Ceritasilat Novel Online

Patung Dewi Kwan Im 5

Eps 5 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.

Jilid 11 Siauw Ma dulu yang masih rendah kepandaiannya.

Siauw Ma telah mempelajari sampai tamat Ilmu Silat Pedang Naga Sakti dan Beng Beng Hoatsu telah menggemblengnya dengan hebat.

Karena itu, pedang di tangan Siauw Ma seakan-akan hidup dan menjadi satu dengan tubuhnya.

Gerakan-gerakannya matang dan tetap, sedangkan Sin-Liong-kiam-sut adalah ilmu pedang yang boleh dikata raja sekalian ilmu pedang di masa itu.

Maka semua serangan Siauw Liong yang bagaimanapun, dapat dipunahkan dengan mudah.

Adapun hawa beracun yang menyambar keluar dari senjata Siauw Liong, Tidak mempengaruhi Siauw Ma yang juga memiliki lwee-kang tinggi dan dapat mengatur napasnya sedemikian rupa hingga tiap kali napas keluar dari hidung dan mulutnya, napas itu dapat meniup pergi semua hawa racun yang mendekatinya dan mengancamnya.

Sebaliknya, tidak mudah baginya untuk merobohkan Siauw Liong, karena anak muda itu sungguh lihai dan cepat gerakannya.

Memang beberapa kali Siauw Liong bisa dibikin kacau oleh gerakan Sin-Liong-kiam-sut yang mempunyai gerakan-gerakan tak terduga dan cepat, tapi ia dapat menyelamatkan diri dengan tepat sebelum terkena celaka.

Namun, bagaimana juga, Siauw Liong harus mengakui bahwa kepandaian Siauw Ma biarpun tak dapat dikata lebih tinggi tingkatnya dengan kepandaiannya sendiri, namun ilmu pedang Siauw Ma sungguh-sungguh sukar dilawan hingga ia mulai main mundur.

Kemudian Siuw Liong memaki sambil menyindir-nyindir.

"Eh, orang tolol! Tuanmu tidak mempunyai banyak waktu untuk melayanimu! Kau pemuda tolol tak tahu malu, berhari-hari campur gaul dan dekat dengan seorang gadis, apakah dia patut dikata sopan? Ha, ha, ha! Siauw Ma yang gagah perkasa itu ternyata hanya seorang yang gila perempuan!"

Kemudian Siauw Liong loncat pergi. Siauw Ma yang dimaki menjadi marah sekali. Ia kertak gigi dan balas memaki.

"Bangsat kecil, kau hendak lari ke mana?"

Ia meloncat mengejar pula dengan cepat, tapi Siauw Liong menghilang di antara gerombolan pohon dan ditelan kegelapan bayangan pohon-pohon.

Siauw Ma terpaksa batalkan kejarannya.

Ia hendak kembali, tapi tiba-tiba dadanya berdebar.

Lian Eng tentu telah pulang lebih dulu!

Apakah ia berani bertemu muka dengan gadis itu?

Dengan kaki berat dan perasaan malu, Siauw Ma kembali ke rumah penginapan dan langsung memasuki kamarnya.

Ia gelisah dan bergulingan di atas pembaringan tanpa dapat pejamkan mata sebentarpun.

Kenyataan bahwa gadis yang semenjak dulu menarik perhatiannya dan yang akhir-akhir ini tanpa diketahuinya telah berjalan bersama-sama dia itu kini tidur dalam sebuah kamar yang tak berjauhan dari kamarnnya, membuat ia gelisah dan bingung.

Apa lagi kalau teringat akan pengalaman-pengalaman selama bersama gadis itu, ia merasa malu kepada diri sendiri.

Kini terbukalah matanya bahwa tanpa disadarinya ia telah tertarik kepada Souw Eng, dan rasa tertarik ini tak lain ialah karena wajah dan senyuman pemuda sasterawan itu sama benar dengan wajah dan senyuman Lian Eng!

Jadi tanpa disadarinya ia telah jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada Lian Eng dan yang kedua kalinya ini adalah Lian Eng yang berubah menjadi seorang pemuda.

Karena perasaan suka dan cinta inilah maka ia merasa cemburu dan tak senang ketika Souw Eng tidur sekereta dengan Aisyah!

Makin diingat, makin malulah rasa hati Siauw Ma.

Ah, aku harus nyatakan terus terang!

Demikian ia mengambil keputusan.

Kalau ia tidak menyatakan terus terang, maka selamanya ia akan merasa malu karena terang-terangan ia telah membuat pengakuan bahwa ia mencintai Lian Eng dan gadis itu mendengarnya sendiri.

Apakah sekarang, setelah berhadapan dengan berterang, ia tidak berani mengaku?

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siauw Ma telah cuci muka dan berdandan.

Ia sengaja berganti pakaian yang dibawanya, pakaian baru yang membuat ia makin gagah dan tampan.

Kemudian ia menanti di luar kamar Lian Eng masih tidur karena pintu kamarnya masih tertutup.

Ah, ia tentu lelah, pikir Siauw Ma.

Pada saat itu datanglah pelayan rumah penginapan yang menghampiri padanya dan menyerahkan sepucuk surat sambil berkata.

"Siauw-ya, malam tadi kawanmu telah pergi dan meninggalkan surat ini kepadaku dengan pesan agar pagi hari ini kuberikan kepadamu."

Terkejutlah Siauw Ma. Ia terima surat itu dan menegur.

"Kenapa tidak kau berikan padaku malam tadi?"

Pelayan itu memandangnya dengan tak berdaya.

"Kawanmu itu pesan dengan keras dan tegas, siauw-ya. Ia melarang padaku memberi surat ini padamu sebelum pagi hari ini. Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan padaku."

Siauw Ma menghela napas.

"Kalau begitu kamar itu telah kosong?"

Tanya dengan harapan.

Pelayan itu mengangguk dan ia pergi ke kamar bekas kamar Lian Eng lalu mendorong pintunya.

Memang kamar itu telah kosong, sama seperti kekosongan hati Siauw Ma pada saat itu.

Dengan sepuluh jari tangan gemetar ia buka surat itu yang ternyata berisikan tulisan yang halus dan bagus yang dibacanya berulang kali.

Kakakku Siauw Ma yang baik, Kalau surat ini kau pegang, maka aku telah pergi jauh.

Setelah apa yang terjadi malam tadi, kurasa lebih baik kita menuruti jalan masing-masing, bukan?

Harap saja kau sudi maafkan padaku jika kau anggap aku telah mempermainkan padamu yang sesungguhnya, bukan menjadi maksudku dan janganlah marah padaku.

Aku akan anggap kau sebagai seorang kawan terbaik selama hidupku.

Tertinggal hormatnya Souw Lian Eng Siauw Ma merasa seakan-akan dunia menjadi sunyi dan ia seperti kehilangan sesuatu yang membuat ia berduka.

Tapi terhibur juga hatinya membaca tulisan Lian Eng yang terakhir.

Gadis itu akan menganggapnya sebagai seorang kawan terbaik selama hidupnya?

Ah, ini menandakan bahwa dirinya betapapun juga mendatangkan kesan baik dalam hati gadis itu!

Siapa tahu, kalau ada jodoh mereka tentu akan bertemu kembali.

Atau, bagaimanapun juga, tak sampai setahun lagi, pada permulaan musim Chun tahun depan mereka tentu bertemu di puncak Thang-la!

Mengingat akan hal ini, Siauw Ma terhibur hatinya dan wajahnya yang muram menjadi terang kembali.

Aku tidak harus mengejar-ngejar dan mencari-carinya, karena perbuatan ini hanya akan mendatangkan rasa rendah dirinya pada hati Lian Eng.

Gadis itu telah menyatakan hendak menuruti jalan masing-masing.

Demikianlah, Siauw Ma memutar-mutar pikirannya dan akhirnya mengambil keputusan untuk melanjutkan perantauannya ke arah utara.

Marilah kita alihkan perhatian kita sebentar untuk mengikuti keadaan dan pengalaman murid-murid dari tokoh lain.

Di atas puncak Hong-Lun-San, seorang dari pada Thang-la Sam-sian atau Tiga Dewa Gunung Thang-la, yakni Hwat Kong Tosu, tidak kalah rajinnya dengan penuh perhatian menggembleng murid kesayangannya, Hong Cu.

Gadis itu yang tahu bahwa suhunya telah mengikuti semacam perlombaan mengadu kepandaian dan bahwa dirinya dijadikan batu ujian, belajar dengan penuh semangat karena iapun ingin sekali mewakili suhunya dan merebut gelar pendekar terbesar dari Thang-la.

Hong Cu maklum bahwa orang-orang yang ia hadapi dalam perlombaan ini adalah orang-orang pandai dan yang lebih dahulu belajar silat dari padanya.

Ia sudah mengemukakan hal ini kepada suhunya, tapi Hwat Kong Tosu dengan penuh keyakinan berkata kepadanya.

"Muridku, jangan kau gelisah. Memang, Beng Beng Hoatsu, Kiang Cu Liong dan Huo Mo-li adalah orang-orang lihai yang pasti akan menurunkan ilmu silat tinggi kepada muridnya. Tapi, betapapun juga, jika kau bersungguh hati dan dapat mewarisi ilmu tongkat kami seluruhnya dengan baik dan sempurna, jangan kau cemas akan tertinggal oleh mereka! "Dengan Ouw-coa-koai-tung-hwat kami yang telah kau pelajari dengan sempurna, kau boleh dengan hati besar menghadapi Sin-Liong-kiam-sut dari Beng Beng Hoatsu, Huo-mo-kun-hwat dari Huo Mo-li, ataupun kepandaian silat tinggi yang diturunkan oleh si Tabib Dewa sekalipun!"

Hong Cu percaya penuh akan kata-kata suhunya itu, maka iapun berbesar hati dan meyakinkan Ouw-coa-koai-tung-hwat dengan sepenuh hati.

Selain itu, iapun mempelajari ilmu-ilmu lain dan memperdalam lwee-kang dan gin-kang dengan tekunnya.

Sementara itu, semenjak Hwat Kong Tosu mengajak Hong Cu ke atas Hong-Lun-San, maka Souw Cin Ok, murid Hwat Kong Tosu yang pertama dan telah tua, yakni kakek sendiri dari Lian Eng yang akhirnya menjadi murid Huo Mo-li, mendapat perkenan dari suhunya untuk turun gunung dan menjalankan tugas sebagai pendekar perantauan.

Seperti halnya dengan Beng Beng Hoatsu yang menyuruh muridnya turun gunung, Hwat Kong Tosu ternyata mempunyai pandangan yang sama.

Ia merasa bahwa kepandaian muridnya telah cukup tinggi dan sempurna, hanya perlu sekali muridnya itu menambah pengalaman dan mempraktekkan semua ilmu yang dipelajari di atas gunung itu untuk diuji dan digembleng dengan api pengalaman di dunia ramai.

Maka, setahun sebelum pertemuan besar itu terjadi, ia panggil Hong Cu dan memerintahkan muridnya itu turun gunung mencari pengalaman.

Dengan demikian, maka tanpa disengaja Hong Cu tinggalkan Hong-Lun-San hampir berbareng dengan Siauw Ma yang tinggalkan Puncak Harimau Salju!

Demikianlah, pada suatu pagi, dari puncak Hong-Lun-San yang tinggi, tampak sesosok tubuh yang dengan lincah dan gesitnya meloncati jurang-jurang menuruni lereng yang curam.

Ia adalah Hong Cu yang berpakaian warna kuning dengan sabuk sutera merah.

Gadis itu kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik sekali.

Sepasang matanya lebar dan bening seperti burung hong, mulutnya kecil dengan bibir merah.

Kulit putih bersih dan halus, sedikitpun tak membayangkan bahwa di bawah kulit itu terdapat tenaga-tenaga mentakjubkan.

Berbeda ketika merantau dulu, Kini di atas gunung Hong Cu mempunyai banyak kesempatan untuk merawat diri, maka kini ketika turun gunung, rambutnya tampak hitam berkilat dan dikuncir rapi lalu diikat di atas kepala dengan ikat rambut dari pita merah pula.

Bahkan di bagian kiri kepalanya, ia menghiasnya dengan setangkai bunga warna kuning yang harum baunya.

Hong Cu tidak membawa senjata apa-apa karena keahliannya bermain tidak membutuhkan sesuatu senjata khusus.

Ia dapat menggunakan setiap potong kayu untuk dijadikan senjata tongkat yang tidak kalah lihainya dari pada sebatang pedang mustika!

Agaknya tabiat Hong Cu tidak banyak berubah, riang gembira dan jenaka seperti biasa, terbukti dari senyum yang menghias bibirnya dan sinar matanya yang selalu berseri ketika ia menggunakan ilmu lari cepat menuruni gunung itu!

Ia telah mendapat perkenan dari suhunya untuk mencari orang tuanya.

Memikirkan hal ini, ia merasa sangat girang dan gembira, karena telah lebih dari enam tahun ia tinggalkan kedua orang tuanya!

Biarpun telah enam tahun yang lalu, tapi Hong Cu masih teringat akan peristiwa ketika ia mula-mula bertemu dengan suhunya di kota Bun-an-kwan.

Ia tahu bahwa kota itu bukanlah tempat tinggal orang tuanya dan ia masih teringat bahwa orang tuanya adalah seorang pembesar di kota Tiong-an-kwan yang tak jauh letaknya dari Bun-an-kwan.

Ayahnya bernama Ang Lie Seng.

Maka pada pagi itu, Hong Cu langsung menuruni puncak Hong-Lun-San dan menuju ke arah timur, hendak mencari tempat tinggal ayah bundanya.

Tapi Tiong-an-kwan bukanlah dekat dari Pegunungan Thang-la dan untuk pergi ke kota itu ia membutuhkan sedikitnya waktu satu bulan perjalanan cepat karena dari tempat pertapaan suhunya, kita itu terpisah ribuan lie jauhnya!

Beberapa hari kemudian, Hong Cu tiba di sebuah kota yang cukup ramai.

Ia berjalan seenaknya masuk ke dalam kota itu dan semua mata memandangnya dengan kagum dan heran.

Siapa yang takkan kagum melihat gadis remaja yang cantik jelita itu dan siapa yang takkan heran melihat seorang gadis muda seorang diri berjalan memasuki kota, sedangkan pakaian gadis itu serba ringkas dan singset, menunjukkan bahwa gadis itu adalah golongan orang-orang ahli silat.

Tapi karena tidak tampak pedang menghias di pinggang atau punggung Hong Cu, orang-orang tidak memandang sebelah mata kepadanya.

Kecantikan dan keadaannya itu mendatangkan peristiwa yang cukup hebat di kota itu.

Di dalam kota itu terdapat serombongan anak muda tukang pelesir yang terkenal sebagai pemuda-pemuda nakal dan jahat.

Mereka ini adalah putera-putera para pembesar dan hartawan yang pekerjaannya tidak lain hanya mengandalkan kedudukan dan harta orang tua untuk menghina orang lain, terutama rakyat kecil yang tak berdaya.

Pemuda-pemuda ini diam-diam membentuk semacam perkumpulan orang muda di mana mereka mempelajari ilmu silat dengan mengumpulkan orang-orang yang mereka anggap jagoan.

Pagi hari itu, serombongan pemuda sedang berkumpul dalam rumah ketuanya, yakni seorang hartawan yang terkenal banyak pengaruhnya.

Ketika mereka sedang mengobrol dengan gembira dan menikmati arak dan daging, tiba-tiba seorang pemuda berlari masuk dan memberitahukan tentang kedatangan seorang gadis cantik di kota itu.

Ternyata pemuda itu telah melihat Hong Cu dan segera memberi kabar kepada kawan-kawannya.

Mendengar berita menggembirakan ini, beramai mereka keluar seakan-akan hendak berlomba mendapatkan gadis itu!

Maka sebentar saja tidak kurang dari pada limabelas orang pemuda berjalan cepat-cepat hingga membuat banyak orang menahan napas dengan penuh rasa khawatir.

Penduduk kota itu telah tahu bahwa pemuda-pemuda ini hanya mendatangkan bencana dan keonaran belaka, tapi mereka tidak berani menentang putera-putera hartawan dan para pembesar itu.

Kini melihat belasan pemuda itu berjalun cepat-cepat, mereka tertarik sekali dan orang-orang yang agak pemberani diam-diam mengikuti mereka karena hendak melihat apakah yang akan dilakukan para pemuda itu.

Sementara itu, dengan menggendong buntalan pakaian dan bekal di atas punggung, Hong Cu berjalan seenaknya sambil melihat-lihat rumah dan toko yang berbaris di sepanjang kanan kiri jalan.

Ia kagum melihat bangunan-bangunan tembok besar dan kokoh itu dan tiap kali lewat depan sebuah toko yang menjual bermacam barang dan cita, ia berhenti sebentar sambil melihat-lihat.

Iapun tahu bahwa banyak mata laki-laki ditujukan kepadanya secara kurang ajar, tapi ia tidak ambil perduli, hanya menarik bibirnya ke arah senyum menghina.

Ketika ia tiba di sebuah jalan simpang empat, tiba-tiba saja datang sorombongan pemuda yang berpakaian mewah dan bersikap gagah.

Mereka itu dengan cengar-cengir dan berlagak gagah-gagahan lalu membuat lingkaran dan mengelilingi Hong Cu yang berdiri di tengah dengan berani.

Kebetulan pada saat itu ada seorang laki-laki tua berdiri dekat Hong Cu dan ikut termasuk dalam lingkaran, maka laki-laki tua itu dengan wajah pucat segera berbisik kepada Hong Cu.

"Siocia, celaka. Kau dalam bahaya!"

Kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi dari tempat itu.

Hong Cu berlaku tenang dan senyum menghina tidak tinggalkan bibirnya yang manis.

Ia berdiri sambil bertolak pinggang dan memandang para pemuda itu dengan berani.

Limabelas orang pemuda-pemuda itu tersenyum-senyum dan mata mereka menikmati pandangan indah yang berupa gadis cantik jelita itu.

Mereka tidak hanya kagum akan kecantikan Hong Cu, tapi juga kagum melihat ketabahan nona itu yang sedikitpun tidak tampak gugup atau takut melihat dirinya dikurung pemuda-pemuda itu.

Terdengarlah pujian-pujian yang di antaranya sangat menyebalkan.

"Aduh, lihat pinggangnya! Seperti batang pohon liu!"

"Kulitnya putih seperti susu!"

"Aduh manisnya bibir itu!"

"Matanya lebih bagus dari pada mata burung hong."

Hong Cu makin sebal dan tahulah ia bahwa pemuda-pemuda ini adalah pemuda yang perlu mendapat hajaran keras. Ia hadapi mereka dengan keren dan menegur keras.

"Hai, apakah maksud kalian menghadang perjalananku? Mundurlah sebelum aku menjadi marah."

Pemuda-pemuda itu makin beraksi. Ketua mereka, seorang pemuda yang tampan juga dan berpakaian sangat mewah, maju dan berkata.

"Nona, kami tidak menghadang untuk mengganggumu. Kami hanya ingin berkenalan dan kagum melihatmu. Marilah kau ikut kami dan menerima penghormatan kami!"

Hong Cu adalah seorang gadis yang dalam beberapa tahun ini berada di atas gunung.

Sekarang ia baru berusia tujuhbelas tahun dan boleh dikata ia tumbuh dewasa, di atas Bukit Hong-Lun-San hingga ia sama sekali tidak mengerti akan keadaan dunia yang penuh dengan tipu muslihat dan kekotoran perbuatan manusia.

Oleh karena tidak mengerti, maka ia menganggap perkataan pemuda itu sewajarnya dan tidak mempunyai latar belakang yang jahat, hingga ia menjadi agak sabar dan menjawab.

"Terima kasih, saudara. Tapi aku tidak ada waktu dan hendak melanjutkan perjalananku. Harap kalian maafkan saya dan jangan menghalangi perjalananku."

Akan tetapi, di luar dugaannya, pemuda-pemuda itu mengurungnya makin rapat dan mereka mulai mendekatinya.

"Nona manis, janganlah menolak. Marilah kugandeng tanganmu, nona,"

Ketua pemuda-pemuda itu berkata lagi, kini sambil memandang dengan kurang ajar sekali.

Melihat keadaan itu, mengertilah Hong Cu dan ia mulai marah sekali.

Sepasang matanya yang besar dan bening itu mengeluarkan cahaya kilat, tapi bibirnya tetap tersenyum manis.

Sementara itu, orang-orang yang tadi diam-diam mengikuti pemuda-pemuda itu dan banyak orang pula yang kebetulan berada di situ, hanya menghela napas dan merasa kasihan akan nasib gadis itu yang tentu akan mendapat hinaan seperti biasa dilakukan oleh gerombolan pemuda liar itu.

Pernah dulu terjadi pemuda-pemuda itu menghina seorang gadis kota itu dan orang tua serta kakak gadis itu mencegahnya, tapi akibatnya kakak gadis itu mati dihajar sedangkan ayahnya dipukuli pula, sedangkan gadis itu dengan paksa diculik oleh mereka.

Siapa yang berani melawan?

Ayah-ayah mereka itu adalah orang-orang berpangkat dan orang-orang hartawan!

Tapi alangkah heran mereka ketika melihat betapa Hong Cu sedikitpun tidak tampak takut, bahkan kini membentak dengan suaranya yang nyaring.

"Eh, eh! Tidak tahunya kalian ini adalah anjing-anjing rendah yang gatal punggung membutuhkan gebukan! Biarlah hari ini nonamu memberi hajaran kepada kalian!"

Biarpun kata-kata ini diucapkan dengan sungguh-sungguh dan nyaring, tapi tentu saja tidak dipandang sebelah mata oleh para pemuda itu, bahkan seorang di antara mereka yang tinggi besar segera menghampirinya dan berkata.

"Aduh, nona manis. Kalau kau ingin menggebuk punggungku, boleh kau gebuk lebih dulu. Tapi nanti kalau kau menghibur kami, harus aku yang lebih dulu kau hibur. Bagaimana, akur?"

Hong Cu rasakan dadanya hampir meledak karena marahnya, tapi ia dengan kekuatan batin yang luar biasa dapat juga menekan marahnya dan bahkan suaranya terdengar merdu dan manis ketika ia berkata.

"Baiklah, coba kau ambilkan penggebuknya!"

Pemuda tinggi besar itu dengan tertawa ha-ha-hi-hi lalu memungut sepotong kayu kecil yang besarnya hanya sebesar jari telunjuk dan panjangnya tidak lebih satu kaki!

"Ini penggebuknya, dan kau boleh gebuk sekerasnya!"

Katanya sambil nyengir dan perlihatkan giginya yang besar-besar.

Sebetulnya menurut nafsu marahnya, ingin sekali Hong Cu turun tangan dengan segera, tapi karena ia merasa muak dan sebal melihat para pemuda itu, maka ia sengaja minta senjata untuk menghajar mereka agar tangannya tak usah kotor karena beradu dengan tubuh mereka!

Kini melihat orang memberi sebatang kayu kering, hatinya girang sekali dan ia terima itu dengan mulut masih tersenyum.

Sementara itu, orang-orang yang melihat peristiwa itu, juga para pemuda yang mengurungnya, heran akan kesungguhan gadis itu menerima olok-olok si tinggi besar.

Masa kayu kecil pendek itu akan dipakai menggebuk?

Tentu saja yang digebuk takkan merasa apa-apa!

Pemuda tinggi besar itu lalu berdiri membelakangi Hong Cu dan berkata.

"Hayo, kau cepat memberi gebukan, nona manis!"

Kini Hong Cu tak dapat menahan nafsu marahnya lagi.

Dengan perlahan ia gerakkan tongkat pendek kecil itu ke arah punggung si pemuda tinggi besar.

Dan akibatnya membuat para pemuda itu tertawa riuh rendah mentertawakan Hong Cu.

Ketika kayu itu tiba di punggung pemuda tinggi besar, tak terdengar sesuatu dan tidak terdengar pula si pemuda mengaduh, bahkan pemuda itu masih berdiri sedikitpun tak bergerak, seakan-akan tidak merasa sama sekali!

Tapi tak lama kemudian, pemuda-pemuda itu menjadi pucat seperti melihat setan dan suara ketawa yang riuh rendah itu serentak berhenti tertahan seperti suara jengkerik sedang mengerik lalu terpijak mampus!

Yang membuat mereka terkejut adalah keadaan pemuda tinggi besar itu.

Pemuda itu masih berdiri dengan mata melotot, tapi ia tak dapat bergerak sama sekali seperti sebuah patung batu, hanya kedua biji matanya saja melotot besar dan melirik ke sana-sini dan tak lama kemudian dari kedua mata itu mengalir air mata!

Ternyata pemuda itu telah tertotok jalan darah tai-twi-hiat oleh ujung tongkat Hong Cu hingga membuat ia kaku!

Hong Cu tak mau tanggung-tanggung.

Ia bergerak lagi dan lain pemuda yang terdekat telah tertotok roboh dan tak dapat bergerak karena lemas!

Kini barulah para pemuda itu maklum bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang gadis yang mereka sangka mempunyai ilmu sihir, maka ramailah mereka mencabut golok dan pedang mengeroyok!

Akan tetapi, belasan pemuda itu bagi Hong Cu tidak lebih berbahaya dari pada belasan ekor semut yang kalau ia mau membunuhnya tinggal pencet saja!

Tapi, gadis itu tidak demikian kejam.

Ia bergerak cepat hingga lenyap dari pandang data para pemuda itu dan tahu-tahu, seorang demi seorang, ke tigabelas orang pemuda itu telah tertotok semua!

Yang tertotok jalan darah tai-twi-hiat, berdiri kaku bagaikan patung, sedangkan yang tertotok jalan darah thian-hu-hiat, roboh dengan lemas dan tak dapat berkutik!

Sebentar saja, jalan perempatan itu telah penuh dengan tubuh-tubuh para pemuda itu yang bergelimpangan di sana sini dan berdiri kaku bagaikan patung-patung hidup!

Dan para penduduk yang melihat jalannya pertempuran hebat itu, kini berdiri terbelalak memandang kepada Hong Cu bagaikan melihat seorang bidadari baru saja turun melayang dari angkasa!

Orang tua yang memberi peringatan segera menghampiri Hong Cu dan berkata.

"Ah, kau lihai sekali, nona. Tapi lekaslah kau lari, karena kong-cu-kong-cu itu mempunyai guru-guru ahli silat yang pandai dan sebentar lagi mereka bisa datang dengan para pengawal dan polisi untuk menangkapmu. Larilah lekas!"

Hong Cu ulur tangannya dan pegang pundak orang tua itu sambil tersenyum.

"Jangan kau khawatir, Lopeh. Memang aku menanti kedatangan mereka untuk sekalian kuberi hajaran agar mereka jangan berani berlaku sewenang-wenang pula kepada rakyat."

Orang-orang yang mendengar ucapan gagah ini merasa kagum dan mereka pandang gadis itu seakan-akan Hong Cu bukanlah seorang gadis dan manusia biasa, tapi seorang dewi.

Apa lagi orang tua itu, ketika mendengar ucapan Hong Cu yang menyatakan pembelaannya kepada rakyat kecil, menjadi terharu dan jatuhkan dirinya berlutut.

"Ah... kalau begitu, kau benar-benar seorang dewi..."

Hong Cu mengangkat bangun empe itu dan pada saat itu dari jauh tampak mendatangi banyak orang sambil berlari.

Mereka itu ternyata adalah guru-guru silat dan kaki tangan para pemuda yang baru saja dihajar oleh Hong Cu!

Melihat hal ini, kakek itu segera pergi dari situ dengan ketakutan.

Hong Cu dengan tenang memandang mereka yang mendatangi.

Ternyata bahwa mereka terdiri dari lima orang laki-laki setengah tua berpakaian sebagai guru-guru silat dan serombongan polisi berpakaian seragam biru lebih dari dua orang banyaknya.

Bukan main terkejutnya para guru silat dan rombongan penjaga keamanan itu ketika melihat keadaan limabelas pemuda itu yang berada dalam keadaan mengherankan, dan lebih terkejut dan heran lagi ketika mendengar bahwa yang menjatuhkan semua pemuda itu bukan lain ialah gadis muda cantik jelita yang berdiri dengan tenang dan bermain-main dengan sebatang kayu kecil di jari-jari tangannya itu!

Kepala guru silat yang memimpin penyerbuan ini adalah seorang she Louw dan ia seorang yang mahir sekali memainkan sebuah tombak bercagak.

Iapun tidak lupa membawa tombaknya itu dan kini dengan agak ragu-ragu ia mewakili kawan-kawannya dan melangkah maju menghadapi Hong Cu.

"Nona, benarkah bahwa kau yang merobohkan semua kongcu-kongcu ini?"

Tanyanya dengan membentak, Hong Cu memandang guru silat itu dengan senyum manis.

"Memang betul, dan siapakah kau maka menanyakan hal ini padaku?"

Tertegun hati Louw-Kauwsu melihat lagak Hong Cu yang demikian tenang dan aneh.

Ia menduga bahwa gadis ini tentu murid seorang luar biasa dan berilmu tinggi, maka iapun tidak berani sembarangan berlaku sembrono dan keras.

Biarpun ia merasa malu harus bersikap hormat dan melayani gadis muda ini, tapi ia menjawab juga.

"Lohu she Louw dan menjadi guru silat di kota ini. Kau masih begini muda tapi suka mencari onar, maka kuharap saja kau suka ikut dengan damai agar perkara ini dapat diadili sebagaimana mestinya."

"Perkara ini terjadi di sini, dan bukan aku yang mulai lebih dulu. Kalau mau mengadili harus di sini juga!"

Kata Hong Cu dengan acuh tak acuh. Sikap ini membuat seorang guru silat yang masih muda dan bertubuh tinggi besar menjadi marah sekali, ia segera melangkah maju dan berkata kasar.

"Perempuan siluman dari mana berani mengacau dan menyombong di sini? Hayo kau menyerah!"

Dan ia mengulur tangan hendak menangkap lengan Hong Cu.

Tapi, sebelum orang dapat melihat gerakan gadis yang cepat sekali itu, tiba-tiba ujung kayu kecil di tangan Hong Cu telah mendahului menotok pundaknya dan jago silat tinggi besar itu roboh dengan lemas!

Bukan main terkejutnya Louw-Kauwsu melihat gerakan yang aneh dan lihai ini.

Bagaimana sebatang kayu kecil seperti itu dapat digunakan sebagai senjata penotok demikian lihainya?

Tapi, ia tidak mau jatuh nama dan berlaku nekat.

Dengan ayun dan gerakkan tombak cagaknya, ia menerjang sambil berkata.

"Kalau kau menghendaki kekerasan, apa boleh buat!"

Hong Cu melihat datangnya serangan cukup berbahaya, mengerti bahwa Louw-Kauwsu adalah seorang yang mempunyai kepandaian lumayan juga, maka ia berkelit dengan lincahnya.

Serangan kedua dan ketiga menyusul, tapi tetap Hong Cu dapat menghindari ujung tombak dengan mudah sekali.

Hal ini membuat semua orang yang mengurungnya menjadi marah dan mereka beramai maju menyerbu!

Maka ribut dan kacaulah keadaan di situ!

Para pemuda yang tadi tertotok dan masih berdiri seperti patung, kena tertubruk dan tersenggol oleh para pengeroyok itu hingga tubuh mereka roboh dalam keadaan masih kaku!

Hong Cu tidak mau sia-siakan waktu.

Ia lalu kerjakan kayu kecil di tangan dan dengan gerakan menempel ia berhasil tempel ujung tombak Louw-Kauwsu dan sekali putar saja tombak itu terlepas dari tangan Louw-Kauwsu!

Inilah gerakan istimewa dari Ilmu Tongkat Ouw-coa-koai-tung-hwat!

Secepat kilat kayu di tangan Hong Cu menyambar dan guru silat kepala itu dapat ditotok roboh dan tak berdaya.

Setelah itu, sekali lagi Hong Cu mengamuk seakan-akan seekor naga betina yang sakti menyambar ke kanan kiri, dan di mana saja tubuhnya berkelebat, di situ tentu roboh seorang pengeroyok!

Tak lama kemudian, hampir semua pengeroyok dapat dirobohkan dan sisanya segera melarikan diri!

Di jalan simpang empat itu kini penuh tubuh orang yang malang melintang dan bertumpuk-tumpuk hingga semua orang yang menonton pertempuran aneh itu kini memandang dengan mata terbelalak, menatap gadis kecil yang masih tersenyum dan berdiri di tengah-tengah perempatan!

Kemudian, setelah memandang para korbannya dengan puas, Hong Cu berkata dengan suaranya yang merdu dan nyaring.

"Kalian semua pemeras dan penindas yang kejam, dengarlah! Hari ini kalian baru tahu bahwa tidak selalu kejahatan mendapat kemenangan. Jangan sangka bahwa dengan menggunakan kekuasaan dan kepandaian serta harta benda, kalian akan dapat selalu menindas dan memeras rakyat kecil! "Saat ini aku masih menaruh kasihan dan ampunkan jiwa rendahmu sekalian, tapi awas, kalau lain kali kalian masih berani berlaku sewenang-wenang, maka aku sendiri atau kawan-kawanku akan datang membasmimu tanpa ampun lagi!"

Setelah berkata demikian yang dapat didengar oleh semua korban yang tertotok dan malang melintang di atas tanah, Hong Cu lalu menggunakan kedua kakinya menendang dan menyontek ke arah tubuh para korbannya.

Heran sekali, setelah kena tendang sekali saja oleh ujung sepatu Hong Cu yang lemas dan runcing, orang-orang itu dapat bergerak dan merayap bangun, lalu pergi bagaikan seekor anjing kena pukul!

Louw-Kauwsu yang merasa kagum dan malu, memberanikan diri menghampiri Hong Cu dan menjura.

"Lihiap, maafkan kami yang tidak mengenal orang pandai. Bolehkah aku mengetahui nama lihiap yang terhormat dan nama gurumu yang mulia?"

Hong Cu tersenyum dan menjawab.

"Namaku Ang Hong Cu dan guruku ialah Hwat Kong Tosu dari Thang-la!"

Mendengar nama Hwat Kong Tosu, terkejutlah Louw-Kauwsu dan ia segera menjura lagi.

"Ah, ah, maafkan kami, lihiap, sungguh kami harus mampus tidak mengenal murid seorang Thang-la Sian-jin yang terhormat!"

Kemudian ia pergi dengan menundukkan kepala.

Hong Cu melihat betapa orang-orang menonton di situ kini memandangnya dengan mata kagum, maka ia tidak mau menunggu sampai orang-orang itu membuat penyambutan kepadanya sebagai seorang pembela rakyat.

Dengan cepat ia lalu meloncat berkelebat dan lenyaplah bayangannya di balik benteng!

Terdengar seruan kagum dan heran dan untuk sesaat lamanya orang-orang yang menyaksikan hal ini berdiri bengong.

Sampai berbulan-bulan nama Hong Cu dijadikan kembang bibir orang kota itu dan semenjak terjadi peristiwa itu, para pemuda yang tadinya merupakan gerombolan liar dan pengganggu ketenteraman penduduk kota, tidak berani lagi memperlihatkan tingkah yang tidak selayaknya.

Hal ini tentu saja membuat para penduduk merasa berterima kasih, sekali kepada gadis muda yang mereka anggap sebagai dewi kahyangan.

Sementara itu, ketika Hong Cu turun dari genteng rumah terakhir di luar kota, tiba-tiba terdengar orang memanggil namanya.

Ia merasa heran sekali dan menengok dengan siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Tapi ketika ia melihat bahwa yang memanggil namanya adalah seorang kakek berpakaian sebagai seorang petani, ia menjadi girang sekali dan lari menghampiri orang itu sambil berseru.

"Souw-peh-peh!"

Orang itu ternyata bukan lain ialah Souw Cin Ok, murid pertama dari Hwat Kong Tosu!

Sebenarnya Hong Cu harus menyebut suheng atau kakak seperguruan padanya, tapi karena Souw Cin Ok adalah seorang kakek dan Hong Cu seorang gadis muda yang pantas menjadi cucunya, maka terdapat persetujuan kedua orang bahwa Hong Cu menyebut Souw Cin Ok dengan sebutan Peh-peh atau uwa, sedangkan kakek she Souw itu menyebut Hong Cu dengan menyebut namanya saja bukan menyebut sumoi sebagaimana mestinya.

"Souw-peh-peh! Beberapa tahun ini kau pergi ke mana saja?"

Hong Cu bertanya dengan wajah berseri.

Ia memang suka kepada Souw Cin Ok yang dulu ketika masih berada di atas gunung sering memberi petunjuk-petunjuk padanya.

Semenjak ia belajar silat di atas Hong-Lun-San, telah beberapa kali Souw Cin Ok naik ke puncak itu dan menyambangi suhunya, Hwat Kong Tosu.

Mendengar pertanyaan Hong Cu dan melihat kegembiraan gadis itu, Souw Cin Ok tersenyum.

"Aku merantau ke seluruh daratan Tiongkok, dan tadi kulihat pula sepak terjangmu. Ah, sungguh luar biasa kemajuan yang kau capai selama beberapa tahun ini, Hong Cu. Kulihat ilmu tongkatmu sudah tak jauh dengan kepandaian suhu sendiri!"

Hong Cu girang mendengar ini.

"Betulkah, peh-peh? Dan bagaimana pendapatmu tentang perbuatanku tadi? Salahkah caraku memberi pelajaran kepada mereka?"

Souw Cin Ok pandang wajah Hong Cu dengan kagum.

Semenjak dulu ia sayang dan suka kepada gadis lincah gembira ini dan ia sudah anggap gadis itu sebagai pengganti Lian Eng yang berpisah dengannya.

Kini melihat sepak-terjang dan ilmu silat gadis itu, ia benar-benar kagum sekali.

Kalau dibanding dengan kepandaian sendiri, mungkin sumoi yang muda ini sudah menang berlipat ganda!

Iapun maklum bahwa suhunya memang sengaja menurunkan seluruh kepandaian kepada murid baru yang tersayang ini.

Diam-diam dalam hati Souw Cin Ok timbul harapan bahwa mungkin sekali Hong Cu akan mendapat kemenangan pada tahun depan nanti.

Ia juga mendengar dari suhunya akan hal ini dan ia hanya mengharap, kalau bukan Hong Cu, supaya Lian Eng cucunya itu yang akan mendapat kemenangan.

"Sepak terjangmu tadi sudah sepantasnya, Hong Cu. Cuma lain kali janganlah kau terlalu memandang ringan kepandaian orang sebelum tahu benar-benar bahwa kepandaianmu jauh berada di atas kepandaiannya."

Hong Cu mengangguk-angguk, karena ia sudah biasa taat kepada petunjuk suhunya dan petunjuk Souw Cin Ok yang selalu memberi nasihat dan petunjuk benar padanya.

"Dan sekarang kau hendak pergi ke mana, Souw-peh-peh?"

"Aku sengaja mencegatmu di sini, Hong Cu. Tapi kau lari begitu cepat hingga hampir saja kau lewat tanpa aku dapat menegurmu!"

Hong Cu tersenyum lagi. Hatinya senang sekali, karena ia tahu bahwa kalau Souw Cin Ok memuji, maka pujian itu keluar dari hati yang jujur, bukan pujian kosong.

"Hong Cu, aku sengaja hendak mengajakmu menghadiri pesta ulang tahun seorang sahabatku di kota yang tak jauh dari sini letaknya. Sahabatku itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal juga dan sudah tentu kali ini akan datang berkumpul banyak sekali orang pandai dari dunia kang-ouw di rumahnya.

"Ketika aku melihatmu tadi, ingatlah, olehku bahwa suhu sengaja, menyuruh kau turun gunung untuk mencari pengalamannya. Nah, kau akan meluaskan pengalamanmu jika kau turut aku ke pesta itu."

Hong Cu tertawa.

"Ah, Souw-peh-peh masa pergi berpesta bisa mendatangkan pengalaman? Kau aneh sekali."

Souw Cin Ok mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan tertawa pula.

"Anak bodoh! Bukankah kukatakan tadi bahwa sahabatku itu seorang tokoh kang-ouw. Tentu saja banyak orang pandai datang dan dengan bertemu orang-orang pandai, bukankah itu berarti memperluas pengalamanmu?"

"Baiklah, baiklah, peh-peh. Tentu aku senang ikut padamu, karena akupun sedang bingung hendak ambil jalan mana untuk menuju ke kampung orang tuaku."

"Kebetulan sekali, Hong Cu, karena untuk pergi ke kampungmu kau harus melewati Lam-kiok juga."

"Eh, kau sudah tahu kampungku, peh-peh?"

"Tentu saja tahu, bukankah kampungmu Tiong-san-kwan?"

Tiba-tiba Hong Cu menuding ke arah kakek itu sambil tertawa.

"Aah, aku tahu, tentu suhu yang memberi tahu kepadamu, peh-peh. Betul, tidak? Suhu selalu memberi tahu segala hal kepadamu."

Souw Cin Ok hanya tertawa melihat lagak Hong Cu yang masih kekanak-kanakan itu.

Ia lalu ajak nona itu berangkat dengan menggunakan ilmu lari cepat.

Ternyata kepandaian Hong Cu sudah berada di atas suhengnya ini hingga dalam hal gin-kang juga ia lebih sempurna.

Boleh dibilang dalam hal gin-kang, Hong Cu memang lebih tinggi dari orang lain, karena ia mempunyai tenaga istimewa yang ia miliki setelah ia makan obat pemberian Tiong Li tercampur buah-buahan aneh dulu itu.

Souw Cin Ok tahu pula akan hal ini dan ia memang sengaja ajak sumoinya yang lihai ini, tidak saja untuk memperkenalkan sumoinya dengan para orang gagah, tapi juga mengandung lain maksud.

Ia ingin ajak gadis perkasa ini untuk membantunya membalas dendam sakit hatinya kepada seorang yang lihai kepandaiannya!

Karena menggunakan ilmu lari cepat maka kota Lam-kiok yang jauhnya hanya ratusan lie itu dapat dicapai dalam waktu setengah hari.

Hari telah menjelang senja ketika Souw Cin Ok dan Hong Cu masuk ke dalam kota Lam-kiok yang ramai juga.

Mereka langsung menuju ke sebuah gedung besar di barat kota.

Sahabat yang dimaksudkan oleh Souw Cin Ok itu adalah seorang hartawan she Lim yang terkenal suka bergaul dan luas pengalamannya karena sering kali pergi merantau mencari sahabat-sahabat di kalangan tokoh persilatan.

Lim-wangwe ini adalah seorang yang gagah perkasa karena ia mewarisi ilmu silat golok besar yang diturunkan oleh leluhurnya.

Kakeknya dulu adalah seorang murid dari cabang Kun-lun dan yang telah berhasil menciptakan ilmu golok keluarga Lim yang diwarisi oleh Lim-wangwe.

Karena sikapnya ramah-tamah dan suka sekali akan ilmu silat, maka Lim-wangwe banyak sekali kenalannya di antara tokoh-tokoh dari semua cabang.

Tidak heran bahwa ketika ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh, orang-orang gagah dari segala lapisan dan segala tingkat memerlukan datang untuk memberi selamat, sekalian hendak bertemu dengan kawan-kawan lama yang tentu datang pula menghadiri perayaan itu.

Karena gedung Lim-wangwe besar dan luas, serta ia terkenal hartawan besar, maka sudah tentu pesta perayaan itupun luar biasa ramainya.

Pada malam hari itu keadaan gedung Lim-wangwe indah sekali.

Lampu-lampu yang terhias indah, obor-obor dan ribuan lilin menerangi seluruh gedung dan taman bunga yang sangat luas itu.

Kursi-kursi dan meja sengaja dipasang di dalam taman bunga karena di dalam gedung panas, dan memang taman bunga itulah tempat yang paling tepat dan paling luas.

Puluhan pelayan berpakaian seragam merah melayani keperluan para tamu dan siap berdiri di pinggir dengan sikap mereka yang hormat.

Lim-wangwe sendiri dengan pakaian warna biru yang menambah keangkerannya berdiri di depan gedung menyambut para tamu dengan wajah gembira.

Ia adalah seorang duda yang mempunyai dua anak laki-laki yang telah dewasa dan yang juga pandai ilmu silat seperti ayahnya.

Kedua pemuda itupun berdiri menyambut tamu.

Sebelum sampai di tempat yang dituju, Hong Cu berkata kepada Souw Cin Ok.

"Souw-peh-peh, kalau kau nanti perkenalkan aku, jangan katakan aku sebagai sumoimu."

"Habis, bagaimana?"

Souw Cin Ok bertanya sambil tertawa.

"Katakan saja bahwa aku adalah anak kemenakanmu. Kalau kau katakan bahwa aku adalah adik seperguruan, maka tentu akan menimbulkan keheranan dan ketidakpercayaan belaka, dan karenanya, kita akan menjadi perhatian orang."

Souw Cin Ok mengangguk-angguk tanda setuju.

Maka ketika mereka disambut dengan penuh kegembiraan oleh tuan rumah yang sangat menghormat Souw Cin Ok karena orang tua ini cukup terkenal, Souw Cin Ok memperkenalkan Hong Cu sebagai anak adiknya!

Biarpun demikian, namun tetap saja Hong Cu menjadi pusat perhatian, terutama dari golongan muda, karena siapakah yang takkan memperhatikan gadis yang cantik jelita itu?

Semua orang menduga, sampai di mana kepandaian gadis yang menjadi kemenakan Souw Cin Ok yang mereka sebut Souw Lo-Enghiong.

Untung bagi Hong Cu bahwa pergaulan Lim-wangwe sedemikian luasnya hingga ada juga datang tamu-tamu wanita yang terdiri dari wanita-wanita gagah berjumlah tidak kurang duapuluh orang.

Maka Hong Cu lalu diantar ke tempat rombongan tamu wanita ini.

Seorang wanita tua yang memegang tongkat hitam dan yang menjadi kenalan baik Souw Cin Ok, segera menyambut gadis itu dan diajaknya duduk di dekatnya.

Wanita bertongkat itu adalah seorang wanita cabang atas dari Kang-lam dan sikapnya ramah-tamah hingga Hong Cu merasa gembira.

Di antara para tamu wanita, tampak seorang perempuan muda yang berpakaian merah dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang bersarung terukir indah.

Perempuan muda itu berwajah cantik dan berpakaian mewah, bahkan di sanggul rambutnya tampak berkeredepan hiasan rambut dari mutiara.

Hong Cu memandang sekejap perempuan itu dengan kagum, tapi ketika melihat betapa sinar mata perempuan itu sangat lincah dan genit, ia merasa tidak suka padanya.

Sebaliknya perempuan baju merah itu memandang Hong Cu dengan wajah terangkat dan sikap yang sombong sekali.

Hong Cu tidak perdulikan ia pula, dan bercakap-cakap dengan Kang-lam Toanio, yakni wanita tua bertongkat itu.

Souw Cin Ok karena dianggap seorang yang mempunyai tingkat lebih tinggi dari tuan rumah, bahkan paling tinggi di antara kebanyakan para tamu, mendapat tempat duduk istimewa dan dicampurkan dengan beberapa tokoh persilatan yang dianggap sebagai cianpwe.

Di meja para Locianpwe ini berkumpul lima orang, jadi sekarang menjadi enam orang dengan Souw Cin Ok.

Kelima orang terdahulu ketika melihat Souw Cin Ok, serentak berdiri dan memberi hormat kepada orang tua gagah ini.

Melihat orang-orang yang telah dikenalnya baik-baik sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang berkumpul di situ, Souw Cin Ok juga merasa gembira sekali, tapi untuk beberapa saat matanya memandang tajam ke sekeliling tempat itu yang penuh tamu, agaknya mencari-cari seseorang.

Ketika melihat perempuan muda yang berbaju merah di rombongan tamu wanita, ia memandang penuh perhatian, tapi tidak mengenalnya dan segera mengalihkan pandang matanya.

Maka asyiklah ia bercakap-cakap dengan para kenalannya itu.

Pada saat itu, dari luar masuk seorang tamu baru yang menarik perhatian.

Banyak tamu berdiri sebagai tanda hormat kepada tamu baru ini dan tuan rumah sendiri berikut kedua orang puteranya ikut mengantar masuk tamu ini.

Ia adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun dan wajahnya gagah dengan kumisnya yang dipotong pendek.

Matanya liar dan lebar memandang dengan berani ke depan.

Pakaiannya rapi dan wajahnya yang tampak semakin gagah oleh bentuk tubuhnya yang tegap dan dadanya yang bidang.

Pendeknya, ia seorang laki-laki yang tampan dan gagah.

Di pinggangnya tergantung pedang panjang dan pakaiannya berwarna hijau dengan sabuk sutera kuning yang melambai-lambai di depan tubuhnya.

Potongan tubuhnya selain tegap dan kokoh kuat, juga sangat tinggi.

Ketika melalui rombongan tamu wanita, ia melirik tajam dengan tersenyum memikat.

Tiba-tiba perempuan muda berbaju merah itu cepat menghampirinya dengan wajah berseri dan berseru memanggil.

"Ji-suheng!"

Kemudian ia pegang lengan suhengnya itu dengan mesra sekali. Laki-laki itu balas memandang dengan heran dan gembira juga.

"Sumoi, kau di sini juga?"

Kemudian, sambil balas pegang lengan sumoinya, ia berpaling kepada tuan rumah.

"Lim Lo-Enghiong, sudah tahukah kau? Ini adalah Ang-ie-nio-nio, adik seperguruanku sendiri."

Terkejutlah Lim-wangwe mendengar ini.

Ia tidak sangka sama sekali bahwa tamu perempuan itu adalah Ang-ie-nio-nio yang terkenal lihai, apa lagi setelah diketahuinya bahwa perempuan muda itu bukan lain adalah adik seperguruan tamu barunya ini!

Dengan wajah merah Lim-wangwe menjura ke arah Ang-ie-nio-nio dan berkata.

"Maaf, maaf, lohu sudah tua dan lamur hingga tidak mengenal nio-nio yang terhormat. Mari, mari, silakan duduk di sini dengan suhengmu."

Dan Lim-wangwe mengajak kedua orang itu duduk di meja kehormatan, bahkan untuk laki-laki itu ia berikan kursinya sendiri yang terhias kain berwarna.

Laki-laki itu merasa terhormat sekali dan tanpa sungkan-sungkan lagi ia menduduki kursi itu sambil mengobrol gembira dengan perempuan baju merah itu.

Tuan rumah yang tua dan peramah itu tak diperdulikannya lagi!

Siapakah laki-laki gagah yang agaknya sangat berpengaruh dan terkenal ini?

Ia bukan lain adalah seorang ahli silat yang sangat terkenal karena kelihaiannya dan mendapat julukan Kwie-eng-cu atau Si Bayangan Iblis!

Telah bertahun-tahun ia menjagoi di kalangan kang-ouw dan boleh dibilang selama bertahun-tahun itu ia belum pernah menemukan tandingannya!

Juga, selain Lihai ilmu silatnya, ia terkenal kejam terhadap lawannya.

Ia sebenarnya adalah orang kedua dari Tiang-an Sam-koai atau Tiga Iblis dari Tiang-an.

Orang pertama adalah suhengnya dan orang ketiga adalah sutenya.

Ketiga saudara seperguruan ini memang terkenal ahli ilmu pedang yang jarang tandingannya, sedangkan Ang-ie-nio-nio adalah sumoi mereka yang juga mempunyai nama terkenal sekali.

Maka tidak heran bahwa tuan rumah dan tamu-tamu lain demikian menghormatnya hingga ia mendapat tempat paling terhormat.

Pada saat itu, Lim-wangwe yang merasa dirinya dikesampingkan, lalu berkata.

"Taihiap apakah sudah bertemu dengan para cianpwe di sana?"

Kwie-eng-cu memandang ke arah rombongan orang tua itu.

Ia mengangkat tangan sebagai pembalasan hormat kepada para Locianpwe yang berdiri menjura kepadanya!

Kemudian ia melihat Souw Cin Ok yang tidak mau berdiri dan tidak mau memberi hormat kepadanya.

Tiba-tiba senyumnya terhenti dan ia bangun berdiri perlahan-lahan sambil memandang tajam kepada Souw Cin Ok yang pada saat itu juga tengah memandangnya dengan tak kalah tajam!

Kemudian, dengan perlahan dan mulut menyeringai, Kwie-eng-cu bertindak perlahan ke arah tempat duduk Souw Cin Ok yang sementara itupun telah bangkit berdiri dari kursinya dengan perlahan.

Semua tamu melihat hal ini, segera menaruh perhatian besar hingga di saat itu semua mata para tamu ditujukan kepada dua orang itu dan sedikitpun tak terdengar orang bercakap-cakap!

Keadaan sangat tegang dan orang-orang menduga-duga apakah yang akan terjadi di antara kedua jago besar itu.

Ang-ie-nio-nio juga berdiri dan mengikuti suhengnya dengan perlahan, karena iapun belum tahu apakah yang menyebabkan suhengnya tampak marah itu.

Hong Cu juga melihat hal ini, tapi ia tidak berdiri seperti orang-orang di dekatnya yang hendak menonton peristiwa yang akan terjadi, malahan gadis itu duduk sambil memungut kwaci dari piring dan makan kwaci seenaknya!

Setelah di depan Souw Cin Ok, Kwie-eng-cu berdongak ke atas dan tertawa berkakakan.

"Ha, ha, ha! Benar-benar kau kah ini? Ah, kusangka tadi bahwa aku telah melihat setan. Masih hidupkah kau? Benar-benar twa-suheng telah bekerja setengah matang! Ia telah melewati tua bangka ini dan membiarkan ia hidup!"

Souw Cin Ok tersenyum menyindir.

"Kwie-eng-cu! Kukira kau tidak seburuk suhengmu itu, tapi tidak tahunya memang ketiga setan dari Tiang-an adalah orang-orang rendah dan busuk! Kau tahu sendiri, setelah sekarang bertemu dengan aku di sini, pasti malam ini kalau bukan kau, tentu akulah yang akan membasahi bumi dengan darah kematian!"

"Ha, ha! Kau tua bangka yang tinggal menanti datangnya malaikat maut, sungguh masih berani mati. Memang seharusnya kau dimusnahkan bersama-sama anakmu, tapi entah mengapa suheng membiarkan kau hidup!"

"Kwie-eng-cu, kau tidak hanya busuk di dalam hatimu, tapi juga rendah di mulut. Kalau kau memang seorang jantan, hayo keluar dari tempat Lim-enghiong dan kita membuat perhitungan di luar!"

"Aah, kau pintar dan licin! Kau hendak keluar untuk kemudian kabur di dalam gelap? Tidak, tua bangka she Souw! Kau harus mampus di sini, di tempat terang ini. Kita bertanding secara jujur dan adil di tempat terang, disaksikan ratusan orang gagah, maka kalau kau matipun, takkan penasaran lagi!"

Tapi Souw Cin Ok masih menghargai tuan rumah dan tidak sudi membuat onar di pesta itu. Ia loncat dari situ hendak pergi keluar sambil berkata.

"Aku tidak serendah kau! Hayo kita keluar! Apakah kau juga hendak menghina Lim-enghiong?"

"Ah, orang penakut. Siapa yang memandang rendah tuan rumah? Coba kau dengar!"

Ia lalu menghadapi Lim-wangwe yang berdiri di situ dengan wajah pucat.

"Lim Lo-Enghiong, apakah kau berkeberatan kalau tempatmu ini kupinjam untuk berpibu (mengadu kepandaian silat) dengan Souw Cin Ok?"

Lim-wangwe kenal akan kelihaian dan kegalakan Kwie-eng-cu, maka ia tak mungkin dapat menolak, dan dengan menyimpang ia menjawab.

"Ini bukan urusan yang menyangkut pribadiku, maka bagaimana aku dapat melarang? Hanya, harap saja ji-wi ingat bahwa hari ini adalah hari baikku, janganlah rusakkan itu dengan mengalirkan darah di tamanku."

"Nah, kau dengar, tua bangka she Souw? Tuan rumah tidak berkeberatan apa-apa. Dasar kau yang pengecut!"

Marahlah Souw Cin Ok mendengar ini.

Ia tahu bahwa Kwie-eng-cu memiliki kepandaian tinggi, tapi ia telah nekat hendak mengadu jiwa.

Ia lalu loncat ke tempat yang kosong dan luas di taman itu, dan berkata.

"Kwie-eng-cu, iblis tak berperikemanusiaan. Kau majulah dan kita boleh coba-coba!"

Kwie-eng-cu tertawa lagi.

Ia lepaskan jubah luarnya dan kini hanya memakai baju yang sangat ringkas berwarna hitam.

Ia cabut pedangnya yang mengeluarkan sinar berkilauan, gerak-gerakkan pedangnya itu ke kanan kiri hingga sinarnya menyilaukan mata, kemudian dengan sekali gerakkan kaki ia telah loncat berdiri di depan Souw Cin Ok sambil tersenyum dingin.

Ia tadi turunkan kakinya dengan perlahan sekali, tapi ketika ia angkat kakinya, batu besar yang diinjaknya telah pecah menjadi empat!

Hal ini terlihat nyata sekali oleh orang-orang yang duduk di sekeliling tempat itu hingga diam-diam mereka leletkan lidah melihat demonstrasi tenaga lwee-kang yang benar-benar tidak boleh dipandang ringan itu!

Tapi Souw Cin Ok hanya tersenyum sindir dan sama sekali tidak takut.

Hanya sayang bahwa orang tua ini tidak memegang senjata apa-apa dan hendak menghadapi lawannya ini dengan tangan kosong.

"Keluarkan senjatamu!"

Kwie-eng-cu berseru keras karena ia tidak mau dianggap curang.

"Mengapa harus bersenjata? Aku tidak membawa senjata, tapi jangan kira bahwa hal itu membuat aku jerih padamu!"

Sebelum Kwie-eng-cu menjawab, tiba tiba tampak berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu Ang-ie-nio-nio telah berdiri di dekat suhengnya.

Gerak loncat ini demikian cepat hingga kembali menimbulkan kekaguman di antara para tamu.

"Ji-suheng! Untuk memukul anjing kurus tua, mengapa harus menggunakan tongkat besar? Mundurlah kau dan biarkan sumoimu menghadapinya. Ia tidak bersenjata, biar kuhadapi dengan kedua tanganku juga."

Kwie-eng-cu maklum bahwa sumoinya hendak memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa, yakni Ang-see-ciang atau Tangan Pasir Merah yang lihai! Maka iapun tertawa lagi dan berkata.

"Majulah, sumoi. Tapi hati-hati, anjing tua ini masih bisa menggigit!"

Hinaan-hinaan dan maki-makian yang dilontarkan kepadanya ini membuat Souw Cin Ok meluap-luap nafsu marahnya dan tanpa menjawab lagi ia hadapi Ang-ie-nio-nio sambil berkata.

"Kamu orang-orang jahat, hayo majulah jangan banyak membuang waktu!"

Ia lalu maju menyerang Ang-ie-nio-nio dengan hebat!

Tapi perempuan baju merah ini ternyata seorang lawan yang lihai juga.

Setelah bertempur puluhan jurus, perlahan-lahan Ang-ie-nio-nio keluarkan ilmunya hingga kedua lengan tangannya berubah menjadi merah dan dari kedua tangannya itu menyambar tenaga yang luar biasa hingga Souw Cin Ok menjadi terkejut.

Tapi kakek ini adalah murid Hwat Kong Tosu, walaupun ia hanya mewarisi kepandaian silat yang umum dan bukan ilmu silat simpanan dari tokoh Thang-la itu, namun Souw Cin Ok Cukup lihai dan hati-hati.

Ia segera mengubah ilmu silatnya yang banyak macamnya itu, lalu dengan cepat ia bersilat dengan tipu pukulan Delapan Dewa Mabok.

Gerakannya cepat tak terduga, dan ia melancarkan serangan-serangan dengan tenaga lwee-kang hingga dapat membentur kembali tenaga mujijat yang keluar dari Ang-see-ciang dari lawannya itu.

Karena ini maka kembali Ang-ie-nio-nio terdesak mundur!

Semua orang menonton perkelahian ini dengan hati berdebar.

Mereka tahu bahwa yang berkelahi adalah orang pandai dan tak mungkin memisahkan mereka, sedangkan pertempuran itu adalah pertempuran di antara orang-orang yang menaruh hati dendam, maka tentu dilakukan mati-matian.

Melihat keganasan Ang-ie-nio-nio dan kehebatan ilmu silat kakek tua semua orang menjadi kagum, tapi mereka tidak berani berpihak secara berterang, biarpun di dalam hati kebanyakan para tamu berpihak kepada Souw Cin Ok.

Kwie-eng-cu melihat betapa sumoinya terdesak hebat oleh Souw Cin Ok yang lihai, menjadi terkejut.

Ternyata ilmu silat kakek itu makin maju saja!

Maka ia segera menerjang sambil berteriak.

"Sumoi, biarkan aku bunuh mati anjing tua ini!"

Sambil berkata demikian, pedangnya berkelebat menerjang Souw Cin Ok!

Tapi pada saat itu terdengar suara tertawa merdu dan nyaring.

Suara tertawa itu terdengar tepat di atas kepala Kwie-eng-cu hingga ia terkejut sekali dan mengurungkan penyerangannya kepada Souw Cin Ok, tapi segera memandang ke atas.

Alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa pedangnya menempel pada sebuah benda dan benda itu membetot pedangnya dengan tenaga luar biasa hingga hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan tangannya!

Ia berseru heran dan kerahkan tenaga lwee-kangnya membetot, tapi tiba-tiba tenaga itu melepaskannya dan hampir saja ia jatuh terguling kalau tidak cepat berjumpalitan.

Ketika ia memandang heran, ternyata di depannya berdiri seorang gadis yang usianya takkan lebih dari tujuhbelas tahun.

Gadis itu berpakaian sederhana tapi kecantikannya nampak aseli bagaikan sekuntum mawar sedang mekar mengharum.

Gadis itu tersenyum manis dan memandang pada Kwie-eng-cu dengan lucu!

Ketika Kwie-eng-cu menyerang Souw Cin Ok tadi, Ang-ie-nio-nio telah meloncat ke pinggir dan kini ia memandang ke arah Hong Cu dengan heran.

Souw Cin Ok segera berkata.

"Hong Cu, jangan kau ikut campur!"

Tapi dalam hatinya, orang tua ini merasa lega, karena ia tahu kalau Hong Cu mau turun tangan, akan bereslah urusan ini!

"Souw-peh-peh, dua orang badut laki perempuan ini mau membadut di sini dan meramaikan pesta, maka tidak boleh tidak aku harus ikut campur.

Laginya, mereka ini curang sekali, hendak mengeroyokmu.

"Kau duduklah saja, peh-peh, masa ada kemenakanmu di sini, kau harus turun tangan sendiri melayani segala badut murah?"

Sambil berkata demikian, gadis itu berkedip kepada Souw Cin Ok, hingga orang tua itu hanya menghela napas dan sambil memukul-mukul ke dua pahanya, orang tua ini menyatakan kegembiraannya dengan berkata.

"Ayaaa! Kemenakanku yang satu ini memang bandel dan bengal. Biarlah, biar kau tahu rasa kalau dikeroyok nanti!"

Hong Cu lalu menghadapi Kwie-eng-cu yang masih bengong karena memikirkan apakah mungkin yang membetot pedangnya tadi gadis ini?

Juga semua tamu tidak seorangpun melihat gerakan Hong Cu yang demikian cepat.

Pula, gadis ini hanya memegang sepasang sumpit kayu di tangan kanan kiri, dan berdirinya demikian lemas bagaikan seorang penari, tak pantas menjadi seorang ahli silat!

"Eh, orang murah, kau berani tidak dengan si merah itu mengeroyok aku?

Kalian boleh menggunakan pedang, tombak, golok, atau apa saja yang kau bisa pegang.

Berani tidak?"

Melihat lagak Hong Cu dan mendengar kata-kata ini, semua orang heran dan menganggap jangan-jangan kemenakan Souw Cin Ok ini mempunyai penyakit otak miring.

Bahkan Kwie-eng-cu demikian heran hingga ia lupa untuk marah dan bertanya.

"Eh, kau gadis cilik. Kenapa kau sebut aku orang murah?"

Tentu saja pertanyaan ini terdengar lucu dan beberapa orang tak dapat menahan ketawanya. Kwie-eng-cu memutar tubuh dan mendelikkan matanya hingga suara ketawa lalu berhenti tiba-tiba.

"Kau isi mulutmu dengan kotoran-kotoran dan maki-makian, bukankah itu hanya tabiat orang murah? Hayo, jawablah berani tidak kau mengeroyok aku? Kalau berani, kau dan si merah itu majulah cepat. Kalau tidak berani, lebih baik kau pulang saja ke pangkuan ibumu!"

Ang-ie-nio-nio marah sekali. Ia cabut pedangnya dan maju menerjang sambil memaki.

"Perempuan siluman, kalau sudah bosan hidup, biar aku membunuhmu!"

Ia kirim tusukan kilat ke arah dada Hong Cu, tapi Hong Cu berkelit seperti orang terhuyung ke samping sambil berseru.

"Hayaa, galak benar si merah ini!"

Ang-ie-nio-nio cepat menyerang lagi dan segebrakan saja ia sudah mengirim tiga serangan yang semua dapat dikelit mudah oleh Hong Cu.

"Hayo, kumis pendek, kau majulah mengeroyok! Atau, takutkah kau barangkali?"

Sambil berkelit terhadap sebuah sabetan pedang, Hong Cu masih berolok-olok dan menantang kepada Kwie-eng-cu! "Kau mencari mati sendiri!"

Kwie-eng-cu lalu maju menyerang dengan pedangnya.

Hebat memang kepandaian Kwie-eng-cu karena pedangnya mengeluarkan angin berkesiutan dan api lilin yang berada dekat situ sampai hampir padam hingga buru-buru seorang pelayan mengambil dan menjauhkannya.

(Lanjut ke

Jilid 12) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Tapi ia bergidik ketika merasa sambaran angin pedang yang begitu dingin di telinganya, hingga diam-diam ia menggunakan tangan meraba-raba telinga karena takut kalau kalau daun telinga itu akan terbang!

Ditambah pula dengan gerakan serangan Ang-ie-nio-nio yang cukup lihai, maka kedua lawan itu merupakan dua lawan tangguh yang sangat berbahaya.

Akan tetapi, murid Hwat Kong Tosu memegang dua batang sumpit kayu di kedua tangannya, hingga seakan-akan ia telah membekal senjata dewa!

Setiap potong kayu yang berada di tangan Hong Cu dapat dimainkan dengan Ilmu Tongkat Ouw-coa-koai-tung-hwat yang menjadi raja sekalian ilmu tongkat hingga potongan kayu itu berubah menjadi senjata yang luar biasa, karena gadis itu dengan sesukanya dapat menyalurkan tenaga-tenaga membetot, menempel mengait atau menyampok dengan kekuatan yang mujijat.

Kini menghadapi kedua orang ini, ia masih dapat bermain seenaknya!

Para penonton menjadi pening melihat pertempuran itu.

Mereka, kecuali para Locianpwe yang memandang kagum dan terheran-heran, hanya melihat bayangan merah dari Ang-ie-nio-nio dan bayangan yang berkelebat-kelebat ke sana ke mari dari Kwie-eng-cu, ditambah sinar pedang kedua orang itu bergulung-gulung, dan anehnya, mereka tidak tahu lagi ke mana perginya gadis aneh tadi!

Hong Cu dalam gerakannya yang begitu cepatnya telah lenyap tertelan sinar pedang kedua lawannya dan terbungkus sinar kedua batang sumpitnya!

Gadis ini karena tidak tahu asal mula terjadinya permusuhan antara kedua lawannya ini dengan Souw Cin Ok, lalu berkelahi sambil berkata kepada suhengnya itu.

"Eh, Souw-peh-peh! Kau lupa belum beritakan kepadaku tentang riwayat kedua badut ini. Ceritakanlah, peh-peh!"

Para tamu heran sekali karena suara gadis itu terdengar dari tengah-tengah pertempuran hingga bagaikan suara setan yang tidak kelihatan saja.

Dan kedua lawannya yang memang telah merasa terkejut sekali melihat kelihaian dua batang sumpit Hong Cu, kini mendengar ucapan ini merasa makin terkejut dan heran.

Bagaimanakah gadis aneh ini masih dapat membagi perhatian kepada orang di luar pertempuran?

Sungguh-sungguh gadis itu memandang rendah sekali!

Kwie-eng-cu kertak gigi dan menyerang makin keras, tapi berkali-kali kalau ia sudah merasa pasti bahwa tusukan atau sabetannya akan membawa hasil, tahu-tahu pedangnya terbentur pula oleh batang sumpit yang agaknya telah berubah menjadi ribuan batang banyaknya itu!

Sementara itu, Souw Cin Ok merasa bahwa Hong Cu pasti akan dapat kalahkan lawannya, maka iapun Lalu bercerita seperti kepada seorang anak-anak yang mendengarkannya sambil tiduran!

"Laki-laki yang berkumis pendek itu adalah Kwie-eng-cu si Bayangan Iblis dan si Baju Merah itu adalah Ang-ie-nio-nio!

Ketahuilah, Hong Cu, dulu, beberapa tahun yang lalu, Kwie-eng-cu dan suhengnya telah membunuh mati anak dan mantuku!

"Anakku menjadi piauwsu, pengantar barang-barang berharga dan di tengah jalan anakku dicegat perampok.

Dalam pertempuran, kepala perampok itu tewas, berikut puluhan anak buahnya dan yang lain-lain lari pergi."

"Ah, kalau begitu anakmu itu gagah sekali!"

Kata Hong Cu.

"Kemudian ternyata bahwa kepala perampok itu masih dihitung murid ketiga setan dari Tiang-an, yakni yang pertama Bu-eng-cu Si Tanpa Bayangan, kedua Kwie-eng-cu yang sekarang bertempur mengeroyokmu, dan ketiga Pek-eng-cu Si Bayangan Putih, yaitu sute dari Kwie-eng-cu. Mendengar betapa muridnya terbunuh oleh anakku, mereka menjadi marah dan mencari anakku, lalu membunuhnya dengan jalan mengeroyoknya.

"Juga anak mantuku yang tidak tahu apa-apa ikut dibunuh. Bahkan cucu perempuanku hampir saja dibunuhnya, kalau tidak kulindungi dan kubawa lari!"

"Jahat sekali!"

Kata Hong Cu.

"Dan si merah ini? Apa iapun turut dalam perbuatan terkutuk itu?"

"Tidak, aku tak pernah bertemu dengan dia, baru kali ini. Tapi ia agaknya tidak lebih baik dari pada suheng-suhengnya!"

Hong Cu lalu berkata kepada Kwie-eng-cu.

"Kau jahat sekali, patut dihabisi riwayatmu. Terimalah hukumanmu!"

Dan dengan gerakan Ular Hitam Menyembur Racun, Hong Cu menusukkan sumpitnya yang secara kilat dapat menotok urat besar di leher Kwie-eng-cu.

Terdengar teriakan ngeri dan Kwie-eng-cu roboh dan tewas di saat itu juga tanpa mengalirkan setitikpun darah!

Kemudian terdengar kata-kata Hong Cu!

"Dan kau pun perlu diberi hajaran keras!"

Terdengar bunyi "Pletak!"

Tulang patah dan tahu-tahu Ang-ie-nio-nio membungkuk sambil memegang-megang tangan kanannya yang patah tulangnya karena terpukul batang sumpit! "Sebutkan namamu!"

Ang-ie-nio-nio menahan sakit sambil berkata penuh sakit hati.

"Hm, kau menaruh dendam? Baik, namaku Ang Hong Cu. Dengar baik-baik, namaku Ang Hong Cu. Mau cari aku? Mudah, datang saja ke puncak Thang-la!"

Terkejutlah para Locianpwe mendengar bahwa gadis itupun datang dari puncak Thang-la. Juga Ang-ie-nio-nio terheran. Ia masih penasaran dan bertanya lagi.

"Bohong! Kalau betul dari Thang-la, siapa suhumu?"

"Jangan kau berani menyebut-nyebut suhu. Hendak apakah kau mencari tahu nama seorang dari pada Tiga Dewa Thang-la?"

"Suhunya adalah Hwat Kong Tosu."

Mendengar ini, di wajah Ang-ie-nio-nio terbayang keheranan besar, tapi ia merasa puas dan meloncat pergi tanpa pamit.

Sementara itu, Lim-wangwe memerintahkan orang-orangnya untuk mengurus mayat Kwie-eng-cu.

Hong Cu heran sekali melihat betapa di kedua pipi Souw Cin Ok mengalir butiran-butiran air mata!

Gadis itu meloncat mendekati dan memimpin kakek itu ke tempat yang agak jauh dari para tamu.

"Souw-peh-peh! Kenapakah! Salahkah aku membunuh dia?"

Souw Cin Ok memandang padanya dan menggeleng-gelengkan kepala perlahan.

"Aku girang sekali bahwa musuh dan pembunuh anakku telah terbalas, Hong Cu. Aku mengalirkan air mata karena teringat akan anak dan mantuku yang mati dalam usia muda. Kini pembunuh anakku tinggal dua orang lagi yang harus kubalas."

"Kalau begitu biarlah aku ikut kau, peh-peh. Kita berdua mencari mereka aku membantu kau membereskan musuh-musuhmu itu!"

Kata Hong Cu bersemangat.

Nyali gadis ini menjadi besar sekali karena selama turun gunung ternyata ia dapat merobohkan lawan-lawannya dengan mudah saja hingga ia tidak menyangka bahwa kepandaiannya sudah demikian tinggi!

Tapi Souw Cin Ok tampak makin sedih dan menggeleng-gelengkan kepala dengan keras.

"Tidak, Hong Cu! Biarpun aku menghargai sekali bantuanmu tapi dengan demikian maka kau mengecewakan hatiku! Ketahuilah, bahwa cucukulah yang berkewajiban membalas dendam ini, bukan kau! Kalau cucuku tidak turun tangan, biarlah aku sendiri yang mengadu jiwa dengan musuh-musuhku!"

"Di manakah cucumu itu, peh-peh? Kau tidak pernah menceritakan padaku. Apakah ia lihai ilmu silatnya?"

Empek itu mengangguk-angguk.

"Mungkin tidak selihai engkau, tapi pasti sekali ia mempunyai kepandaian cukup tinggi, karena ia menjadi murid Huo Mo-li."

Kaget dan heranlah Hong Cu mendengar bahwa cucu Souw Cin Ok adalah murid Huo Mo-li yang lihai! Ia teringat akan Lian Eng yang pernah bertemu dengan ia.

"Souw-peh-peh, aku pernah bertemu dengan seorang murid Huo Mo-li, tapi ia seorang gadis gagu yang..."

"Nah, dia itulah cucuku yang malang nasibnya,"

Kata Souw Cin Ok terharu.

"Dulu ia kuajak naik ke Thang-la untuk kusuruh belajar silat kepada suhu, tapi ternyata kemudian anak itu memilih Huo Mo-li sebagai gurunya."

"Bukankah ia bernama Lian Eng?"

"Ya, ya, ia bernama Souw Lian Eng. Sudah kenalkah kau padanya?"

Tanya Souw Cin Ok girang.

Hong Cu mengangguk, diam-diam ia pikir bahwa ia tadi telah membalaskan dendam gadis gagu yang beberapa kali memusuhinya itu!

Agaknya gadis gagu itu benci padanya.

Maka hatinya menjadi agak tawar dan dingin.

"Aku hanya bertemu dengan ia beberapa kali saja. Ia cantik sekali dan tentang kepandaiannya, barangkali aku tak nempil padanya. Aku pernah merasakan kelihaian tangannya."

"Betulkah?"

Wajah Souw Cin Ok berseri gembira mendengar bahwa cucunya menjadi orang berkepandaian tinggi. Tapi Hong Cu tidak bicara panjang lebar lagi.

"Kalau dia itu cucumu, maka kau tak usah khawatir, peh-peh. Jangankan baru musuh-musuh seperti itu, biar ada sepuluh orangpun pasti akan mudah terbalas oleh Lian Eng."

Kemudian kedua orang itu berpisah.

Hong Cu melanjutkan perjalanannya menuju ke kota tempat tinggal orang tuanya dan Souw Cin Ok melanjutkan perjalanannya mencari kedua musuhnya itu.

Setelah berpisah dari Souw Cin Ok, Hong Cu segera melanjutkan perjalanannya dengan berkuda.

Kudanya berbulu putih dan besar serta larinya cepat.

Kuda ini adalah hadiah dari Lim-wangwe yang merasa sangat kagum padanya.

Tadinya Hong Cu menolak hadiah ini, tapi karena tuan rumah memaksanya, terpaksa ia menerimanya juga karena tidak enak kalau terus menerus menolak maksud baik orang.

Biarpun ilmu kepandaian lari cepat Hong Cu rasanya takkan kalah oleh larinya kuda, namun karena dengan naik kuda ia tidak banyak beristirahat, perjalanan dapat dilakukan cepat.

Kudanya benar-benar kuat dan cepat larinya hingga Hong Cu merasa girang sekali.

Kira-kira sepekan kemudian, ketika Hong Cu membalapkan kudanya di sepanjang sebatang sungai yang agak lebar juga hingga kudanya tak mungkin melewatinya, tiba-tiba ia melihat dua orang sedang berkelahi, jauh di depan.

Ia tertarik sekali karena gerakan dua orang itu luar biasa cepatnya hingga ia tahu bahwa keduanya memiliki kepandaian tinggi sekali.

Ia percepat kudanya dan meloncat turun tak jauh dari tempat pertempuran itu.

Ternyata yang sedang bertempur itu adalah pendeta wanita tua yang telah tua sekali tapi yang gerakan-gerakannya masih lihai sekali.

Ia bersenjata pedang dan kebutan.

Tapi yang lebih menarik perhatian Hong Cu ialah lawan pendeta itu.

Ternyata yang berkelahi dengan nikouw itu adalah seorang pemuda berpakaian serba putih dan sederhana sekali.

Tapi pemuda itu cakap sekali.

Kulitnya putih dan kedua matanya lebar dan terang, dilindungi sepasang alis yang melebar dan meruncing bagaikan sepasang golok.

Bibirnya yang selalu tersenyum itu berwarna merah dan rambutnya yang tampak di pelipisnya hitam sekali.

Di atas kepalanya tertutup kopiah kuning yang panjang melambai ke belakang.

Pemuda ini bersenjata aneh sekali, karena yang dipegangnya sebagai senjata adalah sebatang pikulan bambu yang berbentuk melengkung bagaikan sebatang gendewa.

Tapi senjata yang sederhana dan aneh ini dimainkan dengan gerakan-gerakan luar biasa lihainya hingga biarpun pendeta wanita itu bersilat dengan bagus dan kuat, namun pemuda itu masih dapat melawannya dengan tersenyum dan bagaikan sedang main-main!

Hong Cu melihat pemuda itu lalu memandang penuh perhatian karena ia seperti sudah kenal pemuda itu, tapi ia lupa, lagi di mana ia pernah bertemu dengannya.

Tengah ia menduga-duga dan mengingat-ingat, tiba-tiba pemuda itu dengan gerakan Awan Putih Tertiup Angin melayang mundur dari pertempuran dan berkata.

"Lo-sianli tahan dulu! Kau orang tua harus mempunyai kesabaran, jangan main seruduk saja. Kebetulan datang saksi, marilah kita bicara dengan baik!"

Pemuda itu lalu menghadap ke arah Hong Cu dan menjura dengan hormat sambil berkata.

"Nona yang baru datang aku mohon pertimbanganmu yang adil! Aku seorang perantauan yang belum pernah mempunyai musuh, tapi Lo-sianli ini biarpun sudah sangat tua tapi ternyata semangatnya tidak kalah oleh yang muda! Ia datang-datang nyeruduk saja tanpa memberi kesempatan padaku untuk membela diri. Coba, kau pikir, pantaskah itu?"

Hong Cu diam saja dan kini gadis ini tersenyum geli karena ia telah teringat kembali di mana ia bertemu dengan pemuda ini dulu!

Pemuda itu ketika menanti lama belum juga yang diajak bicara menjawab, lalu mengangkat kepalanya yang tadi tunduk dan memandang wajah Hong Cu.

Dua pasang mata yang sama bagusnya bertemu.

Tiba-tiba wajah pemuda itu yang berkulit putih, berubah merah sampai ke telinga dan pada wajah itu terbayang kegirangan besar hingga mata dan mulutnya tersenyum bahagia.

Kemudian ia menuding kepada Hong Cu "Kau...

kau....

nona Hong Cu!!"

Hong Cu balas senyumnya.

"Hm, ternyata kau masih seperti dulu, saudara Tiong Li!"

Tiong Li tersenyum lebar. Ia demikian gembira bertemu dengan Hong Cu hingga ia lupakan nikouw tua yang baru saja bertempur dengan dia! "Nona Hong Cu, kau... kau begini..."

"Begini apa, saudara Tiong Li?"

"Engkau begini... besar sekarang. Hampir aku tidak mengenalmu lagi kalau kau tidak tersenyum tadi."

"Hm, jadi yang teringat olehmu hanya... senyumku?"

"Ya, eh... maksudku, eh... Aku tak dapat melupakan senyummu hingga.... hingga..."

Tiong Li bicara dengan gagap hingga ia sendiri menjadi bingung dan heran karena tidak biasanya ia begini bingung dan gagap.

Hong Cu tertawa dan akhirnya Tiong Li tak dapat melanjutkan kata-katanya dan hanya bisa ikut tertawa gembira.

Nikouw tua tadi melihat betapa kedua taruna remaja itu hanya main ketawa gembira dan tidak perdulikan lagi padanya, segera tersenyum sambil angguk-anggukkan kepala, lalu dengan diam-diam ia pergi dari silu!

Tiong Li dan Hong Cu telah cukup terlatih hingga ke duanya ketahui kepergiannya ini.

Tiong Li loncat dan sekali berkelebat saja ia telah dapat mengejar nikouw itu hingga diam-diam Hong Cu kagum melihat kegesitan murid dari Kiang Cu Liong si Tabib Dewa itu!

"Eh, Lo-sianli, kenapa buru-buru saja?

Jangan tergesa-gesa, karena kau masih punya hutang padaku yang harus dibayar dulu."

"Anak muda, kau gagah, tapi jangan kau permainkan aku! Hutang apakah maksudmu? Apakah kau sakit hati karena ku serang tadi? Kalau mau membalas silahkan!"

Tiong Li angkat kedua tangannya.

"Ampun, Lo-sianli, kau ini orang tua benar-benar berangasan sekali! Kau hanya hutang keterangan dan penjelasan padaku.

"Kau tadi mendakwa aku sebagai pencuri, coba terangkan, apakah yang kucuri? Dulu kau kejar-kejar suhu, dan kau mendakwa suhu mencuri patungmu. Sekarang kau mengejar aku dan lagi-lagi mendakwa mencuri. Sekarang apakah yang tercuri?"

Mendengar kata-kata ini, tahulah Hong Cu bahwa nikouw tua ini tentu Kim Hwa Sianli, karena iapun telah mendengar dari suhunya tentang tokoh-tokoh Kwan-im-kauw.

Sementara itu, Kim Hwa Sianli menghela napas panjang pendek dengan wajah berduka sekali.

Ia geleng-geleng kepala beberapa kali dan berkata seperti kepada diri sendiri.

"Bukan kau... bukan kau pencurinya..."

Tiong Li gerakkan mulutnya dengan lucu, menandakan kegirangan hatinya bahwa ia telah terbebas dari tuduhan.

"Kalau bukan aku, siapakah pencurinya, Lo-sianli?"

Tanyanya.

"Pencurinya? Ah, seorang pemuda... kepandaiannya tinggi, tapi entah siapa..."

"Pemuda... kepandaiannya tinggi..."

Tiong Li berdongak sambil kerutkan jidat seakan-akan ikut memeras otak mencari-cari, tapi tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Eh, sebetulnya, yang hilang barang apakah, Lo-sianli? Apakah yang tercuri dan bagaimana terjadinya?"

Mendengar kata-kata dan melihat lagak yang jenaka ini, mau tidak mau Hong Cu tersenyum geli, tapi iapun memperhatikan jawaban apakah yang hendak dikeluarkan oleh nikouw itu.

"Yang hilang adalah Patung Kwan-im Pouwsat..."

"Itu lagi??!"

Hong Cu dan Tiong Li berseru hampir berbareng, dan keduanya tertawa geli.

"Tidak hanya itu, tapi bahkan ke dua sute dan sumoiku serta banyak murid-murid lain terbunuh oleh pencuri itu!"

Mulut Hong Cu dan Tiong Li bagaikan ditekap orang dan suara ketawa mereka berhenti tiba-tiba. Mereka pandang wajah Kim Hwa Sianli dengan bengong dan terkejut.

"Sampai begitu hebat?"

Kata Tiong Li.

"Siapakah pencuri jahat itu? Aku harus mencari dan membunuh dia!"

Kata Hong Cu marah. Mendengar kata-kata Hong Cu ini, Kim Hwa Sianli memandang heran dan ia segera bertanya.

"Bicaramu jumawa sekali, nona kecil. Siapakah kau dan siapa pula suhumu?"

Tiong Li yang menjawab cepat.

"In adalah nona... Hong Cu... aku lupa she-nya, siapakah she mu, nona Hong Cu?"

Hong Cu tersenyum lagi karena kejenakaan ini.

"Aku belum pernah memberitahukan padamu siapa she ku,"

Jawabnya.

"Ya, ya, tapi siapakah sebenarnya she mu?"

Tiong Li mendesak.

"Aku she Ang."

"O, ya! Ia bernama Ang Hong Cu, dan ia adalah murid dari Hwat Kong Tosu, seorang dari pada Tiga Dewa dari Thang-la!"

Kim Hwa Sianli mengangguk-angguk.

"Pantas saja kau bicara besar, tak tahunya kau murid si tua yang lihai itu!"

"Lo-sianli, lanjutkanlah keteranganmu,"

Kata Tiong Li pula.

"Jadi Kelenteng Kwan-im-kauw kedatangan pencuri patung Kwan-im Pouwsat, juga membunuh kedua saudaramu dan banyak murid-muridmu? Siapakah pencuri itu, maksudku, bagaimana rupanya dan bentuk badannya? Mengapa pula kau menyangka bahwa pencuri itu adalah aku?"

"Itulah yang menyebabkan! Pencuri itu seorang pemuda yang berkepandaian lihai sekali. Ia memakai kedok sutera hingga aku tidak dapat mengenal mukanya. Tapi tubuhnya tegap dan tidak banyak selisihnya dengan kau.

"Karena aku tidak mengenalnya, maka aku hanya menduga bahwa pemuda itu tentu murid-murid dari tokoh-tokoh Thang-la yang dulu juga ikut memperebutkan patung itu. Aku hanya meraba-raba dalam gelap.

"Apa dayaku? Kedua adik seperguruanku telah terbunuh olehnya dan sakit hati ini harus dibayar dengan darah!"

Nikouw tua itu lalu terduduk dan menangis tersedu-sedu.

Hong Cu sebagai seorang wanita, juga mempunyai perasaan yang halus dan mudah terharu.

Melihat betapa nikouw tua itu menangis sedih, ia segera maju menghampiri dan memeluknya sambil menahan air mata sendiri yang hendak mengalir turun!

"Lo-sianli, mengapa kau begitu bersedih?

Sabarlah dan kau boleh membesarkan hati karena aku dan saudara Tiong Li tentu akan membantumu menangkap penjahat itu.

Bukankah begitu, saudara Tiong Li?"

"Tentu saja, kami akan membantumu menangkap dia, asal saja kita tahu tempatnya, Lo-sianli!"

Mendengar kata-kata ke dua anak muda itu, terhibur juga hati Kim Hwa Sianli dan ia menahan air matanya.

"Inilah yang membingungkan aku. Pencuri itu demikian pengecut dan memakai kedok. Tadinya kusangka tentu murid Thang-la. Tapi pemuda-pemuda yang berkepandaian tinggi hanya murid Beng Beng Hoatsu dan kau."

"Kau maksudkan Siauw Ma, Lo-sianli?"

Tanya Hong Cu cepat sambil menatap wajah Kim Hwa Sianli hingga ia tidak tahu betapa dari samping, Tiong Li memandangnya dengan mata tajam.

"Ya, namanya memang Siauw Ma. Ia seorang pemuda yang berkepandaian tinggi sekali."

"Kau menyangka dia mencuri patung?"

Hong Cu bertanya tak senang.

"Tadinya begitu. Tapi aku telah bertemu dengan dia dan telah menguji ilmu silatnya pula, ternyata ia bukan pencuri itu! "Ketahuilah, ketika pencuri itu datang menyerbu, aku telah bertempur dengan dia beberapa lama maka aku masih ingat cara-cara ia bersilat. Dan ketika aku bertemu dengan murid Beng Beng Hoatsu, aku serang dia dan ternyata ilmu silatnya jauh berbeda dengan ilmu silat pencuri itu.

"Pada waktu itu aku sudah bingung, tapi aku teringat lagi bahwa Kiang Cu Liong juga mempunyai seorang murid laki-laki. Maka aku lalu mencari anak muda ini. Setelah mengujinya, ternyata iapun bukan pencuri itu! "Habis, siapa lagi yang harus kusangka? Selain murid Beng Beng Hoatsu dan Murid Kiang Cu Liong, siapa lagi yang mempunyai ilmu kepandaian setinggi itu hingga kedua adikku binasa olehnya sedangkan aku sendiripun hampir celaka dalam tangannya?"

"Jangan putus asa, Lo-sianli. Dunia kang-ouw adalah luas sekali, orang-orang pandai tersebar di empat penjuru laut. Kita harus bersabar mencari-cari sambil menyelidiki di kalangan kang-ouw dan liok-lim."

"Sudahlah, sudahlah! Siauw Ma dan kalian anak-anak muda semua berjanji hendak membantuku dan berlaku baik, sedangkan aku hanya menyangka yang bukan-bukan saja kepada kalian. Ah, sungguh setua ini aku hanya bisa menimbulkan onar saja."

Kim Hwa Sianli menghela napas lalu loncat cepat pergi dari situ.

Hong Cu dan Tiong Li saling pandang dengan tak berdaya mencegah kepergian nikouw tua itu.

Tiba-tiba, ketika sedang berpandangan itu, teringatlah Hong Cu akan sesuatu.

Ia loncat berdiri dan memandang ke arah nikouw itu pergi.

Kemudian ia loncat juga hendak menyusul, tapi karena nikouw itu sudah tak tampak bayang-bayangnya, ia kembali dan memandang ke sekeliling dengan pengharapan kalau-kalau masih dapat melihat nikouw itu.

"Eh, eh! Kau sedang mencari apakah?"

Tiong Li menegur heran melihat sikap gadis itu.

"Ia sudah pergi!"

Kata Hong Cu yang merasa kecewa, lalu dengan menghela napas gadis itu menjatuhkan diri duduk di atas rumput hijau. Tiong Li juga duduk dan bertanya lagi.

"Eh, kau aneh sekali. Siapa yang kau cari?"

Hong Cu tidak menjawab pertanyaan Tiong Li.

Dengan pikiran bekerja dan mengingat-ingat ia cabut sebatang rumput dan menggigit-gigit pangkal batang rumput itu.

Kemudian ia memandang wajah Tiong Li dan berkata.

"Saudara Tiong Li! Ingatkah kau kepada Siauw Liong?"

"Siapakah dia... o, ya... kau maksudkan murid Tok-kak-coa yang bengal dan jahat itu?"

Tiba-tiba Tiong Li yang berotak cerdik juga meloncat berdiri.

"Kau benar, kau benar! Siapa lagi pencurinya? Tentu dia!! Dulu juga gurunya yang berbuat, sekarang pemuda berkepandaian tinggi tapi jahat, siapa lagi kalau bukan murid si jahat itu?"

"Tapi dari mana ia peroleh kepandaian tinggi? Bukankah suhunya telah terluka dan menjadi penderita cacat di dalam gua ular? Pula, Siauw Liong dulu diberi nasehat keras. Mustahil dia begitu jahat dan nekat untuk mengulangi perbuatan gurunya yang sesat!"

Mendengar ini Tiong Li duduk lagi dan ikut memutar otak.

"Bagaimanapun juga, hal ini harus kita selidiki. Memang kalau benar pencuri itu Siauw Liong, sungguh mengherankan bagaimana dia bisa menjadi begitu lihai hingga dapat membinasakan kedua tokoh Kwan-im-kauw yang cukup tinggi kepandaiannya. Heran, heran!"

Untuk beberapa lama keduanya duduk saja sambil termenung.

"Saudara Tiong Li, pernahkah kau bertemu dengan Lian Eng?"

Tiong Li memandangnya heran dan tidak mengerti mengapa gadis ini tiba-tiba saja bertanya tentang Lian Eng.

"Tidak, aku belum pernah bertemu dengan dia semenjak pertemuan terakhir dulu itu. Tapi kenapa kau tanyakan hal ini?"

"Tidak apa-apa, hanya aku ingin sekali tahu sampai di mana kemajuan ilmu silat gadis gagu itu."

"Jangan sebut ia gadis gagu, kukira sekarang ia tidak gagu lagi,"

Kata Tiong Li. Hong Cu memandangnya tajam dengan sepasang matanya yang indah hingga Tiong Li merasa kagum sekali.

"Benar-benarkah kepandaianmu bisa menyembuhkan orang gagu?"

Hong Cu bertanya. Tiong Li tersenyum.

"Bukan aku yang menyembuhkan tapi adalah kepandaian suhu dan kemanjuran obatnya."

"Tapi bukankah kau juga ahli obat kini?"

"Ahli sih bukan, tapi sedikit-sedikit aku bisa juga."

Mereka diam sejenak, tiba-tiba Hong Cu bertanya lagi.

"Pernahkah kau bertemu dengan Siauw Ma?"

"Belum pernah. Kurasa dia sudah sangat maju ilmu silatnya. Suhunya adalah seorang ahli pedang yang ternama. Ia adalah seorang pemuda yang baik."

Hong Cu girang mendengar ini, tapi ia tidak berkata apa-apa.

"Nona, mari kita lanjutkan perjalanan,"

Ajak Tiong Li. Baru sadarlah Hong Cu bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tinggal orang tuanya, maka buru-buru ia berdiri dan menghampiri kudanya.

"Nona, kau hendak pergi ke manakah?"

"Ke Tiong-an-kwan, aku hendak penyambangi orang tuaku,"

Kata Hong Cu dengan gembira karena teringat akan orang tuanya. Kemudian ia cemplak kudanya dan balas bertanya.

"Dan kau hendak ke manakah?"

"Aku? Ah, aku hanya pergi merantau ke mana saja. Suhuku memesan agar aku pada permulaan musim chun tahun depan naik ke Thang-la bertemu dengannya.

"Sementara ini, aku hendak meluaskan pengalaman dan merantau tanpa tujuan. Kalau... kalau kau tidak keberatan, aku akan senang sekali jika boleh pergi bersamamu. Lebih senang berkawan dari pada jalan seorang diri."

Wajah Hong Cu berubah merah.

"Tentu saja boleh, tapi... tapi aku berkuda, sedangkan engkau berjalan kaki..."

Kata-katanya dipotong oleh Tiong Li dengan seruan girang.

"Tidak apa, aku dapat berjalan cepat, asalkan kau jangan mengaburkan kudamu! Di kota depan aku boleh membeli seekor kuda hingga kita boleh jalan bersama. Tunggu sebentar!"

Ia lalu lari ke sebuah pohon dan memungut pikulan yang tadi ditinggalkan ketika bercakap-cakap dengan Hong Cu.

Ternyata kini ia memasang dua keranjang obat di kedua ujung pikulannya itu!

Melihat betapa pemuda itu menghampirinya sambil memikul keranjang obat, Hong Cu tersenyum dan berkata.

"Nah, kalau begini kau betul-betul murid Si Tabib Dewa!"

Tiong Li memperlihatkan senyum manis dan berkata.

"Hayolah kita berangkat. Di depan ada kampung yang agak besar juga, di sana kita boleh makan dan aku akan mencari kuda."

Hong Cu melarikan kudanya.

Ia sengaja melarikan kudanya cepat-cepat untuk menguji ilmu lari cepat Tiong Li.

Tapi ketika ia menengok, ternyata pemuda itu sambil memikul keranjang obatnya dapat lari di samping kuda dan tidak kalah cepatnya!

Maka Hong Cu merasa kagum juga karena ternyata bahwa ilmu lari cepat pemuda itu belum tentu kalah olehnya.

Diam-diam ia mengeluh karena pibu di puncak Thang-la pada tahun depan merupakan ujian berat baginya.

Baru seorang saingan saja sudah begini lihai, belum tahu sampai di mana kelihaian Siauw Ma dan Lian Eng!

Terutama terhadap Lian Eng, Hong Cu agak merasa jerih karena ia pernah rasakan kelihaian gadis itu.

Karena mereka maju dengan cepat, sebelum senja tiba mereka telah tiba di sebuah kampung.

Ternyata kampung itu besar juga dan terdapat sebuah rumah penginapan yang lumayan besarnya karena kampung di pantai sungai ini banyak dikunjungi tukang-tukang perahu yang berdagang dari kampung ke kampung sepanjang sungai.

Setelah mendapatkan dua kamar dalam rumah penginapan itu, Tiong Li lalu keluar seorang diri hendak mencari kuda.

Kuasa rumah penginapan memberi tahu padanya bahwa di situ tidak ada pedagang kuda, hanya terdapat seorang tuan tanah yang memelihara banyak kuda baik, mungkin kalau dimintai tolong, tuan tanah itu mau menjual kudanya seekor.

Maka pergilah Tiong Li ke rumah tuan tanah itu yang tinggalnya di sebelah utara kampung itu.

Rumah itu besar dan pekarangannya lebar.

Betul saja, dari luar terdengar suara kuda meringkik.

Tapi ringkik kuda terdengar makin keras dan gaduh seakan-akan terjadi sesuatu yang aneh.

Tiong Li merasa curiga dan meloncat ke arah kandang kuda besar yang berada di samping rumah.

Tiba-tiba terdengar seruan keras.

"Tangkap maling kuda! Maling kuda! Pukul dia perampok kuda!"

Dan suara gaduh itu makin menghebat, diselingi seruan-seruan yang agaknya mengeroyok seseorang.

Tapi cepat sekali suara itu lenyap dan tiba-tiba dari dalam kandang tampak keluar seekor kuda besar yang bagus, dituntun oleh seorang pemuda.

Karena malam telah gelap, Tiong Li tidak melihat jelas wajah pemuda itu, tapi ia merasa curiga sekali.

Menyangka sesuatu yang tidak beres, Tiong Li sengaja menghadang di depan pemuda yang menuntun kuda dan berkata.

"Sobat, tahan dulu."

"Kau mau apa?"

Pemuda itu ternyata mempunyai suara yang nyaring merdu.

"Siapa tadi yang disebut maling kuda?"

Tiong Li bertanya.

"Hm, akulah orangnya yang mereka sebut demikian. Tapi merekalah yang menipu. Merekalah orang-orang rendah dan penipu curang!"

Tiong Li heran mendengar ini.

"Bagaimanapun juga aku harus tahu betul duduknya perkara,"

Katanya lalu lari ke dalam kandang, dan alangkah herannya ketika ia melihat tujuh orang laki-laki berdiri bagaikan patung karena mereka semua telah kena totokan secara lihai sekali!

Ia bebaskan dua orang yang terdekat dan setelah kedua orang itu sadar, ia bertanya.

"Apa yang terjadi?"

"Maling itu, tahan dia!"

Kata mereka sambil menuding keluar.

Tiong Li loncat keluar mengejar.

Tapi ia heran dan bengong, melihat betapa pemuda pencuri kuda berada di situ dengan berdiri tenang, seakan-akan menantang sekali!

Tiong Li marah melihat sikap orang, maka ia lalu membentak.

"Pencuri kuda, hayo kau kembalikan kuda orang!"

"Hm, dari manakah datangnya orang kurang ajar ini? Majulah kalau kau mempunyai kepandaian!"

Jawab orang itu.

"Kurang ajar!"

Kata Tiong Li lalu ia menyerang untuk menotok pemuda itu dan mengalahkannya sekaligus.

Tidak tahunya pemuda itu gesit sekali dan dengan mudahnya menangkis pukulannya.

Tiong Li terkejut karena lengan tangan yang menangkis pukulannya tadi demikian kuat dan mengandung tenaga besar sekali!

Ia merasa sangat heran dan menyerang lagi dengan lebih hebat.

Kini kedua-duanya heran dan terkejut karena tadinya mereka sangka akan dapat menjatuhkan lawannya dalam sekali gebrakan saja.

Tidak tahunya, kedua-duanya tidak berhasil dan selalu serangan-serangan kedua pihak dapat dikelit dengan mudah.

Telah belasan jurus mereka bertanding dan keadaan mereka sama-sama kuat dan sama-sama cepat.

Seperti juga halnya pemuda itu, Tiong Li makin heran saja karena lawannya benar-benar seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan lihai.

Sementara itu, dua orang yang terbebas dari totokan tadi, memburu keluar dengan membawa dua obor besar di tangan.

Kini Tiong Li dapat melihat wajah orang muda itu di bawah sinar obor.

Ternyata ia adalah seorang pemuda yang tampan sekali, tapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam.

Dan pemuda itu ketika melihat wajah Tiong Li di bawah sinar obor, mengeluarkan seruan kaget dan loncat berjumpalitan mundur sambil berseru.

"Tahan! Bukankah kau... Tiong Li??"

Tiong Li juga loncat mundur dan ia memandang lebih teliti lagi tapi belum juga ia dapat mengenali wajah itu.

Sementara itu pemuda tampan itu maju dan memegang kedua lengannya dengan girang sekali dan sepasang matanya memandang mesra.

"Kau... lupakah padaku? Ingatkah si gagu dulu??"

Maka teringatlah Tiong Li dan ia berkata dengan mata terbelalak.

"Kau... Lian Eng...?? Kau sudah... sudah pandai bicara?"

Sambil masih pegang kedua lengan Tiong Li, dan kedua matanya meneteskan butir-butir air mata, Lian Eng mengangguk-angguk dan tersenyum penuh keharuan hati.

"Ya, berkat pertolonganmu!"

Tapi Lian Eng heran melihat Tiong Li tidak begitu gembira melihat dia.

"Tapi kau mengapa lakukan perbuatan ini?"

Tanya Tiong Li, maka mengertilah Lian Eng bahwa Tiong Li meragukannya karena peristiwa di kandang kuda itu.

Ia tersenyum dan dengan tindakan lebar ia ajak Tiong Li masuk ke kandang itu di mana masih ada lima orang berdiri bagaikan patung.

Lian Eng gerakkan tangannya dan sebentar saja kelima orang itu terbebas dari totokannya.

Lian Eng pegang tangan seorang di antara mereka yang gemuk pendek dan menyeretnya di depan Tiong Li sambil membentak.

"Nah, sekarang kau akuilah semua kecuranganmu betapa kau telah menipuku. Kalau tidak, pasti kau akan kubunuh mampus!"

Dengan tubuh gemetar ketakutan orang gemuk yang pakaiannya mewah itu mengaku.

Ternyata dia adalah tuan tanah pemilik tanah dan kerbau serta banyak sekali kuda pilihan.

Dua hari .yang lalu ia kedatangan Lian Eng yang minta beli seekor kuda yang baik dengan harga berapa saja.

Tadinya Lian Eng pilih seekor kuda bulu hitam yang pada malam hari ini ia bawa dengan paksa itu, tapi pemilik kuda yang licin itu segera mencegahnya dengan mengatakan bahwa kuda itu menderita semacam penyakit yang berat dan tidak kuat diajak jalan jauh.

Lalu ia keluarkan seekor kuda yang tinggi kurus dan bilang bahwa itulah kuda terbaik dan harganya pun paling mahal.

Karena Lian Eng tidak mempunyai pengalaman tentang kuda, ia percaya saja dan membayar mahal untuk kuda tinggi kurus itu.

Tapi siapa kira, baru saja ia naik kuda itu dan belum ada setengah hari perjalanan, kuda itu tiba-tiba roboh dan napasnya empas-empis.

Ternyata tulang kaki depannya patah dan ketika Lian Eng meraba memeriksanya, ternyata tulang itu pernah patah dan telah disambung!

Maka ia marah sekali dan dengan diam-diam ia mendatangi tuan tanah itu.

Kebetulan sekali tuan tanah itu sedang membicarakan soalnya dan menertawakan kebodohannya dengan beberapa orang kaki tangannya, maka Lian Eng segera memaki mereka dan dengan paksa masuk ke kandang mengambil kuda hitam pilihannya itu dan mempersilakan mereka ambil kembali kuda yang hampir mati di tempat kuda itu roboh!

Tentu saja tuan tanah itu tidak mau memberikan kudanya sehingga terjadi keributan itu.

Mendengar pengakuan tuan tanah itu giranglah hati Tiong Li, karena ternyata Lian Eng tidak salah dalam hal ini.

Ia marah sekali kepada tuan tanah itu dan berkata.

"Kau telah menjadi tuan tanah yang kaya, mengapa masih mau menipu orang? Kawanku ini masih berlaku murah. Kalau aku yang kau bodohi macam itu, tentu batok kepalamu telah kupecahkan!"

Dengan tubuh menggigil ketakutan, tuan tanah itu mohon ampun kepada Lian Eng dan Tiong Li. Tiong Li berkata pula.

"Kami mau ampunkan kau, tapi sekarang kau harus keluarkan seekor kuda pula yang baik karena akupun butuh seekor. Jangan kau kira aku hendak merampok kudamu, berapa harganya asal pantas akan kubayar. Tapi awas, kalau kau tipu aku, jangan harap kau dapat lindungi kepalamu yang banyak tipu muslihat jahat itu!"

Dengan cepat dan sungguh-sungguh tuan tanah itu lalu mengeluarkan seekor kuda lain dan Tiong Li membayarnya sebanyak yang telah dikeluarkan oleh Lian Eng.

Tentu saja tuan tanah itu girang sekali karena tadinya ia kira bahwa kedua pemuda itu tentu sebangsa begal kuda atau raja perampok!

Demikianlah, keduanya lalu naik kuda, bersama tinggalkan tempat itu.

"Nona Lian Eng, mari kau mampir di tempat pondokanku dan kau jumpai seorang kawanku,"

Tiong Li merasa likat-likat untuk menyebut gadis itu namanya saja, maka ia menyebutnya nona.

"Kau bermalam di manakah? Dan kau hendak ke mana?"

"Aku merantau tak tentu tujuan dan kebetulan bertemu denganmu di sini. Dan kau, hendak ke manakah?"

"Aku... aku... sengaja mencari-carimu, tapi tidak nyana dapat bertemu di tempat yang tak tersangka-sangka ini!"

Jawab Lian Eng.

"Eh, kau mencari-cariku? Ada keperluan, apakah, nona?"

Tanya Tiong Li yang dalam hatinya merasa girang sekali dapat mendengar gadis ini bercakap-cakap dan sembuh dari gagunya, karena biarpun hanya sedikit, setidaknya ia mempunyai jasa kecil juga terhadap kesembuhan ini!

"Aku mencarimu hanya untuk...

menyatakan terima kasihku yang tak terhingga besarnya.

Kau telah menyembuhkan penyakit gaguku, ini berarti bahwa kau telah mengembalikan kebahagiaan hidupku."

Suara Lian Eng terdengar perlahan karena terharu.

"Sudahlah, jangan kau sebut-sebut hal itu, nona. Aku ikut merasa bahagia bahwa kau telah sembuh dan dapat bicara.

"Sebetulnya bukan aku yang menolongmu, juga pertolongan suhuku tidak berarti banyak, karena kalau seandainya kau tidak mendapatkan patung itu hingga suhu bisa mengambil obat di dalamnya, mungkin sampai kini kau belum sembuh dan harus menanti beberapa tahun lagi. Maka, sudahlah, anggap saja bahwa Thian Yang Maha Esa telah menolongmu!"

Setelah diam sejenak dan keharuan hatinya mereda, Lian Eng bertanya.

"Kau tadi menyebut-nyebut seorang kawanmu. Siapakah dia?"

Tiong Li tersenyum dan menjawab.

"Biar kau lihat sendiri saja, sebentar juga kita sampai di tempat penginapanku."

Setiba mereka di depan rumah penginapan, mereka turun dari kuda dan menambatkan kedua binatang itu di batang pohon.

Kemudian Lian Eng mengikuti Tiong Li masuk ke dalam rumah penginapan.

Kebetulan sekali pada saat itu Hong Cu sedang berdiri membelakangi mereka dan memandang sebuah lukisan yang terpasang di dinding ruang tengah penginapan itu.

"Nah, kau lihat, siapakah dia itu?"

Kata Tiong Li perlahan. Lian Eng memandang dan karena Hong Cu berdiri miring hingga wajahnya yang tersinar api lilin tampak nyata, Lian Eng segera mengenal dia.

"Hong Cu!"

Suaranya terdengar marah dan gemas, karena kembali ia dibikin sakit hati.

Gadis ini berada di dalam rumah penginapan yang sama dengan Tiong Li!

Alangkah mesranya hubungan mereka!

Lian Eng teringat hal-hal yang sudah-sudah, betapa dulu ia pernah bertempur dengan Hong Cu memperebutkan patung Dewi Kwan-im, dan betapa semenjak dulu hubungan Tiong Li dan Hong Cu tampak karib sekali.

Ia yang mengagumi Tiong Li tentu saja merasa cemburu dan tidak senang.

"Kalau dia berada di sini, tentu kami akan membuat perhitungan dan melanjutkan perkelahian yang dulu!"

Katanya perlahan dengan gemas dan memandang tajam ke arah Hong Cu.

"Jangan, Lian Eng! Jangan kau menerbitkan keonaran di sini. Hong Cu adalah kawan, bukan lawan!"

Makin panaslah hati Lian Eng.

"Hm, bukan lawan? Coba saja kita lihat tahun depan nanti di puncak Thang-la, kita akan menjadi lawan atau bukan? Lebih baik sekarang saja dia dan aku menetapkan siapa di antara kami berdua yang lebih unggul!"

"Lian Eng, jangan kau lakukan itu. Jangan kau serang dia!"

Lian Eng mendengar suara Tiong Li makin heran.

"Kau perduli apa?"

Tanyanya marah karena terbakar rasa cemburu.

"Aku tetap hendak tantang dia!"

Lian Eng melangkah maju. Tapi Tiong Li segera menangkap lengannya.

"Lian Eng, kalau kau serang dia maka aku terpaksa putuskan hubungan kita sebagai kawan!"

Tersentak kagetlah Lian Eng mendengar kata-kata ini. Ia putar tubuhnya dan memandang kepada Tiong Li dengan tajam.

"Apa katamu? Dan kalau aku tetap menyerang dia kau mau apa?"

Lian Eng memang beradat keras dan tidak suka mengalah.

Sementara itu, Hong Cu mendengar percakapan mereka dan menengok.

Ia heran melihat Tiong Li pegang lengan seorang pemuda cakap dan tampaknya mereka sedang cekcok.

Hong Cu hendak menghampiri mereka, tapi ia tahan kakinya dengan dada berdebar ketika kenal bahwa pemuda yang sedang cekcok dengan Tiong Li itu bukan lain ialah Lian Eng!

Muka yang manis dengan mata yang tajam itu mudah saja dikenal.

Ia tidak jadi mendekat dan perhatikan mereka dari situ saja.

"Lian Eng, kalau kau tetap menyerangnya, terpaksa aku akan membelanya! Kau akan berhadapan dengan aku!"

Tiba-tiba Lian Eng tertawa, suaranya nyaring dan merdu, tapi suara ketawa itu mengandung ancaman yang mengerikan.

"Ha, ha, ha, Tiong Li! Kau khawatir kalau-kalau ia kalah? Kau sudah merasa pasti bahwa ia kalah olehku?"

"Kalah menang bukan soal. Belum tentu ia kalah olehmu, tapi yang pasti, aku akan membela dia!"

"Seperti dulu juga, Tiong Li, kau yang telah melepas budi padaku, katakanlah terus terang, kau... cinta padanya?"

Tiong Li meramkan matanya sejenak lalu mengangguk dan menjawab.

"Ya... begitulah kiranya."

Sementara itu, Hong Cu mendengar percakapan itu mengerti bahwa dirinyalah yang dibicarakan, maka dengan ringan sekali ia meloncat ke arah mereka dan berkata.

"Lian Eng, aku berada di sini. Kalau ada keperluan dengan aku, katakanlah terus terang."

Tapi Lian Eng telah mendapat pukulan hebat dari pengakuan Tiong Li tadi, maka ia seakan-akan tidak mendengar dan tidak melihat Hong Cu, dengan mata penuh air mata ia pandang Tiong Li, lalu cepat ia balikkan tubuh dan cemplak kudanya setelah renggut putus kendali yang diikatkan di pohon!

Ia bedal kudanya dengan cepat dan menghilang di dalam gelap.

Ketika Tiong Li berpaling ke arah Hong Cu, ternyata gadis itupun telah lenyap karena sejak tadi Hong Cu telah lari masuk ke dalam kamarnya.

Hong Cu merasa gelisah dan biarpun tubuhnya berbaring di atas pembaringan, namun pikiran kacau balau membuat ia gelisah tidak karuan!

Baru saja ia mendengar pengakuan Tiong Li yang menyatakan bahwa pemuda itu mencintanya!

Hong Cu merasa kasihan melihat Lian Eng, karena perasaan wanitanya dapat menduga dari pandang mata Lian Eng bahwa gadis itu mencinta Tiong Li!

Sedangkan ia...

sendiri...

ah, ia tak dapat katakan, karena betapapun juga, hatinya masih condong kepada Siauw Ma, pemuda gagah perkasa yang jujur mengagumkan itu!

Tiong Li pun tahu bahwa tadi dengan tak disengaja ia buka rahasia hatinya di depan Hong Cu karena terpaksa oleh desakan Lian Eng, hingga ia lupa bahwa Hong Cu berada di dekatnya.

Maka pada keesokan harinya, ketika ia bertemu dengan Hong Cu, ia berkata sambil tundukkan muka karena melihat betapa gadis itu tidak berani memandangnya, seakan-akan malu dan tak enak perasaan.

"Hong Cu, menyesal sekali terjadi hal semalam. Dia... dia memaksa hendak menimbulkan onar. Aku... aku... maafkan jika aku mengucapkan sesuatu yang tidak pada tempatnya."

"Sudahlah, jangan kita ulangi-ulangi lagi hal itu, aku kasihan melihat Lian Eng."

Sekali lagi Tiong Li merasa heran terhadap Hong Cu.

Mengapa gadis ini kasihan terhadap Lian Eng?

Sungguh aneh!

Tapi ia tidak berani lagi bicara tentang Lian Eng atau hal-hal yang menyangkut peristiwa malam tadi.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota Tiong-an-kwan.

Karena sikap Tiong Li yang gembira dan sopan, maka Hong Cu merasa senang dan rasa likatnya karena peristiwa malam itu lenyap dan pergaulannya dengan pemuda itu menjadi biasa pula.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di kota itu.

Melihat kota tempat tinggalnya, bukan main terharu dan gembira hati gadis itu hingga untuk beberapa lama ia tahan kudanya dan melihat rumah-rumah yang tidak banyak berubah itu dengan wajah berseri.

Kemudian ia bedal kudanya menuju ke rumah orang tuanya.

Tapi, ketika ia meloncat turun dari kuda dan berlari-lari memasuki halaman rumah gedung yang sangat dirindukannya itu, ia menjadi kaget sekali melihat betapa rumah itu tampak sunyi senyap.

Hampir saja ia bertabrakan dengan seorang pelayan tua yang keluar dari ruang dalam.

"Lo-sam! Di mana ayah? Mana ibu??"

Pelayan tua itu menggunakan sepasang matanya yang sudah agak lamur untuk menatap wajah gadis itu dengan penuh keheranan.

"Nona ini siapa? Suaramu seperti... seperti..."

"Lo-sam, aku Hong Cu! Lupakah kau?"

Gadis itu memegang lengan Lo-sam.

"Nona Hong Cu! Ya Tuhan Yang Maha Esa! Kau... nona Cu?"

Dan tiba-tiba saja keluarlah air mata mengalir dari sepasang mata yang cekung itu.

"Kenapakah, Lo-sam? Mana ayah ibu?"

Karena tak sabarnya, Hong Cu menggoyang-goyangkan pundak pelayan tua yang makin bingung dan terharu itu.

"Mereka... mereka... telah... telah lenyap!"

"Apa katamu? Lo-sam, bicara yang benar! Mana mereka? Lenyap, apa... apa maksudmu??"

Hong Cu berkata keras hingga berteriak nyaring. Tiong Li yang mengikuti di belakangnya kini berdiri bingung dan khawatir.

"Seminggu yang lalu mereka lenyap! Entah ke mana dan entah bagaimana. Sekarangpun masih diselidiki oleh yang berwajib! Mereka... mereka... agaknya diculik orang!"

"Apa?!"

Dan Hong Cu tentu roboh terguling kalau tidak Tiong Li menahan tubuhnya yang pingsan.

Lo-sam gugup sekali, tapi ia agak lega ketika melihat betapa kawan nonanya itu biarpun masih muda sekali, namun ternyata berlaku tenang sekali menghadapi nonanya yang pingsan.

Tiong Li mengangkat tubuh Hong Cu ke dalam kamar atas petunjuk Lo-sam, lalu membaringkan gadis itu di atas pembaringan.

Kemudian ia mengeluarkan semacam obat bubuk dari keranjangnya dan memasukkan sedikit ke hidung Hong Cu yang segera berbangkis beberapa kali dan bangun duduk.

Untuk sesaat gadis itu memandang bingung, kemudian setelah teringat akan cerita Lo-sam, ia mendekap mukanya dengan tangan dan menangis sedih.

"Tenangkan hatimu, Hong Cu. Orang tuamu belum ketahuan bagaimana nasib"nya, mengapa kau menangis? Lebih baik biar kita mendengarkan cerita Lo-sam ini yang jelas, agar kita bisa segera mencari orang tuamu itu."

Hong Cu menekan perasaannya dan Tiong Li lalu minta orang tua itu bercerita.

"Seminggu yang lalu, malam-malam terdengar suara hiruk-pikuk di kamar Tai-jin dan hu-jin, tapi sebentar kemudian suara itu lenyap. Kami para pelayan tidak berani mengganggu.

"Tapi pada keesokan harinya, ketika kami mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban, kami buka pintu itu dan ternyata Tai-jin dan hu-jin telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Tapi jendela terbuka lebar dan di atas dinding terdapat sebuah lukisan yang mengerikan sekali."

"Lukisan? Lukisan apakah dan masih adakah sekarang?"

Tanya Hong Cu sambil menahan isaknya.

"Masih, masih. Siapa berani menghapus lukisan setan itu?"

Cepat sekali Hong Cu loncat ke kamar orang tuanya, diikuti Tiong Li.

Melihat gerakan kedua orang yang begitu cepat laksana menyambarnya kilat itu, Lo-sam bengong dan bergidik.

Apakah nonanya juga paham ilmu setan?

Demikian pikirnya dengan ngeri.

Ternyata di dinding kamar besar itu terdapat lukisan yang dilukis dengan bak.

Lukisannya hanya hitam memanjang dan ketika diperhatikan ternyata itu adalah lukisan seekor ular hitam kepala dua!

"Siapakah penjahat yang memakai tanda ini?"

Tanya Hong Cu seperti bicara kepada diri sendiri.

"Akupun belum pernah mendengar tentang seorang yang memakai gelar Ular Hitam Kepala Dua! Tapi penjahat ini betapapun juga telah meninggalkan tanda. Baik kita selidiki dan tanya-tanyakan kepada orang-orang di kalangan liok-lim,"

Kata Tiong Li. Tiba-tiba wajah Hong Cu berubah pucat.

"Bagaimana kalau penjahat itu mencelakakan ayah ibuku?"

Gadis itu kertak gigi dan sepasang matanya memancarkan api.

"Jangan khawatirkan yang bukan-bukan, Hong Cu. Kurasa penjahat itu menculik kedua orang tuamu dengan maksud tertentu. Kalau benar ia hendak mencelakakan mereka, bukankah lebih mudah mereka lakukan di sini? Perlu apa mereka bersusah payah menculik mereka?"

Hong Cu setujui pendapat ini dan ia berangkat pada saat itu juga untuk mulai mencari kedua orang tuanya.

Tiong Li hanya menyetujuinya dan keduanya lalu berangkat, hingga Lo-sam kembali merasa heran hingga ia tak dapat berkata-kata.

Hong Cu yang ketika kecilnya sering ia ajak bermain-main, kini telah menjadi gadis cantik jelita dan mempunyai kepandaian seperti setan.

Gadis yang dulu lenyap itu kini datang dan pergi lagi bagaikan seekor burung yang bersayap.

Setelah dapat meredakan keheranannya, ia lalu berlari-lari keluar rumah untuk menceritakan peristiwa kedatangan Hong Cu itu kepada para tetangganya!

Mari kita ikuti Lian Eng yang dengan hati hancur dan kecewa bedal kudanya di malam kelam!

Gadis ini merasa kecewa sekali, dan ia malu terhadap Hong Cu karena di depan gadis itu Tiong Li menyatakan cintanya kepada Hong Cu!

Biarpun ia belum menunjukkan perasaan hatinya kepada pemuda itu, namun pengakuan Tiong Li itu merupakan tamparan baginya.

Ia tidak marah kepada Tiong Li, bahkan menghargai kejujurannya yang berterus terang, tapi betapapun juga ia tidak mudah menindas perasaan marah dan bencinya kepada Hong Cu, gadis yang dianggapnya sebagai perintang kebahagiaannya itu!

Ia teringat kepada Siauw Ma dan diam-diam ia makin bersedih.

Sungguh nasib mempermainkan mereka!

Siauw Ma cinta padanya tapi ia tertarik kepada Tiong Li yang ternyata mencinta Hong Cu.

Jadi, dalam hal ini hanya Hong Cu yang beruntung dan tepat pilihannya!

Ah, sungguh hal ini membuat ia makin iri hati kepada Hong Cu.

Sedikitpun ia tak pernah mimpi bahwa Hong Cu juga menjadi korban keganjilan alam, karena Hong Cu ternyata mengandung hati cinta kepada Siauw Ma!

Demikianlah, semalam penuh Lian Eng melarikan kudanya hingga ketika malam telah terganti fajar, kudanya tak kuat berjalan lagi dan terpaksa ia turun.

Ternyata mereka telah sampai di kaki sebuah bukit.

Kalau malam tadi udara diterangi bulan, kini bulan yang sudah tenggelam membuat cuaca menjadi gelap.

Baiknya ada cahayanya lebih dulu sebelum raja siang itu sendiri keluar.

Burung-burung pagi mulai berkicau, dari sebuah kampung yang agak jauh terdengar suara ayam berkokok.

Mendengar suara itu dan melihat keadaan di sekelilingnya yang sunyi, timbullah perasaan sedih di hati Lian Eng.

Ia merasa betapa hidupnya sebatangkara dan sunyi.

Kemudian secara samar-samar ia teringat bahwa orang tuanya mengalami bencana ketika ia masih kecil dan teringat akan kakeknya yang kini entah berada di mana.

Makin sedihlah hati Lian Eng dan ia tidak dapat menahan pula kesedihannya hingga ia mendekap muka dengan kedua tangannya dan menangis terisak-isak di bawah sebatang pohon besar.

Sungguh menyedihkan keadaan gadis itu.

Tiba-tiba Lian Eng mendengar suara helaan napas.

Biarpun suara itu sangat perlahan, namun cukup untuk membuat ia sadar dan meloncat bangun.

Ternyata di belakangnya telah berdiri seorang pemuda cakap dan ketika ia memandang lebih teliti, orang itu bukan lain ialah Siauw Liong!

"Nona Lian Eng, mengapa kau berada seorang diri dan bersedih di sini?"

Tanyanya.

"Tidak ada sangkut-pautnya dengan kau. Pergilah kau sebelum aku menjadi marah."

Siauw Liong tidak mau pergi, bahkan menyandarkan diri pada batang pohon siong itu sambil tersenyum dan memangku kedua lengan.

"Memang dunia ini tempat yang mengecewakan, bukan? Aku tahu mengapa kau bersedih. Apa kau kira (Lanjut ke

Jilid 13) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 aku tidak mengetahui pertemuanmu dengan Tiong Li si tukang obat, Hm, orang macam dia itu tak patut dipikirkan."

Lian Eng menjadi heran sekali mengapa setan ini tahu saja urusan orang.

"Jangan sebut-sebut Tiong Li, aku tidak mempunyai urusan sesuatu dengan dia. Dan kau pergilah, mengapa jual obrolan di sini?"

Siauw Liong berkata dengan halus.

"Aku kasihan kepadamu, nona. Seperti dulu pernah kukatakan, aku ingin sekali menjadi sahabat baikmu, maka baiklah aku berterus terang saja. Tiong Li adalah seorang rendah yang tak pantas dijadikan teman. Dia dan Hong Cu adalah orang-orang tak tahu malu.

"Coba kau pikir, mereka itu seorang pemuda dan seorang gadis, tapi telah melakukan perjalanan dan hidup sebagai sepasang suami isteri saja. Bukankah hal itu melanggar pula peraturan dunia kang-ouw? "Mereka itu patut dibasmi dan dibunuh. Kalau kau merasa sakit hati kepada mereka, jangan khawatir, aku Siauw Liong masih sanggup membinasakan mereka!"

"Cukup kata-katamu!"

Lian Eng membentak.

"Apa kau kira kepandaianmu sudah tidak ada lawannya maka kau berani menyombong di depanku? Coba kau terima seranganku ini!"

Sambil berkata demikian, Lian Eng segera melayangkan pukulan Huo-mo-kang yang sakti dan hebat!

Tentu saja Siauw Liong menjadi terkejut sekali.

Tadinya ia mengharap bahwa bujukan dan kebohongannya akan berhasil, tidak tahunya Lian Eng bahkan menjadi marah dan menyerangnya!

Ia maklum akan kelihaian Huo-mo-kang, maka cepat sekali ia loncat berkelit jauh sambil berkata.

"Nona Lian Eng, mengapa kau malahan menyerangku? Aku bermaksud baik, semua ini terbit dari hatiku yang mencinta padamu."

"Diam kau, bangsat!"

"Nona Lian Eng, kau benar-benar telah buta! Kalau dulu kau hanya gagu, sekarang kau buta. Kau telah tergila-gila kepada Tiong Li yang hina dan rendah. Sungguh memalukan!"

Bukan main marah hati Lian Eng.

Ia loncat menyerang lagi dan Siauw Liong menggunakan seluruh kepandaiannya untuk melawan.

Ternyata Siauw Liong juga bukan lemah.

Ia memiliki lwee-kang yang tinggi dan gin-kang yang cukup hebat pula.

Pula, kedua lengan tangannya telah terendam bisa yang keras hingga kulit lengannya itu telah menjadi berbisa.

Berbahayalah orang kalau sampai tersentuh lengan berbisa itu, karena bisa mati seketika itu juga!

Karena inilah, maka Siauw Liong selalu memakai sarung tangan panjang sampai ke siku.

Sekarang, menghadapi Lian Eng yang lihai, cepat ia berkelahi sambil melepaskan kedua sarung tangannya hingga tampak kulit lengan yang berwarna merah kehijau-hijauan dan mengeluarkan bau harum-harum memabokkan.

Lian Eng tahan napasnya dan mengerti bahwa Siauw Liong tak boleh dibuat gegabah, maka iapun kerahkan tenaganya dan menyerang makin hebat.

Kini semua rasa mendongkol dan marahnya ditumpahkan kepada Siauw Liong!

Biarpun Siauw Liong memiliki kepandaian yang tinggi dan jarang terdapat orang sepandai dia, namun kali ini menghadapi murid Huo Mo-li yang sedang marah, ia menjadi sibuk juga.

Kedua tangan Lian Eng yang mengeluarkan hawa panas sekali itu menyambar-nyambar hebat dan setiap pukulan mengancam jiwanya!

Karena inilah maka Siauw Liong tak kuat menahan dan berkelahi sambil mundur.

Ketika ia mendapat kesempatan, ia lari ke atas bukit itu.

Namun Lian Eng berseru.

"Kau hendak lari ke mana?"

Dan gadis itu tetap mengejarnya dengan cepat.

Ilmu lari cepat Siauw Liong masih kalah kalau dibandingkan dengan Lian Eng hingga sebentar saja gadis itu dapat mengejarnya.

Mereka bertempur lagi dengan hebat di mana saja mereka bertemu.

Di pinggir jurang, di lereng bukit, di atas batu-batu besar.

Gerakan mereka demikian cepat dan gesit hingga kalau dilihat dari bawah bukit, keduanya merupakan sepasang burung besar tengah bertempur ramai.

Lian Eng sama sekali tidak mengira bahwa ia dipancing oleh lawannya menuju ke sarang Siauw Liong yang baru.

Pemuda itu telah memilih bukit itu sebagai tempat tinggalnya dan telah melengkapi bukit itu dengan tempat-tempat rahasia yang berbahaya!

Kini ia yang tidak kuat melawan Lian Eng, sengaja lari dan pancing gadis itu naik bukit.

Ketika mereka berkelahi dan lari saling kejar sampai di puncak, tiba-tiba Siauw Liong lari memasuki segerombolan pohon.

Lian Eng mengejar dengan gemas ketika dilihatnya betapa Siauw Liong menengok dan memandang padanya dengan senyum mengejek.

Tapi tiba-tiba saja tanah yang diinjaknya terbuka dan tubuhnya terjeblos ke bawah!

Ini adalah sebuah dari pada tempat-tempat rahasia Siauw Liong yang merupakan jebakan berbahaya.

Tanah di situ hanya palsu, dan di bawah terpasang papan-papan besi yang dapat digerakkan dan dibuka hanya dengan menekan per yang dipasang dengan licin di sebuah batang pohon.

Tadi ketika Lian Eng mengejarnya, Siauw Liong gerakkan papan itu hingga tiba-tiba terbuka di bawah kaki Lian Eng yang tidak sempat loncat menghindari bahaya ini.

Tapi Lian Eng berkepandaian tinggi sekali, maka dengan menggunakan gin-kangnya, ketika kakinya menyentuh tanah di bawah, cepat sekali ia telah membal kembali ke atas.

Namun, alangkah terkejutnya ketika ia tidak melihat lubang di atasnya karena papan-papan besi itu telah tertutup kembali.

Sambil meloncat, Lian Eng menggunakan tangannya mendorong tapi tubuhnya segera turun kembali ke bawah.

Ia tidak berdaya keluar, maka ia segera perhatikan keadaan sumur di mana ia terjatuh itu.

Ruang di mana ia terjatuh adalah semacam gua di bawah tanah, dan ia melihat dirinya terkurung kerangkeng besi.

Lian Eng tersenyum geli dan ia merasa lega, karena apa artinya kerangkeng besi ini baginya?

Dengan sekali dorong saja maka terbukalah pintu kerangkeng itu dan ia lalu keluar.

Ternyata gua itu memanjang dan gelap sekali, tapi mata Lian Eng yang sudah terlatih dapat juga melihat bahwa dinding gua itu adalah batu cadas hitam yang kuat sekali.

Ia menduga-duga jalan itu akan menembus ke mana, tapi dengan tabah dan berani ia maju melangkah terus ke depan.

Pada sebuah tikungan, tiba-tiba dari luar menyorot masuk sinar terang dan terdengar suara tertawa orang.

Ia heran sekali karena yang tertawa adalah dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita!

Ia kenali bahwa suara tawa laki-laki itu adalah suara Siauw Liong, tapi wanita itu entah siapa.

Dan kini jalan itu melebar dan tampaklah ruang yang luas sekali di bawah tanah, sedangkan cahaya yang masuk adalah cahaya matahari yang entah menembus dari mana dapat masuk ke situ.

Ternyata Siauw Liong telah menemukan dan membuat tempat tinggal di atas bukit itu dengan sempurna sekali.

Tempat tinggal di bawah tanah!

Tiba-tiba ia mendengar suara Siauw Liong yang berkata.

"Lian Eng, kau menyerahlah saja dan menjadi kawanku!"

"Bangsat curang dan pengecut! Tunggulah, sebentar lagi aku akan membuat kau menjadi kawan cacing tanah!"

Seru Lian Eng dengan gemas sekali.

Tapi pada saat itu juga, dari kanan kiri dan depan belakang terdengar desis keras dan tahu-tahu semacam asap putih menyembur padanya.

Lian Eng terkejut dan mencoba menahan napasnya, tapi terlambat.

Ia telah menyedot asap itu dan mencium bau harum sekali dan tiba-tiba kepalanya menjadi pening dan pandang matanya gelap.

Lapat-lapat ia mendengar suara ketawa Siauw Liong dan bentakan suara wanita.

"Kau... laki-laki tidak setia!"

Setelah itu Lian Eng roboh pingsan!

Setelah gadis pendekar itu roboh pingsan tak berdaya, maka keluarlah Siauw Liong dari tempat persembunyiannya dan tertawa bergelak-gelak.

Di belakangnya datang seorang perempuan muda yang cantik dan berpakaian warna merah yang mewah sekali.

Ternyata perempuan itu bukan lain ialah Ang-ie-nio-nio, wanita lihai sumoi dari Kwie-eng-cu yang terbunuh oleh Hong Cu dulu itu, bahkan wanita inipun telah dipatahkan tangannya oleh Hong Cu!

Bagaimanakah wanita baju merah ini bisa berada di situ bersama Siauw Liong?

Beberapa tahun yang lalu, ketika guru Siauw Liong, yakni Tok-kak-coa yang lihai dan jahat mendapat luka-luka parah dan dibikin menjadi seorang bercacat oleh Huo Mo-li, maka dengan hati sedih dan malu Siauw Liong menggendong gurunya yang sudah tiga perempat mati itu masuk ke dalam gua ular.

Di dalam gua Siauw Liong membanting tubuh suhunya di atas pembaringan batu dan ia sendiri duduk sambil menunjang dagu.

Ia memang sama sekali tidak mempunyai rasa sayang kepada suhunya itu, apa lagi setelah melihat betapa suhunya kini menjadi orang tidak berguna, maka ia sama sekali tidak perduli.

Ia lebih banyak memikirkan diri sendiri, dan bagaimana ia harus bertindak untuk kepentingan dirinya.

Ia pikir hendak meninggalkan gurunya biar mampus kelaparan di dalam gua.

Tapi kemudian timbul pikirannya bahwa kalau ia pergi, ia hendak pergi ke manakah?

Ia merasa sakit hati sekali kepada Thang-la Sam-sian dan murid-muridnya yang telah menghinanya.

Untuk membalas dendam, kepandaiannya terlampau rendah.

Pada saat ia duduk melamun, suhunya sadar dari pingsannya yang kedua kalinya, lalu berusaha untuk bangun duduk, tapi ia tidak kuat, maka ia memandang kepada Siauw Liong dan berkata lemah.

"Siauw Liong, bantulah aku bangun."

Siauw Liong menengok dengan pandang jemu.

"Bangunlah sendiri!"

Bentaknya kasar. Gurunya diam saja dan berkata dengan lemah.

"Sesukamulah, kau boleh biarkan aku mampus di sini, tapi kau sendiri akan menjadi orang tidak berguna dan akhirnya kau pun akan mampus dengan terlantar, dihina sana-sini!"

Mendengar kata-kata suhunya Siauw Liong marah sekali dan loncat bangun dengan kepalan tangan terangkat hendak memukul mati suhunya yang telah menjadi orang lemah tiada guna itu.

Tapi ia turunkan lagi tangannya ketika melihat betapa wajah suhunya menyeringai dan mengejeknya, lalu anak muda itu jatuhkan diri sambil menangis sedih.

"Aah... aku harus berbuat apa... bagaimanakah dengan nasibku kelak..."

Demikian ia mengeluh.

"Kalau kau dapat mewarisi kepandaianku, tentu kau takkan terhina orang lain."

"Kau... sudah menjadi orang tidak berguna,"

Kata Siauw Liong putus asa.

"Asal aku dapat hidup lebih lama, tentu dapat kudidik kau."

Maka teringatlah Siauw Liong akan obat pemberian Si Tabib Dewa untuk suhunya maka ia lalu berkata.

"Aku mau merawat kau sampai sembuh, suhu. Tapi kau harus turunkan semua kepandaianmu dan mengajarku sampai pandai betul."

Suhunya keluarkan senyum kemenangan.

"Habis kau tadi pikir bagaimana, anak bodoh? Kalau aku tidak turunkan kepandaianku, habis kepada siapa lagi? Kalau bukan kau yang balaskan sakit hatiku, habis siapa lagi yang sanggup?"

"Siapa sudi balaskan sakit hatimu? Kau jatuh ke tangan mereka adalah karena kebodohanmu sendiri, ada sangkut paut apakah dengan diriku? Tapi bagaimanapun juga, kalau aku sudah pandai, pasti akan kucari murid-murid Thang-la Sam-sian untuk menghajar mereka dan memuaskan hatiku."

Suhunya perdengarkan suara ketawa ha, ha, hi, hi.

"Itu sama saja... sama saja..."

Semenjak itu, Siauw Liong merawat suhunya dengan menggunakan obat mujijat dari Kiang Cu Liong.

Dengan teliti Siauw Liong merawat Tok-kak-coa sampai beberapa bulan, karena ia melakukan itu dengan mempunyai maksud tertentu, yakni memeras keluar semua kepandaian suhunya ini kalau sudah sembuh.

Akhirnya sembuhlah Tok-kak-coa, walaupun ia harus berjalan pincang dan tubuhnya makin bongkok serta tenaganya lenyap sama sekali dan menjadi lemah.

Akan tetapi, karena otak Siauw Liong cerdik sekali, ditambah pula Tok-kak-coa juga mengajar dengan sungguh-sungguh hati karena iapun mempunyai maksud, yakni hendak menjadikan Siauw Liong seorang yang pandai sekali agar dapat membalaskan sakit hatinya, maka Siauw Liong maju pesat.

Ia mengajar teorinya saja dan Siauw Liong berlatih silat di bawah pengawasannya.

Biarpun ia sendiri tak dapat memberi bukti kehebatan pelajaran silat yang diajarkannya, tapi ia masih juga dapat memberi contoh gerakan-gerakannya, walaupun dengan lemah dan lambat.

Namun, ia dapat menegur semua kesalahan dalam gerak pelajaran, hingga bagaimanapun juga, akhirnya Siauw Liong dapat juga mewaris ilmu kepandaiannya yang memang hebat.

Bahkan Siauw Liong demikian pintarnya dan dapat mempelajari ilmu tongkat suhunya serta mengubahnya dengan tipu-tipu tambahannya sendiri di bawah pengawasan dan petunjuk suhunya.

Ilmu tongkatnya ini diberi nama Ilmu Tongkat Ular Hitam Kepala Dua!

Juga dari suhunya, Siauw Liong mempelajari kegunaan racun ular dan binatang berbisa lainnya yang jahat dan berbahaya.

Kedua lengan tangannya bahkan oleh suhunya direndam dalam bisa hingga menjadi lihai dan berbahaya.

Kurang lebih empat tahun kemudian, Siauw Liong telah menjadi pandai dan bahkan ia lebih hebat dari Tok-kak-coa, karena selain dia memiliki tenaga besar, juga ilmu tongkatnya dan kedua lengannya merupakan kelebihan dari pada suhunya.

Ia lalu meninggalkan suhunya, dan ketika suhunya minta ia menanti beberapa tahun lagi, Siauw Liong menjadi marah dan hampir saja ia memukul mati suhunya itu!

Dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi, Siauw Liong malang melintang di dunia kang-ouw dengan, pakai julukan Ular Hitam Kepala Dua.

Ia memang mempunyai watak yang jahat dan dasarnya memang tidak baik, maka sebentar saja ia telah melakukan berbagai kejahatan.

Ia merampok orang-orang hartawan dan mengumpulkan harta besar yang disimpannya di atas bukit Kee-san, di sana ia membuat terowongan di bawah tanah yang dipasangi banyak jebakan rahasia yang lihai.

Di situlah ia mengumpulkan harta rampasannya.

Selain merampok, Siauw Liong juga seringkali melakukan perbuatan rendah dan terkenal sebagai seorang penjahat pemetik bunga.

Tiap kali melakukan kejahatan, ia selalu meninggalkan tanda lukisan ular hitam kepala dua.

Sebagaimana mudah diduga, yang melakukan kekacauan dengan menyerbu Kelenteng Kwan-im-bio dan berhasil membunuh Cin Hwa Sianli dan Kim Bok Sianjin serta berhasil pula menggondol pergi patung Kwan-im Pouwsat adalah pemuda jahat ini.

Ia sengaja memakai kedok sutera hitam agar Kim Hwa Sianli salah sangka dan bingung.

Perbuatan ini sengaja ia lakukan mencontoh perbuatan suhunya dulu, yakni mengadu dombakan ketua Kwan-im-kauw dengan orang lain.

Selain ini, masih banyak kejahatan lain ia lakukan.

Belum lama ini ia bertemu dengan seorang gadis cantik baju merah, yakni Ang-ie-nio-nio.

Siauw Liong tertarik kepada gadis cantik ini dan sebaliknya Ang-ie-nio-nio yang juga terkenal sebagai seorang gadis gagah yang genit dan cabul, segera merasa senang sekali kepada Siauw Liong, pemuda yang selain tampan dan gagah, juga berkepandaian tinggi itu.

Mereka segera menjadi kawan baik yang saling mencinta.

Ang-ie-nio-nio bahkan ikut Siauw Liong tinggal di Bukit Kee-san serta mengurus keperluan sehari-hari pemuda itu.

Mereka tinggal di situ dengan beruntung untuk beberapa hari lamanya.

Dan baru pada hari itu mereka berpisah ketika Siauw Liong turun bukit dan tinggalkan Ang-ie-nio-nio.

Ketika Siauw Liong pancing Lian Eng dan berhasil menjebak gadis dan menyemprotnya dengan hawa beracun hingga Lian Eng jatuh pingsan, tak sangkanya sama sekali bahwa Ang-ie-nio-nio yang telah jatuh hati padanya, sudah kembali pula di situ menanti kembalinya!

Ketika Siauw Liong melihat Ang-ie-nio-nio maka ia merasa kecewa, karena tentu saja ia tidak leluasa lagi untuk mencelakakan Lian Eng yang sedang pingsan.

"Biarkan aku urus musuhmu ini!"

Teriak Ang-ie-nio-nio yang cepat cabut pedangnya hendak disabetkan ke leher Lian Eng! "Moi-moi, tahan!"

Siauw Liong memang biasa menyebut "moi-moi"

Atau dinda kepada Ang-ie-nio-nio walaupun sebetulnya umurnya masih lebih muda dari pada perempuan itu. Secepat kilat Siauw Liong dapat merampas pedang yang hendak tewaskan jiwa Lian Eng.

"Jangan kau bunuh dia. Aku sengaja tangkap dia untuk pancing musuh-musuhku ke mari!"

"O, begitukah?"

Kata Ang-ie-nio-nio sambil mengerling tajam dan mulutnya tersenyum mengejek setengah tidak percaya.

"Kalau begitu, biarlah dia ku lemparkan dalam penjara ular!"

Siauw Liong tak dapat berkata lain hanya mengangguk.

Ang-ie-nio-nio segera mengangkat tubuh Lian Eng yang lemas dan kopiah Lian Eng terlepas hingga rambutnya yang hitam bagus dan panjang itu terurai ke bawah.

Ang-ie-nio-nio kagum dan iri melihat rambut sebagus itu, maka cepat-cepat ia tutupkan lagi kopiah Lian Eng dan membawa gadis itu ke dalam.

Setelah berjalan di dalam terowongan itu agak jauh, tibalah ia di penjara ular.

Yang disebut penjara ular ini adalah sebuah kamar segi empat yang berdinding batu karang, dan di sekelilingnya terdapat puluhan ular yang diikatkan ekornya pada ruji-ruji kerangkeng yang merupakan pintu hingga orang yang dikeram di dalamnya tak mungkin dapat keluar tanpa melalui ular-ular berbisa itu!

Tadinya Ang-ie-nio-nio hendak membunuh saja Lian Eng, tapi karena ia tidak mempunyai permusuhan dengan gadis itu dan juga karena hatinya tidak sekejam Siauw Liong, maka ia urungkan niatnya.

Tadipun di depan Siauw Liong, ia hanya hendak mencoba hati Siauw Liong karena ia khawatir kalau-kalau Siauw Liong mencinta gadis tawanan ini.

Tapi kemudian ia mendengar bahwa Siauw Liong hendak menggunakan tawanan ini untuk memancing datang musuh-musuhnya.

Ang-ie-nio-nio pencet sebuah knop rahasia di dinding dan pintu ini terbukalah!

Di balik pintu kerangkeng ular itu ternyata terdapat dua orang tua laki-laki dan perempuan yang bermuka pucat, sedangkan yang perempuan tengah menangis dan sandarkan mukanya di pundak laki-laki itu.

Ang-ie-nio-nio lempar tubuh Lian Eng ke dalam kamar tahanan dan berkata kepada kedua orang itu.

"Jangan kalian bersedih, ini kuberi kawan untuk menghibur kalian!"

Ia tertawa mengejek, lalu menggunakan alat rahasia untuk menutup pintu itu kembali.

Kedua orang tua itu bukan lain ialah ayah ibu Hong Cu!

Ternyata bahwa Ang Lie Seng, ayah Hong Cu yang menjadi pembesar di Tiong-an-kwan, dan isterinya telah diculik oleh Siauw Liong!

Pemuda jahat ini dalam penyelidikannya tahu bahwa pembesar she Ang ini adalah ayah Hong Cu, seorang dari pada musuh-musuhnya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia menculik mereka untuk memancing kedatangan Hong Cu di sarangnya!

Telah beberapa hari ia keram kedua orang tua itu di dalam kamar yang mengerikan itu hingga keduanya sangat menderita sekali.

Berkat kebaikan hati Ang-ie-nionio, maka Siauw Liong tidak lupa untuk tiap hari memberi ransum kepada kedua tawanannya.

Ang Lie Seng dan isterinya melihat seorang gadis berpakaian laki-laki dilempar ke dalam tempat mereka, menjadi kaget dan merasa kasihan sekali.

Mereka khawatir kalau-kalau gadis ini telah mati.

Tapi hati mereka lega ketika melihat bahwa orang itu masih hidup.

Segera dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh Lian Eng dan membaringkan gadis itu di atas pembaringan batu yang terdapat di sudut kamar tahanan.

Tak lama kemudian Ang Lie Seng dan isterinya melihat gadis itu siuman kembali dan bergerak-gerak perlahan sambil mengeluh.

Mereka girang sekali dan segera mendekati Lian Eng.

Gadis itu membuka matanya dan memandang heran.

Kemudian ia teringat akan pengalamannya maka cepat ia bangkit duduk.

Dipandangnya suami isteri tua di depannya itu dengan heran.

"Aku berada di mana? Dan siapakah kalian?"

Dengan singkat dan diselingi suara tangis isteri Ang Lie Seng menuturkan riwayatnya, bahwa telah sepuluh hari ia dan isterinya diculik dan ditawan oleh Siauw Liong.

Lian Eng gemas dan marah sekali.

Ia meloncat ke arah pintu kerangkeng besi itu dan hendak menggunakan kepandaiannya untuk membukanya, tapi alangkah terkejutnya ketika terdengar desis tajam dan puluhan ular mengulurkan kepala dan menyembur ke arahnya!

Ia cepat meloncat mundur dengan wajah pucat.

"Celaka, mereka memasang ular-ular berbisa di sini!"

Katanya.

"Ya, itulah yang membuat kami selalu ketakutan. Kalau seekor saja dari pada mereka terlepas dari ikatannya dan dapat merayap masuk, matilah kita!"

"Jangan takut, Lopeh, aku ada di sini,"

Kata Lian Eng dengan gagah.

Kemudian gadis ini mengerahkan Huo-mo-kangnya dan memukulkan kedua tangannya ke arah ular yang terikat di pintu.

Beberapa ekor ular yang bergantungan terdekat, terkena pukulan itu bagaikan dipukul dengan senjata berat.

Mereka tertiup angin pukulan hingga kepala mereka memukul ruji-ruji pintu dan mati tak berkutik pula karena selain kepala mereka pecah menghantam besi pintu, juga sebagian tubuh mereka seperti hangus terbakar api!

Demikianlah kehebatan Huo-mo-kang.

Kedua orang tua she Ang ketika melihat hal ini menjadi kagum dan bengong.

Demikianlah, dengan cara demikian Lian Eng memukul mati ular-ular yang terikat di situ hingga tak lama kemudian semua ular yang berjumlah puluhan itu menggantung dengan lemas dalam keadaan tak bernyawa pula!

Tapi ketika Lian Eng maju hendak menggunakan tenaga tangannya membuka kerangkeng besi itu, ia mundur lagi dengan terkejut karena semua ruji besi kerangkeng itu kini telah berlumuran dengan benda cair berwarna kehijau-hijauan dan baunya amis sekali.

Ia tahu bahwa itu adalah bisa beracun yang keluar dari mulut ular-ular itu sebelum semua binatang itu binasa dan bisa itu berbahaya sekali.

"Bagaimana, lihiap?"

Ang Lie Seng bertanya sambil memandang wajah Lian Eng yang bingung itu dengan khawatir.

"Tak dapatkah kau membuka pintu itu?"

Lian Eng berkata dengan kecewa.

"Sukar sekali. Semua besi telah penuh racun berbahaya, bagaimana aku dapat membukanya?"

Pada saat itu dari luar kerangkeng terdengar suara perlahan.

"Stt, lihiap yang tertawan di dalam, sudah sadarkah kau?"

Kemudian, agaknya Ang-ie-nio-nio yang bersuara itu melihat keadaan semua ular yang bergantungan hingga ia keluarkan seruan kaget yang ditahannya lalu berkata lagi.

"Ah, sungguh hebat kepandaianmu! Tapi hati-hatilah, sekali saja kau terkena racun ular-ular itu, jiwamu sukar tertolong lagi. Biarlah kubuka pintunya."

Ang-ie-nio-nio tekan knop rahasia dan pintu kerangkeng itu otomatis terbuka sendiri. Lian Eng, tidak segera loncat keluar karena ia masih curiga.

"Kenapa kau lakukan ini?"

Tanyanya dengan suara keren dan bersiap sedia. Bayangan merah berkelebat masuk dan Ang-ie-nio-nio telah memasuki kamar tahanan itu. Ia pandang Lian Eng dengan kagum.

"Aku tidak bermaksud buruk. Dia sedang tidur, Kau bawalah kedua orang tua ini keluar dari sini dan pergilah jauh-jauh!"

Kedua orang tua itu girang sekali, tapi Lian Eng masih bercuriga dan memandangnya heran.

"Kenapa kau menolong kami? Apa maksudmu?"

Ang-ie-nio-nio merah mukanya, tapi dengan berkeras ia berkata.

"Siapa mau tolong kalian? Aku tidak tolong siapa-siapa, aku hanya tolong diriku dan keberuntunganku sendiri. Pergilah, atau kau tidak mau pergikah?"

"Mengapa aku mesti pergi? Aku hendak penggal kepala Siauw Liong si bangsat rendah itu dulu! Di mana dia??"

Lian Eng pegang tangan Ang-ie-nio-nio dengan keras hingga diam-diam nona baju merah ini terkejut sekali merasa betapa tenaga Lian Eng benar-benar luar biasa dan kepandaiannya jauh lebih tinggi darinya!

"Kau sungguh keras kepala dan bodoh!

Dengan kenekatanmu yang bodoh ini kau membahayakan keselamatanmu sendiri dan keselamatan kedua orang tua ini!

"Tidak hanya Siauw Liong lihai sekali, tapi tempat ini penuh dengan jebakan rahasia sedangkan aku sendiripun tidak hafal akan rahasia-rahasia berbahaya itu.

Apakah kau hendak ulangi lagi bencana yang menimpamu?

"Lebih baik kau tolong dulu orang-orang tua ini.

Ketahuilah, kedua orang tua ini adalah ayah dan ibu nona Hong Cu yang dimusuhi oleh Siauw Liong."

Girang dan terkejutlah Lian Eng mendengar ini. Jadi kedua orang tua ini adalah ayah dan ibu Hong Cu. Ia gigit bibirnya lalu berkata.

"Baiklah! Betapapun juga, kau telah menolong kami dan mempunyai maksud baik. Biar lain kali aku berkesempatan menolong kau kembali."

Lalu ia ajak Ang Lie Seng dan isterinya keluar dari kamar tahanan itu.

"Hati-hati dan dengar baik-baik. Kau jalan saja menurut terowongan ini. Di depan ada jalan simpang empat.

"Jangan kau injak tengah-tengah persimpangan itu, tapi ambillah jalan memutar dan menempel dinding kiri, lalu kau jangan membelok ke kanan atau ke kiri, karena yang ke kiri adalah menuju ke tempat Siauw Liong yang banyak dipasangi rahasia, sedangkan yang ke kanan menuju ke sebuah kawah bukit yang berbahaya sekali.

"Kau jalan terus tapi sekali-kali jangan tinggalkan dinding kiri. Kalau kau jalan terlampau ke tengah, maka kau akan mengalami banyak sekali gangguan-gangguan berbahaya dari bekerjanya senjata rahasia!"

Lian Eng mengangguk dan kedua orang tua itu mendengar ancaman hebat ini menggigil.

Lian Eng lalu memondong Ang Lie Seng dengan tangan kanan dan nyonya Ang di tangan kiri, lalu dengan cepat lari keluar menuruti jalan yang ditunjuk oleh Ang-ie-nio-nio dan dengan hati-hati kerjakan semua pesan nona baju merah itu.

Benar saja, karena ia jalan cepat tak lama kemudian sampailah ia di luar sebuah gua.

Ia turunkan kedua orang tua itu dan bernapas lega, lalu pandang Ang Lie Seng dan isterinya dengan tajam.

"Siapakah namamu, Lopeh?"

Tanyanya. Ang Lie Seng lalu menjura kepada gadis itu.

"Lihiap, kau telah menolong jiwa kami dari bahaya maut. Besar sekali budi ini. Aku adalah Ang Lie Seng yang menjabat pangkat Ti-hu di kota Tiong-an-kwan. Bolehkah kami ketahui nama lihiap yang mulia?"

Lian Eng balas memberi hormat.

"Aku bernama Souw Lian Eng, dan sekarang kuharap Ang Lopeh ikut padaku."

"Kami hendak segera kembali ke Tiong-an-kwan, lihiap,"

Kata Ang Lie Seng. Tapi Lian Eng berkata lagi.

"Bukankah Lopeh mempunyai seorang gadis bernama Hong Cu?"

Terkejutlah kedua orang itu dan memandang Lian Eng dengan mata terbentang lebar.

"Betul, betul! Tahukah lihiap dimana adanya Hong Cu sekarang?"

"Tentu saja tahu. Nah, kalau Lopeh hendak bertemu dengan dia maka Lopeh ikut aku dan untuk sementara waktu tinggal bersamaku. Ketahuilah, akupun hidup sebatangkara dan untuk sementara waktu sebelum bertemu dengan Hong Cu, aku akan menganggap kalian sebagai ayah dan ibuku sendiri."

Ang Lie Seng dan isteri merasa girang sekali.

Mereka boleh disuruh apa saja asal bisa bertemu kembali dengan Hong Cu.

Maka serta merta permintaan Lian Eng ini diterima dengan girang.

Sebetulnya sikap yang aneh dari Lian Eng timbul dari rasa iri hatinya kepada Hong Cu.

Ia menganggap Hong Cu seorang gadis yang jauh lebih bahagia dari pada dia sendiri.

Tidak hanya soal mendapat kawan baik, tapi bahkan soal orang tua, agaknya gadis itu lebih beruntung darinya!

Maka ia dapat menduga bahwa Hong Cu tentu hendak mencari orang tuanya, maka ia ingin gadis itu kehilangan orang tuanya dan sebaliknya ia akan ambil orang tua Hong Cu itu sebagai orang tua sendiri.

Ia anggap ini sebagai pembalasan baik sekali!

Memang agaknya watak yang aneh dan keras dari Huo Mo-li telah diturunkan pula kepada muridnya ini.

Lian Eng lalu membawa Ang Lie Seng dan isterinya ke kampung Leng-hok-chun sebuah kampung kecil yang berada di lereng gunung dan mempunyai hawa yang nyaman serta pemandangan indah.

Di situ Lian Eng membeli sebuah rumah dan tinggal bertiga dengan orang tua angkatnya.

Kalau Ang Lie Seng menanyakan bilamana Hong Cu datang, selalu dijawabnya bahwa ia hendak mencari gadis yang dikenalnya baik itu dan memberi alasan bahwa tidak baik bagi Ang Lie Seng untuk kembali ke kotanya karena tentu Siauw Liong akan mencari mereka dan berdaya menculiknya kembali.

Alasan ini memang masuk akal maka Ang Lie Seng tidak berani kembali ke Tiong-an-kwan dan sambil menanti kedatangan anak gadisnya yang sangat diharapkannya ia hidup sebagai petani yang sederhana tapi cukup aman dan damai di kampung Leng-hok-chun itu.

Sementara itu, Siauw Liong ketika melihat betapa ketiga orang tawanannya lolos menjadi marah sekali.

"Moi-moi! Kenapa kau lepaskan mereka?"

Tanyanya dengan mata melotot kepada Ang-ie-nio-nio yang berdiri sambil tundukkan muka di depannya.

"Koko, mengapa kau mau tanam permusuhan dengan orang-orang lain? Gadis itu lihai sekali dah lihatlah betapa ia dapat menggunakan hawa pukulannya untuk membunuh mati semua ularmu. Bukankah itu pukulan Huo-mo-kang dari Huo Mo-li yang lihai? "Pula, aku khawatir kalau-kalau kau ada hati terhadap gadis itu, ia cukup cantik, aku khawatir kalau-kalau kau ah, koko, aku terlalu cinta padamu dan tidak ingin melihat kau terkena celaka!"

Ang-ie-nio-nio lalu menubruk maju dan memeluk pundak Siauw Liong.

Tapi Siauw Liong marah sekali.

Dengan sebelah tangan ia menampar pipi Ang-ie-nio-nio dan sekali dorong saja gadis baju merah itu terlempar hingga kepalanya terbentur dinding batu hingga mengeluarkan darah.

"Perempuan lancang! Aku hendak berbuat apa saja ada hubungan apakah dengan kau? Siapa yang berkuasa di sini? Kalau kau tidak suka padaku, boleh pergi ke neraka jahanam!"

Ang-ie-nio-nio pandang wajah pemuda yang dicintanya itu dengan mata terbelalak dan air mata mulai turun membasahi pipinya.

Ia tidak merasakan sakit dan perihnya luka di kepala, karena hatinya lebih perih lagi.

Tak disangkanya bahwa Siauw Liong yang biasanya pandai membujuk dan merayu dengan kata-kata halus dan indah merdu, sikapnya yang halus mencinta dan membuatnya lupa akan segala dan menyerahkan jiwa raganya kepada pemuda itu, kini dapat memperlihatkan sikap sekejam dan sekeras itu.

"Koko... kau..."

Hanya demikian ia dapat berkata karena keroNgkongannya segera tertutup oleh isak tangisnya yang sedih dari hati hancur.

Tapi Siauw Liong dengan marah segera meloncat dan lari keluar, tinggalkan gadis yang menangis sedih itu.

Siauw Liong dalam perantauannya telah berhasil membuat dirinya ternama dan mempunyai pengaruh besar sekali di kalangan para penjahat.

Di mana-mana ia mempunyai kaki tangan dan kawan-kawan yang bersedia membantunya.

Karena inilah maka mudah saja baginya untuk mencari dan menyelidiki sesuatu.

Kini ia segera sebar perintah kepada kawan-kawannya itu untuk menyelidiki keadaan Hong Cu, Tiong Li, Siauw Ma, dan Lian Eng, yakni orang-orang yang diincarnya dan yang hendak dibikin celaka itu.

Ia tahu bahwa ketiga tokoh Thang-la tidak tinggalkan pertapaan lagi dan bahwa juga si Tabib Dewa telah menghilang di utara tiada kabar ceritanya lagi.

Maka ia hendak jatuhkan hukumannya kepada empat murid itu.

Ia keluar dari guanya dengan marah.

Ia cerdik dan cukup maklum apa yang terjadi dalam hati Ang-ie-nio-nio.

Gadis baju merah itu agaknya hendak memonopoli hatinya!

Gadis itu hendak menjauhkan dia dari segala permusuhan dan hendak mengajak ia hidup sebagai suami isteri dalam rumah tangga yang damai, tenteram dan bahagia!

Ah, persetan itu semua!

Jangan harap gadis itu akan miliki hatinya untuk dia sendiri saja.

Biarlah ia tadi telah memberi sedikit hajaran kepada gadis itu, mungkin ia akan menjadi penurut dan lain kali tidak berani berlaku lancang lagi!

Karena banyaknya barisan penyelidik terdiri dari para penjahat di seluruh daerah, tak lama kemudian Siauw Liong dapat mendengar tentang tempat tinggal Lian Eng dan kedua orang tua Hong Cu.

Ia girang sekali, tapi ia tidak segera mengejar ke sana.

Pemuda yang licin cerdik itu menggunakan siasatnya dan tipu muslihatnya.

Ia hendak menanti sampai mendengar tentang Hong Cu dan Tiong Li.

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 5

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert