Ceritasilat Novel Online

Patung Dewi Kwan Im 7

Eps 7 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.

Karena inilah maka pada masa itu, kekuasaan Pangeran Yo terhadap para pembesar dan pejabat pemerintah adalah lebih besar dari pada kaisar sendiri.

Penjaga itu tidak tahu bahwa sebenarnya Tiong Li sama sekali tidak tahu akan pengaruh Pangeran Yo ini.

Jangankan tahu akan pengaruhnya, bahkan melihat orangnya atau mendengar namanyapun belum pernah!

Tiong Li lalu mencari keterangan di mana letaknya gedung Pangeran Yo ini.

Pertanyaan ini membuat orang yang ditanyainya memandangnya dengan mata terbelalak, karena siapakah yang tidak tahu di mana gedung Pangeran Yo?

Tapi setelah tahu bahwa pemuda ini datang dari tempat jauh, akhirnya orang itu lalu memberitahunya juga.

Tiong Li lalu mencari tempat penginapan dan malamnya ia lalu loncat naik ke atas genteng dan berlari-lari mencari gedung Pangeran Yo.

Ternyata gedung itu sesuai dengan kebesaran dan pengaruh penghuninya, karena bangunan itu selain kokoh kuat dan besar, juga wuwungan dan gentengnya sangat tinggi dengan bertingkat tiga, jauh lebih tinggi dari gedung-gedung di sekitarnya.

Tiong Li berlaku sangat hati-hati karena ia cukup maklum bahwa di tempat semacam itu pasti sekali banyak terdapat pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi, apa lagi jika dipikir bahwa belasan imam dari Tibet itu pada malam hari ini berada di situ pula.

Benar saja dugaannya, di empat penjuru terdapat penjaga-penjaga yang gesit dan ringan gerakannya, sedang melakukan penjagaan dengan cermat.

Agaknya di dalam sedang berlangsung pertemuan, karena dari ruang dalam menyorot ke luar cahaya penerangan yang besar.

Ketika memeriksa dengan hati-hati sekali, Tiong Li mendapat kenyataan bahwa di bagian belakang, yakni tempat kebun bunga yang sangat luas, penjagaan agak kurang kuat.

Ia lalu bertindak cepat dan dengan diam-diam bagaikan gerakan bayangan setan, ia sergap dua orang penjaga pintu kebun.

Karena ia gunakan gerakan yang cepat sekali, sebelum dua orang itu sempat berseru, mereka telah dapat ditotok roboh oleh pemuda itu.

Ia lalu angkat dua tubuh itu dan menyembunyikan mereka di sebuah tempat yang gelap, lalu dengan tak ragu-ragu lagi ia loncat ke dalam taman.

Keadaan taman bunga itu tidak berapa terang, karena penerangan yang di gunakan di situ hanya beberapa buah teng yang digantungkan di beberapa batang pohon.

Tapi penerangan yang suram suram ini bahkan menambah keindahan taman dan Tiong Li merasa dirinya berada dalam surga karena ternyata di dalam taman itu tertanam ratusan macam bunga yang indah-indah dan ada yang menyiarkan bau harum sekali.

Tapi ia tidak lama menikmati dan mengagumi semua keindahan ini, hanya cepat berindap-indap mendekati bangunan.

Pada saat itu, kebetulan sekali dua orang penjaga, jalan dengan tindakan perlahan ke arahnya!

Tiong Li tak ingin menggunakan kekerasan karena khawatir kalau-kalau mereka sempat berteriak dan menimbulkan gaduh, maka ia lalu enjot tubuhnya ke atas pohon.

Gerakannya demikian ringan hingga tidak menerbitkan suara, hanya tampak daun pohon di mana ia berada bergoyang-goyang sedikit.

Namun hal ini cukup untuk membuat kedua orang penjaga itu bercuriga dan tahan tindakan kaki mereka.

"Lauw-ko, mengapa tidak ada angin daun pohon itu bergoyang-goyang?"

Tanya seorang.

"Aah, paling-paling tentu burung malam yang banyak berkeliaran di atas pohon,"

Jawab kawannya.

"Mungkin kau benar. Kalau orang tentu gerakannya akan mengeluarkan suara,"

Kata orang pertama, tapi karena masih sangsi, ia lalu pungut sepotong batu kecil dan menimpuk ke jurusan pohon itu!

Tiong Li kagum akan ketelitian orang.

Batu itu tepat meluncur ke arah dadanya, maka ia ulur tangan dan menyambut batu itu yang lalu di lemparkan ke belakangnya.

"Aah, burung itu tentu sudah terbang!"

Kata penyambit itu dan mereka berdua lalu melanjutkan perondaan mereka di sekitar gedung itu.

Tiong Li lalu loncat turun dan kini ia berhasil mengintai ke dalam ruang yang terang itu.

Ia melihat betapa di dalam ruang itu penuh orang-orang yang mengelilingi meja besar.

Tiga orang imam Tibet berjubah merah tampak duduk di kursi kehormatan, sedangkan belasan Lhama jubah kuning juga mengelilingi meja itu.

Ketika Tiong Li memperhatikan pula, ia terkejut karena melihat bahwa Ban Kok Si Garuda Sakti dan Ho-pak Chit-kiam, Tujuh Pedang dari Ho-pak, yakni orang-orang yang dulu membantu Siauw Liong dan Bu-eng-cu di puncak Bukit Kee-san berada di situ pula!

Mereka ini duduk di rombongan tuan rumah, bersama beberapa orang gagah lainnya.

Dan di kepala meja, di tempat tuan rumah dengan sebuah kursinya yang besar dan terukir indah duduklah seorang tinggi kurus yang dilihat dari pakaiannya tentulah seorang berpangkat besar yang hartawan.

Tiong Li dapat menduga bahwa bangsawan ini tentulah Pangeran Yo yang ditakuti orang.

Pangeran Yo itu berusia kira-kira empatpuluh lima tahun.

Matanya sipit dan mulutnya selalu seperti mengejek dan memandang rendah orang lain.

Orang yang biasa melihat mulutnya ini tentu akan heran sekali melihat pada waktu ia menghadap dan bicara dengan kaisar, karena sifat dan bentuk mulutnya menjadi lain sekali, penuh hormat dan ramah, dan sopan tutur sapanya.

Tapi sekarang ini, biarpun di depannya duduk tamu-tamu agung, utusan-utusan terhormat dari kepala pendeta Lhama di Tibet, namun ia masih tetap merasa dirinya jauh lebih tinggi dan pandang mereka sambil kedikkan kepala.

Setelah mengintai dan mendengar percakapan mereka beberapa lama, Tiong Li merasa heran sekali karena ternyata bahwa utusan-utusan dari Tibet ini membuat persekutuan rahasia dengan Pangeran Yo!

Karena merasa cemas melihat perkembangan Agama Kwan-im yang makin meluas di daerah perbatasan Sin-kiang Tibet, maka para pendeta Lhama menjadi marah dan anggap bahwa Kwan-im-kauw menyaingi mereka.

Tapi pada masa itu, pemerintah yang berkuasa di Tibet, yakni dalam tangan kepala pendeta Lhama yang sangat berpengaruh, telah mengatakan damai dan bersahabat dengan Kaisar Tiongkok, maka para pendeta Lhama itu tidak berani semparangan bergerak dan mengganggu pendeta-pendeta Kwan-im-kauw yang seluruhnya terdiri dari orang-orang dari daratan Tiongkok pedalaman.

Kemudian kepala pendeta mengadakan hubungan dengan Pangeran Yo yang selainnya berpengaruh, juga terkenal sangat tamak akan harta kekayaan.

Maka diutuslah ketiga imam jubah merah itu dengan para imam jubah kuning untuk mengantar barang-barang berharga sebagai tanda penghormatan dan untuk merundingkan tentang pembasmian Kelenteng Kwan-im!

Para imam Tibet itu maklum bahwa pendeta-pendeta Kwan-im-kauw tak boleh dibuat gegabah karena memiliki kepandaian tinggi.

Di dalam perundingan yang diadakan pada malam itu diambillah keputusan bahwa Pangeran Yo akan memperjuangkan izin dari kaisar untuk membubarkan dan menghancurkan Kwan-im-kauw dengan tuduhan memberontak.

Memang telah terkenal bahwa imam-imam dari Kwan-im-kauw tidak ada yang sudi menjadi anjing-anjing penjilat kaisar, bahkan membenci para durna yang memeras rakyat.

Kemudian, setelah mendapat izin, Pangeran Yo akan memperkuat rombongan imam-imam Tibet itu untuk bersama-sama menghancurkan Kwan-im-bio dengan perjanjian bahwa patung emas Dewi Kwan-im dan sekalian harta dari emas dan perak yang terdapat dalam bio itu akan diserahkan seluruhnya kepada Pangeran Yo!

Perjanjian ini diterima baik oleh utusan Tibet, karena mereka ini sesungguhnya tidak menghendaki harta.

Di istana kepala pendeta Lhama mereka telah cukup banyak terdapat barang-barang berharga, emas, dan batu-batu permata.

Apakah artinya patung Dewi Kwan-im dan lain-lain barang itu?

Mendengar persekutuan ini, biarpun Tiong Li merasa tak senang dan di dalam hati membela para imam dari Kwan-im-kauw, namun pemuda ini pikir bahwa persoalan ini sebetulnya bukanlah urusannya dan sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan dia, Karena bukankah ia mempunyai tugas yang lebih penting, yaitu mencari kawan-kawannya untuk melenyapkan segala ketidak-enakan yang terasa di antara mereka secara terang-terangan?

Setelah berpikir demikian, maka ia balikkan tubuh hendak pergi dari situ.

Tapi tiba-tiba kakinya kena injak tempat rahasia yang dipasang di situ dan tiba-tiba terdengarlah bunyi nyaring di dalam gedung karena ternyata alat rahasia itu bekerja dan memberi tanda ke dalam.

Orang-orang yang berada di situ, baik yang berada di dalam maupun yang berjaga di luar, menjadi kaget sekali dan mereka cepat loncat keluar dan mencari tahu sebabnya.

Tiong Li juga terkejut dan hendak segera loncat ke taman, tapi ia telah terlambat karena empat orang penjaga yang menyerbu dari luar dapat melihatnya dan segera membentak.

"Penjahat dari mana begitu berani mati?"

Dan tanpa menanti jawaban, empat batang golok menyambar ke tubuh Tiong Li.

Tapi empat orang penyerang itu menjadi terkejut sekali karena pemuda itu tahu-tahu telah melejit di antara sinar empat golok itu dan telah lenyap dari pandangan mata mereka!

Tiba-tiba Tiong Li telah mencelat ke atas genteng, tapi kini ia menghadapi para imam Tibet yang telah mencegat di atas genteng pula!

Juga Ho-pak Chit-kiam dan Ban Kok Si Garuda Sakti sudah berada di situ.

Beberapa orang pengawal mengejar naik dengan obor di tangan, maka keadaan menjadi terang dan wajah Tiong Li dapat terlihat nyata!

Tiba-tiba Ban Kok Si Garuda Sakti bertindak maju dan berteriak keras.

"Celaka, orang ini mata-mata!"

Tiong Li tertawa keras.

"Orang tua, kau sudah kenal padaku dan kau tahu aku bukan mata-mata!"

"Bohong! Justeru karena aku telah kenal kau maka aku tahu kau mata-mata! Cu-wi suhu sekalian, orang ini benar-benar penyelidik Kwan-im-kauw! Aku tahu betul, karena ia adalah kawan baik si iblis wanita itu!"

Maka terdengar seruan-seruan marah dari para imam itu.

Tiong Li terkejut mendengar ini.

Siapakah yang dimaksudkan iblis wanita oleh Ban Kok ini?

Apakah Lian Eng?

Ataukah Hong Cu?

Agaknya mereka ini pernah "makan tangan"

Seorang di antara dua orang gadis kawannya itu hingga memusuhinya.

Tapi apa hubungannya dengan Kwan-im-kauw?

Tiong Li tak sempat banyak berpikir karena para imam jubah kuning telah maju dengan pedang di tangan.

Ia dikepung oleh belasan orang itu dan terpaksa Tiong Li cabut keluar pikulan obatnya yang tadi diselipkan di pinggangnya.

Sekali gebrak saja ia berhasil membuat beberapa batang pedang terpental dari tangan musuh dan kagetlah semua imam itu melihat kelihaian anak muda yang mereka sangka makanan empuk itu.

Sebaliknya Ho-pak Chit-kiam si tujuh saudara berpedang dan Ban Kok yang telah tahu akan kelihaian Tiong Li, berlaku hati-hati dan kini mulai ikut maju mengepung.

Keadaan Tiong Li sungguh berbahaya karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Ia putar pikulannya sedemikian rupa dan senjatanya yang aneh ini memang mempunyai gerakan istimewa dan tidak terduga hingga lagi-lagi beberapa orang imam jubah kuning berseru kaget.

Akhirnya tiga orang imam jubah merah yang juga sudah berada di situ, membentak marah dan tiga bayangan merah berkelebat dan menyerang Tiong Li.

Anak muda ini terkejut sekali karena tiga orang ini benar-benar kosen.

Hampir saja ia mendapat celaka ketika tiga orang ini maju berbareng dan mengirim tiga macam serangan dengan tangan mereka yang memiliki tenaga lwee-kang hebat!

Baiknya Tiong Li memang telah berlaku waspada dan telah maklum bahwa para pengeroyoknya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi hingga ia dapat cepat gunakan gin-kangnya yang luar biasa dengan jalan menekan pikulannya pada wuwungan dan enjot tubuhnya mencelat ke atas berjumpalitan beberapa kali dan tahu-tahu ia telah melayang ke wuwungan rumah lain!

Tapi alangkah kagetnya ketika ia turunkan kakinya di wuwungan itu, tahu-tahu ada angin menyambar dari belakang dan tiga orang imam jubah merah itu kembali telah berada di situ dan mengirim, serangannya yang berbahaya.

"Bagus! Rupanya kalian hendak mengadu jiwa?"

Teriak Tiong Li gemas.

Ia lalu keluarkan seluruh kepandaiannya.

Tapi ternyatalah segera bahwa ia tidak mampu mendesak tiga imam itu, karena kepandaian tiga imam itu tidaklah berada di sebelah tingkat kepandaiannya sendiri!

Andaikata ia melawan seorang diri pada mereka saja, belum tentu ia mampu menjatuhkan dengan mudah dan cepat, apa lagi harus menghadapi ketiga-tiganya!

Harus diketahui bahwa ketiga imam Lhama jubah merah itu adalah tiga tokoh ternama di Tibet yang menduduki tingkat kedua!

Mereka ini adalah Ui Liong Taisu, Ang Liong Taisu, dan Hek Liong Taisu dan sesuai dengan nama mereka, Ui Liong Taisu bermuka semu kuning, Ang Liong taisu bermuka merah, dan Hek Liong Taisu bermuka hitam!

Dan ketiganya memiliki kepandaian khusus yang tinggi.

Ui Liong Taisu bersenjatakan sepasang sumpit kuningan yang digerakkan cepat sekali untuk menotok jalan darah dan tiap kali ia mainkan sepasang sumpit kuningan yang selalu digosok sampai mengkilap itu, senjatanya menyambar-nyambar menyilaukan mata lawan.

Ang Liong Taisu bersenjata sepasang hud-tim atau kebutan yang panjang dan pendek.

Yang panjang di tangan kanan dan yang pendek di tangan kiri.

Juga sepasang hud-tim ini berbahaya sekali karena ujung hud-tim yang berambut lemas ini dapat digerakkan dengan tenaga lwee-kang hingga menjadi keras dan dapat menotok jalan darah pula!

Berbeda dengan kedua saudaranya, Hek Liong Taisu tak pernah mainkan senjata.

Ia andalkan sepasang kepalannya yang telah dilatih hebat dan sampai menjadi hitam.

Kulit lengannya ini telah menjadi kebal dan kuat untuk dipakai menangkis senjata tajam!

Selain ini, iapun pandai menggunakan senjata rahasia, yakni pelor besi yang hitam pula dan yang diisi obat sedemikian rupa hingga kalau tertangkis oleh senjata musuh, pelor itu dapat meledak dan melepaskan jarum-jarum kecil sekali!

Demikianlah, maka tidak heran jika Tiong Li yang biarpun memiliki kepandaian tinggi, merasa sibuk sekali dan terdesak hebat!

"Ha, ha, ha!

Anak muda, sayangilah jiwa dan kepandaianmu!

Kau masih begini muda tapi kepandaianmu sudah boleh juga.

Lebih baik kau menyerah dan membantu kami!"

Berkata Ui Liong Taisu yang tunda sepasang sumpitnya.

"Kau anggap aku manusia macam apakah? Tak tahu malu!"

Balas Tiong Li menyindir hingga si muka kuning itu menjadi marah sekali.

"Kau mencari mampus!"

Serunya dan sepasang sumpitnya meluncur cepat menyerang tempat berbahaya.

Kalau sekali saja serangan ini mengenai tubuh Tiong Li, maka jiwa anak muda itu berada dalam bahaya maut!

Tetapi biarpun sangat terdesak, Tiong Li pergunakan seluruh kemahirannya dan seluruh kepandaian gin-kangnya untuk mencelat ke sana ke mari sambil mencari ketika untuk melarikan diri.

Pada saat ia terdesak sekali, tiba-tiba datang serangan tangan kiri Hek Liong Taisu.

Serangan hebat ini datang pada saat ia sibuk menangkis serangan sepasang sumpit dan hud-tim, hingga tak mungkin dihindarkan pula.

Terpaksa Tiong Li miringkan tubuh dan pasang pangkal lengannya yang diisi tenaga lwee-kang untuk menerima pukulan itu "Buk!!"

Dan Tiong Li terpental setombak lebih!

Ia jatuh berdiri di atas genteng, tetapi merasa betapa lengannya menjadi kesemutan dan, ia maklum telah mendapat luka di dalam.

Keadaannya serba susah sekali, karena mau lari tak mungkin karena ilmu lari cepat musuh-musuhnya bukanlah rendah.

Mau melawan terus juga tiada harapan.

Tiba-tiba, ketika ketiga imam jubah merah itu loncat untuk menghabiskan nyawanya, berkelebatlah bayangan putih dibarengi bentakan nyaring.

"Imam-imam busuk pergilah!"

Dan benar saja, begitu bayangan itu menyerang, Hek Liong Taisu telah kena terpukul oleh sebatang tongkat yang digerakkan secara luar biasa hingga tulang kering bawah lutut Hek Liong Taisu terpukul hampir patah!

Imam muka hitam itu tak dapat menahan rasa sakitnya dan ia jatuh di atas genteng yang menjadi pecah, dan ia tinggal duduk di situ sambil memijit-mijit kakinya dengan muka pringisan!

"Hong Cu, kau datang!"

Tiong Li berseru girang sekali, tapi tiba-tiba ia merasa mukanya berubah merah dan panas karena teringatlah ia akan persoalan yang ada di antara mereka.

"Tiong Li, hayo kita gempur imam-imam busuk ini!"

Teriak Hong Cu yang putar tongkatnya sedemikian rupa hingga kedua imam itu terkejut sekali karena ternyata bahwa kepandaian gadis yang baru datang ini tidak kalah lihainya dengan pemuda itu!

Tiong Li mendapat semangat baru dan biarpun pundak dan lengan kirinya tak dapat digunakan, namun tangan kanannya masih dapat mainkan pikulannya dengan hebat.

Kini Ui Liong Taisu dan Ang Liong Taisu tidak mendesak terlalu dekat karena mereka harus pula bersilat secara hati-hati.

Hong Cu yang tahu bahwa Tiong Li telah terluka segera berkata.

"Mari kita pergi saja, tak perlu melayani dua imam busuk ini terlebih lama pula!"

Tiong Li berterima kasih sekali atas ajakan ini, karena iapun telah merasa betapa pundak kirinya sakit sekali dan sebentar lagi tentu luka itu akan menghebat.

Ia lalu putar pikulannya mengirim serangan maut kepada Ang Liong Taisu hingga lawannya ini mencelat mundur.

Saat itu adalah kesempatan baik bagi Tiong Li, maka ia lalu loncat jauh diikuti oleh Hong Cu.

Karena merasa penasaran Ui Liong Taisu segera berteriak.

"Hek-sute, lekas gunakan senjata rahasiamu!"

Tapi Hek Liong Taisu yang masih duduk di atas genteng sambil pencet-pencet kakinya hanya mengerang.

"Aduhh kakiku... aduh kakiku..."

Kedua saudaranya segera memeriksa dan ternyata tulang kaki yang terpukul itu agak retak dan kulitnya matang biru dan bengkak!

Maka segera mereka tolong saudara ini.

Sementara itu, para pengawal lain juga telah tiba di situ dan sama-sama menolong Hek Liong Taisu yang digotong ke dalam gedung Pangeran Yo.

Pangeran Yo marah sekali mendengar betapa mata-mata itu telah dapat melarikan diri.

Ia gebrak-gebrak meja dan memaki-maki para pergawalnya yang dikatakan tidak becus!

"Masa untuk menangkap seorang mata-mata yang masih muda saja kalian tidak mampu?

Ah, sungguh celaka!

Tentu ia akan memberi laporan ke kelenteng Kwan-im-bio dan mereka tentu akan membikin persiapan dan penjagaan kuat.

Gagallah rencana kita.

Bagaimana pikiran dan pendapatmu, Ui-totiang?"

Tanyanya kepada Ui Liong Taisu yang mengepalai rombongan imam utusan.

"Memang musuh mempunyai banyak orang pandai. Tapi tak perlu kita takut. Biarpun Hek-sute terluka kakinya, namun ia telah memberi persen kepada pangkal lengan mata-mata itu. Dan ketahuilah bahwa bekas tangan Hek-sute bukankah tidak berbahaya! Kalau tidak segera mendapat obat yang mujijat, dalam satu dua hari ini pemuda itu tentu akan menderita sakit hebat dan racun pukulan itu akan dapat menewaskan jiwanya!"

Yo-taijin merasa girang mendengar itu.

"Tapi, betapapun juga, lebih baik kalian segera berangkat ke sana mendahului mereka agar penyerbuan ini akan lebih berhasil dan mudah."

Semua utusan dari Tibet menyanggupi dan malam itu juga diadakan persiapan untuk berangkat besok pagi-pagi sekali, menuju ke perbatasan Sin-kiang dan Tibet untuk menghancur leburkan Kwan-im-kauw dan seberapa dapat membunuh mati semua imam di situ dan merampas semua harta kekayaan.

Hong Cu dan Tiong Li beruntung sekali bahwa yang terluka adalah Hek Liong Taisu, karena kalau si muka hitam itu tidak terluka, mereka tentu takkan dapat lari semudah itu dan masih akan terancam bahaya oleh pelor-pelor yang lihai dari imam muka hitam itu.

Tiong Li hendak kembali ke rumah penginapannya, tapi Hong Cu mencegah.

"Boleh kita mampir sebentar untuk mengambil barang-barangmu, tapi kita harus pergi ke tempat persembunyianku. Di kota raja kita sudah tidak bisa bergerak leluasa lagi karena orang telah mengenal kita!"

Mereka lalu mampir ke rumah penginapan Tiong Li, dan dengan diam-diam mereka masuk ke kamar pemuda itu melalui jendela, lalu ambil semua barang-barang yang ditinggal di situ.

Kemudian, mereka lalu menuju keluar kota raja.

Di tengah jalan Tiong Li telan dua butir obat untuk mencegah menjalarnya racun di pundaknya.

Tapi ternyata pekerjaan para pengawal cepat sekali.

Pada waktu mereka masih bertempur melawan tiga imam jubah merah tadi, para pengawal telah memberi perintah kepada penjaga pintu gerbang tembok yang mengelilingi kota raja untuk melarang semua orang yang hendak keluar meninggalkan kota itu!

Dan penjagaan di situ diperkuat, bahkan ada beberapa orang pengawal yang telah berada di situ menjaga pula!

"Bagaimana, kita terjang saja mereka?"

Tanya Hong Cu karena gadis ini juga bingung melihat penjagaan demikian kuat. Tiong Li geleng-geleng kepalanya sambil menunjuk kepada pundaknya.

"Aku terluka agak payah juga. Perlu diobati dulu dan tak dapat aku gunakan tenaga bertempur. Kalau kau maju sendiri, tentu kau akan menang, tapi belum tentu dapat keluar dari sini, karena para penjaga dan pengawal lain tentu datang membantu, juga kita tidak tahu cara bagaimana membuka pintu gerbang yang berat itu. Kurasa tentu ada rahasia pada pintu itu!"

Selamanya Tiong Li berlaku hati-hati dan selalu mempertimbangkan masak-masak lebih dulu sebelum bertindak, maka Hong Cu yang telah kenal padanya dan maklum akan kecerdikan pemuda ini, minta nasihatnya.

Mendengar pendapat Tiong Li, ia menyatakan setuju juga, tetapi bagaimanakah mereka akan dapat loloskan diri?

"Kita terpaksa harus bermalam di dalam kota ini,"

Akhirnya Tiong Li berkata.

"Besok siang kalau pintu gerbang sudah dibuka, kita bisa keluar dengan mudah."

Hong Cu memandangnya heran.

"Mudah? Kau aneh sekali! Semua pengawal akan mengenal kita dan dengan mudah kita dikeroyok!"

Tetapi Tiong Li hanya tersenyum dan melihat betapa pemuda itu tersenyum sambil meringis menahan sakit, baru Hong Cu teringat akan luka di pundak pemuda itu, maka ia lalu buru-buru mendahului pemuda itu mencari tempat penginapan.

Di dalam kota itu, terdapat sebuah bio besar yang berloteng dan di atas loteng itulah kedua anak muda itu bersembunyi.

Dengan menggunakan kepandaian mereka, keduanya loncat naik tanpa diketahui oleh penjaga bio yang berada di bawah.

Kebetulan sekali bio bagian atas itu kosong, maka mereka dapat menempati tempat itu dengan aman.

Tiong Li lalu keluarkan keranjang dan bungkusan obat dari pikulannya, lalu mengobati luka di pundaknya.

Ternyata bahwa Hek Liong Taisu mempunyai tangan yang jahat dan lihai karena tangan itu telah terendam dan mengandung hawa beracun.

Pukulan tangannya tidak hanya berat dan bertenaga lwee-kang yang sukar dilawan, juga membawa hawa yang berbisa!

Baiknya tenaga lwee-kang pemuda itu sudah cukup tinggi maka ia dapat pergunakan tenaganya untuk menahan dan melawan pengaruh bisa.

Pula, tadi ia telah makan obat penawar hingga racun itu hanya berhenti di pundaknya saja dan membuat kulit pundaknya tampak hitam.

Tiong Li gunakan tiga jarum untuk membuka jalan darah di pundaknya hingga bekas tusukan jarum itu mengeluarkan darah hitam.

Kemudian dengan semacam obat tempel atau koyo, ia keluarkan semua racun dari pundaknya.

Setelah beres mengobati lukanya, Tiong Li lalu bersamadhi untuk menyembuhkan bekas pengaruh racun di pundaknya itu.

Kepada Hong Cu ia minta supaya mengumpulkan tenaga untuk besok, dan tentang cara keluar dari kota raja dengan selamat baik diserahkan saja kepadanya!

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik agak tinggi, barulah pintu gerbang dibuka.

Orang-orang yang lalu lintas merasa gelisah, terutama para pedagang yang mempunyai keperluan untuk mengeluarkan gerobaknya keluar kota atau yang hendak masuk kota, mereka ini harus menanti di dalam atau di luar pintu.

Penjagaan di pintu gerbang itu diperkuat dan tampak beberapa pengawal keraton berada pula di situ dengan tangan mereka siap di gagang golok.

Orang-orang yang lalu lintas di situ di amat-amati dengan mata tajam.

Di antara banyak orang yang keluar kota melalui pintu gerbang itu, terdapat dua orang pemuda tani yang berwajah buruk sekali.

Yang seorang berwajah hitam dengan mata besar sebelah, sedangkan orang ke dua wajahnya bopeng dan biarpun ia masih muda, tapi rambutnya sudah penuh uban.

Dua orang ini berjalan perlahan seakan-akan tidak ambil perduli sama sekali akan segala keributan para penjaga itu.

Dan para penjaga juga tidak perdulikan mereka, karena yang mereka cari adalah seorang pemuda yang cakap dan seorang gadis cantik yang malam tadi telah berani mengacaukan gedung Pangeran Yo!

Namun, biarpun dijaga keras sampai hari menjadi sore, kedua anak muda yang dicari-cari itu tidak tampak muncul dari situ.

Oleh karena ini, maka para penjaga menjadi khawatir sekali, dan menyangka bahwa kedua orang itu tentu masih berada di dalam kota raja dan siapa tahu, gedung mana lagi yang akan di kacau oleh mereka!

Sedangkan pada waktu itu, para jagoan-jagoan keraton yang terlihai, pagi-pagi tadi telah berangkat semua bersama para imam dari Tibet!

Mereka ini tentu saja sama sekali tak pernah menduga bahwa dua orang muda yang buruk rupa tadi, setelah pergi jauh sekali dari tembok kota raja, mampir di sebuah anak sungai dan sambil tertawa geli mereka cuci muka dan berganti pakaian.

Sebentar saja dua orang yang buruk menjijikkan tadi telah berganti rupa menjadi Tiong Li dan Hong Cu!

Ternyata, dengan kepandaiannya ilmu pengobatan yang diwarisinya dari Kiang Cu Liong, Tiong Li telah dapat mengubah rupa dan rambut mereka sedemikian rupa hingga jangankan para penjaga itu, biarpun mereka sendiri kalau dapat melihat muka sendiri tentu takkan dapat mengenal!

Setelah dapat lolos dari penjagaan di gerbang benteng itu dengan mudah, Tiong Li dan Hong Cu lalu melanjutkan perjalanan mereka.

"Hong Cu, tak perlu kiranya aku menyatakan padamu betapa besar rasa terima kasihku atas pertolonganmu malam tadi,"

Kata Tiong Li di tengah perjalanan.

"Aah, jangan terlalu sungkan, bukankah kita sahabat baik?"

"Sungguh aku tidak sangka akan bertemu dengan engkau di kota raja. Sebetulnya, bagaimana kau bisa tiba di sana? Bukankah kau pergi mengejar Lian Eng?"

Tanya Tiong Li.

"Memang maksudku semula hendak mengejar Lian Eng, tapi ia lihai sekali dan larinya keras hingga aku kehilangan jejaknya. Berpekan-pekan aku mencari-cari dan menjelajah banyak tempat, tapi sia-sia belaka. Maka aku lalu menjadi putus asa dan merantau tanpa tujuan sampai berbulan-bulan. Akhirnya, dengan secara kebetulan sekali, aku melihat Ho-pak Chit-kiam! Tentu saja aku ingat kepada mereka ini yang dulu membantu musuh-musuh kita. Mereka datang dari jurusan barat membawa beberapa orang kawan dan di antaranya ada yang terluka. Melihat luka yang mereka derita, aku heran karena luka itu hanya dapat ditimbulkan oleh pukulan Huo-mo-kang dari Lian Eng! Karena itulah maka diam-diam aku mengikuti mereka dan pada malam hari aku mencuri dengar percakapan mereka. Dan benar saja, yang melukai mereka adalah Lian Eng!"

"Di mana, adanya gadis itu?"

Tiong Li bertanya dengan tak sabar.

"Menurut pendengaranku yang terpotong-potong, agaknya mereka itu baru pulang dari menyerbu Kwan-im-bio dan agaknya Lian Eng berada di sana membantu para imam Kwan-im-kauw dan mengusir mereka yang menyerbu ini!"

"Lalu bagaimana?"

Tanya Tiong Li dengan hati tertarik.

"Aku masih curiga dan terus saja mengikuti mereka, tapi mereka itu menuju ke kota raja! Menurut pembicaraan mereka yang dapat kutangkap, mereka menanti di gedung Pangeran Yo dan menanti datangnya utusan rombongan imam Lhama dari Tibet.

"Telah beberapa malam aku menyelidik di atas gedung itu, tapi belum juga rombongan yang dinanti-nanti itu tiba. Akhirnya, malam tadi aku datang lagi menyelidiki keadaan gedung itu dan melihat kau sedang dikeroyok!"

"Ah, kalau begitu, tahulah aku mengapa aku dicap mata-mata oleh mereka! Tentu kita dianggap sengaja datang memata-matai mereka untuk membantu Lian Eng dan Kwan-im-kauw!"

Kata Tiong Li. Tapi Hong Cu masih saja merasa heran dan tidak mengerti.

"Kurasa Lian Eng hanyalah membantu para imam Kwan-im-kauw, jadi hanya kebetulan saja ia berada di sana. Apakah hal ini tidak mereka ketahui? Apakah mereka menganggap bahwa Lian Eng akan terus menerus membela Kwan-im-kauw?"

"Habis, kalau menurut pendapatmu, bagaimana baiknya?"

Tanya Tiong Li.

"Bagaimana baiknya? Tentu saja kita harus segera mendahului pergi ke Kwan-im-bio di perbatasan Sin-kiang! Biarpun cici Lian Eng sengaja membela Kwan-im-kauw maupun tidak, tapi ia tentu mempunyai alasan kuat sekali untuk membela Kwan-im-kauw mati-matian, maka tak boleh tidak aku harus pergi ke sana dan melindungi kelenteng itu. Siapa tahu kalau-kalau aku akan dapat bertemu dengannya di sana!"

Kemudian, setelah memandang pemuda itu, ia berkata lagi.

"Tapi, tentu saja aku tidak memaksamu untuk ikut pergi ke tempat yang sangat jauh itu!"

"He, mengapa begitu? Kalau kau pergi ke sana, Mengapa aku tidak? Bukankah aku kawan Lian Eng dan... kawanmu pula?"

Kemudian pemuda itu teringat betapa menurut dugaannya gadis ini mencinta Siauw Ma, maka ia lalu berkata dengan wajah sungguh-sungguh setelah menunda larinya.

"Hong Cu, dengarlah baik-baik. Soal yang dibicarakan oleh guru-guru kita itu... jangan kau anggap bahwa aku mendesak. Tidak, nona yang baik, aku tidak mendesakmu. Biarpun aku harus menyatakan secara terus terang bahwa hal itu memang merupakan cita-cita muluk dalam mimpi bagiku.

"Nah, kau sudah mendengar isi hatiku dan pendirianku, maka janganlah kau gelisah dan anggap bahwa aku... aku sudah... sudah anggap urusan kita itu sebagai hal yang pasti!"

Hong Cu tundukkan mukanya yang agak kemerah-merahan.

Memang, seandainya tidak ada Siauw Ma di dunia ini, tentu ia takkan ragu-ragu menerima seorang pemuda sebagai Tiong Li ini untuk menjadi suaminya.

Tapi ia telah tertarik kepada Siauw Ma sungguhpun ia dapat menduga bahwa pemuda yang dicintanya itu tidak membalas kasihnya dan sebaliknya mencinta Lian Eng!

"Tiong Li, kau memang seorang laki-laki jantan yang suka berterus terang.

Sikap inilah yang selalu kujunjung tinggi.

Tapi ketahuilah bahwa aku sendiripun sama sekali belum mendapat kepastian dalam hal ini.

"Biarlah kita tunda saja dulu hal yang masih mentah ini dan kita harus memikirkan keadaan cici Lian Eng yang malang. Hati cici Lian Eng keras sekali, maka keputusan-keputusan yang tidak sesuai dengan suara hatinya tentu akan membuat ia patah hati dan bertindak nekat! "Marilah kita cari dia dulu, dan juga... Siauw Ma. Aku tidak tahu apa jadinya dengan ke dua saudara kita itu sekarang!"

Mata Tiong Li bercahaya kagum dan girang.

Ia maklum bahwa gadis di depannya ini benar-benar cerdas otaknya dan agaknya sudah dapat menangkap pula segala rahasia cinta segi empat ini.

Juga ia sangat kagum akan kebijaksanaan Hong Cu, karena di dalam kekecewaannya telah tertolak cintanya terhadap Siauw Ma yang sebaliknya mencinta Lian Eng, gadis ini tidak menaruh dendam kepada Lian Eng, tapi sebaliknya bahkan menaruh hati kasihan!

Rasa kagumnya menjadi rasa haru yang ketika ia pandang mata Hong Cu menyuram, maka dengan suara setengah berbisik Tiong Li berkata.

"Hong Cu... kau... kau mencinta Siauw Ma, bukan?"

Gadis itu menatap muka kawannya, lalu sambil menggigit bibir dan menahan jatuhnya air mata yang telah membasahi bulu matanya, ia mengangguk perlahan.

"Alangkah mulianya hatimu, Hong Cu. Jawabanmu tidak membuat aku kecewa, bahkan membuat aku sangat kagum padamu. Kau jujur dan mulia, kau cerdik dan bijaksana. Aku hanya doakan semoga kelak kau bahagia hidup di samping Siauw Ma, ia seorang yang baik..."

Tak tertahan rasa terharu yangmenyerang hati gadis itu dan titik air mata yang ditahan-tahannya tadi menetes turun.

Tapi ia segera tindas perasaannya dan tetapkan hatinya, lalu memaksa senyum menerangi kemuraman wajahnya.

"Bagaimana kita ini? Katanya hendak mendahului bangsat-bangsat itu ke Kwan-im-bio, tak tahunya kita mengobrol seperti kakek dan nenek yang cerewet!"

Lagi-lagi Tiong Li pandang mulut dengan giginya yang rata sedang tersenyum di depannya itu dengan kagum sekali. Iapun ikut tersenyum, lalu berkata.

"Hayo kita berlomba. Sudah tahukah kau jalan menuju ke sana?"

Hong Cu mengangguk dan mereka lalu gunakan ilmu lari cepat.

Tubuh mereka lenyap dan merupakan bayangan saja yang berkelebat cepat.

Ternyata ilmu lari cepat mereka berimbang dan Tiong Li hanya menang sedikit saja.

Tapi pemuda ini tentu saja tidak mau tinggalkan gadis itu dan berlari di sebelah Hong Cu sambil panggul pikulan keranjang obatnya.

Telah dua hari mereka mengejar, tapi belum juga dapat melihat rombongan imam Tibet dengan kambrat-kambratnya yang berangkat lebih dulu.

Mereka menjadi heran sekali.

Tentu saja Tiong Li dan Hong Cu yang hanya mengenal jalan besar, tidak tahu bahwa mereka itu telah pergi melewati jalan kecil yang memotong dan lebih dekat hingga dapat mendahului taruna remaja itu.

Mari kita tengok dulu keadaan Lian Eng, gadis keras hati, murid Huo Mo-li yang lihai itu, yang tak dapat menahan perasaan hatinya dan di depan ke empat guru besar di puncak Thang-la, telah melarikan diri ketika diberi tahu bahwa ia hendak dijodohkan dengan Siauw Ma!

Rasa marah, kecewa, sedih dan terharu bercampur-aduk di dalam hatinya hingga membuatnya menangis terisak-isak sambil lari cepat sekali karena ia telah gunakan ilmu lari cepat yang paling hebat.

Gadis ini merasa sakit hati sekali dan adatnya yang keras membuat ia berlaku nekat.

Jurang-jurang besar kecil diloncati begitu saja tanpa dihiraukan bahaya jika jatuh terpeleset.

Karena inilah maka ia dapat turun dari gunung itu dengan cepat sekali dan sukarlah bagi Hong Cu yang mengejar dapat menyandaknya.

Ia merasa menyesal sekali.

Mengapa orang-orang tua itu demikian bodoh?

Mengapa mereka tidak bertanya lebih dulu dan tahu-tahu secara lancang menjodohkan orang, demikian pikirnya dengan hati kesal.

Mengapa ia dijodohkan dengan Siauw Ma dan Hong Cu dengan Tiong Li?

Mengapa bukan ia dengan Tiong Li dan Hong Cu dengan Siauw Ma??

Ah, memang harus diakuinya bahwa Siauw Ma mencinta padanya dan ia tahu pula bahwa Siauw Ma adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, jujur dan baik.

Semenjak pertemuan pertama ketika ia masih gagu dulu, memang Siauw Ma telah memperlihatkan cinta dan pembelaannya.

Agaknya cinta Siauw Ma kepadanya inilah yang membuat orang-orang tua itu menarik kesimpulan bahwa jodohnya adalah pemuda itu!

Kalau saja di dunia ini tidak ada Tiong Li, kalau saja ia tak pernah ditolong oleh Tiong Li dan gurunya hingga dapat bicara pula, kalau saja hatinya tidak seberat itu condong kepada Tiong Li, tentu ia akan tunduk dan puas akan keputusan orang-orang tua itu.

Memang selain Tiong Li, agaknya sukar menemukan seorang pemuda sebaik Siauw Ma.

Tetapi di sana ada Tiong Li demikianlah sambil lari cepat, Lian Eng putar-putar otaknya dan akhirnya tangisnya berhenti juga.

Ketika ia lari secepat terbang hampir tiba di kaki gunung, tiba-tiba dari bawah ia melihat seorang pendeta berlari-lari naik dengan wajah tampak bingung dan tergesa-gesa.

Lian Eng menghampiri dan ketika pendeta itu melihat seorang gadis cantik berlari secepat terbang dari atas, ia segera angkat tangan memberi isyarat supaya gadis itu berhenti.

"Tolonglah, nona..."

Pertapa itu berkata dengan napas terengah-engah.

"Tolong beritahu di mana pinto dapat bertemu dengan Huo Sian-li...?"

Mendengar nama, gurunya disebut, Lian Eng memandang tajam dan penuh perhatian.

Rambut pendeta itu diikat menjadi satu di tengah-tengah, ujungnya dipotong dan ikatan itu dihias dengan setangkai teratai perak.

Jubah pendeta itu berwarna kuning dan di bagian dadanya terdapat sulaman tiga bunga teratai.

Maka teringatlah Lian Eng akan perkumpulan Agama Kwan-im-kauw yang dulu kehilangan patung Dewi Kwan-im hingga menimbulkan heboh dan pertempuran ramai.

"Kau mau apa mencari Huo Sian-li?"

Tegurnya dengan kaku.

"Tolonglah, lihiap... Pinto hendak bertemu dengan Huo Sian-li dan memohon pertolongannya!"

Imam itu lalu menjura dan perkenalkan diri.

"Pinto adalah murid ketiga dari Kwan-im-pai."

Lian Eng pergunakan sepasang matanya yang tajam untuk memandang ke kaki bukit dan mencari-cari, tetapi ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Maka ia lalu menegur.

"Kau minta ditolong apakah? Kulihat tidak ada sesuatu yang mengancammu untuk apa minta tolong?"

Imam itu memandang Lian Eng dan agaknya kurang senang.

"Nona, dapatkah kau menolong pinto dan memberitahukan di mana tempat tinggal Huo Sian-li? Urusanku penting sekali."

"Kau katakan dulu apa keperluanmu sebelum kujawab!"

Kata-kata Lian Eng yang tegas dan tetap itu membuat imam itu tiba-tiba timbul dugaan bahwa mungkin inilah Huo Sian-li!

Bukankah kawan-kawannya memberitahu bahwa Huo Sian-li biarpun usianya sudah tua tapi masih cantik seperti bidadari?

Maka ia lalu menjura lagi, kini lebih dalam dan lebih menghormat.

"Apakah... apakah pinto berhadapan dengan Huo Sian-li sendiri?"

Lian Eng menjawab.

"Aku muridnya. Sama saja kau bertemu dengan Huo Sian-li atau dengan muridnya. Kau ada urusan apakah dan hendak minta tolong apa?"

"Maaf, lihiap. Ini urusan besar dan penting sekali. Pinto diutus oleh semua saudara dari Kwan-im-pai untuk memohon pertolongan Huo Sian-li membela kami dari serbuan para jagoan dari kota raja."

"Pembelaan bagaimanakah? Hayo kau terangkan yang jelas padaku!"

Mendengar ucapan-ucapan yang tegas dan sikap yang keren dari gadis muda lagi cantik ini, imam Kwan-im-pai itu dapat menduga bahwa murid Huo Sian-li ini pasti berkepandaian tinggi sekali, pula tadi ia telah melihat ilmu lari cepat yang luar biasa ketika gadis itu menuruni gunung.

"Lihiap, ketahuilah. Di kelenteng kami selain disimpan patung Kwan-im Pouwsat yang kami puja, juga terdapat beberapa barang berharga seperti cawan dan lain-lain. Agaknya hal ini diketahui pula oleh seorang pangeran rakus dan tamak yang disebut Pangeran Yo di kota raja. Nah, sekarang pangeran inilah yang menyuruh jagoan-jagoannya untuk menyerbu dan merampas barang-barang di kelenteng kami."

"Hm, baru menghadapi beberapa anjing penjilat kaisar saja kalian imam-imam Kwan-im-pai sudah ketakutan setengah mati. Tapi, bagaimana kau bisa tahu bahwa pangeran itu hendak merampas barang-barang di kelentengmu?"

"Kami mempunyai hubungan dengan cabang-cabang Kwan-im-pai yang berada di mana-mana. Kini kau tolonglah kami, lihiap."

"Baik, marilah kita pergi!"

Kata Lian Eng dengan suara tak acuh. Imam itu memandangnya heran.

"Pergi? Bukankah lihiap hendak membawa pinto menghadap Huo Sian-li?"

"Urusan sekecil ini tak perlu mengganggu guruku. Aku pergipun sama saja. Hayolah!"

Imam itu tak berani membantah. Ia pikir, biarpun tak berhasil membawa gurunya, tapi muridnya inipun agaknya sudah cukup pandai. Maka iapun lalu lari sambil berkata.

"Marilah, lihiap!"

Ia lari sekuatnya, tapi Lian Eng yang bergerak di dekatnya hanya gerakkan kaki dengan seenaknya saja namun tetap tidak pernah ketinggalan!

Karena imam itu kenal jalan memotong yang melalui gunung-gunung dan jurang-jurang, beberapa hari kemudian mereka tiba di Kelenteng Kwan-im-bio.

Kelenteng ini adalah sebuah kelenteng besar dan luas sekali.

Letaknya di Pegunungan Kun-lun-san di bagian ujung barat dan di atas puncak sebuah bukit kecil yang indah bentuknya.

Pegunungan ini disebut juga Pegunungan Kokoshili dan menjadi perbatasan antara Sin-kiang dan Tibet.

Dulu, su-couw atau pendiri dari Kwan-im-bio, yaitu kuil Kwan-im yang megah dan besar itu, adalah Bu Su Sianjin, yang berkepandaian tinggi.

Ketiga murid Bu Su Sianjin ini, yaitu dua orang murid wanita bergelar Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli, dan seorang murid laki-laki bergelar Kim Bok Sianjin.

Ketiga-tiganya telah tewas ketika terjadi perebutan patung emas Dewi Kwan-im dengan Siauw Liong yang jahat itu.

Semenjak meninggalnya Kim Hwa Sianli, Kwan-im-pai tidak mempunyai kauw-cu (ketua agama) lagi dan untuk sementara waktu para murid tingkat tertinggi hanya mengatur perkumpulan mereka bersama-sama.

Jumlah seluruh imam yang berdiam di dalam kelenteng yang besar dan megah itu seluruhnya ada seratus tigapuluh tiga orang, dan kesemuanya adalah anak murid Kwan-im-pai yang mempunyai kepandaian bertingkat-tingkat.

Selain imam-imam lelaki, terdapat juga nikouw atau imam-imam wanita, yaitu murid-murid Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli.

Semua nikouw ini pandai bersilat dengan pedang di tangan kanan dan kebutan hud-tim di tangan kiri, kepandaian tunggal yang lihai dari Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli.

Karena inilah, maka kedudukan Kuil Kwan-im amat kuat.

Dulu pernah berkali-kali para pendeta Lhama dari Tibet mencoba untuk mengusir mereka, tapi mereka kena mundur.

Apa lagi ketika itu terdapat Bu Su Sianjin yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

Kedatangan Lian Eng mendapat sambutan meriah dari para pendeta di situ, terutama para nikouw yang merasa kagum melihat kecantikan Lian Eng.

Tapi rata-rata semua pendeta, terutama murid-murid tertinggi kedudukannya, merasa ragu-ragu akan ketinggian ilmu silat gadis muda itu.

Mereka ini merasa kecewa mendengar bahwa utusan mereka tak sempat bertemu dengan Huo Sian-li yang telah mereka dengar dan kagumi kelihaiannya.

Sebaliknya, ketika memasuki kuil besar itu dan melihat kehidupan para nikouw dan pendeta di dalam kelenteng yang tampak demikian tenteram, penuh damai, dan berbahagia, tiba-tiba segala kepusingan di kepala Lian Eng menjadi lenyap.

Ia merasa seakan-akan memasuki tempat yang menyenangkan sekali.

Terutama ketika ia menghadap patung Dewi Kwan-im yang telah ditaruh di tempat semula, yakni di tengah-tengah empang, dikelilingi daun-daun dan bunga-bunga teratai emas, dan di sekeliling tempat itu para nikouw duduk membaca Liam-keng, hati Lian Eng menjadi terharu sekali.

Tak terasa pula ia lalu berlutut di depan patung itu dan pada saat itulah seorang nikouw yang kebetulan memandangnya, menjerit keras!

Semua nikouw memandang ke arah nikouw itu yang sedang memandang Lian Eng dengan mata terbelalak, maka semua mata kini memandang Lian Eng dan terdengarlah seruan-seruan tertahan karena kagum dan heran.

Ternyata setelah duduk berhadapan dengan patung Dewi Kwan-im, wajah gadis itu tampak agung dan mirip sekali dengan wajah patung itu!

Karena inilah maka nikouw tadi begitu terkejut dan menjerit.

Timbullah gaduh dari suara-suara para nikouw yang menyatakan keheranan dan kekagumannya, tapi segera murid tertua terus dapat menenangkan mereka dan liam-keng dilakukan terus seperti biasa.

Dan pada saat itulah terdengar suara bambu-bambu dipukul gencar di luar kuil hingga semua nikouw serentak mundur dan mengganti kitab mereka dengan pedang dan kebutan!

Murid tertua dari Kim Hwa Sianli yang bernama Swi Hwa Sianli, segera mengajak Lian Eng keluar dengan berkata.

"Lihiap, mereka penyerbu-penyerbu kurang ajar itu telah datang!"

Lian Eng cepat loncat keluar.

Ia masih bingung karena ketika berlutut di depan patung Dewi Kwan-im tadi, ia merasa demikian tertarik dan suka sekali hatinya, maka kini seakan-akan ia baru sadar dari mimpi yang muluk.

Karena gerakan tubuhnya memang luar biasa, ia datang terdahulu di depan kuil itu.

Di situ sudah ada beberapa orang imam yang bersiap dengan senjata di tangan memandang ke bawah bukit.

Ketika Lian Eng memandang, ternyata dari bawah bukit tampak beberapa belas orang naik dengan tindakan cepat sekali, menandakan bahwa mereka adalah orang-orang berkepandaian tinggi.

Ketika orang-orang itu telah datang dekat, terkejutlah Lian Eng karena di antara orang-orang itu terdapat Ho-pak Chit-kiam dan Ban Kok Si Garuda Sakti yang dulu membantu Bu-eng-cu!

Juga ketujuh saudara dari Ho-pak dan Ban Kok merasa heran berbareng terkejut melihat betapa gadis gagah perkasa yang dulu pernah mereka lihat di puncak Bukit Kee-san itu telah berdiri di situ mencegat mereka.

"Hm, kukira anjing-anjing dari mana yang berani datang mengotori Kuil Kwan-im Pouwsat yang suci ini, tidak tahunya anjing-anjing busuk sisa pelarian dari Kee-san!"

Datang-datang Lian Eng menegur mereka. Marahlah Ban Kok Si Garuda Sakti mendengar ini.

"Anak muda, jangan kau kurang ajar! Dulu ketika di Kee-san, memang kami yang kurang waspada dan terseret dalam perkara yang tiada sangkut-pautnya dengan kami. Tapi kedatangan kami kali ini adalah membawa firman kaisar! Kau minggirlah dan biarlah ketua kuil ini datang menghadap kami!"

Swi Hwa Sianli yang telah berdiri di sebelah Lian Eng segera menjawab.

"Cu-wi yang mulia, di sini tidak ada ketua, yang ada hanya murid-murid Kwan-im-pai. Kalau ada pesan apa-apa, silahkan cu-wi menyampaikan kepada pinni."

"Dengarlah kamu semua, hai imam-imam Kwan-im-kauw!"

Suara Ban Kok terdengar keras dan nyaring.

"Kami datang atas perintah Pangeran Yo yang menerima titah baginda untuk mengangkut patung Dewi Kwan-im dan selosin cawan arak emas ke istana untuk dipasang di sana dan menjadi penghias keraton."

Terdengar suara dan seruan-seruan marah dari para imam yang berkumpul di depan kuil. Ban Kok keluarkan sehelai kertas kuning dan sambil angkat benda itu tinggi di atas kepala ia berkata.

"Lihatlah, kami datang membawa surat perintah Pangeran Yo, bukan atas kehendak kami sendiri!"

Pada saat itu tangan Swi Hwa Sianli bergerak dan beberapa batang Kwan-im-ciam, yakni jarum-jarum berkepala bunga teratai, menyambar dan menancap di kertas yang terpegang di tangan Ban Kok itu!

"Cu-wi congsu hendaknya suka kembali saja, karena bagi kami, diambilnya patung Kwan-im Pouwsat sama artinya dengan mengambil jiwa kami.

Raja adalah pelindung rakyat yang adil, dan raja lebih tahu akan aturan agama dan akan kesopanan!

Belum pernah pinni mendengar ada seorang raja hendak merampok kelenteng!

Pergilah kalian dan jangan mencari perkara dengan kami."

Ban Kok melihat betapa jarum-jarum itu dengan cepat dan jitu telah mengenai kertas yang dipegangnya, tahu bahwa nikouw itu mempunyai kepandaian yang tinggi juga, maka ia segera berteriak kepada semua kawannya.

"Mereka menentang perintah Pangeran Yo. Hayo serbu pemberontak-pemberontak ini!"

Dia sendiri lalu maju dan menghantam ke arah Swi Hwa Sianli dengan goloknya, tapi tiba-tiba Lian Eng kibaskan tangan kirinya ke arah Ban Kok hingga tubuh Ban Kok terdorong oleh tenaga yang besar dan panas.

Terkejutlah Si Garuda Sakti karena ia tahu bahwa gadis muda ini adalah murid Huo Mo-li yang sakti dan hebat.

Ia lalu berkata.

"Nona, ada sangkutan apakah maka kau membela Kwan-im-kauw?"

"Kau perduli apakah? Aku sudah berada di sini dan siapa saja berani menyerbu Kwan-im-bio yang suci, harus dapat melewati aku!"

"Bagus, dasar berjiwa pemberontak!"

Ban Kok lalu ayun goloknya dan menyerang hebat, dibarengi dengan keroyokan Ho-pak Chit-kiam yang hendak membalas dendam.

Mereka ini delapan orang kakek yang berkepandaian tinggi mengeroyok seorang gadis muda, sungguh kalau dilihat tidak seimbang dan lucu sekali.

Apa lagi ke delapan laki-laki itu semuanya bersenjata tajam, Ban Kok bersenjata golok besar, sedangkan tujuh jago pedang dari Ho-pak itu tentu saja bersenjata pedang yang menjadi keistimewaan mereka.

Padahal yang mereka keroyok, yaitu Lian Eng, melayani mereka dengan tangan kosong saja!

Penyerbu-penyerbu yang lain segera berhantam dengan Swi Hwa Sianli dan saudara-saudaranya hingga halaman depan kuil Kwan-im-bio itu terjadilah pertempuran mati-matian yang ramai sekali.

Biarpun dikeroyok delapan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun murid Huo Mo-li tidak menjadi gentar.

Ia bergerak cepat sekali dan dari kedua lengan tangannya bersambaran angin pukulan yang mengerikan karena selain pukulan-pukulan itu mendatangkan angin besar, juga membawa hawa panas.

Inilah ilmu pukulan Huo-mo-kang yang hebat!

Sebentar saja delapan orang laki-laki yang kesemuanya memiliki kepandaian tinggi dan tenaga lwee-kang yang cukup hebat, menjadi terdesak mundur.

Mereka tidak kuat menahan pukulan Lian Eng dan mereka sama sekali tidak berani mendekat, karena jangankan sampai terkena tangan Lian Eng, baru terkena angin pukulannya dari dekat saja, kulit tubuh mereka bisa hitam bagaikan terbakar dan sakit sekali!

Namun Lian Eng juga tidak mudah menjatuhkan ke delapan lawannya yang berkelahi sambil main loncat menjauhinya dan menyerang tiba-tiba dengan senjata mereka dari belakang.

Kalau ia cepat membalik, maka penyerang itu loncat menjauhi dan orang lain yang berada di belakangnya menyerang cepat!

Dikurung secara demikian, Lian Eng menjadi gemas dan marah sekali hingga kedua matanya menjadi merah dan mengeluarkan cahaya menakutkan.

Gadis itu tiba-tiba menjerit keras dan tiba-tiba tubuhnya lenyap karena ia telah menggunakan ilmu gin-kang yang tertinggi dan loncat melewati kepala penyerangnya di depan.

Begitu kakinya menginjak tanah, tanpa putar tubuh lagi ia tiba-tiba loncat lagi ke pingir dan kirim pukulan kepada seorang pengeroyok yang masih menjadi bingung karena gerakan-gerakannya yang seperti burung berloncat-loncatan cepat sekali itu.

Seorang dari pada Ho-pak Chit-kiam terkena pukulan Huo-mo-kang dan sekali keluarkan jeritan ngeri ia roboh dengan menderita luka berat di dalam dadanya!

Jerihlah pengeroyoknya melihat kehebatan pemudi ini, maka Ban Kok lalu berteriak lagi minta bantuan kepada lain pengawal.

Tiga orang lalu menggabung di situ dan ikut mengeroyok.

Tapi karena tiga orang ini kepandaiannya tak setinggi Ho-pak Chit-kiam atau Ban Kok, baru beberapa gebrakan saja, Lian Eng telah berhasil merobohkan mereka ini dengan pukulan Huo-mo-kang!

Sementara itu, karena imam-imam Kwan-im-kauw juga rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi, pula jumlah mereka yang jauh lebih banyak dari pada pihak penyerbu, sebentar saja tubuh para penyerbu itu bergelimpangan menderita luka-luka.

Tiba-tiba Ban Kok berseru keras.

"Tahan!!"

Sambil loncat ke belakang.

"Mau apa?"

Teriak Lian Eng dengan marah. Kini gadis ini yang berdiri terdepan dan seakan-akan mewakili semua imam Kwan-im-kauw.

"Biarlah kali ini kami mengaku kalah karena kalian mengandalkan jumlah yang besar!"

Kata Ban Kok menahan malu.

"Pengecut busuk! Kau bilang kami mengandalkan jumlah besar? Bukankah kamu yang mengeroyok tadi?"

Lian Eng menyindir.

"Tapi kawan-kawanku dikeroyok oleh para imam yang puluhan banyaknya,"

Bantah Ban Kok.

"Sudahlah jangan banyak cerewet. Sekarang marilah kita bertempur satu lawan satu dan aku berjanji kedua tanganku ini akan menamatkan riwayat kalian. Jangan satu-satu, kalian boleh majukan tiga orang melawan aku seorang. Bagaimana?"

Ban Kok merasa kewalahan. Ia tahu bahwa jika Kwan-im-kauw mengajukan gadis ini sebagai jagonya, tentu pihaknya takkan ada yang dapat melawan. (Lanjut ke

Jilid 17) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17

"Sebetulnya mengapa nona membela kelenteng ini mati-matian? Sedangkan nona bukan, anggauta Kwan-im-kauw?"

"Siapa bilang bukan? Lihiap bukan saja anggauta kami, bahkan menjadi pengurus dan ketua kami!"

Berkata Swi Hwa Sianli.

"Apa?? Benarkah?"

Ban Kok memandang Lian Eng dengan mata terbelalak. Lian Eng balas memandang dengan sikap menantang.

"Habis kalau benar kau mau apa?"

Ban Kok merasa terkejut dan pikir bahwa lebih baik ia ajak kawan-kawannya pergi, maka ia lalu menjura dan berkata.

"Baiklah, kalian memberontak dan kami kali ini mengaku kalah. Biar kau tunggu saja pembalasan Pangeran Yo."

Lian Eng tersenyum menghina.

"Pergilah, anjing-anjing penjilat!"

Dengan menahan kemendongkolan hatinya, Ban Kok dan Ho-pak Chit-kiam pimpin kawan-kawannya turun dari bukit itu sambil membawa kawan-kawan yang terluka.

Setelah semua orang pergi, Lian Eng putar tubuhnya dan hampir saja ia berseru karena terkejut dan heran.

Ternyata bahwa semua imam yang berada di situ, di bawah pimpinan Swi Hwa Sianli berlutut di hadapannya!

"Eh, eh, Cu-wi suhu mengapa berbuat begini?"

Tanyanya heran. Swi Hwa Sianli lalu berkata dengan hormat.

"Lihiap, sudilah kiranya lihiap memimpin kami yang bodoh. Semenjak kami tidak mempunyai kauw-cu, kami merasa gelisah sekali. Kini melihat sepak terjang lihiap dan melihat wajah lihiap yang serupa benar dengan Pouw-sat, kami sekalian percaya bahwa lihiap tentu titisan Pouw-sat dan sengaja dipilih untuk menjadi kauw-cu kami. Harap saja lihiap jangan menolak."

Dan pada saat ia berdiri si situ, disembah oleh sekian banyak imam dan nikouw, tiba-tiba terjadi hal aneh dalam hati Lian Eng.

Ia tadinya merasa sedih dan patah hati, tapi setelah berada di kuil itu dan bersujud di depan patung Dewi Kwan-im, hatinya terasa bahagia dan terjadi perubahan besar dalam jiwanya.

Kini ia merasa seakan-akan ia memang berkewajiban penuh untuk melindungi bio ini dan memimpin para pendeta di dalam kuil itu.

Karena perasaan inilah maka ia berkata.

"Kalian berdirilah. Aku yang muda sebenarnya tidak patut menjadi pemimpin kalian, tapi aku berjanji akan membela kalian dari serbuan para penjahat berpakaian alat pemerintah itu."

Bukan main rasa girang hati para imam dan nikouw, mereka lalu mengangguk-anggukkan kepala tiga kali sambil menyebut.

"Kauw-cu!"

Dan Lian Eng lalu menyuruh mereka semua berdiri.

Kemudian semua orang mengikuti gadis itu memasuki bio!

Semenjak saat itu, secara luar biasa sekali Lian Eng telah menjadi kauw-cu atau ketua agama dari Kwan-im-kauw!

Lian Eng suka sekali bersamadhi sambil bersujud di depan Kwan-im Pouwsat di mana ia mendapat hiburan besar sekali bagi hatinya yang luka.

Ia merasa tenteram dan penuh damai.

Di waktu senggang ia melatih silat kepada murid-murid Kwan-im-pai hingga kepandaian mereka makin maju saja.

Setelah tinggal di situ sebulan lebih, maka Lian Eng makin betah saja.

Baginya, para imam dan nikouw yang menganut Agama Kwan-im-kauw benar menuntut pengidupan suci.

Iapun mulai mempelajari kitab-kitab yang dianggap suci dan pelajarannya dianut oleh mereka.

Di dalam lubuk hatinya, Lian Eng masih saja teringat akan sikap gurunya yang terlalu kasar terhadap mendiang Kim Hwa Sianli hingga kini ia hendak menebus kesalahan gurunya itu.

Di samping itu, ia memang mendapat dapat hiburan batin besar sekali di kuil ini.

Semenjak ia berada di situ, benar saja berbulan-bulan tidak ada gangguan dari luar.

Tapi ia sama sekali, tidak sangka bahwa ada pesuruh Yo-taijin yang telah dihajarnya itu kini sedang siap sedia melakukan pembalasan dengan menggabungkan diri kepada rombongan utusan Tibet, yakni imam-imam Lhama yang berkepandaian tinggi!

Baiklah kita sekarang melihat keadaan Siauw Ma, pemuda gagah perkasa yang berwatak jujur itu.

Pemuda ini biarpun tak dapat disebut bodoh, namun karena kejujurannya yang aseli itu membuat ia tak dapat menduga-duga akan keadaan pikiran dan hati Lian Eng.

Ia hanya menganggap bahwa gadis yang dicintanya itu tentu tidak suka kepadanya, jangankan mencinta, bahkan mungkin membenci padanya!

Karena itulah maka ketika mendengar akan dijodohkan dengannya gadis itu menjadi sedih dan marah lalu pergi tanpa pamit!

Sedikitpun tidak ada pikiran lain yang menggoda kepada Siauw Ma ketika ia lari turun gunung untuk mencari gadis itu.

Sebagai seorang pemuda yang berwatak gagah, ia merasa terhina sekali karena tindakan Lian Eng.

Kalau hanya ditolak lamarannya, baginya hanya mendatangkan kecewa dan sedih saja, tapi gadis itu telah menyatakan ketidaksenangannya dengan lari meninggalkan dia di depan para guru besar hingga seakan-akan membiarkan dia ditertawai!

Mengapa tidak terus terang saja gadis itu menyatakan bahwa ia tidak suka?

Mengingat akan hal ini, Siauw Ma kertak giginya dan ia berkeras hendak mencari nona itu dan menyatakan dengan terus terang!

Ia menuntut penjelasan dan keputusan nona itu dalam menolak lamarannya, dan ia tidak puas kalau Lian Eng pergi begitu saja tanpa menyatakan penolakannya secara terus terang!

Sambil menggunakan lari cepat yang telah sempurna, ia lari keras sekali.

Tapi, karena Lian Eng telah berlaku nekat dan melompati jurang-jurang tanpa menuruti jalan tertentu, sebentar saja ia kehilangan jejak gadis itu dan ia lalu turun gunung tanpa tujuan tertentu.

Ia hanya pergi ke mana saja kakinya membawanya dengan harapan akan bertemu dengan Lian Eng.

Rasa penasaran, di dalam hatinya terhadap dara yang dicintanya itu membuat ia ingat akan pesan ibunya yang disampaikan kepadanya oleh pengisap huncwe.

Mendiang ibunya pesan supaya ia memperisteri Lian Eng, atau kalau tidak berhasil mengawininya, ia harus membunuh gadis itu!

Ketika teringat akan pesan ini, Siauw Ma tahan tindakan kakinya karena kedua kaki itu tiba-tiba menggigil.

Ia harus membunuh Lian Eng??

Ah, tak mungkin!

Pertama, belum tentu ia dapat menangkan gadis yang lihai itu.

Kedua, betapapun juga, ia takkan sampai hati membunuh gadis yang dicintanya itu.

Jangankan membunuh, menyakiti saja ia takkan mampu!

Tapi memang Lian Eng pangkal segala penderitaannya!

Demikianlah Siauw Ma berpikir lagi.

Kalau saja ia dulu tidak bertemu dengan gadis itu dan mengejar ke atas bukit, belum tentu ibunya akan meninggal karena sedih ia tinggalkan dan belum tentu pula ia sekarang akan menderita kecewa dan patah hati.

Mungkin ia kini telah menjadi seorang pemburu yang memburu binatang buas di tengah hutan, bergembira dan bernyanyi-nyanyi dengan kawannya, dengan empek pengisap huncwe itu!

Ketika mengenangkan semua pengalamannya ketika ikut dengan para pemburu kawan-kawannya, Siauw Ma menjadi gembira dan pergilah ia duduk di atas sebuah batu, lalu bernyanyi di tempat yang sunyi itu!

Suaranya memang nyaring dan enak didengar.

Ia masih ingat akan lagu pemburu yang dulu sering ia nyanyikan maka kini iapun nyanyikan lagu itu.

Berbaju kulit hasil buruan, Di tangan tombak peminum darah!

Menghitung langkah mengukur jarak Mengintai, merunduk menyelinap, berlari!

Dada berdebar, tombak menggetar Mata bersinar mengintai korban.

Biruang diterjang, harimau diterkam!

Takut?

Tak kenal!

Maju terus, tabah tak gentar, Pemburu di bukit salju yang gagah berani!

Dua kali ia nyanyikan lagu ini dan ketika ia bernyanyi, sepasang matanya berseri-seri gembira.

Terbayang di depan matanya segala peristiwa dan kegembiraan ketika ia masih bersama-sama dengan para pemburu yang gagah berani itu.

Siauw Ma tersenyum-senyum, tapi tiba-tiba ia teringat akan keadaannya sekarang!

Ia merasa betapa sunyi hidupnya, betapa sengsara.

Ah, kalau saja ia dapat hidup berbahagia seperti dulu!

Tiba-tiba ia merasa malu kepada diri sendiri.

Ia seorang laki-laki gagah, mengapa merasa sedih dan putus asa?

Siauw Ma lalu bangkit dan lari pula, kini makin cepat!

Setelah berlari-lari dan mencari Lian Eng ke sana ke mari selama sepekan, tibalah ia pada suatu pagi di sebuah hutan yang sangat luas.

Ketika ia tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba dari jauh terdengar suara orang bercakap-cakap.

Siauw Ma tak ingin bertemu dengan orang lain dalam hutan itu, karena entah mengapa, ia tidak senang bertemu orang yang hanya akan mengganggu lamunannya!

Maka ia lalu loncat naik ke atas sebuah pohon besar dan bersembunyi di situ sambil beristirahat karena merasa lelah.

Semenjak kemarin ia tiada pernah berhenti dan bahkan belum makan sesuatu.

Suara orang bercakap-cakap makin keras dan tak lama kemudian, dari atas pohon itu ia melihat bahwa yang bercakap-cakap itu adalah seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai seorang persilatan.

Bajunya serba ringkas dan di bagian lengan digulung hingga tampak urat lengannya yang besar dan kuat.

Lehernya kuat dan besar pula, sesuai dengan bahunya yang bidang dan dadanya yang menonjol ke depan.

Pendeknya, seorang laki-laki yang gagah dan patut menjadi seorang ahli silat.

Yang seorang lagi adalah seorang gadis muda yang sikapnya lemah lembut sesuai dengan wajahnya yang cantik manis dan potongan tubuhnya yang biarpun agak tinggi namun lemah gemulai dan menarik hati.

Gadis ini mengenakan pakaian serba biru dan biarpun sikapnya sangat lembut namun gagang pedang yang tampak mengintai dari belakang pundaknya Membuktikan bahwa iapun mengerti ilmu silat.

Mereka datang sambil naik kuda yang dijalankan perlahan.

Ketika mereka tepat berada di bahwa pohon itu, Siauw Ma terkejut melihat bahwa gadis manis itu wajahnya mirip sekali dengan wajah Lian Eng!

Seketika itu juga hatinya berdebar keras dan ia tertarik sekali.

Ia mendengar gadis itu berkata ketika mereka lewat perlahan di bawahnya.

"Tetapi, betapapun tangguh bangsat-bangsat itu, aku tetap tidak takut, ayah!"

Laki-laki tegap itu tersenyum.

"Memang kau setabah aku, Ceng. Tetapi kali ini betul-betul kita menghadapi lawan yang tangguh. Harapanku satu-satunya ialah jangan sampai mereka itu dapat menggunakan siasat mereka mengadu domba, karena kalau sampai para ho-han dapat mereka bujuk dan memusuhi kita, celakalah kita."

Tiba-tiba gadis itu tahan kendali kudanya, wajahnya merah karena ia merasa penasaran sekali.

"Ayah, apakah masih patut disebut ho-han (orang gagah) kalau sampai dapat terbujuk oleh mulut berbisa dan tanpa ia memeriksa lebih dulu lalu mengeroyok kita? Kalau sampai mereka demikian bodoh, ah, kita bahkan harus basmi mereka itu sekalian, ayah."

"Ha, ha, ha! Cun Ceng, kau bicara mudah saja!"

Mereka lalu lanjutkan perjalanan mereka hingga Siauw Ma yang mendengar percakapan mereka dari atas pohon tak dapat mendengar lagi.

Setelah mereka berdua itu pergi jauh, barulah Siauw Ma seakan-akan sadar.

Ia tadi begitu kesima dan heran karena baik rupa maupun suara, gadis yang disebut Cun Ceng oleh ayahnya tadi, benar-benar mirip Lian Eng.

Kalau saja gadis itu tidak mirip Lian Eng, tentu Siauw Ma takkan mau ambil perduli.

Tetapi kemiripan ini membuat ia tertarik sekali, terutama mendengar bahwa gadis yang mirip Lian Eng berada dalam bahaya karena agaknya hendak menghadapi lawan-lawan yang tangguh!

Tanpa terasa pula Siauw Ma melayang turun ketika loncat dari atas pohon dan ia lalu gunakan, ilmu cepat mengejar.

Tak lama kemudian ia dapat mendengar suara kaki kuda berlari-lari di depannya, dan ia tahu bahwa itu adalah suara dua ekor kuda berlari cepat.

Hatinya menjadi girang karena itu tentulah kuda ayah dan anak tadi, maka ia perlambat larinya.

Ia hendak mengikuti dengan diam-diam dan tidak ingin dilihat oleh mereka, karena betapapun juga ia tidak kenal mereka dan tidak baik sekali mencampuri urusan lain orang!

Ternyata ayah dan anak itu menuju ke timur lalu keluar dari hutan dan membelok ke utara.

Ketika hari telah senja, tibalah mereka di sebuah kota, yaitu kota Long-kun-san.

Agaknya di sinilah tujuan mereka karena kedua ayah dan anak ini lalu mencari rumah penginapan.

Siauw Ma lalu bermalam juga di rumah penginapan itu, yaitu di kamar belakang.

Malam harinya, kira-kira menjelang tengah malam, ia mendengar suara gamelan kim ditabuh orang.

Suara itu demikian merdu dan sangat indah dan sedap didengar pada waktu tengah malam itu.

Siauw Ma segera buka jendela kamarnya dan memandang keluar.

Ternyata bulan muda mengintai di balik awan-awan putih hingga pemandangan sungguh romantis.

Siauw Ma teringat akan Lian Eng dan otomatis pikirannya melayang ke kamar gadis dan ayahnya itu.

Maka terheranlah ia karena suara khim itu ke luar dari kamar itu.

Ia lalu ringkaskan pakaian dan loncat keluar dengan ringan.

Ketika dilihatnya betapa jendela kamar gadis itupun terbuka, ia segera loncat dan tubuhnya telah berada di dalam gerombolan daun pohon yang berada tak jauh dari jendela kamar gadis itu.

Karena gerakannya yang ringan sekali, maka ia tidak menerbitkan suara apa-apa, dan hanya sedikit saja daun-daun pohon itu bergerak-gerak.

Tetapi agaknya gadis yang asyik menabuh khim itu tidak ambil perhatian, hanya terus dengan perlahan jari-jari tangannya menabuh sedangkan sepasang matanya yang jernih itu memandang ke arah bulan.

Pada saat itu Siauw Ma bagaikan lupa segala.

Wajah itu memang sama benar dengan wajah Lian Eng, hanya kalau wajah Lian Eng diliputi kegagahan dan kekerasan hati, adalah wajah gadis ini begitu lembut hingga menimbulkan bayangan seakan-akan ia berhati lemah sekali.

Tiba-tiba suara khim berhenti dan gadis itu menegur nyaring.

"Bangsat dari mana berani kurang ajar dan mengintai orang? Turunlah kalau kau benar-benar lelaki!"

Siauw Ma terkejut sekali mendengar bentakan ini.

Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu diam-diam tahu akan kehadirannya di situ!

Ia menjadi bingung sekali dan pada saat ia hendak loncat turun dan bertemu secara terang-terangan, tiba-tiba dari atas genteng menyambar turun tubuh seorang pendek kecil!

"Matamu awas sekali, nona.

sungguh membikin aku takluk!"

Kata si pendek itu sambil menyengir.

Barulah Siauw Ma tahu bahwa yang ditegur oleh gadis itu bukanlah dia, tetapi si pendek karena seluruh perhatiannya tertarik oleh si gadis itu dan pendengarannya penuh oleh bunyi lagu yang dimainkan oleh jari-jari tangan yang mungil.

Maka Siauw Ma lalu tahan niatnya hendak turun tadi dan mengintai lagi dengan penuh perhatian.

Cun Ceng, gadis manis itu, kini telah loncat keluar dari jendelanya.

Ternyata bahwa gadis itu memang telah bersiap, karena melihat pakaian yang dipakainya, bukanlah pakaian untuk tidur, tapi pakaian ringkas untuk dipakai jalan malam!

Pakaian serba hijau itu membuat ia tampak makin manis.

"Tuan, sopankah itu pada tengah malam buta mengintai seorang wanita? Apa kehendakmu?"

Tegur gadis itu yang biarpun menggunakan kata-kata lembut, namun sangat pedas. Si pendek itu menyengir lagi, lalu ia berkata dengan lagak menjemukan.

"Aku hanya mendengar bahwa besok pagi akan datang seorang gagah perkasa yang sangat terkenal, yakni Tiat-hong-liong Si Naga Besi dan seorang puterinya yang juga sangat gagah perkasa dan tidak kalah oleh ayahnya. Tidak tahunya puteri Naga Besi itu selain gagah perkasa juga sangat lemah lembut dan pandai menabuh khim, ha, ha, ha!"

Terang sekali bahwa di balik pujian ini terkandung ejekan hebat hingga Siauw Ma yang mendengarnya ikut menjadi gemas lalu memandang.

Ternyata orang itu berusia kurang lebih tigapuluh tahun.

Tubuhnya pendek kecil tapi kepalanya besar dan kedua lengannya panjang.

Cun Ceng yang dapat menahan sabar berkata.

"Tuan, apakah hubunganmu dengan kedatangan Tiat-hong-liong maka kau begitu memperhatikan dan datang ke sini?"

"Ha, ha, ha! Ketahuilah, nona. Aku adalah sahabat baik dari Ngo-Lo-Enghiong dan tentu saja aku ingin sekali melihat macamnya orang-orang yang hendak menyerbu lima pendekar tua itu. Aku ingin sekali mengukur kepandaian Naga Besi. Di manakah ayahmu itu? Suruhlah dia keluar!"

Kini Cun Ceng tak dapat mengendalikan marahnya mendengar kesombongan orang ini.

Tangan kanannya bergerak ke belakang dan tahu-tahu sebatang pedang yang tipis dan kecil tapi tajam berkilauan berada dalam tangannya.

"Kau malam-malam sengaja datang mengacau. Tak perlu bertemu dengan ayah, kalau ingin mengetahui kelihaian kami, cabutlah senjatamu!"

Diam-diam Siauw Ma merasa kagum melihat sikap gagah dara itu.

Ternyata dalam hal ketabahan dan keberanian, dara itu tidak kalah dengan Lian Eng.

Siauw Ma ingin sekali melihat sampai di mana sebenarnya kelihaian gadis yang mirip Lian Eng ini.

Namun, ia bersiap untuk membela gadis itu jika perlu karena ia tahu bahwa tamu malam yang pendek itu bukanlah orang sembarangan dan dapat diduga dari gerakannya yang gesit ketika melayang turun dari genteng tadi.

Si pendek tertawa geli.

"Ha, ha, nona manis. Kau sungguh berhati jantan. Pantas, pantas, ayah naga anak pun naga. Hanya saja, sayang kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Aku Bwee Lo Kun sungguh malu kalau harus melayani seorang dara manis seperti engkau. Tapi kalau tidak diberi rasa, tentu kau takkan tahu sampai di mana kelihaianku!"

Di dalam hati, Cun Ceng terkejut sekali mendengar nama ini.

Ia segera tenangkan hatinya dan bersikap waspada.

Sedangkan Siauw Ma juga pernah mendengar nama orang she Bwee ini.

Pernah ia mendengar bahwa di daerah Ko-ciu terdapat seorang berandal tunggal bernama Bwee Lo Kun dan mempunyai julukan Cap-jiu-siauw-koai atau Setan Kecil Tangan Sepuluh!

Ketika Siauw Ma pandang Bwee Lo Kun, ia terkejut karena kini si pendek itu mulai gerak-gerakkan kedua tangannya dan melihat betapa kedua tangan si pendek itu berubah menjadi seperti cakar burung, ia maklum bahwa Bwee Lo Kun tentu seorang ahli Eng-jiauw-kang atau Ilmu Silat Cengkeraman Garuda!

"Majulah kalau kau berani, nona!"

Orang she Bwee itu menantang dan, senyumnya yang menyebalkan tak pernah tinggalkan mukanya.

Cun Ceng juga melihat kedua tangan lawan itu maka ia berlaku hati-hati dan tanpa sungkan-sungkan lagi, ia lalu gerakkan pedangnya mengirim serangan dengan gerak tipu Angin Meniup Daun Cemara.

Gerakan ini mula-mula perlahan dan merupakan tusukan ke arah leher, tapi sebelum ditangkis atau dikelit lawan, mata pedang dibalikkan ke bawah untuk menyerang dada dan terus ke bawah merupakan sabetan berbahaya.

Bwee Lo Kun berseru.

"Bagus!"

Dan ia berkelit mundur hingga gerakan serangan gadis itu gagal sama sekali.

Tapi Cun Ceng tidak mau memberi hati, lalu maju mengejar dan mengirim serangan kedua, kini dengan gerak tipu Chong-eng-kim-touw atau Garuda Sambar Kelinci.

Pedangnya diayun ke atas hingga terputar-putar bagaikan seekor garuda terbang dan cepat sekali pedang itu menyambar ke bawah dan menyabet leher!

Melihat gerakan-gerakan gadis itu, Siauw Ma dapat menduga bahwa ayah gadis itu tentu seorang ahli silat dari cabang Hoa-san-pai dan kegesitan gadis itu sudah lumayan juga.

Tapi ketika ia melihat gerakan si pendek yang kembali secara mudah dapat berkelit, ia tahu bahwa si pendek itu kepandaiannya masih menang setingkat.

Kini Bwee Lo Kun balas menyerang yang dapat juga dikelit oleh gadis itu dan mereka berdua lalu bertempur seru.

Benar seperti dugaan Siauw Ma, setelah bertempur lima puluh jurus lebih, Cun Ceng mulai terdesak, biarpun permainan pedangnya masih bagus.

Hanya kegesitan gadis itu saja yang membuat ia dapat bertahan sekian lamanya.

Serangan-serangan si pendek itu sungguh-sungguh berbahaya dan tiap kali tangannya yang seperti cakar itu bergerak, maka selalu mengancam tempat-tempat berbahaya.

Jari-jari tangan yang ditekuk seperti kuku harimau ini tak boleh dibuat gegabah karena sekali kulit tubuh tercengkeram, maka kulit beserta dagingnya akan dapat dicengkeram sampai terlepas dari tubuh!

Pada suatu saat, setelah didesak dengan tiga kali cengkeraman yang berbahaya, Cun Ceng menjadi sengit.

Ia ayun pedangnya menyabet ke arah cakar kanan si pendek yang menjijikkan itu, dengan maksud hendak menabas putus lengan itu.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika tangan yang berbentuk cakar itu tiba-tiba ditahan gerakannya hingga sabetan pedang tidak mengenai sasaran.

Pada saat pedang itu lewat, tangan yang seperti cakar itu mencengkeram dan tepat sekali dapat memegang punggung pedang.

Cun Ceng membetot pedangnya, tetapi pedang itu seakan-akan terpegang oleh jepitan besi dan tak dapat ditarik terlepas dari cengkeraman Bwee Lo Kun!

Mereka saling betot dan berebut pedang, dan pada saat itu Bwee Lo Kun ulur tangan kirinya yang merupakan cengkeraman garuda itu ke arah dada Cun Ceng!

Serangan ini berbahaya sekali dan agaknya tiada lain jalan bagi Cun Ceng untuk menyelamatkan diri selain terpaksa melepaskan pedangnya dan berkelit mundur.

Tetapi pada saat itu, dari atas melayang turun dua benda kecil sekali dan dua benda itu tepat mengenai dua pundak Bwee Lo Kun!

Si pendek yang telah merasa girang karena ia pasti akan mendapat kemenangan dengan merampas pedang gadis itu, tiba-tiba terbelalak matanya dan mulutnya menjerit.

"Aduh!!"

Kedua lengan tangannya terasa linu dan lemas hingga terpaksa ia melepas pedang yang dicengkeramnya itu sedangkan serangannya ke arah dada lawannya itu otomatis gagal dan urung.

Ia cepat gunakan kedua kakinya yang tak terpengaruh oleh sambitan itu untuk meloncat mundur.

Juga Cun Ceng merasa heran sekali.

Tadinya ia telah putus asa dan hendak melepaskan pedangnya dan berkelit ke belakang agar jangan sampai menjadi korban serangan lawan yang lihai itu.

Tetapi tiba-tiba ia merasa betapa pegangan lawan pada pedangnya menjadi kendur dan terlepas sedangkan wajah lawannya itu seperti orang kesakitan, matanya terbelalak dan tiba-tiba lawannya loncat mundur.

Ia sama sekali tidak melihat menyambarnya dua benda kecil yang memukul pundak lawannya tadi.

Setelah loncat mundur, Bwee Lo Kun dongakkan kepala memandang ke arah pohon.

Ketika melihat Siauw Ma nongkrong di atas cabang pohon sambil tersenyum mentertawakannya, si pendek terkejut sekali.

Ia tadi sekelebatan melihat bahwa yang dipakai menyambit pundaknya itu tak lain hanyalah daun-daun pohon yang dikepal menjadi benda bulat kecil, namun sambitan bola daun yang lunak itu telah dapat membuat kedua lengan tangannya terasa hilang tenaga dan tak berdaya!

Maka, ketika melihat seorang laki-laki nongkrong di atas pohon, ia menduga bahwa laki-laki itu tentulah ayah gadis itu, yaitu Si Naga Besi sendiri!

Ia tak dapat melihat tegas di dalam keadaan yang remang-remang itu, maka tak dilihatnya bahwa laki-laki itu adalah seorang muda taruna yang sama sekali tak layak menjadi ayah Cun Ceng.

Maka ia lalu angkat kedua tangan tanda menghormat ke arah Siauw Ma yang masih nongkrong di atas sambil berkata.

"Ternyata nama Tiat-hong-liong Si Naga Besi bukanlah nama kosong belaka. Aku Bwee Lo Kun telah mendapat pelajaran dan petunjuk. Terima kasih dan sampai bertemu pula!"

Setelah berkata demikian, Bwee Lo Kun gerakkan tubuhnya dan loncat pergi, lenyap di dalam gelap.

Sementara tu, Cun Ceng yang bermata tajam telah melihat bahwa yang nongkrong di cabang pohon itu bukanlah ayahnya, tetapi seorang pemuda yang berwajah tampan sekali.

Ia dapat menduga bahwa entah dengan cara apa, pemuda itu telah menolongnya, maka ia lalu berkata.

"Enghiong yang telah menolong orang, silahkan turun."

Tetapi tiba-tiba tubuh yang nongkrong di atas cabang pohon itu bergerak cepat sekali dan tahu-tahu telah lenyap dari situ!

Dan selagi Cun Ceng terheran-heran dan kagum sekali, datanglah ayahnya melayang turun dari atas genteng.

"Eh, mengapa kau berada di sini, Cun Ceng? Apa yang telah terjadi?"

Tegur orang tua itu dengan heran sekali.

Ternyata bahwa semenjak sore tadi Cun Beng Si Naga Besi, ayah gadis itu, telah keluar dari rumah penginapan dan melakukan penyelidikan ke tempat yang akan dikunjunginya besok hari.

Oleh karena inilah maka tadi ia tidak muncul ketika terjadi pertempuran antara puterinya dan si pendek yang lihai itu.

Melihat ayahnya baru saja tiba kembali, Cun Ceng lalu ajak orang tua itu masuk ke dalam kamarnya.

"Ayah, baru saja telah datang orang pihak sana yang hendak mengacau. Hampir saja anakmu ini mendapat malu besar kalau saja tidak ada seorang Enghiong luar biasa dan aneh menolong secara diam-diam!"

Terkejutlah Cun Beng mendengar ini dan ia segera minta anaknya menceritakan apa yang telah terjadi. Cun Ceng lalu menuturkan tentang kunjungan Bwee Lo Kun tadi. Cun Beng mengangguk-angguk.

"Hmm, aku tahu berandal itu, dan biarpun aku belum bertemu muka dengan dia, namun ia tentu benci padaku karena aku pernah memberi hajaran kepada seorang sutenya."

Cun Ceng lalu menceritakan tentang pertempuran tadi.

"Berandal itu memang hebat, ayah, dan hampir saja aku mendapat malu. Ilmunya Eng-jiauw-kang lihai sekali. Setelah bertempur kurang lebih lima puluh jurus, aku mulai terdesak dan pada saat aku hampir celaka, tahu-tahu ia diserang orang secara menggelap. Aku sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana ia diserang, tapi tahu-tahu serangannya kepadaku gagal."

"Siapakah yang menolongmu?"

Tanva Cun Beng tertarik sekali.

"Entahlah. Orang she Bwee itu menyangka bahwa penolong itu kau sendiri maka ia lalu minggat dari sini. Dan orang yang menolongku itu adalah seorang pemuda asing. Tapi begitu aku melihatnya, ia lalu lari pergi dari pohon itu dengan cara yang mengagumkan sekali."

Demikianlah, Cun Ceng dengan gembira sekali menceritakan pengalamannya tapi tentu saja ia tidak berani katakan bahwa yang menolongnya adalah seorang pemuda yang berwajah tampan sangat menarik hati!

Cun Beng menghela napas.

"Memang, pihak lima jago tua itu kuat sekali dan tadi aku melihat betapa banyak sekali orang gagah datang pula menghadiri pesta mereka. Di antaranya aku melihat iblis tua Souw Lee! Entah bagaimana nasib kita besok.

"Kalau saja lima orang tua itu bermain curang dan menghasut orang-orang lain untuk memusuhi kita, terpaksa kita harus melawan mati-matian. Tapi, betapapun juga, kita tak perlu takut! Thian selalu melindungi orang-orang yang benar, seperti buktinya tadi kau juga terlepas dari pada bahaya atas pertolongan seorang gagah."

Sebenarnya ada urusan apakah yang membuat Cun Beng dan puterinya itu datang ke kota Long-kun-san unluk mengunjungi lima jago tua dan hendak mengadu kepandaian dengan mereka?

Cun Beng adalah seorang Piauwsu tunggal, yakni seorang tukang mengirim barang-barang berharga dari satu ke lain tempat.

Pada masa itu, pengiriman-pengiriman barang tak dapat dilakukan seperti sekarang, yakni dengan segala macam kendaraan.

Pengiriman barang pada waktu itu sukar sekali, karena selain tidak terdapat kendaraan-kendaraan yang cepat dan baik, juga jalan-jalan sangat buruknya, ditambah pula dengan banyaknya gangguan-gangguan perampok dan berandal.

Oleh karena itu, maka para saudagar yang hendak mengirim barang-barang dagangannya, atau orang-orang kaya yang hendak mengirim barang-barangnya, selalu mencari Piauwsu yang akan mengurus pengiriman barang-barang itu sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Jadi Piauwsu adalah semacam pengusaha expedisi.

Pada masa itu banyak sekali terdapat piauw-kiok atau perusahaan expedisi macam ini dan piauw-kiok yang paling laku adalah mereka yang mempunyai jagoan-jagoan gagah dan yang menjadi pelindung atau pengantar barang-barang itu.

Cun Beng bekerja secara tunggal, yakni dikerjakan sendiri berdua dengan anak gadisnya yang semenjak kecil berlatih silat.

Nama Cun Beng yang mendapat julukan Si Naga Besi sangat terkenal di kotanya, yakni di kota Tung-hai-kwan.

Telah belasan tahun ia menjadi Piauwsu dan selama itu selalu berhasil mengantar barang berharga yang dipercayakan kepadanya sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Memang sering kali ia mendapat gangguan perampok yang mencoba untuk merampas barang-barang berharga yang sedang dikirim, Tapi semua perampok terpaksa mengakui kegagahan Cun Beng hingga lambat-laun nama Si Naga Besi demikian ditakuti hingga tak seorangpun perampok berani mencoba-coba untuk ganggu "naga"

Ini!

Tapi disamping gangguan-gangguan para perampok, ada satu hal lagi yang menjadi pengganggu pekerjaan Cun Beng, yakni adanya persaingan di antara Perusahaan-perusahaan expedisi lain!

Makin ternama dan dipercaya orang, makin dibencilah ia oleh Piauwsu-Piauwsu lain, karena semua orang-orang kaya yang berani bayar biaya pengiriman semahal-mahalnya selalu mencari Cun Beng untuk diberi tugas mengawal barang-barang mereka!

Hal ini tentu saja menimbulkan iri hati kepada Piauwsu lain di kota itu.

Di antaranya terdapat seorang pemimpin piauw-kiok bernama Thio Lui yang bergelar Ui-bin-houw Si Harimau Muka Kuning.

Biarpun Thio Lui juga sangat ternama karena kegagahannya dan disegani para perampok, namun lagaknya yang sombong dan tak segan-segan memasang tarip setinggi-tingginya itu membuat para langganan tidak senang, dan mereka ini lebih suka mempercayakan barang-barangnya kepada Cun Beng yang selain sopan-santun dan ramah-tamah, juga tidak pasang tarip memukul!

Dan mulailah permusuhan timbul antara Cun Beng dan Thio Lui yang tentu saja dimulai dari pihak Thio Lui.

Pada suatu hari, Thio Lui menyuruh seorang comblang atau ceng-kauw untuk mengunjungi rumah Cun Beng dan melamar puterinya.

Ketika ceng-kauw itu datang, ia diterima dengan ramah-tamah oleh Cun Beng, yang selalu menerima tamu-tamunya, baik orang kaya maupun orang biasa dengan baik dan sopan.

Setelah duduk dan minum teh yang dihidangkan, mulailah ceng-kauw itu menceritakan maksud kedatangannya.

"Sebetulnya, jika diperbolehkan, ingin saya tahu, berapakah usia puteri saudara itu tahun ini?"

Cun Beng yang sudah tahu bahwa yang duduk di depannya adalah seorang comblang atau pengantara perjodohan, tersenyum.

"Ah, kau maksudkan Cun Ceng? Anak itu baru juga berusia tujuhbelas tahun, dan bodohnya bukan main."

Comblang itu tarik alisnya ke atas dan matanya yang sipit berseri gembira.

"Kau bilang Cun-siocia itu bodoh? Ah, jangan terlampau merendah. Untuk kota kita ini, kiraku tak ada seorangpun dara yang dapat nempil jika dibandingkan dengan puterimu, baik kecantikannya maupun kepandaiannya."

"Kalau kau maksudkan kepandaian silat, mungkin. Tetapi silat bukanlah kepandaian wanita..."

Memang Cun Beng adatnya suka merendah.

"Aah, lauw-te, janganlah kau merendahkan diri begitu rupa. Siapakah yang tidak inginkan puterimu itu menjadi anak mantunya?"

Dan comblang itu tertawa bergelak-gelak.

"Twako, sebenarnya ada urusan penting apakah maka kau tidak sari-sarinya mengunjungi pondokku?"

Akhirnya Cun Beng bertanya karena tak suka melihat cara bicara ceng-kauw ini yang hanya memuji-muji tiada habisnya. Comblang itu terkejut, lalu buru-buru berkata.

"Memang betul dugaanmu, lauw-te. Kedatanganku ke sini adalah atas perintah orang yang mengajukan permohonan untuk mengikat erat perhubungan kekeluargaan dengan kau."

Cun Beng tersenyum. Nah, tampak sekarang ekornya, ia pikir.

"Twako, siapakah yang menyuruhmu datang ke mari ini?"

Tanyanya.

"Aku disuruh oleh Thio-kauwsu, guru silat dan Piauwsu yang tentu kau telah ketahui kegagahan dan kekayaannya itu..."

"Ya, aku tahu siapa dia!"

Jawab Cun Beng memotong dengan cepat, karena ia merasa heran sekali mengapa Piauwsu itu yang menyuruh comblang ini datang.

Setahunya Thio-Piauwsu ini telah beristeri, dan puteranya masih kecil sekali!

Untuk siapakah lamaran kepada anaknya ini dimaksudkan?

"Nah, baik sekali kalau kalian sudah kenal mengenal.

Oh, ya!

Kenapa aku begitu bodoh?

Tentu saja kalian sudah kenal, bukankah sama-sama bekerja sebagai Piauwsu?

Beginilah maksudnya, lauw-te, karena puterimu itupun seorang ahli silat yang biasa mengawal barang kiriman hingga cocok sekali dengan pekerjaan Thio-Piauwsu, maka jika kau orang tua tidak merasa keberatan, dia menyuruh aku untuk minta tangan puterimu..."

"Apa?"

Cun Beng bangun dari kursinya.

"Maksudmu dia melamar anakku untuk... dia sendiri?"

Comblang itu mengangguk.

"Ya, dia mengajukan pinangan terhadap puterimu. Soal mas kawin jangan kau khawatir, tentu beres dan akan menerima segala syarat yang kuajukan."

"Tetapi... tetapi... bukankah orang she Thio itu sudah mempunyai isteri, bahkan sudah mempunyai putera?"

Comblang itu tersenyum.

"Lauw-te, terpaksa aku membuka rahasianya, isterinya selalu sakit saja hingga ia bermaksud hendak menceraikannya kelak. Sementara itu, puterimu akan menduduki tempat sebagai isteri kedua."

Cu Beng menjadi pucat sekali.

Hampir saja ia ayun kepalan tangannya ke arah muka comblang itu kalau saja ia tidak ingat bahwa comblang itu hanyalah seorang pesuruh saja.

Ia tahan-tahan kemarahannya dan tak dapat ucapkan kata-kata, hanya pandang comblang itu dengan mata seakan-akan hendak ditelannya bulat-bulat comblang itu!

Pada saat itu, dari luar terdengar suara merdu dan nyaring.

"Ayah, aku datang!"

Dan bagaikan seekor burung yang cepat dan ringan gerakannya, Cun Ceng yang cantik meloncat masuk.

Ia baru saja datang kembali dari tugasnya mengantar barang ke tempat yang tak berapa jauh dari kota itu hingga hanya makan waktu tiga hari pulang pergi.

Pakaiannya masih penuh debu dan pedangnya tergantung di pinggang.

Ia tampak gagah sekali.

Ketika melihat bahwa di situ ada tamu dan melihat ayahnya bagaikan patung dengan muka pucat, ia segara pegang lengan ayahnya.

"Ayah, ada apakah?"

Tanyanya khawatir. Barulah Cun Beng dapat ucapkan perkataan dengan suara berat.

"Orang... orang telah menghina kita! Sungguh keterlaluan! Anjing Thio itu sungguh tak memandang muka orang!"

"Ada apakah, ayah?"

"Kau perlu juga tahu, Ceng. Saudara ini adalah suruhan dari Thio Lui untuk melamar engkau sebagai isterinya kedua!"

"Apa?!?"

Cun Ceng berseru kaget dan tiba-tiba tangannya memukul dada comblang yang berdiri dengan takut.

Baiknya Cun Beng kibaskan tangan untuk menangkis pukulan anaknya kepada comblang itu hingga tangan Cun Ceng terpental dan tidak mengenai dada, hanya mengenai pundak comblang itu, tetapi cukup membuat comblang itu terlempar dan kepalanya membentur dinding hingga mengeluarkan darah!

"Manusia rendah, aku bunuh kau!"

Gadis itu dengan muka merah lalu cabut pedangnya dan memburu ke arah comblang itu. Tetapi Cun Beng cepat memburu dan pegang lengan anaknya.

"Sabar, Ceng! Ingat, ia hanya seorang pesuruh saja. Bukan dia yang menghina kita. Dia hanya menyampaikan lamaran dan menanyakan mas kawin saja!"

"Anjing rendah she Thio! Jadi dia melamarku untuk menjadi isteri kedua dan menanyakan syarat mas kawin! Boleh boleh! Hai kamu manusia rendah. Dengarlah syaratku! Aku terima lamaran anjing she Thio itu, tetapi mas kawinku ialah kepalanya. Nah, kau sampaikan syaratku ini. Kepalanya, kau dengar??!"

Comblang itu dengan mata terbelalak dan wajah pucat lalu menjura dan membungkuk-bungkuk sambil lari menuju ke pintu!

Setelah comblang itu pergi, Cun Ceng jatuhkan diri di kursi sambil menangis melampiaskan kemendongkolan hatinya.

Ayahnya pegang pundaknya dan menghibur.

"Cun Ceng, ingatlah! Tak perlu kita marah-marah dan makan hati hanya karena hal remeh ini. Aku tahu, anjing she Thio itu yang selalu merasa kalah maju perusahaannya, tentu menjadi iri hati dan sengaja mengirim orang untuk menghina kita.

"Tapi biarlah, aku Cun Beng selama hidup belum pernah dihina orang seperti ini. Tak mungkin aku diamkan saja hal ini. Kau tinggal saja di rumah dan kau dengar-dengar saja apa yang akan terjadi malam hari ini!"

Dan pada malam harinya, Cun Beng pergi ke rumah Thio Lui.

Ke dua musuh besar ini bertemu dan bertanding, tapi setelah melawan sampai seratus jurus lebih, akhirnya Thio Lui kena tendang dadanya hingga mendapat luka di dalam yang berat juga!

Puaslah hati Cun Beng dan setelah memaki-maki dan mengancam, ia tinggalkan Thio Lui yang merintih-rintih.

Ketika mendengar dari ayahnya apa yang telah terjadi, Cun Ceng merasa girang sekali dan puas.

Hanya ia masih penasaran, karena kalau menurut kata hatinya yang panas, orang macam Thio Lui itu harus dibikin mampus saja!

Tapi ternyata peristiwa itu tak habis sampai di situ saja.

Thio Lui merasa sakit hati sekali dan ia berhasil menghasut lima orang jago tua di Long-kun-san.

Kelima orang ini adalah Thio San, Thio Lok, Thio In, Thio Gak dan Thio Hauw.

Lima orang ini sebetulnya masih ada hubungan keluarga dengan Thio Lui, yakni kakak-kakak misan.

Telah lama ke lima saudara Thio yang telah tua ini mengundurkan diri dari pekerjaannya yang dulu, yakni menjadi kepala perampok!

Mereka telah dapat mengumpulkan harta dah tinggal di Long-kun-san dan karena orang-orang tahu akan kepandaian mereka yang tinggi, mereka disebut Ngo-Lo-Enghiong atau Lima Pendekar Tua.

Ketika,Thio Lui sambil menangis menceritakah betapa Piauwsu Cun Beng telah menghina dan memukulnya, kelima saudara itu menjadi marah juga.

"Apakah lantarannya?"

Tanya Thio San yang tertua dan lebih teliti.

"Sebab-sebab perkelahian itu hanyalah karena kami bersaingan,"

Kata Thio Lui.

Akhirnya kelima orang tua itu kena dibujuk dan mereka lalu keluar untuk membalaskan sakit hati adik misan itu.

Setelah mendengar bahwa Cun Beng dan puterinya mengantar sebuah pengiriman barang-barang sangat berharga milik seorang pembesar yang pindah dan pulang kampung, mereka mencegat dalam sebuah hutan.

Biarpun merasa heran sekali melihat orang-orang tua itu terjun kembali ke dunia rimba hijau, Cun Beng dan puterinya tentu saja tidak mau memberikan barang-barang tanggungan mereka itu dan bertempurlah mereka.

Tapi sungguh di luar dugaan Ngo-Lo-Enghiong itu, ternyata kepandaian Cun Beng dan puterinya yang mendapat warisan dari Hoa-san-pai itu ternyata lihai sekali!

Mereka berlima tak dapat mengalahkan ayah dan anak itu, bahkan saudara termuda dari mereka terluka pundaknya oleh Cun Beng!

Setelah menderita kekalahan, akhirnya lima orang tua itu melarikan diri dengan penasaran dan malu!

Mereka penasaran karena dengan berlima mereka tak mampu menjatuhkan Cun Beng dengan anak gadisnya, dan mereka malu sekali kepada Thio Lui karena mereka telah berjanji dan menyombong bahwa mereka tentu akan dapat membalaskan sakit hati saudara muda itu.

Tak tahunya mereka sendiri yang keok!

Cun Beng yang berpengalaman dapat menduga bahwa ke lima saudara Thio itu tentu telah kena dibujuk oleh Thio Lui yang merasa sakit hati, kalau tidak demikian halnya, tak mungkin kelima orang itu tanpa sebab telah berani mengganggunya.

Maka semenjak itu ia berlaku hati-hati sekali dan setiap pengiriman barang, ia tidak perbolehkan puterinya mengantar seorang diri, dan selalu harus berdua dengan dia.

Karena tindakan yang hati-hati ini, Thio Lui dan kelima jago tua itu tak berdaya!

Akhirnya ke lima jago tua she Thio itu mengambil keputusan untuk mengundang Cun Beng mengadakan pertandingan pada waktu mereka berlima merayakan hari ulang tahun ke lima puluh dari saudara tertua, yakni Thio San!

Maka pada hari itu, Cun Beng dan puterinya mendapat surat undangan dari lima jago tua dari Long-kun-san itu.

Cun Beng sebagai seorang gagah yang ternama tentu saja tak dapat menolak undangan ini, karena kalau ditolak berarti ia takut dan tentu ke lima orang she Thio itu akan menyiarkan hal ini dan namanya akan jatuh!

Ia harus menjaga namanya akan jatuh!

Ia harus menjaga namanya, terutama nama piauw-kioknya!

Karena inilah, bersama puterinya ia mengunjungi Long-kun-san dan bertemu dengan Siauw Ma.

Ketika malam hari itu setelah Bwe Lo Kun terusir oleh Siauw Ma dan Cun Ceng sedang bercakap-cakap dengan ayahnya di kamarnya, diam-diam Siauw Ma mendengarkan dari atas genteng.

Gerakannya yang sangat ringan tak dapat terdengar oleh dua orang di bawah itu.

Ketika mendengar bahwa ayah dan anak itu sedang terancam keselamatan mereka oleh orang yang menjadi kawan Bwee Lo Kun, Siauw Ma ambil keputusan untuk membantu dengan diam-diam.

Keesokan harinya, dengan tindakan gagah dan tenang, Cun Beng dan Cun Ceng menuju ke rumah keluarga Thio yang telah penuh dengan tamu.

Di luar pekarangan tempat pesta itu banyak orang penduduk kota itu berdiri menonton.

Sebetulnya pada saat itu tidak ada sesuatu yang layak ditonton, karena yang ada hanya tamu-tamu duduk sambil menikmati hidangan, hingga yang dapat ditonton hanyalah orang-orang sedang makan minum.

Tapi orang-orang yang berkerumun di luar itu, di antaranya banyak juga terdapat pengemis yang menanti sisa-sisa makanan, telah mendengar bahwa akan diadakan pertunjukan silat, hingga mereka dengan sabar menanti di luar sambil menjulur-julurkan leher melongok ke dalam pekarangan yang lebar itu.

Kedatangan Cun Beng berdua disambut oleh ke lima orang tua itu sendiri.

Di mulut mereka berlima tampak senyum menghias bibir, tetapi Cun Beng dan Cun Ceng dapat menduga apa yang berada dalam hati mereka berlima itu.

Cun Beng dan anaknya mendapat tempat kehormatan yang ditempatkan di tempat agak tinggi hingga tampak oleh semua tamu.

Setelah mereka semua duduk, tiba-tiba Thio San, saudara tertua dari ke lima jago tua itu, berdiri dan menjura kepada semua tamu.

"Cu-wi yang terhormat, ijinkanlah kami memperkenalkan tamu agung kami, yaitu Tiat-hong-liong Cun Beng Si Naga Besi yang terkenal gagah berani!"

Ucapan ini disambut oleh tepuk tangan memuji dari beberapa orang tamu yang memang betul-betul mengagumi Piauwsu itu.

"Dan inilah puterinya yang juga tersohor karena kepandaiannya!"

Kembali terdengar sambutan tepuk tangan memuji, terutama dari para tamu muda yang mengagumi kecantikan Cun Ceng. Setelah itu, Thio San berkata lagi.

"Sebagaimana cu-wi sekalian telah tahu bahwa untuk memeriahkan perayaan ini, akan diadakan pertunjukan silat di atas panggung di tengah-tengah ini yang memang telah disediakan khusus untuk keperluan ini. Baiklah kami memberitahukan sebuah hal yang perlu diketahui agar tidak menimbulkan salah paham.

"Ketahuilah bahwa di antara kami berlima dan tamu agung kami terdapat perjanjian untuk menguji kepandaian masing-masing di atas panggung ini. Maka kami persilahkan saudara Cun Beng dan puterinya naik ke atas panggung untuk segera bersiap menghadapi kami berlima dan memeriahkan suasana pesta ini."

Cun Beng merasa marah sekali. Baru saja ia datang terus ia ditantang. Maka dengan gagah iapun berdiri dan ajak puterinya loncat naik ke atas panggung. Ia lalu menjura kepada semua tamu dan berkata.

"Cu-wi sekalian, agar jangan menimbulkan salah dugaan, baiklah kami ayah dan anak memberi sedikit penjelasan. Sebetulnya kami berdua dulu pernah mempunyai sedikit salah paham dengan ke lima Lo-Enghiong yang sekarang menjadi tuan rumah, dan kesalahpahaman ini tak perlu kiranya kami uraikan asal diketahui oleh cu-wi bahwa kami adalah pengusaha piauw-kiok sedangkan ke lima Ngo-Lo-Enghiong sebagai bekas tokoh-tokoh liok-lim telah cuwi ketahui!"

Bicara sampai di sini, semua tamu keluarkan suara-suara perlahan karena mereka dapat menduga bahwa di antara pengantar barang atau Piauwsu dan tokoh liok-lim atau perampok, tentu sekali terdapat permusuhan!

"Cu-wi sekalian.

Agaknya ke lima Ngo-Lo-Enghiong masih penasaran kepada kami, karena buktinya kami menerima undangan untuk menguji ilmu kepandaian pada hari ini.

Dan hal ini bukanlah hal yang terlalu penting bagi kami.

Akan tetapi, orang-orang tua yang ternama seperti Ngo-Lo-Enghiong ini dapat begitu saja dihasut oleh seorang Piauwsu bernama Thio Lui yang merasa iri hati karena perusahaannya tidak semaju perusahaan kami, sungguh memalukan!"

Kelima saudara Thio membentak.

"Cun-Piauwsu, sudahlah jangan banyak mengobrol. Kalau kalian memang orang-orang gagah, bersiaplah!"

"Ngo-Lo-Enghiong, kami sebagai tamu hanya menuruti permintaan tuan rumah. Kalian menghendaki bagaimana? Dengan tangan kosong atau bersenjata?"

Tanya Cun Beng dengan tenang, sementara itu, Cun Ceng berdiri memandang dengan mata tajam mengancam.

Tapi pada saat itu, dari tempat tamu loncatlah seorang muda naik ke panggung.

Gerakannya gesit dan indah hingga orang-orang memuji.

Anak muda itu berusia kira-kita duapuluh lima tahun dan pakaiannya berwarna hitam.

Mukanya tampan, tapi sepasang matanya sangat jahat dan liar, tanda bahwa ia memiliki jiwa yang kotor.

Beberapa kali ia mengerling ke arah Cun Ceng, kemudian ia menjura kepada lima orang tua she Thio itu.

"Ngo-wi Lo-Enghiong,"

Katanya dengan suara dibuat-buat.

"Agaknya kurang pantas kalau ngo-wi sebagai tuan rumah harus turun tangan sendiri untuk memeriahkan pesta ini. Biarlah siauwte mewakili ngo-wi untuk mengukur sampai di mana tingginya kepandaian tamu agung ini!"

Ketika mengucapkan kata-kata "tamu agung"

Ia sengaja melirik ke arah Cun Beng dengan pandang menghina. Thio San melihat anak muda ini lalu cepat balas menjura dan berkata sambil tersenyum.

"Ada Kim-lian Kiam-hiap yang mewakili kami orang-orang tua lemah, tentu saja kami harus mengalah. Tapi tidak tahu apakah tamu agung kita ini berani menghadapinya!"

Cun Beng dan Cun Ceng tersenyum mengejek.

Mereka tahu bahwa memang hal ini telah diatur sebelumnya, karena untuk maju sendiri, ke lima orang tua itu tahu bahwa mereka pasti akan kalah!

Sebetulnya Cun Beng hendak mengundurkan diri saja, karena kalau ia mundur, bukan berarti ia takut kepada ke lima orang itu tapi segan untuk melayani bertanding dengan orang lain.

Akan tetapi, Cun Ceng tidaklah sesabar ayahnya.

Mendengar kata-kata Thio San yang menyindir bahwa belum tentu tamu agung berani menghadapi orang yang mempunyai julukan Pendekar Pedang Teratai Emas ini, ia menjadi penasaran dan marah sekali.

"Mengapa kami harus takut? Asal saja orang-orang yang maju ke sini bukan maju karena kehendak mereka sendiri tetapi sudah bersekongkol dengan kalian, pasti kami akan layani baik-baik! Kami tahu betul bahwa kalian sudah kami pecundangi dan tak mungkin berani maju lagi, maka keluarkanlah jagoan-jagoan yang kau sengaja undang! Tak perlu pakai kata-kata memutar dan berpura-pura lagi!"

Suara Cun Ceng nyaring dan merdu hingga ketika ia bicara, keadaan di situ menjadi sunyi dan semua telinga mendengar ucapannya tadi dengan kagum akan keberanian gadis itu.

Kena disentil oleh sindiran yang tepat dan pedas ini, Kim-lian Kiam-hiap merah seluruh mukanya.

Ia lalu berkata kepada ke lima tuan rumah.

"Silahkanlah ngo-wi turun, biar siauwte menghadapi orang-orang jumawa ini."

Ke lima orang she Thio itu segera loncat turun.

"Aku mendengar bahwa Tiat-hong-liong Si Naga Besi adalah seorang gagah perkasa, dan bersama puterinya merupakan pasangan yang jarang bandingnya di daerah ini. Aku yang datang dari jauh mendapat kehormatan untuk menguji kebodohan sendiri dengan kalian, sungguh dapat dibilang beruntung."

Sambil berkata begini, matanya kembali mengerling tajam ke arah Cun Ceng.

Kemudian ia gerakkan tangan kanan dan tahu-tahu sebatang pedang yang tajam berkilau tercabut dari punggungnya.

Gagang pedang ini berukiran teratai berwarna keemasan, dan karena inilah maka pedang disebut Kim-lian-kiam dan ia sendiri disebut Kim-lian Kiam-hiap.

"Ji-wi silahkan maju berbareng!"

Anak muda itu menantang dan memasang kuda-kuda yang menarik hati dengan kaki kiri dilonjorkan ke depan dan kaki kanan agak ditekuk, tangan kiri ke depan dengan pedang ditekuk di belakang lengan!

Melihat lagak orang, Cun Ceng berkata kepada ayahnya.

"Ayah, biarlah anak bereskan orang gila ini!"

Biarpun tadi ketika meloncat mempunyai gerakan yang gesit, tapi melihat kejumawaan dan pasangan kuda-kuda ini, Cun Beng mendapat dugaan bahwa lawan ini tidak mempunyai kepandaian yang berisi, paling-paling lebih tinggi sedikit dari pada seorang di antara Ngo-Lo-Enghiong, maka ia tak usah merasa khawatir puterinya akan dikalahkan.

Ia lalu mengangguk setelah berkata.

"Kami tidak biasa maju dengan keroyokan, kecuali jika pihak tuan rumah mendahului!"

Cun Ceng lalu cabut pedangnya yang bernama Tin-hong-kiam dan juga merupakan sebatang pedang pusaka yang cukup tangguh.

"Ah nona hendak maju sendiri! Bagus, bagus!"

Kata pemuda baju hitam.

"Mari kita main-main sebentar!"

Cun Ceng tidak membuang waktu lagi dan segera mulai menyerang dengan pedangnya.

Pemuda itu menangkis dan lenyaplah sikap main-main dari mukanya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang tak boleh dibuat gegabah.

Apa lagi ketika Cun Ceng keluarkan kepandaiannya dan mainkan ilmu silat dari Hoa-san-pai yang indah dan gesit gerakan-gerakannya!

Terpaksa Kim-lian Kiam-hiap yang biasanya sangat jumawa dan sangat mengandalkan kehebatan ilmu pedangnya itu kini keluarkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga dirinya dari hujan tusukan dan sabetan yang dilancarkan oleh gadis itu!

Mereka bertempur ramai sekali dan tubuh mereka berputar-putar di antara sambaran pedang.

Para penonton kagum sekali melihat kelincahan kedua orang itu hingga pertempuran itu benar-benar merupakan tontonan yang sangat indah menarik hati.

Para penonton dari luar yang menonton sambil berdiri sampai bersorak-sorak gembira, mereka ini yang tidak mengerti ilmu silat hanya tahu bahwa permainan itu bagus sekali.

Tetapi para ahli silat yang menjadi tamu, merasa khawatir sekali karena mereka maklum bahwa kedua orang itu bukanlah sedang main-main dan sekali saja gerakan mereka salah, tentu salah seorang akan terkena serangan maut dan sedikitnya akan mengalirkan darah!

Setelah bertempur lebih lima puluh jurus, ternyatalah kehebatan ilmu pedang Hoa-san-pai yang makin lama makin kuat mendesak itu.

Kini pemuda baju hitam itu hanya bisa menangkis sambil main mundur saja, tapi Cun Ceng terus mendesak keras!

Pada suatu saat terdengar seruan kaget pemuda itu dan pedang Cun Ceng yang menyambar dadanya hanya dapat dikelit sedikit hingga bajunya tersongkel ujung pedang hingga robek!

Ketika Cun Ceng hendak maju memberi tikaman, tiba-tiba ayahnya berseru.

"Ceng... tahan!"

Cepat sekali gadis itu tahan serangannya dengan patuh dan loncat mundur lalu berdiri dengan pedang di tangan dan sikap mengancam.

Ia berdiri tegak dengan gagah sekali hingga banyak orang melihat kemenangannya ini bertepuk tangan memuji.

Si Pendekar Pedang Teratai Emas berdiri dengan tunduk dan setelah menjura kepada Cun Ceng, tanpa banyak cakap lagi ia lalu loncat turun dari panggung.

Pada saat Cun Ceng hendak menantang tuan rumah, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan seorang tinggi besar yang bermuka hitam loncat naik ke atas panggung.

"Nona, ilmu pedangmu hebat sekali. Suteku yang bodoh mana bisa menangkan kau! Jangan kepalang, nona berilah aku kesempatan mencoba ilmu pedangmu yang lihai!"

Kata orang ini sambil menggerak-gerakkan sebuah senjata rantai baja yang melingkar-lingkar di dalam tangan kanannya.

Melihat gerakan orang yang mengaku kakak seperguruan dari Kim-lian Kiam-hiap tadi, Cun Beng tahu bahwa si muka hitam yang tinggi besar ini berkepandaian tinggi juga, maka ia lalu loncat ke atas panggung.

"Ceng, kau turunlah dan beristirahatlah. Biar aku yang menerima tantangan tuan ini."

"Bagus, bagus! Kalau Si Naga Besi sendiri yang naik, maka aku makin merasa terhormat sekali. Nah, cobalah kau memberi petunjuk kepada aku, Hek-houw Sun Liang!"

"Awas seranganku!"

Cun Beng segera menyerang dengan tangan kanannya ke arah dada orang muka hitam yang mengaku bernama Sun Liang Si Harimau Hitam itu.

Sun Liang cepat berkelit dan rantai bajanya segera menyambar dengan kencang sambil keluarkan suara bersiutan karena kerasnya.

Melihat serangan hebat ini, semua orang terkejut, begitupun Cun Beng sendiri.

Ia tahu bahwa lawannya ini selain gesit, juga bertenaga kuat sekali.

Maka ia cepat berkelit sambil cabut pedangnya.

Kalau saja lawannya ini tidak menggunakan senjata yang lemas dan lihai, ia masih berani melayaninya dengan kepalannya yang kuat.

Tetapi rantai baja ini berbahaya sekali dan harus dilawan dengan senjata pula.

Sebentar saja kedua orang itu bertempur seru.

Jauh lebih hebat dan menyeramkan dari pada pertempuran tadi.

Kini tubuh kedua orang ini merupakan bayangan yang terputar-putar dan berloncatan ke sana-sini, sedangkan kedua senjata mereka merupakan hantu-hantu maut yang setiap saat dapat merenggut nyawa mereka!

Betapapun kuat dan lihainya si muka hitam, namun ilmu silat Hoa-san-pai memang luar biasa.

Apa lagi dimainkan oleh Cun Beng yang memiliki tenaga lwee-kang yang cukup tinggi, maka pedangnya merupakan naga yang terbang menyambar-nyambar hingga rantai baja lawan itu tak berdaya lagi karena ke mana saja rantai itu menyambar, selalu tertumbuk dengan dinding kuat yang dibentuk oleh pedang itu.

Akhirnya terpaksa ia harus mengakui kehebatan Tiat-hong-liong, dan agar jangan sampai mendapat malu dan dirobohkan, si muka hitam itu berseru.

"Terima kasih, kau lihai sekali!"

Akan tetapi, pada saat itu, Cun Beng sedang menyerang dengan tipu Dewa Mempersembahkan Arak, sebuah tipu yang hebat sekali, maka karena gerakannya begitu cepat sedangkan si muka hitam agak lambat karena berbicara, tak dapat ditahan lagi ujung pedangnya menyambar ke arah tenggorokan si muka hitam!

Cun Beng sendiri terkejut sekali karena ia tidak sangka lawannya akan selambat itu.

Ia cepat miringkan tangannya hingga pedangnya tidak langsung menusuk tenggorokan dan meleset hingga mengerat kulit leher saja!

Namun si muka hitam merasa perih dan sakit sedangkan darah mengalir di lehernya, membuat ia menjerit kaget dan loncat turun ke bawah panggung.

Ia ambil saputangan dan dengan selampai itu ia tutup lukanya di leher yang mengucurkan banyak darah.

Banyak tamu berteriak ngeri, dan menyangka bahwa si muka hitam itu mendapat luka parah.

Padahal yang terluka hanya kulitnya saja!

Pada saat itu, seorang hwesio gundul dengan badan gemuk pendek loncat ke atas panggung.

Dia ini adalah Ling Lung Hwesio yang menjadi susiok atau paman guru si muka hitam tadi.

Sebenarnya Ling Lung Hwesio tidak hendak mencampuri urusan "kanak-kanak"

Ini, tapi melihat betapa murid keponakannya terluka yang disangkanya luka hebat, ia merasa penasaran dan marah sekali.

Bukan marah karena luka itu, tapi marah karena disangkanya Cun Beng bersikap curang.

Sudah jelas terdengar bahwa si muka hitam tadi mengucapkan pujiannya dan mengaku kalah, namun masih saja diserang dengan hebat hingga terluka lehernya!

Ia tidak tahu bahwa sebenarnya hal itu terjadi bukan disengaja oleh Cun Beng.

"Orang kejam, terpaksa pinceng turun tangan!"

Ia lalu serang Cun Beng dengan kedua tangannya.

Serangan ini hebat sekali karena dari kedua tangan keluar tenaga lwee-kang yang sangat kuat.

Juga pada saat itu Cun Beng sedang berdiri kesima dan menyesal.

Ia sendiri masih menyangka bahwa si muka hitam itu terluka parah, maka ia menyesal sekali.

Kini tahu-tahu diserang sedemikian hebat sedangkan hatinya masih bingung, ia tak keburu berkelit dan tahu tahu dadanya telah terpukul hebat!

Harus diketahui bahwa hwesio itu adalah seorang ahli dari Liong-san yang keistimewaannya terletak pada kekuatan lwee-kangnya.

Maka dapat ditaksir betapa hebatnya ketika tangannya yang digunakan pada saat ia marah itu dan mengandung tenaga lwee-kang kuat sekali memukul dada Cun Beng.

Si Naga Besi menjerit dan roboh terjengkang, pedangnya terpental jauh!

Pada saat itu, dua bayangan orang melayang ke atas panggung.

Yang satu adalah Cun Ceng yang menubruk ayahnya, sedangkan yang seorang lagi adalah Siauw Ma yang loncat dari tengah-tengah penonton di luar pekarangan.

Gerakannya demikian cepat hingga tak seorangpun tahu dari mana datangnya pemuda tampan itu!

Cun Ceng angkat tubuh ayahnya ke bawah panggung sambil memanggil-manggil sedangkan Siauw Ma menghadapi hwesio itu sambil tersenyum.

"Kepala gundul! Kau tadi berkata kejam, tapi sebenarnya siapakah yang kejam? Kau gunakan tangan jahat sewaktu orang sedang tak bersedia!"

"Anak muda, kau siapa dan mau apa?"

"Aku bernama Siauw Ma dan aku mau menghukum kau karena perbuatanmu yang kejam tadi."

"Siauw Ma, kau masih begini muda. Pergilah, jangan mengantar nyawa dengan sia-sia. Lihat saja, Si Naga Besi dalam sejurus saja sudah roboh olehku. Apa lagi kau yang semuda ini!"

Pada saat itu terdengar jerit Cun Ceng dari bawah panggung, dan sesaat kemudian gadis itu loncat ke atas panggung.

Wajahnya pucat, air matanya turun dan ia pegang pedangnya sambil pandang hwesio itu dengan mata mengancam.

(Lanjut ke

Jilid 18 -Tamat) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 (Tamat) "Bangsat gundul, kau harus ganti jiwa ayahku!"

Siauw Ma menghadapi nona itu dan tiba-tiba ia beri tanda gadis itu dengan sebelah mata yang dikedipkan.

"Nona biarlah aku hukum dulu orang ini, baru kemudian kau boleh membalas dendam."

Gadis itu pandang wajah Siauw Ma dan terkejutlah ia, karena ia kenal wajah ini sebagai wajah orang yang malam tadi telah menolongnya.

Dalam kesedihannya Cun Ceng berpikir bahwa kalau ia sendiri yang maju, pasti ia kalah.

Karena itu, ia mengangguk sebagai pernyataan terima kasih, lalu ia kembali kepada ayahnya yang masih rebah tak bergerak dengan mata meram.

Siauw Ma menghadapi Hwesio itu lagi.

"Kepala gundul, kau jumawa sekali. Kau tadi jatuhkan Si Naga Besi karena curang. Coba kau serang aku, kutanggung dalam sepuluh jurus saja bukan aku yang jatuh, tapi kau yang akan rebah di sini tak berdaya."

"Bangsat kecil yang sombong, kau harus dihajar!"

Teriak hwesio itu.

"Kaulah yang harus dihajar!"

Kata Siauw Ma.

Hwesio itu melancarkan serangan pukulannya yang hebat, tapi tubuh Siauw Ma melejit lenyap dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya.

Melihat gin-kang sehebat ini, hwesio itu terkejut dan berlaku hati-hati.

Ia kirim lagi pukulannya dengan tenaga sepenuhnya, tapi lagi-lagi Siauw Ma berkelit cepat.

"Pengecut, sambut pukulanku kalau kau laki-laki!"

Kata hwesio itu sambil memukul lagi.

"Kepala gundul, rasakan tanganku!"

Jawab Siauw Ma dan ketika pukulan hwesio itu menyambar, ia sengaja memukulnya dari samping dan akibatnya Ling Lung Hwesio menjadi terkejut sekali karena tangannya kena terpukul ke samping dan terpental.

Ternyata tenaga lwee-kang anak muda itu lebih kuat darinya!

Pucatlah wajahnya dan keringat dingin mengucur.

"Kau siapakah, anak muda? Kau murid dari manakah?"

Tanyanya perlahan.

"Baru empat jurus, ingat? Kita berjanji sepuluh jurus! Aku datang dari Thang-la, kalau kau mau tahu."

Mendengar bahwa lawannya yang muda ini adalah murid Thang-la, makin tergetarlah hati Ling Lung Hwesio dan ia lalu kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menjatuhkan Siauw Ma.

Setelah menyerang sampai sembilan jurus belum juga dapat menjatuhkan Siauw Ma, tiba-tiba Siauw Ma berseru.

"Nah, sekarang jurus ke sepuluh adalah saat kau rebah di sini!"

Ling Lung Hwesio yang hendak menjaga namanya kirim serangan paling berbahaya, yakni ia pukulkan tangan kanan ke arah dada lawan sedangkan tangan kiri dikibaskan ke arah pusar lawan itu, dan kedua kakinya siap menendang.

Serangan ini demikian lengkap hingga tak memungkinkan lawan balas menyerang dan merobohkannya.

Tapi siapa sangka bahwa ketika kepalan tangannya hampir mengenai dada Siauw Ma, pemuda itu mendahului mengetok pergelangan tangannya dari samping yang tepat mengenai jalan darah hingga tangannya terasa sakit sekali, sedangkan tangan kirinya yang dikibaskan ke arah pusar dapat ditangkis oleh lutut pemuda itu.

Kemudian sebelum ia dapat bergerak lebih lanjut, tangan kanan Siauw Ma telah menyelonong ke dada dan menotoknya hingga ia rebah tak berdaya, tepat sebagaimana dikatakan Siauw Ma tadi.

Pada saat itu, Cun Ceng dengan pedang di tangan loncat naik ke atas panggung dan ketika pedangnya berkelebat, kepala hwesio itu putus tertabas!

Tentu saja keadaannya menjadi kalut, tapi Siauw Ma segera berdiri dan membentak keras.

"Cu-wi sekalian! Ketahuilah bahwa nona ini membunuh karena hendak membalas dendam! Ayahnya, yaitu Cun-Piauwsu yang tadi terpukul oleh hwesio ini telah meninggal maka sudah sepantasnya puterinya membalas dendam ini.

"Sebetulnya gara-gara semua keributan ini adalah salah dari pada ke lima Ngo-Lo-Enghiong yang menjadi tuan rumah. Kalau ia mempunyai permusuhan dengan ayah nona ini, mengapa tidak dibereskannya saja sendiri? "Tetapi mereka ini, orang-orang rendah dan bersifat pengecut yang berani menyebut diri sendiri orang-orang gagah, telah demikian pengecut untuk menghasut orang lain dan mengadukan orang-orang gagah lain untuk memusuhi ayah nona ini! Kalau kata-kataku ini tidak benar, silahkan mereka yang berani membuktikan ketidak benarannya naik ke panggung ini!"

Tetapi tak seorangpun berani naik ke panggung menghadapi pemuda aneh yang lihai sekali ini.

"Aku adalah murid dari Pegunungan Thang-la dan tugasku ialah membasmi segala kejahatan. Seharusnya ke lima orang tua yang menjadi tuan rumah ini kuhajar, tetapi mengingat bahwa mereka inipun hanya terkena hasutan seorang rendah bernama Thio Lui, biarlah kali ini kuampunkan mereka!"

Kemudian Siauw Ma ajak Cun Ceng membawa jenazah ayahnya pergi dari situ.

Dengan bantuan Siauw Ma, Cun Ceng dengan sedih sekali terpaksa mengubur jenazah ayahnya di kota itu dan kelima orang tua yang telah insaf dan menyesal setelah terjadi peristiwa hebat yang mengambil nyawa dua orang itu, ikut pula membantu dengan sungguh-sungguh hingga rasa ganjalan sakit hati di antara mereka dan nona itu telah lenyap.

Ngo-Lo-Enghiong itu sangat kagum kepada Siauw Ma dan mereka paksa anak muda itu mengunjungi rumah mereka dan menjamunya.

Juga Cun Ceng mereka paksa untuk mengunjungi rumah mereka di mana mereka menyatakan menyesalnya dan minta maaf atas segala kejadian.

Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Thio San bertanya kepada Siauw Ma.

"Siauw-Taihiap, kalau kau datang dari Thang-la, tentu kau kenal kepada seorang nona yang sangat lihai yang bernama Lian Eng dan menjadi murid Huo Mo-li yang terkenal?"

Mendengar ini, Siauw Ma cepat berkata.

"Tentu saja kenal! Kami sahabat-sahabat baik. Tahukah kau di mana ia berada, Lo-Enghiong?"

"Begitukah?"

Thio San berkata kaget.

"Kalau begitu, kau harus tolong dia!"Siauw Ma bangun dari bangkunya.

"Apa? Apa yang terjadi? Lo-Enghiong, tolong kau beritahukan yang jelas!"

"Sebenarnya hal ini rahasia dan kami tak berani menceritakan kepada siapa juga, Taihiap. Tetapi kau perlu sekali diberitahu agar kau dapat membantu sahabatmu itu.

"Kami mendengar dari beberapa orang kawan kami yang dapat terbujuk oleh pengawal-pengawal pangeran, kabarnya pangeran Yo dengan pengawal-pengawalnya hendak serbu dan hancurkan Kuil Kwan-im-bio di perbatasan Tibet-Sin-kiang. Dan yang menjadi ketua di sana adalah seorang gadis murid Huo Mo-li bernama Lian Eng dan yang datang dari Thang-la."

Siauw Ma terheran sekali.

"Dia menjadi kauw-cu? Ah, tak masuk pada akal!"

"Entahlah, tapi kurasa kawanku itu tidak membohong. Justeru karena gadis lihai itu berada di sana, maka Pangeran Yo hendak memperkuat rombongannya."

Maka gelisahlah Siauw Ma mendengar ini. Ia lalu buru-buru tinggalkan rumah Ngo-Lo-Enghiong itu dan bersama Cun Ceng kembali ke rumah penginapan.

"Nona, sekarang kuharap kau suka kembali ke kotamu. Teruskanlah usaha ayahmu yang baik itu, karena aku tak dapat mengawanimu lebih jauh. Aku harus segera pergi ke perbatasan Tibet-Sin-kiang dan mencari kawanku di Kuil Kwan-im-bio itu!"

Cun Ceng pandang pemuda itu dengan mata basah.

"Siauw-Taihiap, kau telah berkali-kali menolongku, bahkan kau pula yang telah membalaskan sakit hati ayahku. Budimu ini sungguh besar sekali dan selama hidupku tak mungkin dapat membalasnya. Maka, Taihiap, karena akupun hidup sebatangkara, kalau saja kau sudi dan perkenankan, biarlah aku ikut kau pergi ke sana. Biarpun kepandaianku masih sangat rendah bila dibandingkan dengan kepandaianmu yang sangat tinggi, namun percayalah, Cun Ceng takkan ragu-ragu dan sayang mengorbankan jiwa untuk keperluan dan membelamu!"

Bukan main rasa terharu hati Siauw Ma mendengar kesanggupan yang diucapkan sejujur-jujurnya ini.

Kalau saja yang bicara ini seorang laki-laki, tentu ia akan memeluknya dengan rasa berterima kasih sekali, tapi Cun Ceng adalah seorang gadis.

Seorang gadis yang cantik lagi, dan lebih dari itu, seorang gadis yang wajah dan potongan tubuhnya mirip sekali dengan Lian Eng, yang dicintanya itu!

Ah, ia dapat menduga dari sinar mata gadis yang dibasahi air mata ini bahwa di dalam hati gadis ini tumbuh rasa kagum dan hutang budi yang besar sekali, dan bahwa gadis ini kalau saja ia keluarkan kata pinangan, akan menerimanya dengan kedua tangan terbuka dan dengan hati beruntung sekali.

Tapi, Siauw Ma mempunyai pendirian yang teguh.

Cintanya terhadap Lian Eng sangat mendalam dan tak mungkin mudah digeser begitu saja.

Maka ia lalu gelengkan kepala dan berkata.

"Terima kasih atas janjimu hendak membela, nona. Tapi, terus terang saja, kalau kau ikut pergi, maka perjalanan itu akan menjadi lama sekali. Maaf, bukan aku hendak menghina, tapi ilmu lari cepat yang kaumiliki masih jauh dari pada sempurna hingga kau hanya akan memperlambat perjalananku. Sedangkan aku perlu sekali segera sampai di sana, takut kalau-kalau aku datang terlambat. Seorang kawan baik sedang terancam bahaya di sana!"

Cun Ceng mengerti hal ini dan ia mengangguk-angguk lalu menghela napas, dan tak kuasa berkata apa-apa lagi.

Siauw Ma lalu tinggalkan ia dan lari cepat menuju ke barat, di mana ia harapkan akan bertemu dengan Lian Eng biarpun ia masih ragu-ragu jika mengingat bahwa tak mungkin sekali seorang gadis seperti Lian Eng bisa menjadi kauw-cu atau ketua agama di Kwan-im-bio.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa setelah ia tinggalkan, gadis yang bernasib malang dan ditinggal mati ayahnya itu, karena merasa betapa hatinya menjadi kosong dan sunyi setelah ditinggal pergi pemuda itu, diam-diam melakukan pengejaran ke barat.

Ia tetap hendak membela pemuda itu, biarpun ia harus datang belakangan!

Dengan menggunakan ilmu lari cepat dan tiada pernah berhenti kecuali hanya kalau perutnya terasa lapar saja, Siauw Ma menuju ke Kwan-im-bio di perbatasan Tibet Sin-kang.

Ketika ia tiba di depan kuil yang megah dan besar itu, ia dicegat oleh beberapa orang imam Kwan-im-kauw yang membentaknya dan bertanya.

"Hei, anak muda. Siapakah kau dan ada perlu apa kau tersesat ke sini?"

Siauw Ma sedang gelisah dan sedih, maka ia tidak mau banyak cakap, hanya berkata.

"Bawa aku menghadap ketuamu!"

"Kauw-cu kami tidak mudah begitu saja bertemu dengan orang asing,"

Jawab seorang imam.

"Kau beritahukan dulu nama dan keperluanmu, baru akan kami sampaikan ke dalam. Sementara itu, kau tidak boleh masuk pekarangan kuil kami."

Siauw Ma menjadi penasaran sekali.

"Kalian ini pendeta-pendeta yang menuntut hidup suci mengapa bersikap begini kasar? Apa kalian kira aku bangsa perampok?"

Para imam itu tertawa mengejek.

"Pada saat zaman sekacau ini, mana kita bisa bedakan mana perampok dan mana orang baik-baik?"

"Kurang ajar, jangan kau menghalang jalanku, aku hendak masuk melihat kauw-cu Kwan-im-kauw!"

Dan Siauw Ma lalu gerakkan kaki hendak lanjutkan perjalanannya.

Tapi beberapa orang imam itu makin bercuriga dan segera palangkan toya dan pedang mencegatnya.

Tapi sekali berkelebat saja Siauw Ma telah melompati kepala mereka dan turun di belakang mereka.

Tentu saja para imam itu terkejut sekali dan ramai-ramai mereka mengejar!

Dari atas turunlah beberapa imam dan nikouw lain yang segera mengeroyok Siauw Ma.

Tapi begitu Siauw Ma gerakkan kaki tangannya, beberapa orang imam telah kena dirobohkan.

Makin banyaklah imam mengeroyoknya dan kini yang mengeroyoknya adalah imam-imam dan nikouw yang berkepandaian tinggi juga hingga Siauw Ma mengamuk seperti kerbau gila!

Tapi pemuda ini masih sempat memikir bahwa imam-imam itu hanyalah mengeroyoknya karena salah paham saja hingga tiap serangannya tidak ia maksudkan untuk mengambil jiwa orang.

Karena inilah maka imam-imam itu hanya ia totok dan ia lemparkan saja dan tak seorangpun imam sampai mendapat luka berat.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan halus dan semua imam dan nikouw yang mengeroyok segera mundur sambil membungkuk-bungkukkan tubuh mereka terhadap orang yang membentak nyaring tadi.

Siauw Ma memandang dan hampir saja ia berteriak karena kaget dan herannya.

Yang membentak itu ternyata Lian Eng sendiri, tetapi alangkah banyaknya perubahan yang terjadi pada diri gadis yang dicintanya itu.

Lian Eng mengenakan jubah seperti seorang dewi dan serupa benar dengan jubah yang dipakai oleh Patung Dewi Kwan-im, sedangkan potongan rambutnya juga sama benar dengan rambut Dewi Kwan-im.

Bahkan wajah gadis itu seakan-akan memancarkan cahaya seperti cahaya gaib yang hanya terdapat pada diri dewa dan orang-orang suci!

Sikap gadis itu agung sekali ketika ia pandang Siauw Ma dan berkata.

"Kau datang ke sini mau apakah?"

Siauw Ma terbelalak memandangi wajah dan pakaian gadis itu.

Beberapa kali ia telan ludahnya dan tak dapat berkata-kata, seakan-akan ada sesuatu yang mengganjal kerongkongannya.

Akhirnya, setelah naik sedu-sedan dari dadanya, dapat juga ia bertindak maju dengan dua lengan terulur dan berkata.

"Lian Eng...! Hampir aku tak dapat percaya. Kau kah ini?? Lian Eng... mengapa... mengapa kau menjadi begini...?"

Bibir yang merah dan manis itu tersenyum tetapi matanya memandang dingin. Kemudian sambil menengok kepada semua imam dan nikouw yang masih berdiri membungkuk dan tak berani memandangnya, ia berkata.

"Perkuatlah penjagaan!"

Lalu ia memberi tanda dengan lambaian tangan kepada Siauw Ma untuk ikut dengan dia ke dalam bio!

Siauw Ma ikut berjalan masuk dengan hati berdebar-debar.

Lian Eng ajak ia masuk ke dalam ruang dalam, di mana terdapat empang dan patung Dewi Kwan-im.

Ia kenali patung itu sebagai patung yang dulu dibuat rebutan.

Beberapa orang nikouw yang duduk bersamadhi dan mengelilingi patung itu, atas perintah Lian Eng lalu pergi keluar dari ruang itu, hingga mereka berada berdua saja.

"Duduklah, Siauw Ma,"

Kata Lian Eng, kini lenyaplah sikapnya yang agung-agungan tadi dan suaranya terdengar seperti seorang kawan lama yang ramah.

"Lian Eng... aku sengaja mencarimu..."

Lian Eng memandangnya tajam.

"Hm, apakah kau hendak menagih hakmu yang ditetapkan oleh guru-guru kita?"

"Tidak, tidak! Lian Eng, kau anggap aku orang macam apakah? Memang, tak kusangkal bahwa aku... aku mencinta kau! Aku mencinta dan suka padamu semenjak kita bertemu pertama kali dulu, semenjak kau masih gagu dulu! Aku selamanya mencintamu, tetapi... aku tidak begitu rendah untuk memaksamu, untuk memperkosa hatimu dan menggunakan pengaruh suhu kita untuk memaksamu menjadi isteriku! Aku... aku... terlalu cinta padamu, Lian Eng, tak mungkin aku dapat menyakiti hatimu. Kau tentu tahu ini!"

Untuk sesaat sinar mata Lian Eng melembut. Ia memang kagum kepada pemuda yang jujur dan gagah ini. Kemudian ia berkata, kepalanya dikedikkan.

"Habis kau datang mau apa? Apakah kau merasa sakit hati kutolak pinanganmu hingga kau datang hendak menuntut balas?"

Siauw Ma geleng-gelengkan kepala.

"Seharusnya demikian, sesuai dengan kehendak ibuku. Ketahuilah, Lian Eng, mendiang ibuku dahulu pernah meninggalkan pesan bahwa aku harus mencarimu untuk menjadikan isteri atau... membunuhmu! Tapi aku bodoh, aku lemah. Kedua-duanya tak dapat kulaksanakan. Pesan ibuku hanya pesan kosong dan tak terpenuhi. Aku tak dapat mengawinimu, juga tak dapat membunuhmu..."

Terharulah Lian Eng mendengar pengakuan ini. Ia pandang muka yang tunduk dengan sedih itu dan hampir saja ia tak dapat menahan air matanya yang hendak runtuh, tapi ia keraskan hatinya.

"Aku menyesal sekali telah membikin kau sengsara dan menderita, Siauw Ma. Tapi seperti juga kau, aku tak dapat memaksa hatiku sendiri."

"Lian Eng... kau mengakulah terus terang, adakah... adakah kau... mencinta Tiong Li? Aku... aku takkan marah dan cemburu, dia kawan baikku..."

Lian Eng adalah seorang wanita berhati keras, maka mana ia mau mengakui kelemahannya ini? Ia kedikkan kepalanya dan berkata keras.

"Siapa mencinta siapa? Jangan kau sembarangan bicara! Kata-katamu ini menghinaku!"

Siauw Ma lalu berkata.

"Betapapun juga, Lian Eng. Kembalilah kau ke Thang-la, kau membuat kami semua menjadi bingung, dan ketahuilah bahwa subomu juga menjadi marah dan bingung. Jangan kau sia-siakan hidupmu seperti ini. Benar-benarkah kau menjadi kauw-cu di sini seperti yang dikatakan orang?"

"Benar! Aku memang menjadi kauw-cu di sini. Aku telah ambil keputusan untuk berdiam di sini sampai mati!"

Siauw Ma mendengar ucapan yang bersungguh-sungguh ini menjadi heran dan diam-diam ia mengerling keadaan di situ.

Aneh, memang keadaan di situ terasa tenteram dan damai sekali, terutama patung Dewi Kwan-im yang berada di tengah-tengah empang itu, tampak begitu agung dan suci serta mendatangkan suasana yang membahagiakan!

"Memang indah tempat di sini, Tetapi, Lian Eng, sudah tahukah kau bahwa tempatmu ini terancam bahaya besar?

Pangeran Yo bersengkongkol dengan pendeta-pendeta Lhama dari Tibet untuk menyerbu ke mari!"

Tiba-tiba mata Lian Eng bersinar marah.

"Benarkah? Boleh! Biarkah mereka datang. Demi Pouw-sat yang suci, akan kuhancurkan mereka itu seorang demi seorang!"

Kemudian Lian Eng berkata kepada Siauw Ma.

"Siauw Ma, kau pergilah! Kau kembalilah ke Thang-la, sekarang juga! Jangan terlalu lama berdiam di sini."

Siauw Ma geleng-gelengkan kepalanya.

"Begitu tipiskah kepercayaanmu padaku? Apa Kau kira aku tidak mempunyai rasa setia kawan lagi? Lian Eng, biarpun rasa cintaku sia-sia dan tak terbalas, namun Siauw Ma masih merupakan sahabatmu yang akan membelamu sampai mati!"

"Jangan, Siauw Ma, ketahuilah, Hong Cu mencinta padamu, mencinta dengan murni. Kau kembalilah dan pinanglah dia! Dia seperti adikku sendiri, kasihanilah dia, jangan membikin dia sengsara, Siauw Ma."

Siauw Ma memandang dengan tajam dan penasaran.

"Bagus Lian Eng! Kau sendiri menolak cintaku, kau sendiri membikin aku menderita, dan kini kau minta padaku supaya aku korbankan diri dan menerima persembahan Hong Cu. Bagus sekali! Tidak, biarlah aku lihat sampai di mana kekurangajaran anjing-anjing kaisar itu."

Sehabis berkata demikian, Siauw Ma yang tak tahan pula berhadapan dengan gadis yang dicintanya dalam keadaan demikian itu, segera keluar dan rebahkan diri di ruangan depan, di atas sebuah bangku panjang, sama sekali tidak hiraukan pandang mata heran dari para imam dan nikouw yang lewat di situ.

Sepeninggal pemuda itu, Lian Eng lalu jatuhkan diri berlutut di depan patung Dewi Kwan-im dan menangis tersedu-sedu.

Sementara itu, Tiong Li dan Hong Cu yang tahu akan ancaman rombongan imam Tibet dan para pengawal Pangeran Yo yang hendak menyerbu Kwan-im-bio, dan mengira bahwa Lian Eng tentu berada di bio itu pula, segera mengejar rombongan imam Tibet itu.

Tapi karena para imam itu menggunakan jalan yang memotong, mereka tertinggal di belakang.

Hanya karena kepandaian lari cepat mereka jauh berada di atas beberapa anggauta rombongan, maka mereka masih mempunyai harapan untuk mengejar dan mendahului mereka ke Kwan-im-bio untuk membela kuil itu.

Tak mereka sangka bahwa para pengawal dan imam Lhama itu telah pula memperhitungkan hal ini.

Maka mereka lalu pecah-pecah rombongan mereka dan sebagian ditugaskan untuk menghalang-halangi perjalanan dua anak muda itu agar jangan sampai mendahului mereka dan membela kuil itu karena kalau hal ini sampai terjadi, kedudukan mereka di kuil itu akan sangat kuat dan sukar diserbu!

Karena inilah maka ketika tiba di sebuah hutan, tiba-tiba Tiong Li dan Hong Cu diserang oleh beberapa belas orang yang bersenjata pedang.

Kebanyakan para pengeroyok ini adalah pengawal-pengawal kelas satu dari kaisar yang memiliki kepandaian tinggi, dan di antaranya terdapat beberapa orang pendeta Lhama yang lihai.

Oleh karena ini, maka sibuk juga kedua anak muda ini melayani mereka.

Namun Hong Cu dan Tiong Li adalah murid-murid tokoh besar yang memiliki kepandaian tinggi dan luar biasa.

Tongkat yang berada di tangan Hong Cu walaupun hanya berupa tongkat bambu biasa, namun benda itu dimainkan dengan ilmu tongkat yang tiada taranya di dunia ini hingga tongkat bambu itu seakan-akan berubah menjadi ratusan batang dan semuanya bergerak-gerak bagaikan ular-ular terbang menuju ke jalan-jalan darah lawan dalam totokan yang berbahaya!

Juga pikulan Tiong Li tidak kalah istimewanya.

Pikulan inipun dari bambu, tapi bentuknya melengkung seperti gendewa hingga kalau digunakan untuk menyerang datangnya ujung senjata itu tidak terduga sama sekali.

Misalnya jika Tiong Li gunakan pikulannya memukul atau menusuk pundak kiri musuh, ternyata ujung yang melengkung itu menghantam pundak kanan, dan demikian sebaliknya hingga lawannya menjadi bingung sekali!

Kalau saja pengeroyok-pengeroyok itu bukannya orang-orang yang rata-rata memiliki kepandaian luar biasa, tentu sudah semenjak tadi mereka semua kena dibikin roboh oleh dua orang jago muda yang hebat ini.

Biarpun lawannya banyak dan lihai, akhirnya setelah bertempur sengit sampai ratusan jurus, dapat juga Tiong Li merobohkan dua orang dan Hong Cu juga berhasil menotok roboh dua orang pengeroyok pula!

Cepat para pengeroyok itu menolong mereka yang roboh dan tak lama kemudian mereka lalu kabur ke dalam hutan lebat.

Tiong Li dan Hong Cu bernapas lega dan beristirahat di situ melepas lelah sambil bersamadhi.

Pertempuran dan istirahat ini memakan waktu hampir setengah hari hingga tanpa mereka ketahui, mereka tertinggal makin jauh lagi!

Dua hari kemudian, setelah hari menjadi gelap, Tiong Li dan Hong Cu bermalam dalam sebuah hutan yang gelap dan besar.

Setelah makin jauh ke barat, makin banyaklah hutan dilalui dan bukit-bukit didaki.

Hutan besar dan gelap sekali hingga tak mungkin bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan.

Di situ tidak ada dusun atau rumah orang maka kedua anak muda itu terpaksa bermalam di atas pohon tinggi besar sekali.

Malam yang gelap itu dingin sekali dan baiknya ada ribuan bintang di langit hingga keadaan tidak gelap sekali.

Hong Cu sandarkan tubuhnya pada batang pohon sambil duduk di atas sebatang cabang yang besar.

Ia lelah sekali, juga hatinya jengkel karena tidak juga bertemu dengan orang yang dicarinya, pula merasa marah melihat lagak imam-imam Tibet yang selalu mengganggu itu.

Maka tak lama kemudian ia tertidur di atas cabang pohon itu.

Ia tak perlu khawatir kalau-kalau tergelincir dan jatuh, karena kebiasaan berlatih samadhi membuat tubuhnya anteng dan jarang bergerak dalam tidur, pula ia andalkan kepandaiannya hingga andaikata ia tergelincir juga, ia akan dapat loncat ke atas tanah dengan selamat.

Tiong Li juga bersandar pada batang pohon dan duduk di satu cabang tak jauh dari situ.

Tiba-tiba Hong Cu terkejut.

Tubuhnya yang terlatih baik itu sangat perasa hingga biarpun sedang tidur pulas, jika tersentuh sedikit saja ia tentu merasa dan segera terjaga dari tidurnya.

Ia merasa tubuhnya tersentuh dan kagetlah ia lalu membuka matanya.

Tapi ternyata bahwa yang membuatnya kaget itu adalah Tiong Li.

Pemuda itu gunakan baju luarnya yang lebar untuk menyelimuti tubuh Hong Cu dengan perlahan sekali, takut kalau-kalau gadis itu terbangun.

Ia tadi melihat betapa Hong Cu tampak kedinginan dan menarik-narik kakinya, maka hatinya yang mencinta membuat ia tidak tega sekali.

Ia tanggalkan baju luarnya yang lebar dan gunakan jubah itu untuk menyelimuti Hong Cu.

Melihat betapa pemuda itu menyelimutinya dengan hati-hati sekali, Hong Cu tidak tega untuk menegurnya.

Maka iapun meramkan matanya lagi dan mengintai dari balik bulu mata!

Ia melihat betapa pemuda itu memandangnya dan menatap wajahnya lama sekali sambil tersenyum.

"Alangkah cantiknya Hong Cu..."

Tiong Li mengeluh di dalam hatinya karena teringat bahwa gadis yang dicintanya ini tidak mengimbangi perasaan hatinya. Ia lalu mundur dan duduk lagi di tempatnya yang tadi.

"Alangkah baik dan sopannya Tiong Li..."

Hong Cu melamun, tapi ia lalu tak dapat menahan kantuknya dan pulas lagi.

Pagi-pagi sekali keesokan harinya, ketika burung-burung yang gaduh dan nakal membuat bising dan membangunkan kedua anak muda itu, Tiong Li dan Hong Cu saling pandang ketika mereka berdua mengulet dan mengulur-ulur pinggang karena kaku tidur di tempat dingin dan keras itu.

Tiba-tiba Tiong Li memberi tanda kepada Hong Cu.

Terdengar suara orang bercakap-cakap.

Suara itu makin dekat, tapi Tiong Li dan Hong Cu telah pindah ke dalam pohon yang lebat daunnya hingga tak tampak.

Dari atas pohon mereka mengintai ke bawah.

Ternyata yang, lewat itu adalah serombongan pengawal dan imam yang kemarin, tetapi kini di depan sekali berjalan dua orang pendeta Lhama jubah merah!

Hong Cu dan Tiong Li terkejut karena pendeta Lhama jubah merah ini bukanlah yang dulu mengeroyok mereka di atas gedung Pangeran Yo.

Kalau demikian banyaknya pendeta-pendeta jubah merah, maka sungguh kuatlah kedudukan rombongan itu, pikir Tiong Li Tiba-tiba Hong Cu menunjuk dan ketika Tiong Li menengok, ternyata yang ditunjuk oleh Hong Cu itu adalah seorang gadis yang berada di tengah-tengah rombongan itu.

Gadis itu terang bukan anggauta rombongan karena ia duduk di atas kuda dengan kedua tangan diikat!

Seorang pengawal yang berkuda di dekatnya berkali-kali berkata.

"Nona, lebih baik kau berterus terang saja dan menjadi pembantu kami. Katakan saja bagaimana keadaan mereka di kuil itu? Berapa kekuatan mereka? Dan setan perempuan itu mempunyai berapa orang kawan yang lihai?"

Gadis yang cantik itu tertawa.

"Sudah berkali-kali kukatakan. Semua tenaga orang-orang gagah berada di sana dan kalian ini tikus-tikus kecil tentu akan mencari mampus jika sampai di Kwan-im-bio!"

Pengawal itu menjadi marah dan berkata.

"Bukankah kau ini saudara dari setan perempuan yang menjadi ketua agama di Kwan-im-bio?"

Gadis itu diam saja tak menjawab, karena sesungguhnya ia sendiri tidak tahu siapakah yang dimaksudkan dengan setan perempuan itu.

Apakah kawan Siauw Ma yang dicari-cari oleh pemuda itu, demikian pikirnya.

Memang, gadis ini, bukan lain ialah, Cun Ceng.

Ia nekat dan mengejar Siauw Ma, pemuda yang menjadi pujaan hatinya.

Karena ilmu lari cepatnya tidak setinggi Siauw Ma, Ia tertinggal jauh dan bertemu dengan rombongan pendeta Lhama dan para pengawal Pangeran Yo itu.

Ia dicurigai, terutama karena wajahnya yang mirip Lian Eng itu, lalu ia ditangkap setelah melawan dengan nekat.

Tetapi apa daya Cun Ceng menghadapi sekian banyak pengawal dan pendeta Lhama yang berilmu tinggi?

Karena ia tak dapat memberi keterangan apa-apa, ia ditawan dan dibawa oleh rombongan itu.

Tiong Li dan Hong Cu yang berada di atas pohon ketika melihat gadis itu pun menjadi terkejut.

Bahkan tadinya mereka mengira bahwa gadis itu Lian Eng adanya!

Setelah mendengar tanya jawab itu, mereka maklum bahwa gadis ini kebetulan saja tertangkap karena dicurigai.

Tetapi mengapa gadis itu membohong dan seakan-akan membela Kwan-im-bio dengan memaki-maki rombongan itu?

Sungguh aneh.

"Tiong Li, hayo kita sikat mereka dan tolong dia!"

Tiong Li mengangguk menyatakan setuju.

Setelah rombongan itu tepat berada di bawah mereka, kedua anak muda itu meloncat turun dan tepat berada di dekat gadis yang tertawan.

Beberapa kali tubuh mereka berdua berkelebat dan terdengar teriak-teriakan ngeri karena beberapa orang yang diserang secara mendadak itu telah roboh tertotok!

Hong Cu lalu gunakan jarinya putuskan belenggu gadis itu yang segera loncat turun dan bersiap-siap.

"Tangkap pemberontak!"

Seorang pengawal berteriak dan kedua anak muda itu dikeroyok!

Cun Ceng segera cabut pedang yang tergantung di tubuh seorang pengawal yang rebah tertotok dan ia gunakan pedang itu untuk membantu kedua penolongnya yang luar biasa!

Para pengawal yang kemarin telah merasai kehebatan sepak terjang kedua anak muda itu, segera mundur dengan jerih dan kini dua orang pendeta Lhama jubah merah itulah yang maju menandingi Tiong Li dan Hong Cu.

Melihat bahwa ilmu silat gadis yang mereka tolong itu biarpun cukup baik tetapi sama sekali bukan tandingan Lhama jubah merah itu, Hong Cu, berkata.

"Cici, kau rampas tiga ekor kuda, biar kami layani setan-setan jubah merah ini!"

Cun Ceng segera gunakan pedangnya menyerang seorang pengawal yang menjaga kuda dan karena pengawal itu sudah jerih melihat Tiong Li dan Hong Cu, ia tak mau melayani Cun Ceng lebih jauh, maka gadis itu mudah saja pilih tiga ekor kuda yang besar dan baik.

"Sudah dapat!"

Katanya keras dan Tiong Li serta Hong Cu yang mendengar ini lalu perhebat serangannya hingga Lhama jubah merah itu terpaksa mundur.

Dengan ilmu tongkatnya yang luar biasa, Hong Cu gunakan kesempatan pada saat lawannya ragu-ragu dan mundur itu, untuk menyerang.

Kini ia gunakan tangan kiri memukul dengan totokan maut ke arah leher lawannya dan ketika lawan itu membuka tangan hendak menangkap tangan kirinya, tiba-tiba Hong Cu merendahkan tubuh ke bawah dan kerjakan tongkat di tangan kanannya menghantam kaki orang!

Lhama itu cepat loncat berkelit, tapi ujung kakinya masih terpukul oleh tongkat hingga terasa sakit sekali!

Sepatunya telah hancur dan jari kakinya terluka!

Ia memaki-maki marah, tapi Hong Cu dan Tiong Li sudah lari dan cemplak dua kuda yang sudah disediakan oleh Cun Ceng, sedangkan Cun Ceng sendiri sudah duduk di atas seekor kuda lain!

Ketika para pengawal itu hendak mengejar, Cun Ceng yang tadi diam-diam ambil kantung piauw seorang pengawal yang terluka, segera menghujani mereka dengan piauw!

Pengawal-pengawal itu hendak mengejar, tapi kuda-kuda mereka tadi sengaja dipukul cerai-berai oleh Cun Ceng yang cerdik.

Di antara mereka, yang memiliki ilmu lari cepat melebihi kuda cepatnya hanyalah dua orang Lhama jubah merah dan beberapa pengawal.

Tapi seorang Lhama telah terluka kakinya, maka mereka tidak mengejar terus, hanya membalas sambitan Cun Ceng itu dengan pelor dan piauw.

Akan tetapi, kuda ketiga orang muda itu telah membalap cepat sekali.

Karena memang tugas mereka hanya menghalang-halangi dan mengganggu perjalanan kedua anak-anak muda itu saja, maka para pengawal tidak mengejar lebih jauh, hanya merawat mereka yang terluka.

Setelah berada di tempat aman, Cun Ceng menghaturkan terima kasihnya kepada Tiong Li dan Hong Cu.

Gadis ini merasa kagum sekali melihat kehebatan kedua orang ini yang mengingatkan ia akan Siauw Ma.

Baca Juga: Tangan Geledek 7

Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert