Eps 5 Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo
Baca online Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo
Cersil Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo.
Jawab Tiauw Ki dengan suara tenang sewajarnya.
Ketika pelayan itu mendahului mereka menuju ke ruangan dalam, Tiauw Ki berbisik kepada Kiang Im Giok sebagai jawaban atas pandang mata keheranan dari nona ini.
"Agar Suma-Taijin mengerti bahwa yang datang tentu seorang yang istimewa dari Kota Raja."
Diam-diam Im Giok memuji ketabahan dan kecerdikan pemuda ini mengatur siasat.
Setiap meja yang dikelilingi tamu terdiam apabila mereka lewat dekat, kemudian terdengar bisikan-bisikan dan suara ketawa ketika mereka telah lewat, tanda bahwa mereka menjadi pusat perhatian.
Baik Tiauw Ki maupun Im Giok maklum bahwa lagi-lagi yang menjadi pusat perhatian para tamu pria ini, tentu Im Giok yang cantik!
Akan tetapi gadis itu tidak ambil peduli sama sekali, hanya ketika ia mulai masuk ke ruangan dalam, sepasang matanya bergerak penuh perhatian dan terlihatlah olehnya putera Gubernur yang bernama Lie Kian Tek bersama kawan-kawannya berada di dalam ruangan ini.
Ruangan ini paling lebar dan luas, di tengah-tengah terdapat sebuah panggung yang menempel di dinding, dihias dengan kain Sutera dan langkan-langkan indah.
Agaknya akan diadakan pertunjukan di atas panggung, pikir Im Giok yang kemudian memindahkan perhatiannya kepada seorang tua yang berdiri mendengarkan laporan pelayan, kemudian menyambut kedatangan Tiauw Ki dengan wajah berseri dan melambaikan tangan.
"Aha, kiranya Gan-hiantit yang datang! Bagaimana keadaan ayahmu di Kota Raja? Baik-baik sajakah?"
Im Giok sampai menahan berdebarnya jantung ketika mendengar ini.
Apakah benar-benar Tiauw Ki keponakan Suma-Huciang, ataukah pembesar tua itu yang ikut-ikutan bermain sandiwara secara cerdik sekali?
"Terima kasih, Paman, terima kasih.
Ayah baik-baik saja dan dari jauh menghaturkan selamat atas ulang tahun Paman disertai doa semoga Paman panjang usia dan hidup bahagia.
Adapun siauwtit sendiri pun menghaturkan selamat dan membawa sebuah benda tak berharga untuk sekedar sumbangsih dari siauwtit, mohon diterima."
Pemuda itu mengeluarkan bungkusan dari sakunya, bungkusan Sutera kuning yang besarnya hanya dua tiga kepalan tangan orang. Suma-Huciang tertawa sambil menerima bungkusan itu.
"Aah, kau terlalu sungkan, Gan-hiantit, akan tetapi terima kasih atas kebaikanmu."
Suma-Huciang lalu memberikan bungkusan itu kepada seorang pelayan yang memang sudah berdiri di situ dan bertugas menerima barang-barang hadiah, kemudian pelayan itu menaruh bungkusan itu di tengah-tengah meja bersama dengan lain-lain hadiah.
Im Giok yang berpendengaran tajam sekali tiba-tiba merasa aneh.
Suara berisik dari orang-orang bercakap-cakap di ruangan itu tiba-tiba menjadi sunyi sejenak, dan ketika ia menyapu ruangan dengan kerling matanya, ia melihat betapa semua orang mengarahkan pandang mata kepada bungkusan itu!
Akan tetapi ia mendengar suara Tiauw Ki memperkenalkannya kepada Suma-Huciang, maka cepat ia menjura kepada pembesar itu dan berkata.
"Saya yang bodoh kebetulan sekali bertemu dengan Saudara Gan di tengah perjalanan. Mendengar bahwa Suma-Taijin merayakan hari ulang tahun ke enam puluh, saya memberanikan diri ikut dengan Saudara Gan dan ikut pula menghaturkan sedikit tanda mata yang tidak berharga,"
Ia mengeluarkan bungkusannya, yakni kotak kayu yang indah yang dibelinya dari toko perhiasan. Kembali kotak itu diterima oleh Suma-Huciang dan dioperkan kepada pelayannya lalu disimpan di atas meja.
"Terima kasih, Kiang-Siocia. Kau sungguh baik sekali. Silakan kalian orang-orang muda memilih tempat duduk yang enak. Maafkan aku tidak dapat melayani lebih lama karena harus menerima tamu-tamu baru yang datang."
Tiauw Ki dan Im Giok menjura, kemudian mengundurkan diri. Pelayan hendak mempersilakan mereka duduk di ruangan luar, akan tetapi Tiauw Ki berkata, (Lanjut ke
Jilid 12) Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12
"Aku ingin duduk di ruangan ini, dekat pamanku."
Pelayan itu tidak berani membantah karena pemuda ini betapapun juga adalah keponakan Suma-Huciang dan kiranya seorang keponakan sudah patut disejajarkan dengan "orang-orang besar"
Di situ. Juga Im Giok sudah memilih tempat di sudut yang masih kosong dan kebetulan sekali, kursi yang ia duduki itu berada tepat di depan panggung yang masih kosong. Tiauw Ki duduk di seberang meja.
"Kau lihat kalau-kalau bungkusan tadi diambil orang,"
Bisiknya perlahan kepada Im Giok.
Nona ini maklum dan mengangguk dengan pandang matanya.
Hal ini mudah saja baginya karena memang ia duduk dengan muka menghadap meja besar tempat menaruh barang-barang sumbangan.
Tamu-tamu baru masuk memberi selamat dan barang-barang sumbangan makin banyak, sehingga memenuhi meja.
Akhimya habis juga aliran tamu dan tempat-tempat sudah penuh oleh tamu.
Hidangan-hidangan lezat dan arak-arak wangi dikeluarkan.
Kemudian seorang pengawal dari Suma-Huciang angkat bicara mewakili pembesar itu menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas kedatangan para tamu, kemudian mengumumkan bahwa untuk menghibur para tamu, akan dimainkan tari-tarian oleh para penari yang sengaja datang dari Kota Raja sebagai sumbangan dari Kaisar!
Pengumuman ini mendapat sambutan gempar dari semua yang hadir, karena hal ini adalah sesuatu yang istimewa.
Tidak sembarang orang pernah menonton pertunjukan luar biasa ini, yaitu para penari cantik jelita dari dalam Istana!
Suma-Huciang menjadi gembira sekali melihat sambutan para tamu maka pembesar tua ini bangkit berdiri, menjura dan berkata.
"Saudara-saudara sekalian, memang hal ini amat menggembirakan. Aku telah menerima karunia besar sekali dari Hongsiang karunia yang amat mengharukan hatiku dan yang selama hidup takkan kulupa. Dalam keadaan seperti ini Hongsiang masih mengingat hambanya yang sudah tua seperti aku, benar-benar hal yang amat menggembirakan dan mengharukan. Alangkah mulia hati Hongsiang."
Suma-Huciang menghentikan kata-katanya untuk menahan suaranya yang mulai menggetar saking harunya. Kemudian disambungnya lagi, kini air mukanya berseri.
"Ada kabar baik sekali, Saudara sekalian. Sebelum tari-tarian dari Kota Raja dirpulai, Lie-Kongcu putera dari Paduka Gubernur di Shansi, berkenan memberi hiburan dengan menyumbangkan tarian silat di depan suadara-saudara. Kiranya semua orang sudah mengenal atau mendengar betapa pandainya Lie-Kongcu bermain silat. Nah, Lie-Kongcu, silakan!"
Suma-Huciang membungkuk ke arah Lie Kian Tek yang sudah bangkit berdiri disambut tepuk-sorak oleh para hadirin yang berada di situ.
Para tamu wanita kini semua memandang ke arah pemuda tampan ini dengan mata bersinar dan bibir tersenyum-senyum.
"Sebetulnya Siauwte malu sekali memperlihatkan kebodohan, akan tetapi demi untuk meramaikan pesta Suma-Taijin, apa boleh buat!"
Katanya tersenyum manis dan tiba-tiba sekali ia bergerak tubuhnya melayang naik ke atas panggung!
Jarak antara tempat ia berdiri dan panggung ada enam puluh tombak dan ia dapat melompat sedemikian rupa melewati kepala para tamu, benar-benar merupakan demonstrasi ginkang yang tak boleh dipandang ringan!
Tukang pemukul tambur, canang dan Suling sudah siap dan kini terdengar suara musik dipukul gencar.
Akan tetapi Lie Kian Tek memberi isarat dengan tangan ke belakang sehingga tiba-tiba suara musik dipukul perlahan sekali.
"Cuwi sekalian, perkenankan Siauwte masuk dulu untuk berganti pakaian,"
Kata pemuda ini dengan lagak dibuat-buat, kemudian ia berlari masuk melalui pintu Sutera di dekat rombongan pemain musik. Para tamu menjadi ribut, berebutan memilih tempat dekat panggung.
"Tamu wanita di depan!"
Terdengar suara orang.
Terpaksa tamu-tamu pria mengalah dan sebentar saja tercium bau harum dan suara berkereseknya pakaian ketika tamu-tamu wanita berlari-lari kecil memilih tempat duduk di depan panggung.
Tentu saja otomatis Im Giok terkurung di tengah-tengah.
Sebelum para tamu wanita itu datang Tiauw Ki sudah berbisik.
"Adik Im Giok, aku hendak mendekati Suma-Huciang,"
Dan pemuda ini segera berdiri lalu pergi dari situ ketika para tamu wanita datang di depan panggung.
Tidak hanya Tiauw Ki yang meninggalkan tempat itu, juga tamu-tamu pria banyak yang meninggalkan tempat duduknya untuk diberikan kepada tamu-tamu wanita, kecuali beberapa orang laki-laki yang bermuka tebal dan tidak tahu malu, tetap saja duduk di situ bahkan merasa kebetulan sekali!
Oleh karena itu, maka kepergian atau kepindahan Tiauw Ki ini tidak menarik perhatian orang.
Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dengan kerling matanya Im Giok melihat bahwa Tiauw Ki benar-benar telah dapat duduk di dekat Suma-Huciang, bahkan juga di dekat panggung, sebelah kiri panggung di mana orang menyediakan tempat khusus untuk tuan rumah.
Sementara menanti munculnya Lie Kian Tek yang jelas sekali pada malam itu menarik hati orang banyak, terutama sekali hati para wanita yang hadir di situ, para penabuh musik membunyikan alat musik masing-masing sehingga keadaan menjadi ramai sekali.
Im Giok diam-diam memperhatikan Tiauw Ki dan ia melihat pemuda itu menggerak-gerakkan tangan bercakap-cakap asik sekali dengan Suma-Huciang yang nampak mengangguk-angguk.
Karena semua orang, atau hampir semua, boleh dibilang sedang mempercakapkan Lie Kian Tek yang menjadi populer itu, tentu orang mengira bahwa Tiauw Ki juga bicara tentang pemuda itu dengan Suma-Huciang.
Apalagi dalam kebisingan suara tambur dan canang, suara mereka sama sekali tidak dapat terdengar oleh orang lain.
Tak lama kemudian terdengar tepuk tangan ketika Lie Kian Tek muncul dari belakang pintu Sutera.
Im Giok memandang dan diam-diam gadis ini harus mengaku bahwa Lie Kian Tek kelihatan gagah dan tampan sekali.
Dandanan Lie Kidn Tek sebagai seorang pendekar besar jaman dahulu benar-benar pantas sekali untuk wajahnya yang gagah tampan dan potongan tubuhnya yang tegap berisi, Pendeknya, pemuda she Lie itu potongan pendekar benar, pendekar seperti yang seringkali dijadikan kembang mimpi oleh para gadis remaja.
Irama musik berubah setelah pemuda ini muncul, semua orang kini diam dan memandang penuh perhatian ketika Lie Kian Tek memulai pertunjukannya dengan menjura ke arah Suma-Huciang, kemudian kepada semua hadirin.
Ketika pandangan matanya tertuju ke arah para penonton wanita, ia memberi kedipan mata kepada Im Giok.
Gadis ini membuang muka, akan tetapi ia melihat semua wanita muda yang berada di situ tertawa cekakak-cekikik sambil saling cubit, bersikap genit sekali.
Im Giok menjadi sebal.
Ia tahu, bahwa Lie Kian Tek secara kurang ajar berkedip kepadanya dan para wanita itu masing-masing merasa diajak bermain mata oleh Lie Kian Tek sehingga timbul suasana yang menggelikan dan menjemukan itu.
Musik ditabuh dengan irama lambat dan Lie Kian Tek mulai bersilat.
Gerakannya mula-mula lambat dan Pedangnya masih tergantung di pinggang.
Pemuda ini memang pandai sekali dan berbakat sehingga tiap gerakannya merupakan tarian indah.
Kadang-kadang tangannya memegang atau menyambar ujung ikat pinggang berkembang dan bergerak amat gagahnya.
Im Giok secara terus terang harus mengaku bahwa ia amat tertarik dan suka melihat gerak-gerik pemuda itu, juga ilmu silat yang dimainkan itu bukanlah ilmu silat biasa, melainkan ilmu silat yang mengandung dasar tinggi.
Namun digerakkan secara lembut-gemulai sedap dipandang.
Dasar Im Giok sendiri seorang ahli seni atau seorang seniwati yang suka akan tari-tarian, kini menonton orang bermain silat seperti menari, karuan saja ia tertarik sekali.
Ketika Lie Kian Tek kebetulan menghadap ke arah ia duduk, pemuda itu kembali berkedip dan tersenyum kepadanya.
Im Giok mendongkol sekali, mengerutkan kening dan tak terasa tangan kirinya naik ke mulutnya untuk menahan bibirnya yang sudah hendak memaki marah.
Akan tetapi ia dapat menekan perasaan mendongkolnya, bahkan dapat memaksa bibirnya tersenyum seakan-akan ia tertarik seperti orang-orang lain dan tidak melihat adanya isarat-isarat kurang ajar dari pemuda itu.
Lie Kian Tek bersilat makin cepat dan tak lama kemudian di atas panggung seperti ada beberapa orang yang bersilat.
Gerakannya cepat sekali dan semua itu tambah indah menarik karena diiringi suara musik yang gencar dan ramai.
Tepuk tangan menyambut permainannya yang memang indah.
Lie Kian Tek makin bangga.
Tiba-tiba ia berseru keras dan orang melihat berkelebatnya sinar Pedang yang menyilaukan mata.
Ternyata pemuda itu telah mencabut Pedangnya dan kini bersilat Pedang dengan gerakan indah dan cepat.
Pedang di tangannya berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyelimuti seluruh tubuhnya.
Akan tetapi Im Giok yang bermata tajam dapat mengikuti setiap gerakannya dan biarpun ia harus memuji bahwa ilmu Pedang pemuda itu cukup baik, akan tetapi tidak begitu lihai kalau dilawan, atau pendeknya ia sanggup untuk menandingi pemuda itu dalam ilmu silat.
Tiba-tiba Lie Kian Tek berseru keras dan mengakhiri ilmu Pedangnya dengan gerakan menyambit.
Inilah gerakan Sin-liong-hian-bow (Naga Sakti Mengulur Ekornya) semacam gerakan yang sukar dilakukan dan biasanya dalam pertempuran hanya dilakukan oleh orang yang sudah amat terdesak atau sudah terluka sehingga gerakan terakhir ialah dengan menimpukkan Pedangnya.
Pedang di tangan Lie Kian Tek meluncur cepat sekali dan tahu-tahu telah menancap di atas tiang yang berada di depan Suma-Huciang, kurang lebih satu kaki di atas kepala pembesar itu!
Tadinya semua orang terkejut karena mengira bahwa Pedang itu ditimpukkan ke arah Suma-Huciang, akan tetapi segera meledak tepuk tangan memuji ketika Suma-Huciang tertawa-tawa sambil bertepuk tangan pula!
Tiauw Ki yang duduk di dekat pembesar itu, menjadi pucat dan ia kagum bukan main melihat ketenangan Suma-Huciang yang masih dapat bertepuk tangan memuji, padahal tadi mengalami kekagetan yang cukup menegangkan hati.
Ia sudah biasa dan memiliki kepandaian silat tinggi pula, akan tetapi Tiauw Ki yang belum melihat kepandaiannya bersangsi apakah pembesar yang sudah tua ini mampu menandingi kepandaian Lie Kian Tek yang muda dan lihai.
"Kepandaian hebat, Lie-Kongcu."
Suma-Huciang berkata sambil tertawa kepada Lie Kian Tek yang masih membungkuk-bungkuk menerima pujian dan tepuk tangan.
"Akan tetapi sayang, timpukanmu kurang keras sehingga Pedang hanya menancap setengahnya saja pada tiang kayu. Kalau dipergunakan dalam perang, kiranya takkan dapat menembus baju perang musuh yang terbuat dari besi!"
Sambil berkata demikian, pembesar ini berdiri dari kursinya, menggunakan dua buah jari tangan kanan, yakni jari tangan dan telunjuk menjepit Pedang yang menancap di tiang itu dan sekali betot Pedang itu telah tercabut keluar!
Kemudian sambil tertawa ia memuji.
"Pedang bagus! Pedang bagus!"
Dan sambil menjura ia mengembalikan Pedang itu kepada Lie Kian Tek, lalu duduk kembali di kursinya.
Tepuk tangan riuh menyambut demonstrasi tenaga Lwee-kang yang hebat ini.
Tiauw Ki memandang dengan melongo dan hampir saja pemuda ini menjulurkan lidahnya saking kagum dan heran.
Im Giok tertegun.
Tenaga Lwee-kang seperti itu tak mudah dilakukan oleh sembarang orang, pikirnya dan ia gembira bahwa pembesar yang menjadi "sahabat"
Tiauw Ki itu ternyata bukanlah orang lemah dan kiranya tidak kalah kalau dibandingkan dengan Lie Kian Tek.
Lie Kian Tek mengerutkan kening dan wajahnya yang tampan itu mulai muram.
Ia menerima Pedangnya dari tangan Suma-Huciang, kemudian sambil menyeringai ia berkata, menjura kepada pembesar itu.
"Ah, nama besar Suma-Taijin bukanlah nama kosong belaka, membuat Siauwte takluk sekali. Hari ini adalah hari gembira dan hari baik, maka untuk menambah meriah suasana, aku sangat mengharap supaya Taijin sudi menunjuk seorang jagoan untuk memperlihatkan kepandaiannya di panggung ini. Selain untuk menambah pengalaman kami orang-orang Shansi, juga untuk sekedar perbandingan kegagahan antara kawan-kawan kita."
Kata-kata ini sesungguhnya bukan semata untuk menyatakan ketidaksenangan hati putera Gubernur ini karena tadi telah menerima celaan dari Suma-Huciang, melainkan pada hakekatnya mengandung segi politis yang mendalam.
Suma-Huciang adalah seorang pembesar yang amat setia kepada Kaisar, dan yang di daerah ini merupakan satu-satunya orang yang disegani oleh para pembesar yang korup dan yang hendak memberontak, karena mereka tahu bahwa Suma-Huciang akan merupakan penghalang besar dan akan membela negara dengan nyawa.
Dan para pemberontak itu pun tahu bahwa selain diri sendiri lihai.
Suma-Huciang mendapat dukungan banyak orang pandai di dunia kang-ouw, karena itu sejauh ini para pemberontak belum berani turun tangan mengganggu Suma-Huciang.
Adapun Lie Kiang Tek adalah putera Gubernur Shansi, Gubernur di samping Gubernur Propinsi Honan, merupakan orang terkemuka dan tokoh besar yang anti Kaisar!
Tidak mengherankan apabila di dalam hati mereka terkandung rasa permusuhan besar, sungguhpun pada lahirnya kedua pihak belum berani berterang menyatakan kebencian dan permusuhan.
Kini mendapatkan kesempatan baik, Lie Kian Tek sengaja mengeluarkan kata-kata untuk memancing keluarnya jago pembela Suma-Huciang sehingga di samping untuk mengenal siapa pembela pembesar setia Raja ini, juga untuk mengukur sampai di mana kelihaian mereka!
Dilihat dari sini, ternyata bahwa Lie Kian Tek bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga cerdik dan licin.
Suma-Huciang bukan seorang pembesar kawakan yang sudah banyak pengalaman kalau kalau ia tidak mengerti akan maksud hati putera Gubernur ini.
Sambil senyum ia berkata.
"Terima kasih kepada Lie-Kongcu yang sudah begitu memperhatikan untuk memeriahkan pestaku ini."
Ia lalu memberi isarat kepada seorang tamu yang berdiri dan menjura kepada Suma-Huciang.
Orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus, sikapnya tenang dan matanya bersinar tajam.
Dia ini adalah seorang piauwsu (pengawal barang) di Kota Tiang-Hai yang amat terkenal dan juga amat setia kepada Kaisar maka selalu membela Suma-Huciang.
Setelah memberi hormat kepada Suma-Huciang, ia lalu berjalan menghampiri panggung dan dengan gerakan ringan melompat naik, menjura kepada Lie Kian Tek lalu berkata.
"Hamba Chi Liok menerima tugas dari Suma-Huciang untuk memenuhi usul Lie-Kongcu. Harap saja kebodohan hamba takkan menjadi tertawaan para Enghiong dari Shansi."
Lie Kian Tek tersenyum mengejek.
"Aha, kiranya Chi-piauwsu yang akan menjadi wakil Tiang-Hai. Bagus, sudah lama kami ingin menyaksikan kelihaian Chi-piauwsu. Silakan."
Setelah berkata begitu, Lie Kian Tek melepaskan penghias kepala dan melompat turun, memilih tempat duduk tak jauh dari tempat duduk Im Giok, menoleh melirik sambil tersenyum kepada gadis itu, kemudian melepaskan jubah luarnya sehingga kini ia kembali memakai pakaiannya yang tadi sebelum ia bermain di atas panggung.
Para wanita melirik-lirik dan senyum-simpul menghujani pemuda itu, kerling memikat menyambar-nyambar ke arahnya!
Kian Tek melempar senyum membagi kerling kepada para wanita yang mengaguminya itu lalu duduk dengan sikap angkuh, memandang ke arah panggung.
Sementara itu, musik telah dibunyikan pula dan Chi Liok mulai bersilat tangan kosong.
Gerakannya lambat saja dan jauh kalah menarik kalau dibandingkan dengan pertunjukan Lie Kian Tek tadi, Maka di sana-sini terdengar suara ejekan.
Bahkan di antara para penonton wanita ada yang terkekeh menertawakan.
Akan tetapi Im Giok melihat bahwa piauwsu itu adalah seorang ahli lwee-keh yang tak boleh dipandang ringan.
Setiap gerak tangan mengandung tenaga Lwee-kang yang cukup kuat, sedangkan bhesi kakinya bukan main.
Setelah menyelesaikan babak permainan ilmu silat tangan kosong, Chi-piauwsu lalu mengeluarkan senjatanya, yakni sebatang joan-pian (ruyung lemas) yang berwarna hitam.
Ia lalu bersilat dengan joan-pian ini.
Kembali gerakannya lembut dan perlahan, namun joan-pian itu kadang-kadang mengeluarkan suara mengiuk, tanda bahwa gerakan senjata itu cepat dan mengandung tenaga besar.
Setelah selesai bersilat, Chi-piauwsu menjura kepada penonton dan berkata.
"Aku orang she Chi telah memperlihatkan kebodohan, harap jangan ditertawakan mengingat bahwa aku naik ke panggung ini atas perintah Suma-Taijin."
Ia lalu melompat turun dan kembali duduk di tempatnya semula.
Lie Kian Tek memberi isarat dengan tangannya kepada seorang bermuka kuning yang tadi ikut mengantar ia datang, yakni seorang di antara lima orang kawannya.
Orang bermuka kuning ini mengangguk sambil menyeringai, kemudian berrseru keras.
"Suma-Taijin, hamba mohon diberi kesempatan mewakili Shansi!"
Sebelum Suma-Huciang menjawab, tubuhnya telah melayang ke atas panggung dengan gerakan indah. Ternyata orang ini datang-datang mendemonstrasikan ginkang yang lihai. Suma-Huciang tertawa.
"Boleh, boleh! Tak usah bertanya lagi, karena memang tiba giliran pihak Shan-si,"
Jawabnya. Si Muka Kuning tersenyum lalu menjura kepada penonton, kemudian berkata suaranya lantang tinggi.
"Siauwte bernama Coa Keng, menerima titah Lie-Kongcu mewakili Shan-si. Akan tetapi, Siauwte bukan seorang yang suka pamer. Ada banyak orang yang suka memamerkan sedikit kepandaian yang tak berarti sebaliknya banyak orang yang tak perlu banyak pamer. Kalau orang berkepandaian seperti Lie-Kongcu, patutlah kalau diperlihatkan kepada orang banyak, karena memang indah dan mengagumkan, sedap dipandang. Akan tetapi melihat Saudara Chi Liok tadi bersilat, benar-benar Siauwte diam-diam menggeleng kepala. Siauwte tidak mau seperti Saudara Chi Liok, mempertontonkan keburukan dan kebodohan sendiri."
"Eh, Coa-kauwsu, kau naik ke panggung mau bersilat atau berpidato?"
Terdengar Chi Liok menegur. Orang-orang tertawa dan kali ini yang ditertawakan adalah Coa Keng sehingga muka yang kuning itu menjadi hijau.
"Chi-piauwsu, bermain silat seorang diri kurang menggembirakan. Untuk membuktikan bahwa kau tadi hanya menjual keburukan dah kebodohan sendiri, silakan kau naik ke sini dan mengawani aku bermain-main sebentar. Tentu akan lebih menggembirakan suasana, bukan? Ataukah, kau... takut?"
Inilah tantangan hebat.
Chi Liok mendongkol sekatli, akan tetapi piauwsu ini tidak berani sembarangan bergerak.
Sikap Si Muka Kuning itu ia anggap kurang ajar sekali, akan tetapi ia tidak berani bersikap seperti itu di depan Suma-Huciang.
Maka ia memandang ke arah pembesar ini.
Bukan saja Chi Liok tidak berani bersikap kurang ajar, juga ia tahu siapa adanya Lie Kiain Tek dan kawan-kawannya.
Ribut dengan mereka berarti memancing kekacauan besar, dan memancing timbulnya pertentangan besar antara mereka yang anti Kaisar dan pihaknya yang pro Kaisar, yang memang sudah lama sekali diam-diam saling membenci.
Suma-Huciang sejak tadi sebelum keadaan meruncing, sudah bertukar pikiran dengan Tiauw Ki, bahkan sudah menerima pesanan Kaisar dan para pembesar tinggi di Istana.
Di antara nasihat-nasihat yang dibawa oleh Tiauw Ki, juga pemuda ini menyampaikan hasrat kaum berkuasa di Istana bahwa Suma-Huciang diberi tugas untuk memancing sampai di mana tingkat pemberontakan Gubernur Shansi dan Honan terhadap Kaisar dan sampai di mana pula kekuatan mereka.
Kini ia menghadapi tantangan, tantangan untuk timbulnya keributan hebat, yang ia tahu sengaja dicetuskan oleh Lie Kian Tek.
Agaknya memang pemuda putera Gubernur itu datang hanya berdalih memberi selamat, akan tetapi sebetulnya sudah mendapat tugas dari ayahnya.
Inilah kesempatan baik, pikir Suma-Huciang.
Kesempatan untuk menguji dan melihat "isi hati"
Musuh-musuhnya, tanpa menimbulkan kesan bahwa keributan terjadi karena perasaan pribadi.
Maka ia lalu mengangguk kepada Chi Liok.
Piauwsu itu setelah melihat isarat dari Suma-Huciang bahwa dia boleh melayani Coa Keng, menjadi gembira sekali.
Tidak seperti tadi ketika mendemonstrasikan kepandaian di atas panggung ia bermain lambat-lambatan, kini sekali melompat ia telah melayang ke atas panggung menghadapi Coa Keng!
Ia menjura, dibalas oleh Coa Keng.
Dua jago berhadapan dan saling mengukur "isi"
Lawan dengan pandangan mata. Penonton memandang tegang.
"Saudara Coa Keng, betul-betulkah kau mengundang aku naik ke panggung untuk melayanimu bermain silat?"
Tanya Chi Liok, suaranya masih tenang. Coa Keng tersenyum mengejek.
"Mengapa tidak betul? Untuk meramaikan suasana pesta dan sebagai penghormatan kepada Suma-Taijin, sudah sepatutnya kita bermain-main sebentar. Asal saja kau tidak takut, karena dalam permainan silat bersama kita sama-sama maklum bahwa kemungkinan terluka besar sekali, bahwa ada kemungkina terpukul tewas."
"Ini sebuah tantangan!"
Chi Liok menegur, gemas.
"Kau takut?"
Coa Keng menggerakkan alis, menghina.
"Orang sombong, kau sajalah yang mempunyai keberanian? Baik, kuterima tantanganmu. Di sini banyak sekali yang melihat betapa kurang ajarnya sikapmu, dan bahkan aku hanya membela diri, membela kepentingan nama Taijin, nama daerah dan namaku sendiri. Kau mulailah!"
Coa Keng mengeluarkan suara nyaring dan tiba-tiba dengan suara licik, sambil masih tertawa terus ia mengirim pukulan kilat ke arah lambung Chi Liok! "Bukk!"
Tubuh Chi Liok terpental dan hampir saja piauwsu ini roboh kalau ia tidak lekas-lekas berpoksai dan berdiri lagi.
Mukanya agak berubah, akan tetapi pukulannya tadi tidak mendatangkan luka dalam yang hebat karena ia keburu mengerahkan Lwee-kang ke arah bagian yang akan terpukul.
"Kau curang!"
Bentaknya.
"Bukankah kau menyuruh aku mulai? Baru sekali pukul saja hampir roboh. Ha, ha, ha!"
"Rasakan ini!"
Chi Liok menyerang tiba-tiba sebelum lawannya berhenti tertawa.
Pukulannya hampir saja mengenai leher di bagian yang berbahaya kalau saja Coa Keng tidak lekas-lekas miringkan tubuh sehingga yang terpukul hanya pundaknya.
Namun ini cukup membuat Coa Keng terhuyung ke samping tiga tindak sambil meringis karena pundaknya terasa sakit sekali.
"Kurang ajar kau!"
Bentaknya dan di lain saat dua orang ini sudah saling gebuk, saling tendang dan bertanding secara kasar sekali.
Sebetulnya ilmu silat mereka juga tidak terlalu rendah akan tetapi oleh karena watak Coa Keng amat kasar, Cara berkelahinya juga kasar sehingga mereka itu lebih sering memukul tanpa membahayakan lawan daripada mengirim serangan yang betul-betul membahayakan keselamatan lawan.
Pertempuran itu berjalan seru dan bagi orang-orang yang tidak tahu ilmu silat atau yang masih rendah kepandaiannya, memang pertandingan itu nampak ramai dan menegangkan sekali.
Akan tetapi bagi orang-orang yang kepandaiannya tinggi, makin lama pertempuran itu nampak makin menjemukan.
Akhirnya terdengar suara teriakan sakit dan tubuh Coa Keng terlempar terkena tendangan Chi Liok dan menggelundung keluar dari panggung!
Orang-orang wanita yang tadinya masih menonton dengan muka khawatir mengeluarkan jeritan dan cepat-cepat mereka berbondong pergi meninggalkan panggung untuk duduk di tempat semula, menjauhi panggung.
Hanya ada empat orang wanita termasuk Im Giok yang tidak pergi dan karena ini Im Giok dapat menduga bahwa tiga orang wanita di dekatnya itu tentulah orang-orang yang mengerti ilmu silat.
Ia melirik dan melihat bahwa mereka ini adalah seorang wanita tua yang memegang tongkat dan rambutnya diikat kain putih, sedangkan yang dua orang adalah gadis-gadis yang berpakaian sederhana akan tetapi cukup manis.
Sikap mereka memang bukan orang-orang sembarangan dan Im Giok ingin sekali tahu siapa gerangan mereka bertiga ini.
Sementara itu, di atas panggung terjadi hal lain yang menggemparkan.
Begitu tubuh Coa Keng terguling meninggalkan tempat itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di depan Chi-piauwsu sudah berdiri seorang kakek.
Kakek ini satu kali menggerakkan tangan ke depan, Chi Liok memekik dan terlempar keluar panggung!
"Orang-orang macam ini berani menjual lagak di atas panggung, benar-benar tidak menghormat kepada Suma-Taijin, harap disuruh keluar tokoh Tiang-Hai yang betul-betul memiliki kepandaian untuk bermain-main dengan aku.
Barangkali Taijin sudah lupa lagi, aku adalah Cheng-Jiu Tok-Ong dari Barat dan kini mewakili Shansi."
Im Glok terkejut bukan main.
Tadi ia tidak melihat kakek ini dan tiba-tiba kakek itu naik ke panggung, tentu untuk mengacau.
Teringat olehnya bahwa Giam-Ong-To Kam Kin, murid kakek ini pun telah menjadi seorang komandan pasukan, tentu pasukan dari Gubernur Shansi!
Kalau demikian, tentu Cheng-Jiu Tok-Ong menjadi kaki tangan Lie Kian Tek.
Mengingat sampai di sini, Im Giok lalu menengok ke arah Kian Tek.
Akan tetapi ia tidak melihat pemuda itu dan kursinya kosong.
Otomatis Im Giok teringat akan bungkusan yang disumbangkan oleh Tiauw Ki kepada Suma-Huciang maka ia menengok ke arah meja tempat menaruh barang-barang sumbangan.
Di lain saat, tubuh Im Giok lenyap, yang tampak hanya bayangan merah yang cepat sekali.
Gadis ini tadi melihat Lie Kian Tek berada di dekat meja dan sedang menegur seorang laki-laki yang dengan gerakan cepat sekali mengulur kedua tangan mengambil barang-barang berharga yang kecil-kecil dari atas meja!
Kedatangan Im Giok tak terlihat oleh mereka dan tahu-tahu orang laki-laki yang bertubuh kecil pendek itu berseru kaget ketika pundaknya ditotok orang.
Akan tetapi ia ternyata lihai bukan main karena masih sempat ia mengelak dan biarpun totokan itu masih mengenai pundaknya, akan tetapi tidak berakibat apa-apa.
Im Giok yang menotok kaget dan sama sekali tidak mengira orang itu demikian lihai, maka ia menyerang terus sambil membentak.
"Bangsat kecil, kau hendak mencuri apa?"
Dua kali lm Giok menyerang dan dua kali gagal karena Si Kate Kecil itu dengan amat lincahnya dapat mengelak dan hendak melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba Lie Kian Tek menendangnya sambil berseru.
"Kau hendak lari ke mana?"
Kembali secara mengagumkan, sekali Si Kate itu mengelak dan mencoba untuk lari terus.
Dua kali lagi Im Giok berusaha menangkapnya, dan tiga kali Lie Kian Tek sudah mencoba untuk merobohkannya dengan serangan maut, namun semua dapat dielakkan oleh Si Kate itu.
"Copet, kau bikin gara-gara saja, tidak tahu sedang kucari-cari!"
Tiba-tiba terdengar teguran orang.
Mendengar suara ini Si Kate lalu melesat dan tahu-tahu ia telah berada di belakang orang ini dan mencari perlindungan di belakangnya!
Ketika Im Giok dan Lie Kian Tek menengok, ternyata orang yang datang ini adalah Suma-ciang!
"Lie-Kongcu, apakah kesalahan dia ini maka kau serang dia?"
Tanya Suma-Huciang kepada Lie Kian Tek.
"Aku melihat dia menggeratak di meja dan hendak mencopet barang-barang sumbangan,"
Kata putera Gubernur itu. Suma-Huciang menengok kepada Im Giok.
"Dan kau, Nona, mengapa pula kau hendak menangkapnya?"
"Aku melihat dia mengambil barang-barang dari atas meja, Taijin,"
Jawab In Giok sambil mengerling ke arah Tiauw Ki yang juga menengok dan memandang ke arah mereka dari tempat duduknya di belakang panggung. Suma-Huciang tertawa.
"Harap kalian maafkan dia ini. Dia dijuluki Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti) dan di Tiang-Hai sudah terkenal. Dia nakal akan tetapi tak pernah membawa pergi barang orang lain. Copet, kau mengambil apa saja? Hayo lekas keluarkan!"
Sin-touw-ong yang kate sekali tubuhnya itu tersenyum-senyum gembira seperti seorang pelawak, kemudian ia mengeluarkan banyak sekali benda dari sakunya yang banyak pula.
Benda-benda itu dikeluarkan satu demi satu seperti tukang sulap dan Im Giok sendiri terheran-heran karena sukar dipercaya bagaimana seorang kate seperti itu dapat menyimpan benda sebanyak itu tanpa kelihatan dari luar.
Juga, yang membikin ia cemas di antara benda-benda itu tidak terdapat bungkusan sumbangan Tiauw Ki yang ternyata telah lenyap dari atas meja!
"Kembalikan barang-barang itu, dan mari kauwakili Tiang-Hai di atas panggung, Touw-ong,"
Kata Suma-Huciang yang tidak mempedulikan semua itu dan tidak memperhatikan barang apa yang mungkin hilang.
Sin-touw-ong cepat mengembalikan barang-barang itu di atas meja, kemudian ia berjalan menuju ke panggung bersama Suma-Huciang.
Im Giok memandang kepada Lie Kian Tek dengan penuh curiga, akan tetapi mukanya menjadi merah ketika ia melihat pemuda itu tengah memandangnya sambil tersenyum penuh arti!
"Nona, kau benar-benar gagah.
Kau benar-benar mengagumkan dan dibandingkan dengan engkau, semua wanita yang berada di sini, juga yang berada di mana saja, tidak ada artinya!
Nona, pertemuan ini benar-benar dapat dinamakan jodoh.
Kau dan aku berjodoh, maukah kau ikut aku keluar dari tempat ini dan kita bercakap-cakap di tempat yang lebih sunyi dan dingin?
Hubungan kita perlu dipererat dan..."
"Jahanam, tutup mulutmu!"
Im Giok memaki marah dan gadis ini lalu pergi ke tempat duduknya.
Mukanya terasa panas sekali dan kedua pipinya merah sekali.
Ia mendongkol bukan main.
Kalau tidak ingat bahwa dia berada di tempat orang lain dan kalau ia tidak ingat akan tugasnya mengawal Tiauw Ki dan melakukan perintah Susiok-Couwnya, tentu ia tadi sudah memukul putera Gubernur yang bermulut lancang itu.
Sementara itu, di atas panggung Cheng-Jiu Tok-Ong sudah berhadapan dengan Sin-touw-ong.
Cheng-Jiu Tok-Ong tertawa bergelak dan berkata lantang.
"Ha, ha, ha, Suma-Taijin bagaimanakah ini? Benar-benarkah Taijin mengajukan dia ini ke atas panggung?"
Ketika ia melihat pembesar itu mengangguk sambil tersenyum, Cheng-Jiu Tok-Ong menjadi marah.
Ia merasa terhina sekali karena harus menghadapi seorang demikian tak berarti.
Ditatapnya wajah Sin-touw-ong seperti seekor harimau menatap tikus.
"Kau ini manusia tiada guna, benar-benar kau sudah bosan hidup? Kau manusia tidak ternama, tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?"
Raja copet yang kate itu cengar-cengir seperti seorang badut.
Ia mempunyai bentuk muka yang lucu, tubuhnya pendek kecil matanya lebar dan hidungnya dapat bergerak-gerak.
Apalagi berhadapan dengan Cheng-Jiu Tok-Ong, benar-benar seperti seorang raksasa berhadapan dengan seorang katai.
"Aku memang tidak terkenal, akan tetapi kau... kau ini siapakah?"
Tanyanya memicingkan mata.
"Setan pendek, dengar baik-baik. Aku adalah Cheng-Jiu Tok-Ong!"
Si Kate menggerakkan kedua pundaknya.
"Aku tidak ternama, kau pun tidak terkenal,"
Katanya acuh tak acuh.
"Bangsat, aku adalah tokoh besar dari Barat. Di dalam dunia kang-ouw, siapakah yang tidak mengenal namaku?"
Cheng-Jiu Tok-Ong membentak.
"Setan besar, kau tidak mengenal namaku, aku pun tidak mengenal namamu, siapa di antara kita yang paling tidak terkenal? Kau bernama Cheng-Jiu Tok-Ong (Raja Racun Bertangan Seribu), aku berjuluk Sin-touw-ong (Raja Copet Sakti), sungguh kalau dibilang kita ini tidak terkenal, akan tetapi sebetulnya kau dan aku adalah raja-raja besar!"
Meledak suara ketawa para hadirin di situ mendengar kata-kata ini.
"Lo-Enghiong, mengapa tidak lekas-lekas ratakan setan pendek itu dengan tana? Injak saja kepalanya, habis perkara!"
Seorang kawan dari Lie Kian Tek berseru tak sabar lagi melihat jagonya dipermainkan oleh Raja copet itu.
"Ya, ya, injaklah! Injaklah!"
Sin-touw-ong mengejek dan memasang kuda-kuda rendah sekali di depan Cheng-Jiu Tok-Ong, seakan-akan mempersiapkan diri untuk diinjak.
Kembali terdengar suara orang tertawa riuh, sungguhpun mereka yang sudah mengenal kelihaian Cheng-Jiu Tok-Ong, merasa khawatir akan keselamatan Si Kate itu.
"Bangsat tukang copet, bersiaplah untuk mampus!"
Cheng-Jiu Tok-Ong yang tidak dapat menahan sabarnya lagi sudah maju menyerang.
Serangannya keras dan cepat sekali sehingga Sin-touw-ong terkejut bukan main.
Raja copet ini bukan orang biasa, dia adalah seorang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan sebagai seorang maling dan copet, Ia memiliki kepandaian istimewa, yakni kepandaian menjaga diri.
Ia licin bagaikan belut dan gerakannya lincah, ditambah pula dengan bentuk tubuhnya yang pendek kecil, sukarlah bagi lawan untuk menyerangnya.
Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Cheng-Jiu Tok-Ong, akan tetapi ia tidak mengira bahwa serangan lawannya akan sehebat itu.
Cepat Raja copet itu mengelak.
Akan tetapi Cheng-Jiu Tok-Ong, seorang tokoh besar persilatan yang sudah lebih berpengalaman, maklum pula apakah yang diandalkan oleh lawannya.
Maka ia tidak mau memberi kesempatan dan terus menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi.
Setiap serangannya merupakan pukulan atau tendangan maut, jangankan baru seorang seperti Sin-touw-ong, biarpun lebih tinggi kepandaiannya takkan kuat menerima pukulan ini.
Im Giok memandang semua ini dengan hati berdebar.
Gadis ini pernah bertemu dan bertempur dengan Cheng-Jiu Tok-Ong, maka ia tahu sampai di mana kelihaian kakek ini.
Dan menurut pandangannya, biarpun Si Raja Copet memiliki kegesitan luar biasa dan ilmu silat yang berdasarkan pertahanan dan penjagaan diri, akan tetapi kalau dibandingkan dengan Cheng-Jiu Tok-Ong, masih jauh sekali.
Ia dapat menduga bahwa Si Kate itu biarpun seorang pencopet, tentulah termasuk orang atau pembela Suma-Huciang, jadi masih segolongan dengan pemuda pelajar Tiauw Ki.
Pula ia ingin sekali menyelidiki siapakah yang mengambil bungkusan Tiauw Ki yang disumbangkan kepada Suma-Huciang karena tadi lenyap dari atas meja.
Si Kate itulah yang mengambilnya dan belum mengembalikannya?
Ataukah Lie Kian Tek?
Melihat Sin-touw-ong sudah terdesak hebat, Im Giok lalu berlari mendekati panggung melompat ke atas panggung dan sekali ia mengulur tangan, ia telah dapat memegang leher baju Sin-touw-ong dan membawanya lompat ke dekat tempat Suma-Huciang.
Gerakan ini cepat sekali dan Cheng-Jiu Tok-Ong yang mengenal gadis itu menjadi berubah air mukanya.
Kakek ini merasa sangsi.
Kepada gadis itu biarpun ia tahu amat lihai, ia masih belum jeri akan tetapi kalau ia teringat akan Bu Pun Su yang pernah menolong gadis itu, bulu tengkuknya berdiri!
Semua orang menjadi gempar ketika melihat seorang gadis baju merah yang cantik, secara aneh telah menahan Si Raja Copet dan membawanya ke dekat Suma-Huciang.
Akan tetapi Im Giok tidak mempedulikan semua itu dan kepada Suma-Huciang ia berkata.
"Taijin, tadi kulihat barang sumbangan dari Gan-twako telah lenyap, mungkin sekali dicuri oleh tukang copet itu!"
Tiauw Ki dan Suma-Huciang bertukar pandang, kemudian pembesar itu tersenyum kepada Im Giok.
"Terima kasih, Nona. Kalau Nona tidak maju, kiranya nyawa pencopet ini sudah melayang. Touw-ong, lekas kau haturkan terima kasih kepada penolongmu!"
Sin-touw-ong cengar-cengir, kemudian ia menjura berkali-kali dan di depan Im Glok sambil berkata.
"Nona yang cantik dan gagah perkasa, mataku sungguh buta tidak melihat Bukit Thai-San! Akan tetapi aku tidak kalah terhadap setan beracun itu."
"Kau tidak kalah? Jangan main-main?"
Suma-Huciang berkata menegur orangnya.
Si Tukang Copet mengeluarkan sebuah benda dari sakunya yang aneh dan Im Giok terkejut.
Ternyata bahwa pencopet ini telah berhasil mencopet golok Pusaka dari lawannya, yakni, Cheng-Tok-Ong (Golok Racun Hijau).
"Inilah buktinya bahwa aku tidak kalah dan ini pula, Nona. Kiranya ini obat penolak racun!"
Kembali dirogohnya saku bajunya dan.
keluarlah obat bubuk dalam botol tanah.
Im Giok merasa kagum sekali.
Biarpun ilmu silatnya belum begitu tinggi akan tetapi dalam hal ilmu mencopet, kiranya orang kate ini sudah patut disebut Raja Copet Sakti!
Sementara itu, di atas panggung, Cheng-Jiu Tok-Ong berteriak-teriak.
"Ha, ha, ha, begitu sajakah jagoan dari Tianghai? Segala tukang copet dan tukang maling! Ha, ha, ha. Hayo, mana lagi jago Tiang-Hai? Suma-Taijin, apakah pertunjukan silat disudahi sampai di sini saja dengan pengakuan kalah dari pihakmu? Kalau begitu, biarlah kita menikmati pertunjukan tari-tarian dari Kota Raja. Ha, ha, ha!"
"Hm, manusia itu menghina sekali,"
Kata Sin-touw-ong.
"Biarlah, lebih baik kita sudahi keributan ini,"
Usul Tiauw Ki. Suma-Huciang menghela napas.
"Kalau saja aku bukannya tuan rumah dan tidak pantas sekali kalau aku sendiri naik ke panggung, aku ingin sekali belajar kenal dengan kepandaian manusia sombong kaki tangan Gubernur Lie itu!"
Sambil berkata demikian, pembesar itu memandang kepada Im Giok.
Gadis ini dapat menangkap arti pandang mata Suma-Huciang.
Kiranya pembesar ini bermata tajam sekali.
Sekali saja melihat bagaimana gadis itu menangkap Sin-touw-ong, ia maklum bahwa Im Giok memiliki kepandaian tinggi dan pasti dapat melawan Cheng-Jiu Tok-Ong.
Akan tetapi karena baru saja ia kenal dengan gadis ini, apalagi baru saja gadis ini telah bebaskan Sin-touw-ong dari ancaman bahaya maut di tangan lawannya, ia tidak berani minta kepada Im Giok untuk mewakilinya di atas panggung.
"Taijin, kalau Taijin menghendaki supaya aku mencuci nama Taijin yang dikotori oleh manusia itu, akan kulakukan sekarang juga."
"Ah, aku akan membikin repot saja, juga tidak enak terhadap Gan-Siucai, karena kau dibawa olehnya,"
Kata pembesar itu.
"Tidak apa, Taijin. Justru karena Gan-twako mempunyai hubungan baik dengan Taijin, maka orang menghina Taijin seperti menghina Gan-twako dan berarti pula menghina aku sendiri,"
Kata Im Giok yang cepat menghampiri panggung sambil membawa golok rampasan.
Lebih dulu dengan amat cepat gadis ini mengoleskan sedikit bubuk rampasan itu di bawah hidungnya dan ia mencium bau wangi sekali.
Dengan gerakan ringan Im Giok melompat ke atas panggung, disambut tepuk sorak para penonton.
Dari atas panggung Im Giok melihat muka Lie Kian Tek berubah pucat.
Im Giok tidak peduli itu semua dan langsung ia menghadapi Cheng-Jiu Tok-Ong yang masih ragu-ragu karena mengira gadis ini datang dikawal oleh Bu Pun Su!
"Apa kau datang hendak melanjutkan pertandingan dahulu itu?
Asal saja kau berani maju sendiri, jangan bawa-bawa orang tua!"
Katanya perlahan, hanya terdengar oleh Im Giok. Gadis itu tersenyum, lalu berkata keras kepada orang banyak.
"Si Sombong ini mengira bahwa dia telah menang dalam pertempuran melawan Sin-touw-ong. Padahal, kalau tidak aku datang membawa pergi Sin-touw-ong, kiranya Raja Copet itu kini telah berhasil mencopet isi perutnya tanpa ia mengetahui!"
"Bohong! Omongan apa ini? Dia yang hampir saja mampus!"
Bantah Cheng-Jiu Tok-Ong marah. Kiang Im Giok tersenyum manis dan memperlihatkan golok yang dibawanya dengan mengacungkan senjata itu ke atas agar kelihatan oleh semua orang yang hadir.
"Tok-Ong, kau lihat baik-baik, golok siapakah ini? Dan bungkusan obat penawar racun ini, punya siapa pula?"
Cheng-Jiu Tok-Ong kaget bukan main dan meraba pinggangnya, ternyata golok di pinggang dan bungkusan obat di dalam saku telah lenyap! "Bagaimana bisa berada di tanganmu?"
Tanyanya heran dan mukanya berubah merah.
"Siapa lagi kalau bukan Sin-touw-ong yang mengambilnya? Nah, kalau dia menghendaki, apakah dia tidak bisa mengambil nyawamu daripada mengambil dua benda ini dari tubuhmu? Benar-benar kau tidak tahu diri. Apakah masih saja kau tidak mau terima kalah?"
Dalam kata-kata ini, Im Giok mengancam, kemudian ia melemparkan golok dan bungkusan obat itu ke atas lantai panggung.
Cheng-Jiu Tok-Ong ragu-ragu.
Ia masih jerih menghadapi Im Giok yang amat lihai ilmu Pedangnya, juga ia takut setengah mati kalau memikirkan apakah Bu Pun Su tidak bersembunyi di tempat itu dan akan muncul kalau sampai ia mendesak Im Giok.
Kini, secara aneh sekali Si Kate itu telah berhasil mencopet golok dan bungkusan obatnya.
Benarkah Si Copet itu yang melakukan hal aneh ini?
Dia tadi sudah mendesak hebat, apa mungkin Si Kate itu sempat mencuri senjatanya?
Siapa tahu kalau-kalau ini pun perbuatan Bu Pun Su, kiranya tidak ada hal tak mungkin!
Mengingat sampai di sini, Cheng-Jiu Tok-Ong bergidik dan ia pikir lebih baik mundur sebelum celaka.
Sekarang ada kesempatan baik baginya untuk mundur tanpa mendapat malu.
Ia lalu membungkuk, mengambil senjata dan obatnya, lalu berkata sambil menjura, bukan kepada Im Giok melainkan kepada Sin-touw-ong.
"Kepandaian Sin-touw-ong benar-benar lihai sekali membuat orang kagum!"
Setelah berkata begitu, Cheng-Jiu Tok-Ong lalu melompat turun dari panggung.
Im Giok tersenyum puas.
Memang ia tidak menghendaki kalau pesta ulang tahun dari Suma-Huciang itu berubah menjadi gelanggang pertempuran yang akan mengorbankan nyawa.
Baiknya ia dapat mengusir mundur Cheng-Jiu Tok-Ong hanya dengan kata-kata dan gertakan belaka, tanpa menurunkan tangan keras, karena ia maklum bahwa kalau sampai terjadi pertempuran, walaupun ia takkan kalah, akan tetapi juga bukan hal yang mudah untuk mengalahkan Cheng-Jiu Tok-Ong!
Gadis ini melompat turun dari panggung dan menghampiri Suma-Huciang dan Gan Tiauw Ki.
Pembesar itu menyambutnya dengan muka berseri.
"Baiknya ada Lihiap yang mencuci bersih nama Kota Tiang-Hai yang akan dihina oleh orang lain,"
Katanya, kemudian pembesar ini berkata dengan suara lantang.
"Terima kasih kepada para Enghiong yang sudah menyumbangkan tenaga untuk meramaikan pesta ini. Sekarang tiba giliran para penari yang akan memperlihatkan keindahan tarian mereka!"
Terdengar musik dibunyikan orang dan tak lama kemudian, tujuh orang penari yang cantik jelita muncul di atas panggung, menari-nari dengan gerakan tubuh yang indah gemulai membuat darah orang-orang muda yang hadir di situ tersirap ke muka dan denyut jantung menjadi cepat sekali.
Perhatian semua tamu tercurah kepada para penari dari Kota Raja ini.
Hal ini membuat Im Giok leluasa bicara dengan Tiauw Ki.
"Tidak apa, Giok-moi,"
Kata pemuda itu setelah mendengar akan kekhawatiran gadis itu tentang hilangnya bungkusan barang sumbangan.
"Bungkusan itu kosong tidak terisi apa-apa yang berharga. Surat dari Kaisar yang sesungguhnya tidak berada di situ, akan tetapi kuserahkan kepada Suma-Huciang ketika kami bercakapcakap tadi."
Im Giok menjadi lega dan ia memandang dengan wajah berseri.
Ia kagum sekali akan kecerdikan pemuda ini.
Dengan demikian, surat rahasia itu tidak terampas oleh orang lain dan ini berarti tugas Im Giok mengawal pemuda dan suratnya berhasil baik.
Kini surat sudah berada di tangan Suma-Huciang, orang yang berhak, maka sudah tidak ada tugas apa-apa lagi di tempat itu.
"Kalau begitu, tugas kita sudah selesai. Kapan kita meninggalkan tempat ini?"
Tanyanya.
"Sebetulnya aku sendiri pun tidak suka tinggal terlalu lama di sini,"
Jawab Tiauw Ki sambil melempar kerling ke arah Lie Kian Tek seakan-akan hendak menyatakan bahwa ketidak-senangan itu disebabkan oleh kehadiran putera Gubernur itu.
"Akan tetapi, Suma-Taijin minta kepadaku untuk bermalam di sini malam ini dan besok hari baru kita meninggalkan tempat ini. Kuharap kau tidak keberatan, Adik Im Giok."
"Keberatan sih tidak, asal saja malam ini tidak akan terjadi sesuatu atas dirimu,"
Kata Im Giok mengerutkan kening.
"Giok-moi yang baik, dengan adanya kau di sini, aku takut apakah?"
Kata-kata ini disertai senyum dan pandang mata penuh arti, yang hanya dapat dimengerti oleh Im Giok.
Tiba-tiba gadis ini merasa jengah, mukanya kemerahan dan untuk sesaat ia tidak berani memandang langsung kepada Tiauw Ki.
"Aku hanya memenuhi perintah Susiok-Couw..."
Katanya kemudian perlahan.
Karena takut kalau-kalau keadaan mereka diperhatikan oleh orang lain lalu mengalihkan pandangan mata ke atas panggung di mana para penari sedang memperlihatkan kepandaian mereka dengan indahnya.
Demikianlah, pesta berjalan terus dengan lancar dan kejadian sebelum tari-tarian diadakan agaknya sudah dilupakan orang.
Bahkan dari pihak Lie Kian Tek sendiri agaknya tidak ada aksi-aksi selanjutnya.
Setelah tari-tarian berhenti dan diganti dengan biduan-biduan Istana yang menyanyikan juga lagu-lagu merdu, berangsur-angsur para tamu mengundurkan diri, berpamit kepada tuan rumah sambil menghaturkan terima kasih.
Akhirnya Suma-Huciang sendiri yang sudah tua merasa lelah dan minta maaf kepada para tamu yang masih hadir, mengundurkan diri untuk mengaso.
Setelah minta maaf kepada tamu-tamu yang tak berapa banyak lagi dan menjura, Suma-Huciang lalu mengajak Gan Tiauw Ki masuk ke dalam.
Kepada Im Giok ia berkata.
"Nona, kalau Nona hendak mengaso, sebuah kamar sudah tersedia. Silakan."
Im Giok menjura kepada tiga orang wanita yang masih berada di situ, yakni nenek yang duduk dengan dua orang wanita muda dan nampak bukan orang-orang sembarangan itu.
Mereka sejak tadi diam saja maka Im Giok juga tidak mempedulikan mereka dan tidak tahu siapakah gerangan mereka ini.
Ketika tiga orang ini berjalan menuju ke ruangan dalam, mereka melewati tempat duduk Lie Kian Tek dan kawan-kawannya.
Pemuda putera Gubernur ini nampak tengah bercakap-cakap dengan Cheng-Jiu Tok-Ong.
Suma-Huciang berhenti dan menjura.
"Lie-Kongcu, maafkan aku tak dapat melayani lebih lama karena terlalu lelah dan hendak mengaso. Kamar untuk Lie-Kongcu dan rombongan telah dipersiapkan di penginapan terbesar di Kota ini. Silakan Kongcu bersenang-senang menikmati nyanyian di sini dan bilamana Kongcu hendak beristirahat, perintahkan saja kepada pelayan untuk mengeluarkan kendaraan."
Lie Kian Tek tersenyum dan menjura, akan tetapi matanya melirik ke arah Im Giok.
"Terima kasih, memang sebentar lagi kami hendak beristirahat pula. Selamat tidur, Suma-Taijin."
Suma-Huciang yang diiringkan oleh Tiauw Ki dan Im Giok melanjutkan langkahnya menuju ke ruang dalam. Pembesar itu setelah tiba di ruangan yang sunyi ini lalu berkata kepada Tiauw Ki.
"Gan-Siucai, tentu kau masih ingat akan semua pesanku, bukan? Ada sedikit pesanku lagi harap disampaikan kepada Hong-siang, yakni bahwa bahaya yang datang dari Shansi tidak begitu besar apabila dibandingkan dengan bahaya yang mengancam dari Honan. Oleh karena itu, terhadap Honan (Propinsi Honan) hendaknya ditaruh perhatian sepenuhnya dan jangan diabaikan."
Tiauw Ki mengerutkan keningnya dan matanya memandang heran. Sebelum ia mengeluarkan pertanyaan, ia didahului oleh pembesar itu.
"Aku tahu mengapa kau terheran, Gan-Siucai. Memang nampaknya keadaan di Honan tenang-tenang saja, akan tetapi percaya sajalah, di dalamnya terdapat pengaruh yang kelak akan membahayakan kedudukan Kaisar. Aku tak dapat bicara panjang lebar lagi, harap kau mengaso dan besok cepat menyampaikan pesanku. Hong-siang akan mengerti apa yang kau maksudkan."
Terpaksa Tiauw Ki tidak membantah. Ia menjura dan berkata.
"Baiklah, Taijin, akan saya perhatikan dan sampaikan semua pesan Taijin. Besok pagi-pagi saya dan Kiang-lihiap berangkat. Kalau tidak sampai berpamit, harap Taijin sudi memaafkan."
Suma-Huciang menoleh kepada Im Giok, tersenyum berkata.
"Kau sungguh mengagumkan, Kiang-lihiap. Aku harus berterima kasih kepadamu. Benar-benar kau patut menjadi cucu murid Bu Pun Su seorang sakti yang sejak dulu aku kagumi. Tolong kau sampaikan hormatku kepada Pendekar sakti itu kalau kau bertemu dengan dia."
Im Giok menjadi jengah mendengar pujian ini dan cepat memberi hormat.
Kemudian pembesar itu memasuki kamarnya dah kedua orang muda itu pun pergi ke kamar masing-masing yang sudah disediakan setelah mereka berjanji akan berangkat besok pagi-pagi pada waktu ayam jantan berkokok.
Malam hari itu Im Giok tak dapat tidur.
Gelisah ia di dalam kamarnya.
Ada kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu pada malam hari itu, sesuatu yang akan menimpa diri Suma-Huciang atau Gan Tiauw Ki.
Ancaman terhadap diri Suma-Huciang masih belum menggelisahkan hatinya, akan tetapi kalau ia ingat bahwa tugas yang dibawa oleh Tiauw Ki bukanlah tugas ringan dan keselamatan anak muda itu selalu terancam, Im Giok menjadi gelisah.
Bagaimana kalau ada bahaya mengancam diri pemuda itu?
Ia selalu memikirkan Tiauw Ki, setiap saat hanya pemuda inilah yang memenuhi pikirannya, tanpa disengaja bayangan Tiauw Ki selalu tampak di depan matanya, gema suara pemuda itu selalu berdengung di telinganya!
"Aku harus melindunginya, biarpun harus bertaruh nyawa!"
Pikir gadis yang sedang tergoda asmara ini.
Keputusan ini membuat Im Giok tidak berani merebahkan diri.
Ia lalu duduk bersila di atas pembaringannya dan beristirahat dengan cara bersamadhi.
Menjelang subuh ada ia mendengar suara berkeresekan di atas genteng.
Ia membuka mata dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Akan tetapi karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa, Ia pun tidak mau lancang mengejar keluar, takut kalau-kalau hanya akan menimbulkan keributan belaka.
Sayang sekali gadis ini tidak keluar, kalau ia melakukan hal ini, mungkin ia akan mencegah terjadinya hal yang mengerikan!
Tak lama kemudian, terdengar ayam jantan berkokok, saling sambut ramai sekali.
Im Giok melompat turun dari pembaringannya, menggantungkan pedang di pinggang, mengikatkan buntalan pakaian di punggung dan siap untuk berangkat.
Karena ia tidak tidur, maka ia dapat bersiap-siap dengan cepat, bahkan tanpa menyisir rambutnya yang digelung indah, cukup memperkuat tali dan tusuk rambutnya saja.
Ia mendengar langkah kaki di luar pintunya.
Cepat daun pintu kamarnya ia buka dan ternyata Tiauw Ki sudah berdiri di situ, juga sudah siap untuk berangkat.
Dua orang pelayan menghampir, mereka dan menjura sambil berkata.
"Selamat pagi, Siauw-ya dan Siocia! Apakah berangkat sekarang?"
"Benar, Lopek. Tolong suruh tukang kuda mengeluarkan kuda kami dan menyediakan di depan."
"Baik, Siauw-ya,"
Jawab pelayan-pelayan itu dengan girang sambil menerima dua potong uang perak sebagai hadiah dari Tiauw Ki. Dua orang muda ini lalu berjalan menuju ke luar dari gedung yang besar dan panjang ini.
"Enak tidurkah kau malam tadi, Giok-moi?"
Tanya Tiauw Ki kepada Im Giok.
"Enak juga. Dan kau?"
"Aku gelisah saja, entah mengapa. Agaknya karena hawa terlalu panas,"
Jawab Tiauw Ki. Im Giok teringat akan bunyi di atas genteng. Kamar pemuda ini tidak jauh dari kamar Suma-Huciang, maka tanyanya.
"Twako, apakah kau tidak ada mendengar apa-apa malam tadi? Kalau kau tidak dapat tidur, tentunya kalau ada apa-apa kau mendengarnya."
Tiauw Ki menggeleng kepala.
"Tadinya aku pun takut kalau-kalau terjadi sesuatu, akan tetapi sukurlah, sampai aku tertidur, aku tidak mendengar apa-apa."
Diam-diam Im Giok merasa lega, akan tetapi ia tidak puas dan masih curiga.
Pemuda ini tidak mengerti ilmu silat, bagaimana ia dapat mendengar suara gerakan penjahat yang tinggi ilmu silatnya?
Ia malam tadi mendengar suara yang ia tahu adalah suara kaki orang menginjak dan berjalan di atas genteng, orang yang ilmu Gin-kangnya sudah tinggi sekali.
Ataukah barangkali pendengarannya salah?
Karena selanjutnya tidak ada suara apa-apa, ia tidak menyelidik lebih lanjut.
Sementara itu, pelayan-pelayan tadi sudah membawa kuda mereka ke depan gedung.
Maka berangkatlah Tiauw Ki dan Im Giok di pagi hari itu dalam keadaan cuaca masih remang-remang dan segala apa nampak berwarna kelabu.
Sampai lama mereka melarikan kuda berdampingan tanpa mengeluarkan kata-kata.
Keduanya muram.
Tanpa kata-kata mereka merasakan peristiwa duka yang mereka hadapi, yakni perpisahan.
Im Giok sudah selesai tugasnya mengawal pemuda itu menghadap Suma-Huciang dan menyampaikan pesanan Kaisar.
Karenanya ia harus memisahkan diri, tidak selayaknya seorang gadis seperti dia terus-terusan melakukan perjalanan bersama seorang pemuda tanpa ada alasan yang kuat.
Kini ia harus pulang ke Siang-Koan, sedangkan Tiauw Ki tentunya hendak ke Kota raja.
Terpaksa harus berpisah.
Tidak ada alasan untuk melakukan perjalanan bersama karena berbeda tujuan.
Tanpa berkata-kata keduanya maklum bahwa perjalanan mereka bersama hanya akan sampai di sungai kecil yang berada kurang lebih lima belas li di depan, di mana terdapat jalan simpangan dan di sana keduanya akan berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.
Makin dekat dengan sungai itu, otomatis keduanya memperlambat larinya kuda sehingga di lain saat kuda mereka hanya berjalan saja!
"Adik Im Giok, kau selanjutnya akan ke manakah?"
Tiauw Ki bertanya, sebuah pertanyaan yang aneh dan lucu karena keduanya sudah sama-sama mengetahui ke mana gadis itu akan pergi kalau tidak pulang ke rumah Ayahnya di Siang-Koan!
Pertanyaan ini saja sudah membayangkan keadaan hati pemuda itu, dan Im Giok maklum pula akan hal ini.
Memang cinta kasih itu aneh sekali.
Biarpun pemuda dan gadisnya sama-sama selama hidupnya belum pernah mengalami buaian asmara dan baru sekali itu mengalami perasaan yang amat aneh ini, namun keduanya seakan-akan sudah berpengalaman, keduanya sudah dapat menangkap maksud hati masing-masing hanya dengan rasa.
Kerling mata mengandung seribu bahasa mesra, senyum tipis membayangkan perasaan hati berdebar, gerak-gerik mengisyaratkan suara hati.
Demikianlah tajamnya seorang yang menghadapi pujaan hatinya, seakan-akan antara keduanya sudah ada kontak yang timbul oleh getaran-getaran perasaan.
Sungguhpun Im Giok maklum mengapa pemuda itu masih juga bertanya ke mana ia hendak pergi, ia menjawab juga perlahan sambil menundukkan muka.
"Aku hendak pulang ke Siang-Koan. Dan kau... ke manakah, Twako?"
"Tentu ke Kota Raja... tugasku belum selesai. Sayang..."
Lama tidak terdengar mereka berkata-kata dan sunyi di pagi hari yang indah itu.
Matahari belum kelihatan, akan tetapi cahayanya sudah mengusir kabut fajar dan menggugah alam yang terlelap dalam mimpi.
Yang terdengar hanya suara kicau burung, diseling derap kaki dua ekor kuda yang berjalan perlahan di atas jalan berbatu.
"Mengapa sayang, Twako?"
Im Giok sudah membolak-balik pertanyaan ini beberapa kali di dalam hati sebelum ia mengeluarkan melalui bibirnya.
Hatinya berdebar menanti jawab, seperti seorang penjahat menanti pengucapan hukuman oleh hakim.
"Sayang karena... karena terpaksa kita harus berpisah."
Suara pemuda itu menggetar dan tiba-tiba Im Giok menjadi merah mukanya, merah sampai ke telinganya.
Mengingat akan keadaan dirinya, tiba-tiba Im Giok mengerahkan tenaga batinnya untuk mengusir perasaan malu dan jengah yang luar biasa ini, kemudian ketabahannya yang luar biasa dapat membuat ia menguasai dirinya lagi.
Ia tersenyum dan dengan wajah ayu memandang Tiauw Ki.
"Twako, kau ini aneh. Ada waktu bertemu pasti ada waktu berpisah. Bukankah ada kata-kata para cerdik pandai jaman dahulu bahwa bertemu itu artinya terpisah? Atau jelasnya bahwa pertemuan adalah awal perpisahan?"
Tiauw Ki yang tiba-tiba menjadi lemas melihat senyum yang demikian manisnya, wajah yang berseri dan mata bersinar-sinar sehingga membuat baginya seakan-akan matahari sudah muncul setinggi-tingginya, menjadi seperti orang linglung.
"Mengapa demikian?"
Pertanyaan ini tidak karuan juntrungnya, padahal sebagai seorang sastrawan, sudah tentu pemuda ini hafal akan semua filsafat kuno, tidak kalah oleh Im Giok.
Akan tetapi pada saat itu, otaknya seakan-akan tertutup dan ia tidak sadar apa-apa, yang ada hanyalah wajah yang luar biasa cantik jelitanya dari gadis yang berada di sampingnya.
Melihat betapa pemuda itu duduk di atas kudanya sambil memandang bengong kepadanya seperti orang kena sihir, Im Giok tersenyum makin lebar.
"Mengapa? Eh, Gan-Twako, tentu saja pertemuan adalah awal perpisahan, karena kalau tidak bertemu lebih dulu, bagaimana bisa berpisah?"
Jawaban yang merupakan kelakar ini membikin sadar Tiauw Ki dari lamunan. Ia menarik napas panjang dan berkata.
"Tepat sekali kata-katamu, Giok-moi. Dan inilah yang menyakitkan hatiku. Bagiku... berat sekali perpisahan ini. Kalau boleh aku ingin membuang jauh-jauh ucapan kuno itu, ingin kuganti..."
Im Giok mengangkat alisnya dan memandang lucu.
"Ehm, kau ingin menyaingi para Pujangga kuno dan merubah kata-kata mereka?"
"Ya, khusus tentang pertemuan itulah. Dengar aku merubahnya, dan ini terutama sekali untuk kita berdua, Adikku. Pertemuan bukan awal perpisahan, akan tetapi pertemuan adalah awal persatuan abadi. Bagaimana kau pikir, bukankah ini lebih tepat dan lebih baik?"
Im Giok menutup mulutnya menahan ketawa, kemudian melarikan kudanya.
"Ada-ada saja kau ini, Twako,"
Katanya seperti marah. Akan tetapi suara ketawanya berlawanan dengan kata-kata yang seperti marah ini, maka Tiauw Ki juga membalapkan kudanya mengejar.
"Adik Im Giok, tunggu...! Kita takkan berpisah selamanya!"
Tiauw Ki berani berteriak menyatakan perasaan hatinya ini saking gembiranya.
Akan tetapi Im Giok yang timbul kembali rasa malu dan jengah, tidak mau menghentikan kudanya.
Karena kuda dibalapkan, sebentar saja tahu-tahu telah tiba di sungai yang melintang di depan.
Im Giok tersentak kaget dan menghentikan kudanya dengan tiba-tiba.
Melihat sungai itu ia tersadar bahwa semua tadi bukan main-main, melainkan sungguh-sungguh perpisahan telah berada di depan mata!
Dan ia pun menjadi berduka.
Alisnya berkerut, kegembiraanaya lenyap sama sekali.
Ia telah merasai kebahagiaan luar biasa di dalam hatinya selama dekat dengan Tiauw Ki.
Sekarang perpisahan dengan pemuda itu mendukakan hatinya.
"Giok-moi...!"
Tiauw Ki juga sudah tiba di situ dan pemuda ini melompat turun dari kudanya.
"Giok-moi, harap jangan tergesa-gesa. Begitu girangkah hatimu untuk meninggalkan aku maka kau tergesa-gesa?"
Im Giok melompat turun dari kudanya pula dan berkata.
"Twako, jangan kau berkata begitu..."
Dalam suaranya kini terkandung sedu-sedan.
"Marilah kita pergunakan saat terakhir ini untuk bercakap-cakap dan memberi kesempatan kepada (Lanjut ke
Jilid 13) Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 kuda kita beristirahat,"
Kata Tiauw Ki yang membawa kudanya ke pinggir sungai di mana terdapat rumput yang hijau dan gemuk.
Im Giok meniru perbuatannya dan setelah dua ekor kuda itu makan rumput dengan lahapnya, mereka lalu mencari tempat duduk.
Kebetulan sekali tidak jauh dari situ, di pinggir sungai kecil terdapat sebatang pohon yang teduh dan di bawah pohon tetdapat batu-batu sungai yang besar dan bersih licin.
Kesitulah kedua orang ini berjalan perlahan.
Tiauw Ki duduk di atas sebuah batu besar, merenung ke arah air sungai.
Im Giok juga duduk di atas batu tak jauh dari tempat pemuda itu duduk, bermain-main dengan ujung daun pepohonan yang tumbuh di dekatnya.
"Adik Giok, rasa-rasanya janggal dan aneh sekali kalau kita harus berpisah di sini. Benar-benar heran sekali, bagiku terasa seakan-akan kita sudah berkumpul selamanya, sudah semenjak kecil, semenjak lahir... Giok-moi, benar-benar berat untukku harus berpisah darimu, tak sampai hatiku..."
"Habis, bagaimana, Twako. Kita harus mengambil jalan masing-masing. Kau ke Kota Raja dan aku pulang ke Siang-Koan."
"Memang seharusnya demikian. Akan tetapi... ah, rasanya aku sedikitpun juga tidak ada keinginan sama sekali untuk pergi ke Kota raja. Kalau saja kau dapat pergi bersamaku ke Kota Raja atau aku pergi bersamamu ke Siang-Koan..."
Im Giok melirik, mukanya merah dan hatinya berdebar senang.
"Mana boleh begitu, Gan-ko? Kau mempunyai tugas penting. Apa sih sukarnya? Kau ke Kota Raja dan setelah selesai tugasmu, bukankah kau dapat mengunjungi aku di Siang-Koan?"
Di dalam kata-kata ini terkandung sindiran yang dalam, seakan-akan Im Giok menyatakan bahwa ia akan menanti kedatangan pemuda itu di Siang-Koan!
Tiauw Ki yang cerdik dapat mengerti arti yang terkandung dalam kata-kata ini, maka saking girang dan perasaannya, ia menangkap kedua tangan gadis itu.
"Giok-moi..."
Suaranya gemetar.
Selama hidupnya baru kali ini Im Giok merasai sesuatu yang aneh di dalam hatinya.
Menurut kata hatinya, ingin ia menarik kembali kedua tangannya yang dipegang oleh jari-jari yangan yang gemetar dari pemuda itu, akan tetapi ia tidak kuasa menarik tangannya seakan-akan telah hilang semua tenaganya!
Ia hanya menundukkan muka dan bibirnya tersenyum malu.
"Giok-moi, betulkah kau akan menerimaku kalau aku sewaktu-waktu datang ke Siang-Koan!"
Suara Tiauw Ki perlahan dan halus penuh perasaan.
"Mengapa tidak?"
Im Giok hanya menjawab singkat karena ia sendiri takut untuk bicara terlalu panjang, mendengar betapa suaranya sendiri gemetar! "Tidak... tidak ada halangannya kalau... kalau aku..."
Tiauw Ki tak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Ada apakah, Gan-Twako? Lanjutkanlah, mengapa begitu sukar?"
Tiauw Ki makin gagap menerima teguran ini. Ia mengigit bibirnya menenangkan hatinya lalu berkata nekad.
"Bagaimana kalau kelak aku datang ke Siang-Koan... dan..."
"Dan apa...!"
"Aku... aku hendak... meminangmu!"
Lega hatinya setelah kata-kata yang mengganjal di kerongkongannya ini akhirnya terlepas juga.
Im Giok sejak tadi sudah menduga, akan tetapi setelah kata-kata itu diucapkan, mukanya yang cantik itu menjadi merah sekali, membuat sepasang pipinya kemerahan seperti buah tho masak, membikin ia nampak makin cantik jelita.
Memang jarang ada gadis secantik Im Giok, apalagi kalau yang memandangnya seorang yang jatuh hati kepadanya, ia seperti bidadari dari kahyangan saja!
"Bagaimana, Giok-moi...?"
Tanya Tiauw Ki. Im Giok mengerling dengan sudut matanya kepada pemuda itu, bibirnya yang manis tersenyum malu, lalu ia menundukkan muka kembali sambil berkata lirih.
"Entahlah..."
Tiauw Ki menjadi makin berani melihat sikap gadis itu.
Ia menggenggam kedua tangan yang kecil halus itu dengan erat dan menarik Im Giok mendekat.
Karena gadis itu duduk di atas batu yang lebih rendah, maka setelah ditarik ia bersandar kepada paha Tiauw Ki.
"Giok-moi, bagaimana? Apakah kau keberatan kalau kelak kupinang?"
Bukan main malunya Im Giok dan ia tidak dapat membuka mulut menjawab.
Sambil tersenyum-senyum malu dan matanya ditundukkan, ia hanya menjawab dengan gelengan kepala perlahan.
Tiauw Ki merasa diayun di sorga ke tujuh.
Ingin ia melompat turun dari atas batu dan menari-nari kegirangan atau ingin ia mengangkat tubuh Im Giok dalam pondongannya dan diputar-putar.
Akan tetapi sebagai seorang pemuda terpelajar yang sopan ia tidak berani melakukan hal ini.
Sebagai seorang pemuda yang tahu akan arti kesopanan dan kesusilaan, Tiauw Ki hanya memandang kepada wajah kekasihnya dengan mata bersinar, wajah berseri dan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Moi-moi, terima kasih. Akan tetapi, bagaimana kalau saudara-saudaramu tidak suka kepadaku dan tidak mau menerima?"
Di dalam ucapan ini terkandung suara yang penuh kecemasan, maka Im Giok cepat mengangkat muka dan berkata tegas.
"Aku tidak mempunyai saudara kandung. Aku anak tunggal. Yang ada hanya Suciku Giok-Gan Niocu Song Kim Lian!"
Tiauw Ki tersenyum lega, lalu tertawa kecil.
"Ah, Sucimu itu benar-benar seorang gadis yang gagah perkasa dan berhati mulia, biarpun agak galak. Akan tetapi tentu saja tidak melawan kau baik dalam hal kegagahan, kemuliaan maupun kecantikan."
Im Giok hanya melempar senyum menghadiahi pujian kekasihnya ini.
"Akan tetapi, bagaimana kalau... kalau Ayah bundamu tidak suka kepadaku? Ayahmu seorang gagah, tentu dia tidak suka mempunyai calon mantu seorang pemuda sekolah yang lemah....!"
Kembali dalam suara pemuda itu terkandung kekhawatiran besar.
"Ibuku sudah tidak ada, dan Ayah... dia amat sayang kepadaku, tak mungkin Ayah membiarkan aku kecewa dan berduka."
Im Giok mengambil tusuk kondenya dan memberikan benda itu kepada Tiauw Ki dengan suara halus.
"Koko, inilah tusuk kondeku, harap kau simpan baik-baik."
Tiauw Ki menerima benda itu dan menekannya di dada, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Moi-moi. Benda ini selamanya takkan berpisah dariku, akan kuanggap sebagai penggantimu. Dengan adanya tusuk kondemu ini, Moi-moi, akan terhibur hatinya. Hanya menyesal sekali, aku adalah seorang yang bodoh dan miskin, tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk diberikan kepadamu kecuali ini..."
Pemuda itu mengeluarkan sebuah kipas yang tidak begitu baik dari dalam saku bajunya. Sudah menjadi kebiasaan para Siucai untuk selalu menyimpan kipas di sakunya.
"Kipas ini tadinya masih kosong, Moi-moi, seperti kosongnya hatiku. Sekarang kipas ini tidak seharusnya dibiarkan kosong seperti juga hatiku yang kini sudah penuh..."
Sambil berkata demikian, dari dalam saku bajunya, pemuda itu "Menyulap"
Keluar sebatang Pit dan arang tintanya.
Diambilnya sedikit air dari sungai untuk membasahi arang tinta dan di atas batu itu ia menulis huruf-huruf indah di atas kipasnya yang putih bersih.
Im Giok hanya memandang saja semua yang dilakukan oleh kekasihnya ini dengan bibir tersenyum dan hati bungah.
Dengan hati berdebar Im Giok membaca tulisan yang indah gayanya itu .
Tusuk konde dan kipas menjadi saksi bertemunya dua hati di bawah pohon, di tepi sungai...
semoga cinta kasih kita kekal abadi takkan berpisah, sehidup semati...
Tiauw Ki memberikan kipas itu kepada Im Giok yang menerimanya dengan wajah berseri.
"Aduh indahnya tulisanmu, Koko..."
Katanya. Akan tetapi Tiauw Ki hanya menatap wajahnya, nampaknya berduka.
"Kau mengapa, Twako?"
"Sayang pertemuan seindah ini diputuskan oleh perpisahan..."
Kata Tiauw Ki sambil memegang pundak gadis itu ditariknya sehingga kembali Im Giok bersandar kepadanya.
"Hanya untuk sementara waktu, Koko. Bukankah kau segera akan ke Siang-Koan setelah tugasmu selesai? Aku selalu menantimu di sana, Koko..."
Kata-kata ini terdengar begitu manis dan merdu oleh Tiauw Ki sehingga saking terharunya kedua mata pemuda itu sampai basah.
Didekapnya kepala gadis itu ke dadanya lebih erat lagi dan sampai lama mereka tak bergerak, tenggelam ke dalam lautan madu asmara.
Biarpun keduanya diam tak bergerak, biarpun suasana di sekitar mereka sunyi senyap, namun suara daun pohon tertiup angin dan air sungai mengalir bagi mereka seperti suara musik mengiringi nyanyian surga yang amat merdu.
Pohon, daun, batu apa saja yang nampak di sekeliling mereka seakan-akan tertawa-tawa dan ikut beriang gembira.
Tiauw Ki dan Im Giok bagaikan mabuk oleh buaian ombak perasaan yang paling indah di antara segala macam perasaan, namun keduanya masih sadar sepenuhnya dan ingat akan kesopanan dan kesetiaan.
Sungguh mengagumkan mereka ini, tauladan bagi muda-mudi beradab.
Mereka pun diombang-ambingkan oleh ombak asmara yang memabukkan, namun, mereka pantang melakukan pelanggaran dan mereka teguh bagaikan karang di pantai samudra.
Apapun juga yang terjadi, mereka berpegang kepada semboyan nenek moyang mereka, yang bagaimanapun juga, ATURAN (Lee) di atas segala apa!
Kesopanan dan kesusilaan termasuk dalam Lee ini dan karenanya mereka tetap sadar dan menjaga jangan sampai mengecewakan hati kekasihnya dengan pelanggaran tata-susila yang mereka junjung tinggi!
Dalam keadaan bagaikan setengah pulas itu, ternyata kelihaian Im Giok tidak berkurang.
Pendengarannya memang amat tajam sehingga Tiauw Ki menjadi terheran ketika tiba-tiba Im Giok renggutkan kepalanya yang tadinya bersandar pada dadanya sambil berkata.
"Koko, ada penunggang kuda datang..."
Tiauw Ki memperhatikan dan sampai lama setelah suara itu makin mendekat baru ia mendengar derap kaki kuda.
"Ada tiga orang penunggang kuda,"
Kata pula Im Giok yang sudah dapat membedakan suara itu sebelum orang-orangnya kelihatan, siap karena mengira bahwa yang datang ini tentulah pihak musuh yang selalu mengancam keselamatan Tiauw Ki.
Akan tetapi setelah tiga orang penunggang kuda itu muncul, ia bernapas lega.
Mereka itu ternyata adalah tiga orang wanita yang membalapkan kuda dan membuktikan bahwa ketiganya adalah ahli-ahli penunggang kuda yang mahir.
Apalagi ketika tiba di dekat Tiauw Ki dan Im Giok, ketiga orang penunggang kuda itu dapat menghentikan kuda mereka dengan serentak, hal ini lebih-lebih membuktikan bahwa mereka bertiga memiliki Lwee-kang yang cukup kuat.
Setelah mereka dekat, barulah Im Giok dan Tiauw Ki melihat dan mengenal mereka sebagai tiga orang wanita yang malam tadi ikut hadir dalam pesta di rumah Suma-Huciang, yakni wanita nenek yang kepalanya diikat kain putih dan memegang tongkat bersama dua orang gadis manis yang sikapnya galak.
Kini dua orang gadis itu memandang kepada Tiauw Ki kemudian kepada Im Giok dengan pandang mata terbelalak membenci.
Pada saat itu, Im Giok sedang berada dalam keadaan gembira dan bahagia, maka tentu saja muka cemberut dari dua orang gadis itu tidak terlihat olehnya.
Sebaliknya, dengan senyum manis ia lalu menjura kepada mereka sambil berkata.
"Selamat bertemu di tempat ini! Apakah Sam-wi baru pulang dari rumah Suma-Taijin?"
Nenek itu menjawab cepat-cepat.
"Kau bermalam di rumah Suma-Taijin. Kami bermalam di rumah Penginapan."
Im Giok menggerakkan alis agak heran melihat sikap ini, akan tetapi tetap tersenyum dan melanjutkan katanya dengan ramah.
"Ah, maaf. Maksudku, tentu Sam-wi baru meninggalkan Tiang-Hai dan hendak ke manakah?"
Tiba-tiba seorang di antara dua gadis itu, yang ada tahi lalatnya di dagu, membentak.
"Siapa sudi bicara dengan segala perempuan gila lelaki!"
Tiauw Ki menjadi pucat saking marahnya, dan Im Giok menjadi merah mukanya.
Sepasang matanya yang indah itu kini menyambar bagaikan cahaya kilat ke arah gadis itu, dan suaranya tetap halus dan ramah, akan tetapi di dalam suara ini terkandung sesuatu yang dingin dan tajam menembus jantung.
"Cici yang baik, kau bilang apa?"
"Aku bilang kau perempuan cabul, gila lelaki!"
Gadis bertahi lalat dagunya itu membentak lagi sambil mengangkat hidungnya, mengejek. Im Giok masih tersenyum lebar.
"Alasannya?"
"Dari semula kau datang, kau sudah berdua dengan pemuda ini, sungguh memalukan. Kemudian kau bermanis-manis dengan Suma-Huciang dan kau mencoba pula untuk memikat hati Lie-kongcu. Menyebalkan sekali!"
Im Giok memang cerdik luar biasa. Dari ucapan ini saja ia sudah dapat menerka apa yang menyebabkan gadis ini marah-marah seperti kemasukan setan. Senyumnya makin lebar dan sinar matanya berseri.
"Ah, Cici yang baik, kau memutarbalikkan kenyataan. Jelas sekali kulihat bahwa kau lah yang tergila-gila kepada Lie-kongcu yang tidak memperhatikan tahi lalatmu yang menjijikkan itu, kau jadi marah-marah kepadaku!"
Mendengar ini, wajah gadis itu menjadi pucat dan sebentar berubah merah.
Mulutnya terbuka, matanya terbelalak saking marahnya ia sampai tidak kuasa mengeluarkan kata-kata.
Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan suara.
Diangkatnya cambuknya ke atas, dipukulkan kepala Im Giok didahului makiannya.
"Perempuan rendah, kau berani sekali memaki aku? Tidak tahu dengan siapa kau berhadapan?"
"Hei, jangan pukul dulu!"
Im Giok membentak, suaranya demikian berpengaruh sehingga wanita bertahi lalat itu kaget dan otomatis cambuk yang sudah diangkat itu tidak dipukulkan!
"Teruskan dulu keteranganmu, sebenarnya siapakah kalian ini yang bersikap tengik?"
Wanita itu menahan marahnya dan sengaja memperkenalkan nama dengan maksud agar Im Giok menjadi ketakutan.
"Buka telingamu lebar-lebar, kami berdua adalah Kim-Jiauw Siang-Eng Kwan Ci-Moi (Kakak Beradik Kwan yang Berjuluk Sepasang Garuda Berkuku Emas)! Dan dia itu adalah ibu kami Koai-Tung Toanio. Siapa tidak mengenal kami dari Kong-Thong-Pai?"
Im Giok merasa geli sekali melihat gadis yang dogol dan otak-otakan ini, akan tetapi ia mengangkat kedua mata seakan-akan orang terkejut dan ketakutan.
"Aduh... tak tahunya aku berhadapan dengan tiga orang sakti dari Kong-Thong-Pai..."
Kata Im Giok.
"Ji Kim, jangan menyombong!"
Tegur nenek yang mengerti bahwa Im Giok hanya pura-pura saja ketakutan, sebetulnya sikap gadis baju merah itu adalah ejekan belaka.
"Hayo lekas berlutut dan minta ampun kepadaku!"
Gadis bertahi lalat yang bernama Kwan Ji Kim itu membentak, masih belum mengerti bahwa Im Giok hanya pura-pura takut saja.
"Kau datang-datang memaki orang dan bersikap sombong, bagaimana aku harus berlutut? Jangankan kau baru Garuda berkuku emas, biarpun tahi lalatmu berubah emas aku tetap tak sudi berlutut!"
Jawab Im Giok, kini tidak berpurap-pura lagi.
Ji Kim marah sekali dan kini cambuk kudanya diayun cepat menghantam kepala Im Giok.
Akan tetapi, Ang I Niocu Kiang Im Giok hanya miringkan tubuh dan secepat kilat tangan kirinya menyambar, dan di lain saat cambuk itu telah berpindah ke tangannya.
Sambil tersenyum Im Giok mempergunakan cambuk itu menghajar kedua kaki depan kuda yang ditunggangi oleh Kwan Ji Kim sehingga kuda itu roboh bertekuk lutut dan Kwan Ji Kim terpaksa melompat untuk menjaga diri jatuh terjungkal!
"Kudamu lebih tahu adat!"
Im Giok mengejek.
"Tahu akan kesalahan nonanya sehingga mintakan maaf kepadaku."
Kwan Ji Kim marah bukan main.
Dicabutnya pedang yang tergantung di pinggangnya, lalu diserangnya Im Giok dengan sengit.
Namun, melihat gerakan nona ini, Im Giok hanya tersenyum dingin.
Dengan gerakan indah sekali, tubuhnya melenggok ke kiri dan tangannya menyambar ke arah pipi lawan.
"Plakk...!"
Pipi gadis bertahi lalat itu kena ditampar sehingga ia terhuyung-huyung ke belakang setelah mengeluarkan jerit kesakitan.
Setelah dapat menguasai keseimbangan badan dan berdiri tegak lagi, ternyata pipi kanan Kwan Ji Kim telah bengkak menggembung sehingga muka yang manis itu kini menjadi lucu dan jelek!
"Setan betina, kau berani menyakiti adikku!"
Gadis ke dua melompat turun dari kuda dengan pedang terhunus pula.
Gerakan pedang ini jauh lebih cepat daripada Kwan Ji Kim dan tusukan pedangnya lebih kuat lagi.
Namun ia bukan lawan Im Giok, karena dengan amat mudahnya Im Giok dapat menghindarkan diri dari tusukan pedang itu.
Tiba-tiba Im Giok merasa ada sambaran angin dingin dari kanan.
Cepat ia melompat ke belakang dan sebatang tongkat menyambar dengan dahsyatnya.
Im Giok maklum bahwa nenek yang memegang tongkat itu berkepandaian tinggi dan merupakan lawan berat, maka cepat ia pun mencabut pedangnya sambil berkata.
"Koai-Tung Toanio! Kalau kau betul-betul seorang tokoh kang-ouw yang mengerti aturan dan seorang ibu yang baik, mengapa kau tidak menegur anak-anakmu yang kurang ajar sebaliknya bahkan ikut-ikut menyerangku? Ada permusuhan apakah di antara kita maka kalian begini mendesak padaku?"
Nenek itu menyeringai, kemudian berkata, suaranya tinggi serak.
"Kemarin kau begitu sombong memamerkan kepandaian dan aku tidak sempat membuktikan. Sekarang ingin aku melihat sampai di mana kelihaianmu, jangan kau hanya berani menghina anakku yang bodoh. Majulah!"
Im Giok mengerti bahwa nenek ini bukan hanya ingin menjajal kepandaiannya, akan tetapi kalau tidak membela anaknya yang sudah ia tampar tadi, tentu tersembunyi maksud lain.
Ia pun tidak sudi memperlihatkan kelemahannya.
Setelah orang menantangnya, ia harus melayani dan memperlihatkan kepandaiannya.
Apalagi di situ ada Tiauw Ki yang menyaksikan.
Dicabutnya pedangnya dan dengan tenang ia berdiri memandang kepada tiga orang lawannya.
"Kalian hendak mencari perkara? Boleh, Ang I Niocu Kiang Im Giok bukan seorang pengecut dan tak pernah menolak tantangan."
Im Giok menanti serangan, tidak mau ia mendahului bergerak karena memang ia tidak mempunyai permusuhan dengan tiga orang ini.
Koai-Tung Toanio mengeluarkan seruan keras dan tongkatnya diputar bagaikan kitiran cepatnya, lalu diterjangnya gadis baju merah yang berdiri tenang di hadapannya.
Anaknya yang sulung, Kwan Twa Kim, juga maju menyerang dengan pedangnya.
Sekilas pandang saja tahulah Im Giok bahwa kepandaian nenek itu memang lihai, jauh lebih lihai daripada puterinya, maka menghadapi pengeroyokan dua orang ini, Ia harus lebih dulu mengalahkan yang lemah agar seluruh perhatiannya dapat dicurahkan kemudian kepada yang kuat.
Maka pedangnya segera bergerak, merupakan tarian indah dan dengan halus gerakannya itu terbagi dua, yakni bersifat lembek apabila menghadapi serangan tongkat Koai-Tung Toanio, akan tetapi keras dan kuat menghadapi Kwan Twa Kim.
Siasatnya ini berhasil baik sekali karena Kwan Twa Kim sebentar saja terdesak hebat, sedangkan tongkat Koai-Tung Toanio belum juga dapat mendesaknya, bahkan beberapa kali tongkat di tangan nenek itu apabila bertemu dengan pedang Im Giok, terbetot dan "diselewengkan"
Sehingga membentur pedang anaknya sendiri!
Beberapa jurus kemudian, terdengar suara keras dan pedang di tangan Kwan Twa Kim terlempar, disusul pekik kesakitan dari gadis ini.
Ternyata bahwa lengan kanannya keserempet pedang dan mengeluarkan darah.
"Twa Kim, mundur kau...!"
Ibunya berkata marah dan memperhebat gerakan tongkatnya, menyerang Im Giok dengan mati-matian.
"Toanio, kita tidak bermusuhan, mengapa kau begini nekat?"
Im Giok menegur, hatinya tak senang melihat sikap nenek yang terlalu mendesak ini.
"Tutup mulut dan lihat tongkatku!"
Bentak Koai-Tung Toanio yang dari penasaran menjadi marah sekali mengapa begitu lama belum juga ia dapat mengalahkan gadis muda ini.
Timbul kemarahan Im Giok.
Tadinya ia tidak suka merobohkan nenek ini yang tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengannya.
Seorang tokoh kang-ouw amat menjaga nama besarnya dan tahu bahwa kalau nenek itu sampai kalah olehnya, hal ini merupakan penghinaan besar bagi nenek yang keras hati ini.
Tadinya ia mengharapkan nenek ini akan melihat gelagat dan mundur sendiri setelah menyaksikan kelihaiannya, tidak tahunya nenek ini bahkan berlaku nekad dan menyerang mati-matian.
"Kau tidak boleh diberi hati!"
Im Giok mencela dan kini tiba-tiba gerakan pedangnya berubah.
Pedangnya menyambar-nyambar dalam gerakan yang amat indah dan halus.
Namun di dalam kehalusan ini tersembunyi gerakan-gerakan menyerahg yang maha dahsyat.
Inilah Sian-Li Kiam-hoat atau ilmu pedang bidadari yahg indah dilihat namun berbahaya sekali dilawan.
Koai-Tung Toanio tidak mau menyerah kalah begitu saja.
Biarpun ia terkesiap juga menyaksikan ilmu pedang yang aneh ini, namun ia memutar tongkat makin cepat dan mengerahkan segala kepandaian untuk rnengalahkan lawan.
Betapapun juga ia berusaha, tetap saja sinar pedang yang sukar diduga perubahannya itu, makin lama makin mendesak sinar tongkatnya dan makin lama ia makin merasa terkurung oleh sinar pedang yang bergulung-gulung dan yang membuat pandangan matanya berkunang.
"Pergilah!"
Terdengar seruan Im Giok.
Tangan kirinya dengan gerakan cepat telah berhasil mencengkeram tongkat lawannya dan kalau ia mau, pedangnya dapat ditusukkan.
Akan tetapi Im Giok tidak bermaksud membunuh lawannya, maka sebagai gantinya pedang, ia hanya menendang.
Tubuh Koai-Tung Toanio terlempar dan tongkatnya terampas.
Namun nenek ini memang tinggi kepandaiannya.
Biarpun ia sudah terluka oleh tendangan itu dan tubuhnya terlempar, ia masih dapat menjaga diri sehingga jatuhnya berdiri!
Ia memandang kepada Im Giok dengan mata melotot marah.
Kemudian ia melompat ke atas kudanya, diikuti oleh dua,orang puterinya.
"Toanio, ini tongkatmu ketinggalan!"
Im Giok tertawa sambil melontarkan tongkat itu ke arah Koai-Tung Toanio.
Tanpa menoleh, nenek itu menghantam, tongkatnya sendiri dengan tangan kanan.
Terdengar bunyi keras dan tongkat itu patah menjadi dua, meluncur ke bawah dan menancap di atas tanah!
Im Giok menarik napas panjang.
"Kepandaiannya tinggi dan mengagumkan, sayang wataknya tidak patut sekali."
Tiauw Ki menghampiri Im Giok dan memegang lengannya.
"Moi-moi, bukan main hebatnya engkau ini. Benar-benar aku kagum sekali melihatmu dan makin terasalah olehku betapa tiada gunanya aku ini. Aku seorang laki-laki yang lemah, sedangkan kau... ah, kau benar-benar seorang bidadari yang sakti..."
"Husshhh, Twako. Ada pasukan berkuda datang!"
Suara Im Giok terdengar agar khawatir ketika mengucapkan kata-kata ini dan merenggut lengannya terlepas dari pegangan Tiauw Ki.
Pemuda itu menoleh dan benar saja, debu mengepul tinggi mengiringkan pasukan berkuda yang datang dengan cepat.
Setelah dekat, Im Giok dan Tiauw Ki saling pandang dengan muka berubah melihat bahwa pasukan berkuda terdiri dari empat puluh orang lebih itu dipimpin oleh Lie Kian Tek, Cheng-Jiu Tok-Ong, juga banyak terdapat Perwira-Perwira pembantu Suma-Huciang, di antaranya terlihat juga Sin-Touw-Ong Si Raja Copet.
Mereka semua kelihatan marah dan kini mereka telah berhadapan dengan Im Giok dan Tiauw Ki.
"Pembunuh keji, menyerahlah agar kami tak usah menggunakan kekerasan!"
Kata Lie Kian Tek sambil mencabut pedangnya.
"Eh, tikus, kau memaki siapakah?"
Im Giok membentak dengan marah. Ia masih merasa benci kepada kongcu yang ceriwis ini. Lie Kian Tek tertawa bergelak dan menengok kepada kawan-kawannya.
"Lihat, pandai benar perempuan ini bermain sandiwara, seakan-akan ia Suci bersih dan tidak tahu apa-apa. Ha, ha, ha!"
Kemudian ia memandang kepada Tiauw Ki dan berkata.
"Pengkhianat pengecut! Kau mengaku sebagai keponakan Suma-Huciang, tidak tahunya kau adalah penjahat besar yang datang dengan niat buruk. Kau tidak lekas menyerah dan mengakui dosamu?"
Tiauw Ki mengerutkan kening dan bertanya.
"Kedosaan apakah yang telah kuperbuat?"
Dan terhadap Sin-Touw-Ong Siauw Hap, Raja Copet yang kate itu ia bertanya.
"Siauw-Sicu, sebetulnya ada apakah maka kau juga datang menyusulku? Apakah ada pesanan sesuatu dari Suma Taijin?"
Si Kate yang sudah dikenal sebagai pembantu setia dari Suma-Huciang itu, nampak bingung menghadapi Tiauw Ki dan Im Giok. Kemudian ia berkata dengan suara duka.
"Suma-Taijin telah meninggal dunia, kami telah mendapatkan beliau rebah di lantai kamarnya dengan leher putus!"
"Apa katamu...??"
Tiauw Ki menjadi pucat mukanya dan juga Im Giok terkejut bukan main. Terdengar suara ketawa dingin dari Lie Kian Tek.
"Gan Tiauw Ki penjahat besar, jangan kau berpura-pura kaget. Kami bukan anak-anak kecil dan kami sudah tahu bahwa pembunuhan atas diri Suma-Taijin adalah perbuatanmu dengan pengawaimu yang cantik. Semua tamu malam tadi pulang atau kembali ke rumah Penginapan, hanya kau dan pengawamu saja yang bermalam di rumah Suma-Taijin. Ada pula yang bermalam akan tetapi di bagian lain, tidak seperti kalian yang bermalam di dekat kamar Suma-Taijin di bawah satu wuwungan! Dan pula, kalau tamu lain masih ada pagi hari ini, kau dan pengawalmu tanpa pamit telah minggat pergi. Bukti-bukti sudah jelas apakah kau masih hendak menyangkal?"
"Bohong! Fitnah belaka!"
Tiauw Ki memaki marah.
"Siapa percaya akan tuduhan dusta ini? Aku dan nona ini sama sekali tidak tahu-menahu tentang pembunuhan itu dan kami malam tadi pun sudah berpamit kepada Suma-Taijin!"
Lie Kian Tek tertawa bergelak.
"Tidak ada pembunuh mengaku telah membunuh orang seperti juga tidak ada maling mengaku telah mencuri barang. Hayo tangkap orang ini, kita harus menyeretnya ke pengadilan!"
Pasukan itu, didahului oleh Cheng-Jiu Tok-Ong, bergerak menyerang.
Gerakan Cheng-Jiu Tok-Ong cepat sekali dan sekali kakek ini melompat turun dari kudanya menubruk, di lain saat Tiauw Ki sudah diringkusnya dan sebuah totokan membuat pemuda itu lemas tidak berdaya lagi.
"Lepaskan dia!"
Im Giok berseru marah sekali melihat perlakuan orang terhadap kekasihnya.
Ia menerjang dan menyerang Cheng-Jiu Tok-Ong.
Kakek ini cepat menggerakkan tangan menangkis sambil mencabut goloknya yang bersinar hijau.
Juga orang-orang lain telah mencabut senjata, sedangkan Lie Kian Tek berteriak.
"Perempuan Pemberontak, kau lah yang membunuh Suma-Taijin!"
Kata-kata ini membuat Im Giok marah sekali dan dilain saat ia telah dikurung oleh banyak orang.
"Nona, lebih baik kau menyerah!"
Kata Sin-Touw-Ong Siauw Hap yang merasa sayang sekali kalau sampai gadis ini terluka.
Sebetulnya Raja Copet ini pun meragukan bahwa Im Giok telah membunuh Suma-Huciang, akan tetapi bukti-buktinya memang memberatkan Tiauw Ki dan Im Giok sehingga sebagai alat negara ia pun harus ikut bantu menangkap pembunuh Suma-Huciang.
Im Giok mengamuk.
Gadis ini maklum bahwa setelah terjatuh ke dalam tangan orang seperti Lie Kian Tek, keselamatan Tiauw Ki terancam bahaya besar maka ia hendak menolong pemuda kekasihnya itu dengan kekerasan.
Sebentar saja ia dikurung hebat sekali oleh Cheng-Jiu Tok-Ong, Sin-Touw-Ong dan Perwira-Perwira lain yang cukup tinggi kepandaiannya.
Namun Im Giok tidak gentar.
Untuk menolong Tiauw Ki, ia rela mengorbankan nyawa.
Lebih baik mati bersama daripada membiarkan kekasihnya dibikin celaka orang.
Akan tetapi keadaan lawan terlampau berat.
Menghadapi seorang Cheng-Jiu Tok-Ong saja masih sukar ia mengalahkan, apalagi dikeroyok oleh belasan orang.
Memang, selain Cheng-Jiu Tok-Ong dan Sin-Touw-Ong, yang lain-lain hanya menyerang dari jarak jauh dan tidak berani terlalu mendekat, akan tetapi cara ini bahkan melelahkan Im Giok.
Gadis ini tidak dapat merobohkan mereka yang mengeroyoknya dari jarak jauh, sedangkan untuk mengerahkan kepandaian melayani Cheng-Jiu Tok-Ong dan Sin-Touw-Ong, ia selalu diganggu oleh para pengeroyok yang menyerangnya dari jauh dari kanan kiri dan belakang.
"Giok-moi, menyerah saja, Giok-moi. Kita tidak berdosa, biar mereka membawa kita ke pengadilan!"
Tiauw Ki berseru kepada Im Giok karena pemuda ini merasa gelisah sekali melihat kekasihnya dikeroyok oleh banyak orang dan terdesak hebat.
Mendengar ini, Im Giok pikir betul juga.
Belum tiba saatnya melakukan pertempuran mati-matian.
Mereka hanya disangka menjadi pembunuh dan di depan pengadilan mereka dapat menyangkal.
Kalau nanti mereka tetap saja difitnah dan tidak ada jalan keluar lagi, barulah ia akan mempergunakan pedangnya.
Maka cepat ia melompat keluar kalangan pertempuran dan membentak.
"Aku akan menyerah dengan syarat bahwa Gan-Twako dan aku diberi kebebasan ikut ke tempat pengadilan. Aku tidak sudi dijadikan tawanan dan diikat!"
"Enak saja kau bicara!"
Cheng-Jiu Tok-Ong membentak dan hendak menyerang lagi, akan tetapi Lie Kian Tek berkata.
"Locianpwe, biar kita menerima syaratnya!"
Mendengar ini, Cheng-Jiu Tok-Ong membatalkan niatnya dan memandang dengan muka merah. Lie Kian Tek lalu menghadapi Im Giok dan berkata.
"Kami menerima syaratmu. Mari kau ikut dengan kami. Aku berjanji bahwa kalian berdua akan diperiksa dengan adil."
Sambil berkata demikian, Lie Kian Tek tersenyum ramah kepada Im Giok, berusaha mengambil hati gadis ini dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang manis.
Akan tetapi Im Giok sama sekali tidak tertarik.
"Lebih dulu bebaskan Gan-Twako!"
Katanya sambil menunjuk ke arah Tiauw Ki yang lemas terduduk di atas tanah.
Pemuda ini sudah tertotok dan biarpun dapat bicara, namun tak mampu menggerakkan kaki tangannya!
"Locianpwe, harap bebaskan dia!"
Kata Lie Kian Tek kepada Cheng-Jiu Tok-Ong.
Kakek ini nampak ragu-ragu, maka Im Giok lalu melompat maju menghampiri Tiauw Ki dan sekali menepuk punggung pemuda itu, Tiauw Ki terbebas dari pengaruh totokan dan dengan bantuan Im Giok dapat berdiri lagi.
Wajahnya merah sekali karena diam-diam pemuda ini menyesal mengapa ia begitu lemah.
Ia memandang kepada Im Giok dan biarpun mulutnya tidak berkata sesuatu, sinar matanya menyatakan bahwa ia akan menyelamatkan mereka berdua apabila mereka dihadapkan ke depan pengadilan.
Hal ini Im Giok maklum pula karena ia pun tahu bahwa pemuda ini adalah kepercayaan Kaisar dan tentu saja mempunyai pengaruh terhadap para hakim.
Lie Kian Tek berkata kepada Sin-Touw-Ong dan beberapa orang Perwira yang datang dari Tiang-Hai untuk pulang saja dan memberi laporan kepada para pembesar di Tiang-Hai bahwa dua orang pembunuh sudah menyerah.
"Aku hendak membawa mereka ke Kota Raja,"
Kata Lie Kian Tek.
"Urusan membunuh Suma-Huciang adalah urusan besar dan karenanya mereka harus diadili di Kota Raja!"
Karena kalah pengaruh dan kalah kedudukan, Sin-Touw-Ong dan para Perwira menurut saja.
Mereka lalu kembali ke Tiang-Hai seperti yang diperintahkan oleh Lie Kian Tek bersama Cheng-Jiu Tok-Ong dan anak buahnya lalu membawa Im Giok dan Tiauw Ki melanjutkan perjalanan.
Tiauw Ki dan Im Giok menunggang kuda di tengah-tengah rombongan sehingga mereka seakan-akan dikurung terus.
Wajah Tiauw Ki nampak berseri dan beberapa kali ia memandang kepada Im Giok sambil tersenyum geli.
Im Giok membalas senyumnya.
Gadis ini juga merasa geli akan ketololan Lie Kian Tek.
Tiauw Ki datang dari Kota Raja dan menjadi kepercayaan Kaisar.
Sekarang pemuda ini ditangkap dan hendak dihadapkan di depan pengadilan di Kota raja!
Ini sama halnya dengan menangkap seekor ikan dari kolam untuk dilepaskan di sungai besar!
Oleh karena inilah maka Im Giok juga tidak peduli ketika ia dikurung rapat-rapat dan memang sukar kalau sekaligus para pengurung itu menyerangnya.
Juga ia tidak peduli ketika kurang lebih lima li kemudian, di persimpangan jalan muncul serombongan pasukan terdiri darl lima puluh orang lebih yang temyata adalah anak buah dari Lie Kian Tek pula dan yang kini menggabungkan diri menjadi barisan besar.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di persimpangan jalan lagi dan Lie Kian Tek memimpin pasukannya membelok ke kiri, Tiauw Ki berseru keras.
"Hee! Mengapa ke kiri? Jalan ke Kota Raja adalah terus ke utara!"
Tiba-tiba pasukan itu bergerak dan lebih dari lima puluh batang tombak panjang ditodongkan ke arah Im Giok! Terdengar Lie Kian Tek tertawa bergelak.
"Gan Tiauw Ki, kalau kau ingin selamat, keluarkan surat dari Suma-Huciang untuk Kaisar dan berikan kepadaku!"
Kata putera gubemur itu.
Im Giok terkejut.
Ia kini dapat menduga kesemuanya.
Tak salah lagi bahwa Suma-Huciang tentu dibunuh oleh kaki tangan orang she Lie ini dan kini teringatlah ia akan tiga orang wanita yang telah bertempur dengannya tadi.
Besar sekali kemungkinannya bahwa tiga orang wanita itulah yang membunuh Suma-Huciang dan mereka itu tentu kaki tangan orang she Lie ini pula.
Kemudian Lie Kian Tek sengaja menuduh Gan Tiauw Ki dan dia sehingga para Perwira di Tiang-Hai dapat ditipunya dan diajak menangkap Tiauw Ki.
Kemudian putera gubemur yang amat licin itu sengaja menyuruh Sin-Touw-Ong dan lain Perwira dari Tiang-Hai untuk kembali ke Tiang-Hai dan memberi tahu bahwa dia hendak mengantar Tiauw Ki ke Kota Raja untuk diadili!
Hemm, kalau dilihat begini, ternyata bukan Lie Kian Tek yang bodoh, melainkan Tiauw Ki dan dia yang mudah ditipu dan sebaliknya orang she Lie itu ternyata cerdik dan penuh siasat!
Im Giok mencabut pedangnya, akan tetapi segera belasan ujung tombak yang runcing telah menempel di tubuhnya dari kanan kiri dan depan belakang, demikian pula tubuh Tiauw Ki telah ditodong oleh belasan mata tombak!
Kembali terdengar Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.
"Ha-ha-ha, Nona manis! Sebelum kau bergerak, kau dan sahabatmu ini akan menjadi mayat. Gan Tiauw Ki, lekas kau menjawab, pesanan apa yang kaudapat dari Suma-Huciang untuk Kaisar!"
Sudah gatal-gatal mulut Tiauw Ki untuk mengumpat caci putera gurbernur itu.
Ia tidak takut mati dalam menunaikan tugasnya.
Akan tetapi pemuda ini menengok ke arah Im Giok dan gemetarlah seluruh tubuhnya.
"Lie Kian Tek, kau bebaskan dulu Nona itu. Biarkan dia pergi dari sini. Dia tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan kita dan dia bersamaku hanya kebetulan saja. Bebaskan dia dan aku akan mengaku semuanya kepadamu."
"Bebaskan dia? Ha-ha, kau kira aku begitu bodoh? Kalau dia dibebaskan tentu dia akan menimbulkan keributan lagi."
"Tidak! Aku yang tanggung dia tidak akan menimbulkan keributan,"
Kata Tiauw Ki cepat-cepat dan pemuda ini menoleh kepada Im Giok sambil berkata.
"Giok-moi, kuminta dengan sangat agar kau jangan mencampuri urusanku dan lebih baik kau segera pulang ke tempatmu sendiri."
Im Giok menjadi pucat mukanya.
Ia merasa menyesal dan kecewa sekali melihat betapa pemuda pujaan hatinya kini tiba-tiba menjadi begitu lemah, mudah saja hendak mengaku seakan-akan sudah takut akan kematian.
Pemuda macam ini tidak patut menjadi kekasihnya dan ia merasa kecewa bukan main.
Dua titik air mata membasahi matanya dan sudah akan menetes turun kalau saja tidak lekas-lekas ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaan.
"Jadi kau hendak mengaku semuanya? Hemm, baiklah, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi..."
Katanya dengan suara sayu sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang.
Hatinya sakit bukan main.
Ia bersiap-sedia mengorbankan nyawa untuk melindungi kekasihnya ini yang menunaikan tugas penting dan mulia.
Tidak tahunya sekarang kekasihnya menggigil menghadapi ancaman tombak!
"Lie Kian Tek, bebaskan dia!"
Kata Tiauw Ki kepada putera gubemur itu tanpa mempedulikan sikap Im-Giok.
Lie Kian Tek ragu-ragu.
Ia tergila-gila kepada Im Giok dan mengaku di dalam hatinya bahwa ia jatuh cinta kepada gadis baju merah itu yang memiliki kecantikan begitu luar biasa sehingga baginya baru pertama kali ini selama hidupnya ia bertemu dengan gadis sejelita ini.
Akan tetapi, ia pun perlu sekali memancing keterangan dari mulut Tiauw Ki tentang pesanan Suma-Huciang.
"Lie Kian Tek, kalau kau tidak mau membebaskannya, jangan harap kau dapat mendengar pengakuanku!"
Kata pula Gan Tiauw Ki kepada Lie Kian Tek. Tiba-tiba Im Giok menjadi marah dan ia memandang kepada Tiauw Ki dengan mata berapi.
"Orang she Gan! kau kira aku takut mati? Tidak perlu keselamatanku ditebus oleh pengakuanmu! Kalau aku mau pergi, siapa berani menghalangiku?"
Sambil berkata demikian, Im Giok menggerakkan kepala kudanya, menerjang para pengepungnya sehingga para anggauta pasukan itu cepat-cepat minggir.
Mereka ini semua merasa lega bahwa Lie Kian Tek tidak memberi aba-aba sesuatu, karena semua pengepung, kecuali Cheng-Jiu Tok-Ong, merasa kagum dan sayang sekali kalau mereka harus turun tangan melukai gadis yang demikian cantik jelita.
Ketika tadi mereka diharuskan menodongkan mata tombak kepada gadis itu, mereka merasa seolah-olah bersiap untuk disuruh merusak setangkai bunga yang amat cantik dan indah dipandang, bunga yang harum menimbulkan kasih sayang.
Sebaliknya, Im Giok merasa makin mendongkol karena Lie Kian Tek ternyata diam saja.
Ia sengaja berlaku begini untuk memancing supaya Lie Kian Tek mengeluarkan aba-aba menangkapnya dan ia akan mengamuk mati-matian.
Memang Im Giok maklum bahwa seorang diri saja tidak mungkin ia dapat menang menghadapi Cheng-Jiu Tok-Ong yang dibantu oleh lima puluh orang perajuritnya.
Akan tetapi untuk melindungi dan membela Tiauw Ki, ia siap mengorbankan nyawanya.
Kemendongkolannya terutama sekali dikarenakan sikap Tiauw Ki yang seakan-akan hendak menolongnya dengan jalan menjadi pengkhianat!
Memang sikap ini dapat dilakukan oleh seorang pemuda yang amat mencintanya, akan tetapi oleh Im Giok dianggap bukan perbuatan seorang gagah.
Membela kekasih boleh dengan taruhan nyawa, akan tetapi sama sekali tidak boleh mempertaruhkan kesetian terhadap negara dan mempertaruhkan nama kehormatan!
Kalau Tiauw Ki hendak menolongnya dengan jalan berkhianat, itu baginya bukan pertolongan, melainkan penghinaan besar!
Sebagai seorang kepercayaan Kaisar, seorang pemuda yang berjiwa patriot, seharusnya Tiauw Ki mengerti baik akan hal ini.
Maka dengan hati marah dan mendongkol Im Giok lalu membalapkan kuda meninggalkan tempat itu!
Untuk sejenak Tiauw Ki memandang ke arah bayangan merah di atas kuda itu dengan muka pucat dan wajah muram.
Akan tetapi setelah Im Giok tidak kelihatan lagi bayangannya, wajahnya menjadi tenang dan pemuda ini kelihatannya lega dan puas.
Tadinya ia memang merasa sakit hati sekali melihat betapa Im Giok marah kepadanya, akan tetapi setelah gadis itu pergi hatinya terhibur.
Biarlah, pikirnya, apapun juga yang menimpaku, asal dia itu selamat.
Ia lalu memandang kepada Lie Kian Tek dengan mata bersinar dan mulut tersenyum mengejek.
"Gan Tiauw Ki, dia telah kami bebaskan. Hayo kau lekas membuat pengakuanmu!"
Kata putera gubemur itu.
Ia ingin Tiauw Ki menjawab cepat-cepat karena masih ada harapan di dalam hatinya untuk nanti mengejar dan menawan bunga cantik itu!
Sebaliknya dari menjawab cepat-cepat, Tiauw Ki tertawa bergelak.
"Lie Kian Tek, kau telah menyuruh orang membunuh Suma-Huciang, kemudian kau menangkap aku dan memaksa aku mengaku tentang pesanan Suma-Huciang. Benar-benar perbuatanmu ini sudah melewati batas. Apakah kau tidak tahu apakah hukuman seorang Pemberontak?"
"Bangsat besar!"
Lie Kian Tek memaki dan tangannya menampar sehingga Tiauw Ki yang kena ditampar pipinya hampir saja terguling dari kudanya.
"Jangan banyak cakap, kau ingin hidup atau mampus? Kalau ingin hidup, lekas kau mengaku!"
Kembali Tiauw Ki tertawa dan bekas tamparan yang membuat pipinya menjadi matang biru itu tidak dirasakannya.
"Pemberontak she Lie, kau kira aku tidak mengetahui akal bulusmu? Biarpun aku mengaku, kau tetap akan membunuhku juga."
"Jahanam, apakah benar-benar kau tidak mau mengaku? Tadi kau sudah berjanji hendak mengaku kalau aku membebaskan perempuan itu. Aku sudah membebaskannya, kau tidak bisa melanggar janji."
"Siapa yang melanggar janji? Lie-siauwjin (manusia rendah she Lie), aku seorang laki-laki sejati, tidak biasa melanggar janji. Dengarlah, Suma-Huciang berpesan kepadaku agar supaya terhadap manusia macam engkau aku menutup mulut dan jangan mengatakan apa-apa. Nah, begitulah pesannya kepadaku!"
"Keparat, kau menipuku!"
"Kau berani bicara tentang menipu? Kiranya aku hanya mencontoh perbuatanmu, orang she Lie. Kau membunuh Suma-Huciang lalu menghasut para Perwira Tiang-Hai dan menuduhku, kemudian kau menyuruh mereka kembali ke Tiang-Hai dan pura-pura hendak membawaku ke Kota raja, semua itu bukankah akal busuk dan tipuan jahat? Aku hanya minta kau membebaskan Kiang-siocia agar supaya ia selamat dari tanganmu yang kotor dan jahat! Kau mau apa? Mau membunuhku? Bunuhlah, memangnya aku takut mampus? Mau siksa? Hayo, kau boteh lakukan apa saja. Pendeknya yang nyata, Kiang-siocia selamat dan rahasia Suma-Huciang dengan Kaisar juga selamat!"
Bukan main marahnya Lie Kian Tek.
Tangannya yang memegang cambuk kuda diayun.
Terdengar ledakan keras dan Tiauw Ki terguling dari kudanya.
Ketika ia merayap bangun, jidat dan lehernya terdapat bekas cambukan, merah biru dan mengalirkan darah.
Akan tetapi pemuda ini masih tetap tersenyum, matanya bersinar-sinar dan ia berdiri tegak menanti datangnya siksaan selanjutnya yang akan mengantar nyawanya ke tempat asal.
Sedikit pun ia tidak mengeluh dan sedikit pun tidak takut.
"Jahanam she Gan, kau masih tidak mau mengaku!"
Lie Kian Tek melompat turun dari kuda, diikuti oleh para pembantunya.
Kini pasukan itu mengundurkan kuda-kuda yang berada di situ dan duduk menonton mengelilingi Tiauw Ki merupakan lingkaran yang lebar.
Tiauw Ki hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Lie Kian Tek menggulung lengan baju sebelah kanan dan menggenggam erat-erat gagang cambuknya.
"Kau mau mengaku atau tidak?"
Sekali lagi putera gubemur ini membentak Tiauw Ki yang berdiri di depannya hanya menggeleng kepala sambil tersenyum tabah. Lie Kian Tek mengangkat dan mengayun cambuknya.
"Tar! Tar! Tar!"
Tiga kali bertubi-tubi cambuk itu mengenai muka Tiauw Ki dan darah muncrat dari bibir dan hidung pemuda she Gan itu, namun ia masih berdiri tegak dan sedikit pun tidak mengeluh.
"Jahanam, kau masih keras kepala?"
Sekali lagi Kie Kian Tek mengayun cambuknya, kini ke arah mata Tiauw Ki.
Tiauw Ki terhuyung dan sepasang matanya tak dapat dibuka lagi, pelupuk matanya menjadi bengkak!
Lie Kian Tek terus memukul, bahkan kini tangan kirinya ikut meninju, maka robohlah Tiauw Ki.
Biarpun menggeliat-geliat saking sakitnya, tidak sedikit pun pemuda ini mengeluh dan masih mencoba untuk berdiri.
Akan tetapi ia jatuh lagi dan menunjang tubuh dengan kedua lengannya yang ditahan pada tanah.
Pukulan cambuk masih menghujani tubuhnya dan pakaiannya bagian atas sudah robek dan hancur.
Nampak kulit punggung dan dadanya yang putih dan kini darah memenuhi kulit itu, membasahi pakaiannya yang compang-camping.
Akhirnya Lie Kian Tek menghentikan siksaannya.
Diam-diam ia merasa ngeri juga melihat kekerasan hati Gan Tiauw Ki.
Ia merasa lelah dan melempar cambuknya.
"Bedebah, benar-benar menggemaskan!"
Gerutunya.
"Cheng-Jiu Tok-Ong Locianpwe, harap kau gantikan aku memaksa jahanam ini mengaku. Periksa dulu semua isi sakunya!"
Cheng-Jiu Tok-Ong melangkah maju dan cepat mengeluarkan semua isi saku pakaian Tiauw Ki.
Akan tetapi ia tidak mendapatkan sesuatu yang penting.
Isi saku pemuda lni hanya dua buah kitab sajak beberapa helai kertas dan alat tulis dan akhirnya dari saku baju bagian dalam dikeluarkannya sebuah tusuk konde perak.
"Kembalikan itu kepadaku!"
Tiauw Ki berseru marah sambil mengulur tangan hendak merampas tusuk konde itu, benda keramat pemberian Im Giok.
Akan tetapi mana dapat ia merampas benda yang berada di tangan Cheng-Jiu Tok-Ong?
Sekali saja kakek itu menggerakkan tangan, Tiauw Ki telah didorong roboh dan benda ltu diberikan kepada Lie Kian Tek yang menerimanya sambil tersenyum mengejek.
"Hemm, agaknya kau punya kekasih, ya? Bagus, apakah kau tidak ingin hidup untuk dapat bertemu dengan kekasihmu itu?"
Sambil berkata demikian, Kian Tek menekuk-nekuk tusuk konde dan agaknya hendak ia patahkan.
Terdengar gerengan marah dan tahu-tahu Tiauw Ki sudah menubruknya dan dengan nekad merampas kembali tusuk konde itu!
Saking nekadnya, ia lupa akan segala dan kekuatannya bertambah.
Hal ini tidak disangka oleh Lie Klan Tek dan kawan-kawannya sehingga Tiauw Ki yang lemah itu berhasil merampas kembali tusuk konde pemberian Im Giok.
"Kau boleh merampas segala yang ada padaku, akan tetapi benda ini hanya akan berpisah denganku bersama nyawaku!"
Kata Tiauw Ki sambil memegang tusuk konde itu dengan kedua tangannya dan menekannya di dekat dada kiri. Melihat kelakukan pemuda ini, Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.
"Locianpwe, kau lah yang memaksa dia bicara. Kau tentu ada akal yang baik!"
Katanya.
Cheng-Jiu Tok-Ong menyeringai sambil menghampiri Tiauw Ki.
Kakek ini mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan ternyata bahwa yang dikeluarkannya itu seekor ular berwarna hitam!
Ular itu menggeliat-geliat diantara jari-jari tangannya dan lidah berwama kemerahan terjulur keluar masuk.
"Orang she Gan, sekali aku melepas ular ini dan menggigitmu kau akan mengalami rasa nyeri yang tak pernah dialami orang lain. Tubuhmu akan sakit-sakit semua selama sehari penuh dan kau akan menderita sepenuhnya karena kau takkan pingsan atau mati sebelum sehari penuh. Maka lebih baik kau mengaku, rahasia apakah yang harus kau sampaikan kepada Kaisar. Kau hanya mengaku saja, tak seorang pun akan melihat atau mendengar pengakuanmu ini. Apa sih sukarnya?"
"Siluman tua, aku tidak takut mati! Sejak semula aku tidak takut akan ancaman kalian dan tadi aku bersikap lemah hanya untuk memberi kesempatan kepada Giok-moi menjauhkan diri. Setelah dia selamat, keberanianku lebih besar lagi. Kau mau siksa, mau bunuh, mau apa pun, sesukamulah, aku tetap pada pendirianku. Aku seorang laki-laki dan kematian hanya berarti kebebasan daripada berdekatan dengan Siluman-Siluman macam kalian ini!"
Wajah Cheng-Jiu Tok-Ong menjadi merah dan ia marah sekali.
"Kau memang tidak boleh dikasihani. Rasakanlah hukumanku!"
Akan tetapi pada saat itu, terdengar beberapa orang menjerit dan dua orang perajurit roboh ketika bayangan merah berkelebat menerjang lingkaran itu.
Bayangan merah ini dengan gerakan luar biasa cepatnya telah tiba di dalam lingkaran dan sinar pedang yang berkilauan menyerang Cheng-Jiu Tok-Ong.
Kakek ini terkejut dan dalam gugupnya ia menangkis dengan ular hitam tadi.
"Crak!"
Tubuh ular itu terbabat putus dan Cheng-Jiu Tok-Ong berseru marah.
"Ang I Niocu, kau berani datang lagi?"
Memang, yang datang itu adalah Im Giok.
Dengan cepat gadis ini lalu melompat ke dekat Tiauw Ki dan berlutut.
Air matanya mengucur deras ketika ia melihat keadaan pemuda itu yang memandangnya dengan bibir tersenyum.
"Koko..."
Katanya perlahan.
"Giok-moi, mengapa kau kembali...?"
"Koko, aku akan mencarikan kebebasan untuk kita berdua, kalau tidak... kita akan mati bersama."
Im Giok merangkul leher pemuda yang sudah berlepotan darah itu dan Tiauw Ki mengeluarkan suara sedu sedan yang ditahan-tahannya. Ia terharu bukan main dan berbisik.
"Terima kasih, Moi-moi, hati-hatilah..."
Im Giok melepaskan pelukannya, lalu mendukung tubuh kekasihnya yang sudah lemas itu, disandarkannya di batang pohon yang tumbuh di situ.
Semua orang melihat gerakan gadis ini dengan senjata siap-siap di tangan.
Ada pula yang terharu menyaksikan adegan ini.
Kemudian Im Giok berdiri, pedang melintang di dada, mata berapi-api dan ia berkata.
"Sudah kulihat dan kudengar semua semenjak tadi. Lie Kian Tek, kau ternyata seorang pengkhianat dan Pemberontak yang berhati buas laksana srigala. Kau bebaskan Gan-Twako, atau aku akan membuka jalan darah! Andaikata gagal usahaku, aku dan Gan-Twako akan mati bersama di tempat ini, akan tetapi kiraku tidak sedikit orang-orangmu akan menghadap Giam-Kun (Malaikat Maut) lebih dulu sebelum aku roboh!"
Memang, tadi setelah dengan hati gemas dan mendongkol Im Giok meninggalkan Tiauw Ki bersama pasukan Lie Kian Tek, di tengah jalan Im Giok merasa tidak enak hati dan menyesal.
Ia sudah menyerahkan hatinya kepada Tiauw Ki dan ia sudah percaya betul akan sifat jantan dalam diri kekasihnya itu.
Mengapa tiba-tiba Tiauw Ki berubah menjadi seorang pengecut?
Mengapa Tiauw Ki tidak percaya kepadanya dan apakah artinya mati kalau tidak mati berdua?
Mengapa Tiauw Ki menyuruhnya dan membiarkannya pergi dan mengalah hendak membuka rahasia, hendak menjadi seorang pengkhianat?
"Tak mungkin!
Tak mungkin dia mau berbuat itu,"
Pikir Im Giok dan ia menghentikan larinya kuda.
Setelah berpikir sejenak ia lalu melompat turun dari kudanya, menambatkan kendali kuda itu pada sebatang pohon dan berlarilah Im Giok ke tempat tadi.
Ia mempergunakan ilmu lari cepat dengan kepandaiannya yang luar biasa ia dapat mendekati pasukan itu sambil bersembunyi dan menyelinap diantara pohon-pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu.
Ia sempat menyaksikan Tiauw Ki disiksa dan sempat mendengarkan kata-kata Tiauw Ki, melihat pula betapa kekasihnya dengan nekat merampas kembali tusuk konde pemberiannya.
Melihat semua ini, Im Giok tak dapat menahan mengalirnya air matanya.
Tepat seperti yang diduganya, Tiauw Ki tadi hanya menipu Lie Kian Tek untuk kesempatan kepadanya menyelamatkan diri.
Pemuda itu sama sekali bukan seorang pengecut dan sama sekali bukan pengkhianat, bahkan telah membuktikan bahwa dia seorang yang berani mati, seorang gagah dan yang mencintanya sampai di saat terakhir!
Demikianlah, Im Giok lalu menghunus pedang dan menerjang masuk, dan kini ia menghadapi Lie Kian Tek dan pasukannya dengan sikap tenang dan gagah.
Ia tidak takut apa-apa karena maklum bahwa andaikata ia gagal, ia akan mati bersama kekasihnya!
"Kepung dan tangkap dia!
Boleh lukai jangan bunuh!"
Lie Kian Tek berseru dan serentak Im Giok dikepung, didahului oleh Cheng-Jiu Tok-Ong yang menyerang dengan golok hijaunya.
Sekali lagi Im Giok mengamuk.
Tubuhnya berkelebat merupakan bayangan merah, pedangnya menyambar-nyambar lebih dahsyat daripada amukannya yang sudah-sudah karena sekarang selain hati gadis ini amat sakit melihat kekasihnya tersiksa, juga ia nekad untuk mati bersama kekasihnya, para pengeroyoknya menjadi kewalahan.
Terlena sedikit saja atau terlalu dekat sedikit saja, pasti pedang di tangan Im Giok mendapatkan mangsa dan roboh seorang pengeroyok.
Mereka mengepung dari jauh dan Lie Kian Tek memberi aba-aba.
Maka dikeluarkan orang tombak-tombak panjang dan jaring lebar.
Dengan dua macam senjata yang biasanya dipergunakan untuk menangkap harimau atau lain binatang buas ini, Im Giok kini dikepung!
Timbul kegembiraan para perajurit itu dan seperti kalau mereka menangkap harimau, kini mereka bersorak-sorak dan mendesak Im Giok dengan tombak-tombak panjang dan jaring yang amat kuat itu.
Lie Kian Tek memang suka sekali memburu binatang, bukan dibunuh melainkan ditangkap hidup-hidup, maka tiap kali pergi dengan pasukannya selalu anak buahnya tidak lupa membawa alat-alat menangkap binatang buas ini, yaitu jaring dan tombak-tombak panjang.
Menghadapi serangan istimewa ini, Im Giok menjadi marah sekali, juga amat bingung.
Ia mengamuk seperti singa betina, pedangnya menyambar-nyambar dan banyak tombak telah dapat ia patahkan dengan pedangnya.
Akan tetapi pihak pengeroyok terlalu banyak dan Im Giok merasa gugup juga menghadapi pengeroyok yang bersorak-sorak itu, maka setelah melawan mati-matian, akhirnya ia tidak dapat mengelak lagi ketika jaring yang lebar dan kuat dilempar dan menimpanya dari atas.
Bagaimana ia dapat mengelak kalau di depan belakang dan kanan kirl belasan tombak menghadangnya?
Ia membabat dengan pedangnya, akan tetapi jala atau jaring kedua kembali menimpa sehingga gadis itu kini benar-benar seperti seekor singa betina tertangkap!
Ketika Im Giok meronta terdengar suara kain robek dan terkejutlah gadis ini ketika mendapat kenyataan bahwa di sebelah dalam jaring ini dipasangi kaitan-kaitan kecil dari baja sehingga kalau ia berani meronta, tentu pakaiannya akan robek semua dan juga kulitnya akan terkait dan luka-luka.
Oleh karena itu, ia terpaksa tidak berani bergerak dan memasang kuda-kuda setengah duduk, di atas tanah, di dalam jaring-jaring itu.
Para perajurit bersorak-sorak gembira sekali.
Terdengar suara Lie Kian Tek tertawa terbahak-bahak.
"Keluarkan dia dan ikat kaki tangannya!"
Perintahnya dan suaranya terdengar gembira sekali.
Akan tetapi perintah ini hanya mudah diucapkan, sebaliknya amat sukar dilaksanakan.
Tadinya para perajurit yang ingin sekali memegang dan membelenggu gadis jelita itu, berebut maju.
Celaka bagi mereka, lima orang menjerit roboh dan tak dapat bangun lagi.
Seorang roboh ditendang, seorang terpukul oleh tangan kiri dan tiga orang tertusuk pedang!
Biarpun berada di dalam jaring, namun Im Giok masih tetap lihai dan sukar didekati.
Melihat ini, Cheng-Jiu Tok-Ong marah sekali.
Ia melompat maju dan secepat kilat tangannya bergerak mengirim totokan ke arah jalan darah di punggung Ang I Niocu Kiang Im Giok.
Ia mengira bahwa kalau diserang dari belakang, gadis yang berada di dalam jaring itu tentu sukar mengelak lagi.
Akan tetapi, akibatnya dia sendiri yang memekik kesakitan dan telapak tangannya terluka mengeluarkan darah.
Dalam keadaan terjepit seperti itu, hanya dengan mendengarkan suara angin pukulan, Ang I Niocu dapat menyusupkan pedangnya dari bawah lengan kiri dan menyambut totokan lawan itu dengan ujung pedang!
Karuan saja telapak tangan Cheng-Jiu Tok-Ong menjadi terluka dan kakek ini berjingkrak-jingkrak saking marahnya.
Ia lupa akan pesan Lie Kian Tek agar gadis itu jangan dibunuh.
Dalam kemarahannya, Cheng-Jiu Tok-Ong mencabut golok hijaunya yang beracun dan mengayun golok itu ke arah tubuh Ang I Niocu!
"Traaang...!"
Golok di tangan Cheng-Jiu Tok-Ong terpental kembali dan hampir saja terlepas dari tangannya, membuat kakek ini melompat mundur dengan kaget sekali.
Pada saat itu, seorang nenek tua yang entah darimana datangnya dan yang tadi telah menangkis golok Cheng-Jiu Tok-Ong dengan sepasang pedang yang berkilauan tajamnya, kini membabat jaring yang menutupi tubuh Im Giok.
Gadis ini sendiri pun dengan bersemangat mengerjakan pedangnya, membabat dari dalam sehingga sebentar saja jaring itu rusak dan ia dapat melompat keluar.
Di beberapa bagian tubuhnya terluka oleh kaitan, akan tetapi Im Giok tidak mempedulikannya.
Baik Im Giok, maupun Cheng-Jiu Tok-Ong dan semua orang yang berada di situ tidak mengenal siapakah gerangan nenek yang memegang sepasang pedang ini.
Wajahnya keriputan, rambutnya sudah putih semua, namun gerakan-gerakannya masih amat gesit dan lincah.
"Serbu...! Bunuh Siluman ini!"
Lie Kian Tek berseru keras.
Akan tetapi ia cepat mengangkat pedangnya ketika tiba-tiba nenek itu menyambar dan menyerangnya dengan pedang kiri, sedangkan pedang kanan merobohkan dua orang perajurit yang menghalang di jalan!
Lie Kian Tek menangkis, tangannya tergetar dan pedangnya terlempar!
Sinar putih meluncur ke arah lehernya dan putera gubemur ini sudah meramkan mata.
Baiknya Cheng-Jiu Tok-Ong cepat datang menolong.
Ditusuknya lambung nenek itu dengan golok hijaunya sehingga nenek itu terpaksa menarik kembali serangannya kepada Lie Kian Tek, kemudian menghadapi Cheng-Jiu Tok-Ong.
Mereka segera bertempur dengan hebat.
Adapun Im Giok kini sudah dikepung lagi, para perajurit sekarang maklum bahwa kalau tidak dibunuh, nona baju merah yang cantik jelita ini amat berbahaya, apalagi sekarang tiba bantuan seorang nenek yang seperti setan.
Mereka beramai mengeroyok, yang pandai maju di depan, yang kurang pandai hanya membantu di belakang dengan tombak atau toya panjang.
Im Giok memutar pedangnya, kini ia menyerang dengan ganas dan sebentar saja lima orang pengeroyok roboh bergelimpangan.
Karena Cheng-jiu Tok-ang tidak dapat ikut mengeroyok, tentu saja bagi Im Giok para pengeroyok itu merupakan makanan lunak!
Apalagi gadis ini merasa sakit hati dan marah sekali telah menerima hinaan, sekarang pembalasan yang ia lakukan benarbenar hebat dan membuat para pengeroyoknya kalang kabut.
Pertempuran antara nenek itu melawan Cheng-Jiu Tok-Ong yang dibantu oleh enam orang Perwira juga dahsyat sekali.
Kepandaian nenek itu tinggi bukan main, sepasang pedangnya menyambar-nyambar amat ganasnya.
Telah banyak orang yang roboh olehnya dan Perwira-Perwira yang membantu Cheng-Jiu Tok-Ong sudah beberapa kali berganti orang.
Diam-diam Cheng-Jiu Tok-Ong terkejut sekali ketika memperhatikan permainan pedang nenek ini.
Ia mengenal gerakan-gerakan ilmu pedang itu akan tetapi kalau ia melihat wajah yang keriputan ini, ia menjadi ragu-ragu.
(Lanjut ke
Jilid 14) Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14
"Tahan! Twanio, siapakah kau dan mengapa kau memusuhi kami?"
Cheng-Jiu Tok-Ong berseru.
Terdengar nenek itu tertawa dan orang menjadi terheran-heran mendengar suara ketawanya, begitu merdu seperti suara ketawa seorang gadis belasan tahun!
"Cheng-Jiu Tok-Ong, kau telah menjadi kaki tangan Pemberontak dan berani sekali menghina muridku.
Benar-benar keterlaluan!"
Seperti juga suara ketawanya, kata-katanya ini diucapkan dengan suara yang merdu sekali! Mendengar suara ini, Cheng-Jiu Tok-Ong dan Ang I Niocu hampir berbareng berseru.
"Bi Sian-Li Pek Hoa Pouwsat..."
Nenek yang berambut putih dan berwajah keriputan itu sekali lagi tertawa merdu, nadanya mengejek.
"Pek Hoa... mengapa kau menyerangku? Dia itu muridmu, akan tetapi mengapa berani sekali melawanku? Biarpun demikian, kalau kau menghendaki, aku bisa mengampunkan dia. Mari kita bicara baik-baik, Pek Hoa..."
Akan tetapi Pek Hoa Pouwsat atau nenek buruk itu hanya tertawa terkekeh-kekeh dan tiba-tiba sepasang pedangnya bergerak secara aneh sekali!
Gerakan ini disusul oleh seruan kaget dari para pengeroyoknya dan dalam beberapa gebrakan saja empat orang pengeroyoknya telah roboh dan tewas!
Cheng-Jiu Tok-Ong kaget setengah mati, apalagi ketika ia menyaksikan sepasang pedang dari bekas muridnya ini yang benar-benar luar biasa sekali, gerakannya demikian indah dan halus, dan nenek yang tubuhnya masih nampak langsing itu bergerak-gerak seperti orang menari secara amat menggairahkan!
Biarpun hal ini nampak lucu karena nenek itu tua, Namun tetap saja masih mendatangkan pengaruh yang luar biasa terhadap para pengeroyoknya.
Inilah ilmu pedang ciptaan Pek Hoa Pouwsat yang disebut ilmu pedang Bi-Jin-Khai-I, ilmu pedang yang mengandung kekuatan sihir dan bahkan sudah berhasil merobohkan Pendekar sakti seperti Han Le!
Juga Im Giok terheran-heran.
Tidak salah lagi pendengarannyag suara itu adalah suara bekas Gurunya, Bi Sian-Li Pek Hoa Pouwsat.
Akan tetapi dahulu Pek Hoa Pouwsat adalah seorang wanita yahg amat cantik jelita seperti bidadari, mengapa sekarang menjadi nenek-nenek tua sekali yang buruk?
Betapapun juga, kedatangan nenek yang membantunya ini dan melihat kelihaiannya, hati Im Giok menjadi besar dan pedangnya menjadi sinar bergulung-gulung seperti naga mengamuk.
Untuk mengimbangi keindahan permainan sepasang pedang Pek Hoa Pouwsat, Ang I Niocu lalu mainkan limu pedangnya yang seperti tarian indah, akan tetapi kehebatannya luar biasa sekali sehingga tiap kali berkelebat tentu ada lawan yang roboh!
Betapapun juga sepak terjang Im Giok, masih belum ada artinya kalau dibandingkan dengan Pek Hoa Pouwsat.
Nenek ini benar-benar mengerikan sekali sepak terjangnya.
Kalau pedang kanan atau kiri di tangannya berkelebat, bukan satu orang yang roboh, sedikitnya ada tiga orang roboh tak bemyawa lagi.
Sebentar saja di tempat itu berubah menjadi tempat yang mengerikan di mana mayat bertumpuk-tumpuk dan darah membanjir.
Cheng-Jiu Tok-Ong makin terdesak hebat oleh sepasang pedang bekas muridnya sendiri itu.
Ngeri ia memikirkan betapa ia terancam bahaya maut di tangan bekas muridnya sendiri.
Terbayanglah semua peristiwa yang terjadi dahulu ketika Bi Sian-Li Pek Hoa Pouwsat masih menjadi muridnya.
Pek Hoa adalah seorang anak perempuan yatim-piatu, karena Ayah bundanya yang menjadi kepala penyamun telah tewas di dalam tangan Cheng-Jiu Tok-Ong.
Melihat bocah perempuan yang berkulit halus putih dan berbibir merah itu, Cheng-Jiu Tok-Ong tertarik lalu membawanya pulang dan bocah berusia tujuh tahun ini diambil menjadi muridnya.
Pek Hoa menjadi dewasa dalam asuhan orang yang berwatak bejat, bahkan Cheng-Jiu Tok-Ong tidak malu, untuk mempermainkan muridnya sendiri sehingga semenjak kecil Pek Hoa sudah diajar segala macam perbuatan buruk dan tak tahu malu.
Akhimya Pek Hoa meninggalkannya dan kemudian ia mendengar bahwa bekas murid, juga bekas kekasihnya itu telah menjadi murid Thian-te Sam-kauwcu dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.
Sekarang, teringat akan ini semua, Cheng-Jiu Tok-Ong mengeluarkan keringat dingin.
Sangat boleh jadi bahwa Pek Hoa yang kini sudah kenyang akan pengalaman di dunia kang-ouw, dapat menduga bahwa dialah yang telah membunuh Ayah bunda dari Pek Hoa.
Boleh jadi sekali bekas muridnya ini sekarang datang untuk membalas dendam!
Teringat akan hal ini, Cheng-Jiu Tok-Ong lalu berlaku nekad dan diam-diam ia mengeluarkan jarum-jarumnya yang beracun, juga mengeluarkan Cheng-Tok-See (Pasir Hijau Beracun).
Ia maklum bahwa ia tidak akan mendapat ampun dan pula tidak mungkin baginya untuk melepaskan diri lagi.
Maka ketika kembali Pek Hoa Pouwsat merobohkan empat orang kawannya sehingga yang lain-lain menjadi gentar dan menjauhkan diri, Cheng-Jiu Tok-Ong mempergunakan kesempatan selagi Pek Hoa mencabut pedangnya dari tubuh lawan yang dirobohkan, segera menyerang bertubi-tubi.
Jarum dan pasir beracun disambitkannya dan semua ini dibarengi dengar serangan golok Cheng-tok-to secara nekad dan mati-matian.
Pek Hoa Pouwsat terkejut juga menghadapi serangan ini.
Ia berhasil menangkis golok dan mengelak ke kiri, terus menusukkan pedangnya yang tepat mengenai ulu hati bekas Gurunya.
Akan tetapi tiga batang jarum juga tepat mengenai leher, pundak, dan dadanya!
Tiga batang jarum ini adalah Cheng-Tok-Ciam dan Pek Hoa tahu bahwa nyawanya takkan tertolong lagi.
Ia membiarkan jarum-jarum ini menelusup memasuki dagingnya dan sambil tertawa terkekeh-kekeh melihat Gurunya berkelojotan lalu tewas, ia mengamuk terus!
Di lain pihak, Im Giok dalam amukannya melihat Lie Kian Tek berlari mendekati Tiauw Ki dengan pedang terangka tinggi.
Gadis ini maklum akan maksud putera gubemur ini, tentu hendak membunuh kekasihnya yang masih duduk tak berdaya karena luka-lukanya.
Cepat ia melompat bagaikan terbang dan tepat sekali datangnya ini.
Terlambat sedikit saja tentu kekasihnya tak dapat ditolong pula.
Dengan gemas ia menangkis sambil mengerahkan tenaga.
Terdengar suara keras dan pedang di tangan Lie Kian Tek terbabat putus dan di lain saat tubuh putera Gubernur itu terlempar jauh terkena tendangan kaki Im Giok!
Im Giok masih marah dan hendak mengejar tubuh Lie Kian Tek yang sudah pingsan itu untuk dibunuhnya, akan tetapi ia dihadang oleh belasan orang Perwira sehinggi ia mengamuk lagi.
Para perajurit dan Perwira-Perwiranya melihat betapa Lie Kian Tek sudah terluka hebat dan Cheng-Jiu Tok-Ong sudah tewas, menjadi lenyap semangat mereka.
Apalagi sudah terlalu banyak kawan mereka yang tewas.
Maka sambil membawa tubuh Lie Kian Tek yang pingsan, mereka lalu melarikan diri di atas kuda dan membalapkan kuda tunggangan mereka!
Im Giok sudah terlalu lelah untuk mengejar mereka.
Sebaliknya, ia melihat Pek Hoa Pouwsat mengeluh, melepaskan sepasang pedangnya dan terhuyung-huyung mau roboh.
Cepat Im Giok melompat dan memeluk wanita itu.
Melihat betapa Pek Hoa telah menjadi seorang wanita yang mukanya tua dan buruk seperti iblis, dan melihat pula betapa bekas Gurunya ini sekarang menderita luka berat dalam usahanya menolong nyawanya, hati Im Giok menjadi terharu sekali dan semua kebencian yang timbul di hatinya terhadap bekas Guru ini lenyap, terganti oleh kasih sayang yang hangat seperti yang dulu terkandung di hatinya terhadap bekas Guru ini.
"Enci Pek Hoa..."
Bisiknya sambil memondong tubuh bekas Gurunya itu, dibawa ke tempat yang bersih dari tumpukan mayat.
Tiauw Ki menguatkan tubuh dan setengah merangkak ia pun menghampiri tempat itu.
Pek Hoa Pouwsat membuka matanya dan terlihatlah oleh Im Giok bahwa nenek ini benar-benar Pek Hoa Pouwsat Gurunya.
Sepasang mata yang bersinar-sinar dan bening bagus itu memang mata Pek Hoa.
Tidak ada wanita kedua yang memiliki mata sebagus mata Pek Hoa, demikian pikir Im Giok.
Ketika pandang matanya melihat luka di leher, pundak, dan dada yang mengeluarkan darah hijau, Im Giok menahan isak.
"Enci Pek Hoa...!"
Bisiknya lagi. Pek Hoa tersenyum dan terbukalah mulutnya yang ompong. Im Giok bergidik. Dahulu gigi Pek Hoa bukan main indahnya, berderet rapi dan putih bersih laksana mutiara.
"Im Giok, anak baik, kau makin cantik saja..."
Kemudian ia muntahkan darah yang wamanya hijau pula.
"Im Giok..., aku... aku takkan lama lagi dapat bertahan... kau cantik, sayang sekali kalau lenyap kecantikanmu... kau pergilah ke Pek-Tiauw-San (Gunung Rajawali Putih) carilah telur Pek-Tiauw... campur dengan obat ini... kau minum setengah tahun sekali... selama hidup kau akan tinggal muda dan cantik..."
Pek Hoa menghentikan kata-katanya dan tangannya mengeluarkan sebuah bungkusan, kemudian ia tertawa ha-ha-hi-hi, nampaknya geli dan seperti ada sesuatu yang lucu, tertawa terus akan tetapi suara ketawanya makin lama makin lemah sehingga akhirnya terhenti sama sekali!
"Enci Pek Hoa, kau mati karena aku...
terima kasih..."
Bisik Im Giok di dekat telinga bekas Gurunya dan tak tertahan pula dua titik air mata menetes di kedua pipinya.
Sayang sekali Im Giok tidak sempat mendengar tentang pengalaman Pek Hoa, tidak tahu tentang riwayatnya sehingga ia menyimpan obat pemberian bekas Gurunya itu tanpa ragu-ragu lagi.
Kalau saja ia tahu...
kiranya ia akan membuang obat itu jauh-jauh dengan ngeri hati.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah dikalahkan oleh Bu Pun Su dan terusir dari Pulau Pek-Hio-To, Pek Hoa-Pouwsat pergi dengan hati perih sekali.
Ia tidak berdaya menghadapi Bu Pun Su kakek sakti itu dan betapapun sakit hatinya, ia tak dapat berbuat apa apa.
Yang lebih menyakitkan hatinya adalah karena ia telah mengandung.
Ia mendekati dan menggoda Han Le bukan sekali-kali karena ia mencinta pengemis Sakti itu.
Tadinya ia bermaksud menundukkan Han Le agar cita-citanya membalas dendam tercapai, agar ia mendapat pembantu yang lihai.
Memang ia berhasil karena bukankah ia telah berhasil menewaskan Bok Beng Hosiang dan Kok Beng Hosiang dua orang tokoh Siauw-Lim-Pai, juga menewaskan Cin Giok Sianjin tokoh Kun-Lun-Pai atas bantuan Han Le!
Sayang sekali bahwa biarpun bantuan dari Han Le, tetap saja ia tidak mampu mengalahkan Bu Pun Su yang amat lihai itu.
Dan semua itu dibelinya dengan penghinaan hebat.
Tadinya ia hendak mengganggu Han Le, tidak tahunya ada juga rasa kasih sayang di dalam lubuk hatinya terhadap Han Le, apalagi ia telah mengandung!
Dan kini ia terusir dari pulau itu, terpisah dari Han Le dan sama sekali tidak dapat membalas dendamnya.
Bukan main marah dan kecewanya hati Pek Hoa.
Ia bersembunyi di dalam hutan lebat, menanti saat kelahiran anak yang dikandungnya.
Wanita ini memang berhati keras dan merupakan seorang yang luar biasa sekali.
Tanpa bantuan siapa-siapa, berkat Lwee-kangnya yang tinggi dan kepandaiannya yang sudah sampai di tingkat puncak, ia dapat melahirkan anak yang dikandungnya dengan selamat.
Akan tetapi apa yang terjadi?
Setelah anaknya terlahir, terjadi perubahan hebat pada dirinya!
Kulitnya mengeriput, rambutnya yang hitam panjang berubah menjadi putih, sebaliknya kulitnya yang putih menjadi hitam dan tubuhnya menjadi kurus kering!
Pek Hoa Pouwsat semenjak kecil mengutamakan kecantikan dan untuk menjaga kecantikannya ia bahkan setengah tahun sekali makan telur Pek-Tiauw yang dicarinya dengan susah payah.
Dengan obat ini ia memang tidak pemah tenjadi tua dan selalu tetap cantik dan muda.
Sekarang ia berubah menjadi demikian tua dan buruk, tentu saja hal ini merupakan pukulan yang hebat sekali baginya.
Ia tidak mengira sama sekali bahwa khasiat obat itu akan musnah bahkan menjadi sebaliknya, merusak semua kecantikannya apabila ia mempunyai anak!
Kini baru ia tahu dan saking marah dan sedihnya, Pek Hoa Pouwsat seperti orang gila lalu membanting mati anaknya sendiri!
Kemudian ia lalu berlari-lari seperti orang gila, merantau ke sana ke mari sampai akhimya ia bertemu dengan Im Giok yang dikeroyok oleh Cheng-Jiu Tok-Ong dan orang-orangnya.
Melihat Cheng-Jiu Tok-Ong, timbullah kenang-kenangan lama yang membuat hatinya sakit, maka ia mengambil keputusan untuk membunuh bekas Gurunya ini.
Juga melihat Im Giok yang cantik jelita, Pek Hoa tersenyum seorang diri dan berkata.
"Dia harus menggantikan aku..., ha-ha, anak Kiang Liat harus merasai seperti aku pula..."
Demikianlah, Pek Hoa Pouwsat lalu menyerbu dan berhasil membunuh Cheng-Jiu Tok-Ong juga berhasil memberikan obatnya kepada Im Giok.
Biarpun untuk tercapainya dua maksud ini dia harus mengorbankan nyawanya.
Setelah Pek Hoa Pouwsat meninggal, Im Giok lalu menghampiri kekasihnya.
Keduanya berpelukan dan keduanya mengeluarkan air mata.
"Aduh, Giok-moi, sama sekali aku tidak mengira bahwa kita dapat bertemu dalam keadaan hidup,"
Kata Tiauw Ki. Im Giok meraba muka Tiauw Ki yang penuh luka-luka kecil akibat cambukan Lie Kian Tek, menjamah luka-luka itu dengan jari-jarinya yang halus, penuh kasih sayang.
"Kasihan sekali kau, Koko... kau maafkan aku yang telah meninggalkanmu seorang diri..."
"Tidak ada yang harus dimaafkan, adikku sayang. Aku memang sengaja membikin kau marah dan pergi, agar kau selamat..."
"Aku tahu, Koko, aku mengerti... alangkah besarnya kasih sayangmu kepadaku."
"Aku mencintamu lebih dari mencinta jiwaku sendiri, Giok-moi..."
Setelah keharuan mereka mereda, Tiauw Ki bertanya.
"Nenek yang menolong kita itu, siapakah dia?"
"Dahulu, di waktu kecil, dia pemah menjadi Guruku. Tadinya dia yang berjalan sesat, akan tetapi selalu aku tahu bahwa di dalam hatinya, ia amat sayang kepadaku. Dan ternyata benar..."
Suara Im Giok menjadi lambat penuh keharuan.
"Dia mengorbankan nyawa untukku... Aku harus merawat jenazahnya baik-baik, Twako. Dia harus dikubur baik-baik..."
Tiauw Ki menyetujui dan sibuklah mereka menggali lubang untuk mengubur mayat Pek Hoa Pouwsat.
"Bagaimana dengan mereka itu? Sudah sepatutnya mereka itu dikubur juga, bukankah mereka manusia?"
Tiauw Ki menuding ke arah tumpukan mayat yang berserakan di sana-sini dan suaranya gemetar.
Ngeri ia melihat mayat manusia yang jumlahnya dua puluh orang lebih itu.
Benar-benar hebat amukan Ang I Niocu dan Pek Hoa Pouwsat.
Im Giok memandang dan menarik napas panjang.
"Tak mungkin, Koko. Bagaimana kita berdua dapat mengubur mayat sebanyak itu? Apalagi tanpa ada alat untuk menggali lubang."
"Akan tetapi hatiku tidak menginginkan mereka itu ditinggalkan begitu saja menjadi makanan binatang buas..."
Tiauw Ki membantah.
"Jangan khawatir, Koko. Penduduk di sekitar tempat ini tentu akan mengurusnya. Pula, mereka itu adalah anggauta pasukan dari Lie Kian Tek, tentu kawan-kawan mereka akan datang kembali untuk mengurus mayat mereka. Dan lagi, kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Kalau mereka datang lagi membawa bala bantuan, celakalah kita. Aku sudah kehabisan tenaga dan tak mungkin dapat melawan lagi..."
Kebetulan sekali mereka masih dapat menemukan dua ekor kuda yang tadinya lari kacau-balau, maka cepat mereka menunggang kuda ini dan melarikan kuda menuju ke utara, ke Kota raja.
Di tengah perjalanan, Tiauw Ki berkata.
"Giok-moi, aku ingin sekali lekas-lekas menyelesaikan tugasku dan bersamamu pergi ke Siang-Koan menemui Ayahmu. Kalau... kau sudah menjadi isteriku, kau harus membuang jauh-jauh pedangmu dan selanjutnya kita hidup dalam damai dan tenteram. Aku tidak bisa membiarkan isteriku merenggut nyawa manusia sedemikian banyaknya...!"
Im Giok tersenyum.
Hatinya membantah, karena dalam hal pertempuran, membunuh atau terbunuh adalah hal biasa.
Akan tetapi ia tidak mau membantah dengan mulut karena maklum bahwa kekasihnya yang lemah itu baru saja terlepas dari bahaya maut dan baru mengalami sesuatu yang benar-benar menakutkan.
Perjalanan dilakukan cepat dan ketika mereka lewat di sebuah Kota, Im Giok membeli obat di toko obat untuk mengobati luka-luka kecil pada tubuh Tiauw Ki.
Kiang Liat yang melakukan perjalanan ke Go-Bi-San untuk menyampaikan surat dari Bu Pun Su kepada Ketua Go-Bi-Pai tidak mengalami rintangan dan sampai di puncak gunung itu dengan selamat.
Ia menghadap ciangbunjin dari Go-Bi-Pai, yakni Twi Mo Siansu, seorang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih dan sikapnya halus, tubuhnya tinggi kurus dan alisnya putih semua.
Kakek ini setelah membaca surat dari Bu Pun-Su, mengangguk dan tersenyum.
"Bu Pun Su benar-benar mengagumkan sekali. Sudah tua masih berhati muda, bergelora dan bersemangat. Jatuh-bangunnya sebuah kerajaan berada di tangan Thian Yang Maha Kuasa, orang-orang seperti kita ini mau bisa apakah?"
Mendengar kata-kata ini, di dalam hatinya Kiang Liat tidak setuju sama sekali.
Alangkah lemah dan pikunnya ketua Go-Bi-Pai ini, pikirnya.
Akan tetapi tentu saja ia tidak berani bilang apa-apa, hanya mendengarkan lebih lanjut.
Juga para murid Go-Bi-Pai yang berada di situ, yang jumlahnya belasan orang, tidak ada yang mongeluarkan suara.
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dan mengandung tenaga.
"Maafkan Teecu, Susiok. Teecu sudah berani berlancang mulut dan ikut-ikutan bicara dalam urusan yang sama sekali Teecu tidak berhak mencampuri. Akan tetapi, sungguhpun Teecu tunduk dan setuju akan kata-kata Susiok tadi bahwa apapun yang diusahakan oleh manusia, akhimya keputusan berada di tangan Thian, namun, sebagai manusia yang berakal budi, apalagi yang menjunjung tinggi keadilan dan kegagahan seperti kita, Teecu rasa sudah sepatutnya kalau kita berusaha demi keadilan dan kebajikan. Adapun akibat dan keputusannya, memang terserah kepada Thian Yang Maha Kuasa. Maafkan kalau pendapat Teecu keliru dan selanjutnya mohon petunjuk, Susiok."
Semua orang memandang kepada pembicara ini, juga Kiang Liat.
Ia melihat bahwa yang bicara itu adalah seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah, patut sekali menjadi seorang Pendekar.
Pakaiannya indah, pedangnya tergantung di pinggang, alisnya hitam dan matanya berapi-api.
Usianya paling banyak dua puluh lima tahun.
Kalau Kiang Liat memandang dengan kagum dan tertarik kepada pemuda ini, adalah lain-lain murid Go-Bi-Pai yang berada di situ memandang dengan muka merah dan ada yang khawatir.
Mereka menduga bahwa Twi Mo Siansu pasti akan marah sekali, karena sudah merupakan peraturan perguruan di situ bahwa para anak murid tidak sekali-kali boleh mencampuri percakapan antara Guru besar ini dengan tamu yang datang.
Apalagi untuk urusan yang besar dan yang belum dimengerti oleh para anak murid.
Akan tetapi pemuda ini telah berlancang mulut, tidak saja mencampuri percakapan, bahkan terang-terangan berani mencela pendirian Twi Mo Siansu!
Suasana menjadi sunyi dan tadinya Twi Mo Siansu menjadi merah mukanya, sepasang mata yang masih amat tajam berpengaruh itu memandang kepada pemuda gagah itu dengan marah.
Akan tetapi ketika bertemu dengan wajah yang tampan terbuka, mata yang berani menentangnya penuh pengertian itu, wajah kakek ini melembut kembali dan ia tersenyum.
"Bagus sekali, Liem Sun Hauw. Biarpun pendirianmu itu pikiran orang muda jalan dan tidak sejalan dengan pikiranku, akan tetapi aku setuju sekali! Kau murid Go-Bi-Pai dari luar kuil, tentu tidak tahu akan peraturan di dalam kuil, maka kelancanganmu itu kumaafkan. Sayang Suheng telah meninggal, kalau tidak tentu ia akan bangga sekali mendengar ucapan muridnya di depanku."
Kakek ini lalu tertawa dengan girang.
"Harap maafkan, Susiok. Sesungguhnya Teecu tadi telah lancang tanpa dipikir dulu, harap banyak maaf."
"Tidak apa, tidak apa. Bahkan kebetulan sekali. Aku sedang berpikir-pikir siapa gerangan orangnya yang dapat mewakili aku. Sudah kukatakan tadi bahwa biarpun tidak sejalan dengan pikiranku, aku setuju sekali dengan pendirianmu. Karena itu aku pun setuju dengan pendapat Bu Pun Su. Pendekar Sakti itu minta bantuanku agar supaya kita dari Go-Bi-Pai ikut mengamati-amati kalau-kalau ada pihak penyerang mendatangi dari utara, karena menurut pendapat Bu Pun Su, negara berada dalam bahaya dan ancaman musuh berbagai pihak. Hal ini dapat dilakukan oleh semua anak murid yang berada di sini melakukan penjagaan di sepanjang tapal batas sebagai pengawas. Akan tetapi tentang permintaan ke dua dari Bu Pun Su agar supaya aku turun gunung dan menghubungi kawan-kawan untuk memperkokoh persatuan dan melenyapkan pertikaian antara kawan sendiri, sungguh tak dapat kulakukan. kau lah, Sun Hauw, kau yang harus mewakili aku turun gunung!"
"Teecu siap sedia menjalankan perintah Susiok. Mohon nasihat dan petunjuk selanjutnya agar Teecu dapat melakukan tugas dengan baik,"
Jawab pemuda itu dengan suara tegas dan bersemangat.
"Kau hubungi semua tokoh besar dunia kang-ouw dan katakan bahwa aku sendiri sudah menyatakan setuju sekali akan pendapat Bu Pun Su bahwa pada saat seperti ini kita semua harus bersatu. Jangan sampai ada perpecahan diantara kita dan kalau misalnya ada, urusan itu harus dibereskan secara damai. Persatuan harus ditujukan untuk melindungi negara dan rakyat dari bahaya. Apabila benar-benar terjadi perang, tentu muncul banyak manusia jahat dan perlu sekali kita melindungi rakyat jelata dari penindasan mereka ini. Sampaikanlah salamku kepada mereka dan pertama-tama lebih tepat kalau kau pergi ke Bu-Tong-San mengingat bahwa Partai Bu-Tong-Pai pada waktu ini sedang ada urusan percekcokan dengan Kim-San-Pai. Katakan kepada Lo Beng Hosiang ciangbunjin dari Bu-Tong-Pai bahwa kalau dia mau mengadakan pertemuan damai dengan pihak Kim-San-Pai, boleh mempergunakan kuil kita di Go-Bi-San sini."
"Teecu sudah ingat akan semua pesan Susiok dan akan mentaati,"
Kata Sun Hauw, pemuda gagah itu. Tiba-tiba seorang di antara para anak murid Go-Bi-Pai yang duduk di situ, berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Maaf, Suhu. Teecu merasa kurang puas dengan diangkatnya Liem-Sute sebagai wakil Suhu. Hal ini menyangkut nama baik Partai kita, maka Teecu merasa ragu-ragu apakah kelak nama baik Partai kita tidak akan terancam bahaya. Liem-Sute baru saja datang di Go-Bi-Pai, baru tiga hari dan hanya menurut pengakuannya sendiri Suhu tahu bahwa dia adalah murid Thian Mo Siansu Supek. Bagaimana kalau dia itu sebenamya bukan murid Supek? Sungguhpun andaikata dia itu benar-benar murid Supek, masih belum boleh dia dianggap sebagai anak murid Go-Bi-Pai, mengingat bahwa antara Suhu dan Supek..."
"Cukup!"
Twi Mo Siansu membentak dan murid yang bicara tadi, seorang Tosu pula berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, tak berani melanjutkan kata-katanya dan duduk kembali.
"Tek Sin, aku mengerti akan maksud kata-katamu. Kita telah menerima tugas untuk menjadi tukang menggalang persatuan, bagaimana kita masih ingat akan perpecahan sendiri? Tidak, bagaimanapun juga, murid Suheng adalah murid Go-Bi-Pai pula. Keraguanmu tentang kemampuan Sun Hauw, memang tepat. Baiklah kau kuserahi tugas mengujinya apakah benar dia itu anak murid Go-Bi-Pai, dan apakah kiranya dia sudah cukup kuat untuk melakukan tugas mewakili aku."
Tek Sin Tojin terkejut.
Tak disangkanya bahwa ucapannya tadi membuat Suhunya marah dan ia kini diharuskan menguji Liem Sun Hauw!
Tek Sin Tojin adalah murid pertama dari Twi Mo Siansu dan tadi mendengar tugas mewakili Suhunya diberikan kepada pemuda itu, tentu saja ia merasa tidak senang.
Sekarang, ada jalan baginya untuk memperlihatkan bahwa pandangannya tepat dan bahwa Gurunya telah berlaku keliru menyerahkan tugas sepenting itu kepada seorang pemuda seperti Liem Sun Hauw yang baru saja datang dan mengaku sebagai murid Thian Mo Siansu.
"Teecu tidak berani menolak perintah Suhu,"
Katanya sambil berdiri, lalu katanya kepada Liem Sun Hauw.
"Liem-Sute, kau sudah mendengar sendiri perintah Suhu bahwa Pinto harus mengujimu. Oleh karena itu, marilah kita pergi ke Lian-Bu-Thia (Tempat Berlatih Silat)."
Liem Sun Hauw tersenyum dan menjura kepada Tosu yang tubuhnya tinggi besar ini.
"Twa-Suheng, Siauwte mana berani menolak? Hanya mengharap belas kasihan Suheng dan jangan berlaku terlalu keras kepada Siauwte yang masih hijau."
Sambil berkata demikian, Liem Sun Hauw lalu bersiap mengikuti Tek Sin Tojin pergi ke Lian-Bu-Thia.
"Tidak usah ke Lian-Bu-Thia, di ruangan inipun cukup lebar kalau hanya untuk menguji kepandaian saja, Tek Sin, kau coba kepandaian Sun Hauw ini di sini saja,"
Kata Twi Mo Siansu.
Semua anak murid Go-Bi-Pai lalu mengundurkan diri berdiri di pinggir untuk memberi tempat yang lega bagi dua orang yang hendak mengadu kepandaian itu.
Juga Kiang Liat yang sebagai tamu tidak berani turut bicara lalu minggir.
Ia melihat Tek Sin Tojin sebagai seorang Tosu tinggi besar yang jelas sekali bertenaga kuat dan dari pandang mata Tosu ini ia dapat mengetahui bahwa Tek Sin Tojin mempunyai Lwee-kang dan kepandaian yang tinggi.
Maka diam-diam ia mengkhawatirkan keadaan pemuda tampan itu.
Kiang Liat yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa Tek Sin Tojin merasa iri hati kepada Sun Hauw dan dalam ujian silat ini tentu saja Tosu itu berusaha untuk membikin malu dan merobohkan Sun Hauw.
Liem Sun Hauw menanggalkan jubah luarnya dan kini ia berpakaian ringkas, menambah kegagahannya karena nampak bentuk tubuhnya yang bidang dan tegap.
Ia berdiri di tengah ruangan menghadapi Tek Sin Tojin dengan tubuh direndahkan dan kepala ditundukkan, tanda menghormat kepada saudara tua.
"Liem-Sute, Pinto lihat ada Pokiam (Pedang Pusaka) tergantung di pinggangmu. Dalam ujian ini, apakah kau hendak mempergunakan pedang?"
Liem Sun Hauw menjura.
"Siauwte serahkan pada kebijaksanaan Suheng saja, bagaimana cara Suheng hendak menguji, Siauwte siap mentaati perintah."
"Hemm, kalau begitu cabut pedangmu. Biar aku menghadapi pedangmu dengan tangan kosong saja."
Liem Sun Hauw patuh.
Ia menghunus pedangnya dan nampak sinar putih berkilauan, tanda bahwa pedang itu adalah pedang yang baik.
Ia memutar pedangnya dengan gerakan indah dan cepat, tahu-tahu pedang itu kini telah dipegang di bagian pucuknya dan gagangnya disodorkan ke arah Tek Sin Tojin, tangan kiri dibuka terpentang di depan dada.
Melihat ini, Kiang Liat tahu bahwa biarpun kelihatannya aneh sekali memegang ujung pedang secara terbalik, namun gerakan ini bukanlah gerakan sembarangan dan tentu saja mempunyai arti tertentu.
"Ketika Suhu memberikan Gin-Kiam (Pedang Perak) ini kepada Siauwte, Suhu berpesan Siauwte jangan sekali-kali menggunakan pedang ini untuk menghina orang dan melawan bertangan kosong dalam pibu,"
Kata pemuda itu dengan sikap hormat. Twi Mo Siansu mengangguk-angguk girang.
"Ah kiranya Suheng masih ingat akan pesan SuCouw, masih ingat untuk mengajarkan peraturan ini kepada muridnya."
Memang Go-Bi-Pai terkenal keras dengan peraturan-peraturannya.
Di antaranya, seorang anak murid sama sekali tidak boleh memamerkan ilmu pedangnya, juga tidak boleh menghadapi lawan dalam pibu (pertandingan persahabatan) yang bertangan kosong dengan pedang.
Kalau terjadi lawan itu bertangan kosong menantang, ia harus menyerahkan pedang itu dengan sikap dan gerakan tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh Sun Hauw ini.
Tadi memang Tek Sin Tojin menguji apakah pemuda ini mengerti akan peraturan ini dan ternyata Sun Hauw mengerti baik!
"Kau memberikan pedangmu kepadaku?
Baik, kuterima dan awas terhadap caraku mengembalikannya!"
Kata Tek Sin Tojin.
Tangan kanannya menyambar dan di lain saat pedang itu telah berpindah ke dalam tangannya, Tosu tinggi besar itu lalu membuat gerakan melompat ke belakang, berjungkir balik tiga kali, kemudian pada jungkiran terakhir, ia menggerakkan tangannya dan pedang itu meluncur seperti anak panah menyambar ke arah dada Liem Sun Hauw!
Pemuda itu cepat meloloskan sarung pedangnya dan dengan gerakan indah namun cepat sekali ia menyambut pedang yang meluncur ke dadanya itu dengan sarung pedang dan...
tepat sekali pedang itu masuk ke dalam sarungnya, mengeluarkan suara keras!
Indah sekali gerakan dua orang itu.
Tek Sin Tojin melakukan gerakan menyambit yang merupakan jurus terakhir dari ilmu pedang Go-Bi-Pai, yakni gerakan yang digebut Sin-Liong Kian-Hwe (Naga Sakti Mengulur Ekor) yang dimaksudkan untuk dipergunakan pada saat terakhir atau pada saat sudah amat terdesak oleh lawan yang lebih tangguh.
Timpukan pedang yang tidak terduga-duga ini akan dapat menolong diri, kalau tidak berhasil merobohkan lawan, sedikitnya memberi kesempatan untuk melarikan atau menjauhkan diri!
Adapun Sun Hauw yang sudah menduga lebih dulu, telah meloloskan sarung pedangnya dan cepat memperlihatkan kelihaiannya sebagai anak murid Go-Bi-Pai, melakukan jurus ilmu silat yang disebut Sin-Liong Siu-Cu (Naga Sakti Menyambut Mustikanya).
Memang, dari gerakan ini saja sudah dapat dilihat bahwa Sun Hauw benar-benar seorang anak murid Go-Bi-Pai yang jempol.
Adapun Kiang Liat yang juga seorang ahli pedang terkemuka, melihat petunjukan ilmu pedang ini, diam-diam merasa kagum sekali.
Ia sudah tahu bahwa Go-Bi-Pai memang cabang yang memiliki ilmu pedang indah dan aneh-aneh, maka menyaksikan demonstrasi tadi, ia merasa gembira dan memuji.
"Bagus sekali!"
Ia tidak tahu bahwa memang di dalam ilmu pedang cabang Go-Bi-Pai terdapat pelajaran terakhir, yakni bersilat dengan sarung pedang.
Hal ini dipelajari untuk menjaga kalau-kalau pedang terampas lawan, maka biarpun dengan sarung pedang, masih dapat anak murid Go-Bi-Pai melakukan perlawanan hebat.
Sementara itu, sekarang Tek Sin Tojin dan Liem Sun Hauw sudah mulai bertempur dengan tangan kosong.
Gerakan mereka cepat dan indah, setiap pukulan ditangkis atau dielakkan dengan tepat dan cepat.
Dilihat sepintas lalu, mereka seakan-akan dua orang anak murid Go-Bi-Pai sedang berlatih silat, akan tetapi sesungguhnya bukan demikian, karena Tek Sin Tojin mendesak dan menyerang dengan sungguh-sungguh.
Sekali saja Liem Sun Hauw meleset dalam menangkis atau mengelak, ia akan terpukul dan mendapat luka di dalam tubuh yang tidak ringan!
Akan tetapi ternyata Liem Sun Hauw hafal akan semua jurus serangannya sehingga pemuda ini dapat menangkis atau mengelak dengan tepat, serta melakukan serangan balasan sebagaimana mestinya dalam jurus dan gerak yang dilakukannya menghadapi Suhengnya ini.
Kalau tadi melihat demonstrasi ilmu pedang Kiang Liat merasa kagum, sekarang melihat ilmu silat tangan kosong yang diperlihatkan, ia tidak merasa heran atau kagum.
Ilmu silat itu memang cepat dan indah lagi kuat gerakannya, akan tetapi tidak terlalu hebat dan Kiang Liat merasa bahwa ilmu silatnya sendiri, ilmu silat keturunan keluarga Kiang atau ilmu silat yang ia dapat dari Han Le dan Bu Pun Su, tidak usah kalah menghadapi ilmu silat yang dimainkan oleh kedua orang itu.
Lima puluh jurus telah lewat dan belum juga Tek Sin Tojin dapat mendesak Sutenya, apalagi mengalahkannya!
Tiba-tiba Tosu itu merubah gerakannya dan kagetlah Liem Sun Hauw.
Biarpun ia sudah menerima latihan ilmu-ilmu silat Go-Bi-Pai, tapi baru kali ini ia melihat ilmu silat yang sekarang dimainkan oleh Tek Sin Tojin.
Ilmu silat ini hebat sekali dan gerakannya seperti seorang kakek tua memberi pelajaran menulis dengan telunjuknya.
Sebentar saja Liem Sun Hauw terdesak.
Akan tetapi pemuda ini mengeluarkan seruan keras dan ia pun merubah gerakannya.
Kini Twi Mo Siansu sendiri sampai mengeluarkan seruan kaget ketika melihat ilmu silat yang cepat sekali gerakannya akan tetapi sama sekali bukan ilmu silat dari Go-Bi-Pai!
Tadinya ia sudah hendak menegur murid kepala karena mengeluarkan ilmu silat "simpanan".
Ilmu silat yang sekarang dimainkan oleh Tek Sin Tojin adalah ilmu silat Go-Bi-Pai yang khusus diajarkan kepada murid kepala yang dicalonkan menjadi ketua apabila ketua yang sekarang meninggal dunia, maka tidak sembarangan dikeluarkan.
Bahkan Thian Mo Siansu sendiri pun tidak pernah diberi pelajaran ilmu silat ini maka tentu saja Liem Sun Hauw tidak mengenalnya.
Akan tetapi Twi Mo Siansu yang merasa senang melihat kegagalan Sun Hauw, tadinya ingin sekali tahu sampai berapa lama Sun Hauw dapat mempertahankan diri.
Alangkah kagetnya ketika ia melihat pemuda itu mengeluarkan ilmu silat yang luar biasa dan yang agaknya dapat menandingi ilmu silat simpanan Go-Bi-Pai itu!
"Tahan!
Tek Sin dan Sun Hauw, cukuplah ujian ini!"
Seru Twi Mo Siansu. Ia khawatir kalau-kalau sampai terjadi korban dan ia merasa malu kalau sampai akhirnya Tek Sin Tojin kalah, apalagi di situ terdapat seorang tamu.
"Tek Sin, bagaimana pendapatmu? Sudah puaskah kau?"
Tek Sin Tojin adalah seorang jujur. Ia cepat berlutut di depan Suhunya dan berkata.
"Dalam hal ilmu silat Go-Bi-Pai, Liem-Sute sudah memperlihatkan bahwa dia benar-benar anak murid Go-Bi-Pai dan tidak kalah oleh Teecu sendiri. Bahkan agaknya Liem-Sute sudah mempelajari ilmu silat-ilmu silat lain yang lebih hebat!"
Kata-kata ini mengandung sindiran bahwa sebagai murid Go-Bi-Pai, tidak selayaknya Sun Hauw menjadi murid Partai lain tanpa seijin Ketua Go-Bi-Pai.
"Liem Sun Hauw, apakah kau menjadi murid dari Partai lain?"
Tanya Twi Mo Siansu dengan suara keren. Sun Hauw berlutut.
"Teecu hanya menjadi murid Suhu Twi Mo Siansu, tidak menjadi murid Partai lain."
"Sute, jangan kau bohong! Kalau menjadi murid Partai lain, lebih baik mengaku saja, mungkin Suhu masih dapat mempertimbangkan!"
Tegur Tek Sin Tojin.
"Mana Siauwte berani membohong di depan Susiok, Suheng?"
"Ilmu silatmu dalam jurus-jurus terakhir bukan ilmu silat Go-Bi-Pai! Apakah kau hendak menyangkal?"
"Memang bukan ilmu silat Go-Bi-Pai, akan tetapi Siauwte menerima pelajaran ilmu silat itu dari Suhu pula, dan Suhu katanya menerima ilmu silat itu dari seorang tokoh yang sakti bernama Hok Peng Taisu di Hong-lun-san."
Twi Mo Siansu terkejut mendengar nama ini. Nama itu adalah nama seorang di antara tokoh-tokoh terkemuka yang dianggap sebagai tokoh-tokoh sakti di samping Bu Pun Su dan Han Le.
"Sun Hauw, mengapa kau tadi mengeluarkan ilmu silat itu? Apakah kau hendak memamerkannya dan menganggap bahwa ilmu silat itu lebih unggul daripada ilmu silat Go-Bi-Pai?"
"Tidak sekali-kali Teecu berani beranggapan demikian, Susiok. Tadi Teecu tiba-tiba menghadapi serangan jurus-jurus ilmu silat yang sama sekali tidak Teecu kenal, yang hebat dan membingungkan Teecu. Karena merasa bahwa tidak ada jurus ilmu silat Go-Bi-Pai yang Teecu kenal dapat menghadapi serangan Suheng itu, terpaksa Teecu mengeluarkan ilmu silat lain itu... harap Susiok sudi memaafkan."
Twi Mo Siansu menarik napas panjang.
"Sudahlah. Di dunia ini memang banyak sekali ilmu silat tinggi, mana bisa Go-Bi-Pai berani mengangkat dada mengagulkan kepandaian sendiri? Hanya pesanku, Sun Hauw, apabila kau mengeluarkan ilmu silat yang tadi, kau sekali-kali tidak boleh mengaku sebagai anak murid Go-Bi-Pai! Pantangan besar bagi murid Go-Bi-Pai untuk mengandalkan penjagaan diri bukan dengan ilmu silat Go-Bi-Pai."
"Teecu mentaati perintah Susiok,"
Kata Sun Hauw. Twi Mo Siansu berpaling kepada Kiang Liat.
"Sicu, sampaikan kepada sahabat baik Bu Pun Su bahwa permintaannya sudah kuterima dan kusetujui. Tentang penjagaan di bagian utara, aku berianji akan mengerahkan anak murid Go-Bi-Pai. Dan tentang usaha mempersatukan sahabat-sahabat segolongan, kaulihat murid Liem Sun Hauw mewakili aku dan akan berusaha mendamaikan urusan antara Kim-San-Pai dan Partai Bu-Tong-Pai."
"Terima kasih, Locianpwe. Setelah saya melihat sikap saudara muda Liem ini, saya merasa kagum dan tertarik. Oleh karena perjalanan menuju Bu-Tong-San sejalan dengan perjalanan saya, maka ingin sekali saya menemani Saudara Liem di perjalanan,"
Kata Kiang Liat.
Setelah membuat persiapan dan minta diri dari Twi Mo Siansu, maka berangkatlah Kiang Liat dan Liem Sun Hauw turun gunung.
Mereka merupakan dua orang jantan yang sama-sama gagah perkasa, hampir seimbang kokoh kekar bentuk tubuhnya, sama-sama tampan dan gagah, hanya bedanya, Kiang Liat sudah setengah tua, rambutnya sebagian sudah putih dan mukanya sudah berjenggot berkumis, sedangkan Liem Sun Hauw masih muda, mukanya masih halus.
Kiang Liat sengaja mengerahkan ilmu lari cepat dan Liem Sun Hauw yang muda tahu bahwa dirinya di "jajal"
Oleh utusan Bu Pun Su ini.
Sudah lama Liem Sun Hauw mendengar nama besar Bu Pun Su yang dipuja-puja oleh mendiang Suhunya, Thian Mo Siansu, maka sekarang ia girang sekali dapat berkenalan dengan seorang yang masih ada hubungan dengan Bu Pun Su.
Melihat dirinya diuji, ia pun mengerahkan Gin-kang dan berlari secepat terbang mengimbangi kecepatan Kiang Liat.
Mereka menuruni Gunung Go-Bi-San, melompati jurang dan melalui jalan yang sukar dengan enak saja seperti orang berlari-lari di atas tanah rata.
Kiang Liat pernah menerima latihan ilmu lari cepat Yan-Cu-Hui-Po dari Pendekar wanita sakti Bun Sui Ceng, maka dalam ilmu lari cepat, ia sudah mencapai tingkat tinggi.
Oleh karena ini, biarpun Liem Sun Hauw juga lihai, masih pemuda ini kalah setingkat.
Namun Kiang Liat juga tidak bermaksud membikin malu pemuda itu dan sengaja mengurangi kecepatannya agar mereka dapat jalan berendeng.
Setelah bercakap-cakap, keduanya makin merasa cocok, Liem Sun Hauw yang tahu bahwa ilmu lari cepat orang tua ini masih melampauinya, merasa kagum.
Ia makin merasa suka karena Kiang Liat ternyata tidak meninggalkannya dan tidak memamerkan kemenangannya.
Tiba-tiba di sebuah tikungan jalan, mereka melihat seorang Tosu gemuk pendek berdiri menghadang di tengah jalan.
Mereka menghentikan perjalanan dan setelah dekat, Liem Sun Hauw mengenal Tosu ini sebagai murid ke dua dari Twi Mo Siansu.
Melihat sikap Tosu yang bermuka kuning dan bertubuh gemuk pendek ini, diam-diam Sun Hauw merasa tak enak hati.
"Agaknya Suheng ada keperluan penting maka menanti Siauwte di sini,"
Kata Sun Hauw sambil memberi hormat.
"Memang ada keperluan penting sekali,"
Kata Tosu itu, suaranya tinggi dan menggetar.
Mendengar suara ini dan melihat muka yang kekuningan dan pucat itu, diam-diam Kiang Liat terkejut karena maklum bahwa Tosu yang kelihatannya tidak seberapa ini ternyata adalah seorang seorang ahli lwee-keh yang memiliki tenaga Lwee-kang tinggi.
"Barangkali kau belum tahu, Pinto adalah Tek Le Tojin, murid kedua dari Ciangbunjin (ketua) Go-Bi-Pai."
Melihat sikap ini, Sun Hauw merasa mendongkol sekali. Sikap ini menunjukkan seakan-akan dia tidak dianggap sebagai murid Go-Bi-Pai, melainkan dianggap sebagai tamu.
"Siauwte sudah mengerti, sekarang apakah kehendak Ji-Suheng?"
"Kau dipercaya oleh Suhu memikul tugas yang berat. Tadi sudah Pinto saksikan kepandaianmu, akan tetapi sayang, Suhu buru-buru menahan. Oleh karena tugasmu penting sekali, Pinto masih merasa penasaran dan hendak meyakinkan apakah betul-betul kau akan sanggup melakukan tugas itu karena kalau kiranya kau tidak patut menjadi wakil Suhu, masih belum terlambat kau mengembalikan tugas itu kepada Suhu."
"Apa maksud Suheng?"
Tanya Sun Hauw tak senang.
"Menguji apakah betul-betul kau patut menjadi wakil Suhu!"
Jawab Tek Le Tojin tegas. Mendengar ucapan Tosu muka kuning yang bertubuh pendek gemuk itu, Liem Sun Hauw mengerutkan kening, hatinya tidak senang sekali.
"Suheng Tek Le Tojin, mengapa Suheng melakukan ini? Bukankah Suheng sendiri tadi sudah menyaksikan bahwa Susiok telah memberi kekuasaan kepada Siauwte untuk melakukan tugas ini?"
Tek Le Tojin tersenyum menyeringai.
"Suhu selalu bersikap lemah dan pemurah. Akan tetapi kali ini Pinto benar-benar meragukan apakah kepercayaan Suhu kepadamu bijaksana. Kau bocah kemarin sore yang belum tahu akan seluk beluk dunia kang-ouw, bagaimanakah kau dapat menyelesaikan tugas dengan baik? Apalagi kalau diingat bahwa tugas ini amat pentingnya, yakni menjadi pendamai antara dua Partai besar, Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai. Pinto sendiri yang sudah banyak makan garam dunia masih ragu-ragu, apakah Pinto akan berhasil menunaikan tugas itu, apalagi seorang bocah macam engkau. Hemmm, apakah yang kau andalkan? Maka majulah, Pinto hendak mencobamu agar hati Pinto tenteram kalau kau pergi. Bagimu mungkin nama besar Go-Bi-Pai tidak ada artinya, namun bagi Pinto dan para anak murid Go-Bi-Pai amat besar artinya dan harus dijaga baik-baik, kalau perlu bahkan dibela dengan taruhan nyawa!"
Sun Hauw merasa mendongkol.
Ia dapat memaklumi dan dapat pula mengagumi sifat Tosu yang jujur ini, yang meragukan keputusan Ketua Go-Bi-Pai sekali-kali bukan untuk menghinanya atau untuk membandel terhadap keputusan Twi Mo Siansu, melainkan untuk menjaga nama baik Go-Bi-Pai yang kini mengutus seorang anak murid yang bukan langsung belajar di Go-Bi-San.
Pendeknya, Tosu ini tidak percaya akan kepandaiannya.
Kali ini aku harus memperlihatkan kepandaianku.
Pikir pemuda ini dengan hati gemas.
"Baikiah, Suheng. Kau adalah saudara tua, maka aku sebagai saudara muda mana berani membantah kehendakmu? Biarlah Kiang-lo-Enghiong ini menjadi saksi bahwa ujian kepandaian ini adalah kehendakmu dan sama sekali bukan aku yang menghendaki. Maka kalau sampai Susiok marah, aku tidak mau memikul tanggung jawabnya."
"Baik, baik, biarlah Sicu ini menjadi saksi. Nah, Liem-Sute kau bersiaplah!"
Sambil berkata demikian, Tek Le Tojin memasang kuda-kuda menghadapi Liem Sun Hauw.
Kuda-kudanya biasa saja, kuda-kuda ilmu silat Go-Bi-Pai, akan tetapi kelihatan kokoh kuat seakan-akan kedua kakinya telah berakar ke dalam tanah.
Melihat pasangan kuda-kuda ini, didalam hatinya Sun Hauw tertawa geli.
Bagaimana sih Tosu ini?
Sudah disaksikan oleh Twi Mo Siansu sendiri ketika ia dicoba oleh murid kepala Go-Bi-Pai, ia dapat melayani Tek Sin Tojin dengan baik.
Sekarang murid kedua ini hendak mengujinya lagi dengan ilmu silat serupa.
Mungkinkah murid kedua lebih pandai daripada murid pertama?
"Baiklah, Suheng.
Siauwte menanti pelajaran dari Suheng!"
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 11
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 14