Terbang Harum Pedang Hujan 1

Eps 1 Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Baca online Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long

Cersil Terbang Harum Pedang Hujan - Gu Long.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/. Piao Xiang Jian Yu Karya . Gu Long Saduran . Liang YL

Jilid KE SATU BAB Golok bergigi Di sebuah gubuk.

Suara ayam jantan yang berkokok baru terdengar...

Di pagi hari di musim dingin, seorang pemuda berperawakan tinggi besar, tampan serta gagah membuka pintu penginapan satu-satunya yang ada di desa terpencil itu.

Dia mengeluarkan seekor kuda ternama berwarna merah kecoklatan, yang dianggapnya sebagai barang yang lebih penting dibandingkan nyawanya.

Dia menghirup udara, dan hawa dingin dengan cepat masuk ke dalam paru-parunya yang hangat.

Sudut mulutnya tampak terangkat hingga membentuk senyum, senyum angkuh dan penuh ejekan.

Setelah dia naik ke atas kuda, segera kuda itu melaju dan meninggalkan jejak kakinya yang berurutan.

Di pelana kuda tergantung dua benda berat, benda itu terbungkus dengan rapi.

Tapi pada saat kuda mulai berlari, kedua benda itu beradu sehingga menimbulkan suara, ternyata kedua benda itu terbuat dari besi, karena kuda berlari maka kedua benda itu pun bersenggolan dan mengeluarkan bunyi.

Dia tidak berusaha menarik perhatian siapa pun, karena sekarang dia tidak berniat di pagi hari yang begitu dingin, menyapa orang-orang, kalau ada yang mengetahui siapa dia sebenarnya, mungkin keadaan akan berbeda.

Selama beberapa tahun ini dia adalah orang terkenal di dunia persilatan.

Dia adalah Tie-ji-wenhou (Golok bergigi), Lu Nan-ren.

Dalam waktu singkat dia telah menjadi sangat terkenal, semua itu bukan tanpa alasan.

Pertama, karena dia mempunyai seekor kuda yang jarang ada di dunia ini, selain kudanya dia juga mempunyai keahlian yang tinggi.

Baik ilmu luar atau ilmu dalam, ditambah lagi dengan dua senjata anehnya...sepasang golok bergigi, membuatnya dalam waktu singkat dia berhasil mengalahkan orang-orang persilatan yang mengganggunya.

Di antara orang-orang yang mengganggunya tentu saja ada beberapa orang yang merupakan jago kelas satu.

Alasan lain adalah karena ketampanannya, karena ketampanannya pula dia mendapatkan cinta si cantik dari dunia persilatan, Xiao-hun-fu-ren Xue Ruo-bi.

Hingga Tie-ji-wen-hou Lu Nan-ren dan Xue Ruo-bi menjadi sepasang suami istri yang membuat iri orang-orang persilatan.

Perasaan iri ini pasti bersamaan muncul dengan perasaan cemburu.

Tie-ji-wen-hou, Lu Nan-ren dengan santai dan luwes duduk di atas kuda yang berlari dengan cepat, tangan kanannya memegang tali kekang kuda.

Bulu kudanya mengkilat dengan indah dan beterbangan tertiup angin.

Jalan yang dilewati kuda dan orang tampak penuh dengan debu beterbangan bercampur salju.

Selain tanpam berilmu silat tinggi Tie-ji-wen-hou, Lu Nan-ren pun mempunyai sepasang mata yang berkilau.

Dia jarang mau pergi kemana-mana sendiri, dia selalu ditemani oleh Lu-bu yang juga seorang pemuda gagah.

Dia selalu tidak mau pergi sendiri karena dia takut dalam perjalanannya banyak gadis-gadis akan terus mengikutinya.

Mungkin saja, karena peristiwa seperti ini sering dialami olehnya.

Tapi...

Mengapa sekarang dia pergi sendiri?

Di mana sang nyonya yang bernama Xue Ruo-bi?

Mengapa akhir-akhir ini tertawanya yang biasa menarik, tampak begitu sedih?

Kudanya berlari dengan cepat, tapi dia seperti tidak mempunyai tujuan dan arahnya tidak menentu.

Begitu tiba di kota 'Bao-ding', dia tidak segera masuk ke dalam kota, dia hanya berkeliling di pintu kota, seperti sengaja menarik perhatian orang-orang.

Terkadang dia mengeluarkan dan memasukkan senjata yang dibawanya.

Benar saja, tidak lama kemudian di kota Bao-ding segera tersebar kabar bahwa Tie-ji-wen-hou, Lu Nan-ren berada di luar kota Bao-ding.

Kabar ini membuat orang-orang persilatan merasa aneh.

Ada apa dengannya?

Yang pasti semua itu bukan tanpa alasan, karena wajahnya yang tampan seperti sedang menunggu seseorang.

Apakah hal ini tampak aneh?

"Di depan itu adalah pintu kota, dan letaknya dekat dengan kuil Wen,"

Dalam hati dia terus berpikir, tapi dia tetap tidak masuk ke dalam kota.

Dia hanya berdiri di sisi sungai pelindung kota, dan terus berjalan tanpa tujuan.

Kedua matanya tampak berkilau dan terus menatap ke arah pintu utama kota Bao-ding yang masih terbuka.

Tiba-tiba dari dalam kota Bao-ding muncul beberapa ekor kuda kekar, dilihat sekilas kuda-kuda itu terus berlari ke arahnya.

Di antara para penunggang kuda itu, tampak seseorang yang mengenakan baju berwarna emas, sudut mulutnya terangkat sehingga terlihat angkuh.

Kalau tidak diperhatikan dengan benar senyum itu tidak akan terlihat oleh siapa pun.

Setelah berjarak beberapa meter dari Tie-ji-wen-hou, Lu Nan-ren, semua penunggang itu turun dari kudanya masing-masing.

Salah satu laki-laki berbaju hitam menuntun kudanya berjalan ketempat agak jauh.

Sedangkan 3 orang lainnya yang berbaju biru mengikuti orang berbaju emas itu, dengan langkah besar mereka mendekati Lu Nan-ren.

Langkah mereka tampak sangat mantap.

Tampak kalau mereka mempunyai dasar ilmu silat tinggi.

Apalagi orang berbaju emas itu adalah seorang pak tua dengan perawakan pendek...kalau mengatakan dia adalah seorang pak tua, rasanya itu terlalu awal, tapi dari wajahnya bisa dinilai kalau kulitnya sudah tidak kencang lagi.

Dia seperti lebih tua dari usia sebenarnya, mungkin lebih tua 10 tahun dari umur sebenarnya...tapi setiap langkahnya seperti langkah seekor gajah besar, membuat orang merasa aneh dengan kekuatan kakinya "Siapakah dia?"

Tanya Lu Nan-ren dalam hati, 'Apakah dia adalah Zhu-sha-zhang, You Da-jun? Kalau benar dia adalah orang itu, sepertinya cocok dengan keinginanku saat ini."

Melihat orang itu, dia langsung merasa gembira, apa alasannya?

Dia sama sekali tidak bergerak dari atas kudanya.

Begitu mereka tiba di hadapannya, mereka segera berpencar, sedang orang gemuk dan berbaju emas, Zhu-sha-zhang seperti gunung batu berdiri di hadapannya.

"Apakah kau tidak mengira, kalau aku bisa datang dari Jiang-nan?"

Lu Nan-ren tertawa menghina. Wajah You Da-jun tampak terkejut, tapi dia tetap dapat menutupi dengan baik semua perubahan wajahnya, di balik daging yang sudah kendur itu.

"Aku memang merasa aneh, aku merasa mengapa kau tidak segera lari, melainkan malah berani muncul di sini."

Lu Nan-ren tertawa panjang.

"Mengapa aku tidak berani muncul di sini? Apakah menurut kalian aku takut kepada kalian?"

Wajahnya tampak dingin, kalian menginginkan aku lemah dan tidak bisa kembali ke rumah, aku pun akan membalas supaya kalian merasa tidak tenang, di Jiang-nan, aku tidak bisa mengalahkan kalian, tapi di sini, aku tidak akan takut kepada kalian, tikus-tikus!"

You Da-jun mulai marah, kemarahan membuat wajahnya menjadi merah.

"Baiklah, baiklah! Marga You hari ini akan memperlihatkan kehebatan Tian-zheng-jiao yang terkenal kuat di daerah dua sungai ini,"

Karena takut perkataannya kurang jelas dia menambahkan lagi.

"Sobat, kau bukannya cepat pergi meng-hindari bahaya malah ingin mengadu kekuatan dengan Tian-zheng-jiao, apakah karena kau sudah bosan hidup? Hei..marga Lu, turunlah! Biar aku yang memberi pelajaran kepadamu!"

Lu Nan-ren tertawa, bersamaan tawanya dia sudah turun dari kudanya dengan cepat dan lincah, Kedua senjata yang dipegangnya-tampak begitu berat tapi ketika dipegang olehnya seperti dua batang kayu.

"Sobat, jangan bicara terus, majulah!"

"Aku marga You dalam bertarung tidak pernah membutuhkan senjata."

Tiba-tiba dia membentak, tangannya sudah melayang ke depan dada Lu Nan-ren.

Ditengah-tengah telapaknya tampak ada warna merah, Lu Nan-ren berpikir, 'Dia hampir sempurna menguasai telapak Zhu-sha-zhang', diiringi tawanya yang dingin dia melemparkan kedua senjata yang dipegangnya ke bawah.

"Bertarung dengan kalian yang hanya tingkat tikus, aku pun tidak membutuhkan senjata."

Katakatanya membuat Zhu-sha-zhang marah, dia menyerang arah kepala Lu Nan-ren.

Angin telapak berhembus keras, tenaga telapak tangannya benar-benar kuat, Lu Nan-ren tidak berani menyambutnya secara langsung, tubuhnya digeser kesamping untuk menghindar, tapi Zhusha-zhang You Da-jun sudah membentak dan menyerang lagi.

Zhu-sha-zhang telah menguasai wilayah dua aliran sungai, tenaga telapaknya bisa dikatakan termasuk paling hebat dan kedudukan-nya di Tian-zheng-jiao berada di posisi penting.

Hanya saja walau tenaga telapaknya sangat kuat, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak dengan lincah, tenaganya yang bisa membuat gunung terbelah, tapi sulit menutupi gerakan tubuhnya yang tidak lincah.

Kalau dia benar-benar bertemu dengan pesilat tangguh, dia tentu berada di pihak yang dirugikan.

Tentu saja dia sangat mengerti hal ini, karena itu setiap kali menyerang, dia akan menggunakan tenaganya hingga 90% dan setiap serangan yang dilancarkan adalah serangan mematikan.

Sekarang dia berniat membunuh pemuda yang masih muda tapi sudah terkenal yang berjulukTie-ji-wen-hou.

Tenaga dan bayangan telapak membuat Tie-ji-wen-hou seperti tidak mempunyai kekuatan membalas!

Tiga orang berbaju biru yang menyaksikan jalannya pertarungan, tampak berseri-seri, masing masing mempunyai pikiran.

"Tie-ji-wen-hou, Lu Nan-ren telah menanggalkan senjatanya, dan sekarang dia menjadi orang yang tidak berdaya."

Tapi di samping merasa gembira mereka juga merasa menyesal.

"Mengapa sejak awal bukan kami saja yang bertarung dengan marga Lu ini, sepertinya kami pun bisa mengalahkan dirinya, dan kami bisa menjadi terkenal! Apalagi kalau ketua kami tahu, kami akan naik pangkat beberapa tingkat, tentu juga dia akan iri,"

Dengan iri mereka terus melihat You Da-jun yang mengenakan baju emas, dan berkata lagi dalam hati, 'kami pun bisa mengenakan baju berwarna emas seperti dia!' Dalam hati mereka berpikir seperti itu, begitu pula dengan You Da-jun, terlihat wajahnya gembira.

Jurusnya bertambah ganas, dia ingin sekaligus membuat Lu Nan-ren mati.

Kecuali Tianzheng-jiao berselisih dengan Tie-ji-wen-hou, dia juga ingn membalas dendam, di samping itu dia ingin membunuh Tie-ji-wen-hou yang terkenal di dunia persilatan, bila dia berhasil membunuh Lu Nan-ren, maka dia akan bertambah terkenal di dunia persilatan.

Sekarang posisinya berada di atas angin, tapi dalam beberapa puluh menit ini dia tetap tidak bisa memenangkan pertarungan ini.

Jurus-jurus Tie-ji-wen-hou tampak semakin melambat.

Semangat Zhu-sha-zhang bertambah, dengan jurus berbahaya, kedua telapaknya dibuka dan dada tampak sebuah lowongan besar.

Dari samping Lu Nan-ren bisa melihat lowongan ini dia tersenyum yang hampir tidak terlihat, dia maju selangkah, kemudian kedua jarinya diangkat dan dia menotok rusuk kiri You Da-jun.

"Orang ini telah tertipu,"

Pikiran itu melintas dengan cepat, dia membentak kemudian bagian dada dan perut ditarik, membuat jari Lu Nan-ren tidak bisa mengenai tempat yang diinginkan, kemudian tangannya membalas memukul.

Tie-ji-wen-hou berteriak, kedua kaki-nya menapak tanah, kemudian seperti sebuah panah terus meluncur, dengan lincah dia melompat ke atas kuda yang sedang menunggunya, kemudian kuda itu berlari seperti sebuah panah yang meluncur dengan kencang.

"Ilmu meringankan tubuh pemuda itu benar-benar bebat."

Setelah menyerang satu kali, Zhu-sha-zhang berhasil mengenai sasarannya, dia merasa sangat senang, tapi dia tidak berpikir jauh.

mengapa orang yang bisa ilmu meringankan tubuh pada tahap sudah tinggi malah kalah darinya?

Ketiga orang berbaju biru itu mengeluarkan suara bentakan mengejar Tie-ji-wen-hou yang sudah berlari jauh, dengan senang You Da-jun berkata.

"Orang itu sudah terkena pukulanku, dia tidak akan bisa hidup lebih lama lagi."

Dia tertawa.

"kita pelan-pelan bisa mengejarnya, kita tinggal mengambil mayatnya saja."

Kata-kata Zhu-sha-zhang, You Da-jun tentu bukan asal bicara, orang berbaju biru itu yakin sekali dengan kata-katanya, sayang mereka tidak tahu, sesuatu telah terjadi di luar dugaan mereka!

Tie-ji-wen-hou berlari dengan kencang, begitu merasa jarak dengan mereka cukup jauh, dia berhenti di sebuah tempat terpencil lalu turun dari kudanya.

Pertama-tama dia meneliti dulu keadaan di sekelilingnya, setelah memastikan tidak ada siapa pun selain dirinya, dia baru melihat ke arah sungai pelindung kota.

Walaupun sungai itu telah membeku, tapi terlihat permukaan sungai yang padat menjadi es hanya berupa lapisan tipis.

Dia tertawa dengan puas melihat keadaan itu.

"Semua sangat cocok dengan keinginanku,"

Diam-diam dia berpikir, lalu dia membuka baju bagian atasnya, muncullah kulit yang ditumbuhi dengan bulu-bulu rambut, udara dingin dengan cepat berhembus ke tubuhnya.

Tapi sepertinya dia tidak peduli, dari dalam sepatunya dia mengeluarkan sebuah pisau belati, lalu dengan cepat menggoreskan ketangannya, darah pun mengalir keluar.

Dia melakukannya dengan hati-hati supaya darah tidak sampai mengotori bajunya, dia menekan tangannya yang tergores dengan jarinya.

Darah jatuh bercucuran ke bawah.

Darah ini tidak bisa dibedakan apakah darah ini dari luka luar atau darah karena luka dalam yang dimuntahkannya?

Dalam waktu yang singkat dia selesai melakukan semua pekerjaan itu, kemudian di tempat di mana kudanya ditambatkan yaitu di sisi sungai, dia membuat jejak kaki kudanya menjadi berantakan.

Semua ini membuktikan kalau Tie-ji-wen-hou telah terkena pukulan Tie-sha-zhang yang dilancarkan oleh You Da-jun dan dilakukan di luar kota Bao-ding.

Karena muntah darah terus menerus akhirnya dia mati, karena dia tidak ingin mayatnya jatuh ke tangan Tian-zheng-jiao, maka dengan sisa tenaga penghabisan dia menerjunkan dirinya ke dalam sungai.

Dia seperti meninggalkan kekasihnya, dengan sedih dan berat hati dia meninggalkan kuda sakti yang selama ini selalu membuat orang iri, dan juga telah melewati beberapa perjuangan yang tidak akan pernah dilupakannya.

Dia melihat kuda itu untuk terakhir kalinya, kemudian dia menghembuskan nafas panjang.

Demi mengsukseskan rencananya, dia harus merelakan kudanya, ini adalah bagian dari rencananya yang terpenting.

Dia memang harus berbuat seperti itu, kalau dia tidak meninggalkan kudanya, orang-orang akan menduga kalau dia bisa lolos dari pukulan Zhu-sha-zhang, You Da-jun dan mereka akan curiga kalau Tie-ji-wen-hou tidak mati!

Dia menarik nafas dalam-dalam, dia ingin tinggal di tempat ini lebih lama, tapi saat itu terdengar hembusan angin yang menghantarkan suara ringkikan kuda, dia tahu sekarang ini adalah saat yang tepat bagi seorang Tie-ji-wen-hou untuk pergi meninggalkan dunia ini.

Walaupun dia mempunyai kesempatan untuk kembali lagi ke dunia ini, tapi sepertinya harapannya sangat tipis.

Kudanya meringkik, dia menyeka sudut mulutnya dengan tangan, entah itu air mata atau pasir yang masuk karena tertiup angin?

Kemudian dia meloncat, jari kakinya bertumpu ke pinggir sungai, tubuhnya yang panjang terbang melewati sungai pelindung kota yang lebarnya 15 meter.

Kedua tangannya direntangkan, dia sudah berada di atas dinding kota Bao-ding.

Dia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi menghilang di balik dinding pembatas kota Bao-ding.

Empat ekor kuda yang ditunggangi oleh Zhu-sha-zhang, You Da-jun dan kawan-kawan, berlari mengikuti jejak kaki kuda Tie-ji-wen-hou.

Mereka melihat kuda sakti yang berwarna merah menyala, dan kuda seperti itu hanya ada satu-satunya di dunia persilatan.

Kuda itu sedang berdiri di bawah hembusan angin dingin, di suatu sore yang dingin dan tampak sendiri.

Ditambah dengan rencana yang diusulkan oleh Lu Nan-ren, maka pada hari kedua berita kematian Tie-ji-wen-hou telah tersebar luas sampai ke pelosok dunia persilatan, membuat para pendekar memandang Zhu-sha-zhang, You Da-jun dengan pandangan tidak percaya.

Yang menaruh curiga kepada masalah ini hanya ada satu orang, dia adalah istri 'setia' Tie-jiwen-hou, 'Nyonya Xiao Hun' (membakar roh), Xue Ruo-bi, karena dia sangat mengetahui seluk beluk kepandaian suaminya.

Tapi dia tidak berani mengungkapkan kecurigaannya ini kepada kekasih baru-nya...Ketua Tianzheng-jiao Xiao-wu yang menguasai dunia persilatan secara kekerasan.

Ketua Tian-zheng-jiao sangat ingin Lu Nan-ren mati tapi begitu mendengarkan kabar kematiannya, dia hanya tersenyum saja.

Karena dia menganggap bila ribut dengan seseorang adalah pekerjaan yang membuang waktu dan sia-sia belaka.

Tidak ada orang yang berani ribut dengan langit, karena itulah nama perkumpulannya, Tian-zheng-jiao.

Karena hal itu pula maka Tie-ji-wen-hou kehilangan keluarga, rumah, dan juga istrmya.

Dan dia sendiri pun menghilang dari dunia persilatan.

Menyembunyikan jejak --BAB Menyembunyikan jejak Di balik dinding pembatas kota yang gelap, Lu Nan-ren bersembunyi lama di sana, kemudian dia membuka baju yang bentuknya pendek, dia mengeluarkan salah satu bungkusan kainnya yang selalu tersampir di tubuhnya.

Di dalam bungkusan kain itu ada satu stel pakaian biasa yang digunakan jaman itu.

Ada sebuah topi kulit yang biasa digunakan oleh orang Tionghoa bagian utara.

Saat dia berada di atas dinding pembatas kota, dia telah berubah seperti orang biasa, tidak ada bedanya dibandingkan dengan pedagang yang lalu lalang di kota Bao-ding.

Hanya saja apa yang sedang dia pikirkan saat ini berbeda dengan mereka, apa yang telah dia lewati berbeda dengan mereka.

Hatinya seperti dipatuk ular beracun terasa sakit, membuat wajahnya menjadi pucat, mata yang terlihat dari balik topi terlihat merah karena marah.

Dulu dia tinggal di pinggiran kota Su-zhou, dia mempunyai sebuah keluarga yang hangat, istri yang cantik dan menyenangkan, dia menceritakan keberuntungannya ini kepada semua orang.

Dia tidak seperti orang terkenal di dunia persilatan, tinggal di tempat terpencil atau tinggal di gunung.

Tapi dia tinggal di kota Su-zhou, dia tinggal ber-sama seorang istri yang terkenal dengan kecantikannya, menikmati kekayaan dan kehangatan keluarga, merasa tenang dan gembira.

Dan banyak pendekar yang datang mengunjunginya.

Mereka pun sering pergi melancong, di musim semi, mereka pergi berkelana di dunia persilatan, melihat pandangan iri dari orang-orang.

Kadang-kadang bila bertemu musuh, mereka tidak merasa takut malah musuh-musuh mereka itu bertekuk lutut di bawah sepasang Tie Ji nya.

Tapi nasib buruk akhirnya menimpa, dalam kurun waktu 5 tahun, Ketua Tian-zheng-jiao, yang bernama Xiao-wu, yang sangat ditakuti semua orang dan juga disebut sebagai orang paling berbakat dalam kurun waktu 100 tahun ini, di suatu kesempatan bertemu dengan Xue Ruo-bi, istri setia dari Lu Nan-ren, perempuan itu kemudian berubah menjadi seorang istri tidak setia, dia jatuh ke dalam pelukan Ketua Tian-zheng-jiao!

Ketua Tian-zheng-jiao, Xiao-wu, dengan kepandaian yang tinggi serta kejeniusannya, mengandalkan kekuatannya di dunia persilatan, berniat menghabisi Tie Jie Wen Hou.

Tapi Lu Nan-ren juga tidak mau menyerah, dia melawan dengan segenap kekuatannya.

Tapi dia kalah kuat, dia seperti orang persilatan lainnya, tidak berdaya melawan kekuatan Tianzheng-jiao yang hebat.

Beberapa kali dia hampir mati di tangan Ketua Baju Emas, Tiang-xiang yang ilmu silatnya tertinggi di Tian-zheng-jiao.

Meski tidak berdaya, dia tidak ingin mati begitu saja, dengan sekuat tenaga dia berhasil meloloskan diri dari Jiang-nan, berpura-pura mati untuk menipu Tian-zheng-jiao serta para pendekar dunia persilatan.

Dia bersembunyi di suatu tempat.

Tidak ada seorang pun yang menyangka, dia bersembunyi di sebuah jalan yang paling ramai di kota Bao-ding, tidak ada yang menyangka kalau dia tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh para pelajar yang gagal dalam mengikuti ujian negara, juga tidak ada seorang pun yang tahu kalau pelajar Jiang-nan yang bernama Yi-feng adalah seseorang yang pernah terkenal di dunia persilatan dengan julukan Tie-ji-wen-hou.

Di rumah itu, suara dengungan orang yang membaca terdengar terus.

Pelajar yang gagal menempuh ujian berusaha terus mencari mimpinya di dalam buku.

Kalau ada kesempatan datang, mereka akan segan-segan melangkahi banyak orang.

Seperti pelajar lainnya, Yi-feng pun membaca buku...berbagai jenis dan macam buku dibaca.

Sejak kecil dia belajar ilmu silat, dia tidak ada waktu belajar surat, sekarang secara perlahan dia bisa mendapatkan kepuasan dan penghiburan dari buku-buku yang dibacanya.

Semua membuat dia menjadi tenang dan menantikan datangnya kesempatan untuk membalas dendam.

Hari-hari dilalui dengan susah payah, seseorang yang sudah terkenal tiba-tiba terpuruk, banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan seperti ini, tapi Yi-feng bisa melewatinya.

Dua tahun kemudian...

Semua orang sudah mulai melupakan nama Tie-ji-wen-hou.

Sedangkan orang yang mulai dilupakan sedang menenteng sekeranjang buku, mengenakan baju baru, dengan obat warna kuning dia memoles wajah untuk menutupi wajah pucatnya.

Dia menundukkan kepala, kelakuannya seperti seorang pelajar yang gagal ujian.

Dia mulai melakukan perjalanan, hanya saja sekarang dia sudah bukan orang terkenal dari dunia persilatan lagi.

Ada kuda yang melintas dengan cepat, genangan air menciprat tubuhnya.

Dia melihat penungggang kudanya ternyata adalah orang yang dulu pernah minta petunjuk kepadanya dengan segala cara, memohon dan merayunya.

Terkadang dia duduk di rumah makan sambil mendengarkan para lelaki di sana mengo-brol dan menceritakan hal-hal yang terjadi di dunia persilatan.

Darah yang sudah lama tersumbat di dadanya seperti bergejolak kembali, tapi dengan cepat dia berusaha menekannya.

Semakin lama dia semakin mengetahui kekuatan Tian-zheng-jiao, ternyata kekuasaannya pun semakin melebar.

Perkumpulan-perkumpulan yang ada di dunia persilatan memang jarang mempunyai pesilat tangguh, sekalipun ada, mereka segera ditarik masuk menjadi anggota Tianzheng-jiao.

Sebenarnya usia Lu Nan-ren baru 26 tahun, tapi terlihat seperti seorang lelaki yang telah berusia 62 tahun, karena dia begitu kesepian dan hidupnya tenggelam.

Hanya karena teringat pada dendamnya yang dalam, membuat dia terus bertahan hidup dan menyimpan harapan besar.

Banyak orang bisa bertahan hidup di dunia ini karena mereka disokong oleh kekuatan yang datang dari harapan dan menunggu datangnya kesempatan.

Jika dia mulai merasa bosan terhadap kehidupan kota, dia pergi ke gunung, setelah memastikan di sana tidak ada seorang pun, dia berlatih ilmu silat yang selama ini tidak pernah dia lupakan.

Dia mendaki gunung yang biasanya tidak sanggup didaki oleh orang-orang.

Yang pasti dia sedang menunggu suatu mujizat.

Mujizat apa yang akan terjadi pada orang yang telah tertindas seperti dirinya?

Hua-shan adalah salah satu gunung yang terkenal di antara 5 gunung besar yang ada di Tiongkok.

Gunung itu tinggi dan pemandangan di sana sangat indah, apalagi di saat musim semi dan musim gugur, banyak pelancong yang datang ke sana.

Tapi saat musim dingin hawanya sangat dingin, siapa yang tertarik menikmati keindahan pemandangan salju?

Siapa pun tidak akan mau terancam jatuh terguling dari atas gunung?

Atau terpeleset karena mendaki gunung?

Tapi saat ini di puncak Hua-shan, ada seseorang yang bergerak lincah seperti seekor kera, tampaknya sedang mendaki gunung itu.

Setelah diteliti dengan seksama ternyata orang yang mendaki gunung itu adalah orang yang telah lama menghilang dari dunia persilatan, dia adalah Lu Nan-ren..

.Yi-feng.

Pohon-pohon di gunung itu telah lama mati, dia meloncat di atas bebatuan yang telah tertutup salju.

Dia melihat ke sekeliling, semua terlihat hanya warna putih, hutan yang luas, pohon-pohon yang berdiri dengan tegak, dan rasa dingin yang terus menyengat.

Di saat seperti ini dia baru menyadari kalau dia sangat kecil di dunia iniNKarena sangat kecil tekanan dan beban di dadanya> saat itu menjadi terasa kecil, dia merasa bebannya terlepas dan perasannya menjadi nyaman.

Dia ingin berteriak dan juga bernyanyi, tapi tidak bisa.

Kalau ini terjadi beberapa tahun lalu, dia pasti akan melakukannya tanpa ragu.

Sekarang dia hanya mempunyai keberanian mengambil nafas panjang.

Sepertinya kalau sekarang dia bersiul malah akan mengejutkan orang, tapi apakah di tempat dingin seperti ini ada orang lain?

Dia berdiri terpaku di atas sebuah batu gunung, angin gunung berhembus, dia seperti mengikuti hembusan angin goyang ke kiri dan ke kanan, dia tenggelam dalam keindahan alam di sana.

' Tiba-tiba terdengar sebuah suara walau-pun sangat kecil, suara itu berasal dari belakang-nya.

"Bu, apakah dia akan terjatuh?"

Seorang gadis dengan nyaring berkata.

"tapi tadi aku melihatnya dia bisa ilmu silat!"

Suara itu enak didengar, tapi tetap saja membuat Lu Nan-ren terkejut, dia segera membalikkan tubuh, tapi di belakangnya hanya ada dinding gunung dan ada sebuah pohon yang tertiup angin hingga bergoyang-goyang.

Di depan dinding gunung adalah tanah kosong, mungkin saat musim panas pohon-pohon tumbuh dengan lebat di sana.

Tapi sekarang Lu Nan-ren bisa melihat sampai ke ujung dinding gunung, tidak ada seorang pun di sana!

Siapa pun yang berhadapan dengan situasi seperti ini akan terkejut dan gemetar, kaki menjadi lemas.

Apalagi saat ini Lu Nan-ren sedang menghindari musuh, apakah dia harus berpura-pura mati?

Dia merasa keringat dingin mulai bercucuran, tapi matanya masih terus mencari-cari pemilik suara itu, tiba-tiba matanya berhenti di suatu tempat, karena di dinding gunung itu ternyata ada sebuah gua, dari dalam gua itu terlihat sepasang mata yang sedang berputar-putar.

Dia maju selangkah, dia memasang kuda-kuda, apa yang akan terjadi, mungkin yang dihadapinya sekarang ini adalah musuh.

Setelah melewati hari-hari tenang, bertemu keadaan seperti ini, membuatnya merasa tegang.

Dia berjalan selangkah demi selangkah, dia telah bertekad kalau orang itu melakukan sikap yang mencurigakan, meskipun hanya sedikit saja, dia segera akan membunuh orang itu.

Karena dia tidak ingin siapa pun mengetahui jejak dan identitasnya, kalau tidak, dia yang akan mati.

Jaraknya dengan sepasang mata itu semakin dekat, dia merasa sepasang mata itu pun terus menatapnya, karena sangat gelap, dia tidak bisa melihat dengan jelas pemilik sepasang mata itu.

Tiba-tiba sepasang mata itu meloncat keluar dari dalam gua, dia mengayunkan tangan-nya, angin telapak yang kuat segera berhembus, sepasang mata berikut tubuhnya terkena getaran telapaknya dan pemilik mata itu menghantam batu gunung, dia mengerang dan mati.

Dengan menahan rasa terkejut Yi-feng terus melihat, ternyata sepasang mata itu milik seekor kucing hutan, diam-diam dia mentertawakan kebodohannya.

Siapa pemilik suara orang yang bicara tadi dan dari mana asalnya?

Setelah menertawakan kebodohannya, dia mulai merasa terkejut karena orang yang bersem-bunyi itu mungkin saja musuhnya.

Dalam keadaan seperti ini bisa dipastikan orang itu adalah musuhnya, dan dia pasti orang yang sulit dihadapi.

Dia memutar tubuhnya, tenaganya telah terkumpul, dia percaya kalau menyerang dengan sekuat tenaga, tenaga yang dikeluarkan cukup dahsyat.

Angin terus berhembus, pemandangan di sana masih sama, tapi tidak terlihat bayangan manusia.

Dia tidak tahan lagi akhirnya dia bersuara.

"Aku adalah Yi-feng, aku datang ke Hua-shan hanya untuk melancong, kalau boleh tahu siapa yang bicara tadi? Harap bisa keluar dan bicara langsung kepadaku?"

Dari nada suaranya terdengar kalau dia kehilangan rasa tenangnya yang biasa, memang semua hal yang tidak diketahui akan menimbul-kan takut.

Ucapannya telah selesai, tapi tetap tidak ada yang menjawab, dia masih terus mencari-cari, tapi dia tidak berani bergerak.

Karena dia takut sewaktu dia meninggalkan tempat itu, orang yang sedang bersembunyi itu akan melarikan diri, dia pun takut kalau tubuhnya bergeser, dia akan diserang.

Ini semua dia lakukan bukan karena terlalu banyak berpikir, yang perlu kita ketahui, sewaktu dia dikejar dia akan dibunuh oleh orang-orang Tian-zheng-jiao.

Kalau dia tidak bertindak hati-hati dan teliti, mungkin dia sudah mati 10 kali.

Sekarang di gunung terpencil ini, dia sama sekali tidak berani bertindak ceroboh.

Karena bila dia berbuat ceroboh dia akan mati.

Walaupun dia tahu kalau suara itu adalah suara seorang gadis tapi ketakutannya di dalam hati tidak berkurang sedikit pun.

Dia merasa aneh di tempat seperti ini ada suara seorang anak perempuan, mengapa setelah kata-kata tadi keluar, tidak terdengar lagi suara lanjutannya?

Dan juga orang yang bicara itu tidak muncul di hadapannya?

"Pasti ini suatu rencana busuk?"

Dia berpikir untuk lebih berhati-hati.

Satu jam telah berlalu.

Dua jam hampir berlalu, gunung itu tetap sepi, sepi seakan-akan semua makhluk hidup di dunia ini telah mati.

Kicauan burung atau pun suara binatang lainnya tidak terdengar.

Dia membuka matanya lebih lebar, karena lama tidak diistirahatkan, matanya mulai terasa pedih, tapi dia mendengar suara angin dan ranting pepohonan yang patah.

Tapi dia tidak melihat apa pun di sana, juga tidak mendengar suara lainnya lagi.

Satu jam telah berlalu lagi.

Dia mulai curiga kepada dirinya sendiri, 'Apakah orang yang bicara tadi sudah pergi?

Masa aku harus menunggunya di sini sampai mati?

Kalau tidak, dia tidak akan bersembunyi begitu lama.' Dia memastikan semenjak mendengar suara orang itu hingga dia membalikkan badan, tidak ada seorang pun yang kabur dari belakangnya.

"Kecuali kalau orang itu bisa terbang."

"Kalau dia belum pergi, dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat di mana aku tidak mengetahuinya, tapi orang itu melakukannya dengan tujuan apa?"

Dia mencari suatu jawaban untuk dirinya sendiri, 'Dia pasti takut kalau aku melihatnya.' Karena masih curiga, dia masih menanti dengan tegang.

Sore telah tiba, dia masih berdiri di sana, tapi hatinya gelisah, karena kalau malam tiba, tempat di mana dia berdiri sekarang, bukan tempat yang menguntungkan.

Tadinya musuh berada dalam gelap sedangkan dia berada di tempat terang, kalau orang itu berniat melarikan diri atau menyerangnya, itu akan lebih mudah.

Yang perlu diketahui, dia bukannya tidak merasa khawatir, melainkan setelah beberapa kali melewati batas antara hidup dan mati, dia baru bisa bertindak dan berpikir seperti itu.

--BAB Di Hua-shan Tiba-tiba...penantiannya tidak sia-sia, dia mendengar ada suara sangat kecil, tapi dia bisa memastikan kalau suara itu berasal dari seseorang.

Semua ini berdasarkan pengalaman-nya yang lama berkelana di dunia persilatan, tapi dia percaya pengalaman tidak akan membohongi-nya.

Karena itu diam-diam dia memasukkan kedua tangannya ke dalam baju, dia mencengkram uang logam, dengan cara 'Man-tian-hua-yu' (Langit penuh hujan bunga), dia siap melepaskan uang logam itu kalau musuh menyerang.

Tentu saja uang logam tidak akan setajam Jin-qian-biao, tapi bila uang logam jika dilempar dari tangan seorang pesilat tangguh, tenaganya akan sama dahsyatnya.

Uang logam itu membawa suara tajam, dia menyerang ke tempat di mana dianggapnya ada orang yang sedang bersembunyi.

Ternyata di sana ada sebuah gua, tapi gua itu sangat kecil dan dalam, sama sekali tidak bisa melihat keadaan di dalamnya.

Uang logam telah ditembakkan masuk ke dalam gua, seperti sebongkah batu yang tenggelam ke dasar laut, bayangannya tidak terlihat lagi.

Hal ini membuat Yi-feng bertambah kaget, karena itu dia bisa segera memastikan ada orang di dalam gua.

Tapi dia tidak berani berjalan mendekati gua itu, kalau orang yang bersembunyi itu memang berniat melukainya, itu akan lebih mudah dibandingkan di tempat terang.

"Sobat, kalau kau laki-laki sejati, keluar-lah!"

Dia membentak. Suaranya belum habis, dari dalam gua terdengar suara tajam.

"Keluar ya keluar, memangnya aku takut kepadamu?"

Terlihat bayangan seseorang meloncat keluar, belum sempat Yi-feng melancarkan serangan, terdengar ada angin yang menyerang kearahnya.

Itu adalah suara senjata rahasia yang tadi dilepaskan oleh Yi-feng, sekarang orang itu mengembalikannya lagi pada Yi-feng.

Cara lemparannya sangat aneh, walaupun saat itu gelap, tapi dia bisa memastikan arah serangannya tertuju pada nadi penting.

Lebih anehnya lagi, ternyata senjata rahasianya tadi disambut dengan cara aneh oleh orang itu.

Yi-feng terkenal di dunia persilatan, tapi melihat cara orang itu menyambut senjata rahasianya, dia merasa terkejut.

Dia tidak sempat berpikir banyak, tangannya dilambaikan, dia menggetarkan senjata rahasia itu jatuh ke tempat jauh.

Sosok orang itu telah berada di hadapannya bertepatan dengan senjata rahasia itu jatuh ke tanah.

Angin pukulan tangan terasa kencang, hanya dalam waktu singkat 3 jurus telah menyerang Yi-feng dari arah yang berbeda.

Ketiga jurus itu datang seperti angin, walaupun hanya 3 jurus, tapi Yi-feng merasa seperti ada 3 telapak yang menyerangnya.

Dalam keadaan seperti itu tidak ada waktu lagi baginya untuk melihat siapa yang menyerangnya, dia memutar tubuhnya, balas menyerang.

Yi-feng dalam waktu begitu singkat bisa terkenal di dunia persilatan, tentu saja dia mempunyai keistimewaan dengan ilmu silatnya.

Karena itu saat dia diserang secara tiba-tiba, dia masih bisa berbalik menyerang.

Bayangan orang itu bergerak dengan cepat, tangan kirinya dibalikkan, jarinya siap menotok, kemudian tangan kananya diputar, dia menyerang lagi dengan telapaknya.

Jurus ini menyerang sekaligus bertahan, benar-benar sangat indah.

Yi-feng tahu dia telah bertemu dengan musuh kuat.

Dia memutar tubuhnya, kedua telapaknya dijulurkan, dia mengerahkan seluruh tenaganya.

Jurus-jurus orang itu memang aneh, tapi serangan yang dilakukan Yi-feng dengan tenaga sangat kuat, orang itu tidak berani menyambutnya, tubuhnya diputar berusaha untuk menghindar, Selama berkelana di dunia persilatan, Yi-feng telah melakukan beberapa kali pertarungan sengit, bertemu dengan keadaan seperti ini dia tidak akan memberikan kesempatan kepada lawan untuk bernafas, maka kaki kanannya maju dan menghentak, dia mengeluarkan serangan telapak yang sangat dasyat.

Yi-feng melihat orang itu bergerak sangat lincah dan juga cepat, jurus-jurusnya pun aneh, tapi tenaga dalam orang itu berada di bawahnya, maka dia berani menyerang dengan keras.

Ini adalah keputusan yang diambilnya berdasarkan pengalamannya saat berhadapan dengan musuh.

Benar saja, sosok orang itu masih tidak berani menyambut serangannya, orang itu malah mundur, seperti terkejut saat berhadapan dengan tenaga telapak Yi-feng.

Semangat juang Yi-feng pun tumbuh, saat itu juga, dia melihat ada hal aneh...dalam kegelapan orang yang memiliki ilmu silat tinggi ini, ternyata seorang gadis cilik, tubuhnya kecil dan tampak lemah, usianya paling-paling baru 14-15 tahun.

'Pantas tenaga dalamnya lemah,' Yi-feng berpikir, 'tapi ilmu silat gadis sekecil ini cukup hebat.' Yi-feng merasa terkejut.

Orang-orang terkenal di dunia persilatan baik dari golongan hitam ataupun golongan putih, yang pernah bertarung dengannya sangat banyak, tapi belum pernah dia bertemu dengan keadaan seperti ini.

Dia belum siap sudah diserang, hal ini benar-benar membuatnya malu.

Kenyataannya, ilmu silat gadis ini berada di atas para pendekar yang sudah terkenal, tentu identitas gadis ini pantas untuk diselidiki.

Dia ragu dengan pertarungan ini apakah harus diteruskan atau dihentikan?

Dengan nama besarnya apakah dia boleh bertarung dengan seorang gadis kecil?

Dia sendiri masih belum tahu alasan gadis kecil ini menyerangnya.

Sebelumnya dia tidak tahu apakah yang menyerangnya kawan atau lawan?

Setelah dia melihat yang menyerangnya ternyata seorang gadis kecil, pikirannya mulai goyah.

Dalam keragu-raguannya, mereka sudah bertarung beberapa jurus lagi, ternyata kemampuan gadis kecil ini berada di atas Yi-feng.

Yi-feng sadar semua ini terjadi karena dia tidak tenang, dari sini bisa diketahui kalau ilmu silat gadis kecil ini selain tenaga dalamnya berada di bawah Yi-feng, kemampuan yang lainnya hampir sama.

"Siapakah guru gadis kecil ini?"

Dia merasa semakin tidak tenang.

Gadis itu bertarung tanpa suara, seperti-nya dia menyimpan dendam yang dalam kepada Yi-feng.

Kedua belah pihak tidak menanyakan identitas masing-masing, mereka tetap bertarung dengan seru.

Pasti ada kesalahpahaman.

Sambil bertarung Yi-feng memikirkan tentang hal ini.

Karena kurang memusatkan pikiran, gerakan tangannya sedikit lambat, dia merasa sikunya mati rasa, ternyata sikunya telah terkena totokan jari gadis itu, akibatnya gerakan tangan-nya menjadi kurang leluasa.

Dia segera memusatkan pikirannya, dengan sepenuh hati melawan musuh.

Gerakan mereka sangat cepat, dalam waktu sebentar saja sepuluh jurus telah lewat, karena Yifeng sedikit ragu, maka dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

Setiap jurus yang dilancarkan gadis itu semakin cepat, dan jurus-jurusnya pun aneh.

Yi-feng yang penuh dengan pengalaman hidup masih tidak bisa memastikan dari perguruan mana asal gadis ini.

Mereka bertarung di tempat yang sempit, pesilat tangguh memang tidak membutuhkan tempat luas.

Tempat yang terkena angin dari telapak tangan Yi-feng, karena di sana dikelilingi oleh ranting kayu, terlihat ranting kayu banyak yang rusak karena tebasan angin telapak Yi-feng.

Sewaktu mereka bertarung terdengar suara dari jurus yang dikeluarkan.

Yi-feng merasa cemas, di tempat ini walaupun adalah gunung terpencil, tapi di sini juga adalah tempat di mana banyak pendekar sering datang, dia tidak ingin identitasnya sampai terbongkar.

Dia pun tidak mau bertarung tanpa alasan jelas, diam-diam dia memutuskan untuk melarikan diri.

Maka dia pun membentak lawan, dan bertanya.

"Jelaskan siapa dirimu! Kalau tidak ada hubungannya denganku, dan tidak mengenal diriku, tidak perlu melanjutkan pertarungan lagi!"

"Mungkin orang ini adalah orang dunia persilatan yang sedang bersembunyi, mereka tidak ingin identitas mereka sampai diketahui, mungkin juga ini hanya salah paham, mereka mengira kalau aku berniat jahat, maka sejak tadi kami terus bertarung tanpa bicara!"

Pikirannya terus berputar-putar, akhirnya dia telah mengambil keputusan, cara ini yang paling dekat untuk mendapatkan bukti.

Inilah salah satu kelebihannya dibandingkan dengan orang lain, di dalam keadaan terjepit sekalipun masih bisa memikirkan hal untuk menyelamatkan dirinya.

Karena itu dia segera mengeluarkan jurus menyerang sedikit lebih keras, dalam hati dia terus berpikir, harus dengan cara apa supaya tahu kalau gadis di depannya ini lawan atau kawan?

Dia berusaha berpikir, tapi dengan cepat pikirannya terputus, karena telah terjadi suatu peristiwa....

Dia melihat di tempat di mana gadis itu muncul tadi, ada sesosok yang baru muncul, Yi-feng berteriak di dalam hati, 'Celaka!

jika ilmu silat orang itu seperti gadis ini, tanpa banyak tanya langsung menyerang, aku yang akan celaka!' Dia tidak berpikir hal ini bisa terjadi karena dia tidak banyak berpikir, ini bukan salahnya dan dia tidak bisa menyalahkan orang lain.

Gadis itu melihat sosok yang muncul, dia segera berteriak.

"Bu, orang ini bukan orang baik-baik, mungkin dia datang ke sini untuk mencari tahu tentang kita, jangan lepaskan dia begitu saja!"

Alis Yi-feng berkerut! Sosok orang itu telah berhenti dan berkata.

"Ling-er, hentikan dulu pertarungannya, biar ibu tanya dulu kepadanya."

Gadis itu tampak tidak suka, tapi mundur juga beberapa meter. Yi-feng tidak menyerangnya lagi, dia memberi hormat dan berdiri, sosok yang datang terakhir itu sudah bertanya.

"Sahabat datang dari mana? Apa tujuannya kemari?"

Nada bicaranya terdengar dingin, di balik kata-katanya ada maksud.

"kalau kau tidak mengatakan alasannya dengan jelas, jangan harap bisa lolos hidup-hidup dari sini!"

Dengan seksama Yi-feng menatap ternyata yang datang adalah seorang perempuan, walaupun gelap tapi dari pantulan cahaya redup terlihat kalau dia adalah seorang perempuan cantik.

Dia masih bengong, perempuan itu berkata lagi dengan dingin.

"Sahabat, kalau kau datang ke Hua-shan untuk meracuni kami, aku katakan kepadamu, hari ini kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup!"

Kata-katanya seperti orang yang sering berkelana di dunia persilatan, artinya dia sering malang melintang di dunia persilatan.

Karena marah dalam hati berpikir, 'Apakah Hua-shan adalah milikmu sehingga aku tidak boleh datang ke sini?' "Bu, orang ini sangat misterius, dia diam di sini selama 3-4 jam, dia pun sering tengok sana tengok sini!

Dia pasti mata-mata orang itu!"

Dari kata-kata gadis ini sudah dapat dipastikan kalau dia menuduh Yi-feng bukan orang baikbaik.

Yi-feng tahu kalau ke salahpahaman yang terjadi sudah sangat dalam, bagaimana dia bisa menjelaskan hal sebenarnya?

Maka dia hanya bisa diam dan terpaku.

"Namaku Yi-feng, aku datang ke Hua-shan sekedar ingin melancong, aku tidak berniat jahat ke pada kalian,"

Jawabnya dengan pelan.

Sekarang bisa dipastikan kalau ibu dan anak itu bukan musuhnya, dia berharap ibu dan anak ini bisa mengerti maksud kedatangannya ke sini, dan dia pun bukan musuh mereka.

Terdengar gadis itu berteriak.

"Hei!"

"Kalau kau secara kebetulan ke Hua-shan, mrngapa kau diam saja di sini selama beberapa jam? Apakah di sini ada tambang emas?"

"Melihat ilmu silat Tuan, sepertinya Tuan adalah pesilat terkenal, tapi aku belum pernah mendengar nama Yi-feng."

Ibu dan anak ini kata-kata yang mereka ucapkan selalu terdengar tajam.

"Aku tidak berniat jahat, aku pun tidak tahu siapa kalian sebenarnya, kalau kalian tetap tidak percaya aku tidak bisa menjelaskan lagi. Jujur bicara, aku pun sedang ada kesulitan yang tidak bisa dijelaskan, harap kalian berdua bisa maklum, aku tidak akan menyebarkan berita tentang kalian di sini kepada pihak luar."

Sifat Yi-feng sebenarnya sangat sombong, apalagi saat dia baru lulus dari berguru ilmu silat dia langsung punya nama baik, dia tidak pernah diintrogasi seperti ini, maka dari nada bicaranya terdengar dia tidak senang dan nada bicaranya mengandung arti, percaya atau tidak terserah padamu!

Tapi setelah mendengar kata-katanya, sikap perempuan itu terlihat lebih ramah.

"Bagaimana kami bisa percaya padamu?"

Kata-katanya masih bernada introgasi, tapi sudah tidak dingin lagi.

Yi-feng terpaku dan berpikir, 'Ibu dan anak ini pasti juga sedang menghindari musuh, mereka bersembunyi di Hua-shan, ilmu silat mereka sangat tinggi, siapakah musuh mereka?' Dia mulai mengerti mengapa mereka begitu tegang karena dia sendiri pun seperti itu.

Sekarang ada orang yang bertanya padanya kalau dia tidak menjawab baik-baik, akan membuat orang lain merasa tidak puas dengan jawab-annya, tapi bagaimana cara dia menjawabnya?

--BAB Duo-ming-shuang-shi Tiga orang dengan 6 mata saling memandang, kecuali suara angin, suara lainnya tidak terdengar.

Tiba-tiba ditempat Yi-feng berdiri tadi, muncul 4 mata melihat mereka.

Pemilik keempat mata ini baru saja turun gunung, tapi Yi-feng, ibu dan anak ini sama sekali tidak merasakan kehadiran mereka, dengan ilmu meringankan tubuhnya mereka lewat begitu saja dari pandangan mereka, mereka pasti pesilat tangguh.

Yang pasti dikarenakan mereka bertiga terus memperhatikan orang yang didepannya, maka tidak sempat melihat ke arah lain.

Yi-feng menarik nafas.

"Aku benar-benar tidak sengaja masuk ke Hua-shan, apalagi bermaksud jahat kepada kalian berdua. Jika kalian tidak percaya, aku tidak berdaya untuk membuat kalian percaya...."

"Bila kau mau menceritakan maksud kedatanganmu kemari itu sudah cukup. Yang perlu kau ketahui, kau mempunyai kesulitan yang tidak bisa kau ceritakan-kepada kami, demikian juga dengan kami."

Yi-feng berpikir sebentar lalu berkata.

"Aku yakin kalian berdua pasti sedang menghindari musuh, hanya saja musuhku lebih lihai dari kalian, aku benar-benar...."

Gadis itu membentak.

"Apakah kau tetap tidak mau bicara?"

Kemudian dia berkata lagi.

"Bu! Jangan banyak bicara lagi dengannya, dia bicara berbelit-belit, pasti berniat jahat, mungkin dia mata-mata Tian-zhengjiao!" 'Tian-zheng-jiao', ketiga kata ini membuat Yi-feng terkejut. Dia berpikir, 'Ternyata musuh mereka juga Tian-zheng-jiao.' Karena merasa mempunyai musuh yang sama, dia sudah bersiap-siap menceritakan siapa dia sebenarnya. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menusuk telinga dari belakang.... Tawa ini membuat ketiga orang yang ada di sana terkejut dan segera menengok. Di atas sebuah batu besar, telah berdiri 2 orang. Mereka bergerak mengikuti arah angin, mereka seperti berdiri miring, baju mereka yang lebar membungkus tubuh mereka yang sebesar bambu. Mereka sangat kurus seperti orang-orangan sawah. Kepalanya seperti sangat berat membuat leher mereka yang kecil terlihat lemah dan seakan mau putus. Bentuk tubuh mereka benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya terkejut. Yang membuat Yi-feng terkejut adalah mereka memakai baju panjang berwarna emas! "Tian-zheng-jiao!"

Ketiga kata ini seperti guntur menyambar hati Yi-feng, ibu dan anak itu.

"Hei! Hei! Hei!"

Dua orang ini bersama-sama membuka suara, mereka seperti sudah berjanji.

"Baiklah, kami 2 bersaudara sangat beruntung bisa bertemu dengan nyonya pendekar dari 3 propinsi Ling-bei-xiu di tempat terpencil seperti ini!"

Wajah perempuan itu segera memucat.

Di malam hari seperti sekarang, wajah yang pucatnya terlihat sangat menakutkan.

Dengan pandangan marah perempuan itu melihat Yi-feng dan membuat Yi-feng sedikit bergetar.

Yi-feng tahu kalau perempuan itu pasti menduga kalau dia yang membawa kedua orang itu, dia merasa kesalah-pahaman yang terjadi di antara mereka semakin dalam.

"Tapi mengapa kedua siluman ini bisa datang di saat seperti sekarang ini?"

Tanpa banyak berpikir lagi, dia tahu kalau kedua orang ini adalah orang yang sangat ditakuti oleh kalangan dunia persilatan, mereka ber-nama Duo-ming-shuang-shi' (Sepasang mayat pencabut nyawa), karena di dunia persilatan ini, hanya mereka yang mempunyai bentuk tubuh seperti itu.

'Duo-ming-shuang-shi' merupakan saudara kembar, sejak kecil mereka selalu sangat kompak, ilmu jari mereka sangat tinggi, pecut panjang selalu terselip di pinggangnya, pecut itu lebih terkenal di dunia persilatan.

Ketika bertarung mereka sangat kompak dan tidak terlihat ada celah untuk menyerang mereka.

Sifat mereka sangat aneh, tapi entah mengapa mereka bisa masuk menjadi anggota Tianzheng-jiao.

Mereka berdua adalah salah satu dari 19 orang berbaju emas yang berilmu silat tertinggi dari Tian-zheng-jiao.

Di kota Bao-ding, Zhu-sha-zhang yang pernah pernah bertarung dengan Lu Nan-ren, dia berada pada urutan ke-18 dari 19 orang berbaju emas, dibandingkan dengan mereka, kemampuannya berbeda jauh.

Dalam urutan di Tian-zheng-jiao angka urutannya makin kecil ilmu silatnya makin menunjukkan kemampuan yang mereka miliki, mereka terbagi menjadi 5 kelompok.

Kemampuan ilmu silat tertinggi adalah kelompok berbaju emas.

Urutan berikut adalah kelompok berbaju ungu, disusul biru, coklat, dan hitam.

Kelompok berbaju hitam adalah berada di urutan terbawah.

Ternyata perempuan itu adalah janda dari pendekar 3 propinsi, bernama..Sun-ming.

Pendekar tiga propinsi telah lama berkelana, kehebatan ilmu telapaknya di 3 propinsi.

Ketika Tian-zheng-jiao berniat memperlebar sayap kekuasannya, Pendekar 3 propinsi ini bertarung dengan orang berbaju emas dari Tian-zheng-jiao.

Dia terkena dua senjata aneh, dia terluka parah dan langsung meninggal.

Tian-zheng-jiao sangat kejam, mereka tidak melepaskan janda dan anak yatim ini begitu saja, walaupun mereka bersembunyi di Hua-shan yang terpencil mereka tetap mengejar ibu dan anak ini.

Hingga sekarang mereka bertemu dengan pembunuh sadis dari dunia persilatan....Duo-mingshuang-shi.

"Nyonya Ling!"

Duo-ming-shuang-shi berkata dingin.

"Ketua kami sangat merindukan Anda! Sudah lama tersiar kabar kalau Anda adalah si cantik dari dunia persilatan, mengapa Anda tega membiarkan ketua kami menunggu terus?"

Raut wajah kedua mayat pencabut nyawa ini membuat bulu kuduk merinding. Mereka pelan-pelan mendekati ketiga orang itu sambil berkata lagi.

"Nyonya, lebih baik Anda ikut kami untuk bertemu dengan ketua kami!"

Gadis itu adalah putri Pendekar San-xiang (3 propinsi) yang bernama Ling-lin, dia merasa marah, dia membentak.

"Siluman, jangan banyak bicara lagi! Jika kalian ingin mati, biar aku yang mengantarkan nyawa kalian ke akhirat!"

"Apa? Siluman?" 2 bersaudara Duo-ming-shuangg-shi serempak tertawa terbahak-bahak.

"Nona kecil ini sangat lucu, setelah dewasa nanti pasti akan seperti ibumu yang cantik!"

Mereka melewati Yi-feng begitu saja, mereka sama sekali tidak mempedulikannya, malah boleh dikatakan mereka seperti menganggap Yi-feng tidak ada disana.

'Apakah mereka tidak mengenaliku?' pikir Yi-feng pertanyaannya ini segera mendapat jawaban.

Gong-shen, salah satu dari Duo-ming-shuang shi mendorong Yi-feng dan berkata.

"Sepertinya sahabat kita ini juga masih ada urusan yang belum terselesaikan dengan Nyonya Ling tapi urusanku lebih penting, aku harap kau nunggu dulu!"

Gong-you juga tertawa kepada Yi-feng, seperti ingin bersikap ramah kepada Yi-feng.

Jarak Sun-ming dengan Duo-ming-shuang-shi semakin dekat, apakah istri Pendekar Ling ini bisa melawan mereka?

Pendekar San-xiang memang sangat ter-kenal, tapi Yi-feng tetap mengkhawatirkan keadaan mereka.

Yang penting dia tidak benci ibu dan anak ini, apalagi musuh mereka ternyata sama.

Karena itu dia diam-diam menarik nafas dan berpikir, 'Aku sendiri pun tidak mampu menjaga diri, selain itu mereka ternyata tidak mengenaliku, lebih baik aku pergi dari sini saja.

Jika aku bertarung dengan mereka, kedua siluman ini pasti ikan langsung mengenaliku.

Mungkin saat itu orang yang mereka cari adalah aku, bukan ibu dan anak ini."

Dia menolehkan kepalanya agar tidak melihat ke arah mereka berempat.

"Tidak akan terjadi apa-apa pada mereka,"

Dia mencoba menghibur dirinya.

"apalagi aku tidak kenal ibu dan anak ini. tadi mereka yang memaksaku bertarung, bila aku sampai tidak bisa membela mereka, juga tidak apa...."

Walaupun berpikir seperti itu, tapi hati nuraninya tetap tidak tenang.

Dia berjalan sebentar, baru saja dia bersiap akan pergi dari sana, terdengar teriakan.

Sambil terpaku dia menolehkan kepalanya untuk melihat, karena dia menganggap siapa pun yang menang atau kalah, tidak akan dengan cepat diputuskan saat itu.

Karena Yi-feng menolehkan kepalanya, nasib dia jadi berubah seumur hidupnya, juga membuatnya mengambil keputusan penting.

Apakah dia membalikkan kepala ini adalah tindakan benar atau salah?

Tapi dalam keadaan seperti ini apakah dia bisa bersikap tidak peduli?

ooo Bab Di bawah sinar rembulan Dua saudara Duo-ming-shuang-shi pergi ke Hua-shan tapi mereka tidak pernah kembali, hal ini membuat Tian-zheng-jiao terkejut, akhirnya mereka pun memerintahkan beberapa orang untuk memeriksa ke Hua-shan.

Akhirnya di sudut Hua-shan yang terpencil, mereka menemukan 2 mayat Duo-ming-shuang-shi.

Mereka yang dijuluki dua mayat pencabut nyawa, sekarang mereka benar-benar telah menjadi mayat.

2 bersaudara ini mati dengan cara sangat mengenaskan, yang satu wajahnya rusak, seperti dicakar dengan ilmu cakar elang.

Sedangkan yang batu lagi terkena 5 pukulan telapak, membuat tulang dan nadinya putus, mungkin juga organ dalamnya telah hancur!

Peristiwa ini membuat dunia persilatan menjadi geger, banyak orang menebak-nebak, siapakah kira-kira orang yang telah membunuh Duo-ming-shuang-shi?

Apalagi bagi Tian-zheng-jiao, mereka mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatan mereka untuk memeriksa keadaan di Hua-shan.

Sebatang rumput pun di Hua-shan tidak lolos dari penyelidikan, tapi mereka tetap tidak berhasil menemukan si pembunuh Dalam kelompok baju biru, ada seorang ketua jabatannya tidak terkenal, dia telah menemukan sebuah jalan rahasia di Hua-shan.

Setelah melewati jalan rahasia ini, di depan terbentang sebuah lembah kecil, di sana terlihat asap, dan di tanah terlihat banyak tumpukan kayu bekas terbakar, sepertinya di sini pernah tinggal sebuah keluarga, tapi rumah mereka telah habis dibakar oleh seseorang.

Dengan adanya bukti-bukti tersebut, bisa ditebak kalau di lembah ini pernah tinggal orang dunia persilatan dan sepertinya mereka berusaha menghindari orang mencari mereka, jelas sekali kalau mereka berusaha menghindari kejaran Tian-zheng-jiao.

Ketika sepasang mayat pencabut nyawa ini bertemu orang ini, tentu mereka bertarung dengan sengit, tapi dengan ilmu jari dan telapak orang ini, telah membuat orang dunia persilatan geger, dua bersaudara Gong ternyata bukan lawan orang ini.

Orang ini telah membunuh dua bersaudara Gong dan tahu kalau dia tidak bisa bersembunyi lagi di Hua-shan, karena itu dia memutuskan membakar rumahnya sendiri, dan orang tersebut melarikan diri lagi untuk kedua kalinya.

Perkiraan ini mendekati dengan keadaan sebenarnya, sebenarnya siapakah orang yang dimaksud?

Anehnya dia berhasil membunuh 'Duo-ming-shuang-shi' yang terkenal sadis di dunia persilatan Ada yang menebak kalau orang yang menghindar dengan cara berdiam di Hua-shan itu, bukan hanya ada satu orang, mungkin saja mereka suami istri, adik kakak, guru murid, atau ayah dan putra....

Bermacam-macam tebakan timbul dalam pikiran kalangan persilatan, tapi pendapat mereka tidak ada yang sama.

Sebenarnya di dunia persilatan ini tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dua bersaudara Gong ini?

Ketika Tian-zheng-jiao sibuk melakukan penyelidikan ke Hua-shan, di sebuah jalan menuju Chang-an terlihat sebuah kereta berjalan dengan terburu-buru.

Walaupun kuda yang menarik kereta itu terlihat sehat dan kekar, tapi sekarang kuda itu terlihat sudah lelah dan dari mulutnya mengeluarkan buih, ini berarti kalau binatang ini telah menempuh perjalanan jauh.

Tapi kusir kereta sedikit pun tidak merasa kalau kudanya sudah kelelahan, sebaliknya dia malah terlihat gembira seperti mendapatkan sebuah bisnis yang menguntungkan.

Jendela kereta maupun pintunya tertutup dengan rapat, keadaan seperti itu sebenarnya tidak aneh karena sekarang adalah musim dingin, semua kereta yang berlalu lalang berkondisi sama seperti itu.

Tapi anehnya penumpang kereta itu tidak menginap di penginapan yang ada di kota besar, mireka malah tidur di sepanjang desa-desa terpencil.

Kusir itu berpikir dalam hati, 'Orang yang ada di dalam kereta ini pasti perampok besar, sampaisampai si perempuannya pun terlihat bukan perempuan baik-baik.

Dua orang yang terluka itu pun seperti dibacok oleh orang pemerintahan.' Memikirkan hal itu wajahnya tersembul senyum licik, semakin dipikir terlihat kalau kusir itu makin tidak memikirkan perasaan hubungan antar manusia.

Tapi orang yang ada di dalam kereta sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan si kusir.

Di dalam kereta telah disediakan selimut tebal dan hangat, karena mereka takut kalau goyangan kereta akan membuat orang yang terluka bertambah sakit.

Di dalam kereta berbaring 2 orang, yang satu laki-laki dan yang satu lagi perempuan, yang satu lebih tua, sedangkan yang satu lagi masih kecil.

Di sudut kereta, terlihat seorang perempuan berumur sekitar 35-36 tahun, dia duduk bersila, tidak terlihat sedikit pun kalau dia sudah tua malah terlihat masih cantik, dewasa, dan menarik!

Siapa mereka yang ada di dalam kereta tidak perlu dipertanyakan lagi, mereka adalah Sunming, Ling-lin, dan Yi-feng yang telah berganti marga dan nama.

Sun-ming terlihat gelisah, wajah pun terlihat cemas.

Di depannya sekarang ini ada 2 orang yang terluka berat, yang satu adalah putrinya sendiri, sedangkan yang satu lagi karena telah menolongnya dia terluka parah.

Dia belum mengenal orang itu dengan jelas.

Dia tahu kalau dia berada dalam bahaya, sebab jika identitasnya diketahui oleh Tian-zheng-jiao, keselamatan nyawanya akan terancam.

Apalagi sekarang ini dia harus membawa 2 orang yang sedang terluka parah, kemanakah dia harus pergi sekarang?

Walaupun ilmu silatnya cukup tinggi, tapi dia tetap seorang perempuan, dalam keadaan seperti itu dia hanya bisa panik dan tidak bisa mengambil keputusan dengan tepat.

Dia melihat orang asing itu, teringat kembali pada kejadian waktu itu, dia teringat pada 2 wajah Duo-ming-shuang-shi.

Dia teringat lagi putri tercintanya, ilmu silat benar-benar diwariskan dari ayahnya, tapi karena umurnya masih terlalu muda pengalamannya tentu saja masih kurang.

Ketika Duo-ming-shuang-shi mendekati mereka, dia terluka oleh ilmu jari dari dua bersaudara Gong yang terkenal dan putrinya terluka berat di bagian dada.

Teringat kembali pada kejadian itu, dia langsung gemetar.

"Nyawa putriku berada diantara hidup dan mati, jika bukan karenaorangini..."

Dengan pandangan penuh berterima kasih dia melihat Yi-feng dan berpikir, 'Jika bukan karena dia, aku juga pasti akan terluka di tangan kedua siluman itu, sekarang walaupun sulit menjaganya tapi tetap akan kulakukan!' Ternyata ketika Yi-feng mendengar teriakan, saat itu Ling-lin sedang menyerang Duo-mingshuang-shi dengan jurus 'Elang Lapar Menangkap Kelinci', karena terluka Ling-lin langsung menjerit.

'Elang Lapar Menangkap Kelinci' adalah .

sebuah jurus yang sangat lihai.

Jurus ini harus dipakai saat kedudukan musuh lebih lemah.

Ling-lin masih kecil dan tidak mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Dia mengguna-kan jurus ini untuk melawan Duo-ming-shuang-shi yang terkenal, dan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal!

Dua bersaudara Gong ini malah tertawa dingin, mereka tidak mundur selangkah pun malah bergerak malah maju.

Empat buah tangan panjang dijulurkan bersama-sama, tangan kiri Gong-shen dan tangan kanan Gong-you bersama-sama menyambut serangan Ling-lin yang dilakukan dengan sepenuh tenaga.

Tangan kiri Gong-shen dan tangan kanan Gong-you masing-masing berputar membentuk setengah lingkaran kemudian baru dijulurkan.

Walaupun tidak dilakukan dengan sekuat tenaga tapi angin telapak yang mereka keluarkan cukup membuat Ling-lin terbang beberapa meter.

Sun-ming cemas akan keselamatan putrinya, dia membentak dan langsung bertarung dengan Duo-ming-shuang-shi.

Saat ini adalah saat di mana Yi-feng sedang menolehkan kepalanya melihat apa yang terjadi.

Melihat orang lain menghadapi maut tapi dia sendiri tidak menolong, adalah bukan sifat dasar Yi-feng.

Karena dia tahu begitu dia bertarung, dia akan menghadapi kesulitan besar tapi dia sudah tidak mempunyai pilihan lain.

Karena itu dengan diiringi suara bentakan keras dia segera berlari dan mendekati mereka, kedua telapaknya menyerang ke tulang rusuk Gong-you.

Serangan Yi-feng berbeda sekali dengan saat dia bertarung di kota Bao-ding, saat dia bertarung dengan Zhu-sha-zhang, perlu diketahui, ketika itu dia berniat memperalat You-da-yun untuk melaksanakan rencananya, sedangkan sekarang ini tujuannya berbeda dia bertekad akan membunuh kedua orang itu.

Maka begitu bertarung setiap jurus yang dikeluarkan Yi-feng adalah adalah jurus yang mengarah jiwa.

Dua bersaudara Gong masih terus tertawa dingin.

"Sahabat, kau mempunyai ilmu yang bagus! Tapi mengapa kau malah bertarung melawan kami?"

Yi-feng tidak menjawab. Dua saudara Gong ini tertawa dingin lagi.

"Melihat kepandaianmu, ternyata sangat mirip dengan kepandaian seorang teman yang sudah meninggal, mungkin Tuan tadinya sudah mati dan sekarang hidup kembali."

Begitu kata-kata ini keluar, wajah Yi-feng tampak berubah.

Seorang pesilat tangguh ketika sedang bertarung, ilmu silat yang dikeluarkan tidak akan bisa menipu orang lain.

Pikirannya tidak meleset, semua jurus Duo-ming-shuang-shi akhirnya diarahkan kepadanya.

"Sahabat, hari ini kau harus mati sekali lagi!"

Duo-ming-shuang-shi berteriak.

Ilmu Duo-ming-shuang-shi sangat tinggi, kemampuan mereka berada di atas semua pesilat Tian-zheng-jiao yang pernah bertarung dengan Yi-feng.

Yang membuat Yi-feng tidak mengerti adalah ilmu silat janda Pendekar San-xiang tidak seperti putrinya yang telah terluka.

Dia tidak tahu kemampuan Sun-ming sebenarnya, sesudah menikah dengan Ling Bei-xiao, dia baru mempelajari ilmu silat, tentu saja kemampuan janda Pendekar San-xiang ini berada di bawah putrinya, karena putrinya sejak kecil telah mempunyai dasar silat yang kuat.

Pertarungan kali ini, sekarang serangannya diarahkan pada Yi-feng, walaupun tidak sampai kalah tapi untuk menang pun bukan hal mudah.

Dia tahu, dalam pertarungan kali ini dia harus bisa membunuh 2 bersaudara Gong ini, jika tidak dia tidak akan bisa hidup dengan tenang selamanya.

Karena dua bersaudara Gong ini sudah mengetahui identitas aslinya.

Maka setiap jurus yang dikeluarkan tampak ganas dan mematikan, terkadang karena ingin cepat menang dia malah sering terkena pukulan mereka.

Melihat hal ini, Sun-ming jadi terpengaruh, dan dia pun bertarung dengan penuh semangat.

tapi dua bersaudara Gong ini belum mengerahkan seluruh kemampuannya.

Setelah melihat jurus-jurus lawannya, dua bersaudara Gong merasa terkejut, mereka terus diserang sampai-sampai mereka sendiri tidak sempat mengeluarkan senjata yang terselip di punggung.

Hanya sebentar ke empat orang ini telah bertarung puluhan jurus.

Dua bersaudara Gong saling pandang, tiba-tiba mereka serentak tertawa dan berkata.

"Sahabat, percuma saja kau ingin melawan kami, karena sebentar lagi ada tiga orang teman kami yang berbaju emas akan datang kemari! Lebih baik kau mengaku kalah supaya nanti tidak lebih tersiksa!"

Kata-kata ini membuat Sun-ming terkejut tapi Yi-feng yang berpengalaman sama sekali tidak mendengar perkataan mereka, jurus yang dikeluar kan malah semakin cepat dan ganas!

Duo-ming-shuang-shi mengerutkan alis, mereka segera mengganti posisi, tadinya mereka menyerang Yi-feng sekarang beralih ke Sun-ming Sambil tertawa dingin dia berkata.

"Nyonya Ling, kami akan bicara terus terang, jika Nyonya tidak ikut dengan kami, saat tiga orang kami telah datang, mereka tidak akan seperti kami bisa bicara baik kepada Anda."

Mereka tertawa sangat menusuk telinga.

"Yang lain kita bisa bicarakan lagi, ketiga teman kami itu sedikit...."

Mereka sengaja berhenti, lalu tertawa cabul.

"mereka bertiga merasa kalau Nyonya sangat cantik, mereka pasti akan melakukan hal yang Nyonya inginkan."

Kata-kata mereka begitu terus terang membuat kedua pipi Sun-ming memerah karena malu. Jurus-jurus serangannya jadi tertahan. Hal ini terlihat oleh Yi-feng. Dia mem-bentak dengan garang.

"Marga Gong, jangan mempermalukan Tian-zheng-jiao! Dengan cara rendah seperti ini apakah kalian tidak merasa julukan kalian tidak ada harganyal"

Kedua tangan Duo-ming-shuang-shi dibuka tapi di tengah udara mereka merubah arahnya menyerang ke dada Yi-feng dan pundak Sun-ming.

Dua bersaudara Gong bersama-sama menyerang lagi, mereka sangat kompak dan sama sekali tidak terlihat ada celah!

Membuat ilmu silat mereka yang hebat bertambah dahsyat!

Sambil tertawa dingin mereka menghina.

"Sobat, aku nasehatkan, jangan mengurusi hal yang tidak ada hubungannya denganmu, istri sendiri pun tidak bisa dijaga dengan baik, untuk apa kau disini berpura-pura menjadi pahlawan?"

Kata-kata ini membuat Yi-feng marah besar dan kehilangan kendali.

Kakinya digeser, dia menghindari serangan dia bersaudara Gong kemudian menjulurkan kedua telapaknya, dengan sekuat tenaga mereka menyerang lagi.

Cara Yi-feng menyerang ternyata sesuai dengan aturan cara bertarung.

Dan serangan telapaknya yang dahsyat ini membuat wajah Duo-ming-shuang-shi yang dingin mulai terlihat gentar.

10 jurus sudah berlalu.

Malam semakin gelap, angin tenaga telapak membuat daun-daun dari pohon yang ada di sekeliling sana berguguran.

Angin dingin terus berhembus tapi mereka berempat malah berkeringat.

Dua bersaudara Gong berputar, mereka menghindari serangan Yi-feng.

Mereka tidak berani beradu dengan tenaga kuat Yi-fengyang bahkan bisa membuat batu hancur.

Ketika mereka sedang berusaha menyam-but jurus Yi-feng, mereka saling bertukar pandang dengan maksud tertentu, dua bersau-dara Gong ini sejak kecil sudah sangat kompak, sampai nada bicaranya pun sama, sekarang mereka berniat kabur dari sana.

Yang terpenting tempat tinggal dan keadaan mereka telah diketahui, untuk apa harus bertarung dengan Yi-feng dan perempuan itu?

Mereka tertawa sinis mengandung ejekan.

"Mereka tidak akan bisa lari dari tangan Tian-zheng-jiao."

Mereka bersama-sama bersiul, bayangan telapak seperti daun berguguran menyerang Sunming yang kepandaiannya lebih rendah.

Perubah-an ini membuat Yi-feng harus menyerang juga harus memperhatikan keselamatan Sun-ming.

Siulan terdengar lagi, Duo-ming-shuang-shi menyerang dengan sekuat tenaga kemudian mereka dengan cepat mundur, tubuh mereka telah terbang keluar.

"Permisi, kami pergi dulu!"

Mereka tertawa dingin lalu mundur ke sisi batu besar.

Yi-feng mana mau melepaskan mereka begitu saja, dia bergerak seperti bayangan, dia terus menempel dua bersaudara Gong itu.

Telapaknya terus menyerang ke tiga nadi yang ada di punggung Gong-shen.

Tapi punggung Gong-shen menekuk, tubuhnya dicondongkan ke depan, kakinya menendang ke belakang.

Jurus ini sangat bagus, Yi-feng sudah nekad, dia bergerak sedikit ke pinggir.

Walaupun dia akan terluka, dia tetap menyerang dan berniat menghantam punggung Gong-shen meski perutnya terkena tendangan Gong-shen.

Gong-shen berteriak karena terkena serangan, dengan sisa tenaganya dia membalik-kan tubuh, menyerang dengan telapak lagi.

Serangan ini menggunakan tenaga terakhir.

Kedua tangan Yi-feng segera menahan kemudian telapaknya dibalikkan ke atas, ujung jarinya mengenai dada Gong-shen.

Terdengar Gong-shen berteriak lagi, darah muncrat dari mulutnya dan menyembur ke tubuh Yi-feng.

Gong-you terus memaksa Sun-ming mundur.

Teriakan Gong-shen membuat hatinya bergetar.

Dia bersiul panjang dan balik mendekati Yi-feng.

Perut Yi-feng telah terkena tendangan Gong-hen.

Walaupun sempat bergeser tapi dia tetap Ia luka parah.

Ketika Yi-feng masih bernafas terengah-engah, Gong-you seperti kilat berlari mendekat.

Hubungan dua bersaudara ini memang ingat erat.

Melihat Gong-shen sudah mati, dengan segala cara Gong-you berniat membalas dendam.

Belum sempat tiba di dekat Yi-feng, kedua telapaknya sudah dikeluarkan.10 jari dibuka perti cakar ayam siap mencakar dada Yi-feng.

6 tilik nadi di dada Yi-feng menjadi sasaran utamanya.

Serangan ini seperti gunung Tai Shan yang menindih.

Yi-feng menghindar, tapi tubuh bagian bawahnya telah terluka, tubuhnya sudah tidak bisa bergerak dengan lincah, terpaksa dia menunduk.

Begitu cakar Gong-you sampai di pundaknya, telapak kiri Yi-feng diluruskan, dan telapak kanannya diangkat, dari bawah ke atas memukul wajah Gong-you Gong-you bersiap bertarung mempertaruhkan nyawanya.

Dia tidak berusaha menghindari serangan Yi-feng, tiba-tiba dia nirncakar ke bawah, ke arah tulang pundak Yi-feng.

Yi-feng benar-benar terkejut.

Dia berputar dengan cepat tapi pundaknya sudah terkena cakaran Gong-you yang bergerak secepat kilat.

Sebelum dia merasa kesakitan, telapak kirinya dikeluarkan dari cengkraman kedua tangan Gong-you lalu mencakar wajah Gong-you.

Jari telunjuk dan jari manisnya mencakar kedua mata Gong-you.

Kelima jarinya terus mencakar dengan keras, Gongyou terluka karena ilmu 'Da-li-mo-zhao-shen-gong' (cakar sakti bertenaga besar).

Yi-feng terluka di dua tempat, melihat Gong-you hampir mati dan sedang sekarat, dia tertawa dan langsung pingsan.

Sun-ming benar-benar terkejut.

Duo-ming-shuang-shi sangat terkenal, mereka lahir di waktu yang sama, mati pun di waktu yang sama.

Mereka mati dengan cara mengenaskan.

Tubuh Yi-feng bermandikan darah tapi tangan kanannya masih mencengkram tangan Gong-you dengan erat.

Wajahnya pucat, mulut terkatup rapat, tapi dari sudut mulutnya terlihat dia seperti sedang tersenyum.

Seumur hidup Sun-ming dia sudah mengalami beberapa kali pertarungan sengit, tapi kejadian seperti ini membuat dia menjadi dingin, rasa dinginnya menjalar hingga ke tulang belakang.

Dia berdiri sambil bengong, membiarkan tubuhnya tertiup angin yang dingin, hal ini menjadikan dia lebih tenang dan terus berada dalam keadaan sadar.

Setelah debaran jantungnya mereda, dia baru berjalan ke arah Yi-feng yang saat itu sedang tergeletak di tanah, dia meraba nadinya, mencoba nafasnya, orang yang telah melindungi-nya dengan nyawanya sendiri walaupun sudah terluka berat tapi masih hidup!

Kemudian dia berjalan ke arah putri tunggalnya, nafasnya lemah tapi putrinya belum mati, lukanya lebih ringan dibandingkan anak muda itu.

Dia merasa matanya menjadi basah, entah karena berterima kasih kepada pemuda itu atau karena dia berterima kasih kepada Tuhan yang masih memberikan hidup padanya, yang terpenting airmatayang keluar adalah airmata terima kasih, mungkin 2 macam rasa terima kasih membuat dia dan puterinya masih bertahan hidup sampai sekarang --BAB Naga di air dangkal Perasaan berterima kasih ini, masih tertinggal di hati Sun-ming, yang sedang duduk di dalam kereta.

Saat mengenang kembali kejadian tadi, matanya mulai berair lagi, seperti perasaan orang yang berterima kasih kepada orang yang telah berbudi kepadanya, sama seperti perasaan Sunming kepada Yi-feng yang telah berbudi kepadanya, seumur hidup dia tidak akan melupakannya.

Tentu saja mereka bisa melarikan diri dengan selamat dari tangan Tian-zheng-jiao sebelum mereka mengerahkan anak buahnya ke Hua-shan, karena Sun-ming hanya mengandalkan kekuatannya sendiri untuk mengambil keputusan benar sebelum bahaya datang mengancam mereka.

Setelah dia tersadar dia telah membawa putrinya juga Yi-feng ke tempat persembunyian mereka, lalu dia pun mengobati luka Yi-feng dengan pengobatan seadanya.

Tapi terhadap luka dalam Yi-feng maupun putrinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa dan dia tidak mempunyai cara lain.

Dia merasa sangat cemas, tapi walaupun berada dalam keadaan cemas, dia masih bisa berpikir kemungkinan apa sajayang terjadi.

Karena itu dia membakar gubuk yang telah susah payah dibangunnya, memindahkan putri dan orang yang telah berbudi kepadanya dari puncak Hua-shan ke kaki gunung.

Dalam waktu satu malam dia berhasil membereskan semua itu.

Tentunya semua itu mengandalkan ilmu silat dan mental yang kuat.

"Sekarang kita harus pergi ke mana?"

Hari kedua, dia membayar harga sewa kereta beberapa kali lipat dari harga biasa.

"Dengan cara apa pun, kami harus bisa melewati tempat terpencil ini!"

Dia telah melakukan semua ini untuk dirinya sendiri, sebenarnya kecuali untuk dirinya sendiri, tidak ada orang yang membantunya.

Kereta itu bergerak dari kaki gunung Hua-shan, mereka berjalan siang dan malam dan sekarang mereka telah berada di tempat itu.

Sun-ming tahu bagaimana hebatnya kekuatan Tian-zheng-jiao, dan sekarang kekuatan mereka telah menyebar hingga ke Zhong-yuan.

Sekarang ini tempat di mana mereka berhenti masih berada dalam kekuasaan Tian-zheng-jiao.

Ditambah lagi kedua orang yang ada di hadapannya sedang terluka parah, dan keadaan mereka semakin berbahaya, hal ini membuat hatinya semakin gelisah, entah apa yang harus dia lakukan sekarang.

'Pertama, aku harus mengobati dulu luka luka mereka!"

Diam-diam dia mulai menyusun rencana.

Luka dalam akibat pukulan pesilat tangguh tidak sembarangan orang bisa mengobatinya.

walaupun dia tahu beberapa orang tabib di dunia ptisilatan, tapi dalam situasi seperti ini, mana mungkin mencari sembarangan orang untuk mengobati luka mereka?

Kalau secara kebetulan ternyata orang ini ada hubungannya dengan Tian-zheng-jiao, dan kalau mereka pergi ke sana, bukankah akan sama seperti kambing yang digiring masuk ke dalam mulut harimau?

Meskipun tidak akan sampai terjadi hal seperti itu, tapi karena dia merasa kalau dia adalah biang keladi semua peristiwa ini, untuk apa orang lain sampai terkena imbasnya juga?

Tapi apa yang harus dilakukannya dengan kedua orang yang terluka ini sekarang ini?

Dia menarik nafas panjang, diam-diam dia membuka jendela kereta, langit di luar tampak gelap, angin berhembus dengan besar, melalui celah-celah jendela masuk ke dalam kereta, membuat dia kedinginan.

Dia segera menutup jendela dan bertanya pada sang kusir.

"Apakah di depan sana ada tempat untuk beristirahat?"

Sebelum menjawab si kusir melayangkan dulu cemetinya.

"Tadi kita telah melewati dua kota besar, tapi disana kau tidak mencari tempat beristirahat, sekarang tampaknya akan sulit mencari tempat peristirahatan, walaupun ada mungkin keadaannya seperti yang kemarin. Air panas untuk minum pun tidak ada. Hhhh! membawa kereta dengan keadaan seperti ini, benar-benar membuatku tersiksa!"

Sun-ming tampak mengerutkan keningnya, sikap si kusir membuatnya tidak puas, apalagi dia memanggil Sun-ming dengan sebutan 'kau', membuat nyonya Pendekar San-xiang yang biasanya sangat dihormati orang-orang menjadi marah dibuatnya.

Dia hampir membuka pintu kereta dan mengusir kusir itu, tapi dia menarik nafas untuk menekan kemarahannya, dalam situasi seperti sekarang ini jangan karena masalah sepele malah harus bentrok dengan kusir kasar ini.

Sun-ming merasa dia seperti seekor naga yang terjebak di air dangkal, harus menahan ejekan dan hinaan dari udang dan ikan.

Matanya yang telah basah bertambah basah lagi.

Tapi dia adalah seorang perempuan yang keras dan tegar, di depan mata masih banyak hal menunggunya, nyawa dua orang yang terluka parah juga ada di tangannya.

Tidak ada waktu baginya untuk bersedih.

Karena itu dia menahan kemarahan dan penghinaan, dia berkata.

"Carilah sebuah tempat untuk beristirahat, nanti aku akan menambah ongkos keretamu!"

Kusir melayangkan kembali cemetinya, kudanya dipukul hingga terus meringkik. Dia berkata.

"Aku tidak ingin ditambah ongkosnya, hanya saja dalam cuaca seperti ini angin berhembus begitu kencang malam-malam seperti ini kudaku pun perlu minum, bukankah keadaan ini sangat menyiksa". Kata-kata kusir itu membuat dia bertambah benci pada si kusir tapi dia tidak bisa tidak mendengarnya. Karena itu Sun-ming menundukkan kepalanya sambil membereskan kasur dan selimut mereka yang terluka. Rintihan kesakitan mereka membuat hati Sun-ming seperti diiris-iris sembilu. Tiba-tiba kereta dihentikan, si kusir membalikkan kepala dan membentak.

"Kita sudah sampai, turunlah!"

Sun-ming yang ada di dalam kereta tidak merasa tawa sinis kusir itu.

Dia turun dan menggerak-gerakkan tubuhnya yang pegal.

Beberapa hari ini demi merawat mereka yang terluka dia hampirr tidak pernah tidur, sekarang dia mencoba meluruskan pinggangnya, dan barumerasakan kalau kaki dan pinggangnya terasa pegal.

Sesudah turun dari kereta, dia baru melihat kalau penginapan yang ada di depannya sekarang ini sangat kecil, tapi dia merasa cocok dengan keadaan penginapan, maka dia pun berkata kepada kusir itu.

"Bantulah memapah kedua orang sakit ini!"

Kusir itu tertawa sinis, dia membantu memapah Yifeng disusul dengan Ling-lin ke sebuah kamar kecil dan gelap.

Sun-ming melihat kusir itu sepertinya sangat mengenal baik bos dan pelayan penginapan nya, tapi Sun-ming tidak menaruh curiga kepada mereka.

Tapi ketika si kusir membantu Sun-ming menggotong Ling-lin, pada kesempatan ini dia memegang tangan Sun-ming, hal ini membuat kemarahan Sun-ming muncul kembali.

Sorot matanya tajam seperti pisau dan dia melotot pada si kusir dan kusir itu dengan cepat menundukkan kepalanya.

Pelayan yang berdiri di pinggir tertawa.

"Xiao-wang, ternyata kau bisa juga menundukkan kepala!"

Sorot mata Sun-ming yang tajam seperti pisau segera beralih kepada si pelayan.

Si pelayan mengangkat bahunya seperti berkata, 'aku tidak berbicara denganmu, untuk apa kau melotot kepadaku?' Sikap pelayan itu membuat Sun-ming bertambah benci kepada mereka.

Sun-ming mulai merasa sikap pelayan ini tidak benar, tapi karena dia mempunyai ilmu silat cukup tinggi maka dia tidak peduli dengan sikap orang-orang kerdil itu.

Sebenarnya dia sudah berumur, tapi karena selama ini hidup dengan nyaman, walaupun dia harus mengikuti Ling Bei-xiu berkelana di dunia persilatan, dia tetap dihormati seperti layaknya seorang ratu.

Ini pertama kalinya dia berkelana di dunia persilatan tanpa suami di sisinya.

Maka dia pun baru mengetahui kalau di dunia ini, orang-orang yang patut ditakuti adalah orang-orang kerdil seperti mereka!

Perampok atau pemberontak mereka selalu menggunakan senjata, mereka tidak jarang melakukan hal yang menjijikkan dan memalukan.

Sun-ming tidak berani jauh-jauh dari Yi-feng dan putrinya, maka setiap malam dia hanya bisa duduk bersandar di sebuah kursi sekedar bisa beristirahat.

Karena merasa sangat kelelahan, akhirnya dia tertidur di kursi di kamar kecil itu.

Dalam keadaan setengah tidur dia masih sempat merasakan ada orang yang membuka pintu kamarnya, ketika dia tersadar kedua tangannya sudah dipegang kuat-kuat oleh 4 tangan laki-laki.

Dia terbangun dan segera sadar.

"Lao-da Zi, perempuan ini tidak jelas identitasnya, mungkin saja dia bisa ilmu silat, kau harus berhati-hati!"

Itu adalah suara si kusir Xiao-wang. 'Lao-da Zi' adalah panggilan si pelayan itu. Dengan suara aneh dia berkata.

"Xiao-wang, kau tenang saja, jika tidak bisa menaklukkan seorang perempuan, aku marga Song untuk apa lahir di dunia ini?"

Sun-ming benar-benar marah.

"Ternyata kusir ini bukan orang baik-baik!"

Ketika dia sedang berpikir, terdengar Song Lao dao berkata lagi.

"Aku lihat 2 orang yang sedang berbaring di tempat tidur adalah perampok besar, mungkin jika kita melaporkan mereka ke kantor polisi kita bisa mendapatkan hadiah besar!"

Sun-ming tahu asal dia mengangkat tangan-nya maka dengan ilmu silatnya, mudah saja dia menaklukkan mereka. Tapi dia segera berpikir ulang, kemudian dia memutuskan pura-pura tertidur.

"Aku tidak peduli dengan yang lainnya, aku hanya ingin tidur dengan perempuan ini selama beberapa malam,"

Xiao-wang tertawa cabul.

"Selama beberapa hari ini, begitu melihatnya, tanganku terasa gatal ingin menyentuhnya!"

Dia tertawa lagi "Aku memang mempunyai penyakit seperti ini, aku tidak perduli berapa uang yang akan diberinya."

Otak Sun-ming dengan cepat berputar, timbul bermacam-macam rasa khawatir, membuat sebelum melakukan hal ini, berpikir mundur dulu.

Dia berpikir jika membunuh kedua orang ini, kelak dialah yang akan menjadi kusir dan semua hal harus dikerjakan sendiri.

"Apakah aku bisa melakukan semuanya sendiri?"

Dia sedang berpikir lebih jauh.

"Perempuan ini tertidur pulas seperti sudah kelelahan karena telah berhubungan intim selama beberapa kali!"

Kata Song Lao-dao. Sun-ming benar-benar marah.

"Apakah aku akan terus dihina seperti ini?"

Segala sesuatu memang harus dipikirkan dengan teliti, tapi sifatnya sangat keras mana mungkin dia membiarkan penghinaan seperti ini dibiarkan begitu saja, karena itu dia mulai mengumpulkan tenaga.

"Song Lao-dao, aku pinjam ranjangmu, aku sudah tidak tahan lagi, apalagi setelah melihat wajahnya...."

Kata-kata Xiao-wang belum selesai, tiba-tiba dia sudah melayang dan menabrak dinding kemudian terjatuh.

Hal ini membuatnya kepalanya pusing, pantatnya juga sakit seperti dirobek.

Dinding kamar penginapan yang kecil itu seperti akan roboh karena ditabrak olehnya.

Song Lao-dao yang berada di pinggir Xiao Wangpun ikut terpelanting.

Sun-ming merasa aneh.

"Aku belum bergerak, mengapa kedua orang itu malah terpelanting dengan keadaan seperti itu?"

Begitu dia membalikkan kepala untuk melihat, hampir saja dia berteriak karena di sisinya ternyata sudah ada seseorang yang sedang berdiri.

Karena kamar ini sangat kecil dan gelap, dia tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, hanya merasakan kalau orang berbaju longgar itu bersikap sangat luwes.

'Kapan orang ini masuk ke kamar?

masuk dari mana dia?' Sun-ming sendiri tidak tahu.

"Apakah nyonya merasa terkejut?"

Orang itu maju selangkah, berusaha menghibur Sun-ming Dan pandangannya, dia merasa orang ini sangat berwibawa.

Ketika Sun-ming ingin mengucapkan terima kasih, orang itu sudah melambaikan tangannya dan berkata.

"Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih, aku tidak sengaja menolongmu,"

Nada bicaranya dingin, hanya dalam waktu singkat, nada menghiburnya tidak terdengar lagi.

oo BAB Dewa pedang yang dihormati Sun-ming berpikir, 'Mengapa sifat orang ini begitu aneh?' Tampak orang itu mengangkat kakinya, dia telah berada di sisi Xiao-wang dan berkata dengan dingin.

"Dosamu belum sampai membuatmu harus mati, tapi jika aku tidak membunuhmu sekarang, aku takut akan banyak perempuan yang rusak di tanganmu!"

Suaranya terdengar dingin dan datar, walaupun dia mengatakan mengenai 2 masalah tapi nada bicaranya tetap sama, berarti ketika dia bicara tidak ada perasaan, seperti layaknya seorang anak kecil saat membaca buku.

Tapi kata-kata ini membuat Xiao-wang terkejut sampai rohnya serasa lepas dari raganya.

Dia memohon-mohon.

"Tuan Besar, ampunkan aku...."

Kata-katanya belum selesai, lengan baju orang itu tersibak secara perlahan.

Xiao-wang roboh dengan lemas ke bawah.

Song Lao-dao berteriak, dia berniat melarikan diri.

Orang itu tidak menolehkan kepalanya, kakinya seperti ada yang mengangkat, dan dia sudah menghilang dari hadapan Song Lao-dao.

"Mau kemana kau?"

Keringat Song Lao-dao menetes dengan deras, mulutnya tidak bisa berbicara. Orang itu bertanya lagi.

"Temanmu sudah mati, kau sekarang seorang diri dan untuk melarikan diri pun tidak ada artinya lagi."

"Aku masih mempunyai...."

"Kau mempunyai apa?"

Tanya orang itu dengan nada dingin.

Song Lao-dao mengeluarkan sebuah pisau belati dari balik dadanya tanpa melihat dengan jelas lebih dulu, dia langsung menusuk ke arah orang itu Orang itu sama sekali tidak bergerak, tapi pisau belati itu menusuk ke tempat kosong.

Lengan baju orang itu kemudian bergoyang, belum lagi teriakan Song Lao-dao terdengar, dia sudah roboh.

Sun ming yang masih duduk di kursi terus meneteskan keringat dingin.

Walaupun dia istri seorang pendekar terkenal tapi selama hidupnya, belum pernah dia melihat ilmu silat begitu tinggi dan juga tidak pernah melihat ada orang begitu keras hati, hidup atau mati seseorang seperti sesuatu hal yang sepele, dan dia berlaku seperti Budha yang imenentukanhidup dan mati seseorang.

Orang itu bergerak lagi, sekarang dia sudah berada di depan Sun-ming.

Sun-ming berpikir.

"Setelah dibantu olehnya, masalah yang sebelumnya tidak bisa dipecahkan mungkin sekarang ada yang membantu untuk memecahkannya."

Dengan dingin orang itu berkata kepada Sun-ming.

"Kelak jika kau tidur kau harus berhati-hati, di tempat lain belum tentu bisa secara kebetulan bertemu dengan orang seperti diriku, yang kebetulan berada di satu penginapan."

Sun ming takut orang itu akan segera pergi, dengan cepat dia berdiri.

"Tiba-tiba didepan pintu menjadi terang, ternyata ada seseorang yang membawa lampu ke sana. Melihat Song Lao-dao yang berbaring tidak bergerak, dia segera berteriak, lampu yang dipegangnya langsung terjatuh. Tapi ketika lampu itu terjatuh, mata Sun-ming tampak berkilau. Lampu itu tidak sampai terjatuh melainkan telah dipegang oleh orang yang berilmu tinggi itu. Dia terkejut melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh orang aneh itu. Sun-ming tidak dapat berbicara karena merasa terkejut. Yang membawa lampu tadi ternyata bos penginapan, dia seperti patung hanya berdiri di depan pintu, ternyata bersamaan waktu itu juga, dia ditotok oleh orang yang berilmu tinggi itu. Mata Sun-ming membelalak karena terkejut, orang itu dengan pelan menaruh lampu di atas meja. Di bawah siraman cahaya lampu, Sun-ming melihat wajah orang ini sangat pucat, tulang alisnya sangat tinggi, kedua matanya cekung, hidungnya mancung dan bentuknya bagus, sekali melihat orang itu, ada sebuah perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Orang itu tidak bisa dikatakan tampan tapi jika kau telah bertemu satu kali dengannya, kau tidak akan mudah melupakannya. Dia punya ketampanan seorang laki-laki matang, membuat orang terharu kalau melihatnya. Umurnya pun seperti teka-teki karena dia seperti seorang laki-laki yang berumur antara 25-40 tahun. Sun-ming melihat dengan terpaku, dia lupa kalau sebenarnya seorang perempuan tidak pantas memandang laki-laki dengan cara seperti itu, apalagi ini baru pertama kalinya dia bertemu dengan laki-laki itu. Orang itu memalingkan wajahnya, pandangannya berhenti di wajah Sun-ming. Wajahnya seperti bergerak. Ketika Sun-ming akan bicara, orang itu sudah bergerak dan menghilang entah ke mana. Dia seperti seekor naga sakti membuat Sun-ming memikirkannya terus, kemudian Sun-ming berjalan ke sisi tempat tidur. Dia melihat dua orang yang masih terluka itu, keningnya dikerutkan. Ternyata Yi-feng dan Ling-lin masih tidak sadarkan diri, bagaimana luka mereka, Sun-ming sendiri tidak tahu. Dia benar-benar bingung tapi tidak punya cara untuk menyembuhkan mereka. Dia meraba bibir mereka, ternyata bibir mereka sangat kering. Dia ingin mengambil air untuk membasahi bibir mereka, saat dia membalikkan tubuh, dia benar-benar terkejut. Ternyata orang tadi kembali telah berdiri di belakangnya, gerakannya seperti setan! Untuk kedua kalinya dia muncul seperti asap. datang tanpa suara pergi pun tanpa suara. Sun-ming menahan teriakannya, hampir saja dia menjerit.

"Tetua...."

Pertama kalinya Sun-ming bisa bicara di depan orang ini.

Tapi baru saja dia mengatakan "tetua' dia langsung berhenti bicara, karena kilauan cahaya yang keluar dari mata orang itu, membuatnya tidak bisa bicara lebih lanjut.

Sun-ming menatap mata orang itu, dia seperti tidak bisa bernafas, sampai-sampai jarinya pun tidak bisa digerakkan.

Ada orang di mana dia bisa mempengaruhi orang yang melihatnya.

Orang yang di depan Sun-ming sekarang ini adalah jenis orang seperti itu.

"Aku datang untuk menolongmu bukan untuk menambah kesulitan denganmu...."

Dia menunjuk mayat Song Lao-dao dan Xiao-wang. Lalu berkata.

"Kedua mayat ini pasti akan merepotkanmu "

Nada bicaranya tetap dingin, tapi dari nada itu Sun-ming bisa merasakan kehangatan. Karena itu dia segera tertawa.

"Terima kasih, Tetua!"

Setelah berkata seperti itu Sun-ming baru sadar sudah beberapa tahun ini dia jarang tertawa, dan baru kali ini dia bisa tertawa lepas. Orang itu menghindar dari kehangatan yang dipancarkan Sun-ming.

"Apakah ada yang terluka?"

Dia bertanya lagi. Sun-ming mengangguk. Dia berjalan ke sisi tempat tidur membuka selimut Yi-feng dan kemudian mencoba denyut nadinya. Kedua alisnya yang berbentuk seperti pedang tampak berkerut.

"Apakah dia bisa tertolong?' Orang itu tampak berpikir sebentar baru menjawab.

"Ilmu silatnya tinggi tapi lukanya juga berat!"

Matanya bergulir, dia melihat Sun-ming. Diam-diam Sun-ming berpikir.

"Apakah aku harus memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya?"

Sun-ming menatap mata dingin orang itu kemudian dengan mantap berkata.

"Suamiku adalah Ling Bei-xiu...."

Sun-ming memberitahukan identitasnya dan apa yang terjadi padanya, semua diceritakannya kepada orang yang belum lama dikenal, yang sampai namanya pun dia tidak tahu.

Kemudian mata Sun-ming basah lagi, di depan orang ini tiba-tiba dia merasa seperti seorang perempuan lemah.

Dia membutuhkan sepasang tangan kuat yang melindunginya, seperti saat di mana Ling Bei-xiu selalu melindunginya.

Perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja dan dia sendiri merasa aneh.

Mendengar cerita Sun-ming, orang itu sama sekali tidak bersuara.

Wajahnya tetap datar, tapi dari sorot matanya yang keras, terlihat ada riak.

"Tian-zheng-jiao! Mengapa selama beberapa waktu ini aku selalu mendengar nama itu?"

Tiba-tiba dia menunjuk Yi-feng yang masih tidak sadarkan diri.

"Siapakah dia, apakah kau sendiri juga tidak tahu?"

Sun-ming mengangguk. Orang ini berkata lagi dengan pelan.

"Orang seperti dia jarang ada di dunia ini!"

Dia berhenti sejenak lalu berkata lagi.

"bisa bertemu denganku berarti nasibnya memang bagus. Dia teruka parah di dua tempat apalagi selama beberapa hari ini kalian terus berjalan, lukanya benar-benar berat!"

"Aku mohon kiranya Tetua mau menolong mereka!"

Dengan sedih Sun-ming berkata lagi.

"Aku...."

Orang itu tampak berpikir sejenak.

"Jangan memanggilku dengan panggilan tetua terus!"

Dia kembali seperti sedang berpikir, seperti sedang memikirkan apakah dia harus memberitahukan identitasnya kepada Sun-ming.

Selama beberapa waktu ini, Sun-ming berharap dia memberitahukan namanya.

Entah mengapa Sun-ming begitu perhatian kepada orang ini.

"Orang-orang memanggilku dengan panggilan Tuan Jian (tuan pedang), kau juga sebaiknya memanggilku seperti itu."

Dengan cara sederhana dia memperkenalkan dirinya seperti orang biasa memperkenalkan dirinya.

Tapi nama Tuan Jian ini membuat Sun-ming hampir tidak percaya dengan pendengaran telinganya.

Dia terus menatap orang yang ada di depannya, dalam hati dia merasa seperti seorang anak nakal yang telah bertemu dengan idolanya seperti yang ada di buku cerita yang dibacanya, yang menjadi pahlawan bagi anak-anak.

Karena selama 20 tahun ini kiprah Tuan Jian di dunia persilatan mewakili gabungan misterius, aneh, dan sakti.

Selama beberapa tahun ini orang-orang hanya mendengar bahwa dia membela kebenaran tapi tidak pernah ada yang bicara langsung dengannya.

Maka melihat keadaan Sun-ming seperti sekarang ini, kita tentu akan mengerti.

Ternyata Sun-ming pun sudah lama mendengar nama besar Tuan Jian, tidak disangka dia bisa bertemu dengan Tuan Jian di penginapan ini!

Lebih-lebih tidak menyangka kalau orang yang selalu dibicarakan itu terlihat masih begitu muda.

Dia adalah seseorang yang selama 20 tahun ini selalu dianggap sebagai dewa pedang dan dihormati di dunia persilatan, dialah Tuan Jian.

Di kamar begitu kecil sangat sepi tapi di luar terdengar suara ayam jantan mulai berkokok!

Dari mata Tuan Jian terlihat ada sorot tawa, tapi wajahnya tetap datar, sepertinya di dunia ini tidak ada seorang pun, juga tidak ada hal yang bisa mempengaruhinya.

"Dia pasti terkena pukulan batin yang berat,"

Sun-ming langsung merasakannya. Sorot mata Sun-ming melihat Tuan Jian. Udara begitu dingin sedangkan dia hanya memakai selembar mantel rompi. Kita tidak bisa tinggal lebih lama di sini!"

Seru Tuan Jian.

"aku terbiasa berpindah-pindah dan tidak ada tempat menetap, tapi aku bisa membawa kalian ke tempat tinggal teman baik-ku."

Sun ming diam-diam berpikir.

"Ternyata dia mempunyai teman juga.' Terdengar Tuan Jian berkata lagi;

"Tempatnya tidak jauh dari sini, kita singgah dulu kesana untuk mengobati luka mereka berdua."

Kata-katanya diucapkan dengan sangat cepat.

Diam-diam Tuan Jian seperti menyalahkan dirinya sendiri, 'mengapa aku membuat diriku mengalami kesulitan lagi?' Seperti perkiraan Sun-ming sebelumnya, pesilat tinggi yang bernama Tuan Jian ini memang pernah mengalami pukulan batin yang berat, hingga selama beberapa tahun ini dia jarang mengobrol dengan siapapun.

Tapi Tuan Jian sendiri juga merasa aneh mengapa dia bisa menaruh perhatian kepada perempuan ini.

Dari luar terlihat kalau dia belum tua, itu karena dia mempunyai ilmu sedalam laut.

Dia menganggap kalau dirinya sudah mencapai usia di mana tidak boleh membicarakan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Tapi hal yang terjadi sekarang ini, ternyata sangat aneh, apa yang dianggap tidak mungkin terjadi, malah paling mungkin terjadi.

Tuan Jian menatap ke luar jendela, kertas jendela terlihat berwarna putih seperti perut ikan, cahaya masuk dari sana.

Tuan Jian melihat dua mayat yang tergeletak di lantai dan bos penginapan itu masih dalam keadaan tertotok.

Dia berkata.

Apakah kau bisa menjadi kusir?"

Sun-ming mengangguk, dalam hati berpikir, 'Kau ingin membantuku, tapi malah menyuruhku menjadi kusir.' "Aku akan membuang kedua mayat ini, kau segera pergi untuk bersiap-siap!

Walaupun dia sudah ditotok tapi dia masih bisa mendengar, dia tetap harus mati,"

Dengan tenang Tuan Jian berkata seperti itu.

Sun-ming tahu dibalik kata-katanya yang tenang, dia bisa menentukan hidup dan mati seseorang.

Sun-ming mengerti mengapa Tuan Jian menyuruhnya menjadi kusir ternyata alasannya ini.

Karena itu dia segera membalikkan tubuh.

Baru saja dia keluar dari pintu, dia menjerit dan mundur tiga langkah, sorot matanya terlihat terkejut melihat ke luar pintu.

oo BAB San xin-shen-jun Semenjak Pendekar San-xiang Ling Bei-xiu terbunuh oleh Tian-zheng-jiao, selama beberapa tahun ini bisa dikatakan kalau Sun-ming telah melewati kesulitan yang datang dengan bertubi-tubi, karena itu dia menjadi seorang perempuan kuat dibandingkan dulu.

Tapi ketika dia berjalan keluar pintu, dia tetap saja menjerit karena terjadi sesuatu di luar sana....

Langit mulai terang tapi di teras masih terlihat gelap.

Di sisi dinding, lampion masih mengeluarkan cahayanya yang redup.

Di bawah cahaya lampion terlihat ada seseorang yang sedang berdiri di sisi pintu.

Dia melihat ke dalam kamar, bayangan orang ini memantulkan bajunya yang berwarna emas.

Sun-ming seperti seekor burung yang terkejut, dia segera menjerit.

Saat jeritannya selesai, tubuh kurus Tuan Jian sudah berada di sisinya, dia membentak.

"Ada apa?"

Suaranya yang rendah tapi kuat membuat Sun ming merasa aman. Tapi Sun-ming tetap dengan takut melihat bayangan orang itu, bayangan orang yang memakai baju emas.

"Apakah Tian-zheng-jiao bisa memperhitungkan keadaan yang akan terjadi!"

Dia berpikir lagi, 'aku sudah menyembunyikan semua ilmku, apakah mungkin mereka bisa mengejar kami kemari.

Tapi mengapa juga aku harus takut kepada mereka?

Orang yang berdiri di sisiku sekarang ini....' Sun-ming melihat Tuan Jian, orang yang memiliki ilmu silat tinggi ini dengan tenang melihat keluar.

Dia selalu bertingkah yang membuat orang tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan saat itu.

Sosok orang itu berjalan perlahan mendekati mereka.

Dia juga seperti sebuah gunung es, sama sekali tidak terlihat raut wajahnya, sampai dia berdiri dan berhadapan langsung dengan Tuan Jian, wajahnya yang pucat baru terlihat ada senyum.

Dia melihat Tuan Jian, bersamaan itu wajah pendekar aneh ini pun terlihat ada senyum yang sama.

Sun-ming merasa aneh, 'Apakah mereka adalah sahabat?

Tapi dewa pedang terhormat ini sangat terkenal di dunia persilatan, mengapa dia bisa berteman dengan orang Tian-zheng-jiao?' Sun-ming segera merasa takut, 'apakah dulu sewaktu ada orang dengan sebilah pedangnya bisa memecahkan 9 formasi dengan 2 pedangnya, apakah dia juga mempunyai hubungan dengan Tian-zheng-jiao?' Biasanya jika Sun-ming berada dalam bahaya dia selalu memikirkan keadaan yang paling buruk.

Diam-diam dia mundur 2 langkah, tapi matanya terus memperhatikan gerak-gerik mereka.

Tiba-tiba Tuan Jian dan orang berbaju emas itu bersama-sama mengeluarkan tangan dan saling memegang dengan erat.

'Benar saja, ternyata mereka adalah teman,' Sun-ming sudah memastikan keadaan yang terjadi.

Jantungnya berdebar dengan kencang, nasib buruk apalagi yang akan menimpanya?

Tangan mereka saling bertarut dengan erat dan belum dilepas, wajah mereka yang sama-sama pucat terlihat tawa yang sama.

Mereka seperti kawan seperjuangan tapi juga seperti musuh dengan dendam yang dalam.

Benar-benar membuat Sun-ming tidak mengerti melihat mereka.

Semua ini semakin membuat Sun-ming tidak mengerti.

Setelah lama tawa dari orang berbaju emas itu mulai menghilang, dia membuat garis lengkung di bibirnya yang tipis dan dingin kemudian sudut mulutnya mulai turun, sepertinya giginya pun terkatup rapat.

Sun-ming melihat wajah Tuan Jian lagi, senyumnya belum hilang, diam-diam Sun-ming menghembuskan nafas, karena dia tahu jika mereka musuh, saat mereka sedang berjabat tangan sebenarnya mereka sedang mengadu tenaga dalam.

Melihat keadaan sekarang, yang berada di atas angin adalah Tuan Jian.

Karena itu diam-diam Sun-ming menarik nafas karena mereka sebenarnya sedang mengadu tenaga dalam bukan berjabat tangan seperti sahabat atau teman, pikir Sun-ming.

Dia merasa senang sekaligus terkejut, karena tenaga dalam orang berbaju emas ini hampir sama dengan Tuan Jian.

Mengapa di Tian-zheng-jiao begitu banyak pesilat tangguh?

Dia melihat Tuan Jian lagi, dia melepaskan jabatan tangan orang itu, tapi dia tetap tersenyum.

Orang berbaju emas itu pun melepaskan jabatan tangan mereka, dia tampak terpaku sebentar, lalu tertawa.

Melihat orang ini, Sun-ming merasa dari kakinya rasa dingin menjalar naik ke atas.

Ternyata orang berbaju emas itu sedang tertawa senang tapi tawanya tanpa suara, maka di wajahnya hanya terlihat tawa.

Sun-ming mengira dia telah tuli tapi mengapa suara lainnya bisa dia dengar?

Dalam rasa tegang yang amat sangat, dia mentertawakan dirinya, 'Aku tidak tuli mungkin saja dia yang bisu, mengapa tidak terpikirkan olehku masalah ini?' Karena takut, pikirannya tidak bisa selincah dulu.

Pikiran seseorang selalu dipengaruhi oleh lingkungan Mereka berdua tampak tertawa lagi.

Sun-ming mulai merasa ada yang tidak benar, melihat orang berbaju emas itu memeluk pundak Tuan Jian, mulutnya komat kamit seperti sedang mengatakan sesuatu.

Hati Sun-ming menjadi dingin lagi karena apa yang dia duga ternyata salah lagi.

'Apakah mereka bersahabat?' sekarang Sun-ming kebingungan, 'sebenarnya mereka kawan atau lawan?' Dia tidak bisa menebak lagi dengan benar.

Dia mencoba lebih memperhatikan mereka karena dia menganggap mereka bershabat, maka dia akan berada dalam bahaya.

Orang berbaju emas itu adalah ketua bagian Tian-zheng-jiao.

Tapi peristiwa yang terjadi lagi membuat perempuan ini hampir tidak percaya pada pandangan matanya...

Sun-ming melihat mulut Tuan Jian bergerak terus seperti berbicara, tapi tidak terdengar suara yang keluar dari mulutnya.

Sun-ming menggosok-gosok matanya.

'Apakah benar aku sudah tuli?' Dia terkejut tapi suara kokok ayam jantan di luar sana membuktikan kalau pendengarannya belum rusak.

Sekarang dia benar-benar bingung, dia tidak tahu harus bagaimana sekarang?

Jika kedua orang ini bermaksud jahat padanya, bagaimanapun juga dia tidak akan bisa melarikan diri dari sana, hal ini sudah terlihat sangat jelas.

Tuan Jian membalikkan badan, bersama dengan orang berbaju emas itu mereka berjalan menuju tempat tidur.

Mereka berdiri berhadapan dengan Sun-ming, apa yang mereka lakukan Sun-ming tidak tahu.

dia hanya melihat tangan Tuan Jian menunjuk kepadanya kemudian orang berbaju emas itu dengan dingin melihatnya.

Sun-ming benar-benar tidak tenang.

Sorot mata orang berbaju emas itu lebih tajam dibandingkan guntur di musim gugur, dia menghindari sorot mata itu.

Dengan sikap takut dia berdiri di dekat pintu.

Di depan 2 orang pesilat tangguh ini dia kembali seperti seorang gadis yang 20 tahun lalu hanya seorang gadis lemah.

Sorot mata orang berbaju emas itu masih terus melihat Sun-ming, tiba-tiba dia berkata.

"Kau sangat lemah, lemas, dan lelah, jika tidakk beristirahat, begitu diserang dari luar dan dalam, kau tidak akan tertolong lagi!"

Kemudian dia menunjuk 2 orang yang terbaring di tempat tidur.

"Mereka terkena Yin-han-zhang, walaupun mereka bertubuh kuat, tapi tetap saja mereka akan mati kedinginan, dan keadaan seperti ini sangat berbahaya!"

Dia seperti Tuan Jian, kalau nada bicaranya ketus, dan wajahnya datar tanpa ekspresi.

Yang membuat Sun-ming terkejut bukan karena hal ini, melainkan orang yang telah dianggapnya bisu, ternyata bisa bicara.

Dari nada bicaranya, dia seperti tidak berniat jahat padanya, dan dia pun seperti menguasai pengobatan.

Dia ingin putrinya segera diobati.

Dalam keterkejutannya dia juga merasa senang, keanehan yang diperlihatkan orang itu sama sekali tidak di taruh di dalam hati.

Semua orang tua pasti lebih memperhatikan keadaan putra dan putrinya.

Setelah berkata seperti itu, orang berbaju emas itu terdiam tidak bersuara lagi, Sun-ming mendekat dan mendengar Tuan Jian berkata lagi.

"Orang ini adalah.."

Setibanya Sun-ming di sana dia baru melihat kalau lengan baju milik orang itu tampak berkibar, dan suara Tuan Jian terpotong, orang berbaju emas itu berkata.

"Tadi kau mengatakan apa! Aku memang sudah lama tidak mengurusi hal-hal yang terjadi di dunia ini, tapi aku memandang wajahmu maka mau tidak mau aku harus mengurusi kedua orang ini."

Sudut mulutnya terangkat sedikit, dia tertawa, tadi nada bicaranya tidak mengandung tawa. Hati Sun-ming serasa berputar-putar, semuanya bergerak secepat kilat.

"Ternyata orang ini adalah San-xin-shen-jun, aku malah mengira kalau dia adalah ketua dari kelompok berbaju emas dari Tian-zheng-jiao. Aku benar-benar bodoh! Apakah kalau orang itu memakai baju emas, maka dia adalah orang Tian-zheng-jiao?"

"Aku benar-benar bernasib baik, dalam waktu satu malam, aku telah bertemu dengan dua orang hebat dari dunia persilatan, hanya mengetahui nama dan jarang ada orang yang bisa bertemu langsung dengan mereka! Apalagi orang yang dijuluki San-xin-shen-jun, ilmu silatnya sangat tinggi dan sifatnya selalu berubah-ubah, maka dia pun mendapat julukan San-xin-shen-jun (Tuan sakti tiga hati). Menurut kabar yang beredar di dunia persilatan, selain ilmu silat orang ini tinggi, puisinya pun sangat indah, apalagi ilmu pengobatannya, dia sangat mahir. Bisa dikatakan dia seperti mempunyai ilmu yang bisa menarik nyawa orang mati menjadi hidup kembali. Lin-er dan pendekar muda itu, setelah dibantu oleh San-xin-shen-jun mungkin saja mereka bisa sembuh!"

Kesenangannya benar-benar sulit untuk dilukiskan! Melihat kedua pendekar itu, mereka bicara sambil tersenyum, tapi dia tidak mendengar apa yang' mereka bicarakan. Dia merasa lebih terkejut.

"Apakah mereka telah berlatih ilmu bicara tanpa suara?"

Apa yang dilihat Sun-ming merupakan hal yang tidak terbayangkan olehnya.

Ini dikarenakan dia bertemu dengan orang langka di dunia persilatan Tuan Jian dan San-xin-shen-jun.

San-xin-shen-jun sebenarnya putra dari seorang penebang kayu, tapi karena dia berjodoh dengan nasib baik, maka sewaktu di hutan dia mendapatkan sebuah kitab pengobatan yang diwariskan dari Tabib Sakti Hua-duo (orang yang paling terkenal dan paling menguasai ilmu pengobatan jaman Tiongkok kuno, selain mempunyai ilmu pengobatan yang tinggi, beliau adalah seorang guru yang baik bagi kalangan dunia persilatan.

Semenjak putra penebang kayu ini mendapatkan kitab rahasia, dalam kurun waktu 10 tahun.

dengan kepintaran dan kekuatan yang dimiliki putra penebang kayu ini, dia berlatih sebuah ilmu silat yang sangat kuat dan dahsyat.

Tapi karena semenjak kecil dia berlatih sendiri ilmu tenaga dalam dan kemampuannya cukup tinggi, saat ingin mencapai tujuannya dia mengalami banyak rintangan, maka sifatnya agak aneh malah boleh dikatakan sedikit tidak waras.

Dia sukses dalam bidang ilmu silat.

Tapi karena dia mendapatkannya dengan susah payah maka akibatnya, apa yang dilakukannya sering seenaknya sendiri.

Dia tidak peduli apakah di dunia ini ada orang jahat atau orang baik.

Dia tidak peduli pada aturan atau kebiasaan, hingga di kalangan persilatan dia dijuluki Siluman San-xin.

Dia tahu kalau dia dijuluki seperti itu, tapi dia tidak marah, malah dia menambahkan namanya menjadi 'San-xin-shen-jun'.

Setelah 30 tahun berlalu, namanya di dunia persilatan sangat terkenal, begitu pula dengan nama jeleknya.

Dalam hidupnya dia hanya mengagumi satu orang dan orang ini pun sangat dikenal oleh kalangan persilatan, dia adalah Tuan Jian, sifat mereka ternyata banyak kesamaan.

Hanya saja ilmu silat Tuan Jian lebih tinggi dibandingkan San-xin-shen-jun, dan Tuan Jian masih bisa membedakan mana yang jahat dan mana yang baik.

20 tahun yang lalu, San-xin-shen-jun tiba-tiba saja menghilang, begitu pula dengan Tuan Jian, tidak ada alasan yang jelas, ternyata mereka hanya merasa bosan dengan dunia persilatan.

Dia tinggal di gunung dalam jangka waktu lama, kecuali menanam bunga dan mengambil tanaman obat-obatan di gunung, dia pun memperdalam tenaga dalamnya.

Hidup seperti ini bagi orang seperti dirinya yang mempunyai ilmu silat tinggi dan juga pintar, selain itu sifatnya yang berbeda dengan orang biasa, siapa pun tidak akan sanggup melakukannya.

Tapi dia pun ternyata bisa diam dan berpikir.

Karena itu dia kembali lagi ke dunia persilatan.

Di dunia ini terkadang suatu kejadian bisa terjadi secara kebetulan, saat dia menginap di sebuah penginapan terpencil, dia pun mengetahui gerak-gerik Tuan Jian.

Setelah mereka bertemu mereka malah tidak bicara, dia mencoba tenaga dalam Tuan Jian, ini merupakan laku aneh dari orang aneh.

Yang pasti tenaga dalam mereka sangat tinggi, dengan cara mereka mengirim suara secara rahasia, ini membuktikan kalau kemampuan mereka telah berada di tahap tertinggi.

Yang dimaksud dengan mengirim suara secara rahasia adalah orang yang mempunyai ilmu tenaga dalam tinggi, bisa menyimpan suaranya sendiri, kemudian mengirimkan ke salah satu telinga lawan bicaranya.

Tapi orang lain tidak bisa mendengar, kalau menceritakan hal ini kepada orang biasa, mereka akan merasa aneh, bisa dikatakan hal seperti ini hanya ada di dalam dongeng.

Tapi Tuan Jian pernah mengirim suara secara rahasia kepada Sun-ming, tapi San-xin-shen-jun dengan lengan bajunya mengibas suara itu, dan ingin telapak tangan yang kuat menggetarkan suara Tuan Jian, maka Sun-ming tidak bisa mendengar suara Tuan Jian lagi.

Di depan kedua orang itu, Sun-ming merasa seperti seorang anak yang baru belajar ilmu silat.

Sun-ming melihat Tuan Jian, Tuan Jian tertawa kepadanya.

Maka Sun-ming berjalan ke arah tempat tidur, melihat lalu mengelus kepala putrinya.

Sekarang semua keraguan dan rasa tidak tenangnya telah berlalu digantikan dengan rasa gembira yang amat sangat.

Seorang perempuan bila telah mencium adanya sedikit rasa bahagia, dia akan segera menangkapnya, Sun-ming pun tidak terkecuali, walaupun dia belum benar-benar menangkap-nya, tapi dia mulai berkhayal.

"Kalau luka Lin-er sudah sembuh, dan dia bisa menjadi salah satu murid mereka, itu sangat bagus!"

Dia tersenyum tapi ada sedikit pikiran sedih, 'Apakah kami bisa membalaskan dendam ayah Liner?

Berapa lama kami harus menunggu?

Sepertinya harus dengan usaha kami sendiri, tapi aku...' Diam-diam dia menghela nafas, air matanya mulai menitik lagi, dia segera memejamkan matanya supaya jangan terus berpikir seperti itu.

Dia melihat dua orang aneh dari dunia persilatan, sepasang mata Tuan Jian yang bercahaya terus menatapnya, dalam sorot matanya terlihat ada kelembutan, dalam hati Sun-ming timbul riak seperti riak air.

Dia ingin putrinya bahagia, sedangkan untuk dirinya sendiri dia tidak berharap apa pun.

Mungkin karena luka hatinya terlalu dalam sehingga membuatnya tidak bisa memikirkan kebahagiannya sendiri.

--BAB Zhong-nan-shan Sebenarnya Tuan Jian dan San-xin-shen-jun mengobrol dengan cara rahasia, bukan karena mereka takut Sun-ming akan mendengar jneakapan mereka, melainkan sifat mereka memang seperti itu.

Saat ingin melakukan sesuatu mereka tidak mempedulikan perasaan orang yang ada di sisi mereka.

Pembicaraan mereka tadi hanya tentang perpisahan mereka yang telah lama dan baru bisa bertemu hari ini.

Tapi Sun-ming tidak berpikir seperti itu, 'Apa yang sedang mereka bicarakan?

Mengapa aku boleh mendengar?' Diam-diam Sun-ming berpikir jika dia mempunyai ilmu seperti San-xin-shen-jun, dia pun akan menggunakan telapak tangannya menggetarkan suara mereka.

Dia menundukkan kepalanya karena tidak berani melihat sorot mata orang itu.

Raut wajahnya seperti senang sekaligus takut membuat semua orang yang melihatnya akan merasa kasihan padanya.

Tuan Jian hanya tersenyum, tapi senyumannya sulit dibaca maknanya oleh orang lain.

"San-xin-shen-jun memang mempunyai ilmu pengobatan yang tinggi, tapi kedua orang yang terluka ini tidak bisa disembuhkan dalam waktu singkat "

Dengan nada yang tidak terlalu dingin lagi dia berkata pada Sun-ming.

"Kita tidak bisa tinggal lama-lama di sini."

"Tadi sebelum kau kemari, aku sudah bersiap-siap akan membawa mereka ke Zhong-an-shan"

JawabTuan Jian. San-xin-shen-jun segera memotong.

"Si hidung kerbau yang tinggal di Zhong-nan-shan, apakah belum mati?"

Pembicaraan mereka terdengar tidak sungkan lagi, mereka tidak seperti orang lain yang memegang banyak sopan santun dan etika, apa yang dipikirkan langsung dikatakan saat itu juga.

"Umur Biksu Yu-ji tidak seperti usiamu. 7 tahun yang lalu dia sudah meninggal, tapi murid pertamanya yang bernama Miao-ling sekarang menjadi ketua Zhong-nan-pai."

Kata Tuan Jian Dia tertawa dan berkata lagi.

"Dulu ketika kita bertarung dan berlatih di Zhong-nan-shan, dia selalu menunggu di sisi. Akhirnya kau mengajarkannya jurus 'Wu-jin-shen-fa'. Ketika itu dia masih anakanak, sekarang dia sudah menjadi pesilat terkenal di dunia persilatan."

"Oh! Ternyata dia yang kau maksud,"

Jawab San-xin-shen-jun "Apakah dia adalah biksu Zhong-nan, Miao-ling?"

Tuan Jian mengangguk.

"Jujur saja, luka kedua orang ini benar-benar sangat berat, aku pun angkat tangan. Aku ingat Biksu Miao-ling banyak belajar ilmu pengobatan kepadamu, mungkin kami bisa pergi ke sana dan mencoba mengobati mereka, tidak disangka kami tidak bertemu muridnya malah bertemu dengan gurunya langsung."

"Aku tidak menyangka kalau semakin tua ternyata kau semakin licin. Asalkan kau mau menghabiskan sedikit tenaga dalam saja untuk melancarkan aliran darah kedua orang ini bisa kau lakukan, walaupun luka dalam mereka berat itu, dengan bantuan tenaga dalammu mereka bisa sembuh. Kau tidak perlu mencari orang lain lagi. Sekarang aku sudah mengatakan hal ini, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan nyaman. Setelah hal ini selesai, aku juga ingin kau membantuku melakukan sesuatu!"

"Kau selalu mengukur orang lain dengan hati kerdil, apakah kau tahu dulu sewaktu aku berlatih ilmu tenaga dalam, hampir saja aku salah. Walaupun aku menguasai ilmu rahasia yang dianggap sangat rahasia tapi karena sejak awal Latihan aku terlalu tergesa-gesa maka sampai sekarang, jika aku mengeluarkan tenaga dalam, akan sulit dihentikan. Itu akan melukai orang lain juga diriku, aku benar-benar tidak sanggup. Mungkin di waktu yang genting tenaga yang kukeluarkan tidak bisa membantu mungkin malah akan melukai orang lain, karena itu aku tidak berani mengeluarkan tenaga dalamku."

San-xin-shen-jun merasa senang, pelan-pelan berkata.

"Jika begitu aku tidak minta tolong kepadamu, sebaliknya kau yang meminta tolong kepadaku."

Dia sengaja berhenti bicara, ternyata benar wajah Tuan Jian terlihat tertarik dengan hal ini.

Sepertinya ini terlalu awal untuk diceritakan "Setelah kau membantuku melakukan hal ini, aku akan membantumu untuk hal lain,"

Kata Sanxin-shen-jun. Tuan Jian ingin mengatakan sesuatu tapi dia mengurungkan niatnya. Dia hanya berkata.

"Sejak tadi kita terus mengobrol dan lupa masih ada orang lain."

Dia menunjuk ke luar jendela dan berkata.

"Hari sudah terang, butuh satu hari perjalanan dan kita akan tiba di Zhong-nan."

"Setelah meninggalkan Zhong-nan, tahu-tahu sudah berlangsung 20 tahun, aku ingat ketika di Zhong-nan, kita belum selesai bermain catur. Ketika itu kau sudah kalah, alasanmu saat itu ada hal penting yang tidak bisa ditunda sehingga kau tidak menyelesaikan permainan catur kita. Sekarang aku tidak akan membiarkanmu mencari alasan yang tidak masuk akal lagi."

San-xin-shen-jun tertawa terbahak-bahak.

"Baiklah, baiklah, apakah kau tahu selama kurun waktu 20 tahun lebih ini kecuali menanam bunga dan pergi ke gunung mencari tanaman obatobatan, setiap hari aku selalu mencari tahu di mana letak kesalahanku ketika bermain catur denganmu. Kali ini kau pasti yang akan kalah!"

Dari kata-kata mereka, Sun-ming tahu walaupun mereka berdua memiliki sifat sangat aneh tapi mereka tetap orang biasa.

Apalagi dewa pedang, Tuan Jian semenjak berkelana di dunia persilatan, dia tidak pernah memberitahukan nama dan identitasnya kepada orang lain.

Pertama kali saat Sun-ming melihatnya, Tuan Jian selalu terlihat dingin dan tidak berperasaan, tapi setelah melihatnya sekarang, di balik wajah dinginnya yang seperti es, dia juga seperti orang biasa mempunyai darah panas.

Hanya saja dia bisa menutupinya dengan rapat, membuat orang sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan.

Penginapan di mana mereka menginap adalah sebuah penginapan kecil.

Kota kecil ini berada di tempat dan belum mendekati Chang-an.

Sesudah Sun-ming membereskan keretanya, hari sudah terang dan masih pagi, mereka segera meninggalkan penginapan.

Tuan Jian dan San-xin-shen-jun adalah orang yang senang pergi melancong dan tempat yang mereka singgahi tidak menentu, maka mereka tidak pernah naik kuda.

Kereta sudah disiapkan tapi Sun-ming tidak bisa duduk di depan untuk menjadi kusir.

Pertama, dia harus mengurus kedua orang yang masih terluka, alasan kedua, mana mungkin ada seorang kusir perempuan?

Apalagi selama ini Tian-zheng-jiao dengan ketat mencari Sun-ming, karena itu dia hanya berdiri terpaku di sana.

San-xin-shen-jun tersenyum.

"Walaupun tempat tujuan kita tidak terlalu jauh dari sini, tapi dengan membawa 2 orang yang sedang terluka ini, itu bukan hal yang mudah. Aku harap Tuan Jian untuk sementara mau menjadi kusir."

Di bawah siraman sinar matahari terlihat sudut mata dan dahi San-xin-shen-jun dipenuhi dengan kerutan, tenaga dalamnya sangat tinggi, tapi dia sudah tua dan dia tetap tidak bisa melawan takdir alam.

dia sangat terbuka, bicara pun masih seperti seorang anak muda yang tidak mengerti pengalaman hidup.

Tapi nada bicaranya yang datar membuat orang yang mendengar nada bicaranya merasa dingin.

Dengan pandangan berterima kasih Sun-ming melihatnya.

Menghadapi seseorang yang mempunyai nama jelek dan sifat aneh tapi bisa menggetarkan dunia persilatan, dia merasa mulai akrab dengan mereka.

Dia melihat Tuan Jian yang angkuh.

Sun-ming benar-benar tidak bisa membayangkan seorang raksasa di dunia persilatan akari menjadi kusirnya saat ini.

Tapi Tuan Jian tertawa.

"Jangan mengira karena hal ini akan membuatku menyerah menjadi kusir, mengapa tidak akan kulakukan? Tapi aku ingin kau menjadi seorang pelayan yang menuntun kuda ini berjalan, kau...."

San-xin-shen-jun tertawa.

"Asalkan kau suka, apa pun akan kulakukan, menjadi pelayan untuk menuntun kereta berjalan, mengapa tidak?"

Dia membalikkan kepala berkata pada Sun-ming.

"Nona mempunyai kusir dan pelayan penuntun kuda, di dunia ini tidak akan ada yang kedua!"

Tawanya terdengar nyaring, dia sama sekali tidak marah. Hal yang dilakukan oleh orang aneh membuat orang biasa tidak akan mengerti. Sun-ming yang berada di dalam kereta pikirannya tidak karuan.

"Dewa pedang menjadi kusirku, Shen-jun menjadi pelayanku."

Dia benar-benar tidak percaya telah terjadi hal seperti ini.

Matahari bersinar dan masuk melalui jendela kereta.

Melihat anak perempuannya Ling-lin yang terbaring di bawah siraman sinar matahari, terlihat begitu cantik, di sisi anak perempuannya adalah seorang pemuda yang sampai sekarang ini, dia belum mengetahui namanya, demi nyawanya pemuda ini telah rela mengorbankan nyawanya.

Dalam hatinya timbul kebahagiaan.

Tiba-tiba dia merasa dari seorang perempuan biasa dia menjadi seperti ratu yang sangat dihormati.

Sekalipun dia seorang ratu, tapi itupun tidak mungkin menjadikan 2 orang aneh itu menjadi kusir dan pelayannya.

Kehormatan ini tidak bisa ditukarkan dengan apa pun.

"Tapi aku sudah mendapatkannya."

Kebahagiaan yang datang dengan tiba-tiba ini membuatnya kebingungan, mungkin kesulitan yang dia dapatkan selama ini sudah cukup banyak dan sekarang waktunya dia mendapatkan kebahagiaan.

Kereta kuda teru s berjalan...

Entah sejak kapan dia tertidur pulas.

Kesulitan yang dihadapinya selama beberapa hari ini benar-benar membuatnya merasa sangat lelah.

Karena hatinya sekarang agak tenang, dia bisa tertidur pulas.

Matahari sudah terbenam, kereta telah berjalan melewati Chang-an dan telah tiba di kaki Gunung Zhong-nan.

Gunung Zhong-nan berada di selatan kota Chang-an.

Gunung itu adalah gunung terkenal, Zhong-nan-pai berdiri di sana.

Bersama-sama 7 perkumpulan yang ada di hong-yuan, mereka menjadi sebuah keluarga.

Dulu ketua Zhong-nan-pai yaitu Biksu Yu-ji, dengan pedangnya yang bernama Song-wen, menggunakan jurus pedang 'tujuh kali tujuh empat puluh sembilan' terkenal di dunia persilatan.

Biksu Yu-ji mempunyai ilmu silat tinggi tapi dia jarang mengeluarkan ilmu silatnya, dia mengangkat murid pun dengan ketat, maka murid-murid Zhong-nan selalu orang bermutu dan terpilih, dan mereka juga biksu bersih.

Beberapa tahun ini zhong-nan-pai jarang mencampuri urusan dunia persilatan maka nama mereka agak tenggelam, tapi ilmu silat mereka semakin hari semakin maju.

Kadang mereka tanpa sengaja mengeluarkan jurus, itu saja sudah membuat orang terkejut melihatnya.

Mereka tidak seperti Wu-dang-pai ataupun Kong-dong-pai yang menjadi perkumpulan teramai di dunia persilatan.

Sekarang pemimpin Zhong-nan-pai adalah Biksu Miao-ling.

Walaupun baru 7 tahun menjadi pemimpin tapi dia berhasil membuat Zhong-nan-pai semakin berjaya dan juga hidup dengan tenang.

Selama beberapa tahun ini dia hanya sekali turun gunung tapi nama Zhong-nan-jian-ke makin hari makin terkenal di dunia persilatan.

Zhong-nan-shan selama ini selalu hidup dengan tenang dan aman, jarang ada orang dunia persilatan yang berani mencari masalah dengan mereka, maka Tuan Jian memilih tempat ini untuk Sun-ming dan putrinya.

Tapi ada hal yang terjadi di luar dugaan..

Ketika hari semakin larut, Tuan Jian yang biasanya terlihat santai dan tenang, sedang duduk di tempat kusir, tangan kirinya memegang tali kekang, mulutnya berdecak mengendalikan kuda.

Dia berhenti di mulut jalan masuk gunung.

San-xin-shen-jun turun dari kereta.

Dia bercanda.

'Tidak disangka kecuali bisa memegang pedang dengan posisi bagus, ternyata menjadi kusir pun lumayan juga.

Aku benar-benar kalah darimu!"

Tuan Jian tertawa.

"Siluman, jangan terus menertawakanku, lebih baik jaga mulutmu. Kau harus banyak belajar tentang teknik bermain catur!"

Dia membalikkan badan mengetuk pintu kereta memberitahu Sun-ming kalau mereka sudah sampai.

Sun-ming baru terbangun dari tidurnya, dia merasa kacau dan kebingungan.

Di dalam kereta sangat gelap.

Dia baru tahu bahwa hari sudah malam.

Dia menjulurkan kepalanya untuk melihat keluar.

Ada sebuah jalan tidak begitu lebar tapi berliku-liku menuju ke arah gunung.

Sun-ming langsung turun kemudian membereskan rambutnya.

Dengan tertawa dia bertanya.

"Apakah ini Zhong-nan-shan?"

Berkata lagi.

"kudanya tidak bisa naik ke gunung, bagaimana dengan dua orang terluka di dalam kereta?"

Tuan Jian berpikir dan tidak menjawab tapi San-xin-shen-jun segera tertawa.

"Kali ini kau jangan menjadi kusir tapi menjadi kudanya."

Dia tinggal di gunung selama 20 tahun lebih, setiap hari kecuali mendengarkan suara angin dan hujan, bahasa burung, dan ulat, dia hidup dalam kesepian.

Kesepian yang sangat sulit ditahan membuat sifatnya tidak menentu.

Karena itu dengan teman satu-satunya yang ada di dunia ini...Tuan Jian, pada saat bertemu, walaupun dia tahu ilmu tenaga dalamnya tidak sekuat Tuan Jian tapi dia tetap merasa sangat senang!

Ini bukan berarti dia menganggap remeh mengenai kemenangan dan kekalahan, pikirannya senang karena dia telah bertemu dengan teman lama.

Hal ini lebih penting dibandingkan kalah atau menang.

Karena hati merasa senang maka setiap kali bicara dia selalu bercanda.

Tuan Jian yang sombong dan dingin sudah tahu bagaimana sifat temannya Ini, dia sama sekali tidak menaruh semuanya itu di dalamhati.

Kata-kata San-xin-shen-jun keluar, Sun-ining belum mengerti maksudnya, tapi Tuan Jian sudah tertawa dan berkata.

"Budha sering mengajarkan kepada kita, semua orang di dunia ini bisa menjadi Budha. Manusia adalah mahluk hidup, kuda juga mahluk hidup, kau sudah lama membaca buku apakah masih tidak mengerti? Mari, aku adalah seekor kuda, kau juga kuda. Kita akan menarik kereta ini ke atas gunung!"

Dalam hati Sun-ming ingin tertawa.

Tuan Jian yang dingin sekarang bisa bercanda juga.

San-xin-shen-jun maju selangkah kemudian melayangkan tangannya.

Dua buah roda di kereta putus dengan posisi rata seperti dibacok dengan kapak yang sangat tajam.

Dia masih tersenyum, kemudian tangannya ditempelkan di kereta.

Lengan baju kirinya dilambaikan, dia melepaskan kuda penarik kereta itu dan mengusir kuda itu ke gunung.

Dia sudah bercanda.

"Tuan Jian mengatakan sendiri kalau dia adalah kuda, kuda adalah dia. Sekarang aku telah melepaskan kudanya, berarti melepaskan dia juga."

Dia membalikkan kepala lalu bertanya kepada Tuan Jian.

"Hei, aku sangat baik bukan, dengan cara apa kau akan membalas kebaikanku?"

Sun-ming tertawa.

Hari ini karena keadaaan hatinya tenang dan bebas dari beban, banyak hal yang tadinya tidak bisa diselesaikan sekarang sudah menda-patkan pemecahannya.

Tuan Jian juga tersenyum.

Dia bisa membuat kesulitan Sun-ming terpecahkan, tapi Sun-ming juga bisa membuat orang aneh dan kesepian, hati yang sudah lama tertekan menjadi terbebas serta merasa senang.

Di seberang San-xin-shen-jun, Tuan Jian pun menempelkan telapaknya ke atas permukaan kereta.

Mereka berdua tersenyum bersama-sama kemudian seperti ada magnet telapak mereka mengangkat kereta berat itu dan dengan tenang mereka berjalan ke arah gunung.

Sun-ming sudah mengetahui bagaimana hebatnya tenaga dalam mereka berdua dan tidak merasa aneh karenanya.

Dia ikut mereka berdua dari belakang dan terus naik ke atas gunung.

--BAB 10 Terjadi perubahan Malam semakin gelap, jalan di gunung itu semakin berliku-liku.

Tapi jalan yang sulit ditempuh itu sama sekali tidak membuat dewa pedang yang terhormat dan San-xin-shen-jun kesulitan.

Mereka berjalan dengan tenang seperti sedang berjalan-jalan di musim semi.

Sun-ming yang berjalan di sisi mereka berjalan dengan santai, kesunyian gunung membuat hatinya terasa berat.

Sekarang adalah musim dingin, bunyi-bunyian serangga tidak terdengar, hanya terdengar ranting kayu kering berbunyi karena tertiup oleh angin kencang, membuat orang yang merasa dalam kesepian menjadi bertambah sunyi hatinya.

Setelah berjalan memutari beberapa gunung, jalannya lebih menyempit lagi.

San-xin-shen-jun tertawa dan berkata kepada Tuan Jian.

"Sepertinya murid generasi sekarang lebih lemah dari generasi sebelumnya. Murid-murid Yu-ji tidak seperti gurunya, malam hari seperti ini biksu-biksu di Zhong-nan-shan bertindak ceroboh. Coba kau lihat!"

Dia menunjuk ke balik gunung.

"Sekarang adalah waktunya untuk belajar malam tapi kita tidak mendengar ada orang yang sedang membaca kitab suci, lonceng kuil pun sama sekali tidak terdengar. Mungkin biksu-biksu di Zhong-nan-shan sudah masuk ke balik selimut untuk tidur. Jika aku bertemu dengan anak nakal itu, aku akan memarahinya."

Sun-ming mendengar perkataannya, San-xin-shen-jun menganggap pemimpin Zhong-nan-pai seorang anak kecil, dia ingin tertawa karenanya.

Dalam hati dia berpikir, 'Paling-paling usianya sekitar 40-50 tahun tapi dia sudah terkenal di dunia persilatan dari 40-50 tahun silam, mungkin usia sebenarnya sudah sangat tua tapi karena dia menguasai tenaga dalam yang tinggi, yang sering dikabarkan di dunia persilatan sebagai ilmu ajaib awet muda, mungkin ilmu seperti itu yang dikuasainya.' Tapi Tuan Jian mengerutkan kedua alisnya.

Dia mempercepat langkahnya dan terus berjalan ke arah gunung.

Saat berbelok, di depan terbentang lilitan yang gelap.

Bila berjalan lurus akan ada buah jalan kecil yang dipenuhi dengan batu kerikil tapi dewa pedang terhormat, Tuan Jian dan San-xin-hen-jun berjalan tanpa mengeluarkan suara.

Mereka berjalan beberapa langkah, Sun-ming baru melihat ternyata di dalam hutan ada sebuah kuil.

Dia berpikir, 'Hari masih sore, mengapa lampu-lampu di kuil itu begitu redup sepertinya orang-orang yang ada di dalam kuil sudah tertidur semua.

Apakah orang-orang Zhong-nan-pai adalah orang-orang pemalas?' Tapi Tuan Jian merasa ada sesuatu, lalu sebelah tangan dia mengangkat kereta itu.

San-xin-shen-jun mulai menarik sikapnya yang sering bercanda.

Dia lari beberapa meter ke depan kemudian seperti seekor bangau berwarna abu terbang di malam sepi.

Gerakannya ringan juga Indah.

Sun-ming dengan cepat mengikuti mereka.

Ia lihat pintu utama kuil yang berwarna merah tertutup rapat.

Di dalam kuil tidak terlihat ada orang, keadaan di sana bukan sepi melainkan seperti ada hawa kematian.

San-xin-shen-jun berdiri di depan kuil dan mengetuk pintu.

Ring pintu yang berwarna ungu terus berbunyi tapi seperti tidak ada yang keluar untuk membukakan pintu.

Dia melihat Tuan Jian.

"Aku akan masuk melihat-lihat."

Lengan bajunya dikibaskan, dia meloncat melewati pagar setinggi 6 meter dan masuk ke dalam kuil. tiba-tiba dari dalam kuil terdengar suara seseorang yang membentak.

"Siapa!"

Sun-ming berpikir, 'Mengapa biksu Zhong-nan begitu galak?' Diiringi suara bentakan, tampak seorang biksu sudah berdiri di depan pintu.

Matanya terus melihat keluar pintu, sikapnya sangat waspada.

San-xin-shen-jun dengan nada tidak suka berkata kepada biksu itu.

"Tidak disangka semenjak Biksu Yu-ji meninggal dunia, ternyata orang-orang di sini semakin sombong. Katakan kepada ketua kalian ada teman lama yang datang berkunjung!"

Dia mengatakan kata 'berkunjung' dengan pelan dan membuat biksu itu melihatnya, tiba-tiba dia merasa senang juga kaget, dia segera berteriak.

"Paman Guru Murong!"

San-xin-shen-jun terpaku, dia tidak menyangka kalau biksu yang membukakan pintu mengenalinya juga mengetahui nama dan marga yang jarang dipakai dan jarang ada yang tahu...

Murong Wang-wu.

Sun-ming merasa Tuan Jian melewatinya dan berlari ke depan.

Biksu itu berlutut di depan kuil dan berkata.

"Apakah Paman Guru tidak mengenali keponakanmu ini?"

San-xin-shen-jun menatap biksu itu dari atas ke bawah. Tuan Jian segera bertanya.

"Apakah kau adalah Miao-ling?"

Biksu itu melihatnya. Di bawah sinar bulan yang redup, dia mulai mengenali orang yang ada di depannya.

"Ya, ternyata paman Guru Jian juga datang!! Aku adalah Miao-ling, kedua paman guru meninggalkan Zhong-nan-shan 30 tahun yang lalu tapi wajah kalian tidak berubah."

San-xin-shen-jun mengangguk dan berkata.

"Tapi kau sudah berubah banyak, tidak disangka anak yang sering membawa air teh sekarang ini adalah pesilat terkenal di dunia persilatan juga ketua Zhong-nan-pai Dia membalikkan kepala berkata kepada Tuan Jian.

"Tahun demi tahun berlalu, waktu sangat cepat berganti beberapa tahun lagi mungkin kita sudah masuk ke liang kubur."

Sun-ming melihat biksu yang keluar dari kuil, diam-diam dia berpikir.

"Apakah dia adalah pesilat Zhong-nan-pai, Xuan-men-yi-he? Dia adalah ketua Zhong-nan-pai, mengapa dia yang membuka pintu?"

Sun-ming tidak salah, pada perkumpulan mana pun, siapa pun yang menjadi ketua, tidak pernah dia sendiri yang membukakan pintu.

Tangan Tuan Jian tampak dilambaikan, dia memapah Miao-ling untuk berdiri.

Dia melihat ke dalam kuil.

Di dalam hanya terpasang sebuah lampu.

Dengan bantuan cahaya redup dia melihat wajah Miao-ling.

Wajah yang kurus itu terlihat sangat lelah.

Dia tahu pasti telah terjadi perubahan besar di Zhong-nan-pai.

"Tuhan benar-benar melindungi kami, aku tidak menyangka kedua paman guru akan datang kemari."

Suara Miao-ling penuh kegembiraan bercampur dengan kesedihan.

"Kedua paman guru sudah datang, 429 nyawa murid Zhong-nan-pai sudah terkubur separuh!"

Tuan Jian dan San-xin-shen-jun, Murong Wang-wu mengetahui kalau di Zhong-nan-pai telah terjadi sesuatu di sana, tapi begitu mendengar kata-kata Biksu Miao-ling tadi, wajah dingin mereka tetap saja berubah.

Perubahan apakah yang membuat beratus-ratus nyawa murid biksu Zhong-nan-pai terancam kematian?

Semenjak Zhong-nan-pai didirikan, para pesilat tangguh dari Zhong-nan-pai selalu bermunculan, semua murid adalah orang yang berguna.

Hal ini bisa terjadi, bukankah sangat aneh?

Dengan terkejut Tuan Jian bertanya lagi.

"Kita sudah berpisah sekian lama, kau sudah tumbuh dewasa, aku benar-benar merasa senang dan ingin memberikan selamat kepadamu! Tapi..."

Dia berhenti sebentar, matanya melihat ke sekeliling.

"Apakah di Zhong-nan-pai telah terjadi sesuatu?"

Biksu Miao-ling menarik nafas panjang...... dia melihat Sun-ming yang berada di balik tubuh Tuan Jian. Dengan terkejut dia berkata lagi.

"Zhong-nan-shan telah terkena bencana, yang selama beberapa ratus tahun ini belum pernah di temui. Aku tidak berguna dan tidak mempunyai cara lain. Jika kedua paman guru tidak datang kemari, Zhong-nan-pai yang telah berdiri selama beberapa ratus tahun ini mungkin akan musnah."

Dari kata-kata Biksu Miao-ling, terdengar kalau masalah ini sangat berat. Tuan Jian yang biasanya tenang terlihat wajahnya berubah lagi. Biksu Miao-ling menarik nafas.

"Kedua paman guru, di sini bukan tempat yang baik untuk mengobrol, mari kita masuk dulu, aku akan menceritakan semua yang terjadi di sini."

Tuan Jian dan Murong Wangwu membawa masuk kereta.

Sun-ming mengikuti mereka masuk.

Miao-ling melihat ada seorang perempuan cantik datang bersama dengan kedua paman guru yang sangat dihormatinya.

Tuan Jian adalah dewa pedang terhormat begitu pula dengan San-xin shen-jun.

Walaupun dia merasa aneh, tapi dia tetap tidak berani menanyakannya secara langsung, dia hanya berdiri dengan sikap hormat di pinggir.

Lampu di ruangan itu menyala hanya sebesar biji kacang, membuat ruangan itu terlihat sedih juga sepi.

Patung-patung Budha masih dengan tangan kanannya yang gagah memegang pedang.

Di bawah sinar temaram seperti ini, patung Budha itu terlihat lebih hidup, seperti dewa dan dewi yang turun dari langit.

Siapa pun yang masuk ke ruangan ini, hatinya akan terasa berat.

Sekarang hati Sun-ming seperti tertindih benda berat.

Benda ini membuatnya tidak bisa bernafas.

Di kuil yang begitu besar ini kecuali Biksu Miao-ling, yang lain tidak terlihat.

Seumur hidup Sun-ming belum pernah dia melihat kuil begitu sepi dan menyedihkan.

Wajah Tuan Jian dan Murong Wang-wu pun terlihat begitu serius.

Mereka mengangkat Yi-feng dan Linglin keluar dari dalam kereta.

Biksu Miao-ling berkata.

"Kedua paman guru, untuk sementara kalian bisa membawa 2 pasien ini ke kamar itu."

Dia menarik nafas panjang.

"Di dalam kuil ini kecuali diriku, nyawa yang lainnya hampir tidak tertolong. Nafas mereka sudah terengah-engah."

Di bawah lampu yang redup terlihat wajahnya bertambah lesu.

Kedua alisnya selalu berkerut.

Hal ini membuat Sun-ming yang tadinya sudah lemas bertambah lemas lagi.

Orang yang berbakat sangat banyak, pesilat tangguh pun banyak, Zhong-nan-pai yang sangat terkenal di dunia persilatan mengapa mereka bisa berubah seperti ini?

o-o-o BAB 11 Ketua Tian-du-jiao Ternyata selama sebulan ini, di Zhong-nan-pai telah terjadi perubahan besar, murid-murid mereka terus sakit-sakitan dan mereka tidak sadarkan diri, nafas mereka pun semakin lemah.

Awalnya semua mengira kalau ini hanya sakit biasa, tapi anehnya yang sakit semakin banyak dan semua yang mendapat penyakit ini datang secara tiba-tiba.

Biksu Miao-ling sangat memahami ilmu pengobatan tapi dia sendiri tidak tahu penyakit apa yang mereka derita sebenarnya.

Karena dia belajar ilmu pengobatan langsung dari San-xin-shen-jun, kepandaiannya tentu saja lebih tinggi dibandingkan tabib biasa tapi dia tetap tidak mengetahui mereka sakit apa.

Belakangan ini beberapa murid yang kondisinya agak lemah akhirnya tidak bisa bertahan dan meninggal dunia, beberapa adik seperguruannya pun sakit tanpa sebab.

Di Zhong-nan-shan.

Semua menjadi berhati-hati, akhirnya yang tidak sakit hanya Biksu Miaoling.

saja!

Hal ini membuat Biksu Miao-ling yang sangat pintar menjadi kebingungan.

Dia tidak tahu apa penyebab di balik semua peristiwa ini, lebih-lebih dia tidak tahu bagaimana menghadapi penyakit ini, Ingin meminta bantuan pun tidak mempunyai cara.

Biksu Miao-ling melihat keadaan semua murid Zhong-nan seperti ini, hatinya menjadi sedih dan juga cemas.

Suatu pagi, di ruang tengah di tengah tiang iiimah, ditemukan sehelai kertas.

Di atas kertas hitam itu ditulis dengan huruf putih.

Setelah membacanya dengan benar-benar, siapa pun yang telah membacanya menjadi terkejut.

Di atas kertas itu tertulis.

Kepada yang terhormat Ketua Zhong-nan-shan, Biksu Miao-ling.

"Sudah ratusan tahun dunia persilatan Zhong-yuan selalu ribut, ini dikarenakan tidak ada ketua maka terjadi perebutan kekuasaan dan saling bunuh. Ketua Tian-du-jiao mendapat dukungan dari Tuhan dan semua orang, terpaksa semua keributan ini kami ambil alih. Apalagi ketua Zhong-nan-shan sangat berbakat, masa seumur hidup harus hidup terikat di Zhong-nan-shan. Itu adalah tindakan salah, karena itu perkumpulan kami telah mengambil keputusan ini. Kami akan menerimamu menjadi murid kami, dan juga berharap ketua bisa menyampaikan perintah ini kepada semua murid Zhong-nan-shan. Mulai saat ini Zhongnan-shan bernaung di bawah bendera Tian-du-jiao (Perkumpulan racun langit). Ratusan murid Zhong-nan-shan yang sudah sakit tidak perlu diberi obat, mereka akan sembuh dengan sendirinya, karena ketua kami tidak ingin murid-muridnya terserang penyakit!"

Yang bertanda tangan Ketua Tian-du-jiao Surat ini ditulis tidak begitu bagus tapi tetap saja mengejutkan orang-orang.

Sesudah membaca surat itu wajah Biksu Miao-ling langsung memucat.

Dia baru tahu ternyata murid-murid Zhong-nan-shan terkena racun.

Ketua Tian-du-jiao memberikan racun misterius dan aneh, sangat jelas jika Biksu Miao-ling tidak menyetujui pendapat ketua Tian-du-jiao maka murid-murid akan segera mati karena tidak ada obat penawarnya.

Biksu Miao-ling belum pernah mendengar di dunia persilatan ada perkumpulan yang bernama Tian-du-jiao, siapakah ketua Tian-du-jiao yang dimaksud di dalam surat itu?

Dengan cara apakah dia bisa meracuni beberapa ratus biksu di Zhong-nan-shan?

Dia menjadi kebingungan.

Yang paling membuat Biksu Miao-ling terkejut juga marah adalah ketua Tian-du-jiao ini menginginkan Biksu Miao-ling menyerahkan Zhong-nan-pai yang telah didirikan oleh ketua-ketua Zhong-nan-pai kepada ketua Tian-du-jiao.

Dan Zhong-nan-pai yang sudah ratusan tahun berdiri harus bernaung di bawah bendera Tian-du-jiao yang belum pernah didengar namanya selama ini.

Jika hal ini sampai terdengar oleh orang lain mungkin sangat tidak masuk akal, tapi bagi Biksu Miao-ling, dia merasa kalau surat ini adalah surat ancaman berat.

Jika dia tidak setuju, maka nyawa murid-murid Zhong-nan-shan tidak akan tertolong lagi.

Dia adalah ketua Zhong-nan-pai, mana mungkin menyetujui ancaman seperti ini?

Dia gelisah dan juga bingung.

Pada hari ketiga setelah dia mendapat surat ini ada dewa penolong datang ke Zhong-nan-shan.

Sekarang di Zhong-nan-shan, di belakang kuil itu, biksu Miao-ling dengan sedih menceritakan semua itu dengan jelas dan teliti kepada kedua paman gurunya.

Dari jaman dahulu sampai sekarang, di dunia persilatan ini walaupun mendirikan perkumpulan atau kumpulan lainnya, tidak pernah ada yang mendirikan perkumpulan, dengan cara licik mengancam perkumpulan lain agar mau bernaung di bawah benderanya.

San-xin-shen-jun tertawa dingin.

"Dengan dukungan Tuhan menguasai dunia persilatan, belum pernah kudengar ada orang gila berbuat seperti ini. Aku tidak percaya ada racun yang tidak bisa kutawarkan. Baiklah Miao-ling, bawa aku melihat keadaan murid-muridmu!"

Tuan Jian tampak berpikir sebentar lalu berkata.

"Tidak perlu melihat lagi, menurutku racun tidak berwarna juga tidak berbau tapi bisa membuat ratusan orang terkena racun ini, orang yang terkena racun tidak sadarkan diri, kemudian perlahanlahan meningal, di dunia ini hanya ahli racun Wu-du-zhen-jun yang bisa membuat racun dari air liur laba-laba, darah landak beracun, air liur kaki seribu ditambah dengan semacam rumput beracun yang hanya tumbuh di daerah perbatasan Yun-nan, menjadi semacam racun yang bernama 'Chu-gu-sheng-shui' (Air suci tulang) sepertinya tidak ada racun lain yang lebih dahsyat lagi dari racunnya."

Dia menarik nafas dan berkata lagi.

"Setelah Wu-du-zhen-jun berhasil membuat racun ini, secara kebetulan di dunia persilatan diadakan rapat 'Jun-shan' maka Wu-duzhen-jun berniat dengan racun ini, dia akan membuat para pendekar keracunan dan mati. Rencana busuknya berhasil, semua pendekar terkena racun. Ketika Wu-du-zhen-jun sedang bersenang-senang di atas penderitaan, ada seorang yang aneh, walaupun dia telah terkena racun tapi ilmu silatnya tidak menghilang...dia memaksa Wu-du-zhen-jun mengeluarkan obat penawarnya, maka bencana di dunia persilatan pun bisa terhindar dan ratusan nyawa pendekar bisa di selamatkan."

Semua yang ada di kamar terus melihatnya, sapai-sampai seorang San-xin-shen-jun pun diam menunggu kelanjutan ceritanya.

"Wu-du-zhen-jun berhasil dibunuh oleh tetua ini. Air 'Chu-gu-sheng-shui' yang katanya hanya dipakai beberapa tetes, sisa racun itu telah menghilang entah kemana."

Sun-ming bertanya.

"Air racun hanya dipakai beberapa tetes tapi sudah membuat beberapa pendekar di dunia persilatan terkena racun dalam waktu bersamaan."

Pelan-pelan Tuan Jian berkata lagi.

"Belakangan aku baru tahu walaupun Wu-du zhen-jun hanya meneteskan beberapa tetes racun ke dalam air minum, tapi dia telah membuat air sungai di sana menjadi air beracun. Begitu aku mendengar cerita Miao-ling tadi, aku tahu kalau Chu-gusheng-shui' sekali lagi muncul di dunia perrsilatan Aku kira ada orang yang sengaja menaruh racun ke dalam air sungai Zhong-nan-shan. Orang yang terkena racun ini bila dilihat menurut tingkatan ilmu silatnya, maka jangka waktu sakitnya akan berbeda-beda."

Dengan nada curiga Miao-ling berkata lagi.

"Aku sendiri pun meminum air sungai itu, mengapa aku seperti tidak terkena racun?"

Alis Tuan Jian tampak berkerut.

"Mungkin orang yang membubuhkan racun tidak meracunimu dan berniat memperalatmu."

San-xin-shen-jun bertanya.

"Mengapa kau bisa begitu yakin kalau racun yang menjangkiti murid-murid Zhong-nan-pai itu adalah racun'Chu-gu-sheng-shui'? Dulu dalam rapat Jun-shan aku tidak ikut tapi aku pun pernah mendengar cerita ini, hanya saja tidak sejelas sekarang. Apakah di dunia ini tidak ada racun lain yang lebih hebat?"

Tuan Jian menarik nafas.

"Aku bisa begitu yakin karena ketika itu walaupun usiaku masih kecil tapi aku ikut guruku ke sana untuk menghadiri rapat Jun-shan. Aku juga terkena racun itu."

"Selama beberapa tahun ini aku selalu berkelana ke daerah propinsi Yun-nan, aku pernah mendengar seorang temanku bercerita kalau 'Chu-gu-sheng-shui' yang dulu dibuat oleh Wu-duzhen-jun muncul lagi di dunia persilatan. Tidak disangka yang terkena racun itu adalah muridmurid Zhong-nan-pai."

Sun-ming tidak pernah mendengar nama siluman yang muncul beberapa puluh tahun lalu, tapi saat melihat Tuan Jian begitu serius, maka dia pun tahu kalau racun ini bukan sekedar racun biasa, maka dia mengerutkan keningnya, Biksu Miao-ling terlihat begitu terkejut, wajahnya penuh dengan kesedihan.

San-xin-shen-jun memejamkan kedua matanya, dia seperti sedang berpikir, setelah lama dia baru berkata.

"Racun yang dicampur dengan 7 macam racun ini, aku tidak akan bisa menawar-nya."

Dia melihat Tuan Jian dan berkata lagi.

"Beberapa puluh tahun ini aku tidak bisa menebak siapa gurumu, sekarang setelah kau menceritakan hal ini, di mana obat penawar itu berada, aku kira kau pasti mengetahuinya?"

Kata-kata ini membuat semua orang terpaku. Wajah Tuan Jian berubah tapi dia tetap berkata.

"Siapa guruku tidak perlu dirahasiakan lagi, sekarang kau pasti sudah tahu, kau pasti tahu kesulitan yang akan dihadapi, obat penawar yang dulu masih tersisa, memang masih ada tapi tetua aneh itu terakhir kali karena satu hal dia membenci orang-orang dunia persilatan ini, maka dia menyimpan obat penawar dan juga kitab rahasia yang mencatat ilmu silatnya yang tinggi seumur hidup. Dan masih ada sebutir obat yang sudah berusia 200 tahun yang dibuat oleh 'Donghai Tui Xian-zi'. Obat ini bisa membuat ilmu silat siapa pun menjadi sangat dahsyat, obat yang ber-nama 'Du-long-wan' (pil racun naga). Semua ini juga disimpannya di sebuah tempat yang sangat rahasia. Dia mengatakan kelak jika ada seseorang seperti dirinya bisa menelan semua kesulitan dan kepahitan yang sama dengannya, maka orang ini akan mendapatkan semua benda miliknya dan orang aneh yang mempunyai ilmu tinggi ini dalam rasa kecewanya yang berat akhirnya bisa bunuh diri!"

Sun-ming dan Biksu Miao-ling tidak tahu siapa yang dimaksud orang aneh berilmu silat tinggi yang baru diceritakan oleh Tuan Jian tadi.

San-xin-shen-jun terus berpikir, dia mengumpul-kan ingatannya, dengan cara menghantar suara dia berkata kepada Tuan Jian.

"Aku berteman denganmu sudah sekian lama, bisa dikatakan kalau kita adalah teman akrab, aku hanya akan bertanya satu kata kepadamu, Wu-gu-xing-jun Du Gu-ling itu siapamu? Dimana kitab Tian-xing-mi-ji' (kitab rahasia bintang langit) berada sekarang? Apakah hanya kau yang tahu tempatnya?"

Sun-ming dan Biksu Miao-ling bingung nelihat kelakuan San-xin-shen-jun dan Tuan Jian.

mereka tidak mengerti mereka sedang bicara apa.

Tuan Jian berusaha menahan emosinya, tapi tetap terlihat kalau raut wajahnya terus berubahubah.

Dia melihat San-xin-shen-jun, dengan manghantar suaranya pelan-pelan dia berkata.

"Kalau kau bisa menebak semuanya untuk apa bertanya lagi? Hal yang dulu terjadi membuat hidupku tidak tenang, maka aku selalu dengan wajah palsu tampil dihadapan orang lain. Kitab rahasia Tian-xing-mi-ji' memang aku sendiri yang tahu di mana disimpannya kecuali kalau aku bertemu dengan orang special seperti yang kumaksud, aku tidak akan memberitahukannya kepada orang lain."

Mata San-xin-shen-jun dibuka tapi dia segera memejamkannya lagi. Dengan kecewa dia berkata.

"Aku memilih tinggal di gunung, kali ini aku turun karena kitab rahasia 'Tian-xing-mi-ji' tapi aku sudah salah tafsir. Aku kira yang bersembunyi di Qing-hai, di sungai Mu-wu-lu adalah seseorang yang sangat aneh yang tidak mempunyai nama dan marga, menganggap dia adalah satu-satunya murid Wu-gu-xing Gu Du-ling. Tadi pagi aku mengatakan ada satu hal, aku ingin dia membantuku melakukannya, yaitu pergi bersama-ku ke Qing-hai untuk mencari kitab 'Tian-xing-mi-ji'."

Dia menarik nafas panjang, dia tidak menghantar suara lagi malah berteriak.

"Kalau begitu harapanku tidak akan tercapai."

Kedua matanya sekali lagi terbuka, sorot matanya seperti pisau tajam mengarah ke wajah Tuan Jian.

"Jika kau tidak memberitahuku di mana obat penawarnya, apakah kau tega melihat beberapa ratus murid Biksu Yu-ji mati oleh racunnya Wu-du-zhen-jun?"

Dua orang berilmu silat tinggi juga sangat dingin.

Sekarang mereka hilang sikap mereka yang biasa, apalagi wajah Tuan Jian terlihat sangat sedih.

Terlihat dihatinya sedang terjadi perang batin dengan hebat!

Sun-ming perlahan-lahan berjalan ke depan tempat tidur, tiba-tiba dia melihat wajah pemuda yang menolongnya sangat pucat.

Pucat sampai membuat orang takut melihatnya, dia meletakkan tangannya di depan hidung Yi-feng, nafasnya tinggal sedikit lagi.

Karena terkejut dia berteriak.

"Dia...sepertinya dia akan mati!"

Teriakan ini membuat ketiga orang di sana terkejut dan segera melihat keadaannya.

San-xin-shen-jun menarik nafas panjang dan berjalan ke depan tempat tidur "Aku menolong satu orang dan sebagai gantinya mendapatkan satu nyawa."

Dia melihat Tuan Jian dan berkata.

"Nyawa beberapa ratus orang itu berada di tanganmu!"

Suaranya sangat berat. Sun-ming berpendapat.

"Jangan percaya 100% pada gosip diluaran. San xin-shen-jun mempunyai reputasi jelek di dunia persilatan, tapi ternyata dia seorang yang baik hati!"

Sebenarnya setelah San-xin-shen-jun memutuskan bersembunyi dan tinggal di gunung selama 20 tahun lebih, perubahan yang terjadi pada san xin-shen-jun sangat besar, hanya Sun-ming yang tidak mengetahuinya.

--BAB 12 Tidak ingin mengenang masa lalu Dua jam telah berlalu, napas Yi-feng yang tadinya sudah lemah dan tidak sadarkan diri, pelanpelan mulai membuka matanya.

Dia mulai merasa kalau dia berada di sebuah kamar yang langitlangitnya sangat tinggi.

Tulang tangan dan kakinya serasa lepas dari tubuhnya.

Dua tangan terasa panas di belakang tubuhnya secara perlahan bergerak, panas yang dikeluarkan dari telapak itu membuat tubuhnya terasa aneh.

Dia tahu ada seorang pesilat tangguh sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk membantunya melancarkan aliran darah ke nadi-nadi yang ada di seluruh tubuhnya, tapi dia tidak tahu siapa orang itu, karena saat itu pikiran dan hatinya masih kacau.

Dia masih berada dalam kabut kebingungan!

Kemudian dia mulai teringat kembali hal yang menimpa dirinya sebelum dia terluka.

Karena itu dalam hati dia merasa aneh.

Selama beberapa hari ini, dia berada dalam keadaan tidak sadarkan diri, maka apa yang terjadi padanya dia tidak tahu.

Sekarang dia mulai sadar, tapi tenaga dan pikirannya saat ini masih lemah.

Terkadang dia masih tidak bisa memikirkan sesuatu.

Nyawanya masih bisa dipungut, dua luka berat yang didapatkan akibat bertarung melawan Sepasang Mayat Pencabut Nyawa, setelah melalui beberapa hari melakukan perjalanan ditambah dengan keadaan hatinya yang masih tertekan, maka saat dia berada di kamar Miao-ling, nyawanya hampir saja melayang.

Setelah San-xin-shen-jun melakukan beberapa pemeriksaan, ternyata luka Yi-feng lebih berat dari perkiraannya semula.

Karena dia telah berjanji untuk mengobati luka Yi-feng maka dia pun mengeluarkan obat yang telah lama dikumpulkan dan menghabiskan waktu sangat lama untuk membuatnya.

Obat yang bernama 'Zai-zao-wan' ini dibuat untuk memperkuat nafas seseorang.

Dan obat ini akhirnya bisa menolong nyawa Yi-feng, kemudian menghabiskan tenaga dalam San-xin-shen-jun untuk memperlancar nadi-nadi Yi-feng.

Kecuali San-xin-shen-jun di dunia ini tidak ada orang yang bisa menarik nyawa Yi-feng yang hampir melayang.

Yi-feng sendiri tidak tahu nasib baik apa yang ditemuinya, dia hanya merasa ada telapak tangan yang bergerak di tubuhnya, semakin lama gerakan tangan itu semakin cepat.

Dari gerakan mengelus menjadi menepuk.

Hanya dalam waktu singkat, nadi yang berjumlah 108 semua telah ditepuk.

Lalu Yi-feng memuntahkan dahak yang telah bercampur dengan darah.

Sewaktu San-xin-shen-jun berhenti bergerak, tampak keningnya berkeringat deras.

Dia duduk bersila tidak bergerak.

Kemudian dia memejamkan kedua matanya, memulihkan tenaganya , yang telah terkuras banyak demi menolong Yi-feng.

Kamar itu sepi, Biksu Miao-ling berdiri dengan lesu, wajahnya menyaratkan kesedihan, dia diam seperti patung, berdiri dengan kaku.

Tuan Jian pun duduk dengan diam.

Wajahnya terlihat datar, tapi dari tangannya yang mengepal erat, terlihat kalau orang yang berilmu silat tinggi ini pikirannya sedang bergejolak.

Sun-ming terus melihat San-xin-shen-jun yang sedang menolong orang yang telah berbudi kepadanya.

Sampai Yi-feng sadar dan memuntahkan darah serta dahak, dia baru berani menghembuskan nafas panjang.

Ling-lin yang lukanya lebih ringan sesudah minum obat pemberian San-xin-shen-jun.

Sekarang dia tertidur dengan pulas, wajahnya yang cantik mulai menjadi merah.

Yang terluka semakin membaik, hati Sun-ming mulai terasa lega, begitu dia menolehkan kepala untuk melihat, dia melihat wajah Tuan Jian, dia merasa lebih terkejut!

Walaupun dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada orang yang berilmu tinggi itu, tapi dia tahu kalau Tuan Jian pasti sedang menghadapi kesulitan, dia ingin dan berharap mempunyai kesempatan membantu kesulitan Tuan Jian.

Setelah lama, kamar itu seperti baru terbangun dari rasa sepinya.

San-xin-shen-jun turun dari tempat tidur, sorot matanya sudah kembali seperti semula, setelah menghabiskan tenaga dalam cukup banyak, dia masih terlihat begitu bersemangat, dari sini dapat diketahui kalau dia mempunyai ilmu tinggi.

Pelan-pelan dia berjalan mendekati Tuan Jian, dia melihat Tuan Jian dengan pandangan berat dan berkata.

"Kita sudah puluhan tahun berteman, aku tahu seperti apa yang disebut sebagai Tuan Jian, menghadapi situasi seperti ini kau pasti menemui kesulitan besar, tapi mungkinkah kau tega melihat nyawa ratusan orang melayang begitu saja?"

Sun-ming berjalan mendekati tempat tidur, melihat mata Yi-feng yang terpejam rapat, dia seperti sedang tertidur nyenyak. Begitu Sun-ming mendengar perkataan San-xin-shen-jun, dia segera berkata.

"Sesuai perkiraan Tetua tadi, orang yang mengaku sebagai ketua Tian-du-jiao pasti mempunyai obat penawarnya, mengapa kita tidak memaksanya keluar dan memberikan obat penawarnya?"

Dengan dingin San-xin-shen-jun menjawab.

"Siapa ketua Tian-du-jiao, sampai sekarang kita tidak tahu, kecuali kalau dia muncul dengan sendirinya. Kalau tidak entah ke mana kita harus mencarinya?"

San-xin-shen-jun menarik nafas lagi.

"Tapi nyawa ratusan murid Zhong-nan-pai dalam bahaya, kalau kita terus menunggu mereka, walaupun menunggu sehari saja, akan banyak nyawa yang melayang. Nyawa setiap manusia sangat penting, kalau putra atau putrimu terkena racun, kau tidak akan bisa bicara seperti itu!"

Suaranya terdengar serius dan besar, Sun-ming menundukkan kepalanya karena malu, dalam hati dia memarahi dirinya sendiri, dia tidak marah kepada San-xin-shen-jun karena menegur-nya dengan kata-kata berat, karena kata-kata yang diucapkannya sangat masuk akal.

Wajah Tuan Jian terlihat lebih serius lagi, tiba-tiba dia membuka mata dan berkata.

"Jangan salahkan aku karena tidak berperasaan. Aku dan Kakak Yu-ji telah lama berteman, masa aku tidak memperhatikan keselamatan murid-muridnya? Nyawa yang harus ditolong begitu banyak, walaupun bukan Zhong-nan-pai yang terkena musibah aku akan tetap menolong mereka, apalagi ini menyangkut hidup dan matinya Zhong-nan-pai, tapi..."

Dia menarik nafas panjang, kedua matanya dipejamkan kembali, Biksu Miao-ling yang sejak tadi diamm tiba-tiba berkata.

"Tadi Paman Guru Jian mengatakan kalau ada seseorang yang mengalami kesedihan sama seperti tetua yang mempunyai ilmu silat tinggi itu, maka dia bisa bisa mendapatkan kitab dan obat itu, apakah Paman Guru Jian bisa menceritakan tentang kesedihan tetua ini? Mungkin saja...."

Tuan Jian mengibaskan tangannya, melarang Miao-ling terus bicara, wajahnya terlihat sedih, pelan-pelan dia berkata.

"Tetua pemilik ilmu tinggi itu, tenaga dalamnya telah mencapai puncak, dan tubuhnya menjadi tubuh yang tidak bisa ditembusi senjata, selama ratusan ini dia sangat terkenal, hanya saja...."

Dia menarik nafas lagi.

"Entah mengapa semasa tuanya, dia malah menikahi seorang gadis dan gadis itu melahirkan seorang putra untuknya."

Sun-ming melihatnya, hatinya tergerak, Tuan Jian berhenti bicara sebentar, lalu pelan-pelan melanjutkan kembali.

"Tetua pemilik ilmu silat tinggi itu, dalam rapat Jun-shan telah menolong semua pendekar Zhong-yuan yang terkena racun, maka dia mendapat julukan dewa terhormat, di dunia persilatan semua masalah yang terjadi asalkan dia yang bicara dan turun tangan, pasti akan segera beres. Ini dikarenakan semua orang ingin membalas budinya, tapi terakhir...."

Sewaktu Tuan Jian bercerita, beberapa kali dia berhenti bicara, sepertinya hatinya terus bergejolak. Banyak hal yang sulit untuk diungkapkan, akhirnya dia bicara lagi.

"Istrinya menggunakan nama baiknya, dia memakai topeng dan menggunakan ilmu yang diajarkan oleh suaminya, melakukan hal yang membuat Tuhan tidak mengijinkan siapa pun untuk melakukannya Perbuatannya membuat orang-orang menjadi marah. Awalnya orang dunia persilatan masih teringat pada budi sang suaminya, tapi lama-kelamaan mereka tidak tahan lagi. Wibawa yang sudah lama dibangun oleh tetua itu dalam waktu 3 tahun dihancurkan oleh istrinya sendiri!"

Hari sudah larut, tapi orang yang berada di kamar itu masih dengan sepenuh hati mendengar cerita Tuan Jian, mereka tidak merasa lelah.

Dari tempat tidur terdengar nafas seseorang yang berat, di luar jendela angin berhembus terus Tuan Jian melanjutkan lagi.

"Kemudian istri tetua itu takut kalau perbuatannya akan diketahui suaminya, maka dia telah pergi meninggalkan Tiongkok dia pergi ke tempat seorang siluman, lalu menjadi istri muda siluman itu. Hati tetua ini menjadi terluka, tapi dia tidak ingin membalas dendam kepada istrinya. Karena dia menganggap kalau perasaan tidak bisa dipaksakan. Dalam kesedihannya dia melimpahkan kasih sayangnya kepada anak tunggalnya."

Sun-ming menghela nafas, Biksu Miao-ling dan San-xin-shen-jun pun demikian, mereka seperti melihat seorang tua yang sedih dan sedang menuntun seorang putra, berdiri di depan mereka saat ini.

Tuan Jian membalikkan badan, melihat ke dinding kosong, dia meneruskan kembali katanya.

"Karena tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, maka orang persilatan terus menghinanya, menganggap dia bukan orang berhargaa lagi. Isu tidak enak terus menggoncangkan dunia persilatan, ada beberapa pendekar yang 'berniat menyatukan semua pendekat tangguh untuk membalas dendam kepada tetua itu."

"Kemudian putra satu-satunya dari tetua itu ternyata juga telah salah paham kepada ayahnya. Suatu malam saat terang bulan, dia membuat pernyataan kalau tetua itu bukan ayahnya lagi!"

Sun-ming menghapus air matanya. Tuan Jian melanjutkan kembali ceritanya.

"Tetua berilmu tinggi itu dan hati penuh luka, ditambah dengan pukulan yang datang dari putranya sendiri, membuatnya menjadi tidak waras, dari tempat persembunyiannya dia kembali ke dunia persilatan. Tapi orang persilatan begitu melihat sosoknya mereka langsung menghinanya dari jauh. Sampai perampok-perampok besar pun tidak sudi bergaul dengannya, kemudian..."

Dia terbatuk ringan, seperti ingin menutupi kesedihannya.

"Tetua berilmu tinggi itu marah, ditambah dia sudah tidak waras, akhirnya dia membunuh Jinling-san-jie (3 orang terkenal dari Jin-ling), karena mereka yang paling sering menghinanya, begitu darah mengotori tangannya, dia baru sadar dari pikiran kacaunya, tapi kesalahan itu sudah terjadi. Karena Jin-ling-san-jie adalah orang terkenal dalam membela keadilan dan kebenaran. Setelah mereka mati dunia persilatan menjadi marah karenanya."

"Di dunia ini yang paling menyedihkan adalah difitnah dan tidak ada tempat untuk meminta keadilan."

Semua orang di dalam kamar mendengar cerita itu dengan hati berat. Wajah San xin shen-jun terlihat lebih sedih lagi. Tuan Jian pun kembali meneruskan ceritanya.

"Tetua berilmu silat tinggi itu sadar kalau semuanya tidak akan bisa diselesaikan dan dijelaskan, apalagi dia masih sangat mencintai istrinya, dia pun tidak mau menjelaskan keadaan sebenarnya. Demi menghindari pertumpahan darah, akhirnya dia memutuskan tinggal di tempat terpencil, hanya saja dia bukan orang yang dulu lagi."

"Dia sangat kecewa, istrinya pergi meninggalkannya, demikian pula dengan putranya, tidak ada seorang pun yang tahan dengan keadaan seperti ini, karena itu dia pun menulis sebuah kitab, mencatat semua ilmu yang dimilikinya, serta sebutir obat bernama 'Du-long-wan', yang siap dia berikan pada putranya juga obat penawar dari racun 'Chu-gu-sheng-shui'. Semua itu dikuburnya di daerah di perbatasan Yun-nan."

"Semenjak putranya pergi meninggalkannya, dia berkelana di dunia persilatan, dia tahu di mana ayahnya berada saat ini. Menurut orang-orang darah lebih kental daripada air, maka dia pun memutuskan untuk mencari ayahnya. Tapi tetua berilmu silat tinggi ini menepak nadi di kepalanya sendiri, dia memutuskan membunuh diri, tapi sebelum dia mati, dia masih sempat bertemu dengan putranya untuk terakhir kalinya."

Cerita ini membuat Sun-ming terus meneteskan air matanya. Biksu Miao-ling mengatupkan kedua tangannya untuk menghormati tetua itu dan merasa turut berduka cita. Tuan Jian dengan sedih berkata lagi.

"Tetua berilmu tinggi itu sebelum meninggal masih mempunyai tenaga kuat, mungkin semua ini disebabkan karena masalah berat yang menimpanya sehingga membuatnya lebih kuat dan tegar. Dia masih sempat berpesan kalau di dunia ini ada orang yang hidupnya tersiksa sama seperti dirinya namun mempunyai cita-cita yang belum diselesaikan, silakan pergi ke perbatasan Yun-nan tepatnya di Gunung Wu-liang untuk mengambil benda-benda yang dikuburkannya di sana."

"Karena tempat di mana dia menyembunyikan benda-benda itu, hanya diketahui oleh putranya sendiri, dan pesan terakhir yang ditinggalkannya adalah untuk putranya sendiri."

"Setelan putra tunggalnya melihat keadaan ayahnya seperti itu, hatinya bertambah pedih, melihat wajah ayahnya yang telah meninggal saat berada dalam sebuah gua, terus membayang di benaknya. Selama 3 tahun dia duduk menghadapi dinding gua, semua itu dia lakukan untuk menebus dan menyesali semua perbuatannya."

"Kemudian dia pun menutupi gua itu, membiarkan mayat ayahnya di sana supaya tidak diganggu oleh orang-orang lagi, lalu..."

Tuan Jian membalikkan tubuhnya, mata-nya seperti tertutup oleh sebuah kabut tipis, apakah itu adalah pantulan dari air matanya ataukah air matanya yang menetes? Dia berkata lagi.

"Kalian adalah orang dunia persilatan, apakah kalian tahan melihat ada orang seperti tetua ini yang keadaannya mengenaskan seperti itu? Mana mungkin aku.."

Tiba-tiba dia menghentikan ucapannya, kamar sepi seperti kuburan, lalu dia pun menghela nafas.

"Tidak perlu kukatakan lagi, kalian pasti sudah bisa menebak, tetua berilmu tinggi itu tidak lain adalah ayahku sendiri, aku adalah putranya yang penuh dengan dosa, dalam keadaan seperti itu apakah aku bisa melanggar pesan terakhir ayahku dengan mengatakan tempat di mana dia menyembunyikan obat penawarnya?"

"Selama puluhan tahun aku menutup nama dan margaku, lalu berkelana di dunia persilatan, , maksudku tidak lain adalah mencari seseorang yang nasibnya sama seperti ayahku, nasib yang begitu menyedihkan. Di dunia ini orang yang mengalami kesulitan sangat banyak, tapi sampai saat ini aku belum menemukan seseorang yang nasibnya lebih menyedihkan dari ayahku." --BAB 13 Bencana mendatangkan rejeki Kamar tetap sepi dan sunyi seperti mati... Tidak ada yang bersuara untuk menghibur Tuan Jian yang sedang bersedih, lebih-lebih tidak ada yang memaksa Tuan Jian untuk mengatakan di mana tempat penyim-panan kitab rahasia dan obat penawarnya. Tiba-tiba orang yang ada di atas tempat tidur bergerak-gerak, terdengar suara lemah yang berkata.

"Aku ingin memberikan pendapat..."

Semua orang disana terkejut dan melihat ke arah tempat tidur, Sun-ming segera berlari ke arah sana, pemuda yang menolongnya sedang berusaha bangun untuk duduk.

Tapi lukanya baru saja sembuh, walaupun sudah minum obat dan nadi-nadinya telah dilancarkan aliran darahnya, tapi tubuhnya yang telah terkena jurus Yin-du-zhang, tidak bisa dalam waktu singkat sembuh total.

Karena itu dia melepaskan keinginannya untuk duduk, dan tetap terbaring di tempat tidur.

San-xin-shen-jun segera berpikir sebentar lalu bertanya.

"Apa yang ingin kau ungkapkan?"

Yi-feng ingin menyahut tapi dia masih lemas, pikiran San-xin-shen-jun terus berputar-putar.

"Dia terluka berat dan baru saja sembuh, kalau terlalu banyak bicara, nanti malah akan merepotkanku lagi, melihatnya keinginan untuk berbicara, pasti ada hubungannya dengan masalah yang sedang kami bicarakan, apakah...."

Karena itu dia segera berjalan mendekati tempat tidur dan bertanya.

"Apa yang ingin kau sampaikan? Katakan-lah sekarang, kami siap mendengarnya."

Sun-ming merasa aneh.

"Dia belum sembuh total mengapa San-xin-shen-jun malah membiarkannya bicara?"

Tapi Sun-ming tidak mengatakan kalau dia tidak setuju, dia juga berpikir San-xin-shen-jun pasti mempunyai maksud tertentu.

Miao-ling pelan-pelan berjalan mendekati tempat tidur.

Baca Juga: Legenda Bunga Persik Gu Long

Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger