Eps 3 Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Buta - Kho Ping Hoo.
Diam-diam dia merasa kasihan kepada nona Bidadari yang suaranya sudah menggores kulit dada menembus kalbunya itu.
Tiba-tiba terdengar olehnya desir angin lembut dan tercium ganda harum semerbak yang amat dikenalnya.
Diam-diam dia kagum.
Nona Bidadari itu sekali menggerakkan tubuh telah berada di depannya!
Dia mendengar sambaran tangan diayun ke arah mukanya.
Otaknya bekerja cepat.
Tentu nona yang bernama Hui Kauw ini marah dan merasa terhina, maka kini mengayun tangan menamparnya.
Hal yang wajar.
Dia hanya mengerahkan tenaga menjaga tulang muka karena maklum akan kelihaian nona Bidadari ini.
Sengaja dia tidak menjaga kulit.
"Plakk!"
Kun Hong merasa betapa pipi kirinya panas-panas, telinganya mendengar bunyi mengiang, lalu Bibirnya merasa sesuatu yang asin, tentu darah keluar dari luka di belakang pipi yang mengalir keluar dari mulutnya, merembet ke pinggir Bibir.
Dia tersenyum, sama sekali tidak merasa sakit hati atau marah karena dia yakin benar bahwa nona itu memukulnya karena merasa terhina.
Penghinaan yang paling berat dan paling besar bagi seorang gadis.
Kun Hong mendengar betapa gadis itu melangkah mundur tiga tindak, lalu terdengar suaranya marah dan menyesal, akan tetapi bagi Kun Hong tetap saja mengandung getaran halus yang mencerminkan budi luhur.
"Orang buta, Thian (Tuhan) telah menciptakan kau menjadi buta. Bukankah itu cukup untuk mengingatkan kau bahwa orang tidak boleh berbuat dosa? Kurang beratkah hukuman yang jatuh kepada dirimu itu sehingga kau tidak segan-segan menambah dosa-dosamu dengan mengucapkan penghinaan terhadap diriku? Apa salahku kepadamu dan mengapa pula kau yang baru sekali ini berjumpa denganku datang-datang melakukan fitnah keji? Kau memiliki kepandaian, biar buta tentu bukan seorang bodoh, jawablah!"
Tiba-tiba Kun Hong tertawa, tertawa bergelak-gelak saking senangnya.
Ucapan nona Bidadari itu betul-betul membuka hatinya untuk menjadi gembira karena merasa amat berbahagia dapat bertemu dengan seorang seperti nona Bidadari ini.
Tak salah dugaannya, tidak keliru dia menjadi seperti tergila-gila.
Memang sesungguhnya nona ini seerang Bidadari yang menjelma di permukaan bumi.
Bukan main indah dan bersihnya ucapan itu.
Kun Hong mendongak ke atas dan tertawa terbahak-bahak, hal yang baru kali ini dia rasakan dan lakukan semenjak dia menjadi buta, kemudian dia ingat bahwa mungkin sekali sikapnya ini menambah perih hati nona Bidadari itu, maka dia segera menahan diri menghentikan tawanya, lalu menjura ke depan mengangkat kedua tangan ke arah dada sebagai penghormatan seorang terpelajar, kemudian katanya.
"Nona, maafkan kelakuanku tadi, Ucapanmu benar-benar menggugah kegembiraan hatiku dan menyadarkanku bahwa di dunia ternyata masih ada seorang yang bijaksana seperti Nona. Tamparanmu kuterima dengan senang hati, Nona, karena sesungguhnya, fitnah keji itu jauh lebih menyakitkan hatimu daripada rasa nyeri pada mukaku. Kemarahanmu tidak berlebihan, malah andaikata betul fitnah keji tadi, aku rela dan patut dihukum mati."
Kun Hong lalu tersenyum dan menyambung.
"Tentu Nona tahu akan pendapat para arif bijaksana jaman dahulu bahwa khianat dan fitnah hanya datang dari orang-orang yang dekat. Aku sama sekali tidak mengenal Nona, bagaimana dapat melakukan fitnah?"
Agaknya ucapan ini mempunyai pengaruh besar, mengingatkan Hui Kauw akan kelancangannya menjatuhkan marah kepada seorang asing tanpa menyelidik lebih dahulu.
Ia segera berkata kepada nona galak tadi, suaranya mengandung sesalan besar.
"Adik Hui Siang, kulihat sahabat buta ini bicara keluar dari hati tulus, bagaimana mungkin dia mengeluarkan fitnah keji seperti yang kau nyatakan tadi?"
"Enci Hui Kauw, kau malah membela dia? Uh, benar-benar aneh kalau kau malah membenarkan dia menyalahkan aku. Itu buktinya dia membawa saputanganmu, dari mana dia dapatkan itu?"
Kata-kata ini mengandung sindiran tajam, seakan-akan gadis cilik yang galak itu berbalik menyerang Hui Kauw dengan tuduhan yang bukan-bukan.
Wajah Hui Kauw merah, akan tetapi dengan tenang ia menjawab.
"Tadi aku berlatih seorang diri di sini dan saputangan itu kugunakan untuk menghapus keringat, kemudian aku pergi dan saputangan itu tertinggal di sini. Boleh jadi dia lalu datang dan menemukan Saputanganku di atas meja, apanya yang aneh dalam hal ini?"
"Tentu saja aneh. Aneh sekali! Bukankah aneh kalau kukatakan kepadamu bahwa tadi aku melihat dia menciumi saputanganmu sambil menangis? Hi-hik, bukankah aneh kelakuannya itu, Enci yang baik? Dia mengaku pacarmu, dan melihat saputangan itu... diciuminya... hemmm, hampir tadi aku percaya akan pengakuannya."
"Bohong! Bocah bermulut keji, kau bohong mengeluarkan ucapan fitnah kepada encimu sendiri. Kiranya kau perlu dihajar oleh orang tuamu!"
Kun Hong berteriak marah.
"Jembel buta, berani kau kurang ajar kepadaku?"
Hui Siang menyerbu dan memukul kepala Kun Hong.
Akan tetapi hanya dengan gerakan mudah saja Kun Hong membuat pukulan itu mengenai angin.
Beberapa kali Hui Siang memukul, namun tak pernah mengenai sasaran.
"Hui Siang, jangan sembarangan menerjang orang tanpa diketahui dosanya lebih dulu. Aku sudah lancang tangan tadi, jangan kau memperbesar keonaran!"
Hui Kauw yang melihat penuh kekagetan betapa gerakan pemuda buta itu aneh dan luar biasa sekali.
Diam-diam iapun terheran-heran mengapa tadi ketika ia yang menampar, sekali tampar saja mengenai pipi si buta dan malah sampai ada darah mengalir dari Bibir orang buta itu.
Akan tetapi sekarang Hui Siang yang menyerang dengan sungguh-sungguh, dengan pukulan yang akan dapat menewaskan orang itu, dengan amat mudahnya dielakkan oleh si buta!
Hui Siang membanting-banting kakinya dengan gemas dan mendongkol.
"Lagi-lagi kau membelanya, enci Hui Kauw. Bagus! Hal ini harus kulaporkan kepada Ibu, biar Ibu datang mengadili perkara ini dan membunuh mampus jembel buta busuk yang kurang ajar ini. A Man, hayo semua ikut aku melapor kepada Ibu, kalian berlima menjadi saksi!"
Maka pergilah gadis galak itu diikuti oleh lima orang pelayan yang terhadap gadis ini amat penurut dan takut, bahkan menjilat-jilat sikap mereka.
Kun Hong mendengar langkah mereka cepat-cepat meninggalkan tempat itu, dan dia hanya menundukkan kepala, gelisah memikirkan nona Bidadari yang masih berdiri di depannya tanpa bergerak seperti patung.
Hening sejenak.
Nona itu tidak bergerak, juga tidak bicara, demikian pula Kun Hong.
Terdengar oleh pemuda ini betapa nona itu beberapa kali menarik napas panjang, Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu betapa nona itu menatap wajahnya dan memandangnya penuh perhatian dan penuh selidik dari kepala sampai ke pakaiannya yang kotor berlumpur serta sepatunya yang sudah bolong-bolong.
Helaan napas panjang itu terdengar menusuk perasaan Kun Hong.
Seakan-akan nona ini berduka dan kedukaan itu timbul karena dia, karena perbuatannya tanpa dia sadari tadi.
Mengapa dia tadi begitu bodoh sehingga tidak mendengar kedatangan Hui Siang, gadis galak itu?
Mengapa dia begitu lemah, menurutkan getaran hati sehingga dia berlaku seperti orang gila, menangis dan menciumi saputangan seorang nona yang asing baginya?
Dengan hati berdebar dia merogoh saku, mengeluarkan saputangan Sutera yang harum itu melangkah setindak ke depan dan dengan tangan gemetar dia mengangsurkan saputangan itu kepada pemiliknya sambil berkata lirih.
"ini, saputanganmu, Nona... maafkan aku... telah menimbulkan hal tidak enak bagimu..."
Hui Kauw menerima saputangan itu tanpa berkata apa-apa, menyimpannya dan kembali ia menghela napas. Kemudian terdengar ia berkata, lirih dan seperti bicara kepada diri sendiri.
"Malang tak boleh ditolak, mujur tak boleh diraih. Hidup memang derita, banyak duka daripada suka, sepanjang hidup pahit dan hampa, manis suka hanya sekejap mata"
Kun Hong tetap tunduk, kerut merut di antara matanya amat dalam, membuat dia nampak lebih tua.
Hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum rasanya.
Dia seakan-akan dapat merasakan derita batin yang ditanggung nona muda ini.
Semuda itu, sedemikian nelangsanya.
Ingin dia menghIbur, ingin dia menyanjung, namun tak kuasa membuka mulut.
Untuk menghalau tindihan berat pada perasaannya, Kun Hong mengeluarkan suara keluhan dibarengi helaan napas berat dan panjang.
Agaknya suara ini menyadarkan Hui Kauw.
"Sahabat buta, pulau ini adalah tempat terlarang bagi orang luar untuk masuk tanpa seijin Ibu. Kenapa kau masuk ke sini dan membuat kerIbutan? Apa kehendakmu sebetulnya?"
Kun Hong dapat menangkap perasaan di balik kata-kata ini yang merupakan teguran dah penyesalan karena perbuatan itu hanya akan menimbulkan kesulitan baginya sendiri.
Nona yang bersuara dan berwatak Bidadari ini tidak menaruh sesal bahwa perbuatannya itu akan menjerumuskan si nona dalam kesulitan.
Kembali dia menarik napas dan menjadi makin kagum.
"Sesungguhnya, tiada seujung rambutpun maksud hatiku membuat keonaran, Nona. Aku dan nona Loan Ki berani mengunjungi pulau ini dengan maksud untuk minta maaf kepada, penghuni Pulau Ching-Coa-To ini atas kelancangan dan kenakalan nona Loan Ki yang telah merampas makanan dan minurnan. Siapa kira perbuatan ini akan berakibat panjang..."
Dengan singkat dia lalu menuturkan tentang kenakalan (lanjut ke
Jilid 07) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 Loan Ki mencuri makanan, kemudian penyerangan koki dan jagal, lalu keputusan mereka untuk datang ke pulau minta maaf.
Memang inilah sebetulnya isi hatinya dan tentu saja dia tidak menceritakan maksud hati si nakal Loan Ki yang ingin melihat nenek koki itu ditenggelamkan ke dalam air dan si jagal dipukuli kepalanya!
Mendengar penuturan ini, Hui Kauw tersenyum, lalu menghela napas.
"Alangkah senangnya dapat hidup bebas merdeka seperti nona cilik itu! Alangkah gembiranya sekali waktu dapat menurutkan dorongan darah muda yang selalu penuh oleh petualangan, dapat meliar dan melakukan yang tidak berlebihan. Apamukah nona Loan Ki itu?"
"Bukan apa-apa, hanya bertemu di jalan. Kami baru sehari dua berkenalan, dan ia seorang gadis berjiwa pendekar."
"Ah, baru bertemu sudah menaruh belas kasihan bagi seorang buta, suka mencarikan makanan biarpun dengan jalan merampas. Ia seorang anak yang liar dan nakal, akan tetapi berdasarkan prIbudi yang mengandung welas asih. Ia tentu bukan orang jahat."
Kembali Kun Hong menjadi kagum mendengar ini. Bukan main! Suaranya sehalus suara Bidadari, ucapan-ucapannya bijaksana seperti seorang ahli filsafat. Kekagumannya membuat dia lancang berkata.
"Kau bijaksana dan berbudi mulia, Nona. Alangkah jauh bedanya dengan adikmu, seperti bumi dan langit..."
Hui Kauw tersenyum, ini dapat dirasai oleh Kun Hong, akan tetapi dia tak dapat melihat betapa senyum itu adalah senyum yang pahit.
"Tentu saja jauh bedanya seperti bumi dan langit. Adikku Hui Siang adalah seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya, sedangkan aku... aku seorang buruk rupa..."
"Nona, biarpun aku seorang buta, kau tidak mungkin dapat mengelabuhi aku. Kau serIbu kali lebih cantik jelita daripada adikmu..."
Kembali ucapan ini terlontar keluar dari mulutnya tanpa pengendalian, namun Kun Hong setelah sadar tidak menyesal karena memang ingin dia memuji nona ini.
"Pandangan seorang buta... ah, andaikata kedua matamu dapat melihat, mungkin berbeda ucapanmu... ah, alangkah besar inginku melihat kau tidak buta untuk sebentar saja sehingga aku dapat mendengarkan pendapatmu lagi..."
Nona itu menarik napas panjang lagi dan kali ini Kun Hong mendengarkan penyesalan dan kekecewaan yang besar.
"Sahabat buta, siapakah namamu?"
"Aku Kwa Kun Hong, nama yang tidak ada artinya bagi seorang seperti Nona."
"Hemm, kau pandai merendah. Kulihat tadi ilmu kepandaianmu amat tinggi, aku sendiri belum tentu dapat melawanmu. Heran aku bagaimana seorang seperti kau ini bisa buta... dan adikku tadi bilang bahwa ia melihat kau... eh, menangis dan menciumi saputanganku. Betulkah itu?"
Jantung Kun Hong berdebar.
Bagaimana dia harus menjawab?
Dia tidak akan berkeberatan untuk berbohong kalau saja itu tidak akan merugikan siapapun juga.
Akan tetapi kalau kali ini dia membohong, berarti dia seperti melontarkan fitnah kepada Hui Siang gadis galak itu.
Dengan muka berubah merah dia mengangguk tanpa menjawab.
Hening lagi sejenak.
"Kalau begitu... ucapan adikku tadi benar semua, bahwa... bahwa kau mengatakan aku ini pacarmu?"
"Tidak...! Sungguh mati dan demi Tuhan tidak! Memang aku tadi lupa diri... dengar baik-baik Nona. Tadi aku telah berada di sini ketika kau bercakap-cakap dengan Ibumu, aku mendengarnya semua. Aku mendengar pula kau berlatih ilmu pedang, dan mendengar kau bersajak. Aku kagum sekali, aku kasihan kepadamu. Kemudian kau pergi... dan seperti dalam mimpi aku melangkah ke sini, menemukan saputangan itu di atas meja... dan aku... ah, mungkin aku sudah gila... aku teringat akan seorang yang telah tiada di dunia ini, aku terharu... dan mungkin aku menangis sambil menciumi saputangan itu. Kau maafkan aku, Nona, dan semoga Thian menghukumku kalau aku mengandung maksud tidak senonoh terhadap dirimu, maafkan aku."
Hening lagi sejenak.
"Lagi-lagi korban hidup, dalam hal ini agaknya... asmara yang menyeretmu. Kau seorang terpelajar pandai dan berilmu tinggi, sampai menjadi begini tentu akibat penderitaan batin. Hemm, saudara Kwa, silahkan duduk."
"Terima kasih, Nona. Tak berani aku mengganggu lebih lama lagi dan kalau kau suka aku mohon pertolonganmu agar supaya sahabatku Loan Ki itu dapat terbebas daripada bahaya. Aku masih belum tahu bagaimana keadaan dan nasibnya."
Pada saat itu terdengar suara gaduh dan banyak orang memasuki taman itu.
Kun Hong miringkan kepala dan tahulah dia bahwa orang-orang yang memasuki taman kali ini bukanlah para pelayan, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Tiba-tiba terdengar suara nyaring yang membuat Kun Hong menjadi kaget, girang dan juga heran karena suara itu adalah suara Loan Ki yang datang-datang menegurnya.
"Heii, Hong-Ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona muka hitam ini? Kau benar-benar mata keranjang tapi kali ini kau salah pilih!"
Terdengar suara ketawa geli menyambut teguran Loan Ki ini.
Agaknya yang membuat orang tertawa adalah sebutan mata keranjang, sebutan yang lucu dan aneh bagi seorang yang tidak bermata!
Akan tetapi Kun Hong sama sekali tidak memperhatikan atau memperdulikan ini karena hatinya diliputi keheranan bagaimana Loan Ki bisa datang bersama-sama orang-orang itu dan siapa adanya mereka?
Tentu saja dia sama sekali tidak tahu bahwa kedatangan Loan Ki tidak sewajarnya karena gadis ini kedua tangannya ditelikung ke belakang dan diikat dengan sehelai tali panjang yang dipegangi ujungnya oleh seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang tertawa-tawa.
Pembaca tentu heran pula bagaimana Loan Ki si dara lincah itu bisa tiba-tiba muncul dan menjadi tawanan?
Baiklah kita ikuti pengalamannya dan sebelum itu lebih baik kita berkenalan lebih dulu dengan penghuni Pulau Ching-Coa-To dan para tamunya yang sekarang menggiring Loan Ki memasuki taman.
Pemilik Ching-Coa-To adalah seorang wanita setengah tua yang terkenal dengan sebutan Ching Toa-Nio.
Nama ini hanya sebutan saja, mungkin sengaja ia pakai untuk disesuaikan dengan nama pulaunya dan memang nyonya ini selalu berpakaian hijau (Ching).
Biarpun usianya sudah hampir lima puluh tahun, namun jelas kelihatan bahwa dahulunya Ching Toa-Nio adalah seorang wanita yang cantik manis.
Memang demikianlah, dahulu ketika ia masih bernama Liu Bwee Lan, wajahnya cantik, bentuk tubuhnya menarik dan ilmu silatnya juga tinggi.
Sayang bahwa anak yang cantik dan cerdik ini semenjak kecilnya tidak mendapat pendidikan yang baik karena memang ia hidup di lingkungan keluarga penjahat.
Ayah bundanya merupakan perampok yang terkenal dan semenjak kecil telah tertanam Bibit kejahatan dalam batin Liu Bwee Lan.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika ia berusia dua puluh tahun lebih dan sudah menjadi seorang nona dewasa yang cantik dan garang, Liu Bwee Lan berdikari dan menjadi perampok tunggal.
Pada suatu hari ia melakukan perampokan di Kota Raja, suatu perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh seorang penjahat yang berkepandaian tinggi karena amatlah berbahaya melakukan perampokan di Kota Raja di mana banyak terdapat jagoan-jagoan pandai.
Liu Bwee Lan ini dengan nekat dapat merampok rumah gedung keluarga Hartawan, malah karena amat tertarik melihat seorang anak kecil berusia setahun kurang lebih, ia membawa atau menculik bayi ini pula!
Akan tetapi hampir saja ia celaka ketika beberapa orang penjaga keamanan kota yang berilmu tinggi mengejar dan mengepungnya.
Baiknya pada saat itu muncul seorang tokoh kang-ouw yang namanya amat terkenal, seorang tokoh muda yang berwajah tampan dan berwatak seperti iblis, yaitu bukan lain adalah Siauw-Coa-Ong Giam Kin (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas).
Karena dasar kedua orang muda ini memang sama, keduanya adalah golongan hitam, pertemuan yang didahului dengan pertolongan Giam Kin yang menyelamatkannya, disambung dengan jalinan cinta kasih dan terjadilah hubungan gelap antara kedua orang ini.
Giam Kin amat mencinta Liu Bwee Lan dan sebaliknya, biarpun Liu Bwee Lan sadar setelah terlambat bahwa ia hanya dijadikan barang permainan tokoh itu, namun ia dengan cerdik mengeduk keuntungan sebanyaknya daripada hubungannya dengan Giam Kin.
Ia minta diberi pelajaran silat dan mengeduk semua kepandaian suami tak sah ini, malah mewarisi pula ilmu memelihara dan menguasai ular-ular berbisa.
Dalam kemanjaannya karena Giam Kin sedang tergila-gila kepadanya, Liu Bwee Lan malah berhasil dengan permintaannya yang gila-gilaan, yaitu minta dibuatkan tempat tinggal dengan memiliki sebuah pulau yang penuh rahasia dan penuh pula dengan ular-ular hijau berbisa!
Demikianlah, sampai Giam Kin menjadi seorang bercacat (baca Rajawali Emas) kemudian tewas di puncak Thai-San, Liu Bwee Lan menjadi pemilik Pula Ching-Coa-To dan berganti nama Ching Toa-Nio.
Hubungannya dengan Giam Kin itu menghasilkan seorang anak perempuan.
Dengan demikian ia mempunyai dua orang anak perempuan, yang pertama adalah anak yang ia culik dari rumah keluarga Hartawan di Kota Raja dan yang ia beri nama Hui Kauw, sedangkan anaknya sendiri ia beri nama Hui Siang.
Untuk nama keturunan, ia memakai she Giam untuk kedua anaknya itu.
Sudah tentu saja orang berwatak seperti Ching Toa-Nio ini, kasih sayangnya yang sesungguhnya hanya terjatuh pada anak kandungnya, Hui Siang.
Adapun kasih sayangnya kepada Hui Kauw hanya pulasan atau palsu belaka dan seberapa dapat ia akan mempergunakan anak pungut ini demi keuntungan diri sendiri.
Malah ketika Hui Kauw baru belasan tahun usianya dan Giam Kin belum tewas, ia selalu dikejar-kejar dan diancam oleh kekejian Giam Kin yang hendak menjadikan anak pungut yang amat cantik jelita ini menjadi korban keganasannya.
Baiknya ada Ching Toa-Nio yang karena cemburu, selalu menghalangi maksud ini.
Malah kemudian karena dorongan iri hati terhadap kecantikan anak pungut yang melebihi anak sendiri, atau mungkin juga karena cemburu melihat suami tidak sah itu tergila-gila, Ching Toa-Nio melakukan perbuatan yang amat keji, yaitu malam-malam ia menggunakan bedak berbisa melabur muka Hui Kauw yang telah dipulaskan dengan obat tidur.
Dapat dibayangkan betapa hancur hati gadis cilik itu ketika pada keesokan harinya di waktu bangun tidur, ia merasa mukanya sakit-sakit, gatal-gatal dan perih dan kemudian setelah sembuh, muka yang semula putih kemerahan dan halus sepprti Sutera itu telah berubah menjadi hitam seperti pantat kuali!
Dalam hal ilmu silat, Ching Toa-Nio menurunkan kepandaiannya kepada dua orang anak perempuan itu tanpa perbedaan, karena memang ia ingin melihat Hui Kauw menjadi pandai pula agar dapat dipergunakan tenaganya.
Dan memang tidak aneh kalau Hui Kauw menjadi lebih maju dalam segala macam kepandaian dibandingkan dengan Hui Siang karena otaknya memang lebih cerdik.
Karena tekunnya Ching Toa-Nio mengajar, kepandaian dua orang gadis itu tidak banyak selisihnya dengan si Ibu sendiri.
Akan tetapi, tentu saja di luar dugaan Hui Siang dan Ibunya bahwa secara rahasia, Hui Kauw telah mempelajari ilmu silat sakti yang ia dapat baca dari sebuah kitab kuno, kitab yang ia temukan di antara kitab-kitab hasil rampasan Ibunya dahulu ketika menjadi perampok ganas.
Ibunya sendiri tidak suka akan bacaan, malah tidak mempelajari kesuSasteraan sampai mendalam.
Berbeda dengan Hui Kauw yang mempelajari dengan amat tekun, malah di waktu kecil ia merengek-rengek minta kepada Ibunya untuk mendatangkan guru Sastera yang pandai dan hal ini pun dipenuhi oleh Ibunya yang memaksa datang seorang guru Sastera terkenal untuk melatih Sastera kepada Hui Kauw.
Inilah keuntungan Hui Kauw dan agaknya karena gadis ini pun merasa betapa ia dibedakan, diam-diam ia merahasiakan ilmu silat sakti yang ia pelajari secara diam-diam dari kitab kuno itu.
Demikianlah sedikit keterangan tentang keadaan para penghuni Ching-Coa-To, yaitu Ching Toa-Nio dan dua orang gadisnya.
Tentu saja di samping tiga orang majikan ini, di situ terdapat banyak pembantu dan pelayan, karena Ching Toa-Nio memiliki harta benda yang amat banyak, simpanan dari hasil rampokan dahulu ditambah pemberian Giam Kin ketika masih tergila-gila kepadanya, Sekarang kita ikuti pengalaman Loan Ki.
Seperti telah kita ketahui di bagian depan, gadis lincah ini terjerumus ke dalam jurang ketika ia sedang mencari jalan menuruni lembah curam dan pinggir jurang yang diinjaknya longsor.
Padahal tanah longsor ini bukan merupakan hal kebetulan.
Memang semua tempat di dalam pulau itu telah dipasangi alat-alat jebakan dan rahasia sehingga tempat ini merupakan tempat yang sukar dan berbahaya bagi orang-orang luar yang akan mengganggu.
Tempat ini merupakan hasil daripada pemikiran orang-orang luar biasa, yaitu Giam Kin sendiri, Ching Toa-Nio dan dibantu oleh orang-orang pandai seperti guru Giam Kin yang berjuluk Siauw-Ong-Kwi, Pak-Thian Lo-Cu dan lain-lain.
Loan Ki menjerit minta tolong ketika tiba-tiba tanah yang diinjaknya runtuh dan tubuhnya melayang cepat ke bawah.
Ia berusaha mempergunakan Ginkangnya untuk mengatur tubuh dan tangannya meraih ke sana ke mari, namun percuma.
Batu atau tanaman yang dapat dicengkeramnya terlepas dari dinding karang dan ia terus melayang ke bawah dengan amat cepatnya!
"Byurrr!"
Air muncrat tinggi ketika tubuh gadis itu menimpa permukaan air yang membiru saking dalamnya.
Untuk sedetik Loan Ki gelagapan, kepalanya masih pening karena kejatuhannya dari tempat sedemikian tingginya ditambah kengerian hati karena tidak mengira bahwa di bawahnya adalah air.
Andaikata ia tahu bahwa ia akan terjatuh ke dalam air, kiranya ia takkan gelisah tadi ketika jatuh.
Air merupakan tempat ia berkecimpung semenjak kecil.
Ayahnya tinggal di pantai dan laut merupakan tempat ia bermain, ombak merupakan kawan ia bermain-main.
Begitu tubuhnya tenggelam saking kerasnya ia jatuh dan ia menutup mulut dan hidungnya, kesadaran kembali ke dalam pikiran Loan Ki.
Cepat tangan kakinya bergerak secara otomatis dan tubuhnya yang ramping itu meluncur naik seperti seekor ikan hiu.
Akan tetapi begitu kepalanya muncul di permukaan air, Loan Ki melihat enam orang laki-laki di tepi air, dipimpin oleh seorang nenek yang ia kenal sebagai koki yang kemarin menyerangnya!
Nenek itu tadinya memandang dengan mata terbelalak, agaknya kaget dan heran sekali betapa ada seorang manusia jatuh dari angkasa, akan tetapi segera tersenyum lebar ketika mengenal muka Loan Ki.
Ia menudingkan telunjuknya dan berteriak kepada orang-orang yang berada di situ.
"Nah, itu dia iblis betina yang kita cari-cari! Heh-heh-heh, mencari ganti ikan untuk Siocia, kini mendapat ganti begini besarnya. Heh-heh, lucu... lucu... tangkap ia dan sebelum diseret ke depan Toa-Nio, biar ia merasakan beberapa pukulan tanganku di tubuh belakangnya biar kapok anak setan ini!"
Loan Ki melihat enam orang laki-laki seperti berlomba melempar diri ke dalam air, sinar mata mereka kurang ajar, agaknya perintah itu amat menyenangkan hati mereka dan setelah tiba di air, mereka berenang cepat-cepat ke arahnya sambil tertawa-tawa.
Tadi Loan Ki sengaja beraksi seperti tidak pandai berenang, malah sekarang ia sengaja seperti orang ketakutan dan tenggelam perlahan-lahan.
"Heiii, tunggu, aku akan tolong padamu, Nona manis!"
Teriak seorang laki-laki yang berenang cepat.
"Sam-Ko, biarkan aku yang pondong ia!"
Orang ke dua memburu sambil tertawa-tawa.
"Hayo, kita berlomba, siapa yang dapat menjamahnya lebih dulu dialah yang berhak mendapat upah, memondongnya ke tepi!"
Kata orang ke tiga dan ramailah mereka berlomba dan mulai menyelam.
Akan tetapi sama sekali tak pernah mereka membayangkan bahwa kali ini mereka benar-benar akan menghadapi seorang "iblis air".
Begitu mereka menyelam dan meluncur ke sana ke mari untuk menangkap gadis yang "Tenggelam"
Tadi, di depan mata mereka meluncur bayangan seperti ikan hiu, demikian cepatnya bayangan ini meluncur lewat.
Kagetlah mereka, mengira bahwa ada ikan besar yang amat berbahaya.
Mereka mulai hendak timbul kembali ke permukaan air menjauhi bahaya ketika "ikan besar"
Itu menyerang mereka.
Kalau saja kejadian itu berada di darat, tentu akan terdengar rIbut-rIbut mereka mengaduh-aduh.
Akan tetapi karena terjadinya di dalam air, hanya si nenek koki itu saja yang melihat betapa permukaan air bergelombang seakan-akan di bawahnya terjadi pergumulan hebat.
Dan tak lama kemudian, tampaklah enam orang pembantunya tersembul ke luar kepala mereka, lalu berenang ke pinggir secepat mungkin sambil berteriak-teriak kesakitan.
Nenek itu sIbuk membantu mereka, menyeret mereka yang datang lebih dulu ke darat karena mereka sendiri agaknya sudah tidak kuat untuk naik sendiri.
Bukan main keheranan nenek itu ketika melihat betapa setiap orang pembantunya tentu patah tulang lengan, pundak, atau kakinya dan bermacam-macam ikan menggigit mereka.
Ada yang digigit udang besar telinganya, ada yang pantatnya dicapit kepiting besar yang masih bergantungan, ada yang pahanya ditusuk ikan cucut, malah seorang di antara mereka hidungnya masih dicapit seekor udang yang macamnya menakutkan!
"Eh-eh-eh, kalian ini kenapakah?
Kenapa begini...?"
"Celaka... anak iblis itu... agaknya ia anak siluman telaga... ikan-ikan mengeroyok kami... waduh, celaka...!"
Seorang di antara mereka menyumpah-nyumpah sambil melepaskan kepiting yang mencapit pantatnya lalu dibanting sampai hancur berkeping-keping.
Nenek itu marah-marah kepada para pembantunya, memaki-maki mereka goblok, tolol, penakut dan lain-lain, lalu menyumpah-nyumpah.
Pada saat itu, tanpa di ketahui, di pinggir tepi muncul kepala Loan Ki dan tangan gadis itu bergerak cepat sekali.
Sebuah benda melayang dan tepat sekali menghantam muka nenek itu.
Merasa ada sesuatu memasuki mulutnya yang sedang memaki, nenek itu cepat menutup mulut menggunakan gigi menggigit.
Bau amis memuakkannya dan cepat ia membetot ke luar benda yang lunak-lunak alot dari dalam mulutnya.
Apakah benda itu?
Kiranya seekor haisom (lintah laut) yang masih hidup, sebesar lengan tangan, menggeliat-geliat kehitam-hitaman.
Nenek itu mengeluarkan keluhan panjang dan terguling roboh, pingsan saking ngeri dari jijiknya!
Sudah tentu saja semua itu adalah perbuatan Loan Ki dan sekarang gadis yang nakal ini telah mendarat agak jauh dari tempat itu.
Pakaiannya basah kuyup, akan tetapi ia selamat, tidak terluka dan buntalan pakaian berikut Mahkota kuno itu masih berada padanya.
Sambil memeras pakaian dan rambutnya, ia mengenangkan semua kejadian tadi dan tertawa-tawa seorang diri dengan hati puas.
Kalau saja ia tidak ingat kepada Kun Hong sahabat baru buta yang anti pembunuhan, agaknya tadi ia akan membunuh semua orang itu.
Entah bagaimana, ketika mempermainkan enam orang laki-laki di dalam air tadi, ia teringat kepada Kun Hong dan tak berani melakukan pembunuhan, takut kalau kelak ditegur oleh pemuda buta itu!
Hatinya girang bukan main karena sekarang ia telah sampai di tepi teiaga.
Kalau ada perahu, ia akan dapat menyeberang ke darat.
Akan tetapi bagaimana ia dapat meninggalkan Kun Hong begitu saja?
Orang buta itu datang ke pulau ini karena desakannya dan sekarang ia tidak tahu di mana adanya Kun Hong.
Aku harus mencari dia dan mengajaknya ke luar dari tempat berbahaya ini, pikirnya!
Ia mendongak memandang tebing yang tinggi, akan tetapi tidak melihat bayangan pemuda buta itu.
Di depannya adalah sebuah hutan yang penuh pohon-pohon buah.
Girang hatinya melihat beberapa pohon penuh dcngan buah yang sudah matang.
Segera ia meloncat memetik buah lalu makan sekenyangnya sambil duduk di atas cabang pohon yang tinggi, tiba-tiba telinganya mendengar suara terbawa angin.
Cepat ia menengok dan dilihatnya dua orang laki-laki berjalan sambil bercakap-cakap.
Mereka ini berjalan di belakang seorang wanita berpakaian pelayan yang agaknya menjadi petunjuk jalan.
Seorang di antara mereka adalah seorang kakek tinggi besar berpakaian Pendeta berwarna kuning dan kepalanya gundul, membawa sebatang tongkat Hwesio yang berat.
Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bertubuh kekar tinggi besar bermuka kehitaman bermata lebar, pakaiannya mewah sekali dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang dengan sarung pedang terukir indah.
Gerak-gerik dua orang ini jelas membayangkan kekuatan besar dan berkepandaian tinggi.
Akan tetapi Loan Ki tidak gentar.
Malah gadis ini menjadi girang sekali.
Ia maklum bahwa pulau ini mengandung banyak rahasia, sukar baginya untuk dapat mencari Kun Hong.
Akan tetapi dengan adanya tiga orang di depan itu, ia akan dapat mengikuti mereka memasuki pulau tanpa khawatir akan terjebak dalam perangkap.
Cepat ia merosot turun, hati-hati dan tidak menimbulkan suara karena ia pun tahu bahwa dua orang laki-laki itu tak boleh dipandang ringan, kemudian menyelinap di antara pepohonan mengikuti tiga orang itu dengan hati-hati.
Karena ia tidak berani mengikuti sampai dekat, ia tak dapat mendengar jelas apa isi percakapan dua orang itu.
Dengan melalui jalan yang berbelit-belit dan yang tak mungkin akan dapat ditemukan sendiri oleh Loan Ki, orang-orang itu akhirnya memasuki sebuah bangunan kecil yang bentuknya mungil dan bercat merah seluruhnya.
Pelayan yang menjadi petunjuk jalan itu dengan senyum ramah mempersilakan dua orang ini memasuki bangunan itu dan mereka bertiga menghilang di balik pintu.
Loan Ki menanti sampai beberapa lama.
Setelah mendapat kenyataan bahwa keadaan di situ sunyi dan tidak ada orang yang keluar dari rumah itu, tidak ada pula tampak penjaga, ia lalu berindap-indap mendekati bangunan, mengambil jalan memutar dan akhirnya ia dapat bersembunyi di balik jendela dan dapat mengintai dan mendengarkan percakapan di dalam.
Kiranya bangunan itu hanya mempunyai sebuah ruangan yang berbentuk bundar, ruangan yang bersih dihias kembang-kembang yang hidup yang sengaja ditanam di situ.
Sedikitnya ada lima belas kursi yang terukir indah dipasang mengitari sebuah meja yang besar dan berukir dan pula, disulami Sutera tebal berwarna kuning emas.
Pada dinding ruangan itu terhias lukisan-lukisan kuno yang amat mahal dan indah serta tulisan-tulisan bermacam gaya, kesemuanya membayangkan kemewahan tempat kediaman orang kaya.
Akan tetapi semua kemewahan itu tidak menarik perhatian Loan Ki.
Tempat tinggal Ayahnya tidak kalah mewahnya dengan tempat ini.
Yang menarik perhatiannya adalah orang-orang yang duduk di situ.
Ia melihat betapa di samping dua laki-laki yang baru datang ini, di situ sudah duduk empat orang.
Seorang di antaranya adalah laki-laki berusia empat puluh tahunan, tubuhnya kecil kurus seperti cecak kering, kumisnya seperti kumis tikus dan kopiahnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang Bangsa Mancu.
Yang tiga orang adalah wanita-wanita yang berpakaian serba merah berkembang perawakannya ramping menarik, kulitnya kehitaman namun manis, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, Dari senyum dan lirikan mata mereka menyambut kedatangan dua orang ini, dapat diduga bahwa mereka adalah golongan orang-orang "Besar"
Dalam arti kata berpengaruh di dunia kangouw sehingga sikap mereka tidak malu-malu, malah membayangkan sifat sombong.
Berbeda dengan sikap tiga orang wanita yang dengan tenang tersenyum-senyum duduk di tempatnya ini, si kurus berkumis tikus cepat bangkit berdiri dan membungkuk menyambut kedatangan Hwesio tua dan pemuda tinggi besar tadi.
"Selamat datang... selamat datang. Tai-Hoatsu (Guru Besar) dan Pangeran Souw Bu Lai!"
Ia menjura dengan sikap menghormat.
"Oho, kiranya saudara Bouw Si Ma sudah hadir pula di sini. Bagus!"
Hwesio itu tertawa bergelak dan dinding ruangan seakan-akan tergetar oleh suara ketawanya.
Laki-laki tinggi besar muka hitam itu rnemandang tajam, membalas penghormatan Bouw Si Ma sambil berkata, suaranya tenang sikapnya dingin.
"Saudara Bouw Si Ma, aku adalah Souw Bu Lai, harap kau orang tua tidak berkelakar tentang pangeran segala."
Bouw Si Ma tersenyum lebar, mengangguk-angguk lalu berkata.
"Orang sendiri... orang sendiri... di antara orang sendiri, mana perlu sungkan-sungkan? Mari kuperkenalkan..."
Akan tetapi Hwesio tua segera memotong dengan gerakan tangan yang menyatakan ketidaksabaran hatinya.
"Bouw-Sicu, Pinceng (Aku) datang ke sini atas undangan majikan Ching-Coa-To. Mengapa sekarang Ching Toa-Nio tidak kelihatan mata hidungnya malah mengajukan orang-orang lain untuk menyambut Pinceng? Apa artinya penghormatan seperti ini?"
Jelas bahwa biarpun dia seorang Pendeta, namun sikapnya sombong sekali dan dia tidak memandang sebelah mata kepada orang lain, terang kepada Bouw Si Ma tidak juga terhadap tiga orang wanita baju merah berkembang itu pun tidak.
Agaknya dia merasa kecewa sekali sebagai seorang tokoh besar yang diundang oleh Ching Toa-Nio untuk membicarakan urusan rahasia yang amat besar, tahu-tahu kini di tempat itu dia bertemu dengan orang-orang asing.
Kalau Ching Toa-Nio membawa-bawa orang seperti Bouw Si Ma masih mending karena dia mengetahui orang macam apa adanya Si Mancu murid Pak-Thian Lo-Cu ini.
Akan tetapi tiga orang wanita ini, yang sikapnya sombong dan juga mudah diduga bahwa mereka itu orang-orang undangan atau tamu, benar-benar membuat Hwesio itu merasa tak senang hatinya.
Tiga orang wanita itu tersenyum lebar dan saling pandang, kemudian seorang di antara mereka yang mempunyai tahi lalat di ujung hidungnya, orang yang tertua, berkata.
"Tai-Su tentulah Ka Chong Hoatsu dan tuan muda itu tentu Pangeran Souw Bu Lai seperti tadi telah diberitahukan kepada kami oleh Bouw Si Ma-Enghiong. Jiwi adalah orang-orang besar dan ternama, mana bisa disamakan dengan kami ketiga enci adik yang tidak ada kepandaian, juga tidak ada kedudukan? Akan tetapi, betapa rendah pun, kami adalah undangan dari Ching Toa-Nio, maka berhak berada di sini. Kurasa yang tidak berhak hadir adalah yang tidak diundang, bukankah begitu anggapanmu, Tai-Su? Hemm, dia itulah yang tak diundang, maka wajib disingkirkan."
Loan Ki kaget sekali ketika tiba-tiba ada angin berbunyi sampai berciutan di dalam ruangan itu. Ia tadinya menyangka bahwa yang dimaksudkan dengan "Tamu tak diundang"
Oleh wanita itu tentulah ia dan ia sudah siap menghadapi serangan.
Akan tetapi serangan yang dilakukan oleh wanita itu benar-benar membuat hatinya berdebar dan matanya terbelalak heran.
Ia tidak tahu pukulan apakah itu, yang dilihatnya hanya lengan tangan wanita itu bergerak ke depan dengan telunjuk menuding, lalu terdengar angin kecil kuat menyambar ke depan, mengeluarkan bunyi mengerikan.
Loan Ki lega hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa bukan dia yang diserang, melainkan seekor cecak yang tadinya merayap di atas jendela, Ketika ia memandang lebih teliti ke arah cecak itu, ia bergidik.
Cecak itu masih berada di tempat semula, akan tetapi sudah tak bergerak lagi dan dua titik darah menetes dari perutnya!
"Omitohud...!
Bukankah itu yang disebut Hui-Seng Kiam-Sut (Ilmu Pedang Bintang Terbang)?"
Kemudian Hwesio tua itu berpaling kepada Souw Bu Lai, pangeran yang menjadi muridnya sambil berkata.
"Ilmu pedang ini datangnya dari seorang Hoan-Ceng (Pendeta Asing) di Thian-Tiok (India). Ilmu pedang yang dicampur dengan Hoat-Sut (Ilmu Sihir), amat berbahaya dan kalau sudah tinggi tingkatnya, hawa pukulannya sudah dapat dipakai untuk merobohkan lawan tanpa menggunakan pedang sekalipun. Melihat Toa-Nio ini dapat menggunakan hawa pukulan tanpa pedang, benar-benar mengagumkan dan sudah sepantasnya kalau mereka bertiga diundang oleh Ching Toa-Nio, Aha, siapa kira orang-orang muda sekarang mendapat kemajuan begini hebat? Pinceng orang tua benar-benar sudah pikun, tak sadar bahwa dunia ini makin lama tentu akan dikuasai oleh yang muda-muda... ha-ha-ha-ha!"
Melihat perubahan sikap ini, Bouw Si Ma girang sekali. Dia lalu berkata sambil tersenyum.
"Benar pendapat Tai-Su. Sam-wi Lihiap ini bukan lain adalah Ang Hwa Sam-Cimoi (Tiga Enci Adik Bunga Merah)."
"Benarkah? Oho, Pinceng girang sekali. Pernah mendengar bahwa Ang Hwa Sam-Cimoi adalah Sumoi (adik seperguruan) dari Hek-Hwa Kui-Bo yang Pinceng kenal baik. Sayang Hek-Hwa Kui-Bo telah terbang terlampau tinggi sehingga tersandung puncak Thai-San dan roboh."
Orang tertua dari Ang Hwa Sam-Cimoi mengerutkan keningnya.
"Sekali waktu kami bertiga yang bodoh hendak berusaha menggugurkan puncak Thai-San yang telah merobohkan mendiang Hek-hwa Suci (kakak seperguruan)."
Ka Chong Hoatsu Hwesio itu, hanya terbahak-bahak lalu bersama muridnya mengambil tempat duduk.
Di luar jendela, Loan Ki memandang dan mendengar semua ini dengan hati berdebar.
Setelah mereka duduk, dia memandang penuh perhatian kepada enam orang itu yang mulai minum-minum dilayani oleh pelayan-pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik dan berpakaian Sutera seragam berwarna indah.
Dia tahu bahwa didalam ruangan itu terdapat orang-orang lihai dan makin berkhawatirlah ia karena sekarang makin sulit baginya untuk dapat mencari Kun Hong dan bersama pemuda buta itu meninggalkan pulau berbahaya ini.
Kekhawatiran Loan Ki memang beralasan.
Enam orang itu memang merupakan tokoh-tokoh besar yang amat tinggi ilmu kepandaiannya.
Bouw Si Ma orang Mancu itu bukanlah orang sembarangan karena dia adalah murid dari tokoh nomor satu di Utara, yaitu Pak-Thian Lo-Cu yang juga menemui kematiannya di puncak Thai-San (baca Rajawali Emas).
Seperti juga Ang Hwa Sam-Cimoi yang mendendam atas kematian Suci mereka juga Bouw Si Ma ini menaruh dendam kepada Thai-San-Pai atas kematian gurunya.
Sebagai murid Pak-Thian Lo-Cu, tentu saja dia mengenal Giam Kin yang menjadi murid Siauw-Ong-Kwi karena Siauw-Ong-Kwi adalah Sute (adik seperguruan) Pak-Thian Lo-Cu sehingga antara Bouw Si Ma dan Giam Kin terhitung saudara seperguruan pula.
Bouw Si Ma sebagai saudara tingkat tua dalarn perguruan, tentu saja mengenal pula Ching Toa-Nio dan seringkali mengunjungi pulau ini, apalagi sejak Giam Kin tewas di puncak Thai-San.
Dalam banyak hal terdapat persesuaian faham antara Bouw Si Ma dan Ching Toa-Nio.
Mereka sama-sama menaruh dendam terhadap Thai-San-Pai, dan keduanya adalah orang-orang yang memiliki ambisi yang tinggi maka seringkali mereka mengincar kedudukan di Kota Raja semenjak terjadinya kerusuhan dan perebutan kekuasaan setelah Kaisar pertama dari Ahala Beng meninggal dunia.
Tiga orang wanita itu, Ang Hwa Sam-Cimoi, juga merupakan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa.
Mereka ini tergolong tokoh-tokoh dari ilmu golongan hitam dan selama belasan tahun mereka merantau ke See-Thian (Dunia Barat) sehingga mereka tidak tahu akan nasib Suci mereka yaitu Hek Hwa Kui-bo yang tewas pula di Thai-San.
Kini tiga orang enci adik ini pulang dari See-Thian dengan kulit agak kehitaman akan tetapi selain ilmu kepandaian yang hebat mereka pelajari, Juga seperti halnya Hek Hwa Kui-bo, tiga orang wanita yang usianya sudah mendekati lima puluhan tahun ini masih nampak cantik manis dan muda-muda tidak lebih dari tiga puluh tahun!
Setelah merantau ke See-Thian dan menjumpai guru mereka, seorang Pendeta di Thian-Tiok yang bertapa di Pegunungan Himalaya, kini kepandaian Ang Hwa Sam-Cimoi meningkat hebat sehingga melampaui tingkat kepandaian Hek Hwa Kui-bo sendiri.
Mereka she Ngo dan nama mereka adalah Kui Ciau, Kui Biau, dan Kui Sian.
Dengan amat cerdiknya Bouw Si Ma yang dalam hal mencari oraug pandai untuk sekutu mewakili Ching Twa-Nio, segera menggandeng tiga orang enci adik ini, apalagi mengingat bahwa mereka juga mempunyai dendam yang sama di Thai-San atas kematian kakak seperguruan mereka.
Tentang kelihaian tiga orang wanita ini, tadi baru saja didemonstrasikan ilmu pukulan yang amat hebat, merupakan inti daripada Ilmu Pedang Hwa-Seng Kiam-Sut, yang sudah sedemikian tinggi tingkatnya sehingga dengan kekuatan Hoat-Sut, hawa pukulan saja sudah sama bahayanya dengan sambaran pedang.
Orang berusia tiga puluhan tahun yang disebut pangeran itu sebetulnya memang masih keturunan Pangeran Mongol.
Di dalam cerita Raja Pedang terdapat seorang Pangeran Mongol bernama Souw Kian Bu yang tampan dan cabul, mengandalkan kekuasaan dan kepandaian melakukan pelbagai kejahatan.
Pangeran Mongol yang kini berada di ruangan itu adalah seorang keturunan dari Pangeran Souw Kian Bu ini, bernama Souw Bu Lai dalam Bahasa Mongol dan dalam dunia kangouw dia menggunakan nama Han dan disebut Souw Bu Lai.
Kepandaiannya juga tinggi, malah lebih tinggi kalau dibandingkan dengan orang-orang Mongol kebanyakan, karena gurunya adalah tokoh Mongol nomor satu.
Sebagai seorang yang bercita-cita tinggi untuk memulihkan kembali kekuasaan bangsanya atas daratan Tiongkok, Souw Bu Lai tekun mempelajari segala ilmu silat sehingga dia sekarang menjadi seorang yang luas pengalamannya dalam ilmu silat, pandai mainkan delapan belas macam senjata, pandai pula menunggang kuda melepaskan anak Panah dan senjata-senjata rahasia, sedangkan tenaganya pun besar.
Pendeta tinggi besar itulah guru Souw Bu Lai, berjuluk Ka Chong Hoatsu, seorang Pendeta Buddha yang pernah merantau ke Thian-Tiok dan malah di Tibet pernah menerima hadiah tongkat kePendetaannya.
Sayang serIbu kali sayang bahwa Ka Chong Hoatsu yang puluhan tahun mempelajari ilmu dan agama, ternyata mengandung cita-cita duniawi yang membikin kotor semua usaha.
Dahulu dia bercita-cita menjadi orang tertinggi kedudukannya di samping Kaisar melalui keagamaan, sekarang melihat betapa Kerajaan Mongol sudah jatuh, dia bercita-cita membangunnya kembali bersama Pangeran Souw Bu Lai yang menjadi muridnya.
Seringkali dia bermimpi betapa akan tinggi kedudukannya di dunia ini kalau muridnya menjadi Kaisar.
Tentu dia akan menjadi guru besar negara dan mempunyai kekuasaan yang malah melebihi Kaisar sendiri!
Pendeta ini mempunyai kepandaian yang hebat, kiranya tidak akan kalah tinggi daripada tingkat si empat besar yang dahulu ditonjolkan di dunia kangouw yaitu Song-Bun-Kwi Kwee Lun si tokoh Barat, Tai-Lek-Sin Swi Lek Hosiang si tokoh Timur, Siauw-Ong-Kwi si tokoh Utara, dan Hek Hwa Kui-bo si tokoh Selatan.
Tongkat Pendeta di tangannya itulah yang merupakan senjata utamanya, ampuhnya bukan kepalang, sukar ditandingi karena selain terbuat daripada baja pilihan di Himalaya, Juga amat berat dan kalau dia yang mainkan seakan-akan bulu ringannya, maka dapat bergerak cepat sekali!
Pokoknya enam orang yang berkumpul di pulau Ching-Coa-To itu telah mempunyai kepentingan bersama, termasuk Ching Toa-Nio sendiri, yaitu usaha membalas dendam kepada Thai-San-Pai dan usaha membangun kembali Kerajaan Mongol yang sudah runtuh.
Setelah beberapa lama enam orang itu makan minum di ruangan itu sambil menanti datangnya Ching Toa-Nio yang sudah diberitahu oleh seorang pelayan, muncullah Ching Toa-Nio dari pintu depan.
Begitu masuk wanita berpakaian hijau ini cepat menjura dengan hormat sekali sambil berkata.
"Harap Cuwi (anda sekalian) sudi memaafkan atas kelambatanku menyambut Cuwi. Ada sedikit gangguan di pulau ini. Dua orang yang belum diketahui betul maksudnya telah mencuri masuk dan membikin kacau anak buahku. Mereka adalah seorang laki-laki dan seorang gadis muda, dan aku amat khawatir kalau-kalau mereka itu merupakan mata-mata fihak musuh yang menaruh curiga kepada kita."
Mendengar ucapan nyonya rumah ini, otomatis enam orang itu mengerling ke sana ke mari dengan pandang mata penuh selidik.
"He-he-he, gadis cilik berpakaian basah?"
Tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata.
"Iblis betina berambut kusut?"
Kata pula Ngo Kui Biau sambil tersenyum mengejek.
Sebelum yang lain tahu apa yang mereka maksudkan, tiba-tiba Ka Chong Hoatsu mendorongkan tangan kanan ke arah jendela diikuti gerakan Ngo Kui Biau yang mencelat ke arah jendela pula.
"Brakkkkk!"
Angin dorongan tangan Hwesio itu membuat daun jendela menjadi pecah dan di lain saat Ngo Kui Biau telah meloncat masuk kembali sambil melemparkan tubuh seorang gadis yang pakaiannya basah dan rambutnya kusut, bukan lain orang adalah Loan Ki!
Gadis ini berjungkir balik dengan gerakan indah sehingga tubuhnya tidak terbanting di atas lantai, lalu berdiri tegak memandang penuh ketabahan, sungguhpun kedua matanya masih terbalalak lebar saking heran dan kagetnya.
Tadi ia mendengar pula ucapan dua orang itu dan tiba-tiba ada angin besar menyambar ke arah jendela.
Cepat ia merendahkan diri untuk mengelak akan tetapi angin pukulan itu membuat daun jendela pecah dan tiba-tiba berkelebat bayangan merah menyambarnya.
Loan Ki berusaha mengelak namun gerakan bayangan itu bukan main cepatnya sehingga tahu-tahu tengkuknya telah ditangkap dan ia merasa tubuhnya melayang ke dalam ruangan!
Dari dua kejadian itu saja sudah dapat dibayangkan betapa lihainya orang-orang di dalam ruangan itu.
Loan Ki maklum bahwa tak mungkin ia dapat menang menghadapi tujuh orang kosen ini, akan tetapi tidak memperlihatkan muka takut, malah ia tersenyum-senyum kecil dengan mata bermain, menatap wajah mereka seorang demi seorang dengan nakal.
"Bocah liar, siapa suruh kau memata-matai pulau kami?"
Ching Toa-Nio menghardik, suaranya penuh ancaman. Loan Ki mengerling kepada nyonya baju hijau itu dan tersenyum.
"Aku bukan mata-mata. Aku sengaja datang ke Ching-Coa-To untuk bertemu dengan pemiliknya, tidak punya maksud buruk. Yang mana di antara kalian pemilik pulau ini?"
Pertanyaan ini ia ajukan dengan suara ringan dan wajar, membuat Ka Chong Hoatsu terkekeh kagum.
Bukan main bocah ini, pikir Pendeta itu, masuk ke sarang harimau gua naga masih saja begitu tenang dan berani.
Dari sikap ini saja dia dapat menduga bahwa tentu gadis ini puteri seorang tokoh besar atau setidaknya murid orang pandai.
"Akulah pemilik pulau ini. Kau mau apa!"
Ching Toa-Nio membentak.
"Wah, tentu kau yang disebut Toa-Nio. Kau cantik, Toa-Nio, tetapi galak. Pantas saja orang-orangmu takut setengah mampus kepadamu. Dengar, Toa-Nio. Aku datang bersama seorang temanku perlu bertemu denganmu untuk minta maaf karena kelaparan aku telah merampas makanan dan minuman dari tangan orang-orangmu. Nah, sudah kulaksanakan desakan temanku yang buta itu. Adapun aku sendiri ingin sekali melihat kau memaksa kokimu menyelam untuk mencari ikan yang kurampas dan melihat kau memukuli kepala jagalmu. Hi-hik!"
Tiga orang laki-laki yang berada di situ tersenyum, malah Ka Chong Hoatsu tertawa bergelak. Akan tetapi Ang Hwa Sam-Cimoi yang merasa bahwa kedatangan gadis lincah dan cantik ini menyuramkan "Sinar"
Mereka, memandang acuh tak acuh, sedangkan Ching Toa-Nio marah sekali.
"Budak! Kau berani kurang ajar di depan nyonya besarmu, apakah kau sudah bosan hidup?"
Teriak Ching Toa-Nio dan bagaikan seekor harimau nyonya ini menerjang maju, menggunakan kedua tangan untuk mencengkeram muka dan memukul ulu hati.
Serangan ini hebat bukan main, mendatangkan sambaran angin yang dari jauh sudah terasa oleh Loan Ki.
Hampir saja Loan Ki tak dapat menghindarkan diri kalau ia tidak cepat-cepat mempergunakan gerakan Bidadari Turun ke Bumi, suatu gerakan yang amat sukar dari ilmu silat keturunannya Sian-Li Kun-Hoat.
Tubuhnya mencelat bagaikan dilemparkan ke atas, lalu menukik ke bawah sambil mengembangkan kedua lengannya.
Gerakan yang cepat ini menyelamatkannya, namun angin pukulan yang dilontarkan nyonya itu tetap saja menyerempet buntalan pakaian yang berada di punggungnya.
Terdengar suara "Brett!"
Dan buntalan pakaian itu terlepas dari punggung, jatuh ke atas tanah, terbuka dan tampaklah pakaian gadis itu dan sebuah Mahkota indah.
Akan tetapi dengan amat cepatnya pula Loan Ki sudah menyambar bungkusan itu dan menutupkan kainnya kembali.
"Oho, bukankah itu Mahkota yang dikabarkan hilang dibawa kabur oleh pembesar she Tan?"
Terdengar suara parau dari Souw Bu Lai.
Sebagai seorang keturunan pangeran dia pernah melihat Mahkota ini di gudang Pusaka Kerajaan, maka sekali lihat dia telah mengenalnya, apalagi karena hilangnya Mahkota kuno itu sudah terdengar oleh dunia kangouw.
Akan tetapi gurunya, Ka Chong Hoat-su, lebih terheran-heran melihat cara Loan Ki bergerak menyelamatkan diri dari terjangan Ching Toa-Nio tadi, maka ketika dia melihat Ching Toa-Nio yang merasa penasaran hendak menyerang pula, Pendeta ini berseru.
"Toa-Nio, tahan dulu!"
Tentu saja nyonya itu tidak melanjutkan serangannya dan memandang heran dengan alis berkerut. Ka Chong Hoatsu melangkah setindak maju dan bertanya kepada Loan Ki.
"Nona cilik, bukankah gerakanmu tadi jurus dari Sian-Li Kun-Hoat (Ilmu Silat Bidadari)?"
"Hemmm, bagus kau mengenal jurusku yang lihai, Hwesio tua! Maka lebih baik kau menyuruh nyonya galak ini mundur dan biarkan aku pergi dengan aman sebelum kalian berkenalan dengan ilmu pedangku Sian-Li Kiam-Sut dan kemudian menyesal pun sudah terlambat!"
Loan Ki sengaja membuka mulut besar karena ia maklum bahwa betapapun juga ia takkan mampu melawan, baru nyonya galak itu saja sudah begitu hebat, apalagi yang lain-lain dan terutama Hwesio tua ini yang sekali lihat sudah mengenai jurusnya.
Daripada terhina kemudian kalah, lebih baik menghina dan memandang rendah dahulu, jadi menang angin, demikian pikir dara lincah yang berhati baja ini.
"Aha, bagus!"
Ka Chong Hoatsu berseru.
"Kalau begitu, kau masih ada hubungan apakah dengan mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan?"
Dara itu makin angkuh. Sambil mengangkat dada mengedikkan kepala dan meraba gagang pedangnya, ia memandang mereka seorang demi seorang dengan pandang mata seakan-akan berkata.
"Huh, kalian ini orang-orang tingkatan rendah mana bisa disamakan dengan aku?"
Akan tetapi mulutnya berkata bangga.
"Hwesio tua, masih baik kau mengetahui nama mendiang kakek guruku. Dengan mengingat nama besar beliau yang kau kenal, biarlah nona kecilmu mengampunimu satu kali ini."
Souw Bu Lai tertawa bergelak menyaksikan sikap gadis ini dan hatinya yang memang berwatak mata keranjang sejak tadi sudah berdebar penuh berahi.
Akan tetapi alangkah kagetnya hati Loan Ki ketika ia melihat berkelebatnya senjata-senjata yang menyilaukan mata, membuatnya berkejap beberapa kali.
Ketika ia membuka mata, kiranya Ching Toa-Nio, Bouw Si Ma dan Ang Hwa Sam-Cimoi tiga wanita itu sudah berdiri di depannya dengan senjata masing-masing di tangan, sikap mereka penuh ancaman.
"Budak liar! Hayo katakan kau ini apanya Ketua Thai-San-Pai?"
Bentak Ching Toa-Nio, suaranya mengandung ancaman maut.
Biarpun lincah jenaka, Loan Ki bukanlah seorang anak bodoh, malah ia tergolong cerdik dan otaknya tajam.
Ia seringkali mendengar dari Ayahnya tentang pamannya Tan Beng San yang menjadi Ketua Thai-San-Pai itu, tahu bahwa Ketua Thai-San-Pai itu banyak dimusuhi orang-orang kangouw, apalagi dari golongan hitam.
Setelah berpikir beberapa detik lamanya, ia lalu tertawa dengan nada sombong sekali.
"Hi-hi-hik, biarpun nama Raja Pedang Tan Beng San Ketua Thai-San-Pai membuat kalian ketakutan setengah mampus, aku tidak sudi mempergunakan namanya untuk menakut-nakuti kalian dengan namanya. Dengarlah baik-baik, aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia, malah dia masih hutang beberapa jurus serangan dengan pedangku. Belum tiba saatnya aku akan berhadapan dengan dia mengadu nyawa di ujung pedang. Kenapa kalian ini menodongkan senjata kepada seorang muda sepertiku? Apakah kalian hendak mengeroyokku? Cih, tidak tahu malu!"
Kembali Ka Chong Hoatsu yang tertawa bergelak dan Souw Bu Lai tersenyum-senyum, makin tertarik kepada dara lincah yang tabah dan cantik ini.
"He, bocah nakal! Kalau begitu tentu kau ada hubungan dengan Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui?"
Tanya Ka Chong Hoatsu.
"Hemm, Hwesio tua. Kaulah seorang di antara mereka ini yang paling cerdik. Majikan yang menjadi raja di pantai Po-Hai, si Pendekar Pedang Sakti Tan Beng Kui adalah Ayahku, dan nonamu ini Tan Loan Ki adalah puteri tunggalnya. Hayo, siapa berani menentang Ayahku?"
"Ha-ha-ha-ha, Ching Toa-Nio dan saudara-saudara yang lain, simpan senjata kalian. Kiranya nona cilik ini adalah orang segolongan sendiri. Ha-ha-ha!"
Kata Hwesio tua itu dan semua orang yang berada di situ memang sudah mengenal Tan Beng Kui.
Mereka menarik napas lega dan menyimpan senjata masing-masing sambil mundur.
Ching Toa-Nio mengerutkan alisnya karena ia masih marah dan penasaran, akan tetapi ia juga tidak mau memusuhi puteri Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui.
Tentu saja ia tidak mau bukan karena takut, melainkan karena pada waktu itu ia membutuhkan orang-orang kosen yang sehaluan dan boleh dibilang Tan Beng Kui mempunyai kepentingan serupa dengan dia.
Pertama, ia tahu bahwa Tan Beng Kui menaruh dendam sakit hati terhadap adik kandungnya sendiri, Tan Beng San yang juga menjadi musuh besarnya.
Ke dua, dalam urusan usaha merebut kekuasaan, kiranya Tan Beng Kui boleh diakui bersekutu.
Sebagai seorang yang amat cerdik, ia segera dapat menangkap maksud hati Ka Chong Hoatsu, maka ia segera memaksa senyum manis kepada Loan Ki dan berkata.
"Nona cantik, hampir saja kita saling bentrok. Akan tetapi tidak mengapa, bukankah orang bilang bahwa tidak bertempur dulu takkan saling mengenal? Ayahmu dengan kami adalah segolongan, maka tidak bisa kami memusuhimu. Soal makanan dan minuman boleh dihabiskan sampai di sini saja. Nona Tan, bagaimana kau bisa mendapatkan Mahkota kuno itu?"
Loan Ki tidak goblog untuk mempertahankan sikap bermusuhan. Iapun tersenyum ramah dan berkata.
"Wah, Ayah tentu girang sekali kalau mendengar bahwa anaknya sudah berkenalan dengan orang-orang gagah di dunia kangouw. Bagus, karena Cuwi (tuan sekalian) adalah orang-orang sendiri, biarlah aku mengaku terus terang. Mahkota ini dirampas oleh Hui-Houw-Pang dari tangan si pembesar yang mencurinya dari Istana, kemudian aku merampasnya dari Hui-Houw-Pang untuk kuberikan kepada Ayah yang suka mengumpulkan barang-barang kuno seperti ini. Mereka itu beramai-ramai mengeroyokku dan mengejar, tapi mana mereka mampu merampas kembali dari tanganku? Hemm, biar ditambah sepuluh kali jumlah mereka takkan sanggup mereka itu! Aku lari sampai di daerah sini dan karena kesalahan merampas makanan, maka aku akhirnya masuk ke Ching-Coa-To."
Seperti lagak anak kecil Loan Ki menyombongkan hal yang tak pernah terjadi tentang pengeroyokan.
Padahal kalau tidak ada Kun Hong, mana ia bisa mendapatkan Mahkota itu?
"Ho-ho, memang tidak mudah, tapi Pinceng bolehkah melihat sebentar?"
Tongkat Hwesio itu menyelonong ke depan, Loan Ki kaget sekali dan cepat miringkan tubuhnya.
Celaka, tahu-tahu tangan kiri Hwesio itu diulur maju dan di lain detik buntalan pakaian sudah berpindah tangan!
"Ha-ha-ha, tenang, Nona.
Pinceng hanya ingin melihat sebentar, untuk membuktikan apakah benar-benar ini Mahkota yang aseli."
Dengan enak Hwesio itu mengambil Mahkota, melihat-lihat dan bergantian dengan orang-orang yang berada di situ, mengagumi keindahan Mahkota kuno ini.
Loan Ki hanya berdiri dengan muka merah dan mata berapi-api penuh kemendongkolan hati.
Akan tetapi diam-diam ia pun kaget sekali karena ternyata Hwesio tua itu sepuluh kali lipat lebih lihai daripadanya.
Setelah semua orang melihat, buntalan dan Mahkota dikembalikan kepada Loan Ki oleh Hwesio itu.
Loan Ki menerimanya, mengikatkan buntalan kembali ke punggungnya dengan muka cemberut.
"Orang tua mengakali anak muda, awas kau Hwesio, lain kali aku balas!"
Ka Chong Hoatsu hanya tertawa bergelak dan Souw Bu Lai sambil cengar-cengir mendekati Loan Ki, sepasang matanya yang lebar itu seakan-akan hendak menelan gadis ini bulat-bulat.
Loan Ki mengerutkan kening menyaksikan mata seperti mata harimau kelaparan itu.
"Kau mau apa?"
Tanya Loan Ki dengan alis berkerut. Souw Bu Lai tersenyum, giginya yang putih! berkilat di balik kumis panjang, kumis model Mongol.
"Nona manis namanya pun manis. Aku tidak akan menyusahkanmu, sudah lama kudengar nama besar Ayahmu. Perkenalkan aku..."
"Kau Souw Bu Lai, mengaku-aku Pangeran Mongol, ya? Tapi aku masih belum mau percaya!"
Tukas Loan Ki galak. Souw Bu Lai tertawa.
"Ha-ha-ha, kiranya kau tadi sudah mengintai cukup lama? Memamg, aku bernama Souw Bu Lai, seorang pangeran dari Mongol. Ayahmu adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, pantas puterinya seperti kau, Nona."
"Wah, sudahlah, aku tidak ingin mendengar pidatomu. Toa-Nio, aku pamit hendak pergi dari sini, mencari sahabatku kemudian kuharap kau suka memberi pinjam sebuah perahumu untuk mengantar kami berdua menyeberang, kembali ke darat."
"Kau datang tak diundang, pulang pun tak usah minta diantar,"
Jawab Ching Toa-Nio cemberut.
"Hi-hik, kalau begitu biar aku pergi sendiri. Kalau butuh perahu, tidak boleh pinjam, curi pun masih bisa."
Dengan lagak seperti kanak-kanak Loan Ki melambaikan tangan ke arah orang-orang itu lalu kakinya melangkah hendak keluar dari pondok itu.
Hampir saja ia bertumbukan dengan seorang yang berlari-lari dari luar dan yang amat cepat gerakannya.
Loan Ki meliukkan tubuhnya ke kiri sedangkan orang yang lari itu pun tiba-tiba berhenti, begitu tiba-tiba dan cepat berhentinya sehingga Loan Ki memandang heran dan kagum karena cara berhenti seperti itu hanya mampu dilakukan oleh orang pandai.
Keduanya berpandangan dan tak terasa lagi mulut Loan Ki berseru memuji.
"Aduh cantiknya..."
Orang itu bukan lain adalah Giam Hui Siang, gadis cantik jelita yang usianya sebaya dengan Loan Ki, yaitu antara tujuh belas dan delapan belas tahun.
Memang Hui Siang luar biasa cantik jelitanya, ditambah orangnya pesolek lagi, Wajahnya terawat baik dengan bantuan pelayan-pelayan ahli, pakaiannya selalu mentereng sehingga biarpun ia puteri seorang pemilik pulau, namun sekali melihat orang akan menyangka bahwa ia tentulah seorang puteri keluarga Kaisar di Istana!
Maka tidaklah heran apabila Loan Ki segera memujinya, sungguhpun ia sendiri adalah seorang gadis lincah yang cantik manis pula.
Mungkin Loan Ki sendiri takkan kalah baik bentuk wajah maupun bentuk tubuhnya jika dibandingkan dengan Hui Siang, akan tetapi karena Loan Ki adalah seorang dara pendekar yang suka merantau dan kurang memperhatikan perawatan badannya, tentu saja kulitnya kalah putih, kalah halus, dan pakaiannya juga kalah baik.
Hui Siang adalah seorang dara manja dan wataknya amat galak dan sombong.
Karena hampir saja bertumbukan dengan Loan Ki, ia amat marah dan segera memaki.
"Budak hina! Apakah matamu buta? Eh, kau pelayan barukah? Belum pernah aku melihatmu. Minggir kau, aku ada urusan penting!"
Loan Ki mendongkol sekali, ia meloncat ke pinggir akan tetapi mulutnya sudah siap untuk balas memaki. Pada saat itu Hui Siang sudah lari ke depan dan berkata.
"Ibu, celaka sekali, Ibu. Enci Hui Kauw telah membikin malu kita, kali ini kalau Ibu tidak turun tangan, bisa-bisa nama keluarga kita diseret ke dalam lumpur!"
Gadis ini mengerling ke kanan kiri seakan-akan tidak memperdulikan orang-orang yang berada di situ. Sepasang mata Souw Bu Lai berkilat-kilat sekali lagi ketika ia melihat Hui Siang.
"Hui Siang, kau bicara apa? Apa yang telah terjadi?"
Ching Toa-Nio berkata, kemarahannya terhadap Hui Kauw yang tadi belum padam sekarang bangkit dan bernyala kembali.
"Ibu ingat tentang dua orang asing yang memasuki pulau ini? Nah, yang seorang kudapati berada di taman, dia seorang laki-laki jembel buta, akan tetapi celakanya... dia berpacaran dengan enci Hui Kauw!"
"Hui Siang! Jangan sembarangan bicara! Bohong kau!"
Ibunya membentak marah.
Biarpun di dalam hatinya ia tidak suka kepada anak pungutnya itu, akan tetapi ia cukup mengenal tabiat Hui Kauw dan ia rasa tak mungkin Hui Kauw berpacaran dengan seorang jembel buta.
Hui Siang cemberut dan mendengus, agaknya ngambek karena dikata-katai kasar oleh Ibunya yang biasanya memanjakan.
"Ibu, apakah anakmu ini biasa membohong? Biar aku mampus kalau aku bohong. Enci Hui Kauw memberikan saputangan Suteranya kepada si jembel buta itu, dan kulihat dengan kedua mataku sendiri si jembel menciumi saputangan itu. Aku marah dan menyerangnya, eh... kiranya dia pandai dan dapat menghindarkan seranganku. Lalu muncul enci Hui Kauw dan... enci Hui Kauw malah membela jembel buta itu. Coba, apakah ini bukan merupakan bukti-bukti yang cukup jelas...?"
"Waaaaahhhhh, mata keranjang! Tidak punya mata tapi bisa mata keranjang, apa yang lebih aneh daripada ini? Dasar laki-laki!"
Yang berkata demikian adalah Loan Ki yang cepat melompat keluar hendak mencari Kun Hong.
Hatinya mendongkol sekali mendengar penuturan nona cantik tadi dan ia sendiri pun tidak mengerti mengapa ia merasa iri, gemas, dan marah sekali mendengar betapa Kun Hong berpacaran dengan seorang gadis di dalam taman.
Menciumi saputangan Sutera?
Terbayanglah di depan mata Loan Ki semua pengalamannya dengan Kun Hong di dalam sumur, teringat betapa dalam keadaan bahaya maut dan setengah pingsan ia dipeluk oleh pemuda buta itu, dihIbur, dielus-elus rambutnya, diciumi rambutnya...
"Dasar tukang cium...!"
Terloncat kata-kata ini keluar langsung dari hatinya yang mengkal.
Tiba-tiba ada angin berkesiur di sebelahnya dan tahu-tahu di depannya sudah menghadang tubuh laki-laki tinggi besar.
Kiranya Souw Bu Lai Pangeran Mongol itu yang memandangnya sambil tersenyum menyeringai memperlihatkan deretan gigi yang putih dan besar.
"Nona, kau tidak boleh pergi. Kau harus bersama kami untuk membicarakan hal yang amat penting,"
Katanya sambil mendekat.
Loan Ki yang sedang jengkel terhadap Kun Hong itu sudah mau menyerangnya, akan tetapi ketika ia melirik, ia melihat betapa semua orang tadi kini sudah keluar dan berada di belakangnya.
"Aku tidak sudi!"
Katanya setengah membentak.
"Biarkan aku jalan sendiri!"
"Tidak bisa, Nona. Kami sudah mengambil keputusan untuk menahanmu karena kau yang akan menghubungkan kami dengan Ayahmu,"
Kata pula Souw Bu Lai.
Sebelum Loan Ki menjawab, tiba-tiba ia mendengar sambaran angin dari belakangnya, cepat ia miringkan tubuh membalik.
Kiranya tongkat Ka Chong Hoatsu yang menyambar dan menyerangnya.
Ia kaget sekali, menggerakkan kaki meloncat, akan tetapi tiba-tiba saja kedua lengannya sudah ditangkap orang dan ditelikung ke belakang lalu dibelenggu!
Gerakan Souw Bu Lai dan Ka Chong Hoatsu yang melakukan menangkapan ini benar-benar cepat dan hebat, membuat seorang gadis berkepandaian hebat seperti Loan Ki sekali pun sama sekali tidak berdaya, seperti anak kecil di tangan seorang dewasa.
"Monyet-monyet tua muda, kalian mau apa membelenggu dan menangkap aku? Kalian curang, pengecut, tak tahu malu! Kalau berani, hayo bertempur sampai serIbu jurus!"
Ia memaki-maki.
"Cih, budak hina macam ini kenapa tidak dilempar ke dalam sumur untuk makan ular-ular kita, Ibu?"
Hui Siang berkata sambil memandang Loan Ki dengan mata mendelik.
Bergidik juga Loan Ki mendengar ini.
Ia memang tidak takut mati, akan tetapi kalau harus dijadikan umpan atau kurban di dalam sumur dikeroyok ratusan ular, ia benar-benar merasa ngeri dan kali ini ia tidak berani banyak bicara lagi, takut-takut kalau ia benar-benar dilempar ke dalam sumur penuh ular yang amat menjijikkan!
"Ha-ha-ha, dia puteri Sin-Kiam-Eng, mana boleh dibunuh?"
Ka Chong Hoatsu berkata.
"Pinceng curiga terhadap sahabat yang buta itu, maka sementara ini Pinceng membelenggunya agar nanti dia tidak menimbulkan kerewelan. Ching Toa-Nio, mari kita ke taman menemui orang buta itu."
Beramai mereka lari ke taman bunga mengambil jalan rahasia yang berliku-liku.
Loan Ki tadinya membandel tidak mau turut, akan tetapi ketika ujung tali pengikat kedua tangannya diseret oleh Souw Bu Lai, terpaksa ia ikut lari juga sambil mengomel dan menyumpah-nyumpah Pangeran Mongol itu yang hanya tertawa saja.
Diam-diam gadis ini harus mengagumi jalan rahasia di pulau ini, akan tetapi karena hatinya lagi jengkel sekali, ia hanya ikut lari tanpa memperhatikan kanan kiri.
Kejengkelan bertumpuk di hati Loan Ki.
Pertama karena mendengar berita bahwa Kun Hong berpacaran dan menciumi saputangan seorang gadis bernama Hui Kauw, ke dua kalinya karena ia merasa kecil tak berdaya menghadapi orang-orang di dalam pulau ini, dan ke tiga kalinya sekarang ia menjadi seorang tawanan, dibelenggu seperti seekor domba!
"Awas kalian, demikian ia menyumpah-nyumpah, sekali Ayahku kuberitahu tentang penghinaan ini, pulau ini akan diobrak-abrik, dihancurkan, dan dibasmi oleh Ayah!
Kalian semua berikut ular-ular laknat akan dibasmi habis, pulau ini dibumi hanguskan, tak seorang pun manusia atau seekor pun mahluk diberi hidup!"
Akan tetapi, di balik ancamannya ini, ia sendiri ragu-ragu apakah Ayahnya akan mampu menang melawan musuh-musuh yang begini tangguh, terutama sekali Hwesio tua itu.
Akhirnya mereka tiba di taman bunga itu dan begitu melihat Kun Hong berdiri berhadapan dengan seorang gadis bermuka hitam, Loan Ki tak dapat menahan mulutnya lagi berteriak-teriak!
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Loan Ki berseru menegur Kun Hong.
"Haaiii, Hong-Ko! Benarkah kata orang bahwa kau berpacaran dengan nona muka hitam ini? Kau benar-benar mata keranjang akan tetapi kali ini kau salah pilih, Hong-Ko!"
Tentu saja Kun Hong menjadi girang dan lega bukan main hatinya mendengar suara Loan Ki ini.
Ia tidak perdulikan ocehan dara nakal itu tentang mata keranjang, melainkan segera melangkah maju dan berkata dengan wajah berseri-seri.
"Ki-moi! Kau selamat? Syukurlah!"
"Hong-Ko, kau benar-benar tak punya liangsim (prIbudi)! Aku terjerumus ke dalam jurang, hampir mampus, menerima hinaan orang, tapi kau... kau malah berpacaran dan enak-enak senang-senang di sini. Wah, sahabat macam apa kau ini?"
Muka Kun Hong merah sekali sampai ke telinganya.
"Ki-moi, jangah kau percaya akan fitnah orang. Tidak ada yang berpacaran di sini! Dan kau, siapakah orangnya yang berani menghinamu?"
Sebelum Loan Ki dan Kun Hong dapat melanjutkan percakapan mereka terdengar bentakan marah dari Ching Toa-Nio yang mengagetkan mereka dan memaksa mereka mengalihkan perhatian.
Ching Toa-Nio ternyata telah memaki-maki Hui Kauw dengan suara penuh kemarahan.
"Bocah keparat! Semenjak kecil aku bersusah-payah memeliharamu, beginikah sekarang balasanmu? Berjina dengan seorang jembel buta, mengotorkan taman dan mencemarkan nama baik keluargaku? Keparat, perempuan hina!"
Terdengar oleh Kun Hong suara "Plak-plak-plak!"
Tiga kali, diikuti keluhan perlahan. Biarpun tak dapat melihat, dia dapat menduga bahwa dara bersuara Bidadari itu telah (lanjut ke
Jilid 08) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 ditampar tiga kali mukanya oleh si Ibu yang galak.
"Ibu... maafkan. Aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu dan... dan aku sama sekali tidak melakukan perbuatan tidak sopan. Hanya kebetulan saja saudara yang buta ini memasuki taman menemukan saputanganku yang tertinggal di sini. Harap Ibu jangan mempercayai segala fitnah keji..."
"Setan, kau malah balik menuduh Hui Siang membohong? Perempuan tak bermalu kau! Adik sendiri bertempur dengan si buta ini, kenapa kau malah membela si buta memusuhi adikmu? Hui Kauw, aku tidak terima! Hari ini kau akan membayar lunas hutang-hutangmu kepadaku, hutang budi yang hanya dapat kau bayar dengan nyawamu!"
"Srrrrrttt! Singgggg!"
Bunyi pedang berdesing memecah angin, menyambar ganas menimbulkan cahaya berkilauan.
Tak seorang pun di antara para tamu berani mencampuri urusan antara Ibu dan anak.
Loan Ki membelalakkan matanya yang lebar, ngeri betapa pedang ditangan nyonya yang galak dan lihai itu meluncur seperti kilat menyambar ke arah leher si nona muka hitam yang hanya menundukkan muka, sedikit pun tidak bergerak seakan-akan sudah rela menerima hukuman itu dan menanti datangnya pedang yang akan memenggal lehernya dan maut yang akan merenggut nyawanya.
Pada detik berbahaya bagi keselamatan nyawa Hui Kauw itu, tiba-tiba sinar kemerahan berkelebat.
"Criinggggg"
Pedang di tangan Ching Toa-Nio tahu-tahu sudah buntung, ujungnya melayang ke atas entah ke mana sedangkan sisanya masih terpegang Ching Toa-Nio, menggetar dan mengeluarkan bunyi!
Ching Toa-Nio berdiri seperti patung, terbelalak kaget, juga orang-orang yang berada di situ, kecuali Loan Ki yang memandang marah, mengeluarkan seruan heran dan terkejut.
"Wah, kau betul-betul membelanya, Hong-Ko! Celaka, kau telah tergila-gila oleh seorang gadis muka hitam!"
Loan Ki berteriak-teriak penuh kegemasan.
Akan tetapi Kun Hong yang sudah mendekati Hui Kauw, tidak memperdulikan teriakan Loan Ki ini, melainkan dia berkata halus kepada gadis yang masih berdiri menundukkan mukanya itu.
"Nona, kenapa kau diam saja membiarkan orang sewenang-wenang hendak membunuhmu?"
Ucapan ini selain mengandung perasaan kasihan, juga merupakan teguran.
Memang jantung Kun Hong masih berdebar kalau teringat betapa gadis bersuara Bidadari ini hampir saja tewas.
Ngeri dia memikirkan ini.
Baiknya tadi dia bertindak cepat.
"Saudara Kwa, ia... ia Ibuku..."
Jawab nona itu dengan suara lemah mengandung isak tertahan.
Kagum hati Kun Hong.
Nona ini sekuat tenaga menahan tangisnya.
Nona berbudi mulia, berhati baja.
Tapi dia penasaran mengapa Ibunya seperti itu?
"Dia bukan Ibumu!"
Suaranya ketus dan tiba-tiba karena meluapnya perasaan hatinya.
"Heeeee? Saudara Kwa... bagaimana kau bisa tahu akan hal ini...?"
"Dia tidak mungkin Ibumu! Seekor harimau atau binatang yang paling liar sekali pun takkan mungkin membunuh anaknya, apalagi seorang Ibu. Akan tetapi ia tadi benar-benar hampir membunuhmu. Ia bukan Ibumu!"
Suara Kun Hong lantang.
Sementara itu, cara Kun Hong menangkis dan sekaligus mematahkan pedang di tangan Ching Toa-Nio dengan tongkatnya, benar-benar membuat semua orang melongo.
Bahkan Ka Chong Hoatsu sendiri terheran-heran.
Kakek ini maklum sampai di mana kelihaian ilmu pedang Ching Toa-Nio yang sudah jarang dapat di tandingi oleh kebanyakan ahli silat ternama.
Akan tetapi orang muda itu yang buta matanya lagi, dengan sekali tangkis dapat mematahkan pedang Ching Toa-Nio, benar-benar membuat Hwesio tua ini tidak mengerti.
Padahal yang dipakai untuk menangkis hanya sebatang tongkat, dan gerakannya ketika menangkis tadi pun hanya cepat saja, tidak luar biasa.
Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar.
Ching Toa-Nio sudah dapat menguasai kekagetannya dan mukanya berubah merah saking malu dan marahnya.
DIbuntungkannya pedang di tangannya dengan sekali tangkis oleh orang muda buta itu, benar-benar merupakan penghinaan yang tiada taranya bagi nyonya jagoan ini.
Masa ia kalah oleh seorang muda yang buta?
Benar-benar tak masuk di akal.
Ia tidak tahu bagaimana caranya pedangnya sampai patah tadi, akan tetapi ia tidak perduli dan mengira hal itu hanya kebetulan saja, atau mungkin sekali memang pedangnya yang sudah bercacat di luar pengetahuannya.
Dengan mata mendelik ia membentak dan melangkah maju.
"Jembel buta, kau siapakah berani mencampuri urusanku?"
Kun Hong menarik napas panjang.
Dia maklum bahwa wanita ini adalah seorang tokoh besar yang berkepandaian tinggi, malah kalau tidak keliru, menurut pendengarannya, orang-orang yang ikut datang bersama nyonya ini juga orang-orang yang berkepandaian tinggi.
Dengan hormat dia menjura ke depan, lalu berkata halus.
"Harap Toa-Nio dan Cuwi sekaiian sudi memaafkan. Aku sama sekali tidak berani mencampuri urusan orang lain, hanya saja, sebagai seorang manusia biasa, mana bisa aku membiarkan seorang Ibu membunuh anaknya sendiri? Toa-Nio harap insyaf sebelum bertindak gegabah. Sesungguhnya nona Hui Kauw ini sama sekali tidak melakukan perbuatan seperti yang difitnahkan tadi."
"Ching-moi (adik Ching), kenapa banyak memberi hati kepada seorang buta macam ini? Biar kuwakili kau membereskannya!"
Bentak Bouw Si Ma yang juga ikut marah sekali karena wanita bekas kekasih Sutenya ini tadi mengalami penghinaan.
Dia adalah seorang Mancu yang berangasan, dan dia pun seorang yang memiliki kepandaian tinggi lebih tinggi daripada Ching Toa-Nio, murid dari Pak-Thian Lo-Cu, tentu saja dia memandang rendah kepada Kun Hong seorang muda buta.
"Bocah buta, kau benar-benar tak tahu diri, lancang memasuki tempat tinggal orang berani bertingkah dan menjual lagak. Hayo kau mengaku siapa kau dan siapa pula Ayah atau gurumu sebelum aku Bouw Si Ma Si Tangan Maut mengambil nyawamu!"
Kun Hong cepat menjura. Gerakan orang ini mengandung tenaga berat dan dia maklum bahwa orang ini tentu lebih lihai daripada Ching Toa-Nio, maka dia berhati-hati.
"Bouw-Enghiong harap suka bersabar. Siauwte (aku yang muda) bernama Kwa Kun Hong, tentang orang tua dan guru tak usah dibawa-bawa dalam urusan ini. Aku mengakui bahwa aku telah lancang memasuki Ching-Coa-To, akan tetapi aku menyangkal kalau dianggap bertingkah atau menjual lagak. Sesungguhnya, aku tidak mempunyai niat yang tidak baik dan kalau kalian sudi memaafkan, biarlah sekarang juga aku pergi dan tidak akan mencampuri urusan orang lain."
Ucapan ini amat merendah, dan oleh Bouw Si Ma dianggap bahwa orang buta itu menjadi jerih dan ketakutan mendengar namanya dengan julukan Si Tangan Maut. Dia tertawa menyeringai dan membentak lagi.
"Kau memperlihatkan kepandaian tadi, apa kau kira di sini tidak ada orang yang mampu memberi hajaran kepadamu? Nah, kau rasakan pukulan Si Tangan Maut merenggut nyawamu!"
Serta merta Bouw Si Ma menerjang, pukulannya lambat dan perlahan saja, akan tetapi angin pukulan menderu menyerang ke arah dada Kun Hong.
Orang muda ini sudah siap, maklum akan kehebatan pukulan itu.
Hal ini tidak membuat dia jerih atau bingung.
Yang membuat dia bingung adalah bahwa dia kini telah terlibat dalam urusan besar, mendatangkan permusuhan pada orang-orang lihai penghuni Ching-Coa-To.
Inilah yang membingungkannya, karena sesungguhnya tiada niat di hatinya meski sedikit juga untuk bermusuhan dengan siapa pun juga.
Sekarang karena menuruti Loan Ki, memasuki pulau ini dia bertemu dengan Hui Kauw yang menarik hatinya dan karena dia ingin melindungi nona Bidadari itu, dia terseret dalam pertempuran.
Dengan hati sedih dia menggunakan langkah-langkah rahasia dari Kim-Tiauw-Kun sehingga lima kali pukulan bertubi dari Bouw Si Ma hanya mengenai angin belaka.
Bouw Si Ma berhenti sebentar sambil melongo.
Pukulan-pukulannya tadi bertingkat, makin lama makin berat dan hebat.
Namun, orang yang diserangnya bergerak aneh dan dia merasa seakan-akan menyerang bayangan sendiri saja, sudah tentu tidak berhasil.
"Bouw Lo-Enghiong, aku tidak ingin berkelahi..."
Terpaksa Kun Hong mengelak lagi karena belum juga dia habis bicara, lawannya sudah mengirim lagi penyerangan sebanyak tujuh jurus menggunakan pukulan-pukulan tangan dan tendangan-tendangan kaki yang lebih gencar dan berat lagi.
Setiap pukulan atau tendangan ini mengandung tenaga Lweekang tersembunyi cukup kuat untuk mengirim nyawa lawannya ke akhirat.
Kun Hong mengerutkan keningnya.
Kejam sekali orang ini.
Untuk urusan kecil saja sudah menurunkan tangan maut, menghendaki nyawa orang.
Untuk memberi peringatan, pada jurus ke tujuh selagi kepalan tangan Bouw Si Ma berkelebat ke dekat lehernya, Kun Hong menyentil dengan telunjuk kanannya ke arah belakang atau punggung kepalan kiri orang Mancu itu.
"Aduh... keparat...!"
Orang-orang yang berada di situ, kecuali Ka Chong Hoatsu, terheran-heran karena tidak ada yang dapat melihat perbuatan Kun Hong ini.
Mereka hanya melihat pemuda buta itu terhuyung ke sana ke mari dengan kedua tangannya bergerak-gerak seperti mengimbangi badan agar tidak jatuh.
Kenapa Bouw Si Ma yang penuh semangat menyerang membabi buta itu malah mengaduh-aduh sendiri dan tubuhnya mendadak menggigil seperti orang terserang demam malaria?
Akan tetapi karena Bouw Si Ma memang seorang ahli silat tingkat tinggi, hanya sebentar saja dia menggigil dan segera dia dapat menguasai dirinya kembali dengan jalan menyalurkan Lweekang untuk melawan getaran hebat dari sentilan si buta yang tepat menyinggung jalan darahnya itu.
"Bocah buta she Kwa, kau sudah bosan hidup!"
Teriaknya sambil mencabut pedangnya yang berwarna hitam, terus saja menyerang hebat.
Kun Hong kaget sekali.
Desing pedang ketika dicabut dan desir angin serangan senjata itu membuat dia maklum bahwa ternyata dalam hal ilmu pedang, orang Mancu ini jauh lebih lihai daripada ilmu silat tangan kosongnya.
Pedang yang digunakannya pun sebatang pedang yang ampuh, sedangkan tenaga Lweekang yang terkandung dalam gerakan pedang amat kuat dan matang.
Kiranya orang Mancu ini seorang ahli pedang, pikirnya.
Dia tidak berani gegabah, tidak mau memandang rendah dan cepat sambil miringkan tubuh dan menekuk lutut ke belakang, tongkatnya dia gerakkan untuk menghalau serangan lawan.
Benar saja dugaannya, ketika tongkatnya terbentur dengan pedang lawan, pedang itu tergetar dan dari getaran ini langsung menyeleweng menjadi serangan lanjutan yang lebih ganas!
Kun Hong berlaku hati-hati sekali.
Gerakan lawan ini selain cepat dan bertenaga, juga amat aneh, belum dikenalnya karena merupakan ilmu pedang dari Utara yang beraneka ragam.
Dengan Kim-Tiauw Kiam-Hoat, yaitu Ilmu Pedang Rajawali Emas yang gerakannya gesit dan kelihatan aneh pula, dia selalu berhasil menghindarkan diri menggunakan langkah-langkah rahasia sambil menggerakkan tongkat untuk membentur pedang lawan.
Orang-orang di situ menjadi makin terheran-heran.
Pemuda buta ini terhuyung ke sana ke mari seperti orang mabuk, cara dia menghadapi serangan-serangan Bouw Si Ma amat aneh dan kacau, tidak seperti ilmu silat, akan tetapi mengapa semua serangan Bouw Si Ma selalu mengenai tempat kosong belaka?
Lebih heran lagi adalah Ka Chong Hoatsu, karena Hwesio tua ini melongo menyaksikan Kim-Tiauw-Kun, lalu terdengar dia berbisik.
"Apa setan tua Bu Beng Cu menurunkan ilmunya kepada bocah buta ini?"
Pikirannya melayang-layang kepada masa lampau, Ketika dia masih muda pernah bertempur melawan kakek Bu Beng Cu sampai rIbuan jurus dan akhirnya dia harus menerima kekalahan dengan tulang pundak patah ketika Bu Beng Cu mempergunakan ilmu silat seperti gerakan Burung yang amat aneh.
Semenjak itu dia tak pernah bertemu pula dengan kakek Bu Beng Cu, malah selama berpuluh tahun merantau, belum pernah dia melihat ilmu silat aneh itu dimainkan orang.
Kenapa sekarang tiba-tiba bocah buta ini bisa mainkan ilmu membela diri yang tampaknya sama benar dengan gerakan-gerakan Bu Beng Cu dahulu?
Sementara itu, ketika melihat betapa Bouw Si Ma belum juga mampu menjatuhkan si buta, Souw Bu Lai si Pangeran Mongol mengeluarkan gerengan keras dan menerjang maju sambil membentak.
"Setan buta, kau benar-benar hendak menjual lagak di sini!"
Sekaligus Pengeran Mongol ini menggerakkan senjatanya yang paling dia andalkan, yaitu sehelai sabuk baja digandeng-gandeng saling mengait dan setiap mata kaitan mengandung duri meruncing.
Inilah senjata semacam joan-pian baja yang amat berbahaya karena lawan yang terkena ujungnya saja tentu akan terluka hebat!
Sambaran senjata mengerikan itu lewat di atas kepala Kun Hong ketika pemuda buta itu mengelak sambil merendahkan tubuh.
Dari suara desir anginnya Kun Hong tahu bahwa penyerangnya yang baru ini memiliki tenaga gajah sehingga sekali lagi hatinya mengeluh.
Dia harus menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh dan siapa tahu kalau pertempuran ini tidak akan menjadi makin hebat jika yang lain-lain maju pula.
"Aku tidak ingin berkelahi... ah, kenapa kalian berdua mendesakku?"
"Souw Bu Lai, gunakan Liok-Coa-Kun!"
Tiba-tiba Ka Chong Hoatsu berkata kepada muridnya.
Souw Bu Lai menyanggupi dan segera Ruyung lemas di tangannya bergerak cepat sekali, menyambar-nyambar seperti enam ekor ular yang mengeroyok seekor katak.
Liok-Coa-Kun atau Ilmu Silat Enam Ekor Ular adalah ciptaan Ka Chong Hoatsu sendiri yang berdasarkan penyerangan dan mempertahankan dari enam penjuru, yaitu dari kanan kiri muka belakang dan atas bawah.
Gerakan-gerakannya meniru gaya gerakan ular yang sukar sekali diduga oleh lawan, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu silat ini.
Ka Chong Hoatsu yang merasa curiga menyaksikan gerakan permainan silat Kun Hong sengaja menyuruh muridnya menggunakan ilmu simpanan itu karena dia hendak memaksa Kun Hong mengeluarkan kepandaiannya sehingga dia dapat mengenal betul dari aliran manakah bocah buta yang amat lihai dan masih muda sudah memiliki ilmu kesaktian ini.
Tingkat kepandaian Pangeran Souw Bu Lai sebetulnya tidak lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Bouw Si Ma.
Malah boleh dibilang orang Mancu murid Pak-Thian Lo-Cu ini lebih matang dan lebih banyak pengalamannya karena memang lebih tua.
Akan tetapi karena senjata yang dipergunakan oleh pangeran itu lebih jahat dan ganas, maka bantuannya ini memiliki daya penyerangan yang tidak kalah hebatnya sehingga Kun Hong terpaksa harus mengeluarkan kepandaiannya.
Lebih banyak lagi jurus-jurus Kim-Tiauw-Kun harus dia keluarkan untuk menyelamatkan dirinya, karena dua orang ini benar-benar mengarah nyawanya.
Tongkatnya berkelebatan, kadang-kadang tampak cahaya kemerahan dari pedangnya Ang-Hong-Kiam yang tersembunyi di dalam tongkat.
Sementara itu, Ching Toa-Nio menjadi makin marah melihat betapa dua orang tamu yang amat diandalkan itu tetap juga belum dapat merobohkan si buta yang telah mendatangkan kekacauan di pulau.
Ia menoleh ke arah Hui Kauw dan makin panas hatinya melihat anak pungutnya ini memandang kagum dan penuh kekhawatiran kepada Kun Hong yang dikeroyok.
Malah ia mendengar suara gadis itu perlahan.
"Curang... curang... matanya sudah buta masih dikeroyok..."
Ching Toa-Nio meloncat ke depan Hui Kauw, matanya menyinarkan cahaya bengis.
"Hui Kauw, betul-betulkah kau tidak main gila dan berjina dengan bocah buta itu?"
"Tidak, Ibu."
"Kalau begitu, hayo kau bantu Pangeran Souw dan pamanmu Bouw untuk merobohkan dan membikin mampus setan buta itu!"
Hening sejenak, kecuali suara beradunya senjata-senjata mereka yang sedang bertempur.
Lalu lirih terdengar "Tapi...
kedua orang yang begitu lihai masih tak mampu mengalahkannya, apalagi aku, Ibu?
Kepandaianku amat rendah, mana bisa menangkan dia..."
"Perduli dengan kepandaianmu! Aku hanya ingin melihat apakah kau ini benar-benar pacarnya atau bukan. Kalau kau berani mengeroyoknya dan kemudian membunuhnya dengan pedangmu, aku baru mau percaya bahwa kau bukan pacar si buta itu!"
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Hui Kauw mendengar ini.
Sebetulnya, di luar tahu Ibunya, ia telah memiliki ilmu silat yang amat tinggi yang ia pelajari secara rahasia.
Ia dapat mengira-ngira bahwa kalau dibandingkan dengan Ibunya sendiri bahkan dengan Pangeran Souw Bu Lai atau malah dengan Bouw Si Ma kiranya ia takkan kalah!
Dan melihat ilmu silat aneh dari Kun Hong, biarpun amat lihai akan tetapi kalau ia maju lagi mengeroyok, orang buta itu takkan mampu menahan lagi.
Akan tetapi, orang buta itu tidak mempunyai dosa.
Malah ialah orangnya yang berdosa, karena si buta ini menghadapi bahaya maut karena ia!
"Tidak, Ibu,"
Jawabnya dengan suara tetap.
"Dia tidak bersalah apa-apa, aku tidak mau mengeroyoknya. Malah kuharap Ibu suka membebaskan saja dia dan gadis temannya itu agar keluar dari pulau dengan aman. Mereka berdua itu tidak mempunyai kesalahan apa-apa."
"Anak setan kau! Kau malah memihak musuh?"
"Mereka bukan musuh..."
"Kalau begitu kau ingin mampus!"
"Budi yang dilimpahkan Ibu semenjak aku kecil terlalu besar, kalau Ibu kehendaki, nyawaku boleh untuk membalas budi itu..."
"Keparat...!"
Terdengar oleh Kun Hong yang sejak tadi mendengarkan suara Bidadari itu, suara yang amat mengejutkan hatinya.
Suara pukulan-pukulan yang dilakukan bertubi-tubi kepada tubuh Hui Kauw yang agaknya tidak mau membalas atau mengelak, hanya mengeluh lirih menahan nyeri.
Meluap amarah di hati Kun Hong dan serentak berubah gerakan tongkatnya.
Segulung sinar merah berkelebat disusul teriakan kaget Pangeran Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma yang terhuyung mundur sambil memegangi lengan kanan yang luka-luka berdarah.
Saat itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk mencelat ke arah Hui Kauw, kakinya menendang dan...
tubuh Ching Toa-Nio terlempar sampai lima meter jauhnya!
Kun Hong meraba-raba dengan tangannya, membungkuk lalu memondong tubuh Hui Kauw yang sudah lemas dan pingsan.
Kaget sekali hati Kun Hong ketika rabaan tangannya mendapat kenyataan betapa nona itu terluka hebat, tubuhnya terserang pukulan beracun dan beberapa tulang rusuknya patah!
Saking marahnya Kun Hong merasa betapa mukanya menjadi panas sekali.
"Ching Toa-Nio...!"
Dia berteriak dengan suara agak gemetar.
"Alangkah kejamnya hatimu! Kau mengaku bahwa nona ini adalah puterimu, akan tetapi perbuatanmu kepadanya sama sekali bukan sikap seorang Ibu sejati. Perbuatanmu biadab dan tak patut dilakukan oleh seorang wanita terhadap anaknya. Karena itu, jelaslah bahwa nona ini bukan anakmu! Seekor harimau betina yang bagaimana liar dan ganas sekalipun takkan makan anaknya sendiri, betapa seorang manusia bisa membunuh anaknya?"
"Jembel buta setan alas!"
Ching Toa-Nio memekik dan memaki-maki.
Malunya bukan main bahwa ia seorang tokoh dunia kangouw, majikan dari Ching-Coa-To yang tersohor, kini sekali tendang saja sudah dibikin terlempar oleh seorang pengemis muda dan buta lagi!
"Keparat tak bermalu, urusan antara Ibu dan anak, kau orang luar berani mencampuri?"
Kun Hong tersenyum pahit, lalu terdengar suaranya dingin.
"Alasan seorang iblis dalam tubuh seorang Ibu. Biarpun mataku buta, hatiku tidak sebuta hatimu. Aku masih dapat membedakan siapa yang berhak ditolong dan siapa pula yang wajib diberantas! Nona ini terang tidak berdosa, kalian menjatuhkan fitnah hanya untuk dalih agar dapat menyiksanya, dapat membunuhnya! Tapi, selama Kwa Kun Hong masih hidup dan berada di sini, jangan harap kau akan dapat mengganggu selembar rambutnya!"
Dengan tangan kirinya mengempit tubuh Hui Kauw yang pingsan, Kun Hong berdiri melintangkan tongkatnya, siap menanti serbuan orang-orang itu. Dia bertekad untuk melindungi nona itu.
"Hong-Ko, kenapa engkau mencampuri urusan orang lain?"
Tiba-tiba suara Loan Ki mencelanya dan gadis ini sudah meloncat ke depannya.
"Hong-Ko, kau telah membikin rIbut dan kacau di sini, membikin urusan menjadi makin besar saja. Kau lepaskan si muka hitam itu dan mari kita ke luar dari pulau ini."
"Ki-moi, mana bisa aku membiarkan saja orang membunuh ia yang sama sekali tidak bersalah atas dasar fitnah yang begitu keji?"
"Hong-Ko, kau mati-matian membelanya... apakah... apakah kau sudah jatuh cinta kepadanya...?"
"Hushh, jangan bicara yang bukan-bukan, aku... aku..."
Tiba-tiba tubuh Kun Hong menjadi lemas dan dia roboh.
Kiranya Loan Ki yang tadinya memegang-megang tangannya itu secara tiba-tiba menotok jalan darah di punggungnya yang membuat Kun Hong menjadi lemas kehilangan tenaga.
Dia masih berusaha memulihkan kekuatan, akan tetapi yang dapat dia lakukan hanya mencengkeram tongkatnya saja, malah tubuh Hui Kauw dalam kempitannya juga terlepas dan jatuh bergulingan, saling tindih dengan tubuhnya sendiri.
Bagaimana Loan Ki yang tadinya dibelenggu bisa mendekati Kun Hong dan melakukan pengkhianatan ini?
Gadis ini tadi memang dibelenggu, akan tetapi ia dilepaskan oleh Souw Bu Lai ketika pangeran ini maju menyerang Kun Hong.
Karena ujung tali itu tidak dipegangi orang, dengan mudah Loan Ki dapat sedikit demi sedikit meloloskan kedua tangannya sehingga ia menjadi bebas.
Tidak ada orang yang memperhatikannya, apalagi ia merupakan tawanan yang tidak penting karena tadi orang mengikatnya hanya untuk menjaga kalau-kalau sahabatnya yang buta itu benar-benar amat lihai dan mengamuk, maka ia dibelenggu untuk dijadikan jaminan.
Siapa kira si buta itu benar-benar mengamuk, akan tetapi bukan karena tertawannya Loan Ki, melainkan karena soal lain, yaitu soal nona Hui Kauw.
Adapun Loan Ki sendiri hatinya sudah sejak tadi panas dan iri menyaksikan betapa Kun Hong membela Hui Kauw secara mati-matian.
Gadis ini masih terlalu muda untuk dapat menafsirkan tentang cinta kasih.
Ia tidak ingat bahwa untuk dirinya sendiri pun Kun Hong membela mati-matian.
Sekarang, melihat Kun Hong membela seorang gadis lain, ia menjadi iri hati, bukan cemburu karena pada saat itu ia tidak tahu apakah ia mencinta si buta ini ataukah tidak.
Pendeknya, hatinya tidak senang melihat Kun Hong membela Hui Kauw, apalagi melihat betapa si buta itu memondong tubuh nona yang sudah pingsan itu.
Maka ia lalu mendekati, menegur dan menotok roboh Kun Hong dengan maksud menghentikan usaha Kun Hong membela Hui Kauw.
Tentu saja Kun Hong terkejut bukan main.
Sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa Loan Ki akan berbuat seperti itu dan inilah sebabnya pula dia mudah dirobohkan.
Dia sama sekali tidak pernah menduga dan karena itu tidak berjaga diri terhadap Loan Ki.
Kini setelah roboh dan tak berhasil memulihkan tenaga, dia terkejut dan terheran-heran, namun tidak khawatir karena maklum bahwa tidak akan ada hal yang lebih hebat daripada kematian, sedangkan kematian itu baginya bukan apa-apa, seperti air sungai mengalir kembali ke laut di mana dia akan bersatu dengan Cui Bi!
Ternyata Ching Toa-Nio yang ditendang sampai mencelat lima meter oleh Kun Hong tadi tidak terluka berat, hanya mendapat luka ringan berupa benjol-benjol dan barut-barut saja.
Hal ini adalah karena Kun Hong memang sengaja tidak mengarah nyawa orang, hanya melakukan tendangan tanpa disertai tenaga dalam yang dapat mengakibatkan luka hebat.
Malah kedua orang pengeroyoknya tadi, Souw Bu Lai dan Bouw Si Ma, hanya terluka di lengan kanannya dengan goresan-goresan yang tidak dalam, hanya mengeluarkan darah akan tetapi ternyata merupakan luka kulit belaka.
Kini melihat betapa Kun Hong sudah roboh, Ching Toa-Nio masih tak mampu mempertahankan kemarahannya, segera mencabut pedang dan melompat maju untuk membacok putus leher pemuda buta yang sudah banyak membikin malu kepadanya itu.
"Tranggg!"
Bunga api berpijar saking kerasnya bentrokan pedang ini.
"Ching Toa-Nio, tidak boleh kau membunuh Hong-Ko!"
Teriak Loan Ki yang menangkis pedang Ching Toa-Nio dengan pedangnya sendiri.
"Kau boleh bunuh mampus anakmu si muka hitam, tapi Hong-Ko tidak bersalah, kau tidak boleh membunuhnya."
Ching Toa-Nio memandang dengan mata mendelik.
"Dia berani mencemarkan nama, tampan dan berkepandaian tinggi, tidak buta dan melakukan perbuatan jina, masih kau bilang dia tidak berdosa?"
"Ihh, kau keliru besar Toa-Nio. Hong-Ko adalah seorang buta, mana dia bisa melihat tentang cantik tidaknya wanita? Mana bisa dia mampu menarik hati wanita? Tentulah anakmu yang tak tahu malu itu yang sengaja menarik hati dan memikatnya dengan kata-kata halus. Hong-Ko memang seorang muda yang tampan dan berkepandaian tinggi, tidak heran anakmu itu jatuh cinta. Hong-Ko sendiri karena buta mudah saja dipikat, coba dia dapat melihat, apa dia sudi melayani seorang gadis yang mukanya seperti pantat kuali?"
"Keduanya harus mampus!"
Ching Toa-Nio kembali menggerakkan pedangnya, akan tetapi kembali Loan Ki menangkis, biarpun dua kali tangkisan itu sudah membuat telapak tangannya lecet-lecet.
"Ching Toa-Nio, apa kau sebagai golongan lebih tua tidak malu? Kau berani turun tangan karena Hong-Ko sudah kurobohkan. Hemm, andaikata aku tidak merobohkannya dengan totokan tanpa dia menduga, apa kau kira kau akan mampu bersikap segalak ini terhadapnya? Hi-hik, benar-benar orang di Ching-Coa-To tidak punya sopan santun persilatan!"
Bukan main tajamnya ucapan ini, melebihi tajamnya ujung serIbu pedang.
Ching Toa-Nio menjadi pucat mukanya dan menahan pedangnya, matanya mendelik dan muka yang pucat itu berubah merah, ia adalah seorang kangouw yang sudah memiliki nama besar, tentu saja sekarang mendengar ucapan ini, ia tidak ada muka untuk nekat menyerang Kun Hong yang sudah tak berdaya itu.
Semua orang di situ tahu belaka bahwa robohnya Kun Hong si buta itu adalah karena serangan gelap yang dilakukan Loan Ki, sama sekali bukan roboh oleh Ching Toa-Nio atau yang lain.
Kemarahannya meluap-luap akan tetapi tertahan sehingga kini kemarahannya ini ditumpahkan kepada Hui Kauw seorang!
Hanya gadis inilah yang dapat menjadi bulan-bulan kemarahannya tanpa ada seekor setan pun yang berani menghalanginya.
Tadipun hanya si buta itu yang membelanya sekarang setelah si buta roboh, siapa lagi akan membela anak angkat yang menimbulkan kemarahan dan kebencian ini?
"Anak keparat, kaulah gara-garanya!"
Ia menggerakkan pedangnya sambil melompat ke dekat Hui Kauw yang ternyata sudah sadar dari pingsannya, akan tetapi karena tubuhnya terluka hebat oleh pukulan-pukulan Ibu angkatnya tadi, ia masih belum dapat bangun.
Kini melihat betapa Kun Hong tak berdaya, rebah dalam keadaan tertotok, hatinya terkejut bukan main.
Timbul kekhawatirannya untuk keselamatan si buta ini, dan sekaligus timbul ingatannya untuk menolong Kun Hong.
Maka begitu melihat sambaran pedang di tangan Ibunya ke arah leher, Hui Kauw menggulingkan tubuhnya.
Pedang itu meluncur menghantam tanah dan gadis itu dengan pengerahan tenaga yang luar biasa telah dapat bangun dan duduk.
Pedang itu, yang dikendalikan tangan Ching Toa-Nio yang marah mengejar dan menyerang lagi, namun kini dalam keadaan duduk Hui Kauw lebih mudah mengelak.
Semua orang terheran-heran terutama sekali Ching Toa-Nio dan Hui Siang.
Bagaimana mendadak Hui Kauw yang sudah terluka hebat itu memiliki gerakan-gerakan aneh sehingga dalam keadaan seperti itu dapat menghindarkan serangan pedang?
Dengan penuh keheranan yang berubah menjadi penasaran dan malu, Ching Toa-Nio memperhebat penyerangannya, bertubi-tubi mengirim tusukan dan bacokan ke arah tubuh anak angkatnya.
Akan tetapi, benar-benar terjadi keanehan bagi nyonya galak ini.
Hanya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya secara aneh, kadang-kadang rebah dan ada kalanya meloncat ke atas dan duduk kembali, Hui Kauw dapat menyelamatkan diri dari semua serangan itu, sungguhpun makin lama gerakannya makin lemah dan lambat karena memang luka-luka di tubuhnya sudah parah.
Kalau saja tidak sedemikian parah luka-luka di tubuhnya, tentu dengan kepandaiannya yang dirahasiakan itu ia dapat menyelamatkan diri dengan mudah.
Sementara itu, tadinya Kun Hong terkejut dan heran, juga maklum bahwa dia telah dikhianati Loan Ki dan tinggal menanti datangnya maut ketika dia roboh tertotok oleh Loan Ki tanpa dia dapat mencegahnya karena sebelumnya dia tidak berjaga lebih dulu dan tidak pernah menduga akan mendapat penyerangan gelap dari gadis ini.
Akan tetapi dasar memang di tubuhnya sudah terisi hawa murni yang amat kuat, sedangkan tenaga dalamnya adalah tenaga dalam yang dilatih menurut ilmu silat tinggi yang bersih, maka pengaruh totokan Loan Ki yang bagi orang lain tentu akan dapat melumpuhkan sampai berjam-jam itu, ternyata bagi Kun Hong hanya melumpuhkannya beberapa menit saja!
Dengan pengerahan tenaga berulang-ulang, akhirnya dengan girang Kun Hong dapat membobolkan kemacetan jalan darahnya dan tenaganya pulih kembali seperti sebelum tertotok.
Kun Hong tidak marah kepada Loan Ki, hanya heran karena dia masih belum mengerti mengapa gadis lincah itu merobohkannya.
Makin besar keheranannya ketika dia mendengar betapa secara mati-matian Loan Ki menolongnya daripada serangan-serangan Ching Toa-Nio, malah membelanya dengan omongan-omongan pedas.
Tentu saja keheranan ke dua ini disertai kegirangan hati bahwa terbukti Loan Ki tidak memusuhinya, malah melindunginya.
Akan tetapi kenapa tadi menotoknya roboh?
Dan bagaimana pula setelah menotok roboh dengan serangan gelap, sekarang membela dan melindunginya mati-matian pula?
Benar-benar aneh sekali gadis lincah ini, dan Kun Hong merasa seperti menghadapi sebuah teka-teki yang amat kuat.
Dia sengaja berpura-pura tak berdaya dan membiarkan saja Loan Ki bersitegang dengan Ching Toa-Nio, akan tetapi ketika mendengar betapa Ching Toa-Nio menyerang Hui Kauw secara hebat dan membabi buta, Kun Hong tak dapat mengendalikan dirinya lagi dan tiba-tiba dia meloncat bangun, sekali menggejot tubuh dia telah menyambar ke arah Ching Toa-Nio.
Ching Toa-Nio mendengar seruan kaget dari semua orang yang tiba-tiba melihat gerakan Kun Hong yang tadinya lumpuh itu, ketika ia melihat betapa si buta itu menerjang ke arahnya, ia menjadi marah sekali dan pedangnya memapaki dengan sebuah tusukan kilat ke arah ulu hati.
Dalam penyerangan ini, Ching Toa-Nio menggunakan semua tenaganya karena ia memang marah sekali dan ingin menebus kekalahan dan penghinaan-penghinaan yang ia alami tadi.
Sinar pedang di tangan Ching Toa-Nio itu berkelebat menusuk, Kun Hong miringkan tubuhnya dan...
pedang itu ambles di bagian dada sampai menembus punggung si buta itu.
Terdengar jeritan-jeritan keluar dari mulut Hui Kauw dan Loan Ki sekaligus.
Akan tetapi dua orang nona ini yang merasa ngeri dan kaget sekali, tidak berusaha untuk maju menolong karena mereka kini, seperti yang lain-lain, berdiri bengong penuh keheranan.
Biasanya kalau orang terkena tusukan pedang, apalagi sampai menembus punggung, tentu akan mengeluh, atau roboh, setidak-tidaknya darah tentu akan mengalir ke luar.
Akan tetapi si buta ini lain lagi reaksinya.
Dia berdiri tegak dengan pedang lawan masih menancap di bagian pinggir dada, mulutnya tersenyum, sikapnya tenang dan tidak ada setetes pun darah mengalir ke luar.
Ching Toa-Nio mengerahkan tenaganya menarik ke luar pedangnya dan...
tiba-tiba ia terhuyung ke belakang dan mukanya menjadi pucat.
Pedang itu tinggal gagangnya saja, selebihnya masih "Menancap"
Di dada Kun Hong. Ketika pemuda buta itu menggerakkan lengan kanan, terdengar suara "Krekk!"
Dan jatuhlah sebatang pedang tanpa gagang, sudah patah menjadi tiga potong!
Kiranya pemuda itu bukan tertusuk pedang, melainkan senjata itu ketika tadi menusuk ulu hatinya dia miringkan tubuh dan secara cepat dan lihai sekali sampai dapat mengelabui mata banyak orang-orang pandai, dia berhasil menjepit pedang itu di bawah ketiaknya!
Kun Hong tidak perdulikan lagi Ching Toa-Nio yang masih bengong keheranan, dia menghampiri Hui Kauw, membungkuk dan sekali bergerak gadis itu telah dipondongnya lagi.
"Saudara Kwa... jangan... kau lepaskanlah aku..."
Hui Kauw berkata lemah, hatinya tidak karuan rasanya dan ia merasa amat malu dipondong oleh seorang laki-laki muda, biarpun buta, di depan banyak orang itu.
"Sshhh, diamlah, Nona. Kau tidak boleh banyak bergerak, kau tidak boleh mengeluarkan suara dan tenaga... lukamu hebat... kurasa sedikitnya sebuah tulang rusukmu patah, jantungmu tergoncang, hawa beracun telah memasuki darah, aku harus mengobatimu, jangan kau banyak bergerak, kau menurutlah saja..."
Pada saat itu ada angin menyambar dari depan dan suara yang hampir tak dapat ditangkap pendengaran Kun Hong menunjukkan betapa orang yang meloncat dan turun di depan Kun Hong benar-benar memiliki kepandaian yang amat tinggi tingkatnya.
Kun Hong maklum akan hal ini, dia bersiap-siap sambil memondong Hui Kauw, keningnya berkerut karena dia benar-benar merasa serba susah bagaimana harus melindungi gadis ini dari ancaman sekian banyaknya orang pandai.
Pada saat itu terdengar suara Hui Kauw mengeluh panjang dan tubuh gadis itu menjadi lemas, kiranya gadis ini kembali jatuh pingsan setelah tadi mengeluarkan banyak tenaga dalam menghadapi Ibu angkatnya untuk mengelak dari bahaya maut.
Kun Hong merasa lega.
Dengan pingsannya gadis ini, akan lebih leluasa baginya untuk bergerak, dapat dia mengempit tubuh itu tanpa sungkan-sungkan dan tidak akan mendatangkan rasa malu kepada gadis itu.
Dia cepat mengubah caranya memondong tubuh Hui Kauw, kini dia menggunakan lengan kirinya memeluk pinggang gadis yang pingsan itu dan mengempitnya.
Tangan kanannya yang memegang tongkat siap menghadapi serbuan lawan.
Terdengar oleh Kun Hong suara yang tenang dan berat, suara yang mengandung tenaga dalam yang hebat.
"Omitohud, Pinceng sebetulnya harus malu menghadapi seorang pemuda yang tak dapat melihat lagi. Orang muda, kau benar-benar hebat sekali. Kelihaianmu telah mengalahkan banyak orang pandai membuat Pinceng mengesampingkan rasa malu dan ingin Pinceng mencoba kehebatan kepandaianmu yang aneh. Akan tetapi sebelumnya Pinceng ingin sekali tahu, siapakah gurumu yang mewariskan ilmu-ilmu aneh ini kepadamu?"
Kun Hong kaget dan maklum bahwa yang berada di depannya adalah seorang Hwesio yang berilmu tinggi. Cepat dia menjura dan menjawab.
"Syukurlah bahwa di sini terdapat Lo-Suhu yang saya percaya memiliki pertimbangan adil dan pemandangan yang luas. Lo-Suhu, tentang riwayat saya bukanlah hal penting malah tidak berharga untuk didengar oleh orang lain. Lo-Suhu, kedatangan saya ini sesungguhnya sama sekali bukan ingin bermusuhan atau berkelahi, maka harap Lo-Suhu sudi melimpahkan kemurahan hati dan dapat menghentikan perkelahian-perkelahian yang tidak saya kehendaki ini. Terhadap seorang suci seperti Lo-Suhu, mana berani saya yang muda dan bodoh berlaku kurang ajar?"
Pendeta itu tertawa bergelak dan Kun Hong tentu saja tidak tahu betapa Hwesio ini dengan kedipan matanya memberi isyarat kepada orang-orang yang berada di situ. Kemudian bertanya.
"Orang muda, biarpun matamu buta tapi hatimu melek. Tentu saja Pinceng tidak mau memaksa kalau kau tidak menghendaki perkelahian. Akan tetapi kau datang di sini menimbulkan kerIbutan, apa sih yang kau inginkan sekarang?"
"Maaf, Lo-Suhu. Sama sekali saya tidak bermaksud mengadakan kerIbutan. Semua yang dilontarkan kepada saya dan nona Hui Kauw ini adalah fitnah belaka. Tidak ada yang saya kehendaki kecuali agar orang tidak membunuh nona Hui Kauw, membiarkan saya mengobatinya sampai sembuh kemudian memberi kebebasan kepada saya dan nona Loan Ki untuk meninggalkan pulau ini dengan aman."
Kembali Ka Chong Hoatsu mengedipkan matanya kepada Ching Toa-Nio dan yang lain-lain, kemudian dia tertawa lagi.
"Omitohud, kiranya sahabat muda yang lihai pandai pula ilmu pengobatan. Nona itu kulihat amat berat luka-luka akibat pukulan, sanggupkah kau menyembuhkannya?"
"Jika Thian menghendaki, tentu dapat. Saya yang buta sedikit banyak tahu akan ilmu pengobatan."
"Hwesio tua, jangan kau pandang rendah kepadanya. Orang sakit apa pun juga asal belum mampus tentu dapat dia menyembuhkan. Dia adalah murid Toat-Beng Yok-Mo, masa tidak bisa mengobati?"
Ucapan Loan Ki ini membuat Kun Hong mengerutkan kening dan dia tidak tahu bahwa gadis nakal itu tentu pernah mendengar dia menyebut nama Toat-Beng Yok-Mo, kalau tidak salah ketika dia mengobati orang-orang Hui-Houw-Pang di mana gadis itu diam-diam sudah lama bersembunyi dan mengintai.
Tidak hanya Kun Hong yang mengerutkan kening, bahkan semua orang di situ, terutama sekali Ka Chong Hoatsu, menjadi heran dan kaget sekali.
Tentu saja semua orang pernah mendengar nama Toat-Beng Yok-Mo (Setan Obat Pencabut Nyawa), siapa orangnya belum pernah mendengar nama Tabib iblis yang amat pandai mengobati, akan tetapi selalu membunuh orang yang telah diobatinya sampai sembuh itu (baca Raja Pedang dan Rajawali Emas)?
Seketika pandangan mereka terhadap Kun Hong berubah, karena boleh dibilang Toat-Beng Yok-Mo adalah orang "Segolongan"
Dengan mereka.
"Omitohud! Betulkah kau murid Yok-Mo, orang muda?"
Ka Chong Hoatsu akhirnya bertanya. Kun Hong adalah seorang yang jujur dan tak suka membohong, maka dengan suara biasa dia menjawab.
"Diangkat murid sih tidak, akan tetapi mendiang Yok-Mo pernah memberi ijin kepadaku untuk membaca kitab-kitabnya tentang pengobatan, entah hal ini boleh dianggap saya sebagai muridnya ataukah tidak terserah."
"Oho!"
Ka Chong Hoatsu kembali memberi isyarat kepada yang lain, maju ke depan dan menyentuh pundak Kun Hong.
"Kiranya kau masih orang sendiri! Kwa-Sicu, kalau begitu tidak ada urusan lagi di antara kita dan soal pertempuran tadi kita anggap saja sebagai kunci perkenalan. Ching Toa-Nio, Pinceng harap kau sudi menghabiskan urusan dan biarlah diberi tempat untuk Kwa-Sicu mengobati puterimu."
Kun Hong menjadi melengak ketika urusan berbalik secara demikian.
Semua orang, termasuk Hui Siang gadis yang galak itu, mengucapkan maaf kepadanya, juga Bouw Si Ma, Pangeran Souw Bu Lai, dan Ching Toa-Nio.
Malah terdengar suara Ngo Kui Ciau, orang pertama dari Ang Hwa Sam-Cimoi yang bersuara kecil melengking.
"Pantas saja lihai, kiranya murid si tua bangka Yok-Mo. Hi-hik, tak perlu rIbut-rIbut, biar buta amat tampan dan gagah, lagi lihai dan murid Yok-Mo. Twa-Nio, kurasa pantas dia menjadi mantumu, hi-hik!"
Mendongkol sekali Kun Hong, akan tetapi juga wajahnya berubah merah tanpa dapat dia cegah, karena mendengar ucapan seperti itu, entah mengapa, jantungnya berdebar tidak karuan.
Dia tidak banyak bicara dan menurut saja ketika dia diajak ke dalam bangunan itu yang untuk sementara diserahkan kepadanya sebagai tempat mengobati Hui Kauw.
"Tidak lama... tidak lama..."
Katanya gugup.
"Sebentar saja kupulihkan kedudukan urat-uratnya, kusambung tulangnya dan kubersihkan hawa beracun yang menyerangnya. Besok ia sudah pulih kembali, hanya tinggal memperkuat pertumbuhan tulang yang disambung. Aku tidak bisa lama-lama tinggal di sini dan akan segera keluar dari pulau bersama nona Loan Ki."
Dia merasa heran sekali mengapa Loan Ki diam saja, tidak ada suaranya sama sekali.
Dia tidak melihat betapa nona ini biarpun berada pula di situ, mukanya murung dan cemberut terus.
Pangeran Souw Bu Lai yang beberapa kali berusaha memikatnya dengan omongan-omongan manis, tidak diacuhkan sama sekali.
Akhirnya pangeran itu bosan sendiri dan nampak mendekati Hui Siang, bercakap-cakap gembira dan disambut manis oleh nona cantik jelita yang galak itu.
Orang-orang menjadi kagum menyaksikan cara Kun Hong mengobati Hui Kauw.
Dengan tusukan-tusukan jarum perak dia dapat memulihkan kesehatan nona ini, mengusir ke luar hawa beracun akibat pukulan-pukulan Ching Toa-Nio yang ampuh.
Kemudian dia minta semua orang laki-laki keluar dari kamar karena dia hendak mulai menyambung tulang, dan untuk keperluan ini terpaksa baju nona Hui Kauw harus dibuka.
Hanya Ching Toa-Nio, Loan Ki, Ang Hwa Sam-Cimoi, Hui Siang dan tiga orang pelayan wanita yang masih berada di kamar.
Biarpun maklum di situ terdapat banyak orang pula yang menyaksikan, tangan Kun Hong sedikit gemetar juga ketika dia meraba kulit dada dan punggung yang halus pada waktu dia menyambung tulang iga yang patah!
Setengah hari dia bekerja keras dan akhirnya dia selesai, lalu duduk bersila dan menempelkan kedua tangannya ke pundak Hui Kauw dekat leher untuk menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh nona itu dan membantunya sekuat tenaga.
Sejam dia melakukan ini dan mulailah pernapasan nona itu normal kembali dan mukanya menjadi merah sehat.
Pada saat itu Ching Toa-Nio memberi isyarat kepada semua orang untuk meninggalkan kamar itu.
Loan Ki tadinya hendak tinggal di situ, akan tetapi Ching Toa-Nio berkata lirih.
"Nona Tan, setelah sekarang kita menjadi sahabat, perlu kita bicara tentang urusan yang juga menyangkut Ayahmu. Marilah, biar Kwa-Sicu mengaso, kulihat Hui Kauw sudah sembuh kembali."
Tak enak juga hati Loan Ki untuk membandel.
Ia mengerling dengan mata ragu ke arah Kun Hong yang masih duduk bersila, lalu sinar matanya menyambar seperti kilat ke arah muka Hui Kauw yang hitam, setelah itu ia mendengus marah dan ikut keluar pula.
Kamar itu sunyi.
Suara orang-orang di luar bercakap-cakap tidak dapat terdengar jelas karena daun pintu kamar itu ditutup dari luar.
Kun Hong melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak nona itu, lalu dengan perlahan dia mengurut jalan darah di punggung dan belakang leher.
Terdengar nona ini mengerang perlahan.
Kun Hong cepat menarik kembali tangannya dan melompat turun dari pembaringan, berdiri menanti.
"Uuuhhh, panas..."
Nona itu merintih.
"Tidak apa, Nona. Hawa panas itu kau perlukan untuk mendorong peredaran darah di tubuhmu sehingga engkau akan menjadi sembuh benar-benar."
Hui Kauw membuka matanya, kaget melihat betapa tubuhnya bagian atas tak berbaju, apalagi melihat Kun Hong berdiri di situ dengan kepala tunduk.
Ia cepat bangun dan menyambar bajunya yang berada di dekatnya, terus digunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Bagaimana ini... apa yang terjadi... kau kenapa berada di sini...?"
Pertanyaan yang terputus-putus ini diajukan dengan suara gemetar. Kun Hong dapat menangkap perasaan sedih, malu dan terhina dalam suara itu, maka dia membungkuk dengan hormat, berkata.
"Kau menderita luka-luka, aku berusaha mengobatimu, disaksikan oleh keluargamu, Nona. Sekarang kau sudah selamat, perkenankan aku keluar dari tempat ini."
Tanpa menanti jawaban, dengan cepat Kun Hong lalu melangkah ke arah pintu, membuka daun pintu dan keluar dari situ. Ka Chong Hoatsu sendiri menyambutnya.
"Bagaimana Kwa-Sicu, berhasilkan usahamu?"
"Dengan berkah Thian ia dapat pulih kembali kesehatannya,"
Jawab Kun Hong sederhana. Ching Toa-Nio lalu berlari memasuki kamar dan Kun Hong masih mendengar suaranya.
"Aduh, kasihan anakku..."
Kun Hong mengerutkan kening.
Suara Ching Toa-Nio ini adalah suara palsu.
Hemm, akan berbuat apa lagikah wanita majikan pulau ini yang sama jahat dan palsunya dengan ular-ular hijaunya yang berbisa?
Bukan urusanku, pikirnya, aku harus segera pergi dari tempat ini.
"Ki-moi, hayo kita pergi..."
Tidak ada jawaban.
"Di mana nona Loan Ki?"
Tanyanya kepada Ka Chong Hoatsu. Hwesio tua itu tertawa.
"Semua orang termasuk sahabatmu itu berkumpul di ruangan sembahyang. Mari, Kwa-Sicu, karena pada saat ini kau pun menjadi seorang tamu terhormat, kau pun dipersilahkan ikut berpesta sambil ikut merayakan pelepasan perkabungan keluarga Ching Toa-Nio."
"Pesta apa? Sembahyangan apa?"
Kun Hong tak mengerti.
"Suaminya meninggal tiga setengah tahun yang lalu dan hari ini kebetulan diadakan sembahyangan lalu diadakan sedikit pesta untuk merayakan pelepasan perkabungan Ibu dan kedua anak."
"Maaf, Lo-Suhu, aku... aku akan pergi saja. Tolong kau panggilkan nona Tan Loan Ki..."
"Ha-ha-ha, Kwa-Sicu, apakah kau seorang yang sudah banyak merantau di dunia kangouw, tidak mau mengindahkan peraturan? Kau dianggap tamu terhormat, keluarga Ching Toa-Nio ingin menyampaikan terima kasih, dan di sini sedang dilakukan upacara sembahyangan pula. Masa kau akan pergi begitu saja?"
Kun Hong menarik napas panjang. Memang betul juga ucapan Hwesio itu. Apalagi Loan Ki agaknya sudah berbaik dengan orang-orang itu, maka dia terpaksa mengangguk lemah.
"Baiklah, setelah sembahyang aku akan mengajak Loan Ki segera pergi. Tak usah berpesta, makanan dan arak yang dicuri Loan Ki dari sini sudah cukup mengakibatkan heboh!"
Hwesio itu tertawa lalu berjalan, sengaja memberatkan kakinya agar mudah diikuti oleh Kun Hong yang perjalan di belakangnya sambil meraba jalan dengan tongkatnya.
Kiranya tidak jauh dari situ mereka sudah tiba di tempat yang dimaksudkan.
Sebuah bangunan yang agak besar dan telinga Kun Hong menangkap suara banyak sekali orang di situ, banyak suara wanita dan agaknya orang-orang pada sIbuk bekerja, mungkin mengatur meja sembahyangan karena dia mendengar suara mangkuk-mangkuk ditaruh di atas meja dan tercium bau lilin besar dinyalakan di samping dupa harum memenuhi ruangan itu.
Dia segera duduk di atas sebuah kursi yang sudah disediakan untuknya.
Karena tempat itu ramai dengar suara orang, dia tidak dapat tahu apakah Loan Ki berada di situ ataukah tidak, untuk bertanya dia merasa kurang enak.
Tentu saja dia tidak dapat melihat betapa di sudut ruangan itu Loan Ki duduk menyendiri dengan muka pucat dan sepasang mata gadis itu memandang ke arahnya dengan melotot penuh kemarahan!
Dugaannya memang benar.
Di tempat itu selain orang-orang kosen yang telah disebutkan tadi berkumpul, makan minum sambil tertawa-tawa di ruangan itu bagian tengah, juga di situ terdapat belasan orang pelayan wanita berpakaian serba indah sedang mengatur meja sembahyangan yang besar dan megah.
Dua batang lilin naga berwarna merah dinyalakan di atas meja sembahyangan yang dihias seperti meja sembahyangan pengantin saja!
Kemudian terdengar suara Ka Chong Hoatsu berkata kepadanya.
"Kwa-Sicu, silakan kau melakukan sembahyang untuk menghormat abu jenazah mendiang suami Ching Toa-Nio."
Pendeta itu menyerahkan beberapa batang hio (dupa batang) kepada Kun Hong.
Pemuda buta ini bingung, akan tetapi merasa tidak enak untuk menolak.
Penghormatan kepada abu jenazah merupakan syarat kesopanan yang tak mungkin ditolak.
Dia menurut saja ketika dituntun ke depan meja sembahyang.
"Bersembahyang di depan abu jenazah seorang yang tinggi tingkatnya, harus berlutut,"
Ka Chong Hoatsu berbisik dan Kun Hong yang pada dasarnya berwatak sopan dan suka merendahkan diri, kali ini juga tidak membantah, lalu berlutut, menyelipkan tongkat di pinggang dan memegangi batang-batang hio itu di antara tangannya.
Pada saat itu dia mendengar suara banyak kaki secara halus melangkah datang.
Di sana sini terdengar suara wanita tertawa tertahan, kemudian dia mendengar suara orang berlutut di samping kirinya.
Lalu kagetlah dia ketika dia mencium bau harum yang sudah amat dikenalnya, keharuman yang sama benar dengan ganda yang diciumnya ketika dia mengobati Hui Kauw di dalam kamar tadi.
Tak dapat diragukan lagi, Hui Kauw tentu orangnya yang sekarang berlutut di sebelah kirinya!
Apa artinya ini?
Kenapa ia harus bersembahyang di depan abu jenazah itu berdampingan dengan Hui Kauw?
Dia ragu-ragu dan menahan diri, tidak segera bersembahyang.
Pada saat itu, di antara suara hiruk-pikuk para pelayan, ia mendengar suara Loan Ki, penuh ejekan, penuh kebencian.
"Hah, yang laki buta, yang perempuan bermuka hitam. Belum pernah selama hidupku melihat sepasang pengantin begini buruk!"
Kun Hong kaget setengah mati, tangan kirinya bergerak meraba dan... dia mendapat kenyataan bahwa Hui Kauw memakai pakaian pengantin, dengan muka berkerudung! "Apa artinya ini?"
Dia berseru dan bangkit berdiri membuang hionya ke samping.
Tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menekan pundaknya, jari-jari tangan yang amat kuat itu mencengkeram jalan darahnya di pundak yang mengancam, karena begitu diremas dia akan menjadi lumpuh!
Lalu terdengar bisikan suara Ka Chong Hoatsu.
"Orang she Kwa, jangan menolak! Kau telah mencemarkan nama baik nona Giam Hui Kauw, kau malah telah mengobatinya sampai sembuh. Untuk membalas budimu, dan untuk membersihkan namanya, kau sudah dipilih menjadi suami yang sah. Nona Hui Kauw sendiri sudah setuju. Bagaimana kau dapat menolaknya?"
Muka Kun Hong sebentar merah sebentar pucat.
Dia tidak mengerti bagaimana urusan berbalik menjadi begini.
Dia memang suka kepada Hui Kauw, suka dan menaruh simpati besar, juga amat berkasihan menghadapi nasib buruk nona bersuara Bidadari ini.
Baru suaranya saja sudah mampu merampas rasa kasih sayangnya.
Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dijodohkan secara begini, secara paksa dan tiba-tiba.
Juga, di lubuk hatinya tidak ada sedikit pun niat untuk menikah dengan wanita lain setelah dia kehilangan Cui Bi.
Seorang buta seperti dia mana mampu mendatangkan kebahagiaan kepada seorang isteri?
"Tidak...
tidak...!
Aku bukan boneka yang boleh kalian permainkan begitu saja!
Aku seorang manusia!"
Bantahnya, tidak perduli betapa tekanan pada pundaknya makin menghebat yang berarti Hwesio itu memperhebat pula ancamannya.
"Orang she Kwa, kau tidak boleh menolak! Tidak ada pilihan lain bagimu, menerima dan menjadi mantu Ching Toa-Nio untuk membersihkan nama baik nona Hui Kauw yang kau cemarkan kemudian membantu semua usaha kita bersama, atau kau harus mati sekarang juga!"
Kemudian dengan suara lebih perlahan di dekat telinga Kun Hong.
"Bocah tolol, tak usah kau berpura-pura. Kau mencinta ia, bukan? Nah, apalagi soalnya?"
"Tidak! Sekali lagi tidak. Tak sudi aku dijadikan begini...!"
Kun Hong berteriak lagi dengan marah sekali, seluruh urat di tubuhnya sudah menegang untuk melakukan perlawanan.
Akan tetapi terpaksa dia menahan kemarahannya karena ancaman pada jalan darah di pundaknya itu benar-benar berbahaya sekali.
Tiba-tiba Hui Kauw yang berlutut di sampingnya itu terisak-isak menangis, lalu terdengar gadis itu menjerit tinggi satu kali, disusul kata-kata yang memilukan.
"Ya Tuhan... apa dosaku sehingga kalian menghina aku begini rupa?"
Setelah itu, cepat laksana kilat gadis ini menerjang ke kanan menyerang Ka Chong Hoatsu dengan pedangnya yang tadi ia sembunyikan di balik pakaian pengantin yang longgar.
Kini kerudung kepalanya sudah dibuka dan wajahnya yang berkulit hitam itu jelas nampak agak pucat dan basah air mata.
Serangan ini hebat bukan main karena Hui Kauw mempergunakan jurus daripada ilmu pedangnya yang ia rahasiakan.
Ka Chong Hoatsu adalah seorang tokoh besar yang amat lihai, namun dia terkesiap juga menghadapi serangan luar biasa ini, yang bagaikan halilintar menyambar ke arah dadanya.
Terpaksa dia melepaskan cengkeramannya pada pundak Kun Hong dan berjungkir balik ke belakang sambil mengibaskan ujung lengan bajunya yang panjang.
Hampir terpental lepas pedang di tangan Hui Kauw ketika dikebut oleh ujung lengan baju ini, Akan tetapi Hui Kauw tidak menyerang terus, melainkan terisak-isak dan meloncat jauh, berlari sambil menangis lenyap dalam gerombolan pohon di hutan.
Dari jauh masih terdengar suara tangisnya yang kian menghilang.
Kun Hong bersyukur sekali.
Dia maklum bahwa gadis itu tadi menyerang Ka Chong Hoatsu dengan maksud menolongnya terlepas daripada cengkeraman yang membuat dia tidak berdaya.
Pada saat itu terdengar Loan Ki berseru.
"Bagus, Hong-Ko. Jangan takut, aku bantu kau!"
Dan gadis ini pun sudah meloncat ke tengah ruangan itu, di depan meja sembahyang, berdiri tegak dengan pedang di tangan di sebelah Kun Hong!
Kembali Kun Hong melengak heran.
Bagaimana sih gadis lincah ini?
Sebentar membantunya, sebentar mencelakainya, kadang-kadang membelanya, ada kalanya mengkhianatinya.
Tadi baru saja mencemooh dan dengan ucapan mengandung suara menghina telah mengejeknya, tetapi sekarang suaranya berbeda sekali ketika menyebut "Hong-Ko"
Dan sekarang malah siap membantunya.
Dia benar-benar bingung, apalagi mengingat perbuatan Hui Kauw tadi.
Kenapa gadis yang sudah dapat dia kenal watak perangainya yang halus dan murni itu mau saja disuruh bersembahyang sebagai pengantin dengannya, Kemudian kenapa pula gadis itu menangis sedih dan malah menerjang Ka Chong Hoatsu untuk menolongnya, setelah itu malah melarikan diri?
Benar-benar dia tidak mengerti akan sikap gadis-gadis ini.
Akan tetapi dia juga merasa khawatir sekali.
Dia maklum betapa lihainya orang-orang di pulau ini dan kepandaian Loan Ki masih jauh daripada cukup untuk menghadapi mereka.
Dia sendiri pun belum tentu akan dapat menangkan mereka yang lihai-lihai itu, apalagi Ka Chong Hoatsu si Hwesio tua yang tadi mencengkeram pundaknya.
Andaikata Hui Kauw tidak lari dan mau membantunya, gadis bersuara Bidadari itu memiliki kepandaian hebat dan boleh diandalkan.
Tadi saja dengan sekali gebrakan, sejurus serangan gadis itu telah mampu memaksa Ka Chong Hoatsu melepaskan cengkeramannya.
"Orang muda, kau benar-benar sombong. Orang telah memperlakukan kau dengan baik, sungguhpun kau telah menimbulkan kerIbutan. Kau dimaafkan, malah kelakuanmu yang merusak dan mencemarkan nama baik seorang gadis telah dimaafkan, sebaliknya daripada dihukum, kau malah diangkat menjadi mantu. Akan tetapi dengan sombong kau menolak, ini bukan saja merupakan penghinaan terhadap nyonya rumah, akan tetapi juga kau telah menghancurkan perasaan seorang gadis dan kau telah menghina Pinceng (aku) pula yang bertindak sebagai perantara! Dosamu bertumpuk dan sekarang Pinceng takkan sudi lagi memandang kebutaan matamu atau wajah mendiang gurumu, Yok-Mo."
Kun Hong melangkah maju, sengaja agar Loan Ki berada di belakangnya untuk menjaga kalau Hwesio yang lihai itu mengirim serangan, jangan sampai Loan Ki menjadi korban.
Kemudian dia tersenyum sinis dan menegur.
"Lo-Suhu, kalau aku tidak salah menduga, kau adalah seorang Hwesio, pemeluk Agama Buddha yang luhur dan mulia. Lo-Suhu, lupakah kau akan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab Buddha? Lupakah kau akan ayat-ayat dalam kitab misalnya Dhammapada yang mengingatkan manusia sewaktu hidup akan segala maksiat yang akan merugikan diri sendiri?"
Sampai di sini Kun Hong lalu mendongak dan suaranya yang nyaring itu melagukan nyanyian yang merupakan doa dari kitab Agama Buddha.
"Dia yang dapat menahan kemarahan, seperti seorang menahan kaburnya kereta, dialah patut disebut seorang kusir sejati. Kalahkan amarah dengan kasih, tundukkan kejahatan dengan kebajikan, kerakusan dengan kerelaan, dan kebohongan dengan kebenaran."
Sampai di sini Ka Chong Hoatsu sudah tertawa bergelak sehingga Kun Hong menghentikan nyanyiannya.
"Ha-ha-ha-ha, bocah buta masih ingusan, kau berani mengajar Pinceng tentang ayat kitab Dhammapada? Ha-ha-ha, seperti orang mengajar ikan tentang renang!"
"Kalau perlu boleh saja, Lo-Suhu, Sungguhpun ikan pandai berenang, kadang-kadang dia akan tersesat dan tertarik oleh kemilaunya kotoran-kotoran di permukaan air sehingga tanpa disadari ikan itu akan berenang menentang arus dan menemui kehancurannya."
"Huh, bocah she Kwa. Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk bersikap sombong dan kurang ajar di depan Pinceng. Hemm, bocah buta, Yok-Mo sendiri yang kau sebut sebagai gurumu masih tidak berani memandang rendah kepada Pinceng. Majulah dan coba perlihatkan kepandaianmu!"
Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak.
"Lo-Suhu, aku tidak ingin berkelahi dengan siapa pun juga..."
"Ha, kau jerih kepada Ka Chong Ho-atsu?"
Hwesio itu mengejek.
"Aku pun tidak jerih atau takut kepada siapa pun juga."
"Kalau begitu majulah, hayo perlihatkan kepandaianmu!"
"Lo-Suhu, aku tidak ingin berkelahi, hanya ingin supaya aku dan nona ini diperbolehkan pergi dengan aman. Kami tidak bermaksud mengganggu kalian penghuni pulau ini..."
"Tai-Su, mengapa berdebat dengan setan kurang ajar itu? Tolong kau tangkap dia untukku, biar puas aku memberi hukuman kepadanya!"
Kata Ching Toa-Nio dengan suara gemas. (lanjut ke
Jilid 09) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09
"Bocah Kwa, lihat tongkat!"
Bentak Ka Chong Hoatsu dan Kun Hong cepat mendorong Loan Ki ke belakang agak jauh karena dia mendengar sambaran angin yang dahsyat sekali menyambar ke arahnya.
Bukan main hebatnya serangan ini dan Kun Hong memusatkan pikiran dan perasaannya, mengumpulkan hawa murni dan tenaga dalam di tubuhnya.
Dia tahu bahwa angin dahsyat itu menyembunyikan tongkat yang menyambar ke arah pinggangnya.
Sengaja dia memperlambat gerakannya dan begitu tongkat itu sudah menyambar dekat, dengan pengerahan Ginkang (ilmu meringankan tubuh) dia meloncat ke atas.
Tongkat itu mendesing di bawah kakinya, tak lebih dari sepuluh senti jaraknya, namun angin pukulan tongkat itu telah membuat Kun Hong seperti didorong dari bawah sehingga tubuhnya mumbul lagi belasan senti tingginya.
Dia makin kagum dan maklum bahwa kali ini dia menghadapi seorang lawan yang luar biasa tangguhnya, Malah mungkin tidak kalah lihai kalau dibandingkan dengan lawan yang paling ampuh yang pernah dihadapinya, yaitu tiga tahun yang lalu di puncak Thai-San, si tua bangka Pak-Thian Lo-Cu, guru dari Si Tangan Maut Bouw Si Ma, orang Mancu yang sekarang hadir di sini.
Kekaguman tidak hanya berada di fihak Kun Hong.
Juga Ka Chong Hoatsu kagum bukan main.
Cara pemuda buta itu menghadapi serangannya tadi benar-benar di luar dugaannya, dan cara ini sekaligus membingungkannya karena sama sekali bukan ilmu silat seperti yang pernah dia lihat dimainkan oleh Bu Beng Cu.
Memang, Kun Hong tadi tidak menggunakan Kim-Tiauw-Kun dalam menghadapi penyerangan ini, melainkan mempergunakan sebuah jurus pertahanan dari Ilmu Silat Im-Yang Kun-Hoat yang dia terima dari Si Raja Pedang Tan Beng San.
Jurus tadi lewat cepat sekali seperti menyambarnya halilintar.
Kini Kun Hong sudah berdiri tegak, kaki kanan ditekuk dengan ujung berdiri dan tumit menempel di kaki kiri, tangan kanan yang memegang tongkat ditaruh di depan dada dan tongkatnya tegak lurus ke atas menempel ujung hidung, tangan kiri dengan jari-jari terbuka lurus ke depan seperti menunjuk, seluruh tubuh tak bergerak, semua urat dalam tubuh menegap segenap perhatian dicurahkan ke depan dan sekelilingnya dalam sikap menjaga diri.
Ka Chong Hoatsu juga memasang kuda-kuda, akan tetapi dia meragu, tidak segera menjatuhkan serangannya.
Betapapun juga, dia masih sungkan untuk menyerang secara sungguh-sungguh.
Dia adalah seorang yang memiliki kedudukan besar dan dipandang tinggi di Utara, sejajar dengan Pak-Thian Lo-Cu, hanya kalau Pak-Thian Lo-Cu menganut aliran Agama To adalah dia merupakan wakil dari golongan Buddha.
Sudah jauh dia merantau, bahkan belasan tahun dia berada di India.
Semenjak pulang dari India, dia makin dipandang dan merupakan orang yang paling berkuasa di samping kepala suku di antara bangsanya, yaitu Bangsa Mongol yang sudah kalah perang dan kehilangan kedudukan itu.
Malah dia merupakan orang yang dipilih untuk mendidik Pangeran Souw Bu Lai yang dipandang menjadi seorang bangsawan yang mempunyai harapan untuk merampas kembali Kerajaan yang hilang.
Kedudukannya demikian besar dan tinggi, masa sekarang dia harus menggunakan kepandaiannya untuk bertempur sungguh-sungguh melawan seorang pemuda yang usianya dua puluh lima tahun paling banyak, yang buta kedua matanya lagi?
Inilah yang membuat Ka Chong Hoatsu ragu-ragu karena dalam pertempuran ini, kalau dia menang takkan berarti apa-apa akan tetapi kalau sampai kalah namanya akan hancur luluh sekaligus!
Dan dia pun maklum bahwa pemuda buta ini benar-benar memiliki simpanan rahasia ilmu yang tak boleh dipandang ringan.
Kedua jagoan ini sudah saling berhadapan memasang kuda-kuda, seperti dua buah patung tak bergerak sama sekali.
Ka Chong Hoatsu biarpun sudah tua namun tubuhnya tinggi besar dan kuda-kudanya gagah, kedua kaki terpentang, tubuh agak direndahkan, tongkat yang panjang dan berat itu melintang di depan dada, kedudukannya membayangkan tenaga yang dahsyat sekali.
Kun Hong sebaliknya tenang, namun kokoh kuat seperti batu karang menghadapi serbuan ombak samudera.
"Bun-Taihiap dari Kun-Lun-Pai yang terhormat telah tiba untuk bertemu dengan Toa-Nio...!!"
Terdengar seruan wanita penjaga dari jauh.
Belum lenyap gema suara itu, berkelebat bayangan putih dan bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, melayanglah turun seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali, berpakaian serba putih dan di punggungnya tergantung sebatang pedang yang tertutup sarung pedang terukir indah.
Begitu tiba di situ pemuda ini melihat keadaan Ka Chong Hoatsu, memandang heran lalu mengerling ke arah Kun Hong yang buta.
"Ah, kiranya Ka Chong Hoatsu sedang memberi pelajaran, sungguh kebetulan kedatanganku!"
Kata pemuda itu. Ka Chong Hoatsu sudah dari tadi membatalkan serangannya, lalu dia mengetukkan tongkatnya di atas tanah dan tertawa bergelak.
"Sungguh tak tahu malu Pinceng yang sudah tua bangka mau melayani seorang bocah buta, menjadikan buah tertawaan Bun-Sicu dari Kun-Lun-Pai saja. Ha-ha-ha!"
Akan tetapi pemuda baju putih itu tidak memperhatikan Ka Chong Hoatsu karena pada saat itu dia sedang memandang ke arah Kun Hong dengan bengong, malah dia segera melangkah mendekati dan mengamat-amati wajah Kun Hong dengan pandang mata penuh selidik.
Suaranya berubah ketika dia bertanya.
"Ka Chong Hoatsu, mau apakah dia datang ke sini dan mengapa hendak bertempur melawanmu?"
Ka Chong Hoatsu tertawa lagi.
Dia pernah beberapa kali datang ke Kun-Lun-San dan dia mengenal pemuda Kun-Lun yang lihai ini, yang selalu bersikap terbuka dan bersahaja terhadapnya, tidak menjilat-jilat akan tetapi amat jujur.
"Ha-ha, Bun-Sicu, sebetulnya Pinceng malu karena harus turun tangan terhadap seorang bocah buta. Tapi dia ini memang menjemukan, bermain gila dengan nona Hui Kauw..."
Pemuda baju putih itu mengeluarkan suara mendengus penuh, ejekan.
"Hemm, kiranya setelah kedua matamu buta, Kwa Kung Hong masih sama saja merupakan seorang pemuda hidung belang yang suka merayu dan menundukkan hati wanita. Lucu sekali! Kwa Kun Hong, apakah kau tidak kenal padaku?"
Tentu saja Kun Hong mengenalnya.
Biarpun dahulu belum mendapat kesempatan untuk berkenalan secara mendalam, namun mana bisa dia melupakan pemuda putera Ketua Kun-Lun-Pai yang dahulu menjadi tunangan dari kekasihnya, Tan Cui Bi (baca Rajawali Emas)?
Dia tahu bahwa pemuda ini adalah Bun Wan, putera dari Ketua Kun-Lun-Pai yang biarpun dahulu terus pulang dengan marah bersama Ayahnya dari puncak Thai-San, dan tidak menjadi saksi atas peristiwa mengerikan yang mengakibatkan kematian Cui Bi dan kebutaan matanya (baca Rajawali Emas), namun agaknya pemuda ini sudah mendengar tentang kebutaannya.
Dia menjura dengan hormat, mengangkat kedua tangan yang memegang gagang tongkat ke depan dada.
"Tentu saja aku ingat dan mengenal suara Bun-Enghiong dari Kun-Lun-Pai. Tapi sayang sekali semenjak bertahun-tahun ini pandanganmu masih sesempit dahulu, terutama dalam menilai watak seseorang. Sayang..."
Kembali Bun Wan, pemuda itu mendengus mencemooh atas ucapan ini. Kemudian dia menoleh ke arah Ching Toa-Nio dan berkata.
"Toa-Nio, karena aku telah datang di sini, kuharap Toa-Nio suka mengampuni dia dan membebaskannya. Harap Toa-Nio ketahui bahwa antara Ayahnya dan Ayahku ada hubungan persahabatan di waktu muda, oleh karena itu amatlah tidak enak kalau dia ini menerima hukuman di mana aku hadir. Tentu Ayah akan menegurku."
Ching Toa-Nio menggerutu.
"Dia ini terlalu kurang ajar, terlalu menghina kami, mana bisa aku memberi ampun?"
Akan tetapi Ka Chong Hoatsu segera berkata.
"Ching Toa-Nio, biarlah, melihat muka Bun-Sicu yang terhormat, biarlah kita mengampuninya dan membiarkan si buta ini pergi dari pulau. Apalagi mengingat akan nama besar Ciang-Bunjin dari Kun-Lun-Pai, Ayah Bun-Sicu yang kita hormati."
Melihat kesempatan baik ini, Loan Ki segera menggandeng tangan Kun Hong dan berkata.
"Hayo, Hong-Ko, kita pergi dari tempat terkutuk ini!"
Ia lalu menarik tangan Kun Hong dari situ sambil menjebirkan Bibir dan melerok ke sana ke mari kepada orang-orang yang berada di situ!
"He-he, bocah nakal.
Kau tidak boleh pergi!
Masih ada urusan yang akan Pinceng bicarakan denganmu sebagai wakil Ayahmu, urusan penting sekali.
Si buta ini boleh pergi sekarang juga, tapi kau tidak.
Kembalilah!"
Kata Ka Chong Hoat-su.
Mendengar ini Ching Toa-Nio tersenyum dan tahulah ia sekarang mengapa Hwesio yang menjadi tamu agung dan orang andalannya ini tadi membiarkan Kun Hong dibebaskan.
Kiranya Hwesio itu bermaksud supaya si buta itu mencari jalan ke luar dari pulau itu seorang diri dan hal ini terang tak mungkin dan akhirnya tentu akan membuat pemuda buta itu terjeblos ke dalam perangkap-perangkap rahasia dan takkan terlepas daripada hukuman dan pembalasannya juga!
"Betul, Nona.
Kau tidak boleh pergi dulu setelah menjadi tamu kami.
Kami hendak mengadakan hubungan dengan Ayahmu melalui kau!"
Katanya.
Loan Ki memutar otaknya.
Ia maklum bahwa jumlah lawan yang banyak ini amat sukar dilawan, biar oleh Kun Hong sekali pun.
Ia melepaskan tangan Kun Hong dan berjalan dengan langkah lebar ke dekat Ka Chong Hoatsu, langsung ia menegur.
"Hwesio tua, kau benar-benar mau mempermainkan aku seorang bocah perempuan? Aku tidak suka berada di sini, dekat kalian ini, dan aku mau pergi sekarang juga. Kalau nonamu ini mau pergi, siapa yang sanggup melarang? Aku berani bertaruh, kalau aku sungguh-sungguh menghendaki pergi, tongkatmu yang panjang dan tiada gunanya ini takkan mampu menghalangiku, Hwesio tua!"
Ka Chong Hoatsu tertawa, juga orang-orang yang berada di situ tertawa mengejek mendengar kata-kata itu.
Sebaliknya Kun Hong diam-diam mengeluh.
Benar-benar Loan Ki adalah seorang bocah yang tidak genah (normal) pikirnya, tidak mengerti tingginya langit dalamnya lautan.
Sudah jelas bahwa tingkat kepandaiannya masih kepalang tanggung, matang tidak mentah pun tidak, dibandingkan dengan kepandaian Ka Chong Hoatsu masih tertinggal jauh sekali.
Bagaimana sekarang berani mengucapkan tantangan yang begitu menggelikan?
Seperti katak dalam tempurung!
"Ha-ha-ha-ha, Pinceng kagum akan ketabahannmu, Nona cilik.
Betulkan tongkat Pinceng yang butut ini tidak akan mampu menghalangi kau pergi?"
"Tentu saja tidak mampu. Berani aku bertaruh! Kau boleh jadi lebih kuat dan lebih matang ilmu silatmu dibandingkan dengan aku karena kau sudah tua, akan tetapi aku menang muda dan aku lebih cepat daripadamu. Kalau aku lari cepat, mana kau mampu mengejarku?"
Kembali ucapan ini menggelikan dan Ka Chong Hoatsu juga tertawa bergelak.
Dia merasa malu untuk berdebat dengan seorang bocah, apalagi dalam soal kepandaian silat, maka biarpun hatinya mendongkol, dirinya tertawa dan diam-diam ingin mengalahkan bocah ini biar kapok dan tidak membuka mulut besar.
"Tentu saja, Pinceng sudah tua mana dapat lari cepat? Akan tetapi, agaknya kau ini seorang bocah perempuan cilik, juga tidak akan dapat melangkah lebar seperti Pinceng, ha-ha-ha!"
"Eh, Hwesio tua, jangan pandang rendah padaku, ya? Berani kau bertaruh dengan aku berlomba lari cepat? Mana kau berani. Huh, kau hanya berani menghina bocah perempuan mengandalkan kepandaian dan usia tua. Hayo, kalau kau berani berlomba lari cepat, biar kita bertaruh. Kalau kau kalah, kau dan semua orang ini tidak boleh menghalangi aku pergi dari pulau ini, kalau aku yang kalah, terserah kepadamu. Berani tidak?"
Sekali lagi Kun Hong mengeluh.
Kenapa Loan Ki begitu goblok?
Kalau tadi tak usah banyak cakap, tetap berada di dekatnya, tentu dia kan dapat melindungi nona cilik nakal itu.
Sekarang nona itu malah, mencari penyakit sendiri.
Mana mungkin menang berlomba lari cepat melawan Hwesio yang sakti itu?
"Ha-ha-ha, kau lucu sekali, Nona cilik.
Masa orang tua diajak balap lari.
Tapi biarlah, kalau tidak dituruti kehendakmu, khawatir kau akan rewel dan ngambek, bisa gagal maksud Pinceng menghubungi Ayahmu.
Ha-ha-ha!"
"Bagus, kau lihat bunga Bwee yang tumbuh di sana itu?"
Ka Chong Hoatsu mengangguk sambil tersenyum.
Pohon bunga Bwee itu tumbuh di sebelah kiri bangunan, kurang lebih dua ratus meter jaraknya dari situ.
Bagi kakek ini, beberapa belas kali lompatan saja di sudah akan sampai di sana!
"Nah, kita berlomba lari cepat sampai di tempat itu.
Siapa yang dapat memegang bunga Bwee itu lebih dulu, dia menang.
Setuju?"
"Ha-ha-ha setuju, setuju!"
Jawab Hwesio tua.
"Nah, kau bersiaplah, Hwesio. Aku akan menghitung sampai tiga, sebelum hitungan sampai tiga kau tidak boleh mulai lari. Jangan curang!"
"Ha-ha-ha, boleh... boleh..."
Jawab Ka Chong Hoatsu, gembira juga menyaksikan permainan kanak-kanak ini. Akan tetapi Loan Ki tidak segera menghitung, melainkan berdiri sambil mengerutkan keningnya yang bagus.
"Hayo lekas mulai!"
Tegur Ka Chong Hoatsu. Loan Ki menggeleng kepalanya.
"Percuma... aku masih belum percaya benar kepadamu, jangan-jangan setelah kalah kau masih curang dan menjilati janji sendiri. Kau benar-benar berjanji akan membebaskan kami berdua tanpa mengganggu pula kalau kalah balapan lari denganku?"
Ka Chong Hoatsu memandang dengan mata melotot besar.
"Bocah kurang ajar, Pinceng Ka Chong Hoatsu mana sudi menjilat ludah sendiri? Hayo mulai!"
"Orang gagah lebih baik mati daripada menjilat ludah sendiri tidak menepati janji. He, Ka Chong Hoatsu, kau berjanji akan membebaskan kami dan membiarkan kami pergi dari pulau ini kalau kau kalah balapan lari dengan aku?"
"Pinceng berjanji, gadis liar!"
Loan Ki tersenyum, manis sekali.
"Dan kau berjanji takkan berlaku curang dalam balapan lari ini, tidak akan mulai lari sebelum aku menghitung sampai tiga?"
"Setan cilik, siapa sudi bermain curang? Tak usah bermain curang, lebih baik Pinceng takkan lari selamanya kalau kalah cepat lariku daripada larimu. Hayo mulai!"
"Betulkah itu? Hi-hik, coba kita lihat dan saksikan bersama."
Gadis ini memasang kuda-kuda, siap untuk balapan lari, seperti orang hendak merangkak, berdiri dengan kaki dan tangan di atas tanah, tubuh belakangnya sengaja ditonjolkan ke atas sehingga ia nampak lucu sekali.
"Ha-ha-ha, kau seperti seekor kuda betina tanpa ekor!"
Ka Chong Hoatsu tertawa geli. Loan Ki tidak perduli, malah bicara dengan nyaring kepada semua orang yang berada di situ.
"Kalian semua mendengar janji Hwesio tua bangka ini! Sebelum aku menghitung sampai tiga, dia tidak boleh mulai lari!"
Kemudian ia mulai menghitung dengan suara lantang.
"Satu..."
Suasana menjadi tegang dan sunyi karena biarpun semua orang yakin bahwa gadis itu akan kalah, namun menyaksikan sikap bersungguh-sungguh dari Loan Ki, mereka menduga-duga dengan ilmu apakah gadis ini akan menghadapi kecepatan Ka Chong Hoatsu.
Juga Hwesio itu yang tadinya menganggap ringan dan sudah merasa yakin akan menang, melihat sikap ini dan mendengar suara aba-aba, menjadi tegang juga dan tanpa disadarinya dia sendiri pun telah siap memasang kuda-kuda untuk segera "Tancap gas"
Kalau hitungan itu sudah sampai tiga.
"Dua..."
Urat-urat di tubuh Ka Chong Hoatsu makin menegang, tumitnya sudah diangkat untuk segera melompat. Akan tetapi hitungan "Tiga"
Tidak keluar-keluar dari mulut Loan Ki, malah sekarang gadis itu berdiri dan berjalan cepat ke depan tanpa melanjutkan hitungannya.
Semua orang terheran, juga Ka Chong Hoatsu yang mengira gadis itu tentu akan mengatur sesuatu maka berjalan ke depan ke arah bunga Bwee itu.
Akan tetapi setelah berada dekat sekali, kurang lebih dua meter dari pohon bunga Bwee itu, tiba-tiba Loan Ki berteriak nyaring sekali.
"Tiga...!!"
Dan ia pun berlari maju memegang kembang itu sambil tertawa-tawa dan bersorak-sorak "Aku menang...! Hi-hik Hwesio tua, kau kalah!"
Ka Chong Hoatsu melengak.
Tentu saja tadi dia tidak sudi lari, karena kalau lari pun tak mungkin dapat menangkan Loan Ki yang sudah berada di dekat pohon itu, tinggal mengulur tangan saja.
Dari heran dia menjadi marah sekali.
"Gadis liar! Kau curang! Mana ada aturan begitu?"
Bentaknya. Loan Ki meloncat dengan gerakan ringan cepat sekali, tahu-tahu ia sudah berada di depan Ka Chong Hoatsu, menudingkan telunjuknya dengan marah.
"Ka Chong Hoatsu, kau seorang Hwesio tua, seorang yang namanya sudah terkenal di seluruh kolong langit, apakah hari ini kau hendak menjilat ludah sendiri dan berlaku curang? Ingat baik-baik bagaimana janji kita tadi. Bukankah kau sudah setuju dan berjanji takkan lari sebelum aku menghitung sampai tiga? Perjanjian menunggu sampai hitungan ke tiga ini tadi hanya dikenakan kepadamu, tidak kepadaku. Siapa yang berjanji bahwa aku juga harus menanti sampai hitungan ke tiga? Aku tidak melanggar janji siapa-siapa, aku tidak curang, dan kau sudah kalah, kalah mutlak. Coba katakan apa kau berani melanggar janjimu sendiri?"
Ka Chong Hoatsu terkesima, tak dapat bicara untuk beberapa lama.
Kemudian dia membanting-banting tongkatnya sehingga tanah yang bercampur batu di depannya menjadi bolong-bolong seperti agar-agar ditusuki biting saja.
"Bocah liar, kau memang menang, akan tetapi bukan menang karena kecepatan berlari, melainkan menang karena akal bulus!"
Loan Ki tersenyum manis dan menjura sampai dahinya hampir menyentuh tanah.
"Terima kasih, Ka Chong Hoatsu Hwesio tua yang manis! Kau telah menyatakan sendiri sekarang bahwa aku menang. Nah, memang aku menang dalam balapan ini dan karenanya juga aku menang dalam taruhan, bukan? Soal menang menggunakan akal bulus atau akal udang, itu sih tidak diadakan larangan dalam perjanjian tadi. Nah, selamat tinggal, Hoatsu."
Dengan langkah manja gadis ini lalu berjalan menghampiri Kun Hong.
Tiba-tiba ia mendengar angin berdesir di belakangnya.
Cepat ia menengok dan membalikkan tubuh, siap menanti penyerangan gelap.
Akan tetapi tidak ada apa-apa dan ia melihat Ka Chong Hoatsu berdiri sambil tertawa bergelak.
Ia memandang ke kanan kiri, semua orang yang berada di situ tertawa belaka.
Loan Ki mengangkat kedua pundaknya dan membalikkan tubuh lagi terus berjalan menghampiri Kun Hong, menggandeng lengan pemuda buta itu dan berbisik.
"Mari kita pergi, Hong-Ko."
Ditariknya pemuda itu.
"Ki-moi, kau tadi dipermainkan Ka Chong Hoatsu, buntalanmu di punggung apakah masih ada?"
Bisik Kun Hong.
Loan Ki terkejut, cepat meraba punggung dan...
ternyata Mahkota kuno yang berada di buntalan itu telah lenyap!
Ia cepat membalikkan tubuhnya memandang.
Eh, kiranya Mahkota itu kini sudah berada di tangan kiri Ka Chong Hoatsu yang masih tertawa-tawa.
"Hwesio tua, kau curi benda itu dari buntalanku, Ya?"
Loan Ki membentak sambil melotot. Ka Chong Hoatsu makin gembira tertawa.
"Ha-ha-ha, Pinceng takkan melanggar janji nona cilik, tapi perlu membuktikan bahwa Pinceng jauh lebih cepat daripadamu, sehingga benda ini kuambil tanpa kau dapat tahu atau merasa. Ke dua kalinya, benda ini kami tahan di sini sebagai undangan kepada Ayahmu."
"Bagus! Ayah pasti akan datang untuk merampasnya dari tanganmu, Hwesio sombong!"
Setelah berkata demikian, Loan Ki memperlihatkan muka marah dan menarik Kun Hong pergi dari situ, menuju ke pantai yang kini sudah ia ketahui jalannya.
Setelah pergi jauh dan tidak terdengar lagi suara mereka di belakang, Loan Ki berkata lirih.
"Hayaaaa, sungguh berbahaya! Baiknya aku mendapat akal dan bisa menang berlomba lari"
"Kau memang cerdik, nakal dan... aneh..."
Kata Kun Hong.
"Kalau tidak menggunakan kecerdikan, mana bisa kita ke luar dari tempat ini? He, Hong-Ko, kau sudah kenal pemuda baju putih yang gagah tadi? Wah, dia kelihatan lihai sekali, ya? Dan dia telah menolongmu."
Kun Hong tersenyum.
Terbayang dalam benaknya wajah Bun Wan yang memang gagah, dan terbayang pula wajah Cui Bi, maka bangkitlah perasaan bangga dan terharu, juga sedih.
Cui Bi sudah mempunyai tunangan segagah Bun Wan, kenapa memberatkan dia?
Padahal wajah dan bentuk tubuh Bun Wan benar-benar dapat menjatuhkan hati setiap orang wanita, dan buktinya Loan Ki gadis lincah yang berhati angkuh ini sekali berjumpa terus memuji-muji.
"Dia putera tunggal Ketua Kun-Lun-Pai, tentu saja gagah dan lihai."
Hening sejenak. Kun Hong heran, merasa betapa gadis di sebelahnya yang menggandeng tangannya ini agaknya berpikir dan menimbang-nimbang, entah apa yang dipikirkannya.
"Tapi aku tidak suka kepadanya, Hong-Ko,"
Katanya tiba-tiba.
"Heee? Apa maksudmu? Kenapa tidak suka?"
Tanya Kun Hong heran karena pertanyaan yang tiba-tiba itu memang tak diduganya sama sekali, tadi memuji sekarang tidak suka.
Bagaimana ini?
"Aku malah benci padanya!
Dia tadi datang-datang memakimu sebagai seorang pemuda hidung belang yang suka merayu hati wanita.
Sungguhpun pernyataan itu memang betul!"
"Eh, kau juga menganggap aku begitu? Tidak betul itu..."
"Sudahlah, kau memang hidung belang! Jangan bantah lagi. Kulihat tadi gadis cantik jelita puteri Ching Toa-Nio main mata dengan orang she Bun dari Kun-Lun-pai itu. Hemmm, memang cantik jelita sekali Hui Siang itu, Hong-Ko, cantik seperti Bidadari. Heran aku mengapa kau tidak jatuh hati kepadanya, sebaliknya malah tergila-gila kepada Hui Kauw yang buruk rupa."
Kun Hong menarik napas panjang.
"Aku tidak tergila-gila kepada siapa pun juga, Ki-moi... kau tidak tahu..."
Tiba-tiba Loan Ki berhenti melangkah dan Kun Hong juga terkejut ketika mendengar suara mendesis-desis, dan mencium bau yang amis.
Ular!
Banyak sekali ular menggeleser datang dari empat penjuru dan sebentar saja mereka terkurung ular yang amat banyak.
"Heeeiii, Ka Chong Hoatsu, tua bangka bau! Apakah kau begini tak tahu malu untuk melanggar janjimu sendiri?"
Loan Ki berteriak nyaring ke arah belakang. Tidak terdengar jawaban dari belakang, akan tetapi dari depan sana terdengar lapat-lapat suara wanita tertawa disusul kata-kata mengejek.
"Ular-ular bukan manusia, tidak termasuk dalam perjanjian. Yang ingin meninggalkan Ching-Coa-To harus dapat melalui barisan ular hijau."
Biarpun hanya lapat-lapat, jelas bahwa itu adalah suara Hui Siang gadis cantik jelita yang galak itu.
"Hui Siang budak genit!"
Loan Ki berteriak marah.
"Kau kira kami tidak mampu membubarkan barisan anak-anakmu yang sial ini?"
Kun Hong sudah siap dengan tongkatnya untuk menghajar setiap ular yang berani mendekat. Akan tetapi Loan Ki menggandeng tangannya diajak maju terus.
"Hati-hati,"
Bisik Kun Hong.
"Siapkan senjatamu. Wah, sayang sekali Mahkota kuno itu dirampas oleh Ka Chong Hoatsu."
Loan Ki mengikik tertawa.
"Kau kira aku begitu bodoh? Hayo maju terus, Hong-Ko, jangan takut ular-ular itu. Mainan kanak-kanak!"
Ia menyombong dan menarik tangan Kun Hong untuk maju terus.
Kun Hong merasa heran dan kaget ketika mendengar betapa barisan ular itu menyimpang di kala mereka lewat, seakan-akan binatang-binatang itu takut kepada mereka.
"Eh, bagaimana ini... Ki-moi, kenapa ular-ular itu..."
Tiba-tiba dia tersenyum.
"Ha, kau benar-benar bocah nakal dan cerdik. Tentu mutiara-mutiara mustika itu kau ambil dari Mahkota."
"Hussh, diam saja, Hong-Ko. Kau biarpun buta memang cerdik. Mari kita maju terus, itu pantai sudah tampak dari sini."
Dari jauh Loan Ki melihat bayangan Hui Siang berkelebat cepat disusul suara kecewa nona cantik itu yang agaknya terheran-heran dan kecewa melihat mereka berdua ternyata dapat lolos dari kurungan barisan ular secara mudah.
Sementara itu, Kun Hong dan Loan Ki sudah tiba di pinggir telaga.
Di situ tidak ada perahu, akan tetapi Loan Ki cerdik tidak menjadi bingung.
Dengan pedangnya ia menebang pohon besar dua batang, mengikat dua batang pohon menjadi satu dijadikan rakit atau perahu.
Dengan kepandaian dan tenaga mereka mudah saja mereka akan menggunakan perahu istimewa ini dan mendayungnya ke pantai seberang.
Sebentar saja mereka telah menurunkan perahu ke dalam air, Kun Hong duduk di depan sedangkan gadis itu di belakang.
Keduanya sudah memegang sebuah dayung terbuat daripada cabang pohon yang besar dan kuat.
"Ahooi...! Orang-orang Ching-Coa-To...!"
Loan Ki mengeluarkan suaranya sebelum perahu itu didayung ke tengah.
"Aku sudah menerima penyambutan di Ching-Coa-To, kalau kalian memang ada nyali, lain waktu kunanti kunjungan balasan kalian di Pek-Tiok-Lim pantai Pohai."
Namun tidak ada jawaban. Loan Ki mendayung perahunya ke tengah menuju ke pantai yang tampak di seberang sana. Ia tersenyum-senyum dan kelihatan gembira sekali. Ditepuknya pundak Kun Hong.
"He, Hong-Ko, kenapa kau diam saja? Hayo nyanyi lagi seperti ketika kita berangkat."
Melihat betapa Kun Hong tersenyum pahit, gadis itu mengerutkan keningnya dan mengejek.
"Aha, agaknya hatimu tertinggal di pulau itu, ya? Waah, memang kasihan Hui Kauw, dia amat mencintamu, Hong-Ko!"
Ucapan ini mendebarkan jantung Kun Hong.
"Ki-moi, kau terlalu mudah menuduh orang. Siapa sudi mencinta seorang tak bermata? Ki-moi, bagaimana kau bisa bilang begitu?"
"Eh, siapa bohong? Kalau ia tidak mencintamu, tak mungkin ia sudi menjalani upacara pernikahan denganmu"
Kun Hong makin tertarik, karena memang hal yang amat aneh baginya itu sangat membingungkan.
"Loan Ki moi-moi yang baik, kalau kau tahu akan persoalan itu, kau ceritakanlah kepadaku. Sampai sekarang aku benar-benar masih bingung sekali, tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka hendak mengawinkan aku dan mengapa pula ia tadinya suka melakukan upacara itu."
Loan Ki tertawa.
"Semua gara-gara Ka Chong Hoatsu itulah. Karena tadinya aku dianggap oleh mereka "Orang sendiri"
Maka aku boleh mendengarkan semua perundingan mereka, hi-hik.
Setelah kau menyembuhkan Hui Kauw, Ibunya itu mendatangi Hui Kauw dan membujuknya supaya suka menikah denganmu.
Ibunya, si Toa-Nio yang jahat itu mengatakan kepada Hui Kauw bahwa kau juga sudah setuju menjadi suaminya, bahwa pernikahan itu sudah seharusnya karena perhubungan kau dengan Hui Kauw sudah menjadi buah Bibir para pelayan dan kalau sampai bocor ke luar tentu akan mencemarkan nama Hui Kauw.
Pula bahwa kau sudah menyembuhkan luka-lukanya dengan cara yang sebetulnya tak boleh dilakukan orang lain, yaitu menelanjangi tubuh bagian atas.
Akhirnya Hui Kauw setuju.
Biarpun ia tidak bilang apa-apa, buktinya ia tidak menolak ketika dirias seperti pengantin.
Hi-hik aku geli dan juga muak melihat semua itu.
Benar-benar tak tahu malu!"
Kun Hong mengerutkan keningnya.
Dia merasa amat berkasihan kepada Hui Kauw si nona bersuara Bidadari itu.
Kini dia dapat menerka apa yang telah terjadi, dapat menyelami perasaan nona itu dan dapat menduga betapa hancur hatinya.
Sebelumnya dia sudah mendengar percakapan antara Hui Kauw dengan Ibunya yang hendak memaksa anaknya itu berjodoh dengan Pangeran Mongol dan hal ini ditolak tegas oleh Hui Kauw.
Lalu terjadi kehebohan fitnah ketika dia muncul, disusul dengan terluka dan hampir tewasnya nona itu dan akhirnya pengobatan yang dia lakukan.
Agaknya karena keadaan amat terdesak Hui Kauw menerima saja keputusan dijodohkan dengan dia, ataukah di sana lain dasar?
Cinta kasih?
Tak mungkin!
Mungkinkah kalau seorang gadis Bidadari seperti Hui Kauw sampi jatuh cinta kepada seorang buta macam dia?
Tak mungkin, bantah hatinya.
Betapapun juga, karena dia tidak menyangka akan hal-hal ini sebelumnya, ketika mengetahui bahwa dia sedang melakukan sembahyangan pengantin, dia telah menolaknya.
Tentu saja, dia dapat membayangkan ini dengan hati perih, tentu saja Hui Kauw amat tersinggung, bahkan terhina oleh penolakannya itu.
Gadis itu menjalani upacara hanya karena terhasut, dibohongi mengira bahwa dia pun sudah setuju.
Siapa tahu gadis itu mendengar betapa dia menolaknya.
Seorang gadis ditolak oleh mempelai pria!
Alangkah hebat penderitaan batin gadis itu.
Dapatkah gadis itu memaafkannya?
Mungkinkah ada maaf untuk penghinaan sehebat itu?
"Tak mungkin!"
Kini jawaban hati Kun Hong disertai suara Bibirnya yang bergerak.
"Apa yang tak mungkin, Hong-Ko?"
Loan Ki bertanya. Kun Hong kaget dan baru sadar bahwa dia terlalu dalam tenggelam dalam lamunannya.
"Tidak apa-apa, Ki-moi. Aku hanya merasa heran akan sikapmu ketika berada di pulau. Ketika aku menghadapi mereka kenapa kau malah merobohkan aku dengan totokan? Mengapa kau menyerangku secara menggelap? Bukankah perbuatan itu aneh sekali, Ki-moi?"
Gadis itu cemberut.
"Aneh apa? Habis melihat kau mati-matian melindungi dan membela Hui Kauw, siapa orangnya tidak menjadi dongkol hatinya!"
Kun Hong makin heran.
Mungkinkah gadis lincah ini timbul rasa cemburu dan iri hati terhadap Hui Kauw?
Heran, tanpa adanya cinta mana bisa timbul cemburu dan iri hati?
Apakah gadis ini...
cinta kepadanya?
Kun Hong menggeleng kepala keras-keras.
Tak mungkin lagi ini!
"Ki-moi, kau benar-benar orang aneh.
Mula-mula kau menotokku roboh, di lain detik kau malah membelaku ketika Ching Toa-Nio hendak menghabisi nyawaku, kemudian kau bersekutu dengan mereka, membiarkan aku dijadikan bahan permainan dan disuruh sembahyang.
Kau diam saja malah mentertawakan."
"Tentu saja. Biar mendongkol aku belum ingin melihat kau mampus. Tapi kau... kau kembali membela Hui Kauw mati-matian. Kau mencinta Hui Kauw seperti juga kau cinta Lauw Swat-ji si gadis genit puteri Hui-Houw-Pangcu itu dan seperti kau cinta si janda muda. Cih, orang mata keranjang macammu mana patut dibantu?"
"Hemmm, lidahmu tajam sekali, adik Loan Ki. Akan tetapi kenapa kau tadi kembali membantu aku secara tiba-tiba dan mengajakku ke luar dari pulau itu?"
Suara Loan Ki terdengar kaku membayangkan kemengkalan hatinya.
"Habis, kau tidak suka menikah dengan Hui Kauw, masa yang begini saja kau tanya?"
Makin heranlah Kun Hong. Mendengar ini semua, jawabannya hanya satu, yaitu bahwa gadis ini cinta kepadanya. Akan tetapi sikapnya sama sekali bukan seperti orang mencinta.
"Kau melongo seperti orang bingung. Benar-benar bodoh sekali. Masa yang begini saja tidak mengerti, Hong-Ko? Kalau kau tergila-gila kepada seorang gadis masa aku harus berbaik kepadamu? Tidak sudi!"
"Ki-moi..."
Suara Kun Hong agak gemetar karena dia amat khawatir kalau-kalau dugaannya betul, bahwa gadis ini cinta kepadanya.
"Tentang hal itu... andaikata aku tergila-gila kepada seorang gadis lain, ada sangkutan apakah dengan dirimu?"
"Sangkutan apa? Tentu saja aku tidak ada sangkut paut apa-apa! Akan tetapi, di depanku kau tidak semestinya tergila-gila kepada lain gadis, hemmm... pendeknya aku tidak suka, dan habis perkara!"
Kun Hong makin tidak mengerti. Gadis aneh. Akan tetapi lega juga dia karena didengar dari ucapan ini, agaknya dugaannya tidak betul, bahwa gadis ini tak mungkin jatuh cinta kepadanya.
"Sudah sampaikah ke tepi daratan, Ki-moi?"
Perahu batang pohon itu berhenti, menabrak karang.
"Sudah, mari kita melompat!"
Dengan menggandeng tangan Kun Hong, Loan Ki mengajak pemuda itu melompat ke depan dan benar saja, mereka telah tiba di daratan.
Tapi begitu mendarat, serta merta Loan Ki menangis tersedu-sedu sambil mendeprok di atas tanah, menutupi mukanya dengan saputangan, Kun Hong heran dan kaget sekali.
"Eh... kenapa kau menangis?"
Sampai lama Loan Ki tak dapat menjawab karena isak tangisnya membuat ia tak dapat berkata-kata. Kun Hong terpaksa berlutut di depannya dan berkali kali mengajukan pertanyaan dengan hati cemas.
"Kau kenapakah? Sakitkah kau?"
Dipegangnya nadi lengan gadis itu, ternyata tidak ada gangguan kesehatannya.
"Kau tidak apa-apa, kenapa menangis?"
"Tidak apa-apa katamu? Enak saja kau bicara. Dasar kau tidak punya liangsim (prIbudi), melihat orang terhina serendah-rendahnya malah pura-pura tidak tahu dan masih bertanya-tanya segala!"
"Terhina? Kau? Oleh siapa dan bagaimana?"
Kun Hong benar-benar bingung.
Tiba-tiba gadis itu meloncat bangun dan membanting-banting kaki, menangis lagi.
Kun Hong juga bangun, menggeleng-geleng kepala dan makin bingung.
Benar-benar dia tidak mengerti dan tidak dapat menduga apa yang menyebabkan gadis ini berhal seperti itu.
"Ki-moi, aku mengaku bodoh, kau katakanlah, siapa yang menghinamu dan dengan cara bagaimana aku benar-benar tidak mengerti!"
"Berkali-kali aku dikalahkan orang di pulau Ching-Coa-To, aku tidak berdaya, bukankah itu berarti penghinaan-penghinaan yang paling rendah? Kau masih pura-pura bertanya lagi?"
Ia membentak marah. Kun Hong tersenyum.
"Ah, itukah yang kau anggap penghinaan? Ki-moi, kalah atau menang dalam pertempuran merupakan hal yang lumrah di dunia persilatan, kenapa kau merasa terhina? Biar kalah dalam pertempuran asalkan tidak salah. Orang yang berada di pihak benar boleh kalah bertempur namun di dalam batin senantiasa merasa menang."
"Enak saja! Aku puteri tunggal dari Pek-Tiok-Lim, selama hidupku tak pernah kalah dalam pertempuran. Sekarang di pulau terkutuk itu berkali-kali dikalahkan orang, sedangkan kau seorang buta saja tak pernah kalah. Bukankah ini memalukan sekali? Ah, celaka... celaka..."
Dan ia menangis lagi dengan amat sedihnya. Kun Hong merasa kasihan. Dia akan berpisah dengan gadis ini dan kalau dia tinggalkan dalam keadaan begitu, kecewa dan berduka, sungguh dia tidak tega.
"Ki-moi, mari kuajari kau beberapa langkah yang akan membikin kau tidak mudah dikalahkan orang lagi."
Seketika suara tangis gadis itu berhenti seperti seekor jangkerik terpijak. Malah suaranya mengandung kegembiraan besar.
"Benarkah, Hong-Ko? Kau hendak memberi pelajaran ilmu pukulan kepadaku?"
"Bukan ilmu pukulan, melainkan ilmu langkah rahasia. Kau lihat dan perhatikan baik-baik, semua ada dua puluh empat langkah rahasia. Lihat dan ingat baik-baik, aku mulai!"
Kun Hong lalu memasang kuda-kuda dan mulailah dia menjalankan langkah-langkah rahasia berdasarkan Kim-Tiauw-Kun (Ilmu Silat Rajawali Emas).
Melihat betapa Kun Hong melangkah dengan aneh, terhuyung-huyung, membongkok kadang-kadang jinjit (berdiri di atas ujung kaki), Loan Ki merasa kecewa.
Agaknya tarikan nafasnya tidak terlepas dari pendengaran Kun Hong yang tertawa sambil berkata.
"Ki-moi, jangan kau pandang rendah ilmu langkah ini, kau cabutlah pedangmu dan kau boleh mencoba untuk menyerangku. Dengan langkah-langkah ini semua seranganmu akan gagal."
Dasar seorang gadis jujur, tanpa bai-sengki (sungkan) lagi Loan Ki mencabut pedangnya dan menyerang kalang-kabut.
Akan tetapi ia merasa seperti menyerang bayangan saja.
Kilatan pedangnya yang seakan-akan sudah akan mengenai Kun Hong sampai ia menjadi kaget sendiri, ternyata hanya lewat di samping tubuh pemuda itu yang terus melangkah dengan cara aneh.
Lewat tiga puluh jurus ia berhenti menyerang dan menyimpan pedangnya.
"Wah, Hong-Ko, hebat ilmu langkah itu. Mari kupelajari baik-baik. Kau melangkahlah, jangan cepat-cepat!"
Katanya gembira sekali.
Maka belajarlah gadis itu dengan tekun dan penuh perhatian.
Dasar ia berbakat baik dan memang sudah memiliki dasar-dasar yang kuat, setelah berlatih beberapa hari lamanya ia sudah hafal dan dapat melangkah dengan cukup baik.
Saking girangnya gadis ini menari-nari lalu memeluk Kun Hong!
"Hong-Ko, terima kasih.
Ilmu langkah ini apa namanya, Hong-Ko?"
Kun Hong bingung. Ketika dia mempelajari ilmu langkah ini, dia sendiri tidak tahu namanya. Pikirannya bekerja, lalu dengan cerdik dia berkata.
"Inilah Ilmu Langkah Hui-Thian Jip-Te (Terbang ke Langit Amblas ke Bumi) sebanyak dua puluh empat langkah. Dengan ilmu ini setelah kau latih dengan sempurna, tidak mudah kau dirobohkan orang."
Dengan cerdik Kun Hong mengatakan "Dirobohkan orang"
Karena tentu saja dengan ilmu itu masih mungkin gadis yang lincah ini dikalahkan orang, namun untuk dirobohkan, kiranya tidaklah mudah.
Loan Ki masih kegirangan, menari-nari dan melatih ilmu langkah yang baru ia pelajari itu.
Memang pada dasarnya ia gesit dan lincah, tentu saja kini mendapatkan ilmu langkah yang ajaib itu, ia bagaikan seekor anak kijang tumbuh sayap!
Saking asyiknya melatih diri, Loan Ki sampai tidak memperhatikan atau menengok lagi kepada Kun Hong.
"Nah, selamat berpisah, Ki-moi. Semoga Thian selalu memberkahimu dan terutama sekali, menuntunmu ke jalan benar."
Baru kaget hati Loan Ki ketika mendengar kata-kata ini. Ia berhenti dan menoleh.
"Kau... hendak ke mana, Hong-Ko?"
Kun Hong tersenyum.
"Tiada pertemuan tanpa akhir di dunia ini, Ki-moi. Kita harus berpisah melanjutkan perjalanan masing-masing. Kau pulanglah ke rumah orang tuamu yang tentu sudah mengharap-harap pulangmu sedangkan aku... aku akan pergi ke mana saja nasib membawaku."
"Ih, jangan begitu, Hong-Ko. Mari kau ikut saja dengan aku ke Pek-Tiok-Lim, Ayah tentu senang bertemu denganmu."
Kun Hong menggeleng kepala.
"Terima kasih, Ki-moi. Biarlah lain kali kalau kebetulan aku lewat di sana, aku akan singgah menyampaikan hormatku kepada orang tuamu. Sekarang belum waktunya. Nah, selamat tinggal, adikku. Jangan lupa, jangan kau terlalu mudah membunuh orang. Kepandaian memang untuk menjaga diri dan membela kebenaran dan keadilan, akan tetapi sekali-sekali bukan untuk mendahului Tuhan, mencabut nyawa orang. Selamat tinggal."
Kun Hong melangkah sambil meraba-raba dengan tongkatnya.
Baca Juga: Pendekar Bodoh 9
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 7