Ceritasilat Novel Online

Rahasia Iblis Cantik 2

Eps 2 Rahasia Iblis Cantik - Gu Long

Baca online Rahasia Iblis Cantik - Gu Long

Cersil Rahasia Iblis Cantik - Gu Long.

Pangeran Dong Gong tertawa terbahak-bahak dan berakta.

"Aku juga tidak tahu apa yang lucu, tapi kalau Nona berkata lucu, ya pasti itu sangat lucu."

Perempuan berbaju putih itu tertawa, dia melihat Liu He-ting dan tawanya segera berhenti.

Dia berkata.

"Kita pun tidak saling mengenal, kau juga tidak perlu tahu namaku. Kedelapan genderangmu bukan aku yang membelahnya sehingga menjadi sobek. Aku tanya kau adalah pangeran, karena itu aku merasa lucu."

Sambil bicara dia berjalan ke depan Liu He-ting. Dia berbisik di telinga Liu He-ting.

"Namaku adalah Tao Chun-chun, jangan beritahu kepada orang lain."

Tadi Liu He-ting melihat gadis itu bicara dengan Pangeran Dong Gong, dia merasa marah, sengaja membalikkan kepalanya ke arah lain dan tidak mau melihat mereka, begitu tiba-tiba gadis ini berkata demikian, hati Liu He-ting menjadi hangat lagi.

Dia melihat, gadis itu pun sedang melihatnya, mereka saling pandang, hampir lupa kalau di sana masih ada orang lain!

Mereka berdua baru saja berkelana di dunia persilatan, mereka belum pernah mendengar nama Nan Huang Da Jun, lebih-lebih tidak menganggap kalau orang yang bernama Pangeran Dong Gong adalah seseorang yang harus dihormati.

Mereka tidak tahu bahwa Nan Huang Da Jun sudah berpuluh-puluh tahun terkenal.

Yang membuat dunia persilatan menjadi geger Nan Huang Shen Long, Xiang Tian Zun.

Dan pangeran ini adalah satu-satunya putra dari Xiang Tian Zun, yang bernama Xiang Huang.

40 tahun yang lalu, Xiang Tian Zun baru saja selesai belajar ilmu silat.

Waktu itu dia masih muda, pengalaman belum ada, walaupun sudah berada di Zhong Yuan (Tionggoan)dan Jiang Nan(Kang Lam) dan berkelana satu tahun, tapi dia tidak terkenal di dunia persilatan.

Kemudian dengan tidak sengaja dia telah menolong seorang pelajar yang nama Zhu Ge Sheng.

Zhu Ge Seng lah yang memberikan banyak ide kepada dia.

Dia berkata.

"Jika ingin terkenal di dunia persilatan, harus melakukan sesuatu dengan segala cara untuk mendapatkannya. Kedua, kau harus tahu jika ingin memanah, kau harus memanah kudanya terlebih dulu, mencari seseorang yang terkenal di dunia persilatan, menentang bertarung dengannya. Walaupun kalah atau menang kau akan tetap terkenal karenanya. Kalau tidak sekalipun kau bisa mengalahkan ratusan orang dalam suatu pertarungan, tetap tidak ada gunanya."

Sesudah mendengar kata-kata ini, Xiang Tian Zun baru mengerti, waktu itu perkumpulan yang terbesar adalah Shao Lin dan Wu Dang.

Dia masuk 3 kali ke Shao Lin Sie.

Dia juga naik ke Wu Dang.

Dalam setengah tahun dia berhasil mengalahkan pesilat tangguh Shao Lin dan Wu Dang, hingga nama Nan Huang Shen Long Xiang lian Zun menggegerkan dunia persilatan.

Waktu itu semua orang dunia persilatan tahu kalau ilmu silat Nan Huang Shen Long sangat bagus, datang dan pergi semaunya.

Semua orang sulit mengalahkan dia, tapi ketika dia sedang terkenal tiba-tiba dia pergi ke arah selatan, semenjak itu dia pun menghilang dari dunia persilatan.

Orang-orang dunia persilatan tidak tahu apa alasannya, walaupun merasa aneh tapi mereka juga senang.

Mereka tidak tahu bahwa Nan Huang Shen Long telah kalah di tangan Wu Hen Da Shi.

Dan dia pernah bersumpah tidak akan menginjak tanah Zhong Yuan lagi walaupun selangkah.

Begitu dia terluka, dia kembali ke tempat kelahirannya bersama Zhu Ge Sheng.

Zhu Ge Sheng berkata lagi.

"Walaupun kau gagal di Zhong Yuan tapi dunia ini sangat luas, kau masih bisa berdiri di tempat lain."

Karena itu selama puluhan tahun ini dia berdiri kokoh di Nan Huang.

Dia menepati sumpahnya, benar-benar tidak menginjak Zhong Yuan selangkah pun.

Tapi Xiang Huang masih muda dan masih senang bermain, dia sudah lama mendengar bagaimana indahnya pemandangan Zhong Yuan, dia selalu ingin melihat-lihat ke Zhong Yuan, lebih-lebih dia ingin ilmu silatnya bisa terkenal di Zhong Yuan.

Dia berpikir.

"Ayah telah bersumpah, tapi aku tidak."

Dengan terus meminta kepada ayahnya akhirnya ayahnya pun menyetujuinya.

Begitu sampai di Zhong Yuan, dengan ilmu silat yang dia miliki dia ingin membalaskan dendam ayahnya, dia sengaja mencari Wu Hen Da Shi untuk balas dendam sekalian ingin mencari tahu mengapa ayahnya bisa kalah di tangan Wu Hen Da Shi.

Setiap kali ditanya, ayahnya selalu menarik nafas panjang, sama sekali tidak ingin mengatakan alasannya.

Menurut Xiang Huang ayahnya pasti kalah dengan menyedihkan, tapi bagaimana ayahnya bisa kalah, dia tidak tahu dengan jelas.

Walaupun Xiang Huang muda bertekad mengalahkan harimau, tapi Wu Hen Da Shi sudah meninggal beberapa tahun silam, begitu dia mendapatkan kabar itu, dia benar-benar merasa kecewa, tapi dia pun merasa lebih bebas, dia kecewa karena dia tidak bisa menaikkan nama baiknya.

Dia pun tidak perlu merasakan sedih karena mengalami kegagalan.

Yang pasti perasaan terakhir tadi adalah rahasia di dalam hatinya, sampai-sampai dia tidak percaya kalau dia mempunyai perasaan seperti itu.

Akhirnya dia mendengar cerita tentang rumah misterius dan Shi Guan-yin, karena itu dia segera datang ke tempat itu, tapi dia tidak menyangka kalau di Zhong Yuan pun banyak orang uang berilmu silat tinggi.

Pada saat dia tidak siap, orang lain bisa merusak Tian Lei Shen Gu (Petir di Langit Genderang Sakti) yang sangat dia sayangi yang dengan susah payah dirancangnya.

Sekarang dia sedang menggoyang-goyangkan kipas lipatnya, wajahnya tersenyum, sikapnya tetap terlihat begitu sombong dan menghina, sikapnya yang luwes tapi dingin masih tetap terlihat seperti biasa, tapi sewaktu dia melihat laki-laki dan perempuan yang saling berpandangan di depannya, timbul perasaan serius dan sepertinya dia mabuk.

Perasaan di dalam hatinya tidak setenang penampilan diluarnya.

Tawa kedua laki-laki itu langsung terbungkam, mereka pun secara bersama-sama melihat Liu He-ting dan perempuan berbaju putih itu yang bernama Tao Chun-chun.

Sepasang telapak tangan besar dipenuhi dengan nadi hijau, dengan kuat memegang golok anehnya.

Telapak tangan yang lain terbuka dan dia bersiap-siap untuk menyerang, asalkan Dong Gong Tai Zi (Pangeran Dong Gong) memberi perintah, maka mereka berdua akan segera menerkam Liu He-ting dan Tao Chun-chun.

Suara tawa sudah tidak terdengar, lorong kembali sepi, hanya terdengar suara angin datang dari jalan rahasia itu dan meniup api obor yang dipegang oleh kedua laki-laki ini.

Api itu berbunyi meletup-letup kecil.

Gadis berbaju putih itu, Tao Chun-chun pelan-pelan mengangkat kepalanya, dia menarik nafas, terlihat wajahnya penuh dengan kebahagiaan dan kepuasan, seperti terbangun dari mimpi indah dan manis.

Xiang Huang melipat kipasnya dan dengan dingin berkata.

"Apakah Tian Lei Shen Gu milikku yang berjumlah 8 buah itu bukan kau yang merobeknya?"

Liu He-ting ingin marah tapi Tao Chun-chun dengan lembut melihatnya, Tao Chun-chun dengan pelan menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah berbohong, apakah kau tidak percaya kepadaku?"

Kemarahan Xiang Huang terlihat dari matanya, walaupun kata-kata lembut tadi berhasil mengurangi kemarahannya, tapi dia masih dengan dingin berkata.

"Pedang yang kau pegang itu berasal dari mana? Hai, Kui Ying, orang-orang ini mengatakan kalau mereka tidak berbohong tapi sebenarnya mereka terus berbohong."

Kemarahan Liu He-ting tidak bisa ditahan lagi. Dia berkata.

"Jika kami berbohong memangnya kenapa?"

Mata Xiang Huang mengeluarkan cahaya membunuh, laki-laki yang bernama Kui Ying itu sudah mengeluarkan goloknya yang besar.

Golok yang sangat panjang dan mengeluarkan cahaya berwarna ungu, terlihat seperti pisau yang ungu.

Hati Liu He-ting berpikir.

"Apakah orang itu adalah murid Sheng Jia Dao (nama perkumpulan)?"

Terlihat Dong Gong Tai Zi Xiang Huang tertawa dingin dan berkata.

"Hal yang telah terjadi antara aku dan Nona, aku berharap kau jangan banyak ikut campur!"

Xiang Huag mengeluarkan kipas lipatnya dan menunjuk kepada laki-laki itu dan berkata.

"Dia adalah penjaga pintu istana Nan Huang Shen, bernama Shen Dao Jiang Jun (Jenderal bergolok sakti), Sheng Kui Ying. Aku pikir Sheng Jia Dao Fa (Ilmu Golok Keluarga Sheng) yang berasal dari He Nan, kau pasti mengetahuinya bukan?"

Kemudian dia menunjuk seorang laki-laki yang sedang melotot, di belakang punggungnya terselip pentungan besi.

"Dia adalah Jenderal Pentungan Besi, Wei Chi Wen. Walaupun di Zhong Yuan nama mereka tidak terlalu terkenal tapi banyak orang berkata . di Zhong Yuan yang paling ditakuti adalah pecut, sedangkan di luar Zhong Yuan adalah 2 pentungan besi. Ilmunya setinggi langit. Apakah kau pernah mendengar perkataan seperti ini. Kalau aku -"

Dengan senang dia tertawa, kemudian membuka kipas lipat dengan ibu jarinya.

Dia mengipas-ngipas dengan jarinya, dan ditutup kembali.

Tadinya Liu He-ting bisa menahan kemarahannya, sekarang setelah dia mendengar Xiang Huang yang terus memuji laki-laki itu lalu Liu He-ting melihat kipas Xiang Hua, setelah dibuka lalu ditutup kembali.

Dia mengganti lapis kipasnya, sekarang di atas kipas terlihat gambar naga emas.

Gambar ini sangat mirip dengan naga asli.

Naga itu seperti ingin terbang ke langit.

Xiang Huang tertawa dingin dan berkata.

"Kau masih muda, kau masih banyak kesempatan bisa berkelana di dunia persilatan. Jika bermusuhan denganku, aku akan merasa sangat bodoh, benar-benar sangat bodoh."

Dia mengulangi kata-katanya dan mengulangi arti dari kata-kata itu.

Liu He-ting sudah tidak tahan lagi, dia membusungkan dadanya ingin menangapi perkataan Xiang Huang, tapi gadis berbaju putih itu, Tao Chun-chun sudah mengeluarkan tangan dan memegang tangan Liu He-ting.

Hati Liu He-ting bergetar.

Gadis itu berkata.

"Pedang ini adalah pedang yang telah merobek kedelapan genderangmu, tapi orang yang memakai pedang ini bukan aku. Hai! Kalau kau tidak percaya, maka aku...."

Dia menarik nafas lagi dan mengakhiri kata-katanya.

Alisnya dikernyitkan seperti kesal, supaya Xiang Huang bisa percaya apa yang dikatakannya.

Mulut Xiang Huang tertarik ke atas, dia sangat senang, dengan sorot mata menghina dia melihat Liu He-ting dan berkata.

"Kalau Nona berkata seperti itu, aku pasti akan percaya. Tapi aku ingin tahu, orang yang sudah memakai pedang Nona, sekarang berada di mana? Aku yakin Nona pasti tahu."

Kata-kata Xiang Huang mulai menarik rasa dingin ke dalam hati.

Helaan nafas nona berbaju putih itu seperti angin musim semi yang hangat.

Angin ini membuat hati setiap orang dipenuhi dengan kelembutan dan manis -angin musim semi selalu tidak mengundang musuh.

Tangan Tao Chun-chun yang lembut memegang tangan Liu He-ting kemudian ditariknya kembali.

Seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Dia berkata lagi.

"Dimana orang yang memakai pedang ini sekarang, aku pun tidak tahu. mungkin dia ada di luar lorong, mungkin juga berada di tempat lain -mungkin juga berada di dalam lorong. Dia bisa melihat kita, tapi kita tidak bisa melihatnya."

"Apakah dia adalah Shi Guan-yin?"

Tao Chun-chun mengangguk, matanya berputar seperti sedang mencari-cari Shi Guan-yin.

Shen Dao Jiang Jun, Sheng Kui Ying merasa sedikit tegang, dia membalikkan kepalanya dan melihat ke belakang, di belakang tidak ada bayangan seorang pun tapi hatinya mulai terasa dingin.

Jenderal Pentungan Besi, Wei Chi Wen pun ikut membalikkan kepalanya melihat Sheng Kui Ying.

Mereka saling pandang.

Mereka bisa merasakan dingin di hati masing-masing.

Hati Xiang Huang pun ikut bergetar tapi dia berusaha untuk menenangkan dirinya dan berpura-pura tertawa terbahak-bahak sambil menggoyangkan kipas lipatnya.

Dia berkata.

"Nona terlalu membesar-besarkan nama Shi Guan-yin, walaupun ilmu silat Shi Guan-yin tinggi, tapi dia bukan dewa, apalagi -"

Suara tertawanya berhenti.

Dengan cepat dia menutup kipasnya lalu dengan langkah besar dia berjalan ke pintu merah itu, dia melihat ke dalam kamar itu, wajahnya seperti kaget.

Dia maju lagi 2 langkah, tiba-tiba dia mengerutkan dahinya, dia kembali ke tempat semula, tiba-tiba mengambil obor dari tangan Sheng Kui Ying dan berkata.

"Aku akan melihat seperti apa dia sebenarnya, yang menganggap nyawa orang seperti rumput."

"Aku pun ingin mencarinya."

Dia menunjuk arah itu dan berkata.

"Tampaknya jalan ini adalah jalan untuk keluar!"

Dia membalikkan badannya dan mulai berjalan, tiba-tiba dia tertawa kepada Liu He-ting.

"Mengapa kau masih berdiri di sana? Apakah kau tidak mau keluar dari sini?"

Liu He-ting masih terpaku, kemudian dia berkata.

"Tentu saja aku juga ingin keluar dari sini."

Xiang Huang tertawa dingin, dia berkata.

"Aku kira kau tidak berani!"

Kata-katanya begitu menusuk, dia mengira Liu He-ting pasti akan mengajaknya ribut.

Liu He-ting hanya tersenyum dengan diam mengikuti Xiang Huang dari belakang.

Xiang Huang merasa aneh.

Dia berpikir.

"Mengapa orang ini tiba-tiba menjadi begitu penakut?"

Dia tidak tahu kalau sejak tadi Liu He-ting sudah bolak balik berpikir, dia berpikir antara dia dan Pangeran Dong Gong sama sekali tidak ada dendam, kali ini tujuan Xiang Huang datang ke sini hampir sama dengan dirinya, yaitu mencari tahu tentang rahasia rumah ini dan misteriusnya Shi Qi.

jadi mereka adalah teman sejalan, bukan musuh.

Walaupun dia terlihat sangat sombong, tapi mungkin itu memang sifatnya, memiliki sifat seperti itu bukan dosa besar, mengapa dia harus membencinya?

"Apakah karena Tao Chun-chun lalu aku benci kepadanya?"

Liu He-ting terus berpikir.

"Kalau begitu aku terlalu berpikiran sempit, apalagi aku dan Tao Chun-chun baru saja berkenalan, kalau aku mempunyai pikiran seperti itu, ini benar-benar keterlaluan."

Sebenarnya Liu He-ting adalah pendekar muda yang berpikiran luas, begitu teringat hal itu, dia merasa malu sendiri, makanya sewaktu Xiang Huang menyindirnya, dia hanya berpura-pura tidak mendengar.

Hanya dalam waktu sebentar mereka sudah berada di ujung lorong.

Alis Xiang Huang berkerut, dia berkata.

"Di depan sudah tidak ada jalan lagi, apakah -"

Suaranya belum habis, perempuan berbaju putih itu meraba-raba pintu yang seperti terbuat dari batu, tiba-tiba dia mengangkat kakinya.

Di bagian bawah pintu itu dia menendang beberapa kali.

Akhirnya pintu yang sejak tadi susah dibuka oleh Liu He-ting dengan segala cara, sekarang dengan tanpa suara terbuka di depan mereka.

Xiang Huang merasa aneh.

Matanya berputar dan berkata.

"Ternyata kau sangat paham dengan semua rahasia tombol di lorong ini."

Perempuan berbaju putih itu seperti tidak mendengar kata-kata yang tajam ini, dengan pelan dia menjawab.

"Aku tahu karena Shi Guan-yin adalah kakak seperguruanku, hanya saja sudah beberapa tahun ini aku tidak sempat bertemu dengannya."

Wajah Xiang Huang berubah dan bertanya.

"Apakah kau murid Wu Hen Da Shi?"

"Tidak disangka kau pun tahu nama guruku!"

Wajah Xiang Huang menjadi pucat, dia melihat perempuan berbaju putih yang memiliki tawa seperti bunga, manja dan manis, dia masih terpaku, ekspresi wajahnya beberapa kali berubah, akhirnya dia tertawa dan mengangkat obor dan mengikuti Tao Chun-chun berjalan keluar dari lorong itu.

Liu He-ting menarik nafas, dia berpikir.

"Perempuan ini benar-benar polos dan bersih, di depan orang-orang dia tidak mencoba untuk menutupi identitas dirinya, jika orang-orang dunia persilatan semua seperti dia yang tidak bisa berbohong, bukankah dunia ini akan terasa tenang dan tidak kacau?"

Liu He-ting membalikkan kepalanya melihat Jenderal Pentung Besi, ternyata dia mengikuti di belakangnya.

Sheng Kui Ying dengan erat tetap memegang goloknya yang panjang, seperti takut kalau Liu He-ting akan kabur.

Liu He-ting tertawa, tiba-tiba dia membalikkan badan, tangannya diangkat seperti ingin menepuk kepala Sheng Kui Ying.

Karena gerakannya begitu tiba-tiba hal ini membuat Sheng Kui Ying menjadi kaget dan dia menundukkan kepalanya untuk menghindar, tiba-tiba dia merasa tangan kanannya mati rasa.

Golok panjang itu sekarang sudah berada di tangan Liu He-ting.

Begitu mudah dan enteng dia bergerak secara alami, seperti dia sendiri lah yang memberikan goloknya kepada orang lain.

Sheng Kui Ying marah dan kaget, dia masih terpana.

Wei Chi Wen sudah membentak.

"Mau apa kau?"

Liu He-ting memegang golok panjang itu, di bawah cahaya api dia melihat dengan teliti kemudian tertawa dan berkata.

"Golok sisik ikan Hiu ungu ini benar-benar golok yang bagus, pantas terkenal di mana-mana."

Dengan kedua tangannya, Liu He-ting mengembalikan golok itu kepada Sheng Kui Ying.

Sheng Kui Ying menerima kembali goloknya, dia kaget dan juga marah, tapi walaupun marah dia tidak berani mengeluarkan kemarahannya.

Liu He-ting tertawa sambil terus berjalan keluar.

Xiang Huang mendengar ada suara ribut di belakangnya.

Dia bertanya.

"Apa yang telah terjadi, Kui Ying?"

Shen Dao Jiang Jun terpaku, dia tidak bisa menjawab.

Liu He-ting yang menjawab dengan senyum, Tidak ada apa-apa, aku hanya meminjam golok Sheng Kui Ying dan melihatnya sebentar."

Xiang Huang terdiam dan Sheng Kui Ying hanya menundukkan kepalanya, walaupun dia masih marah tapi dia tidak berkata apa-apa.

Perempuan berbaju putih itu tertawa dan berkata.

"Golok itu memang tidak seperti golok biasa, jika ada kesempatan aku pun ingin meminjam dan melihatnya."

Mata Xiang Huang tampak berputar, dia tertawa dan berkata.

"Kelak -kelak pasti akan ada kesempatan."

Sheng Kui Ying masih menunduk tapi tidak berkata apa-apa, di dunia persilatan, dia termasuk orang yang diperhitungkan tapi sekarang dia merasa telah dirugikan, mau marah pun sepertinya sudah tidak bisa, hatinya benar-benar sangat sedih.

Tapi diam-diam dia pun sebenarnya kagum kepada pemuda yang tangannya bisa bergerak begitu cepat.

Liu He-ting masih tersenyum, dia melihat ke sekeliling lorong yang hanya ada dinding batu, mulut lorong itu tidak ditutup, letaknya di atas kira-kira garis tengahnya 3 meter lebih, di mulut lorong itu terdapat 6 jeruji baja, walaupun tadi dia turun dari sini, tapi karena gelap dia tidak melihatnya.

Mata Xiang Huang tampak berputar, dia berkata lagi.

"Mungkin ini adalah jalan keluarnya. Dari sini kita bisa naik, apakah -"

Liu He-ting tertawa dan berkata.

"Benar, di atas adalah rumah rahasia itu. tadi aku turun dari sana."

Suaranya terdengar ramah, sama sekali tidak ada sikap permusuhan.

Xiang Huang merasa aneh, dia berpikir.

"Mengapa pemuda itu begitu baik kepadaku?"

Dengan tersenyum Xiang Huang berkata.

"Kalau ini adalah jalan keluarnya, Nona, silahkan kau naik dulu!"

Tao Chun-chun tersenyum, sekarang dia lebih mengenal Xiang Huang dan sikapnya pun ada sedikit perubahan.

Wajahnya tersenyum tidak seperti tadi, masih ada perasaan malu.

Xiang Huang merasakan kalau tawa gadis itu sekarang lebih manis daripada tadi, sambil tertawa dia sudah berbalik melihat Liu He-ting.

Dengan pelan, gadis berbaju putih itu berkata.

"Kalau begitu aku akan naik dulu."

Diiringi suara tawanya, badannya yang langsing langsung terbang kurang lebih 1 meter tingginya, kemudian tangannya dipentangkan, dan dia naik lagi setinggi 2 meter, segeradia sudah terbang keluar dari lorong.

Liu He-ting menghela nafas, dalam hati dia pun berpikir.

"Ilmu meringankan tubuh gadis itu begitu tinggi dan indah, seperti seorang dewi yang terbang ke khayangan, kelihatannya orang yang mempunyai ilmu silat tinggi sangat banyak, aku hanya menguasai sedikit, dan tidak sebagus mereka."

Xiang Huang tepuk tangan dan berkata.

"Bagus, sangat bagus!"

Dalam suara tawanya, tampak dia berputar-putar kemudian naik ke atas, kipasnya pun digoyangkan.

Liu He-ting tahu kalau Xiang Huang meminjam tenaga untuk naik ke atas, dia tersenyum dan mundur, dia melihat Xiang Huang sudah berada di mulut lorong, suara tawanya masih terdengar.

Xiang Huang berkata.

"Kalau kau tidak bisa naik, merangkak dan berpeganganlah pada batangan besi itu untuk naik."

"Betul, betul, kalau tidak ada batangan besi ini, aku tidak bisa naik."

Liu He-ting melihat Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen dan berkata.

"Apakah kata-kataku tadi benar?"

Wajah Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying memerah, perlu diketahui, bisa terbang dan naik ke tempat begitu tinggi bukan hal yang mudah, jika ilmu meringankan tubuh seseorang belum mencapai tahap ini, jangan berharap bisa melakukannya.

Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen mempunyai ilmu silat tingi tapi mereka tetap tidak sanggup untuk naik.

"Kalian silahkan dulu an, nanti aku menyusul."

Sheng Kui Ying marah, dia memasukkan goloknya ke dalam sarung, kemudian mendekati sisi dinding dan meloncat, tangan kanannya memegang jeruji besi yang terpasang di sisi mulut terowongan, tangan kirinya memegang jeruji besi yang lainnya.

Sheng Kui Ying pun bisa keluar dari lorong itu.

Liu He-ting bertepuk tangan dan berkata.

"Benar-benar hebat!"

Dia berkata kepada Wei Chi Wen.

"Kali ini giliranmu!"

Ilmu Shen Dao Jiang Jun berasal dari He Nan, Shen Dao Men karena suatu hal maka dia berkelana ke Nan Huang dan diterima oleh Nan Huang Da Jun menjadi pengawalnya, walaupun rimu meringankan tubuhnya tidak sehebat Tao Chun-chun dan Xiang Huang tapi ilmunya cukup lurrtayan tinggi, kecepatan naiknya pun lumayan.

Karena itu Liu He-ting sambil tersenyum berkata.

"Benar-benar hebat!"

Suaranya sama sekali tidak mengandung penghinaan, tapi didengar di telinga Wei Chi Wen terasa tidak enak.

Dengan sikap tidak suka dia membalikkan badannya, dia juga meloncat mencari batangan besi itu kemudian mulai naik.

Karena ingin memperlihatkan ilmunya dan dia lupa kalau sebelah tangannya masih memegang obor, walaupun dia berhasil keluar, tapi obor itu malah terjatuh kembali ke bawah.

Dia berhasil keluar, terdengar suara tertawa dan berkata.

"Obormu masih ada di sini."

Dia kaget dan membalikkan badannya, tapi Liu He-ting sudah berdiri sambil memegang obor yang tadi tanpa sengaja dia jatuhkan.

Sekarang dia merasakan apa yang dirasakan oleh Sheng Kui Ying tadi, karena perasaannya yang sekarang sama seperti perasaan Sheng Kui Ying.

Diam-diam Wei Chi Wen menerima obor itu.

Sheng Kui Ying melihatnya, mereka saling memandang, mereka tidak berkata apa-apa lagi, dalam hati mereka sangat kagum dengan kemampuan ilmu silat pemuda ini.

Tapi mata Liu He-ting tidak melihat mereka malah melihat sepasang bayangan orang yang berada di luar kamar -Tao Chun-chun sudah berjalan keluar dengan Xiang Huang.

Liu He-ting dengan bengong melihat semua itu, dia menghela nafas kemudian ikut berjalan keluar, helaan nafasnya begitu kecil, begitu kecilnya sampai Wei Chi Wen yang ada di sisinya pun tidak mendengar.

Dengan diam Liu He-ting melewati sebuah kamar, keadaan di dalam kamar sama seperti pada saat dia datang tadi.

Tiba-tiba dia mendengar suara langkah di lorong itu.

"Apakah itu adalah suara tikus-tikus yang berlari?"

Dia bertanya kepada dirinya sendiri, dari api obor yang dipegang Xiang Huang cukup untuk membuat kamar ini menjadi terang, mata Liu He-ting melihat-lihat keadaan di sana.

Melihat meja yang berada di tengah-tengah kamar itu, matanya penuh dengan keterkejutan.

Dengan cepat dia berlari ke pinggir meja itu, dia memegang lilin yang ada di atas meja, ternyata lilin itu sudah berkurang sepotong, jika bukan Liu He-ting yang bermata jeli, hal sekecil itu tidak akan bisa diketahui.

Tao Chun-chun dan Xiang Huang sudah berjalan ke kamar lainnya.

Tao Chun-chun membalikkan kepalanya dan berkata kepada Liu He-ting.

"Hei! Kau sedang melihat apa? Di sini tidak ada orang, kakak seperguruanku entah lari kemana."

Liu He-ting ingin menyahut tapi Xiang Huang sudah menyela sambil tertawa.

"Kalau kau belum pernah melihat lilin, aku akan memberikan sebuah lilin kepadamu, supaya dari pagi sampai malam kau bisa terus melihat lilin itu dengan puas."

Kata-katanya terdengar sangat sombong dan juga mengandung penghinaan.

Tapi Tao Chun-chun sudah tertawa dengan manja dan berkata.

"Dia bukan belum pernah melihat lilin."

Dia berkata lagi.

"Kita berjalan saja ke depan dan cepat pergi dari sini!"

Liu He-ting bengong, hatinya menjadi kacau, suara mereka berdua terdengar menjauh.

Kata pangeran Dong Gong itu dengan tertawa.

"Chun-chun.... pemuda itu denganmu...."

Suaranya semakin tidak jelas dan akhirnya tidak terdengar lagi. Liu He-ting menghela nafas lagi.

"Ternyata dia tetap memberitahukan namanya kepada laki-laki itu."

Entah mengapa hati Liu He-ting merasa sedih.

Dengan terpana dia berdiri, kemudian berjalan ke depan jendela, membuka jendela itu dan pergi dari sana.

Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen hanya bisa bertukar pandang, mereka merasa aneh mengapa pemuda itu tiba-tiba saja pergi dari sana.

Mereka tidak tahu bagaimana sedihnya perasaan Liu He-ting, orang lain tidak akan tahu.

Dia teringat sewaktu pertama kalinya dia bertemu dengan Tao Chun-chun, mengingat pada saat dia membawa cahaya suci, mengingat dia yang sedang memegang obor dan, berdiri di tempat gelap dan dia teringat pada saat memegang tangan lembutnya....

Dengan sedih dia memaksa dirinya supaya bisa terus berpikir, dia teringat lagi pada tawa manja gadis berbaju hijau itu.

"Apakah dia benar-benar Shi Guan-yin yang berhati kejam itu? Mengapa terjadi banyak hal aneh dan hal menyedihkan dalam satu malam, dan semua ditemukan olehku tanpa sengaja?"

Dengan cepat dia meloncat keluar dari tembok besi itu.

dia berlari menghampiri dunia luar tembok.

Langit penuh dengan bintang, malam sudah larut, dia tidak tahu sekarang sudah jam berapa, angin malam meniup daun daun.

Di dalam suara terpaan angin yang meniup pepohonan, tiba-tiba terdengar suara pendek, lemas, dan sedih.

Suara ini ternyata suara jeritan manusia sebelum mati.

Liu He-ting sangat kaget, dia berusaha mendengar dengan jelas.

Suara rintihan masih terdengar tapi setelah didengar lagi ternyata itu adalah suara orang yang merintih sedih dan sakit.

Dia tertarik, kedua tangannya sedikit membuka, tubuhnya bergerak seperti bintang yang iatuh, dengan cepat masuk ke dalam hutan dan melihat -Waktu itu matanya seperti gelap dan telinga mendenging, dia tidak bisa berdiri dengan benar.

Hutan itu walaupun tanpa perasaan tapi sesudah melihat keadaan, kau pasti akan merasa seperti Liu He-ting.

Di dalam kegelapan.

Dikelilingi pohon -Setiap pohon terlihat dan tergantung 2 gadis berbaju abu, mereka merintih, baju mereka sobek, wajah yang tadinya sangat cantik, sekarang tampak pucat ketakutan dan kaget.

Liu He-ting melihat tubuh mereka yang masih gemetar.

Dan di tengah-tengah pohon masih tergantung seorang laki-laki kurus dan kecil, badannya berlumuran darah, dia telah dibacok oleh seseorang.

Satu tangan dan satu kakinya dan dia -dia adalah Ru Yun-long, Jin Lao-si, yang dulu pernah lari dari hitan ini kemudian kembali lagi ke sini untuk mencari tahu tentang keadaan saudara-saudaranya.

Tanah di bawah pohon penuh dengan genangan darah.

Kuda Jin Lao-si yang kurus pun jatuh dan tubuhnya penuh dengan darah.

Kuda itu tidak bergerak lagi, kepala kuda sudah hancur, tampak kuda itu mati karena dipukul oleh orang dengan tenaga besar.

Liu He-ting menjadi bengong melihat keadaan itu, keadaan seperti itu benar-benar tidak manusiawi, dia sama sekali tidak melihat ada beberapa bayangan orang berbaju hitam dengan cepat keluar dari hutan.

Begitu dia merasa agak tenang dan matanya bisa melihat dengan benar, beberapa bayangan hitam itu hanya tertinggal bayangan yang tidak jelas dan tertawa sadis.

Semua ini terjadi begitu tiba-tiba.

Liu He-ting merasa sedih dan juga marah, dia berteriak keras, dengan cepat dia berlari ke arah bayangan hitam yang tadi menghilang.

Dengan sekuat tenaga dia berlari, dia sendiri merasa kaget dengan kecepatannya bahkan tidak mempercayainya, tapi di luar hutan terdengar ada suara kuda yang berlari, begitu dia keluar dari hutan, suara derap kuda sudah tidak terkejar lagi.

Karena itu dia merasa kecewa, marah, dan juga sedih.

Dia kembali ke pinggir hutan.

Di luar hutan terikat puluhan kuda yang sehat dan kuat.

Kuda-kuda ini sepertinya milik gadis-gadis berbaju abu yang ikut dengan Xiang Huang ke sini, kuda-kuda itu masih ada tapi gadis-gadis itu mendapatkan musibah yang paling menyedihkan yang terjadi di dunia ini.

Tidak ada yang tahu apakah gadis-gadis itu kaget atau dihina.

Liu He-ting kembali ke dalam hutan dan langsung berlari ke depan Jin Lao-si.

Da dengan suara keras dia memanggil.

"Kakak Jin!"

Suara panggilan Liu He-ting sangat keras, tapi di telinga Ru Yun-long Jin Lao-si seperti sangat jauh.

Dengan cemas Liu He-ting melihat keadaannya, matanya dengan lemas mulai terbuka, mulutnya terbuka dengan pelan, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar.

Liu He-ting memanggil lagi dan berkata.

"Kakak Jin, bertahanlah!"

Dia mendekati telinganya ke mulut Ru Yun-long.

Terdengar dengan suara sangat kecil dan lemah dia mulai berkata.

"Tidak.... .tidak kusangka.... .me -mereka.... .aku...."

Dengan cemas Liu He-ting berharap dia bisa berkata dengan lancar, suara angin begitu keras, suara rintihan gadis-gadis itu sekarang terdengar oleh Liu He-ting sekeras genderang yang berbunyi.

Suara-suara itu membuat suara Ru Yun-long yang lemah tidak terdengar lagi.

Liu He-ting dengan marah dan gemas menggeretakkan giginya.

Dia berharap Ru Yun-long bisa menceritakan apa yang telah terjadi dan siapa pelaku yang tega berbuat begitu kejam.

Walaupun Liu He-ting mengorbankan nyawanya, dia akan membalas dendam orang-orang tidak berdosa ini.

Tapi suara Ru Yun-long Jin Lao-si yang lemah dan terpatah-patah sudah berhenti, dia sudah menutup matanya dengan lemah, dia tidak bisa melihat lagi dunia yang sedih dan kejam ini, dia telah menutup mulutnya, dia tidak akan mengatakan sepatah kata pun lagi, meminta-minta kepada orang-orang supaya mau menolongnya.

Dunia persilatan kehilangan seseorang yang lemah, yang bersalah, dan selalu memohon kepada orang lain supaya mau menolongnya, tapi di dunia persilatan muncul satu peristiwa yang kejam dan sadis.

Liu He-ting dengan cemas mendengar semuanya, tiba-tiba suara Jin Lao-si -nafas, rintihan, minta tolong, detak jantung tidak terdengar lagi.

"Dia sudah meninggal."

Liu He-ting berdiri tegak dan terpaku, walaupun dia baru berkenalan dengan Ru Yun-long tapi dia tetap merasa sedih.

Sepasang mata yang indah bersimbah air mata, walaupun tidak menetes tapi caranya menekan kesedihan terasa lebih sakit dibandingkan bila dia bisa menangis sejadi-jadinya.

Dia terus mengingat kata-kata Jin Lao-si sebelum mati, dia berusaha mencari tahu apa maksud Jin Lao-si.

"Tidak disangka.... mengapa tidak disangka. Apa yang membuatnya tidak menyangka? Mereka.... siapa mereka? Milikku.... mengapa sebelum meninggal dia masih berkata milikku?"

Liu He-ting menundukkan kepalanya dan terus berpikir.

"Apakah sebelum dia meninggal, 2 kata terakhir ini dia bermaksud bercerita kalau cita-citanya belum selesai, dan dia mati pun tidak bisa menutup mata dengan tenang atau masih ada yang harus diberikan kepada orang lain? Tapi yang dimaksud olehnya, apakah yang tidak disangka itu? Apakah maksudnya adalah orang yang membunuhnya benar-benar tidak disangka olehnya? Sebelum dia mati, dia berusaha untuk mengatakan ini?"

Dia berpikir lagi, kemudian dengan kaget Liu He-ting berteriak.

"Apakah orang yang membunuh Ru Yun-long, Jin Lao-si adalah gadis berbaju hijau yang tiba-tiba menghilang itu? Karena Ru Yun-long tidak menyangka gadis begitu polos dan manja ternyata adalah iblis yang begitu kejam dan sadis -kalau begitu pembunuhnya pasti Shi Guan-yin. Dia menipuku masuk ke dalam lorong, kemudian dia keluar dan melakukan kejahatan yang begitu kejam -tapi...."

Liu He-ting berpikir lagi, tapi Ru Yun-long tadi mengatakan.

"Mereka! Berarti pelakunya bukan satu orang saja...."

Liu He-ting terus berpikir mengenai kata-kata Ru Yun-long sebelum meninggal tadi.

Beberapa tebakan disimpulkannya tapi apa yang terjadi sebenarnya, dia tidak bisa mengambil kesimpulan lebih jauh.

Dia menghela nafas dan melihat -Tiba-tiba!

Dia melihat ada hal aneh yang sedang terjadi lagi.

Ru Yun-long, Jin Lao-si yang sudah mati dan tangan kanannya dibacok hingga putus oleh seseorang,.

telapak tangan kirinya yang masih tersisa tampak mengepal, matanya pun tidak dibuka seperti seseorang yang akan tenggelam ke dalam air, sebelum mati dia pasti akan mencengkram dengan erat benda yang dianggapnya bisa menolong nyawanya, apa pun benda intu, dia akan terus mencengkramnya, hingga mati pun dia tidak akan membukanya.

Liu He-ting berpikir.

"Apakah di dalam tangannya tersimpan rahasia, karena itu sebelum meninggal dia tidak lupa untuk mengatakannya, aku, telapak...."

Kata "telapak' belum belum selesai diucapkan, dia sudah meninggal.

Berpikir demikian, dia segera menjulurkan tangannya dan pelan-pelan mengangkat tangan Jin Lao-si yang kurus itu.

Tapi telapak tangan dikepalnya begitu kencang sampai-sampai kukunya menancap masuk ke dalam telapak.

Liu He-ting merasakan telapak tangannya Jin Lao-si masih hangat, tapi nyawanya sudah tidak ada.

Liu He-ting menghela nafas dengan sedih, nyawa sebenarnya sangat sulit tumbuh, tapi kalau hilang begitu mudah.

Sambil menghela nafas dengan hati-hati dan teliti dia membuka telapak tangannya, dan di dalam telapak tangan itu ada -Ada sehelai sobekan kain hitam, kedua sisi sobekan kain itu terdapat 2 helai kumis berwarna merah kecoklatan yang panjangnya hanya beberapa centimeter!

Liu He-ting mengambil benda itu dan meletakkannya kembali ke dalam tangan Jin Lao-si yang semakin dingin, tapi mata Liu He-ting sudah melihat dengan jelas sobekan kain hitam dan kumis merah kecoklatan itu.

Kain itu sangat lembut, ternyata itu adalah kain sutra yang berkualitas tinggi dan mahal.

Kumis merah kecoklatan terasa keras seperti bulu yang ada di tubuh babi.

Kain hitam dan kumis merah kecoklatan ini pasti milik orang yang telah membunuh Jin Lao-si dan dia berhasil menarik kumis dan kain itu dari wajah mereka, kalau begitu pelakunya bukan Shi Qi.

Liu He-ting berpikir lagi.

"Dia menarik kumis orang itu karena orang yang mempunyai kumis merah kecoklatan tidaklah banyak.

Jin Lao-si ingin orang yang menemukan mayatnya bisa mengetahui petunjuknya dan dari sana orang itu bisa mencari pembunuh sebenarnya.

"Hai -sebelum mati dia tetap tidak lupa untuk memberitahukan semua rahasia ini kepadaku, dendam di dalam hatinya benar-benar sangat dalam!"

Dengan sedih Liu He-ting teringat kembali kepada Ru Yun-long Jin Lao-si.

Sebelum meninggal dia mengatakan.

"Milikku...."

Dia mencari jawaban tepat tapi dia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, semua begitu rumit dan misterius, walaupun dia mencoba menebak dan sepertinya sangat masuk akal, tapi ini bukan hal sebenarnya!

Dengan hati-hati dia menarik sobekan kain dan kamis merah kecoklatan itu lalu dimasukkannya ke balik bajunya, karena mengenai benda dingin, dia baru teringat pada benda itu yang tak lain adalah botol hitam dengan tulisan Xi Men Xiao Ou, 4 kata itu!

"Ini masalah yang sangat rumit."

Gadis-gadis berbaju abu itu, tangan mereka diikat ke belakan, dan mereka di atas pohon, sampai sekarang mereka tidak bisa bergerak, mereka hanya bisa bernafas dan mengeluarkan rintihan lemah.

Liu He-ting melihat semua itu.

"Apakah mereka terluka parah?"

Dia berlari ke sebuah pohon yang tingginya beberapa meter, di atas pohon itu terikat seorang gadis yang rarnbutnya tampak berantakan, wajahnya pucat dan matanya terpejam, bajunya tampak koyak, dibandingkan dengan saat mereka datang pertama kalinya benar-benar jauh berbeda.

Liu He-ting menghela nafas, hanya melihat sebentar, dia langsung mengambil sebuah kesimpulan, para gadis itu sudah ditotok nadinya dengan totokan yang sangat kuat.

Dia maju menjulurkan tangannya untuk membuka totokan mereka, tapi dari luar hutan terdengar tawa seseorang, ternyata tawa itu milik Xiang Huang, dalam tawanya terdengar juga tawa seorang perempuan yang lembut, hati Liu He-ting bergetar, dia melihat semua itu, dan dia langsung berlari ke luar hutan.

Entah mengapa timbul perasaan tidak enak di dalam hatinya, dia tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang sedang tertawa dan sedang berjalan ke arahnya, dengan cepat dia masuk ke dalam hutan, dia tahu pasti akan ada yang mengubur mayat Ru Yun-long, Jin Lao, dan gadis-gadis berbaju abu itu mereka adalah para pelayan Xiang Huang, dan dia tidak perlu mengkhawatirkan lagi mereka karena ada Xiang Huang yang akan mengurus mereka, hanya saja dia merasa bersalah karena dia mengenai Ru Yun-long tapi dia tidak menguburkan mayatnya!

"Tapi aku akan mencari pembunuhnya dan aku akan membalaskan dendamnya!"

Dia mengulangi kata-kata itu untuk dirinya sendiri, tapi kakinya tidak berhenti melangkah, angin musim gugur terus berhembus, di bumi terasa begitu sepi, tubuh Liu He-ting yang panjang terus berlari dari tempat terpencil ini, dia berlari seperti asap sampai-sampai burung yang sedang tertidur pun tidak terbang karena kaget.

Hatinya terus bergejolak, dia ingin terus berlari dan berlari, dia ingin terlepas dari gejolak ini, dia sudah berlari lama dan jauh.

Dia sekarang mulai merasakan kalau gejolak hatinya mulai mereda dan tenaganya pun sudah berkurang, setelah itu dengan perlahan dia baru berjalan, dia melihat ke sekeliling tempat itu, kemudian dia berteriak karena sejak dia berlari dia tidak tahu arah sebenarnya dan sekarang dia berada di dalam Yi Shan.

Dalam satu malam keadaan terus berubah, hal-hal yang dia temui selalu tampak misterius dan sulit ditebak, bahkan membuat orang merasa sedih, sekarang dia berada di tempat terpencil, dia menghela nafas dan berkata pada dirinya sendiri.

"Aku ingin jauh dari orang-orang supaya bisa berpikir dengan jernih, sekarang malah berada di tempat seperti ini!"

Dia mencari sebuah batu besar dan duduk di atasnya, walaupun sekarang adalah malam musim gugur dan terasa begitu sunyi, tapi hatinya tidak bisa merasa tenang.

Sebentar-sebentar dia memikirkan gadis berbaju hijau yang terlihat polos dan manja, sebentar-sebentar dia teringat pada tawa lembut Tao Chun-chun, sebentar-sebentar dia teringat kondisi Ru Yun-long ketika menjelang kematiannya.

Angin berhembus, hutan yang berada di kejauhan tampak gelap, daun-daun mengikuti arah angin dan terus bergoyang, daun yang sudah layu dan mati berjatuhan dihembus angin malam, dia memungut sebuah batu kecil dan melemparkannya jauh-jauh, hanya dalam sekejap sudah menghilang dalam kegelapan.

Batu yang sudah dilempar tidak akan pernah kembali, perasaan yang sudah dikeluarkan tidak akan pernah bisa ditarik kembali.

Tiba-tiba -Angin musim gugur yang sedih meniup jauh ada suara helaan panjang, nada helaan itu malah terdengar seperti desisan seekor ular yang bermata dingin, kemudian menjalar mengenai kulit Liu He-ting, membuat ujung jari kaki dan tangannya terasa dingin hingga bergetar.

Liu He-ting yang mempunyai segudang masalah rumit sekarang dia tidak percaya dengan pendengarannya, dalam waktu semalam dia telah melewati banyak hal, dan sekarang dia berada di sebuah gunung yang sepi dan terpencil.

Dia mendengar suara seperti keluhan aneh.

"Siapakah dia?"

Dia bertanya kepada dirinya sendiri, dia melihat gunung ini berubah menjadi mata Ru Yun-long, Jin Lao-si.

Akhirnya suara helaan nafas itu pun menghilang.

Tapi ada sesuatu yang mengikuti suara helaan nafas aneh--"Ha, mengapa hidup begitu kering, mati....

mati....

lebih baik mati saja...."

Siapa yang mengatakan bahwa dia begitu bosan terhadap kehidupan di gunung yang begitu sepi dan terpencil ini?

Tiba-tiba Liu He-ting berdiri, dia melihat di balik bayangan pohon hitam itu ada bayangan seseorang.

Kedua kaki orang itu berada di atas, Liu He-ting bergetar dalam benaknya hanya terlintas sebuah pikiran!

"Apakah dia adalah orang yang bunuh din dengan menggantungkan dirinya di atas pohon?"

Ooo)odw-kzo(ooO BAB Bayangan setan di gunung terpencil Walaupun Liu He-ting kesal, tapi begitu melihat hal yang terjadi sekarang ini, dia ingin langsung menolong, segera dia berlari seperti asap ke arah bayangan itu.

Angin bertiup lagi!

Bayangan orang mengikuti arah angin bergoyang.

"Benar! Tebakanku tidak salah!"

Dia segera meloncat beberapa meter, dan berlari ke depan bayangan orang itu, di pohon itu terikat sebuah tali berwarna hitam, seorang pak tua berambut putih tergantung di tali itu.

Liu He-ting segera meloncat, tangannya seperti seekor orang utan menggendong pak tua itu dan tangan kirinya segera memotong tali hitam itu.

Dengan hati-hati dia meletakkan pak tua itu di bawah pohon dan melihat keadaannya, dia merasa sangat kaget karena pak tua berambut putih itu, kedua tangannya tidak ada, lengan bajunya pun tidak ada, setelah diraba ternyata dadanya masih hangat dan nafasnya pun masih ada walaupun wajahnya sangat pucat, kedua matanya terpejam tapi dia belum meninggal.

Liu He-ting menghela nafas lega, hatinya pun merasa sedikit senang karena dia sudah menolong orang yang hampir mati, walaupun setiap orang mempunyai berbagai macam alasan, setiap orang memang harus mati tapi tidak dengan cara bunuh diri, karena berbagai macam alasan pula, tidak bisa mengalahkan suatu alasan yang paling sempurna.

Tuhan sudah memberikan nyawa kepada setiap manusia, tidak ada yang boleh mengambilnya dengan sembarangan -ini pun termasuk diri sendiri.

Segera Liu He-ting melancarkan aliran darah pak tua itu dengan telapak tangannya, pak tua itu terbatuk dan mulai menghela nafas dengan normal, dia membuka matanya tapi segera dipejamkan lagi.

"Nyawa setiap orang sangat berharga, semut juga ingin tetap hidup, mengapa Pak Tua harus mati, apakah semua pantas?"

Pak tua itu membuka matanya, dengan marah dia melihat pada Liu He-ting.

Tiba-tiba dia membuka mulut dan meludahkan dahak ke wajah Liu He-ting.

Liu He-ting kaget dan berusaha untuk menghindar, dahak ini melesat melewati telinganya.

"Aku ingin mati, apa urusanmu?"

Dia membalikkan badannya lalu meloncat dan dia kembali marah.

"Pemuda tidak tahu diri, benar-benar kurang ajar!"

Dia meludah lagi ke bawah kemudian pergi entah ke mana.

Liu He-ting masih bengong melihat bayangan punggung pak tua itu, dia merasa marah sekaligus ingin tertawa, menertawakan dirinya sendiri mengapa dia bisa begitu sial, sudah menolong nyawa, yang didapatkan olehnya malah ludah dan dahak, pak tua itu sudah pergi jauh.

Liu He-ting merasa sedikit dingin.

Dalam hati dia berkata.

"Pak tua itu sudah pergi, untuk apa aku masih bengong di sini? Sepertinya pak tua itu pergi ke tempat lain untuk bunuh diri, jika aku tidak menolongnya kali ini, hatiku tidak akan merasa tenang."

Dia melihat bayangan pak tua yang terus berjalan dengan terburu-buru.

Seorang pak tua yang cacat, malam seperti ini berjalan di sebuah gunung terpencil dan angin berhembus dengan kencang, langit gelap, membuat hati Liu He-ting merasa tidak tenang memikirkan keadaan pak tua itu.

Dia menghela nafas lagi dan mengikuti bayangan pak tua itu.

Sebentar dia sudah berada di belakang pak tua.

Dia terbatuk dan bersiap-siap menghibur pak tua itu, tapi pak tua itu dengan malah membalikkan kepalanya.

"Anak kurang ajar! Kau mengikutiku terus untuk apa? Malam-malam begini apakah kau ingin merampokku?"

Liu He-ting terpaku, dia berusaha menenangkan dirinya dan tertawa dengan kecut.

Di depan sana adalah sebuah jalan gunung yang panjang dan sempit, kedua gunung yang mengapit di sisi sangat tinggi.

Dalam hati Liu He-ting berpikir.

"Jika dia berjalan terus, lebih baik aku menunggunya di depan, di sini Cuma ada satu jalan menuju lembah -"

Dia sudah memutuskan rencananya maka begitu dia berada di depan pak tua itu.

Liu He-ting membalikkan kepala dan tertawa kepadanya.

"Kalau begitu aku jalan dulu."

Pak tua itu sama sekali tidak meladeninya.

Liu He-ting tertawa kecut dan berjalan terus ke depan, baru saja beberapa puluh meter, Liu He-ting membalikkan kepalanya untuk melihat pak tua itu, benar saja pak tua itu masih ada di belakangnya, dia terus bicara pada dirinya sendiri.

Rambut putihnya tampak terus berkibar dalam hembusan angin malam, badannya yang tidak bertangan terlihat lebih lemah lagi.

Liu He-ting menarik nafas, dia membalikkan badannya dan berjalan sambil terus berpikir.

"Bagaimanapun juga aku harus menolong orang tua ini. Hai! Umurnya kan sudah tua."

Tiba-tiba -Keadaan di depan sangat aneh, membuat dia berhenti berpikir.

Dia menenangkan diri dan melihat di depannya sebuah pohon, di atas pohon tergantung bayangan seseorang.

Liu He-ting sangat kaget, dia segera meloncat dan memotong tali itu, segera dia menggendong orang itu dan diturunkan dengan.

Liu He-ting menundukkan kepalanya untuk melihat -Terlihat orang itu penuh dengan rambut putih, kedua tangannya putus tepat di pundak, dia memakai baju berwarna abu yang tidak berlengan.

Liu He-ting gemetar dan membalikkan kepalanya untuk melihat dengan jelas jalan gunung yang lurus itu, tapi sama sekali tidak terlihat ada bayangan seseorang, hanya ada angin yang berhembus.

Semakin malam udara bertambah dingin, dengan tangan gemetar dia meraba dada orang tua itu, dadanya masih hangat, hidungnya masih bernafas, jika mengatakan kalau orang tua ini adalah orang tua yang tadi, mengapa dalam waktu begitu singkat pak tua itu sudah berada di depan Liu He-ting?

Jika orang ini bukan orang tua yang tadi, mengapa mereka bisa begitu mirip?

Dan mempunyai cacat yang sama yaitu tidak mempunyai tangan!

Liu He-ting menarik nafas panjang kemudian melancarkan aliran darah di dada pak tua itu.

Begitu orang tua itu terbatuk dan mengeluarkan nafas panjang, tiba-tiba tangan Liu He-ting menotok nadi tidur yang berada di pinggang pak tua itu.

Liu He-ting tahu dengan ilmu silat miliknya, jika menotok nadi tidur pak tua ini, kalau tidak segera ditolong oleh orang lain, maka dia akan tertidur selama 3 jam, karena itu dia segera meloncat dan berlari ke jalan yang tadi dia lewati kemudian berputar-putar.

Bumi begitu sepi, dia tidak tahu apakah dia diikuti oleh orang atau tidak, segera dia kembali ke temat tadi, terlihat pak tua berambut putih itu masih tertidur pulas di bawah pohon dan tidak bergerak sama sekali.

Langkah kaki Liu He-ting berhenti, dia sengaja berkata.

"Karena kau bertingkah macam-macam, kau tidur saja terus di sini, kalau ada binatang buas yang mendekatimu, aku tidak akan peduli."

Segera dengan langkah besar dia berjalan ke depan, tapi Liu He-ting tetap memasang telinganya apakah di belakangnya ada orang yang mengikutinya.

Sekarang ketakutannya tidak seberapa tapi sebagai gantinya dia ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi, dia ingin tahu siapa pak tua berambut putih itu.

Liu He-ting berjalan sejauh 20-30 meter, di belakangnya kecuali suara deru angin meniup rumput, tidak terdengar suara lain, karena itu suara langkah kakinya pun melambat, dia ingin kembali lagi ke tempat tadi dan melihat bagaimana keadaan pak tua berambut putih itu apakah dia masih berada di sana atau sudah menghilang tapi matanya tersangkut di sebuah pohon besar yang berada di sisi gunung, di pohon itu ada bayangan seseorang yang tergantung.

Liu He-ting menarik nafas, dengan cepat dia berlari ke arah pohon itu, tangan kanannya langsung memutuskan tali yang menggantung di leher orang tua itu, badannya yang tergantung-gantung langsung diturunkan.

Orang itu tetap berambut putih, wajahnya bulat seperti bulan, dan kedua tangannya putus, dan tetap mengenakan baju panjang berwarna abu!

Liu He-ting merasa sangat kacau, sekarang dia sendiri tidak bisa membedakan apakah perasaan ini adalah takut, kaget, atau bingung?

Tapi dia masih mencoba dan meraba apakah orang tua itu masih bernafas?

Segera dia menarik tangannya, kemudian meletakkan pak tua itu di bawah pohon, tubuh Liu He-ting berputar, hanya dalam beberapa kali langkah dia turun dan naik, dia sudah kembali ke pohon tadi.

Tapi di bawah pohon itu sudah tidak ada orang, pak tua berambut putih dan berbaju abu itu entah pergi ke mana!

Liu He-ting berteriak, otaknya benar-benar kacau, badannya tetap tidak berhenti melangkah, tiba-tiba dia berlari beberapa kali lalu turun dan naik gunung itu, dia keluar dari jalan gunung ini tapi begitu dia melihat -Pohon pertama yang dilihatnya tampak tergantung seorang pak tua berambut putih, sekarang terlihat bayangan abu yang tergantung di pohon itu, dia mendekat untuk melihat dengan jelas -Baju abu, rambut putih, wajah bulat!

Dengan cepat Liu He-ting mengeluarkan tenaga telapak angin dengan kencang, membuat pohon itu bergetar dan dahan itu pun putus, kemudian dia membiarkan badan yang sedang tergantung itu terjatuh, kemudian kakinya berputar, dengan cepat dia langsung berlari beberapa puluh meter.

Dia kembali ke pohon yang berada di sisi lembah, pohon itu tampak bergoyang, daun-daunnya pun ikut bergoyang, tapi di atas pohon itu tampak tergantung bayangan seseorang, dan dia berambut putih, baju berwarna abu, kedua tangannya tidak ada.

Liu He-ting dengan cepat melewati bayangan itu, dia menggetarkan kain yang mengikat orang itu tapi Liu He-ting terus berlari.

Sampai 20-30 meter di bawah pohon besar itu, pak tua yang tadi telah ditolong Liu He-ting sekarang tampak diam dan masih tertidur di bawah pohon itu.

Karena Liu He-ting terus berputar dan bolak balik, dia mulai berkeringat, tapi hatinya malah semakin terasa dingin, dia tidak berani melihat pak tua yang sedang berbaring di bawah.

Dengan cepat dia berlari dari pohon besar itu, dia berharap dia dengan cepat bisa meninggalkan tempat ini dan tidak akan bertemu lagi dengan pak tua tanpa tangan itu.

Di sisi jalan gunung, dinding gunung semakin tinggi, di depannya ada sebuah jalan berliku-liku, di depan gunung itu terdapat sebuah hutan.

Liu He-ting mengatur nafasnya, dia marah kepada dirinya karena begitu ceroboh, mengapa dia bisa memilih jalan masuk ke tempat yang lebih terpencil ini.

Pak tua berambut putih itu telah membuat pemuda yang biasanya terlihat sangat berani dan teliti, sekarang jantungnya berdenyut tidak karuan, dia mulai curiga kepada pak tua ini, apakah dia adalah manusia!

Tapi -Di ujung jalan gunung itu tiba-tiba terdengar ada yang tertawa terbahak-bahak, suaranya terdengar sangat bebas dan keras tapi pada saat didengar oleh Liu He-ting, tawa itu seperti tawa setan, karena itu badannya sedikit bergidik, erlihat di depan hutan sana di balik bayangan pohon, keluarlah seseorang dengan pelan.

Dia tertawa dan berkata.

"Aku sudah ditolong olehmu beberapa kali, sekarang aku jadi tidak ingin mati. Anak muda, bagaimana kalau kita berteman saja?"

Ternyata dia adalah pak tua berambut putih tadi, yang tidak mempunyai tangan dan berbaju abu.

Liu He-ting terus menahan perasaanya hatinya yang takut sekaligus kaget.

Sampai sekarang pun dia belum bisa memastikan apakah pak tua yang berada di depannya sekarang ini adalah manusia atau bukan, karena dia tidak percaya kalau manusia bisa mempunyai ilmu meringankan tubuh hingga tidak terbayangkan, apalagi di tempat ini adalah jalan di gunung.

Apakah pak tua itu bisa terbang dan melewati kepalanya?

Pak tua itu sudah berjalan pelan menuju tempatnya, dia terlihat sangat senang, wajahnya penuh dengan tawa.

Liu He-ting kaget dan aneh.

Dia berpikir.

"Apakah Pak tua ini manusia atau setan? Mengapa dari tadi terus mempermainkanku?"

Pak tua ini sudah mendatanginya, dia memasang wajah serius dan berkata.

"Sewaktu aku berniat mati, kau terus menolongku. Sekarang aku tidak berniat mati lagi, tapi kau malah tidak meladeni kata-kataku. Anak muda, aku ingin bertanya kepadamu apa alasanmu mengacuhkanku?"

Liu He-ting masih terpaku dengan berdiri, dia tidak tahu sekarang dia harus melakukan apa dan menjawab apa kepada pak tua itu, wajah pak tua ini memang terlihat sangat serius, tapi matanya seperti sedang tertawa.

Dia melihat wajah Liu He-ting ke kiri lalu ke kanan, mungkin karena gelap dia tidak bisa melihat Liu He-ting dengan jelas, karena itu dia harus melihat dengan teliti.

Karena terus dilihat maka Liu He-ting pun merasa sangat canggung.

"Anak muda, dalam waktu 3 hari ini kau akan mendapat bencana besar, apakah kau tidak mengetahuinya?"

Hati Liu He-ting bergetar dan berpikir.

"Benar, malam ini aku bertemu dengan hal-hal aneh, mungkin dalam beberapa hari ini akan ada bencana yang menimpaku. Pak tua ini mempunyai ilmu silat begitu tinggi, dia bukan orang biasa mungkin aku dipilih olehnya."

Tiba-tiba pak tua ini menarik nafas dan pelan-pelan berkata lagi.

"Aku sudah ditolong olehmu beberapa kali, kali ini giliranku untuk menolongmu satu kali. Hanya -hai! Selama sepuluh tahun ini aku tidak pernah mengurusi hal-hal yang terjadi di dunia persilatan lagi. Sekarang pun tidak terkecuali."

Dia mengerutkan dahi, wajahnya berganti dengan ekspresi seperti sangat pusing.

Sifat Liu He-ting memang keras dan sombong, dia belum pernah berniat meminta tolong kepada orang lain, melihat ekspresi pak tua itu, dia sedang berpikir-pikir apakah dia akan pergi meninggalkan tempat ini atau tetap tinggal di sini.

Terdengar pak tua itu berkata lagi.

"Kalau ilmu silatmu sedikit tinggi, maka kau akan terlepas dari bahaya ini, tapi dari mana kau belajar ilmu silat? Hanya dengan kemampuan seperti itu kau ingin melawan orang lain?"

Kata-kata ini kalau keluar dari mulut orang lain, Liu He-ting pasti marah dan juga pasti akan bertengkar dengan orang itu, tapi menghadapi pak tua itu, Liu He-ting sudah kebingungan sejak tadi, dia malah mengeluh.

"Tadinya aku mengira ilmu silatku sudah lumayan tinggi, sekarang dibandingkan dengan pak tua ini, aku benar-benar seperti seekor kunang-kunang yang bertanding dengan cahaya bulan, dia berkata seperti itu, aku hanya bisa mendengarkan tidak bisa melakukan apa-apa."

Dia berpikir.

"Kalau aku bisa belajar ilmu meringankan tubuh seperti dia, sepertinya kemampuanku akan lebih banyak meningkat dibandingkan pada saat aku belajar dulu."

Pak tua ini terus melihatnya, dia seperti bisa membaca pikiran Liu He-ting.

Tiba-tiba pak tua itu menarik nafas panjang dan berkata.

"Aku mempunyai ilmu silat tinggi hanya saja aku tidak mempunyai murid, puluhan tahun ini satu murid pun tidak kudapatkan. Hai -kalau -"

Suaranya baru selesai, Liu He-ting sudah berpikir.

"Apakah dia ingin menerimaku menjadi muridnya?"

"Aku tidak tergesa-gesa ingin mencari murid, hanya saja aku melihat ilmu silatmu sangat rendah, tapi kau mempunyai hati baik dan benar, maka aku ingin menolongmu. Jika kau ingin menjadi muridku, aku akan memberimu sebuah buku rahasia, jku jamin dalam beberapa hari ini, ilmu silatmu akan meningkat satu kali lipat."

Tiba-tiba dia memejamkan mata dan menatap langit. Dia berkata.

"Guru, aku sudah melanggar laranganmu dan aku menerima murid karena terpaksa. Aku harap guru tidak menyalahkanku."

Sekarang Liu He-ting tidak ragu lagi, dia sudah menganggap bahwa pak tua itu adalah seorang pesilat tangguh yang sedang bersembunyi dan ilmu silatnya sangat tinggi, kekhawatiran, ketakutannya sudah menghilang, tapi sifat Liu He-ting yang sangat sombong, sulit mengeluarkan perkataan meminta-minta dari mulutnya.

Tapi dengan susah payah akhirnya dia bisa berkata.

"Murid tidak tahu kalau pak tua adalah seorang jago silat, kalau Anda bisa.... bisa."

Dia tidak bisa melanjutkan lagi. Pak tua ini segera menyambung dan berkata.

"Yang lain tidak perlu kau katakan lagi, apakah kau mau menjadi muridku?"

Dengan wajah memerah, Liu He-ting mengangguk.

Mata pak tua ini berputar, matanya terlihat lebih senang lagi tapi dia tetap menarik nafas panjang dan berkata.

"Sepertinya kita memang berjodoh, rahasia ilmu silatku sudah kutulis dalam sebuah buku, sekarang buku itu tersimpan di dalam sepatu yang kupakai. Aku paling tidak suka dengan banyak peraturan, jika kau ingin menjadi muridku, tidak perlu memberikan hadiah besar, kau hanya berlutut dan memberi hormat kepadaku, itu saja sudah cukup, setelah itu buku rahasiaku boleh kau ambil."

Walaupun Liu He-ting sangat pintar, tapi sekarang ini dia tidak menaruh curiga apa pun kepada pak tua itu.

Dengan senang dia memanggil pak tua itu 'guru' dan juga berlutut sebagai tanda hormat kepada pak tua itu.

Pak tua ini sudah mengangkat kakinya dan Liu He-ting dengan hormat mencari buku itu di dalam sepatu pak tua itu.

Benar saja ada sebuah buku bersampul kuning berada di dalam sepatunya.

Buku itu terasa hangat dan bau, tapi Liu He-ting sudah tidak peduli, dengan hormat dia menerimanya.

Pak tua ini terbatuk kering, dengan pelan dia berkata.

"Sudah sudah, bangunlah!"

Liu He-ting menurut dan bangun.

Pak tua itu sedang melihatnya dan pak tua sedang memainkan matanya.

Liu He-ting bengong dan merasa aneh.

Pak tua itu dengan senang tertawa terbahak-bahak.

Liu He-ting merasa lebih aneh lagi, begitu suara tawanya berhenti, di belakang Liu He-ting ternyata ada sesorang yang tertawa.

Begitu Liu He-ting membalikkan kepalanya untuk melihat, di belakangnya sejauh beberapa puluh meter ada 3 orang pak txia berambut putih dan tidak bertangan dan juga memakai baju abu, mereka sedang tertawa.

Mereka berjalan ke sisinya kemudian mereka berempat tertawa dengan senang.

Perasaan Liu He-ting yang tadinya kaget berubah menjadi aneh, dari merasa aneh berubah menjadi marah, dia baru mengerti mengapa hal-hal yang dirasakan aneh ternyata ketiga pak tua itu adalah kembar dan ternyata mereka semua adalah kembar empat, dia tidak habis berpikir, bisa dipermainkan begitu saja oleh mereka berempat.

Karena itu dia merasa marah dan terus melihat mereka berempat, tiba-tiba dia pun ingin tertawa.

"Umur mereka lebih tua banyak, aku berlutut dan memberi hormat tampaknya juga tidak masalah."

Liu He-ting memang rada angkuh, tapi kebesaran jituanya tidak sempit, dia tidak peduli dengan masalah sepele.

Sekarang dia melihat empat orang tua berambut putih sedang tertawa-tawa seperti anak kecil yang nakal mengingatkan kelakuannya tadi, dia juga merasa ingin tertawa, akhirnya dia pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Begitu dia tertawa, keempat orang tua itu malah berhenti tertawa.

Delapan mata terus melihat Liu He-ting, mereka seperti sangat aneh dan bertanya-tanya mengapa pemuda itu tertawa.

Liu He-ting terus tertawa, dia seperti merasa sangat senang.

Mereka berempat saling pandang, mereka merasa aneh dan bersama-sama bertanya.

"Apa yang sedang kau tertawakan?"

Liu He-ting masih terus tertawa dan matanya tampak berputar, kemudian dia berkata.

"Apa yang sedang kutertawakan, aku tidak akan memberitahukannya kepada kalian."

Kemudian dia tertawa sendiri lagi.

Walaupun keempat orang tua itu sudah tua tapi pikiran mereka masih seperti anak-anak.

Mereka berempat sering mempermainkan banyak orang dengan cara seperti ini, orang yang terkena akal jail mereka sering terkejut, ada yang sampai berjalan pun tidak sanggup lagi.

Begitu melihat pak tua yang gantung diri untuk kedua kalinya, mereka takut dan langsung kabur, kadang-kadang ada 1-2 orang yang berilmu silat sangat tinggi begitu tahu dia dipermainkan, mereka akan langsung marah-marah, kadang-kadang malah menjadi musuh.

Tapi sekarang mereka melihat bagaimana Liu He-ting dipermainkan mereka, dia tidak marah malah tertawa terbahak-bahak, mereka belum pernah menemui hal ini.

Apa alasan Liu He-ting tertawa, dia tidak ingin menyampaikannya kepada mereka, karena itu mereka berempat merasa aneh.

Mereka saling pandang dan ingin tahu apa alasannya, karena itu mereka bersama-sama memberi hormat kepada Liu He-ting dan berkata serempak.

"Tadi kami bersalah kepada Tuan, harap Tuan jangan marah."

Suara tawa Liu He-ting langsung berhenti, dia berkata.

"Tentu saja aku tidak marah kepada kalian."

Keempat orang tua itu merasa sangat senang dan berkata.

"Kalau Tuan tidak marah, apakah Tuan bisa mengatakan apa alasan Tuan tertawa begitu senang?"

Di sebelah timur langit mulai berwarna putih, mulai terlihat cahaya matahari yang akan terbit.

Liu He-ting melihat keempat pak tua itu walaupun rambut dan kumis sudah memutih tapi wajah mereka berwarna merah dan bentuk alis, mata, hidung, dan lainnya seperti sedang tawa, tapi sekarang mereka berempat mengerutkan dahi seperti sangat sedih.

Liu He-ting melihat mereka berubah menjadi seperti itu, dia tahu mengapa mereka menjadi seperti itu.

Dalam hati dia berpikir.

"Tadi kalian mempermainkanku, sekarang sengaja aku tidak mau mengatakan alasannya kepada kalian."

Tapi di depan mereka dia malah berkata.

"Karena aku teringat pada satu kalimat lucu maka aku merasa ingin tertawa."

Seumur hidup mereka sering pergi ke tempat lain mencari kesenangan.

Karena mereka bersaudara kembar dan juga sangat misterius, begitu orang lain melihat mereka, orang-orang itu pasti akan kaget dan tidak ingin bicara dengan mereka, bahkan tidak mau bercanda dengan mereka, karena itu mereka berempat sering mempermainkan orang untuk mencari kesenangan.

Sekarang demi mendengar sebuah kalimat lucu yang bisa membuat Liu He-ting tertawa terbahak-bahak seperti itu mereka menjadi penasaran tapi Liu He-ting sengaja tidak ingin memberitahukan hal itu kepada mereka.

Segera mereka berkata.

"Apakah Tuan bisa mengatakan kalimat itu, supaya kami bisa ikut merasa senang."

Mereka berempat sangat ingin tahu, karena itu begitu bicara keempat mulut itu secara bersama-sama membuka dan menutup, benar-benar terlihat seperti bayangan satu orang.

Liu He-ting sebenarnya ingin tertawa, tapi dia pelan-pelan berkata lagi.

"Kalimat itu adalah....

9 dia melihat kedelapan mata yang sedang membuka dengan lebar, mulut mereka sedikit terbuka, mereka benar-benar ingin tahu, dia tidak tahan lagi dan terus tertawa, kemudian berkata.

"Aku ingat dengan satu kalimat yaitu jas hujan bisa memadamkan kebakaran."

Mereka berempat terpaku dan berkata.

"Bagaimana ceritanya?"

Tadinya Liu He-ting melihat mereka berempat sudah ingin tertawa, sebenarnya dia hanya.

iseng saja, sekarang melihat mereka bisa dipermainkan begitu saja, hatinya pun merasa sangat senang.

Dia berkata lagi.

"Tadinya aku ingin menolong orang, siapa tahu malah aku yang terkena akibatnya, bukankah ini seperti ungkapan yang berada dalam kalimat . memakai jas hujan memadamkan api."

Keempat orang tua terpaku, dari mata terlihat kalau mereka sangat kecewa.

Mereka merasa kalimat ini tidak lucu tapi begitu mereka saling memandang, mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Liu He-ting berpikir.

"Aku dipermainkan mereka tapi aku bisa tertawa dengan puas, ini sebuah pertemuan aneh, sekarang untuk apa aku harus terus bicara dengan mereka?"

Walaupun hatinya berniat ingin pergi dari sana, tapi begitu melihat sikap mereka, dia tidak jadi pergi.

Keempat orang tua ini tertawa dan berkata.

"Tuan sangat lucu, ini pertama kalinya kami bertemu dengan orang seperti Tuan, siapakah nama Tuan? Apakah kita bisa berteman?"

Liu He-ting tertawa dan menjawab.

"Aku Liu He-ting, apakah kalian juga bisa memberitahu nama-nama kalian? Karena kita akan menjadi teman."

Menghadapi kempat orang tua yang aneh ini, dia sama sekali tidak menaruh rasa benci, dia berpikir, bisa berteman dengan mereka bukan suatu hal yang buruk.

"Kami harus memberitahu nama kami kepada Tuan, tapi jika kami memberitahu nama kami kepada Tuan pun, belum tentu Tuan bisa membedakan kami."

Hari mulai terang, Liu He-ting memandang mereka berempat.

Sekarang Liu He-ting bisa melihat dengan jelas rambut dan kumis mereka.

Mereka berempat berdiri berjajar, benar-benar seperti keluar dari satu cetakan, begitu dilihat lagi dengan jelas memang tidak akan bisa dibedakan.

Salah satu pak tua itu berkata.

"Sebenarnya kami masing-masing mempunyai perbedaan, hanya saja orang lain tidak bisa membedakannya."

Liu He-ting memiringkan badannya, dia membiarkan sinar matahari menyinari wajah mereka berempat.

Mata Liu He-ting dengan teliti melihat dari kiri ke kanan, dan dari kanan ke kiri.

Beberapa kali terlihat wajah keempat orang tua yang senang tertawa itu, sekarang terlihat sangat serius.

Liu He-ting berkata.

"Benar, kalau kalian tidak tertawa, orang lain tidak akan bisa membedakan kalian."

Keempat orang tua itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Bocah ini sangat pintar, dia bisa membedakan rahasia kita."

Ternyata mereka berempat berwajah sangat mirip, tapi begitu mereka tertawa, salah satu sudut mulut mereka naik ke atas, sedangkan sudut mulut yang lainnya turun, satu lagi terlihat taring giginya yang panjang, sedangkan yang lainnya terdapat lesung pipit yang dalam.

Liu He-ting ingin tertawa, keempat orang tua itu semakin tertawa.

ciri khas mereka masing-masing bisa terlihat semakin jelas.

Liu He-ting memuji kehebatan Tuhan, semua ini rasanya tidak terbayangkan kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri.

Tuhan sudah menciptakan 4 orang yang sama, tapi di wajah mereka terlihat ciri khas masing-masing.

Jika mereka berempat bersifat judes, tidak senang tertawa, orang-orang tidak akan bisa membedakan mereka, tapi mereka sangat senang tertawa, sekali melihat pun bisa membedakan mereka secara langsung.

Terlihat keempat orang tua ini terus tertawa, Liu He-ting tidak tahu apa yang harus dia lakukan tapi bisa bertemu dengan orang-orang yang suka tertawa ini pun bukan hal yang sangat membahagiakan -di dunia ini -bisa tertawa adalah suatu hal yang membahagiakan dan juga merupakan suatu keberuntungan.

Sifat Liu He-ting sangat terbuka, walaupun dia sudah dipermainkan oleh keempat orang tua itu, tapi dia tahu kalau keempat orang tua itu tidak bermaksud jahat.

Sekarang di dalam hati Liu He-ting tidak tersimpan dendam, dia tertawa dan berkata.

"Aku sudah bisa menebak, jadi kalian harus memberitahukan nama kalian!"

Mereka berempat memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Begitu tertawa sudut mulut yang ke atas adalah Lao Da Qi Qi, yang tertawa dengan sudut mulut ke bawah adalah Lao Er Qi Qi, mulut yang tersembul gigi taring adalah Lao San Qi Qi, yang di wajahnya ada lesung pipit adalah Lao-si Qi Qi.

Angin pagi terus berhembus, walaupun ada matahari tapi terasa dingin seperti musim gugur, tapi di pegunungan ini dipenuhi dengan tawa mereka.

Liu He-ting tertawa dan berpikir.

"Mereka berempat sangat aneh, nama mereka pun aneh. Bagaimana harus memanggil mereka?"

Segera dia tertawa dan berkata.

"Kalau begitu aku harus memanggil kalian dengan sebutan Da Qi, Er Qi, San Qi, dan Si Qi."

Lao Da Qi Qi tertawa dan berkata.

"Betul, narna kami memang harus dipanggil seperti itu."

Liu He-ting terpaku, sebenarnya dia hanya bicara asal-asalan saja, ternyata itu memang nama panggilan mereka.

Terdengar Lao Da Qi Qi berkata.

"Aku Lao Da Qi Qi, karena sering terlambat maka dinamakan Da Qi (Qi=telat ternama). Lao Er senang marah tapi tenaga dalam sangat hebat, dia biasa menggunakan tenaga dalam Yang, dia juga bisa menggunakan tenaga dalam Yin. Karena dia bisa tenaga Yin Yang, maka dia disebut Er Qi (Er=dua, Qi=tenaga dalam)."

Dia baru selesai bicara, Liu He-ting tampak berpikir.

"Keempat pak tua itu tidak mempunyai tangan. Pasti ada senjata untuk mengalahkan musuh mungkin ilmu silat dan tenaga dalam mereka sangat hebat."

Da Qi berkata lagi.

"Lao San bernama San Qi, karena dia bisa berjalan di darat juga bisa berenang, tidur di atas air, dalam waktu 3-5 hari pun keadaannya tidak apa-apa. Dia seperti seekor ikan, dia juga bisa meloncat tinggi seperti seekor burung gereja, maka dia dinamakan San Qi (San=tiga, Qi=di langit, di air, di darat)."

Lao Da berkata lagi.

"Jika Lao-si -dia paling banyak mempnyai ide aneh, maka dia dinamakan Si Qi (Si= empat Qi=keanehan). Kita masih mempunyai seorang adik yang bernama Lao Wu. Dia paling tampan di antara kami juga paling pintar. Dia sekaligus mengawini 5 orang perempuan. Ha! Ha! Ha! Dia membantu kami mencari istri, namanya Wu Qi (Wu=5, Qi=istri)."

Dia menarik nafas dan berkata.

"Tapi Lao Wu kami sudah pergi jauh menjadi pejabat -"

Dia menarik nafas dan berhenti bicara.

Liu He-ting merasa aneh, tadinya dia ingin menanyakan tentang Lao Wu, tapi begitu melihat dia menjadi sedih, walaupun merasa aneh,dia tidak berani menanyakannya.

Qi bersaudara dan Liu He-ting tampak semakin akrab, mereka ingin Liu He-ting selalu bersama-sama dengan mereka karena selama ini mereka sangat kesepian, jika ada orang yang melihat mereka, kalau bukan karena berniat menghina, pasti mereka merasa takut kepada keempat orang tua ini.

Orang seperti Liu He-ting yang menganggap mereka teman, belum pernah terjadi.

Karena itu mereka berempat secara berebut bicara, ada yang bicara, ada yang bertanya, ada pula yang tertawa, benar-benar membuat Liu He-ting tidak sempat untuk menjawab atau bicara.

Liu He-ting yang sejak kecil selalu sendiri, sekarang dia merasakan persahabatan yang hangat dan mendapatkan sahabat-sahabat yang lucu.

Dia duduk bersila dan ikut tertawa serta berGurau dengan mereka.

Lao Da Qi Qi tertawa dan berkata.

"Kau seperti pelajar, tidak disangka kau pun seperti saudara-saudaraku, seperti laki-laki kasar, dulu aku dengar kau selalu berkeluh kesah, dan selalu menarik nafas, aku mengira kau adalah pelajar miskin!"

Liu He-ting menatap Lao Da Qi Qi yang terus melihatnya saat bicara dengannya, ketiga mulut yang lainnya ikut bergerak, hanya saja mereka tidak mengeluarkan suara.

Dari sini dapat diketahui kalau mereka mempunyai satu pikiran yang sama, setelah Lao Da Qi Qi selesai berkata ketiga kepala lainnya ikut mengangguk-angguk dan berkata

"Benar, benar, saudaraku menganggap kau adalah pelajar miskin!"

Liu He-ting tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Kalian menganggap aku adalah pelajar miskin, aku malah menganggap kalian adalah setan yang bergentayangan di hutan ini atau rubah siluman yang sudah berumur ribuan tahun. Terakhir aku menganggap semua ini karena kalian mempunyai ilmu meringankan tubuh yang hebat dan ilmu silat kalian begitu tinggi, kalau saja aku tahu kalian bukan setan melainkan ada 4 orang yang sama, aku -Ha! Ha! Walaupun kalian sudah tua, tapi aku tidak akan berlutut dan memberi hormat kepada kalian!"

Kata-kata Liu He-ting baru selesai, Lao Da Qi Qi bergerak, Liu He-ting tampak terkejut, terlihat Lao Da Qi Qi sedang memberi hormat dan berlutut kepada Liu He-ting, dia berkata sambil terrawa.

"Aku megembalikan apa yang telah kau berikan kepadaku, sekarang kita sudah tidak saling berhutang -"

Liu He-ting meloncat dan berdiri, dia ikut berlutut dan memberi hormat, lalu dia berkata.

"Semua sudah berlalu, tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi, umurmu lebih tua, aku pantas berlutut dan memberi hormat, tidak apa-apa."

Lao Da Qi Qi segera berkata.

"Tidak! Tidak, aku harus mengembalikannya dengan cara berlutut dan memberi hormat kepadamu, kalau tidak aku tidak akan bisa tidur."

Dia memberi hormat lagi.

Sedangkan ketiga Qi bersaudara lainnya hanya bisa melihat mereka yang sedang saling memberi bormat, mereka terus tertawa, hingga air mata mereka tampak menetes keluar, Liu He-ting masih berkata.

"Tidak! Tidak! Kalau kau masih terus memberi hormat dengan berlebihan, aku pun tidak akan bisa tidur!"

Lao Da Qi Qi pun berteriak.

"Tidak! Tidak!"

Mereka berdua memang keras kepala, yang satu ingin memberi hormat sedangkan yang lainnya melarang terus.

Liu He-ting berpikir.

"Kali ini aku akan memegang pundakmu, lalu aku akan memberi hormat dan aku akan bersembunyi di belakang saudara-saudaramu, aku ingin tahu apakah kau masih akan terus memberi hormat?"

Liu He-ting tidak ragu lagi, segera dia mencengkram pundak Lao Da Qi Qi, jurus Liu He-ting ini terlihat sangat biasa, tapi sebenarnya dia bergerak dengan cepat bagaikan petir, dan dia berpikir.

"Kau pasti tidak bisa bergerak atau berlutut lagi!"

Ternyata baru saja tangannya dijulurkan, Lao Da Qi Qi sudah tertawa terbahak-bahak dan badannya terus bergoyang-goyang.

Liu He-ting merasakan tubuh Lao Da Qi Qi bergetar, pundaknya membelah menjadi banyak, walaupun dia mengeluarkan jurus dengan cepat, tapi sekarang tidak ada tempat baginya untuk pegangan.

Walaupun Liu He-ting tahu kalau keempat pak tua cacat ini mempunyai ilmu untuk mengalahkan musuh, ilmu mereka pasti ilmu yang aneh tapi begitu melihat cara mereka menyerangnya, dia tetap merasa kaget dan tangannya segera ditarik kembali.

Dalam tawa terbahak-bahak itu, tiba-tiba Lao Da Qi Qi berkata.

"Hei!"

Ketiga pak tua lainnya segera berhenti tertawa. Liu He-ting kaget.

"Sekarang, saat sekarang ini dan di tempat seperti ini mengapa bisa kedatangan seseorang?"

Lao Da Qi Qi berhenti tertawa, badannya yang tadi bergetar berdiri tanpa bergerak.

Liu He-ting kaget, suara tawanya langsung berhenti, dia pun merasa aneh!

"Tadi suara tawa mereka begitu keras dan ribut, tapi mengapa keempat saudara ini bisa mendengar kalau dari tempat jauh ada yang datang, sampai sekarang aku saja masih belum -"

Pikirannya belum habis, terlihat di jalan lembah di sebelah sana, ada suara orang dan suara derap kuda.

Hati Liu He-ting benar-benar kagum kepada mereka.

Dia berkata.

"Keempat saudara ini benar-benar mempunyai pendengaran yang hebat."

Dia lahir dari keluarga silat, latihan pendengaran sudah dilatih selama 10 tahun lebih, jika dibandingkan dengan mereka, dia seperti orang tuli.

Kecuali rasa kagum dia hanya bisa berdiri dengan malu.

Terdengar keempat saudara Qi itu tertawa dan berkata.

"Yang lain kita tidak perlu tahu, jika masalah pendengaran, kami adalah nomor satu di dunia ini -hai! Mengapa yang datang semuanya adalah perempuan -yang laki-laki hanya ada 3 orang -kuda ada 20 ekor, semua adalah kuda-kuda yang bagus. Lucu, sangat lucu."

Lao Da berkata lucu, wajahnya memancarkan kegembiraan.

Liu He-ting mendengar perkataannya, dia sedikit kaget.

Dia pernah mendengar ada seseorang yang berkata.

"Di luar Zhong Yuan banyak perampok yang bisa mendengar melalui telinga ditempelkan ke tanah.

Walaupun orang dan kuda itu masih sejauh 1 kilometer dari orang itu, hanya dengan memasang telinga ke tanah, mereka bisa mengetahui jumlah orang dan kuda yang datang.

Tapi orang seperti Qi Si ini dengan nada bergurau bisa mendengar jumlah kuda dan orangnya, laki-laki dan perempuan, kuda yang datang bagus atau jelek, semua bisa didengarnya dengan jelas.

Hal ini belum pernah dia lihat sebelumnya.

Yang membuat Liu He-ting aneh adalah jumlah orang dan kuda yang diucapkan oleh Qi Si persis dengan orang dan kuda yang datang dari Nan Huang.

Terdengar Lao Da Qi Qi berkata.

"Ilmu silat mereka sebenarnya masih dalam tahap rendah, tapi mereka sangat berani -"

Lao-si berkata.

"Kabar buruk, telinga mereka pun sangat lihai. Mereka tahu kalau di sini ada orang. kita harus bersembunyi dari mereka, jika mereka sudah melihat kita berempat, kita tidak akan bisa bermain sandituara lagi."

Liu He-ting melihat mereka terus tertawa, seperti ingin mecoba melakukan sesuatu.

Mereka seperti anak kecil yang sedang menghadapi mainan yang mereka sayangi.

Liu He-ting ingin tertawa tapi merasa tidak nyaman.

Dia berpikir.

"Apakah Tao Chun-chun bersama dengannya? Aku tidak ingin bertemu dengan mereka, biar Tao Chun-chun datang dengan siapa pun, ini tidak ada hubungannya denganku."

Segera dia berkata.

"Benar, kita harus menghindari mereka."

Tapi begitu melihat Qi bersaudara itu, mereka sudah memberi kode melalui sorot mata, tampaknya mereka telah bertemu dengan permainan baru, mereka terus menatapnya.

"Tidak mau, aku tidak mau."

"Apa yang tidak mau?"

Liu He-ting terpaku, dia berpikir.

"Betul, aku tidak mau apa, mereka tidak menyuruhku melakukan sesuatu."

Terdengar Lao Da Qi Qi tertawa.

"Apakah kau berkata tidak ingin bersembunyi dari mereka? Itu lebih baik, kau berdiri saja di sini membantu kami menghadang orang-orang itu, kemudian -"

Liu He-ting merasa sangat cemas, dia ingin Pergi dari sana tapi juga ingin membela diri, tapi mereka berbicara terus.

Ingin pergi pun tidak bisa, lngin ikut bicara pun tidak bisa.

Suara Liu He-ting belum keluar, Lao-si sudah terbatuk.

Segera Lao Da berhenti bicara, Liu He-ting ingin berbicara tapi Qi bersaudara itu malah pergi.

Ilmu silat Qi bersaudara seperti apa pun dia tidak tahu, tapi ilmu meringankan tubuh mereka memang sangat tinggi, hanya dalam sekejap mereka sudah lari berpencar keempat arah.

Liu He-ting terpaku.

Dia berpikir.

"Jika sekarang tidak pergi, mau kapan lagi?"

Dia tidak ragu lagi untuk bergerak dan pergi ke pinggir hutan, tapi di belakangnya terdengar suara manja yang berkata.

"Ya ternyata -kau ada di sini."

Terdengar suara lain dengan dingin berkata, Ternyata kau."

Hati Liu He-ting terasa berat, dia segera menghela nafas, dia berusaha menahan kemarahan yang akan keluar dari dalam hati, tapi dia mencoba untuk tetap tersenyum dan membalikkan badan sambil tersenyum berkata.

"Betul, ini memang aku."

Liu He-ting tidak perlu membalikkan badan karena dia sudah tahu orang yang ada di belakangnya adalah Tao Chun-chun dan Pangeran Dong Gong Xiang Huang.

Dia melihat mata Tao Chun-chun pun sedang melihatnya dan berkata.

"Tadi kami mendengar ada suara orang, karena itu kami ke sini untuk melihat-lihat, ternyata kau yang ada di sini.'' Senyum di wajah Tao Chun-chun seperti patung yang diukir oleh pedang, kaku dan tidak ada perasaan apa pun.

Liu He-ting tidak bisa berpura-pura, sekarang terdengar Tao Chun-chun berkata.

".... kami...."

Liu He-ting merasa ingin marah, melihat Xiang Huang berada di sisi Tao Chun-chun dia merasa kesal, kedua mata Xiang Huang menatap langit.

Tangannya tersimpan di belakang, sikapnya terlihat sangat sombong.

Liu He-ting ingin menendang pantatnya, sekarang wajahya masih bisa tersenyum, hal ini benar-benar tidak mudah untuk dilakukan.

Dia berkata.

"Betul, ini aku."

Tanya Tao Chun-chun.

"Mengapa kau tadi diam-diam meninggalkan kami?'' Hati Liu He-ting dengan dingin berpikir.

"Sudah ada yang menemani dirimu, aku pergi atau tidak, ini tidak ada hubungannya denganmu."

Liu He-ting tetap tertawa dan menjawab.

"Betul, aku tidak pamit dulu tadi."

Tao Chun-chun tertawa, pelan-pelan dia mengeluarkan tangannya untuk menutupi mulutnya. Dia berkata.

"Mengapa kau harus berbuat seperti itu?"

Dengan dingin Xiang Huang berkata, Tuan dengan diam-diam pergi membuat kami merasa khawatir, kami takut kalau Tuan akan menjadi seperti pelayan-pelayanku yang telah dibunuh atau diculik, tidak disangka Tuan malah ada di sini dan sedang melihat gunung, kau meninggalkan orang yang harus dikubur dan mengacuhkan orang yang harus ditolong begitu saja kepada kami."

Liu He-ting melihat langit. Begitu kata-katanya selesai, dia baru bisa berkata.

"Cuaca yang bagus...."

"Apakah tadi Tuan bicara kepadaku, maaf, maaf sejak tadi aku melihat pemandangan gunung ini dan melihat dataran bumi yang begitu indah, aku lupa mendengar apa yang sedang dikatakan oleh Tuan."

Sejak tadi dia selalu bercanda dengan Qi bersaudara, sekarang sikapnya pun menjadi tertular seperti Qi bersaudara.

Perlu diketahui pemuda pin tar kebanyakan cepat meniru.

Dia melihat gerak gerik Xiang Huang, sebenarnya dia sudah ingin marah tapi karena mengingat kedudukannya, maka dia hanya menahan amarahnya.

Sekarang Liu He-ting melihat wajah Xiang Huang yang berubah menjadi pucat, dia tahu Xiang Huang sedang marah, dalam hatinya merasa sangat senang, awalnya dia hanya berniat tersenyum saja tapi dia benar-benar sudah tidak tahan dan dia tertawa terbahak-bahak.

Suara derap kuda dengan cepat sampai ke sana, ternyata yang datang adalah 4 ekor kuda, tapi hanya ada 2 penunggang kudanya.

Mereka adalah 2 jenderal pengawal pangeran itu.

Tangan mereka masing-masing memegang seekor kuda yang tidak berpenumpang, begitu sampai di depan Liu He-ting, keempat kuda secara bersamaan berhenti.

Liu He-ting tertawa dan berkata.

"Kuda-kuda bagus, dan orangnya pun orang yang baik, tidak disangka kedua jenderal itu mempunyai ilmu meringankan tubuh begitu bagus, apalagi ilmu menunggang kudanya ternyata lebih hebat, aku iri kepada kalian."

Kedua jenderal itu adalah Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen, mereka melihat Liu He-ting dengan terpana.

Begitu turun dari kuda mereka sudah mendengar kata-kata Liu He-ting, membuat wajah Wei Chi Wen yang penuh dengan cambang menjadi merah seperti kepiting rebus.

Dia berdiri dengan bengong di tempatnya, entah harus marah atau tertawa, dia sendiri kebingungan.

Xiang Huang seperti Liu He-ting, dia pun ingin menendang pantat Liu He-ting sampai ke tempat jauh, kalau bisa selamanya tidak perlu bertemu lagi dengan orang ini, kemarahan yang menggelegak di dalam hati dicoba ditekannya terus.

Dia ingin mencari perkataan yang bisa menjatuhkan nama Liu He-ting, tapi dia tidak menemukan kata-kata yang tepat.

Liu He-ting melihat kelakuan Xiang Huang, dia merasa sangat senang, lalu dia melihat Tao Chun-chun yang saat itu pun sedang melihat dirinya dengan pandangan memuji, dia kembali melihat wajah Xiang Huang yang marah, dia ingin tertawa, tapi tidak tega.

Gadis-gadis berbaju abu itu sudah datang menghampiri mereka, kuda yang terakhir ditunggangi oleh 2 orang.

Mungkin salah satu kuda mereka diberikan kepada Tao Chun-chun, gadis-gadis yang datang itu tampak berantakan rambutnya, bajunya juga tidak rapi, keadaan seperti ini sangat memalukan.

Melihat Liu He-ting, mata mereka segera melihat ke bawah dan pelan-pelan menarik tali kuda mereka.

Xiang Huang tidak ingin Liu He-ting berdekatan dengan Tao Chun-chun, tiba-tiba dia berkata kepada Tao Chun-chun.

"Di sini tidak ada penduduk juga tidak ada tempat untuk beristirahat, lebih baik kita pergi saja ke tempat lain, semua orang sudah merasa lelah juga lapar."

Tao Chun-chun mengangguk dan berkata.

"Aku juga sudah lapar."

Xiang Huang tertawa dan berkata.

"Aku juga sudah lapar."

Tao Chun-chun membalikkan kepalanya melihat Liu He-ting.

"Kau mungkin juga ingin pergi dari sini?"

Liu He-ting dari sisi melihat cara mereka bicara, dia merasa marah. Dia berkata dalam hati.

"Ternyata dia sangat baik kepada Xiang Huang."

Perubahan cinta anak muda yang terjadi di dalam hati tidak bisa ditebak, jika di dalam hati Penuh cinta, maka gerakan mereka pun pasti akan terlihat sangat luwes.

Kalau tidak, orang seperti Liu He-ting pun bisa menjadi seperti orang bingung, dia tertawa dengan kaku dan berkata.

"Kalian pergi dulu saja, aku masih hams menunggu beberapa teman di sini."

"Apakah kau masih menunggu teman? Apakah kau di sini mempunyai teman?"

Dia berkata lagi.

"Oh ya benar, tadi kau sempat mengobrol dengan mereka di sini, dimana sekarang mereka berada?"

"Orang ini banyak urusan dan gerak-geriknya tidak becus, Nona, jangan urusi dia lagi!"

"Kalau Nona merasa lapar, lebih baik Nona di sini saja menunggu mereka bersama denganku, biarkan pangeran ini pergi sendiri."

"Memang aku sudah lapar, kau menyuruhku menunggu, apakah di sini ada makanan dan minuman?"

Xiang Huang tertawa dingin dan berkata.

"Di sini memang ada makanan tapi makanan itu adalah makanan untuk anjing liar."

Liu He-ting seperti tidak mendengar kata-katanya, dia melihat Tao Chun-chun dan berkata.

"Temanku sedang mempersiapkan makanan dan mereka menyuruhku menunggu di sini, perjalanan dari sini ke kota terdekat masih jauh, aku nasehati Nona lebih baik menunggu saja di sini."

Liu He-ting melihat sikap Xiang Huang.

Dia sengaja ingin membuat Xiang Huang lebih marah lagi.

Walaupun Liu He-ting adalah pemuda jujur, tapi dia tetaplah seorang pemuda biasa, dia ingin mendapat angin dari saingannya.

Dia berpikir.

"Kau begitu sombong, mengapa aku harus terus mengalah padamu? Bukan karena aku takut kepadamu."

Karena itu, dia ingin mencoba-coba membuat Pangeran Dong Gong marah.

"Kalau begitu, aku akan menunggu mereka di sini bersamamu."

Liu He-ting tersenyum, dia melihat Xiang Huang dan berkata.

"Kalau Tuan Pangeran memang ada perlu, silakan pergi dulu."

Wajah Xiang Huang berubah, dia membalikkan badannya dan berjalan 2 langkah kemudian berhenti, wajahnya pucat, lalu berubah menjadi beraneka macam warna, kemudian dia membalikkan kepalanya sambil senyum berkata.

"Nona ini datang bersamaku, kalau aku pergi dulu rasanya tidak pantas."

Dia menepuk-nepuk debu yang ada di bajunya kemudian berjalan-jalan ke sana.

Liu He-ting merasa marah tapi juga ingin tertawa melihat kelakuannya yang bersikeras tidak mau pergi tanpa Tao Chun-chun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, tapi dia merasa cemas, mana mungkin ada makanan dan minuman yang di antar ke sini?

Tapi dia juga merasa aneh pada saat dia melihat Qi bersaudara pergi dari sini dia mengira mereka akan kembali walaupun itu hanya sekedar mempermainkan Xiang Huang, tapi sekarang bayangan mereka bahkan tidak terlihat, kemana mereka pergi?

Mata Tao Chun-chun sebentar melihat Xiang Huang sebentar melihat Liu He-ting, kemudian dia menundukkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu.

Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying terpaku dan berdiri di tempat mereka.

Gadis-gadis berbaju abu itu walaupun ilmu silat mereka tidak tinggi tapi teknik menunggang kuda mereka sangat bagus, sekarang mereka masih duduk di atas kuda.

Tiba-tiba Xiang Huang dengan suara kecil Kiembaca puisi.

"Angin musim semi memang bagus, tapi benda-benda musim semi terlalu bagus, jika menyuruh musim semi mempunyai perasaan harus membuat sekuntum bunga.... Nona, bagaimana puisi ini, apakah bagus menurutmu?"

Mata Xiang Huang terpejam, dia seperti sedang menikmati indahnya puisi tadi.

Tao Chun-chun mengedipkan mata dan tertawa.

"Puisi itu benar-benar bagus, siapa yang mengarangnya?"

"Aku tidak akan berbohong kepada Nona, puisi ini adalah aku -"

Tao Chun-chun bertepuk tangan dengan riang dan tertawa.

"Aku ingat puisi itu, puisi itu buatan Li Yi Shan, pantas begitu bagus."

Liu He-ting menahan tawanya dan dia membalikkan kepalanya untuk menutupi rasa gelinya, terdengar Xiang Huang tertawa dan berkata.

"Betul, betul, puisi itu memang buatan Li Yi Shan. Nona benar-benar menguasai pengetahuan yang luas."

Kemudian Xiang Huang membaca lagi.

"Di malam pengantin, lebah jantan dan lebah betina, mereka tidak sama jenis tapi sama-sama merindukan. Sama-sama pohon cengkeh.... Marga Liu kau adalah laki-laki sejati, kata-kata seorang laki-laki tidak bisa ditarik kembali, nanti kalau tidak ada makanan dan minuman, apa alasanmu?"

Liu He-ting membalikkan badannya dan terdiam, kemudian dia membaca puisi lain.

"Air Huang He jatuh dari langit.... Tuan rumah tertawa dan berkata kalau bunga mawar -hai! Puisi ini sangat bagus tapi bukan aku yang membuatnya, ini dikarang oleh Li Yi Shan. Li Yi Shan, Li Yi Shan, mengapa semua puisi bagus adalah buatanmu, seharusnya kau menyisakan sedikit untukku."

Wajah Xiang Huang berubah lagi.

"Makanan dan minuman ada atau tidak ada pun tidak apa-apa, aku bisa mendengar kalian fliembacakan puisi-puisi itu, ini pun sudah sangat menyenangkan."

Kata Xiang Huang dengan dingin, Tapi aku tidak mempunyai -"

Tadinya dia ingin mengatakan 'aku tidak meminta', tapi dia berpikir kembali, yang berniat menunggu di sini dia sendiri yang mau, tidak ada seorang pun yang memaksanya, walaupun dia sombong, tapi dia tidak ingin meneruskan kata-katanya tadi.

Liu He-ting tersenyum tiba-tiba dia berjalan ke depan Tao Chun-chun.

Dia berkata.

"Nona, sebenarnya tadi pada saat aku mengatakan kalau di sini ada makanan dan minuman -"

Liu He-ting merasa malu, dia berpikir dan merasa walaupun Xiang Huang sangat sombong tapi dia tidak pernah membohongi orang lain.

Liu He-ting adalah seorang yang jujur, dia merasa kalau berbohong adalah hal yang licik, maka dia harus menjelaskan alasannya dengan jujur, sekalipun setelah mengatakan alasan sebenarnya, mungkin dia akan ditertawakan dan dicemooh orang, tapi itu semua lebih baik daripada harus terus dipendam di dalam hati.

Sudah tahu salah harus diubah, tapi hal ini sangat sulit untuk dilakukan, jika sudah tahu salah harus segera berubah itu lebih sulit lagi, kata-kata Liu He-ting belum selesai, Tao Chun-chun sudah berteriak dan tertawa.

"Wangi sekali, coba kalian cium, wangi apa ini -"

Liu He-ting terkejut.

"Apakah benar ada orang yang mengantarkan makanan dan minuman ke sini?"

Hidungnya pun sudah mencium wangi makanan. Tao Chun-chun tertawa dan berkata.

"Coba kalian cium, ini wangi masakan apa -sepertinya wangi bebek panggang tapi juga seperti wangi ayam goreng -dan masih tercium rasa pedas, sepertinya ada beberapa macam sayur."

Tao Chun-chun tertawa, membuat Xiang Huang terus menelan air liurnya, karena takut suara menelan air liurnya terdengar, maka dia berusaha untuk tidak menelan ludahnya.

Orang-orang yang berada di sana kebanyakan masih muda, sudah setengah hari satu malam tidak makan, sekarang perut mereka benar-benar sangat lapar, tempat itu adalah tempat terpencil, yang pasti tidak ada tempat yang menjual makanan, mereka lapar dan sekarang mencium wangi makanan, rasa lapar mereka sudah tidak tertahankan lagi.

Walaupun Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying sedang marah dan masih berdiri dengan tegak, tapi begitu mencium wangi sayuran itu, mereka pun diam-diam hanya bisa menelan air liurnya.

Perut mereka terus berbunyi.

Xiang Huang marah mendengar suara ini, tapi perutnya pun sekarang ikut berbunyi.

Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kuda berlari.

Liu He-ting segera menjadi bersemangat dari dia melihat dari dalam hutan muncul seorang pak tua memakai baju mantel berwarna merah.

Dia membawa sebuah kereta keledai dengan perlahan berjalan ke arah mereka.

Keledai yang menarik kereta itu tampak hitam berkilau, hanya keempat ujung kaki keledai itu berwarna putih, begitu melihat pun sudah langsung tahu kalau keledai ini hidungnya tidak dikekang dengan tali.

Kereta di belakangnya hanya diikat di tubuhnya tapi walaupun jalan gunung itu tidak rata tapi kereta itu berjalan sangat man tap.

Kereta semakin mendekat, wangi makanan sernakin tercium.

Xiang Huang sudah bisa memastikan kalau wanginya makanan itu berasal dari kereta yang ditark keledai itu, dia melihat pak tua yang menjadi kusir kereta.

Pak tua itu tidak melihat jalan juga tidak memegang tali kekang keledai, kedua tangannya tersimpan di dalam mantel, matanya pun setengah terpejam tapi kereta berjalan dengan sangat mantap, dia merasa aneh.

Liu He-ting tersenyum melihat kusir yang memakai baju mantel merah itu, dia merasa sangat kecewa, tapi setelah dia melihat dengan lebih teliti, walaupun bajunya tidak sama, tapi dia adalah Qi bersaudara, dengan senang dia berteriak.

"Wei -"

Pak tua itu tersenyum kepadanya, segera wajahnya terlihat ada lesung pipit. Liu He-ting berkata.

"Ternyata adalah Kakak Keempat."

Dia sangat gembira dan langsung tertawa.

Lao-si Qi Qi tertawa, kemudian melihat orang-orang yang ada di sana, dia tertawa terbahak-bahak.

"Aku terlambat datang membuat kau menunggu lama, kau mempunyai teman begitu banyak mengapa tadi tidak memberitahuku supaya aku bisa membawa lebih banyak lagi sayur dan arak?"

Begitu tertawa, mata, alis, mulut, hidungnya pun ikut tertawa, dia benar-benar tertawa.

Liu He-ting tertawa, tapi dalam hati dia merasa aneh.

"Dia seperti memang benar-benar mengantarkan sayur dan arak ke sini, apakah tadi dia mendengar kata-kataku? Kelihatannya orang-orang ini benar-benar mempunyai kelebihan dibandingkan dengan orang lain, dia bisa mendengar percakapan kami dari jarak jauh dan juga bisa membawakan makanan ini, dan entah semua ini berasal dari mana?"

Xiang Huang sangat sombong, kedua mata melihat ke atas, melihat kereta semakin mendekat, karena lapar dia hanya diam-diam melihatnya, begitu melihat, matanya tidak bergeser lagi.

Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying melihat papan yang ada di belakang kereta itu, kedua mata mereka seperti bisa mengeluarkan api kapan saja.

Tao Chun-chun berkata.

"Benar-benar ada makanan diantar kemari."

Dia melihat Xiang Huang dan berkata.

"Aku tahu dia tidak akan berbohong."

Lao-si Qi Qi tertawa, kemudian dia turun dari kereta dan berkata.

"Makanan ini hanya makanan biasa, kalau kalian merasa cocok mari kita makan sekarang juga."

Xiang Huang, Wei Chi Wen, dan Sheng Kui Ying terlihat sangat bersemangat, mata mereka terus menatap makanan yang diletakkan di belakang kereta, ada sepanci daging dan telur, ada sepanci kaki babi, sepanci ayam gemuk, masih ada kuah, mantao yang tampak begitu putih, dan tak ketinggalan ada arak.

Wangi sayur bercampur menjadi satu, begitu tercium oleh orang yang sedang kelaparan, hal ini benar-benar sangat sulit untuk dilukiskan.

Jika tidak ada gadis cantik di sana, Xiang Huang ingin segera mengambil ayam yang ada di dalam panci itu.

Kulit dan daging akan dimakannya hingga tandas.

Liu He-ting kaget dan kagum, tidak terbayangkan di gunung terpencil seperti ini, empat orang tua yang tidak bertangan entah dari mana mereka bisa mencari begitu banyak sayur, terlihat Qi Si tertawa dan berkata kepada Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying.

"Kalian berdua adalah pengurus rumah tuan muda ini, barang-barang yang di belakang kereta tolong diturunkan dan papan yang di belakang kereta bisa dijadikan meja makan."

Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen adalah pesilat terkenal, sekarang mereka disebut pengurus rumah, mereka tersinggung dan tidak mau bergerak.

Jika tidak ada Xiang Huang dan Liu He-ting mungkin mereka segera mengeluarkan golok dan langsung membelah pak tua itu, dan segera menghabiskan makanan yang dibawanya.

Kemudian mereka berteriak.

"Cepat, turunkan barang dari kereta."

Mereka berdua berdiri di depan kereta, wangi daging terus tercium, walaupun mereka marah tapi mereka mencoba untuk menahannya, mereka berpikir sebentar, kemudian menyuruh perempuan-perempuan berbaju abu itu membantu mereka.

Karena perempuan-perempuan itu sudah setengah hari ini tidak makan, mereka pun dengan senang hati mexnbantu, hanya dalam waktu singkat semua makanan sudah terhidang rapi di bawah pohon.

Sheng Kui Ying dan Wei Chi Wen merasa sangat senang, mereka bangga terhadap kekuasaan mereka.

Qi Si dengan tersenyum dan berkata.

"Adik Liu, mengapa kau tidak mempersilakan tamu untuk makan?"

Liu He-ting tersenyum, tadinya dia ingin mempermainkan Xiang Huang, tapi melihat wajah mereka yang kelaparan, dia tidak tega.

Dia tertawa dan berkata.

"Kalau Tuan merasa suka, mari kita makan sekarang."

Xiang Huang merasa sangat senang, tapi mulutnya tetap diam.

"Kau makan saja, tidak perlu merasa sungkan."

"Kalau Nona menganggapku begitu, aku akan makan di sini."

Liu He-ting ingin tertawa, dia berkata.

"Silakan!"

Xiang Huang berjalan mendekati sayur-sayur yang sudah dihidangkan, tidak peduli di bawah sangat kotor, dia langsung duduk bersila.

Tiba-tiba Qi Si tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Adik Liu, kau begitu kasar menyuruh tuan ini makan sayur, kau sungguh keterlaluan."

Wajah Xiang Huang berubah, dia membalikkan badannya dan melihat mereka.

Liu He-ting pun heran tapi dia segera tahu kalau pak tua itu ingin mempermainkan orang.

Tapi jika keterlaluan, Liu He-ting takut kalau Xiang Huang akan marah dan bertarung di sini.

Walaupun dia tidak takut, tapi untuk apa semuanya?

Terdengar Qi Si berkata lagi.

"Kalau makanan seperti ini dimakan oleh tuan ini, bukankan ini sangat tidak hormat?"

Qi Si berkata lagi.

"Adik Liu, tuan ini adalah temanmu, jika aku tidak menghormatinya, bukankah ini juga artinya aku tidak menghormatimu? Untung di rumahku masih ada sayur dan arak yang enak. Kau, aku ditambah dengan nona ini, kita berempat makan saja di rumahku. Makanan di sini memang diperuntukkan bagi anak buah tuan ini."

Tadinya Xiang Huang merasa sangat ingin marah, begitu mendengar kata-kata pak tua itu, hatinya merasa senang, dia memang senang dijilat.

Sekarang dia sudah melupakan hal yang tidak menyenangkan tadi, dia tersenyum dan berkata.

"Kalau Pak Tua begitu perhatian kepada kami, kami merasa sangat berterima kasih."

Dia tertawa terbahak-bahak, suaranya terdengar penuh kebanggaan.

Liu He-ting melihat Qi Si yang juga sedang tertawa, tawanya terlihat lebih gembira dibandingkan Xiang Huang.

Liu He-ting merasa sedikit khawatir.

Terdengar Qi Si berkata.

"Rumahku tidak jauh dari sini, mari kita berangkat sekarang."

Kata Tao Chun-chun.

"Kalau jauh, lebih baik aku tunggu di sini saja -"

Dia tertawa dan matanya tampak berputar. Kata Xiang Huang sambil tertawa.

"Baik, baik, kita berangkat sekarang."

Dia berpesan kepada Wei Chi Wen dan Sheng Kui Ying.

"Kalau kalian sudah makan, tunggulah aku di sini!"

Qi Si sudah bersiul dan keledainya pun berputar, Qi Si segera naik ke atas kereta. Dia berkata.

"Aku akan berjalan di depan untuk mennunjukkan arah."

Walaupun Liu He-ting ingin bertanya di mana rumah Qi Si, tapi Xiang Huang dengan senang mengikutinya dari belakang, terpaksa dia diam saja.

Tao Chun-chun juga ikut dari belakang.

Dia berkata.

"Mengapa kau masih bengong, apalagi yang ditunggu?"

Liu He-ting segera berjalan mengikuti dari belakang.

Kaki Tao Chun-chun berjalan seperti air mengalir, tapi kedua pundaknya sama sekali bergerak, rambutnya yang panjang bergoyang-goyang seperti awan beriak.

Pinggangnya yang kecil tampak berlenggak lenggok, bajunya ringan, hal ini sampai membuat Liu He-ting hampir lupa harus berjalan ke arah mana.

Tidak lama kemudian mereka sudah berada di kaki gunung dan keadaan di sana terlihat tidak begitu berbahaya.

Qi Si bernyanyi di sepanjang jalan, dia terlihat sangat santai.

Xiang Huang ingat tidak lama lagi akan ada makanan enak terhidang di depannya, tapi semakin berjalan dia merasa semakin lapar, akhirnya dia bertanya.

"Apakah tempat tinggalmu masih jauh?"

Qi Si tertawa terbahak-bahak dan menjawab.

"Sudah sampai, sudah sampai!"

Tiba-tiba Liu He-ting dikejutkan oleh suara tawa, dia melihat ada sehelai daun terjatuh dari atas pohon dan jatuh ke rambut Tao Chun-chun, tapi Tao Chun-chun tidak sadar, dia sedang menunduk seperti memikirkan sesuatu.

Liu He-ting dengan cepat berlari ke sisi Tao Chun-chun, melihat dia sedikit menunduk.

Bulu matanya yang panjang, seperti ada masalah yang membuatnya ragu.

Liu He-ting memanggil.

"Nona Tao, -"

Terlihat Tao Chun-chun seperti kaget, matanya melihat Liu He-ting, dia tersenyum dan berkata.

"Ada apa?"

Dengan berani Liu He-ting berkata.

"Aku melihat Nona seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu, apakah Nona bisa mengatakannya kepadaku? Asalkan.... asalkan bisa, aku pasti akan membantu...."

Mata Tao Chun-chun berkedip, dia seperti sangat terkejut dan berkata.

"Tidak aku.... aku hanya merasa lapar."

Liu He-ting menanggapi.

"Oh!"

Tapi dia berpikir.

"Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, mengapa dia tidak mau memberitahuku?"

Dia berpikir lagi.

"Kami memang bukan sahabat, pasti dia tidak mau memberitahu apa yang sedang dipikirkannya kepadaku."

Xiang Huang membalikkan kepalanya dan terus melihat Liu He-ting. Qi Si tertawa dan berkata.

"Sudah sampai, sekarang kita benar-benar sudah sampai."

Dia bersiul, keledai hitam itu langsung berlari dengan cepat, walaupun gunung jni tidak tampak berbahaya, tapi kuda biasa tidak akan sanggup berlari seperti itu, tapi si keledai itu bisa berlari seperti berlari di tanah datar.

Kalau Liu He-ting dan lainnya bukan pesilat tangguh, mungkin mereka tidak akan bisa mengikuti gerakan keledai itu.

Jalan terus menanjak, terlihat ada hutan dan bunga indah, burung berkicau, ketika sampainya di sana ternyata itu adalah jurang yang sangat terjal, dari kiri dan kanan seperti tidak ada jalan, tiba-tiba ada suara lonceng berbunyi, kemudian terdengar anjing menggonggong, di belakang jurang muncul seekor anjing berlari-lari menghampiri mereka, walaupun sangat kecil tapi kelihatan galak.

Liu He-ting tersenyum, Qi Si tertawa dan memanggil.

"Xiao Bao, Xiao Bao, sini!"

Anjing kecil dan putih itu langsung meloncat ke tubuh Qi Si.

Kemudian Qi Si sedikit membungkuk, anjing kecil itu langsung naik ke pundaknya lalu berdiri di sana.

Liu He-ting tertawa dan berkata.

"Anjing ini sangat mengerti, benar-benar sangat lucu."

Dia melihat ke sisinya, terlihat Tao Chun-chun seperti sedang melihat ke tempat jauh, sebenarnya kata-kata ini ditujukan kepada Tao Chun-chun, tapi malah membuat Liu He-ting sangat kecewa.

Qi Si tertawa dan berkata.

"Di belakang jurang ini adalah rumahku, aku akan menunjukkan jalan untuk kalian."

Dia naik lagi ke atas kereta.

Liu He-ting mengikutinya dari belakang, di balik jurang tiba-tiba terdengar suara air mengalir dan ada sebuah sungai kecil yang keluar dari jurang itu, air itu mengalir dengan tenang, di sungai kecil itu terlihat sebuah jembatan untuk menyeberangi sungai ini.

Qi Si berteriak, dia menyeberangi jembatan itu.

Liu He-ting diam-diam memuji.

Tidak disangka di sini ada tempat yang begitu indah.

Ini benar-benar sangat istimewa."

Setelah menyeberangi jembatan itu di seberang sana adalah dataran, di sebelah kanan ada air terjun kecil, walaupun air terjun itu kecil tapi air mengalir sangat kencang, mungkin ini adalah awal dari surga, di sisi air terjun terdapat batu besar berbentuk seperti burung elang yang sedang mengibaskan sayap dan siap terbang, di atas batu terdapat bunga yang tergantung ada juga menjalar turun, di balik bunga-bunga yang berbentuk seperti rotan itu, ada sebuah gua, di depan gua terdapat sebuah tenda besar, seperti milik tenda penggembala, di depan tenda masih terlihat sebuah kereta.

Di belakang kereta ada bayangan seseorang yang bergerak dan juga terdengar suara tawanya.

Karena terhalang suara air, maka tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan.

Mata Liu He-ting melihat semua itu, segera dia berkata, Tempat tinggal yang bagus."

Xiang Huang kaget melihat keadaan di tempat ini karena dia lama tinggal di Nan Huang (Nan=selatan, Huang=gersang).

Di Nan Huang sering terjadi hujan lebat, sekarang dia melihat pemandangan di depannya begitu indah, walaupun dia sombong tapi dia pun memuji keindahan alam di sini, hanya Tao Chun-chun yang wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi.

Setelah lama dia baru berkata.

"Benar-benar indah!"

Terdengar Qi Si tertawa dan berkata.

"Bagaimana, apakah lumayan menurut kalian?"

Dia turun dari kereta dan bersiul.

Keledai itu dengan pelan-pelan berjalan ke tenda itu, di belakang tenda muncul 3 pak tua berambut putih.

Xiang Huang dan Tao Chun-chun melihat.

Mereka sangat terkejut dan curiga apakah mata mereka sudah salah melihat?

Melihat satu orang bertambah menjadi 3 orang.

Liu He-ting melihat sikap mereka, dia ingin tertawa.

Terdengar 3 saudara Qi itu berkata.

"Ada teman datang dari jauh, kami merasa sangat senang."

Mereka bertiga masing-masing memakai baju mantel, yang satu berwarna kuning muda, yang satu berwarna hijau muda, dan yang satu lagi berwarna biru muda, ditambah dengan rambut mereka yang putih, benar-benar terlihat sangat kontras.

Terdengar Lao Da Qi Qi berkata.

"Adik Liu, bantu kami melayani tamu-tamu ini."

Qi Si berkata.

"Bukankah sayur dan arak sudah disiapkan, hanya menunggu kami datang?"

Segera dia sudah berjalan masuk. Hati Liu He-ting bergetar.

"Mulai makan.... mereka tidak mempunyai tangan, bagaimana mereka bisa makan?"

Semua orang masuk ke dalam tenda.

Xiang Huang terlihat paling bersemangat masuk ke belakang tenda, di belakang tenda ada lapangan rumput dan di atasnya terbentang sehelai kain putih.

Di atas kain putih terhidang berbagai macam sayur, wangi sayur tersebar ke mana-mana.

Benar, sayurnya lebih banyak dan terlihat lebih enak dari sayur tadi.

Qi bersaudara itu dengan senang melayani mereka, bereka duduk bersila di atas kain, tiba-tiba dia berteriak.

"Bawa arak ke sini!"

Suaranya baru selesai, Liu He-ting merasa ada awan hitam yang menutupi matahari.

Karena ditutupi oleh kegelapan, begitu dia melihat ternyata itu bukan awan hitam melainkan ada seorang laki-laki tinggi, besar, dan hitam muncul dari dalam tenda.

Tangannya membawa sebuah baskom besar, dia seperti pagoda dan wajahnya tanpa ekspresi selangkah demi selangkah mendekati mereka.

Liu He-ting duduk bersila di bawah, kalau dilihat dengan pandangan lurus, paling-paling hanya bisa melihat lututnya, jika berdiri, tingginya hanya mencapai dada orang itu.

Tao Chun-chun melihat laki-laki tinggi dan besar itu, dia tertawa dan berkata.

"Dia tinggi sekali!"

Xiang Huang yang duduk di pinggir berkata.

"Tidak seberapa."

Tao Chun-chun bertanya.

"Apakah kau pernah melihat orang yang lebih tinggi dari dia?"

Xiang Huang menelan ludah dan menjawab.

"Kalau kau ikut pulang bersamaku, kau bisa melihatnya."

Xiang Huang melihat Liu He-ting.

Wajah Liu He-ting tetap tersenyum, dia seperti tidak mendengar kata-kata Xiang Huang.

Laki-laki seperti pagoda itu mendekat.

Dengan berat dia jongkok dan meletakkan baskom besar itu di antara sayur-sayur yang terhidang, ternyata di dalam baskom itu adalah arak lama.

Begitu diletakkan, wangi arak menyebar ke mana-mana, baskom itu terbuat dari batu giok, araknya berwarna coklat, warnanya sangat sesuai.

"Mengapa arak harus diletakkan di dalam baskom?"

Dia melihat di atas kain putih itu tidak ada cangkir juga tidak ada mangkuk atau pun sumpit tapi tuan rumah terus menyuruhnya minum.

"Kita baru saja berkenalan, tapi aku sudah mengganggu kalian, benar-benar -"

Qi Da tertawa dan berkata.

"Tidak! Tidak! Jangan merasa sungkan, silakan...."

"Hanya saja.... tidak ada cangkir atau sumpit, bagaimana kami bisa makan?"

Terlihat keempat orang tua berambut putih itu berhenti tertawa, dengan mata besar mereka melihatnya.

Mereka menganggap apa yang Xiang Huang tanyakan tadi adalah pertanyaan aneh.

Wajah mereka berekspresi aneh, membuat Xiang Huang semakin bingung.

Liu He-ting melihat keadaan itu, dalam hati dia tertawa, sampai sekarang dia baru sadar dengan cara inilah Qi bersaudara memper-mainkan mereka.

Liu He-ting berpikir lagi.

"Kalau begitu aku dan Nona Tao pun termasuk ke daftar mereka."

Mengingat hal ini, dia tidak bisa tertawa lagi. Terdengar Qi Si berkata.

"Saudara-saudara kami melihat kalian, ilmu silat kalian pasti sangat tinggi,mengapa malah menanyakan hal ini, benar-benar aneh dan sangat aneh."

Xiang Huang terpaku lagi, dia berpikir.

"Apa yang aneh? Ilmu silat tinggi atau tidak, apa hubungannya dengan makan?"

Tapi dia melihat orang tua itu bicara begitu serius, dia terpana kemudian dia seperti baru mengerti dan berpikir.

"Aku dengar orang di perbatasan selalu makan nasi dengan tangan. Orang-orang tua ini mempunyai tenda seperti ini, mungkin mereka juga orang perbatasan dan mempunyai kebiasaan seperti itu."

Terpikirkan hal ini, dia tertawa dan berkata, Ternyata begitu, selamat makan."

Dia mengeluarkan kelima jarinya dan mengambil baso goreng yang ada di dalam mangkuk kemudian ditnakannya.

Keempat orang tua itu tertawa serentak, dia terpaku.

Da Qi berkata.

"Tidak disangka kau yang terlihat begitu terpelajar, tapi kau malah seperti anjingku, Xiao Bao saja makan tidak menggunakan tangan yang mencakar, apalagi sekarang di depanmu ada nona cantik, apakah kau tidak malu?"

Hati Liu He-ting berpikir.

"Kucing dan anjing makan memang tidak menggunakan tangan, apakah aku harus seperti ayam dan anjing makan dengan cara lidah terjulur dan menjilat?"

Dia marah tapi juga ingin tertawa.

Terlihat Xiang Huang langsung menarik tangannya kembali, wajahnya terlihat marah, dia berkata.

"Aku tidak kenal dengan kalian, mengapa kalian tega mempermainkanku? Nasi ini tidak mau kumakan lagi."

Waktu dia berbicara, matanya terus melihat Liu He-ting dan sorot matanya penuh kebencian.

Liu He-ting tahu Xiang Huang pasti mengira kalau dia telah bersekongkol dengan Qi bersaudara untuk mempermainkannya, tapi sekarang bagaimana dia harus menjelaskannya?

Xiang Huang ingin berdiri, tapi baru saja dia berdiri setengah, dia duduk kembali karena laki-laki yang seperti pagoda itu sudah berdiri di belakangnya, melihat dia berdiri, laki-laki itu segera menekan pundaknya supaya duduk lagi, berat badannya seperti berat Gunung Tai, terpaksa dia duduk kembali.

Walaupun ilmu silat Xiang Huang sangat tinggi, tapi sekarang kedua pundaknya terasa begitu berat, dia tidak bisa bergerak, kekuatan yang sejak lahir begitu besar, biasanya membuat orang tidak bisa menandinginya.

Ilmu silat Xiang Huang tinggi, tapi jika bertarung dengan laki-laki sangat besar ini, dia pasti bukan tandingannya, laki-laki itu sekarang menekan pundaknya.

Dia seperti Sun Wu Kong yang tertindih di Wu Zhi Shan, walaupun dia bisa berubah 72 wujud pun, sekarang dia tidak bisa berubah.

Da Qi tertawa dan berkata.

"Saudaraku sengaja mengundangmu minum arak, mengapa kau berani macam-macam di sini!"

Baru selesai bicara, baso goreng yang ada di dalam mangkuk sudah disedot olehnya dan masuk ke dalam mulutnya, kemudian dia mengunyahnya sampai habis.

Dia berkata.

"Apakah kalian tidak bisa makan seperti diriku?"

Xiang Huang berpikir, Ternyata dia sedang mengujiku, apakah aku bisa makan seperti dia -apa sulitnya makan seperti itu?"

Dia membuka mulut siap menyedot sebuah baso goreng, tapi badannya tertekan dan dia sulit bernafas.

Qi Da berteriak.

"Da Bao, lepaskan tanganmu, biar tamu ini bisa makan dengan bebas."

Pikir Liu He-ting di dalam hati.

"Ternyata laki-laki ini bernama Da Bao. Hidung Da Bao sangat besar, mulutnya juga lebar, alisnya panjang seperti menyambung dengan rambut, sekali dilihat pun benar-benar seperti king kong, badannya besar, tapi otaknya kosong, mendengar kata-kata Da Qi, dia segera melepaskan Xiang Huang."

Xiang Huang menarik nafas panjang. Kata Da Qi.

"Kalau menurutmu tidak susah, silahkan gunakan cara seperti tadi."

Dengan cepat Xiang Huang membuka mulutnya dan menyedot baso itu.

Betul saja, baso itu langsung terbang dari mangkuk dan hampir masuk ke dalam mulutnya.

Tapi Qi Er tiba-tiba tertawa.

"Kalau Tuan begitu sulit melakukan semua ini baru bisa makan, ini bukan cara tepat untuk melayani tamu, lebih baik aku membantumu."

Dia langsung menyedot sebuah baso itu kemudian dia disemprotkannya lagi keluar, baso ini seperti panah yang terlepas dari busurnya.

Dengan cepat menembak dan masuk ke dalam mulut Xiang Huang, baso ini beradu dengan baso yang disedot Xiang Huang, karena saling beradu, kedua baso secara bersamaan jatuh.

Dengan cepat Xiao Bao membuka mulut, dan kedua baso itu pun langsung dimakannya.

Xiang Huang melihat baso yang hampir sampai di mulutnya dan sekarang dimakan oleh anjing kecil itu, dia sangat marah tapi dia melihat bayangan yang ada di belakangnya seperti setan yang siap memakan orang.

Dia ingat hal tadi dan takut kalau laki-laki ini menekannya lagi, apalagi orang-orang yang ada di sini bukan temannya dan keempat orang tua itu sangat aneh.

Sebenarnya ilmu silat mereka seperti apa pun, dia tidak tahu, kalau hari ini dia harus bertarung dengan mereka dia pasti akan dirugikan.

Walaupun dia sombong, tapi dia juga pintar dalam memakai cara.

Dia menahan kemarahannya dan berkata.

"Pak tua, kalau begitu, aku harus menerima."

Dia berpikir.

"Aku tidak akan menggerakkan tanganku, juga tidak akan menggerakkan mulutku, biarlah kau saja yang mengantarkan makanan itu ke dalam mulutku."

Qi Er tertawa dan berkata.

"Adik Liu, kau adalah temanku, kau makan saja sendiri, karena Nona ini adalah perempuan, laki-laki dan perempuan tidak boleh terlalu berdekatan, aku harap kau pun bisa makan sendiri, kami sengaja menyuruh orang melayani tuan ini."

Liu He-ting melihat pada saat dia menyedot dan menyemprot dengan meng-gunakan tenaga dalam.

Liu He-ting berpikir.

"Dia benar-benar pantas dipanggil Er Qi. Dia melatih tenaga dalamnya begitu sempurna."

Liu He-ting melihat Tao Chun-chun yang saat sedang melihatnya, perempuan ini kadang-kadang terlihat begitu naif, tapi kadang-kadang seperti banyak yang dipikirkan.

Qi bersaudara itu sambil tertawa melihat Xiang Huang....

tapi Xiang Huang sedang duduk dan mengatur tenaganya.

Dia seperti ingin bertarung dengan musuh besarnya, dia menyesal, mengapa dia ikut kemari.

Anjing kecil itu terus menggonggonginya, lonceng kecil yang diikat di tubuh anjing itu terus berbunyi, sebentar di depan, sebentar di belakang, dia berlari sangat cepat.

Bayangan raksasa Da Bao tetap tidak bergerak di belakangnya dia masih menindih badannya.

Ooo)odw-kzo(ooO BAB Perjalanan di dalam gua Bayangan hitam itu menekan Xiang Huang dan dia menjadi kaget.

Jika mereka bertarung, dengan ilmu silat yang tinggi dan gerakan badan yang lincah Xiang Huang yakin bisa mengalahkan raksasa ini.

Tapi jika mereka adu jotos, walaupun tenaga dalam Xiang Huang sangat kuat, tidak akan mungkin bisa mengalahkan raksasa itu.

Sekarang dia sebagai tamu di sini, jika orang lain tidak mengajaknya berkelahi, dia tidak akan bergerak terlebih dulu.

Tapi raksasa itu terus berdiri di belakangnya, hal ini membuat Xiang Huang merasa tidak tenang.

Dia merasa menyesal, terdengar pak tua berbaju kuning itu berkata.

"Adik sudah datang dari jauh, minumlah arak ini untuk membersihkan debu-debu yang menempel."

Terdengar 'Yi', arak yang berada di dalam baskom besar itu mengikuti suara 'Yi' masuk ke dalam mulut Xiang Huang.

Xiang Huang kaget, dia membuka mulutnya, tenaga dalam ditubuhnya bisa dikuasai tapi tenaga untuk bagian mulut sulit untuk dikuasai, hanya dalam waktu sekejap arak itu seperti panah masuk ke dalam mulutnya, walaupun arak itu terasa enak, tapi keras.

Dia segera merasakan kalau mulutnya kaku, tenggorokannya terasa panas dan terbakar, arak itu seperti seekor naga api menguasai organ dalam tubuhnya.

Dari umur 7 tahun dia sudah mulai minum arak, dia selalu menyombongkan dirinya, tapi kali ini arak yang diminumnya terasa begitu pedas, terlihat panah arak itu masih seperti mata air terus memancar dan terbang ke arahnya.

Kalau dia tidak minum, arak panah itu akan menancar ke bagian kepala dan wajahnya, dan dia akan mendapatkan malu, jika dengan telapak tangan menggetarkan arak panah itu dia malah akan ditertawakan orang-orang di sana.

Xiang Huang tertawa dingin, dia berpikir.

"Apakah dengan sebaskom arak, kau mau menyulitkanku?"

Dia membuka mulutnya, mulut yang besar hanya dalam waktu sekejap menampung arak yang tadinya ada di dalam baskom.

Xiang Huang meminum habis arak yang ada di dalam baskom.

Dia ingin tertawa dan berkata beberapa patah kata, tapi baru saja selesai tertawa, dia mulai merasakan kepalanya pusing, satu kata pun tidak bisa terucap dari mulutnya.

Qi Er tertawa dan berkata.

"Aku kagum kepadamu, Tuan, sebenarnya jika kau bertepuk tangan, arak itu bisa dihentikan, tapi Adik ternyata benar-benar bisa menghabiskan sebaskom arak, kau benar-benar sangat hebat!"

Liu He-ting melihat Qi Er yang tertawa sambil bicara, sikapnya begitu senang. Liu He-ting berpikir.

"Qi bersaudara ini benar-benar senang mempermainkan orang, tapi mereka tidak sampai membuat cedera, meraka hanya ingin membuat orang menjadi kalang kabut dan tidak bisa mengeluarkan kemarahannya."

Xiang Huang tidak bisa marah, dalam hati dia berpikir.

"Mengapa mereka sejak tadi tidak memberitahukan hal ini kepadaku, hanya dengan bertepuk tangan saja, maka semua ini bisa dihentikan, hm.... aku bukan cacing yang ada di dalam perutmuf aku mana tahu semua ini?"

Dia mulai merasakan kalau arak yang ada di dalam perutnya mulai bergejolak, seperti sepanci air yang sedang mendidih.

Jika sedang benyak masalah, meminum arak, tentunya sangat bagus, tapi sekarang adalah saat paling mudah mabuk, sekarang keadaan Xiang Huang seperti itu, apalagi sudah sehari semalam dia tidak makan, perutnya kosong....

Terdengar Qi Er tertawa dan berkata, Ternyata Adik jago minum dan tahu arak bagus, sebaskom arak ini sudah dicampur dengan arak-arak terbaik dan termahal di Zhong Yuan, beruntung kami bertemu dengan orang seperti Adik, orang yang bisa tahu arak bagus dan juga bisa minum begitu banyak, benar-benar membuatku senang."

Liu He-ting sangat senang minum, mendengar arak yang ada di dalam baskom sudah dicampur dengan arak-arak ternama yang ada di Zhong Yuan, diam-diam dia merasa sangat senang, sudah lama dia tidak minum arak yang enak.

Dia melihat Xiang Huang, walaupun dia duduk seperti tadi tapi wajahnya sangat merah, dari kedua matanya mulai terlihat kalau dia mulai mabuk.

Dia berpikir lagi.

"Biasanya jika arak yang sudah dicampur akan lebih cepat membuat orang menjadi mabuk. Qi bersaudara berhasil membuatnya mabuk, pasti ada sandituara seru yang bisa ditonton!"

Mata Tao Chun-chun yang indah terus melihat Liu He-ting, mereka saling memandang dan tertawa.

Dalam hati Liu He-ting berpikir.

"Dia melihat Xiang Huang yang sedang mabuk tapi dia sama sekali tidak memperhatikan keadaannya, berarti Tao Chun-chun tidak menaruh hati kepada Xiang Huang."

Hati Liu He-ting sedikit bergetar. Dia berpikir.

"Apakah seorang laki-laki akan selalu menaruh perhatian antara hubungan laki-laki dan perempuan di dalam hatinya?"

Tiap orang pasti mempunyai kekurangan, apalagi seorang anak muda.

Liu He-ting tetap merasa egois dan iri....

ini adalah penyakit manusia, tapi pada saat yang tepat dia bisa menghentikan pikirannya yang mulai melantur, ini memang keistimewaan Liu He-ting.

Terlihat Xiang Huang mulai tertawa-tawa, kemudian dia bertepuk tangan dan mulai bernyanyi -

"Kalau langit tidak senang arak, bintang arak tidak ada di langit, kalau bumi tidak suka arak, tidak ada mata arak di bumi ini.

Bumi dan langit begitu menyukai arak....

Ha!

Ha!

Pangeran tidak mau naik ke atas perahu, karena dia adalah dewa arak....

Ha, ha, kau memberiku arak yang bagus, benar-benar menganggapku sebagai teman....

ha, ha, angin berhembus."

Karena Xiang Huang sudah mabuk, dia hampir terjungkal ke bawah.

Qi bersaudara merasa sangat senang, mereka saling memandang, melihat Xiang Huang yang sudah mabuk dan mulai bicara dengan kata-kata mabuk, mata mereka berputar lagi.

"Sebaskom arak ini sudah memancing keinginan Adik membuat puisi, arak yang ada di sini masih banyak, sekarang kita makan sayur dulu, mari kita makan daging ini."

Dia menggigit daging itu kemudian dia menembakkannya kepada Xiang Huang.

Xiang Huang sedang mabuk, melihat ada barang hitam yang melayang ke arahnya, dia segera membuka mulut dan menggigit lalu mengunyahnya.

Pertama dia tidak merasakan apa-aPa, tapi semakin dikunyah mulutnya hampir keluar asap.

Terdengar Qi Er tertawa dan berkata.

"Arak sulit didapat, sayur pun sulit dicari, ini adalah daging ayam, dengan tulang yang sudah dikeluarkan, di dalamnya ada cabai terpedas, adik bisa mencobanya sepotong lagi."

Suaranya baru selesai, dia sudah menembakkan lagi sepotong daging ke arah Xiang Huang.

Mulut Xiang Huang yang terasa pedas seperti keluar asap, sekarang ditambah sepotong lagi, semua membuat dia mengeluarkan air mata dan berkeringat karena kepedasan.

Liu He-ting melihat Xiang Huang bersikap begitu memalukan, dia merasa ingin tertawa tapi juga tidak tega, dia ingin mencegahnya, tapi Xiang Huang sudah tertawa dan berkata.

"Pedasnya daging ini sangat enak.... cabai ini memang tepat dengan seleraku...."

Dia terbatuk dan membersihkan air mata serta ingus dari hidungnya, walaupun dia berusaha menjadi laki-laki sejati dan ingin bersikap sebagai laki-laki sejati, tapi air mata dan ingusnya keluar tanpa bisa dikuasai olehnya.

Cabai dan arak yang istimewa bercampur di dalam perut Xiang Huang, walaupun dia mempunyai tenaga dalam yang kuat tapi tenaga dalam ini tidak bisa menolong perut dan ususnya, apalagi kepalanya sudah terasa pusing.

Liu He-ting tidak tega melihatnya, dia berkata.

"Kakak Xiang, kau sudah mabuk, lebih baik -"

Xiang Huang melotot dan berteriak.

"Siapa yang mabuk -bawa arak lagi ke sini, akan kuminum sampai habis. Nona Tao, dia berbohong, kau lihat sendiri aku tidak mabuk, minum 8 baskom arak lagi pun, aku tidak akan mabuk."

Tao Chun-chun mengerutkan dahinya, diam-diam dia berdiri dan duduk lebih jauh dari tempatnya sekarang.

Xiang Huang tertawa dan berkata.

"Nona Tao.... jangan pergi. Aku tidak mabuk.... bawa arak lagi, bawa lagi ke sini...."

Dia menjulurkan tangannya ingin menarik baju Tao Chun-chun.

Mata Tao Chun-chun terbuka lebar, sorot matanya tiba-tiba mengeluarkan hawa membunuh, tapi itu hanya terasa sekejap, dia kembali tersenyum dan berkata.

"Kau benar-benar sudah mabuk."

Dia berputar langsung menjauh 2-3 meter.

"Adik belum mabuk, belum mabuk!"

Qi Er tertawa dan berkata.

"Siapa yang mengatakan kalau Adik mabuk? Adik tidak setuju, aku pun tidak, mari kita minum sebaskom arak lagi."

Baru saja dia selesai bicara, dia sudah menyedot dan menyemprotkan kuah daging ayam yang dimasak dengan cabai.

Xiang Huang yang sudah mabuk, dia sudah tidak bisa membedakan yang mana arak dan yang mana kuah, begitu mulutnya dibuka, kuah itu langsung masuk ke dalam mulutnya, setelah menelan beberapa teguk, dia baru merasakan ada yang tidak beres.

Dia terbatuk, kuah yang ada di dalam mulut disemburkannya keluar, ada juga yang keluar dari hidung, sedang kuah yang datang masih terus menyemprot ke wajahnya.

Xiang Huang berteriak dan meloncat.

Tapi raksasa itu menekan pundaknya lagi.

Qi bersaudara tertawa terbahak-bahak, keempat bersaudara ini tidak mempunyai kesenangan lain, hanya senang mempermainkan orang, sekarang melihat Xiang Huang sudah bersikap begitu memalukan dan teringat sewaktu dia baru datang ke sini sikapnya tampak begitu sombong, mereka berempat merasa lebih senang lagi.

Walaupun Liu He-ting merasa sangat ingin tertawa, tapi sewaktu melihat Xiang Huang yang ditekan oleh raksasa dan wajahnya penuh dengan kuah sayur, Xiang Huang tidak marah malah tertawa dan menari-nari, mulutnya masih berkata.

"Sangat pedas.... sangat pedas...."

Kemudian suara semakin mengecil, terakhir dia tertidur di bawah.

Qi San melihat Xiang Huang dan berkata.

"Tadi dia begitu sombong, membuatku tidak suka, biar dia tidur sebentar, Da Bao, gotong dia ke sana. Mari, Adik Liu dan Nona Tao, kita bersulang."

Tao Chun-chun tertawa dan berkata.

"Apakah kalian juga ingin kami makan seperti Xiang Huang? Kalau begitu lebih baik aku memilih lapar saja."

Qi Da tertawa dan berkata.

"Pergilah ambil mangkuk, sumpit, dan cangkir."

Liu He-ting berkata.

"Tempat ini begitu terpencil, tapi Paman dengan begitu baik melayani kami, ini adalah tempat yang sangat indah, dengan cara apa kalian berempat bisa mendapatkan tempat seperti ini?"

Dalam hati Liu He-ting berpikir.

"Mereka berempat adalah orang cacat, tapi mereka bisa mengurus tempat ini menjadi tempat yang begitu bersih dan rapi, benar-benar aneh!"

Dia tidak mengatakan ini kepada Qi bersaudara, karena hal ini akan menyinggung perasaan mereka.

Si raksasa Da Bao membawa dua macam alat makan dan minum juga membawa satu poci arak terbaik, walaupun dia tinggi dan besar, tapi gerakannya tidak begitu kaku.

Liu He-ting terus mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Qi Si tertawa dan berkata.

"Ceritanya panjang nanti saja, bukankah kalian sudah lapar? Kita makan sambil mengobrol."

Sambil tertawa Liu He-ting mengambil mangkuk dan sumpit yang sudah disediakan untuknya.

Dia melihat cangkir, teko, dan mangkuk ini, ternyata benda-benda itu bukan barang biasa, apalagi sumpit itu terbuat dari batangan giok, alat untuk makan pun begitu mewah, orang kaya gekalipun belum tentu mempunyai.

Liu He-ting berpikir.

"Qi bersaudara ditakdirkan cacat, mengapa mereka bisa mempunyai alat makan begitu bagus dan alat makan ini hanya disediakan untuk tamu?"

Dia merasa curiga lagi karena begitu Da Bao menuangkan arak untuk dia dan Nona Tao, dia menambah setengah baskom arak lagi ke dalam baskom giok itu.

Qi Da tertawa dan berkata.

"Mari, mari, daging ayam dimasak dengan cabai jangan dimakan, tapi makanan yang ada di sisi ini adalah makanan yang enak dan masih hangat, silakan coba."

Liu He-ting melihat Tao Chun-chun.

Tao Chun-chun sudah mencapit sepotong daging ayam, tangannya sangat putih, sumpit berwarna hijau, ayam berwarna kuning kecoklatan, ketiga warna ini bersatu, benar-benar menjadi pemandangan yang menakjubkan, Liu He-ting ikut mencapit ayam berwarna kuning itu.

Tapi -Begitu sumpitnya baru saja mencapit daging ayam, terdengar suara orang bersiul dengan tajam.

Dia kaget dan tidak meneruskan gerakannya, terlihat sebuah panah panjang, hitam, dan berbulu kuning jatuh dari langit, tepat menancap di ayam kuning itu.

Dia terpaku dan sumpitnya ditarik kembali.

Terlihat sumpit hijau itu sekarang berubah menjadi hitam.

Tao Chun-chun berteriak, Qi bersaudara langsung berhenti tertawa, panah panjang ini datang dengan sangat aneh, karena di sekeliling mereka hanya ada dinding gunung, tapi panah ini datang dari atas, datang dari manakah panah ini?

Datang begitu kencang sampai sekarang pun bulu yang menempel di panah itu masih tampak bergetar, kelihatannya pemanah itu mempunyai tenaga tangan yang sangat besar dan mungkin bisa dikatakan dia sebagai pemanah nomor satu.

Yang membuat kaget adalah begitu panah itu terjatuh dan tepat mengenai daging ayam serta sumpit, sumpit langsung berubah warna menjadi hitam, dari sini dapat diketahui kalau racun yang ada di panah itu sangat berbisa.

Liu He-ting melihat Qi bersaudara yang juga sedang saling memandang.

Tao Chun-chun lebih kaget lagi, matanya yang indah penuh dengan rasa takut, dia melihat panah panjang yang masih bergetar itu.

Liu He-ting mengerutkan dahinya, dia ingin mencabut panah itu tapi pundaknya sudah ditekan oleh seseorang, ternyata orang itu adalah si raksasa Da Bao.

Suaranya yang berat berkata.

"Panah itu mengandung racun yang sangat ganas, jangan dipegang!"

Liu He-ting menghela nafas dan berpikir.

"Tidak disangka orang ini dari luar kelihatan seperti bodoh, tapi ternyata dia sangat teliti."

Liu He-ting membalikkan kepalanya dan tersenyum, dia berterima kasih atas peringatan Da Bao.

Dia menyobek kain putih dan membungkus ujung panah itu kemudian dicabutnya.

Panah itu sangat panjang, warnanya hitam, bulu yang ada di belakang panah itu berwarna kuning, ujungnya yang lancip tertulis 2 huruf Chuan Yun (Melintas Awan) di sebelahnya ada tulisan Po Yue (Memecahkan Bulan).

Liu He-ting mengerutkan dahi dan berkata.

"Chuan Yun Po Yue.... Chuan Yun Po Yue!"

Tiba-tiba dia berdiri dan berkata.

"Siapakah nama sahabat? Kalian menembakkan panah ini tentu ada maksudnya, harap keluar dan memberi petunjuk!"

Suaranya jelas dan penuh tenaga, kata-kata ini disampaikan ke tempat jauh, tapi yang terdengar hanya suara air mengalir dan suara pohon tertiup angin, selain itu tidak ada yang menjawab!

Liu He-ting mengerutkan dahi dan berkata.

"Mengapa panah ini datang dengan cara begitu aneh.... Chuan Yun Po Yue. Kakak Qi, Nona Tao, apakah kalian tahu di dunia persilatan siapa yang sering memakai panah hitam berbulu kuning dan di panahnya tertulis Chuan Yun Po Yue?"

Tao Chun-chun menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Aku lebih sering berada di rumah, tidak tahu hal-hal seperti ini."

Kata Qi Da.

"Kami juga tidak tahu."

Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Siapa pun dia, kalau dia datang, saudara-saudaraku juga akan memberinya sebaskom arak dan kuah ayam cabai, biar dia juga bisa mencoba rasa sayur-sayur ini."

Mereka berempat tertawa terbahak-bahak.

Tapi -Suara mereka belum habis, suara PENG terdengar lagi.

Suara ini rendah dan pendek, suara ini tidak sama dengan suara pada saat panah itu melesat ke depan mereka.

Liu He-ting, Tao Chun-chun, dan Qi bersaudara dengan kaget mengangkat kepala untuk melihat.

Di atas kepala terlihat cahaya hijau yang berkilauan melewati mereka kemudian terjatuh ke atas batu yang berbentuk seperti elang itu, dan batu itu meledak menjadi api dan berasap hijau.

Di dalam terangnya cahaya api tertulis huruf hijau, Yi Gui Zhui Hun San Shen Duo Ming (satu setan mengejar roh, tiga dewa mengambil nyawa).

Wajah Liu He-ting berubah dan berkata, 'Permainan apalagi ini?"

Qi Si tertawa dan berkata.

"Satu setan 3 dewa, kalau mau mengambil nyawa, kami berempat akan melayani kalian, aku jamin setan dan dewa pun akan celaka."

Perkataannya baru selesai, tiba-tiba terlihat ada titik bayangan hitam yang pelan-pelan terbang ke arah mereka, setelah mendekat baru terlihat, ternyata itu adalah seekor burung kakak tua berwarna hijau.

Burung itu berputar-putar di atas kepala mereka kemudian berteriak.

"Tidak sekolah malah belajar ilmu pedang, mengganggu orang, membuat keributan di mana-mana...."

Ini adalah suara burung, walaupun awalnya tidak mirip dengan suara orang, tapi begitu burung itu berteriak 3 kali, Liu He-ting dan Tao Chun-chun juga Qi bersaudara langsung mengerti, Tao Chun-chun tertawa dan berkata.

"Burung ini sangat lucu."

Qi San tertawa dan berkata.

"Aku akan menangkap burung itu dan akan kuberikan burung itu kepadamu."

Dia meloncat setinggi 2-3 meter, kumis putihnya tampak berkibar, mulut mengeluarkan suara angin kencang, tapi burung ini seperti mengerti, dia langsung terbang dengan rendah, tiba-tiba burung itu terbang ke tempat tinggi dan berteriak.

"Jangan pukul aku.... jangan pukul aku...."

Kata-kata terakhir tidak membuat bayangannya tidak terlihat lagi, tubuh Qi San melayang seperti awan biru kemudian pelan-pelan turun.

Dia berkata.

"Aku kalah dari burung itu, dia terbang sangat cepat tapi aku lebih pintar bicara dari burung itu."

Liu He-ting melihat Qi bersaudara dan Tao Chun-chun yang masih tertawa sampai lama, mereka sama sekali tidak menganggap kalau panah api dan burung itu adalah benda aneh, dia mengerutkan dahi dan berpikir.

"Hal-hal aneh ini datang bukan karena tanpa sebab, siapa yang telah melakukan semua ini kepada kami? Apa yang mereka inginkan? Apakah ada permusuhan kepada salah satu di antara kami?"

Dia melihat Tao Chun-chun juga melihat Qi bersaudara.

"Tapi mereka tidak terlihat seperti ada permusuhan dengan orang lain!"

Dia berpikir lagi.

"Apakah mereka datang untuk mencari Xiang Huang?"

Dia terus berpikir, tapi tetap tidak bisa menemukan jawabannya, dia melihat burung kakak tua berwarna hijau itu dengan pelan menghampiri mereka lagi.

Kali ini burung itu terbang sangat tinggi.

Qi San tertawa dan berkata.

"Kau datang lagi, apakah kau berani terbang dengan rendah?"

Burung kakak tua itu berteriak.

"Jangan pukul aku, jangan pukul aku...."

Suaranya terdengar keras, tiba-tiba ada sehelai kertas terjatuh dari mulutnya.

Liu He-ting langsung mengambilnya, kertas itu lembut dan ringan seperti kain tipis.

Dalam kertas itu tertulis.

"Bulu kuning untuk merebut nyawa, butiran hijau untuk mengejar roh, keadaanmu sudah diketahui, kalau tidak berhati-hati kau pasti akan mati!"

Yang bertanda tangan adalah 'Panah hitam bulu kuning, satu setan tiga dewa.' Hurufnya tertulis sangat bagus.

Liu He-ting mengerutkan dahinya dan bertanya.

"Siapa mereka? Untuk apa mereka melakukan semua ini?"

Qi bersaudara dan Tao Chun-chun datang untuk melihat. Kata Qi Si tertawa.

"Aku sudah tahu, aku tahu!"

Liu He-ting merasa aneh dan bertanya.

"Kau tahu apa? Apakah kau kenal dengan orang-orang ini?"

Qi Si tertawa dan berkata.

"Aku tidak mengenal mereka tapi aku tahu mereka datang ke sini karena apa?"

Tao Chun-chun bertanya.

"Karena apa?"

Terlihat Qi Si mengerutkan alis putihnya dia, dia merebahkan dirinya dengan posisi telinga ke bawah untuk mendengar kemudian dia berdiri dan berkata.

"Sangat lihai, mereka sangat lihai, yang datang ada beberapa ratus orang, aku takut -"

Suaranya belum habis sudah terdengar suara keras dari 4 penjuru.

"Huang Ling Hei Jian, Chuan Yun Po Yue."

(Bulu Kuning Pedang Hitam).

Suaranya keras seperti guntur, suara itu berasal dari banyak orang.

Suara gemuruh itu belum berhenti terdengar suara lainnya lagi.

"Yi Gui Zhui Hun San Shen Duo Ming!"

Terus diteriakkan, suara banyak berteriak lagi.

"Dimana yang mengganggu?"

Qi bersaudara, Tao Chun-chun, dan Liu He-ting saling memandang, mereka diam sejenak, tiba-tiba terdengar suara sangat keras.

"DAI!"

Suara T)AT ini berasal dari beberapa ratus mulut secara bersamaan, teriakan tadi lebih keras beberapa kali lipat.

Liu He-ting melihat ke atas, terlihat di sekeliling gunung itu telah muncul beberapa ratus orang laki-laki, ada yang memakai baju hitam, hijau, ada juga yang memakai baju putih.

Ada yang terlihat seperti bayangan hitam, hitam hanya pada kepala mereka saja.

Di atas kain hitam itu ada sehelai bulu burung berwarna kuning yang menancap, tangan mereka memegang tali atau kaitan, alat untuk memanjat gunung.

Mereka terlihat sangat serius seperti akan menghadapi musuh tangguh tapi sekarang entah mereka sedang telungkup atau bersembunyi di atas gunung.

Liu He-ting melihatnya, dia merasa kaget juga aneh.

Tapi Qi bersaudara tetap tertawa dan tidak membuat mereka menjadi beban.

Liu He-ting tidak tahu apa yang sedang terjadi, dia juga tidak bisa bertanya kepada Qi bersaudara, dia melihat Tao Chun-chun yang sudah mendekatinya dan berkata.

"Kita jangan turut campur masalah orang lain."

Liu He-ting mengerutkan dahinya dan mencoba tersenyum. Dia berpikir.

"Kalau mereka datang mencari Qi bersaudara, walaupun aku dan mereka bukan teman baik tapi aku tetap harus membantu mereka."

Tiba-tiba terdengar ada yang datang dari luar lembah, burung berwarna hijau itu datang lagi dan bicara, Tidak sekolah malah belajar ilmu pedang....

Liu He-ting melihat sudah ada sekelompok orang melewati jembatan menuju ke tempat mereka.

Dengan cepat Liu He-ting menghitung.

Jumlah mereka ada 13 orang tapi di antara mereka ada 2 orang anak dengan rambut diikat seperti kepang, di depan muncul laki-laki berbaju putih setengah baya berkata.

"Aku mengira di sini sudah tidak ada jalan lagi, ternyata ada tempat yang begini indah."

Matanya seperti kilat melihat Liu He-ting dan berkata.

"Tuan terlihat sangat gagah, apakah Anda adalah tuan rumah di sini?"

Dia mendekat.

Tiba-tiba Qi Da, Tao Chun-chun, dan raksasa Da Bao keluar dari dalam tenda.

Orang itu berhenti berjalan, di belakangnya ada seorang pak tua kurus dan berbaju hijau, dengan dingin dan tidak tidak ada ekspresi dia berkata.

"Siapa tuan rumah di sini? Harap keluar untuk menjawabnya!"

Liu He-ting merasa di belakangnya ada yang bergerak, dengan manja Tao Chun-chun berkata.

"Kau bukan tuan rumah untuk apa kau berdiri di sini?"

Qi Da tertawa dan berkata.

"Apakah aku adalah tuan rumahnya? Baiklah, menjadi tuan rumah di sini pun lumayan!"

Pak tua berbaju hijau itu berkata.

"Aku datang jauh-jauh bukan untuk bergurau."

Baca Juga: Amanat Marga 6

Baca Juga: Lentera Maut 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert