Eps 6 Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo.
OuwKwan Lok terkejut sekali dan melompat jauh ke belakang masuk ke dalam rumah induk di Pulau Naga itu.
Tin Han tentu saja melompat hendak mengejar masuk ke rumah itu, akan tetapi Siang Koan Bhok menghadang di depannya.
"Perlahan dulu! Tanpa seijin kami sebagai tuan rumah, siapapun dilarang memasuki rumah kami!"
Kata kakek itu sambil melintangkan dayung bajanya. Tin Han mengerutkan alisnya lalu dia mengambil pedangnya yang tadi terlepas dari pegangannya.
"Locian-pwe, aku hendak memasuki rumahmu karena hendak mengejar si jahat Ouw Kwan Lok! Semua orang kini tahu bahwa yang menyamar sebagai Hek-tiauw Eng hiong dan membunuhi para pendeta Siauw-lim-pai dan para to-su Kun-lun-pai adalah si jahat Ouw Kwan Lok! Untuk membersihkan namaku aku harus mengejar dan menangkapnya!"
"Aku tidak perduli akan hal itu. Yang penting, Ouw Bengcu adalah tamu kami dan kami tidak mengijinkan siapa saja memasuki rumah kami membikin kacau!"
Siang Koan Bhok berseru dengan kukuh.
"Sian-cai, Tung-hai-ong bicara secara tidak pantas. Ouw Kwan Lok itu jelas adalah orang jahat yang telah membunuh banyak orang, dan engkau masih hendak melindunginya?"
Teriak Im Yang Seng-cu tidak sabar lagi.
"Im Yang Seng-cu, ini adalah urusan pribadiku. Aku hendak melindungi siapa saja yang berada di rumahku adalah hak pribadiku, tidak boleh dilanggar oleh siapapun juga."
"Omitohud, kalau begitu jelas bahwa Siang Koan Bhok bersekutu dengan Ouw Kwan Lok untuk mengadu domba di antara kami. Kabarnya kalian telah menjadi antek Mancu, bersekutu dengan kaum sesat dan memusuhi kaum pendekar. Begitukah?"
Kata In Kong Thai-su.
"Hei, In Kong Thai-su, jangan bicara sembarangan. Kami adalah rakyat jelata yang tunduk kepada pemerintahan yang berkuasa, tentu saja kami membantu dan memihak pemerintah. Apakah engkau akan memihak kaum pemberontak? Kalau begitu, kami berhak untuk menangkap kalian para pemberontak!"
Tin Han lalu memutar tubuh bicara dengan nyaring kepada semua orang yang hadir.
"Saudara-saudara sekalian! Kalian hari ini diundang oleh berg-cu baru ke sini hanya untuk dibujuk menjadi antek Mancu dan terseret dalam perbuatan jahat dan curang mereka. Keadaan itu sungguh berlawanan dengan sikap kita orang gagah yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, dan tentu saja di antara kita tidak ada yang sudi menjadi antek penjajah Mancu. Sudah jelas bahwa Ouw Kwan Lok yang mengangkat diri sendiri menjadi beng-cu hendak membelokkan perjuangan para pendekar, bahkan mengadu domba dengan membunuhi para pendeta yang tidak berdosa. Kita harus menangkap dan mengadili orang yang demikian jahat!"
Ucapan Tin Han ini disambut dengan gemuruh oleh para pendekar yang hadir. Akan tetapi Siang Koan Bhok berteriak nyaring.
"Saudara-saudara, kita bukan pemberontak. Sudah sewajarnya kita membantu pemerintah dan marilah kita membantu pasukan pemerintah untuk membasmi pemberontak ini!"
Tak dapat dicegah lagi, kedua pihak sudah saling serang dan terjadilah pertempuran hebat di tempat itu.
Anak buah Pulau Naga bangkit dan melakukan perlawanan terhadap para pendekar dan dalam pertempuran ini anak buah Te-tok pang yang berjumlah seratus lebih juga memegang peran utama, perperang melawan anak buah Pulau Naga.
Di pihak Siang Koan Bhok ikut mengamuk Yauw Seng Kun, Ban Tok Mo-li, Ma Huan, Hek-bin Mo-ko, Sin-ciang Mo-kai, Thian-te Mo-ong.
Mereka ini adalah orang-orang yang berilmu tinggi, masih ditambah lagi belasan orang kang-ouw golongan sesat yang juga sudah menjadi sekutu mereka.
Di pihak para pendekar terdapat nenek Te-tok Kui-bo, Siauw Leng Ci, Song Thian Lee, Kwee Ciang, Kwe Li Hwa, Thio Hui San, Liu Ceng, In Kong Thai-su, Hui Sian Hwe-sio, Im Yang Ceng-cu, Cia Tin Siong, Cia Tin Han, Cia Kun dan isterinya, Cia Hok dan Cia Bhok.
Tak dapat dicegah lagi terjadi pertempuran yang hebat.
Song Thian Lee yang maklum bahwa di antara mereka semua itu yang paling lihai adalah Siang Koan Bhok, maka begitu pertempuran berlangsung, dia sudah menerjang majikan Pulau Naga itu dengan Jit-goat-kiam (Pedang Matahari dan Bulan).
Sementara itu, tadi ketika menunggang burung rajawali hitam, Tin Han melihat betapa Lee Cin mengejar Ouw Kwan Lok lalu lenyap di tengah padang rumput.
Dia amat mengkhawatirkan nasib kekasihnya itu, maka melihat semua orang sudah bertanding, dia lalu lari ke arah padang rumput itu untuk mencari Lee Cin.
"Cin-moi ...... !"
Dia mengerahkan khi-kang dan berseru memanggil.
Suaranya bergema di seluruh permukaan padang rumput.
Namun tidak terdengar jawaban.
Dia lari ke tengah padang rumput dan berulang kali berteriak memanggil Lee Cin.
Akhirnya, dia mendengar suara yang lapat-lapat di sebelah depan.
"Han-ko......... !� Bagaimanakah dengan keadaan Lee Cin yang terjeblos ke dalam perangkap dan terjatuh ke dalam lubang sumur itu? Sumur itu dalam sekali dan Lee Cin yang sedang melayang ke bawah itu teringat bahwa ia masih memegang pedangnya. Maka ia mengerahkan sinkangnya membuat pedang itu menjadi kaku dan menusuk ke dinding sumur.
"Capppp......... !"
Pedang itu menusuk dinding sumur sampai ke gagangnya dan kini Lee Cin bergantung kepada gagang pedangnya itu.
Ia tidak dapat melihat ke bawah karena gelap, akan tetapi ia mendengar suara berdesis dan mencium bau amis!
Tahulah ia bahwa di dasar sumur itu terdapat banyak ular berbisa!
Ia adalah seorang pawang ular, tentu saja tidak takut menghadapi ular-ular itu.
Akan tetapi dalam keadaan bergantung seperti itu ia tidak berdaya.
Ia mengerahkan tenaganya dan terus bergantung di gagang pedangnya.
Akhirnya ia mendengar seruan memanggil namanya itu.
Seruan itu demikian kuat sehingga terd�ngar olehnya yang berada dalam sumur.
Ia tidak ragu lagi bahwa itu tentu suara Tin Han, maka iapun segera menjawab dan memanggil nama pemuda itu.
Hatinya merasa lega sekali karena akhirnya kekasihnya datang mencarinya.
"Cin-moi, engkau di situ?"
Terdengar kini suara Tin Han dari atas sumur.
"Tin Han koko, aku di sini, bergantung pada pedangku!"
Teriak Lee Cin ke atas.
"Tunggu sebentar, aku mencari sesuatu untuk menarikmu keluar!"
Tin Han lalu mencari-cari dengan matanya.
Akan tetapi di padang rumput dan hutan di depan, bagai mana dia akan dapat menemukan tali yang cukup panjang untuk diulurkan ke bawah?
Tiba-tiba wajahnya berseri ketika dia melihat serumpun bambu yang panjang.
Cepat dia menghampiri, dengan pedangnya dia menebang sebatang pohon bambu yang paling panjang, lalu menyeret batang bambu itu ke dekat sumur.
"Cin-moi, aku telah menemukan bambu, akan kujulurkan ke bawah. Hati-hati dan tangkap bambunya!"
Dengan perlahan dia menurunkan batang bambu ke bawah sampai dia merasa bambu itu tertahan dari bawah. Lee Cin menangkap ujung bambu.
"Cin-moi, sudah siapkan engkau untuk naik ke atas ?"
"Nanti dulu, Han-ko. Aku mencabut dulu pedangku!"
Lee Cin yang kini sudah memanjat batang pohon itu lalu mengerahkan tenaganya untuk mencabut Ang-coa-kiam dari dinding sumur.
"Aku sudah siap, Han-ko!"
Katanya. Ia sendiri memanjat naik dan Tin Han menarik bambu ke atas sehingga sebentar saja Lee Cin sudah tiba di luan sumur.
"Han-ko.....!� "Cin-moi, engkau selamat .........!� Dengan girang sekali Tin Han merangkul gadis itu dan sampai beberapa lamanya mereka saling berangkulan. Lee Cin merasa lega sekali, bukan hanya karena ia sudah ditolong keluar dari bahaya maut, melainkan juga melihat betapa pemuda ini sama sekali tidak kelihatan dendam atas perlakuannya tempo hari.
"Han-ko, di bawah sana penuh ular berbisa,"
Kata gadis itu bergidik.
"Sungguh berbahaya. Ouw Kwan Lok itu licik sekali, sehingga engkau dapat terjebak.
"Apakah dia sudah dapat ditangkap atau dibunuh, Hanko?"
Tanya Lee Cin yang mendengar suara gaduh dari pertempuran itu.
"Dia licik, dia melarikan diri dan Siang Koan Bhok mengerahkan orang-orangnya untuk melawan kita."
"Hemm, kalau begitu, tunggu, Han ko!"
Lee Cin mengeluarkan sulingnya, meniup sulingnya dengan nyaring.
Terdengar suara melengking-lengking aneh dan tiba-tiba dari dalam sumur itu merayap naik banyak sekali ular besar kecil dan banyak yang berbisa.
Bahkan dari arah hutan berdatangan pula ular-ular besar kecil.
"Aku dapat menggunakan ular-ular ini untuk membantu kita dalam pertempuran!"
Kata Lee Cin dan bersama Tin Han ia lalu setengah berlari-lari menuju ke tempat pertempuran, diikuti oleh ular-ular itu yang digiring suara suling yang masih ditiup Lee Cin.
Gegerlah para anak buah Pulau Naga ketika tiba-tiba mereka diserang banyak ular.
Keadaan menjadi kacau dan pihak Pulau Naga terdesak, banyak di antara mereka yang tewas.
Siang Koan Bhok marah sekali dan dengan sepenuh tenaga dia mengayun dayungnya menghantam Song Thian Lee.
Namun pendekar ini menangkis dengan pedangnya, kemudian tangan kirinya mendorong dengan sepenuh tenaga Sin-kang Thian-le ke arah dada datuk itu.
Siang Koan Bhok maklum akan bahaya yang mengancam dirinya, akan tetapi dia tidak dapat mengelak lagi dan terpaksa dia melepaskan tangan kanan dari dayungnya dan menyambut dorongantangan Thian Lee itu dengan Ban-tok-ciang.
"Wuuuuuuttt......... dess........!!� Tubuh Thian Lee terdorong mundur tiga langkah akan tetapi tubuh Siang Koan Bhok terpelanting dan terhuyung, lalu dia muntahkan darah. Tiba-tiba terdengar suara tambur dan canang. Thian Lee terkejut karena dia mengenal suara itu yang berarti bahwa ada pasukan pemerintah yang sedang mendatangi tempat itu. Sebagai seorang bekas panglima segera dia dapat melihat bahaya yang mengancam para pendekar dan cepat pula dia dapat mengambil keputusan untuk menyelamatkan mereka. Dia mengerahkan khi-kangnya dan berseru kepada mereka semua.
"Saudara-saudara para pendekar. Cepat mundur dan melarikan diri ke tempat perahu cepat!"
Mendengar ini, para pendekar itu menjadi terkejut, akan tetapi mereka percaya sepenuhnya kepada bekas Panglima yang gagah perkasa itu.
Maka setelah mendesak pihak Pulau Naga, mereka lalu melarikan diri ke pantai.
"Cepat naik perahu dan pergi meninggalkan pulau ini!"
Kembali Thian Lee berseru nyaring.
Tin Han dan Lee Cin juga sudah tiba di situ dan Tin Han segera mengerti akan maksud Thian Lee mengajak mereka mundur.
Memang dari tempat tinggi dia dapat melihat pasukan pemerintah yang ratusan orang jumlahnya sedang menuju ke tengah pulau!
Tin Han juga membantu Thian Lee berteriak-teriak memberi peringatan kepada mereka yang bertempur.
Untung bahwa pihak Pulau Naga sudah terdesak sehingga ketika para pendekar melarikan diri, mereka tidak melakukan pengejaran.
Ketika akhirnya pasukan pemerintah yang datang membantu pihak Pulau Naga tiba di situ, para pendekar sudah tiba di pantai dan mereka mempergunakan perahu-perahu untuk melarikan diri.
Tin Han dan Lee Cin berada dalam satu perahu bersama.
Te-tok Kwi-bo dan puterinya, Siauw Leng Ci.
Juga Song Thian Lee berada di situ.
Tin Han dan Thian Lee berdua mendayung perahu itu cepat-cepat , bersama para pelarian yang lain, menuju ke daratan.
Mereka berdua mengerahkan tenaga sin-kang mereka sehingga sebentar saja mereka sudah tiba di pantai daratan.
Mereka berlompatan keluar.
"Sungguh berbahaya sekali,"
Kata Song Thian Lee.
"Mereka benar-benar telah menjadi antek penjajah Mancu dan telah bersekutu sehingga demikian cepat mendapat bala bantuan."
"Untung ada engkau yang pernah menjadi panglima, Song-sicu. Kalau tidak kita semua tentu akan terkurung di pulau itu dan tidak mudah meloloskan diri,"
Kata Te-tok Kuibo.
"Akan tetapi mulai sekarang aku akan lebih gigih memimpin anak buahku untuk memusuhi pemerintah Mancu."
"Sayang aku tidak dapat menangkap Ouw Kwan Lok,"
Kata Tin Han penuh penyesal.
"Lain waktu masih banyak kesempatan, Han-ko,"
Kata Lee Cin menghibur. Te-tok Kui-bo mengerutkan alisnya melihat sikap mesra Lee Cin kepada Tin Han.
"Cia Tin Han, kita harus menunggu sampai keluargamu tiba di sini. Aku tadi melihat mereka lengkap di pulau, kebetulan sekali karena aku segera akan membicarakan urusan perjodohanmu dengan Leng Ci!"
Ucapan ini dikeluarkan dengan nyaring sehingga terdengar oleh Lee Cin dan Thian Lee.
Mendengar ini, Thian Lee terkejut.
Dia tahu bahwa Tin Han dan Lee Cin saling mencinta, akan tetapi mengapa ketua Te-tok-pang itu berkata demikian, bicara tentang perjodohan Tin Han dengan puterinya?
Lebih-lebih Lee Cin yang mendengar ucapan itu.
Wajahnya tiba tiba berubah pucat dan matanya terbelalak memandang kepada Tin Han penuh pertanyaan.
Wajah Tin Han berubah merah sekali.
"Aih, Lo-cian-pwe, sungguh saya belum memikirkan tentang perjodohan harap lo-cian-pwe jangan bicara tentang perjodohan. Saya belum siap untuk mengikatkan diri dengan perjodohan!"
"Apa katamu? Dulu engkau mengatakan bahwa urusan perjodohan tergantung dari orang tuamu, sekarang kenapa bicara begini?"
"Aku juga tidak tergesa-gesa menikah, Tin Han. Cukup kalau kita bertunangan lebih dulu,"
Kata Siauw Leng Ci dengan polos.
Wajah Tin Han menjadi semakin merah dan dia menjadi bingung sekali ketika melirik kepada Lee Cin dan melihat wajah gadis itu pucat dan matanya basah!
"Tidak .....
tidak, bertunanganpun tidak.
Saya belum bersedia!"
Jawahnya kukuh.
Dia merasa menyesal mengapaketika mereka bicara tentang perjodohan dulu, tidak ditolaknya saja dengan alasan bahwa dia telah mempunyai seorang calon.
Thian Lee memandang kepada Lee Cin dengan hati penuh iba.
Diapun mendongkol sekali melihat sikap Tin Han yang dianggapnya tidak tegas itu.
Karena dalam hatinya dia membela Lee Cin, diapun segera berkata dengan suara tegas.
"Saudara Cia Tin Han, seorang laki-laki haruslah bersikap tegas dan tidak mencla-mencle. Apa lagi dalam memutuskan urusan pernikahan yang akan mengikatmu selama hidup. Menghacurkan hati seorang gadis sungguh merupakan tindakan pengecut!"
Wajah Tin Han menjadi pucat mendengar ini.
Dia dapat mengerti bahwa Song Thian Lee dahulunya seorang pemuda yang menjadi pilihan hati Lee Cin, akan tetapi karena Thian Lee sudah mencinta seorang gadis lain maka Lee Cin juga melepaskannya.
Kemudian Lee Cin jatuh cinta kepadanya seperti juga dia mencinta gadis itu.
Tentu saja dia memilih Lee Cin dari pada Leng Ci, akan tetapi dia sudah terlanjur mengatakan bahwa urusan perjodohan tergantung kepada orang tuanya!
"Lo-cian-pwe,"
Katanya kepada Te-tok Kui-bo.
"sesungguhnyalah bahwa saat ini aku tidak mau bicara tentang perjodohan. Musuh besarku, Ouw Kwan Lok, belum dapat kutangkap untuk membersihkan nama baikku."
"Ah, itu mudah saja Tin Han. Setelah engkau menjadi calon mantuku, berarti engkau bukan orang lain.. Aku dan Leng Ci tentu akan membantumu sampai engkau dapat membasmi Ouw Kwan Lok!"
Tin Han merasa terdesak dan pada saat itu, sebuah perahu mendarat dan kebetulan sekali penumpangnya adalah keluarga Cia! Ketika isteri Cia Kun melihat Tin Han di situ, ia segera memanggil.
"Tin Han.......... !� Tin Han segera menghampiri dan ikut menarik perahu itu ke daratan. Keluarga itu tampak gembira melihat Tin Han dalam keadaan selamat pula. Te-tok Kui-bo segera menghampiri mereka dan menegur keluarga itu. Dengan ramah ia lain memanggil mereka.
"Cia Kun, Cia Hok dan Cia Bhok, apakah kalian sudah lupa kepadaku?"
Melihat nenek bertongkat kepala naga ini tentu saja keluarga itu menjadi girang. Nenek ini adalah sahabat baik dari ibu mereka, bahkan watak mereka juga mirip.
"Bibi Siauw!"
Kata Cia Kun. Isterinya juga menghampiri dan mereka semua memberi hormat kepada nenek itu.
"Aduh, semua keluarga berkumpul kalau begini. Sayang sekali ibu kalian telah lebih dulu meninggal! Dan sayang sekali bahwa tadi kita tidak sempat membasmi para antek Mancu. Akan tetapi anak buahku merobohkan pihak lawan yang lumayan juga banyaknya, walaupun di pihak kami juga telah tewas belasan orang,"
Kata nenek itu sambil memandang kepada anak-buahnya yang sudah berkumpul semua tak jauh dari situ.
"Bibi Siauw sejak dahulu bersemangat besar sekali,"
Memuji Cia Kun.
"Tentu saja. Eh, perkenalkan ini anak perempuanku bernama Siauw Leng Ci,"
Katanya sambil menuding kepada gadis cantik itu.
Keluarga Cia memandang heran karena setahu mereka nenek ini tidak mempunyai puteri, bahkan tidak pernah menikah dan sama sekali tidak mempunyai anak.
Agaknya Te-tok Kui-bo maklum akan keheranan mereka.
"Ia dahulunya adalah muridku yang kemudian kuangkat menjadi anakku sendiri."
"Ah, kiranya begitu?"
Kata Cia Kun dan baru mereka mengerti.
"Kalau begitu kami mengucapkan selamat atas pengangkatan anak itu, bibi."
"Bukan cuma itu. Maksudku memperkenalkan adalah karena kami telah sepakat untuk menjodohkan Leng Ci ini dengan anak kalian, Cia Tin Han. Bukankah dengan demikian hubungan yang erat antara aku dan mendiang Nenek Cia dapat dilanjutkan menjadi pertalian keluarga? Dan kedua anak itu sendiri juga sudah menyetujuinya."
Mendengar ini, ibu Tin Han memandang kepada puteranya.
"Tin Han, benarkah bahwa engkau sudah menyetujui untuk dijodohkan dengan puteri Bibi Siauw? Kalau engkau sudah setuju, kiranya kamipun tidak berkeberatan, bukankah begitu?"
Ia menoleh kepada suaminya dan Cia Kim mengarigguk.
"Kami akan senang sekali berbesan dengan bibi Siauw yang dahulu menjadi rekan dan sahabat baik ibu kami. Bagaimana, Tin Han?"
Song Thian Lee memandang kepada Lee Cin yang menundukkan mukanya dengan wajah pucat.
Dia merasa kasihan sekali dan juga penasaran terhadap Tin Han.
Akan tetapi keluarga itu sedang bercakap-cakap dengan asyik, tentu saja sebagai orang luar dia tidak berani mencampuri.
Sementara itu, Tin Han memandang kepada ayah ibunya dengan muka merah.
"Ayah dan ibu, sesungguhnya aku tidak pernah menyatakan setuju dengan usul perjodohan itu. Aku hanya mengatakan bahwa aku akan memberitahukan dulu-kepada orang tuaku."
"Dan sekarang ayah ibumu dan kedua pamanmu sudah setuju!""
Tukas Tet ok Kui-bo. Tin Han menggigit bibirnya. Dia harus mengambil keputusan sekarang. Dia lalu memegang tangan Lee Cin, ditariknya gadis itu menghadap ayah ibunya dan dengan lantang dia berkata.
"Ayah dan ibu, aku telah mendapatkan pilihan hati sendiri. Nona Souw Lee Cin inilah yang akan menjadi isteriku!"
Cia Kun dan isterinya terbelalak.
Mereka tidak menyangka bahwa Tin Han jatuh cinta kepada Lee Cin, gadis yang pernah menjadi tamu mereka akan tetapi juga pernah menjadi musuh dan tawanan mereka itu.
Biarpun dulu pernah mendengar bahwa Lee Cin puteri beng-cu Souw Tek Bun, ibu Tin Han bertanya lagi untuk meyakinkan.
"Puteri siapakah ia?""
"Ibu, ayahnya adalah seorang pendekar besar, bekas beng-cu Souw Tek Bun yang terkenal itu!"
Kata Tin Han bangga.
"Dan ibunya?"
"Ibunya tidak kalah terkenalnya sebagai seorang wanita sakti berjuluk Ang-tok Mo-li!"
"Apa......... ?"
Wajah Cia Kun penuh kerut merut mendengar nama ini.
"Ang-,tok Mo-li datuk sesat itu? Angtok Mo-li adalah musuh besar mendiang nenekmu!" �Heh-heh-heh, puteri Ang-tok Moli? Sepatutnya engkau membunuh puteri datuk itu, Tin Han. Puterinya adalah musuhmu juga karena sejak dahulu Ang-tok Mo-li memusuhi Keluarga Cia!"
Kata Te-tok Kui-bo.
"Akan tetapi, ibu, sekarang Ang-tok Mo-li telah mengundurkan diri, telah kembali sebagai isteri pendekar Souw Tek Bun dan tinggal di Hong-san�, bantah Tin Han.
"Tidak! Engkau tidak boleh menikah dengan puteri Angtok Mo-li!"
Bentak Cia Kim.
"Benar, Tin Han. Aku tidak rela kalau engkau menikah dengan puteri Ang-tok Mo-li. Tahukah engkau bahwa dahulu Ang-tok Mo-li dalam sebuah perkelahian hampir saja membunuh nenekmu? Tidak, akupun tidak setuju kalau engkau berjodoh dengan puterinya!"
Lee Cin terbelalak dan mukanya sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba dara itu merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan Tin Han dan iapun berkata dengan suara lantang penuh ke marahan.
"Akupun tidak sudi berjodoh dengan putera keluarga Cia! Kita akan tetap menjadi musuh!"
Setelah berkata demikian, Lee Cin melompat dari situ dan melarikan diri dengan cepat sekali.
"Cin-moi......... l!"
Tin Han berseru dan diapun segera meloncat dan lari mengejar.
Melihat ini, diam-diam Song Thian Lee menghela napas panjang dan diapun pergi dari situ tanpa pamit.
Bukan urusannya, pikirnya, dan dia tidak boleh mencampuri walaupun dia merasa amat iba kepada kedua orang muda itu.
Te-tok Kui-bo juga segera memimpin orang-orangnya untuk pergi dari situ setelah pinangannya diterima oleh Keluarga Cia.
Mereka tidak boleh tinggal terlalu lama di situ karena pasukan pemerintah yang mengejar tentu segera tiba di situ.
Para pendekar lainnya juga sudah melarikan diri cerai-berai dan sejak hari itu, para pendekar tentu saja tidak mengakui Ouw Kwan Lok sebagai bengcu, bahkan tahu bahwa beng-cu baru itu rnenjadi kaki tangan penjajah Mancu.
-ooOoo-Lee Cin berlari cepat sekali, mengerahkan seluruh ginkangnya sehingga ia berlari sangat cepat, memasuki sebuah hutan lebat dan berhenti lalu menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon dan menangis sesenggukan.
Ia merasa jantungnya perih, hatinya sakit sekali.
Orang tua Tin Han, di depannya, telah menampik ia sebagai jodoh Tin Han, menjelek-jelekkan ibu kandungnya.
Ia merasa hancur hatinya, dan melihat betapa harapannya untuk menjadi isteri Tin Han lenyap sama sekali.
Ibu kandungnya sendiri tidak setuju kalau ia menjadi isteri Tin Han.
Halangan yang satu inipun belum dapat mereka lampaui, sekarang ditambah lagi penolakan dari pihak orang tua Tin Han.
Ia mengepal tinju dan beberapa kali memukuli tanah di depannya.
Ia harus membenci Tin Han, harus melupakan pemuda itu.
Akan tetapi bagaimana mungkin?
Tin Han demikian baik kepadanya, tidak ada sikap Tin Han yang menyakitkan hatinya, selalu menyenangkan dan ia benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu.
Akan tetapi bagaimana mungkin mereka dapat berjodoh?
Ibunya sendiri tidak setuju dan dahulu pernah mengusir Tin Han dan sekarang orang tua Tin Han bahkan tidak setuju menerimanya dan menganggap ia sebagai puteri seorang musuh besar.
Aduh, rasa perih membuat ia mengeluh.
Jantungnya seperti tertusuk pedang.
Apa lagi kalau ia mengingat betapa Tin Han agaknya akan dijodohkan dengan puteri nenek yang galak itu.
Mengingat itu semua, Lee Cin merasa betapa dadanya nyeri dan akhirnya ia mengeluh dan roboh pingsan.
Ia tidak sadarkan diri sampai lama dan ia sama sekali tidak tahu bahwa tak lama kemudian setelah ia roboh pingsan, seorang kakek tinggi kurus berpakaian hitam putih dengan gambar Im yang di dadanya menghampirinya.
Kakek ini bukan lain adalah Thian-te Mo-ong Koan Ek!
Setelah para pendekar melarikan diri dari Pulau Naga, kakek inipun ikut melakukan pengejaran dan dia tiba di hutan itu seorang diri, terpisah dari kawan-kawannya yang semua melakukan pengejaran dibantu oleh pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.
Begitu melihat Lee Cin, sepasang matanya bersinar-sinar karena dia mengenal gadis itu sebagai musuh besar sejak dulu Lee Cin bersama Thian Lee menentang pemberontakan Pangeran Tua.
Melihat Lee Cin pingsan di bawah pohon itu, Thian-te Mo-ong cepat mengeluarkan sehelai sabuk sutera dan mengikat kedua tangan Lee Cin ke belakang.
Kemudian, sambil terkekeh girang dia memanggul tubuh Lee Cin, hendak dibawanya pergi ke Pulau Naga dan diserahkan kepada Ouw Kwan Lok karena dia tahu bahwa Ouw Kwan Lok amat memusuhi gadis ini sebagai seorang di antara musuh-musuh besarnya.
Bahkan dia tahu pula bahwa yang membuntungi lengan Ouw Kwan Lok adalah gadis ini!
Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dan di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan gagah dan seorang gadis.
Mereka ini bukan lain adalah Thio Hui San murid In Kong Thai-su dari Siauw-lim-pai dan gadis itu adalah Liu Ceng murid Thian-tok Gu Kiat Seng.
Tentu saja mereka segera mengenal gadis yang dipanggul oleh Thian-te Mo-ong maka tanpa banyak cakap lagi Hui San dan Ceng Ceng sudah menyerang kakek itu dari kanan kiri.
Hui San menggunakan pedang sedangkan Ceng Ceng memegang sebatang pedang dan sebatang kebutan bulu merah.
Serangan kedua orang muda ini berbahaya sekali, karena keduanya adalah murid-murid orang pandai.
Andaikata mereka itu maju satu demi satu, kiranya masih bukan tandingan Thian-te Mo-ong.
Akan tetapi karena mereka maju bersama dan dapat bekerja sama dengan kompak sekali, Thian-te Mo-ong cepat mengelak ke sana sini untuk menghindarkan diri dari gulungan sinar pedang dan kebutan.
Tentu saja gerakanriya tidak leluasa karena ia memanggul tubuh Lee Cin.
Maka sekali dia menggerakkan pundak, tubuh Lee Cin terlempar ke atas tanah dan terguling-guling.
Kemudian Thian-te Mo-ong mencabut sepasang pedangnya dan melawan pengeroyokan kedua orang itu dengan marah sekali.
Dia tidak mengenal kedua orang itu, akan tetapi tahu bahwa mereka itu masuk dua orang yang tadi bertempur di pihak para pendekar.
"Bocah-bocah yang sudah bosan hidup! Hari ini kalian akan mampus di tanganku!"
Bentaknya dan dia memutar kedua pedangnya sedemikian rupa sehingga tampak dua gulungan sinar yang menyilaukan mata.
Maklum betapa lihainya kakek itu, Thio Hui San dan Ceng Ceng bersilat dengan hati-hati dan saling melindungi.
Sementara itu, Lee Cin yang sudah dilempar dan jatuh bergulingan di atas tanah, melihat kesempatan baik untuk meloloskan dirinya.
Tadi ketika masih di panggul, tidak ada harapan baginya untuk meloloskan diri karena kalau ia berusaha memutuskan ikatan tangannya, tentu Thian-te Mo-ong akan mencegahnya.
Sekarang, setelah ia dilempar ke atas tanah, ia bebas untuk melakukan gerakan tubuhnya.
Ia mengerahkan sinkangnya sekuat tenaga.
Ikatan itu kuat dan kain sutera itu dapat mulur, akan tetapi berkat tenaganya yang terpusat dan kuat sekali, ketika tali itu agak mulur ia dapat merenggut lepas tali pengikat itu dan sebentar kemudian iapun sudah terbebas dari ikatan!
Ia merasa girang bahwa kakek itu tidak merampas Ang-coa-kiam yang masih melingkari pinggangnya sebagai sabuk.
Ia cepat mencabut pedang itu dan sekali meloncat ia sudah menerjang Thian-te Mo-ong dengan kemarahan meluap-luap.
"Hiiiiaaaaatttt......... singg.....!"
Sinar pedang berwarna merah itu meluncur dan menyerang ke arah dada Thian-te Mo-ong yang menjadi terkejut bukan main.
Cepat ia menggerakkan pedang kirinya menangkis serangan yang amat cepat dan kuat datangnya itu sambil melompat mundur.
"Cringgggg. ..... !"
Pedang di tangan kiri Thian-te Mo-ong hampir terlepas dari pegangan, demikian kuatnya serangan Lee Cin.
"Thian-te Mo-ong jahanam tua bangka busuk, bersiaplah engkau urrtuk mampus!"
Teriak Lee Cin sambil menyerang lagi susul-menyusul.
Dikeroyok oleh tiga orang itu, tentu saja Thian-te Moong menjadi kewalahan.
Melawan Lee Cin seorang diri saja agaknya baru berimbang, apa lagi kini dikeroyok oleh Hui San dan Ceng-Ceng, dia terdesak hebat dan kedua pedangnya hanya mampu menangkis saja, tidak sempat lagi membalas serangan tiga orang pengeroyoknya.
Mulai paniklah rasa hati Thian-te Mo-ong Koan Ek dan dia mulai mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Akan tetapi ketika pedang kirinya menangkis pedang di tangan Hui San, tiba-tiba Lee Cin membacokkan pedang Ang-coakiam ke arah pedangnya itu sehingga tenaga lawan yang bersatu itu terlampau kuat baginya.
dan pedang di tangan kirinya terpental dan terlepas dari pegangan.
Cepat dia menarik kembali tangan kirinya yang terancam Ang-coakiam.
Kalau tidak cepat-cepat dia menarik kembali tangannya itu tentu telah putus disambar Ang-coa-kiam!
Setelah pedang kirinya terjatuh, Thian-te Mo-ong melakukan pukulan dengan tangan kiri itu, jari-jari tangannya terbuka dan dari telapak tangannya itu menyambar uap putih yang amat dingin ke arah dada Hui San.
"Awas, mundur!"
Teriak Lee Cin dan ia masih sempat mendorong Hui San sehingga terdorong mundur dan terbebas dari pukulan maut itu.
Thian-te Mo-ong ternyata memukul dengan Pek-swat Tok-ciang (Tangan Beracun Salju Putih) yang tidak kalah berbahayanya dengan pedangnya yang sudah terlepas tadi.
Melihat pukulannya gagal, Thian-te Mo-ong mengamuk dengan pedang kanannya, dan tangan kirinya kadang melakukan pukulan beracun dan beruap putih itu.
Kini Thio Hui San maklum akan bahayanya pukulan tangan kiri itu, maka kalau pukulan itu datang dia melawannya dengan It-yang-ci!
Hal ini memang tepat sekali karena dengan It-yang-ci yang kuat, dia mampu menghadapi Pekswat Tok-ciang, bahkan dapat menotok ke arah telapak tangan itu.
Perlawanan dengan It -yang-ci yang dilakukan Hui San dan Lee Cin membuat Thian-to Mo-ong semakin terdesak, apalagi kebutan dan pedang Ceng Ceng juga merupakan ancaman maut baginya.
Setelah dengan nekat melakukan perlawanan terhadap tiga orang itu sampai seratus jurus, akhirnya Thian-te Moong tidak kuat lagi dan sambil membentak nyaring diapun membalikkan tubuhriya dan hendak melarikan diri.
"Hyaaatttt......... !"
Lee Cin membentak dan pedang Angcoa-kiam meluncur lepas dari tangannya, bagaikan anak panah dan tanpa dapat di hindarkan lagi, pedang itu menancap dan menembus punggung Thian-te Mo-ong.
"Aughhhhh.......... !"
Thian-te Mo-ong terhuyung kemudian jatuh tersungkur dan tertelungkup, tewas seketika karena Ang-coa-kiam telah menembus jantungnya!
Lee Cin menghampiri mayat yang menelungkup itu, mencabut pedang Ang-coa-kiam dan membersihkan pedang itu pada pakaian Thian-te Mo-orig.
"Adik Le Cin......... !"
Ceng Ceng menghampiri gadis "Untung engkau dapat merobohkannya dan dia tidak sampai melarikan diri.". Lee Cin memakai lagi pedangnya sebagai sabuk dan tersenyum kepada Ceng Ceng.
"Aku yang beruntung karena mendapat pertolongan kalian selagi aku tidak berdaya."
"Cin-moi, bagaimana engkau sampai dapat terjatuh ke tangan orang jahat ini?""
Tanya Hui San sambil memandang wajah gadis yang pernah merebut hatinya itu.
"Aku......... agaknya aku sedang ketiduran karena telah di bawah pohon ketika dia datang dan tiba-tiba saja menguasai diriku. Aku tidak sempat melawan. Untung engkau datang, San-ko. Terima kasih kepada engkau dan enci Ceng."
"Aihh, tidak ada yang harus berterima kasih, adik Cin. Kalau engkau tadi tidak cepat membantu, mungkin kami berdua sudah roboh oleh kakek yang lihai itu,"
Kata Ceng Ceng sambil tersenyum.
"Sekarang kalian hendak ke mama?"
Lee Cin bertanya, diam-diam merasa gembira bahwa Thio Hui San dan Ceng Ceng tampak demikian akrab.
"Kami hendak menyingkirkan diri karena kami tentu juga menjadi buruan pasukan Mancu. Akan tetapi lebih dulu aku harus mengubur jenazah ini,"
Kata Hui San.
"Hemm, orang jahat seperti dia tidak pantas untuk kita menyusahkan diri mengubur jenazahnya,"
Kata Lee Cin sambil mengerutkan alisnya. Ia tahu benar akan kejahatan yang dilakukan Thian-te Mo-ong.
"Tidak bisa......... demikian,......... Cin-moi. Sebagai murid Sian-lim-pai aku harus dapat memaafkan segala kesalahan orang yang sudah mati. Jenazah ini berhak mendapat perawatan yang baik, pula akan tidak sehatlah kalau dia dibiarkan membusuk di sini."
Lee Cin menghela papas panjang.
Pemuda ini memang seorang yang berbudi mulia, seperti juga halnya Song Thian Lee.
Iapun teringat kepada Tin Han dan hatinya terasa nyeri seperti ditusuk duri.
Tin Han juga seorang pemuda yang amat baik, dan tentu akan bersikap seperti Hui San ini.
Akan tetapi, terdapat celah selebar langit antara ia dan Tin Han.
Ibu kandungnya tidak setuju kalau ia berjodoh dengan Tin Han dan sekarang orang tua pemuda itu yang tidak setuju kalau putera mereka berjodoh dengannya!
Adakah lagi halangan yang lebih besar dari pada itu?
Biarpun tadi mencela, melihat Hui San dan Ceng Ceng menggali lubang kuburan, Lee Cin tidak dapat tinggal diam dan membantu mereka.
Kemudian, setelah lubang itu cukup dalam dan lebar, Hui San mengangkat jenazah Thian to Moong dan menguburnya secara sederhana.
"Sekarang kalian hendak pergi ke manakah?"
Tanya Lee Cin kepada mereka.
"Kami hendak pulang ke rumah paman Souw Can di Paoting,"
Kata Ceng Ceng dengan nada suara gembira.
"Atas nasihat Paman Souw Can, kami akan melangsungkan pernikahan kami di sana, berbareng dengan pernikahan antara adik Souw Hwe Li dan Lai Song Ek,"
Sambung Thio Hui San dengan wajah gembira pula.
"Ah, khong-hi (selamat) kalau begitu! Mudah-mudahan kalian akan, dapat hidup bahagia,"
Kata Lee Cin dan suaranya agak terharu karena ia teringat akan nasib dirinya.
"Terima kasih, adik Lee Cin,"
Kata Ceng Ceng sambil merangkulnya.
"Kalau sudah tiba saatnya, kami harap engkau akan dapat hadiri dan minum arak pengantin."
Lee Cin balas merangkul.
"Engkau seorang gadis yang baik sekali, enci Ceng. Engkau berhak untuk hidup berbahagia."
"Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah, Cin-moi?"
Tanya Hui San, sambil memandang dengan perasaan iba. Dia tahu bahwa Lee Cin dahulu mencinta Thian Lee yang menikah dengan gadis lain.
"Aku? Ah, aku akan merantau sambil mencari Ouw Kwan Lok. Hatiku belum merasa puas kalau belum dapat membunuh jahanam busuk itu. Dia telah menyerang dan melukai ibuku."
"Berhati-hatilah, Cin-moi, orang itu lihai bukan main biarpun lengan kirinya sudah buntung,"
Kata Hui San.
"Aku akan berhati-hati, San-ko. Nah, selamat tinggal, aku pergi dulu!"
"Selamat berpisah, adik Cin!"
Ceng Ceng dan Hui San melambaikan tangan ke arah perginya Lee Cin yang sudah menggunakan ilmunya melompat jauh pergi dari tempat itu.
Hui San lalu pergi juga dari situ tersama Ceng Ceng.
Mereka pergi sambil bergandeng tangan dengan penuh kemesraan.
-ooOoo-"Cin-moi.........
Tin Han mengejar sambil memanggil-manggil, akan tetapi Lee Cin sudah tidak tampak lagi berada di mana.
Dengan hati hancur Tin Han lalu kembali kepada orang tuanya, alisnya berkerut dan pandang matanya marah "Sudahlah, Tin Han.
Tidak perlu kau perdulikan gadis puteri Ang-tok Mo li itu.
Ibunya seorang jahat, anaknya tentu juga jahat pula.
Ini Leng Ci berada di sini!"
Kata Te-tok Kui-bo.
Dengan hati panas Tin Han lalu berkata kepada nenek "Lo-cian-pwe, kalau Io-cian-pwe mengira bahwa aku suka menjadi mantumu, pendapat itu keliru sama sekali.
Aku tidak akan pernah mau menjadi suami adik Leng Ci atau suami siapapun juga, kecuali suami adik Lee Cin!"
"Tin Han!"
Nenek itu berseru sambil membelalakkan matanya. Biasanya Tin Han begitu lembut dan menurut kata-katanya.
"Akan tetapi kami semua sudah sepakat untuk mengikat tali perjocohan itu!"
"Masa bocoh! Siapa yang mengikat tali perjodohan itu boleh menikah. Akan tetapi aku tidak! Lo-cian-pwe sendiri yang menghendaki pernikahan itu, aku belum pernah menyatakan setuju orang hendak memaksa aku menikahdengan orang yang tidak kucinta?"
"Tin Han Engkau tidak......... tidak cinta kepadaku?"
Leng Ci berseru dan wajahnya hampir menangis. Tin Han menjadi kasihan juga.
"Leng Ci, kita hanya sahabat biasa. Aku tidak pernah mencinta gadis lain kecuali Lee Cin. Kuharap kelak engkau akan menemukan jodohmu dengan baik."
"Tin Han, engkau menghancurkan harapanku. Engkau berani menampik puteriku!"
"Lo-cian-pwe yang memaksa-maksa. Sekarang aku menyatakan tidak mau menjadi mantumu!' "Tin Han...........!!� Ayah dan ibunya berseru dan menegur. Kini Tin Han memandang kepada ayah dan ibunya pandang matanya penuh penyesalan.
"Ayah dan ibu sudah menolak dan menghina hati Lee Cin, apakah sekarang aku harus menaatimu menikah dengan orang lain yang sama sekali tidak kucinta? Tidak, ayah dan ibu. Sekali ini aku tidak akan menuruti kata-katamu. Yang hendak menikah adalah aku, bukan ayah dan ibu. Pernikahan menyangkut kehidupanku selamanya, bagaimana hal itu harus ditentukan oleh orang lain?"
"Akan tetapi ibunya adalah Ang-tok Mo-li musuh besar nenekmu dan seorang datuk sesat yang jahat!' seru ibunya.
"Ibu, maafkan. Aku bukan hendak menikah dengan ibunya, melainkan dengan anaknya dan Lee Cin adalah seorang gadis berwatak pendekar, bukan golongan sesat."
"Tin Han, kalau engkau menolak berarti engkau menghinaku!� Te-tok Kui-bo berteriak dan menggerakkan tongkatrya.
"Kami semua telah mengambil keputusan, engkau tidak bisa seenaknya saja membatalkan! Ataukah engkau berani menentangku?"
"Terserah kepadamu, Te-tok Kui-bo' kata Tin Han dengan jengkel.
"Aku tidak menentang siapa-siapa, akan tetapi akupun tidak sudi dipaksa menikah dengan siapapun juga. Tidak pula olehmu!� "Keparat!"
Te-tok Kiu-bo menerjang dengan tongkat naganya.
Akan tetapi Tin Han sudah marah sekali.
Dia mengelak dan sekali kedua tangannya bergerak, dia sudah menangkap tongkat itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menotok.
"Brett.........!� Tongkat itu sudah berpindah ke tangannya dan sekali dia menekuk dengan kedua tangan, tongkat itupun patah menjadi dua dan dilemparkannya ke atas tanah dengan bantingan.
"Ayah, ibu, aku pergi!' katanya dan dengan isak tertahan dia lalu melompat jauh lari dari tempat itu. Semua orang terkejut bukan main. Tidak pernah mengira bahwa Tin Han sehebat itu kepandaiannya. Nenek Te-tok Kui-bo uring-uringan, lalu mengajak puterinya dan semua anak buahnya pergi dari situ. Cia Kun dan isterinya saling pandang dengan Cia Hok dan Cia Bhok. Isteri Cia Kun mengalirkan air mata dan diusapnya air matanya itu, lalu berkata kepada suamirya.
"Tin Han marah sekali. Ke mana kita harus mencarinya?� Cia Kun mengerutkan alisnya.
"Sepatutnya dia tidak bersikap seperti itu. Kenapa dia memaksakan diri? Aku yakin kalau Ang-tok Mo-li tahu bahwa dia cucu Nenek Cia, iapun tidak akan menyetujui puterinya menikah dengan Tin Han.."
Cia Hok menghela napas panjang.
"Sebetulnya kalian juga salah, memaksanya seperti itu untuk menikah dengan gadis yang tidak dicintanya. Memang baik sekali kalau dia mau menikah dengan puteri Te-tok Kui-bo yang dahulu menjadi sahabat baik ibu, dan sama-sama berjiwa patriot. Akan tetapi orang muda sekarang lebih suka memilih calon isterinya sendiri. Pula, kita harus ingat bahwa Nona Souw Lee Cin juga seorang yang gagah perkasa. Memang sayang kebetulan ia adalah puteri Ang-tok Mo-li, akan tetapi siapa tahu sekarang Ang-tok Mo-li sudah bertaubat dan tidak merjadi tokoh sesat lagi."
Cia Bhok berkata.
"Segala sesuatu telah terjadi. Tin Han telah pergi dan tidak akan mudah mencarinya. Anak itu kini telah menjadi seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Biarkanlah dia menentukan sendiri tentang perjodohannya. jodoh berada di tangan Tuhan. Kalau memang dia berjodoh dengan Nona Souw Lei Cin, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalanginya, sebaliknya kalau nona itu bukan jodohnya, tentu dia akan gagal memperisterinya. Sekarang kita harus mengambil jalan masing-masing berpencar dan bersembunyi karena pasukan pemerintah tentu akan mencari kita pula dan dianggap pemberontak."
Semua menyatakan setuju dan mereka pun berpencar mencari jalan masing-masing untuk menyelamatkan diri dari pengejaran pasukan pemerintah yang bekerja-sama dengan golongan sesat dari dunia kang-ouw.
Tin Han merasa dadanya akan meledak.
Kemarahan memenuhi dadanya kalau dia ingat betapa orang-orang tua itu hendak memaksa dia menikah dengan Leng Ci, apa lagi kalau mengingat betapa ayah ibunya telah menolak dan menghina Lee Cin.
Dia dapat membayangkan betapa sakit dan hancurnya hati kekasihnya karena diapun pernah mengalami ditolak dan dihina oleh ibu gadis itu.
Akan tetapi siapapun yang merintangi perjodohannya dengan Lee Cin, akan ditantangnya.
Yang penting adalah dia dan Lee Cin sendiri!
"Cin-moi, kasihan engkau.........!� Dia mengeluh sambil berlari terus.
Kemudian dia teringat akan perbuatan Ouw Kwan Lok kepadanya.
Jahanam telah memalsukan namanya melakukan banyak pembunuhan untuk mencemarkan namanya.
Dia merasa menyesal tidak dapat membunuh orang yang diakuinya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, setingkat dengan dirinya.
"Aku harus mencarinya dan menemukannya!"
Bisiknya kepada diri sendiri.
Kemudian dia berhenti berlari.
Kenapa dia harus mencari jauh-jauh?
Dia yakin bahwa Ouw Kwan Lok masih berada di Pulau Naga, bersembunyi di sana.
Sekarang, semua pasukan dan orang-orang sesat sedang mengadakan pemburuan terhadap para pendekar.
Pulau Naga tentu ditinggalkan dan siapa tahu Ouw Kwan Lok masih berada di sana!
Dia tentu tidak akan meriyangka akan ada orang yang berani datang ke Pulau Naga lagi dan enak-enak saja bersembunyi di situ.
Siapa tahu dugaannya benar dan dengan pikiran ini Tin Han lalu membalikkan tubuhriya hendak pergi berkunjung ke Pulau Naga lagi!
-ooOoo-Lee Cin berjalan seorang diri tanpa tujuan.
Ia sendiri bingung harus pergi ke mana.
Perpisahannya dengan Tin Han membuat semangatnya menjadi lemah dan segala tampak tidak menyenangkan.
Satu-satunya tujuan hidupnya kini mencari Ouw Kwan Lok, orang yang selain pernah menyerang dan melukai ibunya, juga telah menjelek-jelekkan nama Hek-tiauw Eng-hiong atau Tin Han kekasihnya.
Biarlah ia melakukan sesuatu yang terakhir, yaitu membela nama baik Tin Han.
Ia tidak dapat membenci Tin Han karena sikap orang tuanya, karena ia sendiri juga merasa bahwa ibunyapun bersikap seperti itu terhadap Tin Han.
Tidak, ia tidak membenci Tin Han.
Ia tetap mencinta pemuda itu dan ingin membelanya.
Walaupun agaknya ia tidak mungkin dapat berjodoh dengan Tin Han, setidaknya ia dapat mencintanya saampai mati.
Selagi ia berjalan keluar masuk hutan, tiba-tiba tampak tiga bayangan orang berkelebat dan terkejutlah ia ketika melihat bahwa mereka bukan lain adalah musuh-musuh lamanya, yaitu Yauw Seng Kim, Ban-tok Mo-li dan yang seorang lagi adalah Ma Huai, anak buah Ouw Kwan Lok!
Maklum bahwa ia menghadapi musuh dan lawan tangguh, Lee Cin sudah mengeluarkan Ang-coa-kiam dan berdiri dengan pedang melintang depan dada dan keadaan siap siaga!
Yauw Seng Kull tertawa.
"Ha-ha-ha, kiranya nona Souw Lee Cin yang manis berada di sini! Sungguh kebetulan sekali. Kami memang sedang mencari-carimu."
Ban-tok Mo-li yang merasa cemburu karena tampaknya Yauw Seng Kim masih selalu tergila-gila kepada gadis itu segera membentak .
"Souw Lee Cin. Menyerahlah menjadi tawanan kami sebelum kami terpaksa menggunakan kekerasan untuk membunuhmu!' Ia sudah mencabut pedangnya yang beracun. Yauw Seng Kun juga sudah mencabut senjatanya. Lee Cin diikepung segi tiga. Namun, Lee Cin sama sekali tidak merasa gentar. Tampa berkedip dan tanpa menggerakkan tubuhnya ia membentak.
"Tiga ekor anjing Mancu, majulah! Siapa takut kepada kaliari?"
Melihat sikap dan mendengar bentakan ini, Ban-tok Mo-li lain berseru.
"Serbu!"
Ia sendiri sudah menusukkan pedangnya yang beracun ke arah dada Lee Cin. Gadis itu tidak mengelak, melainkan menggetarkan pedangnya menangkis.
"Trangg......... !"
Pedang di tangan Ban-tok Mo-li terpental dan wanita itu terkejut bukan main, cepat meloncat ke belakang agar pedangnya tidak sampai terlepas dari tangannya.
Pada saat itu, Ma Huan sudah membabatkan goloknya ke arah kedua kaki Lee Cin.
Gadis ini melompat ke atas dan mengelebatkan pedangnya ke belakang karena pada saat itu, tongkat bambu kuning di tangan Yauw Seng Kun telah menotoknya.
"Trakk!"
Tongkat itu telah tertangkis, akan tetapi pedang Ban-tok Mo-li kembali mendesak dengan bacokan ke arah kepada.
Lee Cin mengelak ke samping lain memutar pedangnya untuk membalas serangan tiga orang pengeroyoknya sehingga mereka bertiga terpaksa melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari gulungan sinar pedang merah yang amat berbahaya itu.
Kalau tiga orang itu maju satu demi satu, jelas mereka bukan lawan Lee Cin.
Akan tetapi karena mereka bertiga maju mengeroyok, hal ini membuat Lee Cin kewalahan juga.
Hujan serangan menyerangnya dan terpaksa ia harus memutar pedang melindungi tubuhnya.
Pedang itu seolah menjadi gulungan sinar yang membalut dirinya, menjadi perisai sehingga serangan ketiga orang itu dapat tertangkis semua.
Tiba-tiba Ban-Moli mengeluarkan saputangan merah dan mengebutkan saputangan itu ke arah Lee Cin.
Debu merah mengepul.
Akan tetapi Lee Cin sudah tahu akan bahayanya racun yang dipergunakan Ban-tok Mo-li, maka ia menahan napas dan melompat mundur beberapa langkah sehingga tidak terkena racun itu.
Tiga orang pengeroyoknya mengejar dan kembali ia terkurung.
Perlahan akan tetapi tentu Lee Cin mulai terdesak.
Tongkat bambu kuning di tangan Yauw Seng Kim sudah sempat menotok pundaknya.
Akan tetapi ia masih sempat memiringkan pundak itu sehingga totokan itu tidak telak dan hanya membuat tubuhnya tergetar sedikit.
Ayunan pedangnya menyelamatkannya karena Yauw Seng Kun tidak lagi mampu mendesaknya.
Biarpun demikian, kini Lee Cin bersilat dengan hati-hati dan ia lebih banyak menangkis dan mengelak dari pada menyerang.
Pada suatu kesempatan, selagi terdesak, kaki Lee Cin mencuat dan mergenai perut Ma Huan sehingga orang bergolok ini mengaduh dan terhuyung ke belakang.
Akan tetapi dua orang kawannya segera mendesak lagi sehingga Lee Cin kembali harus memutar tubuhnya dan pedangnya menjadi semacam baling-baling yang berputar rapat melindungi dirinya.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Adik Lee Cin, jangan khawatir, kami datang membantumu!"
Bukan main girangnya hati Lee Cin ketika melihat bahwa yang clatang adalah Tan Cin Lan dan Song Thian Lee!
Sepasang suami isteri perkasa ini telah datang dan segera menyerbu membantunya.
Tan Cin Lan yang memegang sebatang tongkat sudah menerjang dan membuat Ma Huan terdesak ke belakang.
Song Thian Lee menggunakan pedang Jit-goat-kiam yang digerakkan secara dahsyat membuat Yauw Seng Kun terhuyung ke belakang.
Kini tinggal Ban-tok Mo-li seorang yang melawan Lee Cin dan sebentar saja wanita itu tidak dapat menahan gerakan pedang Ang-coakiam.
Setelah sepasang suami isteri itu datang membantu, tidak sampai tigapuluh jurus saja tiga orang lawan itu roboh satu demi satu.
Ma Huan roboh tertotok tongkat yang mengenal ulu hatinya dan dia roboh untuk tidak dapat bangkit kembali.
Ban-tok Mo-li tertembus dadanya oleh Angcoa-kiam dan iapun tewas seketika, sedangkan Yauw Seng Kun, biarpun sudah mengeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya, akhirnya roboh dengan leher nyaris putus oleh pedang Jit goat-kiam di tangan Song Thian Lee!
Setelah tiga orang lawan itu tewas, Lee Cin merangkul Cin Lan "Ah, untung engkau datang, enci Cin Lan!"
Katanya girang.
"Andaikata kami tidak datang sekalipun belum tentu tiga ekor anjing ini akan dapat mengalahkanmu."
"Lee-ko, bagaimana secara kebetulan kalian dapat muncul di sini? Bukankah ketika melarikan diri dari Pulau Naga, engkau seorang diri tanpa adanya enci Cin Lan?"
Thian Lee menghela papas panjang.
"Biar kukubur dulu tiga jenazah ini dan engkau dapat mendengar peristiwa yang menimpa diri kami dari encimu."
Thian Lee membuat lubang untuk ke tiga mayat itu dan Cin Lan mengajak Lee Cin ke bawah sebatang pohon besar lalu bercerita.
Kiranya ketika suaminya tidak berada di rumah, ikut mencari orang yang menyamar sebagai Hek-tiauw Enghiong, Cin Lan tinggal berdua saja dengan puteranya yang baru berusia tiga tahun, Song Hong San.
Pada suatu sore, ketika Cin Lan sedang berada di taman bersama puteranya yang bermain-main mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang sedang mekar, muncul tiga orang yang mencurigakan hatinya.
Yang seorang masih muda dan tampan, akan tetapi lengan kirinya buntung sebatas siku.
Orang kedua adalah seorang berusia limapuluh tahun lebih yang tubuhnya tinggi besar dan serba bundar, perutnya gendut dan kulitnya hitam.
Adapun orang ketiga adalah seorang kakek berusia limapuluh tahun lebih akan tetapi tubuhnya tinggi kurus dan mukanya kuning seperti berpenyakitan dan matanya sipit seperti terpejam.
Mereka itu bukan lain adalah Ouw Kwan Lok, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-ko.
Sebetulnya maksud kunjungan tiga orang tokoh besar dari Pulau Naga ini adalah untuk mencari Song Thian Lee dan mengeroyoknya karena pendekar itu telah melukai Siang Koan Bhok.
Akan tetapi ketika tiba di taman itu, mereka hanya mendapatkan isteri pendekar itu bersama puteranya.
Tan Cin Lan segera merasa curiga.
Ia bangkit berdiri dan menghadapi mereka dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Siapakah kalian dan ada keperluan apakah kalian datang memasuki taman bunga kami?"
Wanita ini sama sekali tidak merasa gentar dan tangannya sudah meraih sebatang tongkat yang tadinya bersandar di bangku tempat ia duduk. Ouw Kwan Lok menyeringai melihat wanita yang cantik jelita itu.
"Kami datang untuk mencari Song Thian Lee. Panggil dia keluar."
"Suamiku tidak berada di rumah! Kalau kalian ada urusan boleh disampaikan kepadaku saja,"
Kata Cin Lan dengan sinar mata masih penuh selidik dan kecurigaan. Ouw Kwan Lok memandang kepada Cin Lan, lalu melirik kepada Song Hong San yang masih bermain-main mengejar kupu-kupu.
"Dia itu anakmukah?"
Tanyanya. Cin Lan masih khawatir dan melangkah hendak mendekati puteranya. Akan tetapi Ouw Kwan Lok menghadangnya dan berkata.
"Kalau suamimu tidak ada, biarlah kami membawa anakmu dan kelak dia boleh mencari kami!"
Setelah berkata demikian, Ouw Kwan Lok memberi isyarat, kepada kedua orang temannya.
Hek-bin Mo-ko yang tinggi besar melompat maju dan menggerakkan ruyung berdurinya, sedangkan Sin-ciang Mokai juga menggerakkan tongkatnya yang beracun untuk menyerang Cin Lan.
Wanita ini terkejut sekali dan juga marah bercampur khawatir akan puteranya.
Ia sudah menyambar tongkatnya dan sekali terjang ia sudah membuat Sin-ciang Mo-kai terpelanting dan terhuyung.
Ilmu tongkat nyonya muda ini memang hebat sekali, yaitu Hokmo-tung (Tongkat Penaluk Iblis).
Akan tetapi dari samping, Hek-bin Mo-ko sudah mengayun ruyungnya dengan dahsyat sehingga Cin Lan terpaksa harus mengelak untuk menghincarkan diri.
Si-ciang Mo-kai sudah menerjang lagi dan kini nyonya muda itu dikeroyok oleh dua orang lawannya.
Ia melakukan dengan gigih, namun perhatiannya terpecah kepada puteranya.
Pada saat itu, Ouw Kwan Lok melompat ke dekat Song Hong San dan sekali sambar dia sudah memondong anak itu.
Hong San berteriak memanggil ibunya dan meronta, tidak mau dipondong laki-laki yang tidak dikenalnya itu, akan tetapi sekali tekan dengan jari tangannya, Ouw Kwan Lok membuat anak itu lemas tidak mampu berteriak maupun bergerak lagi.
"Kita pergi!"
Kata Ouw Kwan Lok kepada dua orang rekannya dan Hek-bin Mo-ko bersama Sin-ciang Mo-kai menyerang dengan hebat sehingga Cin Lan terpaksa melompat ke belakang.
Saat itu dipergunakan oleh dua orang pengeroyoknya untuk melarikan diri mengejar Ouw Kwan Lok yang sudah lari terlebih dulu.
Mati-matian Tan Cin Lan melakukan pengejaran.
Ia marah dan khawatir sekali akan keselamatan puteranya.
Namun, tiga orang itu berpencar sehingga ia tidak tahu siapa yang membawa pergi puteranya clan ke arah mana Ia hanya dapat mengejar seorang di antara mereka dan setelah akhirnya ia dapat menyusul, ternyata yang dapat dikejarnya itu adalah Sin-ciang Mo-kai, pengemis tua yang bersenjatakan tongkat itu.
Biarpun ia kecewa karena bukan pengemis itu yang melarikan puteranya, namun dengan kemarahan luar biasa Cin Lan segera menyerangnya.
Sin-ciang Mo-kai rnenangkis dengan tongkatnya.
Akan tetapi benturan kedua tongkat itu membuat dia terhuyung dan Cin Lan terus mendesaknya dengan ilmu tongkat Hekmo-tung.
Perkelahian mati-matian antara kedua orang yang sama-sama mempergunakan tongkat ini terjadi dan kini setelah ia hanya melawan seorang di antara mereka, Cin Lan dapat mendesak terus.
Sin-ciang Mo-kai berusaha melawan mati-matian, akan tetapi ia kalah segala-galanya, kalah kuat dalam hal sin-kang dan kalah cepat gerakannya.
Juga ilmu tongkat Hok-mo-tung itu merupakan rajanya ilmu tongkat di waktu itu.
Akhirnya, setelah lewat limapuluh jurus, ujung tongkat di tangan Cin Lan berhasil menotok dada Sin-ciang Mo-kai dan pengemis tua itu terpelanting roboh.
Cin Lan menodongkan ujung tongkatnya ke pelipis orang yang sudah setengah mati dan tidak mampu bergerak itu dan menghardik.
"Katakan siapa yang membawa anakku dan di mana dia dibawanya?"
Ujung tongkat yang menempel di pelipis itu siap untuk ditusukkan. Akan tetapi, totokan di dadanya tadi mengguncang jantung Sin-ciang Mo-kai dan dia terengah-engah sekarat.
"Katakan atau aku akan menyiksamu!"
Bentak pula Cin Lan. Akhirnya dengan napas terengah-engah Sin-ciang Mokai berkata.
"......... Pulau Naga......... !"
Dan diapun terkulai, tewas.
Cin Lan tidak memperdulikannya lagi.
Pikirannya penuh kegelisahan akan nasib puteranya.
Maka, terpaksa dengan berduka ia pulang ke rumahnya.
Pulau Naga!
Ia tahu bahwa suaminya juga pergi ke Pulau Naga untuk mencari Hek-tiauw Eng-hiong palsu dan kabarnya beng-cu baru berada di Pulau Naga dan bahwa beng-cu baru itu mengumpulkan orang-orang kang-ouw untuk merighambakan diri kepada pemerintah.
Ia menjadi bingung.
Apakah ia harus menyusul suaminya ke Pulau Naga untuk mencari Hong San di sana?
Bagaimana kalau tidak bertemu dengan suaminya?
Ia akan mencarinya sendiri!
Akan tetapi ia harus meninggalkan pesan kepada pelayan agar kalau suaminya pulang akan mengetahui bahwa ia pergi ke Pulau Naga mencari puteranya.
Ketika Cin Lan tiba di rumah, ternyata Song Thian Lee baru saja pulang!
"Engkau dari mana?
Mana Hong San?"
Thian Lee menyambut isterinya dengan khawatir, melihat wajah isterinya yang pucat sekali. Ditanya demikian, Cin Lan menubruk suaminya dan menangis.
"Eh, eh, ada apakah ini? Apa yang telah terjadi?"
Tanya Thian Lee dengan khawatir. Isterinya bukan seorang wanita cengeng, maka kalau sampai ia bersikap seperti ini tentu telah terjadi sesuatu yang hebat.
"Hong San......... diculik......... orang.......!� akhirnya Cin Lan dapat bicara dan tentu saja Thian Lee terkejut bukan main.
"Apa? Kapan terjadinya dan bagaimana?"
"Baru saja terjadi,"
Kata Cin Lan yang masih menangis di dada suaminya.
"Aku sedang berada di taman dan Hong San bermain-main. Lalu muncul tiga orang. Yang dua orang menyerangku dan yang seorang menculik dan membawa lari Hong San."
Thian Lee mengepal kedua tangannya.
"Siapa mereka?"
"Aku melakukan pengejaran akan tetapi mereka berpencar. Aku dapat menyusul seorang di antara mereka dan dalam perkelahianku aku dapat mernbunuhnya, akan tetapi yang dua orang lagi telah lari entah ke mana. Aku sudah mendesak orang yang kurobohkan dan sebelum tewas dia mengatakan Pulau Naga."
"Ahhhh.........! Bagaimana keadaan mereka itu? Siapa mereka?"
"Yang terbunuh olehku seorang pengemis berpakaian tambal-tambalan baru, bersenjata tongkat. Orang kedua adalah seorang kakek tinggi besar gendut bermuka hitam dan bersenjata sebatang ruyung berduri. Adapun orang ketiga yang menculik Hong San adalah seorang pemuda yang lengan kirinya buntung sebatas siku."
"Jahanam keparat! Itu adalah Ouw Kwan Lok, beng-cu baru jahanam itu! Dan yang gemuk hitam itu tentu Hekbin Mo-ko sedangkan yang terbunuh olehmu tentu Sin-ciang Mo-kai. Mereka berdua adalah kaki tangan Ouw Kwan Lok. Jadi anak kita dibawa ke Pulau Naga? Apa yang mereka katakan ketika mereka muncul."
"Orang muda berlengan buntung sebelah itu tadinya menanyakan engkau. Ketika aku mengatakan bahwa engkau tidak berada di rumah, dia lalu bilang bahwa dia akan membawa Hong San dan kelak engkau boleh mencari mereka."
"Jahanam! Sekarang juga kita pergi ke Pulau Naga menyusul mereka!"
Kata Song Thian Lee dengan marah.
Setelah membuat persiapan tergesa-gesa, kedua orang suami isteri perkasa ini lalu melakukan perjalanan menuju ke Pulau Naga.
Di sepanjang perjalanan Thian Lee bercerita kepada isterinya tentang pertempuran yang terjadi di Pulau Naga sehingga akhirnya para pendekar menyelamatkan diri dan lari dari Pulau Naga karena ada pasukan pemerintah yang besar jumlahnya datang membantu pihak beng-cu dan para tokoh sesat.
"Kalau begitu, keadaan di Pulau Naga sekarang ini tidak aman, terjaga banyak pasukan,"
Kata Cin Lan.
"Kurasa tidak. Pasukan itu tentu melakukan pengejaran ke daratan dan pulau itu sudah sepi kembali. Yang tinggal di sana Siang Koan Bhck dan tentu Ouw Kwan Lok dan para kaki tangannya. tokoh-tokoh kang-ouw yang sesat. Akan tetapi kita tidak perlu takut. Kita harus pergi ke sana untuk merampas kembali anak kita. Kalau perlu kita akan mengamuk mati-matian, atau kita dapat menyusup ke pulau dengan menyamar. Kita melihat keadaannya dulu di sana."
Lega juga hati Cin Lan setelah bertemu dengan suaminya.
Iapun bukan seorang bodoh.
Pihak musuh menculik Hong San tentu bukan bermaksud membunuh anak itu, melainkan untuk memancing suaminya datang ke Pulau Naga.
Dan kelau pergi berdua dengan suaminya, biarpun ke sarang naga ia tidak takut!
Demikianlah, semua ini diceritakan Cin Lan kepada Lee Cin.
Lee Cin yang mendengar cerita itu, ikut menjadi marah sekali.
"Jahanam benar Ouw Kwan Lok itu. Tidak malu dia berbuat curang, menculik seorang anak kecil. Kalau mernang dia gagah, kenapa tidak langsung saja menantang Lee-ko? Jangan khawatir, enci Lan. Aku akan menyertai kalian masuk ke Pulau Naga! Akupun ingin membunuh Ouw Kwan Lok itu. Sayang dahulu aku hanya membuntungi lengan kirinya, bukan lehernya!' katanya gemas. Thian Lee telah selesai menguburkan mayat-mayat Ma Huan, Yauw Seng Kun dan Ban-tok Mo-li. Dia membersihkan kedua tangannya yang terkena tanah, lalu menghampiri mereka.
"Keadaan Pulau Naga sekarang sudah tidak begitu kuat lagi,"
Katanya.
"Sin-ciang Mo-kai, Ma Huan, Yauw Seng Kun, dan Ban-tok Mo-li telah dapat kita tewaskan.
"Masih ada seorang lagi yang berhasil kutewaskan, yaitu Thian-te Mo-ong?' kata Lee Cin yang segera menceritakan bagaimana ia berhasil membunuh tokoh sesat itu. Thian Lee mengangguk-angguk girang.
"Kalau begitu, kedudukan Ouw Kwan Lok sudah lemah. Hanya tinggal dia seorang, Siang Koan Bhok dan Nyonya Siang Koan Bhok yang kabarnya juga lihai sekali."
"Memang ia lihai,"
Kata isterinya.
"Aku dahulu pernah bertemu dengannya dan ia berwatak aneh. Setelah ia tahu bahwa aku mencarikan obat untuk guruku Pek I Lo-kai, ia membebaskan aku bahkan menyerahkan buah sian-tho di Pulau Ular Emas untuk dipakai mengobati guruku."
"Aih, menarik sekali!"
Kata Lee Cin.
"Bagaimana ceritanya, enci Lan?"
"Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan dan dalam perjalanan itu Cin Lan menceritakan pengalamannya dahulu,"
Kata Thian Lee. Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan mereka ke Pulau Naga dan di sepanjang jalan ini Cin Lan bercerita tentang pengalamannya dahulu.
"Peristiwa itu amat mengesankan hatiku karena aku mengalami hal aneh di sana. Terjadinya dahulu ketika aku masih merjadi murid Pek I Lo--kai,"
Cin Lan mulai bercerita.
Ketika itu, beberapa tahun yang lalu, Cin Lan masih seorang gadis muda, puteri tiri Pangeran Tang Gi Su dan menjadi murid Fek I Lo-kai.
Pada suatu hari Fek I Lo-,kai bertanding melawan datuk besar Jeng-ciang-kwi.
Jeng-ciang-kui kalah oleh Pek I Lo-kai, mengaku kalah dan terluka.
Akan tetapi diam-diam Pek I Lo-kai juga terluka parah dan menurut pemeriksaan seorang nikou yang pandai ilmu pengobatan, obat untuk kakek pengemis berbaju putih itu hanyalah buah sian-tho yang tumbuh di Pulau Ular Emas.
Mendengar ini, Cin Lan yang amat sayang kepada gurunya, diam-diam pergi ke pulau itu untuk mencarikan obat bagi gurunya.
Setelah tiba di pantai dan menemukan seorang tukang perahu tua yang berani membawanya ke Pulau Ular Emas, mereka berangkat.
Dalam pelayaran itu mereka melewati Pulau Naga dan ketika Cin Lan mendengar bahwa Pulau Naga itu dihuni iblis dan semua orang takut mendekatinya, ia malah memaksa kakek perahu untuk singgah dan melihat pulau yang dihuni iblis itu!
Di pulau Naga Cin Lan berjumpa dengan Siang Koan Tek.
Mereka bertanding dan Cin Lan terjebak, tertawan oleh Siang Koan Tek yang nyaris memperkosanya.
Akan tetapi muncullah Nyonya Siang Koan Bhok yang memarahi puteranya dan membebaskan Cin Lan, apalagi mendengar bahwa Cin Lan adalah puteri Pek I Lo-kai.
Cin Lan setelah dibebaskan meninggalkan Pulau Naga dan menuju ke Pulau Ular Emas.
Ternyata, di sana telah ada beberapa orang kangouw yang juga hendak mengambil buah sian-tho.
Mereka berunding untuk bertanding satu lawan satu dan siapa yang menang berhak memperoleh sian-tho.
Akan tetapi tiba-tiba muncul Nyonya Siang Koan Bhok bersama Siang Koan Tek.
Nyonya ini mengatakan bahwa Sian-tho adalah haknya dan kalau orang orang itu dapat mengalahkannya baru boleh mengambil sian-tho.
Dua orang di antara orang kang-ouw itu tewas setelah bertanding melawan Nyonya Siang Koan Bhok.
Akan tetapi Cin Lan tidak takut.
Ia bertanding dengan Nyonya Siang Koan Bhok, menggunakan tongkat dan ilmu tongkat Hek-mo-tung.
Nyonya itu teringat akan Pek I Lo-kai yang dikenalnya dengan baik, mengagumi Hek-mo-tung dan mengalah, lalu menyuruh Siang Koan Tek menyerahkan buah sian tho kepada Cin Lan untuk mengobati gurunya.
Bahkan Nyonya Siang Koan Bhok menyatakan sukanya kepada Cin Lan untuk mengambilnya sebagai mantu.
Cin Lan meninggalkan Pulau Ular Emas membawa buah siantho.
Akan tetapi di pantai ia melihat seekor ular putih dikeroyok ular-ular emas.
Ia penasaran melihat ular putih dikeroyok, maka turun tangan membantu membunuhi ular emas.
Ada ular emas menggigit kakinya yang terasa amat panas, lalu ular putih juga menggigit kakinya yang mendatangkan rasa dingin.
Cin Lan pingsan, dibawa oleh kakek perahu ke dalam perahu lalu melayarkannya meninggalkan pulau berbahaya itu.
Ketika siuman, Cin Lan merasa ada hawa sin-kang yang kuat membuat tubuhnya ringan dan mendatangkan tenaga dahsyat.
"Peristiwa itu tidak terlupakan olehku karena dalam peristiwa itulah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan ayahnya Hong San,"
Kata Cin Lan sambil melirik ke arah Thian Lee yang hanya tersenyum mendengarnya. Lee Cin menjadi tertarik sekali. ''Bagaimana terjadinya, enci Lan?"
Tanyanya mendesak.
"Setelah aku mendarat di pantai daratan, aku bertemu dengan empat orang pencari sian-tho yang tadi melarikan diri dari Pulau Ular Emas. Mereka minta bagian buah siantho. Tentu saja tidak kuberikan dan mereka berempat lalu mengeroyokku. Selagi aku terdesak, muncullah dia menolongku,"
Katanya sambil menuding ke arah Thian Lee.
"Itu merupakan pertemuan kami yang pertama kali."
"Ceritamu menarik sekali, enci Lan. Jadi engkau pernah, bertanding melawan Nyonya Siang Koan Bhok dan ia memang lihai sekali? Akan tetapi mengapa setelah ia mendengar bahwa engkau murid Pek I Lo-kai ia lalu mengalah dan malah memberikan buah sian-tho itu kepadamu?"
"Aku sendiripun merasa heran. Agaknya ada hubungan sesuatu antara guruku dan Nyonya Siang Koan Bhok. Hanya menurut dugaanku, ia tidaklah sejahat suaminya."
"Memang tampaknya demikian,"
Kata Song Thian Lee.
"Buktinya, dalam gerakan yang dilakukan Siang Koan Bhok dan Ouw Kwan Lok mengumpulkan orang-orang kang-ouw untuk membantu pemerintah penjajah, nyonya itu tidak pernah ikut campur. Mudah-mudahan saja begitu sehingga keadaan mereka tidak begitu kuat, juga mudah-mudahan dengan adanya Nyonya Siang Koan Bhok, kita akan lebih mudah mendapatKan kembali Hong San dari tangan mereka."
Tiga orang itu melanjutkan perjalanan dan perjalanan terasa ringan dan menyenangkan bagi mereka bertiga walau pun mereka semua merasa prihatin dengan hilangnya Hong San.
Mereka bertiga merasa kuat dan siap menghadapi lawan yang bagaimanapun.
-ooOoo-Ketika Ouw Kwan Lok dan Hek-bin Mo-ko tiba di Pulau Naga membawa Hong San, Siang Koan Bhok dan isterinya sedang duduk di taman bunga milik Nyonya Siang Koan Bhok.
Nyonya Siang Koan Bhok sudah mendengar tentang keributan di Pulau Naga dan ia menegur suaminya.
"Mengapa engkau mencari penyakit? Kita sudah tenang-tenang hidup di sini, tidak ada orang datang memusuhi kita, engkau malah menuruti kehendak Ouw Kwan Lok itu untuk bekerja sama dengan pemerintah. Akibatnya, para orang gagah memusuhimu dan sekarang kita mempunyai banyak musuh,"
Demikian Nyonya Siang Koan Bhok menegur suaminya dengan suaranya yang lembut. Memang gerak gerik nyonya ini serba lembut, tidak menunjukkan bahwa sebetulnya seorang yang lihai sekali ilmu silatnya.
"Sudah sewajarnya kalau ada pihak yang menjadi kawan, tentu ada pihak lain menjadi lawan,"
Bantah Siang Koa Bhok.
"Kita berkawan dengan orang-orang kang-ouw dan dengan pemerintah Ceng biarpun dimusuhi orang-orang yang menamakan dirinya pendekar, kita tidak perlu takut. Pasukan pemerintah sewaktu-waktu akan membantu kita. Sekarangpun, pasukan sudah disebar untuk melakukan pengejaran dan penumpasan terhadap mereka yang memusuhi kita."
"Akan tetapi apa sih untungnya bekerja untuk pemerintah penjajah? Kita dibenci rakyat jelata."
"Penjajah atau bukan akan tetapi kenyataannya pemerintah adalah yang berkuasa. Rakyat tinggal menurut saja atau akan dicap pemberontak. Banyak kebaikannya kalau bekerja dengan pemerintah. Kita dilindungi dan seandainya kita mencari kedudukanpun akan mudah. Kita tidak akan dihimpit pajak dan dalam segala perkara kita akan dimenangkan. Bukankah lebih baik dilindungi pemerintah dari pada menjadi musuh dan buronan pemerintah? Sudahlah, isteriku, engkau tidak tahu apa-apa, cukup tinggallah di sini dengan tenang dan serahkan segala urusannya kepadaku."
Nyonya Siang Koan Bhok mengerutkan alisnya yang hitam dan menundukkan wajahnya yang masih tampak cantik.
"Baiklah, asal nanti kalau ada apa-apa yang menyusahkan jangan mengganggu aku."
Pada saat itulah Ouw Kwan Lok dan Hek-bin Mo-ko memasuki taman itu. Melihat Ouw Kwan Lok datang memondong seorang anak laki-laki berusia tiga tahun suami isteri itu memandang heran.
"Kwan Lok, siapakah anak itu dan dari mana kau dapatkan dia?"
Tanya Siang Koan Bhok sambil memandang tajam.
Dia bangga akan kegagahan dan kecerdikan muridnya itu yang kini memiliki tingkat kepandaian yang sudah melampaui tingkatnya sendiri.
Dan penyamaran Ouw Kwan Lok menjadi Hek tiauw Eng-hiong dianggapnya amat cerdik karena telah mampu mengadu domba para pendekar walaupun pada akhirnya rahasia itu ketahuan.
"Suhu tentu tidak dapat menduga siapa anak ini,"
Kata Ouw Kwan Lok dengan bangga.
"Kami telah mencari biang keladi kegagalan pasukan menghancurkan mereka, yaitu Song Thian Lee yang telah mengatur siasat sehingga semua orang dapat lolos dari pulau ini. Akan tetapi ketika kami tiba di rumah persembunyiannya, dia belum pulang dan kami hanya bertemu dengan isterinya dan anaknya. Saya lalu membawa anaknya ini untuk memancing agar dia mau datang ke sini untuk kita bunuh. Sebelum Song Thian Lee dapat dimusnakan, usaha kita akan banyak mengalami hambatan dan gangguan."
"Hemm, jadi dia putera Song Thian Lee? Bagus, ini umpan yang baik sekali, Kwan Lok dan aku yakin bahwa Song Thian Lee pasti akan datang ke sini menyerahkan diri. Akan tetapi, di mana teman-teman yang lain?"
"Sian-ciang Mo-kai berpencar untuk memecah perhatian ibu anak ini yang juga lihai sehingga anak ini dapat saya bawa pergi dengan aman. Adapun teman-teman yang lain sedang sibuk ikut melakukan pengejaran terhadap para pelarian,"
Kata Kwan Lok yang sekali tidak tahu bahkan tidak menduga bahwa Sin-ciang Mo-kai telah tewas di tangan Tan Cin Lan dan banyak kawannya juga sudah tewas di tangan para pendekar.
"Ouw Kwan Lok, berikan anak itu kepadaku!' tiba-tiba Nyonya Siam Koan Bhok berseru. Kwan Lok memandang dengan heran.
"Akan tetapi, subo, ini adalah anak musuh kita."
"Tidak perduli! Kalau orang tuanya musuh, anak ini masih kecil dan tidak ikut apa-apa. Serahkan kepadaku untuk kurawat sementara kalian menanti kedatangan ayahnya."
Nyonya Siang Koan Bhok menghampiri Ouw Kwan Lok. Pemuda ini dengan bingung memandang kepada gurunya dan Siang Koan Bhok mengangguk.
"Memang lebih baik berada di tangannya lebih aman dan tentu ia lebih pandai merawatnya dari pada engkau."
Ouw Kwan Lok melepaskan anak itu ke dalam pondongan Nyonya Sian Koan Bhok yang segera menekan pundak anak itu.
Song Hong San dapat bersuara lagi dan anak itu lalu menangis keras.
Nyonya Siang Koan Bhok lalu mebawanya masuk ke dalam rumah.
"Mari kita berunding di dalam dan panggil Tung-hai Ngohouw (Lima Harimau Laut Timur) untuk hadir,"
Kata Siang Koan Bhok kepada muridnya.
Ouw Kwan Lok menuju ke belakang untuk mencari Lima Harimau yang menjadi kaki tangan gurunya itu, kemudian mereka mengadakan perundingan di bagian belakang rumah besar.
Tung-hai Ngo-houw adalah lima orang bajak laut yang tubuhnya tinggi besar, usia mereka kurang lebih empatpuluh tahun dan mereka memiliki ilmu silat yang cukup tinggi menggunakan sebatang golok besar.
Dahulunya mereka adalah bajak-bajak laut yang sudah menyerah menjadi kaki tangan Siang Koan Bhok di Pulau Naga.
Ketika para rekan kang-ouw golongan sesat bersama para pasukan pemerintah melakukan pengejaran terhadap para pendekar, lima orang ini tidak ikut karena tugas mereka menjaga di Pulau Naga bersama anak buah mereka yang kini tinggal seratus orang kurang setelah banyak di antara mereka tewas dalam pertempuran melawan anak buah Te-tok-pang tempo hari.
Setelah Siang Koan Bhok dan Ouw Kwan Lok berunding dengan Tung-hai Ngo-houw, Ouw Kwan Lok berkata kepada mereka.
"Kalian berlima tidak boleh lengah. Biarpun musuh sudah melarikan diri semua, akan tetapi siapa tahu ada yang diam-diam datang kembali. Apa lagi setelah sekarang kami mempunyai umpan untuk memancing datangnya Song Thian Lee. Kalian harus berhati-hati melakukan penjagaan. Sebar semua anak buah mengawasi di seluruh penjuru dan hidupkan semua alat jebakan dan perangkap. Kalau Song Thian Lee dan isterinya berani datang, kita harus menangkapnya, mati atau hidup. Mengerti?"
"Baik, Beng-cu,"
Kata mereka berlima.
"Lakukan giliran Siang dan malam dan sedikitpun tidak boleh lengah karena musuh adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Nah, sekarang mundurlah dan atur penjagaan itu sebaiknya sambil menanti kembalinya kawan-kawan yang lain."
Lima orang itu mundur, tak tahu bahwa mereka harus menanti selamanya karena kebanyakan kawan mereka itu sudah gugur.
"Saya kira sebaiknya kalau kita memanggil lebih banyak rekan untuk berjaga di sini, Beng-cu,"
Kata Hek-bin Mo-ko.
"Bagaimanapun juga, saya mendengar bahwa Song Thian Lee adalah seorang bekas panglima perang yang banyak akalnya."
"Kau kumpulkan mereka dan panggil ke sini untuk diajak berunding. Siapa saja yang masih berada di sini dan siapa pula yang ikut keluar pulau melakukan pengejaran terhadap para pendekar. Hek-bin Mo-ko menuju ke belakang rumah di mana terdapat pondok-pondok kecil tempat tinggal para anak buah Pulau Naga dan tempat mondok para orang kang-ouw yang bergabung di situ. Di situ masih terdapat beberapa orang tokoh kang-ouw yang sudah bergabung, yaitu di antaranya Kim-to Sam-ong (Tiga Raja Golok Emas) ketua Kim-to-pang yang juga sudah bergabung, dan dua orang kakak beradik Ouw-yang Twa-mo dan Ouwyang Siauw-mo (Iblis besar Ouwyang dan Iblis kecil Ouwyang). Dua orang yang terakhir ini dahulunya adalah sepasang perampok yang ganas. Seperti juga Kim-to Sam-ong, ilmu silat kedua orang bersaudara Ouwyang ini dapat dimasukkan golongan lihai. Hek-bin Mo-ko segera mengundang mereka berlima untuk ikut berunding dengan Siang Koan Bhok dan Ouw Kwan Lok. Kepada mereka berlima, Ouw Kwan Lok memerintahkan agar mulai hari itu mereka waspada dan mengadakan perondaan di sekitar pulau untuk menjaga kalau-kalau ada orang yang berani menyelundup ke dalarn pulau. Lima orang itu menyatakan kesanggupan mereka dan segera pergi melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka. Segala persiapan untuk menyambut kalau Song Thian Lee dan isterinya benar berani datang telah dibuat oleh Ouw Kwan Lok dan Siang Koan Bhok. Kakek ini telah sembuh dari luka dalam akibat perkelahiannya dengan Song Thian Lee dan dia tidak pernah terpisah dari dayung bajanya. Juga Ouw Kwan Lok tidak pernah meninggalkan pedang yang dibawa di punggungnya. Bajunya kini berlengan panjang sehingga lengan baju kirinya tergantung lepas di lengan kirinya yang buntung. Lengan baju ini merupakan senjata yang ampuh juga. Hanya Nyonya Siang Koan Bhok yang tidak ikut gelisah menjaga diri. Ia suka sekali kepada Hong San yang cerdik. Begitu diperlakukan dengan manis, Hong San tidak menangis lagi bahkan suka tertawa-tawa dengan lucunya, mengeluarkan sepatah dua patah kata yang dapat merighibur hati Nyonya Siang Koan Bhok selama ini kesepian, apa lagi setelah kematian puteranya, Siang Koan Tek. Timbul rasa sayang ke pada Hong San di dalam hati wanita yang gerak geriknya lembut itu. Ia mempunyai beberapa orang pelayan wanita yang mengurus dan melayani segala kebutuhannya, tinggal di pondok indah bertaman bunga itu. Suasana di Pulau Naga tampak sunyi dan tenang, namun sebenarnya para penghuninya berada dalam keadaan siap siaga dan waspada penuh ketegangan karena mereka maklum bahwa Song Thian Lee dan isterinya tidak mungkin tidak datang mencari puteranya di tempat itu. Balkan Ouw Kwan Lok dan Siang Koan Bhok menjadi agak gelisah ketika dinanti sampai beberapa hari, kawan-kawan mereka yang melakukan pengejaran terhadap para pendekar belum juga kembali. Sama sekali mereka tidak pernah mimpi bahwa banyak kawan mereka telah tewas di tangan para pendekar. -ooOoo-Terdapat kurang lebih duaratus orang di dalam hutan lebat itu. Seratus orang adalah anggauta Pek-lian-kauw yang pernah diserang dan diporak-porandakan orang-orang Pulau Naga dan pasukan pemerintah dan seratus orang lagi adalah orang-orang Pat-kwa-pai, sekutu mereka. Mereka adalah golongan pemberontak yang membenci terhadap pemerintah penjajah Mancu, akan tetapi mereka juga tidak segan untuk melakukan kejahatan kepada rakyat jelata. Mereka adalah golongan sesat yang membenci penjajah mancu dan di mana-mana membikin kacau dan bahkan berani menyerang pasukan Mancu kalau ada pasukan yang jumlah lebih kecil dari jumlah mereka. Mereka sedang mengadakan pertemuan di hutan itu bersama rekan-rekan mereka, kaum Pat-kwa-pai. Biarpun mereka berlainan aliran dan keagamaan, akan tetapi karena sama-sama memusuhi pemerintah Mancu, mereka dapat bekerja sama. Beberapa orang pimpinan mereka sedang mengadakan perundingan. Seorang berpakaian tosu yang tinggi kurus, matanya sipit dan suaranya meninggi, bangkit berdiri dan bicara kepada beberapa orang yang berjongkok membuat lingkaran. Di tengah mereka terdapat api unggun karena hari telah menjelang senja dan nyamuk telah banyak berdatanga menyerang mereka. Tosu tinggi ini adalah Hwa-Hwa To-su, ketua cabang Pek-lian-kauw yang berkumpul di situ.
"Kita telah diserang oleh orang-orang Pulau Naga sehingga kehilangan banyak saudara. Orang-orang Pulau Naga bersekutu dengan penjajah Maricu, karena itu kita harus membalas dendam dan kita harus membasmi orang-orang Pulau Naga. Kami harapkan bantuan pihak Pat-kwapai sebagai rekan seperjuangan untuk menghadapi orang-orang Pulau Naga."
Seorang tosu yang pakaian di dadanya ada gambar Patkwa, yaitu Cin Cin To-jin tokoh Pat-kwa-pai, bangkit berdiri dan mengepal tinju.
"Kami dan Pek kwa-pai adalah rekan-rekan seperjuangan, sudah seharusnya kalau kami membantu Pek-lian-pai. Marilah kita bersama menghancurkan orang-orang Pulau Naga!"
Pada saat itu terdengar ucapan nyaring.
"Bagus sekali rencana itu, kalau kita bekerja sama tentu hasilnya akan lebih baik lagi� Semua orang terkejut dan menoleh kepada orang yang mengeluarkan suara itu. Mereka melihat seorang berpakaian hitam yang berkedok hitam pula telah berdiri di atas sebuah batu besar sehingga dapat tampak mudah dari situ.
"Siapa engkau?"
Hwa Hwa To-su tokoh Pek-lian-kauw membentak penuh curiga.
"Dia bukan orang kita!' kata pula Cin Cin To-jin dari Patkwa-pai dengan curiga. Semua anggauta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai telah bersiap-siap dengan senjata mereka untuk menyerang orang berkedok itu. Akan tetapi orang berkedok itu berkata dengan nyaring.
"Aku adalah Hek -tiauw Eng-hiong yang juga anti penjajah Mancu seperti kalian. Walaupun kita masing-masing mengambil jalan kita sendiri, akan tetapi dalam menghadapi Pulau Naga kepentingan kita sama. Karena itu, kalau kita bekerja sama, tentu hasilnya akan lebih baik.� "Hek-tiauw Eng-hiong, turunlah dan mari kita bicara,� kata Hwa Hwa Tosu dan berkata kepada anak buahnya.
"Biarlah dia bicara dengan kita."
Orang itu memang Hek-tiauw Eng-hiong atau Cia Tin Han.
Secara tidak disengaja Tin Han mendapatkan mereka sedang berbincang-bincang di situ.
Maklum bahwa mereka itu adalah musuh-musuh Pulau Naga, dia lalu mempunyai pikiran yang amat baik.
Mengapa tidak membiarkan mereka bentrok dengan orang-orang Pulau Naga dan dia mendapatkan keuntungan itu dengan menyusup ke Pulau Naga dan mencari Ouw Kwan Lok?
Demikianlah, maka dia lalu muncul sebagai Hek-tiauw Eng-hiong.
Dengan beraninya Tin Han menerima tawaran orang-orang itu datang ke tengah mereka mengadakan perundingan bersama.
Setelah dia berada di antar mereka, Hwa Hwa Tosu lalu bertanya.
"Hek-tiauw Eng-hiong, apa yang dapat kautawarkan kepada kami?"
"Begini, kita dapat bekerja sama. Pulau Naga sekarang dipimpin oleh beng-cu baru bernama Ouw Kwan Lok yang amat jahat dan juga lihai sekali. Dia yang telah mengumpulkan orang-orang kang-ouw dan menjadi antek penjajah. Kalian boleh menyerbu dan membasmi orang-orang Pulau Naga, dan akulah yang akan menghadapi dan menandingi Ouw Kwan Lok yang jahat dan lihai itu. Dialah musuh besarku.� "Nanti dulu,"
Kata Cin Cin To-jin. 'Bagaimana kami dapat tahu bahwa engkau akan mampu menandingi Ouw Kwan Lok yang kami dengar juga memiliki kelihaian melebihi Siang Koan Bhok itu?"
"Aku pernah bertanding dengan dia dan sudah mengukur kemampuannya. Aku akan dapat mertangkap atau membunuhnya,"
Kata Tin Han.
"Ho-ho, orang muda. Kami tidak mengenalmu, tidak tahu sampai di mana kepandaianmu, bagaimana kami dapat percaya untuk bekerja sama denganmu? Mari, aku akan menguji lebih dulu kemampuanmu!� kata Cin Cin To-jin yang masih curiga.
"Kalau engkau mampu mengalahkan tongkatku ini, baru aku percaya akan kemampuanmu."
Para anggauta Pat-kwa-pai dan Pek lian-kauw segera memberi ruangan untuk kedua orang itu yang hendak mengadu kepandaian.
Cin Cin To-jin adalah ketua Pat-kwapai yang memiliki ilmu tongkat hebat dan dahsyat, di samping tenaganya yang besar.
Tubuhnya memang tinggi besar dan dia amat terkenal dengan tenaganya yang sebesar gajah.
Hwa Hwa Tosu yang mengenal kemampuan rekannya itu membiarkan saja.
Diapun harus melihat dulu kepandaian orang yang menawarkan kerja sama untuk menyerang Pulau Naga sebelum menyetujuinya.
Cia Tin Han lalu melompat dari atas batu besar itu.
Tubuhnya melayang bagaikan seekor rajawali hitam dan hinggap di depan Cin Cin To-jin yang sudah melintangkan tongkat bajanya di depan dada.
"Baiklah, to-tiang. Kalau engkau menghendaki itu. Mari kita main-main sebentar."
"Hek-tiauw Eng-hiong, keluarkan senjatamu!� bentak Cin Cin To-jin kepada calon lawannya.
"To-tiang, di antara kita tidak terdapat permusuhan, bahkan aku mengajak to-tiang bekerja sama untuk menyerang Pulau Naga. Oleh karena itu, dalam main-main ini biarlah aku menggunakan tangan kosong saja menghadapi tongkatmu."
Ucapan itu mengejutkan semua orang. Cin Cin To-jin amat terkenal dengan permainan tongkatnya yang dahsyat, bagaimana orang berkedok ini akan menghadapinya dengan tangan kosong saja.
"Hek-tiauw Eng-hiong, kunasihatkan engkau, cabutlah senjatamu. Tongkatku tidak bermata dan aku tidak ingin melukai atau membunuh seorang yang ingin bekerja sama,"
Kata Cin Cin To-jin.
"Jangan khawatir, to-tiang. Kalau sampai aku terluka atau terbunuh, anggap saja itu kesalahanku sendiri dan tidak ada seorangpun akan menyalahkanmu. Mari, aku telah siap, mulailah!"
Tin Han berseru menantang.
"Bagus, kalau begitu, lihat tongkatku!� Cin Cin To-jin sudah menyerang dan ternyata serangannya memang dahsyat sekali. Tongkatnya bergerak dengan cepat dan mengandung tenaga besar. Tin Han maklum akan hal ini, maka diapun menggunakan kecepatan gerakannya untuk mengelak. Bagaikan seekor burung saja dia berloncatan ke sana sini sehingga semua serangan Cin Cin To-jin mengenai tempat kosong belaka. Hal ini membuat tosu itu menjadi penasaran sekali dan dia mempercepat gerakannya sehingga tongkatnya lenyap bentuknya dan berubah menjadi segulungan sinar yang menyambar-nyambar. Pertandingan itu menjadi menarik karena selain diterangi api unggun, juga para anggauta dua perkumpulan itu kini menyalakan obor sehingga tempat itu menjadi terang dan pertandingan itu dapat tampak nyata. Tubuh Hek-tiauw Eng-hiong merupakan bayangan hitam yang berkelebatan di antara gulungan sinar tongkat sehingga merupakan pemandangan yang luar biasa, seolah-olah pemuda itu sedang menari saja disambar tongkat dari segala jurusan namun tidak pernah mengenai sasaran. Hwa Hwa Tosu yang memperhatikan gerakan Hek-tiauw Eng-hiong, diam-diam terkejut bukan main. Dia mengenal ilmu tongkat Cin Cin Tojin yang hebat dan dahsyat, tenaganya yang besar, akan tetapi sekali ini semua gerakan tongkat Cin Cin To-jin mengenai angin belaka. Suara tongkat menyambar-nyambar berciutan, namun tidak pernah dapat mengenai tubuh Hektiauw Eng-hiong dan setelah berlangsung limapuluh jurus di mana pemuda itu hanya mergandalkan kecepatan gerakan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini, tiba-tiba Tin Han mengeluarkan bentakan keras dan ketika tongkat menyambar ke arah kepalanya, dia merangkis dengan tangan kanannya. Tangkisan itu membuat tongkat terpental dan sebelum Cin Cin To-jin tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja tongkatnya terenggut lepas dan telah pindah ke tangan lawannya! Cin Cin To-jin terkejut bukan main, menubruk untuk merampas kembali tongkatnya, akan tetapi Tin Han menyodorkan tongkat itu untuk dipegang oleh pemiliknya, namun tidak dapat di renggut lepas. Mereka berbetotan sambil mengerahkan tenaga. Cin Cin To-jin yang mengerahkan seluruh tenaga tidak mampu merampas tongkat. Dia penasaran sekali dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot tongkatnya dari tangan Tin Han. Secara tiba-tiba Tin Han melepaskan tongkatnya dan tanpa dapat dicegah lagi Cin Cin To-jin jatuh terjengkang! Terdengar tepuk tangan dart Hwa Hwa Tosu dan para arggauta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai juga banyak yang bertepuk tangan kagum. Siapa yang tidak akan kagum melihat seorang dapat mengalahkan Cin Cin To-jin yang bertongkat itu dengan tangan kosong belaka? Cin Cin To-jin merangkak bangun dan dengan tulus mengakui kekalahannya, mengangkat tangan di depan dada memberi hormat dan berkata.
"Hek-tiauw Enghiong memang gagah perkasa dan pantas untuk menjadi sekutu kami menyerbu Pulau Naga."
"Urusanku di Pulau Naga hanya mengenai urusan pribadi dengan Ouw Kwan Lok,"
Kata Tin Han.
"Karena itu, kalian boleh mengamuk dan membalas dendam kepada anak buah Pulau Naga, sementara itu biarkan Ouw Kwan Lok aku yang menandingi. Akan tetapi, hendaknya ji-wi to-tiang tidak memandang rendah kepada penghuni Pulau Naga. Biarpun dia sudah tua, namun Siang Koan Bhok merupakan lawan yang tangguh sekali dan aku mendengar kabar bahwa isterinya juga seorang yang amat lihai. Belum dihitung lagi para tokoh kang-ouw yang sudah bergabung ke Pulau Naga. Selain itu, aku mendengar pula bahwa di Pulau Naga terdapat perangkap-perangkap dan jebakan-jebakan rahasia yang berbahaya."
"Sicu, hal itu tidak perlu khawatir. Banyak di antara orang kami yang sudah mengetahui akan jebakan-jebakan rahasia itu dan telah mempelajari. Kami tahu bagaimana harus menyerbu Pulau Naga,"
Kata Hwa Hwa Tosu.
"Kalau begitu, lebih baik lagi. Sebaiknya kapan kita akan menyerbu ke sana?' "Kita menyerbu besok pagi-pagi sekali mereka belum mengadakan persiapan. Kita serbu dan membuat mereka panik. Anak buah kami bagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama yang menjadi penunjuk jalan menghalau rintangan jebakan, bagian kedua yang menggunakan panah api melakukan pembakaran dan bagian ketiga yang terbesar baru melakukan penyerbuan."
"Bagus sekali rencana itu, dan aku akan menyusup bersama para pembakar untuk mencari Ouw Kwan Lok dan mencegah dia melarikan diri."
Malam itu Tin Han dijamu oleh orang-orang Pek-liankauw dan Pat-kwa-pai dan beristirahat di sebuah pondok.
Pada keesokan harinya, ketika ayam hutan mulai berkokok, bangkitlah mereka semua dan dengan teratur mereka menggunakan perahu-perahu untuk, menyeberang ke Pulau Naga.
Mereka menggunakan obor karena pagi masih gelap pekat dan puluhan perahu itu meluncur ke arah Pulau Naga dengan cepat.
-ooOoo-Sebuah perahu kecil meluncur pada pagi hari itu menuju ke Pulau Naga.
Yang berada di perahu itu adalah Song Thian Lee, Souw Lee Cin dan Tan Cin Lan.
Tiga orang ini dengan penuh keberanian menuju ke Pulau Naga untuk mencari dan merampas kembali putera Song Thian Lee yang diculik orang dan dibawa ke Pulau Naga.
Mereka tidak tahu akan tetapi dapat menduga bahwa kedatangan mereka tentu telah diketahui oleh para penghuni Pulau Naga.
Akan tetapi mereka tidak perduli dan tidak merasa takut.
Tadinya Tang Ci Lan mengusulkan agar mereka menyamar.
Akan tetapi Thian Lee membantah.
"Mereka sengaja menculik anak kita untuk memancing kita datang ke sini. Menyamarpun mereka akan mengetahui juga. Pendeknya, kita datangi mereka, kalau dapat secara halus kita minta kembali anak kita, kalau tidak dapat secara halus, kita menggunakan kekerasan.
"Kurasa sebaiknya demikian,"
Lee Cin membenarkan.
"Mereka adalah orang-orang yang curang, tentu telah mengintai dan mengawasi semua tempat ini sehingga kedatangan kita tentu akan mereka ketahui. Lebih baik kita datang terang-terangan dan menantang mereka! Dengan bertiga, aku tidak takut menghadapi siapapun juga di pulau ini!"
Hati Tang Cin Lan menjadi besar mendengar kesanggupan suaminya dan Lee Cin.
Ia sendiri seorang wanita gagah perkasa yang tidak mengenal takut, apalagi untuk membebaskan puteranya dari kekuasaan para penculiknya.
Akhirnya mereka tiba di bagian selatan dari Pulau Naga, yaitu di bagian ekornya yang memanjang dan penuh dengan hutan di bukit yang berbatu.
Keadaan di situ sunyi saja, agaknya tidak ada seorangpun yang berada di sekitar tempat itu.
Namun ketiganya dapat merasakan bahwa gerak-gerik mereka tentu diamati orang yang bersembunyi.
Bangunan-bangunan yang menjadi tempat tinggal para penghuni Pulau Naga berada di bukit tengah yang paling besar, dekat puncak dan sudah tampak dari situ sebagian dindingnya yang putih dan gentengnya yang merah.
Thian Lee memimpin dua orang wanita itu mendaki bukit menuju ke bukit besar di mana terdapat bangunan itu.
Mereka bermaksud untuk langsung mendatangi tempat itu dengan waspada agar jangan sampai terjebak di tengah perjalanan menuju ke bukit itu.
Akan tetapi tiba-tiba mereka terkejut ketika mendengar suara ledakan-ledakan keras disusul berkobarnya api di mana-mana!
Biarpun tidak mengetahui dengan pasti, Thian Lee yang melihat keadaan itu dapat menduga bahwa Pulau Naga tentu mendapat serangan dari luar!
"Pulau Naga ada yang menyerang!
Lihat itu kobaran api yang disebabkan oleh panah api dan alat-alat peledak.
Entah siapa yang sedang melakukan peryerangan itu, akan tetapi hal ini kebetulan sekali.
Dalam keadaan terserang dan panik, mereka tentu tidak begitu memperhatikan kita dan kita dapat menyusup masuk.
Mari cepat!' Thian Lee lalu berlari ke depan mendaki puncak bukit kecil di bagian ekor naga itu.
Tiba-tiba dia berhenti dan dua orang wanita yang mengikutinya juga berhenti.
Mereka tiba di tepi jurang yang amat dalam dan lebar.
Tidak mungkin melompati jurang itu.
Akan tetapi di atas jurang itu terdapat dua helai tali besar terbentang dari seberang sini ke seberang sana.
Agaknya itulah jalan satu-satunya untuk menyeberangi jurang itu dan untuk mendekati tempat di mana terdapat bangunan-bangunan para penghuni Pulau Naga.
"Tidak ada lain jalan, kita harus mengambil jalan melalui tali ini. Biar aku yang akan mencobanya lebih dulu!� kata Thian Lee sambil menarik-narik tali itu untuk menguji keuletannya.
"Aku akan lebih dulu menyeberang dan di sana aku akan menjaga jembatan tali ini kalau kalian hendak menyeberang nanti."
"Akan tetapi, hati-hatilah!� kata Cin Lan.
"Lee-ko, berhati-hatilah, aku masih curiga kepada kelicikan mereka?� kata pula Lee Cin.
"Jangan khawatir!� katanya dan dia pun sudah melangkah ke atas dua helai tali yang besarnya seibu jari kaki itu. Dia melangkah ke depan, tali itu bergoyang-goyang akan tetapi Thian Lee dapat mengatur keseimbangan tubuhnya. Dua orang wanita itu memandang dengan hati khawatir. Ketika Thian Lee sudah tiba di tengah-tengah jembatan, tiba-tiba tali jembatan itu terlepas! Entah siapa yang melepaskannya. Tentu saja dengan sendirinya tubuh Thian Lee terayun turun. Untung dengan sigapnya dia masih dapat menangkap kedua tali itu sehingga tubuhnya tidak terjatuh ke dalam jurang, melainkan terayun-ayun, secara mergerikan sekali.
"Ahhhh .....!!� Dua orang wanita itu memandang dengan wajah pucat. Karena terputusnya tali itu terjadi dari sebelah sini, mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong Thian Lee. Selagi dua orang wanita itu kebingungan melihat tubuh Thian Lee terayun-ayun di dinding jurang, tiba-tiba terdengar kelepak sayap seekor burung dan tampaklah seekor burung rajawali hitam menyambar turun ke dalam jurang itu. Seorang bertopeng hitam menunggang burung itu dan hati Lee Cin berdebar tegang dan juga girang. Cia Tin Han! Hek-tiauw Eng-hiong, siapa lagi kalau bukan dia? Hektiauw Eng-hiong memberi isyarat dengan tangan kepada mereka berdua agar mereka tenang dan burung itu lalu meluncur ke bawah jurang. Dengan cekatan sekali, Tin Han menyambar ujung tali yang terlepas itu dengan tangannya dan menyuruh Hek-tiauw-ko terbang kembali ke arah tebing di mana dua orang gadis itu berada. Burung itu hinggap di tebing dan Tin Han menyerahkan ujung kedua tali kepada Lee Cin sambil berkata.
"Cin-moi, kalian pegang kedua tali ini baik-baik, ikatkan di batu besar dan jaga jangan sampai ada yang membikin putus. Aku akan menjaga yang disebelah sana."
Lee Cin mengangguk dengan gembira dan bersama Cin Lan menerima kedua ujung itu.
Mereka lalu menarik kedua tali itu menegang kembali dan mengikatkan ujungnya pada batu besar lalu menjaganya.
Mereka melihat betapa Thian Lee dapat lagi berjalan di atas tali yang sudah ditegangkan itu.
Tin Han kembali menunggang burung rajawalinya dan terbang ke seberang, di mana dia menjaga ujung tali yang lain yang juga oleh orang telah diikatkan kepada dua batang pohon.
Tampak olehnya ada lima orang memegang golok hendak membacok putus tali itu.
Burung rajawalinya menyambar dan Tin Han meloncat turun lalu mengamuk, menampar dan menendangi lima orang itu sehingga mereka jatuh bangun dan melarikan diri.
Thian Lee selamat sampai di tebing seberang.
"Terima kasih atas bantuanmu tadi!"
Kata Thian Lee.
"Akan tetapi, sekarang engkau harus menjaga tali di seberang sana kalau-kalau ada yang hendak mengganggu selagi mereka menyeberang ke sini!"
"Baik, Lee-ko. Aku akan menjaga seberang sana!"
Kata Tin Han dan diapun menunggangi lagi rajawali hitam dan terbang ke seberang sana. Setelah tiba di sana, dia mempersilakan Cin Lan untuk menyeberang lebih dulu.
"Jangan khawatir, suamimu menjaga di seberang sana dan kami berdua yang akan menjaga di sini,"
Kata Tin Han ke pada Cin Lan.
Nyonya yang gagah perkasa inipun lalu menyeberang dengan setengah berlari, memegangi tongkatnya untuk membantu keseimbangan tubuhnya.
Akhirnya tibalah ia di seberang, disambut suaminya dengan lega.
Tin Han dan Lee Cin saling berhadapan.
Dua pasang mata itu bertemu dan bertaut sampai lama, saling pandang dengan penuh selidik seolah hendak menjenguk isi hati masing-masing.
Akhirnya Tin Han menghela napas panjang dan berkata lembut.
"Cin-moi, kesempatan ini kupergunakan untuk minta maaf kepadamu sebesar-besarnya atas segala sikap keluargaku terhadap dirimu! Sudikah engkau memaafkan aku, Cin-moi?"
Lee Cin merasa terharu.
Ia tahu bahwa pemuda ini tidak bersalah apa-apa ketika keluarga pemuda itu bersikap buruk terhadap dirinya, bukan hanya menolak melainkan juga menghina ibunya, seperti juga ia tidak bersalah ketika ibunya menolak dan menghina pemuda itu.
"Han-ko, kalau engkau mau memaafkan ibuku atas sikap dan kata-katanya, akupun mau memaafkan keluargamu atas sikap dan kata-katanya."
"Tentu saja, Cin-moi, sebelum engkau minta, sudah sejak dahulu aku melupakan perlakuan ibumu itu kepadaku. Bagiku yang terpenting adalah sikapmu kepadaku, Cin-moi, bukan sikap ibumu atau siapa saja kepadaku. Aku sungguh girang bahwa engkaupun mau melupakan sikap keluargaku kepadamu."
"Akan tetapi, Han-ko. Perjodohan haruslah direstui oleh orang tua masing-masing, bagaimana kalau ibuku menentang dan juga keluargamu menentang. Masih mungkinkah......... � Tin Han melangkah maju dan memegang kedua tangan kekasihnya.
"Mengapa tidak, Cin-moi? Bukankah yang terpenting itu yang akan menjalani? Kalau memang keluarga kita masing-masing tidak setuju, kita tidak perlu lagi memperhatikan mereka. Kita hidup berdua, jauh dari segala hal yang tidak menyenangkan. Bagaimanapun juga, hatiku masih terhibur karena aku yakin bahwa ayah kandungmu tidak melarang hubungan antara kita. Dan di pihakku, aku dapat minta persetujuan guru-guruku yang bijaksana untuk merestui perjodohan kita."
Sejenak Lee Cin membiarkan jari-jari tangannya diremas-remas kekasihnya. Ia lalu teringat dan berkata.
"Han-ko, mereka menanti di seberang sana. Biarkan aku menyeberang dulu.' "Tidak, mari kita menunggang Hek tiauw-ko. Dia yang akan menyeberangkan kita. Loncatlah!' Dengan gembira dan tegang Lee Cin lalu melompat ke atas punggung Hek-tiauwko dan Tin Han melompat ke belakangnya. Burung itu lalu terbang, tampaknya ringan saja membawa dua beban itu dan melayang ke seberang jurang. Setelah turun, Tin Han berkata kepada burung.
"Hektiauw-ko, terima kasih dan pulanglah dulu kepada suhu."
Burung itu seperti mengerti kata-kata itu. Dia menggerakkan sayapnya dan terbang pergi dari situ.
"Pulau Naga agaknya diserang dari luar. Lihat, terjadi kebakaran di mana-mana dan di sebelah sana terdengar suara ribut-ribut seperti ada pertempuran. Ketika engkau menunggang rajawali tadi, apa yang kaulihat, Han-te?"
Tanya Thian Lee kepada Tin Han yang kini sudah membuka kedoknya, sehingga mukanya tampak, hanya pakaiannya yang masih serba hitam.
"Aku melihat banyak orang menaiki pulau dari arah timur dan utara. Mereka menyerang dengan anak panah berapi dan aku tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai."
"Eh, bagaimana engkau dapat tahu?"
"Aku memang telah bersepakat dengan mereka untuk mengadakan penyerbuan bersama. Pihak Pek-lian-kauw mendendam kepada Pulau Naga karena pernah diserbu dan banyak anggauta terbunuh anak buah Pulau Naga yang dibantu pasukan pemerintah. Aku menggunakan kesempatan baik selagi mereka melakukan penyerangan ini untuk menyeberang ke pulau dan mencari Ouw Kwan Lok. Tak kusangka aku melihat kalian bertiga di sana tadi."
"Bagus! Kalau mereka bertempur, kita tidak perlu mencampuri urusan mereka. Yang penting sekarang mencari Siang Koan Bhok, isterinya, dan Ouw Kwan Lok untuk merampas kembali anak kami."
"Ah, apakah yang terjadi dengan anakmu, Lee-ko?"
Lee Cin menerangkan.
"Putera Lee-ko yang baru berusia tiga tahun diculik oleh Ouw Kwan Lok dan dibawa ke Pulau Naga untuk memancing datangnya Lee-ko dan isterinya yang menjadi musuh besar Ouw Kwan Lok."
"Jahanam curang!"
Kata Tin Han.
"Kebetulan sekali ada pihak lain sedang menyerang Pulau Naga sehingga kita mendapatkan banyak kesempatan. Mari kita datangi bangunan besar itu. Kurasa di sanalah mereka berkumpul."
Makin besar rasa hati Lee Cin setelah kini Tin Han bergabung dengan mereka.
Mereka berempat lalu dengan hati-hati terus mendaki ke atas bukit itu menghampiri bangunan yang berada di puncak bukit.
Sementara itu, Siang Koan Bhok dan Ouw Kwan Lok terkejut juga melihat penyerbuan orang-orang Pek-lian-kat dan Pat-kwa-pai ke pulau mereka.
Hal ini sama sekali tidak pernah mereka sangka.
Pasukan pemerintah baru malam tadi meninggalkan pulau untuk melakukan pengejaran terhadap para pendekar, bahkan banyak orang kang-ouw yang juga ikut melakukan pengejaran sehingga yang tinggal di pulau hanya beberapa orang lagi, di antaranya Tung-hai Ngo-huw, Ouw Kwan Lok dan Siang Koan Bhok bersama beberapa orang kang-ouw lainnya.
Mendapat serbuan orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai tentu saja mereka melakukan perlawanan hebat dan karena memang pulau itu mempunyai tempat yang baik sekali untuk bertahan, seperti sebuah benteng saja, maka pihak Pulau Naga dapat membuat pertahanan yang kokoh kuat.
Sementara itu, Ouw Kwan Lok, Siang Koan Bhok dan kelima Tung-hai Ngo-houw berkumpul di rumah induk, sedangkan Nyonya Siang Koan Bhok tetap berada di pondok belakang di mana terdapat taman bunga yang luas.
Nyonya ini tidak mau mencampuri urusan suaminya dan memang ia tidak disenanginya.
Melihat ribut-ribut di luar, Nyonya Siang Koan Bhok hanya memesan belasan orang wanita pembantunya untuk berjaga-jaga di setiap pintu masuk dengan pedang di tangan dan tidak mengijinkan siapapun memasuki daerah itu.
Akhirnya Thian Lee, Cin Lan, Tin Han dan Lee Cin tiba di bangunan itu dan berhadapan dengan pintu gerbang yang ditutup rapat dari dalam.
Untuk melompati pintu gerbang itu rasanya terlalu tinggi dan tidak ada celah-celah pada pintu itu.
Mereka lalu mencari dengan jalan memutar dan akhirnya dapat melompati pagar tembok di belakang dan memasuki sebuah pekarangan yang luas.
Akan tetapi baru saja mereka berempat masuk, tiba-tiba saja sudah ada belasan orang dipimpin Tung-hai Ngohouw mengepung mereka dengan senjata golok besar di tangan.
Melihat ada empat orang tahu-tahu telah berada di sebelah dalam pekarangan itu, belasan orang ini tidak banyak cakap lagi secara mengepung dan menyerang.
Akan tetapi Lee Cin sudah mencabut pedangnya dan menyambut serangan mereka, demikian juga Cin Lan sudah menggerakkan tongkatnya menyambut golok mereka.
Segera terdengar bunyi golok berdencingan dan golok-golok itu beterbangan begitu bertemu dengan Ang-coa-kiam dan tongkat.
Dan tendangan serta tamparan tangan kiri kedua wanita perkasa itu membuat mereka terpelantingan.
Melihat ini, Tung-hai Ngo-houw menjadi marah dan mereka lalu maju, menggerakkan golok besar mereka mengeroyok dua orang wanita itu dan segera terjadi pertempuran antara dua orang wanita perkasa melawan lima orang Tung-hai Ngo-houw.
Belasan orang lain mengepung Thian Lee dan Tin Han, akan tetapi begitu dua orang pemuda ini menggerakkan kaki tangan, mereka terlempar ke kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin.
Tiba-tiba muncullah Siang Koan Bhok dan Ouw Kwan Lok.
Dua orang ini terkejut bukan main melihat hadirnya Song Thian Lee dan juga Cia Tin Han di tempat itu.
Sama sekali tidak mereka sangka-sangka bahwa serangan orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai itu ternyata ada hubungannya dengan munculnya orang yang mereka tunggu-tunggu itu.
Song Thian Lee dan isterinya telah berada di situ, dan bukan mereka saja.
Juga Cia Tin Han dan Souw Lee Cin!
Begitu melihat Ouw Kwan Lok, Song Thian Lee segera berseru dengan suara nyaring.
"Ouw Kwan Lok, manusia pengecut! Kembalikan anakku dan mari kita bertanding sampai seribu jurus untuk menentukan siapa di antara kita yang akan menang!"
Akan tetapi Ouw Kwan Lok membalas dengan bentakan mengancam.
"Song Thian Lee dan isteri, kalau kalian menghendaki anak kalian selamat, cepat menyerahkan diri, kalau tidak anak kalian akan kami bunuh!"
"Jahanam Ouw Kwan Lok!"
Tin Han sudah membentak marah.
"Lee-ko, jangan dengarkan ancamannya yang kosong!"
Setelah berkata demikian, Tin Han sudah menerjang pemuda berlengan satu itu dengan pedangnya Pek-kong-kiam.
Karena serangan itu dahsyat bukan main, Ouw Kwan Lok tidak berani hanyak cakap lagi dan dia sudah mencabut pedangnya, menangkis dan balas menyerang.
Segera di antara kedua musuh besar itu terjadi perkelahian yang seru dan mati-matian.
Thian Lee menghadapi Siang Koan Bhok.
"Siang Koan Bhok, kejahatan dan penyelewenganmu sudah terlalu jauh. Mari kita tentukan dengan adu kepandaian!"
Siang Koan Bhok tidak dapat menghindar lagi.
Tung-hai Ngo-houw bersama beberapa orang anak buah sudah mengeroyok dua orang wanita yang mengamuk seperti dua ekor naga betina itu, Ouw Kwan Lok juga sudah bertanding mati-matian melawan Cia Tin Han.
Dia tidak dapat menghindarkan diri lagi lalu terpaksa mengerahkan tenaganya memutar tongkatnya dan menyerang Song Thian Lee dengan hebatnya.
Ilmu kepandaian Siang Koan Bhok pada saat itu sudah mencapai puncaknya, Ilmu tongkat yang dimainkan dengan dayung baja itu sudah matang dan dahsyat sekali.
Akan tetapi, harus diakui bahwa usianya semakin tua padahal ini sangat tidak menolong.
Daya tahannya sudah tidak seperti dulu lagi dan keuletannya juga berkurang.
Adapun yang menjadi lawannya adalah Song Thian Lee, seorang muda yang sedang kuat-kuatnya yang memiliki ilmu pedang Jitgoat-kiam sut dengan pedang pusaka Jit-goat-po kiam dan memiliki pula tenaga dahsyat Thian-te Sin-kang.
Gerakan pedangnya mantap dan mengandung tenaga kuatnya sehingga dia merupakan lawan yang berat bagi Siang Koan Bhok.
Pertandingan antara Ouw Kwa Lok dan Cia Tin Han juga terjadi mati-matian.
Ouw Kwan Lok tidak dapat mengharapkan bantuan siapapun juga maka dengan nekat dia mainkan pedangnya dan mengeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya untuk mengimbangi Tin Han yang gagah perkasa.
Pedang mereka lenyap bentuknya dan berubah menjadi dua gulungan sinar yang saling menekan dan menghimpit.
Akan tetapi Lee Cin dan Cin Lan mengamuk bagaikan sepasang naga betina yang dikeroyok belasan orang anak buah Pulau Naga.
Lima orang Tung hai Ngo-houw juga mengeroyok dua wanita ini, akan tetapi tetap saja mereka terdesak hebat oleh pedang Ang-coa-kiam dan tongkat di tangan Cin Lan.
Tiba-tiba terdengar gerengan hebat dan melompatlah Hek-bin Mo-ko ke dalam pertempuran, menyerang Lee Cin dengan ruyungnya yang besar dan berduri.
Lee Cin cepat mengelak dari serangan ruyung yang ampuh itu dan sekali membalik pedangnya sudah menusuk ke arah ulu hati Hekbin Mo-ko.
Raksasa ini terkejut dan cepat membuang tubuhnya ke samping untuk menghindarkan dari tusukan itu, lalu maju lagi mengeroyok dengan yang lain-lain.
Lee Cin dan Cin Lan lalu mengamuk.
Senjata mereka menyambar-nyambar dengan cepatnya dan sudah beberapa orang pengeroyok roboh tak dapat bangkit kembali disambar pedang dan tongkat.
Akhirnya hanya lima orang Tunghai Ngo-houw dan Hek-bin Mo-ko saja yang masih mengeroyok mereka, masing-masing dikeroyok tiga orang.
Akan tetapi Lee Cin yang sudah marah sekali mengamuk dan ketika Hek-bin Mo-ko kurang hati-hati menghadapi sambaran pedang Lee Cin, ia berteriak dan roboh dengan dada tertusuk pedang, lalu terpelanting dan tidak dapat bangun kembali.
Robohnya Hek-bin Mo-ko ini membuat lima orang Tung-hai Ngo-houw menjadi kehilangan semangat, akan tetapi tidak mungkin mereka meninggalkan gelanggang pertempuran dan dengan matimatian mereka masih mencoba untuk mengeroyok Lee Cin dan Cin Lan.
Namun, tingkat kepandaian lima orang Tung-hai Ngohouw ini masih jauh kalau dibandingkan tingkat dua naga betina yang mengamuk itu.
Dalam waktu singkat saja mereka berlima sudah roboh terpelanting, termakan pedang atau tertotok tongkat.
Anak buah yang lain sudah siang-siang melarikan diri karena maklum bahwa mereka tidak akan menang mengeroyok dua orang pendekar wanita itu.
Setelah kehilangan lawan, Lee Cin dan Cin Lan menyimpan senjata mereka dan kini mereka hanya menonton pertandingan yang amat seru antara Song Thian Lee dan Siang Koan Bhok dan antara Cia Tin Han dan Ouw K wan Lok.
Mereka berdua adalah wanita-wanita pendekar gagah perkasa dan melihat betapa suaminya dan kekasih mereka tidak boleh mencampuri, apalagi melihat betapa keadaan pihak mereka tidak terdesak.
Biarpun dengan tetap waspada, mereka kini menonton pertandingan yang amat hebat di puncak bukit itu, di depan bangunan indah yang bertaman bunga.
Pertandingan antara Song Thian Lee dan Siang Koan Bhok sudah berlangsung seratus jurus.
Kakek itu mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua kepandaiannya sehingga tidak begitu mudah bagi Thian Lee untuk mengalahkannya dalam waktu singkat.
Ketika Siang Koan Bhok memainkan dayungnya dengan ilmu tongkat Swe-kut-pang (Tongkat Penghancur Tulang), Thian Lee mengimbanginya dengan Silat Hui-eng-kun (Silat Elang Terbang) sehingga mereka bertanding sampai puluhan jurus dengan sangat seru dan saling serang.
Kemudian Siang Koan Bhok mengubah gerakan tongkatnya dengan ilmu silat Kuiliong-kun (Silat Naga Siluman) dan membarengi pula dengan selingan pukulan tangan kiri dengan pukulan beracun Bantok-ciang (Tangan Selaksa Racun).
Melihat ini, Thian Lee juga mengubah ilmu silatnya.
Dia mainkan Jit-goat Kiam-sut dan menyelingi dengan dorongan tangan kirinya yang mengandung tenaga Thian-te Sin-kang.
Beberapa kali tangan kiri kedua orang jagoan itu bertemu di udara.
Pada mulanya memang tampak seimbang dan keduanya terdorong mundur, akan tetapi lambat laun jelas bahwa Siang Koan Bhok kalah tenaga.
Kalau Thian Lee hanya terdorong mundur, kakek itu terdorong sampai terhuyung!
Pada suatu saat, Siang Koan Bhok mengeluarkan ilmu dayungnya yang paling hebat.
Tubuhnya bergulingan dan dayungnya yang besar panjang itu menyambar-nyambar dari bawah!
Thian Lee terkejut sekali mendapat penyerangan yang tidak terduga-duga ini.
Cepat dia menggunakan ilmu Hui-eng-kun (Silat Garuda Terbang) dan tubuhnya berloncatan ke atas seperti seekor burung garuda beterbangan.
Namun, tetap saja ketika tubuhnya menyambar turun, sebuah hantaman dayung mengenai dadanya.
Melihat datangnya dayung tidak begitu kuat, Thian Lee menerima dengan dadanya dan membarengi menusuk ke bawah.
"Bukk......... crotttt......... !"
Dada Thian Lee terpukul dayung, akan tetapi ulu hati Siang Koan Bhok tertusuk pedang Jit-goat-kaim!
Tubuh Thian Lee terlempar, akan tetapi tubuh Siang Koan Bhok rebah dan darah bercucuran dari dadanya!
Cin Lan cepat melompat dan menghampiri suaminya, membantu suaminya bangkit berdiri dan memandang dengan penuh kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa, hanya terluka sedikit saja,"
Kata Thian Lee yang membikin tenang hati isterinya.
Lee Cin melompat ke dekat Siang Koan Bhok dan memandang.
Ternyata kakek itu tidak mampu bangkit kembali, berkelojotan dan sebelum menghembuskan napas terkahir dia berkata dengan suara serak.
"Song Thian Lee, aku mengaku kalah!"
Pengakuan yang gagah dari seorang datuk besar.
Kemudian dia terkulai dan tewas.
Kini tiga orang itu menonton pertandingan antara Tin Han dan Ouw Kwan Lok.
Pertandingan antara kedua orang ini tidak kalah serunya, bahkan lebih ramai dibandingkan pertandingan antara Thian Lee dan Siang Koan Bhok tadi.
Sungguh di luar dugaan Lee Cin bahwa Ouw Kwan Lok sekarang telah menjadi seorang yang sedemikian lihainya.
Ia sendiri merasa bahwa agaknya sukar baginya untuk mengalahkan orang yang pernah dibuntungi lengan kirinya itu.
Sepak terjang Ouw Kwan Lok memang menggiriskan.
Pemuda ini telah menyerap ilmu-ilmu dari tiga orang datuk besar, yaitu dari Pak-thian-ong, dari Thian-te Mo-ong dan yang terakhir dari Siang Koan Bhok.
Dari tiga orang datuk ini, dia telah mewarisi ilmu-ilmu simpanan mereka dan karena dia masih muda, berbakat dan kuat maka itu menjadi lihai bukan main di tangannya.
Biarpun lengan kirinya sudah buntung, namun ujung lengan baju pada lengan kirinya itu menjadi senjata yang ampuh sekali.
Mereka juga sudah bertanding selama seratus jurus lebih namun Ouw Kwan Lok masih tampak mampu melawan dengan seimbang.
Pedang di tangan kanannya menyambar-nyambar ganas dan tangan kiri yang buntung itu ternyata mampu menyalurkan pukulan beracun Pek-swat Tok-ciang yang mengeluarkan uap putih!
Tangan kanannya memainkan ilmu silat Pek-wan-kun (Silat Lutung Putih) yang lincah dan cekatan sekali.
Sambaran pedang silih berganti dengan sambaran ujung lengan baju kirinya, keduanya merupakan ancaman maut setiap kali menyambar.
Akan tetapi sekali ini Ouw Kwan Lok benar-benar menemukan tanding!
Pedang Pek-kong-kiam di tangan Cia Tin Han adalah pemberian kakek sakti Bu Beng Lo-jin.
Sejak tadi Tin Han tetap memainkan ilmu silat Hektiauw-kun (Silat Rajawali Hitam) yang dimainkan dengan pedangnya yang kadang bergerak seperti paruh burung dan kadang dengan cepat berubah seperti sambaran cakar.
Dan Tin Han melandasi ilmu pedangnya itu dengan tenaga Khong-sim Sin-kang.
Ouw Kwan Lok mengubah-ubah ilmu silatnya dari ketiga gurunya, namun semua ilmu silatnya itu membentur karang ketika bertemu dengan Hek-tiauw kun yang dilandasi Khong-sim Sin-kang.
Terutama sekali dalam kekuatan tenaga sin-kang, lambat laun diketahui bahwa Ouw Kwan Lok masih kalah setingkat.
Kini, setiap kali kedua pedang bertemu, terdengar bunyi nyaring diikuti muncratnya bunga api yang berpijar, namun jelas tampak betapa tubuh Ouw Kwe Lok tergetar, tanda bahwa tenaganya mulai kalah kuat.
Thian Lee, Lee Cin dan Cin Lan yang menonton pertandingan itu bersikap tenang saja, penuh kepercayaan kepada Tin Han.
Bagaimanapun juga, tiga orang yang telah memiliki ilmu silat tingkat tinggi ini dapat melihat bahwa Tin Han tidak dapat dibilang terdesak, bahkan ilmu pedang pemuda ini mantap sekali dan beberapa kali Ouw Kwan Lok tampak kebingungan.
Ouw Kwan Lok sebenarnya merasa gelisah sekali.
Baginya Tin Han terlampau tangguh dan dia sudah hampir putus asa untuk dapat menang.
Bahkan untuk melarikan diri dia sudah tidak mempunyai kesempatan sama sekali.
Kalau dia lari, tentu tiga orang yang lain itu tidak akan meninggalkannya begitu saja, tentu akan turun tangan pula.
Apalagi dia melihat gurunya telah roboh di tangan Thian Lee, nyalinya sebagian besar telah terbang meninggalkan semangatnya.
Diam-diam perhatiannya ditujukan kepada pisau-pisau terbangnya.
Masih ada tujuh batang pisau terbang di pinggangnya dan mungkin pisau terbang ini yang akan dapat menolongnya membebaskan diri.
Dia membuat perhitungan dengan masak-masak.
Tiba-tiba mulutnya mangeluarkan bentakan nyaring sekali dan pedang di tangan kanannya menyambar dahsyat ke arah Tin Han, disusul ujung lengan baju kirinya menyambar dengan cepat mengirim pukulan beracun.
Menghadapi serangan ganda ini, Tin Han dengan hati-hati lalu melompat ke belakang.
Pada saat itu, tubuh Kwan Lok bergulingan dan secepat kilat tangan kanannya melepas pedang yang digigitnya dan tangan kanan itu mencabuti tujuh batang pisau itu.
Sambil bergulingan cepat sekali, empat batang pisau dilontarkan menyambar ke arah tubuh Tin Han dan tiga batang yang lain menyambar ke arah Thian Lee, Lee Cin dan Cin Lan.
Maksudnya untuk membuat empat orang itu mengelak dan menjauh sehingga dia akan dapat melarikan diri dari tempat berbahaya itu.
Akan tetapi Tin Han dapat mengetahui muslihatnya ini.
Pemuda ini mengelak dari dua sambaran pisau pertama kedua dan ketiga.
Akan tetapi pisau keempat dia sambar dengan tangan kirinya dan Iangsung saja dia lemparkan kembali kepada penyerangnya!
Ouw Kwan Lok yang sedang bergulingan dan siap melarikan diri itu sama sekali tidak mengira bahwa dia akan makan pisaunya sendiri.
Pisau itu dengan tepat mengenai lambungnya, masuk sampai ke gagangnya!
"Aduhhhh........!�.
Ouw Kwan Lok menjerit dan melompat ke arah Tin Han, menggerakkan pedangnya membacok ke arah kepala Tin Han.
Tin Han menangkis dengan pedangnya dan melihat kesempatan baik, tangan kirinya mengirim hantaman dengan Hek-tok-ciang yan mengenai dada Ouw Kwan Lok.
"Desss ...... !!"
Tubuh Ouw K wan Lok melayang seperti layang-layang putus talinya dan diapun roboh terjengkang.
Pisaunya masih menancap di lambung dan baju di bagian dadanya hangus dan nampak tanda lima jari tangan di situ.
Dia hanya mengeluh panjang lalu tak bergerak lagi, tewas!
"Han-ko, engkau berhasil membunuhnya!"
Teriak Lee Cin girang sambil mendekati Tin Han. Tin Han memandang ke arah mayat Ouw Kwan Lok dan menghela napas panjang.
"Sayang sekali dia begitu jahat. Ilmu silatnya hebat sekali."
"Mari kita cari putera kita!"
Cin Lan yang tidak pernah dapat melupakan puteranya itu berkata kepada Song Lee.
Mereka berempat lalu menghampiri pondok indah itu dan masuk ke pintu yang tadinya terkunci dari dalam, akan tetapi mereka berempat mendobraknya, sehingga terbuka.
Di sebelah dalam rumah, mereka melihat belasan orang wanita sudah siap dengan pedang di tangan untuk melawan mereka!
Dan di belakang belasan orang wanita pelayan ini berdiri seorang wanita setengah tua, berusia kurang lebih limapuluh lima tahun, berpakaian indah berwajah cantik, lengan kiri memondong Hong San dan tangan lanan memegang sebatang pedang, siap pula melakukan perlawanan!
"Hong San.........
Cin Lan berteriak memanggil puteranya yang dipondong wanita itu. Hong San segera mengenal ibunya.
"Ibu......... !"
Akan tetapi dia tidak menangis dan agaknya dia senang berada dalam pondongan Nyonya Siang Koan Bhok yang tampak menyayangnya.
"Bibi, kembalikan anakku kepadaku!"
Cin Lan berseru dengan suara lembut mendesak.
"Lo-cian-pwe, anak itu adalah putera kami yang diculik oleh Ouw Kwan Lok, harap lo-cian-pwe suka mengembalikan kepada kami!"
Kata pula Thian Lee, tidak berani menggunakan kekerasan khawatir kalau anaknya diganggu.
"Hemm, anak ini telah menjadi pengganti anakku. Tidak boleh orang mengambilnya begitu saja!"
Kata Nyonya Siang Koan Bhok berkeras karena ia sudah menyayang anak lakilaki yang lucu itu. Pada saat itu, terdengar suara lembut.
"Hui Cu......... , aku datang menyambutmu. ......!� Nyonya Siang Koan Bhok terkejut dan menoleh. Dilihatnya seorang kakek berpakaian putih bersih penuh tambalan putih pula sudah berdiri tak jauh dari situ, dengan tongkatnya di tangan. Rambut dan kumis jenggot kakek ini sudah putih, akan tetapi wajahnya masih tampak segar kemerahan seperti wajah seorang muda.
"Kau......... kau......... mau apa engkau ke sini?"
"Hui Cu, engkau kini telah bebas. Siang Koan Bhok telah tewas, demikian pula anak buah Pulau Naga sudah melarikan diri semua. Engkau telah bebas dan marilah menghabiskan sisa hidup bersamaku, melalui jalan yang bersih tenang dan penuh damai sampai saatnya kita kembali kepada asal kita. Hui Cu, akan sia-sialah selama ini aku menantimu dengan sabar?"
"Tong Wan Yu......... , masih ada harapankah hidup dengan tenang dan damai setelah berpuluh tahun ini?"
"Kenapa tidak, Hui Cu? Aku sudah pernah menyakiti hatimu dan berilah aku kesempatan untuk memperbaiki itu semua, mari kita sambut masa senja kita dengan harapan baru untuk hidup penuh ketenteraman dan kedamaian, jauh dari keributan duniawi yang serba palsu."
"Akan tetapi anak ini, aku suka padanya,"
Kata Hui Cu meragu sambil mencium pipi Hong San.
"Ia adalah cucumu, cucu murid. Ibunya adalah muridku yang dulu pernah menerima buah sian-to darimu. Berikanlah anak itu kepada ibunya, kepada Tang Cin Lan dan mari kita pergi dari tempat ini."
Setelah meragu sejenak, Nyonya Siang Koan Bhok atau yang bernama Tha Hui Cu itu lalu menyerahkan Hon San kepada Cin Lan yang segera menggendongnya dengan hati bahagia dan ia menciumi anaknya dengan berlinang air mata.
Nyonya Siang Koan Bhok lalu memesan kepada belasan orang pelayannya.
"Kalian boleh tinggal di sini atau meninggalkan tempat ini. Barang-barang berharga boleh kalian bagi-bagi, aku tidak membutuhkannya lagi. Mari Wan Yu, kita pergi."
Kakek dan nenek itu lalu pergi bergandeng tangan dan tidak sekalipun nyonya itu menengok ke belakang, agaknya ia sudah rela meninggalkan semua itu untuk hidup bersama orang yang pernah dicintanya, yaitu Kakek Pek I Lo-kai atau yang di waktu mudanya bernama Tong Wan Yu.
"Siapa saja yang tinggal di sini!"
Tanya Lee Cin kepada belasan orang pelayan wanita yang kini tidak lagi mengambil sikap bermusuhan. Seorang di antara mereka yang menjadi pemimpinnya lalu maju dan berkata.
"Kami tigabelas orang adalah pelayan-pelayan pribadi akan tetapi Hu-jin telah memberi perintah kepada kami untuk tinggal di sini atau meninggalkan pulau. Kami memilih meninggalkan pulau karena setelah Hu-jin tidak lagi tinggal di sini, kamipun tidak suka tinggal di pulau ini."
"Baiklah, kalau begitu kalian boleh membawa barang-barang yang berharga dan tinggalkan pulau ini,"
Kata Lee Cin.
Tiba-tiba terdengar suara banyak orang di depan pondok itu.
Empat orang pendekar itu cepat keluar dan Cin Lan memondong puteranya.
Ternyata yang datang Hwa Hwa Tosu dan Cin Cin To-jin, pemimpin Pek-lian-kauw dan Patkwa-pai.
Tin Han yang sudah mengenal mereka segera menyambut, kini tanpa kedok menutupi mukanya.
"Jiwi Totiang, kita sudah berhasil. Jiwi sudah berhasil membasmi anak buah Pulau Naga dan akupun sudah berhasil menewaskan para pemimpinnya. Sekarang saya minta agar jiwi totiang suka membebaskan belasan orang wanita pelayan yang berada di sini dan hendak meninggalkan tempat ini. Setelah itu terserah kepada jiwi apakah hendak menduduki Pulau Naga atau tidak."
Dua orang pemimpin perkumpulan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai itu sudah merasa puas dengan hasil kemenangan mereka.
"Untuk sementara kami akan mengambil alih pulau ini sebagai markas besar kami,"
Kata Hwa Hwa To-su kepada Cia Tin Han.
"Baiklah, kalau begitu sekarang kami juga akan meninggalkan tempat ini karena kami sudah tidak mempunyai keperluan apa-apa lagi."
Tin Han dan tiga orang temannya lalu pergi, bersama-sama belasan orang pelayan wanita itu, meninggalkan pulau menggunakan banyak perahu bekas milik anak buah Pulau Naga.
-ooOoo-Kalau Tang Cin Lan dan Song Thian Lee bergembira karena dapat menemukan lagi putera mereka dalam keadaan sehat dan selamat, tidak demikian dengan Lee Cin dan Tin Han.
Kedua orang muda ini masih tenggelam ke dalam lamunan masing-masing sehubungan dengan tidak setujunya kedua pihak orang tua mereka atas perjodohan mereka.
Song Thian Lee maklum akan hal itu karena dia juga menjadi saksi ketika keluarga Cia menolak Lee Cin menjadi jodoh Cia Tin Han.
Sebagai seorang sahabat baik yang sudah mengetahui akan rahasia itu, di depan isterinya dia bertanya kepada kedua orang muda itu.
"Aku mengerti apa yang kalian berdua resahkan. Tentu karena penolakan Keluarga Cia untuk menerima Cin-moi sebagai jodohmu, bukan, Hante?� Cia Tin Han menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan hanya itu, Lee-ko. Bahkan lebih lagi dari itu. Bukan saja keluargaku yang tidak menyetujui perjodohan kami, akan tetapi juga ibu kandung Cin-moi sama sekali tidak setuju kalau puterinya berjodoh dengan cucu mendiang Nenek Cia. Agaknya dahulu di antara mereka berdua terdapat semacam permusuhan yang sampai kini masih mengganjal hati kedua pihak."
"Orang-orang tua kalau mempunyai permusuhan memang amat kukuh hatinya. Akan tetapi kami berdua hendak mencoba untuk membantu kalian, Cin-moi dan Hante,"
Kata pula Song Thian Lee.
"Apakah yang dapat kaulakukan, Lee-ko? Kami sudah berputus asa, bahkan kami sudah bertekad untuk berjodoh tanpa persetujuan mereka lagi,"
Kata Tin Han.
"Ya, apa yang dapat kaulakukan, Lee-ko? jangan-jangan engkau malah akan terlibat urusan yang tidak enak dengan ibuku dan dengan Keluarga Cia. Biarlah kami hadapi dan atasi sendiri urusan ini dan jangan menyusahkanmu Leeko,"
Kata Lee Cin.
"Sama sekali tidak menyusahkan. Aku sendiri merasa penasaran dan kecewa melihat sikap keluarga kalian. Kurasa mereka perlu disadarkan dan aku akan mencoba untuk menyadarkan mereka. Orang biasanya akan menjadi sadar kalau melihat kesalahan diri sendiri yang pernah dilakukan. Kami berdua akan berkunjung kepada orang tuamu Han-te, kemudian kepada orang tua Lee Cin. Mudah-mudahan saja usaha akan dapat menggerakkan hati mereka."
"Sebelumnya terima kasih banyak atas kesediaanmu, Lee-ko. Akan tetapi ketahuilah, ibuku berwatak keras. Satusatunya orang yang dapat menundukkan hatinya adalah ayahku. Aku khawatir ibu bahkan akan memusuhimu."
"Jangan khawatir, Cin-moi. Kami akan bersikap hati-hati."
Perahu mereka telah menyeberang dan mereka tiba di pantai daratan."Sekarang kalian hendak pergi ke mana, Han Te dan Cin-moi?"
"Kami akan mencari kedua orang suhuku, untuk minta doa restu mereka. Kalau kami tidak mendapatkan restu dari orang tua kami, kiranya sudah sepantasnya kami mendapatkan restu dari guru-guru kami,"
Kata pula Tin Han.
"Baiklah, kami akan pulang, akan tetapi akan singgah dulu di tempat kediaman orang tua kalian masing-masing untuk mencoba usahaku membujuk mereka,. Kami tahu di mana harus mencari paman Souw Tek Bun. Dia masih tinggal di Hong-san, bukan, Lee Cin?"
"Benar, Lee-ko."
"Kami akan ke sana. Kemudian kami akan mencari Keluarga Cia. Dimana kiranya aku dapat bertemu dengan mereka, Han-te?"
"Mereka tidak akan tinggal jauh dari tempat kami semula, yaitu di sekitar bukit Lo-sian. Setidaknya ayah ibuku tentu tinggal di sana, di sebuah di antara dusun-dusun di pegunungan Lo-sian."
"Baik, kami akan mencari ke sana. Nah, sekarang juga kami akan berangkat, Han-te dan Cin-moi. Selamat berpisah dan sampai kita berjumpa kembali kelak dalam pesta pernikahan kalian!"
Lee Cin berangkulan dengan Cin Lan, kemudian mereka berpisah mengambil jalan masing-masing.
-ooOoo-Pria itu bertubuh tinggi tegap dan mukanya persegi, alisnya tebal dan matanya mencorong, gerak geriknya membayangkan kekuatan besar dan dia gagah sekali.
Usianya sekitar limapuluh tahun namun dia masih nampak kokoh.
Memang Souw Tek Bun yang dahulu dijuluki orang Sin-kiam Hok-mo merupakan seorang laki-laki yang gagah perkasa.
Dia sedang duduk di atas bangku di serambi rumahnya, ditemani oleh seorang wanita yang cantik.
Wanita ini berusia empat puluh sembilan tahun, bertubuh tinggi agak kurus akan tetapi mukanya cantik jelita.
Dahulu, di waktu ia masih menjadi seorang datuk sesat, karena memahami ilmu beracun, mukanya pucat seperti mayat.
Akan tetapi kini berkat bimbingan suaminya dan melepaskan diri dari hawa beracun, mukanya yang halus itu kemerahan.
Pakaiannya masih seperti dulu, serba merah, warna kesukaannya.
Ia adalah Bu Siang, isteri pendekar itu yang tadinya berjuluk An tok Mo-li.
Setelah kini hidup berdua dengan Souw Tek Bun sebagai suaminya perubahan besar terjadi pada diri Bu Siang.
Ia tidak lagi liar seperti dulu walaupun ia masih memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan masih pandai menjadi pawang ular.
Pada siang hari itu, hawanya panas sekali dan mereka berdua duduk makan angin di serambi depan.
Mereka merasa demikian nyaman, tenteram dan penuh damai.
Keadaan seperti itulah, duduk berdua dengan orang yang dicinta, mengobrol tentang apa saja, yang dirasakan demikian indah oleh Bu Siang.
Tidak seperti dulu ketika ia masih hidup terpisah dari Souw Tek Bun, adanya hanya tegang dan waspada, setiap saat seolah dirinya terancam bahaya.
Mengalahkan atau dikalahkan, hanya itulah semboyan hidupnya ketika itu.
Tak perah mengenal kedamaian.
"Aku rindu kepada Lee Cin,"
Tiba-tiba Souw Tek Bun berkata sambil menatap wajah isterinya untuk menjenguk hatinya.
Masihkah isterinya marah kepada anak mereka itu?
Sebetulnya Bu Siang amat mencinta Lee Cin.
Penolakannya mati-matian ketika mengetahui bahwa Lee Cin mempunyai hubungan dengan putera Keluarga Cia, juga berdasarkan cintanya kepada puterinya.
Puterinya tidak akan diperbolehkan menikah dengan keturunan orang orang yang pernah bekerja sama dengan pemberontak dan bajak-bajak laut Jepang!
Apa lagi ia pernah bentrok dengan Nenek Cia yang terhitung musuh besarnya.
Dalam pandangannya, keluarga Cia tiada bedanya dengan perkumpulan-perkumpulan seperti Pek-lian-kauw dan segala perkumpulan jahat lain yang berkedok perjuangan!
Bagaimana mungkin puterinya tercinta menikah dengan keturunan dari keluarga itu?
Ang-tok Mo-li Bu Siang mengerutkan alisnya mendengar ucapan suaminya, akan tetapi ia menjawab sejujurnya.
"Aku juga rindu kepadanya."
"Ia pergi mencari Hek-tiauw Eng-hiong yang telah melukaimu. Sebetulnya berat hatiku melepas ia pergi seorang diri. Hek-tiauw Eng-hiong demikian lihainya, aku khawatir ia akan mendapat celaka."
"Lee Cin tentu akan mampu melawannya. Dan peristiwa itu bahkan ada baiknya, membuka matanya bahwa laki-laki yang dicintanya itu sebetulnya seorang yang curang dan jahat. Lebih baik membunuhnya dari pada bersahabat dengannya."
"Akan tetapi yakinkah engkau bahwa yang menyerang dan melukaimu, Siang-moi?"
"Hemm, masih diragukan apanya lagi? Bukankah dahulu dia juga menyerang dan melukaimu dengan pukulan yang sama dan dia telah mengakui perbuatan itu? Aku terpukul oleh Hek-tok-ciang, ilmu pukulan yang hanya dikuasai oleh Keluarga Cia yang jahat!"
"Membiarkan Lee Cin pergi sendiri mencari musuh itu, membuat hatiku dak tenteram. Ah, kenapa aku dulu tidak menemaninya mencari? Setidaknya kalau terjadi apa-apa aku dapat mengetahuinya."
"Sudahlah, Bun-ko. Tidak perlu dirisaukan keadaan LeeCin. Ia bukan anak kecil lagi dan tentang ilmu kepandaiannya, ia tidak kalah lihai olehku sendiri. Aku percaya kepadanya."
Tiba-tiba sepasang suami isteri itu berhenti bicara dan perhatian mereka ditujukan keluar pekarangan.
Sepasang orang muda, yang wanita memondong anak kecil, memasuki pekarangan itu sambil tersenyum.
Segera mereka mengenalnya, terutama Souw Tek Bun yan segera bangkit berdiri menyambut kedatangan mereka.
Ang-tok Mo-li Bu Siang juga bangkit berdiri ketika dua orang muda itu memberi hormat kepadanya dan kepada suaminya.
Mereka adalah Song Thian Lee dan Tang Cin Lan yang menggendong Song Hong San.
"Aih, angin apakah yang membawa kalian datang berkunjung?"
Tanya Souw Tek Bun dengan ramah.
"Mari silak duduk, thai-ciangkun."
"Ah, Paman Souw, harap jangan sebut saya dengan sebutan itu. Sudah lama sekali saya tidak lagi menjadi panglima, bahkan kini menjadi buruan pemerintah."
"Oh, ya. Maafkan kami. Eh, silakan duduk dan agaknya kalian berdua datang membawa berita yang penting."
Ang-tok Mo-li Bu Siang juga terseyum kepada Cin Lan dan berkata.
"Siakan duduk."
Setelah keduanya duduk, Thian Lee segera mulai bicara.
"Sebetulnya kedatangan kami ini untuk memberi kabar gembira kepada paman dan bibi, yaitu bahwa Ouw Kwan Lok, beng-cu baru itu, telah mengakui bahwa dialah yang dulu menyerang dan melukai bibi Ang-tok Mo-li dengan pukulan Hek-tok-ciang."
Ang-tok Mo-li mengerutkan alisnya dan memandang tajam.
"Hemm, benarkah itu? Jadi yang menyamar sebagai Hek-tiauw Eng-hiong itu "Benar, Ouw Kwan Lok yang memalsukan Hek-tiauw Eng-hiong. Bukan hanya memukul bibi, akan tetapi dia melakukan banyak pembunuhan atas diri para hwe-sio Siauw-lim-pai dan to-su Kun-lun-pai dengan menyamar sebagai Hek-tiauw Eng-hiong sehingga Pendekar Rajawali Hitam itu yang tertuduh. Maksudnya untuk mengadu domba."
"Jahanam Ouw Kwan Lok!"
Ang-tok Mo-li memaki.
"Akan tetapi dia kini telah tewas, bibi. Yang menewaskannya bukan lain adalah saudara Cia Tin Han atau Hek-tiauw Eng-hiong sendiri."
Setelah berkata demikian, Thian Lee memandang tajam kepada wanita cantik itu. Akan tetapi Ang-tok Mo-li masih mengerutka alisnya.
"Dan ada berita apa lagi. Song-sicu?"
"Selain Ouw Kwan Lok telah tewas, juga para pengikutnya, para tokoh sesat dunia kang-ouw yang dibawanya menghamba kepada pemerintah penjajah telah tewas. Juga Siang Koan Bhok telah tewas dan Pulau Naga telah dibinasakan."
"Apakah kalian bertemu dengan Lee Cin puteriku?"
Tiba-tiba Ang-to Mo-li bertanya.
"Bibi, kami bertemu dengannya. Ia dalam keadaan sehat dan selamat dan iapun membantu pembasmian para antek Mancu,"
Kata Tang Cin Lan, kini tidak ragu-ragu lagi menyebut antek Mancu biarpun ayah tirinya juga seorang Mancu!
Akan tetapi ia sudah dapat membedakan mana orang Mancu yang berjiwa penjajah dan penindas dan mana yang bukan.
"Bagus! Kenapa ia tidak pulang bersama kalian?' tanya pula Ang-tok Mo-li.
"Ia kelak akan menghadap bibi bersama Cia Tin Han, untuk mohon doa restu perjodohan mereka,"
Kata Thian Lee sambil menahan napas. Wajah itu berubah merah, sepasang matanya menyinarkan kemarahan.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin ia menikah dengan cucu Nyonya Cia, musuh besarku!"
"Akan tetapi, Nyonya Cia telah meninggal dunia, dan adik Lee Cin Lan berjodoh dengan cucunya, bukan dengan Nyonya Cia. Pula, apa sih buruknya Nyonya Cia maka bibi membencinya sedemikian rupa?"
"Kau masih bertanya kejahatannya? Sayang dahulu aku hanya melukainya saja dan tidak membunuhnya. Ia pernah menghinaku, mengatakan aku datuk sesat sedangkan ia sendiri apa? Ia berkedok sebagai patriot pembela bangsa, akan tetapi ia tidak segan-segan untuk bersekutu dengan bajak laut Jepang dan dengan pasukan pemerintah. Cih, tidak tahu malu! Tidak, Lee Cin tidak boleh berjodoh dengan cucunya!"
"Akan tetapi, bibi. Harap ingat siapa adanya Cia Tin Han. Dia yang telah membunuh Ouw Kwan Lok yang pernah melukaimu. Dia membasmi para antek Mancu. Dia seorang patriot sejati yang tidak mau bergabung dengan tokoh-tokoh sesat di dunia kang-ouw. Dia seorang gagah sejati. Pula, kalau kita mengingat-ingat, siapakah di antara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam kehidupan kita? Saya sendiri pernah menjadi Panglima Mancu. Paman Souw Tek Bun pernah menjadi beng-cu yang direstui pemerintah Mancu. Dan maaf, bukankah bibi terkenal sebagai seorang datuk sesat di waktu itu? Kita semua pernah bersalah, akan tetapi apakah karena itu kita lalu selama hidup disumpahi dan tetap menjadi orang yang bersalah? Harap bibi ingat demi kebahagiaan puteri bibi sendiri. Dari pada adik Lee Cin berjodoh dengan Cia Tin Han di luar persetujuan paman dan bibi, alangkah baiknya kalau mereka itu berjodoh dengan restu paman dan bibi berdua."
Song Thian Lee bicara penuh semangat dan suaranya terdengar lantang. Ang-tok Mo-li sendiri sampai memandang heran melihat sikap bekas panglima itu.
"Song Thian Lee, mengapa engkau mati-matian membela Lee Cin agar berjodoh dengan Cia Tin Han?"
"Bibi, saya menganggap Lee Cin seperti adik saya sendiri. Dan saya bersedia untuk membelanya mati-matian."
Souw Tek Bun lalu menyentuh tangan kiri isterinya.
"Siang-moi, kurasa banyak benarnya apa yang dikatakan oleh Thian Lee tadi. Kita mengetahui betapa keras watak Lee Cin. Kalau kita berkeras menolak ia berjodoh dengan Cia Tin Han, tentu ia akan memaksa dan kawin lari dengan pemuda itu. Kalau sampai terjadi hal seperti itu, bukankah kita sendiri yang akan merasa malu? Harap engkau pikirkan baik-baik, apa lagi setelah kita mendapat kepastian bahwa Cia Tin Han adalah seorang pendekar patriot yang gagah perkasa dan bijaksana."
Ang-tok Mo-li tampak ragu-ragu, lalu berulang kali ia menghela napas panjang.
"Hemm, kalau ayah ibunya mau datang meminang dan mohon ampun atas kesalahan nenek mereka dahulu, biar kupertimbangkari!"
Akhirnya ia berkata dan Thian Lee merasa gembira bukan main.
"Saya merasa yakin bahwa mereka akan mau melakukan hal itu, bibi. Saya sendiri yang akan membujuk mereka!"
Souw Tek Bun dan isterinya menjamu tamu yang masih muda namun mereka hormati itu dan setelah mengaso di Hong-san semalam, pada keesokan harinya pagi-pagi Thian Lee sudah meninggalkan Hong-san bersama isteri dan anaknya.
-ooOoo-Thian Lee dan Cin Lan mencari Cia Kun dan isterinya di dusun-dusun sekitar pegunungan Lo-sian dan akhirnya mereka mendapatkan suami isteri itu yang hidup sebagai petani di sebuah dusun.
Cia Kun dan isterinya menyamar sebagai petani biasa dan mereka terkejut sekali ketika pada suatu sore Song Thian Lee dan Tang Cin Lan bersama anak mereka datang berkunjung.
Mereka menyambut dengan hormat, akan tetapi Song Thian Lee minta kepada mereka agar jangan sungkan menyambut mereka.
"Paman Cia, kami berdua datang berkunjung untuk menyampaikan berita yang amat melegakan."
"Berita apakah itu, Song-sicu?"
Tanya Cia Kun sambil menatap wajah tamunya yang gagah perkasa itu.
"Pertama kami hendak mengabarkan bahwa Cia Tin Han telah berhasil menemukan Hek-tiauw Eng-hiong yang palsu dan membunuhnya. Penjahat yang menyamar sebagai Hektiauw Eng-hiong itu bukan lain adalah Ouw Kwan Lok, beng cu baru yang bekerja sama dengan Siang Koan Bhok mengumpulkan orang-orang kang-ouw untuk menjadi antek penjajah Mancu. Kebetulan sekali kami berdua dan nona Souw Lee Cin juga pergi ke Pulau Naga sehingga kami dapat bersama-sama membasmi para pimpinan Pulau Naga. Saudara Cia Tin Han berhasil membersihkan namanya dan membunuh orang yang telah mencemarkan namanya selama ini."
Cia Kun dan isterinya mengerutkan alisnya mendengar bahwa Souw Lee Cin juga bekerja sama dengan putera mereka.
"Kami merasa bersyukur sekali bahwa dia telah dapat membersihkan namanya,"
Kata Cia Kun.
"Akan tetapi kenapa dia tidak pulang bersama kalian?"
"Dia melakukan perjalanan bersama nona Souw Lee Cin dan mereka sedang menuju ke sini untuk minta doa restu paman berdua agar pernikahan antara mereka disetujui. Paman dan bibi, saudara Cia Tin Han saling mencinta dengan nona Souw Lee Cin dan mereka merupakan pasangan yang setimpal sekali."
"Tidak bisa!"
Kata Nyonya Cia Kun.
�Bagaimana kita dapat mengambil menantu puteri Ang-tok Mo-li yang demikian jahat?
Ia musuh besar kami dan puterinya tentu saja juga merupakan musuh besar kami.
Bagaimana dapat dijodohkan dengan putera kami?
Kami selamanya tidak akan setuju!"
"Isteri saya berkata benar, Song-sicu. Engkau sendiri tentu sudah mendengar siapa adanya Ang-tok Mo-li. Ia seorang datuk sesat yang jahat sekali. Bagaimana akan kata orang kalau kami, keluarga patriot Cia bermantukan puteri Ang-tok Mo-li?"
"Paman dan bibi harap ingat bahwa adik Souw Lee Cin adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan sudah banyak tokoh sesat roboh di tangannya. Ia benar-benar gagah perkasa dan bijaksana!"
Kata Cin Lan membela.
"Paman dan bibi, kami tahu siapa adanya Ang-tok Mo-li. Akan tetapi itu dahulu, ketika ia masih menjadi datuk sesat. Sekarang ia adalah isteri dari bekas beng-cu Souw Tek Bun yang berjuluk Sin-kiam Hok-mo dan siapa yang menyangsikan kependekaran Souw Tek Bun? Paman dan bibi, setiap orang pernah melakukan kesalahan seperti halnya Ang-tok Mo-li. Kini ia telah bertaubat dan menjadi orang baik-baik.. Seperti halnya keluarga Cia sendiri, bukankah keluarga Cia pernah melakukan kesalahan yang besar sekali sehingga menodai nama sendiri sebagai patriot?"
"Hemm, kami tidak pernah melakukan kejahatan!"
"Benar, akan tetapi Keluarga Cia pernah bersekutu dengan orang-orang sesat di dunia kang-ouw, bahkan bersekutu dengan bajak laut Jepang dan dengan pasukan Mancu yang memberontak. Bukankah itu juga merupakan suatu perbuatan yang salah? Seorang patriot dan pendekar sejati berjuang demi rakyat tentu tidak akan sudi bersekutu dengan kaum sesat dan bajak laut Jepang."
"Hemm, akan tetapi semua itu sudah lewat dan kami sekarang tidak sudi lagi bersekutu dengan mereka!"
Kata Cia Kun.
"Nah, sama saja halnya dengan Ang-tok Mo-li,"
Jawab Thian Lee.
"Locian-pwe itu dulu juga melakukan kesalahan akan tetapi sekarang sudah menyadarinya dan menjadi isteri pendekar besar Souw Tek Bun, tidak lagi menjadi orang sesat. Apakah paman dan bibi tidak dapat sama-sama melupakan kesalahan yang lalu dan kini berbaik, demi ke bahagiaan putera paman dan bibi sendiri? Ingat, paman dan bibi. Yang penting, putera paman dan bibi adalah seorang pendekar patriot dan demikian pula dengan Nona Souw Lee Cin. Mereka saling mencinta dan mereka itu cocok benar untuk menjadi suami isteri."
"Hemmmm ......... hemm........� Cia Kun menggumam dan melirik kepada isterinya "Lalu apa yang dapat kami lakukan?"
"Sebagai orang tua dari Saudra Tin Han, sebaiknya kalau ji-wi pergi melakukan pinangan atas diri Nona Souw Lee Cin dari ayah bundanya di Hong-san."
"Hemm, bagaimana kalau Ang-tok Mo-li menolak mentah-mentah dan marah lalu menghina kami?"
"Tidak mungkin. Kami telah melakukan penjajakan, apa lagi di sana terdapat Paman Souw Tek Bun yang bijaksana dan dia adalah ayah kandung Nona Souw Lee Cin.."
"Hemm, baik, akan kami pikir-pikir dulu sambil menanti munculnya Ti Han."
"Terima kasih, paman. Kami lega sekali karena merasa bahwa kami telah melakukan kewajiban membela Tin Ha dan Lee Cin yang kami sayang."
Suami isteri itupun bermalam satu malam di rumah Cia Kun dan pada keesokan harinya mereka berpamit untuk kembali ke tempat tinggal baru mereka di sebuah dusun yang terpencil karena mereka berdua maklum bahwa mereka tentu akan menjadi buruan pemerintah yang tidak akan segan menangkap mereka kalau mengetahui di mana mereka berada.
-ooOoo-Sambil bergandeng tangan Tin Han mendaki bukit gersang itu.
Melihat seekor burung rajawali hitam beterbangan mengelilingi puncak bukit itu tahulah dia bahwa Thay Kek Cin-jin, gurunya tentu berada di tempat itu.
Dia sudah dua kali meminjam Hek-tiauw-ko untuk membantunya mencari Ouw Kwan Lok dan sekarang dia hendak menghadap gurunya untuk minta tolong agar gurunya mau merestui perjodohannya dengan Lee Cin.
Kalau kedua orang tuanya tidak mau meresrui, maka dia akan minta doa restu gurunya itu.
Setelah tiba di puncak, mereka berdua melihat dua orang kakek sedang duduk berhadapan di atas batu besar yang rata seperti meja dan dua orang kakek itu sedang asyik bermain catur!
Yang seorang adalah Bu Beng Lo-jin, guru Tin Han yang pertama, sedangkan yang kedua adalah Thay Kek Cin-jin.
Baru saja dua orang kakek itu menyelesaikan permaianan catur mereka dan Bu Beng Lo-jin mengelus jenggotnya tertawa.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 8
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 4