Eps 2 Dendam Si Anak Haram - Kho Ping Hoo
Baca online Dendam Si Anak Haram - Kho Ping Hoo
Cersil Dendam Si Anak Haram - Kho Ping Hoo.
Agar Suhengnya ini tidak membujuknya lagi agar ikut bersamanya, Kwan Bu mengangguk dan menjawab singkat.
"Betul, Suheng. aku harus mencari musuh besar yang membasmi keluargaku."
"Wah, katakan kepadaku siapa orangnya, Sute. Jangan khawatir, aku akan membantumu memenggal batang lehernya!"
Siok Lun berkata penuh semangat. Kwan Bu tersenyum. Suhengnya ini orangnya memang peramah sekali, dan pandai bersikap menyenangkan hati.
"Terima kasih, Suheng. Soalnya, aku sendiri belum tahu siapa orangnya."
"Hahhh..?"
Siok Lun terbelalak memandang.
"Habis bagaimana kau bisa...?"
"Aku hanya tahu bahwa ia pandai silat, pandai mainkan golok dan pandai pula menggunakan jarum sebagai senjata rahasia."
"Namanya?"
"Aku tidak tahu."
"Wah-wah, Sute, bagaiana kau akan bisa mencarinya? Di dunia ini banyak sekali yang pandai main golok dan jarum. Heee, nanti dulu! Kau tahu? Ayahku sendiri pun seorang ahli golok yang pandai melempar jarum!"
"Ah, Suheng jangan main-main. Musuh besarku ini seorang kepala perampok yang ganas dan liar. Ayahmu adalah seorang hartawan yang terhormat, mana bisa dibanding-bandingkan?"
"Aku hanya main-main Sute. Akan tetapi, kalau kau tidak dapat ikut bersamaku, sewaktu-waktu mampirlah ke rumah kami di Kam-Sin-Hu. Asal kau Tanya saja disana rumah gedung keluarga Phoa wangwe, tak ada yang tidak tahu."
Kwan Bu mengangguk-angguk.
"Sekali waktu aku akan singgah dirumahmu, Suheng?"
Tiba-tiba kedua orang muda itu membalikkan tubuh dan segera berlutut di depan Hwesio gendut yang sudah tua sekali, Pat-Jiu Lo-Koai guru mereka.
Biar pun gerakkan Hwesio gendut itu sama sekali tidak bersuara, Namun kedua orang muridnya dapat mengetahui kedatangannya, hal ini saja sudah cukup membuktikan betapa hebat ilmu kepandaian dua orang muda ini.
Memang Pat-Jiu Lo-Koai kakek aneh ini mempunyai cara mengajar yang luar biasa.
Ia menggembleng siang-malam dan khusus ilmu silat dan segala kepandaian yang mengenai hal itu.
Dia tidak mengajar yang lain-lain bahkan lwekang dan siulian pun ia ajarkan dengan tujuan khusus untuk kemajuan ilmu silat.
sedikitpun ia tidak mengajarkan filsalat ilmu kebatinan, pendeknya, ia hanya mencurahkan penggemblengan jasmaniah belaka, sama sekali tidak memperdulikan pendidikan batin.
Memang dia seorang ahli silat yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, maka dalam waktu sepuluh tahun saja, tiga orang muridnya telah mewarisi ilmu kepandaiannya yang hebat-hebat.
"Suhu...!"
Siok Lun dan Kwan Bu berlutut didepan kaki guru mereka. Pat-Jiu Lo-Koai si kakek aneh berlengan delapan itu tertawa dan menggaruk-garuk perutnya yang gendut dan tak tertutup pakaian.
"Ha-ha-ha, kalian tidak lekas pergi, masih menanti apa lagi? Bhi Hwa sudah pergi sejak tadi, ha-ha-ha! Lekas pergi, Pinceng tidak bisa mengajarkan apa-apa lagi sekarang, sudah habis terkuras oleh kalian!"
Yang paling menarik perhatian Siok Lun hanya ketika mendengar Bi Hwa sudah pergi. Maka cepat ia berlutut, mengangguk-angguk delapan kali dan berkata.
"Suhu, teecu mohon pamit, hendak menyusul Sumoi."
Belum juga kakek itu menjawab, Siok Lun sudah berkelebat cepat sekali dan lenyap dari depan gurunya. Hwesio itu tertawa bergelak dan kembali mengelus-elus perutnya.
"Ha-ha-ha, dasar orang muda. Akan tetapi kuharap mereka dapat berjodoh, akan baik sekali bagi Bi Hwa...! Omitohud, kau masih di sini Kwan Bu?"
Kwan Bu berlutut mengangguk-angguk kepala sebelum menjawab.
"Suhu, setelah sepuluh tahun menerima budi Suhu yang amat besar, bagaimana sekarang teecu bisa meninggalkan Suhu? Suhu sudah tua, kalau semua murid pergi, siapa yang akan melayani Suhu? Biarlah teecu tinggal di sini melayani Suhu untuk membalas budi Suhu yang amat besar."
Hwesio itu tidak tertawa lagi, menghela napas panjang.
"Hehh... kau keras hati, berkemauan besar, kenal budi, dan pandai menyimpan perasaan. Kalau dahulu pinceng mempunyai watak sepertimu, kiranya pinceng tidak akan seperti sekarang ini, menjadi orang gelandangan yang tidak karuan, hanya pandai membanggakan nama kosong melompong! Nama besar itu banyak ruginya dari pada untungnya. Nama besar yang disanjung-sanjung orang dapat membuat si pemilik nama menjadi besar kepala, sombong dan bangga, merasa pandai sendiri, hebat sendiri, dan karenanya menimbulkan sifat-sifat kepandiran dan sifat angin-anginan. Belum lagi bahayanya dari pihak yang merasa iri, yang setiap saat berusaha untuk merobohkannya atau mengalahkannya. Hah, nama kosong!"
"Semua wejangan Suhu teecu catat dalam hati,"
Kata Kwan Bu.
"Hahh...? Aku tidak memberi wejangan, hanya menceritakan keadaanku. Ahh, engkau murid yang baik, Kwan Bu, murid yang paling baik! Karena itu, dan karena pinceng hendak mengangkat engkau sebagai wakil, maka kau terimalah ini!"
"Toat-Beng-Kiam...!"
Kwan Bu berseru kaget dan girang.
Tanpa dapat diikuti pandang mata tahu-tahu tangan Suhunya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kemerahan, merah darah!
Inilah pedang Toat-Beng-Kiam (Pedang Pencabut Nyawa) milik Suhunya.
yang amat dipuja-puja Suhunya, dan pernah Suhunya bercerita kepada semua muridnya bahwa pedang ini turun temurun dari nenek moyang gurunya dan merupakan pedang tanda kekuasaan.
"Kalian boleh saja membantah dan mendurhakai aku yang menjadi guru kalian, akan tetapi sekali-kali kalian tidak boleh membantah terhadap pedang ini. Siapa pemegang pedang, dialah pengganti guru besar yang menciptakan ilmu-ilmu kita dan siapa menentangnya, dia akan mati di ujung Toat-Beng-Kiam!"
Dan kini gurunya hendak menyerahkan pedang itu kepadanya! "Suhu apakah teecu... cukup berharga untuk.. memiliki Toat-Beng-Kiam?"
Ia bertanya meragu, masih belum berani menerima pedang pusaka itu.
"Mengapa tidak berharga? Kau kira pinceng tidak tahu akan keadaanmu? Ha-ha-ha, muridku, engkau, di samping semua sifat-sifat baik, masih rendah hati pula! Nah, kau terimalah dan wakili aku untuk menghadapi Tosu bau, Koai-Kiam-Tojin Ya-Keng-Cu itu. Kami berjanji bertemu di rumah Bu Keng Liong. Terimalah!"
Sebelum menerima pedang keramat itu, Kwan Bu mengangguk-anggukan kepala dan berkata.
"Teecu Bhe Kwan Bu mendapat kehormatan menerima dan memiliki Toat-Beng-Kiam yang keramat, semoga teecu dapat menjunjung tinggi sifat-sifat kegagahan yang diutamakan pedang ini dan kalau teecu melanggar, semoga roh-roh para Couwsu mengutuk dan menghukum teecu...!"
Hwesio gendut itu tertawa bergelak dengan gembira sekali.
Kwan Bu yang menerima pedang melihat bahwa pedang itu terbuat daripada logam merah yang aneh.
Tipis sekali pedang itu dan lemas, dapat digulung seperti sehelai sabuk kulit!
"Nah, pergilah sekarang juga, jangan sampai terlambat agar Tosu bau itu tidak mengira bahwa pinceng takut.
Pinceng karena malas dan memang dahulu sudah pinceng janjikan akan mengirim wakil seorang murid."
Kwan Bu lalu bermohon diri dan berangkat meninggalkan puncak gunung dimana ia belajar ilmu sampai sepuluh tahun lamanya.
Pakaiannya dari kain tebal sederhana dan buntalannya pun hanya terdapat sesetel pakaian yang butut pula penuh tambalan.
Memang Kwan Bu seorang miskin, Suhunya tidak punya apa-apa pula, bahkan baju sehelai pun tidak punya.
Maka selama berada di puncak gunung Kwan Bu menjual kelebihan sayur-mayur dan buah-buahan yang ditanam untuk membeli atau ditukar dengan pakaian sekedar untuk menutupi tubuhnya.
Ia tidak iri sama sekali melihat pakaian Siok Lun yang serba indah, karena sebagai pelayan rumah keluarga Bu, sudah biasa ia melihat anak-anak lain berpakaian indah tanpa merasa iri.
Bahkan ia girang melihat pakaian Bi Hwa terjamin dengan adanya Siok Lun yang suka membelikan pakaian untuk gadis ini.
Kalau tidak ada Siok Lun, tentu Bi Hwa terpaksa harus berpakaian kasar dan sederhana seperti dia!
Kwan Bu melakukan perjalanan seorang diri, kemudian menduga-duga ke mana perginya Bi Hwa dan apakah dapat disusul oleh Siok Lun.
Ia tahu bahwa dua orang muda itu saling mencinta, dan seperti gurunya, Iapun hanya dapat mengharap semoga mereka itu dapat terangkap menjadi jodoh yang cocok dan bahagia.
Kalau orang melihat pemuda ini, tentu sedikitpun tidak menduga bahwa pemuda ini adalah murid Pat-Jiu Lo-Koai, bahkan yang telah mewarisi Toat-Beng-Kiam yang berarti bahwa ia menjadi murid kepala sekarang, wakil gurunya!
Takkan ada yang mengira bahwa dia seorang yang bukan hanya pandai ilmu silat, bahkan memiliki kesaktian yang tinggi.
Berbeda dengan Siok Lun yang menggantungkan pedang pemberian Ayahnya di pinggang dan berpakaian seperti seorang pendekar, bahkan Bi Hwa juga menggantungkan pedang di pungung, Kwan Bu ini menyembunyikan pedang pusakanya yang dapat digulung, dipakai sebagai sebuah sabuk di pinggangnya, terbungkus sebuah sarung kulit sehingga kelihatan persis sebuah kulit.
Rumah gedung keluarga Bu di kota Kian-cu dihias indah.
Di pekarangan depan yang luas itu ditaruh banyak meja kursi dan suasananya amat meriah karena ada beberapa rombongan musik yang meramaikan suasana perayaan pesta.
Apakah yang dirayakan keluarga Bu?
Pesta itu diadakan untuk merayakan hari she-jit (ulang tahun) Bu Keng Liong, karena pendekar sekarang telah genap berusia enam puluh tahun.
Juga sebagai perayaan gembira bahwa selama ini tidak ada lagi datang gangguan musuh, kehidupan mereka amat tenteram dan tiga orang muda yang belajar silat kini sudah tamat pula.
Liu Kong sudah menjadi pemuda betubuh tinggi besar dan kokoh kuat, Berwajah gagah perkasa dan pakaiannya juga indah serba biru dengan pedang tergantung di pinggang kiri.
Sekali pandang saja, tidak akan orang meragu bahwa pemuda tinggi besar murid Bu Taihiap tentulah seorang pemuda yang amat lihai ilmu silatnya.
Dan memang begitulah, Liu Kong berwajah tampan gagah dan angkuh ini amat hebat kepandaiannya, jarang ada orang muda yang dapat menandinginya, terutama dalam hal tenaga dan ilmu silat tangan kosong.
Kwee Cin juga telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, ia lebih tampan dari pada Liu Kong, lebih pendiam, akan tetapi tubuhnya tetap kecil kurus tidak segagah Suhengnya.
Namun jangan memandang rendah tubuhnya yang kecil kurus itu karena sesungguhnya Kwee Cin inilah yang telah berhasil mewarisi ilmu silat yang berdasarkan tenaga dalam dari gurunya.
Dialah seorang pemuda ahli lweekeh (tenaga dalam) yang amat tangguh dan dibanggakan oleh gurunya.
Pakaiannya juga indah, sungguh pun tidak semewah Liu Kong, dan sebatang pedang tergantung pula di pinggang.
Bagaimana dengan Bu Siang Hwi?
Dia seorang dara yang cantik jelita!
Cantik jelita dan menjadi makin manja karena ia tahu bahwa kedua Suhengnya telah tergila-gila dan jatuh cinta kepadanya!
Secara diam-diam kedua orang Suhengnya berlomba untuk merebut hatinya dengan cara-cara mereka sendiri!
Liu Kong dengan cara yang terang-terangan dan kadang-kadang kasar, sebaliknya Kwee Cin dengan halus dan tidak berterang, melainkan tersembunyi di antara kata-kata dan sikap serta pandang matanya.
Namun sudah amat jelas bagi Siang Hwi bahwa kedua orang Suheng ini amat mengharapkan balasan cintanya dan masih menahan-nahan karena di dalam perlombaan mereka itu, Siang Hwi mendapatkan perasaan yang amat nikmat dan membanggakan!
Kalau Liu Kong merupakan seorang ahli gwakang tenaga luar yang dahsyat sedangkan Kwee Cin mempunyai keahlian sebagai seorang ahli lweekeh, adalah Siang Hwi menuruni ilmu pedang Ibunya yang diperkuat oleh gemblengan Ayahnya, yaitu siang-kiam-hoat (ilmu pedang berpasangan) dalam hal memainkan sepasang pedang yang kini terpasang di punggungnya, Siang Hwi telah jauh melampaui permainan Ibunya sendiri!
Demikianlah besar sekali hati Bu Keng Liong melihat tiga orang muridnya.
Biarpun mereka belum dapat mencapai tingkatnya namun mereka boleh dibanggakan.
Setelah kini mereka menjadi dewasa dengan memiliki kepandaian yang lumayan, hati Bu Taihiap tidak lah begitu khawatir lagi.
Anak-anak ini telah pandai menjaga diri sendiri sekarang, dan karena selama sepuluh tahun tidak pernah terjadi sesuatu, maka ia anggap bahwa kini tidak ada bahaya mengancam.
Hanya hal yang menyusahkan hatinya, yaitu lenyapnya Kwan Bu.
Sampai sepuluh tahun anak ini lenyap dan sampai kini tidak ada beritanya bersamaan dengan lenyapnya Koai-Kiam-Tojin yang juga tak pernah muncul kembali, Bu Keng Liong suami isteri bukan hanya mengkhawatirkan keadaan Kwan Bu semata, melainkan terutama sekali menyusahkan keadaan Ciok Kim, Ibu Kwan Bu.
Sepeninggal anak itu, Ciok Kim makin tahun menjadi makin payah keadaannya.
Payah lahir batin, seakan-akan nyonya ini mati sekerat demi sekerat, digerogoti penderitaan batin dari dalam.
Tubuhnya menjadi kurus dan pucat, dan juga wataknya tidak normal lagi, tidak waras.
Kadang-kadang tertawa sendiri membisik-bisikan nama Kwan Bu, kadang-kadang menangis sedih.
Akan tetapi ia masih tetap melakukan semua pekerjaan rumah dengan rajin.
Keadaan Ciok Kim inilah yang menyusahkan keluarga itu.
Sudah tidak kurang banyaknya usaha Bu Taihiap suami isteri untuk mengobati dan menghibur Ciok Kim, namun sia-sia dan akhirnya mendiamkannya saja.
Mereka tidak tega untuk mengusir pergi Ciok Kim yang sengsara, maka mereka mendiamkan saja perempuan itu yang dianggapnya seperti bayangan saja.
Memang sukar mengurus orang tidak waras.
Diberi pakaian bersih dan baik, malah dibikin kotor dan dirobek sana sini.
Rambutnya selalu awut-awutan.
Mula-mula ditegur dan dicela.
Akan tetapi karena terus-menerus begitu, akhirnya didiamkan saja.
Bu Keng Liong dan isterinya sudah berdandan rapi dan menyambut para tamu dengan duduk di bagian agak dalam.
Di bagian luar berdiri tiga orang muda yang membuat semua mata orang kagum.
Yaitu bukan lain adalah Liu Kong, Kwee Cin dan Bu Siang Hwi.
Diam-diam para tamu memuji dan mengatakan bahwa Bu Keng Liong yang terkenal sebagai Pendekar Besar Bu itu memang patut sekali mempunyai tiga orang murid seperti itu.
Apalagi puterinya, Bu Siang Hwi, benar-benar membuat mata para pria tidak perduli muda maupun tua, melotot dan seperti orang kelaparan melihat nasi putih dan panggang ayam!
Diam-diam ludah ditelan, jantung serasa pepat menggeletak di bawah kaki Bu Siang Hwi yang dalam kesempatan itu menggunakan pakaian serba merah jambon, Ikat pinggang berwarna kuning emas, ikat rambut atau pitanya berwarna biru muda sama dengan warna sepatunya yang bersulam benang emas.
Gagang siang-kiam tampak tersembul di belakang punggung.
Sungguh manis dan juga gagah!
Membuat hati para pria mengilar akan tetapi juga gentar!
Seperti melihat seekor burung yang berbulu indah berpelatuk runcing, hati ingin sekali tangan mengelus bulu indah akan tetapi takut dipatuk!
Setelah tempat itu penuh tamu yang berdatangan untuk memberi selamat kepada Bu Taihiap dan mendoakan panjang umur sambil menyerahkan barang-barang sumbangan dan tanda mata yang kini bertumpuk-tumpuk di atas meja, Bu Taihiap lalu bangkit berdiri, menghaturkan selamat datang dan terima kasih pada para tamu dan mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan.
Pada saat itu, dari luar masuklah seorang pemuda yang berpakaian sederhana.
Ia meragu sebentar, akan tetapi seorang pelayan yang berjaga di luar cepat mempersilahkannya masuk.
Pelayan-pelayan Bu Taihiap terdidik untuk menerima tamu-tamu dari golongan apapun juga, tidak pandang pakaian karena Bu Taihiap maklum bahwa banyak tokoh kang-ouw yang pakaiannya tidak karuan.
Pemuda ini bukan lain adalah Kwan Bu.
Tentu saja pelayan-pelayan tidak ada yang mengenal mukanya yang sudah banyak berubah dari dulu, sepuluh tahun yang lalu.
Kwan Bu kebetulan datang di Kian-cu, mendengar bahwa keluarga Bu mengadakan perayaan pesta ulang tahun.
Ketika melihat tempat itu penuh tamu, sebagai seorang yang tahu diri, Kwan Bu tidak masuk begitu saja memperkenalkan diri karena hal ini akan mengganggu jalannya upacara atau pesta.
Maka ia masuk dan duduk di antara para tamu, tidak memperkenalkan diri karena selain menjaga agar tidak mengganggu juga mencari-cari kalau-kalau di antara para tamu terdapat Tosu yang dimaksudkan gurunya, yaitu Koai-Kiam-Tojin Ya Keng Cu.
Ia mengambil keputusan untuk menekan rasa rindunya kepada Ibunya, dan menanti sampai pesta bubar, barulah ia masuk menemui keluarga Bu dan Ibunya.
Dari tempat duduknya di antara para tamu, Kwan Bu dengan girang melihat betapa bekas majikannya itu bertambah gemuk dan sehat, juga Bu Hujin kelihatan sehat gembira.
Kemudian ia mengerling kearah Siang Hwi dan pandang matanya berseri-seri gembira.
Tidak salah dugaanya dahulu, nona majikannya itu benar-benar menjadi seorang dara yang cantik jelita!
"Dia hebat ya?"
Bisik seorang tamu muda yang duduk di sebelahnya. Agaknya tamu ini melihat pandang matanya yang tertuju kepada nona itu.
"Hee...? Dia, ya, tentu saja. Dia hebat sekali,"
Kata Kwan Bu dengan muka menjadi kemerahan. Tolol, pikirnya, kenapa aku tidak menjaga diri sampai ketahuan orang lain kekagumanku kepada Siang Hwi.
"Hebat...!"
Kata pula pemuda itu mengangguk-angguk.
"Bagaikan setangkai bunga merah jambon yang menggairahkan, akan tetapi hati-hati kawan, durinya runcing bukan main... ha-ha!"
Mau tidak mau Kwan Bu tersenyum. Pemuda ini seorang yang periang, seperti Suhengnya, pikirnya.
"Dan lebih berbahaya lagi adalah kedua ekor kumbang!"
"Hee? Dua ekor kumbang?"
Kwan Bu tidak mengerti. Orang muda itu mengarahkan dagunya ke arah dua orang pemuda yang duduk dekat Siang Hwi.
"Ya, dua ekor kumbang muda itu yang selalu berterbangan mengitari kembang mawar. Berbahaya kalau menyengat!"
Orang itu menyeringai dengan hati kecut, agaknya mengiri melihat Liu Kong dan Kwee Cin.
Kwan Bu tentu saja sekali pandang mengenal Liu Kong.
Memang gagah dan tampan.
Hebat pemuda itu, pikirnya.
Dan Kwee Cin...!
Bibir Kwan Bu tersenyum, Kwee Cin yang baik hati.
Masih sekurus dulu, sungguh pun wajahnya yang agak pucat kini mengandung sinar kehijauan, sinar wajah seorang ahli lweekeh.
Ia kagum dan ingin sekali ia merangkul, menepuk pundak, dan beramah tamah dengan mereka, terutama kwee Cin.
Tiga orang ini duduk di dekat meja di mana di pasang lilin merah sebanyak enam puluh buah menyala.
Meja ini dihias dengan kembang-kembang dan di belakang meja ini tertumpuk barang-barang hadiah dari para tamu.
Tiga orang muda itu seolah-olah menjaga meja itu yang memang tanda penting dalam acara ulang tahun itu, karena enam puluh batang lilin itu diumpamakan enam puluh tahun yang dilalui Bu Taihiap.
Hidup enam puluh tahun dalam gilang-gemilang seperti lilin itu.
Lilin-lilin harus dijaga jangan sampai ada yang padam, dan nanti akan ditiup oleh Bu Taihiap sendiri.
Pada saat itu, selagi para tamu minum-minum gembira, dari luar muncul lima orang laki-laki.
Dua di antara mereka adalah orang-orang berusia kurang lebih empat puluh tahun yang membawa golok besar pada punggung mereka dan yang tiga orang adalah kakek-kakek yang aneh.
Melihat munculnya orang ini, Bu Taihiap memandang dan jantungnya berdebar tegang.
Kiranya setelah sepuluh tahun tiada berita, kini secara tiba-tiba, justru pada saat keluarganya merayakan pesta ulang tahunnya, Tosu itu datang kembali!
Tidak seorang diri, malah bersama empat orang temannya.
Bu Keng Liong tentu saja mengenal mereka itu dan inilah yang membuat hatinya berdebar tegang dan gelisah.
Dua orang bergolok itu tidak ada artinya, mereka hanyalah dua di antara Sin-To Chit-Hiap dan menurut taksirannya, seorang di antara murid-muridnya saja mampu menandingi mereka.
Akan tetapi yang membuat ia kaget adalah tiga orang kakek itu.
Yang seorang adalah Koai-Kiam-Tojin Ya Keng Cu yang sudah ia ketahui kelihaian nya sepuluh tahun yang lalu.
Seorang lagi adalah Tosu lain yang tubuhnya bongkok, Tangannya panjang hampir sampai ke tanah, rambutnya riap-riapan dan mukanya seperti tengkorak.
Dia dapat menduga bahwa agaknya inilah yang mempunyai julukan Sin-jiu Kim-wan (Lutung Emas Bertangan Sakti) karena rambut yang riap-riapan itu diikat oleh gelang emas.
Ia pernah mendengar nama tokoh tua ini yang namanya tidak berada di sebelah bawah nama besar Koai-Kiam-Tojin!
adapun orang ketiga juga seorang kakek, pakaiannya seperti petani, tubuhnya kurus tinggi mukanya juga panjang buruk sekali, di pundaknya tampak tersembul gagang pedang, Ia tidak tahu siapa orang ini, akan tetapi dapat menduga bahwa orang inipun bukan orang sembarangan!
Rombongan lawan yang datang kali ini benar-benar amat berat!
Namun dengan muka tersenyum tenang ia cepat bangkit berdiri menyambut, menjura dan berkata.
"Ah, kiranya Totiang dan Cuwi Enghiong (tuan-tuan yang gagah) yang datang berkunjung. Silahkan duduk!"
Lima orang itu membalas hormatnya, akan tetapi sikap mereka kaku dan Ya Keng Cu segera berkata, suaranya nyaring sekali.
"Bu Sicu, maafkan kalau kami menggangu, Sungguh Pinto tidak tahu bahwa hari ini Sicu sedang merayakan hari shejit. Selamat ulang tahun. Bu Sicu!"
"Terima kasih Totiang!"
"Kami datang bukan karena perayaan yang Sicu adakan, melainkan untuk urusan sepuluh tahun yang lalu. Pinto telah berjanji dengan orang untuk datang lagi sepuluh tahun, dan tidak perduli orang itu muncul atau tidak, sekali ini kami harap Bu Sicu suka menyerahkan bocah bernama Liu Kong itu kepada kami agar pestanya tidak terganggu. Harap Sicu suka maafkan."
Ucapan itu cukup sopan dan beraturan, akan tetapi terdengar tegas dan jelas menyatakan bahwa Tosu ini tidak suka dibantah lagi.
Bu Taihiap mengerti apapun yang terjadi, tidak nanti ia dapat menyerahkan Liu Kong begitu saja, bukan hanya karena Liu Kong telah menjadi muridnya dan keponakan isterinya, akan tetapi terutama sekali karena ia tidak melihat adanya alasan mengapa Liu Kong harus terbawa-bawa dalam urusan pertikaian politik itu.
"Totiang, sunguh saya harus menyatakan maaf sebesarnya. Seperti yang telah saya katakan sepuluh tahun yang lalu, yang berurusan dengan golongan Totiang sekalian adalah mendiang Liu Ti, adapun anaknya, sejak kapan dianggap musuh? apakah dosanya? Tidak, selama tidak ada alasan yang cukup adil, tidak nanti saya dapat membiarkan anak itu diganggu."
"Ha-ha-ha! Biarpun hari ini sudah merayakan hari lahirnya yang ke enam puluh, namun Bu Keng Liong tetap seorang yang keras kepala dan kukuh! Bu-Sicu, apakah kau menantang Pinto?"
"Kalau saya yang menentang dan mencari gara-gara, tentu bukan Totiang berlima yang datang ke sini, melainkan saya yang mendatangi Totiang! Saya hanya menyampaikan pendapat saya. dan selanjutnya terserah, sebagai tuan rumah kewajiban saya hanya melayani kehendak tamu."
Jawaban ini mengagumkan hati Kwan Bu yang sejak tadi menonton dan mendengarkan, Ternyata majikannya masih tetap gagah perkasa seperti dulu, sungguh pun ada hal yang amat mengecewakan dan menyesalkan hatinya, yaitu kalau ia teringat betapa majikannya selalu menolak mengajar silat kepadanya, bahkan melarangnya!
Kini biarpun ia mewakili Suhunya untuk menghadapi Koai-Kiam-Tojin, namun kalau ia begitu saja maju berarti akan merendahkan nama besar majikannya, maka ia hanya bersiap-siap saja dan memandang dengan waspada.
"Ha-ha-ha, kalau begitu, tak dapat dicegah lagi, urusan ini harus diselesaikan dengan kekerasan. Kebetulan banyak hadir para tamu yang menjadi saksi. Bu-Sicu kalau memang ada pembantu dari luar yang akan memperkuat pihakmu silahkan, Pinto tidak akan menghalanginya."
Tosu itu tersenyum-senyum sambil memandang ke kanan kiri, lagaknya tidak sombong namun sudah jelas terbayang di wajahnya bahwa ia sudah yakin akan kemenangan di pihaknya, Wajah Bu Keng Liong menjadi merah.
Biarpun ia dan keluarganya akan kalah, sampai mati sekalipun, ia akan kalah atau mati dalam keadaan seorang pendekar besar.
"Totiang, Totiang telah datang membawa teman-teman akan tetapi saya tidak pernah mengharapkan bantuan luar untuk membereskan urusan dalam."
"Ha-ha-ha, Sicu jangan salah kira. Teman-temanku ini bukanlah orang luar, melainkan orang sendiri, tokoh-tokoh dari pada golongan kami, kaum penentang Kaisar lalim! Dua orang Sicu ini tentu sudah Sicu kenal, yaitu saudara Kam Tek dan Gan lt Bong, dua orang di antara Sin-To Chit-Hiap. adapun saudara ini adalah Suhengku sendiri, Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu!"
Tosu itu berhenti sebentar setelah memperkenalkan Suhengnya, untuk menikmati kekagetan orang-orang yang berada di situ, akan tetapi ia kecewa karena yang kaget hanya tiga orang muda murid Bu Keng Liong saja sedangkan para tamu lain hanya memandang dengan wajah kosong!
Baru ia mengerti bahwa tamu-tamu ini adalah orang biasa, bukan tokoh-tokoh kang-ouw, maka tentu saja tidak mengenal segala macam julukan seperti Sin-jiu Kim-wan (Lutung Emas Bertangan Sakti).
"Dua saudara yang terhormat ini juga seorang tokoh golongan kami yang tentu sudah Sicu dengar namanya. Dia adalah Ban-Eng-Kiam Yo Ciat!"
Di dalam batinnya Bu Taihiap terkejut sekali.
Inilah sama sekali tidak pernah disangkanya, Yo Ciat, si jago pedang yang amat menggemparkan sehingga belasan tahun yang lalu mendapat julukan Ban-Eng-Kiam (Selaksa Bayangan Pedang), Benar-benar lawan yang amat berat, akan tetapi pada wajahnya, jagoan ini tetap tenang saja.
Pada saat itu terdengar seruan keras dan tahu-tahu Ya Keng Cu yang bongkok dan berlengan panjang itu telah meluruskan kedua lengannya dan berkata.
"Ha-ha, tidak membawa sumbangan apa-apa, hanya bisa membantu memadamkan lilin!"
Dari kedua lengannya yan didorongkan ke depan itu mengeluarkan hawa pukulan menyambar ke arah meja lilin dan keenam puluh lilin yang menyala itu mulai goyang apinya!
Tiga orang murid Bu Keng Liong marah sekali, mereka sudah bangkit dan seperti di komando saja mereka pun mendorong ke arah lilin-lilin dari jurusan yang berlawanan dan, api lilin yang sudah bergoyang dan doyong itu menjadi tegak kembali!
Kakek itu terkekeh, akan tetapi terus mendorong, sedangkan tiga orang muda itu mempertahankan.
Tiba-tiba kakek itu berseru kaget dan menurunkan kedua lengannya, mengacungkan Ibu jari ke atas dan berkata.
"Di bawah guru pandai, murid-muridnya sangat hebat!"
Akan tetapi kakek ini sebenarnya mendongkol sekali karena tadi sewaktu ia mengadu tenaga dan sudah yakin pasti menang menghadapi pengeroyokan tiga orang muda itu, secara tiba-tiba saja kakinya terpeleset!
Ia maklum bahwa tidak ada orang berkepandaian tinggi mengganggunya, akan tetapi karena ia mengira bahwa hal itu mungkin dilakukan oleh tuan rumah, maka ia tidak menyebut-nyebut yang akan membuat ia sendiri kehilangan muka.
"Hemm... lilin-lilin itu dinyalakan untuk memperingati umurku. Kalau hendak dipadamkan, biarlah oleh aku sendiri!"
Kata Bu Keng Liong dan dari tempat ia duduk, tangan kirinya menyampok ke arah meja dan.., seketika enam puluh batang lilin menyala itu padam semua!
Tepuk sorak dari para tamu menyambut perbuatan yang oleh mereka dianggap seperti sihir saja itu.
Liu Kong yang tadi menekan kemarahan hatinya karena tidak ingin mengganggu gurunya menyambut tamu, kini tidak dapat menahan lagi.
Ia melompat bangun dan menghampiri para tamu yang berada di tengah ruangan yang cukup luas.
"Inilah aku, Liu Kong!"
Bentaknya.
"Akulah putera Liu Ti yang sekeluarga kalian bunuh, aku tahu, tentu kalian yang membasmi keluarga Ayah. akan tetapi, taat akan nasihat Suhu, aku Liu Kong tidak akan mencampuri urusan itu, karena kata Suhu kematian Ayah bundaku bukan karena urusan pribadi melainkan urusan politik. akan tetapi kalau hendak menangkap atau membunuh aku, silakan aku tidak takut dan akan membela diri mati-matian!"
Pemuda yang bertubuh tinggi besar dan amat gagah ini mengagumkan semua Orang.
Bahkan Kwan Bu yang dulu banyak dibikin sakit hati oleh pemuda ini juga menjadi kagum.
Harus ia akui bahwa Liu Kong memang laki-laki sejati, Sakit hatinya yang dulu-dulu banyak berkurang dan tanpa dibuat-buat ia sudah berpihak pada pemuda ini menghadapi Tosu dan kawan-kawannya itu.
Tiba-tiba terdengar suara mendengus dan Ban-Eng-Kiam Yo Ciat sudah melangkah maju.
"Koai-kiam biarlah aku yang menundukan dia."
Dia sudah melangkah lebar menghadapi Liu Kong yang sudah mencabut pedangnya lalu berkata menentang.
"Orang muda she Liu, engkau cukup gagah. Sayang Ayahmu dulu menjadi penjilat Kaisar, Kalau engkau suka membantu perjuangan kami, tidak saja kami akan mengampunimu, malah akan berterima kasih kepadamu. Tebuslah sifat buruk Ayahmu itu dengan jiwa patriot."
"Tak perlu banyak omong kosong!"
Bentak Liu Kong.
"Kalau hendak menangkapku. cabutlah pedangmu, orang tua!"
"Aah, aku tidak akan menghina gurumu dengan melawanmu bersenjata! Cobalah kau serang aku, orang muda, dan sebentar akan kulaporkan kepada gurumu, di mana letak kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahanmu!"
Ucapan ini bahkan amat memanaskan telinga Bu Taihiap karena terang-terangan orang tinggi kurus itu memandang rendah ilmu pedang yang ia ajarkan kepada Liu Kong!
Ia mengharapkan muridnya itu berlaku cerdik dan pandai melihat gelagat, Kalau Liu Kong cerdik, setelah mendengar julukan si tinggi kurus ini, tentu dapat menduga bahwa seorang ahli pedang, maka karena lawannya tidak memegang senjata, akan baik baginya kalau ia menyimpan pedangnya dan menandingi kakek ini dengan tangan kosong, apalagi karena keistimewaan pemuda ini memang bertangan kosong, Akan tetapi sayang sekali Liu Kong tidak menyimpan pedangnya, melainkan dengan marah karena menganggap ucapan itu menghinanya, lalu menggerakan pedang mulai menerjang dengan dahsyat sekali.
Akan tetapi dengan amat mudah kakek tinggi kurus itu mengelak.
Tubuhnya yang panjang itu ternyata lemas sekali, meliuk ke sana ke mari seakan-akan tidak bertulang, akan tetapi selalu dapat mengelak dari sambaran pedang.
Liu Kong penasaran dan mempercepat gerakan pedangnya sambil membentak keras.
Kakek itu kini juga menggerakkan tubuhnya dan ternyata ia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat.
Tubuhnya seolah-olah menjadi asap saja dan kemana pun juga pedang (Lanjut ke
Jilid 04) Dendam Si Anak Haram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 menyambar, tubuh kakek itu sudah mengelak dengan mudah.
Setelah menyerang sampai belasan jurus secara bertubi belum juga berhasil menyentuh ujung baju lawannya, Liu kong kaget bukan main.
Kiranya kakek ini tadi bukannya main gertak belaka.
Ia memperhebat desakannya dan kini mengerahkan seluruh tenaga.
Tenaga pemuda ini memang besar sekali sehingga pedangnya mengeluarkan suara bersiutan dengan berubah menjadi gulungan putih, Diam-diam Bu Keng Liong mengeluh di dalam hati.
Ilmu pedang si jankung ini tentu luar biasa tangguhnya karena melihat ilmu ginkang yang begitu tinggi, tentu gerakan pedangnya lebih cepat lagi.
Tidak heran julukannya Selaksa Bayangan pedang.
Jangankan Liu Kong dia sendiri belum tentu dapat menangkan kakek jangkung itu.
Selagi ia hendak bangkit berdiri, tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan tampak bayangan merah berkelebat disusul bayangan putih.
Ternyata sekarang Siang Hwi dan Kwee Cin sudah maju membantu Suheng mereka dan kedua Orang muda inipun sudah mainkan pedang mengeroyok.
"Wah-wah-wah... ganas..."
Terdengar Ban-Eng-Kiam Yo Ciat berseru dan kakek ini sekarang terkurung hebat dan terdesak.
Betapapun lincahnya, menghadapi empat batang pedang (Siang Hwi menggunakan dua pedang), dia terdesak hebat dan cepat-cepat mencabut pedangnya sendiri.
Pedang kakek itu panjang dan ketika digerakkan, terdengarlah suara mengaung yang makin lama makin nyaring sehingga terdengar seperti bunyi tiupan suling bernyanyi!
Dan selain itu, kini tampak gulungan sinar putih yang lebar dan panjang, yang melingkar-lingkar seperti ular dan yang perlahan-lahan menolak desakan empat batang pedang murid-murid Bu Taihiap.
"Ha-ha-ha, kiranya Bu Taihiap yang terkenal itu hanya mengandalkan keroyokan untuk memperoleh kemenangan!"
Tiba-tiba Ya Keng Cu tertawa bergelak dan mengejek.
Muka Bu Keng Liong yang tadinya merah itu menjadi pucat.
Ia lalu bangkit berdiri dan sekali tubuhnya berkelebat ia sudah meloncat ke pertempuran dan terdengar suara nyaring dibarengi bentakannya.
"Tahan!"
Kini pedang di tangannya sudah saling tempel dengan pedang panjang di tangan Yo Ciat!
Setelah melihat tiga orang muridnya mundur Bu Keng Liong juga menarik mundur pedangnya.
Angin menyambar di belakangnya, membuat ia maklum bahwa isterinya juga sudah meloncat berdiri di belakangnya dengan pedang di tangan.
Kini suami isteri itu bersama tiga orang muda sudah berdiri siap dengan pedang di tangan, dan berkatalah Bu Keng Liong kepada para lawannya.
"Totiang, tidak perlu banyak cakap dan banyak menyindir! Di sinilah kami berdiri berlima, Totiang pun datang berlima. Nah, terserah kepada kalian sekarang. Keputusan kami, seorang mati, semua binasa!"
Kini keadaan menjadi tegang sekali dan para tamu menjadi khawatir karena maklum bahwa akan terjadi pertandingan mati-matian antara tuan rumah dan rombongan Tosu itu.
Juga Koai-Kiam Tojin Ya Keng Cu dan teman-temannya tertegun, tidak mengira bahwa Bu Taihiap begitu nekat dan mati-matian hendak mempertahankan keponakannya.
Sejenak mereka tidak dapat berkata-kata, kemudian kesunyian dipecahkan suara Ya Keng Cu yang tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, kini Bu Keng Liong kelihatan belangnya! Katakan saja bahwa kalian semua setia kepada Kaisar, agar menempatkan kalian di pihak lawan dan tidak ragu-ragu lagi hati kami untuk membasmimu!"
"Terserah penilaianmu, Totiang. Kami bukan pembela Kaisar, juga bukan penentangnya, kami siap menghadapi apapun juga demi kebenaran! Liu Kong tidak berdosa, maka menangkapnya adalah bertentangan dengan kebenaran karena itu harus kami lawan!"
"Apa yang akan kau andaikan, Bu Sicu? Engkau masih terlalu kukuh untuk bersikap gagah-gagahan dalam usiamu yang semakin tua!"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring.
"Sepuluh tahun yang lalu, Koai-Kiam-Tojin Ya Keng Cu adalah seorang penakut, sekarang usianya sudah bertambah sepuluh tahun, dia ternyata menjadi panakut dan pengecut paling besar! Sungguh menjemukan!"
Semua orang, terutama sepuluh orang yang saling berhadapan itu, kaget dan menengok.
Kwan Bu berjalan dengan langkah perlahan memasuki ruangan itu, sikapnya tenang dan matanya memandang penuh ejekan ke arah Tosu yang kini memandangnya penuh perhatian.
Tiba-tiba Ya Keng Cu berubah warna mukanya, matanya melotot marah sekali, jari telunjuknya menuding dan ia membentak.
"Kau.. kau... bocah setan... kau budak pelayan yang dulu itu, keparat...!!"
Akan tetapi sambil berkata demikian, matanya lalu memandang ke sekeliling, mencari-cari karena ia menduga dengan hati kecut bahwa budak ini muncul bersama Pat-Jiu Lo-Koai, maka ia hari ini datang mengajak Suhengnya Sin-jiu Kim-wan Yo Thian Cu dan Ban-Eng-Kiam, Yo Ciat.
Namun Kwan Bu tidak memperdulikan Tosu ini yang marah-marah kepadanya.
Melainkan cepat menghampiri Bu Keng Liong dan isterinya yang memandangnya dengan mata terbelalak.
"Kwan Bu...!"
Bu Keng Liong berseru kegirangan dan juga keheranan. Kwan Bu menjatuhkan diri berlutut di depan majikannya, lalu berkata.
"Maafkan hamba, yang muncul dalam keadaan begini. Harap jiwi suka kembali duduk karena hamba ada sedikit urusan yang harus diselesaikan dengan Tosu bau ini."
Bu Keng Liong bertukar pandang dengan isterinya, kemudian karena tahu bahwa banyak mata memandang ke arah mereka dan bukan saatnya untuk bicara, Bu Keng Liong mengangguk dan menuntun tangan isterinya diajak kembali ke tempat duduk mereka.
Kwan Bu lalu menghampiri tiga orang muda yang masih memegang pedang dan sambil tersenyum ia menjura.
"Selamat bertemu, nona Siang Hwi, Liu Kongcu, Kwee Kongcu. Harap sam-wi sudi duduk kembali karena urusan Liu Kongcu kini ditunda. Saya mempunyai urusan dengan Tosu bau itu yang harus diselesaikan dulu."
Sambil berkata demikian ia mengedipkan sebelah matanya kepada Kwee Cin.
Kwee Cin tersenyum lalu menyarungkan pedangnya, Liu Kong dan Siang Hwi yang tadinya ragu-ragu terpaksa juga menyarungkan pedangnya karena melihat betapa tadi Bu Keng Liong dan isterinya mengundurkan diri.
Akan tetapi mereka merasa tidak puas, apalagi Liu Kong.
Mau apa budak tolol ini, pikirnya!
Memalukan saja kepada keluarga Bu.
Baru pakaiannya begitu butut, sikapnya ketolol-tololan!
Akan tetapi dengan sikap ramah Kwan Bu menepuk-nepuk punggungnya dan berbisik.
"Kong-Cu mereka lihai sekali, biar kupermainkan."
Akhirnya tiga orang muda itupun duduk di tempat duduknya masing-masing.
Sementara itu, Ya Keng Cu yang masih khawatir akan hadirnya Pat-Jiu Lo-Koai biarpun ia tidak melihat kakek gundul itu, berteriak kepada Bu Keng Liong.
"Bagus, Bu-Sicu! Kau tadi mengatakan tidak akan minta bantuan orang luar! Apakah ini ucapan seorang laki-laki yang patut dipegang?"
"Heh, Tosu bau! Apa kau tidak mengerti bahwa aku pelayan keluarga Bu? Aku Bhe Kwan Bu, sejak kecil menjadi pelayan di sini, boleh kau tanya-tanya semua tetangga. Dan apa kau lupa dahulu, sepuluh tahun yang lalu ketika kau datang ke sini, aku yang melayani minum teh, kemudian kusiram mukamu dengan air teh panas sehingga mukamu berubah menjadi kuning? Lihat sampai sekarang pun masih berwarna kuning!"
Kwan Bu menunjuk ke arah muka Tosu itu yang memang agak kekuningan.
Terdengar suara ketawa di sana sini.
Para tamu yang tadinya merasa tegang menonton pertandingan kini merasa lucu, seolah-olah disuguhi tontonan selingan yang berupa dagelan (lawak).
Muka Ya Keng Cu menjadi makin kuning dan matanya menyinarkan cahaya membunuh.
Dahulu pun ia dimaki dan dihina bocah ini, sekarang bocah ini kembali menghinanya.
Sementara itu, telinga mendengar percakapan bisik-bisik di sebelah belakang antara tiga orang muda itu.
"Dia berani bukan main!"
Kata Kwee Cin.
"Berani apa? Dia hanya gila-gilaan nekat, biar dipuji orang banyak, terutama sekali biar dipuji siokhu. Hemm, perbuatannya ini benar-benar merendahkan nama besar keluarga Bu!"
Kata Liu Kong maraba.
"Eh, kenapa Ayah membolehkannya? Selain pelayan dia... menurut Ayah... dia tidak punya Ayah. Bibi Ciok Kim masih gadis... ketika mengandung..?"
"Anak haram...??!"
Liu Kong memotong ucapan Siang Hwi, suaranya agak keras sehingga mengherankan semua orang.
"Ssssttt...!"
Kwee Cin memperingatkan Suhengnya.
Sedikit percakapan itu menusuk hati Kwan Bu.
Bohong mereka, pikirnya.
Dia anak haram?
Akan tetapi karena Ya Keng Cu sudah bicara lagi, ia terpaksa mencurahkan perhatian kepada lawan ini.
"Bagus, kalau engkau memang bukan orang luar, engkau pelayan keluarga Bu."
Memang hati Tosu ini lega. Andaikan Pat-Jiu Lo-Koai hadir dan bersembunyi, kakek gendut itu tentu tidak akan dapat campur tangan, sebagai orang luar.
"Nah, bocah tolol, apakah kau minta mampus? Kau mau bicara apa menengahi urusan kami dengan majikanmu?"
"Totiang, agaknya kau yang sudah tua sekarang sudah mulai pikun. Lupa lagikah kau akan janji sepuluh tahun yang lalu? Nah, aku sudah memenuhi janji!"
Tosu itu melotot marah.
"Omong kosong! Aku berjanji dengan Pat-jiu..."
Tosu itu menahan ucapannya karena teringat bahwa kata-kata itu seperti menantang si kakek gundul dan kalau dia berada di situ, bisa berabe!
"Hemm, sama saja, Totiang.
Aku yang datang untuk memenuhi janji itu.
Aku mewakili beliau."
Sementara itu Kam Tek dan Gan lt Bong dua orang di antara Sin-To Chit-Hiap sudah tidak sabar lagi menyaksikan betapa Ya keng Cu melayani seorang pelayan untuk berdebat!
"Totiang, untuk apa berbicara dengan anjing ini?
Biar kuhabiskan dia sekarang juga!"
Kata Kam Tek mencabut golok besarnya.
Kam Tek bukan seorang penjahat yang bisa menghina orang, akan tetapi karena dalam urusan ini ia menganggap keluarga Bu penjilat-penjilat Kaisar yang harus dibasmi, maka ia menganggap pelayan inipun bukan orang baik-baik.
Ia dan Gan lt Bong khawatir kalau-kalau keluarga Bu mengatur jebakan, apalagi kalau dilihat betapa banyaknya tamu keluarga Bu yang hadir di situ.
"Benar, tidak ada gunanya Totiang mengajak dia bicara. Biar kubunuh saja dia!"
Kata pula Gan lt Bong, juga mencabut golok untuk menakut-nakuti agar pelayan tolol itu segera lari kabur.
Andaikata pelayan itu lari pergi, mereka berdua inipun juga tidak akan mengejarnya dan tentu akan senang hati mentertawakannya.
Akan tetapi Kwan Bu sama sekali tidak lari pergi, bahkan sedikitpun tidak takut.
Namun, untuk menyenangkan hati dua orang kasar itu, ia pura-pura ngeri melihat golok yang besar-besar itu dan ia berkata.
"Aku bukan anjing. Kalau kalian sudah ketagihan daging anjing, biar nanti kuberikan anjing hitam yang buduk, boleh kau sembelih. Eh, Totiang, apakah mereka ini jagal-jagal anjing?"
Kembali terdengar orang di sana sini tertawa.
Ya Keng Cu sendiri tentu saja merasa enggan untuk turun tangan menghajar seorang pelayan, akan tetapi dia bukanlah seorang bodoh.
Ya Keng Cu adalah seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman.
Melihat sikap pelayan ini yang amat berani, ia menghubungkannya dengan Pat-Jiu Lo-Koai dan menduga bahwa tentu ada sesuatu yang membuat pemuda pelayan ini sedemikian beraninya.
Maka ia lalu berkata kepada kedua orang bergolok itu.
"Boleh kalian robohkan dia, tak perlu dibunuh."
Kam Tek maju dan mengamang-amangkan goloknya kepada Kwan Bu.
Kwan Bu mundur-mundur seperti orang ngeri, tubuhnya agak berjongkok, pantatnya meruncing, matanya melotot, Sikapnya membuat para tamu menyeringai, setengah geli setengah khawatir.
Kam Tek yang mendengar perintah Tosu itu lalu melangkah maju, goloknya menyambar dari kanan ke kiri menyerampang kaki pemuda itu.
Dia pun seorang diantara Sin-To Chit-Hiap tentu saja enggan membunuh seorang pelayan.
Ia menyerang hanya untuk melukai kaki Kwan Bu saja.
Melihat serangan ini, Kwan Bu meloncat dengan gaya ilmu silat majikannya, meloncat mundur tapi terhuyung-huyung hampir jatuh sehingga biarpun ia berhasil menyelamatkan kakinya, ia kellihatan lucu sekali.
Para tamu yang tadinya khawatir, menjadi tertawa geli, Kwan Bu yang meloncat mundur kini dalam posisi jongkok, membalikkan tubuh berkata kepada Siang Hwi yang duduk tak berapa jauh.
"Nona, kau tolonglah, kalau ada gerakanku yang keliru, kau beritahu!"
"Awas, Kwan Bu...!"
Siang Hwi berteriak melihat golok sudah menyambar, sedangkan pemuda itu masih berjongkok.
Tentu saja Kwan Bu maklum akan sambaran dari belakang ini, namun ia sengaja mendiamkan saja dan baru setelah Siang Hwi berteriak, ia lalu membuat gerakkan mengelak dengan cara menggelundung.
Biarpun kaku, Siang Hwi dan dua Suhengnya melihat jelas bahwa itu adalah jurus ilmu silat mereka bernama "Trenggiling Menggelundung Keluar Sarangnya."
Golok yang sudah dekat sekali dengan pundak Kwan Bu, kembali luput bahkan kini mengenai lantai sampai muncrat bunga api.
Kam Tek penasaran bukan main.
Dia seorang Sin-to (Golok Sakti) dua kali menyerang pelayan ini sampai gagal.
Ah, tidak mungkin!
Ia menerjang lagi dan sibuklah Kwan Bu mengelak ke sana ke mari dan melihat ini, Siang Hwi pun sibuk memberi petunjuk-petunjuk sampai Bibirnya bergerak-gerak terus saking capainya ia menyebutkan jurus-jurus untuk Kwan Bu.
"Ouw-yan-hoan-sin (Burung Walet Hitam Membalik)! Kim-le-coan-po (Ikan Emas Terjang Ombak)! Koai-liong-ciong-thian (Siluman Naga Terjang Langit)!!"
Repot juga Kwan Bu, akan tetapi karena gerakan-gerakannya yang memang kaku dan aneh, malah luar biasa sekali membingungkan Kam Tek.
Apalagi ketika beberapa kali ia merasa seakan-akan goloknya menyeleweng sendiri, Seperti ada tenaga tak tampak yang membuat goloknya tidak menurut perintah tangannya, benar-benar membuat ia bingung dan penasaran!
Sementara itu melihat lagak Kwan Bu seperti Kauw-Ce-Thian (si Raja Monyet) berjungkir balik meloncat ke sana kemari dengan gerakan-gerakan lucu, akan tetapi selalu dengan tepat dapat mengelak, para tamu bersorak-sorak dan bertepuk tangan.
Tentu saja semua tamu memihak Kwan Bu yang mereka tahu memebela tuan rumah.
Sementara itu, diam-diam Bu Keng Liong terkejut bukan main.
Pandang matanya jauh lebih tajam daripada Siang Hwi.
Ia melihat sesuatu yang aneh di dalam gerakan-gerakan Kwan Bu, gerakan yang sempurna tapi sengaja dibikin kaku!
Dan melihat pula betapa jari-jari tangan Kwan Bu kadang-kadang menyentil ke arah golok yang tiba-tiba saja menyeleweng!
"Siang Hwi, jangan ribut, diam saja kau!"
Bentaknya. Mendengar bentakan Ayahnya, Siang Hwi diam, dan memang mulutnya juga sudah cape. Kwan Bu tertawa.
"Heh-heh-heh, si jagal anjing yang satunya lagi mana? Majulah agar aku dapat sekaligus merobohkan kalian. Heh-heh!"
Golok Kam Tek menyambar dan Kwan Bu meloncat.
"Haaaiiittt, Hampir kena, tapi luput!"
Penonton bersorak dan Kam Tek makin beringas.
Melihat keadaan saudaranya ini, Gan It Bong berteriak keras dan goloknya menyambar, tepat dari kiri pada saat golok.
Kam Tek menyambar dari kanan.
Kedua golok itu merupakan gunting besar yang menggunting tubuh Kwan Bu dari atas bawah, kanan kiri!
Kedua orang Sin-to ini sekarang tidak lagi main-main, tidak lagi bermaksud melukai, melainkan bermaksud membunuh!
"Hayaaa!
Berbahaya sekali...
tapi luput!"
Tubuh kwan Bu secara aneh melejit dan bebas dari guntingan kedua golok, akan tetapi anehnya, kedua golok itu menyeleweng dan tahu-tahu bertemu sendiri dengan kawannya.
"Cringgg...!"
Bunga api muncrat ke sana-sini menyilaukan mata.
"Wah-wah, jangan berebut, dong! Dagingku cukup banyak, tak usah berebutan, sedikit-sedikit asal adil!"
Kwan Bu ngoceh terus membuat dua orang itu makin marah.
Ketika kembali kedua golok menyambar, Kwan Bu merebahkan diri dan menggelinding.
Di dalam dunia persilatan, tidak ada gerakan menggelinding seperti ini, rebah begitu saja lalu menggelinding pergi.
Namun nyatanya, ia kembali dapat membebaskan diri.
"Siocia (Nona) kutotok mereka, ya?"
Kwan Bu yang sudah meloncat bangun menghadapi Siang Hwi bertanya kepada gadis itu, tidak memperdulikan kedua lawannya yang mendengus-dengus marah seperti dua ekor babi hutan terluka.
Siang Hwi kini sudah keheranan setengah mati, tak dapat menjawab, apalagi takut kepada Ayahnya, dan hanya mengangguk-angguk dan matanya terbelalak karena khawatir kini melihat dua orang lawan itu sudah menerjang dengan dahsyat sekali dari belakang tubuh Kwan Bu.
Gerakkan mereka cepat bukan main sehingga dua batang golok di tangan mereka itu berubah menjadi sinar menyilaukan.
Akan tetapi tiba-tiba, entah bagaimana tak seorangpun dapat mengikuti, tubuh Kwan Bu melayang ke atas berjungkir-balik dan telah berada di belakang tubuh dua orang lawannya.
Mereka membalik dan Kwan Bu menapaki mereka dengan kedua lengan menusuk tepat, menggunakan dua buah jari masing-masing tangan.
"Cusss! Cusss!"
Dua orang lawan tepat ditotok kena sekali.
Golok mereka jatuh berkerontangan dan Kam Tek tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Gan lt Bong menangis, air matanya bercucuran seperti banjir!
Sejenak keadaan menjadi sunyi.
Semua tamu melongo.
Yang terdengar hanya suara tertawa Kam Tek dan tangis Gan lt Bong.
Kemudian disusul dengan suara ketawa Kwee Cin dan Siang Hwi.
Dara itu menutupi mulutnya dan menahan ketawanya, akan tetapi Kwee Cin sampai hampir terjungkal dari kursinya karena tertawa geli.
Mereka ini tahu bahwa dua orang tadi telah terkena totokan yang tepat, Kam Tek tertotok jalan darah yang membuat ia tak dapat menahan tertawa terpingkal-pingkal, dan Gan lt Bong tertotok jalan darahnya yang membuat air matanya nyerocos turun tak dapat dibendung lagi.
Setelah Kam Tek tertawa terus, dan Gan It Bong menangis terus, sedangkan Kwan Bu berdiri bertolak pinggang memandang kedua lawannya dengan mata terbelalak seakan-akan terheran-heran, barulah para tamu bersorak dan tertawa-tawa.
Seorang pemuda saking girang dan gelinya tertawa sambil tangannya menepuk-nepuk meja.
Meja terguling, kuah bakso yang masih penuh di mangkok, tumpah dan kuah itu menyiram celana seorang tamu setengah tua.
Tamu setengah tua itu pun jengkel, akan tetapi karena ia sendiri pun kegirangan dan bertepuk-tepuk tangan, ia lalu menyambar sekepal bakso terus dijejalkan ke mulut pemuda yang berteriak-teriak itu.
Saking girangnya, si pemuda sama sekali tidak marah, bahkan lalu dengan enaknya mengunyah tiga butir bakso di dalam mulutnya!
Ada pula yang berguling dari bangku sambil memegangi perut, tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air mata.
Koai-Kiam Tojin Ya Keng Cu kaget dan marah sekali.
Sekali melompat ia sudah tiba di belakang Kam Tek dan Gan lt Bong dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu dapat ia bebaskan.
Mereka berhenti tertawa dan menangis, lalu mundur dengan muka sebentar marah sebentar pucat.
"Keluarga Bu ternyata bersembunyi di balik tubuh seorang pembantu dari luar yang sudah direncanakan lebih dulu! Pinto menantang Bu Keng Liong sendiri agar keluar dan mari kita mengadu tajamnya pedang. Jangan bersembunyi di balik seorang badut yang amat rendah untuk Pinto layani!"
Liu Kong lalu meloncat bangun.
"Siapa minta dia ini maju? Kami sama sekali tidak dilindungi oleh... oleh... anak haram ini! Tosu jahat, jangan kira aku takut padamu!"
Liu Kong lalu mencabut pedangnya dan meledaklah suara ketawa para tamu. Liu Kong kaget dan tidak mengerti.
"Suheng... pedangmu...!"
Kwee Cin berseru.
Liu Kong memandang dan mukanya pucat karena yang ia cabut dan acungkan ke atas tadi hanyalah gagang pedang saja, tidak ada pedangnya!
Kwan Bu menghadap para tamu, mengangkat tangan mencegah para tamu tertawa.
"Eh, eh, cuwi sekalian harap jangan tertawa. Pedang Liu Kongcu adalah pedang siluman, tentu saja tidak tampak. Akan tetapi bisa membikin putus leher Tosu siluman pula."
Orang-orang makin terpingkal ketawa. Liu Kong marah sekali, hendak menerjang Kwan Bu, akan tetapi pamannya membentak marah.
"Liu Kong, mundur kau...!"
Terpaksa ia mundur dengan marah.
"Anak haram! Kau anak haram...!"
Ia memaki Kwan Bu yang masih tersenyum-senyum. Kwee Cin juga mencabut pedangnya yang tinggal gagangnya saja, lalu berkata sambil menahan senyum.
"Suheng, lihat, pedangku pun telah dibikin patah. Dia lihai sekali dan sengaja mematahkan pedang agar kita tidak menceburkan diri ke dalam pertempuran."
"Dia? Dia yang mematahkan pedang?"
"Siapa lagi. Dia tadi menepuk-nepuk punggung kita, ingat?"
Diam-diam Liu Kong terkejut setengah mati.
Menepuk punggung tapi mematahkan pedang dalam sarung pedang.
Ilmu apa ini?
Sementara itu, Kwan Bu menghadapi Ya Keng Cu.
Sikapnya kini tidak lagi ketololan seperti tadi, melainkan tenang dan sungguh-sungguh ketika ia berkata dengan suara lantang.
"Ya Keng Cu Totiang! Benar-benar engkau tak tahu malu, berani lancang mengatakan bahwa Bu Taihiap bersembunyi di balik tubuh orang luar! Hemm kalau aku seorang pelayan kau anggap orang luar, itu karena kau seorang pengecut besar yang tidak berani menghadapi lawan berat akan tetapi selalu berlagak kalau sudah menghadapi lawan yang lebih ringan! Ya Keng Cu! Dengarlah baik-baik. Orang yang kau takuti, Pat-Jiu Lo-Koai, hari ini tidak datang akan tetapi mewakilkan muridnya, dan akulah orangnya!"
Kini Ya Keng Cu memandang penuh perhatian.
Hatinya lega.
Yang ia khawatirkan memang Pat-Jiu Lo-Koai.
Kalau hanya muridnya saja ia tidak takut!
Ia memandang rendah, karena sungguh pun pemuda ini telah mengalahkan dua orang Sin-to, akan tetapi tingkat kepandaian dua orang itu memang belum seberapa tingginya.
Dan sepuluh tahun yang lalu anak muda ini masih seorang bocah pelayan yang tidak bisa apa-apa.
Baru belajar sepuluh tahun sudah berani menentangnya yang sudah berpengalaman puluhan tahun!
"Ha-ha-ha, bocah sombong!
Kiranya engkau murid Pat-Jiu Lo-Koai dan kini mewakili gurumu untuk menghadapi kami?
Bagus sekali!
Bu Sicu tunggulah setelah Pinto membereskan budak..?"
"Totiang! Mengapa banyak cerewet lagi? Majulah!"
Bentak Kwan Bu. Tangan pemuda ini bergerak dan...
"Singgg...!"
Entah dari mana dapatnya, tahu-tahu tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang.
Inilah pedang Toat-Beng-Kiam yang ia dapat dari gurunya.
Melihat betapa pemuda ini tahu-tahu memegang sebatang pedang yang berwarna merah dan berkilauan saking tajamnya, semua orang melongo dan para tamu menahan napas.
Mereka yang tidak mengerti ilmu silat sekalipun kini maklum bahwa pemuda yang tadi membadut itu ternyata adalah ahli silat yang pandai.
Apalagi pihak tuan rumah dan lawan, tahulah mereka kini orang macam apa adanya Kwan Bu.
Kwee Cin memandang dengan wajah berseri dan mulut tersenyum.
Bu Siang Hwi memandang dengan melongo dan terheran-heran.
Hanya Liu Kong memandang dengan kening berkerut, wajahnya membayangkan hati yang tidak puas dan penasaran.
Bu Taihiap saling pandang dengan isterinya, kemudian berbisik.
"Sejak dulu aku tahu dia ini berbakat luar biasa, akan tetapi siapa mengira akan menjadi murid Locianpwe yang luar biasa anehnya, Pat-Jiu Lo-Koai...! Hemm, betapapun juga dalam waktu sepuluh tahun, bagaimana dapat memiliki ilmu yang bisa mengalahkan lawan seperti mereka ini? Aku harus bersiap-siap. Dia membantu kita, tidak boleh kita tinggal diam saja kalau dia terancam bahaya."
Isterinya mengangguk dan keadaan amat tegang bagi pihak tuan rumah.
Mereka sendiri sudah mengaku dalam hati bahwa mereka tidak akan kuat melawan musuh-musuh itu.
Kini muncul Kwan Bu yang merupakan bintang penolong tak tersangka-sangka, akan tetapi juga masih meragukan apakah pemuda ini mampu mengalahkan mereka.
Ya Keng Cu melihat betapa pemuda aneh itu telah melolos pedang dari pinggang secara cepat sekali, diam-diam maklum bahwa pemuda ini tak boleh di pandang ringan.
Kalau tadinya ia hendak melawan dengan tangan kosong, kini ia batalkan niatnya itu dan cepat tangannya meraba gagang pedang yang seakan-akan meloncat keluar dari gagangnya dan berada di tangannya.
Ternyata pedang Tosu ini berwarna merah pula, akan tetapi merah muda, tidak merah dara seperti pedang Toat-Beng-Kiam!
Melihat ini, kembali para tamu menjadi berisik membicarakan tentang warna kedua pedang yang aneh itu.
Biasanya pedang berwarna putih, atau agak kebiruan saking tajamnya.
Akan tetapi, dua batang pedang ini warnanya merah!
Benar-benar luar biasa sekali.
Sebagian dari para tamu menduga bahwa agaknya dua orang itu sengaja mengecat pedang mereka agar kelihatan aneh dan bagus!
Akan tetapi Bu Keng Liong tiba-tiba terkejut dan kagum.
Ia sudah mendengar tentang besi merah yang luar biasa keras dan kuatnya, namun amat sukar didapat karena tempatnya berada di dalam tanah yang amat dalam, puluhan li dalamnya.
Menurut cerita, makin merah besi itu makin tua dan kuat.
Kini melihat pedang di tangan Kwan Bu warnanya merah tua jauh lebih merah daripada pedang di tangan Tosu itu, ia diam-diam kagum bukan main.
"Bocah pelayan, jangan mengira bahwa Pinto Koai-Kiam Tojin Ya Keng Cu suka menghina orang muda terutama sekali seorang pelayan! Akan tetapi kalau hari ini Pinto melayanimu adalah mengingat bahwa engkau adalah murid dan wakil Pat-Jiu Lo-Koai. Nah, kau mulailah!"
Sambil berkata demikian, Ya Keng Cu menggerakkan pedangnya, dilintangkan di depan dada.
Gerakan yang sedikit ini saja sudah menimbulkan suara berdesing dari pedangnya dan tampak sinar merah berkelebat.
Makin berdebar hati penonton.
Akan tetapi dengan sikap tenang, Kwan Bu berkata.
"Dan teman-temanmu ini sebetulnya bukan dari golongan kaum sesat, melainkan tokoh-tokoh kang-ouw yang biasa membela kebenaran dan keadilan, pemberantas kejahatan. Akan tetapi kalian sedang dimabok politik dan nafsu kebencian kepada Kaisar, maka sekali ini terpaksa aku mewakili Suhu memberi pelajaran kepadamu!"
Ucapan ini sungguh "Besar"
Dan bagi Ya Keng Cu terdengar amat sombongnya. Maka dengan seruan keras Tosu ini sudah menerjang maju. Sinar pedangnya berkelebat menyambar. Kwan Bu dengan tenangnya menggerakkan pedang menangkis.
"Cringgg...!"
Banyak penonton yang menjadi sakit telinganya mendengar suara ini, amat nyaringnya, melebihi berkerincingnya emas dan perak.
Tosu itu merasa betapa ujung-ujung jari tangannya yang memegang pedang tergetar.
Kagetlah ia dan tahu bahwa biarpun hanya berlatih sepuluh tahun, namun pemuda ini sudah menguasai intisari tenaga ginkang dan ilmu silat tinggi, maka ia makin berhati-hati.
"Lihat pedang!"
Teriaknya dan kini ia benar-benar menyerang dengan jurus-jurus ilmu pedang yang amat luar biasa gerakannya.
Pedangnya lenyap menjadi sinar pedang yang bergulung-gulung, berwarna merah jambon, dan mengeluarkan angin keras yang berbunyi.
"Wirrr!... Wirrr!"
Seperti sebuah kitiran angin.
Sinar merah muda ini melingkar-lingkar dan mengurung Kwan Bu yang bergerak tenang.
Mula-mula para penonton melihat betapa pemuda itu masih berdiri, hanya berloncatan ke sana ke mari dengan pedang digerakkan menangkis.
Indah sekali pemandangan di saat itu.
Mereka tidak melihat lagi si Tosu, hanya melihat Kwan Bu membuat gerakan seperti orang menari dan karena sinar pedang merah muda itu melingkar-lingkarnya, Maka ia tampak seperti seorang penari selendang merah!
Hanya suara berdencing-dencing yang mengakibatkan bunga api muncrat berhamburan saja yang membuat para penonton ingat bahwa yang mereka tonton bukanlah tarian, melainkan pertandingan adu nyawa yang menegangkan!
Kemudian, pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan suara melengking keras dan tampaklah sinar pedang yang merah sekali, merah darah yang bergulung-gulung dan membuat lingkaran lebih besar dari pada lingkaran sinar pedang merah muda.
Tubuh pemuda itupun kini lenyap terbungkus sinar pedang dan pemandangan kini menjadi lebih hebat dan indah.
Yang tampak hanya dua gulungan sinar pedang, saling belit dan saling gulung, hanya jelas tampak betapa gulungan sinar pedang merah muda makin lama makin sempit dan kecil!
"Ah, bukan main anak itu...!"
Bu Taihiap berbisik dan memandang kagum.
"Aku sendiri belum tentu dapat menandingi Koai-Kiam Tojin, akan tetapi dia...!"
Setelah lewat hampir seratus jurus, tiba-tiba dari dalam itu terdengar lagi suara Kwan Bu melengking tinggi dan.
"Cringgg... Tranggg...!!"
Bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata dan secara tiba-tiba saja dua gulungan sinar merah itu lenyap dan tampaklah Ya Keng Cu terhuyung-huyung mundur, pedang masih di tangan, akan tetapi tangan kirinya memegang jubahnya yang bagian depannya sudah robek dari atas ke bawah dan tampak sedikit darah mengalir dari dadanya yang tergores ujung pedang sehingga kulitnya pecah!
Wajah Tosu ini pucat sekali.
Hanya dia, Kwan Bu dan para ahli silat di situ yang melihat betapa Kwan Bu telah mengampuninya, karena kalau pemuda itu menghendaki, bukan hanya kulitnya yang tergores, melainkan juga isi dadanya!
Ya Keng Cu sambil meringis lalu berkata.
"Murid Pat-Jiu Lo-Koai benar lihai, Pinto menerima kalah!"
Meledaklah tepuk tangan dan sorak sorai para tamu.
Bahkan Kwee Cin sampai bangkit dari tempat duduknya, bertepuk tangan sambil tertawa-tawa seperti penonton pertandingan sepak bola yang menang taruhan!
Ketika menarik tangannya, barulah Kwee Cin duduk kembali.
Siang Hwi juga tersenyum-senyum dan kini pandang matanya terhadap Kwan Bu jauh berlainan daripada yang sudah-sudah.
Ada rasa kagum dan heran bercampur rasa menyesal pada pandang matanya.
Bu Keng Liong berbisik kepada isterinya dan wajah merekapun berseri gembira.
Tiba-tiba terdengar suara melengking seperti suling dan dibarengi sinar putih perak yang mengembang di atas kepala Yo Ciat.
Kiranya kakek ini sudah maju memutar-mutar pedang di atas kepala sehingga pedang itu berubah menjadi bentuk payung perak di atas kepalanya dan mengeluarkan bunyi seperti suling ditiup!
Kakek tua ini menghentikan gerakan pedangnya dan tampaklah sebatang pedang yang putih kemilau seperti perak di tangannya.
"Orang muda, engkau tidak kecewa menjadi wakil Pat-Jiu Lo-Koai. Siapakah namamu?"
Kwan Bu yang baru sekali ini bertemu dengan Ban-Eng-Kiam Yo Ciat, menjura dengan hormat dan berkata.
"Locianpwe, saya bernama Bhe Kwan Bu. Saya harap saja seorang Locianpwe seperti Ban-Eng-Kiam Yo Ciat, yang nama besarnya sudah tersebar di empat penjuru dunia sebagai seorang tokoh pembela kebenaran, tidaklah berpemandangan sepicik Ya Keng Cu Totiang. Pertandingan antara dua golongan yang sama-sama menjunjung kegagahan dan memberantas kejahatan, tidak perlu dilanjutkan. Setujukah Locianpwe?"
"Ha-ha-ha, sebagai seorang muda belia, omonganmu mengandung kebenaran dan kejujuran. Ketahuilah bahwa kami golongan pejuang penantang Kaisar, bukanlah orang-orang yang tak tahu aturan. Kalau kami berkeras dalam hal urusan keturunan Liu, adalah karena Liu Ti telah menjatuhkan banyak sekali korban di antara golongan kami, dengan menunjukkan markas dan tempat persembunyian kami kepada pasukan-pasukan Istana, dia telah menyebabkan kematian ribuan orang pejuang! Bayangkan saja, kalau kemudian kami berusaha membasmi seluruh keluarganya, bukankah ini sudah adil namanya?"
Diam-diam Kwan Bu terkejut.
Tidak disangkanya bahwa urusan itu sampai sedemikian hebatnya.
Pantas saja golongan penentang Kaisar mati-matian memusuhi Bu Taihiap yang dianggap melindungi keturunan Liu Ti.
Juga Bu Keng Liong kaget karena hal ini tak pernah didengar dan disangkanya.
"Semua ucapan Locianpwe memang benar belaka. Akan tetapi, keluarga Liu Ti sudah terbasmi dan kalau kebetulan saja seorang anak kecil lolos dari pembunuhan, bukankah itu sudah dikehedaki Thian namanya? Tentu saja sebagai seorang gagah Bu Taihiap tidak akan membiarkan seorang anak yang tak tahu apa-apa dibunuh, padahal anak itu berada di dalam perlindungannya. Kalau Bu Taihiap menjadi takut dan menyerahkan anak itu, pantaskah dia disebut seorang Pendekar Besar? Harap Locianpwe sudi memahami hal ini dan memandang wajah Bu Taihiap serta Suhu yang kuwakili, suka menghabiskan permusuhan-permusuhan yang tiada artinya ini."
Lima orang lawan itu tertegun dan termenung mendengar uraian Kwan Bu.
Mereka saling pandang bukan karena jerih terhadap Kwan Bu, melainkan kaena ucapan itu menimbulkan kesan mendalam sekali di hati mereka.
"Hemm... kalau dipikir panjang memang tidak salah ucapannya itu!"
Kata Yo Ciat berpaling kepada Ya Keng Cu.
"Bagaimana pendapatmu to yu (sahabat)?"
Ya Keng Cu mengangguk, juga Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu. Maka tertawalah Yo Ciat.
"Ha-ha-ha! Bu Taihiap, tidak disangka bahwa di rumahmu bersembunyi seorang pendekar muda yang hebat! Mengingat akan kebenaran ucapannya juga memandang wajah Taihiap serta mengingat pula akan sahabat yang lebih tinggi kedudukannya Pat-Jiu Lo-Koai, kiranya kami tidak melanggar golongan kami kalau kami nyatakan mulai sekarang, putera Liu Ti tidak lagi termasuk sebagai musuh kami. kecuali tentu saja, kalau kelak ia menjadi penjahat atau penjilat Kaisar seperti Ayahnya."
Liu Kong berteriak marah.
"Aku tidak sudi dibela anak haram...!"
"Liu Kong! Diam kau!!"
Bu Keng Liong membentak, matanya melotot marah sekali kepada muridnya itu.
Liu Kong mendengus, tidak berani bicara lagi akan tetapi diam-diam lalu pergi dari situ, masuk ke dalam taman di pinggir gedung.
Kwee Cin dan Siang Hwi lalu mengikuti Suheng itu, setelah mereka lempar pandang kepada Kwan Bu dan anak pelayan ini menangkap girang dan senyum dan seri wajah mereka.
"Locianpwe Yo Ciat sungguh seorang gagah berpemandangan luas,"
Kata Kwan Bu.
"Dapat menghargai kata-kata seorang pelayan, seorang anak haram..? "Kwan Bu...!!"
Bu Taihiap berseru, hatinya terharu.
Akan tetapi Kwan Bu pura-pura tidak mendengar seruan ini dan pada saat itu memang para tamu mulai berisik membicarakan pengakuan itu.
Pengakuan yang hebat.
Anak haram!
Pemuda yang tadinya dianggap pelayan dan kemudian meningkat dalam pandangan mereka sebagai seorang pendekar yang sakti, kini mengaku sebagai anak haram setelah berkali-kali dimaki anak haram oleh murid Bu Taihiap!
"Bhe Kwan Bu, biar pun sekarang permusuhan telah dihabiskan, namun karena tertarik melihat ilmu pedangmu tadi, sukalah kau orang muda memuaskan hatiku untuk bermain-main denganku sebentar"
"Yo-Locianpwe, Suhu pernah memberi tahu kepada saya bahwa ilmu silat bukan sekali-kali dimaksudkan untuk menyombongkan diri, atau pamer, ataupun mencari kemenangan dan kekuasaan. Oleh karena itu, setelah kini urusan perselisihan paham dapat diredakan dan dihapuskan, mengapa Locianpwe hendak mengadu kepandaian? Biarlah, disaksikan oleh semua yang hadir di sini, saya mengaku kalah terhadap Yo-Locianpwe, maupun terhadap kedua Totiang!"
Mendengar ucapan pemuda itu dan melihat betapa Kwan Bu benar-benar memberi hormat mengaku kalah, di dalam hatinya Yo Ciat makin kagum.
Sukar di dunia ini dicari orang yang begini rendah hati, apalagi berkepandaian begini tinggi dan berusia begini muda.
Akan tetapi ia masih penasaran karena ia benar-benar ingin mencoba ilmu pedang pemuda yang demikian hebatnya, maka ia membantah.
"Ah, orang muda yang gagah. Bertanding dengan dasar hati benci jauh sekali bedanya dengan bermain-main dengan dasar hati kagum. Harap saja engkau tidak salah paham dan tidak mengecewakan hatiku."
"Kwan Bu...! Aduhh, Kwan Bu anakku!"
Semua mata memandang terutama sekali Kwan Bu menoleh dan memandang dengan mata terbelalak.
Ibunya!
Ibunya yang kini tampak tua sekali, mata yang tinggal satu itu memandang sayu, rambutnya kusut tak tersisir, pakaiannya juga kusut tidak karuan.
Jantungnya seperti di tusuk pedang dan ia sejenak mengejap-ngejapkan matanya untuk mencegah keluar air matanya.
Dengan suara serak ia memanggil.
"Ibuuu...!"
Dan berlari menghampiri wanita itu.
"Kwan Bu, ahh, Kwan Bu akhirnya kau datang juga...!"
Kwan Bu yang menjatuhkan diri berlutut di depan Ibunya, dipeluk dan didekap kepalanya oleh wanita itu, ditekan ke dada.
Tiba-tiba Bhe Ciok Kim, wanita itu tertawa bergelak, suara ketawanya mendirikan bulu roma dan ia terguling.
Kwan Bu cepat menyambut dan memeluk Ibunya yang pingsan itu.
Bu Keng Liong yang tahu-tahu sudah berada di dekatnya, berbisik.
"Kwan Bu, bawa Ibumu ke kamarnya, sudah lama ia menderita sakit ingatan karena memikirkan engkau?"
Kwan Bu terharu sekali, mengangguk, kemudian memondong Ibunya yang pingsan membawanya masuk ke dalam gedung terus ke belakang, ke kamar Ibunya yang tentu saja amat dikenalnya.
Ia tahu bahwa Ibunya roboh pingsan karena terlalu girang, maka setelah merebahkan tubuh Ibunya ke atas pembaringan, ia lalu mengurut jalan darah di tengkuknya dan tak lama kemudian wanita itu sadar.
Mereka berpelukan dan Kwan Bu membiarkan Ibunya menangis terisak-isak untuk melepaskan rasa rindu yang bertahun-tahun menyesak di dada sehingga mengganggu ingatan orang tua ini.
Melihat keadaan Ibunya, makin sakit hati Kwan Bu terhadap musuh yang telah membuat Ibunya menderita, yang menurut Ibunya telah membunuh semua keluarga Ibunya, kakeknya, neneknya, Ayahnya, bahkan yang telah menusuk mata kiri Ibunya dengan jarum yang sampai kini ia simpan dalam saku bajunya.
Teringat akan semua ini, membuat ia teringat pula akan percakapan tiga orang muda murid majikannya.
Mereka itu, atau lebih tepat lagi Siang Hwi, mengatakan bahwa dia adalah seorang anak haram, bahwa Ibunya masih gadis ketika mengandung dirinya, bahwa Ibunya tidak pernah bersuami!
Dan kini Ibunya mengatakan bahwa ia mempunyai Ayah, dan Ayahnya terbunuh oleh penjahat yang membikin buta mata Ibunya pula.
Hatinya makin perih dan ingin sekali ia mendesak Ibunya agar suka mengaku terus terang.
Ingin mengetahui siapa sebenarnya Ayahnya, dan apakah benar-benar ia seorang anak haram?
Dia tidak malu menjadi anak haram, hanya dia ingin mendapat kepastian dari Ibunya.
Mengapa mesti malu menjadi anak haram?
Haram atau tidak, dia tidak bersalah apa-apa.
Dan ia percaya bahwa andaikata Ibunya mengandung dia tanpa suami yang sah, tentu sekali ada sebab-sebab yang memaksanya.
Ia tak percaya bahwa Ibunya adalah wanita yang suka melanggar kesusilaan.
Akan tetapi keadaan Ibunya yang lemah lahir batin itu, membuat ia tidak tega untuk mendesaknya.
Ia kini menjaga Ibunya yang sudah sadar dan yang saking girangnya menjadi semakin lemah dan kini tertidur dengan tangan memegang tangan puteranya erat-erat.
Bibir Ibunya tersenyum dalam tidurnya.
Kwan Bu yang memandang Ibunya penuh perhatian, dengan bangga mendapat kenyataan bahwa Ibunya sesungguhnya adalah seorang wanita yang cantik sekali.
Bentuk wajahnya, hidungnya, mulutnya, amatlah indah.
Hanya kebutaan matanya yang mendatangkan cacat.
Sementara itu, pesta di luar masih berlangsung terus dengan meriah.
Ya Keng Cu dan empat orang kawannya sudah sejak tadi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan dari Bu Taihiap sebagai seorang sahabat.
Setelah para tamu pulang semua barulah Bu Keng Liong dan isterinya menemui Kwan Bu.
Melihat kedatangan majikannya Kwan Bu segera meninggalkan Ibunya yang masih tidur dan berlutut di depan majikan itu.
"Hamba menghaturkan terima kasih kepada Thai-ya berdua yang telah merawat Ibu selama hamba tidak berada di sini. Budi kebaikkan Thai-ya berdua takkan hamba lupakan seumur hidup hamba."
Bu Keng Liong terkejut dan cepat mengangkat bangun pemuda itu, lalu menarik tangan Kwan Bu diajak keluar dari kamar dan duduklah mereka bertiga di ruangan tengah.
Setelah menghela napas Bu Taihiap berkata.
"Kwan Bu, tidak perlu kau bersikap begini merendah. Tidak ada penanaman budi, dan kalau mau bicara tentang pertolongan, engkaulah yang tadi telah menolong keluarga kami dari penghinaan, mungkin kebinasaan. Tentang Ibumu, ahhh... sesungguhnya kami harus merasa malu sehingga keadaan Ibumu sedemikian rupa. Akan tetapi kami tidak berdaya..."
Pendekar tua itu kembali menghela napas.
"Kwan Bu, kami sudah berusaha menghibur Ibumu, akan tetapi sejak kau menghilang, Ibumu selalu tenggelam ke dalam kedukaan sehingga akhirnya mengganggu jiwanya."
Sambung nyonya Bu dengan suara halus. Kwan Bu menundukkan mukanya.
"Hamba sudah dapat menduganya, harap jiwi tidak berkecil hati. Memang sudah menjadi kesalahan hamba sendiri yang pergi tanpa pamit kepada Ibu, akan tetapi karena hamba ingin sekali belajar ilmu silat dan kebetulan bertemu dengan Suhu, maka terpaksa hamba pergi diam-diam."
Pemuda itu lalu menceritakkan semua pengalamannya.
Tahulah kini Bu Keng Liong mengapa pada malam hari sepuluh tahun yang lalu Ya Keng Cu tidak muncul.
Kiranya Pat-Jiu Lo-Koai yang mengusir Tosu itu.
Kembali ia menghela napas berulang-ulang setelah Kwan Bu selesai menuturkan riwayatnya sejak sepuluh tahun yang lalu.
"Sesungguhnya bahwa betapa pun manusia berusaha hanya Thian yang akan menentukannya. Aku yang berusaha sekuatnya agar engkau tidak dapat belajar ilmu silat, ternyata malah engkau mendapatkan guru yang sepuluh kali lebih pandai daripada aku. Ini namanya nasib dan sudah ditakdirkan oleh Thian."
Kwan Bu teringat akan sikap Bu Taihiap ini dahulu, yang melarangnya belajar silat, malah menganjurkan belajar ilmu surat dan sengaja memanggil guru.
Kemudian ia teringat pula akan kata-kata Siang Hwi bahwa dia adalah anak haram dan bahwa gadis itu mendengar penuturan Bu Taihiap tentang rahasia Ibunya.
Mungkin Ibunya takkan mengaku, atau mungkin hal itu akan melukai hati Ibunya.
Sekaranglah saatnya ia mencari tahu, dan agaknya majikannya ini yang akan dapat membuka rahasia Ibunya.
"Kedatangan hamba ini sebetulnya hendak mengajak Ibu pergi dari sini karena hamba merasa bahwa tidaklah patut kalau hamba dan Ibu mengganggu keluarga Thai-ya lebih lama lagi. Akan tetapi sebelum hamba pergi bersama Ibu, hamba mohon sukalah Thai-ya memberi keterangan kepada hamba karena sesungguhnya hanya Thai-ya yang agaknya dapat membuka rahasia ini."
"Hemmm, sikapmu terlalu merendahkan diri, orang muda. Kami sekeluarga tidak pernah mengusir, bahkan menganggap Ibumu seperti anggota keluarga sendiri. Akan tetapi, tentu saja kami tidak berhak menahan kalian. Adapun tentang keterangan itu, hal apakah yang kau maksudkan?"
"Tidak lain tentang diri hamba sendiri. Ceritakanlah, Thai-ya, benarkah bahwa Ibu tidak pernah bersuami? Bahwa hamba adalah seorang anak haram?"
Sepasang mata pemuda itu memandang tajam ke arah wajah kedua orang majikannya.
Nyonya Bu segera menundukkan mukanya yang menjadi merah.
Bu Keng Liong mengerutkan alisnya, mengelus jenggot lalu menggeleng kepalanya.
"Kwan Bu, aku adalah seorang laki-laki sejati. Bukan menjadi watakku untuk membongkar rahasia orang lain, apalagi yang menyangkut kehormatan orang, dalam hal ini Ibumu sendiri. Tentang urusan itu, lebih baik kalau kau bertanya sendiri kepada Ibumu, tentu saja pada saat yang tepat. Nah, kau mengasolah dan besok kita bicara lagi kau perlu menjaga Ibumu."
Setelah berkata demikian, suami isteri itu meninggalkan Kwan Bu yang tidak berani mendesak.
Pemuda inipun kembali ke kamar Ibunya.
Ibunya masih tidur nyenyak.
Malam itu Kwan Bu duduk menjaga Ibunya dengan hati gelisah.
Begitu ditanya tentang Ibunya, Bu Keng Liong berubah sikapnya, menjadi dingin dan kelihatannya khawatir.
Rahasia apakah yang terselip pada dirinya?
Ibunya masih lemah batinnya, kalau diguncangkan dengan pertanyaan ini tentu berbahaya.
Ia teringat akan Siang Hwi.
Gadis itu telah mendengar dari Ayahnya tentang Ibunya!
Ya, lebih baik mencari nona Siang Hwi dan bertanya kepadanya.
Kwan Bu keluar dari kamarnya.
Ia tahu di mana adanya kamar Siang Hwi, tahu pula di mana adanya kamar Liu Kong dan Kwee Cin.
Akan tetapi bagaimana ia dapat bertemu dengan nona itu?
Mendatangi kamarnya adalah perbuatan yang tidak sopan dan ia sama sekali tidak berani melakukan hal ini.
Ia menjadi gelisah dan bingung.
Sepuluh tahun yang lalu, ketika ia masih terhitung kanak-kanak dan menjadi bujang di sini, Tentu saja lebih banyak kesempatan baginya untuk mendatangi kamar Siang Hwi, dengan dalih membersihkan ini itu, menyapu lantai dan sebagainya.
Akan tetapi sekarang, nona itu telah menjadi seorang dara yang telah dewasa dan cantik jelita, dan dia bukan kanak-kanak lagi.
Dengan ginkangnya yang luar biasa, tubuh Kwan Bu berkelebat keluar tanpa menimbulkan sedikit pun suara.
Ketika lewat di depan jendela kamar majikannya, ia mendengar majikannya bercakap-cakap perlahan, namun bagi telinganya yang terlatih sudah cukup keras.
Bukan menjadi watak Kwan Bu untuk mengintai atau mendengarkan orang lain bercakap-cakap, akan tetapi oleh karena ia menduga bahwa mereka mempercakapkan dia dan terutama sekali karena ingin mendengar rahasia Ibunya yang mungkin dijadikan buah percakapan itu, ia berhenti dan mendengarkan.
"Dia anak yang baik sekali... aku kelak akan mati meram kalau anak kita mendapatkan suami seperti Kwan Bu..?"
Terdengar suara Bu Keng Liong.
Wajah Kwan Bu mendadak menjadi merah dan jantungnya berdebar keras.
Tak salahkah pendengarannya?
Betapa mungkin dia sebagai bujang hendak dijodohkan dengan nona majikannya?
Mungkin atau tidak, kalau hal itu terjadi, ia seperti kejatuhan bulan!
Sejak masih kecil ia amat mengagumi dan menyukai Siang Hwi!
"Betapa mungkin?"
Terdengar suara nyonya Bu yang seakan-akan mewakili hati Kwan Bu sendiri yang membantahnya.
"Betapa mungkin anak kita yang tunggal itu kita jodohkan dengan seorang anak... haram?"
Wajah Kwan Bu yang merah menjadi pucat, mulutnya menggetar dan ia menundukkan mukanya.
Namun di balik rasa perih di hatinya, ia menjadi tegang, mengharapkan bahwa percakapan selanjutnya akan menjelaskan tentang "Kebenarannya"
Itu. Bu Taihiap menghela napas panjang.
"ltulah soalnya, apalagi setelah Kong-ji (anak Kong) yang lancang mulut memakinya di depan umum. Aahhh, anak kita sudah cukup dewasa, tahun ini sudah berusia Sembilan belas tahun! Pandanganku tidak ada lain selain Kong-ji dan Cin ji, dan anaknya Siang Hwi sendiri masih bingung dalam memilih. Kedua orang anak itu memiliki kebaikan masing-masing. Cin ji peramah, halus dan periang. Kong-ji sebaliknya kaku, kasar, namun jujur dan memiliki sifat berani dan gagah. Ahhh, susahnya mempunyai anak perempuan..."
"Mengapa susah-susah? Kita pilih di antara mereka, tentukan perjodohan dan habis perkara..?"
"Aaahhh... mana bisa begitu? Biarkan Siang Hwi sendiri yang memilih. Dia anak keras hati, kalau kita yang memilihkan dan kelak tidak kebetulan, tentu dia akan terus menerus menyalahkan kita..."
Kwan Bu tidak mau melanjutkan pendengarannya.
Ia berkelebat pergi dari situ.
Hatinya bingung.
Bagaimana mungkin ia menjumpai Siang Hwi?
Karena ragu-ragu dan bingung, ia lalu menyelinap ke dalam taman bunga yang cukup luas dari keluarga Bu.
Malam itu bulan mulai muncul.
Cahayanya menyinari dalam taman, membuat tempat itu menjadi cahaya keemasan dan menjadi amat indah!
Teringat Kwan Bu betapa dahulu ia setiap hari membersihkan taman ini, dan di balik pohon bunga itu ia dahulu suka mengintai apabila Siang Hwi, Liu Kong dan Kwee Cin berlatih silat.
"Kwan Bu..?"
Kwan Bu terkejut.
Karena ia tadi melamun di bawah pohon, mengenangkan masa lalu, ia sampai tidak tahu bahwa Siag Hwi telah berada di belakangnya, mendengar suara ini, ia cepat bangkit, memutar tubuhnya menghadapi gadis itu dengan hati girang.
"Nona Siang Hwi...!"
Ia berkata sambil menjura sebagai tanda penghormatan.
"Eh, Kwan Bu kau... kau sekarang bukan menjadi pelayan kami lagi, karena itu tak perlulah kau merendahkan diri. Kau sebut saja namaku, tidak perlu pakai nona-nonaan segala macam! Kau telah menjadi seorang yang gagah perkasa, berarti kita segolongan. Kau telah menolong dan membersihkan muka keluarga kami, berarti kau sahabat."
Berdebar jantung Kwan Bu.
Sikap Siang Hwi amat polos dan jujur, dan betapa tidak akan girang hatinya kalau nona ini menganggapnya sebagai seorang sahabat?
Akan tetapi Kwan Bu rendah diri.
Rasa rendah diri masih melekat di hatinya karena sejak kecil ia menjadi pelayan nona ini.
Apalagi kalau teringat akan "julukan"
Yang diberikan nona dan Suheng-Suhengnya kepadanya, yaitu anak haram!
Betapa mungkin ia duduk sejajar berdiri setingkat dengan Bu Siang Hwi?
"Maaf Siocia (nona), aku...
aku hanya seorang anak haram yang rendah..., Ibu dan aku adalah pelayan di sini..?"
"Hushh! Engkau masih hendak membantahku?"
Kwan Bu tersenyum pahit.
"Hemmm"
Bisiknya di hati.
"engkau mengangkat aku menjadi sahabat setelah menghina dengan sebutan anak haram, karena kini sikapmu tetap memerintah dan tinggi hati seperti seorang majikan!"
Karena ia mempunyai niat di hatinya untuk meminta keterangan kepada gadis ini akan keharamannya, maka ia tidak perdulikan sikap itu dan menjura lagi sambil berkata.
"Siocia, sesungguhnya amat kebetulan sekali saya dapat berjumpa dengan nona di sini, karena ada suatu permohonan dariku yang ingin kusampaikan kepada nona dengan harapan semoga nona tidak akan menolak permohonanku itu."
Siang Hwi memandang wajah bekas pelayan ini dan diam-diam ia merasa kagum.
Baru tampak jelas olehnya kini betapa wajah yang tertimpa sinar bulan itu amatlah tampan dan gagah, betapa sepasang mata itu tajam penuh semangat dan wibawa, betapa tarikan mulut itu membayangkan ketenangan dan kebesaran, namun lekuk dagu itu membayangkan sifat jantan yang mengagumkan.
Jelas bahwa Kwan Bu tidak kalah dalam hal ketampanan dan kegagahan daripada kedua orang Suhengnya.
Apalagi kalau diingat akan kelihaian ilmu silatnya, benar-benar seorang pria pilihan yang sukar dicari bandingannya.
Sayangnya, anak haram dia!
"Engkau?
Permohonan?
Hi hik!"
Siang Hwi menutupi mulutnya ketika terkekeh geli.
"Permohonon apa sih? Aneh-aneh saja kau ini."
Kwan Bu menghela napas panjang. Sikap yang ramah dan seperti bersahabat dari nona ini malah menggelisahkan hatinya, karena tidak wajar, tidak seperti biasanya.
"Nona, aku pernah mendengar nona mengatakan kepada dua orang tuan muda bahwa Ibuku tidak pernah mempunyai suami. Karena aku merasa penasaran dan Thai-ya (tuan besar) tidak menjelaskannya kepadaku, maka saya mohon, sudilah nona memberi penjelasan tentang keberadaanku sebagai anak haram!"
Berubah wajah Siang Hwi, agak kaget dia dan kini ia memandang wajah itu penuh perhatian.
"Kwan Bu, apakah engkau merasa sakit hati dengan sebutan itu?"
Kwan Bu menggeleng kepala dan menjawab sungguh-sungguh.
"Tidak sama sekali nona. Apa sebabnya sakit hati kalau memang kenyataanya demikian? Nah, karena ingin mendengar kenyataanya, saya mohon bantuan nona."
Siang Hwi menghela napas lalu menjatuhkan diri di atas bangku tak jauh dari situ.
Kwan Bu mengikuti gerak-gerik nona ini, sejak melangkah sejauh empat langkah ke bangku dan ketika menjatuhkan diri.
Ia kagum.
Siang Hwi dalam pakaiannya yang lemah gemulai, piggangnya yang ramping melekuk ke kanan ke kiri seperti akan patah, tubuh yang membayangkan kelemasan dan kekuatan, amatlah menarik hati.
Cara gadis itu menggerakkan kepala untuk memindahkan rambut panjang dari depan dada meloncati pundak ke punggung setelah duduk di bangku, cara gadis itu menengok ke arahnya dan memandangnya dari sudut mata, semua gerakkan yang amat manis menggairahkan, wajah tanpa dibuat-buat, mendebarkan jantungnya.
"Tidak baik membuka-buka rahasia orang, Kwan Bu."
"Hemm, kau bilang tidak baik membuka rahasia orang, Kenapa kau ceritakan kepada Liu Kong dan Kwee Cin?"
Demikian kata hatinya, akan tetapi mulutnya berkata halus.
"Kalau nona ceritakan kepada saya, berarti tidak membuka rahasia orang, nona!"
"Hemmm, aku mau menceritakan hal itu akan tetapi..., setelah kau suka pula memenuhi permintaanku,"
"Permintaan nona?"
Kwan Bu terheran.
"Permintaan apakah?"
"Menurut penuturan Ayah, seorang yang lihainya sudah kuat, dapat membantu orang lain melancarakan jalan darah dan memperkuat sinkang orang lain itu. Ayah telah membantuku dan kedua orang Suhengku, akan tetapi ternyata bahwa tingkat kepandaian Ayah kiranya masih amat jauh kalau dibandingkan dengan tingkat mu. Maka, aku minta kepadamu, sukalah engkau membantuku dalam hal ini, menggunakan sinkangmu untuk membantuku memperoleh kemajuan."
Untung bahwa sinar bulan memang kemerahan sehingga menyembunyikan warna merah yang menjalar di seluruh permukaan wajah Kwan Bu.
Dengan sikap likat dan malu-malu ia memandang wajah gadis itu, kemudian berkata.
"Siocia, bagaimana saya berani melakukan hal itu? Nona... tentu... mengerti hal itu... hanya dapat di lakukan..? "Aahhh, Kwan Bu, kenapa kau bicara seperti seorang kakek-kakek yang terlalu banyak peraturan? Orang-orang yang tergolong pendekar-pendekar seperti kita ini perlu lagikah terikat oleh segala tata cara malu-malu? Asal batin kita bersih saja, apalagi halangannya? Aku tahu, untuk menyalurkan Sinkang nmnnbantuku, kita harus mengadu telapak tangan. Apakah kau pikir tanganku terlalu kotor untuk menempel di tanganmu!"
Sambil berkata demikian, gadis ini bangkit berdiri dan melangkah maju menghampiri Kwan Bu sampai mereka berdiri berhadapan.
Siang Hwi memandang dengan sinar mata menentang dan marah.
Baru sekali ini mereka berdiri berhadapan begitu dekat, Kwan Bu mendapat kenyataan bahwa gadis itu tingginya hanya sampai di dagunya.
Akan tetapi heran sekali ia mengapa dahulu ia selalu memandang gadis ini dengan perasaan seolah-olah gadis ini lebih tinggi dari padanya.
"Bukan begitu, nona. Bahkan ada cara lain yang lebih tepat lagi, yaitu dengan menempelkan telapak tangan di punggung...!"
"Nah, lebih baik lagi kalau begitu! Kita tidak perlu duduk berhadapan! Mengapa masih ragu-ragu? Ataukah... eh, barangkali engkau tidak mau membantuku?"
"Tentu saja aku mau, nona..?"
"Nah, tunggu apalagi? Marilah, lebih baik di lian-bu-thia (ruangan belajar silat) agar tidak terganggu orang lain."
"Tidak baik kalau dilakukan di dalam bangunan yang hawanya tidak segar, nona. Kita dapat lakukan itu di dalam taman ini."
"Bagus! Kau baik sekali, Kwan Bu. Terima kasih ya? Mari kita mulai. Di sana saja, di sana rumputnya lebih tebal dan bersih."
Dengan hati girang dan wajah berseri-seri Siang Hwi lalu menyambar tangan Kwan Bu, menariknya berlari-lari ke tengah taman menuju ke lapangan rumput yang hijau bersih dan segar.
Merasa!
tangan yang halus lunak dan hangat itu menggenggam tangannya, jantungya berdebar.
"Hemm, pantas saja kau bersikap begini baik, bersahabat dan ramah. Kiranya mengandung maksud ini", pikirnya. Dan ia tidak dapat menolak. Bukan hanya karena ia ingin membantu nona yang disukanya sejak kecil ini, juga di samping ini ia ingin mendengar nona ini nanti membuka rahasia yang menyelubungi dirinya. Rahasia tentang Ibunya, tentang Ayahnya. Dengan sikap gembira sekali Siang Hwi lalu duduk bersila di atas rumput.
"Lekas-lekas kau lakukan itu!"
Katanya, seakan-akan tidak mau menanti lebih lama lagi dan tidak ingin (Lanjut ke
Jilid 05) Dendam Si Anak Haram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 membuang waktu. Kwan Bu lalu duduk pula di depan Siang Hwi.
"Maaf, nona. Sebelum saya lakukan Hoa-khi khai-hiat (Pindahkan Hawa Membuka darah), lebih dulu saya harus mengetahui dan mengukur sampai di mana tingkat nona dalam sinkang. Maka harap nona suka mendorong kedua tanganku dan mengerahkan seluruh tenaga sinkangmu."
Siang Hwi menurut.
Melihat pemuda itu sudah melonjorkan kedua tangan dengan telapak tangan menghadapnya, ia lalu mendorongkan kedua tangan pula, menggunakan telapak tangan Kwan Bu sambil mengerahkan sinkang.
Kalau ia tidak yakin bahwa pemuda itu amat lihai, tentu ia tidak berani melakukan hal ini karena hal ini amat berbahaya.
Tenaga sinkangnya dapat menyerang terus sampai ke jantung pemuda itu!
Mereka beradu telapak tangan, dan Kwan Bu mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang gadis itu cukup kuat, dapat mendorong hampir sampai siku lengannya.
"Cukup, nona."
Katanya. Mereka melepas tangan dan kini Kwan Bu memutar, duduk bersila di belakang Siang Hwi.
"Kau duduk tenang dan diam nona, kendurkan seluruh urat syaraf, simpan tenaga dan jangan sekali-kali melakukan perlawanan. Buka semua jalan darahmu."
Siang Hwi merasa betapa punggungnya bagian atas, di bawah tengkuk dan bagian bawah, di belakang pusar disentuh oleh telapak tangan Kwan Bu.
Ia merasa geli sedikit, namun mempertahankan diri agar tidak tertawa.
Betapapun juga, ia mengkirik.
Belum pernah bagian-bagian tubuh ini disentuh orang, apalagi oleh seorang laki-laki muda seperti Kwan Bu!
Ia mencurahkan seluruh perhatiannya.
Akan tetapi sampai lama tidak terjadi sesuatu.
Telapak tangan yang menyentuhnya dengan halus itu tidak mengeluarkan hawa sakti, bahkan agak menggigil.
"Eh, kenapa masih belum terasa apa-apa!"
Tanyanya heran.
Kwan Bu makin gugup.
Sebetulnya, ketika duduk menempelkan kedua tangan, ia berada dekat sekali di belakang tubuh Siang Hwi.
Biar pun tangannya tidak langsung menyentuh kulit punggung.
Terhalang pakaian, namun ia merasa betapa kulit punggung halus lunak dan hangat.
Ditambah lagi bau semerbak harum dari rambut dan tubuh gadis itu.
Kwan Bu seperti orang kehilangan semangat.
Tubuhnya menggigil dan tidak kuasa menyatukan pikiran, apalagi mengerahkan sinkang.
Jantungnya berdebar, tangannya menggigil dan napasnya agak terengah.
Kini mendengar pertanyaan gadis itu, baru ia sadar akan keadaan dirinya dan cepat-cepat ia menindas perasaanya dan menjawab, suaranya agak menggetar.
"Sabar dan tenanglah, nona. Saya belum siap...!"
Dengan pengerahan tenaga batinnya, Akhirya Kwan Bu berhasil juga menindas perasaanya yang tidak karuan itu, menjadi tenang dan mulailah ia mengalirkan sinkang melalui punggung Siang Hwi.
Tubuh gadis itu tergetar, tanda bahwa hawa sakti telah memasuki tubuhnya.
Siang Hwi terkejut sekali.
Hawa panas sekali memasuki tubuhnya dari punggung, terutama dari belakang pusar.
Hawa panas ini seperti badai memasuki tubuhnya.
Hampir saja ia tidak kuat menahan, hendak melawan dan menolak dengan sinkangnya sendiri.
Akan tetapi ia tahu bahwa kalau ia melakukan hal ini, dia atau Kwan Bu akan terserang bahaya besar, maka ia memaksa diri menerima hawa panas ini yang mengalir masuk, menyelinap ke seluruh bagian tubuh yang menjadi tergetar hebat.
Dengan hati penuh kekaguman ia merasa betapa kuatnya hawa sakti ini, Dan betapa hawa panas mendobrak dan mendorong, membuka jalan darah dan berputaran di sekitar pusar.
Makin lama, hawa yang panas dan kuat itu menjadi hangat dan nyaman.
Begitu nyaman rasanya sehingga ia tidak tahu lagi betapa lamanya Kwan Bu menyalurkan sinkang.
Ia seperti terayun-ayun di antara gelombang tinggi, nikmat dan nyaman sekali seperti orang setengah tidur.
Ia tidak tahu betapa Kwan Bu yang menyalurkan tenaga sinkang sampai sejam lebih, kini mulai pucat dan lelah, peluh memenuhi leher dan dahinya.
Juga Siang Hwi tidak mengetahui bahwa kini Kwan Bu sudah menghentikan Hoan-khi khai-hiat ini, dan sudah melepaskan kedua tangan dari punggungnya.
Bukan hanya tidak tahu, bahkan tiba-tiba tubuh Siang Hwi yang tadinya duduk bersila itu menjadi lemas dan terguling ke belakang perlahan-lahan, napasnya teratur dan kini ia rebah terlentang di atas pangkuan Kwan Bu karena gadis ini tertidur!
Kwan Bu tersenyum, geli mellihat keadaan gadis ini.
Ia merasa girang karena maklum bahwa bantuannya telah berhasil.
Sayangnya bahwa gadis ini tidak dapat menahan diri, begitu terpengaruh rasa nikmat sehingga tertidur.
Hal ini mengurangi keuntungan yang diterimanya, karena biarpun jalan darahnya telah terbuka dan ia kini akan dapat menyalurkan sinkang lebih leluasa dan kuat, namun ia tidak dapat menggunakan bantuan hawa sakti Kwan Bu untuk berlatih.
Kalau ia tidak tidur, tentu tadi ia dapat mengimbangi gerakan hawa sakti itu untuk disatukan dengan hawa sakti di tubuhnya sendiri dan berlatih menggerakkan tenaga mujijat itu di sekeliling tubuhnya.
Akan tetapi Kwan Bu tidak berani bergerak, tidak tega mengganggu gadis yang tetidur begitu nyenyaknya.
Bahkan ia tadi telah menjaga kepala gadis itu dengan lengannya sehingga kepala itu kini rebah di atas dadanya, Kwan Bu masih tersenyum dan ia menunduk, memandang wajah Siang Hwi yang berada di atas dada.
Dan ia terpesona!
Bulan telah bersinar sepenuhnya dan kini cahaya menimpa wajah Siang Hwi tanpa terhalang sesuatu.
Wajah itu tampak cantik jelita dan bercahaya.
Kulit muka yang putih kemerahan dan halus itu kini terselimut cahaya keemasan.
Matanya tertutup.
Bulu mata yang hitam lentik dan panjang menimbulkan bayang-bayang gelap di bawah mata.
Tarikan napas halus keluar masuk hidung yang kecil mungil dan mancung.
Dan mulut itu...!
Kwan Bu tak dapat melepaskan pandang matanya dari mulut yang berada dekat itu.
Gadis itu tersenyum dalam tidurnya.
Senyum dengan Bibir seperti mentertawakan, mulut setengah terbuka sehingga tampak deretan ujung gigi yang putih seperti mutiara.
Kwan Bu seperti mendadak menjadi gila!
Bibir yang dekat itu dalam pandang matanya begitu penuh tantangan, penuh rangsangan.
Seakan-akan mulut itu berubah menjadi buah apel merah dalam pandang mata seorang yang kelaparan dan kehausan.
Kwan Bu seorang pemuda yang sudah cukup dewasa, dua puluh satu tahun usianya.
Namun baru sekali ini selama hidupnya ia memangku seorang wanita, bahkan baru kali ini ia berdekatan, sempat memandang wajah wanita sampai sepuasnya tanpa terganggu.
Sucinya, Bi Hwa, juga cantik jelita dan menarik.
Akan tetapi mereka itu tidak pernah berdekatan seperti ini paling dekat hanya di waktu sama-sama berlatih silat.
Daya tarik alamiah antara pria dan wanita memang hebat sekali.
Betapapun teguh dan kokoh kuat batin Kwan Bu, sekali ini daya tarik itu menyeretnya sedemikian rupa sehingga membuat ia roboh tidak berdaya, membuat ia lemah lunglai dan menyerah kepada getaran kasih asmara yang tak terlawankan itu.
Dia seperti seorang yang sudah kehilangan kesadarannya, bagaikan terbuai dalam alam mimpi.
Dia sendiri tidak sadar dan tidak tahu apa yang mendorongnya saat itu sehingga tiba-tiba namun perlahan sekali, ia menunduk, membungkuk dan mendekatkan mukanya dengan wajah yang menggairahkan dan merangsangnya itu.
Tanpa ia sadari mengapa ia mampu dan berani melakukan hal yang langka itu, tahu-tahu ia sudah mendekatkan Bibir dan mencium mulut yang setengah terbuka itu.
Mencium mesra dan lembut, sepenuh perasaan cinta kasih yang mendadak timbul di hatinya, penuh rasa sayang dan penuh nafsu.
Bagaikan dalam mimpi Kwan Bu merasa betapa mulut yang dicium itu menyambutnya, betapa Bibir itu bergerak, betapa napas itu terengah dan betapa kedua lengan Siang Hwi tiba-tiba saja bergerak merangkul lehernya!
Akan tetapi hanya beberapa detik saja, karena tiba-tiba Siang Hwi meronta sehingga terlepas dari pelukan, mencelat mundur dan masih duduk di atas rumput, hanya semeter di depannya, membelalakan mata dan menudingkan telunjuk ke arah dadanya sambil berkata.
"Kenapa...? Kenapa kau... mencium aku...?"
Kwan Bu kini sadar, kesadaran yang datangnya seperti sambaran petir,membuat matanya terbelalak, mukanya pucat dan kepalanya pening, jantungnya berdebar penuh kegelisahan dan kekagetan.
Apa yang telah ia lakukan?
Celaka!
ia telah melakukan sesuatu yang amat hebat!
Penghinaan yang tiada taranya!
Ia tadi telah menjadi gila, telah berobah menjadi iblis?
Pada saat itu, sesosok bayangan hitam menerjang dari belakang, langsung menghantam punggung Kwan Bu dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.
"Kau anak haram kurang ajar!"
Bentak bayangan itu.
Kwan Bu mengenal suara Liu Kong dan tahu bahwa pemuda itu memukul punggungnya, akan tetapi ia masih terlampau kaget akan kenyataan bahwa ia telah mencium nona majikannya, maka ia seperti tidak perdulikan, hanya mengerahkan sedikit tenaga sinkang melindungi punggung.
"Bukkk!!"
Tangan Liu Kong seperti memukul karet yang keras dan membalik, bahkan lengannya terasa sakit dan tubuhnya terhuyung tiga langkah ke belakang, sedangkan tubuh Kwan Bu sama sekali tidak bergeming.
"Liu Kongcu (tuan muda Liu), aku tidak mau bermusuh denganmu...!"
Kata Kwan Bu sambil menengok ke belakang.
"Kau... Kau...!"
Siang Hwi yang kini menjadi makin jengah dan malu melihat munculnya Liu Kong yang ia duga tentu tadi melihat betapa ia dipangku Kwan Bu dan...
dicium mulutnya, apalagi kalau ia teringat betapa tadi merasa bahagia sekali dalam beberapa detik, betapa ia membalas ciuman bahkan merangkul.
Tak dapat lagi ia menahan kemarahannya karena malu, meloncat ke depan, tangannya menampar.
"Plakl Plak!"
Dua kali pipi Kwan Bu ditempiling.
Pemuda ini tidak melawan, bahkan tidak mengerahkan tenaga sehingga pipinya yang kiri menjadi matang biru dan ujung mulutnya berdarah.
Ia terhuyung mundur.
Pada saat itu Liu Kong yang sudah mencabut pedang, menerjangnya.
"Trang...!"
Pedang Liu Kong tertangkis dari samping dan ternyata Kwee Cin yang menangkis pedang ini.
"Twa-Suheng! Jangan... mengapa kau menyerang Kwan Bu? Engkau bukan lawannya, dan ada urusan dapat didamaikan, perlu apa memakai kekerasan?"
"Sute! Jangan turut campur! Aku harus bunuh anak haram biadab ini."
"Ah, Suheng. Dia telah menyelamatkan nyawamu, bahkan menyelamatkan kita semua."
"Siapa sudi dibantu anak haram? Lebih baik aku mati!"
"Suheng, jangan kira bahwa aku tidak tahu persoalannya. Engkau dibutakan perasaan cemburu. Kalau memang Sumoi memilih Kwan Bu, hal itu sudah selayaknya. Dia sepuluh kali lebih berharga dari pada kita berdua. Mengapa kau menjadi iri hati?"
"Keparat, tutup mulutmu, Sute! Kau kira aku sendiri tidak tahu bahwa engkau tergila-gila kepada Sumoi dan merasa tidak akan menang bersaing denganku, kau lah yang menjadi iri hati kepadaku, dan kini berpihak kepada anak haram ini."
"Suheng!!"
"Sute, kau mau apa? Sumoi calon milikku, karena itu aku tidak rela anak haram ini kurang ajar kepadanya. Kau mau membelanya?"
Dua orang kakak adik seperguruan ini dengan pedang di tangan saling berhadapan, agaknya tak dapat dicegah lagi akan terjadi pertempuran antara saudara.
Kwan Bu maklum akan tegangnya keadaan, maka ia melangkah maju melerai.
"Liu Kongcu dan Kwee Kongcu, sudahlah. Tidak ada hal yang perlu diributkan. Tidak terjadi apa-apa disini. Bu-Siocia hanya... akan ku tanyai tentang riwayatku... hanya salah paham...!"
"Keparat, kau anak haram!"
Liu Kong menusukkan pedangnya dengan gerakan kilat.
Namun Kwan Bu miringkan tubuh dan sekali tangannya bergerak menampar lengan yang memegang pedang, Liu Kong mengeluh, lengannya seperti lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangannya.
"Kwan Bu, berani kau memukul Suheng!"
Lihat pedang!
Kwee Cin yang tadinya cekcok dengan Suhengnya melihat kini Suhengnya dikalahkan Kwan Bu, menjadi marah dan timbul kesetiaannya, lalu menyerang Kwan Bu dengan pedangnya.
Kwan Bu kagum dan senang sekali melihat kesetiaan Kwee Cin.
Ia mengelak dan sampai lima kali ia membiarkan Kwee Cin menyerangnya.
Pada serangan keenam kalinya, ia mengelak sambil meloncat ke atas, kemudian sekali ia mencengkeram, ia telah berhasil merampas pedang dari tangan Kwee Cin lalu melayang turun dan berkata.
"Kwee Kongcu, tahan...!"
Pada saat itu, terdengar bentakan Bu Keng Liong.
"Apa yang terjadi di sini?"
Kwan Bu melepaskan pedang Kwee Cin lalu menghadapi majikannya, menjura dalam dan berkata.
"Mohon Thai-ya sudi memaafkan hamba yang hanya membikin ribut dan membikin repot saja."
Bu Keng Liong menyapu keadaan di situ dengan pandang matanya.
Ia melihat puterinya berdiri dengan muka pucat, bahkan ada dua titik air mata di pipi anaknya itu.
Liu Kong membungkuk untuk mengambil pedangnya, demikian pula Kwee Cin.
Jelas bahwa telah terjadi pertandingan dan mungkin tiga orang muridnya ini telah mengeroyok Kwan Bu dan tentu saja mereka telah menderita kekalahan.
Teringat akan sikap Liu Kong di pesta siang tadi, ia menduga bahwa tentu Kwan Bu menerima penghinaan.
Ia menjadi marah dan membentak.
"Liu Kong! Kwee Cin! Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Suhu, teecu tadi melihat Kwan Bu berada di sini dengan Sumoi dan...!"
"Anak haram ini kurang ajar terhadap Sumoi, Suhu!"
Sambung Liu Kong dengan suara marah. Bu Keng Liong terkejut. Di dalam hatinya ia tidak percaya. Kwan Bu yang begini rendah hati berani kurang ajar? Tidak mungkin.
"Suhu, dia berani memangku Sumoi!"
Kata pula Liu Kong.
Makin kagetlah Bu Keng Liong.
Ah, sampai begitu jauh?
Ataukah puterinya itu telah menjatuhkan hatinya, telah jatuh cinta kepada Kwan Bu?
Kalau memang demikian, tidak aneh.
Kwan Bu lihai sekali dan tampan, gagah mengagumkan.
Sayang anak haram, seperti yang dikatakan isterinya.
Ia menoleh ke arah puterinya yang berdiri menundukkan muka dan memandang kepada Kwan Bu yang juga menundukkan muka, di dalam hatinya dia agak lega bahwa laporan Liu Kong hanya pada taraf mengaku dan memeluk.
Agaknya Liu kong dan Kwee Cin tidak melihat ketika ia menciumnya tadi!
"Kwan Bu, aku percaya bahwa engkau adalah seorang laki-laki jantan yang tidak akan mengingkari perbuatan sendiri.
Apakah yang terjadi antara engkau dan Siang Hwi?"
Kaki gadis itu sudah menggigil.
Ia amat dimanja Ayahnya, terutama Ibunya, akan tetapi ia juga amat takut kepada Ayahnya yang amat keras.
Kalau Ayahnya tahu ia minta bantuan Kwan Bu dalam memperkuat sinkangnya, hal ini saja sudah akan membuat Ayahnya marah.
Apa lagi...
dia harus mengakui bahwa tadi ia tertidur di atas pangkuan Kwan Bu.
kesalahan Kwan Bu hanya bahwa di dalam tidurnya, pemuda itu telah menciumnya!
"Mohon beribu maaf Thai-ya.
Tanpa sengaja hamba berjumpa dengan Siocia di sini dan...
dan...
hamba membantunya memperkuat sinkangnya dengan cara Hoan-khi-khai-hiat kemudian..."
Siang Hwi yang amat khawatir kalau-kalau pemuda itu menceritakan semuanya sehingga ia tertidur di atas pangkuan Kwan Bu dan takut kalau Ayahnya akan marah, ditambah rasa malu karena tadi terlihat oleh Kwee Cin dan Liu Kong, cepat-cepat memotong.
"Dia bohong, Ayah!"
Bu Keng Liong mengerutkan kening, memandang bergantian kepada Kwan Bu dan Siang Hwi, kemudian pandang matanya berhenti menatap wajah puterinya penuh selidik.
Khawatir kalau-kalau didahului oleh Kwan Bu, Siang Hwi segera berkata, kini suaranya lantang karena ia sudah berhasil menekan perasaan hatinya yang terguncang.
"Dia sengaja mencari aku untuk bertanya tentang riwayat Ibunya, Ayah. Kemudian ia membujukku katanya ia dapat membantuku memperkuat sinkang dengan menyalurkan hawa sakti dari tubuhnya. Aku percaya dan aku lalu disuruh duduk bersila di sini, dia bersila di belakangku. Mula-mula memang ia menyalurkan hawa saktinya melalui punggung, dan memang harus diakui bahwa aku menerima bantuannya menerobos semua jalan darah yang masih tertutup. Akan tetapi... tiba-tiba ia merangkul dan memelukku dari belakang... pada saat itu muncul Liu-Suheng!"
Mendengar ini, Kwee Cin sendiri yang biasanya merasa suka kepada Kwan Bu bahkan peristiwa siang tadi membuatnya merasa kagum sekali, kini mengerutkan kening dan memandang dengan mata marah dan menyesal.
Marah karena Siang Hwi adalah Sumoinya yang ia cintai sepenuh hati, dan menyesal mengapa seorang pemuda gagah seperti Kwan Bu itu setelah memiliki kepandaian tinggi menjadi berubah dan suka mengganggu wanita!
Adapun Liu Kong yang memang benci kepada Kwan Bu, kini menjadi merah mukanya.
Liu Kong memang membenci Kwan Bu karena munculnya Kwan Bu siang tadi benar-benar membuat ia kehilangan muka.
Pemuda ini memiliki sifat yang berani dan tidak takut mati di samping merasa bahwa ia adalah murid pertama Bu Taihiap maka tentu saja merupakan seorang pendekar muda yang sudah tinggi sekali tingkatnya.
la tahu bahwa siang tadi Kwan Bu telah menolongnya dari bahaya maut, akan tetapi berbareng menyeretnya ke dalam lumpur, jelas tampak oleh banyak orang betapa Liu Kong tidak berdaya dan betapa hebat sepak terjang Kwan Bu, betapa kalau tidak ada anak haram itu dia sudah akan tertawan musuh!
Semua ini sudah membuat hatinya tidak senang, apalagi sekarang ia melihat betapa Kwan Bu berani main gila dan hendak berbuat tidak sopan kepada Siang Hwi, Sumoi yang dicintainya.
Rasa iri hati dan cemburu menambah besar kebenciannya dan kalau di situ tidak ada Suhunya, tentu ia sudah menerjang lagi mati-matian biarpun ia maklum bahwa ia bukanlah lawan Kwan Bu yang amat lihai itu.
Keterangan Siang Hwi itu membuat Bu Keng Liong memutar tubuh memandang Kwan Bu dengan kening berkerut.
Sebaliknya, Kwan Bu tersenyum, senyum pahit.
Ia maklum mengapa Siang Hwi membohong seperti itu.
Namun ia tidak marah.
Ia tahu bahwa bukan semata-mata Siang Hwi membohong untuk memfitnahnya.
Tidak sama sekali.
Ia tahu bahwa gadis itu takut dan ingin membersihkan dirinya dalam peristiwa adegan di atas rumput yang dipergoki oleh Liu Kong dan Kwee Cin tadi.
Betapapun juga, Siang Hwi tidak menceritakan Ayahnya tentang ciumannya tadi.
Ia memang sudah merasa berdosa, karena itu ia bersedia menerima tanggung jawab dan akibatnya.
Karena tadi telah mencuri ciuman, yang ia anggap suatu dosa yang besar, suatu penghinaan hebat, maka kini ia tidak merasa sakit hati mendengar tuduhan Siang Hwi yang sebenarnya merupakan fitnah ini.
"Kwan Bu, bagaimana keteranganmu tentang ini?"
Setelah keadaan hening sampai lama menyambut penuturan Siang Hwi tadi, akhirnya Bu Keng Liong bertanya, suaranya halus namun tegas dan dingin.
Kwan Bu menundukkan mukanya menghela napas panjang lalu berkata.
"Semua yang dikatakan Siocia, benar belaka, Thai-ya. Memang hamba bersalah dan tidak perlu hamba sembunyikan lagi. Hamba siap menerima hukuman dari Thai-ya dan Siocia, dan terus terang saja hamba nyatakan di sini bahwa hamba jatuh cinta kepada Siocia, agaknya sejak dahulu. Hamba tahu bahwa tidak selayaknya dan adalah sebuah dosa besar bagi seorang pelayan untuk mencintai nona majikannya. Hamba tadi membantu Siocia dalam memperkuat sinkang dan... dan terjadilah apa yang Siocia ceritakan. Hamba siap menanti hukuman!"
Setelah berkata demikian, Kwan Bu berlutut di depan Bu Keng Liong.
Pendekar ini mengelus-elus jenggotnya.
Ucapan Kwan Bu menusuk perasaan keadilannya.
Berdosakah seorang pelayan mencinta nona majikannya?
Tentu saja tidak, akan tetapi dosa Kwan Bu bukan terletak dalam hal mencinta Siang Hwi, melainkan berani berbuat kurang ajar, memeluk di luar kehendak gadis itu.
Namun, mengingat akan jasa-jasa Kwan Bu, pula karena peristiwa memalukan itu tidak diketahui orang lain, tidak perlu dibicarakan pula.
"Bangunlah, Kwan Bu. Engkau tahu telah melakukan perbuatan yang tidak patut, dan kau sudah mengaku serta menyesali perbuatan sendiri. Hal itu cukuplah, tidak ada hukuman yang lebih tepat dan berhasil dari pada hukuman yang timbul akibat perbuatannya, merupakan penyesalan yang akan menjadi obat sehingga perbuatan buruk itu takkan terulang lagi. Betapapun juga, engkau tentu mengerti bahwa besok pagi kau harus membawa Ibumu pergi dari sini."
"Hamba tahu, dan tidak besok pagi, Thai-ya, malam ini juga hamba harus pergi bersama-sama..."
"Kwan Bu...! Kwan Bu...!"
Yang berteriak ini adalah Bhe Ciok Kim yang bangun dari tidurnya dan mencari puteranya.
"Selamat tinggal, Thai-ya dan budi Thai-ya terhadap Ibu dan hamba, takkan hamba lupakan selamanya. Selamat tinggal, Siocia dan... harap Siocia sudi memaafkan kelancanganku tadi...!"
Tanpa menanti jawaban, Kwan Bu berkelebat lenyap, memasuki kamar Ibunya.
Ia mengumpulkan pakaian Ibunya, melompat keluar dan berkelebat lenyap di tengah malam meninggalkan gedung keluarga Bu di mana sejak kecil ia tinggal di situ.
Setelah Kwan Bu pergi meninggalkan taman bunga tadi, Bu Keng Liong masih berdiri dan berkali-kali menarik napas panjang.
"Sayang...!"
Akhirnya ia berkata perlahan.
"Sayang Pat-Jiu Lo-Koai yang sakti itu hanya memperhatikan kulit, tidak memperdulikan isi."
Siang Hwi, Liu Kong, dan Kwee Cin masih berdiri di situ menghadap Bu Taihiap. Tiga orang muda ini dengan gejolak perasaan masing-masing mendengarkan.
"Kalian bertiga tidak boleh mendendam kepadanya, karena betapapun juga, Kwan Bu telah berjasa besar terhadap keluarga kita. Bahkan kalian harus melihatnya sebagai contoh betapa kepandaian hanyalah merupakan kulit atau pakaian belaka, hanya alat untuk mencapai tujuan. Adapun yang menentukan tujuan adalah batin manusia. Karena itulah yang terpenting dari segalanya adalah melatih batin sehingga tetap bersih, karena batin yang bersih tentu akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang bersih pula. Sebaliknya, batin yang kotor tentu akan menimbulkan perbuatan-perbuatan kotor. Ilmu pengetahuan dan kepandaian yang hanya merupakan alat, akan menjadi bersih atau kotor, sesuai dengan keadaan batinnya. Kwan Bu telah menerima gemblengan ilmu silat yang amat tinggi, akan tetapi sayang, agaknya Pat-Jiu Lo-Koai yang terkenal sakti seperti dewa itu tidak memperdulikan pendidikan batin sehingga pemuda yang memiliki ilmu tinggi itu mudah terseret gelombang nafsunya. Mudah-mudahan saja pengalaman akan menjadi guru baginya dan akan merobahnya, sehingga dapat diharapkan dari kepandaiannya yang tinggi itu akan timbul perbuatan-perbuatan gagah perkasa dan adil."
Mendengarkan wejangan Bu Taihiap, hanya Kwee Cin saja yang menerimanya dengan wajar, sesuai yang diinginkan gurunya.
Hal ini adalah karena Kwee Cin tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Kwan Bu.
Pemuda ini mengangguk-angguk dan membenarkan wejangan Suhunya.
Akan tetapi berbeda dengan penerimaan Liu Kong.
Pemuda ini sudah mempunyai pendapat sendiri terhadap diri Kwan Bu.
Sungguh pun mulutnya tidak berani membantah Suhunya atau pamannya, namun di hati ia tidak setuju.
Tak mungkin ia tidak mendendam kepada Kwan Bu yang telah menyeretnya ke dalam lumpur kehinaan siang tadi, yang telah mengecilkannya menjadi seorang yang tidak berarti.
Kemudian, betapa Kwan Bu hendak merampas hati Siang Hwi.
Wanita yang dicintainya sepenuh jiwaraga!
Ia membenci Kwan Bu, dan selamanya tidak akan dapat menjadi sahabat.
Apa lagi dengan adanya kenyataan bahwa Kwan Bu adalah seorang anak haram!
Betapapun mungkin dia, putera dari pahlawan kerajaan besar Liu Ti, yang menjadi orang kepercayaan Kaisar sendiri, seorang bangsawan besar, dapat bersahabat dengan seorang bujang pelayan yang terlahir sebagai anak haram pula!
Atau siokhunya (pamannya) terlampau berat untuk ditaati.
Lain pula yang berkecamuk di hati Siang Hwi.
Hati dara ini seperti dilanda badai.
Ia masih tidak dapat mempergunakan pikirannya dengan baik karena hatinya masih bergelora.
Ia tahu betul bahwa ia tertidur di atas pangkuang Kwan Bu tanpa ia sengaja, juga bukan kesalahan Kwan Bu.
Adapun tentang ciuman itu...
masih berdebar jantungnya kalau ia kenangkan.
Selama hidupnya belum pernah ia mengalami hal seperti itu, bahkan dalam mimpi pun tak pernah!
Ia tidak tahu apakah ia membenci Kwan Bu atau tidak dengan perbuatannya itu.
Yang jelas, ia bisa mati saking malu kalau diketahui orang lain bahwa ia telah dicium mulutnya begitu mesra oleh Kwan Bu dan terutama sekali bahwa ia seperti dalam mimpi membalas ciuman itu dan merangkul leher Kwan Bu, walaupun hanya beberapa detik lamanya.
Memalukan!
Ah, ia tadi telah menjatuhkan fitnah kepada Kwan Bu, akan tetapi...
hanya itulah jalan satu-satunya untuk menghindarkan diri dari pada aib dan dari pada kemarahan Ayahnya.
Ia tidak tahu, tidak bisa berpikir lagi, hanya girang bahwa ia telah bebas dari pada ancaman keadaan yang memalukan.
Dengan mengorbankan nama baik Kwan Bu.
Biarlah, bukankah Kwan Bu memang sudah ditempel oleh aib dan noda?
Anak haram, kalau hanya ditambah sedikit perbuatan kurang ajar terhadap seorang gadis, tidaklah menambah noda namanya.
"Kwan Bu..., ehh...Siauw Hiap (pendekar muda)... kau... kau tolonglah...!"
Kwan Bu menghentikan langkahnya, memutar tubuh memandang orang yang memanggil-manggil dan kini berlari datang mengejarnya itu.
Ia mengenal orang itu.
Thio Sam, seorang pelayan tua di gedung Bu Taihiap, seorang tukang kebun.
Tentu saja mengenalnya, karena Thio Sam ini adalah rekannya, sama-sama menjadi pelayan di gedung keluarga Bu.
"Eh, Thio lopek (paman tua Thio), ada apakah?"
Tanyanya heran.
Ia mengingat-ingat dan merasa bahwa tidak ada urusan apa-apa lagi antara dia dengan keluarga Bu, apalagi dengan tukang kebunnya ini.
Beberapa hari yang lalu, malam-malam ia meninggalkan gedung keluarga Bu dan mengajak Ibunya ke kuil Kwan-im-bio, di luar kota Kwi-cun, di sana ia dahulu dilahirkan dan dibesarkan sampai ia dibawa oleh Ibunya ke rumah keluarga Bu.
Cheng In Nikouw, ketua kuil itu telah meninggal dunia, akan tetapi ketuanya yang baru adalah seorang nikouw dari kuil itu juga dan menerima kedatangannya dengan girang.
Ketika Kwan Bu menitipkan Ibunya, para nikouw suka menerima dengan senang hati, apa lagi hanya untuk sementara waktu.
Tentu saja Kwan Bu yang kini sudah menjadi laki-laki dewasa, tidak mungkin dapat tinggal di kuil itu dan memang bukan kehendak Kwan Bu untuk tinggal di situ.
Ia harus pergi mencari musuh besar keluarga Ibunya, dan ia datang ke kuil itu hanya untuk menitipkan Ibunya.
Setelah ia melihat Ibunya agak terhibur dan tidak bingung lagi, perlahan-lahan ia menceritakan Ibunya akan maksud hatinya mencari musuh besar.
Ibunya girang dan suka ditinggalkan di kuil.
Maka berangkatlah ia meninggalkan Ibunya di kuil, sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Thio Sam yang mengejarnya dan yang datang-datang minta tolong kepadanya.
"Ah, kasihan sekali, kalau tidak kau tolong, siapa lagi yang akan dapat menyelamatkan mereka?"
Kwan Bu terkejut. Ia hanya mengkhawatirkan keadaan Siang Hwi. Ada terjadi apakah? "Lopek lekas ceritakan, apa yang terjadi?"
Thio Sam, tukang kebun keluarga Bu itu lalu bercerita dan Kwan Bu mendengarkan dengan penuh perhatian.
Apakah sesungguhnya yang terjadi pada keluarga Bu?
Memang terjadi hal yang amat penting dan hebat setelah Kwan Bu pergi meninggalkan gedung itu bersama Ibunya pada malam hari itu.
Terjadinya tepat pada kesokan harinya setelah Kwan Bu pergi.
Pagi hari itu, sepasukan tentara terdiri dari tiga puluh orang lebih dipimpin oleh seorang perwira yang tinggi kurus, datang mengunjungi gedung keluarga Bu, mengiringkan tiga orang yang sikapnya aneh akan tetapi pakaiannya mewah.
Tiga orang ini sudah tua semua.
Yang seorang bertubuh bongkok akan tetapi pakaiannya paling indah diantara mereka bertiga.
Pakaian yang dihias benang emas, juga topinya dihias benang emas.
Pendeknya pakaian seorang pembesar Istana Kaisar!
Orang kedua juga berpakaian indah dengan topi hias bulu burung garuda, berwajah kurus seperti tikus kelaparan, dengan mulut meruncing ke depan dan kumis jarang.
Orang ketiga adalah seorang Hwesio, akan tetapi jubahnya amat indah, terbuat dari pada Sutera halus berwarna kuning dengan pinggiran terhias benang emas, tongkat panjangnya, tongkat Hwesio, pada kepalanya terukir kepala ular terbuat daripada emas murni!
Usia mereka sudah lima puluh tahun lebih dan melihat sikap perwira dan anak buahnya terhadap mereka yang amat menghormat, dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang penting di Kota Raja.
Hal ini memang tidak keliru karena sesungguhnya tiga orang ini adalah tiga diantara jagoan-jagoan pengawal Istana yang semua berjumlah tujuh orang.
"Di mana Bu Keng Liong? Suruh dia keluar menemui kami!"
Demikian kata perwira pasukan dengan lagak sombong kepada para pelayan yang ketakutan melihat datangnya pasukan ini memenuhi pekarangan depan yang bersih dan kotor bekas pesta kemarin.
Thio Sam, pelayan yang tertua dan setia, lebih tabah hatinya.
Ia maju memberi hormat dan berkata.
"Bu Thai-ya masih tidur, akan tetapi akan saya laporkan ke dalam. Cuwi (tuan sekalian) ini siapa dan dari manakah? Agar saya dapat laporkan kepada Thai-ya dengan betul..? "Hah, pelayan cerewet! Katakan saja kami dari Kota Raja, dari Istana! Hayo cepat!"
Bentak perwira itu.
Para pelayan menjadi makin ketakutan dan segera mereka lari masuk ke dalam gedung, didahului Thio Sam bahwa ada rombongan tamu dari Istana datang, Bu Keng Liong merasa heran dan cepat-cepat membereskan pakaian lalu melangkah keluar.
Melihat keadaan pasukan itu, ia mengerti bahwa itulah pasukan pengawal kerajaan, dengan tanda sehelai bulu yang menghias topi mereka.
Ada keperluan apakah sepasukan pengawal Istana dengan pemimpin mereka seorang perwira datang ke sini?
Dan tiga orang itu.
Ia tidak mengenal mereka, namun dapat menduga bahwa mereka itu tentulah orang-orang yang berilmu tinggi dan jelas merupakan petugas-petugas Istana pula, melihat dari keadaan pakaian mereka.
Bu Keng Liong pernah mendegar akan adanya Busu-Busu (pengawal Kaisar) yang berilmu tinggi dan tidak berpakaian seperti prajurit.
Apakah tiga orang ini busu Istana?
Ia maju dan mengangkat kedua tangan ke depan dada dengan sikap hormat sambil berkata.
"Cuwi siapakah dan ada keperluan apa minta bertemu dengan saya?"
"Eh, engkau inikah yang bernama Bu Keng Liong?"
Si perwira yang tinggi kurus melangkah maju dan bertanya sambil menudingkan telunjuknya ke arah dada Bu Taihiap.
Pendekar ini mengerutkan keningnya, akan tetapi ia tetap bersikap tenang dan sabar.
Sudah banyak ia mendengar tentang lagak para petugas kerajaan, dari yang besar sampai yang kecil, kesemuanya adalah tukang korup pencuri kekayaan Negara dan pemeras serta penindas rakyat jelata.
Agaknya perwira kecil ini tidak terkecuali maka bersikap begini galak seolah-olah dialah yang menjadi Kaisar!
"Benar, akulah orangnya yang bernama Bu Keng Liong,"
Jawab pendekar ini dengan sikap tidak begitu menghormat lagi karena betapapun juga hatinya merasa mendongkol oleh sikap yang tidak sopan dari si perwira.
"Bagus! Engkau menyerahlah, Bu Keng Liong, dari pada harus menggunakan kekerasan menangkapmu!"
Berdiri alis Bu Keng Liong.
Sesabar-sabarnya pendekar ini, dia adalah seorang gagah yang tidak mau dihina begitu saja.
Ia mengangkat dada, memandang tajam dan suaranya tegas dan bengis ketika ia membentak.
"Ciangkun! Engkau ini seorang perwira akan tetapi mengapa begini tidak tahu aturan? Biarpun engkau seorang perwira atau pembesar sekalipun, tidak berhak untuk menangkap orang begitu saja tanpa alasan! Aku Bu Keng Liong selamanya tidak pernah berurusan dengan kerajaan, tidak pernah melakukan pelanggaran ataupun kejahatan! Karena itu, bagaimana aku harus menyerah begitu saja untuk ditangkap? Apakah untuk menangkapku engkau punya perintah dari Kaisar? Mana surat perintah itu?"
Perwira itu kesima.
Selama ia menjadi perwira siapa saja didatanginya untuk ditangkap, siang-siang sudah menggigil lututnya dan menyerah begitu saja tanpa membantah.
Ia sudah terlalu biasa diturut kehendaknya oleh rakyat yang tidak ada seorang pun berani membantah dan melawanya.
Biasanya, ia bilang hitam,bilang putih-putih!
Akan tetapi sekarang, dia dibantah dengan ucapan yang berani dan memang benar!
Karena itu ia kesima dan tidak dapat menjawab.
"Heh-heh-heh, untuk menangkap seorang komplotan pemberontak memang tidak perlu ada surat perintah langsung dari Sribaginda!"
Tiba-tiba tedengar kakek bongkok berkata sambil mengebut-ngebut tubuhnya dengan sebuah kipas.
Kipas ini terbuat dari Sutera putih yang diberi lukisan gunung dan sungai, serta dihias dengan tulisan indah.
Gagangnya terbuat daripada perak murni, putih mengkilap dan diukir-ukir indah pula, dengan kedua ujung gagang meruncing.
Bu Keng Liong mengerutkan kening dan kini menghadapi tiga orang kakek itu yang berdiri tenang dan tersenyum-senyum.
Ia maklum bahwa mereka ini sengaja datang untuk mencari keributan.
Namun ia tahu gelagat dan tidak bersikap sembrono.
Ia menjura dengan hormat dan bertanya.
"Sebelum kita bicara tentang itu, bolehkah saya mengetahui siapa gerangan sam-wi (tuan bertiga) ini?"
Kembali si bongkok tertawa sehingga matanya yang sipit menjadi makin sipit seperti dipejamkan.
"Ha-ha-ha. Bu Keng Liong. Engkau yang terkenal sebagai seorang tokoh kang-ouw yang sudah ulung. Masa tidak mengenal kami? kami adalah tiga orang busu dari kerajaan, dan keadaan kami saja sudah cukup menjadi bukti bahwa Sribaginda sudah menyetujui akan penangkapan atas dirimu. Kau pandang aku baik-baik dan kalau masih belum dapat kau mengenalku sudahlah, mungkin kau yang terlalu picik."
Bu Keng Liong memandang penuh perhatian.
Tiba-tiba perhatiannya tertarik akan kipas itu.
Kipas bergagang perak!
Ah, tentu saja!
Biarpun ia belum pernah berjumpa dengan orangnya, namun nama besar busu kerajaan ini sudah pernah didengarnya.
Namanya Lu Mo Kok, dengan julukan Gin-San-Kwi (Iblis Kipas Perak), seorang diantara Busu-Busu kelas satu di kerajaan.
"Ah, kalau tidak salah, tuan ini adalah busu Lu Mo Kok yang berjuluk Gin-San-Kwi!"
"Ha-ha-ha-ha, ternyata matamu masih belum buta, Bu Keng Liong! Karena engkau mengenalku, biarlah kuperkenalkan kedua orang temanku ini. Mereka berdua juga Busu-Busu kerajaan, saudaraku ini adalah, Sam-to-eng (Garuda Berkepala Tiga), Ma Chiang (Kakek Berbaju Emas) yang terkenal dengan julukannya Kim-coa-pang (Tongkat Ular Emas)."
Diam-diam Bu Keng Liong terkejut bukan main.
Dia pernah mendengar pula nama julukan dua orang ini yang tidak kalah terkenalnya daripada julukan si bongkok.
Tiga orang ini adalah orang-orang berkepandaian tinggi sekali dan sudah terkenal kejam menurunkan tangan maut apabila berhadapan dengan para tokoh anti Kaisar.
Akan tetapi pendekar ini dapat bersikap tenang karena tadi ia bahwa ia dituduh komplotan pemberontak dan tentu saja hal ini sama sekali tidak benar, bahkan baru kemarin hampir saja keluarganya terbasmi oleh kaum anti Kaisar!
Ia tersenyum kata berkata.
"Ah kiranya sam-wi adalah Busu-Busu kerajaan yang terkenal di dunia kang-ouw. Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa sepagi ini sam-wi sudah datang mengunjungi pondok kami yang butut. Hendaknya sam-wi suka menjelaskan, apakah sesungguhnya maksud kedatangan cuwi sekalian ini?"
Tiba-tiba sikap Gin-San-Kwi Lu Mo Kok berubah bengis matanya yang sipit melotot dan suaranya ketus.
"Bu Keng Liong, tidak perlu banyak cakap lagi. Berlututlah dan menyerahlah!"
Hilang kesabaran Bu Taihiap. Ia mengangkat dada, menentang pandang kakek bongkok itu dan menjawab.
"Lu-Busu tadi aku dituduh komplotan pemberontak. Alangkah menggelikan dan itu hanyalah fiktif belaka. Harap kalian tidak begitu bodoh melakukan tindakan sembrono dan selidikilah dahulu perkaranya sebelum menjatuhkan fitnah keji."
"Ha-ha-ha, Bu Keng Liong. Engkau hendak menyangkal? Sudah jelas sekali, bukankah kemarin engkau merayakan pesta shejitmu dan bukanlah di sini datang buronan kami? beranikah engkau menyangkal bahwa Sin-jiu Kim-wan Ya Thian Cu Ban-Eng-Kiam Yo Ciat dan Koai-Kiam-Tojin Ya Keng Cu datang ke sini?"
Bu Keng Liong menjawab, suaranya masih marah.
"Tidak kusangkal! Mereka itu memang datang ke sini bersama dua orang sahabat mereka yang lain."
"Hemm! Kalau mereka itu bukan komplotanmu, mau apa mereka datang. Tentu telah kau undang mereka,"
Kata pula Lu Mo Kok.
"Siapa mengundang mereka? Mereka datang dengan maksud hendak menangkap dan membunuh keponakanku, Liu Kong putera Liu Ti yang tentu kalian telah mengenalnya. Kami melawan dan hampir terjadi bentrokan senjata."
"Ha-ha-ha! Bu Keng Liong, tidak perlu kau berusaha menipu kami. apa kau kira kami tidak mempunyai mata-mata? Keponakanmu itu tidak mereka tangkap, bahkan tidak terjadi pertandingan antara kalian dengan mereka, bukankah engkau sudah bersahabat dengan mereka dan permusuhan dihabiskan? Justru karena inilah kami datang untuk menangkapmu dan membujuk Liu Kong ke Kota Raja. Kami tidak menghendaki putera Liu Ti sahabat kami itu kau seret menjadi anggota pemberontak!"
Pada saat itu, dari dalam muncul berlarian nyonya Bu bersama Siang Hwi, Kwee Cin dan Liu Kong.
Ucapan terakhir Lu Mo Kok ini terdengar oleh mereka ini dan Liu Kong segera melompat ke depan, pedangnya sudah tercabut melintang di depan dada.
Sikapnya gagah ketika ia menghadapi tiga orang kakek itu sambil berkata.
"Siapa menyebut nama mendiang Ayahku? Akulah Liu Kong putera Liu Ti, kalau cuwi datang untuk berurusan dengan Liu Kong, harap tidak menyangkut orang lain, akulah orangnya!"
Tiga orang kakek itu saling pandang dan tersenyum dengan muka berseri.
"Omitohud...!"
Kim I Lohan berseru sambil menggerak-gerakan tongkatnya. Sungguh tidak kecewa Liu-Sicu yang gagah perkasa?"
Lu Mo Kok melangkah maju menghampiri Liu Kong lalu berkata.
"Orang muda, ketahuilah bahwa mendiang Ayahmu adalah sahabat dan rekan kami, karena itu, kewajibanmulah sebagai puteranya meneruskan perjuangannya membela negara, membasmi para pemberontak dan pengkhianat. Marilah kau ikut bersama kami dan roh Ayahmu tentu akan berbahagia menyaksikan putera tunggalnya dapat menjunjung tinggi nama orang tua, hidup sebagai seorang pahlawan di Kota Raja."
Mendengar ini, Liu Kong ragu-ragu dan menyarungkan pedangnya, kemudian mengangkat kedua tangan depan dada.
"Ah, kiranya sam-wi adalah sahabat-sahabat dan rekan-rekan mendiang Ayah? Kalau sam-wi datang tidak bermaksud buruk kepada saya, tentu saja saya tidak memusuhi sam-wi. Terimalah hormat saya seorang muda yang bodoh."
"Kong-ji...!"
Bu Keng Liong membentak.
"Ingatlah kau bahwa kau adalah muridku dan kau sudah berjanji untuk tidak mengikatkan diri kepada permusuhan kerajaan."
Berubah wajah Liu Kong mendengar teguran pamannya ini dan ia melangkah mundur lagi.
Wajahnya keruh dan pandang matanya ragu-ragu, agaknya ia tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan.
Ia takut dan taat kepada pamannya yang juga menjadi gurunya.
Sebaliknya ia tertarik kepada para busu dari Kota Raja ini.
Bukankah mereka adalah rekan-rekan Ayahnya?
Dan tentu saja ingin menjadi seperti Ayahnya!
"Ha-ha-ha, sekarang kelihatanlah belangnya Bu Keng Liong!
Engkau melarang putera sahabat kami melanjutkan kegagahan Ayahnya.
Ini berarti engkau berpihak kepada para pemberontak, Bu Keng Liong, engkau menyerahlah dan ikut bersama-sama kami ke Kota Raja!"
"Aku tidak sudi menjadi kaki tangan siapapun juga!"
Bu Taihiap membentak marah.
Isterinya juga sudah meloncat di sampingnya, siap dengan senjata pedang di tangan.
Kwee Cin juga telah mencabut senjata, demikian pula Siang Hwi.
Hanya Liu Kong yang berdiri bingung.
"Bagus! Dasar berjiwa pemberontak. Kalian hendak melawan? Ha-ha-ha!"
Lu Mo Kok sudah menerjang maju menggerakan kipasnya yang tadi ia pakai mengebut tubuhnya.
Terdengar desir angin keras ketika gagang kipas itu menotok ke arah leher Bu Keng Liong.
Pendekar ini sudah siap, cepat mengelak ke kiri.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ujung kipas itu bagaikan bermata, terus mengikuti dan mengancam lehernya.
Ia terpaksa menggulungkan dirinya ke atas tanah, terus bergulingan sampai jauh baru melompat ke atas sambil mencabut pedang.
Sementara itu, nyonya Bu yang tadi melihat suaminya terancam bahaya, sudah menerjang Lu Mo Kok dengan pedangnya.
Akan tetapi hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan ketika kipas di tangan Lu Mo Kok menangkisnya.
"Ha-ha-ha, benar-benar berani melawan?"
Si Iblis Berkipas Perak itu tertawa mengejek, suami-isteri Bu cepat menerjangnya dan dalam sekejap mata saja ia sudah dikeroyok suami isteri ini.
Siang Hwi dan Kwee Cin cepat menerjang maju untuk membantu guru mereka.
Akan tetapi tiba-tiba pedang Kwee Cin terbentur dengan sebatang tongkat dan tangannya menjadi setengah lumpuh.
Kiranya pedangnya ditangkis oleh tongkat di tangan Hwesio berjubah emas.
Terpaksa ia melayani Hwesio ini sambil memutar pedangnya dengan cepat.
"Aduh-aduh... cantik jelita! Tentu engkau ini puteri Bu Keng Liong yang tersohor. Bagus, nona manis, memang engkau cocok sekali untuk bermain-main dengan aku, ha-ha-ha!"
Melihat bahwa Sam-Tho-Eng Ma Chiang menghadangnya, Siang Hwi marah sekali, apalagi mendengar ucapan yang tidak sopan itu. Pedangnya berkelebat menjadi sepasang naga bermain-main di angkasa.
"Bagus sekali! Wah engkau makin cantik seperti bidadari menari!"
Siang Hwi marah.
Siang-kiam di tangannya bergerak makin cepat, akan tetapi ternyata dengan mudah dapat di elakkan oleh Ma Chiang yang memiliki sinkang istimewa sehingga seolah-olah tubuhnya menjadi sehelai bulu yang ringan sekali.
la melayani Siang Hwi sambil tertawa-tawa mengejek dan kadang-kadang ia menggunakan tangannya yang nakal itu untuk menepuk pundak, mengelus dagu, dan mencoba untuk menyentuh dada Siang Hwi makin marah, mukanya menjadi merah sekali, matanya seperti mengeluarkan api dan pedangnya merupakan cengkeraman maut.
Pertandingan berjalan dengan amat serunya, akan tetapi hanyalah Lu Mo Kok yang dikeroyok suami isteri Bu itu saja yang dapat bertanding dengan ramai dan berimbang keadaannya.
Dua pertandingan yang lain hanya merupakan main-main belaka karena Kwee Cin dan Siang Hwi sama sekali bukanlah lawan dua orang busu yang berilmu tinggi itu.
Liu Kong menjadi kebingungan.
"Tahan...! Tahan...! Harap sam-wi suka menghentikan pertempuran! Orang sendiri tidak perlu bertempur!"
Berkali-kali pemuda itu berusaha melerai dan berteriak-teriak, akan tetapi pihak keluarga Bu makin ganas menerjang, bahkan Bu Keng Liong dengan suara marah memaki.
"Liu Kong manusia tak tahu malu! Jangan banyak mulut! Kalau kau mau mengkhianati guru, kau majulah sekalian menjadi lawan kami!"
Pada saat itu, terdengar suara keras pedang Kwee Cin terlempar jauh disusul robohnya pemuda ini yang kena pukul paha kirinya oleh tongkat Kim I Lohan.
Setelah merobohkan Kwee Cin, Kim I Lohan membantu Lu Mo Kok, tongkatnya menyerampang kaki nyonya Bu yang cepat-cepat melompat tinggi.
Setelah kini melawan satu sama satu, Bu Keng Liong dan isterinya terdesak hebat.
Pedang Bu Keng Liong memang ampuh dan hebat, akan tetapi menghadapi kipas di tangan Lu Mo Kok mendesak dan ketika kipasnya menotok lalu tiba-tiba terbuka dan mengibas ke arah muka Bu Keng Liong, pendekar itu cepat berusaha menangkis sambil membacok lengan lawan.
Akan tetapi Lu Mo Kok tertawa dan tangan kirinya menyambar tepat menghantam lambung Bu Keng Liong yang berseru perlahan dan terguling roboh.
Hampir berbareng tongkat Kim I Lohan juga sudah memukul pundak nyonya Bu Sehingga nyonya ini roboh pula dengan tulang pundak patah!
Siang Hwi dipermainkan oleh Ma Chiang.
Sampai pening-pening kepala Siang Hwi menyerang orang kurus bermuka tikus yang amat lihai itu.
"Nona, menyerahlah, aku tidak tega melukaimu seperti yang lain-lain."
Kata Ma Chiang, suaranya merayu.
"Jahanam, lebih baik mati daripada menyerah!"
Bentak Siang Hwi dan sepasang pedangnya kembali menyerang.
Akan tetapi tiba-tiba kedua pedangnya itu terhenti gerakannya dan ketika ia memandang, ternyata kedua pedangnya telah kena dicengkeram oleh sepasang senjata cakar yang tahu-tahu telah berada di tangan Ma Chiang.
Senjata cakar ini adalah sepasang sarung tangan yang ujungnya merupakan kuku-kuku runcing.
Inilah senjata kuku garuda yang amat hebat, bukan hanya dapat menahan senjata tajam lawan, juga dapat digunakan untuk mencengkeram tubuh lawan dengan kuku-kuku baja itu!
Siang Hwi berusaha menarik kembali dua pedangnya, namun tidak dapat terlepas dari tangan Siang Hwi!
Gadis ini tidak mau menyerah.
Melihat kedua orang tuanya dan Kwee Cin sudah roboh, ia marah dan nekat.
Dengan tangan kosong ia maju menerjang.
"Ha-ha-ha-ha, kau cantik jelita, manis dan juga penuh semangat!"
Ma Chiang berkata sambil tertawa bergelak, melepas kedua sarung tangannya dan menyambut dua tangan gadis itu yang tahu-tahu telah dapat pula ditangkapnya.
Mereka berkagetan dan Ma Chiang mendekatkan mukanya, hendak mencium muka gadis itu.
Muka mereka berdekatan dan Ma Chiang tertawa sambil mendengus-dengus.
"Wah, Wangi...! Wangi...!"
"Locianpwe, harap jangan mengganggu Sumoi...!"
Tiba-tiba Liu Kong yang mencinta Siang Hwi tidak tahan menyaksikan keadaan ini.
Ma Chiang tertawa menoleh kepadanya, tangannya melepaskan Siang Hwi, bergerak cepat dan tiba-tiba tubuh Siang Hwi menjadi lemas dan lumpuh terkena totokannya yang lihai.
Gadis itu roboh pula dan tak dapat bergerak.
Liu Kong yang melihat betapa gurunya, Sute dan Sumoinya sudah roboh semua dalam waktu yang singkat itu, menjadi kaget dan juga kagum.
Rekan-rekan Ayahnya ini benar-benar lihai bukan main, mungkin jauh sekali lebih lihai daripada Ya Keng Cu dan teman-temannya yang menyerbu kemarin.
Ia cepat memberi hormat dan berkata.
"Saya suka ikut bersama sam-wi, akan tetapi harap jangan mengganggu keluarga Suhu di sini. Saya berani tanggung bahwa Suhu sekeluarga bukanlah kaum pemberontak, juga sama sekali tidak ada hubungan dengan orang-orang anti Kaisar."
"Omitohud..., tidak bisa begini mudah! Orang she Bu ini sudah terang melawan kami, dan sikapnya seperti pemberontak. Dia harus dibawa ke Kota Raja menanti keputusan pengadilan di sana apakah dia termasuk pemberontak atau bukan. Kalau kelak dia mau merobah sikapnya yang keras kepala, mungkin sekali dia dibebaskan...!!"
Kata Kim I Lohan.
"Heh-heh, bener ucapan Kim I Lohan. Juga anak gadisnya yang galak ini harus dijadikan tanggungan. Kalau kelak dinyatakan bersih, tentu dapat menjadi sahabat-sahabat. Kalau sebaliknya, hemm... biar diserahkan kepadaku!"
Ucapan Ma Chiang yang memandang tubuh Siang Hwi dengan mata penuh nafsu itu membuat Liu Kong diam-diam marah sekali. Akan tetapi ia tidak berani menyatakan kemarahannya, hanya membantah.
"Sudah ada saya yang menanggung mereka, apakah masih belum cukup?"
Tiba-tiba Lu Mo Kok melangkah maju dan membentak.
"Orang muda she Liu! Baru saja menyatakan hendak melanjutkan perjuangan Ayahmu, akan tetapi belum apa-apa sudah berani membantah kami! apa yang dikatakan kedua rekanku ini tepat sekali. Bu Keng Liong dan puterinya menjadi tawanan dan harus ikut bersama ke Kota Raja. Biarlah ditentukan oleh penguasa yang berhak memutuskan. Kalau memang dianggap tidak bersalah, besok pun akan dibebaskan karena atasan kami menanti tidak jauh dari sini."
Lu Mo Kok memberi isarat kepada perwira dan beberapa orang perajurit lalu membelenggu kedua tangan Bu Keng Liong ke belakang.
Juga kedua tangan Siang Hwi dibelenggu, barulah dia dibebaskan daripada totokan.
Sampai di sini Thio Sam, tukang kebun keluarga Bu itu bercerita.
Dengan muka sedih ia lalu mengakhiri ceritanya.
"Demikianlah Kwan Bu..., eh Siauw Hiap... Thai-ya dan Siocia diborgol dan digiring pergi oleh mereka itu. Liu Kongcu juga pergi bersama mereka dengan menundukkan muka. Kami semua sibuk menolong Hujin dan Kwee Kongcu, yang terluka masuk ke dalam rumah. Bu-Hujin menangis terus dan kami semua bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya saya pergi menyusul Siauw Hiap di sini."
"Siapa yang menyuruhmu lopek? Apakah Bu Hujin?"
"Bukan. Baik Bu-Hujin maupun Kwee Kongcu tidak menyebut-nyebut namamu, akan tetapi aku teringat bahwa dahulu kau dan Ibumu tinggal di kuil Kwan-im-bio. Maka aku lalu cepat menyusul dan untung dapat bertemu denganmu di sini."
Kwan Bu mengangguk-angguk.
"Tenangkan hatimu, lopek. Sekarang juga aku akan mengejar mereka dan berusaha menolong mereka"
Thio Sam yang amat setia kepada majikannya itu girang sekali, cepat menghaturkan terima kasih sambil menjura.
Akan tetapi ketika mengangkat mukanya, ternyata pemuda itu telah lenyap dari depannya!
Hati Liu Kong bingung sekali.
Tadinya ia merasa girang bahwa kini tiba saat dan kesempatan baginya untuk meningkatkan nama dan mencari kedudukan sesuai dengan keadaan dirinya sebagai putera Liu Ti yang menjadi orang kepercayaan Kaisar dalam usaha membasmi para pemberontak.
Akan tetapi, kini melihat paman atau gurunya menjadi tawanan, terutama sekali Siang Hwi, hatinya gelisah dan bingung sekali.
Lebih-lebih kalau melihat Siang Hwi, gadis yang di cintanya.
Ia tahu bahwa Sam-Tho-Eng Ma Chiang si muka tikus tua Bangka itu tergila-gila dengan Siang Hwi dan kalau saja tidak ada dia di situ, tentu gadis itu akan diganggunya.
Dan ia tidak dapat menjamin lagi bagaimana sikap kakek muka tikus itu kalau nanti ternyata bahwa gurunya dan Sumoinya dianggap bersalah oleh pendekar yang memutuskannya.
Tentu akan celakalah Sumoinya di tangan Ma Chiang yang kelihatannya seperti seekor anjing yang kelaparan melihat segumpal daging segar.
Dalam perjalanan menuju ke timur itu, Liu Kong yang tadinya bingung, mendapat akal, ia berjalan perlahan menjajari Ayah dan anak yang terbelenggu dan berjalan sambil menundukkan muka.
"Siokhu (paman)...!"
Bu Keng Liong yang merasa muak dan marah sekali terhadap keponakannya ini menoleh pun tidak.
"Siokhu...,"
Kembali Liu Kong berkata. Bu Keng Liong tidak menjawab, akan tetapi Siang Hwi yang kini menoleh, memandangnya dengan mata berapi dan menghardik.
"Engkau mau apalagi mengganggu Ayah, orang pengecut dan khianat?"
Kecut-kecut muka Liu Kong.
"Siokhu, dan Sumoi, dengarlah baik-baik. Sungguh mati aku bukan seorang manusia penakut dan pengecut, apalagi hendak mengkhianati kalian. Siokhu tentu maklum bahwa aku tidak berdaya untuk menggunakan kekerasan, apa lagi mereka ini semua adalah rekan-rekan mendiang Ayah. Siokhu, saya mempunyai jalan baik untuk menolong kalian..?"
Bu Keng Liong tidak menoleh berkata.
"Aku tidak butuh pertolonganmu..?"
Liu Kong merasa terpukul dan menggigil Bibirnya. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya dan berbisik lagi.
"Siokhu, tentu siokhu maklum akan perasaan hatiku terhadap Sumoi. Saya lihat bahwa keadaan Sumoi terancam bahaya mengerikan. Jalan satu-satunya, kalau siokhu ingin menolong puterimu, adalah menjodohkan Sumoi dengan saya... hanya dengan jalan inilah maka siokhu dan Sumoi dapat terlepas dari bahaya. Sebagai isteri saya dan Ayah mertua saya, tentu akan mendapat keringanan."
"Tidak sudi...! Tidak sudi...! Tidak sudi...!"
Siang Hwi menangis, menundukkan mukanya. Bu Keng Liong menghela napas panjang.
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 5
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 4