Eps 3 Rahasia Iblis Cantik - Gu Long
Baca online Rahasia Iblis Cantik - Gu Long
Cersil Rahasia Iblis Cantik - Gu Long.
"Semua orang senang bergurau, tapi kau tidak senang bergurau, apakah karena kau bukan manusia?"
Orang tua berbaju hijau itu menjawab.
"Benar!"
Liu He-ting terpaku, dia tidak menyangka kalau di dunia ini ada orang yang mengaku kalau dirinya bukan manusia.
Qi Da tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Kau bukan manusia, berarti kau adalah setan."
Pak tua kurus itu dengan dingin menjawab.
"Benar!"
Hati Liu He-ting bergetar.
Sekarang adalah siang, dia pun tahu kalau pak tua ini bukan setan tapi melihat sikapnya, membuat hati orang menjadi dingin.
Terlihat Qi Da berteriak.
"Awas! Awas! Ada setan! Cepat lari, cepat!"
Dia sudah lari ke belakang tenda. Pak tua berbaju hijau itu dengan dingin berkata.
"Kalau kau berani berbuat macam-macam di depanku, kalian benar-benar sudah bosan hidup."
Suaranya belum habis, terdengar teriakan lagi.
"Cepat lari! Cepat!"
Dia keluar dari belakang tenda.
Pak tua itu merasa bingung.
Pak tua berambut putih itu sekarang memisahkan diri menjadi dua orang.
Mereka berlari dari belakang tenda, kemudian berteriak.
"Cepat lari, cepat...."
Mereka masuk lagi ke dalam tenda.
Orang-orang itu masih bengong, tapi Pak tua berambut putih itu berlari lagi ke belakang tenda, kali ini terlihat menjadi 3 orang, mereka berlari berputar-putar dan masuk lagi ke dalam tenda.
Orang tua berbaju hijau itu, di dunia persilatan dijuluki dengan Ling Shi (Mayat Gesit) tapi dia menamakan dirinya dengan Gu Gui (Setan Lembah), ada juga yang memanggilnya Setan Hidup, dia tidak marah malah sangat menyukai panggilan itu, dia tidak senang menjadi manusia malah senang menjadi setan.
Biasanya dia selalu berusaha bersikap sangat dingin dan seram, bila senang atau marah tidak akan tampak di wajahnya, tapi sekarang setelah dia melihat keadaan ini, wajahnya berubah.
Orang lain malah lebih kaget lagi.
Liu He-ting diam-diam tertawa tapi diam-diam dia kaget dan merasa aneh!
Orang-orang ini datang ke gunung ini kemudian menutup jalan mundur, rupanya mereka datang dengan rencana sempurna sepertinya sudah pasti akan berhasil tapi siapa tuan rumah di sini sebenarnya, mereka masih tidak tahu.
Apakah ini tidak aneh?
Terdengar suara teriakan.
Qi bersaudara sudah keluar dari belakang tenda.
Setelah berteriak, mereka berdiri di depan Setan Hidup itu!
Setan Hidup itu memandang pak tua berambut putih, hanya dalam sekejap berubah dari 1 orang menjadi 4 orang, matanya bersorot kaget.
Pak tua berambut putih itu tidak bergerak dan hanya berdiri di depannya, wajahnya tidak tertawa dan juga tidak berteriak, sikapnya serius dan berkata.
"Kalian dewa atau setan, apakah kau tahu siapa aku? Aku adalah Budha dari barat, aku Pintar, berani, juga jujur, dan saling menyayangi, aku turun dari langit untuk melihat dunia manusia, niaka itu sekarang aku berada di sini. Hidupku sudah berlangsung selama 972 tahun. 28 tahun lagi aku akan kembali ke langit. Aku mempunyai tenaga gaib yang sangat hebat. Hai! Kau siluman atau setan, lebih baik kau cepat keluarkan wujud aslimu dan tunjukan kepadaku, maka aku akan membantumu membacakan doa dan membiarkanmu reinkamasi menjadi manusia kembali. Kalau tidak, kau akan menjadi semut atau ulat."
Kata-kata pak tua berambut putih itu sangat serius seperti benar-benar akan terjadi.
Liu He-ting ingin tertawa, karena tidak tahan dia membalikkan kepalanya.
Tapi sambil membalikkan kepalanya dia diam-diam melirik ekspresi si Setan Hidup.
Terlihat dia hanya terpaku, hanya sebentar wajahnya sudah kembali dingin dan seram, tangannya dilipat, seluruh tulang badannya berbunyi.
Dengan dingin dia berkata.
"Di depanku kau berani bergurau, apakah kau sudah bosan hidup?"
Kakinya sudah bergeser dan berjalan ke tempat Qi bersaudara.
Gerakan dan langkahnya sangat kaku serta perlahan.
Matanya yang galak bercahaya hijau, wajahnya yang seram pun tampak bercahaya, ditambah dengan bajunya yang berwarna hijau, benar-benar membuat dia terlihat 30% seperti orang, sedangkan 70% nya seperti setan.
Liu He-ting percaya kalau setan yang setengah mirip manusia setengah mirip setan itu pasti mempunyai ilmu silat yang aneh, melihat dia bersiap-siap mengeluarkan jurus, Liu He-ting mengerutkan dahi, dia juga siap membantu tapi....
Qi Er tertawa dan berkata.
"Kau adalah setan, apa ingin berkelahi dengan dewa?"
Dia bermain mata dengan saudaranya, mereka berdua semakin dekat.
Wajah Ling Shi bertambah seram dan badannya bertambah kaku.
Qi Er tertawa dengan senang, air mata dan ingusnya sudah keluar karena terus tertawa.
Jarak mereka tidak sampai 3 meter, walaupun Liu He-ting tidak turut campur, tapi dia sudah bersiap-siap.
Tao Chun-chun berada di sisi Liu He-ting, dia kaget juga malu.
Tiba-tiba Ling Shi bersiul panjang, kedua tangannya dibuka, kedua tangan dan jarinya yang kurus serta berkuku panjang berwarna hijau membentuk seperti cakar setan, dengan cepat mencengkram dada dan tenggorokan Qi Da.
Badannya kaku, tapi ketika dia mengeluarkan serangan ternyata sangat cepat.
Kukunya yang panjang sedikit bergetar, benar-benar seperti jago pedang yang menggetarkan pedangnya.
Puluhan tahun yang lalu di dunia persilatan ada jago pedang yang bernama Gu San Hua, setiap kali menyerang, pedangnya pasti akan diputar 3 kali dulu, dia berkelana di dunia persilatan selama puluhan tahun, dengan ilmu pedang miliknya itu dia jarang dikalahkan oleh musuh-musuhnya, waktu itu banyak orang yang menyebutnya.
"Begitu bertarung dengan jago pedang ini kita akan merasa kebingungan dan tahu-tahu kepalamu sudah terbelah."
Tapi Qi Er tetap tertawa terbahak-bahak.
Dia seperti tidak perduli serangan itu.
Kedua cakar setan sudah dekat mengenai tubuhnya, tapi dia masih tertawa sampai badannya bergoyang ke depan dan ke belakang, badannya pun tampak bergetar.
Tangan Ling Shi yang hampir mengenai badannya tiba-tiba bergetar dan meleset.
Ilmu silat Ling Shi sangat aneh, dia pun mempunyai banyak pengalaman, tapi seumur hidupnya dia tidak pernah melihat ada cara bersilat yang begitu aneh.
Begitu cengkeramannya hanya mendapatkan tempat kosong, Ling Shi terpaku.
Lawannya malah tertawa, tiba-tiba Qi Er menendang, Ling Shi hampir saja tidak bisa menghindar, dengan cepat dia mundur 2-3 meter baru bisa mengelak, tapi kepalanya sudah mengeluarkan keringat dingin.
Tenaga kaki akan lebih besar dari tenaga tangan sebanyak beberapa kali lipat, biasanya jika orang membuka pintu dan pintu tidak bisa dibuka, orang yang tidak sabar dan bersikap pemarah selalu menendang pintu dan pintu itu pasti akan terbuka, karena tenaga kaki lebih besar dari tenaga tangan.
Dari dulu sampai sekarang di dunia persilatan tidak ada pesilat tangguh yang terkenal karena tendangan kakinya.
Biasanya dengan ilmu telapak tangan atau senjata mereka baru terkenal.
Karena tangan bisa bergerak lebih lincah daripada kaki.
Kedua, karena sebelum menendang, pundak pasti akan bergoyang dan seperti memberitahu kepada orang lain kalau dia akan menendang.
Kalau ada dua jago silat bertarung dan ilmu mereka seimbang, tendangan ini bisa dihindari.
Dibagian selatan ada seseorang jago silat yang memiliki jurus tendangan tanpa bayangan, dia selalu membuat orang tidak waspada kepadanya sehingga dia bisa menyerang musuhnya, tapi cara-cara ini hanya bisa menipu jago silat biasa.
Tapi tidak bisa menipu pesilat tangguh karena itu dia selamanya dia tidak bisa bersaing dengan jago silat dari Zhong Yuan.
Dan sekarang Qi Er yang dalam keadaan tertawa dengan badan masih bergoyang ternyata dia bisa menendang, dia menendang seperti orang yang sedang tertawa.
Orang-orang dunia persilatan walaupun sangat berpengalaman tapi begitu melihat caranya, mereka pun pasti akan takjub.
Liu He-ting tertawa juga kagum kepada Qi gr.
Tadinya dia ingin membantu Qi Da, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya karena dia tahu Qi bersaudara pasti mempunyai ilmu silat aneh.
Terdengar Qi Er tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Aku mengira ilmu silat Ling Shi sangat tinggi, tapi hari ini baru saja aku mengeluarkan satu jurus dari Kuai Huo Ba Shi (Jurus Delapan Kesenangan) kau sudah kalang kabut. Ha! Ha! Memalukan sekali, sungguh memalukan, aku rasa lebih baik kau bunuh diri saja daripada di sini terus ditertawai orang."
Ling Shi Gu Gui kaget, walaupun dia bisa menghindari tendangan ini, tapi jantungnya masih berdebar-debar, dia melihat di sekelilingnya ada beberapa ratus orang dan sedang melihat dirinya, walaupun dia kaget karena tendangan ini tapi dia tidak akan mau dirinya mendapat malu di depan anak buahnya sendiri, dia tertawa seram juga dingin, dengan cara seperti tadi dia mendekati Qi Er lagi.
Kalau dia mengubah caranya, itu akan lebih baik, tapi kali ini dia sama sekali tidak mengubah caranya.
Liu He-ting diam-diam merasa kaget tapi Liu He-ting tahu dia pasti sudah mempunyai perhitungan tersendiri atau ada cara untuk menang.
Ilmu silat Qi bersaudara walaupun aneh, tapi hanya bisa dikeluarkan pada saat orang tidak siap tapi kalau orang lain bisa tahu tehnik mereka, maka mereka tidak akan bisa melakukan kesalahan yang sama.
Apalagi Qi bersaudara itu tidak mempunyai tangan, bagaimanapun juga mereka akan dirugikan jika benar-benar bertarung, karena itu Liu He-ting segera berteriak.
"Tunggu!"
Dia segera berlari ke depan Qi Er, sewaktu dia lari ke arah Qi Er, di belakang Ling Shi Gu Gui juga ada yang berteriak.
"Kakak Gu, tunggu!"
Seseorang yang memakai baju putih berlari ke depan Ling Shi Gu Gui.
Keadaan berubah, tadinya Qi Er berhadapan dengan Ling Shi, sekarang Liu He-ting berhadapan dengan laki-laki berbaju putih itu!
Liu He-ting melihat orang berbaju putih itu, badannya tinggi.
Dia adalah laki-laki setengah baya terlihat terpelajar dan tadi dia menyebrangi jembatan.
Dia tersenyum dan berkata.
"Adik masih muda tapi ilmu silatmu sudah begitu tinggi, walaupun aku bukan penyair Du Fu, tapi aku rasa kau adalah seorang terpelajar. Menurutku, kau tidak ada hubungan dengan semua persoalan ini, lebih baik kau menjauh dari tempat ini!"
Liu He-ting tersenyum dan berkata.
"Kebaikan Tuan aku terima, tapi siapa nama Tuan? Apakah aku boleh mengetahuinya?"
Laki-laki terpelajar setengah baya ini tertawa dan berkata.
"Adik pasti baru berkelana di dunia persilatan, maka Adik tidak mengenaliku, aku adalah Tao Ru Ming. Apakah kau pernah mendengar namaku?"
Liu He-ting terpaku dan berpikir.
"Nama orang ini sangat aneh, tidak disangka orang dunia persilatan ada nama yang begitu bagus dan terpelajar."
Qi Er yang ada di belakangnya sudah tertawa dan berkata.
"Sangat jelek, sangat jelek, sangat mesum! Apakah Tuan Wu Liu' Tao Yuan Ming adalah nenek moyangmu?"
Wajah Tao Ru Ming berubah, segera Liu He-ting tertawa dan berkata.
"Aku bukan tuan rumah di sini juga tidak tahu apa maksud Tuan datang kemari? Apakah bisa memberitahuku, siapa yang salah dan siapa yang benar? Baru Kita berbicara. ajcu akan coba menjadi penengah!"
Tao Ru Ming tersenyum, dia ingin menjawab tapi di belakangnya sudah ada yang tertawa dengan suara keras.
Dua bayangan hitam secepat kilat berlari ke arah mereka.
Satu berada di kiri dan yang lainnya berada di kanan, mereka berdiri di kedua sisi Liu He-ting.
Yang satu berbadan gemuk dan pendek, tangannya sangat panjang.
Yang satu lagi tinggi besar, wajahnya penuh dengan cambang.
Sekali melihat seperti dewa langit, sangat gagah!
Badan dan wajah mereka sangat berbeda jauh tapi baju mereka sama persis, kepala mereka dibungkus dengan kain hitam dan di atas kain itu ada sehelai bulu burung berwarna kuning.
Di pinggang mereka tergantung tempat panah, ada panah hitam berbulu kuning, di belakang tubuh mereka masing-masing menggendong sebuah busur besar berwarna hitam dan kuning, di bawah sinar matahari, busur ini terlihat berkilauan.
Suara tawa laki-laki bercambang itu seperti lonceng, setiap kata-katannya terdengar sangat jelas jika berbicara.
Dia berkata.
"Menurut pembicaraan kawan, apakah kau ingin bermusuhan dengan kami? Baik-baik, aku Hei Chuan Yun ingin tahu siapa sebenarnya dirimu? Berani sekali kau mengurusi masalah Huang Ling Hei Jian?"
Liu He-ting mengerutkan dahinya lalu dengan dingin berkata.
"Apakah kata-kata Tuan tidak terlalu berlebihan?"
Laki-laki bercambang itu berkata.
"Dari dulu sampai sekarang, aku Hei Chuan Yun, hanya tahu, yang menurut kepadaku bisa hidup, yang membangkang terhadapku dia pasti akan mati. Aku katakan dulu semua ini kepadamu, dan ini sudah menguntungkan bagimu. Kau kira dengan nama Liu He-ting, kau bisa secara sembarangan berkelana di dunia persilatan? Aku beritahu kepadamu, siapa Liu He-ting pun aku belum pernah mendengarnya!"
Liu He-ting berkata dengan serius.
"Namaku terkenal atau tidak, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini, dan aku tidak menggunakan ilmu silat untuk mencari musuh, aku dengan aturan normal mencoba untuk mencairkan permusuhan. Dengan tujuan apa kalian datang ke sini? Siapa yang kalian cari? Semua harus jelas dahulu, kalau bertarung tanpa alasan. apakah itu adalah seorangjantan yang pantas dikagumi?"
Wu Liu Shu Sheng, Tao Ru Ming mengerutkan dahi dan berkata.
"Kata-katamu masuk akal juga, tapi aku -"
Kata-kata Tao Ru Ming baru selesai, Hei Chuan Yun sudah membentak.
"Untuk apa kali ini kami datang? Aku tidak ada waktu menjelaskan, semua alasan kami tidak perlu orang tahu. Kakak Tao, lebih baik kau mengurangi perkataan apa yang disebut-sebut dengan masuk akal!"
Wajah Tao Ru Ming berubah, dengan dingin dia berkata.
"Kalau begitu, untuk sementara aku akan mundur dulu!"
Hei Chuan Yun berkata.
"Betul! Lebih baik Kakak Tao istirahat saja dulu. Kalau niat itu sudah datang, kau masih bisa membuat puisi tentang nenek yang sedang bermain pedang supaya aku juga bisa diajar untuk membaca!"
Tao Ru Ming tertawa dingin.
Lengan bajunya dikibaskan, burung kakak tua berwarna hijau yang sejak tadi berputar-putar sekarang dia sudah terbang jauh.
Orang-orang berbaju putih yang ada di balik batu itu segera mundur.
Tao Ru Ming pelan-pean mendekat 3 orang berbaju putih itu, mereka berkata dengan suara kecil kemudian berdiri tanpa berkata apa-apa lagi.
Ling Shi Gu Gui maju dan mengelilingi Liu He-ting.
Begitu banyak musuh di sana dan setiap orang siap-siap untuk menyerang.
Liu He-ting tidak tahu ilmu silat mereka sebenarnya sudah mencapai tahap mana, walaupun satu lawan 3, dia tidak merasa takut, dia mendengar Qi bersaudara terus tertawa, dedikit pun dia tidak bermaksud untuk menolong.
Dia merasa aneh, tapi begitu dipikir lagi, dia segera mengerti.
"Betul, tadi aku ingin melihat ilmu silat saudara-saudaranya. Sekarang Qi bersaudara pasti ingin melihat ilmu silatku."
Dia melihat Tao Chun-chun yang saat itu pun sedang melihatnya, sepertinya dia bermaksud untuk membantu.
Liu He-ting merasa senang, walaupun dia tidak membantu tapi hanya dengan perasaan pun sudah cukup memberi semangat kepada Liu He-ting.
Terdengar busur dan panah berbunyi, ternyata Huang Ling Hei Jian sudah menurunkan busur yang mereka bawa.
Satu berwarna kuning, satu berwarna hitam, semua tampak berkilauan.
Laki-laki pendek dengan wajah bulat selalu tersenyum, tiba-tiba dengan busur dia jadikan senjata untuk menotok pundak kiri Liu He-ting dan membentak.
"Huang Po Yue mengeluarkan serangan dulu!"
Kata-katanya baru habis, Hei Chuan Yun dengan cepat menotok pundak kanan Liu He-ting.
Busur mereka sangat panjang, mereka menotok Liu He-ting dengan busur.
Karena Liu He-ting sudah memikirkan kalau senjata mereka itu begitu aneh, mereka pasti akan mempergunakannya sebagai senjata karena itu begitu mereka menyerang, Liu He-ting sudah memiringkan pundaknya.
Tangan kanannya terjulur keluar disela-sela busur itu dan menyerang ke dada Huang Yue Po.
Tangan kirinya digerakkan dari bawah, kelima jarinya dibuka dan mencengkram busur Hei Chuan Yun.
Satu jurus menggunakan 2 cara, waktu dan posisinya benar-benar sangat tepat.
Huang Ling Hei Jian merasa kaget.
Hei Chuan Yun segera menarik jurusnya lalu mengubah gerakannya.
Busur panjang itu ditarik, tapi sekarang busur itu dipergunakan seperti pecut, dia sudah memecut ke punggung dan pinggang Liu He-ting.
Badan Huang Yue Po pun sudah berputar dan menyerang Liu He-ting.
Begitu Liu He-ting mengeluarkan serangannya, dia tahu mereka berdua pasti sangat kompak menghadapi musuh, karena mereka sudah lama bersama.
Biasanya jika jago silat bertarung tidak mau bibantu orang ketiga, mereka merasa tidak senang ada orang yang turut campur.
Mereka tidak mau dibantu.
Tapi hal ini kadang-kadang ada pengecualian, di dunia persilatan ada jago silat yang berasal dari satu perkumpulan ataupun teman baik, atau bahkan ada hubungan kakak beradik.
Mereka sering berlatih bersama dalam menghadapi musuh, berapa pun musuh mereka, mereka tetap menghadapinya secara bersama.
Huang Ling Hei Jian pada saat mengeluarkan serangan langsung bergabung dengan temannya dan menyerang musuh mereka.
Hei Chuan Yun memegang busur dengan tangan kanannya.
Huang Po Yue memegang busur dengan tangan kirinya, mereka benar-benar sangat kompak, tiba-tiba Hei Chuan Yun menggetarkan busurnya, busur itu secepat kilat menusuk ke dada Liu He-ting, walaupun busur itu tidak tajam seperti pisau tapi bila mengenai dada tetap bisa menembus hingga ke punggung.
Waktu itu Huang Po Yue tertawa, busur panjangnya dilambaikan.
Busur bergetar, dengan tangan kiri totok dan tangan kanan menusuk.
Satu jurus dengan 2 cara!
Dia menyerang ke kiri dan kanan Liu He-ting.
Mereka berdua bersama-sama menyerang, Ke depan dan belakang, ke kiri dan kanan.
Liu He-ting terkurung dalam bayangan busur itu.
Tapi cara-cara mereka tetap bisa dihindari Liu He-ting, meskipun Liu He-ting merasa cukup kaget dengan bersiul panjang, tangannya segera menangkap busur hitam milik Hei Chuan Yun.
Dan dengan sekuat tenaga mendorong ke depan.
Badan Hei Chuan Yun yang besar tidak sanggup berdiri dengan tegak lagi, hingga mundur beberapa langkah dan kemudian Liu He-ting maju ke depan menghindari serangan Huang Po Yue.
Kemudian telapak Liu He-ting membalik ke belakang.
Walaupun badan Hei Chuan Yun tidak seimbang tapi busur itu tetap dipegangnya dengan kuat, kakinya baru saja berdiri dengan tegak dia langsung memasang kuda-kuda dan menghembuskan nafas, kemudian mengatur nafas, dia ingin menggunakan busurnya lagi, Liu He-ting mengerutkan dahinya, telapak tangannya ditekankan dan busur naik ke atas.
Hei Chuan Yun merasa ada tenaga besar menekan busur hingga sampai tangannya.
Hei Chuan Yun hampir terjatuh lagi, dengan segenap kekuatan Liu He-ting sambil tertawa dan telapak tangannya tiba-tiba terangkat, dia menekan ujung busur itu.
Hei Chuan Yun kaget, segera dia menahannya lagi.
Liu He-ting tertawa dingin dan berkata.
"Lepaskan tanganmu!"
Terdengar suara 'PENG' yang sangat keras, busur panjang berwarna hitam itu tidak sanggup menahan kekuatan tubuh mereka berdua dan putus menjadi dua bagian, tangan Hei Chuan Yun yang masih memegang separuh busurnya, karena tergetar, dia pun tidak sanggup memegangnya lagi dan busur itu terlepas lalu melayang ke atas.
Burung kakak tua berwarna hijau itu berteriak.
"Xiao Chui kasihan.... jangan pukul aku...."
Dia sudah terbang jauh lagi.
Tangan Liu He-ting masih memegang sisa busur itu, tiba-tiba dia mendengar di belakangnya ada sambaran angin yang datang, kakinya berputar, badannya pun ikut berputar, sisa busur yang ditangannya dijadikan pedang, menotok ke arah bayangan dibelakang tubuhnya.
Huang Po Yue kaget oleh gerakan Liu He-ting yang gesit, baru saja dia menyerang satu jurus, Liu He-ting balik menyerangnya dengan busur panjang itu, dia ingin menyerang Liu He-ting, tiba-tiba malah tangan Liu He-ting sudah bergetar.
Dia sudah menotok lengan Huang Po Yue dengan sisa busur yang putus.
Huang Po Yue merasa tangannya langsung mati rasa, busur panjang itu tidak bisa dipegang dan terdengar suara TUSH', busur itu terjatuh.
Liu He-ting hanya mengeluarkan satu jurus dan dia telah bisa menotok nadinya Huang Po Yue.
Orang-orang yang melihat dari sisi merasa aneh.
Busur yang terputus dan melayang ke atas, sekarang terjatuh ke bawah.
Pertama kalinya Liu He-ting bertarung, dia berhasil mengalahkan musuh kuat, dia merasa bangga dan tertawa dengan suara keras.
Tiba-tiba busur yang tersisa yang ada di tangannya pun melayang dan mengeluarkan cahaya berwarna hitam, dengan cepat dia menyambar busur yang sedang terjatuh dari atas.
Terdengar 'CING', kedua busur yang terputus tadi secara bersamaan terbang ke tempat yang jauh dan terjatuh ke sungai kecil yang ada di sana, air sungai mumncrat hampir membasahi orang-orang yang sedang menonton.
Terdengar Qi Er tertawa terbahak-bahak.
Dia tepuk tangan dan berkata.
"Baik, sangat baik, ini yang namanya memasang ular digigit ular, penjahat kehilangan nama harumnya. Aku lihat kalian, Huang Ling Hei Jian, karena busurnya sudah di buang oleh orang, kalian tidak perlu memakai busur lagi."
Diam-diam Tao Chun-chun mendekati Liu He-ting, dia tersenyum dan berkata, Tidak disangka jurusmu yang begitu sederhana memiliki tenaga begitu dasyat!"
Liu He-ting tersenyum.
Dia tidak biasa dipuji karena itu wajahnya menjadi merah, dia ingin merendah, tapi dia tidak bisa berkata apa pun.
"Tadi aku benar-benar mengkhawatirkanmu, apakah kau tidak tahu, tadi kau berada dalam keadaan yang sangat berbahaya?"
Liu He-ting sedikit terpaku dan berkata.
"Aku baik-baik saja!"
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Kalau saja tadi ilmu meringankan tubuh Hei Chuan Yun lebih tinggi darimu maka kalian akan sama kuat. Walaupun kau sudah mencengkram busur panjang mereka, kau tidak akan bisa membuat mereka mundur. Huang Po Yue yang berada di belakangmu, dia bisa membuat punggungmu berlubang besar!"
Hati Liu He-ting sedikit bergetar. Tao Chun-chun berkata lagi.
"Kalau mereka berdua tidak memakai busur panjang tapi memakai pisau tajam, Pada saat kau mencengkram bukankah jarimu yang akan putus? Hai! Walaupun ilmu silatmu tinggi, tapi.... tapi...."
Dia tidak meneruskan lagi.
"Tapi apa?"
"Kau terlalu ceroboh."
Liu He-ting terus memikirkan kata-kata Tao Chun-chun.
"Kalau Hei Chuan Yun mempunyai tenaga yang sama denganku.... kalau mereka memakai pedang...."
Semakin dipikir dia merasa semakin kaget, dia terpaku dan keringat dinginnya sudah mengalir.
Dia tidak tahu pada saat bertarung, ilmu silat memang yang paling penting.
Tapi pengalaman menghadapi musuh pun sama pentingnya.
Walaupun ilmu silatnya tinggi, tapi dia baru saja berkelana di dunia persilatan, sama sekali belum pernah bertarung dengan siapa pun.
Pada saat mengalahkan musuh, banyak kesempatan yang bisa dipakai oleh musuh untuk menemukan titik kelemahannya.
Dia terus memikirkan semua ini, bagaimana dia harus memecahkan semua jurus itu?
Qi Er tertawa dan berkata.
"Setan Hidup bukan lawanku, kalian berdua pun tidak akan bisa melawan adikku, untuk apa kalian masih diam di sana?"
Hati Liu He-ting bergerak, tiba-tiba dia berjalan ke depan Huang Ling Hei Jian yang masih berdiri dengan terpaku, dia memberi hormat dan berkata.
"Tadi aku sangat beruntung bisa menang 2 jurus dari kalian. Kalian jangan merasa sedih, sampai sekarang aku tidak bermaksud mencari musuh, sekarang kalian berdua bisa menerangkan maksud kalian ke sini dan meluruskan apa yang salah, aku tidak akan campur tangan."
Sambil bicara, Tao Ru Ming mengangguk, artinya dia setuju dan juga memuji.
Tapi baru saja dia habis bicara, Hei Chuan Yun dengan dingin berkata.
"Aku dan saudaraku sudah kalah di tanganmu, kami menerima kekalahan ini dengan tangan terbuka, kami datang hanya untuk mengadu ilmu silat, kami akan segera pergi dari sini, kami datang ke sini pun untuk membasmi orang-orang seperti kalian yang selalu membuat kejahatan dan tidak berperikemanusiaan. peraturan dunia persilatan tidak cocok untuk kalian."
Tiba-tiba dia berteriak.
"Saudara-saudara, pasang dan siapkan panah!"
Ratusan laki-laki yang berada di balik batu segera menyahut, suara mereka menggetarkan lembah!
Wajah Liu He-ting berubah.
Dia berkata.
"Nanti dulu! Siapa yang kalian maksud dengan penjahat sadis?"
Ling Shi Gu Gui tertawa dingin, dia berkata.
"Aku Gu Gui, walaupun sadis dan galak, tapi jika dibandingkan dengan kalian Wu Yi Shen Mo (Iblis sakti berbaju hitam), aku masih lebih baik dari kalian. Setiap hari kalian hanya bersembunyi, ari ini kami berhasil menemukan sarang kalian, apa yang akan kalian katakan?"
Liu He-ting dengan aneh bertanya.
"Siapa itu Wu Yi Shen Mo? Apa yang kalian katakan? aku tidak mengerti?"
Tiba-tiba dia teringat kepada Ru Yun-long, Jin Lao-si sewaktu berada di rumah makan di suatu tempat terpencil, pernah mengatakan kata ini....
"Kakak Liu, apakah kau tahu nama Wu Yi Shen Mo? Kau pasti tidak tahu, tapi orang-orang di dunia persilatan bila mendengar 4 kata ini, mereka akan akan gemetar. Sampai-sampai orang ternama seperti Ma Jun Chao pun juga mati di tangan Wu Yi Shen Mo, mereka datang dengan tiba-tiba dan, pergi tanpa jejak.... orang dunia persilatan tidak tahu identitas mereka sebenarnya, mereka takut pada ilmu silatnya yang tinggi. Tiba-toba mereka seperti terjatuh dari langit. Mereka membunuh tanpa mengedipkan mata...."
Hati Liu He-ting bergetar, dia berpikir.
"Apakah di sini adalah sarang Wu Yi Shen Mo? Apakah Qi bersaudara ini adalah Wu Yi Shen Mo yang selalu membunuh orang dengan sadis?"
Dia membalikkan kepala untuk melihat Qi bersaudara, mereka berempat tampak masih terlihat seperti biasa.
Wajah mereka penuh dengan tawa berkata.
"Apa itu Wu Yi Shen Mo? Apakah dia iblis, siluman, atau delapan dewa, seperti kami? Semua tidak ada gunanya!"
Hei Chuan Yun membentak dan berkata.
"Kami datang dari jauh dengan tujuan membasmi orang jahat, tidak ada waktu mengobrol dengan kalian yang cacat."
Dia berteriak.
"Satu!"
Liu He-ting melihat di balik batu itu ada ratusan orang, mereka siap memasang busur atau memasang panah.
Mereka menunggu aba-aba dari Hei Chuan Yun, bila perintah sudah diturunkan, segera panah-panah itu akan dilepas.
"Walaupun ilmu silatku tinggi, tapi tidak bisa menghindar dari serangan panah-panah itu."
Terdengar Hei Chuan Yun berkata lagi.
"Dual"
Tao Ru Ming mundur ke pinggir sungai, mulutnya sedikit bergerak, menantikan kata 'tiga'.
Kata tiga belum keluar, Liu He-ting sudah bersiul, badannya seperti seekor burung terbang ke atas, kedua tangannya dengan membawa angin, dia menerkam Hei Chuan Yun.
Hei Chuan Yun seperti burung kaget.
Dia tahu dasar ilmu silat Liu He-ting, jurusnya aneh dan sangat tinggi.
Dia juga tidak tahu dari mana asal Liu He-ting.
Melihat Liu He-ting siap menerkam, dia lebih kaget lagi dan membentak.
"Segera bergerak!"
Diiringi suara siulan, terdengar Huang Po Yue membentak dan dengan cepat dia berlari ke sana.
Ling Shi Gu Gui tertawa dingin, terlihat ada luncuran 3 titik cahaya berwarna hijau.
Laki-laki yang berada di balik batu, sudah siap memasang panah, tapi mereka bengong harus menyerang atau tidak.
Terlihat Liu He-ting melayang, di tengah udara dia masih sempat mengganti jurus.
Hei Chuan Yun merasa pundaknya mati rasa, tenaganya tidak bisa keluar.
Dia berteriak.
"Tiga!"
Begitu kaki Liu He-ting mendarat di tanah, segera dia melompat lagi dan membentak.
"Siapa yang berani menembak!"
Beberapa ratus panah yang sudah siap, tapi tidak ada yang berani menembak. Liu He-ting membentak.
"Ini pasti ada kesalah-pahaman, kalau tidak dijelaskan sekarang tidak ada orang yang boleh meninggalkan tempat ini!"
Dia berkata kepada Qi bersaudara.
"Kakak Qi, sekarang bukan waktunya bergurau, aku harap kalian berempat bisa menjelaskan semuanya, tempat apa ini dan apa hubungan kalian dengan Wu Yi Shen Mo?"
Qi Da tertawa terbahak-bahak dan berkata.
"Permasalahan yang terjadi di dalam dunia persilatan sangat kacau, kami tidak pernah mau tahu mengenai masalah-masalah itu. Apa itu Wu Yi Shen Mo, kami belum pernah mendengarnya,"
Liu He-ting berpikir.
"Wu Yi Shen Mo, ilmu silat mereka sangat tinggi dan gerakannya pun sangat misterius, tidak ada yang tahu nama asli mereka. Qi bersaudara pun tidak tahu tentang hal ini, sepertinya memang begitu."
Terdengar Qi Er berkata dengan tertawa.
"Kami tidak sengaja menemuka tempat ini, siapa tuan rumah tempat ini, kami pun tidak tahu!"
Ling Shi Gu Gui tertawa dingin dan berkata.
"Mengapa tadi kau tidak menjelaskannya?"
Tao Ru Ming berkata.
"Kalau saja sejak tadi kau menjelaskannya, tidak akan terjadi kesalah-pahaman seperti ini!"
Qi San berkata.
"Kalau tidak terjadi kesalah-pahaman, kami tidak bisa bermain lagi."
"Mana boleh seperti itu."
Liu He-ting merasa kesal tapi juga ingin tertawa. Terpaksa dia menahan emosinya dan berkata.
"Apakah sewaktu Kakak Qi tiba di sini, tempat ini tidak ada orangnya lagi?"
Qi Si mengangguk dan berkata.
"Ketika kami tiba di sini, di sudah tidak ada orang tapi di atas tungku ada sayur cukup untuk 10 orang lebih dan sedang dikukus. Kami makan sedikit, tapi tidak habis. Kemudian kami bertemu denganmu setelah itu bertemu dengan banyak orang yang kelaparan, kami memanaskan sayur lagi untuk mempermainkan bocah itu. Siapa yang memasak sayur ini? Dimasak untuk siapa? Mengapa orang-orang belum makan setelah pergi? Memang semua ini sedikit aneh."
Liu He-ting mengerutkan dahinya, kemudian dia berkata.
"Tampaknya di sini adalah sarang Wu Yi Shen Mo, apa yang terjadi di sini aku kira semua orang sudah mengerti, tidak perlu dijelaskan lagi."
Dia menurunkan Hei Chuan Yun dan membuka totoknya.
Hei Chuan Yun berguling di bawah, kemudian berdiri.
Liu He-ting sudah mendekatinya dan memberi hormat.
"Pendekar Hei, maafkan aku telah berbuat tidak sopan, semua ini karena terpaksa. Kalau Pendekar Hei masih merasa marah, aku siap menerima pembalasannya, aku tidak akan membalas."
Hei Chuan Yun sudah jpengepalkan tangan, dia marah dan membentak.
"Apakah semua perkataanmu betul?"
Dia maju selangkah, dengan kepalan tangannya dia siap memukul Liu He-ting.
Terlihat Liu He-ting berdiri dengan tersenyum, dia tidak bergerak.
Hei Chuan Yun menarik nafas panjang dan berkata.
"Adik benar-benar mempunyai hati yang besar, yang tidak dimiliki orang lain. Aku telah salah karena belum tahu secara jelas permasalahannya langsung atnbill tindakan. Hai.... tidak tahu siapa yang membocorkan rahasia ini, sehingga mereka kabur dulu."
Ling Shi Gu Gui tertawa sinis. Dia berdiri di tempat jauh dan berkata.
"Kakak Hei terlalu cepat mempercayai kata-kata orang, hanya dengan mendengar perkataan mereka beberapa kalimat saja kau sudah langsung mempercayainya?"
Wajah Liu He-ting berubah dan berkata.
"Jadi harus bagaimana supaya Tuan baru percaya?"
Ling Shi Gu Gui berkata.
"Kalau kau ingin aku percaya padamu itu tidak mudah, walaupun aku sudah salah bertindak kepada sepuluh ribu orang, tapi aku tidak akan melepaskan satu orang penjahat!"
Tiba-tiba dia membentak.
"Mengapa kalian tidak memanah? Tunggu apalagi!"
Suaranya baru selesai, tiba-tiba beberapa ratus kilauan hitam sudah keluar dari balik batu dan menembak ke arah Qi bersaudara.
Tao Chun-chun, dan Liu He-ting.
Hei Chuan Yun yang berada di depan Liu He-ting melihat keadaaan begitu langsung dia berteriak.
"Kakak Gu, apa yang akan kau lakukan?"
Tiba-tiba ada angin kencang berhembus ke sana, di atas langit terlihat angin hitam, ratusan anak pariah dan busur yang siap dilepaskan, tertiup oleh angin kencang dan semua terlempar berantakan.
Qi Da tertawa.
"Mengandalkan besi rongsokan, mana mungkin bisa mengalahkan saudaraku?"
Liu He-ting dan Tao Chun-chun merasa aneh, mengapa bisa ada angin datang begitu tiba-tiba.
Ternyata kedua tangan raksasa Da Bao telah memegang tenda.
Dia sedang mengibar-ngibarkan tenda itu, tenaganya sangat besar, tenda yang begitu besar bisa dikibar-kibarkan menghasilkan angin kencang dan panah-panah itu pun terbang tak tentu arah.
Hei Chuan Yun marah juga kaget.
"Gu Gui sialan, kau ternyata ingin mengkhianati aku juga!"
Dia melihat busur Huang Po Yue ada di sisinya.
Segera dia memungut dan mencabut Huang Ling Hei Jian siap untuk memanah.
Ternyata mereka sudah menangkap Huang Po Yue dan menjadikannya sebagai perisai di depan mereka.
Hei Chuan Yun kaget, tangannya menjadi lemas.
Ling Shi Gu Gui tertawa.
"Panahku yang bernama Zhu Ge Shen Jian tidak akan habis, aku ingin lihat apakah raksasa bodoh itu bisa berapa lama mengipas dengan tenda itu?"
Hei Chuan Yun berteriak.
"Saudara-saudara Huang Ling Hei Jian, cepat tangkap kelompok Ling Shi Gui!"
Tanya Ling Shi Gu Gui.
"Apakah kalian tidak menginginkan nyawa Huang Po Yue?"
Suara baru habis, sudah terdengar ada panah yang dilepaskan dengan lurus dan jatuh dari atas kepala.
Ternyata walaupun ilmu silat Hei Chuan Yun tidak begitu tinggi, tapi ilmu panahnya dalam 100 langkah selalu tepat mengenai sasaran.
Panah itu dilepaskan, diarahkan ke atas langit, tapi begitu turun jatuh tepat berada di atas kepala Gu Gui.
Panah membawa angin kencang, Gu Gui kaget, dengan sekuat tenaga dia bergeser ke kiri.
Terlihat anak panah dengan cepat melewati sisi tubuhnya kemudian menancap di bawah.
Dia kaget dan keringat dinginnya pun terus berjatuhan, kemudian dia tertawa sinis.
"Apakah kau tidak takut kalau Huang Po Yue akan mati di sini?"
Hei Chuan Yun membentak.
"Kalau dia mati, kau juga tidak akan bisa hidup lebih lama!"
Ling Shi Gu Gui tertawa dingin dan berkata.
"Kalau begitu kau boleh mencobanya!"
Hei Chuan Yun mengeluarkan jarinya lagi, kali ini dia mencabut sebuah panah panjang.
Liu He-ting berpikir di dalam hati.
"Orang-orang dunia persilatan bila ingin mencapai tujuannya mereka benar-benar nekad dan melakukannya dengan segala cara, tadi Yi Gui Shan Shen dan Huang Ling Hei Jian datang bersama-sama, tapi sekarang malah menjadi musuh. Sekarang yang dipikir oleh Hei Chuan Yun adalah asal bisa membunuh musuh nyawa saudaranya tidak dipikirkan lagi, benar-benar keterlaluan!"
Terlihat Hei Chuan Yun sudah memasang panah dan Gu Gui masih tertawa dengan sinis.
Tawanya semakin tajam dan menusuk telinga, tenaga Hei Chuan Yun pada saat menarik busur semakin tidak bertenaga.
Liu He-ting melihat telapak tangan Hei Chuan Yun yang tampak semakin gemetaran.
Wajahnya semakin membengkak.
Keringat di dahinya terus menetes.
Tiba-tiba 3 jari tangan kanannya dilepas, panah panjang meluncur dengan cepat.
Liu He-ting menghela nafas dan memejamkan mata, dia tidak berniat menyaksikan sesama teman saling membunuh, sebab dia tally panah Hei Chuan Yun sudah diluncurkan, Ling Shi Gu Gui akan menjadikan Huang Po Yue sebagai perisai.
Manusia mana bisa menahan serangan panah yang bisa membuat batu terbelah dan gunung menjadi pecah?
Bukankan akan terjadi peristiwa berdarah?
Tapi begitu panah Hei Chuan Yun ditembak, dengan jarak 2 meter lagi, panah itu terjatuh.
Tawa sinis Gu Gui terdengar semakin sombong.
Liu He-ting membuka mata, terlihat Hei Chuan Yun menarik nafas panjang.
Tiba-tiba dia melempar busur panjangnya dan berteriak.
"Aku harus melawan tanpa anak panah."
Dia sudah menerkam Gu Gui.
Hati Liu He-ting bergetar, dengan cepat dia mencabut suling yang tersimpan di belakang tubuhnya, kemudian dengan cepat dia menarik baju Hei Chuan Yun.
Terdengar beberapa kali suara, panah besi yang dipanah dari balik batu terkena sabetan seruling itu, sebagian ada yang terjatuh.
Liu He-ting mendekat dan berkata.
"Ada pepatah mengatakan, selama masih ada gunung tidak usah takut tidak ada kayu bakar. Kakak Hei, mengapa harus berbuat seperti itu?"
Dia melihat pundak Hei Chuan Yun yang dipenuhi darah, ternyata Hei Chuan Yun sudah terkena 2 panah.
Baju sutranya yang berwarna hitam pada bagian yang terkena darah menjadi berwarna ungu tua yang jelek.
Liu He-ting mengerutkan dahinya.
Dengan cepat kedua jarinya mencabut panah yang ada di punggung Hei Chuan Yun.
Rasa sakit membuat wajah Hei Chuan Yun mengernyit kesakitan, tapi matanya terus melihat Liu He-ting dan pandangannya penuh dengan rasa terima kasih.
Dia berkata.
"Luka sedikit ini tidak akan menggangguku!"
Liu He-ting tersenyum, dalam hati dia memuji.
Hei Chuan Yun benar-benar seorang laki-laki yang keras hati.
Biasanya Liu He-ting tidak pernah memandang permasalahan kecil, tapi jika tadi Hei Chuan Yun menembak panahnya dan tidak peduli saudaranya hidup atau mati, sekarang ini mungkin dia sudah mati, Liu He-ting tidak akan membantunya.
Tapi yang dilihat sekarang, walaupun Hei Chuan Yun sangat marah dan berani mempertaruhkan nyawanya, tapi dia tetap tidak mau menembakkan panah yang akan mencabut nyawa saudaranya.
Karena itu Liu He-ting dengan serulingnya dia menotok nadi Hei Chuan Yun dan tersenyum sambil berkata.
"Maaf, aku harus menotok nadimu untuk menghentikan darah yang terus mengalir, baru -"
Tiba-tiba ada suara yang berteriak.
"Hayo ikut aku mundur!"
Suaranya terdengar seperti guntur.
Liu He-ting membalikkan kepalanya untuk melihat.
Dia tahu itulah suara raksasa Da Bao, segera dia menyimpan serulingnya lalu menggendong Hei Chuan Yun.
Terdengar suara angin yang berasal dari tenda.
Mereka mundur ke dalam gua di dekat gunung.
Panah yang tadinya agak jarang sekarang seperti angin dan hujan terus menyerang mereka.
Ling Shi Gu Gui tertawa dan berkata.
"Kalian sembunyi di dalam gua, apakah kalian akan terus bersembunyi selama 1 tahun?"
Tiba-tiba dia membentak dan memerintah.
"Jangan tembak dulu! Kita akan menangkap kura-kura di dalam gentong!"
Liu He-ting tertawa dingin, dia ingin membantahnya tapi dia mengurungkan niatnya karena semua ini hanya akan membuang tenaga dengan percuma.
Dia ikut mundur, tiba-tiba Qj bersaudara berteriak.
"Xiao Bao -keledai, dimana Xiao Bao dan keledaiku?"
Matanya melihat lagi ke tempat tadi mereka minum dan makan.
Sayur dan arak masih ada, tenda sudah tercabut.
Kecuali itu kereta keledai dan anjing kesayangan Qi bersaudara, Xiao Bao entah berada di mana.
Xiang Huang yang mabuk berat pun entah sudah digotong ke mana?
Begitu Qi bersaudara berteriak, burung kakak tua itu pun ikut berteriak.
"Xiao Bao -keledai. Xiao Bao -keledai."
Liu He-ting mengerutkan dahinya dan berpikir.
"Binatang ini sangat pintar, walaupun kepintarannnya berada di bawah manusia, tapi untuk menghindari musibah ini jelas dia lebih pintar daripada manusia. Apalagi keledai dan Xiao Bao, mereka bukan binatang sembarangan, pasti sejak tadi mereka sudah menghindar. Tapi Pangeran Dong Gong Xiang Huang yang mabuk berat itu, harus dipikirkan, di mana sekarang berada!"
Qi bersaudara berteriak masuk ke dalam gua.
Liu He-ting masih mengkhawatirkan keadaan Xiang Huang.
Tiba-tiba ada sepasang tangan yang lembut dan wangi tercium, suaranya yang lembut dan manis berkata.
"Kita juga harus ikut masuk!"
Dengan bingung Liu He-ting masuk ke dalam gua.
Tercium lagi bau wangi seorang perempuan.
Tao Chun-chun dengan lembut berkata.
"Apakah kau sedang mengkhawatirkan keadaan Xiang Huang?"
Liu He-ting melihat mata Tao Chun-chun yang lembut, lama dia baru mengangguk.
"Sewaktu dia mabuk, dia sudah digotong oleh raksasa itu ke dalam kereta keledai!"
Liu He-ting menarik nafas dan bertanya.
"Dimana kereta keledai itu sekarang?"
Tao Chun-chun tampak sedang membereskan rambutnya, dengan lembut dia berkata.
"Kereta itu sejak tadi sudah masuk ke dalam gua, kau tidak perlu merasa khawatir lagi."
Wajah Liu He-ting menjadi merah, hatinya sangat senang, gadis ini begitu naif dan manja tapi jika sudah terjadi sesuatu dia begitu tenang, dia tidak banyak berkata tapi dia selalu memperhatikan apa yang telah terjadi di sekelilingnya.
Sepertinya hal yang terjadi di dunia ini tidak akan lolos dari matanya yang bercahaya.
Angin sudah berhenti berhembus.
Da Bao jua sudah masuk ke dalam gua, dia berdiri dengan membungkuk di depan Liu He-ting.
Liu He-ting hanya bisa bengong, kemudian dia memberi jalan, ternyata dia masih terus berdiri di depan mulut gua.
Hei Chuan Yun sudah masuk ke dalam gua dan duduk di bawah, dia belum tahu keadaan yang terjadi!
Dia membalikkan badan dan masuk ke dalam gua, terlihat Qi bersaudara berdiri menempel ke dinding gua, mulut mereka dengan suara kecil terus memanggil Xiao Bao....
Liu He-ting menarik nafas, sekarang dia baru tahu kalau keempat saudara itu walaupun senang bergurau tapi mereka adalah orang-orang yang penuh perasaan.
Keempat orang tua yang cacat dan berambut putih itu dengan cemas berdiri di mulut gua yang gelap.
Sikap guyon mereka yang biasa sudah tidak terlihat lagi, semua karena seekor anjing dan seekor keledai.
Orang yang penuh dengan perasaan selalu tidak bisa menutupi Perasaan mereka karena orang yang penuh perasaan jika ingin menutupi perasaannya sebenarnya lebih sulit daripada orang yang tidak mempunyai perasaan yang dapat menutupi sifatnya yang kejam.
Liu He-ting terpengaruh dengan sikap mereka, pelan-pelan dia berjalan menuju Qi bersaudara, dia ingin menghibur mereka, tiba-tiba terdengar suara keliningan anjing yang keluar dari dalam gua.
Qi bersaudara segera berteriak, di antara suara DING dan TANG, kereta keledai dengan pelan berjalan keluar.
Di atas punggung keledai, ternyata ada seekor anjing putih yang sedang duduk dengan diam di atasnya.
Xiao Bao seperti sedang menjadi kusir, kemudian dia bengong dan meloncat turun, dan meloncat lagi ke dalam pelukan Qi Da.
Pak tua yang tadi penuh dengan rasa kekhawatiran segera tertawa senang.
Di dalam gua sekarang penuh dengan suasana kegembiraan.
Liu He-ting membalikkan kepalanya untuk melihat.
Tao Chun-chun tersenyum kepadanya dan berkata.
"Orang yang kau khawatirkan berada di dalam kereta itu."
Tao Chun-chun tersenyum, terlihat Hei Chuan Yun sedang memejamkan mata dan duduk bersila di bawah.
Suara gembira yang terdengar di dalam gua seperti tidak terdengar olehnya.
Gua ini sangat panjang, semakin masuk ke dalam semakin lebar.
Kira-kira 20-30 meter juga itu mulai berbelok.
Liu He-ting tidak bisa melihat keadaan di dalam.
Terdengar Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Di dalam gua ini seperti ada dunia lain, apakah kau ingin masuk dan melihatnya?"
Liu He-ting melihat Hei Chuan Yun, lalu melihat Tao Chun-chun lagi, kemudian melihat ke luar gua, di dalam gua yang penuh dengan kegembiraan, dia tidak ingin melihat Hei Chuan yun yang sakit dan sedih, tiba-tiba dia sangat iri kepada Qi bersaudara, terasaan mereka begitu murni dan polos!
Dia terpaku, kemudian baru teringat kalau dia belum menjawab pertanyaan Tao Chun-chun.
Tiba-tiba terdengar suara datang dari luar gua.
Liu He-ting kaget dan membalikkan badan.
Dia menggerakkan telapak tangannya.
Angin telapak tangan keluar sangat besar.
Anak panah yang masuk ke dalam gua karena ayunan tangannya panah itu terjatuh ke kedua sisi.
Kemudian ada 3 panah lagi melesat masuk ke dalam gua, dia menangkap salah satu panah, kedua panah lainnya berhasil ditangkis, anak panah ke-6, dan ke-7 pun terjatuh ke bawah.
Terdengar ada suara langkah berat datang dari belakang.
Da Bao sedang membungkukkan badannya.
Kedua tangan membawa tenda, dengan langkah besar dia berjalan ke mulut gua kemudian menutupi gua itu dengan tenda.
Terdengar beberapa panah yang sudah terkena panah ke tenda itu.
Gua menjadi semakin gelap.
Da Bao berjalan ke dalam gua, suara panah seperti suara hujan yang berjatuhan ke atas daun pisang.
Liu He-ting baru saja ingin memuji kepintarannya.
Tapi terdengar Tao Chun-chun dengan suara berat berkata.
"Kali ini kita benar-benar akan celaka! Sudah tidak sempat lagi! Tidak sempat lagi!"
Liu He-ting kaget dan bertanya.
"Apa yang celaka!"
Suaranya belum habis, terdengar beberapa kali suara PUSH, PUSH. Tao Chun-chun berkata.
"DI dalam gua ini tadinya tidak ada apa pun yang bisa memancing benda menjadi terbakar tapi sekarang.... kalau begitu -hai!"
Hati Liu He-ting bergetar.
Dia melihat, hanya sebentar tenda yang menutupi mulut gua mulai terbakar.
Terdengar suara Ling Shi Gu Gui tertawa dan berkata.
"Bakar, bakar! Kalian sekarang mau bersembunyi di mana lagi?"
Liu He-ting mengerutkan dahi, terlihat Qi Da datang ke arahnya. Dia tertawa dan berkata.
"Bakar saja, tidak apa-apa! Lihat kalian bisa bertahan sampai kapan!"
Liu He-ting menarik nafas, dia merasa Qi bersaudara sampai sekarang mereka masih bisa bergurau.
Tao Chun-chun berkata.
"Bakarlah gua ini dengan api lebih besar!"
Qi Da tertawa dan berkata.
"Betul, betul. Betul, Nona Tao sangat pintar. Gua ini sangat besar. Walaupun mereka membakar hingga 1 tahun pun, tidak akan sampai masuk ke dalam. Mereka tidak berani masuk ke sini, kita pun tidak perlu keluar."
Walaupun dia sering bergurau, bahasa yang digunakannya tidak tepat, tapi dia merasa sangat yakin.
Liu He-ting melihat api yang ada di depan gua.
Dalam hati dia berpikir.
"Kalau kalian kakak beradik sejak awal sudah menjelaskannya, tidak akan terjadi hal seperti ini."
Liu He-ting melihat Qi Da, terlihat wajahnya sangat polos.
Kata-kata yang tadinya ingin dikatakan kepada Qi Da, ditelannya kembali.
Memang sifat Liu He-ting pada dasarnya sangat ramah, dia sulit memarahi orang.
Diam-diam dia membalikkan badan dan mendekati Hei Chuan Yun, dia memberi hormat dan bertanya.
"apakah sekarang luka Kakak Hei sudah lebih baik? Sayang aku tidak mempunyai obat untuk menutupi luka itu. Begitu luka Kakak agak mengering, aku akan membantu Kakak membuka totokan nadinya. Sekarang lebih baik Kakak Hei masuk ke dalam gua untuk beristirahat."
Pelan-pelan dia melihat luka yang ada di pundak Hei Chuan Yun. Hei Chuan Yun dengan dingin berkata.
"Lukaku tidak apa-apa, kau tidak perlu merasa jchawatir."
Dia memang merasa sangat sungkan, tapi dia juga bersikap dingin.
Liu He-ting merasa sedikit kaget dan mundur dari hadapannya.
Terlihat Hei Chuan Yun berdiri dan berkata.
"Aku sudah menjadi tawanan Tuan, aku akan mendengar apa yang diperintahkan Tuan. Tuan menyuruhku ke dalam gua, maka aku akan pergi!"
Matanya melihat ke bawah, sama sekali tidak berani melihat Liu He-ting.
Liu He-ting berdiri berhadapan dengan dinding gua, tampak dinding gua sangat licin seperti kaca.
Api yang ada di mulut gua menyinari bayangan orang yang sedang terpaku.
Bayangan ini sama sekali tidak bergerak, dia selalu jujur kepada siapa pun, maksud baiknya tidak diterima, dia merasa kesal, pelan-pelan dia memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang.
Begitu dia membuka mata lagi, ada sesosok bayangan berbaju putih di sisinya.
Dia mencium wangi rambut perempuan, dia juga melihat sepasang mata yang indah, api di depan gua semakin membesar.
Sepasang mata ini semakin bercahaya, dia ingin membalikkan badan dan juga ingin membalikkan kepalanya, akhirnya dia hanya bisa menundukkan kepala.
Terdengar Tao Chun-chun berkata.
"Apakah hatimu merasa sakit?"
Bibir dan sudut mulut itu bergerak, itulah sebuah senyuman. Diamenjawab.
"Begitulah...."
Tao Chun-chun berkata lagi.
"Kalau saja kau sedikit lebih jahat kepada orang lain, kau tidak akan menjadi seperti ini."
Liu He-ting mengangkat kepalanya dan berpikir apa yang harus dia jawab, terlihat rambut Tao Chun-chun sepanjang bahunya bergerak sangat alami, suci, dan cantik.
Pelan-pelan dia berkata.
"Kita masuk saja ke dalam gua!"
Dia baru sadar kalau di gua ini kecuali mereka berdua tidak ada yang lainnya.
Dia tergesa-gesa membalikkan badan dan berjalan tapi langkahnya semakin melambat.
Di dalam hati seperti ada yang bertanya.
"Kalau kau sedikit lebih jahat kepada orang lain, apakah kau tidak akan merasa sedih?"
Pertanyaan ini ditanyakannya kepada dirinya sendiri, semakin dipikir semakin tidak bisa menjawab, dia tidak tahu masalahnya begitu mudah, tapi menjawab begitu sulit.
Dia berkata kepada Tao Chun-chun.
"Apa yang kau tanyakan tadi, aku tidak akan menjawabnya!"
"Mungkin kelak aku akan tahu jawabannya, waktu itu aku akan memberitahukannya kepadamu!"
Tao Chun-chun seperti sedang memikirkan sesuatu, dengan tertawa dia berkata.
"Sebenarnya aku pun tidak tahu jawabannya!"
Dia berhenti di sisi Liu He-ting, alisnya sedikit bergerak kemudian mengangkat kepalanya pelan-pelan dan berkata.
"Di dunia ini banyak orang baik, tapi banyak juga orang jahat. Banyak orang jahat yang berubah menjadi baik, banyak orang baik berubah menjadi jahat. Banyak orang terkadang menjadi baik, terkadang menjadi jahat. Kau pikir apakah mereka pun mencari jawaban dari pertanyaan ini?"
Liu He-ting menundukkan kepalanya, baru berjalan beberapa langkah dia tersenyum dan berkata.
"Kadang-kadang jawaban dari pertanyaan belum tentu harus dilakukan langsung baru bisa tahu apa jawabannya. Melihat orang lain pun kau akan tahu jawabannya, apakah betul pendapatku?"
Tao Chun-chun tertawa dan kedua tangannya diturunkan.
Kalau Liu He-ting bisa mengerti hati seorang perempuan dari gerakan tangan perempuan itu, seharusnya dia bisa tahu di balik wajah tenang itu, tersembunyi hati yang sangat kacau.
Api semakin membesar, tawa Ling Shi Gu Gui semakin keras, seringkali terdengar ada anak panah masuk ke dalam.
Dinding di kedua sisi gua menjadi hitam karena asap.
Liu He-ting berjalan dengan perlahan.
Seringkali dia membalikkan kepalanya untuk melihat, apakah dia sedang melihat api membakar mulut gua atau melihat wajah Tao Chun-chun yang cantik?
Tao Chun-chun berjalan dengan perlahan jugan, dia menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu, atau dia takut melihat sepasang mata Liu He-ting yang penuh dengan perasaan itu?
Jalan gua berbelok ke kiri, dan gua semakin gelap.
Di dalam gua terdengar suara tawa Qi bersaudara.
Dengan suara tawa Ling Shi Gu Gui di luar gua bergantian, membuat gua gelap dan orang yang berada di dalam gua menjadi bingung menghadapi kejadian semua ini.
Apakah nyata atau hanya sekedar ilusi?
Ooo)odw-kzo(ooO BAB Nyata atau Ilusi Tao Chun-chun berjalan sambil menundukkan kepala, tiba-tiba terdengar Liu He-ting membentak, tubuh Liu He-ting berputar dan meloncat dengan cepat.
Segera dia mengambil panah yang terjatuh, kemudian kedua panah itu dilemparkan ke bawah.
Panah itu membawa tenaga besar dan berhasil masuk ke dalam kobaran api.
Tao Chun-chun kaget.
Terdengar di luar gua ada yang berteriak, suaranya menjauh.
"Apa yang terjadi hari ini semua hanya kesalahpahaman, kalian tidak mau mendengar penjelasanku. Tapi aku, Liu He-ting dengan kalian tidak ada dendam atau permusuhan, maka kami pun mencoba untuk menahan emosi kami, tapi kalian malah berani masuk ke dalam gua, orang yang masuk ke gua tadi sebagai salah contohnya."
Suara keras sehingga terdengar sangat jelas.
Begitu suaranya berhenti di sekeliling tempat itu menjadi sepi.
Suara tawa Ling Shi Gu Gui yang seram juga tidak terdengar lagi.
Liu He-ting mendengar keadaan di luar, kemudian mendekati Tao Chun-chun.
Dia menarik nafas panjang dan dengan langkah besar dia terus berjalan.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Liu He-ting tidak menjawab.
"Apakah kau sedang memikirkan sebenarnya tadi jangan melukai orang itu, apakah benar?"
Mata Liu He-ting membuka dengan lebar dan berhenti berjalan, dia membalikkan kepala.
Dia merasa mata Tao Chun-chun yang indah bisa melihat isi hatinya yang paling dalam.
Begitu jalan gua itu berbelok ke kiri, keadaan di dalam gua tiba-tiba berubah, banyak batu-batu berbentuk indah.
Pemandangan di sana begitu indah, seperti sebuah istana bebatuan, terukir begitu indah, semakin berjalan ke dalam, batu-batu indah itu semakin banyak.
Bentuknya pun bermacam-macam, di ujung gua ada batu yang berbentuk seperti tirai menutupi jalan keluar.
Batu stalagnitnya mengeluarkan cahaya, karena pemandangan begitu indah, membuat hati Liu He-ting yang kacau untuk sementara menjadi tenang.
Dia terhanyut dengan pemandangan indah itu.
Tiba-tiba satu tirai menjadi empat tirai.
Di balik keempat tirai itu ada 4 buah patung Budha.
Karena cahaya dari kilauan batu tirai membuat patung Budha itu mengeluarkan cahaya, siapapun yang melihat akan merasa aneh sebenarnya sekarang berada di dunia nyata atau berada di langit?
Liu He-ting masih terpaku.
Tiba-tiba 4 patung Budha itu bersama-sama tertawa dan meloncat.
Mereka tertawa dan berkata.
"Kalian sedang apa di luar, mengapa baru datang sekarang?"
Melihat Liu He-ting sedang bengong, mereka berkata.
"Apakah kau takut masuk ke sini?"
"Kalau kalian tidak bergerak, mungkin selamanya aku akan terus berada di sini, kalau tidak ada orang mengatakan di sini adalah sarang Wu Yi Shen Mo, aku masih mengira di sini adalah gua rumah dewa, mana berani aku masuk ke dalam?"
Tao Chun-chun memegang rambut sebahunya, dia bersandar ke sebuah batu dan berkata.
"Ada yang mengatakan kalau Wu Yi Shen Mo sangat kejam, sekarang aku sudah melihat tempat tinggal mereka, aku tidak percaya kalau mereka adalah iblis pembunuh orang dengan mata tidak berkedip!"
Qi Si tertawa dan berkata.
"Biar mereka itu iblis atau bukan. Jujur saja hari ini aku telah bermain sangat puas. Adik Liu, kau jangan memuji dulu pemandangan di sini. Mari kita masuk ke dalam untuk melihat-lihat."
Dia sudah menghilang di balik batu besar, terdengar suara gonggongan Xiao Bao.
Dia berlari ke depan Tao Chun-chun dan menjilat jari kakinya.
Tiba-tiba Xiao Bao lari meninggalkan Tao Chun-chun.
Tao Chun-chun tertawa dan ingin menangkap Xiao Bao, tapi Xiao Bao sudah lari kemudian meloncat ke dalam pelukan Liu He-ting.
Kata Qi Da.
"Xiao Bao sudah lama ikut kami yang sudah tua ini, jadi mungkin dia tidak senang dengan perempuan."
Qi Da tertawa.
Dia juga masuk ke balik sebuah batu besar.
Liu He-ting ingin tertawa tapi Tao Chun-chun terus melihat Xiao Bao yang masih berada dalam pelukan Liu He-ting.
Sorot mata Tao Chun-chun bersinar aneh tapi hanya sebentar, sayang Liu He-ting tidak berpengalaman, dia tidak mengerti sorot mata aneh itu sebenarnya mengandung sesuatu....!
Dia terus mengelus kepala Xiao Bao dan ikut masuk ke balik batu besar itu.
Tao Chun-chun menghela nafas dan berkata.
"Aku tidak tahu kalau ternyata aku begitu dibenci orang, sampai anjing kecil ini pun tidak suka kepadaku."
Liu He-ting terpaku, dia berpikir.
"Anjing kecil ini mengerti apa? Mengapa dia begitu peduli pada perasaan anjing?"
Dia berpikir lagi.
"Siapa bilang dia dibenci, aku sangat senang selalu bersamamu!"
Kalimat ini berputar-putar di mulutnya, tapi dia tidak dikatakannya.
Terasa ada sebuah tangan diletakkan di pundaknya.
Wanginya tercium.
Liu He-ting membalikkan kepala untuk melihat.
Di dalam cahaya batu stalagnit, wajah cantik itu sedang melihatnya.
Jarak mereka hanya sekitar 20-30 sentimeter.
Suara detak jantung seperti bercampur menjadi satu.
Liu He-ting berdiri dengan diam.
Pertarungan, pertumpahan darah, api besar, semua itu sudah berlalu.
Sampai kalah, menang, keributan dan kesalahpahaman -tidak ada lagi di dalam hati.
Di dalam gua yang begitu sepi dan sunyi ini, Tao Chun-chun terdengar menghela nafas dan berkata.
"Mengapa kau melihatku terus?"
Liu He-ting terpaku. Tangan lembut itu diturunkan dari pundak Liu He-ting. Dia berkata.
"Kau.... kau.... kau...."
Kepala Tao Chun-chun menunduk dan berkata.
"Apakah kau tidak senang bersamaku?"
Liu He-ting menggelengkan kepalannya, perasaan hangat merasuk ke dalam lubuk hatinya.
Tao Chun-chun berkata lagi.
"Kalau aku senang dengan seseorang, aku berharap dia tidak membenciku, kalau ada orang benci kepadaku, aku pun akan lebih membenci dirinya!"
Tiba-tiba dia melihat Liu He-ting dan berkata lagi.
"Kalau kau.... tidak benci kepadaku.... bukan?"
Dengan lembut dia bertanya.
"Aku tidak benci kepadamu!"
Jari Tao Chun-chun bergetar dan berkata.
"Kalau begitu demi diriku, kau harus membunuh sesuatu yang kubenci!"
Hati Liu He-ting bergetar, pegangan tangannya menjadi longgar.
Xiao Bao segera meloncat turun.
Liu He-ting merasa kaget juga takut.
Dengan mata membelalak dia bertanya.
"Kau.... kau mengatakan apa tadi?"
Mata Tao Chun-chun berputar. Dia segera menjawab.
"Aku mengatakan kelak kalau ada orang jahat yang menghinaku, kau harus melindungiku dan membunuh orang jahat itu"
Tiba-tiba Tao Chun-chun mengangkat kepalanya dan berkata.
"Mengapa kau kaget? Apakah kau mengira aku berbicara tentang anjing itu?"
Liu He-ting menyeka keringat di dahinya dan berkata.
"Aku kira.... aku kira.... benar-benar aku menjadi.... hai! Kadang-kadang kata-katamu sering membuat orang menjadi kaget!"
Dia melihat Xiao Bao, mata Xiao Bao yang hijau tampak berkedip, seperti menertawakan dia!
Di depan mereka ada sebuah batu besar yang menghalangi kamar batu itu.
Di dalam kamar ada sebuah meja, kursi, dan juga tempat tidur yang terbuat dari batu, kamar baju itu saling menyambung, kamar itu luas, indah, dan juga bersih, sepertinya ada orang yang sering membersihkannya.
Qi bersaudara sangat senang.
Hei Chuan Yun yang tadinya tampak murung, setelah datang ke tempat ini, untuk sementara dia pun melupakan kejengkelan dan kesedihan hatinya.
Qi Da sangat senang, kadang-kadang dia tidur di tempat tidur itu, kadang-kadang dia berdiri di atas kursi batu itu.
Tiba-tiba dia tertawa dan berkata.
"Adik Liu, sepertinya kau tertarik pada perempuan itu, kita masuk dulu ke dalam biar mereka tidak bisa mencari kita!"
Adik-adiknya segera tertawa dan menyetujui.
Tadinya Hei Chuan Yun duduk di dekat tembok.
Dia tidak ingin mendengar juga tidak ingin tahu.
Tiba-tiba ada tangan besar lewat di depan tangan dan lututnya, dengan cepat dia sudah diangkat dan diletakkan di dalam kereta keledai.
Hei Chuan Yun yang diperlakukan seperti itu oleh orang lain, dia merasa kesal dan sedih.
Dia membalikkan badannya dan hidungnya langsung tercium bau arak yang menyengat dan membuat dia ingin muntah.
Dia melihat seseorang dengan wajah marah dan sudut mulutnya keluar air liur, orang ini berbaring di sisinya.
Dia menarik nafas, matanya basah.
Terlihat air matanya hampir menetes.
Kamar batu yang kedua, ada dua buah pintu.
Da Bao membawa kereta keledai itu terus berjalan, jika berpapasan dengan jalan sempit, dia sering mengangkat keledai berikut keretanya kemudian meletakkannya kembali setelah jalan agak melebar.
Kamar ketiga ada 3 buah pintu.
Masuk ke kamar keempat bertambah lagi satu pintu.
Begitu masuk ke kamar kelima, Qi Da melihat ada 5 pintu.
Dia berkata.
"Kelihatannya gua ini penuh dengan bermacam-macam mainan."
Kata-katanya belum selesai, kakinya sudah gemetar.... Liu He-ting tersenyum dan berkata.
"Xiao Bao, tuanmu berada di mana, bawa kami mencarinya!"
Ekor Xiao Bao bergoyang-goyang, dia sudah membalikkan badannya dan berlari. Tao Chun-chun berkata.
"Anjing ini sangat lucu, tapi dia tidak suka kepadaku!"
Liu He-ting tertawa dan tersenyum, dalam hati dia berpikir.
"Pikirannya masih kekanak-kanakan."
Begitu masuk ke kamar batu, dia merasa kaget.
Wu Yi Shen Mo benar-benar hebat, mereka bisa mendapatkan tempat seperti ini....
Tiba-tiba terdengar suara Qi bersaudara berteriak dan suara raksasa Da Bao membentak.
Kemudiari terdengar suara seperti gempa dari dalam.
Liu He-ting kaget dan berlari ke arah sana.
Hanya sebentar dia sudah berada di kamar kedua, suara teriakan masih terus bergenia di dalam gua, seperti datang dari arah kanan!
Liu He-ting memilih jalan ke pintu kanan, begitu masuk ke kamar ketiga, Dia berhenti sebentar, suara gema semakin mengecil, dia berlari lagi ke pintu sebelah.
Begitu masuk ke kamar keempat, suara gema hampir tidak terdengar.
Gua dan kamar batu kembali sepi.
Liu He-ting melihat kamar batu ini dari depan, belakang, kiri, dan kanan serta keempat pintu.
Dia tidak bisa mengambil keputusan harus memasuki pintu yang mana!
Dia berharap bisa mendengar suara teriakan yang bisa memberi peringatan dari Qi bersaudara, tapi sekarang dia hanya mendengar suara detak jantung dan nafasnya sendiri.
Dia tahu kalau tidak terjadi sesuatu yang sangat mendesak, Qi bersaudara tidak akan berteriak.
Dia juga tahu kalau dia salah masuk, dia hanya akan menghabiskan waktu, saat itu mungkin dia tidak sempat lagi menolong mereka.
Keempat pintu itu masing-masing menuju keempat kamar yang berbeda.
Kelihatannya di dalam kamar masih ada kamar lagi.
Kecuali dia bisa seperti Zhu Ge Liang( Cukat Liang), yang sebelum terjadi sesuatu sudah bisa memperhitungkannya.
Sekarang bagaimana caranya dia bisa mencari jalan yang benar!
Dia bengong dengan berdiri di depan sebuah meja yang terbuat dari batu.
Dia terus memikirkan teriakan Qi bersaudara tadi dan teriakan itu mengandung rasa kaget dan cemas, keringatnya terus menetes.
Walaupun hanya sebentar tapi bagi Liu He-ting saat seperti ini tampaknya berlalu sangat lama.
Tao Chun-chun terus memegangi rambutnya, diam-diam dia masuk ke dalam kamar batu itu.
Dia melihat Liu He-ting yang masih bengong berdiri di sana, tangan Tao Chun-chun sedikit gemetar, demi sahabat dia merasa cemas, tampaknya dia lebih cemas daripada Liu He-ting.
Dia berkata.
"Kau lihat, apakah ada kotoran keledai di jalan ini?"
Walaupun suaranya ringan tapi cukup untuk membuat Liu He-ting kaget dan tersadar kembali.
Dengan pandangan sangat berterima kasih dia melihat Tao Chun-chun, segera dia melihat ke bawah, terlihat jalan di bawah sangat bersih, dia berharap ada bekas roda kereta yang lewat, ternyata jalan roda kereta tidak lurus.
Tapi begitu sampai di depan meja batu tiba-tiba jejak itu terputus!
Liu He-ting menyeka keringat yang ada di dahi dan menunjuk jejak roda kereta yang terputus, jarinya sedikit bergetar, mulut terbuka, tapi dia tidak bisa mengatakan apa pun.
Mata Tao Chun-chun melihat ke sekeliling, segera dia berkata.
"Di sisi jalan meja batu ini sepertinya terlalu sempit dan sulit untuk dilewati oleh kereta. Sampai di sini kereta itu diangkat oleh raksasa Da Bao, coba kau lihat pintu ketiga itu, apakah di sana ada bekas roda kereta keledai lagi? mereka semua berjalan ke arah sana!"
Liu He-ting menarik nafas panjang, diam-diam dia berpikir.
"Selama ini aku selalu menganggap kalau aku adalah orang yang sangat pintar, tidak tahunya masih ada orang yang lebih pintar dariku bahkan beberapa kali lipat. Dia melihat dan mengira-ngira, tampaknya dia bisa melihat keadaan."
Tapi Liu He-ting tidak tahu sebenarnya dia tidak bodoh hanya terlalu percaya.
Liu He-ting sudah bergerak, dia memasuki pintu ke 1, 2, 3, tapi di depan pintu ketiga tidak ada bekas roda kereta.
Liu He-ting pelan-pelan membalikkan badannya, dia menggelengkan kepalanya dan tertawa kecut.
Tao Chun-chun mengangkat alisnya dan bertanya.
"Apakah di 3 pintu itu tidak ada bekas telapak kaki keledai?"
Liu He-ting menggelengkan kepalanya dan tertawa kecut.
"Sangat aneh, mereka sampai di kamar yang terbuat dari batu lalu tiba-tiba menghilang!"
Dia pelan-pelan berjalan. Di depan ke tiga pintu itu, dia melihat dengan teliti.
"Kalau begitu mereka pasti ke kamar keempat. Di sini, kecuali 3 pintu itu, mana ada pintu keempat? Apakah raksasa itu terus mengangkat kereta keledai dan berjalan? Tapi sepertinya ini tidak mungkin!"
Liu He-ting memang pintar, tapi setelah memasuki gua seperti yang ada di dalam legenda, kepintarannya sama sekali tidak bisa dikeluarkan.
Dia terus menarik nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia terus berkata.
"Apa yang terjadi pada mereka? Apakah...."
Tao Chun-chun menarik nafas dan berkata.
"Jangan terlalu cemas, mungkin mereka bertemu dengan musuh yang masih bersembunyi atau melihat tombol rahasia yang ditinggalkan atau bertemu dengan binatang buas. Sekarang kita masih berada di sini, kapan pun kita bisa bertemu dengan bahaya. Apa yang akan terjadi nanti, kita juga tidak tahu!"
Hati Liu He-ting bergetar.
Dia melihat ke sekelilingnya.
Tiba-tiba terdengar suara anjing menggonggong, anjing kecil Xiao Bao tiba-tiba muncul dari sebuah kamar!
Tao Chun-chun berteriak, Ternyata kamar yang ada di sini semuanya saling menyambung."
Tiba-tiba dia terdiam.
Dia mencabut sebuah jepit dari rambutnya, di dinding gua dia menggores sebuah huruf untuk dijadikan tanda.
Kemudian dia tertawa dan berkata.
"Hayo ikuti aku!"
Dengan ringan dia berlari ke sebuah kamar batu.
Liu He-ting masih melongo, tapi dia tetap mengikuti Tao Chun-chun dan berlari, terlihat badan Tao Chun-chun bergerak dengan ringan, gerakan kakinya seperti air mengalir.
Kemudian dia memberi tanda lagi di dinding, segera dia berlari lagi ke kamar berikutnya.
Waktu itu Liu He-ting baru mengerti.
"Ternyata setiap kamar batu yang ada di sini saling menyambung. Jika kami memeriksa semua kamar dalam satu garis lurus, goresan di dinding menjadi tanda supaya kami tidak keliru jalan!"
Liu He-ting sangat kagum kepada Tao Chun-chun, waktu pertama kali bertemu dengan Tao Chun-chun, dia hanya merasa kalau Tao Chun-chun adalah seorang gadis polos dan suci, tapi setelah semakin lama mengenalnya, Liu He-ting merasa gadis yang polos dan suci ini, walaupun polos tapi dia bukan gadis yang tidak tahu apa-apa, dia tahu kapan harus memakai siasat, dia juga tahu bagaimana cara menghadapi masalah, dia lebih pintar dari dirinya!
Sewaktu dia sedang berpikir, Tao Chun-chun berhasil melewati sepuluh lebih kamar batu dan meninggalkan sepuluh tanda lebih.
Tapi Qi bersaudara, Hei Chuan Yun, dan Xiang Huang belum terlihat.
Xiao Bao kadang-kadang terdengar berada di belakang mereka, kadang-kadang muncul di kamar batu yang lain.
Liu He-ting sangat cemas, dia berteriak.
"Kakak Qi) di mana kalian?"
Tapi hanya terdengar gema suaranya, tidak ada yang menjawab.
Tiba-tiba Tao Chun-chun berhenti berjalan dan bertanya.
"Apakah mereka berhasil mendapatkan jalan keluar?"
Liu He-ting mengerutkan dahi dan menjawab.
"Kalau mereka berhasil mendapat jalan keluar, mereka tidak akan kaget dan berteriak seperti tadi bukan?"
"Kalau aku menemukan jalan keluar, aku pasti akan berteriak kesenangan."
Liu He-ting tetap mengerutkan dahinya dan berkata.
"Kalau mereka sudah mendapatkan jalan keluar, mengapa mereka tidak menunggu kita?"
Tao Chun-chun menarik nafas dan menjawab.
"Kau selalu melihat orang dari sudut yangjujur!"
Liu He-ting terpaku, dia melihat kamar-kamar batu itu tidak memiliki tempat yang bisa dicurigai juga tidak ada tanda keberadaan orang atau pun binatang.
Dia berpikir dan bertanya.
"Apakah aku menganggap orang lain terlalu jujur?"
Tao Chun-chun menghampirinya sambil tertawa dan berkata.
"Pejamkan matamu, aku akan membawamu untuk melihat sesuatu!"
Liu He-ting terpaku, Tao Chun-chun sudah memegang tangannya, terpaksa dia memejamkan mata.
Dia merasa Tao Chun-chun maju beberapa langkah, kemudian membelok ke kiri, tiba-tiba ada angin dingin berhembus ke wajahnya, walaupun Liu He-ting ingin sekali membuka matanya tapi dia berusaha untuk tetap menutup matanya dengan rapat.
Mereka berjalan lagi beberapa langkah, tiba-tiba langkah Tao Chun-chun menjadi perlahan.
Liu He-ting merasa aneh, baru saja dia ingin mengintip, sudah ada sebuah tangan lembut menutupi Kelopak matanya.
Dengan lembut dan tersenyum, fao Chun-chun berkata.
"Kalau kau membuka matamu, aku tidak mau berteman lagi denganmu."
Dia menarik kembali tangannya.
Liu He-ting benar-benar tidak berani membuka matanya sekarang.
Liu He-ting merasa aneh, mengapa kata-kata Tao Chun-chun walaupun kadang tidak masuk akal tapi dia selalu menurutinya, dia menertawakan dirinya sendiri!
"Untung dia polos, aku yakin dia tidak akan menyuruhku melakukan hal yang jahat.
Kalau tidak, sama dengan aku menuruti kemauannya untuk berbuat kejahatan."
Tiba-tiba Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Coba kau raba ini!"
Liu He-ting menjulurkan tangannya, dia merasakan sedang memegang benda lembut dan dingin seperti mayat orang, dia bergetar dan dia mundur beberapa langkah, alisnya terangkat, dengan suara keras dia bertanya.
"Apa ini?"
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Kau coba tebak! Jika tertebak, berarti kau sangat pintar, kalau tidak tertebak, aku akan memberitahukannya kepadamu."
Liu He-ting mendengar kata-kata Tao Chun-chun.
Dia sangat senang dan tidak merasa takut sama sekali.
Di dalam hati dia berpikir.
"Kalau benda yang kupegang adalah mayat, Tao Chun-chun pasti tidak akan terlihat begitu senang."
Liu He-ting berkata dengan tertawa.
"Aku tidak perlu menebaknya, aku akan menunggu sampai kau memberitahuku."
Tao Chun-chun maju beberapa langkah dan tertawa.
"Ini baru perkataan pintar. Walaupun kau bisa menebaknya -"
Tiba-tiba dia berhenti bicara.
Tiba-tiba Liu He-ting merasa ada angin datang dari sampingnya, kemudian terdengar suara gonggongan anjing.
Dia merasa aneh dan bertanya.
"Kau sedang berbuat apa?"
Lama tidak ada jawaban, tiba-tiba dia merasa tangan yang dipegangnya sedikit gemetar.
Terdengar Tao Chun-chun menarik nafas panjang dan berkata.
"Kau begitu percaya kepada orang lain, tapi kau saraa sekali tidak percaya kepadaku?"
Liu He-ting terpaku. Terdengar Tao Chun-chun berkata lagi.
"Kalau aku memejamkan mata dan mengikutimu berjalan selama 8-10 tahun, ke mana pun kau akan membawaku, aku tidak akan bertanya-tanya. Tapi aku hanya membawamu berjalan kira-kira 10 langkah, kau sudah bertanya kepadaku 3 kali. Apakah kau takut aku akan membawamu ke tempat yang tidak kau inginkan? Apakah kau takut kalau aku akan melakukan hal yang tidak kau inginkan di saat kau sedang memejamkan mata?"
Liu He-ting terdiam mendengar kata-kata Tao Chun-chun.
Dia merasa malu.
Akhirnya dia menarik nafas panjang, diam-diam dia memegang tangan Tao Chun-chun yang lembut dan berjalan tanpa berbicara apa pun lagi.
Sekarang Liu He-ting merasa sekalipun matanya sudah buta, dia juga merasa sebagai orang yang paling berbahagia di dunia ini, karena di balik kata-kata Tao Chun-chun, dia memahami perasaan Tao Chun-chun yang sebenarnya.
Baru berjalan 2 langkah, Liu He-ting berkata.
"Chun-chun, walaupun kau membawaku ke gunung pisau atau lautan api sekalipun, asalkan kau.... aku juga mau."
Sunyi tidak ada suara, tiba-tiba Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Apakah benar? Apakah kata-katamu benar?"
Liu He-ting dengan bahagia menarik nafas dan berkata.
"Aku mungkin bisa menipu orang di dunia ini tapi aku tidak akan bisa berbohong kepadamu!"
Liu He-ting merasa kedua tangannya digenggam semakin erat, dua hati saling mencintai, kata-katanya merupakan perasaan dari lubuk hatinya yang terdalam, dia merasa tangan Tao Chun-chun yang lembut sekarang sudah mulai basah.
"Apakah itu adalah air matanya?"
Liu He-ting bertanya kepada dirinya, kemudian dengan bahagia dia menghembuskan nafas dan diam-diam berterima kasih kepada gadis polos ini karena dia telah meneteskan air mata untuk Liu He-ting, Tapi -kalau dia tidak membuka mata untuk melihat jawaban ini, siapa yang bakal tahu keadaan sebenarnya?
Bagaimanapun juga dia merasa sangat bahagia, dia juga merasa sangat berterima kasih kepada orang yang telah memberikan kebahagiaan kepadanya.
Liu He-ting tahu di dunia ini banyak orang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini.
Karena itu dia tetap berjalan dengan mata terpejam dan dalam perasaan bahagia, dia merasakan ada angin dingin yang berhembus juga ada suara air mengalir.
Angin dingin semakin menghilang, suara air terdengar semakin jelas.
Tao Chun-chun tertawa, dia berkata.
"Kita sudah sampai, kau boleh membuka matamu -"
Waktu itu Liu He-ting seperti ingin berteriak, dia melihat langit yang biru dan juga melihat awan putih, tempat di mana dia berdiri ternyata adalah sebuah jurang yang sangat dalam, bentuk batunya aneh, di antara bebatuan itu terlihat ada air mengalir, pemandangan di sana begitu indah, benar-benar seperti tempat yang biasa didiami oleh para dewa.
Tao Chun-chun membereskan rambutnya, matanya terus menatap Liu He-ting.
Dia juga tertawa dan berkata.
"Sesuatu yang kuperlihatkan ini apakah indah?"
Liu He-ting menahan nafas dan melihat ke sekeliling, setelah lama dia baru berkata.
"Apakah kita sudah keluar dari gua itu?"
Tao Chun-chun tertawa dan bertanya balik.
"Apakah menurutmu kita masih berada di dalam gua?"
"Mengapa kau bisa tahu ada jalan keluar dari gua itu? Aku benar-benar -"
Tao Chun-chun tertawa dan menjawab.
"Aku sudah mengatakan kalau kau terlalu percaya kepada orang lain, tapi tidak pernah percaya kepadaku."
Tao Chun-chun berkata lagi.
"Tadi sewaktu aku menyuruhmu memejamkan mata, sebenarnya aku sudah melihat di bawah ada jejak kereta keledai, kemudian aku mengikuti jejak kaki keledai itu, dan ternyata benar di sini ada jalan keluar."
Tao Chun-chun menarik nafas.
"Hai! Kalau orang di dunia ini semua sepertimu, musuh dan kebencian tidak akan ada di dalam kamus!"
Kata Liu He-ting dengan senang.
"Kalau begitu mereka benar-benar sudah keluar dari gua ini."
"Kalau begitu aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka lagi."
Dia melihat ke sekeliling, terlihat di antara bebatuan dan tanah itu, ada bekas roda kereta yang berbelok ke sebelah kiri, dia menghela nafas lega, dan berjalan mengikuti jejak roda kereta.
Terlihat di jalan itu bebatuan sangat banyak, rumput-rumput pun sangat tinggi, jalan batu begitu miring dan terjal, serta banyak kelokan.
Dalam hati dia bertanya.
"Jalan seperti ini bagaimana cara kereta keledai itu bisa lewat?"
Tapi dia segera mendapatkan jawabannya.
"Kalau diperhitungkan dengan cara biasa, sepertinya tidak mungkin, tapi raksasa Da Bao bukan orang biasa, caranya bekerja tidak bisa diukur dengan kemampuan manusia biasa."
Dia melihat Tao Chun-chun yang sudah ada di belakangnya, terlihat Tao Chun-chun mengerutkan alisnya, dia terlihat jengkel, sepertinya dia sedang menyalahkan Liu He-ting yang pergi begitu saja meninggalkannya di belakang.
Segera Liu He-ting bertanya dengan tersenyum.
"Chun-chun, apa yang sedang kau pikirkan?"
Mata Tao Chun-chun yang bersinar melihatnya, dia menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Kau mau ke mana?"
"Aku mau ke mana? Ke mana?"
Dia melihat awan putih, hutan bersih seperti sudah tercuci. Tiba-tiba Liu He-ting bertanya.
"Kau sendiri mau kemana?"
Tao Chun-chun menarik nafas dan menjawab.
"Di dunia ini kecuali kakak seperguruanku, aku tidak mempunyai keluarga lagi. Kali ini aku keluar untuk mencari kakak seperguruan, tapi dia -"
Tao Chun-chun memejamkan matanya, dari kelopak matanya keluar buliran air mata, di bawah cahaya langit, air mata itu seperti mutiara, bersinar seperti giok, air matanya pelan-pelan mengalir.
Tao Chun-chun berkata.
"Apakah aku bisa.... bisa memejamkan mata sebentar...."
Katanya terpatah-patah.
Kata-kata Tao Chun-chun membuat hati Liu He-ting timbul gelombang yang bergejolak.
Pelan-pelan Liu He-ting membalikkan kepalanya lalu pelan-pelan dia mendekati Tao Chun-chun kemudian memegang tangan Tao Chun-chun, pelan-pelan berkata.
"Aku harap seumur hidupmu kau bisa memejamkan mata, biar aku yang membawamu berjalan seperti saat kau membawaku tadi!"
Tao Chun-chun melihat Liu He-ting dan bertanya.
"Apakah betul?"
Segera Liu He-ting menjawab.
"Betul dan itu sudah pasti, bukankah tadi aku sudah memberitahukannya kepadamu, aku tidak akan menipu ataupun berbohong kepadamu?"
Tao Chun-chun menghapus air matanya dan mulai tertawa, dia bersandar kepada Liu He-ting, angin gunung terasa seperti mimpi, suara air yang mengalir pun seperti mimpi, langit dan awan putih yang ada di langit pun seperti mimpi.
Liu He-ting seperti sedang berada di dalam mimpi, dia merasa benda-benda yang ada di bumi dan langit ini bukan mimpi.
Liu He-ting tidak berani memeluk pundaknya, tapi akhirnya dia memeluk Tao Chun-chun.
Tapi dia tetap tidak berani mencium wangi rambut Tao Chun-chun, akhirnya dia tidak tahan ingin mencium rambutnya.
Lama, lama -Tao Chun-chun pelan-pelan keluar dari pelukan Liu He-ting, kemudian mundur selangkah dan membereskan rambutnya tapi mata Tao Chun-chun diam-diam mencuri pandang kepada Liu He Ting.
Lama, lama -Liu He-ting seperti baru terbangun dari mimpi, pelan-pelan dia membuka telapak tangannya, di telapaknya terlihat jepit emas kecil dan indah, di bawah cahaya langit mengeluarkan cahaya keemasan, jepit itu adalah jepit yang dipakai Tao Chun-chun tadi pada saat dia menggoreskannya ke tembok, dia menggores tanda begitu banyak di atas batu.
Sekarang dia mulai menggores lagi, kali ini dia akan menggores lebih banyak, menggores tanda di dalam hati Liu He-ting.
Langit, awan putih, gunung batu, dan air yang mengalir menjadi saksi, melihat dia meletakkan jepit itu ke balik bajunya, ke dalam hatinya.
Liu He-ting tersenyum dengan senyum yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Dia berkata.
"Aku tidak menyangka -"
Suara Liu He-ting belum habis, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang memilukan datang dari arah gunung sebelah sana, teriakannya begitu tajam dan pilu, naik ke atas awan kemudian....
Terdengar lagi teriakan yang menyedihkan.
Dalam setangah hari ini entah berapa kali dia mendengar suara seperti itu, tapi kedua teriakan tadi benar-benar terdengar lebih menyedihkan dan membuat hati bergetar, walaupun hati Liu He-ting masih dipenuhi dengan perasaan manis dan lembut, tapi hanya dalam waktu sekejap perasaan ini sudah menghilang karena dia telah mendengar teriakan itu.
Alis Tao Chun-chun berkerut, dia menarik baju Liu He-ting, mereka lari ke arah suara teriakan tadi, tubuh Tao Chun-chun ringan seperti burung, terbang di antara batxi-batu besar dan jurang yang terjal sesudah meloncat beberapa kali dia sudah bersembunyi di balik sebuah batu besar.
Liu He-ting mengikutinya dari belakang.
Terlihat Tao Chun-chun melambaikan tangan, matanya terlihat heran dan juga kaget!
Liu He-ting melihat ke bawah, segera alisnya berkerut -ternyata di bawah gunung ini adalah lembah tadi, tapi keadaan lembah itu sudah berubah.
Laki-laki yang memegang busur dan siap memanah tadi sudah turun ke bawah lembah.
Tao Ru Ming dan anak buah mereka yang berbaju putih sudah tidak terlihat, mungkin mereka sudah pergi dari sana!
di mulut gua masih banyak kayu yang bertumpuk, tapi apinya sudah mengecil, ratusan laki-laki sedang duduk bersila di depan mulut gua itu, mereka seperti sedang melihat sesuatu!
Tempat yang tadinya penuh dengan laki-laki yang memegang busur dan panah, sekarang banyak yang berdiri.
Dilapisan paling luar adalah murid You Ling Bang, mereka berbaju hijau, ada yang memegang busur tapi kebanyakan memegang golok dan banyak yang sudah mati.
Lapisan paling tengah adalah 16 gadis yang dibawa oleh Pangeran Dong Gong Xiang Huang dan kedua jenderalnya yaitu Sheng Gui Ying dan Wei Chi Wen!
Keenam belas gadis itu memegang pecut sepanjang 1.5 meter.
Mereka berdiri berhadapan dengan murid-murid You Ling Bang.
Rambut gadis-gadis itu tampak berantakan, badannya pun penuh dengan keringat sepertinya mereka baru saja selesai bertarung dengan sengit!
Ling Shi Gu Gui masih seperti mayat hidup, tapi wajahnya semakin mirip setan.
Dia sedang berdiri di sisi seorang laki-laki berbaju hijau, laki-laki itu kurus kering dan membawa 2 bilah pisau.
Di sisi mereka ada 2 mayat berbaju hijau, mereka berbaring terlentang, tubuh mereka tidak terlihat ada luka, hanya ada luka karena pisau dari dahi sampai ke bawah, darah belum mengering, pisau membelah kepala dengan rapi menjadi 2 bagian.
Dari posisi lebih tinggi, Liu He-ting tidak bisa melihat ekspresi wajah mereka tapi dari 2 kali teriakan tadi bisa dibayangkan sebelum mati mereka merasa ketakutan sekali, dia melihat laki-laki berbaju putih yang ada di depan Ling Shi Gu Gui.
Terlihat kedua tangan orang itu diletakkan agak miring, lengan baju panjangnya berkibar tertiup angin, tangannya memegang pedang panjang -pedang tampak berkilauan, dingin seperti air -ujung pedangnya diturunkan, dia berdiri dengan sombong -dari atas sampai ke bawah tubuhnya sama sekali tidak bergerak -Baju putih yang panjang tampak seperti salju.
Pundak kiri dan kanannya terdapat 2 baris noda darah, baju putih dengan darah yang menempel terlihat kontras, warna yang sangat menakutkan!
Walaupun hanya melihat sebentar bagaimana sikap orang itu, Liu He-ting merasakan kalau orang itu mempunyai hawa dingin yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, hawa dingin ini tidak sama dengan rasa dingin yang ada pada Ling Shi Gu Gui, dingin yang ini terasa lebih menakutkan.
Di lembah begitu banyak orang, tapi sekarang semua orang di sana seperti patung, tidak ada suara juga tidak ada yang berani bergerak.
Tiba-tiba -Orang berbaju putih itu maju ke depan.
Kedua tangannya tetap berada di sisi tubuhnya!
Ujung pedang tetap menghadap bawah!
Ling Shi Gu Gui dan orang yang berbaju hijau melihat keadaan itu malah mundur.
Dengan tertawa dingin, si baju putih itu membalikkan badannya, pelan-pelan berjalan ke depan, ujung pedangnya menggores ke bawah, mengeluarkan suara CES, CES.
Ling Shi Gu Gui melipat telapak tangannya, sambungan antar sendi tulang terdengar berbunyi terus, kedua matanya terlihat sangat galak, dia juga maju beberapa langkah, dia seperti siap menerkam.
Tiba-tiba si baju putih itu membalikkan badannya.
Ling Shi Gu Gui dengan cepat mundur lagi!
Liu He-ting merasa hatinya bergetar, jari-jarinya pun menjadi dingin.
Dia tidak bisa berpikir jernih siapa sebenarnya si baju putih ini?
Mengapa Ling Shi Gu Gui begitu takut kepadanya, tiba-tiba Ling Shi Gu Gui berteriak.
"Lepaskan!"
Laki-laki yang berdiri di barisan terluar segera melepaskan anak panah tapi gadis-gadis berbaju abu itu menggerakkan pinggang mereka.
Pecut yang ada di tangan mereka tampak membangun sebuah dinding yang berkilauan.
Terdengar suara DING DANG, semua anak panah terjatuh ke bawah, sebagian tangan laki-laki yang berbaju hijau itu memegang pisau.
Mereka ingin menerkam para gadis itu, tampak gadis-gadis itu melambaikan pecut dan menariknya kembali.
Pecut itu seperti ular yang menari, setiap kali bergerak segera ada pihak lawan yang mati.
Di antara suara teriakan itu, seorang laki-laki berbaju hijau tiba-tiba berteriak.
Tangannya yang membawa pisau berbentuk Mei Hua sudah dimainkan dengan lincah dan dia segera menerkam ke arah si baju putih!
Jurus yang dikeluarkan hanya satu jurus, tapi dia sudah menggunakan Zhui Hun Shi Qi Duo Ming sebanyak 3 jurus, benar-benar sangat sempurna.
Kedua tangan orang berbaju putih itu masih terjuntai di sisi tubuhnya, ujung pedangnya tetap berada di bawah, tidak bergerak dan dengan angkuh dia berdiri, anak panah yang terbang melayang ke arahnya dan pisau yang menyerang ke arahnya, sama sekali tidak digubrisnya.
Sekarang pembunuh berbaju hijau itu mulai menyerang, dia pun tidak berusaha untuk menghindar bahkan dia tidak bergerak!
Terlihat cahaya pisau hampir menggulungnya, tiba-tiba -ada suara bentakan juga terlihat ada cahaya pedang lalu terdengar suara teriakan kesakitan.
Seorang laki-laki berbaju hijau terlihat terus mundur, kedua tangannya terbuka, tubuhnya sempoyongan kemudian terjatuh, tubuhnya tidak terluka, tapi -bekas luka dari pedang itu memanjang dari dahi hingga ke dagunya, darah keluar seperti air.
Kedua tangan si baju putih itu masih terlihat di sisi tubuhnya, dia berdiri, tidak bergerak, cahaya pedangnya terlihat seperti air, hanya baju putihnya bertambah lagi dengan noda darah.
Liu He-ting menghembuskan nafas, jantungnya berdetak lebih kencang, tusukan pedangnya kepada musuh, tidak bisa dilihat dengan jelas oleh orang lain, tapi Liu He-ting melihat semuanya dengan sangat jelas, dia tahu tusukan itu dilakukan dengan sangat cepat, tepat, ganas, dan mantap, benar-benar membuat dia terpana.
Jurus-jurus silat dari suatu perkumpulan pasti tidak gampang akan terlihat kelemahannya, jurus dari Jin Gong Lian Hua dan Ling Yi Jian Fa dari perkumpulan Wu Dang kadang-kadang juga masih terlihat ada lowongan.
Hanya saja lowongan itu jarang bisa dilihat oleh lawannya dan juga jarang ada yang bisa memanfaatkan untuk menyerangnya.
Cahaya datang dari si baju hijau itu, 3 jurus yang mematikan, sebenarnya hanya terlihat sedikit lowongan, lowongan ini sulit dilihat dan berada di posisi yang tidak mudah diserang.
Tapi si baju putih itu dengan cepat bisa melihat dan langsung mematikan serangan lawan, penglihatannya begitu tajam, benar-benar membuat orang kagum kepadanya.
Ketiga dewa sudah mati, hanya tertinggal satu setan, karena julukan mereka adalah San Shen Yi Gui (3 dewa, 1 setan).
Gu Gui dengan melongo melihat mayat ketiga temannya.
Suara tawanya yang sadis tidak terdengar lagi, orang-orang You Ling Bang juga sudah kehilangan semangat juangnya, mereka hanya asal memegang senjatanya saja.
Ling Shi Gu Gui terdiam, kemudian menarik nafas panjang, lalu berkata.
"Mundur semua."
Dia berputar, Pelan-pelan dia berlalu dari sana, si baju putih itu tetap berada di posisi seperti tadi, tidak mengejar juga tidak mengatakan sesuatu.
Murid-murid You Ling Bang ada yang membawa temannya yang sudah terluka, ada juga yang membawa mayat temannya.
Satu persatu mereka meninggalkan lembah itu.
Hanya dalam waktu singkat lembah itu sudah kosong.
Sekarang lembah menjadi sepi sunyi.
Sheng Kui Ying memasukkan goloknya ke dalam sarung, dia berjalan ke depan laki-laki berbaju hitam dan membungkukkan kepalanya, berkata.
"Cepat padamkan api dan masuk ke dalam untuk mencari orang-orang!"
Laki-laki berbaju hitam itu tetap duduk bersila, tidak bergerak atau berbicara.
mereka seperti tidak mendengar suara Sheng Kui Ying.
Sheng Kui Ying membentak.
"Apakah kalian tidak mendengar!"
Laki-laki berbaju hitam itu tetap tidak menjawab dan tidak bergerak.
Wei Chi Wen marah.
Tiba-tiba laki-laki berbaju hitam itu berbicara.
"Ingin membunuh kami memang mudah, yang pantas memerintah kami hanya Ketua Bang. Kecuali ketua, kami tidak akan mendengar perintah dari orang lain!"
Kata-kata ini sederhana dan pendek tapi setiap perkataannya terdengar seperti besi.
Liu He-ting benar-benar memuji sikap mereka, kedudukan mereka di dunia persilatan hanya begitu saja, tapi mereka jauh lebih jujur daripada pesilat-pesilat tangguh yang selalu penuh dengan kebohongan dan kepura-puraan.
Begitu melihat murid-murid You Ling Pai pergi, si baju putih itu mendekati Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen, berdiri dengan sikap sangat hormat.
Mereka berdiri, hormat ini diberikan tidak kalah dengan hormat kepada Xiang Huang, tapi terhadap kedua jenderal ini, dia hanya bersikap biasa, dengan kata-kata singkat si baju putih bertanya.
"Siapa ketua kalian?"
Ada laki-laki berbaju hitam yang menjawab.
"Ketua sudah pergi dari lembah ini, dia berpesan kepada kami untuk menunggunya di sini. Ketua kedua juga berada di dalam gua. Apakah beliau selamat atau...."
Suaranya belum habis, si baju putih sudah mengeluarkan suara HE.
Tiba-tiba dia mundur beberapa langkah, kemudian tangan kanannya melambai, pedang panjang sudah terlepas dari tangannya dan melayang.
Liu He-ting melihat pedang itu melayang, dia tidak mengerti apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba ada cahaya pedang berwarna hijau melayang melewati udara dan terbang dengan cepat ke arah tempatnya bersembunyi!
Pedang melewati batu dan terdengar suara CIANG, terlihat percikan api, pedang kembali ke si empunya pedang.
Hati Liu He-ting bergetar, dia tahu kalau si baju putih yang dingin seperti es dan ilmu pedangnya yang sudah tinggi dan tidak terkatakan itu, mengetahui kalau di balik batu ada orang yang bersembunyi.
Pedang itu kembali ke tangannya, dia menggetarkan pedang itu dan berkata.
"Kawan yang bersembunyi di balik batu, silahkan keluar!"
Tao Chun-chun menghela nafas dan berkata.
"Orang itu benar-benar sangat lihai!"
Liu He-ting berpikir, tiba-tiba dia sudah melayang ke atas lalu turun ke atas batu gunung.
Angin gunung meniup bajunya dan tampak melambai-lambai.
Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen bersamaan berteriak.
"Ternyata kau!"
Ujung pedang si baju putih diturunkan lagi ke bawah, dia tetap tidak melihatnya.
Hanya dengan dingin berkata.
"Kawanmu sudah keluar, mengapa kau tidak ikut turun?"
Liu He-ting tertawa dan menjawab.
"Ilmu pedang Tuan benar-benar hebat, sejak tadi aku berniat ingin bertemu langsung dengan Tuan, sekarang aku sudah diperintahkan untuk bertemu, maka aku akan menuruti perintah ini!"
Dia melihat batu di mana dia berpijak, dengan tempat yang ada di bawah jaraknya puluhan meter, dia tidak akan bisa meloncat turun begitu saja, dia mengerutkan dahi berpikir kemudian membalikkan kepala dan bertanya.
"Chun-chun, bagiamana kalau kita turun saja?"
Tao Chun-chun tertawa sambil menjawab.
"Kau sudah berjanji dengan orang lain, berarti kita memang harus turun."
Pinggangnya yang ramping sudah berputar dan dia pun berdiri di atas batu itu.
Ujung pedang si baju putih itu tetap menggores ke kiri dan ke kanan, dia tidak bertanya juga tidak memandang kepada meraka, mata Tao Chun-chun melihat ke bawah, tiba-tiba Tao Chun-chun berkata.
"Orang ini rambutnya sudah memutih, dia sudah tidak muda lagi, ilmu silatnya sangat tinggi, tapi sikap dan pembawaannya sedikit aneh. Apakah orang yang berilmu silat tinggi pembawaannya selalu aneh?"
Liu He-ting ingin tertawa, dalam hati dia berpikir.
"Perempuan adalah mahluk aneh. Dalam keadaan seperti ini pun dia masih sempat terpikir kata-kata semacam itu."
Tao Chun-chun lihat sebentar sudah tahu kalau rambut orang itu putih.
Si baju putih itu walaupun terlihat sangat tenang, tapi Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying tidak sabar.
Mereka membentak.
"Nona Tao"
Tiba-tiba Wei Chi Wen berhenti berkata tapi Sheng Kui Ying yang meneruskan kata-katanya.
"Bukankah Nona bersama-sama dengan tuan mudaku? Dimana sekarang dia berada?"
Tao Chun-chun melihat Liu He-ting, dia tidak menjawab pertanyaan itu hanya dengan suara kecil dia bertanya.
"Kalau meloncat dari sini sepertinya setelah sampai di bawah, badan kita tidak akan seimbang, orang lain bisa menyerang kita. Apakah kau mempunyai cara lain?"
Liu He-ting tersenyum dan menjawab.
"Jika ingin melakukan sesuatu tidak perlu berpikir terlalu banyak, aku akan turun dulu, kau menyusul, sepertinya kita harus merangkak turun."
Tao Chun-chun tertawa, dia menyetujuinya.
Liu He-ting menegakkan dadanya lalu menarik nafas panjang, segera kedua tangan dibuka, dia lari ke bawah.
Dia berlari sangat cepat seperti Zhang Jiang.
Hanya sebentar dia sudah turun 20-30 meter, kemudian dia mencari batu keras, kakinya berputar dan turun lagi.
Terdengar si baju putih itu dengan dingin berkata.
"Kau turun saja, aku tidak akan menyerangmu kalau badanmu belum berdiri dengan tetap!"
Kata-katanya baru habis, Liu He-ting seperti seekor walet terbang dan turun ke bawah.
Baru saja berdiri tegak, dia sudah tertawa dan berkata.
"Kalau aku takut kau menyerangku, aku tidak akan turun."
Si baju putih hanya menyahut "He.".
Apakah dia senang atau marah, memuji atau menghina?
Tiba-tiba dia membalikkan badan dan berkata dengan dingin.
"Kawanmu benar-benar adalah seorang laki-laki sejati!"
Waktu mereka berhadapan, Liu He-ting merasa sorot mata si baju putih seperti kilat melihat dirinya, melihat orang itu, dia sangat kaget.
Badannya yang baru berdiri dengan benar, hampir bergoyang lagi karena si baju putih ini memakai topeng yang terbuat dari tembaga berwarna hijau, hidungnya besar, mulut seperti singa.
Wajahnya mengeluarkan cahaya hijau, cahaya ini berpadu dengan cahaya pedang yang dipegangnya, benar-benar terlihat sangat seram dan menusuk mata.
Topeng berwarna hijau ini menutupi alis, dahi, hidung dan mulutnya.
Hanya tersisa sepasang matanya yang tampak berkilau.
Dia melihat Liu He-ting dari atas ke bawah dan berkata dengan dingin.
"Pangeran Xiang Huang apakah kau yang membawanya kemari?"
Suaranya keras tapi karena terhalang oleh topeng, maka terdengar seperti guntur di musim panas, kadang-kadang seperti titik embun di musim semi, tapi sorot mata tetap bersinar seperti petir dan guntur.
Liu He-ting merasa hatinya bergetar.
Dia bukan takut tapi terpaku agak lama, dia baru bisa normal dan tersenyum.
Dia ingin menjawab!
Tapi suaranya tidak keluar, di tengah-tengah gunung terdengar tawa seperti lonceng, semua orang bersamaan melihat ke atas, terlihat ada awan berwarna pelan-pelan turun.
Suara tawanya belum habis, begitu turun Liu He-ting sudah mengulurkan tangannya memegang.
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Pangeran Xiang Huang datang bersama dengan kami, tapi...."
Dia melihat wajah si baju putih. Tao Chun-chun berhenti sejenak dan pelan-pelan berkata lagi.
"Kalau dia berniat pergi, kami pun tidak bisa melarangnya."
Si baju putih terdiam, matanya hanya melihat ujung pedang dan dia masih terus menggores di tanah, kadang ke kiri, kadang ke kanan.
Pedang terus berbunyi.
Walaupun suaranya tidak keras, tapi terdengar seperti menusuk telinga, seperti ada pedang yang tidak terlihat, menggores gendang telinga.
Karena wajahnya tertutup oleh topeng tembaga berwarna hijau, maka tidak bisa terlihat bagaimana ekspresinya dan tidak bisa mengetahui apa isi hatinya, tidak ada orang yang tahu, sesudah mendengar kata-kata yang tajam, apa jawabannya dan apa yang akan dilakukannya?
Di dalam lembah semua orang seperti takut kepadanya, beberapa ratus mata terdiam melihat ke tempat lain!
Diam, tidak ada suara, ini adalah waktu yang membuat orang merasa tidak sabar.
Entah sudah berapa lama, pedang yang dipegang oleh si baju putih itu akhirnya berhenti menggores!
Suara CES, CES pun berhenti.
Suasana menjadi hening.
Orang-orang tahu si baju putih siap berbicara,.
apa yang akan dikatakannya?
Tidak ada seorang pun yang tahu.
Yang harus kita ketahui, orang yang tidak senang berbicara, kata-kata yang keluar pasti lebih berharga.
Ilmu silat orang ini sangat tinggi, sikapnya membuat orang takut kepadanya, otomatis kata-katanya pun pasti akan membuat orang menjadi penasaran.
Walaupun Liu He-ting tersenyum, tapi dia merasa sedikit tegang, bukan karena dia takut kepada si baju putih itu tapi karena menghadapi orang yang tidak senang bicara, Liu He-ting selalu mempunyai perhitungan yang berbeda!
Tao Chun-chun selalu memegang-megang rambutnya.
Dia tertawa, sepasang matanya tampak berputar terus, dia sepertinya tidak peduli dengan keadaan yang terjadi.
Terlihat mata si baju putih seperti kilat melihat Liu He-ting.
Pelan-pelan dia berkata, Tadi Tuan berlari dan turun dari gunung itu, berarti ilmu meringankan tubuh Tuan paling sedikit sudah terlatih selama 10 tahun lebih dan ilmu ini diturunkan dari keluargamu sendiri, kau bisa diperhitungkan menjadi pesilat tangguh!"
Hati orang-orang di sana merasa aneh dan kagum, aneh karena dia diam lama, dan kata-kata yang diucapkan hanya memuji Liu He-ting.
Kagum pada waktu Liu He-ting turun tadi.
dia sama sekali tidak melihat Liu He-ting, tapi kata-katanya bisa terucap seperti tadi.
Sampai-sampai Liu He-ting ikut merasa aneh, tapi si baju putih itu berkata lagi.
"Karena itu aku berharap Tuan bisa mengeluarkan senjata -"
Kata-katanya sudah selesai juga seperti belum selesai, dia berdiri tegak dan tidak bergerak lagi.
Liu He-ting sangat kaget, tapi dia merasa kata-kata orang ini selalu singkat, dan setiap perkataannya selalu mengagetkan orang, memuji orang lantas mengajaknya bertarung!
Belum lagi Liu He-ting menjawab, Tao Chun-chun sudah tertawa dan berkata.
"Kita tidak ada niat bermusuhan juga tidak ada dendam, boleh dikatakan kita tidak saling mengenal, mengapa harus bertarung?"
Si baju putih itu sama sekali tidak bergerak juga tidak melihat Tao Chun-chun.
Dengan dingin dia berkata.
"Aku tidak senang bicara dengan perempuan -"
Kata-katanya seperti sudah selesai tapi seperti juga belum.
Semua orang tahu apa yang dimaksud olehnya.
Tao Chun-chun berkata lagi dengan tersenyum.
"Apakah maksudmu adalah supaya aku jangan ikut campur?"
Si baju putih itu terdiam, dia tidak berkata apa-apa lagi, sorot matanya seperti kilat.
Dia tetap berdiri dengan tegak melihat Liu He-ting, dia seperti ingin melihat isi kepala Liu He-ting.
Sikap si baju putih yang sombong dan menghina itu, tidak dianggap oleh Tao Chun-chun.
Dia tertawa lagi dan berkata.
"Hal ini ada hubungannya dengan kalian berdua, dan tidak ada hubungannya denganku, aku tidak akan berkata apa-apa lagi!"
Liu He-ting terpaku, tadinya dia mengira Tao Chun-chun tidak akan tahan dihina oleh seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Walaupun sifat Tao Chun-chun tidak sombong, sekarang mendengar kata-katanya, Liu He-ting merasa sangat berterima kasih.
Semenjak berkenalan dengan Tao Chun-chun, Liu He-ting semakin mengenai sifat Tao Chun-chun yang berbeda-beda, sewaktu baru mengenai Tao Chun-chun, dia masih mengira Tao Chun-chun adalah gadis yang tidak tahu apa-apa dan juga seorang gadis polos, tapi Liu He-ting sekarang merasa kalau Tao Chun-chun adalah seorang gadis yang sifatnya selalu berubah-ubah, kadang-kadang pikirannya seperti seorang gadis yang berasal dari keluarga kaya, begitu manja dan feminin.
Tapi kadang-kadang seperti seorang gadis yang sangat berpengalaman terhadap hidup yang keras ini, semua bisa dimengerti seperti seorang perempuan yang pengertian dan pembawaannya sangat tenang.
Liu He-ting pun merasa walaupun mereka saling mencintai, tapi dia masih tidak mengerti sifat Tao Chun-chun yang sebenarnya, dia menarik nafas dan membalikkan kepalanya.
Si baju putih itu masih terus menatapnya, ujung pedangnya masih terarah ke bawah, cahaya pedang itu seperti air.
Hari sudah melewati siang, matahari yang bersinar paling terik pun sudah berlalu, musim panas sudah berlalu, angin musim gugur mulai berhembus dingin.
Semua orang yang ada di hutan rimba itu sedang melihatnya, dan semua menunggu jawabannya, yaitu jawabannya mengenai pertarungan yang diajukan oleh si baju putih!
Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen walaupun tidak begitu mengenai Liu He-ting, tapi mereka tahu kalau ilmu silatnya tinggi, dan Liu He-ting bukan seorang yang penakut, sekarang mereka melihat dia hanya diam saja, bahkan kadang menunduk kadang seperti berpikir, mereka mengira mungkin Liu He-ting sudah melihat kemampuan ilmu silat si baju putih itu sehingga Liu He-ting merasa tidak sanggup untuk melawannya, mereka merasa aneh dan sekaligus kecewa!
Pada saat pikiran seperti ini timbul di benak mereka, tiba-tiba terdengar Liu He-ting dengan suara keras berkata.
"Maksudku dengan kata-kata Nona Tao adalah sama, kita tidak ada alasan untuk bertarung dan juga tidak ada alasan lain sehingga kita harus bertarung, hanya -"
Begitu kata-kata itu terucap, semua orang pun tahu kalau perkataannya itu ada kelanjutannya, saat itu beberapa pasang mata dari hutan rimba itu seakan-akan secara bersamaan menahan nafas dan terus melihat ke arah Liu He-ting, kemudian terdengar dia berkata lagi.
"Kalau Tuan bermaksud ingin bertarung denganku, aku tidak berani mengajukan permintaan yang aneh-aneh, semua terserah pada kemauan Anda!"
Sampai sekarang si baju putih kecuali hanya bajunya yang bergerak-gerak tertiup angin, dia sendiri sama sekali tidak bergeming, matanya Pun sepertinya tidak pernah berkedip, ditambah lagi dengan topeng hijaunya yang jelek dan kelihatan seram, benar-benar membuat orang takut kepadanya.
Liu He-ting baru selesai bicara, sorot mata orang-orang di situ seperti memancarkan percikan api, mereka bersamaan melihat ke arah si baju putih, terlihat si baju putih mengangguk dan berkata.
"Baiklah!"
Liu He-ting mundur beberapa langkah dan dari belakang tubuhnya dia mencabut seruling hijaunya.
Begitu si baju putih mengatakan 'baik', tapi dia malah membalikkan badannya dan pergi dari sanaJ Orang-orang yang ada di sana hanya terpana, bahkan Liu He-ting merasa lebih aneh lagi.
Orang itu tanpa alasan mengajaknya bertarung, begitu setuju dia malah pergi begitu saja, bukankah hal ini membuat semua orang menjadi bingung?
Tapi begitu dia berjalan 2 langkah dia membalikkan badan dan berkata.
"Kemarilah!"
Dia menekan pedang panjangnya ke tanah, ujung pedang masuk ke dalam tanah sekitar 15 sentimeter, pegangan pedang masih tampak bergetar.
Hati Liu He-ting merasa panas, dia sudah tidak tahan lagi dan berkata.
"Apakah Tuan ingin mempermainkanku? Harap Tuan mengatakan maksud Tuan dengan jelas, kalau tidak -"
Suaranya menghilang, si baju putih sudah membalikkan badannya, matanya tampak berkilau dan dengan dingin dia berkata.
"Aku tidak berniat mempermainkan orang, aku pun tidak senang mempermainkan orang -"
Tiba-tiba dia mengesampingkan kedua tangannya, dia membuka baju panjangnya, ternyata di dalamnya dia memakai baju ketat berwarna putih, baju panjangnya terdapat noda darah, kemudian dia melipat bajunya dengan rapi.
Dalam hati Liu He-ting berpikir, Ternyata dia membuka baju panjangnya supaya tidak menghalangi gerakannya.
Karena memikirkan hal ini, Liu He-ting pun agak terpengaruh, kemudian dia pun membuka baju panjangnya.
Tao Chun-chun memgulurkan tangannya dan mengambil baju itu, dia berkata.
"Kau harus berhati-hati, ilmu silatnya sangat tinggi."
Nadanya penuh dengan keprihatinan.
Liu He-ting tersenyum, perasaannya menjadi hangat, dia tertawa dan dengan suara kecil dia berkata.
"Aku akan berhati-hati."
Tiba-tiba dari kerumunan gadis berbaju abu itu muncul seorang gadis, dia berlari keluar dari kerumunan itu, dia membawa sebuah bungkusan kain, begitu dia berhenti di depan si baju putih itu, dia langsung membuka bungkusan itu.
Baju panjang yang terdapat noda darah dimasukkannya ke dalam bungkusan itu, dan dari dalam bungkusan itu dia mengeluarkan baju putih yang lain.
Kemudian dia pun mengenakannya.
Dia mencabut pedang yang masih tertancap di tanah, ujung pedangnya masih terarah ke bawah, dia maju 3 langkah kemudian berdiri dengan diam.
Liu He-ting terpaku, dia hanya bisa diam, gerakan si baju putih membuatnya bingung.
Selama hidupnya belum pernah dia meihat orang seperti ini, juga belum pernah bertemu dengan lawan seperti ini.
Liu He-ting tidak mungkin memakai kembali baju panjangnya, dia hanya bisa bengong, terdengar Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Ternyata di dunia ini masih ada orang yang tidak begitu waras, apakah benar?"
Dia bertanya kepada Liu He-ting.
Liu He-ting merasa aneh sekaligus juga ingin tertawa, di hadapan lawan yang begitu kuat, dia hanya bisa menekan keinginannya.
Si baju putih dengan dingin berkata.
"Aku biasanya tidak banyak bicara, aku juga tidak biasa membuat masalah sejak aku kecil sampai sekarang, lawan yang kuhargai di dunia persilatan bisa dihitung dengan jari. Darahmu tidak bisa disamakan dengan orang rendahan tadi. Kalau darahmu tercampur dengan darah mereka, derajatmu akan turun!"
Dari semua ucapannya tadi sepertinya dia kagum kepada sikap dan perilaku Liu He-ting.
Bagaimana perasaan Liu He-ting sekarang, apakah dia marah atau merasa senang?
Dia sendiri pun tidak tahu bagaimana perasaannya, dia ingin membantah, dia maju selangkah kemudian memberi hormat.
Setelah itu dia menegakkan tubuhnya dan mulai mengumpulkan tenaga.
Biasanya gerakan Liu He-ting sangat luwes, tapi sekarang ini pada saat dia berhadapan dengan lawannya, dia hanya diam seperti Tai Shan, tenang seperti bintang.
Mata si baju putih itu tampak berkilau lagi, sepertinya dia mengetahui lawan di depan matanya adalah lawan yang kuat dan tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tao Chun-chun membawa baju itu dan berlalu dari sana dia melihat dari tempat lain, sebentar dia melihat Liu He-ting kemudian beralih ke si baju putih, dia tampak berpikir, kemudian sudut mulutnya terangkat seperti sedang tersenyum, dan dia pun mundur 3 langkah.
Dari gerakan dan sikapnya tidak ada yang tahu, apa sebenarnya yang berkecamuk di dalam hatinya.
Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen sating pandang dan mengerutkan dahi, mereka tampak sedikit khawatir, dan mereka pun mundur.
Apakah Kekhawatiran mereka karena mengkhawatirkan pangeran mereka Xiang Huang yang sampai sekarang belum tahu keberadaannya ataukah mereka merasa khawatir dengan pertarungan yang akan terjadi?
Gadis berbaju abu itu berdiri menjauh, di bawah siraman cahaya matahari yang hampir terbenam, terlihat rambut mereka yang berantakan dan baju mereka yang compang camping.
Tapi mata mereka tampak bersinar, keadaan ini terlihat tidak seimbang.
Sikap mereka membuat orang menjadi kasihan.
Seruling hijau mitik Liu He-ting.
Si baju putih dengan pedang panjangnya yang masih terarah ke bawah.
Mereka sekarang sating berhadapan dan sating pandang.
Sikap mereka sama, hanya diam sambil berdiri.
Setelah lewat waktu sekian lama, tidak ada seorang pun yang mulai menyerang terlebih dulu.
Walaupun Liu He-ting kelihatan tenang tapi di dalam hati sebenarnya dia merasa sangat kacau, tadi sewaktu di atas dia melihat bagaimana si baju putih membunuh dan mengusir Yi Gui San Shen (satu setan tiga dewa), sekarang dia harus bertarung dengan orang ini, dia tidak berani bertindak gegabah.
Pesilat tangguh bertarung mengeluarkan jurus, sedikit saja terlihat kelemahan maka dia akan segera ditaklukkan oleh musuhnya, pertarungan yang tadinya hanya menderita sedikit kekalahan akan menjadi kekalahan total!
Liu He-ting yang sudah melihat ilmu silat si baju putih, dia merasa kalau dia bertindak sedikit ceroboh saja maka dia akan kalah atau mungkin dia akan terbunuh dengan mengenaskan.
Karena itu pikirannya terus berputar, dia harus menggunakan jurus aneh untuk mengalahkan orang itu, tapi sampai sekarang dia tidak terpikir jurus apa yang akan digunakannya untuk mengalahkan lawannya!
Orang-orang yang berada di sana tampak menahan nafas dan terus melihat apa yang akan terjadi.
Mereka berdua sejak awal sampai sekarang tidak bergerak sama sekali.
Dan orang-orang di sana merasa aneh dan tidak sabar menunggu kelanjutannya.
Tiba-tiba terlihat Liu He-ting mengangkat serulingnya ke atas kepalanya, kemudian dengan langkah kecil dia berjalan menghampiri lawannya.
Sorot mata si baju putih mengikuti langkah kaki Liu He-ting, kakinya seperti gilingan yang sedang bergerak dan terus berputar, terlihat ujung pedang mulai terangkat setinggi 20 sentimeter, jari dan tangannya sudah terangkat setinggi bahu, tapi kedua lututnya tetap diam.
Liu He-ting tampak mengerutkan dahi seperti berpikir.
"Dia tidak bergerak, tadi aku menggunakan jurus Tian Shan, walaupun dia tidak tahu ke mana arah serulingku, dan telapak kiri mengeluarkan jurus Shao Lin, kemudian telapak kanannya berbalik menggunakan jurus Wu Dang, jurus ini dilakukan dari atas ke bawah, kadang-kadang malah terlihat lemah, tapi kadang-kadang juga terlihat hanya sebagai ilusi saja. Tapi ujung pedangnya tetap terarah ke bawah, walaupun dia bisa mencari kelemahan jurusku, tapi aku akan menyerangnya terlebih dahulu, sekalipun aku tidak berhasil mengalahkannya, tapi aku tidak akan kalah hingga begitu memalukan, tapi -"
Baru saja dia berpikir seperti itu, dia melihat ujung pedang si baju putih sudah tidak terarah ke bawah lagi, tangan kirinya siap-siap menyerang.
"Kalau aku menyerangnya dengan ilmu silat dari utara dan menggunakan tendangan dari selatan, kaki kiriku menendang kaki kanannya dan kaki kananku akan menendang kaki kirinya, semua ini Iculakukan untuk memancingnya menyerang ke bagian bawah tubuhku Dan aku akan menggunakan serulingku untuk menyerang bagian atas tubuhnya, dengan ilmu silat Pan Guan Bi (Pena), aku akan menyerangnya, apakah dengan menggunakan jurus seperti itu aku akan menang?"
Pikirannya terus berputar-putar, dia memiliki ilmu silat yang beraneka macam, apalagi serulingnya itu sebenarnya adalah pedang berwarna hijau.
Jurus pena, tombak bisa dijadikan sebagai bermacam-macam senjata.
Karena itu dia bergeser kurang lebih 2 meter ke kanan.
Seruling hijau masih dipegangnya, yang tadinya hanya setinggi alis sekarang berada di atas kepala.
Dia bergeser supaya menipu pandangan lawan, supaya lawan tidak tahu kalau dia akan melakukan tendangan.
Serulingnya diangkat, supaya lawannya hanya akan memperhitungkan serulingnya!
Tapi si baju putih itu terlihat seperti sebuah gilingan besar, dia hanya berputar dengan lambat, otomatis ujung pedangnya pun terangkat semakin tinggi, jarinya kirinya membentuk telapak, sedikit dibengkokkan itu untuk menjaga bagian dadanya.
Ternyata cara Liu He-ting tadi sudah berada dam Perhitungannya.
Mereka berdua bertarung secara terang-terangan, tapi sekaligus mencari kelemahan masing-masing, membuat para penonton yang ada di situ sebentar melihat si baju putih sebentar melihat Liu He-ting, hati mereka bergetar dan wajah mereka terlihat serius.
Mereka sadar begity jurus keluar, mereka akan segera tahu siapa yang bakal menang dan siapa yang akan kalah!
Terlihat si baju putih berputar-putar, tadinya dia menghadap ke timur dan sekarang sudah menghadap ke barat.
Tapi Liu He-ting seperti air mengalir, sebentar kakinya bergeser.
Pedang dan suling yang masing-masing masih dipegang tampak terus bergerak, walaupun mereka belum mengeluarkan jurus tapi keadaan itu sudah membuat orang menjadi tegang.
Semakin lama waktu berlalu maka hati orang-orang yang ada di sana pun semakin terasa berat, mereka seperti berada di dalam awan hitam, terasa panas dan pengap.
Mereka ingin hujan segera turun!
Mulut Tao Chun-chun yang biasanya seperti selalu tertawa, sekarang menghilang dari wajahnya, yang ada hanya rasa khawatir.
Matahari tidak lama lagi akan terbenam, langit dipenuhi dengan awan merah -Tiba-tiba Liu He-ting berteriak, badannya meluncur seperti roket terus naik ke atas langit!
Hati orang-orang yang ada di sana bergetar, mereka melihat ke atas, terlihat Liu He-ting berada di langit, tingginya kurang lebih 30 kaki, tiba-tiba badannya memutar, kedua tangannya dibuka, dia menukik seperti seekor burung elang yang siap menyambar mangsanya!
Jurus ini adalah jurus Tian Shan, Wisma Di, tapi sudah bercampur dengan jurus Yin Yue Jian, jurus pedang ke-13!
Kedua jurus ini digabung menjadi satu.
Matahari yang hampir terbenam menyinari tubuhnya, dia bergerak dengan lincah seperti seekor naga yang sedang meloncat.
Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying melihat orang-orang berbaju dan berikat kepala hitam yang sedang berdiri tapi lutut mereka tampak gemetar tapi itu hanya berlangsung sebentar.
Tampak kilauan hijau sudah menyerang, hawa pedang terasa naik!
Kilauan hijau dan hawa pedang!
Hawa pedang dan kilauan hijau!
Bercampur!
Sating beradu.
Terdengar suara hentakan mereka, mata orang-orang di sana terus berpindah-pindah, mereka berdua sudah kembali ke tempat semula, bergerak sekitar 2-3 meter kemudian berdiri berhadapan dan sating memandang.
Mata Liu He-ting tidak berkedip melihat si baju putih, si baju putih dengan mata tidak berkedip balas melihat Liu He-ting.
Waktu itu orang-orang yang ada di sana tidak tahu siapa yang menang atau siapa yang kalah, siapa yang hidup dan siapa yang akan mati.
Orang-orang itu yang tadinya berdiri sekarang duduk kembali, yang tadinya duduk malah tidak bisa berdiri.
Tao Chun-chun berteriak, dia mundur selangkah, kemudian maju sejauh 30 kaki, dia lari ke arah Liu He-ting, dia melihat si baju putih.
Tao Chun-chun tidak bicara apa pun.
Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying terpaku, mereka pun maju beberapa langkah, melihat tatapan dari empat pasang mata ini dan melihat si baju putih.
Lama, sangat lama!
Sepi, sangat sepi!
Si baju putih tiba-tiba membalikkan badannya, dengan kedua tangannya dia mendorotig Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying, kemudian dia berjalan ke depan gadis-gadis berbaju abu itu, dia membuka baju putih yang dipakainya -baju itu tidak ada noda darahnya, kemudian dia membalikkan badannya lagi -ujung pedangnya tampak berkilauan!
Liu He-ting berdiri dengan diam, tapi sorot matanya terus menatap si baju putih yang masih bergerak, tiba-tiba dia berkata.
"Aku tidak akan melukai Tuan dengan pedang ini, satu tahun lagi kita akan bertemu."
Si baju putih dengan pedang panjangnya melayang dan menghilang dari hadapan Liu He-ting, hanya terlihat cahaya pedang yang bergerak di langit merah!
Si baju putih terbang dan mendarat di tangan gadis-gadis berbaju abu!
Pedang tampak berkilauan di udara, kemudian cahaya pedang masuk ke balik batu, dia hanya diam sebentar, kemudian dia berteriak dengan keras.
"Kita pergi dari sini!"
Suaranya besar sepertinya batu pun bisa hancur, sebenarnya siapa yang kalah atau menang tidak ada yang tahu.
Sekarang yang terdengar hanya suara bentakannya.
Hati mereka terasa dingin dan aneh, kaget, dan terpaku.
Liu He-ting memegang serulingnya di atas dadanya, pelan-pelan dia menurunkannya, sarnbil tertawa dia berkata.
"Siapa yang menang atau kalah belum tahu, mengapa dia harus pergi?"
Suaranya keras, tapi nadanya diucapkan dengan pelan, seperti merasa senang tapi juga seperti menyayangkan!
Si baju putih menegakkan dadanya dan berkata.
"Aku baru saja mengenalmu, apakah kau bisa tahu apa yang sedang kupikirkan?"
Liu He-ting mengerutkan dahinya, dia melihat Tao Chun-chun, kemudian dengan pelan dia berkata.
"Kita baru saja berkenalan, aku tidak mengetahui bagaimana sifat Tuan, aku kira selamanya pun aku tidak akan pernah tahu!"
Si baju putih menatap langit, di balik topeng hijaunya, terdengar tawa dingin, begitu dia menghentikan tawanya, dia baru berkata.
"Sejak aku kecil hingga sekarang, orang yang terluka di tanganku sudah terlalu banyak, tapi menghadapi orang yang lemah, aku tidak akan membunuhnya! Kalau ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, aku tidak ingin membunuh orang yang tidak terkenal, aku juga tidak ingin membunuh orang yang sudah terlebih dahulu mengakui kekalahannya, aku tidak akan membunuh orang seperti itu! Perempuan dan anak-anak pun tidak akan kubunuh, setiap pemegang pedang yang tidak bisa mengalahkanku pun tidak akan kubunuh! Ilmu silat Tuan sangat tinggi, menghadapi musuh, Tuan sangat tenang dan bisa mengambil keputusan dengan tepat, hal seperti ini tidak sembarangan orang bisa melakukannya, jurus pedangku dalam satu jurus tidak bisa melukai Tuan, sudah tidak ada artinya lagi kita melanjutkan pertarungan"
Dia tidak melihat ke arah Liu He-ting lagi, dengan langkah besar dia berjalan keluar dari hutan rimba, matahari terbenam sinarnya menyorot tubuhnya yang tinggi dan sehat, terlihat dia pelan-pelan melewati jembatan, di bawah jembatan terdengar air sungai mengalir, angin sore pun menghembusi Pakaian mereka.
Di bawah cahaya matahari yang harnpir terbenam terlihat Liu He-ting sedang memegang seruling hijaunya sambil memandang sosok si baju putih yang pergi meninggalkan orang-orang itu.
Liu He-ting merasa kagum sekaligus menghormati orang itu.
Atau benci karena dia sudah dianggap remeh oleh si baju putih itu?
Terdengar Tao Chun-chun menarik nafas dan berkata.
"Sayang, sangat disayangkan!"
Liu He-ting sedang tidak berkonsentrasi mendengarkan ucapan Tao Chun-chun, dengan bingung dia bertanya.
"Apa yang disayangkan?"
Tao Chun-chun melangkah ke depan Liu He-ting dan berbisik.
"Sayang senjata yang kau pakai itu bukan pedang atau golok, kalau tadi tertimpa cahaya matahari terbenam, maka pedang atau golokmu akan tampak berkilau, dan si baju putih tidak akan melihat lowongan di tangan kananmu ataupun di tangan kirimu, dan dengan pedang atau golok kau bisa menusuk ke pundak kirinya dan kau bisa mencengkram tangan kanannya -"
Tao Chun-chun berkata lagi, Tapi ilmu silat si baju putih memang mengagumkan, jurusmu yang disebut Fan Bu Yin He, bisa dikatakan tidak ada kelemahannya hanya saja waktu itu senjatamu belum diturunkan, di bagian ketiak kananmu terlihat ada sedikit lowongan, tapi kalau tubuh lawanmu tidak bergerak dan dengan tangan kanan menusuk ke lowongan di tangan bagian kiri, itu hampir tidak mungkin apalagi telapak kirimu sangat tepat bisa menutupi jurus pedangnya.
Tapi anehnya, ilmu pedangnya walaupun sering terlihat di dunia persilatan tapi perubahan jurus itu sangat aneh, tapi tekniknya lebih tinggi dari jurus biasa yang sering kulihat, aku terus berpikir tapi tidak ditemukan alasannya, dan tidak terpikir dari mana asal usul jurus yang dia keluarkan tadi."
Suara Tao Chun-chun terdengar cepat tapi ringan, tangan Liu He-ting masih memegang serulingnya, dia terus mendengarkan perkataan Tao Chun-chun.
Gadis-gadis berbaju abu itu menjauh dan berjalan melewati mereka.
Ternyata mereka mengikuti si baju putih tadi berjalan keluar lembah, sekarang yang tersisa hanya ada Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying, mereka masih berdiri di tempatnya, terdengar mereka berbisik-bisik, kemudian terus melihat ke arah Liu He-ting dan Tao Chun-chun!
Ucapan Tao Chun-chun belum selesai, Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying sudah berlari secara bersama-sama dan melewati gadis-gadis berbaju abu itu.
Mereka datang ke lembah ini pastinya ingin mencari pangeran mereka, Xiang Huang.
Tapi sampai sekarang Xiang Huang tidak tahu berada di mana keberadaannya.
Si baju putih hanya mengatakan Tata pergi dari sini', maka mereka pun mengikutinya pergi.
Kelihatannya mereka sangat takut dan sangat menurut kepada si baju putih.
Rasa takut mereka lebih-lebih dari rasa takut mereka kepada Xiang Huang, kalau tidak mereka tidak akan meninggalkan Xiang Huang yang belum berhasil ditemukan dengan begitu saja!
Sampai saat ini pun, Liu He-ting hanya tahu kalau si baju putih memiliki ilmu silat yang aneh, begitu pun dengan sifatnya, dan dia hanya salah satu dari anak buah Nan Huang Tai Jun, tapi siapa sebenarnya namanya?
Ilmu silatnya berasal dari perkumpulan mana?
Liu He-ting sama sekali tidak tahu, dia hanya merasa aneh mengapa orang-orang itu begitu patuh mendengar perintahnya?
Terlihat Wei Chi Wen tiba-tiba berhenti, dia berdiri di atas jembatan itu dan sedang bicara dengan dua orang gadis berbaju abu, tapi matanya terus menatap ke arahnya, pada saat itu Liu He-ting pun sedang menatapnya, segera dia membalikkan badan dan pergi dari sana, begitu pula dengan kedua gadis itu, dan mereka pergi menunggalkan lembah itu.
Liu He-ting tampak mengerutkan alisnya, Tao Chun-chun sudah berkata.
"Aku tahu kau merasa aneh kepada si baju putih itu, termasuk dengan identitasnya, tapi bagaimana dengan ilmu silatnya, apakah kau tahu berasal dari perkumpulan mana?"
Liu He-ting menarik nafas panjang, perlahan dia melihat seruling hijau yang masih ada di genggaman tangannya, Tao Chun-chun pun ikut melihatnya, terlihat di atas permukaan seruling yang licin itu terdapat goresan-goresan, seperti pernah dilipat oleh seseorang, jumlahnya ada 7 lipatan, seperti pernah ditebas sebanyak 7 kali oleh pedang.
Tapi tadi si baju putih hanya mengeluarkan 1 kali gerakan, tapi mengapa di permukaan suling itu terdapat 7 bekas goresan pedang?
Tao Chun-chun tampak mengerutkan alisnya dan berkata.
"Dari bekas goresan ini aku melihat pedang yang digunakan oleh si baju putih itu adalah sebuah pedang sakti, dan ilmu pedangnya ini ternyata sudah lama menghilang dari dunia persilatan, namanya adalah Luan Pi Feng. Walaupun Luan Pi Feng ini sudah lama beredar di dunia persilatan, tapi ada juga ilmu Luan Pi Feng yang palsu, sedangkan yang asli sudah lama menghilang, dulu seorang jago silat terkenal bernama Bai Wu Ming dengan ilmu pedang Luan Pi Feng berhasil menguasai dunia persilatan tapi terakhir setelah dia meninggal maka ilmu pedangnya pun ikut terkubur bersamanya, ada seseorang yang bernama Mei Shan Ming bisa mendapatkan beberapa jurus dari ilmu Luan Pi Feng, kemudian ilmu ini diperdalam olehnya sehingga bisa menghasilkan ilmu silat yang dasyat yang bernama Qi Miao Shen Jun, Mei Shan Ming hanya menggerakkan pedang, maka ujung pedang langsung bisa mengeluarkan 7 titik bayangan pedang dan menjadi 7 ilusi kuntum bunga Mei Hua! Tapi dengan pedang yang berukuran 3 kaki, untuk sampai bisa mengeluarkan percikan api, hal ini tidak mudah, Dulu Gu San Hua dengan pedangnya hanya bisa menghasilkan 3 kuntum bunga, dan dengan itu saja dia bisa menguasai dunia persilatan. Sekarang satu gerakan pedang bisa menghasilkan 7 bunga, aku yakin orang ini pasti bisa merajai dunia persilatan, ketika Mei Shan Ming masih seorang bayi, ilmu ini belum ditemukan sedangkan Bai Wu Ming sudah lama meninggal, dan Luan Pi Feng sudah lama menghilang. Tapi si baju putih itu dengan satu gerakan bisa meninggalkan 7 goresan pedang, bukankah hal ini sangat aneh?"
Tao Chun-chun terus melihat bekas goresan pedang yang ada di permukaan suling itu, dia merasa aneh dan juga kaget.
Liu He-ting menarik nafas panjang dan dengan perlahan berkata.
"Satu jurus pedang yang sekali dikeluarkan, meninggalkan 7 goresan pedang, walaupun mirip dengan ilmu Luan Pi Feng, tapi dia menyerang di tempat yang tidak sama. Ilmu orang itu sangat aneh -"
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Orang Jtu berilmu silat sangat aneh, begitu pula dengan sifatnya, kemana-mana memakai topeng tembaga lalu mengapa bajunya harus diolesi dengan darah? Kemudian menggantinya dengan yang bersih? Dan masih ada -"
Liu He-ting nafas dan ikut bicara.
"Walaupun orang itu sangat aneh tapi dia adalah orang yang mengagumkan. Hai! Tadi aku pun dengan cara meminjam cahaya matahari terbenam mengacaukan penglihatannya, dan ilmu pedangnya sedikit terganggu dengan cahaya ini...."
Liu He-ting berhenti bicara, dia melihat awan yang berwarna merah yang ada di langit dia terlihat berpikir, kemudian terdengar dia berkata lagi.
"Tadi aku mengelilinginya, dari kiri berputar ke kanan, walaupun aku tidak mengeluarkan serangan tapi saat itu aku sudah memikirkan kalau aku harus banyak mengeluarkan serangan, tapi jurus-jurus yang sudah kurencanakan itu, aku merasakan banyak lowongan. Aku yakin dia pasti bisa melihat lowongan ini, aku berniat ingin menutup lowongan ini dengan gerakan lain, tapi dia langsung mengetahuinya, karena itu sejak awal tadi hingga akhir pertarungan aku tidak mengeluarkan serangan!"
Kelopak mata Tao Chun-chun tampak dipejamkan, dan terlihat bulu matanya yang panjang, apa yang tadi dikatakan oleh Liu He-ting dia mendengarkannya dengan sepenuh hati.
Liu He-ting berkata lagi.
"Begitu aku berputar di satu tempat, aku merasa dari pinggir ada sinar matahari yang bersinar dan sangat berkilau. Dalam hati aku berpikir, aku akan membuatnya menghadap ke arah matahari, maka aku pun terbang di atasnya supaya dia mengangkat kepalanya dan melihatku, dan penglihatannya akan terganggu oleh silaunya sinar matahari, tapi kalau dia tidak mengangkat kepalanya, mengapa dia bisa tahu aku menggunakan jurus apa. Walaupun dia bisa mendengar suara angin dan arah pada saat aku menyerangnya, tapi apa mungkin dia bisa mendengar kelemahan jurusku dengan telinganya?"
Tao Chun-chun tertawa dan berkata.
"Pada saat kau meloncat tinggi kau menggunakan ilmu meringankan tubuh yang biasanya pun dipakai oleh orang-orang dunia persilatan, begitu kau berada di atas, jurus yang kau gunakan adalah jurus pedang ke-13, sedangkan kedua tanganmu memakai jurus Tian Shan, sebenarnya dia pun tidak akan tahu kau menggunakan jurus apa dalam menghadapinya."
Kata Liu He-ting.
"Tadinya aku memang bermaksud seperti itu, kalau tidak, tidak mungkin sampai saat tadi aku tidak mengeluarkan serangan."
Dia melihat suling yang tadi dipakainya dan berkata lagi.
"Aku hanya menginginkan walaupun belum tentu bisa menang, setidaknya aku tidak kalah total!"
Dari pandangan Tao Chun-chun terlihat dia memuji tindakan Liu He-ting, dan pada saat di depan musuh dia begitu berhati-hati dan selalu bersikap tenang.
Liu He-ting berkata lagi.
"Sewaktu aku turun tadi, aku melihat dia semakin membesar dan semakin mendekat, tapi dia masih tidak bergerak, hanya mengangkat kepala saja, itu saja sudah membuatku merasa senang, dengan cepat tangan kananku sudah mengeluarkan serulingku dan seruling itu mengeluarkan cahaya lalu aku menyerang ke arah pundaknya, dengan telapak tangan aku mencengkram tangan kanannya yang memegang pedang...."
Tao Chun-chun bertanya.
"Ada yang ingin kutanyakan kepadamu dan tadi aku sempat lupa, telapak tengan kirimu setengah terbuka dan setengah tertutup, caramu ini seperti cakar elang, tapi mengapa telunjukmu yang masih ada di dalam telapak bisa membengkok dan bersembunyi di tengah telapak tangan!"
Liu He-ting tampak berpikir sebentar, akhirnya dia menjawab.
"Ini adalah ilmuku yang paling dasyat, aku bersiap-siap...."
Tanya Tao Chun-chun lagi.
"Kalau begitu apakah itu adalah semacam Yi Zhi Gong (Ilmu Jari Satu)? Apakah ilmu itu berasal dari Dan Zhi Shen Gong milik Hua Shan, atau Yi Zhi Dan Gong milik Shao Lin? Tapi jurus-jurus tersebut tidak ada orang yang mau berlatih. Di tangan kiri tersimpan jari telunjuk di dalam telapaknya!"
Liu He-ting melihat ke sekeliling, orang-orang yang ada di sana sudah bubar, hanya tersisa orang-orang berbaju hitam dengan ikat kepala berwarna kuning, mereka masih duduk bersila di bawah, seakan-akan sedang menunggu sesuatu.
Kata Tao Chun-chun.
"Seharusnya aku tidak boleh bertanya seperti itu kepadamu, rasanya tidak pantas, kalau kau tidak mau memberitahukannya kepadaku, aku pun tidak akan menyalahkannya."
Dia menundukkan kepalanya dan memegang ujung bajunya.
Tao Chun-chun tahu di dunia persilatan benda yang paling berharga yang dimiliki oleh seorang jago silat adalah ilmu jago silat itu sendiri dan ilmu itu adalah ilmu rahasia dan ilmu yang paling dasyat, walaupun hubungan mereka dekat, seperti hubungan anak-orang tua, adik-kakak, belum tentu mereka akan mengatakan rahasia mereka, karena itu Tao Chun-chun merasa menyesal telah menanyakan hal ini kepada Liu He-ting.
"Chun-chun, tadi aku sudah mengatakan apa pun akan kukatakan kepadamu, apakah kau tidak percaya kepadaku?"
Dia mengulurkan tangannya seperti ingin memegang tangan Tao Chun-chun.
Tapi dia mengurungkan niatnya dan berkata.
"Tadi jariku berada di dalam telapak tangan itu bukan ilmu Dan Zhi Shen Gong juga bukan ilmu Yi Zhi Gong, tapi ilmu ini merupakan ilmu yang dikumpulkan oleh guruku, beliau mengumpulkan semua ilmu jari yang berasal dari semua perkumpulan yang ada di dunia ini, kemudian guruku mengambil keistimewaan masing-masing jurus ini, meleburnya dan menjadi sebuah ilmu yang tadi kupakai, ilmu ini merupakan kumpulan dari jurus Wu Dang, Chang Bai, E Mei, dan Tian Shan, tangan kiri menggunakan jurus Shao Lin, Kun Lun ditambah dengan Dan Zhi Shan Gong yang berasal dari Hua Shan, Yi Zhi Dan Gong yang berasal dari Shao Lin, jadi kelihatan tenagaku semua terkumpul dalam suling, tapi sebenarnya semua tenagaku ada di jariku, hanya saja guruku sering berkata ilmu jari ini jangan sering digunakan, dan itu adalah larangan beliau yang paling besar."
Tiba-tiba Tao Chun-chun melihatnya dan berkata.
"Sewaktu guruku belum meninggal, beliau pernah berkata di dunia ini ada 3 macam ilmu silat yang paling menakutkan, salah satunya adalah Yi Zhi Gong yang diciptakan oleh Tuan Bai Liu, tapi orang dunia persilatan tidak tahu namanya, ilmu jari ini disebut dengan Pan Gu Fu, ketiga huruf ini hanya melukiskan kedasyatan ilmu ini, bukan benar-benar nama dari ilmu itu. Lebih baik menyebut jurus ini dengan sebutan Wu Nu Zhi, waktu itu aku ingin tertawa mengapa ilmu itu diberi nama perempuan, karena ada kata Nu...."
Dia berhenti bicara dan berkata lagi.
"Apakah yang kau maksud adalah ilmu ini?"
"Tuan Bai Liu adalah guruku."
Lalu dia berhenti bicara, dari kerumunan orang-orang itu terdengar ribut-ribut, karena nama Bai Liu sangat terkenal di dunia persilatan.
Semua laki-laki yang ada di sana walaupun hanya orang biasa pun mereka pasti akan tahu nama Tuan Bai Liu.
Begitu tahu kalau pemuda itu adalah murid Tuan Bai Liu, secara otomatis mereka pun kaget.
Tapi sepertinya Liu He-ting tidak mendengar suara ribut itu, dia hanya terus melihat serulingnya yang telah lecet yang masih berada di dalam genggamannya, dia merasa sedih.
Ooo)odw-kzo(ooO BAB Gila ilmu pedang Matahari hampir terbenam, bumi terlihat lebih gelap.
Goresan pedang yang terdapat di permukaan seruling hijau itu tidak begitu jelas terlihat, tapi jika diraba tetap akan terasa bekas goresan pedang itu.
Liu He-ting menarik nafas lagi dan berkata.
"Waktu itu sorot matanya seperti berubah, pedang panjangnya tiba-tiba seperti kilat terbang ke atas, karena silaunya sinar matahari, dia tidak bisa melihat kelemahanku, sewaktu pedang bergetar, telapak kiriku sudah mencengkram tangan kanannya, tangan kananku yang memegang seruling sudah menotok pundak kanannya, aku kira dia tidak bisa menghindar lagi!"
Liu He-ting dengan pelan berkata lagi.
"Ilmu silat orang itu tinggi, mengejutkan, dan membuat orang tidak bisa membayangkannya, tangan kanan yang memegang pedang, tiba-tiba saja dengan cepat pedang itu sudah berpindah tangan, begitu ujung pedang bergetar, dia sudah menyerang lowongan dari jurus serulingku, walaupun tangan kiri dan jari kiriku bisa melukai tangan kanannya, tapi tangan kananku pasti akan tertusuk oleh pedang yang dipegang di tangan kirinya, aku tidak mempunyai waktu berpikir panjang lagi, aku hanya menharap dia tidak melukaiku dan ternyata memang aman, maka begitu tangan kiriku dan tangan kanannya beradu, meminjam tenagnya tubuhku mundur ke belakang, tapi aku sudah mendengar suara TING, TING sebanyak 7 kali, suara itu terdengan halus sekali dan sampai sekarang masih terngiang di kepalaku."
"Waktu itu aku takut kau akan terluka, aku benar-benar cemas, begitu aku melihatmu tidak terluka, baru aku merasa tenang, kau pasti tahu hal ini."
Liu He-ting tertawa kecut dan berkata.
"Walaupun langkahku seimbang, tapi hatinya tidak seimbang, jika bukan karena silaunya cahaya matahari mungkin pada saat tangan kiriku belum sampai, ketiakku sudah tertusuk pedang, jika tangan kiriku bukan membentuk cakar tapi membentuk telapak, aku juga tidak akan bisa menghindari pedangnya. Dengan tangannya yang kiri dia memegang pedang, dia masih mempunyai tenaga besar bahkan bisa meninggalkan bekas di permukaan serulingku. Sebenarnya ilmu silatnya jauh lebih hebat dariku. Hai! -tatnpaknya aku belum kalah, tapi sebenarnya aku sudah kalah di bawah pedangnya dan dia tahu dengan cara licik aku mencoba mengalahkannya, tapi dia tidak membeberkan semua itu. Orang itu mempunyai kebesaran jitua yang begitu luas dan dia menang dariku sangat banyak!"
Suaranya semakin mengecil, ekspresinya terlihat semakin sedih, tiba-tiba dia melemparkan serulingnya.
Seruling ini terjatuh ke atas batu pegunungan, batu gunung itu langsung hancur, serulingnya pun ikut hancur.
Pedang yang tadi sempat ditancapkan di atas batu itu karena bergetar terjatuh ke pinggir batu bersama seruling yang hancur tadi.
Orang yang berada di sana merasa terkejut.
Tao Chun-chun menarik nafas panjang dan berkata.
"Kau mengatakan kalau kebesaran jituanya luas, tapi aku berpendapat kalau kebesaran jituamu lebih luas lagi darinya. Kalau semua laki-laki di dunia seperti dirimu, menang ya menang, kalah ya kalah, di dunia ini tidak akan terjadi keributan -"
Tao Chun-chun melihat matahari yang sudah menghilang, wajahnya yang masih menaruh curiga segera tersenyum dan berkata.
"Aku terlalu banyak bicara kepadamu, seharusnya kita pergi dari sini."
Dia mengangkat lengan bajunya yang sejak tadi dipegang, pelan-pelan dia meletakkannya di atas pundak Liu He-ting dan berkata.
"Malam musim gugur sering membuat orang sakit, lebih baik kau cepat kenakan baju lagi. Kita harus pergi dari sini."
Bahasanya lembut membuat wajah Liu He-ting yang masih terlihat ragu sekarang tersenyum berterima kasih, tanpa bicara apa-apa dia langsung mengenakan baju itu dan berjalan keluar dari lembah bersama dengan Tao Chun-chun.
Malam akhirnya datang juga.
Laki-laki berbaju hitam dan berikat kepala kuning yang sejak duduk bersila di bawah, walaupun mereka sangat berpengalaman hidup di dunia ini tapi apa yang nereka lihat tadi tetap membuat mereka tidak bisa melupakannya begitu saja.
Mereka melihat dengan mata kepala sendiri Ling Shi Gu Gui dipermainkan oleh Qi bersaudara juga melihat sendiri bagaimana si raksasa Da Bao mengibarkan tenda untuk menahan serangan panah.
Mereka juga melihat salah satu ketua mereka tertangkap, sedangkan yang lainnya dibawa Pergi, mereka juga melihat si baju putih tiba-tiba turun dari langit.
Ilmu silatnya tinggi, membuat orang yang berada di lembah itu merasa bergetar.
Huang Po Yue pada kesempatan itu pun segera kabur dari sana!
Begitu Tao Chun-chun dan Liu He-ting keluar dari lembah, lembah itu terasa sepi dan sunyi.
Mereka yang masih tertinggal di lembah merasa kesepian yang tidak bisa terucapkan.
Perasaan dingin muncul di dalam hati mereka.
Ini adalah perasaan yang belum pernah mereka alami sebelumnya!
Karena itu mereka pun merasa ingin pergi dari sana tapi ketua mereka, Huang Po Yue sebelum pergi dari sana sudah menurunkan perintah agar mereka terus menunggu di sana.
Walaupun mereka tidak berani membantah, tapi sekarang mereka mulai saling pandang.
Dalam hati mereka seperti ada ribuan kilogram beban yang menekan mereka, membuat mereka hampir tidak bisa bernafas.
Di dalam sepi dan dingin.
Di sekelilin gunung tiba-tiba keluar 10 lebih bayangan orang, kemudian mereka melempar 10 lebih bola besi.
Begitu bola besi itu jatuh segera mengeluarkan suara keras, bayangan orang itu berkelebat seperti setan, muncul sebentar lalu segera menghilang!
Laki-laki berbaju hitam itu melihat bola besi yang jatuh, mereka terpaku.
Siapa yang tahu....
Begitu keluar dari lembah, Liu He-ting melihat ke sekeliling, terlihat gunung itu sangat gelap, hatinya merasa agak tenang.
Kekhawatiran yang ada di dalam hatinya sedikit berkurang-Tangan Tao Chun-chun berada di dalam genggaman tangannya, mereka berdua berjalan sangat perlahan.
Walaupun tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi di dalam hati, mereka bisa mengerti perasaan masing-masing.
Angin gunung berhembus, bumi begitu sepi, bintang yang baru terbit menyinari sepasang manusia ini, burung-burung yang ada di dalam hutan seperti berkicau mengiringi kepergian pasangan ini.
Mereka berjalan lama, tapi -Dari gunung terdengar suara getaran yang joiat, suara ini membuat telinga menjadi sakit.
Tao Chun-chun dan Liu He-ting terkejut karena mereka mendengar di antara suara keras itu bercampur dengan teriakan orang, dan mereka melihat jalan yang mereka tempuh tadi terlihat sinar merah.
Wajah Liu He-ting berubah, dia berkata.
"Di lembah telah terjadi sesuatu -"
Baca Juga: Naga Kemala Putih 1
Baca Juga: Pendekar Cacad 10