Eps 4 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo
Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo
Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.
Kalau di lereng gunung itu terjadi perebutan patung yang ramai sekali oleh para anak muda, maka di puncak gunung terjadi peperangan yang tidak kalah hebat dan ramainya.
Ketika malam hari itu Hwat Kong Tosu mendaki puncak Hek-coa-san, ternyata ia tidak mendaki seorang diri.
Dari lain jurusan, seorang tua sakti lain juga mendaki puncak itu, yakni bukan lain ialah Beng Beng Hoatsu!
Dan kedua orang ini sama sekali tidak menyangka bahwa orang-orang lain telah semenjak tadi mendahului mereka dan kini telah berada di puncak!
Setelah keduanya tiba di puncak dari lain jurusan dan mengintai ke arah gua ular tempat kediaman Tok-kak-coa, ternyata di depan gua itu telah berkumpul banyak orang.
Dan terkejutlah kedua pertapa itu ketika melihat bahwa mereka itu adalah ketiga tokoh dari Kwan-im-pai, yakni Kim Hwa Sianli, Cin Hwa Sianli, dan Kim Bok Sianjin!
Dan lebih heran lagi ketika melihat bahwa selain ketiga tokoh Kwan-im-pai itu dan tiga orang paderi Kwan-im-kauw yang menjadi murid-murid kepala, di situ terdapat juga Huo Mo-Li sendiri dengan muridnya, Lian Eng!
Bagaimana mereka dapat berkumpul di situ?
Huo Mo-Li telah didatangi oleh tokoh-tokoh Kwan-im-pai yang minta bantuan untuk menyerbu sarang Tok-kak-coa.
Mereka tahu akan kelihaian si jahat itu, maka mereka minta bantuan Huo Mo-Li yang menyanggupi tapi dengan perjanjian bahwa ia tidak mau bekerja sama dengan imam-imam Kwan-im-kauw.
Mereka boleh pergi bersama, tapi di puncak Hek-coa-san mereka harus berusaha sendiri-sendiri dan siapa yang dapat berhasil merampas patung, dialah yang berhak!
Tadinya para tokoh Kwan-im-kauw keberatan, tapi karena mereka kini sudah tahu bahwa ketiga tokoh Thang-la atau Thang-la Sam-sian itu sebabnya ingin mendapatkan patung hanya untuk menangkan perlombaan di antara mereka bertiga, maka akhirnya mereka setuju.
Di samping itu, juga untuk menebus malu karena dulu menuduh Huo Mo-Li mencuri patung, padahal tidak berdosa.
Mereka pikir, dari pada patung berada di tangan Tok-kak-coa yang jahat, lebih baik terjatuh ke dalam tangan seorang dari pada ketiga dewa Thang-la itu yang tentu hanya akan memiliki untuk beberapa lama saja.
Pula, belum tentu patung akan terjatuh ke dalam tangan Huo Mo-Li, karena mereka sengaja mengajak murid-murid kepala hingga berjumlah enam orang!
Diajaknya Huo Mo-Li hanya untuk menambah semangat!
Maka mereka beramai-ramai lalu berangkat.
Huo Mo-Li mengajak Lian Eng yang telah memiliki kepandaian yang lumayan juga.
Setelah mendaki puncak Hek-coa-san dan tiba di depan gua pertapaan Tok-kak-coa, imam-imam dari Kwan-im-kauw itu berteriak memanggil tuan rumah keluar.
Tapi tidak terdengar jawaban sesuatu dari dalam gua yang gelap itu.
Kim Bok Sianjin menjadi tidak sabar dan berteriak keras.
"Hei, kakek jahat, maling rendah! Kau keluarlah agar kita bisa membuat perhitungan. Jangan bersembunyi saja seperti laku seorang pengecut!"
Lain-lain imam Kwan-im-kauw ikut berteriak-teriak karena marah dan gemas, tapi Huo Mo-Li hanya berdiri agak jauh sambil memandang ke arah gua dengan tajam.
