Ceritasilat Novel Online

Pendekar Buta 4

Eps 4 Pendekar Buta - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Buta - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Buta - Kho Ping Hoo.

"Hong-Ko...!"

Akan tetapi Kun Hong tidak mau banyak rewel lagi.

Dia tahu bahwa kalau dia melayani gadis ini, sukar baginya untuk dapat berpisah, maka dengan nekat Kun Hong lalu menggunakan kepandaiannya berlari seperti terbang cepatnya sehingga sebentar saja lenyap dari pandangan mata Loan Ki yang berdiri bengong ketika tak dapat mengejar, kemudian mengusap-usap kedua matanya.

Kun Hong tidak berani terlalu lama berlari cepat seperti itu.

Dia telah berlaku nekat untuk cepat-cepat meninggalkan Loan Ki.

Kalau nasibnya sedang sial, mudah saja dia terjeblos ke dalam lubang atau terguling ke selokan ketika berlari cepat seperti itu tanpa dapat mengetahui apa yang berada di depannya.

Setidaknya kepalanya bisa benjol terbentur sesuatu yang keras tanpa dapat dia elakkan.

Baiknya dia ternyata mujur karena kebetulan sekali dia berlari cepat di atas tanah yang rata.

Segera dia memperlambat larinya ketika tidak mendengar suara Loan Ki mengejar dan pada detik selanjutnya dia hanya berjalan biasa, meraba-raba dengan tongkatnya dan menggerutu seorang diri.

Dia marah kepada diri sendiri mengapa sekarang hatinya berhal lain daripada biasanya.

Biasanya, semua pengalaman dan peristiwa yang menimpa kepadanya, setelah lalu takkan dia kenangkan lagi, malah sebagian besar terlupa sudah.

Akan tetapi mengapa sekarang benaknya penuh dengan kenangan di pulau Ular Hijau dan pendengarannya masih penuh suara yang halus seperti suara Bidadari?

Kenapa dia tidak dapat melupakan Hui Kauw?

Banyak pertanyaan mengaduk-aduk pikirannya.

Kemana Hui Kauw sekarang?

Bagaimana keadaannya?

Mengapa gadis Bidadari itu agaknya amat dibenci Ibunya dan adiknya?

Kenapa pula beberapa kali Loan Ki menyebut nona bersuara Bidadari itu sebagai "nona muka buruk"

Atau "nona muka hitam"?

Benar-benar dia tidak dapat menjawab, juga dia tidak mengerti mengapa suara nona itu menggores dalam-dalam di hatinya dan kesan satu-satunya di dalam hati adalah bahwa nona Hui Kauw adalah seorang nona seperti Bidadari!

"Cui Bi...

ah, Bi-moi...

kau bantulah aku...

kenapa hatiku begini lemah?"

Gerutunya beberapa kali dan setelah dia mengerahkan kenangannya kepada mendiang kekasihnya itu, perlahan-lahan terusirlah kenangan tentang Hui Kauw dan bangkit kembali kegembiraannya.

Sejam kemudian orang sudah dapat melihat orang muda buta ini berjalan keluar masuk hutan sambil berdendang dengan suara nyaring.

"Wahai kasih, aku di sini..."

Kalau kebetulan dia memasuki sebuah dusun, nyanyiannya terhenti dan diganti terikan-teriakan nyaring.

"Usir penyakit... sembuhkan penyakit...! Jika di antara saudara ada yang sakit, cobalah beri kesempatan kepada saya untuk memeriksa dan mengobati! Biaya sesukanya, serelanya, cuma-cuma bagi si miskin!"

Ucapan ini dia ulangi dan dengan cara inilah Kun Hong tidak sampai kehabisan bekal di perjalanan.

Banyak orang-orang kaya yang membalas budinya dengan hadiah banyak uang emas dan perak, Akan tetapi banyak pula yang hanya membalas dengan ucapan terima kasih, malah tidak kurang jumlahnya mereka yang tidak saja menerima pemeriksaan cuma-cuma malah yang obatnya pun dibelikan oleh Kun Hong!

Tiga hari semenjak dia meninggalkan Loan Ki, Kun Hong berjalan memasuki sebuah dusun di kaki gunung.

Begitu telinganya mendengar suara orang-orang dusun, dia segera meneriakkan penawarannya untuk mengobati orang-orang yang sakit.

Seperti biasa di setiap tempat yang dia datangi, teriakan ini selalu disambut ejekan dan cemooh dan selalu orang tidak mau percaya kepadanya sampai ada bukti dia menyembuhkan seorang sakit.

Wah, mana bisa orang buta menyembuhkan orang sakit, ejek mereka.

Masih begitu muda lagi, tentu hanya tukang tipu kata yang lain.

Malah ada yang secara mengejek menyakitkan hati berkata.

"Mata sampai buta tidak bisa menyembuhkan, masih tak tahu malu hendak mengobati orang lain!"

Sekarang juga di dalam dusun itu, tak seorang pun menghiraukannya kecuali beberapa orang anak nakal yang mengikutinya sambil tertawa-tawa menggoda, malah ada yang meniru teriakan-teriakannya.

Namun, seperti biasanya Kun Hong hanya tersenyum sabar, semenjak dia kehilangan Cui Bi dan kedua biji matanya, kesabarannya menebal.

Memang luar biasa sekali besarnya kesabaran Kun Hong, dan amatlah mengharukan ketika ada beberapa orang anak nakal menggunakan batu-batu kerikil menyambitinya, dia berhenti berjalan, menengok ke arah anak-anak itu dan berkata dengan suara halus tapi penuh peringatan.

"Anak-anak, senangkah hati kalian bisa mengganggu seorang buta? Kalian senang, akan tetapi yang kalian ganggu belum tentu senang. Anak-anak, coba kalian meramkan mata sejenak dan bayangkan keadaan seorang buta. Andaikata kalian tiba-tiba menjadi buta, tidak bisa memandang wajah Ayah bunda kalian... kemudian kalian... kalian diganggu oleh anak-anak seperti sekarang ini, bagaimana rasa hati kalian?"

Ucapan ini halus dan sama sekali tidak mengandung kemarahan, akan tetapi langsung menusuk jantung anak-anak dusun itu.

Memang jauh bedanya bocah dusun dengan bocah kota.

Bocah dusun belumlah terlalu rusak oleh keduniawian, batinnya masih cukup bersih dan mudah mereka menerima hal-hal yang langsung menyinggung perasaan.

Oleh karena ini, ucapan halus ini rnembuat mereka sejenak berdiam.

Malah di antara mereka mulai saling menyalahkan karena mengganggu seorang buta.

Kun Hong girang sekali, tertawa dan mengeluarkan beberapa keping uang tembaga.

"Anak-anak baik, aku si orang buta tidak punya apa-apa, hanya ada uang kecil ini bagi-bagilah rata di antara kalian."

Anak-anak itu semua adalah anak-anak dusun yang miskin.

Tentu saja mereka menjadi girang sekali dan bersorak-sorak menerima hadiah yang sama sekali tidak tersangka-sangka itu.

Yang paling besar maju menerima uang dari Kun Hong dan dibagi-bagilah uang itu merata.

Diam-diam Kun Hong kagum dan girang.

Biarpun nakal seperti lajimnya anak-anak lelaki tanggung, namun ternyata bahwa mereka itu rukun dan jujur, terbukti ketika uang-uang dibagi tidak terjadi kerIbutan.

"Paman buta ini baik sekali!"

Berteriak seorang anak kecil.

"Hari ini hari baik!"

Kata yang lain.

"Kita bertemu dengan kakek tua hampir mati di Kuil rusak, kemudian dengan Paman buta ini. Kalau banyak orang seperti mereka berdua, alangkah senangnya hidup kita!"

Kun Hong tertarik lalu mendekat.

"Anak-anak yang baik, siapakah kakek tua hampir mati?"

"Dia seorang kakek tua, tinggi besar seperti raksasa, tapi dia menderita sakit dan hampir mati. Biarpun hampir mati, dia amat baik, membagi-bagikan barang dan uangnya kepada kami!"

Kata seorang anak.

"Apakah dia tidak punya keluarga? Kenapa tinggal di Kuil rusak?"

Kun Hong mendesak, hatinya terharu.

"Dia bilang tidak punya keluarga, sebatangkara dan Kuil rusak itu memang tidak digunakan lagi. Dia luka-luka, yang paling hebat luka di tengkuknya, ihhh banyak sekali darahnya keluar."

Kun Hong segera memegang tangan anak itu, begitu cepat sehingga bocah itu kaget.

Tak seorang pun di antara mereka ingat betapa anehnya seorang buta dapat menangkap tangan anak itu seperti dapat melihat saja.

"Anak baik, hayo kau antarkan aku ke Kuil itu,"

Katanya.

"Mau apa kau ke sana? Dia berpesan supaya orang jangan mengganggunya,"

Anak itu ragu-ragu.

"Aku bisa mengobati luka-lukanya, siapa tahu bisa menyembuhkannya."

"Wah, baik sekali ini!"

Anak-anak itu bersorak.

"Bawa dia ke sana, dua orang yang baik hati bertemu dan berkumpul. Paman buta kalau betul bisa menyembuhkannya, tentu dia senang hati!"

Beramai-ramai tujuh orang anak itu mengantarkan Kun Hong ke sebuah Kuil rusak yang berada di luar dusun, sunyi dan tak pernah didatangi orang kecuali anak yang suka bermain-main di tempat sunyi seperti itu.

Anak-anak itu mengajak Kun Hong memasuki Kuil, akan tetapi mereka menjadi kecewa ketika tiba di dalam.

"Ah, dia sudah pergi...!"

Kata anak-anak itu setelah mencari ke sana ke mari tidak melihat kakek yang mereka ceritakan tadi.

Akan tetapi Kun Hong dengan pendengarannya dapat menangkap adanya orang itu yang bersembunyi di atas!

Hemm, mengapa orang itu bersembunyi?

Agaknya dia tidak suka bertemu dengan orang lain, pikir Kun Hong.

"Anak-anak, kakek itu sudah pergi. Biarlah, dan sekarang tempat ini untuk sementara akan kupergunakan untuk mengaso. Kalian pergilah sana main-main, jangan ganggu aku yang hendak mengaso di sini. Tentang kakek itu, seperti yang dia sudah pesan kepada kalian, jangan kalian ceritakan kepada siapa pun juga, ya?"

Seperti Burung-Burung di waktu pagi anak-anak itu menjawab, lalu berserabutan mereka lari keluar dari Kuil itu.

Kun Hong lalu meraba dengan tangannya membersihkan lantai yang penuh debu, kemudian duduk bersandar dinding yang retak-retak saking tua dan tak terpelihara.

Dengan pendengarannya yang luar biasa Kun Hong dapat menangkap tarikan napas yang berat, tanda bahwa orang itu terluka parah.

Namun masih dapat bersembunyi di atas membuktikan bahwa orang itu, bukanlah orang sembarangan.

"Bertemu seorang buta tidak ada bahayanya karena dia tidak pandai mengenal muka orang. Lo-Enghiong (orang tua gagah) silakan turun, siapa tahu Siauwte (aku yang muda) dapat membantu luka-lukamu,"

Katanya perlahan.

Terdengar napas ditahan, agaknya orang itu terkejut.

Lalu menyambar turun tubuh seseorang, akan tetapi kakinya menimbulkan suara berat ketika dia sudah meloncat turun ke bawah, terang bahwa selain ilmu Ginkangnya kurang hebat, mungkin juga dikarenakan luka-lukanya yang berat.

Kun Hong tahu bahwa orang itu sudah berdiri di depannya, maka dia bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

"Kau... kau... bukankah kau Kwa Kun Hong dari Hoa-San-Pai?"

Tiba-tiba orang itu berkata, suaranya besar. Kun Hong cepat bangkit berdiri, lalu menjura penuh penghormatan.

"Ah, kiranya Tan-Taijin (pembesar Tan) yang berada di sini, cocok dengan dugaanku. Benar, Tan-Taijin, aku si buta adalah Kwa Kun Hong..."

Belum habis Kun Hong bicara, orang itu sudah menubruk dan memeluknya sambil berkata dengan suara terharu.

"Ah, anakku... kasihan sekali kau... siapa kira kau akan menjadi begini."

Kun Hong menggigit Bibirnya dan dia maklum akan keharuan kakek gagah perkasa ini.

Dahulu dia bertemu dengan Tan Hok ini ketika Tan Hok masih menjadi pembesar kepercayaan Kaisar di Kota Raja, kemudian untuk kedua kalinya bertemu di puncak Thai-San, malah kakek ini menjadi saksi pula akan peristiwa hebat di puncak Thai-San yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan kebutaan matanya (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas).

Sekarang, agaknya karena teringat akan peristiwa itu dan melihat keadaan dirinya seperti seorang pengemis buta ini, maka kakek itu mengeluarkan ucapan seperti itu.

Dia memaksa diri tersenyum dan balas memeluk.

"Tan-Taijin... kau benar-benar seorang yang berbudi mulia. Dirimu sendiri terluka parah, menderita karena menjadi korban perampokan, akan tetapi kau masih bisa menaruh kasihan kepada seorang seperti aku..."

Tan Hok melepaskan pelukannya, agaknya terkejut dan heran.

"Kun Hong... bagaimana kau bisa tahu akan keadaanku?"

"Tan-Taijin..."

"Hushh, jangan sebut aku Taijin lagi aku bukan pembesar. Aku lebih patut menjadi pamanmu!"

Tukas bekas pembesar itu.

"Maaf, Paman Tan Hok, memang betul ucapanmu itu. Mari duduklah dan sebelum kita bicara biarlah aku memeriksa dan berusaha mengobati luka-lukamu."

Kakek tinggi besar itu memang Tan Hok adanya.

Dia adalah bekas pejuang yang dahulu namanya amat terkenal sebagai seorang diantara pemimpin pasukan Pek-Lian-Pai, berjuang bahu membahu dengan para patriot lain dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan Mongol.

Setelah usaha ini berhasil dan Ciu Goan Ciang mendirikan Kerajaan Beng dan menjadi Kaisar, karena jasanya yang amat besar, Tan Hok lalu diangkat menjadi pembesar di Kota Raja.

Di dalam perjuangannya itu, Tan Hok malah mengangkat tali persaudaraan dengan Si Raja Pedang Tan Beng San, sekarang Ketua Thai-San-Pai.

Sekarang bekas pembesar itu malah menjadi buronan, tinggal di dalam sebuah Kuil rusak dalam keadaan terluka parah.

Benar-benar nasib manusia tak dapat disangka sebelumnya.

Cepat Kun Hong melakukan pemeriksaan.

Tan Hok menderita banyak luka-luka, akan tetapi yang paling hebat adalah luka di tengkuk dan di punggung bekas bacokan senjata tajam.

Karena tidak segera mendapat pengobatan, luka-luka itu keracunan dan membengkak, mendatangkan demam hebat.

Kun Hong segera mengeluarkan sebatang jarum perak, membuka luka-luka membengkak itu, mengeluarkan darah yang menghitam, lalu menaruh obat bubuk yang selalu tersedia di dalam buntalannya, malah memberi sebungkus untuk diminum.

"Syukur keadaan luka-lukamu belum terlalu lama,"

Katanya menghIbur.

"Setelah minum obat dalam tiga hari tentu akan pulih kembali tenaga paman. Biarlah aku mencari seorang anak untuk disuruh membeli obat."

"Tidak usah, Hiante. Di dusun ini mana ada toko obat? Kau katakan saja namanya obat-obat itu, aku akan mencarinya di kota. Sekarangpun rasanya sudah banyak enakan, terima kasih. Kwa-Hiante, sekarang kau ceritakanlah bagaimana kau tahu bahwa aku mengalami perampokan?"

Kun Hong tersenyum.

"Aku malah sudah pernah memegang Mahkota kuno yang dirampas perampok-perampok Hui-Houw-Pang dari tanganmu, Paman Tan Hok."

Dengan tangan gemetar Tan Hok tiba-tiba memegang lengan Kun Hong.

"Betulkah itu? Kun Hong, betul-betul kau pernah melihat Mahkota itu..."

"Melihat sih tak mungkin Paman..."

"Ah, maafkan, sampai lupa aku... tapi, tahukah kau di mana sekarang Mahkota itu?"

Suara yang penuh gairah ini menimbulkan keheranan di hati Kun Hong.

Masa orang yang sudah dia ketahui sebagai seorang gagah yang berbudi ini sekarang begini serakah, begini loba akan harta benda?

Pula, kalau betul apa yang dia dengar, bukankah semua harta itu termasuk Mahkota kuno adalah benda simpanan Kerajaan yang dicuri dan dilarikan oleh Tan Hok?

Dan kenapa dia melarikan diri membawa harta curian, bagaimana pula keadaan keluarganya?

Mengapa dia tidak menceritakan keadaannya, tidak menyusahkan keadaannya malah seperti tidak perduli akan luka-lukanya sebaliknya serta merta menanyakan Mahkota itu?

Kun Hong merasa tidak puas dan tidak ingin menceritakan apa yang dia ketahui tentang Mahkota itu sebelum dia mendengar jelas duduknya perkara.

"Paman Tan Hok, mengapa agaknya amat penting benda itu untukmu. Milik Pamankah benda itu?"

Mendengar nada suara kecewa dari pemuda ini Tan Hok menarik napas panjang.

"Memang kedengarannya bodoh pertanyaanku tadi, seakan-akan tidak ada yang lebih penting daripada benda berharga itu. Memang sesungguhnya demikian, Kwa-Hiante. Keluargaku binasa, isteriku tewas, hampir aku sendiri tewas, namun bagiku Mahkota itu lebih penting. Kau dengarkan baik-baik penuturanku."

Tan Hok lalu bercerita.

Seperti telah diketahui, semenjak Kaisar pertarna Kerajaan Beng-Tiauw sudah tua dan berpenyakitan, maka terjadilah perebutan kekuasaan di Kota Raja.

Namun karena para pangeran atau mereka yang sudah berjasa dalam menumbangkan Kerajaan Mongol merasa segan dan takut kepada Kaisar sebagai pendiri Kerajaan Beng, sewaktu Kaisar masih hidup, mereka tidak berani berterang.

Diam-diam terjadi persaingan hebat, malah didesas-desuskan bahwa putera Mahkota Kaisar juga diam-diam terbunuh oleh seorang di antara saingannya, terbunuh dengan racun.

Kemudian cucu Kaisar, putera pangeran Mahkota yang meninggal, yaitu Pangeran Kian Bun Ti, diangkat menjadi calon Kaisar.

Hal ini tentu saja mendatangkan rasa iri hati dan dendam yang disembunyikan.

Sebaliknya, Pangeran Kian Bun Ti yang pandai mengambil hati kakeknya, memperkuat kedudukan dan pengaruhnya.

Bahkan (lanjut ke

Jilid 10) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 akhirnya ketika Kaisar yang tua itu berpenyakitan dan makin lemah, boleh dibilang segala keputusannya tergantung dari pengaruh Pangeran Kian Bun Ti inilah.

Sayang sekali bahwa pangeran ini terkenal sebagai seorang pemuda pemogoran, pemuda hidung belang.

dan pemuda yang mudah sekali dipermainkan dan dipengaruhi oleh para penjilat.

Pendeknya, seorang muda yang dangkal sekali pikirannya dan tidak bijaksana.

Orang-orang yang mengelilinginya adalah orang-orang dari golongan hitam.

Hal ini amat mengkhawatirkan hati para pembesar yang setia kepada Kaisar tua dan Pemerintah Beng yang baru.

Di antaranya terdapat Tan Hok yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Thai Cu, yaitu pejuang Ciu Goan Ciang yang berhasil merobohkan kekuasaan Mongol.

Diam-diam mereka ini memberi ingat kepada Kaisar, akan tetapi ternyata Kaisar itu selain sudah terkena pengaruh dan amat mencinta cucunya, juga karena kekuasaan Pangeran Kian Bun Ti sudah amat kuat, tidak mempercayainya.

Akan tetapi Kaisar Thai Cu akhirnya terbuka juga pikirannya dan melihat gejala tidak baik dalam watak cucunya.

Namun segala sesuatu telah terlambat, dia telah menjadi lemah berpenyakitan, sedangkan pembesar-pembesar tinggi dan berkuasa sudah jatuh di bawah pengaruh pangeran Mahkota.

Andaikata Kaisar tua ini akan mengambil tindakan, dia khawatir kalau-kalau terjadi pemberontakan dan alangkah akan malu hatinya kalau dalam keadaan tua menghadapi kematian itu dia harus menghadapi pemberontakan cucunya sendiri.

Dia tidak berdaya dan kesehatannya makin mundur karena hatinya tertekan.

"Demikianlah, Kwa-Hiante, keadaan akan Kota Raja. Keadaannya panas seperti api dalam sekam. Para setiawan terhadap Kaisar tua merasa hidup di atas ujung pedang dan kami maklum bahwa setiap saat Kaisar tiada, tentu kami akan dihalau, bahkan nyawa kami terancam. Kalau pangeran Mahkota belum berani terang-terangan memusuhi kami adalah karena dia masih sungkan terhadap Kaisar."

Tan Hok mengaso sebentar untuk bernapas panjang, nampaknya patriot tua ini merasa berduka sekali akan keadaan negaranya.

"Beberapa pekan sebelum Kaisar meninggal dunia, aku dipanggil menghadap dan Kaisar mengusir semua orang ke luar dari kamarnya. Kemudian Kaisar menyerahkan sebuah surat perintah di mana Kaisar memerintahkan puteranya yang menjadi raja muda di Utara, yaitu Pangeran Yung Lo, untuk bertindak dan menggantikan kedudukan Kaisar apabila kelak ternyata Pangeran Kian Bun Ti tidak benar dalam menjalankan tugas sebagai Kaisar baru. Pendeknya, dalam surat perintah itu, mendiang Kaisar memberi kekuasaan kepada puteranya itu untuk menjadi penghukum atas diri keponakannya, yaitu Pangeran Kian Bun Ti. Surat itu dipercayakan kepadaku untuk kelak disampaikan kepada Pangeran Yung Lo di waktu keadaan memerlukannya."

Kun Hong sebetulnya tidak perduli akan keadaan pemerintah, karena memang dia tidak menaruh perhatian atas kehidupan Kaisar dan pembesar. Akan tetapi mendengar penuturan ini, dia tertarik.

"Kemudian bagaimana, Paman Tan?"

Tan Hok menarik napas panjang.

"Tugasku itu berat sekali karena aku termasuk orang yang dianggap musuh oleh Kian Bun Ti. Banyak hal yang membikin dia tidak senang kepadaku, di antaranya peristiwa dengan dua orang keponakanmu dahulu itu dan peristiwa di puncak Thai-San (baca Rajawali Emas). Karena tahu akan ancaman bahaya, surat penting itu lalu kusembunyikan, tidak di dalam rumahku. Kemudian kekhawatiranku menjadi kenyataan, beberapa bulan setelah Kaisar wafat. Kian Bun Ti yang mengangkat diri menjadi Kaisar itu melakukan pembersihan terhadap pembesar-pembesar setiawan, di antaranya termasuk aku. Rumahku disita, isteriku sampai tewas dalam kerIbutan, aku dapat melawan dan melarikan diri dengan pertolongan anak buahku yang setia dan tidak lupa aku membawa surat rahasia itu bersamaku. Celaka sekali, nasib sedang buruk, di dalam perjalananku melarikan diri itu, aku diserang oleh perampok-perampok Hui-Houw-Pang dan menderita luka-luka. Ini masih belum apa-apa, yang membuat aku putus asa adalah surat itu kena terampas juga sungguhpun tidak ada orang yang mengetahui di mana tempatnya."

"Hemm, agaknya surat itu Paman sembunyikan di dalam Mahkota kuno itu, bukan?"

"Betul, Hiante! Inilah sebabnya mengapa aku ingin tahu di mana adanya Mahkota itu sekarang. Benda itu jauh lebih berharga daripada nyawaku!"

Mendengar ucapan yang bersemangat ini, Kun Hong mengerutkan keningnya.

"Paman Tan Hok, surat itu hanya surat yang menyangkut urusan perebutan warisan Mahkota dan kedudukan Kaisar, urusan keluarga Kaisar belaka. Bagaimana kau anggap lebih berharga daripada nyawamu? Keadaanmu sendiri amat sengsara, isteri meninggal, rumah tangga berantakan, bahkan diri sendiri menderita begini hebat. Mengapa kau lebih mementingkan urusan Kaisar? Apakah karena Paman mempunyai harapan bahwa kelak kalau Pangeran Yung Lo berhasil merebut kekuasaan, lalu Paman akan diberi kedudukan tinggi?"

Sejenak Tan Hok tidak berkata apa-apa.

Kun Hong tidak tahu betapa orang tua tinggi besar itu memandang kepadanya dengan mata mendelik alis berdiri, bukan main marahnya!

"Hiante...

Hiante...

kalau aku tidak ingat kau sudah buta, kalau aku tidak ingat bahwa kau putera Kwa Tin Siong, kalau aku tidak tahu bahwa kau seorang pendekar gagah perkasa dan bahwa ucapanmu ini hanya karena tidak mengerti, telah kujatuhkan kedua tanganku untuk memukulmu sampai mati!"

Kun Hong kaget setengah mati sampai dia meloncat ke atas dalam keadaan masih duduk bersila.

Perbuatan ini tidak dia sengaja, saking kagetnya, namun Tan Hok menjadi kagum bukan main.

Sedikit banyak orang she Tan ini adalah seorang pejuang kawakan, seorang yang tahu akan ilmu silat tinggi, akan tetapi ilmu meringankan tubuh seperti ini baru sekarang dia melihatnya.

Kun Hong yang sudah duduk kembali cepat berkata sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.

"Maaf, Paman. Aku benar-benar terkejut. Kuanggap kaulah yang keliru dan terlalu mementingkan harta dan kedudukan, siapa kira kau anggap aku yang keliru. Harap jelaskan, kekeliruan bagaimana yang kulakukan dengan ucapanku tadi, agar terbuka mata hatiku."

Tan Hok memegang lengan Kun Hong.

"Anak muda, kau pandai ilmu silat, kau ahli filsafat, kau seorang berbudi dan penuh welas asih, akan tetapi agaknya Ayahmu tidak menurunkan pengetahuan tentang jiwa kepahlawanan kepadamu. Ketahuilah bahwa semua usahaku ini kulakukan bukan sekali-kali untuk mencari kedudukan, bukan sekali-kali untuk membela Kaisar semata-mata, melainkan demi kepentingan negara dan bangsa!"

Kun Hong kaget.

"Bagaimana penjelasannya, Paman? Aku tidak mengerti."

"Ketahuilah bahwa jatuh bangunnya kebangsaan adalah dalam tangan pemerintahan yang memegang tampuk pimpinan. Demikian pula kesejahteraan rakyat, kemajuan, kemakmuran, ketenteraman hidup, semua berada di tangan pemerintah yang berkuasa. Kalau orang-orang yang memegang tampuk kekuasaan terdiri dari orang-orang yang tidak bersih batinnya, yang tidak baik martabat dan wataknya, pemerintah akan menjadi lemah, kacau-balau dan rakyat akan hidup sengsara. Biarpun kita telah berhasil menghalau pemerintah penjajah dan menjadi merdeka, namun bahaya masih selalu mengancam dari segenap penjuru. Bajak-bajak laut Jepang selalu merongrong keamanan di pantai Timur, terutama sekali orang-orang Mongol yang hendak membalas dendam atas kekalahannya selalu berusaha menyerang dari Utara. Juga suku-suku bangsa di perbatasan Barat mengincar kedudukan di pusat sehingga kalau pemegang pemerintahan lemah, ada bahaya besar mengancam negara dan bangsa. Aku melihat sendiri betapa lemah Pangeran Kian Bun Ti, betapa buruk wataknya dan dia hanya mementingkan kesenangan diri pribadi tanpa memperdulikan bangsanya dan tugasnya sebagai pemimpin. Oleh karena inilah aku sebagai seorang pencinta bangsa dan negara, harus ikut bertindak, kalau perlu membantu Pangeran Yung Lo menjatuhkan Pangeran Kian Bun Ti sehingga keadaan pemerintahan kuat, negara dan bangsa menjadi makmur. Itulah cita-citaku, sama sekali bukan untuk kepentingan diriku sendiri dan inilah cita-cita semua patriot yang mencintai bangsanya."

Inilah pelajaran baru bagi Kun Hong.

Semenjak kecil, ketika dia dahulu masih gemar membaca kitab-kitab, dia selalu membaca kitab-kitab filsafat, kebatinan dan keSasteraan.

Belum pernah dia mempelajari tentang tata negara, tentang politik, maupun sifat-sifat pahlawan yang berjiwa patriot.

Akan tetapi oleh karena dasar daripada sifat kepahlawanan ini pun sama, yaitu sifat yang mementingkan kemakmuran rakyat daripada diri sendiri, yaitu sifat yang amat indah dan baik, maka dengan mudah dia dapat mcnerimanya.

"Terima kasih, Paman. Sekarang aku mengerti dan maafkan prasangkaku yang bukan-bukan atas usahamu yang ternyata suci murni dan gagah perkasa itu. Nah, sekarang giliranku untuk bercerita tentang Mahkota kuno itu."

Dengan singkat, Kun Hong menceritakan tentang Mahkota itu kepada Tan Hok.

Bahwa Mahkota itu dijadikan perebutan antara Hui-Houw-Pang dan Kiang-Liong-Pang yang hendak menggunakan benda itu untuk mencari kedudukan dan mencari muka di depan Kaisar baru.

Bahwa kemudian Mahkota itu terjatuh ke dalam tangan Tiat-Jiu Souw Ki akan tetapi terampas kembali oleh seorang gadis pendekar bernama Loan Ki, kemudian dalam kunjungan ke pulau Ular Hijau bersama dia, Mahkota itu akhirnya terampas oleh majikan pulau Ular Hijau yang dibantu banyak orang pandai.

Mendengar ini, Tan Hok menjadi girang.

"Memang bukan hal menggembirakan mendengar benda itu terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat yang lihai, akan tetapi masih tidak begitu buruk. Celakalah kalau Mahkota itu terjatuh ke tangan Kaisar baru, tentu akan musnah pula surat rahasia itu. Kun Hong, bagaimanakah keadaan Pulau Ching-Coa-To di telaga itu? Adakah harapan andaikata aku diam-diam menyelidik ke sana dan mencari kesempatan merampasnya kembali? Aku sudah menghubungi banyak teman, bekas anak buahku di Pek-Lian-Pai dahulu dan aku bisa mengumpulkan tenaga-tenaga yang dapat dipercaya."

Kun Hong menggeleng kepala.

"Berbahaya, Paman. Majikan pulau itu, Ching Toa-Nio dan anak perempuannya, adalah dua orang yang berilmu tinggi, sukar dikalahkan. Pulau itu sendiri penuh jebakan dan perangkap yang amat berbahaya. Ini semua masih belum hebat, yahg paling sulit adalah kenyataan bahwa Ching Twa-Nio mendapat bantuan orang-orang pandai dan benar-benar lihai, apalagi Ka Chong Hoatsu, benar-benar merupakan tokoh yang sukar dilawan. Harap kau jangan sembrono menyerbu ke sana, sebaiknya dicari jalan yang baik."

Berkali-kali Tan Hok mengeluh.

"Aku sudah tahu sampai di mana hebatnya kepandaianmu, Hiante, akan tetapi kau sendiri masih memuji penghuni Ching-Coa-To, berarti tentu mereka benar-benar lihai. Kalau begini, tidak ada lain jalan bagiku kecuali pergi ke Thai-San dan minta bantuan adikku Beng San, Thai-San Ciang-Bunjin (Ketua Thai-San-Pai)."

Kun Hong mengangguk-angguk.

"Kiranya memang hanya Paman Beng San yang akan sanggup merampas kembali Mahkota itu."

Tan Hok memegang pundak Kun Hong.

"Terima kasih atas pertolonganmu dan terutama atas keterangan tentang Mahkota itu, Hiante. Sekarang juga aku akan berangkat ke Thai-San agar tidak terlambat. Tolong kau beritahukan kepadaku resep obat itu."

Kun Hong lalu menyebutkan nama bahan-bahan obat.

Dia sengaja memilih ramuan yang tidak banyak macamnya dan yang paling manjur.

Kemudian mereka berpisah dan Kun Hong tidak mencegah perginya kakek itu karena dia maklum akan pentingnya tugas kakek patriot ini.

Setelah kakek raksasa Tan Hok itu pergi, Kun Hong termenung di dalam Kuil rusak.

Cerita kakek itu amat mempengaruhi hatinya.

Bangkit jiwa kepahlawanannya.

Memang, apa artinya hidup ini kalau tidak dapat berbuat kemanfaatan bagi sesama manusia?

Dan kiranya kemanfaatan yang paling utama adalah kebaktian terhadap nusa dan bangsa, kebaktian yang tak kenal batas, kebaktian berdasarkan rela berkorban, baik harta benda, badan, maupun nyawa.

Alangkah mulianya, alangkah besarnya.

Dan Tan Hok adalah seorang pahlawan, seorang patriot seperti itu.

Tapi dia seorang buta.

Apa yang dapat dia lakukan untuk ikut-ikutan berdarma bakti terhadap tanah air dan bangsa?

Kepandaiannya hanya dapat dia pergunakan untuk membela diri, atau melindungi orang-orang tertindas yang kebetulan bertemu dengannya.

Terbatas dan sempit sekali.

Bagaimana dia akan dapat ikut membantu perjuangan seperti yang dilakukan kakek Tan Hok?

Kun Hong termenung sedih.

Keadaan negara sedang kacau-balau.

Orang-orang besar berebutan pangkat, saling serang saling menjatuhkan, untuk membantu golongan masing-masing, untuk mengangkat Kaisar pilihan masing-masing.

Kun Hong seorang ahli filsafat.

Dia dapat menduga apa akan jadinya kalau orang-orang yang tidak memiliki bakat dan kepandaian memimpin rakyat, sIbuk maunya sendiri berebutan kedudukan.

Lupa bahwa mereka itu menjadi pembesar dan pemimpin untuk mengatur kehidupan rakyat, untuk mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.

Kalau para pembesar dan yang menyebut diri sendiri atau disebut orang pemimpin-pemimpin itu saling bekerja sama mencurahkan pikiran dan tenaga demi kepentingan rakyat, sudah tentu negara akan menjadi aman dan baik kesejahteraan rakyat terjamin, kesukaran-kesukaran teratasi.

Akan tetapi sebaliknya kalau orang-orang besar ini saling cakar untuk berebutan kedudukan, agaknya kesejahteraan atau kemakmuran hanya akan terasa oleh mereka sendiri, negara kacau, keamanan rusak, hukum dan keadilan tak berlaku, hukum liar atau hukum rimba merajalela, siapa kuat dia menang dan siapa menang dia benar selalu.

Semua renungan ini membuat Kun Hong berduka karena dia tidak berdaya untuk ikut menggulung lengan baju dan membantu usaha para patriot.

Kemudian dia teringat akan Mahkota itu.

Mahkota yang menyimpan sehelai surat rahasia dari mendiang Kaisar.

Penting sekali surat itu, karena siapa tahu kekuasaan dan pengaruh surat peninggalan Kaisar itu akan dapat mengakhiri kedudukan Kaisar Muda Kian Bun Ti tanpa banyak terjadi pertumpahan darah.

Ah, mengapa dia tidak berusaha mendapatkan surat itu?

Inipun akan merupakan sebuah usaha perjuangan membantu para patriot!

Dia harus kembali ke Ching-Coa-To dan mendapatkan Mahkota itu!

Akan tetapi bagaimana?

Selain dia buta, juga pulau itu amat berbahaya, penuh rahasia, bagaimana dia bisa mencari Mahkota itu?

Belum lagi diingat bahwa penghuni pulau amat lihai sehingga merampas Mahkota merupakan hal yang amat tak mungkin baginya.

Akan berbeda kiranya kalau dia tidak buta.

"Duhai Cui Bi..."

Keluhnya sedih.

"Ternyata pengorbananku membutakan mata ini sama sekali tidak merugikan aku sebaliknya malah merugikan cita-cita baik, merugikan perjuangan dan menambah dosaku belaka..."

Kita tinggalkan dulu Kun Hong yang berkeluh kesah dan mari kita menjenguk keadaan di puncak Thai-San.

Pegunungan Thai-San dengan banyak puncaknya merupakan pegunungan yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah dan sebagian besar masih liar, belum terjamah tangan dan terinjak kaki manusia.

Beberapa tahun akhir-akhir ini, nama Thai-San muncul menjadi nama terkenal di dunia persilatan dengan berdirinya Partai Persilatan Thai-San-Pai.

Biarpun baru beberapa tahun berdirinya, namun para partai persilatan memandang partai baru ini dengan segan dan hormat karena mereka mengenal siapa orang yang menjadi pendiri dan tulang punggung partai baru ini.

Siapakah di antara orang-orang kangouw tidak mendengar nama Raja Pedang Tan Beng San?

Inilah Ketua Thai-San-Pai, bahkan pendiri Thai-San-Pai, seorang pendekar gagah perkasa yang memiliki ilmu pedang tinggi sehingga mendapat julukan Raja Pedang yang baru.

Adapun raja pedang lama adalah Ayah mertuanya yang sudah meninggal, yaitu Raja Pedang Cia Hui Gan yang berjuluk Bu-Tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tiada Bandingan).

Tentu saja isteri Ketua Thai-San-Pai ini, puteri Bu-Tek Kiam-Ong, juga seorang ahli pedang yang sukar dicari bandingannya.

Memang demikianlah, nyonya Ketua Thai-San-Pai ini amat pandai dalam ilmu pedang, apalagi Ilmu Pedang Sian-Li Kiam-Hoat (Ilmu Pedang Bidadari) yang menjadi kepandaian warisan.

Seperti dituturkan jelas dalam cerita Rajawali Emas, Ketua Thai-San-Pai ini mempunyai tiga orang anak.

Pertama adalah Tan Sin Lee, puteranya yang terlahir dari mendiang Kwa Hong, yang sejak kecil dididik oleh Ibunya itu amat lihai.

Yang ke dua adalah Tan Kong Bu, puteranya yang terlahir dari mendiang Kwee Bi Goat dan putera ke dua ini sejak kecil dirawat dan dididik oleh kakeknya, Song-Bun-Kwi Kwee Lun Si Iblis Berkabung.

Anaknya yang ketiga, terlahir dari Cia Li Cu isterinya terakhir, adalah mendiang Tan Cui Bi.

Semua ini telah dituturkan dengan jelas dan hebat di dalam cerita Rajawali Emas.

Seperti telah diceritakan dalam Rajawali Emas, di Thai-San dirayakan pernikahan antara Tan Sin Lee dengan Thio Hui Cu dan Tan Kong Bu dengan Kui Li Eng.

Perayaan itu amat meriah dan sekaligus Ketua Thai-San-Pai ini berbesan dengan tokoh-tokoh Hoa-San-Pai karena dua orang gadis itu, Hui Cu dan Li Eng adalah anak murid Hoa-San-Pai.

Beberapa bulan setelah menikah.

Tan Sin Lee membawa isterinya ke Pegunungan Lu-Liang-San tempat tinggal mendiang Ibunya.

Di tempat ini dia memiliki sebuah rumah gedung yang lengkap dan mewah, juga mempunyai sawah ladang yang cukup luas.

Bersama isterinya dia hidup dengan penuh kebahagiaan di tempat dingin ini, disegani dan dihormati karena keramahan dan kedermawanan mereka, oleh para penduduk di sekitar pegunungan itu.

Adapun Tan Kong Bu lain lagi kesukaannya.

Dia membawa isterinya dan juga diikuti oleh kakeknya ke Pegunungan Min-San di mana dia bercita-cita mendirikan partai seperti yang dilakukan Ayahnya, untuk memperkembangkan ilmu silat yang dia miliki.

Juga isterinya merupakan seorang pendekar wanita yang amat tinggi ilmu silatnya, ilmu silat Hoa-San yang aseli.

Suami isteri muda ini bercita-cita untuk menggabung ilmu silat mereka yang berlainan ragamnya ini menjadi ilmu silat partai mereka.

Song-Bun-Kwi yang sudah tua tentu saja menjadi pelindung dan penasehat, di dalam masa tuanya kakek ini dapat juga mengecap kebahagiaan dengan menyaksikan kerukunan cucunya itu.

Demikianlah, biarpun tadinya bergembira ria dalam merayakan pernikahan Sin Lee dan Kong Bu, setelah anak-anak itu pergi membawa isteri masing-masing, Ketua Thai-San-Pai dan isterinya merasa kesunyian.

Puteri mereka satu-satunya, gadis lincah jenaka yang amat mereka sayang, telah meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan (baca Rajawali Emas), membunuh diri karena patah hati dalam cinta kasihnya dengan Kwa Kun Hong.

Sekarang, dua orang putera yang baru saja muncul mengakui Ayah mereka setelah mereka itu dewasa, telah pergi pula.

Baiknya tak lama setelah pernikahan-pernikahan itu dilangsungkan, Cia Li Cu melahirkan anak perempuan.

Bayi ini merupakan sinar terang dalam cuaca gelap, menerangi hati suami isteri yang sedang diliputi kegelapan itu, Puteri mereka, Cui Bi, telah mati.

Akan tetapi sekarang lahirlah seorang anak perempuan, pengganti Cui Bi!

Anak itu mungil, montok sehat dan tangisnya nyaring.

Dengan muka berseri-seri Ketua Thai-San-Pai itu memondong bayinya, mengamat-amati muka bayi itu sambil tertawa-tawa senang.

"Aha, kau Cui Bi cilik! Ha-ha-ha, serupa benar, cuma Bibirnya lebih runcing, tentu lebih suka mengoceh daripada mendiang Cicinya, ha-ha!"

Li Cu yang masih rebah di pembaringan memandang terharu dan dua titik air mata menghias bulu matanya.

"Siapa... siapa namanya...?"

Tanyanya lirih.

Mendengar suara ini Beng San menengok dan dia pun menggigit Bibir melihat dua titik air mata itu.

Dengan hati-hati dia meletakkan puterinya di dekat Li Cu mengusap dahi isterinya penuh kasih sayang lalu berkata.

"Cui Sian namanya, ya... dia Cui Sian..."

Setelah mencium dahi isterinya perlahan, Beng San cepat keluar dari kamar itu agar tidak terlihat oleh isterinya betapa dia pun menitikkan dua butir air mata.

Akan tetapi Li Cu tahu akan hal ini karena air mata itu tertinggal di dahinya ketika suami itu tadi menciumnya.

Bayangan mendiang Cui Bi lah yang mendorong keluarnya air mata dari mata kedua orang suami isteri ini.

Kehadiran Cui Sian dalam rumah tangga Ketua Thai-San-Pai benar-benar mendatangkan kegembiraan.

Hal ini tentu saja amat menggirangkan hati para anak murid Thai-San-Pai karena sekarang guru mereka mulai rajin pula melatih ilmu silat.

Tadinya, semenjak peristiwa hebat di puncak Thai-San-Pai itu, semenjak kematian Cui Bi, Ketua Thai-San-Pai ini selalu tampak murung dan malas mengajar sehingga para anak murid menjadi khawatir karena hal ini berarti akan melemahkan partai persilatan itu.

Akan tetapi kelahiran Cui Sian benar-benar mengubah segalanya, malah nyonya Ketua sendiri berkenan turun tangan dan kadang-kadang memberi petunjuk kepada murid-murid pilihan.

Cui Sian sendiri ternyata makin besar menjadi makin mungil.

Ia menjadi kesayangan semua orang di Thai-San-Pai, malah disayang pula oleh anak-anak para penduduk di sekitar pegunungan itu.

Biarpun dia menjadi Ketua partai persilatan, namun Beng San dan isterinya tidak mengasingkan diri.

Seringkali mereka mengajak puterinya ini turun dari puncak untuk mengunjungi para penduduk kampung dan beramah tamah, membiarkan Cui Sian bermain-main dengan anak-anak kampung.

Tiga tahun terlalu cepat Thai-San-Pai berkembang pesat dan tampak tanda-tanda bahwa berkumpulan ini kelak akan menjadi sebuah partai persilatan yang besar dan berpengaruh.

Hal ini terjadi karena Beng San memang pandai memilih murid yang memiliki bakat dan dasar yang baik.

Dia tidak mengutamakan jumlah banyak, melainkan mengutamakan mutu.

Anak murid Thai-San-Pai kurang lebih lima puluh orang laki perempuan, sebagian besar tinggal di bawah gunung dan hanya beberapa hari sekali naik ke puncak untuk menerima petunjuk dan untuk memperlihatkan hasil latihan di depan guru mereka.

Ada pula sebagian orang anak murid, yaitu mereka yang datang dari jauh dan terutama sekali yang tidak mempunyai keluarga lagi, tinggal di Thai-San-Pai, di bawah puncak, mendirikan pondok-pondok kayu yang makin lama makin banyak dan merupakan perkampungan tersendiri.

Mereka yang bertempat tinggal di situlah yang mengerjakan sawah ladang sebagai sumber penghasilan Thai-San-Pai, di samping pemberian para anak murid yang memiliki tempat tinggal sendiri dan yang mampu menyumbang.

Pada hari itu menjelang senja, serombongan orang mendaki Pegunungan Thai-San.

Rombongan ini besar juga, lebih dari dua puluh orang berkuda, dan mereka menghentikan kuda di bagian lereng bukit yang tak mungkin dapat dilalui kuda.

Seorang kakek tinggi besar setelah melompat turun dari atas punggung kudanya dan menambatkan kendali kuda pada batang pohon, berkata kepada teman-temannya.

"Tidak patut kalau kita semua naik ke puncak. Biarpun Ketuanya adalah terhitung saudara angkat pernah muda, namun dia adalah seorang Ketua partai besar yang harus dihormati. Saudara-saudara tinggallah menanti di sini, juga Ji-wi Enghiong (saudara gagah berdua) dan Ji-wi Lo-Enghiong (orang tua gagah berdua), biarlah saya sendiri naik ke puncak menemui Thai-San-Pangcu (Ketua Thai-San-Pai). Setelah fihak tuan rumah memperkenankan, barulah saudara-saudara naik."

Yang bicara ini bukan lain adalah Tan Hok dan sebagian besar di antara para temannya adalah bekas-bekas anggauta dan tokoh Pek-Lian-Pai.

Dua orang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang berwajah tampan dan bertubuh tegap adalah Kam-Hengte (dua saudara Kam) dari Lok-Yang, sepasang kakak beradik gagah perkasa yang terkenal dengan julukan Lok-yang-siang-houw (Sepasang Harimau Lok-Yang) dan terkenal pula sebagai pendekar-pendekar perkasa anak murid Kong-Thong-Pai.

Yang tua bernama Kam Bok, yang muda bernama Kam Siok.

Mereka ini adalah jago-jago Kong-Thong-Pai, murid Yang Ki Cu, tokoh Kong-Thong-Pai yang dahulu menjadi seorang pejuang juga.

Agaknya darah patriot menurun kepada sepasang anak murid ini sehingga dalam banyak hal kedua orang saudara Kam ini suka membantu Tan Hok dan Pek-Lian-Pai.

Mereka terkenal dengan keahlian bermain golok, tentu saja mengandalkan Ilmu Golok Kong-Thong To-Hoat.

Adapun dua orang kakek tua yang ikut dalam rombongan itu dan yang disebut sebagai Lo-Cianpwe (orang tua gagah) oleh Tan Hok adalah dua orang Pendeta beragama To yang jelas dapat dilihat dari pakaian mereka yang berwarna kuning polos dan rambut putih mereka diikatkan ke atas.

Seorang yang punggungnya agak bongkok dan tubuhnya kurus kering adalah seorang tokoh Bu-Tong-Pai, seorang ahli pedang bernama Seng Tek Cu.

Orang ke dua adalah sahabat baiknya, seorang Tosu (Pendeta To) perantauan, penggemar permainan catur yang namanya tidak banyak dikenal orang namun sesungguhnya adalah seorang ahli silat tinggi yang amat lihai.

Dia tidak membawa senjata apa-apa kecuali sebatang cambuk biasa seperti cambuk penggembala kerbau yang terbuat daripada bambu dengan ujung tali.

Di punggungnya tergantung sebuah papan catur sedangkan di pinggangnya terdapat sebuah kantung berisi biji-biji catur.

Tubuhnya tinggi kurus, mukanya selalu tersenyum ramah.

Inilah Koai To-jin, nama yang selalu dia pakai.

Tentu saja ini adalah nama samaran belaka karena Koai To-jin berarti Pendeta To Aneh.

Dua orang Tosu ini sedikitnya tentu ada enam puluh tahun usianya.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah kehilangan Mahkota kuno yang mengandung rahasia itu sehingga menderita luka-luka, Tan Hok mengadakan perhubungan dengan bekas anak buahnya yaitu para orang gagah dari Pek-Lian-Pai, kebetulan dia dapat bertemu pula dengan Kun Hong sehingga mendapat pertolongan dan disembuhkan.

Kemudian Tan Hok lalu mengumpulkan teman-temannya yang sementara itu sudah mencari bala bantuan, bahkan berhasil mendapat bantuan Kam-Hengte dan dua orang Tosu lihai itu.

Mendengar penuturan Tan Hok tentang Mahkota yang terjatuh ke tangan penghuni Pulau Ching-Coa-To, dua orang Tosu itu kaget karena mereka sudah mendengar kehebatan pulau ini.

Maka serta merta mereka menyatakan kegembiraan dan persetujuan ketika Tan Hok menyatakan hendak minta bantuan Ketua Thai-San-Pai Si Raja Pedang.

Berangkatlah rombongan itu sampai berpekan-pekan lamanya dan menjelang senja itu mereka tiba di lereng Thai-San.

Mendengar permintaan Tan Hok supaya mereka menanti di situ, Koai To-jin tertawa bergelak, lalu menurunkan papan catur dan membuka kantong biji catur sambil berkata.

"Ha-ha-ha, Tan-Sicu baik sekali, memberi kesempatan kepada Pinto (aku) untuk mengaso dan bermain catur dengan Seng Tek Cu. Hayo, sobat, kita main catur sampai sekenyangnya, siapa tahu kita akan segera menghadapi urusan penting sehingga tidak akan sempat main catur lagi!"

Dalam sekejap mata saja papan catur sudah diletakkan di atas tanah dan biji-bijinya diatur di atas papan.

Seng Tek Cu tertawa pula dan menyambut tantangan ini.

Tak Hok tertawa, kemudian berpamit lagi lalu cepat-cepat mendaki puncak karena khawatir kalau-kalau malam segera tiba dan membuat pendakian itu sukar.

Teman-temannya memandang dan melihat punggung orang gagah yang bertubuh raksasa itu lenyap di balik sebuah batu karang besar.

Kemudian karena tidak ada pekerjaan lain, sebagian di antara mereka asyik menonton dua orang Tosu yang sedang mengadu otak bermain catur, sebagian lagi duduk bercakap-cakap.

Kita ikuti Tan Hok yang dengan sigapnya berloncatan menuju ke puncak Thai-San pai.

Tiba-tiba dengan kaget dia melihat tujuh orang berloncatan ke luar dari balik batu-batu gunung dan pohon, langsung menghadangnya dengan pedang di tangan dan sikap mengancam.

Dia tersenyum dan menegur.

"Sahabat-sahabat di depan bukankah para eng-hiong (orang gagah) dari Thai-San-Pai?"

"Tentu saja kami adalah anak murid Thai-San-Pai. Kau ini siapakah berani lancang memasuki wilayah Thai-San-Pai tanpa ijin?"

Jawab seorang di antara mereka dengan suara keras dan sikap yang angkuh.

Diam-diam Tan Hok merasa heran sekali.

Sangat boleh jadi kalau anak-anak Thai-San-Pai ada yang belum pernah melihatnya karena tiga tahun yang lalu adalah waktu yang cukup lama dan mungkin orang-orang ini adalah anak-anak murid baru.

Akan tetapi melihat sikap yang begini kasar, benar-benar amat mengherankan hatinya karena tidak sesuai dengan watak Beng San, Ketua mereka.

Namun menghadapi orang-orang muda dia berlaku sabar dan tersenyum, lalu memberi hormat.

"Ah, harap kalian memaafkan aku karena tergesa-gesa tidak sempat memberi kabar kedatanganku. Aku adalah Tan Hok, kakak angkat dari Ketua kalian..."

"He kiranya kau pelarian itu? Saudara-saudara, kebetulan sekali penjahat besar yang lari sambil mencuri barang-barang berharga dari Istana itu datang ke sini. Ular mencari gebuk, Hayo serang!"

Dan serta merta tujuh orang itu menyerang Tan Hok dengan pedang mereka. Bukan main kagetnya Tan Hok. Cepat dia mengelak dan masih sempat berseru.

"Saudara-saudara, jangan serang aku...! Beritahukan kedatanganku kepada Beng San, Ketua kalian. Aku bukan musuh...!"

Akan tetapi mana mungkin dia menghadapi serangan-serangan itu sambil bicara?

Pundaknya sudah termakan ujung pedang dan terpaksa Tan Hok juga mencabut pedangnya melakukan perlawanan sedapatnya.

Tan Hok adalah seorang pejuang yang memiliki kepandaian bukan rendah, namun ternyata tujuh orang itu rata-rata lihai sekali ilmu pedangnya.

Selain itu, kesehatannya belum pulih benar, masih lemas.

Kiranya melawan seorang di antara mereka saja belum tentu dia akan dapat menang, apalagi sekarang dikeroyok tujuh.

Tan Hok bingung dan bangkitlah rasa penasaran dan marah.

Dia mengamuk.

Sia-sia saja, karena berkali-kali tubuhnya termakan senjata lawan sehingga dia menderita luka-luka parah.

Terpaksa Tan Hok lalu memutar pedang sekuat tenaga dan selagi tujuh orang pengeroyoknya itu mundur menjaga diri, dia meloncat ke belakang dan lari turun dari lereng itu untuk minta bantuan teman-temannya.

Tujuh orang itu mengejarnya dan...

dari balik-balik pohon dan batu muncul banyak orang yang ikut pula melakukan pengejaran.

Cuaca sudah mulai gelap ketika Tan Hok dengan napas terengah-engah tiba di tempat teman-temannya mengaso.

Semua orang kaget melihat datangnya kakek raksasa ini, pakaiannya cabik-cabik dan tubuhnya mandi darah.

"Salah mengerti... aku... aku dikeroyok orang-orang Thai-San-Pai..."

Kata Tan Hok yang roboh dengan tubuh lemas.

Teman-temannya marah sekali.

Dua orang Tosu tua itu pun sudah meloncat berdiri dan siap dengan senjata mereka.

Beberapa menit kemudian dari atas turunlah banyak orang, dua puluh lebih, laki-laki dan wanita, semua memegang pedang.

Di dalam gelap itu sukar mengenal wajah mereka, malah ada beberapa orang wanita yang menutupi muka dengan sehelai sapu tangan hitam.

Tanpa banyak cakap lagi orang-orang ini menyerbu teman-teman Tan Hok dan terjadilah pertempuran hebat di tempat gelap itu!

Hiruk-pikuk suara senjata beradu, berdencing pedang bertemu pedang, mendesir-desir angin senjata yang digerakkan oleh tangan terlatih kuat.

Seng Tek Cu mainkan pedangnya dengan cepat sehingga di mana dia bersilat tampak cahaya pedangnya berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar mencari mangsa.

Ahli pedang Bu-Tong-Pai ini kaget bukan main karena rata-rata musuh-musuh yang menyerbu ini memiliki kepandaian tinggi, apalagi tiga orang wanita yang menutupi muka dengan sapu tangan.

Dia dikeroyok oleh lima orang, di antaranya dua dari tiga wanita berkedok itu.

Sama sekali dia tidak dapat mengenal ilmu pedang mereka, akan tetapi benar-benar pengeroyokan lima orang ini membuat dia kewalahan dan dalam tiga puluh jurus saja dia sudah menderita luka bacokan pada pangkal lengan kirinya.

Keadaan Koai To-jin juga tidak menyenangkan.

Tosu aneh ini mengamuk dan mainkan senjatanya yang aneh, yaitu pecut di tangan kanan dan papan catur di tangan kiri.

Papan itu terbuat daripada baja dan dia pergunakan seperti sebuah perisai, sedangkan pecutnya menyambar-nyambar ganas mengeluarkan suara nyaring.

Hebat kepandaian Koai To-jin ini.

Akan tetapi pada saat itu dia pun repot menghadapi pengeroyokan tiga orang, yaitu seorang adalah wanita berkedok sapu tangan hitam, dan dua adalah orang-orang tinggi besar yang bertenaga besar dan mainkan golok besar serta Ruyung.

Dia terdesak hebat dan hampir saja papan caturnya terlepas ketika berkali-kali bertemu dengan Ruyung, malah kemudian terdengar suara keras dan papan caturnya pecah menjadi dua!

Namun, Koai To-jin tidak menjadi gugup.

Dia mengeluarkan suara gerengan keras dan pecutnya menyambar-nyambar mengeluarkan suara nyaring, mencegah para pengeroyoknya mendesak terlampau dekat.

Betapapun para orang gagah Pek-Lian-Pai itu melawan dengan nekat, namun fihak pengeroyok ternyata lebih kuat.

Apalagi karena teman-teman Tan Hok ini bertempur dengan hati penuh keraguan dan kebimbangan, serta kacau-balau kehilangan pemimpin karena Tan Hok sendiri sudah tak berdaya.

Mereka, seperti juga Tan Hok, merasa ragu-ragu dan bingung mengapa orang-orang Thai-San-Pai malah menyerang dan memusuhi mereka.

Tiba-tiba terdengar bentakan mengguntur di dalam gelap itu dan sesosok bayangan kakek tinggi besar mengamuk.

Kakek ini tidak menggunakan senjata, kedua lengan bajunya yang lebar dan panjang berkibar-kibar ke sana ke mari dan setiap orang Pek-Lian-Pai yang tersambar ujung lengan baju, terlempar dan tak dapat melawan lagi!

Kakek ini sekali melompat sudah tiba di depan Tan Hok, sambil tertawa-tawa tangan kanannya memukul ke arah dada Tan Hok yang sudah duduk di atas tanah.

Tan Hok kaget sekali, berusaha menangkis dah berseru penuh keheranan dan kemarahan.

"Song-Bun-Kwi...!"

Akan tetapi suaranya terhenti, tubuhnya terlempar dan kakek patriot ini menggeletak tak bernyawa lagi oleh pukulan hebat yang meremukkan isi dadanya!

Kacau-balaulah rombongan Tan Hok.

Tak kuat mereka melawan lagi.

Seng Tek Cu dan Koai To-jin maklum bahwa kalau mereka melawan terus, agaknya akan berakibat tidak enak bagi fihak mereka.

Lawan terlampau kuat, apalagi dibantu kakek luar biasa itu.

Lebih-lebih kekagetan mereka mendengar Tan Hok sebelum tewas menyebut nama Song-Bun-Kwi.

Kalau benar kakek ini Song-Bun-Kwi, celakalah mereka.

Sudah terlampau sering mereka mendengar nama besar Song-Bun-Kwi yang selama bertahun-tahun ini tak pernah terdengar lagi muncul di dunia kang-ouw.

"Saudara-saudara, mundur...! Lari turun gunung...!"

Seng Tek Cu berseru keras.

Orang-orang Pek-Lian-Pai adalah bekas pejuang yang sudah biasa bertempur, maklum bahwa kemunduran mereka kali ini bukanlah mundur untuk seterusnya, melainkan mundur karena menghadapi lawan terlampau kuat dan mundur untuk mengatur siasat.

Apalagi setelah Tan Hok tewas, mereka perlu mengadakan perundingan bersama untuk menghadapi orang-orang Thai-San-Pai yang secara tiba-tiba berubah menjadi musuh ini.

Sambil menyeret dan menyambar tubuh teman-teman yang terluka atau tewas, mereka beramai mengundurkan diri dan lari turun gunung.

Namun sepasang orang muda murid Kong-Thong-Pai tidak sudi meninggalkan gelanggang pertempuran.

Mereka berdua ini, Kam Bok dan Kam Siok, adalah orang-orang muda yang baru saja turun ke dalam gelanggang perjuangan.

Darah muda mereka, sifat kesatria mereka yang menjunjung tinggi kegagahan, yang beranggapan bahwa bagi orang-orang gagah pantang meninggalkan gelanggang pertempuran dengan masih bernyawa, membuat mereka berkeras kepala tidak mau ikut teman-teman mereka lagi.

Lok-yang Siang Houw, dua harimau dari Lok-yang ini malah mengeluarkan bentakan-bentakan keras, mainkan golok di tangan mereka dan merobohkan beberapa orang pengeroyok.

"Mundur semua, biar Pinceng (aku) bereskan bocah-bocah sombong ini!"

Mendengar kata-kata kakek tinggi besar ini semua pengeroyok mundur dan berhadapanlah dua orang saudara Kam ini dengan kakek yang tadi membunuh Tan Hok ini.

Lok-Yang Siang-Houw maklum bahwa kakek ini amat sakti, maka mereka segera menyerang berbareng dengan Ilmu Golok Kong-Thong-Pai yang amat cepat.

Dua batang golok di tangan mereka berkelebatan seperti sepasang naga menyambar korban.

"He-he, bocah-bocah Kong-Thong-Pai masih ingusan berani menjual lagak di sini? Ha-ha-ha!"

Hwesio tinggi besar ini menggerakkan kedua lengannya, ujung lengan baju seperti hidup bergerak ke depan memapaki sinar golok, ketika bertemu dengan golok lalu melibat seperti ular.

Dua orang saudara Kam itu kaget sekali, berusaha mencabut golok masing-masing namun ternyata golok mereka seperti telah berakar di lengan baju itu, tak dapat dicabut kembali.

Sambil tertawa-tawa kakek itu menghentakkan kedua lengannya dan...

dua orang saudara Kam itu terhuyung ke depan.

Terpaksa dengan kaget sekali mereka melepaskan gagang golok, akan tetapi dengan nekat mereka menerjang lagi dengan kepalan tangan, menyerang kakek tinggi besar itu dengan pukulan-pukulan keras.

Kakek itu kini menggunakan pinggir telapak tangan menangkis dua kali.

"Krekki! Krek!!"

Tubuh dua orang saudara Kam terpental dan lengan tangan mereka patah-patah oleh tangkisan yang mengandung pukulan ini.

"Ha-ha-ha, bocah-bocah macam kalian mana mampu melawan Song-Bun-Kwi?"

Kakek itu tertawa bergelak. Kam Bok dan Kam Siok menggigit Bibir menahan sakit lalu bangun berdiri dengan muka pucat.

"Hwesio jahat, kau bukan Song-Bun-Kwi...!!"

Bentak Kam Bok yang sudah pernah mendengar bahwa Song-Bun-Kwi biarpun juga seorang tinggi besar namun bukan seorang Hwesio dan tokoh besar itu tak pernah bertempur secara keroyokan melainkan selalu turun tangan seorang diri tanpa teman.

"Kalian semua bukan orang-orang Thai-San-Pai!"

Seru Kam Siok sambil memandang ke sekeliling.

"Orang-orang Thai-San-Pai takkan berbuat curang seperti pengecut-pengecut macam kalian!"

Ucapan dua orang saudara Kam ini membangkitkan kemarahan.

Terdengar suara wanita memberi aba-aba dan segera orang-orang itu menyerbu ke depan mengeroyok Kam Bok dan Kam Siok.

Kasihan sekali dua orang saudara dari Lok-yang ini.

Mereka berusaha melawan sedapat mungkin dengan tangan kiri, namun mana bisa tangan kiri dipergunakan untuk menangkis sekian banyaknya senjata tajam yang datang menyerang bertubi-tubi?

Lengan tangan mereka sebentar saja remuk penuh luka, kemudian tubuh mereka dihujani senjata tajam.

Hebatnya, dua orang saudara Kam yang masih muda ini tak pernah mengeluarkan rintihan sedikit pun sampai tubuh mereka roboh dan masih saja dijadikan bulan-bulan senjata sehingga terpotong-potong dan rusak mengerikan!

Setelah pertempuran berhenti, orang-orang yang mengaku orang-orang Thai-San-Pai ini menghilang ke dalam kegelapan malam.

Keadaan sunyi kembali di tempat itu, sunyi yang menyeramkan.

Apalagi ketika bintang-bintang di langit sudah muncul, memberi sedikit penerangan di tempat pertempuran tadi, keadaan makin menyeramkan dan mengerikan.

Beberapa ekor binatang hutan yang tak diketahui jelas bentuknya dalam keadaan remang-remang itu, hati-hati dan perlahan berdatangan di tempat itu dan terjadilah pesta pora ketika binatang-binatang ini menjilati darah yang berceceran di atas rumput.

Berpekan-pekan lamanya Beng San dan isterinya merasa gelisah.

Peristiwa pada tiga pekan yang lalu benar-benar menggegerkan Thai-San-Pai.

Dia dan isterinya turun dan memeriksa sendiri ketika seorang anak murid melapor bahwa di lereng sebelah Barat terdapat dua buah mayat manusia yang keadaannya rusak teraniaya.

Ketua Thai-San-Pai ini dan isterinya melakukan pemeriksaan dan alangkah gelisah hati mereka melihat betapa di samping mayat dua orang laki-laki muda yang mengerikan itu, juga tampak bekas-bekas pertempuran besar di tempat itu.

"Apakah artinya ini?"

Dengan muka berubah khawatir, Cia Li Cu bertanya kepada suaminya, Tan Beng San Ketua Thai-San-Pai. Yang ditanya mengerutkan kening, menggeleng-geleng kepala perlahan.

"Dua orang yang menjadi mayat itu sukar dikenali mukanya, dan agaknya pertempuran yang terjadi di sini baru malam tadi terjadi. Sayang kita tidak mendengar sama sekali sehingga tidak dapat mengetahui siapa yang telah bertempur dan apa sebabnya. Tapi, dengan adanya dua mayat di tempat ini, dan kenyataan bahwa pertempuran dilakukan di wilayah Thai-San-Pai, terang bahwa hal-hal yang tidak baik sedang terjadi dan hal itu tentu menyangkut Thai-San-Pai."

Sejak hari itu Beng San memberi perintah kepada para muridnya yang mondok di Thai-San-Pai, untuk berjaga-jaga dan meronda setiap malam.

Namun hatinya selalu terasa tidak tenteram.

Juga Li Cu merasa tak enak hatinya semenjak terjadi hal yang penuh rahasia di lereng Barat itu.

Kekhawatirannya yang hendak disembunyikan dapat diketahui bahwa dia tidak memperbolehkan lagi Cui Sian bermain-main di luar pondok di puncak.

Selalu anak perempuan yang baru berusia empat tahun kurang itu harus berada di dekatnya, tak boleh berpisah sebentar pun.

Beng San maklum akan perasaan isterinya, maka pada suatu hari dia menghIburnya.

"Isteriku, tak perlu kau terlalu gelisah. Bukan baru sekarang kita tahu bahwa banyak sekali orang-orang jahat di dunia kang-ouw selalu menaruh dendam dan memusuhi kita. Mereka itu mau apa? Kita bisa melawan, tentang mati hidup berada di tangan Thian Yang Maha Kuasa. Kenapa harus gelisah?"

Li Cu menarik napas panjang.

Semenjak kematian puterinya, Cui Bi, nyonya ini nampak kurus.

Kehadiran Cui San sebagai pengganti Cui Bi, memang juga membawa serta kekhawatiran besar, khawatir kalau-kalau Cui Sian kelak akan mengalami nasib seperti Cicinya (kakak perempuannya).

Karena anaknya inilah maka ia berkhawatir sekarang ini.

"Suamiku, kiranya kau sudah cukup mengenal watakku. Akan menjadi buah tertawaan dunia agaknya kalau aku sampai ketakutan menghadapi ancaman orang jahat. Tidak, Suamiku, semenjak kecil aku sudah dididik oleh mendiang Ayah untuk menjunjung tinggi akan kegagahan dan tidak takut akan kematian. Akan tetapi, kau lihat puteri kita ini... Cui Sian masih begini kecil. Hanya kalau teringat kepadanya maka hatiku menciut, nyaliku mengecil dan perasaanku diliputi kekhawatiran."

"Sudahlah, kita serahkan saja kepada Thian Yang Maha Kuasa. Sampai pucat mukamu, agaknya kau kurang tidur dalam beberapa hari ini."

"Memang demikian, hatiku tidak enak saja..."

Enam pekan kemudian semenjak terjadinya peristiwa di lereng Barat itu.

Malam itu amat indah, Bulan bersinar tenang sejuk.

Pohon-pohon dan rumput bermandikan cahaya bulan nampak segar.

Dari puncak Bukit Thai-San, bulan seakan-akan mengambang di antara mega, begitu dekat seperti mudah dijangkau tangan.

Para anak murid Thai-San-Pai, setelah sebulan lebih bekerja keras melakukan penjagaan, malam itu pun mulai malas untuk meronda.

Malam terlalu indah untuk memikirkan hal yang bukan-bukan, untuk menguatirkan hal yang tidak-tidak.

Tak mungkin rasanya di malam seindah itu akan terjadi hal-hai yang tidak baik.

Kata orang, cahaya bulan purnama membangkitkan kasih sayang di hati manusia sehingga pada malam seperti itu, sukarlah untuk menaruh hati benci kepada orang lain.

Cui Sian bersama Ayah bundanya juga bergembira di pekarangan depan pondok mereka.

Tiada habisnya anak itu bertanya kepada Ibunya tentang puteri di bulan, tentang kakek bulan seperti yang didongengkan Ibunya kepadanya.

"Ibu, apakah Cici Cui Bi juga di bulan?"

Dengan kata-kata lucu dan tidak jelas anak itu bertanya sambil merebahkan kepala di atas pangkuan Ibunya dan matanya yang lebar bening itu terbelalak memandang bulan.

Sejenak Li Cu bertukar pandang dengan suaminya.

"Betul, nak, Cicimu juga di bulan."

Li Cu memeluk dan menciumi dahi puterinya itu.

"Ibu, aku juga ingin terbang ke bulan..."

Cui Sian merengek.

Ibunya menghIbur dan memelukinya, diam-diam berdoa mohon kepada kakek bulan agar supaya kelak Cui Sian lebih bahagia dalam cinta kasihnya, tidak seperti Cui Bi.

Pada saat itu tangan Beng San menyentuh lengannya penuh arti.

Li Cu menengok dan memandang ke arah pandangan suaminya.

Hatinya berdebar tegang.

Jelas sekali, diudara sebelah Barat, meluncur ke atas sepucuk sinar merah, berulang-ulang sampai tiga kali.

Tak salah lagi, itulah Panah api yang dilepas orang sebagai tanda rahasia.

Belum hilang kagetnya, di sebelah Utara meluncur lain sinar, kini kehijauan, lebih terang daripada tadi.

"Bawa dia masuk..."

Kata Beng San perlahan kepada isterinya, nada suaranya tenang. Li Cu bangkit, memondong anaknya. Cui Sian tidak mau dan menangis ingin menonton bulan.

"Mari masuk, Sian-ji, di luar banyak angin,"

Ibunya menghIbur dan membawanya masuk ke rumah, lalu menyerahkan anak itu kepada inang pengasuh, Bibi Cang.

Cui Sian tetap menangis dan rewel, akan tetapi Li Cu memaksa anak itu dibawa masuk dan dihIbur Bibi Cang dan para pelayan yang berada di pondok itu.

Ia sendiri setelah mengambil pedangnya, lalu kembali keluar.

Ia melihat suaminya berdiri sambil memandang ke arah Barat.

Ia segera berdiri di sisi suaminya, melayangkan pandang ke arah Barat dan Utara di mana tadi tampak Panah-Panah api berwarna merah dan hijau.

"Siapakah yang datang? Apa maksud mereka?"

Bisiknya. Beng San menggeleng kepala, mengerutkan kening.

"Entah, belum pernah mendengar tokoh menggunakan Panah api. Biasanya Panah-Panah api dipergunakan oleh rombongan yang memberi tanda rahasia..."

Tiba-tiba terdengar suara tinggi melengking dari arah Barat, disusul suara hampir sama dari arah Utara. Tubuh suami isteri itu menegang.

"Li Cu, aku harus turun dari sini melakukan pemeriksaan ke bawah. Siapa tahu murid-murid kita menghadapi musuh."

Tanpa menanti persetujuan Li Cu, Beng San menggerakkan kaki hendak lari turun. Akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang Li Cu yang menahannya. Dia heran, dan menoleh.

"Kau di sini saja, menjaga Cui Sian, biarkan aku sendiri."

"Jangan...!"

Pinta Li Cu.

Beng San terheran-heran.

Baru kali ini selama menjadi isterinya, Li Cu memperlihatkan keraguan yang amat mengherankan ini.

Dia memegang kedua pundak isterinya, pandang matanya mencari-cari ke dalam mata isterinya, lalu tanyanya heran.

"Li Cu...! Jangan bilang bahwa kau... takut?"

Wanita itu menarik napas panjang, mengandung isak.

"Entahlah... aku... tak enak sekali hatiku. Kau di sinilah saja bersamaku, menjaga keselamatan Cui Sian."

Beng San memandang dengan mata terbelalak. Hampir dia tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Kemudian dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, isteriku, kau seperti anak kecil merengek-rengek! Alangkah lucunya! Siapakah berani mengganggu anak kita? Pula, biar aku turun puncak, kau berada di sini dan siapa dapat mengganggu Cui Sian kalau kau berada di sini? Huh, cacing busuk dari mana berani menghadapi isteriku! Pedangmu akan mampu membasmi seratus orang lawan, pula, jalan ke puncak ini tidak mudah, tak sembarangan orang dapat melewati jalan rahasia kita."

"Tidak, suamiku... sekali ini saja... kau bersamaku menjaga Cui Sian."

Beng San mencabut pedangnya dan tampak sinar berkilat ketika Liong-Cu-Kiam tercabut. Sekali berkelebat pedang itu telah membelah sebuah batu besar di depannya, hampir tanpa bersuara! "Li Cu!"

Suara Beng San terdengar tegas dan keren.

"Baiknya hanya batu ini yang mendengar ucapanmu tadi. Karena dia sudah mendengarkan suara isteriku, maka kubinasakan! Bagaimana kalau ada manusia yang mendengar isteri Ketua Thai-San-Pai bicara seperti itu? Kau tahu, aku adalah Ketua Thai-San-Pai, dan perkumpulan ini harus kupertahankan dengan nyawaku kalau perlu! Mana mungkin Thai-San-Pai kedatangan musuh Ketuanya bersembunyi saja di sini membiarkan anak-anak murid Thai-San-Pai menghadapi bahaya tanpa pimpinan? Li Cu, insyaflah, tak mungkin kita berubah menjadi pengecut!"

Ucapan suaminya ini agaknya merupakan air dingin yang menyadarkan Li Cu. Ia terisak, menundukkan kepalanya, lalu berkata perlahan.

"Maafkan aku... kau pergilah, kau benar. Tapi... hatiku tidak enak... aku khawatir anakku, bukan keselamatan kita..."

"Li Cu, perlihatkanlah keberanianmu sebagai seorang gagah!"

Beng San menuntut.

"Srattt!"

Kembali sinar berkelebat ketika pedang Liong-Cu-Kiam yang pendek tercabut.

Sinar pedang menyambar dan batu yang tadi terbabat menjadi dua potong kini terbabat menjadi empat potong oleh pedang Li Cu, hanya sedikit menimbulkan suara dan bunga api!

"Aku siap menjaga puncak ini dengan taruhan nyawa!"

Beng San tersenyum, mendekatkan muka mencium pipi isterinya, lalu sekali berkelebat dia sudah melompat jauh dan lari turun puncak, dipandang oleh isterinya yang tanpa terasa menitikkan dua butir air mata.

Li Cu lalu menjaga di depan pondok, menyesali diri sendiri yang hampir saja kehilangan pegangan, kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.

Ini semua karena kekhawatirannya kehilangan Cui Sian.

Ia menjadi penakut setelah satu kali ia kehilangan Cui Bi.

Melalui jalan rahasia, Beng San cepat tiba di lereng gunung di mana dia melihat dari jauh banyak obor menyala dan malah terdengar suara senjata beradu.

Kagetnya bukan kepalang dan cepat dia mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke tempat itu.

Diam-diam dia menyesal mengapa dia datang terlambat.

Baiknya pertempuran itu baru saja dimulai, buktinya di kedua belah fihak belum jatuh korban.

Dia melihat belasan orang muridnya menghadapi serbuan puluhan orang, malah masih banyak terdapat kelompok orang-orang yang berjajar di sebelah Barat dan sekelompok lagi di sebelah Utara.

Matanya menyapu cepat melihat bahwa kelompok di Utara itu adalah orang-orang Kong-Thong-Pai yang dipimpin oleh seorang Tosu tua.

Adapun di sebelah Barat dengan kaget dia kenal beberapa orang dari Pek-Lian-Pai.

Hatinya berubah lega.

Orang-orang sendiri, pikirnya.

Tapi mengapa terjadi pertempuran?

Tentu salah paham!

Cepat dia berseru keras.

"Saudara-saudara, harap suka menahan senjata dulu!!"

Para anak murid Thai-San-Pai dengan girang mengenal suara guru mereka, cepat mereka melompat mundur dan menahan pedang masing-masing, lalu berkumpul dan berdiri di belakang Beng San.

Dari fihak lawan terdengar Tosu Kong-Thong-Pai menyuruh anak muridnya berhenti, juga di fihak Pek-Lian-Pai yang dipimpin oleh dua orang Tosu pula.

"Bagus! Ketua Thai-San-Pai sendiri keluar. Urusan ini harus diselesaikan!"

Kata seorang Tosu tua yang kurus kering, bongkok, dan memegang pedang. Melihat Tosu ini, kembali Beng San terkejut dan cepat-cepat menjura.

"Ah kiranya Totiang Seng Tek Cu yang datang berkunjung. Juga kalau tidak keliru sangka, Totiang yang lain ini tentulah seorang tokoh Kong-Thong-Pai yang terhormat. Malah aku mengenal beberapa saudara dari Pek-Lian-Pai di sini. Maaf-maaf... tamu-tamu terhormat datang, aku tidak tahu dan tidak mengadakan penyambutan."

Kemudian Beng San menoleh kepada para anak muridnya dan membentak keren.

"Kalian ini bagaimana tidak bisa membedakan siapa kawan siapa lawan? Mengapa berani berlaku kurang ajar terhadap tamu-tamu terhormat?? Kau... Ki Han! Jawablah, kau yang memimpin saudara-saudaramu melakukan penjagaan. Bagaimana bisa terjadi hal ini?"

Su Ki Han adalah murid tertua dari Thai-San-Pai, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun, seorang gagah yang sudah dipercaya oleh Beng San. Dia cepat berlutut di depan Beng San dan menjawab.

"Mana Teecu (murid) berani tidak mentaati aturan suhu? Sama sekali murid dan para adik seperguruan tidak berani bersikap kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi orang-orang ini tidak memberi kesempatan kepada kami untuk bicara. Datang-datang mereka menyerang kami dan sudah tentu saja kami terpaksa mempertahankan diri dan mempertahankan nama besar Thai-San-Pai. Harap Suhu sudi menyelidiki dan kalau Teecu dan adik-adik seperguruan salah, kami sanggup menerima hukumannya."

Lega hati Beng San dan dia percaya penuh kepada murid-muridnya ini. Dia lalu menoleh lagi kepada Seng Tek Cu, memandang penuh kekhawatiran dan pertanyaan sambil berkata.

"Totiang mendengar sendiri ucapan muridku. Sebetulnya apakah yang terjadi dan mengapa Totiang membawa serta pasukan yang terdiri dari saudara-saudara Pek-Lian-Pai dan malah ada rombongan Kong-Thong-Pai, lalu datang-datang menyerang murid-muridku?"

Seng Tek Cu, Tosu kurus kering bongkok dari Bu-Tong-Pai ini, mendengar dan tertawa mengejek.

"Huh, alangkah lucunya kenyataan yang tidak lucu! Pinto dan semua murid Bu-Tong-Pai, semua orang gagah yang selama hidup menjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan, semua tokoh dunia kang-ouw memandang tinggi kepada Ketua Thai-San-Pai yang dianggap seorang berilmu yang berjiwa pendekar. Sebulan lewat yang lalu, kalau ada orang bilang bahwa Ketua Thai-San-Pai seorang pengecut yang tidak mengenal prIbudi, pasti Pinto (aku) akan turun tangan memukul rusak mulut orang yang bilang demikian itu. Sekarang Pinto menyaksikan sendiri betapa kabar orang tentang kehebatan Ketua Thai-San-Pai ternyata bohong belaka!"

Diam-diam Beng San kaget, namun dia tidak heran. Jawabnya dengan suara masih tenang.

"Totiang, dunia ini memang makin lama makin kotor oleh perbuatan manusia-manusia yang tidak benar. Banyak kejahatan dilakukan orang, akan tetapi kejahatan yang paling keji adalah fitnah. Dalam urusan ini pun saya rasa ada fihak yang melakukan fitnah terhadap Thai-San-Pai, harap Totiang suka berhati-hati menghadapi fitnah dan menyelidiki terlebih dulu dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan."

"Ho-ho, Ketua Thai-San-Pai! Mata Pinto masih belum buta! Tidak hanya Pinto melihat dengan kedua mata sendiri, bahkan Pinto merasai pukulan-pukulan anak murid Thai-San-Pai yang gagah perkasa, he-he, terlalu gagah sehingga sombong dan galak. Kejadian satu setengah bulan yang lalu di lereng ini bukanlah impian buruk, melainkan kenyataan yang Pinto alami sendiri. Maka tak perlu kau berpura-pura tidak tahu. Apakah kau begitu pengecut untuk menyangkal kejadian yang disaksikan oleh puluhan pasang mata? Mayat-mayat masih belum hancur di dalam kuburannya, orang-orang yang terluka masih belum sembuh, semua akibat sepak terjang Thai-San-Pai, dan kau masih ada muka untuk menyangkal?"

Berubah wajah Beng San. Inilah hebat! Teringat dia akan keadaan di lereng Barat, di mana terdapat mayat dua orang tak dikenal dan bekas-bekas pertempuran besar.

"Totiang, dan Cuwi (tuan-tuan sekalian), harap dengarkan keteranganku! Dalam hal ini pasti terjadi salah pengertian yang besar! Memang pada satu setengah bulan yang lalu, aku dan para murid Thai-San-Pai melihat bekas pertempuran di lereng Barat dan menemukan dua mayat yang tidak kami kenal, dalam keadaan rusak teraniaya. Kami sendiri masih bingung memikirkan siapa adanya dua mayat yang sudah kami kubur itu, tapi..."

"Jahanam! Itulah dua orang murid Pinto, Lok-Yang Siang-Houw Kam-Hengte! Hayo kau ganti nyawa dua orang murid Pinto!"

Tiba-tiba Tosu tua yang memimpin rombongan Kong-Thong-Pai berseru sambil mencabut sebatang golok tipis dari pinggangnya.

Tosu ini bukan lain adalah Yang Ki Cu, seorang Tosu tokoh Kong-Thong-Pai yang terkenal dengan ilmu goloknya, seorang bekas pejuang.

Golok di tangannya ini istimewa sekali, tipis dan mudah melengkung, akan tetapi jangan dipandang rendah karena golok tipis ini amat kuat dan tajam sehingga mampu membabat putus senjata lain yang terbuat daripada baja.

Semua anak murid Ko-thong-pai juga mencabut golok mereka dan sikap mereka sudah mengancam sekali.

Beng San makin kaget.

Kiranya mayat-mayat itu adalah mayat Lok-Yang Siang-Houw yang sudah dia kenal nama harumnya.

Dia mengangkat tangan mencegah terjadinya pertempuran karena murid-muridnya juga menjadi panas menghadapi fitnah keji terhadap Thai-San-Pai ini.

"Ji-wi Totiang dan saudara semua, harap suka bicara dulu sebelum turun tangan! Sebetulnya, apakah yang telah terjadi di sini satu setengah bulan yang lalu?"

Sekarang Seng Tek Cu yang bicara.

"Ketua Thai-San-Pai, sebetulnya tidak perlu diulang lagi karena buktinya sudah cukup kuat. Akan tetapi karena pada waktu itu engkau tidak muncul, biarlah kau sekarang mempertanggung jawabkan perbuatan murid-muridmu yang biadab, dibantu oleh mertuamu si iblis Song-Bun-Kwi. Dengar! Waktu itu Pinto dan Koai To-jin ini, juga beberapa saudara Pek-Lian-Pai, dibantu oleh Lok-Yang Siang-Houw, mengantar saudara Tan Hok untuk menemuimu dan minta bantuanmu tentang perkara perjuangan yang penting. Akan tetapi, ketika saudara Tan Hok naik ke puncak seorang diri, dia bertemu dengan murid-murid Thai-San-Pai yang langsung memaki dan menyerangnya. Siapa tahu Thai-San-Pai telah dijadikan kaki tangan Kaisar baru sehingga mengkhianati perjuangan yang tadinya kau aku sebagai kakak angkatmu itu. Saudara Tan Hok lalu turun dikejar murid-muridmu yang jahat, tentu saja kami lalu menghadapi murid-muridmu, terjadi pertempuran mati-matian dan muncullah mertuamu si iblis laknat itu membuat kami menderita kekalahan. Saudara Tan Hok tewas di tangan Song-Bun-Kwi, dan kedua saudara Kam juga tewas, di samping banyak saudara Pek-Lian-Pai yang gugur. Nah, sekarang kau mau bilang apa lagi?"

Kalau ada kilat menyambar dirinya di saat itu, kiranya Beng San tidak akan sekaget ketika mendengar kata-kata ini.

Mukanya berubah pucat kehijauan dan dia menoleh kepada murid-muridnya.

Serentak para muridnya berseru.

"Bohong! Fitnah belaka! Bohong semua itu, Suhu. Teecu sekalian tidak pernah bertempur dengan mereka ini!"

Beng San merasa seperti dalam sebuah mimpi buruk sekali.

Kakak angkatnya, Tan Hok, tewas di tempat ini dalam perjalanan hendak menemuinya?

Dan yang membunuh Tan Hok adalah kakek Song-Bun-Kwi?

"Tak mungkin ini...,"

Dia berkata keras-keras akan tetapi tidak ditujukan kepada siapa-siapa karena kata-katanya ini adalah suara hatinya yang keluar melalui mulutnya.

"Terang tak mungkin murid-muridku malah mengeroyok Tan Twa-Ko! Andaikata Gakhu (Ayah Mertua) Song-Bun-Kwi membunuh Tan Twa-Ko dan Lok-Yang Siang-Houw, tentu di sana terjadi kesalah pahaman di antara mereka."

"Ketua Thai-San-Pai! Setelah kau mendengar semuanya, bagaimana tanggung jawabmu? Ataukah kau akan membela murid-muridmu dan memaksa kami turun tangan menghancurkan Thai-San-Pai?"

Suara Seng Tek Cu ini menyadarkan Beng San daripada lamunannya.

Dia mengerutkan kening dan mukanya yang kehijauan sudah pulih kembali karena keyakinannya bahwa murid-muridnya pasti tidak melakukan perbuatan seperti difitnahkan orang itu.

"Totiang dan Cuwi sekalian. Sudah terang bahwa terjadi hal hebat dan curang di sini. Agaknya ada fihak-fihak hendak merusakkan nama baikku dan Thai-San-Pai. Karena anak muridku bukanlah orang-orang jahat, apalagi memusuhi Tan Twa-Ko yang menjadi kakak angkatku yang kukasihi. Pertanggungan jawab bagaimana yang Cuwi kehendaki?"

"Kau harus menghukum pembunuh-pembunuh, kau harus membunuh murid-muridmu yang pada malam hari itu mengeroyok kami, membunuh mereka sekarang juga di depan kami. Kalau kau mau (lanjut ke

Jilid 11) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 melakukan hal itu, barulah Pinto dan saudara-saudara di sini suka menghabiskan perkara ini dan menganggap saja bahwa kau tetap seorang pendekar besar yang tidak tahu-menahu akan perbuatan keji murid-muridmu di waktu itu,"

Jawab Seng Tek Cu yang diiringi anggukan kepala para anggauta Pek-Lian-Pai.

"Thai-San Ciang-Bunjin, kau harus dapat pula mengantarkan kepala si iblis Song-Bun-Kwi kepadaku sebagai pembalasan atas kematian dua orang muridku yang tidak berdosa, barulah Pinto mau menyudahi perkara ini!"

Kata pula Yang Ki Cu, Tosu tua Kong-Thong-Pai yang suaranya tinggi melengking.

Beng San tertegun.

Benar-benar pertanggungan jawab yang hebat dan gila.

Mana mungkin dia menghukum mati murid-muridnya yang sama sekali tidak bersalah, yang dia yakin sama sekali tidak tahu-menahu dengan peristiwa di lereng Barat itu?

Apalagi permintaan Tosu Kong-Thong-Pai itu, mana bisa dia mengantarkan kepala Ayah mertuanya, Song-Bun-Kwi, kepada Tosu ini?

"Gila!"

Bentaknya marah karena merasa tersinggung kehormatan dan kewibawaannya.

"Kalian menetapkan sendiri syarat-syarat yang tak mungkin! Mana bisa ini dianggap keputusan orang-orang gagah? Pertanggungan jawab yang kalian ajukan itu gila dan sewenang-wenang, mana bisa dibilang adil?"

"Hemm, kalau menurut pikiranmu, bagaimana seharusnya pertanggungan jawab itu?"

Tanya Seng Tek Cu menahan marah.

"Totiang, sebetulnya aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang peristiwa di lereng sebelah Barat itu. Akan tetapi karena peristiwa itu terjadi di wilayah Thai-San, apalagi karena malapetaka itu menimpa Tan Twa-Ko dan Lok-Yang Siang-Houw, juga saudara-saudara Pek-Lian-Pai, maka sudahlah menjadi kewajibanku untuk membersihkan nama baik Thai-San-Pai, membalaskan penasaran Tan Twa-Ko dengan jalan mencari sampai dapat pembunuh-pembunuh yang sebenarnya. Tentang Gakhu Song-Bun-Kwi, biarlah aku mencarinya dan menanyakan hal itu, karena aku masih ragu-ragu apakah betul-betul beliau yang melakukannya."

"Ketua Thai-San-Pai! Telingaku sendiri mendengar betapa Tan Hok Sicu menyebut-nyebut nama Song-Bun-Kwi sebelum tewas, dan kedua mataku sendiri melihat iblis tua itu mengamuk. Dan sekarang kau masih hendak menyangkal lagi?"

Bentak Seng Tek Cu.

"Pinto juga minta pertanggungan jawab sekarang juga! Kematian murid-murid Pinto harus dibalas!"

Yang Ki Cu juga berseru marah.

"Ganyang penjahat-penjahat Thai-San-Pai! Balaskan saudara-saudara kita!"

Teriak para anggauta Pek-Lian-Pai yang masih mendendam karena kematian banyak saudara mereka. Beng San masih bersabar, akan tetapi murid-muridnya yang tidak dapat menahan diri lagi.

"Suhu, orang menghina Thai-San-Pai semaunya. Kesabaran ada batasnya. Teecu tidak takut melayani mereka!"

Kata Su Ki Han dengan tangan di gagang pedangnya.

Beng San mengangkat tangan mencegah!

"Nanti dulu, Ki Han.

Mereka itu bukanlah musuh, ada orang-orang jahat yang sengaja hendak mengadu domba antara kita dengan mereka..."

Akan tetapi Beng San tak dapat melanjutkan kata-katanya tiba-tiba terdengar jerit-jerit mengerikan dan robohlah tiga orang dalam rombongan Pek-Lian-Pai dibarengi robohnya dua orang dirombongan Kong-Thong-Pai.

RIbut keadaan di situ, apalagi ketika mereka mendapat kenyataan bahwa lima orang itu telah tewas dengan leher atau ulu hati tertusuk pisau-pisau kecil yang agaknya disambitkan orang-orang secara menggelap.

"Thai-San-Pai curang! Serbu dan ganyang Thai-San-Pai!"

Orang-orang di kedua rombongan itu berteriak-teriak dan tanpa menanti komando lagi orang-orang Kong-Thong-Pai dan Pek-Lian-Pai menyerbu ke arah Beng San dengan senjata di tangan!

Akan tetapi dengan gerakan yang cepat laksana Burung terbang, Ketua Thai-San-Pai ini sudah lenyap dari tempatnya berdiri sehingga penyerangan orang-orang itu disambut oleh murid-murid Thai-San-Pai yang sudah marah.

Terjadilah pertempuran hebat di antara mereka.

Murid-murid Thai-San-Pai yang pada saat itu berada di situ hanya ada delapan belas orang, Akan tetapi mereka ini adalah murid-murid yang bertempat tinggal di Thai-San-Pai dan mereka sudah berada di situ semenjak Thai-San-Pai berdiri empat tahun yang lalu.

Oleh karena itu mereka ini rata-rata sudah memiliki ilmu silat yang tinggi sehingga permainan pedang mereka pun lihai.

Su Ki Han murid kepala Thai-San-Pai menyambut golok Tosu Yang Ki Cu karena dia melihat Tosu ini hebat betul permainan goloknya.

Murid Thai-San-Pai ke dua yang bernama Liok Sui menyambut pedang Seng Tek Cu Tosu Bu-Tong-Pai sedangkan murid ke tiga yang bernama Coa Bu Heng menghadapi Koai To-jin yang amat berbahaya cambuk dan papan caturnya.

Adapun lima belas orang anak murid Thai-San-Pai yang lain menghadapi pengeroyokan puluhan orang musuh sehingga rata-rata seorang harus menghadapi empat lima orang lawan!

Benar-benar keadaan Thai-San-Pai terancam sekali karena segera kelihatan betapa fihak mereka terdesak hebat.

Tiga orang murid kepala itupun terdesak oleh tiga orang Tosu lihai yang tingkatnya jauh melebihi mereka.

Mengapa Beng San malah melenyapkan diri?

Kiranya pendekar ini tadi dengan kaget melihat berkelebatnya pisau-pisau terbang yang merobohkan lima orang dan maklum bahwa hal ini dilakukan oleh orang-orang yang hendak mengadu domba, maka secepat kilat dia melompat dan menerobos gerombolan pohon dari mana pisau-pisau itu beterbangan dan hanya terlihat olehnya.

Di bawah sinar bulan purnama dia melihat bayangan tiga orang yang bertubuh kecil langsing.

Bayangan-bayangan itu gesit sekali dan sedang berlari meninggalkan tempat itu.

"Perlahan dulu...!"

Dia membentak sambil melompat dan mengulur tangan hendak menangkap seorang di antara mereka.

Tiba-tiba terdengar suara mengejek, bayangan itu melejit dan cengkeraman Beng San menangkap angin!

Ketua Thai-San-Pai ini terkejut.

Tidak sembarang orang dapat menghindarkan cengkeramannya tadi, maka dari gebrakan ini saja dapat diduga bahwa orang-orang ini memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dia segera menerjang lagi dengan pukulan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar orang ke dua yang datang hendak membantu orang pertama.

Orang ke tiga menggerakkan tangan dan angin berciutan ke arahnya.

Beng San terkejut bukan main.

Pukulannya tertangkis lengan kecil berkulit halus namun memiliki tenaga Lweekang yang hebat.

Biarpun dia dapat membuat lawan itu terhuyung oleh peraduan lengan itu, dia merasa betapa lengannya sendiri panas, tanda bahwa tenaga lawan ini, benar-benar tak boleh dipandang ringan.

Cengkeramannya kepada orang ke dua juga meleset, malah orang itu mengirim tendangan yang aneh gerakannya ke arah bawah pusarnya.

Serangan yang singkat namun mematikan.

Dan pada saat itu, orang ke tiga mengirim serangan dengan telunjuk menuding dan yang mengeluarkan angin berciutan ke arah lehernya.

Cepat Beng San menggerekkan tangan kiri berusaha menangkap kaki yang menendang.

Dia berhasil menangkapnya tapi cepat-cepat melepaskannya kembali ketika tangannya merasa memegang sebuah kaki bersepatu yang kecil, kaki seorang wanita!

Adapun pukulan aneh yang mendatangkan angin berciutan itu, dia sampok dengan tangan sambil mengerahkan hawa pukulan Pek-In Hoat-Sut.

Karena tidak mengira akan kehebatan pukulan ini, dia mendiamkan saja ketika pukulan meleset mengenai ujung lengan bajunya.

"Brettt!"

Ujung lengan baju itu robek seperti ditusuk pedang! "Hebat...!"

Serunya kagum, maklumlah dia bahwa tiga orang ini agaknya tiga wanita yang sakti.

"Siapakah kalian? Mengapa datang-datang memusuhi aku?"

Dia berusaha untuk mengenal muka mereka, akan tetapi ternyata muka mereka tertutup Sutera hitam, hanya pakaian mereka berwarna merah berkembang.

"Hi-hi-hik!"

Tiga orang wanita itu hanya tertawa.

Tampak gigi-gigi putih mengkilap tertimpa cahaya bulan, disusul berkilatnya tiga batang pedang yang mereka cabut berbareng.

Beng San berseru keras ketika tiga batang pedang itu seperti terbang menyerangnya dari tiga jurusan.

Dia mengerti bahwa tiga orang lawan sakti ini tak mungkin dihadapi dengan tangan kosong, maka dia cepat menggerakkan tangan dan tampaklah sinar menyilaukan mata ketika Liong-Cu-Kiam dihunus.

Dia harus dapat merobohkan mereka, atau setidaknya menangkap seorang di antara mereka.

Mereka inilah yang tahu akan fitnah yang menimpa Thai-San-Pai Namun merobohkan tiga orang ini benar-benar tidak mudah.

Ilmu pedang mereka amat aneh dan lihai, malah pedang di tangan mereka berani membentur Liong-Cu-Kiam tanpa rusak.

Beng San penasaran.

Diputarnya pedangnya sedemikian rupa dan mulailah dia mainkan Im-Yang Sin-Kiam.

Beberapa kali terdengar tiga orang wanita itu berteriak kaget dan menjerit.

Im-Yang Sin-Kiam benar-benar terlampau sakti bagi mereka.

Tiba-tiba terdengar mereka bersuit aneh dan sinar-sinar putih berkelebatan menyambar dari tubuh mereka ke arah Beng San.

Hebat sekali senjata ini dan agaknya ini adalah pisau-pisau kecil yang tadi merobohkan lima orang.

Beng San memutar pedang menyampok, terdengar suara nyaring berkali-kali dan pisau-pisau itu beterbangan ke kanan kiri.

Akan tetapi ketika dia memandang ke depan, tiga orang wanita itu sudah lenyap ditelan bayangan-bayangan gelap.

Dia hendak meloncat dan mengejar, akan tetapi niat itu diurungkan ketika dia mendengar teriakan-teriakan dan senjata beradu di sebelah belakangnya.

Teringatlah dia akan anak-anak murid Thai-San-Pai tentu sedang menghadapi penyerbuan mereka itu, maka hatinya menjadi amat gelisah.

Mana mungkin murid-muridnya yang hanya delapan belas orang itu dapat mengatasi bahaya yang mengancam?

Dia tahu pula bahwa tiga orang Tosu itu saja takkan bisa dilawan, baik oleh murid kepala Thai-San-Pai sekalipun.

Kalau dia mengejar tiga orang wanita aneh tadi, tentu murid-muridnya akan terancam bahaya maut.

Membiarkan tiga orang itu lari, dia akan kehilangan bukti akan kebersihan Thai-San-Pai.

Dia merasa serba salah.

Akhirnya dia mengambil keputusan membantu murid-muridnya yang terancam bahaya.

Kalau memang Thai-San-Pai bersih, tak usah takut menghadapi fitnah, pikirnya.

Mudah kelak mencari rahasia dan mengejar orang-orang jahat yang menimbulkan fitnah.

Ketika dia berlari dan melompat ke tempat pertempuran, hatinya berduka sekali dan perasaannya terpukul.

Banyak di antara para penyerbu menggeletak tak bernyawa terkena bacokan pedang murid-muridnya, juga beberapa orang muridnya menggeletak tak bernyawa.

Yang masih bertempur telah luka-luka hebat pula.

Su Ki Han melawan Yang Ki Cu dengan mati-matian namun terdesak hebat, pundak kirinya sudah robek berdarah.

Coa Bu Heng muridnya ke tiga yang berusia dua puluh lima tahun, murid yang berbakat, didesak hebat oleh Koai To-jin dari pakaiannya sudah compang-camping berikut kulit tubuhnya pecah-pecah terhajar cambuk.

Liok Sui muridnya yang sebaya dengan Su Ki Han juga sudah payah, darah mengalir dari pahanya yang terluka oleh pedang Seng Tek Gu Tosu Bu-Tong-Pai.

Sebentar lagi, tiga orang muridnya ini tentu akan roboh berikut murid-murid yang lain.

"Tahan semua...!"

Dia membentak.

"Kita terhasut fitnah! Orang-orang yang jahat berada di sini..."

Akan tetapi fihak penyerbu yang sudah marah dan merasa berada di ambang kemenangan itu sama sekali tidak mau berhenti.

Beng San menjadi marah sekali.

Sambil berseru keras tubuhnya berkelebat, berubah menjadi segulung sinar yang menerjang ke sana ke mari.

Terdengar teriakan kaget berturut-turut ketika Koai To-jin terhuyung ke belakang, papan caturnya pecah dua dan cambuknya putus disusul Seng Tek Cu yang pedangnya terputus dan Yang Ki Cu yang golok terbang entah ke mana.

Mereka berundur dengan muka pucat, memandang orang-orangnya yang kacau-balau diterjang gulungan sinar itu.

Pedang dan golok beterbangan, orang-orang terlempar karena dorongan atau tendangan.

"Hayo, siapa tidak mau berhenti? Manusia-manusia tolol kalian! Berhenti! Siapa tidak berhenti akan kurobohkan!"

Beng San berteriak sambil menerjang ke sana ke mari.

Sebentar saja orang-orang itu mundur dengan jerih.

Bukan main hebatnya sepak terjang Beng San Ketua Thai-San-Pai ini.

Sekarang dia tampak berdiri tegak dengan pedang Liong-Cu-Kiam di tangan, menghadapi mereka dengan mata berapi-api.

"Siapa masih berkepala batu? Majulah!"

Tantangnya penuh kemarahan. Seng Tek Cu melangkah maju, tersenyum pahit.

"Ketua Thai-San-Pai, hebat memang kepandaianmu. Kami tak mampu melawanmu. Akan tetapi, jangan kira bahwa kami akan menerima begini saja dan..."

"Tutup mulut! Sudah banyak jatuh korban sia-sia. Kukatakan tadi bahwa kalian kena hasut fitnah dan orang-orang yang mengakibatkan itu berada di sini, merekalah tadi yang diam-diam menyerang lima orang-orangmu secara menggelap. Kalian benar-benar bodoh dan tidak bisa mendengarkan alasanku!"

Kaget sekali Seng Tek Cu. Mulai dia meragu. Juga Yang Ki Cu yang segera bertanya.

"Mana mereka? Siapa mereka itu? Buktikan!"

"Mereka orang-orang lihai. Tadi hampir tertangkap, tapi gagal. Ahh... akibat ketololan kalian banyak jatuh korban..."

Beng San sedih bukan main melihat mayat bergelimpangan di sana-sini. Tiba-tiba Su Ki Han mengeluh.

"Suhu... di sana... apa itu...?"

Suara murid kepala ini membuat tengkuk Beng San meremang.

Cepat dia menoleh dan...

wajahnya berubah pucat kehijauan ketika dia melihat api menyala-nyala di puncak, didahului asap hitam mengebul tinggi.

"Celaka...!"

Dia memekik keras dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.

Tahu-tahu dia sudah jauh lari ke puncak, diikuti semua murid yang masih dapat berjalan.

Terpincang-pincang dan terhuyung-huyung murid-murid yang terluka ikut berlari ke puncak.

Koai Tojin, Seng Tek Cu, dan Yang Ki Cu ikut pula mengejar, mengikuti para murid Thai-San-Pai.

Wajah mereka pucat, jantung berdebar keras.

Murid-murid Thai-San-Pai yang rata-rata gugup dan gelisah itu membiarkan mereka bertiga mengikuti ke puncak melalui jalan rahasia.

Orang-orang Pek-Lian-Pai dan Kong-Thong-Pai berdiri kebingungan, tidak berani ikut ke puncak tanpa diperintah.

Lalu mereka mulal menolong orang-orang yang terluka, termasuk orang-orang Thai-San-Pai.

Banyak jatuh korban.

Sembilan orang murid Thai-San-Pai tewas, empat luka-luka berat, sisanya ikut naik ke puncak.

Fihak Kong-Thong-Pai termasuk dua orang yang tewas oleh senjata rahasia, menderita kerugian enam orang tewas dan lima luka-luka berat.

Fihak Pek-Lian-Pai tewas tujuh orang yang terkena senjata rahasia, dua belas luka-luka!

Dengan hati berdebar tidak karuan Beng San lari secepat terbang ke puncak.

Ketika tiba di puncak, ngeri hatinya menyaksikan betapa pondoknya telah terbakar semua.

Api menjilat-jilat langit dan atap rumah itu sudah menyala seluruhnya.

Tapi hanya sedetik dia memandang ke arah api, matanya kelihatan mencari ke sana ke mari.

Akhirnya dia mendengar suara isterinya di sebelah belakang pondok.

Cepat dia meloncat ke sana dilihatnya isterinya dengan pedang di tangan muka pucat rambut awut-awutan mata terbelalak menjerit-jerit.

"Cui Sian...! Cui Sian..."

Seakan terhenti detak jantung Beng San.

Tanpa bertanya lagi dia lalu meloncat ke depan, menerjang dinding pondoknya.

Sekali terjang bobollah dinding itu.

Tanpa memperdulikan panasnya api dan bahaya keruntuhan atap rumahnya, dia mencari-cari.

Dilihatnya empat orang sudah menggeletak tak bernyawa dengan luka pada dada.

Dia mencari terus, tapi tak melihat bayangan Cui San.

Tiba-tiba atap rumah ambruk ke bawah dan hanya dengan kecepatan luar biasa saja Beng San dapat meloncat ke luar rumah.

Ketika dia tiba di luar, murid-murid dan tiga orang Tosu sudah tiba pula di situ.

Mereka memandang bengong ke arah Beng San yang rupanya mengerikan di saat itu.

Muka pendekar ini hitam, pakaiannya hangus di sana-sini, sepasang matanya menyaingi panasnya api itu sendiri.

Isterinya seperti orang tak sadar masih menjerit-jerit memanggil nama Cui Sian.

Seng Tek Cu terharu bukan main.

Dia melangkah maju, menjura dalam sekali dan berkata.

"Sicu, maafkan Pinto... maafkan Pinto..."

Beng San tak peduli, melainkan menghampiri isterinya.

Li Cu yang dipegang pundaknya oleh Beng San seperti baru sadar.

Matanya tetap terbelalak dan melihat suaminya memegang pundaknya, ia cepat menjerit pergi dan menudingkan pedangnya ke muka suaminya.

"Kau...! Kalau tidak pergi... takkan terjadi begini... kau... kau...! Dan wanita ini menangis tersedu-sedu sambil berdiri tegak, tidak berusaha mengusap air matanya, hanya menatap wajah Beng San penuh kebencian! Ucapan ini makin menusuk hati Seng Tek Cu, Koai Tojin, dan juga Yang Ki Gu. Tahulah mereka sekarang bahwa semua ini adalah jebakan musuh yang sengaja mengadu domba dan akhirnya, karena kebodohan mereka, Beng San terpaksa turun puncak dan inilah agaknya yang dimaksudkan oleh para penjahat gelap itu. Memancing harimau ke luar sarang, kemudian selagi Beng San bersitegang dengan mereka penjahat-penjahat itu mengobrak-abrik sarang! "Taihiap, maafkan Pinto... Pinto semua bodoh sekali... Pinto semua yang menyebabkan malapetaka ini..."

Kata pula Seng Tek Cu.

Pedang Beng San berkelebat dan sebuah batu besar di dekat tiga orang Tosu itu menjadi bulan-bulanan.

Beberapa kali pedang berkelebat dan batu itu berubah seperti tahu dicacah-cacah!

"Pergi...!

Pergi kalian dari sini...!

Demi Tuhan...

pergi sebelum kubunuh...!"

Telunjuk tangan kiri Beng San menuding ke luar. Tiga orang Tosu itu menunduk, lalu berjalan pergi dengan langkah-langkah gontai.

"Antar mereka ke luar, urus jenazah adik-adikmu,"

Kata Beng San kepada Su Ki Han yang cepat menjalankan perintah suhunya, mendahului tiga orang Tosu menjadi penunjuk jalan.

Hatinya gelisah, murid ini sama sekali tidak merasakan lukanya.

Murid-murid yang lain tanpa diperintah juga pergi mengikuti twa-Suheng mereka, maklum bahwa guru dan Ibu guru mereka tak mau diganggu orang lain.

Setelah semua orang pergi, Beng San menengok ke arah isterinya.

Jantungnya merasa ditusuk pedang oleh pandangan mata isterinya yang penuh penyesalan, penuh penderitaan dan penuh kebencian.

Seakan-akan dari pandang mata Beng San terungkap serIbu satu macam pertanyaan dan otomatis Li Cu berkata, suaranya lirih seperti suara orang menangis.

"Mereka datang... lima orang mengeroyokku... yang lain membakar rumah... kulihat Cui Sian dibawa lari..."

Tiba-tiba ia menangis menggerung-gerung.

"Anakku...! Ia berteriak-teriak memanggilku... anakku... Cui Sian... Cui Sian...!!"

Beng San makin hancur hatinya, dia melangkah maju, hendak memeluk isterinya.

"Li Cu... kenalkah kau siapa mereka? Biar kucari mereka, kurampas kembali anak kita..."

"Jangan sentuh!"

Pedangnya berkelebat dan hampir saja lengan tangan Beng San terbabat putus kalau dia tidak cepat-cepat menariknya.

"Aku tidak kenal mereka. Perduli apa dengan kau! Kau lebih mementingkan Thai-San-Pai! Nah, uruslah Thai-San-Paimu itu. Aku akan pergi mencari anakku!!"

Setelah berkata demikian, Li Cu berlari pergi menuruni puncak.

"Li Cu...! Tunggu dulu...!"

Beng San melompat melampaui isterinya, menghadangnya.

"Kau maafkanlah aku... mari kita bicara baik-baik..."

"Jangan dekat!"

Kembali pedang Li Cu berkelebat.

"Kau uruslah Thai-San-Pai, jangan perdulikan aku dan anakku. Aku bersumpah... dengarlah Beng San, aku bersumpah takkan sudi melihat mukamu lagi tanpa adanya Cui Sian!"

Pedangnya membabat ke depan dan selagi Beng San meloncat minggir, ia berlari terus meninggalkan suaminya.

Beng San menggigit Bibir, menahan suaranya yang hendak menjerit-jerit.

Hampir tak kuat dia menahan gelora hatinya yang kalang-kabut menghadapi malapetaka ini.

Seluruh batinnya diliputi kemarahan hebat.

Kemudian kakinya menendang, sebuah batu besar terlempar bergulingan.

Pedangnya dikerjakan.

Pohon-pohon roboh malang melintang.

Beng San terus menyerbu pondoknya yang masih terbakar.

Ditendangnya, dihantamnya, dibabatnya sehingga hiruk-pikuk suara pondok itu roboh.

Batu-batu beterbangan, tidak ada sebatang pun pohon utuh, semua dibabat rata dengan tanah!

Dia mengarnuk terus, dari kerongkongannya terdengar suara menggereng-gereng, matanya liar dan semalam itu dia membuat puncak yang tadinya indah menjadi tempat yang rusak binasa.

Tanam-tanaman bunga ludas, pondok habis, pohon-pohon ambruk, batu-batu malang melintang, banyak yang hancur.

Dalam keadaan seperti inilah tiga orang murid kepala mendapatkan gurunya.

Beng San masih berdiri seperti patung, pedang di tangan, muka beringas mata liar.

"Suhu...!"

Tiga orang murid itu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar mereka terisak menangis.

Beng San menoleh, menunduk, matanya dikejap-kejapkan mengusir dua butir air mata yang sejak tadi menggantung tak mau jatuh.

Seperti orang baru sadar dari mimpi buruk dia menengok ke kanan kiri, melihat kerusakan yang diakibatkan oleh kemarahannya.

Diam-diam dia bersyukur bahwa tidak ada seorang pun manusia di situ malam tadi.

Kalau ada, entah apa akan jadinya.

Dia menarik napas panjang, terasa sakit di dada.

Tahu bahwa dia terluka oleh hawa amarahnya sendiri!

Cepat dia menyalurkan hawa murni ke dada, bernapas panjang-panjang memulihkan tenaga dan kesehatan.

Dia insyaf akan kegilaannya.

Boleh jadi Li Cu tak dapat menahan hantaman nasib seperti ini.

Dia tidak menyalahkan isterinya.

Seorang wanita bagaimanapun juga lebih lemah daya tahan batinnya.

Apalagi pernah kehilangan Cui Bi, kini kehilangan Cui San.

Amat berat tentu.

Tapi dia seorang laki-laki.

Hampir lima puluh tahun hidupnya.

Banyak sudah pengalaman.

Masa belum juga matang jiwanya oleh gemblengan pengalaman hidup yang pahit getir?

Kesadaran tak boleh tertutup kegelapan nafsu.

Dia harus tetap berpendirian.

Seorang gagah takkan mudah goyah imannya.

Sekali lagi dia menarik napas panjang.

"Ki Han, siapa saja di antara adikmu yang tewas dan berapa yang terluka?"

Tanyanya, suaranya sudah biasa kembali.

Beng San sudah pulih menjadi Ketua Thai-San-Pai yang berwibawa.

Sambil menangis Ki Han menyebutkan nama sembilan orang adik seperguruannya yang tewas dan empat orang yang luka-luka.

Kembali Beng San menarik napas panjang untuk menyedot hawa murni guna menguatkan batinnya yang kembali terpukul kedukaan.

"Murid-muridku, kuharap kalian suka mengubur jenazah adik-adikmu baik-baik. Kemudian bubarlah kalian, pulang ke rumah masing-masing. Mereka yang tak mempunyai rumah boleh saja tinggal di pegunungan ini. Akan tetapi ingat, mulai saat ini tidak ada Thai-San-Pai lagi..."

"Suhu...!"

Ki Han terisak.

"Di mana Subo (Ibu guru) dan adik Cui Sian?"

"Adikmu diculik orang. Subomu pergi mengejar. Aku pun akan turun gunung menyusul mereka. Ingat, Thai-San-Pai tidak ada lagi..."

"Suhu...!"

Kini terdengar seruan mereka serentak menyatakan keberatan hati.

"Atau... biarlah untuk sementara ini Thai-San-Pai dibekukan. Tunggu sampai aku pulang. Kalau aku tidak pulang selamanya, berarti Thai-San-Pai tidak akan bangun lagi. Beri tahu kepada semua adikmu yang tidak tinggal di sini. Terserah kalian mencari jalan hidup masing-masing. Aku tidak akan mengurus sepak terjang kalian selama kalian tidak menggunakan nama Thai-San-Pai. Akan tetapi, percayalah akan kemurahan Thian. Kalau Thian menghendaki, aku akan kembali membangun lagi Thai-San-Pai yang rusak binasa di hari ini. Nah, selamat tinggal, murid-muridku..."

Suara terakhir ini mengandung isak dan semua murid menangis.

Akan tetapi mereka hanya melihat bayangan Suhu mereka berkelebat pergi dan lenyap.

Murid-murid itu saling rangkul dan bertangisan.

Keadaan di pagi hari itu amat menyedihkan.

Thai-San-Pai yang dibangun selama empat tahun dan tadinya terkenal sebagai partai baru yang kuat dan disegani, dalam semalam runtuh dan hancur binasa!

Kita tinggalkan dulu keadaan Thai-San-Pai yang rusak binasa dan Ketuanya yang rusak pula ketenteraman rumah tangganya.

Mari kita menengok keadaan di puncak Min-San.

Telah dituturkan di bagian depan bahwa Tan Kong Bu putera Tan Beng San bersama isterinya, Kui Li Eng dan kakeknya, Song-Bun-Kwi Kwee Lun, setelah menikah lalu pindah ke Min-San di mana dia dibantu oleh isterinya menerima murid-murid yang berbakat dan berusaha mendirikan sebuah perkumpulan baru, yaitu Min-San-pai.

Belum banyak murid yang diterima oleh suami isteri ini karena mereka masih muda, lagi pula mereka tidak mau menerima sembarangan murid.

Kalau ada anak yang benar-benar berbakat barulah mereka mau menurunkan ilmu silat sehingga dalam waktu empat tahun, Baru mempunyai murid sebanyak dua belas orang saja, terdiri dari anak-anak muda laki perempuan berusia antara sepuluh sampai lima belas tahun.

Suami isteri ini hidup rukun saling mencinta dan di samping mengajar silat kepada murid-murid cilik ini mereka hidup sebagai petani, bercocok tanam sayur-sayur dan buah-buahan yang dapat hidup subur di Min-San.

Song-Bun-Kwi juga hidup tenang tenteram di Min-San.

Kakek ini sekarang menjadi gemuk dan sehat.

Akan tetapi lewat empat tahun, dia mulai mengeluh dan menjadi malas karena kerjanya hanya makan tidur belaka.

Berkali-kali dia mengeluh dan menyatakan ketidak puasan dan kebosanan hatinya di depan cucunya dan cucu mantunya.

Pagi hari itu dia nampak marah-marah dan gelisah.

Sejak subuh tadi Kong Bu dan isterinya melihat dengan cemas betapa kakek itu tidak hentinya berlatih silat di kebun belakang.

Dan tidak seperti biasanya, terdengar suara keras.

Ketika mereka lari menengok, kiranya dua batang pohon besar roboh dipukul dan ditendang kakek itu!

Masih saja Song-Bun-Kwi bersilat.

Angin pukulannya mendesir-desir dan dia sama sekali tidak perdulikan munculnya cucu dan cucu mantunya.

Wajahnya cemberut matanya sayu.

Kong Bu saling pandang dengan Li Eng.

Menarik napas panjang lalu menggandeng tangan isterinya diajak masuk rumah.

Dia masgul sekali, duduk bertopang dagu, teringat akan percekcokan dengan kakek itu semalam.

Seperti biasa, malam tadi Song-Bun-Kwi makan bersama Kong Bu dan Li Eng yang juga melayani suami dan kakeknya.

Song-Bun-Kwi sudah berbeda daripada biasanya, menenggak arak dan selalu minta tambah.

Akhirnya, selesai makan Song-Bun-Kwi menggebrak meja sampai mangkok-mangkok menari-nari di atas meja.

"Kau anak sial! Tidak becus!!!"

Dia memaki Kong Bu.

Tidak heran Kong Bu melihat kakeknya seperti itu.

Sudah sejak kecil dia tahu akan keanehan watak kakek ini yang mudah marah dan mudah gembira, kadang-kadang bagi yang tidak tahu tentu disangka gila.

Dengan tenang dia tersenyum dan bertanya.

"Apalagi yang tak menyenangkan hatimu, Kong-kong (kakek)? Kesalahan apakah kali ini yang kulakukan?"

"Kesalahan apa? Bocah tolol! Aku ingin punya buyut, kau dengar? Aku ingin punya buyut dan kau tidak becus!!"

Mendengar omongan ini seketika wajah Li Eng menjadi merah dan dengan pura-pura membawa mangkok-mangkok kotor ia cepat-cepat lari ke belakang, namun telinga kakek dan cucu yang lihai itu masih dapat mendengar isaknya tertahan-tahan.

Kong Bu mengerutkan heningnya.

Terlalu kakeknya ini.

Sudah melewati batas sekarang.

Sudah berkali-kali kakeknya ini marah-marah kepadanya, memakinya tidak becus, tidak mampu segala macam, hanya karena dia dan Li Eng sampai sekarang belum juga punya keturunan, belum punya anak!

Kakeknya memang orang aneh, ini dia tahu.

Akan tetapi kalau sudah mencelanya tentang tak punya anak di depan Li Eng, tentu saja isterinya merasa tersinggung sekali.

"Kakek, lagi-lagi kau rIbut-rIbut soal cucu buyut!"

Tegurnya dengan suara agak kasar.

"Soal keturunan adalah soal yang ditentukan oleh Thian. Manusia mana dapat menentukan? Mengapa kakek rIbut-rIbut saja urusan buyut? Apakah tidak tahu bahwa ucapanmu tadi amat menyakiti hati Li Eng?"

"Aaahh, dasar kau yang tidak becus! Laki-laki goblok kau, sudah menikah empat tahun belum juga punya anak. Uuhhh!"

Kakek itu mencak-mencak dengan amat berangnya.

Kong Bu tak dapat menahan kesabarannya.

Suara kakeknya terlalu keras sehingga biarpun Li Eng berada di belakang, tentu isterinya itu dapat mendengar jelas.

"Kong-kong, kau terlalu sekali! Kau ingin punya cucu buyut untuk apa sih?"

"Wah, untuk apa katanya? Tentu saja untuk kuwarisi kepandaian yang kulatih puluhan tahun ini. Untuk apalagi? Aku takkan mati meram sebelum kepandaianku kuwariskan kepada buyutku. Tahu kau?"

Kong Bu tertawa, berusaha mendinginkan hati kakeknya.

"Ah, kalau hanya untuk itu saja, mengapa Kong-kong susah-susah menanti buyut yang tak tentu kapan datangnya? Bukankah cucu muridmu ada dua belas orang di sini, boleh kau pilih mana yang kau sukai untuk dijadikan murid-muridmu. Bukankah ini baik sekali, Kong-kong?"

"Murid-murid tahi kerbau!!"

Kakek itu makin marah.

"Kalau memang mau cari murid, aku bisa cari sendiri. Ah, sudahlah, dasar kau yang tolol dan tidak becus!"

Demikianlah kerIbutan malam tadi, kerIbutan berdasarkan soal yang itu-itu juga yang membuat Song-Bun-Kwi Kwee Lun murung.

Pagi itu sejak subuh dia sudah bersilat dan dengan pukulan saktinya merobohkan pohon besar.

Biasanya, setelah matahari terbit, kakek ini tentu akan masuk ke ruangan depan, berjemur sinar matahari melalui jendela ruangan itu sambil menghadapi minuman hangat yang disediakan oleh Li Eng.

Dia akan duduk di bangku panjang ah berbaring, meram melek nikmat seperti seekor singa tua bermalasan.

Akan tetapi pagi itu dia tidak masuk ke ruangan.

Sampai matahari naik tinggi, kakek itu tidak nampak pulang.

Kong Bu merasa heran dan mencari ke belakang.

Tidak ada.

Ke depan lalu ke sekeliling tempat itu.

Tidak ada.

Kakek itu tidak nampak bayangannya lagi.

Isterinya ikut mencari dan memanggil-manggil.

Namun kakek itu tidak kelihatan lagi mata hidungnya.

Kong Bu mendekati isterinya.

Mereka saling pandang.

"Dia kumat penyakitnya, dasar berdarah perantauan!"

Kata Kong Bu. Li Eng mengerutkan kening, menunduk.

"Karena aku..."

Kong Bu kaget, memandang isterinya. Dilihatnya dua titik air mata membasahi pipi Li Eng. Dia merangkulnya.

"Hushh, siapa bilang karena kau? Tentang itu, tak perlu kita pikirkan, isteriku. Kita serahkan saja kepada Thian Yang Maha Kuasa."

Li Eng memang bukan seorang pemurung.

Semenjak gadisnya, ia amat periang, kocak dan jenaka.

Sekarang pun hanya sebentar ia digerumuti rasa kecewa dan duka.

Di lain saat sambil tersenyum manis ia berkata.

"Hemm, dunia kang-ouw tentu bakal geger dan heboh karena munculnya kakek!"

Kong Bu juga tersenyum.

"Tentu saja, boleh kita pastikan itu! Kita dengar-dengar saja, tentu terjadi keonaran. Memang kakekku itu tukang mencari geger. Ha-ha-ha!"

Mereka tertawa-tawa dan seketika lenyaplah awan mendung yang mengancam sinar kebahagiaan mereka.

Benar dugaan Kong Bu.

Kakeknya, Song-Bun-Kwi Kwee Lun memang sudah pergi dari Min-San.

Kekesalan hatinya karena belum juga dia dapat menimang seorang buyut yang dinanti-nantikan, membangkitkan rindunya akan dunia ramai, membuat penyakitnya suka merantau kambuh kembali.

Seperti telah menjadi wataknya semenjak dahulu, dia selalu pergi tanpa pamit dan pulang tanpa memberitahukan.

Tapi, tidak seperti dugaan Kong Bu Bahwa di dunia ramai kakeknya tentu akan menimbulkan kegemparan, kali ini Song-Bun-Kwi melakukan perjalanan dengan tenteram, Tidak mempunyai nafsu untuk mencari perkara.

Hal ini adalah karena hatinya sudah menjadi dingin karena mengingat bahwa tokoh-tokoh setingkat dengannya seperti Siauw-Ong-Kui, Pak-Thian Lo-Cu, atau Hek-Hwa Kui-Bo dan Toat-Beng Yok-Mo, semua sudah mati.

Kalau ada mereka, terutama Siauw-Ong-Kui, tentu dia akan mencarinya dan diajak berkelahi sampai tiga hari tiga malam!

Hanya tinggal seorang tokoh yang setingkat, atau setidaknya hampir setingkat dengannya, yaitu Tai-Lek-Sin Swi Lek Hosiang, itu tokoh besar pantai Timur.

Karena teringat akan orang tua inilah maka kini Song-Bun-Kwi melakukan perjalanan ke Timur, ke pantai Timur untuk mencari Tai-Lek-Sin.

Keperluannya hanya satu, mencari orang tua itu dan kalau sudah berjumpa, diajak berkelahi mengadu ilmu!

Pada suatu hari kakek ini memasuki sebuah kota pelabuhan di pantai Timur yang cukup ramai, karena kota ini selain menjadi pusat perdagangan para pedagang laut yang datang dari Selatan dan Utara, juga terkenal sebagai pintu mengeluarkan hasil-hasil bumi dan akar-akar obat.

Sayangnya seringkali kota ini diganggu bajak laut Jepang sehingga sebagian besar pedagangnya datang dari lain kota dan jarang yang mendirikan bangunan di situ.

Dan sudah menjadi kebiasaan setiap orang pedagang keliling yang membawa banyak barang berharga, selalu mesti ada saja pengawal-pengawalnya terdiri dari jagoan-jagoan pengawal bayaran yang lajim disebut Piauwsu.

Pengawal-pengawal bayaran dan para pedagang inilah yang meramaikan restoran-restoran yang banyak dibuka di situ sehingga begitu memasuki kota ini, Song-Bun-Kwi segera mengembang kempiskan hidungnya karena mencium bau masakan sedap dan gurih.

"Gurih... gurih... wah sedapnya...!"

Dia menggerutu berkali-kali kemudian matanya mencari-cari dan akhirnya dia melangkah lebar memasuki sebuah restoran yang paling besar yang berada di pinggir jalan besar dekat tempat pemberhentian perahu-perahu.

Bau amis perahu-perahu yang membawa muatan ikan malah menambah sedap.

Kehadiran kakek ini menarik perhatian orang.

Betapa tidak.

Seorang kakek yang usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, rambutnya jarang-jarang dan pendek setengah gundul, kumis dan jenggot pendek-pendek pula dan kaku, sebagian besar sudah putih.

Pantasnya kepala seperti ini dimiliki seorang Pendeta, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian Pendeta.

Pakaian yang membungkus tubuh tinggi besar kokoh kuat itu adalah pakaian petani yang kumal dan longgar, lengan bajunya lebar sekali seperti lengan baju tukang-tukang main sulap yang menyembunyikan benda-benda di dalamnya.

"Heee, pelayan!"

Suaranya menggeledek dan menggetarkan ruangan restoran itu.

"Bawa ke sini cepat seguci besar arak baik, tiga kati mi, dua kati daging babi panggang dan tiga empat macam masakanmu yang paling terkenal. Lekas kataku, perutku lapar nih!"

Sambil menarik napas panjang dengan nikmat kakek ini menjatuhkan diri ke atas sebuah bangku yang mengeluarkan bunyi mengenaskan karena hampir tidak kuat menadahi tubuhnya yang besar dan berat itu, lalu jari-jari tangan kanannya mengetruk-ngetruk meja di depannya sampai meja itu bergoyang-goyang.

Semua tamu yang duduk di situ menoleh dan memandang heran.

Di mana di dunia ini ada orang yang begitu gembul?

Tiga kati mi ditambah dua kati daging dan tiga macam masakan, masih didorong masuk oleh seguci besar arak, bukankah itu jumlahnya lebih sepuluh kati?

Perut manusia biasa mana kuat dimasuki sepuluh kati makanan sekaligus?

Juga pelayan-pelayan saling pandang, tidak ada yang menyanggupi karena mereka ragu-ragu.

Selain aneh, juga harga masakan-masakan yang dipesan itu bukanlah sedikit uangnya!

Kakek itu merasa juga akan keraguan Muka pelayan ini.

Dia menggereng dan tangannya menekan meja di depannya yang tiba-tiba, ambles ke bumi sampai setengahnya lebih!

"Heh, pelayan-pelayan.

Kalian ini manusia-manusia ataukah patung?

Kalau patung tunggu kublesekkan kalian ke dalam tanah seperti meja ini!"

Kagetlah semua orang, kaget dan jerih.

Juga para pelayan berseliweran dan separuh lari menyediakan pesanan kakek itu.

Mereka tidak perduli lagi apakah kakek itu nanti bisa bayar atau tidak, itu urusan pengurus restoran.

Paling perlu cepat-cepat sediakan pesanannya agar mereka selamat!

Dengan senyum-senyum manis dibuat-buat sehingga senyum itu pringas-pringis mengandung takut, para pelayan berantri mengantarkan makanan-makanan yang dipesan Song-Bun-Kwi dan mengaturnya di atas meja yang rendah itu.

Begitu selesai mereka terbirit-birit menjauhkan diri.

Juga para tamu yang nyalinya kurang besar, cepat-cepat menghabiskan makanan, membayar dan meninggalkan tempat di mana terdapat kakek yang menyeramkan itu.

Akan tetapi yang nyalinya besar, malah menjadi girang dan diam-diam ingin menyaksikan perkembangan lebih lanjut dan menikmati keanehan yang jarang mereka lihat.

Di antara mereka itu terdapat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang duduk seorang diri di sudut restoran, laki-laki yang bermata tajam berhidung betet berpakaian mentereng.

Mencium bau arak dari sebuah guci besar yang berada di atas sebuah meja di depannya, sepasang mata Song-Bun-Kwi bersinar-sinar.

Dia sudah amat rindu melihat arak, kini begitu bertemu dia segera menyambar guci, mengangkatnya ke atas dan terdengarlah suara bergelogok seperti suara air pancuran jatuh dikolam.

Tak setetes pun terbuang.

Setelah agak lama mulut-mulut orang yang menyaksikan ini melongo, baru Song-Bun-Kwi meletakkan guci itu kembali ke atas meja dan setengah isinya sudah ia pindah ke dalam perutnya.

Tanpa memperdulikan mata orang-orang yang berada di situ, dia menyambar sumpitnya dan segera menyikat masakan-masakan di depannya.

Seperti mesin saja sumpit-sumpitnya bergerak, seperti disulap, mi, daging dan masakan-masakan itu terbang ke dalam mulutnya, dikunyah sebentar lalu masuk ke dalam lubang di kerongkongannya.

Kadang-kadang masakan itu menyesakkan kerongkongan karena terlalu dijejal, dan terpaksa harus didorong arak menggelogok.

Tiba-tiba terdengar suara rIbut-rIbut di luar disusul orang lari berserabutan ke sana ke mari.

Ramai orang berteriak-teriak.

"Bajak laut...! Bajak laut!"

Di dalam restoran itu sendiri terjadi kerIbutan luar biasa.

Para tamu lari ke luar berserabutan, pelayan-pelayan lari pula sambil membawa barang-barang yang dianggap berharga, pengurus restoran membawa lari uang.

Semua lari berserabutan meninggalkan tempat itu.

Nelayan-nelayan, pedagang-pedagang dan mereka yang merasa mempunyai barang berharga cepat-cepat lari meninggalkan tempat itu.

Hanya mereka yang merasa tidak mempunyai apa-apa, tidak lari, hanya bersembunyi dengan muka pucat ketakutan.

Sejenak Song-Bun-Kwi menengok, lalu makan terus tanpa memperdulikan kegaduhan di sekelilingnya.

Restoran itu sekarang kosong kecuali orang laki-laki yang berpakaian mentereng tadi.

Tapi laki-laki ini pun nampak tegang dan beberapa kali meraba gagang golok yang tersembunyi di balik jubah panjangnya.

Matanya memandang ke luar, ke arah laut.

Dengan kecepatan luar biasa, beberapa buah perahu kecil runcing berlayar ke pantai.

Perahu-perahu ini agaknya diturunkan dari sebuah perahu besar yang berlabuh beberapa li dari pantai dan di setiap kepala perahu kecil ini berkibar bendera putih dengan gambar tengkorak hitam.

Itulah perahu-perahu bajak laut yang datang menyerbu kota pelabuhan ini.

Jumlah perahu kecil ada sembilan buah, masing-masing ditumpangi lima orang anak buah bajak.

Seorang laki-laki gemuk pendek berdiri di kepala perahu terdepan, tangannya memegang sebatang pedang yang besar dan panjang, pedang bengkok model Jepang.

"Bajak laut Jepang...!"

"Si Tengkorak Hitam...,!"

Demikian telinga Song-Bun-Kwi mendengar teriakan mereka yang lari ketakutan.

Namun dia pura-pura tidak mendengar dan makan terus.

Para pedagang besar yang membawa banyak barang dagangan dan dikawal oleh jagoan-jagoan pengawal, sIbuk mengumpulkan jagoan-jagoannya untuk melindungi barang mereka.

Hanya pengawal-pengawal yang merasa dirinya berkepandaian dan mempunyai banyak teman, sedikitnya belasan orang anak buah saja yang berani menjaga barang yang dipercayakan mereka.

Begitu bajak-bajak itu mendarat, terdengar teriakan-teriakan mereka yang menyeramkan.

Golok dan pedang mereka angkat tinggi-tinggi dan dengan pekik dan sorak-sorai, para bajak ini menyerbu ke darat.

Segera terjadi pertempuran dengan para jagoan pengawal yang jumlahnya semua tidak kurang dari tiga puluh orang.

Hiruk-pikuk suara yang bertempur, bunyi senjata tajam beradu mendencing-dencing, pekik kesakitan dan sorak kemenangan mulai terdengar bersama muncratnya darah dan robohnya tubuh manusia.

Lima orang anak buah bajak lari ke dalam restoran besar.

Mereka berteriak-teriak girang karena membayangkan pesta pora.

Alangkah heran hati mereka ketika melihat betapa di dalam restoran besar itu terdapat dua orang tamu yang masih belum pergi.

Seorang kakek gundul berusia lanjut enak-enakan saja makan, sedikit pun tidak melirik kepada lima orang bajak yang memasuki restoran.

Malah ketika seorang bajak memekik-mekik sambil menendang meja sampai terguling, dia malah mengangkat guci araknya dan minum seenaknya.

Orang ke dua adalah laki-laki berpakaian mewah yang duduk tenang-tenang saja, dengan tangan di gagang goloknya.

Para bajak itu memang sudah terlalu lama berada di lautan dan kini melihat kakek itu makan minum, mereka menjadi mengilar.

Maka berebutanlah empat orang lari menghampiri Song-Bun-Kwi, sedangkan seorang di antara mereka tertarik akan pakaian mewah laki-laki yang duduk di pojok, maka dia lari kepada orang itu.

Sambil mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti oleh Song-Bun-Kwi, empat orang bajak itu menyerbu, ada yang menghantam kepala gundul kakek itu, ada yang membacok lehernya dengan golok, ada pula yang menyambar guci arak untuk merampasnya.

Kesudahannya hebat sekali.

Kakek itu tanpa menoleh barang sedikit, menggerakkan tangan yang memegang sumpit, perlahan saja tapi cepat seperti kilat menyambar.

Empat orang bajak seketika seperti orang terlongong, lalu membalikkan tubuh dan berjalan terhuyung-huyung ke pintu restoran, mulut mereka bergerak-gerak hendak memekik akan tetapi yang keluar hanya suara mengorok seperti babi disembelih!

Dan sebelum mereka tiba di tempat teman-teman mereka di luar, robohlah mereka, terkulai satu-satu, dan hampir berbareng mereka mengeluarkan suara jeritan ngeri!

Kepala bajak yang gemuk pendek itu hebat sekali.

Pedangnya yang panjang dan bengkok menyambar-nyambar dan banyaklah jagoan pengawal roboh dengan leher putus atau dada robek oleh pedangnya.

Akan tetapi selagi enak dia mengamuk, seorang temannya berteriak sambil menuding ke arah empat orang anak buah yang roboh tanpa diserang lawan itu.

Si kepala bajak sekali melompat sudah tiba di situ.

Dengan kaki kirinya dia membalik-balikkan tubuh empat orang anak buahnya dan...

ternyata mereka telah putus nyawanya dengan mata mendelik, mulut berdarah sedangkan leher mereka nampak bolong sebesar jari tangan!

Mata kepala bajak itu menjadi merah saking marahnya.

Dia juga heran karena tidak melihat lawan di dekat empat orang anak buahnya ini.

Matanya lalu mencari-cari dan terlihatlah olehnya cucuran-cucuran darah merah yang tercecer sepanjang jalan dari tempat itu ke pintu restoran.

Dilihatnya seorang kakek duduk di dalam restoran dan tampak pula seorang anak buahnya tengah bertempur dengan seorang laki-laki yang mainkan golok.

Jelas bahwa anak buahnya itu terdesak hebat.

Sambil memekik dengan suara yang keluar dari dasar perut, kepala bajak berjuluk Tengkorak Hitam ini lalu berlari, pedangnya teracung ke depan, mulutnya memekik panjang.

"Yaaaaaaa!!!"

Dua orang jagoan pengawal mengira bahwa kepala bajak itu hendak menerjang mereka, berbareng dua orang ini memapakinya dengan pedang mereka.

Akan tetapi bukan main hebatnya kepala bajak ini.

Tanpa menghentikan larinya ke arah restoran, pedang panjangnya berkelebat dan...

dua orang jagoan pengawal itu rebah dengan perut robek dan isi perutnya berantakan ke luar!

Si kepala bajak terus berlari tanpa menghentikan pekiknya yang panjang menyeramkan itu.

Akan tetapi begitu sampai di ambang pintu restoran, tiba-tiha dari dalam ada bayangan menubruknya.

Si Tengkorak Hitam yang baru saja berhenti memekik panjang, kini membentak.

"Yaaatt"

Dan pedangnya yang bengkok panjang itu bergerak ke depan berkelebat menyilaukan mata.

"Craaaatttt!"

Pedang yang amat tajam itu membabat pinggang bayangan itu yang...

putus menjadi dua.

Darah menyembur-nyembur mengerikan dibarengi suara terbahak-bahak si kepala bajak yang tertawa girang.

Tiba-tiba suara ketawanya berhenti ketika dia mendengar suara mendengus penuh ejekan di dalam restoran.

Ketika dia menundukkan muka memandang, tiba-tiba muka Tengkorak Hitam menjadi pucat.

Kiranya bayangan yang dibacoknya putus menjadi dua tadi adalah anak buahnya sendiri yang agaknya telah dilemparkan lawan.

Dia mengarahkan pandang matanya yang berapi-api ke dalam restoran.

Kakek itu masih duduk makan minum sedangkan laki-laki bergolok yang tadi bertempur melawan anak buahnya sekarang berdiri dengan golok melintang di depan dada.

Tengkorak Hitam tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Sekali lagi dia memekik panjang dan lari menyerbu ke dalam restoran, langsung menerjang si pemegang golok.

Biasanya, tiap sabetan pedangnya tak pernah gagal, kalau tidak merobohkan lawan, sedikitnya melukai atau mematahkan senjatanya.

Akan tetapi sekali ini dia salah duga.

Pedangnya bertemu dengan sebuah golok yang kuat dan terdengar suara berdencing nyaring dibarengi muncratnya bunga api berhamburan.

Cepat kedua lawan ini menarik senjata masing-masing, memeriksa sebentar.

Lega mendapat kenyataan bahwa senjata masing-masing tidak rusak.

Tengkorak Hitam lagi-lagi menerjang, kini gerakannya lebih kuat dan cepat sekali, pedangnya berkelebat tanpa berhenti, membobat-babit dari kanan kembali ke kiri, dari atas ke bawah seperti seorang akrobat mainkan dua obor api.

Laki-laki bergolok itu beberapa kali mengeluarkan seruan kaget karena hampir saja pertahanannya bobol, namun dia melawan sedapat mungkin dengan permainan goloknya.

Song-Bun-Kwi tidak perdulikan itu semua, masih saja makan minum.

Melirik pun tidak dia.

Akan tetapi ketika araknya habis, dia celingukan ke sana ke mari, lalu mulutnya mendamprat.

"Pelayan keparat! Ke mana kalian? Hayo tambah lagi arak seguci penuh!"

Tentu saja tidak ada setan yang menjawabnya karena semua pelayan sudah melarikan diri jauh dari tempat itu. Song-Bun-Kwi marah-marah, digebraknya meja sampai mangkok-mangkok yang kosong bergulingan.

"Pelayan ke mana kalian pergi?"

Tiba-tiba si pemegang golok yang menjawab.

"Lo-Cianpwe, semua pelayan lari ketakutan karena bajak ini!"

Baru sekarang Song-Bun-Kwi menengok dan melihat pertempuran itu.

Dia melihat seorang laki-laki pendek gemuk berkepala botak kelimis tapi di sebelah pinggir dan belakang berambut gemuk hitam.

Laki-laki pendek gemuk ini tidak berbaju, hanya bercelana panjang yang komprang (kebesaran).

Tubuhnya kelihatan kuat sekali, dan permainan pedangnya aneh bukan main, namun tak boleh dibilang lemah.

Si pemegang golok yang sepintas lalu dapat dinilai oleh Song-Bun-Kwi permainannya sebagai ilmu golok Selatan yang tidak lemah, agaknya tidak kuat menandingi ilmu pedang aneh bajak pendek itu.

Timbul kemarahan Song-Bun-Kwi kepada bajak itu.

Benar-benar tidak memandang mata kepadanya.

Sedang enak-enak makan berani datang mengacau sampai semua pelayan lari.

Dengan langkah lebar dia menghampiri tempat pertempuran.

"Heh, babi buntung! Berani kau membikin kacau sampai semua pelayan pergi, ya? Hayo kau gantikan pekerjaan mereka, layani aku baik-baik!"

Si pemegang golok yang melihat cara Song-Bun-Kwi tadi mengalahkan empat orang bajak, dapat mengerti bahwa kakek itu adalah seorang sakti, maka sekarang melihat kakek itu mau turun tangan, dia pun cepat memutar goloknya lalu melompat ke samping menjauhi kepala bajak yang lihai.

Tengkorak Hitam kaget mendengar bentakan Song-Bun-Kwi.

Agaknya dia sudah sering kali menjelajah pantai Timur ini sehingga dia mengerti juga bahasa daerah itu.

Dengan kaku dia membentak sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Iblis tua bangka, kau memaki siapa?"

"Memaki kau, siapa lagi? Hayo lekas ambilkan arak seguci!"

Song-Bun-Kwi membentak.

Bukan main marahnya Tengkorak Hitam.

Dia adalah seorang kepala bajak yang sudah terkenal.

Hanya di seberang sini saja dia menjadi kepala bajak, kalau sudah pulang ke seberang sana membawa barang-barang rampasan, dia adalah seorang yang memiliki gedung indah, dihormati semua orang.

Sekarang dia dihina oleh seorang tua bangka, padahal biasanya di seberang sana dia amat ditakuti orang, tentu saja dia marah sekali.

Pedangnya diobat-abitkan ke atas kepala, kata-katanya tidak jelas tercampur bahasa Jepang.

"Bakeiroo...! Kau mau mampus, ya?"

Pedang itu menyambar ke arah leher Song-Bun-Kwi, agaknya dengan sekali tebas Si Tengkorak Hitam hendak menjadikan kakek itu setan tanpa kepala.

Song-Bun-Kwi mendengus sambil bangkit berdiri, tangan kirinya membabat dari samping memapaki pedang.

"Krekkk!"

Pedang itu patah-patah menjadi tiga potong saking hebatnya gempuran tangan kakek ini.

Si kepala bajak seketika pucat, terbelalak memandang pedang yang tinggal gagangnya saja itu.

Namun dia seorang bajak laut yang buas dan tak kenal takut.

Sambil menyumpah-nyumpah dia membanting gagang pedangnya dan segera kaki tangannya bergerak-gerak mempergunakan ilmu gulat yang amat dia andalkan.

Jari-jari tangannya terbuka seperti cengkeraman, siap untuk menangkap lawan dan diangkat serta dibantingkan.

Biasanya tak pernah dia gagal dalam membantingkan lawan mempergunakan ilmu ini.

Malah lawan yang jauh lebih muda dan lebih tinggi besar daripada kakek itu pernah dia permainkan, dia banting-banting seperti penatu membanting cuciannya.

Song-Bun-Kwi tidak mengenal ilmu berkelahi semacam ini, namun melihat kuda-kuda yang diberatkan ke bawah dan melihat kedua tangan yang siap mencengkeram, dia dapat menduga bahwa ilmu ini tentulah semacam Ilmu Kim-Na-Chiu, ilmu tangkap atau ilmu gulat.

Dia terkekeh lalu mengulurkan tangan kirinya, sengaja dia berikan untuk ditangkap lawan!

Seorang ahli silat tentu akan ragu-ragu dan tidak berani menerima umpan selunak ini.

Akan tetapi Tengkorak Hitam agaknya tidak mengenal istilah umpan dalam ilmunya berkelahi, atau memang dia terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri sehingga umpan itu dia caplok mentah-mentah.

Cepat laksana bintang jatuh dia menerkam maju dan di lain saat lengan kiri Song-Bun-Kwi sudah ditangkapnya, diputar dengan gaya selicin belut, tubuhnya menyelinap dan membalik sehingga kedudukan lengan Song-Bun-Kwi terbalik dan dilandaskan di atas pundaknya, Kemudian dia mengerahkan tenaga dari perut sambil memekik keras, menggentak lengan kiri kakek itu dengan gaya melemparkan tubuh si kakek ke atas melewati punggung dan pundaknya.

Tubuh itu terlempar ke atas sampai membentur langit-langit rumah lalu jatuh menimpa meja makan yang belum keburu dibereskan sehingga kuah masakan dalam mangkok memercik ke atas menyiram muka orang yang jatuh itu.

Tapi bukan tubuh Song-Bun-Kwi yang terlempar, melainkan tubuh Tengkorak Hitam sendiri!

Kepala bajak ini gelagapan, cepat menyusuti mukanya, terengah-engah meloncat turun dari kursi, kepalanya digoyang-goyang keras seperti laku seekor anjing habis kecemplung kolam, matanya terbeliak memandang kakek itu seakan-akan dia tidak percaya bahwa yang baru saja dia alami bukanlah mimpi buruk.

Sambil menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya kembali dia menggereng dan menubruk.

Kaki ini dia menangkap kaki Song-Bun-Kwi.

Kakek itu hanya berdiri dan tunduk memandang orang pendek yang nekat itu.

Tengkorak Hitam berkutetan, mengerahkan tenaga untuk mengangkat kaki itu agar dia mendapat peluang untuk melontarkan si kakek.

Namun kaki itu tak bergeming sedikit pun juga.

Sampai payah dia mengerahkan semua tenaga perut, ah-uh-ah-uh mulutnya terengah-engah.

Mendadak kaki itu terangkat sedikit.

Girang hatinya.

Mampus kau sekarang tua bangka, pikirnya.

Tubuhnya menyelinap ke bawah selakang kakek itu, kaki itu di pundaknya dan kini dia mengerahkan seluruh tenaganya sambil menggentak.

"Bull!"

Seperti layang-layang putus talinya tubuh itu mumbul ke atas, sekali lagi menghantam langit-langit sampai jebol kemudian terbanting ke bawah membikin remuk bangku yang ditimpanya.

Juga kali ini tubuh Tengkorak Hitamlah yang melayang-layang, bukan tubuh si kakek kosen.

Sakit, marah, dan malu memenuhi benak Tengkorak Hitam, apalagi ketika dia melihat betapa mulai berdatangan orang menonton.

Dia menjadi nekat dan kini hendak menggunakan ilmu pukulan.

Dia menerjang lagi dengan tangan terkepal.

Tiba-tiba tubuhnya yang merunduk dengan kepala di depan seperti laku seekor domba hendak menanduk ayam, berhenti di tengah jalan, tepat di muka kakek itu.

Kepalanya tertahan sesuatu.

Matanya melirik dan alangkah marahnya melihat bahwa kakek itulah yang menahan kepalanya dengan telapak tangan.

Dia mengumpat caci, kedua tangannya menghantam bergantian, disusul kakinya yang juga mengirim tendangan-tendangan maut.

Akan tetapi, serangan-serangannya mengenai tempat kosong belaka, atau tegasnya, tidak sampai di tubuh si kakek.

Seperti diketahui, bajak laut itu tubuhnya pendek, kedua lengannya pun pendek-pendek sekali, demikian pula kedua kakinya.

Tentu saja setelah kakek itu yang bertubuh tinggi besar dan berlengan panjang menahan kepalanya dengan lengan diluruskan, semua pukulan dan tendangannya gagal, tidak sampai ke sasarannya.

Terdengar suara ketawa di sana-sini.

Bajak itu marah sekali, kini menghantam lengan yang menahan kepalanya.

Sia-sia, malah kedua tangannya sakit-sakit seperti menghantam baja layaknya.

Tiba-tiba dia merasa betapa telapak tangan yang menahan kepalanya itu menjadi panas sekali.

Dia berusaha menarik kepalanya yang botak, namun alangkah kagetnya ketika merasa betapa botaknya itu lengket pada telapak tangan lawan.

Dan panasnya tak dapat dia menahannya lebih lama, seakan-akan botaknya ditempel arang merah!

Dia mulai mengerling ke luar restoran dan tanpa malu-malu lagi mulutnya berteriak-teriak memanggil anak buahnya supaya membantunya melawan kakek yang aneh ini.

Akan tetapi, begitu matanya mengerling ke luar, seketika wajahnya pucat.

Apa yang dilihatnya?

Anak buahnya sudah tidak kelihatan batang hidungnya seorang pun, malah sebuah perahunya pun tidak tampak lagi.

Pantas saja banyak orang berdatangan menonton pertunjukkan di dalam restoran, kiranya sekarang di luar restoran sudah tidak ada bajak laut lagi!

Apakah sebetulnya yang telah terjadi di luar restoran?

Seperti telah kita ketahui, pada saat kepala bajak itu beraksi di depan Song-Bun-Kwi, para bajak laut itu sedang bertempur menyerbu para jagoan pengawal yang melawan mati-matian.

Namun karena kalah banyak jumlahnya, para pengawal itu kena desak dan mulai mundur tak teratur.

Mulai banyaklah berjatuhan korban di kedua fihak, terutama sekali di fihak para pengawal.

Pada saat itu, terdengar bentakan mengguntur, disusul suara nyaring.

"Keparat jahanam! Beginikah perbuatan kalian di sini? Dari rumah mengaku berdagang kiranya melakukan perampokan. Bajak-bajak keparat, membikin malu saja kalian ini. Hayo pergi!"

Yang membentak ini adalah seorang laki-laki muda yang bertubuh tegap kokoh kuat, wajahnya membayangkan kegagahan, bajunya tipis terbayang dadanya yang bidang.

Rambutnya hitam panjang dan gemuk, digelung ke atas dengan model yang asing, dijepit di bagian atas dengan hiasan rambut perak.

Sebatang pedang yang panjang sekali dan bentuknya agak melengkung tergantung di pinggang.

Pedang ini sarung dan gagangnya berukir kembang-kembang indah, merah warnanya, dengan ronce-ronce merah pula, gagangnya agak panjang.

Para bajak laut kaget mendengar suara bangsanya sendiri, karena pemuda itu tadi menggunakan bahasa Jepang.

Ketika menengok, mereka lebih kaget lagi karena dari dandanan, sikap, dan pedang pemuda itu, mudah diterka bahwa pemuda itu adalah seorang pendekar Samurai, yaitu golongan pendekar pedang yang amat terkenal di Jepang.

Akan tetapi karena pendekar itu masih amat muda, paling banyak dua puluh tahun usianya, apalagi karena bajak laut itu mengandalkan banyak teman dan bukan berada di daratan sendiri, mereka tidak takut.

"Berhenti dan pulang semua kataku!"

Pendekar Samurai muda itu berseru lagi, suaranya benar-benar nyaring dan wibawa.

Ketika para bajak itu tidak memperdulikannya, tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangan, sinar kemerahan berkelebat-kelebat menyambar bagaikan kilat di musim hujan.

Terdengar pekik dan jerit di sana-sini dan di mana sinar kemerahan itu tiba, tentu ada bajak yang roboh dengan senjata mereka terlempar atau patah!

"Hayo siapa tidak menurut, akan kubasmi di sini juga.

Memalukan orang-orang macam kalian ini!"

Lagi-lagi si pemuda berteriak.

"Samurai Merah tak mengijinkan kalian merusak nama kehormatan bangsa!"

Melihat sepak terjang pemuda itu dan mendengar nama sebutan Samurai Merah, para bajak kaget dan ketakutan, Itulah nama pendekar yang amat terkenal kebengisannya terhadap para penjahat.

Mereka segera membuang senjata masing-masing, menyambar tubuh teman-teman yang luka atau tewas, lalu berserabutan lari ke perahu masing-masing.

Dalam sekejap mata saja bajak-bajak itu sudah berlayar pergi, tidak merampok apa-apa hanya meninggalkan korban-korban di fihak pengawal dan saking bingung dan takutnya mereka tadi lupa bahwa kepala mereka, Tengkorak Hitam masih tertinggal di dalam restoran!

Para pengawal kagum dan berterima kasih kepada pendekar Jepang itu.

Akan tetapi berbareng dengan kaburnya para bajak laut, pendekar muda Jepang itu pun lenyap dari situ.

Apakah dia ikut dengan perahu-perahu bajak atau tidak, tak seorang pun mengetahui karena tadi keadaannya kacau-balau.

Akan tetapi ketika orang-orang ini mendengar adanya pertempuran lain di dalam restoran, segera mereka (lanjut ke

Jilid 12) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 mendatangi tempat ini dan ternyata mereka menjadi saksi akan pertandingan yang lebih menarik lagi karena lucu sekali.

Juga para jagoan pengawal itu diam-diam kaget dan kagum ketika mengenal bahwa yang sedang dipermainkan kakek tua itu bukan lain adalah Tengkorak Hitam, si kepala bajak yang terkenal akan kekejaman, keganasan dan juga kesaktiannya.

Pertempuran di dalam restoran itu memang lucu sekali, terutama bagi para penonton yang kesemuanya membenci si kepala bajak.

Tengkorak Hitam seperti seekor cecak terjepit pintu.

Kepalanya yang botak menempel pada telapak tangan kakek itu yang diluruskan ke depan.

Pukulan dan tendangannya gagal semua tidak mengenai sasaran, malah dia sekarang mulai meringis-ringis dan keluar air mata dari kedua matanya tanpa dia sengaja.

Air mata ini keluar saking nyerinya ketika dari telapak tangan itu keluar hawa panas seperti api yang membakar kepalanya yang botak.

Akhirnya dia tak tahan lagi, menjerit-jerit dan melolong-lolong minta ampun dengan suaranya yang pelo (cedal).

"Ampun, orang tua gagah... ampun..."

Song-Bun-Kwi mendengus. Dia pun tidak suka dijadikan tontonan.

"Aku sedang makan kau membikin rIbut saja, menyebalkan sekali! Hayo lekas kau ambilkan tambahan arak!"

Sekali dia mendorongkan lengannya, kepala bajak itu terlempar ke belakang menabrak bangku.

Dengan muka pucat dan tubuh menggigil kepala bajak yang biasanya ditakuti orang ini merangkak bangun, sedangkan Song-Bun-Kwi dengan tenang duduk kembali ke bangkunya menghadapi meja makan.

Dengan kening berkerut dia mengomel panjang pendek.

"Menyebalkan! Makanan ini sudah dingin semua, araknya sudah habis!"

Tiba-tiba para pelayan berdatangan membawakan arak dan masakan-masakan baru.

Seperti menyulap saja tukang-tukang masak berlomba membuatkan masakan untuk kakek yang gagah perkasa ini.

Adapun kepala bajak Si Tengkorak Hitam tadi sudah menjadi bulan-bulan kemarahan para penduduk dan para jagoan pengawal.

Dia diseret keluar dan digebuki sampai terkencing-kencing dan orang-orang baru menyudahi penyiksaan mereka setelah kepala bajak yang sudah membunuh rIbuan itu tak bernapas lagi.

Setelah itu barulah ramai-ramai mereka mengubur para korban dan merawat para pengawal yang terluka.

Sebentar saja kota pelabuhan itu menjadi ramai lagi seperti biasa.

Kali ini memang sepatutnya mereka bergembira karena bukankah bajak laut-bajak laut yang menyerbu itu selain dapat dihancurkan, juga kepalanya dapat ditewaskan?

Jarang terjadi hal ini dan patut mereka bergembira.

Song-Bun-Kwi menoleh ke arah laki-laki yang tadi merupakan orang satu-satunya yang tidak lari dari restoran.

Kebetulan laki-laki itu juga memandang kepadanya dan laki-laki itu cepat berdiri membungkuk dengan hormat lalu berkata.

"Saya merasa tunduk dan kagum sekali atas kegagahan Lo-Cianpwe,"

Song-Bun-Kwi mengerutkan keningnya yang mulai beruban, lalu dia melambaikan tangan.

"Hayo kau ikut makan dengan aku. Biarpun kepandaianmu tidak seberapa, tetapi keberanianmu membikin kau cukup berharga untuk makan bersamaku."

Laki-laki itu tidak merasa tersinggung atau tak senang mendengar kata-kata yang angkuh ini.

Cepat dia datang sambil membungkuk-bungkuk menyatakan terima kasihnya.

Dengan lagak amat sopan dia lalu menarik bangku dan duduk di depan Song-Bun-Kwi.

Menyaksikan sikap merendah-rendah ini diam-diam Song-Bun-Kwi mendapat kesan tak baik dan menganggap laki-laki ini sikapnya terlalu menjilat-jilat.

Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia lalu menyilahkan laki-laki itu menikmati minuman dan masakan yang sudah disediakan oleh para pelayan yang merasa amat berterima kasih kepada dua orang itu karena sesungguhnya apabila tidak ada dua orang tamu itu, tentu restoran mereka sudah habis dan rusak oleh para bajak.

Akhirnya Song-Bun-Kwi merasa kenyang juga.

Dengan lengan bajunya yang lebar dia mengusapi mulutnya dan tangan kirinya mengelus-elus perut.

Laki-laki di depannya itu membungkuk sambil tersenyum dan berkata.

"Lo-Cianpwe yang gagah perkasa, saya bernama Teng Cun Le dari Kota Raja, seorang pelancong biasa. Bolehkah kiranya saya mengetahui nama Lo-Cianpwe yang mulia?"

Sebal hati Song-Bun-Kwi mendengar ini.

Dia sudah menyesal dan kecewa mengapa dia tadi mengundang orang ini yang kiranya hanya mendatangkan kesebalan di hatinya dan mengganggu ketenteramannya seorang diri.

Dengan gerakan tangan tak sabar dia menjawab.

"Aku she Kwee... sudahlah."

Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan cepat berkata.

"Kau tentu tahu akan semua bajingan di daerah pantai Timur ini, bukan?"

Orang itu terkejut, gugup bagaimana harus menjawab. Tapi segera dia dapat menguasai hatinya.

"Apakah yang Lo-Cianpwe maksudkan? Kalau yang dimaksudkan bangsat-bangsat cilik tiada nama, tentu saja saya tidak kenal. Akan tetapi tokoh-tokoh besar di pantai Timur ini banyak juga yang saya ketahui."

Wajah Song-Bun-Kwi yang biasanya seperti kedok itu kini membayangkan kegirangan.

"Bagus, kalau begitu, hayo lekas kau tunjukkan di mana tempat tinggal si iblis bangkotan Thai-Lek-Sin Swi Lek Ho-siang?"

"Tentu saja aku tahu, Lo-Cianpwe. Akan tetapi pada waktu ini Hwesio tua itu tidak berada di kelentengnya. Saya mendengar dari teman-teman bahwa dia seringkali berkunjung dan tinggal di tempat lain..."

"Sayang sekali!"

Song-Bun-Kwi membanting kakinya sehingga tanah dalam rumah makan itu tergetar. Kembali laki-laki yang mengaku bernama Teng Cun Le itu tercengang kagum.

"Jauh-jauh kucari iblis bangkotan itu, akan kuajak dia bertanding selama tiga malam, kiranya dia minggat dan kabur! Huh, Thai-Lek-Sin iblis tua bangka, apakah kau sudah menduga akan kunjunganku ke Sini lalu kabur? Sayang...!"

Setelah berkata demikian, Song-Bun-Kwi bangkit dari bangkunya, kemudian tanpa pamit kepada siapa pun juga meninggalkan restoran itu!

Para pelayan berikut para pengurus semua mengantar sambil membungkuk-bungkuk dan mulut mereka berdendang.

"Selamat jalan, pendekar tua yang gagah perkasa!"

Namun Song-Bun-Kwi tidak memperdulikan mereka dan tidak perduli pula bahwa dia tidak membayar makanan, tidak perduli betapa orang-orang memandangnya dengan kagum dan penuh hormat.

Dia terus saja melangkah lebar keluar dari restoran, tidak mau tahu biarpun dapat dia melihat betapa laki-laki yang mengajaknya bicara tadi melemparkan beberapa keping uang perak ke atas meja makan dan betapa para pengurus restoran berusaha menolak pembayaran yang royal ini.

Akan tetapi sebal juga hati Song-Bun-Kwi ketika dia mendapat kenyataan bahwa Teng Cun Le itu mengejarnya sambil berlari-lari cepat!

Setibanya di luar kota pelabuhan itu, Song-Bun-Kwi membalikkan tubuh, tangannya mendorong dan...

Teng Cun Le roboh terjungkal!

Baiknya Song-Bun-Kwi yang berwatak aneh itu biarpun marah masih ingat akan kegagahannya ketika melawan para bajak tadi, maka tidak bermaksud mengambil nyawanya.

Maka dia hanya merasa terdorong oleh tenaga raksasa sehingga orang itu tidak mampu mempertahankan diri lagi dan roboh.

Dengan kaget dan muka pucat Teng Cun Le merangkak bangun karena seketika dia merasa tubuhnya lemas dan kakinya lumpuh.

Tahu-tahu kakek itu sudah berdiri di depannya dengan muka merah.

"Cacing busuk! Kau berani mengikuti dan mengganggu aku?"

Bentak Song-Bun-Kwi. Melihat kemarahan kakek itu, Teng Cun Le tidak jadi berdiri, malah terus saja berlutut dan mengangguk-angguk.

"Mohon berIbu ampun, Lo-Cianpwe. Bukan sekali-kali maksud saya untuk mengikuti atau mengganggu Lo-Cianpwe, hanya saya amat terdorong oleh rasa kagum... dan pula, teringat bahwa Lo-Cianpwe jauh-jauh datang mencari Thai-Lek-Sin Swi Lek Hosiang, agaknya saya dapat menunjukkan di mana adanya Hwesio itu sekarang ini agaknya..."

"Hemm, kenapa tidak dari tadi kau bilang? Kalau tadi-tadi kau bilang, aku takkan curiga padamu dan takkan membikin kau roboh. Orang she Teng, mari tunjukkan aku di mana adanya Hwesio bangkotan itu dan kau boleh ikut dengan aku menonton pertempuran menarik antara aku dan dia,"

Song-Bun-Kwi benar-benar gembira mendengar ada orang bisa mengantar dia kepada Thai-Lek-Sin. Bagus untungnya, baru saja makan lezat sekenyangnya dan sedikit "Berlatih"

Dengan Tengkorak Hitam bajak Jepang, sekarang akan dapat berkelahi sepuasnya melawan seorang tokoh setingkat! Teng Cun Le dengan wajah berseri segera bangkit dan berkata gembira.

"Wah, kalau Lo-Cianpwe hanya hendak mencari lawan tangguh, kiraku kali ini Lo-Cianpwe akan mendapat kepuasan. Menurut pendengaran saya, seringkali Thai-Lek-Sin Swi Lek Hosiang mengunjungi Pek-Tiok-Lim, tempat tinggal sahabatnya."

"Pek-Tiok-Lim (Hutan Bambu Putih)? Di mana itu? Tempat tinggal siapa?"

Song-Bun-Kwi mendesak gembira.

"Heran sekali bahwa Lo-Cianpwe belum mendengar tentang Pek-Tiok-Lim! Di sana adalah tempat tinggal seorang tokoh besar yang tidak kalah terkenalnya kalau dibandingkan dengan Thai-Lek-Sin. Dia itu adalah Sin-Kiam-Eng (Si Pendekar Pedang Sakti), ilmu pedangnya hebat dan anak perempuannya juga bukan main. Pendeknya, kalau Lo-Cianpwe dapat bertanding melawan dia, tentu akan puas betul. Akan tetapi, saya benar-benar merasa ragu-ragu apakah saya akan mampu membawa Lo-Cianpwe ke sana."

"Kenapa?"

Song-Bun-Kwi bertanya penasaran hatinya sudah panas mendengar orang ini memuji-muji majikan dari Pek-Tiok-Lim itu.

"Pek-Tiok-Lim adalah daerah yang penuh deggan rahasia. Jalan-jalannya amat sukar dan kabarnya, orang yang memasukinya berarti mengantar nyawa karena jangan harap akan dapat keluar kembali dengan nyawa masih di badan."

Song-Bun-Kwi tidak menjawab, tangan kanannya bergerak memukul dan kakinya menyapu, serangan ini dia tujukan kepada sebatang pohon besar, sebesar tubuh manusia batangnya dan sekali kena dihajar tangan dan kaki kakek itu, terdengar suara keras dan pohon itu seketika tumbang berikut akar-akarnya terjebol dari tanah.

Dengan suara hiruk-pikuk luar biasa pohon itu roboh dan orang she Teng itu buru-buru melompat jauh karena khawatir tertimpa cabang-cabang pohon itu.

"Ha-ha-hi, apakah pohon-pphon bambu putih itu melebihi pohon ini kuatnya?"

Song-Bun-Kwi tertawa bergelak melihat orang itu ketakutan sampai mukanya pucat dan lidahnya terjulur keluar.

"Hebat... luar biasa... Lo-Cianpwe seperti malaikat...!"

Teng Cun Le memuji, benar-benar baru sekali ini selama hidupnya dia melihat manusia kosen ini. Diam-diam dia merasa girang.

"Saya percaya bahwa Lo-Cianpwe pasti akan sanggup menggempur Pek-Tiok-Lim!"

Teng Cun Le dengan girang lalu mengajak kakek itu berlari cepat menyusuri pantai Timur itu menuju ke Utara.

Pek-Tiok-Lim itu terletak di dekat pantai Laut Po-Hai, dan memang tempat ini sudah bertahun-tahun dijadikan tempat tinggal seorang tokoh ilmu pedang yang terkenal, yaitu murid pertama dari mendiang Raja Pedang Bu-Tek Kiam-Ong Cia Hui Gan.

Nama tokoh ini adalah Tan Beng Kui berjuluk Sin-Kiam-Eng.

Seperti telah disebut di bagian depan dari cerita ini, Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari Ketua Thai-San-Pai, dan bukan lain adalah Ayah daripada si dara lincah Tan Loan Ki yang sudah kita kenal baik itu.

Benarkah Thai-Lek-Sin Swi Lek Hosiang seringkali datang ke Pek-Tiok-Lim?

Kenyataannya tidak demikian dan sebetulnya tanpa disadarinya, Song-Bun-Kwi sitokoh yang ditakuti dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu itu terkena bujukan halus.

Apakah kehendak Teng Cun Le dan mengapa dia melakukan hal ini?

Teng Cun Le sebetulnya adalah seorang mata-mata dari Istana.

Dia adalah seorang di antara banyak kepercayaan Kaisar baru untuk melakukan penyelidikan ke daerah-daerah melihat reaksi para tokoh daerah atas pengangkatan diri Pangeran Kian Bun Ti menjadi Kaisar, menggantikan Kaisar tua yang meninggal dunia.

Teng Cun Le ini mendapat tugas memata-matai daerah pantai Timur.

Tentu saja seorang yang sudah dipercayai tugas seperti ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan hal ini sudah terbukti ketika dia menyaksikan penyerbuan para bajak laut.

Selain berkepandaian silat, juga orang yang diangkat menjadi mata-mata tentu saja orang yang cerdik dan memang Teng Cun Le ini cerdik sekali orangnya.

Beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan seorang dara lincah yang amat menarik perhatiannya.

Dara itu bukan lain adalah Loan Ki.

Melihat seorang gadis muda seorang diri melakukan perjalanan, Teng Cun Le maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian.

Dia menjadi curiga dan diam-diam melakukan pengintaian.

Sama sekali dia tidak menduga bahwa gadis itu benar-benar amat lihai sehingga diam-diam Loan Ki tahu bahwa dirinya diintai orang!

Dasar ia seorang anak yang memiliki watak nakal dan suka mempermainkan orang, maka sengaja gadis ini di dalam kamarnya membuka buntalannya, memamerkan bekal uang dan tiga buah mutiara Ya-Beng-Cu yang mengeluarkan cahaya di dalam gelap!

Ia lakukan ini karena tahu bahwa di luar kamar ada orang itu yang selalu mengintainya selama ini!

Teng Cun Le menjadi terkejut dan girang bukan main melihat tiga butir mutiara ini.

Sebagai seorang kaki tangan Kaisar, tentu saja dia mengenal mutiara itu yang tadinya menjadi penghias Mahkota kuno yang telah hilang.

Memang termasuk tugasnya untuk mencari jejak bekas pembesar Tan Hok karena menurut perintah rahasia yang dia terima, Mahkota itu mengandung rahasia hebat dan harus dirampas kembali ke Istana.

Sekarang dia melihat mutiara-mutiara itu, tentu saja girangnya bukan kepalang.

Kalau ada mutiara itu tentu ada pula Mahkotanya, dan kalau ada Mahkotanya tentu ada pula pengkhianat Tan Hok.

Loan Ki yang nakal itu pura-pura tidak tahu bahwa ia selalu diikuti, malah dengan enak-enakan ia berjalan pulang ke Pek-Tiok-Lim seperti sengaja menunjukkan kepada orang itu di mana ia tinggal.

Melihat betapa dengan berani mati orang itu menguntitnya terus memasuki Pek-Tiok-Lim, diam-diam ia tertawa geli dan sebentar saja ia lenyap di jalan rahasia dalam hutan wilayah Ayahnya itu.

Celakalah Teng Cun Le.

Hampir saja binasa di dalam hutan ini.

Untungnya dia sudah mulai curiga dan sebelumnya sudah mencari keterangan tentang keadaan di situ.

Dia sudah mendengar tentang Pek-Tiok-Lim, tempat kediaman tokoh besar Sin-Kiam-Eng dan puterinya.

Maka melihat keadaan hutan yang penuh bambu putih ini, dia segera sadar dengan tengkuk meremang bahwa yang dia ikuti selama ini adalah puteri Sin-Kiam-Eng.

Inilah yang menolongnya karena dia segera meninggalkan hutan itu dan kabur tanpa berani menoleh lagi.

Demikianlah pengalaman Teng Cun Le.

Hatinya masih merasa penasaran.

Segera dia mengadakan hubungan dengan kurir yang berkuda cepat ke Kota Raja.

Alangkah kagetnya ketika dia mendengar berita bahwa memang Mahkota kuno itu yang tadinya sudah terampas oleh panglima Istana Souw Ki, telah dirampas kembali oleh seorang gadis liar puteri Sin-Kiam-Eng.

Dia girang bercampur bingung.

Girang karena tahu betul bahwa Mahkota itu tentu berada di Pek-Tiok-Lim, namun bingung bagaimana dia dapat merampasnya kembali.

Dia hendak mengirim utusan ke Istana, mengusulkan agar secara resmi Kaisar mengutus rombongan meminta kembali Mahkota itu secara baik-baik dari Sin-Kiam-Eng.

Kalau Kaisar yang minta, sudah tentu akan dikembalikan dan tidak akan terjadi sesuatu kerIbutan.

Andaikata Sin-Kiam-Eng berani menolak, berarti dia memberontak dan boleh saja digempur menggunakan pasukan.

Sambil menanti keputusan, Teng Cun Le iseng-iseng mendatangi kota pelabuhan dan secara tak disengaja bertemu dengan Song-Bun-Kwi.

Dia masih belum dapat menduga siapa adanya kakek yang hebat ini, akan tetapi segera otaknya yang cerdik bekerja ketika mendapat kenyataan betapa kakek sakti ini seperti gatal-gatal tangannya hendak mencari lawan yang setingkat.

Maka dia sekarang hendak mempergunakan kesaktian kakek ini untuk memasuki Pek-Tiok-Lim, menggunakan kesaktian kakek ini untuk merampas kembali Mahkota.

Dengan cara ini, selain lebih cepat juga semua pahala akan terjatuh ke dalam tangannya.

"Heh, keparat! Tua bangka gila dari mana berani merusak bambu peliharaan di Pek-Tiok-Lim...?"

Bentak dua orang penjaga yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata pedang.

Tentu saja mereka ini marah sekali melihat betapa seorang kakek tinggi besar, sambil tertawa-tawa mencabut, menendang, dan melempar-lemparkan bambu-bambu putih di hutan itu begitu mudah seperti seorang mencabuti dan membuang-buang rumput kering saja!

Semenjak Pek-Tiok-Lim dimiliki oleh majikan mereka, jangankan manusia, setan pun kiranya takkan berani merusak tanaman di situ.

Eh, tahu-tahu sekarang ada seorang kakek tua ini seperti seorang gila merusak tanaman dan di belakang kakek itu berdiri seorang laki-laki berpakaian mentereng yang tertawa-tawa juga.

Kakek itu bukan lain adalah Song-Bun-Kwi.

Dia sudah mulai merusak bambu-bambu yang berada di luar hutan, dalam usahanya menyerbu Pek-Tiok-Lim untuk mencari Thai-Lek-Sin, menantangnya dan sekalian menantang pemilik hutan ini, yang menurut orang she Teng itu adalah seorang tokoh besar berjuluk Sin-Kiam-Eng.

Sengaja Song-Bun-Kwi mencari perkara.

Hatinya yang mengkal terbawa dari Min-San belum mencair dan dia harus mendapatkan sesuatu untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya.

Melihat munculnya dua orang penjaga yang memakinya, kakek itu diam saja seperti tak mendengar dan melanjutkan pekerjaannya merusak tanaman di situ.

Tentu saja dua orang penjaga itu marah sekali.

Sambil membentak dan memaki mereka menerjang kakek itu dengan kepalan tangan.

Akan tetapi biarpun tak kompak kakek itu bergerak menangkis atau memukul, tahu-tahu dua orang itu sendirilah yang terjengkang ke belakang dengan kepala benjol-benjol karena terbanting ke atas tanah yang berbatu!

Mereka kaget, heran berbareng marah.

Sambil mengutuk keras mereka mencabut pedang.

"Kakek gila, kau sudah bosan hidup!"

Teriak mereka sambil menerjang, kini dua batang pedang itu menyambar dari kanan kiri.

Namun Song-Bun-Kwi terus saja merobohkan dan mencabuti bambu-bambu putih tanpa memperdulikan sambaran kedua pedang.

Seperti juga tadi, dia tidak tampak bergerak menangkis atau mengelak apalagi memukul, tapi tahu-tahu dua orang itu terjengkang ke kanan kiri dan pedang mereka terlepas dari tangan.

Celakanya kini mereka jatuh menyusup ke tumpukan bambu yang sudah dicabut sehingga pakaian mereka robek semua dan tubuh mereka juga babak-bundas berdarah karena tertusuk batang-batang bambu.

"Ha-ha-ha, anjing-anjing rendah. Apa mata kalian buta berani menyerang Lo-Cianpwe ini? Lebih baik lekas panggil ke sini majikan kalian untuk bicara."

Teng Cun Le menggunakan kesempatan ini untuk memancing keluar Sin-Kiam-Eng.

Dua orang itu merangkak bangun lalu tiba-tiba seorang di antara mereka meniup sebuah terompet kecil yang berbunyi nyaring.

Song-Bun-Kwi terus saja melangkah maju sambil merusak pohon-pohon bambu di kanan kiri.

Teng Cun Le mengikuti jejak langkahnya, sama sekali tidak berani menyeleweng karena tahu bahwa di situ banyak tempat rahasia.

Sebentar saja mereka telah memasuki hutan.

Tiba-tiba terdengar suara keras, tanah yang diinjak Song-Bun-Kwi melesak ke bawah dan tubuh kakek itu tergelincir masuk!

Teng Cun Le menjadi pucat wajahnya.

Baiknya tanah yang melesak ke bawah itu belum diinjaknya dan tepat pinggirnya berada di depan kakinya sehingga dia dapat menyaksikan betapa tubuh kakek tinggi besar itu tergelincir.

Hebat dan ngerinya, dari bawah tanah menyambar puluhan batang bambu runcing seakan-akan dilontarkan ke atas, tentu saja tubuh kakek yang sedang tergelincir itu seperti dihujani bambu runcing dari bawah!

Akan tetapi Song-Bun-Kwi tidak kaget, malah mengeluarkan suara ketawa mengejek.

Kedua kakinya menendang ke kanan kiri, lengan bajunya juga mengebut ke sekeliling tubuhnya dan ketika empat buah bambu runcing yang tepat menyambar di bawah tubuhnya sudah mendekati kaki, Dia malah...

menerima ujung bambu runcing itu dengan kedua kakinya!

Teng Cun Le hampir meramkan mata saking ngerinya karena kalau kakek ini tewas, bukankah berarti dia sendiri juga terancam malapetaka?

Akan tetapi, anehnya, bambu runcing empat buah itu sama sekali tidak menembus kaki si kakek, malah seperti tangan-tangan orang mendorong kakek itu mencelat kembali ke atas dan di lain saat kakek itu sudah melompati sumur besar yang terjadi karena tanah ambles itu!

Dari tepi lain, kakek itu menoleh kepadanya dan memberi isyarat supaya dia melompat.

Teng Cun Le cepat menggunakan Ginkang melompati sumur itu dan bergidiklah dia melihat betapa ujung-ujung bambu runcing itu tampak hitam kehijauan, tanda bahwa ujungnya diberi racun!

Kini makin tebal kepercayaannya akan kelihaian si kakek.

Dia kini dapat menduga bahwa kakek itu tadi telah mempergunakan Ginkang yang luar biasa sekali untuk menerima serangan bambu runcing dan rnempergunakan sebagai landasan untuk melompat ke atas.

Betapa hebatnya!

Menggunakan landasan benda runcing untuk menggenjot tubuh ke atas hanya dapat dilakukan oleh ahli-ahli silat kelas tertinggi.

Diam-diam dia mulai menduga-duga siapa adanya kakek yang sakti ini dan kadang-kadang Teng Cun Le merasa bulu tengkuknya berdiri.

Dia maklum bahwa dia telah memasuki pintu perjalanan yang amat berbahaya.

Belum seratus langkah mereka maju, dari depan dan kanan kiri muncullah belasan orang bersenjata pedang atau Tombak.

Mereka segera mengurung dan seorang di antara mereka membentak.

"Kalian berdua menyerah saja untuk kami bawa menghadap majikan kami."

Teng Cun Le melirik dan melihat betapa orang-orang itu makin banyak saja, juga kini beberapa orang muncul di belakangnya dan sebentar saja mereka dikurung lebih dari tiga puluh orang yang dikepalai oleh empat orang yang kelihatannya gagah dan kuat.

Diam-diam dia bersiap sedia dan meraba gagang goloknya.

Song-Bun-Kwi tertawa bergelak, lalu menoleh kepada Teng Cun Le sambil berkata.

"Kau bilang majikan Pek-Tiok-Lim tokoh yang gagah? Huh, agaknya hanya seorang kaya yang memelihara banyak anjing-anjing pemakan tahi belaka!"

Hebat hinaan ini.

Empat orang penjaga tanpa diperintah pemimpinnya lalu, membentak marah dan mengerjakan Tombak mereka.

Mereka adalah orang pemain Tombak yang kuat karena mereka menerima latihan dari majikan mereka sendiri.

Ujung Tombak-Tombak itu tergetar saking besarnya tenaga yang menggerakkan ketika menusuk ke arah Song-Bun-Kwi dari empat jurusan.

"Tua bangka mau mampus masih amat sombong!"

Bentak seorang di antara mereka.

Melihat cara mereka menerjang dengan Tombak, Teng Cun Le masih berdebar gelisah karena benar-benar kali ini puluhan orang yang mengurung mereka adalah orang-orang yang kuat dan tak boleh dipandang rendah seperti halnya dua orang penyerang pertama tadi.

Melihat getaran ujung Tombak itu dia sendiri merasa sangsi apakah dia akan dapat menangkan empat orang lawan ini sekaligus.

Akan tetapi dengan amat tenang sambil mengeluarkan suara mendengus, Song-Bun-Kwi menggerakkan kedua lengan bajunya.

Hebat kesudahannya.

Terdengar suara pletak-pletak terpatahkannya gagang-gagang Tombak itu mata Tombak itu secara aneh cepat sekali menyambar ke arah tuan masing-masing.

Empat orang itu memekik ngeri dan tak seorang pun di antara mereka yang dapat membebaskan diri dari serangan mata Tombak mereka sendiri itu yang menancap ke dada atau perut mereka sampai tak tampak lagi.

Keempatnya roboh terjengkang, berkelojotan dan sebentar kemudian tak bergerak lagi untuk selamanya.

Hebat akibat sepak terjang kakek ini.

Teng Cun Le sendiri sampai mengkirik ngeri dan memandang dengan mata terbelalak.

Celaka, pikirnya, tidak dinyana sama sekali bahwa kakek ini begini ganas, sekali turun tangan membunuh empat orang.

Maksudnya memancing kakek itu ke Pek-Tiok-Lim sebetulnya hanya hendak dia "Boncengi"

Saja, dan hendak dia pergunakan kepandaian kakek ini untuk memaksa Sin-Kiam-Eng mengembalikan Mahkota kuno.

Siapa kira sekarang kakek itu agaknya hendak berpesta seperti tadi di restoran, kalau tadi berpesta makan minum, sekarang hendak berpesta membunuhi orang.

Kalau begini caranya, kecil harapannya untuk minta kembali Mahkota, karena perkelahian ini akan menjadi permusuhan hebat dan dia mau tidak mau akan terlibat di dalamnya.

Celaka sekali!

Memang benar apa yang dikhawatirkan oleh Cun Le itu.

Para anak buah Sin-Kiam-Eng menjadi kaget dan marah bukan main ketika menyaksikan tewasnya empat orang teman mereka.

Sambil berteriak-teriak mereka lalu menyerbu dan di lain saat terjadilah pertempuran hebat.

Song-Bun-Kwi dikeroyok oleh puluhan orang, dipimpin oleh empat orang gagah itu yang hebat pula ilmu pedangnya.

Akan tetapi, Song-Bun-Kwi melayani meraka sambil tertawa bergelak-gelak seperti Seorang anak kecil mendapat permainan bagus.

Harus diketahui bahwa Song-Bun-Kwi ini dahulu merupakan manusia berwatak iblis yang amat jahat dan kejam di samping perangainya yang aneh, kesukaannya hanya satu, yaitu berkelahi dan mengalahkan orang lain.

Maka tidak aneh kalau sekarang, dalam kemarahannya terhadap cucunya, dia pergi dengan tangan dan hatinya gatal-gatal untuk mencari permusuhan dengan siapa pun juga.

Tentu saja dia kurang gembira kalau bertemu dengan lawan yang rendah tingkat kepandaiannya, dan barulah dia bergembira kalau bertanding melawan jagoan yang setingkat.

Makin kosen lawannya, makin gembiralah hatinya.

Karena sifat yang aneh ini pula maka dia mati-matian mencari Thai-Lek-Sin.

Kasihan sekali para pengeroyok itu.

Mereka seperti serombongan nyamuk menyerang api.

Siapa dekat dengan kakek itu pasti roboh, kalau tidak terus tewas tentu luka-luka.

Siapa yang sudah roboh takkan dapat bangun untuk mengeroyok kembali karena luka yang dideritanya tentu patah tulang!

Sambil dengan enaknya membabati para pengeroyoknya seperti orang membabat rumput, kakek itu berseru berulang kali.

"Panggil si tua bangka Thai-Lek-Sin ke sini, ha-ha-ha, dialah lawanku, panggil dia ke sini...!"

Sementara itu, Teng Cun Le hanya berdiri di belakang Song-Bun-Kwi, siap dengan golok di tangannya tapi dia tidak menggerakkan golok kalau tidak diserang orang.

Akan tetapi para pengeroyok juga tidak ada yang menyerangnya karena melihat betapa orang ini tidak mengamuk seperti kakek itu.

Pada saat anak buah Pek-Tiok-Lim itu kocar-kacir dihajar kedua lengan baju Song-Bun-Kwi yang amat lihat, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang amat cepat dan ringan gerakannya, kemudian segulung sinar pedang menyambar ke arah Song-Bun-Kwi.

"Ha-ha-ha, bagus!"

Kakek itu yang terkejut sedetik, tertawa sambil cepat berjungkir balik ke belakang untuk menghindarkan diri daripada ancaman pedang yang gerakannya amat kuat ini.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 16

Baca Juga: Pendekar Bodoh 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert