Tujuh Pedang Tiga Ruyung 3

Eps 3 Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL

Baca online Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL

Cersil Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL.

Sambil bicara beruntun ia menggunakan tiga macam gerak tubuh untuk menghindarkan serangan Gui Leng-hong.

Mendengar sindiran tajam itu, Gui Leng-hong mendengus.

Kedua telapak tangannya menyodok ke depan.

"blang!"

Diiringi bunyi gemuruh yang keras, mangkuk cawan yang berada di atas meja di belakang Ho Lim terpental ke udara.

Tergetar oleh pukulan dahsyat itu, terpotong ucapan Ho Lim.

Belum serangan itu tiba, sudah timbul perasaan yang tidak nyaman, pernapasan seperti mau putus.

Sekarang ia baru sadar kungfunya masih ketinggalan jauh bila dibandingkan kepandaian orang, tapi tempat dimana ia berada sekarang amat sempit, lagipula penuh meja di sekitar situ.

Tertekan oleh hawa pukulan yang kuat itu, terasa tiada jalan lain untuk menghindar lagi.

Gui Leng-hong tertawa dingin, baru saja dia akan melancarkan serangan susulan sepenuh tenaga untuk memaksa 'monyet' itu mencium tanah, tahu-tahu jalan darah Cong-ngo-hiat di punggungnya terancam.

Dalam kagetnya buru-buru dia mengegos ke samping.

Siapa tahu di antara cahaya tajam, ujung pedang tahu-tahu bergeser ke bawah dan mengancam jalan darah Cian-cin-hiat.

Sungguh cepat dan tepat serangan ini dan sangat mengejutkan.

Cepat-cepat ia mengegos pula, siapa tahu dengan cepat ujung pedang itu turut menyambar ke sana dan mengancam Thian-tu-hiat dan Gin-kay-hiat di antara tenggorokan.

Cahaya pedang merah membara seperti api, tajam menyilaukan mata.

Beberapa jurus serangan itu dilancarkan pada saat yang hampir sama, tak sempat berpikir kembali ia menyurut mundur.

Di luar dugaan punggungnya sudah menempel dinding, padahal cahaya pedang lawan masih menyambar tiba.

Dengan Lak-yang-jiu sudah puluhan tahun Gui Leng-hong menjagoi dunia persilatan, walaupun usianya sudah tua, tapi tabiatnya justru pemberang.

Sebagai orang kedua dalam Kun-lun-ngo-lo, kungfunya memang jarang ada tandingannya, tentu saja hal inipun disebabkan ia jarang berkelana dalam dunia persilatan.

Tapi sekarang ia terdesak mundur berulang kali oleh beberapa serangan pedang lawan yang sama sekali tak sempat terlihat jelas, dalam marahnya mendadak ia membentak.

Telapak tangan kirinya menabas miring ke samping, sementara telapak tangan kanan diayun kemuka, melancarkan sebuah pukulan.

Dia ingin menggetar patah pedang musuh dengan tenaga dalamnya yang sudah terlatih selama puluhan tahun.

Jurus serangan ini diluncurkan dengan indah dan juga berbahaya.

Tanpa terasa para jago yang hadir sama memuji ilmu pukulan Lak-yang-jiu Kun-lun-pai memang tidak bernama kosong belaka.

Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba Gui Leng-hong menjerit kesakitan dan melompat ke udara.

Ketika tiba kembali ke bawah, sekujur badan yang gemuk itu gemetar keras.

Dengan sorot mata ngeri bercampur takut dia mengawasi seorang gadis bersenjata pedang berwarna merah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.

Gadis ini bukan lain adalah Mao Bun-ki.

Para jago sama menatap ke arah putri kesayangan Leng-coa Mao Kau ini dengan bingung.

Mereka tidak menduga gadis secantik bidadari ini memiliki ilmu silat begini hebat.

Merekapun heran mengapa Gui Leng-hong sebagai salah seorang tokoh Kun-lun-ngo-lo bisa kecundang di tangan lawan hanya dalam beberapa gebrakan saja?

Jangankan para jago yang hadir ini, sampai Gui Leng-hong sendiri juga tidak jelas terjadinya peristiwa ini.

Ternyata ketika ujung telapak tangannya menyentuh pedang lawan, tiba-tiba dirasakan semacam getaran tenaga yang belum pernah dijumpai sebelum ini, membuat semua tenaganya tak sanggup dikendalikan dan menggigilkan sekujur tubuhnya.

Ia kecundang, namun kalah secara membingungkan.

Ditatapnya sekejap lawan yang masih muda dan berwajah cantik itu, kemudian diliriknya pedang merah orang, pikirnya.

"Tenaga aneh ini entah lwekang dari aliran perguruan mana? Masakah gadis muda ini mampu menyalurkan tenaga dalamnya pada pedangnya?"

Sejak berumur sebelas masuk perguruan hingga kini Gui Leng-hong sudah lima puluh tahun lebih belajar ilmu silat.

Sekalipun bakatnya terbatas sehingga tak mampu mencapai tingkatan yang paling tinggi, akan tetapi bagaimanapun ia terhitung salah seorang tokoh dunia persilatan.

Tapi kenyataannya sekarang ia tak mampu mengetahui aliran manakah ilmu pedang yang digunakan gadis itu.

Sementara pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, Mao Bun-ki masih berdiri tegak dihadapannya.

Thi-jiu-sian-wan terbelalak mengawasi gadis itu, sedangkan Ko Bun mengawasi pedang di tangan si nona seakan-akan tenggelam dalam suatu pemikiran yang dalam dengan senyuman tetap menghiasi wajahnya.

Kiong-sin Leng Liong segera berdiri, sambil tertawa terbahak-bahak dia berjalan ke depan Bun-ki, kemudian berkata.

"Ombak dari belakang selalu mendorong ombak di depan, hahaha anak perempuan, kepandaianmu sungguh membuat mataku terbuka lebih lebar ... ."

Belum habis dia berkata, Gui Leng-hong menghela napas panjang, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia melompat pergi meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu singkat bayangannya sudah lenyap di balik kegelapan.

Kiong-sin (si dewa rudin) Leng Liong juga menghela napas, katanya.

"Sekalipun Gui-loji seorang berangasan, tapi ia cukup jujur dan lurus, pula bisa membedakan antara budi dan dendam secara jelas. Ia boleh dibilang seorang lelaki sejati, tak nyana setelah turun gunung kali ini, dalam waktu singkat dia harus pulang lagi."

Setelah mengebaskan ujung bajunya yang penuh tambalan, katanya kepada Thi-jiu-sian-wan dengan serius.

"Sobat kecil, walaupun kau tidak menyangka kami sekawanan tua bangka yang menjemukan akan datang kesini, sedikitnya kau tahu apa sebabnya kami datang kemari?"

Walaupun ia menyebut Thi-jiu-sian-wan yang sudah setengah umur itu sebagai 'sahabat kecil', namun Ho Lim tidak merasa tersinggung, bahkan dia segera menjawab.

"Sesungguhnya wanpwe sama sekali tidak berniat mengusik para Locianpwe. Wanpwe hanya mendapat perintah dari Mao-toako untuk mengundang kawan-kawan dari Koai-to-hwe dan para enghiong yang bergerak di perairan untuk berkumpul disini. Bahkan para Tianglo dari Kai-pang tidak berani kami ganggu ... ."

"Hm, soal ini aku si tua sudah tahu,"

Tukas Kiong-sin Leng Liong dengan mendengus. Setelah berdehem beberapa kali, Thi-jiu-sian-wan berkata lebih lanjut.

"Sungguh tak nyana wanpwe menemui sesuatu hal secara kebetulan sehingga persoalan ini mengakibatkan kedatangan para Locianpwe."

Walaupun di luar dia menyebut menemui suatu 'secara kebetulan', namun dalam hati ia mengeluh dan menyesal.

"Para Locianpwe adalah orang-orang yang berbudi luhur, sudah barang tentu dapat memahami pula kesulitan yang wanpwe alami,"

Katanya lebih jauh.

"cuma saja ..."

Setelah termenung sejenak, ia melanjutkan.

"Cuma saja, ada satu hal wanpwe merasa kurang mengerti ..."

Kiong-sin Leng Liong bergelak tertawa, sambungnya.

"Bukankah aku tidak habis mengerti kenapa secara tiba-tiba kami bisa mengetahui persoalan ini?"

Ia sengaja berhenti sejenak. Setelah dilihatnya Thi-jiu-sian-wan manggut-manggut, baru disambungnya.

"Anggap saja kalian lagi sial sehingga seorang musuhmu mengetahui soal ini ... ."

Dia mengulapkan tangannya mencegah Thi-jiu-sian-wan yang hendak bertanya, lalu sambungnya.

"Hal ini tak perlu kautanya, karena sekalipun kau tanyakan juga tak akan kujawab. Padahal aku sudah terlalu banyak omong. Bila ditilik dari tingkah laku kalian selama belasan tahun dalam dunia persilatan, sewajarnya kalau aku turun tangan sejak dulu."

Setelah melirik sejenak ke arah Bun-ki, tiba-tiba ia tersenyum dan menambahkan.

"Cuma lantaran kulihat pedang di tangan anak perempuan itu mirip sekali dengan benda milik seorang sahabatku, maka terpaksa aku mesti banyak bicara."

Walaupun ia sudah berbicara sedari tadi, tapi semuanya tetap merupakan teka-teki, makin mendengar Bun-ki merasa makin bingung.

Dia benar-benar tidak mengerti apa sesungguhnya yang terjadi.

Padahal sedemikian rumitnya persoalan ini sehingga mereka yang terlibatpun kurang jelas persoalannya, bahkan kecuali Bak-it Siangjin dan Tui-hong-kiam Cu Pek-ih yang sekadar tahu masalahnya, yang lain seperti orang kedua dari Tay-beng-siang-kiat, Kim Ciau-kiat, Tay-oh-lotiau Siau Ci dan sekalian jago yang hadir hanya melongo belaka.

Suara berisik mulai terdengar dalam ruangan itu.

Sebagian besar yang mereka bicarakan adalah kelihaian putri kesayangan Leng-coa Mao Kau.

Bun-ki menyimpan kembali pedang ke sarungnya, sedang Kiong-siu Leng Liong tersenyum sekejap ke arah gadis itu lalu juga kembali ke tempat duduknya.

Sedangkan Ko Bun hanya mengawasi bayangan punggung nya yang ramping itu dengan termangu.

Sementara itu Thi-jiu-sian-wan masih berdiri tertegun di tempat.

Bun-ki menghampirinya sambil berbisik.

"Paman Ho, sebetulnya apa yang terjadi? Kalau kau tidak memberitahukan kepadaku lagi, aku bisa mati kesal."

Thi-jiu-sian-wan menghela napas panjang, katanya.

"Nona, pernahkah kau dengar ayahmu membicarakan ..."

Belum habis dia berkata, suara derap kaki kuda terdengar berkumandang dari ujung jalan, agaknya bukan cuma seekor.

Dengan wajah berseri Thi-jiu-sian-wan melongok keluar jendela.

Tampak empat ekor kuda telah berhenti di depan rumah makan, ada dua orang lelaki berbaju emas sedang memegangi keempat ekor kuda itu.

Agaknya si penunggang kudanya sudah masuk ke dalam.

Menyusul terdengar suara orang naik tangga dan muncul empat orang lelaki di ujung tangga.

Begitu melihat siapa pendatang ini, Thi-jiu-sian-wan segera berteriak kegirangan.

"Hah, toako, engkau baru datang ... ."

Bun-ki juga cepat berlari menyongsong kesana.

Diantara keempat orang itu, yang berjalan paling depan adalah seorang yang bertubuh jangkung, bermata tajam seperti mata elang.

Begitu melihat Bun-ki berada disitu, wajahnya lantas berseri.

"Rupanya kau juga berada disini?"

Serunya.

Tak perlu diterangkan lagi, orang ini bukan lain adalah pentolan Lok-lim selama belasan tahun bekalangan ini, Leng-coa Mao Kau.

Orang kedua berbahu lebar, berpinggang sempit dan berpunggung tegak.

Sekalipun berusia lima puluhan tapi mukanya tampak segar dan sebilah pedang bergagang kuning tersandang di bahu kiri.

Dari dandanan orang bisa diketahui bahwa dia adalah Co-jiu-sin-kiam Ting-hi dari Jit-kiamsam-pian.

Orang ketiga adalah seorang perempuan, pinggangnya ramping dengan wajah yang putih, matanya bulat besar, ketika tertawa kelihatan dekik pipinya yang dalam.

Meski di bawah kelopak matanya sudah muncul garis keriput, tapi di bawah dandanannya yang rapi, keriput tersebut tidak nampak jelas.

Perempuan yang tak bisa diduga usianya ini adalah murid kesayangan adik ketua Tiamcong-pay yang dulu, adik seperguruan ketua Thiam-cong-pay yang sekarang, Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing.

Sinar mata Ko Bun hanya melintas sekejap pada wajah ketiga orang itu, tapi akhirnya berhenti pada wajah orang ke empat, ia tersenyum.

Kiranya orang yang mengikut di belakang Lim Ki-cing ini bukan lain adalah Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui adanya.

Leng-coa Mao Kau berbicara beberapa patah kata dengan Bun-ki secara terburu-buru, kemudian dengan sorot mata tajam dia memandang sekeliling ruangan.

Sikapnya kereng dan tak malu sebagai seorang pentolan Lok-lim.

Tidak lagi seperti bertemu dengan Thi-jiu-sian-wan tadi, kecuali Kiong-sin Leng Liong dan Bak-it Siangjin beberapa orang, hampir semua jago yang hadir itu sama berdiri dan memberi hormat.

Sebagaimana diketahui, nama besar Jit-kiam-sam-pian atau Tujuh Pedang Tiga Ruyung sudah tersohor berpuluh tahun lamanya.

Apalagi kedudukan Mao Kau dewasa inipun sudah berbeda.

Maka biarpun Thi-jiu-sian-wan juga orang kenamaan, sudah barang tentu selisih jauh bila dibandingkan dengan kedudukan maupun nama besar Leng-coa Mao Kau.

Kembali Mao Kau memandang sekeliling ruangan, dahi berkerut, tampaknya dia tidak menyangka disinipun hadir beberapa tokoh tangguh.

Tapi ia lantas tertawa.

"Hahaha, bila kedatangan Mao Kau yang terlambat ini membuat sobat sekalian dan para Cianpwe menunggu agak lama, mohon sudi dimaafkan."

Setelah memandang sekejap ke arah Ho Lim, katanya pula.

"Losi, mengapa kau tidak mengabarkan kepadaku bahwa selain Siau, Leng berdua Locianpwe, dari Siau-lim-si pun datang seorang pendeta sakti? Tahu begini, sekalipun Mao Kau bernyali besar juga tak berani membiarkan para Locianpwe menunggu sekian lama."

Si ular Mao Kau memang licin, sekilas pandang saja ia dapat mengenali beberapa orang itu. Si dewa rudin Leng Liong tergelak, katanya.

"Siau-mao-cu (si Mao kecil), kami bukan menunggu kau, jadi tak perlu kau menyesal."

Kemudian dengan sinar mata mencorong tajam, terusnya.

"Apa yang kami nantikan rasanya tanpa disebut pun kau tahu bukan?"

Mao Kau tertawa, ia maju ke depan dan mengambil cawan arak di depan Ko Bun, kemudian membalik badan, katanya.

"Urusan lain boleh kita bicarakan nanti saja, sekarang Mao Kau menghormati kalian dulu secawan arak."

Ketika sorot matanya menyapu pandang sekeliling ruangan, dilihatnya Hwe-gan-kim-tiau (elang emas bermata api) Siau Ci pun turut berdiri, Mao Kau tertawa senang.

Sekali tenggak ia menghabiskan isi cawan.

Bun-ki merasa bangga, sebab bagaimanapun ternyata semua orang sangat menaruh hormat kepada ayahnya, tiba-tiba ia melihat Ko Bun tetap berduduk di tempatnya tanpa bergerak.

Ia menghampiri anak muda itu, bisiknya.

"Ayah mengajak minum, mengapa kau tidak ikut?"

Nadanya menyesal dan setengah mengomel juga sedikit curiga. Ko Bun mengangkat bahu dan tertawa.

"Cawan arakku diambil ayahmu, kausuruh aku minum dengan apa?"

Bun-ki tertawa, dia serahkan sebuah cawan yang diambilnya dari meja kosong sebelah dan diberikan kepada Ko Bun.

Tapi waktu itu para jago sudah duduk kembali, arakpun habis ditenggak Mao Kau, maka Ko Bun minum sendiri araknya, padahal cawannya masih kosong.

Namun Bun-ki tidak memperhatikan hal itu dan juga tidak memikirkannya.

Leng-coa Mao Kau mengerling sekejap ke sekeliling, lalu katanya lagi dengan lantang.

"Di dalam perjamuan ini, aku Mao Kau adalah tuan rumah."

Diliriknya sekejap ke arah si dewa rudin Leng Liong sambil tertawa, kemudian melanjutkan.

"Terlepas dari apakah alasan kedatangan kalian, yang jelas aku merasa gembira sekali."

Sesudah berhenti sejenak, ia berkata pula.

"Kemarin Ho-site mengirim surat ke Hang-ciu dan mengabarkan bahwa Tay-heng-siang-gi dari Tay-heng-san dan pemimpin besar tujuh belas perairan, Kim-li (ikan emas) Siau-siauhiap telah diundang datang. Baru saja Mao Kau merasa senang, siapa tahu keesokan harinya aku menerima laporan kilat lagi dari Ho-site yang mengabarkan bahwa diantara kedua telaga Hongtik dan Ko-yu telah ditemukan suatu rahasia besar yang sudah terpendam selama beberapa ratus tahun."

Sekali lagi dia mengerling sekejap ke sekeliling ruangan, lalu terusnya.

"Kalian semua adalah orang pintar. Beberapa orang Locianpwe mungkin lebih jelas tentang soal itu daripadaku. Sebagaimana diketahui, setiap orang tentu ingin mendapatkan mestika tersebut termasuk aku sendiri. Tapi kalau dibilang aku bersekutu dengan Siau-siauhiap hanya lantaran barang itu, aku betul-betul merasa penasaran. Buktinya Kim-jihiap dari Thay-heng, Si-tayhiap dari Huai-yang, Lam-siau-kiam-kek dari Hok-gu-san dan Pui-sia-tayhiap, di wilayah kekuasaan mereka tiada sesuatu harta karun, toh mereka ku undang juga kehadirannya?"

Kiong-sin Leng Liong seperti mendengus sekali, Bak-it Siangjin tak bergerak sama sekali, maka Mao Kau berkata pula.

"Setelah mendapat kabar itu, aku bersama Co-jiu-sin-kiam Tingtayhiap, Pek-poh-hui-hoa Lim Lihiap dan Oh-samte segera berangkat kesini. Sebab kutahu bila kabar ini sampai bocor, akibatnya bisa mengganggu ketenangan umum. Tapi buktinya secermatnya Ho-site bekerja, rupanya para Locianpwe toh mendapat tahu juga."

Tiba-tiba Kiong-sin Leng Liong tertawa nyaring, suaranya keras menggetar mangkuk dan cawan di atas meja. Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing tertawa ringan, tegurnya.

"Locianpwe, kalau tertawa jangan keras-keras, bikin sakit telinga."

Kiong-sin Leng Liong berhenti tertawa, dia melotot sekejap ke arah Lim Ki-cing, tapi perempuan itu seakan-akan tidak melihatnya. Sambil membetulkan rambutnya ia berkata lagi.

"Kun-goan-it ginkang Locianpwe memang lihai. Sewaktu kecil dulu akupun pernah mendengarnya. Sekalipun engkau tidak tertawa sekeras ini orang juga tahu kelihaianmu."

Kiong-sin Leng Liong tersohor karena ketajaman mulutnya, ia tak pernah kalah beradu lidah dengan siapa pun.

Sungguh tak nyana hari ini ia ketanggor seorang perempuan.

Bun-ki menjadi geli, apalagi bila teringat bagaimana cara pengemis tua itu mempermainkan Gui Leng-hong tadi, pikirnya.

"Inilah pembalasan yang setimpal."

Agaknya Lim Ki-cing juga tahu orang tak sampai berkelahi dengannya mengingat kedudukan orang yang terhormat itu, maka setelah berkata ia sempat mengerling sekejap ke arah Ko Bun dengan tertawa.

Ko Bun juga tertawa, tapi Bun-ki yang menyaksikan itu jadi mendongkol.

Dengan wajah dingin ia memaki di dalam hati.

"Rase tua, siluman tua, benar-benar tak tahu malu."

Setelah diganggu oleh Lim Ki-cing, kata-kata Kiong-sin Leng Liong tak jadi dilanjutkan lagi. Pada kesempatan itu Leng-coa Mao Kau berkata pula.

"Setelah para Locianpwe bertemu denganku sekarang, terasa legalah hatiku, sebab dengan nama baik Locianpwe, tentunya kalian takkan mengincar barang kami ... ."

Belum habis ia berkata, kembali terdengar gelak tertawa nyaring. Yang tertawa ini adalah Hwe-gan-kim-tiau. Sejak awal dia tidak buka suara, tapi sekarang sambil mengelus jenggot ia berkata.

"Maotayhiap, aku rada kurang paham pada perkataanmu itu. Ketika Thi-jiu-sian-wan Ho-sihiap berkunjung ke tempat putraku Siau Peng, dikatakannya bahwa pemisahan wilayah antara air dan darat yang terjadi dalam dunia persilatan telah mengurangi arti persatuan dalam dunia persilatan. Dikatakan bahwa wilayah pengairan dan daratan sepantasnya bersekutu. Dianjurkan agar putraku bersekutu denganmu setelah mempertimbangkan, pertama berhubung Maotayhiap adalah seorang tokoh besar, kedua, ucapan Ho-sihiap cukup meyankinkan, maka permintaannya dikabulkan. Kemudian Ho-sihiap minta Tay-heng-siang-gi yang merupakan saudara angkat putraku itu juga diajak bersekutu, inipun disanggupi putraku ... ."

Setelah melirik sekejap ke arah Thi-jiu-sian-wan sambil tertawa dingin, ia melanjutkan.

"Tentu saja semua ini berkat kepandaian Ho-sihiap bermain lidah sehingga putraku benar-benar menyerah pula ..."

Kembali ia tertawa dingin, lalu menyambung.

"Tentu saja keberhasilan itu dikarenakan usia putraku yang masih muda, kurang pengalaman, tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, kebetulan lagi aku tak ada di rumah. Ketika aku pulang, Ho-sihiap sudah keburu pergi. Baiklah soal ini tak perlu diungkit lagi, tapi meskipun aku sudah hidup sekian puluh tahun, sudah banyak orang yang kujumpai, sungguh tak kusangka Ho-sihiap adalah manusia yang begitu lihai. Coba kalau tidak diberitahu oleh seorang tokoh sakti, aku si tua tentu tidak tahu Ho-sihiap yang merupakan komandan Thi-ki-sian-pian yang mengibarkan panji demi keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan ini ternyata telah memanfaatkan kedudukannya sebagai tamu Congtocu danau Ko-yu dan Hongtik untuk menyelidiki rahasia terpendam di danau kami."

Jahe semakin tua semakin pedas, beberapa patah kata jago tua ini kontan saja membuat air muka Thi-jiu-sian-wan sebentar pucat sebentar hijau.

Wajahnya yang memang buruk semakin buruk lagi sehingga persis seperti kulit jeruk yang sudah dikeringkan kemudian dimasukkan ke dalam cuka.

Air muka Leng-coa Mao Kau juga agak berubah, selagi ia hendak bicara, Sian Lo-tiau berkata pula lebih dulu.

"Adapun kedatanganku ini adalah ingin memberitahukan kepada Maotayhiap, sekalipun Mao-tayhiap bersaudara sudah mengetahui letak harta karun dalam telaga Ko dan Hong tersebut, sedangkan aku si tua bangka belum lagi tahu, namun jika Mao-tayhiap ingin menggunakan kedudukan sebagai 'taman sekutu' untuk melakukan penyelidikan lagi ke pangkalan kami, maka kendatipun Mao-tayhiap adalah Bu-lim Bengcu dari daratan Tionggoan, aku si tua juga akan mengandalkan sedikit kekuatan kami sekeluarga Siau turun temurun di perairan untuk menghadapi kalian. Berada di hadapan Siau-lim-sinceng dan Bu-lim-sin-kai, aku tak berani takabur. Itulah sebabnya telah kuperintahkan kepada beberapa ratus saudara dari Koai-to-hwa dan saudara dari perairan untuk pulang lebih dulu. Nah, perkataanku hingga sampai disini saja, maaf aku si tua mohon diri lebih dulu."

Sampai disini sedikit banyak Mao Bun-ki baru tahu duduk perkara yang terjadi hari ini.

Kendatipun tak tahu sebetulnya harta mestika apa yang terdapat di dalam telaga Hontik dan Koyu tersebut, lebih-lebih ia tak mengerti dengan cara bagaimana Thi-jiu-sian-wan berhasil mengetahui rahasia harta karun itu.

Baru saja ia hendak bertanya, sambil tertawa Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing telah berkata.

"Siau-loyacu, engkau boleh dibilang seorang tua yang berbudi luhur. Tapi aku kurang begitu mengerti dengan perkataanmu tadi. Menurut perkataanmu tadi seolah-olah telaga Hongtik dan Ko-yu adalah daerah warisan keluarga Siau, sedang barang dalam telagapun merupakan harta pusaka keluargamu. Aku jadi ingin bertanya, kecuali orang-orang keluarga Siau, apakah orang lain tak boleh mengusiknya?"

Siau Lo-tiau melotot gusar, alis matanya yang panjang menegak. Dengan geram ia menjawab.

"Kalau benar lantas bagaimana? Kalau tidak kau mau apa? Kau ingin berlagak dihadapanku? Hm, masih selisih jauh. Pergi, pergi! Disini tak ada tempat bicara bagi perempuan macam kau."

Sekasar-kasarnya Kiong-sin Leng Liong, dia masih terhitung seorang Tianglo dari golongan yang terhormat, maka terhadap Lim Ki-cing ucapannya tidak terlalu kasar dan tajam.

Berbeda dengan Siau Lo-tiau, sekalipun dia terhitung pula seorang Bu-lim-cianpwe, tapi asalnya dari golongan hitam.

Sebab itulah melotot dan mendamprat kaum wanita sama sekali bukan soal baginya.

Lim Ki-cing merasa kehilangan muka, apalagi setelah melihat Ko Bun memandangnya dengan senyum tak senyum itu, hatinya tambah panas.

Sesungguhnya harta karun apakah yang dipersoalkan gembong-gembong dunia persilatan yang berkumpul ini ?

Cara bagaimana Mao kau akan menyelamatkan sengketa ini dan apa pula yang akan dilakukan Ko Bun, pemuda yang alim itu ?

-Bacalah

Jilid ke 6 -

Jilid 06 Sekalipun usia dan tingkatannya selisih jauh daripada Lo-tiau, namun bicara soal kedudukan di dunia persilatan, belum tentu ia lebih rendah dari pihak lawan.

Maka sambil tertawa dingin katanya.

"Benda yang berada di alam semesta ini diperuntukkan setiap manusia, sampai waktunya bila Mao-toako tidak pergi mengambil, aku orang she Lim justru akan mengambilnya. Akan kulihat betapa hebat kau si elang tua (lo-tiau) ini."

Dengan gusar Siau Lo-tiau menggebrak meja, seorang lelaki berusia tiga puluhan yang duduk di sampingnya segera melompat bangun dengan wajah marah.

Dia bukan lain adalah Congtoacu dari tujuh belas benteng perairan di telaga Ko-yu dan Hongtik, keturunan ke empat keluarga Siau, Kim-li (si ikan emas) Siau Peng.

Dengan kemunculan itu, sudah terang bermaksud mewakili ayahnya untuk bertarung.

Tapi Kiong-sin Leng Liong segera berkata sambil tertawa.

"Setelah Siau Lo-tiau berkata demikian, aku si pengemis tua baru tahu hubungan antara kalian sesungguhnya penuh lika-liku. Tapi bicara pulang-pergi, tahukah kalian sesungguhnya apa persoalannya?"

Sinar matanya beralih ke wajah Mao Kau, kemudian katanya lagi.

"Tadi si monyet kecil bilang dia tak bisa mengambil keputusan, sekarang tentu dapat kauputuskan bukan? Nah, aku ingin bertanya padamu, bukankah kau telah mendapatkan rahasia tentang letak harta karun itu dari orang Kai-pang? Seandainya perbuatan kalian tidak diketahui siapapun tentu tak menjadi soal. Kini aku si pengemis tuapun sudah tahu. Bila aku bersama kawanan pengemis cilik lainnya bersama-sama datang menegurmu, coba apa yang akan kaulakukan?"

Dari pembicaraan ini, suatu rahasia yang selama ini tertutuppun segera terungkap.

"O, rupanya persoalan ini ada sangkut pautnya dengan pihak Kai-pang?"

Demikian semua orang berpikir.

Meski begitu mereka tetap belum tahu barang apakah yang sebenarnya tersimpan di telaga Hongtik dan Ko-yu itu sehingga Leng-coa Mao Kau yang enggan bermusuhan dengan orang itu kini harus bersitegang dengan pihak Kai-pang?

Sekali lagi Siau Lo-tiau mengerutkan dahi.

Ia tahu persoalan yang menyangkut yang menyangkut orang Kay-pang memang sukar diselesaikan.

Dilihatnya Leng-coa Mao Kau memang tak malu sebagai pentolan Lok-lim.

Dalam keadaan begini wajahnya tetap tidak berubah sama sekali.

Terdengar Mao Kau berkata sambil tertawa.

"Mestika yang ada di dunia ini akan diperoleh mereka yang bijaksana. Sekalipun aku Mao Kau seorang yang tak becus juga tak berani menantang takdir. Karena itu, setelah kutahu rahasia ini akupun akan berusaha mendapatkannya. Sedang mengenai soal lain, sayang Mao Kau terlalu bodoh sehingga tak tahu bagaimana mesti menjawab."

Lebih dulu ia menyebut 'takdir', kemudian mengatakan dirinya 'bodoh', pokoknya dia tak peduli soal lain.

Maksudnya bila kalian punya kepandaian, silakan berebut dengan aku.

Sudah barang tentu Kiong-sin Leng Liong dapat menangkap arti perkataannya.

Dengan gusar ia berkata.

"Kalau begitu, aku si pengemis tua akan mohon petunjuk lebih dulu dengan kau si pentolan Lok-lim ini!"

Selama kejadian itu berlangsung, Ko Bun cuma diam saja, terkadang ia bicara dengan Mao Bun-ki.

Tapi sekalipun sedang berbicara, ia tetap mengikuti setiap kata pembicaraan yang sedang berlangsung.

Maka ketika didengarnya Kiong-sin Leng Liong hendak turun tangan sendiri menghadapi Leng-coa Mao Kau, air mukanya segera berubah, seakan-akan kuatir Leng-coa Mao Kau kalah di tangan orang.

Melihat pemuda itu menguatirkan keselamatan ayahnya, hati Bun-ki terhibur, pikirnya.

"Semula aku mengira ia kurang senang kepada ayah, ternyata dugaanku salah."

Dalam pada itu air muka Leng-coa Mao Kau juga berubah, sorot mata semua orang juga tertuju ke arahnya.

Di tengah suasana yang kritis inilah, suara pujian kepada sang Budha mendadak berkumandang.

Setelah memuji keagungan Budha, Bak-it Siangjin dari Siau-lim-pai memandang sekejap wajah para jago di sekeliling ruangan, kemudian berkata.

"Sicu sekalian adalah jago kenamaan dunia persilatan dewasa ini, sekalipun sudah lama kuhidup terpencil di atas gunung, namun selalu merasa kagum terhadap nama2 besar kalian ... ."

Kiong-sin Leng Liong tertawa, serunya.

"Taysu terlalu merendahkan diri, padahal kami cuma kamu silat kasaran. Mana bisa dibandingkan dengan Taysu yang hidup bebas menyenangkan."

Sesudah tertawa nyaring, dia melanjutkan.

"Apalagi kungfu Siau-lim-pai sudah termashur. Bila Taysu menganggap kami sebagai tokoh persilatan, entah orang lain, tapi aku si pengemis tua merasa malu sendiri, cuma ... ."

Setelah menatap sekejap sekitar tempat itu, lalu sambungnya.

"Sudah lama Taysu tidak mencampuri urusan duniawi, apakah kedatangan Taysu kali ini juga disebabkan harta karun ini?"

Selama puluhan tahun menjagoi dunia persilatan, Kiong-sin Leng Liong termashur sebagai manusia yang sukar dihadapi, tak heran ucapannya kedengaran tajam dan bernada menyindir.

Bak-it Siangjin segera menukas.

"Siancai, meski tak becus, kehidupanku di pegunungan telah membuat sifat kerakusan lenyap dari hatiku. Meski harta mestika yang kalian maksudkan adalah "Sam-cai-po-cong"

Yang diidamkan setiap umat persilatan, namun mestika itu belum membuatku kemaruk untuk mengangkanginya sendiri. Jadi sicupun tak perlu sangsi dan curiga."

Terkerut kening Mao Kau, lalu tertawa nyaring.

"Hahaha, Siangjin tak usah memberi penjelasan, akupun tahu seorang Bu-lim-cianpwe seperti Siangjin takkan berebut barang sampingan dengan wanpwe sekalian. Sebab kalau sampai berbuat begitu bukan lagi Bu-limcianpwe namanya."

Selesai berkata ia lantas tertawa nyaring pula, sementara matanya melirik sekejap ke arah Kiong-sin Leng Liong.

Jelas ucapan itu bernada menyindir seakan-akan mengatakan mereka yang turut ambil bagian dalam perebutan itu bukan Bu-lim-cianpwe.

Kiong-sin Leng Liong mendongakkan kepala dan tertawa keras, suaranya lantang mengatasi gelak tertawa Leng-coa Mao Kau, berhenti tertawa matanya lantas melotot.

"Cara kerja pengemis tua selamanya terang-terangan.

"serunya lantang.

"orang she Mao, kalau bicara hendaknya jelas sedikit. Meski aku pengemis tua terkenal miskin, namun bukan orang yang suka menganiaya kaum muda, apalagi berebut barang dengan orang muda macam kau. Cuma peta Sam-cai-po-cong diperoleh kaum pengemis dengan susah payah, jika ada yang ingin merebutnya, tentu saja aku pengemis tua takkan tinggal diam."

"Betul, peta mestika itu diperoleh Ho-sute dari anggota pengemis kalian. Tapi waktu itu anak buah kalian terluka oleh bidikan panah penjaga benteng perairan. Ho-sute telah menolong jiwanya, mungkin lantaran berterima kasih atas budi pertolongannya, maka peta itu diberikan kepadanya."

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa dingin sambungnya lagi.

"Apakah kejadian semacam inipun dianggap suatu perampasan?"

"Orang she Mao, sekalipun kau putar balik persoalan juga tak ada gunanya.

"bentak Kiongsin Leng Liong.

"walaupun murid kami terluka oleh bidikan panah, andaikata tiada 'pertolongan' Ho-sutemu, kurasa jiwanya juga tak sampai melayang."

Setelah mendengus, katanya lagi.

"Hmm, bila kau anggap peristiwa ini akan berlangsung tanpa diketahui orang, maka keliru besar dugaanmu itu. Ketahuilah, bila tak ingin diketahui orang, kecuali kau sendiri tidak berbuat."

Seraya berkata, tokoh yang termashur karena ilmu Kun-goan-it-khi-tong-cu-kang itu mengambil dua buah poci di atas meja, lalu diremasnya sehingga berubah menjadi sepotong toya timah.

Para jago yang hadir ini rata2 berilmu silat tinggi, namun mereka dibuat kagum juga oleh kelihaian tenaga dalam orang.

"Blang", Kiong-sin Leng Liong menggetukkan toya timah itu ke meja, lalu katanya lagi.

"Nah, orang she Mao, bila kau tahu diri, cepat kau kembalikan peta mestika itu kepadaku. Mengingat suhumu si hwesio dari Ngo-tai-san yang sudah tiada, bukan saja soal ini takkan kusinggung lagi, bahkan apapun yang hendak kau lakukan dalam dunia persilatan juga tak akan kucampuri. Kalau tidak, jerih payahmu yang kaupupuk selama ini akan mulai goyah."

Baru saja Leng-coa Mao Kau hendak menjawab, Kim-gan-tiau (si Rajawali bermata emas) Siau Ti telah berdiri dan menimbrung.

"Aku si orang tua tidak peduli siapa yang mendapatkan peta mestika itu. Aku hanya tahu benda itu milik orang-orang di telaga Ko dan Hong, berarti milik benteng perairan keluarga Siau kami. Bila kalian sobat dari daratan ingin mengincar barang kami, kecuali membantai semua Saudara dari tiga puluh enam benteng perairan, jangan harap keinginan tersebut dapat tercapai!"

Pada dasarnya dia memang berperawakan kereng dan gagah, apalagi dalam keadaan gusar.

Alis matanya menegak, sinar matanya setajam sembilu, ditambah suaranya lantang seperti bunyi genta, sungguh ia tak malu disebut seorang pentolan 39 buah benteng perairan.

Ko Bun menggunakan sumpitnya menjepit sepotong daging iga dan dikunyahnya pelahan.

Melihat ketiga pihak itu saling ngotot, dengan berpeluk tangan ia saksikan mereka cakarcakaran sendiri.

Leng-coa Mao Kau dengan kedudukannya sebagai Lok-lim-pangcu berdiri diantara Kiong-sin Leng Liong dan Kim-gan-lo-tiau.

Dia sama sekali tidak gentar.

Masing-masing saling menatap dengan tajam.

Persoalan mereka sedemikian rumitnya sehingga boleh dibilang tiada satu pihak yang menduduki posisi di atas angin.

Itulah sebabnya saat itu tiada yang berbicara lagi.

Masing-masing sibuk merancang bagaimana caranya mengadu domba pihak yang lain, dan dia sendiri tinggal meraih keuntungan.

Para jago yang hadir waktu itu rata-rata merupakan jago kenamaan, tapi tiada seorangpun buka suara, sebab mereka tahu ketiga orang itu sama-sama sukar dihadapi.

Meski diantara mereka ada yang lebih erat hubungannya dengan salah satu pihak, tapi juga enggan ikut terjun ke dalam air keruh.

Selama ribut2 Bak-it Siangjin hanya diam saja, wajahnya tanpa emosi, tapi begitu semua jago membungkam dengan kening berkerut ia baru berbicara.

"Omitohud!"

Serunya.

"sudah setengah harian sicu sekalian ribut tanpa hasil, sebab siapa pemilik Sam-cai-po-cong tak bisa diselesaikan dengan pertentangan antara kalian bertiga saja."

Mendengar ucapan itu, serentak para jago mengalihkan sorot matanya ke wajah pendeta ini.

"Taysu, apa maksud ucapanmu ini? Aku si pengemis tua tidak mengerti.

"seru Kiong-sin Leng Liong.

"Apakah Siangjin pun berminat atas benda itu?"

Sambung Leng-coa Mao Kau pula. Sedangkan Kim-gan-lo-tiau menggebrak meja sambil tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, bagus sekali, bagus sekali. Lebih baik pendeta sakti dari Siau-lim-si saja yang memberikan keadilan."

Tangannya yang besar segera menepuk bahu Kim-li Siau Peng yang duduk di sampingnya, kemudian menambahkan.

"Peng-ji, masih ingatkah kau apa yang sering kukatakan? Hanya Siau-lim-pai saja yang bisa dianggap perguruan baik dalam dunia persilatan, sekarang coba kaulihat, para jago sudah melupakan peraturan terpenting yang ditetapkan jago-jago darat dan perairan di Cin-nia dulu yang menetapkan bahwa 'pihak perairan dan daratan terpisah pada wilayah masing-masing, pihak satu tak boleh menjajah pihak yang lain', syukur pendeta suci Siau-lim-pai telah muncul untuk memberi keadilan."

Diam-diam Ko Bun tertawa geli, pikirnya.

"Tua bangka ini memang lihai, dia telah melemparkan abu hangat ke tangan si hwesio."

Perlu diketahui, persoalannya sekarang telah menjadi masalah pelik, siapapun tak dapat menyelesaikan masalah ini.

Maka setelah Kim-gan-lo-tiau melemparkan soal ini ke tangan Bakit Siangjin, tanpa terasa Ko Bun ikut mengalihkan sorot matanya kepada si pendeta dari Siaulim-si ini.

Dia ingin tahu bagaimana caranya pendeta ini menyelesaikan masalah tersebut.

Semua jagopun merasa kagum atas kelicikan si rajawali tua.

Semua orang bukan orang bodoh, tentu saja mereka tahu apa maksud yang sebenarnya dari perkataannya itu.

Bak-it Siangjin tetap tenang, ujarnya dengan perlahan.

"Sicu, kalau dilihat dari napsu kalian untuk memperebutkan harta karun Sam-cai-po-cong tanpa segan mengorbankan kehormatan masing-masing, kukira selain emas intan, mungkin dalam Sam-cai-po-cong terdapat pula senjata mestika atau obat mujarab yang bisa menghidupkan lagi orang mati. Tapi tahukah kalian akan asal-usul yang sebenarnya dari Sam-cai-po-cong tersebut?"

Pertanyaan ini membuat para jago sama melengak.

Semula mereka memang heran apa sebabnya orang-orang itu getol memperebutkan mestika tersebut, benda apakah yang membuat jago-jago lihai itu menjadi bernafsu untuk mendapatkannya?

Kemudian setelah mendengar nama "Sam-cai-po-cong", mereka baru tahu mestika ini menyangkut sejumlah harta karun yang sudah berusia ratusan tahun.

Meski begitu mereka tidak tahu benda apa saja yang terdapat di balik harta karun itu, apalagi asal-usulnya.

Tak heran suasana menjadi gempar setelah mendengar pertanyaan pendeta Saiu-lim itu, sebab baik soal senjata mestika, obat mujarab atau harta karun berupa emas intan, semuanya menimbulkan rangsangan bagi setiap orang yang hadir.

Mao Bun-ki yang masih muda dengan rasa ingin tahunya yang besar, kontan terbelalak matanya demi mendengar kisah tersebut.

Ia melirik sekejap ke arah Ko Bun, melihat pemuda itu asyik makan, sambil tertawa geli dia menarik ujung bajunya dan menegur lirih.

"Eh, bagus amat nafsu makanmu, masa dalam keadaan beginipun masih bisa makan?"

Berada dalam keadaan begini, kecuali Ko Bun seorang, memang tiada orang lain yang bernafsu untuk bersantap.

Kiong-sin Leng Liong memandang sekejap ke sekeliling tempat itu.

Melihat semua orang membungkam, dia lantas tergelak.

"Hahaha, pertanyaan Taysu memang sangat bagus. Kutahu serba sedikit tentang asal-usul Sam-cai-po-cong tersebut."

Leng-cao Mao Kau segera mendengus. Kiong-sin Leng Liong tidak menghiraukannya, ujarnya lebih jauh.

"Seratus tahun yang lampau, dalam dunia persilatan terdapat tiga orang cianpwe persilatan dengan nama Sam-cailian-beng (persekutuan tiga unsur) yang menguasai 'jual-beli' kalangan Lok-lim ... ."

Belum habis dia bicara, Kim-gan-lo-tiau segera menimbrung.

"Thian-ih (tabib langit), Te-sat (malaikat bumi) dan Jin-mo (manusia iblis) merajai dunia persilatan masa itu dengan kepandaian yang tinggi. Setiap jual beli yang terjadi dalam kalangan Lok-lim harus menyumbangkan tiga bagian sebagai upeti untuk mereka. Meski aku si tua bangka berpengetahuan cetek, namun kalau Cuma soal ini sedikit banyak akupun tahu."

Berbicara sampai disini, dia melirik sekejap ke arah Kiong-sin Leng Liong dengan sikap bangga. Diam-diam Mao Bun-ki tertawa geli, bisiknya kepada Ko Bun.

"Rupanya mestika tersebut peninggalan tiga gembong penyamun."

Ko Bun tidak berkata apa-apa kecuali tersenyum. Sementara itu Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui juga sedang berbisik kepada Thi-jiu-sian-wan.

"Losi, coba kau lihat Cing-hong-kiam Cu Pek-ih, mengapa duduk melulu disitu tanpa bergerak macam orang mati saja?"

Thi-jiu-sian-wan berseru tertahan, agaknya iapun merasa heran. Tapi sebelum ia bicara, Bak-it Siangjin telah berkata lagi dengan lantang.

"Sudah lama kudengar Siau-losicu berpengetahuan luas dan seorang ahli sejarah. Dan setelah berjumpa hari ini, terbukti kabar itu memang betul."

Perkataan pendeta Siau-lim-pai ini hampir saja membuat Siau Ti tertawa bangga. Baru saja dia akan bicara lagi, Bak-it Siangjin telah mendahului.

"Walaupun Thian, Te dan Jin bertiga sekutu itu mendapat upeti, namun tindakan ketiga orang Bu-lim-cianpwe ini justru telah mengurangi banyak masalah dalam dunia persilatan dan menciptakan banyak pahala. Siaulosicu, walaupun kautahu tentang soal ini, tapi apakah kau tahu mestika apa saja yang ditinggalkan ketiga orang cianpwe itu?"

Tanpa terasa para jago memasang telinga baik-baik untuk mendengar jawaban itu. Siapa tahu Siau-lo-tiau hanya bersuara "oo"

Dan tak mampu meneruskan, rupanya iapun tak tahu mestika apa saja yang ditinggalkan itu. Leng-coa Mao Kau tertawa nyaring, serunya cepat.

"Tiga puluh tahun lamanya Thian-ih, Tesat dan Jin-mo merajai dunia persilatan, kemudian entah apa sebabnya mereka sama-sama lenyap tak berbekas. Sejak itulah harta kekayaan yang berhasil dikumpulkan ketiga orang Bulim-cianpwe itu ditambah sebilah pedang pusaka milik Te-sat Siang-locianpwe, jarum Pat-to-jitsing-ciam, senjata rahasia ampuh milik Jin-mo Sugong-locianpwe serta pil-pil penyambung nyawa tinggalan Thian-ih Go-locianpwe, semua itu menjadi mestika yang diinginkan setiap umat persilatan dalam dunia Kangouw."

Setelah memandang sekejap sekitarnya dengan bangga, dia melanjutkan lagi.

"Hanya saja selama ratusan tahun ini, seperti juga ketiga orang Bu-lim-cianpwe itu, harta pusaka itu tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan. Sam-cai-po-cong pun menjadi rahasia besar. Beruntung sekali empat puluh tahun berselang pernah kudengar hal ini dari guruku, siapa tahu ..."

Sengaja dia berhenti berbicara, tentu saja ia hendak bilang tak menyangka kalau rahasia tersebut bisa terjatuh ke tangannya.

"Omitohud!"

Seru Bak-it Siangjin kemudian sambil mendongak kepala.

"tak kusangka Maosicu yang berusia muda ternyata memiliki pengetahuan yang amat luas. Hanya saja tahukah sicu mengapa ketiga orang Bu-lim-cianpwe itu bisa lenyap secara tiba-tiba dan mengapa mestika tinggalan mereka bisa lenyap pula selama ini?"

Pendeta suci Siau-lim-pai ini memang sangat sabar.

Uraiannya lamban, membuat para jago gelisah dan ingin mencengkeram leher bajunya dan memaksanya berbicara cepat dan jelas.

Tapi Bak-it Siangjin adalah seorang yang berkedudukan tinggi dalam dunia persilatan.

Meskipun sikap jual mahalnya membuat semua orang mendongkol, namun mereka hanya bisa memandangnya dengan melotot saja.

Diantara mereka, hanya Kiong-sin Leng Liong saja yang tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, soal ini, bila kumati, akan kutanyakan sendiri kepada ketiga orang cianpwe itu di neraka nanti."

Selesai berkata, kembali ia bergelak tertawa, membuat para jago lain turut tertawa geli. Bak-it Siangjin seperti tidak mengerti akan sindiran itu, kembali ia berkata perlahan.

"Sebenarnya persoalan ini merupakan rahasia besar dalam dunia persilatan. Baiklah, mau tak mau agaknya harus kuceritakan sekarang."

Setelah berhenti sebentar, dia seperti lagi menyusun kembali daya ingatannya, kemudian baru melanjutkan ceritanya.

"Meski Thian-ih, Te-sat dan Jin-mo bersekutu, namun watak mereka berbeda. Walau Thianih Go Put-ko terjun ke kalangan Lok-lim, namun ada tujuan lain. Dia cuma ingin mengatur dunia Lok-lim yang banyak pertikaian itu. Sedang Te-sat Siang Si-lik dan Jin-mo Sugong adalah gembong-gembong iblis dunia persilatan. Justru karena terpengaruh oleh budi kebaikan Thianih serta takut pada kungfunya yang lihai, maka selama sekian tahun persekutuan tiga serangkai dapat menjagoi persilatan dengan nama harum."

Setelah berhenti sejenak, lalu dia melanjutkan.

"Oleh karena itu, meski diluar Te-sat dan Jinmo amat menurut, padahal diam-diam merasa sirik terhadap Thian-ih Go-locianpwe. Akhirnya ketika Go-locianpwe tidak waspada, mereka menutuk Thian-jian-hiatnya. Hanya saja cara kerja mereka amat rahasia sehingga tiada umat persilatan yang tahu. Setelah jalan darah Thian-jian-hiat tertutuk, ilmu silat Go-locianpwe punah dan ditahan secara halus. Dalam keadaan begini, Te-sat dan Jin-mo tidak takut kepada siapa-siapa lagi. Ulah mereka makin menjadi. Dalam sedihnya Go-locianpwe lantas memutuskan untuk berbakti kepada Budha. Pada dasarnya locianpwe ini memang seorang berhati mulia. Sejak mengabdi kepada agama, lalu dengan kesabaran yang luar biasa, tiap hari dia selalu berusaha memberi khotbah dan membawa kedua saudaranya kembali ke jalan yang benar. Ternyata perjuangan tidak sia-sia. Akhirnya kedua orang gembong iblis itupun bersedia meletakkan golok pembunuh dan kembali ke jalan yang benar."

Berbicara sampai disini, pendeta agung ini berseru memuji keagungan Budha, kemudian sambil membuka matanya dia berkata lagi.

"Setelah tiga orang Bu-lim-cianpwe ini kembali ke jalan yang benar, semua harta kekayaan serta senjata mestika milik mereka ditenggelamkan ke dasar telaga. Setelah itu mereka pun berangkat ke Siau-lim-si, dimana oleh Ciangbun-cosu kami waktu itu rambut mereka dicukur dan jadilah ke tiga orang itu sebagai pendeta Siau-lim-si."

Mendengar kisah yang menyangkut rahasia dunia persilatan itu, para jago sama melongo. Setelah berhenti sebentar, kembali Bak-it Siangjin berkata lebih lanjut.

"Setelah menjadi pendeta Siau-lim-si, mereka laporkan tempat penyimpanan harta karun itu kepada Ciangbuncosu dengan harapan Ciangbun-cosu dapat menyerahkan rahasia ini kepada orang yang betulbetul berjiwa kesatria sehingga harta karun itu bisa digunakan bagi kesejahteraan orang banyak. Tapi Ciangbun-cosu kami sudah tidak mencampuri urusan duniawi lagi, itulah sebabnya peta harta karun itu dibagi menjadi tiga. Satu diberikan kepada Pek Ciong-cosu dari Bu-tong-pay, satu lagi diserahkan kepada Teng-khong Cousu dari kuil kami dan satu lagi diberikan kepada sobat karib yang paling dihormatinya waktu itu, Hai-thian-ko-yan yang amat tersohor itu."

Begitu mendengar nama terakhir ini, serentak para jago sama bersuara tertahan. Ko Bun pun mengangkat cawan air teh dan minum seteguk, dia berpaling ke arah Mao Bunki sambil bergumam.

"Adik Ki, coba lihat, fajar telah menyingsing!"

Bun-ki berpaling keluar jendela.

Betul juga, fajar telah menyingsing di langit sebelah timur.

Rupanya saking asyiknya para jago membicarakan soal mestika dunia persilatan itu sampai lupa matahari sudah hampir terbit.

Bak-it Siangjin berdehem perlahan, kemudian berkata lagi.

"Kalau menuruti keinginan Ciangbujin-cousu kami, tentu saja beliau berharap ketiga orang cianpwe itu bisa memanfaatkan harta karun itu demi kesejahteraan umat manusia. Tapi waktu itu ketiga orang cianpwe itu sudah menyerahkan diri ke dalam agama, maka peta harta karun itu turun temurun diwariskan hingga sekarang. Sedang mengenai kedua bagian peta lainnya, kurasa mungkin disebabkan tak menemukan orang yang sesuai, maka selama ratusan tahun ini harta karun tersebut tetap terpendam."

Baru sekarang semua orang mengembus napas lega. Sedikit banyak merekapun memperoleh gambaran yang sesungguhnya.

"Tapi sekarang mendadak ada berita yang mengatakan peta harta karun itu telah muncul kembali dalam dunia persilatan.

"kata Bak-it Siangjin lebih jauh.

"mendapat kabar ini, segera kuturun gunung. Sebab harta karun itu besar sekali pengaruhnya. Mendingan kalau terjatuh ke tangan orang budiman, bila diperoleh manusia berhati busuk, apakah takkan menimbulkan bencana? Itulah sebabnya tujuanku turun gunung adalah untuk mencari tahu orang yang mendapat peta itu serta duduk persoalan yang sebetulnya ..."

Dengan sorot mata setajam sembilu dia awasi sekejap wajah Mao Kau bertiga, kemudian melanjutkna.

"Jika orang mendapatkan peta harta karun itu dari Bu-tong-pai atau dari Hai-thianko-yan, tentu saja aku tak perlu kuatir. Sebaliknya jika orang itu memperoleh peta secara tidak jelas, terpaksa aku ikut bertanggung jawab."

Berbicara sampai disini, dengan sorot mata yang tajam dia awasi wajah Leng-coa Mao Kau, Kiong-sin Leng Liong dan Kim-gan-lo-tiau.

Walaupun Bak-it Siangjin tidak berbicara blak-blakan, namun setiap jago sudah paham arti kata-katanya itu, yakni menuduh Mao Kau memperoleh peta itu secara mencurigakan serta menyatakan dia tak berhak mengusik harta karun itu.

Meski tindak tanduk Kiong-sin Leng Liong antara lurus dan sesat, bagaimanapun dia terhitung seorang tokoh dunia persilatan, maka setelah mendengar perkataan paderi agung itu, rasa tak puas yang semula menghiasi wajahnya kontan lenyap.

Air muka Kim-gan-tiau Siau Ti juga berubah.

Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi.

Hanya Leng-coa Mao Kau saja tetap tenang, seakan-akan dia sudah mempunyai suatu rencana yang matang.

Senyuman licik tampak menghiasi bibirnya.

Kiong-sin Leng Liong termenung sejenak, setelah menghela napas, katanya.

"Aku si pengemis tua tak tahu di balik urusan ini terdapat banyak seluk-beluknya. Kutahu urusan ini karena muridku mendadak menerima sepucuk surat kaleng, tapi murid yang menerima peta rahasia tersebut kini sudah mati di telaga Hongtik sehingga dari mana asalnya peta rahasia itu tidak kuketahui."

Bak-it Siangjin mengalihkan sorot matanya ke wajah Cing-hong-kiam Cu Pek-ih yang selama ini membungkam.

"Cu-tayhiap!"

Tegurnya.

"jauh-jauh kau datang kemari, tentunya juga disebabkan persoalan ini bukan? Aku ingin tanya apakah peta rahasia itu berasal dari tanganmu yang kauserahkan kepada murid Kay-pang?"

Selama ini Cing-hong-kiam Cu Pek-ih cuma duduk membungkam, kecuali wajahnya agak berubah sewaktu mendengar pembicaraan Bak-it Siangjin tadi.

Keadaannya tak berbeda jauh dengan 'orang mati' seperti dikatakan Pat-bin-ling-long.

Mendadak jago pedang Bu-tong-pai ini bangkit berdiri, ia mengitari sebuah meja dan menuju ke sisi Bak-it Siangjin, kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya.

Puluhan pasang mata serentak tertuju pada kedua orang itu.

Terlihat senyuman yang sukar dicernakan artinya tersungging di ujung bibir mereka berdua.

Kemudian Cing-hong-kiam Cu Pek-ih bangkit berdiri, ia menjura ke empat penjuru dan tanpa mengucapkan sepatah katapun lantas menuju ke mulut tangga dan turun ke bawah.

Semua orang menjadi tercengang, begitu juga Mao Bun-ki.

Dengan kening berkerut ia membisiki Ko Bun.

"Aneh, apa yang terjadi? Sungguh aku tidak mengerti."

Ko Bun menggeliat sambil menguap, iapun tersenyum seperti apa yang terlihat pada wajah Bak-it Siangjin dan Cu Pek-ih, kemudian ia membisiki Mao Bun-ki.

"Persoalan yang sukar dimengerti suatu ketika pasti akan diketahui juga, buat apa gelisah?"

"Aku tak tahan ...

"seri Bun-ki sambil mencibir. Belum habis dia berkata, Bak-it Siangjin telah berbangkit dan berseru.

"Omitohud, sesuai peredaran alam semesta, hukum karma selalu berjalan. Siapa berjasa dan siapa berdosa, semuanya tercatat. Takdir telah menentukan segala-galanya. Benda yang bukan miliknya, diperebutkan juga tak ada gunanya. Semoga sicu sekalian bisa memahami ajaran Thian dan baik-baik menjaga diri."

Selesai mengucapkan kata-kata yang entah ditujukan kepada siapa, pendeta agung itu mengebas lengan bajunya dan melayang pergi.

Terhadap Sam-cai-po-cong hakikatnya tak ambil peduli lagi.

Semua jago dibikin bingung dan saling pandang tanpa berkata.

Persoalan ini ibaratnya sebuah jalan sempit pegunungan yang makin melebar, siapa tahu mendadak muncul puncak tinggi mengadang di depan, sehingga meski gelisah juga tak dapat melihat apa yang terdapat di depan sana.

Setelah kepergian kedua orang itu, Kiong-sin Leng Liong menunduk dan termangu sejenak, mendadak ia mengentak kaki dan menghela napas.

"Kita orang Kai-pang memang ditakdirkan miskin, mungkin kita tak berjodoh dengan harta karun itu.

"katanya kemudian dengan tergelak sambil memberi tanda.

"ayo, mari kita pergi. Sudah kenyang bersantap, apalagi yang perlu ditunggu disini?"

Seorang pengemis jangkung berbangkit sambil melotot ke arah Leng-coa Mao Kau, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu.

Tapi melihat ketuanya sudah memberi tanda, tanpa bicara lagi dia lantas mengikuti rekan-rekannya berlalu dari situ.

Tapi semenjak itulah hubungan Leng-coa Mao Kau dengan pihak Kai-pang menjadi renggang.

Memandangi bayangan punggung para pengemis yang menjauh, Ko Bun manggut-manggut sambil bergumam.

"Memang orang pintar, memang bijaksana!"

"Hei, apa kau bilang?"

Bun-ki berpaling dan menegur. Ko Bun tertawa, dia berpaling ke arah Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui yang duduk di sebelah sana dan berkata.

"Ingin kutanya kepada Saudara Oh, Mao-tayhiap dan Saudara Oh telah datang kemari, lantas siapa pula yang mencari harta karun di Hongtik-oh sesuai dengan apa yang tertulis dalam peta?"

Mula-mula Oh Ci-hui melenggong, kemudian katanya sambil tertawa.

"Ko-lote, memang orang pintar, memang orang pintar ..."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan dengan suara tertahan.

"Kalau kau dapat menebaknya, tak ada salahnya kuberitahukan kepadamu, orang yang pergi ke Hongtik-oh untuk mencari harta adalah Ki-jikoku. Kau memang belum pernah berjumpa dengan dia."

Tentu saja Bun-ki yang duduk di tengahpun mendengar pembicaraan mereka, serunya.

"Ah, kiranya Ki-jisiok pergi ke Hongtik-oh lebih dulu!"

Sebenarnya waktu itu Kim-gan-tiau Siau Ti sedang termenung setelah kepergian Cing-hongkiam Cu Pek-ih, Bak-it Siangjin dan Kiong-sin Leng Liong secara mendadak.

Maka begitu mendengar perkataan Mao Bun-ki, dia tersadar dari lamunannya.

Dia berhasil memahami rahasia di balik persoalan ini dan diam-diam dia memaki.

"Hari ini aku si tua betul-betul dipecundangi orang. Tak nyana aku keno dibodohi keparat she Mao itu. Dengan susah payah kuhimpun segenap kekuatan perairan dan bersiap siaga disini, tak tahunya orang lain lantas menerobos ke telaga Hongtik-oh untuk mencari harta."

Berpikir sampai disini, dia naik pitam. Mendadak ia menggebrak meja sambil bangkit berdiri dan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu dengan sorot mata tajam.

"Orang she Mao.

"bentaknya.

"Kukira kau seorang jagoan, tapi terbukti permainanmu kurang gemilang. Sekalipun kau dapat menipuku, apakah tak malu ditertawakan orang persilatan sebagai manusia rendah dan tak tahu malu? Hmm, sudah 70 tahun kuhidup di dunia ini, baru hari ini kutahu dalam dunia persilatan terdapat seorang kotor, seorang munafik dan berjiwa pencoleng!"

Diantara empat saudara angkat Leng-coa Mao Kau, hanya Thi-soan-cu (si suipoa baja) yang paling banyak tipu muslihatnya, kelicikannya jauh di atas Mao Kau sendiri.

Sejak Thi-jiu-sian-wan (monyet dewa bertangan baja) Ho Lim berhasil merampas peta rahasia Sam-cai-po-cong dari murid Kai-pang, benda tersebut segera dikirim kepada Mao Kau dengan cepat.

Sudah barang tentu harta karun yang luar biasa itu segera membangkitkan kerakusan Mao Kau untuk mendapatkannya.

Tapi iapun sadar, bila kabar ini sampai bocor, suatu badai mengerikan pasti akan terjadi dalam dunia persilatan.

Meski belakangan ini dia berkedudukan tinggi, rasanya juga sulit memperoleh harta karun itu dengan aman.

Maka si 'suipoa baja' Ki Mo segera menyusun rencana.

Mula-mula dia membocorkan rahasia itu lebih dulu agar perhatian jago persilatan tertuju pada pertemuan yang akan diselenggarakan Thi-jiu-sian-wan, sedang dia sendiri dengan membawa murid kedua dan ketiga dari Giok-kut-sucia segera berangkat ke Hongtik-oh diiringi barisan penyelam dari pasukan Thi-ki-sin-pian-tui.

Maksudnya harta karun itu hendak diangkat tanpa sepengetahuan orang lain.

Rencana ini berhasil juga mengelabui orang persilatan.

Bukan cuma Bak-it Siangjin dari Siau-lim-pai dan Kiong-sin Leng Liong saja yang tertipu.

Bahkan Hwe-gan-kim-tiau Siau Ti yang berpengalamanpun kena dikibuli siasat itu.

Tentu saja hal ini disebabkan semua orang tak menyangka dengan kedudukan Leng-coa Mao Kau ternyata dapat melakukan perbuatan rendah semacam ini.

Sekarang Sam-cai-po-cong bagaikan seekor ikan segar yang besar daya pikatnya untuk memancing kucing rakus guna melakukan perbuatan apapun.

Orang persilatan yang menilai Mao Kau sebagai seorang pendekar sejati tentu saja banyak yang terkecoh.

Sedang Mao Kau sendiri sudah barang tentu diam-diam merasa senang.

Siapa sangka intrik yang tak diketahui oleh orang itu, akhirnya berhasil dibongkar oleh seorang pelajar.

Setelah pertanyaan Ko Bun tadi, diam-diam Pat-bin-ling-long dapat menangkap apa artinya.

Tentu saja ia merasa terkejut.

Tapi demi mengambil hati Ko Bun, iapun memberitahukan persoalan ini kepadanya.

Mao Bun-ki kurang pengalaman.

Ia tak tahu urusan dan mengutarakan persoalan itu tanpa sengaja, akibatnya urusan jadi runyam.

Leng-coa Mao Kau tahu Siau Lo-tiau adalah seorang berpengalaman, tentu saja dia mengerti keadaan yang sebenarnya setelah mendengar perkataan itu.

Maka diam-diam iapun melakukan persiapan untuk menghadapi badai yang akan meledak itu.

Disamping itu, diam-diam iapun merasa lega hati karena jago-jago lihai seperti Bak-it Siangjin, Cin-hong-kiam Cu Pek-ih dan Kiong-sin Leng Liong sekalian telah pergi semua, meski kini masih hadir seorang Hwe-gan-kim-tiau, namun ia tak memandang sebelah mata terhadap orang tua tersebut.

Tapi sayang, pintar selama hidup bodoh sesaat.

Bayangkan saja, kawanan jago itu berdatangan demi peristiwa harta karun, sebelum memperoleh sesuatu keputusan, mana mungkin orang-orang itu pergi begitu saja?

Sebab itulah begitu Siau Lo-tiau menggebrak meja dan mencaci maki, sekalipun ada diantaranya belum tahu persoalan itu, akhirnyapun jadi tahu.

Hanya saja mereka adalah jago kawakan Kang-ouw, meski mengincar harta karun namun mereka tak berani memusuhi Mao-toaya.

Maka semua orang pun belagak tuli dan berpeluk tangan, seakan-akan sedang menonton pertunjukkan sandiwara di bawah panggung saja.

Mao Kau hanya tersenyum dan sengaja bersikap menghina untuk menunjukkan kedudukannya berbeda dengan yang lain, padahal dia mengandalkan begundal yang banyak jumlahnya.

Tentu saja dengan kekuatannya ia tak perlu kuatir.

Sementara dia masih duduk sambil memandang hina terhadap lawannya, mendadak "blang", seorang muncul dari belakang.

Orang ini menggunakan jubah panjang berwarna hijau.

Pedangnya tersandang di punggung.

Dia tak lain adalah Co-jiu-sin-kiam (jago pedang tangan kiri) Ting Ih.

Sambil melompat ke depan Mao Kau dia membentak.

"Orang she Siau, kami bersaudara menganggap kau sebagai seorang tua bangka, maka selama ini selalu mengalah padamu, siapa tahu kau sok belagak dan tak tahu diri. Sekarang jangan menyesal jika kami tak mau sungkan-sungkan lagi padamu."

Air muka Siau Lo-tiau berubah hebat saking gusarnya, dia mendongakkan kepala dan tertawa seram. Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing yang berada di sisinya segera berkata dengan suara dingin.

"Siau-lotaucu, bila kau tahu diri, cepatlah mencawat ekor dan merat dari sini. Bila sampai menunggu Ting-toako turun tangan, sudah pasti untuk menggelinding pergi saja tak sempat lagi."

Tadi ia kecundang di tangan si rajawali tua she Siau ini, maka kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan untuk balas mengejek lawannya.

Bagaimanapun sabar Siau Ti, akhirnya meledak juga kemarahannya.

Sekujur tubuhnya gemetar menahan emosi.

Semua orang sama menahan napas, semua tahu suatu bentrokan akan segera berlangsung.

Ko Bun berpaling ke arah Bun-ki sambil tersenyum.

Belum lagi lenyap senyumannya, suara bentakan telah menggelegar.

"Hari ini harus kuberi pelajaran kepada kalian yang tak tahu aturan."

Dalam gusarnya, si rajawali tua she Siau itu tak peduli posisinya yang terjepit lagi.

Sambil membentak segera ia menerjang dan melancarkan serangan.

Jangan kira usianya telah lanjut, ternyata ilmu silatnya sama sekali tidak lemah, begitu menerjang ke muka, segera ia menghantam Co-jiu-sin-kiam.

Co-jiu-sin-kiam tertawa dingin, ia mengegos ke samping.

Siapa tahu, Hwe-gan-kim-tiau yang termashur di air ini juga sempurna dalam permainan telapak tangan.

Serangan tadi menderu dan hanya serangan tipuan belaka.

Ketika sampai setengah jalan, mendadak tangannya ditarik ke samping dan secara tiba-tiba menebas lambung Ting-Ih.

Buru-buru Co-jiu-sin-kiam Ting Ih menarik perut dan menghindar, siapa tahu bayangan telapak tangan berkelebat lagi.

Jari tangan Siau Ti sebelah kiri menyambar tiba pula dengan cepat.

Baru sekarang Ting Ih kaget.

Ia berusaha menangkis dan menghindar, namun sekali salah langkah, segera dia didahului musuh dan terdesak di bawah angin.

Terasa olehnya pukulan Siau Lo-tiau menabas pula dari depan, belakang, kiri maupun kanan.

Sebaliknya ia sendiri sama sekali tak sempat melakukan serangan balasan.

Suasana dalam ruangan rumah makan menjadi kacau, para jago sama meninggalkan tempat duduknya dan menyingkir, terutama Ko Bun.

Dia menyingkir jauh di tepi jendela sana, seakanakan kuatir tersambar pukulan dan mengakibatkan terluka.

Sebaliknya Bun-ki meraba gagang pedangnya dan berdiri di depannya, matanya melotot, kalau bisa dia ingin menyuruh Co-jiu-sin-kiam mundur agar dirinya bisa mendemontrasikan beberapa jurus di depan kekasih ini.

Lim Ki-cing pun tersenyum licik sambil mengerling ke arah Leng-coa Mao Kau.

Tampak olehnya gembong persilatan itu sedang menyeringai.

Rupanya nafsu telah menggelora dan bertekad membunuh si rajawali tua she Siau itu.

Sebaliknya Kim-li Siau Peng berdiri tegak di pinggir arena sambil berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan, terutama yang menyangkut keselamatan ayahnya.

Dalam pada itu, Co-jiu-sin-kiam telah keteter hebat, kini dia hanya bisa berkelit dan menangkis saja.

Jelas sudah terdesak di bawah angin.

Menyaksikan ini, para jago mulai berbisik-bisik.

"Padahal Co-jiu-sin-kiam terhitung jago lihai yang ternama dalam dunia persilatan, mengapa hari ini dia begitu tak becus? Apakah namanya yang termashur selama ini hanya nama kosong belaka?"

Ada pula yang berkata begini.

"Lebih baik jangan sembarang bicara, kungfu andalan Cu-bosiang-hui mungkin belum dikeluarkan."

Semua pembicaraan itu sangat didengar oleh Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui. Dia lantas menarik Ko Bun sambil membisikinya.

"Ko-lote, kau sering mengatakan belum pernah melihat kehebatan jago persilatan. Sebentar dapat kau lihat semua. Tahukah kau diantara tujuh pedang tiga ruyung, bicara soal keganasan adalah Mao-toako kami, dan kedudukan kedua ditempati oleh Co-jiu-sin-kiam Ting-toaya."

Ko Bun tersenyum pula.

Meski dia menunjukkan sikap seperti takut urusan, namun sorot matanya memperhatikan jalannya pertarungan antara Ting Ih melawan Siau Lo-tiau.

Tampak kedua orang itu masih bergebrak, dengan sendirinya meja kursi terjungkir balik, mangkuk piringpun berantakan.

Puluhan gebrak kembali lewat.

Tiba-tiba terdengar Siau Lo-tiau tertawa seram.

Kedua telapak tangannya terentangkan, diputar dan dirapatkan kembali.

Dia hendak menggunakan Imyang-jin untuk menarik pergelangan tangan kanan Co-jiu-sin-kiam.

Tampaknya lengan kanan Ting Ih segera bisa cacat, tanpa terasa semua orang menjerit kaget.

Juga Mao Kau berubah air mukanya.

Namun Cu-bo-siang-hui Ting Ih menjagoi dunia persilatan sekian tahun bukan secara kebetulan.

Meski pergelangan tangan kanan terancam namun ia tidak gugup dalam bahaya.

Sementara Mao Kau sekalian siap memberikan pertolongan, mendadak ia mendengus, sebuah tendangan kilat segera dilontarkan ke depan.

Ting Ih termashur di wilayah Kwitang dan Kwisai.

Tendangan yang digunakan itu merupakan kungfu aliran selatan, cepat dan tepat.

Yang diancam adalah hulu hati, tempat mematikan yang harus dijaga oleh setiap orang.

Kalau Hwe-gan-kim-tiau berhasil dengan serangannya, bila dia puntir pergelangan tangan orang lebih keras, niscaya tulang pergelangan tangan Co-jiu-sian-wan akan patah.

Siapa tahu pada saat yang kritis itulah pihak lawan melancarkan tendangan kilat ke hulu hatinya.

Dalam keadaan begini, jika ia tidak batalkan ancamannya meski Ting Ih bakal dilukai, namun ia sendiripun akan celaka.

Terpaksa sambil merentangkan sepasang tangannya ia melompat mundur ke tempat semula.

Sekarang Thi-jiu-sian-wan, Pat-bin-ling-long dan Pek-poh-hui-hoa sekalian baru bisa menghembuskan napas lega.

Thi-jiu-sian-wan segera berebut maju ke depan, sambil menggulung lengan baju dan mengencangkan ikat pinggang ia berseru.

"Ting-toako, beristirahatlah lebih dulu. Biar siaute yang mewakili Ting-toako bergebrak beberapa jurus dengan dia."

Hwe-gan-kim-tiau terbahak-bahak, serunya lantang.

"Orang she Ho, silakan maju. Sekalipun kalian hendak maju kerubut akupun tak gentar!"

Air muka Co-jiu-sin-kiam Ting Ih sedingin es.

Tanpa mengucapkan sepatah kata dia angkat tangan kanan.

Belasan kancing jubah hijaunya itu seketika terlepas dan pakaian pun terbuka.

Ia lantas mengebaskan tangannya dan jubah panjang itu lantas tertanggal.

Pakaian ringkas bagian dalam berwarna hijau dengan tujuh bilah pedang pendek beronce kuning yang terselip di pinggangnya.

Hal ini membuat jantung para jago berdebar tegang.

Leng-coa Mao Kau pun menyeringai, kepada Bun-ki katanya.

"Anak Ki, Ting-toasiokmu sudah gusar. Bisa kau manfaatkan kesempatan ini untuk menyaksikan kelihaian Cu-bo-sianghui paman Ting itu. Awas jangan sampai kena sasaran pedang!"

Bun-ki mencibir sambil mengiakan, dalam hati merasa tidak puas.

Selama beberapa hari ini beruntun dia pernah merobohkan beberapa jagoan.

Jangankan Ting Ih, bahkan ayahnya sendiripun tak dipandang sebelah mata olehnya.

Ting Ih memang lihai, entah bagaimana tentang kungfu yang sesungguhnya, tapi cukup dilihat dari gerakan membuang jubahnya yang begitu cekatan terbukti dia bukan jago sembarangan.

"Orang she Siau,"

Terdengar ia berkata sambil tertawa dingin.

"Keluarkan senjatamu dan bersiaplah menghadapi kematian!"

Air muka Siau Ti maupun Siau Peng berubah menjadi amat tak sedap dipandang. Si Ikan Emas Siau Peng segera melompat ke depan ayahnya sambil berbisik.

"Ayah, biar ananda yang menghadapi dia!"

Ia kuatir ayahnya tak tahan sehingga nama baiknya selama puluhan tahun pudar, maka dia mengutarakan niatnya itu.

"Hei anak muda, mengapa terburu nafsu?"

Jengek Pek-poh-hui-hoa tiba-tiba.

"biarpun ingin cepat mampus juga tak perlu tergesa-gesa, cuma ..."

Setelah tertawa dingin, lanjutnya.

"Tua bangka she Siau, bila kau merasa tenagamu telah loyo, memang ada baiknya jika beristirahat lebih dulu."

Hwe-gan-kim-tiau adalah seorang jago kenamaan dunia persilatan, sekalipun ada golok dipalangkan di atas tengkuknyapun dia tak akan mengerutkan dahi.

Mana dia tahan menghadapi sindiran tersebut?

Tanpa bicara dia segera melolos sepasang senjatanya dari balik baju, itulah Hun-sui-go-bi-ci, semacam cundrik yang panjangnya satu kaki lebih.

Begitu Siau Lo-tiau keluarkan senjatanya, kembali para jago berseru kaget.

Mereka tahu kepandaian jagoan perairan ini sangat hebat.

Maklumlah kawanan jago itu cukup berpengalaman dan memiliki ketajaman mata yang luar biasa.

Begitu melihat senjata yang digunakan, mereka segera tahu bila tiada kepandaian yang hebat tentu tak akan berani mempergunakan senjata semacam itu.

Tapi Co-jiu-sin-kiam tetap tertawa dingin dan acuh tak acuh.

Sekali pergelangan tangan berputar, cahaya hijau segera memancar, tahu-tahu pedang yang tersandang di punggung telah dilolosnya.

Sebagai seorang kidal ia memegang pedangnya dengan tangan kiri.

Kemudian dia angkat pedang dari bawah ke atas dan diayunkan beberapa kali, lalu bentaknya.

"Lihat serangan!"

Sinar pedang berkelebat, mendadak ia menusuk hulu hati Siau Ti.

"Trang!"

Bayangan orang segera berpisah.

Rupanya ketika Ting Ih melepaskan tusukan tadi, Siau Lo-tiau segera membendung dengan sepasang senjata cundrik.

Dia gunakan senjata pendek yang enteng itu untuk menyambut serangan lawan dengan keras lawan keras.

Pedang yang dipakai Co-jiu-sin-kiam diperoleh dari gurunya dan terbuat dari baja asli, tentu saja bentrokan mana tidak mengakibatkan kerusakan apa-apa.

Sedangkan Siau Lo-tiau mengangkat cundrik kanan sebatas alis mata, sementara cundrik di tangan kiri siap di depan dada.

Ia berdiri tak bergerak.

Bagaikan dua ekor ayam jago yang siap bertarung, kedua pihak saling melotot.

Mendadak Co-jiu-sin-kiam Ting Ih menggeser ke samping.

Cahaya pedang di tangan kiri berputar membentuk sekuntum bunga cahaya, kemudian pedangnya berputar pula menusuk ke depan.

Sret, sret ...

beruntun ia lancarkan dua kali serangan kilat.

Hwe-gan-kim-tiau membentak gusar.

Dengan cundrik kanan ia tangkis pedang lawan, cundrik kiri menyerang jalan darah Seng-hiang-hiat di muka lawan dengan jurus Cing-liong-jutin (naga hijau muncul dari mega).

Sebagai jago berpengalaman puluhan tahun, Co-jiu-sin-kiam tidak gampang terkecoh.

Dengan gerakan lincah dia berputar.

Pedang balas menyerang dengan jurus To-coan-im-yang (memutar balikkan im dan yang).

Pedangnya merendah lalu menyambar ke atas, dengan cepat menyambar perut musuh.

Ilmu pedang tangan kiri selalu bergerak terbalik dan jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Si Ikan Emas Siau Peng terbelalak lebar, telapak tangan basah oleh keringat dingin.

Dia sangat menguatirkan keselamatan ayahnya.

Siau Ti pantang menyerah.

Dengan taktik menangkis, menjebat dan menusuk, kedua cundrik menyambar kian kemari secara gencar.

Kakek yang sudah lanjut usia ini ternyata berani menyerempet bahaya dengan mengandalkan sepasang senjatanya yang pendek.

Perawakan tubuhnya yang tinggi besar berputar kian kemari mengitari ruangan rumah makan yang sempit ini.

Jenggot yang putih berkibar, namun langkahnya sama sekali tidak bersuara.

Cahaya tajam menyilaukan mata memenuhi ruangan, namun suasana justru hening.

Mendadak Hwe-gan-kim-tiau melejit dengan gaya Koai-bong-huan-siu (ular aneh membalik badan), lalu sepasang cundriknya disertai desing angin tajam menusuk dari kiri dan kanan.

Co-jiu-sin-kiam tertawa dingin, pedangnya berputar membabat pergelangan tangan kiri Siau Lo-tiau, lalu dengan jurus Siu-sa-lan-huan (kebaskan baju berulang kali), menyusul pedang menusuk pula ke muka, satu jurus dua gerakan.

Siau Lo-tiau mengegos ke samping, cundrik di tangan kiri membentur senjata lawan dengan cepat.

"Trang!"

Sekali lagi terjadi benturan nyaring.

Co-jiu-sin-kiam segera menggeser dengan gaya Hi-gwat-liong-bun (ikan melompati pintu naga), cahaya pedang berkelebat lewat secepat kilat dan menusuk jalan darah Lip-cu-hiat di sisi telinga Siau Ti.

Dalam dua kali bentrokan kekerasan yang terjadi, Hwe-gan-kim-tiau sudah mengetahui tenaga lawan tidak melebihi dirinya.

Sebagai jago yang banyak pengalaman tempur, begitu menemukan titik kelemahan lawan, tentu saja ia tidak melepaskannya dengan begitu saja.

Sambil mundur selangkah, dengan jurus Heng-ka-kim-liang (tiang emas malang melintang), kedua cundrik sekaligus menusuk ke depan, maksudnya hendak mengunci gerak pedang Ting Ih.

Siapa tahu, ketika serangan pedang Co-jiu-sin-kiam mencapai setengah jalan, tiba-tiba serangan ditarik kembali, badan bergerak mengikuti gerak pedang dan mundur.

Dengan cepat tangan kanan meraba pinggang, menyusul ayunan tangannya menghamburkan cahaya hijau.

Buru-buru Hwe-gan-kim-tiau menghentikan geraknya, sementara itu cahaya tajam berkilau secepat kilat menyerang tiba.

Cepat kedua cundriknya menangkis.

"Sret, sret!"

Mendadak terdengar desing tajam menyambar tiba menyergap kedua matanya.

Dalam kejutnya buru-buru dia menjatuhkan diri ke belakang, jenggotnya berkibar terembus angin, badannya yang tinggi besarpun rebah ke belakang dengan gaya jembatan gantung.

Kawanan jago sama terbelalak.

Tiba-tiba ada yang berteriak tertahan.

"Cu-bo-sing-hui ! ..."

Senjata andalan tokoh selatan ini betul-betul luar biasa, dimana cahaya tajam menyambar, ketiga bilah pedang kecil juga disambitkan.

Waktu Siau Lo-tiau menjatuhkan diri ke belakang itulah, segera Co-jiu-sin-kiam menubruk maju.

Pedang di tangan kiri langsung membabat kaki Siau Lo-tiau yang memantek di tanah seperti batu karang itu, sementara tangan kanan tetap siap menarik pedang kecil yang terselip di pinggangnya.

Terkesiap para jgao menyaksikan kejadian itu.

Mereka tahu walaupun Siau Lo-tiau dapat meloloskan diri dari serangan Bo-kiam (pedang induk) yang berada di tangan kirinya, jangan harap dapat lolos dari serangan "Cu-kiam" (pedang anak) yang siap dihamburkan lagi dengan tangan kanan.

Cu-bo-siang-hui (pedang terbang induk dan anak) memang merupakan kepandaian andalan Co-jiu-sin-kiam Ting Ih.

Tampaknya Hwe-gan-kim-tiau Siau Ti segera akan tewas di ujung senjata Cu-bo-siang-hui nya.

Pada detik krisis yang menentukan mati hidup seorang ini, mimik wajah yang diperlihatkan setiap orang berbeda satu sama lain.

Ini menunjukkan apa yang dibayangkan masing-masing orangpun berbeda-beda.

Leng-coa Mao Kau menyeringai, Pek-poh-hui-hoa berseri, Thi-jiu-sian-wan berkilat matanya, Pat-bin-ling-long melongo lebar, sedang Mao Bun-ki berpikir dalam hati.

"Jurus serangan ini tidak seberapa hebat, coba menghadapi diriku, pasti dia akan mati kutu!"

Bagaimana dengan Ko Bun?

Ia tetap tersenyum, hanya sekali ini senyum yang sukar dilukiskan itu seakan-akan lantaran merasa kasihan, maka senyuman itu menjadi lebih berperasaan.

Kedua mata si Ikan Emas Siau Peng merah membara, sambil membentak ia menerjang maju.

Terasa angin tajam mendesir di depan, ternyata tiga bilah pedang kecil tadi menyambar lewat di depannya dengan membawa sisa kekuatan yang cukup keras.

"Cret. Cret, cret!"

Ketiga bilah pedang kecil itu menancap di atas tiang besar ruangan makan itu.

Hanya gagang pedang spanjang tiga inci dengan ronce kuning yang bergetar tiada hentinya.

Untuk diceritakan agak lambat, namun kejadian berlangsung terlalu cepat.

Baru saja Hwegan-kim-tiau berpaling, cahaya hijau telah menyambar pula ke tubuhnya.

Baru saja dia menghela napas dengan perasaan sedih, siapa tahu cahaya hijau yang sebenarnya sudah hampir membacok tubuhnya itu tahu-tahu menyambar balik kesana.

Baru saja ia tenangkan diri, terdengar 'cret' pula, sebatang senjata rahasia telah menancap di atas dinding ruangan.

Peristiwa yang terjadi mendadak ini kontan saja membuat suasana dalam ruangan menjadi gempar pula.

Rupanya sewaktu Co-jiu-sin-kiam mengayunkan pedangnya sambil tertawa dingin tadi, mendadak dari sisi tubuhnya menyambar datang desing angin tajam.

Dia segera sadar ada senjata rahasia sedang mengancam iganya.

Sebagai seorang tokoh silat lihai, meski berada dalam keadaan begini, kewaspadaannya tetap tinggi.

Setiap saat ia selalu berjaga terhadap datangnya ancaman.

Tentu saja menyelamatkan diri lebih utama daripada melukai musuh, apalagi dari desing angin serangan tersebut dia menyadari betapa dahsyatnya.

Bila dia melanjutkan bacokannya terhadap Siau Ti, niscaya iganya akan berlubang lebih dulu.

Terpaksa ia menarik kembali serangannya sambil membalikkan badan dan berkelit ke samping.

Tampak sekilas cahaya emas menyambar lewat di depan tubuhnya dengan cepat luar biasa.

Sebagai seorang ahli senjata rahasia tak urung hatinya terkesiap juga oleh kecepatan serangan tersebut.

Dalam kejutnya dia celingukan ke sekeliling arena dengan sorot mata tajam.

Terlihat olehnya Leng-coa Mao Kau sekalian memperlihatkan wajah keheranan, kawanan jago sama berseru kaget.

Ia coba menakar arah datangnya cahaya emas, jelas datang dari luar jendela.

Sementara itu Leng-coa Mao Kau dengan cepat telah membalik tubuh dan melongok ke luar jendela.

Angin berembus sepoi di luar, namun tak ada bayangan apapun.

Keadaan di bawah lotengpun sunyi senyap tiada suara, kawanan lelaki berbaju emas yang semula berjaga disitu kini tertidur di bawah emper rumah karena mengantuk.

Fajar telah menyingsing dan menyinari sederetan bangunan rumah di seberang jalan, tapi disitupun tak tampak ada orang kecuali cahaya matahari pagi yang keemasan.

Sekalipun banyak akalnya, tak urung berubah juga air muka gembong persilatan ini, bentaknya.

"Losi, cepat keluar dan periksa dengan seksama!"

Thi-jiu-sian-wan segera mengiakan dan menerobos keluar jendela.

Sebaliknya Leng-coa Mao Kau melompat kesana dan mencabut senjata rahasia yang menancap di dinding itu.

Ternyata benda itu adalah sebilah pedang kecil berwarna emas.

Suasana dalam ruangan kembali gempar, perhatian semua orang tadi hanya tertuju pada pedang Ting Ih.

Siapapun tidak memperhatikan dari mana datangnya senjata rahasia ini.

Bahkan Leng-coa Mao Kau sendiripun menganggap senjata rahasia ini berasal dari luar jendela, tapi ketika dia berpaling, di luar jendela sudah tiada bayangan orang lagi.

Dengan kening berkerut Leng-coa Mao Kau mempermainkan pedang kecil berwarna emas yang belakangan ini banyak menimbulkan kesulitan baginya ini.

Dalam pada itu, Co-jiu-sin-kiam Ting Ih juga telah meninggalkan Hwe-gan-kim-tiau dan mendekati Mao Kau.

Setelah memperhatikan pedang kecil berwarna emas itu sekejap, serunya.

"Lagi-lagi dia?"

Mao Kau mengangguk.

Sorot matanya yang serupa mata elang memperhatikan orang yang berdiri di tepi jendela.

Mula-mula yang dilihatnya adalah Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui.

Waktu itu dia berdiri disana sambil sebentar melongok keluar jendela, sebentar lagi memandang pedang emas.

Disamping Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui adalah putri Mao Kau sendiri.

Iapun sedang melongok keluar jendela, sedang di samping putrinya adalah kongcu kaya yang royal itu.

Lebih kesana adalah tempat dimana ia berdiri tadi.

Pelbagai ingatan segera berputar dalam benak tokoh Lok-lim ini, pikirnya.

"Pedang emas ini meluncur masuk lewat sebelah kiriku. Jika bukan meluncur masuk dari luar jendela berarti dilepaskan orang yang berada di sebelah kiri ... ."

Sorot matanya kembali mengawasi orang-orang itu dengan seksama. Alisnya berkernyit, kemudian pikirnya lagi.

"Oh-losam dan anak Ki tentu saja tak akan berbuat demikian. Satusatunya kemungkinan adalah bocah she Ko itu. Hmm, dia bilang tak mengerti ilmu silat, tapi aku tidak percaya, tapi ... jika dibilang dia Kim-kiam-hiap, hal inipun mustahil ....Jika demikian, berarti pedang emas itu berasal dari luar jendela. Tapi inipun tak mungkin?"

Pikir punya pikir, ia merasa di balik persoalan ini pasti ada hal-hal yang tidak beres.

Akhirnya dengan kening berkerut, jago Lok-lim ini segera mendekati Ko Bun dan menepuk tubuhnya.

Ia sengaja hendak mencoba kemampuan anak muda itu, maka tepukan mana secara diamdiam disertai tenaga yang cukup kuat.

Kebetulan Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui sedang berpaling, melihat apa yang terjadi ia terperanjat, teriaknya.

"Toako, apa yang kaulakukan?"

Leng-coa Mao Kau berpikir cepat, sambil tertawa ia tarik kembali tenaganya. Ia tepuk perlahan bahu Ko Bun, pikirnya.

"Tampaknya Ko Bun dan Oh-samte sudah berkenalan lama. Rasanya tak mungkin dia adalah orang kucurigai?"

Kebetulan Ko Bun juga berpaling, kedua orang beradu pandang. Leng-coa Mao Kau bertanya dengan tertawa.

"Ko-lote, barusan kau berdiri disini, apakah kau rasakan sesuatu yang tak beres dari belakangmu?"

Ko Bun tersenyum dan menggeleng. Bun-ki lantas menimbrung.

"Ayah, kau ini terlalu. Masa kau tanyakan soal ini kepadanya. Dia kan seorang kutu buku, sekalipun ada orang hendak membacoknya dari belakangpun tak akan diketahuinya."

Mao Kau tersenyum, memperhatikan lagi wajah Ko Bun beberapa saat, dia berpaling ke arah lain.

Waktu itu Siau Lo-tiau berdiri di sisi anaknya sambil berbicara dengan suara lirih.

Mendadak terdengar angin berembus di luar jendela, cepat Mao Kau berpaling, ternyata yang datang adalah Thi-jiu-sian-wan Ho Lim.

Sambil menggelengkan kepala Ho Lim berkata.

"Tak ada bayangan manusia yang nampak di luar. Sudah kutanyakan hal ini kepada penjaga di luar, tak seorangpun melihat apa-apa. Kukira kejadian ini agak aneh, memangnya Kim-kiam-hiap bisa menghilang?"

Leng-coa Mao Kau mendengus.

"Hmm, tampaknya anak buahmu makin lama makin tak becus. Kalau tak ada urusan masih mendingan. Begitu terjadi peristiwa, segera terasa orangorang yang kita pelihara selama ini sesungguhnya cuma sekumpulan manusia tukang gegares belaka. Sama sekali tak berguna."

Jelas maksudnya, Kim-kiam-hiap bukannya bisa terbang melainkan orang-orang di luar kelewat tak becus sehingga tidak melihat kehadirannya.

Merah padam wajah Thi-jiu-sian-wan, sahutnya kemudian dengan cepat.

"Perkataan Toako memang benar. Orang-orang itu sudah biasa malas, selanjutnya siaute pasti akan mendidik mereka lebih berdisiplin."

Sekali lagi Leng-coa Mao Kau mendengus, kemudian membalik badan dan perlahan menghampiri Siau Peng.

Co-jiu-sin-kiam segera mengiring di sisinya.

Thi-jiu-sian-wan lantas memberi tanda kepada anak buahnya, kemudian mengikuti pula di belakang Mao Kau berdua.

Bergidik hati para jago menyaksikan itu, mereka menduga keadaan Siau Ti berdua amat bahaya, lebih banyak celaka daripada selamat.

Hwe-gan-kim-tiau berdua bukan orang bodoh.

Sudah barang tentu mereka menyadari posisi mereka yang terjepit waktu itu.

Tapi dengan kedudukan mereka dalam dunia persilatan, mustahil melarikan diri begitu saja.

Mendadak Hwe-gan-kim-tiau tertawa terbahak-bahak, lalu bentaknya.

"Orang she Mao, ada urusan apa kau kemari? Memangnya kau berani berbuat sesuatu terhadap ku?"

Dengan perkataannya ini, jelas terlihat dia merasa jeri terhadap lawannya. Co-jiu-sin-kiam Ting Ih mendengus, katanya dengan angkuh.

"Orang she Siau, pentanglah matamu lebar-lebar dan lihatlah sendiri, apakah hari ini kau dapat meninggalkan ruang ini dengan hidup? Apakah kau masih mengharapkan bantuan Kim-kiam-hiap si keparat itu?"

Meledak hawa amarah Kim-li Siau Peng, segera ia membentak,"

Kalian hendak main kerubut terhadap kami? Apakah kau kira dunia persilatan sudah tiada keadilan lagi?"

Ia lantas menjura kepada kawanan jago yang hadir dan berkata lagi.

"Sobat sekalian, hendaknya kalian tampil sebagai saksi. Bila bertarung satu lawan satu, sekalipun aku Siau Peng akan mati juga tak menyesal, tapi kalau main kerubut, aku ... aku ... ."

Mendadak ia mengentak kaki dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Leng-coa Mao Kau mendongak dan tertawa latah.

"Hahaha, bagus, bagus sekali!"

Serunya.

"Satu lawan satu, matipun tak menyesal. Bagus, bagus!"

Sambil menggulung lengan baju ia berkata lebih lanjut dengan suara dingin.

"Kalau begitu, silakan kemari. Aku Mao-toaya akan menemanimu bermain beberapa gebrakan. Asal mampu bertahan lima puluh gebrakan ku, dengan hormat aku orang she Mao akan mengantarmu pergi, tentunya ini cukup adil."

"Orang she Mao,"

Bentak Hwe-gan-kim-tiau dengan suara keras.

"kalau ingin menantang, jangan menantang kaum muda. Bila kau memang jagoan, sebulan kemudian di tempat lain boleh kita menentukan siapa lebih unggul. Sekarang kau tipu kami berdua untuk datang kemari dengan akal busuk kinipun ingin mengandalkan jumlah banyak untuk mencari kemenangan. Wahai Mao Kau, apakah kau tidak takut pada karma? Apakah kau tidak kuatir akan pembalasan?"

Si ular sakti Mao Kau menyeringai seram.

"Tua bangka she Siau,"

Jengeknya.

"sekalipun lidahmu bicara sampai keringpun jangan harap akan hidup. Keadilan macam apakah yang kau bicarakan di depanku? Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku orang she Mao inilah keadilan."

"Bagus, bagus sekali!"

Seru Hwe-gan-kim-tiau sambil menggertak gigi dan menahan gusar.

"bila aku si tua bisa mati hingga semua kawan persilatan mengenali wajah sebenarnya dari manusia munafik macam dirimu ini, sekalipun mati aku tidak menyesal."

Kakek yang sudah berambut putih ini berseru dengan sedih, kemudian sambil merentangkan senjata cundrik membentak pula.

"Nah, maju saja semua. Hari ini biar kuadu jiwa dengan manusia laknat seperti kalian itu!"

Co-jiu-sin-kiam tertawa dingin tiada hentinya.

"Huh, untuk memberi pelajaran kepada tua bangka celaka macam kau, masa mesti menyuruh orang lain?"

Jengeknya.

Dia lantas mempersiapkan pedangnya dan hendak turun tangan.

Mendadak terdengar suara langkah kaki bergema dari mulut loteng.

Lalu tampak dua orang berlari ke atas dengan napas tersengal dan wajah pucat.

Kedua orang itu mengenakan baju berwarna emas, tapi mungkin lantaran menempuh perjalanan jauh baju emas mereka sudah penuh lumpur.

Sebenarnya kedua orang ini berwajah tampan, namun wajahnya kini penuh debu, matanya buram tak bersinar, seperti sudah sekian malam tak tidur, lemah nan lesu, keadaannya mengenaskan sekali.

Begitu sampai di atas loteng, mereka celingukan kesana kemari.

Begitu melihat Mao Kau, buru-buru mereka lari ke depannya dan menjatuhkan diri berlutut.

Air muka Mao Kau berubah, serunya cepat.

"Tang-san, In-tay, cepat bangun! Apa yang terjadi? Dimana Ki-jisiok? Mana Lam-siong? Ai, mengapa kalian masih berlutut, cepat bangun dan bicara!"

Leng-coa Mao Kau seorang yang cerdas, saat ini selain ucapannya gugup, wajahpun hijau kelam.

Air muka Pat-bin-ling-long pun berubah seketika.

Segera ia ambil dua cawan arak dan diangsurkan kepada kedua pemuda berbaju emas itu seraya berkata.

"Minumlah dan beristirahat dulu!"

Lalu ia berpaling ke arah Mao Kau, ujarnya.

"Toako, jangan gelisah. Ki-jiko tak mungkin tertimpa musibah."

Meski dia berkata demikian, padahal hati sendiri juga gugup.

Dia tak tahu peristiwa apa yang telah terjadi?

Agaknya Ko Bun tak tertarik menyaksikan sandiwara itu.

Dia menguap panjang dan mendekap di meja seperti ingin tidur.

Bun-ki yang berada di sisinya segera berbisik.

"Ya, kau boleh istirahat sebentar. Jika kami akan pergi nanti akan kubangunkan dirimu."

Ko Bun mendekap di meja seakan-akan betul sudah tertidur.

Sementara itu kedua pemuda berbaju emas tadi telah menenggak arak dan siap berbicara.

Mendadak Mao kau berkerut kening, lalu berkata kepada Ho Lim.

"Losi, kau benar-benar kebangetan, masa menahan teman sebanyak ini semalaman disini? Cepat persilakan mereka pergi beristirahat."

Seraya berkata, dia lantas menjura ke empat penjuru sambil menambahkan.

"Sobat sekalian, silakan! Bila pelayanan Mao Kau kurang sempurna, lain hari pasti akan kulayani kalian terlebih baik."

Semua orang tahu tuan rumah telah mengusir tamu secara halus, maka setelah saling pandang sekejap merekapun mengucapkan kata-kata merendah dan berlalu dari situ.

Mendadak Co-jiu-sin-kiam mengadang jalan pergi Hwe-gan-kim-tiau dan anaknya.

Dengan pedang tersilang di depan dada katanya dingin.

"Orang she Siau, bagimu belum tiba waktunya untuk pergi."

Siau Lo-tiau tertawa seram.

"Hahaha, kau suruh aku pergi saja belum tentu aku mau pergi. Aku ingin turut mendengarkan cerita tentang kalian dipecundangi orang."

Dia sengaja mengucapkan perkataan itu dengan suara nyaring dengan harapan para jago lain mendengarnya.

Padahal sekalipun dia tidak berkata demikian, hati semua orang juga sudah mengerti bahwa Ki Mo yang diam-diam pergi mengambil harta karun itu telah dipecundangi orang, bahkan nyawapun sukar dipertahankan.

Hanya saja semua orang belagak bodoh dan tak mau mengutarakannya.

Kedua pemuda berbaju warna emas tadi tak lain adalah dua diantara enam belas murid Leng-coa Mao Kau yang turut Thi-soan-cu Ki Mo pergi mengambil harta karun, yakni Tui-insucia (duta pengejar awan) Utti Tang-san dan Siu-Kiam-sucia (duta pedang sakti) Bwe In-tay.

Tak heran kalau Mao Kau terperanjat melihat kemunculan kedua orang ini dalam keadaan mengenaskan, bahkan terhadap sindiran Hwe-gan-kim-tiau pun tidak dihiraukan lagi.

Begitu para jago turun loteng, dengan cemas dia lantas bertanya.

"Apa yang telah menimpa Ki-jisiokmu? Apakah tugas yang dibebankan kepada kalian sudah beres? Cepat ceritakan!"

Setelah minum arak dan menenangkan hati, Sin-kiam-sucia baru bangkit berdiri dan menjawab dengan gelisah.

"Setibanya di pintu air yang memisahkan danau Hongtik dengan Koyu-oh, kami mulai melakukan pencarian seperti apa yang tertera pada peta. Diantara kami, Utti suheng dua bersaudara memiliki ilmu menyelam yang paling lihai, maka Ki-jisiokpun menyuruh mereka terjun ke dalam danau untuk melakukan pencarian."

Leng-coa Mao Kau mengalihkan sorot matanya ke wajah orang yang lain, yaitu Utti Tangsan. Pemuda Utti Tang-san menghela napas, lalu berkata dengan sedih.

"Tecu dan adik Lamsiong turun ke dalam air. Betul juga di dasar telaga dekat pantai kami temui tanda seperti yang tercantum dalam peta. Tentu saja kami gembira. Setelah berganti napas kamipun menuju ke arah tanda tersebut dan menemukan perahu yang tenggelam. Tecu segera mengikat perahu itu. Lalu bersama Ki-jisiok dan Bwe sute menariknya. Betul juga di bawah perahu tampak sepotong lempengan besi berkarat."

Waktu itu, bukan hanya Mao Kau saja yang memperhatikan cerita Tui-in-sucia, yang lainpun dengan mata terbelalak dan wajah kuatir asyik mendengarkan. Tiba-tiba terdengar Hwe-gan-kim-tiau memaki.

"Keparat, masa para penjaga disana mampus semua?"

Utti Tiang-san meliriknya sekejap, kemudian melanjutkan.

"Melihat lempengan besi itu tentu saja tecu berdua amat girang. Kami segera naik ke permukaan air untuk berganti napas dan memberi laporan kepada Ki-jisiok. Siapa tahu pada saat itulah mendadak terjadi hujan panah. Tecu sekalian segera tahu jejak kami ketahuan kawan dari benteng perairan."

Siau Lo-tiau segera mendengus pula. Utti Tiang-san kembali melirik sekejap ke arahnya, kemudian melanjutkan dengan suara dingin.

"Siapa tahu kawanan keroco perairan sama sekali tak becus, dalam sekejap saja mereka sudah dibikin keok semua."

Berbicara sampai disini, kembali ia melirik sekejap ke arah Siau Ti yang air mukanya berubah berulang kali karena gusar, lalu sambungnya.

"Setelah itu tecu sekalian menyelam lagi dan menggeser papan besi itu. Di bawah papan besi terdapat sebuah liang besar dan di dalam liang benar-benar terdapat puluhan buah peti.."

Baru saja ia berhenti sebentar, Mao Kau lantas menimbrung dengan tak sabar.

"Cepat lanjutkan!"

"Tecu girang setengah mati, serta merta semua peti itu kami angkat ke darat. Adik Lam-siong tak tahan dan segera membuka peti tersebut untuk mengetahui apa isinya."

Sewaktu bicara sampai disini, Leng-coa Mao Kau segera mendengus sebagai tanda tidak senang. Utti Tang-san menarik napas beberapa kali, rasa sedih menyelimuti wajahnya. Bwe In-tay segera menyambung.

"Ki-jisiok berpikir sebentar untuk mempertimbangkan keinginan Saudara Lam-siong dan kemudian mengabulkan. Semua peti itu sudah berkarat. Utti jiko harus membantingnya beberapa kali sebelum peti berhasil dibuka. Siapa tahu, begitu peti terbuka, menyambarlah panah kecil yang berhamburan. Dalam keadaan tidak siap, Utti-jiko tersambar tujuh batang panah dan tembus sampai ke dalam tulang, tak sempat mengucapkan sepatah katapun dia ... dia menghembuskan napas penghabisan."

Semua orang terkesiap. Utti Tang-san menunduk sedih mengenang nasib adiknya yang malang itu, sedang Bwe In-tay berkata lagi setelah menghela napas panjang.

"Siapa tahu setelah peti itu dibuka, isinya cuma setumpuk batu karang. Tecu sekalian merasa sedih, terkejut dan marah. Beruntun Ki-jisiok membongkar pula belasan peti yang lain, ternyata setiap peti dilengkapi alat pembidik rahasia dan berisikan bongkahan batu karang belaka."

Bicara sampai disini, air muka Leng-coa Mao Kau sekalian segera berubah hebat.

Sedangkan Hwe-gan-kim-tiau bergelak tertawa, namun semua orang sedang kaget, gusar, kecewa dan berpikiran kalut.

Tak seorangpun menggubris suara tertawanya.

Terdengar Sin-kiam-sucia Bwe In-tay melanjutkan ceritanya.

"Peristiwa ini membuat tecu sekalian bertambah kaget. Ki-jisiok lantas memeriksa peralatan rahasia dalam peti itu dengan seksama, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi tak sedap dipandang. Ia menghela napas berulang kali, lalu memberitahukan kepada tecu sekalian bahwa sistem pemasangan alat pembidik panah dalam peti itu ternyata mirip sekali dengan cara yang dipergunakan Seng-jiususeng, seorang tokoh sakti dunia persilatan pada puluhan tahun yang lalu."

Mendengar nama "Seng-jiu-suseng"

Atau si pelajar bertangan sakti, semua orang tambah terkejut.

Rupanya Seng-jiu-suseng Tan Tok-siu selain lihai dalam ilmu silat juga mahir dalam ilmu alat perangkap.

Hanya saja semenjak puluhan tahun lalu jejaknya mendadak lenyap dan tak terdengar apakah dia mempunyai ahli waris.

Walaupun semua orang merasa terkejut dan sangsi, tapi merekapun tahu si suipoa baja Ki Mo adalah seorang jago Kangouw kawakan.

Sudah barang tentu pandangannya tidak keliru.

"Bagaimana mungkin tua bangka itu bisa muncul kembali dalam dunia persilatan? Cepat teruskan!"

Banyak kejadian di dunia ini tampaknya seperti tak berhubungan satu sama lain dan tak masuk di akal, padahal semua ini disebabkan kebodohan manusianya sendiri yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Tokoh macam apakah Seng-jiu-suseng itu ?

Kenapa usaha Mao Kau mencuri harta karun gagal dan berantakan ?

Sesungguhnya siapa Kim kiam-hiap atau si pendekar pedang emas ?

-Bacalah

Jilid ke 7 -

Jilid 07 Seperti sekarang, semua orang merasa kaget bercampur tercengang oleh peristiwa tersebut.

Tapi jika mereka tahu Seng-jiu-suseng pernah berada bersama satu pulau dengan Hay-thianko-yan dan Hay-thian-ko-yan pun memiliki selembar peta rahasia Sam-cai-po-cong, ditambah lagi hubungan antara satu masalah dengan masalah yang lain, maka kejadian yang misterius itu takkan misterius lagi.

Bwe In-tay mengembus napas, lalu melanjutkan.

"Ki-jisiok berkata pula, menurut penilaiannya ketika itu, sudah pasti harta karun itu telah diambil oleh Seng-jiu-suseng atau muridnya. Mendengar itu tecu sekalian merasa mendongkol bercampur gusar, apalagi menyaksikan kematian Utti-jiko yang mengenaskan. Kami merasa sedih. Siapa tahu bencana tidak berjalan sendirian. Baru saja Ki-jisiok berkata begitu kepada kami, mendadak tecu sekalian melihat dari belakang beliau telah bertambah lagi dengan sesosok bayangan orang."

Wajah Bwe In-tay mengejang, ia masih ngeri bila teringat keadaan waktu itu, lalu ia melanjutkan.

"Waktu itu langit gelap, angin berembus kencang, bayangan hitam seperti setan itu justru berdiri di belakang Ki-jisiok. Sebaliknya Ki-jisiok tetap berbicara tanpa merasakannya."

Mao Bun-ki meremas telapak tangan sendiri yang telah basah oleh keringat dingin.

Tiba-tiba hatinya tergerak, ia teringat pada bayangan hitam yang pernah bergebrak dengan dia tempo hari.

Tapi mungkinkah si baju hitam itu adalah orang berbaju hitam yang berdiri di belakang Ki Mo?

Untuk ini Bun-ki tak berani memastikannya.

Dilihatnya air muka semua orang sama cemas dan gugup.

Lebih-lebih Bwe In-tay.

Berulangulang ia mengusap keringat dingin yang telah membasahi seluruh tubuhnya.

Sekuatnya ia masih bertutur pula.

"Kemudian, waktu Ki-jisiok melihat air muka tecu sekalian sama berubah, baru beliau berpaling. Tecu sekalian hanya melihat orang berbaju hitam itu tertawa dingin, kedua tangannya segera diayun ke depan. Beberapa titik cahaya emas segera terpancar. Waktu itu tecu dan Utti-toako berdiri di belakang peti, buru-buru kami bersembunyi, tapi ..."

Bercerita sampai disitu, suaranya berubah menjadi gemetar, peluh dinginpun bercucuran pula. Dia menyeka keringat dengan ujung bajunya, lalu melanjutkan ceritanya.

"Tapi ketika tecu berdua bangkit kembali, kelima orang Saudara dari Sin-pian-tui yang berangkat bersama tecu telah menjerit ngeri dan roboh ke tanah. Di atas dada masing-masing menancap sebatang senjata rahasia berwarna emas. Ki-jisiok yang berdiri disitu juga sempoyongan dan lantas roboh. Sebaliknya manusia berbaju hitam macam sukma gentayangan itu lenyap tak berbekas."

"Waktu tecu dan Utti-suko memberanikan diri menengok keluar, ternyata di atas dada para Saudara pasukan Sin-pian-tui sama tertancap sebilah pedang kecil berwarna emas. Di atas dada Ki-jisiok sendiri meski menancap pula sebilah pedang, namun batok kepalanya sudah hancur terkena pukulan."

"Tecu sekalian melihat pula kedua peti yang mengadang di depan itu telah berlubang, padahal peti itu terbuat dari lempengan baja yang tebal, di alasnya menancap dua bilah pedang emas yang menembus ke tutup peti yang lain. Kekuatan sedahsyat ini, jangankan melihatnya, mendengarnyapun belum pernah. Tapi nyatanya orang berbaju hitam itu sanggup melepaskan sepuluh macam senjata rahasia dengan kekuatan yang hampir sama, pada ... pada hakikatnya hal ini sungguh ... sungguh sangat mengerikan!"

Bicara sampai disini, dia lantas jatuh terduduk di tanah.

Meski lantai kotor oleh sayur dan arak yang berceceran hingga mengotori jubah panjangnya, namun dia seperti tidak merasakannya.

Mereka yang mendengarkan kisah tersebut juga sama merasakan anggota badan menjadi lemas.

Hanya Leng-coa Mao Kau meski air muka turut berubah, namun dia masih berdiri tegak.

Mendadak ia melemparkan pedang emas yang dipegangnya ke depan Sin-kiam-sucia Bwe Intay, kemudian bertanya dengan suara berat.

"Samakah pedang emas yang kalian lihat di tepi danau itu dengan pedang emas ini?"

Kemudian sambil melototi Bwe In-tay kembali dia menghardik.

"Mengapa duduk melulu di lantai? Ayo berdiri! Tak kusangka baru satu urusan saja kalian sudah tak becus!"

Air muka Bwe In-tay berubah menjadi hijau pucat.

Cepat ia memungut pedang emas itu, lalu mengeluarkan pula sebilah pedang emas dari sakunya dan dibandingkan satu sama lain, lalu diserahkan kepada Mao Kau dan berkata.

"Pedang emas ini tecu cabut dari dada anggota Sinpian-tui yang tewas, keduanya persis sama."

Mao Kau mendengus.

Diterimanya kedua pedang kecil itu dan diperhatikan sekejap, lalu dengan kening berkerut ia termenung berapa saat lamanya.

Suasana dalam rumah makan itu menjadi sunyi senyap, yang terdengar hanya suara napas.

Mao Bun-ki melirik sekejap Ko Bun yang tertidur di meja, lalu dia menghampiri ayahnya dan turut mengawasi kedua bilah pedang emas itu.

Sebaliknya Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui menghampiri Bwe In-tay, bisiknya.

"Setelah terjadi peristiwa disana, apakah kalian segera balik kemari?"

Bwe In-tay mengangguk.

"Setelah mengangkut jenasah Ki-jisiok ke dalam kereta, tecu serahkan jenasah itu kepada kusir. Malam itu juga kupulang kemari, sepanjang jalan tecu sudah dua kali berganti kuda, sedetik pun tidak berhenti."

Mendengar laporan itu, Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui berkerut kening, pikirnya.

"Kalau dihitung waktunya, kedatangan In-tay memang termasuk cepat. Apakah Kim-kiam-hiap mempunyai sayap dan bisa terbang mendahului mereka? Kalau tidak, siapa pula yang melepaskan pedang emas barusan? Ditinjau dari kemampuan orang itu melepaskan senjata rahasia, jelas tenaga dalamnya telah mencapai puncaknya. Masa Kim-kiam-hiap memiliki ilmu memisahkan badan dan sekaligus berada di dua tempat?"

Ternyata apa yang sedang direnungkan Leng-coa Mao Kau pada waktu itupun persis seperti apa yang dipikirkan Oh Ci-hui.

Diantara sekian banyak orang hanya Hwe-gan-kim-tiau Siau Ti seorang yang tertawa dingin tiada hentinya sambil menunjukkan sikap seakan-akan senang dengan adanya bencana yang menimpa orang.

Suasana kemurungan menyelimuti seluruh ruangan rumah makan itu dan mencekam perasaan setiap orang.

Tiba-tiba terdengar Mao Bun-ki menjerit kaget, lalu berseru dengan gugup.

"Ayah! Coba lihat, tulisan yang tertera pada tangkai pedang itu tidak sama!"

Cepat Mao Kau mengamati pedang emas itu.

Air mukanya kontan berubah hebat.

Alis matanya bekernyit erat, sinar matanya memancarkan rasa kaget bercampur ngeri.

Sikap semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu orang-orang yang agak rapat hubungannya dengan dia seperti Cu-bo-sianghui, Pat-bin-ling-long dan lain-lain segera maju mendekat dan sama-sama memperhatikan kedua bilah pedang dengan seksama.

Kalau pada pedang yang pertama terukir tulisan "Kong-to-ci-kiam"

Atau pedang keadilan, maka pada pedang yang lain terukir kata yang berbunyi "Ih-hiat-hoan-hiat"

Atau dengan darah membayar darah, empat huruf yang mengerikan.

Air muka Leng-coa Mao Kau pucat pasi, segera ia menyerahkan kedua pedang kecil itu kepada Oh Ci-hui yang berada di sisinya, lalu mendongakkan kepala dan termenung.

Kembali Oh Ci-hui menimang kedua pedang emas itu sambil mengamatinya lagi, kemudian katanya.

"Walaupun bentuk dan potongan kedua pedang ini sama, namun warna emasnya berbeda. Ai, urusan ini makin lama semakin aneh, sungguh membuat orang tidak habis mengerti."

Leng-coa Mao Kau yang berdiri di depan jendela sambil termangu-mangu itu mendadak tertawa seram, suaranya tak sedap didengar.

Dengan tercengang semua orang berpaling dan mengawasi pentolan dunia persilatan itu.

Kembali Mao Kau tertawa seram, katanya kemudian.

"Peristiwa ini memang aneh, sungguh tak kusangka keparat she Siu itu betul-betul mempunyai keturunan yang akan membalaskan dendam baginya. Bagus, bagus sekali! Bagaimanapun setiap masalah pada saatnya memang harus diselesaikan. Aku juga ingin menghadapinya!"

Lalu ia mengibaskan lengan baju dan berjalan ke mulut tangga sambil berkata lagi.

"Tinglote, nona Lim, Oh-losam, kalian ikut aku pergi. Ho-losu urus persoalan disini, jagalah keponakan perempuanmu baik-baik dan mengantarnya sampai di Hopak."

Ia berhenti di mulut tangga, lalu berpaling ke arah putrinya seraya menambahkan.

"Anak Ki, segera kau pulang ke tempat gurumu. Sepanjang jalan jangan buang-buang waktu lagi."

Baru saja Bun-ki mengangguk, ayahnya lantas berpaling ke arah Bwe In-tay sekalian sembari berkata.

"In-tay, Tang-san, kalian berdua beristirahat dulu disini, kemudian ikut Hosusiok menuju ke Hang-ciu. Sepanjang jalan sekalian memberitahukan kepada semua saudara di daerah agar jangan mencampuri urusan apapun selama tiga bulan ini. Pelihara tenaga baikbaik sambil menantikan perintahku selanjutnya."

Gembong dunia persilatan ini memang tak malu sebagai seorang pemimpin.

Walaupun saat ini dia rada gugup, namun pikirannya tak sampai kacau.

Setiap patah katanya merupakan perintah yang tegas.

Tiba-tiba ia maju selangkah lagi, kemudian katanya pada Hwe-gan-kim-tiau berdua dengan suara dingin.

"Hari ini aku orang she Mao takkan menyusahkan kalian lagi. Selama gunung tetap hijau dan air tetap mengalir, selanjutnya apakah kita akan bermusuhan atau berteman terserah kepada keputusanmu sendiri."

Selesai berkata, tanpa menggubris Siau Ti lagi, segera dia turun dari loteng itu.

Siau Ti tertegun sejenak, lalu menghela napas panjang.

Sementara itu, Cu-bo-siang-hui melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin, lalu turun ke bawah loteng.

Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing tertawa dingin.

Setelah melirik sekejap ke arah Ko Bun yang masih tidur mendekap meja, segera iapun berlalu.

Perasaan Hwe-gan-kim-tiau waktu itu sangat kusut.

Selain mendongkol iapun agak putus asa.

Dia tak mengira perjalanannya kali ini hampir saja mengantarnya ke liang kubur, apalagi bila terbayang kembali kilasan pedang yang nyaris menembus dadanya, mau tak mau jago tua yang sudah puluhan tahun tersohor dalam dunia persilatan ini merasa ngeri.

Akhirnya dia menghela napas panjang.

Sambil mengelus jenggot dia turun dari loteng.

Langkahnya nampak jauh bertambah tua.

Dalam waktu singkat, di atas loteng rumah makan itu tinggal beberapa orang saja.

Mao Bun-ki mendepak sebuah mangkok pecah, mangkok itu menggelinding ke bawah dan hancur berantakan.

Iapun menghela napas, lalu berkata kepada Thi-jiu-sian-wan.

"Susiok, kutinggal di penginapan Khing-hok, sebelah kanan jalan. Setelah beristirahat setengah hari lagi segera kuberangkat. Bila engkau ada urusan penting yang harus diselesaikan, akupun tak perlu merepotkan dirimu lagi."

Waktu itu pikiran Thi-jiu-sian-wan sendiripun agak kacau. Mendengar perkataan itu dia lantas manggut-manggut.

"Sepanjang jalan mesti hati-hati. Kalau memerlukan sesuatu, katakan saja kepadaku,"

Pesannya. Bun-ki geleng kepala. Dia menghampiri Ko Bun, ia tepuk bahunya perlahan sambil berbisik.

"Engkoh Bun, ayo bangun!"

Ko Bun mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu dengan bimbang, lalu menggeliat dan menguap lebar-lebar.

Perlahan dia bangkit berdiri, tertawa kepada Thi-jiu-sian-wan dan turut turun dari loteng.

Sin-kiam-sucia memandangi bayangan punggung kedua orang itu menjauh, diam-diam ia meludah dan menyumpah.

"Sialan! Betul-betul kutu buku tak berguna!"

Rupanya anak muda inipun jatuh cinta terhadap Mao Bun-ki, tak heran kalau hatinya cemburu menyaksikan kemesraan kedua orang itu.

Baru saja Thi-jiu-sian-wan berkerut kening, terdengar suara langkah kaki menaiki anak tangga.

Ternyata Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui telah balik kembali.

Dengan terburu-buru dia naik ke atas loteng dan serahkan sebilah pedang emas kepada Ho Lim sambil memberi pesan dengan suara tertahan.

"Toako suruh kau mengirim beberapa orang saudara yang dapat dipercaya untuk melakukan penyelidikan ke setiap toko emas di kota sekitar Tin-kang. Selidiki beberapa bulan belakangan ini apakah ada orang yang memesan pedang kecil dari emas seperti ini. Kalau ada, ingat baik-baik bentuk wajah orang itu dan berapa usianya. Tugas ini harus dilaksanakan cepat dan jangan sampai bocor."

Setelah berhenti sejenak, agaknya sedang mempertimbangkan sesuatu, akhirnya dia berbisik lagi di telinga Ho Lim.

"Masih ada satu lagi. Harap sute mengutus beberapa Saudara dari Thi-ki-tui agar secepatnya menuju ke Oh-tang dan selidiki orang-orang kaya disitu apakah ada yang she Ko. Selidiki asal-usul dan keadaan keluarganya, lalu cepat laporkan kepadaku."

Thi-jiu-sian-wan Ho Lim mengiakan berulang kali. Saat itulah Pat-bin-ling-long baru mengendurkan wajahnya yang tegang dan memperlihatkan senyuman.

"Selama beberapa hari ini, aku selalu melakukan perjalanan tiada hentinya. Benar-benar letih sekali. Sute, cepat siapkan santapan dan arak bagiku. Hahaha, lebih baik lagi bila panggil beberapa orang perempuan. Aku harus bersenang-senang dulu disini setengah harian. Malam ini aku mesti berangkat lagi ke Hang-ciu. Ai, kalau orang sudah jadi gemuk betul-betul semakin malas bergerak, tapi urusan makin lama semakin runyam dan terpaksa aku harus banyak bergerak."

Thi-jiu-sian-wan tersenyum, dia mengalihkan sorot matanya ke luar jendela.

Sang surya sudah tinggi di tengah langit, tampaknya sudah dekat lohor lagi.

---ooo0ooo ---Sambil menguap berulang kali Ko Bun mengikuti Mao Bun-ki turun dari loteng.

Baru saja berbelok ke sebelah kanan, sekilas dilihatnya bayangan Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui sedang mendekat secara bersembunyi-sembunyi.

Tergerak hati Ko Bun, tapi ia belagak tidak melihatnya.

Ia mengikuti Mao Bun-ki dan menyeberangi jalan yang banyak dengan lelaki berbaju emas secara berkelompok.

Tiba-tiba Bun-ki menyikutnya sambil mengomel.

"Coba lihat tampangmu, baru sehari tidak tidur, berjalan saja bergontai!"

Ko Bun tertawa.

"Nona, aku tak bisa dibandingkan dengan dirimu. Engkau adalah seorang pendekar wanita yang pandai bermain golok, sedang aku tak becus. Apalagi setelah bergadang semalam suntuk, sekarang kakiku seperti tidak mau turut perintah lagi."

Mendengar itu Bun-ki tertawa cekikikan.

"Coba lihat tampangmu yang rudin ini, kapan-kapan pasti akan kupaksa kau belajar silat. Kalau tidak, melihat keadaanmu yang begini lemah, dibandingkan seorang nona pun kalah. Sekali ditonjok orang pasti segera roboh."

Ko Bun tertawa, mendadak ia berhenti dan bertanya.

"Hal lain saja aku tidak heran, ilmu silatpun aku tak ingin berlatih. Tapi ingin kutanya padamu, sebetulnya keanehan apa yang terdapat dalam pedangmu itu? Mengapa semua orang yang menyentuhnya seketika berloncatan macam monyet keselomot? Eh, apakah gurumu adalah seorang ahli main sulap?"

Bun-ki tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan itu. Sembari menggeleng ia berkata.

"Pertanyaanmu itu tak dapat kujawab."

Setelah berhenti sejenak, lalu dia melanjutkan.

"Sekalipun pedang ini bukan pedang dewa, tapi kesaktiannya tak perlu diragukan. Sejak kecil guruku memang menggemari segala macam benda yang aneh. Beliau banyak mengorbankan pikiran dan tenaga, akhirnya baru berhasil membuat pedang ini. Sering kudengar ia bilang banyak pedang jaman kuno yang tersohor, tetap tak bisa melebihi kelihaian pedang ini. Hehehe ... pantas dia tak tahan, coba kau lihat si gemuk semalam, dia ..."

Gadis yang cantik dan polos itu lantas tertawa cekikikan pula.

Mendadak dilihatnya wajah Ko Bun sama sekali tidak dihiasi senyuman, cepat ia hentikan gelak tertawanya dan mengalihkan pokok pembicaraan ke masalah lain.

"Ai, salahku sendiri. Apa gunanya kubicarakan hal ini denganmu?"

Demikian dia berkata dengan lembut.

"Hei, aku ingin tanya padamu, setibanya di Hopak aku akan mencari guruku, dan kau, hendak kemana kau?"

"Soal ini ...

"Ko Bun termenung sampai lama. Mendadak dilihatnya dari depan muncul seorang berjubah panjang warna biru yang sudah memutih. Perawakannya jangkung. Meski pakaiannya jelek, namun wajahnya bercahaya, sama sekali tidak memperlihatkan tanda orang rudin. Orang itu langsung menghampiri Ko Bun, kebetulan Ko Bun memandangnya. Ketika empat mata bertemu, orang berbaju biru lantas tersenyum kepada Ko Bun. Raut wajah orang ini kelihatan keras hati, diantara kerut alisnya tampak tiga garis kerutan yang dalam. Dengan cepat orang berbaju biru itu lewat di samping Ko Bun. Ketika Ko Bun berpaling, kebetulan orang itu pun menoleh hingga empat mata kembali beradu pandang. Merah wajah Ko Bun, buru-buru ia berpaling kembali, namun hatinya betul-betul terpesona oleh kegagahan orang berbaju biru tadi. Mao Bun-ki segera mencibir dan mengomel pula.

"Huh, orang bertanya padamu, kenapa kau tidak menjawab? Memangnya kau bisu atau tuli?"

Ko Bun memandang sekejap nona yang polos tapi agak binal itu, mendadak hatinya tersentuh, buru-buru dia berpaling ke arah lain.

Sambil menuding rumah penginapan Khing-hok di depan sana, katanya sambil tertawa.

"Bagaimana kalau kita pulang dulu ke rumah penginapan? Coba lihat, banyak orang di tepi jalan sedang mengawasi kita."

Bun-ki segera melirik sekejap ke sekeliling tempat itu. Benar juga, puluhan pasang mata sedang mengawasi mereka. Kontan saja pipinya berubah merah jengah.

"Aku tak takut dilihat orang. Mau lihat biarlah lihat, apa ruginya?"

Omelnya pula sambil melanjutkan perjalanan mengikuti Ko Bun kembali ke rumah penginapan.

Bun-ki binal dan cerdik.

Dia pura2 marah dan berusaha merebut perhatian sang kekasih.

Tapi selama ini Ko Bun hanya tersenyum belaka, sedikitpun tidak tertarik hatinya.

Tapi sikap Ko Bun ini tidak terlihat oleh Mao Bun-ki yang sedang mabok kepayang.

Dia mengira hatinya sudah ada yang punya, maka segala cinta kasihnya hanya dilimpahkan kepada Ko Bun seorang.

Kalau dibilang Ko Bun berhati sekeras baja, jelas tidak.

Hal ini terbukti sorot matanya maupun senyumannya terkadang juga menampilkan perasaan sayang.

Tapi entah mengapa pemuda itu dapat mengendalikan perasaannya itu.

Tiap kali timbul perasaan mesra seperti ini, dia selalu menutupinya dengan senyuman yang sukar diraba artinya.

Sekembalinya di rumah penginapan, Bun-ki segera bertanya macam-macam, termasuk maksud tujuan Ko Bun dan asal-usulnya.

Sebab makin mendekati wilayah Hopak, berarti saat mereka untuk berpisah juga semakin dekat.

Sekalipun Bun-ki merasa berat hati, namun iapun tak berani tidak pergi ke tempat suhunya.

Sebab itulah dia berusaha mencari tahu seluk beluk Ko Bun agar anak muda itu mau menyatakan hasrat akan menantikan dia.

Akan tetapi Ko Bun selalu menghindari pertanyaannya.

Menyuruh pemuda itu bicara setulus hati rasanya lebih sukar daripada mendaki langit.

Maka Bun-ki menjadi marah, dengan cemberut ia kembali ke kamarnya.

Ko Bun sendiri cuma tersenyum.

Ia tidak menyusulnya, tapi seorang diri berdiam di dalam kamarnya sambil berjalan mondar-mandir.

Kemudian ia minta alat tulis pada pelayan dan ditaruh di meja saja tanpa bermaksud menulis apa-apa.

Betul juga, selang tak lama, Mao Bun-ki muncul kembali di dalam kamarnya dan menemani Ko Bun berbincang-bincang dengan segala kelembutan hatinya.

Ko Bun sendiri hanya tersenyum dan mendengarkan saja, ia tidak marah juga tidak gembira.

Berbincang dan berbincang, langitpun menjadi gelap.

Bun-ki merasakan matanya semakin berat hingga akhirnya dia menguap dan menggeliat.

Maka Ko Bun pun menemaninya pulang ke kamarnya untuk tidur.

Ia duduk di kursi tepi pembaringan.

Dilihatnya gadis itu mulai pulas, sekulum senyuman tampak menghiasi bibirnya.

Hati Ko Bun tidak tahan, pelahan dia menjulurkan tangannya hendak membelai tangan si nona yang berada di luar selimut.

Tapi baru saja tangannya terjulur ke depan, dengan cepat dia menariknya kembali.

Kemudian berdiri dan diam-diam balik ke dalam kamar sendiri.

Setelah duduk termenung sejenak, dia ambil pinsil dan menulis sepucuk surat yang berbunyi .

"Orang berbaju biru, tiga puluh tahunan, berwajah kurus, diantara alis ada kerutan, mata bersinar tajam. Perhatikan gerak-gerik orang ini dan arah kepergiannya. Bila ada kabar segera laporkan."

Setelah berhenti dan termenung, ia berjalan bolak-balik di dalam kamar, lalu duduk kembali dan menulis lagi.

"Orang she Mao sudah kembali ke Hang-ciu, awasi gerak-geriknya. Ho Lim yang berada disini bila melakukan suatu gerakan harus segera laporkan kepadaku. Hati-hati dengan jejak kalian. Ingat! Ingat!"

Selesai menulis, dia membaca surat itu sekali lagi, kemudian melipatnya menjadi lipatan kecil, digenggam dalam tangan dl keluar dari rumah penginapan.

Dia mengawasi sekejap sekitar situ.

Seorang lelaki berdandan sebagai calo muncul dari sudut jalan sana.

Ko Bun segera menjentikkan jari tangannya.

Lipatan kertas tadi segera melayang ke tangan orang itu.

Setelah menerima surat tadi, bagaikan tak pernah terjadi sesuatu dia lantas berlalu dari situ.

Ko Bun tetap berdiri di depan pintu sambil memandang kian kemari.

Mendadak dia melihat sesuatu yang membuat hatinya bergetar keras.

Ternyata entah sejak kapan orang berbaju biru itu telah muncul disitu dan sedang memandang ke arah Ko Bun sambil tersenyum dan segera berlalu.

Hal ini semakin mengherankan Ko Bun.

Ia menunduk kepala dan tak berani lagi memperhatikan orang itu.

Ia masuk ke dalam rumah penginapan.

Ketika ia melirik lagi, ternyata orang berbaju biru itu sudah menghilang entah kemana.

Tidur Mao Bun-ki macam orang mati saja, tidur sejak sore sudah lewat tengah malam masih sangat nyenyak.

Bagaimana dengan Ko Bun sendiri?

Dia sama sekali tidak kelihatan lelah atau mengantuk lagi.

Malah dipesannya santapan dan arak, ia makan minum sendiri dengan lahap.

Setelah makan minum, ia bersandar di pembaringan sambil memikirkan persoalan yang dihadapinya.

Sebetulnya apa yang sedang ia pikirkan?

Tentu saja tak ada yang tahu, hanya saja wajahnya kini diliputi rasa sedih.

Sebentar marah dan tiba-tiba tersenyum sendiri, seperti bangga akan sesuatu perbuatannya, tapi kemudian lantas berkerut kening lagi.

Menjelang tengah malam pelayan menutup pintu, memadamkan lampu dan tak lama kemudian segala macam suarapun hilang.

Yang terdengar cuma suara kucing liar sedang mengeong tiada hentinya di atas rumah.

Tapi Ko Bun belum lagi tidur.

Makin sunyi keheningan malam, pikirannya juga tambah bergolak.

Suara kucing di luar sana semakin keras, bahkan kebetulan sekali berada di atas kamar Ko Bun.

Dengan kening berkerut pemuda itu melompat turun dari pembaringan, membuka jendela dan melongok keluar.

Di depan sana adalah sebuah halaman panjang.

Di halaman itu tumbuh pelbagai macam bunga yang sedang mekar.

Diembus angin malam semilir dan sinar bulan yang lembut, bunga mekar itu ibarat gadis cantik yang sedang menari.

Di sebelah sana adalah dinding pekarangan yang tinggi.

Waktu itu dalam halaman tak nampak sesosok bayanganpun, tapi suara kucing mengeong di atas atap rumah semakin keras.

Ko Bun memperhatikan sekejap ke sekeliling tempat itu, setelah yakin di sekitar situ tak ada orang, 'sastrawan yang lemah tak bertenaga' ini segera menyingsing jubah panjangnya dan melompat keluar melalui jendela.

Bagaikan segulung asap tubuhnya melayang keluar dan melambung di udara, kemudian dengan enteng dia hinggap di atap rumah.

Tanpa menimbulkan suara, Ko Bun berjalan di atas atap dan mengebaskan lengan bajunya ke arah kucing yang menjemukan itu.

Sambil mengeong kucing tadi segera kabur jauh-jauh.

Ko Bun tersenyum, mendadak dari arah wuwungan rumah sebelah depan terdengar seorang berseru memuji.

"Sungguh hebat kepandaianmu!"

Ko Bun terperanjat, sambil merentangkan tangan ia siap siaga, ia membentak dengan suara tertahan.

"Siapa di situ?"

Dari wuwungan rumah sebelah depan sana kembali terdengar suara tertawa dingin.

Sesosok bayangan hitam melompat sejauh empat tombak bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Kemudian dengan beberapa kali lompatan lagi ia hendak kabur ke tempat kegelapan.

Setelah jejaknya ketahuan, sudah barang tentu Ko Bun takkan membiarkan orang itu kabur dengan begitu saja.

Baru saja orang berbaju hitam itu melejit pergi, segera ia menerjang ke depan seraya membentak tertahan.

"Sobat, tunggu sebentar!"

Tapi gerak tubuh orang berbaju hitam itu cepat sekali, baru saja Ko Bun menerjang ke depan, orang itu sudah kabur jauh.

Tanpa ragu lagi Ko Bun segera mengejar, sekali melompat iapun melesat sejauh empat tombak lebih.

Ilmu meringankan tubuh kedua orang sama-sama telah mencapai puncaknya.

Hanya dalam beberapa kali lompatan saja, mereka telah melewati puluhan wuwungan rumah.

Ko Bun terkesiap, pikirnya.

"Jika orang ini sekomplotan dengan Mao Kau, sungguh akan mendatangkan bahaya."

Berpikir demikian dia percepat larinya dengan harapan bisa menyusul orang itu.

Tapi orang berbaju hitam itu melompat pergi lebih dulu, selisih jarak mereka sudah tujuhdelapan tombak.

Tapi setelah Ko Bun 'tancap gas', jarak mereka makin lama semakin pendek dan tinggal empat-lima tombak saja.

Diam-diam Ko Bun terkejut oleh kecepatan orang berbaju hitam itu, sebaliknya orang berbaju hitam itupun terkejut oleh kelihaian ilmu meringankan tubuh Ko Bun.

Dia tak menyangka seorang pemuda lemah lembut ternyata memiliki tenaga dalam sedemikian hebatnya.

Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun takkan percaya.

Dalam sekejap mereka telah berada di luar kota.

Di depan adalah tanah datar dan kelihatan hutan yang lebat.

Ko Bun makin gelisah.

Dia tahu bila orang menyusup masuk ke dalam hutan niscaya dia akan mengalami kesulitan untuk membekuknya.

Tempat itu sunyi senyap, segera Ko Bun mempercepat pengejarannya sambil membentak.

"Sobat, buat apa main sembunyi? Kita sama-sama lelaki, ada urusan apa boleh dibicarakan berhadapan, kenapa kau kabur terus? Jika kau tetap lari, jangan menyesal bila aku takkan sungkan-sungkan lagi."

Orang berbaju hitam itu tertawa terbahak-bahak, dia malah percepat larinya ke depan.

"Hahaha, saudara tak perlu sungkan.

"katanya.

"kalau bicara soal main sembunyi, mungkin kau lebih pandai daripadaku."

Diam-diam Ko Bun menggerutu di dalam hati.

Sementara pembicaraan berlangsung, orang berbaju hitam itu sudah makin mendekati hutan itu.

Dalam keadaan begini, Ko Bun merogoh saku dan mengambil semacam senjata rahasia, bentaknya.

"Sobat, jika kau tidak berhenti segera orang she Ko akan melepaskan senjata rahasia."

Dia tak ingin melukai orang dengan cara menyergap, maka terlebih dahulu memberi peringatan kepada lawan.

"Hahaha, bagus sekali! Bagus sekali!"

Seru orang itu bergelak.

"memang ingin kucoba kelihaian saudara. Kutahu Saudara orang ahli senjata rahasia, silakan melancarkan seranganmu."

Dengan kening berkerut Ko Bun bergerak maju ke depan, tangan kanan segera diayunkan.

Desing angin tajam secepat kilat menyambar punggung orang berbaju hitam itu.

Serangan ini sangat lihai, tampaknya senjata rahasia itu segera akan bersarang di tubuh orang itu.

Siapa tahu orang itu mendadak tertawa mengejek.

Tanpa berpaling telapak tangannya diayunkan membalik, iapun melepaskan senjata rahasia.

"Trang!"

Kedua macam senjata rahasia itu saling beradu di udara lalu rontok ke tanah.

Kembali orang berbaju hitam itu tertawa, segera dia berhenti dan berpaling.

Dengan tersenyum aneh dia awasi Ko Bun yang sedang mendekat.

Waktu itu bintang dan rembulan menghiasi angkasa, angin berembus sepoi-sepoi mengiringi bunyi serangga bagaikan paduan suara di malam sunyi.

Ketika Ko Bun melepaskan serangannya tadi, dia melihat orang berbaju hitam di depan membalikkan tangannya dan melepaskan selarik cahaya keemasan yang tepat sekali menghantam senjata rahasia sendiri hingga sama-sama rontok ke tanah.

Hal ini membuat Ko Bun tertegun, cepat iapun menghentikan gerakan tubuhnya sambil berpikir.

"Tanpa berpaling orang ini sanggup merontokkan senjata rahasiaku, kepandaiannya sungguh hebat sekali. Sedang senjata rahasia yang digunakanpun memancarkan sinar emas, jangan-jangan orang ini memang dia?"

Perlu diketahui, meski usianya masih sangat muda, namun sejak dilahirkan ia telah belajar silat.

Orang-orang yang mengajarkan ilmu silat kepadanya juga semuanya tokoh sakti dunia persilatan.

Kalau bicara soal 'mendengarkan suara menentukan arah' untuk merontokkan sambitan senjata rahasia orang bukanlah sesuatu yang mengejutkan, tapi Ko Bun tahu tenaga sendiri yang disertakan dalam sambitan senjata rahasia tadi disertai kekuatan yang tak mungkin bisa ditahan oleh jago silat biasa.

Tapi kenyataannya sekarang orang itu sanggup merontokkan senjatanya dengan mudah.

Tak heran Ko Bun terkesiap dan menduga-duga siapa gerangan jago lihai ini.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, tertampak orang itu sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum.

Diantara kerut alis matanya terlihat ada kerutan dalam, mukanya seperti sudah dikenalnya.

Ternyata dia adalah si sastrawan berbaju biru yang dijumpainya siang tadi.

Dia masih tetap mengenakan pakaian berwarna biru, cuma karena keadaan agak gelap sehingga sulit membedakan apakah pakaian itu berwarna biru atau hitam.

Dengan sorot mata yang tajam sastrawan berbaju biru itu memandang sekejap ke arah Ko Bun, mendadak ia menjura dan tertawa terbahak-bahak.

"Bilamana aku mengganggumu di tengah malam, harap Saudara suka memaafkan!"

Katanya.

"Hahaha, kata 'mengganggu' tak berani kuterima.

"sahut Ko Bun sambil tertawa pula.

"Meski aku orang bodoh, tapi sejak berjumpa dengan Saudara pagi tadi segera kutahu engkau adalah seorang kosen, cuma saja ...

"Dia berhenti sambil berkerut kening lalu melanjutkan.

"Malam2 Saudara berkunjung, entah ada urusan apa?"

Sastrawan berbaju biru itu tersenyum.

"Saudara adalah naga diantara manusia, sudah lama kuingin berkenalan denganmu, sayang tak ada kesempatan. Maka terpaksa kugunakan cara ini untuk berjumpa denganmu."

Perlahan dia berjongkok dan memungut sesuatu dari tanah.

Ko Bun berkerut kening, cepat ia meraih ke depan, berusaha merampasnya lebih dulu.

Siapa tahu di tengah gelak tertawa sastrawan berbaju biru itu sudah menyurut mundur, sementara di tangannya telah bertambah dengan dua bilah pedang kecil berwarna emas yang bentuknya serupa.

Ko Bun agak terlambat turun tangan sehingga benda miliknya keburu dipungut lawan, dia menjadi terkesiap.

"Cepat betul gerak tubuh orang ini ...

"demikian pikirnya. Ketika ia angkat kepalanya, tertampak olehnya sastrawan berbaju biru itu sedang mempermainkan kedua bilah pedang emas tadi, sambil tersenyum lalu berkata.

"Ehm, ternyata serupa benar ..."

Tapi segera sastrawan itu berseru tertahan lagi sambil membaca dengan lirih.

"Dengan darah membayar darah, dengan darah membayar darah ... ."

Salah satu diantara kedua bilah pedang emas tersebut lantas diangsurkan ke hadapan Ko Bun, katanya.

"Pedang ini milik Saudara. Hahaha, kalau di atasnya tak ada tulisan, niscaya sulit bagiku untuk membedakan!"

Di bawah sinar rembulan tampak wajah Ko Bun yang dingin kaku tanpa emosi. Dengan termangu dia mengawasi pedang emas di tangan orang, sampai lama ia baru mendongakkan kepala dan tertawa nyaring.

"Hahaha, Saudara ini Kim-kiam-tayhiap yang sudah lama termashur di dunia persilatan itu. Sudah lama kudengar nama besarmu, tak nyana hari ini bisa berjumpa ..."

Perlahan dia menjepit gagang pedang itu dengan dua jari.

Meski senyuman masih menghiasi wajah mereka berdua, tapi kedua pihak tampaknya berniat mengadu kekuatan.

Masing-masing pihak telah menghimpun segenap tenaga dalam pada jari tangan.

Dalam waktu singkat, pedang kecil berwarna emas yang panjangnya cuma belasan senti itu tertarik oleh jari tangan mereka sehingga mulur, makin lama semakin panjang.

Tiba-tiba sastrawan berbaju biru itu bergelak tertawa sambil menarik kembali tangannya.

Dengan tersenyum katanya.

"Tak heran dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan ilmu silat Kim-kiam-tayhiap makin lama semakin hebat. Cara kerjanyapun makin lama semakin misterius. Rupanya semua itu adalah buah karya Saudara. Meski aku tak ada niat membonceng jasamu itu, tapi lantaran orang bilang begitu, terpaksa akupun menerimanya."

Dengan pandangan hambar, Ko Bun memandang sekejap pedang emas yang telah berubah menjadi sepotong tongkat pendek itu. Lalu katanya dingin.

"Sebenarnya aku lagi heran mengapa di kota kecil ini bisa muncul seorang jago selihai ini. Sekarang baru kuketahui engkau inilah Kim-kiam-tayhiap. Mungkin lantaran anda dengar bahwa di dunia persilatan telah beredar barang palsu, maka kau datang kemari untuk melakukan penyelidikan."

Tangannya mendadak diayunkan ke depan, 'pedang' yang dipegangnya segera meluncur dan menancap di atas tanah.

Yang tertinggal hanya 'gagang pedang' yang masih bergetar tiada hentinya di permukaan tanah.

Sastrawan berbaju biru itu hanya melirik sekejap tanpa berubah senyuman yang menghiasi bibirnya, katanya.

"Ucapan Saudara keliru besar. Bahwasanya dengan pedang emas anda telah melakukan kebajikan dan kemuliaan dalam dunia Kangouw, semua yang kau lakukan merupakan apa yang sanggup kulakukan selama ini. Justru aku malah berharap bisa muncul beberapa 'barang palsu' lagi seperti Saudara. Dengan begitu keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan dapat semakin ditegakkan ... ."

Agak merah wajah Ko Bun, pikirnya.

"Orang bilang Kim-kiam-tayhiap adalah seorang gagah dan berjiwa luhur. Setelah berjumpa hari ini dapat diketahui nama besarnya memang bukan nama kosong belaka. Bukan saja aku telah mencatut namanya, sekarangpun mengejeknya, tapi kenyataannya dia tidak marah. Sebaliknya malahan bersikap sebaik ini kepadaku... ."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa timbul perasaan simpatiknya terhadap sastrawan berbaju biru itu.

Perlu diketahui, sejak kecil ia sudah hidup sengsara dengan beban dalam hati.

Sedang musuh besarnya rata-rata adalah jagoan pedang yang paling top di dunia persilatan dewasa ini dengan kaki tangan yang tersebar luas dimana-mana.

Dia tahu meski dirinya secara kebetulan mendapatkan penemuan aneh yang sukar diperoleh orang lain, namun bila hendak digunakan untuk membalas dendam tetap bukan sesuatu yang gampang.

Oleh karena itu cara kerjanya sehari-hari selalu berhati-hati, kuatir jejaknya ketahuan orang hingga persoalannya terbongkar.

Padahal dia seorang yang peramah, tapi karena pelbagai alasan membuat dia mesti waspada terhadap setiap orang.

Tak heran kalau sikapnya terhadap sastrawan berbaju biru inipun kurang simpatik.

Sastrawan berbaju biru itu terus menerus mengawasi wajahnya dengan sorot mata yang tajam, di bawah sinar rembulan wajahnya kelihatan tanpa emosi, tapi sebenarnya hatinya tidak tenang.

Ketika sorot mata mereka kembali bertemu, diam-diam Ko Bun menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Aku mempunyai asal-usul yang menyedihkan, banyak hal tak bisa kuceritakan. Bila kuganggu dirimu, harap sudi memaafkan ... ."

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi.

"Saudara adalah seorang lelaki sejati, seorang kesatria tulen, bila engkau tidak menolak untuk berkenalan denganku, hal ini merupakan penghormatan bagiku, di kemudian hari bila ada jodoh, masih ingin kumohon petunjukmu."

Maksud perkataannya cukup jelas, yakni dia hendak mohon diri. Tapi sastrawan berbaju biru itu seakan-akan sama sekali tidak paham maksud perkataannya, dia malah tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, namaku Hong-ceng, she Toan-bok, sampai sekarang akupun belum tanya nama anda yang terhormat."

Ko Bun menarik muka dan siap berlalu dari situ, sepatah katapun tidak menjawab. Karuan air muka sastrawan berbaju biru itu agak berubah, pikirnya.

"Dengan maksud baik aku ingin berkenalan, mengapa jual mahal?"

Sudah barang tentu dia tak tahu asal-usul Ko Bun merupakan suatu rahasia besar, bila ada orang bertanya namanya hal itu justru merupakan pantangan yang paling besar.

Berpikir demikian, ia lantas mendengus, mendadak ia melompat ke depan Ko Bun, tangannya terentang mengalangi jalan perginya.

Kembali Ko Bun menarik muka seraya berkata dengan dingin.

"Saudara, apa maksud tujuanmu?"

Si sastrawan berbaju biru alias Toan-bok Hong-ceng berkerut kening, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, katakan siapa nama Saudara? Mengapa kau bersikap begini kepadaku? Apakah diriku tidak memadai menjadi sahabatmu?"

Meskipun senyuman masih menghiasi ujung bibirnya, namun nada suaranya jelas tidak sungkan lagi.

Pucat wajah Ko Bun, sebentar lagi wajahnya berubah menjadi merah lalu dari merah berubah pucat pula.

Agaknya dia sedang berusaha keras mengendalikan hawa amarahnya.

"Dengan Saudara, aku bukan sanak bukan kadang, kitapun tidak terikat oleh perselisihan apapun, boleh dibilang kita tak pernah saling mengenal. Mengapa Saudara mesti menyelidiki nama dan asal-usulku?"

Setelah berhenti sebentar dan tertawa dingin, lalu Ko Bun menyambung.

"Apalagi meski aku mempergunakan pedang emas sebagai senjata rahasia, tapi belum pernah mencatut nama Kim-kiam-tayhiap. Apakah di kolong langit hanya kau saja yang boleh mempergunakan pedang emas sebagai senjata rahasia?"

Toan-bok Hong-ceng tertegun, kemudian tertawa dan menjawab.

"Benar, benar, setiap orang memang berhak mempergunakan pedang emas. Benda itu bukan monopoli Toan-bok Hongceng seorang, hanya saja ..."

Senyum yang semula menghias bibirnya kini lenyap tak berbekas, lanjutnya pula.

"Istilah 'barang palsu' tadi juga muncul dari mulut saudara sendiri, aku tidak pernah menyebut demikian."

Ucapan orang membuat Ko Bun tertegun, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup bicara. Terdengar Kim-kiam-hiap Toan-bok Hong-ceng itu menyambung lebih jauh.

"Bila kubilang tiada hubungan apa-apa denganku, hal inipun tidak kusetujui sepenuhnya."

"Memang ada hubungan apa antara kau dan aku?"

Bentak Ko Bun.

"apakah kau ... ."

Belum lanjut perkataannya, Toan-bok Hong-ceng telah menukas dengan tertawa.

"Saudara, tahukah kau bahwa harta karun Sam-cai-po-cong yang telah kau angkat dari dasar telaga itu sesungguhnya adalah harta benda milikku?"

Air muka Ko Bun berubah hebat, dia menyurut mundur tiga langkah, kemudian sambil menuding serunya.

"Sebenarnya siapa kau, kenapa bisa tahu ..."

Tiba-tiba ia berganti nada dan berseru.

"Siapa yang telah mengambil Sam-cai-po-cong, apakah kau menyaksikan sendiri aku yang mengambilnya?"

"Tentu saja.

"sahut Toan-bok Hong-ceng dengan tertawa.

"dengan mata kepala sendiri kusaksikan Saudara mengambil harta karun Sam-cai-po-cong tersebut."

Dia lantas merogoh saku dan mengeluarkan secarik kertas tipis terbuat dari kulit kambing.

Mungkin lantaran usianya sudah kelewat tua maka warnanya telah berubah menjadi kuning.

Toan-bok Hong-ceng membentangkan kertas kulit kambing itu dan diangsurkan ke hadapan Ko Bun, kemudian katanya lagi.

"Benda apakah ini, tentunya Saudara pernah melihatnya bukan?"

Melihat benda yang dibentangkan di depan matanya itu, air muka Ko Bun berubah hebat.

Lama sekali dia termenung tanpa menjawab.

Toan-bok Hong-ceng tersenyum.

Sambil melipat kembali kertas kulit itu, ujarnya lagi.

"Inilah peta rahasia harta karun Sam-cai. Sewaktu aku mendapatkannya mungkin jauh sebelum Saudara memperolehnya. Cuma sayang waktu itu aku sedang tekun belajar silat sehingga tak mungkin memencarkan perhatian mengurus hal tersebut. Kurang lebih setahun yang lalu, waktu itu ilmu silatku telah berhasil, maka harta karun yang sudah berusia ratusan tahun itu mulai kucari dengan mengikuti petunjuk peta rahasia ini."

Ko Bun menundukkan kepala sambil termenung, lalu gumamnya lirih.

"Lebih setahun yang lalu ... ."

Mendadak ia melotot dan berkata.

"Mengapa pada waktu itu Saudara tidak mengambilnya?"

Toan-bok Hong-ceng tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, waktu itu aku hanya seorang diri, meskipun ada niat mengambil harta karun itu, namun kurang tenaga. Walau telah kumasuki tempat harta karun, terpaksa pulang dengan tangan hampa. Mestinya ingin kucari beberapa orang pembantu untuk menyelam dan megambil harta, tapi selama ini aku sudah terbiasa hidup malang melingtang seorang diri, untuk mencari pembantu memang gampang, tapi sulit untuk kulaksanakan."

Bicara sampai disini, perlahan dia masukkan kertas kulit itu ke saku dan melanjutkan.

"Lagipula harta Sam-cai-po-cong tersebut berada di dasar telaga. Bukan saja orang yang akan mengambilnya harus mahir menyelam dan lagi harus memiliki jiwa pendekar. Selain itu harus tak ada sangkut pautnya dengan keluarga Siau. Bila salah satu saja dari ketiga hal ini tak terpenuhi, tidak nanti kuminta bantuannya untuk mengambil harta karun itu."

Diam-diam Ko Bun mengangguk. Perlahan Toan-bok Hong-ceng mengacungkan tiga jari tangannya dan melanjutkan.

"Setelah kupikirkan pulang pergi akhirnya kuputuskan di dunia saat ini hanya Ngo-oh-sam-liong (tiga naga dari lima telaga) yang merupakan keturunan Ngo-oh-liong-ong (raja naga lima telaga) Liong Cai-thian saja yang selain mahir menyelam juga lihai ilmu silatnya. Semua berjiwa pendekar, tidak kemaruk harta dan merupakan tiga jagoan yang betul-betul jujur. Bila aku bisa minta bantuan ketiga orang ini untuk mengambil harta barulah segala sesuatu akan berjalan lancar."

Air muka Ko Bun kembali berubah hebat, katanya dengan suara tertahan.

"Sayangnya ketiga orang itu belum tentu ada waktu luang."

"Pendapatmu memang betul.

"kata Toan-bok Hong-ceng dengan tertawa.

"Sudah dua puluh tahun Ngo-oh-liong-ong lenyap dari keramaian dunia. Secara beruntun Ngo-oh-sam-liong pun turut mengasingkan diri, padahal aku tiada hubungan apa-apa dengan mereka, mana mungkin mereka mau meluluskan permintaanku? Tapi penyakit ingin coba-coba selalu menghinggapi setiap orang, meski tahu tiada harapan toh hal ini ingin kucoba juga."

Ko Bun tertawa dingin, sambil bergendong tangan dia memandang bintang yang bertaburan di langit. Sebaliknya dengan senyum tak senyum Toan-bok Hong-ceng sedang memandangnya, kemudian melanjutkan.

"Setelah bersusah payah, akhirnya aku mendengar bahwa setelah mengasingkan diri, Ngo-oh-sam-liong tinggal di Tiong-heng-to, sebuah pulau di muara sungai Tiangkang. Tanpa pikir lagi aku berangkat kesana. Siapa tahu setiba di pulau Tiong-beng, Ngooh-sam-liong telah pergi meninggalkan pulau itu. Hanya dua orang bocah saja yang menunggui pulau itu."

"Waktu itu aku merasa heran, kalau Ngo-oh-sam-liong sudah mengasingkan diri, mengapa tiba-tiba meninggalkan pulaunya. Waktu kutanyakan kepada kedua bocah penunggu itu, mulamula kedua bocah itu tidak mau menjawab. Tapi setelah kudesak lebih lanjut, akhirnya mereka menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi ..."

Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Menurut ceritanya beberapa hari sebelumnya telah datang seorang pemuda tampan mengajak suhunya berbicara semalam suntuk. Malam itu suhunya lantas pergi bersama pemuda itu. Kutanya mereka apakah sebelum suhu kalian meninggalkan pesan dia pergi kemana? Kedua bocah itu saling pandang. Tampaknya enggan bicara, maka akupun berkata bahwa aku sudah bersahabat puluhan tahun dengan gurunya. Kedatanganku ini lantaran ada urusan penting. Bila dia bicara terus terang pasti suhunya tak akan marah."

Mendengar sampai disini, Ko Bun tertawa dingin.

"Hm, tak kusangka, selain lihai dalam ilmu silat, kaupun pandai bersilat lidah. Coba orang lain, mungkin kedua bocah itu tak mau bicara apa-apa."

Selesai berkata dia mendengus pula dan memandang ke langit. Toan-bok Hong-ceng sebaliknya seakan-akan tidak tahu sindirannya, katanya sambil tertawa.

"Terimakasih atas pujianmu."

Ko Bun mendengus dan tidak menggubrisnya. Terdengar Toan-bok Hong-ceng berkata lagi.

"Waktu itu kedua bocah itu mengamati diriku beberapa kejap kemudian baru berkata, 'sebelum pergi suhu membawa serta pakaian menyelam yang sudah lama tak pernah dijamah, katanya hendak ke Hongtik-oh, paling cepat satu bulan dan paling lambat tiga bulan pasti akan kembali. Bila tuan ada urusan penting hendak menunggu kedatangannya, silakan tunggu saja disini.' Mendengar perkataan itu, aku terperanjat. Kupikir jangan-jangan mereka telah diundang orang untuk mencari harta karun itu. Tapi aku pura-pura menolak, 'tidak, tidak usah ...' Aku lantas meninggalkan mereka. Kudengar kedua bocah itu berteriak dari belakang, 'Mengapa tuan tidak minum teh dulu?"

Meski aku suka pada kedua bocah itu, tapi lantaran buru-buru harus mengurus harta karun Sam-cai-po-cong terpaksa aku tidak menghiraukan mereka lagi dan segera pergi."

Ko Bun masih saja memandang awan di angkasa, lalu tertawa mengejek.

"Tentu saja, kedua bocah itu orang macam apa? Mana mereka setimpal bicara dengan Kim-kiam-tayhiap?"

"Apapun juga sesungguhnya aku tak bermaksud jahat terhadap dirimu, mengapa Saudara menyindirku berulang kali?"

Seru Toan-bok Hong-ceng sambil tertawa. Ko Bun mendengus dan tidak bicara lagi. Toan-bok Hong-ceng lantas melanjutkan ceritanya,"

Siang dan malam tanpa berhenti aku menuju ke Hongtik-oh, tempat harta karun itu terpendam.

Waktu itu sehari sebelum Tiong-ciu, semua rumah merayakannya dengan gembira.

Di tepi telagapun diliputi suasana musim gugur.

Di tengah keheningan malam, tertampak ada tiga-lima bayangan sedang kasak-kusuk di tepi telaga yang sepi itu."

Air muka Ko Bun berubah, sorot matanya mendadak beralih ke wajah Toan-bok Hong-ceng. Toan-bok Hong-ceng tidak mengacuhkannya, kembali ceritanya.

"Aku bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun lebih kurang tujuh tombak dari tepi telaga. Kulihat diantara mereka ada tiga orang berpakaian selam. Ada lagi seorang pemuda tampan dan seorang meski tak kukenal, tapi dilihat dari tubuhnya yang kekar dan sinar matanya yang tajam, bisa diketahui dia adalah seorang jago lihai yang bertenaga dalam sempurna."

"Dalam hati aku berpikir, tiga orang yang berpakaian selam itu pastilah Ngo-oh-sam-liong. Tapi siapakah pemuda lembut itu? Aku tambah heran setelah menyaksikan sikap orang-orang itu terhadap pemuda tersebut sangat menghormat. Aku tidak tahu siapa dan berasal dari manakah pemuda itu?"

Sambil berbicara dengan senyum dikulum dia melirik ke arah Ko Bun berulang kali. Air muka Ko Bun juga berubah beberapa kali, katanya.

"Jika pemuda itu mengetahui tempat penyimpanan harta karun, sudah barang tentu iapun memiliki peta rahasia. Padahal Ciangbuncosu Siau-lim-pai telah membagi peta itu menjadi tiga bagian dan tidak ditegaskan harta karun akan dimiliki siapa. Itu berarti barang siapa mendapatkannya lebih dulu, dialah yang berhak. Kau sendiri terlambat selangkah, mengapa menyalahkan orang lain? Sedang pemuda itu itu bisa memiliki peta rahasia, jelas iapun mempunyai asal-usul tertentu, kenapa kau mesti menyelidikinya terus menerus?"

Toan-bok Hong-ceng tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, ucapanmu sungguh cocok dengan pikiranku. Waktu itu akupun sudah berpendapat demikian. Kalau pemuda itu memiliki peta rahasia, itu berarti kalau dia bukan murid Siau-lim-pai pastilah ahli waris Hay-thian-ko-yan, tokoh sakti yang termashur itu ... ."

"Kalau begitu Saudara berasal dari Bu-tong-pai?"

Tukas Ko Bun dengan kening berkerut. Segera pula ia menyadari duduknya perkara, pikirnya.

"Pantas Cing-hong-kiam Cu Pek-ih dari Bu-tong-pai tadi tidak menunjukkan reaksi apapun ketika para jago lain sama panik, pasti dia diberitahu oleh Kim-kiam-hiap bahwa harta karun itu telah diambil. Maka Bak-it Siangjin dari Siau-lim-pai pun tanpa banyak bicara segera angkat kaki."

Dalam pada itu, Toan-bok Hong-ceng lantas tertawa terbahak-bahak.

"Saudara memang bermata tajam. Betul, aku memang berasal dari Bu-tong-pai."

Tergerak lagi hati Ko Bun, ia berpikir pula.

"Sejak Pek-locongsu mati, Bu-tong-pai kekurangan orang pintar. Setahuku, kungfu jago paling tangguh dari Bu-tong-pai dewasa ini, Cing-hong-kiam Cu Pek-ih pun tidak terlalu tinggi. Aneh juga, kenapa Toan-bok Hong-ceng ini memiliki ilmu kepandaian sedemikian lihainya?"

Sementara dia memikirkan persoalan itu, Toan-bok Hong-ceng telah melanjutkan kisahnya.

"Walaupun pikiranku terus bekerja, mataku mengawasi pula kelima orang itu. Kudengar mereka sedang berbicara dengan suara lirih."

"Kudengar pemuda lembut itu lagi tertawa, 'Kalau begitu, aku mesti merepotkan Saudara Liang!?'. Ketiga orang berpakaian selam itu menjawab, 'Tidak berani, Saudara membawa perintah dari ayah kami, sekalipun mengharuskan kami bertiga terjun ke lautan apipun kami tak akan membantah.'"

"Seraya berkata dia menerima beberapa utas tali dari rekannya dan terjun ke dalam air. Rupanya ketiga orang itu benar-benar adalah Ngo-oh-sam-liong yang termashur itu. Sedemikian lihainya mereka, sampai waktu terjunpun air tidak nampak berbuih."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Disamping kagum atas kelihaian ilmu menyelam ketiga bersaudara keluarga Liong, akupun merasa heran Ngo-oh-liong-ong Liong Cai-thian, Liong-loyacu yang sudah lenyap dari dunia persilatan semenjak dua puluh tahun yang lalu dan tak seorangpun tahu dimana dia berada, tapi pemuda yang masih muda belia itu mengapa bisa tahu orang tua itu, bahkan membawa pula tanda pengenalnya sehingga ketiga Liong bersaudara bersedia mengikutinya? Dengan segera aku sadar jangan-jangan apa yang dibicarakan pemuda itu dengan Ngo-oh-sam-liong seperti apa yang dituturkan kedua bocah penunggu pulau adalah urusan keadaan Liong-locianpwe belakangan ini sehingga membuat ketiga Liong bersaudara itu sebentar tertawa sebentar menangis."

"Hm!"

Ko Bun mendengus.

"Tak heran Saudara dapat menjagoi dunia persilatan. Setelah berjumpa hari ini baru kuketahui engkau memang amat cerdik. Segala persolan apapun tak dapat lolos dari pengamatanmu."

"Tidak berani... tidak berani.

"seru Toan-bok Hong-ceng sambil tertawa.

"Saudara terlalu memuji diriku, padahal waktu itu aku juga merasa bingung. Kulihat pemuda dan lelaki itu masing-masing memegang ujung seutas tali dan berdiri di tepi telaga kemudian tangan mereka terangkat sambil mundur belasan tombak ke belakang. Aku terkejut, kuatir tempat persembunyianku ketahuan. Siapa tahu sebelum tiba di bawah pohon, tangan mereka terangkat lagi ke atas. Air terpercik kemana-mana dan muncul empat buah peti. Cepat mereka melompat maju. Dengan cekatan mereka menarik ke empat peti tersebut dan diseret ke atas tanah."

"Saat itulah baru kutahu, si lelaki itu meski nampaknya berilmu tinggi, sesungguhnya kepandaian anak muda itu jauh melebihi kepandaiannya."

Kembali sorot matanya beralih ke wajah Ko Bun, lalu tersenyum penuh arti.

"Tak seberapa lama, mereka telah menaikkan belasan buah peti yang nampaknya berat. Ngo-oh-sam-liong pun melompat ke permukaan air. Dari lelaki kekar itu mereka menerima sebotol arak dan cepat diminum beberapa ceguk, kemudian sambil tertawa mereka berkata, 'Sungguh beruntung kami dapat menyelesaikan tugas.' Sedang si pemuda pun buru-buru menjura dan mengucapkan terima kasih."

"Kemudian dia membuka peti dan memandangnya sekejap. Waktu itu meski aku berada lebih kurang sepuluh tombak jauhnya dari tempat mereka, namun lamat-lamat dapat kulihat mimik wajahnya. Meski tersembul senyumannya namun bukan senyuman kegirangan. Tanpa terasa kukagumi pemuda itu. Nyata dia bukan sembarangan orang."

Ia memandang sekejap ke wajah Ko Bun, kemudian melanjutkan.

"Setelah melirik sekejap, pemuda itu membisikkan sesuatu kepada lelaki rekannya. Meski aku sudah memasang telinga tetap tak dapat kudengar apapun. Tiba-tiba lelaki itu bersuit nyaring. Dari empat penjuru sekeliling tepi telaga segera bermunculan tujuh-delapan lelaki kekar yang masing-masing membawa sebuah karung goni. Diam-diam aku bersyukur. Coba kalau aku kurang hati-hati, niscaya jejakku sudah ketahuan orang."

Ko Bun tersenyum, tukasnya.

"Bicara tentang kepandaian silat, sekalipun kepandaian lelaki itu sepuluh kali lipatpun jangan harap akan bisa menemukan jejakmu."

Toan-bok Hong-ceng tertawa, kembali mereka beradu pandang dan masing-masing sama menunjukkan pengertian yang mendalam.

Hanya saja Ko Bun juga was-was dalam pandangan itu seakan-akan kuatir rahasianya akan diketahui oleh Kim-kiam-hiap.

Sambil tersenyum Toan-bok Hong-ceng berkata pula.

"Setelah melompat keluar, kawanan lelaki berpakaian ringkas itu berdiri dengan tangan lurus ke bawah. Pemuda itu memberi tanda, segera mereka membongkar seluruh isi peti itu ke dalam karung. Dari jauh kulihat isi peti itu gemerlapan, ternyata semuanya berisikan emas intan dan mutu manikam yang tak ternilai harganya."

"Dalam waktu singkat, belasan peti itu sudah tinggal peti kosong saja dan segera diserahkan kepada lelaki setengah umur yang cekatan itu. Pemuda itu tersenyum, lamat-lamat kudengar dia seperti berkata begini, 'Saudara Liong, ... simpan di tempatmu ....pasti kudatang ....semua ini berkat bantuanmu.'"

"Lelaki itu memberi hormat, lalu mengajak kawanan lelaki lain berlalu. Meski semua lelaki kekar itu membawa sekarung barang yang berat, namun langkah mereka sangat gesit, jelas kepandaian mereka tidak rendah."

"Kemudian, apakah diam-diam kau menguntitnya?"

Sela Ko Bun dengan kening berkerut. Toan-bok Hong-ceng tersenyum.

"Sebetulnya aku ingin mengikuti mereka, tapi ketika kualihkan kembali sorot mataku, kulihat entah darimana pemuda tadi sudah mendapatkan sebuah peti kecil lagi. Kemudian kulihat dia memasang sesuatu benda di dalam belasan peti kosong tadi. Dari tempat jauh aku tak bisa melihat jelas, tapi kutahu benda itu sebangsa alat jebakan dan sebagainya. Dia bekerja tiada hentinya. Tak lama kemudian dia berbangkit dan bergelak tertawa, 'Dengan darah membayar darah! Kini kalianpun boleh merasakan bagaimana rasanya disergap orang secara licik ...' Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan 'Cuma, aku mesti merepotkan Saudara Liong lagi."

Setelah mengambil napas panjang, dia menyambung pula.

"Beberapa patah kata itu diutarakan dengan nyaring, maka aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kulihat Ngo-oh-samliong tertawa bersama seraya berkata, 'Kenapa engkau sungkan-sungkan, bila dibutuhkan tenaga kami katakan saja secara langsung.' Selesai berkata, seorang membawa sebuah peti dan mencebur lagi ke dalam air, sedang pemuda itu sambil menggendong tangan memandang angkasa seraya bergumam, cuma sekali ini dia bergumam lirih hingga tak sepatah katapun kudengar."

Ko Bun tertawa dingin.

Dia berjongkok dan mencabut pedang emas yang menancap di tanah.

Pedang tersebut masih berbentuk lempengan yang panjang.

Toan-bok Hong-ceng melirik sekejap pemuda itu kemudian melanjutkan.

"Tak seberapa lama kemudian, Ngo-oh-sam-liong telah menceburkan kembali belasan peti besi itu ke dalam air. Kukira urusan bakal selesai sampai disitu, siapa tahu pemuda itu lantas mengeluarkan selembar kertas kulit. Sekilas pandang saja kutahu itulah peta rahasia harta karun. Aku heran dan tak tahu hendak diapakan peta tersebut dibuat jadi lipatan kecil, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti kecil berwarna emas, lalu katanya kepada Ngo-oh-sam-liong, 'Jangan kalian kira kertas ini benda tak berguna. Ini merupakan umpan yang amat berharga, apalagi jika tulang ini sampai ditemukan anjing-anjing yang sedang kelaparan ... Hehehe, waktu itu kita akan mendapat tontonan menarik ... ."

Mencorong sinar mata Ko Bun, katanya sambil tertawa dingin.

"Rupanya segala sesuatunya dapat kau dengar dengan amat jelas."

Toan-bok Hong-ceng terbahak-bahak.

"Hahaha, bukan cuma kudengar jelas, bahkan kusaksikan pula dengan jelas."

Ko Bun mendelik, dengusnya.

"Dulu terdapat seorang yang amat pintar, persoalan apapun di dunia tak bisa mengelabuhi dia. Ia sendiri amat bangga, siapa tahu malaikat menganggap apa yang didengarnya dan apa yang dilihatnya sudah kelewat banyak, apa yang dipikirnyapun kelewat banyak, maka dia dijadikan seorang yang bodoh, tuli dan bisu. Sebaliknya orang yang lebih pintar daripadanya meski apa yang didengar dan dililhatnya lebih banyak, namun tidak banyak bicara. Akhirnya orang itu malah bisa hidup aman sentosa sampai akhir hayat."

Sorot matanya beralih ke wajah Toan-bok Hong-ceng, lanjutnya dengan suara dingin.

"Saudara, tahukah kau kiasan cerita tersebut?"

Toan-bok Hong-ceng mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, cerita itu memang menarik sekali, umpama diriku, walaupun kutahu pemuda itu menjadikan peta rahasia harta karun itu sebagai umpan dan jatuh ke tangan anggota Kai-pang, tapi entah apa yang dilakukan kemudian ternyata Thi-jiu-sian-wan pun mengetahui berita ini sehingga dia membunuh murid Kai-pang itu, lalu secara diam-diam ia mengabarkan kepada keluarga Siau, pihak Siau-lim-pai dan Kiong-sin Leng Liong dari Kai-pang dengan mengatakan peta rahasia itu telah jatuh ke tangan Thi-jiu-sian-wan ... ."

Setelah berhenti sebentar dan mengawasi ke sekeliling tempat itu, dia melanjutkan.

"Selain itu akupun tahu sebabnya pemuda tersebut berbuat demikian adalah karena dia dendam pada Leng-coa Mao Kau, maka sengaja dia menghasut umat persilatan agar bersama-sama memusuhinya. Sehebat-hebatnya Mao Kau dengan komplotannya jangan harap sanggup menghadapi kekuatan umum dunia persilatan!"

Ko Bun mendengus dan berkata.

"Tentunya kaupun tahu bahwa pemuda tersebut ialah diriku."

"Benar!"

Belum lenyap suara orang serentak Ko Bun membentak sambil menerjang maju, cahaya emas berkelebat, langsung dia menusuk dada Toan-bok Hong-ceng.

"Siapakah sebenarnya kau? Apa sangkut pautmu dengan orang she Mao itu?"

Bentak Ko Bun.

Walaupun ancaman itu sudah berada di atas jalan darah Ji-soan-hiat di dadanya, namun Toan-bok Hong-ceng tidak berkelit.

Dia malah mendongakkan kepala sambil tertawa keras.

Ko Bun tertegun, mendadak ia tarik kembali serangannya sambil tetap menggetarkan pedangnya.

Cahaya emas segera menyelimuti sekitar jalan darah penting di tubuh orang, namun tidak melukainya.

"Persoalan ini sedikitpun tidak lucu.

"bentak Ko Bun.

"Bila kau berani tertawa lagi... ."

Belum habis ucapannya, Toan-bok Hong-ceng telah menghentikan suara tertawanya dan mendengus.

"Aku tertawa karena melihat wajahmu mirip orang pintar, tak tahunya pertanyaan yang kau ajukan ternyata sangat bodoh!"

Baru saja Ko Bun tertegun, segera orang itu menyambung pula.

"Apakah kau tahu musuh Leng-coa Mao Kau yang paling besar saat ini adalah diriku? Apakah kau tahu Thi-soan-cu Ki Mo mampus di tangan siapa? Jika aku mempunyai hubungan dengan Leng-coa Mao Kau, apakah saat ini kau bisa bermesraan dengan putri kesayangannya yang cantik jelita bak bidadari kayangan itu?"

Selesai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak.

Seketika berkecamuk pelbagai pikiran dalam benak Ko Bun, pelahan pedang emaspun diturunkan ke bawah.

Kembali Toan-bok Hong-ceng berhenti tertawa, ia menatap wajah Ko Bun lekat-lekat, lalu berkata pula.

"Sejak mengintip Saudara dari tepi telaga tempo hari, diam-diam aku merasa kagum bercampur heran terhadap kemampuan Saudara, maka beberapa hari belakangan ini setiap saat aku selalu memperhatikan gerak-gerikmu. Kulihat meski usia Saudara masih muda, namun cara kerjamu amat cermat, bahkan manusia licik macam Leng-coa Mao Kau pun kena kau kibuli. Bahkan kulihat kaupun amat dendam kepadanya, sehingga apa yang kau gunakan hampir semuanya menirukan apa yang pernah dia lakukan, meski dalam beberapa hal kau lebih kejam. Akupun melihat semua perbuatan dan tindakan yang kau lakukan tak ada yang menyimpang dari keadilan. Meski aku jarang bergaul, tapi terhadap Saudara, aku ingin bersahabat dengan sesungguh hati. Maka bila kau sangka aku mempunyai maksud lain, sungguh hal ini membuat aku kecewa sekali."

Ko Bun mendongakkan kepala dan menatapnya, ia lihat sorot mata Toan-bok Hong-ceng menampilkan kegagahan yang mengagumkan, ini membuat hatinya menyesal. Setelah menghela napas, katanya kemudian.

"Aku memang mempunyai dendam kesumat sedalam lautan pada Mao Kau, sekalipun kucincang dia juga belum bisa melampiaskan rasa benciku. Oleh karena itu seperti apa yang kau katakan, dalam banyak hal mungkin tindakanku agak licik dan kejam ... ."

Ia berhenti sebentar, sinar matanya memancarkan rasa benci yang tebal. Kejadian tragis masa lampau seakan-akan terbayang kembali dalam benaknya. Setelah termenung sejenak, kembali dia berkata.

"Bukannya aku tak ingin berterus terang kepadamu, sesungguhnya berhubung masalah ini menyangkut sebab dan akibat yang luas, masalahnya sendiripun amat ruwet, kuharap keu memaklumi dan tidak menyalahkan diriku."

"Malam ini kudatang mengganggu, sebetulnya dikarenakan suatu persoalan.

"Toan-bok Hong-ceng dengan tertawa.

"Asal kutahu, tentu akan kukatakan."

"Meski selama beberapa hari ini aku telah banyak memahami Saudara, namun masih ada satu hal yang membuat aku tidak mengerti. Kumohon suka kau jelaskan kepadaku."

Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Kuduga peta rahasia milikmu pasti hasil pemberian Hay-thian-ko-yan. Kulihat kaupun mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Ngo-oh-liong-ong Liong-locainpwe. Bahkan kulihat sistem senjata rahasia yang Saudara pasang dalam peti besi itu, jelas mirip sekali dengan sistem alat jebakan yang sering dipergunakan oleh Seng-jiu-sianseng pada puluhan tahun lampau. Padahal kedua orang Locianpwe itu sudah lama lenyap. Entah cara bagaimana Saudara bisa mendapatkan warisan ketiga orang Locianpwe itu sekaligus?"

Ko Bun tersenyum.

"Ketiga orang Locianpwe itu sama-sama mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil di luar lautan. Berkat jerih payah ketiga cianpwe itulah aku dapat tumbuh menjadi manusia."

"Aha, pantas semuda ini anda sudah menguasai ilmu silat begini lihai, rupanya engkau adalah murid ketiga orang locianpwe tersebut.

"ucap Toan-bok Hong-ceng sambil tertawa.

"Akupun ingin mengajukan suatu pertanyaan kepada Saudara.

"kata Ko Bun dengan tertawa.

"Hahaha, asal aku tahu, pasti akan kukatakan.

"sahut Hong-ceng.

"Tolong tanya, Saudara ini murid Totiang yang mana dalam Bu-tong-pai?"

"Sebenarnya aku hanya seorang pelajar yang gemar mengumpulkan buku kuno. Bahkan risalah-risalah yang tak lengkappun suku kukumpulkan. Suatu ketika aku menemukan kitab pusaka peninggalan seorang locianpwe perguruan Bu-tong-pai. Peta rahasia itu kutemukan terselip dalam kitab tadi."

"Hahaha, pantas kau hebat.

"Ko Bun tergelak. Ketika ia mendongakkan kepala, dilihatnya Toan-bok Hong-ceng sedang termenung seperti lagi mengenang sesuatu, dia lantas berpikir.

"Jangan-jangan orang inipun mempunyai kenangan masa lalu yang getir?"

Tiba-tiba terdengar Toan-bok Hong-ceng menghela napas panjang, lalu berkata.

"Tujuh belas tahun yang lalu aku terhitung seorang sastrawan rudin. Suatu waktu aku berpesiar dan kebetulan memergoki sekawanan penyamun mengadang suatu rombongan pengawal barang dari Ceng-wi-piaukiok yang berasal sekota denganku. Tanpa bicara mereka merampok barang kawalan tersebut dan melemparkan uang rampokan ke jalan raya. Selagi aku tercengang tibatiba muncul seorang tojin berpedang dan bertanya kepadaku apakah ingin belajar ilmu dan beliau mau menerimaku sebagai murid. Kulihat tojin itu berasal serombongan dengan kawanan penyamun itu. Dengan sendirinya permintaannya kutolak."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Kemudian aku baru tahu kawanan bandit itu dipimpin oleh Leng-coa Mao Kau. Maka setelah tamat belajar kungfu, akupun mulai turun tangan membegal setiap barang kawalan perusahaan pengangkutan yang ada hubungannya dengan orang she Mao itu."

Ia mendongakkan kepala dan tergelak, lalu menyambung.

"Ini namanya dengan cara yang sama kita bayar kembali kepada mereka."

Kedua orang itu saling bertatap pandang lalu bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak.

Rasa curiga yang semula menyelimuti benak Ko Bun terhadap Kim-kiam-hiap pun kini tersapu bersih.

Sejak kecil hingga dewasa, waktu paling gembira yang pernah dialaminya sebagian besar dilewatkan di pulau terpencil yang luasnya hanya beberapa ratus li saja.

Orang yang bergaul dengannya kalau bukan guru tentu angkatan tuanya.

Meski semua tokoh persilatan yang berdiam di pulau itu menyayanginya, tapi oleh karena perbedaan usia yang menyolok, apalagi mereka sudah bosan dengan urusan duniawi, kehidupan selama berpuluh tahun di pulau terpencil itu membuat mereka hidup hambar.

Maka walaupun mereka sayang kepada Ko Bun, tak pernah rasa sayang tersebut diperlihatkan pada wajahnya.

Oleh karena itulah sejak kecil boleh dibilang Ko Bun belum pernah merasakan hangatnya persahabatan.

Ditambah lagi cita-citanya adalah untuk membalas dendam, hal ini membuat jiwanya serba terkekang.

Tapi sekarang, setelah dapat berbincang-bincang dengan Toan-bok Hong-ceng secara santai dan riang, lambat laun dia mulai merasakan makna sesungguhnya dari kata 'persahabatan' tersebut.

Perasaan semacam ini belum pernah dirasakan sebelumnya.

Di tengah embusan angin yang menggoyangkan dedaunan, kedua orang itu berjalan berdampingan dengan riangnya.

Tiba-tiba Toan-bok Hong-ceng berkata.

"Kini fajar telah menyingsing. Walaupun aku ingin berbincang lebih lama lagi dengan Saudara, tapi sayang kutahu Saudara pun tak dapat berdiam lama disini. Untung waktu selanjutnya masih panjang. Kesempatan buat bersuapun masih banyak. Asal Saudara tidak keberatan, setiap waktu aku dapat mengunjungimu, cuma ..."

Setelah menghela napas, dia melanjutkan.

"Bila Saudara bercita-cita membalas dendam, kau harus lebih waspada lagi. Ketahuilah, Leng-coa Mao Kau adalah seorang licik dan licin. Meski di luar dia seperti tidak menaruh curiga kepadamu, tapi belum tentu demikian halnya di dalam hati. Saudara gagah dan tampan, namun sejak dulu hingga sekarang, banyak kesatria yang terjerumus karena cinta. Maka akupun berharap Saudara dapat menimbang secara bijaksana dalam hal bercinta."

Terkesiap Ko Bun mendengar ucapan itu, serunya kemudian dengan sungguh-sungguh.

"Nasihat Saudara takkan kulupakan."

Tanpa terasa ia terbayang akan nasib ayahnya dan Sik Ling, bukankah merekapun korban 'cinta'?

akibatnya yang satu mati muda dan yang lain hidup sengsara.

Diam-diam ia menghela napas panjang, dilihatnya sorot mata Toan-bok Hong-ceng memancarkan sinar kejujuran.

Tanpa terasa digenggamnya tangan pemuda itu erat-erat sebelum berpisah.

---ooo0ooo ---Rembulan sudah terbenam, cahaya bintang semakin pudar, berdiri di tengah embusan angin pagi, dengan termangu-mangu Ko Bun mengawasi bayangan punggung Toan-bok Hong-ceng.

Ia merasa orang itu bagaikan seekor naga sakti yang pergi datang sukar diraba, terutama apa yang diucapkannya sebelum pergi itu telah menggugah perasaannya.

Sambil mendongakkan kepala memandang angkasa, ia bergumam sedih.

"Siu Su .., wahai Siu Su ... walaupun namamu Siu Su (permusuhan disudahi), namun sakit hati ayah tak boleh diabaikan. Akan tetapi dapatkah kaulupakan ibumu yang telah memeliharamu serta tujuannya memberi nama tersebut kepadamu? Bila kaubunuh musuhmu, apakah hal ini tak akan menyedihkan ibu? Dan bila tidak kaubalas dendam, apakah kau punya muka untuk bertemu dengan arwah ayahmu di alam baka?"

Setelah menghela napas panjang, gumamnya pula dengan sedih.

"O Thian, berilah petunjuk apa yang mesti kulakukan? O ayah ... kutahu betapa dalamnya cintamu kedada ibu, tapi demi engkau, terpaksa kubikin ibu bersedih hati ... ."

Ia mengentak kaki beberapa kali, lalu melanjutkan.

"Aku tak peduli manusia macam apakah dirimu, tapi kutahu engkau seorang tua yang jujur dan lurus. Engkau tak mungkin melakukan perbuatan rendah. Siapapun yang membunuh engkau, tetap akan kubalaskan dendam bagimu, sekalipun ... sekalipun orang itu adalah saudara kandung ibu sendiri."

Fajar sudah menyingsing, buru-buru dia balik ke kota.

Sudah bulat tekadnya, persoalan macam apapun tak kan mempengaruhi dan mengubah tekadnya yang diucapkan sebelum meninggalkan pulau Hay-thian-ko-to, yakni membalas dendam.

Mungkin dia tak akan membunuh Leng-coa Mao Kau dengan tangan sendiri, akan tetapi dia akan membuat gembong dunia persilatan yang termashur itu mati dalam perangkap yang akan diaturnya.

Siu Su, inilah nama asli pemuda "Ko Bun", dia putra Siu Tok yang menjadi korban keganasan Mao Kao, cara bagaimana dia akan menuntut balas ?

Siapa pula sesungguhnya pemuda Toan-bok Hong-ceng ?

-Bacalah

Jilid ke 8

Jilid 08 Gerak tubuhnya enteng dan cepat, meskipun waktu itu sudah saatnya matahari terbit,, namun orang lain sukar melihat jelas gerakan tubuhnya, sekalipun dapat melihatnya juga akan sangsi mata sendiri yang kabur, karena sukar dipercaya manusia bisa bergerak secepat ini.

Dia mengerahkan segenap tenaganya untuk lari, ia berharap sebelum Mao Bun-ki bangun tidur ia sudah berada kembali disana.

Apa yang dibicarakannya semalam dengan Toan-bok Hong-ceng masih menggelora dalam hatinya, sebab pembicaraan itu telah membangkitkan kenangan masa lalu dan membangkitkan kemurungannya selama berapa hari belakangan ini.

Udara pagi sejuk bagaikan baru diguyur air, kota pada waktu pagi pun tampak semarak, inilah udara cerah yang sering dijumpai didaerah kanglam.

Setelah melewati beberapa wuwungan rumah, dia kembali kerumah penginapan, ia memperhatikan sekeliling tempat itu, lalu melompat turun kebawah, jendela kamarnya masih terbuka seperti waktu keluar tadi, segala sesuatunya tiada perubahan.

Empat penjuru amat hening, siapa pun tak akan mengira dia pernah meninggalkan tempat itu semalam.

Ia tersenyum puas dan menyilanap masuk melalui jendela.

Tapi setelah melihat keadaan didalam ruangan, seketika ia terkesiap, cepat ia pegang kusen jendela dan melompat keluar pula.

Baca Juga: Dendam Asmara 2

Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa Gan Kl

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger