Eps 2 Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Sinar Emas - Kho Ping Hoo.
Isteinya juga bukan seorang sembarangan, karena isterinya pun pandai ilmu silat dan masih menjadi murid dari cabang persilatan Hoa san pai.
Semenjak menikah dengan isterinya itu, Liem Po Coan lalu berubah menjadi seorang Han, bahkan namanyapun ia ganti dari nama Mongol menjadi Liem Po Coan!
ia tadinya hidup bertani dan mengasingkan diri bersama isterinya dan sama sekali tidak mau muncul ketika bangsanya menyerbu Tiongkok.
Akan tetapi ketika ia mendengar tentang kematian Ulan Tanu, tergeraklah hatinya dan pergilah ia ke kota raja bersama isteri dan anaknya.
Kaisar yang mengetahui tentang kepandaiannya, menawarkan pangkat tinggi, yang segera di terimanya.
Ia di angkat merjadi goanwse (jenderal) yang berkedudukan di kota raja menjadi pelindung kaisar dan bertanggung jawab keamanan di dalam kota raja.
Disamping itu, diam diam dialah yang memegang kendali pasukan Ang bi tin dan dia pulalah sebetulnya yang menggerakkan pasukan ini, Liem Po Coan sesungguhnya mengadakan atau melanjutkan gerakan pasukan Ang bi tin, yang dipelopori oleh keponakannya yakni putera dari Ulan Tanu yang bernama Salinga, bukan semata mata terdorong karena kebenciannya terhadap perwira perwira Han.
Ia mau membantu Salinga bukan untuk membalas dendam dari Ulan Tanu akan tetapi semata mata berdasarkan perhitungan yang masak dan demi kedudukannya sebagai penanggung jawab keselamatan kota raja.
Jenderal ini maklum bahwa di antara Bangsa Han yang besar itu terdapat banyak sekali orang orang sakti yang berkepandaian tinggi dan orang orang gagah yang merasa sakit hati kepada pemerintah yang baru, terutama sekali adalah bekas bekas perwira pemerintah lama.
Oleh karena itu, pembasmian terhadap mereka ini dianggapnya suatu usaha yang baik dan tepat.
Putera tunggalnya yang tadi menggoda Sian Hwa, bernama Liem Swee dan semenjak kecil telah dilatih ilmu silat oleh ayahnya, sehingga di dalam usia enam tahun saja ia sudah memiliki kepandaian yang lumayan.
Liem Swe memiliki watak yang gembira dan jenaka seperti ibunya yang dulunya adalah seorang pendekar wanita perantau yang centil dan jenaka.
Akan tetapi agaknya diapun mewarisi watak ayahnya yang amat keras dan juga kejam.
Ketika tadi melihat Sian Hwa yang mungil, Liem Swee ___ suka sekali kepada anak perenpuan ini, apalagi ketika melihat bahwa Sian Hwa juga suka ____ dengan ilmu silat seperti kesukaannya juga.
Maka demi melihat betapa ayahnya juga tertarik dan suka kepada anak itu ia lalu berseru.
"Ayah tadi aku melihat Sian Hwa bersilat buruk sekali. Kalau dia suka ilmu silat mengapa tidak ayah ambil murid saja supaya aku bakal punya kawan belajar."
Mendengar kata kata Liem Swee yang jelas terang ini, semua orang saling pandang.
Bucuci merasa tidak enak sekali karena merasa betapa ilmu silatnya dicela oleh Liem Swee, akan tetapi tentu saja ia tidak berani memperlihatkan ketidaksenangan hatinya.
Apalagi ia tahu bahwa memang kepandaiannya masih jauh dibawah kepandaian Jenderal Liem ini dan pula tidak terlalu adalah kalau ilmu silat Sian Hwa dicela, karena anak ini memang masih terlalu kecil untuk dapat memiliki kepandaian yang berarti.
Pat jiu Giam ong Liem Po Coan tertawa tawa mendengar kata kata puterinya itu.
Memang kata kata ini cocok sekali dengan suara hatinya akan tetapi tentu saja ia tidak mau mendahului Bucuci karena hal itu akan berarti merendahkan ilmu kepandaian Bucuci sendiri.
Ia hanya berkata.
"Anak bodoh! Enak saja kau bicara. Bagaimana anak ini bsa menjadi muridku kalau ayahnya sendiri sudah memiliki kepandaian cukup tinggi? Dan juga, belum tentu anak yang manis ini mau menjadi muridku! Bucuci menjadi serba salah. Biarpun ia tahu bahwa kalau puterinya menjadi murid Pat jiu Giam ong berarti bahwa puterinya menemukan guru yang terpandai, akan tetapi ia tidak ingin berpisah dari puterinya. Demikianpun suara hati Kui Eng, yang merasa khawatir sekali kalau kalau ia harus berpisah dari Sian Hwa yang disayanginya. Akan tetapi, sungguh tak dikira sama sekali, Sian Hwa telah mendahului mereka dan anak yang cerdik ini karena tahu bahwa orang tinggi besar itu kepandaiannya lebih tinggi dari ayahnya, tiba tiba maju dan berlutut di depan Pat jiu Giam ong sambil berkata.
"Aku suka sekali menjadi muridmu !"
Bucuci dan Kui Eng tertegun dan ibu yang khawatir ini segera berkata.
"Sian Hwa, bagaimana kau bisa meninggalkan ibumu?"
Adapun Liem Po Coan yang melihat sikap Sian Hwa menjadi makin tertarik hatinya, ia lalu berkata kepada Bucuci.
"Saudara Bucuci, rumah gedungku yang ke dua yang berada di ujung selatan kota raja, tidak kami pakai dan hanya untuk persediaan kalau ada tamu tamu datang. Gedung itu cukup baik, agaknya lebih menyenangkan daripada rumah ini. Kalau kau dan isterimu suka, kau boleh pindah ke kota raja dan tinggal di gedung itu. Dengan demikian anakmu tidak akan berpisah dari ayah bundanya, akan tetapi masih dapat belajar ilmu silat dariku. Bukankah ini baik sekali?"
Tentu saja Bucuci merasa girang sekali dan bersama isterinya cepat menghaturkan terima kasih.
Setelah bercakap cakap beberapa lamanya.
Pat jiu Giam ong Liem Po Coan lalu mengajak Liem Swee yang semenjak tadi bermain main dengan Sian Hwa pulang.
Beberapa hari kemudian, pindahlah keluarga Bucuci ke kota raja dan ternyata benar seperti ucapan Liem goanswe, rumah gedung yang disediakan untuk mereka itu jauh lebih baik dan baru dari pada yang ditinggalkan.
Semenjak saat itu, hubungan antara Bucuci dan Jenderal Liem lebih erat, kunjung mengunjungi lebih sering karena mereka sekarang tinggal sekota.
Tentu saja Sian Hwa menjadi kawan bermain Liem Swee yang suka kepadanya, lebih dari itu, Sian Hwa mulai menerima latihan dan petunjuk dari Pat jiu Giam ong dan ia menyebut jenderal itu "suhu"
Atau guru sedangkan kepada Liem Swee ia menyebut suheng (kakak seperguruan).
Dapat dibayangkan kemajuan Sian Hwa dalam ilmu silatnya karena anak ini menerima latihan dari dua orang gagah yang terkenal memiliki ilmu silat amat tinggi.
Di rumah ia masih tetap menerima petunjuk ilmu silat dari ayahnya dan ilmu surat dari ibunya, adapun dua hari sekali ia dikirim ke gedung Liem goanswe untuk bersama sama Liem Swee melatih ilmu silat yang mereka pelajari dari Pat jiu Giam ong.
Karena hidup dalam lingkungan keluarga bangsawan Sian Hwa menganggap bahwa ayahnya dan gurunya menduduki pangkat tinggi dan mempunyai tugas yang amat mulia yakni sebagai pembasmi orang orang jahat yang disebut oleh ayahnya pengacau dan perampok.
Iapun mulai menaruh pandangan tinggi terhadap pasukan Ang bi tin yang dipimpin oleh ayahnya dan juga gurunya.
Dalam beberapa tahun saja, Sian Hwa sudah lupa sama sekali akan asal usulnya sendiri dan menganggap sebagai hal yang seharusnya bahwa ia adalah puteri dari panglima besar Bucuci.
Sepuluh tahun lewat cepat sekali tanpa terasa, menyeret insane makin mendekati kemusnahan tanpa ada yang merasa.
Tahun demi tahun menyeret manusia sejengkal lebih dekat kepada makamnya dan manusia masih enak enak saja tidak berprihatin tidak bersedia masih melamun seakan akan ia akan hidup selamanya di dalam mayapada ini.
Sepuluh tahun lewatlah sudah semenjak semua peristiwa yang diturunkan di bagian depan itu terjadi.
Kota Lok yang di Propin Honan terkenal ramai dan makmur, banyak terdapat toko toko dan restoran restoran besar.
Akan tetapi di antara semua restoran yang terdapat itu, tidak ada yang menyamai restoran Lok thian yang berada di tengah kota.
Restoran ini amat terkenal karena lengkap dan karena masakannya yang lezat lezat.
Araknya terkenal arak tua dan wangi arak tulen yang tidak bercampur air.
Masakan masakannya istimewa.
Karena di situ terdapat masakan bebek dari utara dan masakan ular dari selatan.
Tentu saja tak perlu diceritakan lagi bahwa masakan di restoran Lok thian lebih mahal harganya daripada harga masakan di restoran lain.
Dan karena inilah maka langganan restoran ini sebagian besar hanyalah para hartawan dan bangsawan saja.
Pemilik restoran itu bukanlah orang sembarangan ia adalah seorang gemuk pendek yang berkepala bulat seperti bal dan yang selalu tertawa ramah tamah terhadap para langganannya.
Biarpun orang hanya mengenal sebagai seorang pemilik restoran yang peramah, kaya raya dan suka menolong orang miskin dan mendermakan uang kepada kelenteng kelenteng, akan tetapi di kalangan kang ouw dia terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi.
Namanya Lai Seng, akan tetapi di kalangan kang ouw ia lebih terkenal dengan nama julukan Lo kun gu (Kerbau Tunggangan Nabi Lo Cu).
Oleh karena Lai Seng termasuk orang yang selalu mengutamakan perbuatan baik, maka ia tidak mendapat gangguan dari pemerintah baru dan dianggap seorang pengusaha restoran yang pandai.
Tidak jarang pembesar pembesar di kota raja yang mendengar nama restorannya, sengaja memesan masakan masakan dari Lok yang atau mengundang Lai Seng ke kota raja untuk membikin masakan bagi mereka.
Hari itu masih pagi sekali Lai Seng telah duduk di depan restorannya, melihat pegawai pegawainya yang membuka pintu, mengatur meja kursi, membersihkaa meja meja dan ada pula yang menyapu lantai.
Lo kun gu Lai Seng ini duduk dengan senangnya mengisap huncwenya dan mengebulkan asap tembakau yang wangi dan mahal.
Diam diam ia memuji keuntungannya sendiri yang demikian baiknya.
Tidak banyak orang orang kang ouw dapat hidup seperti dia dalam keadaan seperti sekarang ini.
Sebagian besar orang orang kang ouw bahkan menjadi orang orang buruan pemerintah dan banyak pula yang telah menjadi korban keganasan pasukan Ang bi tin yang sekarang sudah tinggal namanya saja.
Akan tetapi dia, bahkan kini dapat menikmati kehidupan yang mewah, banyak untung dan sama sekali tidak dimusuhi oleh orang orang Mongol dan bangsawan bangsawan dari pemerintah Goan tiauw.
Lai Seng telah menjadi orang kaya, istrinya manis dan anaknya tiga orang, dua laki laki seorang perempuan, mau apa lagi hidup di dunia ini?
Demikian Lai Seng menghisap asap tembakaunya dengan bati puas dan senang.
Pada waktu hari sepagi itu, belum ada tamu datang untuk berbelanja.
Tiba tiba, ketika Lai Seng sedang mendekatkan mulut huncwenya kepada bibirnya untuk disedot ia memandang terbelalak ke arah jalan dengan muka pucat dan lupalah ia kepada huncwenya yang masih dipegang di depan mulutnya ia seperti tidak percaya kepada kedua matanya sendiri ketika melihat datangnya lima orang yang aneh aneh, baik bentuk tubuh maupun pakaiannya.
"Sin beng Ngo hiap (Lima Pendekar Malaikat)....."
Bibir pemilik rostorn itu bergerak tanpa mengeluarkan suara dan cepat ia bangkit berdiri, menjura dengan amat hormatnya kepada lima orang yang kini telah tiba di depan itu.
"Ngo wi locianpwe (lima orang orang gagah) yang mulia, sungguh merupakan penghormatan besar menganjungi rumah siauwte yang buruk. Silakan duduk .... silakan masuk ...."
"Hai, kebetulan kau sendiri yang menyambut kami, Lo kun gu. Kami menanti datangnya tamu kami, Mo bin Sin kun. Sebelum kami pergi, jangan menerima tamu lain kecuali Mo bin Sin kun Mengerti?"
Seorang diantara lima orang tamu aneh ini berkata dengan suara menggetar seperti suara orang yang sudah tua sekali.
Akan tetapi, Lo kun gu Li Seng yang terkenal sebagai tokoh kang ouw itu mengangguk anggukkan kepalanya seperti ayam makan padi.
"Baik, locianpwe. Baik....!"
Lima orang tua itu lalu bertindak masuk dan terus saia menaiki anak anak tangga menuju ke loteng.
Semua pegawai yang sedang membereskan meja kursi, memandang dengan penuh keheranan ketika melihat betapa majikan mereka mengantar tamu tamu aneh ini ke atas dengan sikap yang sedemikian hormatnya.
Jika tihu sendiri yang datang bertamu, belum tentu majikan mereka akan menerimanya sedemikian hormatnya.
Apalagi setelah lima orang tamu itu tiba di atas, para pegawai melihat majikan mereka berlari lari turun dan sekali melompat menginjak tiga tingkat anak tangga dan dengan gugup berkata.
"Sediakan masakan yang paling baik! Keluarkan arak yang paling tua. Arak simpanan kita! Layani kelima locianpwe di atas itu baik baik dan penuh penghormatan. Jaga di pintu, jangan diperbolehkan lain orang tamu masuk .... atau, tunggu dulu biar aku sendiri yang menjaga di depan pintu!"
Dan ketika ia melihat semua orangnya berdiri bengong ia membentak keras.
"Ayoh kerjakan perintahku, babi!!"
Tentu saja semua orang pegawai itu makin terheran heran.
Siapakah lima orang tua yang aneh itu ?
Mungkin para pembaca akan bertanya demikian pula, maka marilah kita berkenalan dengan lima orang tamu yan membuat Lo kun gu Lai Seng demikian ketakutan.
Seperti telah dibisikkan oleh Lai Seng tadi, mereka itu adalah Sin beng Ngo hiap lima orang tokoh kang ouw yang dahulu menggemparkan dunia kang ouw dengan sepak terjang mereka yang aneh dan kepandaian mereka yang luar biasa tingginya.
Sin beng Ngo hiap atau Lima Pendekar Malaikat ini terdiri dari lima orang saudara seperguruan.
Yang pertama adalah seorang tua yang tinggi kurus seperti pohon bambu, memelihara rambut seperti seorang tosu dengan pakaian berkembang kembang merah kuning biru, sehingga nampak lucu sekali.
Namanya Bouw Ek Tosu yang lebih terkenal denin julukan Hwa ie sianjin (Manusia Dewa Baju Kembang).
Orang ke dua dan ke tiga benar benar sukar diperbedakan, baik muka, potongan tubuh maupun pakaian.
Mereka ini adalah sepasang sudara kembar yang kin telah menjadi hwesio berkepala gundul dan bertubuh gemuk pendek, lebih gemuk dan pendek dari pemilik restoran itu.
Mereka ini lebih terkenal dengansebutan Lam san Mi siang mo (Sepasang Iblis dari Gunung Selatan).
Sebagai orang ke dua dan ke tiga dari Sin beng Ngo hiap tentu saja kepandaian ke dua orang hwesio gundul pakaiannya serba kuning ini juga amat lihai sekali.
Orang ke empat adalah seorang yang berpakaian sebagai petani, mengenakan topi petani yang terbuat daripada bambu dan ia selalu membawa sebatang pacul di pundaknya.
Seperti juga ke tiga suhengnya (kakak seperguruannya), orang ini usianya sudah selengah abad dan biarpun tubuhnya kurus kering seperti cecak mati, namun gerakan kedua kakinya tegap dan gesit sekali.
Orang ke empat ini bernama Kui Hok yang berjuluk Pacul Kilat.
Berbeda dengan empat orang dari Sin beng Ngo hiap, orang ke lima benar benar tidak pantas menjadi angouta dari Sin beng Ngo hiap, karena murid termuda ini adalah seorang nona yang berwajah cukup manis dan gagah.
Dilihat sepintas lalu orang akan mengira bahwa usianya baru duapuluh tahun lebih.
Sesungguhnya ia telah berusia tigapuluh lima tahun.
Dia bernama Coa Hwa Hwa, akan tetapi lebih terkenal dengan sebutan Hwa Hwa Niocu.
Hwa Hwa Niocu ini tidak mau menikah dan biarpun ia kelihatan manis, akan tetapi sesungguhnya ia berwatak ganas dan galak sekali!
Dua gagang sepasang pedang tipis nampak menjenguk dari belakang pundaknya, membuat ia kelihatan gagah.
Lima orang aneh ini mengambil tempat duduk mengelilingi meja terbesar di atas loteng.
Meja itu memang yang paling besar di restoran Lok thian, disediakan khusus untuk perjamuan banyak orang.
Kalau ada rombongan tidak lebih dari duabelas orang saja, cukup duduk di sekeliling meja itu, di atas bangku bagku kecil yang diukir dan dicat indah.
"Terlalu banyak meja kursi di sini. Sungguh sempit dan tidak leluasa!"
Kata Hwa Hwa Niocu sambil menyapu ruang loteng itu dengan sepasang matanya yang tajam, ia maksudkan bahwa tempat ini karena banyak terdapat meja kursi, tentu saja kurang leluasa untuk tempat mengadu kepandaian silat.
"Apakah kau tidak memikir begitu, twa suheng?"
Sambungnya sambil memandang kepada Hwa ti sianjin Bouw Ek Tosu.
Pendeta tua tinggi kurus yang berpakaian kembang kembang ini hanya mengangguk angguk aja.
Melihat anggukan ini, Hwa Hwa Niocu lalu menggerakkan kedua kaki tangannya dengan cepat.
Tidak tahu bagaimana ia menggerakkan kaki tangannya akan tetapi tiba tiba dua buah meja dan enam buah bangku yang berada di sebelah maja besar itu terlempar ke sudut ruangan bagaikan tertiup angin.
Tentu saja terdengar suara hiruk pikuk ketika meja dan bangku itu jatuh tunggang langgang.
Lam san siang mo si hwesio kembar gelak tertawa, meras geli melihat perbuatan adik seperguruan yang bungsu ini, akan tetapi si Pacul Kilat Kui Hok, mengerutkan kening.
Pada saat itu kembali Hwa Hwa Niocu sudah menggerakkan kakinya dan sebuah meja yang besar juga terlempar.
Kalau dibiarkan saja, meja itu tentu akan menabrak meja dan bangku bangku lain dan kesernuanya akan terbawa ke sudut tadi oleh tenaga tendangan hebat ini, akan tetapi tiba tiba meja yang tertendang itu berhenti dan tahu tahu kaki meja telah terkait oleh gagang pacul yang bengkok di tangan Kui Hok, orang ke empat dari Sin beng Ngo hiap.
"Hwa Hwa!"
Tegur si Pacul Kilat.
"apakah kau masih belum dapat mengurangi watakmu yang kasar? Sungguh tidak cocok dengan wajahmu yantr makin manis, sumoi. Kita harus ingat bahwa pemilik restoran ini, Lo kun gu, telah berlaku baik dan menerima kita dengan ramah tarnah. Sebagai tamu tamu yang dihormati, kita tidak boleh berlaku sewenang wenang terhadap tuan rumah dan merusak perabot rumahnya,"
Hwa Hwa Niocu tersenyum mengejek "Kui suheng masih selalu berwatak lernah lembut. Maafkanlah aku yang kasar, suheng."
"Aku dapat iuga bersikap kasar, sumoi hanya melihat dengan siapa kita berhadapan. Lo kun gu yang menerima kita baik baik dan yang sebentar lagi hidangannya kita nikmati, tidak seharusnya diperlakukan kasar. Lihat, perlahan lahan juga dapat kita singkirkan meja dan bangku yang menghidangi kita."
Sambil berkata demikian, ia menggerakkan paculnya dan meja yang tadi tertengang oleh Hwa HwaNioncu dan yang ditahannya, kini berputar di udara dan melayang ke sudut tadi.
Akan tetapi sungguh aneh, ketika meja itu melayang turun, benda itu tidak jatuh tunggang langgang dan tidak menerbitkan suara gaduh, melainkan jatuh dengan kaki di bawah seperti diletakkan oleh tenaga orrang saja.
Hwa Hwa Niocu tertawa kagum dan sesungguhnya kalau ia sudah tertawa, wajahnya amat cantik menarik.
Ia lalu berkata.
"Suheng, benar hebat kepandaianmu. Biarlak aku mencoba untuk menirumu"
Iapun lalu menggunakan kedua tangan, memegang dua buah bangku dan dilontarkannya dua bangku itu menuju ke sudut dengan menggerakkan pergelangan tangannya sehingga bangku bangku itu melayang sambil berputar putar cepat sekali dan ketika turun, hanya menerbitkan sedikit suara saja.
"Hm, kalian ini selalu ribut ribut ____ anak saja. Ayoh bekerja dan jangan banyak ribut!"
Kata Bouw Ek Tosu.
Sambil berkata demikian, iapun menghampiri sekumpulan meja dan bangku.
Bagaikan orang melempar lemparkan benda kecil dan ringan, ia memunguti bangku dan meja itu satu demi satu, dilempar lemparkan ke arah sudut dan bukan main!
Meja dan bangku bangku itu bertumpuk tumpuk dengan rapinya, seperti di susun oleh beberapa orang yang bekerja dengan hati hati.
Kedua hwesio gundul sambil tertawa tawa juga ikut melempar lemparkan meja kursi, sehingga sebentar saja ruang loteng itu kosong dan hanya terisi sebuah meja besar di tengah tengah dengan dua buah bangkunya mengelilingi meja itu.
Mereka lalu mengambil tempat duduk.
"Kata kata Kui sute tadi benar,"
Kata seorang diantara Lam san sian mo si hwesio gundul.
"Memang kita tidak perlu mengganggu pemilik restoran yang ramah tamah. Kita harus menyiapkan tenaga untuk menghadapi Mo bin Sin kun yang lihai!"
"Aku merasa heran sekali mengapa untuk menghadapi seorang Mo bin Sin kun saja, twa suheng harus mengumpulkan kita di tempat ini. Sebetulnya apakah yang terjadi dan sampai di manakah kelihaian Mo bin Sin kun ini twa suheng?"
Tanya Hwa Hwa Niocu kepada Bouw Ek Tosu dan orang memandang kepada twa suheng mereka karena seperti juga Hwa Hwa Niocu mereka itu belum tahu dengan betul apakah sebetulnya yang terjadi antara twa suheng mereka dan Mo bin Sin kun (Kepalan Sakti Muka Iblis) itu.
KetiKa Bouw Ek Tosu hendak menjawab, terdengnr suara tindakan kaki melangkah anak tangga, maka tosu ini menunda pembicaraannya.
Empat orang pelayan dengan muka takut takut dan sikap menghormat sekali, naik ke loteng sambil membawa arak dan hidangan yang mengebul panas.
Tadi mereka mendengar hiruk pikuk di atas loteng akan tetapi majikan mereka, sambil menghapus keringat yang mengalir di mukanya yang bulat sungguhpun hari maih sepagi dan sedingin itu, memberi sanda agar mereka jangan ikut carnpur.
Memang sesungguhnya Lo kun gu Lai Seng sudah kenal baik dengan lima orang lihai ini, maka ia menjadi demikian takutnya.
Ia sendiri duduk di atas bangku menjaga pintu dan dengan muka manis ia selalu menolak datangnya para tamu dengan alasan bahwa hari itu ia tidak buka karena tidak bisa mendapatkan barang belanjaan dari luar kota.
Yang sibuk dan penasaran adalah para tukang masak dan pelayan.
Yang datang hanya lima orang tamu yang aneh, akan tetapi mereka semua harus bekerja keras, mempersiapkan masakan masakan yang termahal dalam waktu cepat.
Namun, kalau majikan mereka saja demikian takut terhadap lima orang tamu itu, bagaimana mereka berani memperlihatkan ketidaksukaan hati mereka?
Dan para pelayan mulai saling mendorong dan akhirnya, empat orang pelayan yang paling berani saja yang mau mengantarkan arak dan hidangrn ke atas loreng.
Mereka ini hanya mengerling sedikit saja ke sudut ruang loteng dimana meja meja dan bangku bangku telah bertumpuk tumpuk dalam keadaan rapi sekali dan ruangan itu menjadi kosong.
Tanpa banyak cakap dan tidak berani memandang langsung kepada wajah para tamu, empat orang pelayan itu lalu mengatur arak, hidangan, cawan mangkuk, sendok dan supit ke atas meja besar itu.
Seorang di antara meraka, nelayan termuda, amat gugup dan ketakutan sehingga kedua tangan nya menggigil.
Ketika tanpa sengaja ia menengok dan memandang ke arah muka Hwa Hwa Niocu, dengan heran ia melihat bahwa nona ini sama sekali bukanlah seorang yang menakutkan, bahkan sebaliknya manis sekali.
Maka ia lalu memberanikan diri, untuk menetapkan hatinya yang gelisah, untuk memandang kepada Hwa Hwa Niocu dengan muka manis dan memperlihatkan senyum di bibirnya.
Tidak tahunya, Hwa Hwa Niocu adalah seorang nona yang paling benci kalau melihat laki laki tersenyum senyum dan bermuka manis kepadanya.
Kini melihat pelayan muda yang melayaninya ini terseyum senyum dan memadang dengan mata penuh arti, ia menjadi gemas.
Dengan kening berkerut ia mengambil sebatang sumpit dan seperti seorang main main ia menancapkan sumpit itu amblas dan tembus pada meja yang tebal itu, seakan akan meja itu bukan terbuat daripada kayu yang keras melainkan terbuat daripada agar agar saja.
Pelayan muda yang masih tersenyum itu tiba tiba menjadi pucat sekali, apa lag i ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Hwa Hwa Niocu, hampir saja cawan mangkok yang dipegang nya terlepas.
Sepasang mata wanita itu bagaikan ujung tombak tajamnya menyerang kedua matanya, sehingga menembus ke ulu hati dan mendatangkan rasa seram.
Pelayan itu cepat menundukkan mukanya dan dengan bulu tengkuknya serasa berdiri semua ia melanjutkan pekerjaannya cepat cepat untuk segera bersama kawan kawannya meninggalkan tempat berbahaya itu.
Setelah para pelayan itu pergi, barulah Bouw Ek Tosu menarik nafas panjang dan melanjutkan niatnya bercerita tadi.
"Kalian tentu telah mendengar nama Mo bin Sin kun, biarpun mungkin belum pernah bertemu."
Empat orang adik seperguruannya mengangguk.
Siapakah orangnya yang tidak mengenal nama Mo bin Sm kun?
Sebelum pemerintah Goan tiauw berdiri, sudah amat terkenal nama dari lima orang tokoh persilatan yang sering kali disebut "Lima Besar".
Mereka itu ialah Kim Kong Taisu, tokoh yang paling dihormati dan disegani oleh karena memang menganut penghidupan sebagai seorang suci yang selain berilmu tinggi juga memiliki ilmu bathin yang tinggi pula.
Ke dua adalah Seng Jin Sian Su yang disebut Lam Hai Lo mo (Iblis Tua Laut Selatan), tokoh yang paling ditakuti dan di benci oleh karena memang terkenal luar biasa dan jahat, selain memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya, juga mahir dalam ilmu hoatsut (sihir).
Orang ketiga adalah Mo bin Sin kun seorang yang menurut berita berwajah amat buruk seperti iblis sendiri, akan tetapi jarang sekali ada orang dapat melihatnya karena sepak terjang Kepalan Sakti Muka Iblis ini amat cepat dan hanya bayangannya saja yang nampak oleh orang.
Akan tetapi ilmu silatnya juga tinggi sekali dan celakalah mereka yang bentrok dengan Mo bin Sin kun.
Jilid IV ORANG Keempat dari "Lima Besar"
Itu bukan lain adalah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan atau jenderal Liem, adik seperguruan Seng Jin Siansu yang karena kedudukannya menjadi makin disegani orang orang kangouw.
Ilmu silaat dari Raja Maut Tangan Delapan ini diberitakan orang tidak kalah oleh kepandaian Seng Jin Siansu.
Adapun orang ke lima merupakan tokoh yang penuh rahasia, puluhan tahun yang lalu orang mengenal tokoh ini dengan nama julukan Bu tek Kiam ong (Raja Pedang Tanpa Tandingan).
Akan tetapi nama ini terkenal kurang lebih tigapuluh tahun yang lalu sedangkan pada waktu itu, Bu tek Kiam ong ditaksir orang usianya sudah ada lima puluh tahun.
Masih hidupkah raja pedang itu?
Tak seorangpun dapat menjawabnya, karena orang tua itu tak pernah muncul lagi dan orang tidak tahu di mana dia berada.
Betapapun juga, julukan "Lima Besar"
Tetap terdengar dan tidak seorangpun di antara empat besar itu berani meniadakan nama Bu tek Kiam ong sebagai seorang tokoh di antara Lima Besar.
Empat orang adik seperguruan dari Bouw Ek Tosu ketika mendengar pertanyaan apakah mereka sudah mendengar nama Mo bin Sin kun, tentu saja menganggukkan kepalanya.
Akan tetapi, Hwa Hwa Niocu yang berwatak keras dan berani, segera berkata.
"Twa suheng, biarpun Mo bin Sin kun amat terkenal dan boleh kita sebut sebagai tokoh tinggi, akan tetapi perlu apa kita harus takut kepadanya? Kita berlimapun bukanlah orang orang yang boleh ditakut takuti begitu saja dan kurasa mendiang suhu kita masih setingkat lebih tinggi kedudukannya daripada Mo bin Sin kun!"
Mendengar ucapan sumoinya ini, Bouw Ek Tosu mengerutkan kening dan diam diam ia melirik ke sana ke mari.
"Sumoi, jangan berkata demikian. Memang di dalam urusan orang orang seperti kita, tidak ada kata kata takut, akan tetapi harap kau berlaku lebih hati hati dan jangan memandang rendah kepada lawan yang bagaimanapun juga, apalagi seorang di antara Lima Besar!"
"Twa suheng, cukuplah membicarakan keadaan lain orang,"
Tiba tiba Si Pacul Kilat Kui Hok mencela.
"Lebih baik kau jelaskan, mengapa suheng memanggil kami berempat supaya berkumpul di sini dan mengapa pula Mo bin Sin kun kita tunggu kedatangannya?"
Kembali Bouw Ek Tosu menarik napas panjang dan berkata.
"Murid keponakanmu Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang menjadi gara gara. Kalian tahu bahwa muridku Hai Siong itu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Ang bi tin beberapa tahun yang lalu dan agaknya dalam sepak terjangnya Ang bi tin yang membasmi bekas bekas perwira Han ini, terdapat sesuatu yang tidak menyenangkan hati Mo bin Sin kun! Dua pekan yang lalu, pada suatu malam aku mendengar suara nyaring di atas genteng kuilku dan ternyata bahwa yang datang adalah Mo bin Sin kun.
"Apa yang dikatakannya, suheng?"
Tanya Kui Hok dan yang lain lain juga mendengarkan dengan amat tertarik.
"Ia hanya berkata singkat saja. yaitu bahwa hari ini aku harus menanti di sini, kalau tidak, muridku Hai Siong akan dibunuhnya! Oleh karena itulah, maka aku dapat menduga bahwa kemarahannya ini tentu timbul karena muridku Hai Siong itu."
"Urusan Ang bi tin mengapa harus marah kepada muridmu Ngo jiauw eng, suheng? Bukan Lui Hai Siong yang mendirikan Ang bi tin dan kuanggap Mo bin Sin kun tidak adil. Kalau dia memang tidak suka dengan Ang bi tin mengapa tidak mencari Pat jiu Giam ong saja?"
Kata Kui Hok.
"Barangkali dia takut kalau harus mengganggu Pat jiu Giam ong!"
Kata Hwa Hwa Niocu sambil tersenyum menyindir.
"Sudah sepatutnya ia berurusan dengan Pati jiu Giam ong, sama sama seorang di antara lima besar !"
"Sumoi. jangan bicara sembarangan. Kita tunggu saja dan lihat bagaimana sikap Mo bin Sin kun. Sementara menanti, mari kita makan minum lebih dulu."
Sementara kelima orang Sin Beng Ngo hiap ini makan minum di atas loterng sambil diam diam memasang telinga dan mata dan selalu bersikap waspada, ternyata di bawah loteng, di depan rumah makan itu terjadi pula peristiwa yang cukup menarik hati.
Lo kun gu Lai Seng si pemilih restoran, dengan peluh mengalir membasahi pakaiannya, menanti dan menjaga di depan pintu restoran.
Sudah banyak langganan yang hendak masuk, dicegahnya dan diberi alasan bahwa hari ini restoran tidak buka.
Diam diam ia merasa gelisah dan berkata dalam hati bahwa kalau lima orang tamu aneh di atas loteng itu berlama lama, ia akan keshilangan banyak langganan, bagaimana kalau ada pembesar yang datang hendak makan?
Semua orang yang hendak memasuki restorannya, ia tolak dengan tergesa gesa.
Akan tetapi ketika tiba tiba ia menghadapi dua orang yang baru datang, ia menjadi gelagapan dan mukanya menjadi makin pucat.
Ia berdiri bagaikan patung dan dengan mulut celangap dan mata terbelalak, ia berdiri memandang kepada dua orang tamu baru yang hendak memasuki restorannya.
Dua orang itu baru saja datang dan melihat pakaian mereka yang penuh debu, dapat diduga bahwa mereka berdua baru saja datang dari tempat jauh sekali.
Yang seorang adalah seorang pemuda remaja berusia paling banyak tujuhbelas tahun, bermuka tampan, dan gagah sekali, akan tetapi sikapnya lemah lembut.
Dengan amat hormat, pemuda ini menjura di depan Lai Seng sambil berkata.
"Tuan, bolehkah kami membeli makanan di restoran ini?"
Akan tetapi Lai Seng seakan akan tidak mendengar pertanyaan anak muda itu karena ia sedang memandang kepada orang yang berdiri di sebelah anak muda itu.
Orang ini pakaiannya hitam seluruhnya, tidak bersepatu dan mukanya benar benar menyeramkan, seperti muka tengkorak, seperti muka...
iblis!
Teringatlah Lai Seng bahwa lima orang tokoh kangouw di atas loteng itu sedang menanti datangnya tokoh besar yang disebut Mo bin Sin kun atau Kepalan Sakti Muka Iblis!
Ia belum pernah melihat bagaimana macamnya Mo bin Sin kun yang amat tersohor itu, akan tetapi adakah orang yang mukanya lebih buruk daripada orang berpakaian hitam yang kini berdiri di hadapannya?
Ini tentulah orang yang disebut Kepalan Sakti Muka Iblis itu!
Dengan amat hormat dan ramah tamah, Lai Seng lalu menjura kepada si muka iblis atau muka tengkorak itu sambil berkata.
"Silahkan, locianpwe! Silakan naik saja ke loteng, lima orang locianpwe telah menanti di atas semenjak tadi!"
Ia bicara sambil tersenyum ramah dan diam diam ia bergidik ketika memandang kepada muka itu.
Bagaikan kedok mati, orang baju hitam itu memandangnya tanpa berkata sesuatu, bahkan orang muda itupun memandangnya dengan terheran.
Akan tetapi si baju hitam itu tanpa berkata apa apa lalu menggandeng tangan anak muda itu dan masuklah mereka ke dalam restoran itu.
Siapakah si baju hitam yang mukanya seperti tengkorak itu?
Dan siapa pula anak muda yang tampan dan sopan santun ini?
Mereka itu bukan lain adalah Yap Bouw dan Bun Sam yang sudah lama kita kenal.
Sudah sepuluh tahun lamanya Bun Sam mendapat gemblengan ilmu kepandaian dari Kim Kong Taisu, gurunya Yap Bouw yang menjadi penolongnya, juga gurunya, dan akhir akhir ini lebih tepat menjadi suhengnya, sudah tidak sanggup mengajarnya dua tahun yang lalu, karena kepandaian anak muda itu sudah menyusul kepandaiannya sendiri.
Oleh karena itu, semenjak dua tahun yang lalu, Bun Sam menerima latiban langsung dari Kim Kong Taisu, Beberapa kali Yap Bouw disuruh turun gunung oleh gurunya dan dalam kesempatan itu, Bun Sam diperbolehkan ikut untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman.
Kali inipun Bun Sam disuruh ikut suhengnya oleh Kim Kong Taisu, Yap Bouw hendak pergi ke kota raja.
Dahulu, di luar tahu siapapun juga, bahkan isterinya sendiripun tidak tahu, ia menyimpan sepeti harta pusaka terdiri dan emas dan batu permata, hasil rampasan ketika ia menang perang melawan orang orang Tartar.
Sekarang atas perinlah Kim Kong Taisu, ia diharuskan menyelidiki dan kalau mungkin mengambil harta pusaka itu untuk menolong rakyat yang banyak menderita kelaparan di daerah selatan dan timur.
Sebetulnya Yap Bouw enggan pergi ke kota raja, akan tetapi ia tidak berani membantah perintah suhunya.
Yap Bouw tidak takut, hanya ia khawatir kalau ia teringat kepada anak isterinya yang dulu tinggal di kota raja.
Kalau ia sampai mendengar nasib buruk mereka, tentu hatinya akan hancur dan kesedihan baru akan menyerangnya.
Akan tetapi, justeru inilah yang dikehendaki oleh Kim Kong Taisu, yakni agar Yap Bow suka mencari keluarganya kembali dan kalau mungkin bertemu dan berkumpul, ia merasa amat kasihan melihat muridnya yang bernasib buruk itu.
Dan selain maksud ini, juga Kim Kong Taisu menghendaki agar supaya Bun Sam dapat meluaskan pengalaman di kota raja.
Siapa tahu kalau kalau anak ini berjodoh dengao tokah tokoh lain, pikir kakek sakti yang waspada ini.
Di dalam perjalanan itu, Yap Bouw yang hendak menyembunyikan keadaan dirinya dan merahasiakan namanya, telah memberi pesan kepada Bun Sam agar jangan memberitahukan namanya kepada siapapun juga.
Dan bekas jenderal ini selalu menghindarkan diri dari bentrokan bentrokan dan pertemuan yang tidak enak dengan orang orang kang ouw.
Ketika pada hari itu mereka tiba di Lok yang, Bun Sam merasa amat gembira melihat kota yang ramai ini.
Dan jauh dari restoran Lok thian.
Bun Sam sudah menuding dengan jari tangan nya sambil berkata.
"Suheng. lihat alangkah indahnya rumah makan berloteng itu. Hm, seperti telah tercium olehku bau sedap yang keluar dari dapurnya."
Yao Bouw di dalam hatinya tersenyum dan timbul rasa kasihan terhadap anak muda ini, ia amat sayang kepada Bun Sam dan tidak hanya menganggap pemuda itu sebadai sutenya, bahkan ada perasaan seorang ayah terhadap puteranya.
Dengan jari jari tangannya ia lalu memberi tanda kepada Bun Sam, mengajak pemuda itu untuk mampir di restoran itu untuk membeli makanan.
Ditambahkannya pula dengan bahasa gerak jari bahwa restoran ini amat terkenal serta tersohor lezat masakannya.
Demikianlah, ketika keduanya menghampiri pintu restoran kemudian disambut dengan cara yang amat mengherankan oleh pemilik restoran yang gendut, tentu saja Bun Sam terheran heran dan tidak mengerti sama sekali.
Akan tetapi Yap Bouw sebagi seorang tokoh kang ouw yang sudah ulung telah mengenal wajah Lo kun gu Lai Seng.
Ia dapat melihat pula sikap aneh dari Lo kun gu dan melihat sinar mata pemilik restoran yang gugup dan gelisah, timbullah niat Yap Bouw untuk menyelidikinya ia maklum bahwa Lai Seng adalah seorang yang tidak tercela, maka sudah sepatutnya kalau dia membantunya apabila si gemuk ini mengalami kesukaran.
Ketika ia mendengar Lai Seng menyebut nyebut tentang "lima orang locianpwe"
Yang menantinya di loteng, ia menjadi makin tertarik.
Kalau saja Yap Bouw tahu bahwa yang dimaksudkan dengan Lima orang tua gagah iru adalah Sin beng Ngo hiap tentu ia akan menyingkir dan lebih baik tidak bertemu dengan orang orang ini yang terkenal suka mencari perkara.
Sementara itu, kelima orang yang berada di atas loteng, ketika Lai Seng mempersilakan Yap Bouw dan Bun Sam masuk, telinga mereka yang terlatih dan tajam telah mendengarnya.
Berobahlah wajah orang orang itu kecuali Hwa Hwa Niocu yang memang bernyali besar sekali.
Mereka menunda makan minumnya dan memasang pendengaran dengan penuh perhatian ke arah anak tangga yang menuju ke loteng.
Terdengar tindakan kaki melangkah tetap di atas anak tangga dan Bouw Ek Tosu saling memandang dengan adik adik seperguruannya.
Mereka merasa heran sekali mengapa tindakan kak Mo bin Sin kun ternyata seperti tindakan kaki orang biasa saja, demikian berat dan kasar.
Hwa Hwa Niocu sudah menarik mulut mengejek ketika mendengar tindakan kaki dua orang yang naik melalui anak tangga itu.
Tindakan kaki orang orang macam ini saja apanya yang harus ditakutkan?
Memang Yap Bouw dan Bun Sam selaju bersikap merendah, sesuai dengan ajaran Kim Kong Taisu, Kalau tidak perlu, mereka tidak sudi nyombongkan atau memperlihatkan kepandaian mereka.
Oleh karena itu, dalam keadaan biasa, mereka jua berlaku dan bergerak seperti orang orang biasa saja agar tidak menarik perhatian orang orang, terutama sekali agar jangan sampai terlihat oleh orang orang kang ouw bahwa mereka itu "berisi".
Ketika Yap Bouw dan Bun Sam muncul dari pintu anak tangga loteng itu, Sin beng Ngo hiap dan Yap Bouw terkejut sekali Yap Bouw yang mukanya sudah rusak dan tidak berkulit lagi itu, tentu saja tidak kentara bahwa dia terkejut ia hanya memandang sekilas saja dan ketika melihat bahwa yang berada di situ adalah Sin beng Ngo hiap lengkap lima orang, diam diam ia berlaku hati hati dan waspada, lalu menggandeng tangan Bun Sam menuju ke sudut ruang loteng di mana meja dan kursi bertumpuk tumpuk Dengan gerakan biasa saja, Yap Bouw lalu menurunkan dua buah bangku dan menyeret sebuah meja untuk tempat duduk mereka.
Adapun Sin beng Ngo hiap amat terkejut ketika menyaksikan orang yang mukanya begitu menyeramkan.
Bahkan Hwa Hwa Niocu sendiri yang terkenal tabah merasa bulu tengkuknya berdiri ketika ia memandang wajah Yap Bouw.
Kelima orang ini belum pernah melihat muka Mo bin Sin kun, maka melihat Yap Bouw, seperti juga Lai Seng, mereka tidak ragu ragu lagi bahwa tentulah dia ini orangnya yang berjuluk Kepalan Sakti Muka Iblis!
Satu satunya orang yang tidak terkejut dan tidak mengalami perobahan sesuatu hanya Bun Sam seorang.
Anak muda ini tidak kenal siapa adanya lima orang aneh yang duduk mengelilingi meja di atas loteng dan yang menatap mereka dengan pandangan tajam.
Bun Sam terlalu gembira untuk memperhatikan mereka ini.
Baru sekali itu Bun Sam naik loteng sebuah rumah makan, yang dianggap suatu kemewahan yang berlebih lebihan.
Maka ia menurut saja ketika Yang Bouw mengajaknya duduk.
Dengan sengaja Yap Bouw duduk berhadapan dengan Bun Sam dan meja lima orang itu berada di samping kanannya atau di samping kiri Bun Sam.
Dengan mengambil kedudukan seperti ini ia tidak usah merasa khawatir kalau kalau ada serangan curang atau gelap datang dan fihak lima orang itu.
Selain untuk maksud ini, juga mengambil kedudukan seperti ini berarti menghormati kepada lima orang itu, karena berarti tidak membelakangi.
Sin beng Ngo hiap menanti nanti dengan hati berdebar dan akhirnya menjadi keheran heranan dan saling memandang ketika orang yang disangka nya Mo bin Sin kun itu diam saja tidak memperdulikan mereka.
Mereka berlima telah bersiap siap, semua urat di dalam tubuh telah menegang dan sedikit saja gerakan mencurigakan dari orang bermuka iblis itu mereka tentu akan bergerak menyerang.
Akan tetapi, Yap Bouw hanya duduk diam seperti patung.
Adapun Bun Sam yang sudah beberapa kali masuk restoran, merasa heran dan tidak sabar ketika dinanti sampai beberapa lama tidak ada seorangpun pelayan datang; menghampiri mereka seperti biasa dalam setiap rumah makan.
"Eh, mengapa tidak ada pelayan datang melayani kita?"
Akhirnya Bun Sam berkata perlahan kepada Yap Bouw "Apakah di sini tidak ada pelayannya?"
Yap Bouw hanya menudingkan jarinya ke bawah, memberitahukan dengan isyarat bahwa pelayan berada di bawah loteng. Akan tetapi pada saat itu terdengar kata kata dari Bouw Ek Tosu.
"Jiwi, mengapa tidak makan minum saja dengan kami? Hidangan cukup banyak arak berlimpah limpah, meja kami besar dan masih banyak bangku kelebihan."
Bun Sam cepat berdiri dari bangkunya dan menjura ke arah Bouw Ek Tosu sambil tersenyum dan menjawab.
"Banyak terima kasih atas kebaikanmu, lotiang. Akan tetapi kami berdua tidak suka mengganggu ngo wi."
Setelah berkata demikian, ia duduk kembali.
Akan tetapi Yap Bouw pura pura tidak melihat dan tetap saja duduk sambil menundukkan mukanya.
Bun Sam habis kesabarannya dan ia lalu menghampiri anak tangga.
Dari atas anak tangga, melalui pintu, ia berseru keras ke bawah.
"Pelayan, lekas sediakan arak dan sayur! Cepat...!"
Dari bawah terdengar jawaban dan tak lama kemudian, dua orang pelayan naik melalui anak tangga sambil membawa baki berisi masakan dan arak.
Karena meja besar tempat duduk Sin beng Ngo hiap berada di tengah ruangan loteng, maka ketika mengantarkan masakan dan minuman itu ke meja Bun Sam, dua orang pelayan itu terpaksa harus melalui meja besar tadi.
"Tamu tamu pertama harus mendapat pelayanan terlebih dulu!"
Tiba tiba Hwa Hwa Niocu berkata perlahan dan sekail tubuhnya bergerak sambil mengulurkan kedua tangan, tahutrahu dua baki yang dibawa oleh dua orang pelayan itu telah berpindah ke tangan Hwa Hwa Nioca yang dengan tenangnya lalu menaruh isi baki ke atas mejanya sendiri!
Dua orang pelayan itu hanya bisa berdiri bingung dan memandang kepada Bun Sam dengan bingung.
"Mengapa berdiri seperti patung?"
Si Pacul Kilat Kui Hok membentak dua orang pelayan itu.
"Ahh kalian ambilkan ke sini arak wangi dalam guci terbesar. Kami hendak menjamu seorang gagah dan muridnya !"
Sambil berkata demikian, Kui Hok melirik ke arah Yap Bouw yang masih saja bersikap tenang dan pura pura tidak melihat semua itu.
Setelah kedua orang pelayan itu berlari turun, Bun Sam menjadi merah mukanya.
Ia maklum bahwa lima orang itu mencari perkara dan ia merasa heran sekali.
Baru sekarang ia memperhatikan mereka seorang demi seorang, kemudian ia memandang Yap Bouw.
Aneh sekali!
Suhengnya ini malah memberi tanda dengan gerak jari agar supaya mereka pergi saja dari tempat itu!
Akan tetapi Bun Sam yang lebih muda dari Yap Bouw, tentu saja merasa tidak puas dan penasaran sekali kalau harus melarikan diri begitu saja.
"Kitapun mempunyai uang untuk bayar makanan dan minunan, apa salahnya kalau kita makan minum di sini,"
Kata Bun Sam perlahan kepada Yap Bouw.
Akan tetapi, Yap Bouw tetap saja memberi tanda dengan jari jari tangan agar mereka pergi saja, bahkan si muka iblis itu telah bangkit berdiri!
"Lain muka lain kepalan, sungguh seperti bumi langit perbedaannya.
Muka terkenal seperti iblis, kepalan tersohor seperti malaikat, akan tetapi baru sekarang aku tahu bahwa nyalinya hanya sebesar nyali ayam,"
Kata kata ini diucapkan oleh Hwa Hwa Niocu dan ketika Bun Sam menengok ke arah nyonya itu, Hwa Hwa Niocu menatapnya dengan pandangan tajam dan galak.
Akan tetapi Bun Sam tidak merasa takut, hanya mengangkat kedua alisnya yang hitam dan tebal itu ke atas, tanda bahwa dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh nyonya muda itu.
Betepapun juga, Bun Sam menjadi mendongkol karena muka buruk seperti iblis di bawa bawa, mudah saja diduga bahwa ini merupakan sindiran bagi suhengnya.
Akan tetapi Yap Bouw tetap saja tidak ambil perduli dan bahkan melangkahkan kaki sambil memberi isyarat kepada Bun Sam untuk menuruni anak tangga.
Bun Sam terpaksa mergikuti suheng nya, akan tetapi sebelum mereka tiba di anak tangga, Bouw Ek Tosu telah menggerakkan tubuhnya dan tahu tahu tubuhnya yang tinggi kurus seperti batang pohon bambu itu telah menghadang Yap Bouw.
"Mo bin Sin kun, sungguh pinto tidak mengerti sikapmu ini. Kau yang mengundang kepada pinto untuk datang ke sini dan sekarang kau bersikap seperti tidak mengenal kepada Bouw Ek Tosu. Apa kau sengaja hendak mempermainkan pinto?"
"Twa suheng sih yang membawa bawa kami berempat, tentu saja melihat Sam beng Ngo hiap lengkap di sini, Mo bin Sin kun kehilangan keberaniannya."
Kata kata ini disusul oleh ketawa mengejek dari Hwa Hwa Niocu. Yap Bouw memberi isyarat kepada Bun Sam untuk mewakilinya menjawab. Bun Sam cepat menjura kepada Bouw Ek Tosu dan berkata.
"Totiang, kau tadi begitu baik hati untuk menawari kami makan minum mengapa sekarang berbalik menghalangi kami yang hendak pergi? Apakah benar kata kata orang bahwa tabiat seorang pertapa itu seperti angin dan mega (mudah berobah). Juga totiang telah salah lihat, dia ini bukanlah orang yang bernama Mo bin Sin kun."
Biarpun wajah Bun Sam amat tampan dan gagah, sedangkan sepasang matanya membayangkan kekuatan yang besar dan suaranya juga bening dan nyaring, namun ia tidak dipandang sebelah mata oleh Bouw Ek Tosu.
Pendeta ini mengira bahwa anak muda ini paling banyak tentulah murid dari Mo bin Sin kun, maka tidak usah dikhawatirkan akan menimbulkan banyak kesukaran.
"Anak muda, jangan kau mencampuri urusan orang tua! Pergilah, biarkan aku bicara sendiri dengan Mo bin Sin kun !"
Sambil berkata demikian, Bouw Ek Tosu lalu mempergunakan tangan kirinya untuk mendorong Bun Sam ke pinggir, dengan sikap tidak memandang mata sama sekali.
Biarpun hanya dengan tangan kiri dan dilakukan perlahan saja, namun dorongan dari seorang seperti Hwa ie sianjin Bouw Ek Tosu tidak boleh dipandang ringan.
Dengan dorongan yang perlahan lahan ini, tenaganya sudah cukup besar untuk dapat mendorong roboh sebatang pohon yang lima kali lebih besar daripada tubuh Bun Sam!
Ia merasa pasti bahwa dorongan ini sudah cukup untuk membikin terguling dan jerih murid Mo bin Sin kun yang lancang ini.
Akan tetapi, ternyata terjadi hal yang membuat Bouw Ek Tosu untuk pertama kalinya selama hidupnya melongo!
Ketika merasa angin dorongan yang luar biasa menyerang dadanya, sambil tersenyum Bun Sam lalu mengerahkan tenaga khikangnya ke dada.
kemudian membarengi mengangkat kedua tangan dari bawah dengan sikap menyoja ( memberi hormat) sambil menyalurkan tenaga Lweekang ke arah kedua lengannya itu.
Dengan cara ini, pada saat angin dorongan tosu itu terpental oleh tangkisan khikang pada dadanya, kedua tangannya telah sampai mendorong dari bawah, sehingga tangan kiri tosu yang mendorong itu lalu berbalik terdorong ke atas!
Bouw Ek Tosu hanya merasa betapa tangan kirinya yang mendorong itu meleset seperti sebuah palu yang dipukulkan pada permukaan batu yang kuat, bulat dan licin berminyak!
Tenaga dorongan nya tadi menjadi menceng arahnya dan dengan sendirinya menjadi lenyap.
"Totiang,"
Kata Bun Sam tanpa memperdulikan keheranan pendeta itu.
"sesungguhnya, dia ini belum pernah menggunakan nama Mo bin Sin kun dan dalam hal percakapan dengan totiang, dia telah mewakilkannya kepadaku. Maka harap totiang suka memaafkan kami dan membiarkan kami pergi dari sini."
Kalau tadinya Bouw Ek Tosu merasa heran mengapa dorongannya tidak berhasil, kini ia mulai menjadi marah, ia dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah murid Mo bin Sin kun yang sudah memiliki tenaga lumayan, maka dapat menangkis dorongannya.
"Apakah Mo bin Sin kun tiba tiba menjadi gagu? Sungguh lucu, dua pekan yang lalu ketika ia mengundang pinto ke sini, ia dapat bicara dan suaranya nyaring sekali. Atau, barangkali betul dugaan sumoiku tadi bahwa Mo bin Sin kun merasa jeri melihat Sin beng Ngo hiap lengkap berkumpul di sini?"
Biarpun Bouw Ek Tosu menatap wajah Yap Bouw yang hanya diam saja, akan tetapi kembali Bun Sam yang menjawab.
"Mungkin sekali, totiang. Mungkin sekali orang yang bernama Mo bin Sin kun itu takut kepada Sin beng Ngo hiap. Siapa tahu??"
Tiba tiba terdengar suara ketawa bergelak dan dua tubuh gemuk pendek dari Lam san Siang mo si hwesio kembar telah berada di kanan kiri Bouw Ek Tosu.
"Ha, ha, ha, jadi benar benar Mo bin Sin kun takut menghadapi Sin beng Ngo hiap? Benar benar kalian takut kepada kami berlima? Ha, ha!"
"Siapa yang takut kepada ngo wi? Kami tidak takut!"
Tiba tiba Bun Sam berkata dengan tegas, sehingga hwesio kembar yang sedang tertawa iiu tiba tiba menghentikan suara keiawanya seperti jam.kerik terpijak.
Juga Bouw Ek TDSU memandang dengan tajam, laiu bertanya.
"Anak muda, jangan kau main main denpan kami! Bukankah tadi kau menyatakan bahwa mungkin sekali Mo bin Sin kun merasa jeri terhadap kami?"
Bun Sam mengangguk anggukkan kepalanya.
"Memang, mungkin sekali orang yang bernama Mo bin Sin kun merasa jeri terhadap Sin beng Ngo hiap. Akan tetapi kami berdua tidak takut, jangankan kepada Sin beng Ngo hiap (lima pendekar), biarpun terhadap ngo koai (lima siluman) sekalipun kami tidak takut."
"Kurang ajar! Orang muda, kau benar benar bermulut lancang. Tidak tahukah kau bahwa kami berlima adalah Sin beng Ngo hiap? Apakah kau tidak takut kepada kami?"
"Mengapa takut, totiang? Pernah siauwte (aku yang muda) mendengar nasehat bijaksana bahwa apabila kita berada di fihak benar dan tidak berbuat salah, tak perlu kita takut kepada siapapun juga. Hanya orang yang mempunyai kesalahan saja yang patut merasa takut dan sepanjang ingatanku, kami berdua tidak bersalah terhadap ngo wi (tuan berlima)!"
Kini Kui Hok dan Hwa Hwa Niocu juga sudah datang menghampiri, sehingga lima orang Sin beng Ngo hiap lengkaplah kini menghadang di depan Yap Bouw dan Bun Sam.
Bouw Ek Tosu saling memandang dengan adik adik seperguruannya dengan sikap mulai ragu ragu.
"Anak muda, benar benarkah orang ini bukan Mo bin Sin kun?"
"Bukan, aku berani bersumpah,"
Kata Bun Sam.
"Kalau bukan Mo bin S n kun, siapa dia? Siapa namanya? Ayoh lekas kau beri tahu kepadaku!"
Kata Kui Hok yang juga merasa ragu ragu dan tidak sabar lagi.
"Kawanku ini tidak biasa memperkenalkan namanya kepada sembarang orang dan juga tidak perlu mengetahui nama orang lain. Kami adalah orang orang perantau yang tidak mempunyai sangkut paut dengan ngo wi atau dengan siappun juga."
"Namanya! Siapa namanya?"
Hwa Hwa Niocu yang berangasan itu mendesak dan membentuk. Bun Sam tersenyum.
"Namaku? Namaku Bun Sam, tidak berarti, bukan?"
"Bangsat, siapa tanya namamu? Nama gurumu ini yang kutanyakan!"
Hwa Hwa Niocu membentak. Akan tetapi Bun Sam masih tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tak perlu kau ketahui"
Dua orang ini saling berhadapan dengan lima orang tokoh besar itu, saling menatap bagaikan ayam ayam jago berlagak.
Yap Bouw bersikap hati hati dan waspada, akan tetapi tenang.
Bun Sam tersenyum senyum biarpun matanya tajam memperhatikan gerak gerik lima orang yang menghadangnya.
Kelima orang Sin beng Ngo hiap ragu ragu dan memandang dengan mata menduga duga siapa gerangan orang bermuka iblis di depan mereka itu.
Mereka masih ragu ragu untuk segera turun tangan, karena kalau belum orang ini Mo bin Sin kun, tidak baik berlaku sembrono.
Pada saat itu empat orang pelayan naik melalui anak tangga itu dengan sukar, karena mereka memikul segentong arak.
Melihat besarnya gentong itu, maka berat gentong yang penuh arak itu sedikitnya tentu ada duaratus kati.
Berempat memikul gentong arak duaratus kati memang tidak begitu berat, akan tetapi kalau sambil menaiki anak tanga ke loteng, berat juga!
Dengan napas terengah engah, akhirnya empat orang pelayan itu sampai juga di atas.
Hwa Hwa Niocu lalu melangkah maju dan nona muda ini menggunakan kaki kanannya untuk menendang atau mendorong dari bawah gentong itu ke atas.
Tiba tiba empat orang pelayan ini merasa pikulan mereka ringan sekali karena ternyata gentong itu telah terbang ke atas.
Pelayan pelayan itu menjadi ketakutan dan cepat melarikan diri ke bawah, bahkan orang ke empat saking gugupnya telah menggelinding saja ke bawah seperti sebuah bal dan setibanya di bawah, kepalanya benjol benjol.
Ketika gentong arak ini terlempar ke atas.
Hwa Hwa Niocu lalu mempergunakan kedua tangannya untuk menyambut bawah gentong lalu dengan tenaga sepenuhnya ia mendorong gentong arak itu ke arah kepala Yap Bouw.
Si muka tengkorak ini adalah murid dari Kim Kong Taisu dan seorang bekas jenderal yang berkepandaian tinggi maka melihat datangnya serangan gentong arak ini tentu saja ia tidak menjadi gugup sama sekali.
Ia mengulur tangan kanannya, menyangga dasar gentong dan menurunkan luncuran gentong itu melanjutkan luncuran ke bawah, lalu mendorongnya ke depan lagi, sehingga kini gentong itu melayang kembali ke arah kepala Hwa Hwa Niocu.
Terdengar suara ketawa bergelak.
"Siapa lagi kalau bukan Mo bin Sin kun?"
Ucapan ini disusul dengan uluran gagang pacul dan ternyata Si Pacul Kilat Kui Hok telah dapat "memetik"
Gentong arak itu dan atas kepala Hwa Hwa Niocu, yakni dengan jalan menyangga dasar gentong dengan ujung paculnya.
Benar benar amat mengagumkan kepandaian Kui Hok.
Ia menggerak gerakkan pergelangan tangannya dan gagang pacul itupun bergerak sedikit saja, akan tetapi kalau orang memandang kepada gentong arak yang berat itu, orang akan merasa heran karena gentong itu telah berputar putar cepat sekali di atas ujung gagang paculnya.
"He, muka iblis, minumlah arak ini !"
Teriak Si Pacul Kilat dan tiba tiba ketika ia menggerakkan gagang paculnya, gentong arak yang berat itu melayang ke arah kepala Yap Bouw kembali, akan tetapi kini bukan seperti ketika tadi Hwa Hwa Niocu melemparkannya, gentong arak itu menyerang ke arah kepala dengan beputar putar.
Tentu saja tidak mudah untuk menyambut datangnya gentong seberat itu, apabila tidak berputar masih belum hebat, akan tetapi kini gentong itu berputar putar cepat, tentu saja jauh lebih berat dan sukar menyambutnya daripada tadi.
Akan tetapi, tentu saja biarpun tidak mau memperkenalkan diri, Yap Bouw tak mau menyeah mentah mentah terhadap permainan seperti ini dari Si Pacul Kilat.
Ia cepat mengulurkan tangan kanannya dengan jari telunjuk menuding dan sebelum gentong yang berputar putar itu menimpa kepalanya, ia mendahuluinya dengan menyentil dasar gentong itu.
Aneh sekali karena tiap kali telunjuknya mendorong dasar gentong gentong yang masih berputar putar cepat itu bagaikan disendal ke atas dan membuat lompatan kecil.
Oleh lompatan ini, maka sedikit arak terpercik keluar dari gentong dan dengan tenang Yap Bouw lalu menengadah dan membuka mulutnya untuk menerima percikan arak itu!
Sampai tiga kali ia melakukan hal ini dan tiga kali ia minum arak itu seperti yang diminta oleh Si Pacul Kilat.
Kemudian, tiba tiba ia mengulur kedua tangan dengan sepuluh jari tangan terbuka dan dengan gerakan memantul, sepuluh jarinya itu menendang bawah guci arak besar itu, sehingga gentong ini terpental tinggi sekali hampir mengenai langit langit loteng.
Kini gentong mi meluncur turun ke arah kepala dua orang hwesio kembar!
"Sute, biarkan aku menyambutnya!"
Tiba tiba Bouw Ek Tosu berseru keras, ia maklum bahwa sutenya belum tentu akan kuat menyambut datangnya gentong yang jatuh dari tempat begitu tinggi.
Bahkan Lam san Siang mo sendiripun telah dapat mengetahui akan bahaya ini dan tadinya mereka hendak menyambut gentong itu bersama sama.
Sebagai orang tertua dan Sin beng Ngo hiap Bouw Ek losu tentu saja tidak akan memikirkan kedua sutenya maju bareng, karena hal ini akan mencemarkan nama besar mereka!
Pula, tosu tinggi kurus ini ingin sekaligus memperlihatkan kelihaiannya kepada si muka iblis yang lihai ini, siapapun juga adanya si muka iblis.
Dengan kedua kaki terpentang dan kedua tangan bertolak pinggang, Bouw Ek Tosu berdiri tepat di bawah gentong yang sedang meluncur ke arah kepalanya dengan kecepatan luar biasa itu!
Diam diam Bun Sam memandang dengan penuh perhatian, hendak melihat apa yang akan diperlihatkan oleh tosu tinggi ini yang tentu lihai sekali dan memiliki lweekang yang sempurna, karena kalau tidak, mana berani ia menerima gentong dengan cara demikian?
Yap Bouw sendiripun diam diam merasa khawatir karena sesungguhnya ia telah dapat menduga kehendak tosu yang berbahaya ini.
Memang benar dugaan Yap Bouw bahwa tosu itu tidak hendak mempergunakan kedua tangannya, karena ketika gentong itu meluncur turun, Bouw Ek Tosu menerimanya dengan...
kepalanya yang berambut putih!
"Bagus...!!"
Tak terasa lagi Bun Sam berseru memuji, karena gembiranya.
Kalau orang tidak memiliki ketenangan serta perasaan yang halus di barengi tenaga Lweekang yang tinggi, kepala orang yang menerima gentong arak berat seperti itu pasti akan remuk!
Akan tetapi dengan gerakan lemas dan indah namun kuat sekali, leher tosu itu bergerak dan kepalanya membuat gerakan melengkung ke bawah kemudian ke atas lagi dan gentong arak itu tetap saja menempel di atas kepalanya.
Gerakan ini dilakukan dengan amat tenang dan tetap sehingga setitikpun arak tidak tertumpah keluar dari gentong!
Diam diam Yap Bouw memuji kepandaian tosu ini dan ia maklum bahwa apabila terjadi pertempuran, belum tentu ia akan dapat menangkan tosu tinggi kurus ini.
Akan tetapi ketika ia melirik ke arah sutenya.
ia melihat Bun Sam memandang dengan mata berseri, ia melihat alis kiri sutenya yang masih muda itu bergerak gerak dan giranglah hatinya.
Berkat hidup berdekatan semenjak Bun Sam masih kanak kanak, Yap Bouw telah dapat mengetahui tanda tanda anak ini.
Apabila bibirnya tersenyum senym dan lubang hidungnya berkembang kempis itu adalah tanda bahwa Bun Sam medang marah hebat yang ditahan tahannya.
Apabila alis kiri pemuda tampan ini bergerak gerak, itulah tanda bahwa pemuda itu sedang memikirkan akal yang amat nakal dan bahwa ia merasa aman.
Tiba tiba terdengar Bun Sam tertawa geli yang disambung dengan kata kata keras.
"Yah totiang, kau mengingatkan daku kepada tukang menjual gentong kosong. Seperti itu pulalah ia membawa gentong kosongnya! Apakah totiang dahulu juga penjual gentong kosong, maka totiang pandai menggunakan kepala untuk mengangkat gentong?"
Kata kata ini memang disengaja oleh Bun Sam untuk memanaskan hati tosu itu dan untuk memindahkan perhatian tosu kepadanya.
Dan akalnya ini berhasil karena Bouw Ek Tosu menjadi marah sekali mendengar ucapan yang dianggapnya merupakan penghinaan itu.
"Bocah tidak tahu aturan! Tadi kau bilang bahwa kau tidak takut kepada Sin beng Ngo hiap? Bagus untuk nyali yang demikian besar, kau patut diupah minum arak wangi. Terimalah!"
Sambil berkata demikian, tosu ini mengerahkan tenaganya dan tiba tiba gentong arak yang tadi terletak di atas kepalanya, kini melayang dengan amat cepatnya ke atas dan jatuh menimpa ke arah kepala Bun Sam!
Memang nampaknya saja gentong itu melayang sendiri, akan tetapi sesungguhnya tosu lihai ini telah menggunakan kepandaiannya dan menggerakkan leher dan kepalanya dalam getaran yang penuh mengandung hawa melontarkan yang hebat yang timbul dari tenaga dalamnya.
"Siauwte ingin mempelajari ilmu menyunggi gentong yang totiang perlihatkan tadi!"
Bun Sam berkata penuh senda gurau dan tepat seperti gerakan Bouw Ek Tosu tadi, iapun dapat "menerima"
Gentong arak itu dengan kepalanya! "Ah, siauwte lupa...."
Kata Bun Sam pula.
"bukankah totiang tadi menawarkan siauwte minum arak kalau gentongnya berdiri di atas kepalanya?"
Setelah berkata demikian, tiba tiba tubuh pemuda yang baru berusia tujuhbelas tahun itu roboh terlentang dengan cepat sekali.
Tahu tahu tubuhnya telah telentang di atas lantai dan gentong arak yang tadinya berada di atas kepalanya, kini cepat meluncur turun akan menimpa perutnya!
Hampir saja Yap Bouw melompat maju untuk menolong nyawa sutenya dari bahaya, akan tetapi ternyata bahwa kekhawatirannya itu tiada gunanya karena dengan gerakan cepat sekali Bun Sam telah mengangkat kedua kakinya ke atas dan menerima gentong itu dengan kedua kakinya.
"Totiang, mari minum arak !"
Kata pemuda ini.
"Maafkan karena tidak ada cawan, terpaksa siauwte minum lebih dulu tiga teguk"
Sambil berkata demikian, Bun Sam menggerakkan kedua kakinya dan gentong arak ini menjadi miring.
Sedikit arak tumpah dan dengan tepat sekali memasuki mulut Bun Sam yang dibuka sedikit.
Tiga kali anak muda ini miringkan gentong arak dan tiba tiba ia melontarkan gentong arak itu ke atas dan ia sendiri lalu melompat berdiri.
Dengan kedua tangannya ia menerima gentong itu dan memeluk gentong seakan akan merasa amat berat.
Kedua kakinya terhuyung huyung dan kedua tangannya yang memeluk gentong menggigil.
"Totiang berlima, silakan minum. Gentong ini terlalu berat untukku!"
Dengan ucapan ini, Bun Sam melemparkan gentong arak itu kepada Bouw Ek Tosu dan adik adiknya.
Bouw Ek Tosu sudah mengulur kedua tangan untuk menyambut gentong ini, akan tetapi tiba tiba terdengar bunyi aneh di atas kepalanya dan gentong itu sambil mengeluarkan suara berkeretak, pecah dengan araknya muncrat berhamburan.
Bouw Ek Tosu dan adik adiknya dengan kagetnya cepat melompat untuk menyingkir, akan tetapi tetap saja pakaian mereka terkena noda arak dan rambut mereka menjadi basah!
Tentu saja Sin heng Ngo hiap menjadi marah sekali, terutama Hwa Hwa Niocu.
Wanita galak ini belum pernah dihina orang, apalagi dipermainkan oleh seorang pemuda tanggung.
Dengan pipinya yang berkulit halus itu berobah merah dan matanya bersinar marah, ia lalu mencabut pedangnya dan membentak.
"Anjing kecil, berani sekali kau main gila di depan Hwa Hwa Niocu!"
Secepat kilat, bentakan ini dibarengi oleh berkelebatnya tubuhnya yang didahului oleh sinar pedang, menusuk ke arah tenggorokan Bun Sam! "Aih, aih,... galak amat !"
Bun Sam berseru sambil tertawa dan dengan gerakan yang lincah dan seperti orang mabok ia terhuyung ke belakang, Bouw Ek Tosu dan adik adiknya terkejut dan khawatir juga melihat gerakan pemuda, itu.
Ternyata pemuda ini tak memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu silat dan kalau Hwa Hwa Niocu sudah marah, bukankah pemuda ini akan mati?
Hal itu kurang baik bagi mereka, karena membunuh seorang muda yang biasa saja merupakan salah satu pantangan bagi Sin beng Ngo hiap.
Memalukan sekali dan merendahkan nama besar mereka dalam dunia kang ouw.
"Sumoi, jangan melayani pemuda tolol ini...."
Si Pacul Kilat Kui Hok menegur adik seperguruannya.
Akan tetapi terlambat karena ketika melihat betapa Bun Sam dapat mengelak ke belakang dengan gerakan kaku, Hwa Hwa Niocu menjadi girang dan cepat mengejar dengan dua langkah dan pedangnya bagaikan halilintar menyambar kembali telah menyerang dengan sebuah bacokan ke arah leher Bun Sam!
Kui Hok terkejut sekali.
"Celaka...."
Seru nya, Sumoinya telah mempergunakan gerak tipu Seng thian jip te (Naik Ke Langit, Masuk Ke Tanah) semacam tipu serangan yang luar brasa sekali ganasnya, mana pemuda itu dapat menghindarkan diri?
ia tidak keburu turun tangan menghalangi serangan sumoinya, maka ia lalu cepat menubruk maju hendak menyambar tangan Bun Sam dan di tariknya agar dapat terlepas dari bahaya maut.
Akan tetapi terjadilah hal yang amat tidak terduga duga baik oleh Hwa Hwa Niocu maupun oleh Kui Hok atau lain anggauta dari Sin beng Ngo hiap.
Ketika pedang di tangan Hwa Hwa Niocu menyambar leher Bun Sam, pemuda ini cepat melemparkan diri ke kanan sambil menekuk kedua lutut kakinya.
Pedang tadi telah melakukan bagian gerak tipu seng thian (naik ke langit), maka ketika bacokan bagian atas ini meleset, lalu cepat dilanjutkan dengan gerakan jip te (masuk ke bumi).
Pada saat pedangnya diluncurkan ke bawah menuju ke perut Bun Sam yang hendak disate, datanglah Kui Hok yang hendak menangkap tangan pemuda itu untuk ditarik pergi dari ancaman ujung pedang Hwa Hwa Niocu.
Tiba tiba Bun Sam membuat dua macam gerakan dengan berbareng.
Ia membiarkan lengannya disambar oleh tangkapan Kui Hok, akan tetapi setelah dekat, ia lalu memutar tangannya dan bahkan menjambret ujung lengan baju Si Pacul Kilat itu dan ditariknya ke depan.
Adapun kaki kanannya dengan amat cepat, tepat dan berani sekali, dari samping melayang ke arah pergelangan tangan Hwa Hwa Niocu yang memegang pedang.
Nyonya ini terpaksa membatalkan maksudnya menusuk perut dan pedangnya berobah tujuan.
Karena Kui Hok yang terbetot ujung lengan bajunya itu tidak dapat mempertahankan diri dan terhuyung ke depan, maka hampir saja dia yang termakan oleh pedang Hwa Hwa Niocu !
Kui Hok cepat melompat ke belakang dan berjumpalitan, adapun Hwa Hwa Niocu juga cepat menarik kembali pedangnya.
Keduanya merasa kaget dan heran sekali.
Lebih lebih Kui Hok.
Tadi ketika ia tertarik ujung lengan bajunya, ia merasa tenaga yang luar biasa besarnya mencengkeram dan menarik baju itu.
Kalau berkeras melawan tarikan ini.
tentu saja ia sanggup, akan tetapi lengan bajunya tentu akan tersobek dan hal ini tidak mau ia alami.
Maka ia menurut saja dan hanya terhuyung maju.
Tidak tahunya gerakan pedang sumoinya berobah dan bahkan mengancamnya.
Ketika Kui Hok dan Hwa Hwa Niocu memandang kearah pemuda itu, mereka melihat Bun Sam sudah berdiri jauh sambil tersenyum senyum.
Makin panaslah hati Hwa Hwa Niocu dan merah jugalah muka Kui Hok.
Mereka, dua orang anggota dari Sin beng Ngo hiap, dengan berbareng maju menghadapi seorang pemuda, biarpun Kui Hok tadi maju bukan dengan maksud buruk.
Akan tetapi, kedua nya dapat dipermainkan oleh pemuda itu, benar benar satu hal yang amat memalukan hati mereka.
"Bangsat kecik kau layak dihajar!"
Hwa Hwa Niocu memaki dan melangkah maju lagi. Akan tetapi tiba tiba berkelebat bayangan Bouw Ek Tosu yang mencegah sumoinya.
"Sumoi. jangan turun tangan. Biarkan aku sendiri mencoba gurunya. Tak perlu kita ribut ribut melawan murid Mo bin Sin kun!"
Setelah berkata demikian, Bouw Ek Tosu lalu menghadapi Yap Bouw dan berkata.
"Mo bin Sin kun, kau ini sebenarnya mempunyai niat bagaimanakah? Kau sendiri yang memanggil dan mengundang pinto untuk datang ke sini dan telah mengancam muridku. Hai Siong. Nah, pinto dan saudara saudara telah datang, apakah kehendakmu? Apa kesalahan muridku, maka kau mengancam hendak membunuhnya?"
Tentu saja Yap Bauw tak dapat menjawab dan Bun Sam yang merasa khawatir kalau kalau Yap Bouw akan terbuka rahasianya, lalu melompat maju ke depan Bouw Ek Tosu.
"Totiang, sudah berkali kali kukatakan tadi bahwa kawanku ini namanya bukan Mo bin Sin kun dan sama sekali tidak mempunyai urusan dengan orang yang bernama Hai Siong! Totiang janganlah mengganggu kami lagi dan biarkan kami pergi dari sini dengan aman."
Bouw Ek Tosu dengan mendongkol sekali mengerling ke arah Bun Sam.
"Anak muda, sejak tadi aku masih bersabar terhadap kau, karena kau hanyalah seorarg murid muda dari Mo bin Sin kun. Akan tetapi kau selalu lancang mulut. Murid macam apakah kau ini? Mengapa suhumu ini diam saja dan tidak mau menjawab percakapan kami? Apakah dia gagu? Atau.... apakah kiranya dia takut terhadap kami Sin beng Ngo hiap??"
Kini Bun Sam yang merasa mendongkol.
"Ngo wi taihiap (tuan pendekar besar berlima) sungguh terlalu! Ketahuilah bahwa mungkin sekali setan yang bernama Mo bin Sin kun itu takut menghadapi Sin beng Ngo hiap, akan tetapi aku dan kawanku ini bukanlah Mo bin Sin kun dan karenanya kami berdua tidak takut sedikitpun juga terhadap ngo wi. Mengapa kami mesti takut? Ngo wi boleh berurusan dengan Mo bin Sin kun atau siapapun juga di dunia ini, akan tetapi jangan mengganggu kami, dan biarkan kami pergi!"
Setelah berkata demikian Bun Sam menggandeng tangan Yap Bouw dan hendak mengajaknya pergi.
Akan tetapi Bouw Ek Tosu yang masih merasa penasaran, mana mau membiarkan mereka pergi?
"Kawan, perlahan dulu.
Tak boleh pergi sebelum pinto tahu pasti bahwa kau bukanlah Mo bin Sin kun.
Siapa tahu kalau benar benar dia yang kini merasa tidak kuat menghadapi kami dan menggunakan akal ini untuk melarikan diri?
Hm tidak mudah, kawan.
Kau telah mengundang kami dan tanpa melayani kami, itu berarti tidak memandang kami."
Sambil berkata demikian, ia mengulurkan tangan kanannya ke arah pundak Yap Bouw sambil mengerahkan tenaganya.
Inilah serangan tiam hwat dari ilmu menotok jalan darah yang menjadi kepandaian tunggal terlihai dari Bouw Ek Tosu, yakni Ilmu Silat Pek tiauw thiam hwe louw (Ilmu Menotok Jalan Darah Rajawali Putih)!
Serangan yang keluar dari ilmu totokan ini memang lihai dan luar biasa sekali, karena tidak saja sepuluh buah jari tangan tosu itu yang pandai menotok dan melumpuhkan jalan darah, juga setiap kali serangannya selalu disusul oleh dua ujung lengan bajunya yang merupakan alat alat totok yang hebat sekali!
Yap Bouw sebagai seorang ahli silat tinggi, tentu saja tahu akan kelihaian serangan ke arah pundaknya ini, maka cepat sekali ia mengelak kekiri.
Si muka tengkorak ini yang maklum bahwa melawan lima tokoh itu bukanlah hal yang mudah dan tidak baik mencari permusuhan tanpa alasan dengan mereka, masih berlaku sabar dan tidak mau membalas serangan Bouw Ek Tosu.
Akan tetapi ketika tosu itu melihat betapa totokannya dengan mudah dielakkan oleh si muka tengkorak, menjadi makin tebal keyakinannya bahwa inilah tentu orang yang bernama Mo bin Sin kun ia tidak menghentikan serangannya.
Kalau tadi ia hanya menyerang ke arah pundak sebagai coba coba saja, kini tangan kirinya menyusul cepat dan menotok ke arah tulang rusuk sebelah kanannya dari Yap Bouw.
Serangan ini ber bahaya sekali karena kalau mengenai sasarannya dapat melayangkan nyawa yang di serang!
Kini Yap Bouw mulai marah dan sepasang matanya yang tajam dan berpengaruh itu mulai bercahaya.
Ia tidak mau mengelak lagi, bahkan lalu mengerahkan tenaga pada lengan kanannya, kemudian ia menyabetkan lengan itu ke bawah untuk menangkis serangan lawan.
"Duk"
Dua batang lengan beradu keras dan keduanya merasa tulang lengannya sakit, tanda bahwa tenaga mereka seimbang.
Akan tetapi Yap Bouw terkejut sekali ketika merasa betapa ujung lengan baju dari lawannya itu, bagaikan seekor ular hidup tahu tahu telah melilit pada pergelangan tangannya!
Si muka tengkorak ini cepat mengadakan serangan balasan.
Kepalan tangan kirinya menonjok ke depan, mengarah ulu hati Bouw Ek Tosu.
Sungguh hebat kalau dua orang ahli silat tinggi bertempur.
Dari jurus jurus pertama saja sudah saling menukar bahaya maut!
Bouw Ek Tosu juga maklum bahwa kalau dadanya terkena tonjokan ini pasti ia akan menyusul mendiang nenek moyangnya, maka dia yang masih suka hiaup lalu menggerakkan tangan kanannya dan tahu tahu ujung lengan bajunya telah meluncur mendahului jari jari tangannya untuk menangkis pukulan lawan dan bahkan untuk membelit pergelangan tangan pula!
Tentu saja Yap Bouw tidak sudi membiarkan kedua tangannya terikat oleh ujung lengan baju, maka ia cepat menarik kembali tangan kirinya dan mengerahkan tenaga untuk melepaskan tangan kanannya yang terbelenggu.
Akan tetapi ternyata bahwa ujung lengan baju yang mengikat pergelangan tangan kanannya itu kuat dan erat sekali!
Kedua orang tokoh persilatan ini bersitegang.
Yap Bouw hendak melepaskan tangannya, sebaliknya Bouw Ek Tosu hendak mempertahankannya!
Diam diam keduanya mengerahkan tenaga dan usaha itu sudah merupakan sebuah pibu (adu kepandaian) yang hebat.
Tiba tiba Bouw Ek Tosu merasa leher belakangnya dingin dan rambutnya bergerak gerak seperti tertiup angin keras dari berakang.
Ia terkejut sekali dan tak terasa pula ia menengok ke belakang.
Dilihatnya bahwa yang melakukan perbuatan itu adalah pemuda tadi Bun Sam yang melihat keadaan Yap Bouw, lalu meruncingkan mulutnya dan ia meniup sambil mengerahkan khikang ke arah leher belakang Bouw Ek Tosu.
Pendata ini merasa bahwa ia hanya ditipu saja agar perhatiannya terbagi, maka cepat cepat ia menoleh lagi kepada Yap Bouw dan mengerahkan tenaga, akan tetapi terlambat, Yap Bouw yang melihat gerakan Bouw Ek Tosu menoleh ke belakang segera mempergunakan kesempatan tadi untuk merenggutkan tangannya yang terpegang dan terlepaslah pegangan Bouw Ek Tosu yang erat tadi.
Marahlah Bouw Ek Tosu kepada Bun Sam.
Ia menudingkan jari tangannya kepada pemuda itu sambil memaki.
"Bocah yang curang! Agaknya gurumu tidak becus mengajar adat kepadamu! Biarlah pinto yang mewakili gurumu untuk memberi pengajaran kepadamu !"
Sambil berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan ujung lengan bajunya menyambar ke arah kepala Bun Sam.
Akan tetapi kali ini Bun Sam sudah bersiap sedia dan begitu ia melihat gerakan tosu itu, tangan kanannya bergerak menepuk punggungnya dan tahu tahu pedang yang kecil dan tipis telah berada di tangan nya!
"Totiang, kau keterlaluan sekali!"
Seru pemuda ini sambil menyambut datangnya sambaran ujung lengan baju itu dengan sebuah gerakan membabat dengan pedangnya.
Bouw Ek Tosu tentu saja masih memandang rendah kepada anak muda ini, maka ia melanjutkan pukulannya dan mengerahkan tenaga, ia merasa yakin bahwa pedang di tangan pemuda itu tentu akan terpukul jatuh oleh ujung lengan bajunya.
Akan tetapi bukan demikianlah akibat benturan pedang dan ujung baju, karena ketika pedang bertemu dengan ujung baju, memang benar terdengar suara nyaring seakan akan pedang itu bertemu dengan logam keras, akan tetapi segera disusul oleh seruan kaget dari pendeta ini ketika melihat betapa sepotong kain ujung lengan bajunya terbang karena terbabat putus!
Bouw Ek Tosu mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka, ia menjadi marah dan segera ia mengeluarkan sebuah hud tim (kebutan pertapa) yang terselip di ikat pinggang sebelah dalam jubahnya.
Mukanya berubah merah dan matanya bergerak penuh ancaman maut.
"Twa suheng, biarkan aku menghadapi monyet kecil ini!"
Kata Si Pacul Kilat Kui Hok, orang ke empat dari Sin beng Ngo hiap.
Sesungguhnya, biar pun Kui Hok dalam tingkat perguruan mereka hanya menjadi saudara ke empat, namun kepandaiannya hanya di bawah tingkat Bouw Ek Tosu saja.
Kalau dibandingkan dengan Lam san Siang mo, Sepasang Iblis dari Ganung Selatan itu, ia tidak kalah.
Bouw Ek Tosu mengalah terhadap adiknya ini dan ia lalu melangkah mundur dua tindak sambil berkata.
"Silahkan, si sute, akan tetapi jangan kepalang, memberi ajaran yang keras kepadanya. Biar aku yang mengawasi gurunya kalau kalau akan mengeroyok!"
Kini Bun Sam yang menjadi marah.
Tidak saja gurunya dimaki orang, akan tetapi juga mereka berdua dihina dan dipandang rendah.
Ketika ia melihat Si Pacul Kilat melompat maju sambil membawa paculnya, ia berseru keras.
"Sam beng Ngo koai!! Ia sengaja mengganti sebutan Ngo hiap (Lima Pendekar) menjadi Ngo koai (Lima Setan). Kalian ini orang orang tua benar benar keterlaluan. Apakah dikira aku Bun Sam takut menghadapi kalian berlima? Mungkin sekali orang yang kau sebut namanya Mo bin Sin kun itu takut menghadapi kalian berlima, akan tetapi aku Bun Sam yang tidak merasa salah sedikitpun sama sekali tidak takut akan ancaman ancamanmu!"
Pemuda ini dengan sikap gagah, akan tetapi juga lucu mengejek, menggerak gerakkan pedangnya di depan hidungnya.
Kui Hok menggerakkan paculnya, menyerang dengan hebat sekali ke arah Bun Sam, Gerakan pacul ini memang hebat dan jauh berbeda dengan gerakan senjata tajam lain.
Biasanya senjata senjata dipergunakan dengan cara menusuk, mengemplang, membacok menyabet atau menotok jalan darah, akan tetapi pacul ini dipergunakan dengan ayunun miring dan mata pacul yang tajam sekali itu meluncur cepat dengan tujuan mencangkul kepala orang!
Bun Sam tidak menjadi ngeri dan dengan tenang serta tabah ia menggerakkan kaki ke kiri dan mengebalkan pedangnya untuk menyabet gagang pacul.
Akan tetapi tiba tiba terdengar suara seperti jerit nyaring dan angin pukulan luar biasa sekali menyambar ke arah mereka yang sedang bertempur.
Bun Sam merasa terdorong keras dan biarpun ia mempertahankan diri, tetap saja ia terdorong mundur sampai tiga langkah.
Yang lebih hebat adalah Kui Hok, karena Si Pacul Kilat ini terdorong lebih hebat, sehingga terjungkal ke belakang!
Hanya karena kegesitan dan kelihaiannya saja, maka ia dapat mengerahkan tenaga dan berjungkir balik, mempergunakan ilmu lompat Koai liong hoan sin (Naga Siluman Memutar Badan).
Setelah dapat menetapkan hati dan keseimbangan tubuhnya, Kui Hok cepat menengok dan berbareng dengan Bun Sam ia melihat bayangan orang berkelebat dan tahu tahu seorang yang bertubuh kecil langsing telah berdiri di depan mereka.
Terkejutlah semua orang ketika melihat orang ini, tidak terkecuali Bun Sam dan Yap Bouw.
Orang yang baru datang ini, pakaiannya serba putih bersih dengan ikat pinggang dan sepatu berwarna kuning.
Akan tetapi yang nampak bersih dan menyenangkan hanya dari leher ke bawah saja, karena dari leher ke atas, sungguh merupakan pemandangan yang menyeramkan.
Kepala orang ini tertutup oleh kain pengikat kepala berwarna hitam dan mukanya hampir sama hitamnya dengan kain penutup kepala itu.
Muka orang ini benar benar amat buruk, dengan kulitnya menghitam dan totol totol, sehingga tidak kelihatan lagi garis garis mulut atau hidungnya.
Bibirnya juga hitam, sama dengan kulit mukanya dan hanya sepasang matanya saja yang bercahaya bening, akan tetapi pelupuk matanya juga berkerut kerut mengerikan.
Sungguh tak mungkin ada keduanya muka orang yang seburuk itu, terkecuali muka Yap Bouw yang sudah rusak itu.
"Hm, Sin beng Ngo koai! Anak yang lancang mulut ini betapapun juga telah memilihkan julukan baru yang tepat untuk kalian. Sin beng Ngo koai, lima orang iblis. Ha, ha, ha, benar benar cocok dan karena jasamu memilih nama itu, bocah bermulut lancang, maka aku Mo bin Sin kun dapat mengampuni nyawamu."
Bun Sam tadinya merasa terkejut dan ngeri, bukan hanya kareua muka orang ini, akan tetapi terutama sekali karena kelihaiannya, ia maklum bahwa orang tadi telah mempergunakan tenaga pukulan hebat sekali untuk mendorong dia dan Kui Hok dan biarpun dari jarak jauh, dorongan yang baru datang anginnya itu saja telah membuat ia terhuyung mundur dan Kui Hok berjumpalitan.
Agaknya tenaga dorongan si muka iblis ini tidak kalah hebatnya oleh tenaga pukulan Thai lek Kim kong jiu dari suhunya!
Akan tetapi setelah mendengar suara orang itu, lenyaplah rasa takutnya dan tiba tiba ia tertawa tawa.
Semua orang terheran heran, bahkan Yap Bouw sendiri memandang ke arah Bun Sam dengan penuh kegelisahan.
Anak ini terlampau sembrono, pikirnya.
Yang dihadapinya kini bukanlah orang orang sembarangan.
Nama Sin beng Ngo hiap saja sudah ternama sekali, apalagi Mo bin Sin kun yang termasyhur itu memiliki kepandaian yang sejajar dengan suhunya, yakni Kim Kong Taisu.
"Bocah bernyali iblis, mengapa kau tertawa? Awas, jawab yang benar, siapa tahu kalau kalau tadi adalah merupakan ketawamu yang terakhir!"
Mo bin Sin kun menghardik dan kerling matanya menyambar. Akan tetapi Bun Sam tetap tenang. Ia percaya akan kepandaiannya sendiri dan juga akan bantuan suhengnya apabila sewaktu waktu diserang orang.
"Aku tertawa karena mendapat kenyataan yang amat mengecewakan dan juga lucu. Melihat kalian ini, Sin beng Ngo koai dan Mo bin Sin kun, orang orang yang lelah terkenal di kalangan kang ouw sebagai orang orang berkepandaian tinggi, sekarang tidak tahunya ternyata hanyalah orang orang yang suka sekali membunuh dan mengancam seakan akan kalian ini adalah kaki tangan dari Giam lo ong (Raja Dewa Pencabut Nyawa) saja. Salahkah pendengaranku bahwa orang orang ternama di dunia kang ouw adalah orang orang gagah perkasa?"
"Omonganmu ada isinya, bocah lancang! Memang banyak sekali orang orang kang ouw melakukan perbuatan ang tidak patut. Seperti halnya pendeta ini yang bernama Bouw Ek Tosu, dia mengaku sebagai pendekar bahkan sudah berani memakai julukan Sianjin, akan tetapi ia membiarkan muridnya, anjing yang bernama Ngo jiauw eng (Garuda Kuku Lima) untuk membinasakan banyak sekali keluarga orang orang gagah bangsa sendiri."
"Mo bin Sin kun, jangan kau bicara sembarangan saja!"
Tiba tiba Bouw Ek Tosu melangkah maju dan menuding marah.
"Ang bi tin adalah pasukan yang dipergunakan oleh pemerintah untuk menjaga keamanan, maka siapa saja yang kiranya membahayakan pemerintah, tentu saja dibasmi. Lagi pula, bukan hanya muridku yang melakukan pekerjaan yang tidak kau setujui itu, mengapa agaknya kau hanya berani menegur kepada pinto? Mengapa kau tidak mendatangi saja langsung kepada pemimpin besarnya, yaitu Pat jiu Giam ong Liem goanswe? Atau, apakah kau takut menghadapi Jenderal Liem?"
"Orang tua pikun! Siapa bilang aku takut kepada Pat jiu Giam ong? Lain kali pasti aku akan bertemu dengan dia akan tetapi tidak ada hubungannya dengan ini. Jangan kau berpura pura tidak tahu, Bouw Ek Tosu, bahwa Pat jiu Giam ong biarpun sekarang sudah memakai she Liem. namun dia adalah seorang Mongol. Demikianpun Bucuci dan yang lain lain. Kalau orang Mongol yang menjadi pemimpin atau anggauta Ang bi tin, itu masih dapat dimengerti karena mereka itu bekerja berdasarkan membela pemerintahnya sendiri. Akan tetapi muridmu itu? Dia adalah seorang Han, mengapa dia membantu orang orang Mongol untuk membasmi orang gagah bangsanya sendiri? Pendeknya, kau harus menyuruh muridmu itu mengundurkan diri."
"Kalau pinto tidak mau?"
Tanya Bouw Ek Tosu yang merasa penasaran.
"Kau harus menerima hajaran lebih dulu sebelum muridmu!"
Baru saja kata kata ini habis di keluarkan, tiba tiba tubuh Mo bin Sin kun bergerak cepat dan tahu tahu tangannya telah menotok ke arah pundak Bouw Ek Tusu.
Pendeta ini terkejut sekali dan cepat menangkis totokan yang cepat sekali datangnya ini.
Akan tetapi serangan dan gerakan Mo bin Sin kun Si Tangan Sakti Bermuka Iblis ini benar benar luar biasa sekali.
Tangan kanan yang tadinya menotok, tiba tiba jarinya terbuka dan berubah menjadi cengkeraman yang cepat sekali telah dapat mancengkeram ujung kebutan, sedangkan tangan kiri dengan gerakan yang berbareng telah menyodok ke arah lambung pendeta itu!
Bouw Ek Tosu yang masih terkejut melihat betapa kebutannya yang lihai lelah kena dipegang orang, kini ditambah lagi dengan serangan sodokan ke arah lambungnya, segera melepaskan gagang hudtimnya.
Namun ia kalah cepat.
Mo bin Sin kun benar benar tidak percuma mendapat julukan Tangan Sakti, karena baru saja lawannya mengelak, ia telah dapat mengejar dengan tangan kiri dan terdengar suara berdebuk keras ketika tubuh Bouw Ek Tosu kena didorong, sehingga terlempar sampai setombak lebih!
Bukan main marahnya empat orang adik seperguruan dari Bouw Ek Tosu ketika melihat suheng mereka dirobohkan dengan demikian mudahnya.
Sambil berseru keras, Lam san Siang mo si hwesio kembar, Kui Hok si Pacul Kilat, dan Hwa Hwa Niocu lalu maju menyerang dengan sengit.
Bun Sam mendekati Yap Bouw dan keduanya berdiri di sudut ruang itu sambil menonton dengan enaknya!
Terutama sekali Bun Sam amat memperhatikan gerakan gerakan Mo bin Sin kun yang diketahuinya memiliki kepandaian amat tinggi itu.
Amat hebatlah pertempuran itu.
Tubuh berbaju putih itu lenyap merupakan bayangan putih yang lincah sekali dan sukar diikuti gerakannya.
Di antara sambaran pedang Hwa Hwa Niocu dan Pacul Kilat dari Kui Hok nampak gerakan dua pasang golok dari Lam san Siang mo yang juga amat lihai.
Akan terapi tubuh Mo bin Sin kun lebih cepat lagi gerakannya.
Bagi mata orang orang yang tidak memiliki ilmu silat tinggi, tentu pemandangan yang ditimbulkan oleh pertempuran ini akan membuat mereka menjadi silau dan tak dapat mengikuti semua gerakan itu.
Akan tetapi bagi Bun Sam dan Yap Bouw tentu saja mereka berdua dapat mengikuti setiap gerakan dan bukan main kagum hati mereka menyaksikan ilmu silat Mo bin Sin kun yang benar benar hebat.
Si Tangan Sakti Muka Iblis ini dengan tangan kosong saja menghadapi semua senjata ke empat orang pengeroyoknya dan baru setelah para pengeroyoknya menyerang sampai dua puluh jurus, ia berseru.
"Rebahlah kalian berempat!"
Kalau dibicarakan sungguh amat mengherankan, karena baru saja ucapan ini keluar dari mulutnya yang hitam mengerikan, segera disusul oleh seruan kaget dan kesakitan.
Pertama tama Kui Hok roboh tertotok, kemudian Hwa Hwa Niocu terpental karena ditendang dan paling akhir si hwesio kembar itu berteriak keras karena terdorong oleh tenaga pukulan yang tadi pernah dirasakan oleh Bun Sam dan Bouw Ek Tosu.
Dalam sekali gerak saja, Mo bin Sin kun telah merobohkan empat orang dari Sin beng Ngo hiap setelah lebih dulu merobohkan Bouw Ek Tosu dalam sejurus.
Dan yang lebih hebat lagi, ia telah merobohkan lima orang itu tanpa membuat mereka terluka hebat, akan tetapi juga yang membuat mereka untuk beberapa lama takkan dapat bangun.
"Hebat sekali kepandaianrnu, Ma bin Sin kun!"
Kata Bun Sam sambil melangkah mendekati orang bermuka buruk itu.
"Hanya sayang sekali ada beberapa bagian yang kurang praktis."
Kalau Yap Bouw tak terasa menutup mulutnya saking terkejut dan heran melihat kelancangan sutenya ini, adalah Mo bin Sin kun cepat membalikkan tubuh dan menghadapi Bun Sam dengan mata bersinar marah.
"Apa katamu? Kurang praktis? Apanya yang menurut anggapanmu kurang baik?"
"Kau tadi melakukan gerakan seperti ini kalau tidak salah,"
Kata Bun Sam dan pemuda yang mempunyai ingatan amat kuat dan cerdas ini lalu menirukan gerakan Mo bin Sin kun ketika merobohkan keempat orang pengeroyoknya.
Mula mula jari tangan kanannya ditusukkan, yakni totokan yang telah merobohkan Si Pacul Kilat, kemudian cepat dibarengi dengan sebuah tendangan yang telah membuat Hwa Hwa Niocu jatuh tunggang langgang, kemudian sekali ia lalu memasang kuda kuda dengan kedua kaki dipentang dan tubuh direbahkan, kemudian ia melakukan dorongan dari Thai lek Kim kong jiu sebagai pengganti tenaga dorongan yang tadi dilakukan oleh Mo bin Sin kun.
"Nah, aku bilang tidak praktis karena pukulan mendorong yang paling hebat itu kau lakukan paling akhir setelah lawan tinggal dua orang. Sedangkan ketika lawan masih ada empat orang, kau hanya melakukan totokan dan tendangan yang biasa saja. Bukankah ini berarti menyia nyiakan ilmu pukulan yang luar biasa hanya untuk merobohkan dua ekor monyet gundul saja? Dengan tenaga dan angin pukulan seperti itu, kalau dilakukan dengan baik dan diatur setepatnya, bukankah dengan mendorong satu kali saja, semua orang tadi akan terpukul roboh? Inilah yang tidak praktis, kataku."
Mula mula Mo bin Sm kun membelalakkan matanya ketika melihat pemuda itu menirukan gerakan gerakannya yang biarpun tak dapat dikatakan sempurna dan persis sekali, akan tetapi sudah dapat dibilang cukup baik, bahkan terlalu baik bagi seorang yang belum pernah mempelajarinya.
Kemudian, melihat pukulan Thai lek Kim kong jiu itu ia cepat bertanya.
"Anak bengal, gurumu si tua Kim Kong Taisu telah memberikan pelajaran Thai lek Kim kong jiu kepadamu, mengapa kau masih suka menaruh perhatian kepada ilmu pukulan orang lain ?"
"Mo bin Sin kun, biarpun begitu, tetap saja aku merasa amat kagum dan ingin sekali mempelajari ilmu pukulanmu yang terakhir tadi. Kalau kau sudi memberi petunjuk kepadaku tentang ilmu pukulan ini, suhu tentu akan memujimu sebagai seorang yang baik budi."
Tiba tiba Mo bin Sin kun tertawa senang dan tidak hanya Bun Sam yang terheran, bahkan Yap Bouw sendiri kini menghampiri mereka dan memandang kepada Mo bin Sin kun dengan heran.
Alangkah ganjilnya suara ketawa orang lihai ini.
Baik Bun Sam maupun Yap Bouw berani bersumpah bahwa itu adalah suara ketawa dari seorang wanita.
Suara ketawa yang nyaring, halus dan merdu.
"Ha, ha, ha, si tua bangka Kim Kong Taisu ternyata mempunyai murid yang lidahnya tak bertulang dan pandai sekali membujuk orang. Kau kira mudah saja hendak membujuk rayu kepadaku? Kalau kaudapat mengalahkan kepandaian muridku, baru aku akan memikir mikir tentang permintaanmu itu. Ha. ha, ha!"
Dengan ketawa geli Mo bm Sin kun lalu berkelebat pergi dan lenyap dan situ.
"Mo bin Sin kun!"
Bun Sam berseru.
"Aku berani menghadapi muridmu, di mana aku dapat bertemu dengan kau dan muridmu?"
Terdengar suara orang lihai itu dari jauh.
"Tidak biasa Mo bin Sin kun memberitahukan tempatnya. Malam nanti kami akan datang kepadamu."
Bun Sam dan Yap Bouw saling pandang dan dari pandangan mata Yap Bouw, Bun Sam yang sudah mengenal akan watak suhengnya ini tahu bahwa suhengnya menegurnya dan tidak setuju dengan sikapnya yang lancang tadi.
"Suheng, aku memang ingin sekali mempelajari ilmu pukulannya tadi. Suhu pernah berkata bahwa ilmu pukulan dari jarak jauh, yang paling lihat adalah Ilmu Pukulan Soan hong pek lek jiu (Pukulan Tangan Angin Puyuh) dari Mo bin Sin kun. Kukira yang ia pergunakan tadilah adanya Soan hong pek lek jiu."
Yap Bouw menggeleng gelengkan kepala, di dalam hatinya merasa heran akan kesukaan sute nya yang tiada bosannya hendak memperdalam ilmu silatnya.
Ia lalu menghampiri lima orang yang masih bergeletakan di atas lantai.
Setelah memeriksa sebentar, akhirnya ia menghampiri Si Pacul Kilat dan mengurut serta menotok pundaknya, sehingga jalan darah Kui Hok menjadi pulih kembali.
Si Pacul Kilat Kui Hok lalu menghampiri saudara saudaranya dan menolong mereka.
Sementara itu Yap Bouw lalu menggandeng tangan sutenya dan dibawanya berlari turun.
Di bawah loteng itu telah berkumpul Lo kun gu Lai Seng si pemilik restoran Lok thian bersama para pegawainya.
Mereka itu tidak berani bergerak dan hanya berkumpul sambil bicara bisik bisik.
Diam diam Lai Seng merasa berdebar juga karena peristiwa ini merupakan berita baik sekali sebagai propaganda kemasyhuran nama restorannya.
Jarang sekali ada restoran yang dijadikan tempat pertemuan dan pertempuran tokoh tokoh besar seperti Sin beng Ngo hiap dan Mo bin Sin kun!
Dia dan kawan kawannya hanya mendengar suara gaduh di atas loteng, sama sekali tidak melihat kedatangan maupun kepergian Mo bin Sin kun.
Ketika Yap Bouw dan Bun Sam turun, Lai Seng lalu menjura dengan penuh hormat, diam diam memuji kelihaian si muka iblis ini yang melihat ketenangannya tentu telah memperoleh kemenangan.
Yap Bouw merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong uang emas dan sekali ia menggerakkan tangannya, uang emas itu telah menancap di atas lantai tembok!
"Tidak usah, locianpwe, tidak usah bayar...."
Kata Lai Seng, akan tetapi Yap Bouw dan Bun Sam telah melompat pergi dan lenyap dari situ.
"Jangan ambil uang emas itu!"
Kata Lai Seng gembira sekali sambil mengamat amati potongan uang emas yang telah amblas dan hanya kelihaian mengkilat kuning seperti tambalan pada lantai tembok.
"Biar semua orang yang makan di sini melihat bahwa Mo bin Sin kun makan di sini dan membayar dengan cara yang luar biasa ini!"
Kembali Lo kun gu Lai Seng hendak mempergunakan peristiwa ini sebagai reklame untuk restorannya!
Pada saat itu, terdengar suara berisik dari atas loteng dan nampaklah lima orang Sin beng Ngo hiap itu turun dengan muka lesu, bahkan Hwa Hwa Niocu dan sepasang hwesio kembar itu masih meringis ringis menahan rasa sakit.
Kembali Lai Seng menjura dengan amat hormatnya sambil tersenyum senyum.
Melihat orang tersenyum, Hwa Hwa Niocu yang sedang mendongkol menjadi marah.
"Kau mau apa? Mau minta bayaran?"
Ia mengharapkan Lai Seng benar benar akan minta bayaran, karena ia tentu akan membayarnya dengan beberapa kali tamparan untuk melampiaskan hatinya yang mendongkol.
Akan tetapi Lai Seng bukalnah anak kecil yang tidak tahu gelagat, ia maklum bahwa lima orang ini tentu sudah dapat dikalahkan, maka sambil tersenyum ia berkata.
"Tidak sekali kali, mana siauwte berani minta bayaran kepada ngo wi? Lagi pula, untuk makanan tadi yang tidak seberapa banyak siauwte telah mendapat bayaran lebih dan cukup yang diberikan oleh Mo bin Sin kun Locianpwe."
Lai seng menunjuk ke arah lantai di mana masih terlihat dengan jelas potongan uang emas yang kuning mengkilat.
"Hm, kau kira Sin beng Ngo hiap tidak mampu bayar?"
Tiba tiba Bouw Ek Tosu tersenyum pahit, ia merogoh sakunya dan dari jubahnya yang berkembang itu ia mengeluarkan sepotong uang emas pula.
Ia menggerakkan tangannya dan uang emas itu meluncur ke bawah, menancap dan amblas ke dalam lantai tembok, dekat sekali dengan uang emas yang dilemparkan oleh Yap Bouw tadi!
Tentu saja Bouw Ek Tosu yang mempunyai ilmu kepandaian setingkat dengan Yap Bouw, dapat melakukan pula hal yang tadi dilakukan oleh Yap Bouw.
Setelah lima orang ini pergi, Lai Seng hampir berjingkrak saking girangnya.
Tidak saja ia mendapatkan dua potong uang emas yang sudah lebih daripada cukup sebagai pembayaran harga makanan dan minuman, bahkan dua potong tiang emas itu dapat dijadikan sebagai daya penarik para pelancong dari lain kota yang tentu ingin sekali melihat cara pembayaran yang aneh ini dari Mo bin Sin kun dan Sin beng Ngo hiap!
Jalan dari Lok yang menuju ke kota raja ada dua macam.
Pertama mengambil jalan air, yakni mengikuti aliran Sungai Hoang ho (Sungai Kuning) memasuki Propinsi Sanung lalu turun mendarat dan melanjutkan perjalanan darat melalui Propinsi Hopak.
Atau yang ke dua mengambil jalan darat melalui Propinsi Shansi, terus menyusur perbatasan antara Propinsi Shansi dan Propinsi Hopak.
Oleh karena dalam perjalanan menuju ke kota raja ini, bagi Yap Bouw adalah untuk membimbing sutenya adapun bagi Bun Sam sendiri untuk menambah pengalaman dan meluaskan pengertian, maka mereka berdua mengambil keputusan untuk melalui jalan darat.
Setelah keluar dari kota Lok yang dan menyeberangi Sungai Hoang ho yang mengalir di sebelah utara kota, mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat sekali, mempergunakan ilmu lari cepat yang membuat mereka berlari lebih cepat dari kuda.
Hari telah menjadi gelap ketika mereka memasuki kota Kin bun, sebuah kota kecil yang tak berapa ramai.
Semenjak pagi, keduanya hanya mengisi perut dengan buah buah yang mereka petik dari hutan yang mereka masuki dalam perjalanan tadi.
Kini perut mereka terasa lapar sekali.
Baiknya dalam kota Kin bun terdapat sebuah hotel yang cukup besar dan yang juga menyediakan hidangan bagi para tamu.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka lalu makan.
Dengan gerakan tangannya Yap Bouw memberi ingat agar supaya Bun Sam berlaku hati hati sekali karena mungkin malam ini akan ada orang datang menggangu, Bun Sam mengangguk angguk karena ia teringat akan ucapan Mo bin Sin kun yang malam hari ini hendak mengunjunginya bersama muridnya dengan maksud mengadu kepandaian!
"Suheng, kalau kuingat suara bicara dan ketawa Mo bin Sin kun tadi timbul dugaanku bahwa dia adalah wanita.
Apakah kau tidak pikir begitu suheng?"
Dengan bahasa gerak jari tangannya, Yap Bouw membenarkan sangkaan ini, karena ia sendiri pun berpikir demikian.
Dan ia menambahkan keterangan bahwa suhunya sendiri belum pernah menyatakan apakah Mo bin Sin kun seorang laki laki atau wanita.
Kemudian Yap Bouw memperingatkan agar berlaku hati hati sekali, karena murid Mo bin Sin kun tentulah seorang yang berkepandaian amat tinggi seperti gurunya.
Bun Sam tersenyum dan menjawab.
"Jangan khawatir, suheng. Mo bin Sin kun demikian galak, tentu muridnya tidak jauh berbeda. Dan orang yang mudah marah seperti itu, tidak berbahaya untuk dilawan asalkan kepandaian kita tidak kalah jauh. Bukankah begitu, kata suhu?"
Yap Bouw mengangguk angguk dan berkata dengan tangannya bahwa memang betul demikianlah.
Orang yang mudah dikuasai oleh tujuh perasaan (marah, malu, kecewa, takut, suka, duka, gembira) tak dapat berlaku tenang dan oleh karenanya tak dapat bertempur dengan baik.
Akan terapi, demikian Yap Bouw yang sudah banyak pengalaman dan berpemandangan luas ini memperingatkan amat tidak baik kalau memandang rendah kepada lawan, apalagi lawan yang belum diketahui sampai di mana tingkat kepandaiannya.
Memandang rendah kepada lawan berarti sudah kalah satu bagian dalam pertempuran, katanya, karena perasaan ini mengurangi kewaspadaan sendiri.
Selelah makan, mereka lalu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Keduanya duduk di pembaringan masing masing, bersila mengatur pernapasan dalam samadhi sambil menanti datangnya Mo bin Sin kun.
Biarpun dilihatnya sama, keduanya duduk bersila memejamkan mata dan napas mereka teratur baik, namun isi pikiran kedua orang ini amat jauh berbeda.
Kalau Bun Sam pada waktu itu merasa senang untuk menghadapi murid dari Mo bin Sin kun, adalah Yap Bouw melayangkan ingatannya pada waktu waktu dahulu ia girang sekali melihat anak yang dulu ditolongnya itu, kini telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, telah menjadi sutenya yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripadanya sendiri.
Ia telah menganggap Bun Sam seperti anak sendiri dan kasih sayangnya terhadap pemuda ini adalah kasih sayang seorang ayah terhadap seorang putera nya.
Akan tetapi kalau ia teringat kepada rumah tanggannya, kepada isteri dan putera puterinya, mengalirlah darah dari hatinya yang terluka.
Akan tetapi bekas jenderal yang bernasib malang ini cepat cepat menguatkan tenaga batinnya untuk menekan perasaan itu dan napasnya yang tadinya tersengal sengal menjadi tenang kembali.
Biarpun sedang duduk bersamadhi namun Bun Sam yang amat tajam pendengarannya itu dapat membedakan perubahan napas dari suhengnya, maka ia membuka matanya sebentar.
Dilihatnya peluh memenuhi jidat suhenenya itu dan wajah suhengnya yang rusak dan bercacat itu menjadi makin menyeramkan.
Ia menghela napas panjang.
Sudah terlalu sering ia melihat suhengnya berhal demikian dan karena ia pernah mendengar riwayat suheng nya, maka maklumlah ia akan kedukaan yang kadang kadang mengganggu pikiran bekas jenderal yang bernasib malang ini.
Tiba tiba ia menjadi amat terharu.
Dengan perlahan Bun Sam turun dari pembaringannya, menghampiri Yap Bouw dan menggunakan saputangannya untuk menghapus peluh yang memenuhi jidat Yap Bouw dengan perasaan penuh kasih sayang seperti seorang anak terhadap ayahnya atau seorang adik terhadap kakaknya.
Perbuatan Bun Sam ini mendatangkan keharuan besar kepada Yap Bouw, akan tetapi sekaligus juga menghilangkan kesedihannya karena dalam diri pemuda ini ia mendapatkan pengganti putera yang amat dikasihinya.
Dengan gerakan tangannya ia mengisaratkan agar pemuda itu kembali ke pembaringannya dan mengaso.
Kembali mereka duduk bersamadhi sampai menjelang tengah malam.
Keadaan sangat sunyi dan hotel yang hanya didatangi sedikit orang tamu itu telah menjadi sepi.
Semua orang termasuk penjaga hotel, telah tidur pulas dalam malam yang dingin itu.
Tiba tiba terdengar suara dari kamar Bun Sam.
"Bocah sumbong, lekas keluar, kami menunggu!"
Bun Sam mengenal suara Mo bin Sn kun, maka cepat ia melompat turun dari pembaringannya.
Ternyata bahwa Yap Bouw juga sudah melompat turun dan keduanya saling pandang dengan heran mengapa gerakan Mo bin Sin kun di atas genteng sama sekali tidak pernah terdengur oleh mererka.
Hal ini telah membuktikan bahwa Tangan Sakit Bermuka Iblis ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi.
Bun Sam membuka daun jendela, lalu melompat keluar diikuti oleh suhengnya.
Memang mereka semenjak tadi telah bersiap sedia dan tidak menanggalkan pakaian ketika naik ke pembaringan.
Selelah tiba di luar hotel, mereka melihat bayangan berkelebat turun dari atas genteng dan nampaklah dua bayangan orang berdiri menanti mereka.
Malam itu terang bulan, akan tetapi cahaya bulan belum cukup terang untuk menerangi wajah kedua orang itu.
Bun Sam mengenal bahwa yang melompat turun dari atas genteng tadi adalah Mo bin Sin kun.
Biarpun tidak nyata mukanya, namun ia masih dapat mengenal pakaian serba putih dan kemudian dari leher ke atas hanya hitam saja itu.
Ketika ia memandang kepada orang ke dua, diam diam ia merasa mendongkol sekali.
Apakah Mo bin Sin kun hendak mempermainkannya?
Jilid V ORANG yang berdiri di dekat Mo bin Sin kun bertubuh langsing kecil dan pendek, melihat bentuk tubuhnya, ia menaksir bahwa, murid itu usianya tidak akan lebih dari dua tiga belas tahun.
Seorang anak kecil, bagaimana ia mempunyai muka untuk melawan seorang anak kecil?
Dengan muka terasa panas pada malam sedingin itu, Bun Sam lalu melompat ke depan dua sosok bayangan itu, tetap diikuti oleh Yap Bouw yang juga merasa aneh.
Benar saja, yang berpakaian putih dan yang melayang turun tadi adalah Mo bin Sin kun yang berdiri sambil bertolak pinggang dan wajahnya tidak kelihatan saking hitamnya.
Di sebelah kanan berdiri seorang yang sekaligus membuat Bun Sam menjadi bengong.
Orang yang dikiranya anak kecil tadi ternyata seorang gadis kecil yang bermuka bulat telur, bertubuh cilik ramping dan padat dan pada mukanya yang elok itu membayangkan keberanian besar yang kini, ditujukan kepadanya dengan sikap menantang!
"Eh, siapakah dia ini?
Dan mengapa selalu berada di sampingmu seperti seorang pelindung?"
Tiba tiba Mo bin Sin kun bertanya dan karena Bun Sam kini telah berdiri dekat dan matanya sudah biasa dengan keadaan yang suram itu, ia dapat melihat betapa sepasang mata dari si muka iblis tangan sakti ini memperlihatkan sinar kasihan terhadap suhengnya!
Juga dalam mengajukan pertanyaan ini, suaranya terdengar halus dan tidak galak.
Mendengar ucapan itu, si gadis cilik juga menengok dan memandang kepada muka Yap Bouw.
Terdengar ia menahan jeritan kaget dan ngeri.
Bun Sam menoleh kepada gadis cilik itu dan ketika melihat betapa gadis itu seakan akan hendak menyembunyikan pandangan matanya dari muka suhengnya yang rusak dan cacat, ia berkata.
"Betapapun juga, kerusakan muka suhengku tidak seburuk muka gurumu!"
Bua Sam menunjukkan kata kata ini kepada gadis yang tampaknya jijik melihat muka suhengnya dan ia sudah mengkhawatirkan bahwa Mo bin Sin kun akan menjadi marah karena ucapan ini, akan tetapi aneh, Mo bin Sin kun tidak menjadi marah, bahkan menarik napas panjang dan berkata.
"Kasihan dia.... memang, tidak hanya dia yang buruk rupa di dunia ini, maka tak perlu dijadikan kekecewaan. Akan tetapi, siapakah dia dan mengapa dia tak pernah bicara ?"
"Dia adalah suhengku dan dia tak pernah bicara karena memang dia tidak bisa bicara."
"Ah....."
Hampir berbareng terdengar seruan ini dari Mo bin Sin kun dan muridnya dan kembali, Bun Sam mengerutkan keningnya.
Tak salah lagi Mo bin Sin kun ini tentu seorang wanita seperti muridnya itu pula!
"Belum pernah aku mendengar Kim Kong Taisu mempunyai seorang murid yang cacad dan gagu.
Ada aku mendengar dia mempunyai murid seorang yang.......
ah, tak perlu dia disebut sebut, dia sudah tewas sebagai seorang pahlawan bangsa."
Sambil berkata demikian Mo bin Sin kun menengok ke arah muridnya yang berdiri sambil menundukkan muka.
Untuk sesaat keadaan sunyi dan semua orang diam saja, seakan akan mengenangkan sesuatu yang menyedihkan hati.
Tentu saja dapat diduga betapa hancur hati Yap Bouw mendengar ucapan itu.
Ia maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Mo bin Sin kun tadi tentu dia sendiri!
"Sudahlah, sudahlah, di waktu terang bulan seperti ini tidak layak membicarakan hal hal yang telah lalu.
Hai, bocah sombong, apakah benar benar kau berani menghadapi muridku ini ?"
Bun Sam mengerling kepada gadis cilik itu.
"Sebenarnya aku merasa enggan dan malu harus melawan seorang anak perempuan yang masih begini kecil, paling banyak baru dua belas tahun dan......."
"Usiaku sudah empatbelas! Dan aku tidak takut kepadamu, buyung !"
Tiba tiba gadis cilik itu mendampratnya dan suaranya ternyata keras dan nyaring sekali.
Tadinya Bun Sam mengira bahwa gadis ini galak dan sombong, akan tetapi tidak demikian.
Gadis itu bicara dengan sikap sungguh sungguh dan nampak tetap tenang saja, tidak memandang rendah, juga tidak takut.
Menghadapi seorang gadis cilik yang dapat bersikap hati hati seperti ini, ia harus berlaku wapada pikirnya.
"Mo bin Sin kun, karena kau yang membawa dia ke sini dan kau pula yang menantangku mengadakan pibu dengan muridmu, baiklah kuterima tantangan ini. Akan tetapi taruhannya. Ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu harus kau ajarkan kepadaku!"
Mo bin Sin kun nampak terkejut.
"Dari mana kau bisa tahu bahwa ilmu pukulan itu adalah Soan hong pek lek jiu?"
"Kalau bukan suhu yang memberi tahu kepadaku siapa lagi yang akan mengenal ilmu pukulan mu yang lihai itu?"
Mo bin Sia kun mengangguk angguk.
"Memang matamu tajam sekali. Baiklah. Soan hong pek lek jiu akan kuajarkan kepadamu kalau kau dapat mengalahkan muridku ini. Akan tetapi bagaimana kalau kau yang kalah?"
"Kalau aku kalah,....?"
Bun Sam memandang kepada gadis cilik itu, kemudian kepada Mo bin Sin kun dan memutar otaknya.
"kalau aku kalah, biar aku berlutut di depanmu delapan kali dan mengangkat kau sebagai guruku yang ke dua !"
Mo bin Sin kun tiba tiba tertawa terbahak bahak dengan suara ketawanya yang merdu, lalu katanya geli.
"Kau memang tukang bujuk yang pandai !"
Kemudian ia berpaling kepada muridnya dan berkata.
"Lihat, menghadapi seorang pemuda seperti ini di kemudian hari, kau harus berhati hati."
Lalu ia kembali berkata kepada Bun Sam.
"Baiklah, hendak kulihat sampai di mana Kim Kong Taisu mengajar muridnya dan biar kusaksikan dulu apakah kau berbakat untuk menerima Soan hong pek lek jiu."
Sementara itu, gadis cilik murid Mo bin Sin kun ini yang sudah mendengar dari suhunya bahwa ia hendak diadu dengan pemuda sombong itu, sudah melompat ke tempat yang lapang dan bersiap sedia.
"Majulah, buyung !"
Bun Sam mendongkol juga karena berkali kali disebut buyung oleh gadis itu, seakan akan gadis itu jauh lebih tua daripadanya.
"Bocah masih ingusan! Kau sombong sekali. Tunggu aku akan menjewer telingamu sampai mulur !"
Iapun menyusul dan melompat ke lapangan itu, menghadapi lawannya.
Betapapun juga tenangnya, murid Mo bin Sin kun hanya seorang anak perempuan yang lebih mudah tersinggung hatinya.
Mendengar sindiran dan ejekan Bun Sam ini, tiba tiba marahlah dia.
Sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi dan tanpa banyak bercakap lagi ia lalu menerjang Bun Sam sambil membentak.
"Lihatlah pukulan!"
"Bagus sekali!"
Jawab Bun Sam sambil cepat mengelak dan membalas dengan serangan kilat pula.
Maka bertempurlah kedua orang remaja itu dan ternyata oleh Mo bin Sin kun dan Yap Bouw yang menonton di situ bahwa keduanya memiliki kegesitan yang setingkat.
Yap Bouw yang semenjak tadi menatap wajah anak perempuan itu dan memperhatikannya, diam diam memuji.
Bagaimana seorang anak perempuan yang belum dewasa dapat memiliki ilmu kepandaian setinggi itu?
Dalam hal ilmu silat, ia harus mengakui bahwa dia sendiri kalah tinggi oleh gadis cilik itu.
Apalagi ginkang nya, sungguh hebat karena bertempur melawan Bun Sam, gadis itu merupakan seekor burung walet yang lincah dan gesit sekali, yang menyambar nyambar dari segala jurusan untuk merobohkan Bun Sam.
Akan tetapi, Bun Sam telah mempelajari Ilmu Silat Sin tiauw ciang hwat dan Siauw hong kun hwat ciptaan gurunya dari pertempuran antara ular besar dan burung rajawali, maka gerakannya selain tenang seperti ular juga gesit seperti burung rajawali.
Tadinya Bun Sam tidak mengeluarkan ilmu silat ini, hanya memainkan ilmu silat biasa yang mengandalkan tenaga dan kegesitan.
Akan tetap setelah dilihatnya betapa lawannya benar benar hebat sekali gerakannya dan.
khawatir kalau kalau ia sampai kalah segera ia mengeluarkan Ilmu silat Siauw liong kun hwat yang diseling seling dengan Ilmu Silat Sin Tiauw ciang hwat.
Dengan demikian kadang kadang tubuh pemuda itu diam dan tegak dengan amat tenangnya, hanya menanti datangnya lawan yang lain ditangkis juga berbareng diberi serangan balasan, akan tetapi kadang kadang tubuhnya bergerak gerak dengan lompatan lompatan tinggi seperti seekor burung sedang terbang.
Menghadapi dua macam ilmu silat ini, barulah anak perempuan itu terdesak dan bingung.
Bahkan Mo bin Sio kun terdengar berseru perlahan.
"Bagus sekali gerakan gerakan itu."
Gadis cilik itu terdesak mundur terus, tidak kuat menghadapi serangan serangan Bun Sam yang mengeluarkan ilmu silat baru yang belum pernah terlihat oleh dunia luar ini. Tiba tiba ia berseru.
"Bolehkah teecu mempergunakan Soan hong jiu?"
Mo bin Sin kun menjawab.
"Apa boleh buat, lawanlah dengan Soan hong pek lek jiu!"
Tiba tiba gadis itu melompat ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali.
Ketika ia menurunkan kedua kakinya, ia telah terpisah dua tombak lebih dari tempat Bun Sam berdiri.
Pemuda ini tidak takut dan maju mengejarnya dan pada saat itu gadis cilik ini lalu memasang kuda kuda setengah berjongkok, menyimpan kedua tangan di bawah pangkal lengan, kemudian ia berseru keras sambil mendorang kedua lengannya dengan tiba tiba ke depan.
Bun Sam mencoba untuk mempertahankan diri dari serangan angin pukulan yang luar biasa itu.
Ia menggerakkan tubuh ke atas, melompat dengan gerak tipu Lee hi ta teng (Ikan Lehi Melompat Ke Atas) kemudian dari atas ia melanjutkan gerakannya dengan tipu Sin tiauw kiun jiauw (Rajawali Sakti Menyabetkan Cakar) sebuah tipu dari Ilmu Silat Sin tiauw ciang hwat.
Gadis cilik ini terkejut sekali ketika ia mengerahkan pukulan Soan hong jiu ke arah pemuda yang menyambarnya, tiba tiba tangan kanannya kena terpegang oleh Bun Sam.
Sekali pemuda itu membetot, gadis itu tak dapat mempertahankan diri dan terhuyung ke depan.
Tentu ia akan jatuh terjerembab ke depan kalau Bun Sam tidak cepat cepat menjambret bajunya dan menahannya.
Merahlah muka gadis cilik itu.
Ia telah kena diakali dan hampir saja ia jatuh tertelungkup.
Akan tetapi ia terheran karena ia tadi merasa betul bahwa pukulannya telah mengenai pundak kanan pemuda itu.
Apakah pemuda itu kebal dan dapat menahan pukulan Soan hong jiu?
Sebetulnya tidak demikian, karena pada saat itu Bun Sam meraba raba pundaknya sambil meringis ringis kesakitan.
Tadi ketika ia menggunakan gerak tipu Sin tiauw kian jiauw, ia telah memapaki pukulan Soan hong jiu yang hebat dan merasa pundaknya sakit seperti tertusuk jarum.
Ketika ia merabanya, rasa sakit itu bukan main, seakan akan tulang tulang pundaknya telah terluka hebat!
Terdengar Mo bin Sin kun tertawa nyaring.
"Kalau dipandang dari sudut pibu (adu kepandaian silat), kau kalah karena kau telah terluka oleh pukulan Soan hong jiu. Akan tetapi, dipandang dari sudut ukuran, ternyata kepandaianmu lebih baik setingkat dari kepandaian muridku. Dan biarpun kau sudah terluka, kau masih mau menolong, sehingga muridku tidak jatuh, ini menunjukkan bahwa Kim Kong Taisu tidak keliru memilih murid. Baiklah, bocah bernasib baik, aku akan menurunkan Soan hong jiu kepadamu!"
Bukan main girangnya hati Bun Sam dan cepat cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan Mo bin Sin kun.
Akan tetapi ketika ia berlutut, tiba tiba ia meringis lagi karena pundaknya yang terluka terasa sakit sekali.
"Mari kau ikut aku masuk ke kamarmu. Malam hari ini kau harus sudah dapat menghafal ilmu pukulan Soan hong jiu. Besok pagi pagi aku akan pergi dan bisa atau tidak menghafal Soan hong jiu tergantung kepadamu sendiri, waktunya hanya semalam ini!"
Memang amat aneh watak Mo bin Sin kun ini, akan tetapi Bun Sam yang tahu bahwa orang orang pandai di dunia ini memang berwatak aneh, tidak menjawab, hanya mengangguk dan beramai mereka lalu masuk ke dalam kamar Bun Sam di hotel itu.
Adapun gadis cilik itu seperti sudah berjanji dengan suhunya, tanpa memperlihatkan muka iri atau kesal pergi duduk di atas bangku yang berada di luar kamar Bun Sam.
Yap Bouw yang semenjak tadi memperhatikan gadis itu dengan mata bersinar kagum, juga ikut masuk, akan tetapi ia tidak segera masuk ke dalam kamarnya, melainkan duduk di depan kamarnya pula, di atas bangku dan terus menerus memandang ke arah gadis cilik yang duduk di depan kamar Bun Sam.
Agaknya ingin sekali ia mengajak gadis itu bicara, akan tetapi karena gagu, ia menahan kehendaknya itu dan hanya menatap dengan penuh perhatian.
Gadis itu tentu saja merasa betapa orang itu memandangnya terus menerus.
Ia tidak takut melihat wajah orang itu, karena ia sudah biasa melihat wajah jurunya yang lebih buruk lagi, akan tetapi dipandang terus menerus, ia merasa gelisah juga.
Beberapa kali ia mencoba untuk tersenyum kepada Yap Bouw, akan tetapi si muka tengkorak itu tidak membalas senyumannya, bahkan memandang makin tajam.
Memang elok sekali wajah gadis cilik itu.
Mukanya bulat telur, dagunya runcing manis, air mukanya terang dengan bibir tipis dan mata bersinar sinar.
Sebuah titik merah semacam tahi lalat menghias leher di bawah dagunya, menambah ke manisannya.
Rambutnya halus, hitam dan panjang, dikuncir dua dan kuncir itu digelung di kanan kiri kepalanya.
"Orang tua, kenapa kau memandang saja kepadaku?"
Akhirnya gadis itu menjadi tak sabar dan bertanya juga kepada Yap Bouw yang tiba tiba merasa gugup sekali.
Gadis cilik itu melihat sikap Yap Bouw seperti orang malu malu dan gelisah, menjadi terheran dan timbul perasaan kasihan kepada orang bermuka rusak ini.
Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dengan lenggang halus menghampiri Yap Bouw yang menundukkan mukanya.
"Lopeh (uwak),"
Katanya sambil menyentuh tangan Yap Bouw.
"Apakah yang kau pikirkan? Apakah kau tidak setuju melihat sutemu (adik seperguruanmu) menerima latihan Soan hong jiu hwat dari garuku?"
Yap Bouw menggeleng gelengkan kepalanya dan matanya hanya sekali sekali saja memandang wajah gadis cilik itu.
"Lopeh, kau tidak bisa bicara, apakah semenjak lahir kau sudah menjadi gagu? Siapakah namamu, lopeh dan apakah kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada sutemu tadi?"
Gadis itu menghujani Yap Bouw dengan pertanyaan pertanyaan lupa bahwa yang ditanyanya tentu saja tak dapat menjawab.
Ketika ia melihat pandangan mata Yap Bouw yang seakan akan merasa tertusuk hatinya, gadis itu cepat berkata.
"Ah, benar. Kau tidak bisa menjawab pertanyaan penrtanyaanku, lopeh. Aku..... entah mengapa, aku merasa kasihan sekali kepadamu dan ingin sekali bercakap cakap dengan kau. Kau kelihatan sabar dan baik hati, lopeh."
Yap Bouw makin suka kepada anak perempuan ini.
Ia teringat bahwa anak sebesar ini sudah semestinya tidur pada waktu itu; maka ia lalu menunjuk ke kamarnya dan memberi tanda dengan isarat tangannya bahwa gadis itu boleh tidur di dalam kamarnya dan ia sendiri akan duduk di luar saja.
Gadis itu ternyata cerdik sekali dan sekali pandang saja ia mengerti isarat tangan si gagu ini.
Ia tersenyum dan melihat senyum gadis cilik; ini terpaksa Yap Bouw memeramkan matanya untuk menghilangkan perasaan dan bayangan yang bukan bukan.
"Lopeh, kau baik sekali, benar seperti dugaanku. Kau tentu lebih baik daripada sutemu yang sombong dan keras kepala! Aku tidak mau tidur, lopeh, sudah biasa aku tidur sampai jauh malam. Kalau kau mengantuk, tidurlah kau."
Yap Bouw menggelengkan kepala dan untuk beberapa lama keduanya berdiam saja.
Gadis itu memandang dan menatap wajah Yap Bouw, sedangkan orang tua yang gagu ini hanya menundukkan mukanya.
Benar benar pemandangan yang amat aneh.
"Lopeh, tahukah kau bahwa aku amat benci kepada suhumu, kepada Kim Kong Taisu?"
Tiba tiba gadis cilik itu berkata. Yap Bouw terkejut sekali dan memandang kepada gadis itu dengan mata penuh pandangan menyelidik.
"Kau tentu heran, lopeh. Akan tetapi aku harus membenci suhumu yang belum pernah kulihat itu. Bahkan guruku sendiripun amat benci, kepadanya dan ingin sekali sewaktu waktu mengadakan pertandingan untuk menentukan siapa yang lebih unggul kepandaiannya."
Kembali Yap Bouw terheran, bahkan kali ini tanpa disengaja bibirnya bergerak mengucapkan kata kata.
"Mengapa?"
Yang tidak bersuara. Wajah gadis itu berseri girang.
"Ah, dahulu kau tentu dapat bicara, lopeh. Orang yang gagu semenjak lahir tentu tak dapat menggerakkan bibir untuk mengucapkan kata kata! Kau ingin tahu mengapa guruku dan aku membenci Kim Kong Taisu?"
Gadis itu menghentikan kata katanya dan keningnya berkerut, tanda bahwa ia sedang berpikir pikir dan mempertimbangkan apa yang hendak dikatakan selanjutnya.
Yap Bouw menatap wajah yang elok dan manis itu dan kembali hatinya berdebar keras dan aneh.
"Ah, haruskah aku menceritakan hal ini kepadamu?"
Kata gadis itu pula dengan perlahan, kepada diri sendiri.
"Biarlah, aku kasihan dan tertarik kepadamu, lopeh dan kau tentu tak dapat menceritakan hal ini kepada lain orang. Pula siapa tahu kala u kata u kau dapatmenuturkan sedikit tentang orang yang akan kuceritakan ini,"
Kembali anak itu lupa bahwa yang diajak bicara adalah seorang gagu dan dengan sendirinya takkan dapat menuturkan apa apa kepadanya! Gadis itu menarik napas, panjang kemudian melanjutkan penuturannya.
"Kau tentu masih ingat betapa guruku heran mendengar bahwa kau adalah murid dari Kim Kong Taisu, kemudian guruku menyatakan pula tentang murid Kim Kong Taisu yang sudah tewas sebagai seorang pahlawan bangsa........"
Makin berdebar hati Yap Bouw mendengar kata kuta ini dan pandangan matanya makin tajam.
"Kalau kau benar benar murid dari Kim Kong Taisu, tentu kau kenal orang itu, entah dia itu suhengmu (kakak seperguruanmu) atau sutemu (adik seperguruanmu). Nah, orang itu telah tewas oleh kawan kawan Ulan Tanu Si Alis Merah dari Mongolia dibantu pula oleh Seng Jin Siansu si jahat! Akan tetapi gurumu itu, Kim Kong Taisu orang tua yang lemah dan pengecut, dia tidak menuntut pembalasan bahkan menyembunyikan diri di atas puncak Gunung Oei san! Bukankah itu amat menjengkelkan?"
Yap Bouw mengangguk angguk.
Tentu saja cerita ini bukan hal yang asing baginya karena orang yang diceritakan itu sebenarnya tak lain adalah dia sendiri!
Akan tetapi mengapa Mo bin Sin kun dan muridnya menjadi jengkel dan membenci Kim Kong Taisu karena kakek ini tidak membalaskan sakit hati Yap Bouw?
Ini benar benar aneh.
Saking herannya, Yap Bonw lalu menghampiri meja dan menggunakan telunjuknya untuk menggurat gurat meja itu.
Ternyata dia telah menuliskan beberapa huruf di atas meja dengan bantuan kuku telunjuknya!
Gadis cilik itu menghampiri meja dan membaca;
"Apakah yang kau maksudkan dengan orang itu adalah Yap Bouw bakas jenderal? Kalau betul mengapa kau dan gurumu menaruh perhatian ?"
Gadis itu memegang lengan Yap Bouw dengan girang.
"Jadi kau kenal dia....! Kau benar benar saudara seperguruan ayahku.... ?"
Kalau ada geledek menyambarnya saat itu belum tentu Yap Bouw akan menjadi sekaget ini.
Biarpun tadinya ia telah merasa tertarik dan curiga melihat wajah gadis ini sama benar dengan wajah isterinya dan melihat tahi lalat merah di leher itu yang dulu juga dimiliki oleh anak perempuannya sebagaimana diceritakan oleh isterinya kepadanya dalam surat, namun ia masih ragu ragu.
Dahulu isterinya menyurati bahwa sepeninggalnya, isterinya yang berada dalam keadaan mengandung itu telah melahirkan sepasang anak kembar, laki laki dan perempuan dan yang perempuan ada tahi lalatnya di leher dan yang laki laki ada tahi lalatnya di dagu.
Akan tetapi tahi lalat di leher anak perempuan itu merah, sedangkan tahi lalat di dagu anak laki laki itu hitam.
Kini, mendengar bahwa anak ini menyebut ayah kepada Yap Bouw yang ia tuliskan namanya di atas meja, tentu saja Yap Bouw menjadi terkejut, girang, terharu dan juga terpukul hebat hatinya.
Tubuhnya tiba tiba menjadi lemas, ia terhuyung huyung dan merangkul anak perempuan itu di dekapnya kepala gadis cilik itu ke dadanya diciumi rambut di kepalanya.
Gadis itu yang tiba tiba merasa dirangkul dan dipeluk oleh orang yang buruk rupanya ini, menjadi keheran heranan.
Ia tidak marah karena pelukan orang ini bukan pelukan yang bersifat kurang ajar, bahkan ketika ia memandang, pipi yang kisut dan buruk hitam itu basah oleh air mata!
Tak terasa pula gadis itupun menangis, teringat akan ayahnya yang dikabarkan telah tewas dalam perang, ia mengira bahwa orang ini tentu saudara seperguruan mendiang ayahnya dan bahwa orang ini amat girang mendengar bahwa dia adalah puteri Yap Bouw, Akan tetapi alangkah terkejutnya hati anak ini ketika merasa betapa tubuh orang yang memeluknya menjadi lemas dan tiba tiba orang itu terkulai dan roboh pingsan!
Tentu saja anak itu menjadi heran sekali.
Akan tetapi sebagai murid seorang sakti, ia tidak menjadi gugup.
Dengan perlahan ia lalu mengurut belakang leher Yap Bouw dan menggerak gerakkan kedua lengannya secara teratur sekali.
Tak lama kemudian Yap Bouw siuman kembali dari pingsannya dan ia bangkit sambil mengeringkan air matanya dengan ujung bajunya yang hitam.
Ia dapat menetapkan hatinya dan setelah mereka duduk kembali di atas bangku, gadis itu bertanya.
"Susiok (paman guru), karena kau adalah seudara seperguruan mendiang ayahku, lebih baik kusebut kau susiok atau supek (uwak guru) saja. Alangkah senangnya hatiku kalau aku dapat mendengar kau bercerita tentang ayah di waktu dia masih hidup. Sutemu itu tentu tidak mengenal ayah karena usianya masih muda sekali, ketika ayah meninggal dunia tentu dia masih bayi."
Gadis cilik itu.
tersenyum kembali dan Yap Bouw merasa kagum melihat watak anaknya yang demikian lincah dan gembira.
Seperti ibunya, pikirnya dengan hati sebesar gunung.
Betapa seorang ayah tidak akan menjadi bangga dan girang melihat anaknya telah menjadi seorang gadis cilik yang selain cantik manis, juga pandai dan berwatak menyenangkan!
Ketika Yap Bouw hendak menulis di atas meja, minta anaknya itu menceritakan riwayatnya, tiba tiba pintu kamar Bun Sam terbuka dan keluarlah pemuda itu mengiringkan Mo bin Sin kun yang wajahnya nampak terang.
"Sutemu ini benar benar berotak terang!"
Katanya kepada Yap Bouw dengan suara ramah.
"Sebentar saja dia telah dapat menghafal teori Soan hong jiu hwat. Tidak percuma ia menjadi murid dari Kim Kong Taisu. Akan tetapi,"
Katanya sambil berpaling kepada Bun Sam.
"kau harus ingat sumpahmu tadi bahwa di dalam pertandingan silat, baik perkelahian sungguh sungguh maupun hanya pibu menghadapi muridku, sekali kali tidak boleh menggunakan Soan hong jiu hwat itu! Juga apabila diadakan pibu besar besaran kelak yang kurencana kan, kau tidak boleh mengeluarkan ilmu pukulan ini!"
Bun Sam menjatuhkan diri berlutut, menyatakan setuju dan menghaturkan terima kasih. Wajah pemuda ini berseri girang, dan gadis cilik itu berkata kepadanya.
"Jadi sekarang kau terhitung suteku!"...."Tidak bisa,"
Bun Sam membantah.
"usiaku lebih banyak daripadamu, manakau boleh menyebut sute (adik seperguruan)?"
"Biarpun usiamu lebih tua, akan tetapi di dalam urutan murid guru kami, kau adalah nomor dua kau harus menyebut aku suci (kakak seperguruan perempuan)."
Bun Sam membantah dan keduanya bersitegang, tidak mau saling mengalah. Akhirnya Mo bin Sin kun ikut campur, tersenyum dan berkata.
"Kalian ini di dalam satu hal amat bersamaan. Sama sama keras kepala! Untuk apakah segala macam peraturan sebutan yang menjemukan itu? Panggil saja nama masing masing, bukankah itu lebih mudah dan lebih baik?"
Bun Sam mengangguk dengan girang karena inilah jalan terbaik baginya untuk tidak mengaku kalah terhadap gadis cilik itu.
Memang menurut patut, melihat bahwa dia hanya malam ini saja menjadi murid Mo bin Sin kun dan hanya menerima latihan satu macam ilmu pukulan, ia terhitung murid kedua dan harus menyebat suci kepada gadis ini.
Sekarang Mo bin Sin kun memberi jalan keluar baginya.
Dengan girang ia berkata.
"Nah, itu baru baik dan adil namanya. Namaku Bun Sam, lengkapnya Song Bun Sam. Siapakah namamu?"
Tanyanya kepada gadis itu.
"Namamu jelek."
Gadis itu mengejek.
"nama kakakku lebih bagus."
"Hm. siapa nama kakakmu?"
Tanya Bun Sam dan tanpa diketahui oleh siapapun juga, diam diam Yap Bouw mendengarkan dengan penuh perhatian dan hatinya makin berdebar.
"Nama kakakku Thian Giok, bukankah lebih gagah? Namaku sendiri Lan Giok, she Yap!"
"She Yap??"
Bun Sam bertanya dengan mata terbuka lebar lebar, kemudian ia teringat akan keadaan suhengnya dan dapat menekan gelora hatinya. Dengan cerdik ia lalu bertanya pala.
"Dan mana kakakmu yang kau katakan bernama gagah itu?"
"Engko Thian Giok? Dia tidak da di sini, dia adalah kakak kembarku, dan...... eh, mengapa kau menjadi pucat? Sakitkah kau?"
Tiba tiba gadis cilik itu menatap wajah Bun Sam yang benar benar menjadi pucat.
Biarpun Bun Sam sudah dapat menduga, namun keterangan yang menetapkan bahwa gadis ini adalah pateri dari suhengnya, membuat hatinya terguncang dan mukanya pucat.
Juga Mo bin Sin kun dapat melihat hal ini, maka ia lalu maju dan bertanya.
"Bun San, siapa kah suhengmu ini?"
"Dia.... dia tidak mau diperkenalkan mamanya."
"Bun Sam, kau sudah menjadi muridku, tidak perlu lagi menyimpan rahasia. Ayoh katakan, siapa nama suhengmu ini!"
Bun Sam menjadi bingung dan pada saat itu tiba tiba Yap Bouw menyambar lengannya dan menariknya cepat, diajak lari pergi dari terapat itu!
Biarpun tengah malam telah lama lewat dan fajar mulai menyingsing disambut oleh kokok ayam namun udara masih amat, gelap, sehingga sebentar saja bayangan Yap Bouw dan Bun Sam lenyap dari pandangan mata.
Lan Giok menarik napas panjang dan menahan siatnya hendak mengejar.
"Sayang sekali, si muka tengkorak itu kesal dengan mendiang ayah teecu dan baru saja teecn membujuk agar ia suka menceritakan keadaan ayah di waktu dahulu. Siapa tahu kalau kalau dia tahu pula di mana makam ayah......."
Mo bin Sin kun mengerutkan kening.
"Orang itu benar benar berwatak aneh dan penuh rahasia. Lain kali kalau bertemu dengan dia, sebelum dia mengaku aku takkan mau melepaskannya,"
Katanya gemas.
"Suthai, mengapa kau membebaskan Sin beng Ngo hiap? Mengapa tidak dibasmi saja orang orang macam itu?"
Lan Giok memang berwatak lincah dan tidak menggunakan banyak peraturan dalam pembicaraannya, sehingga terhadap guru nya ia berani ber-engkau saja!
Kalau Bun Sam mendengar panggilan gadis ini kepada gurunya tentu pemuda ini akan terheran dan maklum bahwa sesungguhnya Mo bin Sin kun adalah seorang wanita!
Mo bin Sin kun menggeleng gelengkan kepalanya "Mengapa harus membunuh mereka?
Yang menjemukan dan harus dibunuh adalah Ngo jiauw eng Lui Hai Siong, murid Bouw Ek Tosu, Eh, Lan Giok, kau selalu turut padaku dan belum pernah bekerja sendiri.
Sanggupkah kau melakukan tugas ini?"
"Tugas yang bagaimana, suthai?"
Tanya gadis itu penuh kegembiraan dan semangat.
"Melenyapkan Ngo jiauw eng dari muka bumi!"
"Tentu saja sanggup, suthai! Di mana aku dapat mencarinya?"
"Pengkhianat itu telah mendapat pangkat touw tong dan menjadi pembesar di kota Tong seng kwan. Setelah kau berhasil membasmi orang Jahat itu, kau ambillah jalan melalui kota raja, mungkin sekali kau akan bertemu dengan kakakmu di sana. Kakakmu juga sedang menjalankan tugas yang sama, mencari. dan membunuh Toa to Hek too yang berada di kota raja,"
"Baiklah, suthai; sekarang juga aku akan berangkat."
"Berangkat dan hati hatilah, jangan terlalu memandang rendah lawan yang kau jumpai di jalan."
Sementara itu, fajar telah barganti pagi dan udara pagi itu amat cerah menimbulkan kegembiraan.
Maka berangkatlah Lan Giok setelah menerima petunjuk petunjuk dari gurunya, berangkat dengan hati besar dan semangat bergelora.
Diam diam ia mengharapkan untuk dapat segera bertemu kembali dengan Bun Sam dan si muka tengkorak itu, karena ia ingin mendengar penuturan si muka tengkorak tentang ayahnya.
Dilihat begitu saja, memang agaknya Mo bin Sin kun terlalu gegabah dan sembrono, memberi tugas seberat itu kepada muridnya, seorang gadis cilik yang usianya baru empat belas tahun!
Akan tetapi sangkaan ini akan lenyap kalau orang mengetahui bahwa diam diam orang aneh itu segera mengikuti muridnya dan memperhatikan serta mengawasi gerak geriknya!
Dengan jalan ini, ia hendak melatih praktek kepada muridnya yang masih hijau itu, tetapi selalu menjaganya dengan penuh perhatian.
Biarpun usianya baru empatbelas tahun, Lan Giok sudah nampak cantik manis laksana setangkai bunga mawar mulai mekar.
Tubuhnya yang terlatih itu padat dan otaknya yang dijejali pelajaran pelajaran oleh gurunya, membuat ia dapat berfikir seperti seorang yang sudah cukup dewasa.
Juga ilmu silatnya sudah cukup tinggi....
karena semenjak kecil, dia dan kakak kembarnya, Yap Thian Giok setiap hari digembleng.
oleh Mo bin Sin kun, seorang di antara Lima Tokoh Besar di dunia persilatan itu.
Setelah kini mendapat kesempatan oleh gurunya untuk melakukan semacam tugas seorang diri tentu saja hatinya gembira sekali, la telah terlepas bagaikan seekor burung bebas di udara dan tidak seperti biasanya di mana ia selalu menurut petunjuk gurunya dan pikirannya tidak dapat bergerak.
Kini gurunya melepaskannya, berarti bahwa kepandaiannya tentu telah sempurna, demikian pikir gadis cilik yang lincah ini.
Sambil menggendong buntalan berisi pakaian dan uang bekal pemberian gurunya, berangkatlah Lan Giok menuju ke kota Tong seng kwan.
Seperti biasa ia tidak berbekal senjata, karena memang gadis ini tidak memerlukan sesuatu senjata.
Melihat bakatnya, Mo bin Sin kun menitikberatkan latihan ilmu pukulan tangan kosong kepada Lan Giok, sungguhpun ini bukan berarti bahwa gadis cilik ini tidak mahir bermain senjata.
Keliru dugaan ini, karena Lan Giok sanggup memainkan delapenbelas macam senjata persilatan!
Dan memainkan dengan ___ akan tetapi khusus mempelajari ilmu silat tangan kosong dari gurunya, yang memang terkenal dengan ilmu silat tangan kosongnya, sehingga mendapat julukan Sin kun (Tangan Malaikat).
Lan Giok melakukan perjalanan dengan cepat.
Kalau melewati dusun atau kota, pendeknya kalau banyak orang, ia berjalan cepat dengan tenaga biasa agar jangan menimbulkan keheranan.
Akan tetapi kalau melewati tempat sunyi dan tidak ada orang yang melihatnya, gadis cilik ini lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan berlari secepat terbang dengan Ilmu Lari Cepat Liok te hui teng (Lari di Atas Bumi Seperti Terbang).
Pada masa itu, yakni di dalam pemerintahan Dinasti Goan tiauw, keadaan rakyat jelata amat menderita dan oleh karena itu, kekacauan terjadi di mana mana.
Melakukan perjalanan di masa itu sangat tidak aman.
Bukan saja kesengsaraan membuat di jalan jalan sunyi banyak muncul perampok perampok dan di waktu malam dari banyak muncul pencuri pencuri, akan tetapi juga pembesar pembesar Goan tiauw dan tentaranya merupakan gangguan gangguan besar bagi orang yang melakukan perjalanan jauh.
Lan Giok tidak terkecuali.
Gadis ini sering menerima gangguan, akan tetapi selalu para pengganggunya yang sebaliknya terganggu!
Beberapa kali ia dihadang perampok perampok yang hendak merampas buntalannya, tetapi bukan Lan Giok yang kehilangan barangnya, bahkan, selelah melabrak para perampok itu, gadis cilik ini buntalannya bahkan bertambah dengan barang barang berharga yang "disitanya"
Dari tangan para perampok itu!
Juga beberapa kali orang orang jahat dan tentara tentara negeri yang mencoba untuk mengganggunya karena tertarik oleh kecantikannya, dipukul mundur jatuh bangun oleh murid dari Mo bin Sin kun yang lihai ini.
Akan tetapi ketika ia tiba di luar tembok kota raja, ia menyaksikan peristiwa yang amat mengherankan hatinya.
Dari jauh ia sudah mendengar suara ribut ribut dan ketika ia mempercepat langkahnya, ia melihat seorang pemuda cilik tengah dikeroyok hebat oleh belasan orang tentara Goan.
Akan tetapi pemuda cilik ini luar biasa sekali ilmu silatnya, sehingga biarpun pemuda itu hanya berdiri di tengah tengah kepungan, tiap kali ada yang mendekatinya, lawan ini segera roboh terguling atau terpental jauh!
Juga terdengar pemuda Ini tertawa tawa geli, seperti anak kecil yang mendapatkan permainan yang lucu dan menyenangkan.
Tadinya Lan Giok mengira bahwa ia tentu Song Bun Sam, pemuda yang dijumpainya, karena memang potongan tubuhnya hampir sama besarnya.
Akan tetapi setelah ia datang dekat, ternyata bahwa pemuda itu sama sekali bukan Bun Sam melainkan seorang pemuda yang bermata sipit dan wajahnya kepucat pucatan, membayangkan sifat yang amat licik dan nakal.
Akan tetapi, suara ketawanya amat merdu dan menyenangkan hati, sehingga Lan Giok yang berwatak gembira, mendengar suara ketawa ini tanpa disengaja ikut tertawa juga.
Pendengaran pemuda cilik itu benar benar lihai.
Biarpun ia sedang dikeroyok oleh banyak orang, namun ia dapat mengetahui akan kedatangan Lan Giok Ia menoleh dan sambil mengejapkan sebelah mata kearah Lan Giok, ia berkata.
"Hei, ketawamu manis sekali !"
Lan Giok tidak menjawab hanya diam diam merasa senang mendengar pujian ini.
Ia melihat betapa belasan orang itu kini menjadi makin marah dan mengeluarkan golok, menyerang hebat kepada pemuda itu.
Oleh karenanya, Lan Giok lalu berdiri agak jauh, siap untuk membantu apabila perlu, akan tetapi agaknya tidak perlu, karena pemuda itu benar benar lihai.
Menghadapi serangan belasan golok ini ia lalu mencabut sebatang suling yang bentuknya seperti ular, lalu mengobat abitkan suling ini.
Aneh, tiap kali suling itu membentur golok seorang pengeroyok, orang berteriak kaget dan kesakitan, goloknya terlempar dan orangnya lalu roboh pula!
Sebentar saja, dengan sulingnya yang luar biasa ___ muda itu telah merobohkan tujuh orang tinggal delapan orang itu menjadi gentar Pada saat itu, dari jurusan kota raja datang dua ekor kuda yang dilarikan dengan cepat.
Penunggangnya ada seorang gadis muda yang cantik dan berpakai merah, sedangkan orang ke dua adalah seorang muda tampan berpakaian biru yang mewah dan gagah.
Lan Giok yang memandang ke arah gadis baju merah itu, terpesona saking kagumnya.
Gadis baju merah itu benar benar hebat dan elok sekali, sampak bagaikan setangkai bunga teratai merah yang sedang mekar.
Begitu cantik, begitu halus, namun begitu gagah.
Ketika sepasang remaja ini melihat serombongan tentara dihajar habis habisan oleh seorang pemuda yang memegang suling, mereka cepat melarikan kudanya ke tempat pertempuran itu.
"Manusia liar dari manakah berani melawan alat negara?"
Terdengar bentakan halus dan nyaring dari gadis baju merah dan tahu tahu berkelebatlah sinar merah ketika ia melompat dari atas kudanya dan langsung menghadapi pemuda pemegang suling tadi.
"Bagus!"
Lan Giok memuji melihat gerakan yang indah dan lompatan yang jauh itu.
Ia maklum bahwa hanya orang yang sudah pernah mempelajari ilmu lompat jauh Liok te hui teng kanghu saja yang akan dapat melakukan lompatan langsung ari atas kuda sejauh itu jaraknya.
Pemuda yang memegang suling itu menghadapi nona baju merah dan senyumnya melebar.
Kemudian ia menoleh ke arah Lan Giok yang masih bediri menonton pertempuran, maka katanya jenaka.
"Baik sekali untungku hari ini, kedua duanya cantik jelita. Akan tetapi apakah kau juga alat negara?"
Kata kata ini diucapkannya dengan tidak karuan dan nona baju merah yang usianya masih amat muda, paling banyak enam belas tahun itu, menjadi makin marah.
"Buka matamu lebar lebar! Kau berhadapan dengan puteri Panglima Besar Bucuci! Ayoh lempar sulingmu dan menyerah kepada rombongan tentara ini !"
Kata gadis baju merah itu sambil mencabut sebatang pedang pendek dari pinggangnya dangan lagak menantang dan gagah. Kembali pemuda aneh itu tertawa.
"Ha, ha, ha! Baiknya suhu sedang tidur dan tidak melihat dan mendengar ini! Ha, ha, kalau dia melihat ini, suhu bisa mati saking gelinya !"
Nona baju merah itu makin marah dan ketika ia menggerakkan tangannya, maka ia telah menyerang dengan gerak tipu Hek in koan yang (Mega Hitam Menutup Matahari).
Lan Giok yang melihat gerakan ini diam diam terkejut juga karena gerakan nona baju merah itu amat cepat dan ganas.
Agaknya sukarlah ditangkis pedang pendek yang di putar cepat, merupakan gulungan sinar yang seperti naga hendak menelan tubuh pemuda cilik yang aneh itu!
Kembali ia menjadi kaget dan heran melihat ilmu pedang nona ini.
Baru saja tiba di luar tembok kota raja, ia telah menyaksikan seorang pemuda yang aneh dan sangat lihai.
Sekarang datang lagi seorang gadis muda baju, merah yang ilmu pedangnya amat tinggi pula.
Alangkah banyak nya orang orang berkepandaian tinggi di kota raja ini, pikirnya dengan hati gembira.
Memang pemuda aneh itu lihai sekali.
Biarpun ia diserang oleh nona baju merah yang memainkan pedang secara hebat, ia berlaku tenang saja, bahkan mengejek.
"Hek in koan yang yang kau mainkan ini tidak menakutkan aku, nona manis. Betapapun tebalnya mega hitam, tak mungkin dapat menutup matahari selamanya. Lihat, aku si matahari akan membuyarkan mega hitam!"
Setelah mengeluarkan ucapan yang sifatnya seperti olok olok, tetapi yang sekaligus menyatakan bahwa ia mengenal baik ilmu serangan lawannya, pemuda ini lalu memutar tongkatnya dan benar saja, setelah jurus Hek in koan yang habis dimainkan, pemuda itu sama sekali tidak dapat dikalahkan dan ilmu pedang itu buyar sendiri, oleh tangkisan tangkisan dan serangan balasan yang tepat dari suling ular itu.
Nona baju merah itu menjadi makin marah.
Ia berseru keras dan tiba tiba tubuh nya lenyap terbungkus oleh sinar pedangnya yang bergulung gulung dengan ganasnya.
Kembali Lan Giok tertegun.
Ilmu silat nona baju merah itu benar benar hebat dari ia sendiri belum tentu akan dapat menang dengan mudah.
Tetapi, ilmu silat dari pemuda aneh itu lebih hebat lagi, bukan hebat karena tingginya tenaga lweekang atau ilmu ginkangnya yang setingkat dengan nona baju merah itu, tetapi yang hebat adalah keanehan ilmu silat yang dimainkannya dengan sebatang suling ular itu.
Gerakan sulingnya berlenggak lenggok meniru gaya ular sungguh merupakan senjata aneh yang selain kuat sekali dalam pertahanan, juga aneh dan tak terduga datang nya serangan serangan yang dilancarkannya.
Lan Giok segera dapat melihat bahwa ilmu silat dari pemuda itu masih lebih aneh dan lebih tangguh daripada nona baju merah yang memegang pedang.
Benar saja setelah pertempuran berjalan puluhan jurus, perlahan lahan gulungan sinar pedang nona baju merah itu makin mengecil.
Hal ini terlihat dengan bergantinya sinar.
Kalau tadi ketika mula mula menyerang, sinar merah dari pakaiannya hampir tertutup oleh sinar putih dari perakan pedangnya, sekarang sinar putih itu mulai berkurang cahayanya dan mulai tertutup oleh sinar merah dari pakaiannya, tanda bahwa nona ini mulai mengandalkan ginkangnya untuk berkelebat ke sana ke mari menghindarkan diri dari serangan balasan pemuda bersuling itu.
"Sumoi biar aku membantu kau menangkap tikus kecil ini!"
Terdengar seruan pemuda baju biru yang semenjak tadi menonton saja.
Seruan ini dibarengi dengan berkelebat nya tubuhnya, sehingga nampak sinar kebiruan dari pakaiannya.
Di kedua tangannya telah nampak sepasang golok tipis yang berkilauan, karena sepasang golok ini terbuat dari pada emas!
"Ha, ha, jadi nona manis baju merah masih punya suheng?
Bagus majulah semua, jangan kira aku Gan Kui To takut bermain main dengan kalian.
Waduh waduh!
Memegang kim siang to (sepasang golok emas) ?
Anak hartawan mana lagi yang maju ini ?"
"Tutup mulut dan terimalah nasibmu!"
Bentak pemuda baja biru itu dan benar saja, terpaksa pemuda aneh yang bukan lain adalah Gan Kui To itu harus menutup mulut karena gerakan sepasang golok emas ini benar benar sangat hebat, jauh lebih berbahaya daripada gerakan pedang pendek dari nona baju merah!
Kembali Lan Giok terheran.
Ada lagi pemuda yang berkepandaian tinggi, pikirnya.
Timbul kegembiraan hatinya melihat tiga orang pemuda itu bermain silat demikian indah dan gesitnya.
Sayang tidak seimbang, pikirnya, seorang saja dikeroyok dua.
Dan tanpa disadarinya pula, karena amat gembiranya melihat orang orang mengadu kepandaian, Lan Giok tahu tahu telah menggerakkan tubuhnya, sepasang kakinya yang kecil menotol tanah dan melayanglah ia ke arah baju biru yang memagang sepasang golok emas!
Melihat berkelebatnya bayangan kecil yang gesit ke arahnya pemuda baju biru ini mengangkat golok emasnya dan membabat ke arah Lan Giok, tetapi dengan sangat lincahnya bayangan itu telah mengelak ke kiri dan mengirim tendangan yang cepat bagaikan kilat menyambar!
Pemuda baju biru itu terkejut sekali dan segera melompat untuk menghindarkan diri dari tendangan berbahaya ini, kemudian ia memandang dengan penuh perhatian.
"Eh eh, kau ini siapa lagi? Apakah konco dari tikus gila ini?"
Tanyanya sambil memandang ragu ragu. Lan Giok tersenyum mengejek.
"Dua orang mengeroyok seorang, di mana keadilan? Dan lagi kurang gembira, maka aku masuk untuk menggenapi jumlah !"
"Ha, ha, ha, nona cilik yang manis ternyata lihai juga! Mari kita sikat anak anak manja dari hartawan berpangkat ini, agar mereka tidak lagi memandang rendah kepada orang lain !"
Kata Gan Kui To sambil tertawa sombong.
Lan Giok memang berwatak nakal gembira, maka mendengar ajakan ini, iapun memberikan senyuman manis kepada Kui To dan tiba tiba ia menyerang pemuda baju biru itu dengan Ilmu Pukulan Soan hong jiu hwat.
Sepeti diketahui.
Ilmu Pukulan Soan hong pek lek jiu hwat adalah ilmu silat dengan pukulan tangan yang mengandalkan lweekang yang tinggi.
Hebatnya tidak terkira.
Pemuda baju biru itu tidak mengira bahwa ilmu pukulan gadis cilik itu demikian hebatnya, maka sambil tersenyum mengejek ia maju menubruk dengan goloknya.
Tetapi, tiba tiba pukulan yang dilakukan oleh Lan Giok, biarpun belum mengenai tubuhnya, angin pukulannya telah.mendorongnya ke belakang, sehingga hampir saja ia terjengkang roboh!
Baiknya pemuda ini memiliki ke pandaian tinggi.
Ia maklum bahwa pukulan lawannya itu mengandung tenaga lweekang berbahaya, maka cepat ia mengumpulkan napas dan mengerahkan tenaga lweekang untuk menolak pukulan ini agar tidak sampai terluka di bagian dalam tubuh, tetapi biarpun ia dapat menolong nyawanya, tetap saja ia terlempar ke belakang dan hanya dengan berlompatan jungkir balik, ia terhindar dari malu dan hina karena roboh dalam sejurus saja.
Kembali Gan Kui To gelak tertawa sambil melayani nona baju merah.
Di dalam ketawanya, yakni mentertawakan pemuda baju biru, tersembunyi kekejutan dan keheranan besar melihat ilmu pukulan yang hebat dari Lan Giok itu.
Sementara itu, pemuda baju biru itupun menjadi kaget dan berhati hatilah dia.
Tak pernah di sangkanya bahwa gadis yang usianya masih muda ini telah memiliki kepandaian sehebat itu.
Ia lalu menyerang lagi dengan kim siang to di tangannya dan dengan gembira sekali Lan Giok menyambut serangannya, dengan Ilmu Silat Soan hong pek lek jiu hwat yang ampuh.
Gadis cilik ini tahu bahwa lawannya memiliki kepandaian hebat maka hanya dengan Ilmu Pukulan Geledek dan Angin Puyuh ini sajalah kiranya ia dapat mengimbangi serangan sepasang golok emas yang lihai itu.
Pertempuran terpecah dua dan terjadi dengan hebatnya.
Semua tentara yang tadi mengeroyok Gan Kui To berdiri bengong dan tidak seorangpun berani mencoba ikut bertempur.
Mata mereka berkunang kunang karena tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan.
Empat orang muda itu seakan akan telah berputar putar menjadi dua gulungan sinar yang saling serang, tubuh mereka lenyap terbungkus oleh sinar senjata!
Siapakah adanya gadis baju merah dan pemuda baju biru yang lihai itu?
Para pembaca kiranya sudah dapat menduga atau mengira ngira siapakah mereka ini?
Memang betul, gadis baju merah itu bukan lain adalah Sian Hwa, yakni anak dari Can Goan yang diambil anak oleh Bucuci dan kini mendapat nama keturunan ibu angkatnya menjadi she Tan, karena isteri dari Bucuci bernama Tan Kui Eng.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sian Hwa diambil murid oleh Liem Po Coan atau Jenderal Liem yang berjuluk, Pat jiu Giam ong, seorang di antara lima Tokoh Besar!
Adapun pemuda baju biru itu ialah Liem Swee, putera tunggal dari Pat jiu Giam ong.
Setelah dapat mengetahui siapa adanya dua orang anak muda ini, tentu saja tidak mengherankan lagi apabila ilmu kepandaian mereka amat tinggi.
Akan tetapi yang paling hebat adalah kepandaian dari Gan Kui To, anak yang di waktu kecilnya telah membunuh ayahnya sendiri ini.
Semenjak dibawa pergi dari bukit Oei san oleh Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, orang yang paling jahat dan licik juga berbahaya dari Lima Tokoh Besar, ia menerima gemblengan ilmu silat dan ilmu hitam dari suhunya.
Memang telah menjadi harapan dari Lam hai Lo mo untuk menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tunggalnya ini, agar kelak di kemudian hari Gan Kui To akan menjagoi di seluruh dunia.
Watak anak ini memang cocok sekali dengan wataknya, maka Seng Jin Siansu mengasihinya dengan sepenuh hatinya.
Kalau dibuat perbandingan antara empat orang anak muda yang sedang ramai bertempur ini, memang yang paling unggul adalah kepandaian Gan Kui To.
Tidak saja karena memang ia memiliki bakat yang baik dan cocok sekali untuk menerima ilmu kepandaian dari Seng Jin Siansu, tetapi terutama sekali karena memang ilmu silat dari suhunya amat aneh.
Kalau dibandingkan dengan Liem Swee atau Sian Hwa, ia masih menang setingkat.
Adapun jika dibandingkan dengan Lan Giok, biarpun kepandaian Lan Giok juga hebat, tetapi gadis cilik ini masih kalah latihan, karena usia Kui To memang lebih tua dua tiga tahun daripadanya.
Pertempuran antara Lan Giok dan Liem Swee berjalan lebih seimbang daripada pertempuran antara Sian Hwa dan Kui To, karena suling ular di tangan Kui To kini telah mengurung dan menekan sinar pedang dari Sian Hwa lagi, sehingga gadis baju merah yang cantik jelita itu menjadi terdesak hebat.
"Swee ji dan Sian Hwa, mundurlah dan jangan bertempur dengan saudara sendiri!"
Tiba tiba terdengar bentakan keras.
Tanpa diketahui oleh siapa pun juga, seorang laki laki tua tinggi besar yang berpakaian seperti seorang pembesar militer telah berdiri di dekat tempat pertempuran.
Dia ini bukan lain adalah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan jenderal yang berkepandaian tinggi itu.
Liem Swee dan Sian Hwa cepat melompat ke belakang.
Sian Hwa cepat bertanya ragu ragu.
"Suhu, manakah dia yang suhu bilang masih saudara sendiri?"
Liem Goanswe sambil tertawa berkata menuding ke arah Kui To.
"Kau tidak kenal gerakannya? Dia Ini tentulah murid dari supekmu (uwak gurumu), kalau bukan, bagaimana dia bisa memainkan Siang cu kiam hwat sedemikian baiknya?"
Adapun Kui To yang cerdik, ketika melihat seorang tinggi berpakaian jenderal, segera dapat menduga dengan siapa ia berhadapan, maka segera ia memberi hormat sambit berkata.
"Teecu Gan Kui To menghaturkan hormat kepada susiok (paman guru)."
Sementara itu, Lan Giok yang menyaksikan kejadian ini, menjadi mendongkol sekali.
Susah payah ia mencampuri urusan ini karena tidak dapat mendiamkan saja melihat Kui To dikeroyok dan karena timbul kegembiraannya melihat tiga orang muda yang berilmu tinggi itu, tidak tahunya mereka itu masih saudara seperguruan.
Tanpa mengucapkan suara lagi, ia menggerakkan tubuhnya dan melompat pergi dengan cepat.
Pat jiu Giam ong tidak memperdulikan gadis cilik itu, melainkan bertanya kepada Kui To.
"Anak, tidak mengecewakan kau menjadi murid Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu. Di mana gurumu?"
Kui To berdiri membalikkan tubuhnya, lalu menahan napas dan mengerahkan khikangnya.
Ketika ia membuka mulut untuk berseru memanggil suhunya, suaranya terdengar tidak keras tetapi mengggetar dan ternyata bahwa anak ini telah menggunakan, ilmu mengirim suara yang disebut Coan im jip bit.
"Suhu...! Di sini ada susiok menanyakan suhu,..!"
Suara itu menggema sampai jauh dan untuk beberapa lama keadaan menjadi sunyi. Kemudian jauh sekali asalnya, terdengar suara Lam hai Lo mo Seng Jiu Siansu berkata.
"Kui To, kau kembalilah ke sini. Tidak perlu aku bertemu dengan Liem goanswe (jenderal Liem)! Bagaimana aku dapat bertemu dengan seorang pembesar tinggi sedangkan aku seorang jembel ?"
Suara ini biarpun dikirim dari tempat jauh datangnya masih nyaring menyakitkan telinga.
Mendengar ucapan ini, Kui To lalu melompat pergi, sedangkan Pat jiu Giam ong yang sudah mengenal adat dan watak suhengnya tidak berani mengejar, hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kepandaian suheng sudah bertambah berlipat kali. Juga anak itu telah memiliki kepandaian tinggi, baru ilmunya Coan im jip bit tadi saja sudah memperlihatkan bahwa ia masih menang setingkat daripada kalian berdua."
Kemudian jenderal ini lalu mengajak pulang anak dan muridnya itu. Setibanya di dalil M gedungnya ia lalu berkata dengan muka sungguh sungguh.
"Supek kalian memang berwatak aneh sekali dan orang seperti dia sukar diduga sikapnya. Aku sendiri tidak tahu apakah dia itu kelak merupakan kawan atau lawan. Kulihat murid tunggalnya tadi pun berwatak aneh, tidak berbeda dengan gurunya. Oleh karena itu, kalau kalian tidak mau tertinggal jauh oleh orang lain, mulai sekarang kalian harus berlatih lebih bersungguh sungguh, agar empat lima tahun lagi kalian akan mewarisi seluruh kepandaian ku."
Liem Swee dan Sian Hwa menyatakan kesanggupannya, sungguhpun di dalam hati, kedua orang muda ini tidak percaya kalau kepandaian supek mereka yang dikabarkan setengah gila itu lebih tinggi daripada kepandaian Pat jiu Giam ong.
Sebaliknya jenderal tua ini agaknya dapat membaca keraguan pada wajah putera dan muridnya, maka katanya dengan sungguh sungguh.
"Ketahuilah kalian bahwa di antara semua tokoh persilatan, pada waktu ini agaknya hanya supekmu itulah yang telah mencapai tingkat tinggi dan mungkin telah menyusul tingkat dari Kim Kong Taisu, akan tetapi karena Kim Kong Taisu telah mencuci tangan dan bertapa menjadi manusia suci, agaknya hanya supekmu itulah yang menjagoi. Kalau dia menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tunggalnya itu, pasti kelak kalian bukan lawannya. Sayang.... sungguh sayang bahwa Bu Tek Kiam ong hanya tinggal namanya saja......."
"Suhu, apakah Bu Tek. Kiam ong ?"
Tanya Sian Hwa dengan penuh perhatian. Kembali Pat jiu Giam ong menarik napas panjang.
"Orang tua itu sajalah yang dapat mengatasi . kepandaian Lam hai Lo mo supekmu itu, bahkan mengatasi pula kepandaian Kim Kong Taisu. Di atas dunia ini tidak ada ilmu silat yang sanggup menghadapi ilmu pedang dari Bu Tek Kiam ong Si Raja Pedang itu !"
"Apakah dia, sudah meninggal dunia, suhu? Dan kalau dia masih ada juga, apa artinya? Mengapa suhu menyatakan sayang?"
Kalau gadis baju merah itu amat memperhatikan, adalah Liem Swee sama sekali tidak mau perduli.
Memang amat jauh perbedaan sifat antara dua orang ini.
Sian Hwa amat bernafsu untuk mempertinggi ilmu kepandaiannya, adapun Liem Swe yang memang lebih tinggi tingkatnya, berwatak sombong dan tidak mau kalah menganggap kepandaiannya sendiri yang sudah paling tinggi!
"Aku tidak dapat memastikan apakah dia sudah mati, akan tetapi kalau ia masih hidup, usia nya tentu hampir seratus tahun.
Kalau ia masih hidup.....
kalau saja kalian bisa mewarisi ilmu pedangnya, kalian tak usah takut menghadapi jago silat yang manapun juga, bahkan tidak perlu takut menghadapi murid murid Kim Kong Taisu atau murid supekmu."
"Ayah, mengapa melamun dan mengharapkan sesuatu yang tidak ada? Ilmu kepandaian ayan sendiri sudah amat tinggi dan belum dapat kami warisi semua, mengapa mencari yang jauh jauh? Aku lebih suka mewarisi ilmu kepandaian ayah daripada ilmu kepandaian siapapun juga !"
Kata Liem Swee yang . membuat ayah nya tersenyum. Pat jiu Giam ong menganguk angguk.
"Betul juga katamu, Swee ji, tak perlu kita merendahkan diri sendiri memperkecil semangat. Asalkan kalian berlath sungguh sungguh, kiranya masih banyak ilmu pukulan yang dapat kalian pelajari dari aku."
Sian Hwa lalu minta diri dan kembali ke rumah orang tuanya, yakni panglima Bucuci yang sebagai mana pernah dituturkan di bagian depan, telah berpindah ke kota raja pula dan mendapatkan sebuah gedung dari Liem goanswe.
Mari kita ikuti perjalanan Lan Giok, gadis berusia empatbelas tahun.yang lincah dan tabah itu.
Setelah mengalami pertempuran dengan anak anak muda yang berkepandaian tinggi itu, diam diam gadis cilik ini berpikir bahwa ilmu kepandaiannya sendiri masih jauh daripada memuaskan.
Aku harus belajar lebih giat lagi, pikirnya.
Belum lama ini ketika bertemu dengan Bun Sam, murid dari Kim Kong Taisu, ia kena dikalahkan.
Dan sekarang bertemu dengan murid murid Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo, ia harus mengakui bahwa kepandaiannya sendiri belum dapat mengatasi mereka, terutama pemuda bersuling ular itu.
Ia pernah mendengar dari gurunya bahwa di atas dunia ini, yang paling dipandang dan disegani oleh gurunya hanyalah empat orang tokoh persilatan, yakni Kim Kong Taisu, Pat jiu Giam ong, Lam hai Lo mo dan seorang lagi yang dipandang tinggi, yakni Bu tek Kiam ong.
Murid Lam hai Lo mo telah ia jumpai dan mereka itu ternyata memang berkepandaian tinggi.
Lebih lebih lagi murid Bu tek Kiam ong, sampai di mana hebatnya kepandaiannya?
Biarpun ia sudah berada di luar tembok kota raja, namun Lan Giok tidak masuk ke dalam kota raja, karena tujuan perjalanannya memang bukan ke situ, melainkan ke kota Tong seng kwan untuk mencari Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang menjadi touw tong di kota itu.
Akan tetapi setelah tiba di kota Tong seng kwan, ia mendengar bahwa orang yang dicarinya itu telah dua hari pergi ke kota raja, sehingga gadis ini menjadi gemas sekali.
Ia telah lewat di luar tembok kota raja, sama sekali tidak tahu bahwa orang yang dicarinya berada di dalam kota otu!
"Lopek, tahukah kau di mana aku dapat bertemu dengan Lui ciangkun di kota raja?"
Tanyanya kepada penjaga yang memberitahu kepadanya tentang kapergian perwira she Lui itu.
Penjaga itu tidak merasa aneh melihat seorang gadis cilik mencari Lui ciangkun, oleh karena perwira ini memang banyak mengadakan perhubungan dengan orang orang jadi kalangan kang ouw yang menjadi pembantu atau kawan kawannya, ia hanya memandang sambil tersenyum, nampak kekaguman akan.
keberanian dan kecantikan gadis itu, membayang dalam pandangan matanya.
"Nona kecil, kalau kau di kota raja mencari di rumah panglima Bucuci, tentu kau akan bertemu dengan Lui ciangkun."
"Terima kasih, lopek,"
Kata Lan Giok dan sebelum penjaga itu sempat menjawab, gadis cilik itu berkelebat dan lenyap dari pandangan matanya.
Tentu saja penjaga itu menjadi terbelalak heran.
Biarpun hari telah malam dan gelap, tetapi bagaimana mungkin orang dapat menghilangkan diri begitu saja dari depan hidungnya?
"Jangan jangan dia bukan manusia, melainkan iblis yang sengaja datang menggangguku !"
Penjaga tua itu bersungut sungut, lalu ia membaca mantera yang pernah dipelajarinya dari hwesio di kelenteng, mulutnya berkemak kemik membaca doa pengusir Iblis !
Malam hari itu Lan Giok bermalam di sebuah rumah penginapan dan pada keesokan hari nya, pagi pagi ia telah berangkat ke kota raja untuk menyusul Ngo jiauw eng Lui Hai Siang, orang yang harus dibasminya menurut perintah gurunya.
Ia sendiri tidak kenal siapa adanya Ngo jiuw eng dan hanya mendengar dari suhunya bahwa orang itu adalah seorang penjahat yang.telah menggunakan kesempatan berdirinya pemerintah Goan tiauw untuk menjilat dan mencari kedudukan dengan jalan mengorbankan patriot patriot bangsa sendiri.
Ketika Lan Giok tiba di jalan besar yang menuju ke kota raja dan sedang berjalan cepat, tiba tiba ia melihat lima orang yang aneh aneh bentuk tubuh maupun corak pakaiannya.
Empat di antara mereka adalah orang orang tua lekiki dan seorang pula adalah wanita.
Ketika ia memandang dengan penuh perhatian, maka teringatlah ia akan cerita gurunya dan tahulah dia bahwa mereka itu bukan lain adalah Sin beng Ngo hiap (Lima Pendekar Malaikat) yang terkenal di dunia kangouw!
Gadis cilik ini tahu bahwa orang yang tertua, yang berpakaian seperti tosu dengan baju berkembang dan bertubuh tinggi kurus, adalah Bouw Ek Tosu atau guru dari Ngo jiauw eng yang hendak dibunuhnya!
Akan tetapi, gadis yang tidak kenal akan arti takut ini berjalan seperti biasa saja, tanpa mengurangi kecepatan berlarinya.
Lima orang tokoh persilatan itupun sedang menuju ke kota raja dan karena mereka berjalan dengan cepat, maka mereka tidak melihat Lan Giok.
Gadis ini memang memiliki watak ingin mencoba kepandaian orang.
Ia telah mendengar bahwa lima orang tokoh persilatan itu namanya kurang bersih dan pernah pula mereka dihajar habis habisan oleh gurunya, maka dengan berani ia lalu sengaja mempercepat larinya dan menyusul mereka.
Bagaikan seorang pembalap kuda yang melampaui lawannya, sengaja menyusul dan melampaui lima orang tua itu, tanpa menoleh sedikitpun kepada mereka.
Terdengar seruan heran dan kaget dari Sin beng Ngo hiap ketika mereka melihat seorang gadis cilik yang cantik dan manis berlari cepat sekali melampaui mereka.
"Eh, siapa kau? Tunggu dulu!"
Hwa Hwa Niocu yang merasa amat tertarik dan suka melihat gadis cilik yang lincah ini, lalu melompat ke depan sambil mengulurkan tangan hendak menangkap lengan gadis itu.
Akan tetapi alangkah herannya ketika, tanpa menengok gadis cilik itu dapat mengelakkan lengannya yang hendak tertangkap, bahkan segera melarikan diri lebih cepat lagi!
Tidak hanya Hwa Hwa Niocu yang merasa heran, juga suheng suhengnya merasa heran dan terkejut, lalu mempercepat lari mereka mengejar ke depan.
Lan Giok yang mengetahui bahwa lima orang itu mengejarnya, lalu menengok dan tersenyum manis.
Senyum ini tentu saja dianggap ejekan bagi Sin beng Ngo hiap yang menjadi gemas juga.
"Setan cilik kau berani menjual lagak?"
Bouw Ek Tosu mengebutkan lengan bajunya dan ia mendahului adik adik seperguruannya mengejar dengan cepat sekali ke depan.
Betapapun tinggi kepandaian ilmu lari cepat dari Lan Giok tentu saja ia masih belum dapat mengatasi kepandaian Bouw Ek Tosu yang sudah berlatih puluhan tahu lamanya.
Setelah kejaran dilakukan beberapa lama, akhirnya Tosu itu sudah hampir dapat memegang Lan Giok.
"Setan cilik, kau tetap tidak mau berhenti ?"
Bentak tosu itu sambil menggunakan kebutannya yang berbulu panjang digerakkan ke depan.
Ujung kebutan yang lemas dan panjang itu meluncur ke depan dan hendak melibat tangan Lan Giok.
Gadis ini terkejut karena kalau sampai tangannya terlibat, berarti ia kalah dan tak dapat lari lagi, maka cepat ia lalu membalikkan tubuhnya dan sambil setengah berjongkok ia melancarkan serangan pukulan Soan hong pek lek jiu!
Hal ini tentu saja sama sekali tak pernah disangka oleh Bouw Ek Tosu, sehingga biarpun tosu ini menarik kembali hudtim (kebutan) dan mengelak ke samping.
Tetap saja sambaran angin pukulan dengan telak telah mengenai pangkal lengan kanannya, ia merasa betapa lengannya seperti lumpuh dan kebutan nya terlempar jauh.
Cepat ia menyalurkan lweekangnya ke dalam lengan itu dan berhasil menolak kembali tenaga hawa pukulan anak gadis yang aneh ini, akan tetapi saking kagetnya ia lalu melompat mundur setombak lebih.
Di situ ia memandang dengan mata terbelalak, kemudian membentak.
"Gadis liar. Jadi kau adalah murid Mo bin sin kun?"
Bouw Ek Tosu dapat mengenal Soan hong pek lek jiu dari Mo bin Sin kun, maka ia dapat menduga bahwa gadis liar ini tentulah murid dari Si Tangan Malaikat Bermuka Iblis itu.
Empat orang adik seperguruannya yang sudah menyusul ke situ pula, mendengar seruan ini lalu memandang dengan mata mengancam.
Akan tetapi Lan Giok tetap tersenyum tabah.
"Kalau betul, kenapa gerangan? Kalian ini Sin beng Ngo hiap, yang terkenal sebagal tokoh tokoh tua di dunia persilatan. Untung hanya hudtim mu saja yang terlempar, kalau yang terlempar itu kepala, kan menjadi berabe juga."
"Gadis liar kurang ajar! Kau benar benar kejam dan ganas seperti setan, seperti..... gurumu!"
Bouw Ek Tosu membentak marah sambil mengambil kembali hudtimnya yang terlempar tadi.
"Baru saja bertemu kau telah melancarkan pukulan Soan hong pek lek jiu, apa kaukira pinto takut kepadamu?"
"Aduh galaknya. Siapa yang mulai lebih dulu? Aku berlari seorang diri, tidak mengganggumu, tidak memandangmu, tidak menegurmu. Mengapa kalian orang orang tua ini seperti gila mengejar ngejarku? Mau apakah?"
Tanyanya sambil menantang.
"Anak iblis!"
Hwa Hwa Niocu berseru.
"Tadinya aku tertarik kepadamu, tidak tahunya kau jahat seperti iblis! Betapapun juga, karena kau adalah murid Mo bin Sin kun, biarlah kau ikut dengan kami untuk merobah adatmu yang rusak itu !"
Lan Giok tertawa, sehingga dua buah lesung pipit membayang di kanan kiri mulutnya.
"Benar benar galak kalian ini, apa dikira aku belum tahu bagaimana kalian dihajar jatuh bangun oleh guruku? Sudahlah, lebih baik kalian pergi dan jangan menggangguku, kalau aku habis sabar, jangan jangan kalian untuk kedua kalinya akan menerima hajaran!"
Tentu saja lima orang itu menjadi marah sekali. Muka mereka menjadi merah dan masing masing telah meraba senjatanya.
"Anak iblis macam kau ini harus dibasmi lebih dulu sebelum kelak menjadi iblis tulen!"
Teriak Coa Hwa Hwa atau Hwa Hwa Niocu. Sambil berkata demikian, ia telah mencabut pedangnya dan membacok kepala Lan Giok dengan gerak tipu Liong teng thi cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga).
"Ayaaa .... !"
Lan Giok berseru ___ sambil dengan lincahnya ia _____ cu hoan sin ___________ Niocu menyerang, kini dengan sebuah tusukan ke arah dada anak tanggung itu akan tetapi kembali Lan Giok mengelak dan kini tiba tiba kepalan tangan kanannya menyambar ke depan mengarah pusar lawan.
Gerakan pukulannya kini hebat dan cepat sekali datangnya, juga didahului oleh menyambarnya hawa pukulan yang aneh dan berbahaya.
Memang, karena maklum bahwa kelima orang lawan ini bukan merupakan lawan yang boleh dipandang ringan, biarpun pada mulutnya Lan Giok menyindir dan memandang ringan, namun sekali maju ia telah mengeluarkan ilmu Silat Soan hong pek lek jiu, kepandaian simpanannya.
Hwa Hwa Niocu, seperti juga Bouw Ek Tosu tadi, memandang rendah kepada anak ini dan melanjutkan serangan tanpa memperdulikan pukulan anak yang datang itu.
Akan tetapi, tiba tiba ia terbetot dari belakang dan tubuhnya terpental ke belakang dibarengi oleh suara twa suhengnya.
"Sumoi, hati hati ! Pukulan Soan hong pek lek jiu tak boleh dibuat gegabah !"
Kembali terdengar Lan Giok tertawa geli, sedangkan Hwa Hwa Niocu menjadi merah mukanya.
Kalau tadi Bouw Ek Tosu tidak membetotnya ke belakang, mungkin ia sudah kena dirobohkan oleh gadis cilik ini.
Ia menjadi semakin penasaran dan sambil berseru keras ia lalu memutar pedangnya dengan hebat, menyerang Lan Giok dengan nafsu membunuh.
Melihat betapa gadis cilik ini memang amat lihai dan merasa khawatir kalau kalau sumoinya akan kalah dan mendapat malu besar, maka sepasang hwesio kembar yang gemuk, yakni Lam san Siang mo bergerak cepat dan dengan sepasang golok di tangan, mereka ikut menyerbu.
Mereka pikir daripada sumoi mereka kalah dan mendapat malu, lebih baik sebelum ada orang yang melihat, mereka mengeroyok dan membinasakan murid dari Mo bin Sin kun yang pernah menghina mereka ini.
Ketika empat buah golok dan sebuah pedang menyambar ke arahnya barulah Lan Giok merasa sibuk juga.
ia mengandalkan ginkangnya untuk mengelak ke sana ke mari, tubuhnya berkelebat bagaikan seekor burung walet yang amat gesit, menyambar di antara gulungan sinar senjata lawan sambil membalas dengan pukulan Soan hong pok lek jiu.
Akan tetapi, karena tiga orang lawannyapun bukan orang orang lemah, gadis cilik ini maklum bahwa, kalau dilanjutkan, keadaannya akan menjadi berbahaya juga.
Ia memutar otaknya mencari akal.
"Bagus, bagus! Tiga orang tua bangka dari Sin beng Ngo hiap yang bernama besar mengeroyok seorang muda! Pantas memang nama besar Sin beng Ngo hiap hanya nama besar palsu belaka. Awas, sebentar lagi kalau guruku datang, kalian tentu hanya tinggal namanya saja!"
Benar saja, mendengar ucapan ini, lima orang itu menjadi terkejut sekali.
Serangan, sepasang hwesio kembar dan Hwa Hwa Niocu menjadi lemah dan Bouw Ek Tosu bahkan menengok ke kanan kiri, melihat kalau kalau Mo bin Sin kun sudah berada di situ.
"Lebih baik kita tinggalkan iblis kecil ini !"
Katanya kepada keempat adik seperguruannya, karena merasa takut akan ancaman yang keluar dari mulut gadis cilik tadi.
"Mengapa takut, twa suheng,"
Kata Hwa Hwa Niocu.
"Lebih baik kau bantulah membereskan anjing kecil ini, kalau sudah, kita lalu berlari ke dalam kota raja mengunjungi Pat jiu Giam ong, Kalau kita sudah di sana, hendak kita lihat Mo bin Sin kun akan berani berbuat apa?"
Sambil berkata demikian Hwa Hwa Niocu menyerang lagi lebih hebat dengan pedangnya dan suheng suhengnyapun tanpa malu malu lagi lalu mendesak gadis cilik itu, dengan maksud cepat cepat merobohkannya atau menangkapnya untuk membalas penghinaan yang mereka terima dari Mo bin Sin kun.
Akan tetapi Lan Giok terlalu lincah bagi mereka, sehingga biarpun lima orang itu memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin mereka dapat mengalahkan gadis yang licin bagaikan belut itu dalam waktu singkat.
Betapapun juga, Lan Giok sudah kewalahan sekali, jidatnya yang berkulit halus itu telah penuh oleh keringat.
Akan tetapi mulutnya makin, tersenyum senyum dan terus menerus mengejek dan memaki maki nama Sin beng Ngo hiap yang di makinya monyet tua bangka pengecut dan lain lain.
Pada saat itu, tiba tiba terdengar suara keras.
"Tak patut lima orang tua bangka mengeroyok seorang muda!"
Dan berkelebatlah bayangan orang.
Biarpun suaranya seperti orang yang sudah tua, tetapi ternyata yang mengeluarkan kata kata teguran itu adalah seorang pemuda remaja, bukan lain adalah Gan Kui To, murid dari Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu !
Biarpun di dalam hatinya ia merasa girang dengan datangnya pemuda yang hendak membantunya ini, namun keangkuhannya membuat Lan Giok berkata.
"Mau apa kau mencampuri urusan ku ?"
Kui To tertawa gelak gelak dengan lagak seperti suhunya ketika ia mendengar suara merdu ini yang terdengar galak, tetapi manis dan melihat gadis cilik yang amat manis itu sudah mandi keringat akan tetapi masih hendak menolak bantuan.
"Ha, ha, ha, burung murai yang cantik, kau lupa bahwa beberapa hari yang lalu kau telah membantuku dalam pertempuran. Sekarang melihat kau di keroyok lima, bagaimana aku harus tinggal diam saja? Inilah kesempatanku membalas budi dan memperlihatkan bahwa aku Gan Kui To bukanlah orang yang berwatak buruk. Ha, ha, ha!"
Sambil berkata demikian, suling ularnya bergerak cepat menangis kebutan di tangan Bouw Ek Tosu yang dilihatnya paling lihai di antara semua pengeroyok nona itu.
Tentu saja Bouw Ek Tosu memandang rendah pemuda yang seperti anak gila.
Melihat kebutannya yang menyerang Lan Giok ditangkis oleh suling si pemuda, ia lalu sengaja menggerakkan ujung kebutannya itu untuk menangkap dan dengan tenaga gerakan "cam" (membelit melibat) ia berhasil menangkap suling itu dengan kebutan, tadi melihat betapa pemuda itu agaknya tidak sadar bahwa sulingnya sudah tertangkap, ia lalu menggunakan tenaga gerakan "coan" (memutar).
Ujung kebutannya terputar cepat dan maksudnya membuat suling itu ikut terputar dan terlepas dari tangannya si pemuda.
Akan tetapi, jangankan terputar atau terlepas, bahkan tiba tiba pemuda itu berseru dengan suara yang amat berpengaruh.
"Yauwto (tosu iblis) bandel ! Tidak kau lepaskan hudtim kebutan itu mau tunggu kapan lagi??"
Seruan ini dibarengi dengan tenaga betotan yang hebat sekali.
Bouw Ek Tosu yang sedang menggunakan tenaga memutar, cepat mengerahkan tenaga untuk mempertahankan kebutannya, akan tatapi entah mengapa, seruan atau bentakan pemuda tadi telah membuat tangannya terasa lemas dan akhirnya tanpa dapat dicegah lagi kebutannya "ikut"
Terbang dengan suling dan tahu tahu telah berada di tangan pemuda itu !
Bouw Ek Tosu adalah seorang ahli silat yang sudah puluhan tahun menjelajah di dunia kang ouw, maka bukan kepalang herannya melihat kelihaian pemuda ini.
Ia tidak percaya bahwa pemuda tangguh ini dapat memiliki lweekang yang lebih tinggi dari dia, maka setelah memandang sebentar teringatlah ia akan bentakan pemuda tadi dan tahu bahwa pemuda ini tentu mahir akan ilmu hoat lek (ilmu sihir atau ilmu gaib) ia menjadi marah sekali.
"Anak setan, kembalikan hudtimku !"
Serunya sambil menyerang dengan kedua ujung lengan bajunya.
Serangan ini ditujukan ke arah kepala Kui To dan biarpun hanya ujung lengan baju yang dipergunakan oleh Bouw Ek Tosu, namun kalau sekiranya mengenai kepala mungkin akan hancur lah kepala pemuda itu.
Kui To cepat melompat ke belakang dan tiba tiba hudtim tadi meluncur dari tangannya ke arah dada tosu itu.
"Hebat!"
Seru Bouw Ek Tosu ketika mengena gerakan ini karena inilah gerakan yang disebut Sin liong hian bwee (Naga Sakti Mempertahankan Ekornya).
Gerakan seperti ini berasal dari cabang persilatan Hoa san pai, yakni bagian ilmu pedang nya dan gerakan aslinya tentu saja melemparkan pedang ke arah lawan.
Cepat Bouw Ek Tosu miringkan tubuhnya dan mengulurkan tangan dari samping untuk menangkap gagang kebutan nya dan kembali ia terkejut karena merasa betapa kulit tangannya panas saking cepat dan lajunya hudtim itu dilemparkan!
Sementara itu, Lan Giok tentu saja senang melihat betapa tosu yang terlihai di antara pengeroyoknya itu dapat dihadapi oleh Kui To, akan tetapi untuk meninggikan harga diri, ia tetap berkata.
"Kalau kau tidak ingin disebut sebagai manusia bong im pwe gi (manusia tak kenal budi) dan ingin membalas budi, sesuka hatimulah! Akan tetapi jangan kira bahwa aku membutuhkan bantuan atau bahwa aku takut menghadapi keroyokan lima tikus tua ini."
Kembali Kui To tertawa geli.
"Baiklah, siapa yang takut menghadapi lima ekor tiks tua ini? Aku hanya ingin ikut mempermainkan mereka."
Bukan main marahnya Sin beng Ngohiap mendengar ucapan kedua orang anak muda ini.
Mereka berlima adalah tokoh tokoh besar yang pernah menggemparkan dunia persilatan, nama nama mereka merupakan nama yang disegani dan ditakuti oleh orang orang gagah di dunia kang ouw, bagaimana sekarang mereka menghadapi dua orang anak tanggung yang berani mempermainkan dan menghina mereka?
Ini adalah pengalaman pertama kali semenjak mereka hidup dan tentu saja wajah kelima orang ini menjadi pucat saking marahnya.
Si Pacul Kilat Kui Hok yang berpakaian petani, memang paling hati hati dan cerdik diantara saudara saudaranya.
Melihat gerakan ilmu silat pemuda yang baru datang, mudah saja ia dapat menduga bahwa pemuda inipun tentulah murid seorang sakti dan agaknya kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian murid Mo bin Sin kun.
Maka sebelum berlaku lancang lebih baik bertanya lebih dulu, pikirnya.
"Tahan dulu !"
Seru nya kepada saudara saudara nya, kemudian ia menghadapi Kui To sambil berkata dengan suara ramah.
"Siauwko (saudara kecil), kau masih muda sudah begini lihai, sebetulnya siapakah nama gurumu yang mulia ?"
Karena lima orang itu berhenti menyerang, Lan Giok dapat beristirahat dan menyeka peluh di keningnya dengan sehelai saputangan sutera.
Melihat keadaan nona kecil yang nampaknya lelah ini, Kui To lalu tertawa dan berkata.
"Kalian mana mengenal siapa suhuku? Dengarlah!"
Setelah berkata demikian, anak muda ini lalu duduk bersila di atas tanah dan meniup sulingnya!
Mula mula suara suling, lemah dan halus, enak didengar, sehingga Lan Giok menjadi tertarik dan tak terasa pula maju mendekat, akan tetapi, lambat laun suara suling itu menjadi makin meninggi dan keras sehingga menusuk nusuk anak telinga !
Lan Giok mengerahkan tenaganya, akan tetapi anak telinganya masih terasa sakit, maka cepat ia lalu merobek saputangannya menjadi dua dan menggunakan robekan kain itu untuk disumbatkan ke dalam telinganya.
Adapun kelima orang Sin beng Ngo hiap menderita seperti yang dialami oleh Lan Giok, sehingga mereka merasa terkejut sekali.
Yang didemonstrasikan oleh pemuda tanggung itu adalah tenaga khikang yang luar biasa, yang menjadi pecahan daripada Ilmu Coan im jip bit (Kirim Suara Dari Jarak Jauh).
Tenaga khi kang yang didorong oleh lweekang yang tinggi, membuat pemuda itu dapat meniup suling sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan suara nada setinggi tingginya dan sekecil kecilnya, sehingga dapat merangsang anak telinga siapa yang mendengarnya.
Jangan dikira bahwa hal ini hanya menyakitkan pendengaran, karena sesungguhnya, gendang telinga bisa pecah karenanya!
Lima orang tua ini sudah memiliki lweekang yang tinggi, akan tetapi betapapun juga mereka mengerahkan tenaga, tetap saja di dalam telinga mereka tergetar hebat dan buru buru mereka lalu mempergunakan telunjuk untuk disumbatkan ke dalam telinga dan mencegah getaran itu merusak anak telinga mereka!
Selagi mereka hendak menyerang pemuda itu agar menghentikan tiupan sulingnya.
tiba tiba terdengar bunyi berdesis beberapa kali dan nampaklah tiga ekor ular senduk datang dari tiga jurusan, melenggang lenggok menghampiri Kui To.
Lan Giok, sebagaimana umumnya seorang anak perempuan, merasa jijik dan ngeri, maka cepat cepat ia melompat menjauhi dengan bulu tengkuk meremang.
Adapun Sin beng Ngo hiap memandang dengan mata terbelalak.
Tiga ekor ular itu agaknya tertarik oleh bunyi suling yang ditiup oleh Kui To dan melihat bentuk suling yang seperti ular itu, tiga ekor binatang ini lalu mengagkat kepala tinggi tinggi dan menari nari dengan lengang lenggok lemas di depan Kui To, seakan akan hendak berlagak dan hendak menarik perhatian "ular"
Yang dapat mengeluarkan suara merdu itu.
Setelah memainkan sulingnya beberapa lama dan matanya berseri memandang ke arah tiga ekor ular senduk yang menari nari itu, Kui To menghentikan tiupan sulingnya.
Tiga ekor ular itu nampaknya marah dan berbareng menyerang ke arah sulingnya.
Dengan gerakan yang indah dan cepat, Kui To lalu menggerakkan sulingnya dengan gerak tipu Lian cu sam kiam (Gerakan Berantai Tiga Pedang), maka terdengar bunyi "tak tuk tak!", kepala ketiga ekor ular itu telah kena ditotok oleh ujung suling.
Ular ular itu roboh dan setelah menggeliat beberapa lama lalu tak bergerak lagi, mati dengan kepala remuk?
"Sudah tahukah kalian siapakah guruku?"
Kui To berkata bangga.
Akan tetapi biarpun amat kagum melihat kelihaian pemuda tanggung ini, Sin beng Ngo hiap masih juga tidak dapat menduga siapa adanya pemuda ini.
Mereka hanya saling memandang dengan muka ragu ragu.
Adapun Lan Giok yang melihat betapa pemuda itu membunuh tiga ekor ular yang tadi dapat menari nari demikian indahnya, menjadi terkejut dan tiba tiba saja ia merasa benci sekali kapada Kui To yang telah berlaku keji.
Kini melihat lagak Kui To yang sombong, ia lalu berkata.
"Cih, sungguh menjemukan !"
Lalu gadis cilik ini melompat pergi menuju ke kota raja.
"Siauw niauw (burung kecil), jangan pergi dulu!"
Seru Kui To yang mengejar Lan Giok.
Jilid VI "KAU belum mengaku siapa suhumu,"
Bouw Ek Tosu dan empat orang adiknya juga melompat dan menahan Kui To yang menjadi gemas sekali.
Pemuda ini membalikkan tubuhnya, berdiri sambil bertolak pinggang dan sepasang matanya memancarkan sinar yang amat berpengaruh, sehingga lima orang tokoh kang ouw itu menjadi ragu ragu untuk turun tangan.
"Guruku adalah Iblis! Iblis Tua Laut Selatan, kalian mau apa? ?"
Bentak Gan Kui To dengan marah sekali. Bukan main terkejutnya hati Sin beng Ngo hiap mendengar keterangan ini.
"Apa.....? Suhumu Lam hai Lo mo Seng jin Siansu....??"
"Hanya ada satu saja Lam hai Lo mo !"
Jawab Kui To.
Berubahlah wajah kelima orang itu.
Pantas saja pemuda ini demikian lihai seperti setan, tidak tahunya dia adalah murid dari tokoh besar atau datuk persilatan dari selatan itu.
Bouw Ek Tosu cepat mengangkat kedua tangan ke dada dan memberi hormat dituruti pula oleh empat orang adiknya.
"Maaf, maaf, pinto berlima sama sekali tidak tahu bahwa taihiap (pendekar besar) adalah murid dari locianpwe itu. Kami Sin beng Ngo hiap benar benar merasa tunduk atas kelihaian taihiap."
Akan tetapi Gan Kui To hanya menggerakkan hidungnya dan sepasang matanya yang sudah sipit menjadi makin kecil lagi dalam tarikan muka menghina, kemudian tanpa banyak cakap ia lalu berlari menyusul Lan Giok yang sudah lenyap dari pandangan mata.
Gerakannya amat cepat, sehingga sebentar saja ia sudah berada jauh.
Bouw Ek Tosu menarik napas panjang.."Aah, kita ini orang orang tua benar benar seperti katak katak di dalam sumur, tidak tahu lebarnya dunia dan kemajuan kemajuannya.
Betul kata orang bahwa makin tua usia, segala menjadi makin mundur dan makin lemah.
Anak anak sekarang memiliki kepandaian yang hebat dan sebentar saja mereka itu akan jauh meninggalkan kita."
"Kita tidak perlu merasa penasaran,"
Menghibur Kui Hok Si Pacul Kilat.
"anak anak muda yang kita jumpai dan yang memiliki ilmu kepandaian hebat adalah murid murid dari Ngo gak (Lima Gunung Besar) atau Ngo thai locianpwe (Lima Orang Tua Gagah). Anak perempuan tadi adalah murid dari Mo bin Sin kun, adapun pemuda tadi adalah murid dari Lam hai Lo mo, tentu saja kepandaian mereka amat luar biasa. Mengapa mesti malu kalau sampai kita tidak dapat mengalahkan mereka?"
Tiba tiba Hwa Hwa Niocu teringat akan sesuatu dan mukanya berubah."Ah, cela ka...!"
Katanya. Kakak kakaknya menahan tindakkan kaki mereka dan memandang dengan heran."Mengapa kau bilang celaka ?"
Tanya Bouw Ek Tosu.
"Kita tak bisa ke kota raja"
"Mengapa ?"
Si Pacul Kilat bertanya.
"Suheng, bukakah bahwa anak yang bernama Kui To itu adalah murid dari Lam hai Lo mo? Betapapun juga, kita telah bertempur melawan dia dan sekarang diapun pergi ke kota raja. Pat jiu Giam ong adalah susioknya (paman gurunya), maka tentu anak itu pergi ke sana pula. Kalau kita bertemu dengan dia di sana dan Pat jiu Giam yang telah mendengar tentang pertempurannya dengan kita, bukankah kita akan menghadapi suasana yang amat tidak enak?"
Teringatlah kakak kakaknya akan hal itu dan mereka saling memandang dengan bingung.."Apalagi kalau Lam hai Lo mo sendiri berada di sana!"
Seorang diantara sepasang hwesio kembar berkata menambahkan.
"Habis, kalau kita tidak ke sana, bagaimana dengan rencana kita tentang harta terpendam itu? Dan rencana kita untuk mengadukan Pat jiu Giam ong dengan Mo bin Sin kun?"
Kata Bouw Ek Tosu sambil memandang kepada adik adik seperguruannya minta pertimbangan.
"Lebih baik kita serahkan urusan ke dua itu kepada muridmu, Twa suheng,"
Kata Kui Hok yang cerdik.
"biarlah Ngo jiauw eng muridmu itu yang menjadi pembantu Pat jiu Giam ong, memberi laporan tentang kehendak Mo bin Sin kun membasmi bekas orang orang Ang bi tin ! Adapun tentang harta terpendam dari bekas Jenderal Yap itu, karena lain orang tidak ada yang tahu, mengapa kita harus tergesa gesa? Lain kali saja kalau keadaan sudah aman, tak dapatkah kita mengambilnya? Demikianlah, mereka lalu mengambil jalan wenuju ke kota Tong Seng kwan untuk mencari Ngo jiauw eng ! Kita ikuti perjalanan Song Bun Sam dan suhengnya muka tengkorak Yap Bouw yang masuk ke dalam kota raja dengan maksud hendak mengambil harta pusaka yang disimpan oleh Yap Bouw di dalam kebun bunga bekas gedungnya. Menurut hasil penyelidikan Bun Sam di waktu siangnya, karena Yap Bouw menyembunyikan diri agar mukanya tidak menarik perhatian orang, mereka mendapat keterangan bahwa rumah gedung bekas tempat tinggal Jenderal Yap Bouw itu kini ditinggali oleh seorang Panglima Goan tiauw bernama Bucuci.
"Kita harus bekerja hai hati, sute,"
Kata Yap Bouw dengan bahasa gerak jarinya.
"aku pernah mendengar bahwa Panglima Bucuci itu amat lihai ilmu silatnya."
Setelah hari menjadi malam yang gelap, kedua orang ini lalu pergi menyelidiki ke gedung Panglima Bucuci.
Mereka langsung menuju ke bagian bela kang, melompati pagar tembok dan mengintai ke dalam kebun kembang yang indah itu.
Dengan hati terharu Yap Bouw melihat betapa taman bunga yang dulu amat disnyanginya dan yang diaturnya sendiri itu masih sama seperti dulu.
Alangkah anehnya melihat kenyataan yang kadang kadang membuat manusia harus berpikir dalam dalam.
Bangsa apapun juga, biarpun mereka itu boleh saling menggempur, saling membenci dan saling bermusuhan, ternyata selalu memiliki kesenangan yang sama, sama sama suka memelihara kembang, suka melihat pemandangan indah, pendeknya semua manusia di dalam dunia ini, tidak perduli bangsa apa, tidak perduli beragama apa atau berpolitik apa tetap saja yang dikehendaki ialah suasana yang menyenangkan jasmani dan rohaninya!
Seperti halnya semua bunganya ini demikian Yap Bouw berpikir.
Aku dulu amat snyang pada taman bunga ini dan agaknya penghuni barunya, panglima dari Mongol itu, juga amat snyang, buktinya pada taman bunga ini terawat baik baik dan modelnya masih sama dengan dulu.
"Harta itu terpendam di bawah sebatang pohon yangliu (cemara) yang berada di sudut barat taman, di dekat empang teratai,"
Demikian keterangan yang diberikan oleh Yap Bouw kepada Bun Sam.
Oleh karena itu, setelah melihat betapa keadaan di taman yang kini diberi penerangan di empat penjuru itu sunyi saja, Bun Sam dan suhengnya lalu melompat turun dan mengeadap endap menuju ke ujung barat taman itu.
Ketika mereka tiba di dekat tempat itu, tiba tiba mereka mendengar suara orang dan secepat kilat Bun Sam telah bersembunyi di belakang serumpun pohon bunga, adapun Yap Bouw lebih cepat lagi telah melompat ke balik tembok dan keluar dari taman!
Ketika Bun Sam Mengintai, ia melihat seorang gadis duduk di bawah pohon yang liu, di dekat empang teratai yang indah itu.
Di atas pohon itu digantungi sebuah lampu yang cukup terang, bahkan di empat penjuru empang teratai yang banyak ikan masnya itu juga terdapat empat buah lampu teng yang kecil, akan tetapi berwarna merah indah, sehingga sinarnya di sekeliling empang itu nampak ke merah merahan.
Akan tetapi, semua pemandangan yang indah ini terlewat saja.
oleh pandangan Bun Sam, karena yang menjadi pusat perhatian pandangan matanya adalah gadis itu sendiri !
Gadis itu berpakaian sebagai seorang cian kim siocia, seorang puteri bangsawan yang tarpelajar, dengan pakaiannya yang terbuat daripada sutera halus dan berwarna indah.
Bajunya berkembang, berwarna merah sehingga nampak mukanya yang bekulit putih dan amat cantiknya.
Gaun di bawah berwarna kuning gading, dengan celana lebar berwarna kebiruan dan ikat pinggang yang panjang berwarna keemasan.
Rambutnya disanggul dengan model terakhir, amat manis dan sedap dipandang.
Bagaikan terpesona, Bun Sam pemuda tanggung berusia enam belas tahun itu berdiri ditempat sembunyinya dengan mata terbelalak penuh kegairahan.
Ia merasa seakan akan melihat seorang bidadari dari kahyangan dan sekaligus hatinya jatuh oleh kecantikan gadis itu.
Tanpa berani bergerak Bun Sam melihat betapa gadis cantik itu tengah menggunakan sebatang pit menulis sesuatu di atas kertas.
Hati Bun Sam berdebar ketika ia melihat gadis itu mengerutkan kening sebentar sebentar menghentikan tulisannya, memandang ke dalam empang atau menggunakan bibir dan giginya yang putih untuk menggigit tangkai pit, lalu menulis lagi.
Aduh, alangkah indahnya pemandangan yang terbentang di hadapan matanya itu.
Bun Sam benar benar terpesona.
Agaknya nona baju merah yang cantik itu telah selesai menulis, karena ia lalu mengangkat kertas yang penuh tulisan itu, dibacanya perlahan tanpa menggerakkan bibirnya sambil menengadah untuk lebih jelas melihat tulisannya di bawah sinar lampu dari pohon yang liu.
Karena wajahnya kini tersamar penuh oleh lampu, maka Bun Sam seakan akan merasa napasnya terhalang dan debar dadanya makin mengeras.
Nona itu benar benar cantik dalam pandangan matanya, jauh lebih cantik daripada nona yang manapun juga yang pernah dilihatnya baik dalam kenyataan maupun dalam mimpi.
Kemudian, bagaikan dalam mimpi, ia melihat bibir itu bergerak dan mendengar suara yang merdu membaca tulisan yang ternyata adalah serangkaian sajak.
Bagi telinga Bun Sam, semua bunyi yang tadi terdengar olehnya, yakni suara jengkerik yang bersembunyi di dalam rumput, suara burung malam yang kadang kadang terdengar dari jauh, juga suara ikan yang melompat ke permukann air, lenyap sama sekali dan udara penuh oleh suara gadis itu yang halus dan merdu.
Saking terpesona dan penuh perhatian Bun Sam dapat menangkap jelas isi syair itu dan mendengar jelas perkataan perkataannya satu demi satu.
"Ikan kecil bersisik emas bermata Intan Alangkah senangnya hidupmu, ikan ! Berenang di air jernih dibawah teratai indah Bermain dengan bayangan bulan dan lampu Merah. Alangkah bahagia hidupmu! Benarkah kau berbahagia? Atau hanya sangkaanku belaka? Benarkah aku terkurung di dalam empang? Bukankah segala keinginan hatimu terhalang? Ah, ikan, agaknya kau seperti aku pula, Nampaknya gembira namun... hati diliputi duka ! Sunyi, sunyi sekali bagi Bun Sam setelah gadis itu selesai membaca sajaknya. Sunyi dan sedih sehingga helaan napas yang halus dari gadis itu terdengar nyata olehnya, seakan akan berada di depan mukanya. Tak terasa pula, Bun Sam ikut menghela napas. Sayang, pikirnya, gadis yang cantik dan terpelajar, yang dapat membuat sajak demikian indahnya, diliputi kedukaan. Akan tetapi sesungguhnya pikiran pemuda ini salah sama sekali, karena siapakah gadis itu? Bukan lain adalah Tan Sian Hwa, puteri dari Panglima Bucuci atau murid terkasih dari Pat jiu Giam ong! Sama sekali bukanlah seorang gadis terpelajar yang lemah, melainkan seorang gadis yang berkepandaian tinggi, ahli silat juga ahli surat! Maka alangkah kaget hati Bun Sam ketika tiba tiba gadis itu bangkit berdiri, tangan kanannya mengepal ngepal kertas yang tadi ditulisi, sehingga kertas itu menjadi sekepal benda bulat. Tiba tiba Sian Hwa memutar tubuh dengan cepat dan ketika tangan kanannya terayun, kertas yang telah menjadi bal bulat itu meluncur cepat bagaikan pelor besi ke arah gerombolan pohon kembang yang menutup tubuh Bun Sam ! Di dalam kagetnya, Bun Sam mengulur tangan menyambut."pelor kertas"
Ini dan makin terkejutlah dia ketika merasa betapa telapak tangannya seperti menerima sebutir pelor baja saja dan betapa tenaga sambitan itu amat kuat !
"Bangsat atau pencuri manakah yang berani mati sekali memasuki taman orang?"
Gadis itu membentak marah dan tahu tahu gadis ini telah memegang sebatang pedang yang tadi ditaruh di dekat bangku yang didudukinya.
Bun Sam menjadi serba salah.
Untuk melarkan diri sudah tidak keburu lagi karena orang telah mengetahui di mana ia bersembunyi.
Ia tidak ingin bertempur dan ia tidak ingin timbul salah pengertian diantara mereka.
Ia datang bukan bermaksud berkelahi, melainkan hendak mencari harta terpendam dari suhengnya.
Maka ia lalu terpaksa bertindak keluar dari gerombol itu, dengan muka merah dan kepalan kertas tadi masih berada d tangannya.
Kebetulan sekali Bun Sam keluar di tempat yang diterangio oleh sinar lampu, maka Sian Hwa dapat melihat jelas wajah seorang pemuda yang tampan dan gagah, wajah yang tunduk kemerahan dan nampak malu malu sekali dan yang memegang kertas tulisannya yang di sambitkannya tadi.
Untuk sejenak gadis ini memandang dengan mata terbuka lebar.
Tadinya ia mengira bahwa yang akan muncul dari balik rumpun itu tentulah seorang laki laki kasar seperti biasanya muka seorang pencuri atau penjahat, sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa yang akan muncul adalah seorang pemuda remaja yang demikian tampan dan gagah nya, yang berdiri sambil menundukkan muka ke malu maluan!
"Siapa kau?
Mengapa malam malam masuk ke sini?
tanyanya, tetapi suaranya tidak segalak tadi.
"Mohon maaf sebanyaknya, nona. Aku...."
Bun Sam menjadi bingung karena kalau ia mengaku, tentulah rahasia suhengnya akan terbongkar dan ia tidak menghendaki hal ini.
Pikiran yang cerdik itu bekerja cepat, lalu disambungnya ucapannya yang terputus tadi.."Aku adalah seorang pelancong yang....
kesasar, nona.
Barusan aku.....
aku mendengar kau membaca sajak yang yang....
amat indah, sehingga tanpa mendapat izin aku lancang masuk ke sini.
Mohon kau memberi maaf sebanyak banyaknya, nona!"
Sian Hwa memandang dengan tajam dan pandangan matanya penuh selidik, ia juga bukan seorang gadis yang bodoh dan mendengar ucapan yang sopan santun dan merendah ini, ia sudah dapat menduga bahwa semua yang dikatakan tadi tentu bohong semata.
Akan tetapi, entah mengapa, melihat pemuda ini hatinya tertarik dan ia ingin sekali mengetahui lebih banyak tentang pemuda ini.
Apalagi tadi ia telah melihat betapa pemuda ini dengan mudah saja dapat menyambut sambitan kertasnya yang telah dikepal dan dilontarkan dengan lweekang yang kuat.
"Hm, jadi kau seorang perantau yang kesasar?"
Sian Hwa mengulang keterangan pemuda itu sambil memandang acuh tuk acuh.
"dan kau seorang terpelajar yang pandai membuat sajak, maka kau tertarik oleh sajak yang kubaca tadi?"
Karena sudah kepalang tanggung, Bun Sam mengangguk. Mukanya berseri karena ia dapat melepaskan diri dan keadaan yang amat tidak enak.
"Sekali lagi maafkanlah aku, nona. Aku adalah seorang dusun yang baru masuk kota. Sesungguhnya baru kali ini aku masuk ke kota raja, sehingga tidak tahu aturan. Maafkan kelancangaaku telah masuk ke sini."
"Tidak demikian mudah, kawan,"
Kata Sian Hwa dan kini gadis inipun melempar senyun, karena ia merasa geli melihat tingkah laku pemuda yang ia tahu berpura pura bodoh ini."Kau telah mencuri dengar sajakku dan juga mencuri masuk ke tamanku.
Karena kau adalah seorang terpelajar yang tentu pandai membuat sajak, maka sebelum kau membaca sebuah sajakmu, kau tak boleh pergi begitu saja dan tidak akan mudah mendapatkan maafku."
Bun Sam terkejut dan pura pura memperlihatkan muka ketakutan.
"Aduh, nona. Bagaimana kalau aku tidak dapat membuat sajak? Aku aku adalah seorang dusun yang bodoh. Pelajaranku masih amat dangkal!"
"Kalau tidak dapat berarti bahwa kau memang sengaja masuk untuk mencuri. Nah, kau bersajak lah atau kusuruh penjaga menangkapmu dan memasukkan kau dalam penjara!"
Celaka, pikir Bun Sam, akan tetapi hatinya berdebar girang.
Tak disangkanya bahwa ia akan mendapat kesempatan berlawan tutur dengan gadis yang makin lama makin menarik dan jelita ini.
Ia tidak takut kepada gadis ini, juga tidak takut apabila gadis ini memanggil para penjaga, akan tetapi lebih baik jangan membuat permusuhan dengan gadis yang semolek ini, apalagi karena ia dan suhengnya hendak mengambil harta terpendam.
Ia pernah mempelajari ilmu surat ketika ia masih berada di puncak Oei san, bahkan suhengnya banyak pula memberi petunjuk kepadanya.
Pernah ia menghabiskan tiga buku sejarah yang ditulis Oleh Yap Bouw sendiri di mana terdapat pula sajak sajak peperangan yang bersemangat.
Di antaranya masih ada yang diingat di luar kepalanya, maka ia lalu berkata.
"Baiklah, akan tetapi karena aku hanya seorang bodoh, harap nona jangan mentertawakan padaku kalau sajakku terdengar buruk dan kasar."
Ia lalu mengingat ingat, kemudian ia mendeklamasikan sajak yang diingatnya di luar kepala, yakni sajak dari seorang panglima gagah di zaman Sam kok.
"Bila golok telanjang berada di tanganku, dan pakaian perang menempel di tubuhku, aku bisa menjadi seorang manusia! Bila golokku berwarna merah, dan pakaian perangku berbau darah, aku merasa sehat gembira ! Napas dan tetes darah terakhir, kusediakan untuk tanah air!"
Sian Hwa bergidik."Ah, sajakmu mengerikan sungguh tidak suka aku mendengarnya."
Bun Sam tersenyum. Ia makin suka kepada gadis ini dan juga merasa betapa lucu sikap gadis yang pandai menyambit dengan tenaga lweekang, akan tetapi tidak suka akan sajak sajak perang ini.
"Mengapa kau terenyum? Kalau kau bermaksud kurang ajar...."
Kembali Sian Hwa meraba gagang pedangnya yang sudah disarungkannya kembali.
"Bagaimanakah aku berani berlaku kurang ajar, nona? Kau begini halus, begini peramah, begini lemah lembut dan pemurah, suka memaafkan seorang kelana yang tersasar, biar sampai matipun aku takkan berani berlaku kurang ajar. Akan tetapi.... aku terpaksa tersenyum karena kau memang lucu, nona. Kau membawa pedang dan tampak gagah seperti seorang ahli silat, akan tetapi kau merasa ngeri mendengar sajak perang."
Sian Hwa cemberut.
"Bodoh, aku buku merasa ngeri karena takut, hanya karena sajak itu tidak cocok dengan jalan pikiranku. Siapa orangnya yang demikian bodoh untuk memikirkan mati saja dalam hidupnya? Apakah hidup ini memang hanya untuk menanti datangnya maut?"
"Nah, itulah, noaa. Cocok sekali dengan pendapatku. Hidup tak perlu mengeluh, masih banyak jalan untuk mencari kebahagiaan. Biar ikan di airpun akan dapat merasai kebahagiaan hidupnya asalkan dia tidak mudah berkeluh kesah...."
Tiba tiba Bun Sam menahan ucapannya dan merasa betapa ia telah lancang sekali.
Ia melihat betapa gadis itu menatapnya dengan mata terbuka lebar maka tahulah bahwa dia telah menyinggung nyinggung bunyi sajak yang mengenai keadaan diri gadis itu.
"Hem, kau bukan orang biasa. Kaukira mataku buta, sehingga aku tidak tahu bahwa kau bukanlah seorang dusun sebagaimana yang kaukatakan? Kau tentu sudah lama masuk ke taman ini dan mengintai karena kalau baru saja kau masuk tentu aku telah mendengarmu. Kau tidak masuk karena tertarik oleh bunyi sajakku, Ayoh katakan! Siapa kau dan apa perlumu ke taman ini?"
Sebelum Bun Sam yang menjadi kebingungan itu sempat menjawab, terdengar suara dari arah bangunan gedung.
"Sian Hwa, dengan siapa kau bicara?"
Ucapan ini disambung oleh suara kerincingan yang riuh.
"Celaka, ayah datang dan kau tentu akan dibunuhnya!"
Gadis itu berbisik dengan wajah pucat.
Sebalum kedua orang muda itu dapat berbuat sesuatu, berkelebatlah bayangan dan suara kerincingan makin jelas terdengar dan tahu tahu di depan Bun Sam telah berdiri seorang pendek yang berpakaian perang dan banyak kerincingan di pasang pada pakaiannya ini.
Orang ini adalah Panglima Bucuci.
"Sian Hwa, siapa dia ini ?"
Bucuci bertanya dengan kening dikerutkan. Gadis itu tentu saja tidak mau tercemar namanya dalam pandangan ayah tirinya, maka ia menjawab.
"Siapa tahu, ayah? Dia tahu tahu telah bersembunyi di dalam taman dan ku baru saja menegur dan bertanya kepadanya ketika ayah datang!"
"Bangsat, kau tentu maling ya? Berani sekali kau masuk ke dalam tamanku. Apakah kau mempunyai nyawa lebih dan satu?"
Sambil berkata demikian, dengan amat tiba tiba Bucuci bergerak maju sambil memukul kepala pemuda itu.
Diam diam hati Sian Hwa menjerit karena ia menaruh hati kasihan terhadap pemuda itu dan biarpun ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu mengerti ilmu silat, akan tetapi bagaimana dapat menahan serangan ayah tirinya yang mempunyai ilmu silat yang amat ganas?
Akan tetapi segera gadis itu dan ayah tirinya menjadi heran sekali ketika melihat betapa dengan hanya menggoyangkan sedikit lehernya, Bun Sam telah dapat menghindarkan diri dari serangan ke arah kepalanya.
"Ciangkun...... maaf.... siauwte tidak sengaja masuk ke taman ini....."
Katanya dengan bingung, karena sesungguhnya perkembangan kedadaan yang amat buruk ini tidak diingini sama sekali oleh Bun Sam.
"Bangsat muda, kau memiliki kepandaian juga, maka berani lancang masuk ke sini, ya? Nah, terimalah ini !"
Kembali perwira Mongol yang lihai ini maju dan melakukan serangannya yang ganas dan cepat.
Bun Sam melihat betapa lawannya ini menggunakan ilmu pukulan yang menyerupai ilmu silat Siauw kin na jiu hwat, yakni ilmu silat yang berdasar tangkapan dan cengkeraman (semacam Jiu yit su) ia cepat mengelak ke belakang dan mempergunakan ginkangnya untuk menjauhi penyerangan itu.
Oleh karena tahu bahwa panglima ini adalah ayah dari gadis yang menarik hatinya, ia tidak mau membalas serangan lawan dan hanya mengelak ke sana ke mari ketika serangan Bucuci makin menghebat.
Kini perwira itu tidak hanya mempergunakan sepasang tangannya saja untuk mencengkeram dan menangkap, bahkan menambah serangannya dengan tendangan tendangan maut yang amat berbahaya.
Akan tetapi, alangkah herannya ketika tubuh pemuda itu tiba tiba lenyap dari pandangan matanya dan berkelebatan ke sana ke mari diantara sambaran tangan kakinya.
Juga Sian Hwa menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa pemuda yang kelihatan bodoh itu ternyata memiliki ginkang yang agaknya tidak akan kalah oleh kepandaiannya sendiri.
Bucuci makin marah.
Tiba tiba ia berseru keras sekali dan kerincingan yang tadinya masih berbunyi riuh, kini tidak berbunyi sama sekali, tanda bahwa ia telah mengerahkan seluruh ginkang dan lweekang nya untuk menyerang lawannya yang muda itu.
Kalau tadi Bucuci hanya berusaha untuk menangkap hidup hidup pemuda itu, kini ia menyerang dengan pukulan pukulan mematikan.
Akan tetapi, jangankan merobohkan pemuda itu, bahkan sekali pernah ia berhasil menangkap pergelangan lengan Bun Sam akan tetapi dengan licin melebihi belut tangan yang dipegangnya itu dapat terlepas dengan sekali betot saja.
Itulah Ilmu Sia kut hwat (Melepaskan Tulang Melemaskan Tubuh) tingkat tinggi, sehingga pemuda ini dapat membuat bagian bagian tubuh nya menjadi licin seperti belut.
"Ciangkun, maafkan siauwte yang lancang, Siauwte tidak berani melawan lebih lanjut,"
Kata Ban Sam dan tiba tiba tubuhnya berkelebat keatas tembok dan lenyap di dalam gelap.
"Sian Hwa, kejarlah dia!"
Teriak Bucuci kepada anaknya karena ia maklum bahwa ilmu kepandaian anaknya ini sekarang sudah lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.
Apalagi dalam hal ginkang, terang bahwa Sian Hwa jauh lebih pandai.
Akan tetapi gadis itu hanya melompat ke atas tembok dan ketika melihat bayangan Bun Sam dan bayangan seorang lagi yang lebih besar berlari jauh, ia hanya memandang.
Untuk apa aku harus mengejarnya?
Demikian pikir gadis ini dan semacam perasaan aneh terhadap pemuda itu timbul di dalam hatinya ia melompat turun kembali dan ketika ayah tirinya bertanya, ia tetap tidak bercerita terus terang dan hanya mengatakan bahwa tahu tahu pemuda itu telah bersembunyi di dalam taman dan tepergok olehnya.
Sementara itu, dengan gerak jari tangannya, Yap Bouw menegur adik seperguruannya.
"Bun Sam, kau terlalu sembrono. Mengapa kau memancing keributan di dalam taman dengan Panglima Bucuci? Dengan adanya keributan itu Panglima Bucuci tentu menjadi curiga dan makin sukarlah usaha untuk menggali harta itu."
Bun Sam hanya menundukkan mukanya dan setelah menghela napas, dengan sepasang matanya masih membayangkan kecantikan Sian Hwa, ia berkata.
"Maaf, suheng. Sebetulnya bukan maksud ku untuk memancing keributan. Aku kepergok oleh gadis itu dan setelah aku mulai berhasil membohonginya dan mencari alasan mengapa aku berada di situ, tiba tiba datang ayahnya yang galak dan serta merta menyerangku kalang kabut. Sayang sekali, pecahlah rahasiaku, karena tadinya aku hendak merahasiahkan bahwa aku mengerti ilmu silat. Siapa tahu perwira itu menyerang tanpa memberi kesempatan kepadaku, sehingga terpaksa aku angkat kaki. Oleh karena sudah terlihat oleh seorang panglima besar seperti Bucuci terpaksa Bun Sam dan Yap Bouw bermalam di dalam sebuah Kuil Buddha, tidak berani bermalam di Hotel, takut kalau kalau akan terlihat oleh mata mata dan menimbulkan keributan belaka. Menurut usul Yap Bouw, mereka bergerak dalam beberapa hari ini, menanti sampai taman bunga di belakang gedung Pauglima Bucuci itu sunyi dan tuan rumah tidak menjaga dengan kuat lagi. Bun Sam setuju saja atas usul suhengnya karena keadaan di kota raja cukup menarik dan ramai, sehingga setiap hari ia dapat melancong dan melihat lihat keadaan kota raja yang amat indah. Akan tetapi Yap Bouw tidak pernah keluar di waktu siang, hanya bersembunyi saja di dalam kuil karena ia takut kalau kalau keadaannya akan menarik dan menimbulkan kecurigaan orang. Apalagi ia sama sekali tidak tertarik oleh pemandangan di kota raja, karena ia tahu bahwa pemandangan itu hanya akan menimbulkan kemarahan dan keharuan di dalam hatinya, melihat betapa sekarang kota raja menjadi ibu kota dari pemerintah asing! Baik Bun Sam maupun Yap Bouw, sama sekali tidak pernah mengira bahwa pada waktu itu seorang gadis sedang berada di kota raja juga, seorang gadis yang masih amat muda akan tetapi yang memiliki keberanian luar biasa! Dan selain gadis yang bukan lain dari Lan Giok ini masih ada seorang pemuda lagi yang juga sedang bersiap siap melakukan sebuah tugas yang akan menggemparkan kota raja dan pemuda ini adalah Thian Giok, kakak dari Lan Giok ! Sebagaimana telah dituturkan sedikit di bagian depan, Lan Giok adalah adik kembar dari seorang pemuda yang bernama Thian Giok, murid dari Mo bin Sin kun juga. Berbeda dengan Lan Giok yang lincah dan jenaka, Thian Giok adalah seorang pemuda yang pendiam dan biarpun usianya juga baru empatbelas tahun lebih, numun ia nampak lebih matang dan lebih luas pandangannya. Ia menerima tugas dari gurunya untuk melenyapkan Toa to Hek mo (Setan Hitam Bergolok Besar) seorang tokoh Ang bi tin yang dahulunya terkenal sebagai seorang perampok besar. Sebagaimana para pembaca barangkali masih ingat, di dalam
Jilid terdahulu telah dituturkan bahwa ayah Bun Sam, yakni Song Hak Gi, terbunuh oleh keroyokan Toa to Hek mo dan kawan kawannya pula!
Mo bin Sin kun adalah pembencii Ang bi tin, terutama sekali ia membenci sampai ke tulang tulangnya orang orang Han yang membantu Ang bi tin, karena orang orang macam ini dianggapnya orang orang pengkhianat yang tidak mundur untuk mengorbankan nyawa dan mengalirkan darah bangga sendiri demi kepentingan orang orang Mongol.
Oleh karena itu, sekalian untuk memberi kesempatan kepada muridnya mencari pengalaman ia memperdalam kepandaian, ia menyuruh Thian Giok membunuh Toa to Hek mo dan menyuruh Lan Giok membunuh Ngo jiauw eng.
Tugas Thian Giok dianggapnya lebih ringan karena memang Toa to Hek mo bukanlah lawan berat, sebaliknya tugas Lan Giok lebih berat.
Selain Ngo jiauw eng adalah murid dari Bouw Ek Tosu, orang tertua dan Sin beng Ngo hiap, juga Lan Giok dianggapnya masih hijau.
Oleh karena itu.
Diam diam Mo bin Sin kun membayangi perjalanan murid perempuan ini.
Dua malam kemudian setelah Bun Sam bertemu dengan Sian Hwa di taman bunga gedung panglima Bucuci, terjadi kegemparan pertama di kota raja.
Toa to Hek mo, yang kini bekerja sebagai seorang touwtong juga di kota raja terdapat mati di dalam kamarnya.
Dadanya pecah terkena pukulan yang hebat sekali dan penjahat tua ini maei tanpa terdengar suaranya oleh orang serumah.
Tentu saja kota raja menjadi gempar.
Terbunuhnya seorang pembesar militer, seorang bekas tokoh Ang bi tin pula, tentu saja menarik perhatian orang, Bucuci yang mendengar ini, lalu menghubungkan kedatangan pemuda di malam hari dalam tamannya itu, maka ia lalu menyebar mata mata dan mempersiapkan penjagaan di dalam kota raja untuk menangkap pembunuh itu.
Oleh karena tidak ada seorangpun yang melihat pembunuh touwtong Toa to Hek mo, memang agak sukar untuk mencari pembunuhnya.
Akan tetapi Panglima Bucuci memerintahkan semua kaki tangan dan mata matanya untuk menyelidiki dan mengikuti semua orang yang dianggap asing yang kebetulan berada di kota raja.
Pada keesokan harinya, ketika Bun Sam sedang terjalan jalan, ia mendengar warta yang mengejutkan ini.
Ia merasa heran juga karena siapakah orangnya yang demikian beraninya, membunuh seorang pembesar militer di kota raja?
Ia maklum bahwa di kota raja banyak terdapat panglima panglima dan perwira perwira yang tangguh, banyak terdapat siwi siwi (pegawal kaisar) yang berkepandaian tinggi.
Diantaranya Panglima Bucuci dan Jenderal Liem yang berjuluk Pat jiu Giam ong dan yang memiliki kepandaian amat tinggi.
Maka, siapakah orangnya yang demikian berani melakukan perbuatan yang seakan akan merupakan tantangan terhadap para panglima kerajaan?
Ketika ia tiba di sebuah perempatan yang ramai ia melihat seorang pemuda yang tampan berjalan sambil menundukkan mukanya.
Pemuda itu memakai pakaian seperti seorang kacung biasa, akan tetapi mata Bun San yang tajam segera mengenalnya.
Setelah ia memperhatikan dengan seksama diam diam ia menjadi geli sekali.
Ah.diantara muka seribu orang manusia, ia masih akan dapat mengenal muka ini, pikirnya.
Apa apaan dia memakai pakaian seperti itu?
"Lan Giok, kau sedang berbuat apakah di sini?"
Tegurnya tiba tiba untuk meng___ orang sambil menyentuh pundak pemuda tampan itu dari belakang.
Benar saja seperti yang diduganya, pemuda itu menengok dengan kaget sekali dan memberi reaksi yang kontan.
Sambil memiringkan tubuh pemuda itu dapat mengelak dari sentuhan tangan Bun Sam, lalu mengerutkan kening dengan pandangan matanya yang amat tajam.
"Siapakah kau? Aku tidak kenal padamu!"
Kata pemuda itu dengan penuh kecurigaan. Bun Sam tertawa dan merasa makin geli hatinya.
"Ah, Lan Giok, orang lain boleh kau permainkan akan tetapi apakah kaukira aku tak dapat mengenalmu? Ha, ha, anak nakal, biarpun kau akan memakai pakaian pengemis atau kepalamu akan kau gunduli, aku pasti akan dapat mengenal mukamu yang jenaka! Eh, Lan Giok, kau bersama siapa datang ke sini? Mana suthai??"
Pemuda itu memandang makin heran.."Aku bukan Lan Giok, aku tidak kenal padamu!"
Sambil berkata demikian ia lalu berjalan pergi.
Bun Sam terbelalak memandang, lalu menyusulnya ia tetap yakin bahwa pemuda itu tentu Lan Giok yang memakai pakaian laki laki dan entah mengapa gadis cilik itu berlaku seolah olah tidak mengenalnya.
Tiba tiba ia menjadi pucat karena teringat akan pembunuhan yang terjadi malam tadi.
Mungkinkah Lan Giok yang melakukannya?
"Lan Giok, tunggu....!"
Serunya dan dua orang muda ini lalu berkejaran, menimbulkan keheranan pada banyak orang yang berlalu limas di tempat itu.
Tiba tiba diantara banyak orang yang berada di situ, melompat lima orang yang berpakaian biasa, akan tetapi yang sesungguhnya adalah lima orang siwi (pegawai kisar) yang berkepandaian tinggi.
Memang seperti telah dituturkan di depan, selelah terjadi pembunuhan ini tidak saja fihak keamanan kota yang menyebar mata mata, juga duri pembesar militer seperti Panglima Bucuci dan juga fihak Gi lim kun (Pasukan Pengawal Istana) mengadakan penjagaan secara diam diam dan memasang mata mata.
Tentu saja segala peristiwa yang mencurigakan tidak terlepas dari pengawasan para penyelidik ini dan pertemuan antara pemuda dan Bun Sam itu juga menimbulkan kecuriggan lima orang siwi yang bertugas di situ.
Yang terutama mereka curigai tentu saja pemuda berpakaian kacung biasa ini.
"He, kau! berhenti dulu!"
Lima orang siwi itu berteriak sambil mengejar pemuda itu.
Karena lima orang itu mengulurkan tangan dia hendak mempergunakan Ilmu Eng jiauw kang untuk mencengkeram pundaknya dan menangkapnya, pemuda itu cepat membalikkan tubuhnya dan sekali kedua tangannya didorongkan ke depan, lima orang itu berteriak kesakitan dan jatuh terjengkang semuanya.
Bun Sam tersenyum.
Hm, Lan Giok telah mempergunakan Soan hong pek lek jiu untuk merobohkan limaorang yang hendak menangkapnya itu.
"Lan Giok, mari kau ikut lari bersamaku. Aku dan suheng mempunyai tempat yang baik sekali !"
Ajaknya sambil melompat ke dekat pemuda itu.
Sementara itu, seruan seruan para siwi itu telah menarik perhatian dua orang pembesar yang sedang duduk berunding di sebuah restoran besar.
Mereka ini adalah Panglima Bucuci sendiri bersama seorang komandan pasukan Gi lim kun yang bernama Ang Seng Tong yang memiliki kepandaian tinggi, karena dia adalah seorang yang telah menamatkan pelajaran ilmu silat di puncak Kun lun san.
Kedua orang pembesar ini tengah membicarakan urusan pembunuhan atas diri Toa to Hek mo dan dengan penuh perhatian Ang Seng Tong mendengarkan penuturan Bucuci tentang seorang pemuda yang mengunjungi taman bunganya seperti seorang maling pada dua hari yang lalu.
"Anak itu kepandaiannya hebat sekali,"kara Bucuci antara lain.
"coba saja bayangkan, aku sendiri telah mengerahkan kepandaianku untuk menangkapnya, akan tetapi gagal dan ia masih dapat melarikan diri dengan cepat sekali! Agaknya kepandaiannya itu tidak di sebelah bawah kepandaian puteriku atau kepandaian Liem Swee putera Liem Goan Swe sekalipun!"
Ang Seng Tong nampak terkejut mendengar keterangan ini.
"Apakah puteri mu tidak mengenal nya?"
"Tidak, baru malam itu dia melihatnya."
"Hm, sungguh aneh. Mungkin juga pembunuh Toa to Hek mo adalah pemuda yang memasuki tamanmu itu, akan tetapi mengapa ketika kau mencoba untuk menangkapnya, puterimu tidak membantumu?"
Ang Seng Tong memandang kepada wajah Bucuci dengan tajam sekali.
Tiba tiba muka pembesar ini berobah.
Baru sekarang ia teringat akan hal itu.
Benar benar aneh, mengapa Sian Hwa tidak membantunya menangkap pemuda itu?
Kalau Sian Hwa membantu, belum tentu pemuda itu dapat melarikan diri!
Pada saat itulah Bucuci dan Ang Seng Tong mendengar suara ribut ribut.
Mereka sedang duduk di ruang loteng rumah makan itu, maka ketika mereka menjenguk ke bawah, mereka melihat betapa seorang pemuda tampan telah memukul roboh lima orang anggota siwi!
Tentu saja Ang Seng Tong yang melihat anak buahnya dirobohkan orang, menjadi bukan main marahnya.
Akan tetapi Bucuci lebih tertarik kepada pemuda yang lain lagi, yang juga berada di iempat itu.
"Dia itulah orang yang datang ke tamanku!"
Serunya kemudian.
Baca Juga: Si Tangan Sakti 8
Baca Juga: Asmara Berdarah 11