Eps 2 Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Baca online Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Cersil Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL.
Sementara itu Ong-lotoa telah mencabut pisau belatinya sambil melompat ke atas meja, teriaknya.
"Mau bertaruh atau tidak?"
Gelagatnya seakan-akan jika pemuda itu menolak ajakannya, maka dia akan membunuh pemuda tersebut.
Diam-diam Sik Ling menyelinap ke belakang pemuda itu.
Ia menaruh kesan baik kepadanya, maka diapun bersiap-siap andaikata terjadi hal-hal yang tak diinginkan, dia akan menolongnya.
Tapi pemuda itu masih tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, katanya.
"Masa berjudi pun pakai paksaan? Kalau aku menolak, mau apa kau? Ingin adu jiwa?"
Dalam pada itu Sik Ling telah memperhatikan pemuda itu dengan saksama, ia sama sekali tidak menemukan pertanda pemuda itu pernah belajar silat.
Kedua tangannya putih dan halus, persis tangan orang perempuan.
Tapi kegagahan dan keberaniannya mengagumkan.
Disamping menguatirkan keselamatannya, Sik Ling merasa orang inipun sangat menarik hati.
Mata Ong-lotoa mendelik.
Sinar buas terpancar dari balik matanya.
Dengan suara keras dia membentak.
"Kalau aku hendak beradu jiwa, kau berani?"
Walaupun ia mengetahui pemuda itu lain daripada yang lain, seperti anak keluarga mampu, tapi menghadapi manusia yang sepanjang tahun bergelimangan di ujung golok, perbuatan apapun sanggup dilakukan orang begini.
Sambil putar belatinya, kembali dia berlagak hendak menerjang.
Mencorong tajam sinar mata pemuda itu.
Ia seperti merasa takut, sambil mundur dua langkah serunya.
"Kau hendak merampok?"
Seraya berkata matanya mengerling kesana kemari seperti ingin mencari jalan guna melarikan diri. Diam-diam Sik Ling tertawa geli, pikirnya.
"Dasar pelajar lemah, tidak tahu digertak."
Segera ia hendak memberi pertolongan. Baru saja Ong-lotoa siap menerkam, tiba-tiba leher baju belakang dicengkeram orang terus dilemparkan.
"Bluk", ia terbaring di lantai. Cepat ia merangkak bangun. Waktu mendongakkan kepala, makian yang nyaris meluncur keluar ditelan kembali. Sik Ling ikut berpaling. Semua orang memperlihatkan wajah ketakutan. Setelah melihat siapa orang itu, cepat ia melengos lagi. Orang itu berbadan gemuk, perawakannya tidak terlalu tinggi, meski begitu wibawanya cukup besar karena dia bukan lain adalah Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui, Congpiautau perusahaan pengawalan Peng-an-piaukiok. Sik Ling adalah sahabat lamanya dulu, tapi ia tak begitu senang pada orang ini, sebab dari julukannya "Pat-bin-ling-long"
Sudah diketahui orang ini pandai meraih sini dan merangkul sana. Padahal Sik Ling paling benci pada orang yang berwatak demikian. Oleh sebab itu dia lantas melengos dan tak ingin menyapanya.
"Keparat tak tahu malu.
"terdengar Oh Ci-hui membentak.
"Sudah kalah bertaruh ingin mungkir?"
Lalu ia menghampiri Sik Ling, sapanya.
"Saudara Sik, sudah lama berpisah, bertemu dengan sobat lama kenapa tidak bertegur sapa?"
Apa boleh buat Sik Ling berpaling, sahutnya dengan tertawa.
"Aha, kukira siapa? Rupanya Oh-toako."
Oh Ci-hui terbahak-bahak.
"Haha, tak nyana Saudara Sik masih ingat padaku. Sudah lama tak bersua, engkau masih seperti dulu juga, malah suka minum arak lagi. Bagus sekali, hari ini kita harus minum beberapa cawan."
Sambil tertawa iapun berpaling ke arah pemuda tadi dan menambahkan.
"Saudara, jika tidak keberatan, mari minum pula dua cawan arak. Anggaplah sebagai permintaan maafku."
Sekalipun ia sedang memohon persetujuan orang, tapi lagaknya seakan-akan orang sudah mau. Ia lantas berseru.
"Cepat kumpulkan uang milik Siangkong itu. Awas jika lain kali kalian berani membuat kegaduhan lagi!"
Dalam waktu singkat ia bisa berubah-ubah sikap dan tindakan, pantas ia disebut Pat-bin-linglong atau delapan penjuru serba beres. Diam-diam Sik Ling menggelengkan kepala, pikirnya.
"Orang ini betul-betul model seorang siau-jin (orang rendah)."
Sementara itu si pemuda telah tersenyum seraya berkata.
"Uang ini apa gunanya bagiku? Bagikan saja untuk anak buah anda!"
Oh Ci-hui tertegun. Ia melirik sekejap tumpukan uang di meja, jelas jumlahnya tak sedikit. Oh Ci-hui sendiri sampai tergerak juga hatinya melihat jumlah sebanyak itu. Katanya kemudian.
"Ah, Kurasa kurang baik ....."
"Cuma sejumlah kecil ini, apalagi artinya? Harap Saudara jangan sungkan-sungkan.
"kata pemuda itu. Oh Ci-hui tertawa, katanya.
"Hahaha, kalau begitu baiklah, kuturuti saja. Tapi Saudara pun harus memberi muka kepadaku untuk minum barang dua cawan arak."
"O, tentu!"
Pemuda itu menjawab.
Jawaban cepat dan lugas, seakan-akan menerima tawaran itu dengan segala senang hati.
Diam-diam Sik Ling mengamati pemuda itu.
Ia merasa orang mempunyai banyak keistimewaan.
Usianya masih muda, tidak seharusnya cara bicaranya bisa begitu tenang seakan-akan sudah berpengalaman banyak.
Maka dalam hati Sik Ling mulai tertarik, iapun tidak menampik undangan Oh Ci-hui untuk minum bersama.
Dalam pembicaraan yang kemudian berlangsung, pemuda itu memperkenalkan diri bernama Ko Bun, anak saudagar dari Kwitang.
Adapun perjalanannya ini adalah untuk mencari pengalaman di wilayah Kanglam.
Tapi Sik Ling merasa curiga, sebab orang sedikitpun tidak mirip anak saudagar.
Ketika diperhatikan lebih saksama, dalam pembicaraan Ko Bun tampak berusaha membaiki Oh Ci-hui.
Hal ini tentu saja mengherankan Sik Ling, sebab anak muda itu tidak mempunyai kepentingan untuk berbuat demikian, juga tidak mungkin cocok berteman dengan si gemuk yang serba menjemukan itu.
Sewaktu Oh Ci-hui menawarkan untuk melakukan perjalanan bersama, Ko Bun segera menyetujui, malah wajahnya kelihatan senang.
Semuanya itu tak terlepas dari pengawasan Sik Ling.
Dia menduga Ko Bun tentu mempunyai rencana tertentu, cuma dia belum tahu apa rencana pemuda itu dan apa pula tujuannya.
Sik Ling makin tertarik oleh kjd ini, apalagi dia memang berkelana tanpa tujuan, maka keesokkan harinya bertiga merekapun berangkat di belakang iringan kereta barang.
Sepanjang jalan mereka bertiga selalu bercakap dan bergurau, rupanya Ko Bun menaruh perhatian terhadap kejadian dalam dunia persilatan.
Sepanjang jalan tiada hentinya ia minta petunjuk dari Sik Ling maupun Oh Ci-hui.
Ketika bicara soal jago persilatan, Oh Ci-hui mengacungkan jempolnya dan berkata.
"Berbicara tokoh persilatan, kecuali toakoku Leng-coa Mao Kau, sulit rasanya mencari orang kedua yang sama hebatnya seperti dia."
Senyuman aneh tersungging di ujung bibir Ko Bun, katanya.
"Orang kedua tentunya Ohtoako sendiri, bukan?"
Oh Ci-hui tertawa terbahak-bahak.
"Hahahah, kalau aku sih belum masuk hitungan."
Meski begitu, ia tampak sangat bangga.
Sik Ling mengawasinya dari samping, makin lama makin banyak keanehan pada pemuda itu.
Keroyalannya menggunakan uang seakan-akan harta kekayaan keluarganya membukit, sedang Oh Ci-hui masih belum juga merasakan apa-apa.
Ia terus memuji Mao Kau, tentu juga memuji diri sendiri.
Sementara Ko Bun dengan senyum dikulum cuma mendengarkan.
Meski senyumannya agak aneh, Sik Ling dapat melihatnya dengan jelas.
Kereta keluar dari kota Tin-kang, melewati Tan-yang, Bu-cin langsung menuju ke Bu-sik.
Pemandangan alam di wilayah Kanglam memang sangat indah.
Ko Bun tampak gembira sekali, tampaknya memang baru pertama kali ini berkunjung ke Kanglam.
Oh Ci-hui sendiri seperti tidak terburu-buru melakukan perjalanan.
Hari belum lagi gelap mereka lantas mencari penginapan.
Dengan perjalanan yang begitu santai, meski sudah berjalan tiga hari, lbm seberapa jauh jarak yang mereka tempuh.
Sik Ling menjadi heran, pikirnya,"
Kalau bagian caranya melakukan perjalanan, mana mirip suatu rombongan pengawal barang?"
Setelah lewat sehari lagi, Sik Ling kembali menemukan suatu kejadian aneh.
Sepanjang jalan ternyata di samping kereta barang selalu muncul orang yang berdandan sebagai saudagar, namun sekilas pandang saja dapat diketahui mereka adalah jago silat.
Pada mulanya dia mengira orang-orang itu adalah mata-mata kaum perampok.
Tapi setelah diamati sekian lama, ia lihat orang-orang itu meski berlagak tidak kenal dengan Oh Ci-hui, tapi secara sengaja tak sengaja mereka selalu bertukar kedipan mata atau kode tangan dengan Oh Ci-hui.
Sik Ling sudah cukup lama berkelana dalam dunia persilatan, macam-macam kejadian pernah dialaminya.
Tapi kejadian yang dihadapinya sekarang cukup membuatnya keheranan, sebab mengawal barang adalah pekerjaan yang bersifat terbuka, lantas mengapa mereka main sembunyi-sembunyi dan penuh rahasia?
Ketika kereta meninggalkan Tan-yang, di depan terbentang jalan yang sepi.
Sik Ling mengira Oh Ci-hui tentu akan memerintahkan untuk beristirahat lebih dulu.
Siapa tahu Oh Ci-hui bersikap di luar kebiasaan.
Ia menitahkan anak buahnya melakukan perjalanan malam.
Sik Ling tahu kejadian ini agak mencurigakan, namun perasaan tersebut tak diperlihatkannya.
Perlu diketahui, biasanya para pengawal barang baru mau melakukan perjalanan malam bila jalan raya yang dilalui adalah jalan perdagangan yang ramai.
Tapi begitu memasuki daerah yang rawan dan sepi, mereka selalu mencari tempat pemondokan sebelum hari gelap, hal ini tentu juga untuk mencegah kemungkinan dirampok.
Padahal Pat-bin-ling-long adalah seorang yang sangat berhati-hati.
Setiap tindak bila dirasakan cukup aman dan meyakinkan baru berani melakukannya.
Sudah barang tentu tindakannya sekarang amat janggal.
Ko Bun sama sekali tidak paham hal-hal begitu.
Duduk di atas pelana, sambil memandang bintang yang bertaburan di angkasa, katanya dengan gembira.
"Saudara Oh, memang lebih enak melakukan perjalanan malam, selain udaranya sejuk, bisa pula menikmati keindahan malam. Bukankah hal ini menarik sekali?"
Diam-diam Sik Ling menghela napas, pikirnya.
"Ai, kau benar-benar seorang Kongcu yang tak tahu apa-apa!"
Kembali perjalanan dilakukan sekian lama, dari depan sana muncul selapis tabir hitam gelap, tampaknya sebuah hutan. Si pelopor jalan datang memberi laporan kepada Oh Ci-hui.
"Tenda hijau di depan amat lebat. Apakah perlu mencari keterangan dulu?"
"Tidak perlu!"
Jawab Oh Ci-hui sambil mengayun cambuk. Lalu ia berpaling ke arah Ko Bun, katanya dengan tertawa.
"Cara kerjaku selalu demikian, tidak suka banyak sangsi segala."
"Memang begitulah sifat seorang kesatria!"
Puji Ko Bun sambil mengacungkan jempolnya.
Baru selesai ia berkata, mendadak dari arah belakang berkumandang suara derap kaki kuda yang sangat ramai.
Waktu Sik Ling berpaling, ternyata rombongan kuda itu tidak menuju ke arah mereka melainkan berputar satu lingkaran.
Ia mengangkat bahu dan mentertawakan dirinya sendiri yang sok curiga.
Tapi ketika rombongan kereta memasuki hutan yang gelap itu, ia merasa agak kuatir, karena tempat semacam ini adalah tempat yang paling baik bagi kaum Lok-lim (bandit) untuk bekerja.
Ingin mencari tempat lain di wilayah Kanglam seperti ini pasti akan sulit.
Ia coba memandang Oh Ci-hui, di bawah remang malam sulit melihat perubahan air mukanya.
Tapi tangan yang memegang tali kendali kuda kelihatan agak gemetar.
"Betapapun dia merasa takut juga.
"demikian Sik Ling berpikir.
"kalau takut, mengapa dia bertindak demikian?"
Ia berusaha memeras otak, namun tak menemukan jawabannya.
Diam-diam mereka berkeringat dingin dengan hati kebat-kebit, tapi anehnya kereta barang itu berhasil menyusur hutan dengan selamat, sedikitpun tidak terjadi apa-apa.
Begitu keluar dari hutan, Oh Ci-hui mengembuskan napas lega, tapi dibalik helaan napas tersebut lamat-lamat seakan-akan merasa kecewa pula.
"Hutan ini betul-betul mengesalkan.
"kata Ko Bun sambil tertawa. Tiba-tiba ia menuding kemuka dengan cambuknya dan bertanya lagi.
"Eh, kenapa di depan sana masih ada hutan kecil?"
Sik Ling memandang ke arah yang ditunjuk, betul juga di depan sana muncul lagi selapis tabir berwarna hitam gelap, bentuknya mirip sebuah hutan. Siapa tahu, belum habis ingatan tersebut terlintas.
"hutan"
Itu sudah bergerak mendekat. Kiranya yang mereka sangka sebagai hutan itu tak lain adalah serombongan manusia berkuda.
"Ah, rupanya aku salah lihat.
"kata Ko Bun dengan tertawa. Diam-diam Sik Ling merasa kuatir, biasanya gerombolan yang berkumpul di tempat kegelapan, selain kaum pembegal tiada rombongan macam lain lagi. Ia menjadi serba salah. Bila benar menghadapi peristiwa demikian, dia tak tahu bagaimana harus bertindak. Jika membantu Oh Ci-hui ia merasa tiada harganya, kalau tidak membantu bagaimanapun mereka melakukan perjalanan bersama. Bila orang menemui kesulitan dan ia cuma berpeluk tangan saja, hal ini jelas tidak pantas. Sementara itu rombongan manusia berkuda itu sudah berhenti bergerak. Anehnya mereka tidak menggubris kereta barang yang berjalan di depan, sebaliknya malah menghampiri Pat-binling-long Oh Ci-hui.
"Saudara semua tentu sudah lelah.
"kata Oh Ci-hui sambil tertawa nyaring.
"Oh-samko, kenapa kau berkata demikian?"
Sahut orang-orang itu beramai-ramai.
"Keparat yang bernama Kim-kiam-hiap ternyata tidak muncul kali ini, anggap saja dia lagi mujur.
"kata Oh Ci-hui kemudian. Setelah tertawa panjang ia melanjutkan.
"tempo hari, apakah Lau-siu-piaukiok dari Kang-beng tertimpa musibah disini?"
"Benar!"
Jawab seseorang.
"tepat dalam hutan tadi."
Dari tanya jawab yang berlangsung segera Sik Ling paham duduk perkara, pikirnya.
"Kiranya mereka menyiapkan jebakan untuk memancing Kim-kiam-hiap masuk perangkap. Kalau begitu, agaknya aku sendiri yang sok kuatir tak perlu."
Sementara itu, Oh Ci-hui berkata lagi.
"Kupikir di depan sana tak mungkin akan terjadi sesuatu, besok malam kita akan sampai di tempat tujuan. Bila kalian tak ada urusan, apa salahnya ikut ke Bu-sik? Setelah menyerahkan barang kawalan, kita berpesta pora bersama."
Rombongan penunggang kuda itu terdiri dari sembilan orang.
Mereka adalah lelaki kekar yang berpinggang kasar dan berdada lebar, mata bersinar tajam dalam kegelapan, jelas kungfu mereka tidak lemah.
Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang lelaki yang bertubuh ceking, tapi bermata tajam.
Sambil menjura katanya dengan gelak tertawa.
"Maksud baik Oh-samko biar kami terima di dalam hati saja. Cuma kami harus segera pulang untuk memberi laporan, mungkin Mao-toako masih ada perintah lain."
"O, kalau Mao-toako masih ada urusan, memang lebih baik saudara sekalian segera pulang, jangan lupa titip salam kepada Toako."
Penunggang kuda itu mengiakan, tiba-tiba seorang berkata lagi.
"Perlukah kami antar Ohsamko sampai ke tempat tujuan lebih dahulu?"
Oh Ci-hui tertawa.
"Ah, saudara sekalian benar-benar menganggap aku barang yang tak berharga, masa jalan pendek ini tak mampu kuselesaikan sendiri?"
Maka rombongan penunggang kuda itupun berpamitan dan berangkat menuju ke arah lain.
Memandangi bayangan itu lenyap, dengan bangga Oh Ci-hui mempermainkan cambuk kudanya, kemudian berkata sambil tertawa.
"Bila ada orang ingin mengusik barang kawalanku di wilayah Kanglam, mungkin mata orang itu sudah lamur."
Sik Ling ikut tertawa, tanyanya kemudian.
"Siapakah rombongan penunggang kuda tadi?"
"Mereka adalah kawan kami Thi-khi-sin-pian-tui (barisan ruyung sakti pengunggang baja) yang malang melintang dalam dunia persilatan.
"tutur Oh Ci-hui dengan bangga sekali. Tapi ketika berpaling, ia berseru dengan tercengang.
"He, kemana perginya Ko Bun. Saudara Ko?"
Sik Ling juga berpaling, benarlah Ko Bun yang selalu duduk di atas kudanya kini sudah lenyap tak berbekas.
Ia menjadi terkejut, sebab Ko Bun seorang pemuda yang lemah, kalau sampai tersesat di tengah hutan yang gelap, bisa berabe.
"Aduh, aku juga tidak memperhatikannya?"
Demikian ia berpikir dengan kening berkerut. Apalagi bila terbayang cara Ko Bun yang duduk di kudanya dengan sempoyongan, makin kencang keningnya berkerut.
"Saudara Ko tak pandai menunggang kuda, badannya lemah tak bertenaga, kalau sampai tertimpa musibah, kitalah yang salah.
"dia mulai menyesal mengapa perhatiannya hanya tertuju pada rombongan penunggang kuda tadi sudah tidak memperhatikan diri Ko Bun. Oh Ci-hui sendiri pun agak gelisah, serunya kemudian.
"Saudara Sik, mari kita mencarinya."
Tanpa bicara Sik Ling melompat turun dari kudanya dan berlari balik ke dalam hutan sana.
Baru saja mereka berdua mengitari hutan itu setengah lingkaran, tiba-tiba terdengar jeritan ngeri berkumandang susul menyusul.
Air muka Sik Ling berubah hebat, bentaknya tertahan.
"Saudara Oh, cepat kita tengok kesana!"
Bagaikan burung dia menerjang ke arah suara jeritan ngeri itu.
Oh Ci-hui segera menyusul dari belakang.
Dari sini dapat terlihat betapa lihainya kungfu Sik Ling.
Hanya beberapa kali lompatan saja ia telah meninggalkan Pat-bin-ling-long beberapa tombak jauhnya.
"Saudara Sik, jangan cepat-cepat!"
Oh Ci-hui berteriak.
Karena gelisah, Sik Ling mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang tinggi.
Dia menerobos ke tempat kejadian secepat terbang.
Oh Ci-hui yang gemuk tidak lemah pula ilmu meringankan tubuh, apalagi namanya cukup tersohor dalam dunia persilatan, ia dapat mengikuti dengan ketat.
Tiba-tiba berkumandang jeritan kaget Sik Ling.
Oh Ci-hui ingin merangkul pemuda kaya raya Ko Bun, mendengar jerit kaget Sik Ling, disangkanya Ko Bun tertimpa bencana.
Cepat dia menyusul kesana.
Dilihatnya Sik Ling berdiri membelakanginya dengan tercengang.
Ketika ia menyusul tiba di tempat tujuan, tanpa terasa jeritan kaget pun tercetus dari mulutnya.
Hawa murni dalam tubuhnya buyar dan jatuh lemas ke tanah.
Ternyata sembilan mayat tergeletak di atas tanah.
Mereka bukan lain adalah rombongan penunggang kuda yang disebut sebagai Thi-khi-sin-pian-tui tadi.
Pucat pias wajah Oh Ci-hui, desisnya gemetar.
"Ini ... ini ...
"kata-kata selanjutnya tak sanggup diucapkan lagi. Tiba-tiba terdengar suara rintihan lirih agaknya salah satu dari ke sembilan orang itu belum putus nyawanya. Cepat Oh Ci-hui melompat ke sampingnya. Ia berjongkok dan berseru.
"Apa yang terjadi ..."
Mata orang itu melotot, wajahnya diliputi rasa takut dan ngeri.
Mulutnya terpentang seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat bicara nyawanya keburu melayang.
Dengan pedih Oh Ci-hui melengos ke arah lain.
Sembilan jago Thi-khi-sin-pian-tui yang merupakan pasukan andalan Leng Coa Mao Kau ternyata dibantai orang dalam waktu sekejap tanpa seorangpun lolos dengan selamat.
Peristiwa ini sungguh mengerikan sekali.
Perlahan Pat-bin-ling-long bangkit berdiri, mendongakkan kepala dan menghela napas panjang, desisnya dengan sedih.
"Siapa yang melakukan perbuatan ini? Mungkinkah Kim-kiamhiap?"
Dia tahu kungfu Thi-khi-sin-pian-tui sangat lihai tapi kenyataannya sekarang mereka mati terbunuh sekaligus dalam waktu singkat.
Peristiwa ini betul-betul di luar dugaan dan luar biasa.
Sik Ling coba memeriksa salah satu mayat, ternyata tidak ditemui luka pada tubuhnya.
Ketika periksa mayat yang lain, keadaannyapun sama.
Ternyata sembilan orang itu tewas akibat tutukan jalan darah pada tempat yang mematikan, malah ada yang sedang meraba ruyung di pinggangnya tapi sebelum senjata keburu dilolos, jiwanya sudah melayang duluan.
Tanpa terasa Sik Ling menarik napas dingin, pikirnya.
"Siapakah jago dalam dunia persilatan dewasa ini yang memiliki kepandaian sehebat ini?"
Maka diapun memberi penjelasan untuk dirinya sendiri.
"Mungkin pekerjaan ini tidak dilakukan satu orang. Bila ada sembilan orang turun tangan bersama untuk menghadapi ke sembilan orang ini maka persoalannya pasti lebih gampang dijelaskan."
Hilang senyum Oh Ci-hui yang biasa menghiasi bibirnya. Setelah terkesiam sekian lama, tiba-tiba terlintas satu pikiran dalam benaknya, cepat dia membentak.
"Saudara Sik, lekas pergi!"
Secepat terbang dia meluncur ke depan.
Rupanya dia kuatir termakan siasat "memancing harimau meninggalkan gunung", sementara dia berada disini, tahu-tahu barang kawalannya dibegal orang.
Maka ia buru-buru kembali ke tempat tadi.
Dia tak menyangka, seandainya orang itu hendak membegal barang kawalannya, sekalipun dia ada disitu juga tiada gunanya?
Bicara soal kepandaian ia masih terpaut jauh dibandingkan orang.
Begitulah Oh Ci-hui melompat ke depan dengan cepat disusul Sik Ling dari belakang.
Tiba di luar hutan mereka lihat kereta barang masih menanti di tempat kegelapan dengan aman.
"Saudara berdua pergi kemana?"
Seseorang menegur tiba-tiba. Sik Ling berpaling, ternyata dia tak lain adalah Ko Bun yang sedang mereka cari itu. Buru-buru Sik Ling menghampirinya seraya menegur.
"Saudara Ko, kemana tadi? Bikin kami kuatir."
Meskipun nadanya setengah mengomel, tapi penuh rasa persahabatan.
Air muka Ko Bun berubah tak tenang, agaknya hatinya tergerak oleh rasa persahabatan ini.
Cepat senyuman menghiasi pula bibirnya, agaknya pemuda ini berusaha menyembunyikan perasaannya itu.
"Maaf saudara.
"katanya kemudian.
"sesungguhnya aku tak pandai menunggang kuda. Beberapa hari belakangan ini kakiku terasa pegal, apalagi hari ini harus melakukan perjalanan terlalu jauh, aku hampir tak tahan. Maka mumpung ada kesempatan tadi aku pergi jalan-jalan sejenak. Sekarang sudah rada enakan keadaanku."
Sik Ling tertawa. Dia jadi teringat kembali pada tandu yang ditumpangi pemuda ini kemarin, katanya kemudian.
"Jika Saudara Ko ingin berpesiar, mana mungkin berpesiar dengan menumpang tandu?"
"Benar! Benar!"
Sahut Ko Bun. Apapun yang dikatakan orang ia selalu menyatakan akur, padahal apa sesungguhnya yang dipikirnya, hanya dia sendiri yang tahu. Dalam pada itu Oh Ci-hui telah mendekati mereka, katanya.
"Sungguh beruntung kereta barangnya tidak apa-apa. Lebih baik cepat tinggalkan tempat ini."
Terhadap ke sembilan sosok mayat itu, ternyata dia tidak ambil pusing lagi. Sik Ling bergidik sendiri, pikirnya.
"Pat-bin-ling-long benar-benar hanya mementingkan diri sendiri tanpa rasa setia kawan sedikitpun."
Tapi ia tidak berkata apa-apa.
Selama belasan tahun ini wataknya sudah banyak berubah.
Bila ia merasa ada perkataan yang tidak patut dikatakan, maka tidak akan dikatakannya.
Bila ada persoalan yang dianggap tak pantas dilakukan, iapun takkan melakukannya.
Darah panas waktu mudanya kini sudah terhapus tak membekas.
Begitulah rombongan keretapun melanjutkan perjalanan, tak sampai satu jam mereka telah tiba di kota kecil yang terdekat.
Seperti burung yang sudah ketakutan tersambar panah, setibanya di penginapan, Oh Ci-hui lantas menitahkan anak buahnya agar waspada dan dilarang minum arak.
Geli juga Sik Ling menyaksikan itu, pikirnya.
"Mungkin sepanjang karirnya baru pertama kali ini dia mengeluarkan perintah semacam ini."
Walaupun Oh Ci-hui melarang orang minum arak, dia sendiri tetap minum seperti biasa.
Diajaknya Sik Ling dan Ko Bun untuk bersantap seadanya sambil bicara.
Ko Bun memandang sekejap makanan yang berada di meja.
Lalu tertawa dan berdiri.
Tak lama kemudian ia muncul kembali sambil membawa arak Tik-yap-cing yang wangi.
Selang sesaat kemudian muncul pelayan membawakan dua piring.
Oh Ci-hui melihat isi piring adalah dua ekor ayam panggang.
"Ko Bun benar-benar pandai menghamburkan uang.
"pikir Sik Ling. Oh Ci-hui pun memuji sambil tertawa.
"Saudara Ko memang selalu punya akal."
Tanpa sungkan dia lantas bersantap dengan lahapnya. Ke sembilan sosok mayat yang mengerikan itu seakan-akan telah dilupakannya. Ia melupakannya, tidak demikian dengan Sik Ling. Tanyanya kemudian.
"Nama besar Thikhi-sin-pian-tui sering kudengar belakangan ini. Konon ilmu silat mereka sangat lihai dan lagi merupakan pasukan pembela kebenaran yang khusus melerai pertikaian dalam dunia persilatan, kenapa hari ini ..."
Bicara sampai disini dia lantas bungkam, sebab jika ucapan tersebut dilanjutkan, ia tahu kata-katanya pasti akan menyinggung perasaan orang.
"Apa sih yang dinamakan Thi-khi-sin-pian-tui itu?"
Tanya Ko Bun dengan heran.
"Thi-khi-sin-pian-tui adalah sepasukan jago ternama yang jumlah anggotanya mencapai seratus dua puluh orang. Komandan pasukan tersebut tak lain tak bukan adalah kesatria nomor satu dalam dunia persilatan dewasa ini ... Mao-toakoku."
Dengan bangga ia tertawa terbahak-bahak, tapi ketika teringat pasukan "yang tersohor"
Itu tiba-tiba kedapatan mati sembilan orang tanpa diketahui sebab musababnya, kata selanjutnya tak sanggup dilanjutkan lagi.
Waktu berlalu dengan cepatnya.
Ketika malam mendekati kentongan kedua, air muka Ko Bun agak berubah sedikit, tapi segera tenang kembali seperti semula.
Sebaliknya Oh Ci-hui sudah mabuk hebat.
Sik Ling sendiri mabuk delapan bagian, kata-kata nya mulai ngawur dan tak beraturan.
Esok paginya kota kecil itu terjadi suatu peristiwa aneh, peristiwa yang membuat rakyat kota yang sudah lama menderita ini mengulum senyum.
Tapi Oh Ci-hui yang mendengar berita itu seketika sadar dari pengaruh arak, air matapun hampir saja bercucuran.
Ternyata pada setiap jalan, baik jalan besar maupun jalan kecil dalam jarak setiap beberapa kaki tentu terdapat onggokan uang perak yang beratnya mencapi lima puluh tahil.
Bila dijumlah seluruhnya mungkin mencapai sepuluh laksa tahil lebih.
Seluruh kota menjadi gempar karena banyak penduduk yang menemukan harta karun.
Oh Ci-hui yang mendapat laporan dengan terkejut melompat bangun dari ranjang dan buruburu menuju ke kamar yang tersimpan uang.
Kotak uang masih utuh disana, tapi sekeping perakpun tak ditemukan.
Seperti tersambar geledek, kontan sekujur badannya menjadi lemas.
Dengan marah ditamparnya para penjaga yang masih molor dengan nyenyak itu, tapi dengan cepat ia tahu para penjaga itu tertutup semua jalan darahnya.
Ketika ruangan itu diperiksa, di suatu sudut dinding ditemukan sebuah benda emas yang bersinar tajam.
Waktu diambil ternyata adalah sebilah pedang kecil terbuat dari emas.
Sepuluh laksa tahil perak telah lenyap tak berbekas dalam semalam, bahkan uang itu sudah tercerai berai di setiap sudut kota.
Mau dicaripun jangan harap bisa ditemukan kembali.
Pedang kecil tersebut terbuat dari emas murni, panjangnya lima senti dengan bentuk yang antik, serupa model sebuah pedang pusaka, pada tangkai pedang terikat seutas tali merah.
Sekali pandang bentuknya seperti mainan anak orang kaya, tapi siapapun tahu bahwa benda itu adalah lambang maut yang menggetarkan seluruh dunai persilatan.
Dengan termangu-mangu Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui membawa pedang emas murni itu ke kamarnya.
Dengan hilangnya sepuluh laksa tahil perak uang pemerintah, nama baik Peng-an piaukiok yang sudah dibangun hampir sepuluh tahun lamanya ikut runtuh.
Perasaan Oh Ci-hui waktu itu bagaikan tercebut ke kolam es, kedinginan dan basah kuyup.
Waktu ia kembali ke kamar, Sik Ling dan Ko Bun sudah bangun.
Dia menghela napas dan bergumam.
"Habis, habis sudah ..."
Seraya berkata dia melemparkan pedang emas itu ke meja. Ko Bun menghampirinya dan mengambil pedang mini itu, setelah dilihatnya serunya.
"Bukankah benda ini lambang Kim-kiam-hiap?"
Melihat wajah Oh Ci-hui yang lesu dan kuyuh, Sik Ling segera tahu apa gerangan yang terjadi, tapi ia tidak percaya begitu saja, ia tanya.
"Apa terjadi sesuatu semalam?"
Dengan kepala tertunduk lantaran sedih Oh Ci-hui menceritakan apa yang terjadi.
Mendengar itu Sik Ling terkejut bercampur menyesal.
Padahal mereka semua berada di kamar sebelah, tapi mereka tidak merasa pengawal di kamar sebelah telah dirobohkan dan uang sebesar sepuluh laksa tahil perak telah dibawa kabur orang.
Dengan kepala tertunduk malu Sik Ling berjalan mondar-mandir dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kereta barang melanjutkan perjalanan pula, tapi mereka berangkat pulang ke rumah.
Para peneriak jalan tidak bersuara lagi melainkan sembunyi di dalam kereta, panji perusahaan juga tidak dikibarkan lagi, tapi digulung dan tersimpan di dalam kereta.
Dengan tak bersemangat Oh Ci-hui duduk di atas kudanya, dia tak sanggup mengibul lagi.
Sik Ling juga merasa kikuk, jelek-jelek dia terhitung seorang jago kenamaan dunia persilatan, tapi peristiwa itu terjadi pada saat ia hadir di tempat.
Sudah barang tentu kejadian itu membuatnya kehilangan muka juga.
Hanya Ko Bun yang tetap tersenyum.
Pantasnya ia harus mohon diri, tapi pemuda itu tidak bicara apa-apa melainkan mengikut terus bersama mereka.
Karena ia tidak pergi, Sik Ling juga tidak enak untuk pergi sendiri, dalam keadaan demikian ia benar-benar serba susah.
Dua hari kemudian mereka tiba kembali di jalan raya menuju kota Tin-kang.
Oh Ci-hui memang tak malu disebut Pat-bin-ling-long.
Ia mulai bicara dan bergurau lagi seperti sediakala, malah menempel Ko Bun lebih rapat.
Kiranya dia sudah punya rencana akan mendapatkan kembali sepuluh laksa tahil perak yang hilang tersebut dari saku si pemuda yang "royal"
Ini.
Ketika tiba di Tin-kang, mereka tetap mondok di rumah penginapan yang sama.
Oh Ci-hui menitahkan anak buahnya pulang dulu sambil membawa kereta barang yang kosong, sedang ia sendiri dengan lengketnya menempel Ko Bung yang dianggapnya masih ingusan itu.
Sik Ling hanya mengawasi semua itu dengan dingin dan tsk senang hati.
Kecuali membicarakan kejadian dunia persilatan, kata-katanya mulai dihiasi dengan umpakan setinggi langit.
Dengan tersenyum Ko Bun mendengarkan obrolannya, tapi Sik Ling habis kesabarannya.
Dia mohon diri berjalan-jalan sendirian di luar.
Waktu itulah dia menjumpai suatu peristiwa yang aneh.
Baru sampai di pintu rumah penginapan, empat ekor kuda mendadak berhenti di depan pintu dan penunggangnya melompat turun dengan gesit.
Melihat itu Sik Ling berpikir.
"Jago daerah Kanglam betul-betul lihai dan sangat banyak."
Penunggang kuda itu berbaju seragam warna kuning emas ringkas. Setelah turun dari kuda, mereka tidak langsung masuk ke dalam penginapan, tapi membenahi pakaian dan berdiri tegap di sisi pintu.
"Apa yang terjadi?"
Pikir Sik Ling dengan keheranan.
Diam-diam ia menyelinap ke belakang meja kasir dan mengikuti semua kejadian ini.
Tak lama kemudian, dari jalan raya muncul lagi empat penunggang kuda yang melarikan kudanya dengan cepat.
Walaupun harus melalui pejalan kaki yang ramai ternyata semua perintang bisa dilalui dengan mais.
Ini menunjukkan kepandaiannya menunggang kuda sangat cekatan.
Mereka juga berhenti di depan pintu penginapan, setelah turun dari kuda lantas menghampiri ke empat penunggang kuda pertama.
Delapan orang saling kasak-kuruk dengan lirih, entah apa yang dibicarakan.
Tapi mereka tidak masuk ke dalam hotel, hanya berdiri saja di depan pintu.
Sik Ling mengundurkan badannya lebih ke dalam, sebab dia tahu orang-orang itu pasti berasal dari suatu organisasi rahasia yang hendak melakukan pertemuan, biasanya perkumpulan rahasia semacam itu pantang diintip orang.
Sesaat kemudian dari ujung jalan kembali muncul seekor kuda.
Sekilas pandang Sik Ling tahu orang ini mempunyai hubungan yang erat dengan kedelapan orang yang pertama, sebab pakaiannya juga berwarna kuning emas, cuma anehnya di tidak memegang tali kendali kuda.
Tangannya menyunggih sebuah bungkusan hitam, sementar kakinya yang mengendalikan arah larinya kuda.
Orang inipun berhenti di depan penginapan.
Dengan suatu gerakan enteng ia melayang turun dari atas kuda.
Melihat kegesitan orang, diam-diam Sik Ling memuji.
Baju panjangnya berwarna kuning emas, usianya tidak banyak, wajahnya tampan, matanya memandang ke atas, sikapnya jumawa.
Dengan penuh rasa hormat, kedelapan lelaki berbaju emas itu menyongsong kedatangannya dan menyambut kudanya.
Sedang ia sendiri dengan membawa bungkusan hitam langsung masuk ke dalam penginapan.
Para pelayan buru-buru keluar menyambut kedatangannya dengan sikat yang sangat menghormat.
Sekali lagi Sik Ling berpikir.
"Entah dari mana datangnya orang ini?"
Sebenarnya disekitar sana masih ada beberapa orang jago silat yang sedang bercakapcakap.
Tapi ketika menyaksikan kedatangan pemuda berbaju emas ini, serentak mereka menyingkir jauh, bahkan membungkukkan badan memberi hormat dengan wajah takut bercampur ngeri.
Pemuda berjubah emas itu sama sekali tidak memandang mereka, dia langsung masuk ke dalam penginapan.
Sik Ling mengawasi bayangan punggungnya dengan seksama.
Dilihatnya langkah pemuda itu gesit dan mantap, tubuh bagian atas tidak bergerak, tentu kungfunya lihai sekali.
Tanpa terasa ia menghela napas.
"Kalau pemuda yang masih belia berkepandaian tinggi, biasanya dia akan angkuh dan jumawa. Pemuda yang berkepandaian tinggi memang bukan hal yang baik."
Sementara itu kedelapan orang lelaki berbaju emas tadipun ikut masuk ke dalam, mereka melototi Sik Ling beberapa kejap.
Sik Ling tak ingin mencari gara-gara, cepat dia kembali ke kamarnya.
Di halaman dilihatnya pemuda berbaju emas yang angkuh itu sedang bercakap-cakap dengan Oh Ci-hui.
Tangan yang membawa buntalan hitam itu terangkat lurus ke depan.
Ko Bun juga berdiri di samping dengan tersenyum seperti biasa, agaknya Oh Ci-hui telah memperkenalkan mereka.
Sik Ling tak ingin banyak urusan.
Baru saja dia akan pergi, terdengar Oh Ci-hui berseru.
"Saudara Sik, cepat kemari! Kuperkenalkan seorang enghiong muda kepadamu."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Sik Ling menghampirinya. Sambil tertawa, Oh Ci-hui kembali berkata.
"Dia inilah jago pedang kenamaan dari Bu-tongpai, Sik Ling, Sik-tayhiap."
Sik Ling mengangguk kepala sebagai tanda hormat, sedang pemuda berbaju emas itu cuma tersenyum, senyuman angkuh. Seraya menuding pemuda itu, kembali Oh Ci-hui berkata.
"Sedangkan yang ini adalah murid Mao-toako. Orang persilatan menyebutnya sebagai orang kedua dari Giok-kut-sucia (duta tulang kemala). Dia bernama Giok-bin-sucia (duta berwajah pualam) Kion Si-cang."
Sik Ling mendongkol dalam hati tapi tersenyumdi luar. Iapun sengaja memperlihatkan sikap angkuh. Melihat itu, air muka Kion Si-cang rada berubah. Untung Pat-bin-ling-long cepat bicara pula.
"Kebetulan sekali hiantit datang dengan membawa lencana Jian-kut-leng, sungguh mujur bagi paman dan dapat mempergunakannya."
Baru saja Kiong Si-cang hendak menjawab, Ko Bun menimbrung.
"Beginikah yang disebut lencana Jian-kut-leng?"
Ketika Sik Ling berpaling, dilihatnya kulit muka Ko Bun seperti lagi berkerut-kerut tak wajar, tanganpun dikepal.
Semua ini membuat hatinya tergetar.
Giok-bin-sucia memandangnya sekejap, ia seperti tidak menaruh prasangka jelek kepadanya.
Sambil tertawa hambar lalu jawabnya.
"Benar, inilah yang dinamakan Jian-kutleng!"
Sesudah berhenti sejenak, dia menyambung perkataan Oh Ci-hui tadi.
"Oh-samsiok, buat apa kau perlukan lencana Jian-kut-leng? Apakah telah terjadi sesuatu?"
Setelah Oh Ci-hui menceritakan musibahnya, dengan kening berkerut Kion Si-cang berkata.
"Kali ini siautit diperintahkan suhu datang kemari dengan membawa lencana Jian-kut-leng tak lain tujuannya hendak menghadapi manusia yang bernama Kim-kiam-hiap. Tahukah Ohsamsiok, untuk menghadapi Kim-kiam-hiap, empat dari Jit-pian-sam-kiam yang tersohor dulu kini sudah tiba di kota Hang-ciu?"
"Empat orang mana?"
Tanya Ko Bun cepat, tapi segera ia membetulkan kata-katanya.
"siapa pula yang dinamakan Jit-pian-sam-kiam itu?"
Hampir pada saat yang sama Oh Ci-hui juga bertanya.
"Empat orang yang sudah tiba di Hang-ciu?"
Sik Ling sendiri turut memperhatikannya dengan seksama, sebab kebanyakkan dari Jit-piansam-kiam telah hidup jaya dan jarang berkelana lagi di dunia persilatan.
Dengan kehadiran orang-orang tersebut, suatu tanda betapa seriusnya mereka menghadapi manusia yang bernama Kim-kiam-hiap itu.
Waktu ia melirik wajah Ko Bun, dilihatnya pemuda itu sedang menanti dengan gelisah, seolah-olah sangat ingin mengetahui seluk beluk urusan ini.
Sik Ling berpikir.
"Jika dia benarbenar anak saudagar kaya, mengapa sedemikian besar minatnya terhadap urusan dunia persilatan?"
Terdengar Kiong Si-cang berkata.
"Wan-yang-siang-kiam suami-istri, Co-jiu-sin-kiam dan Pek-poh-hui-hoa telah datang semua, lantaran perbuatan Kim-kiam-hiap. Agaknya guruku memandang serius atas persoalan ini. Beliau bertekad hendak membereskannya sampai tuntas."
Setelah tertawa angkuh, sambungnya.
"Siautit pernah berkata kepada suhu, untuk menghadapi seorang saja kenapa mesti mengganggu ketenangan para Cianpwe lainnya? Tapi air muka suhu amat serius. Mungkin masalah ini menyangkut suatu peristiwa pada belasan tahun yang lalu, maka persoalannya harus diselidiki sampai terang. Menurut pendapatku, sebenarnya masalah ini tak perlu dianggap sedemikian serius, asal kami beberapa orang turun tangan tentu sudah lebih dari cukup."
"Tapi kukira beginipun ada baiknya.
"ujar Oh Ci-hui sambil tertawa.
"dengan munculnya kembali tokoh Jit-pian-sam-kiam, tentu angkatan mudapun dapat kesempatan untuk menyaksikan kegagahan para Cianpwe."
Setelah berhenti sejenak, lalu katanya pula.
"Cuma kukira Toako sendiri terlalu banyak curiga, mana mungkin Kim-kiam-hiap bisa ada hubungannya dengan orang she Siu?"
"Benar!"
Giok-bin-sucia manggut-manggut tanda setuju.
"kali ini suhu telah mengutus kami bersembilan suhengte turun tangan bersama, hanya Toasuheng yang tinggal di rumah. Selama belasan tahun ini baru sekali terjadi peristiwa semacam ini."
Sik Ling melirik sekejap ke arah Ko Bun. Pemuda itu tampak sedang menundukkan kepala seperti lagi memikirkan sesuatu, seperti juga tidak memperhatikan pembicaraan mereka, pikirnya.
"Aneh benar orang ini!"
Oh Ci-hui termenung sejenak, tiba-tiba membisikkan sesuatu kepada Kiong Si-cang. Air muka anak muda itu kontan berubah, serunya.
"Sungguhkah terjadi peristiwa begini?"
Ketika kakinya mengentak lantai, batu hijau alas halaman itu segera remuk septong. Ini menunjukkan betapa sempurnanya tenaga dalamnya.
"Aku tidak percaya sembilan orang Sin-pian-ki-su sekaligus terbunuh dalam sekejap. Bagus! Bagus! Aku jadi ingin mencoba sampai dimanakah kehebatannya,"
Demikian serunya dengan gemas.
Dari ucapannya dapat ditarik kesimpulan bahwa dia hendak menghadapi musuh sendirian, karena kekuatannya dianggap sudah lebih dari cukup.
Perlahan Ko Bun mendongakkan kepala dan tersenyum, baru saja Sik Ling merasakan senyumannya itu sangat aneh, orang telah berkata.
"Mengapa kita harus bercakap-cakap di tengah halaman? Mari, biar kutraktir kalian bersantap dan sekalian sebagai perjamuan untuk menyambut kedatangan Saudara Kiong."
Setelah tertawa dan berhenti sejenak, ia menambahkan.
"Maklumlah, perutku terasa lapar."
Tiba-tiba ia berseru lagi.
"Saudara Kiong, caramu membawa lencana Jian-kut-leng apakah tidak terasa lelah?"
Kiranya sejak tadi Giok-bin-sucia berdiri dengan memegang buntalan hitam itu dengan tangan diluruskan ke muka. Mendengar hal ini, ia tertawa dan menjawab.
"Ini belum seberapa, sekalipun aku memegangnya setahun juga tak menjadi soal."
"Huh, besar amat lagaknya!"
Mendadak seseorang mengejek.
Giok-bin-sucia terperanjat, ia coba memandang sekelilingnya, tapi kecuali mereka beberapa orang tak tertampak ada orang lain.
Air muka Giok-bin-sucia yang putih seketika berubah menjadi marah seperti hati babi, teriaknya gusar.
"Sobat, kalau ingin bicara kenapa main sembunyi? Kalau ada urusan, kenapa tidak disampaikan langsung berhadapan dengan orang she Kiong?"
Oh Ci-hui dan Sik Ling juga terkejut, mereka tak tahu siapakah yang begitu berani mengucapkan kata-kata tadi. Baru habis Giok-bin-sucia membentak, suara tadi kembali berkumandang.
"Kalau bicara di hadapanmu lantas mau apa?"
Bayangan orang berkelebat, tahu-tahu di hadapannya telah bertambah seseorang, sungguh cepat luar biasa gerakan orang ini.
Wajah Kiong Si-cang yang diliputi rasa gusar kontan lenyap tak berbekas begitu melihat orang ini, sambil tertawa sapanya.
"O, kiranya kau!"
"Ya, aku, mau apa?"
Kata orang itu. Demi melihat wajah orang itu, jantung Sik Ling dan Ko Bun berdetak keras, pikir mereka.
"Ah, tak tersangka di kolong langit ini terdapat gadis secantik ini!"
Sementara itu dengan tertawa Oh Ci-hui juga lantas berseru.
"He, Mao-mao, kiranya kau juga datang?"
Gadis itu tertawa manis, dengan lemah gemulai ia melangkah maju. Kemudian dengan kerlingan matanya yang jeli, katanya manja.
"O, kiranya Oh-samsiok? Kenapa aku tidak melihatmu tadi?"
Oh Ci-hui tertawa, katanya.
"Kau tidak ikut suhumu, mau apa pulang kemari?"
"Aku pulang menengok ayah!"
Jawab Mao-mao sambil membenahi rambutnya dan tertawa merdu.
Biji matanya yang jeli segera mengerling wajah Ko Bun.
Ditatap begitu, pipi Ko Bun terasa panas, perasaannya bergolak.
Mao-mao berpaling lagi ke arah Kiong Si-cang, lalu tanyanya.
"Baik-baikkah ayah?"
"Suhu sangat baik!"
Sahut Kiong Si-cang.
"Untuk apa kaubawa mainan itu keluar rumah?"
Tanya si nona pula. Dalam pada itu Sik Ling sedang berpikir.
"Kiranya dia putri Leng Coa Mao Kau!"
Melihat potongan tubuhnya yang ramping, ia jadi teringat kepada Mao Ping, diam-diam ia berduka.
Memang benar gadis ini adalah putri tunggal Mao Kau, namanya Mao Bun-ki.
Ia dilahirkan pada waktu Mao Ping minggat dari rumah, tahun ini berusia delapan belas.
Putri kesayangan "Mao-toaya"
Tentu saja biasa dimanja.
Anehnya ia justru tidak belajar imu silat dari ayahnya yang termashur dalam dunia persilatan, sebaliknya jauh-jauh pergi ke Ho-pak dan entah belajar pada guru yang mana?
Dengan sinar mata berkilat, Kiong Si-cang mengawasi gadis itu tanpa berkedip.
Tiba-tiba si nona membalik badan dan bertanya.
"Kalian mau bersantap, aku turut diundang tidak?"
Ko Bun sebetulnya sedang termenung dengan menunduk kepala, segera ia mendongakkan kepala, katanya dengan tertawa.
"Jika nona sudi, tentu saja baik sekali."
Waktu itu Sik Ling memperhatikan pedang yang tersandang di punggung Bun-ki, tidak terlihat olehnya senyuman Ko Bun yang rikuh.
Tak heran kalau Sik Ling memperhatikan pedang Mao Bun-ki, sebab senjata itu memang aneh bentuknya.
Sarung pedangnya bukan terbuat dari emas, bukan pula dari besi, tapi terbuat dari kulit kucing yang dibentuk sepotong demi sepotong dan digabungkan menjadi satu.
Mungkin di dunia ini hanya sarung pedang ini terbuat dari kulit kucing.
"Sengaja kau undang saja belum tentu kau mau.
"kata Mao Bun-ki sambil tertawa. Lalu ia membalik badan dan menambahkan.
"Aku harus pergi dulu. He, Kiong-loji, lain kali jangan terlalu sok kalau bicara. Hati-hati lidahmu keseleo."
Giok-bin-sucia cuma menyengir saja sambil memandangi bayangan punggung si nona menjauh dari situ.
Gadis itu memang luar biasa, datang sangat cepat, perginya juga seperti terbang begitu saja.
Sambil geleng kepala, Oh Ci-hui tertawa, gumamnya.
"Budak cilik ini memang binal, siapa yang menjadi suaminya kelak tentu akan konyol."
Ko Bun termangu pula beberapa saat lamanya, sambil tertawa kemudian ia buka suara.
"Konon hidangan kota Tin-kang sangat lezat, belum pernah aku mencobanya."
Lalu serunya kepada Kiong Si-cang yang masih berdiri tertegun.
"Saudara Kiong, apakah tetap kau bawa benda itu sambil bersantap?"
Siapakah sebenarnya "Kim-kiam-hiap"
Yang memusuhi Leng-coa Mao Kau?
Siapa pula pemuda Ko Bun?
Apakah dia inilah Kim-kiam-hiap?
Apa yang akan dialami Giok-bin-sucia Kiong Si-cang dan apa pula yang akan terjadi dengan munculnya si nona cantik Mao Bun-ki?
-Bacalah
Jilid ke -4 -
Jilid 04
"Ya, kukira terpaksa harus demikian, memangnya ada cara lain yang lebih baik?"
Semenjak bertemu dengan Mao Bun-ki, nada Kiong Si-cang seakan-akan berubah menjadi dua orang yang berbeda. Oh Ci-hui tertawa, godanya.
"Hubungan Hiantit dengan Mao-mao tidak jelek bukan?"
Merah wajah Kiong Si-cang, sementara itu hati Ko Bun juga merasa kecut.
Esok paginya pelayan yang bertugas membawakan air panas untuk setiap kamar, dengan hati-hati mengetuk pintu sebuah kamar kelas satu, sebab ia tahu orang yang menginap disitu mempunyai asal-usul yang besar sekali, murid Mao-toaya yang disegani.
Jika Leng-coa Mao Kau tahu ada seorang pelayan sebuah rumah penginapan di kota Tinkang juga mengetahui nama besar "Mao-toaya", dia pasti akan merasa bangga sekali.
Pelayan itu mengetuk pintu beberapa kali.
Ketika tiada jawaban dari dalam, ia mendorongnya perlahan sambil melongok ke dalam.
Tapi tiba-tiba ia menjerit histeris, kemudian putar badan dan lari terbirit-birit tanpa menggubris poci berisi air panas yang tertumpah.
Ia lari seperti lihat setan.
Kebetulan Sik Ling baru melangkah keluar dari kamar, nyaris pelayan itu menumbuk tubuhnya.
Dengan cepat ia pegang tubuh pelayan itu seraya membentak.
"Hei, ada apa?"
Sambil menuding ke kamar Kiong Si-cang, dengan tergagap pelayan itu menjawab.
"Toaya ... temanmu ... temanmu itu ... celaka!"
Walaupun Sik Ling sendiri tidak ada urusan penting, namun selama beberapa hari ini sarafnya selalu tegang.
Hal ini jauh berbeda dengan keadaannya pada masa lalu.
Maka kini demi mendengar laporan si pelayan, dengan terkejut serta merta ia memburu ke kamar Kiong Si-cang dan melongoknya ....Apa yang terlihat olehnya membuatnya menjerit tertahan.
Dengan cepat ia lari ke kamar Oh Ci-hui sambil berteriak.
"Saudara Oh, Saudara Oh ...."
Dengan masih mengantuk Oh Ci-hui muncul di depan pintu. Melihat itu Sik Ling berpikir.
"Nyenyak amat tidurmu."
"Saudara Sik, ada apa?"
Tanya Oh Ci-hui sambil mengelus perutnya yang gendut, seakanakan tak senang karena orang telah mengganggu tidurnya. Sik Ling tak mempedulikan ketidak senangan orang, dengan gugup katanya.
"Giok-bin-sucia tertimpa musibah, harap Saudara Oh segera menengoknya!"
Mendengar berita itu, tak sempat bersepatu lagi, dengan kaki telanjang Oh Ci-hui berlari ke kamar depan.
Tubuhnya yang gemuk tampak sedikit gemetar.
Dengan cemas ia mendorong pintu kamar, tapi pemandangan yang terpampang dihadapannya membuatnya menjerit kaget.
Seandainya tidak berpegangan pintu, mungkin ia sudah roboh terjungkal.
Giok-bin-sucia berdiri tegak menghadap pintu, matanya mendelik, mukanya diliputi rasa kaget bercampur ngeri, telapak tangan kiri terayun ke depan tapi berhenti di tengah jalan, karena itu secara aneh tangan itu terkatung begitu saja, sementara tangan kanan sebatas siku ke bawah tertancap di dinding.
Sebab itu sekalipun sudah agak lama nyawanya amblas, ia masih berdiri tegak di tempat semula.
Sinar fajar yang menyorot masuk lewat jendela tepat menyinari wajah sebelah kiri mayat Kion Si-cang, hal ini membuat pemandangan disitu bertambah seram.
Oh Ci-hui memeriksa sekeliling ruangan itu.
Tiba-tiba ia bersuara kaget dan lari kesana.
Dari atas meja ia mengambil sebuah benda yang berkilat.
Sik Ling yang berada di belakangnya segera mengenali benda itu adalah sebilah pedang emas.
"Lagi-lagi benda terkutuk ini ...."gumam Oh Ci-hui dengan wajah pucat. Ketika ia mendongakkan kepala lagi, air mukanya kembali berubah hebat. Ternyata sehelai kain hitam menempel di atas dinding. Itulah kain hitam yang dipakai untuk membungkus lencana Jian-kut-leng. Di atas kain hitam tertulis empat huruf yang ditulis dengan kapur, tulisan itu berbunyi.
"Dengan darah membayar darah". Sampai disini terbuktilah Kim-kiam-hiap memang ada hubungannya dengan kematian Siu Tok pada 17 tahun yang lalu. Sambil memegang pedang emas itu, Oh Ci-hui bergumam lirih.
"Pedang mini ini adalah yang kedua."
Tiba-tiba ia memandang Sik Ling, kemudian tanyanya.
"Sik-heng, apakah kau lihat pedang emas yang pertama itu?"
Sik Ling menggelengkan kepala.
"Mungkin berada di kamar Saudara Ko!"
Mereka berdua segera lari ke kamar Ko Bun, waktu itu si pemuda baru bangun dari tidurnya. Mendengar cerita Oh Ci-hui, dengan terkejut pemuda itu berseru.
"Apa? Saudara Kiong mati?"
Sewaktu Oh Ci-hui menanyakan pedang emas itu, Ko Bun termenung beberapa saat lamanya. Kemudian menggelengkan kepala.
"Aku memang pernah melihatnya, tapi setelah itu aku tak tahu pedang itu ditaruh di mana!"
Pedang emas itu hilang lenyap, tapi Oh Ci-hui menganggap bukan suatu kejadian serius, maka merekapun menyampingkan masalah itu.
"Kalau hilang, sudahlah.
"demikian ia berkata.
"Saudara Ko tak perlu pikirkan lagi."
Ia mendekati meja di tepi jendela dan meletakkan pedang emas di sana. Ia menuang air teh dan minum dua cegukan, lalu berkata sambil menghela napas.
"Dengan tewasnya Kiong-loji, Mao-toako benar-benar kehilangan seorang pembantunya yang setia. Ai, aku benar-benar tidak mengerti Kim-kiam-hiap bisa memiliki kepandaian sehebat ini?"
Dengan mata kepala sendiri Sik Ling pernah menyaksikan kelihaian Giok-bin-sucia Kiong Sicang.
Dia mampu menghancurkan batu hijau dengan injakan kaki, jelas tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan.
Sik Ling bepikir.
"Kungfu Kim-kiam-hiap sungguh luar biasa padahal ilmu silat Kiong Si-cang juga terhitung jago kelas satu dunia persilatan, tapi nyatanya ia terbunuh juga secara mengerikan di tangan orang itu."
Ko Bun juga menuang dan minum seteguk air teh, kemudian sambil mendekat katanya.
"Padahal aku tinggal di kamar sebelah Saudara Kiong, mengapa semalam aku tidak mendengar suara apa-apa?"
Oh Ci-hui menghela napas.
"Ai, jangankan suara membunuh orang, uang sejumlah sepuluh laksa tahil perak diangkut pergi dari kamar sebelah juga tidak kita rasakan!"
Merah muka Sik Ling bila teringat peristiwa itu.
Tapi iapun merasa heran, jika Kim-kiam-hiap khusus membalaskan dendam bagi kematian Siu Tok, itu berarti antara dia dengan Siu Tok ada hubungan yang luar biasa....Segera terpikir pula olehnya.
"Menurut apa yang kuketahui, Siu Tok tidak bersanak dan tidak berkeluarga. Orang yang ada hubungan dengan dia juga cuma adik Ping seorang ... ."
Teringat pada diri Mao Ping, ia teringat pula kepada manusia aneh berbaju kepingan tembaga dan emas itu, pikirnya lebih jauh.
"Urusan ini pasti ada hubungannya dengan mereka."
Tapi hubungan apakah itu?
Sekalipun ia sudah putar otak sekian lamanya, tetap tak berhasil mendapatkan jawabannya.
Setelah Mao Ping minggat dari rumah, dalam dunia persilatan hanya dia sendiri yang tahu.
Ketika Mao Ping dilarikan kedua manusia aneh juga hanya dia saja yang tahu, tapi dia tak ingin mengutarakannya, sebab ia mengira apa yang diketahuinya sangat terbatas.
Padahal apa yang diketahuinya sebenarnya jauh lebih banyak daripada orang lain.
Sehabis minum secangkir air teh, Oh Ci-hui mendekati meja dengan maksud memenuhi cangkirnya lagi.
Mendadak ia menjerit kaget.
"Hah, kemana larinya pedang emas tadi?"
Ketika dilihatnya daun jendela terbuka segera ia melompat keluar dengan cepat luar biasa, tapi suasana di luar jendela hening, sepi, tak nampak sesosok bayangan manusia pun.
Ketika itu fajar baru menyingsing, sang surya memancarkan sinar keemasan menyinari bumi.
Dengan gelisah ia melompat ke atas rumah, tapi disanapun tak nampak sesosok bayangan.
Mereka bertiga berada dalam kamar, tapi pedang emas yang terletak di meja bisa lenyap tak berbekas di luar tahu mereka, padahal dua dari tiga orang yang berada di situ tergolong jago silat kelas tinggi.
Ketika melayang masuk lagi lewat jendela, kaki Oh Ci-hui yang belum lagi sempat memakai sepatu tidak merasakan dingin.
Dengan tercengang Sik Ling bertanya.
"Apakah pedang emas itu lenyap lagi?"
Pat-bin-ling-long duduk lemas di atas kursi, ia cuma tertawa getir sambil mengangguk.
Perutnya yang buncit bergerak naik-turun serupa katak yang kebanyakan minum air, keadaannya lucu dan mengenaskan.
Perlahan Ko Bun menghampirinya, wajahnya yang tampan membawa mimik yang sukar dipahami orang.
Ia membetulkan letak kopiahnya, kemudian berkata dengan lantang.
"Pedang emas sudah hilang, dirisaukan juga tiada gunanya. Lebih baik Saudara Oh pikirkan cara yang baik untuk mengatasi urusan ini."
Ketika sinar matahari menyorot masuk lewat hendela, dari balik lengan bajunya yang longgar seakan-akan ada mengkilat cahaya emas, namun Sik Ling dan Oh Ci-hui tak melihatnya.
Ko Bun baru pertama kali datang ke Hangciu.
Ia menarik napas dalam-dalam menyambut terbitnya matahari musim semi ini.
Ia merasa hawa udara seolah-olah mengandung bau yang tidak dikenalnya.
Tanpa terasa ia menghirup sekali lagi.
Ia tahu di dalam darahnya mengalir udara kota Hangciu, maka ia tersenyum penuh arti.
Setelah menghadapi musibah berulang kali, jalan satu-satunya yang bisa dilakukan Oh Cihui adalah minta pertolongan kepada Mao Kau, padahal orang yang benar-benar terpukul oleh peristiwa itu bukan dia, melainkan Mao Kau sendiri.
Jika dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Mao Kau, tapi Ko Bun ingin berpesiar dulu ke danau Se-oh.
Berhubung Oh Ci-hui berniat membaiki pemuda itu, tentu saja keinginannya itu dipenuhinya.
Berjalan menyusuri tepian telaga yang indah dengan air yang tenang serta bunga teratai yang merah, hati Ko Bun terasa lega dan nyaman.
Sebuah perahu kecil berlabuh di balik pohon liu yang lebat sana, ketika mereka lewat di sisinya, tiba-tiba seorang menyingkap tirai perahu sambil menyapa.
"Samsiok, kalian juga datang?"
Ternyata orang ini adalah Mao Bun-ki. Sekilas terlintas rasa girang di wajah Ko Bun, tapi alasannya bergirang sukar diraba. Oh Ci-hui tertawa, sahutnya cepat.
"Haha, kami lagi kesal karena tak ada perahu pesiar, sungguh beruntung berjumpa dengan kau."
"Akupun lagi kesal karena berpesiar seorang diri, memang sangat kebetulan bisa bertemu dengan kalian.
"kata Mao Bun-ki pula sambil tertawa merdu. Suara gadis itu bagaikan kicau burung kenari, kecantikannya seperti bunga yang sedang mekar, di tempat yang indah ini, ia tampak terlebih cantik bagai bidadari. Ko Bun mengawasinya tanpa berkedip, ia seperti terkesima. Perahu itu perlahan bergerak mendekat, Mao Bun-ki berdiri di ujung geladak bagaikan bidadari. Sambil melompat ke atas perahu, Oh Ci-hui berseru tertawa.
"Mao-mao, makin lama kau makin cantik."
Mao Bun-ki tertawa senang, ia menunjuk Sik Ling dan Ko Bun, tanyanya.
"Siapakah kedua orang ini?"
Oh Ci-hui segera memperkenalkan mereka. Mao Bun-ki menatap Sik Ling lekat-lekat, kemudian berkata.
"Ah, jadi engkau ini paman Sik Ling!"
Setelah tertawa merdu, ia menambahkan.
"Pernah kudengar ayah membicarakan dirimu, katanya engkau adalah sahabat karib A-ih (bibi)."
Sik Ling tidak berkata apa-apa, ia memandang jauh kesana, memandang bukit di kejauhan dengan termangu. Dengan sedih Bun-ki berkata lagi.
"Ketika aku dilahirkan, A-ih telah pergi meninggalkan rumah. Ayah mencarinya kesana kemari, tapi tidak menemukannya. Aku betul-betul tidak habis mengerti, kemana dia pergi?"
Sik Ling menghela napas dan berpaling kembali, ketika sekilas melihat Ko Bun, wajah pemuda itu tampak berkerut aneh, tangannya menggenggam cangkir teh erat-erat seperti kuatir cangkir itu akan jatuh.
Tanpa terasa dia mengawasinya beberapa kejap, berbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya.
Agaknya semua orang sama tenggelam dalam kenangan lama.
Tiba-tiba Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui mengetuk meja sambil tertawa, serunya.
"Kenangan masa lalu ada baiknya jangan disinggung lagi. Hari ini kita harus bergembira ria. Saudara Sik, kau seorang lelaki sejati, mengapa hari ini bersikap semacam anak gadis? Hahaha, harus dihukum, harus dihukum!"
Perlahan sampan bergerak ke tengah telaga, bunga teratai tersimak, bau harum semerbak di udara.
Ko Bun berjalan ke tepi jendela dan menarik napas, ketika berpaling kembali wajahnya telah tenang kembali seperti semula.
"Bagaimana dengan ayahmu?"
Oh Ci-hui membuka pembicaraan. Dengan kening berkerut sahut Bun-ki.
"Sepanjang hari ayah bermuram durja. Ketika mendengar sembilan orang Sin-pian-ki-su mati konyol, beliau marah sekali. Katanya jika sampai terjadi lagi peristiwa serupa, beliau akan turun tangan sendiri."
Sekali lagi Pat-bin-ling-long menghela napas. Sebenarnya dia hendak memberitahu tentang kematian Giok-bin-sucia, tapi setelah memandang Mao Bun-ki sekejap, niat itu dibatalkan.
"Blang,"
Tiba-tiba terjadi benturan yang keras, begitu keras benturan itu hingga cangkir di tangannya jatuh ke lantai dan tubuhnya hampir saja terjengkang dari tempat duduknya.
Cepat Mao Bun-ki berpegangan pada sisi meja, meski badan perahu menjadi oleng, untung barang-barang di meja tak sampai tumpah.
Dengan berkerut kening ia melongok keluar jendela.
Tampak sebuah perahu melintang tepat di sisi perahu mereka.
Dengan marah gadis itu menegur.
"Hei, apakah kalian tak punya mata? Seenaknya saja main tumbuk!"
Dari balik jendela perahu sana menongol keluar dua buah kepala, mukanya merah karena kebanyakan minum arak. Sambil memandang wajah Mao Bun-ki, dengan senyuman tengik, serunya.
"Wah, galak amat perempuan ini!"
"Kalau perahumu rusak tertumbuk, pindah kemari temani Toaya, pasti Toaya akan mengganti dengan sebuah perahu baru.
"kata yang seorang lagi. Mendengar ucapan orang yang tidak senonoh, air muka Mao Bun-ki berubah pucat menahan gusar. Oh Ci-hui memburu ke tepi jendela, dampratnya dengan gusar.
"Anjing buta, kautahu siapa ini?"
Belum lanjut ucapannya ia telah dicegah Mao Bun-ki, sebab nona ini ingin berkelahi.
Jika identitasnya diketahui lawan, niscaya pertarungan tak bakalan berlangsung.
Tiba-tiba gadis itu berjalan ke buritan.
Tak lama setelah ia kembali lagi, perahu mereka mendadak berubah arah dan balas menumbuk perahu lawan.
"Blang", benturan keras tak terhindarkan lagi. Kedua kepala yang menongol keluar dengan cengar-cengir saling membentur hingga benjut, dengan kaget mereka menarik kepalanya masing-masing. Mao Bun-ki tertawa geli, Ko Bun juga tertawa. Rupanya ia tertarik pada peristiwa semacam ini, sedangkan Sik Ling sedang memikirkan sesuatu yang aneh.
"Sewaktu terjadi benturan keras tadi, cangkir di tangan Oh gemuk sampai terpental ke lantai, kenapa cangkir Ko Bun tidak terlepas, malah setetes airpun tidak tumpah? Mengapa bisa begini?"
Demikian ia berpikir.
"Jangan-jangan ia berilmu tinggi, tapi sengaja menyembunyikannya? Namun bila dilihat dari luar, dia sama sekali tidak mirip seorang yang pandai kungfu."
Perlu diketahui, orang yang belajar ilmu silat pasti memiliki ciri khas yang berbeda dengan orang biasa.
Bagi mereka yang berlatih gwakang (tenaga luar), biasanya akan berotot kuat, kaki dan tangannya kasar, langkahnya mantap, tubuhnya kekar.
Sedang bagi mereka yang berlatih lwekang (tenaga dalam), kedua matanya kebanyakan bersinar tajam dan kedua pelipisnya menonjol tinggi.
Apalagi jika orang itu berlatih ilmu kebal sebangsa Kim-ciong-toh, Thi-po-san, Yu-cui-koanceng atau Cap-sa-tay-po, ciri-cirinya akan tampak semakin nyata dan mudah terlihat.
Sementara Sik Ling masih termenung, perahu mereka kembali oleng.
Rupanya ada orang melompat ke atas perahu mereka.
Mao Bun-ki tertawa dingin.
Dari dinding perahu ia lolos pedang bersarung kulit kucing itu, kemudian katanya kepada Oh Ci-hui.
"Sam-siok, pernah kau dengar dari ayah tentang pedang ini?"
Dengan tertawa Oh Ci-hui menggeleng kepala.
"Nah, kalau begitu sekarang juga akan kutunjukkan padamu,"
Seru Bun-ki sambil menyingkap tirai dan melangkah keluar.
Tampaknya Ko Bun juga ingin menyaksikan ilmu silat si nona, dengan cepat ia menyusul keluar.
Pat-bin-ling-long berpaling ke arah Sik Ling dan berseru.
"Saudara Sik, mari kitapun ikut menonton keramaian. Bapak harimau tak nanti beranak anjing. Ilmu silat budak ini pasti luar biasa."
"Ya, jangan bicara yang lain, melulu pedangnya saja sudah jelas benda mestika.
"kata Sik Ling sambil tertawa.
"Cuma kalau menggunakan pedang itu untuk menghadapi kaum keroco, hal itu terlalu dibesar-besar kan."
Sambil tertawa mereka keluar dari ruang perahu.
Terhadap pertarungan yang akan berlangsung sama sekali tidak terpikir, siapa tahu, begitu tiba di luar, apa yang tertampak jauh di luar dugaan.
Jika pertarungan sampai berkobar, jelas urusan jadi tidak sederhana lagi.
Di atas geladak perahu yang luasnya sekitar dua tombak itu telah berdiri angkuh lima orang lelaki berbaju ringkas dengan pedang terhunus.
Oh Ci-hui tidak terlalu menaruh perhatian kepada mereka, sebab kedua 'muka merah' tadipun berada di antara mereka.
Sinar mata Oh Ci-hui saat itu tertuju kepada dua orang lelaki jangkung ceking yang berdiri di haluan perahu sana.
Ia merasa seperti kenal mereka, andaikan tidak kenal betul, paling tidak pernah bertemu di suatu tempat.
Tiba-tiba ia bertepuk tangan, teringat olehnya siapa gerangan itu.
Cepat ia memburu ke depan sambil berteriak.
"Harap kalian jangan berkelahi dulu, kita semua adalah orang sendiri, bila ada persoalan ... ."
Belum habis dia berkata, kedua orang jangkung itu telah membentak bersama.
"Tak perlu banyak omong!"
Salah seorang diantaranya tiba-tiba melayang maju dengan cepat luar biasa, langsung telapak tangan kirinya menghantam muka Oh Ci-hui.
Angin pukulan tajam bagaikan golok, lebih dulu Oh Ci-hui telah merasakan pipinya panas pedas.
Buru-buru Oh Ci-hui miringkan kepala dan menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Dalam repotnya ia sempat melihat lengan baju kanan orang itu kosong melompong.
Ini semakin meyakinkan dirinya, siapakah orang ini.
Sudah barang tentu ia lebih-lebih tak berani melancarkan serangan balasan.
Tapi serangan yang dilancarkan orang itu secepat kilat.
Sre, sret, beruntun dua kali serangan kembali dilancarkan.
Semuanya mengarah bagian yang mematikan.
Jangan kira lengan kanannya buntung, pukulan-pukulannya betul-betul amat lihai.
Oh Ci-hui terdesak sampai-sampai bicarapun tak sanggup.
Ia tetap tak berani melancarkan serangan balasan.
Posisinya kian terdesak hingga jiwanya terancam bahaya.
Mao Bun-ki membentak nyaring dan menerjang maju siap memberi bantuan.
Tapi lelaki ceking lainnya segera membentak, kedua telapak tangan menghantam sekaligus.
Terpaksa Bun-ki menyingkir ke samping.
Geladak perahu itu tidak begitu luas, setelah ke empat orang terlibat dalam pertempuran, maka tiada tempat luang lain lagi yang bisa dipakai.
Ko Bun berdiri jauh di pinggir pintu, dan mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.
Sementara Sik Ling enggan turun tangan, ketika dilihatnya gerak serangan kedua lelaki ceking itu cepatnya bukan main, dia lantas berpikir dengan heran.
"Aneh, siapakah kedua orang ini?"
Selewatnya tiga gebrakan, Oh Ci-hui semakin terdesak sehingga kalang kabut.
Kungfu yang dikuasainya memang tidak sehebat nama besarnya, apalagi dua tahun belakangan ini tubuhnya bertambah gembrot, ini menyebabkan gerak geriknya bertambah tidak lincah.
Lelaki ceking itu tertawa dingin, serangannya tambah gencar hingga Pat-bin-ling-long bermandi keringat dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Lain halnya dengan Mao Bun-ki, ia putar pedang bersarung kulit kucing dengan tangan kirinya, ia bergerak kian kemari bagaikan bidadari.
Telapak tangan kanan juga melepaskan pukulan enteng.
Meski semua pukulan si lelaki ceking itu cukup dahsyat, tapi semuanya dapat dipunahkan si nona dengan mudah.
Sik Ling berasal dari perguruan ternama.
Setelah menyaksikan pukulan kedua orang lelaki ceking itu, ia dapat merasakan betapa sempurnanya tenaga dalam mereka.
Tapi ia lebih terperanjat lagi sesudah melihat ilmu pukulan Mao Bun-ki.
Dengan pengalamannya yang luas ternyata tak diketahuinya asal-usul ilmu pukulan yang digunakan nona itu.
Ilmu pukulan kedua lelaki ceking itu adalah ilmu pukulan aliran utara sebangsa Pit-kwaciang.
Walaupun jurus serangannya tiada sesuatu yang aneh, tapi kecepatannya membuat orang agak repot untuk menyambutnya.
Apalagi angin pukulannya menderu deru, membuktikan tenaga dalam mereka cukup sempurna.
Oh Ci-hui betul-betul kececar, sesungguhnya ia ingin melancarkan serangan balasan, tapi hati merasa kuatir.
Sedikit kurang berhati-hati, mendadak orang berlengan tunggal itu melancarkan pukulan ke arah iganya dengan jurus Sin-liong-jut-in (naga sakti keluar dari mega).
Dalam kejutnya Oh Ci-hui berusaha berkelit ke samping.
Lelaki berlengan tunggal itu tertawa dingin, kontan Oh Ci-hui mendengus tertahan.
Jalan darah Ki-bun-hiat tertutuk menyebabkan tubuhnya terkapar lemas.
Jika lelaki berlengan tunggal ini berhasil merobohkan lawannya, di pihak lain Mao Bun-ki juga di atas angin, mendadak bentaknya.
"Dengan kepandaian semacam ini saja berani berlagak, hmm ..tak tahu malu."
Lelaki jangkung naik pitam, sambil bersuit dan melompat mundur, kemudian ia memberi tanda kepada lelaki berlengan tunggal, serunya.
"Lotoa, beri dia senjata rahasia!"
Sementara itu air muka Ko Bun agak berubah setelah menyaksikan kelihaian Mao Bun-ki, sedangkan Sik Ling menghela napas dan berbisik.
"Orang baru selalu bermunculan di dunia, orang lama memang pantas digantikan oleh orang baru. Ilmu silat anak perempuan itu sungguh luar biasa ..."
Ia betul-betul merasa kagum, hilanglah ambisinya ingin menonjol di dunia Kangow.
Ia lantas berpeluk tangan menyaksikan jalannya pertarungan itu.
Jago pedang muda yang dahulu dianggap orang punya masa depan cemerlang sama sekali tak berambisi lagi.
Ia enggan berebut nama dengan orang, padahal semua ini tak lain hanya dikarenakan oleh cinta yang gagal.
Kedua orang ini melompat mundur, tapi serentak mereka menerjang maju lagi.
Dalam pada itu Oh Ci-hui yang roboh tertutuk jalan darahnya dapat mengikuti semua kejadian dengan jelas.
Tak tertuliskan rasa gelisah dan cemasnya.
"Mao-mao sungguh gegabah.
"demikian ia berpikir.
"Masa dia berani bertarung melawan Ho-siok-siang-kiam?"
Kiranya kedua orang lelaki jangkung ini bukan lain adalah Ho-siok-siang-kiam yang namanya terdapat dalam deretan Jit-kiam-sam-pian.
Si lelaki bertangan buntung itu bukan lain adalah Ong It-peng yang lengannya dipatahkan oleh Siu Tok dahulu.
Karena luka membusuk, terpaksa lengan harus dipotong, sedangkan yang lain sudah tentu ialah Ong It-beng.
Begitu setelah mundur Ho-siok-siang-kiam mendadak menerjang maju pula, cahaya pedang menyambar bagaikan pelangi melintas di udara.
Cahaya pedang Ong It-peng menyambar dari sebelah kiri ke kanan, sedangkan cahaya pedang Ong It-beng menyambar dari kanan ke kiri, sret, sret, serangan mengacip mengancam tubuh Bun-ki dengan lihai.
"Ilmu pedang bagus!"
Diam-diam Sik Ling memuji.
Mao Bun-ki sama sekali tidak bergeser dari tempatnya.
Betul juga, serangan itu cuma gerak tipu.
Ketika serangan tiba di tengah jalan, tahu-tahu berubah arah dan membuat gerak setengah melingkar dan mengancam tenggorokan dan bawah perut gadis itu.
Kedua serangan itu dilakukan pada saat yang sama, suatu kerja sama yang rapi.
Oleh karena lengan kanan Ong It-peng sudah kutung, dia mainkan pedangnya dengan tangan kiri.
Walaupun demikian serangannya justru lebih ganas dan keji.
Kiranya selama beberapa tahun belakangan ini kedua Ong bersaudara tersebut giat berlatih ilmu pedang Ji-gi-kiam-hoat yang dimainkan bersama.
Kekuatannya tentu saja hebat sekali.
Bun-ki tertawa, sekali bergeser tahu-tahu ia sudah bergerak tiga kaki ke samping.
Waktu tangannya bergerak, semua orang merasakan silau oleh cahaya merah yang berkelebat.
Hanya sekejap mata saja tahu-tahu Mao Bun-ki telah melolos pedangnya.
Cahaya pedang itu tidak hijau kebiruan, tapi berwarna kemerahan.
Cahayanya mengejutkan, pedangpun mengagumkan, entah senjata itu terbuat dari bahan apa?
Begitu pedang terlolos, semua orang baru terkejut, malah Sik Ling yang sudah lama berkelana pun tak tahu asal-usul pedang itu.
Apalagi Ko Bun, ia menatap pedang tersebut tanpa berkedip.
Kedua Ong bersaudara juga ahli pedang.
Entah berapa ratus batang pedang mestika pernah dilihatnya, tapi sekarang air muka merekapun berubah hebat.
Dengan cepat mereka putar pedang membentuk setengah lingkaran, menyusul terus menusuk ke tengah.
Sementara ujung pedang berbunyi mendengung karena getaran tenaga dalam mereka, kemudian secara tiba-tiba berubah menjadi puluhan lingkaran kecil yang menghujani tubuh Mao Bun-ki.
Itulah jurus Jit-gwat-ceng-hui (matahari dan rembulan berebut cahaya), suatu jurus ampuh dari ilmu pedang Ji-gi-kiam-hoat mereka.
Waktu itu Oh Ci-hui masih berbaring di atas tanah.
Meskipun matanya terpentang lebar, sayang tak bisa mengikuti jalannya pertarungan itu.
Kiranya sewaktu roboh tadi, kebetulan kepalanya menghadap ke samping sana.
Oleh karena badannya tak mampu bergerak, otomatis kepalanya tak bisa berputar.
Rasa gelisahnya waktu itu ibaratnya seekor babi di ujung pisau tukang jagal.
Senyuman tetap menghiasi wajah Mao Bun-ki.
Tiba-tiba cahaya pedangnya memanjang menyongsong cahaya pedang Ho-siok-siang-kiam.
Sementara itu Ho-siok-siang-kiam merasakan pedang yang terpegang seperti bertemu dengan suatu tenaga isapan yang kuat sekali.
Rasanya tak sanggup bertahan dan menyodorkan pedangnya ke arah lawan.
"Bawa kemari!"
Bentak Mao Bun-ki sambil tertawa.
Di tengah cahaya yang bertaburan, bayangan manusia terpencar.
Ho-siok-siang-kiam serentak melompat mundur ke belakang.
Tangan mereka sudah kosong.
Dengan terbelalak kaget mereka mengawasi musuh tanpa berkedip.
Senyum Mao Bun-ki semakin manis.
Tangannya terjulur ke depan dan terlihatlah kedua bilah pedang kedua Ong bersaudara melengket di atas pedang yang berwarna merah itu.
Dengan suatu getaran keras, tiba-tiba gadis itu mengayunkan pedangya.
Kedua pedang rampasan itu mencelat ke udara dan tercebut ke dalam danau.
Kembali semua orang terkejut, demonstrasi tenaga dalam si gadis terbukti memang luar biasa.
Sudah hampir tiga puluh tahun nama besar Ho-siok-siang-kiam mengisi sejarah persilatan.
Kecuali kecundang di tangan Siu-sianseng tempo dulu, selama belasan tahun terakhir ini tak pernah menemukan musuh tangguh.
Tapi kenyataannya sekarang, belum sampai tiga gebrakan, pedang mereka sudah dirampas oleh seorang gadis ingusan yang tidak diketahui asal-usulnya.
Maka dapat dibayangkan bagaimana perasaan mereka sekarang.
Bagi seorang jago pedang, terampasnya senjata mereka dianggap sebagai suatu penghinaan, apalagi dengan kedudukan Ho-siok-siang-kiam dalam dunia persilatan yang cukup disegani.
Dengan perasaan bagaikan diiris-iris, kedua Ong bersaudara cuma bisa memandang Mao Bun-ki dengan melongo.
Kepandaian silat gadis itu betul-betul membuat mereka terkesiap.
Biasanya kelima orang muridnya itu sangat menghormati guru mereka bagaikan menghormati dewa, sekarang mereka pun merasa sangat sedih sehingga air muka pun berubah.
Orang tadi tidak merah lagi wajahnya, sebaliknya berubah menjadi pucat hijau.
Sekalipun mereka menggenggam pedang, namun tak seorangpun berani turun tangan.
Setelah Ho-siok-siang-kiam mundur, Oh Ci-hui yang tergeletak di tanah pun bisa melihat keadaan mereka dengan jelas.
Dari mimik wajah mereka dan tangan mereka yang kosong, segera diketahuinya kedua orang itu sudah kecundang.
Kejut dan girang bercampur aduk dalam hatinya.
Ia terkejut karena Mao Bun-ki bisa mematahkan nama besar Ho-siok-siang-kiam, padahal kedua orang itu adalah sahabat ayahnya.
Entah cara bagaimana sakit hati itu akan ditagih nanti.
Dia girang karena putri sahabatnya memiliki ilmu silat sangat lihai.
Dalam suasana yang penuh kesulitan dewasa ini, tak bisa disangkal lagi kalau nona ini adalah seorang pembantu yang bisa diandalkan.
Sebab tidak banyak jago di dunia ini yang sanggup mengalahkan Hosiok-siang-kiam.
"Ilmu pedang kalian berdua sungguh hebat sekali.
"kata Mao Bun-ki sambil tersenyum. Perlahan ia menyarungkan kembali pedangnya ke sarung kulit kucing. Kemudian katanya pula.
"Cuma, bila dengan kepandaian kalian ini ingin bikin keonaran di Se-oh sini dan menumbuki perahu orang, kukira kalian perlu belajar lebih giat lagi."
Air muka Ho-siok-siang-kiam berubah menjadi hijau pucat, saking gusarnya tubuh mereka menggigil, sepatah katapun tak sanggup diucapkan lagi. Mao Bun-ki kembali menyindir.
"Aku tahu, kalian berdua pasti tidak puas bukan? Itu tak menjadi soal, bila kalian ingin cari diriku lagi, langsung saja mencari orang she Mao di kota Hangciu ini."
Tiba-tiba air muka Ho-siok-siang-kiam berubah hebat, serunya hampir bebareng.
"Apakah ayahmu adalah Leng-coa Mao Kau?"
"Tepat sekali!"
Jawab Bun-ki sambil tertawa.
Mendengar itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Ho-siok-siang-kiam mengentak kaki terus melompat kembali ke atas perahu mereka sendiri.
Lalu Bun-ki berpaling ke arah kelima orang lelaki yang lain, tegurnya dengan tertawa.
"Mengapa kalian belum enyah dari sini?"
Suaranya lembut dan enak didengar, tapi mendatangkan perasaan yang seram bagi kelima orang itu.
Tanpa bicara merekapun melompat ke atas perahu sendiri.
Siapa tahu, dalam gugupnya mereka lupa tenaga dalam sendiri masih cetek, tak ampun lagi "plung!
plung!"
Beberapa orang diantaranya tercebur ke dalam telaga.
Bun-ki tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian itu.
Mendadak dilihatnya Oh Ci-hui masih menggeletak di tanah.
Ia lantas menghampirinya dan membebaskan jalan darahnya yang tertutuk.
Begitu Oh Ci-hui melompat bangun, ia menumpahkan riak kental, lalu ia menarik napas panjang.
"Sam-siok, menyakitkan dirimu saja.
"kata Bun-ki dengan tertawa. Dengan murung dan napas tersengal, sahut Oh Ci-hui.
"Tersiksa sedikit tidak mengapa, tapi tahukah nona bahwa engkau telah membuat bencana besar?"
"Bencana apa?"
Tanya Bun-ki dengan heran.
"O, nonaku! Kau telah menghajar orang setengah harian, apakah belum kau ketahui siapakah mereka itu?"
Bun-ki menggeleng kepala.
"Ya, akupun tahu kau pasti tidak kenal mereka.
"kata Oh Ci-hui.
"Sebab jika tahu tak nanti kau hajar kedua orang itu."
Gelisah juga Bun-ki mendengar ucapan itu, desaknya.
"Siapakah kedua orang itu? Sam-siok, kalau bicara jangan bertele-tele!"
"Mereka adalah Ho-siok-siang-kiam yang sama tinggi namanya bersama ayahmu."
Melengak Bun-ki mendengar keterangan itu. Sik Ling juga terperanjat, sambil melangkah maju serunya.
"Jadi mereka Ho-siok-siangkiam?"
Hanya Ko Bun saja tetap berdiri dalam kegelapan dengan wajah senyum tak senyum, entah apa yang dipikirnya. Bun-ki menghampirinya, dengan tertawa tegurnya.
"Hei, kau lagi melihat apa? Aku berkelahi, kenapa tidak kau bantu?"
Sambil geleng kepala, Ko Bun tertawa getir.
"Bukannya aku tak mau membantu, apa daya kalau aku tak mampu? Mana aku berani mencari penyakit sendiri?"
Terkikik geli Bun-ki.
"Coba lihat, masa bicara semacam ini."
Padahal dia dan Ko Bun baru kenal, namun gadis itu sedikitpun tidak nampak malu.
Sik Ling heran juga menyaksikan lagaknya itu, mana dia tahu bahwa sejak dilahirkan Mao Bun-ki belum tahu apa yang disebut malu.
Menyaksikan kepolosan gadis itu, Ko Bun tersenyum.
"Pedang nona menarik sekali, bolehkan kumohon lihat sebentar?"
"Boleh sih boleh, Cuma ...
"tiba-tiba Bun-ki menarik napas panjang kata yang terakhir itu.
"Cuma apa?"
"Cuma kalau bicara lagi, janganlah pakai mohon segala, bikin kikuk saja.
"seru si nona dengan perasaan geli.
"Nona ini sungguh polos dan lugas.
"pikir Sik Ling dengan tersenyum. Ketika gadis itu melolos pedangnya, Ko Bun mundur dua langkah seperti merasa terkejut. Sik Ling juga kaget.
"Kenapa cahaya pedang ini sedemikian aneh?"
"Coba kauraba.
"kata Bun-ki sambil tertawa. Ko Bun berdiri agak jauh, dia menggeleng kepala. Sambil tertawa, Oh Ci-hui segera menghampirinya seraya berkata.
"Kenapa takut meraba pedang?"
Ia sendiri lantas mengulurkan tangannya dan meraba batang pedang tersebut.
Tapi baru saja ujung jari menyentuh pedang, mendadak sekujur badannya bergetar.
Melonjak kaget, cepat ia menyurut mundur dengan wajah pucat, jeritnya.
"He, apa yang terdapat pada pedang ini?"
Bun-ki cekikik geli.
"Sam-siok, kau tertipu.
"serunya. Kemudian sambil mengerling sekejap ke arah Ko Bun, ia menambahkan.
"Kau lebih pintar tampaknya."
Sik Ling sendiri meski ikut tertawa, namun hati amat terkejut.
Sudah lama dia menjelajahi dunia, tapi belum pernah melihat ada orang melonjak lantaran meraba pedang, bahkan mendengarpun belum pernah.
Sementara itu, tiba-tiba dari tengah danau meluncur datang sebuah sampan kecil dengan kecepatan tinggi.
Bukan saja si pendayung sampan itu hapal dengan keadaan disini, tenaga dayungnya juga kuat sekali.
Dalam waktu singkat sampan itu sudah mendekat.
Ketika tiba di depan perahu yang ditumpangi Mao Bun-ki, tiba-tiba dia memutar dayungnya sehingga perahu itu berhenti.
Lalu dengan gerakan yang enteng melayang naik ke atas perahu, gerakannya lincah, jelas seorang jagoan tangguh dari dunia persilatan.
Begitu tiba di atas perahu, orang itu lantas menegur Mao Bun-ki.
"Tampaknya kau membuat keonaran lagi?"
Ko Bun melihat orang itu masih muda, wajahnya tampan, tubuhnya jangkung dan mengenakan baju warna kuning emas.
Matanya memandang ke atas dengan sikap angkuh.
Orang ini ternyata bukan lain daripada Giok-bin-sucia Kiong Si-cang yang telah tewas terbunuh di rumah penginapan tempo hari.
Air muka Ko Bun berubah hebat, sekujur badan menggigil, agaknya ia merasa ngeri dan takut karena orang yang telah mati terbunuh tahu-tahu muncul kembali dalam keadaan segar bugar.
Sik Ling juga terperanjat, tapi Mao Ping dan Oh Ci-hui hanya tersenyum saja, seakan-akan kejadian itu tak perlu dikejutkan.
Perlahan Mao Bun-ki memasukkan pedang ke sarungnya, lalu sambil tersenyum berkata.
"Dari mana kau tahu aku membuat keonaran?"
Sedangkan Oh Ci-hui berseru.
"Apakah Ho-siok-siang-kiam telah sampai di rumah Maotoako? Cepat amat langkah mereka!"
Pemuda tampan itu memandang sekeliling perahu, kemudian berhenti pada wajah Ko Bun, katanya dengan tertawa.
"Mereka belum sampai di rumah suhu, hanya secara kebetulan kujumpai di tepi danau. Mereka marah-marah, bahkan bilang hendak pulang ke Ho-siok dan tak mau mencampuri urusan di sini lagi."
Dia tersenyum, ia memandang Mao Bun-ki sekejap dan menambahkan.
"Hmm, siapa suruh kedua makhluk tua itu berani mencari gara-gara pada Hau-po-sin-kiam milik adik Ki? Salah mereka, mencari penyakit sendiri."
Dari pembicaraannya dapat diketahui pemuda inipun memandang rendah kemampuan Hosiok-siang-kiam, selain bermaksud mengumpak Mao Bun-ki.
Betul juga, Mao Bun-ki tersenyum manis demi mendengar pujian tersebut.
Perlahan pemuda tampan itu mendekati Ko Bun, sekulum senyuman masih menghiasi wajahnya.
Walau Ko Bun berusaha menenangkan hatinya, tak urung pucat juga wajahnya.
Oh Ci-hui tertawa sambil menghampirinya dan berkata.
"Saudara Ko, mari kuperkenalkan dirimu dengan seorang jago kosen."
Ia mengedipi Ko Bun, lalu menuding pemuda tampan itu, katanya.
"Dia inilah salah seorang dari kesepuluh murid Leng-coa Mao-toako, tokoh ketiga dalam Giok-kun-sucia. Orang menyebutnya sebagai Leng-hong-sucia (utusan angin sejuk) Kiong Liang-cang. Kiong-jihiap, semoga kau bisa bergaul akrab dengan dia."
Kiong Liang-cang tertawa, katanya.
"Melihat sikap Saudara Ko ini, agaknya kenal juga dengan kakakku. Orang persilatan memang tak sedikit yang salah sangka kami berdua saudara sebagai satu orang."
Kemudian ia berpaling ke arah Oh Ci-hui dan melotot, lalu berkata lagi.
"Oh sam-siok, tak usah memberi tanda kedipan mata kepada Saudara Ko. Berita kematian kakakku sudah kuketahui. Tak heran bila ia terperanjat melihat kedatanganku, tentunya dia mengira ada orang mati bisa hidup kembali."
Setelah mendengar penjelasan ini, baru Ko Bun mengerti akan duduknya perkara.
Tanpa terasa dia perhatikan orang yang bernama Leng-hong-sucia ini lebih seksama.
Sementara di mulut dia mengucapkan beberapa kata sungkan, dalam hati dia berpikir.
"Kecerdikan dan keculasan Leng-hong-sucia tampaknya di atas kakaknya. Sekalipun mendengar berita kematian kakaknya, sama sekali ia tidak memperlihatkan rasa sedih. Bisa diketahui betapa kejinya orang ini. Padahal Oh Ci-hui cuma mengedip mata, tapi ia bisa menebak maksud orang, bahkan membongkarnya secara terang-terangan. Manusia semacam ini, makin pintar makin berbahaya pula bagi masyarakat ..."
Karena ditegur secara terang-terangan, Oh Ci-hui tertawa jengah.
Buru-buru ia mengalihkan pembicaraan ke soal lain dengan memperkenalkan Sik Ling.
Air muka Sik Ling dingin dan kaku, rupanya iapun tidak puas pada keketusan orang.
Sementara itu Kion Liang-cang sedang bertanya.
"Sewaktu kakakku tewas, apakah Saudara Ko juga hadir di sana?"
Ko Bun manggut-manggut, sikapnya kembali acuh-tak acuh. Oh Ci-hui menghela napas, katanya.
"Kematian kakakmu memang mengenaskan, tapi Kiong hiantit jangan terlalu sedih ...
"Diam-diam Sik Ling mendengus, pikirnya.
"Orang sama sekali tidak tampak sedih, omong kosong melulu Pat-bin-ling-long ini ... ."
Tampaknya Kiong Liang-cang tidak begitu suka pada 'Oh-samsiok' ini, bahkan tanpa sungkan-sungkan untuk memperlihatkan ketidak sukaannya itu.
Hakikatnya ia tidak menggubris perkataan Oh Ci-hui tersebut.
Kepada Mao Bun-ki, ia berkata.
"Suhu selalu menguatirkan dirimu, takut kau bikin gara-gara, padahal beliau juga terlalu banyak pikir. Dengan pedangmu ini, masa engkau sampai kecundang di tangan orang?"
"O, jadi kau anggap aku hanya mengandalkan keampuhan pedang ini saja?"
Seru Mao Bunki mendongkol.
"jangan kau anggap ilmu silatmu paling hebat. Hmm, dengan bertangan kosongpun aku mampu meroboh kau."
Seketika air muka Kiong Liang-cang rada berubah, tapi sedapatnya ia bersabar, katanya lagi sambil tersenyum.
"O, tentu, tentu saja. Siapa yang tidak kenal pada murid kesayangan Toliong-siancu? Jangankan aku, biarpun kami bersepuluh Saudara maju sekaligus juga tak mampu menandingi dirimu!"
Kali ini Mao Bun-ki benar-benar marah, sambil mengentak kaki dia berseru.
"Bagus, kau berani menyebut nama guruku? Hm, tampaknya kau sudah bosan hidup?"
Buru-buru Oh Ci-hui melerai, dengan senyumnya yang khas dia berkata.
"Ai, kalian masih saja seperti sepuluh tahun berselang, asal bertemu lantas ribut. Apakah tidak malu akan ditertawakan orang?"
Diam-diam Sik Ling berpikir pula.
"Tampaknya Kiong Liang-cang juga jatuh hati kepada nona Mao ..."
Ko Bun sedang memandang langit, seakan-akan sedang termenung karena mendengar nama seseorang.
Nama "To-liong-siancu" (si dewi pembunuh naga) yang disebut Kiong Liang-cang tadi seolah-olah tidak menarik perhatian orang, seakan-akan nama itu tak ada harganya diperhatikan orang.
Hal ini bukan dikarenakan pengetahuan mereka yang dangkal, tapi karena mereka dilahirkan agak lambat puluhan tahun sehingga asing terhadap nama seseorang tokoh perempuan yang kedudukannya sejajar dengan Hay-thian-ko-yan.
Tentu saja hal inipun disebabkan watak To-liong-siancu sendiri yang suka menyendiri, sekalipun memiliki kungfu maha tinggi, tapi jarang sekali perlihatkan diri dalam dunia persilatan.
Demikianlah, setelah Oh Ci-hui angkat bicara, untuk sesaat suasana dalam ruang perahu itu menjadi hening.
Kiong Liang-cang melenggong sejenak, air mukanya sebentar terang sebentar kelam.
Diolok-olok orang di depan umum memang sesuatu yang tak enak, tapi perasaan lain memaksa dia mau tak mau menerima ketidak enakan tersebut.
Perlahan dia berjalan ke haluan perahu, tiba-tiba ia membalik badan, katanya.
"Silakan kalian pesiar dulu, aku akan pulang memberi laporan kepada suhu bahwa Oh-samsiok dan Siktayhiap dari Bu-tong datang."
Hati Sik Ling tergerak, ia tahu orang persilatan masih belum melupakan namanya.
Kiong Liang-cang sekali lagi menjura, sementara sampan yang ditumpangi tadi sudah terbawa arus hingga terpisah dua tombak lebih dari tempat semula.
Ia sengaja hendak pamer ginkang, sekali melejit ia mengapung ke udara, kedua lengan terpentang lalu meluncur ke depan.
Dia sudah mengincar sasarannya pada sampan itu dengan seksama, ia akan melayang turun di atas sampan dengan enteng.
Tentu saja tujuannya yang terutama adalah untuk dipamerkan kepada Mao Bun-ki.
Siapa tahu, ketika daya layang mulai berakhir dan kaki hampir turun di atas sampan, mendadak sampan kecil itu bergeser beberapa kali ke samping seakan-akan ada orang yang secara tiba-tiba menarik sampan itu.
"Plung!"
Tak ampun lagi ia tercebur ke dalam danau, air muncrat ke empat penjuru.
Oh Ci-hui sekalian menjadi terkejut.
Sik Ling juga merasa kejadian ini di luar dugaan, tanpa terasa ia melirik sekejap ke arah Ko Bun.
Dilihatnya anak muda itu sedang membelai rambutnya yang terembus angin, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, sekali lagi perasaan Sik Ling tergerak.
Sebenarnya Kiong Liang-cang berniat pamer kepandaian, siapa tahu malah tercebur ke air.
Untung sejak kecil ia hidup di Kanglam dan mahir berenang, begitu tenggelam dengan cepat ia muncul kembali ke permukaan air dan berenang ke arah perahu.
Walaupun akhirnya berhasil juga naik kembali ke atas perahu pesiar, toh keadaannya basah kuyup persis ayam yang kecemplung ke dalam sungai, mengenaskan sekali keadaannya.
Bila dibandingkan kegagahan serta kejumawaannya ketika naik ke atas perahu tadi, tentu saja keadaannya sekarang sangat konyol.
"Siapa yang main gila padaku?"
Serunya gemas.
"aku ... ."
Saking gusarnya dia tak mampu melanjutkan ucapannya.
Mao Bun-ki yang baru keluar dari ruang perahu tertawa geli melihat keadaannya yang mengenaskan itu, rupanya gadis ini sangat senang bila pemuda itu tertimpa musibah.
Namun tak seorangpun yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, tapi ada dua kemungkinan yang bisa berakibat demikian.
Pertama, ada orang menyelam ke bawah dan menarik sampan itu ketika tubuh orang hampir turun keatas perahu.
Kedua, ada orang yang melancarkan pukulan jarak jauh sehingga sampan itu terdorong ke belakang.
Walaupun demikian, kedua kemungkinan inipun rasanya sukar terjadi.
Apalagi kemungkinan yang kedua, sebab dalam dunia persilatan dewasa ini tidak banyak orang yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya.
Apalagi beberapa orang yang berada di atas perahu sekarang, kendatipun mereka terhitung jago kelas tinggi dalam dunia persilatan, tapi mustahil bisa memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya.
Inilah sebabnya biarpun Kion Liang-cang marah-marah, tapi tak menemukan sasaran yang tepat untuk melampiaskan hawa amarahnya itu.
Tentu saja terhadap tertawa ejekan Mao Bun-ki ia cuma bisa menahannya dalam hati, kecuali itu apa pula yang bisa dia lakukan?
Suasana menjadi canggung, hanya pada wajah Ko Bun dan Mao Bun-ki terlihat senyuman.
Meski wajah Kiong Liang-cang sekarang tidak bisa dibilang 'pucat seperti mayat', paling tidak keadaannya sudah lemas dan lesu.
Sesudah perahu merapat di pantai, pengaruh Leng-coa Mao-kau di kota Hang-ciu segera terlihat jelas.
Setiap orang yang berada di tepi telaga, dari lapisan masyarakat manapun, semuanya menyapa dengan hormat kepada Kiong Liang-cang yang mengenaskan itu.
Wajah mereka sama sekali tak berani menampilkan perasaan tercengang atau geli.
Tempat tinggal Leng-coa Mao-kau lebih mengejutkan lagi, mungkin tiada gedung yang lebih besar dan lebih megah daripada gedungnya di seluruh kota Hang-ciu ini, sekalipun rumah pembesar setempat.
Pintu gerbang yang berwarna merah terpentang lebar, dua buah singa batu berdiri di tepi pintu dan mengawasi setiap orang yang berlalu lalang, seakan-akan Leng-coa Mao-kau sendiri sedang mengawasi setiap jago persilatan di dunia ini.
Setiap orang yang berjalan bersama putri kesayangan atau murid kesayangan Mao Kau tentu saja tidak perlu lapor atau minta ijin masuk, maka mereka langsung diantar ke dalam ruang tamu Leng-coa Mao Kau yang diatur secara megah dengan perabot yang mewah.
Ko Bun berjalan di samping Oh Ci-hui, tiba-tiba ia menarik ujung bajunya sambil berbisik.
"Saudara Oh, sudah sekian hari kita berkumpul, boleh dibilang kita sudah sama-sama tahu keadaan masing-masing, persoalan yang mengganjal hati Oh-heng juga telah kuketahui. Apalagi selama ini Oh-heng sudah banyak membantuku, entah boleh tidak sekarang akupun membantu Saudara Oh?"
Mendengar itu, Oh Ci-hui sangat girang, ia tidak menyangka persoalan yang selama ini tak berani ia singgung kini telah disinggung lebih dulu oleh yang bersangkutan.
Namun diluar ia sengaja bersikap rikuh.
"Ah, mana, mana ... kenapa Ko-heng berkata demikian ..."
Ko Bun tersenyum, katanya lagi.
"Ketika Saudara Oh kehilangan barang kawalan, siaute juga ikut di sampingmu. Sayang siaute tak bertenaga, tak bisa membantu apa-apa kepada Saudara Oh. Kalau dibicarakan, sungguh memalukan sekali. Untunglah siaute mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku ..."
Berbicara sampai disini, sengaja ia berhenti. Oh Ci-hui tak tahan, sambil tertawa dia lantas menukas.
"Siaute tahu keluarga Saudara Ko kaya rara. Dalam pandangan orang lain uang kawalanku yang hilang itu mungkin suatu jumlah yang besar, tapi sudah pasti tak terpandang sebelah mata oleh Ko-heng. Cuma siaute tidak punya jasa apa-apa, mana berani kuterima pemberianmu itu?"
"Wah, kalau Saudara Oh berkata demikian, sama artinya dengan memandang asing diriku, soal uang, tanggung beres."
Mimpipun Oh Ci-hui tidak mengira kalau pemuda kaya ini begini murah hati kepadanya. Tentu saja tak terlukiskan rasa terimakasihnya kepada Ko Bun. Terdengar Ko Bun berkata pula.
"Jika bertemu dengan Mao-tayhiap nanti, tolong Saudara Oh mengakui diriku sebagai sahabat karibmu, dengan demikian jika uang kawalanmu yang hilang itu kujamin, orang lain tentu tak bisa bilang apa-apa."
Sudah barang tentu Oh Ci-hui mengiakan berulang kali, bahkan merasa amat berterimakasih karena Ko Bun telah memikirkan kepentingannya dengan begitu sempurna.
Jangankan baru mengakui dia sebagai sahabat, sekalipun harus mengakui Ko Bun sebagai Bapak pun sanggup.
Diam-diam Ko Bun mencibir, cibiran yang menandakan perasaan senang karena apa yang dituju telah tercapai.
Sementara kedua orang itu sedang berbicara dengan suara lirih, tiba-tiba dari dalam terdengar seseorang berdehem, kemudian menegur dengan lantang.
"Apakah Oh-losam yang membawa Sik-lote datang bersama?"
Suara itu tajam melengking, amat menusuk pendengaran, membuat siapa saja yang mendengar akan merasa tidak enak.
Tanpa terasa semua orang berpaling.
Tertampaklah melangkah keluar seorang kakek tinggi kurus, bertulang kening tinggi, berhidung elang, mata cekung dan sinar matanya tajam.
Sekalipun wajahnya penuh keriput yang menandakan usianya telah lanjut, namun langkah kakinya masih tetap gagah perkasa, sama sekali tidak menunjukkan ketuaannya.
Buru-buru Oh Ci-hui melangkah ke depan dan memberi hormat, sahutnya dengan tertawa yang dibuat-buat.
"Mao-toako, baik-baikkah engkau? Sudah lama sekali siaute tidak datang menyampaikan salam kepada toako."
Mao Kau terbahak-bahak, lagak lagunya sengaja dibuat-buat sambil menarik tangan Oh Cihui serunya.
"Kita kan sesama Saudara sendiri, kenapa sungkan?"
Dengan sinar mata yang tajam dia awasi wajah setiap orang, kemudian sambil tertawa ia menghampiri Sik Ling, katanya.
"Sudah sekian tahun tak berjumpa, tak tersangka adik masih semuda ini, tidak seperti kakakmu ini, sudah tua, tua sekali ...."
Dengan suara yang mendekati keluhan, dia mengakhiri perkataannya itu.
Walaupun ia mengaku sudah tua, tapi setiap orang tahu, itu cuma ucapan di bibir, sedang hatinya belum tentu mau mengakui ketuaannya itu.
Waktu itu perhatian semua orang tertuju pada wajah pentolan Bu-lim ini, oleh karena itu perubahan sikap Ko Bun sama sekali tidak diperhatikan orang.
Tapi manusia macam Ko Bun tak nanti mendapat perlakuan dingin dimanapun dia datang.
Sinar mata Mao Kau perlahan beralih ke wajahnya, sambil tersenyum katanya.
"Adik ini masih asing bagiku, tentunya seorang jago muda yang belum lama muncul di dunia persilatan, bukan?"
Setelah tertawa nyaring, ia melanjutkan.
"sudah sekian tahun tak pernah kutinggalkan kota Hang-ciu, terhadap jago-jago muda dari persilatan boleh dibilang asing sekali."
"Kali ini Mao-toako salah melihat.
"seru Oh Ci-hui cepat.
"Ko-lote ini adalah kenalanku ketika mengawal barang menuju ke Oh-tang dahulu, seandainya tiada Ko-lote, mungkin papan merek Peng-an piaukiok sudah rontok dan bangkrut."
"Oo!"
Mao Kau bersuara tercengang. Agaknya Oh Ci-hui merasa keterangannya belum cukup, dengan cepat ia berkata lagi.
"Jaman seperti ini, teman yang baik seperti Ko-lote sungguh sukar dicari. Mao-toako, betul tidak?"
"Betul, betul!"
Mao Kau mengangguk.
Maka dengan mudah Ko Bun berhasil menimbulkan kesan baik bagi pentolan Bu-lim ini dalam pertemuan yang pertama ini.
Maklumlah, di dunia ini banyak jalan yang bisa menimbulkan kesan baik orang lain terhadap diri sendiri, tapi tak bisa disangkal uang adalah suatu cara yang paling cepat dan efektif.
Dari sekian banyak orang, hanya Sik Ling saja yang merasa curiga, sebab hanya dia yang tahu Ko Bun dan Oh Ci-hui belum lama berkenalan.
Ia tidak habis mengerti, kenapa Ko Bun menggunakan berbagai macam cara untuk menarik kesan baik Oh Ci-hui dan Mao Kau.
Ia yakin di balik semua ini pasti tersembunyi suatu rahasia besar, sekalipun ia dapat menebaknya sebagian, namun segan untuk mengutarakannya.
Bahkan dia berharap apa yang diduganya itu bisa lebih dekat dengan kenyataan.
Setelah Mao Kau mendapat tahu kedua kejadian terakhir yang tak terduga itu, senyuman bangga yang semula menghiasi wajahnya seketika lenyap.
Sekalipun begitu, ia tetap berlagak tenang.
Ketika Oh Ci-hui melaporkan tentang Kim-kiamhiap dia lantas berkata.
"Oh-losam, kita adalah saudara sendiri. Janganlah mengagumi kehebatan orang lain dan meremehkan kemampuan sendiri. Kendatipun Kim-kiam-hiap memiliki tiga kepala dan enam tangan, jangan harap akan lolos dari cengkeramanku."
Baru sekarang sinar mata Ko Bun beralih dari wajah Mao Kau, ia pandang sekeliling ruang besar ini.
Tiba-tiba sinar matanya tertarik oleh sebuah benda yang berada dalam ruangan ini.
Kiranya di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja altar yang berlapiskan kain hitam.
Hal ini sangat menyolok dibandingkan dengan perabot lain yang berada dalam ruangan.
Sinar matanya yang aneh dan sukar diraba artinya kembali terpancar, seakan-akan tidak sengaja pemuda itu berjalan mendekati altar itu dan memperhatikannya dengan seksama.
Oh Ci-hui segera menghampirinya seraya berbisik.
"Di dalam pemujaan berkerudung itu berisikan lencana Jian-kut-leng milik Mao-toako. Kau tahu di balik lencana itu terdapat suatu cerita yang amat menggemparkan dunia persilatan."
Ko Bun menundukkan kepala sambil mengiakan, diam-diam tangannya yang tersembunyi dalam lengan baju terkepal erat ....Atas undangan tuan rumah dan dalam keadaan sukar menolak, malam itu Ko Bun dan Sik Ling menginap dalam gedung milik gembong dunia persilatan ini.
---ooo0ooo ---Malam kelam, angin mendesir menggoyangkan daun pepohonan di taman belakang gedung keluarga Mao.
Udara sangat gelap, langit tiada rembulan, hanya ada sinar bintang yang jarang-jarang.
Di antara bintang yang berkelip di angkasa, tiba-tiba dari belakang taman melompat keluar sesosok bayangan manusia.
Siapakah orang yang berani mendatangi tempat Leng-coa Mao Kau yang merupakan pentolan dunia persilatan dewasa ini dalam kegelapan malam seperti ini?
Agaknya ilmu meringankan tubuh orang itu amat sempurna, berada dalam keadaan apapun tidak menimbulkan sedikit suarapun.
Dengan enteng dia melayang ke atas pohon, agaknya sedang memeriksa keadaan sekeliling.
Kemudian seenteng burung ia melayang naik dari tempat semula.
Sesudah di atas rumah dengan beberapa kali lompatan lagi ia sudah berada beberapa tombak lebih jauh.
Kemudian bersembunyi di atas emper rumah yang besar dan melongok ke bawah.
Ruangan di bawah tak lain adalah ruang tengah gedung keluarga Mao.
Tampaknya ilmu meringankan tubuh orang ini sangat lihai, sekali lagi dia berjumpalitan dan melayang turun.
Orang ini berpakaian hitam ketat, muka juga berkain kedok hitam.
Selama sekian tahun belakangan Mao Kau tak pernah kuatir ada Ya-heng-jin (orang berjalan malam) akan menyatroni rumahnya.
Tak heran kalau suasana di dalam ruangan hening sepi, tak terdengar sesuatu suara.
Dengan sangat berhati-hati orang itu celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu membuka pintu dan menerobos masuk ke dalam.
Langsung melayang ke meja pemujaan berkain hitam itu dan siap menyingkapnya ...
Mendadak terdengar bentakan nyaring dari belakang.
Dengan terkejut ia berpaling, tampak seorang telah berdiri angker di depan pintu.
Tampaknya penyatron ini enggan berjumpa dengan orang, tiba-tiba ia membalik badan terus melesat keluar ruangan.
Yang muncul dan membentak itu ialah Mao Bun-ki, secepat kilat ia mencegat orang itu.
Siapa tahu baru Mao Bun-ki bergerak, mendadak orang itu berputar selincah ikan dalam air.
Ia ganti arah secara tiba-tiba dan menyelinap keluar pintu dengan cepat luar biasa.
Merasa terkecoh, Mao Bun-ki menjadi gusar.
Dengan cepat ia mengejar lagi, gadis itu enggan membangunkan orang lain.
Dengan wataknya yang suka menang sendiri dia ingin menawan orang itu dengan kepandaian sendiri.
Memang inilah yang diharapkan si penyatron, begitu keluar dari pintu ruangan langsung dia melompat keluar dinding pekarangan.
Meski ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi, akan tetapi ginkang Mao Bun-ki juga tidak lemah.
Demikianlah satu di depan dan yang lain di belakang, dalam waktu singkat mereka sudah lari beberapa puluh tombak jauhnya meninggalkan gedung keluarga Mao.
Waktu itulah Mao Bun-ki baru membentak.
"Sobat, kalau kau punya keberanian untuk datang kemari, mengapa sekarang melarikan diri terbirit-birit seperti tikus?!"
Ya-heng-jin itu bergelak tertawa, mendadak ia menghentikan larinya dan membalik badan, menyongsong kedatangan Mao Bun-ki.
Mimpipun Bun-ki tidak mengira orang itu bisa membalik badan secara tiba-tiba, padahal ia sedang memburu dengan tubuhnya yang sedang meluncur kencang, tampaknya segera akan menumbuk tubuh Ya-heng-jin tersebut.
Perlu diketahui, kecepatan gerak tubuh kedua orang itu sungguh sukar dilukiskan, hampir mencapai kecepatan suara.
Maka baru saja Mao Bun-ki berkata, tahu-tahu sudah berada di hadapan orang.
Untuk menghindarkan ke samping jelas tak sempat.
Dalam keadaan demikian terpaksa ia mengerem sebisanya, syukur jaraknya dengan Ya-heng-jin itu masih satu kaki jauhnya.
Namun bau harum badan seorang gadis perawanpun dapat terembus lawan.
Kembali Ya-heng-jin itu tertawa.
Merah wajah Mao Bun-ki, dengan nada gusar serunya.
"Sobat, pentanglah matamu ... ."
Belum habis ia berkata, orang itu menukas sambil tertawa.
"Masa cara bicara seorang nona seperti kaum penyamun?"
Ya-heng-jin ini bersuara parau dengan logat utara.
Sekali lagi air muka Mao Bun-ki berubah merah jengah, maklum sejak kecil dia memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga persilatan, otomatis cara bicaranya dan tingkah lakunya ketularan cara orang persilatan.
Dulu ia memang tidak merasakan, setelah ditegur ia menjadi malu sendiri sebab bagaimanapun juga sebagai gadis ia enggan dikatai orang sebagai penyamun.
Maka orang yang sebenarnya hendak 'menangkap maling' sekarang berbalik tertegun karena dipandang orang sebagai 'penyamun'.
Dengan sinar mata tajam dari balik kedok Ya-heng-jin itu mengawasinya tanpa berkedip.
Ia seperti merasa geli, kemudian sambil melirik sarung pedang yang menongol di punggung si nona, ia berkata dengan setengah mengejek.
"Pada mulanya aku mengira keluarga Mao dari kota Hang-ciu adalah suatu tempat yang luar biasa, siapa tahu ....hmk!"
Rasa menghina yang tak terperikan telah diperlihatkan pada suara jengekannya itu.
Bun-ki tak tahan, belum pernah ada orang berani mengucapkan kata-kata yang tidak hormat pada keluarga Mao.
Dengusan tersebut membuatnya naik pitam, tapi di depan Ya-heng-jin ini ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun meski pada hari-hari biasa di pandai bicara.
Sambil membentak tangan kirinya bergerak kemuka sebagai pancingan, kemudian tangan kanan menabas dengan jurus Cui-niau-so-ih (burung hijau menyisir bulu), ia sabat samping tengkuk lawan.
Serangan ini bukan saja cepat dan mendadak, Mao Bun-ki yakin sekalipun serangan ini tak berhasil merobohkan lawan, paling tidak bisa merebut posisi mendahului.
Siapa tahu secara gampang Ya-heng-jin itu dapat mengegos, tiba-tiba tangan kirinya membentuk gerak lingkaran, lalu tangan kanannya menonjok.
Serangan telapak tangan berubah menjadi pukulan kepalan, jari tengah dan telunjuk menonjok dan menghantam jalan darah Cian-cin-hiat di bahu Mao Bun-ki.
Terkesiap gadis itu, bukan saja serangan Ya-heng-jin itu amat cepat, yang lihai adalah tangan kiri kanan bisa menggunakan serangan yang berbeda sekaligus.
Pukulan telapak tangan kanan yang dahsyat dengan ruas jari yang menghantam Hiat-to sungguh jurus serangan sakti.
Yang lebih hebat lagi adalah pukulan tangan kirinya, jurus serangan yang digunakan sungguh belum pernah dilihatnya selama ini.
Diam-diam ia berpikir, tanganpun tidak berhenti.
Dalam waktu singkat ia sudah bergebrak tiga jurus dengan musuh, semua jurus serangan yang keras.
Kiranya pembawaan To-liong-siancu bertenaga sangat kuat, meski seorang perempuan, namun ilmu pukulan To-liong-pat-it-sik yang diciptakannya tergolong ilmu pukulan aliran keras.
Belum pernah ada orang yang berhasil meraih keuntungan terhadap ilmu pukulannya itu.
Kendatipun demikian, di tangan Mao Bun-ki, ilmu pukulan itu tak mampu mengimbangi kehebatan gurunya.
Lagipula jurus serangan yang dipakai musuh juga sangat hebat, ini membuat serangannya sukar mencapai sasaran dengan tepat.
Sepuluh gebrakan kemudian Bun-ki mulai tidak tahan, ia terkejut oleh kelihaian musuh.
Tibatiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, segera ia membentak.
"Tahan!"
Ya-heng-jin itu tertegun, serangannya menjadi kendur. Mao Bun-ki terus mundur dan melolos pedangnya.
"Silakan rasakan kelihaian pedangku ini!"
Bentaknya dengan tertawa dingin.
Pedang di tangan kanannya segera digetarkan, cahaya tajam segera memenuhi angkasa.
Diantara suara mendengung keras pedang itu berubah menjadi lingkaran pedang kecil berwarna merah membara bagaikan gumpalan api mengurung tubuh Ya-heng-jin tersebut.
Sekarang Ya-heng-jin itu baru tahu, rupanya teriakan berhenti Mao Bun-ki tadi hanya siasat untuk mengulur waktu.
Selagi ia merasa geli, tebasan pedang gadis itu telah menyambar tiba.
Sebelum serangan tiba, lamat-lamat ia sudah merasakan hawa panas yang menyengat.
Ia tak berani menyambut serangan itu secara gegabah.
Dengan suatu gerak enteng ia berkelit ke samping.
Mao Bun-ki membentak, pedang kembali berputar membentuk satu lingkaran.
Lingkaran kecil yang berkobar seperti api itu segera menyambar tubuh lawan bagaikan seekor naga berapi.
Kembali Ya-heng-jin itu berkelit ke samping.
Ketika Mao Bun-ki mencecar secara gencar, mendadak Ya-heng-jin itu bersuit nyaring sambil melejit ke udara, kedua tangannya terentang dan sekali lagi badannya melambung ke atas.
Inilah Siang-thian-ti (tangga naik ke langit), suatu ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.
Dengan lejitan tersebut, Ya-heng-jin itu sudah tiga tombak lebih di udara.
Serangan Mao Bun-ki tak bisa lagi mengenai tubuhnya.
Dengan penasaran gadis itu berpikir.
"Hm, asal tubuhmu merosot ke bawah segera kuhadiahkan serangan lagi."
Siapa tahu Ya-heng-jin itu berputar satu lingkaran di udara, dengan kepala di bawah dan kaki di atas, seperti anak panah terlepas dari busur ia meluncur ke samping kemudian kakinya menjejak dahan pohon di sana dan kembali mengapung jauh ke depan.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh orang itu lantas lenyap dari pandangan mata.
Sekarang Mao Bun-ki baru sadar bahwa ginkang orang itu jauh di atas kepandaiannya.
Mungkin tadi orang cuma bermaksud memancingnya keluar dari gedung keluarga Mao.
Gadis ini baru saja terjun ke dunia persilatan.
Sejak berhasil mengalahkan Ho-siok-siangkiam, disangkanya kepandaian sendiri paling top di dunia.
Tapi setelah berjumpa dengan Yaheng-jin tadi, dia baru tahu bahwa ilmu pukulan maupun ilmu meringankan tubuhnya masih kalah jauh dibandingkan orang.
Betul ia berhasil memukul mundur lawan dengan pedang mestikanya, tapi hal ini bukan sesuatu yang pantas dibanggakan.
Ia mulai bertanya-tanya di dalam hati, siapa gerangan Ya-heng-jin atau manusia pejalan malam itu?
Dengan hati yang kesal ia berjalan kembali ke rumah.
Dari kejauhan terdengar bunyi kentongan bergema empat kali, ini menandakan waktu sudah lewat tengah malam, tak lama lagi fajar akan menyingsing.
Keesokkan harinya, ketika Sik Ling bangun dari tidurnya, ia melihat Ko Bun yang tidur sekamar dengannya masih tidur sangat nyenyak.
Ia tidak membangunkannya, diam-diam ia keluar kamar.
Embun telah kering, sang surya sudah tinggi di langit.
Diam-diam Sik Ling menghela napas.
Beberapa tahun belakangan ini ia selalu bangkit lebih lambat.
Ia sangsi apakah dirinya sudah mulai tua.
Menyongsong embusan angin sejuk di pagi hari ini, ia menarik napas panjang-panjang.
Untuk melemaskan otot, tanpa terasa sejurus demi sejurus ia berlatih ilmu pukulan Bu-tong-pai yang dikuasainya.
Meskipun setiap jurusnya dilakukan dengan amat lambat, namun penuh tenaga.
Meski jurus semacam ini tiada kelihatan indah, namun untuk bisa mencapai taraf seperti ini orang harus berlatih berpuluh tahun.
Serangkaian jurus pukulan baru selesai dimainkan, tiba-tiba terdengar orang bersorak memuji, ketika ia berpaling, tertampak Ko Bun sambil mengancing baju berdiri di depan pintu.
"Saudara Sik, permainan yang bagus!"
Puji Ko Bun dengan tertawa. Sik Ling juga tersenyum, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan bangga, kemudian sahutnya.
"Dengan bakat Saudara Ko yang bagus, jika mau berlatih silat pasti akan beratus kali lipat lebih hebat daripadaku."
Ko Bun dan Sik Ling saling pandang sekejap, lalu tertawa lagi, agaknya diantara mereka sudah ada perasaan tahu sama tahu.
Dari balik pepohonan di dalam taman perlahan muncul seorang gadis berbaju hijau.
Dari kejauhan ia sudah menyapa dengan tertawa.
"Pagi amat kalian bangun!"
"Nona juga bangun pagi!"
Sahut Ko Bun dengan tertawa. Gadis itu tak lain adalah Mao Bun-ki, sambil mencibir ia berseru.
"Huh, aku bukan lagi bangun pagi, hakikatnya semalaman aku tidak tidur!"
Setelah berhenti sejenak, ia bertutur pula.
"Coba aneh tidak, semalam disini kedatangan maling yang ingin mencuri pedang. Untung ... untung, dapat kupergoki dan kupukul lari."
"Dengan kepandaian nona, tentu saja tidak menjadi soal hanya menghadapi seorang maling saja.
"kata Ko Bun dengan tertawa. Merah muka Bun-ki, ia menundukkan kepala sambil memainkan ujung baju. Tak lama kemudian ia mendongak lagi dan memandang Sik Ling, katanya.
"Paman Sik, coba aku lagi sial atau tidak. Beberapa hari ini kota Hang-ciu benar-benar sangat ramai, konon Co-jiu-sin-kiam, Wan-yang-siang-kiam meski untuk sementara sudah pergi, tapi tak sampai dua hari lagi mereka akan kembali kemari. Sedang aku ... justru dua hari lagi, aku mesti meninggalkan tempat ini."
Walau ia bicara kepada Sik Ling, namun matanya melirik ke arah Ko Bun, jelas perkataannya sengaja diperdengarkan kepada pemuda itu.
"Nona, hendak kemana?"
Tanya Sik Ling dengan tertawa.
"Pulang ke rumah guruku! Setiap tahun sekali aku pulang dari Ho-pak."
"Kebetulan aku juga hendak pergi ke Ho-pak.
"tiba-tiba Ko Bun berkata.
"entah ..."
Belum habis ia berkata, dengan girang Bun-ki menyambung.
"Kalau kau mau pergi bersamaku itu lebih baik lagi, sepanjang jalan aku akan punya teman."
Gadis itu betul-betul masih polos dan lugas, iapun mempunyai kesan yang baik kepada Ko Bun, maka ia bicara terus terang tanpa tedeng aling-aling.
Tersembul senyuman aneh di ujung bibir Ko Bun.
Sik Ling dapat melihat hal itu dari samping.
Ia terkesiap, dengan perasaan ngeri ia melirik sekejap ke arah pemuda itu.
Diam-diam ia menghela napas dan berlalu dari situ, ia merasa seakan-akan telah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak perlu diketahuinya.
Tiba-tiba dari depan sana dilihatnya ada tiga orang pemuda berbaju emas sedang berjalan mendekat.
Ia sengaja menunduk kepala dan tidak memandang mereka.
Ketiga pemuda berbaju emas itupun hanya melirik sekejap ke arahnya, kemudian berjalan lewat.
Tak lama kemudian terdengar ketiga orang itu berseru berbareng.
"Adik Ki, kami telah pulang."
Dengan langkah lebar mereka menuju ke samping Mao Bun-ki, tapi ketika melihat Ko Bun berdiri dekat pintu mereka tertegun.
"Sudah pulang ya pulanglah, kenapa ribut?"
Jengek Bun-ki dingin.
Sekali lagi ketiga pemuda itu melengak dan tak tahu apa yang mesti diucapkan pula.
Sementara itu Ko Bun juga sedang memandang ketiga orang pemuda tampan itu.
Mereka rata-rata berwajah ganteng, bertubuh tegap, sikapnya jumawa sekali, pikirnya.
"Mungkin beberapa orang ini juga termasuk dalam kelompik Giok-kut-sucia. Ehm, agaknya mereka punya peranan juga di gedung ini."
Sementara ia mengamati mereka, ketiga pemuda berbaju emas itupun mengawasinya.
Ko Bun tersenyum dan membalik badan masuk ke kamar, tapi wajah ketiga orang itu sudah teringat baik dalam benaknya.
Dia tahu Bun-ki pasti masih mengawasinya, meski timbul perasaan hangat dalam hatinya, tapi dengan cepat perasaan tersebut ia tekan.
Diam-diam ia memperingatkan dirinya sendiri.
"Kau jangan melibatkan diri dalam urusan cinta dengan siapapun jua, sebab cinta hanya akan merugikan dirimu sendiri. Apakah kau lupa bahwa kehadiranmu di dunia ini sama sekali tidak didasarkan oleh cinta?"
Dua hari kemudian, ketika Co-jiu-sin-kiam dan Pek-poh-tui-hoa berdua tiba di gedung keluarga Mao, Ko Bun menyerahkan sepuluh laksa tahil perak kepada Oh Ci-hui, lalu mohon diri kepada Sik Ling yang juga akan pergi itu dengan membawa rasa terima kasih yang tak terkirakan dari Oh Ci-hui, beserta putri kesayangan Mao Kau.
Berangkatlah dia meninggalkan kota Hang-ciu melalui pintu kota utara.
Sesungguhnya siapa dan orang macam apakah pemuda Ko Bun ini?
Keanehan apa yang terdapat pada pedang mestika mao Bun-ki?
Siapakah penyatron berkedok itu?
-Bacalah
Jilid ke 5 -
Jilid 05 Jalan antara Hang-ciu dan Ho-pak, entah sudah berapa kali pernah dilalui Mao Bun-ki seorang diri, boleh dikatakan sudah hapal di luar kepala.
Ko Bun berduduk tenang di atas kudanya dan mengikuti jejak si nona, namun kedua matanya tidak terlalu tenang.
Tiada hentinya ia memandang si nona dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.
Tentu saja kelakuan Ko Bun ini membikin jantung Bun-ki berdebar-debar.
Baru pertama kali ini selama hidup Bun-ki mempunyai perasaan semacam ini.
Rasanya enak, semacam perasaan nikmat yang sukar diuraikan.
Belum jauh mereka meninggalkan kota Hang-ciu, dari belakang lantas menyusul tiba beberapa penunggang kuda.
Ko Bun berkerut kening, katanya kepada Bun-ki.
"Mungkin para suhengmu lagi yang menyusul kemari."
"Dari mana kautahu?"
Ujar Bun-ki dengan tertawa. Belum lenyap suaranya, benarlah terdengar penunggang kuda dari belakang sedang berteriak.
"Adik Ki! Adik Ki!"
Ko Bun angkat pundak terhadap Bun-ki, nona itupun tertawa geli. Empat penunggang kuda yang menyusul tiba itu memang semuanya anggota Giok-kut-sucia.
"Leng-hong-sucia"
Kiong Liang-cang yang culas dan licik itupun termasuk diantaranya.
Dia cukup sungkan terhadap Ko Bun, sebaliknya ketiga pemuda berbaju emas yang lain segera mengerumuni Bun-ki tanpa memandang Ko Bun barang sekejappun.
Salah seorang pemuda yang berkulit badan putih dan bersikap bangor lantas berkata.
"Atas perintah suhu, kami diberi tugas ke empat propinsi di utara, yaitu Ho-pak, Ho-lam, Oh-lam dan Oh-pak. Menurut pendapat sumoay, siapa diantara kami yang paling cocok pergi ke Ho-pak?"
Cara bicaranya membawa sikap dan senyuman menyanjung si nona. Tapi Bun-ki menjawab dengan tidak senang.
"Peduli siapa diantara kalian yang mau pergi kesana?"
Perlahan Kiong Liang-cang memindahkan tali kendalinya ke tangan kiri, tangan kanan lantas mengeluarkan beberapa biji mata uang, katanya.
"Nah, barang siapa dapat menebak berapa biji yang kugenggam ini, dia yang akan mengiringi adik Ki ke Ho-pak. Sebaliknya jika kalian tidak dapat menebak, maka ..maka akulah ...."
Diam-diam Ko Bun merasa geli, pikirnya.
"Tampaknya diantara sesama saudara seperguruan mereka ini sama menaksir kepada nona Ki."
Dengan tersenyum Ko Bun mengikuti permainan menebak mata uang diantara keempat saudara seperguruan itu.
Apabila keempat orang itu mengetahui apa arti yang terkandung di balik senyuman Ko Bun ini, tentu tiada seorangpun diantara mereka mengharapkan tugas senang mengiringi si cantik ini.
Alhasil, si pemuda berwajah putih itulah yang 'beruntung', ketiga pemuda lain tampak kecewa dan tinggal pergi dengan kesal.
Dengan tersenyum Ko Bun lantas mendekati pemuda muka putih itu dan menyapa.
"Bolehkah kutahu siapa nama anda yang terhormat?"
Pemuda muka putih itu meliriknya sekejap dan menjawabnya dengan angkuh.
"Namaku Khong Hi, orang kangouw menyebutku "Giok-bin-sucia" (si duta batu kemala) ... ."
Belum habis ucapannya ia lantas berpaling kearah Bun-ki dan mengajaknya bicara dengan sikap lain.
Sedikitpun Ko Bun tidak sirik, ia tetap tersenyum simpul.
Sebaliknya Bun-ki merasa dongkol, sungguh ingin ia mengenyahkan "Giok-bin-sucia"
Sejauhnya, maka sikapnya sangat dingin terhadap sang suheng, sebaliknya melirik mesra ke arah Ko Bun.
Khong Hi bukan orang tolol, rasa dongkolnya sepanjang jalan lantas dilampiaskan terhadap diri Ko Bun, ya mengejek, ya menjengek.
Namun Ko Bun tetap tidak menghiraukannya.
Sikap garang dan angkuh Mao Bun-ki sebelum ini sekarang juga berubah sama sekali.
Dia sekarang lebih sering bersikap malu-malu kucing serupa gadis pingitan.
Entah apa yang menyebabkan gadis yang tidak kenal apa artinya malu ini mengalami perubahan sebesar ini?
Setiba di Go-hin, karena kamar hotel tak tersisa lagi, terpaksa Ko Bun bersatu kamar dengan Giok-bin-sucia Khong Hi.
Tengah malam, tiba-tiba Khong Hi mendengar di luar jendela ada suara jentikan jari yang biasa dilakukan Ya-heng-jin atau pejalan malam di dunia Kangouw.
Dia sudah berpengalaman, reaksinya sangat cepat.
Segera ia meloncat turun dari tempat tidurnya dan mengenakan sepatu.
Dilihatnya Ko Bun sedang mendengkur dengan nyenyaknya.
Ia menjengek dan menggerutu di dalam hati.
"Huh, seperti babi mampus!"
Dengan gesit ia terus melompat keluar jendela, ingin dilihatnya adakah terjadi sesuatu di luar.
Betul juga, dilihatnya ada bayangan orang berkelebat di depan sana, namun gerak-geriknya terlihat lamban.
Khong Hi mendengus, tanpa pikir ia melayang ke arah bayangan orang itu.
Agaknya Mao Bun-ki juga terjaga bangun dan merasa sesuatu suara di luar.
Dengan cepat iapun memburu keluar, tapi suasana di luar sunyi senyap tiada terlihat sesuatu.
Ia ragu sejenak, lalu ia memburu ke depan sana.
Dengan cepat ia mengitari rumah penginapan itu.
Sekilas dilihatnya ada bayangan orang berkelebat di balik pohon di kejauhan sana, tanpa pikir ia mengejar kesana.
Di tengah malam buta terdengar anjing di tetangga sebelah menggonggong.
Mungkin karena mencium bau orang asing, atau bisa jadi tidak tahan kesunyian malam sehingga meraung seperti serigala di tengah hutan.
Bun-ki tidak berani gegabah.
Dengan gesit ia berlindung di balik pohon dan mengintai kesana.
Segera dapat dilihatnya sesosok bayangan bertengger di atas pohon sebelah sana dengan sikap seperti menantang.
Dengan gusar Bun-ki membentak perlahan, tiga titik sinar perak segera menyambar ke depan.
Siapa tahu orang itu tetap tidak bergerak.
Tiga batang "To-liong-ciam" (jarum pembunuh naga) yang disambitkan Bun-ki itu tepat mengenai tubuhnya.
Anehnya bayangan manusia itu tetap tegak di atas, tidak bergerak, malah mendenguspun tidak, seakan-akan jarum To-liong-ciam andalan To-liong-siancu sama sekali tak berguna.
Keruan kaget Bun-ki.
Pedang segera dilolos, cahaya merah membara segera menyambar, tapi gadis itu segera menjerit kaget.
Diantara cahaya merah yang terpancar dari pedangnya itu ia sempat mengenali bayangan itu adalah Giok-bin-sucia Khong Hi.
Serangannya segera dibatalkan.
Cepat ia melompat maju menghampiri suhengnya itu.
Akan tetapi setelah ia menyaksikan air muka suhengnya itu, ia menjerit kaget pula dan berdiri mematung dengan wajah pucat seperti mayat.
Ternyata dalam waktu yang amat singkat itu, Giok-bin-sucia Khong Hi ditemukan mati dalam keadaan mengerikan.
Jalan darah Giok-ceng-hiat di belakang kepalanya ditutuk orang, mayatnya tergantung di atas pohon dengan kawat.
Tiga batang jarum To-liong-ciam yang ditimpukkan Bun-ki tadi secara rapi ditemukan menancap di atas jalan darah Ji-swan-hiat dan Ki-bun-hiat di dadanya.
Di tengah kegelapan dapat terlihat ujung jarum yang berkilat.
Di tengah malam gelap, wajahnya kelihatan pucat kehijau-hijauan, biji matanya melotot seakan-akan tidak tahu apa sebab kematiannya.
Angin berhembus membuat Bun-ki merinding, ia tak berani memandang lagi.
Sekarang ia baru merasa dirinya adalah seorang perempuan, banyak urusan yang tak bisa dihadapinya seorang diri, terutama dalam persoalan yang menyangkut mati dan hidup.
Mendadak ia teringat akan Ko Bun.
Kembali ia merasa ngeri, cepat ia lari kembali ke rumah penginapan sambil berpikir.
"Mungkinkah dia ...?"
Manusia macam setan yang berada dalam kegelapan itu seakan-akan iblis keji dari neraka, dimanapun dan setiap saat dapat menjulurkan cakar setannya untuk merenggut nyawa orang yang ada hubungannya dengan Leng-coa Mao Kau.
Bimbang hati Bun-ki, takut dan bingung, untuk sesaat ia merasa kehilangan akal.
"Perbuatan siapakah ini?"
Demikian ia pikir.
"Kim-kiam-hiap? Atau Ya-heng-jin yang berkedok hitam itu?"
Bayangan pohon di bawah remang cahaya bintang seakan-akan berubah seperti bayangan setan yang mengadang jalan pergi Bun-ki, tanpa terasa gadis itu bergidik dan berkeringat dingin.
"Masa orang yang sudah berada dalam liang kubur bisa bangkit kembali dan datang membalas dendam?"
Ia tak berani berpikir lebih jauh, tak berani menjelaskan bagaimana datangnya kengerian itu kepada dirinya sendiri, meski bingung dan tak tahu apa yang mesti dipikirkan, tapi bayangan Ko Bun segera timbul lagi dalam benaknya.
Segera ia menerobos kegelapan dan lari kembali ke rumah penginapan.
Dalam waktu singkat ia sudah tiba di penginapan itu, dilihatnya daun jendela kamar Ko Bun dalam keadaan terbuka lebar.
Tanpa pikir ia melompat masuk ke situ.
Ternyata Ko Bun masih tertidur nyenyak.
Cepatcepat ia menghampirinya dan menepuk tubuh yang berselimut itu, tapi dengan segera diketahuinya yang ditepuk itu bukanlah tubuh manusia.
Keruan ia terkejut, cepat ia menarik selimut.
Ternyata isinya cuma bantal guling belaka, kemana perginya Ko Bun?
Ia berdiri melongo di depan pembaringan.
"Apakah nona Bun-ki disitu?"
Tiba-tiba dari belakang almari terdengar seorang bertanya dengan takut-takut.
Cepat Bun-ki melongok ke belakang almari.
Dilihatnya Ko Bun berdiri ketakutan disitu.
Setelah mengetahui yang datang adalah Mao Bun-ki, anak muda itu kelihatan lega.
Agaknya ia tak tahan berdiri lagi, ia terkulai lemas bersandar pada almari, bisiknya dengan gemetar.
"O, jika kau tidak datang lagi, aku bisa mati ketakutan."
Lalu ia tuding dinding dengan tangan gemetar.
Bun-ki berplaing ke arah yang ditunjuk.
Di atas dinding telah bertambah selembar kain hitam.
Meski gelap dalam kamar, namun masih bisa terbaca empat huruf besar yang tertera di sana.
"Dengan darah membayar darah."
Kembali Bun-ki terkesiap, peristiwa tujuh belas tahun yang lalu pernah didengar olehnya, tulisan "Dengan darah membayar darah"
Membuatnya ngeri. Dengan suara gemetar kembali Ko Bun berkata.
"Aku masih tertidur nyenyak ketika tiba-tiba dari jendela melompat masuk seorang yang menempelkan kain hitam itu di atas dinding, kemudian ia membangunkan aku dan tanya siapa diriku. Setelah itu kabur lagi lewat jendela."
"Macam apakah orang itu?"
Tanya Bun-ki sambil menghela napas.
"apakah mengenakan baju serba hitam dan kepalanya juga tertutup kain kerudung hitam?"
"Ya, ya, betul, itulah orangnya.
"sahut Ko Bun sambil mengangguk.
"rupanya nona kenal orang itu!"
Bun-ki geleng kepala, kemudian memandang ke empat huruf besar itu dengan termangu.
Perlahan Ko Bun keluar dari balik almari.
Ia pandang bayangan punggung gadis itu, wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut seperti dikatakannya tadi.
Akan tetapi begitu Bun-ki berpaling, wajahnya kembali berkerut seakan-akan orang ketakutan.
Dengan rasa kasihan Bun-ki memandang pemuda tampan itu, lalu menghampirinya sambil berbisik.
"Jangan takut, aku akan menemanimu disini, mau?"
Tapi begitu perkataan itu diutarakan, tiba-tiba air mukanya berubah merah. Dengan berseri gembira Ko Bun lantas berseru.
"Jika nona bersedia menemaniku, sungguh baik sekali, kalau tidak ... ."
Kalau tidak apa?
Meski tidak diteruskannya tapi Bun-ki sudah mendapat alasan untuk tinggal dalam kamar anak muda itu.
Sesudah menyalakan lampu, mereka duduk di kedua sisi meja.
Bun-ki merasa sinar mata Ko Bun mencorong bagai kobaran api sehingga hatinya juga mulai terbakar, terbayang olehnya musim semi yang indah dan hangat.
Tanpa terasa tangan mereka saling menggenggam dengan kencang.
Maka sampai pagi tiba mereka tetap duduk dalam keadaan begini.
Bun-ki melupakan segalanya, bahkan lupa di atas pohon di luar sana masih tergantung mayat suhengnya dalam keadaan mengerikan.
Bagaimana dengan Ko Bun?
Apakah iapun melupakan segalanya?
Dari senyuman yang menghiasi bibirnya dapat terlihat jawabannya, hanya sayang pada waktu itu Bun-ki tidak memperhatikannya.
Keesokkan harinya terjadi kesibukan dalam kantor pejabat keamanan kota Go-hin.
Kepala polisi, Thi-jio (pentung baja) Ong Wi-kiat dibuat kebingungan oleh sesosok mayat lelaki yang ditemukannya itu, terutama baju warna emas yang dikenakan mayat tersebut membuatnya amat terkejut.
Tapi semua itu adalah teka-teki, sebelum tiba saat dibukanya teka-teki itu tak seorangpun mengetahui kejadian yang sesungguhnya.
Sejak itu, hubungan Ko Bun dan Bun-ki berlangsung makin mesra.
Siapapun merasa kagum terhadap dua sejoli ini.
Tapi banyak kejadian di dunia ini sukar diketahui keadaan yang sesungguhnya jika hanya dilihat dari luar saja.
Demikian juga hubungan antara Ko Bun dengan Bun-ki.
Bagaimanapun juga kedua muda-mudi ini memang pasangan yang setimpal.
Pergaulan bebas sepanjang perjalanan, lama kelamaan tumbuh juga benih cinta dalam hati mereka, terutama Bun-ki.
Ia bukan saja berubah menjadi lembut dan pemalu, bahkan semua kepandaian seorang perempuan melayani seorang lelaki telah dilakukannya pada Ko Bun, membuat pemuda itu untuk pertama kalinya merasakan kehangatan dan kemesraan dari lawan jenisnya.
Sejak itu, di dalam hati Bun-ki yang suci bersih itu lantas tertera "cinta"
Atas diri Ko Bun.
Siapapun tahu cinta pertama seorang gadis biasanya paling murni dan indah, tentu juga tak terlupakan selamanya.
Kematian Khong Hi yang mengerikan meski mendatangkan perasaan sedih Bun-ki, sebab bagaimanapun mereka dibesarkan bersama, empat huruf besar yang tertera di atas dinding pun mendatangkan perasaan ngeri baginya ...
sebab sedari kecil ia sudah sering mendengar kisah yang berhubungan dengan keempat huruf tersebut.
Akan tetapi rasa sedih dan ngeri itu kini tidak mendapatkan tempat lagi dalam hatinya, sebab seluruh hatinya sekarang telah dipenuhi oleh huruf "cinta".
Tentu saja Ko Bun juga dapat merasakan kekuatan yang timbul dari huruf "cinta"
Itu di dalam hati si nona, dari tindak-tanduk serta cara bicara Bun-ki ia dapat merasakan semua itu.
Tapi seperti juga sebelumnya, ia selalu membawa senyuman yang misterius, membuat siapapun sukar menembusi rahasia hatinya lewat wajahnya yang tampan dan gagah itu.
Dia adalah seorang yang penuh diliputi rahasia.
Hanya saja Bun-ki tak dapat merasakan hal itu.
Sepanjang jalan ia seperti malaikat penjaga yang selalu melindungi sastrawan "yang lemah tak bertenaga"
Ini.
Bagaikan seorang ibu yang mengurusi makan minum anaknya, seperti seorang istri yang mengucapkan kata-kata lembut dan mesra kepada suami.
Dari Hang-ciu menuju ke utara perjalanan dapat dilakukan melalui kanal.
Penduduk di sekitar kanal amat padat, terutama wilayah Kangsoh dan Ciatkang, boleh dibilang merupakan daerah yang paling ramai di daratan Tionggoan.
Oleh karena itu sepanjang jalan ini sesungguhnya tak perlu terjadi sesuatu peristiwa pembunuhan dan sebagainya.
Tapi karena kemunculan Kim-kiam-hiap, hal ini membuat para jago persilatana di wilayah tersebut menjadi lebih bergairah dan gembira.
Hal ini dikarenakan dunia persilatan sudah terlalu lama tak terjadi sesuatu perkara.
Mereka yang biasanya tiada hubungan dengan Leng-coa Mao Kau dan mereka yang menaruh dendam terhadap si "ular sakti"
Ini sama berharap akan menyaksikan "keramaian"
Tersebut. Mereka ingin tahu "Mao-toaya"
Yang sudah sekian tahun merajai kolong langit ini mampu bertindak apa untuk menghadapi Kim-kiam-hiap setelah berulang kali menerima pukulan yang berat.
Sementara para begundal Leng-coa Mao Kau tak perlu diterangkan lagi, mereka lebih tegang dan kuatir, karena mereka tak tahu kapan Kim-kiam-hiap akan mampir ke rumah mereka dan memberi hadiah setimpal kepada mereka.
Mao Bun-ki sudah sering melakukan perjalanan melalui jalan raya ini.
Semua jago persilatan yang ada hubungan dengan Mao Kau di sepanjang jalan ini tentu saja kenal pada putri pentolan Bu-lim ini.
Hampir pada setiap tempat, asal Bun-ki muncul di tengah keramaian, pasti ada jago kenamaan daerah setempat yang datang menyambanginya.
Bun-ki seperti rada muak terhadap mereka itu, tapi Ko Bun justru menunjukkan rasa tertariknya.
Bahkan dengan setiap jago persilatan yang berkunjung selalu dapat bercakapcakap dengan intim.
Ia selalu menanyakan nama mereka, alamatnya dan sebagainya...
Sesungguhnya Bun-ki agak heran dengan tingkah laku Kongcu kaya ini.
Ia tidak mengerti mengapa pemuda ini bisa menaruh perhatian terhadap jago persilatan itu, tapi asal Ko Bun senang, diapun ikut merasa senang pula.
Malam ini mereka mendapatkan hotel di kota Siok-ih, malam pada permulaan musim panas selalu indah.
Perlahan Bun-ki membuka jendela dan memandang bintang yang bertaburan di angkasa, bisiknya.
"Malam ini kita tak perlu keluar. Panggil saja beberapa macam hidangan, marilah kita bersantap disini saja."
Ko Bun tertawa dan menghampirinya, membelai bahunya dengan lembut. Belum lagi dia bicara, sambil tertawa Bun-ki berkata pula.
"Kau ingin mengajak keluar, bukan?"
Sambil menekuk pinggang, dia melanjutkan.
"Aku heran, mengapa kau suka bicara dengan lelaki-lelaki busuk macam mereka itu, mengapa kita tidak makan berduaan saja disini?"
Ko Bun tetap tidak berkata ap2, tapi akhirnya mereka berdua keluar juga.
Walaupun keramaian malam di kota Siok-ih tidak terlalu meriah, tapi pasar malam di kota penghubung ini cukup menarik.
Setelah keluar rumah penginapan, Ko Bun dan Bun-ki menyusuri jalan raya dari selatan lalu belok ke kiri.
Tiba-tiba sinar mata Ko Bun mencorong, ia melirik Bun-ki dan tertawa.
Gadis itu memandang kesana, seketika alisnya yang lentik berkernyit.
Sejauh mata memandang, hampir semua orang yang berada di jalanan itu mengenakan baju berwarna kuning emas.
Tak ada baju warna lain yang tampak disitu.
Tentu saja ini bukan secara kebetulan, tapi hanya ada satu alasan, yakni semua orang yang berada di jalanan ini adalah anak buah "Leng-coa"
Mao Kau. Selagi mereka berdua saling pandang dengan heran, tiba-tiba dua orang lelaki berbaju emas mengadang di depan mereka sambil membentak.
"Malam ini jalanan disini akan dipinjam oleh Thi-jiu-san-wan (monyet sakti bertangan baja) Ho-siya. Jika kalian ingin bersantap lebih baik pergi ke tempat lain. Semua rumah makan yang berada di jalan ini tak ada yang kosong pada malam ini."
Sekali lagi Bun-ki mengerutkan dahinya, sedangkan Ko Bun lantas tertawa, sambil menuding ke arah Bun-ki katanya.
"Kautahu siapakah nona ini?"
Belum habis ia berkata, tangannya sudah diseret Bun-ki dan diajak pergi. Sambil berjalan gadis itu mengomel tiada hentinya.
"Kenapa kau menyebutkan namaku? Tampaknya disini terjadi sesuatu, aku enggan melibatkan diri."
Berputar biji mata Ko Bun, lalu tersenyum.
Tiba-tiba dari depan sana muncul belasan orang.
Ko Bun bersuara heran.
Belasan orang ini semuanya mengenakan baju compang-camping, jelas mereka adalah orang Kai-pang.
"Mana ada pengemis yang berjalan secara bergerombol di jalanan?"
Demikian pemuda itu berpikir.
Tiba-tiba dilihatnya sinar mata seorang pengemis yang menatap mereka itu bersinar tajam sekali.
Hatinya kembali tergerak, sebab ini menunjukkan bahwa pengemis tersebut memiliki lwekang tinggi.
Ternyata rombongan pengemis itu berjalan menuju ke jalan tadi.
Sedang kedua lelaki berbaju emas tadi bukan saja tidak mengalangi, malah menyingkir jauh-jauh.
Ko Bun tercengang, sedang Bun-ki juga lagi bergumam sambil memandang rombongan pengemis itu.
"Aneh, mengapa mereka bisa bentrok dengan pihak Kai-pang? Siapa yang membuat gara-gara ini?"
Melihat itu Ko Bun tertawa, pikirnya.
"Ah, jelas kaupun seorang yang suka pada keramaian."
Setelah menunduk dan termenung sejenak, tiba-tiba Bun-ki menarik tangan Ko Bun dan diajak putar haluan ke arah tadi. Sambil berjalan katanya.
"Kau tentu akan senang sekarang. Akan kuajak kau melihat keramaian."
Kecuali tersenyum, agaknya Ko Bun tak bisa bersikap lain. Setiba di ujung jalan, kedua lelaki berbaju emas tadi lantas membungkukkan badan memberi hormat. Ko Bun tercengang, pikirnya.
"Masa mereka sudah kenali siapa gadis ini?"
Tentu saja Bun-ki juga mempunyai perasaan yang sama, siapa tahu dari belakang mereka tiba-tiba ada seorang berdehem.
Ketika Ko Bun berpaling, dilihatnya seorang lelaki berbaju emas bersama tiga orang lainnya telah berdiri di belakang mereka.
Rupanya karena ramainya suasana, maka langkah keempat orang ini tak diperhatikan oleh mereka.
"Ah, kiranya orang yang diberi hormat oleh mereka bukan kami berdua.
"demikian Ko Bun berpikir sambil tertawa geli. Mata lelaki berbaju emas itu memandang ke atas dengan angkuhnya, ia sama sekali tidak memandang ke arah Bun-ki berdua. Rupanya Bun-ki juga mendongkol oleh sikapnya itu, sambil mendengus mendadak ia mendorong bahu orang itu dengan keras. Karena dorongan itu, kontan lelaki berbaju emas itu terhuyung-huyung mundur tiga langkah, hampir saja ia tak mampu berdiri tegak. Menyaksikan itu, ketiga orang rekannya membentak gusar. Salah seorang diantaranya, seorang lelaki setengah umur berwajah merah, segera melompat maju. Tangan kirinya bergerak ke muka Mao Bun-ki, sedang tangan kanan terus menghantam dada gadis itu.
"Budak cilik, kau cari mampus?"
Bentaknya dengan marah.
Air muka Bun-ki berubah.
Apabila sasaran serangan tersebut adalah seorang lelaki, maka hal ini bisa dimaklumi.
Tapi dia adalah seorang gadis, bagian dada justru merupakan bagian terlarang.
Tak heran gadis itu semakin marah.
Baru saja dia hendak memberi hajaran, tiba-tiba tubuh lelaki tinggi besar yang menyerang itu ditarik orang ke belakang secara paksa.
Diam-diam Ko Bun tertawa geli menyaksikan kejadian itu.
Kiranya sesudah lelaki berbaju emas itu terdorong mundur oleh Bun-ki tadi, tentu saja ia murka.
Tapi setelah menatap wajah gadis itu, setelah melihat jelas wajah orang yang mendorongnya, buru-buru dia melompat maju dan menarik lelaki yang memukul itu ke belakang.
Ditarik sekeras itu, lelaki itu menjerit kesakitan.
Kiranya lelaki berbaju emas itu bukan lain adalah Thi-jiu-sian-san (monyet sakti berlengan baja) Ho Lim yang termashur namanya di sekitar wilayah Kang Soh dan Ciatkang.
Karena kuatir tanpa disadari ia menarik bahu anak buahnya dengan Eng-jiau-kang andalannya.
Tak heran lelaki tersebut tak tahan.
Ho Lim sama sekali tidak peduli anak buahnya itu.
Buru-buru dia menghampiri Bun-ki dan menjura, katanya sambil tertawa.
"Rupanya Mao-toakohnio yang datang. Maaf jika paman tidak melihat dirimu, harap jangan kau marah."
Bun-ki mencibir.
"Huh, kukira Ho-sisiok tidak kenal lagi padaku."
Dengan pandangan hina dia melirik sekejap lelaki tadi, ejeknya.
"Agaknya orang gagah ini perlu belajar kenal dulu padaku."
Dari tanya-jawab barusan, agaknya lelaki berwajah merah itu sudah tahu nona yang dimaki "budak"
Itu adalah putri Mao-toa yang terhormat. Kontan mukanya berubah merah, sekalipun mendengar "tantangan"
Bun-ki tersebut juga belagak seolah-olah tidak mendengar. Biarpun ia punya nama yang cukup lumayan dalam dunia persilatan, tapi mana berani beradu kekuatan dengan putri Mao-toaya atau tuan besar Mao.
"Tadi berlagak sok, sekarang ketakutan ..."
Geli sekali Ko Bun menyaksikan kejadian itu tapi seperti juga sebelum ini, dia tetap tersenyum penuh arti.
"Kedatangan nona sungguh kebetulan sekali, sungguh kebetulan sekali ... ."
Suara tertawa Thi-jiu-sian-wan mengingatkan orang pada monyet, namun sinar matanya yang tajam dan pelipisnya yang menonjol tinggi ....ciri khas seorang jago yang bertenaga dalam sempurna, membuat orang tak berani memandang enteng padanya meski geli terhadap kejelekan wajahnya.
"Kalian sudah datang dari jauh, paman harus baik-baik menjamu kalian. Hari ini, kebetulan ..."
Belum habis dia berkata, Bun-ki menukas.
"Ho-sisiok tentu saja harus menjamu kami, Cuma kukuatir sebelum perjamuan selesai sudah kena digebuk oleh Ta-kau-pang (pentung penggebuk anjing)."
Setelah tertawa cekikikan, sengaja ia tarik tangan Ko Bun dan diajak pergi, katanya.
"Lebih baik kami pergi saja!"
"Nona jangan bergurau, hari ini kami betul-betul ada urusan penting. Sebetulnya aku sudah mengutus orang ke Hang-ciu untuk memberi kabar kepada ayahmu, tapi sampai sekarang belum juga ada kabar beritanya. Aku sedang gelisah setengah mati, sungguh kebetulan non datang kemari."
Sambil berkata dan tertawa, Thi-jiu-sian-wan segera memberi tanda mempersilakan Bun-ki berjalan di depan. Dengan serius Bun-ki lantas berkata.
"Paman Ho, kenapa kau mencari perkara pada Kaipang? Bukankah ayah sudah bilang, kita jangan mencari gara-gara pada makhluk-makhluk menjemukan itu? Bicara terus terang, tiada lubang yang tidak disusupi mereka. Berurusan dengan mereka sungguh menjemukan sekali."
Thi-jiu-sian-wan menghela napas panjang, katanya.
"Kalau dibicarakan, sungguh panjang sekali ceritanya. Masa aku tak tahu orang-orang Kai-pang itu menjemukan?"
Mereka lantas masuk ke jalan itu, diantara sekian orang hanya Ko Bun saja yang kelihatan paling tenteram, santai langkahnya seperti sedang berjalan-jalan keliling kota saja.
Setelah mengawasi sekeliling tempat itu, dia baru tahu 'masalah besar' yang dikatakan Thijiu-sian-wan tadi sesungguhnya bukan omong kosong belaka.
Cukup melihat situasi jalanan tersebut dapatlah diketahui bahwa kata 'masalah besar' saja masih belum cukup melukiskan keadaan yang sebenarnya.
Kiranya jalan yang puluhan tombak panjangnya itu terdapat banyak sekali rumah makan yang berdiri di kedua sisi jalan, tampaknya tempat ini merupakan pusatnya rumah makan di kota ini.
Ketiga-empat puluh buah rumah makan sekarang berada dalam keadaan penuh dengan tamu, baik duduk di atas loteng, di bawah loteng, dalam ruangan maupun di luar ruangan.
Menurut penilaian Ko Bun, ia menduga orang-orang yang hadir dan memenuhi puluhan rumah makan ini pasti anak buah Leng-coa atau paling tidak adalah jago yang mereka undang.
Anehnya, tiga-empat puluh rumah makan yang penuh dengan jago-jago persilatan ini seharusnya gaduh suasananya, tapi ternyata keadaannya hening.
Sekalipun terdengar suara pembicaraan juga dilakukan dengan bisik-bisik.
Dengan senyum dikulum Ko Bun memandang sekeliling tempat itu.
Dari sinar matanya dapat diketahui dalam hati anak muda misterius ini telah timbul pelbagai rencana.
Hampir setiap tiga langkah berdiri seorang lelaki berbaju emas.
Melihat kehadiran rombongan mereka, orang-orang itu sama memberi hormat.
Thi-jin-sian-wan berjalan di sisi Bun-ki dan langsung menuju ke arah sebuah rumah makan yang paling besar.
Tentu saja Bun-ki juga dapat merasakan anehnya suasana, bahkan jauh lebih gawat daripada apa yang dibayangkan semula.
Senyuman yang semula menghiasi bibirnya kinipun lenyap.
Baru tiba di pintu rumah makan itu, di ujung jalan sama terjadi kegaduhan.
Ketika semua orang berpaling, tertampaklah belasan orang sedang berjalan mendekat.
Dipandang dari kejauhan, terlihat rombongan itu semuanya mengenakan jubah kasa yang longgar dan berkepala gundul kelimis, ternyata serombongan hwesio.
Air muka Thi-jiu-sian-wan berubah semakin tak sedap dipandang, agaknya urusan bertambah gawat.
Setelah masuk ke jalan itu, tiba-tiba kawanan hwesio itu berhenti.
Hanya tiga orang diantaranya yang melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar.
Sepintas lalu Ko Bun seolah-olah tidak tertarik oleh persoalan itu, padahal ia mengamati semua itu dengan seksama.
Dilihatnya meski ketiga orang hwesia itu bertubuh ceking, namun langkahnya tegap, sekilas pandang saja dapat diketahui asal-usul mereka pasti tidak sembarangan.
Bun-ki juga kelihatan terkejut, cepat ia bergeser ke samping dan berdiri di sisi Ko Bun untuk melindungi 'sastrawan yang lemah' itu.
"Omitohud!"
Terdengar pujian kepada sang Budha berkumandang.
Hwesio yang berjalan paling depan sudah amat tua, mukanya kering dan berkeriput, alis matanya melambai ke bawah dan berwarna putih.
Setelah memuji keagungan Budha tadi, ia membuka matanya.
Segera Ko Bun merasa wajah paderi yang kurus kering ini seakan-akan bercahaya terang.
Dengan tangan terangkap di depan dada, ia berkata dengan lantang.
"Aku Bak-it, datang dari Siong-san, sesungguhnya adalah tamu yang tak diundang. Tapi berhubung tindakan Ho-sicu menyangkut kepentingan dunia persilatan, maka Siau-lim-pai sebagai salah satu aliran persilatan merasa wajib turut menghadirinya. Kurasa Ho-sicu pasti tak akan menolak kedatangan kami bukan?"
Begitu mendengar nama "Bak-it"
Dari Siong-san, air muka Thi-jiu-sian-wan dan ketiga orang lelaki lain segera berubah hebat.
Ko Bun juga memandang pendeta tua Siau-lim-pai itu dengan lebih seksama.
Terdengar Thi-jiu-sian-wan tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.
"Ho Lim sudah lama mendengar nama besar Sinceng (paderi sakti), karena mengira para Sinceng sudah jauh dari keramaian dunia, maka tak berani mengganggu ketenangan kalian. Kini Siangjin datang, sudah barang tentu kami sambut dengan senang hati."
Sekalipun ucapan itu diiringi gelak tertawa, tapi orang dapat menangkap tertawanya itu terlalu dipaksakan.
Perlahan Bak-it Siangjin memejamkan mata lagi sambil merangkap tangan di depan dada, ia tidak menggubris ucapan Ho Lim lagi dan bersama kedua orang lainnya menuju ke dalam rumah makan.
Bun-ki tambah heran dan tidak tahu perkara apakah yang telah dibuat Thi-jiu-sian-wan sehingga pihak Siau-lim-pai yang sudah hampir sepuluh tahun tak pernah mencampuri urusan dunai persilatan ikut menghadirinya.
Tapi dari sini dapatlah diduga bahwa ayahnya belum mengetahui kejadian ini.
Jadi urusan ini adalah perbuatan Thi-jiu-sian-wan sendiri.
Tanpa terasa ia melirik sekejap ke arah Ho Lim dengan sinar mata menegur.
Walaupun selama beberapa tahun belakangan ini "Leng-coa"
Mao Kau berhasil merajai dunia persilatan, namun hal tersebut hanya terbatas pada kalangan kaum Lok-lim saja.
Sedangkan terhadap perguruan besar dalam dunia persilatan seperti Siau-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain boleh dibilang ia tak berani mengusiknya.
Sebagian besar para Tianglo (sesepuh) perguruan besar itu telah mengundurkan diri dari keramaian dunia.
Murid yang berkelanapun tak pernah mencampuri urusan Leng-coa Mao Kau.
Tentu saja hal ini disebabkan kelicikannya yang selalu memasang merek pendekar besar.
Beberapa tahun belakangan ini ia lebih hati-hati dan banyak mengurangi perbuatan terkutuknya.
Ini semua lantaran dia kuatir kalau perbuatannya itu akan memancing tindakan perguruan besar itu sehingga mengancurkan hasil usahanya selama ini.
Diam-diam Mao Bun-ki merasa tidak enak setelah menyaksikan semua ini.
Cukup jago-jago Kai-pang dan Siau-lim-si saja membuatnya pusing, apalagi dari sekian banyak jago yang hadir dalam rumah makan, entah jago dari mana pula.
Diam-diam ia menyesali Thi-jiu-sian-wan yang menimbulkan gara-gara bagi ayahnya.
Thi-jiu-sian-wan sendiripun tampak sedih, sambil menghela napas dia masuk dulu ke rumah makan.
Bun-ki segera menarik Ko Bun dan ikut masuk.
Pemuda itu merasa telapak tangan si nona basah oleh keringat, jelas hatinya tegang bercampur kuatir.
Tanpa terasa ia tersenyum.
Di luar dugaan Bun-ki, dalam ruangan rumah makan yang luas dengan puluhan meja perjamuan itu, hanya dua-tiga puluh orang yang hadir.
Diantaranya ada seorang lelaki gemuk berduduk di dekat tangga loteng.
Ketika melihat kedatangan Thi-jiu-sian-wan, ia lantas menggebrak meja sambil berteriak.
"Sungguh besar lagakmu, hampir satu jam lamanya aku si Gui gemuk menunggu disini!"
Thi-jiu-sian-wan melotot seperti mau mengumbar amarahnya, tapi urung. Ia menjura ke empat penjuru sambil tertawa getir, katanya.
"Bila kedatanganku yang terlambat ini membuat para Bu-lim-cianpwe harus menunggu lama, dengan ini aku mohon maaf."
Bun-ki berkerut kening.
Ia tahu paman Ho ini amat berangasan, tapi aneh, sekarang ia dapat mengendalikan diri dan bersikap hormat kepada orang lain.
Padahal ia tahu kepandaian paman Ho ini cukup lihai, bukan saja seorang pembantu andalan ayahnya, sesungguhnya dia pula komandan barisan ruyung Thi-ki-sin-pian yang tersohor itu.
Tanpa terasa ia melirik beberapa kejap ke arah si gemuk itu, tapi tak dikenalinya.
Maka sorot matanya beralih pula ke sekeliling ruangan itu.
Dari dua puluhan orang yang hadir, ketika Thi-jiu-sian-wan muncul, ada diantaranya yang berdiri memberi hormat, ada pula yang menjura sambil tetap duduk, tapi ada pula yang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, seakan-akan mereka sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap saudara angkat pentolan Bu-lim yang disegani, tokoh Eng-jiau-pai (aliran cakar elang) dan komandan Thi-ki-sin-pian itu.
Keadaan ini berbeda dengan hari-hari biasa.
Tanpa terasa hati Bun-ki tergerak, pikirnya.
"Jangan-jangan mereka ini adalah tokoh perguruan terkemuka."
Sekali lagi ia memperhatikan orang-orang itu sekejap.
Meski perawakan mereka berbeda namun semuanya memiliki ciri yang sama yakni sorot mata setajam sembilu.
Diam-diam Bun-ki tercengang, maklumlah, usianya muda dan kungfunya lihai, tentu saja dia tidak jeri menghadapi jago-jago tersebut.
Ia hanya heran mengapa Thi-jiu-sian-wan yang biasanya prihatin ini bisa berbuat perkara tanpa mendapat persetujuan ayahnya?
Ia tidak tahu Thi-jiu-sian-wan sendiripun sedang mengeluh?
Kemudian sambil menunjuk Mao Bun-ki, Thi-jiu-sian-wan memperkenalkan.
"Nona ini adalah putri kesayangan Mao-toako, secara kebetulan iapun datang kemari."
Bun-ki merasa berpuluh pasang mata sama menatapnya, tapi nona itu segera balas menatap semua orang secara wajar.
Hal ini membuat Ko Bun yang berada di sampingnya diam-diam memuji ketabahannya.
Kedua puluhan orang itu tidak duduk berkelompok, setiap meja paling banter hanya berisi tiga sampai lima orang saja.
Diantaranya malah ada tiga buah meja yang kosong.
Thi-jiu-sianwan langsung menuju ke meja utama di tengah dan berduduk disana.
Secara kebetulan ia duduk di samping si "Gui gemuk"
Yang menggebrak meja tadi.
Ko Bun merasa serba asing di tempat begini.
Dengan dandanannya yang sederhana sebagai seorang sastrawan, perawakannya yang tidak tinggi, tapi berwajah cerah, tentu saja segera memancing perhatian orang banyak.
Dengan tersenyum ia duduk di sisi Ho Lim tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian, Thi-jiu-sian-wan berdehem beberapa kali, agaknya ia hendak menarik perhatian orang ke arahnya.
Ia menjura, lalu katanya.
"Walaupun siaute ada nama sedikit dalam dunia persilatan, tapi cukup kutahu diri. Dengan sedikit namaku ini masih belum sanggup mengundang kehadiran Saudara sekalian ... ."
Berbicara sampai disini, mendadak si Gui gemuk mendengus dan menukas.
"Tepat sekali, memang betul!"
Tapi Ho Lim belagak tidak mendengar, ia berkata lebih jauh.
"Terutama sekali bagi Bak-it Siangjing dari Siau-lim-pai, Cing-hong-kiam Cu-tayhiap dari Bu-tong-pai, para Tianglo dari Kaipang dan Locianpwe yang telah mengasingkan diri, Hwe-gan-kim-tiau (elang emas bermata api) Sian-jiya yang pernah menguasai tiga puluh enam perairan di dunia. Mereka semua boleh dikatakan adalah Bu-lim cianpwe yang terhormat ... ."
Si Gui gemuk kembali mendengus dengan wajah tak senang, sengaja ia membanting cawan keras-keras di atas meja.
Rupanya Thi-jiu-sian-wan sengaja hendak membuatnya k ki, maka namanya sama sekali tidak disinggung.
Ho Lim melirik sekejap ke arahnya, kemudian melanjutkan.
"Walaupun demikian, kutahu kehadiran kalian adalah lantaran persoalan itu. Cuma sayang aku sendiri pun tak dapat mengambil keputusan atas masalah itu."
Baru saja ia berbicara, Gui gemuk kembali menggebrak meja sambil berteriak.
"Kau si monyet tua yang tak tahu diri, jika kau tak dapat mengambil keputusan, lantas siapa yang akan mengambil keputusan?"
Air muka Thi-jiu-sian-wan kontan berubah. Belum lagi ia sempat mengumbar amarahnya, dari arah tangga terdengar seorang berseru dengan suara tinggi melengking.
"Gui gemuk, belagak apa disini? Kau kan tahu juga bahwa si monyet memang tak dapat mengambil keputusan?"
Meskipun suara itu tidak keras, tapi cukup memekakkan telinga setiap orang. Gui gemuk segera melompat bangun, dengan gusar teriaknya.
"Siapa yang berani memanggil aku sebagai si Gui gemuk? Aku si gemuk ingin lihat macam apakah tampangmu itu!"
Bun-ki dan Ko Bun saling pandang dengan tertawa, pikir mereka.
"si gemuk ini menyebut diri sendiri sebagai Gui si gemuk, tapi melarang orang lain memanggilnya si gemuk. Orang ini benar-benar lucu sekali."
Dari tangga perlahan naik seorang, katanya dengan tertawa.
"Wah celaka! Rupanya Guitayhiap kita jadi kalap. Beberapa kerat tulangku yang lapuk ini jelas tak tahan menghadapi pukulan Lak-yang-jiu Gui-tayhiap. Baiklah Gui-tayhiap, biar aku si tua bangka minta maaf padamu!"
Sambil tertawa ia lantas menghampiri Gui gemuk. Begitu orang ini muncul, suasana dalam ruangan menjadi gempar, sedangkan si Gui gemuk meski masih marah, hanya berduduk saja di kursinya.
"Ku kira siapa yang datang, rupanya kau si pengemis tua!"
Katanya.
Ko Bun berpaling ke sana, dilihatnya orang ini bertubuh ceking seperti bambu.
Pakaiannya penuh tambalan, tapi bersih.
Kulitnya putih halus bagaikan kulit badan anak gadis, waktu tertawa di bawah matanya muncul keriput.
Tapi sekilas pandang paling-paling usianya baru empat puluhan.
Pengemis itu tergelak, lalu berkata pula kepada si gemuk.
"Gui-tayhiap, si pengemis ingin menasehatimu. Kulihat usiamu juga sudah lanjut, badanmu gemuk lagi, ada baiknya kau jangan cepat naik darah. Kalau sampai terserang angin duduk, bisa berabe jadinya."
Selama disindir dan dicemooh, si gemuk yang berangasan itu cuma duduk saja dengan wajah hijau pucat. Tapi sekarang dia tak tahan, sambil melompat bangun teriaknya.
"Leng-huacu, Gui gemuk merasa berutang budi padamu. Aku tak dapat bertengkar denganmu. Tapi janganlah membuat kumarah, kalau tidak, anak muridmu yang bakal celaka."
"Hahaha, baik, aku tak mengusikmu lagi.
"seru Leng-hua-cu sambil tertawa. Tanpa menggubris Thi-jiu-sian-wan yang sedang menjura ke arahnya, dia berjalan menuju ke meja yang ditempati orang Kai-pang. Beberapa pentolan Kai-pang yang hadir disitu buru-buru berdiri dan menjura kepadanya. Thi-jiu-sian-wan menghela napas dan duduk kembali. Bun-ki menarik ujung bajunya dan berbisik.
"Apakah orang itu adalah Kiong-sin Leng Liong yang paling sukar dihadapi pada dua puluh tahun yang lalu? Sedang si gemuk itu mungkin adalah Gui Leng-ciu, salah seorang dari Kun-lun-ngo-lo (lima dedengkot dari Kun-lun)? Paman Ho, aku benar-benar tidak mengerti, baik hwesio Siau-lim-si, si kakek Siau dan Cu Pek-gi dari Bu-tong-pai, mereka kan tiada sangkut pautnya denganmu, mengapa kau mengusik mereka hingga semuanya datang kemari?"
Thi-jiu-sian-wan cuma menggeleng kepala sambil menghela napas, gumamnya.
"Ai, anggap saja aku lagi sial!"
Sesungguhnya dia memang lagi sial.
Sekalipun kedatangan jago-jago tua yang termashur di dunia persilatan itu bukan dia sasarannya, tapi dia terpaksa menghadapinya.
Tak lama hidanganpun disajikan.
Ada yang bersantap dengan lahap seperti tak ada orang lain, tapi ada pula yang tidak makan sama sekali.
"Sesungguhnya apa yang terjadi?"
Kembali Bun-ki berpikir dengan heran.
"Sudah hampir setengah hari paman Ho berbicara, tapi pokok persoalannya belum juga diutarakan. Orangorang itupun tidak gelisah, kenapa bisa begini?"
Meskipun gelisah, tapi ia tak berani bertanya, setelah melihat wajah murung Ho Lim, ia menjadi kesal.
Otomatis tiada nafsu makan.
Hidangan terus disajikan, arakpun dihidangkan tak berhenti, waktupun berlalu.
Tanpa terasa wajah Thi-jiu-sian-wan semakin gelisah.
Agaknya ia sedang menantikan kedatangan seseorang.
Ko Bun masih tetap tersenyum sambil bersantap.
Ketika santapan manis mulai dihidangkan, ia bangkit berdiri dan berjalan ke tepi jendela, kemudian samil memandang bintang yang bertaburan di angkasa, ia menarik napas dalam-dalam.
Tiba-tiba seorang berbangkit dan berjalan pula ke tepi jendela.
Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sesuatu benda, lalu ditiup dua kali dan mengeluarkan suara tinggi melengking.
Berbareng dengan bunyi sempritan itu, beratus orang lelaki kekar tiba-tiba bermunculan dari dua rumah makan di seberang jalan.
Mereka semua memakai baju ringkas berwarna hitam dengan gagang golok menongol di balik bahu masing-masing.
Orang yang membunyikan sempritan itu adalah seorang lelaki bertubuh kekar.
Sambil berdiri di depan jendela, dengan suara nyaring serunya kepada beratus orang berbaju hitam itu.
"Tempat ini sudah tidak membutuhkan kalian lagi, lebih baik Saudara sekalian membagi diri menjadi tujuh kelompok. Malam ini juga berangkat pulang ke gunung."
Para lelaki berbaju hitam itu segera mengiakan.
Serentak mereka membalik badan dan menyusuri jalan raya menuju ke selatan.
Ko Bun berdiri tak bergerak disitu.
Tiba-tiba ia merasa ada sesosok tubuh yang halus menghampirinya.
Tanpa berpalingpun ia tahu orang ini ialah Mao Bun-ki, sebab ia dapat mengendus bau harum dari tubuhnya.
Sambil menunjuk ke arah bayangan punggung orang-orang itu, Bun-ki berkata dengan lirih.
"Mereka adalah anggota Koai-to-hwe (perkumpulan golok cepat) yang bermarkas di Tay-hengsan dalam bilangan propinsi Soasay. Sedang lelaki ini mungkin adalah salah seorang dari Tayheng-siang-gi (sepasang pendekar dari Tay-heng). Sebenarnya ayahku ingin sekali menarik Koai-to-hwe ini ke pihaknya. Setelah menyaksikan kehebatan mereka sekarang, baru kutahu bahwa Koai-to-hwe memang hebat, tak heran kalau ayah merasa cemas."
Ko Bun hanya mengiakan saja tanpa memberi komentar apa-apa.
Sementara itu seorang kakek berambut putih di meja tengah sedang berbisik sesuatu ke telinga seorang pemuda.
Pemuda itu segera menuju ke tepi jendela, kemudian iapun berpekik nyaring.
Dengan berkumandangnya suara pekikan itu, dari tepi jalan kembali bermunculan beberapa ratus orang.
Tanpa menantikan seruan pemuda itu, mereka sama membentuk kelompok sendiri dan secara teratur berjalan pergi.
Dengan suara lirih, Bun-ki kembali berkata.
"Orang itu duduk di samping Siau Lo-tiau, mungkin mereka adalah jago-jago perairan. Selamanya mereka jarang sekali naik ke darat, entah mengapa merekapun datang kemari. Sungguh aku tidak mengerti."
Belum lagi Ko Bun menjawab, Kiong-sin Leng Liong telah bergerak. Entah dengan cara apa tahu-tahu ia sudah berteriak di tepi jendela.
"Anak2 semua, orang lain sudah menarik diri, kalianpun boleh pergi."
Dari dalam sebuah rumah makan di sudut barat segera muncul segerombol besar kaum pengemis, entah berapa banyak jumlah mereka, sambil saling dorong merekapun berjalan meninggalkan jalan ini.
Setelah kepergian orang-orang itu, suasana di jalan rayapun agak lengang, sedang yang masih berada disitu mungkin tinggal anak buah Leng-coa Mao Kau.
Ko Bun lantas berpaling ke arah Bun-ki dan berkata dengan tertawa.
"Aku suka melihat keramaian, hari ini aku benar-benar sangat mujur, bisa menyaksikan pertemuan besar ini."
"Huh, masa kau merasa senang?"
Omel Bun-ki.
"Betapa gelisahnya aku, mana tak tahu pula duduknya persoalan, ayah juga tidak datang, paman Ho macam orang bisu saja, sepatah katapun enggan menjelaskan."
"Adik Ki, kenapa kau pusing sendiri?"
Kata Ko Bun sambil tertawa.
"Dengan kedudukan dan nama besar ayahmu dalam dunia persilatan, mana ada persoalan yang tak bisa diselesaikan? Kenapa kau gelisah?"
Setelah hidangan manis, sayur utama segera dihidangkan.
Yang susah adalah ketiga pendeta dari Siau-lim-si.
Memandang hidangan yang berupa daging, ikan, Hi-sit, Hai-som dan hidangan lezat lainnya itu, mereka hanya memandang belaka tanpa berani mencicipinya.
Waktu berlalu dalam keheningan, tak seorangpun buka suara.
Ketika Ko Bun melongok cuaca di luar jendela, ternyata waktu telah menunjukkan tengah malam.
Mendadak Gui Leng-hong menggebrak meja lagi, dengan suara keras teriaknya.
"Aku Gui gemuk tak tahan berdiam terus menerus. Hai, monyet cilik, ingin kutanya padamu. Aku minta kau bicara sejujurnya."
Thi-jiu-sian-wan mendengus.
"Hmm! Apa dasarmu?"
Bagaimanapun dia adalah jago kenamaan dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak tahan menerima sikap kasar orang di hadapan sekian banyak jago persilatan lainnya.
Maka dalam mendongkolnya dia menjawab dengan kata-kata kasar dan bernada menantang.
Betul juga, Gui Leng-hong segera naik pitam, teriaknya.
"Kau berani berbicara kasar kepadaku? Baik, akan kulihat sampai dimanakah kepandaian monyet kecil seperti kau!"
Begitu selesai berkata, tubuhnya yang gemuk itu terus meluncur ke depan secepat terbang.
Jarak tempat duduknya memang berdekatan dengan Thi-jiu-sian-wan, sekali berkelebat saja ia sudah berada di samping Ho Lim.
Segera ia menepuk bahu Thi-jiu-sian-wan Ho Lim.
Thi-jiu-sian-wan tahu kelihaian Gui Leng-hong, apalagi ketika dilihatnya tangan orang berwarna merah.
Ia sadar bila tubuhnya sampai terhajar akibatnya dapat dibayangkan.
Ilmu pukulan Lak-yang-jiu dari Kun-lun-pai sudah puluhan tahun terkenal di dunia persilatan, hingga kini belum ada ilmu pukulan lain yang lebih hebat daripada pukulan maut tersebut.
Sebagai seorang jago yang berpengalaman dan berpengetahuan luas, cepat Thi-jiu-sianwan menekan telapak tangan kanan ke atas permukaan meja, kemudian tubuhnya melayang mundur sejauh tiga tombak lebih.
Kendatipun Tay-lik-eng-jiau-jiu terhitung pula kungfu keras dan dahsyat, namun ia tak berani menyambut serangan Lak-yang-jiu dengan keras lawan keras.
Cepat ia berkelit, kemudian bentaknya.
"Orang she Gui, tempat ini bukan arena pertandingan. Kaupun seorang jago kenamaan, mengapa pakai cara kasar begini? Sedikit urusan lantas mencaci maki dan main hantam, macam apa ..."
Baca Juga: Misteri Bayangan Setan 6
Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau Gu Long