Ceritasilat Novel Online

Patung Dewi Kwan Im 6

Eps 6 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.

Dari pembantunya ia hanya tahu bahwa Hong Cu telah pulang ke rumah orang tuanya dan kini sedang mencari-cari orang tua itu.

Ia hendak menjumpai Hong Cu lebih dulu sebelum mencari Lian Eng.

Ia merasa betapa keempat orang muda itu merupakan lawan-lawan berat, maka ia harus cerdik.

Ia melihat gejala yang dapat menimbulkan permusuhan di antara mereka, yakni gejala cinta segi tiga antara Tiong Li, Lian Eng dan Hong Cu.

Ia tahu pula bahwa Siauw Ma mencinta Lian Eng, maka ketika ia mendengar dari pembantu-pembantunya, bahwa Siauw Ma berada di sebuah kota yang tak jauh dari situ, cepat ia mengejar Siauw Ma.

Siauw Ma yang mengembara seorang diri dan merasa kesunyian karena ditinggal oleh Lian Eng yang dicintanya, selalu menjaga agar ia tidak pergi terlalu jauh dari Pegunungan Thang-la dan di mana ia berada, ia selalu menggunakan kepandaiannya menolong sesama manusia yang berada dalam kesukaran.

Tidak jarang Siauw Ma tundukkan perampok-perampok yang tanpa pilih bulu mengganggu rakyat, sedangkan sering pula ia mendatangi gedung pembesar-pembesar kejam dan hartawan-hartawan pengisap rakyat untuk diberi peringatan keras dan diambil sebagian hartanya untuk kemudian dibagikan secara sembunyi kepada orang-orang miskin.

Pada waktu itu musim kering tiba hingga sawah ladang tidak banyak mendatangkan hasil dan banyak pula sawah yang kering dan rusak tanamannya.

Keadaan yang buruk ini menimbulkan banyak keburukan.

Maling dan rampok muncul di mana-mana dan banyak orang mati terlantar.

Keadaan seperti inilah yang membuat orang-orang berjiwa pendekar seperti Siauw Ma merasa sedih dan sibuk sekali berusaha mengurangi bencana yang menimpa rakyat miskin dengan jalan memberi mereka bantuan uang.

Tentu saja uang ini ia ambil dari para hartawan yang menyimpan uang sampai bulukan di peti uang mereka dan menyimpan gandum serta padi demikian banyaknya hingga berlebih-iebihan dan membusuk dalam gudang mereka.

Pada suatu hari Siauw Ma dalam sebuah kota bernama Hang-chun.

Malam harinya, seperti biasa Siauw Ma naik ke atas genteng pergi menyelidiki keadaan.

Ketika ia tiba di atas sebuah gedung besar, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil namanya.

Ia heran dan berhenti, lalu menengok.

Ternyata Siauw Liong telah berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

"Siauw Ma, bagus betul perbuatanmu, ya? Kau sekarang telah menjadi maling kecil? Ha, ha, ha!"

"Siauw Liong, manusia rendah! Kebetulan sekali kau datang karena kau mengingatkan aku akan lenyapnya patung dari Kwan-im-kauw. Bukankah kau orangnya yang menjadi pencurinya?"

Memang sering kali Siauw Ma memikirkan hal patung yang lenyap itu dan timbul dugaan dalam hatinya bahwa yang mencurinya tentu Siauw Liong.

Karena berada dalam tempat gelap, Siauw Ma tak dapat melihat betapa wajah Siauw Liong memucat mendengar tuduhan ini.

Tapi Siauw Liong dapat perdengarkan suara sedemikian rupa sehingga seperti sungguh-sungguh.

"Bagus sekali kau sebut hal itu, Siauw Ma. Ketahuilah olehmu, aku sendiri sedang mencari tahu hal lenyapnya patung itu! Tapi aku tidak serendah kau untuk menuduhmu seperti yang kau lakukan padaku. Ketahuilah, kalau aku tidak salah duga, yang mencuri patung itu adalah Tiong Li, murid si Tabib Dewa sakti itu."

"Kau menuduh yang bukan-bukan! Mana Tiong Li mau melakukan hal serendah itu, membunuh dua orang ketua Kwan-im-kauw? Sudahlah kau jangan menggangguku, atau kau hendak lanjutkan pertempuran kita yang dulu?"

Tantangnya.

"Eh, eh, jangan begitu galak, kawan. Aku seorang kawan baik, kau selalu menganggap sebagai musuh. Sebaliknya orang yang kau anggap kawanmu paling baik, si Tiong Li itu, ia tak lain hanya seorang laki-laki yang suka wanita. Tahukah kau, betapa nona Lian Eng telah dihina oleh Tiong Li?"

Terkejutlah Siauw Ma mendengar nama Lian Eng disebut-sebut.

"Apa katamu? Jangan kau jual obrolan kosong di depanku!"

Bentaknya marah.

"Siapa yang mengobrol? Kau tidak percaya sudahlah."

Dan Siauw Liong membuat gerakan hendak pergi.

"Nanti dulu!"

Siauw Ma berseru dan, ia tidak melihat betapa Siauw Liong yang cerdik itu tersenyum.

"Ada apa lagi? Bukankah kau tidak percaya padaku?"

Katanya.

"Siauw Liong, jangan kau main-main dengan aku! Katakan, apa maksudmu tadi ketika Kau bilang bahwa Lian Eng telab dihina oleh Tiong Li?"

"Dengarlah, aku tidak perduli kau mau percaya atau tidak. Beberapa hari yang lalu, secara kebetulan saja aku dapat melihat Lian Eng sedang duduk menangis di sebuah hutan seorang diri. Aku tanyakan dia mengapa dia menangis, dan secara tak sadar, ia menjawab bahwa Tiong Li dan Hong Cu menghinanya.

"Ia tidak mau ceritakan sebab-sebabnya dan terus saja menangis. Aku tidak tahu sebabnya tapi kemudian aku dapat bertemu dengan Tiong Li dan Hong Cu.

"Ternyata pemuda murid tabib itu kini berubah menjadi seorang rendah dan tak tahu malu. Agaknya ia dan Hong Cu ada hubungan kotor karena di mana saja mereka selalu berada bersama dan sikap Tiong Li terhadap Hong Cu kelihatan mesra sekali. Nah, sesukamulah mau percaya atau tidak, itu bukan urusanmku."

"Kau bohong! Apa buktinya bahwa kata-katamu ini benar?"

"Ha, memang kau bodoh, maka mana kau mau percaya omongan orang? Kau mau bukti? Baik, ketahuilah aku belum lama ini bertemu dengan Hong Cu dan Tiong Li. Mereka berada di kota Lam-hin dan sedang menuju ke jurusan timur.

"Kalau kau dari sini menuju ke Lam-hin, maka kau akan bertemu dengan mereka. Tentu saja kalau bertemu dengan kau, Tiong Li takkan mau mengaku, tapi kau lihatlah saja hubungan antara Tiong Li dan Hong Cu."

"Siauw Liong, seujung rambutpun aku tak dapat percaya bicaramu! Kau memang seorang pembohong besar dan kau jagalah, kalau telah bertemu dengan mereka dan mendapat kenyataan bahwa kau hanya mengobrol sesukamu, maka kau akan kucari dan kuberi hajaran karena kau telah menghina kawan-kawanku!"

"Orang tolol, terserah padamulah! Apa lagi akupun tidak jerih akan ancamanmu. Kau kira aku takutkah? Bodoh!"

Kemudian Siauw Liong loncat menghilang dalam gelap.

Siauw Ma yang sudah dibakar hatinya oleh Siauw Liong tidak lanjutkan niatnya semula dan kembali ke kamar rumah penginapan.

Ia merasa bingung.

Benarkah cerita Siauw Liong?

Tak mungkin, pasti ia membohong.

Tapi mengapa ia harus membohong padanya?

Apa perlunya?

Demikianlah, malam itu ia tak dapat tidur dan bergulingan gelisah di atas pembaringannya.

Racun obrolan Siauw Liong terasa juga pengaruhnya.

Pada keesokan harinya, ia mencari tahu di mana jalan yang menuju ke jurusan Lam-hin.

Setelah mendapat tahu, ia segera menuju ke Lam-hin!

Dan betul saja, setelah berjalan cepat lebih setengah hari lamanya, ia melihat sepasang pemuda-pemudi datang dari jurusan depan.

Ia masih dapat mengenali Tiong Li karena pemuda itu memikul pikulan keranjang obat!

Cepat sekali Siauw Ma loncat sembunyi di balik sebatang pohon besar.

Hong Cu dan Tiong Li lewat sambil bercakap-cakap.

Wajah Tiong Li nampak gembira dan pandang matanya kepada gadis di sebelahnya itu memang nyata sekali menunjukkan rasa kasih yang besar.

Tapi sebaliknya wajah gadis yang cantik jelita itu nampak muram seakan-akan menyusahkan sesuatu.

Keningnya berkerut hingga sepasang alis matanya yang panjang hitam kecil itu hampir bertemu satu sama lain.

Setelah kedua teruna remaja itu jalankan kuda mereka lewat, Siauw Ma segera loncat keluar dan memanggil.

"Saudara Tiong Li! Tunggulah sebentar!"

Tiong Li tahan kudanya dan berpaling.

"Siauw Ma!"

Ia berteriak girang.

Mendengar nama ini, Hong Cu juga tahan kudanya dan berpaling.

Siauw Ma melihat betapa wajah gadis yang tadinya muram itu tiba-tiba menjadi terang berseri dan gadis itu segera loncat turun dari kuda dan menghampirinya.

"Saudara Siauw Ma!"

Suara panggilan yang keluar dari mulut Hong Cu ini merdu sekali dan untuk sejenak gadis itu lupa akan kedukaannya dan berdiri memandang Siauw Ma dengan mata bercahaya.

"Kau juga di sini, nona Hong Cu!"

Siauw Ma balas menegur dan tersenyum ramah. Sementara itu, Tiong Li juga loncat turun dan pegang lengan Siauw Ma dengan girang.

"Ah, benar-benar kau telah menjadi seorang yang gagah dan tegap,"

Katanya memuji sambil memandangi seluruh tubuh Siauw Ma yang tegap.

Siauw Ma bernapas lega melihat bahwa sebagian dari obrolan Siauw Liong adalah bohong, karena dengan jelas ia dapat menyaksikan bahwa hubungan antara Tiong Li dan Hong Cu adalah cukup sopan dan bersih.

Hal ini mudah saja dilihat dari sikap kedua pihak.

Ia dapat menduga bahwa Tiong Li agaknya cinta sekali kepada gadis itu, tapi ia heran mengapa Hong Cu bersikap acuh tak acuh.

Mereka saling menceritakan riwayat mereka secara ringkas dan segera melanjutkan perjalanan bertiga karena Siauw Ma katakan bahwa ia tidak mempunyai tujuan tertentu.

Hari telah mulai gelap ketika mereka masuk dalam sebuah kota dan memesan dua kamar dalam sebuah rumah penginapan.

Sebuah kamar untuk Siauw Ma dan Tiong Li, sebuah lagi untuk Hong Cu.

Saat itulah digunakan oleh Siauw Ma untuk bicara empat mata dengan Tiong Li.

Ia pandang sahabatnya itu dengan tajam, lalu bertanya.

"Tiong Li, sahabatku. Kau seorang gagah dan jantan, maka aku harapkan jawaban-jawaban yang jujur dari mulutmu."

Tiong Li memandang kawannya itu dengan heran, tapi ia cukup maklum bahwa Siauw Ma adalah seorang yang jujur dan suka bicara terus terang dalam segala hal. Maka ia tersenyum menjawab.

"Tentu saja, Siauw Ma. Terhadap seorang kawan baik seperti engkau, tentu aku tidak mau main-main. Jawaban apakah yang Kau kehendaki dariku?"

"Pernahkah kau bertemu dengan Lian Eng?"

Terkesiap juga hati Tiong Li mendengar pertanyaan ini karena ia teringat akan gadis yang aneh itu dan tiap kali teringat kepada Lian Eng timbullah hati kasihan kepadanya karena iapun lambat-laun dapat menduga bahwa gadis itu sebetulnya "ada hati"

Kepadanya! Maka kini pertanyaan ini mengingatkan ia kembali akan peristiwa yang dialaminya dengan Lian Eng.

"Memang pernah aku bertemu dengan dia."

Ia lalu menceritakan tentang pengalamannya ketika membeli kuda dari tuan tanah yang mendapat hajaran dari Lian Eng itu, kemudian karena ia tahu bahwa kawannya menghendaki penjelasan yang lengkap, ia menuturkan pula sikap Lian Eng ketika bertemu dengan Hong Cu dan betapa Lian Eng menjadi marah pergi!

"Tidak adakah sengketa antara engkau dan Lian Eng?"

Tanya Siauw Ma. Tiong Li memandang heran.

"Tidak, ketika ia marah kepada Hong Cu, aku hanya melarang ia menyerang Hong Cu. Agaknya ia menganggap aku berat sebelah dan ia menjadi marah lalu pergi. Aku menerangkan sejujurnya kepadanya bahwa aku mencinta Hong Cu dan karenanya aku terpaksa membelanya dan tidak memperkenankan Lian Eng mencelakakannya."

"Apakah kau menghinanya?"

Siauw Ma bertanya lagi. Tiong Li bangkit dari kursinya dan memandang tajam, suaranya terdengar sungguh-sungguh dan penasaran ketika ia berkata.

"Siauw Ma! Kau anggap aku orang macam apakah? Bagaimana kau bisa ajukan pertanyaan macam ini? Aku tak pernah menghina Lian Eng!"

Siauw Ma pun berdiri dan pegang tangan Tiong Li.

"Maaf, kawan. Aku telah dibujuk oleh Siauw Liong.

"O, penjahat rendah itu? Pantas saja sikapmu aneh."

"Kalau begitu, biarlah kita berpisah. Aku hendak mencari Lian Eng."

Tiba-tiba Tiong Li tersenyum gembira. Sambil tepuk pundak Siauw Ma yang bidang, ia berkata tertawa.

"Aah, begitu besarkah cintamu kepada nona Lian Eng?"

Untuk pertanyaan ini Siauw Ma menjawab cepat.

"Mungkin sama besarnya dengan cintamu terhadap Hong Cu!"

Kedua pemuda itu saling berpegang tangan dengan erat sebagai dua orang pemuda sahabat yang telah ketahui rahasia masing-masing.

Kemudian Siauw Ma malam-malam itu juga tinggalkan Tiong Li yang tidak sanggup menahan kawannya itu.

Malam itu terang bulan dan Siauw Ma keluar lalu berlari cepat.

Maksudnya hendak mengunjungi seorang sahabatnya yang menjadi kepala pendeta di sebuah kelenteng di luar kota dan bermalam di situ.

Tapi ketika ia sedang berlari cepat, tiba-tiba bayangan seorang lain mendahuluinya dan berhenti di depannya.

Bayangan itu berpotongan ramping dan terdengar ia tertawa merdu.

"Hong Cu, Kau kah ini?"

Siauw Ma menegur. Hong Cu tertawa.

"Sungguh seorang kawan yang baik sekali kau ini. Lupakah kau sudah akan pergaulan kita dulu hingga sekarang begitu bertemu kau lalu pergi tanpa pamit?"

"Maaf, Hong Cu, aku terburu-buru Aku sudah minta Tiong Li sampaikan salamku padamu."

"Mengapa dengan perantaraan dia? Eh, sebenarnya kau hendak ke manakah malam-malam begini?"

"Aku hendak pergi ke Kelenteng Ban-hok-tong di luar kota. Pek In Tianglo menjadi hwesio kepala di situ dan aku hendak bermalam di sana."

"Kalau begitu aku ikut!"

"Eh, bagaimanakah kau ini? Habis, Tiong Li bagaimanakah? Akan kau tinggalkan begitu saja?"

"Mengapa tidak? Besok pagi kita bisa jemput dia dan pergi bertiga."

Siauw Ma duduk di atas sebuah batu di pinggir jalan dan berkata.

"Hong Cu, kau duduklah di sini."

Gadis itu lalu menghampirinya dan duduk di hadapannya.

Mereka saling pandang di bahwa sinar bulan purnama.

Siauw Ma memandang dengan bingung dan heran sedangkan Hong Cu memandang dengan kagum dan mesra.

"Hong Cu, sikapmu ini sungguh merupakan teka-teki bagiku. Kau... kau hendak ikut aku pergi ke kelenteng itu, Mengapa?"

Hong Cu tersenyum dan menyembunyikan rasa malunya dengan menundukkan kepala.

"Aku... aku tidak apa-apa, Siauw Ma! Hanya, bukankah kita sudah bertahun-tahun berpisah? Sekarang kita baru saja bertemu, maka aku ingin sekali mengobrol dengan kau. Apakah salahnya itu? Bukankah kita kawan baik?"

"Ya, ya, tentu saja, Hong Cu. Tapi... tapi... Tiong Li..."

"Lagi-lagi Tiong Li kau sebut-sebut namanya. Mengapa dengan Tiong Li? Ini adalah urusanku sendiri, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dia."

Makin heranlah hati Siauw Ma.

"Tapi... tapi kurasa, lebih baik kita ajak dia sekalian, atau kau... kau bilang dulu padanya, asal dia tidak keberatan tentu aku suka kau ikut."

Maka berdirilah Hong Cu dengan marah.

"Siauw Ma! Apa artinya bicaramu yang tidak karuan ini? Mengapa aku harus minta izin dari Tiong Li? Kau aneh sekali! Dia dengan aku bukan apa-apa, hanya kawan baik seperti kita berdua! Jangan kau sangka yang tidak-tidak, Siauw Ma, aku akan menjadi marah!"

Mengertilah kini Siauw Ma.

Jadi cinta Tiong Li kepada gadis ini hanya sepihak!

Celaka sekali, bagaimanakah baiknya?

"Hong Cu, dengarkan kata-kataku ini.

Mungkin kau sendiri tidak menduga, tapi aku beritahukan padamu bahwa Tiong Li, pemuda yang gagah perkasa dan tampan dan yang menjadi sahabatku terbaik di dunia ini, dia itu cinta padamu!

Tahukah kau?

Dia cinta padamu, maka tidak boleh Kau anggap sepi begitu saja!"

Hong Cu terduduk kembali. Ia menganggukkan kepala.

"Aku... aku tahu, Siauw Ma. Tapi... apakah cinta dapat dipaksakan? Aku... aku anggap dia seperti saudara sendiri."

Siauw Ma menghela napas dan keduanya berdiam tak berkata sampai lama. Kemudian, tanpa angkat kepalanya, Hong Cu bertanya.

"Dan kau, Siauw Ma? Kau adalah seorang yang tulus hati dan jujur maka jawablah terus terang. Adakah kau juga mencinta seseorang?"

Berat rasa hati Siauw Ma untuk menjawab.

Ia tahu bahwa gadis jelita yang duduk sambil tunduk di depannya ini diam-diam menaruh hati kepadanya dan kini gadis ini bertanya siapakah yang dicintanya?

Sungguh sebuah pertanyaan yang berat sekali dan satu ujian hebat bagi kejujurannya.

Tapi Siauw Ma lebih mengutamakan kejujuran yang dianggapnya lebih baik.

Ia pikir lebih baik berterus terang dari pada diam-diam dan dapat menimbulkan salah paham yang besar.

Dengan suara tetap ia menjawab.

"Aku cinta kepada Lian Eng!"

Hong Cu mendengar pengakuan yang tak disangkanya sama sekali ini merasa seakan-akan pipinya kena tampar!

Lian Eng!

Mengapakah nasib sekejam ini?

Kalau memang Siauw Ma yang dikagumi itu tidak membalas cintanya dan mencinta orang lain, mengapa justru orang lain itu Lian Eng adanya?

Lian Eng gadis yang membencinya itu?

Tadinya ia tidak benci kepada Lian Eng, hanya kasihan dan tidak suka, tapi sekarang ia merasa benci sekali!

Ia tidak tahu bahwa perasaan inipun dimiliki Lian Eng terhadapnya karena sebab yang sama, yakni cemburu dan iri hati!

Hong Cu perdengarkan suara ketawa merdu dan nyaring yang kedengaran aneh di tengah malam itu, lalu gadis itu berkata.

"Kalau begitu, marilah kita berlumba mencari Lian Eng! Aku masih belum penuhi tantangannya yang dulu karena terhalang oleh Tiong Li!"

Suara ini mengandung ancaman hebat bagi diri Lian Eng hingga Siauw Ma terkejut sekali.

Hong Cu lalu loncat pergi dan lari dengan cepatnya.

Siauw Ma memanggil dan mengejar, tapi Hong Cu telah lari jauh dan lenyap dari pandangan mata.

Siauw Ma berdiri bengong untuk beberapa lama, kemudian ia menghela napas berkali-kali dan melanjutkan perjalanannya ke kelenteng sahabatnya untuk bermalam.

Dengan hati panas dan marah Hong Cu kembali ke tempat penginapannya dan dengan diam-diam masuki kamarnya.

Setelah berkemas, ia lalu menulis surat pemberitahuan kepada Tiong Li bahwa ia hendak mengambil jalan sendiri karena ada keperluan penting dan minta Tiong Li maafkan dia.

Kemudian ia tinggalkan surat itu kepada pelayan dan dengan diam-diam ia keluarkan kuda lalu melarikan binatang itu pergi dari situ.

Seperti halnya Lian Eng dulu, Hong Cu kaburkan kudanya di bawah sinar bulan purnama dan semalam suntuk ia tidak hentikan kudanya, lari bagaikan dikejar setan!

Seperti juga di kota-kota lain, Siauw Liong juga mempunyai kaki tangan di kota itu dan ia telah diberitahu tentang kedatangan Hong Cu dan Tiong Li.

Oleh karena ini ia bersiap sedia dan karena ia berada di suatu tempat tak jauh dari situ, dengan diam-diam, iapun melakukan pengintaian sendiri.

Ia melihat ketika Hong Cu keluar dari penginapan dan kaburkan kudanya, maka dengan tak buang waktu lagi ia diam-diam mengejar dari belakang.

Ia heran sekali karena gadis itu semalam penuh terus larikan kudanya hingga ia terpaksa harus mengikuti juga.

Ketika malam telah berganti pagi dan Hong Cu masih saja kaburkan kudanya, Siauw Liong menjadi bingung.

Kudanya sudah tidak kuat lari lagi, maka cepat ia loncat turun dan menggunakan ilmu lari cepat!

Untung baginya bahwa kuda Hong Cu juga sudah lelah sekali hingga ia tidak tertinggal.

Hong Cu bukannya tidak tahu akan pengejaran seorang di belakang setengah malam penuh itu, tapi karena hatinya sedang duka, maka ia tidak memperdulikannya.

Kini ia teringat akan pengejarnya karena suara kuda di belakang telah lenyap dan ia melihat seorang berlari mengejarnya dan timbullah marahnya.

Mau apakah orang gila itu mengejar-ngejarnya sepanjang malam?

Hong Cu loncat turun dari kudanya yang telah lelah dan yang segera jatuhkan diri berlutut, kemudian gadis itu pungut sebatang ranting kayu kering.

"Orang itu mencari mampusnya sendiri,"

Demikian gerutunya, sama sekali ia tidak pandang sebelah mata kepada orang yang datang lari cepat sekali itu.

Ketika orang itu telah sampai di depannya, kemarahan Hong Cu meluap.

Ternyata orang itu adalah Siauw Liong!

Ia teringat akan Kim Hwa Sianli yang dulu memberi tahu bahwa patung Dewi Kwan-im kembali tercuri orang dan bahkan kedua tokoh Kwan-im-kauw sampai terbunuh.

"Eh, maling kecil tak tahu malu! Kau datang mengantarkan kematianmu?"

Serta merta Hong Cu loncat menyerang dengan ranting di tangannya, sedikitpun tak memberi kesempatan kepada Siauw Liong.

Pemuda itu cepat loncat jauh karena ia telah tahu akan kehebatan ilmu tongkat gadis itu dan bahwa ranting kecil itu bahayanya melebihi ratusan golok besar di tangan orang-orang biasa!

Tapi Hong Cu yang baru jengkel dan sedih saat itu tumpahkan seluruh hawa marahnya kepada Siauw Liong, maka ia loncat mengejar dan mengirim serangan pula dengan ganasnya.

Terpaksa Siauw Liong keluarkan dua tongkat ular hitam dari dalam bajunya dan mainkan sepasang ular itu untuk menangkis.

"Nona Hong Cu, nanti dulu. Belum lagi kita bicara, mengapa datang-datang kau menyerangku."

"Siapa sudi bicara dengan maling busuk!"

Kembali ia menyerang dan kembali Siauw Liong menangkis lalu loncat mundur.

"Eh, eh, nanti dulu! Kau beberapa kali memaki aku maling, aku telah mencuri apamukah? "Cih! Manusia rendah tak tahu malu. Apa kau sangka aku tidak tahu bahwa kau lah maling patung dari Kwan-im-bio dan kau pulalah pembunuh ketua-ketua Kwan-im-kauw?"

Siauw Liong perlihatkan muka sedih.

"Aah, memang benar kau berpikiran cupat! Mudah saja kau dibohongi orang. Kau ribut-ribut urusan patung orang lain, sedangkan urusanmu sendiri tidak kau perdulikan! Tidak tahukah kau bahwa ayah ibumu berada dalam bahaya?"

Diingatkan akan ayah ibunya yang sampai kini belum ada kabar ceritanya, seketika lemah tubuh Hong Cu. Ia memandang pemuda itu dengan wajah pucat dan air matanya turun cepat.

"Di... di manakah... mereka,"

Tanyanya gagap.

Siauw Liong tersenyum dan dengan tenang ia masukkan pula senjatanya.

Pemuda yang cerdik ini tahu sudah bahwa senjata yang keluar dari mulutnya telah berhasil baik, dan bahwa kini tidak ada bahaya lagi.

"Nah, kau mau tahu? Ia telah terculik oleh Lian Eng!"

"Kau... kau bohong!"

Gadis itu memandang dari balik air matanya dengan mata melotot.

"Bohong? Aku Siauw Liong selamanya tak pernah membohong! Kau mau bukti? Marilah kutunjukkan tempatnya. Aku tahu di mana Lian Eng mengeram orang tuamu." (Lanjut ke

Jilid 14) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Di mana? Di mana mereka? Hayo kau katakan padaku!"

Hong Cu berkata gemas.

"Sayang aku tidak tahu nama kampung di lereng gunung itu! Kalau kau memang ingin menolong mereka, kau harus ikut aku pergi ke sana!"

"Tidak sudi! Siapa sudi pergi bersamamu?"

"O, begitukah? Kalau kau tidak sudi, siapa mau memaksa? Nah, selamat tinggal."

Dan Siauw Liong balikkan tubuh.

"Tunggu dulu. Sebelum Kau beritahukan tempat mereka, jangan harap kau dapat pergi dari sini!"

Hong Cu mengancam dengan rantingnya.

"Hm, kau sangka aku takut padamu? Sekalipun kau akan menang dan dapat membunuhku, tetap kau takkan tahu di mana orang tuamu berada dan kalau terlambat mungkin jiwa mereka melayang. Maka sudahlah, jangan banyak berlagak, kau ikut aku ke tempat orang tuamu. Kalau kau takut aku membohongimu, mudah saja bagimu untuk kemudian menyerangku, masih belum terlambat!"

"Jauhkah tempat itu?"

Akhirnya Hong Cu bertanya. Setelah memikir-mikir beberapa lama, Siauw Liong berkata.

"Yaah, kira-kira perjalanan sepekan paling cepat!"

Hong Cu merasa bingung.

Sepekan?

Dan selama itu harus bersama-sama pemuda kurang ajar ini?

Harus melakukan perjalanan bersama?

Tapi ia harus berani berkorban perasaan untuk membela orang tuanya.

Kalau memang benar Lian Eng yang menculik orang tuanya, kurang ajar benar gadis gagu itu!

Ia harus serang dan adu jiwa dengan gadis itu!

"Baiklah, aku ikut kau ke tempat itu.

Tapi awas kalau kau membohong dan berani kurang ajar terhadapku, jangan Kau katakan aku keterlaluan kalau aku cabut nyawamu!"

Akhirnya Hong Cu berkata dan tatap wajah Siauw Liong dengan bengis.

Tapi agaknya mata yang tajam dan indah itu tidak membuat jerih hati Siauw Liong, bahkan ia balas memandang dengan mesra dan tersenyum, hingga Hong Cu membentak.

"Hayo kita berangkat, apa maksudmu memandang orang sambil tersenyum-senyum?"

Maka berangkatlah mereka berdua sambil menggunakan ilmu lari cepat menuju ke arah timur laut.

Siauw Liong yang mendapat kesempatan jalan bersama gadis cantik yang sangat menarik hatinya itu, merasa gembira sekali dan ia tidak menyembunyikan perasaan ini.

Tiada hentinya ia mengajak gadis itu mengobrol dan ia menceritakan pengalamannya yang luas.

Tapi Hong Cu hanya mendengar dengan setengah hati dan jarang sekali menjawab kalau tidak perlu betul.

Tiga hari kemudian mereka tiba di sebuah kota dekat sungai yang tampak ramai.

Sebenarnya, menuruti jalan lurus, untuk pergi ke kampung di mana Lian Eng menyembunyikan orang tua Hong Cu, cukup menggunakan waktu dua hari.

Tapi karena Siauw Liong sengaja mengambil jalan memutar agar makan waktu lebih lama, maka biarpun telah berjalan cepat selama tiga hari mereka belum juga sampai di tempat tujuan.

Melihat sikap Siauw Liong yang ceriwis dan sepanjang jalan berusaha mengambil-ambil hatinya, Hong Cu dapat menduga bahwa pemuda jahat ini tentu sengaja mengambil jalan memutar, tapi ia masih bersabar dan mengambil keputusan untuk menahan sabar sampai sepekan.

Kalau sampai selama itu belum juga mereka tiba di tempat yang dimasudkan, maka ia takkan memberi tempo lagi dan hendak mengadu jiwa dengan pemuda ceriwis ini!

Tiap kali berhenti di sebuah kota dan bermalam di rumah penginapan, Hong Cu selalu mengambil kamar sendiri yang agak jauh dari kamar Siauw Liong agar ia tidak terganggu.

Juga sepanjang jalan ia berlaku hati-hati dan waspada sekali, sedikitpun tak berani lengah dan lalai, hingga sedikitpun tidak memberi ketika atau kesempatan kepada Siauw Liong untuk berlaku curang.

Juga di waktu makan, Ia berlaku hati-hati sekali karena ia cukup tahu akan kelihaian pemuda itu mempergunakan racun.

Sebenarnya, betapapun keras Hong Cu menjaga diri, kalau kiranya dikehendaki oleh Siauw Liong, pemuda itu tentu akan berhasil juga berbuat curang dengan menggunakan kelicinan serta kecurangannya yang penuh tipu muslihat.

Tapi untung bagi Hong Cu bahwa pada waktu itu Siauw Liong sedang menjalankan rencana lain.

Pemuda yang cerdik itu sengaja hendak mengadu dombakan Hong Cu dengan Lian Eng, dan jika Hong Cu telah dapat bermusuhan dengan Lian Eng, maka tentu nona manis ini akan percaya kepadanya dan dapat bersikap lebih manis, karena Siauw Liong tahu bahwa Hong Cu juga dikecewakan dalam cintanya terhadap Siauw Ma!

Ia sengaja pikat-pikat dan ambil hati Hong Cu.

Ketika kedua orang itu masuk ke kota Kian-bun yang ramai itu tiba-tiba terdengar seruan orang.

"Kau, Siauw Liong!"

Ketika mereka berpaling memandang, Hong Cu melihat bahwa yang menegur itu adalah seorang perempuan muda cantik berpakaian merah.

Wanita itu dengan tindakan kaki yang genit menghampiri Siauw Liong dan pada wajahnya yang cantik itu terbayang senyum mesra.

Melihat ini Hong Cu lalu membuang muka dan tidak memperhatikan mereka pula, hanya menjauhi dan berdiri tak acuh.

"Moi-moi, kau di sini?"

Siauw Liong menegur dengan wajah tak senang.

"Koko, aku mencari-carimu sampai di mana-mana. Hayo kita pulang saja, koko!"

Berkata wanita itu yang bukan lain ialah Ang-ie-nio-nio. Tiba-tiba mata Siauw Liong mengeluarkan sinar marah. Ia gerak-gerakkan tangan dan membentak.

"Hayo, kau pergi dari sini! Jangan Kau ganggu aku, aku sedang sibuk dan ada urusan penting. Pergi!"

Ang-ie-nio-nio memandang sedih.

"Koko, mengapakah? Kenapa sikapmu begini berubah? Lupakah kau akan hubungan kita, apakah... apakah..."

Sampai di situ Ang-ie-nio-nio melirik ke arah Hong Cu yang kebetulan sedang memandang kepadanya. Ia lalu sambung kata-katanya sambil memandang Hong Cu dengan marah.

"Ah, jadi kau telah mendapat kekasih lain?"

"Hush! Tutup mulutmu, moi-moi!"

Bentak Siauw Liong, tapi Ang-ie-nio-nio telah menjadi begitu marah hingga ia cabut pedangnya dan loncat ke arah Hong Cu sambil berteriak.

"Kalau begitu, aku harus membunuhnya sekarang juga!"

Kemudian tanpa perdulikan Siauw Liong, perempuan baju merah itu menggerakkan pedangnya hendak menyerang Hong Cu.

Tapi pada saat itu, Siauw Liong yang merasa marah sekali, loncat mendahului.

Ternyata gin-kang pemuda itu jauh lebih hebat dari pada kepandaian Ang-ie-nio-nio hingga sebelum perempuan baju merah itu dapat menerjang Hong Cu, ia telah berhadapan dengan Siauw Liong.

"Perempuan keparat, kau mencari mampus?"

Siauw Liong berseru dan menggerakkan kepalan kanannya memukul dengan hebat kepada bekas kekasihnya. Ang-ie-nio-nio bukankah orang lemah. Ia cepat loncat mundur dan kelit pukulan itu.

"Koko, jadi kau membela gadis ini? Baiklah, biar aku mati dalam tanganmu."

Suara ini diucapkan dengan suara memilukan sekali dan ketika Siauw Liong maju menggerakkan pedang yang telah berada di tangannya, Ang-ie-nio-nio menangkis tapi tidak balas menyerang.

Sebentar saja serangan Siauw Liong datang bertubi-tubi dan tentu saja gadis baju aerah itu tidak dapat menahannya lebih lama pula.

Ia menangkis sambil mundur, sementara itu wajahnya menjadi merah dan muram.

Biarpun diserang mati-matian, sedikitpun ia tidak membalas menyerang.

Cinta hati yang demikian besar ini mengharukan hati Hong Cu yang semenjak tadi memandang dengan bibir tersenyum menghina.

Ia sebenarnya tidak senang melihat sikap Ang-ie-nio-nio yang genit dan yang begitu kurang ajar telah menganggap ia sebagai kekasih Siauw Liong!

Tapi melihat betapa gadis baju merah itu demikian mencinta Siauw Liong dan rela mati, ia menjadi kasihan juga.

Pula, ia tidak suka melihat Siauw Liong membunuh orang di bawah pandangan matanya tanpa ia berbuat sesuatu untuk mencegahnya!

Maka, ketika Ang-ie-nio-nio telah benar-benar terdesak dan pedang Siauw Liong meluncur hendak menembus lehernya, Hong Cu meloncat dengan tongkat ranting di tangannya dan tiba-tiba Siauw Liong merasa betapa ujung pedangnya tergetar dan membal kembali karena benturan hebat dari ranting itu.

"Hong Cu, jangan kau ikut campur!"

Berkata Siauw Liong dengan suara halus, tapi Hong Cu membentak keras.

"Kalau aku berada di sini, jangan harap kau akan dapat membunuh orang sesukamu sendiri saja!"

Dan tongkatnya terus terputar hebat hingga terpaksa Siauw Liong meloncat mundur.

Sementara itu, melihat gerakan gadis yang hanya bersenjata ranting dapat menangkis pedang Siauw Liong, Ang-ie-nio-nio terkejut dan heran sekali.

Ketika Hong Cu memandangnya dan pandang mata mereka bertemu, bukan main kagetnya wanita baju merah itu, hingga ia pandang Hong Cu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

"Jadi... Kau kah ini...?"

Hong Cu mengangguk ke arah perempuan cantik itu.

"Ang-ie-nio-nio, kau dalam keadaan baik-baik?"

Ang-ie-nio-nio tidak mau berkata apa-apa lagi kepada Hong Cu, tapi perempuan muda itu bahkan menghampiri Siauw Liong yang berdiri heran mengapa Ang-ie-nio-nio telah kenal kepada Hong Cu.

Ang-ie-nio-nio berbisik kepada Siauw Liong.

"Kalau bermusuh, hati-hatilah kau, koko. Ia lihai sekali dan suhengku Kwie-eng-cu juga terbinasa dalam tangannya!"

Biarpun Ang-ie-nio-nio bicara perlahan sekali, namun Hong Cu yang berdiri agak jauh dapat juga mendengar karena pendengarannya yang terlatih baik itu sangat tajam. Maka ia berkata sambil tersenyum.

"Itu benar, Siauw Liong, bahkan tangan kanan kekasihmu ini pernah kupatahkan tulangnya! Nah, kalau kalian hendak menuntut balas, kebetulan sekali, aku telah bersiap!"

"Kau pergilah dan jangan mengganggu aku!"

Siauw Liong membentak, marah kepada Ang-ie-nio-nio yang segera meloncat pergi setelah melirik dengan tajam ke arah Hong Cu.

"Sungguh hatimu palsu sekali untuk menyakiti seorang kekasih demikian rupa!"

Hong Cu menyindir dan merasa sebal kepada pemuda itu. Siauw Liong hanya mendengus marah.

"Siapa bilang ia kekasihku? Perempuan itu tak tahu malu."

"Sudahlah jangan banyak membicarakam hal ini, aku tidak mau dengar. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita agar cepat-cepat sampai di tempat orang tuaku, kalau tidak, aku khawatir kalau-kalau kesabaranku akan habis dan jika terjadi demikian, aku tak dapat menanggung keselamatan jiwamu lagi!"

Siauw Liong menarik muka cemberut seakan-akan penuh sesal.

"Kau ini sungguh seorang gadis yang tak kenal budi orang!"

Ia mengomel.

"Aku bermaksud baik dan hendak menolongmu, tapi kau selalu memperlihatkan sikap bermusuhan."

"Siapa mau percaya obrolanmu? Sampai sekarang juga, aku masih belum percaya bahwa kau betul-betul hendak membawaku ke tempat yang kau sebutkan itu! Tapi awaslah kau, kalau beberapa hari lagi ternyata kau tidak mewujudkan janjimu..."

"Sudahlah, jangan selalu mengancam. Kau memang sangat tidak bisa percaya orang. Baik, kita lihat sajalah nanti.

"Mulai besok, aku akan mengambil jalan memotong agar kita cepat-cepat sampai di tempat itu dan kau akan melihat dengan mata sendiri bahwa sebenarnya aku, Siauw Liong, adalah seorang pemuda yang betul-betul hendak menolongmu, dan bahwa orang-orang yang kau anggap kawan baik itu semua palsu belaka!"

Kalau hendak menurutkan hatinya, Hong Cu hendak mendamprat lagi, tapi karena lagi merasa girang mendengar janji ini ia tidak mau membuat hati pemuda itu lebih sakit lagi dan membatalkan maksudnya hendak mempercepat perjalanan mereka.

Maka gadis ini diam saja dan mereka memilih kamar dalam sebuah rumah penginapan.

Betul saja, Siauw Liong memenuhi janjinya.

Pemuda itu karena telah terganggu oleh Ang-ie-nio-nio, merasa takut kalau-kalau pertemuan dengan perempuan bekas kekasihnya itu akan membuat Hong Cu kehilangan kepercayaannya, maka ia merasa perlu mempercepat perjalanan.

Pagi-pagi sekali ia telah bersiap dan menyediakan dua ekor kuda yang baik dan mahal.

Mula-mula Hong Cu tidak setuju diberi seekor kuda, tapi karena Siauw Liong mendesak dan berkata bahwa perjalanan hari ini sangat jauh dan jika berkuda tanpa berhenti, tentu pada sore hari akan sampai di kampung yang dimaksud itu, terpaksa gadis itu menurut.

Mereka lalu berangkat dengan cepat sekali.

Ketika hari telah menjadi senja, mereka tiba di sebuah kampung di lereng gunung.

Itulah kampung Leng-hok-chun di mana Lian Eng tinggal bersama Ang Lie Seng dan nyonyanya, orang tua Hong Cu.

Ternyata karena banyak sekali pembantu dan kaki tangannya, Siauw Liong telah dapat menemukan juga tempat ini!

Siauw Liong mengajak Hong Cu berhenti di luar kampung dan mereka lepas begitu saja kedua kuda mereka yang telah hampir mati kelelahan.

Kemudian dengan hati-hati dan cara bersembunyi, Siauw Liong mengajak Hong Cu yang sudah tidak sabar dan tubuhnya menggigil karena terharu memikirkan kedua orang tuanya, memasuki kampung Leng-hon-chun.

Kebetulan sekali pada saat itu Ang Lie Seng dan isterinya sedang duduk di luar rumah sambil bercakap-cakap, tak lain mempercakapkan puteri mereka yang telah bertahun-tahun lenyap.

Siauw Liong mengajak Hong Cu mendekat dan ia menunjuk kepada dua orang tua itu sambil berkata perlahan.

"Hong Cu, lihatlah baik-baik, siapakah kedua orang tua itu?"

Ia lalu menarik perlahan tangan gadis itu yang maju bagaikan kena pesona.

Sebentar saja gadis itu dapat mengenali ayah bundanya dan ia memegang lengan tangan Siauw Liong dengan keras untuk menahan getaran hatinya yang terharu.

Kemudian dengan sekali lompat, ia telah berada di depan kedua orang tuanya dan menjatuhkan diri berlutut sambil berseru.

"Ayah... ibu...!"

Kedua orang tua itu tertegun.

Mereka memandang gadis cantik jelita itu bagaikan sedang mimpi dan tidak segera mengenali wajah yang tunduk menangis itu.

Tapi mendengar suara gadis itu nyonya Ang lalu pegang kepala Hong Cu dan mengangkat wajahnya untuk dipandang.

Setelah bertemu dengan pandang mata Hong Cu, kedua orang tua itu dengan berbareng berseru.

"Hong Cu...!!"

Dan mereka bertiga saling peluk dengan mesra dan terharu sekali.

Siauw Liong sengaja bersembunyi untuk melihat perkembangan peristiwa itu lebih lanjut.

Pada saat itu ia telah melihat bayangan seorang gadis lain yang gesit sekali mendatangi dari belakang rumah.

Gadis ini adalah Lian Eng!

"Ayah, ibu!

Kalian mengapa dan siapakah orang ini?"

Tanyanya heran karena ia belum melihat wajah Hong Cu yang sedang berpelukan dengan kedua orang tuanya. Hong Cu mendengar suara ini cepat melepaskan pelukan ayah ibunya dan Loncat membalikkan diri.

"Kau!"

Seru Lian Eng dengan senyum menghina.

"Penculik hina!"

Hong Cu memaki sengit dan secepat kilat ia pungut ranting yang tadi dibawanya dari atas tanah dan menyerang Lian Eng.

Murid Huo Mo-li melihat datangnya serangan yang hebat dan sengit itu segera berkelit.

Iapun tidak kalah marah dan bencinya hingga sambil berseru nyaring ia balas melancarkan serangan dengan Huo-mo-kangnya yang hebat.

Hong Cu juga maklum akan kelihaian lawannya maka ia segera mengeluarkan Ouw-coa-koai-tung-hwat dan menjauhi Lian Eng sambil mengirim serangan-serangan totokan yang mengarah urat kematian lawan!

Demikianlah, sebentar saja kedua gadis jelita itu saling serang mati-matian dan karena ilmu gin-kangnya memang sudah mencapai tingkat tinggi, mereka hanya tampak oleh Ang Lie Seng suami isteri sebagai dua gulung sinar yang menjadi satu hingga tak mungkin bagi mereka untuk melihat mana Hong Cu dan mana Lian Eng!

Berkali-kali kedua orang tua itu berteriak-teriak.

"Hong Cu... Lian Eng... jangan bertempur...!"

Tapi dua gadis yang sedang diamuk nafsu marah itu tidak mau memperdulikan apa-apa lagi selain hendak membunuh lawan di hadapannya.

Pula, pertempuran yang hebat itu membuat mereka bergerak ke sana ke mari dan menjauhi kedua orang tua itu.

Ternyata kepandaian kedua gadis itu seimbang, karena keduanya memiliki ilmu pukulan berbahaya yang bagaimana juga membuat keduanya jerih.

Hong Cu merasa betapa sambaran angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Lian Eng hebat sekali dan mendatangkan rasa panas, maka ia menjaga dengan hati-hati sekali jangan sampai beradu lengan atau mengadu tenaga dengan gadis yang memiliki tenaga lwee-kang luar biasa itu.

Sebaliknya Lian Eng harus berlaku awas dan waspada sekali menjaga dirinya jangan sampai kena tertotok oleh ujung ranting Hong Cu yang seakan-akan telah berubah menjadi ratusan banyaknya itu!

Pada waktu itu Siauw Liong berdiri mengintai di balik pohon dengan tertawa seorang diri.

Ia puas melihat tipu muslihatnya berjalan baik.

Tapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bayangan orang berkelebat cepat ke arah kedua gadis yang sedang bertempur itu.

Dengan cara luar biasa dan cepat sekali, tahu-tahu bayangan itu telah dapat menerobos di tengah-tengah di antara kedua gadis itu.

Hong Cu dan Lian Eng kaget sekali melihat ada orang berani ikut campur dan ketika mereka memandang, ternyata yang datang ialah Siauw Ma!

"Hong Cu, jangan kau serang Lian Eng!"

Siauw Ma menegur dengan suara keras.

Hati Hong Cu yang sudah panas itu makin bernyala karena cemburu dan iri hati.

Ia memandang pemuda yang dikagumi itu dengan mata hampir mengeluarkan air mata, dan ia hampir menjerit ketika berkata.

"Kau... kau hendak membela dia? Hayo, majulah kalian berdua, aku Ang Hong Cu tidak takut mati!"

Dan ia menggerakkan rantingnya menyerang Lian Eng lagi yang sudah siap. Kembali kedua gadis gagah itu bertempur hebat bagaikan dua ekor harimau betina berebut makanan.

"Kalau kau nekat, terpaksa aku harus mencegahmu!"

Kata Siauw Ma yang maju menangkis sebuah serangan Hong Cu hingga gadis ini seakan-akan dikeroyok dua! Pada saat itu terdengar suara orang mencela.

"Tak pantas... tak pantas... dua orang gagah dari Thang-la mengeroyok seorang? Hong Cu, jangan kau takut, aku membelamu!"

Kini Lian Eng yang tiba-tiba berubah pucat mukanya karena ia melihat betapa Tiong Li, pemuda yang menjadi kenangannya itu datang-datang menyerbu dan membantu Hong Cu! "Tahan!"

Lian Eng membentak dan loncat mundur.

Bentakannya yang dikeluarkan dengan tenaga lwee-kang dari Huo-mo-kang yang masih mengalir penuh di tubuhnya ini terdengar luar biasa nyaringnya hingga kedua suami isteri Ang Lie Seng yang telah maju mendekat terpaksa tekap telinga mereka yang terasa sakit.

Orang-orang yang sedang bertempur tiba-tiba berhenti dan memandangnya.

"Tiong Li, aku tak dapat melawan engkau yang telah menjadi penolongku. Betapapun juga, aku cukup mengenal budi dan tak sudi aku disebut orang rendah karena membalas budi dengan kepalan tangan!"

Kata Lian Eng sambil menahan kehancuran hatinya.

"Kalau kau tidak menyerang Hong Cu tentu selamanya aku takkan suka mengadu kepandaian dengan kau yang lihai ini,"

Jawab Tiong Li tersenyum.

Sementara itu, Hong Cu dan Siauw Ma saling pandang.

Kini melihat pertempuran itu berhenti, Ang Lie Seng dan isterinya tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ang Lie Seng dan nyonya menyerbu anaknya dan nyonya Ang dengan menangis tersedu-sedu peluk Hong Cu sambil berkata.

"Hong Cu, Hong Cu... kau datang-datang membikin hati ibumu merasa sakit dan kecewa sekali..."

Hong Cu memandang ibunya dengan heran.

"Mengapakah, ibu? Apakah, salahku?"

Kini ibu itu memandang wajah anaknya dengan penuh penyesalan.

"Kau bertanya apa salahmu? Ah, Hong Cu, mengapa kau masih seperti dulu, selalu membawa kehendak sendiri? Mengapa kau datang-datang berani menyerang Lian Eng, saudaramu?"

"Saudaraku, dia ini?"

Hong Cu menunjuk ke arah Lian Eng dan memandang heran. Kini Ang Lie Seng maju memberi keterangan kepadanya. Suaranyanya terdengar keren dan tetap, seperti suara ayah yang sedang menegur anaknya.

"Hong Cu, ibumu berkata benar. Lian Eng telah menjadi anak angkat kami. Kau harus mencontoh dia dan ucapannya yang baru saja ia keluarkan tadi tepat sekali. Seorang budiman takkan sudi membalas budi kebaikan dengan kepalan tangan! Tapi kau datang-datang bahkan menyerangnya!"

Kini benar-benar Hong Cu tak mengerti dan sepasang matanya terbelalak heran.

"Apa... apa maksudmu, ayah?"

Tanyanya gagap.

"Dengarlah, anak bodoh. Lian Eng adalah orang yang telah menyelamatkan jiwa kedua orang tuamu! Kalau tidak ada Lian Eng, mungkin sekarang ayah dan ibumu telah menjadi tengkorak."

Pucatlah muka Hong Cu mendengar ini dan Ang Lie Seng dengan ringkas ceritakan pengalamannya ketika ia dan isterinya diculik oleh Siauw Liong, kemudian ditolong oleh Lian Eng.

"Nah, sekarang kau harus memberi hormat kepada encimu. Lian Eng lebih tua, setahun dari padamu. Hayo, kau memberi hormat dan minta maaf!"

Mendengar betapa Lian Eng telah menolong jiwa kedua orang tuanya, hati Hong Cu merasa terharu sekali dan ia lalu menghampiri Lian Eng sambil memandang dengan mata basah air mata.

Tapi tiba-tiba Lian Eng membalikkan tubuh dan hendak lari dari situ!

Gadis keras hati ini rasa cemburu dan iri hatinya demikian besar hingga tak mungkin baginya untuk berbaik begitu saja kepada bekas orang yang dibencinya!

Tapi pada saat Lian Eng hendak pergi, tiba-tiba dari depannya muncul seorang kakek yang berkata keras.

"He, Lian Eng, jangan kau kurang ajar!"

Ketika Lian Eng memandang, ternyata yang membentaknya itu adalah kakeknya, Souw Cin Ok!

Gadis ini yang semenjak kecilnya memang dididik oleh kakeknya ini, telah mempunyai perasaan takut dan tunduk kepada kakeknya yang seakan-akan menjadi pengganti orang tuanya, maka ketika tiba-tiba melihat kakek itu muncul dan membentaknya, ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil menangis.

Souw Cin Ok dengan terharu sekali mendengar suara tangis Lian Eng yang mengingatkan dia akan suara tangis gadis itu ketika masih bayi.

Memang di waktu kecilnya Lian Eng tidak gagu dan penyakit itu datang padanya ketika ia berusia kira-kira empat tahun.

Souw Cin Ok angkat bangun gadis itu yang sandarkan kepala di dada kakeknya sambil menangis sedih.

Orang-orang di situ memandang peristiwa ini dengan terharu.

"Lian Eng... Lian Eng, kau sudah bisa bicara...?"

Lian Eng mengangguk-angguk lalu terdengarlah suaranya yang merdu.

"Ya, Ngkong, aku bisa bicara lagi!"

Mendengar ini, Souw Cin Ok memandang ke atas seakan-akan hendak menyatakan terima kasihnya kepada Thian Yang Maha Kasih.

"Lian Eng, aku melihat kau pergi dari Hong Cu dengan muka marah. Jangan kau kurang ajar dan membawa sikap seperti itu, Cucuku. Sikapmu ini membikin malu kakekmu. Ketahuilah, Hong Cu telah wakilkan kau membalas sakit hatimu dan membunuh seorang dari pada musuh-musuh orang tuamu!"

Mendengar ini, Lian Eng merasa bagaikan disambar petir. Ia menjadi pucat dan memegang lengan kakeknya.

"Ngkong, apa maksudmu?"

Maka Souw Cin Ok lalu menceritakan betapa Hong Cu telah membunuh mati Kwie-eng-cu, yakni seorang dari pada musuh-musuh keluarga Souw.

Setelah mendengar habis penuturan itu, Lian Eng segera memutar tubuh dan lari kepada Hong Cu yang masih berdiri di sana memandangnya.

Kedua gadis itu berdiri berhadapan dekat sekali dan saling pandang dengan mata berlinang air mata.

Kalau tadi mereka saling serang mati-matian dan saling pandang dengan hati mengandung penuh kebencian, adalah kini mereka saling pandang dengan hati penuh diliputi keharuan dan rasa berterima kasih.

Akhirnya, dengan berbareng mereka saling menubruk dan memeluk tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, hanya air mata mereka yang membanjir merupakan pernyataan perasaan yang hangat dan penuh arti.

"Enci Lian Eng..."

Bisik Hong Cu.

"Adik Hong Cu, adikku..."

Lian Eng balas merangkul. Beberapa saat mereka saling peluk dengan mesra, kemudian teringatlah Hong Cu kepada Siauw Liong. Maka merahlah wajahnya karena api kemarahan membakar hatinya.

"Enci Lian Eng, mari Kau bantu aku menangkap bangsat itu dan kita hancurkan kepalanya yang jahat!"

"Eh, siapa dia yang Kau maksudkan?"

Tanya Lian Eng heran, tapi Hong Cu telah melompat ke arah tempat di mana tadi Siauw Liong menunggu, disusul oleh Lian Eng yang masih terheran.

Di situ Hong Cu berdiri dengan mata mencari-cari, tapi tentu saja ia tidak bisa mendapatkan bayangan Siauw Liong di tempat itu karena si cerdik ini begitu melihat betapa kedua gadis itu berbalik menjadi baik, siang-siang telah mengangkat kaki dan kabur sambil menyumpah-nyumpah karena siasatnya gagal dan muslihatnya hancur lebur!

Kemudian dengan menyesal sekali Hong Cu menuturkan kepada Lian Eng betapa ia telah tertipu oleh Siauw Liong yang menghasut-hasutnya agar memusuhi Lian Eng.

Sebaliknya, sambil berjalan kembali ke tempat tinggal Ang Lie Seng, Lian Eng juga menceritakan betapa iapun kena tipu Siauw Liong dan hampir saja celaka jika tidak tertolong Ang-ie-nio-nio.

Mendengar hal wanita baju merah itu Hong Cu menghela napas dan berkata.

"Gadis itu harus dikasihani. Biarpun ia bukan orang baik-baik, tapi ia telah salah besar ketika memilih Siauw Liong sebagai orang yang dicintanya. Ia telah salah pilih dan..."

Tiba-tiba Hong Cu terdiam dan ia menundukkan mukanya dengan cepat untuk menyembunyikan warna merah yang menjalar dari leher ke muka.

Dengan tak disengaja ia ucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan hatinya sendiri dan yang merupakan sindiran tajam baginya.

Ia sama sekali tidak nyana bahwa Lian Eng yang berjalan di sebelahnya juga termenung mendengar hata-kata tadi dan di dalam hati gadis itu juga timbul penyesalan mengapa Tiong Li yang dikenangnya itu ternyata mencinta Hong Cu!

Demikianlah, dengan diam-diam ke dua gadis ini menyimpan rahasia hati masing-masing dan aneh sekali, kalau tadinya mereka saling menaruh cemburu dan iri hati, kini perasaan itu lenyap.

Bahkan, sambil menyentuh lengan Lian Eng, Hong Cu berkata perlahan.

"Pilihanmu tepat, enci, karena Siauw Ma sangat mencintamu."

Tapi godaan ini tidak menggirangkan hati Lian Eng, yang balas menggoda dalam jawaban sederhana.

"Jangan kau lupa, Hong Cu, bahwa Tiong Li juga membelamu dalam perkelahian tadi. Kau lebih beruntung dari pada aku."

Dan Lian Eng menghela napas. Hong Cu heran melihat sikap yang dingin ini.

"Enci Lian Eng, engkau agaknya tidak gembira melihat Siauw Ma mencintamu?"

"Ah, aku tak pernah memikirkan tentang itu, adikku, tugasku belum selesai kupenuhi."

"Enci Lian Eng, kalau begitu mereka itulah yang salah pilih!"

Kata Hong Cu yang menjadi gembira.

"Ketahuilah, akupun sedikit juga tidak memikirkan Tiong Li dan cintanya!"

Kini Lian Eng lah yang memandangnya dengan heran, kemudian mereka tertawa gembira karena baru mereka tahu bahwa di antara mereka tak pernah ada sesuatu yang harus dibuat cemburu!

Mereka kini tertawakan kedua pemuda yang salah pilih itu.

"Kalau begitu, kita tak perlu perdulikan dua orang tolol itu, bukan?"

Kata Hong Cu dengan jenaka dan Lian Eng mengangguk sambil tersenyum. Ketika mereka tiba kembali di tempat tadi, Tiong Li yang sedang asyik bercakap-cakap dengan Siauw Ma, segera menegur mereka.

"Eh, kalian mengapa tertawa-tawa berdua sampai melupakan kami? Hong Cu, sepatutnya kau perkenalkan kami kepada orang tuamu!"

Tapi sebelum Hong Cu menjawab, tiba-tiba mereka berempat yang memiliki telinga tajam, berbareng menengok ke satu jurusan dari mana tampak bayangan seorang mendatangi cepat sekali.

Ketika bayangan itu telah tiba dekat, mereka berempat heran karena yang datang itu bukan lain ialah Kim Hwa Sianli.

"Ia terluka!"

Seru Tiong Li. Benar saja, ketika nikouw tua itu tiba di situ, tampaklah oleh mereka betapa di pundaknya menancap sebatang anak panah dan pertapa itu nampak pucat sekali.

"Kalian... murid-murid Thang-la... bantulah pinni..."

Sehabis berkata begitu, Kim Hwa Sinnli tak dapat mempertahankan tubuhnya lagi dan ia terguling roboh.

Untung sebelum ia roboh, Lian Eng dan Hong Cu cepat sekali loncat menahan tubuhnya dan merebahkan nikouw itu dengan perlahan.

"Kim Hwa Sianli, apakah yang terjadi?"

Siauw Ma dengan tak sabar bertanya.

"Pinni telah ketemukan malingnya..., ia... ia adalah... murid Tok-kak-coa..."

"Siauw Liong!"

Empat orang muda itu berseru berbareng.

"Ya, dia..., keparat itu... baru saja aku bertemu dengannya dan kami bertempur. Aku terluka, tapi... tapi betul dialah malingnya..."

"Hayo kejar dia!"

Kata Siauw Ma, tapi Tiong Li yang lebih cerdik segera bertanya.

"Ia menuju ke mana?"

"Ke... Bukit Kee-san..."

Tiong Li cepat memeriksa luka orang tua itu, dan terkejutlah ia ketika melihat betapa racun yang hebat dan dipasang di ujung anak panah telah menyerang ke dalam jantung!

Karena setelah mendapat luka, pertapa itu lari sekuat tenaga, maka racun berjalan lebih cepat ke dalam jantungnya.

Tiong Li maklum bahwa Kim Hwa Sianli tak mungkin ditolong lagi, maka ia segera keluarkan sebungkus obat yang diberikan kepada Hong Cu sambil berpesan.

"Hong Cu, tiap kali ia merasa sakit, beri minum obat ini seperlima bagian dan sakitnya akan lenyap."

Kemudian sambil berbisik perlahan ia berkata.

"Tak dapat ditolong lagi jiwanya."

Setelah itu, Tiong Li dan Siauw Ma hendak mengejar Siauw Liong, dan Lian Eng berkata.

"Mari kalian ikut, aku tahu di mana letak Bukit Kee-san!"

Dan iapun loncat hendak pergi. Tapi terdengar suara Souw Cin Ok mencegah.

"Lian Eng, ada hal yang lebih penting dari pada ini! Aku telah dapatkan tempat tinggal musuh-musuh kita!"

Mendengar ini, Lian Eng segera mengurungkan maksudnya hendak ikut mengejar. Maka Tiong Li berkata kepada Siauw Ma.

"Biar kita berdua yang pergi. Akupun sudah tahu di mana tempat itu!"

Dan kedua pemuda itupun lalu menggunakan ilmu lari cepat berkelebat pergi. Lian Eng menghampiri kakeknya.

"ENgkong, di manakah mereka?"

Tanyanya gemas.

"Ketahuilah, Lian Eng. Mungkin engkau lupa lagi akan nama-nama musuhmu. Pembunuh-pembunuh orang tuamu adalah Tiga Setan dari Tiang-an, yakni pertama Bu-eng-cu, kedua Kwi-eng-cu yang telah terbunuh mati oleh Hong Cu, dan ketiga Pek-eng-cu. Nah, aku telah mendapat tahu bahwa Bu-eng-cu dan Pek-eng Cu kini tinggal di Liok-si, menjadi guru silat di sana. Aku sendiri bukanlah lawan mereka, maka aku sengaja mencari kau agar kau dapat penuhi tugasmu ini."

"Di Liok-si? Ah, aku pernah datang di kota itu!"

Seru Lian Eng yang lalu loncat hendak pergi.

"Cici, tahan dulu!"

Kata Hong Cu.

"Aku ikut!"

Kemudian Souw Cin Ok mendapat tugas untuk mengurus Kim Hwa Sianli yang terluka dan kemudian ia dimintai tolong untuk mengantar Ang Lie Seng pulang ke kotanya.

Setelah semua diatur beres dan berpamit kepada orang tuanya, kedua gadis itupun loncat pergi tinggalkan tempat itu, menuju Liok-si.

Mari kita ikuti Siauw Liong, pemuda yang cerdik tapi jahat itu.

Setelah merasa kecewa melihat betapa ke empat orang muda yang menjadi musuh-musuhnya itu telah berkumpul kembali dan siasat adu dombanya tidak berhasil, dengan bersungut-sungut dan marah ia pergi cepat meninggalkan tempat itu.

Ketika ia tengah berlari cepat, tiba-tiba sebuah hud-tim atau kebutan pertapa menyambar dari samping dibarengi suara bentakan halus.

"Eh, anak muda, larimu cepat sekali. Coba kau layani aku barang duapuluh jurus."

Sebelum Siauw Liong dapat menjawab, penyerangnya yang bukan lain ialah Kim Hwa Sianli, maju menyerang dengan pedang dan kebutannya.

Siauw Liong terkejut sekali melihat kehebatan pertapa wanita itu, maka ia keluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan.

Kemudian, karena hatinya sedang marah dan jengkel, pula melihat dan mengenali pertapa itu sebagai ketua Kwan-im-pai, Siauw Liong turunkan tangan jahat.

Diam-diam ia lepas panah tangannya yang beracun dengan beruntun lima kali.

Yang empat buah pertama dapat ditangkis oleh pedang Kim Hwa Sianli, tapi anak panah kelima yang menyambar tenggorokan hanya dapat dikelit dan menancap di pundaknya!

Merasa betapa pundaknya menjadi linu dan gatal, terkejutlah Kim Hwa Sianli.

Ia tadi telah menguji ilmu silat anak muda ini dan ternyata inilah maling patung kelentengnya!

"Anak muda, jadi kau lah maling rendah itu!

Kau selalu berlaku curang, apakah kau begitu pengecut hingga takut sebutkan namamu?"

Tertawalah Siauw Liong mendengar ini.

"Imam tua, kau mau tahu namaku? Aku adalah Siauw Liong, dan anak panahku itu boleh Kau anggap sebagai hadiah dari Tok-kak-coa, suhuku."

Setelah berkata demikian, dengan puas Siauw Liong pergi tinggalkan Kim Hwa Sianli.

Betapapun juga, rasa penasarannya terhadap ke empat murid Thang-la masih saja belum dilenyapkan.

Ia pulang ke Kee-san, tapi karena tidak melihat Ang-ie-nio-nio di dalam guanya, ia merasa kesunyian dan menyesal mengapa ia menyia-nyiakan gadis yang mencinta itu.

Ia tidak kerasan tinggal di guanya dan teringatlah olehnya kawan-kawan baiknya.

Sudah lama ia tidak bertemu dengan Tiang-an Sam-kwie atau Tiga Setan dari Tiang-an, kawan-kawannya yang banyak membantunya, maka ia segera menuju ke sana.

Pada suatu hari, ia berhenti di sebuah kota untuk makan.

Dimasukinya restoran terbesar dan ia pesan masakan-masakan termahal.

Malam harinya ia menyewa kamar di hotel terbesar.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa semenjak siang, tadi dua pasang mata memperhatikannya dan dua orang muda dengan diam-diam mengikutinya.

Pada malam hari itu, ketika Siauw Liong tengah duduk di ruang depan dari hotel, tiba-tiba dari luar masuk seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar.

Ketika melihat Siauw Liong, orang itu lalu menjura.

"Sungguh beruntung sekali siauwte dapat bertemu dengan taihiap di sini,"

Katanya dengan hormat sekali. Siauw Liong memandang tak acuh. Terlalu banyak orang-orang sungai telaga dan rimba hijau mengenal padanya hingga ia tidak ingat siapa orang tinggi besar ini.

"Kau siapakah dan ada urusan apa menggangguku?"

Tanyanya dengan angkuh. Tapi orang itu tidak marah, bahkan tampaknya takut-takut.

"Kalau siauwte tidak sedang menjalankan perintah, mana siauwte yang rendah berani mengganggu taihiap? Siauwte diperintah oleh suhu dari Tiang-an dan sengaja mencari taihiap di Kee-san, tapi tak nyana dapat bertemu di sini."

"Siapakah suhumu?"

"Suhu adalah Bu-eng-cu..."

"O, dia? Ada perlu apakah?"

Orang itu menghela napas.

"Ketahuilah, taihiap. Belum lama ini, ji-susiok Kwie-eng-cu telah mati terbunuh oleh seorang gadis pendekar yang namanya Hong Cu."

Terkesiap juga Siauw Liong mendengar ini.

"Hong Cu, katamu?"

"Ya, taihiap. Pembunuh susiok itu namanya Ang Hong Cu, dan sekarang gadis itu bersama seorang kawannya yang bernama Souw Lian Eng, datang mengacau di kota kami. Kedua gadis itu mengamuk dan mereka menuntut supaya suhu dan susiok Pek-eng-cu keluar menjumpai mereka.

"Baiknya suhu dan susiok siang-siang telah tahu bahwa kedua gadis ini adalah lihai sekali dan sukar dilawan, maka mereka lalu bersembunyi. Tidak tahunya kedua gadis itu mengancam semua orang di bu-kwan, katanya kalau dalam waktu tiga hari suhu dan susiok tidak mau menemui mereka, maka bu-kwan akan dibakar dan semua orang yang berada di situ akan dibasmi habis! Karena inilah, maka suhu segera mengutus siauwte naik kuda dan cepat-cepat mengundang taihiap memohon bantuan."

Siauw Liong menahan kagetnya agar jangan sampai terlihat orang. Sebenarnya ia merasa terkejut dan jerih mendengar dua nama itu, tapi otaknya yang cerdik segera bekerja.

"Kau pulanglah dulu dan beritahukan gurumu supaya dia dan Pek-eng-cu keluar menjumpai dua gadis itu."

"Tapi, taihiap..."

"Tutup mulut!"

Siauw Liong membentak hingga orang itu terkejut lalu tunduk.

"Kau dengarkan saja perintahku, jangan banyak membantah. Suhumu dan susiokmu itu supaya keluar dan menjumpai kedua gadis itu lalu tantang mereka mengadakan pertandingan di dalam hutan..."

Tiba-tiba sampai di sini Siauw Liong tutup mulutnya dan ia memandang ke kanan kiri.

"Hayo kau masuk ke kamarku,"

Ajaknya kepada orang itu.

Ternyata Siauw Liong berlaku hati-hati sekali.

Dua orang yang mendengarkan di atas genteng merasa kecewa sekali, tapi mereka sudah merasa puas akan apa yang mereka dengar.

Dua orang itu adalah Si auw Ma dan Tiong Li yang tadinya hendak turun tangan menyerang Siauw Liong tapi mereka tahan dan tunda niat itu ketika mendengar percakapan antara Siauw Liong dan pesuruh dari Tiang-an tentang Hong Cu dan Lian Eng.

Kemudian, melihat betapa Siauw Liong mengajak tamunya masuk kamar, kedua pemuda itu tinggalkan tempat itu dan mengambil keputusan untuk terus mengikuti jejak Siauw Liong dengan hati-hati karena mereka khawatirkan keselamatan kedua gadis itu dalam menghadapi Siauw Liong yang licin dan curang.

Sebaliknya, Siauw Liong setelah mengajak tamunya ke dalam kamar lalu memesan agar Bu-eng-cu dan Pek-eng-cu menantang kedua nona itu untuk mengadu jiwa di puncak Gunung Kee-san!

Harinya ditetapkan lima hari kemudian, karena dalam waktu lima hari itu ia hendak mencari bala bantuan untuk memperkuat rombongannya.

Pesuruh itu lalu kembali ke Tiang-san menyampaikan pesan Siauw Liong kepada gurunya.

Sedangkan Siauw Liong lalu pergi ke berbagai daerah mengumpulkan dan mencari bantuan-bantuan dari orang-orang pandai, di antaranya Ban Kok Si Garuda Sakti, Can Bu Si Golok Terbang, dan Ho-pak Chit-kiam atau Tujuh Pedang dari Ho-pak yang terkenal lihai.

Sedikitpun Siauw Liong tidak tahu bahwa selama itu ia terus diikuti oleh Tiong Li, sedangkan Siauw Ma mengikuti pesuruh yang kembali ke Tiang-an untuk melihat perkembangan lebih jauh.

Dengan hati besar karena menerima kesanggupan Siauw Liong untuk membantu mereka, Bu-eng-cu dan Pek-eng-cu keluar dari tempat sembunyinya dan menemui Hong Cu dan Lian Eng yang pada hari ketiga datang di bu-kwan mereka dengan wajah keren.

Kedua guru silat itu menyambut mereka dengan memberi hormat, sedangkan di dalam hati, mereka heran sekali karena tidak mereka sangka bahwa musuh yang begitu disohorkan dan ditakuti hanyalah dua orang gadis cantik!

Bu-eng-cu yang lebih berpengalaman ketika melihat sorot mata kedua gadis itu dapat menduga ketinggian ilmu mereka, tapi Pek-eng-cu yang merasa penasaran lalu menjura di depan mereka sambil berkata.

"Ji-wi lihiap apakah yang dalam beberapa hari ini mencari kami?"

Tapi diam-diam ia mengerahkan tenaganya memukul dengan tenaga dalam.

Lian Eng hanya berdiri sambil tersenyum sindir, sedikitpun tak perdulikan pada Pek-eng-cu.

Tapi Hong Cu balas menjura dan mengangkat kedua lengannya.

"Dan ji-wi apakah Bu-eng-cu dan Pek-eng-cu yang kami cari?"

Balas Hong Cu sambil mengerahkan tenaganya.

Pek-eng-cu yang memandang rendah kedua tamunya, tiba-tiba merasa betapa tenaga yang keluar dari kedua tangannya itu mental kembali dan mendorongnya ke belakang.

Ia hendak mempertahan kan bhe-sinya, tapi makin keras ia bertahan, makin keras pula ia terjengkang ke belakang.

"Eh, hati-hati kau nanti jatuh!"

Kata Hong Cu jenaka sedangkan Pek-eng-cu yang sudah jatuh terjengkang merasa dadanya agak sakit dan buru-buru ia merangkak berdiri dengan wajah pucat.

Alangkah hebatnya tenaga tamunya, seorang gadis yang tampaknya lemah lembut ini!

Bu-eng-cu melihat hal inipun menjadi pucat.

Ia maklum bahwa ia dan sutenya bukanlah lawan kedua gadis ini, maka setelah menjura ia berkata.

"Ji-wi lihiap, pernah apakah dengan Souw Cin Ok?"

Kini Lian Eng maju selangkah dan matanya memancarkan cahaya api.

"Aku adalah cucu dari kakek Souw Cin Ok! Kalian telah membunuh mati kedua orang tuaku, maka sekarang jangan banyak mulut lagi. Bersedialah untuk mati!"

Tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke arah dada Bu-eng-cu yang segera jatuhkan diri ke belakang karena ia merasa datangnya tenaga yang membawa angin panas sekali.

Dengan gerakan ini, maka selamatlah ia, akan tetapi tiba-tiba Pek-eng-cu yang berdiri di belakangnya terkena pukulan Huo-mo-kang ini.

Guru silat yang bertubuh besar itu untuk kedua kalinya terlempar ke belakang, tapi kali ini lebih hebat karena ia tidak dapat bangun kembali dan ketika beberapa orang muridnya memburu, ternyata Pek-eng-cu telah tewas!

Melihat hal ini, Bu-eng-cu cepat loncat berdiri dan dengan nekat ia berkata.

"Orang she Souw, tahan dulu! Kau telah membunuh suteku dengan menggelap apakah ini laku seorang gagah?"

Marahlah Lian Eng.

"Menggelap, katamu? Nah, sekarang kau bersiaplah dan lihat baik-baik sebelum mati, apakah aku menggunakan senjata gelap untuk merampas jiwa anjingmu?"

"Tahan dulu. Aku sedang tidak sehat, maka kalau kau memang gagah, aku tantang kalian berdua mengadu jiwa dengan aku di satu tempat tertentu."

"Ha, anjing tua yang licin. Kau hendak tipu aku dan diam-diam lari minggat?"

Kata Lian Eng menyindir. Murid Huo Mo-li yang sedang marah itu segera maju hendak mengirim pukulan mautnya. Melihat hal ini, Bu-eng-cu lalu angkat dadanya sambil berkata keras.

"Kau mau bunuh boleh bunuhlah! Lihat, aku tidak melawan. Kau tentu akan dapat membunuhku, tapi namamu selamanya akan ternoda di kalangan kang-ouw dan dianggap seorang yang tidak mengenal aturan."

Mendengar kata-kata ini, Lian Eng yang masih hijau dalam aturan-aturan kang-ouw, menjadi ragu-ragu dan saling pandang dengan Hong Cu.

Tapi Hong Cu sendiri juga tidak mengerti dan sangsi karena takut kalau-kalau omongan musuh itu benar.

"Atau barangkali kalian memang pengecut dan tidak berani menerima tantanganku untuk mengadu kepandaian di tempat tertentu?"

Bu-eng-cu menambahi untuk memanaskan hati kedua gadis lihai itu.

"Bangsat tua, siapa yang tidak berani? Baiklah, kau boleh tetapkan tempat itu, karena bagi kami sama saja. Kau tak mungkin dapat terlepas dari tanganku,"

Kata Lian Eng. Bu-eng-cu diam-diam bernapas lega. Ia baru saja terlepas dari cengkeram maut. Karena merasa bahwa bahaya telah lewat, ia dapat berkata dengan suara keras dan gagah.

"Nah, begitulah baru ucapan seorang gagah. Dengarlah, kalau memang kalian berani, kau pergilah ke puncak Kee-san. Empat hari lagi aku menanti kalian di sana dan bolehlah kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih unggul."

"Hm, kau hendak pancing kami ke Kee-san? Apakah kau hendak minta bantuan si bangsat Siauw Liong?"

Tegur Hong Cu. Terkejutlah Bu-eng-cu mendengar ini, karena tidak disangkanya babwa gadis itu sudah tahu akan maksudnya, tapi Bu-eng-cu tidak mundur, bahkan dengan sengaja ia menyindir.

"Kalau memang di sana ada taihiap, apakah kalian takut kepadanya?"

"Kami takut padanya? Kau melantur! Baiklah, empat hari lagi kami berdua naik ke Kee-san dan tidak hanya membunuh kau, tapi Siauw Liong juga. Tapi awas, kalau kau tidak berada di sana, kami akan mencarimu dan membuat matimu tersiksa!"

Setelah berkata demikian, Lian Eng dan Hong Cu berkelebat dari situ dan lenyap.

Melihat kelihaian mereka, Bu-eng-cu diam-diam kagum sekali.

Ia cepat berkemas dan hari itu juga ia urus jenazah Pek-eng-cu yang binasa di bawah pukulan Lian Eng.

Setelah beres ia lalu buru-buru angkat kaki ke Kee-san.

Hatinya yang selalu takut dan cemas itu menjadi lega dan aman ketika ia bertemu dengan Siauw Liong dan banyak orang gagah yang telah berkumpul di puncak Kee-san dan dijamu oleh Siauw Liong.

Juga adik seperguruannya, Ang-ie-nio-nio, telah datang dulu di situ dan kini hubungan antara wanita baju merah itu agaknya sudah baik kembali dengan Siauw Liong, hingga Ang-ie-nio-nio tampak melayani para tamu dengan wajah gembira.

Dengan sangat girang Bu-eng-cu melihat betapa di situ berkumpul duapuluh orang-orang gagah yang diundang Siauw Liong, maka heranlah dia karena perlukah dikumpulkan demikian banyak orang gagah hanya untuk melayani dua orang gadis yang masih muda belia?

"Twako, jangan kau takut-takut lagi, tenangkan hatimu.

Kalau dua orang wanita itu berani perlihatkan mukanya di sini, pasti mereka takkan mampu turun lagi dengan selamat,"

Kata Siauw Liong ketika ia menyambut Bu-eng-cu.

Maka Si Bayangan Iblis itu oleh Siauw Liong lalu diperkenalkan kepada para tamunya.

Mereka itu asyik membicarakan lawan-lawan yang diharapkan kedatangannya besok.

"Akupun sudah mendengar tentang turunnya seorang muda dari Thang-la. Dalam waktu setahun saja ia telah membuat nama besar, maka ingin sekali aku mengujinya,"

Kata Can Bu Si Golok Terbang sambil gerak-gerakkan kepalanya yang gundul.

"Bukan hanya seorang, tapi kudengar ada dua orang,"

Kata seorang dari pada Ho-pak Chit-kiam.

"Mengapa hanya dua? Bukankah tokoh tokoh Thang-la ada tiga orang? Aku dulu pernah mendengar nama besar dari Thang-la Sam-sian, Tiga Dewa Thang-la..."

Kata Ban Kok Si Garuda Sakti.

"Ah, betapa banyaknya adanya lawan, dan betapa lihainyapun, dengan adanya cu-wi di sini, kita takut apa?"

Berkata Bu-eng-cu dengan gembira sambil minum araknya.

"Bukan begitu, sebenarnya kamipun sudah mendengar tentang kehebatan murid-murid Thang-la itu, tapi dengan adanya taihiap, kami menjadi berani,"

Kata beberapa orang lain dan dari kata-kata ini maka ternyata bahwa semua orang menyebut Siauw Liong dengan sebutan taihiap atau pendekar besar dan bahwa mereka itu rata-rata memandang tinggi sekali anak muda yang lihai itu.

Pada keesokan harinya, baru saja matahari terbit, Hong Cu dan Lian Eng sudah naik ke puncak Kee-san!

Kedua gadis itu bergerak maju dengan hati-hati sekali karena Lian Eng yang pernah mengalami terjebak di atas bukit itu tahu akan kelihaian tempat tinggal Siauw Liong ini.

Mereka menduga bahwa Bu-eng-cu tentu tidak berada di situ, tapi karena mereka memang sengaja mencari Siauw Liong untuk membekuk maling dan penjahat itu, maka mereka datang juga di gunung itu.

Maka besar rasa heran mereka ketika melihat Bu-eng-cu berdiri di depan gua Siauw Liong dan di sebelahnya tampak banyak orang lain yang kesemuanya bersikap garang.

Tapi Siauw Liong tidak tampak di antara mereka.

"Lihat, cici, Bu-eng-cu telah kumpulkan buaya-buaya darat."

"Biarlah, kita basmi mereka sekalian, jadi tidak sia-sia capai lelah kita mendaki bukit ini,"

Jawab Lian Eng. Bu-eng-cu sambut mereka dengan senyum dibuat-buat.

"Selamat datang, nona-nona. Kalian sungguh tepati janji. Marilah kuperkenalkan dengan beberapa orang kawanku yang sengaja datang hendak menyaksikan kita adu kepandaian."

"Hm, siapa sudi berkenalan dengan kawan-kawanmu? Bilang saja kau kumpulkan mereka untuk mengeroyok kami. Kau kira kami takutkah?"

Lian Eng membentak. Bu-eng-cu merasa panas mukanya, dan dari rombongannya loncat keluar saudara termuda dari ketujuh jago pedang dari Ho-pak yang bernama Kwee Liat.

"Kau sungguh sombong, nona. Tak usah dengan keroyokan, aku sendiri masih sanggup melawanmu,"

Katanya. Lian Eng tidak gerakkan kepalanya hanya biji matanya melirik ke arah Kwee Liat. Dilirik secara menghina seperti itu, Kwee Liat segera cabut pedangnya yang tajam dan gerak-gerakkan pedang itu.

"Cabut senjatamu dan marilah kita adu pedang. Hendak kulihat sampai di mana kehebatan murid Thang-la!"

Kwee Gi saudara tertua dari Chit-kiam, hendak mencegah adiknya berlaku lancang, tapi pada saat itu tiba-tiba tubuh Lian Eng berkelebat ke arah Kwee Liat dan terdengar seruan gadis itu.

"Rebah kau!"

Dan dengan serangan beruntun tahu-tahu tubuh Kwee Liat terlempar dan pedangnya telah terampas oleh Lian Eng.

Dengan senyum dingin Lian Eng gerakkan tiga buah jari tangannya dan pedang itu patah menjadi dua!

Semua orang terkejut sekali, dan masih untung bagi Kwee Liat bahwa Lian Eng tidak menghendaki jiwanya hingga ia hanya mendapat pukulan di pundaknya.

Tapi serangan itu cukup membuat tulang pundaknya patah dan ia tak berdaya lagi, hanya merintih-rintih.

"Bu-eng-cu, manusia pengecut!"

Lian Eng membentak.

"Jangan kau bersembunyi di belakang orang-orang tak berguna ini. Kalau memang kau laki-laki mengapa dosamu kau tumpahkan di pundak orang-orang lain? Hayo majulah engkau!"

Bu-eng-cu merasa betapa dadanya berdegupan, tapi karena ia juga seorang tokoh ternama di kalangan kang-ouw, malu dan pantang baginya untuk menyerah begitu saja.

Ia lalu meloncat maju menghadapi murid Huo Mo-li.

"Jangan kau bicara sombong!"

Dan ia cabut pula goloknya, tapi pada saat itu Can Bu Si Golok Terbang loncat di depannya dan berkata kepada Lian Eng.

"Sungguh kau gagah sekali, nona. Sanggupkah kau melayani ketigabelas golok terbangku?"

Dan si gundul itu meringis memperlihatkan giginya yang kuning dan bibirnya yang tebal. Mendengar kata-kata ini, Hong Cu mendahului Lian Eng.

"Kau bicara tentang golok terbang, bukankah kau ini yang disebut Hui-to Can Bu Si Golok Terbang?"

Kini Can Bu memandang kepada Hong Cu dan dalam pandang matanya gadis ini bahkan lebih cantik dari pada Lian Eng, maka menyeringai makin lebar.

"Eh, eh, kau sudah kenal kepadaku, nona? Kapankah kita telah pernah bertemu? Aku sudah lupa lagi, sungguh heran!"

Beberapa orang kawannya tertawa mendengar ini dan Hong Cu lalu menjawab.

"Memang kita sudah pernah bertemu, yaitu malam tadi ketika aku menjenguk ke neraka, ternyata kau pun berada di sana sebagai calon penghuninya. Nah, sekarang kau keluarkanlah golok-golokmu itu."

Marahlah Can Bu mendengar ini. Ia loncat ke tempat terbuka yang lebih luas.

"Marilah kalau kau sudah bosan hidup,"

Katanya. Hong Cu dengan senyum sindir menghampiri dengan tindakan tenang.

"Hayo kau lepaskan golok terbangmu, hendak kulihat bagaimana macamnya,"

Kata Hong Cu.

"Awas golok pertama!"

Seru Can Bu dan sebuah golok kecil warna putih melayang dari tangannya bagaikan seekor burung putih terbang menyambar ke arah leher Hong Cu!

Memang sambaran ini cepat sekali datangnya dan seorang yang hanya memiliki kepandaian silat biasa, saja tentu sukar menyelamatkan diri dari serangan ini.

Hong Cu dengan tenang berkelit ke kiri, tetapi golok ke dua telah terbang menyambar pula dibarengi bentakan.

"Lihat golok kedua!"

Namun dengan kegesitannya Hong Cu kelit golok yang datang beruntun itu.

Untuk melepas golok kesatu sampai keempat, Can Bu masih memberi peringatan lebih dulu, tapi mulai golok kelima ia melepas senjatanya tanpa memberi peringatan.

Dan ia melepas tiga golok sekali lempar!

Bahkan goloknya yang kesembilan dilempar sedemikian rupa hingga ketika golok dapat dikelit oleh Hong Cu, golok itu dapat meluncur dengan membuat lingkaran panjang!

Sungguh hebat kepandaian Si Golok Terbang itu, namun kelincahan Hong Cu memang mengagumkan.

Dengan gin-kangnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, Hong Cu kelit semua golok itu dan juga menggunakan ujung jari menyentil golok yang menyambar dekat hingga tubuhnya merupakan bayangan berkelebat di antara sinar golok yang berkilau bagaikan kilat menyambar itu.

Can Bu terkenal karena tigabelas macam sambitannya dengan golok terbang tetapi di dalam kantong goloknya ia menyimpan dua stel atau berjumlah duapuluh enam golok.

Kini melihat ketigabelas goloknya dapat dikelit dengan mudah oleh gadis itu, ia merasa terkejut dan penasaran sekali.

Yang sudah-sudah, jangankan menghindari tigabelas golok yang dilemparnya beruntun, sedangkan untuk berkelit dari dua atau tiga buah golok terbangnya saja, jarang ada yang sanggup!

Dengan mengeluarkan seruan marah, ia sambit-sambitkan ke tigabelas golok rombongan kedua, dengan gerakan lebih cepat dari pada tadi.

Tapi Hong Cu pun percepat gerakannya hingga tubuhnya lenyap, hanya tampak ujung bajunya saja yang berkibar.

Tapi pada saat itu, yaitu ketika Hong Cu berhasil kelit golok terakhir dari lawannya, tiba-tiba dari bawah tanah keluar menyambar tiga batang anak panah dengan cepat dan tak terduga sekali!

Tiga batang senjata itu menyambar ke arah lambung kiri, tengah-tengah dada dan pundak kanan!

Hebat bukan main serangan ini, karena ketika itu tubuh Hong Cu masih berada di udara dan kedua kakinya baru melayang hendak turun.

Yang membuat serangan itu berbahaya sekali ialah karena datangnya tak terduga sama sekali.

Siapakah yang menduga bahwa akan datang serangan begitu saja dari bawah tanah?

Biarpun Hong Cu gesit dan ringan sekali tubuhnya, namun ia hanya berhasil menghindarkan diri dari panah pertama dan kedua yang mengancam lambung dan dada.

Panah ketiga berhasil menancap punggung kanan dekat pundak dan sambil keluarkan teriakan ngeri gadis itu roboh pingsan!

Alangkah kagetnya Lian Eng ketika melihat hal ini.

Dengan membentak nyaring ia loncat ke arah Hong Cu untuk melihatnya, tapi ia dicegat oleh ke enam Ho-pak Chit-kiam dan Ban Kok Si Garuda Sakti.

Bukan main marahnya murid Huo Mo-li, maka dengan kerahkan tenaganya ia menyerang lawan-lawannya.

Sekali gebrak saja dua di antara Ho-pak Chit-kiam roboh dengan dada gosong dan dada terluka hebat.

(Lanjut ke

Jilid 15) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 Semua pengeroyoknya terkejut dan mundur, tapi ketika Lian Eng hendak loncat ke tempat Hong Cu roboh, mereka maju menyerang lagi dengan senjata mereka.

Pengeroyok-pengeroyoknya adalah orang-orang kang-ouw yang berpengalaman dan berkepandaian tinggi, maka untuk sementara Lian Eng terpaksa melayani mereka.

Berkali-kali gadis cantik ini membentak nyaring dan tiap kali ia membentak dan lengannya terulur memukul, pasti ada seorang lawan terjungkal.

Sungguh hebat sekali tenaga Huo-mo-kang yang digunakan untuk menyerang mereka.

Namun di antara pengeroyoknya terdapat jagoan-jagoan ternama seperti Ban Kok Si Garuda Sakti, Can Bu Si Golok Terbang, dan tiga orang pertama dari Ho-pak Chit-kiam yang ternyata memiliki ilmu pedang yang benar-benar lihai.

Dengan teratur sekali mereka mengurung Lian Eng hingga gadis itu mengamuk hebat bagaikan seekor naga betina bermain di antara mega-mega hitam.

Pada saat itu terdengar suara tertawa menyeramkan dan Siauw Liong loncat keluar dari pintu rahasianya di bawah tanah!

Ternyata yang melepaskan panah gelap tadi adalah dia sendiri.

Melihat keluarnya pemuda ini, meluaplah rasa marah Lian Eng.

"Siauw Liong, bangsat rendah, pengecut hina! Hari ini aku pasti mengadu jiwa dengan kau!"

Tapi Siauw Liong yang melihat betapa kawan-kawannya dapat menahan Lian Eng, tak perdulikan dia bahkan lalu menghampiri tubuh Hong Cu yang masih rebah di atas tanah.

Sebelum tangan pemuda itu dapat menjamah tubuh Hong Cu, tiba-tiba terasa angin hebat menyambarnya dari samping hingga ia cepat loncat berkelit.

Ternyata yang menyerangnya adalah Tiong Li!

Pemuda yang baru datang ini membentak penuh kemarahan melihat keadaan Hong Cu.

"Siauw Liong orang rendah! Untuk perbuatanmu kali ini aku tak dapat memberi ampun Lagi!"

Setelah berkata demikian Tiong Li gerakkan tangannya menyerang hebat. Tapi Siauw Ma yang datang bersama dia lalu berkata.

"Tiong Li, kau uruslah Hong Cu, biarkan setan ini mati dalam tanganku!"

Mendengar kata-kata Siauw Ma ini, sadarlah Tiong Li bahwa ia terlampau menuruti nafsu marahnya hingga lupa akan keadaan Hong Cu yang berbahaya.

Segera ia tinggalkan Siauw Liong yang terpaksa melayani Siauw Ma.

Siauw Liong kaget setengah mati melihat datangnya dua pemuda dengan tiba-tiba ini.

Hal ini sungguh-sungguh di luar dari pada dugaannya.

Tapi ia tak sempat banyak berpikir karena pedang Siauw Ma dengan hebatnya mengurung dirinya hingga ia harus gerakkan kedua tongkat ular di tangannya dengan cepat, namun tetap saja ia tidak dapat punahkan kurungan sinar pedang Siauw Ma yang kuat sekali itu.

Tiong Li periksa punggung kanan Hong Cu.

Melihat anak panah yang menancap di situ, ia kerutkan kening.

Kemudian tanpa ragu-ragu lagi ia pondong tubuh Hong Cu dan membawanya ke tempat agak jauh di bawah pohon siong tua.

Ia letakkan tubuh itu bertelungkup di atas rumput, lalu dengan cepat ia merobek baju gadis itu di bagian punggungnya.

Lalu dicabutnya anak panah itu dan ia khawatir sekali melihat betapa luka itu telah menghitam karena pengaruh racun di ujung anak panah.

Tiong Li cepat buka buntalan yang menggemblok di punggungnya dan ambil pisau yang sangat tajam dan beberapa bungkus obat.

Dari sebuah guci kecil ia keluarkan semacam minyak yang berbau kecut, dan dituangkannya minyak itu di atas luka Hong Cu.

Kemudian dengan cekatan sekali ia gunakan pisau tajam untuk membelah kulit di punggung yang terluka dan membisul itu.

Cepat sekali ujung pisaunya bekerja hingga sebentar saja ia mengorek daging dan kulit yang telah membusuk karena pengaruh racun jahat.

Pada saat itu Hong Cu siuman dari pingsannya dan ia mengerang kesakitan.

Tiong Li maklum betapa sakitnya daging dikorek-korek pisau seperti itu, tapi ia tekan perasaan kasihan yang memenuhi hatinya.

Ia pegang pundak Hong Cu dan berkata lirih.

"Hong Cu, jangan khawatir. Aku akan usir pergi semua racun dari tubuhmu."

Mendengar suara yang halus ini, Hong Cu gerakkan lehernya dan memandang kepada Tiong Li.

Ia teringat lagi akan peristiwa penyerangan tadi, tetapi tubuhnya terasa kaku dan sakit hingga ia tidak dapat gerakkan tubuhnya.

Ia tahu bahwa ia telah ditotok oleh Tiong Li yang memang sengaja lakukan itu dengan cepat sekali untuk mencegah Hong Cu bergerak, juga untuk membuat gadis itu tidak sangat menderita sakit.

Karena ini, Hong Cu lalu meramkan mata kembali dan menyerahkan nasibnya di tangan pemuda itu.

Tiong Li lalu keluarkan obat bubuk warna ungu dan masukkan obat itu di dalam daging yang telah dikoreknya tadi.

Sebentar saja obat warna ungu itu berubah hitam.

Tiong Li mengorek bersih obat yang telah menjadi hitam itu dan menggantinya dengan yang baru.

Demikianlah, setelah gunakan obat pengisap racun itu tiga kali, ia lalu keluarkan mutiara salju untuk digunakan menghisap sisa-sisa racun dari luka itu.

Tak lama kemudian, warna hitam kebiru-biruan di sekeliling luka di punggung Hong Cu, perlahan-lahan menjadi lenyap, terganti warna putih kemerah-merahan, yaitu warna aseli kulit punggung Hong Cu Tiong Li menghela napas lega, lalu ia tutup luka itu dengan semacam obat dan membungkusnya dengan kain ikat kepalanya.

Untuk melakukan pembalutan ini, terpaksa ia angkat tubuh Hong Cu dan kain itu dibalutkan di punggung terus ke dadanya.

Dalam melakukan pekerjaan ini, baru tampaklah betapa kulit leher dan punggung Hong Cu berwarna putih kemerah-merahan dan halus sekali hingga hati Tiong Li berdebar keras.

Tadi ia sama sekali tidak melihat keindahan ini karena seluruh perhatiannya tercurah kepada luka gadis itu dan hatinya tadi diliputi kecemasan besar.

Tetapi kini, setelah gadis itu terlepas dari pada bahaya, ia kagumi semua ini dan wajahnya menjadi merah padam.

Segera ia buang muka dan dengan cepat ia totok pula leher Hong Cu untuk melepaskan totokan tadi.

"Hong Cu, bahaya telah lewat. Kau makanlah dua butir pulung ini,"

Katanya sambil menyerahkan dua butir pil merah. Hong Cu terus menelannya, lalu matanya memandang ke arah mereka yang sedang bertempur.

"Aku harus bantu enci Lian Eng. Aku harus balas kecurangan Siauw Liong, manusia hina itu!"

Tiong Li pegang pundaknya, lalu geleng-geleng kepala.

"Kau tidak boleh banyak keluarkan tenaga, Hong Cu. Kau duduk sajalah di sini dan lihat betapa aku membalaskan sakit hatimu ini."

Sehabis berkata demikian, Tiong Li lalu cabut keluar pedangnya.

yang tipis dan lemas lalu loncat ke medan pertempuran yang masih berjalan seru.

Sementara itu, tadi ketika Siauw Ma gunakan pedangnya mengurung Siauw Liong, pemuda itu melihat betapa Lian Eng terdesak oleh pengeroyoknya yang berjumlah banyak.

Maka ia segera loncat menerjang sambil berkata.

"Lian Eng, mari kita bereskan musuh-musuhmu dulu!"

Ia sangka bahwa yang mengeroyok itu adalah musuh-musuh yang dicari-cari oleh Lian Eng.

Karena hebatnya gerakannya, baru bergebrak beberapa jurus saja Siauw Ma berhasil melukai seorang pengeroyok, yaitu orang ketiga dari Ho-pak Chit-kiam.

Melihat kedatangan Siauw Ma, Lian Eng merasa gembira dan ia tidak mau kalah.

Dengan pukulan lidah Api Menjilat Daun Kering, ia berhasil merobohkan Bu-eng-cu hingga Si Tanpa Bayangan ini terjengkang ke belakang sambil muntahkan darah segar!

Melihat betapa musuh besarnya roboh, Lian Eng girang sekali dan dengan cepat ia kirim tendangan kilat ke arah tubuh itu hingga matilah Bu-eng-cu di saat itu juga!

Siauw Liong yang ditinggal oleh Siauw Ma, ketika melihat betapa di pihaknya, mengalami kekalahan, segera bermaksud hendak melarikan diri turun gunung.

Tapi tiba-tiba Tiong Li yang mengejarnya telah tiba di situ dan langsung menyerangnya dengan hebat.

Siauw Liong terkejut dan khawatir sekali.

Melawan celaka, lari tidak dapat!

Ia tidak ada nafsu untuk melawan terus terhadap serangan-serangan Tiong Li, maka ia lalu loncat ke dalam sebuah lobang rahasia yang menembus ke dalam terowongan di dalam tanah itu!

"Kau hendak lari ke mana?"

Tiong Li berteriak dan hendak mengejar tapi lubang itu secara otomatis dapat tertutup dari dalam hingga Tiong Li menjadi bingung karena tidak mendapat jalan masuk.

Biarpun sedang bertempur, tapi karena tidak sesibuk tadi setelah kini Siauw Ma membantunya, Lian Eng dapat melihat betapa Siauw Liong dapat kabur melalui lubang rahasia.

Ia lalu berseru kepada lawan-lawannya.

"Cu-wi, tahan!"

Karena suaranya nyaring berpengaruh, semua orang loncat mundur sambil tahan senjata masing-masing.

"Cu-wi, dengarlah. Sebenarnya kami berempat tidak mempunyai permusuhan dengan cu-wi. Yang menjadi musuhku ialah Bu-eng-cu yang kini telah dapat kubinasakan. Sedangkan musuh kami yang lain ialah Siauw Liong yang kini secara licik sekali telah sembunyikan diri di dalam sarangnya dan tinggalkan cu-wi bertempur sendiri.

"Kami tidak menghendaki jiwa cu-wi sekalian, maka jika cu-wi hendak bikin habis pertempuran ini, janganlah halang-halangi kami, dan cu-wi boleh turun gunung dengan aman, kembali ke tempat masing-masing. Tapi, jika hendak dilanjutkan, baiklah, kami berempat takkan mundur setapakpun!"

Karena telah merasa betapa lihainya anak-anak muda ini, dan melihat bahwa benar-benar Siauw Liong secara pengecut sekali tinggalkan mereka, Ban Kok Si Garuda Sakti mewakili kawan-kawannya menjura dan berkata.

"Kalian sungguh anak-anak muda luar biasa. Memang tidak mengecewakan menjadi murid-murid Thang-la! Kami orang tua yang tidak tahu diri. Biarlah, lain kali kita berjumpa pula!"

Sehabis berkata demikian, ia kibaskan lengan bajunya dan loncat jatuh tinggalkan tempat itu. Semua girang lalu pergi sambil membawa kawan-kawannya yang terluka atau binasa.

"Siauw Ma, Tiong Li, aku telah tahu jalan di bawah tanah ini. Mari kita kejar setan itu! Ikutilah saya."

"Tapi... tapi... Hong Cu?"

Tiong Li berkata ragu-ragu sambil memandang ke arah Hong Cu yang masih bersandar di pohon itu dengan tubuh masih lemah. Lian Eng tersenyum maklum.

"Baiklah, kau menjaga di luar saja kalau-kalau buaya itu lari keluar, dan sekalian kau menjaga kau punya Hong Cu yang manis itu!"

Tiong Li tersenyum dengan wajah merah dan ia lalu mengangguk ke arah Siauw Ma sambil picingkan sebelah matanya.

Lian Eng dan Siauw Ma lalu mengejar Siauw Liong melalui gua yang gelap.

Tapi karena Lian Eng pernah masuk ke situ, ia tahu jalan dan dapat menjaga diri jangan sampai masuk perangkap seperti dulu lagi.

Ketika mendekati ruang di mana Siauw Liong tinggal, Lian Eng memberi tanda dan keduanya berjalan perlahan menghampiri.

Pada saat itu terdengar suara isak tangis dan mereka kenali suara Ang-ie-nio-nio berkata penuh sesal dan benci.

"Koko, dasar kau yang tak tahu diri. Kau terlalu pandang rendah orang lain dan kau anggap dirimu paling pandai hingga hatimu menjadi kejam dan tidak perdulikan keadaan lain orang.

"Kau hanya memikir untuk kepentinganmu sendiri saja, untuk kesenanganmu sendiri saja. Kau terlampau banyak melukai hati orang, terlampau banyak membunuh orang tak berdosa, terlampau banyak menganiaya anak-anak gadis orang, kau terlalu menuruti nafsu hati dan banyak melakukan kejahatan.

"Sungguhpun demikian, koko, aku... aku tetap cinta padamu. Aku selalu mengharap kau akan mengubah watakmu yang sesat itu. Tapi, tidak tahunya kau bahkan makin sesat. Kini kau menghasut orang-orang memusuhi lawan-lawanmu yang gagah perkasa hingga kembali kau korbankan banyak jiwa."

Terdengar jawaban suara Siauw Liong.

"Hm, Kau bilang mencinta, tapi siapa tahu hati orang? Sudahlah, jangan kau banyak mulut dan membuat aku marah hingga kau juga menjadi korban!"

"Apa? Lagi-lagi kau mengancam hendak membunuhku. Nah, marilah bunuhlah, aku akan mati dengan senyum jika kau yang membunuhnya."

Lian Eng dan Siauw Ma yang mendengarkan di luar segera menghampiri pintu dan siap menolong Ang-ie-nio-nio.

Tapi tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dari dalam.

Karena hal ini tak pernah, diduga oleh Lian Eng dan Siauw Ma, mereka tak keburu bersembunyi dan pada saat itu dari dalam kamar tampak sebuah benda hitam kecil dilempar keluar dan pintu segera tertutup pula.

Melihat benda kecil menyambar, Lian Eng dan Siauw Ma dengan mudah berkelit, tapi benda itu jatuh di belakang mereka dan meledak!

Ledakan itu demikian hebat dan keras hingga terowongan itu tergetar dan Siauw Ma berdua terpental membentur dinding gua.

Pecahan-pecahan batu memukul badan mereka, tapi dengan tenaga lwee-kang mereka yang tinggi, batu-batu yang beterbangan itu tak melukai mereka.

Akan tetapi, ketika benda itu meledak, keluarlah asap kuning tebal memenuhi tempat itu.

Bau asap itu harum dan mengandung bau manis.

Siauw Ma dan Lian Eng karena dikejutkan oleh ledakan itu, ingatan mereka agak bingung dan membuat mereka lalai, hingga mereka tak terasa lagi kena hisap asap kuning itu.

Seketika itu juga mereka merasa tubuh mereka lemah dan kepala pusing.

Tanah yang dipijaknya seperti terputar dan mereka hanya dapat berseru.

"Celaka!"

Lalu robohlah Siauw Ma dan Lian Eng.

Tiong Li menunggu dengan Hong Cu yang telah dapat menghampirinya walaupun tubuhnya masih lemas dan lukanya masih sakit.

Mereka bercakap-cakap sambil menanti di luar mulut gua.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan yang sangat keras di dalam gua.

"Celaka!"

Teriak Tiong Li.

"Hong Cu, kau tunggulah di sini dulu, biar aku melihat keadaan di dalam. Siapa tahu, jangan-jangan kawan-kawan kita menghadapi bencana."

Pemuda itu dengan cepat masuk ke dalam gua dan sambil meraba-raba ia maju.

Setelah matanya agak biasa di tempat gelap itu, tiba-tiba dari dalam ia melihat asap kuning bergulung-gulung keluar.

Tiong Li maklum akan kelihaian Siauw Liong dan warna asap itu mencurigakan, maka ia segera jatuhkan diri telungkup hingga asap itu melayang di atas kepalanya menuju keluar.

Tiong Li lanjutkan pemeriksaannya dengan merangkak agar tak terganggu olah asap kuning itu.

Kecerdikannya ini menolongnya dari bahaya asap yang mengandung racun hebat itu.

Tapi ternyata tempat itu sangat berbahaya dan telah dipasangi banyak sekali perangkap oleh Siauw Liong.

Ketika Tiong Li merangkak maju, ia sampai di tempat di mana kedua kawannya rebah pingsan, dan Siauw Liong berdiri di situ tertawa gembira, sedangkah seorang gadis cantik berbaju merah berdiri di dekat Siauw Liong!

Bukan main marahnya hati Tiong Li melihat ini dan kemarahannya membuat ia lupa bahwa ia sedang berada di sarang harimau.

Ia loncat bangun hendak menyerang Siauw Liong.

Tapi saat itu Siauw Liong dapat melihatnya dan dengan sebelah tangan, pemuda itu tekan sesuatu di dinding.

Tiba-tiba tanah yang terpijak kaki Tiong Li merosot ke bawah, membawa pemuda itu bersama!

Tiong Li terkejut dan hendak loncat, tapi secara otomatis di atasnya telah turun batu besar menutup lubang itu.

Ia telah tertawan dalam sebuah lubang di bawah tanah!

Dan sebelum ia dapat mencari jalan keluar, tiba-tiba dari dua buah bambu di kiri kanannya mengalir masuk asap kuning seperti yang dilihat di terowongan tadi.

Tiong Li tahan napasnya dan bertiarap, tapi asap masuk makin banyak hingga mencapai tanah di bawah, sedangkan pemuda itu sudah terlalu lama menahan napasnya hingga ia merasa dadanya sesak dan telinganya mendengar bunyi melengking.

Ia tahu bahwa kalau ia menahan napas sebentar lagi saja, maka paru-parunya akan pecah dan ia akan binasa.

Maka terpaksa ia menyedot napas dan biarkan asap kuning itu memasuki dadanya.

Ia mencium bau yang harum manis dari asap itu dan tahulah ia bahwa asap itu mengandung racun memabokkan dan melemahkan, tapi tidak membinasakan.

Kemudian ia tidak kuasa memikir lebih jauh karena iapun jatuh pingsan karena pengaruh asap itu!

Demikianlah, ketiga pendekar muda itu, Siauw Ma, Lian Eng dan Tiong Li, dengan cara yang mengecewakan dan mudah, terjatuh ke dalam tangan Siauw Liong, penjahat muda yang sangat berbahaya dan lihai itu.

Hong Cu dengan tubuh masih lemas duduk di luar gua dengan hati khawatir.

Tiba-tiba ia melihat asap warna kuning bergulung-gulung keluar dari dalam gua.

Ia tahu bahwa asap ini berbahaya, maka cepat-cepat ia paksakan diri lari menyingkir agak jauh.

Tapi tiba-tiba ia terkejut sekali karena tahu-tahu Siauw Liong telah berdiri di belakangnya, ke luar dari sebuah pintu rahasia!

"Hong Cu, nona manis, akhirnya kau terjatuh juga dalam tanganku,"

Katanya menyeringai. Hong Cu memandangnya penuh kebencian.

"Kau apakan kawan-kawanku?"

Siauw Liong tertawa bergelak.

"Kau mau melihat mereka? Mari, kau ikutlah aku."

"Bangsat rendah jangan banyak lagak!"

Hong Cu membentak marah dan paksakan diri menyerang dengan sebatang ranting.

Biarpun serangannya hebat, tetapi karena gerakannya lemah sekali, dengan mudah Siauw Liong dapat merampas ranting itu dan berbareng menotok jalan darah di leher Hong Cu hingga gadis itu menjadi lemas tak berdaya.

"Ha, ha, ha! Jangan takut, Hong Cu. Aku tak akan menyakitimu, aku... aku cinta padamu..."

Dan ia lalu pondong tubuh gadis yang tak berdaya lagi itu masuk ke dalam terowongan guanya.

Siauw Ma sadar lebih dahulu dan pemuda itu bangun dengan sukar karena tubuhnya lemas sekali.

Ia melihat bahwa ia terbaring di atas lantai dan di sebelahnya berbaring Tiong Li dalam keadaan pingsan.

Ia terkejut sekali karena harapan satu-satunya hanya Tiong Li dan kini kawan itupun menjadi korban Siauw Liong pula!

Ketika ia angkat muka memandang, ternyata mereka berada dalam ruang yang besar dan kosong.

Siauw Liong tampak duduk di atas sebuah batu hitam dan sebelahnya duduk pula Ang-ie-nio-nio.

Melihat betapa Siauw Ma telah siuman, Siauw Liong tertawa.

Siauw Ma loncat berdiri dan siap menyerang, tetapi tubuhnya lemas sekali hingga ketika Siauw Liong menghampirinya dan menendangnya perlahan, ia terpental dan roboh tak berdaya!

"Ha, ha, ha!

Siauw Ma, manusia tolol.

Kerbau tak berotak, sekarang baru kau merasa kelihaianku!"

Dan ia mengirim tendangan pula yang membuat Siauw Ma merasa kepalanya pening. Tetapi hati Siauw Ma yang keras tak kenal takut. Ia merangkak dan bangun berdiri lalu memaki-maki.

"Anjing rendah! Pengecut hina! Kau robohkan kami dengan tipu muslihat curang!"

"Tutup mulutmu!"

Siauw Liong membentak marah, tetapi ia lalu tertawa lagi.

"Tipu muslihat, katamu? Memang, memang. Tipu muslihat yang luar biasa, bukan? Kalian berempat, aku seorang diri, tetapi lihat buktinya, kalian ke empat-empatnya terjatuh dalam tanganku."

"Di mana Lian Eng? Kau apakan dia?"

Bentak Siauw Ma gemas.

"Ha, ha, kau cinta padanya, bukan? Sebentar lagi kau boleh kawin dengan dia di di neraka!"

"Kau sudah bunuh dia?"

Teriak Siauw Ma terkejut.

"Baik, akupun sudah terjatuh dalam tanganmu. Mau bunuh, boleh bunuh sekarang juga, aku tidak takut!"

Sementara itu, Tiong Li juga sudah siuman.

Pemuda yang cerdik ini sekarang tak berdaya juga.

Ia diam-diam kerahkan tenaga dan empos semangatnya, tetapi ternyata pengaruh racun itu hebat sekali hingga ia benar-benar berubah menjadi orang biasa dan lwee-kangnya lenyap!

Melihat kegagahan Siauw Ma, Tiong Li kagum sekali.

Iapun merangkak bangun dan menuding ke muka Siauw Liong sambil menyindir.

"Lihat, Siauw Ma. orang-orang seperti kita mana takut mati. Hanya pengecut hina macam dia itulah yang takut mampus, maka tak segan-segan gunakan kecurangan merobohkan lawan. Mana ia berani melawan kita dengan menggunakan kepandaian."

Siauw Liong loncat ke depan Tiong Li dan tangannya menampar hingga bibir Tiong Li mengeluarkan darah yang dihapusnya dengan lengan bajunya.

"Mulutmu kotor, Tiong Li!"

Siauw Liong membentak dengan senyum menghina.

"Kau murid seorang tokoh besar dan disebut Tabib Dewa. Hayo sekarang kau keluarkan kepandaianmu untuk mengobati tubuhmu sendiri. Coba, aku hendak melihat!"

Sekali lagi ia kirim gaplokan hingga Tiong Li terbentur ke lantai.

Karena kepalanya terbentur dinding batu, maka ia merasa pening dan untuk beberapa lama tinggal rebah.

Siauw Ma buru-buru menghampirinya dan menolongnya.

Tiong Li putar-putar otak mencari obat penawar untuk racun mujijat ini.

Ia teringat akan jinsom yang dulu didapatnya di dalam patung Dewi Kwan-im dan yang ia terima dari suhunya.

Obat ini termasuk obat ajaib dan tentu akan dapat memunahkan pengaruh racun asap kuning.

Tapi alangkah kagetnya ketika ia meraba punggungnya, ternyata buntalan obat-obatnya telah lenyap!

Kini murid Si Tabib Dewa benar-benar habis daya menghadapi Siauw Liong yang benar-benar pantas dijuluki Ular Hitam Kepala Dua karena licin dan cerdiknya.

Siauw Liong melihat keadaan kedua musuhnya itu lalu tertawa bergelak.

Ia tekan dinding dan tiba-tiba sebuah pintu terbuka pada dinding batu itu.

Di belakang dinding yang terbuka itu ternyata terdapat ruang lain yang lebih kecil dan di situ terdapat sebuah pembaringan yang lebar dan bertilamkan kain putih.

Di atas pembaringan itu duduk dua orang gadis.

"Lian Eng!"

Seru Siauw Ma.

"Hong Cu!"

Tiong Li memanggil.

Mereka berdua biarpun merasa khawatir dan terkejut melihat kekasih mereka juga lemas tak berdaya, namun mereka kini agak gembira menyaksikan betapa kedua gadis itu masih hidup.

Sebaliknya Lian Eng dan Hong Cu memandang mereka dengan sedih dan bingung.

Mereka berempat betul-betul mati kutu dan yang tidak mabok asap kuning hanya Hong Cu, tapi gadis itu masih menderita sakit karena luka oleh panah beracun di pundaknya, dan tubuhnya masih lemah.

Lian Eng biarpun tubuhnya lemah, tapi semangatnya masih bernyala dan ketabahannya tidak berkurang.

Semenjak tadi ia merawat dan menghibur Hong Cu.

Kini kedua matanya memandang kepada Siauw Liong dengan tajam dan penuh ancaman.

Beberapa kali ia mencoba gerak-gerakkan tangannya, tapi dengan kecewa dan menyesal ia mendapat kenyataan bahwa tenaga lwee-kangnya belum juga pulih, dan dengan gemas ia hantamkan tumit kakinya di atas lantai.

Ia merasa betapa kakinya menjadi sakit, padahal kalau saja keadaan tubuhnya tidak demikian, lantai itu pasti akan hancur berlubang di bawah gencetan kakinya!

"Ha-ha, Lian Eng.

Kau makin manis dan menarik saja jika kau marah.

Kelak kalau kau kuajak ke kota dan hidup mewah dalam gedung besar, kau tentu makin cantik."

"Bangsat hina, Kau bunuh saja aku, jangan keluarkan kata-kata kotor menjijikkan!"

Tapi Siauw Liong bahkan tertawa besar.

"Kalian berempat tadinya begitu sombong. Lihat kini, siapa yang menjadi pemenang? Lihatlah aku, inilah rajamu, inilah tuanmu, orang yang tanpa banyak susah menjatuhkan kalian berempat. Kalian harus tunduk padaku. Tunduk padaku, mengertikah?"

Ia pelototkan mata dan menatap wajah keempat orang tawanannya, kemudian iapun menatap wajah Ang-ie-nio-nio yang duduk di situ, hingga gadis baju merah itu menjadi pucat.

Wajah Siauw Liong yang tampan itu berubah menyeramkan, kulit mukanya pucat, mulutnya menyeringai, hidungnya kembang-kempis dan matanya melotot lebar.

Wajah orang gila!

"Kau, Siauw Ma dan Tiong Li, kalian berdua harus menjadi hamba sahayaku, kalian harus tunduk kepada perintahku.

Akulah rajamu dan kalian harus patuh dan taat!"

"Siapa sudi menjadi orang yang ikut-ikutan gila seperti kau? Siauw Liong, kau menjadi gila karena kesombonganmu. Kau menjadi gila dan tak lama lagi kau tentu mampus!"

Tiong Li memaki.

"Anjing kecil, kalau kau tidak gunakan asap iblis itu tentu sekarang juga sudah kuhancurkan kepalamu yang seperti kepala ular jahat itu!"

Siauw Ma memaki juga.

"Bangsat kurang ajar!"

Siauw Liong makin pelototkan mata dengan marah sekali.

"Kalian berani menghina tuan besarmu? Hayo kalian berlutut. Hayo... berlutut kataku!"

Tapi Siauw Ma dan Tiong Li berdiri sambil bertolak pinggang dan pentang kaki lebar-lebar serta angkat dada.

"Hayo kalian berlutut!"

Bentak Siauw Liong lagi sambil maju menghampiri mereka.

Karena kedua pemuda itu tidak mau menurut perintahnya, maka kedua tangan dan kaki Siauw Liong bergerak cepat dan terdengarlah suara "bak-buk-bak-buk!"

Ketika kepalan dan tendangannya mampir di tubuh kedua pemuda itu.

Karena kaki dan tangan Siauw Liong mengandung tenaga yang luar biasa, maka tubuh Siauw Ma dan Tiong Li yang sudah kehilangan kekebalannya itu mana dapat menahan.

Mereka jatuh bangun dan kulit tubuh menjadi matang biru.

Untungnya Siauw Liong tidak menjatuhkan pukulan maut, namun agaknya kedua orang pemuda itu tak dapat lolos dari bahaya.

Setelah menerima beberapa pukulan dan tempilingan pula, akhirnya Siauw Ma dan Tiong Li tak dapat berdiri lagi.

Lian Eng dan Hong Cu melihat betapa kedua pemuda itu dipukuli seenaknya oleh Siauw Liong, merasa marah sekali, tapi apakah daya mereka?

Lian Eng lemah karena pengaruh racun, sedangkan Hong Cu selain masih lemah karena lukanya, juga berada di bawah pengaruh totokan Siauw Liong yang belum juga dapat dibukanya karena tenaganya masih lemah.

Kedua gadis itu hanya gigit bibir menahan air mata yang hendak keluar karena terharu dan kasihan.

Setelah puas memukul, Siauw Liong berpaling menghadapi kedua gadis itu.

"Dan kalian, Lian Eng dan Hong Cu, kalian harus menjadi isteri-isteriku! Hong Cu menjadi permaisuriku, dan Lian Eng menjadi yang kedua. Atau terbalik? Yang manakah lebih tua? Ha-ha, bagiku sama saja, dua-duanya sama cantik sama pandai, Ha, ha, ha!"

Siauw Liong benar-benar sudah gila.

Ia menari-nari kegirangan.

Melihat hal ini, Siauw Ma dan Tiong Li merasa ngeri.

Bagi mereka berdua, kematian bukan berarti apa-apa, tapi bahaya yang mengancam kedua gadis itu membuat mereka bergidik.

Dengan susah payah keduanya berdiri dan Siauw Ma berkata keras.

"Siauw Liong, kau boleh bunuh aku, atau siksa aku, atau boleh juga aku kau jadikan apa saja, tapi jangan... jangan kau hina Lian Eng..."

Siauw Ma menahan marahnya, karena sebenarnya pada saat itu ia ingin sekali mencaci maki dan menyerang mati-matian kepada Siauw Liong.

"Dan kau lepaskan Hong Cu, aku akan menurut segala perintahmu,"

Kata Tiong Li. Lian Eng dan Hong Cu melihat betapa kedua pemuda itu sungguh-sungguh mencinta mereka, menjadi terharu sekali. Lian Eng dengan muka merah berkata.

"Kawan-kawan, jangan bicara lemah. Hayo, kita gunakan tenaga terakhir, biarlah mati sebagai naga dari pada hidup sebagai babi!"

Ucapan yang bersemangat ini membangun semangat mereka dan berempat lalu gunakan tenaga menerjang Siauw Liong.

Untuk sekejap mata Siauw Liong terkejut karena mengira bahwa tenaga mereka pulih kembali, tapi ketika ia loncat melawan, ternyata keempat orang itu masih lemah.

Dengan mudah ia dapat merobohkan Siauw Ma dan Tiong Li, lalu totok Lian Eng hingga gadis itupun roboh tak berdaya.

Hong Cu juga mendapat totokan lagi hingga seperti halnya Lian Eng, ia roboh pingsan.

"Ha, ha, ha! Musuh-musuhku, murid-murid Thang-la yang dulu menghinaku, sekarang begini lemah! Ha, ha, ha, jangankan baru kalian berempat, biarpun ditambah sepuluh lagi, aku Siauw Liong masih sanggup merobohkan!"

Pada saat itu dari luar terdengar suara tertawa yang aneh dan menyeramkan sekali, karena suara itu terdengar ha-ha-hi-hi seperti suara tawa seorang gila.

Kemudian muncullah seorang tua bongkok yang berwajah-buruk sekali.

Tulang belakangnya menonjol dan jalannya hampir merangkak.

Ia bukan lain ialah Tok-kak-coa, suhu Siauw Liong yang dulu ditinggal pergi oleh muridnya ini.

"Bagus sekali, muridku, kau telah dapat menangkap musuh-musuh kita!"

Katanya sambil memandang ke empat tawanan itu dengan mata liar.

"Bagus, bagus, kini lunaslah, sebagian hutang setan-setan Thang-la!"

Siauw Liong pandang gurunya dengan tak acuh, bahkan tampak tak senang dan terganggu.

"Suhu mau apa datang ke sini?"

Tegurnya. Tapi Tok-kak-coa yang sudah diperlakukan demikian oleh muridnya yang manis ini, tidak perdulikan kekerasannya, lalu berkata lagi sambil perdengarkan ketawanya yang menyeramkan.

"Siauw Liong, kau berikan mereka padaku. Ha, mereka tampak lemah tak berdaya. Biar kubunuh mereka. Aduh, itu murid-murid Thang-la yang cantik molek, biar kukorek matanya. Biar kubunuh dulu dua gadis jelita itu!"

Dengan terseok-seok ia menghampiri Lian Eng dan Hong Cu yang sudah siuman dan tak dapat bergerak, hanya memandang dengan mata terbelalak kepada manusia bongkok yang menyeramkan itu.

Juga Siauw Ma dan Tiong Li pandang Tok-kak-coa dengan merasa serem.

Bagaimana setan tua ini bisa datang menambah derita mereka?

Tapi terjadilah hal yang tak terduga-duga oleh mereka.

Siauw Liong loncat di depan suhunya dan membentak.

"Mundur kau! Jangan kau ganggu dua orang gadis ini kalau masih sayang akan jiwamu yang kotor!"

Diam-diam Siauw Ma dan Tiong Li mengutuk anak muda itu karena sebagai seorang murid, tak patutlah Siauw Liong mengucapkan kata-kata seperti itu terhadap gurunya, karena guru sama derajatnya dengan orang tua.

"Tidak, Siauw Liong, kedua gadis ini harus mati, dan mati di tanganku,"

Bantah Tok-kak-coa hingga mengherankan Siauw Liong, karena belum pernah gurunya ini berani membantahnya!

"Suhu, jangan paksa aku membunuhmu.

Kau boleh berbuat sesukamu kepada Siauw Ma dan Tiong Li itu.

Tapi kedua gadis ini adalah calon permaisuriku."

"Kau gila!"

Tok-kak-coa berteriak marah.

"Mereka adalah musuh-musuh, harus dibunuh!"

"Pergilah kau!"

Siauw Liong dengan marah ulur tangannya mendorong suhunya, tapi biarpun telah kehilangan tenaganya, Tok-kak-coa masih dapat berkelit.

Orang tua itu juga timbul nekatnya dan ia menyerang Siauw Liong dengan tongkatnya!

Tapi mana orang tua bercacad itu dapat melawan Siauw Liong?

Dalam beberapa gebrakan saja, Siauw Liong berhasil menendang perut suhunya hingga tubuh bongkok itu terlempar jauh dan hampir menimpa Siauw Ma dan Tiong Li!

Tok-kak-coa roboh tak bergerak lagi dan napasnya empas-empis.

"Siauw Liong, kau benar-benar terkutuk!"

Siauw Ma memaki marah, tapi Siauw Liong hanya tersenyum.

"Nah, aku tinggalkan kau orang tua busuk dengan dua orang pemuda tiada guna ini untuk mati membusuk di sini. Aku mau pergi membawa permaisuri-permaisuriku!"

Ia langsung melangkah ke dalam kamar di mana Lian Eng dan Hong Cu rebah dan memandangnya dengan jijik dan cemas.

"Koko!"

Tiba-tiba Ang-ie-nio-nio yang semenjak tadi menyaksikan sepak terjang kekasihnya dengan hati ngeri dan sedih, kini melihat betapa Siauw Liong hendak pergi dan sama sekali melupakannya, segera maju dan pegang lengan pemuda itu.

"Koko, jangan kau lakukan ini. Jangan kau tinggalkan aku, koko. Aku ikut!"

Siauw Liong memandang tak senang.

"Aah, kau hanya mengganggu aku saja. Hayo pergi! Kau tidak boleh ikut aku."

Maka nekatlah Ang-ie-nio-nio. Ia cabut sepasang pedangnya dan berkata.

"Koko, kau menyakiti hatiku sesukamu saja. Jangan harap kau bisa bawa pergi kedua siocia itu dan meninggalkan aku, selama aku masih hidup!"

"Ha, ha kalau begitu, kaupun harus mampus!"

Maka bertempurlah mereka dengan hebatnya.

Permainan pedang Ang-ie-nio-nio tidak lemah dan ia kini gunakan itu dengan sepenuh perhatian karena hatinya sakit sekali.

Tapi biarpun hanya bertangan kosong, Siauw Liong dapat melayaninya dengan mudah.

Sementara itu, Tiong Li dan Siauw Ma yang merasa kasihan melihat nasib Tok-kak-coa, segera menghampiri kakek itu dan mengangkat kepalanya.

Tok-kak-coa buka matanya dan ia heran sekali ketika melihat betapa Tiong Li dan Siauw Ma menolongnya.

"Kau... kau...? Ah, hidupku selalu salah jalan. Bahkan memilih muridpun aku telah salah..."

Kemudian ia memandang kepada mereka berdua.

"Ha, kalian baik, tidak seperti muridku... ah, kalian tentu terkena asap kuning, bukan?"

Ia rogoh saku dalamnya dan keluarkan bungkusan kain merah yang sudah lapuk.

"Ini... kalian baik... biarlah saat terakhir ini kuisi dengan kebaikan, kalian... makanlah seorang satu..."

Sehabis berkata demikian, Tok-kak-coa meramkan matanya dan matilah ia, karena tendangan Siauw Liong yang ratusan kati beratnya itu telah merusakkan isi perutnya.

Tiong Li segera buka bungkusan itu dengan tangan gemetar.

Di dalamnya terdapat lima butir buah kering warna hitam yang bentuknya seperti buah leeci.

"Makanlah ini,"

Ia berbisik kepada Siauw Ma.

Mereka makan buah itu seorang sebutir.

Rasanya masam dan sepet, tetapi dengan paksa mereka menelannya.

Setelah buah itu masuk di perut, masih belum terasa perubahan sesuatu.

Mereka duduk melihat pertempuran yang masih berjalan seru.

Ang-ie-nio-nio terdesak di pojok.

Tiba-tiba sebatang pedangnya dapat terampas oleh Siauw Liong dan dengan cepat pemuda itu mengirim tusukan yang tepat memasuki ulu hati Ang-ie-nio-nio hingga menembus di punggungnya.

Gadis baju merah itu roboh sambil mengeluarkap jeritan.

"Kokoooo..."

Dan matilah ia.

Siauw Liong tersenyum kejam dan kebut-kebutkan tangannya pada bajunya.

Kemudian ia bertindak menghampiri dua orang gadis yang masih memandang dengan mata terbelalak ngeri.

Tapi, pada saat itu, terasa angin keras menyambarnya dari belakang.

Siauw Liong cepat berkelit dan membalik, dan alangkah kaget dan herannya ketika melihat bahwa yang menyerangnya bukan lain adalah Siauw Ma!

Lebih kaget lagi ia ketika melihat betapa Tiong Li yang kini dapat bergerak cepat sudah menolong Lian Eng dan Hong Cu.

Tiong Li cepat memberi sebutir obat kepada Lian Eng, dan memunahkan totokan-totokan yang mempengaruhi tubuh Hong Cu.

Ternyata bahwa pada saat yang tepat, obat pemberian Tok-kak-coa telah berjalan dan menyatakan kemanjurannya!

"Celaka!"

Siauw Liong tak terasa berseru, tapi Siauw Ma tak memberinya ketika untuk banyak berpikir karena murid Beng Beng Hoatsu itu keluarkan tipu pukulan dari Sin-liong-kun-hwat yang paling berbahaya!

Setelah menolong kedua gadis itu, Tiong Li loncat menerjang sambil berkata.

"Siauw Ma, jangan kau borong sendiri. Beri bagian padaku!"

Tentu saja dengan datangnya Tiong Li, Siauw Liong makin terdesak hebat, tapi tiba-tiba ia berhasil menyambar senjatanya yang tergantung di dinding, yaitu sepasang tongkat ular hitam yang telah terkenal kelihaiannya.

Karena Tiong Li dan Siauw Ma bertangan kosong dan juga mereka masih sedikit lemas, maka setelah Siauw Liong memegang senjatanya yang lihai, keadaan menjadi berimbang.

Akan tetapi, Lian Eng yang memiliki tenaga lwee-kang luar biasa, setelah mendapat buah obat itu, sebentar saja ia pulih seperti biasa dan dengan gemas sekali ia berseru.

"Tinggalkan dia untukku!"

Lalu dengan Huo-mo-kangnya yang lihai dan yang ditakuti Siauw Liong, ia menyerang!

Hebat sekali pertempuran itu dan Siauw Liong tak kuat menahan lagi.

Ia berlari-larian dan telah beberapa kali ia terpukul hebat.

Sekali pernah jari tangan Lian Eng berhasil menowel dadanya hingga ia merasa dadanya begitu panas dan sesak.

Tetapi ia masih melawan dengan mati-matian.

Ketika ia lari di dekat Hong Cu yang masih duduk memandang jalannya pertempuran dengan penuh, perhatian gadis itu segera lemparkan sesuatu ke arahnya.

Ternyata Hong Cu melihat sepotong pit di sudut yang lalu diambilnya, kemudian dengan lemparan Raja Ular Terjang Harimau, sebuah tipu dari Ouw-coa-koai-tung-hwat, ia serang Siauw Liong.

Pit itu bagaikan anak panah meluncur ke arah dada Siauw Liong dan ketika Siauw Liong menangkisnya dengan tongkat kiri, pit itu tiba-tiba menikung dan langsung menyerang lambungnya.

"Celaka!"

Teriaknya, tetapi pit itu telah menerjang dan melukai kulit dan daging lambung itu.

"Mati aku!"

Siauw Liong mengeluh.

"Memang kau harus mati!"

Lian Eng membentak dan mengirim pukulan keras.

Siauw Liong tak kuasa menangkis hingga ketika ia berkelit, pundaknya terlanggar pukulan Lian Eng.

Ia berteriak ngeri dan tubuhnya terlempar menubruk dinding.

Tetapi ia memang mempunyai kekuatan hebat.

Biarpun pukulan tadi telah memberi luka dalam yang hebat padanya, ia masih dapat berdiri lagi.

Pada saat itu, hampir berbareng tiba pukulan Siauw Ma dan Tiong Li dari kanan kiri yang tepat mengenai kepala dan punggungnya.

Siauw Liong menjerit panjang yang bergema mengerikan di dalam gua itu, dan tubuhnya lalu terhuyung roboh.

Maka tamatlah riwayatnya.

Keempat anak muda itu pandang tubuh pemuda yang sesat dan menjadi rusak imannya karena mendapat didikan seorang jahat seperti iblis hingga setelah dewasa dan memiliki kepandaian tinggi, ia menjadi hamba dari pada nafsunya dan merupakan iblis sendiri yang menguasai tubuhnya.

Melihat di dalam gua itu menggeletak tiga mayat, para anak muda itupun merasa ngeri dan diam-diam mereka bersyukur kepada Thian yang pada saat yang tepat telah memberi pertolongan.

Padahal, sesungguhnya hanya di mulut saja Tok-kak-coa berkata hendak berbuat kebaikan.

Setan tua ini mana kenal apa artinya kebaikan.

Ia memberi obat pemunah kepada Siauw Ma dan Tiong Li karena ia menaruh dendam kepada Siauw Liong dan ia mengharapkan agar kedua pemuda itu membalaskan sakit hatinya.

Dan sekali lagi, daya upaya setan tua itu berhasil baik!

Pemberian buah obat pemunah itu bukan terdorong oleh kebaikan, tapi oleh kecerdikannya yang memang luar biasa!

Sepasang teruna remaja itu lalu keluar dari gua setelah ketemukan patung emas Kwan-im yang disembunyikan di dalam peti besar dan membawanya keluar.

Tapi ketika mereka tiba di luar gua, mereka terkejut sekali karena melihat ratusan orang-orang mengurung gua itu sambil berteriak-teriak.

Ketika mereka memandang lebih teliti, ternyata bahwa yang mengurung gua itu adalah rombongan imam-imam dari Kwan-im-bio yang nekat membawa semua anggautanya untuk menyerbu Siauw Liong dan merampas kembali patung mereka.

Siauw Ma dan kawan-kawannya lalu memberikan patung itu kepada mereka yang segera membawanya pulang ke Kwan-im-bio, sedangkan Siauw Ma dan kawan-kawannya segera menuju ke Thang-la, karena pada waktu itu, musim chun mulai tiba, yakni saat mereka harus mendaki Thang-la untuk bertemu dengan guru masing-masing.

Dengan gembira keempat orang muda itu mendaki Thang-la.

Dengan datangnya musim chun, maka muncullah beraneka warna bunga nan sedap dipandang.

Luka di punggung Hong Cu telah sembuh karena rawatan Tiong Li yang sangat telaten dan memperhatikan hingga gadis itu makin berterima kasih padanya.

Dengan adanya sifat-sifat baik yang dimiliki oleh kedua pemuda yang mencinta mereka itu, luka di hati kedua gadis karena salah menaruh cinta menjadi terobat juga.

Ketika mereka tiba di puncak Bukit Dewi Api, yaitu di tempat pertapaan Huo Mo-li dan tiba di depan gua, ternyata keempat guru mereka telah menghadapi sebuah meja.

Di atas meja itu tampak guci arak dan empat cawan araknya.

Ternyata empat orang tua yang sakti itu tengah minum arak dengan gembiranya.

Siauw Ma dan kawan-kawannya tahan tindakan kaki mereka karena mendengar betapa keempat orang tua itu tertawa-tawa dan bercakap-cakap hingga para murid itu tidak berani mengganggu.

Tapi tiba-tiba Beng Beng Hoatsu berkata.

"He, kalian tidak lekas datang ke mari mau tunggu kapan lagi?"

Ternyata kedatangan mereka telah diketahui oleh empat suhu itu!

Dengan cepat dan gembira empat orang murid itu menghampiri suhu-suhu mereka dan berlutut dengan berbaris rapi.

Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, Huo Mo-li, dan Kiang Cu Liong tertawa gembira dan menyuruh mereka duduk di atas rumput dekat mereka.

Tiba-tiba Hwat Kong Tosu dapat melihat wajah Hong Cu yang agak pucat, maka ia segera menegur.

"Hong Cu, kau terluka?"

Maka dengan panjang lebar murid-murid itu lalu menuturkan saling sambung tentang pengalaman-pengalaman mereka dan tentang matinya Siauw Liong dan suhunya.

Setelah menuturkan riwayat mereka yang berbahaya itu, keempat guru itu menggeleng-geleng kepala, dan Huo Mo-li berkata.

"Sungguh benar dugaan kita dulu. Anak itu tentu mendatangkan bencana saja. Tapi, baik juga ia sudah disingkirkan hingga dunia terbebas dari seorang yang jahat dan licin."

Hwat Kong Tosu melirik kepada Kiang Cu Liong dan setelah tertawa besar ia berkata.

"Memang senang mempunyai kepandaian mengobati seperti engkau ini. Muridmu pun dengan penaruh kepandaiannya mengobati orang selalu melepas budi hingga membikin orang berhutang budi saja."

Kiang Cu Liong tertawa besar mendengar ini.

"Siauw Ma, dan kau sekalian,"

Terdengar Beng Beng Hoatsu berkata dengan suaranya yang besar dan keras.

"Kami berempat telah tahu akan peristiwa pertempuran kalian di waktu Hong Cu dan Lian Eng berebut orang tua. Kakek Lian Eng yang memberi tahu, maka kami para orang tua juga mengerti apakah yang terkandung dalam hati kalian anak-anak muda."

Biarpun merasa malu sekali mendengar ucapan yang terus terang ini, namun karena suara Beng Beng Hoatsu terdengar sungguh-sungguh dan seakan-akan mewakili semua suhu mereka, keempat anak muda itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ketahuilah, kalian sengaja dikumpulkan di sini sebenarnya karena kami para gurumu dulu mempunyai hati yang keras dan tidak mau kalah hingga menetapkan untuk menguji kepandaian murid masing-masing untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan lihai. Biarpun kami telah tahu apa yang akan menjadi jawaban kalian, tapi lebih baik kalau aku mendengar sendiri jawaban itu. Maukah kalian saling diadu untuk menentukan siapa yang lebih lihai?"

Keempat anak muda itu saling pandang dan dengan berbareng mereka geleng-geleng kepala. Mana mereka bisa berkelahi melawan kawan-kawan yang mereka kasihi ini? Keempat orang tua itu tersenyum.

"Memang kami empat orang-orang tua gila yang salah. Kalian mempunyai rasa setia kawan dan lebih mengutamakan persahabatan. Ini baik sekali, dan kami berempat juga mencontoh sikap kalian ini.

"Kami telah mengambil keputusan tadi, untuk membatalkan perjanjian gila ini dan kami anggap saja bahwa kepandaian seseorang itu berbeda dan tak dapat diukur ketinggian tingkatnya. Masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, mempunyai keunggulan sendiri.

"Sekarang kami sudah tua, sudah bosan mencari nama besar dan kemenangan-kemenangan kosong. Bahkan Huo Mo-li yang biasanya galak dan tidak mau kalah, tadi menyatakan telah bosan untuk memperlihatkan kepandaian dan mencari musuh. Ia lebih senang bertapa mengasingkan diri menenteramkan hidupnya."

Biarpun biasanya Beng Beng Hoatsu pandai bicara, tapi setelah bicara agak lama ia tampak lelah juga, maka katanya kepada Hwat Kong Tosu.

"Hwat Kong toyu, coba kau yang meneruskan."

Hwat Kong Tosu tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya yang panjang.

"Sebetulnya apakah lagi yang harus diceritakan? Kata-kata Beng Beng Hoatsu sudah cukup jelas. Kami batalkan pertandingan-pertandingan, karena melihat pergaulan kalian begitu... begitu". erat, bahkan kalian berjodoh sekali satu dengan yang lain hingga... ah, Kiang-toheng, kaulah yang bercerita, aku menjadi bingung?"

Kiang Cu Liong tertawa bergelak-gelak.

"Karena kau mewakili murid perempuan pantas saja kau menjadi malu-malu kucing! Beginilah, anak-anak.

"Kami melihat bahwa kalian merupakan dua pasang anak muda yang berjodoh dan pula kami puas melihat sifat masing-masing hingga beberapa hari yang lalu aku dan Beng Beng Hoatsu ini turun gunung menemui Ang Lie Seng tai-jin, yakni setelah mengadakan perundingan dan mendapat persetujuan dari Hwat Kong dan Huo Sian-li.

"Untuk mudahnya, baiklah kupersingkat saja. Kedatangan kami ialah akan mengajukan lamaran kepada Hong Cu untuk muridku, sedangkan Beng Beng mengajukan lamaran kepada Lian Eng untuk muridnya. Tentu saja hal ini pun sudah ditanyakan dan mendapat persetujuan Souw Cin Ok, kakek Lian Eng."

Berdebarlah hati Siauw Ma dan Tiong Li.

Mereka girang dan merasa beruntung sekali, tapi mereka tidak berani kentarakan ini, hanya tundukkan muka karena jengah dan malu.

Sebaliknya, Lian Eng dan Hong Cu saling pandang dan rasa hati mereka hanya Thian saja yang tahu.

Namun, mereka tidak berani pula mengeluarkan isi hati dan menyatakan perasaan mereka.

Mereka saling pandang lama sekali, kemudian keduanya yang duduk berdekatan lalu saling peluk sambil menangis!

Huo Mo-li biarpun berhati keras, namun melihat betapa muridnya yang tersayang menangis, segera mendekati dan pegang pundak Lian Eng.

"Muridku, Kau katakanlah, kami tidak memaksamu, apakah kau setuju dengan perjodohan ini? Aku sudah menyetujuinya, karena aku tahu akan kejujuran dan kebaikan sifat-sifat Siauw Ma. Aku ingat betapa dulu ketika masih kecil, ia tidak takut mati mengejar hendak menolongmu! Tapi, betapapun juga, kami tidak sekali-kali memaksamu!"

Tiba-tiba Lian Eng jatuhkan diri berlutut di depan Huo Mo-li sambil menangis. Dengan isak tangis tertahan gadis itu berkata.

"Ampunkan teecu... tak mungkin... tak mungkin teecu dapat menerima perjodohan ini..."

Kemudian, gadis itu pegang dan cium jari tangan gurunya, lalu balikkan tubuh dan cepat loncat pergi turun gunung dan suara tangisnya masih terdengar perlahan!

Tentu saja hal ini tidak disangka-sangka sama sekali oleh keempat guru besar itu hingga mereka berdiri bengong dan terheran-heran.

Tiba-tiba terdengar pula Hong Cu tersedu dan berkata kepada mereka.

"Kasihan cici Lian Eng"

Teecu harus mencari dan menyusulnya..."

Dan gadis inipun loncat pergi dari situ dan lari turun gunung secepat terbang untuk menyusul Lian Eng yang sudah tidak tampak lagi!

Dapat dibayangkan betapa kecewa dan sedih hati Siauw Ma dan Tiong Li.

Terutama Siauw Ma, karena ia tadi jelas mendengar betapa Lian Eng seakan-akan menolak lamarannya!

Sebaliknya, di dalam lubuk hatinya Tiong Li merasa bersalah, karena ia yang cerdik dapat menduga bahwa Lian Eng mencinta dirinya, dan sebaliknya Hong Cu mencinta Siauw Ma!

Pemuda yang berotak cerdas ini dapat menerka tentang terjadinya cinta segi empat yang sangat membingungkan ini.

Memang telah lama ia merasa cemas melihat perkembangan ini dan menduga bahwa tentu kelak akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan sebagai akibatnya.

Dan benar saja, yang terkena akibat pertama sebagai korban adalah Lian Eng, gadis yang sebenarnya mencintanya!

Siauw Ma yang berwatak jujur dan kurang begitu cerdik dalam merangkai persoalan, apa lagi persoalan yang ruwet ini, segera berlutut kepada suhunya dan berkata dengan suara sedih.

"Suhu, izinkan teecu turun gunung menyusul dan mencari nona Lian Eng."

Tanpa menanti jawaban gurunya, iapun menggunakan kepandaiannya loncat turun gunung cepat sekali.

Selama itu, karena terjadinya hal berturut-turut dari kepergian ketiga anak muda ini cepat sekali, keempat guru besar itu hanya berdiri bengong dan saling pandang.

Rencana baik mereka ternyata berantakan, membuat mereka menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa!

Tiba-tiba terdengar suara Kiang Cu Liong tertawa bergelak-gelak sambil berdongak ke atas.

Si Tabib Dewa inipun terkenal cerdik sekali hingga tanpa orang membuka mulut, ia seperti dapat membaca pikiran orang itu.

Sikap Lian Eng telah menimbulkan dugaannya bahwa gadis itu tentu tidak setuju akan ikatan jodoh yang telah diusulkan oleh para orang tua!

Ia maklum sebagai murid Huo Mo-li maka gadis itu tentu mempunyai hati yang keras dan adat yang ku-koai atau aneh.

Ia pandang wajah muridnya dan melihat betapa kening Tiong Li berkerut seakan-akan sedang berpikir keras dan seakan-akan terjadi pertarungan pikiran dan batin dalam diri anak muda itu, iapun berkata sambil tersenyum.

"Nah, beginilah jadinya kalau orang-orang tua yang lancang mengambil tindakan sendiri! Anak-anak sekarang bukanlah seperti kita dahulu. Mereka sekarang memiliki kepandaian dan memiliki pikiran serta keputusan-keputusan mereka sendiri. Pendirian mereka kadang-kadang aneh dan tidak cocok dengan pendirian kita!"

"Lian Eng sungguh kurang ajar! Dia patut dihajar!"

Tiba-tiba Huo Mo-li berkata karena betapapun juga, ia merasa malu kepada kawan-kawannya ini karena sikap gadis itu.

"Sabar, sabar..."

Kata Hwat Kong Tosu.

"memang muridmu itu berhati baja. Tapi ia jujur dan teguh pendirian, hal ini patut pula dipuji."

"Memang barangkali mata kita yang telah tua ini sekarang telah agak lamur dan kurang awas,"

Berkata Beng Beng Hoatsu.

"Atau barangkali kita telah keliru memasang jodoh ini?"

Pertapa gemuk pendek ini tepuk-tepuk kepalanya, tiba-tiba berkata lagi dengan mata terbelalak.

"Atau... pasangan yang kita lakukan dan atur ini telah... terbalik...?"

Sekali lagi terdengar Kiang Cu Liong tertawa besar, lalu ia berkata kepada Tiong Li yang masih berlutut sambil melamun.

"Eh, Tiong Li! Kau tentu tahu akan persoalan ini. Hayo kau ceritakan kepada kami orang-orang tua agar jangan membuat kami menjadi ragu-ragu dan pusing kepala!"

Tiong Li pandang suhunya dan matanya yang bersinar cerdik itu tiba-tiba menjadi suram ketika ia berkata.

"Teecu juga hanya dapat menduga-duga saja dan tidak berani teecu menyatakan pendapat teecu sebelum mengetahui pasti. Tapi, sebagai bahan pertimbangan suhu sekalian, baik kiranya kalau teecu nyatakan bahwa pendapat yang baru saja dinyatakan oleh suhu Beng Beng Hoatsu, agaknya tidak meleset jauh..."

Beng Beng Hoatsu tiba-tiba tertawa sambil tepuk-tepuk perutnya yang gendut.

"Celaka, celaka! Anak muda yang baik, jadi kalau begitu pasangan itu seharusnya diputar balik? Jadi seharusnya aku berbesan dengan Hwat Kong dan gurumu berbesan dengan Huo Mo-li? Begitukah?"

Tentu saja Tiong Li tak berani menjawab, tapi tiba-tiba Huo Mo-li maju mendekat dan mendesaknya.

"Tiong Li, di antara keempat murid kami memang kaulah yang paling cerdik. Jawablah sejujurnya, apakah benar kata-kata Beng Beng tadi?"

Tiong Li tetap tidak berani menjawab, hanya geleng-gelengkan kepala saja.

Suhunya menjadi tidak sabar, kali ini Kiang Cu Liong yang cerdik agaknya kehabisan akal.

Ia tadipun menyangka seperti Beng Beng Hoatsu, tapi ternyata menurut muridnya, bukan demikian duduknya hal!

Habis bagaimanakah?

"Tiong Li, kali ini aku perintahkan padamu untuk berkata terus terang.

Ketahuilah bahwa kami berempat orang-orang tua merasa penasaran dan bingung sekali melihat keadaan kalian orang-orang muda yang aneh!

"Hayo kau terangkan!"

"Suhu, sukar bagi teecu untuk memberi penerangan. Apakah boleh teecu memberi penjelasan tanpa ucapkan itu?"

Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, dan Huo Mo-li merasa heran sekali mendengar kata-kata ini.

Mereka merasa seakan-akan menghadapi sebuah teka-teki yang sulit.

Tapi Kiang Cu Liong dapat menduga dan tersenyumlah dia.

"Ha! Jadi, kau merasa malu-malu untuk mengatakannya? Baiklah, boleh kau terangkan dengan cara apa saja asal jelas bagi kami."

Tiong Li lalu menggunakan jari telunjukkan membuat lukisan di atas tanah.

Keempat orang-orang tua itu mengelilinginya dan membungkukkan badan untuk melihat apa yang digambar oleh anak muda itu.

Tiong Li mula-mula menulis huruf-huruf Hong, Siauw, Lian, dan Tiong.

Empat huruf ini ia tulis dalam kedudukan segi empat, dimulai dari huruf Hong.

Empat huruf ini dibaca dengan suara nyaring oleh Kiang Cu Liong.

"Hong... Siauw... Lian... Tiong! Hm, kau maksudkan tentu Hong Cu, Siauw Ma, Lian Eng, dan Tiong Li, bukan?"

Tiong Li hanya mengangguk, kemudian jari telunjuknya membuat gambar coretan seperti anak panah, Mula-mula dari huruf Hong diberi coretan anak panah menuju ke huruf Siauw, dari huruf Siauw menuju ke huruf Lian, dari huruf Lian ke huruf Tiong, dan dari huruf Tiong kembali ke huruf Hong!

Kalau Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu masih mengerutkan kening dan memikirkan apa maksud lukisan ini, adalah Kiang Cu Liong dan Huo Mo-li berseru kaget, bahkan Huo Mo-li berkata.

"Celaka, celaka! Kalau begini, bagaimana baiknya??"

Tanyanya kepada Kiang Cu Liong. Tabib Dewa ini gunakan tangan kiri mengurut-urut jenggot dan tangan kanan menggaruk-garuk belakang telinga, lalu berkata.

"Waah, sungguh sulit! Mengapa ada terjadi hal sesulit ini? Cinta segi empat, sungguh lebih sulit dari pada hitungan yang bagaimanapun!"

Kini mengertilah Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu akan maksud lukisan itu.

"Jadi Siauw Ma suka kepada Lian Eng, tapi Lian Eng sebaliknya terpikat oleh Tiong Li?"

Berkata Beng Beng Hoatsu sambil pandang wajah pemuda yang tunduk di atas tanah itu.

"Ya, Lian Eng cinta kepada Tiong Li, tapi anak muda ini berani sekali menolak cintanya dan bahkan jatuh hati kepada Hong Cu!"

Kata Huo Mo-li dengan sikap keras sambil memandang Tiong Li dengan tak senang.

"Tenang, Huo Mo-li!"

Kata Kiang Cu Liong yang membela muridnya.

"Harus kau ingat bahwa keadaan muridku sama saja. Ia mencinta Hong Cu, tapi murid Hwat Kong ini sebaliknya mencinta Siauw Ma!"

"Sama celakanya dengan muridku!"

Tiba-tiba Hwat Kong Tosu berkata sambil bersungut-sungut.

"Murid Huo Mo-li itu sebaliknya suka kepada murid tabib setan ini!"

Demikianlah, keempat orang tua itu dengan bingung sekali saling tunjuk dan saling persalahkan murid kawan mereka yang tidak mau membalas cinta muridnya dan dianggap menyakiti hati murid masing-masing!

Tiong Li yang mendengar keributan ini dengan hati bingung, lalu memberi hormat kepada gurunya dan berkata.

"Suhu, biarlah murid pergi mencari mereka dan seberapa dapat teecu akan berusaha agar hal ini dapat diselesaikan dengan baik agar jangan meninggalkan dendam."

Mendengar kata-kata ini, semua guru besar itu menganggap benar dan mereka hentikan percekcokan mereka.

"Kita orang-orang tua sebenarnya harus tahu diri dan tidak mengacaukan hidup murid-murid kita sendiri. Biarlah urusan orang muda ini diselesaikan oleh mereka sendiri. Kita tua bangka untuk apa menguruskan segala soal perkawinan dan perjodohan? Biarlah kita lihat saja, asal mereka tidak menyeleweng dari peri keadilan dan kebajikan."

Tiong Li lalu memberi hormat sekali lagi kepada Suhunya dan kepada ke tiga guru besar lainnya, kemudian ia loncat dan berlari cepat menuju ke bawah gunung.

Pemuda ini merasa sedih sekali karena ia merasa bingung.

Tidak saja ia menyedihi keadaannya sendiri, tapi iapun merasa kasihan kepada ketiga kawannya yang ternyata kesemuanya menjadi korban yang sangat menderita dari kejahilan tangan Dewi Amor yang suka sekali mempermainkan orang-orang muda!

Ia maklum bahwa sebagai gadis-gadis alim, Lian Eng dan Hong Cu tentu tak sudi membuka perasaan hatinya dan menyatakan cintanya secara berterang.

Juga mereka itu tentu saja tidak suka mengurbankan perasaan mereka dan menerima pinangan yang salah alamat bagi mereka itu secara demikian saja!

Tapi sebaliknya, apakah ia dan Siauw Ma harus mengalah dan berkorban?

Ah, serba salah dan serba sulit!

Ketika tiba di sebuah dusun di kaki Pegunungan Thang-la, Tiong Li mencari keterangan tentang jejak kawan-kawan yang dikejarnya.

Ia mendengar bahwa Lian Eng dan Siauw Ma memang lewat di dusun itu dan kedua orang itu menuju ke timur, sedangkan Hong Cu tidak lewat di dusun itu.

Siauw Ma tentu mengejar Lian Eng, pikirnya.

Kalau menurutkan suara hatinya, ia ingin sekali mencari jejak Hong Cu, tapi mengingat bahwa ia tidak boleh dikuasai perasaan hatinya setelah dapat menduga bahwa gadis itu sebetulnya menaruh hati kepada Siauw Ma, ia lalu menuju ke timur pula!

(Lanjut ke

Jilid 16) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 Sampai delapan hari ia masih dapat mengikuti jejak Siauw Ma yang tentu sedang mengikuti atau mengejar Lian Eng pula.

Tapi pada hari kesembilan, ketika ia tiba di sebuah dusun di luar hutan yang panjang, ia kehilangan jejak pemuda itu.

Tak seorangpun di dusun itu pernah melihat seorang pemuda seperti yang ditanyakan oleh Tiong Li.

Tiong Li menjadi bingung dan sehari itu ia mencari-cari jejak yang lenyap dengan sia-sia dan akhirnya ia menjadi putus asa dan menduga bahwa Siauw Ma tentu telah ambil jalan lain ketika masuk hutan yang lebat di luar dusun itu hingga tidak melalui dusun ini.

Karena tidak mempunyai tujuan tetap ke mana harus mencari kawan-kawannya itu, Tiong Li lalu membelok ke utara dan di tiap dusun dan kota yang dilaluinya, ia selalu menanyakan keterangan tentang kedua orang kawannya itu.

Sebagai seorang berjiwa pendekar, sepanjang jalan tak lupa ia menggunakan kepandaiannya untuk menolong mereka yang menderita, baik dengan menggunakan kepandaian silatnya yang tinggi ataupun dengan kepandaian dan pengertiannya tentang ilmu pengobatan.

Kurang lebih tiga bulan kemudian tibalah ia dalam sebuah hutan di dekat kota Lok-bin-an.

Ketika ia sedang berjalan sambil pikul keranjang obatnya, tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda dibarengi suara ringkik kuda yang ramai mendatangi dari belakang.

Ia buru-buru tunda tindakan kakinya dan loncat ke pinggir, lalu turunkan pikulannya dan memandang.

Terik matahari sangat panasnya dan menembus celah-celah daun pohon langsung menyinari mukanya yang berpeluh hingga Tiong Li gunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus keringat itu dari mukanya.

Dari jurusan barat datanglah serombongan penunggang kuda sebanyak belasan orang.

Kuda-kuda itu semuanya kuda bagus dan besar hingga lari mereka cepat sekali.

Tetapi yang sangat mengherankan hati Tiong Li ialah bahwa semua penunggang kuda itu adalah pendeta pendeta gundul yang kesemuanya berjubah kuning!

Pakaian dan sikap mereka aneh seperti bukan orang aseli.

Setelah mereka datang dekat, tahulah Tiong Li bahwa mereka itu adalah pendeta-pendeta Lhama dari Tibet!

Ia terkejut sekali karena ia maklum akan kelihaian pendeta-pendeta ini dan sudah menjadi kebiasaan pendeta Lhama yang berani turun ke daratan Tiongkok adalah orang-oran pilihan yang memiliki kepandaian tinggi.

Maka ia tidak merasa heran ketika melihat tiga orang pendeta Lhama yang bertubuh tinggi besar menggunakan kedua kaki mereka untuk lari mengikuti rombongan itu.

Mereka berjalan sambil bercakap-cakap, seakan-akan sama sekali tidak sukar baginya untuk menyamai kecepatan kaki kuda yang berlari cepat di depan mereka!

Tiong Li melihat demikian banyaknya pendeta Lhama turun gunung dan bahkan turut pula tiga orang pendeta yang berjubah merah sebagai tanda bahwa mereka adalah pendeta-pendeta kelas dua, tentu saja menjadi heran dan curiga sekali.

Tentu imam-imam ini mempunyai tugas yaqg sangat penting, kalau tidak demikian, tidak nanti mereka turun gunung merupakan rombongan demikian besar.

Juga, mereka itu menuju ke timur, agaknya hendak menuju ke kota raja!

Tiong Li menjadi tertarik dan gembira, karena ia ingin sekali tahu ada peristiwa penting apakah di kota raja.

Maka dipanggulnya kembali pikulan obatnya dan iapun menggunakan ilmu lari cepat mengejar rombongan itu.

Ia maklum bahwa mereka itu, terutama ketiga pendeta jubah merah, adalah orang-orang berilmu tinggi, maka ia berlaku hati-hati dan hanya mengejar dari jarak jauh.

Rombongan pendeta Lhama itu melakukan perjalan terus menerus, hanya berhenti untuk sekedar beristirahat dan makan bahkan ada kalanya mereka berjalan sambil makan ransum kering!

Tetapi Tiong Li tetap membayangi mereka dengan setia.

Ia makin merasa yakin bahwa rombongan pendeta dari Tibet itu tentu mempunyai tugas yang sangat penting.

Karena perjalanan mereka yang dilakukan tanpa ditunda-tunda dan cepat sekali itu, tak sampai sebulan mereka telah tiba di kota raja.

Begitu masuk di pintu gerbang tembok tebal yang mengelilingi kota raja, seorang Lhama jubah merah menghampiri penjaga dan sambil memperlihatkan sebuah tanda yang dikeluarkan dari sakunya, ia menanyakan sebuah gedung di kota itu.

Melihat tanda itu, si penjaga mengubah sikapnya menjadi hormat sekali bahkan memberi penghormatan secara tentara.

Tiong Li tentu saja tidak dapat mendekati mereka, hanya melihat dari tempat jauh hingga ia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

Setelah mendapat keterangan dari penjaga itu, rombongan Lhama itu segera melanjutkan perjalanan mereka memasuki kota.

Kini kuda mereka dijalankan perlahan.

Orang-orang di dalam kota, walaupun pernah melihat pendeta Lhama, namun belum pernah melihat demikian banyak Lhama mendatangi kota raja, menjadi heran dan memandang kepada rombongan itu dengan mata curiga.

Hal ini menggirangkan hati Tiong Li, karena ia segera mendapat akal.

Dengan wajah dibuat seperti orang yang sangat heran dan ingin tahu, ia menghampiri penjaga itu.

"Eh, twako, mereka itu hendak ke manakah? Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat pendeta-pendeta Tibet sebanyak itu. Mereka datang ke kota raja mau apakah?"

Biarpun Tiong Li telah mengatur suara dan mukanya seperti orang yang hanya ingin tahu saja dan bukan hendak menyelidik, namun penjaga itu tetap curiga.

"Untuk apa ikut-ikut mencampuri urusan mereka? Mereka adalah tamu-tamu Pangeran Yo dan apa kehendak mereka bukanlah urusanmu atau urusanku. Pergilah!"

Meskipun mendapat jawaban kasar, namun Tiong Li tidak menjadi marah. Ia bahkan tersenyum puas dan menjura dalam-dalam kepada penjaga itu.

"Terima kasih banyak, twako."

Penjaga itu menyangka bahwa Tiong Li tentu merasa jerih dan takut mendengar nama Pangeran Yo, karena siapakah orangnya yang tidak takut dan gentar mendengar nama ini?

Tidak hanya di dalam kota raja, bahkan sampai jauh di luar kota rajapun, nama Pangeran Yo sangat terkenal.

Ia mempunyai kedudukan besar karena puteri pangeran ini telah menjadi permaisuri ketiga dari kaisar dan sangat dicinta hingga kedudukan ayahnya tentu saja kuat dan berpengaruh.

Berkat jasa puterinya, Pangeran Yo diangkat menjadi penasihat baginda, bahkan ia demikian pandainya memikat hati kaisar hingga menerima tanda jasa berupa sebuah pedang pusaka yang memberi ia kekuasaan penuh sebagai duta besar dari kaisar dan bila mana atau di mana saja ia dapat gunakan kekuasaannya itu untuk bertindak!

Tentu saja para pembesar lain, besar kecil, sangat takut padanya.

Apa lagi setelah Pangeran Yo berlaku sewenang-wenang kepada para pembesar yang tak disukainya!

Orang-orang ini ia perintahkan untuk memegang jabatan yang sukar dan banyak sudah pembesar yang ia pindahkan ke tempat-tempat jauh dan berbahaya, hanya karena pembesar-pembesar itu tidak ia sukai.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 9

Baca Juga: Petualang Asmara 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert