Eps 1 Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Baca online Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Cersil Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL.
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com. Tujuh Pedang Tiga Ruyung Diceritakan Oleh. Gan K.L Ebook oleh Dewi KZ dan "aaa"
Jilid 01 Senja tiba......
Cahaya sang surya yang indah menghiasi sebagian ufuk barat, di jalan pegunungan yang lenggang, seorang penunggang kuda yang tampan dan gagah melarikan kudanya dengan santai.
Tiada asap dapur, karena di tempat ini tiada penduduk, suasana sepi, malah terasa agak menyeramkan.
"Malam ini mungkin ada rembulan........"
Penunggang kuda yang kesepian itu memainkan cambuknya seraya bergumam.
Wajahnya tampan, mungkin , karena lama dalam perjalanan hingga tampak agak letih, bibirnya yang tipis terkatup rapat menciptakan sebuah lengkungan kecil tipis, bibir yang selalu menyungging senyuman sinis dan rasa muak.
Mungkin sudah banyak pahit getir dan suka duka yang dialaminya dalam kehidupannya.
Sambil memicingkan mata, pelahan dia membiarkan kudanya menyusuri jalan pegunungan yang lengang itu.
Bunyi telapak kuda yang membentur batu di jalan dan bunyi gemerincing pedang di pinggangnya yang beradu dengan pelana, menciptakan paduan irama yang kurang sedap didengar.
Di kejauhan sana, serombongan burung gagak terbang terkejut........
Pelahan ia membuka kelopak matanya, alis mata pun berkernyit, kemudian mata terpejam lagi seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, seakan-akan pula menemukan sesuatu, Cuma terhadap apa yang dipikirkan atau ditemukan sama sekali tidak diperhatikannya.
Suasana semakin kelam, makin jauh pula dia masuk pegunungan itu.
Malam telah tiba, udara gelap gulita, di luar dugaan malam pada musim gugur ini tak berembulan.
Jalan pegunungan kian berliku-liku, sempit dan agak miring, namun tidak membuat perjalanan manusia dengan kudanya ini menjadi lebih lamban, mereka tetap bergerak maju dengan kecepatan yang tak berubah.
Lambat laun dari kedalaman gunung sana mulai bergema berbagai suara, bunyi jangkrik dan serangga lain, kelinci yang berlarian dan burung gagak yang terbang kembali ke sarangnya.........
Mendadak di tengah aneka suara itu berkumandang semacam suara yang aneh, seperti suara yang ditimbulkan segerombolan lebah, tapi deru angin yang terjangkit jauh lebih keras daripada gerombolan lebah.
Mata si penunggang kuda yang terpincing itu tiba2 membentang lebar, seperti sepasang lentera menyorot tajam ke sekeliling hutan sana, lalu mendengus.
Mungkin dengusan itu tidak berarti apa-apa, tetapi perubahan air mukanya mendatangakn semacam perasaan seram bagi yang melihatnya, Cuma hutan itu tetap sepi, siapa pula yang dapat melihat perubahan air mukanya itu................
Baru lenyap suara tertawa dingin pemuda itu,suara bentakan bagaikan Guntur segera menggelegar dari balik hutan,keras dan berat sehingga kedengaran seperti martil memukul dada pendengarnya.
Air muka si penunggang kuda agak berubah,matanya melirik sekejap ke sekeliling tempai itu.
Tiba2 beratus macam senjata rahasia dengan membawa desing angin tajam berhamburan dari emapt penjuru bagai hutan lebat dan tertuju kea rah penunggang kuda tersebut.
Hutan senjata rahasia itu datang dengan cepat luar biasa,ketika suara bentakan tadi bergema,senjata rahasia serentak mengancam, tampaknya sulit bagi orang itu untuk menghindarkan diri,sebab sergapan itu datang secara tiba-tiba dan dalam keadaan tidak siap,rasanya tak seorang pun mampu menghindarkan hujan senjata rahasia itu.
Detik itu boleh dikatakan merupakan kunci yang akan mempengaruhi nasib dunia persilatan pada puluhan tahun mendatang, sebab mati-hidup,selamat atau celaka yang akan dialami penunggang kuda ini jelas akan memepengaruhi dunia persilatan.
Pada detik yang kritis itulah,penunggang kuda itu mendemonstrasikan kelihaian kungfunya.
Ia masih duduk dia atas kudanya sekukuh bukit,wajahnya masih menampilkan rasa letih dan senyum ejek, tapi berbareng dengan gerakan perlahan kedua tangannya,suatu kejadian aneh segera timbul.
Senjata rahasia yang menyambar tubuhnya dengan desing tajam itu seolah-olah bertemu dengan semacam tenaga isapan yang maha dasyat,tahu-tahu berubah arah di tengah jalan dan meletik ke garis klingkaran yang dibuat tangannya itu.
Dalam waktu singkat, beratus macam senjata rahasia itu lenyap dari udara dan tahu-tahu berserakan di sekeliling penunggang kuda itu dalam keadaan rusak.
Demonstrasi kelihaian itu sungguh menggetarkan perasaan orang, tapi ia sendiri tetap berdiri dengan tak acuh.
Pelahan ia menarik tali kendali kudanya dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, katanya "kawanan jago dari manakah yang emncari gara-gara pada oarng she Siu?"
Ia tetawa dingin, seakan akan sudah terbiasa menghadapi kejadian semacam itu, ucapnya lagi dengan hambar.
"kalau berani, ayolah perlihatkan tampang kalian!"
Dari balik hutan di tepi jalan setapak itu segera berkumandang gelak tertawa nyaring.
Menyusul gelak tertawa itu, puluhan sosok bayangan serentak muncul dari balik hutan dengan gerakan yang sama, dengan cepat mereka menyebarkan diri di sekeliling si penunggang kuda.
"Ah kenapa cuma kalian beberapa orang saja........"
Ejek si penunggang kuda itu. Suasana sekitar hutan gelap gulita, tapi kemudian setelah mengetahui siapa yang muncul itu, nada ejekannya jauh berkurang, katanya lagi.
"Eh tak kusangka, betul-betul tak kusangka, kiranya Jit-kiam-sam-pian ( tujuh pedang tiga ruyung) telah datang lengkap hari ini !"
"Keyajaman mata anda sungguh mengaggumkan.
"ucap seorang tosu kurus yang berdiri di depan kudanya.
"Aku she Liu, atas kebaikan rekan persilatan, akupun dimasukkan sebagai salah seorang Jit-kiam-sam-pian."
Orang ini adalah pentolan dunia persilatan wilayah Sujuan dan Kuiciu yang berjuluk Pa-sankiam-khek ( jago pedang dari bukit Pa) Liu Hu-beng.
Ia memandang sekejap wajah penunggang kuda itu, kemudian melanjutkan.
"sudah lama kukagumi nama besar siu-siansing, sungguh beruntung hari ini dapat berjumpa dengan orangnya, terutama jurus Ban-liu-kui-tiong (berlaksa aliran balik ke sumbernya) yang siu siansing demonstrasikan barusan betul-betul sudah mencapai tingkatan yang tidak ada taranya."
Setelah tertawa terkekeh, lalu ia menambahkan.
"sungguh beruntung hari ini dapat berjumpa dengan tokoh paling aneh di dunia......"
"Betul akulah Siu Tok.
"tukas penunggang kuda itu sambil tertawa dimgin, pelahan air mukanya kemabli acuh tak acuh.
"ketajaman mata anda sungguh boleh juga !"
Setelah berpikir sejenak, mendadak ia awasi Pa-san-kiam-khek tanpa berkedip,katanya lagi dengan dingin.
"Jit-kiam-sam-pian adalah jago tersohor dunia persilatan, tak nyana hari ini perlu main sergap terhadapku di tengah bukit sunyi seperti ini, tindakan kalian sungguh membuatku merasa kecewa bagi penilaian para jago persilatan terhadap kalian."
Pa-san-kiam-khek melengos ke samping menghindari tatapan Siu Tok, semenatra ia mempertimbangkan bagaimana harus menjawab, seorang lelaki jangkung ceking berbaju hitam disampingnya tampil ke depan dengan cepat.
"Orang she Siu"
Serunya sambil tertawa dingin "kaupun terhitung seorang pintar, tentunya kau tahu menghadapi manusia licik dan rendah, paling baik adalah menggunakan pula cara licik dan rendah."
Sesusah berhenti sebentar, dengan suara tajam dia melanjutkan.
"memang betul cara yang kami pergunakan hari ini kurang kesatria, tapi untuk menghadapi manusia macam dirimu, aku orang she Mao merasa sudah kelewat sungkan !"
Kiranya penunggang kuda itu bernama Siu Tok, sejak dia berkecimpung dalam dunia persilatan, semua jago baik dari golongan hek to (hitam) atau pekto (putih) sama menaruh hormat dan juga menjauhinya, dia dipandang sebagai ular berbisa dalam dunia persialtan, dalam keadaan demikian, ditambah lagi kungfunya memang tiaa tandingan, hal mana menciptakan wataknya yang keras, angkuh dan lantas suka bertindak "semau gue".
Menurut anggapannya, setiap perbuatannya dapat dijelaskan menurut cengli atau berdasar, tapi ia tak tahu bahwa tindak tanduknya bukan Cuma banyak yang melanggar kebiasaan orang hidup, lebih banyak pula melanggar pantangan dunia persilatan.
Kecuali dia sendiri, rasanya sulit menemukan orang kedua yang mau menganggap dia jujur dan lurus, hanya ia sendiri sama sekali tidak tahu akan hal ini.
Inilah kejelkan watak manusia, terhadap kesalahan yang dilakukan orang lain jauh lebih jelas daripada terhadap kesalahan sendiri.
Selama beberapa tahun bukan Cuma satu kali orang persilatan hendak melenyapkan jiwanya, namun kungfunya terlampau lihay, setiap kali ia selalu membuat musuh pulang dengan kekalahan yang menggenaskan.
Karena itu tentu saja wataknya bertambah angkuh, semakin tinggi hati, tindak tanduknya juga lebih menuruti suara hati sendiri.
Nama busuk "Siu sianseng"
Pun kian hari kian bertambah besar dan diketahui semua orang, seringkali perbuatan yang mestinya sama sekali tak bersalah pun dalam keadaan demikian lantas berubah menjaadi kesalahan besar.
Tentu saja hal ini tidak adil, tapi sebab yang menciptakan keadaan terseut adalah dia sendiri, memangnya mesti menyalahkan siapa?
Maka kawanan jago dari berbagai propinsi dalam dunia persilatan mulai bersikap bermusuhan padanya, Jit-kiam-sam-pian yang dianggap sebagai tulang punggung dunia persilatan pun mulai menyusun rencana untuk mlenyapkan "sampah dunia persilatan"
Ini, mereka telah melakukan beberapa kali perundingan.
Pa-san-kiam-khek Liu Hub eng adalah seorang tokoh dari wilayah Kuiciu dia dan kanglam tayhiap Cing-peng-kiam song leng kong adalah sahabat kental, karena itulah dia lantas mengajak song leng kong turut serta dalam rencana besar ini.
Kiranya orang persilatan yang paling termashur namanya waktu itu semuanya berjumlah sepuluh orang, kecuali Pa-san-kiam-khek Liu hu beng, masih ada lagi Ho-siok-siang-kiam (sepasang pedang dari tepi suangai besar) Ong it-peng dan Ong it-beng,Kong-se-tay-ho (orang kaya dari kwang-si), Cu-bu-siang-hui (ibu dan anak) Coh-jiu-sin-kiam(pedang sakti tangan kiri) Ting Hi dan suami istri dari siamsay, Wan-yang-siang-kiam (sepasang pedang merpati) Thia Hong dan Lim Lin.
Ketujuh orang itu disebut sebagai JIt-kiam (tujuh jago pedang).
Lalu ditambah dengan leng-coa (ular sakti) Mao Kau dari propinsi Ciatkang, Kwan-gwe-tay hiap Jit-0seng-pian (ruyung tujuh bintang) Tu kiong-ki, serta seorang pendekar perempuan dari perguruan Tiam Cong, Pek poh-hui-hoa (seratus langkah bunga berterbangan) Lim ki cing, maka lengkaplah Jit kiam-sam-pian (tujuh pedang tiga ruyung).
Pada masa itu, baik kedudukan maupun nama besar Jit kiam-sam-pian dalam dunia persilatan boleh dibilang tiada bandingannya.
Meskipun mereka bersepuluh tidak saling mengenal, tapi kedudukannya dalam dunia persilatan sederajat, sudah berang tentu mereka pun saling berhubungan kabar.
Dengan dasar menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, secara diamdiam Pa-san-kiam-khek Liu hu beng dan Kang-lam tayhiap Song leng kong member kabar kepada kedelapan jago lain dari Jit kiam-sam-pian agar bersama-sama menumpas pengganas dalam dunia persilatan itu.
Tentu saja kedelapan orang lainnya segera menyanggupi, maka setelah diasakan perundingan selama beberapa hari, akhirnya mereka berhasil menghadang Siu sianseng Siu Tok di lereng Him-ni-san yang sepi.
Demikianlah setelah Leng coa maokau menyelesaikan kata-katanya yang tajam, kontan hawa amarah Siu Tok berkobar, sebab menurut anggapannya dia sendiri seorang jujur dan lurus, kata "rendah dan licik"
Terlampau asing baginya. Ia mnedongakkan kepala dan tertawa, hawa amarahnya terpancar keluar lewat gelak tertawanya.
"Hina dan rendah?"
Tiba-tiba ia berhenti tertawa.
"orang she Mao, kauanggap orang she siu seorang yang hina dan rendah?"
"Tentu saja............"
Tiba-tiba leng coa Mao kau seperti teringat sesuatu sehingga tidak segera menyambung kata-kata selanjutnya. Dengan lantang Pa-san-kiam-khek menyambung perkataaannya.
"Mengapa kau jadi ketakutan hari ini? Apabila aku pernah berbuat rendah dan hina tak nanti kutakut orang lain mengatakn diriku hina dan rendah."
Gelak tertawa merdu berkumandang dari belakang Siu Tok, ketika ia berpaling, dilihatnya Pek-poh-hui Lim k icing sedang memandangnya dengan sorot mata dingin.
Dia berkerut dahi dan berpaling dengan sikap menghina sebab sesosok bayangan lain yang cantik dan suci muncul dalam hatinya.
Diam-diam Liu Hu beng membetulkan letak pedang di punggungnya untuk bersiap-siap turun tangan setiap saat.
Kemudian ia berpaling dan berkata dengan nyaring.
"Guru silat tua dari Seng-tok-hu di propinsi Sujuan, Banseng-to (golok selaksa menang) Ong-thian-bin sudah puluhan tahun membuka perguruan, hidupnya damai dan tentram, ada perselisihan apa yang terjalin denganm,u?kenapa kau merobohkan dia di depan mata puluhan orang muridnya, lalu mencemooh dan menghinanya habis-habisan sehingga karena sakit hati ia tumpah darah dan meninggal? Apakah perbuatan itu tidak termasuk hina dan rendah?"
"Ong Lotaucu menyesatkan anak orang, ia menyia-nyiakan waktu yang berharga dari beberapa ratus pemuda untuk berlatih ilmu goloknya yang tak berguna itu, jika aku tidak membunuh dia kan sudah boleh dibilang cukup murah hati."
Ingatan tersebut dengan cepat terlintas dalam benak Siu Tok, tapi ia tak sudi membeberkan jalan pikirannya itu kepada kawanan manusia yang dianggapnya Cuma menipu dunia untuk mencari nama belaka.
"Piautau perusahaan Yong-ka piaukok di propinsi ciatkang, Bo-uh-cian(panah tanpa bulu) Tio Kok-beng mempunyai istri yang tak setia, pada waktu Tio kok beng mengawal barang, istrinya menyeleweng dengan laki-laki lain, Tio Kon beng tak mau namanya tercemar, dengan sendirinya hendak membunuh kedua laki-perempuan laknat itu,hmm !"
Setelah mendengus, Liu hub eng meneruskan lebih jauh.
"Tapi kau telah menutuk jaland arah Tio kok beng hingga membiarkan kedua laki-perempuan laknat itu melarikan diri, perbuatan yang melanggar hukum Negara, serta menyimpang dari sopan santun manusia ini apa pula namanya ?"
Siu Tok tetap diam dan tenang saja.
Cinta kasih mereka beruda sudah mendalam, siapa yang tak berhak menghalangi cinta mereka, Tio Kok Beng tak tahu cara menyayangi istrinya, kenpa menyalahkan orang lain yang bisa menyayangi istrinya?"
Demikian diam-diam Siu Tok membatin.
Membayangkan kembali laki-pempuan laknat yang saling berangkulan dan menangis dia bawah ancaman golok Tio Kok Bneg, ia merasa tindakan yang telah dilakukan itu justru sangat tepat.
"Sin jiang (tombak sakti) Ong Lu=peng dari Kay Hong mempunyai anak durhaka,dia hendak menghukum anak durhaka itu dengan peraturan rumah tangganya, dengan hak apa kau ikut campur urusan rumah tangganya? Demikian seorang lagi menuduh.
"Nyawa manusia pemberia Thian, dengan hak apa seorang ayah hendak membunuh putranya?"
Demikian piker siu Tok dengan penasaran, akhirnya habis kesabarannya, tiba2 ia membentak.
"orang she Liu, tutup mulutmu!"
"Hei orang she Siu, lantaran malu rupanya kau menjadi gusar?"
Ejek Leng coa Mao Kau, segera ia berteriak terlebih tajam.
"jangan-jangan masih ada perbuatanmu yang jauh lebih kotor dan terkutuk?"
"Li hun-guan (gelang pemisah sukma) cukat It-peng dari kota Po-teng di propinsi Hopak tanpa sengaja telah menyalahimu, karena terdesak akhirnya kabur ke Kayciu,"
Teriak LengCoa Mao Kau pula sambil tertawa dingin, tak tahunya masih juga kau kejar dia dan memotong tubuhnya menjadi delapan bagian secara mengerikan, orang she Siu, apakah perbuatanmu ini tidak kelewat keji?"
Cukat It-peng memeras dan mnindas rakyat desa, bersongkokol dengan pejabat pemerintah dan banyak melakukan kejahatan, kalo orang ini tidak dibunuh,mana ada keadlian dan ketentraman di dunia ini!"
Demikian Siu Tok berpikir pula di dalam hati. Di dengarnya Mao Kau tertawa dingin dan berkata lebih jauh,"
Sekalipun Cukat It-peng ada permusuhan denganmu, apakah bininya juga bermusuhan denganmu?
Bukan saja kau telah membunuhnya, kaupun menelanjangi istrinya dan menggantung tubuhnya yang bugil itu diatas pohon dengan maksud menghinanya.
Orang She Siu pada hakikatnya kau lebih rendah daripada binatang."
"Bini cukat It-peng suka membujuk perempuan baik-baik di kota Poteng untuk dipaksa menjadi pelacur, itulah ganjaran yang pantas diterimanya."
Kembali siu tok berpikir dalam hati untuk tuduhan yang diberikan kepadanya.
Ia benar2 merasa dirinya tak bersalah, maka hatipun lega dan tenang.
Maka dengan suara mengejek katanta kepada si ular sakti Mao kau.
"sekalipun perbuatan yang kulakukan ini rendah dan terkutuk, namun masih belum seperseratus dari perbuatan yang pernah kaulakukan di Hengciu."
Setelah tertawa dingin, ia menuding Mao Kau dengan cambuknya dan melanjutkan.
"orang she mao, jika kauanggap perbuatanmu tak diketahui seorang pun, maka keliru besar pendapatmu itu!"
Lalu iapun menuding Ho-siok-siang-kiam yang berada di samping kanannya seraya berseru.
"ong it-beng Ong it-beng!"
Kemudian berpaling dan menuding pula Lim ki-cing "
Dan k au juga,kalian harus ingat baik-baik, bila tak ingin orang tahu, kecuali dirimu tak pernah berbuat apa-apa............"
"Tak perlu banyak bicara!"
Bentak Ong It peng.
Tiba-tiba ia melompat maju, pedang berkelebat, dengan membawa cahaya hijau langsung ia menusuk Siu Tok yang berada diatas kuda.
Pada saat yang sama,Ong it beng juga melancarkan serangan dari sebelah sana, dua jalur sinar pedang berwarna hijau dan biru dengan membawa desing angin tajam mengancam jalan darah Cian keng hiat dan Cian tiu hiat di tubuh siu tok.
Ho-siok-siang-kiam menjagoi kedua sungai besar, ilmu pedang mereka cukup hebat, meskipund alam kegelapan, mereka mampu mengincar jalan darah dengan tepat, gerak tubuhnya juga cepat.
Dalam sekejap sinar pedang telah menyambar tubuh Siu Tok, tapi pada detik yang sama cambuk kedua di tangan siu tok mendadak menggulung ke atas "sret"
Ketika ujung cambuk menyentuh pedang ong It-beng, semacam tenaga aneh membuat pedangnya membacok ke kiri.
"Cring!"
Tahu-tahu pedangnya saling bentur dengan pedang Ong Itbeng.
Serangan Siu Tok memang hebat, pengalaman tempurnya sangat luas, tenaga dalamnya sempurna, penggunaan waktu pun tepat.
Tanpa terasa Cing-peng-kiam Song Leng Kong dari kanglam itu manggut-manggut seraya berseru.
"bagus,betul-betul tidak bernama kosong!"
Setelah Ho-siok-siang-kiam tenagkan diri, dengan cepat mereka menyerbu lagi ke depan.
Berbareng Leng Coa Mau Kau juga menggetarkan ruyung panjang berbentuk aneh andalannya untuk menutuk jalan darah di depan dada Siu Tok.
Ho-siok-siang-kiam juga menyerang lagi secara bertubi-tubi dan Leng Coa Mau Kau dengan ruyungnya yang lincah, dalam waktu singkat cahaya pedang dan bayangan ruyung menyelimuti angkasa.
Karena rahasia pribadi mereka dikorek lawan, maka mereka bertekad hendak melenyapkan orang dari muka bumi.
Jalan pikiran manusia kebanyakan memang diliputi rasa egois yang menakutkan, sekalipun maksud tujuan Pa-san-kiam-khek-Li hu beng dan Cing peng-kiam Song leng kong hendak membunuh siu tok atas dasar menegakkan keadilan dan kebenaran, tapi mereka tak tahu diantara tokoh yang menerima undangannya itu ada berapa orang yang mempunyai jalan pikiran yang sama dengan mereka?
Siu Tok berpekik nyaring, cambuk di tangan kanannya berputar membentuk sebuah lingkaran, tangkai cambuk digunakan menutuk jalan darah Pek-hwe-hiat pada telapak tangan Ong It-peng, sedangkan ujung cambuk membelit ruyung Mao Kau dan disentak ke atas.
"Sret !kedua ruyung lemas sgera melayang ke atas, tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke depan Ong It-peng merasakan pergelangan tangannya menjadi kencang, tahu-tahu pergelangan kanan sudah dicengkram Siu Tok. Ong It Peng pun kaget, buru-buru dia memutar pergelangan tangannya dengan maksud melepaskan diri dari cengkraman musuh. Sayang tindakannya terlambat selangkah, ketika tangan kiri Siu Tok menarik sambil menyentak......"krek", lengan kanan Ong It peng terbetot lepas ari engselnya dan terkulai lemas. Tiga orang jago kenamaan bersama-sama menyerang seorang lawan, siapa tahu semua serangannya kena dipunahkan lawan, bahkan seorang rekan sendiri terluka, seandainya peristiwa ini tidak disaksikan sendiri, siapapun tak percaya hal ini bisa terjadi. Pek poh-hui-hua Lim Ki-cing menggigit bibir, terbayang bahwa Siu Tok telah mengetahui perbuatan busuknya, tanpa terasa pipinya berubah merah. Usianya memang masih muda, belum lagi dua puluh tahun, tapi nama besarnya sudah termashur dalam dunia persilatan, sebagian besar keberhasilannya ini adalah berkat bantuan dari kakak seperguruannya, emndiang Sin-Kiam-jiu (tangan pedang sakti) Cia kang yang telah tiada. Setahun yang lalu dia baru menanjak dewasa, hati remaja yang baru berkembang, dia haus ingin tahu seluk beluk, kehidupan muda mudi. Waktu itu Sin-kiam-jiu Cia Kang baru saja meninggal, yaitu ketika Pek poh hui hoa Lim Ki Cing baru mulai terknal dalam dunia persilatan, dasar masih muda dan kurang pengalaman, tanpa disadari ia telah melakukan beberapa perbuatan keji dan memalukan. Siu sianseng yang berkelanan dalam dunia persilatan, secara kebetulan memergoki beberapa peristiwa itu. Sebenarnya Lim K icing tidak menaruh perasaan benci terhadap Siu Tok, malah boleh dibilang dia agak terpikat oleh kegagahan Siu Tok yang aneh dan khas itu. Tapi dalam keadaan demikian, kepentingan diri sendiri di atas urusan lain, maka tanpa bicara lagi ia pun bergerak, serentetan cahaya perak terpancar dari ruyung berantai langsung menyambar tubuh Siu tok diatas kuda. Yang paling aneh adalah kuda tersebut bukan saja binatang itu tidak kaget dan ketakutan oleh cahaya ruyung dan pedang, malahan ia bisa mengikuti gerakan senjata itu untuk mencari tempat yang paling baik bagi Siu Tok untuk meloloskan diri dari sergapan lawan. Siu Tok mendengus, pikirnya.
"Hm, Jit-kiam-sam-pian ternyata hanya begini saja!"
Cambuk kuda pada atangan kanannnya berputar sedangkan tangan kiri sebentar menabas dengan gesitnya melancarkan serangan kilat untuk melayani beberapa orang lihai itu.
Lengan kanan Ong It-peng telah dipatahkan dengan wajah pucat ia berdiri kesakitan di tepi arena, Jiit-seng-pian Tu Tiong-ki menghampiri dan memeriksa lukanya, kemudian dahinya tampak berkerut.
Ia tahu lengan kanan Ong-it-peng pasti akan cacat seumur hidup, tapi di mulut ia tetap menghibur dengan lembut.
"jangan cemas saudara Ong, hanya luka ringan yang tak berbahaya!"
Diantara Jit-kiam-sam-pian, pengalaman Song Leng-kong dari kanglam boleh dibilang paling luas, hatinya paling tenang dan cara bekerjanya paling teliti.
Setelah menyaksikan cara bertarung kedua Ong bersaudara dan Pek poh hui hoa tersebut, satu ingatan dengan cepat berkelabat dalam benaknya, ia pikir "aneh, kenapa mereka jadi kalap?
Jangan-jangan beberapa orang ini memang telah melakukan perbuatan busuk yang memalukan....................."
"tapi bagaimana pun juga Siu Tok tak boleh dibiarkan hidup terus di dunia ini, bila tidak tumpas hari ini, dunia persilatan tentu tidak dapat aman dan damai,"
Demikian Cing-peng-kiam berpikir lebih jauh.
Maka dia lantas mengambil keputusan, seklaipun hari ini harus mempergunakan cara yang kotor, asal bisa melenyapkan bibit bencana ini dari muka bumi, tindakannya terhitung juga berharga.
Maka ia lantas member tanda kepada Pa-san-kiam-khek dengan anggukkan kepala.
Pa-san-kiam-khek Liu Hu-beng segera mengebaskan lengan bajunya dan melolos pedang, sambil bergerak ia pun bersuit nyaring.
Pada saat itu juga, Wan-yang-siang-kiam, ruyung tujuh bintang Tu Tiong-ki, Cu-bo-siang Hui Ting-hi dan Cing-peng-kiam Song Leng-kong serentak juga melolos senjata masing-masing.
Sedangkan Lengcoa maokau, Ong it-beng dan Lim K icing yang sedang bertempur segera menghentikan serangannya malah.
Kecuali Ong It-peng yang patah lengan kanannnya, Sembilan macam senjata berkilau digenggam oleh Sembilan tokoh persilatan yang mengepung rapat di sekeliling Siu Tok yang masih duduk tegak dia atas kuda.
Pengalaman Siu Tok menghadapi kepungan semacam ini boleh dibilang sudah terlampau banyak, baginya sudah tidak aneh lagi.
Tpai pada saat itu juga tiba-tiba saja terlintas ingatan "mati"
Didalam benaknya.
"Seklaipun aku harus mati juga aku rela"
Demikian pikirnya ketika bayangan gadis cantik dan suci itu terlintas dalam benaknya.
"aku telah memperoleh apa yang kuinginkan selama hidupku ini............"
Lamunannya tiba-tiba terputus oleh Cing peng kiam Song Leng-kong dengan suaranya yang dingin.
"Siu Sianseng "
Sebagai seorang pendekar besar dari daerah kanglam, ia enggan mengucapakan kata-kata yang kotor, sikapnya masih tetap sopan.
"kukira sekalipun tidak kujelaskan apa maksud kami bersaudara mencegatmu di bukit ini, tentunya kau sendiri juga sudah tahu dengan jelas, bukan?"
Siu tok hanya mendengus saja. Song lengkong berkata pula "sudah lama kami mendengar kelihaian ilmu silatmu, pula cara kerjamu juga menyenangkan, maka akupun tak perlu banyak bicara lagi."
Sampai disini, segera pedangnya bergerak sehingga tercipta lingkaran cahaya tajam. Lalu dia berkata lebih lanjut.
"Bicara terus terang saja, hari ini jika kau tak mampu menandingi kesepuluh macam senjata kami bersaudara, jangan kauharap lagi akan keluar dari bukit ini."
Siu Tok mendengarkan dengan dingin, hatinya malah sangat tenang, sama sekali tidak memperlihatkan suatu perasaan.
Sikap tenang semacam ini tentu saja rada diluar dugaan Song Leng-kong.
Ia termenung sejenak, lalu berkata.
"Seperti apa yang kau katakan, tindakan kami ini memang kurang ksatria, namun orang cerdik sebagai anda, tentu mengetahui akan sebabsebabnya."
Siu Tok mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, jawabnya dingin.
"Sungkan amat kata-katamu itu, Cuma cara bicaramu itu kepadaku, kukira salah sasarannya. Orang she Siu cukup tahu akan keadaan, kukira tak perlu kau beri penjelasan panjang lebar, jika ingin turun tangan, silahkan saja."
Lalu dengan tertawa sinis dia menambahkan.
"jangankan baru sepuluh orang, sekalipun berlipat ganda, orang she Siu juga tak gentar."
Lalu dengan tertawa sinis dia menambahkan.
"jangankan baru sepuluh orang, sekalipun berlipat ganda, orang she siu juga tak gentar."
Dengan suatu gerakan cepat ia memindahkan cambuk ke tangan kiri, sednag tangan kanan melolos pedang yang tergantung pada pelana, begitu cahaya pedang terpancar, perlbagai ingatan dengan cepat terlintas pula dalam benaknya.
Beruntung atau tidaknya sesuatu persoalan memang tak bisa diduga sebelumnya.
Nasib memang sesuatu yang sukar diraba oleh manusia, seandainya aku tidak berjumpa dengan si dia, hari ini bagaimanapun aku tak akan menghadapi bahaya, sekalipun tidak sanggup kulawan kesepuluh orang ini, untuk kabur tentu gampang sekali, namun.............
Ia berusaha keras agar tidak memikirkan hal ini,"
Bagaimanapun juga aku telah mendapatkan apa yang kuinginkan, lalu apa pula artinya kematian bagiku?"
Dengan rasa bahagia dia berpikir lagi,"
Seandainya aku tak pernah berjumpa dengannya, apa pula arti kehidupan bagiku?"
"pagi mendengarkan khotbah, malam mati pun tak mengapa"
Tiba-tiba ia dapat mersapi makna ucapan ini, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibirnya. Ketenangan dan senyuman membuat para jago yang berada di sekelilingnya sama tercengang dan ragu.
"Masakah dia yakin kemenangan pasti berada di tangannya?"
Demikian mereka merasa sangsi.
Hanya Leng coa mao Kau saja yang tertawa dingin di dalam hati, pikirnya "ku tahu apa yang kau tertawakan, kau gembira karena merasa banyak yang telah kau dapatkan.........Hmm, sebentar lagi akan kubuat dirimu merasakan penderitaan yang lebih hebat daripada mati sebelum nyawamu melayang."
Malam semakin kelam, keheningan meliputi lereng pegunungan itu, tapi setiap orang tahu inilah saat menjelang hujan badai.
"Hei kenapa kalian belum juga turun tangan?"
Ong It peng yang berdiri di pinggir tiba-tiba berteriak.
Lengan kanannya yang dipatahkan lawan mendatangkan rasa sakit yang luar biasa, tentu saja rasa bencinya terhadap Siu Tok sudah merasuk tulang sumsum.
"Betul,"
Sambung Siu Tok sambil tertawa dingin.
"Bila kalian tidak turun tangan juga,fajar segera akan menyingsing, jika sampai diketahui para pejalan kaki bahwa Jit-kiam-sam-pian mengerubuti seorang, berita yang akan tersiar ini tentu sangat tidak menguntungkan kalian."
Menyusul perkataannya, tiba2 timbul ingatan dalam benaknya,"
Jika hari ini kumati terbunuh oleh kesepuluh orang ini, tampaknya takkan diketahui oleh siapa pun."
Tapi ingatan lain cepat terlintas pula,"
Ah selama ini aku hidup terluntang-lantung seoramg diri, musuh besarku punsangat banyak, sekalipun ada yang tahu, siapa pula yang akan membalaskan dendam bagiku?"
Berpikir sampai di sini, timbul perasaan pedih dalam hatinya. Berada dalam keadaan seperti ini, manusioa mudah teringat pada orang yang dikasihi, diamdiam ia berpikir lagi,"
Hanya dia seorang memikirkan diriku,sayang dia tak lebih hanya seorang perempuan lemah, umpama dia tahu, lalu apa yang dapat diperbuatnya?"
Ketika terbayang bahwa selanjutnya "si dia"
Akan hidup sebatang kara, timbul kembali keinginannya untuk hidup lebih lama lagi.
"aku tak boleh mati,aku harus menjaga dan melindunginya!"
Ia mendongakkan kepala dan emandang sekejap bayangan pedang serta cahaya ruyung yang berada di sekelilingnya, hatinya terasa dingin.
"Tapi jika aku.............."
Namun ia tak sempat berpikir lebih lanjut.
Bagaikan hujan turun secara tiba-tiba, kesembilan macam senjata secepat kilat bersamasama menyerang Siu Tok yang masih duduk di atas kudanya.
Terpaksa ia menyimpan kembali semua lamunannya, ia berpekik nyaring, pedang di tangan kanan dan cambuk di tangan kiri tiba2 berputar kencang sedemikian rupa.
Dalam waktu singkat suasana dalam lembah itu menjadi gaduh, pohon yang tumbuh di kedua sisi jalan berguncang keras tersapu angin tajam, daun dan ranting berguguran memenuhi tanah.
Siu Tok dengan jurus serangan yang kuat bertarung menghadapi kesembilan macam senjata itu, lantaran ia berduduk di atas kuda sehinggat tak leluasa bergerak, otomatis jurus serangannya juga jurang lincah.
Tapi ia tetap duduk di atas kuda, meski binatang tunggangannya cukup pintar dan gesit, tak urung mulai panik juga menghadapi kerubutan seperti ini, dengan demikian perlawanannya pun semakin payah.
Pa-san-kiam -khek dengan ilmu pedangnya yang lihay selalu mengincar bagian mematikan di tubuh Siu Tok, seandainya dari pedang Siu Tok tidak memancarkan Si-kim-sip-thi (daya sedot, semberani) yang kuat, mungkin sejak tadi ia sudah tertusuk beberapa kali.
Hal ini diam-diam menimbulkan rasa heran Pa-san-kiam -khek, pikirnya,"
Kenapa Siu Tok bertarung diatas kuda? Bukankah hal ini justru menhalangi gerak-geriknya?"
Perasaan semacam itu muncul pula pada semua orang, kecuali Leng Coa Mao kau seorang.
"Tampaknya dia tidak menyia-nyiakan harapanku,"
Demikian LengCoa Mao Kau berpikir dengan bangga.
"Ia telah melaksanakan perintahku sebaik-baiknya, wahai Siu Tok, sekalipun kungfumu lihay, hari ini jangan harap bisa lolos dari peradilan. Permainan ruyungnya berasal dari aliran Ngo-Tai-san, bersama Jit-seng-pian (rurung tujuh bintang) Tu Tiong ki dari luar perbatasan mereka disebut sebagai Lam tiong pak cu (cakal bakalnya utara dan selatan) Serangan ruyungnya seperti seekor ular hidup, ruyung sepanjang satu tombak dipakai pula sebagai alat penutuk jaland arah, gayanya berbeda dengan ilmu ruyung biasa. Setelah terlintas ingatan tadi, senyuman aneh lantas menghiasi ujung bibirnya, tiba-tiba ruyungnya ditarik dari tengah cahaya pedang, waktu senjatanya bergerak lagi, bukan orangnya yang diserang melainkan kuda tunggangannya Siu Tok yang diancam. Air muka Siu Tok berubah hebat, tapi ia sedang menghadapi serangan gencar kedelapan orang lain, dalam keadaan begini tak sempat baginya untuk mengurus soal kuda lagi. Dengan suatu gerakan cepat, ruyung Leng Coa Mau Kau telah melilit kaki kuda, sekuatnya lantas ditarik, selincah-lincahnya kuda itu masa mampu menahan getaran tenaga dalam sedasyat ini? Sambil meringkik tak ampun lagi kuda itu roboh terguling. Menyaksikan itu, Pa-san-kiam -khek berkerut dahi dan berpikir, Leng Coa Mau Kau adalh ornag cerdik, kenapa ia bertindak bodoh hari ini? Dengan merobohkan kuda tunggangannnya berarti menyingkirikan rintangan baginya, bukankah ia bakal bergerak lebi leluasa lagi? Kalau sampai begini, untuk menaklukkannya jelas akan lebih makan tenaga............."
Belum habis berpikir kuda tunggangannya Siu Tok sudah roboh dan anehnya Siu Tok masih duduk diatas punggung kuda itu dan tidak melompat bangun.
Kuda itu meronta sepenuih tenaga dan bermaksud melompat bangun.
Lengcoa Mao kau tertawa dingin tiada hentinya, ruyungnya diayunkan dan menghajar tubuh kuda itu beberapa kali, kuda itu meringkuk lagi, akhirnya berkelojotan dan binasa.
Sekarang Siu tok sama seperti duduk diatas tanah, cambuk dan pedangnya berputar dengan lamban, ilmu meringankan tubuhnya yang konon lihay kini seakan akan sudah dilupakan olehnya.
Perlu diketahui, bila meghadapi kerubutan orang banyak, maka yang paling penting adalh bergerak dengan lincah, mencari peluang diantara senjata musuh agar senjata musuh saling bentur kemudian mencari kesempatan untuk melancarkan serangn balasan.
Sedangkan Siu Tok sekarang Cuma berdiri di tempatnya, dia hanya bertahan tanpa mencari kesempatan untuk melancarkan serangan balasan, atau dengan perkataan lain paling banter dia Cuma bisa melindungi diri sendiri, untuk mencari kemenangan hakikatnya tak mungkin terjadi.
Untung saja dia menguasai ilmu tenaga dalam yang disebut Ban liu kui cong setiap serangan yang dilancarkannya selalu membawa semacam daya isap Si-kim-sip-thi yang hebat, kendati demikian posisinya kian lama kian gawat juga.
"Aneh, kenapa ia tidak melompat bangun?"
Itulah pertanyaan yang timbul dalam hatisetipa orang, sekalipun dalam hati mereka pun berharap agar Siu Tok tak mampu melompat bangun untuk selamanya.
"Jangan-jangan kakinya lumpuh?"
Ingatan ini sempat terlintas dalam benak Pa-san-kiam -khek,"
Tapi siapakah yang melumpuhkan kakinya?
Siapakah dalam dunia persilatan dewsa ini yang memiliki tenaga dalam sedemikian hebatnya?
Andaikata kakinya bener lumpuh, jelas tiada harapan untuk hidup baginya, tapi kami harus bertarung melawan seorang lumpuh dengan kekuatan bersembilan, peristiwa ini betul-betul amat memalukan."
Begituluah timbul kecurigaan Pa-san-kiam -khek Liu Hub eng, namun serangannya tidak pernah mengendur, sebab dia harus mengguanakan tenaga dalam sendiri untuk melawan daya isap yang trepancar dari cambuk dan pedang Siu Tok.
Sementara itu pikiran Siu Tok amat kalut, ia tahu dengan sisa tenaganya sekarang paling banter ia Cuma sanggup bertahan setengah jam lagi.
Perlu diketahui, lwekang Ban Liu Kui cong merupakan tenaga dalam yang sangat memeras tenaga, sedangkan dia tak mampu melawan kerubutan kawanan jago lihay itu jia tidak mempergunakan tenaga dalam berdaya isap yang maha sakti itu.
Sekarang satu-satunya tenaga yang masih bisa membuatnya bertahan adalah kenangannya terhadap si dia, sekalipun akibatnya dai harus menjadi orang cacat, namun sedikitpun ia tidak merasa benci atau dendam kepada si dia.
"DIa tidak sengaja!"
Cinta membuatnya mengampuni orang lain.
Bagi sementara orang, tiada kekuatan lain di dunia iani yang bisa menandingi kekuatan cinta.
Karena pikiran kalut, perasaan tak tenang, tentu saja tidak menguntungkan dia dalam pertempuran ini.
Setiap masalah yang menyangkut si dia semuanya terbayang kembali dalam benaknya.
"Sungguh peristiwa yang sangat kebetulan, begitu aku bertemu dengan dia segera aku jatuh cinta kepadanya, tiada perasaan lain yang melebihi luapan perasaaanku tatkala bertemu untuk pertama kalinya dengan dia."
Dengan senyuman tetap menghiasi bibirnya, cambuk kuda di tangan kirinya berputar, dengan ujung cambuk dia mengunci serangan Thia hong dari Wa yang siang kiam yang menggunakan jurus Toa mo cui hong (angin badai gurun pasir) sementara dengan batang cambuk dia tahan serangan Lim Lin yang menyerang dengan jurus Liu sah liok-jit (pasir berpindah tatkala senja).
Sedangkan pedang di tangan kanan berputar membentuk suatu lingkaran besar, sinar pedang menciptakan selapis dinding cahaya untuk membendung serangan ruyung dan pedang kelima lawan, sementara gagang cambuknya dipakai untuk menumbuk ujung Jit-seng-pian Tu Tiong ki dari belakang.
Dalam keadaan begini dia sempat berpikir lebih jauh.
"kemudian ia memebritahukan kepadaku bahwa sejak pertemuan pertama, dari sinar mataku dapat diketahuinya cintaku kepadanya. Sungguh kejadian yang aneh sekali , antara aku dengan dia seolah-olah mempunyai hubungan batin yang mendalam, mungkin itulah yang disebut orang sebagai kontak batin?"
Menghadapi saat-saat kritis yang mengancam jiwanya, ia masih melamun terus dengan mesranya.
"Tak sampai setengah bulan kami berkumpul, ia telah menyerahkan segala-galanya kepadakau, akupun telah menyerahkan segala-galanya kepadanya.
"baik siang maupun malam kami berkumpul tentu saja keculai waktu aku harus berlatih ilmu di tengah malam, sebab Ban-liu-kiu-cong yang kulatih belum sempurna, setiap hari aku mesti menyisihkan sedikit waktu untuk berlatih, Cuma setelah aku memiliki dia, untuk berlatih pun terasa malas. Ai, mungkin sudah takdir."
Kedua kaki terasa kaku seakan-akan separoh badan bagian bawah sudah bukan miliknya, ia tertawa getir dan berusaha menangkis sembilan macam senjata itu dengan sepenuh tenaga,lalu berpikir lebih jauh ,"
Suatu hari ,sewaktu aku asyik beraltih ilmu, tiba-tiba ia menyelonong masuk, entah mengapa ia terjatuh, bahunya persis menumbuk jalan darah Siau yau hiat di bagian pinggangku.
"Waktu itu latihanku sedang mencapai sedang mancapai detik yang genting,bergerak sedikitpun tak boleh, setelah tertumbuk olehnya, separuh badanku kontan saja menjadi kaku dan mati rasa."
Ia menghela nafas panjang,"
Tapi mana bisa kusalahkan dia? Sama sekali ia tidak tahu, tentu juga tak tahu akibat perbuatannya itu......"
Tiba-tiba pedang Kanglam-tayhiap Song Leng Kong menambas dan membuat luka panjang di atas paha kanan SiuTok, darah segera mengucur.
Tapi Siu Tok sedikitpun tidak merasa sakit, karena kakinya sudah mati rasa, pedangnya dengan cepat berputar lalu menusuk dada Lengcoa Mau Kau.
Jika tusukan itu dibarengi dengan mendoyongkan badan ke depan, niscaya Leng Coa Mau Kau akan terluka oleh ujung pedangnya, sayang tubuhnya sama sekali tak mampu berkutik, serangannya sulit mencapai sasaran.
Kembali Lengcoa Mau Kau memperlihatkan tertawa dingin yang aneh, tiba-tiba serunya dengan suara melengking,"
SObat,kau masih mencoba meronta?kedua kakimu sudah dilumpuhkan orang, apa artinya hidup terus di dunia ini? Lebih baik cepat habiskan saja nyawa sendiri!"
AIr muka Siu Tok sedingin salju, ia menarik kembali serangannya untuk melindungi keselamatan sendiri. Terdengar Leng Coa Mau Kau mengejek pula dengan tertawa dingin.
"Buang saja senajatamu dan menyerah, mungkin Ma Toaya akan memberi kematian yang enak padamu dengan mengingat pada adik perempuanku."
Mendengar perkataan itu, sekujur badan Siu Tok gemetar keras, kerna meleng, bahunya kembali terhajar oleh ruyung Tu Tiong ki.
"Baiklah kukatakan kepadamu dengan terus terang,"
Lengcoa Mao kau mengejek pula .
"Ko peng adalah Mao peng, Mao peng adalah adik perempuanku."
Merinding Siu Tok oleh keterangan itu, permainan pedangnya menjadi lambat, sebuah tebasan kilat dari It-ci-kiam Thia Hong meninggalkan goresan panjang di dadanya, darah segar mengucur membasahi pakaiannya yang hijau sehingga berubah menjadi warna ungu yang menyeramkan.
"Hehehe, orang she Siu, sekarang kau sudah mengerti bukan?"
Ejek Leng Coa Mao Kau sambil tertawa terkekeh.
Sekujur tubuh Siu Tok sudah penuh dengan luka, sakitnya merasuk tulang sumsum, tapi hatinya terasa jauh lebih sakit daripada lukanya.
Sekarang dia baru mengerti, orang yang dicintainya dengan sepenuh hati, orang yang dianggapnya sangat mencintai pula dirinya ternyata tak lebih adalah alat musuh untuk mencelakainya.
"Ah, rupanya semua ini tak lain adalah rencana busuk orang, kiranya dia tidak mencintaiku, ia membuatku terluka juga bukan dilakukan tanpa sengaja. Ai, kenapa aku sebodoh ini? Ketika dia menganjurkan padaku agar meninggalkannya untuk mengobati lukaku dan berjanji akan selalu menunggu kedatanganku, air mataku malah meleleh karena terharu."
Ia menggertak gigi, darah merembes keluar lewat sela giginya dan menodai ujung bibirnya, seluruh wajahnya penuh dengan butiran air, entah air mata, entah air keringat?
Seketika itu ia merasa putus asa, daya perlawanannya yang sebetulnya masih kuat kini seakan-akan lenyap sama sekali, dalam waktu singkat tiga tusukan pedang kembali bersarang di tubuhnya.
Kini sekujur badannya sudah bermandikan darah, hatinya juga bagaikan disayat-sayat orang dengan pisau tajam, pukuln batin yang diterimanya ini bener-bener terlalu kejam.
"O thian kenapa engkau membiarkan aku mengetahui segala sesuatunya? Aku lebih suka mati tertipu daripada mati menderita seperti sekarang ini!"
Setelah tenaga dalamnya buyar, perlawanannya makin kalut, hakikatnya ia tak mampu lagi menghadapi kerubutan kesembilan jago tangguh itu.
"Plok", ruyung Leng coa Mao Kau kembali meninggalkan sejalur luka panjang pada mukanya. Kini sudah puluhan luka menghiasi sekujur badannya, tapi Siu Tok tidak mau melepaskan setiap kesempatan untuk rontakan terakhir, hal ini tidak berarti dia masih berat untuk meninggalkan dunia fana ini, sebab dunia ini sesungguhnya terlalu kejam padanya,mungkin itulah karma yang diterimanya. Tapi naluri mencari hidup membuatnya meronta dan berjuang sepenuh tenaga, ia member perlawanan sengit terhadap serangan gencar kesembilan jago lihay itu. Teringat pada si dia, hatinya kembali terasa sakit sekali. Hati yang sakit membuatnya lupa akan luka yang dideritanya, tapi tidak lancarnya tenaga dalam membuatnya sadar apa yang akan menimpanya.
"Aku tak bisa hidup lebih lama lagi!"
Demikian ia membatin.
Mendadak permainan cambuk di tangan kirinya sedikit mengendur, segera Wan yang siang kiam melancarkan serangan berantai dengan jurus PI yu sianghui (pentang sayap terbang bersama).
"sret sret"
Dua tusukan mengenai pula dada dan perutnya.
Dalam keadaan demikian, sekalipun dia bersemangat jantan dan ingin bertahan terus, akhirnya juga kehabisan tenaga dan mati kutu.
Dia sendiri sadar, kematiannya tak kan menimbulkan rasa sayang atau kasihan dari orangorang persilatan.
"Mati memang tidak perlu disayangkan!"
Ia menghela nafas panjang, cambuk di tangan kiri dan pedang di tangan kanan sekuat tenaga menangkis serangan ruyung Mao Kau dan tusukan pednag Lim Ki Cing dan Ting Hi, kemudian pikirnya lebih jauh.
"Tapi kematianku hari ini sungguh kematian yang memilukan hati, mati di tangan orang semacam ini betul-betul kematian yang tak berharga."
Karena meleng, kembali punggungnya tersambar pedang, seandainya tenaga dalamnya tidak sempurna, umpama orang lain, mungkin sejak tadi sudah tak tahan.
"Tak seorang pun mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya,"
Rasa tak adil dan penasaran membuatnya untuk pertama kali merasakan kesedihan yang sesungguhnya, ia berpikir lebih jauh, semuaorang pasti mengira aku mati di tangan JIt-kiam-sam-pian,siapakah yang tahu bahwa kematianku sesungguhnya disebabkan seorang perempuan, mati di tangan seorang perempuan yang tak tahu malu dan tak berperasaan."
Kini dia benar-benar lemas seluruhnya. Leng Coa Mau Kau terkekeh-kekeh senang.
"Orang she Siu, ada pesan yang hendak kausampaikan? Mumpung masih bisa bernafas, cepat utarakan, mengingat adik perempuanku, mungkin aku dapt melaksanakan bagimu, jika tidak lekas kaukatakan, hehehehe, mungkin kau tak akan................"
Selama hidup mana pernah Siu Tok dicemooh orang seperti ini, dengan sepenuh tenaga ia membentak, tangan kanan bergerak, pedang disambitkan langsung menyambar kea rah Mao Kao.
Mimpi pun Leng Coa Mao kau tidak menyangka lawan akan berbuat demikian, ketika ia sadar akan bahaya, cahaya pedang telah berada di depan tenggorokannya.
Betapa mengejutkan serangan terakhir tokoh aneh nomor wahid menjelang ajalnya itu,tampaknya Leng Coa Mao Kau segera akan binasa di ujung pedang itu.
"Cring!"
Tiba-tiba berkumandang bunyi benturan yang nyaring.
Kiranya Co jiu sin kiam Ting hi yang sedang menabas dengan jurus Leng ho tia oh (bangau sakti pentang sayap) pada bahu kiri siu tok, demi menyaksikan Mao Kau terancam bahaya, cepat ia menangkis pedang Siu TOk yang sudah dekat tubuh Mao KAu itu.
Walaupun demkian, dengan tenaga dalam Co-jiu-sin-kiam Ting Hi tetaptidak berhasil memukul jatuh sambaran pedang itu melainkan hanya memukulnya sehingga serong sedikit ke samping.
Dengan demikian gerakan pedang itu menjadi lemah.
Mao Kau mendoyong tubuhnya ke belakang, pedang menyambar lewat sisi tenggorokannya.
Coba kalo dia terlambat sedikit saja, nyawa Leng Coa Mau Kau niscaya sudah melayang.
Saking kagetnya, keringat dingin membasahi telapak tangannya, butiran keringat juga menghias jidatnya.
Air muka Co jiu sin kiam Ting hi berubah juga, dengan segenap tenaga ia menangkis sambitan pedang SIu TOk itu, tapi pergelangan tangannya juga terasa sakit, hal ini membuatnya sangat terperanjat.
Berhubung Siu TOk menyambitkan pedangnya dengan sekuat tenaga, permainan cambuknya di tangan kirinya jadi terhenti, pertahanannya lantas longgar, serentak serangan Wan yang siang kiam, oa san kiam khek, kanglamTayhiap, Ong it beng, Pek pih hui hoa dan Jit seng pian sama bersarang telak di atas tubuh siu tok.
Udara tanpa bintang dan rembulan, kegelapan yang mencekam disertai bunyi burung hantu, seakan-akan mengiringi kematian seorang tokoh sakti dunia persilatan itu.
Ketika Leng Coa Mau Kao sadar kembali dari rasa kedetnya, Siu TOk telah putus nafasnya, segala kejayaan atau kenistaan orang hidup sudah tiada sangkut paut lagi dengan dia.
Suasana hening........
Mendadak Mao Kau tertawa, ia melompat maju, ruyungnya terputar dan menghajar mayat Siu Tok keras-keras.
Ruyung itu tebuat dari baja asli, ditambah tenaga dalam yang hebat , sabatan tersebut sungguhsangat keras dan lebih ribuan kati.
Darah segar berhamburan kemana-mana, lengan kiri Siu Tok terhajar kutung.
Sekali tarik, lengan kiri Siu TOk tergulung ke atas ruyungnya dan dipegangnya, gelak tertawanya kedengaran menyeramkan dan menusuk telinga.
Diam-diam kanglam tayhiap song Leng kong berkerut dahi, dengan suara tertahan ia berseru.
"Orang She SIu sudah mati, kenapa saudara Mao harus merusak mayatnya?"
Cing-peng-kiam Song LEng Kong adalah seorang ang jujur dan lurus, dari pembicaraan yang berlangsung tadi ia tahu sebelum ini Leng Coa Mao Kau telah menggunakan siasat licik untuk melukai Siu Tok sehingga musuh itu tak mampu berdiri.
Maka timbul rasa menyesal dan malu hatinya.
Namun tindak tanduk Siu Tok juga dibencinya, malahan dia yang mengusulkan kepada rekan-rekannya untuk bersama-sama menumpas Siu Tok bahkan ikut turun tangan mengerubuti seorang yang separuh badannya telah lumpuh.
Akan tetapi setelah menyaksikkan tindak tanduk Leng Coa Mau Kau sekarang, ia merasa tidak senang, itulah sebabnya dia menegurnya.
Mau Kau tertawa, katanya.
"Orang she Siu adalah sampah masyarakat yang telah banyak mengakibatkan kesengsaraan umet persilatan, entah berapa banyak sahabat persilatan yang telah dicelakainya hingga keluarga tercerai berai dan orangnya tewas terbunuh, rasa benciku kepadanya sungguh ingin kumakan dagingnya dan kubeset kulitnya."
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan lagi tanpa sedikitpun menyesal atas perbuatannya itu, seetelah kita membunuhnya sekarang, entah berapa banyak jago persilatan yang akan bertepuk tangan kegirangan, biarlah kita cincang saja mayat keparat ini, kemudian kita perlihatkan kepada saudara dunia persilatan agar semua orang ikut bergembira atas peristiwa ini."
Ho siok siang kiam dan pek poh hui hoa memang mempunyai rasa dendam pada Siu Tok, maka mereka bersorak tanda setuju atas usul tersebut.
Wan yang siang kiam, Co jiu sin kiam dan jit seng pian tu tiong ki tidak usul lain, Ong It peng adalah yang paling dendam, Pa san kiam kehk menghela nafas panjang, katanya kepada Cing peng kiam, urusan telah berkembang menjadi begini, apa lagi yang bisa kita katakan .............."
Dia memang pandai menyesuaikan diri, ia tak ingin menunjukkan sikap yang keterlaluan di antara orang-orang itu, juga tak ingin dianggap orang lain sebagai orang munafik yang purapura bajik.
Bau anyir darah tersebar sampai jauh terbawa angin musim gugur...................
Mendadak dari balik hutan sana berkumandang suara tertawa dingin, menyusul seorang dengan nada yang tak sedap mengejek.
"Sungguh keji!"
"Siapa?"
Leng Coa Mao Kau membentak.
Tanpa berpaling dia melompat kesana dan menyusup ke dalam hutan.
Kesepuluh orang ini semuanya adalah jago kelas tinggi dunia persilatan, mendengar suara itu, serentak mereka pun menerjang ke dalam hutan.
Hanya Kang Lam tayhiap Song Leng Kong saja yang tetap berdiri di tempat semula, ia pandang mayat Siu Tok yang tercincang itu, ia merasa sedih dan menyesal.
Dia yang menggerakkan operasi ini, tapi dia tak pernah mengira akan begini mengenaskan akibatnya.
Meskipun ia tak senang terhadap tingkah laku Siu Tok dalam dunia persilatan, tapi menyaksikan mayat tokoh sakti yang ditakuti dalam dunia persilatan ini tercincang dan tercerai berai di tanah, mau tak mau timbul juga perasaan menyesalnya.
Disamping mayat Siu Tok tergeletak pula bangkai kuda yang setia kepada majikannya sampai mati itu, darah berceceran membasahi permukaan tanah.
Dari Balik hutan berkumandang pula suara berkesiur ujung baju yang tersembus angin serta bentakan nyaring.
Angin malam terasa dingin, daun dan ranting yang terembus menimbulkan suara gemerisik.
Song LEng Kong menggertak gigi, ia mengambil keputusan, dia lari menghampiri mayat, mengambil sisa mayat yang tertinggal tanpa memperdulikan darah mengotori pakaiannya, setelah celingukkan kesana kemari cepat dia lari turun ke bawah bukit.
Waktu Leng Coa Mao Kau menerjang ke dalam hutan gerakan yang sangat cepat ini membuat burung berterbangan terkejut.
Sementara ruyungnya menyabat kekanan ke kiri.
Tapi kecuali burung yang berterbangan karena kaget, di sekitar hutan situ tak tampak reaksi apapun.
Dalam pada itu Wan yang siang kiam, HO siok siang kiam serta Co jiu sin kiam dan pa san kiam khek sekalian telah menyusul tiba pula.
"Ayo kawan-kawan, kita geledah sekeliling hutan ini!"
Seru Leng Coa mau Kao dengan suara tertahan. Dengan suara lantang Jit seng pian Tu Tiong Ki lantas berteriak,"
Hai sahabat, kalau punya kepandaian, perlihatkan wajahmu, jangan main sembunyi macam anak kura-kura!"
Tapi suasana dalam hutan itu hening seperti tiada seorang pun, meski ilmu meringankan tubuh kawanan jago lihay itu cukup sempurna, penggeledahan juga dilakukan dengan teliti, namun hasilnya nihil.
"Cepat amat gerakan bangsat itu!"
Maki Leng coa Mao Kau dengan mendongkol, ruyungnya menghantam batang pohon dengan keras.
"Kalau tiada diketemukan sudahlah, tooh tak menjadi soal bagi kita,"
Kata Ci-jiu-sin-kiam Ting hi.
Ia pikir kalau kejadian ini akhirnya akan disiarkan dunia persilatan, sekalipun sekarang diketahui orang apa salahnya.
Berputar biji mata Leng Coa Mao Kau meskipun ada sementara persoalan yang tak ingin diketahui orang lain, tapi ia yakin orang lain juga tak akan mengetahuinya.
Maka dengan lantang ia pun berkata.
"betul, kukira bangsat itu hanya kawanan tikus yang takut berjumpa dengan manusia!"
Sehabis berkata dia lantas melompat keluar lebih dulu dari huta itu, tapi keadaan di luar hutan tidak lagi seperti apa yang mereka tinggalkan tadi.
Pertama-tama yang dilihta oleh Leng Coa Mao Kau adalah tiadanya mayat Siu Tok di tempat semula.
Lalu ketika ia coba maju ke depan, tiba-tiba dilihatnya beberapa huruf besar yang ditulis dengan darah kental tertera di atas tubuh bangkai kuda.
"Sepuluh tahun kemudian, dengan darah membayar darah!"
Kontan air mukanya berubah pucat seperti mayat, tangan kirinya yang memegang tulang Siu Tok terasa gemetar.
Waktu orang-orang yang lain menyusul tiba dan ikut membaca tulisan itu, perasaan yang terlintas dalam benak mereka adalah sama,"
Siapa yang menulis di sini?"
Jit seng pian tu Tiong Ki celingukkan kesana kemari, kemudian berteriak.
"Hei kemana perginya Cing Peng Kiam Song Tayhiap?" ---ooo0ooo ---Musim semi di daerah kanglam indah permai. Musim gugur di KangLam juga tidak terlampau jelek. Udara sejuk di jalan raya yang menghubungkan tepi sungai besar dengan kota Lim Ling, debu berterbangan, serombongan penunggang kuda berlarian dengan cepatnya. Kuda-kuda itu sama berbuih mulutnya, tapi penunggangnya tetap bersemangat seakn-akan tidak memikirkan perjalanan yang amat jauh itu, anehya kening setiap penunggang kuda itu tampak sama berkerut seolah-olah ada sesuatu masalah besar yang mengganjal hati mereka. Para pejalan kaki jauh-jauh sudah menyingkir ke tepi jalan sewaktu melihat datangnya rombongan penunggang kuda itu, dengan keheranan mereka saling bertanya.
"Orang macam apakah rombongan orang ini?"
Kawanan penunggang kuda itu bukan Cuma aneh dalam dandanan, mereka terdiri dari lakilaki dan perempuan yang bersenjata, bagi wilayah Kang Lam yang permai dan damai, hal ini terasa agak menyolok.
Tiba-tiba dari ujung jalan sana berkumandang suara teriakan lantang.
"Cengbu..............Yangwi.................."
Bagi orang yang sering melakukan perjalan dalam dunia Kangouw segera akan tahu teriakan itu berasal dari pembuka jalan perusahaan pengawalan Ceng bu piaukok yang berada di kota Tinkang propinsi Kangsoh dan merupakan perusahaan expedisi paling besar di wilayah kanglam.
Para penunggang kuda itu saling pandang sekejap,lalu melarikan kudanya lagi ke depan,sebentar saja tampaknya mereka akan menerjangmasuk ke tengah rombongan pengawal barang itu.
Kejadian ini segera menarik perhatian para pejalan kaki yang suka akan keramaian, mereka sama berbisik.
"huh bakal ada tontonan ramai."
Maklumlah, kcuali rombongan pejabat pemerintahan atau tentara yang lewat,sekalipun rombongan saudagar yang besar pun biasanya akn mnyingkir bila bertemu dengan rombongan barang, tak pernah ada orang yang berani menerjangnya cara begitu.
Pertama, umumnya orang tak ingin mencari gara-gara, kedua karena pengaruh perusahaan barang terlampau besar, memancarkan rombongan mereka berarti melanggar pantangan mereka yang terbesar, kejadian ini niscaya akan menimbulkan pertikaian yang berlarut-larut.
Tampaknya kawanan penunggang kuda itu mempunyai kepandaian yang bisa dianadlkan, tapi Congpiautau dari Ceng-bu-piaukok, Hu hong kiam (pedang pelangi) Tong Beng Peng pun seorang jago kenamaan dunia persilatan, para piasu (tukang kawal) pembantunya juga jagojago pilihan yang tinggi hati, tentu saja mereka tak sudi membiarkan rombongannya dicerai beraikan orang.
Oleh karena itu para pejalan kaki yang mengetahui bakal terjadi keramaian di situ sama berhenti untuk menonton.
Dalam pada itu rombongan penunggang kuda itu masih terus melarikan kudanya dengan capt.
Betul juga, para peneriak jalan dari Ceng bu piaukok segera mendelik dan siap mencaci maki.
Thi-kiau-cu (peneriak baja) Siau Sim adalah peneriak jalam Ceng Bu piaukok yang paling diandalkan, biasanya ia memang berangasan, betapa marahnya dia menyaksikan ada penunggang kuda berani menerjang rombongan mereka.
"Telur busuk yang tak tahu diri,"
Demikian ia menyumpah dalam hati.
"Rupanya kalian sudah bosan hidup!"
"Sobat............"
Baru sepatah kata terlontar dari mulutnya, sekilas pandang ia sempat menangkap air muka penunggang kuda pertama dan kedua, kontan ia terkesiap dan kata-kata selanjutnya cepat ditelan kembali.
Sambil menarik tengkuk diam-diam ia bersyukur.
"Wah untung nasib orang she Sim masih mujur dapat mengenali beberapa orang ini, Hm kalau saja jadi memaki, mungkin bisa celaka."
Peneriak jalan yang lain mungkin kurang pengalaman, tanpa pikir dia lantas memaki.
"Cucu kura-kura, jalan seenak sendiri, barangkali buta mata kalian?!"
Belum dia habis memaki, penunggang kuda paling depan telah mengayun cambuknya.
"tarr",kontan dia terpental dari pelananya dan "bluk", ia terbanting di tengah semak rumput di tepi jalan sana. Suasana menjadi gaduh, jalan kawanan penunggang kuda itu segera juga teralang, air muka para penunggang kuda itu tampak kelam menatap para anggota perusahaan pengawal barang dengan pandangan dingin sementara para anggota pengawal barang menjadi panik, bentakan nyaring terdengar disana sini, malah ada pula yang melolos senjata. Thi kiau cu Siau Sim menenangkan diri lalu dengan biji matanya yang kecil sekali lagi mengamati kawanan penunggang kuda itu. Apa yang kemudian dilihatnya membuatnya menelan air liur, sambil menyeka keringat ia mengeluh.
"Aduh mak, mereka datang seluruhya komplit!"
Dalam pada itu para anggota perusahaan pengawalan barang telah menghunus senjata dan siap melancarkan serangan.
Ada pula diantara mereka yang berputar ke belakang unutk member laporan kepada pimpinan perjalanan kali ini, Siau sian bun Lau Teng Kok dan Sin piau kek Ci Cong yan.
Sebagai orang yang sudah biasa melekukan pekerjaan semacam ini, mereka tahu rombongan penunggang kuda itu bermaksud mencari gara-gara, hanya mereka tak tahu siapa gerangan orang-orang ini.
Belasan buah kereta yang mereka kawal ini menandakan barang-barang kawalan tidak sedikit harganya, ini pun tampak dari sikap tegang para piausu yang kuatir barang kawalannya dirampok.
Tapi siapa yang berani membegal pada siang hari bolong begini apalagi di depan mata banyak pejalan kaki?
Para piausu dari Ceng wi paiukok sudah siap siaga, tampaknya suatu pertarungan sengit segera akan terjadi, melihat gelagat tak baik, Thi Kiau cu Siau Sim segera berteriak.
"saudara sekalian, jangan turun tangan dulu!"
Para piausu tertegun, sementara mereka keheranan karena Siu SIm yang biasa berangasan mendadak menjadi alim, Thi kiau cu Siau SIm berteriak lagi "beberapa orang inilah Jit kiam sam pian!"
Orang bilang.
"kalau pohon bayangannya, kalau manusia namanya",nama besar Jit kiam sam pian dalam dunia persilatan sangat terkenal, Congpiautau Ceng bu piaukok, Hui hong kiam To Beng Peng juga terhitung murid langsung Kanglam tayhiap Cing peng kiam song Leng Kong, sedikit banyak keberhasilan Ceng bu piaukok dalam wilayah Kanglam pun berkat nama besar gurunya. Demikianlah demi mendengar kata "jit kiam sam pian"
Kontan saja para paisu Ceng bu piau kok yang sudah siap berkelahi itu menjadi lemas kembali, semangat tempur merekapun lenyap.
Dalam sekejap suasana mendadak menjadi sepi, hanya suara kaki kuda yang bergerak tak tenang seakan-akan mengetuk hati setiap orang yang memang tegang itu.
Jit kiam sam pian masih tetap bersikap dingin.
Thi kiau cu Siau Sim diam-diam memperhatikan wajah penunggang kuda pertama yang menghajar salah seorang rekannya itu, dia inilah Leng Coa Mau Kau dari Ciatkang.
Bergidik Siau SIm, pelahan dia putar kudanya dan bermaksud lapor kepada pimpinan pengawal.
Kiranya piausu yang mengawal barang ini, Siau-siang-bun Lau Teng Kok dan Sin-piau-kek ci cong yau sok berlagak tuan besar, mereka terlalu mengandalkkan nama besar ceng-bunpiaukiok, mereka yakin tak mungkin ada orang yang berani membegal barang kawalan mereka.
Oleh karena itu mereka selalu berjalan jauh di sana, terhadap belasan buah kereta barang itu seperti tak ambil pusing, tak heran kedua orang itu jadi gugup demi mendengar ada orang hendak membegal barang kawalannya, buru-buru mereka membedal kudanya ke depan.
Dengan munculnya kedua orang piausu ini, para anggota pengawal lain mengembus napas lega , malah ada yang segera menyingkir agak jauh.
Sin-piau-kek ci cong-yan berasal dari luar perbatasan (tembok besar),perawakannya tinggi besar , sikapnya angker dan gagah perkasa.
Ketika dilhatnya para anggota rombongan mulai mundur dari situ,dengan mendongkol ia mendamprat.
"Keparat, kenapa kalian mundur dari sini?"
Tapi setelah melirik sekejap penunggang kedua di hadapannya, sebagai orang yang sudah lama berkelana dalam dunia persialatan tentu saja dia kenal Leng Coa Mau Kau yang berasal dari Ciat Kang itu, tanpa terasa cara duduknya di atas pelana seakan-akan mengeret 2 inchi lebih pendek daripada semula.
"Kenapa bisa dia?"
Diam-diam ia berpikir, waktu berpaling, terlihat temannya, Siau siang Bun, juga lagi berdiri dengan terkejut.
Kiranya Siau Siang Bun jauh lebih lama berkelana dalam dunia persialatan, Sembilan dari Jit kiam sam pian dikenal olehnya, maka iapun berpikir.
"Kenapa beberapa orang ini bisa berkumpul disini?"
Cepat ia melompat turun dari kudanya, sambil memberi hormat katanya,"
Tampaknya para CianPwee ada minat berpesiar ke Kanglam sini?"
Segera dia menyingkirkan para anggota perusahaannya dari tengah jalan, lalu menyingkirkan pula kereta barang sehingga terbuka sebuah jalan lewat di tengah jalan raya itu, katanya lagi sambil menyengir.
"sayang wanpwee sedang melaksanakan tugas sehingga tidak dapat melayani cianpwee sekalian dengan baik............."
"Siapa yang membutuhkan pelayananmu?"
Dengus Leng Coa Mau Kau sambil tertawa seram. Siau siang bun tertegun, pikirnya.
"Aneh tampaknya air muka mereka kurang begitu enak."
Dengan was was ia memperhatikan pula air muka kedelapan orang lain, pikirnya.
"melihat gelagatnya beberapa orang ini kurang beres, seperti sengaja datang kemari untuk mencari perkara, tapi perusahaan kami tak pernah menyalahi mereka, malah kalau dibicarakan To congpiautau masih terhitung kerabat mereka."
Dugaannya memang tidak meleset, kedatangan Leng Coa Mau Kau, Jit seng pian Tu Tiong KI, Pek poh hui hoa, Wan yang siang kiam serta Ho siok siang kiam kali ini memang sengaja hendak mencari setori dan membalas dendam.
Setelah berhasil membinasakan Siu Tok di kaki buki Him ni san dulu, lalu terjadi peristiwa lenyapnya jenazah Siu Tok da ditemukannya tulisan berdarah di atas bangkai kuda, kesembilan jago dari Jit kiam sam pian menarik kesimpulan bahwa semua itu adalah perbuatan KangLam tayhiap Song Leng Kong.
Maka sekarang Cing peng kiam Song LEng kong menjadi musuh bersama kesembilan tokoh Jit kiam sam pian yang lain.
Leng Coa Mau Kau mencaci maki habis-habisan terhadap perbuatan Song Leng Kong itu, malah Pa san kiam khek Liu hu beng yang merupakan sobat paling karib Song leng kong selama puluhan tahun juga merasa tidak puas atas perbuatan rekannya itu, dia menganggap tindakannya itu tidak cukup bersahabat.
Berbicara sebenarnya andaikata tulisan "dengan darah membayar darah"
Itu betul-betul tulisan Song LEng Kong, maka perbuatannya ini terasa rada janggal dan membingungkan, sebab bagaimanapun juga dia adalah seorang dari penganjur pengeroyokan itu.
Tapi ditinjau dari keadaan ketika itu, memang dialah yang paling besar kemungkinannya berbuat demikian.
Kemudian setelah Pa san kiam khek sekalian mendapat kabar bahwa sisa jenazah Siu Tok memang berada di tempat Cing Peng KIam, rasa curiga merekapun tidak perlu diragukan lagi.
Mana mereka tahu bahwa dibalik peristiwa itu sesungguhnya masih ada hal lain, dan keajaiban hal tersebut mana bisa terduga oleh mereka.
Maka Leng Coa Mao Kau, Pek poh hui hoa, Ho siok siang kiam lantas menyiarkan berita dalam dunia persilatan dan menuduh Cing peng kiam yang meski berwajah saleh dan bajik, sesungguhnya tak lebih sehaluan dengan Siu Tok.
Malahan mereka mengeluarkan sisa tulang Siu Tok dan dipamerkan secara luas ke dunia persilatan, katanya setelah kematian Siu Tok, maka Song Leng kong Cing peng kiam adalah giliran yang kedua.
Sementara itu berita tentang terbunuhnya Siu Tok telah menggetarkan dunia persilatan,sebab kedudukan Siu Tok dalam dunia persilatan waktu itu hamper tidak ada bandingannya, maka dengan terjadinya peristiwa itu secara otomatis kedudukan Leng Coa Mao Kau sekalian dalam dunia persilatan menjadi terjunjung lebih tinggi.
Yang masih kurang jelas bagi orang Bulim adalah urusan yang menyangkut KangLang Tayhiap Song Leng Kong yang tersohor karena kebajikannya itu mengapa bisa dituduh sebagai sekomplotan dengan SIu Tok.
Penjelasan dari Leng Coa Mao Kau terhadap persoalan ini ternyata cukup jelas dan meyakinkan sehingga mau tak mau orang sama percaya.
Berbagai berita pun lantas tersiar di sunia persilatan, ketika berita itu tersiar sampai wilayah KangLam, Leng Coa Mao Kau telah menyusun rencana keji untuk menyerbu ke selatan dan mengerubuti Song Leng kong agar dia tak bisa tancap kaki dalam dunia persilatan, malahan keluarganya akan tercerai berai dan orangnya binasa.
Padahal tujuan tindakan mereka ini sesungguhnya adalah karena kuatir akan pembalasan di kemudian hari, tulisan "dengan darah membalas darah"
Itu telah membuat beberapa oarng ini makan tak enak dan tidur tak nyenyak.
Awal dari kejadian ini tentu saja tidak diketahui oleh Siau siang bun Lau Teng Kok, dengan hormat dan sopan ia menjawab, ia kuatir membangkitkan amarah kawanan jago lihay ini, tapi sia-sia usahanya sebab orang lain tak sudi memberi muka kepadanya.
Meski hati mulai tak tenang, namun ia tidak terlalu kuatir atau gugup, sebab dia tahu betapapun orang-orang itu tak nanti membegal barang kawalannya, dengan kedudukan mereka yang tinggi dalam dunia persilatan, paling banter hanya kesulitan saja yang akan mereka berikan kepadanya, ia percaya kesulitan semacam ini masih dapat ditahannya.
"Benarkah Cong piautau kalian berjuluk Hui Hong Kiam?"
Dengan sinis Leng Coa Mau Kau bertanya kepada Siau Siang Bun dan Sin Piau kek. Jit seng kiam Tu Tiong Ki yang berada di sisinya segera ikut bertanya.
"Apakah Hui Hong Kiam To Beng PEng adalah murid Cing PEng Kiam Song Loji?"
Siau sing bun tidak dapat menangkap makna yang terkandung di balik ucapan tersebut, dengan agak tergagap sahutnya.
"Ya, ya, benar, suhu Cong Piau tau kami ialah Song locianpwee, apakah engkau kenal dengan beliau?"
Siapakah gerangan yang membawa sisa mayat Siu Tok dan meninggalkan tulisan "Darah akan dibayar dengan darah"
Itu? Ada hubungan mesra apa antara Siu Tok dengan Mao Peng sehingga menimbulkan pembalasan keji dari Mao Kau? -(Bacalah
Jilid ke 02) -
Jilid 02 Kedudukan Siau-siang-bun Lau Teng Kok dalam Bu-lim tentu saja tak dapat disejajarkan dengan Jit-kiam-sam-pian, oleh sebab itu dengan perasaan apa boleh buat dia harus merendah diri dan berharap tiap masalah bisa diatasi secara baik-baik.
Tiba-tiba Leng-coa Mao Kau mendongakkan kepala dan berpekik keras, suaranya melengking menusuk pendengaran.
Siau-siang-bun Lau Teng Kok melengak bingung.
Sin-piau-kek juga memandang ke arah tokoh yang amat tenar namanya dalam dunia persilatan ini dengan sinar mata keheranan.
Mendadak suara pekikan itu terputus di tengah jalan, lalu dengan suara yang tajam Mao Kau berseru.
"Bagus sekali! Bagus sekali!"
Ia berpaling dan memberi tanda kepada rekan-rekannya yang selama ini membungkam, kemudian katanya lagi.
"Saudara, lihatlah akan kuberi sedikit hajaran kdp orang-orang ini."
Sejak peristiwa di Hian-ni-san dulu, tanpa terasa Leng-coa Mao Kau telah menjadi pemimpin kelompok Jit-kiem-sam-pian, sebaliknya kedudukan Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng malah menyurut paling buncit.
Baru selesai dia berkata, dengan suatu gerak cepat Leng-coa Mao Kau melolos ruyung lemasnya dari pinggang, sekali disentakkan, ujung ruyung bergetar membawa denging tajam.
Karuan Siau-siang-bun Lau Teng Kok dan Sin-piau-kek To Bong-peng sama terkejut, mereka tak menyangka Leng-coa Mao Kau bakal melolos senjata untuk turun tangan kepada mereka.
Bukan cuma setahun Lau Teng Kok berkecimpung di ujung golok, tak sedikit pula ia menghadapi kasus semacam ini, dengan menahan diri tegurnya.
"Mao-tayhiap ada apa ini?"
Air muka Leng-coa Mao Kau sedingin es mendadak ia menyerang, dengan jurus Sin-kau jutin (ular sakti keluar dari mega) ujung ruyung langsung menutuk jalan darah Ki-bun-hiat pada dada sebelah kanan Siau-siang-bun Lau Teng Kok.
Siau-siang-bun terkejut dan buru-buru menyurut ke belakang, untung dia sudah turun dari kudanya dan bisa bergerak lebih lincah, ketika serangan tersebut dapat dihindarkan secara mudah, dalam hati dia berpikir.
"Ternyata kehebatan Leng-coa Mao Kau juga Cuma begini saja!"
Siapa tahu, belum lenyap ingatan tersebut, bayangan ruyung menyapu tiba pula ke atas kepalanya.
Hal ini membuatnya terkejut dan cepat menghindar ke kiri.
Bagaikan bermata saja, tiba-tiba ruyung juga berbelok ke kiri.
Siau-siang-bun hanya merasakan iganya kesemutan, terdengar Mao Kau mendengus dan robohlah dia terkulai.
Sin-piau-kek Ci Cong-yan membentak, tangannya terayun ke depan, tiga titik senjata rahasia serentak menyambar ke muka secepat kilat.
Ilmu It-jiu-sam-piau (satu tangan tiga piau) memang merupakan kepandaian andalan Sinpiau-kek, tubuh lawan bagian atas, tengah dan bawah sekaligus terkurung di bawah cahaya senjata rahasianya.
Dengan jurus andalan It-jiu sam-piau ini entah sudah berapa banyak pertarungan yang pernah dihadapi Sin-piau-kek, tapi dalam pandangan Leng-coa Mao Kau kepandaian ini ibaratnya permainan anak kecil.
Setelah melukai Siau-siang-bun, tanpa berpaling Leng-coa Mao Kau memutar ruyungnya dan merontokkan ketiga batang senjata rahasia andalan Sin-piau-kek Ci Cong-yan dengan mudah.
Suasana menjadi gaduh setelah para anggota perusahaan piaukiok melihat piausu mereka terluka.Para pejalan kaki di sekitar sana pun tak menduga bakal terjadi pertumpahan darah, bahkan piausu dari Ceng-bu piaukiok sama terluka, beberapa orang yang takut urusan buruburu mengambil langkah seribu.
Di antara pekikan manusia yang panik dan ringkik kuda yang ramai, jalan raya menjadi macet.
Dengan angkuh Leng-coa Mao Kau memandang sekejap sekeliling tempat itu, mendadak dia larikan kudanya ke depan.
Sin-piau-kek bermaksud mengalanginya.
Sambil tertawa dingin, Leng-coa memutar ruyungnya, dan mendamprat.
"Kau cari mampus!"
Ruyung berputar, sampai di tengah jalan tiba-tiba berubah tegak dan menutuk.
Jurus serangan yang aneh ini membuat Ci Cong-yan yang pada dasarnya memang kurang kuat menjadi gugup.
Dia ingin melompat turun dari kudanya untuk menghindari serangan itu, sayang kemampuannya masih selisih jauh bila ingin menghindari serangan Leng-coa Mao Kau tersebut.
Baru sebelah kakinya bergeser, kuda tunggangannya ketakutan dan kabur dengan menyeret tubuhnya yang tergantung di pelana, batu kerikit di tanah segera menimbulkan banyak luka pada tubuhnya.
Leng-coa Mao Kau tidak berhenti sampai disitu saja.
Tiba-tiba ia melambung ke udara meninggalkan ku-danya, dia melayang ke depan dan hinggap di atas kereta barang yang pertama.
Sambil membentak, telapak tangan kirinya yang tajam bagaikan golok itu membacok ke bawah.
"krek", peti uang yang berada di dalam kereta segera hancur berkeping-keping. Lantakan perak yang setiap kepingnya berbobot lima puluh tahil itu segera berceceran di atas tanah. Di balik terik metahari, uang perak itu memancarkan sinar menyilaukan mata. Sambil berdiri angker di atas kereta, Leng-coa Mao Kau tertawa terkekeh, serunya.
"Semua uang ini adalah milik kalian pribadi, siapa menginginkan boleh ambil saja."
Seraya berkata, ia menyapu pandang sekejap para anggota piaukiok, pekerja kasar serta pejalan yang menonton keramaian di tepi jalan.
Pa-san-kiam-kek berkerut dahi, dengan suara lantang cepat dia berseru.
"Mao-hiante, jangan gegabah!"
Sesungguhnya ia tidak mau ikut terseret ke dalam perkara ini, tapi iapun tak mampu berbuat apa-apa untuk mengalangi perbutan Mao Kau itu. Dengan suara bangga, Leng-coa Mao Kau lantas berseru.
"Liu totiang, lihatlah kehebatanku ini!"
Dengan suatu gerak cepat kembali dia melayang ke atas kereta yang kedua.
Seperti juga perbuatan yang pertama, peti dibongkar dan uangnya dilemparkan ke atas jalanan.
Tak selang berapa lama kemudian, sepuluh laksa tahil perak lebih yang dimuat belasa kereta besar itu telah dibongkar dan dibuang berserakan.
Sinar perak gemerlapan menyilaukan mata menciptakan pemandangan yang sukar dilukiskan.
"Ayo ambil! Ambil!"
Teriak Leng-coa Mao Kau dengan suara lantang.
"semua uang perak itu bagian kalian!"
Ruyungnya kembali diayunkan kesana kemari membikin uang perak itu sama beterbangan kemana-mana, malah ada yang tercerai-berai ke dalam semak belukar di tepi jalan.
Uang memang gampang menggoyahkan iman manusia, apalagi berhadapan dengan uang perak sebanyak itu, daya tariknya tentu saja sukar ditolak oleh siapapun.
Sepanjang hidupnya belum pernah pekerja kasar dan anggota perusahaan itu menyaksikan uang sebanyak ini.
Meski mereka tahu uang sebanyak itu tak boleh diambil, tapi di bawah rangsangan sekuat ini, hilanglah kesadaran mereka.
Tanpa berbicara serentak mereka menyerbu ke depan dan berusaha sebanyak mungkin mengumpulkan uang perak yang berserakan di depan matanya.
Suasana kacau itu memancing gelak tertawa Leng-coa Mao Kau yang penuh perasaan bangga melihat titik kelemahan watak manusia, ialah peristiwa yang paling menggembirakannya.
Ruyung diputar lagi di udara sehingga berbunyi menggelegar.
Para pekerja dan anggota perusahaan pengawal yang berhasil mengumpulkan uang perak bagaikan kelinci yang baru berhasil mencuri wortel di kebun orang segera melarikan diri.
Para penonton keramaian di tepi jalan yang menyaksikan kejadian ini, serentak ikut menyerbu pula untuk berebut rejeki nomplok itu.
Dalam sekejap suasana menjadi kacau balau bagaikan segerombolan anjing liar yang sedang berebut tulang.
Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng berkerut dahi rapat-rapat, ia menghela napas dan menyesali watak manusia yang begitu rendah.
Tiba-tiba sorot matanya tertuju pada seorang pemuda sastrawan yang berjubah biru yang sudah luntur warnanya, orang itu berdiri di antara kerumunan orang banyak tanpa bergerak.
Terhadap uang perak yang berserakan di hadapannya, melirik sekejappun tidak.
Seakan-akan benda itu adalah barang kotor yang enggan dilihatnya.
Sikap semacam ini betul-betul amat menyolok dalam suasana semacam ini.
Satu ingatan segera terlintas dalam benak Pa-san-kiam-kek LiuHu-beng.
Ia melarikan kudanya menghampiri sastrawan itu, tegurnya.
"Tidak tertarikkan anda untuk turut mendapatkan rejeki?"
Sebagai seorang terpelajar, nada ucapannya kepada sastrawan ini kedengaran halus dan sopan. Sastrawan muda itu tampak melengak, jawabnya dengan serius.
"Rejeki tidak halal jangan diambil, meski orang bodoh, tapi ajaran Nabi tak berani kulupakan."
Diam-diam Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng manggut-manggut memuji, serunya dengan gembira.
"Kau memang seorang bijak."
Setelah mengamati sekejap pakaian si sastrawan yang lusuh, tiba-tiba katanya lagi.
"Maaf, ada sepatah kata hendak kusampaikan kepadamu."
Setelah berhenti sejenak, lalu ia melanjutkan.
"Kau masih muda dan gagah, ibaratnya naga dari manusia. Bila mau belajar silat niscaya besar harapan akan berhasil. Bila kau berminat, dapat kucarikan guru pandai untukmu. Sebagai seorang lelaki gagah, tidak sayangkah bila dirimu akan dimakan usia dengan tiap hari hanya terbenam di tengah buku?"
Sastrawan muda itu termenung, lalu melirik sekejap ke wajah Pa-san-kiam-kek, kemudian jawabnya dengan nyaring.
"Perkataan Totiang memang beralasan, sepantasnya harus kuturut. Tapi aku masih ada orang tua di rmh, aku tak dapat berpisah dengan mereka."
Mendadak ia mementangkan matanya lebar-lebar. Dengan sikap gagah dia melanjutkan.
"Apalagi bila ber-hasil dalam sastra, rasanya belum terlambat untuk belajar pedang. Sebelum aku sukses dalam pelajaran, urusan yang lain lebih baik jangan dibicarakan dulu."
Mendengar perkataan itu, Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng manggut-manggut.
Ia amat tertarik oleh kegagahan pemuda ini dan berniat menerimanya menjadi murid.
Tapi setelah mendengar perkataan orang, walaupun dalam hait merasa sayang, ia tak berani lagi memaksa orang.
Dengan wajah berseri, katanya lagi kepada sastrawan itu dengan tertawa.
"Tak akan kupaksa dirimu, bila ada jodoh semoga kita dapat bersua lagi, hari ini ...."
Belum selesai dia berkata, tiba-tiba Leng-coa Mao Kau melayang datang. Sambil tertawa ia berseru.
"Liu-totiang, coba lihat. Bukankah tindakanku ini cukup memuaskan!"
Ketika melihat sastrawan muda itu, tanpa terasa ia bertanya.
"Siapakah orang ini?"
Dengan perasaan muak, sastrawan muda itu melirik sekejap ke arahnya.
Dahinya berkerut hingga tampak lekukan yang dalam.
Setelah menjura kepada Pa-san-kiam-kek, ia lantas membalik badan dan pergi.
Pa-san-kiam-kek tersenyum.
Jawabnya kemudian.
"Dia adalah putra seorang temanku, tak kusangka sekarang sudah sebesar ini."
Walaupun Leng-coa Mao Kau merasa curiga, namun iapun tidak memikirkan persoalan ini.
Dengan gembira Leng-coa Mao Kau memuji perbuatan sendiri.
Sesungguhnya dia bukan seorang yang suka pamer, sebab dia adalah seorang yang licik dan culas.
Tapi sekarang ia terlampau girang atas apa yang ba-rusan dilakukannya.
Sebab itulah tindak tanduknya menjadi sedikit di luar kebiasaan.
Pa-san-kiam-kek menanggapinya dengan tak acuh, ketika berpaling ke sana dilihatnya hanya Siau-siang-bun saja yang berbaring di situ dengan tubuh lemas.
Itu berarti semua uang yang berceceran di tanah telah disikat orang hingga bersih.
Sedang orang-orang yang menyikat uang kini sudah angkat langkah seribu dan entah ke mana perginya.
Pa-san-kiam-kek tersenyum kecut, ia memutar kudanya dan berseru sambil tertawa.
"Mari kita pergi!"
"Ya, tempat semacam ini memang makin cepat kita tinggalkan semakin baik,"
Sambung It-cikiam Thia Hong setelah memandang peti yang hancur di tanah.
"Kita masih asing dengan wilayah Kanglam, kesulitan yang bisa dihindari lebih baik dihindari saja."
Wan-yang-siang-kiam biasanya tinggal di daerah utara, daerah Kanglam hampir tak pernah dikunjunginya. Dengan rasa puas Leng-coa Mao Kau lantang menanggapi.
"Betul, betul, mari kita pergi saja!"
Ia maju ke depan dan menendang tubuh Siau-siang-bun Lau Teng Kok yang masih tergeletak di tanah itu.
Lau Teng Kok sadar kembali dari pingsannya.
Tadi jelas darahnya tertutuk, setelah menarik napas panjang.
Ia merasa tenggorokan seperti tersumbat.
Setelah meludah ia baru merasa lega, ketika membuka matanya, dilihatnya Leng-coa Mao Kau sedang memandangnya dengan senyuman aneh.
Ia merangkak bangun sambil mengendurkan otot-otot tulangnya, tapi belum lagi berjalan mendadak Leng-coa Mao Kau melompat ke depannya.
Ruyung menyabas ke mukanya.
Siau-siang-bun yang baru saja menenangkan diri jadi kaget pula, seketika dia seperti lupa ilmu silatnya sendiri.
Begitu desing angin menyambar tiba, kakinya menjadi lemas dan sekali lagi ia jatuh ke tanah.
Sesaat itu dia tak mampu merangkak bangun kembali.
Sambil menarik muka, Leng-coa Mao Kau membentak.
"Ayo jawab, apakah sekarang Cingpeng-kiam Song Leng-kong berada di Lam keng?"
Pa-san-kiam-kek menghela napas, pikirnya "Sungguh keji orang ini, rupanya ia bermaksud melakukan pem-bunuhan habis-habisan."
Siau-siang-bun tampak sangsi, tiba-tiba ujung ruyung Mao Kau menyambar lagi sehingga meninggalkan goresan panjang pada wajahnya. Rasa sakit tak terkatakan sehingga mencucurkan air mata.
"Cepat jawab!"
Hardik Leng-coa Mao Kau lagi, mencorong bengis matanya, sampai Pa-sankiam-kek juga merasa bergidik.
Padahal sampai detik ini Lau Teng Kok belum tahu untuk apa mereka mencari Cing pengkiam, dan men-gapa mereka melakukan pembegalan di tengah jalan.
Karena itulah iapun tidak menganggap serius peristiwa ini, katanya kemudian.
"Sudah lama Song-locianpwe hidup mengasingkan diri, bulan yang lalu memang keluar gunung satu kali, tapi sekarang mungkin sudah pu-lang. Beliau jarang keluar rumah."
Mimpipun ia tak menyangka ada maksud Leng-coa Mao Kau melacak jejak Cing peng-kiam untuk melak-sanakan tindakan kejinya.
Demikianlah, setelah mengetahui berita pasti tentang Cing peng-kiam Song Leng-kong, Leng-coa Mao Kau segera melanjutkan perjalanannya.
Senja itu mereka bersembilan tiba di kota Lamkeng.
Setelah masuk lewat pintu gerbang Sui-sa-bun mereka langsung menuju ke kuil Hu-cu-bio di tepi sungai Huai.
Degan tampang mereka bersembilan yang dingin seperti es, sesungguhnya sangat tidak cocok men-datangi tempat berpesiar yang termashur itu.
Di sekitar kuil Hu-cu-bio banyak terdapat rumah makan.
Mereka bersembilan merasakan rombongannya ter-lampau besar dan agak menyolok, maka setelah berunding mereka putuskan membagi diri menjadi tiga kelompok.
Wan-yang-siang-kiam dengan Pek-poh-hui-hoa menuju ke rumah makan Lo-ceng-hin di ujung jalan.
Jit-seng-pian Tu Tiong-ki dan Leng-coa Mao Kau serta Co-jiu-sin-kiam Ting Hi menuju ke rumah makan Cui-gwat-lau di ujung selatan jalan.
Sebaliknya Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng dan Ong It-peng yang cacat dan Ong It-beng mencari makanan sayur.
Betul juga, setelah memecahkan diri menjadi beberapa kelompok, kehadiran mereka tidak begitu menyolok.
Apalagi rumah makan itu berdekatan letaknya.
Andaikata terjadi sesuatu tidak sukar untuk mengadakan kontak.
Di samping mereka memang tak acuh terhadap kejadian yang mungkin menimpa mereka.
Pa-san-kiam-kek dengan jubah pertapanya dan menyandang pedang di punggung, dandanannya pendeta bukan pendeta, preman bukan preman, serta Ong It-peng yang lengan kanannya masih diikat dengan dua keping papan merupakan dua orang yang paling menyolok di antara mereka.
Siapa tahu, sekitar Hu-cu-bio memang biasa penuh dengan manusia yang beraneka ragam, sesungguhnya tak seorangpun yang menaruh perhatian terhadap mereka.
Diam-diam Pa-san-kiam-kek tertawa geli, pikirnya.
"Tampaknya kami sendiri yang terlalu banyak curiga?"
Hiang-ki-tu adalah rumah makan yang khusus menjual sayur tak berjiwa, tapi kebanyakan orang bilang say-urnya dimasak dengan minyak babi dan kuah ayam, namun mata tak lihat, persoalan ini tak pernah diusut.
Sayur yang dimasak dengan kuah ayam tentu saja sedap rasanya, pantas Hiang-ki-tu sangat laris.
Di atas maupun di bawah loteng semuanya penuh tetamu.
Ditambah lagi Hiang-ki-tu punya suatu keistimewaan lain yakni kebersihan.
Hal ini membuat tamunya lebih kerasan mengunjungi rumah makan tersebut.
Ong-it-beng duduk di hadapan Pa-san-kiam-kek.
Baru saja mengangkat cangkir teh, mendadak terlihat air muka Pa-san-kiam-kek berubah.
Cepat ia ikut berpaling.
Tertampak Kanglam-tayhiap Cing-peng-kiam Song Leng-kong dengan senyum dikulum sedang menghampiri mereka.
Serba susah perasaan Pa-san-kiam-kek.
Sesungguhnya dia adalah sobat karib Song Lengkong.
Telah be-lasan tahun mereka berkawan, mengangkat nama bersama, memperjuangkan keadilan bersama, maka ketika melihat tubuh Cing-peng-kiam yang bertambah kurus, muka lesu, rambut juga tambah putih, tanpa terasa kekejian Leng-coa Mao Kau terbayang kembali dalam benaknya.
Waktu itu masih ada beberapa jam sebelum Mao Kau akan membantai Cing-peng-kiam sekeluarga.
Sekilas pandang Pa-san-kiam-kek melihat pula perubahan air muka kedua saudara Ong yang tak tenang.
Hal ini membuat hatinya tergerak juga.
Dengan tersenyum Song Leng-kong menghampiri mereka seakan-akan tak tahu apa-apa.
Setelah tiba di samping Pa-san-kiam-kek baru menyapa.
"Kebetulan sekali, sudah lama Siaute tidak keluar rumah, tak tahunya begitu keluar rumah lantas bertemu dengan saudara sekalian."
Suaranya, senyumnya masih dikenal baik oleh Pa-san-kiam-kek.
Sedih hatinya.
Tiba-tiba ia merasa tak enak atas perbuatannya sendiri.
Tentu saja perasaan semacam itu tak diperhatikan Song Leng-kong.
Tanpa ragu ia duduk di samping mereka dan bersenda gurau dengan Hu-siok-siang-kiam dan Pa-san-kiam-kek seakan-akan tak tahu ketiga orang di hadapannya datang ke situ khusus untuk merenggut jiwanya.
Macam2 perasaan berkecamuk dalam hati Pa-san-kiam-kek, akhirnya tersisa semacam perasaan yang direnungkan berulang.
"Harus kuberitahu padanya agar dalam beberapa jam ini ia melarikan diri."
Ketika melirik ke arah Ho-siok-siang-kiam, dilihatnya wajah mereka pun menunjukkan perasaan menyesal, bahkan sikapnya waktu berbicara pun tampak kikuk.
"Tapi, bagaimana caraku untuk berbicara?"
Demikian timbul lagi keraguan Pa-san-kiam-kek Walaupun di luar mereka berempat masih berbicara dan bergurau, sedikit pun tidak menunjukkan sesuatu yang aneh.
Tapi bila orang tahu hubungan mereka yang ruwet pasti juga akan merasakan betapa serba salahnya perasaan mereka.
Terutama Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng, ia khusus datang ke Kanglam untuk membunuh orang ini, tapi setelah bertemu mereka bergurau dan bercakap dengan santai, hal ini bukankah kejadian yang aneh sekali?
Akhirnya Pa-san-kiam-kek mengambil keputusan, demi sahabat ia harus mengambil keputusan bulat, juga untuk pertama kalinya ia menyusun rencana jahat.
Sekali lagi ia melirik Ho-siok-siang-kiam, dilihatnya tangan Ong It-beng sedang meraba janggut sendiri dengan perasaan tak tenang.
Sedangkan Ong It-beng dengan sumpit di tangan kirinya mengetuk pinggiran piring dengan perlahan.
Tapi satu hal dapat dipastikan, rasa malu dan menyesal mereka sudah tidak setebal ketika Cing-peng-kiam muncul tadi.
Diam-diam Ong It-beng menyepak kaki Pa-san-kiam-kek, sedangkan di luar ia masih mengajak Song Leng-kong berbicara ke sana kemari, sekalipun jelas pembicaraannya cuma basa-basi belaka.
Sekali lagi Pa-san-kiam-kek mengambil keputusan, ia berdiri dan diam-diam memutar ke belakang Ho-siok-siang-kiam, sementara hawa murni disalurkan pada ujung jari tangan di balik lengan jubahnya.
Ho-siok-siang-kiam tidak menaruh curiga, berpalingpun tidak.
Pa-san-kiam-kek melirik sekejap ke sekeliling ruangan, lalu menghampiri kedua bersaudara itu.
Perlahan tangannya menabok punggung kedua Ong ber-saudara yang sama seklai tidak siap itu.
Andaikata saat itu salah seorang di antara kedua Ong bersaudara berpaling, mungkin keadaannya sama sekali akan berubah.
Sebab keputusan yang diambil Pa-san-kiam-kek bukannya sama sekali tak tergoyahkan lagi.
Cing-peng-kiam Song Leng-kong duduk berhadapan dengan Ong It-peng, maka posisi Pasan-kiam-kek berdiri sekarang tak mungkin terlihat tanpa berpaling, sebaliknya Cing-peng-kiam persis dapat melihat mimik wajahnya yang aneh di belakang Ho-siok-siang-kiam, ia menjadi tercengang.
Dengan cepat Pa-san-kiam-kek melancarkan serangannya, jari tangan kirinya menghajar Cian-keng-biat di bahu kanan Ong It-beng, sedang jari tangan kanan menutuk jalan darah Ciankeng-hiat di bahu kiri Ong It-peng.
Sesaat sebelum kedua orang yang tertutuk itu roboh, mendadak Pa-san-kiam-kek menahan bahu kedua Ong bersaudara yang hendak roboh itu, sumpit di tangan Ong It-peng jatuh ke meja, kepala mereka pun terkulai ke depan.
Bila tidak diperhatikan dengan seksama orang tak akan mengetahui perbuatan Pa-san-kiamkek ini, malah Cing-peng-kiam sendiripun tercengang.
Segera ia bangkit berdiri.
Buru-buru Pa-san-kiam-kek mengedip mata dan memberi tanda, ujarnya.
"Saudara Lengkong, mungkin kedua Ong bersaudara sakit."
Setelah mencegah Cing-peng-kiam bertanya lagi, ia menambahkan.
"Ayolah kita bimbing kedua saudara ini pulang dulu dan mencarikan tabib."
Sikap ini semakin menimbulkan kecurigaan Cing-peng-kiam, tapi ia tahu perbuatan Pa-sankiam-kek itu tak mungkin tanpa sebab.
Maka sambil menahan rasa sangsinya ia melemparkan sekeping perak ke meja.
Kemudian bersama rekannya memayang kedua Ong bersaudara berlalu dari situ.
Dengan pandangan heran para tamu lain memandangi mereka, tapi Song Leng-kong cukup tersohor di kota Kiang-leng, maka tak seorangpun yang menaruh prasangka padanya.
Keluar dari rumah makan Hiang-ki-tu adalah jalan raya yang ramai, dengan memayang Ong It-peng, buru-buru Pa-san-kiam-kek berjalan menuju ke luar kota.
Cing-peng-kiam tak tahan lagi rasa curiganya.
Ia menegur.
"Saudara Liu, apa yang terjadi sebenarnya?"
"Nanti saja kuceritakan, yang penting kita harus keluar dari kota lebih dulu,"
Sahut Pa-sankiam-kek.
Cing-peng-kiam semakin curiga dan melanjutkan perjalanan.
Tidak jauh mereka menyewa sebuah kereta kuda dan menaikkan kedua Ong bersaudara.
Kusir kereta itu rupanya kenal Kanglam-tayhiap, segera tanyanya.
"Hendak kemana Songtayhiap?"
"Keluar Sui-se-bun!"
Kata Song Leng-kong.
Dengan cepat kusir menutup pintu kereta dan segera melarikan keretanya.
Pelahan berangkatlah kereta kuda itu meninggalkan kota.
Setelah berada dalam kereta, ketegangan Pa-san-kiam-kek baru agak mengendur.
Ia menghela napas dan berbisik kepada Cing-peng-kiam.
"Saudara Song, kau sungguh gegabah."
Setelah menghembuskan napas, ia menambahkan.
"Berapa lama jarak dari sini sampai di luar kota?"
"Cepat sekali, Saudara Liu. Sesungguhnya apa ....."
"Saudara Song,"
Kembali Pa-san-kiam-kek menukas.
"apakah masih ada urusanmu di rumah yang tak bisa ditinggalkan?"
Sekali lagi Cing-peng-kiam melengak. Pikirnya.
"Aneh, kenapa ia melakukan perbuatan yang tak jelas tujuannya dan mengucapkan kata-kata yang tiada ujung pangkalnya ini?"
Sewaktu berpaling, dilihatnya air muka Pa-san-kiam-kek sangat prihatin. Maka iapun menjawab.
"Kebanyakan orang yang ada di rumah adalah sanak famili dekatku. Tiada urusan yang tak bisa kutinggalkan."
"Ai, mendingan kalau begitu.
"ujar Pa-san-kiam-kek sambil mengembus napas lega. Cing-peng-kiam benar-benar tak tahan lagi, kembali ia berseru.
"Saudara Liu, sebenarnya apa yang terjadi?"
Pa-san-kiam-kek menghela napas.
Secara singkat dia lantas menceritakan segala seluk beluknya.
Untuk sesaat lamanya suasana dalam ruang kereta menjadi hening.
Baik Pa-san-kiam-kek maupun Cing-peng-kiam Song Leng-kong sama tutup mulut rapat.
Yang kedengaran Cuma suara roda kereta yang meng-gelinding tiada hentinya.
"Ai, urusannya sudah kadung begini ... ."
Cing-peng-kiam menghela napas sedih dan terharu.
"Ya, kini urusan sudah menjadi begini,"
Sambung Pa-san-kiam-kek.
"kukira tiada cara lain lagi yang lebih baik, Saudara Song. Kita sama-sama sudah tua, semangat orang muda sudah lama punah dari jiwa kita. Apa gunanya kita ribut dengan mereka!"
"Hm, aku justru tidak terima,"
Seru Cing-peng-kiam sambil memukul lutut sendiri dengan marah.
"Ingin kuli-hat, sampai dimanakah kelihaian Leng-coa Mao Kau dengan komplotannya?"
Sesudah mendengus, dia melanjutkan.
"Apalagi urusan terjadi di Kang-lam, saudara Liu. Kau boleh cuci tangan, tapi aku harus beradu kekuatan dengan mereka."
"Saudara Song, apa gunanya berbuat demikian?"
Pa-san-kiam-kek menepuk bahunya.
"Kalau sampai demikian, dunia persilatan pasti akan geger."
Ia membuka jendela dan melongok keluar, rembulan dan bintang bertaburan di angkasa, suasana hening, kiranya kereta sudah berada di luar kota.
Dengan perasaan yang gundah, kedua orang itu membungkam sampai lama sekali.
Akhirnya Pa-san-kiam-kek berkata.
"Walaupun kita berdua sudah menjelajahi seluruh negeri, hanya luar perbatasan yang belum pernah kita kunjungi. Sudah lama ingin kunikmati pandangan alam di gurun pasir. Saudara Song, bagai-mana kalau temani Siaute berpesiar kesana?"
Dengan rasa terima kasih Song Leng-kong menepuk punggung tangan Pa-san-kiam-kek.
Dari kejauhan berkumandang suara pekikan burung.
Angin malam berembus mengibarkan jenggot Pa-san-kiam-kek yang memutih.
Di bawah cahaya rembulan, tampak kerut wajah Pa-san-kiam-kek tertera amat jelas sekali.
"Kita semua sudah tua!"
Keluh Cing-peng-kiam sambil menghela napas. Ambisinya yang berkobar seketika lenyap tak berbekas. Ia mulai menyesal. Menyesal telah mengikuti peristiwa di bukit Him-ni-san dahulu.
"Ai, nasi sudah menjadi bubur, apa gunanya dipikirkan lagi?"
Gumamnya dengan sedih. Waktu itu Pa-san-kiam-kek sedang termenung mendengar gumaman tersebut. Ia mendongakkan kepala dan bertanya.
"Saudara Song, apa yang kau katakan?"
Cing-peng-kiam tertawa, sahutnya.
"Aku bilang, jika dikemudian hari kita bisa mengarungi gurun pasir bersama, betapa senangnya waktu itu."
Pa-san-kiam-kek tertawa penuh pengertian. Tiba-tiba ia bertanya.
"Bagaimana dengan kedua bocah she Ong ini?"
"Lemparkan saja dari kereta kan beres,"
Sahut Cing-peng-kiam dengan kening berkerut.
"Toh beberapa jam lagi jalan darah mereka akan bebas dengan sendirinya. Masa mereka tak bisa pulang sendiri?"
"Benar!"
Kita Liu Hu-beng dengan tertawa. Ia lantas membuka pintu kereta dan mendorong kedua orang itu.
"bluk, bluk,", Ho-siok-siangkiam didorong ke luar kereta. Agaknya sang kusir mendengar suara itu, sambil berpaling tegurnya lantang.
"Song-ya, apa yang terjadi?"
"O, tidak apa-apa.
"sahut Cing-peng-kiam dengan tertawa. Sesudah termenung sebentar, kusir itu kembali bertanya.
"Tuan berdua hendak kemana?"
Cing-peng-kiam termenung sejenak, sahutnya kemudian.
"Jalankan saja keretamu ke depan. Fajar tiba nanti, sampai dimana waktu itu disana juga kami akan turun."
Buru-buru kusir itu mengiakan. Tiba-tiba Pa-san-kiam-kek merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan, lamatlamat di atas bungkusan masih kelihatan ada noda darah, ujarnya kemudian.
"Sisa tulang Siu Tok juga tak ingin kusimpan terus."
Sambil berkata, ia melemparkan buntalan itu keluar kereta. Menyaksikan kejadian itu, Cing-peng-kiam berkerut kening, ia berbisik.
"Kenapa kaubuang tulang orang di tempat terpencil semacam ini?"
Tapi kemudian dengan menghela napas, sambungnya lagi.
"Semoga Siu Tok tak punya keturunan, kalau ti-dak, dendam sedalam lautan ini bagaimana caranya menuntut balas?"
Terbayang betapa sisa tulang Siu Tok masih tertumpuk dalam rumahnya, timbul perasaan menyesal dalam hatinya.
"Song-heng, tulisan 'Sepuluh tahun kemudian dengan darah membayar darah' apakah tulisanmu?"
Tanya Pa-san-kiam-kek tiba-tiba.
Cing-peng-kiam Song Leng-kong menggeleng kepala, ia tidak menjawab pertanyaan itu, seakan-akan di dalam hati sedang memecahkan sesuatu masalah pelik.
Suara roda kereta terus berputar.
Kuda yang meringkik makin lama semakin jauh dan lenyap dalam kegela-pan ....---ooo0ooo ---Musim gugur telah lalu, musim dingin dengan siang hari yang semakin pendek menyusul datang.
Hari berubah semakin hening dan sepi.
Mao Ping yang cantik merasa kesepian dan sedih.
Bunga salju bertebaran di luar jendela.
Ia membuka daun jendela dan membiarkan bunga salju melayang masuk.
Meski udara sangat dingin, tapi ia rela membiarkan tubuhnya tersiksa.
Dengan tubuh tersiksa ia baru merasakan berkurangnya siksaan batin.
Seorang nyonya muda jangkung mendorong pintu kamar dan berjalan masuk.
Pada tangannya membopong seorang bayi.
Sambil tersenyum katanya.
"Adik Ping, baik-baikkah kau selama ini?"
Ia memandang bunga salju di luar jendela, kemudian dengan sedih katanya.
"Entah bagaimana jadinya dengan Toakomu itu? Tahun baru sudah hampir tiba dan ia belum juga pulang."
Mao Ping Cuma tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya. Nyonya muda itu berjalan mondar-mandir dalam kamar, kemudian desisnya.
"O, sungguh dingin!"
Ia mendekap bayinya dengan kencang, kembali katanya.
"Adik Ping, kau harus baik-baik menjaga diri. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Persoalan apapun harus kautunggu sampai orok dalam perutmu itu lahir lebih dulu, mengerti?"
"Tahu, Enso. Terimakasih!"
Mao Ping mengangguk. Sambil tertawa, nyonya muda itu berjalan keluar. Tiba-tiba bayinya menangis, dengan penuh kasih sayang ditimangnya bayi itu sambil berbisik.
"Jangan menangis, nak, ayahmu sebentar akan pulang."
Setelah berpaling dan tertawa kepada Mao Ping, alau ia meninggalkan kamar itu.
Mao Ping menutup pintu, lalu sambil memandang wajah sendiri pada cermin, ia geleng kepala beberapa kali.
Inikah wajahku?
Makin hari makin layu?
Ia membalik badan sambil tertawa getir.
Memandang pinggang sendiri yang kian membesar, ia menghela napas panjang, pikirnya.
"Kenapa begitu cepat? Tampaknya orok segera akan lahir."
Tiba-tiba ia merasa sedih.
"Tapi dimanakah ayah anak ini?"
Ia menggigit ujung bibir dengan giginya yang putih.
"Mungkin ayah anak ini tak akan kembali untuk selamanya!"
Bayangan Siu Tok yang tampan dan gagah serta perawakannya yang perkasa tiba-tiba terlintas dalam benaknya.
Situasi dunia persilatan belakangan ini tampaknya mengalami gejolak yang sangat besar.
Walaupun sudah lama Mao Ping tak pernah bergerak lagi dalam dunia persilatan, tapi berita dunai persilatan selalu didapatnya dari anak buah Toakonya, yakni Leng-coa Mao Kau.
Itulah sebabnya dia mengetahui dengan jelas.
Siu-sianseng telah mati, Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng dan Cing-peng-kiam Song Leng-kong menghilang dari dunia persilatan.
Leng-coa Mao Kau dengan membawa tujuh orang dari Jitkiam-sam-pian telah banyak melakukan pekerjaan yang menggetarkan dunia.
Setiap perusahaan piaukiok milik Song Leng-kong yang berada di wilayah Kanglam, bahkan setiap sanak keluarga Cing-peng-kiam telah dibabat mereka sampai punah.
Maka Leng-coa Mao Kau pun menjadi pemimpin yang paling berkuasa dalam dunia persilatan de-wasa ini.
Malah muridnya dengan bangga memberitahukan kepada Mao Ping.
"Sekarang Toaya betulbetul luar biasa, konon Toaya hendak mendirikan perkumpulan dan akan bersaing dengan perguruan lain."
Atas semua berita tersebut, Mao Ping hanya mendengarkan dengan hambar.
Bukan saja tidak bergirang, malahan merasa agak malu, menyesal dan sedih.
Ia benci kepada diri sendiri, kenapa berbuat demikian.
Ia benci kakaknya karena perbuatannya yang memalukan.
Tapi semua itu Cuma dipendam di dalam hati, sebab yang paling dibenci ialah dirinya sendiri.
Maka rasa kangennya kepada Siu Tok dan rasa sesalnya pada diri sendiri menciptakan beban batin yang besar baginya, menggerogoti hatinya dan akhirnya ia tak tahan lagi.
Dia tak ingin hidup lebih jauh dalam ke-luarga yang dibencinya.
Dia tak ingin berjumpa lagi dengan kakaknya ....Leng-coa Mao Kau.
Di tengah malam bersalju itulah Mao Ping kabur dari rumahnya, membedal kudanya kencang-kencang melalui jalan bersalju yang becek, tapi hatinya kosong.
Dia tak tahu kemana harus pergi.
Kota Hang-ciu pada musim dingin tidak seramai pada musim lain.
Perlahan ia menjalankan kudanya keluar kota lewat pintu timur.
Seorang gadis cantik melakukan perjalanan seorang diri, tentu saja hal itu memancing perhatian orang.
Ada yang menudingnya sambil memuji, ada pula yang berbisik-bisik.
"Stt, coba lihat! Gede amat perut nona itu, jangan-jangan ia bergendakan di luar ..."
Tapi baru bicara setengah jalan, kepalanya ditabok orang dengan mata melotot dan berseru.
"Keparat, jangan sembarang bacot. Kautahu siapakah nona itu?"
Setelah mendengus, sambungnya.
"Dia adik kandung Mao-toaya. Tahu diri sedikit. Berani bicara lagi bisa kubeset kulitmu!"
Baru saja orang itu marah karena ditabok, mendengar nama Mao-toaya kontan ia ketakutan.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia putar badan dan kabur.
Pikiran Mao Ping waktu itu sangat kalut.
Perkataan apapun tak didengar olehnya.
Goncangan kuda membuatnya merasa agak mual.
Ia memperketat mantelnya.
Memandang awan di ufuk timur, ia membedal kudanya lebih cepat.
Salju turun amat deras, orang yang berlalu lalang di kota Hang-ciu cukup banyak.
Mereka seakan-akan tidak peduli dinginnya cuaca.
Mula-mula Mao Ping keheranan, tapi setelah dipikir lagi ia baru mengerti, ternyata orang-orang itu pulang ke rumah di bawah hujan salju agar bisa berkumpul dengan anak istrinya untuk merayakan Tahun Baru bersama.
Mao Ping semakin merasa kesepian, dengan sorot mata yang kagum diawasinya orangorang itu.
Sementara para pejalan kakipun mengawasi si cantik itu dengan sorot mata keheranan.
Mendadak Mao Ping merasakan matanya menjadi silau.
Diantara sekian banyak orang yang berlalu lalang, tiba-tiba ia melihat suatu pemandangan yang aneh.
Dari kejauhan sana muncul dua orang dengan perawakan yang aneh.
Mereka sama-sama amat jangkung, tapi yang satu gemuk dan yang lain kurus.
Yang gemuk, gemuknya luar biasa, yang kurus pun kurusnya luar biasa.
Lebih mengherankan lagi adalah pakaian mereka yang berbunyi gemerincingan.
Setelah dekat barulah diketahui bahwa 'pakaian' si gemuk itu adalah buatan dari kepingan tembaga merah, sedang 'pakaian' yang dikenakan si kurus adalah kepingan emas.
Mao Ping keluar rumah pada tengah malam, kini sudah mendekati lohor.
Meski tiada sinar matahari, namun cahaya salju yang terpantul pada pakaian mereka membuat orang silau.
Apalagi sesudah mengawasi wajah mereka, Mao Ping bertambah ngeri.
Buru-buru ida melengos ke arah lain.
Bukan dandanan mereka saja yang aneh, sorot matanyapun sangat tajam, seolah-olah mengandung sesuatu daya pengaruh yang luar biasa.
"Siapa gerangan mereka?"
Mao Ping berpikir. Dia dibesarkan dalam keluarga persilatan. Walaupun kungfunya terbatas oleh kesehatan badan yang lemah, namun dalam hal ilmu silat dia memiliki pengetahuan yang cukup luas.
"Tampaknya kungfu kedua orang ini jauh di atas Toako,"
Pikirnya. Tapi lantas teringat kepada Siu Tok.
"Mungkin setingkat dengan kungfu engkoh Tok. Tapi heran, belum pernah kudengar tentang kedua orang macam begini di daerah Tionggoan. Jangan-jangan mereka datang dari luar lautan?"
Mao Ping memang beralasan untuk menduga kungfu kedua orang itu sangat lihai, meski dia baru memandang sekejap saja.
Maklumlah benda sebangsa besi dan emas bukan bahan yang dapat menahan udara dingin, oleh karena itu bila mengenakannya di tubuh, tentu akan menambah kedinginan.
Padahal waktu musim dingin, orang yang bermantelpun kedinginan dan gemetaran, tapi kedua orang ini memakai beberapa ratus kati kepingan logam yang dibuat sebagai baju tanpa gemetar atau kedinginan.
Ditambah lagi bekas telapak kaki mereka di atas permukaan salju tampak rata dan rajin.
Semua ini menunjukkan bahwa tenaga dalam mereka benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.
Itulah sebabnya Mao Ping buru-buru berpaling karena kuatir menimbulkan perhatian kedua orang aneh itu.
Apa mau dikata, mata kedua orang itu juga menatap wajah Mao Ping tanpa berkedip.
Nona itu bergidik, mukanya terasa merah.
Buru-buru ia larikan kudanya lebih cepat dari situ.
Kedua orang aneh itu saling pandang sekejap, tiba-tiba mereka membalik badan dan mengikuti Mao Ping.
Para pejalan kaki lain segera menyingkir jauh-jauh dari situ, tapi diam-diam lantas melirik lagi ke arah mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kedua orang itu mengikuti di belakang Mao Ping.
Gadis itu tambah tegang, keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Dia ingin kabur secepatnya, tapi tak mungkin.
Terlalu banyak orang yang berjalan kaki di sekitar situ.
Hatinya makin gelisah dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Tak lama kemudian, sampailah di sebuah persimpangan jalan.
Arah yang menuju ke jembatan lebih banyak orang yang lalu, sedangkan jalan lain lebih sepi.
Mao Ping berpikir.
"Bisa susah bila mereka mengintil terus di belakangku."
Tapi setelah teringat kuda tunggangannya adalah kuda jempolan, dia yakin masih dapat meninggalkan kedua orang itu bila melarikannya dengan kencang.
Segera ia melarikan kuda secepatnya ke jalan yang lebih sepi.
Semakin cepat kudanya lari, semakin perih lambungnya.
Terpaksa ia mendekam di punggung kudanya.
Beberapa li kemudian, dia sangka kedua orang itu tentu sudah ditinggalkan jauh-jauh.
Tapi begitu ia berpaling, ia bergidik.
Ternyata kedua orang aneh itu masih mengikuti di belakangnya dengan tenang.
Wajah mereka tetap kaku dingin, muka tidak merah, napas tidak tersengal.
"Aneh, masa kedua orang ini bisa mengerutkan bumi?"
Pikir Mao Ping terperanjat.
Kedua orang itupun tidak bicara apa-apa, mereka hanya mengikuti terus dengan tenang.
Mao Ping semakin gugup.
Tanpa terasa kembali ia berpaling.
Tapi begitu beradu pandang dengan mereka, buru-buru ia melengos lagi.
"Apa tujuan mereka sebenarnya? Jangan-jangan ... ."
Berpikir sampai disini, merah mukanya.
Ia tak berani berpikir lebih jauh.
Berjalan seorang diri di tengah jalanan yang sepi dengan perut lagi bunting dan kungfu tidak tinggi, diam-diam Mao Ping mengeluh.
Ia mulai menyesal, mengapa memilih jalan yang ini, apalagi setelah memandang jauh ke depan ternyata tiada rumah penduduk.
Yang ada cuma hutan kecil.
Saking gelisah dan cemas hampir saja ia menangis.
Ia tahu mustahil bisa melepaskan diri dari intilan kedua orang itu.
Perjalananpun dikendurkan, sementara otaknya berputar mencari akal guna mengatasi persoalan ini.
Tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
Kudanya seolah-olah berjalan di atas awan.
Pepohonan dilewati seperti terbang.
Belum pernah dia alami keadaan seperti ini.
"Jangan-jangan aku ditolong oleh dewa untuk meloloskan diri dari cengkeraman kedua orang itu?"
Demikian ia berpikir. Tapi pikirannya masih cukup terang. Mustahil bisa terjadi hal begitu. Ia berpikir pula.
"Lantas apa gerangan yang terjadi?"
Ia makin heran.
Ia ingin tahu keduar orang itu apakah masih mengikut di belakang, tapi kecepatan terlalu luar biasa sehingga tidak jelas untuk memandang ke belakang.
Mendadak kepalanya tambah pening.
Perutnya makin mual dan akhirnya ia tumpah, menyusul iapun tak sadarkan diri.
Maklumlah ia sedang berbadan dua, tentu saja tak tahan melakukan perjalanan cepat dalam kondisi badan selemah ini.
Ketika sadar kembali, ia merasa ada dua tangan sedang meraba dada dan perutnya.
Keruan ia malu dan gelisah.
Anehnya tempat yang teraba segera terasa hangat dan nyaman.
Badan terasa tak bertenaga.
Ia coba mengintip.
Dilihatnya lelaki gemuk dan kurus itu sedang menundukkan kepala dan memandangnya dengan mata terpicing.
Tangan mereka bergerak terus di atas badannya.
Teringat apa akibatnya, ia tambah gelisah.
Ia berusaha meronta.
Tapi pandangannya kembali jadi gelap dan tak sadarkan diri lagi.
Ketika sadar kedua kalinya, keadaanpun tidak berbeda.
Ada dua tangan sedang merabaraba dada dan perutnya.
Hal ini membuatnya heran.
"Aneh, kenapa mereka cuma meraba-raba belaka, memangnya mereka tak mengerti urusan lain?"
Demikian ia pikir.
Teringat hal ini, mukanya menjadi merah.
Diam-diam ia mendamprat diri sendiri kenapa bisa berpikir sejauh itu.
Tapi kenyataannya memang demikian.
Tak bisa menyalahkan dia kalau berpikir kesitu.
Ia tak kenal kedua manusia aneh itu, iapun tak tahu kenapa mereka menguntit terus di belakangnya dan mengapa melakukan hal semacam ini terhadapnya?
Tiba-tiba berkumandang suara bentakan yang dikenalnya.
"Bangsat, tak tahu malu!"
Enam jalur cahaya tajam secepat kilat menyerang punggung kedua orang yang sedang meraba tubuh Mao Ping itu.
Gembira sekali Mao Ping mendengar suara itu.
Ia tahu bala bantuan telah tiba.
Tapi untuk sesaat tak teringat olehnya siapa gerangan orang itu.
Ia hanya tahu orang itu pasti dikenal olehnya, maka legalah hatinya.
Siapa tahu kedua orang aneh itu sama sekali tidak berpaling, bergerakpun tidak.
"Trang! Trang!"
Mao Ping Cuma mendengar suara gemerincing nyaring, sementara tangan mereka masih meraba di sekujur tangan badannya.
Hawa yang tersalur lewat telapak tangan mereka pun kian bertambah panas dan membuat dia merasa nyaman.
Kalau bisa ia ingin telapak tangan itu meraba terus di atas badannya.
Waktu itu mereka ternyata berada dalam hutan.
Menyusul bentakan tadi beberapa titik senjata rahasia lantas menyambar.
Sesosok bayangan mendadak menerobos masuk dari luar hutan.
Sambil menerjang datang, orang itu membentak.
"Bangsat, kalian belum mau berhenti!"
Pedang dengan desing angin tajam lantas menusuk kedua orang itu.
Cepat sekali terjangan orang itu.
Cahaya pedang yang menyilaukan mata mengancam jalan darah Ciang-hiat-biat di belakang kepala si gemuk dan Lang-tay-hiat di bawah iga si kurus.
Bukan cuma tepat sekali jalan darah diincar, jelas dia adalah seorang jagoan kelas tinggi.
Kedua orang aneh itu belum juga berpaling.
Tangan si gemuk dan tangan kanan si kurus masih bergerak di sekitar dada dan perut Mao Ping.
Sedangkan sisa dua tangan lainnya, si gemuk menggeser tangan kanan ke samping, tahu-tahu menghajar bawah iga penyerang tersebut menyusul kakinya berputar dan menendang jalan darah Ting-kek-hiat di bagian selangkangan.
Sedangkan si kurus dengan lima jari yang dipentangakan mencengkeram pedang si penyerang.
Penyerang itu terkejut, buru-buru dia melompat mundur, tapi segera ia menubruk maju kembali.
Diiringi cahaya pedang ia tabas punggung kedua orang aneh itu.
Kedua orang aneh itu mendengus, tangan si kurus mendadak menyampok ke belakang.
Baru saja penyerang itu mengayun pedangnya, tahu-tahu senjata tersebut bergetar keras dan terlepas terus mencelat jauh ke sana.
Penyergap itu terkejut, pikirnya.
"Ilmu silat apa yang digunakan kedua orang ini?"
Seperti diketahui, ruas tulang manusia kebanyakan cuma bisa menekuk ke satu arah, tapi tangan si kurus ternyata bisa berputar begitu saja.
Kalau tidak menyaksikan sendiri, siapapun tak akan percaya akan kenyataan tersebut.
Kungfu penyergap itupun hebat, meski kaget bukan berarti ia menjadi keder.
Kening berkerut, tegurnya.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan?"
Kedua lelaki aneh itu seperti tidak mendengar teguran itu, tapi Mao Ping dapat mendengar suara penyerang itu dengan lebih jelas. Dengan girang pikirnya.
"Ah, kiranya Sik Ling yang datang!"
Ia mencoba melirik wajah kedua orang aneh itu.
Dilihatnya mereka masih meraba tubuhnya dengan prihatin.
Baru saja teringat sesuatu olehnya, tahu-tahu kedua orang aneh itu berdiri tegak dan menarimari dengan wajah berseri sehingga lempengan logam yang menghiasi tubuh mereka bergemericingan tiada hentinya.
Jago pedang muda itu bernama Sik Ling, seorang pendekar pedang kenamaan, murid Lenggong-kiam-kek, seorang tokoh Bu-tong-pai.
Walaupun baru beberapa tahun keluar perguruan, namanya sudah tersohor dalam dunia persilatan.
Pengalaman menjelajahi dunia Kangouw tidak sedikit.
Tapi demi melihat tingkahlaku kedua aneh itu, dia terbelalak heran dan tak tahu apa yang terjadi.
Setelah menari sekian lama, tiba-tiba si gemuk mengeluarkan semacam benda dan diperlihatkan kepada Mao Ping.
Sambil mengoceh entah apa yang diucapkan, seperti juga kicauan burung.
Mao Ping masih berbaring di tanah.
Sesaat ia belum berani bangun.
Meski benci kepada kedua orang aneh itu, tapi setelah melihat benda di tangan si gemuk, tiba-tiba ia menjerit kaget lalu melompat ke udara seperti dilemparkan dengan pegas yang kuat.
Lompatan itu paling tidak lebih dari setombak.
Dengan tercengang Sik Ling berpikir.
"Aneh, sejak kapan ilmu meringankan tubuh Siau Ping sebagus ini?"
Perlu diketahui, melompat ke udara dari posisi berbaring jauh lebih sulit daripada melompat dengan posisi berdiri.
Mao Ping tidak menaruh perhatian akan lompatan sendiri.
Begitu turun ke tanah dia berteriak lagi.
"Kembalikan padaku, kembalikan padaku!"
Agaknya benda itu amat berharga baginya.
"Ai, kenapa ia tidak menyapa padaku?"
Diam-diam Sik Ling menghela napas menyesal.
Kedua orang aneh itu sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Mao Ping.
Mereka masih berdiri disitu dengan tersenyum dan memegang sebuah kotak kulit kecil dengan rantai emas yang halus.
Sewaktu bergoyang menimbulkan suara gemerincing yang nyaring.
Mengikuti goyangan kotak kulit kecil yang tergantung pada rantai emas itu, mata Mao Ping juga ikut berputar kian kemari.
Sik Ling semakin heran.
"Aneh! Apa bagusnya kotak itu? Kenapa ia begitu tertarik?"
Melihat air muka Mao Ping, kedua lelaki kurus dan gemuk itu kembali bercuit-cuit beberapa patah kata yang tidak dimengerti.
Wajah mereka semakin kegirangan, sambil tertawa si gemuk lantas mengulur tangannya seperti mau menarik tangan Mao Ping.
Sik Ling menjadi gusar, bentaknya.
"Bedebah, serahkan nyawamu!"
Suatu pukulan segera dilancarkan menghajar jalan darah Ciang-keng-hiat di bahu si gemuk.
Berubah juga air muka si gemuk.
Cepat tangannya ditarik dan diulur pula seperti seekor ular hidup.
Mendadak membalik hendak mencengkeram pergelangan tangan Sik Ling.
Sik Ling tidak menyangka orang itu bisa menyerang dari posisi demikian.
Dalam terkejutnya cepat ia turunkan tangan ke bawah, ujung jari menutuk ke atas.
Siapa tahu lengan orang itu seperti bisa berputar sesuka hatinya.
Dengan lima jari terpentang, tiba-tiba pergelangan tangannya berputar dan mencengkeram pergelangan tangan Sik Ling dengan cepat luar biasa.
Serangan ini bukan cuma cepat saja, juga sangat aneh dan belum pernah dilihat sebelumnya.
Sebagai murid Leng-gong Cinjin dari Bu-tong-pai, Sik Ling punya dasar kungfu yang kuat.
Tapi setelah bertemu dengan manusia aneh ini, semua kepandaiannya tak mampu digunakan.
Hanya satu gebrakan saja, ia sudah kena dicengkeram pergelangan tangannya.
Dalam kejut dan gusarnya, ia menjadi nekat.
Tanpa menghiraukan lengan kanannya, secepat kilat jari tangan kiri menutuk Ki-ciat-hiat di punggung orang.
Si gemuk seakan-akan tidak merasakan datangnya ancaman.
Begitu jari tangan Sik Ling mengenai tubuhnya, baru dia bergeser ke samping.
Sik Ling kaget.
Baru teringat olehnya, pakaian orang itu terbuat dari logam.
Dengan tenaga dalamnya sekarang, mana mungkin menembus lapisan logam itu?
Cengkeraman orang itu pada pergelangan tangan Sik Ling tetap tanpa sepenuh tenaga.
Dengan melotot dia mengawasinya dan mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti pemuda itu.
Kejut dan marah Sik Ling.
Pergelangan tangannya berputar ke atas, maksudnya hendak melepaskan diri dari cengkeraman orang dengan ilmu Kim-na-jiu hoat aliran Bu-tong-pai.
Siapa tahu cengkeraman orang itu sekencang tali kulit.
Bagaimanapun ia berusaha meronta selalu gagal melepaskan diri.
Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benak Sik Ling.
Ia teringat pada cerita gurunya tentang semacam ilmu pukulan sakti yang sudah lama punah di daerah Tionggoan.
Ketika ia mengawasi telapak tangan dan kulit badan si gemuk itu, benar juga warnanya putih mulus seperti kemala, diantara putih bersemu warna hijau muda.
Ia terkejut, teriaknya kepada Mao Ping.
"Adik Ping, cepat lari! Mereka mahir Hua-kut-sin-kun (pukulan sakti penghancur tulang)!"
Waktu itu benak Mao Ping terasa kosong dan tak tahu apa yang sedang dipikirkan. Namun ucapan "Hua-kut-sin-kun"
Ibaratnya bunyi guntur menggelegar dan membuatnya sadar dari lamunannya. Sekalipun kungfunya tidak terlalu tinggi, tapi "Hua-kut-sin-kun"
Cukup diketahuinya.
Konon pada beberapa puluh tahun yang lalu, dalam dunia persilatan muncul seorang tokoh persilatan yang sangat lihai bernama Hay-thian-ko-yan (si walet tunggal dari Hay-thian).
Jarang ada orang yang tahu akan jejaknya.
Meski hanya beberapa tahun berkelana dalam dunia persilatan, tapi namanya sudah sangat menonjol.
Ia pernah mengalahkan dua puluh tujuh orang Ciangbunjin dari berbagai perguruan dalam dunia persilatan dengan bertangan kosong.
Setiap orang tak pernah bisa melawan lebih sepuluh gebrakannya.
Kehebatannya ketika itu sangat menggetarkan dunia.
Dalam sejarah persilatan sekian ratus tahun lamanya, tak seorang jago pun yang bisa melampaui prestasinya itu.
Ilmu pukulan yang digunakan Hay-thian-ko-yan ketika itu tak lain adalah Hua-kut-sin-kun.
Sejak Hay-thian-ko-yan mengasingkan diri, tak seorangpun dalam dunia persilatan yang mahir mempergunakan ilmu pukulan sakti itu.
Tapi selama puluhan tahun ini orang tetap ngeri bila menyinggung pukulan Hua-kut-sin-kun.
Tak heran Mao Ping menjadi terperanjat setelah mendengar Sik Ling menyebut ilmu pukulan tersebut.
Setelah melengong sejenak, ia mengawasi sekejap kedua orang aneh itu, lalu dengan terkejut bercampur heran, pikirnya.
"Benarkah ilmu pukulan yang digunakan kedua orang aneh ini adalah Hua-kut-sin-kun?"
Tiba-tiba terdengar Sik Ling bersuara tertahan, tubuhnya segera terkulai ke tanah.
Mao Ping tak sempat berpikir banyak lagi.
Sik Ling roboh demi membelanya.
Tentu saja ia tak mau pergi dengan begitu saja, apalagi kotak kecil kulit itu masih berada di tangan lawan.
Sambil menggigit bibir, pikirnya, sekalipun jiwaku akan melayang, kotak tersebut harus kurampas kembali.
Tapi iapun cukup memaklumi tarap kungfu sendiri.
Mustahil ia sanggup melawan kedua orang aneh itu.
Dahinya berkerut.
Dalam keadaan begini ia merasa tak punya pilihan lagi.
Dalam pada itu, kedua orang aneh itu tidak lagi menengok Sik Ling yang tergeletak di tanah.
Perhatian mereka tertuju sepenuhnya kepada Mao Ping Kotak kecil di tangan si kurus digerakan semakin cepat.
Suara gemerincing yang ditimbulkan kotak itupun semakin nyaring.
Tampaknya si gemuk tahu lawan tak paham bahasanya.
Ia garuk-garuk kepala yang tidak gatal dan berulang berusaha memberi kode tangan.
Meski Mao Ping gadis pintar, sayang dia lagi bingung oleh suasana yang dihadapinya.
Ia tak dapat menerima makna isyarat tangan di gemuk itu.
Tiba-tiba ia tertawa kepada si kurus, cepat si kuruspun balas tertawa.
Siapan sangka tertawanya itu sengaja digunakannya untuk memencarkan perhatian orang.
Menyusul tertawanya, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerjang maju dan hendak merampas kotak kulit yang berada di tangan si kurus.
Agaknya si kurus tidak berjaga.
Tangannya sama sekali tidak bergerak.
Ketika tangannya menyentuh kotak kulit itu, Mao Ping sangat girang.
Sambil menarik dia menyurut mundur ke belakang.
Kotak kulit itu sudah berhasil dirampasnya.
Setelah membalik badan segera ia mencari peluang untuk kabur.
Dalam keadaan demikian Sik Ling pun dilupakannya.
Siapa sangka sedikit merunduk saja, pandangannya menjadi kabur.
Tahu-tahu si kurus dengan wajah yang sukar diraba perasaannya telah berdiri di hadapannya.
Sedangkan ujung rantai sebelah lain pada kotak kulit itu masih berada di tangan si kurus.
Keruan perasaan Mao Ping kaget sekali.
Tak tersangka ilmu meringankan tubuh si kurus sedemikian hebatnya.
Sementara itu si gemuk juga menyusul datang.
Tidak kelihatan kakinya bergeser, tahu-tahu tubuhnya meluncur tiba dihadapannya.
Malah kepingan logam di badannya sama sekali tidak mengeluarkan suara apa-apa.
Setibanya di depan Mao Ping, kembali ia mengucapkan kata-kata yang sukar dimengerti.
Tentu saja nona itu cuma berdiri dengan bingung.
Terbukti sekarang ilmu meringankan tubuh orang itu berlipat kali di atasnya.
Kungfunya tak perlu dikatakan lagi.
Bertarung tak bisa menang, mau kabur tak bisa lolos, apakah dia harus pasrah nasib tanpa melawan?
Dari takut ia menjadi sedih juga.
Sudah setumpuk kata diucapkan si gemuk, tapi sama sekali tidak mendatangkan hasil apaapa.
Si kurus berkerut kening sambil termenung.
Mendadak ia memegang kepalanya dan menjulurkan tangannya yang kurus seperti cakar burung tapi putih mulus itu sambil menuding ke kotak kulit di tangan Mao Ping, lalu menuding pula ke leher si nona.
Habis itu dia mengawasi dia seperti menunggu jawaban.
Sikap ini makin membingungkan Mao Ping.
Timbul perasaan ingin tahu dalam hatinya, pikirnya.
"Sebenarnya apa kehendak kedua orang ini?"
Tanpa terasa dia menunduk kepala dan memandang ke leher sendiri.
Tapi begitu ia tundukkan kepala, hampir saja dia menjerit.
Ternyata pada lehernya masih terkalung sebuah kotak kulit yang bentuknya persis seperti benda yang direbutkan tadi.
Ia membuka tangan dan memandang kotak kecil rampasan itu.
Pelbagai kecurigaan muncul dalam hatinya, pikirnya.
"Ah, kiranya kotak kulit si kurus itu bukan milikku, tapi mereka mendapatkannya dari mana? Mungkinkah kedua orang ini mempunyai hubungan yang erat dengan dia? Aneh benar, dari mana datangnya mereka berdua? Kenapa mereka terus menerus merecoki diriku?"
Makin dipikir semakin bingung, untuk sesaat ia termangu-mangu.
Tanpa terasa kenangan lama terlintas kembali dalam benaknya.
Bayangan tubuh kedua orang aneh itu serasa makin kabur, sedang wajah Siu Tok yang tampan terbayang kembali di depan mata.
Ia masih ingat, ketika Siu Tok hendak pergi meninggalkannya dengan sedih, ia sendiri merasa menyesal dan malu pada diri sendiri.
Siu Tok mengira dia sedih karena hendak ditinggalkan, maka anak muda itu mengeluarkan sebuah kotak kulit kecil dan diberikan kepadanya, bahkan berpesan bahwa benda itu merupakan benda paling berharga baginya karena penuh dengan kenangan.
Gadis itu dapat menangkap keseriusannya waktu itu.
Sejak itu, setiap saat kotak kulit itu tak pernah berpisah darinya.
Setiap kali teringat pada Siu Tok, teringat utangnya atas cinta Siu Tok, ia lantas mengeluarkan kotak itu, menatapnya dengan tenang dan memainkannya, mengenangkan kejadian masa silam.
Itulah sebabnya ia menjadi gelisah ketika mengetahui kotak kulit itu berada di tangan orang lain, tentu saja semua itu dikarenakan oleh rasa cintanya kepada Siu Tok yang mendalam.
Tapi setelah ia menemukan kotak kulit miliknya masih berada di lehernya, ia menjadi terkejut lagi.
Kenapa keuda orang aneh inipun memiliki kotak kulit serupa dengan miliknya?
Apakah antara mereka dengan Siu Tok ada hubungan yang akrab?
Lantas apa pula tujuan mereka bersikap demikian kepadanya?
Dengan perbagai kecurigaan memenuhi benaknya, sekali lagi Mao Ping mendongakkan kepala.
Waktu itu kedua manusia aneh itu sedang memandanginya dengan tertawa.
Rasa ngeri dan takutnya terhadap kedua orang aneh itu mulai hilang.
Meski demikian, ia tak tahu bagaimana caranya mengutarakan suara hatinya itu.
Perbedaan bahasa untuk pertama kalinya dirasakan menyulitkan dirinya.
Ia berpikir.
"Berhadapan dengan mereka aku seperti berkumpul dengan orang-orang bisu ..."
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya.
"Sekalipun orang bisu kan juga bisa mengutarakan isi hatinya. Meski ucapanku tidak dimengerti, masa tulisan tidak mereka pahami?"
Wajahnya lantas berseri, karena ia telah menemukan satu cara terbaik untuk mengatasi kesulitan ini.
Tentu saja kedua orang aneh itupun bisa menangkap perubahan mimik wajah si nona.
Si gemuk segera berpaling dan mengucapkan beberapa patah kata kepada si kurus.
Meski Mao Ping tidak mengerti apa yang diucapkan, tapi dari nada suara mereka bisa diketahui kedua orang aneh itupun merasa gembira.
Ia lantas berjongkok dan menggunakan kukunya yang tidak terlalu panjang untuk menulis huruf 'Siu Tok' di atas tanah.
Melihat kelakuannya itu, kedua orang aneh itupun ikut berjongkok.
Pakaian logam mereka ikut berbunyi gemerincing.
Mereka mengawasi sekejap huruf 'Siu Tok' di atas tanah itu.
Tiba-tiba mereka melompat bangun dan manggut-manggut.
Meski kungfunya lihai, mukanya agak bengis dan seram, tapi sikapnya sekarang tak ubahnya seperti anak kecil yang polos.
Mao Ping tersenyum, sekarang dia tahu kedua orang ini pasti mempunyai hubungan yang erat dengan Siu Tok.
Malah dia yakin mereka bukan orang Tionggoan.
Kedatangan mereka kemari pasti untuk mencari Siu Tok.
Tapi bagaimana dengan Siu Tok sendiri?
Rasa sedih segera timbul dalam hatinya.
Kalau pada hari biasa waktu pikirannya sedang jernih, tentu dia akan segera mengetahui bukan saja kedua orang itu tidak memahami perkataannya, bahkan huruf yang ditulispun tidak begitu dipahami.
Hal ini diketahui dari sikap mereka yang harus mengamati huruf 'Siu Tok' sampai sekian lamanya.
Tapi sayang perasaannya ketika itu sedang gundah.
Ia sama sekali tidak menaruh perhatian sejauh itu.
Maka iapun berharap agar kedua orang ini bisa menulis beberapa huruf untuk menyingkap tabir yang membingungkannya.
Demikianlah, setelah bergembira sekian lamanya, kedua orang aneh itu kembali berjongkok dan angguk-angguk kepala kepada Mao Ping sambil tersenyum.
Mereka menunjukkan sikap yang akrab sekali, lalu mengawasi tangan Mao Ping seakan-akan menunggu ia menulis lagi.
Tapi Mao Ping sendiri justru sedang menunggu mereka menulis.
Jadinya mereka bertiga hanya sama-sama berjongkok sambil saling pandang, tapi kedua pihak sama-sama tak tahu apa yang diinginkan pihak lawan.
Cuma mata saja yang berbelalak lebar.
Tentu saja Mao Ping tidak kenal asal-usul kedua orang aneh ini, bahkan dalam dunia persilatan dewasa inipun, tidak banyak yang mengetahui asal-usul mereka berdua.
Meski setelah menyaksikan gaya ilmu pukulan mereka, semua orang hanya bisa menduga mereka pasti ada hubungan yang erat dengan Hay-thian-ko-yan.
Hay-thian-ko-yan sendiri masih merupakan teka-teki.
Pada hakikatnya tiada orang yang mengetahui akan asal-usulnya dan kemana perginya.
Siapapun tidak tahu dia ada hubungan dengan kedua manusia aneh ini.
Bahkan dengan tokoh paling aneh dewasa ini, 'Siu-sianseng', juga mempunyai hubungan yang erat sekali.
Sejarah kehidupan Siu Tok yang tiga puluhan tahun yang singkat dan penuh aneka ragam itu selain persoalan-persoalan yang telah diketahui orang, masih ada lebih banyak ld masalah yang tak diketahui orang lain.
Ia pernah jauh mengarungi samudra dan tiba di sebuah pulau terasing dan berkenalan dengan banyak sekali jago persilatan yang telah dianggap mati oleh orang lain.
Salah seorang diantaranya tak lain ialah naga diantar manusia, Hay-thian-ko-yan.
Para Bu-lim-cianpwe atau tokoh angkatan tua dunia persilatan itu kebanyakan karena menghadapi kesulitan yang tak terpecahkan atau sudah bosan hidup di keramaian dunia, akhirnya mereka diundang Hay-thian-ko-yan untuk berdiam di pulau kecil itu dan melewatkan penghidupan tenang bagai malaikat dewata.
Ketika tanpa sengaja Siu Tok tiba di pulau terpencil itu, dia segera merasakan kungfu sendiri yang dianggap jagoan nomor wahid dalam dunia persilatan ternyata sama sekali bukan apa-apa bila dibandingkan dengan para tokoh silat dalam pengasingan itu.
Sebagai seorang anggota dunia persilatan, setelah menemui kesempatan sebaik ini, tentu saja tak terlukiskan rasa gembiranya.
Siu Tok minta tinggal di pulau kecil itu untuk mempelajari sejumlah kungfu yang pernah di dengar tapi belum pernah dilihatnya itu.
Tapi Hay-thian-ko-yan yang usianya sudah mencapai seratus tahun lebih dan masih memiliki semangat besar itu berkata kepadanya.
"Setiap orang yang tinggal disini harus mengangkat sumpah untuk tidak meninggalkan pulau ini lagi, sanggupkah kau melakukannya?"
Mendengar perkataan ini, Siu Tok menjadi bungkam dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itu usianya baru mencapai angka dua puluhan.
Inilah masa yang terindah dalam kehidupan manusia.
Ia merasa tak ada harganya untuk mengorbankan penghidupannya demi ilmu silat, sebab sekalipun berhasil mempelajari kungfu yang maha tinggi, apapula yang bisa dilakukan di pulau terpencil seperti itu?
Keadaan ini serupa dengan orang yang bersedia memberikan kekayaan yang tak terhitung banyaknya untukmu, tapi kau dilarang meninggalkan rumahnya barang selangkahpun.
Sudah barang tentu sukar bagimu menyanggupi permintaannya itu.
Suara hatinya itu tentu saja bisa dipahami oleh Hay-thian-ko-yan.
Maka sambil tertawa katanya pula.
"Tak perlu rikuh, bila aku berusia seperti kau, akupun takkan melakukannya."
Persaaan yang paling berharga bagi umat manusia adalah rasa simpatik dan saling pengertian antara sesamanya.
Selama hidup Siu Tok enggan tunduk kepada orang lain, tapi terhadap tokoh sakti di luar samudra ini, ia betul-betul takluk.
Sebaliknya Hay-thian-ko-yan sendiri pun sangat mengagumi pemuda ini, meski usia mereka berbeda hampir enam puluh tahun.
Namun mereka toh menjadi sahabat karib.
Siu Tok di ijinkan berdiam selama satu bulan lebih di pulau terpencil itu.
Dalam waktu satu bulan ini, sekalipun Hay-thian-ko-yan tak pernah membicarakan soal ilmu silat, namun secar lamat-lamat ia membeberkan rahasia tenaga dalamnya dalam setiap pembicaraan.
Dengan kecerdasan Siu Tok, tentu saja tak sulit untuk menangkap rahasia itu.
Tak heran kalau dia berhasil menguasai intisari Ban-liu-kui-cong yang menggetarkan dunia persilatan itu.
Setiap orang yang tinggal di pulau terpencil itu selalu menyimpan sebuah kotak kulit kecil.
Apa isinya tak seorangpun yang pernah membukanya.
Sebelum Siu Tok berangkat meninggalkan tempat itu, Hay-thian-ko-yan memberi sebuah kotak kepadanya sambil berpesan bahwa kotak kulit itu mungkin akan banyak membantunya.
Bila keadaan tidak terlalu berbahaya jangan sekali-kali kotak itu dibukan.
Sesaat sebelum Siu Tok naik ke atas perahunya, Hay-thian-ko-yan kembali berpesa.
"Bila kau sudah bosan dengan kehidupan dunia persilatan, setiap saat kau boleh datang kemari."
Sambil menghela napas ia menambahkan.
"Baik aku ada disini atau tidak, tempat ini selalu akan menyambut kedatanganmu."
Dari ucapan tersebut ia seakan-akan memberitahu bahwa ajalnya sudah makin mendekat.
Dengan perasaan iba dan berat, Siu Tok pun mohon diri.
Gunung lima jari atau Ngo-ci-san di pulau Hay-lam (Hainan) terhitung pula salah satu tempat kelahiran jago-jago pedang ternama.
Ilmu pedang aliran Hai-lam-kiam-pai mengutamakan gerakan yang keji dan ganas.
Meski berbeda dengan aliran silat di daratan Tionggoan, tapi sejak dulu sumber ilmu pedang adalah satu meski cara mempelajarinya berbeda.
Kedua manusia aneh berbaju lapisan tembaga dan emas ini sesungguhnya adalah jago-jago lihai Hai-lam-kiam-pai.
Meski mereka tak pernah meninggalkan wilayah laut selatan, namun ilmu pedangnya memang luar biasa.
Watak mereka pun sangat aneh.
Waktu berada di Hai-lam-to dulu, cara kerja mereka sudah terkenal nyentrik.
Siapa tahu mendadak jejak mereka lenyap tak berbekas.
Tentu saja semua orang merasa heran, sebab kedua orang ini tak mungkin mengasingkan diri, sedang di daratan Tionggoan juga tak terdengar jejak mereka.
Sudah barang tentu orang tak tahu mereka berdua telah diajak Hay-thian-ko-yan untuk bermukim di pulau terpencil itu sambil memperdalam ilmu silatnya, karena Hay-thian-ko-yan yang wataknya memang sangat aneh itu menaruh perhatian besar terhadap mereka berdua....Selama Siu Tok berada di pulau terpencil itu dulu, hubungannya dengan kedua orang aneh ini sangat akrab.
Jodoh orang memang sangat aneh.
Padahal biasanya baik Siu Tok maupun kedua orang ini berwatak angkuh dan suka menyendiri, tapi setelah bertemu entah mengapa hubungan mereka menjadi akrab sekali.
Kedua orang aneh ini adalah saudara misan.
Si gemuk bernama Thia Ki, sedang yang kurus bernama Poa Cian.
Setelah tinggal selama sepuluh tahun lebih di pulau terpencil itu, akhirnya mereka tak tahan menghadapi kesepian di pulau itu.
Diam-diam mereka pun ngeluyur pergi.
Pertama hal ini disebabkan watak mereka memang enggan kesepian, kedua mereka pun belum mencapai tingkatan yang memandang kosong segala apa di dunia ini, terutama setelah banyak mendengar cerita dari Siu Tok tentang aneka ragam persoalan di dunia persilatan dan keindahan alam di walayah Kanglam.
Semua ini membuat hati mereka tergelitik.
Segera mereka berangkat menuju ke Kanglam.
Mereka tidak pernah menginjak daratan, mereka merasa asing terhadap segala sesuatunya.
Dandanan mereka yang aneh pun menimbulkan perhatian orang, serta merta teringat oleh mereka untuk mencari sahabat.
Sedang satu-satunya sahabat mereka dalam dunia persilatan hanya Siu Tok.
Itulah sebabnya mereka menjadi girang setengah mati demi melihat kotak kulit kecil yang dikenakan Mao Ping itu, sebab penyelidikan mereka terhadap jejak Siu Tok sama sekali belum mendatangkan hasil.
Maklumlah, dengan dandanan mereka yang serba aneh, apalagi orang yang dicari adalah Siu Tok, sudah barang tentu orang lain enggan memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada mereka.
Dan sekarang mereka menggunakan bahasa daerah yang aneh untuk mencari keterangan, tentu saja Mao Ping tidak paham maksud mereka.
Bahasa yang tak lancar gampang menimbulkan salah paham, maka usaha mereka mengurut tubuh Mao Ping dengan tenaga dalam pun menimbulkan salah sangka nona itu sebagai suatu penghinaan.
Setelah menggunakan berbagai jalan dan cara, akhirnya mereka bisa juga membuat Mao Ping sedikit memahami hubungan mereka dengan Siu Tok.
Dengan sedih Mao Ping segera menulis huruf 'telah mati' di bawah tulisan 'Siu Tok' tadi.
Melihat itu, mencorong terang sinar mata Thia Ki dan Poa Cian.
Sambil meraung mereka memburu maju dan menangkap lengan Mao Ping dan mengajukan serentetan pertanyaan yang tidak dimengerti.
Karena kedua lengannya dicengkeram, Mao Ping merasa kesakitan.
Air matanya jatuh bercucuran, tapi ia menangis bukan lantaran berduka melainkan merasa girang.
Maklumlah, sejak Siu Tok, tak seorangpun yang memperlihatkan rasa sedih karena kematian Siu Tok.
Sedang ia sendiripun menitikkan air mata secara bersembunyi bila terkenang pada kematian kekasihnya.
Ia terpaksa berbuat demikian sebab setiap orang yang ditemuinya adalah musuh Siu Tok.
Tapi sekarang ia telah bertemu dengan sahabat sejati Siu Tok, saking terharu dan gembiranya ia sampai melelehkan iar mata, sebab luapan rasa gembiranya ketika mengetahui Siu Tok masih mempunyai kawan sejati.
Thia Ki dan Poa Cian tampak cemas, mereka bertanya.
"Apa yang penyebabnya kematian Siu Tok? Apakah dibunuh orang? Siapa musuhnya?"
Sayang Mao Ping tidak paham pertanyaan mereka.
Sekalipun mengerti, bagaimana caranya memberitahukan?
Padahal musuh besar Siu Tok tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.
Walaupun Thia Ki dan Poa Cian adalah manusia aneh, namun mereka pun penuh perasaan.
Namun tetap sulit untuk mengutarakan maksudnya mereka hanya dengan memegang lengan Mao Ping sambil menggoyangkannya berulang kali.
Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat dan menebas jalan darah Hian-cu-hiat di sisi telinga Thia Ki.
Waktu itu mereka berdua sedang memusatkan perhatian atas musibah yang menimpa Siu Tok, terhadap sambaran pedang itu boleh dibilang tidak peduli.
Ditambah lagi sambaran pedang itu datangnya cepat sekali, jelas sulit untuk menghindar bagi si gemuk.
Hawa pedang mendesing di udara, tampaknya telinga kanan Thia Ki akan terkelupas.
Apa maksud tujuan kedatangan Thian Ki dan Poa Cian?
Apa yang akan mereka lakukan terhadap Mao Ping?
Dapatkah Mao Kau dan begundalnya hidup tenteram setelah memaksa Song Leng-kong dan Liu Hu-beng kabur dari Tionggoan?
Intrik apa pula yang sedang disiapkannya?
-(Bacalah
Jilid ke 03) -
Jilid 03 Pada saat yang gawat itulah, tiba-tiba Thia Ki memutar lehernya yang gemuk itu ke kiri. Cahaya pedang segera menyambar lewat sisi kepalanya.
"Bedebah!"
Maki penyergap itu.
"Beraninya menganiaya orang perempuan, terhitung jago macam apa kau? Hari ini aku orang she Sik akan beradu jiwa denganmu!"
Ujung pedangnya bergetar, cahaya pedang segera menyambar lagi ke batok kepala Thia Ki. Terpaksa Thia Ki menyelamatkan diri sendiri lebih dulu, lengannya berputar.
"cring", pedang orang diselentiknya ke samping. Tapi penyerang itu tidak keder oleh kungfu orang yang lihai itu. Pedangnya berputar lagi "sret-sret", kembali dua kali tabasan kilat dilancarkan. Itulah jurus serangan berantai 72 kali yang maha lihai. Dari serangan gencar dan makian Sik Ling itu, Mao Ping tahu anak muda itu salah paham terhadap kedua orang aneh dari laut selatan ini, segera bentaknya.
"Sik Ling, berhenti!"
Sementara Sik Ling tertegun, pedangnya kembali terjentik orang hingga miring ke samping.
Tapi ilmu pedang aliran Bu-tong memang lihai.
Gerakannya sama sekali tidak teralang akibat selentikan tersebut.
Namun setelah mendengar seruan Mao Ping, mau tak mau ia batalkan serangan berikutnya.
Dengan rasa heran, ia pandang wajah Mao Ping dengan penuh tanda tanya, cepat Mao Ping menambahkan .
"Kita adalah orang sendiri ..."
Tiba-tiba wajahnya merah, cepat ia membetulkan kata-katanya.
"Mereka tidak bermaksud jahat terhadap kita!"
"Huh, sikap mereka sekasar ini, masa tiada maksud jahat?"
Sik Ling makin keheranan.
Walaupun jalan darah Sik Ling tadi tertutuk, akan tetapi orang tidak bermaksud jahat padanya, maka tutukan itu tidak berat.
Dengan mengerahkan tenaga dalam aliran Bu-tongpainya, jalan darah itu segera dapat dibebaskan.
Dia dan Mao Ping adalah sahabat karib sejak kecil, tentu saja ia sangat menguatirkan keselamatan gadis itu.
Setelah jalan darahnya lancar kembali, cepat ia jemput pedangnya dan menyusul ke sana.
Waktu itulah dilihatnya Mao Ping sedang dipegang kedua orang aneh itu dengan air mata bercucuran.
Menyaksikan kejadian ini, Sik Ling tidak mempedulikan lagi kehebatan Hua-kut-sin-kun lawan, secara nekat ia menerjang maju.
Sayang kungfunya masih ketinggalan jauh, sekalipun ia berniat mengadu jiwa juga tak ada gunanya.
Ketika Mao Ping mencegahnya menyerang, ia heran.
Waktu ia menunduk, tiba-tiba dilihatnya tulisan Siu Tok di atas tanah.
Seketika pedih hatinya, kontan pedangnya terkulai lemas ke bawah.
Sudah lama ia menaruh hati kepada Mao Ping.
Kemudian Mao Ping rela mengorbankan tubuhnya demi membantu kakaknya, kebetulan waktu itu ia tak berada di Kanglam.
Ketika ia pulang, meski wajah Mao Ping tidak kurang apapun, namun hatinya telah berubah.
Sik Ling tahu hubungan Siu Tok dengan Mao Ping, apalagi setelah membaca tulisan "Siu Tok"
Di atas tanah, pahamlah dia, pikirnya.
"Pantas ia bilang orang sendiri!"
Semakin dipikir makin kecut hatinya.
"Salahku sendiri banyak urusan.
"pikirnya. Agaknya Mao Ping merasa menyesal terhadap pemuda itu. Sedangkan Thia Ki dan Poa Cian melotot beberapa kejap pada Sik Ling dengan gemas. Meski sedikit teman mereka, tapi mereka sangat simpati terhadap sahabat. Mereka tahu Mao Ping pasti mempunyai hubungan yang akrab dengan Siu Tok, bisa jadi anak dalam kandungan Mao Ping adalah anak Siu Tok. Maka ketika melihat Sik Ling saling bertatapan dengan gadis itu, timbul perasaan yang tak senang. Mereka lantas mengucapkan beberapa patah kata yang tidak dimengerti Sik Ling dan Mao Ping. Habis berkata, tiba-tiba mereka bergerak tanpa menimbulkan suara, tahu-tahu mereka melesat pergi. Baru saja Mao Ping keheranan dan berpaling ke arah Sik Ling, mendadak pandangan terasa kabur. Kedua orang aneh itu melayang balik dengan tangan masing-masing memegang dua kaki kudanya. Satu ingatan lantas terlintas dalam benaknya, sekarang dia baru tahu mengapa tadi ia merasa seperti terbang di awang-awang meski kudanya tak bergerak. Sik Ling juga tercengang oleh kehebatan kungfu dan keanehan tingkah laku kedua orang itu. Belum lama dia berkecimpung dalam dunia persilatan, tapi sejak kecil ia digembleng guru ternama. Banyak kejadian aneh dalam dunia persilatan yang didengarnya, tapi sekarang ia benar-benar tak mengerti dari manakah datangnya kedua manusia aneh ini. Sementara itu Thia Ki dan Poa Cian telah membawa kuda itu ke depan Mao Ping. Mereka tertawa, tangan bergerak cepat, mereka menyambar tubuh gadis itu dan mendudukannya di atas kuda. Sik Ling terkejut, bentaknya.
"Hei, mau apa?"
Belum lenyap suaranya, kedua orang itu lantas mengangkat kuda berikut Mao Ping di atasnya dan berlalu dari situ.
Dalam sekejap saja bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.
Lama sekali Sik Ling termangu-mangu, ia tahu betapapun dirinya tak mampu menyusul orang itu.
Iapun tahu meski gerak-gerik kedua orang itu sangat aneh, namun tidak ada niat jahat.
Tapi kemana mereka hendak membawa Mao Ping?
Kenapa mereka melarikan gadis itu?
Kondisi badan Mao Ping memang lemah, apalagi sedang berbadan dua, mungkinkah dia akan mengalami cedera?
Diam-diam ia menggertak gigi, pikirnya.
"Bagaimanapun aku harus menyelidiki jejaknya sampai jelas. Mungkin tindakanku ini sok mencampuri urusan orang, tapi bila aku tidak berbuat demikian hatiku takkan tenang selamanya."
Meskipun sedari kecil ia masuk perguruan Bu-tong dan sepanjang tahun bergaul dengan kaum tosu yang alim, namun dasar wataknya memang suka bebas, terutama urusan yang menyangkut cinta, betapapun sukar dielakannya.
Begitulah dengan penuh semangat ia menyarungkan kembali pedangnya dan segera mengejar ke depan ...
---ooo0ooo ---Siang waktu berlalu dengan cepat, tahu-tahu 17 tahun sudah lampau.
Setiap orang yang sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, baik di jalan raya, di atas jembatan daerah Kanglam, atau di warung kecil pada saat fajar baru menyingsing, atau di tengah kota yang ramai menjelang malam tiba, tentu akan menjumpai seorang lelaki setengah umur yang bertubuh tegap tapi berwajah murung berjalan mondar-mandir sambil bergendong tangan.
Dilihat dari sikapnya itu, dia seolah-olah sedang mencari sesuatu, tapi oleh karena menanggung kecewa yang terlalu lama, ia tidak menaruh harapan terlalu besar lagi terhadap apa yang sedang dicarinya.
Itulah sebabnya dalam sekilas pandang ia tampak kemalas-malasan dan ogah-ogahan sehingga pedang yang tergantung di pinggangnyapun ikut terkulai malas, malahan sarung pedangnya terseret pada permukaan tanah, bergesek bila berjalan hingga menimbulkan suara yang menusuk telinga.
Bagi orang yang berpengalaman dunia Kangouw tentu tahu lelaki setengah umur yang ganteng tapi malas ini tak lain tak bukan adalah seorang jago termashur pada 17 tahun yang lalu, dia adalah murid Leng-gong-kiam-kek, seorang tokoh Bu-tong-pai yang termashur pada masa lalu, Sik Ling adanya.
Padanya memang terlekat suatu kisah cinta yang menarik dan mengharukan.
Kini, sekalipun ada orang mengetahui kisah cinta ini, paling-paling mereka juga cuma menyembunyikan kisah itu di dalam hati dan tak berani dibicarakan.
Sebab kisah tersebut selain menyangkut Sik Ling, juga menyangkut tokoh nomor wahid dunia persilatan dewasa ini -Leng-coa Mao Kau.
Sekarang, bilamana ada orang persilatan berani mencari perkara pada Mao-toaya, maka itu berarti mencari penyakit untuk diri sendiri, sedang Leng-coa Mao Kau justru paling pantang ada orang membicarakan kisah cinta tersebut.
Waktu berlalu dengan cepatnya, tanpa terasa 17 tahun sudah lewat sejak kematian Siu Tok.
Selama 17 tahun ini tentu saja dalam dunia persilatan sudah banyak terjadi peristiwa, tapi semua itu sudah banyak yang dilupakan orang, seperti buih dalam air, sekali meletup lantas lenyap tanpa menimbulkan pergolakan apapun.
Namun peristiwa Siu Tok masih terpendam di dalam hati semua orang, sebab walaupun orangnya sudah mati, tapi sisa tulang jenazahnya telah menempati posisi yang sangat penting dalam dunia persilatan.
Peristiwa ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah dunia persilatan yang beratus-ratus tahun lamanya itu.
Leng-coa Mao Kau telah memperalat sisa tulang Siu Tok untuk merebut posisi yang amat penting dalam dunia persilatan, meski ia tidak mendirikan perguruan, tapi Jian-kut-leng (lencana sisa tulang) dianggap sebagai mestika bagi umat persilatan.
Sebab barangsiapa bila ingin berkecimpung dalam dunia persilatan, maka dia harus tunduk pada perintah Jian-kut-leng.
Lencana Jian-kut-leng terbuat dari sisa tulang jenazah Siu Tok.
Tokoh "tujuh pedang tiga ruyung"
Yang terlibat dalam peristiwa berdarah dahulu itu sekarang sudah hilang dua orang.
Sedang Ong It-peng sejak cacat lengannya jadi sudah merosot sekali pamornya.
Tapi berkat Jian-kut-leng yang dibuat dari sisa tulang Siu Tok itu mereka masih menduduki posisi tertinggi dalam dunia persilatan.
Masalah ini tak pernah dipikirkan Sik Ling.
Dia berkelana menjelajah dunia tak lain hanya ingin mencari Mao Ping.
Tapi sepanjang 17 tahun ini ia sudah menjelajahi ujung timur-barat kedua sungai besar dan lintasan utara-selatan sungai besar, bahkan keluar perbatasan sampai gurun pasir, namun jejak Mao Ping ibaratnya sebatang jarum tenggelam di dasar samudar, sukar ditemukan.
Maka watak Sik Ling pun berubah.
Ia berubah menjadi pemurung dan tak teratur hidupnya.
Sifat ini berbeda seklai dengan wataknya masa lalu.
Sampai-sampai gurunya, Leng-gong-kiamkek, ikut sedih menyaksikan keadaan muridnya ini.
Banyak teman dan sahabat dunia persilatan yang kenal dia ikut pula merasa sedih dan sayang atas nasib yang menimpanya.
Kini musim semi telah tiba.
Suasana di jalan raya menuju wilayah Kanglam sangat ramai.
Sik Ling juga sudah pulang kembali ke Kanglam meski pakaiannya tidak perlente lagi, namun cukup rajin dan bersih bagi seorang yang kerjanya hanya berkelana.
Hal ini sudah merupakan sesuatu yang langka.
Dengan kesepian ia duduk di atas punggung kudanya yang kurus.
Ia ikat tali kendali kudanya pada pelana, ia biarkan binatang itu berjalan semaunya, sementara sinar matanya mengawasi orang yang berlalu lalang dan pepohonan hijau di sepanjang jalan.
Tanpa terasa ia bersenandung pelahan.
Tiba-tiba dari kejauhan sana tampak debu mengepul tinggi ....Dengan tak acuh, Sik Ling memandang kesana.
Dilihatnya muncul serombongan penunggang kuda sedang melarikan kudanya dengan cepat.
Yang berani membedal kuda secepat ini di jalan raya biasanya kalau bukan kawanan opas atau hamba negara yang sedang bertugas, hanya para anak buah Leng-coa Mao Kau saja yang berani melakukan hal semacam ini.
Satu ingatan lantas terlintas dalam benak Sik Ling.
"Entah apa yang terjadi?"
Dalam waktu singkat rombongan penunggang kuda itu sudah mendekat, sayang tak sempat terlihat wajah mereka karena debu mengepul terlampau tebal.
Dalam waktu singkat mereka sudah menjauh dan meninggalkan tabir debu di udara.
Dengan jemu dan dongkol Sik Ling mengusap debu pada wajahnya, lalu melanjutkan perjalanannya ke depan.
Lamat-lamat ia merasakan ada dua penunggang kuda lainnya berada di belakangnya.
Tapi iapun tidak berpaling, sebab selama sekian tahun ia tak pernah berhubungan lagi dengan orang persilatan, karena itu iapun tak perlu kuatir disergap orang seperti dulu.
Tapi suara percakapan yang dilakukan kedua orang itu mau tak mau menarik juga perhatiannya.
"Kali ini Leng-coa pasti menemukan sasaran besar. Coba lihatlah, kesepuluh muridnya telah turun tangan sendiri. Dapat diketahui betapa cemasnya dia, ketika datang dari utara kali ini. Sudah kudengar berita ini waktu berada di Po-teng."
"Konon Mao-lotoa telah menurunkan perintah Jian-kut-leng. Rupanya dia telah menggunakan separuh kekuatannya untuk menghadapi pemuda itu."
"Oleh soal itu aku kurang tahu.
"kedengaran suara lain menanggapi.
"Cuma, bila orang itu berani mencari perkara pada Mao-lotoa, agaknya kurang melek matanya?"
"Ya, pada mulanya akupun mengira matanya kurang terbuka.
"kata orang pertama dengan logat utaranya.
"tapi seterusnya kudengar meski orang itu baru muncul dari perguruan, tapi kungfunya hebat sekali. Semua barang kawalan Mao-lotoa, baik barang gelap atau terang, dia selalu mampu membegalnya."
Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Yang lebih aneh lagi, setiap kali berhasil membegal barang kawalannya, tak pernah ia membawa kabur hasil begalannya, tapi memporak-porandakannya di tengah jalan dan membiarkan orang lalu mengambil sesukanya. Sedang ia sendiri sepeserpun tidak mengambil."
Tampaknya orang itu gemar berbicara, dengan logat utaranya yang serak basah ia bicara seenaknya seperti di rumah sendiri.
Sik Ling dapat menangkap semua pembicaraan itu dengan jelas, tiba-tiba terpikir olehnya.
"Jangan-jangan ada orang hendak membalas dendam bagi kematian Siu Tok?"
Serta merta ia menghubungkan pula peristiwa itu dengan Mao Ping, maka ia coba memperhatikan pembicaraan itu lebih jauh lagi ...."Orang itu benar-benar manusia aneh, eh, menurut pendapatmu, mungkinkah orang ini ada sangkut pautnya dengan peristiwa belasan tahun yang lalu?"
Setelah mendengus, sambungnya lagi.
"Ketika aku melakukan pengawalan barang ke Siamsay tempo hari, sempat kujalin persahabatan dengan seorang murid Wan-yang-siangkiam. Dia beritahu padaku, katanya peran utama itu takkan selesai begitu saja terutama pesan 'sepuluh tahun kemudian, dengan darah membayar darah', kabarnya segera akan berwujud, maka kukira ... ."
Mendadak ia berhenti bicara. Rekannya lantas bergelak tertawa.
"Hahaha, kau ini benar-benar penakut, orang she Siu itu sudah mampus, kalau tidak selesai begitu saja lantas mau apa? Lagipula ia tak beranak dan tak bermurid, juga tak punya sobat karib, setelah mampus badanpun tak utuh. Siapa yang akan membalaskan sakit hatinya?"
Orang yang pertama itu segera mendengus dan merasa tak setuju. Lalu orang kedua berkata lagi.
"Sepuluh tahun kemudian, dengan darah membayar darah. Sekarang 20 tahun pun hampir tiba, terus terang kuberitahu padamu, si pencari gara-gara pada Mao-lotoa itu konon adalah seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun, selamanya berkelana sendirian. Bila melihat hal-hal yang tak adil selalu ditinggalkannya sebilah pedang emas kecil sebagai lambang. Karena semua orang tak tahu siapa namanya, ia lantas disebut Kim-kiamhiap (pendekar pedang emas). Eh, sobat, belakangan ini kau jarang keluar dari sarangmu, mungkin tak pernah kaudengar nama ini, bukan?"
Rekannya menjawab dengan tertawa.
"Siapa yang mau meniru caramu, macam orang gila sepanjang tahun luntang-lantung di luar. Hei, kukira sepantasnya kau mencari bini untuk menjaga rumah?"
Begitulah kedua orang itu bergelak tertawa, pembicaraan selanjutnya hanya mengenai hal umum, maka Sik Ling memperlambat kudanya membiarkan kedua orang penunggang kuda lewat lebih dulu.
Sementara ia sendiri jadi termenung.
"Siapakah Kim-kiam-hiap tersebut? Pada mulanya aku mengira dia adalah si jabang bayi di dalam perut adik Ping, tapi katanya sudah berumur tiga puluh tahun, jelas bukan dia."
"Bila pada usia tiga puluhan baru mulai berkecimpung dalam dunia Kangouw, biasanya cuma ada dua kemungkinan. Pertama, ia belajar silat terlalu lambat sehingga masa tamat belajarnya turut terlambat, kedua, karena sebelum ini ia pernah berkelana dalam dunia persilatan dan sekarang muncul sekali lagi dengan wajah baru. Lantas Kim-kiam-hiap termasuk jenis yang mana?"
Setelah berdehem, ia berpikir lebih jauh.
"Apa gunanya aku memikirkan persoalan ini? Toh semuanya tiada sangkut pautnya denganku?"
Ia lihat senja sudah hampir tiba, sang surya sudah hampir terbenam, akhirnya ia percepat lari kudanya.
Setiba di pintu kota Tin-kang, dia turun dari kudanya dan perlahan menuntunnya masuk ke kota.
Tiba di sebuah rumah penginapan, ia serahkan kuda kepada pelayan.
Waktu mendongakkan kepala, dilihatnya sehelai panji pengawal barang tertancap di pintu.
Keningnya berkerut.
Diam-diam ia menyesal telah salah pilih tempat, tapi sudah telanjur masuk, ia rikuh untuk keluar lagi, terpaksa ia menginap disitu.
Ketika lampu sudah dipasang, benar juga dugaannya.
Suasana hiruk-pikuk memenuhi seluruh rumah penginapan.
Para anggota perusahaan pengawal barang berjudi sambil minum arak.
Suasana amat ramai.
Hampir meledak kepala Sik Ling mendengar suara hiruk-pikuk.
Ia keluar dari kamar dan menuju ke halaman, meski disitu pun tak kurang berisiknya.
Sedikitnya lebih mending daripada di dalam.
Sesudah menempuh perjalanan jauh, apalagi hari ini baru mendapat gaji, para anggota piaukiok itu berkumpul mencari kesenangan.
Mereka tidak kuatir barang kawalannya akan dirampok orang lantaran berada di kota besar.
Maka semua orang hanya memburu kesenangan tanpa mempedulikan apakah mengganggu ketenangan orang lain atau tidak.
Mereka berani berbuat demikian karena pertama, Congpiautau perusahaan Peng-anpiaukiok mereka, Pat-bin-ling-long (delapan wajah serba cerdik) Oh Ci-hui adalah saudara angkat Mao-toaya.
Kedua, pada pengawalan kali ini, Oh Ci-hui turun tangan sendiri, maka semua orang pun merasa lega.
Sik Ling tidak tahan dengan suara ribut, mau melarang tak bisa, iapun enggan ribut dengan orang.
Dalam keadaan begini terpaksa dia keluar dari ruangan dan berdiri di depan pintu sambil mengawasi jalan beralas batu hijau di muka sana, dengan demikian hatinya terasa agak tenang.
Dari kejauhan sana tiba-tiba muncul sebuah tandu dan berhenti di depan rumah penginapan.
Tanpa terasa ia memperhatikannya dengan seksama, sebab sangat sedikit orang yang naik tandu dalam dunia persilatan.
Pertama menumpang tandu tidak leluasa seperti naik kereta atau kuda, kecepatannya juga terbatas, kedua, ongkos tandu jauh lebih besar.
Siapapun enggan membuang uang dengan percuma.
Dengan perlahan tandu itu diturunkan, lalu keluar seorang pemuda.
Sik Ling segera mengerutkan kening.
Tadinya ia mengira orang yang naik tandu itu kalau bukan orang yang sedang sakit, tentulah orang tua atau perempuan.
Tak tahunya adalah seorang pemuda yang lemah lembut.
"Begini manja orangnya, mau apa keluar rumah? Kan lebih enak bersembunyi di rumah dan minta dilayani?"
Dengan pandangan menghina ia melirik sekejap ke arah pemuda itu.
Tapi pandangannya lantas terbeliak, ternyata pemuda ini memiliki wajah yang tampan dan menarik.
Matanya besar, hidungnya mancung.
Walaupun sangat cakap, sama sekali tidak berbahu banci.
Ditambah lagi pakaiannya yang amat serasi, membuat orang merasa nyaman memandangnya.
Pada masa mudanya dulu Sik Ling termashur sebagai "lelaki tampan", setelah bertemu dengan pemuda tampan ini, timbul rasa kasih sayang dalam hatinya.
Otomatis rasa jemunya tadi hilang separuh lebih.
Begitu pemuda itu turun dari tandu, para pelayan segera menyambut kedatangannya dengan munduk-munduk.
Biasanya mata pelayan paling lihai, kaya miskin seseorang bisa mereka ketahui dalam sekilas pandang.
Sedang pemuda ini berbaju perlente.
Kalau tidak menyanjung manusia semacam ini, memangnya harus menjilat siapa?
Setelah mengantar bayangan punggung pemuda itu masuk ke dalam, Sik Ling melihat pula seorang pengemis muda yang sedang mencari kutu di bawah cahaya lampu di tepi jalan.
Diamdiam ia menghela napas.
Ia merasa banyak memang ketidak adilan di dunia ini.
Apakah pengemis muda ini waktu dilahirkan sudah ditakdirkan bernasib buruk begini?
Setelah berputar kayun mengelilingi kota, di sebuah warung dia membeli ayam dan daging panggang lalu membeli pula arak untuk minum sampai mabuk malam nanti.
Tidak suka bersantap dan minum arak di rumah makan, sebab tempat itu tidak sebebas makan minum di kamar sendiri, padahal minum arak paling membutuhkan kebebasan.
Sambil masuk ke rumah penginapan, diam-diam ia mentertawakan diri sendiri yang sekarang telah menjadi setan arak.
Kesepian dan kemurungan yang mendorongnya minum arak, sebab bagaimanapun bilamana seorang sedang mabuk, perasaannya tentu jauh lebih gembira.
Dilihatnya di halaman banyak orang berkerumun, entah apa yang terjadi.
Setelah didekati baru kelihatan orang-orang itu sedang mengitari sebuah meja bundar untuk bermain dadu.
Mungkin karena ruang kamar terlalu sempit, maka perjudian diterukan di tengah halaman.
Sik Ling segera kembali ke kamarnya, menutup pintu dan minum beberapa cawan arak.
Perasaannya mulai terombang-ambing.
Selama beberapa tahun belakangan ini ia sudah belajar bagaimana cara melupakan sesuatu yang dipikirnya dengan menenggak arak.
Suasana ramai di halaman depan makin lama semakin keras.
Akhirnya Sik Ling tak tahan, dia keluar lagi dari kamarnya, ditemuinya orang yang mengerumuni meja bundar itu kian lama kian bertambah banyak.
Timbul rasa ingin tahunya, ia ikut mendesak maju ke depan.
Dilihatnya di atas meja sudah bertumpuk segunung uang perak.
Di belakang tumpukan uang itu duduk pemuda perlente tadi sedang menggoyangkan mangkuk dadu.
Heran Sik Ling melihat kehadiran pemuda tampan itu, diawasinya orang itu lebih seksama.
Terdengar seorang yang berada di sampingnya lagi berkata.
"Kali ini dia pasti kalah. Aku tidak percaya angka yang diraihnya bisa lebih besar daripada Ong-lotoa."
Seorang lelaki lain berdahi sempit bermata tikus, dengan mendelik mengawasi tangan pemuda itu sambil berteriak keras.
"Satu, dua, tiga!"
Ia berharap angak yang diraih pemuda itu adalah satu, dua, tiga, jmlh ini berarti kecil. Diam-diam Sik Ling tertawa geli, pikirnya.
"Pasti orang inilah yang disebut sebagai Onglotoa."
Dengan tenang pemuda itu melemparkan ke enam biji dadunya ke dalam mangkuk.
Enam biji dadupun berputar dan mangkuk.
Biji mata semua orang ikut berputar, termasuk pula Sik Ling.
Setelah berputar sekian lama, ke enam biji dadu itu satu persatu mulai berhenti, ternyata angka empat dadu yang keluar adalah empat titik.
Waktu itu masih ada dua biji dadu masih berputar, ketika salah satu di antaranya hendak berhenti dan menunjukkan titik hitam, entah bagaimana jadinya, tiba-tiba ditumbuk oleh dadu yang lain sehingga keuda-duanya terhenti sama sekali.
Ternyata kedua biji dadu itupun menunjukkan empat titik berarti semuanya berangka empat, angka seragam yang tak terkalahkan.
Semua orang menjerit kaget, air muka Ong-lotoa berubah pucat, sedang pemuda itu sambil tertawa menarik tumpukan uang di tengah meja untuk digabungkan dengan tumpukan uang perak yang telah membukit itu.
Selama hidup Sik Ling baru pertama kali ini menyaksikan ada orang meraih angka seragam empat dalam sekali putaran.
Dia sendiri ikut melengak.
Rupanya Ong-lotoa sudah ludes uangnya, tiba-tiba ia mencabut sebilah belati yang tajam dan "craat", belati ditancapkan di atas meja.
Kemudian dengan suara keras teriaknya.
"Uangku sudah ludes semua. Sekarang aku hendak mempertaruhkan sekati daging badanku. Jika aku kalah, akan kupotong sekati dagingku sebagai gantinya, kalau menang harus kauserahkan semua uang itu kepadaku."
Mungkin karena hartanya ludes, ia menjadi nekat dan ingin bermain curang.
Kebetulan orang berkerumun di sekitar meja judi semua adalah sahabat Ong.
Mereka segera mendukung usul rekannya itu dengan teriakan yang ramai.
Kiranya sejak kemunculan pemuda itu, ia selalu menang dalam setiap taruhan.
Hampir semua uang milik para pengawal barang berpindah ke tangannya.
Tak heran kalau semua orang merasa mendongkol padanya.
Pemuda itu melirik pisau belati tersebut sekejap.
Dengan wajah tidak berubah katanya dengan dingin.
"Sekati daging kauhargai uang sebanyak ini? Sobat, kukira dagingmu belum laku seharga ini!"
Mendengar perkataan itu, Sik Ling terkejut, pikirnya.
"Besar amat nyali orang ini!"
Betul juga, perkataan itu segera memancing kemarahan orang banyak. Segera ada yang mendamprat.
"Sialan orang ini, berani membacot seenaknya!"
Baca Juga: Setan Harpa 9
Baca Juga: Rahasia Iblis Cantik 3