Dua Musuh Turunan 13

Eps 13 Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen

Baca online Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen

Cersil Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen.

In Loei datang bersama ayahnya, yang bercacat kakinya.

Berdua mereka menaiki kuda merah itu.

Lewat di rumah tua itu In Loei singgah, ia tambat kudanya, lalu dengan pepayang ayahnya mendaki gunung itu.

Lama mereka berjalan, maka itu, mereka tiba selagi pertempuran berlangsung.

Sekarang kedua kuda, putih dan merah, meringkik saling sambut, mereka pun berlompatan, berjingkrakan.

Menyaksikan itu, Tantai Mie Ming menjadi heran.

"Ah, rumah siapa ini?"

Berkata dia sambil tertawa.

"Tidak kusangka, tuan rumah itu ada punya seekor kuda jempol... Eh, Tan Hong, kenapa, kenapa kudamu..."

Sebenarnya jenderal ini hendak menanyakan mengapa kedua kuda itu seperti telah kenal lama satu dengan lain, tapi ia batalkan itu karena dengan sekonyong-konyong ia tampak wajah si anak muda berubah pula, wajah itu menjadi pasi dan air matanya pun segera mengembeng.

Ia menjadi heran dan terkejut.

Tan Hong tidak jawab kawannya itu, kemudian ia menghela napas, lalu seorang diri ia perdengarkan suaranya.

"Tak sanggup aku mengalami pula kedukaan semacam ini! Bukankah daun kuning terbawa angin barat berarti usus putus? Ya, ya, kuda pun ada sedemikian rupa, apapula manusia?"

Belum berhenti suara si anak muda, dari dalam rumah telah terdengar suara orang, rupanya tuan rumah, yang mendengar suara berisik, hendak keluar untuk menghentikan suara kuda yang membikin berisik itu.

Tan Hong dengar kuda itu, sekonyong-konyong ia cambuk kuda putihnya keras sekali, ia sendiri lompat naik ke atas kudanya itu.

Tadi ia telah lompat turun untuk membiarkan kedua kuda saling bertemu.

Sudah lama Tjiauwya saytjoe ma ikuti anak muda ini, sebegitu jauh belum pernah dia dicambuk begitu rupa, tidak heran kalau saking sakit dan kaget, lantas saja dia berlompat dengan ke empat kakinya dan terus kabur larat sekuat-kuatnya!

Tantai Mie Ming pun heran, tetapi karena ia ditinggal pergi, tanpa bisa bilang suatu apa, terpaksa ia lantas menyusul.

Kembali ia merasakan penderitaan, oleh karena ia ketinggalan jauh sekali.

Ia tidak menjadi gusar atau mendongkol terhadap si anak muda, ia hanya menggeleng-geleng kepala...

"Tan Hong, pikiranmu tidak sehat,"

Katanya seorang diri.

"Kenapa kau persakiti seekor binatang?"

Tan Hong sendiri, di atas kudanya, yang ia peluki, telah menangis menggerung-gerung.

Ia mencoba usap-usap lehernya Tjiauwya saytjoe ma, akan tetapi karena kuda sudah kabur, baharu sekira sepuluh lie lebih, dapat ia menguasainya pula.

Ketika kemudian Tantai Mie Ming telah dapat menyusul, Tan Hong sudah berhenti menangis, air matanya telah ditepas kering, ia sedang berhenti di tepi jalan di depan sebuah warung arak.

Mie Ming hentikan kudanya di dekat kawan itu.

Ia merasa sangat heran, ia ingin mengetahui sebabnya perubahan adat dari pemuda ini.

Sebelumnya belum pernah si anak muda perlihatkan sikap yang aneh ini.

"Eh, Tan Hong, kau kenapakah?"

Ia tanya. Tan Hong tidak awasi sahabatnya, ia pun tidak menjawabnya, ia hanya bicara dengan caranya sendiri.

"Mari! Mari! Kita minum puas-puasan di sini!"

Demikian katanya. Itulah bukan jawaban, itulah ajakan! "Kita masih harus melakukan perjalanan cepat,"

Tantai Mie Ming memperingatkan. Tan Hong menjawab tetapi sambil tertawa.

"Jikalau ada arak, mesti kita minum itu sampai mabuk!"

Katanya.

"Dengan keadaan mabuk itulah paling tepat untuk membuat perjalanan! Eh, Tantai Tjiangkoen, mengapa hari ini kau nampak tidak gembira?"

Sehabis mengucap demikian, tanpa memberi ketika kepada kawannya itu, Tan Hong sambar tangan orang untuk ditarik, buat diajak masuk ke dalam warung arak itu.

"Apakah ada koumiss di sini?"

Dia berseru, menanya tuan rumah atau pelayan, untuk minta susu kuda, arak termurah untuk di Mongolia. Tuan rumah adalah seorang yang sepasang matanya putih mencilak.

"Ada, kau menghendaki berapa banyak?"

Berkata tuan rumah itu, suara dan sikapnya kaku.

"Aku minta kau membayar uang di muka!"

"Kau sajikan enam atau tujuh kati!"

Sahut Tan Hong dengan suara keras, terus ia lemparkan sepotong perak ke meja tuan rumah itu sepotong besar, yang lebih dahulu ia tepuk-tepuk di atas meja.

"Inilah uang arak, selebihnya untukmu! Jangan kau ngoceh tidak keruan, tidak senang aku melihat biji matamu yang putih itu! Tahukah kau?"

Tuan rumah itu kaget, lekas-lekas ia ubah sikapnya. Sekarang ia berlaku telaten dan wajahnya pun senantiasa tersungging senyuman. Tapi di dalam hatinya, ia kata.

"Kiranya orang ini sudah minum sinting di lain warung arak..."

Koumiss di warung arak ini rasanya asam dan juga turunnya seret, maka itu, baharu ia tenggak dua cangkir, Tantai Mie Ming sudah kerutkan keningnya.

Tidak demikian dengan Tan Hong, yang meminumnya sangat bernapsu!

Begitulah, lekas sekali anak muda itu sudah keringkan tujuh cawan.

"Arak yang wangi! Arak yang wangi!"

Demikian pemuda ini berseru-seru dengan pujiannya.

Hanya, di dalam sintingnya itu, di depan matanya berpeta samar-samar bayangannya In Loei, bayangan yang bergoyang-goyang...

Pada mula kalinya Tan Hong ikat persahabatan dengan In Loei justeru ia telah minum koumiss dari sebuah buli-buli yang besar, ia meminumnya secara sangat bernapsu dan gembira, akan tetapi sekarang, ia minum seorang diri, ia telah kehilangan kekasihnya itu, maka itu, bukan main sedih hatinya.

Ia jadi sangat berduka, lebih-lebih lagi ketika ia membayangkan si nona...

Tantai Mie Ming masih minum beberapa cegukan kapan ia lihat arak susu kuda telah hampir habis ditenggak Tan Hong.

"Cukup sudah!"

Ia lalu berkata.

"Mari kita berangkat!"

Ia tidak mengatakan langsung agar kawan ini hentikan minumnya. Tan Hong menyeringai, ia letakkan cawannya. Hampir di waktu itu, di luar terdengar riuh ringkiknya kuda.

"Tjoei Hong, lihat!"

Demikian terdengar satu suara nyaring.

"Itulah kuda Tjiauwya saytjoe ma dari Tan Hong!"

Menyusuli suara itu, orang tertampak bertindak masuk ke dalam warung arak itu, satu pria, dan lainnya wanita, yang jalan di depan ialah Tjioe San Bin, dan yang belakangan, Tjio Tjoei Hong.

Segeralah terdengar keluhannya pemuda she Tjioe itu.

"Oh, Tan Hong, bagaimana sengsara aku mencari kau! Siapa sangka di sini kita bertemu!"

Tjoei Hong sendiri perdengarkan seruan kaget.

"Tan Hong, mana entjie In Loei?"

Dia bertanya.

"Kenapa ia tidak ikut serta bersamamu?"

Tan Hong menggeleng kepalanya, terus ia bersenanjung.

"Manusia itu ada saatnya untuk berduka dan bergembira, berpisah dan berkumpul, bagaikan rembulan ada waktunya bulat bundar dan bercacat, suram gelap dan terang cemerlang. Demikian tetap berlanjut sejak jaman purbakala. Kau tidak dapat menahan padanya, cara bagaimana aku pun dapat menahannya? Ya, ya, semoga manusia hidup kekal abadi, beriang gembira bersama-sama seribu lie..."

Tidak puas Nona Tjio mendengar kata-kata itu, ia menyangka Tan Hong menggodai dia mengingat kejadian dahulu hari halnya ia keliru menganggap In Loei sebagai pemuda, maka wajahnya menjadi merah.

"Foei!"

Katanya.

"orang omong benar-benar, kau ngaco belo!"

Tan Hong terperanjat, lantas menjadi sadar sedikit dari sintingnya.

"Eh, mengapa kau mendapat tahu dan dapat mencari aku di sini?"

Dia tanya. Lenyap lantas kemendongkolannya si nona, terus saja ia tertawa.

"Kami telah sampai di rumahnya entjie In!"

Ia menjawab.

"Kami telah bertemu dengan In Peebo. Bukankah kau dan In Loei telah bertengkar? Peebo bilang bahwa kau datang bersama In Loei kemudian kau pergi seorang diri. Peebo pun beritahukan kami bahwa entjie Loei telah pergi bersama ayahnya beberapa hari yang lalu. Aku menyangka mereka mencari kau..."

"Pantas tadi di jalan aku dengar suara seperti beberapa orang bicara, kiranya itulah kamu!"

Berkata Tan Hong.

"Kami baharu sampai, lantas kami dengar suaranya Tjiauwya saytjoe ma,"

Tjoei Hong berkata pula.

"waktu kami keluar untuk melihat, kau nyata telah pergi jauh, lantas kami menyusul, baharu sekarang kami dapat menyandak padamu! Ya, hendak aku tanya kau,"

Menambahkan si nona.

"umpama benar kau bercedera dengan entjie In Loei, tidak seharusnya kau berlaku begini tidak tahu aturan! Kenapa kau lewat di rumahnya entjie Loei tapi tidak mampir? In Peebo harus dikasihani, kau selayaknya pergi menjenguk padanya..."

Dengan tiba-tiba air mukanya Tan Hong berubah, kedua biji matanya berdiam. Ia lantas tunduk mengawasi dadanya saja. Tjoei Hong menjadi heran.

"Entjie Loei sangat lemah lembut, tentulah kau yang berbuat salah terhadapnya!"

Ia berkata pula.

"Oleh karena itu, ia menjadi tidak mau pedulikan pula padamu! Sebenarnya, urusan apakah itu? Coba kau tuturkan kepadaku. Nanti aku wakilkan kau untuk menyampaikan maaf kepadanya..."

Nona Tjio ini lantas saja tertawa geli. Tantai Mie Ming lihat gelagat kurang baik, ia lantas datang sama tengah.

"Mari kita bicarakan urusan kita!"

Demikian ia menyelak.

"Kau masih belum menjelaskan, siapakah yang beri tahu kamu alamatnya In Loei itu?"

Masih si nona tertawa.

"Apakah aku bukan omong tentang urusan kita?"

Ia balik menanya. Ia sebenarnya hendak bicara terus tapi ia segera tampak wajah pucat pasi dari Tan Hong, yang terus membungkam dan menjublak saja, dengan lantas ia berhenti tertawa.

"Pemerintah Beng sudah kirim utusan,"

Berkata San Bin, yang turut bicara. Ia bicara dari urusan yang benar.

"Utusan itu akan segera tiba di negeri Watzu untuk merundingkan perdamaian."

"Hal itu aku sudah ketahui,"

Berkata Tantai Mie Ming.

"Coba terka, siapakah yang menjadi utusan itu?"

San Bin tanya.

"Siapakah dia?"

Tiba-tiba Tan Hong menanya. Ia sadar dari menjublaknya.

"Dialah kakaknya In Loei,"

Sahut San Bin. Kembali Tan Hong menjublak. Kali ini disebabkan ia ingat In Tiong bersikap bermusuh terhadapnya. Datangnya In Tiong itu bisa menyebabkan semakin putus harapannya terhadap In Loei.

"Apa? Apakah kau tidak gembira?"

Menanya San Bin, yang tak tahu hati orang.

"Kenapa aku tidak bergirang,"

Berkata si anak muda.

"In Tiong menjadi utusan, tidak ada yang terlebih baik daripada itu!"

Tan Hong mengucapkan kata-kata yang benar, yang keluar dari hatinya yang tulus.

Kakaknya In Tiong telah menjadi utusan ke negeri Watzu, kakek itu mesti hidup mengembala kuda di tepi telaga, sengsara sekali hidupnya, sekarang Tionggoan dari lemah menjadi kuat, utusan yang di kirim adalah cucunya kakek yang bersangsara itu, sungguh itulah tepat dan sangat menggirangkan, sangat memuaskan hati.

In Tiong pun setia kepada negara, gagah dan pandai bekerja, dia menang beberapa lipat dari kakeknya yang lemah itu.

Dengan diutusnya In Tiong inipun menjadi terbukti kepandaiannya Ie Kiam, yang bisa memilih orang.

Tan Hong tahu In Tiong keliru mengerti terhadapnya, ia sangat menyesalinya, tetapi itu adalah urusan perseorangan, tetapi sebagai utusan, In Tiong bekerja untuk negara, itulah lain.

Kalau ia menjadi menjublak, itulah disebabkan kekagumannya negara memperoleh wakil yang tepat, dan berbareng, ia bakal menghadapi kesulitan lebih jauh...

"Di waktu In Tiong lewat di Ganboenkwan, dia telah bertemu dengan kami,"

San Bin menerangkan lebih jauh.

"malah dia minta kami menyampaikan kata-kata untuk ibunya, mewartakan perihal kedudukannya sekarang, dan mohon si ibu nanti membuat pertemuan di ibu kota Watzu. Siapakah yang sangka bahwa ayahnya In Tiong itu masih hidup? In Peebo telah beritahukan kami, bahwa dia hendak menantikan In Loei dahulu, kelak baharulah bersama In Loei dan ayahnya ia akan bersama-sama pergi ke kota raja. Kami diminta tak usah menemaninya."

Tubuh Tan Hong menggigil mendengar disebutnya nama In Loei. San Bin lihat itu, ia heran.

"In Tiong berangkat dengan membawa delapan belas pahlawan Gietjian Siewie sebagai pengiringnya,"

San Bin menerangkan pula.

"Di samping itu ada turut beberapa wanita."

Tantai Mie Ming heran mendengar keterangan yang belakangan ini.

"Apa? Orang-orang perempuan?"

Tanyanya. San Bin tertawa atas pertanyaan itu.

"Tantai Tjiangkoen,"

Berkata dia dengan penyahutannya.

"aku dengar yang turut In Tiong itu adalah adikmu yang perempuan, Keng Beng namanya yang harum!"

Mie Ming menjadi girang.

"Ha, dia pun datang?"

Serunya.

"Pasti sekali paman tjintong-ku serta ayahnya yang menitahkan dia menyambut aku!"

"Sedikitpun tidak salah!"

Berkata San Bin.

"Aku menghaturkan selamat kepadamu, yang sekarang akan dapat pulang ke negeri sendiri!"

Cuma sebentar saja pemuda she Tjioe ini berhenti, lalu ia menambahkan pula.

"Beberapa orang wanita yang turut bersama itu adalah orang-orang dari kampungmu yaitu Tamtay tjoen, mereka dititahkan oleh adikmu untuk menemani padanya!"

Di dalam hati kecilnya, Tantai Mie Ming berkata.

"Keng Beng si bocah itu memikir sempurna sekali! Terang tidak ingin seorang diri dia menemani In Tiong, dia kuatir orang nanti banyak mulut dan usil terhadapnya. Hanya kasihan Tan Hong ini, andaikan Keng Beng di perjodohkan dengannya, mereka sembabat sekali..."

Selagi Mie Ming masih berpikir, San Bin sudah berkata pula.

"Mereka itu adalah utusannya pemerintah,"

Demikian katanya.

"karena itu di sepanjang jalan ada orang-orang yang menyambut mereka, karenanya setiap hari mereka cuma bisa melakukan perjalanan lima sampai enam puluh lie. Mungkin masih perlu belasan hari lagi untuk mereka dapat tiba di kota raja Watzu. Sebenarnya akupun sedikit berkuatir juga terhadapnya..."

"Kenapa begitu?"

Tan Hong menyelak pula.

"Sesudahnya peperangan di antara dua negara,"

Berkata San Bin.

"di mana-mana mesti ada muncul orang-orang dari kalangan Hitam dengan aksi mereka. Walaupun benar In Tiong membawa delapan belas pengiring pahlawan raja, ia toh tetap mesti berhati-hati menjaga sesuatu yang tak diduga-duga. Selama di dalam wilayah Ganboenkwan, dengan disiarkannya panah Loklim tjian kami, aku berani tanggung tidak akan terjadi apa-apa, akan tetapi sekeluarnya batas itu, di luar kota, tenaga kami tidak sampai..."

"Aku rasa kekuatiran itu tidak pada tempatnya,"

Menyatakan Mie Ming.

"Yasian menghendaki pembicaraan perdamaian dengan kerajaan Beng, apabila utusan Beng mengalami sesuatu di dalam negaranya, sukar untuk dia berdiam saja."

"Walaupun demikian tetapi Yasian itu sangat licik, kelicikannya itu diketahui orang di dalam dan di luar negerinya. Siapa yang dapat menduga apa yang dikandung di dalam hatinya? Justeru sekarang ini negara Watzu tengah terpecah-belah, tak mungkin orang semua taat kepada Yasian itu, apapula segala penjahat Rimba Hijau. Aku anggap berlaku hati-hati adalah terlebih baik. Aku ingin berdamai dengan kau, yaitu apakah perlu kita kirim beberapa orang yang dipercaya untuk memapak mereka itu?"

Tan Hong berdiam sekian lama, tetapi sekarang, tiba-tiba ia nampaknya bersemangat.

"Tjioe Toako. Tjio Hianmoay."

Serunya.

"Aku haturkan selamat kepadamu dengan ini satu cawan!"

Segera ia isikan satu cawan yang besar, yang terus ia tenggak! San Bin dan Tjoei Hong melengak. Sehabis minum, Tan Hong lemparkan cawannya itu, terus ia tertawa bergelak.

"Tjioe Toako."

Katanya pula, nyaring.

"kuda kami keras larinya, hendak kami berangkat terlebih dahulu! Kau jangan kuatir, aku tanggung In Toako bakal tiba dengan selamat di kota raja Watzu!"

Setelah itu Tan Hong lari keluar dan lompat ke bebokong kudanya, kuda mana terus meringkik, sesudah gerakkan kedua kakinya berlompat, dia lantas lari kabur!

Tantai Mie Ming tak dapat susul anak muda itu walaupun kudanya juga ada kuda Mongol pilihan, jangan dikata lagi kudanya San Bin dan Tjoei Hong.

Tiga hari kemudian, Tan Hong telah kembali ke kota raja Watzu.

Ia tampak kota agak kacau.

Penduduk kota tertampak seperti berebut membeli bahan makanan.

Nyata mereka itu sudah dengar kabar angin, mereka kuatirkan nanti terbit bentrokan senjata antara Yasian dan Atzu Tiwan.

Maka penduduk hendak menyimpan persediaan pangan.

Tan Hong menjadi berduka, hingga ia menghela napas.

"Kalau dunia aman damai, untuk selama-lamanya tidak ada bencana perang, alangkah bagusnya!"

Dia berkata di dalam hatinya. Lebih jauh dia pun berpikir.

"Suasana ada begini rupa, malapetaka peperangan sudah mengancam, maka terang sudah Yasian semakin menghendaki perdamaian dengan Tionggoan. Nampaknya peruntungan In Tiong ada jauh terlebih baik daripada kakeknya, kali ini pastilah tugasnya tidak akan gagal dan tidak akan mendapat malu karenanya, dengan berhasilnya perdamaian, niscaya ia akan berangkat pulang sambil mengajak juga junjungannya yang sekian lama telah menjadi orang tawanan..."

Lantas tanpa ayal lagi, Tan Hong pulang ke rumahnya.

"Oh, tuan rumah baharu pulang!"

Demikian ia disambut oleh bujangnya.

"Setiap hari tuan besar mengharap-harap kepadamu. Selama beberapa hari ini tuan besar telah rebah di atas pembaringannya, tak hentinya ia perintah orang pergi keluar untuk melihat tuan sudah pulang atau belum..."

Mendengar ini, Tan Hong terkejut.

Dengan tindakan cepat, ia langsung menuju ke kamar tulis.

Ia dapatkan ayahnya seorang diri berduduk menghadapi meja, sedang menulis.

Orang tua itu dengar tindakan kaki.

"Siapa?"

Ia bertanya. Lega juga hatinya si anak mendengar suara orang tuanya itu.

"Aku, ayah,"

Sahutnya lekas.

"Apakah ayah baik?"

Thio Tjong Tjioe lantas berpaling.

"Mana Tantai Tjiangkoen?"

Dia balik menanya.

"Kudanya larinya sangat ayal, mungkin besok dia baharu sampai,"

Sahut putera itu.

"Katanya ayah kurang sehat, benarkah? Ayah sakit apa? Apakah ayah sudah undang tabib?"

"Syukur kau ingat aku, anak,"

Sahut si orang tua.

"Aku tidak kurang suatu apa, cuma gangguan biasa saja. Selama hari-hari belakangan ini hawa udara buruk, sudah belasan hari hujan turun terus menerus, baharu kemarin dulu langit terang. Lututku, terasakan ngilu."

"Mengapa ayah tidak undang tabib?"

Sang anak tanya. Tjong Tjioe tertawa.

"Aku justeru hendak memberitahukannya satu hal kepadamu!"

Kata dia.

"Itu beberapa

Jilid catatannya Pheng Hoosiang yang kau bawa pulang dari dalam kamar batu sungguh berfaedah.

Ternyata di dalamnya ada termuat beberapa resep untuk penyakit di buku-buku tulang.

Walaupun orang sudah pincang, masih ada jalan untuk mengobatinya, baik dengan menyambung kaki itu dengan kayu yanglioe atau dengan ditusuk dengan jarum.

Pheng Hoosiang itu gemar pesiar, di tempat di mana ia tiba, tentu ia membuat catatan tentang keadaan penduduk setempat, tentang tempat-tempat yang penting untuk pergerakan tentera, lengkap pelbagai catatannya itu.

Apa yang Tan Hong dapatkan di dalam kamar batu masih kalang kabutan, setelah ia pulang baharulah ia kumpulkan dan rapikan, masing-masing ada bahagiannya.

Ia tinggal catatan itu di rumah, untuk ayahnya baca, sampai sekarang ayahnya peroleh faedah dari buku itu.

Iapun baharu ingat tentang resep obat itu sesudah ia dengar perkataan ayahnya itu.

"Apakah ayah pernah coba resep itu?"

Dia lantas tanya. Thio Tjong Tjioe segera berbangkit, untuk jalan beberapa tindak, untuk menendang-nendang beberapa kali.

"Baharu kemarin aku mencobanya,"

Ayah ini bilang.

"Aku telah suruh orang tusuki telapak kakiku dengan jarum, cuma beberapa kali saja, lantas hari ini aku dapat berjalan seperti biasa."

"Sungguh mujarab!"

Tan Hong memuji.

"Kalau begitu, buku itu perlu aku baca pula dengan teliti untuk dapat menghafalkannya."

"Pheng Hoosiang itu adalah guru negara dari kerajaan Tjioe kita yang terbesar,"

Berkata pula Thio Tjong Tjioe.

"dia juga telah menjadi guru dari dua raja, bahwa dia pintar dan pandai, itulah sudah selayaknya. Memang, anak, harus kau baca pula bukunya itu dengan seksama."

Dari atas meja tulisnya, ayah ini tarik buku yang dimaksudkan itu, untuk diserahkan kepada puteranya.

"Kau duduklah di situ!"

Berkata dia sambil menunjuk kursi di sampingnya. Ia sendiri angkat cangkir tehnya dan meminumnya.

"Aku dengar bahwa utusan kerajaan Beng akan tiba, hatiku lega,"

Ia berkata pula sambil bersenyum.

"Hanya belum tahu, siapakah utusan itu? Kalau dia ada seperti In Tjeng dahulu hari, sungguh bagus!"

Baru saja orang tua ini tertawa, atau setelah menyebut namanya In Tjeng, suaranya menjadi parau, wajahnya menjadi suram berduka.

Tan Hong tahu sebabnya perubahan dari ayahnya itu.

Si ayah ingat kejadian dahulu hari dan hatinya menjadi berduka.

Itulah penyakit lama dari sang ayah, yang terus menjadi lesu.

Ia sendiri pun turut lenyap kegembiraannya.

Ia jadi ingat sikap keras dari In Tiong dan limbungnya hatinya In Loei.

"Ayah suka menyudahi permusuhan itu, akan tetapi, dengan cara bagaimana itu dapat disudahinya?"

Ia bertanya dalam hatinya sendiri.

"Eh, Tan Hong, apa yang kau sedang pikirkan?"

Tiba-tiba Tjong Tjioe menanya, karena waktu berpaling kepada puteranya, ia dapatkan anak itu duduk menjublak. Tan Hong paksakan diri untuk tertawa.

"Tidak apa-apa, ayah,"

Sahutnya cepat.

"Aku juga tengah menduga-duga siapa orangnya yang diutus kerajaan Beng itu..."

Dengan terpaksa anak ini mendusta.

Tidak berani ia memberitahukan halnya In Tiong walaupun semula ia niat menuturkannya.

Ia bersangsi karena sikap keras dari In Tiong itu, ia kuatir In Tiong tak dapat memaafkan pihaknya.

Pasti ayah ini berduka apabila dia ketahui kekerasan hati dari puteranya In Teng itu.

Oleh karena ini, ia mencoba untuk bersabar.

Sekian lama ayah dan putera itu membungkam.

"Ayah, adakah pikiran ayah masih belum berubah?"

Tiba-tiba si anak menanya. Thio Tjong Tjioe tahu apa yang dimaksudkan puteranya itu. Ia menyeringai.

"Jikalau nanti utusan kerajaan Beng itu tiba, pergilah kau turut dia pulang ke negeri,"

Menyahut orang tua ini.

"Aku hanya melarang kau menjadi hambanya kerajaan itu."

"Bagaimana dengan ayah sendiri?"

Sang anak menegaskan.

"Dalam hidupku cuma dalam impian saja akan aku pulang ke Kanglam,"

Sang ayah berikan jawabannya.

"Penyair dari ahala Tong, Wie Tjhong, telah mengatakannya. 'Sebelum tua, jangan pulang ke kampung asal, kalau pulang tentu bakal putus harapan. Akan tetapi aku, walaupun sudah tua, tidak ingin aku pulang ke kampung halaman. Sebabnya ialah aku kuatir nanti putus harapan hingga aku jadi berduka karenanya, Tan Hong jangan kau menyebut-nyebutnya pula hal ini."

Anak ini merasakan tubuhnya menggigil.

Nyatalah hatinya ayah ini telah menjadi seperti kayu kering, hingga tak nanti kayu itu bersemi, tumbuh daun pula andaikata sang musim semi telah kembali dan angin timur meniupnya menderai-derai.

Ia lantas tunduk.

Di atas meja ada selembar kertas yang ada tulisannya, yang air baknya masih belum kering semuanya.

Membaca itu, tahulah Tan Hong bahwa itu adalah syairnya Liok Voe yang ayahnya tulis tetapi belum habis disebabkan datangnya dia.

Itulah syair tentang burung bangau terbang sendirian, bahwa orang lama bakal digantikan orang baru, bahwa raja ada bagaikan semut, semua akan habis bagaikan debu...

"Begini rupalah perasaannya ayah sekarang ini,"

Anak ini berpikir.

Teranglah, ayah itu sudah putus harapan untuk hidupnya di dalam dunia ini.

Karena ini, ia menjadi berduka sekali.

Malam itu Thio Tjong Tjioe tidur dengan diganggu pelbagai impian tak hentinya tetapi semua adalah impian yang baik, umpamanya dalam mimpinya itu ia telah pesiar di Kanglam yang indah.

Maka ketika terang tanah ia bangun dari tidurnya, pelbagai impian itu masih berkesan dalam mengenai kampung halamannya, karena mana, ia menjadi berduka.

Ia baharu sadar ketika pelayannya mengetok pintu kamarnya.

"Tantai Tjiangkoen dan tuan muda mengasi selamat pagi kepada thaydjin,"

Demikian hamba itu.

Tjong Tjioe segera turun dari pembaringannya, untuk pakai baju luarnya, lalu ia bertindak keluar dari kamarnya, menuju ke kamar tulisnya.

Di sana Tantai Mie Ming dan Tan Hong telah menantikan ia, puteranya itu berdiri di pinggiran.

"Kau telah kembali, Tantai Tjiangkoen?"

Menegur junjungan ini.

"Tan Hong benar-benar tidak tahu urusan, dia sangat kesusu hendak menemui aku, dengan andalkan kudanya yang keras larinya, dia tinggalkan kau! Tidak selayaknya dia berbuat demikian..."

Tan Hong terharu mendengar kata-kata ayahnya itu. Ia sangat berduka.

"Ayah, mana kau tahu apa yang aku pikir dalam hatiku,"

Ia kata dalam hati kecilnya.

"Ayah tidak tahu, aku ingin lekas-lekas pulang karena aku harus segera pergi pula meninggalkan lagi padamu..."

Tetapi apa yang ia pikir ini ia tidak mengutarakannya.

"Tjoekong, ingin aku memberitahukannya,"

Berkata Tantai Mie Ming, yang memanggil "tjoekong"

Kepada junjungannya itu.

"sekarang ini kongtjoe dan aku ingin lekas-lekas kembali ke Selatan, malah kami hendak berangkat segera. Sekarang kami hendak minta diri!"

Tjong Tjioe terperanjat. Inilah ia tidak sangka.

"Apa?"

Katanya.

"Baharu pulang sudah lantas hendak pergi pula?"

"Benar, tjoekong,"

Sahut si jenderal.

"Kami dengar kabar utusannya kerajaan Beng sudah memasuki wilayah Watzu, karena itu kami hendak pergi menjemputnya."

"Apakah kau kenal utusan itu?"

Tanya Tjong Tjioe heran. Tantai Mie Ming menggeleng kepala. Ia menyangkal karena siang-siang Tan Hong telah kisiki padanya.

"Walaupun kami tidak kenal dia, perlu kami sambut padanya,"

Jenderal ini memberikan jawabannya.

"Ketika baharu ini kongtjoe pulang ke negeri dan aku turut Atzu Tiwan, yang menjadi utusan, kami telah mendapatkan penyambutan baik dari Kokioo Ie Kiam. Kabarnya utusan Beng itu adalah orang pilihannya Ie Kokioo sendiri, oleh karenanya kita harus balas kehormatan dengan kehormatan, sudah selayaknya apabila kita menyambut kepadanya dengan baik. Dengan demikian kita berbareng jadi bisa mencegah andaikata ada bahaya di perjalanan bagi utusan itu."

Selagi bicara jenderal ini diam-diam lirik Tan Hong, ia dapatkan mata pemuda itu mengembeng air, ia dapat menduga akan perasaannya tuan mudanya itu.

Justeru guna tuan muda ini, untuk pertama kali ini, ia sudah mendusta terhadap junjungannya.

Karena lihat orang mengembeng air mata, iapun menjadi terharu sekali.

Tjong Tjioe berbangkit dengan pelahan-lahan dari kursinya, ia buat main kumis jenggotnya yang putih.

"Aku telah berusia lanjut, tidak dapat aku berbuat sesuatu untuk Tiongkok,"

Ia berkata sambil menghela napas.

"Kamu masih berusia muda, kamu bercita-cita luhur, baiklah, kamu boleh pergi!"

Air matanya Tan Hong lantas saja mengucur turun.

Sering juga ia berpisah dari ayahnya tetapi belum pernah terjadi perpisahan seperti ini, baharu bertemu setelah perpisahan lama lantas sudah mesti berpisah pula.

Sebenarnya ia merasa berat untuk berpisah melihat orang tuanya sekarang tak begitu sehat pula seperti dulu-dulu.

Tapi apa boleh buat.

Maka ia rangkul ayah itu.

"Ayah, harap ayah baik-baik merawat diri,"

Ia bilang. Terus ia membalik tubuh, untuk segera keluar dari kamar tulis. Akan tetapi, masih sempat ia dengar ayahnya itu bersenanjung.

"Berapa lama kekalnya bunga dari musim semi dan rembulan dari musim rontok? Ada berapa banyakkah peristiwa-peristiwa yang telah berlalu? Di loteng kecil tadi malam kembali meniup angin timur... Negara sendiri tak dapat ditengok walaupun di dalam terangnya sang rembulan..."

Tidak berani Tan Hong berpaling, bersama-sama Tantai Mie Ming, yang mengikuti padanya, ia bertindak dengan cepat keluar dari pintu depan, maka di lain saat mereka sudah lantas berada di atas kuda masing-masing, yang segera dikasih lari kabur.

Keduanya sangat kesusu, mereka sangat bernafsu untuk menyambut utusan kerajaan Beng.

Di lain pihak, utusan kerajaan Beng itupun, yaitu In Tiong, juga sama keras keinginannya untuk lekas-lekas sampai di negeri atau kota raja Watzu, ke mana dia telah diutus.

In Tiong dan rombongannya berangkat dari kota raja Tionggoan, Pakkhia, di hari kedua sehabis tahun baru, hingga sekarang ini mereka sudah satu bulan lebih berada di dalam perjalanan.

Mereka sudah memasuki wilayah Watzu.

Musim dingin telah berlalu, musim semi datang sebagai gantinya, dengan lumernya salju, di tegalan, di pegunungan, telah tertampak sinar hijau dari daun-daun pepohonan.

Sekarang mereka berada di semak belukar selewatnya sebuah gunung, di sekitar mereka, selama beberapa puluh lie, mereka tak tampak sebuahpun rumah penduduk.

Hanya di atas gunung kelihatan beberapa ekor elang terbang melayang-layang mencari makanan, sedang di jalan yang menanjak, beberapa pohon tengah bersemi.

"Tidak disangka wilayah Mongolia ada demikian menyedihkan,"

Berkata Tamtay Keng Beng yang temani In Tiong. Ia bicara sambil menghela napas.

"Waktu ini jangankan daerah Kanglam, sekalipun di kota Pakkhia, kini bunga telah mekar!..."

Salah satu pengiring, yang pernah pergi ke Mongolia, menyelak.

"Tempat ini masih belum terlalu hebat. Kalau kita telah tiba di bahagian utaranya, yang buminya bersalju dan langitnya ber-es, baharulah kita akan merasakan kesengsaraan yang hebat sekali. Di bagian utara itu di mana dahulu hari Souw Boe mengembala kambing, jangankan manusia, walau burung pun tak nampak! Di sana jikalau orang berdahaga, dia cuma bisa minum salju dan kalau lapar cuma bisa dahar daging kambing bakar..."

Mendengar orang menyebut halnya Souw Boe mengembala kambing, In Tiong lantas teringat kakeknya, dengan tiba-tiba saja ia menjadi berduka, hingga wajahnya muram dan lesu.

Ia berdiam.

Tamtay Keng Beng yang manis melirik kepada pemuda utusan Bengtiauw itu.

Ia tertawa.

"Di sini masih terdapat rumput dan selokan,"

Ia berkata.

"di sini kuda kita dapat singgah. Aku berpendapat malam ini baik kita mendirikan kubu-kubu di sini saja."

"Akur!"

Menyatakan In Tiong dengan cepat. Agaknya ia sadar dengan tiba-tiba.

"Oleh karena hari ini kita tidak akan sanggup meliwati tanah tegalan ini, baik besok saja kita melanjutkan perjalanan kita. Bagimu, ini adalah yang pertama kali kau datang ke Mongolia, kau tentunya tidak biasa, maka itu baiklah kau beristirahat siang-siang."

"Itulah tidak berarti,"

Sahut Nona Keng Beng.

"Seandainya kaki dan tangan kedinginan hingga menjadi kaku, namun pelahan-lahan, kita akan menjadi biasa."

Di mulut nona ini mengatakan demikian, tapi di dalam hatinya ia berpikir lain.

Memang ia asing terhadap hawa udara di Mongolia ini, akan tetapi mengenai tabiatnya In Tiong, lambat laun ia mulai mengenalnya.

Pemuda ini keras hatinya, tidak selemah lembut Tan Hong, tetapi terhadap ia, In Tiong berlaku baik hati dan halus, segala-galanya ia sangat diperhatikan, untuk itu In Tiong tidak pernah menyelimuti diri.

Maka dari itu, terhadap pemuda ini ia berkesan baik.

In Tiong pilih sebuah tempat untuk mendirikan tendanya.

Tempat itu membelakangi angin, terlindung lamping gunung.

Sedang pengiring-pengiringnya sudah lantas mengumpulkan kayu-kayu kering guna menyalakan unggun.

Mereka mematangi makanan bekalan untuk bersantap malam.

Sehabis bersantap, In Tiong pergi ke tendanya Tamtay Keng Beng, untuk menemani sambil bercakap-cakap.

Dengan cara itu mereka biasa lewati waktu yang luang, hingga mereka tidak jadi terlalu sunyi.

"Jikalau Thio Tan Hong dan adikmu ketahui kita telah tiba di sini, betapa girangnya mereka,"

Berkata Nona Keng Beng.

"Kakak San Bin telah pergi untuk menyampaikan kabar, mungkin dia telah bertemu dengan mereka itu. Kalau nanti kita sampai di ibu kota Watzu, untuk menyampaikan surat negara, kita masih punyakan waktu luang beberapa hari. Selama itu maukah kau pergi ke rumah keluarga Thio untuk menemui mereka itu?"

"Hm!"

In Tiong perdengarkan suara tak tegas. Kemudian ia kata.

"Kalau kau pergi ke rumah keluarga Thio itu, siapakah yang kau hendak cari? Mungkin Thio Tan Hong ada di rumahnya di mana ia menantikanmu, akan tetapi jikalau In Loei juga berada di sana, dia bukan lagi adikku!"

Mendengar itu, Nona Keng Beng tertawa geli. Dengan telunjuknya, ia dorong anak muda di depannya itu.

"Hai, sampai kapankah kau dapat ubah tabiatmu yang bagaikan tabiat kerbau ini?"

Tanyanya sambil tertawa.

"Permusuhan apakah itu yang demikian besar hingga kau tak dapat melupakannya? Kau seharusnya mengarti, kali ini jikalau tidak ada Thio Tan Hong, Ie Kokioo sendiri pasti tidak bakal mengetahui jelas keadaan dalam dari negara Watzu, dan di antara kedua negara, pasti tidak begitu mudah lantas dapat kecocokan untuk membuat perdamaian. Syukur ada dia maka kau sekarang telah menjadi utusan untuk perdamaian itu!"

In Tiong lantas saja tunduk.

Memang juga Tan Hong itu setia kepada negara.

Bukankah pemuda she Thio itu tengah bekerja guna Tionggoan?

Maka ia terus membungkam, akan tetapi di dalam hatinya, ia mengharap-harap In Loei, adiknya itu, tidak ada di rumahnya Tan Hong...

"Maka setibanya di Watzu, kau harus menemui Thio Tan Hong,"

Nona Tamtay berkata pula. Ia agaknya menegur tetapi suaranya halus, sikapnya lembut.

"Kau harus menghaturkan terima kasih kepadanya."

"Ie Kokioo ada mengirimkan surat untuknya, sudah semestinya aku pergi menemui dia" , menjawab In Tiong kemudian.

"Hanya sayang sekali, permusuhan di antara kedua keluarga ada sedemikian rupa bagaikan laut dalamnya. Sekarang ini dia tengah bekerja untuk negara, dengan memandang dan menghargainya, aku suka tidak menarik panjang urusan kami. Akan tetapi, untuk membikin lenyap permusuhan itu, supaya kami menjadi sahabat-sahabat, itulah tak dapat!"

Nona Keng Beng tidak menjadi kecil hati atau putus harapan, ia malah bersenyum. Kembali ia angkat tangannya, akan dengan sebuah jarinya menekan pula jidatnya si anak muda.

"Sayang kau menjadi satu taytianghoe, satu laki-laki, tak dinyana, pikiranmu sedemikian cupat!"

Ia berkata.

"Nyata kau masih kalah dengan kami kaum wanita! Pihak kami dengan pihaknya Keluarga Tjioe itu, yang menguasai negara Tionggoan, ada musuh turun temurun, untuk beberapa turunan kami sudah menyimpan barang-barang permata mulia yang berharga sangat besar, akan tetapi di akhirnya kami toh telah keluarkan itu, kami menyerahkannya kepada pemerintah Beng! Dan Thio Tan Hong apabila dia masih ingat kepada permusuhannya, tidak nanti dia mau berdaya sungguh-sungguh meminta Ie Kokioo urus penyambutan pulang raja yang tua."

Tamtay Keng Beng jujur dan polos, dia omong seperti apa yang hatinya pikir. In Tiong merasakan itu, hatinya tergerak. Maka sejenak itu, iapun berpikir.

"Ya, mustahilkah aku tidak seperti Thio Tan Hong itu?"

Tapi sedetik itu juga, di depan matanya berbayang surat wasiat kulit kambing yang berdarah itu, maka juga pikirannya menjadi sangat kusut.

Untuk menyingkirkan pikirannya yang kusut itu, ia jemput paha kambing panggang di depannya yang ia keset dan dahar sambil terus tunduk.

Keng Beng awasi kelakuan orang itu, ia juga berpikir, kemudian, selagi ia hendak membuka mulut pula, tiba-tiba ia lihat In Tiong mendekam di tanah di mana dia pasang kupingnya.

Ia menjadi heran, apapula ketika ia tampak wajah tak wajar dari pemuda itu.

"Eh, kau bikin apa?"

Dia tanya, heran. Sebelumnya menyahuti, In Tiong sudah berlompat bangun.

"Ada pasukan tentara yang tengah mendatangi kemari,"

Ia menjawab.

Belum utusan raja Beng ini tutup mulutnya, mereka sudah dengar suara terompet tanduk, yang disusul dengan mengaungnya anak panah yang dilepas melesat ke udara, suaranya nyaring melewati atasan tenda.

"Peronda kita melaporkan ada pasukan tentara tengah mendatangi!"

Begitu datang warta dari salah satu siewie pengiring.

"Mereka itu sudah lantas membagi diri dengan sikap mengurung kita. Di dalam gelap gulita tidak bisa dilihat berapa besar jumlahnya mereka, tidak tertampak juga benderanya. Mohon In Thaydjin memberikan titah apa yang kita harus lakukan."

"Tempat ini adalah tanah pegunungan belukar, mereka itu tentulah gerombolan penjahat yang niat merampok kita,"

Berkata In Tiong.

"Sekarang kamu ke delapan belas orang lekas keluar dan memecah diri menjadi dua rombongan. Kamu juga mesti sembunyi, bila dapat lihat bayangan orang, segera kamu gunai panah!"

Siewie itu menurut, ia undurkan diri untuk berkumpul sama kawan-kawannya, untuk lantas bersiap sedia.

"Bagaimana dengan kau?"

Keng Beng tanya si utusan setelah si siewie mundur.

"Kamu semua pergi ke tendaku,"

Jawab In Tiong, yang tidak menjawab pertanyaan orang.

"Apakah kau tidak hendak keluar sendiri?"

Keng Beng menanya pula.

"Aku memegang soetjiat, pada tubuhku ada surat negara kerajaan,"

Jawab In Tiong.

"dan di dalam tenda ini juga ada banyak barang berharga untuk raja Watzu, cara bagaimana aku bisa menyingkir dari sini? Kau bersama beberapa serdadumu, yang semuanya wanita, juga tak leluasa untuk keluar di waktu malam gelap petang seperti ini, maka daripada pergi untuk mencegat penjahat, lebih baik kami berkumpul di dalam tenda untuk menjaga bersama-sama aku. Aku percaya segala gerombolan gunung itu tidak berarti banyak!"

Tamtay Keng Beng mengarti maksud sebenarnya dari In Tiong ini, ia menjadi sangat bersyukur.

In Tiong bukan berati barang-barang untuk raja Watzu itu tetapi sebetulnya dia hendak lindungi ia dan serdadu-serdadunya.

Tentulah In Tiong berkuatir juga, karena katanya ia dingin kaki tangannya hingga bisa jadi kurang leluasa menggunai senjata, sedang serdadu-serdadu wanita itu, apabila mereka pergi keluar, mungkin mereka ditawan penjahat dan diperkosa.

Dengan berkumpul di dalam sebuah tenda, mereka dapat bekerja sama.

Baharu selesai orang mengatur diri, penyerangan sudah lantas dimulai.

Anak-anak panah lantas tampak melayang pergi datang tak putusnya, disusul dengan seruan-seruan serta bentrokan senjata.

Selain suara beradunya pelbagai senjata itu terdengar juga suara banyak kaki berlari-lari.

"Kawanan penjahat itu mendapat pukulan yang hebat!"

Berkata In Tiong kemudian sambil tertawa, sehabisnya ia mendekam pula.

Di dalam hal kepandaian memasang kuping sambil mendekam, pemuda ini ada liehay sekali.

Selagi mereka bicara, tiba-tiba terdengar satu sambaran "Sret!"

Lalu api berkobar di tenda sebelah luar.

"Celaka!"

Berseru In Tiong.

Terpaksa ia lompat untuk pergi keluar tenda, dengan niat memadamkan api itu.

Untuk ini, ia mesti pentang pintu tenda.

Justeru itu, berbareng dengan sambaran angin, lima orang lompat menerjang masuk, yang semuanya memakai tutup muka.

Nyatalah, dengan menggunakan panah apinya itu, lima orang ini telah dapat perdayai In Tiong, untuk mereka menyerbu masuk.

Dari gerakan tubuh mereka yang gesit-gesit itu, dapat diduga mereka mempunyai kepandaian enteng tubuh yang sempurna.

Segera juga lima orang bertopeng itu menyerang In Tiong.

Utusan kaisar Beng itu berseru sambil menyambut, ketika sebelah tangannya dipakai menyerang, satu penyerang lantas saja terpukul hingga tubuhnya terpental keluar tenda.

Tanpa bersangsi lagi, In Tiong terus pentang kedua tangannya, untuk bersilat dengan ilmu silat Taylek Kimkong Tjioe.

Ia menyerang ke kiri dan kanan.

Ketika sedangnya ia menyerang ke kanan, ia telah menyerang tempat kosong, menyusul mana, seorang bertopeng datang menyerang ia dengan sepuluh jarinya.

Itulah pukulan Taylek Engdjiauw Kang yang berbahaya.

Menampak itu, In Tiong menyedot napas, untuk membikin kempes dada dan perutnya, sedang tangan kirinya, yang segera ditarik pulang, diteruskan dipakai membacok kedua lengan si penyerang itu.

"Ih!"

Berseru si orang bertopeng itu, yang lekas-lekas turunkan kedua tangannya, untuk berkelit dari bacokan.

Di dalam tenda ada api lilin, di antara terangnya cahaya lilin itu, In Tiong lihat tangan orang yang merah gelap, ia menjadi terkejut.

Meski demikian sambil lompat mencelat, ia dapat dupak rubuh satu musuh bertopeng di sampingnya selagi musuh itu hendak mendekat padanya.

Dengan demikian juga, ia telah dapat menyingkir dari tangan merah dari musuhnya itu.

Itu waktu Tamtay Keng Beng pun tidak diam saja, ia sudah hunus pedangnya akan terjang dua orang bertopeng lainnya.

"Awas kuku mereka itu!"

In Tiong memperingatkan.

"Kuku mereka ada racunnya!"

Satu musuh bertopeng yang berada paling depan, yang rupanya ada seorang tua, perdengarkan tertawa ejekannya yang dingin, sedang seorang kawannya yang bersenjatakan sebuah golok bagaikan gergaji, sudah lompat maju guna desak si utusan raja.

Sambil berkelahi, In Tiong memasang mata terhadap Tamtay Keng Beng, yang dikerubuti dua musuh.

Untuk keheranannya, ia seperti kenali potongan tubuhnya salah satu musuh.

Musuh ini, yang rupanya liehay, berkelahi dengan menggunai Tjeksee Tjiang atau Tangan Pasir Merah dicampur dengan Engdjiauw Kang, Tangan Kuku Garuda, kelihatannya, dia ada terlebih gagah daripada si orang tua.

Tamtay Keng Beng berkelahi dengan menggunai ilmu pedang Lamgak Kiamhoat, ia dapat melayani kedua musuhnya, tapi tubuhnya kurang lincah, di waktu dia lompat berkelit, nampaknya agak lambat.

Itulah mungkin disebabkan kakunya kaki tangannya, seperti tadi ia telah beritahukan kepada In Tiong.

Ia agaknya masih menderita dari gangguan hawa udara yang dingin itu.

Kedua musuh itu seperti dapat melihat kelemahan si nona, segera mereka ubah cara menyerangnya, yaitu sekarang mereka lebih banyak merabu di bahagian bawah, agar si nona menjadi lekas lelah.

Tiba-tiba salah satu penyerang yang bertopeng itu ulur kedua tangannya ke arah Nona Keng Beng, untuk merabu kaki orang.

Si nona lihat itu, sambil berjingkrak, ia mendahului menendang dengan dua-dua kakinya.

Musuh itu liehay, dengan sebat ia menangkap kedua kakinya Keng Beng, terus ia menggentak, untuk lemparkan nona itu.

Keng Beng menjadi tidak berdaya, tubuhnya lantas terlempar melayang dengan kedua kakinya di atas.

Ketika ini digunai oleh musuh yang kedua, yang bersenjatakan sebatang golok tantoo.

Ia tidak pakai goloknya itu, ia hanya menukar dengan tali bandringan, yang ia lemparkan untuk meringkus si nona!

In Tiong lihat si nona berada dalam bahaya, ia kaget hingga ia lupa segala apa.

Sambil berteriak, ia menyambar dengan sebelah tangannya, ia lupa kepada bahaya apabila tangannya bentrok dengan tangan liehay dari musuh itu, tentulah tangan In Tiong terkena racun yang jahat, tapi di lain pihak, tangan si orang tua akan menjadi patah juga.

Si orang tua ternyata kalah hati, dia berkelit sambil tarik pulang tangannya.

Tapi kawan di sampingnya yang memegang golok model gergaji majukan diri.

Dengan tangan kirinya, dengan gagang golok, In Tiong sampok golok musuh ini, berbareng dengan itu tangan kanannya menyambar terus.

Dengan tak sempat berteriak kesakitan lagi, pecahlah kepalanya musuh itu.

Sekarang In Tiong terlepas dari gangguannya dua musuh, dapat ia wujudkan keinginannya untuk menolongi Tamtay Keng Beng, justeru ia hendak lompat maju, tiba-tiba ia dengar jeritan nona Keng Beng, hingga ia menjadi kaget tak kepalang!

Keng Beng benar-benar kurang kelincahannya karena hawa dingin itu, maka kedua kakinya telah kena disambar musuh bertopeng, yang terus melemparkan tubuhnya itu membentur lelangit tenda hingga ia menjerit.

Di waktu ia hendak jatuh turun, masih dapat ia menjumpalitkan tubuhnya, hingga ia jadi jatuh berdiri, tepat didekatnya satu musuh yang bersenjatakan sebatang golok, maka terus saja ia tikam musuh itu hingga tenggorokannya tembus.

Berbareng dengan itu, tambang bandringan telah menyambar nona ini.

Adalah di waktu itu In Tiong datang dengan pertolongannya.

Ia serang orang yang menggunai lasso itu, tetapi orang itu, lekas-lekas undurkan diri karena takut.

Tidak demikian dengan si orang bertopeng yang usianya lanjut, dia maju dengan niatan mengepung, dengan bengis dia sambar pundaknya si anak muda selagi anak muda ini hendak serang terus kepada musuh yang mundur itu.

Dengan cepat In Tiong turunkan pundaknya, akan tetapi oleh karena ia sedang menyerang musuh, turunnya pundak kurang rendah, hingga ia merasakan pundaknya sakit.

Di lain pihak, saking sehatnya gerakannya, ia berhasil menyerang lawan yang undurkan diri itu hingga rubuh tanpa dapat berbangkit pula!

Meskipun ia telah kena diserang, In Tiong tidak berbalik untuk melayani musuh yang tua itu, sebaliknya dia berlompat dua tindak, guna segera tengok Tamtay Keng Beng.

"Hm!"

Berseru si orang tua, yang tidak susul In Tiong hanya dia lompat kepada kawannya yang rubuh itu, tubuh siapa ia sambar dan angkat, untuk segera dibawa lari keluar tenda.

Bersama ia, mundur juga semua kawan lainnya.

Nona Keng Beng tidak kurang suatu apa, malah ia bisa loloskan diri dari lasso yang melibat tubuhnya, sambil tertawa ia berdiri memandang In Tiong, yang datang padanya.

"Sungguh berbahaya!"

Demikian ucapannya. Ia menghadapi bahaya tetapi ia tetap tabah, besar nyalinya.

"Kau tidak kenapa-napa?"

In Tiong tanya.

"Tidak,"

Sahut si nona, gembira. In Tiong kerutkan keningnya.

"Coba kau buka sepatumu."

Berkata anak muda ini.

"Buka sekalian kaos kakimu, untuk aku periksa..."

Mukanya si nona menjadi merah.

"Dahulu di Thayouw santjhun ketika aku terluka oleh tangan jahatnya Anghoat Yauwliong, kau yang merawat aku,"

Berkata In Tiong.

"sekarang datang giliranku untuk membalas merawat kau."

"Aku tersambar dia tetapi aku memakai sepatu dan kaos kaki, apakah aku masih dapat terluka juga?"

Si nona menanya. Ia benar-benar tidak percaya. Akan tetapi ia toh buka sepatunya, kaos kakinya juga. Ia dapat lihat pada kakinya itu ada tanda merah sebesar uang emas.

"Sungguh liehay!"

Berkata In Tiong.

"Syukur kau memakai sepatu dan kaos kaki."

Anak muda ini pinjam pedang si nona, dengan ujung pedang itu, ia gurat tanda merah di kakinya nona itu hingga terluka, setelah mana, lekas-lekas ia menguruti untuk keluarkan darahnya yang sudah kental dan hampir hitam warnanya.

Setelah itu, ia lantas borehkan obat.

"Sekarang kau boleh beristirahat,"

Berkata si pemuda kemudian.

"Lihat besok, bagaimana perubahannya, kalau perlu, kau mesti berobat lebih jauh."

Suaranya pemuda ini tenang tetapi hatinya sebenarnya tegang sekali, inilah disebabkan obat yang ia pakai adalah obat biasa saja, bukan obat istimewa untuk luka semacam itu.

Ia sebenarnya kuatir racun masih belum lenyap, hingga bisa terjadi luka itu berubah menjadi berbahaya.

Bagaimana kalau kaki nona itu menjadi bercacat sebab pertolongan tidak tepat?

Keng Beng tidak menginsafi kekuatiran itu, ia pandang enteng kepada lukanya, maka juga ia perlihatkan wajah yang tersungging senyuman manis.

Ia sangat girang dan puas untuk perlakuannya In Tiong itu, yang demikian telaten merawat padanya, hingga tak dapat ia umpetkan perasaan hatinya itu.

Di dalam hati kecilnya pun ia berkata.

"Dibandingkan dengan Tan Hong, dia agak kasar, tetapi perhatiannya ini tak kalah daripada Tan Hong atau In Loei..."

"Eh, kau jangan perhatikan aku saja,"

Kata ia kemudian.

"Kau sendiri pun telah kena sambarannya si bangsat tua bertopeng itu..."

Ia bicara sambil tertawa.

"Untukku tidak ada halangannya, aku memakai lapisan emas,"

In Tiong berikan jawabannya. Tapi ia buka pakaiannya, seragamnya, maka ia bisa lihat, lapis emasnya pun lecet, tapi benar tubuhnya tidak terluka. Keng Beng leletkan lidahnya.

"Sungguh liehay si muka bertopeng itu!"

Katanya.

"Dia terlebih liehay daripada si penjahat yang membokong aku!"

Sementara itu barisan wanita dari Nona Keng Beng sudah berhasil memadamkan api yang membakar tenda, sedang jauh di sebelah luar itu, suara pertempuran pun sudah lantas menjadi sirap, tandanya pertempuran telah sampai di akhirnya.

Cuma di tengah udara masih terdengar suaranya anak-anak panah yang menyambar-nyambar.

Tidak lama kemudian satu pahlawan datang melaporkan.

"Dengan mengandal rejeki besar dari thaydjin, penyerang telah dapat dipukul mundur!"

"Apakah mereka telah mundur seanteronya?"

In Tiong tegaskan.

"Nampaknya mereka masih berjaga-jaga dari tempat yang tinggi,"

Pahlawan itu berikan keterangan.

"Mereka kadang-kadang masih melepas anak panah tetapi mereka tidak berani menyerbu pula."

"Jikalau begitu, rupanya mereka hendak kurung kita,"

In Tiong bilang.

"Sekarang berhati-hatilah kamu membuat penjagaan, jangan sekali alpa. Apakah ada yang terluka di pihak kita?"

"Ada,"

Sahut pahlawan itu.

"Dua terkena panah, satu luka terbacok, tetapi luka mereka tidak berbahaya."

"Bawa mereka itu ke dalam tenda, supaya serdadu wanita rawat lukanya,"

In Tiong memerintahkan.

Delapan belas pahlawan itu adalah pahlawan-pahlawan kelas satu dan kelas dua, semua gagah, hingga yang terluka sedikit sekali.

Beberapa serdadu wanita lantas saja menjadi repot, akan obati ketiga pahlawan itu.

Belum terlalu lama, satu pahlawan datang pula dengar laporannya.

"Musuh telah menyalakan api di atas gunung, asapnya mengepul hebat. Entah apa maksudnya..."

Baharu saja pahlawan itu berhenti bicara, mereka segera dengar suara terompet yang nyaring. Hebat terompet itu akan tetapi musuh tidak menyerang.

"Inilah berbahaya,"

Mengatakan In Tiong.

"Mereka menyalakan unggun, mereka pun perdengarkan terompet, itu tandanya mereka meminta bala bantuan. Mungkin sebentar, sebelum terang tanah, kita akan bertempur pula..."

Maka itu, ia lantas atur penjagaan di empat penjuru tenda.

Dua orang dijadikan satu rombongan.

Suara terompet terdengar pula, lalu sirap.

Asap unggun pun terbawa angin, lalu apinya padam.

Dengan begitu, sang malam menjadi sunyi seperti biasa pula.

"Apakah kau merasa baikan?"

In Tiong tanya Keng Beng, kaki siapa ia periksa.

"Aku merasa lebih enak,"

Sahut si nona, yang segera alisnya terbangun. Ia kata pula dengan cepat.

"Dugaanku kawanan penyerbu ini bukannya penjahat biasa!"

"Kenapa kau beranggapan demikian?"

In Tiong tanya.

"Jikalau mereka ada penjahat biasa dan maksudnya cuma untuk merampas barang-barang kita, tidak ada perlunya mereka memakai topeng."

"Apakah kau mencurigai mereka sebagai tentara Mongol?"

In Tiong tanya.

"Aku percaya Yasian tidak akan berani sembarangan berbuat demikian rupa. Tiga korban yang terbinasa itu aku telah perika, semua adalah orang-orang Han."

"Tetapi apa perlunya mereka bertopeng?"

Keng Beng berkata pula.

"Kenapa di wilayah Mongolia ini ada banyak orang Han sebangsa mereka?"

In Tiong mengkerutkan keningnya, ia berpikir keras.

"Mereka pakai topeng, tentulah mereka kuatir akan dapat dikenali kita,"

Ia berkata kemudian.

"Dan penjahat tua yang liehay itu, melihat potongan tubuhnya, aku rasanya seperti mengenalinya, entah di mana aku pernah bertemu dengannya."

"Cobalah kau pikirkan dengan pelahan-lahan,"

Keng Beng anjurkan. In Tiong benar-benar asah otaknya.

"Oh, aku ingat sekarang,"

Kemudian ia berkata pula.

"Tempo hari ketika kami bertempur di tanah lapang, selama diadakan perebutan kehormatan Tjonggoan, aku telah lihat padanya. Ketika itu ada banyak sekali calon, aku juga tidak sampai bertempur dengan dianya. Aku tidak ingat betul, siapa dia..."

Keduanya lantas berdiam.

"Sayang tadi tak dapat kita bekuk padanya,"

Kata In Tiong sambil menghela napas, menyatakan penyesalannya.

Keng Beng berdiam terus, maka si anak muda pun bungkam pula.

Belum lama kesunyian itu berlanjut, mendadak keduanya menjadi kaget sekali.

Tenda mereka melesak dengan perdengarkan suara keras.

Itulah tandanya tenda telah tertimpa barang yang berat.

In Tiong segera lompat menyamping.

Segera terlihat tenda terbelah, dari mana tertampak satu tubuh merosot masuk.

Untuk herannya si utusan kerajaan Beng, dia kenali orang itu adalah musuh yang melukai Keng Beng.

"Orang pandai siapakah yang tengah bergurau?"

In Tiong berseru menanya. Menyusuli jatuhnya tubuh orang bertopeng itu, dari lobang tenda itu lompat masuk satu orang, yang terus saja tertawa berkakakan.

"Aku tolongi kau membekuk jahanam ini, cara bagaimana kau mengatakan aku bergurau?"

Berkata dia.

Tamtay Keng Beng berlompat dengan kegirangan, hingga ia perdengarkan seruannya.

Orang yang baharu datang ini adalah Thio Tan Hong!

In Tiong pentang matanya lebar-lebar, ia melengak.

Ia heran dan sangat kagum untuk liehaynya Tan Hong itu, yang seperti juga pergi dan datang tanpa ketentuan.

"Coba kau bentet topengnya!"

Tan Hong berkata tanpa ia pedulikan utusan kaisar Beng itu tercengang.

Orang yang bertopeng itu rebah tanpa berkutik, rupanya dia telah kena ditotok Tan Hong.

Mungkin juga dia terluka karena terbanting keras barusan.

In Tiong sadar, ia bertindak menghampirkan, ia ulur tangannya akan sambar topeng orang.

Maka sekarang ia kenali See Boe Kie siapa, selama adu kepandaian di kota raja, telah kena dirubuhkan Liok Thian Peng muridnya Tiatpie Kimwan si Lutung Emas Bertangan Besi.

Itu waktu dia dianggap sebagai calon biasa saja seperti calon-calon lainnya, tidak tahunya dia adalah penjahat besar di perbatasan kedua negara.

Sekarang In Tiong menjadi gusar sekali.

"Saudara Thio, tolong kau totok sadar padanya!"

Ia minta kepada Tan Hong.

"Ingin aku dengar keterangannya!"

Tan Hong tertawa.

"Sekarang ini sudah tidak ada tempo lagi untuk memeriksa padanya,"

Jawabnya.

"Bala bantuan mereka telah datang, di antaranya terdapat orang-orang yang liehay. Mereka itupun bakal lantas menyerang pula..."

Selagi In Tiong berdiam, Keng Beng buka mulutnya.

Nona ini tahu Tan Hong gagah dan pintar, ia mempercayainya benar-benar.

Ia juga menduga, dengan Tan Hong yang bekuk See Boe Kie, mesti Tan Hong ketahui banyak perihal musuh.

"Thio Toako,"

Demikian ia berkata.

"jumlah kami sedikit, pasti kami tak dapat bertahan lama. Aku minta kau suka membantu mendayakannya."

"Saudara In, maafkan aku, hendak aku menjadi seperti Mo Swie yang telah perkenalkan dirinya sendiri,"

Berkata Tan Hong, yang tak jawab lagi si nona.

"Hendak aku mewakilkan kau..."

In Tiong mengerti akan kelemahan rombongannya, ia juga sangat kagumi anak muda itu, ia tidak berkeberatan.

"Saudara Thio, silakan kau berikan titah-titahmu!"

Ia berikan perkenannya.

"Segera kita harus menyingkir dari sini!"

Tan Hong bilang tanpa berayal lagi.

"Sekarang malam gelap gulita, kami juga tidak ketahui keadaan musuh,"

Berkata In Tiong.

"di sini pun ada banyak wanita, apakah mundur tidak berarti kita menghadapi bencana?"

Sebaliknya dari utusan kaisar itu, Tamtay Keng Beng tertawa.

"Mestinya Thio Toako ada punya rencana sendiri!"

Ia bilang. Nyata ia sangat mempercayai tjoekong yang muda itu. In Tiong menjadi bungkam.

"Semua barang yang hendak dihadiahkan kepada raja Watzu, kau muatkanlah di atas bebokong seekor kuda,"

Tan Hong beri petunjuk.

"lalu kau perintahkan semua orang lainnya meninggalkan kuda mereka. Mereka mesti turut aku menerobos keluar! Aku tanggung keselamatan kamu, malah kau akan berbalik menjadi mendirikan jasa besar!"

In Tiong bersangsi, ia setengah percaya dan setengah tidak, maka itu, ia mengawasi Keng Beng.

"Kau jangan kuatir,"

Si nona berkata.

"Aku dapat berjalan."

Utusan kaisar itu kuatirkan kakinya si nona. Tetapi Keng Beng sudah lantas berlompat, untuk membuktikan bahwa ia dapat bergerak dengan leluasa.

"Oh, kiranya kau terluka, adik Tamtay?"

Bertanya Tan Hong. Ia awasi nona itu, yang ia tidak tahu telah mendapat halangan.

"Sekarang kau dapat bergerak dari berjalan, sebentar selang satu jam, nanti aku obati padamu."

Pemuda ini lantas titahkan serdadu perempuan siapkan seekor kuda, yang ke empat kakinya dibungkus wol tebal hingga di waktu berjalan, binatang itu tidak akan menerbitkan suara tindakannya.

Semua barang yang hendak dibawa, digemblokkan kuat-kuat di bebokong kuda itu.

Berbareng dengan itu, In Tiong perintahkan seorang pahlawannya, untuk berikan kisikan kepada yang lain-lainnya, supaya semua undurkan diri dan berkumpul, untuk bersama-sama menyingkir dari tenda yang terkurung musuh itu.

Maka sebentar kemudian, mereka sudah siap sedia.

Tenda telah digulung rapi, tiga pahlawan yang terluka sudah lantas digendong.

Tan Hong jalan di muka sebagai penunjuk jalan.

Semua tutup mulut, hingga mereka tidak perdengarkan suara apa juga.

Tetapi di waktu mereka mau berangkat, Tan Hong perintahkan semua kuda dikumpulkan, mukanya dihadapkan ke arah musuh, lalu kempolannya semua kuda itu ditikam dengan golok, hingga semuanya kaget dan kesakitan, sambil meringkik keras, mereka kabur ke depan, ke arah musuh.

Tentu saja, di waktu gelap petang itu, ringkikan dan tindakan kakinya semua kuda itu menerbitkan suara sangat berisik, hingga musuh menyangka bahwa pihak lawan, yang tengah mereka kurung, sudah lakukan penyerangan balasan, hingga mereka menjadi repot bersiap untuk menangkis.

Dan justeru itu, Tan Hong ajak rombongannya kabur ke arah barat di mana ada suatu jalanan kecil.

Baik orang maupun kuda, tidak ada satu juga yang menerbitkan suara.

Di tengah jalan, mereka pun tidak menemui rintangan.

In Tiong menjadi heran.

"Kenapa di sini tidak ada musuh yang menjaga?"

Menanya utusan kaisar Beng ini sesudah mereka melalui perjalanan sekian lama. Thio Tan Hong tertawa.

"Jalanan ini tidak ada mulut jalan untuk keluar, inilah jalan mati,"

Ia menjawab.

"Di sini ada ditaruh belasan serdadu penjaga tetapi mereka itu telah aku bikin habis. Berhati-hatilah semua, semakin ke depan jalan semakin buruk dan berbahaya."

Memang di kedua tepi ada batu-batu gunung yang besar dan tidak rata bagaikan batang rebung, yang pun ketutupan pohon-pohon oyot dan duri.

Untuk menyingkirkan rintangan itu, Tan Hong kerjakan pedangnya, sedang sebelah tangannya yang lain dipakai menuntun kuda.

Ia jalan di muka sebagai pembuka jalan.

Oleh karena semua orang mengerti silat dengan baik, tidak terlalu sulit untuk mereka ikuti si anak muda.

Di mana perlu, mereka juga gunai senjatanya, untuk singkirkan pelbagai rintangan oyot itu.

Belum terlalu lama, tibalah mereka di luar jalan kecil dan berbahaya itu, hingga sekarang mereka tampak langit yang gelap, yang bintang-bintangnya berkelak kelik.

Angin meniup dengan keras.

Mereka sukar melihat ke sekitarnya tetapi mereka tahu bahwa mereka berada di sebuah tempat terbuka, tegalan rumput yang lebar.

Mungkin mereka berada di tengah lembah...

Sampai di situ baharulah In Tiong dapat bernapas lega.

Tetapi meski demikian, hatinya belum aman betul.

Ia kata.

"Benar kita sekarang sudah lolos tetapi tipu kita tadi bukanlah akal yang dapat bertahan lama, itu hanya untuk sementara saja...

Lihat, di depan kita ada gunung besar yang mencegat jalan, malam pun demikian gelap, cara bagaimana kita bisa melewatinya?

Di akhirnya, musuh toh akan ketahui tipu kita itu...

Sebaliknya dari utusan itu, yang hatinya ber-kuatir, Tan Hong tertawa.

"Aku justeru hendak pancing mereka itu datang kemari!"

Katanya.

Tanpa berayal lagi, ia atur delapan belas pahlawan dan serdadu-serdadu wanita itu, berikut In Tiong dan Keng Beng, untuk menyembunyikan diri di tempat yang tinggi, untuk menyambut musuh.

Ia sendiri pun segera menempatkan diri.

Belum lama mereka bersiap, lalu terlihat datangnya musuh, yang mendatangi dengan berlerot-lerot.

Yang paling dahulu tertampak adalah obor mereka yang dinyalakan besar-besar.

Dari kejauhan, mereka nampaknya bagaikan seekor naga.

Tan Hong sudah mengatur persiapannya, begitu musuh sudah datang cukup dekat, ia segera perdengarkan suara tertawanya yang nyaring dan panjang.

Di malam gelap seperti itu.

di dalam lembah, suara tertawa itu berkumandang keras dan riuh, apapula suara itu dapat sambutan dari yang lain-lainnya.

Musuh terkejut, mereka tidak tahu di mana adanya lawan, tetapi mereka maju menerjang ke arah dari mana mereka dengar suara tertawa itu.

Menyusuli majunya musuh, lalu terdengar jeritan-jeritan, datangnya dari empat penjuru.

"Gulingkan batu!"

Tan Hong berteriak-teriak.

"Gulingkan batu! Hajar mampus semua kurcaci itu!"

Di atas gunung itu ada banyak batu besar, sebenarnya tidak sembarang orang dapat menolak batu-batu besar itu, akan tetapi semua pahlawan-pahlawan itu kuat-kuat, mereka dapat menjalankan titahnya Tan Hong sebagaimana si anak muda telah merencanakannya.

Maka itu, hebat kesudahannya ketika banyak batu besar menggelinding turun dari sana sini dari lamping gunung itu, yang menggelinding saling susul.

Banyak musuh yang kena terbentur batu, tubuhnya rubuh, obornya terlempar terlepas, tubuh mereka ketindihan batu-batu besar itu.

Ada yang berkaok-kaok, ada yang menjeritnya tertahan.

Di antara terangnya obor, In Tiong mengawasi kepada musuh itu.

Ternyata tempat di mana musuh jatuh adalah sebuah rawa atau pengempang, yang di atasnya ketutupan pohon-pohon kaput atau lainnya, hingga di dalam gelap itu, tidak dapat orang melihat tempat air itu.

Ke situ musuh terjatuh, ketindihan batu atau tenggelam, tak dapat mereka membela diri.

Tentu saja mereka itu mendapat luka-luka patah kaki dan tangan atau tubuh remuk...

Menampak itu, In Tiong kaget sendirinya.

Apabila tidak Tan Hong yang menunjukkan jalan, mereka sendiripun bisa tercebur ke dalam rawa itu.

"Kasihlah ampun kepada mereka!"

Tamtay Keng Beng meminta, sebab tak tega ia menyaksikan orang menjadi kurban secara demikian hebat.

"Tahan!"

Tan Hong pun segera berikan titahnya. Maka berhentilah turunnya batu-batu besar itu.

"Kawanan serdadu musuh boleh dikasih ampun tetapi pemimpinnya tidak,"

Kemudian Tan Hong kata sambil tertawa kepada In Tiong.

"Mari kita berdua bekuk satu atau dua orang! Adik Tamtay, kau tunggulah sebentar di sini!"

In Tiong akur, maka Tan Hong ajak dia pergi.

Anak muda itu ambil jalan mutar.

Di dalam rawa, semua tentera musuh yang masih dapat bergerak, atau yang tidak terluka, telah berebut mendarat, untuk menyingkirkan diri.

Mereka tidak lihat ada serangan lagi, tetapi mereka berlalu dengan terburu-buru.

Tan Hong dan In Tiong berlaku hati-hati.

Karena mereka jalan mutar, mereka sampai dengan lekas di bahagian belakang dari barisan musuh.

Di sana mereka dapatkan dua pemimpin musuh yang bertopeng, satu di antaranya dikenali sebagai si orang tua yang liehay.

Kedua pemimpin ini sedang beraksi untuk mencegah tenteranya menjadi kalut terus-terusan.

Tan Hong kisiki In Tiong, lalu ia mendekati kedua pemimpin musuh itu, begitu datang dekat, ia lompat menerjang si orang tua, yang ia tikam.

Orang tua itu kaget, tetapi ia liehay, walaupun ia diserang secara membokong, masih dapat ia berkelit sambil terus balas menyerang dari samping.

Tan Hong sudah duga ke mana musuh akan buang dirinya, sebat luar biasa ia tarik pedangnya, untuk dipakai menyerang pula, sasarannya kali ini adalah pundak musuh.

Orang tua itu kalah gesit, juga karena ia membalas menyerang sambil berkelit, maka ia menjadi tidak berdaya ketika datang serangan yang kedua.

Ia kena tertikam, tubuhnya lantas saja rubuh.

Kembali Tan Hong tunjukkan kesebatannya, ketika musuh jatuh, ia berlompat maju untuk menjambret, pedangnya dipakai menjaga pedang musuh kalau-kalau musuh masih dapat membela diri.

Bagaikan garuda menyambar kelinci, demikian ia cekuk musuh tua itu, yang tubuhnya terus diangkat.

In Tiong juga berhasil.

Ia telah membarengi Tan Hong menyerang pemimpin musuh yang kedua, musuh ini lengah, dia kena terpukul, akan tetapi dia mengenakan baju lapis kulit, maka itu, waktu terhajar, dia cuma limbung, tidak sampai dia jatuh.

Tapi pukulan In Tiong hebat sekali, baju lapis kulit itu robek.

Sudah begitu, utusan kaisar yang gagah itu tidak memberi ketika, ia menyusuli dengan serangannya yang kedua.

"Hm!"

Berseru musuh itu, yang nyata liehay.

Dia tidak cuma dapat berkelit, malah dia dapat membalas juga, akan menotok ke arah pinggang si orang she In, sedang kakinya dikasi melayang, untuk mendupak lengannya In Tiong itu.

Itulah serangan menurut ilmu silat partai Thianliong Pay atau Naga Langit dari Seetjhong (Thibet).

Tendangannya biasa saja tetapi yang hebat adalah susulannya, atau runtunannya, yang membuatnya orang sukar berkelit.

Maka syukur In Tiong tabah dan sebat gerakannya.

Hanya setelah mendesak, musuh itu, yang ternyata licik, sudah memutar tubuh, untuk ambil langkah panjang!

Tan Hong sudah berhasil membekuk si orang bertopeng tua, ia lihat kelicikannya lawan dari In Tiong itu, sambil bawa tubuhnya si orang tua ia maju untuk mencegat.

Musuh itu ganas, ia lantas serang pemuda she Thio itu.

Melihat ini, Tan Hong pun berlaku cerdik, yaitu ia bukan berkelit atau menangkis dengan tangannya, ia justeru majukan tubuhnya si orang tua, untuk dijadikan sasaran musuh itu.

Di lain pihak, tangan kirinya dikasih bekerja juga.

"Aduh!"

Menjerit si orang tua, yang suaranya bagaikan babi mengguwik.

Tetapi jeritan itu juga disusul oleh jeritan lain, ialah dari si orang bertopeng yang licik itu!

Tan Hong tertawa bergelak-gelak, ia lantas lepaskan cekalannya kepada si orang tua, yang sudah tidak bersuara lagi, yang sudah tidak berkutik pula, karena serangan kawannya sangat liehay, hingga dia pingsan seketika.

"Dia liehay,"

Berkata In Tiong sambil tunjuk musuhnya yang kabur itu.

"Dia cuma lebih rendah sedikit saja dari kita. Di antara penyerang-penyerang kita malam ini, dialah yang paling liehay, maka itu, saudara Thio, mengapa kau biarkan dia meloloskan diri?"

Tan Hong tertawa memandang utusan kaisar Beng ini.

"Jikalau dapat kita menawan, kita menawannya, jikalau dapat kita melepaskan, biarlah kita melepaskannya,"

Jawabnya.

"Dia itu... biarlah dia terlepas dan kabur..."

In Tiong tidak puas.

Ia beranggapan Tan Hong seperti sedang mempermainkan padanya.

Akan tetapi di samping itu ia mau menyangka orang masih mempunyai akal lain, karenanya ia lantas tutup mulut, ia tidak menanya lebih jauh.

Keduanya segera kembali ke tempat mereka bersembunyi tadi.

"Bagus!"

Berseru Tamtay Keng Beng, yang menyambutnya.

"Sekalipun sewaktu Kwan Kong membunuh Hoa Hiong tiada secepat demikian!"

"Beruntung!"

Tan Hong pun berkata.

"Malam ini ancaman bencana sudah lewat, orang kita semua boleh tidur dengan tenang, kecuali kau dan aku, masih ada sedikit urusan lagi yang harus diselesaikan. Saudara In, sekarang silakan kau duduk di tempatmu untuk mulai dengan pemeriksaan!"

Sehabis mengucap demikian, Tan Hong titahkan orang membangunkan tenda, untuk mereka beristirahat, sedang ia bersama Keng Beng dan In Tiong, segera hadapkan si orang tua bertopeng.

Untuk menyadarkan tawanan itu, mereka mengguyurnya dengan air dingin, lalu orang digusur ke dalam tenda.

Thio Tan Hong sudah menduga siapa adanya si orang tua, ternyata ketika ia telah sambar topeng orang untuk dibukanya, dugaannya tidak meleset.

Orang tua itu adalah ayahnya See Boe Kie, yaitu See Too.

Maka ia tertawa dengan dingin.

"Manusia yang mencari pangkat dengan hianati sahabat, dengan tak segan menjual negara berkongkol dengan musuh, sungguh dosamu tak dapat ditebus hanya dengan jiwamu!"

Anak muda kita mencaci.

"Syukur mengenai aksimu malam ini telah aku menduganya sejak siang-siang, jikalau tidak, tidakkah kamu akan membikin kedua negara menjadi bentrok dan berperang?"

In Tiong juga mendongkol dan gusar, ia turut menegur.

"Ada permusuhan apakah di antara kamu dan si utusan kaisar Beng?"

Demikian tegurnya.

"Apakah sebabnya maka kamu serbu kami dan hendak membinasakan kami semua? Hayo lekas berikan pengakuanmu, supaya kau tak usah merasakan kompesan!"

"Sama sekali aku tidak berniat membinasakan kamu,"

See Too menjawab.

"Lebih-lebih aku tidak memikir untuk menimbulkan peperangan di antara kedua negara."

"Habis, kenapa kau bawa pasukan dan menyerang kami?"

In Tiong tanya.

"Itu... itu..."

Lalu See Too berdiam, tak dapat ia buka terus mulutnya. Tan Hong tertawa dingin pula.

"Kau hendak bicara atau tidak?"

Tanyanya. Dengan dua jari tangannya, ia lantas menotok. See Too mengeluh kesakitan. Ia merasakan totokan itu bagaikan ratusan batang jarum yang menusuk-nusuk tubuhnya, sakitnya bukan buatan.

"Ampunilah aku, nanti aku bicara, aku bicara..."

Sahutnya kemudian sambil meringis-ringis menahan sakit. Tan Hong menepuk jalan darah enghiat too orang. Sejenak saja, lenyap rasa sakitnya si orang tua.

"Jikalau kau mendusta setengah patah kata saja, akan aku beri rasa pula padamu!"

Si anak muda mengancam. Ia berwajah lemah lembut akan tetapi suaranya, sikapnya, keren sekali.

"Semua ini adalah Yasian yang perintahkan aku melakukannya,"

Benar-benar See Too berikan pengakuannya. In Tiong menjadi kaget sekali, hingga ia tercengang.

"Jangan ngaco!"

Ia membentak.

"Aku bicara dari hal yang benar,"

Menjawab See To.

"Yasian tugaskan aku menyerang kamu untuk diculik, setelah itu nanti dia kirim pasukan perangnya untuk menolongi kamu. Dengan begitu hendak dia membikin seperti juga tentera negeri melabrak penjahat. Dengan itu jalan hendak Yasian pengaruhi kamu, supaya kamu terjatuh ke dalam genggamannya hingga kamu jadi bersyukur terhadapnya."

In Tiong heran hingga ia berdiam saja. Tak dapat ia menerka siasat Yasian itu.

"Sungguh tipu daya yang sangat busuk!"

Berkata Tan Hong sambil tertawa tawar.

"Ini dia tipu daya yang dinamakan dengan sebutir batu menimpuk tiga ekor burung. Yang pertama ialah Yasian hendak membikin runtuh pamormu sebagai utusan kerajaan Beng, supaya kau mendapat malu besar."

"Jikalau Yasian berhasil menawan kau dan dia dapat berpura-pura menolongmu,"

Berkata Nona Keng Beng.

"itu artinya kau telah terjatuh ke dalam genggamannya! Atau lebih benar, kau menjadi orang tawanannya hingga tak dapat kau berbicara."

"Dengan begitu,"

Tan Hong menyambungkan.

"kalau nanti telah di mulai dengan perundingan perdamaian, Yasian menjadi menang di atas angin, dia dapat mengajukan syarat-syarat yang menghina Tionggoan. Kau berada dalam tangannya, tidak dapat kau bersikap keras."

In Tiong mengerti sekarang, dan iapun insyaf bahwa ia nyata kalah cerdas dari Tan Hong dan Tamtay Keng Beng.

"Pasukan tentara yang Yasian akan kirim itu, di mana nantinya mereka bertemu dengan kau?"

Tan Hong tanya pula See Too.

"Di depan, di mulut gunung ini,"

See To jawab.

"Bagus, kau benar tidak mendusta!"

Berkata Tan Hong sambil tertawa.

"Baiklah, aku kasih ampun padamu, kau boleh tak usah mati!"

Di mulut pemuda ini mengucapkan demikian tetapi tangannya dengan sebat sekali menepuk dua kali beruntun tubuhnya orang she See itu, dengan begitu ia pukul remuk tulang piepee orang itu, hingga habis sudah tenaga dan kepandaian silatnya, untuk selanjutnya, meskipun See Too mengarti Toksee Tjiang, ilmu tangan jahat, ilmu itu tak dapat digunai lagi terhadap lain orang.

See Boe Kie pun tidak luput dari tepukan Tan Hong, kemudian anak dan ayah oleh Tan Hong dibawa keluar tenda.

"Sekarang pergilah kamu!"

Tan Hong memberi ijinnya. Atau lebih benar ia usir kedua orang she See itu.

"Bagaimana besok kita hadapi tenteranya Yasian itu?"

Tanya In Tiong sesudah Tan Hong kembali ke dalam tenda. Tan Hong tertawa.

"Sekarang baiklah kau tidur dulu, untuk beristirahat,"

Jawabnya.

"Kau percaya aku, dapat aku layani mereka, akan aku bikin kau tidak usah hilang muka..."

Selagi In Tiong belum sempat mengatakan sesuatu, Keng Beng mendahului ia.

"Thio Toako,"

Katanya sambil bersenyum.

"kau pandai sekali menghitung, segala apa seperti telah masuk dalam terkaanmu, apakah kau mengerti ilmu meramal hingga kau ketahui segala apa di muka?"

In Tiong cocok dengan pertanyaannya si nona.

Ia memang heran kenapa Tan Hong tahu segala niat musuh, hingga dapat dihindarkan ancaman bahaya hebat itu.

Sebenarnya ia ingin menanya, tetapi si nona telah mendahuluinya, ia jadi turut menantikan penjelasan.

Tan Hong tidak menjawab, hanya sambil kibaskan tangannya, dia tertawa pula.

"Rahasia alam tak dapat dibocorkan!"

Katanya Jenaka.

"Besok pagi kamu akan ketahui sendiri! Saudara In, sekarang kau tidurlah!"

In Tiong menjadi masgul, tetapi karena ia tidak dapat memaksa, terpaksa ia menurut saja untuk tidur.

"Eh, hampir aku lupa akan satu hal!"

Berkata Tan Hong tiba-tiba, selagi orang hendak rebahkan diri.

"Tunggu sebentar! -Adik Tamtay, bagaimana dengan kakimu?"

In Tiong awasi anak muda itu, Keng Beng sebaliknya mencoba-coba menggerak-gerakkan kakinya.

"Rasanya sedikit kaku, tak leluasa untuk dipakai bergerak,"

Sahut nona ini. Ia pun lantas gulung kedua ujung celananya. In Tiong lihat kaki orang itu, dia terperanjat.

"Hai, betismu merah dan bengkak!"

Dia berseru. Ini memang hal yang ia kuatirkan.

"Tan Hong, bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau ada punya daya untuk mengobatinya?"

Sekarang pemuda ini ingat perkataan si orang she Thio tadi.

"Benar,"

Tan Hong menjawab, cepat.

"hanya aku hendak minta kaulah yang tolong mengobatinya."

In Tiong heran, ia mengawasi pula. Si nona pun kurang mengerti. Tan Hong merogo ke dalam sakunya, dari situ ia keluarkan sebatang jarum.

"Kau pegang ini,"

Ia berkata kepada si utusan kaisar Beng.

"Kau tahu jalan darah yongtjoan hiat di kaki itu, kau tusuk jalan darah itu dua kali, lalu kau tusuk dua kali juga jalan darah hongbwee hiat. Besok pagi, bengkak dan tanda merah ini akan hilang lenyap. Jangan kamu berkuatir. Besok aku ajarkan pula caranya untuk menusuk dengan jarum ini."

Anak muda ini ajarkan bagaimana In Tiong mesti menusuknya, yang lalu diturut oleh orang she In ini.

Nona Keng Beng cuma merasakan sakit sedikit waktu ditusuk.

Ia memang gagah dan berani, tusukan itu tidak berarti baginya.

"Hawa udara di Watzu ini buruk,"

Berkata Tan Hong kemudian.

"ada orang-orang yang tidak keruan-ruan bisa sakit tulang-tulang kakinya seperti kau ini, adik Tamtay. Ilmu mengobati menusuk dengan jarum ini, tidak hanya dapat menyembuhkan segala penyakit sakit di buku tulang seperti ini, bahkan dapat menolong orang yang telah menjadi pincang. Saudara In, tidak dapat kau tidak mempelajarinya ilmu menusuk jarum ini!"

In Tiong tidak menyahuti, tetapi di dalam hatinya ia kata.

"Keng Beng tidak pengkor, untuk apa kau ngoce banyak seperti ini?"

Tapi masih Tan Hong bicara lebih jauh, maka ia memotongnya.

"Baiklah, masih ada tempo untuk aku belajar besok..."

"Memang, tak dapat kau tidak mempelajarinya!"

Tan Hong berkata pula. Apakah kau merasa sebal? Baiklah, kitab ini juga aku berikan padamu! -Eh, adik Tamtay, kau harus anjurkan dia mempelajarinya!"

Dan ia robek beberapa lembar dari kitabnya, lembaran robekan itu ia belesakkan ke dalam tangannya In Tiong!

Bukan main herannya utusan raja Beng ini, hingga ia lupa untuk menghaturkan terima kasihnya.

Nona Tamtay cerdas, ia heran kenapa Tan Hong begitu mendesak hendak mengajarkan In Tiong ilmu pengobatan menusuk jarum itu, tapi beda daripada In Tiong, ia mengerti mesti ada sebab-sebabnya.

Maka itu, ia lantas tertawa.

"Karena Thio Toako bermaksud baik, kau terimalah!"

Ia desak si utusan. In Tiong terpaksa terima resep pengobatan jarum itu, karena Keng Beng telah mengatakan demikian, ia hanya tetap masih tidak mengerti, ia tetap merasa heran.

"Bagus!"

Berkata Tan Hong tanpa pedulikan keheranan orang.

"Sekarang dapat kau mengobati sendiri pada adik Tamtay! Aku tak usah mengganggu pula padamu..."

Lantas ia undurkan diri. Keesokannya pagi, Tan Hong adalah yang paling dulu bangun dari tidurnya. Malah dia terus pergi ke tenda In Tiong, akan banguni utusan kaisar Beng itu.

"Bagaimana lukanya adik Tamtay?"

Inilah pertanyaannya yang pertama-tama. In Tiong tertawa.

"Ilmu pengobatanmu dengan jarum itu benar-benar liehay sekali!"

Ia menjawab.

"Tadi malam, belum lewat setengah jam sehabis dia ditusuki dengan jarum, dia sudah lantas bisa bergerak dengan merdeka seperti biasa!"

"Kalau begitu, sekarang kita dapat berangkat dari sini,"

Tan Hong bilang.

"Kau perlu ketahui, di belakang kita masih harus terjadi suatu pertunjukan sandiwara yang menarik hati!"

In Tiong tidak mengerti, ia heran.

Peristiwa apa lagi yang dimaksudkan pemuda ini?

Dia bicara begitu tenang dan gembira.

Bukankah mereka akan menghadapi pula pasukannya Yasian?

Bagaimana pasukan itu hendak dihadapinya?

Ia juga tetap heran kenapa Tan Hong ketahui mereka terancam bahaya dan datang malam-malam untuk menolongnya...

Oleh karena ia tidak tahu apa yang si anak muda bakal lakukan, terpaksa In Tiong serahkan pimpinan kepada si anak muda itu.

Seperti sudah diketahui, di dalam pertempuran semalam, dari delapan belas pahlawannya In Tiong, tiga telah terluka, tetapi semua mereka pandai menunggang kuda, maka itu, utusan ini titahkan mereka pergi ambil kudanya barisan penyerbu di bawah pimpinan See Too itu.

Di tempat pertempuran masih ada kudanya pasukan itu, binatang-binatang itu tidak kabur semuanya, dua puluh di antaranya dipilih dan diambil.

Setelah semua sudah siap, orang mulai keluar dari lembah itu.

Baharu rombongan ini tiba di muka gunung, dari sebelah depan mereka sudah dengar suara dari banyak kuda berlari-lari, pada itu tercampur seruan-seruan dari pasukan yang buyar.

"Itulah mirip pasukan yang kabur tunggang langgang,"

In Tiong utarakan dugaannya. Tan Hong tertawa mendengar pengutaraan itu.

"Pertunjukan sandiwara akan segera di mulai!"

Ia berkata dengan penyambutannya.

"Kamu tunggu dan lihat saja!"

Mereka berjalan terus, hingga mereka melewati jalan yang menikung.

Dari sini mereka lantas lihat debu mengepul di sebelah depan mereka, lalu tertampak mendatanginya satu pasukan tentera Mongol terdiri dari kira-kira tiga puluh jiwa yang tidak keruan seragamnya, kudanya meringkik kecapean.

Itulah pasukan yang kalut kalah perang!

Rombongannya Tan Hong berdiam mengawasi pasukan itu, yang datang menghampirkan mereka, di antara orang yang menjadi pemimpin maju kemuka sekali sampai di depan In Tiong, terus ia angkat kedua tangannya, untuk memberi hormat seperti cara tentera Tionggoan.

"In Soesin telah tiba di negara kami, maaf kami telah terlambat menyambutnya."

Berkata dia. Dengan "soesin"

Dia maksudkan "utusan kaisar Tiongkok".

"Kami adalah wakilnya Thaysoe Yasian,"

Sahut perwira itu.

"Kami ditugaskan menyambut In Soesin yang telah tiba di negara kami. Ah, Thio Kongtjoe juga ada di sini. Bagus!"

Perwira itu lihat Tan Hong, yang ia kenali.

Ia adalah Ngochito, pahlawan nomor satu dari Perdana Menteri Yasian.

Menghadapi pemuda she Thio itu, agaknya ia likat, walaupun udara lembab, ia mengeluarkan peluh di keningnya.

Tan Hong bersenyum.

"Sungguh sempurna perlayanan thaysoe kamu!"

Ia berkata.

Sambil mengucap demikian, dengan tiba-tiba pemuda ini majukan kudanya, sampai di dekatnya Ngochito, menyusul mana sebelah tangannya menyambar kepada satu perwira di sisi pahlawan nomor satu dari Yasian itu, lalu dengan paksa ia tarik tubuh orang.

Perwira itu bukan sembarang perwira, walaupun ia telah kena dicekal, ia masih dapat membuat perlawanan.

Begitulah, setelah tangannya tak berdaya, ia ayun kedua kakinya, untuk menendang orang yang mencekuk padanya.

Akan tetapi Tan Hong sudah bersedia untuk segala apa, ia mendahului menotok, maka perwira itu lantas diam bagaikan mayat hidup!

Kejadian ini ada di luar dugaan siapa juga, terjadinya sangat cepat, semua orang menjadi terkejut dan heran.

Ngochito tak dapat menahan sabar.

"Thio Kongtjoe, mengapa kau berlaku begini tidak tahu aturan?"

Dia menegor.

Tan Hong tidak gubris tegoran itu, ia terus kerjakan kedua tangannya.

Lebih dahulu ia robek seragamnya si perwira, terus ia buka baju lapis kulitnya, hingga tertampak bebokong orang di mana terlihat satu tanda yang luar biasa sekali, ialah cacahan huruf "tjat" (= "bangsat").

Huruf itu adalah huruf "tjodjie" -tulisan ringkas.

"Siapakah yang tidak tahu aturan?"

Tan Hong tanya sambil tertawa.

"Kau pernah pelajari huruf Tionghoa, kau kenal huruf ini, bukan? Ha, syukur aku sempat membuat tanda!"

Sambil berkata demikian, pemuda ini lemparkan tubuhnya perwira itu ke arah In Tiong, maka satu pahlawan segera menyambutnya untuk diringkus.

"In Soesin."

Berkata Tan Hong, sekarang kepada In Tiong, si utusan kaisar Beng.

"Perwira ini adalah si bangsat yang tadi malam dapat meloloskan dirinya! Dialah yang bernama Ma I Tjan, salah satu pahlawan di bawahnya Thaysoe Yasian! Silakan kau bawa dia untuk dikembalikan kepada thaysoe Yasian itu!"

Ngochito jadi sangat gusar, hingga ia seperti lupa segala apa.

Ia angkat goloknya, dengan itu ia serang Tan Hong!

Si anak muda tidak tinggal diam saja, segera dengan pedangnya ia menangkis, untuk melayani bertempur.

Setelah beberapa jurus, dengan tiba-tiba ia tertawa berkakakan.

"Apakah belum cukup kau rasakan kesengsaraan yang tadi malam kau derita?"

Ia menanya.

"Kau ingin terjatuh ke dalam tanganku atau ke dalam tangannya musuh dari Thaysoe Yasian?"

Ngochito tercengang tetapi segera dia mencaci.

"Jadinya tadi malam adalah kau yang mengacau, binatang!"

Lalu dengan bacokan "Toapek Hoasan" = "Menggempur gunung Hoasan,"

Dia menghajar dengan bengis.

Tan Hong seorang pemberani, ia kerahkan tenaganya, ia menangkis sambil membabat, maka itu pedangnya, pedang Pekin kiam si Mega Putih lantas bentrok keras dengan golok pahlawannya Yasian itu.

Sebagai akibatnya bentrokan itu, ujung golok Ngochito telah terpapas buntung, atas mana dia segera larikan kudanya untuk menyingkirkan diri.

"Sekalipun kau hendak lari, tak dapat kau wujudkan itu!"

Berkata Tan Hong sambil tertawa.

"Kau lihat di sana -siapa itu yang sedang mendatangi?"

Tan Hong menunjuk ke depan, dari mana seekor kuda kelihatan lari mendatangi cepatnya bagaikan terbang, hingga seperti tertampak hanya sebuah bayangan putih.

Ketika Tamtay Keng Beng sudah lihat tegas siapa si penunggang kuda itu, dia berteriak bagaikan bersorak.

"Kakak!"

Orang yang tengah mendatangi itu memang Tantai Mie Ming dan binatang tunggangannya adalah kuda putih Tjiauwya saytjoe ma kepunyaannya Tan Hong!

Ngochito kenali jenderal itu, ia kaget hingga semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya, meski begitu masih sempat ia memanggil.

"Tantai Tjiangkoen..."

Tantai Mie Ming menyambut dengan tertawanya yang nyaring.

"Bangsat, sekarang akan aku bikin kau kenal kepada Tantai Mie Ming!"

Ia berkata.

Oleh karena mereka telah datang dekat satu pada lain, Mie Ming segera serang pahlawannya Yasian itu, yang hatinya sudah kuncup, hingga dia tidak dapat menangkis atau berkelit lagi, maka sekali hajar saja, dia telah dibikin rubuh terjungkal dari atas kudanya.

Mie Ming benci pahlawan itu.

Ketika baharu ini Yasian titahkan Ngochito kurung Thio Tjong Tjioe, ia telah diperhina, sekarang setelah ia letakkan jabatannya, ia dapat tidak memandang-mandang lagi.

Begitulah ia umbar penasarannya itu.

Ngochito ada punya sisa kira-kira tiga puluh serdadu, mereka itu semua kenal Tantai Mie Ming sebagai satu pahlawan perang Watztu yang kesohor gagah, maka itu menampak jenderal itu, bahna takut dan kagetnya, beberapa serdadu telah rubuh sendirinya dari kudanya.

Yang lainnya, semua lari kabur!

Tanpa menghiraukan tentara yang kabur sera-butan itu, Tantai Mie Ming lompat turun dari kudanya, untuk belenggu Ngochito.

Sebenarnya ia hendak lantas bicara kepada In Tiong dan Tan Hong tatkala utusan kerajaan Beng itu perlihatkan roman kaget.

"Lihat, Yasian sungguh berani! Dia kirim pasukan perang besar!"

Dia berseru sambil memandang ke depan, tangannya menunjuk. Tantai Mie Ming berpaling, lantas dia tertawa.

"Itulah bukan pasukan perang Yasian,"

Katanya.

Sebentar saja, pasukan tentara itu telah tiba, lalu yang menjadi kepala perang menghampirkan Tantai Mie Ming dan bicara, setelah mana, jenderal ini ajar kenal orang itu kepada utusan Beng ini.

Nyata pasukan perang itu adalah pasukannya suatu suku bangsa.

Ketuanya yang telah marhum telah binasa di tangannya Yasian, lalu ketuanya yang sekarang, dipaksa Yasian tunduk kepadanya.

Tapi ketua ini membangkang, justeru dia dapat tahu ada bentrokan di antara Yasian dengan Atzu Tiwan, dia lari ke pihaknya Tiwan.

Diapun bergabung dengan Tantai Mie Ming.

Tadi malam Ngochito memimpin tentara yang berjumlah lima ratus jiwa, dia hendak menyambut rombongannya See To dan See Boe Kie untuk menyergap In Tiong, tetapi Tan Hong keburu datang dan mengatur siasat, Tan Hong sendiri pergi langsung menolongi In Tiong, Mie Ming bersama barisan suku bangsa itu mencegat barisannya Ngochito, yang mereka serbu, dalam pertempuran malam buta rata itu, pasukan Ngochito kena dipukul rusak hingga dia kabur bersama sisa serdadunya kira-kira tiga puluh jiwa itu, sampai dia ketemu Tan Hong dan rombongannya In Tiong itu.

Lacur baginya, sisa serdadu-serdadunya, yang barusan lari serabutan, semuanya kena ditawan barisan suku bangsa itu.

Maka ludaslah pasukannya Yasian itu.

Setelah mendengar pembicaraan antara Tantai Mie Ming dan ketua suku bangsa itu, serta Tan Hong juga, baharulah In Tiong seperti sadar dari mimpinya.

Jelas semua itu adalah Tan Hong dan Mie Ming yang mengaturnya, dengan dapat bantuan barisan suku bangsa itu, maka usahanya Ngochito -atau lebih benar usahanya Thaysoe Yasian -dapat digagalkan.

Lebih kebetulan lagi Tan Hong menyelusup ke tangsi musuh, ia jadi ketahui rencananya Ngochito dan See Too, yang bekerja menurut titahnya Yasian.

Tan Hong dan Mie Ming pun sama-sama bekerja dengan baik dan berhasil, yaitu memperoleh kemenangan.

Pahlawan Yasian yang bernama Ma I Tjan itu mula-mula menggabungkan diri pada Ngochito, dia melihat tanda unggun dari See Too, maka dia lantas berangkat untuk memberikan bantuannya.

Apa lacur, dia tidak sanggup lawan In Tiong, dia kena dihajar utusan Beng itu, sesudah mana, Tan Hong dapat kesempatan untuk mencorat-coret huruf "tjat" = "bangsat"

Di bebokongnya tanpa dia merasa. Tentu saja, karena kena tertawan, dia tidak dapat buka mulutnya lagi. Ketika In Tiong dan si ketua suku membuat pertemuan, mereka saling menghadiahkan "hata,"

Itulah adat kebiasaan dari suku bangsa Mongol ini.

Hata itu adalah semacam sapu tangan sutera, tanda dari penghormatan.

Kemudian mereka berembuk akan mengambil putusan, ialah.

Ngochito dan Ma I Tjan diserahkan kepada In Tiong sebagai orang-orang tawanan.

Ketua suku bangsa itu peroleh semua orang tawanan serta alat senjatanya dan lainnya kepunyaan pasukannya Ngochito itu.

In Tiong tidak dapatkan kerugian suatu apa, malah kudanya semua telah didapat pulang.

Ketua suku bangsa itu girang bukan main, sebab ia peroleh banyak kuda, ransum dan alat senjata, maka di waktu ia hendak berpisahan dari Tan Hong beramai, berulangkah ia menghaturkan terima kasihnya, seperti Tan Hong pun mengucap banyak terima kasih terhadapnya.

Mereka berpisahan sesudah barisan suku bangsa itu mengantar sampai di luar mulut lembah.

In Tiong melanjutkan perjalanannya sesudah tengah hari, matahari memancarkan cahayanya hingga buyarlah hawa dingin.

Ia merasa gembira sekali.

Bukankah ia telah lolos dari ancaman bencana dan berbalik menjadi peroleh kemenangan?

"Beruntung tadi malam ada kau!"

Ia berkata kepada Tan Hong.

"Yasian hendak membikin runtuh kepadaku, siapa tahu, sebaliknya dialah yang berbalik terjatuh ke dalam tangan kita!"

Tan Hong bersenyum, ia tidak menjawab.

"In Toako,"

Tamtay Keng Beng turut bicara.

"kau juga turut berjasa, karena kaupun tidak menjadi gentar atas serbuan musuh!"

Nona ini jalankan kudanya berendeng dengan kudanya si utusan kaisar, ia pun gembira sekali, wajahnya berseri-seri. Tantai Mie Ming awasi adiknya itu, lalu di dalam hatinya ia tertawa dan kata.

"Kiranya bocah ini sudah punyakan orang yang dia penujui..."

Ia senang mengawasi pasangan itu, tetapi ketika ia ingat Tan Hong, ia menjadi berduka untuk tjoekong-nya ini.

Bukankah Tan Hong dan In Loei menemui rintangan?

Tan Hong juga nampaknya menjadi lesu, hilang kegembiraannya.

Sebelum itu ia ada bersemangat.

Di dalam kegembiraannya itu, In Tiong seperti lupa segala apa.

"Eh, mana In Loei?"

Tiba-tiba ia tanya si pemuda she Thio.

"Kenapa ia tidak bersama kau? Apakah ia seorang diri berdiam di ibu kota Watzu?"

Pertanyaan ini sudah hendak dimajukan sejak kemarin tetapi tadi malam telah terjadi penyerbuan dahsyat itu, yang membikin ia lupa akan hal itu.

Tan Hong terdiam, ia mesti kuatkan hatinya.

Tapi ia harus menjawab.

"Ia tidak bersamaku,"

Sahutnya dengan tawar.

"Ia telah pulang ke rumahnya untuk menjenguk ibunya."

Girang sekali In Tiong mendengar jawaban itu.

"Apakah ibuku masih ada?"

Dia tanya.

"Malah aku dengar ayahmu juga telah pulang!"

Tantai Mie Ming menyelak sebelum Tan Hong menjawab. Sengaja ia wakilkan pemuda itu, sang tjoekong.

"In Thaydjin, kamu sekeluarga dapat berkumpul, sungguh itu ada hal yang sangat menggirangkan!"

"Benarkah itu?"

Berseru In Tiong. Ia girang bukan main.

"Mustahil kabar itu bohong?"

Mie Ming membaliki.

"Cuma..."

"Cuma apakah?"

In Tiong tanya, cepat.

Tadi Mie Ming berhenti bicara karena tempo ia menoleh kepada Tan Hong, anak muda itu telah mengkedipkan mata kepadanya.

Maka sekarang ia menjawabnya tak seperti apa yang ia hendak mengatakannya tadi.

"Cuma karena jalanan ada jauh, entah mereka dapat susul kau atau tidak..."

Demikian katanya. In Tiong tertawa.

"Aku akan berdiam lebih lama beberapa hari di ibu kota Watzu untuk menantikan mereka,"

katanya.

"Tapi, ketika ia tampak sikap adem dari Tan Hong, ia menjadi kurang puas. Di dalam hatinya, ia berkata.

"Ya, memang kami kaum keluarga In bermusuhan dengan kaum keluarga Thio, dia mendengar ayahku masih hidup, tentulah dia menjadi tak bergembira. Sebenarnya dia heran juga, dia berpemandangan luas tetapi sekarang dia menjadi cupat pikiran... Tapi ini ada baiknya juga, kesulitanku pun menjadi berkurang. Dengan In Loei dia tidak dapat berpisah, tetapi sekarang mau atau tidak, dia mesti berpisah juga..."

Setelah peristiwa yang hebat itu, berubahlah sudah kesan In Tiong terhadap Tan Hong, bukan melainkan kebenciannya telah menjadi berkurang, malah permusuhannya telah seperti hilang sendirinya.

Ia hanya masih beranggapan bahwa di antara kedua keluarga itu tidak seharusnya ada pergabungan pernikahan...

Perjalanan telah dilanjutkan dengan tenteram, tidak ada rintangan apapun, maka berselang belasan hari, tibalah mereka dengan selamat di ibu kota Watzu.

Segera In Tiong menunda dahulu di luar tembok kota, dari mana ia memandang ibu kota itu.

Ia lantas saja ingat banyak hal di masa mudanya, ketika ia turut alami banyak penderitaan.

Tapi sekarang, sebagai utusan kaisar, bolehlah ia angkat kepala.

Dalam pikiran ruwet tak keruan itu, air matanya turun berketel.

Ia tak tahu, ia mesti berduka atau bergirang...

Belum lama, mendadak ada terdengar dentuman meriam tiga kali.

Menyusul itu, pintu kota telah dipentang lebar-lebar.

Nyata raja Watzu telah dengar berita dari tibanya utusan kaisar Tionggoan dan karenanya dia mengirim wakil untuk menyambutnya.

Malah Yasian juga turut mengirimkan wakilnya, guna menyambut utusan itu.

Hanya wakil ini menjadi heran apabila ia tampak di antara perutusan Tionggoan itu tidak beserta Ngochito dan barisannya, sedang seharusnya Ngochito yang mesti mengiringi perutusan itu.

Ia tentu saja tidak ketahui, Ngochito dan Ma I Tjan sedang terkurung rapat dalam sebuah kereta keledai yang dibawa utusan kaisar Beng itu, sementara Thio Tan Hong dan Tantai Mie Ming sudah sejak siang-siang pisahkan diri dari In Tiong, mereka pergi menuju ke pintu kota yang kedua, untuk pulang ke rumah mereka.

Perdana Menteri Yasian di dalam gedungnya juga menantikan kabar hal tibanya utusan Tionggoan itu.

Ia tidak usah menanti terlalu lama akan terima kabar dari wakilnya.

Ia memang tak tenteram hatinya, duduk salah berdiri salah, maka kabar yang diterimanya ini membuat kagetnya bukan kepalang.

Ia terima keterangan bahwa utusan Tionggoan datang cuma bersama delapan belas pengiring serta beberapa pelayan wanita, bahwa semua pengiring itu nampaknya gagah, pakaian mereka mentereng, tidak ada tanda-tanda bekas mengalami penyerangan yang membuat pakaian mereka tidak keruan atau kuda lelah dan manusia letih.

Dari halnya Ngochito dan lima ratus serdadunya, jangankan orangnya, walau bayangannya pun tak tertampak.

Yasian kaget berbareng sangat heran.

"Ngochito dan Ma I Tjan kosen dan pintar, mereka ada bersama lima ratus serdadu pilihan, malah dibantu pula oleh See Too serta orang-orangnya, tidak seharusnya mereka gagal, umpama gagalpun, mesti ada orangnya yang lari pulang untuk mengabarkan. Kenapa sekarang tidak seorang juga yang kembali? Mustahilkah utusan Tionggoan itu ada bangsa malaikat?"

Demikian Yasian tanya dirinya sendiri, hingga ia jadi berpikir keras.

Malam itu, karena ia terus menunggui warta dari Ngochito, sama sekali ia tidak tidur sekejap pun juga.

Keesokannya, dari pagi hingga tengah hari, ia masih menanti-nanti, sehingga datanglah kabar tibanya utusan Tionggoan itu, yang membikin keheranannya sampai di puncaknya.

Di hari kedua, pagi-pagi Yasian kirim wakil kepada In Tiong, untuk undang utusan itu.

In Tiong terima undangan itu.

Sudah selayaknya ia berkunjung kepada perdana menteri Watzu.

Ia datang dengan ajak empat pengiring berikut sebuah kereta keledai.

Tapi ia datang sesudah jauh siang, hingga selama itu, Yasian mesti menahan napas untuk menantikan padanya.

Heran Yasian waktu jauh siang itu ia diberitahukan tentang kunjungannya utusan Tionggoan sambil membawa sebuah kereta keledai.

"Apakah mereka bawa banyak barang antaran untukku?"

Yasian menduga-duga.

"Mestinya hadiah itu barang-barang yang berat sekali..."

Ia lantas berikan titah, pengiring mesti menunggu di tangga di muka pintu besar, supaya si utusan seorang diri yang dipimpin masuk ke dalam ruangan besar di mana ia menantikan.

In Tiong bawa sikap agung-agungan.

Ia berjalan di lorong di antara dua baris pengawal yang seragamnya mentereng dan romannya gagah, semuanya menyekal golok, tombak dan pedang terhunus.

Yasian telah pasang matanya.

Ia tercengang ketika ia lihat romannya utusan ini.

Ia merasa bahwa ia seperti pernah bertemu dengan utusan itu.

Berbareng di otaknya segera berbayang satu utusan lain dari kerajaan Beng.

Itulah In Tjeng, utusan dari tiga puluh tahun yang lampau.

Itulah utusan yang di negara Watzu hidup sebagai pengembala kuda selama dua puluh tahun, tapi hatinya tak pernah dapat dibikin ciut, yang semangatnya terus berkobar-kobar.

Sekarang utusan yang muda ini mirip benar dengan utusan yang tua dahulu itu...

In Tiong unjuk hormatnya kepada perdana menteri Watzu itu yang membalasnya.

Ia lantas persembahkan barang-barang hadiah, seperti kumala putih dan lain-lainnya.

Inilah keharusan di antara kedua negara, sebagai tanda menghormat kepada menteri dari negara yang dikunjunginya itu.

Hadiah itu bukan barang sangat berharga tetapi toh tepat untuk suatu menteri.

Selama itu tetap dia bawa sikapnya yang agung, bukannya jumawa, bukannya merendah.

Setelah penyerahan hadiah itu, Yasian minta belajar kenal.

Di dalam hatinya ia kaget akan dengar utusan ini seorang she In.

"Sungguh kebetulan!"

Katanya sambil tertawa.

"Pada tiga puluh tahun sang lampau, utusan yang datang juga she In!"

"Malah sekarang ada terlebih kebetulan pula!"

Berkata In Tiong sambil tertawa.

"Pada tiga puluh tahun yang lampau itu adalah sang kakek yang menjadi utusan, dan pada tiga puluh tahun kemudian, ialah sekarang ini, aku adalah cucunya si kakek itu! Thaysoe, bukankah ini ada suatu hal yang bagus sekali?"

Air mukanya Yasian berubah, akan tetapi ia mencoba akan mengatasi diri. Begitulah ia paksa tertawa.

"Benar bagus, benar bagus!"

Begitu katanya.

Walau bagaimana, perdana menteri ini tak dapat sembunyikan keheranan dan kagetnya, hingga sikapnya menjadi tidak wajar pula.

In Tiong merasa sangat puas, ia tertawa bergelak-gelak.

Ia lalu mendesak.

"Kali ini aku menjadi utusan, sebelumnya aku telah pelajari juga ilmu mengembala kuda,"

Demikian katanya, disengaja.

"Jikalau sudah datang waktu keperluannya, aku bersedia berdiam lama di dalam negeri thaysoe ini!"

Yasian menjadi sangat likat. Ia tertawa menyeringai.

"Ah, In Thaydjin, kau bergurau!"

Katanya, untuk menutupi kelikatannya.

"Haha, haha, sungguh thaydjin suka bergurau!"

Ia lalu berdehem, ia urut-urut kumis jenggotnya.

"Thaydjin, aku justeru hendak mohon maaf padamu, karena kami telah lalai dalam penyambutan kami. Thaydjin sudah melakukan perjalanan jauh dan harus melintasi kota-kota dan gunung-gunung, tentu kau letih sekali."

Dengan kata-katanya ini, Yasian ingin simpang-kan pembicaraan sambil berbareng memancing keterangan kalau-kalau tetamunya mengalami sesuatu di dalam perjalanannya itu.

Ditanya begitu, In Tiong tertawa dingin.

"Aku tidak merasa letih."

Demikian penyahutan-nya.

"Hanya ketika aku memasuki wilayah negara thaysoe, di tengah jalan kami telah hadapi beberapa begal kecil..."

Yasian kaget di dalam hatinya.

"Kalau cuma begal kecil, itulah pasti bukannya Ngochito,"

Pikirnya. Ia lantas menanya.

"Di tempat manakah thaydjin ketemu orang jahat itu? Pembesar-setempat di sana telah melalaikan tugasnya, nanti aku periksa dan hukum padanya!"

Ia nampak kaget tetapi kali ini, kagetnya itu kentara. In Tiong tertawa pula.

"Itulah tak usah,"

Katanya.

"Berhubung dengan pembegalan itu kami tidak mendapat rugi apa-apa. Di sebelah tugasku, thaysoe secara perseorangan aku hendak menghadiahkan sesuatu kepada thaysoe, hanya yang tidak berarti..."

Yasian bersenyum, ia nampaknya gembira.

"Janganlah berlaku sungkan, In Thaydjin."

Katanya, merendah.

"Oh, tidak, tidak, thaysoe,"

In Tiong bilang.

"Aku mohon thaysoe perkenakan pengiring-pengiringku supaya barang hadiah itu yang berada di dalam kereta boleh dibawa kemari..."

"Oh, tentu saja boleh!"

Yasian berikan perkenannya dengan cepat. Di dalam hatinya, ia kata.

"Nyata dugaanku tidak meleset, barang-barang di dalam kereta itu ada bingkisan untukku! Akan tetapi barang ada demikian berat, mestinya barang yang tidak seberapa berarti..."

Senang hatinya perdana menteri ini, sedang tadinya ia tidak puas terhadap sikap agung-agungan dari utusan itu.

Hadiah itu berarti suatu muka terang baginya.

Ia jadi tidak terlalu pikirkan, hadiah itu barang berharga atau bukan.

Ia lantas perintahkan supaya pengiringnya si utusan diberi ijin untuk membawa masuk bingkisan itu.

In Tiong menghaturkan terima kasih.

Ia perlihatkan wajah berseri-seri.

Empat pengiring utusan Tionggoan itu bertindak masuk dengan menggotong dua bungkusan karung goni yang besar.

Yasian mengawasi, ia menduga kepada suatu barang keluaran Tiongkok, semacam hasil buminya.

Ia tertawa di dalam hati.

Ketika ia menduga utusan ini tentulah seorang melarat...

Sampai di depan Yasian dan sepnya, ke empat pengiring lalu turunkan bungkusannya dengan dibanting keras.

Berbareng dengan itu terdengar teriakan "Aduh!"

Yang tertahan.

Kemudian, tanpa tunggu titah lagi, mereka buka tambang yang mengikat mulut karung itu, untuk keluarkan isinya karung, ialah dua tubuh yang teringkus, malah tubuh yang satu tanpa baju, hingga kelihatan dada dan bebokongnya, dan di bebokongnya tampak nyata cacahan huruf "tjat" = "bangsat"

"Inilah hadiahku yang tidak berarti, yang aku harap thaysoe suka terima tanpa celaan..."

Berkata In Tiong sambil tertawa.

Tidak usah dijelaskan lagi bahwa dua orang yang teringkus itu adalah Ngochito serta Ma I Tjan.

Karena mereka sudah teringkus lama, tidak heran kalau mereka jadi pusing kepala dan pegal kaku.

Kalau tadinya mereka tetap tak sadar akibat totokan, seberlalunya Tan Hong, mereka telah dibikin ingat akan diri mereka.

Sekarang mereka lihat Yasian, mereka menyangka bahwa mereka telah ditolongi orang sendiri, saking kegirangan mereka sudah lantas berseru.

"Thaysoe."

Yasian kaget. Akan tetapi dia adalah satu orang besar dan cerdas, dalam sejenak saja dia bisa menduga kepada kejadian yang benar, maka lantas dia perlihatkan wajah bengis.

"Hai, dua begal cilik!"

Dia membentak.

"cara bagaimana kamu berani ganggu utusan dari negara besar? Mana orang? Hukum rangket tiga ratus rotan kepada mereka, lantas masukkan ke penjara negara, kemudian akan aku periksa dan hukum mereka!"

Ngochito dan Ma I Tjan menjadi sangat kaget, mereka lantas buka suara, untuk memberi keterangan, tetapi bentakannya pengiring Yasian telah mencampur baurkan suara mereka, yang pun segera digusur ke ruang belakang!

In Tiong menyaksikan semua itu dengan tenang.

"Thaysoe repot, tidak seharusnya thaysoe diganggu segala begal kecil,"

Ia berkata sambil bersenyum. Mau tidak mau, mukanya Yasian menjadi ber-semu merah.

"Sungguh kedua begal itu telah membikin aku malu..."

Ia berkata dengan lagaknya dibikin-bikin.

"Ah!..."

Ia menghela napas.

"Pasti, pasti akan aku hukum berat kepada mereka!"

In Tiong berdiam, dengan dingin ia awasi perdana menteri itu.

Dalam hatinya Yasian heran sekali.

Dua pahlawannya itu sangat tangguh, mereka memimpin lima ratus serdadu, juga dibantu See To dan rombongannya, tetapi mereka kena ditawan, tentera mereka lenyap tidak keruan paran, tidakkah itu luar biasa mengherankan?

Iapun merasa sangat tidak enak menampak sikapnya In Tiong itu, si utusan dari Tionggoan, maka dengan sendirinya, paras mukanya menjadi pucat dan merah padam bergantian.

"Hari ini telah cukup aku permainkan padanya!"

Berpikir In Tiong setelah melihat lagak orang itu.

"Baiklah, aku tidak mendesak dia terlebih jauh, supaya dia tidak menjadi gusar, agar perundingan tidak terganggu karenanya."

Maka ia tertawa dengan pelahan dan berkata dengan sabar.

"Thaysoe, apa yang telah terjadi itu tidaklah aneh. Di dalam sebuah negara, rakyatnya memang tidak rata, tidak semuanya baik, mesti di antaranya ada beberapa yang jahat. Harap thaysoe tidak pikir pula tentang mereka itu. Marilah kita bicara tentang maksud tujuan kita."

Mendengar itu, lega juga hatinya Yasian.

"Benar apa yang kau katakan itu, In Thaydjin,"

Ia menyahut. In Tiong keluarkan segumpal kertas.

"Inilah rencana perdamaian kita,"

Ia beritahu sambil serahkan kertas itu.

"Coba thaysoe periksa."

Itulah rencana perdamaian karangannya Kokioo Ie Kiam, bunyinya sangat sederhana.

Ie Kokioo meminta supaya kedua negara menjaga saja masing-masing wilayahnya, keduanya saling memperlakukan sama rata, jangan sekali ada yang melakukan penyerangan, supaya untuk selamanya tak lagi terbit perang.

Pada itu Ie Kokioo berikutkan syarat supaya "thaysianghong"

Yaitu raja yang tua, Kaisar Beng Eng atau Kie Tin, yang tertawan di negeri Watzu, lantas di merdekakan dan diantarkan pulang.

Setelah membaca rencana itu, Yasian berdiam.

Ia berpikir.

Sederhana rencana Tionggoan itu tetapi bertentangan dengan rencananya sendiri.

Ia hendak kemukakan perdamaian menurut cara dahulu, yang telah dibikin antara kerajaan Song dan Liauw (Kim), ialah kerajaan Beng mesti menempati kedudukan yang terlebih rendah, dengan negara Watzu harus ada perhubungan bagaikan paman dengan keponakan.

Negeri Watzu sebagai paman, Tionggoan sebagai keponakan.

Serta setiap tahun kerajaan Beng mesti membayar upeti sebanyak tiga ratus laksa tail perak serta sutera lima laksa kayu.

Tegasnya, dia hendak berdamai sebagai dia yang menang perang.

Maka sekarang tidaklah ia sangka, Tionggoan mengajukan syarat lain.

Dia telah berdaya, dia telah bekerja supaya utusan Beng itu terjatuh ke dalam tangannya supaya dapat dipengaruhi, tidak tahunya, keadaan menjadi kebalikannya.

Dia sekarang menjadi mirip ayam jago yang kalah berkelahi, hingga rencananya sendiri yang dia bekal di dalam sakunya tidak berani dikeluarkan.

"Tionggoan adalah satu negara yang mengenal tata sopan santun,"

Berkata In Tiong apabila ia melihat orang berdiam saja, ia bicara dengan sabar tetapi berpengaruh.

"maka itu Tionggoan hendak berdamai dan bersahabat dengan negaramu sebagai kedua negara sederajat, sebagai saudara-saudara, semua peristiwa yang sudah lewat, tidak hendak ditarik panjang pula. Dengan perjanjian ini, kedua negara sama-sama tidak mendapat kerugian. Apabila Thaysoe memikir lain dan thaysoe anggap Tionggoan boleh diperhina, tidak ada jalan lain, di tapal batas negara kami sudah sedia sepuluh laksa serdadu pilihan, kami bersedia untuk main melayani thaysoe!"

Suaranya utusan ini lemah berbareng keras.

Ia meminta tetapi pun ia mengancam, namun ia tidak meninggalkan adat sopan santun.

Pada mulanya benar Yasian telah berhasil menyerang Tionggoan dan memperoleh kemenangan, hingga ia berhasil menawan kaisar Kie Tin, akan tetapi dalam peperangan lebih jauh, di Pakkhia, ia telah kena dikalahkan hingga terusir keluar dari kota Ganboenkwan, maka dalam hal ini di antara kedua pihak tidak dapat dikatakan ada yang menang dan kalah perang.

Oleh karena itu, jikalau kedua negara mengadakan perdamaian, itu adalah hal yang pantas sekali.

Bicara hal kedudukan, Tionggoan lebih menang, sebab di bawah pimpinan Ie Kokioo, Tionggoan bersatu, di lain pihak, negeri Watzu terancam bentrokan di dalam, dia ada di pihak lebih lemah.

Hal ini diinsafi Yasian, maka ia suka membuat perdamaian, tetapi dasar ia seorang licik, ia masih hendak mencari kemenangan di atas angin.

Tapi ia menghadapi In Tiong yang berani, ia jadi menghadapi kesulitan.

"Utusan ini sukar dilayani,"

Demikian pikirnya.

"Nyata dia jauh lebih liehay daripada kakeknya dahulu hari. Jikalau aku main ayal-ayalan, bisa-bisa kedudukanku menjadi berbahaya..."

Ia ingat ancaman bahaya dari pihaknya Atzu Tiwan.

"Baiklah,"

Katanya kemudian.

"rencanamu ini dapat aku terima. Sekarang tunggu saja sampai junjunganku telah memeriksanya baharu kemudian kita bicara pula untuk mengambil keputusan."

Pembicaraan berjalan lancar, belum lewat sepuluh hari kedua pihak telah peroleh persetujuan.

Rencana Tiongoan diterima baik, cuma beberapa kata-katanya saja yang diubah sedikit.

Telah ditetapkan, di hari kedua sehabisnya, pembubuhan tanda tangan, kaisar Tiongkok yang ditawan itu akan dimerdekakan, dia boleh disambut utusannya untuk diajak pulang.

Sementara itu kaisar Kie Tin dipindahkan dari kamar tahanan ke dalam istana raja Watzu, diberikan sebuah ruangan di mana ia diperlakukan sebagai raja yang terhormat.

Selagi perundingan perdamaian dilakukan, Tan Hong telah menulis surat kepada In Tiong, dia undang utusan Tionggoan itu datang ke rumahnya.

In Tiong tampik undangan itu, ia masih ingat permusuhan di antara mereka walaupun terhadap Tan Hong ia telah berkesan baik.

Karena itu, Tan Hong juga tidak datang berkunjung kepada utusan itu.

Dengan lewatnya sang waktu, datanglah malaman yang besoknya utusan Tionggoan bakal ajak junjungannya yang tua berangkat pulang.

Malam itu In Tiong merasa tegang sendirinya, hingga di tempat kediamannya, ia jalan mondar-mandir tak hentinya.

Ia memikir untuk tidur tetapi tak dapat ia lakukan itu.

Di pihak lain, juga ada dua orang yang merasakan ketegangan sebagai In Tiong itu.

Mereka adalah Tan Hong dan ayahnya.

Hanya ada perbedaan pikiran di antara anak dan ayah itu.

Ketegangan Tjong Tjioe karena ia gembira berbareng masgul dan berduka.

Begitulah di dalam taman, sambil meloneng pada lankan, ia mengadakan pembicaraan dengan puteranya.

Selama beberapa hari itu, Thio Tjong Tjioe dapat diumpamakan sebagai pohon tua yang sudah kering, angin musim semi telah meniup sepoi-sepoi akan tetapi pohon tua itu tak bersemi pula, tak ada daunnya yang hijau.

Dia telah keram diri di dalam kamar tulisnya, sampaipun dengan puteranya sendiri sedikit sekali ia bicara.

Sedang mengenai urusan tibanya utusan Tionggoan, sama sekali tak sudi ia menyebut-nyebutnya.

Sikapnya yang luar biasa itu menimbulkan kekuatiran di antara orang-orang sedalam gedungnya.

Tan Hong ingin sekali mengunjungi In Tiong, tetapi menampak keadaan ayahnya ini, tidak berani ia meninggalkan rumahnya.

Hanya pada malam itu, dengan sekonyong-konyong Thio Tjong Tjioe panggil puteranya diajak jalan mondar-mandir di dalam taman, akan akhirnya si orang tua berdiri meloneng.

Lama dia membungkam, matanya mengawasi sang rembulan yang naik semakin tinggi dan semakin tinggi.

Di akhirnya dia menghela napas, lalu dia bersenanjung.

"Malam ini memandangi rembulan di dalam taman, lain tahun akan memandanginya seorang diri..."

Benar-benar orang tua ini menggadangi sang rembulan, yang ia terus awasi saja, hingga ia pun dapat memandang sang mega yang bagaikan lautan.

Melihat sang mega itu ia seperti bermimpi pesiar di Kanglam...

"Ayah..."

Memanggil Tan Hong dengan air matanya mengembeng. Ia sangat berduka melihat sikapnya ayah itu. Tjong Tjioe tertawa, sedih suaranya.

"Kabarnya perdamaian telah ditanda tangani,"

Berkata ayah ini.

"Besok utusan Kerajaan Beng bakal berangkat pulang, benarkah itu?"

Inilah yang pertama kali Tjong Tjioe menyebut tentang utusan Beng itu.

"Benar,"

Tan Hong jawab ayahnya itu.

"Utusan itu she In, benarkah?"

Sang ayah menanya pula.

"Benar,"

Sang anak menjawab pula.

Ia selalu menjawab dengan singkat.

Sudah berulang-ulang ia pikirkan, oleh karena In Tiong tidak ingin menemui ayahnya, ia juga tidak hendak menyebut-nyebut tentang utusan itu terhadap ayahnya.

"Utusan itu tidak mensia-siakan tugasnya,"

Berkata sang ayah.

"dia melebihi In Tjeng dahulu hari!"

Tjong Tjioe masih belum tahu bahwa utusan itu adalah anaknya In Teng atau cucunya In Tjeng si utusan yang dahulu itu. Tan Hong manggut, ia bersenyum.

"Kalau begitu anak Hong, kau juga harus berangkat besok!"

Sekonyong-konyong ayah itu bilang.

Hatinya Tan Hong memukul.

Itulah soal yang ia telah pikirkan selama banyak tahun.

Ia tidak menyangka bahwa hari ini ayahnya itulah yang menimbulkannya.

Ia menjadi tidak keruan rasa.

Ia tahu dengan pasti.

Kalau besok ia berangkat maka untuk selama-lamanya ia tidak akan bertemu pula dengan ayahnya itu.

Berpisah hidup, berpisah mati, itulah hal yang sejak jaman dahulu dibuat duka orang.

Apapula sekarang ia akan berpisah kepada ayah kandungnya...

Sebisa-bisanya Tan Hong kuatkan hatinya.

Ia tahu, tidak nanti ayahnya ijinkan ia pergi.

"Dan bagaimana dengan kau, ayah?"

Ia balik menanya. Tiba-tiba wajahnya Tjong Tjioe menjadi gelap, lalu ia tertawa.

"Semua barangmu telah aku siapkan!"

Katanya.

"Ini adalah yang terakhir aku mengurus keperluanmu!"

Tan Hong terkejut, tetapi ia masih dapat kendalikan diri.

"Ayah,"

Katanya.

"jikalau ayah tidak pergi, akupun akan tetap tinggal di sini menemani kau..."

"Tidak, kau harus pergi,"

Berkata ayah itu.

"Kau masih muda! Tantai Tjiangkoen akan berangkat bersama kau! Telah aku beritahukan kepadanya!"

"Tantai Tjiangkoen juga turut pergi?"

Berkata ini, yang menjadi heran sekali. Hendak ia melanjutkan.

"Dengan begitu, bukankah ayah menjadi bersendirian saja dan kesepian?"

Akan tetapi ia batal mengatakannya. Tidak dapat ia keluarkan itu. Thio Tjong Tjioe, bersenyum.

"Benar,"

Sahutnya.

"Tantai Tjiangkoen..."

Tiba-tiba satu bayangan berkelebat datang, atau Tantai Mie Ming sudah berada di hadapan mereka. Senyumannya Tjong Tjioe masih belum lenyap, hendak dia mengatakan.

"Baharu aku menyebutkan Tjo Tjoh, atau Tjo Tjoh telah tiba!"

Akan tetapi Mie Ming, dengan napasnya memburu, berkata.

"Tjoekong, celaka!..."

Ayah dan anaknya itu terperanjat. Tjong Tjioe belum pernah nampak jenderal itu demikian kesusu atau gelisah.

"Ada apakah?"

Tjong Tjioe tanya.

"Gedung kita telah dikurung!"

Sahutnya Mie Ming. Tan Hong kaget. Tetapi segera ia pasang kupingnya. Benar ia dengar suara dari banyak orang di luar gedung. Thio Tjong Tjioe bersikap tenang seperti biasa.

"Mari kita keluar melihatnya!"

Katanya, sabar.

Tan Hong dengan disusul Tantai Mie Ming lompat ke tembok, dari situ mereka dapat lihat gedung telah dikurung beberapa lapis tentera, sedang di pekarangan depan, menghadapi pintu besar, ada bercokol sebuah meriam besar yang dinamakan Angie toapauw.

Bangsa Mongol adalah bangsa yang paling pertama membawa mesiu ke medan perang, ketika dahulu dia malang melintang di Eropa, bukan sedikit dia mengandal atas meriamnya itu.

Tan Hong tidak sangka hari ini, meriam itu dipakai untuk menghadapi keluarga Thio.

Di belakang meriam besar itu tampak berdiri berbaris tiga penunggang kuda ialah Ngochito, Ma I Tjan dan Pek San Hoatsoe, soeheng atau kakak seperguruannya Tjeng Kok Hoatsoe.

Dibarisan depan itu adalah tentera Mongol yang memegangi obor cabang pohon cemara.

Ketika Tan Hong terlihat muncul di belakang tembok, tentera Mongol berteriak-teriak dengan seruannya yang gemuruh.

Anak muda ini berlaku tenang, ia mengawasi mereka itu.

"Untuk apa kamu datang kemari?"

Bentaknya dengan sabar.

Akan tetapi suaranya ini terdengar terang sekali, suara itu berpengaruh, maka suara riuh berhenti dengan tiba-tiba.

Ngochito tepuk kudanya untuk di majukan, lalu mengawasi ke atas tembok, ia tertawa besar.

"Thio Tan Hong, hendak aku lihat, hari ini kau ada punya kepandaian apa!"

Dia berkata dengan jumawa.

"Kau bilanglah, kau ingin hidup atau mampus?"

"Apa yang kau artikan?"

Tan Hong menegaskan.

"Jikalau kau ingin hidup,"

Menjawab Ngochito.

"maka kau mesti rela dengan tanganmu sendiri kau belenggu semua orang yang berada di dalam gedungmu ini, kecuali ayahmu, yang boleh tidak usah diikat! Lalu kau pentang pintu besar untuk membiarkan kami bawa kamu ayah dan anak menghadap Thaysoe, supaya Thaysoe sendiri yang nanti memberikan putusannya!"

"Hm!"

Tan Hong perdengarkan ejekannya.

"Jikalau aku menolak?"

Dia tanya.

"Akan aku berikan kau ketika untuk memikirnya masak-masak,"

Menyahut pula Ngochito, si pahlawan nomor satu itu.

"Kau harus ketahui, bukankah kau telah lihat tegas meriam besar ini? Walaupun kau bagaimana gagahpun tidak akan kau sanggup lawan meriam ini! Akan aku beri kau tempo sampai jam lima untuk memberikan jawabanmu, jikalau kau berani menampik, atau jikalau kau berani membuat perlawanan, jangan salahkan aku, begitu terang tanah begitu aku lantas menembak ke arah kamu!"

"Anak Hong, kau turunlah!"

Demikian suaranya Thio Tjong Tjioe selagi anaknya belum menjawab Ngochito. Tan Hong dan Mie Ming lompat turun, akan hampirkan orang tua itu.

"Nampaknya jahanam Yasian itu tidak puas sebelum dia mendapatkan aku,"

Berkata Tjong Tjioe kepada anak dan jenderalnya itu.

"maka itu akan aku pergi kepadanya. Kau bersama Tantai Tjiangkoen ada punya kepandaian, dengan melihat gelagat, pergi kamu menyingkirkan diri!"

"Tidak, ayah!"

Kata Tan Hong.

"Pasti sekali tidak nanti anakmu membiarkan ayah terhina Yasian!"

Tjong Tjioe berpikir sejenak, lalu ia tertawa nyaring.

"Sungguh bersemangat, sungguh bersemangat!"

Ia berkata.

"Kita tiga turunan berdiam di negara Watzu ini, kita menumpang hidup dengan menahan malu, semua itu telah cukup batasnya! Sekarang Tiongkok telah menjadi kuat, tidak dapat kita menerima malu terlebih jauh! Baiklah, kau biarkan aku bersama semua orang di dalam rumah ini terbinasa di sini, tetapi kamu berdua pergi kamu menyingkir dari pintu belakang!"

"Tidak, ayah!"

Berkata Tan Hong dengan segala kepastian.

"Jikalau kita mesti terbinasa, mari kita binasa sama-sama tjoekong1."

Tantai Mie Ming pun kata dengan gagah. Thio Tjong Tjioe mengalirkan air mata, akan tetapi ia tertawa.

"Sungguh kamu ada anak dan sebawahanku yang baik sekali,"

Berkata dia.

"Ah, semuanya akulah yang rembet-rembet kepada kamu..."

Tjong Tjioe lantas ingat kekeliruan ayahnya dan ia sendiri.

Mereka telah ambil siasat bekerja kepada bangsa Watzu, yang tenteranya mereka bikin kuat, niatnya adalah untuk pinjam tentera itu guna menggempur kerajaan Beng, untuk membangun pula kerajaan keluarga Thio, siapa sangka sekarang ia mesti makan buahnya yang pahit getir ini, bukan saja Tionggoan hampir dimusnahkan Watzu, sekarang mereka sendiri sekeluarga bakal menjadi musnah tertembak meriam...

Dari luar segera juga terdengar lagi suaranya Ngochito.

"Hai, kamu sudah ambil keputusan atau belum? Ingat, paling lambat sampai hari sudah terang tanah, akan aku mulai menembak!"

Tan Hong menjadi sangat masgul dan mendongkol.

Dia yang sedemikian cerdas, sekarang telah habis daya, tidak dapat ia memikir.

Mengawasi ayahnya, pikirannya menjadi kalut, dia cuma bisa berduka dan bergelisah...

Tjong Tjioe nampaknya sangat berduka dan bergelisah juga.

Sementara itu, di lain tempat, juga ada seorang lain yang tak kurang gelisahnya daripada keluarga Thio ini.

Dia adalah Topuhua, puterinya Perdana Menteri Yasian.

Topuhua telah mendapat tahu yang perdamaian telah didapat, malah kedua pihak telah menanda-tanganinya, karena mana besok pagi, utusan kerajaan Beng bakal berangkat pulang.

Ia tahu, dengan begitu, tentulah Thio Tan Hong akan turut perutusan Beng itu pulang ke Tionggoan.

Hal ini membuat ia berduka dan gelisah, pikirannya menjadi bingung dan pepat, alisnya senantiasa berkerut.

Yasian telah dapat lihat kedukaannya puterinya itu.

Malam itu ia menenggak banyak susu macan, ia sangat bergembira.

Sambil tertawa, ia kata kepada puterinya itu.

"Jangan kau bersusah hati, tidak nanti Tan Hong turut berangkat. Aku ada punya daya upaya untuk besok membawa dia kembali! Kau adalah puteriku satu-satunya, umpama kau menginginkan rembulan di atas langit, sanggup aku mengambilnya turun untukmu! Anak Hua, kau lihat, bagaimana ayahmu menyayangimu!..."

Topuhua girang dan bersangsi.

Benarkah perkataan ayahnya itu?

Ia tidak lihat ayahnya itu hendak mendustai padanya.

Tadinya ia hendak tanya untuk menegaskan, akan tetapi sang ayah terus sibuk dengan araknya, terpaksa ia tutup mulutnya.

Terus-terusan Topuhua berada dalam kesangsian, ia tidak tahu, ayahnya akan bertindak bagaimana.

Sampai tengah malam ia masih belum tidur pules.

Tiba-tiba ia dengar suara orang bicara di ruang tetamu.

Ia ingin sekali dengar apa yang dibicarakan, diam-diam ia keluar dari kamarnya, ia pergi ke kamar tetamu itu.

Ia umpetkan diri di belakang pinhong, pintu angin.

-ooo00dw00ooo-Bab XXX Ada dua orang yang tengah berbicara di ruang tetamu itu.

Yang satu Topuhua kenali sebagai ayahnya.

Yang lain adalah kepala rumah tangga gedung perdana menteri yaitu Tjongkoan Wotjaha.

"Utusan kerajaan Beng akan berangkat begitu terang tanah, apakah barang-barang hadiah kita sudah sedia semua?"

Demikian suaranya Yasian.

"Semua sudah disediakan lengkap,"

Jawab Wotjaha.

"Bocah she In itu benar-benar sukar dilayaninya,"

Yasian berkata pula.

"Aku bersyukur kepada langit dan bumi, seperginya dia, kita bakal merasa aman dan senang..."

"Bukankah Thaysoe hendak mengantar padanya?"

Sang kepala rumah tangga tanya.

"Kau saja yang wakilkan aku,"

Perdana menteri itu jawab.

"Kau berikan alasan bahwa aku sedang sakit. Sri Baginda sendiri turut mengantar untuk memberi selamat jalan. Itupun sudah suatu kehormatan besar baginya."

Tidak tertarik hatinya Topuhua akan mendengarkan pembicaraan itu, maka ia ingin kembali ke kamarnya untuk tidur. Tapi belum sampai ia angkat kakinya, ia lantas mendengar hal lainnya.

"Meriam besar itu hebat, bagaimana kau rasa, suaranya akan dapat terdengar sampai di luar kota atau tidak?"

Demikian pertanyaannya Yasian kepada hambanya itu.

"Mungkin terdengar tetapi hanya sebagai suara petasan saja,"

Sahut orang yang ditanya.

"Gedungnya Thio Tjong Tjioe itu terpisah dari pintu kota kira-kira sepuluh lie lebih, suara meriam juga jauhnya sepuluh lie, tetapi di waktu terang tanah, mereka tentunya sudah meninggalkan kota, sedang tembok kota pun sangat tebal, maka suara meriam itu tidak nanti terdengar nyata. Hamba percaya suara meriam itu tidak akan menimbulkan kecurigaan orang."

Topuhua terperanjat. Suara meriam? Gedungnya Thio Tjong Tjioe? Itu toh rumahnya Thio Tan Hong! "Lain daripada itu, belum tentu meriam akan ditembak,"

Terdengar pula suaranya Wotjaha.

"Di bawah ancamannya meriam, mustahil mereka tidak akan menjadi jinak dan akan ikat diri sendiri untuk menyerah terhadap keputusan Thaysoe?"

"Thio Tjong Tjioe dan puteranya adalah bangsa yang keras adat,"

Berkata Yasian.

"Lebih-lebih Thio Tan Hong, dia lebih suka menyerah kepada ke lemah lembutan daripada kekerasan. Aku lebih percaya mereka itu lebih suka mengorbankan diri daripada menyerah secara terhina..."

Perdana menteri itu berhenti sebentar, terdengar dia menghela napas.

"Thio Tan Hong itu pandai ilmu surat dan silat, dialah satu anak pandai,"

Dia berkata pula.

"Maka sayang sekali dia tidak sudi bekerja di pihakku, sebaliknya di mana-mana dia justeru mengganggu aku. Orang semacam dia itu jikalau diijinkan pulang ke negerinya, dia mesti akan menjadi ancaman bencana bagiku. Ah, harap saja seperti katamu dia suka menyerah kepadaku, jikalau tidak, dengan tidak pedulikan kesusahan hatinya Topuhua, harus aku singkirkan padanya!"

Yasian ini sudah dengar keterangannya Ngochito dan Ma I Tjan, maka tahulah dia, orang yang menolongi In Tiong yang membekuk See Too, yang memusnahkan lima ratus serdadu pilihannya, semuanya itu adalah perbuatannya Thio Tan Hong, maka itu ia kaget berbareng gusar sekali.

Tentu saja, karena perbuatan Tan Hong itu, hendak ia membalas sakit hati.

Demikian ia kirim Ngochito ke rumahnya Tjong Tjioe, untuk ancam Tjong Tjioe dan Tan Hong menyerah terhadapnya.

Kalau Tjong Tjioe dan puteranya terpaksa ditembak mati dengan meriam, itu harus dilakukan sesudah berangkatnya utusan kerajaan Beng.

Terbangun bulu ramanya Topuhua mendengar tindakannya ayahnya itu, ia kaget dan sangat berkuatir untuk Tan Hong.

Nyata sekali bahwa Tan Hong terancam bahaya maut.

Ia menjadi bergelisah di waktu ia mendengar suara kentongan sudah tiga kali.

Itulah tanda bahwa segera juga sang fajar akan menyingsing.

Syukur juga, setelah bicara sampai di situ, Yasian dan hambanya pada undurkan diri.

Topuhua sudah lantas undurkan diri ke dalam kamarnya.

Ia hanya bingung juga disebabkan kamarnya berada di depan kamar ayahnya itu, selagi ia rebahkan diri untuk berpura-pura tidur, kamar ayahnya itu masih terang dengan cahaya apinya, malah di antara kain jendela terlihat satu tubuh jalan mundar-mandir menandakan sang ayah masih belum naik tidur.

Mestinya ayah itu pun tengah bergelisah...

"Aku mesti tolong Tan Hong!"

Demikian nona ini ambil putusan.

Akan tetapi ia bingung juga bagaimana ia dapat keluar dari kamarnya selama ayahnya itu belum tidur pules.

Hatinya nona ini terus memukul keras, matanya senantiasa mengawasi ke kamar ayahnya.

Ia mengharap-harap supaya ayahnya lekas naik tidur.

Lama rasanya ia menantikan, di akhirnya, dapat ia bernapas lega.

Ia lihat api di kamar ayahnya telah padam!

Ia lantas lompat bangun dari pembaringannya.

Tapi mendadak ia ingat bahwa di luar kamar ada orang yang menjaga.

Mungkin orang itu tidak berani merintangi padanya tetapi dia bisa membanguni ayahnya.

Maka ia mesti berpikir pula.

Dengan hati-hati nona ini membanguni budaknya, yang tidur dalam satu kamar dengannya.

"Lekas ambil dua poci arak,"

Ia perintahkan.

"Kau bawa dan kasihkan kepada dua pahlawan yang menjaga di taman. Katakan kepada mereka bahwa karena hawa udara dingin, Thaysoe sengaja hadiahkan mereka arak."

Sementara itu nona ini telah masuki obat pules, ke dalam arak itu.

Selama menantikan lebih jauh, hatinya Topuhua terus memukul.

Sekarang ia pun kuatirkan kedua pahlawan tidak kena dipedayai.

Ia memasang kuping terus.

Bahna tegangnya hatinya, ia ingin dapat menahan jalannya sang waktu.

Akhirnya...

Budak perempuan tadi muncul dengan warta yang melegakan hati.

"Mereka minum tanpa curiga, keduanya telah tertidur,"

Demikian berkata budak itu, yang telah sekalian layani kedua pahlawan, supaya ia bisa mendapat kepastian dari hasilnya obat pules.

Topuhua sudah salin pakaian, ia telah mengenakan pakaian untuk jalan malam, maka setelah perintahkan budaknya berdiam di dalam kamarnya, ia segera lari keluar.

Dengan hati-hati ia menyelusup di taman bunga, akan akhirnya lompat naik ke atas tembok, akan keluar dari gedungnya.

Ketika itu tepat kentongan berbunyi empat kali.

Pada malam itu, juga In Tiong tak dapat tidur tenang.

Karena ia sangat bergembira dengan hasil tugasnya itu.

Bukankah raja Watzu telah terima baik perdamaian?

Maka besok hendak ia berangkat pulang ke negerinya.

Ia akan pulang bersama Thaysianghong Kie Tin, kaisar tua yang ditawan musuh itu.

Di pintu kota menteri dan raja akan bertemu, untuk berangkat bersama-sama.

Itulah suatu kehormatan besar untuk pihak kerajaan Beng, karena In Tiong sebagai utusan tidak usah pergi pula ke istana raja untuk pamitan.

Dia akan pamitan sekalian di luar kota saja.

Malam itu rembulan dan bintang-bintang ada terang sekali, cahayanya permai.

Sambil meloneng, In Tiong gadangi si Puteri Malam.

"Melihat indahnya malam ini, besok tentulah udara terang", berpikir cucunya In Tjeng itu.

"Musim dingin telah lalu, diganti dengan datangnya musim semi, di waktu begini pulang ke negeri sendiri, bagaimana menyenangkan! Sri Baginda juga tentu sangat gembira!"

In Tiong pun bersyukur dan bergirang karena ia telah tidak membikin gagal tugasnya hingga ia tidak mendatangkan kehinaan untuk negaranya.

Perdamaian telah didapat, raja yang tua juga bakal diajak pulang.

Di dalam sejarah, hal ini adalah peristiwa yang jarang terjadi.

Akan tetapi dalam kegembiraannya itu, ada satu hal yang membikin In Tiong merasa sedikit tertekan.

Itulah yang mengenai ayah dan ibu serta adiknya.

Ia berbareng menantikan mereka tetapi mereka masih tidak kunjung datang.

Mustahil mereka belum katahui tentang beradanya ia di negeri Watzu ini?

Apakah mungkin San Bin tidak dapat ketemui mereka untuk memberitakannya?

Karenanya, ia jadi berpikir.

In Tiong telah memikir untuk menanti lebih lama beberapa hari, akan tetapi di luar dugaannya bahwa perundingan perdamaian telah berjalan demikian lancar dengan dilakukannya penandatanganan.

Kie Tin pun mendesak untuk lekas-lekas berangkat pulang.

Maka itu, cara bagaimana ia dapat menunda keberangkatannya itu?

Kie Tin ingin lekas pulang, karena ia ingin lekas-lekas naik pula atas tahtanya.

Ia seperti tidak mempedulikan hal di negerinya sudah ada raja yang baharu, bahwa soal itu mungkin akan menimbulkan kesulitan.

Tentu saja karena keinginannya ini, ia tidak mau pikirkan In Tiong ada punya lain urusan atau tidak.

Sambil menggadangi si Puteri Malam, In Tiong juga ingat kepada Thio Tan Hong.

Dia ingat budi orang.

Berhasilnya tugasnya ini juga sebagian besar disebabkan bantuan sangat berharga dari Tan Hong itu.

Maka ia merasa sangat menyesal yang di antara kedua keluarga ada permusuhan besar.

Ia tidak dapat pergi ke rumah Tan Hong, ke rumah musuh kakeknya.

Tan Hong sendiri pun tidak dapat mengunjungi padanya.

Maka hal ini membuat ia masgul.

Mengenai permusuhan kedua keluarga, Tantai Mie Ming telah berikan jasa baiknya, Jenderal ini telah jelaskan kepada In Tiong perihal cita-citanya Tjong Tjioe, bahwa Tan Hong tidak mengandung sesuatu prasangka.

Maka ia dianjurkan suka bersahabat dengan Tan Hong, supaya permusuhan dapat dihabiskan.

Tapi di depan matanya berbayang surat wasiat kakeknya itu, ia jadi bersangsi.

Tidak dapat ia pergi ke rumah musuhnya.

Toh ia merasa berat akan berpisah dari anak muda she Thio itu, tetap ia ingat budi orang...

"Mungkinkah besok Tan Hong datang untuk berangkat bersama-sama aku?"

Demikian In Tiong pikir.

Karena pikirannya ini, hati In Tiong menjadi bertentangan sendirinya.

Di satu pihak ia ingin Tan Hong datang untuk berangkat bersama, di lain pihak ia harap-harap si anak muda tidak muncul...

"Jikalau dia datang dan berangkat bersama aku, bagaimana nanti aku dengan ayahku?"

Demikian kesangsiannya.

"Bagaimana dengan In Loei? Dapatkah In Loei mengurbankan perasaan hatinya? Bukankah nanti, ayah akan caci aku dan In Loei sebagai anak-anak poethauw?"

In Tiong kuatir dikatakan sebagai anak poethauw -tidak berbakti.

Maka itu, ia lantas menjadi menyesal dan berduka.

Kusut pikirannya memikirkan permusuhan turun temurun itu.

In Tiong meloneng terus, sampai jam empat.

Di saat ia memikir untuk masuk tidur, untuk dapat melupakan segala apa, satu pengiringnya datang dengan tindakan cepat.

Iapun dengar suara berisik di sebelah luar.

"Ada apa?"

Ia tanya.

"Seorang yang bertopeng, yang mengenakan pakaian untuk jalan malam, telah nerobos masuk kemari, dia ingin sangat menghadap thaydjin,"

Demikian ia diberitahukan.

"Dia masuk dengan jalan melompati tembok. Kelihatannya dia sebagai orang jahat tetapi mungkin bukan..."

In Tiong menjadi heran.

"Baik, bawa dia menghadap!"

Ia berkata akhirnya.

Ia berpikir dengan cepat.

Dengan lekas satu anak muda dengan pakaian serba hitam dibawa masuk, mukanya bertutupkan topeng, dandanannya sebagai orang Mongol, tetapi tubuhnya kecil dan langsing, sangat berbeda dengan kebanyakan pahlawan Mongolia.

"Kau ada punya urusan apa, waktu tengah malam begini datang untuk mohon bertemu dengan aku?"

In Tiong segera menanya.

"Siapakah yang menitahkan kau datang kemari?"

Anak muda itu, yang nampak cuma sepasang matanya yang celi sekali, mata itu memain dengan tajam.

"Mohon thaydjin suruh mundur dahulu orang di kiri kanan,"

Katanya pelahan. Tentu saja permintaan ini sangat mencurigakan, maka orang-orangnya si utusan justeru maju semakin dekat.

"Hati-hati thaydjin memperingatkan yang satu, sedang kawannya maju untuk menggeledah. Si anak muda mundur, sinar matanya menyatakan ia berdongkol dan gusar. In Tiong lihat sikap orang itu.

"Pergi kamu mundur!"

Ia titahkan orang-orangnya sambil memberi tanda dengan tangannya.

"Kami perutusan dari negara besar, kami biasa bersikap baik terhadap siapa juga, jangan kamu kuatir."

Dengan terpaksa pengiring-pengiring itu undurkan diri. In Tiong sendiri yang tutup pintu.

"Sekarang kau dapat berbicara, bukan?"

Ia bertanya sambil tertawa. Tetamu tidak diundang itu singkap topengnya begitupun mantelnya, maka terlihatlah ia sebagai satu nona bangsa Mongol yang cantik.

"Aku ialah puterinya Yasian!"

Demikian kata-katanya yang pertama. In Tiong terkejut. Ia sudah menduga pasti bahwa orang satu nona, tetapi yang ia tidak sangka bahwa nona ini ada puterinya perdana menteri Watzu itu.

"Silakan duduk!"

Ia segera mengundang. Ia agak heran atas maksud kedatangan nona ini.

"Ada urusan apakah ayahmu dengan aku? Kenapa ayahmu kirim kau kemari nona?"

Ia menerka Yasian ada punya urusan penting.

Nona itu, ialah Topuhua, menggeleng kepala.

Itu adalah tanda bahwa ia bukan utusan ayahnya.

Tentu saja, utusan Beng itu menjadi semakin heran.

Ia mengawasi, ia tampak roman yang gelisah dari nona itu.

"In Thaydjin, bukankah kau sahabat baiknya Thio Tan Hong?"

Nona itu lalu menanya.

"Aku maksudkan, bukankah Tan Hong sahabat baikmu?"

"Habis kenapa?"

In Tiong balik menanya.

"Sekarang ini sudah jam empat,"

Berkata si nona, yang tidak menjawab pertanyaan orang.

"sebentar lagi asal sudah terang tanah, Thio Tan Hong serumah tangga, tua dan muda, akan musnah menjadi abu yang beterbangan! Maka sekarang ini, jiwanya Tan Hong itu tergantung di ujung tanganmu! Kau hendak menolong dia atau tidak?"

Kembali In Tiong menjadi kaget. Tentu saja, keheranannya pun bertambah.

"Sebenarnya, urusan apakah itu?"

Ia bertanya. Masih Topuhua tidak menjawab langsung.

"Ayahku sangat benci padanya sebab dia telah bantu padamu, In Thaydjin,"

Ia menjawab.

"ayah pun lebih takut lagi kalau Tan Hong pulang ke negerinya, di sana dikuatirkan dia lebih membahayakan negeri Watzu, maka itu ayah telah kirim pasukannya mengurung gedungnya Thio Tjong Tjioe. Sebegitu langit terang, sebentar, gedungnya itu mau ditembak dengan meriam!"

Walaupun dia kaget dan berkuatir, In Tiong masih dapat berlaku tenang.

"Bagaimana caranya aku dapat menolong padanya?"

Ia tanya.

"Segera sekarang juga kau pergi kepadanya!"

Sahut si nona.

Oleh karena kecerdasannya, segera In Tiong mengerti.

Bukankah ia utusannya Tionggoan?

Bukankah dengan ia pergi ke rumah Tan Hong itu, Yasian tidak akan berani tembak gedungnya Thio Tjong Tjioe itu?

Bukankah Tan Hong perlu dengan pertolongannya?

Terang sudah, Yasian hendak menembak Tan Hong sesudah ia berlalu, supaya ia tidak ketahui kejadian itu.

Biar bagaimana, sekarang hati In Tiong menjadi sangat gelisah, bagaikan gelombang diserang badai.

Kalau ia pergi kepada Tan Hong, itu artinya ia injak rumah musuhnya!

Itulah hal yang ia sebegitu jauh tak sudi melakukannya!

Dengan pergi ke sana, ia pun mungkin akan membikin gagal keberangkatannya!

Sekarang adalah saatnya ia bersiap-siap untuk berangkat keluar kota, guna berangkat pulang.

Di sana ia harus menemui raja Watzu serta rajanya sendiri yang tua...

Dengan kedua matanya yang tajam, Topuhua mengawasi utusan Tionggoan itu.

Kesangsian orang membuat ia gelisah, hatinya berdenyut keras, hingga air matanya hendak mengucur keluar.

"Kau hendak menolongi atau tidak?"

Akhirnya ia tanya sebab orang masih berdiam saja.

Pikirannya In Tiong pun menjadi sangat kusut, di depan kelopak matanya berbayang roman Tan Hong yang demikian halus dan sopan tetapi gagah dan keren, orang yang telah menolong padanya di saat ia terancam bahaya.

Lalu berbayang pula roman Tan Hong tengah bersenyum berseri-seri...

Dapatkah orang dengan roman demikian tidak ditolongnya?

Bisakah dia itu dibiarkan menerima kematiannya?

Tegakah hatinya?

Tidak menanti sampai Topuhua mengulangkan pertanyaannya, In Tiong sudah berlompat ke pintu, untuk pentang itu sekeras-kerasnya.

"Lekas kirim dua orang ke istana raja Watzu!"

Demikian serunya.

"Sekarang juga! Beritahukan pada pembesar pengawal pintu raja itu supaya disampaikan kepada rajanya bahwa besok aku batal berangkat!"

Mendengar suara sep itu, semua pengiring datang berkumpul.

"Kamu lekas dandan, mari kamu turut aku!"

In Tiong menitah pula.

"Aku hendak mengunjungi Thio Tjong Tjioe!"

Pada detik ini lupalah In Tiong kepada sumpahnya bahwa sekalipun sampai mati tak nanti ia injak rumah musuhnya.

Suara berisik itu membikin bangun Tamtay Keng Beng dari tidurnya.

Nona ini segera muncul di ambang pintu.

Kamarnya memang tidak terpisah jauh dari kamar utusan Tionggoan itu.

Maka ia heran akan menampak di depan kamar tidurnya In Tiong ada satu nona Mongol yang cantik -nona itu penuh air mata pada mukanya tetapi dia bersenyum berseri, sedang tangannya menyekal keras tangannya In Tiong!

Adalah selagi Nona Keng Beng ini berdiri tercengang, ia dengar In Tiong mengatakan hendak pergi mengunjungi Thio Tjong Tjioe.

Tentu saja ia menjadi bertambah-tambah heran.

"Bagus, adik Tamtay!"

In Tiong berseru ketika ia tampak nona itu.

"Mari, kau pun turut!"

Keng Beng heran dan kaget, ia pun menjadi sangat kegirangan. Sesaat itu, saking girangnya, ia sampai lupa segala apa.

"Sebenarnya kita sudah mesti pergi sejak siang-siang!"

Serunya dengan nyaring.

Ia tertawa tetapi air matanya mengucur keluar.

Telah meluap kegirangannya itu.

Baharu setelah itu, ia tegur Topuhua, untuk saling belajar kenal.

Gedung tetamu itu, yang menjadi gedung perutusan Tionggoan, tidak terpisah jauh dari istana raja Watzu, juga terpisahnya dari rumahnya keluarga Thio cuma kira-kira tujuh lie, maka untuk sampai di sana, apapula dengan menunggang kuda yang dikaburkan keras, tidak makan banyak tempo.

Di waktu jauh malam seperti itu, dalam kesunyian, berlari-larinya kuda telah menyebabkan beberapa penduduk terbangun dengan kaget dari tidurnya, akan tetapi In Tiong membawa lentera pertandaannya sebagai perutusan Tionggoan, tidak ada orang yang berani merintanginya.

Ia pun sengaja ambil jalan kecil, supaya ia tidak usah lewat di dekat istana raja.

Akau tetapi tepat di waktu ia baharu muncul dari Jalan Anggur jalan terbesar di kota raja Watzu itu, diujung jalan yang menikung ke barat, di mana akan tampak gedung keluarga Thio, mendadak ada satu penunggang kuda yang menghalang di hadapannya.

"Aku adalah utusan Kaisar Beng! Siapa berani halangi aku?"

In Tiong membentak.

Ia kaget dan heran tetapi ia tidak takut.

Ia majukan kudanya.

Penunggang kuda itu adalah seorang yang gesit gerakannya, kudanya terbentur keras dan ia terjungkal dari kudanya, akan tetapi ia dapat jumpalitkan diri, hingga ketika ia sampai di tanah, bisa terus berlutut di depan utusan itu, dengan kedua tangannya ia angsurkan kimpay tinggi-tinggi.

"Inilah firman dari Kaisar Beng! In Thaydjin di minta menerimanya!"

Demikian ia perdengarkan suaranya yang nyaring.

In Tiong terkejut, ia segera mengawasi, sedang pengikutnya maju ke depan, akan angkat tinggi lenteranya, untuk menyuluhi.

Maka segera utusan itu kenali siapa pembawa firman itu, ialah salah satu siewie dari Kaisar Kie Tin yang kena di tawan bersama junjungannya dalam peperangan di Touwbokpo.

Memang, waktu Kaisar Kie Tin ditawan, bersama ia telah ditawan lima pahlawannya, yang menjadi sisa-sisa hidup.

Mulanya ke lima pahlawan itu di penjarakan terpisah dari rajanya, tetapi sejak datangnya In Tiong dan didapatnya perdamaian, mereka diserahkan kepada junjungannya, hingga mereka menjadi kumpul bersama, dapat mereka temani pula raja mereka.

Kimpay, atau sehelai emas berukiran, yang menjadi barang pertandaan titah dari kaisar, biasa dikeluarkan terhadap suatu panglima perang.

Di jaman Ahala Song, ketika Gak Hoei difitnah, dua belas kali dia telah di kirimkan kimpay untuk memanggil dia pulang dari medan perang.

Sekarang Kie Tin gunai itu untuk memanggil In Tiong.

Ia tahu ia masih termasuk "

Raja tawanan, supaya In Tiong mempercayainya, ia sengaja berikuti suratnya untuk memanggil utusan itu datang menghadap padanya.

Kimpay diberikuti surat kaisar sendiri, titah pun dilakukan di waktu malam buta rata, bisalah dimengerti bahwa urusannya mesti sungguh penting.

Maka itu In Tiong menjadi terkejut dan bingung.

Ia telah lihat, kimpay dan surat tidaklah palsu.

Tempo tinggal hanya kira-kira satu jam!

Lagi satu jam langit akan menjadi terang!

Dapatkah ia pergi menghadap dahulu kepada rajanya itu?

Itu berarti Tan Hong serumah tangga akan habis dihajar meriam!

Jikalau dia tidak taati firman, itu pun suatu kesalahan besar!

Bagaimana sekarang?

"Kita pergi dulu ke rumah keluarga Thio, setelah itu baharu kita pergi pada raja!"

Berkata Keng Beng ketika menyaksikan utusan itu masih saja terbenam dalam kesangsian.

"Baiklah!"

Kata In Tiong akhirnya. Siewie pembawa kimpay dan firman masih bertekuk lutut di depan kuda In Tiong. Tidak berani ia berbangkit bangun.

"Pergilah kau kembali!"

In Tiong lantas berkata.

"kau beritahukan Sri Baginda, besok pagi kita tunda keberangkatan kita. Paling lambat sampai tengah hari, akan aku menghadap Sri Baginda!"

Masih saja siewie itu berlutut, tidak mau dia kembali tanpa bersama utusan itu.

Justeru itu, dari arah belakang mereka, terdengar suara kelenengan kuda yang riuh.

Segera tertampak satu penunggang kuda tengah kabur mendatangi.

Setibanya segera penunggang kuda itu lompat turun dari kudanya dan berlutut di depan sang utusan!

Dia juga siewie, salah satu pahlawannya Kaisar Kie Tin.

Seperti siewie yang pertama, dia pun membawa kimpay berikut sehelai firman, kedua-duanya itu ia angkat tinggi di atasan kepalanya, untuk dihaturkan kepada sang utusan.

Firman itu berbunyi.

"Utusan In Tiong segera menghadap Kaisar di istana!"

Kali ini ada tambahan satu huruf "segera."

Gemetar tangannya In Tiong selagi ia sambuti firman itu. Ia benar-benar bingung. Ia mejadi gelisah sendirinya, hatinya sangat tegang.

"Peduli apa firman itu!"

Berteriak Topuhua.

"Mari kita pergi lakukan tugas kita!..."

Belum berhenti suaranya puterinya Yasian ini, kembali terlihat satu kuda dilarikan sangat keras ke arah mereka.

"In Thaydjin, sambut firman!"

Demikian teriaknya penunggang kuda itu.

Kali ini yang datang adalah bekas rekannya In Tiong, yaitu Hoan Tjoen adiknya Hoan Tiong, yang menjadi pahlawan paling dipercaya Kaisar Kie Tin.

Dia angkat kimpay dengan sebelah tangan, tangannya yang lain dipakai menghaturkan firman.

Bunyinya firman sama saja dengan firman yang kedua, hanya kali ini, pada huruf "segera"

Ditambahkan dua bundaran yang menandakan urusan ada lebih daripada penting.

"Hoan Siewie, sebenarnya apakah telah terjadi?"

In Tiong tanya dalam bingungnya.

"Aku juga tidak tahu urusan apa itu,"

Sahut Hoan Tjoen.

"Aku cuma terima titah langsung dari Sri Baginda yang menitahkan Thaydjin harus segera datang menghadap di istana, tak dapat berlambat lagi."

"In Tiong menghela napas.

Ia mengerti pentingnya kimpay dan firman panggilan itu, ia pun sekarang berkuatir di istana ada terjadi sesuatu.

Tidakkah tiga kali datang kimpay dan firman saling susul?

Maka di akhirnya, ia putar arah kudanya.

"Baiklah kamu pergi terlebih dahulu."

Ia kata kepada Keng Beng.

Terus ia larikan balik kudanya, yang lantas diikuti ketiga siewie pembawa kimpay dan firman itu.

Tamtay Keng Beng menjadi sangat mendongkol dan penasaran.

Sekarang ia telah ketahui dari Topuhua tentang bahaya yang mengancam keluarga Thio.

Di dalam hatinya, ia kata.

"Thio Tan Hong telah tolong pemerintah dan negara kerajaan Beng, sekarang kaisar yang tercelaka ini hendak permainkan jiwanya Tan Hong!"

Akan tetapi In Tiong telah ambil putusannya, utusan itu sudah kembali, ia tidak dapat mencegahnya.

Maka dengan terpaksa, dengan ajak delapan belas pengiringnya serta Topuhua ia lari terus ke rumah Tan Hong.

Ketika rombongan ini tiba di sebelah barat jalan besar utama, di situ telah bersiap sedia pasukan dari thaywie dari ibu kota Watzu.

Thaywie itu sama dengan pangkat Kioeboen teetok dari pemerintah Beng.

Pemimpin dari barisan pengiring In Tiong segera maju ke depan.

"Kami datang atas titahnya In Thaydjin untuk mengunjungi Yoesinsiang kamu!"

Ia berkata. Dengan "Yoesinsiang,"

Perdana menteri muda, ia maksudkan Thio Tjong Tjioe.

"Mana dia In Soesin kamu?"

Bertanya si thaywie Mongol.

"In Thaydjin baharu saja menerima panggilan untuk menghadap Sri Baginda di istana, segera ia akan datang."

Sahut kepala pengiring itu.

"Jikalau begitu, baik kita tunggu sampai In Soesin baharu kita bicara pula,"

Bilang si thaywie.

"Kami mendapat titah untuk melindungi utusan kerajaan Beng, dengan tidak adanya utusan kamu itu, kami tidak dapat bertanggung jawab."

Kepala pengiring itu menjadi berdiam.

"Mari kita terobos saja!"

Menganjurkan Topuhua.

Baharu si nona berkata begitu, di depan mereka si thaywie sudah siap sedia dengan barisannya yang menantikan serbuan, selain anak panah, juga mereka itu mempunyai dadung-dadung kalakan kaki kuda.

Tamtay Keng Beng dan semua pengiringnya In Tiong menginsafinya, jikalau mereka memaksa nerobos masuk, urusan akan jadi hebat sekali, mungkin perhubungan di antara kedua negara turut terganggu pula karenanya.

Lagi pula dengan jumlah yang demikian kecil, belum tentu mereka akan berhasil dengan serbuannya itu.

Maka itu, mereka cegah Topuhua.

"Mari kita bicara kepadanya,"

Nona Tamtay kata.

Ketika itu si thaywie sudah masuk ke dalam barisannya, pengiringnya In Tiong teriaki dia untuk diajak bicara, dia diam saja tidak menjawabnya.

Bukan main gelisahnya rombongan Nona Keng Beng ini, mereka bagaikan semut-semut di atas kwali panas.

Bagi mereka tidak ada jalan lain kecuali menantikan kembalinya In Tiong.

Mereka mungkin dapat bersabar untuk menanti tapi bagaimana dengan Tan Hong?

Dengan sendirinya, sang waktu berlewat terus.

Tahu-tahu telah terdengar suara genta di atas pintu kota, yang berbunyi lima kali.

Menandakan cuaca akan menjadi terang.

Topuhua terpengaruh oleh kegelisahannya, tiba-tiba ia berseru, terus ia larikan kudanya maju ke arah barisan, untuk pergi ke gedung perdana menteri muda.

Keng Beng kaget, ia mencoba mencegah tapi gagal.

Serdadu Mongol lihat mendatangi satu nona bangsanya, mereka heran, hingga walaupun panah telah siap sedia, mereka tidak berani menarik gendewanya untuk memanah si nona.

Juga tukang mengalak kuda tidak berani gunakan dadungnya untuk bikin kuda si nona terjungkal.

Dalam cuaca masih remeng-remeng itu, tentera Mongol itu cuma lihat tubuh si nona dan kudanya yang lari mendatangi, mereka tidak bisa melihat tegas roman muka orang, adalah sesudah nona itu datang semakin dekat, di antara terangnya banyak obor, di antara mereka ada yang kenali puterinya perdana menteri mereka.

Di antara bangsa Mongol, pergaulan antara pria dan wanita tak ada pantangan seperti bangsa Han.

Topuhua sendiri gemar sekali menunggang kuda dan main panah, maka itu ia banyak dikenal oleh perwira-perwira dan tentera-tentera bangsanya.

Demikianlah kali ini, ia lantas dapat dikenali.

Si thaywie sudah lantas maju mencegat nona itu.

"Kami telah terima perintahnya Thaysoe untuk melarang orang luar datang kemari!"

Dia memberitahukan. Sepasang alisnya Topuhua bangun berdiri.

"Apakah aku orang luar?"

Dia menanya dengan bengis.

"Aku juga sedang menjalankan perintah ayahku! Aku mesti lewat!"

Dan ia keprak kudanya, untuk nerobos terus.

Thaywie itu heran menyaksikan puteri perdana menterinya itu muncul dari dalam rombongan pengiring-pengiringnya utusan Tionggoan, akan tetapi karena ia tahu betul si nona adalah puteri tersayang dari perdana menterinya itu, ia tidak berani bersikap keras, apa pula si nona sudah tunjukkan kemurkaannya.

Terpaksa ia perintahkan pasukannya membagi jalan.

Setelah tembusi penjagaan, Topuhua menoleh ke arah timur sambil angkat kepalanya, dari itu ia telah melihat di pangkal langit sudah mulai memancar sedikit cahaya terang...

Di dalam gedung menteri muda orang pun bergelisah sekali, mereka juga bagaikan semut-semut di atas kwali panas, kecuali Thio Tjong Tjioe seorang.

Ia tidak bergelisah sama sekali, ia tidak pikirkan soal kematian.

Juga Tan Hong tertampak tenang, hanya di dalam hatinya ia sangat masgul.

Ia telah mesti menghadapi nasib hebat dengan di saat-saat terakhir itu ia tidak dapat melihat In Loei...

Semua hambanya menteri muda duduk berkumpul di kaki tembok pekarangan, dari luar tembok mereka sering-sering dengar suara dari pihak tentera Mongol yang tengah mengurung mereka.

Itulah suara yang merupakan ancaman-ancaman maut.

Semua orang dengar bunyinya kentongan tiga kali, lalu empat kali.

Di daerah Utara ini, sang malam agak lebih panjang, akan tetapi di saat genting sebagai ini, orang merasakan sang malam itu pendek...

Dengan tentu sang waktu berlalu, dan bayangan-bayangan dari kematian datang saling susul.

Suara tentera di sebelah luar terdengar semakin tegas.

Rasanya belum lama kentongan berbunyi empat kali, lalu datang menyusul yang ke lima kalinya.

Tan Hong menghela napas.

Ia berlutut di depan ayahnya.

"Ayah hendak memesan apa?"

Ia bertanya. Thio Tjong Tjioe usap-usap rambut puteranya itu. Ia tertawa.

"Jikalau aku mati pada satu tahun yang lalu, aku mati dengan mata tak meram,"

Kata ayah ini, suaranya sabar.

"Tapi sekarang? Akhirnya kau telah melakukan sesuatu untuk Tiongkok! Dan aku? Aku juga telah dapat keluarkan sedikit dari tenagaku. Meskipun itu tak dapat menebus dosaku, aku toh merasa lega juga..."

Menteri muda ini tertawa, cuma suaranya tawar, bernada sedih.

Tan Hong angkat kepalanya mengawasi ayahnya.

Hatinya bercekat akan tampak wajah ayah itu sedikit berubah.

Ia berdiam.

Di saat seperti itu, apa yang ia hendak tanyakan pula?

Ia dapat merasa, di saat dari kematian itu, ia seperti berada semakin dekat dengan ayahnya itu.

Sebelumnya ini, ia tak pernah merasakan berada demikian dekatnya....

Menyaksikan ayah dan anak itu, Tantai Mie Ming tertawa.

"Tjoekong, hari ini kita saling pamitan!"

Ia berkata.

Lalu ia menjura tiga kali kepada junjungan itu.

Hamba yang setia ini sudah ambil putusan, sebelum peluru meriam musuh datang, hendak ia menghabiskan jiwanya dengan jalan membunuh diri!

Ketika itu sudah jam lima, maka segera juga langit akan menjadi terang!

Sekonyong-konyong terdengar suara berisik dari sebelah luar tembok.

Cuaca belum lagi terang, apakah mereka hendak mulai menembak?"

Tanya Mie Ming. Ia seperti berkata seorang diri. Segera ia bersiap dengan sepasang gaetannya.

"Bukan! Tidak mungkin!"

Berkata Tan Hong.

"Kenapa bukan?"

Mie Ming tanya.

"Rupanya ada orang yang datang..."

Menyahut Tan Hong.

"Ah, orang tengah bertempur! Rupanya orang yang baharu datang itu telah bertempur dengan tentera Mongol itu... Lantas saja anak muda ini lompat naik ke atas tembok, hingga ia tampak di tempat kira-kira setengah lie, ada tiga penunggang kuda yang datang menerjang bahagian belakang dari tentera Mongol itu, sedang tentera yang di sebelah depan juga agak kacau. Di lain pihak, meriam besar masih tetap dihadapkan ke arah gedungnya! Tenteranya Ngochito adalah tentera pilihan, atas titahnya, tentera itu menyerang tiga penunggang kuda dengan anak panah mereka, serentak serangan itu, maka di sebelah depan mereka terlihat tiga ekor kuda lompat berjingkrak tinggi sekali dan rubuh, karena perut dan kempolannya semua tertancap anak-anak panah! Liehay adalah ketiga panunggang kuda itu, selagi kuda mereka menjadi kurban, mereka sendiri bebas dari bahaya. Bertiga mereka membuang diri ketika hujan anak panah tiba. Setelah itu mereka berlompatan maju dengan sangat cepatnya, senjata-senjata mereka perlihatkan berkelebatannya cahaya-cahaya putih dan hijau. Ketika mereka di panah pula, mereka semua menjatuhkan diri, hingga anak-anak panah melayang di atasan mereka. Secara demikian mereka merangsak terus. Tan Hong terus memasang mata, hingga akhirnya ia dapat melihat tegas tiga penyerbu itu, ialah Hongthianloei Tjio Eng si Geledek Menggetarkan Langit bersama dua saudara Hek Pek Moko, si Hantu Hitam dan Putih! Hek Moko putar tongkat Leggiok thung-nya dan Pek Moko tongkat Pekgiok thung-nya, sedang Tjio Eng putar pedangnya, pedang Tjengkong Kiam. Itulah ketiga senjata yang memperlihatkan sinar-sinar hijau dan putih. Setelah ketiga penyerbu itu datang dekat, tentera musuh tidak dapat menggunakan pula panah mereka. Mereka terpaksa maju mencegat sambil berkelahi dengan rapat. Hek Moko dan Pek Moko mengamuk dengan masing-masing tongkatnya, mereka membuat kuda rubuh atau kabur dan musuh binasa, cuma musuh yang kosen yang bisa bangkit lagi untuk melakukan perlawanan lebih jauh. Juga Tjio Eng telah menyerang dengan hebat sekali. Di saat ketiga penyerbu itu mendatangi ke tengah tanpa ada orang yang bisa merintangi mereka, baharulah Pek San Hoatsoe yang menjadi sangat murka maju menghalau. Segera ia berhadapan dengan Hongthianloei yang dia lantas serang dengan pukulan "

Tokpek Hoasan"="Menyerang gunung Hoasan"

Dengan tongkat sianthung-nya yang besar seperti cawan.

Imam ini adalah soeheng atau kakak seperguruan dari Tjeng Kok Hoatsoe.

Ilmu silatnya ada terlebih liehay daripada Ngochito, maka itu bisalah dimengerti hebatnya serangannya ini.

Hongthianloei tidak jeri terhadap penyerangnya ini, ia malah gusar yang ia dirintangi, maka itu dengan berani ia angkat pedangnya dengan apa ia tangkis serangan dahsyat itu.

Di antara suara nyaring dari beradunya kedua senjata, lelatu api pun mencrat seperti kembang api.

"Rubuh!"

Pek San Hoatsoe berseru. Tubuh Tjio Eng nampak sedikit terhuyung, akan tetapi dia tersenyum.

"Tidak mungkin!"

Sahutnya sambil tertawa.

Dan selagi tertawa, dengan sekonyong-konyong, dengan kesehatan bagaikan kilat, dia membalas menyerang.

Pek San Hoatsoe andalkan tenaganya yang besar, ia tidak sangka sekali yang ia telah menghadapi seorang lawan demikian tangguh, sedang ketika kedua senjata bentrok, ia sakit.

Tentu saja ia terkejut rasakan telapak tangannya, akan dapatkan musuh sudah menyerang pula, pedang menyambar-nyambar seperti tanpa manusianya, karena berbareng dengan itu, Tjio Eng berlompat ke arah belakangnya!

Hongthianloei kesohor untuk tiga macam kepandaiannya.

Ialah ilmu menimpuk dengan batu hoeihong tjio, pukulan tangan geledek Kengloei tjiang, dan pedang Liapin kiam, terutama dengan pedangnya itu ia telah menjagoi di kalangan Rimba Persilatan, dan sekarang ia menggunakan pedangnya yang liehay itu, hingga musuhnya lantas menjadi kewalahan.

Sekali diserang, Pek San Hoatsoe dapat berkelit, kedua kalinya ia berhasil juga mengelakan tubuhnya, tapi serangan kilat datangnya bertubi-tubi, maka untuk yang ketiga kalinya, ia mesti menangkis.

Tak sempat ia berkelit terus-terusan.

"Kena!"

Berseru Tjio Eng selagi ia menyerang untuk ketiga kalinya itu.

Pukulan Liapin kiam tertangkis sianthung dari si imam, pedang itu tidak terpental seperti diharapkan imam itu.

Sebab Tjio Eng telah gunai kepandaiannya.

Pedang hanya tertangkis membal, untuk terus digoreskan ke pundak musuh!

Syukur bagi Pek San Hoatsoe, dia telah pelajari ilmu kebal "Tiatpou san" = "Baju besi,"

Maka dia tidak terluka hebat, dia tidak sampai rubuh karenanya.

Karena itu, ketika ia dapat menotok tanah, untuk membikin tubuhnya dapat berdiri terus, ia segera berlompat menyingkir jauh kira-kira setombak, agar musuh tidak dapat susul padanya.

Adalah niatnya, setelah menaruh kaki, dia hendak balas menyerang musuh itu.

tetapi ketika dia memutar tubuh, dia dapat kenyataan musuhnya itu sudah menyerbu ke dalam barisan!

Bukan kepalang mendongkolnya imam ini.

Dia telah ditinggalkan mentah-mentah oleh lawannya itu!

Maka dia berniat mengejarnya, untuk mana dia sampai berseru dengan keras.

Baca Juga: Hong Lui Bun 10

Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger