Eps 7 Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo
Baca online Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo
Cersil Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo.
"Biarpun ia Siluman rase atau Siluman tikus, kalau bisa mendapatkan dia, aku akan merasa bahagia sekali... alangkah manisnya, eh, Bi-moi pernahkah kau melihat bibir semanis itu? Hemm..."
Percakapan antara kakak dan adik yang dilakukan bisik-bisik dan dari jarak jauh ini kiranya takkan dapat terdengar oleh telinga Ang I Niocu kalau saja gadis ini bukan seorang Pendekar yang berilmu tinggi.
Pendengarannya jauh lebih tajam daripada pendengaran manusia biasa, maka ia dapat menangkap semua percakapan itu dan diam-diam ia tersenyum geli.
Sementara itu, Toa-To Ang Kim sudah menegur dengan kata-kata keras dan ketus.
"Nona yang lewat di daerah kami! Kau mengaku berjuluk Ang I Niocu dan sudah melukai orang-orang kami secara kejam. Sebetulnya siapakah kau, dari golongan mana dan apa maksudmu datang ke wilayah kami melakukan penghinaan? Apakah sengaja kau mencari permusuhan dengan Min-San Sam-Kui?"
"Kepala berandal, enak saja kau bicara! Anak buahmu bersikap kurang ajar sekali sehingga terpaksa aku turun tangan memberi hajaran. Kau yang tidak bisa mendidik anak buahmu, tidak menegur mereka dan minta maaf kepadaku, sebaliknya hendak menegurku? Aku tidak mencari permusuhan dengan siapapun juga, andaikata aku tidak suka kepada kalian ini orang-orang kasar, agaknya Susiok-Couwku Bu Pun Su takkan membolehkan aku mencari permusuhan dengan kalian. Akan tetapi ini bukan berarti aku takut! Biar kalian sekalipun kalau bertindak kurang ajar dan keterlaluan, tak urung akan mendapat bagian!"
"Bocah sombong rasakan, pedangku!"
Bi Hoa sudah menjerit marah dan sepasang pedangnya bergerak cepat menyerang Ang I Niocu.
Hanya nampak sinar pedang berkelebat, disusul pekik kaget dari Bi Hoa.
Ternyata Ang I Niocu telah mencabut pedang dan menangkis serangannya, tangkisannya demikian cepat dan kuat sehingga pedang di tangan kiri Bi Hoa terlepas dan menancap di atas tanah, sedangkan pedang kedua kalau ia tidak buru-buru melompat ke belakang dengan muka pucat, tentu akan terlepas pula!
"Sumoi, tahan...!"
Toa-To Ang Kim yang melihat gelagat berseru keras. Kemudian kepala rampok yang tinggi besar ini maju menjura memberi hormat kepada Ang I Niocu sambil berkata ramah.
"Ah, tidak tahunya Lihiap adalah cucu murid Sin-Taihiap (Pendekar Sakti) Bu Pun Su! Maaf, maaf, kami mempunyai mata tetapi tidak melihat tingginya Bukit Thai-San. Harap Lihiap sudi memaafkan perbuatan kurang ajar dari anak buah kami dan kelancangan Sumoi tadi."
Diantara tiga orang kepala rampok ini, tentu saja Toa-To Ang Kim yang tertua memiliki pandangan yang lebih luas dan sikap yang lebih hati-hati.
Tidak saja ia menjadi terkejut bukan main mendengar nama Bu Pun Su disebut-sebut oleh Ang I Niocu, juga melihat betapa sekali gerakan Ang I Niocu sudah dapat merampas sebatang pedang dari tangan Sumoinya, maklumlah ia bahwa gadis baju merah ini benar-benar tidak boleh dipandang ringan, maka ia cepat-cepat mengeluarkan diplomasinya.
Ang I Niocu adalah puteri seorang Pendekar besar, juga murid dari orang-orang ternama di dunia kang-ouw, maka gadis ini dapat membawa diri.
Melihat sikap orang tertua dari Min-San Sam-Kui, ia pun merobah sikapnya dan membalas penghormatan itu.
"Kalau mau bicara tentang maaf, siauwmoi juga mohon maaf sebanyaknya bahwa kedatangan siauwmoi di Bukit Min-San yang sesungguhnya hanya kebetulan lewat belaka, mendatangkan banyak gangguan kepada Sam-wi. Karena kesalahpahaman telah diatasi, perkenankan siauwmoi melanjutkan perjalanan turun gunung mencari kudaku yang sudah lari lebih dulu tadi."
Memang bagi Ang I Niocu, tidak perlu ia menanam bibit permusuhan dengan segala macam penjahat rendah, apalagi kalau tidak ada sebab-sebabnya yang kuat.
Ia takut akan mendapat marah dari Bu Pun Su karena dalam perjalanan berusaha mendamaikan permusuhan antara Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai, amat tidak baik kalau usaha itu ia mulai dengan permusuhannya dengan golongan lain!
Maka ia hendak menghabiskan perkara itu sampai di situ saja dan melanjutkan perjalanan.
Akan tetapi dasar harus terjadi keributan, tiba-tiba Pek-Ciang Kwan Liong, orang ke dua dari Min-San Sam-Kui yang berwajah tampan, dengan sikap halus dan penuh hormat menjura ke depan Ang I Niocu sambil mengeluarkan suaranya yang merdu halus.
"Lihiap Ang I Niocu, aku yang rendah Pek-Ciang Kwan Liong, ikut menghaturkan terima kasih atas ketinggian budimu yang telah memaafkan anak buahku dan adikku tadi. Kita baru saja berjumpa, akan tetapi kau telah mendapat kedudukan tinggi dalam pandangan kami. Kelihaianmu dan pribudimu yang luhur benar-benar membuat kami kagum dan tunduk. Oleh karena itu, atas nama semua kawan-kawan, aku mohon dengan hormat dan sangat, sudilah kiranya Lihiap singgah di tempat kami untuk mempererat perkenalan ini. Siapa tahu kalau kelak kita akan dapat saling membantu dalam urusan besar."
Ang I Niocu merasa ragu-ragu.
Menurutkan suara hatinya, ia harus menolak dan cepat-cepat pergi dari situ.
Akan tetapi, orang telah mengajukan permintaan demikian penuh hormat dan merendah, tidak enak juga kalau ditolak begitu saja.
Selagi ia ragu-ragu, ia mendengar ucapan Kwan Bi Hoa.
"Ah, Koko, kau ini tidak bisa melihat gelagat. Lihiap Ang I Niocu biarpun sudah memaafkan kita, akan tetapi tadi bermusuh dengan kita, mana ia percaya kepada undanganmu? Tentu disangka kita hendak menjebaknya!"
Merah muka Ang I Niocu mendengar ini. Dengan suara mengejek ia berkata.
"Hemm, sesungguhnya aku hendak menolak undangan ini. Akan tetapi karena khawatir disangka takut akan jebakan, biarlah aku melihat-lihat sarang kalian."
Berseri wajah Pek-Ciang Kwan Liong. Ia segera memberi perintah kepada para anak buah berandal untuk mempersiapkan segata sesuatu di "pesanggrahan"
Untuk menyambut datangnya tamu agung, dan mempersiapkan meja perjamuan!
Setelah itu, dengan langkah tenang dan gagah Ang I Niocu diiringkan naik ke sebuah puncak tak jauh dari situ, puncak yang penuh dengan pohon-pohon liar.
Di tengah-tengah hutan di puncak bukit ini terdapat sebuah rumah kayu yang besar.
Inilah tempat tinggal dari Min-San Sam-Kui, adapun para anak buah rampok itu tinggal di sekeliling puncak, di dalam gubuk-gubuk kecil yang dibangun di sana-sini.
Ketika mulai mendaki puncak bukit ini, di kanan kiri lorong berdiri para perampok dengan senjata di tangan, berdiri tegak seperti barisan memberi hormat seorang jenderal yang lewat.
Keadaan amat angker dan menakutkan, akan tetapi Ang I Niocu tetap tenang-tenang saja, berjalan tanpa menoleh ke kanan kiri.
Iring-iringan ini masuk ke dalam bangunan besar dan diam-diam Ang I Niocu merasa kagum karena keadaan di dalam bangunan kayu ini jauh bedanya dengan keadaan di luar.
Belasan pemuda dan pemudi yang nampak di ruangan tamu dan kelihatan sebagai pelayan-pelayan tidak kasar-kasar seperti para perampok itu, bahkan boleh dibilang rata-rata para pemudanya tampan-tampan dan para gadisnya cantik-cantik.
Sama sekali ia tidak mengira bahwa para pemuda ini adalah orang-orang culikan yang dipaksa dan dibawa ke tempat itu sebagai kekasih Siang-Kiam Sian-Li Kwan Bi Hoa dan juga gadis-gadis itu adalah orang-orang culikan yong dipaksa menjadi kekasih Pek-Ciang Kwan Liong!
Mereka ini selain bertugas menghibur hati kakak beradik mata keranjang ini, juga bekerja sebagai pelayan dan selalu berada di dalam bangunan, tidak pernah keluar, apalagi ikut merampok.
Mereka ini pendiam tidak banyak bicara, dan pucat-pucat, muka orang-orang yang putus harapan.
Di ruangan tamu yang lebar itu telah sedia meja panjang penuh dengan hidangan-hidangan lezat.
Kembali Ang I Niocu terheran-heran karena bagaimana di tengah hutan dan di puncak gunung itu orang bisa mendapatkan hidangan-hidangan seperti di rumah makan di Kota saja?
Ia tidak tahu bahwa memang di tempat ini disediakan bahan-bahah masakan yang serba lengkap, juga di situ terdapat sebuah dapur yang besar dan lengkap, bahkan terdapat pula seorang koki culikan.
Kesukaan Toa-To Ang Kim yang terutama adalah makanan enak, maka untuk memenuhi selera dan memuaskan hatinya Ang Kim setiap hari diadakan pesta besar memotong ayam dan babi.
"Untuk menghormati kedatangan Lihiap, sebelum melanjutkan perjalanan kami mengadakan sekedar makan-minum. Setelah mengaso sebentar baru Lihiap dapat melanjutkan perjalanan,"
Kata Ang Kim sambil tertawa ramah.
"Mana bisa begitu sebentar? Kami harap Lihiap suka bermalam di tempat kami yang buruk ini barang semalam dua malam,"
Kwan Liong menyambung cepat-cepat, sedangkan Kwan Bi Hoa hanya tersenyum-senyum saja dan kadang-kadang memandang kepada seorang pelayan tampan dengah mata mendelik kalau pelayan ini mengerling ke arah Ang I Niocu dengan pandang mata kagum.
Agaknya perempuan ini besar sekali cemburunya!
"Undangan makan kuterima dengan senang hati dan terima kasih.
Akan tetapi untuk bermalam di sini betul-betul tak mungkin.
Aku harus segera melanjutkan perjalanan,"
Jawab Ang I Niocu dan tanpa malu-malu ia segera mengambil tempat duduk ketika pihak tuan rumah mempersilakannya.
Mereka lalu mulai makan minum.
Ang I Niocu berlaku seolah-olah ia makan dan minum semua hidangan tanpa ragu-ragu dan tanpa sangsi-sangsi.
Padahal sebenarnyalah amat hati-hati dan waspada, hidungnya bekerja keras mencium bau setiap makanan dan minuman sebelum makanan atau minuman itu memasuki mulut dan perutnya.
Akan tetapi ia sengaja tidak pernah mengeringkan cawan araknya sehingga setelah pihak tuan rumah menghabiskan tujuh delapan cawan, ia baru menghabiskan tiga cawan saja.
Pek-Ciang Kwan Liong yang mukanya sudah mulai kemerahan akibat pengaruh arak berdiri dan tertawa-tawa sambil memegang seguci arak yang baru didatangkan oleh pelayan.
"Lihiap Ang I Niocu mengapa sungkan-sungkan? Arak kami adalah arak simpanan, arak wangi yang sudah puluhan tahun usianya, amat baik untuk menyehatkan tubuh dan menambah semangat. Harap Lihiap sudi menerima secawan arak untuk menghormati pertemuan yang amat membahagiakan hati ini!."
Tentu saja Ang I Niocu tak dapat menolak dan memberikan cawannya untuk diisi penuh.
Arak kali ini adalah arak berwarna merah yang baunya harum sekali, mengalahkan arak yang tadi-tadi.
Ang I Niocu mengikuti mereka mengangkat cawan arak dan meminumnya.
Sebelum arak itu memasuki mulutnya, hidungnya mencium bau keras diantara bau harum, akan tetapi tanpa memperlihatkan tanda sesuatu, Ang I Niocu menenggak arak itu.
Tiba-tiba ia mengerutkan alisnya, berdiri, dan memegang kepala sambil menundukkan mukanya, lalu terhuyung-huyung seperti orang pusing.
Ia mendengar Ang Kim bertanya.
"Eh, eh, Lihiap kenapakah...?"
Juga ia mendengar suara ketawa Kwan Bi Hoa, kemudian ia mendengar suara yang diharap-harapkan, yakni suara Kwan Liong yang berkata perlahan penuh kegembiraan.
"Aha, sudah kena... roboh... roboh..."
Ang I Niocu terguling miring dan roboh tak bergerak lagi! "Sute apa yang kau lakukan?"
Terdengar Ang Kim membentak Sutenya. Kwan Liong tidak menjawab akan tetapi yang menjawab adalah Kwan Bi Hoa yang tertawa-tawa genit.
"Twa-Suheng seperti tidak tahu saja, mana Liong-ko mau melepaskan orang begini cantik?"
"Bi-moi benar, Twa-Suheng,"
Kata Kwan Liong.
"Belum pernah selama hidupku aku melihat seorang gadis secantik ini. Kalau aku tidak bisa mendapatkan dia, tentu selamanya aku akan terkenang dan tergila-gila."
Ang Kim menarik napas panjang.
"Asal kau berhati-hati saja. Dia itu lihai sekali..."
"Jangan khawatir, Suheng. Aku sudah biasa menundukkan singa-singa betina liar. Kalau sekali ia sudah menjadi punyaku, tentu ia akan menjadi penurut dan dia akan menjadi pembantu kita yang amat boleh diandalkan."
Ang Kim mengomel sambil menghirup araknya.
"Sesukamulah, kesukaanmu main-main seperti ini tidak akan menambah panjangnya usiamu. Aku lebih baik makan dan minum..."
Terdengar dengan lahapnya ia mengunyah daging dan mendorongnya ke dalam perut dengan arak beberapa teguk.
Kwan Bi Hoa yang sudah setengah mabuk, membelai-belai rambut seorang pemuda pelayan yang berlutut di dekatnya, sedangkan Kwan Liong sambil tertawa haha-hihi mendekati Ang I Niocu, dan berlutut.
Ang I Niocu yang kelihatan seperti orang pingsan tak berdaya itu, tiba-tiba membuka mulutnya dan arak tadi menyembur keluar dari mulutnya, mengenai muka Kwan Liong.
"Ayaaa...!"
Kwan Liong menjerit sambil melompat mundur dan kedua tangannya menutupi muka yang terasa pedas sekali terkena semburan arak tadi.
Akan tetapi di lain saat, sinar pedang berkelebat dan kepala Pek-Ciang Kwan Liong terpisah dari lehernya yang terbabat putus oleh pedang di tangan Ang I Niocu!
Dara baju merah ini berdiri dengan mata berapi-api, pedang di tangan dan sikapnya mengancam sekali.
Toa-To Ang Kim berdiri seperti patung di atas kursinya, terlampau kaget sehingga untuk beberapa lama ia tak dapat bergerak.
Siang-Kiam Sian-Li Kwah Bi Hoa juga melompat berdiri dengan mata terbelalak, kaget setengah mati melihat kakaknya sudah menggeletak dengan leher putus.
"Bagus, kalian memang buta, akan tetapi tadinya kukira kalian sudah sembuh dan dapat melihat. Tidak tahunya kalian ini tikus-tikus busuk yang tidak pandai menggunakan mata. Orang-orang macam kalian ini kalau tidak dibasmi, untuk apalagi aku sejak kecil mempelajari ilmu?"
Kata Ang I Niocu dan sekali kakinya menendang, sebuah meja penuh piring dan mangkok melayang ke arah Kwan Bli Hoa.
Perempuan ini cukup gesit, melompat ke samping dan yang menjerit roboh adalah pelayan yang tadi dibelainya, terpukul meja.
Para pelayan menjerit dan lari ke sana ke mari mencari tempat sembunyi.
Para anak buah perampok yang menjaga di luar, cepat menyerbu masuk dengan senjata di tangan.
Toa-To Ang Kim dan Siang-Kiam Sian-Li Kwan Bi Hoa sudah sadar dari kagetnya dan kini Ang Kim memegang goloknya yang besar sedangkan Bi Hoa memegang sepasang pedang siap menggempur Ang I Niocu.
Ang I Niocu mengeluarkan suara ketawa yang merdu akan tetapi yang membangkitkan bulu tengkuk para perampok ketika gadis ini berkata.
"Rakyat Min-San, saksikanlah aku Ang I Niocu membebaskanmu dari gangguan perampok-perampok Bukit Min-San!"
Di lain saat, tubuh Ang I Niocu berkelebat lenyap berubah menjadi sinar merah yang menyambar ke sana ke mari, dikeroyok oleh Ang Kim, Kwan Bi Hoa, dan puluhan orang perampok yang biasanya berlaku sewenang-wenang kepada rakyat di sekitar daerah itu.
Pedang di tangan Ang I Niocu luar biasa sekali ganasnya, setiap kali meluncur pasti merobohkan seorang perampok yang tewas di saat itu juga.
Medan pesta berubah menjadi medan pertempuran yang hebat.
Meja kursi yang tadi dipakai pesta, melayang ke sana ke mari terkena terjangan dan tendangan.
Mangkok piring yang pecah tertumbuk dinding kayu atau jatuh di lantai menerbitkan suara hiruk-pikuk.
Ini semua masih ditambah oleh orang-orang berteriak kesakitan.
Darah membanjiri ruangan itu.
Akhirnya hanya lima orang tangan kanan mereka saja yang masih melakukan pengepungan.
Yang lain-lain tidak ada lagi.
Banyak yang menggeletak tak bernyawa, akan tetapi lebih banyak pula yang melarikan diri karena gentar menghadapi Pendekar wanita baju merah yang kosen itu.
Golok besar yang dimainkan oleh Ang Kim cukup kuat dan tangguh.
Golok ini diputar mengeluarkan angin dan sinar pedang Ang I Niocu sukar menembus benteng sinar goloknya yang bergulung-gulung.
Juga Kwan Bi Hoa berdaya upaya membalas kematian kakaknya, sepasang pedangnya diputar cepat, membalas serangan Ang I Niocu dengan serangan maut.
Lima orang perampok yang ikut mengeroyok benar-benar merupakan anak buah yang setia, karena sungguhpun mereka ini kewalahan benar, namun mereka tidak mau melarikan diri meninggalkan dua orang pemimpin mereka itu.
Ang I Niocu tadinya mengharapkan mereka ini melepaskan senjata dan minta ampun.
Kalau terjadi hal demikian, kiranya ia pun tidak tega untuk membunuh mereka, asal saja mereka mau berjanji untuk mengubah cara hidup, ia bersedia untuk memberi ampun.
Akan tetapi melihat kekerasan kepala mereka, timbul amarah di dalam hatinya.
"Bangsat-bangsat kecil, kalian tak boleh dikasih hati!"
Bentaknya dan tiba-tiba permainan pedangnya berubah.
Kalau tadi permainan pedangnya cepat menyilaukan mata, adalah sekarang menjadi lambat dan gerakan tubuhnya amat indah seperti orang menari-nari.
Akan tetapi kini setiap kali pedangnya digerakkan, bukan hanya sebagai main-main belaka, melainkan merupakan serangan yang tak dapat ditangkis lagi.
Sekali pedangnya berkelebat ke arah dua orang perampok, biarpun dua orang itu sudah menangkis dengan golok, tetap saja pedang itu menyeleweng dan meneruskan serangannya tanpa dapat dielakkan lagi.
Dua orang itu menjerit dan roboh mandi darah!
Ang I Niocu melanjutkan serangannya dan dalam beberapa jurus saja tiga orang perampok yang lain roboh juga.
"Apakah kalian masih belum mau bertobat!"
Ang I Niocu memberi kesempatan terakhir kepada Toa-To Ang Kim dan Siang-Kiam Sian-Li Kwan Bi Hoa.
Jawaban yang diterimanya hanya sabetan golok besar pada lehernya dan tusukan sepasang pedang pada dada dan leher!
"Kalian sudah bosan hidup!"
Bentak Ang I Niocu yang tiba-tiba lenyap menjadi bayangan merah yang melesat ke sebelah kiri tubuh Kwan Bi Hoa.
Sebelum perempuan cabul ini dapat menangkis, pedang Ang I Niocu sudah memasuki lambungnya, membuat ia terguling roboh.
Sebuah jeritan ngeri merupakan perbuatan terakhir yang dapat ia lakukan.
Melihat Sumoinya roboh, Toa-To Ang Kim menjadi nekat.
Goloknya diputar dalam penyerangan mati-matian.
Akan tetapi, seorang lawan seorang, dia ini bukanlah lawan tanding dari Ang I Niocu.
Dalam tiga jurus kemudian, pedang Ang I Niocu telah memasuki rongga dadanya dan matilah kepala rampok yang sudah menumpuk dosa selama bertahun-tahun ini.
Ang I Niocu memandang ke kanan kiri.
Tidak kelihatan seorang pun anggauta perampok.
Ia berjalan memasuki ruangan dalam.
Tiba-tiba belasan orang laki perempuan berlari keluar dan berlutut di depannya sambil menangis.
Mereka ini ternyata adalah pelayan-pelayan tadi yang sudah bersembunyi di belakang dan kini mereka berlutut di depan Ang Niocu dengan ketakutan.
"Mohon ampunkan hamba sekalian, Lihiap. Hamba sekalian hanya orang-orang culikan yang tidak berdosa..."
Mereka meratap"
Ang I Niocu menjadi terharu sekali dan diam-diam ia mengutuk kejahatan para perampok dan merasa girang bahwa yang dibasminya benar-benar segerombolan orang jahat pengganggu rakyat.
"Jangan takut, aku memang akan menolong kalian. Sekarang kumpulkan semua barang-barang berharga, bagi-bagi di antara kalian, kemudian kalian boleh pulang ke kampung masing-masing."
Dengan girang sekali belasan orang laki-perempuan itu lalu berserabutan lari ke dalam kamar-kamar di mana terdapat barang-barang berharga dan tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di luar, masing-masing membawa bungkusan besar.
Ang I Niocu lalu membakar bangunan besar itu yang sebentar saja menjadi lautan api karena bangunan itu terbuat dari kayu.
"Kalian pulanglah ke rumah masing-masing,"
Kata pula Ang I Niocu.
Rombongan orang muda itu menjatuhkan diri berlutut untuk menghaturkan terima kasih, kemudian mereka berlari-lari turun gunung dengan kegirangan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka, kegirangan burung-burung yang dilepas dari sangkarnya yang sempit.
Ang I Niocu lalu turun gunung lagi melalui lereng yang tadi, untuk mencari kudanya.
Akan tetapi, alangkah heran dan cemasnya ketika ia tidak dapat menemukan Pek-Hong-Ma.
Ia telah memanggil-manggil nama kuda itu dengan suara keras, akan tetapi tetap saja Pek-Hong-Ma tidak mau muncul.
"Eh, kemanakah dia?"
Ang I Niocu menjadi cemas.
"Apakah ada kuda lain di sini yang menariknya?"
Gadis itu mempergunakan kepandaiannya, berlari cepat ke sana ke mari, melompati jurang-jurang kecil yang kiranya dapat dilompati kudanya.
Tiba-tiba ia mendengar suara ringkik Pek-Hong-Ma di balik gunung kecil.
Cepat ia berlari ke tempat itu dan ketika ia tiba dibelokan gunung ini, ia melihat pemandangan yang membuat bibir dan pelupuk matanya gemetar saking marahnya.
Kuda Pek-Hong-Ma telah rebah miring, dalam keadaan berkelojotan hampir mati.
Leher dan dadanya mengucurkan darah.
Ketika mata kuda itu melihat Ang I Niocu, binatang ini mengeluarkan suara lagi menggelogok, kakinya berkelojotan keras seperti hendak meronta-ronta, kemudian menjadi lemas.
Binatang itu telah menjadi bangkai.
Dengan sinar mata tajam berapi, Ang I Niocu memandang kepada orang-orang yang berada di tempat itu, yang semua berdiri seperti patung dan memandang kepadanya dengan sinar mata menantang.
Di dekat kuda itu berdiri tiga orang wanita, yaitu seorang nenek dan dua orang gadis.
Sekali pandang saja Ang I Niocu mengenal mereka.
Nenek itu bukan lain adalah Koai-Tung Toanio tokoh besar Kong-Thong-Pai dan dua orang gadis itu adalah anak-anaknya yang terkenal dengan sebutan Kim-jiu Siang-eng Kwan Ci-moi!
Tiga orang wanita itu dahulu pernah bertempur dengannya ketika ia melakukan perjalanan bersama Gan Tiauw Ki.
Apakah kehendak tiga orang wanita yang sekarang datang bersama serombongan orang yang berpakaian seperti pasukan pemerintah?
Dahulu tiga orang wanita ini sengaja mencari gara-gara dan memusuhinya dan sekarang, begitu muncul mereka agaknya sengaja membunuh kudanya Pek-Hong-Ma, apakah artinya semua ini?
Saking marahnya melihat Pek-Hong-Ma dibunuh, Ang I Niocu membentak sambil menudingkan pedang yang sudah dicabutnya ke arah tiga orang wanita itu.
"Kalian ini tiga Siluman wanita ibu dan anak mengapa selalu memusuhiku? Dahulu kalian sudah menjadi pecundang, mengapa ada orang-orang begitu tidak tahu malu, menimpakan sakit hati kepada kudaku? Sungguh keji dan pengecut besar!"
Koai-Tung Toanio yang dahulu pendiam sekarang nampak marah sekali. Ia menudingkan tongkatnya ke arah Ang I Niocu dan berkata marah.
"Manusia keji Ang I Niocu! Baru saja kau telah membunuh anak-anakku Kwan Liong dan Kwan Bi Hoa, masih saja kau berkata tidak mempunyai kesalahan kepada kami? Manusia celaka, dahulu kau melakukan penghinaan terhadap kami masih boleh kami lupakan, akan tetapi sekarang, kau berani membunuh mati dua orang anakku dan kawan-kawan mereka. Benar-benar aku tidak bisa hidup bersamamu di muka bumi ini, seorang diantara kita harus mampus sekarang dan di sini juga!"
Ang I Niocu kaget dari baru sekarang ia melihat beberapa diantara pelayan yang tadi ia bubarkan berada di situ, berlutut dan bajunya robek-robek, agaknya tadi dicambuki dan disuruh mengaku.
Tidak tahunya dua orang Min-San Sam-Kui adalah anak dari Koai-Tung Toanio atau kakak-kakak dari dua orang gadis yang sekarang menghadapinya bersama mereka.
Ia menjadi marah dan biarpun tiga orang wanita itu datang bersama pasukan yang terdiri dari tiga puluh orang lebih, semuanya nampak tegap-tegap dan merupakan tentara terlatih, ia sama sekali tidak menjadi gentar.
"Pantas... pantas...! Hari ini aku bertemu dengan keluarga besar penjahat dan pengecut! Majulah kalian, biar aku tidak kepalang tanggung dan biar pedangku kenyang dan puas membabat iblis-iblis bermuka manusia!"
Di lain saat Ang I Niocu sudah dikeroyok dan sebuah pertempuran yang seru terjadi di lapangan itu.
Saking marahnya melihat kuda kesayangannya dibunuh, kini Ang I Niocu mengamuk hebat.
Ia mengeluarkan ilmu pedangnya Sian-Li Kiam-sut atau ilmu Pedang Tari Bidadari, yang nampaknya indah namun amat berbahaya bagi lawan.
Sukar sekali mata mengikuti gerakan-gerakannya, nampaknya hanya sebagai seorang dewi cantik menari-nari, akan tetapi di sekeliling tubuh dewi ini nampak sinar terang.
Inilah sinar pedang yang menyambar-nyambar tanpa dapat diketahui ke mana gerakan selanjutnya sehingga musuh yang sedemikian banyaknya itu menjadi bingung dan pengeroyokan menjadi kacau-balau.
Akan tetapi, para pengeroyok sekarang ini jauh bedanya kalau dibandingkan dengan para pengeroyok di puncak gunung tadi.
Tadi para pengeroyok Ang I Niocu hanya terdiri dari kaum perampok yang kasar dan hanya mengandalkan tenaga besar belaka dalam pertempuran.
Kali ini para pengeroyok yang membantu Koai-Tung Toanio dan dua orang anaknya adalah pasukan terlatih dari Gubernur Lie Kong Gubernur yang mempunyai cita-cita memberontak di Propinsi Shansi.
Mereka ini terdiri dari perajurit-perajurit pilihan yang sedikit-banyak mengerti ilmu silat, maka pengepungan dan penyerbuan mereka teratur sekali.
Mereka dapat bekerja sama, baik dalam penyerangan maupun dalam pertahanan sehingga sebegitu lama Ang I Niocu belum berhasil merobohkan seorang lawan pun, sedangkan pengepungan makin lama makin rapat.
Baru beberapa jam yang lalu, Ang I Niocu sudah melakukan pertempuran hebat, dikeroyok oleh banyak orang dan di dalam pertempuran membasmi kawanan perampok di Bukit Min-San itu telah membutuhkan banyak tenaga.
Oleh karena itu, ia sudah amat lelah.
Sekarang, ia menghadapi keroyokan musuh yang lebih tangguh, tentu saja keadaannya menjadi terancam.
Namun Ang I Niocu adalah seorang gadis yang tidak mengenal apa artinya takut.
Sedikit pun ia tidak menjadi gentar dan khawatir, bahkan kini pedangnya diputar makin cepat sehingga dalam beberapa gebrakan ia berhasil merobohkah tiga orang anggauta pasukan yang mengepungnya.
Hasil ini membuat para pengepungnya terkejut dan kacau-balau, sedangkan semangat Ang I Niocu bertambah.
Biarpun ia sudah merasa lemas kaki tangannya, ia memaksa diri, memutar-mutar pedangnya dengan gerakan-gerakan lincah sekali sehingga kembali ia merobohkan dua orang.
"Serbu dan bunuh saja!"
Koai-Tung Toanio kini berseru keras dengan penasaran dan marah sekali.
Tadinya ia memang berpesan kepada anak buah pasukan itu untuk menangkap hidup-hidup Ang I Niocu, karena ia mempunyai maksud untuk menyerahkan gadis baju merah itu kepada majikan mudanya, yakni Lie Kian Tek putera Gubernur.
Akan tetapi melihat sepak-terjang Ang I Niocu yang demikian hebat, ia merubah niatnya.
Orang dengan kepandaian seperti gadis baju merah ini kiranya tidak mungkin ditawan hidup-hidup.
Benar saja, setelah ia mengeluarkan aba-aba ini, para anak buah pasukan yang juga khawatir akan menjadi korban kalau berlaku lemah terhadap gadis cantik jelita yang kosen itu, mulai mendesak dengan serangan-serangan maut.
Barulah sekarang Ang I Niocu terdesak, karena ia harus menjaga diri betul-betul terhadap desakan dan serangan puluhan batang senjata yang melancarkan serbuan-serbuan mengancam keselamatan itu.
Betapapun juga, ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan dan bilamana saja terdapat lowongan, pasti pedangnya merobohkan seorang dua orang lawan.
Namun, pasukan itu adalah pasukan terlatih dan di dalam ketentaraan Gubernur Shansi, pasukan ini disebut Pasukan Maut.
Mereka itu telah dilatih, tidak saja latihan jasmani, akan tetapi juga dilatih untuk bertempur sampai orang terakhir!
Menghadapi pasukan yang semua tidak takut mati ini, Ang I Niocu menjadi kewalahan juga.
Akan tetapi ia pun tidak kenal artinya takut atau mundur.
Bagaikan seekor naga betina ia mengamuk dan pedangnya berkelebat-kelebat tubuhnya menyambar ke sana ke mari, sepak-terjangnya benar-benar hebat.
Biarpun Ang I Niocu mengerti bahwa kalau pertempuran ini dilanjutkan, tak mungkin ia dapat menewaskan sekian banyaknya lawan dan akhirnya ia tentu akan kehabisan tenaga dan roboh, namun ia masih belum mau menyerah dan tidak sudi melarikan diri sebelum tenaganya habis betul-betul!
"Kaum Pemberontak hina-dina sungguh tak tahu malu mengandalkan orang banyak mengeroyok seorang dara!"
Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda gagah perkasa, yang diiringkan oleh belasan orang berpakaian seperti jago-jago silat.
Sikap mereka gagah sekali dan atas isyarat pemuda gagah itu mereka menyerbu dengan pedang mereka.
Permainan pedang mereka serupa, menandakan banwa mereka datang dari satu Partai, ilmu pedang yang menyambar-nyambar dari kanan ke kiri dan sebaliknya, dibarengi bentakan-bentakan nyaring.
Ang I Niocu seperti pernah melihat ilmu pedang seperti ini, kalau tidak salah ilmu pedang Partai Bu-Tong-Pai.
Sebentar saja pasukan Gubernur Lie menjadi kalang-kabut dan Ang I Niocu kini hanya menghadapi keroyokan Koai-Tung Toanio dan dua orang gadisnya saja.
Biarpun dengan datangnya pemuda tampan gagah bersama kawan-kawannya itu merupakan pertolongan baginya, namun diam-diam Ang I Niocu merasa mendongkol sekali.
Gadis ini memang mempunyai watak yang tinggi hati dan tidak mau kalah.
Biarpun berada di dalam bahaya dia tidak mengharapkan pertolongan orang lain, apalagi pertolongan serombongan orang laki-laki yang tak pernah dikenalnya.
Seorang diantara dua gadis puteri Koai-Tung Toanio yang melihat datangnya bala bantuan ini, memaki marah dan kecewa.
"Dasar perempuan jalang, di mana-mana ada laki-laki yang membantu. Cih, tak tahu malu!"
Naik darah Ang I Niocu mendengar makian ini.
Tanpa mempedulikan serangan lain, pedangnya menyambar ke arah orang yang memakinya.
Ketika tongkat Koai-Tung Toanio menyodok dadanya, ia tidak mengelak dan tidak menunda serangannya, hanya menyampok dengan tangan kiri.
Tongkat itu terpental, akan tetapi Ang I Niocu merasa lengannya sakit sekali.
Ia menggigit bibir dan melanjutkan serangannya sampai ujung pedangnya mengenai pundak gadis yang memakinya tadi.
Gadis itu memekik dan roboh dengan pundak kanan hampir putus!
Koai-Tung Toanio dan puterinya yang seorang lagi cepat mendesak sehingga Ang I Niocu tidak ada kesempatan untuk mengirim tusukan kedua, namun ia telah puas, wajahnya berseri dan ia melayani para pengeroyoknya dengan tenang.
Ketika ia melihat pemuda gagah yang membantunya mengamuk hebat dan berada dekat dengan tempat di mana ia bertempur, ia berseru kepada pemuda itu.
"Aku tidak membutuhkan bantuan kalian. Pergilah!"
Pemuda itu tertegun dan menengok, mengeluarkan seruan kaget dan menjauhkan diri dari pertempuran, berdiri seperti patung memandang kepada Ang I Niocu dengan penuh kekaguman.
Agaknya baru sekarang ia melihat wajah orang yang dibantunya dan penglihatan ini membuat ia tercengang.
Melihat ini, Ang I Niocu makin mendongkol.
Gadis ini sudah terlalu sering menyaksikan laki-laki berlaku seperti itu apabila memandang kepadanya dan ia menjadi mendongkol sekali, disamping keinginan hendak mempermainkan laki-laki yang tergila-gila kepadanya.
Senyumnya penuh ejekan dan ia sengaja memainkan ilmu silatnya dengan gerakan dan gaya yang indah sekali seperti orang menari-nari.
Adapun Koai-Tung Toanio yang melihat betapa pihaknya terdesak dan jatuh banyak korban, lalu memberi aba-aba keras dan ia sendiri menyambar tubuh puterinya yang terluka, lalu melarikan diri dari tempat itu.
Ang I Niocu yang sudah lelah bukan main tentu saja tidak mau mengejar, demikian pula orang-orang yang datang membantunya tidak mau mengejar.
Semua orang itu kini menoleh dan memandang kepada Ang I Niocu dengan sinar mata kagum, bukan hanya kagum melihat ilmu silat gadis ini, akan tetapi terutama sekali kagum akan kecantikannya yang memang jarang bandingnya itu.
Melihat ini, Ang I Niocu tersenyum mengejek lalu memutar tubuhnya dan lari dari tempat itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada mereka!
Melihat ini, pemuda tampan dan gagah tadi lalu melompat dan mengejarnya sambil berseru.
"Lihiap yang gagah perkasa, harap kau tunggu dulu, mari kita bicara!"
Akan tetapi Ang I Niocu hanya menoleh sebentar dan berkata.
"Aku tidak ada urusan dengan kau!"
Dan ia berlari terus, kini makin cepat.
Pemuda itu penasaran mengerahkan Gin-kangnya.
Sekali melompat ia telah maju dua puluh kaki lebih!
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat gadis itu pun melompat, bahkan lebih jauh daripada lompatannya.
"Nona yang baik, harap kau berhenti dulu, aku hanya ingin berkenalan!"
Serunya pula, akan tetapi Ang I Niocu tidak mempedulikannya, bahkan mempercepat larinya.
Pemuda itu masih hendak mengejar sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat, akan tetapi sia-sia, gadis itu dapat berlari lebih cepat dan sebentar saja sudah lenyap di balik gunung!
Terpaksa Ang I Niocu melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki.
Setelah melihat bahwa pemuda tampan itu tidak mengejarnya lagi, baru terasa olehnya betapa lelahnya setelah dua kali berturut-turut ia melakukan pertempuran hebat tadi.
Ia berhenti dan duduk beristirahat di bawah sebatang pohon besar.
Dengan ujung lengan bajunya, disusutnya peluh yang membasahi leher dan jidatnya.
Matahari telah tenggelam di barat dan keadaan sudah mulai gelap.
Tak terasa pula senja telah lewat dan malam sudah diambang pintu.
Baru sekarang, disamping kelelahan yang sangat, Ang I Niocu merasa lapar sekali.
Sejak pagi ia belum makan dan sehari penuh hanya bertempur saja.
Lengan kirinya sekarang terasa sakit sekali, akibat benturan dengan tongkat Koai-Tung Toanio tadi.
Kemudian ia teringat lagi akan kudanya yang sudah mati.
Celaka sekali, dengan kehilangan Pek-Hong-Ma, ia kehilangan segala-galanya yang menjadi bekal.
Pakaian, uang dan lain-lain semua berada di atas punggung Pek-Hong-Ma dan sekarang semua itu hilang.
Ang I Niocu mengerutkan keningnya, wajahnya muram.
Semenjak ia ikut Ayahnya, ia selalu dimanja dan selalu terpenuhi apa yang menjadi kehendaknya, belum pernah kekurangan makan dan pakaian.
Sekarang, seorang diri dan lelah serta lapar setelah kehilangan segalanya, ia merasa sengsara sekali.
Tak terasa lagi air matanya jatuh bertitik ketika ia tiba-tiba teringat kepada Ayahnya dan kepada Gan Tiauw Ki.
Ketika masih tinggal di gedung Ayahnya, belum pernah ia merasa selelah dan selapar ini.
Ketika ia melakukan perjalanan-perjalanan dengan Tiauw Ki, alangkah jauh bedanya dengan sekarang.
Dengan Gan Tiauw Ki ia mengalami perjalanan yang penuh madu, penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
Tiba-tiba ia bangkit berdiri.
"Alangkah bodohku, Susiok-Couw akan marah kalau melihat aku selemah ini..."
Pikirnya.
Ia berjalan lagi, menuju ke sebuah dusun yang atap-atap rumahnya sudah kelihatan dari situ.
Sebelum cuaca menjadi gelap ia harus sudah berada di dusun itu kalau ia tidak mau tidur di tengah hutan.
Alangkah herannya ketika ia tiba di luar dusun, ia disambut oleh semua penduduk dusun, di sana-sini terdengar seruan!
"Ang I Niocu...!
Dia sudah datang...
Sambut Ang I Niocu, Pendekar kita yang mulia..."
Kemudian baru Ang I Niocu tahu bahwa diantara para penyambut itu terdapat bekas-bekas pelayan di pesanggrahan perampok.
Tentu mereka ini yang sudah mengabarkan tentang pembasmiannya terhadap para perampok itu.
Kepala kampung itu, seorang laki-laki setengah tua yang berkumis panjang, mengepalai penyambutan dan menjura dengan penuh hormat kepadanya.
"Lihiap yang mulia, telah bertahun-tahun kami hidup dalam ketakutan dan penindasan kaum perampok di Min-San. Bahkan ada beberapa orang muda dusun kami diculik, selain harta benda kami. Kini muncul Lihiap yang gagah perkasa, yang telah membasmi mereka dan berarti membebaskan kami dari cengkeraman perampok jahat. Benar-benar Thian telah mengirim Lihiap sebagai seorang dewi untuk menolong kami yang sudah lama memohon kemurahan dan keadilan Thian."
Setelah berkata demikian, kepala kampung itu berlutut di depan Ang I Niocu, diturut oleh semua orang kampung.
Akan tetapi, ketika mereka mengangkat kepala, ternyata dara baju merah itu telah lenyap!
Tentu saja mereka heran dan kagum sekali, dan sekali lagi mereka berlutut, Mengira bahwa gadis yang cantik luar biasa dan bisa "Menghilang"
Itu benar-benar seorang dewi kahyangan utusan dari langit!
Semenjak hari itu, orang sekampung seringkali memasang hio, memuja kepada dewi penolong baju merah itu.
Adapun Ang I Niocu dengan bersungut-sungut berlari cepat meninggalkan kampung itu.
Dasar awak lagi sial, gerutunya.
Ia sama sekali tidak mau melayani sambutan orang-orang kampung yang menganggapnya seperti dewi itu, karena ia maklum bahwa kalau ia melayani mereka, akan berarti ia tidak tidur lagi semalam suntuk.
Tentu orang-orang kampung akan mengerumuninya, akan memujanya, dan ia akan menjadi pusat perhatian orang belaka.
Padahal ia melakukan perkerjaan di puncak bukit tadi, mati-matian membasmi perampok, sama sekali bukan untuk mencari muka atau mencari nama.
Disambut secara demikian oleh kepala kampung dan penduduknya, bukan menkadi girang, sebaliknya Ang I Niocu menjadi mendongkol dan pergi tanpa pamit.
Malam hari itu Ang I Niocu terpaksa tidur di atas pohon di dalam hutan, dan perutnya yang berteriak-teriak kelaparan itu ia diamkan dengan beberapa butir buah apel.
Ia tidak mengira bahwa perbuatannya membasmi Min-San Sam-Kui dan anak buahnya di Pegunungan Min-San itu telah menggemparkan dunia kang-ouw dan sekaligus nama Ang I Niocu disebut-sebut orang!
Ia dianggap sebagai tokoh hebat yang baru muncul di dunia kang-ouw.
Dengan melakukan perjalanan cepat, dua pekan kemudian Ang I Niocu sudah tiba di kaki Pegunungan Kim-San.
Dari keterangan seorang penduduk dusun di kaki pegunungan ini, ia mendapat tahu bahwa kuil Kim-San-Pai berada di puncak yang sebelah kiri.
Ang I Niocu langsung mendaki puncak ini.
Baru saja ia tiba di lereng, ia mendengar suara orang-orang dari bawah dan dilihatnya lima orang Tosu berlari-lari mendaki puncak itu.
Dua orang diantara mereka memondong tubuh dua orang Tosu tua yang wajahnya pucat dan matanya dipejamkan, agaknya terluka atau sakit payah.
Melihat Ang I Niocu berdiri di pinggir jalan memandang mereka, lima orang Tosu itu balas memandang dengan sinar mata bercuriga.
Kemudian dua orang yang memondong Tosu-Tosu terluka tadi berlari terus, sedangkan yang tiga orang berhenti di depan Ang I Niocu.
Ang I Niocu yang melihat cara lima orang Tosu tadi berlari cepat, maklum bahwa ia berhadapan dengan orang-orang berkepandaian tinggi, maka ia lalu menjura dan berkata.
"Mohon, tanya, apakah betul jalan ini menuju ke kuil dari Kim-San-Pai? Apakah Sam-wi Totiang juga hendak ke sana?"
Mendengar pertanyaan Ang I Niocu yang ramah itu, tiga orang Tosu tadi berkurang kecurigaannya.
Seorang di antara mereka, yang tertua dan berusia kurang-lebih empat puluh tahun, memberi hormat dan menjawab.
"Tidak salah dugaan Nona, ini memang jalan menuju ke kuil Kim-San-Pai dan Pinto bertiga memang betul sedang menuju ke sana karena Pinto bertiga adalah Tosu-Tosu dari Kim-San-Pai. Tidak tahu siapakah Nona ini dan apakah maksud penghormatan kunjungan Nona ini?"
"Aku adalah... orang-orang memanggilku Ang I Niocu, dan aku datang ke sini atas perintah Susiok-Couwku, Bu Pun Su."
Ang I Niocu tidak mau memperkenalkan nama sendiri karena ia memang lebih suka namanya tidak diketahui orang dan lebih suka dikenal sebagai Ang I Niocu.
Nama Ang I Niocu baru saja terkenal, dan para Tosu Kim-San-Pai itu belum pernah mendengarnya, maka nama ini tidak mendatangkan apa-apa.
Akan tetapi ketika Ang I Niocu menyebutkan nama Bu Pun Su, berubah wajah mereka dan berseri pandang mata mereka.
Otomatis ketiganya lalu memberi hormat dengan membungkuk.
"Maafkanlah, Pinto bertiga tidak tahu bahwa Niocu adalah utusan Sin-Taihiap Bu Pun Su. Marilah, kami antarkan Niocu bertemu dengan Suhu, karena kebetulan sekali Pinto bertiga juga mau menghadap Suhu."
Setelah berkata demikian, tiga orang Tosu itu lalu berlari cepat mendaki puncak itu, nampaknya terburu-buru sekali.
"Maaf, Nona, Pinto bertiga jalan di depan!"
Kata Tosu tadi sambil menoleh, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia sudah tidak dapat melihat lagi nona yang tadi ditinggalkannya.
Hanya bayangan merah berkelebat melewati mereka dan sebentar saja bayangan merah tadi sudah jauh di atas!
"Hebat...
Tosu itu menarik napas panjang dan berkata kepada dua orang kawannya.
"Melihat kepandaiannya, dia betul-betul utusan Sin-Taihiap Bu Pun Su dan agaknya nama baik Kim-San-Pai akan dapat tercuci bersih!"
Ia lalu mengajak dua orang kawannya untuk cepat-cepat mengejar ke puncak.
Ketika tiga orang Tosu itu sudah di puncak dan memasuki kuil besar yang berada di situ, mereka melihat semua Tosu sudah berkumpul di ruangan besar, bahkan Guru mereka juga sudah berada di situ.
Adapun Nona Baju Merah tadi hanya duduk agak jauh tidak berani mengganggu karena Guru besar Kim-San-Pai sedang sibuk memeriksa dua orang Tosu yang terluka.
Tiga orang Tosu yang baru datang mendapat jalan dan segera masuk ke tengah ruangan dimana Guru mereka bersila di lantai memeriksa dua orang anak murid yang tadi dipondong naik.
"Suhu...!"
Tiga orang Tosu ini berlutut.
Kakek yang memeriksa Tosu-Tosu terluka tadi memandang.
Ternyata dia adalah seorang Tosu tua.
Usianya sudah tujuh puluh tahun lebih akan tetapi ia masih kelihatan sehat dan kuat.
Keningnya berkerut dan pandang matanya muram, tanda bahwa ia sedang menahan ketidaksenangan hatinya.
"Siauw Seng Cu, coba kauceritakan, apa yang sebetulnya terjadi atas diri dua orang Susiokmu ini,"
Kata kakek itu yang bukan lain adalah Thian Beng Cu, ketua dari Kim-San-Pai.
Berbeda dengan Partai lain, para Tosu di Kim-San-Pai mempergunakan nama dengan huruf belakang Cu semua, dari ketuanya sampai Tosu pelayan.
Siauw Seng Cu, yakni Tosu yang tadi bercakap-cakap dengan Ang I Niocu, lalu bercerita.
Dan untuk mengetahui lebih jelas tentang pertentangan antara Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai, baiklah kita meninjau keadaan antara kedua Partai itu dan apa sebabnya kedua Partai itu sampal bermusuhan.
Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai berdekatan, hanya berbeda puncak saja akan tetapi masih satu daerah pegunungan, yakni pegunungan Bu-Tong-San.
Bahkan kalau melihat riwayat dahulu, Kim-San-Pai masih ada hubungan dengan Bu-Tong-Pai, karena pendiri dari Kim-San-Pai adalah sute dari pendiri Bu-Tong-Pai, jadi ilmu silat mereka masih berasal dari satu sumber.
Tentu saja ratusan tahun kemudian, ilmu silat itu berkembang biak dan mengalami banyak perubahan sehingga akhirnya banyak perbedaannya, masing-masing mempunyai corak dan kelihaian sendiri.
Asal mulanya, kakak beradik seperguruan, yakni pendiri Bu-Tong-Pai dan pendiri Kim-San-Pai, hanya berpisah puncak sebagai tempat bertapa.
Akan tetapi kemudian murid-murid mereka setelah berkembang biak, mempunyai perbedaan dalam kepercayaan atau agama, kalau pihak si Suheng itu anak muridnya menganut Agama Buddha, adalah anak murid si sute menganut Agama To.
Inilah kiranya yang menjadikan jurang pemisah sehingga akhirnya timbul dua Partai persilatan yang berbeda sekali, yakni Bu-Tong-Pai yang menganut Agama Buddha dan Kim-San-Pai penganut Agama To.
(Lanjut ke
Jilid 18) Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Ratusan tahun kemudian, di puncak Bu-Tong-San berdiri kelenteng besar di mana dipuja patung Buddha dan penghuni atau Pendeta-Pendetanya yakni anak murid Bu-Tong-Pai, terdiri dari Hwesio-Hwesio gundul.
Sebaliknya di puncak Kim-San, berdiri kuil besar dari Agama To dan anak murid Kim-San-Pai adalah Tosu-Tosu yang mempunyai nama akhir huruf Cu.
Selama ratusan tahun, perhubungan antara kedua Partai ini baik saja, sungguhpun berbeda agama, akan tetapi mereka tidak mau saling menyinggung, tidak mau saling mengejek, walaupun tak boleh dibilang bahwa hubungan mereka itu erat dan baik.
Pendeknya, mereka kedua pihak sadar bahwa diantara mereka masih ada hubungan saudara seperguruan, dan untuk menjaga jangan sampai terjadi salah paham, sengaja, kedua pihak saling menjauhi dan hanya "saling mendoakan"
Saja dari jauh!
Akan tetapi, kurang lebih dua tahun yang lalu, mulailah terjadi permusuhan antara dua Partai yang bersaudara ini.
Di kaki pegunungan Bu-Tong-San, di sebuah dusun terdapat dua orang pemuda kakak beradik Lai Tek dan Lai Seng.
Semenjak kecil Lai Tek menjadi anak murid Kim-San-Pai, sedangkan Lai Seng ketika sedang menggembala kerbau, dibawa oleh seorang Hwesio Bu-Tong-Pai yang melihat bakat baik dalam dirinya dan selanjutnya Lai Seng menjadi murid Bu-Tong-Pai.
Setelah tamat mempelajari ilmu silat di Kim-San-Pai, Lai Tek pulang ke dusunnya membawa kepandaian tinggi dan dia menjadi petani menggantikan pekerjaan Ayahnya.
Adapun Lai Seng dibujuk oleh Gurunya untuk masuk menjadi Hwesio karena oleh Gurunya dianggap bahwa murid ini hanya akan memperoleh kebahagiaan hidup abadi apabila suka menjadi Hwesio.
Lai Seng tidak mau menerima bujukan ini, bahkan minggat dari Bu-Tong-Pai dan pulang ke dusunnya, di mana ia membantu pekerjaan kakaknya yang tentu saja girang sekali melihat adiknya pulang sudah menjadi seorang pandai pula.
Sayang sekali bahwa watak Lai Seng jauh bedanya dengan kakaknya.
Lai Tek seorang yang jujur dan berbudi baik, menjunjung tinggi kegagahan dan keadilan.
Sebaliknya setelah turun gunung, Lai Seng menjadi "Binal"
Dan mulailah melakukan hal-hal yang tidak patut.
Bahkan berani mengandalkan kepandaiannya untuk mengganggu anak gadis orang dan minta harta secara paksa setengah merampok!
Berkali-kali Lai Tek yang mendengar akan kejahatan dan penyelewengan adiknya, menegur, bahkan pernah terjadi perkelahian antara kakak beradik ini yang berakhir dengan kemenangan Lai Tek.
Akan tetapi, Lai Seng ternyata tidak kapok dan masih seringkali melanggar, sungguhpun kini secara bersembunyi agar jangan diketahui kakaknya Lai Seng, maklum di dunia ini dia hanya mempunyai adiknya itu seorang sebagai anggauta keluarganya, juga tidak mau main keras, hanya kadang-kadang memberi nasihat dengan pengharapan kelak adiknya yang masih mudah itu dapat merubah kesalahannya.
Pada suatu hari, ketika Lai Tek sedang bekerja di sawahnya, seorang tetangganya datang berlari-lari dan memberi tahu bahwa adiknya sedang bertempur dengan dua orang Hwesio gundul.
Lai Tek meninggalkan paculnya di tengah sawah, dengan kedua kaki tangan masih penuh lumpur, ia berlari pulang.
Alangkah kaget dan marahnya ketika ia melihat Lai Seng roboh, terpukul oleh dua orang Hwesio itu tepat pada saat ia datang.
"Keparat gundul, kau bunuh adikku?"
Bentaknya sambil menyerang. Dua orang Hwesio itu melompat mundur.
"Nanti dulu, Sicu. Pinceng berdua datang untuk membunuh seorang anak murid Bu-Tong-Pai yang menyeleweng dan melakukan kejahatan. Harap kau jangan mencampuri urusan pinceng."
Lai Tek maklum bahwa dua orang Hwesio ini tentulah orang-orang Bu-Tong-Pai yang datang menghukum Lai Seng, akan tetapi pada saat itu, perasaan kasih sayang terhadap adiknya dan kesedihan besar melihat adiknya menggeletak mati itu menutup semua pertimbangan.
"Dia itu adik kandungku, bagaimana tidak boleh ikut campur? Hwesio keji, semenjak lahir dia itu sudah menjadi adikku, sedangkan dia baru menjadi murid Bu-Tong-Pai setelah dia sudah besar. Kalian membunuhnya secara keji, tanpa minta pertimbanganku. Hutang nyawa harus dibayar nyawa pula!"
Setelah berkata demikian, Lai Tek mengambil pedangnya dan menyerang dua orang, Hwesio itu.
Tingkat kepandaian Lai Tek memang sudah tinggi, dan serangannya itu dilakukan dalam keadaan nekad dan marah sekali.
Dalam pertempuran mati-matian, akhirnya seorang Hwesio Bu-Tong-Pai tewas di tangan Lai Tek dan Hwesio ke dua melarikan diri, memberi laporan kepada para pimpinan Bu-Tong-Pai.
Lo Beng Hosiang, Bu-Tong-San Ciang-bunjin adalah seorang kakek yang sabar dan alim.
Mendengar laporan ini, ia menarik napas panjang dan berkata.
"Lai Tek membalas sakit hatinya karena melihat adiknya dihukum mati, itu sudah sewajarnya. Hanya sayang sekali dia sebagai seorang gagah tidak menjunjung keadilan, tidak rela melihat adiknya dihukum padahal adiknya itu sudah terang-terang meniadi seorang penjahat pengganggu rakyat. Akan tetapi, perbuatannya itu bukan berarti bahwa dia pun jahat, hanya dia tidak dapat melepaskan kasih sayangnya terhadap adiknya. Apalagi dia itu masih anak murid Kim-San-Pai, oleh karena itu, biarlah urusan ini dihabiskan saja, tak perlu diperpanjang."
Akan tetapi, para Hwesio lain diam-diam tidak menyetujui pendapat ini dan beberapa orang Hwesio yang merasa penasaran, diam-diam pergi naik ke puncak Kim-San-Pai, menjumpai ketuanya dan menyampaikan protes.
Thian Beng Cu, ketua Kim-San-Pai yang sudah tua itu, mendengarkan protes Hwesio-Hwesio Bu-Tong-Pai dengan tenang, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata.
"Baiklah, Pinto akan memanggil Lai Tek dan akan minta pertanggungan jawabnya. Kalau memang betul dia bersalah, pasti Pinto akan menghukumnya. Harap sampaikan salam Pinto kepada Lo Beng Hosiang dan semoga kelak dia tidak sampai keliru memilih murid."
Kata-kata ini memperingatkan bahwa gara-gara semua peristiwa itu terletak dalam kesalahan memilih murid dari pihak Bu-Tong-Pai.
Inilah kata-kata sindiran yang memperingatkan bahwa kesalahan bukan berada di pundak pihak Kim-San-Pai dan semua ini sebetulnya adalah sudah sepatutnya.
Para Hwesio Bu-Tong-Pai yang mendengar ini pun dapat mengerti, maka mereka sudah merasa puas mendengar janji Thian Beng Cu ketua Kim-San-Pai bahwa Lai Tek akan diadili, sambil menghaturkan terima kasih mereka turun dari puncak Kim-San dan pulang ke Bu-Tong-San.
Akan tetapi, ketika pada keesokan harinya tiga orang Tosu Kim-San-Pai atas perintah Thian Beng Cu mendatangi dusun tempat tinggal Lai Tek untuk memanggil pemuda ini ke Kim-San-Pai, mereka mendapatkan Lai Tek telah menggeletak di kamarnya dengan tubuh rusak dicacah-cacah senjata tajam dan di tembok kamarnya terdapat tulisan dengan huruf darah, Mampuslah Lai Tek, anak murid Partai peniru Bu-Tong-Pai Dapat dibayangkan betapa marahnya hati tiga orang Tosu itu.
Tanpa memberitahukan Guru mereka lagi, mereka lalu menyerbu Bu-Tong-Pai dan di sana mereka menantang.
Mereka merasa yakin bahwa yang membunuh Lai Tek pasti orang-orang Bu-Tong-Pai.
Terjadi pertempuran di puncak Bu-Tong-Pai, akan tetapi tiga orang Tosu yang tingkatnya hanya ke tiga ini tentu saja kalah oleh Hwesio Bu-Tong-Pai yang tentu saja mengajukan jago yang lebih tinggi tingkatnya.
Dengan hati sakit dan tubuh luka-luka, tiga orang Tosu itu pulang ke Kim-San-Pai dan mengadu kepada Thian Beng Cu.
Ketua Kim-San-Pai mengerutkan kening, meraba-raba jenggotnya yang putih dan menggeleng-geleng kepalanya "Eh, eh, bagaimana bisa terjadi seperti ini?
Mereka membunuh Lai Tek, kalau ini untuk membalaskan kematian seorang Hwesio Bu-tong, itu masih tidak apa.
Akan tetapi mereka menghancurkan tubuh Lai Tek, ini sungguh-sungguh tidak sesuai dengan watak seorang penganut agama!
Dan mereka menuliskan kata-kata menghina, hemm, dalam hal apakah Partai Kim-San-Pai meniru Bu-Tong-Pai?"
"Dan mereka itu tidak mau mengaku bahwa mereka yang membunuh Lai Tek, Suhu,"
Kata seorang di antara tiga orang Tosu itu. Thian Beng Tosu mengangguk-angguk.
"Dapat dimengerti... dapat dimengerti. Sudah tentu saja Lo Beng Hosiang dan lain-lain tokoh Bu-Tong-Pai tidak mau mengakui perbuatan rendah itu dan mungkin sekali pekerjaan busuk itu dilakukan oleh seorang murid Bu-Tong-Pai secara diam-diam. Akan tetapi baik kita tunggu, tentu Lo Beng Hosiang akan berusaha menangkap pembunuh Lai Tek itu."
Demikianlah, ketua kedua pihak sama-sama bersikap sabar dan tidak mau memperbesar urusan itu.
Akan tetapi anak buah kedua pihak makin panas hati dan semenjak hari itu, seringkali terjadi bentrokan antara anak-anak murid Bu-Tong-Pai dan anak-anak murid Kim-San-Pai.
Adapun lima orang yang bertemu di lereng gunung dengan Ang I Niocu itu, mereka adalah Tosu-Tosu Kim-San-Pai.
Dua orang yang terluka adalah Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu dua orang sute dari Thian Beng Cu, sedangkan yang tiga orang lagi adalah murid-murid Thian Beng Cu yang sudah tinggi kepandaiannya.
Tujuh orang Tosu ini tadinya diutus oleh Thian Beng Cu untuk mewakilinya, pergi ke Bu-Tong-Pai untuk berunding dengan pihak Bu-Tong-Pai yang maksudnya mendamaikan urusan pertikaian antara anak-anak murid kedua pihak itu.
Akan tetapi, sebelum tiba di kuil para Hwesio Bu-Tong-Pai, baru saja tiba di lereng bukit, mereka bertemu dengan serombongan Hwesio Bu-Tong-Pai yang melarang mereka naik.
Karena kedua pihak memang sudah mendendam, lalu diadakan pibu di lereng gunung itu.
Masing-masing pihak mengajukan jagonya.
Untuk mencegah pihaknya mengalami kekalahan, maka Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu dua orang Tosu tua itu mengajukan diri.
Dari pihak Bu-Tong-Pai maju dua orang Hwesio tua yang kosen pula.
Pertempuran berjalan sengit dan akhirnya Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu dapat merobohkan dua orang lawannya.
Kemudian dari pihak Bu-Tong-Pai muncul seorang jago muda, bukan seorang Hwesio.
Pemuda ini lihai sekali dan melihat gerakan-gerakannya, dia itu bukan anak murid Bu-Tong-Pai, melainkan lebih tepat kalau menjadi anak murid Go-Bi-Pai karena ilmu pedangnya lihai sekali.
Menghadapi pemuda yang menjadi jago Bu-Tong-Pai ini, seorang demi seorang kedua Tosu tua Kim-San-Pai kena dirobohkan!
Setelah dua orang Susiok ini roboh, tentu saja lima orang Tosu Kim-San-Pai yang lain tidak berani maju, tahu bahwa hal itu akan percuma saja dan akan menambah besar rasa malu.
Mereka lalu menggotong tubuh dua orang Tosu tua itu, dibawa kembali ke puncak Kim-San dan di tengah jalan mereka bertemu dengan Ang I Niocu.
Demikianlah penuturan Siauw Seng Cu, murid dari Thian Beng Cu atau seorang diantara lima orang Tosu tadi.
Ketua Kim-San-Pai yang mendengar ini, nampak marah akan tetapi masih berusaha sedapat mungkin menahan perasaannya.
"Kembali hal ini tidak ada hubungannya dengan Lo Beng Hosiang. Keributan itu terjadi di lereng Bu-Tong-San dan diluar pengetahuan Lo Beng Hosiang. Pinto tak dapat ikut campur. Hal ini hanya akan mengeruhkan suasana. Sayang sekali kedua orang sute kurang dapat menyabarkan hati dan telah terjun ke dalam pertempuran sebelum bertemu dengan Lo Beng Hosiang sendiri."
Ia menarik napas panjang lalu menyuruh muridmuridnya membawa Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu ke dalam kamar untuk dirawat selanjutnya.
Luka-luka mereka biarpun parah, akan tetapi tidak membahayakan jiwa.
Setelah dua orang yang terluka itu dibawa masuk, Thian Beng Cu menyapu para Tosu anak-anak murid Kim-San-Pai yang jumlahnya empat puluh orang lebih dan hadir di tempat itu, lalu berkata.
"Kalian harus dapat menjaga diri dan menahan perasaan. Mulai hari ini, tidak boleh sekali-kali mencari gara-gara dengan pihak Bu-Tong-Pai. Kecuali kalau ada pihak mereka datang mencari gara-gara, jangan turun tangang akan tetapi cepat memberitahu agar Pinto sendiri yang dapat membereskan!"
Di dalam kata-kata ini biarpun terkandung nasihat supaya anak murid Kim-San-Pai bersabar, namun bukan sekali-kali memperlihatkan sifat takut, karena kalau ada apa-apa, Thian Beng Cu sendiri hendak turun tangan.
Jelas bahwa Tosu tua ini mengalah, akan tetapi bukan takut.
Tiba-tiba diantara pakaian para Tosu yang berwarna putih, kuning dan abu-abu itu, mata Thian Beng Cu yang masih tajam melihat warna merah yang menyolok mata.
Ketika ia memandang, ia terkejut dan heran bukan main melihat seorang gadis cantik jelita duduk di bagian belakang para hadirin.
"Eh, siapakah Nona yang berada di sana?"
Tegurnya. Siauw Seng Cu cepat berkata.
"Maaf bahwa tadi Teecu belum sempat memberitahukan akan kedatangan seorang tamu. Dia itu adalah seorang utusan dari Sin-Taihiap Bu Pun Su."
Berseri wajah Tosu tua itu dan tangannya memberi isarat kepada semua anak muridnya supaya bubar dari ruangan itu. Kemudian ia melambai ke arah Ang I Niocu dan berkata.
"Jangan berkecil hati bahwa Pinto tidak dari tadi menyambut, karena adanya sedikit keributan tadi. Mari, Nona, silakan duduk di sini."
Ang I Niocu menghampiri Ketua Kim-San-Pai dan memberi hormat.
"Locianpwe, harap maafkan kalau kedatanganku mengganggu. Aku diutus oleh Susiok-Couw Bu Pun Su untuk bertemu dengan Locianpwe."
"Aha, jadi Pendekar Sakti Bu Pun Su itu masih ada di dunia ini? Sungguh merupakan kehormatan besar sekali kalau seorang Pendekar besar dan sakti seperti dia itu masih ingat bahwa di dunia ini terdapat sebuah Partai kecil seperti Kim-San-Pai. Nona, siapakah namamu dan kau diutus apakah oleh Susiok-Couwmu itu?"
"Maaf, Locianpwe, maaf kalau aku tidak dapat memberitahukan nama kecilku yang sudah kulupakan. Orang menyebutku Ang I Niocu dan kedatanganku di sini adalah atas perintah Susiok-Couw Bu Pun Su. Susiok-Couw mendengar tentang pertikaian yang timbul antara Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai. Orang tua itu merasa prihatin sekali meridengar akan hal ini, maka mengutus aku datang ke sini untuk mohon kepada Locianpwe atau lebih luas lagi kepada pihak Kim-San-Pai agar supaya suka menghentikan segala permusuhan antara kawan sendiri yang hanya mendatangkan kerugian bersama. Susiok-Couw Bu Pun Su minta supaya aku menyampaikan bahwa pada waktu ini, negara sedang terancam bahaya perang dari pihak Pemberontak-Pemberontak, dan rakyat sedang menderita karena kekacauan timbul di mana-mana. Oleh karena itu, perlu bagi kita semua untuk menghimpun tenaga dan memperkuat persatuan, menghilangkan segala macam salah paham di antara kita. Demikianiah pesan Susiok-Couw dan orang tua itu mengharap supaya Locianpwe sudi mendamaikan urusan Kim-San-Pai dengan Bu-Tong-Pai."
Thian Beng Cu tersenyum dan mengangguk-angguk perlahan.
"Ang I Niocu, kau masih begini muda sudah melupakan nama sendiri, alangkah hebatnya kesengsaraan yang kauderita. Pinto hanya mengharap kau akan kuat menahan ujian hidup ini dan tidak menjadi putus harapan, karena kau yang sudah dipilih Bu Pun Su untuk mewakilinya dalam urusan ini, tentu kau sudah memiliki kekuatan itu. Pandangan Bu Pun Su yang kau kemukakan tadi memang betul, akan tetapi, apa kau kira Pinto sendiri tidak menyadari akan hal itu? Kalau sekiranya Pinto tidak menjaga keutuhan perhubungan antara Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai, apakah tidak sudah terjadi pertumpahan darah besar-besaran? Kau sudah sejak tadi berada di tempat ini, kiranya kau pun sudah mendengar sendiri apa yang baru saja terjadi. Pinto sudah berusaha hendak mendamaikan urusan, akan tetapi sayangnya, utusan Pinto bahkan dihadang di jalan dan dua orang suteku dilukai. Nona biarpun masih muda, akan tetapi kau adalah utusan Bu Pun Su, oleh karena itu, Pinto menyerahkan urusan ini kepadamu untuk dibereskan. Usaha untuk damai dari pihak kami sudah cukup dan kalau dipaksakan lagi, kiranya hanya akan mendatangkan keributan saja. Biarlah sekarang kau yang mencoba untuk membereskan."
Thian Beng Cu memang cerdik.
Ia sama sekali tidak gentar menghadapi Bu-Tong-Pai, akan tetapi tadi ia mendengar bahwa kedua orang Sutenya itu dirobohkan oleh seorang anak murid Go-Bi-Pai.
Hal ini bukan main-main, karena kalau tidak hati-hati, bisa jadi Kim-San-Pai akan bertambah seorang musuh lagi, yakni Go-Bi-Pai.
Dan kalau ini terjadi, benar-benar amat berbahaya dan akan makin membahayakan kedudukan Kim-San-Pai.
Oleh karena itu, setelah kini Ang I Niocu muncul sebagai utusan Bu Pun Su, biarlah ia mengoperkan tugas perdamaian itu kepada gadis ini.
Ang I Niocu menyanggupi dan malam hari itu Ang I Niocu mendengar penuturan para Tosu Kim-San-Pai tentang asal mula pertikaian itu timbul.
Sementara itu, diam-diam Thian Beng Cu menyuruh seorang muridnya untuk pergi ke Propinsi Hokkian dan mencari seorang Sutenya yang sudah lama merantau, yakni Eng Yang Cu.
Sutenya ini jauh lebih muda darinya, usianya paling banyak lima puluh tahun, akan tetapi kalau dibanding tingkat kepandaiannya, kiranya Eng Yang Cu ini termasuk orang paling tinggi tingkatnya di Kim-San-Pai.
Memang Eng Yang Cu yang paling disayang oleh mendiang Guru mereka, dan menerima warisan ilmu yang paling banyak.
Sebetulnya, Eng Yang Cu inilah dahulunya yang dicalonkan menjadi ketua Kim-San-Pai, akan tetapi ternyata bahwa Eng Yang Cu mempunyai darah perantau dan tidak betah tinggal di puncak gunung.
Oleh karena itu, terpaksa kedudukan ciangbunjin diserahkan kepada Thian Beng Cu, murid tertua dan Eng Yang Cu melakukan perantauan di Propinsi Hokkian.
Thian Beng Cu, memanggil Sutenya yang boleh diandalkan itu untuk menjaga kalau-kalau usaha perdamaian gagal dan pecah pertempuran antara kedua pihak, hanya Sutenya inilah yang boleh ia andalkan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ang I Niocu sudah bangun dan bersiap-siap hendak ke Bu-Tong-Pai.
Ia telah memperoleh keterangan dan penjelasan dari Ketua Kim-San-Pai, sekarang ia harus menemui Ketua Bu-Tong-Pai sehingga setelah mendengar keterangan kedua pihak, mudah baginya untuk mendamaikan urusan ini.
Ia merasa girang bahwa ternyata pihak Kim-San-Pai amat bijaksana dan tidak menghendaki dilanjutkannya permusuhan itu.
"Mudah-mudahan saja pihak Bu-Tong-Pai juga dapat diajak berunding,"
Pikirnya.
Akan tetapi, sebelum ia berangkat, tiba-tiba ia melihat beberapa orang Tosu berlari-lari masuk dengan muka berubah dan mendengar mereka memberi laporan kepada Thian Beng Cu bahwa ada beberapa orang Hwesio Bu-Tong-Pai datang menyerbu Kim-San-Pai.
Mendengar ini, Ang I Niocu berkata.
"Locianpwe, biarkan aku menghadapi mereka!"
Ia merasa penasaran sekali dan melihat gelagat seperti ini, ia hampir menduga bahwa di dalam pertikaian itu, pihak Bu-Tong-Pailah yang keterlaluan!
Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, Ang I Niocu turun dari puncak.
Tak lama kemudian benar saja, ia melihat serombongan orang mendaki puncak itu.
Mereka ini terdiri dati tujuh orang Hwesio gundul dan seorang pemuda yang tampan dan gagah.
Melihat sikap mereka, makin besar dugaan Ang I Niocu bahwa mereka ini sengaja datang mencari keributan, maka ia lalu mencabut pedangnya dan memegang pedang itu dengan sikap tenang dan gagah.
Setelah mereka datang dekat, baru ia tahu bahwa mereka ini adalah rombongan orang-orang Bu tong-pai yang pernah membantunya menghadapi keroyokan Koai-Tung Toanio dan pasukan Pemberontak Lie.
Pemuda itu ternyata adalah pemuda tampan yang mengejar-ngejarnya untuk berkenalan!
Adapun pemuda itu serta rombongannya ketika melihat Ang I Niocu berdiri di situ dengan pedang di tangan, segera mengenalnya dan pemuda itu melompat cepat menghampirinya.
"Kau di sini, Nona..."
Tegurnya dengan wajah berseri.
Akan tetapi Ang I Niocu memandang kepadanya dengan muka dingin dan sinar mata menyelidik.
Kemudian Ang I Niocu menghadapi tujuh orang Hwesio itu dan berkata, suaranya nyaring akan tetapi halus.
"Cu-wi Suhu sekalian ini bukankah Hwesio-Hwesio Bu-Tong-Pai?"
Seorang diantara tujuh orang Hwesio itu, yang tertua, menjawab.
"Betul, Nona, pinceng dan saudara-saudara pinceng adalah anak-anak murid Bu-Tong-Pai. Kau sendiri siapakah dan mengapa dahulu dikeroyok oleh pasukan Pemberontak?"
"Aku Ang I Niocu dan urusanku dengan mereka itu tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain. Yang terpenting sekarang ini, kalian datang ke Kim-San mempunyai keperluan apakah?"
Hwesio itu nampaknya tidak senang.
"Ang I Niocu, kau bilang tadi bahwa urusanmu tidak ada sangkut-pautnya dengan kami. Sebaliknya, urusan kami di Kim-San ini pun kiranya tidak ada sangkut-pautnya denganmu!"
Ang I Niocu tersenyum dan kalau tadinya diantara para Hwesio itu ada yang marah, maka kemarahan itu sekaligus mencair oleh senyum yang luar biasa manisnya ini.
Pemuda tampan itu sampai melongo dan mukanya sebentar pucat sebentar merah.
Begitu hebat wajah Ang I Niocu menarik hatinya.
"Hwesio-Hwesio dari Bu-Tong-Pai ketahuilah. Aku sudah mendapat tugas dari Locianpwe Thian Beng Cu untuk menyelesaikan urusan pertikaian antara Kim-San-Pai dengan Bu-Tong-Pai. Sekarang aku justru hendak pergi ke Bu-Tong-Pai menghadap Lo Beng Hosiang untuk mendamaikan urusan. Akan tetapi, baru kemarin utusan Kim-San-Pai yang datang ke Bu-Tong-Pai untuk mendamaikan urusan, telah dilukai orang."
Ang I Niocu mempergunakan lirikan matanya yang tajam menyambar ke arah pemuda tampan itu.
"Dan melihat gelagatnya, agaknya kalian inilah yang menyerang mereka. Sekarang, kalian datang ke sini dengan sikap aneh, membawa-bawa pula seorang jagoan. Mau apakah?"
Pemuda itu menjadi merah mukanya! Cepat ia maju dan menjura kepada Ang I Niocu, lalu bicara dengan suaranya yang halus dan sikapnya yang sopan.
"Maaf, maaf... harap Niocu sudi memberi maaf. Agaknya dalam urusan ini ada kesalahpahaman, dan antara kau dan aku kiranya ada persamaan tugas. Ketahuilah, Nona, aku Liem Sun Hauw murid Go-Bi-Pai mewakili Susiok Twi Mo Siansu, datang ke Bu-Tong-Pai juga dengan maksud mendamaikan urusan perselisihan antara Bu-tong dan Kim-San-Pai."
Tiba-tiba pemuda itu menunda kata-katanya karena ia melihat betapa sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar berapi-api dan wajah gadis itu menjadi merah.
Jelas sekali bahwa gadis itu marah luar biasa kepadanya.
"Eh. Nona... kau... mengapa kau marah kepadaku?"
Tanyanya gagap.
Memang, Ang I Niocu marah sekali sehingga ia merasa seluruh tubuhnya tergetar-getar.
Tangan yang memegang pedang menggigil dan kalau ia tidak mengerahkan seluruh tenaga batin, tentu ia sudah sejak tadi menyerang pemuda di depannya ini.
Jadi inilah pemuda yang bernama Liem Sun Hauw, inilah pemuda yang disebut-sebut oleh Ayahnya dahulu, pemuda yang hendak dijodohkan dengan dia!
Inilah pemuda yang menjadi gara-gara, menjadi biang keladi sehingga ia kehilangan kekasihnya dan kehilangan Ayahnya pula.
Kalau tidak ada pemuda ini di muka bumi, kiranya ia tidak akan kehilangan Ayahnya, dan kiranya ia akan dapat berjodoh dengan Gan Tiauw Ki.
"Kau...?"
Ketika hendak mengeluarkan kata-kata, ternyata lehernya seperti tercekik dan yang keluar hanya sebuah kata-kata itu saja.
Pemuda itu memandang heran.
Ia tidak mengerti mengapa nona cantik ini begitu marah kepadanya.
Akan tetapi Ang I Niocu teringat akan tugasnya, teringat bahwa ia sedang melakukan tugas yang diperintahkan oleh Susiok-Couwnya Bu Pun Su.
Kalau ia menuruti nafsu hatinya sehingga urusan itu menjadi kacau, tentu ia akan mendapat marah besar dari Susiok-Couwnya.
Setelah dapat menekan debar jantungnya, ia berkata, melanjutkan kata-katanya tadi.
"Kau bilang hendak mendamaikan, mengapa kau justru melukai dua orang Tosu Kim-San-Pai? Dan mengapa kau menghadang rombongan utusan Kim-San-Pai ke Bu-Tong-San? Mengapa pula sekarang kau datang ke sini? Hendak menyerbu Kim-San-Pai? Hemm, kau mengandalkan apakah demikian sombong?"
Menghadapi tuduhan Ang I Niocu, Liem Sun Hauw merasa penasaran sekali.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pemuda ini telah dipilih oleh Twi Mo Siansu ketua Go-Bi-Pai sebagai wakilnya memenuhi permintaan Bu Pun Su.
Tugas Liem Sun Hauw adalah untuk mendamaikan pertikaian yang timbul antara Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai.
Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, pemuda ini memiliki kepandaian tinggi dan telah mendatangkan rasa kagum kepada Kiang Liat sehingga Pendekar itu memungut pemuda ini sebagai mantunya!
Setelah Liem Sun Hauw berpisah jaIan dengan Kiang Liat, pemuda ini melanjutkan perjalanannya ke Bu-Tong-Pai yang amat jauh itu.
Karena perjalanan lni melalui Propinsi Shansi, dan kampungnya hanya terletak seratus li dari jalan itu, Ia singgah dulu di kampungnya, Peng-Kan-Mui untuk memberi tahu Ayahnya akan segala pengalamannya.
Pemuda ini memang seorang anak berbakti dan ia tidak tega meninggalkan Ayahnya seorang diri terlalu lama.
Alangkah sedihnya ketika ia mendapatkan Ayahnya yang sudah tua dan duda itu ternyata sedang menderita sakit panas yang agak berat juga.
Terpaksa ia menunda perjalanannya.
Tugas yang ia terima dari Susioknya boleh jadi penting, akan tetapi lebih penting lagi menjaga dan merawat Ayahnya.
Oleh karena inilah maka perjalanannya terlambat.
Sampai lima bulan lebih ia tinggal di rumahnya untuk merawat Ayahnya.
Ketika ia pergi, yang merawat Ayahnya Tang Siok Lan, gadis tetangga yang semenjak kecil sudah dikenalnya.
Gadis ini manis dan terkenal sebagai bunga kampung Peng-Kan-Mui, dan melihat gelagatnya, semenjak dahulu gadis itu "Ada hati"
Kepadanya.
Akan tetapi, tentu saja tidak pernah menyatakan hal ini dengan kata-kata atau gerakan, hanya sinar matanya saja yang berkata banyak.
Sebaliknya, Sun Hauw juga amat suka kepadanya, kawan mainnya semenjak kecil.
Seperti juga dia, Siok Lan telah ditinggal mati ibunya dan.
hanya hidup bersama Ayahnya dan kakaknya yang sudah menikah dan tinggal satu rumah dengan Ayahnya.
Setelah Sun Hauw datang, Siok Lan mengundurkan diri dan pemuda itu yang menggantikannya merawat Ayahnya sendiri.
Akan tetapi boleh dibilang setiap hari Siok Lan pasti datang untuk membawa ini-itu, untuk menyatakan ini-itu, sehingga diam-diam Sun Hauw makin suka dan merasa berhutang budi kepada gadis manis itu.
Akhirnya Ayahnya sembuh dan Sun Hauw teringat kembali akan tugasnya.
Diceritakannya semua pengalamannya kepada Ayahnya, kecuali tentang maksud Kiang Liat menariknya menjadi mantu.
"Berangkatlah, Sun Hauw. Sudah menjadi tugasmu memenuhi perintah Susiokmu itu. Akan tetapi kau berhati-hatilah dan jangan terlalu lama pergi. Setelah tugasmu selesai kau harus segera pulang, karena aku bermaksud merayakan pernikahanmu."
Sun Hauw kaget.
"Pernikahan...!"
Ayahnya mengangguk.
"Kau sudah cukup dewasa, Sun Hauw. Dan kau melihat sendiri betapa baiknya Siok Lan. Kiranya di atas dunia ini sukar mencari keduanya. Pula, bukankah ia kawan mainmu semenjak kecil? Dan bukankah kalian sudah saling suka? Aku sudah mengambil keputusan dan berdamai dengan Ayahnya, perjodohan antara kau dan Siok Lan sudah kuikat. Kau kuberi waktu setengah tahun, Anakku. Ayah sudah tua dan sudah ingin melihat seorang cucu."
Sun Hauw menundukkan kepalanya saja, tidak berani membantah.
Memang harus ia akui bahwa selama ini, satu-satunya gadis yang menarik hatinya hanyalah Siok Lan seorang.
Akan tetapi, mendengar ucapan Ayahnya tentang perjodohannya dengan Siok Lan, ia teringat akan usul Kiang Liat dan ia menjadi ragu-ragu.
Tak dapat disangkalnya bahwa Siok Lan adalah seorang gadis pilihan.
Cukup cantik manis dan ia sudah tahu dan kenal betul akan watak gadis itu yang lemah-lembut, halus dan berbudi mulia.
Akan tetapi, gadis itu adalah seorang yang lemah, yang tidak pernah belajar ilmu silat sedikit pun juga!
Berbeda dengan puteri dari Kiang Liat, Pendekar yang berilmu tinggi itu.
Apalagi menurui penuturan Kiang Liat sendiri, puterinya bernama Kiang Im Giok dan berjuluk Ang I Niocu itu, kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada Kiang Liat.
Padahal ilmu kepandaian Kiang Liat saja sudah tinggi sekali!
Sun Hauw menjadi bimbang.
Bingung ia kalau harus memilih.
Siok Lan cantik jelita, berbudi baik, akan tetapi tidak pandai silat.
Ang I Niocu Kiang Im Giok lihai ilmu silatnya akan tetapi ia belum pernah melihatnya, tidak tahu apakah dia itu juga cantik dan bagaimana wataknya.
Akan tetapi, Sun Hauw tidak berani membantah.
Ia tidak mau membikin Ayahnya kecewa dan berduka, maka ia tidak menyatakan sesuatu tentang perjodohan ini.
Maka berangkatlah Sun Hauw menuju ke Bu-Tong-San.
Ketika tiba di kaki Pegunungan Min-San, di tengah jalan ia bertemu serombongan anak murid Bu-Tong-Pai.
Sun Hauw bermata tajam dan sekali melihat saja ia dapat menduga bahwa rombongan yang terdiri dari belasan orang ini adalah orang-orang berkepandaian silat.
Maka ia menyapa mereka dan mengajak berkenalan.
Alangkah girangnya ketika mereka itu terus terang mengaku bahwa mereka adalah anak-anak murid Bu-Tong-Pai yang sedang melakukan tugas meronda.
Ternyata bahwa Bu-Tong-Pai juga tidak tinggal diam dan berpeluk tangan saja melihat adanya Pemberontakan-Pemberontakan di berbagai tempat.
Atas perintah Lo Beng Hosiang ketua Bu-Tong-Pai, anak-anak murid yang bukan Hwesio diberi tugas melakukan penjagaan dan penyelidikan di beberapa tempat.
Min-San termasuk wilayah perbatasan Secuan-Kansu-Shensi, maka di tempat ini pun terdapat anak-anak murid Bu-Tong-Pai, yang melakukan ronda dan penjagaan.
Rombongan yang bertemu dengan Sun Hauw inilah rombongan anak murid Bu-Tong-Pai yang sedang melakukan penyelidikan.
"Kebetulan sekali,"
Kata Sun Hauw.
"Siauwte juga sedang menuju ke Bu-Tong-Pai atas perintah dari Susiok Twi Mo Siansu ketua Go-Bi-Pai."
Dengan singkat ia lalu menuturkan tentang tugasnya.
Tentu saja rombongan Bu-Tong-Pai itu merasa girang, akan tetapi mereka menyatakan bahwa pada waktu itu mereka sedang menyelidiki ke puncak Min-San, karena mendengar kabar tentang datangnya sepasukan Pemberontak, yakni anah buah pasukan Pemberontak Lie di propinsi Shensi.
"Kami harus menyelidiki apa yang mereka lakukan di sini, dan kalau perlu mengusir mereka,"
Kata seorang di antara rombongan Bu-Tong-Pai itu.
Karena Sun Hauw juga termasuk orang yang anti Pemberontak, ia lalu menyatakan kesediaannya untuk membantu.
Demikianlah, mereka mendaki puncak Min-San dan kebetulan sekali melihat Ang I Niocu dikeroyok oleh pasukan Pemberontak, lalu turun tangan membantunya.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu tidak mau menghubungi mereka dan meninggalkan Sun Hauw yang amat tertarik oleh kecantikannya.
Memang Sun Hauw benar-benar tertarik sekali.
Harus ia akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia melihat seorang dara demikian ayu dan demikian tinggi ilmu silatnya.
Tidak mengherankan apabila ia terpesona dan merasa seakan-akan semangatnya terbetot keluar mengikuti bayangan nona itu.
Diam-diam ada juga dugaan di dalam hatinya yang memberdebar-debar.
Nona itu berpakaian serba merah, cantik jelita dan lihai sekali.
Apakah dia itu yang disebut Ang I Niocu, puteri dari Kiang Liat?
Kalau teringat akan dugaan ini, Sun Hauw menjadi berdebar-debar.
Kalau betul nona itu Ang I Niocu yang hendak dijodohkan dengan dia, aduuuh!
Bukan main cantiknya!
Dan bukan main tinggi ilmu silatnya.
Akan tetapi, wataknya...
mengapa demikian galak?
Dengan rombongan Bu-Tong-Pai, Sun Hauw lalu menuju ke Bu-Tong-San.
Kebetulan sekali, baru saja ia naik sampai di lereng puncak Bu-Tong-San dan disambut oleh para Hwesio penyambut, tiba-tiba seorang Hwesio berlari-lari dari bawah melaporkan bahwa ada orang-orang Kim-San-Pai datang menyerbu!
Sementara itu, Sun Hauw di sepanjang jalan telah mendengar dari anak-anak murid Bu-Tong-Pai bahwa Kim-San-Pai selalu mencari perkara dan permusuhan, dan biarpun Bu-Tong-Pai sudah banyak mengalah, selalu Kim-San-Pai mendesak mengandalkan ilmu silatnya yang katanya lebih tinggi dari Bu-Tong-Pai!
Hal ini memang sudah wajar.
Setiap kali ada dua pihak bermusuhan, tentu masing-masing pihak tidak mau mengaku salah, dan selalu menganggap pihak yang lain amat jahat.
Siapakah orangnya yang berani mengaku dia yang salah dan pihak lawan yang benar?
Orang demikian inilah betul-betul orang gagah, akan tetapi di dunia hanya ada satu setiap seribu!
Sun Hauw tidak mau berlaku ceroboh.
Biarpun ia sudah mendapat kesan jelek tentang Kim-San-Pai dari para anak murid Bu-Tong-Pai, akan tetapi ia hendak melihat dulu dan tidak akan mencampuri kalau tidak perlu sekali.
Maka ia pun ikut dengan para Hwesio itu turun lagi dari lereng untuk menyambut datangnya rombongan Kim-San-Pai.
Kalau dua pihak yang bermusuhan dan di dalam hati telah mengandung dendam dan benci saling bertemu, sukarlah untuk mengharapkan kata-kata yang baik dan suasana menjadi panas sekali dan hal ini dapat dimaklumi.
Para Hwesio Bu-Tong-Pai ketika melihat tujuh orang Tosu naik ke puncak Bu-Tong-Pai sambil mempergunakan ilmu lari cepat, sudah menduga salah dan menuduh mereka itu sengaja memamerkan kepandaian mereka dalam ilmu lari cepat!
Kini kedua rombongan itu sudah saling berhadapan.
"Tosu-Tosu sombong kalian berani naik ke sini mau apakah?"
Tegur seorang Hwesio Bu-Tong-Pai.
Semua Hwesio Bu-Tong-Pai telah mencabut pedang dan bersiap sedia memandang kepada para Tosu itu dengan penuh curiga.
Para Tosu Kim-San-Pai melihat sikap bermusuh dari Hwesio-Hwesio Bu-Tong-Pai itu pun merasa tersinggung dan tak senang.
Apalagi kalau mereka lihat bahwa Hwesio-Hwesio yang menyambut mereka dengan sikap kurang ajar dan bermusuh ini bukanlah Hwesio-Hwesio tingkat tinggi, melainkan Hwesio tingkat rendah saja.
Yang datang adalah dua orang sute dari Ketua Kim-San-Pai bersama lima orang Hwesio tingkat tinggi, ini merupakan rombongan orang-orang terkemuka dari Kim-San-Pai.
Akan tetapi kedatangan mereka disambut secara kasar oleh Hwesio-Hwesio tingkat rendah.
Benar-benar hal ini merupakan penghinaan bagi Kim-San-Pai.
Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu, dua orang sute Thian Beng Cu ketua Kim-San-Pai mengerutkan kening.
Thian Lok Cu adalah seorang Tosu yang berwatak keras.
Melihat sikap para Hwesio itu ia lalu melangkah maju dan berkata nyaring.
"Sobat-sobat gundul ketahuilah bahwa kami datang untuk bertemu dengan Lo Beng Hosiang, bukan untuk ribut mulut dengan kalian. Lekas kalian laporkan kedatangan kami kepada Lo Beng Hosiang atau kalian menyingkir agar kami dapat naik sendiri ke kuil Bu-Tong-Pai!"
"Tosu sombong! Macam kalian ini mau bertemu dengan Guru besar kami? Kalau ada keperluan, lekas beritahu kepada kami, kalau tidak lebih baik kalian lekas-lekas pergi dari sini sebelum kami terpaksa mendorong kalian menggelundung turun!"
Kata seorang Hwesio yang pernah menjadi pecundang dalam sebuah pertempuran dengan anak murid Kim-San-Pai beberapa hari yang lalu.
Suasana menjadi makin panas ketika serombongan Hwesio turun pula dari atas.
Mereka ini sebagian besar adalah Hwesio-Hwesio tingkat rendah yang paling merasa "dendam"
Kepada pihak Kim-San-Pai maka ramailah mereka mengeluarkan kata-kata menantang.
Para Tosu Kim-San-Pai juga sudah mencabut pedang, takut kalau-kalau para Hwesio yang amat banyak itu menyerbu dengan tiba-tiba.
Thian Lok Cu menggerak-gerakkan tangannya sambil membentak.
"Hwesio-Hwesio tidak tahu aturan, apakah kalian hendak mengeroyok kami?"
Seorang Hwesio bermuka hitam melompat keluar dan melintangkan toya di depan dadanya.
Hwesio ini adalah Twi Kang Hwesio, murid termuda dari Lo Beng Hosiang, sifatnya jujur dan berangasan, tidak mau kalah.
Ia sudah marah sekali mendengar kata-kata Thian Lok Cu tadi, maka katanya dengan suara menggeledek.
"Tosu bau! Masa untuk menghadapi seorang Kim-San-Pai saja harus dilakukan keroyokan? Pinceng sendiri sudah cukup mencegah kau naik dan membikin ribut. Hayo turun, atau kau berani menghadapi toyaku ini?"
Diamang-amangkan toyanya di depan muka Thian Lok Cu.
"Keparat gundul, kami datang dengan maksud baik, kalian sengaja mengajak pibu? Baik, baik, jangan kira Kim-San-Pai tidak mempunyai orang lihai. Kalau aku kalah olehmu, aku akan kembali ke Kim-San-Pai dan belajar sepuluh tahun lagi."
Tak dapat dicegah pula, pertempuran hebat pasti akan terjadi. Melihat hal ini, Thian Hok Cu yang lebih tua dan lebih sabar daripada Thian Lok Cu, menggoyang-goyang tangan dan berkata.
"Sahabat-sahabat dari Bu-Tong-Pai, harap tenang dan sabar. Lebih baik melaporkan kepada Lo Beng Hosiang bahwa kami hendak bertemu bukan mencari keributan di sini."
Akan tetapi suasana yang sudah panas itu mana bisa dibikin dingin oleh Thian Hok Cu yang tidak pandai bicara?
Seorang Hwesio tinggi kurus yang memegang pedang, yakni Suheng dari Twi Kang Hwesio, yang bernama Lu Pek Hwesio, melangkah maju menghadapi Thian Hok Cu sambil berkata.
"Tosu, kalau kau tidak berani menerima tantangan pibu, lebih baik kau pulang saja dan jangan berlagak pula di sini. Ingat bahwa di sini adalah tempat kami!"
Terdengar suara seorang Hwesio dari belakang.
"Ha, satu lawan satu saja dia sudah ketakutan. Lihat mukanya pucat seperti mayat, ha, ha. Tosu pengecut!"
Memang Thian Hok Cu mempunyai muka yang pucat kuning, maka sindiran ini benar-benar menyakitkan hatinya. Thian Lok Cu berkata kepada Suhengnya.
"Suheng, apakah kita harus diamkan saja orang-orang hutan ini menghina Partai kita? Sedikitnya kita harus menjaga nama baik Kim-San-Pai. Mari kita layani tantangan pibu mereka."
Didesak seperti itu, akhirnya Thian Hok Cu kehilangan kesabaran pula. Ia memandang kepada rombongan Hwesio dan berkata.
"Biarlah kami berdua layani tantangan pibu kalian. Akan tetapi kalau kami menang, kami harus boleh naik menemui Lo Beng Hosiang!"
Twi-Kang Hwesio dan Lu Pek Hwesio sudah siap sedia. Twi Kang Hwesio Si muka hitam menghadapi Thian Lok Cu dan berkata.
"Menang kalah masih belum tentu mengapa ribut-ribut? Kalau kalian bisa menangkan kami, tentu saja kalian boleh lakukan apa yang kalian suka, siapa berani menghalang? Siaplah dan lihat senjata!"
Sambil berkata begini, toyanya menyelonong ke depan melakukan serangan pertama.
Dengan mudah Thian Lok Cu menangkis, dan terjadilah pertempuran sengit antara Thian Lok Cu melawan Twi Kang Hwesio dan Thian Hok Cu yang bertempur melawan Lu Pek Hwesio.
Berbeda dengan Sutenya yang main toya, Lu Pek Hwesio bermain pedang dan pertempuran ini lebih ramai.
Suara senjata bertemu senjata terdengar nyaring menegangkan hati, berkelebatnya sinar senjata menambah keseraman pertempuran itu.
Liem Sun Hauw semenjak tadi hanya menonton, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Dia diberi tugas untuk mendamaikan pertikaian antara Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai, dan sekarang ia menjadi saksi pertempuran antara kedua Partai itu!
Kalau ia turun tangan keadaannya tak akan menjadi lebih baik, pikirnya.
Suasana sudah terlalu panas dan kedua pihak sudah marah sekali.
Kalau ia datang memisah, belum tentu mereka suka menurut, bahkan dia sendiri mungkin akan dimusuhi oleh kedua pihak!
Ia telah mendapat kesan baik tentang Bu-Tong-Pai dan kesan buruk tentang Kim-San-Pai, Dan sekarang ia lihat bahwa pertempuran itu adalah sebuah pibu yang adil, maka ia menjadi serba salah dan hanya menonton di pinggir.
Tak lama kemudian ternyata bahwa kepandaian dua orang Tosu Kim-San-Pai itu masih lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian Twi Kang Hwesio dan Lu Pek Hwesio.
Hampir bersamaan waktunya, dua orang Hwesio itu roboh dengan menderita luka-luka ringan, terkena tusukan dan babatan pedang dua orang tokoh Kim-San-Pai itu.
Para Hwesio Bu-Tong-Pai menjadi marah sekali.
Mereka sudah mencabut senjata masing-masing dan lebih dari lima puluh orang Hwesio ini agaknya hendak menyerbu, mengeroyok tujuh orang Tosu Kim-San-Pai.
Melihat hal ini, Liem Sun liauw cepat melompat ke tengah, mendahului para Hwesio itu dan menghadapi Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu.
"Ji-wi totiang harap mundur saja dan jangan lanjutkan maksud naik ke puncak,"
Katanya nyaring.
Para Hwesio yang melihat pemuda utusan Ketua Go-Bi-Pai itu maju, berhenti bergerak dan menjadi besar hati.
Mereka tahu akan kelihaian utusan Go-Bi-Pai ini maka diam-diam mereka hanya memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Adapun Thian Hok Cu dan Thian Lok Cu, setelah mendapat kemenangan, tentu saja tidak mau mundur.
Mereka menganggap amat tidak adil kalau pihak yang menang bahkan harus mundur!
Bukankah tadi sudah dijanji bahwa karena mereka menang, mereka akan diperkenankan menemui Lo Beng Hosian?
"Kau ini siapakah dan ada hak apakah akan melarang kami?"
Thian Lok Cu membentak marah. Liem Sun Hauw tersenyum.
"Totiang, Siauwte sekali-kali bukan melarang, hanya Siauwte anggap jauh lebih baik menghindari pertengkaran yang makin menghebat daripada berkeras kepala."
"Kami sudah menang, kau mau apa? Kalau masih ada yang penasaran, boleh coba-coba. Kami selalu sedia melayani, asal jangan dilakukan pengeroyokan secara pengecut!"
Kata pula Thian Lok Cu.
Sun Hauw mengerutkan kening.
Sikap yang diperlihatkan oleh Tosu ini sama sekali tidak baik, pikirnya.
Sikap yang seperti inilah yang memperbesar permusuhan yakni sikap tidak mau mengalah dan keras kepala.
Tosu ini menganggap diri sendiri paling pandai, dan kiranya perlu diberi hajaran.
Demikian Sun Hauw berpikir.
Kalau sampai terjadi pertempuran keroyokan, kiranya tujuh orang Tosu ini akan berbahaya sekali keselamatan jiwa mereka, daripada pertempuran keroyokan lebih baik dia turun tangan dulu mengusir mereka turun gunung.
"Totiang, kau memang keras kepala dan mengira di dunia ini kau sendiri yang paling kuat. Aku ingin sekali mencoba-coba!"
Sambil berkata demikian, Sun Hauw mengeluarkan pedangnya dan berdiri dengan tegak, sikapnya menantang.
Thian Lok Cu mengeluarkan suara ketawa mengejek, kemudian tubuhnya, bergerak dan ia sudah mulai menyerang sambil berseru.
"Bocah lancang, lihat pedang!"
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pemuda itu menangkis, Thian Lok Cu merasa tangannya tergetar hebat, tanda bahwa pemuda itu memiliki tenaga yang besar.
Kemudian ia menjadi lebih kaget dan heran lagi menyaksikan ilmu pedang yang cepat dan ganas, jauh bedanya dengan ilmu pedang Bu-Tong-Pai!
Akan tetapi ia tidak sudi mundur dan melawan dengan gerakan cepat dan nekat.
Akan tetapi, ternyata bahwa ilmu pedang dari pemuda tampan ini lihai sekali.
Setelah tiga puluh jurus lebih bertempur dengan sengit dan seru, akhirnya dengan mengeluarkan jurus yang hebat, yakni jurus yang disebut Sin-Mo Sam-Bu (Payung Sakti Memutar Tiga Kali), Sun Hauw berhasil merobohkan Thian Lok cu.
Jurus ini sebetulnya bukan ilmu pedang Go-Bi-Pai, melainkan ilmu pedang Thian Mo Siansu yang disamping memiliki ilmu silat Go-Bi-Pai juga memiliki ilmu sliat lihai dari orang-orang sakti sehingga Thian Mo Siansu dapat menciptakan ilmu pedang tersebut.
Dengan pedang diputar merupakan bundaran sehingga nampaknya seperti orang memakai payung, Sun Hauw berhasil melukai kedua pundak Thian Lok Cu sehingga Tosu itu roboh tak dapat bangun lagi.
Kawan-kawannya menolongnya dan Thian Hok Cu melompat maju dengan pedang di tangan.
"Anak muda, Pinto lihat ilmu pedangmu bukan dari Bu-Tong-Pai, kau agaknya masih menjadi anak murid Go-Bi-Pai, mengapa kau mencampuri urusan kami? Apakah Twi Mo Siansu mengajarmu untuk menjadi orang yang usil dan suka mencampuri urusan orang lain?"
Mendengar ini, Liem Sun Hauw kaget. Ternyata Tosu ini dapat mengenal ilmu pedang dan agaknya kenal pula kepada Ketua Go-Bi-Pai, Susioknya Twi Mo Siansu. Cepat ia menjura memberi hormat dan berkata.
"Totiang, harap maafkan. Memang Siauwte anak murid Go-Bi-Pai yang datang untuk mendamaikan urusan antara Bu-tong-pn dan Kim-San-Pai. Akan tetapi sayang sekali Totiang dan kawan-kawan Totiang datang mengacaukan keadaan dan memperbesar permusuhan. Oleh karena itu, Siauwte harap Totiang sudi pulang saja ke Kim-San-Pai dan lain hari Siauwte akan datang minta rnaaf kepada Ketua Kim-San-Pai."
"Bocah sombong, kau kira Pinto takut kepadamu? Kau bilang datang untuk mendamaikan urusan, akan tetapi kau bahkan melukai suteku! Kalau kau mau menjadi jago undangan Bu-Tong-Pai, mari kita coba-cobal"
Sambil berkaia demikian, Thian Hok Cu menyerang dengan pedangnya.
Tosu ini tentu saja tidak mau mengalah karena keadaan sudah seperti itu.
Sutenya terluka dan kalau ia mengundurkan diri begitu saja, sikapnya ini bersifat pengecut sekali.
Sun Hauw menarik napas panjang dan terpaksa melayani.
Sebetulnya ia tidak suka berkelahi dengan Tosu-Tosu Kim-San-Pai dan kalaupun bertempur, ia tidak suka melukai mereka.
Akan tetapi, kepandaian Tosu ini sudah tinggi dan sukarlah baginya mencapai kemenangan tanpa melukainya.
Ia hanya menang sedikit, menang dalam hal ilmu pedang, maka seperti juga tadi, terpaksa ia membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah lihainya.
Pertempuran kedua ini lebih hebat daripada tadi, kedua pihak nampak berimbang dan sama kuatnya.
Para Hwesio Bu-Tong-Pai dan para Tosu Kim-San-Pai menonton pertempuran itu sambil menahan napas.
Tentu saja di dalam hati, masing-masing pihak menjagoi jago sendiri.
Di pihak Bu-Tong-Pai yang hadir di situ, pemuda Go-Bi-Pai ini merupakan orang terpandai, demikian pula di pihak Kim-San-Pai yang berada di situ, Thian Hok Cu merupakan jago terlihai.
Oleh karena itu, pertempuran ini merupakan pertempuran terakhir yang menentukan.
Kalau pihak Kim-San-Pai kalah, berarti tidak ada yang akan berani maju lagi dan mereka harus turun gunung.
Sebaliknya, andaikata pemuda itu kalah, tentu Hwesio Bu-Tong-Pai akan lari naik dan melaporkan hal ini kepada Guru besar mereka.
Akan tetapi, akhirnya ternyata pula bahwa Liem Sun Hauw lebih unggul.
Pemuda ini telah mewarisi ilmu silat yang aneh-aneh dari Gurunya, yakni Thian Mo Siansu, siapa sudah pernah menerima latihan oleh kakek sakti Hok Peng Taisu di Hong-lun-san.
Setelah bertempur lima puluh jurus lebih, akhirnya Thian Hok Cu terpaksa harus mengakui keunggulan Sun Hauw dan Tosu ini roboh pula oleh babatan pedang pada paha dan pukulan tangan kiri pada dadanya.
Sun Hauw terpaksa merobohkannya dengan cara ini karena kalau tidak, kiranya dia sendiri yang akan termakan oleh pedang Thian Hok Cu yang lihai.
Demikianlah, para Hwesio Kim-San-Pai bersorak-sorak girang dan para Tosu yang tinggal lima orang itu lalu memondong tubuh Susiok mereka dan berlari turun gunung.
Adapun para Hwesio Bu-Tong-Pai lalu mengantar Sun Hauw naik ke puncak di mana ia disambut oleh Lo Beng Hosiang yang mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang telah terjadi.
Hwesio tua ini menggeleng-geleng kepalanya dan berkata penuh sesal.
"Ah, mengapa terjadi hal seperti itu di lereng sini dan tak seorang pun memberi laporan kepada pinceng? Kalau pinceng tahu sejak tadi, tentu pinceng akan mencegah terjadinya pertempuran."
"Mereka terlalu menghina, Suhu,"
Kata seorang Hwesio.
"Dua orang Suheng telah roboh terluka dan kiranya Teecu semua takkan ada yang dapat melawan dan terpaksa menelan hinaan orang-orang Kim-San-Pai kalau saja Liem-Enghiong ini tidak keburu datang menolong dan membersihkan nama kita."
Lo Beng Hosiang memandang kepada pemuda tampan yang hadir di situ dan tadi memberi hormat kepadanya.
"Sicu dari manakah?"
Tanyanya singkat.
"Teecu bernama Liem Sun Hauw, anak murid Go-Bi-Pai. Teecu diutus oleh Susiok Twi Mo Siansu untuk menghadap Locianpwe dan untuk berusaha mendamaikan pertikaian yang terjadi antara Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai. Susiok berpesan bahwa semua ini adalah atas usul desakan Sin-Taihiap Bu Pun Su yang menghendaki agar pada waktu sekarang ini kita melupakan segala kesalahpahaman dengan golongan sendiri, menghimpun persatuan guna membela negara dan melindungi rakyat dari ancaman perang.
"Karena hal itu, Susiok lalu menunjuk Teecu untuk datang ke sini. Dan kebetulan sekali tadi Teecu melihat pertempuran antara serombongan Tosu Kim-San-Pai dengan para Hwesio di sini. Teecu sudah berusaha memisah, memohon kepada Tosu-Tosu Kim-San-Pai untuk pulang, akan tetapi siapa kira, mereka itu berkeras memperlihatkan kepandaian, sehingga terpaksa Teecu menghadapi mereka. Selanjutnya mohon petunjuk Locianpwe, bagaimanakah pendapat Locianpwe dan usaha apa yang kiranya dapat dilakukan untuk mendamaikan pertikaian ini."
Lo Beng Hosiang menghela napas lagi.
"Kau datang hendak mendamaikan urusan, akan tetapi kau bahkan melukai dua orang Tosu Kim-San-Pai. Bagaimana ini?"
"Teecu bertanggung jawab sepenuhnya akan hal ini"
Jawab Sun Hauw gagah.
"Teecu akan datang ke Kim-San-Pai dan akan Teecu jelaskan kepada Ketua Kim-San-Pai disertai permintaan maaf."
"Bagus, seorang laki-laki harus berani memikul akibat dari perbuatannya sendiri. Sayang kedua orang muridku Kang Bok Sian dan Kang Ek Sian sudah turun gunung, kalau mereka masih ada di sini, biarpun mereka itu bukan orang-orang yang menggunduli kepala mereka kiranya takkan terjadi keributan-keributan ini."
Lo Beng Hosiang menulis sepucuk surat kepada Thian Beng Cu, memanggil murid kepalanya, yakni Hwesio gemuk pendek Ki Keng Hosiang dan menyuruh muridnya ini membawa surat dan membawa semua Hwesio yang pernah melakukan pertempuran dengan pihak Kim-San-Pai, bersama Liem Sun Hauw menuju ke Kim-San!
"Serahkan surat pinceng ini kepada Thian Beng Cu, sampaikan salamku dan serahkan pula semua anak murid Bu-Tong-Pai yang pernah bertempur.
Katakan kepada Thian Beng Cu bahwa dia boleh menghukum anak-anak murid Bu-Tong-Pai ini sebagai seorang paman Guru!"
Liem Sun Hauw memuji kebijaksanaan Guru Besar Bu-Tong-Pai ini yang hendak melenyapkan permusuhan sekaligus dengan jalan menyuruh semua anak muridnya datang ke Kim-San-Pai menerima hukuman.
Demikianlah Liem Sun Hauw lalu pergi ke Kim-San-Pai bersama anak murid Bu-Tong-Pai itu dan seperti telah dituturkan di bagian depan, rombongan ini ketika sampai di lereng Bukit Kim-San, disambut oleh Ang I Niocu!
Liem Sun Hauw ketika melihat Ang I Niocu berdiri di situ dengan pedang di tangan, menjadi terkejut, heran dan girang sehingga ia menyapanya.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ang I Niocu sebaliknya menyindirnya, mengatakan pemuda ini menjadi "jago"
Pihak Bu-Tong-Pai dan bermaksud untuk menghina Kim-San-Pai.
Liem Sun Hauw menolak semua tuduhan itu dan menyatakan bahwa ia pun bertugas sama, yaitu mendamaikan antara Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai, tetapi Ang I Niocu marah bukan main.
Marah karena sekarang ia tahu bahwa pemuda tampan ini adalah pemuda yang diusulkan oleh almarhum Ayahnya untuk menjadi calon suaminya!
Pemuda yang dicap menjadi penyebab kematian kekasihnya, Gan Tiauw Ki beserta kematian Ayahnya.
Ang I Niocu menahan-nahan nafsu marahnya dan hanya memaki Sun Hauw dengan kata-kata pedas.
"Kau bilang hendak mendamaikan, tetapi mengapa kau justru melukai dua orang Tosu Kim-San-Pai? Dan mengapa kau menghadang rombongan utusan Kim-San-Pai ke Bu-Tong-San? Mengapa pula sekarang kau datang ke sini? Hendak menyerbu Kim-San-Pai? Hemm, kau mengandalkan apakah demikian sombong?"
Sun Hauw seperti orang tuli.
Ia tidak memperhatikan semua kata-kata itu dan sepasang matanya seperti kena hikmat, menatap bibir indah yang berkata-kata tanpa berkedip.
Kecantikan Ang I Niocu yang luar biasa itu benar-benar membikin Sun Hauw seperti gila.
Apalagi kalau ia ingat betapa Ayah dari gadis jelita ini telah memilihnya menjadi calon mantu!
"Jawab pertanyaanku!"
Ang I Niocu membentak marah, mukanya agak merah karena ia maklum apa artinya pemuda itu menjadi termenung seperti patung.
Adapun tujuh orang Hwesio Bu-Tong-Pai yang terpilih sebagai orang-orang bertanggung jawab dalam pertikaian terhadap Kim-San-pang adalah Hwesio-Hwesio yang tingkatnya sudah tinggi, yakni anak murid Lo Beng Hosiang sendiri.
Mendengar desakan Ang I Niocu kepada Liem Sun Hauw, seorang diantara mereka membela Sun Hauw yang kelihatannya "Mati kutunya"
Menghadapi nona baju merah itu.
"Ang I Niocu, harap jangan salah sangka terhadap Liem-Sicu. Dia ini betul-betul penolong kami dan bermaksud baik...."
"Siapa menyangkal bahwa dia itu penolong Bu-Tong-Pai? Akan tetapi sekali-kali aku tak percaya dia ini menjadi pendamai! Menolong sepihak memusuhi pihak lain sama sekali bukan sifat seorang pendamai, karena dia berat sebelah dan menghina orang mengandalkan kepandaiannya yang ia kira tidak ada keduanya di kolong langit! Aku datang sebagai pendamai antara Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai, sudah pasti sekali aku tidak mau menghina Bu-Tong-Pai juga tidak mau memusuhi Kim-San-Pai."
Liem Sun Hauw menjadi serba salah dan memang kepandaian kata-katanya sudah lenyap entah ke mana setelah ia berhadapan dengan Ang I Niocu.
Dalam pandangannya, segala gerak-gerik Ang I Niocu menarik hati dan menambah kemanisan dan kecantikannya.
Kini dimarahi oleh Ang I Niocu, ia hanya tundukkan mukanya yang sebentar merah sebentar pucat, seperti seorang anak nakal dimarahi oleh ibunya.
"Lihiap, untuk meredakan permusuhan, pinceng sekalian datang ke sini, hendak menghadap Locianpwe Thian Beng Cu, dan Liem-Sicu yang bertugas sebagai pendamai dari Go-Bi-Pai, ikut sebagai perantara,"
Kembali Hwesio itu membela Sun Hauw.
"Losuhu bertujuh kalau hendak menghadap Ketua Kim-San-Pai untuk menjernihkan suasana, hal itu amat baik dan patut dipuji, dan memang demikianlah seharusnya kalau orang hendak memperbaiki hubungan satu sama lain. Aku pun sedang hendak berangkat menemui Lo Beng Hosiang untuk mendamaikan urusan. Akan tetapi orang she Liem ini biar di sini jangan ikut masuk, dia tidak akan mendamaikan urusan bahkan mungkin akan mengacau lagi!"
"Niocu harap kau suka maafkan aku..."
Akhirnya Sun Hauw dapat bicara kembali setelah menenteramkan hatinya yang berguncang.
"Memang aku sudah berlaku terburu nafsu dan melukai dua orang Tosu Kim-San-Pai dalam pibu yang terjadi di Bu-Tong-San. Oleh karena itu maka kedatanganku ini pun hendak memohon ampun kepada Locianpwe Thian Beng Cu dan bersama para Suhu ini hendak menyerahkan diri menerima hukuman. Sekarang baru Niocu saja sudah tidak dapat memaafkan, apalagi para Tosu Kim-San-Pai. Biarlah kalau begitu kau bunuh saja aku untuk menebus dosaku terhadap Locianpwe Sin-Taihiap Bu-Pun Su..."
Sambil berkata demikian, Sun Hauw melolos pedangnya dan menyerahkan pedang itu kepada Ang I Niocu.
Gadis itu tidak mau menerima pedang, agak heran dan terkejut mendengar pemuda itu menyebut-nyebut nama Bu Pun Su.
"Mengapa pula kau menyebut-nyebut nama Susiok-Couw Bu Pun Su?"
Tanyanya wajar.
"Sesungguhnya, tugasku ini adalah kehendak Sin-Taihiap Bu Pun Su yang menyampaikan pesannya kepada Susiok Twi Mo Siansu melalui utusannya, yakni Lo-Enghiong Kiang Liat yang akhirnya menjadi sahabat baikku. Aku dipilih oleh Susiok untuk mengerjakan tugas ini, tidak tahunya karena kebodohanku aku bahkan memburukkan keadaan. Kalau Sin-Taihiap Bu Pun Su mendengar akan hal ini, apakah aku dapat diampuni, lagi? Kalau Kiang Lo-Enghiong yang baik hati dan mulia itu mendengar, bukankah aku bisa mati saking maluku?"
Tentu saja Sun Hauw sengaja menyebut-nyebut nama Bu Pun Su dan Kiang Liat untuk mengambil hati gadis yang kecantikannya telah merobohkan hatinya itu.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa semua kata-katanya itu bahkan merupakan garam yang diulaskan pada luka di dalam hati Ang I Niocu, mendatangkan rasa perih dan sakit karena mengingatkan ia akan semua peristiwa duka yang dialaminya.
Hal ini bahkan menambah kebenciannya terhadap Sun Hauw sehingga kalau mungkin di saat itu juga ia memenggal leher pemuda itu.
Akan tetapi pada saat itu, dari puncak bukit datang Thian Beng Cu ketua Kim-San-Pai, diiringi oleh Tosu-Tosu muridnya, merupakan rombongan yang keren dan agung.
Para Tosu Kim-San-Pai yang berada di situ cepat memberi hormat kepada ketua mereka.
Dengan air muka tenang dan ramah, Thian Beng Cu memandang kepada para Hwesio Bu-Tong-Pai yang tujuh orang itu, melempar pandang tak acuh kepada Sun Hauw, lalu berkata kepada para Hwesio itu.
"Cu-wi Suhu dari Bu-Tong-Pai, harap tidak kecil hati kalau Pinto terlambat menyambut. Pesan apakah yang Cu-wi bawa dari sahabat Lo Beng Hosiang?"
Melihat sikap dan mendengar kata-kata Ketua Kim-San-Pai ini, para Hwesio Bu-Tong-Pai menjadi merah mukanya, malu kepada diri sendiri dan heran mengapa Ketua Kim-San-Pai yang selama ini disangka sombong, ternyata seorang kakek yang baik hati dan ramah tamah.
Serta merta mereka berlutut memberi hormat.
Kakek Kim-San-Pai itu sudah begitu merendahkan diri, maka kini tanpa ragu-ragu lagi para Hwesio Bu-Tong-Pai maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang tua yang berhati mulia dan tunduklah mereka.
Ki Keng Hosiang, Pendeta gemuk pendek yang memimpin rombongan Bu-Tong-Pai itu, lalu berkata.
"Teecu bertujuh menerima titah Suhu untuk menghadap kepada Susiok, selain untuk menyerahkan surat dan menyampaikan salam dari Suhu, juga Teecu yang telah melakukan banyak dosa menghina saudara-saudara dari Kim-San-Pai, sengaja datang menyerahkan diri untuk menerima hukuman."
Thian Beng Cu menarik napas panjang, mengelus-elus jenggotnya dan wajahnya nampak gembira sekali dan kalau diperhatikan orang akan melihat sepasang matanya menjadi basah.
"Gurumu Lo Beng Hosiang seorang bijaksana, kalian tidak salah apa-apa, bahkan saudara-saudara mudamu dari Kim-San-Pai yang keliru. Kesinikan surat dari Suhumu agar Pinto dapat segera mengetahui petunjuk apa yang diberikan kepada Pinto yang bodoh."
Pada saat itu, Liem Sun Hauw yang merasa terharu menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh dari kedua pihak yang saling mengalah, merasa malu terhadap Thian Beng Cu yang ternyata seorang kakek yang begitu halus dan baik hati.
Ia pun lalu, berlutut dan berkata.
"Locianpwe, Teecu Liem Sun Hauw utusan dari Go-Bi-Pai, karena cupat pengetahuan dan lancang, telah salah tangan melukai dua orang Tosu Kim-San-Pai. Sekarang Teecu sudah insyaf akan kesalahan sendiri dan menghadap untuk menerima hukuman."
Thian Beng Cu menunda niatnya membaca surat dari Lo Beng Hosiang, memandang kepada Liem Sun Hauw dan mengangguk-angguk.
"Anak murid Go-Bi-Pai memang amat mengagumkan, begini muda sudah memiliki kepandaian tinggi, dan berani pula bertanggung jawab atas perbuatannya. Liem-Sicu, kalau kau tidak datang mengakui kesalahanmu, memang nama baik Go-Bi-Pai akan tercemar, akan tetapi dengan pengakuanmu ini, segala apa sudah beres. Di dalam pibu, kalah menang sudah lumrah, terluka atau tewas bukan hal aneh. Antara kau atau Go-Bi-Pai dengan kami tidak ada urusan apa-apa, habis sampai di sini saja."
Sun Hauw menjadi girang sekali, akan tetapi kata-kata itu membuat ia makin tunduk dan malu.
Thian Beng Cu lalu membuka surat dari Lo Beng Hosiang.
Selain permintaan maaf bagi murid-muridnya, di dalam surat itu Lo Beng Hosiang menyatakan bahwa tentang pembunuhan atas diri Lai Tek, sesungguhnya bukanlah perbuatan anak murid Bu-Tong-Pai, dan menurut dugaan Lo Beng Hosiang, tentu dilakukan oleh pihak ke tiga yang ingin mengadu-dombakan Kim-San-Pai dengan Bu-Tong-Pai.
Oleh karena itu, Lo Beng Hosiang menyatakan bahwa penjahat atau pihak ke tiga inilah yang harus dicari.
Thian Beng Cu menghadapi Ang I Niocu yang masih berdiri di situ.
Gadis ini ketika melihat betapa para Hwesio mengaku salah dan betul-betul datang hendak menerima hukuman, juga menjadi girang dan terharu.
Tak disangkanya bahwa tugasnya selesai dengan demikian mudahnya, apalagi ketika ia melihat Sun Hauw juga menerima salah dan rela dihukum, kebenciannya terhadap pemuda ini agak berkurang.
"Ang I Niocu, kau sebagai utusan Sin-Taihiap Bu Pun Su, kau telah mendengar dan melihat sendiri keadaan anak-anak murid Bu-Tong-Pai yang ternyata jauh lebih baik daripada anak-anak murid Kim-San-Pai. Oleh karena kedatangan mereka inilah, maka segala kesalahpahaman telah dapat dibikin beres dan dihabiskan sampai di sini saja. Di dalam suratnya ini, Lo Beng Hosiang menyatakan bahwa pihak Bu-Tong-Pai betul-betul tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap diri Lai Tek, dan menduga bahwa tentu ada pihak ke tiga yang melakukan perbuatan itu untuk mengadu domba antara Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai. Tidak tahu bagaimanakah baiknya kalau menurut pendapat Niocu?"
"Soalnya sudah jelas bahwa memang tentu ada penjahat yang membunuh Lai Tek dan berbuat seolah-olah yang melakukan hal itu dari pihak Bu-Tong-Pai. Akan tetapi, perbuatan penjahat itu lebih banyak mendatangkan kerugian kepada Bu-Tong-Pai daripada kepada Kim-San-Pai. Lai Tek anak murid Kim-San-Pai tewas sebagai orang gagah dan tidak ada kecewanya, sebaliknya dengan perbuatan itu, nama baik Bu-Tong-Pai tercemar. Oleh karena itu, menurut pikiranku, sudah menjadi kewajiban Bu-Tong-Pai untuk menyelidiki hal ini dan menangkap pembunuhnya. Biarpun begitu, demi kebaikan kembali hubungan antara kedua Partai yang sudah menjadi tugas yang kupikul menurut perintah Susiok-Couw, aku akan berusaha pula untuk membongkar rahasia ini dan membekuk penjahatnya."
Sun Hauw melompat berdiri, menjura kepada Thian Beng Cu, lalu menghadapi Ang I Niocu sambil berkata cepat.
"Niocu, cocok sekali petunjukmu tadi. Memang sudah seharusnya Bu-Tong-Pai mencuci bersih namanya dari perbuatan terkutuk penjahat yang membunuh Lai Tek itu. Dan untuk pekerjaan ini, biarlah aku yang akan melakukannya. Aku telah berlaku lancang dan biar pun aku diberi tugas menjernihkan suasana antara Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai, ternyata aku bahkan mengeruhkan suasana. Sekarang ada pekerjaan ini, biar aku yang diwajibkan, hutang-hutang menebus dosaku!"
Ang I Niocu memandang kepada pemuda itu dengan tajam dan diam-diam ia harus akui bahwa Liem Sun Hauw adalah seorang pemuda yang bersemangat dan gagah.
Pantas saja Ayahnya suka kepada pemuda ini dan hendak menjodohkannya dengan aku, pikirnya.
Kebenciannya terhadap pemuda itu makin berkurang saja.
"Bagaimana, Locianpwe? Apakah Locianpwe menyetujui kalau Teecu yang mencoba untuk menangkap penjahat pembunuh Lai Tek-Enghiong itu?"
Sun Hauw bertanya kepada Thian Beng Cu dengan suara mendesak. Thian Beng Cu mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Liem-Sicu, kau memang gagah dan kiranya tepat kalau kau yang mencarinya. Untuk hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh Ang I Niocu tadi, Pinto serahkan saja kepada pihak Bu-Tong-Pai. Pinto hanya bisa menyampaikan terima kasih atas maksudmu yang mulia ini, Liem-Sicu."
"Kalau begitu, perkenankan Teecu berangkat sekarang untuk membekuk batang leher pembunuh Lai Tek-Enghiong!"
Kata Sun Hauw penuh semangat sambil mengerling kepada Ang I Niocu. Tiba-tiba terdengar suara orang, lemah-lembut terdengarnya.
"Tidak usah, tidak usah... penjahat itu telah tertangkap...!"
Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di situ berdiri seorang Tosu yang usianya kurang lebih lima puluhan tahun, gerak-geriknya halus dan sinar matanya tajam berpengaruh.
"Eng Yang Cu-Sute... kau baru datang...?"
Kata Thian Beng Cu dengan suara girang.
"Dan betulkah penjahat itu telah tertangkap?"
Tosu itu yang bukan lain adalah Eng Yang Cu, tokoh Kim-San-Pai yang menjadi sute termuda dari Thian Beng Cu dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada tokoh-tokoh Kim-San-Pai lainnya, akan tetapi yang selalu merantau, memberi hormat kepada Suhengnya lalu berkata.
"Memang betul, penjahat itu bukan lain adalah Siang-Hek-Pian (Sepasang Pian Hitam) Bwee Cat. Seperti Suheng tentu masih ingat, Siang-Hek-Pian Bwee Cat pernah memusuhi Kim-San-Pai dan pernah jatuh oleh Siauwte. Agaknya ia mengandung dendam sakit hati dan melihat salah paham yang timbul antara Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai, ia turun tangan, menewaskan muridku Lai Tek kemudian mempergunakan nama Bu-tong untuk mengadu domba."
"Sute yang baik, bagaimana kau bisa mengetahui ini semua dan bagaimana kau bilang bahwa dia itu sudah tertangkap?"
Tanya Thian Beng Cu dengan girang, sedangkan wajah Liem Sun Hauw menjadi muram sekali mendengar bahwa penjahat yang rnenjadi biang keladi pertikaian itu telah tertangkap.
"Dalam perantauan Siauwte mendengar tentang pertikaian Kim-San-Pai dengan Bu-Tong-Pai dan Siauwte mendengar pula sebab-sebab pertikaian itu, Siauwte tidak percaya bahwa Bu-Tong-Pai akan berlaku sekeji itu, maka Siauwte teringat akan Siang-Hek-Pian Bwee Cat. Kalau ada orang yang hendak mencelakakan Kim-San-Pai, kiranya hanya penjahat itulah yang menaruh dendam dan pernah menjadi pecundang. Siauwte lalu mencarinya dan setelah berjumpa, betul saja dia yang melakukan pembunuhan terhadap Lai Tek, katanya untuk memancing Siauwte supaya mencarinya. Kami bertempur dan ternyata selama ini ia telah mempertinggi ilmunya sehingga hampir saja Siauwte kalah dan celaka dalam tangannya. Tidak heran apabila Lai Tek mudah saja ia tewaskan, tidak tahunya penjahat itu telah berguru lagi semenjak kalah di Kim-San-Pai. Masih baik nasib Siauwte, pada saat itu datang dua orang bersaudara, yakni Kang Bok Sian dan Kang Eng Sian. Dua orang Pendekar muda ini ternyata adalah anak murid Bu-Tong-Pai dan mereka pun mendengar pula tentang pertikaian antara Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai. (Lanjut ke
Jilid 19 -Tamat) Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19 (Tamat) Dari orang-orang kang-ouw mereka mendengar tentang Siang-Hek-Pian Bwee Cat yang menyombongkan perbuatannya, yakni membunuh Lai Tek murid Kim-San-Pai.
Karena dua orang saudara Kang yang gagah perkasa itu telah mendengar pula akan sebab pertikaian kedua Partai mereka lalu mengerti bahwa biang keladinya adalah Bwee Cat dan mencarinya.
Kebetulan sekali Siauwte terdesak dan mereka berdua turun tangan membantu.
Barulah penjahat itu dapat dirobohkan, sayang sekali dalam keadaan tewas sehingga tidak mungkin Siauwte seret ke sini untuk membuat pengakuan."
Thian Beng Cu menggeleng-geleng kepalanya.
Kemudian ia menoleh kepada para anak muridnya dan kepada tujuh orang Hwesio Bu-Tong-Pai yang berada di situ, lalu berkata dengan suaranya yang halus berpengaruh.
"Kalian murid-murid Kim-San-Pai dan murid-murid Bu-Tong-Pai dengarlah baik-baik. Penuturan suteku Eng Yang Cu ini menjadi cermin bagi kalian. Kalian yang berada di sini, ribut-ribut saling menuduh dan saling menyerang, menurutkan hati panas. Sebaliknya Eng Yang Cu dan dua orang saudara Kang sebagai murid-murid Kim-San-Pai dan Bu-Tong-Pai yang jauh dari sini, bahkan sudah bekerja sama untuk menangkap penjahat. Murid-murid Kim-San-Pai, kalian tirulah sikap Susiok kalian ini dan murid-murid Bu-Tong-Pai harap meniru perbuatan kedua saudara Kang yang gagah perkasa."
Sementara itu, Liem Sun Hauw lalu berkata kepada Thian Beng Cu dengan muka muram.
"Locianpwe, ternyata bahwa Teecu seorang yang tidak ada gunanya sama sekali, kalau lebih lama di sini hanya akan mengotorkan tempat saja. Mohon maaf sebanyaknya dan perkenankan Teecu pergi. Cuwi Suhu dari Bu-Tong-Pai, tolong sampaikan hormatku kepada Locianpwe Lo Beng Hosiang di Bu-Tong-Pai. Nona Ang I Niocu, aku sudah banyak melakukan kesalahan terhadapmu, maaf..."
Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali Liem Sun Hauw melompat dan pergi dari situ, berlari turun dari lereng Bukit Kim-San-Pai.
Semua orang memandang dengan bengong dan diam-diam merasa kasihan juga kepada pemuda tampan dan gagah itu yang sebetulnya bukan bertindak salah, hanya kurang teliti dan kurang hati-hati.
"Saudara Liem, tunggu dulu!"
Ang I Niocu berseru dan di lain saat ia sudah melompat sambil berkata.
"Totiang, maafkan aku tak dapat lebih lama lagi tinggal di sini!"
Sebelum Ketua Kim-San-Pai menjawab, tubuhnya sudah lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah berkelebat dan meluncur turun gunung.
"Siapa mereka itu?"
Tanya Eng Yang Cu kagum sekali melihat kehebatan dua orang muda itu.
"Yang pertama adalah Liem Sun Hauw, murid mendiang Thian Mo Siansu dari Go-Bi-Pai untuk mendamaikan urusan Kim-San-Pai dengan Bu-Tong-Pai. Yang ke dua tadi adalah Ang I Niocu, puteri dari Jeng-jiu-sian Kiang Liat, Bu Pun Su adalah Susiok-Couwnya dan ia pun datang perintah atas perintah Bu Pun Su untuk maksud yang sama, yakni mendamaikan kedua Partai."
Eng Yang Cu menarik napas panjang.
"Ahhh, anak-anak muda sekarang memang hebat. Kepandaian mereka tadi benar lihai, apalagi nona baju merah tadi, Gin-kangnya sudah sampai ditingkat yang melebihi kita..."
Liem Sun Hauw yang merasa kecewa sekali karena usahanya melakukan tugas yang diserahkan kepadanya oleh Twi Mo Siansu selalu menemui kegagalan, merasa amat malu.
Ia telah mengeruhkan suasana dan sebelum ia dapat menebus kesalahannya, dengan menangkap biang keladi permusuhan, ia telah didahului oleh Eng Yang Cu!
Saking malu dan kecewanya ia lalu meninggalkan Kim-San-Pai.
Yang membuat ia malu sesungguhnya bukan terhadap orang lain, melainkan terhadap Ang I Niocu.
Ia telah tertarik dan jatuh hati kepada gadis ini, apalagi setelah ia tahu bahwa gadis itulah yang dicalonkan menjadi isterinya oleh Kiang Liat.
Dan sekarang di depan gadis itu ia kelihatan sebagai seorang yang bodoh!
Biarpun ia berlari cepat sekali, sebentar saja ia tersusul oleh Ang I Niocu.
Tadi Sun Hauw mendengar suara panggilan Ang I Niocu, akan tetapi ia mengira bahwa gadis yang cantik tapi galak itu akan menyalahkan dan menyindirnya, maka ia tidak mau berhenti sebelum jauh dari para tokoh Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai.
Selain ini ia pun henidak menguji ilmu lari cepat dari gadis itu dan diam-diam ia mengerahkan ilmu lari cepat yang paling diandalkan, yakni Liok-Te Hui-Teng (Lari Seperti Terbang di Atas Bumi), karena ia tahu bahwa gadis itu mengejarnya.
Akan tetapi alangkah kagumnya ketika tak lama kemudian, gadis itu telah menyusulnya.
Bayangan merah berkelebat di samping kanannya dan di lain saat gadis itu telah berdiri beberapa tombak jauhnya di sebelah depan, tersenyum menghadang di jalan.
Ang I Niocu sengaja mengejar Sun Hauw karena gadis ini ingin sekali mendengar dari pemuda ini tentang hubungan Ayahnya dengan pemuda ini.
Ingin ia mengetahui bagaimana pemuda ini bertemu dengan Ayahnya dan bagaimana pula Ayahnya sampai mempunyai maksud menjodohkan dia dengan pemuda itu.
Selain ini, ia pun agak menyesal atas sikapnya yang menghina dan keras terhadap Sun Hauw, dan sekarang ternyata bahwa sesungguhnya pemuda ini bukanlah seorang yang menyombongkan kepandaian dan sengaja membantu Bu-Tong-Pai melakukan penghinaan terhadap Kim-San-Pai.
Semua pertengkaran yang terjadi hanya timbul oleh kesalah-pahaman.
Sungguhpun pada mukanya terbayang kemuraman, namun di dalam hatinya Sun Hauw merasa girang sekali melihat gadis itu.
"Nona, apakah kau masih merasa penasaran? Aku sudah mengaku salah dan..."
"Saudara Liem, jangan kau salah sangka. Tadi kau menyebut nama Ayahku. Di mana kau pernah bertemu dengan dia dan kapankah? Aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang Ayah."
Seketika wajah Sun Hauw berseri, hatinya berdebar-debar girang dan ia menarik napas lega.
"Aku bertemu dan berkenalan dengan Ayahmu yang gagah perkasa dan mulia itu di Go-Bi-San,"
Ia mulai bercerita.
"ketika aku menghadap Susiok Twi Mo Siansu, kebetulan Ayahmu datang dan menyampaikan pesan kepada Susiok dari Sin-Taihiap Bu Pun Su. Susiok lalu memilih aku untuk berusaha mendamaikan pertikaian antara Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai dan hal ini menimbulkan iri hati dan tidak senangnya beberapa orang anak murid Go-Bi-Pai. Aku sendiri biarpun anak murid Go-Bi-Pai, akan tetapi Suhuku adalah seorang perantau dan hampir tidak mempunyai hubungan lagi dengan Go-Bi-Pai."
Kemudian Sun Hauw menuturkan bagaimana ia telah diserang oleh tokoh Go-Bi-Pai Tek Le Tojin dan hampir celaka kalau saja tidak ditolong oleh Kiang Liat.
Dan bagaimana perjalanannya ke Bu-Tong-Pai tertunda dan terlambat karena ia singgah di kampungnya dan terpaksa menunda perjalanannya ke Bu-Tong-San karena ia harus merawat dulu Ayahnya yang sedang sakit payah.
Semua ini telah dituturkan di bagian depan dan kiranya tak perlu diulang pula.
"Demikianlah, Nona. Apakah Ayahmu sudah pulang dan apakah kau sudah bertemu dengan orang tua yang mulia itu?"
Sun Hauw menutup penuturannya dan balas bertanya.
Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya mengangguk.
Hatinya seperti ditusuk-tusuk karena teringatlah ia akan segala peristiwa antara dia dan Ayahnya yang menyebabkan kematian Ayahnya.
Sun Hauw makin berdebar.
Kalau gadis ini sudah bertemu dengan Ayahnya, tentu sudah mendengar pula tentang maksud pertalian jodoh itu.
Matanya bersinar-sinar, mukanya merah ketika ia menatap wajah dara cantik jelita yang berdiri sambil menundukkan muka di depannya itu.
"Syukurlah kalau Ayahmu sudah pulang, Nona. Kuharap saja orang tua yang gagah perkasa itu dalam sehat-sehat dan selamat. Ah, alangkah inginku menghadap Kiang-lo-Enghiong, alangkah rindu hatiku bertemu muka dengan dia lagi. Aku amat menghormat dan memujanya, Nona, selembar nyawaku ini masih berada di dalam tubuhku hanya berkat pertolongan Ayahmu."
Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh ini, Ang I Niocu menjadi amat terharu.
Ia meramkan kedua matanya dan merasa hatinya perih sekali.
Ketika ia membuka lagi kedua matanya, ia tidak dapat menahan air matanya yang mengucur deras.
Cepat-cepat ia mempergunakan ujung lengan baju untuk menutupi matanya dan mengusap air matanya.
"Ang I Niocu... kau kenapa...? Maafkan kalau aku kesalahan bicara..."
Sun Hauw berkata kaget. Ang I Niocu dapat menekan perasaannya dan kini menjadi tenang kembali.
"Saudara Liem, harap kau maafkan kelemahanku. Sesungguhnya, perlu kiranya kau ketahui bahwa Ayah telah meninggal dunia tujuh bulan yang lalu."
Tiba-tiba muka Sun Hauw menjadi pucat dan ia merasa seperti kehilangan semangatnya.
Kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan biarpun ia tidak mengeluarkan suara, kedua pundaknya bergerak-gerak dan tahulah Ang I Niocu bahwa pemuda ini telah menangis!
Diam-diam ia menjadi terharu hadap pemuda ini, sekarang perasaan ini lenyap dan ia harus mengaku bahwa kecuali mendiang Gan Tiauw Ki, pemuda ini merupakan seorang pemuda pilihan dan baik, yang pernah ditemuinya.
Hanya kata-kata perlahan sekali "Gakhu..."
Terdengar dari mulut pemuda itu.
Wajah Ang I Niocu menjadi merah sekali ketika mendengar pemuda itu mengeluarkan kata-kata sebutan Gakhu (Ayah Mertua) itu, akan tetapi kata-kata itu diucapkan perlahan sekali dan agaknya pemuda itu menahan hatinya agar tidak mengeluarkan suara.
lagi.
Memang Sun Hauw di samping keharuan dan kesedihannya, juga merasa bimbang dan gelisah.
Calon mertuanya sudah meninggal dunia, apakah nona ini sudah tahu tentang perjodohan yang diikat?
Bagaimana kalau Nona ini belum diberi tahu oleh Ayahnya.
Ingin sekali ia bertanya kepada Ang I Niocu tentang ini, akan tetapi tentu saja ia merasa malu dan sungkan.
Sebaliknya ia lalu membikin tenang hatinya, diam-diam ia mengeringkan air matanya, lalu bangkit berdiri lagi.
Sepasang matanya masih basah dan mukanya merah.
"Niocu,"
Suaranya serak dan pandang matanya kepada Ang I Niocu penuh perasaan kasih dan iba.
"sungguh aku ikut berdukacita dan alangkah kaget hatiku mendengar warta menyedihkan ini. Niocu, Ayahmu demikian sehat dan gagah perkasa ketika bertemu dengan aku, bagaimana ia bisa meninggal dengan mendadak? Apa sebabnya?"
Kalau saja masih ada kemarahan dan kebencian dalam hati Ang I Niocu terhadap pemuda ini, tentu ia akan menjawab dengan makian dan tuduhan bahwa pemuda inilah yang menjadi gara-gara kematian Ayahnya.
Akan tetapi sikap Sun Hauw mendatangkan kesan baik dalam hati Ang I Niocu dan gadis itu hanya menjawab singkat.
"Ayah meninggal karena sakit bagian jantungnya."
Keduanya berdiam diri agak lama. Sun Hauw tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur nona itu. Akhirnya ia hanya dapat bertanya dengan perlahan.
"Niocu, apakah... apakah mendiang Ayahmu ada meninggalkan sesuatu pesanan untuk aku...?"
Tentu saja Ang I Niocu dapat menangkap maksud pertanyaan itu, tentu pemuda ini hendak bertanya tentang maksud perjodohan yang direncanakan Ayahnya.
Akan tetapi ia hanya menggeleng kepala dan tidak berkata apa-apa.
"Niocu, apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?"
Kembali Ang I Niocu menggeleng kepalanya.
"Kau sebatang kara di dunia ini?"
Pertanyaan ini penuh perasaan iba.
Ang I Niocu mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara karena tahu bahwa suaranya tentu akan gemetar.
Pertanyaan-pertanyaan ini membangkitkan kesedihan hatinya.
Sampai lama Sun Hauw diam saja, penuh bimbang, ragu dan iba.
"Niocu, aku hendak melaporkan urusan Bu-Tong-Pai dan Kim-San-Pai yang sudah selesai itu kepada Susiok di Go-Bi-Pai, setelah itu aku akan menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Sin-Taihiap Bu Pun Su. Kalau aku boleh bertanya, kau hendak ke mana?"
"Aku juga harus menghadiri pertemuan di puncak Gunung Thai-San, seperti yang dipesan oleh Susiok-Couw Bu Pun Su."
Wajah Sun Hauw berseri.
"Kalau begitu, Niocu, apabila kau tidak menganggap aku terlalu lancang dan kurang ajar, maukah kau mengijinkan aku mengiringkan perjalananmu? Kita sejalan, dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau boleh melakukan perjalanan bersamamu."
Karena sikap pemuda itu memang amat baik dan menyenangkan hatinya, Ang I Niocu tidak merasa keberatan.
Di atas dunia ini ia memang hidup sebatang kara, tiada keluarga tiada teman, sekarang ada pemuda ini yang baik hati dan sopan, mengapa menolak perjalanan bersama?
Sedikitnya ia akan dapat menyelidiki dan mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya dari pemuda yang menjadi pilihan Ayahnya ini.
Berangkatlah dua orang muda itu menuruni Bukit Kim-San dan dengan kepandaian mereka yang tinggi, mereka perjalanan cepat sekali.
Sikap Sun Hauw benar-benar amat sopan dan baik sehingga Ang I Niocu makin suka kepadanya,.
sungguhpun sukar dikatakan bahwa gadis itu membalas cinta kasihnya.
Setelah kehilangan Gan Tiauw Ki dan Ayahnya, memang amatlah sukar bagi Ang I Niocu untuk dapat mencinta pemuda lain.
Memang, Sun Hauw seorang pemuda yang baik dan gagah.
Tidak saja ia telah memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi juga ia pandai membawa diri.
Perjalanan berbulan-bulan bersama Ang I Niocu menjadi ujian baginya.
Biarpun ia tergila-gila kepada Ang I Niocu, mabuk oleh kecantikan gadis ini yang memang luar biasa sekali sehingga ia mencinta gadis ini dengan sepenuh hati dan perasaan, namun belum pernah ia memperlihatkan sikap yang kurang ajar dan melanggar tata-susila.
Bahkan, biarpun sepasang matanya selalu menyorotkan sinar cinta kasih yang berkobar-kobar, bibirnya tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tentang perasaan yang terkandung dalam hatinya itu.
Tiap malam, kalau Ang I Niocu sudah pulas di dalam kamar lain di Penginapan, atau di dalam kamar di sebuah kelenteng kosong di mana mereka bermalam, Sun Hauw gelisah tak dapat tidur dan kadang-kadang ia duduk bersandar pada meja sembahyang di dalam kelenteng dan melamun!
Tentu saja yang terbayang hanyalah Ang I Niocu yang gagah perkasa dan cantik jelita, dan terbayanglah pula pertemuannya yang pertama kali dengan dara pujaan hatinya itu.
Kadang-kadang pemuda ini menjadi muram wajahnya, penuh kegelisahan dan kedukaan, kalau ia teringat betapa akan sengsara hidupnya kalau gadis itu kelak menolaknya!
Ia pun bingung mencari jalan bagaimana untuk bicara dengan Ang I Niocu tentang kehendak mendiang Kiang Liat mengenai tali perjodohan itu.
Karena nama Ang I Niocu sudah mulai terkenal, apalagi semenjak ia membasmi gerombolan perampok di Bukit Min-San itu, tidak ada penjahat yang berani sembarangan mengganggunya dalam perjalanan itu.
Lebih-lebih karena di situ ada Liem Sun Hauw dan pemuda ini yang sudah sudah lama merantau di dunia kang-ouw bersama mendiang Suhunya, juga merupakan tokoh yang terkenal dan ditakuti penjahat.
Para kaum liok-lim mempunyai mata yang awas dan telinga yang tajam, dan mereka tidak mau mengganggu orang-orang gagah yang sekiranya akan merugikan mereka sendiri.
Ketika mereka tiba di jalan simpangan yang dekat dengan kampung tempat tinggal Sun Hauw, pemuda itu berkata.
"Nah, di sinilah jalan yang menuju ke rumah Ayahku, Niocu. Kau tentu tidak keberatan kalau kita singgah sebentar, bukan? Aku harus menengok keadaan Ayah karena ketika kutinggalkan, dia baru saja sembuh dari sakit."
Hal ini memang seringkali dikemukakan oleh Sun Hauw dalam perjalanan, yakni bahwa pemuda itu hendak singgah di kampung halamannya.
Ang I Niocu tidak keberatan dan ia memang ingin sekali melihat keadaan keluarga pemuda ini.
Mereka membelok dan dengan cepat menuju ke kampung Peng-Kan-Mui.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di luar kampung itu, tiba-tiba Sun Hauw menghentikan kakinya dan mukanya berubah.
Ang I Niocu juga berhenti dan menoleh, memandang heran kepada pemuda itu.
"Mengapa kita berhenti di sini?"
Tanyanya.
Sun Hauw teringat akan sesuatu yang membuat hatinya berdebar cemas dan yang membuatnya tiba-tiba berhenti itu.
Ia teringat akan Siok Lan, gadis yang oleh Ayahnya dicalonkan menjadi isterinya!
Ia mengajak Ang I Niocu ke rumahnya, bahkan bermaksud minta kepada Ayahnya supaya melamar gadis ini sebagai calon isterinya.
Akan tetapi bagaimana dengan Siok Lan?
Karena dahulu Ayahnya sudah menetapkan perjodohannya dengan Siok Lan, maka urusan ini menjadi sulit dan harus dipecahkan dengan perlahan.
Kalau ia mengajak Ang I Niocu ke rumah Ayahnya, bagaimana kalau terjadi hal-hal yang tidak dikehendakinya?
Bagaimana kalau andaikata Ayahnya marah-marah dan Ang I Niocu mendengar tentang pertunangannya dengan Siok Lan?
Bisa ribut dan tentu Ang I Niocu akan tersinggung, akan marah!
"Niocu, baru sekarang aku ingat dan betapapun besar malu dan kecewaku kepadamu, terpaksa hal ini kukemukakan secara terus terang kepadamu.
Kau tahu bahwa Ayah adalah seorang dusun yang kuno dan pendiriannya masih kolot.
Kalau tiba-tiba saja aku datang bersama engkau, tentu ia akan menyangka yang bukan-bukan dan mengira bahwa aku telah menyeleweng.
Hal ini bukan saja tidak baik bagiku, juga akan menyinggung perasaanmu.
Oleh karena itu, aku harap kau sudi memaafkan aku, Niocu.
Biarlah aku yang masuk lebih dulu, memberitahukan tentang perjalananku dan tentang kunjunganmu, agar orang tua itu tidak salah paham dan dapat menyambut kunjunganmu."
Wajah Ang I Niocu menjadi merah.
Akan tetapi bagaimana ia bisa marah?
Pemuda ini bicara dengan begitu terus terang dan secara terbuka, sehingga sama sekali tidak dapat disebut menghinanya, bahkan telah melindunginya dari keadaan yang benar-benar akan dapat menyinggung dan menghinanya, misalnya kalau tiba-tiba Ayah pemuda itu memaki-maki puteranya di depannya, tentu hal ini akan membuat dia merasa terhina.
Oleh karena itu ia pun, tersenyum manis sekali dan berkata.
"Aku mengerti, Saudara Liem. Tidak apa, karena memang aku tidak berhak mengganggu orang tua itu. Kau masuklah ke kampung dan tengok orang tuamu. Biar aku berjalan-jalan di kampung ini melihat-lihat. Kiranya setengah hari cukup untuk melepas rindu kepada Ayahmu, bukan? Nah, sekarang masih pagi. Nanti lewat tengah hari kita bertemu pula di luar kampung ini untuk melanjutkan perjalanan."
Sun Hauw tidak berani banyak membantah.
Masuklah dua orang muda itu ke kampung Peng-Kan-Mui dalam keadaan berpisah.
Sun Hauw membelok ke kanan dan Ang I Niocu membelok ke kiri.
Kampung itu besar juga sehingga Ang I Niocu takkan merasa kesepian selama menanti Sun Hauw menyelesaikan kunjungannya ke rumah.
Ia berjalan perlahan di sepanjang jalan kampung itu, tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang terheran-heran dan kagum melihatnya.
Di bawah sebatang pohon di belakang rumahnya, Tang Siok Lan berdiri termenung.
Gadis manis ini kadang-kadang tersenyum dan kadang-kadang membelai-belai batan pohon dengan jari-jari tangannya yang halus.
Baru saja ia mendengar warta girang, warta yang dianggapnya paling baik di antara segala berita.
Warta tentang datangnya Liem Sun Hauw, kekasih dan tunangannya!
Ia telah "jatuh hati"
Kepada Liem Sun Hauw semenjak ia masih kecil!
Teringat ia ketika dahulu, sama-sama masih seorang anak berusia enam tujuh tahun, ia selalu bermain-main dengan Sun Hauw di tempat ini, di kebun rumahnya di mana Sun Hauw setiap hari datang mengajaknya bermain-main.
Semenjak kecilnya, Sun Hauw memang sudah gagah atau setidak-tidaknya bercita-cita menjadi seorang gagah.
Sering kali Sun Hauw membuat kuda-kudaan dari batang pohon, lalu berlari-lari "naik kuda"
Dengan lagak seorang pahlawan berangkat ke medan perang!
Dan di tengah jalan dia melambai-lambaikan tangan kepada Siok Lan yang dibalas dengan lambaian tangan pula.
Sering kali mereka bermain-main, Sun Hauw menjadi pangeran dan Siok Lan menjadi puterinya, sang pangeran menolong sang puteri yang ditawan oleh penjahat!
Siok Lan tersenyum dan kadang-kadang tertawa kecil menutupi mulut dengan tangannya kalau ia teringat akan semua ini.
Sekarang Sun Hauw sudah pulang!
Sedangkan Ayah Sun Hauw dan Ayahnya sendiri sudah setuju bahwa kalau Sun Hauw pulang, pernikahan antara dua orang muda ini akan dilangsungkan segera.
Tiba-tiba pintu belakang rumah itu terbuka dan seorang wanita muda yang cantik juga datang berlari-lari sambil tertawa.
"Siok Lan, kau sedang apa di situ? Mengapa tidak lekas-lekas berganti pakaian dan membereskan rambutmu? Sebentar lagi tentu dia akan datang ke sini...!"
Kata wanita itu yang ternyata adalah kakak ipar dari Siok Lan.
"Ahhh... Soso suka menggoda orang..."
Jawab Siok Lan dan mukanya yang putih halus meniadi merah, lesung di atas tahi lalat yang berada di dagu kirinya membayang menambah kemanisannya.
Dua orang wanita ini lalu bersendau-gurau dan Siok Lan digoda terus oleh kakak iparnya.
Keduanya tertawa-tawa gembira tidak tahu bahwa tak jauh dari situ dua orang mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.
Kalau di tempat ini terjadi hal yang menggembirakan, sebaliknya di rumah Sun Hauw terjadi hal yang ribut.
Terdengar Ayah pemuda itu berteriak-teriak marah, diseling suara Sun Hauw yang tenang dan lemah-lembut, agaknya hendak menghibur Ayahnya.
Akhirnya dengan suara menyatakan kekecewaan, kemarahan, dan kedukaan, Ayah pemuda itu berkata.
"Sudahlah, Sun Hauw. Kalau kau berkukuh, aku pun tak dapat memaksa, karena kau lah yang akan menikah. Akan tetapi, untuk membatalkan ikatan jodoh dengan keluarga Tang, harus kau sendiri yang datang memberitahukan. Aku tidak sampai hati, aku tidak tega membikin malu dan susah Siok Lan, anak yang baik itu... Baru saja ia masih demikian lincah gembira... penuh harapan, sekarang kau hendak menghancurkan hatinya..."
"Ayah, sesungguhnya anak pun merasa amat kasihan kepada Siok Lan. Akan tetapi apa daya, Ayah. Anak merasa lebih cocok dan anak mencinta Ang I Niocu seorang wanita gagah yang lebih sesuai dengan keadaan anak sendiri. Tentang Siok Lan, biarlah anak anggap sebagai adik sendiri dan kelak anak yang akan mencarikan calon suami."
"Masa bodoh... masa bodoh... anak muda sekarang memang tidak kenal budi!"
Biarpun secara terpaksa sekali harus mendapat persetujuan Ayahnya, Sun Hauw girang juga bahwa akhirnya Ayahnya menyerahkan hal perjodohan ini kepadanya.
Ia lalu cepat meninggalkan rumahnya, menuju ke rumah Siok Lan.
Ia harus cepat-cepat karena khawatir kalau membuat Ang I Niocu terlalu lama menunggu.
Akan tetapi setelah tiba di dekat rumah Siok Lan, ia merasa berdebar juga hatinya.
Bagaimana ia harus menyampaikan hal yang amat pahit bagi Siok Lan itu?
Lebih baik kusampaikan kepada Siok Lan sendiri, pikirnya.
Untuk menyampaikan hal ini kepada Ayah Siok Lan, atau kakak Siok Lan, ia merasa lebih sukar lagi karena hubungannya dengan mereka ini kurang erat.
Semenjak kecilnya memang kakak Siok Lan itu bekerjaa di Kota lain dan pulang-pulang sudah membawa isteri.
Akan tetapi kalau dengan Siok Lan, semenjak kecil ia memang sudah kenal baik sehingga biarpun amat berat rasa hati menyampaikan hal yang menghancurkan perasaan gadis itu, namun masih lebih mudah apabila dibandingkan dengan menyampaikan kepada Ayah atau kakaknya.
Ketika Sun Hauw melompati pagar belakang rumah, ternyata ia mendapatkan Siok Lan tengah duduk seorang diri di bawah pohon.
Kebetulan sekali, setelah bergurau dengan kakak iparnya yang menggodanya, kakak ipar itu kembali kedalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangga, dan Siok Lan melamun seorang diri di dalam kebunnya, mengambil keputusan di dalam hatinya, hanya akan keluar kalau Sun Hauw sudah datang berkunjung ke rumahnya.
Akan tetapi kini ia telah berganti pakaian seperti yang dinasihatkan oleh kakak iparnya tadi, dan rambutnya yang hitam halus dan panjang sudah disisirnya rapi.
Mukanya yang jarang dibedaki, karena ia memang bukan seorang pesolek, akan tetapi yang putih dan halus, kini bertambah menarik dengan bedak tipis-tipis dan senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya.
Saat-saat seperti ini, menanti datangnya kekasih hati, memang merupakan saat paling bahagia bagi seorang dara.
Ketika melompat turun ke dalam kebun itu, untuk sesaat Sun Hauw berdiri tertegun.
Ia terharu.
Teringat ia akan masa kanak-kanak dahulu.
Setiap kali ia pun memasuki kebun Siok Lan seperti ini.
Hanya bedanya, kalau dahulu ia masuk menerobos pagar kebun yang rusak, adalah sekarang dengan mudahnya ia melompati pagar tanpa mengeluarkan suara.
"Siok Lan..."
Ia memanggil dengan nada suara seperti dahulu ketika masih kecil pula. Gadis itu terkejut, serasa dalam mimpi. Seperti pada dulu, ia pun tersenyum, menoleh dan memandang ke Sun Hauw.
"Hauw-ko... kau baru datang...?"
Kemudian ia teringat bahwa mereka bukan kanak-kanak lagi, maka merahlah mukanya dan disambungnya dengan kata. kata itu.
"Eh, mengapa kau datang dari belakang?"
Sun Hauw makin terharu melihat wajah wanita itu tersenyum bahagia, sepasang mata yang sudah dikenalnya baik semenjak kanak-kanak itu berseri-seri, akan tetapi ia tidak bisa membalas senyum dan wajahnya nampak muram.
"Aku sengaja datang dari belakang untuk bertemu dan bicara dengan kau, Siok Lan."
Ia lalu menghampiri gadis itu dan diucapkanlah kata-kata yang sudah dirangkai dan dihafalkannya di sepanjang jalan tadi.
"Siok Lan, semenjak kita masih kanak-kanak, kita telah menjadi sahabat baik, bahkan boleh dibilang sudah seperti kakak beradik saja. Oleh karena itu, biarlah sekarang kau anggap aku bicara selaku kakakmu dan bagi aku, lebih baik aku bicara sendiri denganmu daripada dengan Ayah atau kakakmu. Sebagai seorang kakak aku hendak bicara terus terang saja, demi kebaikan kita berdua dan demi kebaikan keluarga kita. Kau tahu bahwa selamanya aku menganggap kau sebagai adikku, karena aku sendiri tidak mempunyai saudara. Akan tetapi, ketika aku pulang tadi, aku mendengar dari Ayah bahwa antara kita telah diikat tali perjodohan."
Mendengar ini Siok Lan menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali sampai ke telinga dan lehernya.
Ia tidak berani bergerak, hanya tersenyum-senyum malu dan ujung kasutnya menggurat-gurat tanah di bawah kaki, hanya itulah gerakan satu-satunya yang ia berani lakukan.
Ia merasa malu, jengah, dan juga...
girang bukan main.
"Siok Lan, kau sendiri tentu tahu bahwa aku selalu akan merasa girang dan berterima kasih, bahwa aku tentu akan menerimanya dengan tangan terbuka dan hati terbuka, karena kau memang seorang yang kutahu amat bijaksana, amat mulia, dan seorang dara pilihan, kalau saja..."
Tiba-tiba wajah menunduk yang kemerahan itu menjadi pucat dan diangkat, sepasang mata yang bingung dan kaget, seperti mata seekor kelinci melihat harimau menatap wajah Sun Hauw, membuat Sun Hauw merasa kerongkongannya tersumbat!
Akan tetapi pemuda itu mengeraskan hati dan ia harus mengakhiri kalimat yang paling sulit diucapkannya itu.
"Kalau saja aku belum mempunyai seorang kekasih, Siok Lan. Memang ini salahku. Aku sudah jatuh cinta kepada seorang gadis gagah perkasa bernama Ang I Niocu Kiang Im Giok, dan aku... aku bahkan sudah bertunangan dengan dia, aku pulang untuk meminta Ayah meminangnya, maka tali perjodohan antara kau dan aku ini tentu saja tak mungkin...! Kau tahu Siok Lan, aku sayang kepadamu seperti seorang kakak menyayang adiknya, dan terhadap Ang I Niocu... dia itu pilihan hatiku, tak mungkin diganti oleh lain orang..."
Kalau ada geledek menyambarnya di saat itu, kiranya Siok Lan takkan begitu kaget seperti ketika mendengar kata-kata ini.
Sepasang matanya terbelalak, mukanya pucat, bibirnya gemetar dan bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata pun, kakinya menggigil dan akhirnya air mata membanjir keluar dibarengi keluhan suaranya.
"Hauw-ko..."
Dan gadis ini berlari dengan limbung, memasuki rumahnya.
Sun Hauw menarik napas panjang dengan perasaan kasihan tercampur lega.
Akhirnya kata-kata itu dapat juga dikeluarkan dan nona itu tentu akan menyampaikannya kepada kakaknya dan Ayahnya dan semua bereslah!
Ia lalu membalikkan tubuh dan melompati pagar kebun itu, kembali ke rumah Ayahnya, untuk menyampaikan bahwa hal itu sudah beres.
Biarpun kebun itu sudah ditinggalkan oleh Siok Lan dan Sun Hauw akan tetapi orang yang semenjak tadi mengintai di situ masih belum pergi.
Ia berdiri bersembunyi, seperti patung, rupa-rupanya terpengaruh oleh semua yang telah didengarnya, Semenjak Siok Lan bergurau dengan kakak iparnya tentang Sun Hauw sampai pertemuan antara Siok Lan dan Sun Hauw.
Tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dari dalam rumah sederhana, rumah keluarga Tang itu.
Orang yang tadi bersembunyi, cepat sekali berkelebat, berubah menjadi bayangan merah dan di lain saat ia telah naik ke atas genteng rumah itu.
Dilihatnya dari atas betapa Siok Lan berlari dikejar oleh kakak dan iparnya.
Bayangan merah di atas genteng hendak melompat turun mengejar, akan tetapi terlambat, Siok Lan sudah sampai di dinding dan dengan sekuat tenaga gadis yang malang ini membenturkan kepalanya pada dinding.
Terdengar suara keras dan gadis itu roboh terkulai, darah mengalir dari pelipisnya, keluar pula dari mulut, hidung, dan matanya yang terbuka lebar tanpa cahaya, mata seorang yang sudah tewas...!
Kakak Siok Lan menggereng-gereng, isterinya menjerit-jerit dan seorang kakek tua, yakni Ayah Siok Lan, terbungkuk-bungkuk lari dari dalam, lalu menubruk jenazah puterinya sambil menangis dan berkata-kata tidak karuan seperti orang yang sudah berubah ingatannya, seperti orang gila saking sedihnya.
Bayangan merah itu menggigit bibir dan menghapus dua titik air mata yang membasahi pipinya, kemudian berkelebat pergi.
Sun Hauw menjadi terkejut dan menyesal sekali ketika mendengar tentang perbuatan Siok Lan yang nekad.
Tak terasa lagi air matanya turun bertitik, karena betapapun juga, ia sesungguhnya amat sayang kepada Siok Lan.
Kalau di sana tidak ada Ang I Niocu, kiranya ia akan menerima Siok Lan sebagai isteri dengan perasaan gembira dan bahagia.
Ayahnya juga menangis sesenggukan, membanting diri di atas pembaringan sambil memaki-maki anaknya.
"Sun Hauw, dasar kau manusia tak kenal budi! Kau telah melakukan perbuatan yang membikin kotor nama keluarga kita, kau telah melakukan dosa besar sekali, dan sesungguhnya kau lah yang membunuh Siok Lan...!"
Setelah memaki-maki, Ayah ini berkata.
"Kau boleh mencari isteri yang mana saja, akan tetapi bagiku, kau sudah mempunyai isteri Siok Lan! Aku tidak sudi melamarkan lain orang gadis untuk menjadi isterimu!"
Tentu saja Sun Hauw merasa amat berduka.
Akan tetapi, disamping kedukaannya ini, ia pun diam-diam merasa girang karena kini perjodohannya dengan Ang I Niocu tidak terhalang oleh apapun juga lagi!
Kalau Ayahnya tidak mau meminang, ia dapat minta perantaraan Susioknya.
Memang, seorang yang sudah dimabuk cinta kadang-kadang sampai lupa akan kebajikan, yang diingat hanyalah kesenangan diri sendiri saja.
Setelah meninggalkan sebagian besar uangnya untuk disumbangkan kepada keluarga Tang, Sun Hauw lalu berpamit kepada Ayahnya untuk melanjutkan perjalanan.
Tak dapat dilukiskan betapa remuk perasaan hati Ayahnya.
Ayah ini hanya mempunyai seorang putera dan sekarang, putera ini telah mengecewakan hatinya, bahkan hanya setengah hari saja pulang, dan hendak pergi lagi.
Sebaliknya, setelah keluar dari rumahnya, Sun Hauw merasa seakan-akan seekor burung terlepas dari sangkar yang sempit.
Ia berlari-lari menuju ke luar kampung di mana tadi ia berpisah dari Ang I Niocu.
Kemuraman wajahnya yang tadi sudah lenyap terganti seri penuh harapan dan kegembiraan.
Masa depannya penuh madu dan kebahagiaan bersama Ang I Niocu, dara perkasa yang cantik seperti bidadari, mengapa ia harus berduka?
Dengan hati gembira ia berlari keluar dari pintu gerbang dusunnya dan dari jauh ia sudah melihat dara baju merah itu menanti kedatangannya, berdiri tegak dengan gagah dan cantiknya.
Gadis itu tersenyum manis sekali dan matanya bersinar-sinar menatap wajah Sun Hauw.
""Kuharap aku tidak terlalu lama pergi sehingga kau tidak menjadi kesal hati,"
Kata Sun Hauw.
"Tidak sama sekali,"
Jawab Ang I Niocu dengan suara merdu dan sikap menarik.
"Saudara Liem, mengapa selama ini kau tidak pernah bercerita kepadaku tentang maksud-maksud mendiang Ayahku?"
Sun Hauw terkejut, hatinya berdebar.
"Apa yang kau maksudkan, Niocu?"
Ang I Niocu tersenyum manis.
"Ayah sebelum menutup mata meninggalkan pesan kepadaku tentang kita."
Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Sun Hauw.
Jadi kalau begitu selama ini Ang I Niocu sudah tahu bahwa dia adalah pilihan Ayahnya?
Dan gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia.
Ah, kalau begini dapat diharapkan sembilan dari sepuluh bagian cita-citanya terlaksana!
"Jadi kau...
kau sudah tahu, Niocu?
Aku diam saja karena tidak ingin membikin kau tak enak hati dan malu.
Memang, mendiang Ayahmu dahulu telah...
mengusulkan tentang...
ikatan jodoh antara kita..."
"Saudara Liem, apakah kau suka kepadaku?"
Tanya Ang I Niocu, sepasang matanya menatap tajam, mulutnya tetap tersenyum manis.
Diam-diam Sun Hauw terheran-heran juga mengapa gadis inni tidak kelihatan likat dan sungkan, dan bicara tentang ikatan jodoh nampaknya demikian biasa!
"Suka kepadamu, Niocu?
Ah, kiranya tak perlu kujelaskan dan Niocu yang berpandangan tajam tentu sudah mengetahui akan isi hatiku.
Semenjak pertemuan kita yang pertama kali, aku...
aku sedetik pun tak pernah dapat melupakanmu, Niocu.
Aku cinta kepadamu dengan seluruh jiwaku..."
Senyum di mulut Ang I Niocu melebar sehingga nampak sekilas giginya yang putih dan rapi.
"Begitukah? Akan tetapi kau harus tahu bahwa sebelum Ayah menyatakan keinginannya agar kau berjodoh denganmu, aku sudah bersumpah bahwa aku hanya akan menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan pedangku. Nah, Saudara Liem, kalau kau memang benar-benar cinta kepadaku dan hendak memperisteri aku, coba kau kalahkan pedangku ini!"
Sambil berkata demikian Ang I Niocu mencabut pedangnya dan menanti dengan sikap garang.
Liem Sun Hauw tentu saja menjadi terkejut, tertegun dan tak tahu harus berbuat apa.
Akan tetapi, melihat senyum Ang I Niocu tadi, hatinya menjadi besar.
Melihat gelagatnya, nona ini pun membalas cinta kasihnya.
Sudah tentu saja Ang I Niocu memegang harga diri dan mengadakan "sayembara"
Ini untuk mempertinggi harga dirinya, akan tetapi kalau nona ini membalas cintanya, masa Ang I Niocu akan bertempur sungguh-sungguh?
Dan pula, andaikata Ang I Niocu bersungguh-sungguh, ia pun tidak takut karena biarpun dalam hal Gin-kang ia harus mengakui masih kalah oleh nona baju merah ini, namun dalam ilmu pedang, ia tidak percaya kalau kalah.
Ia telah menerima gemblengan dari mendiang Thian Mo Siansu dan telah mempelajari ilmu pedang yang lebih lihai daripada ilmu pedang Go-Bi-Pai.
"Begitukah kehendakmu, Niocu? Biarlah aku memperlihatkan kebodohanku,"
Katanya sambil mencabut pedang dan memasang kuda-kuda. Ia sengaja memasang pertahanan untuk memberi kesempatan kepada Ang I Niocu menyerang lebih dulu. Ang I Niocu tidak sungkan-sungkan lagi.
"Lihat pedang!"
Serunya dan di lain saat Sun Hauw harus cepat-cepat membuang diri ke kiri sambil menyampok karena pedang gadis itu lenyap berubah sinar bagaikan kilat menyambarnya, cepat bukan main.
"Hebat...!"
Tak terasa lagi Sun Hauw mengeluarkan seruan terkejut dan kembali sinar pedang di tangan Ang I Niocu menyambarnya.
Dalam beberapa jurus Sun Hauw terus terdesak hebat dan serangan-serangan Ang I Niocu benar-benar luar biasa ganasnya.
Akan tetapi Sun Hauw tidak mau membalasnya, hanya memutar pedang sedapat mungkin melindungi tubuhnya.
"Balaslah, aku paling tidak suka melihat orang berlaku mengalah. Memangnya ilmu pedangmu jauh lebih menang?"
Kata Ang I Niocu.
Sambil berkata-kata, ia melanjutkan serangan-serangannya dengan cepat.
Melihat gerakan pedang Ang I Niocu, diam-diam Sun Hauw terkejut sekali dan tahulah ia bahwa gadis itu benar-benar lihai dan ilmu pedangnya amat tinggi tingkatnya, sukar diduga gerak-gerik dan perubahannya.
Akan tetapi ia masih percaya penuh bahwa tidak nanti Ang I Niocu mau melukainya, maka sambil tersenyum manis ia berkata.
"Niocu, bagaimana aku berani menyerangmu? Sejak dahulu Ayahmu telah memberi tahu bahwa kepandaianmu tinggi sekali, malah lebih tinggi daripada Ayahmu sendiri. Pula, pedang tidak bermata, bagaimana aku tega menyerangmu? Kalau sampai kulitmu terluka pedang, bukankah aku akan menyesal setengah mati?"
Ang I Niocu yang tadinya bersikap manis, kini mengeluarkan suara ketus.
"Orang she Liem, kita dalam pibu, luka atau mati adalah soal biasa! Aku akan menyerangmu sungguh-sungguh!"
Sun Hauw masih saja tidak sadar akan perubahan suara ini. Ia masih tersenyum dan berkata manis.
"Niocu, aku tidak percaya kau akan melukaiku. Tegakah kau melihat tunangan sendiri menjadi korban ujung pedangmu? Kalau kau tega, silakan, aku rela mati dalam tangan orang yang paling kucinta..."
Ang I Niocu tak dapat menahan marahnya lagi. Ia menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan dengan muka merah ia menudingkan pedangnya ke arah muka Sun Hauw.
"Bangsat rendah! kau kira kau ini orang macam apakah berani sekali bicara seperti itu di depanku? Ketahuilah, buka telingamu lebar-lebar, jangankan kau tak dapat menangkan pedangku, andaikata kau dapat menangkan juga, belum tentu aku sudi menjadi isteri seorang kejam macam kau!"
Kali ini benar-benar Sun Hauw terkejut. Mukanya berubah pucat ketika ia bertanya.
"Eh, Niocu, mengapa kau marah kepadaku? Apakah kesalahanku?"
"Manusia rendah, kau pandai berpura-pura! Tentu Ayah dahulu juga sudah tertarik oleh gerak-gerik dan kata-katamu yang palsu, mengira kau seorang baik-baik tidak tahunya kau menyimpan hati yang palsu. Apa yang kau sudah lakukan terhadap Siok Lan?"
Sun Hauw merasa semangatnya terbang.
"Siok Lan...? Bagaimana kau bisa tahu...?"
Ang I Niocu tersenyum akan tetapi kini senyumnya mengiris jantung, senyum mengejek dan memandang rendah.
"Kau sanggup menghancurkan hati seorang gadis Suci seperti Siok Lan, kau telah mempermainkan perasaan cintanya. Kemudian, setelah gadis itu membunuh diri, masih hangat jenazahnya, kau sudah berani beraksi dihadapanku seolah-olah aku ini kekasihmu. Cih, laki-laki tak tahu malu!"
Setelah berkata demikian, dengan sikap menghina sekali Ang I Niocu membalikkan tubuh dan meninggalkan pemuda itu.
Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan Sun Hauw di saat itu.
Malu dan marah karena terhina, kecewa dan berduka karena ditolak cintanya, menyesal sekali atas perbuatannya terhadap Siok Lan, semua perasaan ini teraduk-aduk menjadi satu dalam hati dan pikirannya.
Kemudian melihat Ang I Niocu meninggalkannya, ia mengejar sambil rnembentak.
"Ang I Niocu, Ayahmu telah menjanjikan aku menjadi suamimu! Apakah kau hendak melanggar janji? Apakah hendak mencemarkan nama baik Ayahmu dengan mengingkari janji?"
Tiba-tiba Ang I Niocu membalikkan tubuh menantangnya dengan pandang mata berapi-api.
"Kau masih berani menyebut-nyebut Ayahku? Bangsat rendah, aku tidak membunuh kau seperti anjing saja sudah amat untung bagimu. Kau berani menuduh aku mengingkari janji? kau lah yang menipu Ayah, kau sudah bertunangan dengan Siok Lan masih berani menerima uluran tangan Ayah! Kau yang sudah mengingkari janjimu terhadap keluarga Siok Lan. Adapun aku, aku sama sekali tidak mengingkari janji. Sudah kukatakan tadi bahwa orang yang hendak menjadi suamiku harus dapat mengalahkan pedangku. Nah, sanggupkah kau mengalahkan pedangku?"
Kata-kata ini disusul dengan tarikan pedang yang dilintangkan di depan dada dengan gaya menantang sekali.
Hati Sun Hauw yang sudah remuk dan putus asa yang merasa kebahagiaannya jatuh dan hancur berantakan, kini menjadi panas dan membuatnya nekad.
Ia rela mati kalau tidak bisa mendapatkan Ang I Niocu I sebagai isterinya.
Maka cepat dihadapinya Ang I Niocu dengan pedang di tangan dan katanya.
"Baiklah, Niocu. Kalau begitu besar keinginanmu hendak mengadu ilmu, mari kulayani kau!"
Sun Hauw kini menerjang dengan sengitnya dan sebentar kemudian dua orang muda itu sudah bertanding dengan seru.
Ilmu pedang dari Sun Hauw memang lihai sekali, karena di dalam ilmu pedang yang berdasar pada ilmu pedang Go-Bi-Pai ini terdapat pukulan-pukulan aneh yang dahulu diwarisi oleh Thian Mo Siansu dari orang sakti Hok Peng Taisu.
Pedang di tangannya lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung, bagaikan seekor naga mengejar awan.
Namun kini ia menghadapi Ang I Niocu, dara perkasa ahli pedang yang mewarisi ilmu pedang dari keluarga Kiang, kemudian yang sudah menerima petunjuk dari orang sakti Bu Pun Su.
Dalam menghadapi pemuda lihai ini, Ang I Nio tidak berani main-main dan cepat memainkan limu pedang Sian-Li Kiam-sut yang amat indah gerakan-gerakannya namun di dalamnya mengandung tangan maut yang setiap saat mengancam nyawa lawannya.
Setelah mendapatkan kenyataan betapa tangguh ilmu pedang Ang I Niocu dan bahwa gadis itu benar-benar hendak merobohkannya, Sun Hauw menjadi marah dan hatinya sakit sekali.
Ia merasa dipermainkan oleh gadis ini yang tadinya dikira "Ada hati"
Kepadanya.
Dengan seluruh tenaga dan kepandaian yang ada padanya, ia tidak sungkan-sungkan lagi dan kini ia benar-benar ingin mengalahkan Ang I Niocu, baik dengan melukainya maupun kalau perlu membunuhnya!
Pertempuran menjadi makin seru dan hebat di luar kampung Peng-Kan-Mui.
Beberapa orang kampung yang melihat pertempuran ini memberi kabar kepada lain orang dan sebentar saja di tempat itu banyak berkumpul orang kampung.
Akan tetapi mereka itu hanya menonton saja, tidak ada yang berani mencampuri.
Apalagi dua orang itu bertempur bagaikan telah saling libat dengan sinar pedang, seperti menjadi satu.
Kalau bukan seorang ahli, mana bisa mencampuri mereka?
Disamping ini, biarpun Sun Hauw orang kampung itu, akan tetapi ia telah mendatangkan kesan buruk pada penduduk kampung itu dengan peristiwa yang terjadi pada diri Siok Lan.
Seratus jurus telah lewat dan tiba-tiba terdengar Ang I Niocu mengeluarkan bentakan nyaring, disusul oleh robohnya tubuh Liem Sun Hauw yang telah tertusuk dada kirinya oleh pedang dara baju merah itu.
Aneh sekali, dalam menghadapi maut ini, tiba-tiba Sun Hauw teringat kepada Siok Lan dan seperti dalam mimpi ia berseru.
"Siok Lan... kau tunggulah aku...!"
Dan tewaslah ia dengan pedang masih di tangan.
Melihat ini, Ang I Niocu merasa terharu juga, terharu karena pemuda ini tewas sebagai akibat mencintainya.
Ia menoleh kepada orang-orang kampung yang masih berdiri memandangnya.
"Yang menewaskan Liem Sun Hauw adalah aku, Ang I Niocu. Aku membalaskan sakit hati Nona Siok Lan."
Setelah berkata demikian, Ang I Niocu berjalan pergi dengan langkah tenang dan lambat, akan tetapi anehnya, sebentar saja ia telah lenyap dari pandangan mata orang-orang kampung.
Ang I Niocu langsung menuju ke Thai-San untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang diadakan oleh Susiok-Couwnya.
Memang ia sebetulnya tidak diharuskan ke sana, akan tetapi setelah sekarang ia menjadi seorang perantau, peristiwa ini menarik hatinya dan ingin ia melihat dan bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama.
Ketika ia tiba di sebuah hutan di kaki Gunung Thai-San, selagi ia berjalan perlahan, tiba-tiba terdengar bentakan!
"Perempuan rendah, sudah lama aku menunggu di sini!"
Ang I Niocu tenang memandang dan ia melihat Koai-Tung Toanio muncul bersama seorang kakek tua yang bermuka hijau.
Ang I Niocu maklum bahwa Koai-Tung Toanio tentu akan membalas sakit hati karena telah dua kali ia kalahkan, apalagi akhir-akhir ini ia telah melukai pundak seorang puterinya, bahkan telah membunuh dua orang anaknya yang menjadi anggauta Min-San Sam-Kui, yakni Kwan Liong dan Kwan Bi Hwa.
Maka tahulah ia bahwa kali ini ia harus bertempur mati-matian.
Terhadap Koai-Tung Toanio ia tidak takut, akan tetapi ia dapat menduga bahwa kakek yang menyertai nenek galak itu tentulah seorang berkepandaian tinggi.
"Toanio, kita berjumpa pula di sini. Kali ini apa kehendakmu?"
Tanya Ang I Niocu tenang akan tetapi siap sedia. Sementara itu, kakek bermuka hijau itu sejak tadi sudah memandang dengan bengong kepada Ang I Niocu.
"Ci Im, inikah nona yang bernama Ang I Niocu?"
Tanya kakek itu kepada Koai-Tung Toanio yang sebetulnya bernama Kwan Ci Im.
"Betul, Susiok. Dia inilah Siluman betina yang telah membunuh dua orang anakku,"
Jawab Koai-Tung Toanio penuh kebencian.
"Kau keliru, Ci Im. Dia ini tidak seperti Siluman, lebih patut menjadi bidadari. Hemm, alangkah cantik manisnya. Aku telah hidup lima puluh tahun lebih, baru sekarang ini melihat seorang wanita secantik ini...! Bukan main...!"
Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar kata-kata bandot tua itu. Dari kata-katanya sudah dapat dinilai orang macam apa yang sekarang ia hadapi.
"Anjing-anjing tua tak tahu malu!"
Makinya sambil mencabut pedangnya.
"Kalian menggonggong di sini mau apakah?"
"Setan perempuan, kuhancurkan kepalamu!"
Koai-Tung Toanio sudah tak dapat menahan marahnya lagi dan tongkatnya menyambar. Ang I Niocu cepat menangkis sehingga tongkat itu terpental kembali.
"Ci Im, jangan! Biarkan aku menangkapnya. Sayang kalau sampai kulitnya yang putih halus itu lecet oleh tongkatmu! Aku akan menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya. Nona manis, marilah ikut dengan aku!"
Kakek tua bermuka hijau itu melompat maju.
Kedua tangannya dikembangkan, jari-jari tangannya seperti cakar setan.
Ang I Niocu marah sekali.
Pedangnya berkelebat membabat dua lengan itu.
Kakek itu tertawa bergelak, tangannya disampokkan ke arah pedang.
"Triiing...!"
Kedua pihak kaget.
Ang I Niocu terkejut sekali karena pedangnya telah ditangkis oleh kuku jari-tangan kakek itu!
Benar-benar kepandaian yang luar biasa dan hebat.
Agaknya kakek ini telah melatih jari tangannya berikut kukunya untuk menghadapi senjata tajam lawan.
Di lain pihak, kakek itu pun kaget setengah mati karena bukan saja ia tidak dapat merampas pedang seperti yang ia duga semula, bahkan jari tangannya terasa sakit ketika bertemu dengan pedang.
"Eh, eh, kau ternyata berisi juga, Nona manis. Akan tetapi sekarang bertemu dengan Tiat-Sim Lo-Mo (Iblis Tua Berhati Besi), jangan harap kau dapat berlagak!"
Setelah berkata demikian, ia mencabut keluar sebatang golok yang memakai gelangan-gelangan kecil pada punggung golok, gelangan yang bisa mengeluarkan bunyi gemerincing yang gunanya untuk mengacaukan lawan.
Ang I Niocu diam-diam terkejut juga.
Ia pernah mendengar nama julukan Tiat-Sim Lo-Mo ini, yaitu seorang tokoh besar Kong-Thong-Pai yang menyeleweng dan sudah tidak diakui di Partainya.
Tiat-Sim Lo-Mo terkenal sebagai seorang penjahat cabul yang kejam sekali.
Selain ini ia pun seringkali merampok rumah orang dan dalam melakukan semua kejahatan ini, ia bisa berlaku kejam dan membunuh seisi rumah tanpa berkedip mata, dari yang tua sampai anak-anak kecil.
Oleh karena itulah maka ia diberi julukan Iblis Tua Berhati Besi untuk menggambarkan betapa kejam hatinya.
"Ah, kiranya kau iblis jahat. Kebetulan sekali, aku ingin membalaskan sakit hati puluhan orang yang menjadi korbanmu!"
Kata Ang I Niocu sambil mainkan pedangnya.
"Ha, ha, ha, ha, kau sendiri akan menjadi korban baru, bagaimana kau akan membalas sakit hati? Ha, ha, ha, lebih baik kau menyerah dengan tenang daripada harus lecet-lecet kulitmu!"
Ang I Niocu tidak mau melayaninya bicara lagi, pedangnya bergerak hebat dan mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang lihai, Ang I Niocu langsung mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihai dari ilmu pedangnya.
Sebetulnya tingkat dari Tiat-Sim Lo-Mo ini lebih tinggi dari Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena ia seorang pemogoran sehingga Lwee-kangnya banyak berkurang, pula karena ilmu pedang dari Ang I Niocu memang luar biasa, sebentar saja ia terdesak hebat dan goloknya hanya mampu menangkis saja.
Baiknya ia masih mempunyai andalan tangan kirinya yang kadang-kadang melakukan serangan mencengkeram yang berbahaya sekali sehingga Ang I Niocu harus berlaku hati-hati sekali dan tidak mudah merobohkan iblis tua ini.
Melihat Tiat-Sim Lo-Mo belum juga mampu mendesak, apalagi mengalahkan Ang I Niocu, Koai-Tung Toanio menjadi kecewa dan nenek ini lalu menyerbu dengan tongkatnya, membantu Tiat-Sim Lo-Mo dan mengeroyok Ang I Niocu!
Kali ini Ang I Niocu benar-benar terdesak hebat.
Kepandaian nenek bertongkat itu sudah tinggi.
Menghadapi kakek muka hijau itu saja sudah amat berat baginya, apalagi sekarang nenek itu ikut-ikut mengeroyok.
Terpaksa Ang I Niocu mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya melindungi tubuhnya sehingga jangan kata baru senjatat lawan, biar angin dan air pun takkan mampu menembus benteng sinar pedangnya!
Akan tetapi, pertempuran seperti ini kalau dilanjutkan tentu ia akan kalah juga, kalah karena kehabisan tenaga.
Ia hanya mampu melindungi diri tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali.
Telah delapan puluh jurus lebih Ang I Niocu bertahan diri.
Ia mulai lelah karena untuk menangkis serangan-serangan kedua lawannya, ia harus mengerahkan tenaga Lwee-kang.
Ang I Niocu merasa gemas sekali.
Untuk membalas serangan lawan, ia tidak mampu karena dirinya sudah dikurung hebat.
Untuk melarikan diri, memang dapat karena dalam hal Gin-kang ia masih menang, akan tetapi ia tidak sudi melakukan hal ini.
Ia bertahan terus.
Seratus jurus telah lalu dan kini peluh telah membasahi jidat dan leher gadis itu.
Tiat-Sim Lo-Mo sudah tertawa-tawa mengejek dan mengeluarkan kata-kata kotor yang menambah kemarahan Ang I Niocu.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Dua orang Siluman bangKotan sungguh tak tahu malu! Ang I Niocu, jangan khawatir, aku datang membantumu!"
Berkelebat bayangan yang cepat dan gesit gerakannya, sebatang pedang menyerang dan menahan tongkat Koai-Tung Toanio.
Serangan ini cukup kuat dan cepat sehingga terpaksa Koai-Tung Toanio meninggalkan Ang I Niocu dan menghadapi lawan baru ini yang ternyata adalah seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan.
Biarpun gerak-geriknya lemah, namun ternyata ilmu pedang ini cukup kuat dan tenaga Lwee-kangnya cukup hebat.
Ang I Niocu melirik dan melihat pemuda tampan ini, ia menjadi heran.
Belum pernah ia bertemu dengan pemuda ini, mengapa begitu datang terus membantunya dan telah mengenal namanya?
Akan tetapi segera nona baju merah ini mengerutkan kening.
Biarpun ia sudah ditinggalkan Koai-Tung Toanio sehingga ia kini dapat membalas dan mendesak Tiat-Sim Lo-Mo, akan tetapi sebaliknya, pemuda itu terdesak oleh tongkat Koai-Tung Toanio yang hebat dan ganas.
Sekali pandang saja Ang I Niocu dapat mengenal ilmu pedang pemuda itu, yakni ilmu pedang dari Bu-Tong-Pai, dan biarpun ilmu pedang pemuda itu cukup baik, namun masih belum cukup kuat untuk mengalahkan Koai-Tung Toanio.
Di lain pihak, ia sendiri biarpun mengurung lawan dengan sinar pedangnya, ternyata bahwa Tiat-Sim Lo-Mo benar-benar seorang yang luar biasa.
Kakek ini sudah banyak sekali pengalamannya bertempur, maka ia tak mudah ditipu oleh gerakan pedang dan dapat menjaga diri dengan baiknya, bahkan kadang-kadang tangan kirinya masih melakukan serangan yang berbahaya.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring.
"Ha, ha, iblis tua berani mengganggu Sumoi? Ini artinya kau akan segera mampus!"
Berbareng dengan ucapan itu sinar pedang gemerlapan menyambar leher Tiat-sim La-mo yang menjadi kaget sekali karena serangan ini benar-benar cepat dan ganas.
"Giok-Gan Kui-Bo (Biang Iblis Bermata Kemala)!"
Teriak Koai-Tung Toanio ketika ia melihat gadis yang baru datang.
"Enci Kim Lian...!"
Ang I Niocu berseru girang dan juga heran.
Dengan majunya Kim Lian mengeroyok Tiat-sim Lomo sebentar saja kakek itu menjadi kewalahan.
Ilmu pedang Kim Lian biarpun tidak sehebat ilmu pedang Ang I Niocu, Namun memiliki keganasan sesuai dengan wataknya dan dalam lain-lain hal, kepandaian gadis ini hanya kalah sedikit saja oleh Sumoinya.
Karena rangsakan dua orang gadis ini, tak lama kemudian pedang Ang I Niocu telah dapat membabat lehernya, dan pedang Kim Lian membabat putus lengan kirinya.
Kakek itu roboh tanpa dapat berteriak lagi dan tewas di saat itu juga!
Ang I Niocu tidak segera menyambut Sucinya, melainkan terus saja menyerang Koai-Tung Toanio, membantu pemuda itu.
Mana Koai-Tung Toanio dapat menahannya?
Dalam lima jurus kemudian, ia pun roboh binasa oleh pedang Ang I Niocu.
Setelah itu, baru Ang I Niocu menoleh kepada Sucinya, Kim Lian tertawa akan tetapi sepasang mata yang indah sekali itu menjadi basah air mata!
Ang I Niocu memandang terharu dan di lain saat dua orang gadis itu saling berpelukan.
"Im Giok... aku girang sekali kau sudah pulih kembali, sudah gembira dan bertambah cantik!"
Kata Song Kim Lian atau dengan julukan baru Giok-Gan Kui-Bo sambil memandang wajah Sumoinya.
Sebaliknya, Ang I Niocu juga memperhatikan Sucinya yang sekarang kelihatan amat pesolek, jauh melebihi dahulu.
Bahkan pipi dan bibirnya juga diberi merah-merah!
Pakaiannya indah dan terbuat dari sutera mahal.
Ang I Niocu teringat akan pemuda itu, lalu ia menoleh dan menghadapinya.
"Tuan siapakah? Sungguh gegabah sekali berani menyerang Koai-Tung Toanio. Kalau tidak cepat-cepat Suci datang membantu, bukankah kau hanya akan mengantarkan nyawa dengan cuma-cuma?"
Tegurnya, akan tetapi suara dan pandang matanya manis. Pemuda itu menjura dan sepasang matanya yang bening dan menyinarkan watak jujur dan halus itu berseri.
"Niocu,"
Katanya tersenyum.
Baca Juga: Petualang Asmara 3
Baca Juga: Bu Kek Siansu 8