Eps 1 Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo.
Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo.
Jilid 01.
Musim dingin baru tiba.
Bunga-bunga salju kecil ringan bagaikan kapas melayang-layang turun dari langit, bertebaran menutupi segala benda di permukaan bumi.
Di mana-mana tampak putih, putih bersih menyedapkan penglihatan.
Biasanya, pada awal musim salju, segalanya tampak indah.
Warna keputih-putihan yang bersih itu diselingi warna totol-totol hitam dari benda berwarna yang luput dari tutupan salju, bagaikan hiasan di atas dasar putih, tampak indah sekali.
Tentu saja, seperti sudah menjadi watak manusia, segala yang pada mulanya tampak indah itu tidak berlangsung selamanya.
Segala sesuatu di dalam dunia ini hanya pada mulanya saja dapat dinikmati manusia.
Pemandangan indah itu dalam waktu yang tidak lama akan terlihat membosankan, menjemukan dan tidak lagi menyenangkan.
Hawa udara yang tadinya terasa sejuk segar akan segera terasa dingin menusuk tulang.
Dinginnya hawa udara memang amat menusuk, terutama di puncak bukit Heng-san yang menjulang tinggi.
Semua pohon di hutan-hutan yang memenuhi bukit itu, yang biasanya kaya dengan warna hijau daun-daun, kini tertumpuk salju.
Daun-daun hijau telah rontok meninggalkan cabang-cabang dan ranting-ranting gundul yang kini telah dicat putih oleh salju.
Jarang tampak binatang hutan yang dahulunya banyak.
Entah ke mana mereka pergi bersembunyi menyelamatkan diri dari musim dingin yang terkadang terasa kejam bagi mereka itu.
Keadaan di bukit Heng-san seakan-akan mati.
Sunyi sekali, agaknya tidak ada mahluk hidup yang berani meninggalkan tempat berlindung pada saat hawa sedingin itu.
Akan tetapi kiranya tidak demikian!
Lihat di lereng dekat puncak itu!
Dua sosok bayangan manusia sedang bergerak menuruni lereng yang amat terjal.
Ada sesuatu yang aneh.
Dua orang manusia itu bergerak demikian cepatnya menuruni lereng yang terjal dan berbahaya, menerjang hujan salju seolah-olah tidak merasa dingin.
Sepatutnya hanya sebangsa kera saja yang akan mampu bergerak sedemikian cekatan menuruni lereng yang terjal.
Apalagi setelah dua sosok bayangan itu dilihat dari dekat.
Orang akan menjadi semakin heran.
Seorang dari mereka adalah kakek berjenggot panjang.
Rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua, seperti benang-benang sutera putih, berkibar-kibar ketika dia bergerak.
Bahkan alisnya juga sudah putih semua, bukan putih oleh salju, melainkan putih uban.
Pakaiannya amat sederhana, pakaian petani dan bentuk tubuhnya yang kurus itu masih tampak tegak dan kuat walaupun usianya tentu sudah mencapai tujuhpuluh tahun lebih.
Adapun orang kedua juga menimbulkan keheranan bagi yang melihat mereka tadi menuruni lereng yang terjal itu.
Orang kedua ini ternyata seorang gadis muda yang usianya paling banyak baru delapanbelas tahun.
Rambutnya hitam tebal dikepang menjadi dua kuncir panjang tebal yang bergantungan di kanan kiri lehernya, panjang sampai ke punggung.
Mengherankan memang melihat seorang kakek tua dan seorang gadis muda bergerak demikian cekatan dan lincah melalui tebing terjal dalam hujan salju yang mendatangkan hawa dingin menyusup tulang.
Dan keduanya kini melangkah dengan wajah berseri dan tetap segar, sama sekali tidak tampak kelelahan maupun kedinginan.
Akan tetapi kalau orang sudah mengenal siapa mereka, tentu tidak akan merasa heran lagi.
Kakek itu adalah seorang yang amat terkenal di dunia kang-ouw (sungai telaga) dan bu-lim (rimba persilatan), bahkan para penjahat ganaspun kiranya akan cepat lari bersembunyi dengan tubuh gemetar ketakutan kalau melihat kakek itu.
Dia bukan lain adalah datuk persilatan yang dikenal dengan julukan Sin-kiam Lojin (Kakek Tua Pedang Sakti) dari Heng-san yang memiliki tingkat tinggi sekali dalam dunia persilatan.
Sin-kiam Lojin adalah seorang ahli pedang yang telah berhasil merangkai jurus-jurus ilmu pedang yang kabarnya belum pernah terkalahkan sehingga dia dijuluki Si Pedang Sakti.
Karena ilmunya yang tinggi, maka tubuhnya yang sudah tua itu amat kuat sehingga setua itu dia masih mampu bergerak menuruni lereng terjal itu dengan cepat tanpa merasa lelah dan juga tidak kedinginan walaupun diterpa hujan salju.
Adapun gadis muda itu, yang berwajah manis sekali, hanya dikenal dengan nama Bwee Hwa, adalah murid Sin-kiam Lojin.
Maka, tentu saja ia sudah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari kakek itu dan tidaklah aneh kalau ia mampu bergerak cepat tanpa kelelahan dan kedinginan.
Gadis ini cantik jelita dan tampaknya demikian lemah gemulai sehingga melihat wajah dan bentuk tubuhnya, tidak akan ada orang menyangka bahwa dalam tubuh yang indah dan sempurna lekuk lengkungnya itu terkandung kekuatan yang amat dahsyat dan ilmu silat yang amat lihai.
Wajahnya bulat telur, dengan sepasang mata yang lebar, jeli, bercahaya jernih akan tetapi terkadang dapat mencorong tajam penuh wibawa.
Hidungnya kecil mancung dan mulutnya berbentuk indah sekali.
Sepasang bibir yang selalu merah segar itu amat menggairahkan.
Tubuhnya yang padat dan indah, dengan kulit putih mulus itu mengenakan pakaian yang indah sekali, jauh berbeda jika dibandingkan pakaian Sin-kiam Lojin.
Baju dan celananya terbuat dari sutera halus berwarna merah dengan sulaman kembang kuning di sana-sini.
Ia memakai sebuah baju luar berwarna kuning emas yang berkibar-kibar di belakang, terkadang kalau terhembus angin berkembang mirip sayap lukisan bidadari.
Ketika jubah itu tersingkap, tampaklah sebatang pedang dengan sarung pedang terukir indah, tergantung di pinggang kiri.
Sepatunya memakai sol besi dan berwarna hitam mengkilap.
Bentuk tubuh dengan lekuk lengkung sempurna itu sedang saja dan tampak serasi, hanya rampingnya pinggang dan panjangnya leher dan kaki membuat ia tampak jangkung.
Guru dan murid itu berjalan cepat menuruni bukit, berjalan berdampingan tanpa bercakap-cakap.
Kakek itu tampak tenang-tenang saja, akan tetapi si dara tampak gelisah atau tidak senang, sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu berkerut.
Pandang matanya juga menunjukkan bahwa hatinya sedang murung.
Setelah menuruni lereng-lereng terjal, terkadang harus melompati jurang, akhirnya mereka tiba di kaki bukit, dan mereka berhenti di sebuah jalan simpang tiga.
Mereka saling pandang dan kakek itu berkata, suaranya besar dan penuh wibawa.
"Nah, Bwee Hwa, akhirnya tiba juga saatnya bagi kita untuk berpisah. Engkau ambillah jalan menuju ke timur ini, sedangkan aku akan mengambil jalan menuju ke barat."
"Suhu (guru)"""
Tiba-tiba sepasang mata yang jeli itu terpejam. Bwee Hwa menahan agar kedua matanya yang terasa panas itu tidak sampai menitikkan air mata.
"......mengapa suhu tidak mengijinkan teecu (murid) mengembara bersama suhu! Selama teecu belajar dan ikut suhu, belum pernah teecu dilepas seorang diri di dunia yang luas ini"""
Ucapan itu mengandung penuh permohonan. Sin-kiam Lojin mengerutkan alisnya yang putih, menatap tajam wajah muridnya penuh selidik dan kedua tangannya bertolak pinggang, sikapnya berwibawa sekali.
"Hemmmm, apa pula ini? Engkau""
Takut""?"
Melihat sikap dan mendengar ucapan suhunya, tiba-tiba Bwee Hwa mengangkat mukanya dan memandang suhunya dengan sinar mata tajam.
Kemuraman yang tadi menyelubungi wajahnya yang jelita itu lenyap seketika dan sepasang matanya bersinar-sinar, kepalanya tegak.
"Suhu! Teecu takut? Apakah teecu bukan murid suhu? Ah, teecu sama sekali tidak takut dan tentu suhu juga tahu betul akan hal ini. Akan tetapi, setelah hidup bersama suhu selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya, dan selama itu suhu telah melimpahkan budi kebaikan kepada teecu, mendidik, memelihara, berupaya dengan susah dan penuh kasih sayang untuk menjadikan teecu seperti yang suhu harap-harapkan, kini""
Suhu melepaskan teecu pergi begitu saja...."
"Muridku, memang demikianlah keadaan dalam kehidupan ini, sesuai dengan hukum alam, tiada yang kekal di dunia ini. Ada waktunya bertemu, ada waktunya berkumpul dan ada waktunya berpisah."
"Suhu benar sekali. Akan tetapi, suhu telah teecu anggap seperti orang tua sendiri dan teecu belum diberi kesempatan untuk membalas semua budi kebaikan suhu. Suhu sekarang sudah tua, teecu ingin merawat suhu dan biarkanlah teecu membalas budi sebagai seorang murid atau anak yang berbakti."
Sin-kiam Lojin menghela napas panjang, bukan karena duka, melainkan karena lega dan senang.
"Bwee Hwa, engkau tidak mengecewakan hati gurumu. Tidak sia-sia kiranya aku menculikmu dahulu dan mengambilmu sebagai murid. Akan tetapi engkau tidak usah merasa berhutang budi kepadaku, Bwee Hwa. Engkau tidak berhutang apapun kepadaku, karena akupun tidak merasa menghutangkan apa-apa kepadamu. Aku tidak merasa telah memberi apapun kepadamu dan kalau pelajaran ilmu silat itu kau anggap sebagai pemberian, akupun tidak kehilangan apa-apa. Asal engkau mempergunakan semua ilmu itu untuk membela kebenaran dan keadilan, menantang kejahatan, itu berarti engkau telah membayar segala jerih payahku mengajarimu, juga membayar segala jerih payahmu sendiri ketika mempelajari kepandaian itu. Tentang berbakti tadi.... hemm, engkau masih mempunyai orang tua, kepada merekalah engkau harus berbakti."
Ucapan ini mengingatkan Bwee Hwa akan keadaan dirinya dan ia menatap wajah gurunya.
"Teecu hampir lupa akan ayah ibu teecu. Setelah kini suhu ingatkan, harap suhu memberitahu, di mana teecu dapat menemukan mereka?"
Sin-kiam Lojin menghela napas lagi, sekali ini helaan napasnya karena dia seakan-akan merasa menyesal telah mengingatkan muridnya akan orang tuanya.
"Bwee Hwa, terus terang saja, aku sendiri tidak tahu di mana adanya orang tuamu karena mereka tidak memiliki tempat tinggal yang tetap."
Bwee Hwa mengerutkan alisnya.
"Tidak apa, suhu. Tolong suhu beritahu saja siapa nama ayah teecu karena sesungguhnya teecu telah lama lupa sama sekali akan nama ayah dan ibu."
"Nama aselinya akupun tidak tahu. Akan tetapi ayahmu terkenal dengan julukan Kauw-jiu Pek-wan (Lutung Putih Tangan Sembilan)."
Bwee Hwa merasa penasaran.
Sejak ia ikut dengan gurunya, setiap kali ia tanyakan, gurunya seolah tidak mengacuhkan pertanyaannya tentang orang tuanya dan sekarang ia menduga bahwa ayahnya yang mempunyai julukan seperti itu, tidak salah lagi tentu seorang yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai seorang ahli silat yang pandai.
"Apakah yang menjadi pekerjaan ayah, suhu?"
"Aku tidak dapat menceritakan kepadamu, Bwee Hwa,"
Sin-kiam Lojin menggeleng-geleng kepalanya.
"Pernah kuceritakan kepadamu bahwa dahulu aku menculikmu karena aku melihat engkau berbakat baik dan aku ingin mengambil engkau sebagai muridku. Ketika engkau kubawa lari, aku mendengar orang memanggilmu dengan nama Bwee Hwa. Ketika itu engkau berusia kurang lebih delapan tahun. Tentu engkau akan dapat mengenal wajah orang tuamu kalau engkau bertemu dengan mereka. Cari saja Kauw-jiu Pek-wan dan engkau tentu akan bertemu dengan ayah ibumu. Percayalah bahwa kelak kita tentu akan dapat saling berjumpa lagi. Baik-baiklah engkau menjaga dirimu dan setiap menghadapi persoalan ingatlah akan semua petuah dan nasihatku agar engkau selalu mengikuti jalan yang ditempuh para pendekar. Nah, selamat berpisah, Bwee Hwa!"
Sehabis berkata demikian, kakek itu mengebutkan lengan bajunya dan tubuhnya berkelebat ke arah barat.
Bwee Hwa menggerakkan tangannya hendak mengejar, namun ia ingat akan watak suhunya yang aneh dan keras.
Sekali suhunya mengeluarkan kata-kata, tidak akan ditarik kembali atau ditunda-tunda.
Maka iapun lalu menjatuhkan dirinya berlutut ke arah perginya Sin-kiam Lojin sebagai penghormatan terakhir.
Hatinya disentuh keharuan dan tak terasa lagi air matanya mengalir turun di sepanjang kedua pipinya.
Ia merasa betapa ia sangat mencinta dan menghormat gurunya yang ia anggap sebagai pengganti orang tuanya itu.
Ketika akhirnya ia bangkit berdiri sambil mengusap air matanya dengan ujung lengan baju, ia teringat akan ayah ibunya.
Ia lalu duduk di atas sebongkah batu besar yang berada di tepi jalan dan mengingat-ingat, mengenang masa kecilnya.
Samar-samar ia ingat bahwa ayahnya adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang mukanya penuh cambang bauk yang hitam.
Wajah ayahnya itu gagah sekali dan juga menyeramkan seperti harimau.
Yang terbayang dalam benaknya adalah bahwa suara ayahnya itu besar dan lantang, dan sepasang matanya lebar dan bundar, pandang matanya tajam.
Ia lalu mencoba untuk mengingat-ingat wajah ibunya dan terbayanglah dibenaknya wajah seorang wanita yang cantik berkulit putih dan wajahnya selalu kepucat-pucatan dengan sepasang mata yang selalu tampak sayu dan sedih.
Mengingat ibunya, hatinya kembali diliputi keharuan dan bibirnya gemetar ketika ia berbisik.
"Ibu"""
Kini ia hidup seorang diri.
Dilepas sendirian di dunia yang luas ini, ia sama sekali tidak merasa khawatir atau takut.
Ia hanya merasa kesepian.
Dulu telah beberapa kali suhunya membawa ia berkeliling dari dusun ke dusun lain sehingga ia tidak merasa terlalu asing akan keadaan dusun-dusun dan kota.
Juga di dalam buntalan pakaiannya yang tergantung di punggungnya terdapat beberapa potong uang perak pemberian suhunya untuk bekal dalam perantauannya.
Kalau ia kehabisan uang untuk biaya perjalanannya, suhunya berpesan bahwa boleh saja ia mengambil uang dari tangan para gerombolan perampok, atau dari rumah seorang pembesar yang terkenal korup, atau dari rumah seorang hartawan yang kikir dan suka menggunakan harta benda untuk berbuat sewenang-wenang.
Setelah menenangkan hatinya, Bwee Hwa lalu membenarkan letak buntalan pakaiannya, mengencangkan tali sepatu dan ikat pinggangnya, lalu berangkatlah ia menuju ke timur.
Dengan hati tabah dan tekad bulat, ia mulai dengan pengembaraannya tanpa tujuan tertentu kecuali hendak mencari orang tuanya yang hanya dikenal sebagai Kauw-jiu Pek-wan dan akan mempergunakan semua kepandaian yang telah dikuasainya untuk membela kebenaran, keadilan dan kebaikan.
Kota Ki-ciu merupakan kota yang makmur dan ramai dikunjungi para pedagang dari daerah-daerah lain.
Kota ini memiliki daerah petanian dan perkebunan yang subur dan terkenal sebagai daerah yang menghasilkan banyak buah-buahan, palawija, bahkan rempa-rempa.
Hasil bumi yang banyak itu banyak dicari para pedagang yang membawanya ke luar daerah sehingga keadaan kota Ki-ciu menjadi ramai, penduduknya mendapatkan penghasilan yang cukup sehingga kehidupan mereka lebih makmur dibandingkan penduduk kota lain yang tidak memiliki tanah sesubur di daerah Ki-ciu.
Karena keadaannya yang baik ini, makin lama kota Ki-ciu menjadi semakin besar.
Banyak pedagang menanamkan modalnya di situ, dan banyak penduduk daerah lain pindah ke daerah Ki-ciu untuk mencari nafkah.
Kotanya sendiri semakin besar.
Banyak toko-toko menjual segala macam kebutuhan.
Banyak pula rumah makan dan rumah penginapan untuk melayani para pendatang dan pedagang yang bermalam di kota itu.
Rumah-rumah besar dibangun untuk mengganti rumah-rumah butut.
Tanah di daerah Ki-ciu, terutama di dalam kota, menjadi mahal sekali.
Rumah-rumah besar dan bagus yang berderet-deret di sepanjang jalan raya kota itu menjadi lambang kemakmuran kota.
Pada suatu hari, kota Ki-ciu menjadi lebih ramai dari pada biasanya.
Orang-orang yang berlalu-lalang di jalan raya, di daerah toko-toko dan rumah-rumah besar, tampak berseri-seri, dan banyak rumah yang dihias dengan kertas-kertas berwarna, bunga-bunga dan daun-daunan.
Suasananya seperti kalau penduduk menyambut hari besar atau hari raya.
Padahal hari itu tidak merupakan hari raya.
Namun, penduduk kota Ki-ciu menyambut hari itu seperti sedang merayakan sesuatu yang menggembirakan.
Memang, sebagian besar penduduk Ki-ciu sedang bergembira, menyambut dan ikut merayakan hari ulang tahun Thio-taijin (Pembesar Thio) yang menjadi jaksa di kota Ki-ciu.
Sungguh amat mengherankan kalau penduduk menyambut gembira perayaan hari ulang tahun seorang pembesar, apa lagi seorang jaksa!
Padahal, pada waktu itu, pada umumnya rakyat membenci para pembesar yang mereka anggap sebagai penguasa yang suka menyalah-gunakan kekuasaan mereka, sewenang-wenang terhadap rakyat dan suka melakukan korupsi.
Akan tetapi, Thio-taijin terkenal sebagai seorang bangsawan dan jaksa yang adil dan jujur, dengan tegas dan adil membela kebenaran, suka membela rakyat kecil sehingga tidak mengherankan apabila dia disegani dan dicinta oleh penduduk kota Ki-ciu.
Namun, seperti lajim terjadi di bagian manapun di dunia ini, kalau ada yang diuntungkan pasti ada pula yang dirugikan.
Kalau yang diuntungkan mencinta jaksa Thio yang adil itu, pasti banyak pula yang membencinya, yaitu mereka yang merasa dirugikan oleh keadilan sang jaksa.
Yang jelas, para penjahat amat membenci Jaksa Thio karena dia tidak pernah memberi ampun kepada penjahat yang tertangkap.
Dan tidak segan menjatuhkan hukuman berat kepada para pemerkosa, perampok, pencuri, penipu dan sebagainya.
Selain para penjahat, juga banyak hartawan membencinya, yaitu para hartawan yang suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan hartanya, ingin menjadi "raja kecil", suka membeli tanah rakyat kecil dengan paksa.
Mereka ini membentur karang dan tidak berdaya menghadapi Jaksa Thio karena dalam segala perkara yang diajukan di pengadilan, Jaksa Thio bertindak tegas dan adil, memenangkan yang benar dan mengalahkan yang salah.
Para hartawan itu sama sekali tidak mampu untuk menyogok atau menyuapnya.
Bahkan yang berani coba-coba, ditindak tegas dan dihukum!
Para pembesar lain di kota Ki-ciu tidak ada yang berani banyak ulah berbuat sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya karena tentu akan ditentang Jaksa Thio.
Mereka ini "terpaksa"
Ikut menjadi baik pula.
Keadaan inilah yang menambah tenteram dan makmur para penduduk kota Ki-ciu.
Pagi itu Bwee Hwa memasuki kota Ki-ciu yang sedang dalam suasana gembira itu.
Gadis yang bagaikan seekor burung baru meninggalkan sarangnya itu merasa gembira sekali.
Ia berjalan perlahan, memandangi ke kanan kiri, memuaskan pandang matanya yang mengagumi keindahan gedung-gedung dengan cat beraneka warna dan ukir-ukiran yang menghias wuwungan atap dan tiang-tiangnya.
Bahkan ia menjadi agak bingung melihat banyaknya orang lalu lalang di atas jalan raya, di depan toko-toko bagaikan rombongan semut!
Ketika tiba di depan sebuah kuil, ia menghentikan langkahnya dan memandang dengan penuh kekaguman.
Pernah ia melihat kuil-kuil di dusun yang dilewatinya, akan tetapi tidak seperti ini.
Kuil-kuil itu kecil sederhana saja.
Akan tetapi kuil ini besar, dengan ukiran-ukiran dan tata warna indah sekali.
Di atas atapnya terdapat ukir-ukiran sepasang naga sedang memperebutkan sebuah bola mustika.
Di depan kelenteng terdapat banyak arca besar yang menggambarkan perajurit-perajurit yang gagah perkasa, arca yang besar dan megah.
Dari dalam kelenteng tampak asap mengepul keluar dan tercium bau hio (dupa) yang harum.
Kuil ini menjadi tempat pemujaan terhadap Kwan Kong atau Kwan In Tiang, seorang panglima besar, seorang tokoh yang amat terkenal akan kesaktian, kegagahan, kesetiaan dan kejujurannya dalam kisah lama Sam Kok (Tiga Negara).
Kuil ini memang terpelihara baik-baik karena Jaksa Thio adalah seorang pemuja Kwan Kong dan dia merayakan hari ulang tahunnya di kuil itu.
Jaksa inilah yang membiayai pemeliharaan kuil sehingga masih tampak terawat dan indah.
Pada saat itu, orang-orang memenuhi halaman kuil, bahkan banyak yang berdesak-desakan di jalan raya depan kuil.
Mereka berdesakan hendak melihat Jaksa Thio sekeluarga yang sedang menyalakan lilin-lilin dan hio, kemudian melakukan sembahyang di depan arca Kwan Kong yang sangat besar.
Sebetulnya, hal ini sama sekali tidak aneh dan tidak ada harganya untuk ditonton.
Apakah anehnya orang sembahyang?
Akan tetapi ada sesuatu yang amat menarik perhatian sekalian banyaknya penonton yang sebagian besar adalah laki-laki itu.
Bwee Hwa yang berada di antara mereka mendengar percakapan mereka dan segera ia tahu bahwa yang membuat orang berjubal di tempat itu adalah untuk melihat seorang gadis yang ikut melakukan sembahyang dalam keluarga dalam kuil itu.
Ia sendiri tidak mau berdesakan dan segera menjauh, lalu ia mendekati seorang wanita setengah tua yang juga ikut menonton dari kejauhan.
"Bibi yang baik, tolong tanya. Siapakah keluarga yang sedang bersembahyang di kuil itu dan kenapa begitu banyaknya orang berdesakan untuk menonton. Dan pula, suasana dalam kota ini seperti Orang-orang sedang merayakan pesta, ada perayaan apakah sebetulnya?"
Wanita setengah tua itu memandang kepada Bwee Hwa dan matanya terbelalak kagum.
Jelas bahwa ia merasa kagum sekali akan kecantikan Bwee Hwa dengan pakaiannya yang berwarna merah dan mencolok indah itu.
"Aduh, nona. Kukira Thio-siocia (Nona Thio) sendiri yang datang di depanku! Aih, engkau tidak tahu apa yang terjadi dan tidak mengenal keluarga yang sedang bersembahyang dan menjadi tontonan? Kalau begitu, mudah saja menduga bahwa engkau tentu bukan orang sini!"
"Memang benar, bibi. Akan tetapi orang-orang itu berdesakan ingin melihat gadis itu. Siapakah ia?"
"Ia adalah Thio-siocia dan engkau mirip sekali dengannya, nona. Coba lihat, sungguh mirip! Heii, kalian lihatlah, bukankah nona ini mirip Thio-siocia?"
Wanita itu tidak memberi keterangan kepada Bwee Hwa malah berteriak-teriak untuk menarik perhatian orang.
Beberapa orang laki-laki yang sedang berdesakan itu melotot dan mereka terbelalak memandang kepada Bwee Hwa dengan penuh kagum.
Memang gadis ini mirip Thio-siocia, cantik jelita, bahkan lebih cantik ditambah gagah lagi.
Mereka berseru kagum dan seruan ini membuat sebagian besar pria yang sedang menonton ke dalam menengok.
Ketika mereka melihat Bwee Hwa, mereka semua memutar tubuh dan kini lebih banyak pria yang menengok ke luar daripada yang memandang ke dalam!
Tadinya para penonton pria memang terkagum-kagum kepada seorang gadis yang ikut bersembahyang.
Gadis itu adalah puteri Jaksa Thio yang bernama Thio Cin Lan.
Ia memang cantik sekali, bahkan terkenal sebagai kembangnya kota Ki-ciu!
Sebagai puteri bangsawan tentu saja Cin Lan jarang sekali memperlihatkan diri di depan umum dan karena itu, semakin banyak saja pemuda yang merindukannya.
Bukan saja rindu karena berangan-angan kosong untuk memilikinya sebagai isteri, namun juga rindu untuk sekadar melihat dan mengagumi kecantikannya.
Karena itu, tidak mengherankan kalau banyak sekali pemuda berdesakan di depan kuil itu hanya sekadar untuk dapat melihat wajah dan tubuh gadis yang disohorkan cantik jelita itu.
Thio Cin Lan atau penggilannya Thio-siocia (Nona Thio) bukan tidak maklum akan hal ini.
Ia maklum bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, maka ia bersembahyang dengan muka tunduk dan kedua pipinya yang putih mulus itu kemerahan karena ia merasa malu.
Betapapun juga, ia tidak marah, bahkan sebaliknya, di lubuk hatinya ia merasa bangga dan girang, dan jantungnya berdebar.
Beberapa kali ia mencuri dengan sudut matanya mengerling keluar dan ia tersenyum geli melihat betapa pandang mata para pemuda itu bagaikan mata harimau yang kelaparan.
Dan setiap kali ia mengerling dengan sudut matanya, setiap orang laki-laki merasa bahwa dirinyalah yang dilirik!
Akan tetapi tiba-tiba suasana di luar kelenteng (kuil) itu berubah.
Para penonton pria itu banyak yang berbalik menonton keluar.
Hal ini membuat Cin Lan merasa tidak senang dan heran.
Ia cepat menyelesaikan sembahyangnya, kemudian ia memandang keluar.
Karena tempat sembahyang itu agak tinggi, maka ia dapat melihat kepala dan dada Bwee Hwa dan tahulah ia bahwa gadis berpakaian merah itulah yang menjadi sebab para penonton membalik keluar dan tidak memperhatikan dirinya lagi.
Ia merasa tertarik kepada gadis berpakaian merah itu dan segera berbisik kepada ayahnya.
"Ayah, di luar ada seorang gadis yang agaknya sangat ingin menonton perayaan kita dari dekat. Kasihan ia berdesak-desakan di luar. Iebih baik suruh ia masuk saja, ayah."
Jaksa Thio adalah seorang tua yang baik hati.
Pembesar yang usianya kurang lebih limapuluh tahun ini selain menjadi pejabat yang bijaksana, juga amat mencinta puterinya.
Mendengar ucapan Cin Lan, dia segera berpaling dan memandang keluar.
Dia segera dapat melihat siapa yang dimaksud puterinya.
Melihat gadis berbaju merah itu menjadi pusat perhatian para penonton, Jaksa Thio lalu turun dari atas tempat sembahyang dan berkata kepada para penonton.
"Hai, saudara-saudara, berilah jalan kepada nona baju merah yang berdiri di luar itu agar ia dapat masuk!"
Kemudian dia memandang kepada Bwee Hwa dan berseru.
"Nona baju merah, silakan masuk saja, tidak baik berdesakan di luar!"
Melihat keramahan laki-laki tua berpakaian indah itu, Bwee Hwa merasa senang.
Ia melihat wajah laki-laki yang berwibawa namun ramah dan sikapnya lembut, juga hormat kepadanya.
Maka iapun tersenyum dan mengangguk.
Kemudian ia melangkah masuk dan karena ia terhalang banyak orang, ia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong perlahan ke kanan kiri, membuka jalan.
Dasar para pemuda, di mana-manapun sama saja.
Melihat gadis baju merah yang jelita ini menggunakan tangan mendorong ke kanan kiri, banyak di antara mereka sengaja berdiri menghalang agar didorong dan disentuh tangan yang putih mulus itu.
Inilah kesempatan untuk bersentuhan dengan gadis cantik jelita itu!
Akan tetapi, kalau tadinya mereka menanti sentuhan sambil tersenyum-senyum memasang gaya, pada saat tangan lembut itu mendorong perlahan, mereka terbelalak kaget dan senyum mereka seketika berubah menjadi seruan kaget karena mereka terdorong ke kanan kiri seperti dilanda gempa bumi saja!
Mereka yang tidak menggunakan tangan untuk melawan dorongan itu, hanya terdorong minggir saja.
Akan tetapi mereka yang menggunakan tenaga untuk melawan dan menahan dorongan Bwee Hwa, merasa tubuh mereka dilanda tenaga raksasa sehingga mereka menubruk orang di sampingnya dan terhuyung!
Hal ini hanya diketahui dan dirasakan oleh mereka yang bersangkutan saja.
Thio-taijin sekeluarga dan orang lain tidak mengetahuinya sedangkan mereka yang merasakan tentu saja merasa malu untuk menceritakan betapa mereka terdorong sampai terhuyung oleh tangan halus gadis itu yang tampaknya hanya mendorong dengan perlahan saja.
Biarpun jarang bergaul, namun Bwee Hwa cukup diajar tata cara sopan santun oleh Sin-kiam Lojin.
Ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, menjura kepada Jaksa Thio.
Akan tetapi karena ia tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang bangsawan yang berkedudukan tinggi, maka ia berkata dengan lembut namun bersahaja.
"Lo-pek (paman tua), terima kasih banyak atas kebaikanmu."
Tentu saja para keluarga Jaksa Thio dan para penonton yang mendengar ucapan itu terbelalak heran dan memandang khawatir dan tegang, takut kalau Jaksa Thio menjadi marah.
Akan tetapi Jaksa Thio sendiri setelah memandang dengan kaget dan heran, lalu tertawa bergelak-gelak sampai kedua bola matanya menjadi basah.
Dia benar-benar merasa geli hatinya karena selama hidupnya belum pernah dia disebut paman tua begitu saja oleh seorang gadis asing.
Sebaliknya Bwee Hwa yang melihat orang tua itu tertawa bergelak-gelak, ikut pula tertawa dan tawanya bebas, tidak menutupi mulutnya seperti kebiasaan gadis malu-malu sehingga mulutnya terbuka dan orang dapat melihat deretan gigi yang putih dan rapi, lidah dan rongga mulut yang merah.
Bwee Hwa menganggap orang tua itu tentu girang sekali dan menurut pelajaran tata susila yang pernah ia dapatkan dari gurunya, jika orang-orang tertawa, biarpun ia tidak tahu apa sebabnya, maka sebaiknya iapun tertawa pula.
Melihat betapa Jaksa Thio dan gadis baju merah itu sama-sama tertawa besar, orang-orang yang tadinya terheran-heran kini semakin melongo keheranan dan saling pandang dengan muka bodoh!
"Ha-ha-ha-ha!
Nona baju merah, engkau sungguh lucu sekali!
Lucu dan baik!"
Kata Jaksa Thio sambil memandang kepada Bwee Hwa.
"Engkau tentu bukan orang sini dan agaknya engkau seorang gadis kang-ouw karena aku melihat pedang tergantung di pinggang, di balik baju luarmu. Nona yang baik, siapakah namamu dan di mana tempat tinggalmu?"
Melihat di situ terdapat banyak bangku bundar yang terukir indah, tanpa diminta lagi Bwee Hwa lalu duduk di atas sebuah bangku sebelum menjawab pertanyaan itu.
Melihat ini, Jaksa Thio tersenyum dan memberi isyarat kepada isteri dan puterinya untuk duduk.
Mereka lalu duduk mengelilingi meja, berhadapan dengan Bwee Hwa.
Setelah itu, Jaksa Thio lalu berseru kepada para penonton.
"Saudara-saudara, silakan mengambil tempat duduk dan merayakan ulang tahun kami bersama-sama!"
Seruan ini disambut dengan riuh gembira oleh semua penonton dan mereka lalu menduduki bangku-bangku yang memang telah disediakan di pekarangan itu.
Jaksa Thio memberi isyarat kepada para pelayan untuk mengeluarkan hidangan kepada semua orang.
Semua orang merasa girang dan berterima kasih sekali karena kembali pembesar itu memperlihatkan kebijaksanaan dan kebaikan hatinya terhadap siapa saja.
Setelah duduk berhadapan dengan Jaksa Thio dan anak isterinya, Bwee Hwa menjawab pertanyaan tadi dengan sikap sederhana.
"Namaku Bwee Hwa dan entahlah, aku sendiri tidak tahu apakah aku ini seorang gadis kang-ouw atau bukan. Aku juga tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Aku baru datang dari bukit Heng-san, berpisah dari guruku dan aku kini sedang merantau."
Mendengar jawaban yang sangat terbuka dan sederhana ini mengertilah Jaksa Thio bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang gadis yang benar-benar bodoh dan jujur, bukan seorang kang-ouw yang biasanya bersikap takacuh dan berani bersikap ugal-ugalan terhadap siapa saja.
Maka diapun lalu memperkenalkan diri, isteri dan puterinya.
Biarpun kini ia tahu bahwa keluarga itu adalah keluarga bangsawan dan pembesar, sikap Bwee Hwa masih biasa saja, bersahabat dan tidak menjilat.
Hal ini membuat Jaksa Thio menjadi semakin kagum.
Dia sudah jemu dengan sikap orang yang biasanya amat menghormat, bahkan terkadang berlebihan seperti menjilat terhadap dirinya dan dia tahu benar bahwa penghormatan itu sesungguhnya bukan ditujukan kepada pribadinya, melainkan kepada kedudukan dan kekuasaannya!
Thio Cin Lan mengamati pakaian dan pedang Bwee Hwa dengan tertarik sekali.
Pakaian Bwee Hwa itu indah dan juga ringkas, enak dipakai dan membuat gadis itu dapat bergerak leluasa, tidak seperti pakaiannya, pakaian seorang gadis bangsawan yang gedombrangan dan membuat ia tidak dapat bergerak leluasa.
"Berapakah usiamu sekarang? Engkau tampak masih sangat muda."
Bwee Hwa memandang Cin Lan dan tersenyum.
"Usiaku delapanbelas tahun."
"Ah, masih muda sekali. Aku sudah sembilan belas tahun. Adik Bwee Hwa, dalam usia semuda ini engkau sudah berani berkelana seorang diri. Engkau tentu pandai sekali bersilat. Maukah engkau bersilat pedang sebentar untuk kami?"
Bwee Hwa memandang Cin Lan dan tersenyum menggeleng kepalanya.
"Tidak, enci Cin Lan. Aku tidak mau."
Jaksa Thio ikut membujuk Bwee Hwa untuk memperlihatkan permainan pedangnya.
Pembesar ini suka sekali melihat pertunjukan silat, walaupun dia sendiri tidak sangat pandai bermain silat.
Dia mempunyai banyak pengawal yang ahli dalam hal ilmu silat, bahkan di sekitar kuil itu terdapat banyak pengawalnya yang menjaga keselamatan keluarganya.
Dia hanya ingin memeriahkan suasana dengan membujuk Bwee Hwa bersilat pedang dan dia mengira bahwa gadis itu hanya memiliki kepandaian silat biasa saja.
Akan tetapi ternyata Bwee Hwa juga menolak keras.
"Tidak mungkin!"
Gadis itu menggeleng-geleng kepalanya.
"Suhu bilang bahwa sekali-kali aku tidak boleh bermain-main dengan pedang, lebih-lebih untuk sekedar memamerkan kepandaian. Aku hanya mau mencabut pedangku dan memainkannya jika terjadi kejahatan dan ada orang yang perlu kubela dan kutolong. Harap kalian tidak kecewa dan tidak marah."
Biarpun mulutnya tersenyum, namun di dalam hatinya Jaksa Thio menganggap bahwa Bwee Hwa terlampau angkuh.
Akan tetapi karena ucapan gadis itu jelas sekali terdengar demikian berterus terang dan jujur, maka diapun tidak menjadi kecewa dan mereka lalu makan minum.
Bwee Hwa tidak merasa malu-malu atau sungkan-sungkan lagi.
Setelah dipersilakan, ia lalu menggasak hidangan di atas meja karena memang sejak pagi tadi ia belum sarapan.
Apalagi masakan yang dihidangkan di atas meja itu ternyata lezat dan belum pernah ia makan senikmat itu.
Jaksa Thio sekeluarga merasa geli dan juga senang melihat sikap Bwee Hwa dan cara makannya yang gembul itu.
Mereka membiarkan saja gadis itu makan sampai kenyang dan ayah, ibu dan puteri mereka itu dengan ramah bergantian menawarkan masakan-masakan yang belum disentuh Bwee Hwa.
Akhirnya mereka merasa cukup dan melihat Bwee Hwa tidak makan lagi dan hendak menyusut bibirnya dengan ujung lengan baju, Cin Lan memegang lengannya dan menyerahkan sehelai kain lap putih yang memang disediakan untuk menyusut bibir dan tangan.
Bwee Hwa menerima dan tersenyum senang.
"Bwee Hwa,"
Kata Jaksa Thio yang mulai merasa akrab dengan gadis itu maka ia memanggil namanya begitu saja.
"Engkau belum mengatakan siapa She (marga) dan siapa pula orang tuamu, di mana tempat tinggal mereka."
Bwee Hwa mengerutkan alisnya akan tetapi ia menjawab juga.
"Aku tidak tahu siapa she-ku. Sejak kecil aku ikut suhu dan aku tidak tahu pula siapa nama orang tuaku, hanya ayahku berjuluk Kauw-jiu Pek-wan dan sekarang aku sedang mencari orang tuaku."
Jaksa Thio mengangkat alisnya.
"Akan tetapi, di mana tempat tinggal mereka?"
Bwee Hwa menggeleng kepalanya.
"Aku tidak tahu, akan tetapi aku akan mencarinya."
Jaksa Thio dan anak isterinya merasa suka dan iba sekali kepada gadis baju merah yang cantik jelita dan bersikap polos itu.
Jaksa Thio juga tidak bertanya lebih lanjut agar tidak membangkitkan kenangan sedih dalam hati Bwee Hwa.
Pada saat keluarga Jaksa Thio dan semua orang sudah menyelesaikan perjamuan itu, tiba-tiba sebuah benda kecil hitam menyambar dari luar ke arah dada Jaksa Thio.
Pembesar ini dapat melihat benda itu dan cepat mengelak dengan miringkan tubuhnya, akan tetapi gerakannya kurang cepat dan benda itu menancap di pundak kirinya.
Jaksa Thio berteriak kesakitan dan semua orang terkejut.
Benda hitam itu ternyata adalah sebuah senjata rahasia piauw (besi runcing bersayap).
Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dari mulut Bwee Hwa dan gadis ini melompat ke atas.
Kedua tangannya bergerak menangkap dua benda piauw lagi yang melayang ke arah tubuh Jaksa Thio.
Piauw ke empat ia tendang dengan sepatunya sehingga senjata rahasia itu mencelat ke atas dan menancap pada langit-langit ruangan kuil itu.
Akan tetapi pada saat itu, dari luar menyambar lagi empat buah piauw ke arah Jaksa Thio dan isterinya!
Bwee Hwa kembali mengeluarkan bentakan nyaring, cepat ia menyambitkan dua batang piauw di tangannya, dengan tepat mengenai dua batang piauw yang melayang dari luar sehingga runtuh.
Kemudian dengan kepretan tangan ia menangkis dua batang lagi sehingga dua batang piauw itupun jatuh ke lantai.
Bwee Hwa lalu tersenyum kepada Thio Cin Lan dan berkata.
"Enci Lan, engkau tadi ingin melihat aku bermain pedang? Nah, sekaranglah waktunya aku bermain pedang!"
Cin Lan hanya memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat dan tiba-tiba pandang matanya menjadi silau ketika Bwee Hwa tahu-tahu telah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
Itulah pedang mustika Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) pemberian gurunya.
Kemudian, dengan menggunakan jurus Sin-liong-coan-in (Naga Sakti Menembus Awan), tubuh Bwee Hwa melompat tinggi dan melayang keluar ruangan itu.
Di lain saat gadis baju merah itu telah bertanding di pekarangan kuil melawan tiga orang laki-laki yang berpakaian serba biru dan yang bertubuh tinggi besar.
Bwee Hwa melihat betapa di bagian dada kiri tiga orang lawannya itu terdapat sulaman gambar seekor ular kecil bersayap.
Mereka bertiga memegang golok dan ternyata ilmu golok merekapun cukup lihai.
Para pengawal Jaksa Thio hanya mengepung dari jauh.
Mereka ada belasan orang, akan tetapi karena tadi ketika mereka hendak menangkap orang-orang yang menyerang Jaksa Thio dengan senjata rahasia, merekapun diserang dengan piauw dan tiga orang di antara mereka roboh.
Karena itulah mereka menjadi gentar dan melihat nona baju merah itu bertanding seru melawan tiga orang penjahat, mereka hanya mengepung dan siap dengan senjata mereka.
Para penonton yang tadi ikut makan minum, menjadi ketakutan, akan tetapi karena perkelahian itu terjadi di pekarangan kuil, merekapun tidak berani keluar dan tinggal berkumpul dalam ruangan depan kuil itu sambil menonton pertandingan di pekarangan dengan muka pucat.
Lima orang pengawal kini berdiri menjaga dan melindungi Jaksa Thio dan anak isterinya.
Sikap mereka berlagak gagah-gagahan, seolah merekalah yang menyelamatkan keluarga itu!
Tiga orang laki-laki tinggi besar itu memang mahir sekali bersilat golok.
Akan tetapi sekali ini mereka menghadapi murid Sin-kiam Lojin yang memainkan pedang pusaka ampuh dan ilmu pedangnya tinggi sekali.
Belum sampai duapuluh jurus mereka bertempur, seorang pengeroyok telah roboh dengan pundak terluka tusukan pedang di tangan Bwee Hwa.
Dua orang pengeroyok lain yang sudah terdesak, tidak sanggup menandingi kelihaian Bwee Hwa.
Mereka berseru keras dan melompat jauh, menyimpan golok mereka dan kedua tangan mereka bergerak.
Dari masing-masing tangan mereka menyambar tiga batang piauw sehingga sekaligus ada dua belas batang piauw menyambar.
Bwee Hwa merasa kagum juga.
Ia cepat memutar pedangnya sehingga piauw-piauw itu tertangkis runtuh.
Akan tetapi ia mendengar jeritan di belakangnya dan ketika ia menengok, ia melihat betapa seorang penjahat yang tadi dirobohkannya telah tewas dengan dua batang piauw menancap di lehernya!
Dan ketika dia memandang ke arah dua orang yang melarikan diri tadi, mereka sudah lenyap.
Bwee Hwa dengan tenang menyarungkan kembali pedangnya, lalu dipungutnya sebatang piauw yang tadi tertangkis runtuh ke atas tanah.
Seperti semua piauw yang dipergunakan para penjahat itu, yang melukai jaksa Thio dan yang menewaskan penjahat, senjata rahasia itu berbentuk aneh.
Kepala piauw itu berbentuk seekor ular bersayap.
Ia teringat akan gambar sulaman di baju bagian dada kiri para penjahat.
Setelah seorang penjahat tewas dan dua orang melarikan diri, para penonton yang ikut berpesta bubaran tanpa sempat pamit atau berterima kasih kepada Jaksa Thio.
Mereka menjadi ketakutan.
Para pengawal kini sibuk berkumpul dekat keluarga Jaksa Thio dengan muka pucat.
Ada pula yang mengurus mayat penjahat itu.
"Bwee Hwa, kami sekeluarga telah engkau selamatkan. Kalau tidak ada engkau di sini, besar kemungkinan kami tewas di tangan para penjahat. Marilah, Bwee Hwa, marilah ikut dengan kami ke rumah kami di mana kita dapat bicara dengan leluasa,"
Kata Thio-taijin setelah pundaknya diberi obat oleh kepala pengawal.
"Terima kasih, lopek. Aku hendak melanjutkan perjalananku,"
Bwee Hwa menolak. Cin Lan menghampiri dan merangkulnya.
"Adik Bwee Hwa, marilah engkau ikut dengan kami ke rumah. Engkau bukan saja telah menyelamatkan kami, akan tetapi aku sudah menganggap engkau sebagai adikku sendiri. Marilah, Bwee Hwa!"
Nyonya Thio juga membujuk.
"Bwee Hwa, kami mohon agar engkau suka ikut dengan kami. Kami khawatir sekali. Bagaimana kalau para penjahat itu datang lagi dan mengulangi serangan mereka kepada kami?"
Karena keluarga itu membujuk-bujuk dan Bwee Hwa sendiri juga khawatir kalau-kalau para penjahat itu akan mengganggu lagi, maka akhirnya ia ikut juga.
Keluarga itu bersama Bwee Hwa lalu menuju ke rumah Jaksa Thio, dikawal oleh para perajurit pengawal.
Di sepanjang perjalanan, banyak orang menonton karena berita tentang gadis baju merah yang amat lihai dan yang sudah menyelamatkan nyawa keluarga Jaksa Thio telah tersebar luas di seluruh kota Ki-ciu.
Jaksa Thio yang sudah mendapat perawatan dan lukanya tidak terasa terlalu nyeri lagi, lalu memanggil semua pengawal yang tadi bertugas mengawalnya.
Dia memarahi mereka dan menyatakan penyesalannya bahwa mereka itu lalai dan lemah.
"Bagaimana mungkin ada tiga orang penjahat dapat menyerang kami padahal kalian belasan orang menjaga di sana?"
Jaksa Thio menegur kepala pengawal yang bernama Kim Tiong, seorang perwira pengawal yang bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal.
"Mohon beribu maaf, taijin,"
Kim-ciangkun (Perwira Kim) berkata sambil memberi hormat.
"Hamba dan teman-teman sudah berusaha menangkap mereka, akan tetapi mereka itu lihai sekali sehingga tiga orang anak buah hamba roboh terluka. Akan tetapi hamba telah tahu siapa mereka yang menyerang taijin tadi."
"Hemm, bagus. Siapakah mereka yang seberani itu?"
"Mereka adalah anggauta-anggauta perkumpulan rahasia yang menamakan diri Hwe-coa-kauw (Agama Ular Terbang), taijin."
Tidak hanya Jaksa Thio yang terkejut mendengar nama perkumpulan rahasia yang berkedok agama dan yang amat tersohor itu, bahkan Bwee Hwa juga terkejut.
"Jadi benarkah mereka itu para anggauta Hwe-coa-kauw?"
Kata Bwee Hwa.
"Tadi telah kuduga ketika melihat senjata rahasia dan sulaman pada dada mereka. Suhu pernah bercerita tentang kekejaman dan kesesatan perkumpulan ini. Aku senang sekali telah dapat menghalangi niat jahat mereka tadi!"
"Bahkan lihiap (Pendekar wanita) telah berhasil membunuh seorang di antara mereka,"
Kata Kim Tiong dengan kagum.
"Bukan aku yang membunuhnya, akan tetapi kawan-kawannya sendiri. Agaknya mereka yang melarikan diri itu khawatir kalau kawan yang terluka itu akan membuka rahasia, maka mereka lalu membunuhnya dengan piauw mereka,"
Kata Bwee Hwa. Jaksa Thio menggeleng-geleng kepalanya.
"Memang demikianlah yang kudengar. Mereka itu menculik, membunuh, dan mereka selalu membunuh kawan mereka yang tertawan. Akan tetapi setahuku, perkumpulan jahat itu berada di daerah Tit-le. Kenapa mendadak mereka berada di sini dan datang-datang mereka itu hendak membunuhku?"
"Ah, sekarang aku merasa menyesal sekali mengapa tadi aku tidak mengejar dan menangkap yang dua orang lagi. Kupikir mereka tidak berhasil membunuh, dan seorang di antara mereka telah dapat kurobohkan, maka aku sengaja memberi keringanan kepada mereka dan membiarkan mereka pergi."
"Betapapun, engkau telah berjasa besar menyelamatkan kami sekeluarga, Bwee Hwa,"
Kata Jaksa Thio dan dia lalu memerintahkan para kepala pengawal agar melakukan penjagaan dengan ketat agar jangan ada penjahat yang mampu datang mengganggu.
Ketika malam tiba, Cin Lan mengajak Bwee Hwa tidur di dalam kamarnya yang cukup luas dan indah.
Bwee Hwa merasa senang sekali.
Ia belum pernah bergaul dengan gadis sebaya, dan kini bertemu dengan Cin Lan yang amat ramah dan tidur sekamar dengan gadis itu, ia bergembira sekali dan mereka berdua ngobrol sampai jauh malam.
Lewat tengah malam, Bwee Hwa masih belum tidur.
Suasana dalam kamar yang indah dan harum itu amat berbeda dengan tempat seadanya di mana ia biasa melewatkan malam.
Mungkin terlalu nyaman dan terlalu indah, kasurnya juga terlalu lunak baginya sehingga ia malah sukar untuk jatuh pulas.
Padahal, pernah ia terpaksa tidur di dalam sebuah kuil kosong yang pengap dan kotor, atau di dalam sebuah guha batu dan ia dapat tidur dengan nyenyak!
Tiba-tiba pendengarannya yang peka dan tajam karena terlatih, mendengar suara perlahan di atas atap.
Ia menoleh dan melihat Cin Lan sudah tidur pulas.
Wajah gadis itu lembut dan cantik sekali ketika tidur, bibirnya lersenyum.
Bwee Hwa cepat turun dari pembaringan, mengenakan sepatu, membereskan pakaiannya dan mencabut pedangnya.
Ia merasa yakin bahwa suara itu tentu gerakan kaki orang di atas genteng, gerakan kaki yang menggunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) tingkat tinggi.
Ia merasa heran bagaimana orang itu dapat tiba di atas genteng, padahal rumah jaksa Thio dijaga ketat oleh pasukan pengawal, dijaga bagian bawah dan bagian atasnya!
Sekeliling gedung telah dikepung pasukan pengawal, namun masih saja ada orang yang dapat menyusup.
Dari tempat ia berdiri, yaitu di dekat jendela, Bwee Hwa meniup ke arah lilin kecil yang dibiarkan menyala di atas meja.
Iilin itu padam dan Bwee Hwa lalu membuka daun jendela dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Ia melompat keluar dan pada saat itu ia mendengar teriakan-teriakan orang dan berkerontangannya senjata tajam beradu.
Suara itu terdengar dari atas genteng.
Tahulah Bwee Hwa bahwa tentu para pengawal sudah memergoki penjahat dan kini mereka sedang mengeroyok penjahat itu.
Maka cepat iapun keluar dan melompat naik ke atas genteng.
Benar saja dugaannya.
Dia bawah sinar bulan yang cukup terang, Bwee Hwa melihat seorang laki-laki berkepala gundul sedang dikepung dan dikeroyok tujuh orang pengawal!
Si kepala gundul itu memainkan sebatang golok besar dengan hebatnya.
Goloknya berubah menjadi segulungan sinar putih yang menahan serangan tujuh orang pengeroyoknya yang juga mempergunakan golok.
Namun, Bwee Hwa melihat jelas betapa sinar golok yang dimainkan si kepala gundul itu jauh lebih dahsyat daripada para pengeroyoknya sehingga ia mampu mendesak ke tujuh orang pengawal.
Bahkan pada saat itu, tendangan kakinya mengenai dada seorang pengeroyok sehingga tubuhnya terguling-guling dan jatuh ke bawah, mengeluarkan suara berdebuk.
"Para bu-su (pengawal), serahkan bangsat gundul ini kepadaku!"
Bentak Bwee Hwa sambil melompat dekat.
Para pengawal yang sudah merasa jerih, merasa lega mengenal suara Bwee Hwa dan mereka segera mundur, membiarkan gadis perkasa itu untuk menghadapi lawan yang lihai itu.
"Ha-ha-ha!"
Si gundul tertawa sambil memandang kepada Bwee Hwa dengan sinar mata jalang.
"Benar sekali kata-kata Tiat-ko (kakak Tiat). Nona baju merah ini selain hebat ilmu silatnya, juga amat cantik jelita!"
Di bawah sinar bulan Bwee Hwa yang sudah berhadapan dengan penjahat itu dapat melihat dengan jelas.
Laki-laki bertubuh tinggi kurus itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun, kepalanya gundul dan pakaiannya juga mirip jubah yang biasa dipakai para hwesio (pendeta Buddha), akan tetapi di dadanya sebelah kiri, di atas bajunya terdapat sulaman seekor ular bersayap!
Tahulah ia bahwa hwesio ini tentu anggauta perkumpulan Hwe-coa-kauw itu.
Perkumpulan penjahat yang berkedok agama!
Pantas saja tokohtokohnya ada yang berpakaian seperti hwesio, dengan kepala digunduli.
"Hemm, engkau ini seorang pendeta mengapa menjadi penjahat? Percuma saja engkau berpakaian pendeta dan menggunduli kepalamu. Engkau hwesio palsu, penjahat yang berkedok pendeta!"
Bwee Hwa memaki sambil menudingkan pedangnya ke arah muka orang itu.
Hwesio itu hanya tertawa, akan tetapi tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan enam batang hwe-coa-piauw (Piauw Ular Terbang) sudah menyambar ke arah bagian tubuh Bwee Hwa yang cepat memutar pedangnya.
Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang melindungi tubuhnya dan semua piauw itu terpental ke kanan kiri.
Tangan kiri gadis itu cepat merogoh sebuah kantung di pinggangnya.
"Makanlah ini!"
Bentak Bwee Hwa dan begitu tangan kirinya bergerak, sinar-sinar kecil berkeredepan menyambar ke arah tubuh si kepala gundul.
Itulah hong-cu-ciam (jarum tawon), senjata rahasia berbentuk jarum yang dibagian belakangnya ada lubangnya sehingga ketika disambitkan dengan pengerahan tenaga dalam, jarum itu meluncur dan mengeluarkan bunyi berdengung seperti tawon!
Tanpa menggunakan tenaga dalam yang amat kuat, tidak mungkin jarum-jarum itu dapat mengeluarkan suara berdengung seperti itu.
Hwesio palsu itu terkejut bukan main melihat senjata rahasia lembut yang menyambar sambil berdengung-dengung seperti sekumpulan tawon menyerangnya itu.
Cepat dia memutar goloknya dengan gerakan Sian-jiu-khai-mo (Dewa Membuka Payung).
Goloknya berubah menjadi gulungan sinar seperti payung yang menangkis semua jarum.
Melihat jarum-jarumnya gagal, Bwee Hwa lalu menerjang dan menyerang dengan pedangnya.
Sinar pedangnya berkelebat dan sebuah tusukan kilat menyambar ke arah leher hwesio itu.
Si pendeta palsu mengerahkan seluruh tenaga sakti dan menggunakan goloknya menangkis sekuat tenaga dengan maksud untuk membuat pedang lawan patah atau setidaknya terpental.
"Wuuutttt""
Trangg....!!"
Hwesio Hwe-coa-kauw itu terkejut setengah mati karena bukan pedang gadis itu yang patah atau terpental.
Bahkan golok di tangannya hampir saja terlepas karena tangannya tergetar hebat.
Kiranya gadis itu memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang tidak kalah kuatnya!
Dia lalu balas menyerang dan bersilat dengan hati-hati sekali karena maklumlah dia bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh.
Akan tetapi, gerakan pedang Bwee Hwa terlampau cepat dan tenaga sin-kang gadis itu terlampau kuat bagi pendeta Hwe-coa-kauw itu.
Dia terdesak hebat dan nyaris tidak mampu balas menyerang.
Akan tetapi pada saat itu, tampak sesosok bayangan berkelebat datang dan muncullah seorang hwesio lain yang memegang golok.
Hwesio pertama menjadi girang.
"Sute (adik seperguruan), mari kita bunuh kuda betina liar ini!"
Ternyata hwesio kedua itupun lihai ilmu goloknya dan Bwee Hwa lalu dikeroyok dua.
Namun gadis perkasa itu tidak menjadi gentar.
Ia malah mempercepat gerakan pedangnya sehingga Sin-hong kiam itu berubah menjadi gulungan sinar yang lebar dan tubuh gadis itu lenyap dalam sinar pedangnya.
Ketika para pengawal yang belasan orang jumlahnya itu datang hendak membantu, muncul pula tiga orang hwesio lain.
Pertempuran menjadi semakin hebat.
Bwee Hwa tetap dikeroyok dua, sedangkan belasan orang pengawal itu mengeroyok tiga orang pendeta Hwe-coa-kauw yang baru muncul.
Sayang sekali bahwa di antara para pengawal, hanya perwira Kim Tiong seorang yang kepandaian silatnya lumayan, sedangkan yang lain jauh di bawah tingkatnya.
Oleh karena itu, maka amukan tiga orang hwesio yang baru datang itu membuat para pengawal kocar-kacir dan sebentar saja empat perajurit pengawal sudah roboh terkena sambaran golok tiga orang pendeta gundul itu.
Bwee Hwa maklum bahwa keadaan para pengawal terancam bahaya.
Ia menjadi marah dan kini pedangnya menyambar-nyambar dahsyat dan mulut gadis itu mengeluarkan suara berdengung yang tinggi.
Suara itu tidak keras, seperti dengung lebah-lebah yang mengamuk, akan tetapi karena suara itu dikeluarkan dengan pengerahan sin-kang, maka mengandung getaran yang dapat menggetarkan perasaan lawan sehingga melemahkan semangat lawan.
Usahanya itu berhasil baik.
Kedua orang pengeroyoknya melemah pertahanannya dan dengan jurus Sin-liong-bhok-cu (Naga Sakti Menyambar Mustika) pedangnya meluncur dan seorang pengeroyok berteriak dan roboh bergulingan di atas genteng lalu jatuh ke bawah, tewas seketika karena dadanya tertembus pedang.
Pengeroyok kedua terkejut bukan main dan melompat ke belakang.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan kebakaran dari belakang gedung dan tampak api berkobar menjilat-jilat ke atas payon.
Melihat ini, sebagian para pengawal segera meninggalkan atap dan lari ke belakang untuk membantu teman-teman mereka yang berusaha memadamkan api agar jangan sampai menjalar ke bagian tengah gedung.
Bwee Hwa tidak berani meninggalkan atap itu karena ia harus melindungi Jaksa Thio sekeluarga.
Ia mengamuk dan pedangnya menyambar-nyambar dengan ganasnya mendesak hwesio kedua yang tadi mengeroyoknya.
Akan tetapi hwesio itu meloncat pergi melarikan diri dan terdengar suara mendesis-desis seperti ular.
Suara itu menjadi isyarat bagi kawanan gerombolan Hwe-coa-kauw untuk melarikan diri.
(Lanjut ke
Jilid 02) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Bwee Hwa menjadi marah.
Tubuhnya melayang bagaikan seekor tawon terbang dan sekali pedangnya berkelebat, hwesio yang melarikan diri terkena babatan pedangnya sehingga sebelah kakinya buntung dan dia menjerit kesakitan, tubuhnya menggelinding dan terjatuh ke bawah.
Akan tetapi tiga orang hwesio lain sudah melarikan diri dan menghilang dalam kegelapan malam.
Bwee Hwa melompat turun.
Ternyata banyak juga pengawal yang terluka, bahkan ada juga yang tewas.
Sedangkan yang berhasil dirobohkan hanya dua orang penjahat gundul yang roboh oleh pedangnya tadi.
Ketika ia hendak masuk ke bagian dalam gedung untuk melihat keadaan Jaksa Thio sekeluarga, tiba-tiba ia melihat Jaksa Thio berlari keluar dengan napas terengah-engah dan pembesar itu berteriak-teriak.
"Tolong"..! Tolong".. Cin Lan diculik penjahat""!"
Dia melihat Bwee Hwa berdiri di situ dengan pedang di tangan. Jaksa Thio lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Tolonglah, Bwee Hwa...... tolong Cin Lan""
Ia dibawa lari penjahat berkepala gundul""!"
Bwee Hwa tidak menunggu sampai pembesar itu habis berkata-kata.
Tubuhnya berkelebat lenyap dari depan Jaksa Thio dan sebentar saja dara perkasa itu sudah berlari-lari di atas genteng mencari ke sana-sini.
Akan tetapi dalam kegelapan malam yang hanya disinari bulan remang-remang itu, ke mana ia harus mencari?
Setelah mengejar ke mana-mana, mengelilingi kota tanpa hasil, ia teringat akan dua orang hwesio yang dirobohkannya tadi.
Cepat ia kembali ke gedung Jaksa Thio.
Dia situ orang masih sibuk menolong mereka yang terluka dan mengurus yang tewas.
Dua orang pendeta palsu itu masih menggeletak di sana.
Yang seorang telah tewas mandi darah sedangkan yang buntung sebelah kakinya sudah tiga perempat mati karena banyak mengeluarkan darah dan tidak ada yang sudi menolongnya.
Bwee Hwa menyeret tubuh penjahat itu ke tempat terang.
Ia menotok pangkal paha kaki yang buntung untuk menghentikan keluamya darah dan mengurangi rasa nyeri.
Hwesio itu bergerak perlahan dan membuka matanya, memandang muka Bwee Hwa dengan kagum dan benci.
"Engkau akan mati. Lebih baik engkau menebus dosamu dengan memberitahukan kepadaku di mana sarang kawan-kawanmu. Mungkin dengan jalan ini dosa-dosamu menjadi ringan,"
Kata Bwee Hwa. Dengan susah payah orang gundul itu bertanya.
"......engkau... engkau...... engkau... siapakah......?"
"Aku Bwee Hwa, murid Sin-kiam Lojin!"
Jawab Bwee Hwa tegas.
Ia sengaja memperkenalkan nama gurunya yang dia tahu amat ditakuti para penjahat di dunia kang-ouw.
Kedua mata orang itu terbelalak, mukanya pucat sekali ketika dia memandang wajah Bwee Hwa.
""ahh""
Engkau.... hong-cu""
Ang-hong-cu....!"
Setelah berkata terengah-engah itu kepalanya terkulai dan diapun tewas.
Bwee Hwa menghela napas panjang.
Ia telah gagal memaksa orang itu mengakui di mana sarang Hwe-coa-kauw.
Akan tetapi ia tertarik mendengar ucapan terakhir orang tadi.
Ia dapat menduga bahwa pendeta Hwe-coa-kauw itu tentu mengenal baik nama besar gurunya dan tentu mengenal pula kesaktian gurunya yang pandai menggunakan senjata rahasia jarum yang disebut hong-cu-ciam (jarum tawon), maka tadi dia menyebutnya sebagai Ang-hong-cu.
Tentu karena pakaiannya serba merah itulah.
Ang-hong-cu?
Hemm, julukan yang tepat dan tidak buruk, bahkan lucu.
Ia memang berpakaian merah, warna kesukaannya, dan ia pandai mempergunakan hong-cu-ciam, bahkan pedang pemberian gurunya juga disebut Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti)!
Boleh juga, pikirnya.
Mulai sekarang aku akan menggunakan julukan Ang-hong-cu!
Ia bangkit berdiri dan pada saat itu Jaksa Thio menghampirinya dan dengan suara gemetar dia bertanya mengenai Cin Lan, puterinya.
Nyonya Thio berada di belakang suaminya, wajahnya pucat sekali.
"Harap lopek bersabar,"
Kata Bwee Hwa.
"Aku sudah mencari ke seluruh penjuru kota, akan tetapi belum menemukan jejak penculik itu. Ketika aku memaksa keterangan dari penjahat yang terluka, sayang sebelum dapat memberi keterangan orang itu telah tewas."
Mendengar ini, Nyonya Thio menjerit-jerit dan menangis sedih, sedangkan Jaksa Thio membanting-banting kaki dan menggeleng-geleng kepalanya dengan sedih dan bingung.
"Jahanam Hwe-coa-kauw! Kalau kamu hendak membunuhku, datanglah dan cobalah, jangan menggangu puteriku yang tidak berdosa!"
Teriak Jaksa Thio sambil mengamangkan kepalan tangannya ke arah genteng rumah.
"Lopek dan bibi, biarlah aku mencari enci Cin Lan sampai dapat!"
Setelah berkata demikian, tubuh Bwee Hwa melayang ke atas genteng dan sebentar saja bayangannya sudah lenyap.
Malam telah hampir habis, terganti fajar yang berwarna putih keabu-abuan.
Ketika Bwee Hwa sedang berlompatan dari sebuah genteng rumah ke genteng rumah yang lain, dengan gerakan cepat dan ringan sehingga tidak menimbulkan suara, tiba-tiba ia melihat bayangan orang berlari-lari di sebelah timur.
Bayangan itu berlari di atas genteng dengan cepat sekali.
Bwee Hwa tentu saja menjadi curiga.
Tak salah lagi, bayangan itu tentu seorang di antara para anggauta Hwe-coa-kauw, pikirnya, maka iapun cepat melompat dan melakukan pengejaran.
Agaknya bayangan itu mengetahui bahwa dirinya dikejar orang.
Dia mempercepat larinya dan sebentar-sebentar menengok ke belakang.
Dalam kejar-mengejar ini, keduanya terkejut dan heran karena mendapat kenyataan bahwa baik yang mengejar maupun yang dikejar tidak mampu mengubah jarak yang ada di antara mereka.
Tidak dapat lebih dekat atau lebih jauh.
Ini hanya berarti bahwa ilmu berlari cepat dan ilmu meringankan tubuh mereka setingkat dan seimbang!
Hal ini membuat Bwee Hwa merasa penasaran sekali karena suhunya sendiri pernah mengatakan bahwa jarang ada orang yang mampu menandingi kecepatan larinya.
Mereka berkejaran terus sampai keluar dari kota.
Kabut pagi menipis terusir cahaya matahari yang makin meninggi sehingga kini Bwee Hwa dapat melihat orang yang dikejarnya itu dengan jelas.
Sebaliknya, orang yang dikejarnya itu ketika menengok, dapat melihat pengejarnya dengan jelas pula dan dia tertegun.
Tak disangkanya bahwa orang yang sejak tadi mengejarnya adalah seorang gadis berpakaian serba merah.
Diapun tersenyum dan menghentikan larinya, membalikkan tubuh dan menanti datangnya pengejar itu.
Bwee Hwa yang sudah merasa panas hatinya dan penasaran bahwa sejak tadi ia tidak mampu menyusul orang itu, begitu berhadapan segera menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka orang itu dan memaki.
"Pengecut jangan lari kalau engkau memang gagah!"
Ternyata pelari itu adalah seorang pemuda yang berwajah cukup ganteng dengan bahu bidang dan tubuh yang agak pendek, hanya lebih tinggi sedikit ketimbang Bwee Hwa.
"Astaga, kukira siapa yang mengejar-ngejarku sejak tadi......."
"Hemm, kaukira siapa?"
Bentak Bwee Hwa yang marah dengan suara ketus. Pemuda itu tersenyum dan wajahnya tampak manis kekanak-kanakan kalau dia tersenyum lebar.
"Kukira setan atau siluman, tidak tahunya......."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan mengamati gadis itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, membuat Bwee Hwa merasa risi sekali.
"Tidak tahunya siapa? Hayo bicara yang jelas!"
"Tidak tahunya seorang bidadari baju merah yang cantik jelita dan galak!"
"Bangsat kurang ajar!"
Bwee Hwa memaki lalu cepat ia menggerakkan pedangnya yang sejak tadi sudah dipegangnya, menyerang dengan tusukan ke arah dada pemuda itu.
Gerakannya cepat dan mengandung tenaga sakti yang amat kuat, terbukti dari suara pedang itu yang menggetar ketika ditusukkan.
Pemuda itu terkejut, maklum bahwa gadis itu memiliki pedang yang amat berbahaya dan merupakan lawan yang lihai sekali.
Diapun cepat mencabut pedangnya dan segera menyambut dengan gerakan tangkas, cepat dan bertenaga.
Juga dia bersilat dengan hati-hati sekali.
Setelah beberapa kali serangan Bwee Hwa dapat dia hindarkan dengan elakan cepat, tiba-tiba pedang gadis itu menyambar dengan babatan cepat ke arah lehernya.
Tentu saja pemuda itu tidak mengehendaki lehernya dipenggal.
Dari samping diapun menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.
"Tranggg""!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata dan pemuda itu terkejut bukan main.
Ternyata tangkisannya tidak mampu mematahkan pedang di tangan gadis itu, bahkan tangannya tergetar ketika dua pedang bertemu, menunjukkan tenaga sin-kang (tenaga sakti) gadis itu benar-benar amat kuat!
Juga Bwee Hwa merasa tercengang.
Tangan kanannya yang memegang pedang tergetar hebat dan biasanya, pedang lawan yang berbenturan sedemikian kuatnya dengan pedang Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) di tangannya, pasti menjadi buntung.
Akan tetapi pedang lawannya ini tidak apa-apa.
Hal itu berarti bahwa pemuda itupun memiliki sebatang pedang pusaka yang kuat dan ampuh!
Mendapatkan kenyataan ini, Bwee Hwa menjadi penasaran sekali.
Maka ia lalu mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua kemampuannya, memainkan ilmu pedang yang khusus dirangkai oleh Sin-kiam Lojin untuknya, disesuaikan dengan pedang pusakanya.
Pedang pusakanya itu bernama Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti), ada ukiran beberapa ekor tawon di sepanjang badan pedang.
Gurunya telah merangkai ilmu pedang yang disebut Sin-hong-kiam (Ilmu Pedang Tawon Sakti).
Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar, ujungnya berkelebatan seperti tawon menyambar-nyambar dan mulut gadis itu mengeluarkan suara berdengung lembut tajam seperti dengungan banyak tawon yang mengamuk.
Itulah Sin-hong-kiam-sut!
Pemuda itu terkejut bukan main dan dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membela diri agar jangan sampai terdesak.
Bukan hanya kecepatan gerakan pedang gadis itu yang membuatnya terkejut, terutama sekali suara dengungan seperti ada tawon-tawon yang mengiang-ngiang di dekat telinganya itulah yang membuat dia menjadi bingung.
Suara itu sungguh membuat telinganya sakit, konsentrasinya buyar dan karenanya permainan pedangnya menjadi kacau.
Karena pemuda itu tidak bermaksud untuk berkelahi sungguh-sungguh dan tadi hanya ingin mencoba atau menguji saja, maka melihat kesungguhan gadis itu dalam penyerangannya, diapun melompat jauh ke belakang dan berseru.
"Tahan......!"
Bwee Hwa menahan serangannya, menghentikan gerakannya dan dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan menggerakkan pedangnya melintang di depan dada, berkata dengan suara mengejek.
"Hemm, pengecut. Kalau sudah terdesak minta berhenti. Kau mau apa?"
Tiba-tiba pemuda itu memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung pedang, lalu tersenyum dan menjura dengan sikap hormat.
"Li-hiap (pendekar wanita), maafkan aku yang salah sangka. Tadinya aku mengira bahwa engkau adalah seorang anggauta Hwe-coa-kauw yang terkutuk itu, akan tetapi tadi setelah berhadapan denganmu, aku segera tahu bahwa engkau bukanlah anggauta gerombolan busuk itu. Aku tadi hanya ingin mengujimu dan ternyata engkau sungguh hebat dan lihai sekali, membuat aku kagum dan tunduk. Ketahuilah, pujianku ini bukan main-main untuk bermuka-muka, karena aku Ong Siong Li bukanlah laki-laki yang suka berbohong."
Mendengar nama itu, Bwee Hwa menjadi ragu-ragu dan ia mengerutkan sepasang alisnya, mengingat-ingat.
Suhunya pernah memperkenalkan nama orang-orang yang terkenal di dunia kang-ouw, sebelum ia berpisah dari gurunya itu.
Dan kini ia ingat bahwa nama Ong Siong Li juga pernah disebut suhunya.
"Aku tadi juga menyangka bahwa engkau seorang anggauta Hwe-coa-kauw, maka aku mengejarmu karena aku memang sedang mencari-cari mereka. Namamu pernah kudengar dari suhuku. Bukankah engkau seorang tokoh Thai-san-pai (Partai Thai-san) yang berjuluk Kim-kak-liong (Naga Tanduk Emas)?"
Pemuda itu tersenyum lebar.
"Ingatanmu sungguh kuat, nona. Memang benar akulah orang yang kaumaksudkan itu. Akan tetapi sebutan yang diberikan kepadaku oleh orang-orang dunia kang-ouw itu sungguh terlalu tinggi untukku."
Kini Bwee Hwa tersenyum lega.
Senyum yang membuat Siong Li terpesona karena begitu tersenyum, wajah cantik jelita yang tadi tampak galak itu berubah menjadi ramah dan manis bukan main.
Bwee Hwa memasukkan pedangnya di sarung pedang yang tergantung di pinggang kiri.
Ia maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda tokoh Thai-san-pai yang terkenal sebagai pendekar pembela kebenaran dan keadilan dan menurut suhunya pendekar muda itu memiliki kepandaian yang tinggi.
Hal ini telah ia buktikan sendiri karena ketika tadi ia bertanding melawan pemuda itu, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang pemuda itu tidak berada di bawah tingkat kepandaiannya sendiri.
"Memang kalau tidak bertanding lebih dulu kita tidak akan dapat berkenalan dengan baik seperti kata suhu dahulu,"
Kata Bwee Hwa.
"Maaf, nona. Suhumu yang mulia agaknya sudah mengenalku. Siapakah sesungguhnya nama suhumu? Dan siapa pula nama dan julukan nona sendiri kalau aku boleh mengetahuinya?"
"Suhu berjuluk Sin-kiam Lojin......."
"Wah! Kiranya engkau murid locianpwe (orang tua gagah) itu? Dan namamu"""
"Namaku Bwee Hwa boleh juga disebut Ang-hong-cu (Si Tawon Merah)."
"Ah, pantas saja aku menjadi sibuk setengah mati menghadapi ilmu pedangmu. Tak tahunya engkau murid seorang ahli pedang yang hebat. Dan julukanmu tadi memang tepat sekali. Ketika tadi aku bertanding denganmu, aku merasa seolah-olah aku diserang ribuan ekor tawon yang luar biasa, membuat aku bingung dan permainanku menjadi kacau. Dan kalau tidak salah, locianpwe Sin-kiam Lojin adalah seorang ahli pula dalam mempergunakan senjata rahasia berupa jarum yang disebut hong-cu-ciam (jarum tawon). Tentu engkau pandai pula mempergunakannya. Pantas sekali kalau engkau disebut Ang-hong-cu. Dengan pakaian merahmu memang engkau seperti seekor tawon yang sengatannya dahsyat dan berbahaya sekali!"
"Hemm, sengatanku hanya kutujukan kepada para penjahat!"
Kata Bwee Hwa dan mukanya berubah agak merah oleh pujian pemuda itu.
Diam-diam ia merasa suka kepada pemuda yang peramah dan wajahnya cerah gembira ini.
Karena merasa lelah setelah tadi berkejaran kemudian bertanding, Siong Li lalu duduk di atas sebuah batu besar yang berada di tepi jalan dan mempersilakan Bwee Hwa untuk duduk pula.
"Kita beristirahat sejenak agar lebih enak bercakap-cakap. Kukira, banyak yang dapat kita bicarakan tentang Hwe-coa-kauw yang sama-sama kita musuhi itu, bukan?"
Bwee Hwa mengangguk.
"Agaknya engkau mengetahui banyak tentang perkumpulan gerombolan jahat itu. Ceritakanlah karena aku ingin menolong seorang gadis yang mereka culik."
"Hemm, agaknya gadis yang aku tahu mereka larikan itu. Baiklah, aku mulai bercerita tentang asal usul mereka. Perkumpulan Hwe-coa-kauw sudah berdiri kurang lebih tigapuluh tahun. Timbulnya agama baru ini dari dunia barat. Pada suatu hari dari barat datanglah seorang pendeta perantau yang menyebarkan pelajaran tentang hidup yang baik dan benar. Pendeta ini mempunyai seekor ular yang aneh. Ular itu kecil saja, akan tetapi mempunyai keanehan. Ia mempunyai tonjolan di kanan kiri perutnya yang bentuknya seperti sayap dan ular itu dapat meloncat dan meluncur dengan cepat seperti seekor burung saja."
"Mungkin ular kobra yang dapat mengembangkan lehernya,"
Kata Bwee Hwa.
"Mungkin saja. Akan tetapi ular kobra hanya dapat mengembangkan tubuh bagian leher saja, sedangkan ular kecil milik pendeta itu mengembangkan bagian perutnya mirip sayap. Karena itulah maka ular kecil itu disebut Hwe-coa (Ular Terbang) oleh penduduk."
Siong Li melanjutkan ceritanya.
"Pendeta itu bernama Leng Kong Hoatsu. Selain mengajar tentang budi pekerti baik, juga dia adalah seorang ahli pengobatan yang pandai dan banyak orang diselamatkan dari penyakit yang gawat. Sebetulnya ular itu hanya merupakan binatang peliharaan kesayangannya saja. Akan tetapi karena pada jaman itu orang-orang masih sangat bodoh dan percaya akan tahyul yang bukan-bukan, segera tersiar kabar bahwa Leng Kong Hoatsu mendapatkan ilmu kepandaiannya itu berkat kesaktian ular terbang itu! Mulailah orang-orang memuja ular kecil itu sebagai penjelmaan dewa! Sia-sia saja usaha Leng Kong Hoatsu untuk membantah kabar itu sehingga akhirnya pendeta ini menjadi kecewa dan meninggalkan tempat itu, kembali ke dunia barat, di balik pegunungan Himalaya.
"Biarpun Leng Kong Hoatsu dan "ular terbangnya"
Telah tidak ada lagi, orang-orang tetap memuja ular terbang.
Kebodohan dan ketahyulan orang-orang ini dimanfaatkan orang-orang jahat dan timbullah perkumpulan yang disebut Hwe-coa-kauw (Agama Ular Terbang).
Perkumpulan agama baru ini sebentar saja mendapat banyak pengikut dan untuk mendapatkan "berkat"
Dari Dewa Ular Terbang itu, orang-orang rela menyerahkan uang dan harta benda mereka, disumbangkan kepada perkumpulan agama baru itu.
"Setelah muncul tiga orang pendeta, sebenarnya mereka itu adalah bekas perampok yang kini mengenakan pakaian pendeta dan mencukur rambut mereka, yang memimpin Hwe-coa-kauw, perkumpulan itu maju pesat. Hal ini karena tiga orang pendeta itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan pandai pula bermain sihir sehingga orang-orang menjadi semakin percaya. Tiga orang bekas perampok itu mengangkat diri mereka menjadi Kauw-cu (Ketua Agama). Tiga orang ini memilih para pembantu mereka dari golongan penjahat yang memiliki kepandaian silat tinggi. Para pembantu ini dilatih dan tak lama kemudian Hwe-coa-kauw menjadi perkumpulan yang kaya, kuat dan berpengaruh.
"Akan tetapi, seperti sering kali terjadi di dunia ini, siapa yang sadar akan kekuatan dan pengaruh mereka, akan muncul watak sewenang-wenang mengandalkan kekuatan itu. Demikian pula dengan Hwe-coa-kauw. Setelah merasa kuat, mereka tidak puas hanya dengan menerima sumbangan-sumbangan, dan mulailah tampak belang mereka. Tiga kauwcu dan para pembantunya yang memang berasal dari golongan sesat, mulailah melakukan perbuatan sewenang-wenang dan memaksakan kehendak mereka sehingga rakyat yang tadinya percaya dan kagum, mulai memandang dengan alis berkerut, dan akhirnya menjadi ketakutan dan membenci. Hwe-coa-kauw berubah menjadi perkumpulan orang jahat yang tidak segan melakukan perbuatan keji apapun juga. Bahkan mereka berani melakukan penculikan, perkosaan dan peram pasan hak milik orang lain! "Karena inilah maka banyak pendekar pembela kebenaran dan keadilan bertindak. Mereka bersatu padu dan memusuhi Hwe-coa-kauw yang berpusat di Tit-le itu. Para pendekar dari berbagai partai persilatan ini berhasil mengobrak-abrik sarang Hwe-coa-kauw, membunuh banyak anak buah mereka. Akan tetapi tiga orang kauw-cu (ketua agama) itu berhasil melarikan diri bersama sisa anak buah mereka yang tinggal sedikit."
"Aku mewakili perguruan Thai-san-pai bergabung dengan para pendekar itu,"
Siong Li melanjutkan ceritanya.
"Aku amat membenci para pimpinan Hwe-coa-kauw itu karena mereka telah membunuh seorang suheng (kakak seperguruan) yang pernah mencoba menentang mereka seorang diri saja. Maka setelah mereka melarikan diri, aku segera mengejar mereka dan melakukan penyelidikan. Akhirnya aku mendapat keterangan bahwa ke tiga orang kauw-cu itu menyusun anak buah mereka dan membangun sarang baru di sebuah hutan besar dekat kota Ki-ciu, maka aku segera menyelidiki ke sini."
Bwe Hwa yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh kekaguman, bertanya.
"Dan engkau telah menemukan sarang mereka yang baru itu?"
"Kebetulan saja ketika aku sedang menyelidiki ke hutan, aku melihat mereka membawa lari seorang gadis. Aku segera mencoba untuk menolongnya. Akan tetapi ketika tiga orang pemimpin mereka yang mereka sebut Toa-kauwcu (Ketua Agama Pertama) Ji-kauwcu (Ketua Agama kedua) dan Sam-kauwcu (Ketua Agama ke Tiga) maju mengeroyokku, terpaksa aku melarikan diri karena aku tidak mampu menandingi pengeroyokan mereka yang lihai. Dan ketika melihat engkau mengejarku, kukira engkau seorang di antara mereka. Nah, sekarang ceritakan bagaimana engkau dapat bentrok dengan mereka dan siapa pula gadis yang mereka culik dan larikan itu."
Bwee Hwa dengan singkat menceritakan tentang pertemuannya dan perkenalannya dengan Jaksa Thio dan anak isterinya.
"Jaksa Thio itu seorang pejabat yang adil dan jujur. Isterinya juga ramah dan puterinya, Thio Cin Lan, adalah seorang gadis yang cantik dan lembut. Ketika malam tadi aku bermalam di rumah Keluarga Jaksa Thio, penjahat-penjahat itu menyerang dan aku cepat melawan mereka. Tidak tahunya mereka itu membakar belakang gedung dan selagi aku sibuk melawan penjahat dan semua pengawal memadamkan api, penjahat mempergunakan kesempatan itu untuk menculik Enci Cin Lan. Aku merasa heran sekali mengapa Hwe-coa-kauw itu memusuhi Jaksa Thio seperti itu?"
"Tidak aneh, li-hiap. Agaknya Hwe-coa-kauw bermaksud untuk menanam pengaruh di daerah Ki-ciu. Mendengar akan keadilan dan kejujuran Jaksa Thio, tentu saja mereka ingin menyingkirkan pejabat yang berbahaya bagi mereka itu."
"Ong-taihiap (Pendekar Besar Ong), sukakah engkau bersamaku membasmi sarang Hwe-coa-kauw yang jahat itu dan menolong Thio Cin Lan?"
Tanya Bwee Hwa sambil menatap tajam wajah pemuda itu. Ong Siong Li tersenyum.
"Tentu saja, hal itu tidak perlu ditanyakan lagi. Akan tetapi harap engkau jangan menyebut tai-hiap (pendekar besar) kepadaku."
"Tentu saja aku menyebut tai-hiap, karena engkaupun menyebutku li-hiap (pendekar wanita)!"
"Ha-ha, baiklah, aku yang salah, lalu aku harus menyebutmu bagaimana?"
Bwee Hwa juga tersenyum.
"Jawab dulu pertanyaanku. Aku harus menyebutmu apa?"
"Kita orang segolongan dan sealiran, sudah seperti saudara sendiri. Karena aku sudah berusia duapuluh satu tahun dan tentu lebih tua ketimbang engkau, maka bagaimana kalau engkau menyebut aku toako (kakak) saja?"
"Baiklah, Li-ko (kakak Li) dan engkau sebut aku Hwa-moi (adik Hwa)."
"Hwa-moi, kalau begitu mari kita pergi menyelidiki sarang Hwe-coa-kauw di dalam hutan besar itu. Mereka menggunakan sebuah kuil tua yang sudah kosong sebagai sarang dan mereka telah membangun kembali kuil itu. Akan tetapi kita harus berhati-hati, karena tiga orang kauw-cu itu benar-benar lihai sekali."
"Baik, mari kita pergi."
Keduanya lalu bangkit dan pergi menuju sarang Hwe-coa-kauw dengan Siong Li sebagai penunjuk jalan.
Dengan mempergunakan ilmu berlari cepat, tubuh kedua orang pendekar muda itu melesat seperti terbang saja cepatnya.
Thio Cin Lan membuka kedua matanya.
Ia merasa seperti dalam mimpi, mimpi yang buruk sekali, bermimpi bahwa ia diculik seorang laki-laki berkepala gundul yang membawanya lari seperti terbang keluar dari rumah orang tuanya di Ki-ciu.
Kini ia sudah terbangun dan tentu mendapatkan dirinya tertidur dalam kamarnya dan semua tadi hanya mimpi kosong belaka.
Ia membuka matanya, mengeluh lirih dan bangkit duduk, menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan.
Ia tidak berada dalam kamarnya sendiri!
Ia rebah di atas sebuah pembaringan bertilam merah, dalam sebuah kamar yang sama sekali asing!
Oh, ia tidak bermimpi!
Ia benar-benar diculik dan dilarikan orang lalu kini dikeram dalam kamar ini!
Cin Lan cepat turun dari pembaringan, bermaksud untuk melarikan diri keluar dari dalam kamar itu.
Akan tetapi, tiba-tiba muncul lima orang wanita muda yang cantik-cantik dan mereka segera memegang kedua lengannya.
"Thio-siocia (Nona Thio), engkau tidak boleh keluar dari kamar ini. Seorang nona pengantin tidak boleh keluar dari kamar ini sebelum pernikahan disahkan!"
Kata seorang di antara lima wanita itu.
"Apa? Kau gila! Siapa yang menjadi nona pengantin? Siapa yang akan menikah?"
Bentak Cin Lan.
"Nona pengantinnya adalah engkau, Thio-siocia! Engkau yang akan menikah dengan Hwe-coa-sian (Dewa Ular Terbang) dan menjadi dewi!"
Jawab lima orang wanita itu hampir berbareng.
"Tidak! Kalian gila! Lepaskan aku""!"
Cin Lan meronta-ronta dan mengamuk, akan tetapi lima orang gadis itu memeganginya dan tentu saja ia kalah kuat menghadapi lima orang wanita itu.
Cin Lan adalah seorang gadis terpelajar.
Tentu saja ia tidak mau percaya sama sekali akan bujukan mereka yang penuh tahyul itu.
Akan tetapi ia cukup cerdik untuk mengetahui bahwa ia berada dalam tangan orang-orang yang percaya akan tahyul, maklum bahwa ia berada dalam ancaman bahaya besar.
Maka, ia pura-pura bersikap mengalah dan tidak meronta lagi sehingga lima orang wanita itu mengendurkan pegangan mereka.
Cin Lan menggunakan kesempatan ini untuk tiba-tiba meronta dan berlari lepas dari tangkapan mereka, langsung lari ke pintu kamar yang terbuka.
Akan tetapi tiba-tiba ia menjerit kecil dan menahan larinya, bahkan lalu melangkah mundur sambil menatap wajah orang yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dengan mata terbelalak.
Yang muncul itu adalah seorang bertubuh tinggi kurus, berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan ia ingat bahwa orang inilah yang menculiknya keluar dari rumah orang tuanya di Ki-ciu.
Laki-laki berpakaian jubah pendeta dan kepalanya gundul itu tersenyum mengejek.
Wajahnya cukup tampan akan tetapi kulit mukanya pucat kekuningan.
Inilah Sam-kauwcu (Ketua Agama ketiga) dan ketika lima orang gadis itu melihat dia memasuki kamar, mereka segera menjatuhkan diri berlutut dengan memberi hormat secara merendah sekali.
Mereka menjulurkan kedua tangan ke depan dan mencium lantai, seperti para hamba yang memberi hormat kepada rajanya!
Pendeta tinggi kurus itu memasuki kamar dan menghampiri Cin Lan yang masih berdiri memandangnya dengan mata bersinar penuh keberanian dan kemarahan.
"Nona, mengapa engkau menentang nasibmu yang amat baik ini? Ketahuilah, jika engkau menjadi pengantin Dewa Ular Terbang, engkau akan menjadi dewi dan hidupmu akan berbahagia dan terhormat."
Mengingat bahwa orang ini yang menculiknya, Cin Lan menjadi marah dan ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Sam-kauwcu lalu membentak.
"Penjahat yang berkedok pendeta! Siapa sudi mendengar ocehanmu? Cepat antarkan aku kembali, kalau tidak ayah tentu akan mengirim para pengawal untuk menyeretmu di depan meja pengadilan dan menghukum dengan seribu kali cambukan!"
Sam-kauwcu tersenyum menyeringai dan berkata.
"Kalau begitu, terpaksa kami menggunakan kekerasan!"
Tangannya menyambar ke depan dengan cepat sekali dan tahu-tahu Cin Lan telah tertotok dua kali yang membuat ia menjadi lemas dan tidak mampu mengeluarkan suara.
Lima orang wanita pelayan, itu cepat memeluk tubuh Cin Lan sehingga tidak jatuh terkulai di atas lantai.
"Cepat dandani ia dengan pakaian pengantin yang sudah dipersiapkan karena upacara pernikahan akan dilangsungkan hari ini juga!"
Kata Sam-kauwcu kepada lima orang wanita pelayan itu, lalu diapun keluar dari dalam kamar.
Thio Cin Lan sama sekali tidak berdaya melawan ketika ia dimandikan oleh lima orang wanita itu, kemudian pakaian baru dikenakan pada tubuhnya.
Pakaian dalam dari sutera halus, lalu pakaian luamya adalah pakaian mempelai berwarna merah berkembang-kembang dari kain tipis tembus pandang sehingga bentuk tubuhnya yang langsing dan kulitnya yang putih mulus itu membayang di balik pakaian pengantin itu.
Rambutnya disisir rapi dan digelung secara indah, dihias tiara penuh mutiara.
Wajahnya juga dihias sehingga Cin Lan tampak benar-benar cantik jelita dan agung bagaikan seorang bidadari!
Lewat tengah hari terdengar bunyi canang dan tambur.
Mempelai perempuan diarak keluar dari kamarnya menuju ke ruangan tengah di mana semua anggauta Hwe-coa-kauw telah berkumpul.
Di tengah-tengah ruangan itu dikelilingi oleh para anggauta yang duduk agak jauh, terdapat sebuah bangku tinggi yang sudah dihias dengan bunga-bunga dan kertas berwarna.
Cin Lan yang masih berada di bawah pengaruh totokan, tak mampu meronta atau berteriak, dinaikkan ke atas bangku tinggi dan didudukkan di sana.
Gadis yang tak berdaya itu hanya dapat duduk lemas dan sepasang matanya memandang dengan penuh rasa ngeri.
Di depannya, kurang lebih dua tombak jauhnya, terdapat sebuah kotak emas yang tergantung oleh tali dari tiang penglari.
Kotak itu seluruhnya terbuat dari emas dan diukir indah, ukiran berbentuk seekor ular yang sedang terbang.
Walaupun tidak diberitahu, Cin Lan dapat merasakan bahwa bahaya yang mengancam dirinya tentu datang dari kotak emas yang aneh itu, maka ia memandang ke arah kotak emas itu dengan gelisah.
Semua anggauta gerombolan itu tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya mata mereka memandang ke arah gadis itu dengan mata kagum dan penuh gairah.
Dari pandang mata mereka tampak kesan seolah mereka hendak menelan gadis itu bulat-bulat!
Hal ini terasa oleh Cin Lan dan menambah kengerian hatinya.
Siapa takkan merasa ngeri, dalam keadaan tidak berdaya berada di tengah-tengah kurang lebih tigapuluh orang laki-laki yang tampak buas dan pandang mata mereka seperti orang berotak miring itu!
Di bawah gantungan kotak emas itu duduk tiga orang pendeta berkepala gundul dan berjubah longgar.
Yang seorang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok namun kepalanya gundul, matanya mencorong lebar, usianya kurang lebih limapuluh lima tahun.
Inilah Toa-kauwcu, ketua agama yang pertama.
Yang kedua adalah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, pendek gendut sekali sehingga dia seperti seekor babi saja, wajahnya tampak lucu dan sama sekali tidak serem walaupun dia berusaha untuk membuat wajahnya tampak serem.
Dia adalah Ji-kauwcu, ketua kedua.
Adapun orang ketiga adalah Sam-kauwcu yang tinggi kurus berwajah pucat kekuningan dan berusia empatpuluh tahun itu.
Mereka bertiga duduk di atas kursi-kursi berukir dengan gambar ular terbang.
Setelah menaikkan Cin Lan ke atas bangku tinggi itu, lima orang pelayan wanita itu lalu mengundurkan diri ke dalam kamar atau ruangan di bagian belakang bangunan besar bekas kuil itu, seperti para wanita pelayan yang lain.
Mereka itu dilarang menyaksikan upacara perkawinan.
Cin Lan ditinggalkan seorang diri dan gadis ini dengan wajah pucat ketakutan memandang ke sekeliling melalui kerudung pengantin yang berupa tirai tipis tembus pandang itu.
Kemudian tiga orang ketua agama itu berdoa dengan suara yang tidak jelas, seakan-akan hanya digumam saja.
Akan tetapi aneh, semua anggauta yang berada dalam ruangan itu lalu menundukkan muka dan ikut berdoa sehingga ruangan itu penuh dengan suara orang berdoa yang menimbulkan gaung aneh dan suasananya menjadi seram sekali.
Cin Lan mendengarkan dengan mata terbelalak dan bulu tengkuknya meremang karena ngeri dan takut.
Toa-kauwcu lalu membakar dupa wangi yang asapnya memenuhi ruangan itu.
Bau dupa yang harum aneh ini menambah suasana yang aneh dan menyeramkan.
Tiba-tiba semua mulut terdiam seperti mendapat komando tak bersuara.
Suasana menjadi sunyi, sunyi yang aneh karena suara doa gemuruh tadi berhenti secara tiba-tiba.
Tiga orang ketua agama itu lalu bangkit berdiri dan menghampiri Cin Lan yang duduk di atas bangku tinggi.
Mereka menggeser kursi mereka ke dekat bangku tinggi yang diduduki Cin Lan, lalu mereka berdiri di atas kursi sehingga dapat berhadapan sama tingginya dengan gadis itu.
"Ya dewa ular yang maha agung, terimalah persembahan kami ini, pengantin paduka!"
Kata Ji-kauwcu dalam doanya sambil merenggut kerudung penutup kepala dan muka Cin Lan.
Pada saat yang sama Sam-kauwcu membuka totokan pada urat gagu Cin Lan akan tetapi pada saat yang sama juga menotok pundak gadis itu sehingga Cin Lan menjadi lemas tak mampu bergerak sedikitpun.
Gadis itu kini hanya mampu bersuara akan tetapi tidak mampu bergerak.
Terdengarlah isak tangisnya yang ketakutan.
Kalau saja ia tidak ditotok sehingga tak mampu bergerak, tentu Cin Lan akan melompat turun dari bangkunya yang tinggi.
Sementara itu, Toa-kauwcu menekan tombol yang terdapat pada kotak emas itu sehingga terdengar suara menjepret dan kotak emas itupun terbuka.
Tampaklah dari kotak itu kepala seekor ular kecil yang menjulur keluar dengan sepasang matanya yang liar berwarna kemerahan dan lidahnya menjilat-jilat keluar dari moncongnya.
Lidah itu lebih merah lagi warnanya.
Perlahan-lahan ular itu merayap keluar sehingga tampak tubuhnya yang kecil panjang berbintik-bintik merah dan hitam.
Binatang itu merayap ke atas peti dan akhirnya melingkar diam di atas peti, kepalanya memandang ke sana-sini seperti seorang raja sedang memeriksa para hulubalangnya yang menghadap di depannya.
Agaknya ular itu hendak turun, akan tetapi peti emas itu tergantung begitu tinggi sedangkan untuk turun tidak terdapat tempat untuk merayap.
Ular itu lalu menggerak-gerakkan kepalanya mencari tempat yang dekat untuk diloncati, dan tentu saja yang terdekat dengan tempatnya adalah Cin Lan yang duduk di atas bangku itu.
Maka perhatian ular itu kini pindah seluruhnya kepada gadis itu yang duduk tak bergerak bagaikan patung di atas bangkunya.
Cin Lan terbelalak memandang ular itu.
Melihat betapa binatang itu memandang kepadanya sambil menjilat-jilatkan lidahnya, Cin Lan menjadi begitu ngeri dan takut sekali sehingga air matanya mengalir membasahi pipinya yang pucat tanpa dapat mengeluarkan sedikitpun suara karena ditahan-tahannya hati yang ingin menjerit-jerit, takut kalau-kalau hal itu akan membuat ular itu menyerangnya.
Pada saat itu, Toa-kauwcu berdiri dari kursinya dan menghampiri Cin Lan yang hampir pingsan ketakutan.
Kauw-cu ini memegang secawan anggur dan berbisik kepada Cin Lan.
"Nona pengantin, silakan minum anggur pengantin untuk menghormati pengantin pria."
Tentu saja Cin Lan tidak sudi menerimanya, bahkan ia memandang pendeta tinggi besar itu dengan mata penuh sinar kebencian. Toa-kauwcu lalu berdiri di atas kursinya dan berkata lirih.
"Betapapun juga, lebih baik mati minum racun daripada mati tersiksa."
Mendengar ucapan ini, Cin Lan menganggap bahwa ucapan itu ada benarnya juga. Karena menyangka bahwa yang berada dalam cawan itu tentu racun yang akan mematikannya, cepat ia berkata.
"Baik..... berikan anggur itu..... akan kuminum.......!"
Karena Cin Lan tidak dapat menggerakkan tubuhnya yang tertotok lemas, Toa-kauwcu lalu mengangkat cawan itu ke bibir Cin Lan dan menunangkan isi cawan ke dalam mulut gadis itu yang menerimanya lalu meminumnya sampai habis.
Rasa minuman itu manis akan tetapi berbau amis, akan tetapi karena merasa lebih baik mati cepat daripada menghadapi siksaan yang mengerikan itu.
Cin Lan menahan kemuakannya dan menelan semua isi cawan.
Toa-kauwcu tersenyum lalu turun dari kursi dan meninggalkan Cin Lan setelah dia membebaskan gadis itu dari totokan yang membuatnya lemas tak mampu bergerak tadi.
Gadis yang malang itu merasa betapa kepalanya menjadi pening dan pandang matanva kabur.
Segala sesuatu tampak berpusing dan ia memejamkan kedua matanya, siap menerima datangnya kematian.
Ia merasa tubuhnya ringan sekali dan anehnya, ia merasa nyaman, enak dan menyenangkan!
Untuk beberapa saat lamanya ia memejamkan kedua matanya dan di depan mata yang terpejam itu ia melihat banyak macam warna beterbangan, berputar-putar dan berkilauan amat indahnya.
Ketika ia membuka mata kembali, sungguh heran, ia merasa segar dan senang sekali.
Ia melihat betapa ular yang berada di atas kotak emas itu mengangkat kepalanya dan kini tampak jelas betapa di bagian dada dan perut ulat itu terkembang sayap di kanan kiri!
Alangkah indahnya ular itu.
Kulitnya yang bertotol-totol merah hitam itu mengkilap dan warnanya amat indah.
Cin Lan merasa suka sekali melihat ular itu, bagaikan seorang gadis melihat setangkai bunga atau seekor burung yang bulunya berwarna indah.
Tanpa disadarinya sendiri gadis itu mengangkat kedua lengannya ke atas seolah-olah hendak dijulurkan dan hendak membelai ular yang kini siap hendak meloncat!
Semua anggauta Hwe-coa-kauw yang berada di situ memandang ke arah dua mahluk yang saling berhadapan itu dan mereka menahan napas dengan hati tegang.
Mereka semua maklum bahwa sebentar lagi.
"pengantin pria"
Itu akan melompat dan menerkam leher "pengantin wanita", dalam gigitannya yang berbisa dan mematikan.
Setiap tahun sekali terjadilah persembahan kurban seperti ini yang dipilih di antara gadis-gadis cantik.
Dan tahun ini yang dipilih adalah Thio Cin Lan, yang selain cantik jelita dan menjadi kembang kota Ki-ciu, juga ia berdarah bangsawan dan terutama sekali puteri Jaksa Thio yang tidak disuka oleh Hwe-coa-kauw.
Suasana yang tegang memuncak dan semakin mencekam ketika orang-orang melihat betapa ular itu kini mengembang kan "sayapnya"
Yang sebetulnya hanyalah tubuh ular yang digepengkan sehingga menjadi lebar seperti sayap. Ular itu kini siap untuk "terbang"
Atau melompat ke arah Cin Lan yang berada di bawah pengaruh minuman perangsang itu, menanti ular kecil indah itu dengan senyum yang amat manis!
Ular itu mendesis beberapa kali, kemudian tiba-tiba ia "terbang"
Melompat ke arah Cin Lan, meluncur ke leher gadis itu.
Semua orang menahan napas melihat tubuh ular itu melayang, hati mereka penuh ketegangan.
Pada saat itu, dari luar jendela ruangan itu menyambar sinar-sinar kecil yang mengeluarkan suara berdengung seperti ada serombongan tawon kecil terbang masuk dan sinar-sinar kecil itu menyambar ke arah tubuh ular yang sedang meluncur di udara itu.
Ular itu terpental di tengah udara sambil menggeliat-geliat dan jatuh ke bawah.
Ketika tiba di atas lantai, ular itu berkelojotan sebentar lalu diam mati.
Kepala dan lehernya penuh ditancapi jarum-jarum kecil.
Itulah hong-cu-ciam (jarum tawon), senjata rahasia yang amat ampuh dari Bwee Hwa Si Tawon Merah!
Untuk sejenak keadaan menjadi sunyi dan semua orang yang berada di situ tercengang keheranan.
Demikian pula tiga orang Kauw-cu yang sama sekali tidak menduga akan terjadi hal seperti itu.
Mereka tertegun dan tak dapat berbuat sesuatu kecuali memandang bangkai ular pujaan mereka yang telah mati.
Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama.
Segera mereka bertiga melompat dengan marah sambil mencabut senjata masing-masing.
"Jahanam busuk, jangan lari!"
Mereka berseru dan cepat mereka melompat keluar dari ruangan itu melalui jendela.
Di luar jendela telah berdiri Bwee Hwa dan Ong Siong Li, menanti dengan sikap tenang dan dengan pedang di tangan kanan.
"Keparat, engkau berani datang lagi? Agaknya memang sudah bosan hidup!"
Teriak Toa-kauwcu yang segera mengenal Siong Li yang tadi pagi melarikan diri setelah menghadapi pengeroyokan mereka bertiga. Siong Li tersenyum mengejek.
"Selama pedang ini masih berada di tanganku, aku takkan berhenti berusaha untuk membasmi Hwe-coa-kauw yang terkutuk!"
Bwee Hwa juga tidak mau kalah dan dengan pedang melintang depan dada, telunjuk tangan kirinya menuding ke arah tiga orang itu.
"Kalian ini orang-orang sesat yang menyamar sebagai pendeta agama sesat. Kalau kalian ingin selamat, bebaskan nona Thio dan bubarkan perkumpulan jahat ini, lalu kalian menyerah kepada yang berwajib untuk menerima hukuman. Kalau tidak demikian, terpaksa kami turun tangan dan tidak saja kami akan membinasakan kalian bertiga, tapi juga akan kami obrak-abrik dan bakar sarang kalian ini!"
"Nah, bukankah engkau ini perempuan yang semalam telah membunuh beberapa orang anak buah kami? Bagus, tidak usah kami bersusah payah mencari, engkau telah datang mengantarkan nyawa ke sini!"
Teriak Toa-kauwcu.
"Bunuh mereka!"
Bentak Ji-kauwcu yang segera menyerang Bwee Hwa dengan serangan kilat. Pedangnya membacok ke arah leher gadis itu.
"Wuuuttt....... trang"""
Bunga api berpijar ketika Bwee Hwa menangkis serangan itu dengan Sin-hong-kiam di tangannya.
Tangan Ji-kauwcu tergetar dan tahu bahwa mereka akan dikeroyok, Bwee Hwa dan Siong Li cepat berlompatan keluar dari kuil untuk mencari tempat yang luas.
Mereka tiba di luar kuil yang luas dan di sana mereka menanti tiga orang yang mengejar mereka.
Tiga orang Kauw-cu itu segera serentak menyerang dan terjadilah perkelahian dua lawan tiga yang seru sekali.
Bayangan lima orang yang tangguh ini berkelebatan di antara gulungan lima sinar pedang.
Para anak buah Hwe-coa-kauw juga mengejar dengan senjata di tangan.
Akan tetapi ketika mereka hendak maju mengepung dua orang muda itu, tiba-tiba terdengar sorak sorai menggegap gempita dan muncullah limapuluh orang perajurit pengawal di bawah pimpinan Thio-taijin sendiri!
Kiranya tadi sebelum memasuki hutan, Bwee Hwa dan Siong Li bersepakat untuk minta bantuan Thio-taijin mengingat bahwa gerombolan itu mempunyai banyak anak buah.
Mendengar permintaan Bwee Hwa yang sudah mengetahui sarang gerombolan yang menculik puterinya, Thio-taijin yang marah dan ingin segera menyelamatkan puterinya turun tangan dan memimpin sendiri limapuluh orang perajurit pengawal ditemani para perwira yang memiliki ilmu silat tinggi, mengikuti Siong Li dan Bwee Hwa.
Mereka berindap-indap menghampiri kuil di tengah hutan itu.
Karena semua anggauta Hwe-coa-kauw sedang sibuk mengadakan upacara "pernikahan"
Maka tidak ada yang mengetahui akan datangnya pasukan ini.
Pasukan bersembunyi di luar kuil dan setelah melihat Bwee Hwa dan Siong Li keluar dan bertempur, melihat pula puluhan anak buah Hwe-coa-kauw siap mengeroyok, baru pasukan itu keluar sambil bersorak sorai dan dengan senjata di tangan.
Para anggauta gerombolan terkejut bukan main.
Akan tetapi karena pasukan itu sudah menyerbu, tidak ada jalan lain bagi mereka.
Terpaksa mereka melawan mati-matian dan terjadilah pertempuran yang hebat di depan kuil itu.
Sementara itu Thio-taijin sendiri, dikawal beberapa orang perwira, menyerbu kuil yang sudah ditinggalkan para anggauta gerombolan yang bertempur di luar.
Mereka hanya menemukan belasan orang wanita cantik yang dipaksa menjadi pelayan di situ.
Para wanita ini berlutut dan menyerah tanpa perlawanan.
Jaksa Thio mendapatkan puterinya di ruangan tengah, mengenakan pakaian pengantin.
Ketika melihat ayahnya, Cin Lan berlari menyambut dan jatuh pingsan dalam pelukan ayahnya.
Cepat Jaksa Thio mem bawa puterinya pulang lebih dulu untuk merawat gadis itu dan menyerahkan pimpinan pasukan kepada para perwira.
Biarpun mereka melakukan perlawanan nekat, namun karena jumlah mereka kalah banyak, hanya kurang lebih setengahnya, maka gerombolan Hwe-coa-kauw dapat dihancurkan.
Banyak di antara mereka yang yang terbunuh atau tertawan, sisanya melarikan diri cerai berai ke dalam hutan.
Sebagian perajurit lalu melakukan penggeledahan ke dalam kuil, menawan para wanita pelayan.
Sebagian pula mengepung tiga orang kauw-cu yang masih bertanding melawan Bwee Hwa dan Siong Li.
Mereka hanya berani mengepung dari jarak jauh karena ketika tadi mereka berusaha mengepung dari dekat dan membantu dua orang muda itu, baru beberapa gebrakan saja dua orang perajurit telah roboh terkena sambaran pedang tiga orang Kauw-cu yang lihai itu.
Memang kepandaian tiga orang kauwcu itu tangguh sekali.
Ilmu pedang mereka berdasarkan ilmu pedang dari Go-bi-pai, walaupun mereka sama sekali bukan murid-murid perguruan besar itu.
Entah bagaimana mereka dapat mencuri dan mempelajari ilmu pedang ini.
Akan tetapi ilmu pedang Go-bi Kiam-sut itu sudah bercampur dengan ilmu silat aliran Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), sebuah perkumpulan besar berkedok agama yang suka menentang pemerintah dan juga tidak segan melakukan perbuatan jahat.
Tiga orang ini selain memiliki ilmu pedang yang kuat juga mereka memiliki tenaga sakti yang cukup tangguh di samping gerakan mereka cepat sekali.
Karena inilah maka sampai sebegitu jauh Bwee Hwa dan Siong Li masih juga belum mampu mengalahkan mereka.
Hal ini membuat Bwee Hwa merasa penasaran dan marah sekali.
Diam-diam gadis perkasa ini mengeluarkan enam batang jarum kecil dan dengan mengerahkan tenaga, tangan kirinya bergerak tiga kali.
"Sambut hong-cu-ciam ini!"
Bentaknya.
Sebagai seorang pendekar, ia memberi peringatan lebih dulu kepada orang yang ia serang dengan senjata rahasia.
Ini merupakan peraturan tak tertulis bagi para pendekar agar tidak dianggap curang.
Terdengar bunyi dengung dan tiga orang kauw-cu itu disambar senjata rahasia itu, masing-masing dua batang jarum.
Mereka bertiga terkejut dan maklum akan hong-cu-ciam, mereka cepat memutar pedang untuk menangkis sehingga jarum-jarum itu runtuh.
Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan Bwee Hwa untuk menyerang hebat.
Pedangnya berkelebatan dan dari mulutnya terdengar dengung tawon yang membuat tiga orang lawannya terganggu konsentrasinya.
Juga Siong Li menyerang dengan dahsyat menggunakan kesempatan selagi gerakan tiga orang itu kacau setelah diserang hong-cu-ciam.
Agaknya Toa-kauwcu yang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan kepalanya gundul itu merasa bahwa kalau melawan terus, dia dan kawan-kawannya tidak akan menang, bahkan keadaan dia dan dua orang sutenya (adik seperguruannya) amat berbahaya karena anak buah mereka telah dihancurkan, segera dia memberi isyarat dengan teriakan rahasia kepada dua orang saudaranya.
Mereka bertiga lalu berlompatan ke belakang sambil mengeluarkan senjata rahasia piauw beracun dan tanpa memberi peringatan seperti kelicikan para tokoh sesat, mereka menyambitkan piauw ke arah Siong Li dan Bwee Hwa.
Dua orang muda ini sudah waspada sejak tadi, maka ketika ada sinar-sinar hitam menyambar, mereka berdua cepat memutar pedang.
Sinar pedang mereka membentuk payung yang menjadi perisai diri dan semua piauw itu runtuh tertangkis sinar pedang.
Kesempatan ini dipergunakan oleh tiga orang ketua gerombolan Hwe-coa-kauw untuk berlompatan keluar dari kepungan perajurit pengawal dan melarikan diri.
Tentu saja Bwee Hwa dan Siong Li tidak mau membiarkan mereka lolos.
Dengan cepat mereka berdua melakukan pengejaran sambil mengerahkan ilmu berlari cepat mereka.
Setelah jarak antara mereka dan tiga orang kepala gerombolan itu cukup dekat, Bwee Hwa lalu menyerang dengan hong-cu-ciam (jarum tawon) ke arah orang yang berada paling belakang.
Sinar lembut menyambar, terdengar dengung dan Ji-kauwcu yang bertubuh pendek gendut itu berteriak dan tubuhnya terpelanting.
Sebatang jarum telah menancap di tengkuknya, membuat lemas dan sama sekali dia tidak dapat melakukan perlawanan ketika para perajurit pengawal datang lalu membelenggunya.
Melihat Ji-kauwcu roboh, Toa-kauwcu mewjadi marah sekali.
Dia merasa sakit hatinya kepada dua orang pendekar yang telah mengobrak-abrik gerombolannya bahkan telah membunuh banyak pembantunya, maka dengan nekat dia lalu membalikkan tubuh dan mengamuk.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Sam-kauwcu untuk melarikan diri.
Ketua ketiga dari Hwe-coa-kauw ini memang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi dan dia mampu berlari dengan amat cepatnya.
Siong Li berusaha mengejarnya, namun dia segera kehilangan jejak dan karena dia mengkhawatirkan keselamatan Bwee Hwa, dia cepat kembali dan ikut mengeroyok Toa-kauwcu.
Tentu saja ketua Hwe-coa-kauw ini tidak mampu menandingi dua orang pendekar muda itu dan lewat belasan jurus saja dia sudah roboh dan tewas.
Maka terbasmilah perkumpulan agama sesat Hwe-coa-kauw.
Hanya Sam-kauwcu seorang yang berhasil meloloskan diri.
Banyak anak buahnya tewas atau tertawan dan hanya sedikit yang melarikan diri cerai berai mencari keselamatan masing-masing.
Ketika Bwee Hwa dan Siong Li kembali ke sarang Hwe-coa-kauw, mereka disambut dengan penuh kegembiraan dan kehormatan oleh Jaksa Thio.
"Bagaimana keadaan Enci Cin Lan, lo-pek?"
Tanya Bwee Hwa kepada Jaksa Thio.
"Ia baik-baik saja, hanya terkejut dan sekarang sudah diantar pulang. Syukurlah, semua ini karena pertolonganmu dan Ong-taihiap (Pendekar Besar Ong). Kami sekeluarga berhutang budi kepada kalian berdua."
"Ah, harap jangan bicara tentang budi, taijin. Kami berdua hanya melakukan apa yang menjadi tugas kewajiban kami,"
Kata Ong Siong Li.
"Aku ingin melihat keadaan Enci Cin Lan sebentar,"
Kata Bwee Hwa kepada Siong Li.
Pemuda itu mengangguk dan mereka semua lalu kembali ke kota Ki-ciu dengan gembira karena selain Cin Lan telah dapat ditemukan dan diselamatkan, juga gerombolan agama sesat Hwe-coa-kauw telah dapat dibasmi.
Setibanya di gedung keluarga Jaksa Thio, Bwee Hwa lalu pergi ke kamar.
Ia melihat Cin Lan dalam keadaan sehat.
Gadis bangsawan yang mengalami peristiwa yang amat mengerikan dan menakutkan itu kini sedang tidur pulas.
Bwee Hwa tidak mau mengganggunya, lalu mengambil buntalan pakaiannya dan menuju ke luar di mana Siong Li duduk bersama Jaksa Thio.
Melihat gadis itu keluar dan sudah menggendong buntalan pakaiannya, Jaksa Thio terkejut sekali.
Dia cepat bangkit berdiri.
Siong Li juga bangkit dari duduknya.
"Eh, Bwee Hwa, engkau menggendong buntalan pakaianmu? Hendak ke manakah?"
Nyonya Thio juga datang berlari dari dalam.
"Bwee Hwa, jangan pergi sekarang. Tinggallah dulu di sini selama yang kaukehendaki! Kami senang engkau berada di sini!"
Bwee Hwa tersenyum dan menggeleng kepalanya.
Ia tahu bahwa kalau ia lebih lama tinggal di situ, ia hanya akan menerima pujian-pujian dan penghormatan-penghormatan yang sesungguhnya sama sekali tidak ia kehendaki atau cari.
"Tidak mungkin, lopek dan bibi. Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan. Maka aku harus pergi sekarang juga melanjutkan perjalananku. Kelak, kalau aku lewat di kota ini pasti aku akan singgah untuk menanyakan keselamatan kalian dan Enci Cin Lan."
"Thio-taijin, apa yang dikatakan Hwa-moi tadi memang benar. Kami masih mempunyai banyak urusan masing-masing yang harus diselesaikan. Karena itu, sayapun mohon pamit!"
Jaksa Thio dan isterinya mencoba untuk menahan.
Akan tetapi Bwee Hwa tidak dapat ditahan.
Bahkan ketika Jaksa Thio menawarkan pemberian uang untuk bekal, baik Bwee Hwa maupun Siong Li menolak dengan halus.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan Jaksa Thio dan isterinya yang hanya dapat mengikuti mereka dengan pandang mata heran dan kagum.
Setelah tiba di luar kota Ki-ciu, Bwee Hwa berhenti di sebuah perempatan dan ia berkata.
"Li-ko, sekarang kita harus berpisah di sini. Engkau teruskanlah perjalananmu dan aku akan melanjutkan perjalananku sendiri."
Siong Li tidak memperlihatkan rasa kecewa yang menyelubungi hatinya. Dia masih tersenyum ketika berkata.
"Hwa-moi, apa salahnya kalau kita mengambil jalan bersama? Apakah engkau mempunyai tujuan tertentu?"
Bwee Hwa menggeleng kepala.
"Kurasa lebih baik kita mengambil jalan masing masing, Li-ko. Tidak baik kalau engkau berjalan denganku karena hal itu akan mengakibatkan urusanmu sendiri terbengkalai. Aku hendak mencari seseorang."
Ong Siong Li maklum bahwa gadis itu merasa tidak enak kalau harus melakukan perjalanan bersama dia dan diapun maklum akan hal ini, karena sebagai seorang gadis, tentu saja Bwee Hwa merasa malu untuk melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya.
Bahkan berkenalanpun baru saja!
Dia menghela napas panjang dan bertanya.
"Tidak apalah kalau kita harus berpisah, Hwa-moi. Mungkin dan mudah-mudahan saja kelak kita akan dapat saling berjumpa kembali. Akan tetapi tentang orang yang kau cari itu, siapakah dia kalau aku boleh mengetahuinya?"
"Namanya akupun tidak tahu. Aku hanya mengetahui bahwa julukannya adalah Kauw-jiu Pek-wan (Lutung Putih Tangan Sembilan)."
Setelah berpikir dan mengingat-ingat berapa lamanya, Siong Li lalu berkata.
"Aku pernah mendengar (Lanjut ke
Jilid 03) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 nama julukan yang cukup terkenal itu, akan tetapi aku belum pernah bertemu dengan orangnya."
"Di mana dia tinggal?"
Tanya Bwee Hwa, ingin tahu sekali. Siong Li menggeleng kepalanya.
"Menurut pendengaranku, dia adalah seorang tokoh kenamaan yang menjagoi beberapa belas tahun yang lalu, akan tetapi akhir-akhir ini tidak terdengar lagi namanya. Dahulu dia menjagoi di daerah utara, sekarang entah berada di mana, akupun tidak pernah mendengar lagi tentang dia."
Bwee Hwa kecewa mendengar bahwa kawan baru ini tidak tahu di mana orang yang dicarinya itu berada.
"Sebetulnya dia itu orang apakah? Apa kedudukannya dan apa yang dikerjakannya? Melihat julukannya, tentu dia seorang ahli silat yang tangguh."
Siong Li memandangnya dengan sinar mata heran.
"Engkau mencari dia akan tetapi tidak tahu dia itu orang macam apa? Sungguh aneh sekali. Kauw-jiu Pek-wan adalah seorang perampok tunggal yang namanya ditakuti orang karena kejam dan lihainya. Engkau mencari dia ada urusan apakah, Hwa-moi? Hati-hati, dia seorang yang lihai sekali, dan terkenal amat kejam dan menurut apa yang pernah kudengar, dia suka mengganggu wanita."
Tiba-tiba muka Bwee Hwa menjadi merah.
"Ah, tidak ada apa-apa. Terima kasih atas semua keteranganmu, Li-ko. Nah, biarlah kita berpisah di sini."
Biarpun hatinya terasa berat harus berpisah dari gadis yang baru saja dikenalnya akan tetapi yang amat dikaguminya dan amat menarik hatinya itu, Siong Li tidak dapat membantah.
Mereka lalu mengangkat kedua tangan dada, saling menghormat.
"Selamat berpisah, Li-ko."
"Selamat jalan, Hwa-moi. Semoga Thian (Tuhan) selalu melindungimu."
Mereka mengambil jalan masing-masing.
Bwee Hwa menuju ke utara dan Siong Li menuju ke timur.
Bwee Hwa berjalan seorang diri.
Ia tidak memperhatikan ke mana ia menuju.
Ia membiarkan dirinya ke mana saja kedua kakinya membawanya.
Pikirannya melamun tiada hentinya, mengenang apa yang ia dengar dari Ong Siong Li tentang Kauw-jiu Pek-wan.
Dia itu, ayah kandungnya, adalah seorang perampok yang amat lihai dan amat kejam!
Alangkah rendahnya!
Jadi, ia adalah puteri seorang perampok, seorang penjahat?
Ia mencoba untuk membayangkan lagi wajah seorang laki-laki yang diingatnya sebagai ayahnya dahulu.
Seorang laki-laki tinggi besar bermuka seperti harimau dengan sepasang mata bundar besar dan suara yang keras dan kasar.
Memang pantas kalau ayahnya menjadi perampok, akhirnya ia menarik kesimpulan sebagai hasil lamunannya itu dan ia menghela napas dalam.
Inilah agaknya yang menjadi sebab mengapa gurunya tidak pernah mau menceritakan siapa sebetulnya ayahnya itu.
Agaknya sudah mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang penjahat kejam.
Bwee Hwa menghampiri sebatang pohon besar dan duduk di atas sebuah batu besar yang berada di bawah pohon itu.
Timbul perasaan ragu dalam hatinya untuk melanjutkan pencarian terhadap ayahnya.
Ia merasa malu memikirkan keadaan ayahnya sebagai seorang perampok, sebagai seorang penjahat besar yang kejam, bahkan yang menurut Siong Li tadi, seorang pengganggu wanita!
Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan wajah ibunya.
Ia masih ingat bahwa ibunya adalah seorang wanita yang cantik, akan tetapi seingatnya wanita cantik ibunya itu selalu diliputi kedukaan, sinar mata itu selalu sayu dan tak bersemangat.
Ia menjadi terharu dan bibirnya berbisik lirih.
".......ibu......."
Seketika lenyaplah semua keraguannya.
Ia bukan hendak mencari ayahnya yang menjadi perampok jahat dan kejam, akan tetapi ia hendak mencari ibunya!
Ibunya yang terkasih, ibunya yang cantik jelita dan ibunya yang selalu bersedih itu.
Menurut keterangan Siong Li tadi, ayahnya dahulu menjagoi di daerah utara.
Karena itulah ia tadi memilih jalan yang menuju ke utara.
Bwee Hwa bangkit dan melanjutkan perjalanannya, menuju utara.
Mudah-mudahan ia akan dapat menemukan ibunya.
Kini hanya ibunya yang menjadi tujuan perjalanannya.
Ia mencari Kauw-jiu Pek-wan hanya untuk dapat bertemu dengan ibunya.
Karena ia tidak mengenal jalan dan hanya ngawur saja menuju ke utara, maka ketika bukit Siauw-liong-san menghadang di depannya, iapun langsung mendaki bukit itu.
Bukit yang penuh hutan lebat dan besar, hutan-hutan liar yang jarang dimasuki orang dan bukit itu terkenal sebagai sarang gerombolan penjahat yang ganas.
Orang-orang yang tinggal di daerah itu mengenal tempat ini dan tidak ada pemburu yang berani memburu binatang di hutan-hutan itu, tidak ada pedagang yang berani melalui jalan di hutan itu.
Berhari-hari Bwee Hwa keluar masuk hutan dan masih juga ia belum dapat keluar dari bukit penuh hutan liar itu.
Ia kehabisan bekal roti kering yang dibelinya di sebuah dusun yang terakhir dilewatinya, dan sudah dua hari ia terpaksa mencari buah-buahan di hutan untuk dimakan.
Bahkan ia terpaksa makan pupus-pupus daun agar jangan mati kelaparan.
Baru gadis ini merasakan betapa susahnya melakukan perjalanan merantau ke daerah yang asing dan tidak dikenalnya sama sekali.
Setelah berputar-putar dalam hutan-hutan di atas bukit itu selama lima hari, pada hari keenam karena kesal dan bingung ia melompat ke atas cabang pohon lalu memanjat naik ke puncak pohon yang tinggi itu untuk melihat keadaan sekeliling mencari kalau-kalau ia dapat melihat sebuah dusun tak jauh dari situ.
Tiba-tiba dari atas melayang turun dua titik hitam.
Setelah dekat, ternyata bahwa dua titik hitam itu adalah dua ekor burung kim-gan-tiauw (rajawali mata emas), semacam burung rajawali yang besar sekali dan matanya berwarna kuning emas dan bersinar mencorong!
Kedua ekor burung itu mengeluarkan suara teriakan melengking dan langsung menyerang Bwee Hwa dengan sambaran kuku cakar mereka yang tajam dan runcing melengkung.
Bwee Hwa terkejut bukan main dan cepat ia melompat ke bawah pohon dan langsung mencabut pedangnya.
Ia melihat dua ekor burung itu melayang turun.
Bukan main besarnya burung-burung itu, ketika berdiri di atas tanah, tingginya hampir sama dengannya!
Burung-burung rajawali raksasa itu masih memekik-mekik nyaring dan mereka lalu menerjang dengan paruh mereka yang kokoh kuat sambil mengibas-ngibaskan sayap mereka yang besar.
Bwee Hwa tidak merasa takut.
Gadis perkasa ini bergerak cepat menghindarkan diri dari terjangan mereka dan membalas dengan serangan pedangnya.
"Trak-tranggg""!"
Bwee Hwa terkejut sekali.
Ketika pedangnya bertemu dengan paruh burung, paruh itu tidak terpotong dan bahkan tangannya yang memegang pedang tergetar saking kuatnya tenaga burung-burung itu.
Dan kibasan sayap-sayap mereka mendatangkan angin kuat sehingga amat sukar bagi Bwee Hwa untuk menyerang.
Menghadapi dua ekor burung rajawali itu, agaknya ilmu silat dan kecepatan gerakan gadis itu tidak ada artinya.
Bagaimanapun juga, ia masih dapat menyelamatkan diri dengan elakan-elakan cepat sambil mengerahkan pedangnya ke arah leher atau kepala kedua ekor burung itu.
Akan tetapi gerakan burung-burung itu demikian cepatnya dan kibasan sayap mereka membuat serangannya selalu gagal, bahkan beberapa kali ketika pedangnya bertemu paruh yang keras dan kuat, hampir saja senjata itu terlepas dari genggamannya.
Dua ekor burung rajawali itu agaknya juga mulai menyadari bahwa lawan mereka sekali ini berbeda dengan manusia lain yang pernah mereka serang dan menjadi mangsa mereka.
Dua ekor burung itu menjadi marah lalu terbang dan berputaran di atas kepala Bwee Hwa, memekik-mekik dan menyerang dari atas, menyambar-nyambar dari segala penjuru menggunakan cakar dan paruh mereka yang kuat.
Menghadapi serangan dari atas yang jauh lebih dahsyat dan berbahaya daripada serangan di atas tanah tadi, Bwee Hwa terkejut sekali.
Kalau tadi, diserang dari depan ia masih dapat mengandalkan kegesitannya untuk mengelak dengan berloncatan ke kanan kiri atau belakang, sekarang serangan itu datangnya dari atas depan, belakang, dan kanan kiri.
Terpaksa ia kadang-kadang harus menggulingkan tubuhnya ke atas tanah.
"Brett......!"
Bajunya terkena cakaran dan robek di bagian pundaknya.
Biarpun kulit pundaknya tidak terluka, namun hal ini membuat Bwee Hwa menjadi marah sekali.
Ia lalu mengambil senjata rahasianya, yaitu hong-cu-ciam, jarum-jarum lembut dan cepat ia menyerang dua ekor burung itu dengan jarum-jarumnya.
"Wuuuttt.......sut-sut-sut!"
Jarum-jarum itu lenyap di balik bulu-bulu tebal burung-burung itu.
Bulu itu terlalu tebal dan lemas licin sehingga jarum-jarumnya tidak mampu menembus, tidak sampai mengenai kulit.
Bwee Hwa menjadi bingung.
Untuk membidik ke arah muka, gerakan mereka terlalu cepat ketika menyambar turun.
Bwee Hwa terdesak hebat dan ia menjadi bingung dan lelah sekali.
Kalau terus-menerus ia harus menghindarkan serangan mereka yang berbahaya itu, akhirnya ia tentu akan kehabisan tenaga dan tidak akan mampu membalas serangan sama sekali.
Karena tidak melihat jalan lain, Bwee Hwa lalu mengambil keputusan untuk nekat dan mengadu nyawa mati-matian.
Tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya telentang dengan tangan kanan siap memegang pedang dan tangan kiri menggenggam jarum-jarumnya.
Seluruh urat syarafnya menegang dan siap siaga.
Sepasang rajawali itu melihat bahwa calon mangsa mereka telah roboh seolah tidak berdaya.
Mereka segera memekik penuh kemenangan, beberapa kali terbang mengitari tubuh Bwee Hwa lalu mereka menukik ke bawah sambil memekik nyaring, seolah sedang berlumba untuk menerkam ke arah leher dan dada gadis itu, untuk berpesta pora menikmati daging dan darah korban itu!
Akan tetapi pada detik terakhir, ketika paruh kedua ekor burung itu sudah dekat dengan tubuh Bwee Hwa, tiba-tiba terdengar pekik melengking mengerikan.
Seekor rajawali, yang terbang lebih cepat dan lebih dekat dengan tubuh Bwee Hwa, tahu-tahu terpenggal kepalanya, disambar pedang Sin-hong-kiam.
Gerakan tangan kanan Bwee Hwa demikian cepat dan sama sekali tidak terduga oleh burung yang sudah kegirangan dan bemafsu itu sehingga tahu-tahu kepalanya telah terpisah dari tubuhnya!
Sedangkan burung kedua, tiba-tiba merasa nyeri pada kedua matanya yang disambar banyak jarum kecil lembut sehingga kedua matanya menjadi buta seketika!
Semua telah terjadi dengan cepat dan dengan gerakan kilat Bwee Hwa sudah menggerakkan tubuhnya bergulingan menyingkir dari tempat ia telentang tadi sampai beberapa meter jauhnya.
Untung ia dapat bergerak cepat lalu melompat bangun berdiri.
Dengan mata terbelalak ia melihat betapa rajawali yang sudah terpenggal kepalanya itu masih mencengkeram ke bawah sehingga tanah dan batu berhamburan.
Kalau ia tidak cepat menyingkir, tentu tubuhnya yang akan tercabik oleh sepasang cakar burung yang sudah tak berkepala lagi itu.
Kemudian burung kedua, yang sudah buta matanya, menerkam ke bawah, mengenai tubuh burung pertama.
Cakar dan paruhnya mematuk dan mencabik sehingga tubuh kawannya itu terkoyak-koyak, darah muncrat ke mana-mana!
Bulu burung berhamburan bersama daging dan darah.
Rajawali buta itu agaknya menyadari bahwa yang dicabik-cabiknya itu bukan tubuh manusia melainkan tubuh kawannya sendiri.
Dia memekik-mekik mengerikan dan menyabet-nyabetkan sayapnya ke kanan kiri membabi buta dan suaranya berubah seperti raungan penuh sakit dan kesedihan.
Melihat keadaan burung itu, Bwee Hwa yang sejak tadi menonton dengan hati merasa ngeri, menjadi tidak tega juga.
Kini dia teringat akan ucapan gurunya bahwa apa yang dinamakan binatang buas itu sebenarnya sama sekali tidak dapat dikatakan jahat.
Seperti burung rajawali ini.
Kalau dia suka membunuh mahluk lain termasuk manusia, hal itu dilakukan bukan karena dia berhati jahat, melainkan dia menyerang dan membunuh untuk mempertahankan hidup, untuk mengisi perutnya yang lapar.
Membunuh karena harus membunuh untuk dapat makan!
Rajawali ini tidak suka makan daun atau buah, makanannya memang daging dan darah, karena itu dia harus membunuh mahluk lain termasuk manusia agar tidak mati kelaparan.
Dia tidak jahat!
Ia memandang dan merasa kasihan.
Didekatinya burung buta itu dari belakang dan sekali pedangnya menyambar, leher burung itupun putus dan tubuh burung itu roboh dan mati.
Setelah semua itu berakhir, barulah Bwee Hwa menjatuhkan diri di bawah pohon dan bersandar pada batang pohon sambil mengatur pernapasannya yang masih terengah-engah karena kelelahan dan ketegangan.
Ia memandang ke arah bangkai dua ekor burung itu dan diam-diam ia memuji keindahan dan kehebatan dua ekor burung rajawali itu.
Selama hidupnya baru satu kali ini ia melihat burung yang demikian indah dan demikian kuat.
Kalau saja tadi ia tidak mempergunakan akal yang nekat dan berbahaya, agaknya sekarang mungkin saja tubuhnya sudah dicabik-cabik dan sepotong demi sepotong masuk ke dalam perut dua ekor burung itu.
Ia bergidik ngeri membayangkan hal itu.
Setelah mengaso sejenak dan merasa tangannya telah pulih kembali, Bwee Hwa lalu mengambil buntalan pakaiannya yang tadi ia lepas dan lemparkan ke bawah pohon sebelum ia memanjat pohon itu.
Ia menggendong lagi buntalan pakaiannya dan melanjutkan perjalanannya.
Ia ingin keluar dari hutan lebat itu sebelum hari menjadi gelap.
Karena tidak mengenal daerah itu, ia berjalan ke depan dengan ngawur saja.
Akan tetapi tidak lama kemudian, hampir ia berseru gembira ketika ia melihat sebuah tempat terbuka di dalam hutan itu.
Hutan di bagian itu sudah dibuka dan menjadi semacam ladang yang ditumbuhi tanaman sayur-sayuran, bahkan ada banyak pohon buah yang sudah digantungi buah-buahan yang masak.
Ladang ini menunjukkan bahwa di situ terdapat orang-orang dan tidak jauh dari perkampungan!
Karena perutnya lapar, maka ia tidak perduli akan kenyataan bahwa pohon-pohon buah itu tentu ada pemiliknya.
Ia memetik beberapa butir buah pir dan memakannya dengan enak!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar langkah dan gerakan orang di sekelilingnya dan tak lama kemudian bermunculan belasan orang laki-laki yang berpakaian kasar dan berwajah bengis.
Juga mereka itu tampak bertubuh kuat dan di antara mereka terdapat seorang yang melihat pakaiannya tentu memiliki kedudukan yang lebih tinggi di antara mereka.
Seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, tubuhnya pendek tegap dan dia membawa senjata sebuah tombak bergagang panjang yang lebih tinggi daripada tubuhnya yang katai.
Kini belasan orang itu mengepung Bwee Hwa yang sudah tidak makan lagi.
Dengan tenang gadis yang tabah itu menyapu mereka dengan pandang matanya dan ia mengerutkan alisnya ketika melihat betapa belasan orang laki-laki itu memandangnya dengan mulut menyeringai dan mata seolah hendak menelannya bulat-bulat!
Orang pendek gempal yang agaknya menjadi pemimpin gerombolan itu juga memandang kepadanya dengan penuh perhatian dan keheranan.
Siapa takkan heran melihat seorang gadis muda belia seorang diri berada di dalam daerah hutan yang lebat dan liar itu?
Akan tetapi ketika kepala gerombolan itu melihat sebatang pedang tergantung di punggung Bwee Hwa, dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu seorang gadis kang-ouw (sungai telaga atau dunia persilatan) yang memiliki ilmu kepandaian silat sehingga berani merantau seorang diri karena merasa mampu menjaga dan membela diri.
Dia dapat menduga ini, akan tetapi tetap saja dia merasa heran dan kagum karena keberanian gadis itu sungguh berlebihan.
Dia lalu menegur dengan suara yang tinggi mirip suara wanita.
"Nona, engkau berjalan seorang diri di daerah kami, hendak pergi ke manakah?"
Bwee Hwa sudah merasa sebal melihat sikap para anak buah gerombolan itu, akan tetapi ia memaksa diri bersabar ketika menjawab.
"Aku hendak pergi ke mana saja kakiku membawaku. Ada urusan apakah kalian menghadangku dan bertanya-tanya?"
Para anak buah gerombolan itu tersenyum dan ada yang tertawa mendengar jawaban Bwee Hwa yang mereka anggap lucu. Pemimpin gerombolan itupun tersenyum dan berkata lagi.
"Memang engkau yang memiliki kaki yang indah mungil itu, tentu saja engkau pula yang menentukan ke mana hendak melangkah dan pergi. Akan tetapi ketahuilah, nona, bahwa di sini bukan tempat untuk berjalan-jalan dan bertamasya. Hutan-hutan di sini amat liar dan terdapat banyak sekali binatang buas, di antaranya terdapat burung-burung rajawali raksasa yang ganas dan suka makan orang!"
Bwee Hwa tersenyum mengejek, akan tetapi dalam pandangan para anggauta gerombolan itu, senyum ini tampak manis bukan main.
"Engkau maksudkan kim-gan-tiauw (rajawali bermata emas)? Hemm, baru saja aku membunuh dua ekor!"
Meledaklah tawa semua anggauta gerombolan itu mendengar ucapan gadis itu.
Siapa dapat percaya akan kata-kata itu?
Membunuh dua ekor kim-gan-tiauw?
Sedangkan beberapa hari yang lalu mereka mengeroyok seekor kim-gan-tiauw saja tidak berhasil melukai, apalagi membunuhnya, bahkan tiga orang di antara mereka tewas!
Dan gadis kecil ini seorang diri membunuh dua ekor?
Merasa ia ditertawakan, Bwee Hwa membentak marah.
"Kalian menertawakan siapa?"
Seorang anak buah gerombolan yang bertubuh tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok, berkata dan tertawa terkekeh-kekeh.
"Heh-heh-heh, mungkin yang kaubunuh itu dua ekor burung gereja! Wah, kalau gadis ini menjadi biniku, aaahh betapa senangnya hatiku dan akan amanlah hidupku. Ha-ha-ha"""
Belum juga ia menutupkan kembali mulutnya, tiba-tiba dia memekik ngeri dan dia roboh dengan mata mendelik karena bagaikan kilat menyambar sebatang hong-cu-ciam (jarum tawon) telah memasuki mulutnya yang ternganga dan menancap di langit-langit mulutnya!
Ini terjadi karena ketika dia tertawa tadi, mulutnya terbuka lebar dan dia tertawa sambil mengangkat muka ke atas sehingga langit-langit mulutnya menghadap ke depan!
Terkejutlah semua anggauta gerombolan itu, akan tetapi pemimpin mereka marah sekali.
Tadi dia melihat gerakan tangan Bwee Hwa dan dia dapat menduga bahwa anak buahriya itu tentu menjadi korban senjata rahasia yang lembut dan berbahaya.
"Keparat! Berani engkau membunuh anak buah kami?"
Bentaknya dan dia sudah menerjang dan menusukkan tombaknya dan para anak buahnya juga sudah maju mengeroyok.
Agaknya anak buah gerombolan yang belasan orang banyaknya ini berlumba untuk dapat menangkap gadis itu karena mereka maju dengan tangan kosong dan tangan-tangan itu meraih dan mencengkeram.
Ingin mereka mendekap dan merangkul gadis yang cantik jelita itu.
Melihat dirinya diserbu, Bwee Hwa tersenyum geli.
Orang-orang kasar ini tidak ada artinya baginya.
Jauh lebih berbahaya serangan burung rajawali tadi.
Ia lalu menyambut mereka dengan gerakan tangan kiri dan sinar-sinar kecil jarum-jarumnya menyambar-nyambar, disusul jeritan beberapa orang yang roboh terpelanting.
Pimpinan gerombolan itu menjadi marah.
Dia berteriak dan tombaknya me-luncur, menusuk ke arah lambung Bwee Hwa.
Namun, dengan mudah saja Bwee Hwa mengelak dan dari samping kaki kirinya mencuat dan menendang ke arah tombak.
Si pendek kekar itu berseru kaget karena hampir saja tombaknya terlepas dari tangannya ketika tertendang kaki mungil Bwee Hwa.
Para anak buah yang melihat robohnya beberapa orang kawan juga menjadi marah dan mereka kini menyerbu dengan senjata mereka dengan niat untuk membunuh gadis itu.
Bwee Hwa tidak gentar sedikitpun juga.
Ia kini telah mendapat kenyataan bahwa orang-orang itu hanya tampaknya saja kekar dan bengis, akan tetapi sebenarnya hanya merupakan kekuatan tenaga kasar, hanya mengandalkan tenaga luar belaka.
Maka iapun lalu mengerahkan gin-kangnya (ilmu meringankan tubuhnya), tubuhnya bergerak cepat sehingga ia seolah berubah menjadi bayangan merah yang menyambar-nyambar dan terdengarlah seruan mengaduh berturut-turut disusul tubuh yang berpelantingan terkena sambaran kaki tangannya yang bergerak amat cepatnya.
Melihat kelihaian gadis berpakaian merah ini, para anggauta gerombolan dan pemimpin mereka yang pendek itu terkejut setengah mati.
Kalau tidak menga-lami sendiri, sukarlah bagi pemimpin gerombolan itu untuk percaya bahwa se-orang gadis jelita yang masih amat muda itu dapat menghadapi pengeroyokan mereka yang bersenjata hanya dengan tangan kosong saja, bahkan sebentar saja sudah merobohkan lima orang!
Dengan jerih pemimpin gerombolan itu memberi isyarat dan mereka yang masih mampu lalu berloncatan melarikan diri meninggalkan teman-teman yang terluka, mengaduh-aduh dan tidak mampu melarikan diri.
Bwee Hwa bertolak pinggang mengikuti mereka dengan pandang matanya mengejek.
"He-he-heh! Monyet-monyet busuk! Aku Ang-hong-cu masih berlaku murah hati kepada kalian. Kalau tidak tentu kalian sekarang bukan hanya menderita luka, melainkan sudah tak bernyawa lagi!"
Setelah berkata demikian dan memandang kepada para anak buah gerombolan yang terluka, ia lalu pergi meninggalkan mereka, melangkah dengan tenang.
Ia teringat bahwa gerombolan yang melarikan diri tadi menuju ke arah kiri, maka ke sana pula ia menuju, dengan harapan akan bertemu dengan sebuah perkampungan.
Ia masih sempat memetik beberapa butir buah pir yang masak, lalu melanjutkan perjalanan sambil makan buah itu untuk menghilangkan rasa lapar dan haus.
Baru saja ia tiba di ujung hutan terbuka yang sudah menjadi ladang itu, tiba-tiba terdengar suara orang di sebelah kiri.
"Ah, nona sungguh merupakan seorang pendekar wanita yang amat mengagumkan. Masih semuda ini sudah memiliki kepandaian tinggi dan berani melakukan perantauan di dunia kang-ouw seorang diri saja. Bukan main!"
Bwee Hwa sudah menahan langkahnya dan ia memutar tubuh ke kiri.
Ia kini berhadapan dengan seorang laki-laki berusia hampir limapuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus.
Gerak-gerik dan kata-kata orang itu tidak sekasar gerombolan tadi, juga pakaiannya lebih bersih dan rapi.
Tampaknya bukan seperti seorang jahat dan ia sudah menjadi gembira karena mengira bahwa orang itu tentulah seorang penduduk sebuah pedusunan yang berada dekat situ.
"Siapakah engkau dan ada keperluan apakah sehingga engkau berani menghadang perjalananku?"
Tanya Bwee Hwa yang bagaimanapun juga masih merasa curiga karena orang itu muncul di daerah yang dikuasai gerombolan penjahat tadi.
Akan tetapi laki-laki itu tidak menjawab dan hanya mengamati wajah Bwee Hwa dengan bengong seperti orang yang terheran-heran melihat sesuatu yang aneh!
Melihat ini, Bwee Hwa mengerutkan alisnya dan mulai marah.
"Hei! Kau melihat apa?"
Bentaknya dan sinar matanya mulai mencorong. Laki-laki itu terkejut dan seperti baru sadar dari mimpi, dia cepat memberi hormat dengan menjura dan berkata dengan hormat.
"Ah, sungguh sukar sekali untuk dapat dipercaya. Bagaimana mungkin seorang pembantuku dan belasan orang anak buahnya dikalahkan oleh seorang dara muda remaja! Li-enghiong (nona pendekar), sungguh aku merasa kagum sekali akan kegagahanmu. Ketahuilah, aku adalah Gak Sun Thai yang memimpin kawan-kawan di pegunungan ini dan terus terang saja, baru sekali ini aku merasa benar-benar heran dan kagum. Engkau patut dipuji, Li-enghiong. Jika engkau suka dan berani, aku mempersilakan engkau untuk singgah di perkampungan kami."
Dengan tenang disertai senyuman mengejek Bwee Hwa menjawab.
"Hemm, kiranya engkau yang menjadi kepala perampok yang tadi berani menggangguku? Perlu apa aku harus singgah di sarang perampok?"
Berkerutlah sepasang alis kepala perampok itu.
Alangkah angkuhnya gadis ini, pikirnya.
Sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya.
Akan tetapi dia masih dapat menahan perasaan tidak senang ini dan berkata.
"Li-enghiong, kalau engkau tidak suka dan tidak berani berkunjung ke per-kampungan kami memenuhi undanganku, tentu saja aku tidak dapat memaksa. Akan tetapi ini berarti bahwa engkau tidak dapat menghargai penghormatan seorang dari kalangan liok-lim (hutan rimba) dan berarti bahwa engkau melanggar kesopanan yang berlaku di dunia kang-ouw."
Bwee Hwa sudah hendak marah, akan tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa ayah kandungnya sendiri juga seorang penjahat dan bahkan datuk perampok!
Hemmm, siapa tahu orang-orang ini akan dapat memberi keterangan kepadanya tentang di mana kini ayahnya berada.
"Orang she Gak, aku tidak mengerti maksudmu dengan segala kesopanan dunia persilatan dan dunia perampok. Akan tetapi jangan mengira bahwa aku takut untuk datang ke sarangmu!"
Wajah kepala perampok itu berubah girang.
"Kalau begitu engkau mau singgah di perkampungan kami?"
Bwee Hwa mengangguk.
"Akan tetapi jangan sekali-kali engkau dan anak buahmu bersikap kurang ajar kepadaku, karena pedangku pasti tidak akan mengampuni kalian."
Alangkah jumawanya, pikir Gak Sun Thai. Akan tetapi karena dia tahu bahwa gadis ini masih muda dan tentu kurang pengalaman, maka dia hanya tersenyum saja.
"Kalau begitu, marilah kita berangkat, li-enghiong. Perkampungan kami tidak begitu jauh dari sini."
Dengan tabah Bwee Hwa mengikuti kepala perampok itu memasuki hutan yang menyambung ladang itu.
Kurang lebih dua kilometer dari situ, mereka tiba di sebuah perkampungan di tengah hutan.
Kedatangan Gak Sun Thai bersama Bwee Hwa disambut dengan keheranan oleh para anak buah, akan tetapi Gak Sun Thai memerintahkan mereka untuk mempersiapkan sebuah perjamuan meriah untuk menghormati kunjungan seorang pendekar wanita gagah yang dihormatinya.
Perkampungan itu merupakan sarang para perampok.
Di tengah perkampungan berdiri sebuah rumah kayu yang besar dan cukup mewah seperti rumah seorang kaya saja.
Di sekeliling rumah itu terdapat rumah-rumah yang lebih kecil yang menjadi tempat tinggal para anggauta perampok.
Keadaan mereka agaknya cukup dan ternyata para anggauta perampok itu sebagian besar sudah berkeluarga.
Terdapat banyak anak-anak dan wanita di perkampungan itu, seperti pedusunan biasa.
Bwee Hwa merasa terheran-heran.
Mereka itu agaknya orang-orang biasa yang juga berkeluarga.
Mengapa orang-orang itu sampai begini tersesat dan menjadi perampok?
Gak Sun Thai mempersilakan Bwee Hwa duduk di kursi depan yang luas dan tak lama kemudian Bwee Hwa dijamu makan minum dengan ramah dan hormat oleh Gak Sun Thai.
Dalam kesempatan menikmati hidangan yang masih panas itu dan Bwee Hwa makan minum dengan lahapnya karena berhari-hari ia tidak makan nasi dan masakan, gadis itu tidak tahan untuk tidak mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi menggelitik keinginan tahunya.
"Paman Gak Sun Thai......."
Kepala perampok itu tersenyum memandang kepada Bwee Hwa.
Hatinya geli akan tetapi senang mendengar gadis itu menyebutnya "paman".
Biasanya, orang menyebutnya "tai-ong", yaitu sebutan kepala gerombolan yang berarti "raja besar".
"Engkau hendak bertanya apakah, nona?"
Diapun menyebut nona, bukan pen-dekar wanita agar terdengar lebih akrab.
"Bukan maksudku untuk mencampuri urusan rumah tangga anak buahmu, akan tetapi setelah aku memasuki perkampunganmu, aku melihat bahwa anak buahmu juga merupakan orang-orang biasa saja yang mempunyai keluarga baik-baik. Mengapa engkau mengajak mereka untuk melakukan kejahatan dan menjadi perampok? Bukankah lebih baik kalau kalian melakukan pekerjaan yang halal dan tidak melakukan pelanggaran dan tidak mengganggu orang lain?"
Mendengar ucapan gadis yang merupakan nasihat yang seolah keluar dari mulut seorang pendeta tua itu, Gak Sun Thai tersenyum geli, lalu dia menghela napas panjang.
"Memang, dipikir sepintas lalu saja memang demikianlah keadaannya dan kata-katamu tadi benar sekali, nona. Akan tetapi dari ucapanmu tadipun mudah diketahui bahwa engkau masih belum banyak mengetahui tentang keadaan orang-orang golongan kami. Nona tadi mengatakan bahwa lebih baik mencari pekerjaan yang halal dan tidak melanggar peraturan pemerintah, begitukah? Coba tolong beritahu, pekerjaan apakah yang dapat dikerjakan para anak buahku yang terdiri dari orang-orang kasar dan bodoh itu?"
"Bukankah banyak sekali lapangan pekerjaan? Misalnya jadi pelayan, menjadi petani dan lain-lain,"
Kata Bwee Hwa, tentu saja secara ngawur karena ia sendiri juga tidak banyak mengetahui tentang lapangan pekerjaan! Kembali Gak Sun Thai tersenyum.
"Ketahuilah, nona. Anak buahku yang puluhan orang banyaknya dan kini menjadi penghuni perkampungan ini bukan dilahirkan sebagai perampok. Mereka itu tadinya juga petani-petani, nelayan-nelayan dan pekerja-pekerja kasar. Akan tetapi, apakah yang dihasilkan oleh pekerjaan mereka itu? Hanya kelaparan bagi keluarganya. Bahkan untuk mengenyangkan perut sendiri sehari-hari saja kadang-kadang gagal. Apalagi untuk membeli pakaian yang pantas dan lebih-lebih lagi untuk menghasilkan rumah yang memadai. Pekerjaan apakah bagi orang kasar dan bodoh pada dewasa ini yang dapat cukup menghasilkan pangan-sandang-papan yang cukup beradab? Banyak anggauta keluarga mereka yang mati kelaparan karena kurang makan atau mati karena penyakit karena tiada biaya untuk pengobatan. Bertani tanpa memiliki tanah berarti hanya menjadi buruh tani yang diperas tenaganya habis-habisan oleh para majikan pemilik tanah seperti kerbau saja. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya amatlah sulitnya, harus bersaing hebat karena banyaknya penganggur sehingga digaji sedikitpun terpaksa diterima dan akibatnya, penghasilan kecil sekali dan tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Ah, nona, sungguh engkau tidak banyak mengetahui tentang keadaan rakyat kecil yang miskin pada dewasa ini."
Mendengar ucapan panjang lebar itu, Bwee Hwa tertegun.
Seakan baru terbuka matanya dan ia merasa heran sekali.
Timbul pertanyaan dalam hatinya mengapa begitu banyak kesengsaraan di antara manusia, dan mengapa hanya untuk sekedar makan kenyang saja demikian sulitnya bagi banyak manusia?
Akan tetapi banyak pula manusia yang hidupnya demikian kaya raya, bahkan berlebihan!
Salah siapakah ini?
Di satu pihak, beberapa orang memiliki tanah beratus hektar luasnya, di lain pihak banyak orang yang tidak memiliki tanah secuilpun.
Di satu pihak, beberapa orang memiliki rumah gedung ratusan buah banyaknya.
Di lain pihak, banyak orang harus cukup puas tinggal di gubuk yang reyot dan bocor, bahkan banyak pula yang tidak memiliki tempat tinggal.
Di satu pihak, beberapa orang menyimpan bahan makanan sampai membusuk dalam gudang karena terlalu banyak dan terlalu lama disimpan, di lain pihak banyak orang kelaparan.
Di satu pihak, beberapa orang yang tidak pernah mengeluarkan keringat hidup kaya raya, hartanya berlebihan.
Di lain pihak, banyak orang yang memeras keringat membanting tulang setiap hari, hidup miskin dan papa, pakaian tak utuh makan tak kenyang.
Di mana letak semua kesalahan ini?
Tidak dapatkah yang berlebihan itu membuka jalan bagi yang kekurangan sehingga penghasilan mereka meningkat dan cukup untuk biaya hidup sehari-hari?
Siapa yang berkewajiban mengatur semua ini?
"Paman Gak, apakah keadaan semacam ini tidak dapat diubah?"
Gak Sun Thai tersenyum.
"Hemm, siapakah yang harus mengubah, nona?"
"Tentu saja pemerintah! Pemerintah yang harus mengubahnya, mengatur agar terdapat lapangan kerja yang cukup dan agar penghasilan rakyat meningkat sehingga setiap orang pekerja berpenghasilan cukup untuk biaya hidup keluarganya."
Gak Sun Thai tertawa.
"Ha-ha-ha, pendapatmu itu benar akan tetapi lucu, nona."
"Lucu? Kenapa? Bukankah sudah semestinya kalau pemerintah mengatur agar rakyat hidup sejahtera?"
"Hemm, engkau belum banyak berkelana dan tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Lihat saja kehidupan para pembesar tinggi, terutama di kota raja. Mereka hidup berdampingan dan bergandeng tangan dengan para hartawan, saling bantu, bahu membahu membagi rejeki yang berlebihan. Memikirkan keadaan rakyat kecil yang miskin? Mana mungkin? Mereka hanya memikirkan bagaimana untuk menggendutkan perut sendiri! Bagaimana kita dapat mengharapkan pemerintah penjajah untuk melindungi rakyat bangsa Han? Penjajah Mongol itu hanya memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri, bahkan memeras rakyat dengan berbagai peraturan yang menekan dan berbagai pajak yang memberatkan. Ahh, jangan mengharapkan kebaikan dari pemerintah penjajah Mongol, nona. Ah, kita sudah bicara banyak akan tetapi nona belum memperkenalkan nama. Bolehkah kami mengetahui nama nona?"
"Namaku Bwee Hwa."
"Dan she (marga) nona yang mulia?"
Bwee Hwa tidak mau bercerita banyak tentang dirinya.
"Jangan tanyakan itu. Sebut saja aku Ang-hong-cu."
"Si Tawon Merah? Ah, julukan yang tepat sekali. Nona masih muda dan cantik namun dapat bergerak lincah seperti seekor lebah, dan dengan pakaian yang serba merah maka cocok sekali kalau nona berjuluk Ang-hong-cu. Ang-hong-cu, karena engkau kami anggap sebagai seorang tamu agung, sekarang kami mohon sudilah kiranya engkau memberi kehormatan kepadaku yang bodoh untuk menyaksikan kehebatan merasakan kelihaian kepandaianmu."
Bwee Hwa mengerti apa yang dimaksudkan kepala gerombolan itu dan ia mengangguk.
Mereka sudah selesai makan dan Bwee Hwa merasa puas akan perjamuan yang membuatnya merasa kenyang dan tubuhnya terasa segar itu.
"Engkau hendak menguji kepandaian, paman? Boleh, boleh! Silakan memberi pelajaran kepada aku yang muda."
"Bagus ! Marilah kita keluar, nona. Pekarangan rumah ini cukup luas sehingga kita dapat bermain-main dengan leluasa!"
Bwee Hwa menurut dan mengikuti tuan rumah keluar dari ruangan itu.
Memang benar, pekarangan rumah itu cukup luas.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 13
Baca Juga: Si Bangau Merah 4