Ceritasilat Novel Online

Patung Dewi Kwan Im 8

Eps 8 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.

Ketika ia mendengar bahwa Siauw Ma adalah kawan mereka, ia menjadi girang sekali dan ia segera menuturkan pengalamannya hingga bertemu dan ditolong oleh Siauw Ma.

Ia diberitahukan bahwa Siauw Ma juga menyusul ke Kwan-im-bio, hingga Tiong Li dan Hong Cu saling pandang penuh pengertian!

"Baiknya ada Siauw Ma di sana, hingga keadaan cici Lian Eng dan Kwan-im-bio tak berapa berbahaya,"

Kata Hong Cu.

"Kurasakan demikian, apa lagi sebagian dari mereka masih berada di sini,"

Kata Tiong Li.

"Ji-wi janganlah anggap demikian,"

Cun Ceng membantah.

"Menurut pendengaranku ketika aku tertawan tadi, mereka ini adalah rombongan yang diwajibkan untuk menghalang-halangi perjalanan kalian hingga terlambat sampai di sana.

"Dan menurut kata mereka, kali ini barisan penyerbu terdiri dari puluhan bahkan meliputi ratusan orang imam-imam Lhama dari Tibet yang terkena hasutan para Lhama jubah merah itu! Kurasa, betapapun juga, kedudukan Kwan-im-bio tetap berbahaya sekali."

Mendengar ini, Tiong Li dan Hong Cu merasa khawatir sekali telah terkena tipu hingga perjalanan mereka tertunda.

Kalau mereka tahu, tidak nanti mereka sudi melayani segala pengawal dan imam busuk itu.

Maka segera mereka bedal kuda dan membalap menuju ke Kwan-im-bio.

"Celaka, jangan-jangan kita terlambat!"

Kata Hong Cu.

"Mudah-mudahan tidak!"

Kata Tiong Li.

Tapi memang mereka telah terlambat!!

Ketika Siauw Ma merebahkan diri di atas sebuah bangku panjang di ruang luar di Kuil Kwan-im-bio itu dan Lian Eng menangis tersedu di depan patung Dewi Kwan-im, tiba-tiba dari bawah bukit terdengar suara sorak-sorai yang riuh gemuruh.

Pendeta Kwan-im-kauw yang menjaga di tempat paling bawah, terkejut sekali ketika melihat betapa puluhan orang merayap bagaikan semut menaiki bukit itu dari segala jurusan!

Segera ia berteriak-teriak memberi kabar kepada penjaga di atas dan semua imam lalu terburu-buru ambil senjata masing-masing.

Siauw Ma yang telah hampir pulas karena pikirannya ruwet sekali, kaget mendengar suara ribut-ribut itu dan ia melihat kesibukan para pendeta itu dengan heran.

Kemudian ia melihat Lian Eng keluar dari dalam bio dengan wajah keren sekali.

Maka tahulah ia bahwa serbuan yang dikhawatirkan itu telah terjadi!

Ia lalu cabut pedangnya dan mengikuti Lian Eng.

"Lian Eng, jangan takut, ada aku di sini!"

Tapi Lian Eng tak menjawab, hanya ia lalu atur imam dan nikouw untuk menjaga sekeliling bio itu.

Gadis yang telah banyak siasatnya itu telah memberi perintah untuk mempersiapkan barisan anak panah dan ketika para pengerbu sudah mendaki agak dekat, ia lalu memberi komando.

Ratusan anak panah melayang turun dan di bawah terdengar jeritan-jeritan ngeri!

Imam-imam Tibet itu terpukul mundur, tapi karena di situpun terdapat pengawal-pengawal dari kota raja yang telah mempunyai banyak pengalaman perang, segera mereka naik pula dan kini dipasang tameng-tameng untuk menangkis semua anak panah itu!

Maka tak lama kemudian terjadilah pertempuran yang hebat di antara rombongan pendeta-pendeta Tibet dan pendeta-pendeta Kwan-im-kauw di atas gunung itu!

Puluhan orang dari masing-masing pihak yang bertempur ini terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian silat, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan ramainya pertempuran itu!

Siauw Ma selalu mengikuti Lian Eng dan pemuda ini tiap kali gerakkan pedang, tentu ada seorang musuh menggelinding mandi darah, sedangkan Lian Eng membagi-bagi pukulan mautnya ke kanan kiri!

Tiba-tiba dari pihak penyerang muncul tiga orang pendeta jubah merah yang bukan lain ialah Ang Liong Taisu, Ui Liong Taisu, dan Hek Liong Taisu!

Dengan bentakan-bentakan hebat ketiga orang ini maju menyerbu dan kini Siauw Ma berdua Lian Eng mendapat lawan-lawan yang tangguh!

Ui Liong Taisu gerakkan sepasang sumpit kuningannya yang lihai menyerang Siauw Ma, dibantu oleh Hek Liong Taisu yang hanya menggunakan kepalan tangannya yang luar biasa.

Sedangkan Ang Liong Taisu dengan hud-timnya yang panjang dan pendek itu melayani Lian Eng.

Memang, dalam hal ilmu silat, boleh dibilang Ang Liong Taisu paling tinggi dan paling berbahaya, maka ialah yang menyerang ketua Kwan-im-kauw yang dianggapnya tentu paling berbahaya ini.

Ketika kebutannya yang panjang menyambar hendak melilit tangan Lian Eng sedangkan kebutan yang pendek meluncur menotok jalan darah, Lian Eng berseru keras dan kedua tangannya bergerak mengeluarkan hawa pukulan sambil membarengi berkelit.

Tubuhnya berkelebat dan Ang Liong Taisu merasa betapa ada angin pukulan luar biasa dan panas menyambarnya.

Ia terkejut sekali dan tidak berani menerima angin pukulan itu, tetapi buru-buru ia berkelit.

Ketika angin pukulan kedua menyambar, ia kebut itu dengan hud-timnya, tetapi ia berseru terkejut karena hud-timnya itu hampir saja dilepaskan dari tangannya dan bulu hud-tim banyak yang terlepas!

Kini tahulah ia bahwa benar-benar kauw-cu dari Kwan-im-bio ini adalah murid Si Dewi Api yang telah terkenal sekali namanya, maka diam-diam ia keder dan hanya melayani Lian Eng dari tempat jauh.

Sementara itu, dengan po-kiamnya yang dimainkan secara luar biasa, Siauw Ma dapat mendesak kedua lawannya.

Melihat betapa lawan Ang Liong Taisu bertangan kosong dan agaknya suhengnya itu terdesak, Hek Liong Taisu segera loncat menggantikan suhengnya dan minta suheng itu ikut mengeroyok Siauw Ma yang lihai.

Tetapi ternyata Hek Liong Taisu salah tafsir.

Ia pandang rendah kepada Lian Eng yang bertangan kosong, karena kalau sama-sama bertangan kosong, ia boleh andalkan kedua tangannya yang luar biasa itu.

Dengan berseru keras dan sombong ia maju menubruk dan gerakkan kedua tangannya.

Lian Eng tersenyum dan juga gerakkan kedua tangannya memapaki sepasang lengan lawan.

Melihat ini, Ang Liong Taisu berseru memperingatkan sutenya, tetapi terlambat.

Kedua tangan sutenya itu telah bertemu dengan kedua lengan Lian Eng yang berkulit halus.

"Duuk!"

Dan terdengar jerit ngeri sekali keluar dari mulut Hek Liong Taisu, karena tidak saja ia menjadi korban hawa pukulan Huo-mo-kang yang panas luar biasa, juga tenaga lwee-kangnya sendiri terpukul balik dan menghantam dirinya sendiri!

Ia lalu roboh dan bergulingan di atas tanah karena merasa tubuhnya sakit seluruhnya!

Karena terkejut melihat nasib sutenya, Ang Liong Taisu agak lambat gerakannya dan kesempatan ini digunakan oleh Siauw Ma untuk mengirim tusukan yang dapat ditangkis dengan kebutan tetapi masih berhasil menusuk pundaknya.

Ia terguling roboh karena yang tertusuk adalah urat di pundak hingga sakit sekali!

Pada saat itu terdengar teriakan-teriakan para imam Kwan-im-kauw.

"Kebakaran! Kebakaran!!"

Lian Eng cepat berpaling dan terkejutlah ia karena benar saja, kelenteng itu telah terbakar di beberapa bagian!

Ternyata bahwa kaum penyerbu telah berhasil membobolkan pertahanan belakang dan melepas api.

Ia menjadi marah sekali dan cepat lari menuju ke kelenteng.

Siauw Ma sementara itu setelah berhasil robohkan Ang Liong Taisu, lalu tinggalkan Ui Liong Taisu yang agaknya menjadi jerih dan menjauhinya, lalu pemuda itu mengejar Lian Eng.

Tanpa perdulikan api yang bernyala-nyala, Lian Eng terus memasuki bio itu.

Ketika melihat bahwa Siauw Ma telah lari pula di sampingnya, ia hanya berkata.

"Kita harus pertahankan patung Dewi Kwan-im!!"

Siauw Ma hanya mengangguk saja dan mereka lalu lari menuju ke kamar patung dalam empang itu.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa patung itu telah lenyap dan di situ berdiri seorang pendeta Lhama jubah putih yang telah tua dan bersenjata sebatang cambuk panjang.

"Bangsat, kembalikan patungku!"

Teriak Lian Eng, tetapi Lhama itu terkekeh dan berkata.

"Kauw-cu dari Kwan-im-kauw, aku memang menantimu di sini untuk menamatkan riwayatmu. Patung telah kuambil!"

Lian Eng menjerit keras dan menubruk dengan kirim pukulan Huo-mo-kang yang paling berbahaya, tetapi tiba-tiba pecut atau cambuk kakek itu menyambar dan ujungnya meluncur dengan cepat menotok jalan darah yang paling berbahaya hingga Lian Eng terkejut sekali lalu terpaksa loncat mundur urungkan serangannya.

Kakek itu terkekeh lagi lalu cambuknya berbunyi bagaikan ledakan-ledakan kecil lalu cepat menyerang jalan darah yang akan membinasakan gadis itu jika terkena.

Siauw Ma marah sekali, lalu ia menyerang dengan pedangnya.

Kakek itu sebenarnya adalah seorang pendeta Lhama yang tingkatnya tinggi sekali di Tibet, karena ia adalah susiok atau paman guru dari Ui Liong Taisu bertiga!

Maka tak heran bahwa kepandaiannya pun tinggi sekali.

Tetapi kini kakek itu heran dan kaget ketika beberapa kali diserang, belum juga gadis itu terkena totokan cambuknya, bahkan kini datang seorang pemuda mengeroyok yang mempunyai ilmu pedang luar biasa pula!

Ia merasa penasaran.

Masakan ia yang menduduki tingkat kedua di Tibet tak dapat menjatuhkan dua anak muda yang masih ingusan ini?

Ia perhebat serangannya tetapi benar-benar pedang Siauw Ma dapat melindungi diri dengan baik sedangkan sambaran angin pukulan Huo-mo-kang dapat meniup pergi ujung cambuk!

Sementara itu, api yang membakar kuil makin membesar dan telah mulai menjalar sampai di ruangan itu!

Kakek itu gugup juga karena kalau ia tidak lekas-lekas bisa menjatuhkan dua lawan ini ia akan terancam api!

Sedangkan api yang sedang berpesta-pora itu makin bernyala tinggi dan tiang-tiang di atas mulai bernyala mengeluarkan suara berkerotokan!

Tiba-tiba cambuk kakek itu menyambar demikian cepatnya hingga tak dapat dicegah lagi ujung cambuk berhasil menotok dada kanan Lian Eng!

Gadis itu menjerit dan dari mulutnya muncrat darah merah membasahi jubah pertapaannya yang berwarna putih.

Tapi gadis itu tidak roboh dan balas menyerang.

Kakek itu terbelalak heran karena kalau lain orang yang terserang seperti itu, tentu telah roboh binasa!

Sementara itu, Siauw Ma yang melihat betapa kekasihnya terluka, segera putar pedangnya makin hebat lagi.

Akan tetapi, kakek itu perkeras tekanannya kepada Lian Eng yang dianggapnya ketua Agama Kwan-im-kauw hingga ia bisa desak gadis itu mundur mendekati api yang bernyala-nyala karena meja dan dinding kayu telah terbakar.

Kakek tua yang lihai itu tersenyum girang ketika melihat tiba-tiba api menjilat pakaian Lian Eng yang putih dan sebentar saja tubuh Lian Eng telah diselubungi api yang menyala hebat karena pakaian itu telah dimakan api!

Tapi, tiba-tiba kakek itu terbelalak matanya dan mulutnya tercengang!

Ia pandang gadis di depannya dengan heran dan takut bagaikan memandang setan.

Ternyata gadis yang dimakan api itu tidak roboh, bahkan tampak makin cantik!

Ketika pakaian putih itu habis dimakan api dan api menjadi padam, ternyata Lian Eng masih berdiri dengan agung dan cantiknya, kini hanya memakai pakaian dalam istimewa pemberian gurunya, yakni pakaian yang tahan api.

Bagi Lian Eng, api yang membakar pakaian yang sedang dipakainya tadi, hampir sama dengan air yang dipakai mandi!

Tentu saja kakek itu kaget sekali dan pada saat itu, pedang Siauw Ma dan pukulan Huo-mo-kang yang hebat telah membuat kakek ini terpental dan roboh binasa pada saat itu juga!

Tapi pada saat itu, Lian Eng juga roboh karena ia telah mendapat luka hebat, sedangkan baru saja ia gunakan tenaga terakhir untuk memberi pukulan maut.

Siauw Ma segera menubruk gadis itu dan memangkunya.

Kemudian ia pondong tubuh Lian Eng dan hendak keluar, tapi tidak ada jalan keluar lagi.

Di sekelilingnya api telah bernyala-nyala besar.

"Lian Eng... Lian Eng..."

Siauw Ma mengeluh sambil memeluk tubuh gadis yang panas itu. Lian Eng buka matanya.

"Siauw Ma... kau... kau baik sekali... kau pantas menjadi suamiku..."

Gadis itu tiba-tiba teringat bahwa keadaan Siauw Ma berbahaya sekali.

"Siauw Ma... kau... kau keluarlah... tinggalkan aku..."

"Tidak, tidak! Biar aku mati bersama..."

"Jangan, Siauw Ma... aku terluka parah... ajalku sudah dekat, tapi... kau jangan... mati..."

Siauw Ma peluk lagi tubuh kekasihnya itu.

"Lian Eng, kalau waktu hidup aku tak dapat berdampingan denganmu, biarlah kau izinkan aku mati bersamamu..."

Lian Eng tak tahan lagi terharunya dan air mata membasahi pipinya.

Ia angkat kedua lengannya dan merangkul leher pemuda yang berbudi dan yang mencinta sepenuh jiwa dan hatinya kepadanya itu.

Ia menyesal mengapa tidak dulu-dulu insyaf akan ini.

Pada saat itu sebuah balok yang telah terbakar roboh dan menimpa lantai di dekat Siauw Ma.

Pakaian pemuda itu terjilat api dan sebentar saja tubuh pemuda itu terbakar.

Lian Eng cepat gunakan kedua tangannya padamkan api itu tapi ketika api padam Siauw Ma telah roboh, pingsan.

Dan dari atas, jatuhlah api berhamburan.

Lian Eng lalu tubruk Siauw Ma dan lindungi pemuda itu dengan tubuhnya sendiri yang takkan termakan api!

Kemudian iapun pingsan karena lukanya dan ia pingsan dengan tubuh masih merangkul dan menutupi tubuh pemuda itu!

Sementara itu, para imam Kwan-im-kauw terdesak hebat oleh imam-imam Tibet yang dibantu oleh pahlawan-pahlawan kaisar itu.

Keadaan mereka berbahaya sekali, karena mereka melawan dengan hati sedih melihat betapa kuil mereka terbakar habis.

Tiba-tiba, terjadilah kekalutan di pihak penyerbu.

Ternyata tiga orang-orang muda dengan gagahnya mengamuk mereka dari belakang!

Mereka ini adalah Tiong Li, Hong Cu, dan Cun Ceng!

Terutama Hong Cu, ia merasa marah sekali dan gunakan tongkatnya memukul ke sana ke mari, hingga tubuh penyerbu itu jatuh bergelimpangan di bawah kaki Tiong Li dan Hong Cu!

Dengan datangnya Tiong Li dan Hong Cu, maka semangat para imam Kwan-im-kauw bangun kembali dan mereka melawan dengan nekat!

Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan kaum penyerbu itu bergelimpangan roboh bagaikan rumput dibabat dan sebagian besar pula lari turun gunung sampai berguling-gulingan dan masuk ke dalam jurang!

Apakah yang terjadi?

Ternyata empat orang tua yang luar biasa telah naik ke gunung itu dan mengakhiri pertempuran itu.

Bahkan patung Dewi Kwan-im yang terampas telah pula berada pada mereka dan imam-imam jubah merah telah tewas dalam tangan mereka!

Mereka ini adalah Huo Mo-li, Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, dan Kiang Cu Liong, Tiga Dewa Dari Thang-la dan Si Tabib Dewa sendiri yang naik menyusul murid-murid mereka!

Tiong Li dan Hong Cu segera berlutut di depan mereka.

"Di mana Lian Eng? tanya Huo Mo-li cepat, disusul oleh Beng Beng Hoatsu yang menanyakan muridnya pula. Ke dua anak muda itu tak dapat menjawab. Empat orang tua itu lalu gunakan kepandaian mereka dan dibantu oleh para imam untuk padamkan api yang membakar kuil itu. Mereka lalu berlari masuk dan pandangan di dalam ruang kamar patung membuat mereka semua lari memburu ke dalam dan terdengar Hong Cu dan Cun Ceng menjerit ngeri! Ternyata bahwa Lian Eng dalam pakaiannya yang tahan api masih merangkul dan melindungi tubuh Siauw Ma dari serangan api! Ketika dengan hati hancur Hong Cu peluk dan angkat tubuh Lian Eng yang masih memeluk Siauw Ma, semua orang terkejut karena pemuda itu telah mati! Melihat ini, sekali menjerit Hong Cu jatuh pingsan, juga Tiong Li menangisi jenazah sahabatnya itu. Tetapi Huo Mo-li lalu merawat Lian Eng yang ternyata belum mati. Akan tetapi, setelah Kiang Cu Liong memeriksa luka dalam diri gadis itu, tabib Dewa itu hanya geleng-geleng kepala saja. Ia memberi obat untuk menyadarkan gadis itu dan Lian Eng mengalirkan air mata ketika ia melihat wajah orang-orang itu. Hong Cu juga telah sadar dan menciumi muka Lian Eng sambil mengeluh.

"Hong Cu... kau... terimalah pinangan... Tiong Li... Siauw Ma adalah... adalah... milikku... ia suamiku... jangan"

Jangan kau rampas dia..."

Setelah berkata demikian, maka gadis ini menghembuskan napas penghabisan.

Hong Cu menubruknya dan sekali lagi gadis ini jatuh pingsan!

Kalau Tiong Li dan Hong Cu juga Cun Ceng, menangisi kedua anak muda yang mati itu dengan sedihnya, adalah keempat guru besar itu diam saja.

Lebih pendiam lagi adalah Beng Beng Hoatsu dan Huo Mo-li, kedua guru dari Lian Eng dan Siauw Ma.

Tetapi setelah jenazah kedua orang itu dikebumikan di pekarangan belakang kuil itu, Huo Mo-li dan Beng Beng Hoatsu tahu-tahu telah lenyap.

Dan beberapa hari kemudian, orang ramai membicarakan pembunuhan ajaib yang terjadi di kota raja.

Pangeran Yo telah terbunuh mati dengan kepala hancur tanpa diketahui siapa pembunuhnya.

Demikianpun seorang pendeta Lhama di Tibet yang merencanakan semua penyerbuan itu dan yang bersengkongkol dengan Pangeran Yo.

Iapun terdapat mati dengan kepala hancur, padahal ia memiliki kepandaian tinggi yang menempati kedudukan tinggi kedua di seluruh Tibet!

Demikianlah pembalasan guru-guru Siauw Ma dan Lian Eng.

Beberapa bulan kemudian, Kuil Kwan-im-bio yang telah dibangun kembali itu, tampak bersih dan bagus.

Kauw-cunya seorang gadis yang serupa benar dengan kauw-cu yang telah binasa dalam membela kuil itu.

Kauw-cu ini adalah Cun Ceng!

Ia menerima tugas ini setelah diterima sebagai murid oleh Huo Mo-li!

Beberapa bulan sekali, Huo Mo-li datang dan memberi pelajaran pada gadis ini.

Dengan rajin dan penuh rasa kasih, Cun Ceng merawat kuburan Siauw Ma dan Lian Eng.

Pada suatu hari, di kuil itu datanglah sepasang orang muda yang bukan lain ialah Tiong Li dan Hong Cu.

Baru sebulan mereka kawin dan mereka hendak berkunjung ke kuil itu, terutama hendak menengok kuburan Siauw Ma dan Lian Eng, kawan-kawan mereka yang tercinta!

Ketika kedua orang muda yang bahagia itu pasang hio di depan makam, angin meniup datang membuat kembang-kembang yang sedang mekar di atas pohon rontok berhamburan dan menaburi kedua makam itu dan kepala sepasang suami isteri muda itu, seakan akan berkah dari atas yang dicurahkan kepada dua pasang orang muda itu, baik yang berdiri sambil bersembahyang, maupun yang telah membujur diam di dalam tanah!

T A M A T andu0396

http.//indozone.net

/literatures/literature/1978

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 8

Baca Juga: Jodoh Rajawali 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert