Ceritasilat Novel Online

Dendam Si Anak Haram 5

Eps 5 Dendam Si Anak Haram - Kho Ping Hoo

Baca online Dendam Si Anak Haram - Kho Ping Hoo

Cersil Dendam Si Anak Haram - Kho Ping Hoo.

Kini menghadapi tusukan ini, Siok Lun hanya miringkan tubuhnya sehingga pedang itu menyambar lewat di dekat dadanya, kemudian tiba-tiba lengannya yang dikembangkan mengempit pedangnya, namun tidak berhasil dan tiba-tiba ia menjerit marah ketika tangan Siok Lun sudah mencengkeram dadanya!

Siang Hwi mengangkat tangan kirinya menghantam muka Siok Lun, namun sebelah tangan Siok Lun sudah menangkap pergelangan tangan itu sehingga gadis itu tidak dapat bergerak lagi!

Tangan kiri Siok Lun masih mencengkeram dada sambil ketiaknya mengempit pedang, tangan kanan menangkap pergelangan tangan kiri Siang Hwi, kemudian pemuda ceriwis ini mendekatkan muka dengan mulut diruncingkan hendak mencium!

Siang Hwi marah dan bingung, membuang muka dan pada saat itu Liu Kong membentak.

"Phoa-Taihiap, ingat dia itu piauw-moiku, harap lepaskan dia!"

Bentakan ini membebaskan Siang Hwi.

Tidak jadi tercium, akan tetapi sambil tertawa Siok Lun menggerakkan tangannya dan sebuah totokan mengenai jalan darah thian-hu-hiat membuat Siang Hwi roboh dengan tubuh lemas.

Liu Kong segera menangkap tubuh piauw-moinya itu lalu dipanggulnya.

"Ha-ha, maafkan aku Liu-Ciangkun. Aku hampir lupa melihat gadis manis yang galak ini,"

Siok Lun tertawa-tawa dan secara kurang ajar sekali ia membawa tangan yang mencengkeram dada tadi ke depan hidungnya dan memuji.

"Hemm harum...l"

"Sudahlah, harap Taihiap jangan main-main. Mari kita membawanya kembali ke pasukan."

Kata Liu Kong yang tak berdaya karena dia tak berani marah kepada laki-laki yang kurang ajar namun amat lihai itu.

Mereka berdua segera lari kembali ke pasukan yang menanti mereka.

Memang semua ini telah diatur oleh Siok Lun, yaitu di depan Kwan Bu sengaja memberi janji agar Sutenya itu tidak menimbulkan banyak keributan.

Bukannya dia jerih terhadap Kwan Bu, hanya tidak ingin memusuhi Sutenya itu.

apalagi karena para Panglima termasuk Liu Kong juga setuju kalau dapat menarik Kwan Bu menjadi sekutu mereka, yang berarti bertambahnya tenaga yang lihai.

Para Panglima memuji-muji Liu Kong dan Siok Lun dan para pasukan itu segera diberangkatkan meninggalkan Hek-Kwi-San untuk kembali ke Kota Raja.

Di sepanjang perjalanan mereka masih melakukan "Pembersihan-pembersihan"

Di dusun pegunungan yang mereka lalui dan tentu saja, Seperti lazimnya dalam "Operasi pembersihan"

Seperti itu, para anggauta pasukan mempergunakan kesempatan untuk keuntungan dan kesenangan diri sendiri, misalnya menyambar benda-benda berharga yang kecil dan yang mudah mereka pindahkan ke kantung baju sendiri, mengganggu wanita-wanita cantik yang mereka dapatkan di rumah-rumah yang dijadikan sasaran "Penggeledahan."

Pada suatu malam, pasukan ini berhenti di sebuah dusun setelah sehari penuh mengadakan pembersihan sampai ke dusun itu.

Dalam operasi pembersihan ini, Siok Lun terpaksa memenuhi permintaan Sumoinya.

juga kekasihnya, untuk membasmi habis para perampok yang memang dijadikan musuh besar Bi Hwa, yang mendendam kepada semua perampok karena keluarganya habis dibasmi perampok.

Siang Hwi menjadi tawanan, selalu dijaga keras, bahkan tak pernah terlepas dari pengawasan para Panglima secara bergiliran.

Namun karena di situ ada Liu Kong, gadis ini diperlakukan dengan cukup baik dan terjamin.

Malam hari itu, seperti biasa, Siang Hwi dikeram ke dalam kamar sebuah rumah untuk sementara diduduki oleh para pasukan.

Malam yang sunyi.

Para penduduk yang ketakutan karena di manapun pasukan itu tiba selalu terjadi hal-hal mengerikan, siang-siang dalam rumah setelah mereka memenuhi sebuah perintah lurah setempat untuk menyediakan segala keperluan pasukan.

Hanya rumah lurah saja yang nampak sibuk karena tentu saja pembesar tempat ini seperti biasa menyambut para Panglima dengan segala kehormatan.

Phoa Siok Lun menjadi kesal hatinya.

Sumoinya memang benar membalas cinta kasihnya, Akan tetapi pemuda yang selalu dikejar nafsunya sendiri ini menjadi gelisah karena Sumoinya bukanlah seorang wanita yang selalu suka melayaninya bermain cinta.

Sebagai seorang pemuda hidung belang, penyakit lamanya kambuh kembali dan ia menjadi kesal.

Sebetulnya ia amat tertarik kepada Siang Hwi, dan kalau saja di sana tidak ada Liu Kong, tentu gadis itu sudah menjadi korban nafsunya.

Dia tidak ingin bermusuhan dengan Liu Kong karena hal itu akan menghambat cita-citanya mendapatkan kedudukan di Istana, maka ia menahan dirinya seringkali mengutuk pemuda itu.

Setelah semua orang tidur dan keadaan sunyi, Siok Lun yang tidak betah tinggal di dalam kamarnya, lalu keluar dan bermaksud untuk mencari korban nafsunya di dalam dusun itu.

Dengan kepandaiannya yang amat tinggi, ia dapat keluar dari kamarnya tanpa menimbulkan suara dan sebagai seekor kucing, Ia menyelinap di dalam gelap, lalu meloncat ke atas genting-genting rumah penduduk dusun.

Akan tetapi tiba-tiba Siok Lun mendekam di wuwungan dan matanya memandang tajam ke depan.

Ia melihat sesosok bayangan yang ringan dan lincah gerakannya berkelebat di atas wuwungan depan, hatinya berdebar.

Ah, untung dia keluar dari kamarnya karena kalau tidak, tentu bayangan itu berhasil datang di tempat itu tanpa diketahui para pengawal yang menjaga.

Orang yang memiliki gerakan selincah itu ternyata terlalu pandai bagi para pengawal yang menjaga, sedangkan yang berilmu sedang tidur dan beristirahat melepas lelah.

Bayangan itu kini datang dekat.

Malam itu bulan sepotong menyinari bumi dan kebetulan sekali bayangan itu berdiri dengan muka menghadap bulan..Jantung Siok Lun berdebar makin tegang.

Dari tubuh orang itu ia tadi sudah menduga bahwa bayangan ini tentu seorang wanita, karena terlalu ramping untuk seorang pria, Ketika ia dapat melihat wajahnya, ia girang bukan main, Wajah seorang wanita yang masih muda, seorang gadis yang cantik manis sekali, dengan pakaian serba hijau yang ketat, mencetak bentuk tubuhnya yang menggairahkan, tubuh seorang wanita muda yang sedang dirindukannya!

Seorang gadis cantik yang memiliki ilmu kepandaian lumayan!

Bagus sekali, pikirnya, dan Siok Lun hampir saja bergelak tertawa.

Selagi ia merindukan Siang Hwi, kini Thian mengirimkan pengganti Siang Hwi kepadanya!

Siok Lun amat cerdik.

Dia dapat menduga ketika melihat wanita itu mulai mengintai ke bawah bahwa wanita ini tentulah seorang anggauta pemberontak atau setidaknya mata-mata pemberontak yang mungkin datang untuk menolong Siang Hwi.

Kalau ia membiarkan wanita itu turun tentu akan diketahui para Panglima dan sekali wanita terjatuh ke tangan para Panglima dan dijadikan tawanan kalau tidak mati, sukurlah baginya untuk mendapatkan gadis ini.

Kalau dia serang kemudian wanita itu melawannya, tentu menimbulkan keributan dan semua orang akan terbangun, dengan demikian ia akan terganggu dan gagal pula gadis idam-idaman hatinya.

(Lanjut ke

Jilid 11) Dendam Si Anak Haram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Berpikir demikian, Siok Lun lalu merenggut lepas sebuah kancing bajunya dan menyambitnya ke arah bayangan wanita yang sedang mengintai.

Wanita itu mendengar bersiutnya angin, cepat mengulur tangan menyambar benda yang menyerangnya.

Ia mengeluarkan suara kaget, agaknya ia menjadi kaget karena tangannya yang menerima benda itu terasa panas dan nyeri, tanda bahwa sipenyambit bertenaga besar, apalagi setelah ia mendapat kenyataan bahwa benda itu hanya sebuah kancing.

Tahulah gadis baju hijau itu bahwa yang menyambitnya adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali dan bahwa kehadirannya sudah diketahui orang!

Gadis itu adalah seorang yang sudah berpengalaman di dunia kang-ouw karena dia itu bukan lain adalah Cheng I Lihiap (Pendekar Wanita Berbaju Hijau, anak murid Kun-Lun-Pai yang pernah tertolong oleh Kwan Bu dan Giok Lan ketika tertawan di kuil Ban-Lok-Tang di Sian-Hu, ketika mereka itu kebetulan bersama-sama menyerbu kuil untuk membasmi pendeta-pendeta cabul yang dipimpin oleh Tong Kak Hosiang, si penjahat cabul yang berkedok pendeta.

Cheng I Lihiap maklum bahwa para Panglima pengawal bukanlah orang-orang yang boleh dianggap ringan, maka kini setelah ia diketahui orang dan yang melihatnya itu benar-benar amat lihai, Ia segera melompat turun dari genting dan melarikan diri dari tempat berbahaya itu.

Ia bermaksud menolong Siang Hwi setelah ia mendengar bahwa puteri Bu Taihiap yang terkenal itu menjadi tawanan, apalagi mendengar bahwa dusun-dusun tertimpa malapetaka di mana saja pasukan pengawal tiba.

Akan tetapi ia tidak mau berlaku sembrono dan malam ini agaknya belum tiba saatnya yang baik baginya untuk menolong gadis puteri Bu Taihiap itu.

Akan tetapi, ketika ia tiba-tiba di luar dusun itu, di jalan yang sepi tiba-tiba ada bayangan berkelebat di sampingnya, mendahuluinya dan tahu-tahu seorang laki-laki yang tampan dan gagah sudah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang dan tersenyum-senyum.

Sinar bulan yang menimpa muka pria itu memperlihatkan wajah yang tampan dan gagah, namun sepasang mata yang nakal dan kurang ajar.

"Heh-heh, nona manis berbaju hijau! setelah datang tanpa diundang, mengapa pergi tanpa pamit."

Cheng l Lihiap memandang penuh perhatian, lalu berkata dengan suara ketus.

"Siapa engkau dan mau apa menghalangiku?"

"Ha-ha! ditanya belum menjawab balas bertanya. Baiklah, nona manis namaku Phoa Siok Lun, seorang calon Panglima pengawal Istana! Tadi aku melihatmu, dan karena aku merasa sayang sekali kalau engkau sampai ketahuan para Panglima dan tentu akan dibunuh, maka kuperingatkan engkau agar pergi saja dari sana"

Cheng I Lihiap mengerutkan alisnya.

Jelas bahwa orang ini menyambitnya dengan kancing tadi, seorang yang berkepandaian tinggi.

Orang ini memang telah memperingatkan dan mungkin menghindarkannya daripada bahaya maut, akan tetapi sikapnya sungguh ceriwis.

Betapapun juga sebagai seorang tokoh kang-ouw telah menghindarkannya yang tahu aturan, apalagi menghadapi seorang lihai ia lalu menjura dan berkata.

"Kalau begitu, aku Cheng I Lihiap menghaturkan terima kasih atas peringatanmu tadi Phoa-Enghiong. Sekarang aku tahu betapa bodohnya mengganggu rombongan pengawal yang terjaga oleh orang-orang lihai sepertimu dan Panglima-Panglima lain. Selamat Tinggal"

Cheng l Lihiap sengaja mengerahkan ginkangnya melesat jauh dengan sebuah loncatan yang dilanjutkan dengan lari cepat.

Akan tetapi matanya terbelalak ketika memandang ke depan dan melihat bahwa pemuda tampan itu telah berada di depannya, tersenyum-senyum kepadanya.

"Nona yang cantik jelita dan gagah perkasa, mengapa tergesa-gesa amat?"

"Hemm, kau mau apa?"

Cheng l Lihiap membentak, timbul kemarahannya karena pandang matanya yang sudah berpengalaman itu dapat melihat sifat cabul yang membayang pada pandang mata dan senyum pemuda itu. Siok Lun tersenyum.

"Heh-heh, nona sendiri telah mengaku bahwa aku telah menolongmu. Kalau bukan engkau, mana sudi aku menolong? Setelah menolong, masa habis sampai di sini saja? Nona, kalau memang nona ingin sekali menyaksikan keadaan di pondok-pondok yang didiami para pengawal dan tawanannya, mari ikut bersamaku. Engkau, akan aman dan kita dapat bercakap-cakap dan bersenang-senang dalam pondokku..."

"Keparat...! Kiranya engkau orang macam inikah? Sudah kuduga! Seorang yang bekerja sama dengan para pengawal yang kejam, yang mendatangkan bencana kepada rakyat, pasti bukanlah seorang manusia baik-baik."

Berkata demikian, Cheng l Lihiap telah mencabut pedangnya, dipandang dengan senyum mengejek oleh Siok Lun.

Darah Siok Lun bergolak, bukan marah, melainkan oleh nafsunya yang sejak sore tadi sudah menguasainya, dan kini menyaksikan Cheng l Lihiap dari dekat.

Ia mendapat kenyataan bahwa pendekar wanita ini benar-benar cantik sekali dan memiliki bentuk tubuh yang menggairahkan.

"Nona, daripada bertanding, bukankah lebih menyenangkan kalau kita bercinta?"

"Tutup mulutmu yang kotor! Lihat pedang!"

Cheng I Lihiap sudah menyerang Siok Lun dengan tusukan pedangnya ke arah leher. Siok Lun hanya menundukkan kepalanya dan tangannya bergerak ke atas menyentil pedang itu.

"Tringgg...! Aihhh..!"

Cheng l Lihiap terkejut sekali karena sentilan pada pedangnya itu membuat pedangnya tergetar hebat dan telapak tangan yang memegang pedang terasa kesemutan.

Namun ia menjadi makin marah dan kembali pedangnya menyambar, kini membacok kepala lawannya yang ceriwis.

"Eihhh, benarkah engkau tega membunuh penolongmu, nona."

Siok Lun menggoda sambil mengelak cepat.

Cheng l Lihiap makin marah.

Juga ia maklum bahwa keadaan dirinya berada dalam bahaya, Dari sikap, dan kata-kata pemuda tampan ini ia dapat menduga bahwa pemuda ini termasuk seorang pria yang tidak segan-segan menggunakan kepandaian dan kekerasan untuk memakan seorang wanita.

Karena itu, dia harus dapat membunuh pemuda ini, bukan hanya demi menolong diri sendiri, juga untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang pendekar, membasmi orang-orang jahat di muka bumi.

Kini pedang Cheng l Lihiap bergerak cepat sekali mengirim serangan maut dengan kelebatan pedang yang menyambar secara bergelombang, susul menyusul dari kanan ke kiri dan membalik lagi sehingga dalam satu jurus saja ia telah menyerang ke arah pinggang, dan paha!

Akan tetapi Siok Lun jauh lebih cepat gerakannya lagi.

Dengan loncatan-loncatan seperti burung terbang, ia dapat menghindarkan diri dan sebelum Cheng l Lihiap sempat menyerang lagi, Tahu-tahu lengan gadis itu sudah kena dicengkeram.

Sebuah totokan di pundak membuat pendekar wanita itu mengeluh dan ia menjadi lemas, pedangnya terlepas dari pegangan.

Siok Lun tertawa gembira, lalu memeluk dia menciumi muka Cheng l Lihiap sepuasnya tanpa gadis itu dapat berdaya sedikitpun kecuali merintih dan memejamkan matanya.

Pemuda yang lihai namun bermoral betjat itu lalu menggendong tubuh yang sudah lemas itu, kemudian membawanya lari kembali ke dusun.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, Siok Lun berhasil membawa Cheng I Lihiap kembali ke pondoknya tanpa diketahui seorang penjaga pun.

Ia melemparkan tubuh yang lemas itu ke atas pembaringan, kemudian tertawa dan berkata kepada gadis yang memandangnya dengan mata terbelalak penuh kebencian dan juga kengerian.

"Ha-ha, nona manis! Aku ingin melihat engkau meronta dan melawan,melihat engkau hidup dalam pelukanku, bukan seperti orang mati. Nah, kau melawanlah!"

Ia lalu membebaskan totokan pada tubuh gadis itu sehingga kembali Cheng I Lihiap dapat bergerak.

Begitu merasa bahwa totokan tubuhnya sudah bebas, Cheng I Lihiap meloncat dan menerjang musuhnya, menggunakan kepalan tangannya memukul dada Siok Lun.

"Dukk"

Siok Lun sengaja menerima pukulan itu sambil mengerahkan ginkangya sehingga tangan gadis itu sendiri yang terasa nyeri, sedangkan tangan Siok Lun tidak tinggal diam, mencengkeram ke depan dan merenggut.

"Bretttt...!"

Robeklah baju luar gadis itu sehingga kini tampak baju dalamnya yang berwarna merah muda!

"Ha-ha-ha!

hayo lawan terus, nona manis.

Dan kaupun boleh berteriak kalau berani.

Berteriaklah agar banyak pengawal datang dan melihat engkau menjadi permainanku!"

Cheng I Lihiap menggigit Bibirnya.

Ia merendah dan malu sekali, juga penasaraan.

Ia tahu bahwa kalau ia menjerit ia hanya akan menjadi tontonan dan buah tertawaan, maka ia menjadi nekat dan menerjang lagi.

Namun mudah saja pukulannya ditangkis oleh Siok Lun yang kembali mencengkeram sehingga terdengar kain robek dan baju luarnya menjadi compang-camping tidak karuan.

Ia makin nekat, terus menubruk lagi, sekali ini ia melakukan tendangan kilat ke arah bawah pusar lawan.

"Wah-wah, galaknya!"

Siok Lun mengejek, menangkap kaki yang menendang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menjambret ke depan.

"Brettt...!!"

Sekali ini sebelah sepatu dan celananya terobek sehingga Cheng l Lihiap menjadi setengah telanjang.

Melihat betis kiri yang padat dan berbentuk indah berkulit putih bersih, Siok Lun menjadi makin beringas.

Ia terkekeh-kekeh dan menangkap gadis itu, dilemparkannya ke atas pembaringan di mana Cheng l Lihiap terbanting terlentang, Sebelum gadis ini cepat meloncat turun, Siok Lun sudah menerkamnya.

Ia memapaki dengan pukulan keras ke arah kepala pemuda itu namun lagi-lagi tangannya dapat ditangkap.

Tedengar suara kain robek berkali-kali dan kini baju dalam berwarna merah muda itupun sudah compang-camping.

"Aihhhh...!"

Cheng I Lihiap mengeluh dan berusaha menutupi dadanya yang telanjang dengan kedua tangan, Siok Lun makin beringas dan buas, ketika tangannya menyengkeram, kini bagian atas celana Cheng I Lihiap hancur dan robek-robek!

Cheng I Lihiap merintih dan matanya terbelalak penuh kengerian.

Ia terisak saking marah dan takutnya, kemudian karena ia maklum bahwa tak mungkin ia melawan laki-laki yang sudah seperti binatang buas ini, ia berlaku nekat da melakukan gerakan meloncat, membenturkan kepalanya sendiri ke dinding kamar untuk membunuh diri!

"Eh-eh...

jangan begitu, manis!"

Siok Lun cepat menyambar tubuh itu, mencegah si gadis membunuh diri, merangkul dan menciuminya.

Cheng I Lihiap kembali meronta dan menyerang, akan tetapi kini Siok Lun sudah menangkap kedua tangannya dengan satu tangan saja.

Betapapun gadis itu meronta dia tidak mampu melepaskan kedua tangan yang pergelangannya sudah dicengkeram tangan kiri Siok Lun.

Sambil tertawa-tawa dan menciumi seluruh tubuh gadis itu, Siok Lun menggunakan tangan kanannya untuk membelai-belai secara kurang ajar, kemudian mulai menggerayangi pakaiannya sendiri untuk ditanggalkan.

Cheng I Lihiap meronta-ronta, menggeliat-geliat sambil mengeluarkan suara merintih-rintih dan terisak-isak, namun hal ini agaknya menambah gembira hati Siok Lun yang tiada hentinya menciumi penuh nafsu yang buas.

"Aahhhh, jangan... jangan... bunuh saja aku..."

Gadis itu merintih-rintih dan meminta-minta dengan suara mengandung isak tertahan.

"Membunuhmu? Aha, sayang sekali... kau begini manis, begini montok, begini menggairahkan...!"

Pada saat itu, daun pintu pondok itu di dorong orang dari luar dan terdengar seruan.

"Suheng...!!"

Siok Lun terkejut sekali, seperti disambar petir rasanya.

Ia cepat melepaskan Cheng l Lihiap dan membalikkan tubuh.

Dengan kancing bajunya sudah terlepas semua ia berdiri memandang Bi Hwa yang telah berada di ambang pintu dengan muka marah dan mata menyinarkan api.

"Prokkkt!"

Siok Lun tekejul bukan main dan cepat membalikkan tubuh.

Ia tertegun memandang tubuh setengah telanjang yang menggairahkan itu di atas pembaringan, mukanya mandi darah yang muncrat keluar dari kepalanya yang retak-retak.

Ternyata Cheng l Lihiap mempergunakan kesempatan itu untuk membenturkan kepala sendiri pada dinding sampai pecah.

Gadis pendekar yang namanya terkenal di dunia kang-ouw itu tewas dalam keadaan mengenaskan, akan tetapi ia terbebas daripada perkosaan yang pasti akan terjadi menimpa dirinya kalau saja tidak muncul Bi Hwa.

Ketika seorang gadis perkasa muncul dan menyebut Suheng kepada Siok Lun, Cheng l Lihiap habis harapannya dan membunuh diri.

Siok Lun menghela napas panjang, hatinya kecewa sekali.

"Dia sudah membunuh diri, tak perlu aku membunuhnya,"

Katanya.

"Suheng! Apa yang kau lakukan? Siapa dia?"

Bi Hwa bertanya dengan suara marah. Siok Lun membalikkan tubuh dan tersenyum.

"Sumoi. jangan salah faham. Dia ini mata-mata musuh, tadi mengintai dan memasuki kamar bermaksud membunuhku. Akan tetapi untung aku belum tidur dan berhasil mengalahkannya. Dia cukup lihai dan galak..? "Hemm, kalau bertanding biasa, masa pakaiannya sampai robek-robek semua seperti itu? Suheng. kau... kau masih juga belum berubah! Kau mengecewakan hatiku..?"

Bi Hwa lalu menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Siok Lun cepat maju mendekati, lalu memegang kedua pundak Sumoinya. juga kekasihnya itu.

"Sumoi, jangan salah mengerti. Dia... dia itu selain lihai juga galak dan sombong. aku... aku hanya ingin merobek-robek pakaiannya sebelum membunuhnya untuk membalas kesombongannya...!"

"Siapa tidak tahu watakmu? Cih, muak aku melihatmu! Suheng, kau benar-benar menyakiti hatiku..?"

Siok Lun lalu berlutut di depan kaki Sumoinya. memeluk kedua kaki itu.

"Sumoi, kalau begitu maafkanlah aku. Sumoi... aku takkan melakukan hal itu Iagi... maafkan aku..?"

Bi Hwa memang sudah menyerahkan hati dan tubuhnya kepada Suhengnya ini. Melihat Suhengnya berlutut dan minta maaf, kemarahannya mereda dan ia lalu berkata perlahan.

"Sudahlah, lebih baik kita cepat membereskan pakaian mayat itu agar tidak menjadikan bahan percakapan dan tertawaan para pengawal."

Lega hati Siok Lun dan ia membiarkan Bi Hwa membereskan, bahkan mengganti pakaian Cheng I Lihiap sehingga gadis itu tewas dalam keadaan pakaian masih utuh.

Kemudian para Panglima diberitahu bahwa wanita yang tewas itu adalah mata-mata musuh yang berhasil menyelinap masuk akan tetapi tewas oleh pukulan Siok Lun!

Semenjak peristiwa itu, Siok Lun selalu membujuk-bujuk Sumoinya untuk sudi melayaninya.

Namun Bi Hwa selalu menolak dengan halus dan biarpun di luarnya Bi Hwa tidak kelihatan marah lagi, namun di dalam hatinya, gadis ini merasa tersiksa dan menyesal mengapa dia telah menyerahkan cinta kasihnya, menyerahkan tubuhnya kepada pemuda yang biarpun tampan dan gagah, namun amatlah mata keranjang dan cabul itu.

Bibit kebencian bersemi di dalam hatinya, namun ditahan-tahannya dengan hiburan kalau kelak sudah menjadi suaminya, tentu akan berubah watak yang kurang baik dari Siok Lun.

Namun, benarkah dugaanya ini?

Sukar untuk membenarkan karena watak Siok Lun ini sudah menjadi hamba nafsunya sendiri.

Sekarang yang sudah menghambakan diri kepada nafsu, dalam keadaan apapun juga, dan di manapun ia berada, nafsunya selalu mengajarnya, selalu mengusik dan mengganggunya, menuntut pemuasan.

Setelah gagal mendaptakan diri Cheng I Lihiap dan Sumoinya bahkan selalu menolak ajakannya bermain cinta, Siok Lun menjadi gelisah selalu.

Apalagi di waktu malam.

Ia segan untuk mencari perempuan dusun, karena mana mungkin perempuan-perempuan dusun disamakan dengan Cheng l Lihiap dan Sumoinya?

karena dorongan nafsunya tak dapat tertahankan lagi, mulailah ia mengincar Siang Hwi!

Kalau saja ia dapat membujuk Siang Hwi.

Dengan janji membebaskan gadis tawanan yang cantik itu!

Harus ia akui bahwa biarpun dalam ilmu silat, Siang Hwi tidak selihai Cheng l Lihiap apalagi Sumoinya, Namun Siang Hwi memiliki kecantikan yang khas, memiliki semangat yang menyala-nyala.

Di dalam tubuh gadis tawanan terdapat api panas yang membuat nafsu berahinya makin berkobar jika ia memikirkannya.

Biarlah kutebus tubuhnya dengan pembebasan, pikirnya.

atau kalau menolak lalu kupaksa siapa yang tahu?

Kalau ia sudah berhasil memiliki gadis itu, tentu Siang Hwi pun tidak ada muka untuk menceritakan kepada orang lain.

Beberapa hari kemudian, pada suatu malam mereka tiba di kata Kam-suk-bun yang berada di sebelah Kota Raja.

Malam itu merupakan malam terakhir yang merupakan kesempatan terakhir pula bagi Siok Lun untuk memusnahkan nafsunya yang sudah berkobar-kobar, rasa rindunya untuk memiliki tubuh gadis tawanan yang makin dikenang makin merindukan hatinya itu.

Selama dalam perjalanan, sungguhpun berkat pengawasan Liu Kong yang penuh perhatian keadaan Siang Hwi cukup baik dan terjamin, namun gadis itu selalu dibujuk-bujuk dan diancam untuk menceritakan keadaan teman-teman pemberontak yang lain.

Namun semua pertanyaan tidak diperdulikan oleh Siang Hwi dan tidak dijawabnya kaena bagaimana dia harus menjawabnya?

Dia dan Ayahnya terseret ke dalam pasukan pemberontak setelah mereka berdua dibebaskan dari tawanan oleh kaum pejuang.

orang dia kenal hanyalah mereka yang berkumpul di Hek-Kwi-San dan kini tokoh-tokoh pejuang itu telah terbasmi habis.

Dia tidak tahu lagi dimana adanya pejuang-pejuang yang lain, yang tentu saja masih banyak sekali.

Siang Hwi hanya mempunyai satu harapan, yaitu kalau dia berhasil meloloskan diri, ia akan menghubungi kaum pejuang itu, Dan terutama sekali dia akan melakukan balas dendam atas kematian Ayahnya.

Dia tahu bahwa pembunuh Ayahnya adalah Siok Lun dan Bi Hwa, dua orang musuh yang tak mudah dikalahkan akan tetapi ia tidak menjadi gentar.

Dia akan berusaha.

mencari bantuan diantara para pejuang yang ia tahu banyak terdapat orang-orang pandai.

Kalau toh tidak ada yang akan membantunya, dia akan mencari dua orang musuh besar itu dan mengadu nyawa, membunuh atau dibunuh.

Kalau saja Kwan Bu...

ah, dia tidak mau mengenang lagi pemuda itu.

Dia akan menghubungi Suhengnya, Kwee Cin, yang tentu akan dapat membantunya.

apalagi Kwan Bu adalah Sute dari musuh-musuhnya, jadi termasuk musuhnya juga.

Entah mengapa, kalau mengingat tentang hal itu, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran.

Malam itu gelap sekali.

Tidak ada bulan di langit hanya bintang-bintang yang suram karena terhalang mendung.

Kebetulan sekali, penjagaan ketat siang dan malam dilakukan atas diri gadis tawanan itu, jatuh pada giliran Siok Lun dan beberapa orang pengawal.

Kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh Siok Lun.

Nafsunya telah menggerogoti hatinya, membuat ia gelap mata.

Bukan keadaan luar yang melahirkan perbuatan maksiat melainkan tergantung daripada keadaan batin seseorang.

Kalau batin orang itu kuat, biarpun ia menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, ia tetap akan teguh dan tidak tergoda.

Sebaliknya.

biarpun berada di tempat sunyi tidak ada kesempatan melakukan maksiat, kalau memang batinnya sudah kotor dia akan selalu membayangkan hal-hal yang menimbulkan nafsu-nafsunya.

Inilah sebabnya mengapa sebelum orang berbuat benar dan berbicara benar, harus lebih dahulu berpikir benar.

Dengan pikiran kotor, maka ucapan dan perbuatan-perbuatan yang bersih sekalipun hanya merupakan kedok belaka.

Dengan pikiran yang benar dan bersih, tidak akan mungkin terlahir ucapan dan perbuatan yang jahat dan kotor.

Di sinilah letak kebenaran pengajaran yang mengharuskan setiap orang manusia setiap hari membaharui dan membersihkan pikirannya dari pada hal-hal yang kotor dan jahat.

Harus dapat memerangi dan menundukkan nafsu-nafsu yang mengotori pikiran sendiri.

Karena kalau tidak, pikiran akan dikotori nafsu kemauan akan diperbudak oleh nafsu sehingga setiap ucapan dan perbuatan selalu didorong oleh pemuasan nafsu-nafsunya sendiri belaka.

"Perkuat penjagaan diluar."

Kata Siok Lun kepada sepuluh orang pengawal yang malam itu bertugas menjaga tawanan.

Kita sudah berada dekat Kota Raja, tentu para peberontak akan bergerak malam ini kalau mereka hendak menolong tawanan.

Juga di bawah dan di atas.

Keamanan di dalam tak usah khawatir aku sendiri yang akan menjaganya dan kalian tak perlu masuk karena dalam kesempatan ini aku akan membujuk si tawanan untuk mengaku."

Tentu saja para pengawal mentaati perintah ini karena mereka sudah perpaya penuh akan kelihaian pemuda itu.

Mereka tahu pula bahwa jasa pemuda ini bersama Sumoinya amat besar ketika dilakukan penyerbuan yang sukses di Hek-Kwi-San.

Maka sepuluh orang pengawal itu lalu menjaga di luar pondok yang seperti biasa diambilkan pondok penduduk kota itu dan dijadikan tempat tahanan Siang Hwi.

Delapan orang menjaga di empat penjuru, masing-masing dua-dua orang, dan di genteng menjaga pula dua orang.

Adapun Siok Lun sendiri menjaga di dalam.

Dapat dibayangkan betapa girang hati pemuda ini karena kesempatan yang dinanti-nantikan telah tiba.

Dia berada berdua saja di dalam pondok itu bersama Siang Hwi yang ia rindukan.

Lewat tengah malam, ketika Siang Hwi tidur pulas di atas pembaringan di dalam kamar tahanan di pondok itu, gadis ini terkejut dan tiba-tiba terjaga dari tidurnya, sambil menjerit dan melompat.

akan tetapi.btidak ada suara yang keluar dari mulutya karena tangan Siok Lun sudah mendekap mulutnya dan menjajakan sehelai saputangan sehingga Siang Hwi merasa seperti tercekik.

Pinggangnya dipeluk sehingga ia tidak mampu melompat.

Melihat bahwa yang melakukan hal ini adalah Siok Lun.

Siang Hwi marah bukan main.

Kedua tangannya lalu ia gunakan untuk memukul, akan tetapi cepat Siok Lun menotoknya, membuat Siang Hwi rebah kembali di atas pembaringan dengan lemas.

Ia hanya dapat membelalakan mata ketika pemuda itu mengikat keempat kaki tangannya dengan robekan kain dalam pembaringan, kemudian baru membebaskan totokan sambil menyeringai.

Siang Hwi rebah terlentang di atas pembaringan.

Kaki tangannya meronta-ronta, tubuhnya menggeliat-geliat namun ia tidak dapat melepaskan ikatan kedua tangan dan kedua kakinya.

Betapapun ia mengguncang-guncang kepalanya, ia tidak dapat membuka sapu tangan yang menyumpal mulutnya sehingga ia tidak dapat berteriak.

Gadis ini makin lama makin terbelalak matanya, memandang penuh kengerian ketika melihat betapa Siok Lun melepaskan pakaian luarnya.

Siang Hwi meronta-ronta lagi sekuatnya ketika jari-jari tangan Siok Lun meraba-raba dengan kasar menanggalkan pakaiannya sambil terkekeh-kekeh penuh kegembiraan.

hidungnya mendengus-dengus karena nafsu menyesak di dada.

air mata bercucuran dari kedua mata gadis itu.

Malapetaka hebat membayang di depan matanya dan ia takkan mungkin dapat tertolong lagi.

Ia akan mengalami perkosaan, penghinaan yang paling berat, lebih hebat daripada kematian.

Wajahnya pucat sekali dan saking ngerinya ia hampir pingsan.

Dendam kematian Ayahnya belum dapat ia balas dan kini dia mengalami penghinaan yang tiada taranya.

akan tetapi tak mungkin ia mohon untuk dibunuh, tidak mungkin pula membunuh diri, apa lagi melawan.

"Phoa Siok Lun, apa yang hendak kau lakukan itu?"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras.

Siok Lun terkejut dan meloncat turun dari pembaringan.

Liu Kong, yang datang membentak itu, membawa pedang di tangan kanan, dan melihat keadaan Siang Hwi telanjang bulat dan teriak-teriak di atas pembaringan, dia cepat melompat dekat.

Pedangnya berkelebat dan gadis itu terbebas daripada ikatan kaki tangannya.

Siang Hwi cepat membuang saputangan yang menyumbat mulutnya, kemudian menyambar pakaiannya yang tadi ditanggalkan oleh tangan Siok Lun, dipakainya cepat-cepat.

"Sumoi, kau larilah!"

Bisik Liu Kong dengan suara menggetar. Siang Hwi yang baru saja terbebas dari malapetaka mengerikan, tidak menjawab, hanya melompat ke jendela. Siok Lun bergerak dan berkata.

"Jangan lari...!"

Namun terlambat, karena tadi terlalu kaget dan malu, Siok Lun tertegun dan setelah kini sadar kembali hendak menghalangi larinya Siang Hwi gadis itu telah menerobos keluar jendela.

Ia hendak mengejar, akan tetapi pedang Liu Kang menghadangnya dan pemuda ini berkata marah.

"Phoa Siok Lun, engkau benar-benar seorang yang berwatak cabul dan kotor..!"

Siok Lun kini sepenuhnya memperhatikan Liu Kong.

Dia pun marah sekali.

Marah dan kecewa, juga penasaran.

Dua kali ia gagal memuaskan nafsunya pada gadis-gadis pilihannya.

Yang pertama, si gadis baju hijau luput dari jangkauannya dan mati membunuh diri.

Kalau pada waktu itu yang mencegahnya orang lain tentu turun tangan, akan tetapi pada waktu itu yang mengganggunya adalah Bi Hwa, maka ia hanya menyimpan rasa kecewa di hati, akan tetapi sekarang setelah hasil di depan mata kemudian muncul gangguan Liu Kong, kemarahannya meluap-luap dan ia memandang Liu Kang penuh kebencian.

"Kau sudah bosan hidup!"

Serunya dan cepat Siok Lun menyambar jubah luarnya yang tadi ia tanggalkan.

Dengan hanya memakai pakaian dalam, Siok Lun menerjang Liu Kong dengan senjata istimewa ini.

Liu King sudah menjadi nekat.

Biarpun ia merupakan seorang pemuda yang memiliki cita-cita mengejar kedudukan tinggi, namun karena sejak kecil ia digembleng Bu Taihiap, dia sedkit banyak memiliki sikap gagah.

Semenjak ia ikut para pengawal ia mendapatkan banyak kekecewaan.

Guru atau pamannya terbunuh, para pengawal melakukan hal yang amat memuakkan perutnya, seperti merampok dan memperkosa wanita.

Kini, gadis yang amat dicintainya menjadi tawanan, dan hampir diperkosa oleh Siok Lun.

Timbullah kegagahan dan kepekaannya, sehingga tanpa ragu-ragu lagi ia membebaskan Siang Hwi dan kini dengan pedang di tangan ia melawan mati-matian kepada Siok Lun.

Namun, biar Siok Lun hanya bersenjatakan jubah, pemuda murid Pat-Jiu Lo-Koai ini benar-benar bukan tandingan Liu Kong yang jauh lebih lemah.

Dalam beberapa gebrakan saja, pedang itu telah terbelit jubah dan sekali renggut, pedang telah dapat dirampas oleh Siok Lun.

Kemudian, Siok Lun mengebutkan jubah dan pedang rampasannya menyambar dahsyat ke arah tuannya.

Liu Kong terkejut, cepat ia mengelak sehingga pedangnya lewat di atas pundak dan menancap di dinding, akan tetapi dia tidak mengelak dari sambaran jubah yang di tangan Siok Lun berubah menjadi senjata yang ampuh.

"Pakkkl"

Liu Kang tak dapat bergerak lagi karena ia sudah rebah terguling dengan kepala pecah!

Siok Lun tidak memperdulikan Liu Kong yang sudah menjadi mayat, cepat tubuhnya mencelat melalui jendela hendak mengejar Siang Hwi.

Keadaan di situ menjadi geger karena orang-orang sudah mendengar suara ribut-ribut itu.

Para pengawal memasuki pondok juga muncul para Panglima, mereka terkejut melihat tawanan lolos dan Liu Kong tewas, beramai-ramai mereka inipun melakukan pengejaran secara ngawur.

Di samping pondok, ketika sudah berhasil keluar melalui jendela, Siok Lun melihat dua orang pengawal yang menjaga di situ menggeletak, agaknya dirobohkan Siang Hwi yang tentu saja terlalu lihai bagi dua orang pengawal itu.

Seorang pengawal sambil merintih-rintih menuding ke arah depan dan Siok Lun terus melakukan pengejaran dan ilmu larinya yang luar biasa.

akan tetapi tiba-tiba munpul Bi Hwa di depannya, dengan pedang di tangan dan dengan sikap angker.

"Suheng, mau apa kau lari-lari dengan pakaian setengah telanjang seperti ini?"

Pucat wajah Siok Lun, kemudian merah.

"Aku... aku mengejar... tawanan lolos... si keparat Liu Kang yang..."

"Cukup aku telah mengetahui segalanya, Suheng. Tak perlu kau membohong kepadaku. Dasar engkau laki-laki yang mata keranjang!"

Siok Lun tertegun. Memang tidak perlu menyangkal lagi kalau Bi Hwa sudah tahu semua.

"Sumoi... biarlah nanti kuminta ampun darimu. Sekarang lebih baik kita lekas mengejar tawanan."

"Untuk kau tangkap dan kau perkosa?"

Bi Hwa mengejek.

"Tidak. Demi Tuhan... tidak! Hanya, dia tawanan penting tidak boleh lolos..?"

Bi Hwa menggeleng kepala dan sementara itu, dari belakang sudah terdengar jejak kaki para Panglima yang melakukan pengejaran.

"Biarkan dia lolos, Suheng. Kalau dia tertawan, tentu dia akan membuka semua peristiwa yang terjadi. Kalau sudah begitu, bagaimana dengan cita-cita kita. Engkau telah membunuh Liu Kong, seorang perwira yang dipercaya..?"

Siak Lun sadar dan menjadi bingung.

"Habis, bagaimana baiknya? Mereka sudah datang..?"

"Bodoh! Bilang saja kalau Liu Kong yang membebaskan Siang Hwi, dan kau terpaksa membunuhnya, kemudian kami melakukan pengejaran tanpa hasil."

Ingin Siok Lun memeluk dan mencium kekasihnya yang cerdik ini. akan tetapi Bi Hwa menggerakkan tangan dan "Plakk!"

Pipi kanan Siak Lun telah ditamparnya. Pada saat itu, muncul Gin-San-Kwi dan Kim I Lahan, sedangkan dari belakang mereka tampak bukan pengawal dengan obor di tangan.

"Apa yang terjadi? Liu-Sicu tewas di kamar tahanan..?"

Gin-San-Kwi berkata, memandang penuh kecurigaan kepada Siok Lun yang telah memakai jubahnya kembali.

"Dia pengkhianat benar Lo-Ciangkun!"

Kata Siok Lun, suaranya bernada marah, karena ia marah dan benci sekali kepada Liu Kong yang sudah menggagalkannya.

"Dia telah membebaskan tawanan, agaknya karena gadis itu memang piauw-moinya. Tentu dia sudah bersama-sama lari pula kalau kau tidak muncul setelah agak terlambat, aku terpaksa menghadapinya dan tawanan lolos, akan tetapi pengkhianat itu telah berhasil kubunuh."

Dengan suara yang sedikitpun tidak ragu-ragu Siok Lun menceritakan peristiwa yang dikarangnya sesuai dengan petunjuk Bi Hwa.

Para Panglima dan pengawal memaki-maki Liu Kong sebagai seorang pengkhianat.

"Tidak heran,"

Kata Kim I Lohan.

"Sejak kecil ia menjadi murid Bu Keng Liong, tentu saja ia merasa berat melihat Bu Keng Liong tewas dan puterinya ditawan. Untung Phoa-Sicu berhasil membunuhnya, memang dia sudah selayaknya mati, sungguhpun lebih baik lagi kalau ditangkap hidup-hidup untuk membuat pengakuannya."

Demikianlah, dalam peristiwa kematian Liu Kong itu, Siok Lun malah dipuji-puji oleh para Panglima dan rombongan itu dilanjutkan pada keesokan harinya menuju kata raja tanpa tawanannya yang sudah melarikan diri dan biarpun sampai pagi para pengawal melakukan pengejaran, namun hasilnya sia-sia.

Siang Hwi telah lenyap seperti ditelan bumi dan hal ini memang tidak aneh karena daerah itu merupakan daerah yang luas penuh dengan hutan dan pegunungan, sedangkan gadis itu melarikan diri di waktu malam yang amat gelap.

Bi Hwa sekali ini benar-benar marah kepada Siok Lun.

Di dalam perjalanan ke Kota Raja, gadis ini menjadi pendiam sekali dan ketika Siok Lun berusaha membujuk dan mengambil hatinya.

Bi Hwa hanya menjawab singkat.

"Kita ke Kota Raja membereskan tentang kedudukan kita. Kemudian kita harus pergi ke orang tuamu dan kita langsungkan pernikahan, aku telah menyerahkan segala-galanya kepadamu. Kau memnuhi permintaanku ini atau kita pisah sekarang dan selamanya engkau akan kuanggap sebagai musuhku!"

Siok Lun mati kutunya.

Dia sebetulnya mencinta Sumoinya ini.

Bukan hanya cinta nafsu, melainkan betul-betul ingin menjadi suami Sumoinya ini.

Maka ia hanya mengangguk-angguk dan tidak berani membantah.

Mereka duduk beristirahat di bawah pohon di pinggir sebuah hutan.

Matahari bersinar terik sekali sehingga mereka berteduh di bawah pohon dan menghapus peluh yang mengucur deras.

"Twako, kenapa engkau murung dan termenung saja sejak kita pergi dari Hek-Kwi-San beberapa hari yang lalu?"

Mendengar pertanyaan ini, Kwan Bu hanya menghela napas dan menggeleng kepala.

"Twako, apakah kau marah kepadaku?"

Kwan Bu menoleh memandang wajah gadis itu, lalu menggeleng kepala dan menjawab lesu.

"Tidak, mengapa harus marah kepadamu?"

"Aku telah mempermainkanmu! Namaku sebenarnya adalah Phoa Giok Lan, dan aku mengaku pria kepadamu, akan tetapi aku tidak tahu bahwa engkau adalah Sute dari kakakku, aku seperti mempermainkanmu selama ini, Twako. Maukah kau memaafkan aku?"

Suara Giok Lan terdengar manja. Kwan Bu tersenyum, senyum yang duka.

"Aku tidak marah kepadamu, Lan-moi dan tidak perlu memaafkan, aku sudah tahu bahwa engkau adalah seorang wanita..? "Heee"? Bagaimana bisa tahu dan sejak kapan?"

Giok Lan bertanya heran dan tak disadarinya ia memegang lengan Kwan Bu. Hal seperti ini memang sering dia lakukan ketika dia masih menjadi "Pemuda"

Akan tetapi kini bagi Kwan Bu terasa janggal dan membuatnya kikuk dan malu.

"Sejak di kuil Ban-Lok-Tang ketika kita menyerbu tempat Tong Kak Hosiang, Cheng l Lihiap menyebutmu Cici."

"Ah, kau nakal, Twako, Kenapa tidak bilang terus terang bahwa kau telah mengetahui penyamaranku?"

Kwan Bu tersenyum lagi. Kedukaannya berkurang kalau ia bercakap-cakap dengan gadis lincah ini, yang sekarang telah mencubit lengannya.

"Aku tidak ingin menyinggungmu, Lan-moi."

"Ah, engkau memang seorang gagah yang amat baik hati. Twako."

"Engkaulah yang baik budi, sudi membantuku mencari musuhku "Kalau kau tidak marah kepadaku, kenapa murung?"

"Banyak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hati, Lan-moi."

"Yang terjadi di Hek-Kwi-San?"

Kwan Bu mengangguk.

"Kematian majikanmu Bu Keng Liong itu?"

Kwan Bu menarik napas panjang.

"Sungguh sayang sekali seorang pendekar yang berjiwa besar, aku mengenal betul wataknya, seorang Taihiap yang patut dikagumi. Sayang, dia tewas sebagai seorang pemberontak, dan bersekutu dengan perampok..."

Ia kembali menghela napas.

"Kematiannya merupakan salah satu diantara hal-hal yang tidak menyenangkan hatiku."

"Hemm... kalau begitu tentu karena gadis galak itu? Puteri Bu Keng Liong yang bernama... ah, siapa lagi namanya?"

"Siang Hwi, Bu Siang Hwi."

"Ya, betul. Tentu karena dia bukan? Dia amat mencintaimu Twako."

Kwan Bu memandang wajah gadis itu dengan mata terbelalak.

"Apa? ah, jangan main-main, Lan-moi. Dia... dia membenciku, seringkali memaki-makiku, memandang rendah kepadaku!"

Biarpun mulutnya berkata demikian namun di dalam hatinya Kwan Bu membayangkan kembali betapa mesra ketika ia mencium gadis yang pernah menjadi nona majikannya itu, dan jantungnya berdebar keras Siang Hwi mencintainya?

Tak mungkin!

Ketika dicium gadis itu seolah-olah tidak hanya menyerah, bahkan terasa di hatinya gadis itu membalasnya, akan tetapi gadis itu menyangkal bahkan menjatuhkan fitnah atas dirinya.

Mengingat itu semua, kemarahannya timbul dan wajahnya muram kembali.

"Memang begitu pada lahirnya, akan tetapi pandang matanya kepadamu, dan... dan... dia cemburu dan iri kepadaku sehingga melihat aku bersamamu, dia mendadak saja tanpa alasan membenciku setengah mati! Mungkin dia tidak mencintaimu, akan tetapi kau... kau amat mencintainya, Twako. Dan kini kau merisaukan keadaannya karena dia menjadi yatim-piatu..?"

Kembali Kwan Bu terkejut, akan tetapi ketika mereka bertemu pandang ia melihat betapa pandang mata itu penuh pengertian, tidak mungkin dapat ia bohongi. Maka ia mengangguk dan menghela napas panjang.

"Memang, aku pernah mencinta, Lan-moi, akan tetapi... hemm,.. seorang yang tak berharga seperti aku, mana patut menjadi jodohnya? Bagaikan seekor kambing merindukan ujung cemara yang tinggi! aku seorang yang miskin, bodoh, dan hanya hidup bersama Ibuku yang tua dan miskin, seorang anak yang tidak berbakti karena sampai kini belum juga mampu menemukan musuh besar keluargaku. Seorang macam aku ini"

Siapa yang sudi memperhatikan?"

Teringat akan keadaannya, dan merasa betapa jantungnya seperti ditusuk-tusuk ketika membicarakan Siang Hwi, dua titik air mata membasahi pipinya.

"Twako... kenapa bicara seperti itu?"

Giak Lan mendekat, mengeluarkan saputangan dan menghapus dua titik air mata itu.

"Twako.. tidak tahukah engkau ataukah pura-pura tidak tahu? Bahwa ada seseorang yang amat memperhatikan dirimu, yang amat... cinta kepadamu...? Twako, lupakanlah Siang Hwi karena di sini ada Giok Lan yang sanggup mencintaimu sampai mati, yang setia dan yang akan membelamu dengan seluruh jiwa raganya.."

Gadis itu telah memaksa hatinya untuk membuka rahasia perasaanya, kini ia terengah-engah dan menangis.

Sejenak Kwan Bu termenung.

Tentu saja dia tidak buta.

Tentu saja dia dapat menduga sedikit-sedikit bahwa kebaikan Giok Lan kepadanya tentu ada dasarnya, akan tetapi, mendengar pengakuan cinta yang terus terang, seperti itu, mendengar pengakuan kasih yang demikian mendalam, ia terkejut dan terharu sekali.

"Giok Lan... moi-moi..., ah, betapa mulia hatimu.."

Ia meraba kepala itu dan mengelus rambut yang hitam dan halus.

Sentuhan ini memecahkan air mata Giok Lan sehingga tangisnya makin sesenggukan, bahkan gadis itu lalu menubruk dan menyembunyikan mukanya di dada Kwan Bu sambil menangis terisak-isak.

"Twako... Twako..!"

Ia berbisik, penuh keharuan, juga kebahagiaan.

Kwan Bu adalah seorang muda yang teguh hatinya, dan seorang muda yang selalu menjaga tindakannya.

Peristiwa yang dihadapinya kali ini sungguhpun amat mengguncang hatinya, namun tidak membuat ia kehilangan akal dan kesadaran.

Ia membiarkan gadis itu melampiaskan perasaanya menangis di atas dadanya.

Kemudian setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak Giok Lan dan dengan halus mendorong gadis itu sambil berkata.

"Lan-moi, tenangkan hatimu dan marilah kita bicara dengan hati terbuka dan pikiran sadar."

Giok Lan sudah dapat menguasai hatinya. Ia mundur sedikit dan duduk menyusuti air matanya, kemudian memandang wajah pemuda itu dengan mata sayu dan muka kemerahan karena merasa malu dan jengah.

"Twako, kau tentu akan memandang rendah kepadaku setelah pengakuan tadi... tidak semestinya seorang gadis mengaku cinta...!!"

"Ah, tidak sama sekali, Lan-moi. Bahkan aku menjadi kagum akan kejujuranmu, aku menjadi terharu dan berterima kasih kepadamu bahwa seorang gadis seperti engkau ini, cantik-jelita, kaya-raya, lihai pula sudah sudi melimpahkan cinta kasih kepada seorang seperti aku..!"

"Ah, kalau begitu engkau juga... mencintaiku, Twako...?"

Gadis itu memandang dengan sinar mata sayu, penuh harapan.

Kwan Bu merasa tidak tega untuk menolak begitu saja.

Gadis ini amat cantik, dan amat baik terhadap dirinya.

Tidaklah sukar untuk menjatuhkan cinta kasih kepada seorang gadis seperti Giok Lan ini akan tetapi ia tidak akan mampu melupakan Siang Hwi, takkan mampu melupakan penderitaan-penderitaan gadis bekas nona majikannya itu, dan terlebih lagi, tidak akan mampu ia melupakan dua kali ciumannya yang dihadiahi tamparan-tamparan oleh Siang Hwi.

"Lan-moi, aku akan menjadi seorang pemikat dan pembohong kalau aku mengaku cinta begitu saja kepadamu. aku suka kepadamu, hal ini sudah jelas. akan tetapi tentang cinta, kiranya... aku belum berhak menyatakannya kepada gadis manapun juga. Harap kau ketahui, moi-moi. aku seorang pemuda yang miskin dan bodoh, dan yang jelas sekali, aku tidak akan bicara tentang cinta dan jodoh sebelum aku berhenti menyari dan membalas dendam musuh besarku."

"Aku tahu engkau masih mencinta gadis she Bu..?"

Giok Lan berkata dengan wajah berduka. Kwan Bu memegang tangannya.

"Kurasa tidak moi-moi. Memang dahulu aku mencintainya, akan tetapi aku bukanlah seorang yang begitu bodoh sekali sehingga akan nekat saja mencinta seorang yang jelas membenciku, dan berkali-kali menghinakau. Tidak, kalau nona Bu membenciku. akupun akan berusaha sekuat tenaga menjauhinya, untuk melupakannya!"

Wajah Giok Lan berseri dan ia pun melompat bangun.

Di sudut hatinya, ini menemukan harapan baru dan ia percaya bahwa dia akan dapat membuat Kwan Bu melupakan Siang Hwi, dan dia percaya bahwa akhirnya dia akan berhasil memiliki hati dan cinta kasih pemuda yang amat dikaguminya ini.

Sambil tersenyum manis ia menarik bangun pemuda itu dan berkata.

"Ah, apa-apaan kita ini bicara tentang hal yang bukan-bukan? Kita lupa sedang melakukan perjalanan penting sekali. Mari, Twako. aku ingin cepat-cepat menjumpai Ibumu dan memboyongnya ke rumahku."

Kwan Bu melompat bangun dan seketika kekeruhan di wajahnyapun lenyap ketika ia teringat kepada Ibunya.

Sudah lama ia meninggalkan Ibunya dan hatinya sudah amat merindukan orang tua itu.

Ia ingin cepat-cepat pula bertemu dengan Ibunya, selain karena sudah rindu ingin menjemput Ibunya mengajak ke rumah Suhengnya, Juga ada satu hal yang membuat ingin sekali ia bertemu Ibunya.

Ia ingin sekali bertanya kepada Ibunya tentang Ayahnya.

Ia telah dimaki orang sebgai anak haram dan dahulu ia tidak dapat bertanya kepada Ibunya karena orang tua itu keadaannya masih seperti orang bingung saking beratnya penderitaan batin yang ditanggungnya karena dahulu kehilangan puteranya.

Kini, Kwan Bu mengharapkan akan mendapat penjelasan Ibunya tentang makian anak haram yang dilontarkan oleh keluarga Bu dan murid-muridnya kepadanya dahulu.

Karena dua ekor kuda yang mereka dapatkan dari para pengawal adalah binatang-binatang pilihan yang kuat dan baik, maka perjalanan itu dapat dilanjutkan dengan cepat.

Ketika mereka berdua memasuki dusun Kwi-cun, Kwan Bu menghentikan kudanya dan memandang dusun kecil itu dengan terharu.

"Inilah tempat tinggal keluarga Ibuku..? Katanya perlahan seperti kepada diri sendiri, Giok Lan memandang pemuda itu dan ia maklum bahwa dusun ini tentu saja menimbulkan kenang-kenangan tidak menyenangkan bagi pemuda itu, maka ia berkata.

"Akan tetapi kau bilang Ibumu berada di kuil Kwan-im-bio, lebih baik kita cepat-cepat ke sana Twako."

Diingatkan kepada Ibunya, Kwan Bu menjadi gembira lagi.

"Kuil itu berada di luar dusun. Mari..."

Mereka membalapkan kuda menuju kuil tua yang berada di tempat sunyi jauh di luar dusun Kwi-cun.

"Kwan Bu datang...!!"

Dua orang nikauw yang berada di luar kuil itu berseru girang ketika melihat masuknya pemuda ini menuntun kudanya bersama seorang "Pemuda"

Tampan yang juga menuntun kudanya, memasuki pekarangan kuil itu.

Seorang diantara kedua nikauw itu lalu tergesa-gesa masuk ke dalam kuil dan tak lama kemudian muncullah Ibunya bersama Cheng ln Nikauw yang sudah tua.

Ibunya juga kelihatan tua.

padahal Bhe Ciok Kim pada waktu itu ia belum ada lima puluh tahun usianya, paling banyak empat puluh satu atau dua tahun.

"lbu...!"

Kwan Bu lari dan berlutut didepan Ibunya, memeluk kaki Ibunya yang berdiri tertegun, kemudian Ibu inipun mengangkat bangun puteranya, memeluk dan menangis saking girangnya.

"Kwan Bu...! Kwan Bu...! Betapa rinduku kepadamu anakku! Ibu dan anak itu bertangis-tangisan dan Giok Lan yang menyaksikan ini, tak dapat menahan air matanya sehingga para nikauw memandangnya dengan heran karena baru sekarang mereka melihat pemuda yang begitu ganteng akan tetapi juga begitu mudah menangis! "Omitohud... syukur engkau datang, Kwan Bu. Ibumu setiap hari merindukanmu dan berduka sehingga kami khawatir kalau-kalau dia akan jatuh sakit. Sebaiknya kau ajak Ibumu masuk agar leluasa bercakap-cakap dan... Kongcu ini..?"

Cheng In Nikauw memandang kepada Giok Lan. Kwan Bu yang sudah melepaskan keharuannya tertawa.

"Dia ini bukan seorang Kongcu, melainkan seorang Siocia,"

Katanya kepada para nikauw yang menjadi bengong, kemudian mereka tersenyum dan maklum mengapa "Pemuda"

Itu begitu mudah mengucurkan air mata, kiranya seorang wanita! "Ibu, dia adalah nona Phoa Giok Lan, adik kandung Suhengku!"

Giok Lan cepat maju memberi hormat kepada Ibu Kwan Bu dan orang tua ini memandang penuh selidik, kemudian memegang tangan gadis itu dan menariknya.

"Tentu engkau seorang nona yang amat baik budi dan menjadi sahabat baik anakku. Marilah masuk, kita bicara di dalam."

Nyonya yang sebelah matanya buta itu membawa puteranya dan Giok Lan ke ruangan belakang di mana mereka bertiga dapat bercakap-cakap tanpa gangguan.

Tadinya Ibunya memandang dengan sikap agak ragu-ragu kepada Giok Lan akan tetapi ia menjadi lega ketika puteranya berkata.

"Ibu, Lan-moi itu adalah seorang sahabat baik yang sudah mengetahui akan riwayat kita, bahkan dia membantuku dalam usahaku mencari musuh besar kita."

"Ah, terima kasih, nona. Engkau sungguh baik sekali."

Kata nyonya itu dengan girang, kemudian ia memegang tangan anaknya sambil bertanya penuh keterangan.

"Bagaimana dengan usahamu itu, anakku? Sudah berhasilkah engkau menemukan dia?"

Wajah Kwan Bu menjadi muram seketika, ia menggeleng kepala.

"Sudah banyak aku merantau dan mendengar, banyak pula orang-orang yang memiliki ciri-ciri sepeti musuh besar kita kudatangi, akan tetapi mereka itu bukan musuh besar kita, Ibu. Sungguh anakmu ini tidak ada gunanya. akan tetapi aku bersumpah akan terus mencarinya sampai dapat, Ibu."

Nyonya itu melepaskan tangan Kwan Bu dan kembali duduk bersandar di kursinya sambil menghela napas penuh kekecewaan. Kemudian ia berkata.

"Memang tidak mudah bagimu, anakku. Engkau selamanya belum pernah melihat mukanya dan hanya akulah seorang yang akan dapat mengenal dia, bila mana dan di manapun. Dan aku harus dapat membalas dendam ini. Engkau harus dapat menyeret dia ke depan kakiku untuk kubunuh dia! Sebelum si laknat itu mati di kakiku, aku takkan mau mati! aku tidak akan mau mati sebelum dapat membalas dendam kepada si jahanam!"

Nyonya itu bicara penuh semangat dan sudah bangkit berdiri dari kursinya mengepul tinju.

Melihat keadaan nyonya ini, Giok Lan bergidik.

Ia dapat melihat bahwa Ibu Kwan Bu ini dahulunya seorang wanita yang cantik jelita, dan mendengar cara bicaranya, tentulah bukan seorang dusun biasa.

Kini ia melihat sinar maut memancar dari mata yang tinggal sebuah itu.

napas yang panas seperti api melalui hidung yang berkembang-kempis dan teranglah oleh Giok Lan betapa hebat dendam yang diderita oleh Ibu Kwan Bu, akan tetapi dia dapat membayangkan betapa sakit hati nyonya itu kalau suaminya, orang tuanya dan seluruh keluarganya terbunuh oleh musuh besar itu.

Karena maklum akan hal ini, Giok Lan menekan rasa ngerinya dan iapun menundukkan mukanya.

"Harap Ibu suka tenangkan hati dan pikiran. Aku bersumpah untuk mencari musuh kita sampai dapat dan menyeretnya ke depan kaki Ibu! Sekarang aku hanya datang untuk menjemputmu, Ibu. Aku hendak menitipkan Ibu di rumah Suheng, di rumah adik Phoa Giok Lan ini yang tinggal di kota Kam-Sin-Hu."

"Eh, mengapa begitu, Kwan Bu? Sudah baik-baik aku tinggal di Kwan-im-bio ini. bahkan aku sudah berjanji kepada ketua kuil ini bahwa kalau musuh besar kita sudah dapat kita balas. aku ingin menjadi nikouw di sini, mengabdi kepada Kwan Im Pauwsat. Selama dendam masih terkandung di hati, tidak mungkin aku dapat menjadi nikouw. Pula. Dengan menumpang di rumah nona ini, bukankah berarti kita akan mengganggu dan memberatkan beban keluarga?"

"Tidak sama sekali, Bibi. Kami akan senang sekali apabila Bibi sudi tinggal bersama kami di Kam-Sin-Hu. Semenjak kecil kami, yaitu saya dan Siak Lun koko telah ditinggal mati Ibu kami, sedangkan ketika masih kecil, kami berdua telah ditinggal pergi oleh Ayah yang berdagang di luar kota. Kalau Bibi sudi tinggal bersama kami, hitung-hitung kami mendapatkan seorang Ibu..."

Gadis itu berhenti dan mukanya berubah merah karena tanpa disengaja ia telah berbicara terlanjur.

"lbu. Aku sengaja datang menjemput Ibu karena hal ini didesak oleh Suheng dan juga nona Giok Lan ini. kalau Ibu tinggal bersama keluarga mereka, aku akan merasa tenang dan lapang, dapat mengerahkan seluruh tenaga dan mencurahkan seluruh perhatian untuk mencari musuh kita karena aku yakin bahwa keadaan Ibu terjamin di sana. Harap Ibu tidak menolak."

Bhe Ciok kim menghela napas panjang.

Melihat sikap dan mendengar suara anaknya, ia mengerti bahwa kalau ia berkeras menolak, tentu anaknya akan kecewa sekali dan sebagai seorang tua ia dapat maklum bahwa tentu "Ada apa-apa"

Antara puteranya dan nona yang cantik jelita ini.

"Baiklah, baiklah... Aku hanya menurut semua kehendakmu, Bu-ji."

Kwan Bu kelihatan girang dan demikian pula Giok Lan yang segera berkata.

"Perjalanan ini amat jauh dan tidak mungkin Ibumu harus menunggang kuda, Twako. Biar kucari sebuah kereta untuk Bibi!"

Tanpa menanti jawaban, gadis ini sudah bergegas keluar. Kwan Bu menghela napas dan membiarkannya saja karena memang Ibunya perlu sekali dengan kendaraan itu untuk melakukan perjalanan jauh.

"Ke mana dia hendak mencari kereta?"

"Jangan khawatir, Ibu. Nona Phoa Giok Lan adalah seorang yang kaya raya, tentu dia akan membeli sebuah kereta untuk Ibu. Dan kita tidak perlu merasa malu terhadap dia, Ibu. Percayalah, hubungan antara kami sudah seperti saudara sendiri, karena kami pernah berjuang sehidup semati menghadapi penjahat-penjahat. Maka akupun tidak merasa ragu-ragu lagi menitipkan Ibu di rumahnya, tidak pula merasa sungkan melihat dia hendak membeli sebuah kereta untuk Ibu."

Nyonya itu mengangguk-angguk.

"Kwan Bu, tahukah engkau bahwa nona itu amat mencintaimu?"

Kwan Bu tercenggang dan kagum akan ketajaman pandang mata Ibunya. Ia mengangguk.

"Aku tahu, Ibu. Bahkan dia telah menyatakan secara terus terang kepadaku? "Dan engkau juga mencintainya?"

"Aku belum dapat memutuskannya dan aku tidak akan bicara tentang cinta dan perjodohan sebelum musuh besar kita dapat terbatas."

"Bagus, anakku. Engkau memang seorang anak yang baik. Aku girang mendengar keputusanmu ini dan kalau Thian mengijinkan kita membalasnya, agaknya gadis itu akan menjadi seorang isteri yang amat baik bagimu, Baru bertemu saja aku sudah suka kepadanya. Dia cantik jelita, cerdik, dan berwatak polos. Aku akan suka sekali mempunyai mantu seperti dia. Dia kelihatan lincah akan tetapi halus budi..!! tidak seperti nona Siang Hwi yang galak..."

Kwan Bu cepat menundukkan mukanya agar sinar muram yang menyelimuti wajahnya tidak tampak oleh Ibunya ketika ia mendengar disebutnya nama Siang Hwi.

Cepat-cepat ia berkata untuk mengalihkan percakapan.

"Bolehkah aku sekarang mengetahui nama Ayahku, Ibu."

"Tidak boleh... tidak bisa kuberitahu kepadamu. Kwan Bu, dengarlah baik-baik. Semenjak malapetaka itu menimpa diriku, menimpa keluargaku yang semua terbunuh penjahat dan mataku yang sebelah dibikin buta, aku bersumpah takkan menyebut-nyebut nama seluruh keluargaku sebelum aku berhasil membalas sakit hati kepada musuh besar kita itu. Nah, sekarang kau mengerti dan jangan kau bertanya-tanya lagi sebelum kau mampu menyeret penjahat itu ke depan kakiku. Setelah dia tertangkap, baru akan kuberitahu kepadamu akan segala hal."

Tentu saja Kwan Bu menjadi terharu dan tidak berani lagi bertanya. Terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda di depan kuil dan tak lama Giok Lan melangkah masuk dengan wajah berseri.

"Kereta sudah siap!"

Cheng In Nikouw mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya ketika Kwan Bu dan Ibunya menjelaskan kehendak pemuda itu memboyong Ibunya ke Kam-Sin-Hu.

Dan berangkatlah kereta ditarik dua ekor kuda, dikusiri oleh Kwan Bu sendiri dan dikawal oleh Giok Lan yang menunggang kuda.

Mengingat akan keadaan Ibunya yang lemah perjalanan dilakukan perlahan-lahan sambil menikmati tempat-tempat yang dilalui, bahkan untuk menyenangkan hati Ibu Kwan Bu, Giok Lan yang membawa bekal banyak uang itu sengaja mengajak orang tua ini pelesir, bermalam di penginapan-penginapan mewah dan makan di restoran-restoran besar sehingga Ibu pemuda itu makin suka kepada gadis ini.

agak terhiburlah hati Nyonya itu yang selama ini bersembunyi di dalam kuil yang sunyi, Dengan perlindungan dua orang muda yang gagah perkasa ini perjalanan dilakukan dengan aman dan selamat karena tidak ada penjahat berani mengganggu.

"Nona Giok Lan, engkau seorang anak yang amat baik budi. Kami Ibu dan anak sungguh telah berhutang budi besar kepadamu,"

Kata Nyonya itu ketika mereka bermalam di sebuah penginapan besar. Mereka menyewa dua kamar, sekamar untuk Giok Lan dan Ibu Kwan Bu, sedangkan sekamar lagi untuk Kwan Bu.

"Ah, berkali-kali Bibi berkata demikian. Sesungguhnya, saya tidak melepas budi karena selain Kwan Bu koko adalah Sute dari kakakku sendiri sehingga boleh dibilang diantara kami adalah saudara seperguruan, juga Bu-koko telah menjadi sahabatku yang paling baik. Kalau saja Bibi tahu betapa beberapa kali saya terancam bahaya dalam pertempuran dan seandainya tidak ada Bu-koko yang menolong, tentu hari ini tidak ada Phoa Giok Lan lagi."

Gadis itu tersenyum manis dan Nyonya itu menjadi tertarik sekali, memegang tangan gadis itu dan berkata lirih.

"Engkau amat mencinta puteraku, bukan?"

Wajah Giok Lan menjadi merah sekali sampai ke leher dan telinganya, akan tetapi sambil menundukkan muka, ia tersenyum dan mengangguk.

"Percayalah, anakku. Setelah selesai urusan balas dendam, aku akan menekan Kwan Bu agar suka mengambil pilihanku menjadi isterinya, dan pilihanku bukan lain adalah engkau."

Giok Lan menjadi makin malu, akan tetapi hatinya menjadi besar sekali. Dengan suara lirih ia berbisik.

"Terima kasih, Bibi..."

Sementara itu, di dalam kamarnya.

Kwan Bu gelisah karena lagi-lagi pikirannya diganggu oleh bayangan Siang Hwi.

Tak pernah ia dapat melupakan gadis itu dan ia menjadi berduka sekali mengingat akan nasib gadis itu.

Betapa sengsara hati Siang Hwi.

Melihat Ayahnya terbunuh, keluarganya terpaksa mengungsi dan mungkin sekarang gadis itupun sedang merana seorang diri.

Apakah Siang Hwi kembali kepada Ibunya yang sudah mengungsi ke dusun entah di mana?

Tak mungkin.

Gadis itu amat keras hati, dan tentu tidak akan berhenti berusaha sebelum membalas dendam kematian Ayahnya.

Kalau membalas kepada Suhengnya dan Sucinya, tentu gadis itu akan membuang tenaga sia-sia belaka, bahkan ada kemungkinan akan celaka di ujung pedang Suhengnya dan Sucinya yang lihai.

Ataukah gadis itu melampiaskan dendam nya kepada para tokoh yang pro Kaisar dan menggabungkan diri dengan para pemberontak lainnya yang amat banyak jumlahnya.

Teringat akan ini, Kwan Bu berduka sekali.

Betapapun sering gadis itu menghinanya, namun tetap saja ia merasa tidak mungkin baginya untuk (Lanjut ke

Jilid 12) Dendam Si Anak Haram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 melupakan atau membenci Siang Hwi.

Karena terganggu perasaan duka ini, akhirnya Kwan Bu dapat juga tertidur dengan tubuh lemas.

Akan tetapi, lewat tengah malam ia terbangun karena telinganya yang terlatih mendengar sesuatu yang tidak wajar dan mencurigakan.

Cepat ia meloncat bangun, meniup padam lilin yang tadi lupa ia padamkan karena tertidur, kemudian sekali berkelebat ia telah melompat keluar melalui jendela kamarnya dan terus melayang naik ke atas genteng.

Dari atas jelas terdengar olehnya suara Giok Lan yang bicara marah.

Cepat ia menuju ke tempat itu dan ternyata dari atas tampak olehnya bayangan Giok Lan di dalam taman rumah penginapan itu, berhadapan dengan seorang laki-laki dan mereka sedang bicara dengan nada suara marah.

"Engkau maling ya?"

Terdengar Giok Lan memaki, dan agaknya bukan makian yang pertama kali.

"Kau berpura-pura menyatakan hendak betemu dan berbicara dengan Kwan Bu, itu hanya alasan belaka. Kalau mau bicara, hayo bicara kepadaku, sama juga. Engkau mau apa malam-malam berkeliaran seperti maling, hendak memasuki kamar Kwan Bu"!"

"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Sudah kukatakan, nona""

"Kau bilang nona? Apakah matamu buta, tidak melihat bahwa aku seorang Kongcu?"

Bentak Giok Lan yang sengaja suaranya kini makin dibesarkan sehingga mau tidak mau Kwan Bu yang mengintai dari atas menjadi geli hatinya, dia tidak mau turun tangan lebih dulu mendengar suara laki-laki yang seperti dikenalnya itu, pula agaknya laki-laki itu tidak hendak memusuhi Giok Lan.

"Aku akan buta kalau tidak dapat mengenalmu nona. Kau bukan seorang Kongcu, bukan pula seorang laki-laki tampan, melainkan seorang gadis cantik jelita, akan tetapi galaknya melebihi kucing! Heran aku mengapa suka bersahabat dengan orang galak..?"

"Tutup mulutmu, laki-laki ceriwis!"

Giok Lan sudah mencabut pedangnya dan menusuk dada laki-laki itu.

Akan tetapi dengan sigap laki-laki itu meloncat mundur sehingga tuBukan itu mengenai angin belaka.

Laki-laki mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata.

"Tahan, nona! Aku Kwee Cin bukan seorang laki-laki yang suka bermusuhan tanpa sebab, apalagi terhadap seorang wanita! Aku hendak bertemu dengan Bhe Kwan Bu, dan tidak ada sangkut pautnya denganmu!"

"Berurusan dengan dia sama denga berurusan dengan aku! Hayo majulah, aku tidak takut kepadamu!"

"Akupun tidak takut kepadamu, akan tetapi aku tidak mempunyai urusan denganmu."

Jawab laki-laki itu. Kwan Bu menjadi girang sekali ketika mendengar nama pemuda itu, ketika ia melihat bahwa Giok Lan dengan galak hendak menyerang lagi, ia sudah melayang turun sambil berkata.

"Lan-moi, tahan...!"

Giok Lan mengurungkan niatnya menyerang, akan tetapi ia memandang ke arah Kwee Cin dengan mata menyala merah. Kwan Bu lalu memegang lengannya dan berkata.

"Dia ini sahabatku, dia Kwee-Kongcu, murid mendiang Bu Taihiap."

"Bagus, kalau begitu dia ini perampok yang harus dibunuh!"

Giok Lan meronta dan hendak menerjang lagi, akan tetapi dicegah Kwan Bu yang memegang lengannya sedangkan Kwee Cin balas membentak.

"Siapa bilang aku perampok. Ngawur saja!"

"Engkau murid pemberontak Bu Keng Liong dan semua pemberontak adalah kawanan perampok!"

Bentak pula Giok Lan. Melihat keadaannya makin panas, Kwan Bu lalu berbisik kepada gadis itu.

"Lan-moi. Serahkan dia ini kepadaku. Kuminta kau cepat menjaga Ibuku, siapa tahu ada orang jahat yang akan memasuki kamarnya dan mengganggunya."

Giok Lan kaget. Memang tadi ia meninggalkan Nyonya itu sendirian di kamar, maka ia mengangguk dan meloncat pergi. Akan tetapi, ia membalikkan mukanya dan berkata kepada Kwan Bu.

"Koko, kau wakili aku memenggal lehernya dan jangan lupa untuk mengerat sepasang Bibirnya untukku sebagai hukuman kekurang ajarannya telah memaki aku seperti... kucing!"

"Wah, agaknya kau suka sekali kepada Bibirku, ya?"

Kwee Cin yang panas perutnya balas mengejek.

Gadis itu marah dan membuat gerakan hendak membalik.

Akan tetapi teringat akan Ibu Kwan Bu dan setelah membanting kakinya ia lalu meloncat ke dalam bangunan rumah penginapan itu.

"Saudara Kwee Cin! Betapa gembira hatiku setelah mengenal suaramu. Kukira siapa yang sedang ribut-ribut dengan nona Phoa Giok Lan. Ada keperluan apakah engkau malam-malam mencariku?"

Kwan Bu segera melangkah maju menghampiri murid bekas majikannya itu.

"Bhe Kwan Bu, aku tahu bahwa engkau bukanlah lawanku. Akan tetapi aku siap untuk mati di tanganmu demi dharma baktiku kepada mendiang Suhu! Aku datang mencarimu di Kwan-im-bio di Hwi-cun, mendengar akan keberangkatanmu dan mengejar sampai di sini, sengaja mencarimu untuk kutentang mengadu nyawa! Engkau telah menyebabkan kematian Suhu, menyebabkan Sumoi menderita dan karena aku tidak mempunyai apa-apa untuk membalas budi Suhu, biarlah kubalas dengan pembelaan disertai taruhan nyawaku!"

Ucapan Kwee Cin terdengar tegas dan diam-diam amat kagumlah hati Kwan Bu.

Pemuda tampan di depannya ini benar-benar seorang yang jantan, alangkah jauh bedanya dengan Liu Kong!

Akan tetapi kini pemuda ini menuduhnya dan menantangnya, ia menghela napas duka dan menjawab.

"Ah, saudara Kwee Cin, mengapa kau juga menjatuhkan fitnah atas diriku? Mengapa engkau juga menjadi seorang diantara mereka yang membenciku tanpa sebab? Engkau yang tadinya kuanggap satu-satunya orang disamping Bu Taihiap yang berpemandangan luas dan jujur? Mengapa kau mengatakan bahwa aku yang menjadi sebab kematian Bu Taihiap?"

"Kalau lain mulut yang mengatakan, mungkin aku akan berpikir sepuluh kali lebih dahulu sebelum mempercayainya, akan tetapi aku mendengar sendiri dari Sumoi yang hancur hatinya. Engkau yang menyerbu ke Hek-Kwi-San di mana mendiang Suhu dan kawan-kawannya berada dan engkau yang membawa datang para pengawal kerajaan sehingga mereka semua terbasmi habis, termasuk Suhu."

"Tahukah engkau mengapa nona Siang Hwi sendiri tidak sampai tewas?"

"Sumoi terlalu hancur hatinya sehingga tidak menceritakan tentang dirinya. Yang penting sekarang, katakanlah, Bhe Kwan Bu, sebagai seorang laki-laki sejati tidak benarkah apa yang diceritakan Sumoi kepadaku!"

"Memang benar, akan tetapi engkau mendengar dan mengetahui ekornya tidak mengetahui kepalanya. Aku memang datang menyerbu Hek-Kwi-San, akan tetapi sama sekali tidak mempunyai urusan dengan para pembe... eh, para pejuang yang berkumpul di sana. Bahkan tidak menyangka akan bertemu dengan mendiang Bu Taihiap yang entah bagaimana telah bekerjasama dengan mereka itu di sana. Aku datang ke Hek-Kwi-San untuk mencari Sin-To Hek-Kwi, karena aku kira dia adalah musuh besar keluargaku yang kucari-cari. Ternyata bukan, akan tetapi karena dia seorang kepala rampok yang jahat dan telah mencurangi aku, maka dia telah tewas di tanganku. Sungguh tak kusangka bahwa para pejuang itu, termasuk Bu Taihiap akan membela kepala rampok itu. Dan lebih-lebih tak kusangka adalah pada malam itu muncul para pengawal yang menyerbu ke Hek-Kwi-San sehingga terjadinya perang yang mengakibatkan tewasnya para pejuang, termasuk Bu Taihiap."

"Dan Suheng serta Sucimu menyertai para pengawal!"

"Benar, dan hal ini adalah urusan mereka. Aku sendiri tidak berhubungan dengan para pengawal. Mereka terbunuh, Bu-Siocia tertawan akan tetapi berhasil kumintakan kebebasan sehingga dia tidak terganggu."

"Perbuatan pura-pura! Sungguhpun Sumoi tidak pernah menceritakan bahwa dia dibebaskan karena permintaanmu, namun Sumoi menceritakan betapa dia telah ditawan kembali, dan hampir diperkosa Suhengmu yang rendah budi itu kalau saja tidak ditolong dan dibebaskan oleh Liu-Suheng sehingga Liu-Suheng mengorbankan nyawanya terbunuh oleh Suhengmu!"

"Aahhhh...!"

Kwan Bu benar-benar kaget sekali mendengar berita ini.

"Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu!"

"Engkau tahu atau tidak bukanlah hal yang penting sekarang. Yang terpenting adalah penyelesaian di antara kita. Tidak ada pilihan lain bagiku, membunuhmu untuk membalas sakit hati Sumoi dan kematian Suhu, atau terbunuh oleh mu. Bersiaplah engkau, Be Kwan Bu!"

Kwan Bu menjadi berduka sekali.

"Kwee Cin engkau mencinta Bu Siang Hwi, bukan?"

Merah muka Kwee Cin.

"Tidak! Kini dia adalah seperti saudara bagiku, seperti adikku. Semenjak kenyataannya bahwa dia mencinta engkau seorang. Aku sudah mengubur rasa cinta kasih masa kanak-kanak itu."

"Apa!! Dia mencintaiku? Hemm, berkali-kali dia menghinaku, menamparku...l"

"Hanya laki-laki yang buta saja yang tidak tahu akan cinta kasih seorang wanita. Kwan Bu. Dan engkau buta! Karena itu menyiksa dia, adikku, Sumoiku yang malang. Sudah lekas cabut pedangmu!"

"Tidak, aku tidak akan bermusuh denganmu Kwee Cin."

"Mau atau tidak. aku akan menyerangmu, tidak ada pilihan lain, membunuhmu atau terbunuh olehmu. Aku seorang laki-laki sejati, Kwan Bu!"

"Aku tahu dan aku mengenalmu, Kwee Cin. Akan tetapi aku tidak akan berusaha mengalahkanmu, engkau bukan musuhku."

Jawab Kwan Bu dengan sikap tenang.

"Kwan Bu, aku bukan seorang pengecut yang menyerang orang yang tidak melawan, akan tetapi demi bakti terhadap Suhu, aku terpaksa menyerangmu, dan kalau kau tetap tidak melawan, membunuhmu. Lihat pedang!"

Dengan gerakan cepat dan kuat Kwee Cin sudah menuBukan pedangnya ke arah dada Kwan Bu. Melihat penyerangan yang bukan main-main ini, Kwan Bu cepat mengelak ke kiri.

"Wuuutttm singggg...!!"

Kwee Cin maklum bahwa kepandaian Kwan Bu amat lihai dan dia tidak mungkin dapat menangkan murid Pat-jiu Lo-kai itu, Akan tetapi ia tidak putus asa, bahkan menerjang dengan nekat sehingga begitu tuBukan pertama dielakkan, telah ia susul dengan menyambarkan pedangnya dari samping, membacok ke arah leher Kwan Bu.

Kwan Bu mengelak lagi dan ia membiarkan Kwee Cin terus menghujankan serangannya yang selalu ia hindarkan dengan elakkan tanpa membalas sedikitpun juga.

Kwee Cin menjadi amat kagum setelah lewat tiga puluh jurus ia menyerang sama sekali tidak ada hasilnya.

Ia amat kagum akan gerakan Kwan Bu yang sigap dan gesit melebihi gerakan seekor burung walet sehingga amat sukar pedangnya mengikuti gerakan lawan ini.

Selain kagum, ia juga penasaran dan karena sudah bulat tekadnya untuk membunuh atau dibunuh demi kebaktiannya kepada mendiang Suhunya, Kwee Cin menerjang terus, makin lama makin cepat.

"Kwee Cin, cukuplah main-main ini. Tak tahukah engkau bahwa caramu membalas dendam ini selain tidak tepat, juga tidak ada gunanya? Bu Taihiap tewas dalam sebuah peperangan, dan sesungguhnya adalah salahnya sendiri mengapa ia tidak dapat mempertahankan pendiriannya yang bebas seperti dahulu. Dia telah berfihak kepada pemberontak dan tewas dalam perang melawan pihak pengawal. Perlu apa disesalkan?"

"Tak usah banyak wawasan, Kwan Bu. Demi Suhu dan Sumoi, engkau yang tewas atau aku!"

Kwee Cin menerjang lagi. Kwan Bu mengenal watak Kwee Cin dan tahu bahwa Kwee Cin melakukan penyerangan dan desakan ini karena kebaktiannya, maka ia menjadi mendongkol berbareng terharu.

"Berhentilah"

Teriaknya lagi dan pada saat itu, Kwee Cin sudah menyerangnya dengan jurus In-ko bu-tong (Awan Naik Gunung Bu-Tong-San).

Jurus ini merupakan jurus simpanan yang amat lihai dari ilmu pedang Bu-Tong-Pai.

Sebagaimana diketahui, Bu Taihiap atau Bu Keng Liong adalah anak murid Bu-Tong-Pai maka tentu saja ilmu pedang yang ia turunkan kepada murid-muridnya adalah ilmu dari Bu-Tong-Pai.

Jurus ini dilakukan dengan lambat, akan tetapi hanya tampaknya saja pedang itu menyerang amat lambat ke arah pusar lawan, akan tetapi dibalik kelambatan ini bersembunyi kecepatan yang terletak dalam perubahan ujung pedang karena ujung pedang yang menyerang pusar itu dapat dilanjutkan dengan serangan yang bertubi-tubi dari bawah terus ke atas!

Kwan Bu seorang yang sudah tinggi ilmunya dan dia bukan seorang sombong.

Sejak tadi dia berlaku hati-hati dan tidak berani memandang rendah ilmu pedang lawan, maka sekali inipun ia akan berlaku hati-hati.

Ia maklum bahwa Bu Taihiap adalah seorang ahli pedang yang amat lihai dan Kwee Cin seorang murid yang tekun, maka tidak mungkin serangan Kwee Cin yang lambat ini memang menjadi dasar atau sifat jurus serangannya.

Ia mengelak dan tetap waspada menanti perkembangannya dan benar saja seperti yang diduganya, ujung pedang di tangan Kwee Cin menggetar dan dari gerakan lambat itu tiba-tiba muncul serangan bertubi-tubi yang amat cepatnya, membabat pinggang dilanjutkan dengan tuBukan ke ulu hati, lalu membabat leher dilanjutkan dengan tuBukan ke arah mata!

Serangan menusuk dan membabat secara bertubi-tubi dan bertingkat makin lama makin ke atas ini sukar sekali dihindarkan dan datangnya memang tak tersangka-sangka.

Namun Kwan Bu yang sudah waspada itu membiarkan sampai gerakan terakhir jurus itu lewat dan dia hanya mengelak ke kanan kiri dengan menggunakan ginkang yang lebih tinggi sehingga gerakannya lebih cepat daripada gerakan lawan, kemudian tangannya bergerak mendorong dan dibarengi tendangan.

Dorongan yang mengandung tenaga ginkang yang amat kuat itu membuat tubuh Kwee Cin terhuyung dan tendangan dari samping itu tepat mengenai pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedangnya terlempar ke atas dan tahu-tahu sudah berada di tangan Kwan Bu!

"Bagus, kepandaianmu memang hebat, Kwan Bu.

Nah, kau bunuhlah aku!"

Kwee Cin terhuyung menghampiri dan mengangkat dada, siap menerima tuBukan Kwan Bu dengan pedangnya sendiri.

"Bu-koko... toloonnggg...!"

Jerit suara Giok Lan ini mengagetkan Kwan Bu.

Sekali tangannya bergerak, pedang rampasan itu menancap di atas tanah di depan Kwee Cin, kemudian Kwan Bu berkelebat lenyap karena tubuhnya sudah melesat amat cepatnya memasuki rumah penginapan.

Jantungnya berdebar tegang karena kalau Giok Lan menjerit minta tolong seperti itu, pasti terjadi hal yang amat hebat.

Ia berloncatan ke atas genteng kemudian turun ke sebelah belakang rumah penginapan.

Dilihatnya banyak tamu yang ketakutan dan bersembunyi di kamar masing-masing, ada pula yang keluar akan tetapi berdiri dengan muka pucat di depan kamar.

Kwan Bu melihat serombongan orang di ruangan belakang yang luas, yang dijadikan ruangan makan dan ruangan para tamu beristirahat.

Cepat ia melayang ke tempat itu dan tiba-tiba ia berdiri tegak dengan muka pucat dan mata terbelalak marah karena ia melihat betapa Ibunya dan Giok Lan telah menjadi tawanan belasan orang laki-laki yang kelihatan gagah, dikepalai seorang kakek berusia enam puluh tahun yang memakai pakaian Kitam dan yang memegang sebatang pedang telanjang di tangan kanan.

Dengan pedang itu kakek hu menodong ke lambung Ibu Kwan Bu, sedangkan dua orang laki-laki lain yang usianya antara empat puluh tahun, menodongkan ujung pedang mereka di kanan kini punggung Giok Lan.

Gadis ini yang agaknya tadi melakukan perlawanan, terluka sedikit lengannya dan kedua tangannya kini dibelenggu ke belakang!

Namun gadis berpakaian pria ini sedikitpun tidak memperlihatkan muka takut, bahkan matanya bersinar-sinar penuh kemarahan ditujukan kepada orang-orang yang menawan dirinya dan Ibunya Kwan Bu.

"Bhe Kwan Bu manusia rendah budi! Menyerahlah, kalau melawan, Ibumu dan nona ini kami bunuh lebih dulu"

Bentak kakek pakaian hitam yang menodong lambung Ibunya.

Lemas kembali seluruh urat syarat yang tadi sudah menegang penuh kesiapan di tubuh Kwan Bu.

Betapapun akan cepatnya ia bergerak menyerang orang-orang yang menodong Ibunya dan Giok Lan.

Tentu lebih cepat lagi pedang-pedang itu memasuki tubuh kedua orang tawanan itu.

Ia menekan gelora hatinya dan bertanya, suaranya tetap tenang.

"Kalian siapakah dan apa kehendak kalian?"

Kakek itu rnemandangnya dengan rona muka penuh kebencian.

"Kami adalah pejuang dari Bu-Tong-Pai, dan karena Bu Keng Liong adalah tokoh dari Bu-Tong-Pai, maka dia masih terhitung Suteku. Engkau yang sudah menerima banyak budi dari Bu-Sute, telah mengkhianati dia dan menyebabkan banyak tokoh pejuang gugur. Untuk mempertanggungjawabkan dosamu, kau harus menjadi tawanan kami dan menghadapi hukuman dari Suhu dan para pimpinan pejuang. Menyerahlah dan Ibumu serta nona ini tidak akan mati di ujung pedang kami!"

Dada Kwan Bu terasa panas.

Mengertilah ia kini bahwa ia telah kena dipancing keluar oleh Kwee Cin yang ternyata datang bersama banyak pejuang dan ia mengerti pula mengapa Giok Lan mudah tertawan.

Kiranya kakek ini adalah Suheng dari Ayah Siang Hwi yang tentu memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi daripada Giok Lan.

Ia menjadi marah sekali dan teringat ini, ia merasa menyesal mengapa tadi ia tidak bunuh saja Kwee Cin yang curang!

"Apakah seperti inilah kegagahan orang-orang Bu-Tong-Pai menghadapi lawan?

Kalian datang begini banyak menghadapi aku seorang diri mengapa harus menggunakan siasat rendah dan curang mengganggu wanita yang tidak berdaya?

Lepaskan mereka dan mari hadapi aku secara laki-laki!"

Kakek itu menjadi merah mukanya, akan tetapi sambil tersenyum ia menjawab.

"Kami para pejuang Bu-Tong-Pai bukanlah seorang yang haus darah seperti engkau, Bhe Kwan Bu. Gara-gara perbuatanmu mengakibatkan penyembelihan para pejuang di Hek-Kwi-San. Kami tahu bahwa sebagai murid Pat-jiu Lo-kai yang gagah perkasa, engkau merupakan lawan berat dan kalau kami menggunakan kekerasan, tentu terjadi pertandingan yang akan membawa akibat kematian banyak. Pula, kami tidak ingin menimbulkan kekacauan disini. Tidak ingin merugikan para tamu penginapan dan pemiliknya. Sudahlah, cepat kau menyerah atau terpaksa kami bunuh dua wanita ini sebelum menggunakan kekerasan terhadap dirimu."

"Bu-koko, sikat saja mereka ini! Jangan perdulikan aku, aku tidak takut mati! Perlihatkan kepada tikus-tikus ini bahwa kita orang-orang gagah yang tidak takut mati. Kita bukan pemberontak, bukan pula penjilat Kaisar, akan tetapi kalau mereka ini tetap menuduh yang bukan-bukan, lawan saja, aku yakin engkau pasti akan mampu membunuh tikus-tikus ini!"

Bentak Giok Lan sambil meronta-ronta, akan tetapi belenggu tangannya amat kuat sehingga ia tidak mampu membebaskan diri.

Mendengar ucapan Giok Lan ini, timbul lagi semangat Kwan Bu dan sinar matanya sudah menjadi beringas.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara Ibunya.

"Kwan Bu. engkau menyerah sajalah. Aku sendiri tidak takut mati, aku sudah tua dan hidup lebih banyak menderita bagiku. Akan tetapi tidak boleh kau mengorbankan nyawa nona Phoa. Biarlah, kalau memang engkau tidak berdosa, mengapa takut menghadapi pengadilan?"

Mendengar ini, lemas lagi tubuh Kwan Bu.

Kalau ia ingat betapa pedang-pedang itu akan membunuh Ibunya dan Giok Lan, memang tidak boleh ia mempergunakan kekerasan.

Ia mendengar bahwa Bu-Tong-Pai adalah sebuah partai besar yang dipimpin oleh orang-orang berilmu yang tentu saja menjunjung tinggi keadilan.

Ia tidak merasa bersalah, karena selama ini ia tidak mencampuri urusan perang antara mereka yang pro dan mereka yang anti Kaisar.

Biarlah pengadilan yang memutuskan bahwa dia memang tidak bersalah dalam peristiwa di Hek-Kwi-San.

"Baiklah, aku menyerah, akan tetapi lebih dahulu aku hendak mengenal siapa engkau yang memimpin rombongan ini dan janjimu sebagai seorang gagah Bu-Tong-Pai bahwa setelah aku menyerah kalian tidak akan membunuh Ibuku dan nona Phoa Giok Lan!"

Kakek itu kelihatan lega. Dia sudah mendengar akan kelihaian pemuda ini, maka kalau pemuda itu suka menyerah, akan lebih mudah pelaksanaan tugasnya.

"Aku adalah Lauw Tik Hiong yang berjuluk Hek I Him Hiap (Pendekar Pedang Baju Hitam) murid Bu-Tong-Pai. Sebagai seorang kang-ouw yang menjunjung nama besar perguruan kami, aku bersumpah bahwa kalau engkau menyerah, Ibumu dan nona ini tidak akan kami bunuh!"

Kwan Bu menarik napas lega. Nama dan julukan tokoh Bu-Tong-Pai itu kiranya merupakan jaminan yang cukup kuat, maka ia lalu mengulurkan kedua tangannya sambil berkata tenang.

"Nah, belenggulah aku dan bebaskan mereka!"

Empat orang diantara mereka segera maju membawa sebuah belenggu besi yang amat kuat. Mereka menelikung lengan Kwan Bu ke belakang dan membalenggunya di bawah punggung.

"Ahh... Bu-koko... mengapa kau begitu bodoh? Tikus-tikus macam ini mana bisa dipercaya? Mereka itu pemberontak-pemberontak yang berkawan dengan perampok-perampok jahat! Tikus-tikus bau ini tentu akan membunuhmu... ah, koko...!!"

Giok Lan berteriak-teriak marah, akan tetapi Kwan Bu sudah dibelenggu dan akhirnya gadis itu hanya dapat terisak.

"Lauw-Enghiong, harap lekas bebaskan Ibuku dan nona Phoa."

"Lauw Tik Hiong mengejek. Nanti dulu. Bhe Kwan Bu. Memang aku sudah berjanji takkan membunuh mereka, dan janji-janji ini pasti kupenuhi. Akan tetapi, kami tidak akan puas kalau belum membalas kekejian nona kuntianak ini!"

"Apa...?"

Kwan Bu membentak.

"Dia tidak berdosa!"

"Ha-ha-ha! tidak berdosa?"

Suara serak ini keluar dari mulut seorang diantara mereka yang menodong Giok Lan.

"Dia ini adalah adik Suhengmu yang bernama Phoa Siok Lun dan tentu engkau tahu bahwa Suhengmu menjadi anjing penjilat Kaisar. Bukan begitu saja, akan tetapi Suhengmu telah banyak memperkosa gadis-gadis dusun dan pendekar-pendekar wanita pejuang! Kalau kakaknya seperti setan, tentu adiknya inipun seperti kuntianak! Kakaknya tukang menghina wanita, tukang memperkosa dan mendatangkan aib dan malu. Adiknyapun harus merasakan yang sama!"

Pedang di tangan laki-laki itupun bergerak dan.

"Bretttt...!!"

Jubah luar yang dipakai Giok Lan robek dari leher sampai ke perut, memperlihatkan pakaian dalam dari Sutera berwarna merah muda yang tipis sekali sehingga tampak membayangkan lekuk-lengkung tubuh yang indah bentuknya.

Giok Lan meronta-ronta dah Kwan Bu membentak marah.

"Kalian manusia-manusia rendah...!!"

Akan tetapi dua orang telah mendorongnya dengan pedang, sedangkan Lauw Tik Hiong tertawa, lalu berkata.

"Jangan khawatir, Bhe Kwan Bu. Aku akan memegang janji. Janjiku hanya tidak membunuh mereka, bukan? Memang aku tidak akan membunuh Ibumu dan nona ini. Akan tetapi nona ini harus menebus kejahatan kakaknya, hendak kulihat ke mana akan ditaruh mukanya dan muka kakaknya kalau dia bertelanjang di depan umum. Ha-ha-ha!"

Ucapan yang keluar dari mulut Lauw Tik Hiong ini adalah ucapan yang timbul dari kebencian dan sakit hati karena sikap orang-orang Bu-Tong-Pai itu sama sekali tidak membayangkan silat-silat yang terdorong nafsu-nafsu sengaja atau yang sengaja berbuat kurang ajar yang memang sudah menjadi watak mereka.

Sesungguhnyapun mereka adalah orang-orang gagah Bu-Tong-Pai, pejuang-pejuang yang gigih.

Kalau sekarang mereka melakukan hal yang kelihatan keji ini adalah karena mereka merasa amat sakit hati terhadap perbuatan-perbuatan biadab yang dilakukan Phoa Siok Lun terhadap wanita-wanita pejuang yang ditangkapnya.

Kini pedang di tangan Lauw Tik Hiong sendiri yang bergerak ke depan dan kembali terdengar suara kain robek disusul jerit Giok Lan ketika ujung pedang itu dengan gerakan ahli sehingga sama sekali tidak melukai kulitnya telah merobek baju dalam, tepat di tengah-tengah dari leher sampai ke perut.

Baju itu terbelah dan terbuka sehingga tampak bagian tengah dada, tampak lereng bukit dada dan perut yang berkulit putih halus!

Pedang itu masih menuding dan agaknya hendak merobek pakaian bagian bawah.

Giok Lan sudah memejamkan matanya dan menundukkan mukanya, gadis ini hampir pingsan saking malunya, Kwan Bu hampir tak dapat menahan kemarahannya dan ia mulai mencari kesempatan untuk membebaskan diri.

akan tetapi tidak hanya membebaskan diri sendiri karena dia baru mau melakukan hal ini kalau dia sudah yakin akan dapat menyelamatkan Ibunya dan nona itu juga.

Lauw Tik Hiong yang hendak membalas penghinaan kepada adik Phoa Siok Lun ini, sengaja melakukan gerakan lambat-lambat, ujung pedangnya menyentuh bagian ikat pinggang celana yang menutupi bagian bawah tubuh gadis itu.

Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Kwee Cin sudah tiba di situ.

Langsung pemuda ini menghadap Lauw Tik Hiong dan menjura penuh hormat.

"Teecu murid kedua mendiang Suhu Bu Keng Liong menghadap Supek, dan mohon Supek mengabulkan permintaan teecu yang melaksanakan tugas pesanan Sumoi Bu Siang Hwi!"

Lauw Tik Hiong menarik kembali pedangnya dari pinggang Giok Lan, memandang kepada Kwee Cin penuh selidik. Sementara itu, Kwan Bu yang melihat Kwee Cin, sudah tak dapat menahan kemarahannya.

"Bagus, Kwee Cin! Engkau benar-benar manusia hina dina dan rendah budi! Kiranya engkau memancing aku keluar sehingga mereka ini dapat menangkap Ibuku dan nona Phoa. Kalau tahu begitu, tentu aku tidak akan mengingat perhubungan kita dahulu dan tadi sudah kuhancurkan kepalamu!"

Kwee Cin menoleh kepadanya dan tersenyum mengejek.

"Bhe Kwan Bu, engkau kacung yang sombong! Tidak ingatkah kau betapa dahulu kau melayani aku, engkau kacung hina dan engkau anak... haram...!!"

Ucapan ini disusul jerit Ibu Kwan Bu yang menjadi lemas dan jatuh terguling dalam keadaan pingsan. Kwan Bu makin marah dan hendak meronta, namun lambungnya terancam ujung pedang yang runcing.

"Eh, laki-laki pengecut. maling laknat. manusia hina dina melebihi kecoa! Jangan menghina Bu-koko!"

Bentak Giok Lan dengan suara menjerit saking marahnya.

"Kwee Cin, kalau mendiang Bu Taihiap melihat kelakuanmu saat ini, tentu beliau akan menangis sedih, Siapa mengira bahwa muridnya akan menjadi seorang macam engkau!"

Kwan Bu berseru, terheran-heran mengapa kini Kwee Cin menjadi sejahat itu, baik perbuatannya maupun kata-katanya.

"Jangan dengarkan ocehan mereka."

Kata Lauw Tik Hiong yang kini tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda tampan ini memang benar murid keponakannya, murid dari Bu Keng Liong.

"Jadi engkau murid Bu-Sute? Engkau bertemu dengan puteri Bu-Sute? Syukur kalau dia selamat, terlepas dari kekejian murid Pat-jiu Lo-kai, Apakah yang dipesankan oleh Sumoimu itu?"

"Maaf, Supek Teecu tidak berani membantah janji Supek yang sudah Supek keluarkan untuk tidak membunuh... perempuan galak seperti kucing ini sehingga teecupun tidak akan membunuhnya, dan tidak membunuh si jahanam Kwan Bu yang akan dijadikan tawanan. Akan tetapi, mengingat akan dendam Sumoi dan Suhu, teecu harus memberi hukuman kepada mereka, harap Supek mengingat akan dendam Sumoi dan kematian Suhu, sudi mengabulkan permintaan teecu ini,"

"Hemm, apa yang hendak kau lakukan?"

"Sumoi Su Siang Hwi hampir saja diperkosa oleh Phoa Siok Lun, kakak perempuan galak ini, dan Suhu tewas gara-gara Kwan Bu, Maka teecu mohon perkenankan Supek untuk sekadar menghukum perempuan ini dan Kwan Bu,"

Lauw Tik Hiong tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Asal tidak kau bunuh mereka, berarti aku tidak melanggar janji, Hukuman apa yang hendak engkau lakukan?"

Kwee Cin berkata dengan suara dingin.

"Kwan Bu seorang muda yang tidak mengenal budi, akan kubuntungkan sebelah telinganya dan akan kuberikan kepada Sumoi agar puas hatinya, adapun perempuan ini... hemmm... tunggu dulu..? Kwee Cin menghampiri Giok Lan dengan pedang di tangan, Giok Lan memandang penuh kemarahan dan kebencian, lalu meludah ke arah muka pemuda itu, Karena jarak mereka dekat dan perbuatan itu sama sekali tidak disangka-sangka, Kwee Cin terkena ludah pada pipi dan Bibirnya. Semua terkejut dan marah, akan tetapi Kwee Cin tersenyum mengejek, bahkan tidak mengusap ludah itu, ia seperti orang menimbang-nimbang, hukuman apa yang hendak ia jatuhkan, Sikapnya ini menambah kengerian di hati Kwan Bu dan Giok Lan.

"Mukanya cantik, kalau digores dengan pedang melintang tentu akan buruk..?"

Kwee Cin berkata perlahan dan berkata dengan suara dingin, mendatangkan kengerian bahkan di hati para murid Bu-Tong-Pai sekalipun, Agaknya pemuda ini sudah seperti gila oleh dendam.

"Pedangku pemberian Suhu, pedang ini terlalu bersih untuk dikotori darahnya. Siapakah yang sudi memberi pinjam pedang kepada teecu?"

Lauw Tik Hiong tertawa memberikan pedangnya.

"Nih, pergunakan pedangku dan cepatlah. Pagi sudah hampir tiba dan kita harus cepat-cepat pergi dari sini."

"Terima kasih!"

Kwee Cin menerima pedang itu dan diterimanya dengan tangan kiri, Kini ia memegang dua batang pedang.

menghampiri Giok Lan lagi dan dengan ujung pedang kiri ia membelai pipi itu.

Terasa dingin oleh gadis itu yang menjadi pucat sekali.

"Bu-koko... biarlah kita mati bersama..!"

Gadis itu terisak dan melangkah mendekati Kwan Bu.

diikuti oleh Kwee Cin yang masih menyeringai penuh kekejaman.

Pedangnya bergerak dan tali pengikat rabut itu terlepas.

kain penutup rambbut yang dijadikan penyamarannya dalam pakaian pria itu terbang sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai.

"Aku murid Bu Keng Liong. Bukan seorang pria suka menghina wanita. Biarlah kuambil saja rambutmu, hendak kulihat apakah tanpa rambut engkau masih mau main gagah-gagahan dan gaIak-galakan!"

Kata Kwee Cin dan Giok Lan menjadi makin pucat.

"Kwee Cin, kau manusia iblis! Bunuh saja kami. kami tidak takut!"

Bentak Kwan Bu. Kwee Cin menggerakan sepasang pedangnya dengan gerakan yang indah, lalu berkata kepada Lauw Tik Hiong.

"Tentu Supek mengenal jurus ini!"

Ia menggerakkan dua pedang itu sehingga tampak dua gulungan sinar yang saling melingkar.

"Ha-ha, tidak percuma kau menjadi murid Bu-Sute... jurusmu Siang-Heng-jip-hai (Sepasang Naga Masuk Lautan) itu Cukup indah. akan tetapi apa maksudmu?"

"Teecu akan menggunakan jurus ini untuk sekaligus menggunduli rambut perempuan kucing ini dan membuntungi telinga Kwan Bu. Biar mereka mengenal kelihaian ilmu pedang Bu-Tong-Pai!"

Semua orang memandang dengan hati tegang dan ngeri melihat sikap Kwee Cin.

yang benar-benar seperti orang gila itu.

Kwan Bu merasa lega bahwa Ibunya masih rebah pingsan karena dia tidak ingin Ibunya menyaksikan dia dan Giok Lan disiksa.

Akan tetapi ia mencatat nama Kwee Cin sebagai seorang pertama yang kelak akan dia pecahkan kepalanya dengan kedua tangannya sendiri!

Sambil terkekeh mengejek.

Kwee Cin sudah bersilat dan dengan tangkas meloncat ke belakang Kwan Bu dan Giok Lan yang sedang berdiri berdempetan karena gadis itu merapatkan tubuhnya yang setengah telanjang itu kepada Kwan Bu sambil meramkan matanya, ingin mati bersama pemuda ini.

Kwee Cin mengangkat kedua pedangnya.

pedang kiri milik Lauw Tik Hiong itu di atas kepala Giok Lan dan yang rambutnya terurai, pedangnya sendiri di atas kepala Kwan Bu, kemudian ia mengeluarkan suara pekik nyaring dan kedua pedang itu menyambar turun.

Kwan Bu menggigit Bibirnya untuk menahan rasa nyeri apabila pedang itu membuntungkan daun telinganya.

"Cring-cring...!!"

Pedang itu adalah pedang pusaka dan sekali babat saja putuslah belenggu tangan Kwan Bu, dan pedang kirinya bukan membabat rambut Giok Lan, melainkan membabat putus belenggu tangan gadis itu!

Semua orang terbelalak kaget dan heran.

Kesempatan ini digunakan Kwee Cin untuk berbisik.

"Kwan Bu. Ibumu... cepat! Nona, ini pedang untukmu"!"

Ia menyerahkan pedang milik Lauw Tik Hiong kepada Giok Lan yang mula-mula terbelalak akan tetapi segera nona ini dengan isak tertahan menyambut pedang itu.

"Kwee Cin, murid durhaka, manusia terkutuk!"

Lauw Tik Hiong dan saudara-saudaranya menerjang maju, akan tetapi Kwee Cin dan Giok Lan sudah memutar pedang mereka melindungi diri.

Kwan Bu berkelebat ke depan, empat orang yang menghalanginya roboh terpelanting dan bagaikan seekor burung garuda menyambar tubuh Ibunya, dipondong dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya setiap ia dorongkan tentu merobohkan seorang pengeroyok.

"Cepat, ikut aku! Kereta telah kusiapkan!"

Kembali Kwee Cin berseru keras.

Pemuda ini maklum bahwa kalau Kwan Bu rnengamuk terus murid-murid Bu-Tong-Pai tentu akan tewas semua dan hal ini sama sekali tidak ia kehendaki.

Giok Lan dan Kwan Bu khu sudah menumpahkan seluruh kepercayaannya kepada pemuda yang luar biasa itu.

mereka meloncat mengikuti Kwee Cin sambil merobohkan orang-orang yang menghalang di jalan, keduanya sudah berada dijalan samping rumah penginapan itu, bahkan kuda tunggangan Kwan Bu pun sudah siap.

Kiranya Kwee Cin tadi mempersiapkan semua itu sebelum ia muncul dan menolong Kwan Bu dan Giok Lan.

"Kwee Cin, kau jalankan kereta. Giok Lan, kau menjaga kereta, aku akan mengawal!"

Kini Kwan Bu yang sudah menemukan kembali ketenangannya memberi perintah yang segera diturut oleh dua temannya.

Nyonya Bhe direbahkan di dalam kereta, dijaga oleh Giok Lan.

Kwee Cin melompat ke tempat kusir dan membalapkan kuda-kuda penarik kereta, sedangkan Kwan Bu naik kudanya mengawal di belakang.

Mula-mula memang ada murid-murid Bu-Tong-Pai dikepalai Lauw Tik Hiong melakukan pengejaran, akan tetapi setelah dengan amat mudahnya, dengan tendangan kaki dan Dorongan tangan Kwan Bu merobohkan orang-orang terdepan tanpa membunuh mereka, murid-murid Bu-Tong-Pai tidak berani melanjutkan pengejaran mereka.

Matahari telah naik tinggi ketika kereta yang membalap dan melarikan diri itu telah jauh meninggalkan kota itu.

Mereka tiba di jalanan yang sunyi di antara pegunungan, dan pada sebuah perempatan jalan, tiba-tiba Kwee Cin menghentikan kereta itu.

Lalu meloncat turun dari atas kereta.

Kwan Bu juga meloncat turun dari kudanya.

sedangkan Giok Lan yang sudah lega hatinya karena Ibu Kwan Bu sudah siuman dan kini duduk tertidur, juga meloncat keluar.

Mereka bertiga berdiri berhadapan dan sesaat lamanya mereka hanya beradu pandang, Giok Lan memegangi jubah luar milik Kwee Cin yang tadi oleh pemuda itu dilemparkan kepada Giok Lan di atas kereta tanpa mengucapkan sepatah kata.

Giok Lan juga tidak bicara apa-apa hanya cepat menyelimutkan jubah itu untuk menutupi pakaiannya yang robek.

Kini karena meloncat turun, jubah terbuka maka cepat-cepat ia menutupkannya dan memeganginya dengan tangan kiri, matanya memandang kepada Kwee Cin.

Malam tadi karena keadaan agak gelap, tidak dapat ia melihat jelas wajah pemuda itu, juga di dalam kereta ia tidak dapat melihat Kwee Cin yang duduk di depan.

Setelah kini ia memandang wajah itu, ia harus mengakui bahwa Kwee Cin adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah bermuka putih dan sikapnya amat halus.

"Kwan Bu, maafkan aku yang tadinya gelap mata oleh kematian Suhu dan kesengsaraan Sumoi. aku sadar, apalagi setelah mendengar percakapanmu dengan para tokoh Bu-Tong-Pai, bahwa sesungguhnya engkau tidak bersalah dalam peristiwa di Hek-Kwi-San itu."

Kwan Bu menjadi terharu, melangkah maju dan memegang pundak Kwee Cin.

"Bukan engkau yang harus minta maaf, bahkan akulah, Kwee Cin! Akupun tadi salah sangka terhadapmu, mengira engkau memancingku dan sengaja membawa orang-orang Bu-Tong-Pai untuk mencelakakan kami. Sungguh sama benar peristiwa tadi dengan yang terjadi di Hek-Kwi-San. Engkau muncul tadi bersamaan dengan orang-orang Bu-Tong-Pai sehingga seolah-olah engkaulah yang membawa mereka datang. Demikian pula di Hek-Kwi-San dahulu. Aku datang dengan urusan pribadi, siapa tahu secara kebetulan dan dalam waktu yang sama pula muncul pasukan pengawal sehingga seolah-olah aku yang membawa pasukan pengawal itu! aku tidak menyalahkan engkau yang tentu menduga sama pula. Tidak, aku sudah mengenalmu, karena itu aku tidak suka bermusuh denganmu. tidak mau melawanmu. aku bahkan bersyukur dan berterima kasih sekali kepadamu, Kwee Cin. Kalau tidak ada engkau, ihhh... ngeri aku membayangkan! Budimu sungguh besar sekali!"

Kwan Bu bergidik dan memandang kepada Giok Lan.

"Ah, kau hanya bertindak sesuai dengan kewajibanku seperti yang diajarkan Suhu. Kalian tidak bersalah dan menghadapi penghinaan, bagaimana aku bisa mendiamkan saja? Tak perlu berterima kasih dan agaknya lebih baik di sini kita berpisah."

"Engkau telah berlaku baik sekali terhadap kami Kwee Enghiong. Mengapa? Mengapa kau mengorbankan dirimu menolong kami?"

Tiba-tiba Giok Lan bertanya sambil memandang dengan sinar mata penuh selidik. Kwee Cin tersenyum.

"Ah, mengorbankan apa? Hanya biasa saja..."

"Engkau tidak bisa berpura-pura kepadaku, Kwee Enghiong. aku tahu bahwa perbuatanmu menolong kami tadi merupakan sebuah perbuatan murtad dan khianat dari seorang murid Bu-Tong-Pai terhadap Supeknya, terhadap perguruannyal"

"Benar sekali ucapan Lan-moi, Kwee Cin. Engkau telah melakukan hal yang berbahaya sekali karena kau tentu akan dimusuhi oleh perguruanmu sendiri, dimusuhi oleh Bu-Tong-Pai, dianggap murtad dan berkhianat. Ah, betapa besar pengorbanan yang kau lakukan untuk kami, Kwee Cin..."

"Biarlah, akan kupertanggungjawabkan semua perbuatanku sendiri. Melihat engkau ditawan. masih tidak mengkhawatirkan, akan tetapi melihat betapa mereka menghina nona Phoa... hemm, biar guruku sendiri akan kulawan! Sudahlah, selamat tinggal..!"

Setelah berkata demikian, dengan muka merah Kwee Cin membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.

"Kwee Enghiong..., tunggu dulu!"

Suara Giok Lan ini membuat Kwee Cin tiba-tiba berhenti dan menengok.

"Jubahmu ini...!"

Giok Lan membuat gerakan hendak membuka jubah sehingga cepat-cepat Kwee Cin berkata.

"Biarlah! Engkau memerlukannya, Nona"

"Tapi... bagaimana aku akan mengembalikannya?"

"Tak usah dikembalikan."

"Mana mungkin? lni jubahmu, biar kupinjam...!"

"Baiklah. Kau pinjam dan kelak kalau kita ada jodoh bertemu kembali, boleh kau kembalikan kepadaku."

Kwee Cin membalikkan tubuh lagi hendak pergi.

"Kwee Enghiong...!"

Kembali suara ini membuat ia menengok.

"Maafkan aku telah memaki-makimu tadi, menyebutmu pengecut, laknat dan... dan... seperti kecoa...!"

Wajah gadis itu menjadi merah sekali. Kwee Cin tersenyum dan pandang matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri.

"Sudah sepantasnya, nona. karena akupun memakimu seperti... seperti kucing galak! Jadi... sama-sama maaf!"

"Akan tetapi aku... aku telah meludahi mukamu... ah, betapa besar kesalahanku kepadamu..?"

Senyum di wajah pemuda itu melebar. Ia meraba pipi dan Bibirnya yang tadi diludahi dan yang sekarang tentu saja sudah tidak ada bekasnya lagi.

"Tidak mengapa nona dan... dan ludahmu... tidak kotor. Selamat tinggal!"

Pemuda itu lalu lari cepat meninggalkan dua orang muda yang memandang sampai bayangannya lenyap di sebuah tikungan.

"Semenjak dia kecil, dia seorang jantan yang sangat baik...! Patut dia menjadi murid Bu Taihiap seorang pemuda pilihan!"

Kata Kwan Bu perlahan.

"Dia hebat...!"

Giok Lan menghela napas panjang.

"Dan dia jatuh cinta kepadamu, Lan-moi...!"

Kembali Giok Lan menghela napas lalu berkata lirih.

"Dia hebat, akan tetapi engkau lebih hebat, koko dan tentang cinta..?"

"Sudahlah, mari kita cepat melanjutkan perjalanan agar cepat sampai di rumahmu. Sebelum sampai di sana aku akan selalu merasa tidak tenteram. Siapa tahu mereka itu masih tidak terima dan melakukan pengejaran."

Kwan Bu cepat memotong ucapan gadis itu karena tidak ingin ia bicara tentang cinta di saat itu.

Giok Lan kini mengusiri kereta dan Kwan Bu mengawal di atas kudanya.

Hatinya penuh rasa syukur, tidak saja bahwa mereka telah terbebas daripada bencana hebat, akan tetapi terutama sekali bahwa kepercayaannya terhadap Kwee Cin ternyata tidak meleset, membuat ia makin suka dan kagum kepada murid bekas majikannya itu.

Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di kota Kam-Sin-Hu.

Dengan wajah gembira Giok Lan langsung mengemudikan kereta sampai ke depan sebuah gedung besar yang berpekarangan lebar sekali Kwan Bu memandang dengan kagum dan juga menjadi sungkan.

Tak disangkanya bahwa rumah Giok Lan demikian besar dan mewah, keluarga gadis ini demikian kaya raya!

Begitu kereta memasuki halaman, lima orang pelayan menyambut dengan penuh kegembiraan.

"Siocia pulang... Siocia pulang...!"

Kata mereka sambil memberi hormat dan cepat membantu nona itu, ada yang memegang kendali kuda, ada yang membantu Nyonya Bhe turun dari kereta.

Pada saat itu, dari dalam muncul seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang tertawa-tawa gembira.

"Koko, engkau sudah pulang?"

Giok Lan berseru girang.

"Suheng dan Suci...!"

Kwan Bu juga berseru dan memberi hormat, namun ada tidak enak dalam hatinya ketika ia melihat Suhengnya.

Teringat ia akan ucapan Kwee Cin tentang Suhengnya itu yang mengatakan bahwa Siok Lun telah menangkap lagi Siang Hwi dan hampir memperkosanya sehingga Liu Kong menolong gadis itu dan Liu Kong akhirnya tewas di tangan Suhengnya ini.

Tewasnya Liu Kong di tangan Suhengnya tidak dia perdulikan karena ia tahu bahwa Liu Kong bukan seorang manusia baik-baik, akan tetapi mendengar bahwa Suhengnya akan memperkosa Siang Hwi, benar-benar menyakitkan hatinya.

Ia akan mencari kesempatan untuk menanyakan hal itu kepada Suheng nya.

"Bagus, engkau sudah datang bersama Ibumu, Sute?"

Kata Siok Lun dan pemuda inipun bersama Liem Bi Hwa lalu memberi hormat kepada Nyonya Bhe yang dibalas oleh Ibu Kwan Bu dengan ramah.

"Ayah sedang keluar kota, sibuk mengirim undangan..."

Kata Siok Lun kepada Giok Lan.

"Undangan? Undangan untuk apa?"

Tanya Giok Lan. Siok Lun tersenyum memandang dengan lirikan ke arah Sumoinya.

"Untuk pesta pernikahan kami..."

"Ahh, koko... aku girang sekali!"

Giok Lan merangkul Bi Hwa yang menjadi merah mukanya. Mendengar ini, Kwan Bu melangkah maju dan menjura.

"Suheng dan Suci, terimalah ucapan selamat dariku!"

"Terima kasih, Sute,"

Jawab Siok Lun dan ketika Kwan Bu memandang kepada Sucinya yang berangkulan dengan Giok Lan, ia melihat sesuatu yang aneh, seolah-olah ia melihat sinar mata yang suram muram dari sepasang mata Sucinya itu.

akan tetapi tentu saja Kwan Bu tidak berkata apa-apa dan mengira bahwa dia salah lihat.

"Bibi, silakan mengaso di dalam. Ayah sedang keluar kota, mari kutunjukkan kamar Bibi!"

Kata Giok Lan sambil membimbing tangan Ibu Kwan Bu, diajak masuk ke dalam, duduk di ruangan depan bersama Siok Lun dan Bi Hwa.

"Sute, aku dan Sucimu telah diterima oleh Kaisar sendiri dan diberi kedudukan lumayan. Setelah selesai pernikahan kami di sini, kami akan kembali ke Kota Raja melakukan tugas kami. kuharap Sute dapat ikut dan mencari kedudukan di sana. Dan... kulihat... eh, tidak betulkah kataku dahulu bahwa engkau akan tertarik kalau melihat adikku? Siapa kira, malah telah berkenalan dan mejadi sahabat baik, ha-ha-ha! mudah-mudahan saja kelak cepat menyebutmu adik ipar!"

Siok Lun tertawa bergelak dan Kwan Bu yang merasa hatinya tidak senang itu terpaksa ikut tersenyum.

Bi Hwa sendiri kelihatannya pendiam dan tidak banyak bicara, bahkan beberapa kali Kwan Bu mempergoki Sucinya itu sedang memandang jauh ke depan seperti orang melamun.

Diam-diam ia merasa heran sekali.

Mengapa Sucinya yang menghadapi pernikahan dengan Suhengnya itu kelihatan tidak gembira?

Iapun ingin bertanya kepada Suheng dan Sucinya apakah untuk pernikahan itu mereka tidak minta perkenan atau doa restu lebih dahulu dari guru mereka?

akan tetapi karena urusan pribadi, ia merasa tidak enak kalau mengajukan pertanyaan di saat itu.

Tak lama kemudian Giok Lan muncul keluar dan kini gadis ini telah bertukar pakaian sehingga makin jelas tampak kecantikannya yang mempesonakan.

Akan tetapi hati Kwan Bu tetap tidak enak dan tidak senang, sungguhpun harus ia akui bahwa Giok Lan adalah gadis yang cantik sekali, cantik manis dan sepanjang pengetahuannya, memliki watak yang amat baik.

Kalau dipertimbangkan, dialah yang akan untung besar kalau sampai menjadi suami Giok Lan, akan tetapi entah bagaimana, kalau teringat kepada Siang Hwi, kegembiraannya lenyap.

Setelah melempar senyum manis kepada Kwan Bu gadis itu duduk, ia menghela napas panjang dan berkata.

"Bibi merasa senang di sini, terutama sekali ia merasa amat senang di dalam taman begitu melihat taman Bibi lalu beristirahat di sana, senang sekali Bibi melihat bunga bwee yang sedang mekar sambil minum teh."

Gadis itu tersenyum dan kelihatannya puas sekali bahwa Ibu Kwan Bu kelihatan senang dan betah berada di rumah itu. Pada saat itu tiba-tiba terdengar seruan orang dari luar.

"Bagus sekali, semua anjing jantan betina berkumpul di sini!"

Dan berkelebat bayangan orang.

Ketika mereka memandang, ternyata di luar ruangan dalam itu, di atas pekarangan depan telah berdiri seorang gadis cantik yang pakaiannya kusut, rambutnya tak tersisir rapi, wajahnya membayangkan kemurkaan dan kedukaan, tangannya memegang pedang telanjang dan sinar matanya dengan penuh kebencian dan marah yang meluap-luap ditujukan kepada empat orang muda yang sedang duduk di ruangan itu.

Betapa kaget hati Kwan Bu ketika mengenali gadis itu yang bukan lain adalah Siang Hwi!

Wajah gadis itu agak pucat dan sinar matanya yang berapi-api itu selain memancarkan cahaya kemerahan dan kebencian, juga terselimut bayangan duka yang amat dalam.

"Siang Hwi...!"

Tak terasa pula Kwan Bu berkata lirih, hanya seperti orang berbisik.

akan tetapi Giok Lan yang memperhatikannya seolah-olah mendengar jeritan keluar bersamaan dengan bisikan itu.

akan tetapi Bu Siang Hwi, gadis itu, sama sekali tidak memperdulikannya.

bahkan seolah-olah tidak melihatnya karena sinar mata gadis itu memandang ke arah Siok Lun dan Bi Hwa, kemudian ia menudingkan pedangnya ke arah dua orang itu dan membentak.

"Sepasang anjing hina! aku Bu Siang Hwi datang untuk membalas kematian Ayahku! Turunlah dan bereskan perhitungan diantara kita!"

"Nona Bu... jangan...!!"

Kwan Bu berseru dengan hati penuh kegelisahan karena dia maklum bahwa gadis ini bukanlah tandingan Suheng dan Sucinya, apalagi kalau harus menghadapi keduanya.

"Jangan begitu, nona. Ayahmu meninggal dalam perang tidak ada permusuhan pribadi dengan Suheng dan Suci..?"

"Siapa butuh keteranganmu? Kalau engkau membela Suci dan Suhengmu, kau pun boleh maju. Aku bu Siang Hwi bukanlah seorang pengecut, bukan penakut yang mudah saja tunduk kepada orang-orang lain karena takut! aku tidak takut mati! Hayo, kalian bertiga murid-murid Pat-jiu Lo-kai boleh maju semua mengeroyokku dan membuktikan nama besar Pat-jiu Lo-kai hanya nama yang kosong belaka, memiliki murid-murid yang jahat dan keji!"

"Eh-eh, engkau ini nona galak amat, datang-datang memaki orang. apa sih yang kau andalkan?"

Bentak Giok Lan dengan marah sambil menudingkan telunjuknya.

"Hemm, engkau perempuan tak tahu malu! Engkaupun boleh membela kekasihmu dan mengeroyokku, siapa takut menghadapi manusia-manusia rendah seperti anjing macam kalian ini?"

Siang Hwi membentak makin marah lagi, pedangya dikelebatkan di depan muka.

Hati Kwan Bu seperti ditusuk rasanya.

Melihat nona ini, bekas nona majikannya itu yang dahulu selalu bersih dan rapi kini rambutnya kusut pakaiannya tidak rapi dan wajahnya suram muram membayangkan kedukaan hebat, ia menjadi kasihan dan juga khawatir karena gadis ini datang menantang orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya.

Kwan Bu melihat sinar mata Suhengnya berseri dan mengeluarkan kilatan aneh ketika sinar mata itu menjelajahi seluruh tubuh Siang Hwi, sinar mata yang seolah-olah menggerayangi tubuh itu, Siok Lun sama sekali tidak keliahatan marah, malah tersenyum-senyum.

Juga Bi Hwa tidak kelihatan marah, hanya memandang tak acuh dengan sinar mata dingin.

Hanya Giok Lan yang merah mukanya saking marah.

"Bedebah kalian! Majulah atau akan kuserbu rumah ini!"

Bentak lagi Siang Hwi yang sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya.

Melihat Kwan Bu di situ, hatinya menjadi makin marah dan makin nekat, kalau tidak dapat membalas kematian Ayahnya ia ingin mati saja di tangan musuh-musuh besarnya di saat itu juga!

Seorang laki-laki tinggi besar berpakaian mewah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, berusia lima puluh tahun, melangkah lebar dari luar dan segera bertanya.

suaranya nyaring dan besar.

"Ah, ada apakah ribut-ribut ini?"

Semua mata memandang dan Kwan Bu melihat betapa kakek itu berwajah gagah dan tampan, memandang kepadanya dan kepada Siang Hwi yang tak dikenalnya.

"Ayah, bocah setan ini datang untuk membikin ribut. Dia ini anak seorang pemberontak!"

Kata Giok Lan.

"Harap Ayah masuk saja karena urusan ini tidak menyangkut Ayah. Biarlah aku bereskan gadis galak ini. Ibu Sute telah datang dan dia ini Suteku. Harap Ayah menemani Ibu Sute dan sebentar lagi kami akan dapat membereskan urusan dengan bocah galak ini!"

Kata Siok Lun. Kakek itu memandang kepada Kwan Bu, mengangguk-angguk kemudian dengan melangkah masuk ke dalam sambil mengomel.

"Kalau dia datang mengacau, lempar saja keluar!"

Kwan Bu tidak mendapat kesempatan untuk memberi hormat.

Melihat kakek itu, ia merasa kagum dan suka karena pribadinya membayangkan kegagahan, akan tetapi mendengar ucapannya ketika hendak memasuki rumah, timbul rasa tidak sukanya.

Namun, ia tidak memperdulikannya lagi karena saat ini seluruh perhatiannya tertarik kepada Siang Hwi.

"Nona Bu, harap nona suka berpikir secara mendalam. Sesungguhnya diantara mendiang Ayahmu dan Suheng serta Suciku tidak terdapat permusuhan apa-apa. Ayahmu tewas dalam perang, tidak ada yang harus disesalkan. Memang benar terbunuh oleh Suheng dan Suci, akan tetapi dalam perundingan yang menyebabkan perang. bukan urusan pribadi""

"Tak usah banya mulut! Urusanku sendiri engkau tidak berhak mencampuri! Pendeknya, saat ini aku harus membunuh atau terbunuh dan sepasang anjing ini adalah musuh-musuh besarku. Hayol aku tantang kalian dan kalau ada yang hendak membantu kalian, majulah tak perlu banyak cerewet lagi!"

"Ah, kau galak dan jahat seperti setan!"

Giok Lan sudah membentak dan menerjang maju pedangnya. Siang Hwi menangkis dengan kuat.

"Trangggg...!!"

Dua buah pedang bertemu dengan kekuatan seimbang dan keduanya terhuyung ke belakang.

"Wah, engkau kuda betina yang liar dan menggairahkan hati!"

Tiba-tiba Siok Lun meloncat maju dan ucapannya ini memancing sebuah jerit tertahan dari mulut Bi Hwa yang tidak lepas dari perhatian Kwan Bu.

Pemuda ini sudah siap-siap untuk melindungi Siang Hwi, akan tetapi dia merasa sungkan sehingga sejenak ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Adapun Siang Hwi ketika melihat berkelebatnya tubuh pemuda yang selain telah membunuh Ayahnya juga yang hampir saja memperkosanya, dan yang membunuh Liu Kong, cepat menggerakkan pedangnya menusuk.

Namun sambil terkekeh Siok Lun mengelak ke samping dan tangannya mencengkeram dari samping dengan cepat sekali.

Siang Hwi mengelak dan mengelebatkan pedangnya, akan tetapi tangan yang cepat itu telah ditarik kembali dan tahu-tahu telah mengelus dagunya yang halus.

"Kau...!!"

Bi Hwa merintih perlahan dan memejamkan mata, hatinya seperti ditusuk.

"Bangsat terkutuk!"

Siang Hwi menjadi marah sekali dan pedangnya mengamuk laksana seekor naga bermain di angkasa.

Namun tingkat ilmu kepandaian Siok Lun jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sehingga dengan mudah pemuda ini menghindarkan diri dari setiap bacokan maupun tusukan, dan agaknya memang Siok Lun hendak mempermainkan gadis ini karena tangannya selalu mencolek dan meraba.

Beberapa kali hampir saja dada gadis itu dapat dicengkeramnya sehingga disamping kemarahannya.

Siang Hwi menjadi malu dan merasa terhina.

Ingin ia menangis dan menggorok lehernya sendiri, akan tetapi kalau teringat akan sakit hatinya, ia membulatkan tekad untuk menyerang sampai mati.

"Nona manis, kau cantik dan galak, jangan main-main dengan pedang!"

Kata Siok Lun yang karena tergila-gila kepada Siang Hwi, sampai lupa diri dan lupa bahwa semua tingkah lakunya dan ucapannya dilihat dan didengar oleh Bi Hwa, Siang Hwi menusuk dadanya, Siok Lun sengaja memperlambat elakkannya sehingga pedang itu seolah-olah menancap di tubuhnya, akan tetapi sesungguhnya ia mengempit pedang itu di bawah ketiaknya dan sebelum Siang Hwi sadar, pergelangan tangannya yang memegang pedang telah tertangkap.

(Lanjut ke

Jilid 13) Dendam Si Anak Haram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Ha-ha, nona manis, kau hendak berbuat apa sekarang!"

Cengkeraman pada pergelangan tangan itu amat kuat sehingga pedang itu terlepas dan tangan Siok Lun diulur ke arah dada.

"Suheng jangan...!!"

Kwan Bu membentak marah. Siok Lun menarik tangannya dan menengok.

"Sute."

Katanya tersenyum.

"Apakah engkau hendak membela nona pemberontak ini?"

Pada saat itu terdengar jerit melengking dari sebelah dalam rumah. Kwan Bu terkejut dan merasa bulu tengkuknya berdiri karena ia mengenal jeritan itu seperti suara Ibunya.

"lbu...!!"

Teriaknya dan tubuhnya mencelat ke dalam.

Juga yang lain-lain terkejut.

Siok Lun sendiri melepaskan Siang Hwi dan hampir berbareng dengan Bi Hwa iapun lari ke dalam, diikuti Giok Lan.

Siang Hwi yang ditinggal sendiri, sejenak termenung, wajahnya masih pucat sekali dan diapun lalu menyambar pedangnya dan mengejar masuk.

Dia harus membunuh musuh-musuhnya atau terbunuh di situ juga.

Kwan Bu mempergunakan ginkangnya secepat mungkin, bagaikan terbang telah tiba di taman bunga.

Sejenak ia ternganga karena keheranan ketika melihat Ibunya menangis terisak-isak berhadapan dengan kakek gagah yang tadi masuk, yaitu Ayah dari Siok Lun dan Giok Lan.

Kakek itu terbelalak memandang Ibunya, dan kini terdengar Ibunya berkata dengan suara gemetar dan terputus-putus, telunjuknya menuding ke arah muka kakek itu.

"Kau...! Kau... kepala rampok itu... kau... manusia terkutuk... kiranya engkau pemilik rumah ini...!!"

Mendengar ini, Kwan Bu merasa seolah-olah kepalanya disambar halilintar.

Musuh besar yang selama ini dicari-carinya dengan susah payah dan belum juga berhasil ditemukannya, kiranya adalah Ayah dari Suhengnya!

Ayah dari Giok Lan.

Seketika amarah dan kebenciannya bangkit, tangan kirinya merogoh saku dan ia meloncat maju sambil membentak.

"Keparat jahanam! Terimalah pembalasanku!"

Tangannya terayun dan terdengar suara bersiut nyaring.

Kakek yang bernama Phoa Heng Gu, bekas kepala rampok yang dahulu bersama anak buahnya merampok Kwi-cun dan memperkosa Bhe Ciok Kim secara keji, terkejut dan menoleh.

Ia hanya melihat sinar hitam menyambar.

Dicobanya untuk mengelak namun terlambat karena sambitan jarum dari tangan Kwan Bu itu hebat bukan main.

Pemuda ini yang diracuni dendam, bertahun-tahun melatih diri dengan jarum itu, jarum yang membutakan mata Ibunya, jarum milik kepala rampok yang kini ia kirim kembali kepada pemiliknya.

Tanpa dapat dicegah lagi jarum itu menyambar dan menancap memasuki mata kiri Phoa Heng Su.

Kakek ini menjerit mengerikan.

Tangannya mendekap mata, tangan kanannya mencabut goloknya yang besar, lalu ia menubruk ke arah Kwan Bu.

Namun pemuda ini telah siap, mengelak ke kiri dan mengirim tendangan yang tepat mengenai lutut Phoa Heng Gu sehingga kakek ini terpelanting roboh dan goloknya terlepas dari tangannya.

Dengan kemarahan meluap Kwan Bu menghampiri kakek itu, menyambar goloknya dan mengangkat golok itu untuk dibacokkan ke arah kepala si kakek yang ternyata adalah musuh besarnya.

"Kwan Bu... jangan...!!"

Ciok Kim menjerit sehingga Kwan Bu terkejut, lalu menghampiri Ibunya dan berlutut karena melihat Ibunya tiba-tiba roboh lemas.

Pada saat itu, Siok Lun dan Bi Hwa serta Giok Lan telah tiba di tempat itu.

Melihat Ayah mereka roboh dan berkelojotan dengan muka berlumuran darah, Siok Lun dan Giok Lan menubruk dengan hati terkejut sekali.

"Ayah"!!"

Teriak mereka.

Siok Lun lalu mengangkat kepala Ayahnya dan melihat mata kiri Ayahnya berlumur darah, ia makin kaget.

apalagi ketika melihat gagang sebatang jarum sedikit menyembul keluar dari rongga mata, jarum milik Ayahnya sendiri "Ayah, apa yang terjadi...?

Siapa yang melakukan ini?"

Bentaknya dengan suara saking marahnya. adapun Giok Lan hanya menangis dan merintih.

"Ayah"

Ayah...!"

Akan tetapi kakek yang berkelojotan menahan menahan nyeri itu mengangkat tangan ke atas seolah-olah melarang puteranya melakukan sesuatu. dan pada saat itu terdengar suara Kwan Bu.

"Ibu, mengapa Ibu menahanku...?"

"Kwan Bu, engkau tidak boleh... dia... dia... kepala perampok jahanam itu... dia itu adalah... Ayah kandungmu sendiri...!"

Nyonya itu tak dapat melanjutkan ucapannya karena sudah menangis tersedu-sedu, menangis kemudian disusul suara ketawanya terkekeh-kekeh sambil menudingkan telunjuknya ke arah kakek yang sekarat itu.

"Heh-heh-heh... anakmu sendiri yang membalas...! Ingatkah kau akan sumpahku dahulu...? aku akan membalasmu, dalam keadaan hidup ataupun mati..."

Kwan Bu seperti dipagut ular berbisa.

Ia meloncat ke belakang menjauhi Ibunya, memandang dengan mata terbelalak.

kemudian perlahan-lahan ia menoleh ke arah kakek itu seperti orang kehilangan ingatannya.

Kakek itu, Ayah Giok Lan, musuh besarnya, perampok yang membunuh keluarga Ibunya...

dia itu Ayahnya sendiri?

Betapa mungkin ini...?

adapun Siok Lun yang terkejut, bingung dan marah itu melihat betapa luka di mata Ayahnya amat parah dan berbahaya.

Jarum itu panjang dan telah menancap sampai hampir tak tampak.

Hal ini amat berbahaya karena jarum itu tentu menembus ke otak!

"Ayah!

apa artinya ini?

Siapa yang melakukan ini?

Kwan Bu kah?

Biar kubunuh dia...!!"

Akan tetapi kakek itu memegangi pundak Siok Lun, kemudian memaksa diri bangkit duduk, kemudian merangkul Siok Lun dan Giok Lan.

mukanya penuh darah, keadaannya amat mengerikan, mata kanannya kini terbelalak dan menjendul keluar.

Dia menggoyang-goyang kepalanya.

"Jangan! Memang ini perbuatanku yang penuh dosa. Dengar baik-baik Siok Lun dan Giok Lan. kalian lihat wanita itu? Dia dahulu seorang gadis cantik jelita, puteri seorang kepala kampung dusun Kwi-cun, Dan aku, Ayahmu ini yang sekarang menjadi Phoa wangwe... ha-ha-ha! Phoa-wangwe... aku dahulu adalah seorang kepala rampok. Semenjak Ibumu meninggal dunia karena sakit. Aku seperti gila, aku meninggalkan engkau. Siok Lun, puteraku satu-satunya kepada Bibimu dan aku... aku merantau, aku merampok dusun Kwi-Cun, membakar habis, membasmi keluarga lurah, memperkosa wanita itu... dan dengan jarum yang menancap di mataku ini aku membikin buta sebelah matanya! Kemudian aku kawin lagi, mendapat seorang puteri, engkau Giok Lan... akan tetapi Ibumu mati. Dasar nasibku yang buruk. karena perbuatan-perbutanku yang penuh dosa, sekarang wanita yang kubunuh semua keluarganya, yang kuperkosa dan kubutakan matanya. datang ke sini membawa puteranya... puteraku pula sebagai akibat dari perbuatanku memperkosanya... dan puteraku sendiri ini yang membalas dendam kepadaku, mengembalikan jarumku pada mataku! Ha-ha-ha... memang adil dan patut sekali... eh, kau... wanita yang keras hati, aku kagum sekali padamu. siapa namamu?"

Kwan Bu terbelalak memandang kakek yang tadi diserangnya.

Kini ia baru tahu akan riwayatnya.

Pantas dia dimaki anak haram!

Dan pada kenyataanya memang dia adalah seorang anak haram!

Ibunya melahirkannya tanpa Ayah.

Dia adalah hasil dari sebuah perbuatan maksiat yang paling keji.

Pria yang menjadi Ayahnya itu, Ayah tak resmi, Ayah yang telah memperkosa Ibunya.

Dan dia dididik oleh Ibunya untuk membalas dendam, untuk membunuh musuh besar yang sesungguhnya adalah Ayah sendiri!

Ah, baru terbuka matanya kini.

Baru ia mengerti mengapa dahulu Bu Taihiap tidak suka mengajar silat kepadanya.

Kiranya pendekar besar yang bijaksana itu sudah tahu, dan tidak suka melihat dia membalas dendam kepada Ayahnya sendiri, betapapun jahatnya Ayah itu!

Karena bengong terlongong, Kwan Bu kurang waspada bahkan membelakangi Ibunya.

"Aku Bhe Ciok Kim, setelah berhasil membalas dendam, bersedia untuk mati! Hidup pun tidak ada gunanya lagi bagiku..."

Kwan Bu terkejut dan menengok, namun terlambat.

Ibunya telah memungut golok milik Phoa Heng Gu yang tadi dibawa Kwan Bu dan diletakkan dekat Ibunya dan ketika pemuda ini tadi berlutut dekat Ibunya dan ketika terkejut mendengar pengakuan Ibunya, ia meloncat mundur, lupa membawa goloknya.

kini Ibunya memungut golok itu dan menancapkan golok di perutnya sendiri.

Golok yang tajam itu amblas ke perut sampai ke ujungnya menembus punggung!

"Ibu...!

Kwan Bu meloncat dan menubruk Ibunya, namun, melihat betapa luka Ibunya tak mungkin dapat ditolong lagi, ia hanya dapat memeluk sambil menjatuhkan air mata, terisak-isak dan menyebut-nyebut nama Ibunya.

Terdengar suara ketawa serak.

"Ha-ha-ha, Bhe Ciok Kim..! Hutangku kepadamu didunia telah terbayar lunas! Akan tetapi masih ada hutangku di akhirat, terhadap keluargamu dan terhadap banyak orang lain, Marilah... marilah kita bersama menghadap pengadilan di akhirat... agar segera selesai pengadilannya dan dapat ditentukan hukuman bagiku... ha-ha-ha!"

Agaknya karena jarum itu melukai otak, maka kakek ini menjadi seperti orang gila.

Tiba-tiba ia berkelojotan dan menghembuskan napas terakhir, hampir berbareng dengan Bhe Ciok Kim yang juga tewas dalam pelukan puteranya.

Sementara itu, Siang Hwi yang tadinya marah sekali dan hendak menentang musuh-musuhya sampai mati, kini berdiri terlongong dengan muka pucat.

Peristiwa yang didengar dan dilihatnya terlampau hebat dan diam-diam ia memandang kepada Kwan Bu dengan hati penuh rasa iba.

Alangkah hebat penderitaan batin pemuda itu.

Kini ia pun tahu akan segala persoalannya, Dibandingkan dengan penderitaan batin Kwan Bu, yang dendamnya setinggi gunung sedalam lautan, dendam yang tanpa disadarinya telah ditujukan kepada Ayah kandungnya sendiri, dan kini berhasil pula membunuh musuh besarnya, membunuh Ayah kandungnya, dibandingkan dengan itu semua dendamnya sendiri atas kematian Ayahnya tidak ada artinya sama sekali!

Ayahnya telah berpihak kepada pejuang, dan dua orang murid Pat-Jiu Lo-Koai itu berpihak kepada Kaisar, Kematian Ayahnya adalah kematian wajar seorang pejuang, tewas dalam pertempuran, bukan karena urusan pribadi, tepat seperti yang dikatakan Kwan Bu.

Berpikir demikian, rasa dendamnya menipis, kedukaannya lenyap melihat kedukaan hebat yang menimpa diri Kwan Bu, Alangkah hebat penderitaan batin Kwan Bu di saat itu, dapat ia maklumi.

Melihat mayat Ayah kandung yang dibunuhnya sendiri, melihat Ibunya menggeletak tak bernyawa karena bunuh diri di depan matanya, benar-benar merupakan pengalaman hebat yang tiada taranya didunia ini.

Perlahan-lahan Kwan Bu bangkit berdiri, dan demikian pula Siok Lun, Dua orang muda ini berdiri dan saling memandang, wajah mereka pucat dan lengan serta dada mereka penuh darah Ayah dan Ibu masing-masing.

Kalau pandang mata Kwan Bu lesu dan suram seperti kehilangan semangat, adalah pandang mata Siok Lun penuh hawa amarah yang seolah-olah membuat dadanya hampir meledak.

"Kwan Bu engkau membunuh Ayahku..."

Akhirnya keluar suara dari mulut Siok Lun agak mendesis.

Kwan Bu mengangguk.

Dadanya seperti ditindih gunung sehingga sukar baginya untuk bicara.

Ia memaksa diri untuk berbicara dan terdengar suaranya lemah dan lesu, suara seorang yang sudah kehilangan, gairah hidup.

"Benar, aku telah membunuh dan kalau Suheng tidak terima dan hendak menuntut balas, silakan. Mari kita keluar."

Suaranya sama sekali tidak mengandung tantangan, melainkan lebih mengandung penyerahan dari seorang yang sudah putus asa, putus harapan karena tidak melihat lagi kegairahan hidup.

Dia benar-benar seorang anak haram yang hina dan tercela!

Kehilangan hatinya kepada Siang Hwi yang menghinanya, kemudian muncul Giok Lan yang merupakan pelita yang akan dapat menerangi hatinya yang gelap, akan tetapi ternyata bahwa Giok Lan adalah saudaranya sendiri, adik tirinya, satu Ayah lain Ibu!

Dan yang lebih hebat daripada semuanya, ia telah membunuh Ayah kandungnya sendiri.

Apalagi yang diharapkan dalam hidup ini?

Dengan langkah tenang akan tetapi tubuh dan semangat lemas ia keluar tanpa menengok lagi, Kemudian, sebaliknya di pekarangan luar, ia berdiri menanti Siok Lun dengan pandang mata sayu dan muka muram.

Siok Lun mengejar keluar diikuti oleh Giok Lan yang menangis terisak-isak dan oleh Bi Hwa yang mengerutkan keningnya.

Gadis ini ikut menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan dalam menghadapi peristiwa mengerikan dan menyedihkan ini.

Juga timbul ketidakpuasaan di dalam hatinya mendengar bahwa Ayah Suhengnya yang akan menjadi suaminya itu adalah seorang bekas perampok yang telah melakukan perbuatan-perbuatan sedemikian kejinya terhadap Ibu Kwan Bu.

Memang tadinya ia pun sudah kecewa setelah mengenal watak calon suaminya yang mata keranjang dan pelahap wanita.

Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?

Ia telah terperosok, terjebak oleh nafsunya sendiri, telah menyerahkan diri kepada Siok Lun.

Dia tidak dapat mundur lagi dan terpaksa harus menerima pemuda yang telah memiliki tubuhnya itu sebagai suami, sungguhpun rasa kasih sayangnya telah menipis, bahkan menghilang oleh kenyataan betapa watak calon suaminya ini amatlah kotornya.

Kini dltambah kenyataan tentang Ayah Siok Lun, benar-benar hati Bi Hwa menjadi berduka, kecewa dan juga bingung.

Adapun Siang Hwi yang menyaksikan itu semua, bagaikan sebuah bayangan ikut pula lari keluar dan kini berdiri di pinggiran dengan pedang tetap di tangan, memandang kepada Kwan Bu.

Kini pandang matanya terhadap Kwan Bu sudah banyak berubah, lenyap sinar kebencian dan kecurigaan karena ia sudah tahu akan segala keadaan pemuda itu, kini terganti oleh sinar mata yang mengandung rasa kasihan.

"Kau... kau bedebahl Kau harus mengganti nyawa Ayah!"

Berseru keras lalu maju menubruk, memukul ke arah dada Kwan Bu, Kwan Bu hanya memandang tanpa berkedip, tidak menangkis. juga tidak mengelak, menerima hantaman itu dengan mata terbuka.

"Desss....!"

Tubuh Kwan Bu terjengkang ke belakang, dadanya serasa pecah, napasnya sesak dan ia bangkit berdiri, wajahnya pucat sekali.

Dia telah mengerahkan sinkang untuk menerima pukulan itu, namun pukulan Suhengnya amatlah hebatnya sehingga biarpun ia tidak terluka hebat di sebelah dalam dadanya, tetap saja ia merasa nyeri yang menusuk-nusuk rongga dada.

"Kau..., kau tidak membalas? Bagus... kalau begitu mampuslah!"

Siok Lun mencabut pedangnya.

"Koko, jangan..."

Giok Lan maju dan memeluk lengan kakaknya sambil menangis.

"Moi-moi, mengapa kau menghalangiku? Dia musuh besar kita! Dia membunuh Ayah kita! Pergilah!"

Akan tetapi Giok Lan tidak melepaskan pelukannya dan kini berkata dengan suara gemetar.

"Koko, ingatlah. Dia adalah saudara kita sendiri! Dia adalah kakakku, dia adikmu! Dia adalah putera Ayah juga! Lupakah engkau akan pengakuan Ayah tadi? Biarpun dia Ayah kita sendiri, akan tetapi kita harus tidak menutup mata terhadap perbuatannya yang keji, Ayah telah membunuh semua keluarga Ibunya, telah memperkosanya dan membutakan mata Ibunya. Kita sudah tahu betapa dia selalu mencari musuh besarnya, tidak disadari bahwa musuhnya adalah Ayahnya sendiri, Ketika mendengar suara Ibunya dan mendengar bahwa Ayah kita adalah musuh besarnya, dia menyerangnya dengan jarum, tepat seperti dahulu Ayah menyerang dan membutakan mata Ibunya! Ayah kita yang bersalah!"

Siok Lun mulai meragu dan mulutnya yang cemberut, hanya mengeluarkan suara.

"Hemm... hemm!"

"Kalau kau memaksa hendak membunuhnya, apa lagi dia sama sekali tidak melawan, berarti engkau menambah dosa Ayah dan aku..., aku akan terpaksa melawanmu, koko, Biar aku mati sekalian ditanganmu...,!"

Giok Lan menangis tersedu-sedu. Siok Lun menghela napas, memandang kepada Kwan Bu yang menundukkan muka, kemudian Siok Lun berkata.

"Kwan Bu adalah Suteku, dan ternyata adikku sendiri, Kau benar, Lan-moi, dia membunuh Ayah karena tidak tahu. Dan Ayah... ah, salah siapakah ini? salah siapa?"

Ia menghela napas dan menyarungkan pedangnya kembali.

"Sute, aku tidak membunuhmu, Kau adikku sendiri, Akan tetapi, salah siapakah ini?"

"Salah Ayah kita!"

Jawab Kwan Bu, suaranya tegas.

"Ya, salah Ayah kita. Ah... tidak! Salah dia semua ini!"

Tiba-tiba ia menuding ke arah Siang Hwi yang berdiri di pinggiran.

"Salah wanita keparat ini! kalau dia tidak datang mengacau, tentu Ayah kita tidak mati, tentu tidak terjadi semua ini. Gadis ini yang salah, dan aku harus meghukum dia! Dia anak pemberontak, dia yang menyebabkan kematian Ayah dan kematian Ibumu!"

Tiba-tiba saja Siok Lun berkelebat maju ke arah Siang Hwi.

"Suheng...!"

Teriak Kwan Bu.

"Koko, jangan...!"

Teriak Giok Lan.

Siang Hwi menusukan pedangnya, akan tetapi dengan sebuah tangkisan pedang itu terpental dan di lain detik Siok Lun telah memondong tubuh Siang Hwi yang menjadi lemas karena telah ditotoknya secepat kilat.

"Aku harus menghukum dia...., ha-ha-ha, harus menghukum kuda liar ini!"

Seperti orang gila Siok Lun menciumi muka Siang Hwi dan membawanya lari memasuki rumahnya.

Kejadian ini amat tidak terduga-duga dan terjadi cepat sekali sehingga yang lain-lain sejenak melongo, akan tetapi kemudian Kwan Bu mengeluarkan suara gerangan aneh dan tubuhnya berkelebat memasuki rumah lagi, melakukan pengejaran, Giok Lan menjerit dan mengejar pula.

Bi Hwa menjadi pucat mukanya, menggigit Bibirnya sampai berdarah kemudian ia pun lari mengejar mereka.

Pintu kamar itu tertutup dari dalam, Biarpun Kwan Bu menggedor-gedornya, tetapi tidak dibuka karena sudah dipalang dari dalam.

"Suheng! Bukalah! Suheng, aku tidak akan membiarkan kau melakukan perbuatan terkutuk!"

Bentak Kwan Bu sambil menggedor pintu kamar, Ia mengharapkan Suhengnya atau juga kakak tirinya sadar dan membuka pintu, Namun Siok Lun tidak membuka pintu.

"Braakkkkl"

Daun pintu itu pecah berantakan ketika diterjang oleh Bi Hwa, Gadis ini tidak mengeluarkan suara, akan tetapi pandang matanya beringas, berkilat-kilat dan mukanya pucat sekali sehingga darah yang keluar dari luka di Bibir bawahnya yang ia gigit sendiri tampak nyata.

Siok Lun membalikkan tubuhnya sambil menyeringai memandang Kwan Bu dan Bi Hwa yang berada di ambang pintu.

Tubuh Siang Hwi yang lemas menggeletak di atas pembaringan, matanya terbelalak.

Siok Lun yang tadinya menelungkup memeluk gadis itu kini membalikkan tubuh, napasnya terengah-engah, pandang matanya seperti pandang mata seekor anjing yang sedang makan tulang lalu diganggu.

Beringas dan penuh ancaman.

"Tak boleh seorang pun mencampuri urusanku ini! aku hendak menghukumnya, aku hendak membalas kematian Ayah! Yang menghalangi akan kubunuh?"

"Suheng, kalau begitu, aku bersedia kau bunuh karena aku akan menghalangi perbuatanmu yang terkutuk ini!"

Jawab Kwan Bu.

Kini suaranya sudah berubah tidak seperti tadi, melainkan penuh tantangan.

Kini ada sesuatu yang mendatangkan kembali gairah hidupnya, yaitu melindungi Siang Hwi daripada bahaya mengerikan.

Kini ia harus hidup untuk menolong dan melindungi gadis yang dicintainya itu.

"Kau? Kau Suteku dan adikku sendiri? Ha, benar-benar kau sudah bosan hidup! Mari kita selesaikan urusan ini kalau memang kau ingin sekali mati di tanganku!"

Berkata demikian, Siok Lun mencabut pedangnya.

"Aku menanti di Iuar!"

Kata Kwan Bu sambil berlari keluar.

Siok Lun mengejar keluar dan Bi Hwa Juga keluar tanpa mengeluarkan kata-kala, Giok Lan yang menjadi bingung itu segera menghampiri Siang Hwi dan berusaha membebaskan totokan kakaknya yang hampir membuat gadis itu lumpuh.

"Cabut pedangmu l"

Siok Lun menantang, Kwan Bu tersenyum dingin, Kakak tirinya atau bukan, Suhengnya atau bukan, sudah menjadi kewajibannya untuk menentang orang ini.

Kalau tidak, tentu ia malu menjadi murid gurunya.

Ia lalu melepaskan pedang yang dikaitkan sebagai ikat pinggangnya, tampak sinar merah dan suara Kwan Bu terdengar berwibawa.

"Phoa Siak Lun, berlututlah! Aku mewakili Suhu untuk menangkap kau sebagai seorang murid durhaka dan menyerahkan kepada Suhu!"

Siok Lun dan Bi Hwa memandang pedang itu, terkejut bukan main.

"Toat-Beng-Kiam...!"

Hampir berbareng Siok Lun dan Bi Hwa berseru ketika mereka mengenal pedang itu.

"Kau... kau dari mana mendapatkan pedang itu? Kau curi dari tangan Suhu?"

Tanya Siok Lun. Akan tetapi Bi Hwa sudah menjatuhkan diri berlutut sebagai tanda penghormatan kepada pedang itu yang mewakili kehadiran Suhunya.

"Phoa Siok Lun, kau sungguh murtad. Setelah melihat pedang pusaka ini, kau masih belum bertutut? Aku menjadi wakil Suhu, berhak menghukum setiap orang murid yang menyeleweng, Akan tetapi aku tidak mau membunuhmu, hanya hendak membawamu kepada Suhu. Menyerahlah dan lepaskan pedangmu,"

"Ha-ha-ha-ha! Kau mimpi! Kwan Bu, kau... bocah haram! Meskipun kau anak Ayah tetapi kau terlahir dari hubungan gelap, Siapa takut padamu? Biarpun Suhu sendiri yang menghalangi urusanku dengan anak pemberontak itu, dia tidak berhak, Apa lagi kau!"

"Phoa Siak Lun! Sekali lagi, apakah kau tidak mau menyerah?"

Kwan Bu berkata dengan suara nyaring.

"Suheng, jangan melawan! Engkau sudah menyeleweng, mengaku dan menyerahlah, tentu Suhu akan mengampuni dosamu!"

Tiba-tiba Bi Hwa yang semenjak tadi dia saja berkata sambil berlutut.

"Apa? Siapa menyeleweng? Aku suka kepada nona Bu puteri pemberontak itu, siapa perduli? Aku hendak menghukumnya menurut caraku, siapa akan menghalangiku? Bi Hwa, engkau menyebut Suheng lagi kepadaku, apakah engkau tidak mau mengakui aku sebagai calon suamimu? Jangan kau membela bocah kurang ajar ini! ingat, kalau aku tidak mau mengambilmu sebagai isteri, siapa lagi yang sudi? Kau bukan perawan lagi! Dan kau tidak boleh cemburu, kalau menjadi isteriku, apapun yang akan kulakukan, kau harus patuh, Mengerti??"

Muka Bi Hwa menjadi pucat sekali dan ia seperti habis ditampar mukanya, Kwan Bu makin marah.

"Phoa Siok Lun, engkau sungguh seorang murid yang sesat. seorang manusia yang berhati busuk..!"

"Cerewet!"

Siok Lun membentak dan menerjang maju, menyerang Kwan Bu dengan pedangnya, Kwan Bu sudah siap sedia, cepat ia menggunakan pedang Toat-Beng-Kiam sehingga tampak sinar merah darah yang menyilaukan mata.

Namun Siok Lun adalah seorang sombong dan percaya kepada kelihaiannya sendiri.

Dia tidak gentar dan cepat menarik kembali pedangnya yang hendak ditangkis, kemudian merobah gerakan yang tadi membacok leher itu dengan sebuah tusukan kilat ke arah perut Kwan Bu disusul sebuah sodokan dengan jari tangan terbuka yang menyambar dari kiri menuju pelipis lawan.

Hebat bukan main gerakan Siok Lun, selain cepat sekali juga mengandung hawa pukulan yang kuat.

Kwan Bu bersikap tenang.

Tentu saja ia mengenal jurus yang dipergunakan Suhengnya untuk menangkis.

kemudian memutar tubuhnya dan pedang yang terpental karena benturan itu kini membabat ke atas "Memotong"

Jalan penyerangan tangan kiri Siok Lun.

Siok Lun berseru marah.

Ia tadi cepat-cepat menarik lagi pedangnya karena ia masih ragu-ragu dan jerih untuk mengadu pedang keras-keras, Maklum bahwa pedang Suhunya itu adalah pedang pusaka yang amat ampuh.

Dengan kemarahan meluap ia kini menyeruduk maju seperti seekor harimau kelaparan, menyerang dengan ketebalan pedangnya, amat cepat gerakannya untuk menghimpit dan mendesak Kwan Bu sehingga Sutenya itu tidak akan mendapat kesempatan untuk balas menyerangnya, Kwan Bu sudah mengenal Suhengnya ini, bahwa gerakan Suhengnya amat cepat, bahwa ginkang Suhengnya amat tinggi, Ketika belajar di bawah pimpinan Pat-Jiu Lo-Koai dahulu, dalam latihan-latihan mereka, ia hanya dapat mengimbangi ginkang dari Suhengnya ini, namun dalam hal kecepatan, ia masih kalah seusap.

Selain ini, juga Suhengnya itu pandai sekali menciptakan gerakan-gerakan memancing, gerakan-gerakan palsu yang membingungkan lawan.

Jurus-jurus yang mereka pelajari, namun dalam penggunaannya Siok Lun pandai menambah gerakan variasi yang mengkombinasikan sebuah jurus dengan jurus berikutnya.

Namun, Pat-Jiu Lo-Koai dapat mengenal murid-muridnya dan kakek ini lebih condong untuk mengangkat Kwan Bu menjadi wakilnya, bukan hanya karena ia lebih percaya akan batin muridnya ini, melainkan juga karena ia tahu bahwa Kwan Bu memiliki ketenangan yang luar biasa, Dan ketenangan inilah yang mengatasi segala kelebihan Siok Lun, Dalam keadaan tenang dan waspada, Kwan Bu tidak dapat diperdaya oleh segala gerak tipu, dan kini ditambah lagi dengan keunggulan pedang pusaka Toat-Beng-Kiam, Siok Lun sama sekali tidak mampu mendesak Sutenya.

Andaikata mereka bertanding dengan dasar pamrih yang sama, yaitu untuk saling membunuh, Kiranya Siok Lun takkan dapat bertahan jika Kwan Bu mendesaknya dengan balasan serangan maut, Akan tetapi, Kwan Bu tidak bermaksud membunuh Suhengnya.

sungguhpun ia berhak melakukan hal ini sebagai wakil Suhunya, dan sungguhpun ia amat membenci perbuatan-perbuatan Siok Lun yang tidak patut terhadap Siang Hwi, Ia tidak tega untuk membunuh Siok Lun, selain karena mereka merupakan saudara seperguruan yang semenjak kecil berkumpul di gunung, juga di tambah lagi kenyataan bahwa mereka masih seayah, masih saudara seketurunan!

Karena inilah, maka agak sukar bagi Kwan Bu untuk menundukkan Suhengnya ini tanpa membunuhnya.

Baca Juga: Pedang Ular Merah 6

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert