay Thian kuatir.
"Memang inilah pekerjaanku, tidak nanti aku jadi begitu lemah sehingga tidak sanggup menggerakkan pisauku."
Lo-siau mengambil sebatang pisau yang tipis sekali, kembali ujarnya.
"Terlepas apa penyebab kematianmu, asal pernah kulihat sebelumnya, aku yakin tabir kematiannya pasti dapat kusingkap!"
Sebilah pisau yang tipis, harus berada dalam genggaman sebuah tangan yang mantap.
Pisau itu sangat tajam, dibawah kendali jari tangan yang lincah, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Mata pisau mulai membelah, kulit dan daging mulai teririt, cairan darah mulai meleleh keluar.
Darah berwarna hitam!
Meski belum membeku, paling tidak sudah hampir menggumpal.
Tempat yang diiris lo-Siau dengan pisaunya adalah kaki Cu Liok yang patah.
Tidak lama kemudian tulang kakinya yang remuk pun kelihatan.
Sekalipun disekeliling ruangan penuh disinari cahaya terang, tidak urung Tay Thian merasakan seram juga, dia merasa udara didalam ruangan itu dipenuhi bau busuk mayat yang mulai menyengat dicampur bau harumnya pelbagai obat obatan, campuran bau itu menciptakan sejenis bau yang tidak terlukiskan dengan kata.
Jika bukan seseorang yang sudah terbiasa dengan suasana macam begini, mungkin dia akan dibuat "ngeri"
Oleh bau aneh yang menyelimuti tempat tersebut. Bau "ngeri"
Semacam ini baru pertama kali dirasakan Tay Thian, membedah tubuh mayat pun baru pertama kali ini dia saksikan, perasaan ngeri dan muak membuat dia sudah berpaling ke arah lain.
Satu jam sudah lewat, duajam sudah lewat.
Walaupun malam itu adalah malam di akhir musim gugur, walaupun udara terasa sangat dingin, butiran keringat telah membasahi jidat Tay Thian.
Pakaian yang dikenakan lo-siau pun sudah basah kuyup oleh keringat.
Maka udara dalam ruangan pun bertambah lagi dengan sejenis bau, bau busuk keringat!
Kalau boleh, ingin sekali Tay Thian keluar dari ruangan itu untuk menghirup udara segar diluaran sana.
Tapi dia tidak berani melakukan hal terseut, diapun tidak bisa.
Kini, masalahnya sudah mencapai taraf yang paling penting, sedikit saja melakukan kesalahan bisa berakibat semua urusan jadi berantakan, dia tidak ingin terjadi hal seperti ini, bagaimana caranya dia memberi pertanggungan jawab kepada Nyoo Cing nanti?
Kebetulan lo-Siau telah menghentikan pekerjaannya waktu itu.
"Sudah ditemukan penyebab kematiannya?"
Buru buru Tay Thian bertanya.
"Dia sudah tewas sebelum terpeleset jatuh ke dalam jurang,"
Kata lo-Siau dengan wajah lusuh.
"Itu berarti jenasahnya dilempar orang ke dalam jurang?"
"Benar,"
Lo-Siau manggut-manggut.
"Dia mati karena keracunan!"
"Terkena racun apa?"
"Tidak tahu."
"Tidak tahu?"
"Tenggorokannya tidak menunjukkan gejala yang aneh, ini berarti racun tersebut bukan masuk melalui kerongkongannya."
"Kalau bukan masuk melalui kerongkongan, berarti disambit dengan senjata rahasia,"
Kata Tay Thian.
"Apakah sudah ditemukan mulut luka yang lain?"
"Belum, kecuali luka tulang patah akibat terlempar ke dalam jurang, tidak ditemukan mulut luka lainnya."
"Mungkin tidak masuk melalui pori pori kulit tubuh?"
Mendadak Tay Thian teringat dengan gejala kematian yang ditemukan di tubuh Tu Bu-heng.
"Tidak mungkin!"
Sahut lo-Siau pasti.
"Bila racun itu masuk melalui pori-pori kulit tubuh, maka diatas permukaan tubuhnya akan ditemukan pertanda yang jelas."
"Berarti kau tidak berhasil menemukan penyebab kematiannya?"
"Pasti bisa ditemukan, toch aku belum membedah isi perutnya."
"Kau akan mengeluarkan isi perutnya?"
"Benar, bahkan harus, jika dalam isi perutnya tidak ditemukan gejala yang mencurigakan, aku akan membedah otaknya."
Bila dalam otak pun tidak ditemukan sesuatu hasil, tempat mana lagi yang akan dibedah?
Lo-Siau kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Usus, lambung, hati, jantung, paru paru sudah dikeluarkan semua dari rongga badan dan dikumpulkan jadi satu, saat ini lo-siau sedang memeriksa bagian usus.
Setelah semua isi perut dibongkar dan dikeluarkan dari rongga tubuhnya, sanggupkah lo-Siau untuk mengembalikan lagi seperti keadaan semula?
Bukan setiap manusia mempunyai kesempatan untuk melihat isi perut seseorang, bagi Tay Thian, kejadian ini terhitung sebuah keberuntungan.
Tapi, siapakah yang mengharapkan keberuntungan macam begini?
Dalam waktu singkat seluruh isi perut sudah selesai diperiksa, tapi jawabannya tetap nihil.
Maka lo-Siau pun mulai membedah tengkorak kepala Cu Liok dan mengeluarkan isi otaknya.
Pemandangan yang terpapar dihadapannya sekarang jauh lebih mengerikan, jauh lebih memuakkan, Tay Thian semakin tidak berani mengikutinya jalannya pembedahan, bahkan nyaris ayam ca mete yang disantapnya malam tadi menyembur keluar saking muaknya.
Dia benar benar merasa kagum dengan kemampuan Siau Pek-cau, membedah mayat manusia macam menggorok seekor ayam saja, apalagi korban yang harus dia kerjakan malam ini adalah sahabat karibnya, andaikata dia yang harus melakukan pekerjaan tersebut, Tay Thian sadar, dia tidak nanti sanggup melakukannya.
Waktu berlalu tanpa terasa, akhirnya lo-Siau menghembuskan napas lega, dia letakkan kembali pisau bedahnya, peluh telah membasahi seluruh tubuhnya, wajah yang kelihatan sangat penat membuat punggungnya nampak semakin membengkok...
bagaimana pun dia memang seseorang yang sudah tua.
Dengan pandangan mata yang luruh ditatapnya wajah Tay Thian sekejap, kemudian ujarnya.
"Aku telah menemukan tiga buah lubang jarum yang sangat kecil diatas tempurung kepalanya."
"Seberapa kecil?"
"Lebih kecil dari jarum jahit,"
Ujar lo-Siau sambil duduk.
"Aku harus memeriksa sebanyak tiga kali sebelum berhasil menemukan ketiga mulut jarum itu."
"Lebih kecil dari jarum jahit?"
Tay Thian termenung sejenak.
"Senjata rahasia apa itu?"
"Tidak ditemukan racun pada senjata rahasia tersebut, jarum-jarum itu menembusi ubun-ubun cu Liok dan langsung menembusi otak besarnya,"
Lo-Siau menerangkan.
"Waktu itu Cu Liok pasti mati seketika, mati tanpa terasakan penderitaan sedikitpun."
"Kalau ada mulut jarumnya, berarti pasti ada senjata rahasianya, di mana senjata rahasianya?"
"Ini dia, disini!"
Kata lo-Siau sambil merentangkan tangan kirinya. Benar juga, ternyata jarum itu sangat lembut lagi kecil, ketiga batang jarum itu semuanya memancarkan sinar kebiru biruan yang sangat tawar.
"Tidak mungkin senjata rahasia selembut ini dilancarkan dengan tangan."
"Benar, jarum-jarum itu pasti disambit dengan menggunakan semacam alat."
Tay Thian telah pergi, pergi sambil membawaketiga batangjarum lembut itu.
Isi perut Cu Liok sudah dimasukkan kembali ke tempat asalnya, mulut luka pun sudah dijahit kembali.
Siau Pekcau duduk seorang diri sambil mengawasi j enasah Cu Liok yang masih berbaring diatas meja altar.
"Jarum selembut itu dilepaskan dengan alat apa? bagaimana bisa menembusi kulit tengkorak yang keras?"
Diantara bayangan yang bergerak diluar jendela, tiba-tiba terdengar seseorang menyahut dengan nada dingin.
"Disambit dengan kotak pembetot nyawa, ketiga batang jarum itu adalah jarum pembetot nyawa langit dan bumi!"
Saat itu langit sudah hampir terang tanah, namun belum seratus persen terang.
Kabut masih menyelimuti seluruh udara, kabut yang sangat tebal.
Kabut membuat langit serasa membeku, udara terasa dingin menggigilkan tubuh.
Kabut menyelimuti pula pepohonan, tanah rumput dan jalanan kecil, membasahi juga rambut, alis mata dan pakaian yang dikenakan Cong Hoa.
Saat itu Cong Hoa sedang duduk diatas tanah, duduk persis dihadapan kuburan Lo Kay-sian.
Tempat itu adalah belakang bukit Pesanggrahan pengobatan Coan-sin-ie-khek, yaitu taman yang khusus disiapkan pesanggrahan pengobatan sebagai tempat pekuburan.
Sebelum fajar menyingsing, Cong Hoa telah membawa arak datang ke situ, kemudian diapun minum arak didepan kuburan Lo Kay-sian.
Setiap kali meneguk satu cawan, dia pun menyiram kuburan Lo Kay-sian dengan secawan arak juga.
Waktu berlalu detik demi detik, arak yang disiramkan keata permukaan tanah telah menguap, semangat yang berada dalam rongga dada Cong Hoa pun semakin berkobar.
Tidak lama kemudian, tiga botol arak yang dibawanya telah habis diteguk, setengahnya masuk ke dalam perut Cong Hoa, dan setengahnya lagi dituang diatas tanah pekuburan.
Cong Hoa telah bangkit berdiri, selesai membersihkan pasir yang melekat ditubuhnya, dia berpaling ke arah batu nisan yang bertuliskan.
"Disini disemayankan Lo Kay-sian", kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Lo Kaysian, hari ini kita minum sampai disini dulu, masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan, lain waktu akan kutemani dirimu lagi."
Batu nisan tidak menjawab, pun tidak bersuara, tapi dari alam yang luas kedengaran ada suara.
Suara itu datang dari jalan bukit nun jauh didepan sana.
Suara nyanyian orang, membawakan lagu rakyat yang jenaka, paling tidak ada dua orang sedang nyanyi bersama.
Siapa yang sepagi ini membawakan lagu rakyat keras keras?
Apakah mereka pun membawa perasaan yang sama seperti apa yang dirasakan Cong Hoa sekarang?
Di situ merupakan tanah pekuburan, tempat orang mengenang kembali sanak keluarganya yang telah tiada, mengapa mereka malah membawakan lagu rakyat yang bertema jenaka?
Dengan cepat pertanyaan itu diperoleh jawabannya.
Ada empat orang lelaki dengan riangnya menggotong sebuah peti mati baru dan berjalan menuju ke bawah bukit, sambil berjalan mereka membawakan lagu dengan riangnya.
Ternyata mereka adalah para petugas penggotong peti mati, tidak heran kalau lagu yang mereka nyanyikan begitu riang.
Cong Hoa tertawa sendiri, maklum kalau mereka masih berselera untuk menyanyi, ternyata yang mereka gotong bukan peti mati sanak keluarganya, bahkan sama sekali tidak ada hubungan dengan mereka.
"Selamat pagi teman teman, sepagi ini sudah mulai bekerja?"
Sapa Cong Hoa sambil tertawa.
"Yaa selamat pagi, agar cepat masuk liang, biar segera bisa dititiskan kembali,"
Sahut para kuli sambil menurunkan peti mati itu di sebuah liang kosong dan mulai mengambil peralatannya untuk menggali.
"Siapa yang kalian kubur kali ini?"
Tanya Cong Hoa keheranan.
"Seorang nona, konon cantik sekali."
"Yaa, katanya dia adalah pengurus kebun di istana raja muda, datang dari negeri Hu-siang."
Aaah!
Rupanya Siau-tiap!
Sambil tertawa Cong Hoa mengawasi peti mati yang berada dihadapannya.
Terlepas semasa hidupnya dulu dia adalah seorang mata-mata atau seorang enghiong hohan, setelah mati, tubuhnya tidak lebih hanya seonggok tanah liat.
Memang inilah yang dinamakan kehidupan!
Cong Hoa gelengkan kepalanya berulang kali dan mulai meninggalkan tempat itu.
Jalanan bukit itu sangat sempit lagi curam, aneh, kenapa jalanan menuju ke tanah pekuburan itu tidak dibikin lebih lebar dan lebih datar sehingga lebih mempermudah para kuli penggotong peti mati menyelesaikan tugasnya?
Sambil berpikir Cong Hoa melanjutkan perjalanannya.
Mendadak ia seperti teringat akan sesuatu dan segera menghentikan langkahnya.
Para penggotong peti mati?
Jalanan yang sempit dan curam?
Cong Hoa segera berpaling kembali ke arah tanah pekuburan.
Aneh, sungguh aneh, sewaktu menggotong peti mati mendaki ke jalanan yang curam tadi, mengapa ke empat orang itu tidak nampak kepayahan?
Mungkinkah lantaran mereka sudah terbiasa menggotong barang berat?
Tapi, paling tidak j enasah manusia akan lebih berat setelah menjadi jenasah bukan?
Jangan jangan...
Cong Hoa mengawasi tanah pekuburan itu dengan paras muka semakin serius.
"Aaaah, ini mah jarum pembetot sukma langit dan bumi,"
Ujar Nyoo Cing sambil mengawasi ketiga batangjarum lembut itu.
"Jarum pembetot sukma langit dan bumi?"
Ulang Tay Thian dengan wajah terkesiap.
"Maksudmu raja dari segala macam senjata rahasia, begitu disambit segera mencabut nyawa?"
"Benar!"
"Aku dengar jarum pembetot sukma langit dan bumi diciptakan oleh seseorang yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat?"
"Di dunia terdapat enam macam benda yang paling menakutkan, jarum pembetot sukma adalah satu diantaranya,"
Nyoo Cing menerangkan.
"Orang yang menciptakan senjata rahasia ini sesungguhnya masih termasuk keturunan dari seorang tokoh persilatan, dia bernama Ciu Sie-bin, waktu itu ayahnya termashur sebagai Lam-ouw-siang-kiam (sepasang pedang dari telaga selatan)!"
"Tapi menurut apa yang kuketahui, orang yang menciptakan senjata rahasia itu sama sekali tidak pandai bersilat,"
Kata Tay Thian.
"Sebagai putra dari sepasang pedang Lam-ouw-siang-kiam, mana mungkin dia tidak pandai bersilat?"
"Apa yang saudara Tay dengar memang tidak salah,"
Ujar Nyoo Cing sambil tertawa.
"Ciu Sie-bin memang tidak pandai bersilat, ini disebabkan sejak kecil dia sudah menderita sebuah penyakit aneh, tulangnya lemas hingga jangan lagi belajar silat, untuk bangkit berdiri pun tidak mampu."
Tay Thian mendengarkan dengan seksama, dia sama sekali tidak menimbrung.
"Keluarga mereka terdiri dari lima bersaudara, Ciu Siebin menempati urutan ketiga, tapi kecerdasan otaknya jauh melebihi saudara saudara lainnya,"
Nyoo Cing berkata lebih lanjut.
"Tapi sayang dia cacad badan, ketika melihat saudara lainnya berhasil memperoleh nama besar dalam dunia persilatan, otomatis diapun merasa sangat bersedih hati, maka diam-diam dia bersumpah akan melakukan suatu karya yang bisa menggetarkan seluruh kolong langit, agar tidak kalah dengan kemampuan saudara-saudara lainnya."
"Apakah ke empat bersaudara itu yang terkenal dalam dunia persilatan sebagai Kanglam-su-gie (empat persaudaraan dari Kanglam)?"
"Benar! Ciu Sie-bin yang cacad badan sepanjang tahun hanya bisa membaca buku, tapi dasar otaknya memang amat cerdas lagipula dia memiliki sepasang tangan yang trampil, maka tidak heran kalau di setiap sudut ruangan tidurnya dilengkapi dengan pelbagai alat jebakan yang luar biasa."
"Waah, ruangan itu pasti sangat menarik hati!"
Seru Tay Thian tertawa.
"Coba kalau tokoh sakti ini masih hidup, aku pasti akan berkunjung ke situ."
"Suatu tahun, dengan sebatang kayu dia menciptakan sebuah kotak rahasia, dia minta saudarasaudaranya untuk mencarikan seorang pandai besi yang bisa membuatkan sebuah kotak yang sama seperti contohnya. Waktu itu saudara saudaranya mengira dia sedang membuat mainan higga tidak terlalu diperhatikan, maka diundanglah seorang pandai besi yang ternama untuk datang ke rumah, tukang besi itu bernama 'Kiau Jiu-song'"
Setelah berhenti sejenak, kembali Nyoo Cing melanjutkan.
"Hampir dua tahun lamanya Kiau-jiu-song berdiam di rumah Ciu Sie-bin, tidak banyak yang tahu apa yang sedang mereka kerjakan di dalam rumah, tapi setiap bulan Ciu sie-bin selalu mengutus orang untuk mengirim sejumlah uang kepada istri tukang besi itu, tidak heran kalau keluarga Kiau Jiu-song sama sekali tidak kuatir."
"Tampaknya bini Kiau Jiu-song tidak sadar kalau uang yang diterimanya itu sebetulnya adalah biaya untuk membeli nyawa suaminya,"
Ujar Tay Thian sambil menghela napas.
"Benar, dua tahun kemudian begitu Kiau Jiu-song meninggalkan gedung itu, diapun roboh untuk tidak bangun kembali, konon mati lantaran kelelahan. Tapi bagaimana kejadian yang sesungguhnya tidak banyak diketahui orang. Apalagi nama besar keluarga Ciu dalam dunia persilatan waktu itu sangat tersohor, oleh sebab itu keluarga pandai besi itupun tidak berani melakukan penyelidikan."
"Si pandai besi Kiau Jiu-song menguasai tehnik pembuatan alat penembak senjata rahasia tersebut, untuk menjaga kerahasiaan alat tersebut tentu saja Ciu Sie-bin tidak akan membiarkan dia hidup terus,"
Kata Tay Thian.
"Mungkin dialah orang pertama yang tewas terhajar jarum pembetot sukma langit dan bumi."
"Setelah lewat setengah bulan kemudian, tiba-tiba Ciu Sie-bin menyebar undangan dengan mengundang semua jago senjata rahasia yang paling tersohor saat itu,"
Kata Nyoo Cing kemudian.
"Waktu pertemuan adalah hari Tiong-ciu, saat bulan sedang purnama. Banyak orang persilatan yang terpaksa datang memenuhi undangan karena memandang wajah Kanglam Su-gie, tidak sedikit yang hadir saat itu.
"Setelah arak dihidangkan, secara tiba-tiba Ciu Siebin meminta kepada Ho Lam-hui untuk beradu senjata rahasia melawannya."
"Ho Lam-hui?"
Kata Tay Thian.
"Apakah jagoan yang disebut orang Pat-pit-sin-wan (monyet sakti berlengan delapan) Ho Lam-hui?"
"Betul, bukan saja dari seluruh tubuhnya dapat memancarkan senjata rahasia, konon pada saat yang bersamaan dia sanggup melepaskan dua belas jenis senjata rahasia secara bersamaan, bahkan kemampuannya dalam melepaskan amgi sudah mencapai tingkatan yang luar biasa. Orang ini boleh dibilang merupakan jago kelas satu dalam dunia persilatan."
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Sebagai jagoan terkemuka, mana mungkin dia mau bertanding senjata rahasia melawan seorang cacad, apalagi diapun sahabat karib dari Kanglam Su-gie."
"Yaa, biar menangpun, bukan sebuah kemenangan yang terhormat."
"Semua orang mengira Ciu Sie-bin hanya bergurau, siapa sangka Ciu Sie-bin bersikeras memaksa Ho Lam-hui untuk beradu kepandaian, bahkan sempat melontarkan perkataan yang menyakitkan hati, hal mana memaksa Ho Lam-hui kehilangan muka dan akhirnya tidak sanggup mengendalikan diri."
"Kemudian?"
"Akhirnya Ho Lam-hui tewas diujung jarum pembetot sukma langit dan bumi, bahkan ada berapa orang jago am-gi yang kehilangan nyawanya juga waktu itu,"
Kata Nyoo Cing.
"Sekalipun semua orang tahu kalau senjata rahasia itu dibidikkan melalui sebuah kotak besi yang berada di tangan Ciu Sie-bin, apa lacur tidak seorang jago pun yang sanggup menghindarkan diri."
"Sungguh keji perbuatan Ciu Sie-bin!"
Seru Tay Thian kemudian.
"Sejak kecil dia sudah cacad, mungkin karena itu wataknya jadi aneh, tapi masa sepasang pedang dari telaga selatan maupun empat jagoan dari Kanglam tidak berusaha mencegah?"
"Waktu itu Lam-ouw siang-kiam sudah lama meninggal, sementara Kanglam Su-gie nampaknya mempunyai tujuan lain!"
"Apa tujuan mereka?"
"Menyaksikan senjata rahasia yang dimiliki saudara sendiri begitu lihay, rupanya mereka ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk semakin mempopulerkan nama besar keluarga Ciu,"
Kata Nyoo Cing.
"Mimpi pun mereka tidak menyangka, gara-gara kejadian ini, banyak orang persilatan yang mulai memusuhi keluarga Ciu, siapa pun tidak ingin membiarkan senjata rahasia yang maha dahsyat itu tetap berada di tangan keluarga Ciu, karena mereka kuatir, suatu saat nanti senjata rahasia itu bakal dipergunakan untuk menghadapi diri mereka."
"Yaa, apalagi mereka yang sejak semula sudah bermusuhan dengan keluarga Ciu,"
Kata Tay Thian.
"Mereka pasti sadar, suatu saat mereka pun akan menjadi korban berikut."
"Oleh sebab itu semua orang berebut untuk turun tangan terlebih dulu, dengan pelbagai cara mereka singkirkan Kanglam su-gie satu per satu, kemudian mereka bakar perkampungan keluarga Ciu sehingga Ciu Sie-bin pun ikut tewas dalam kebakaran dahsyat itu."
"Dia memang pantas mati!"
Umpat Tay Thian tanpa sadar, kemudian tambahnya.
"Setelah peristiwa itu, jarum pembetot sukma langit dan bumi itu jatuh ke tangan siapa?"
"Tidak ada yang tahu senjata rahasia itu jatuh ke tangan siapa, sebab siapa pun yang berhasil mendapatkan senjata tersebut, tidak seorangpun mau mengakuinya,"
Kata Nyoo Cing.
"Tapi setiap tiga sampai lima bulan, selalu ada jagoan persilatan yang tewas oleh jarum thian-te-soh-hun-ciam ini, sebaliknya orang yang berhasil memiliki senjata maut itupun biasanya tidak berumur panjang, sebab begitu rahasianya ketahuan, maka berbondong bondong orang akan datang mencarinya dan berusaha merebutnya."
"Waah, kalau begitu bukankah senjata Thian-tee-sohhun-ciam menjadi benda pembawa sial?"
"Selama puluhan tahun terakhir, entah sudah berapa ratus kali barang itu berpindah tangan, biasanya orang yang berhasil mendapatkan benda itu pasti tewas dalam keadaan mengenaskan, hingga berapa tahun berselang, tiba tiba senjata rahasia itu lenyap dari peredaran dunia persilatan, mungkin orang yang berhasil mendapatkan benda itu belum pernah mempergunakannya..."
Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.
"Itulah sebabnya walaupun banyak jago yang pernah mendengar tentang kehebatan senjata rahasia Thiantee-soh-hun-ciam, bahkan ada banyak orang yang tahu bagaimana bentuknya serta sampai dimana kehebatannya, namun belum pernah ada seorang manusia pun yang benar-benar melihat sendiri benda itu."
"Kalau begitu nasib Cu Liok terhitung cukup bagus."
"Mungkin kali ini pihak perkumpulan naga hijau bersiap untuk menghadapiku, maka mereka pun mengusung datang orang yang memiliki senjata rahasia Thian-tee-soh-hun-ciam itu."
"Tapi anehnya, kalau memang pihak perkumpulan Cing Liong Hwee telah bersusah payah mendapatkan senjata rahasia Thian-tee-soh-hun-ciam, mengapa secara sembarangan mereka gunakan terhadap Cu Liok?"
"Mungkin Cu Liok telah menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui orang, atau keadaan sangat mendesak sehingga mau tidak mau terpaksa mereka harus menggunakannya."
"Menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui orang?"
Tay Thian termenung berapa saat.
"Kalau memang telah menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui orang, berarti kejadian itu tentu ada di rumah bambu."
Nyoo Cing mengangguk membenarkan. Tiba tiba Tay Thian tidak bicara lagi, dia membuang pandangan matanya ke luar jendela.
"Sedemikian sempurnanya kotak pembidik senjata rahasia itu dan sedemikian dahsyatnya kekuatan yang dipancarkan membuat benda ini tidak malu disebut raja diantara senjata rahasia!"
Tiba tiba ujar Nyoo Cing.
"Bila senjata itu dibandingkan dengan berapa macam senjata rahasia terhebat yang ada saat ini, masalah kecepatan bahkan masih selisih dua bagian, apalagi dalam hal ketepatannya mengenai sasaran, boleh dibilang senjata yang ada sekarang masih ketinggalan jauh."
"Bagaimana bila dibandingkan dengan anak panah kekasih?"
"Kehebatan dari anak panah kekasih bukan terletak pada kecepatan, melainkan dalam hal kekuatan tangan, sementara bidikan jarum maut thian-tee-sohhun-ciam boleh dibilang belum seorang manusia pun sanggup menghindarinya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya.
"Konon jarum maut Thian-tee-soh-hun-ciam bisa membidikkan tiga puluh enam batang jarum pada saat yang bersamaan, sementara Cu Liok hanya mendapat hadiah tiga batang."
"Berarti masih ada tiga puluh tiga batang jarum yang ketinggalan dalam rumah bambu?"
"Benar,"
Sahut Nyoo Cing sambil menatapnya tajam.
"Untuk menghadapi Cu Liok, tiga batang pun sudah lebih dari cukup, tapi berbeda untuk menghadapi kau, mungkin ketiga puluh tiga batang jarum itu harus digunakan semua."
"Hahahaha... mungkin malah kurang dari tiga puluh tiga batang!"
Seru Tay Thian sambil tertawa tergelak.
"Aku tahu, apa yang telah kau putuskan susah untuk dicegah lagi, Cuma untuk mengunjungi rumah bambu itu kau mesti berhati-hati, sebab tempat tersebut pasti sangat berbahaya!"
"Aku tahu!"
BAB 4.
Kakak tua berdarah.
Sehabis hujan bintang kelihatan jauh lebih bersih, jauh lebih cemerlang, membuat orang semakin menyukainya.
Sejak kecil Cong Hoa memang suka akan bintang, kerapkali dia berkhayal membayangkan masa kecil, menikmati indahnya impian dimasa dulu, kegembiraan seorang bocah.
Malam ini bukan saja banyak bintang yang bertaburan di angkasa, lagipula merupakan bintang setelah hujan.
Sore tadi telah turun hujan guntur yang amat kencang, membawa kesegaran dan kebersihan di seluruh permukaan bumi, namun mendatangkan juga kemurungan bagi Cong Hoa.
Setelah turun hujan yang begitu deras, jalan setapak jadi penuh berlumpur dan becek.
Di hari biasa saja sudah sulit dilalui, apalagi setelah hujan.
Dengan susah payah akhirnya berhasil juga Cong Hoa mencapai puncak bukit di belakang pesanggrahan pengobatan, kini dia berdiri diatas bukit sambil menarik napas panjang.
Malam ini, cahaya bintang terasa jauh lebih bening dan bersinar, cahayanya seolah sempat menyinari seluruh tanah perbukitan itu.
Cong Hoa memperhatikan sejenak tanah gundukan baru dimana pagi tadi Siautiap dikubur...empat orang penggotong peti mati itu berjalan begitu ringan dan santainya mencapai puncak bukit.
Apa arti dari kesemuanya itu?
Mungkin-kah peti mati itu tanpa jenasah?
Atau ke empat penggotong peti mati itu adalah jago jago berilmu tinggi?
Untuk peroleh jawaban yang pasti, hanya ada satu jalan yang bisa ditempuh yakni membongkar tanah pekuburan itu.
Tapi ada satu hal yang pasti, apa pun yang bakal terjadi, jelas masalah ini ada sangkut pautnya dengan Pesanggrahan pengobatan Coan-sin-Ie-khek.
Seandainya kuburan Siau-tiap ada yang tidak beres, bukankah kuburan Lo Kay-sian pun...?
Tanpa terasa Cong Hoa berpaling ke arah kuburan Lo Kay-sian, andaikata kuburannya pun ada yang tidak beres, berarti seluruh tanah pekuburan itu...
Cong Hoa tidak berani berpikir lebih lanjut, dia gelengkan kepalanya berulang kali, berusaha untuk membuang jauh jauh semua kecurigaan didalam hatinya.
Tidak selang seperminum teh kemudian, kuburan itu sudah dibongkar, peti mati pun sudah nampak.
Inilah detik paling penting untuk menyingkap rahasia ini, tangan Cong Hoa kelihatan sedikit gemetar, entah karena takut atau mungkin lantaran udara yang terasa amat dingin?
Ternyata peti mati itu tidak dalam keadaan terpaku, Cong Hoa mulai berkerut kening, perlahan-lahan dia dorong penutup peti mati itu, ternyata dengan sangat mudah berhasil digeser ke samping.
Dibawah sinar bintang yang menyoroti peti mati tersebut, tampak pakaian yang dikenakan Siau-tiap.
Hanya pakaian, sama sekali tidak ada jenasah!
Rupanya peti mati itu adalah sebuah peti mati kosong.
Lalu ke mana larinya jenasah Siau-tiap?
Mengapa pihak pesanggrahan pengobatan hanya mengubur sebuah peti mati yang kosong?
Cong Hoa mulai berpaling mengawasi kuburan Lo Kay-sian, moga moga...
Dalam waktu singkat kuburan Lo Kay-sian pun telah dibongkar.
Kosong!
Ternyata isi peti mati itupun kosong, yang ada hanya satu stel pakaian.
Paras muka Cong Hoa telah berubah amat serius, dia mulai termenung sambil mengawasi kedua peti mati yang kosong itu.
Tidak perlu diragukan lagi, seluruh kuburan yang ada disitu sudah pasti hanya menanam peti mati yang kosong.
Tapi mengapa?
Mengapa pihak pesanggrahan pengobatan Coansin-ie-khek hanya mengubur peti mati yang kosong?
Lalu ke mana larinya jenasah mereka yang telah mati?
Setiap orang yang dikirim ke pesanggrahan pengobatan Coan-sin-ie-khek, bila akhirnya mati disitu maka pihak pesanggrahan pasti akan mengurusi jenasah mereka, konon sebagai ungkapan penyesalan mereka lantaran tidak berhasil menyembuhkan sakitnya.
Cong Hoa berdiri termangu diatas puncak bukit sambil mengawasi pesanggrahan Coan-sin-ie-khek yang bermandikan cahaya lampu di kaki bukit sana.
Mungkinkah di balik cahaya lampu yang terang benderang itu, tersimpan sebuah rahasia besar yang luar biasa?
Tapi rahasia besar apakah itu?
Mendadak Cong Hoa teringat kembali akan pembicaraannya dengan Ing Bu-ok, dulu ketika berada di rumah makan sebuah kota kecil.
.....Dari sebuah negeri di wilayah Timur nun jauh di sana, terbawa sebuah rahasia cara serta resep untuk mengawetkan tubuh manusia yang telah mati.
.....
Ketika jenasah itu berhasil diawetkan dengan cara serta resep rahasia itu, maka mereka akan disebut "Mummi".
.....Mummi-mummi itu bisa disimpan suatu jangka waktu tertentu, suatu hari akan bangkit dan hidup kembali.
Pelbagai pikiran dan ingatan berkecamuk dalam benak Cong Hoa, jangan-jangan...
Jangan-jangan pesanggrahan Coan-sin-ie-khek ada hubungannya dengan lenyapnya Cong Hui-miat?
Mungkinkah tempat ini ada sangkut pautnya dengan teka-teki serta rahasia yang sudah berlangsung sejak dua puluh tahun berselang?
Berbinar sepasang mata Cong Hoa, begitu terang cahaya yang terpancar keluar, seolah lebih terang dari pantulan sinar yang dipancarkan bintang di langit.
Fajar sudah hampir tiba, inilah saat saat terakhir kegelapan menyelimuti angkasa.
Ketika kegelapan malam mulai tergeser, setitik cahaya terang mulai muncul di ufuk sebelah timur.
Kabut melayang diatas permukaan bumi, menyelimuti seluruh jalan dan lorong di kota kecil itu.
"Rumah bambu"
Pun terbungkus oleh lapisan kabut yang tebal.
Ditengah remang remangnya suasana, diantara tebalnya kabut yang melapisi permukaan tanah, tampak seseorang berdiri tenang dibalik kegelapan.
Walaupun pakaian yang dikenakan orang itu sudah dilapisi debu dan pasir, namun tidak menutupi keangkeran serta kewibawaan yang terpancar dari balik wajahnya.
.....
Keangkeran dari seorang pengurus rumah tangga!
Dia tidak lain adalah Tay Thian.
Setelah menempuh perjalanan hampir semalaman suntuk, tibalah dia di depan lorong jalan itu.
Sekarang, Tay Thian sedang mengawasi "rumah bambu"
Itu dengan wajah serius.
Ditinjau dari luar, bangunan rumah bambu itu amat sederhana dan tidak menunjukkan ancaman bahaya apa pun, tapi justru dibalik ketenangan tersembunyi ancaman jarum maut Thian-tee-soh-hun-ciam yang sangat menakutkan, bahkan bisa jadi masih tersimpan kejadian kejadian lain yang jauh lebih menyeramkan.
Baca Juga: Bara Maharani 1
Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 8