Akhirnya Kim Bok Sianjin hilang sabarnya.
Ia mencabut pedang dan hendak menerjang ke dalam gua, tapi Kim Hwa Sianli mencegah sutenya itu.
"Jangan sembrono, Kim Bok sute, Tok-kak-coa lihai dan curang sekali. Lebih baik kita pakai akal dan memaksa dia keluar."
Setelah melarang adiknya berlaku sembrono, ketua Kwam-im-kauw yang banyak pengalaman itu lalu memerintah murid-muridnya kumpulkan kayu kering dan tumpuk kayu itu di mulut gua.
Kemudian ia nyalakan api dan sebentar saja kayu-kayu kering itu terbakar.
Asap tebal bergulung-gulung masuk ke dalam gua.
"Tok-kak-coa! Kalau kau tidak mau keluar, terpaksa kami akan bikin kau mati tercekik asap di dalam guamu sendiri!"
Kim Hwa Sianli berseru dengan suaranya yang nyaring.
Untuk beberapa lama semua orang diam dan memperhatikan kalau-kalau dari dalam gua ada orang keluar.
Tapi ternyata tidak ada gerakan sesuatu.
Tiba-tiba terdengar bunyi desis tajam keluar dari dalam gua dan sebentar saja mulut gua itu penuh dengan puluhan ular kecil dan besar yang menerjang keluar!
Banyak di antara mereka yang mati terpanggang api, tapi banyak pula yang dapat lolos dan merayap keluar sambil menyemburkan hawa beracun ke arah penyerang-penyerangnya!
Barisan ular ini demikian nekat seakan-akan di belakang mereka ada yang mengatur!
"Mundur!"
Teriak Kim Hwa Sianli sambil loncat ke belakang.
Kemudian keenam imam Kwan-im-kauw itu menggunakan senjata-senjata rahasia dan batu untuk menyerang dan disambitkan ke arah barisan ular, sehingga karena sambitan mereka memang jitu dan keras, sebentar saja, banyaklah ular yang pecah kepalanya dan mati.
Sementara itu, Huo Mo-Li yang berpikiran cerdik dan tajam, diam-diam memberi perintah kepada muridnya dengan gerak-gerik jari tangan supaya murid itu menyelidik ke arah belakang gua karena ia bercuriga kalau-kalau penghuni gua itu dapat keluar dari belakang.
Lian Eng mengerti maksud gurunya, maka gadis itu diam-diam meloncat ke pinggir gua dan menghilang di balik pohon.
Tak seorangpun mendengar perintah ini sehingga tidak ada yang tahu.
Setelah semua ular dapat dibunuh, tiba-tiba dari atas pohon terdengar suara orang tertawa keras bagaikan seekor burung hantu yang besar, tubuh Tok-kak-coa melayang turun menghadapi semua tamunya.
"Ha, ha, ha! Entah ada apakah maka malam ini guaku mendapat kehormatan begini banyak orang-orang gagah? Dan imam-imam dari Kwan-im-kauw ternyata hanya gagah dan suci di luarnya saja. Tidak tahunya mereka hanya orang-orang rendah yang hanya berani berlaku gagah terhadap ular-ular peliharaanku yang tak berdaya!"
Huo Mo-Li dengan sekali gerakan tubuh telah berdiri di depan Tok-kak-coa.
"Tok-kak-coa! Jangan kau banyak rewel. Hayo serahkan patung Kwan-im Pouwsat padaku kalau kau mencari selamat!"
Tok-kak-coa tertawa ha, ha, hi, hi dan pandang para imam Kwan-im-kauw.
"Kalian orang-orang Kwan-im-kauw memang tolol. Orang macam Huo Mo-Li ini kalian bawa ke sini? Ha, ha! Seandainya patung dapat dirampasnya, apakah kalian kira setan api ini mau menyerahkannya kepada kalian? Ha, ha!"
"Berikan patung itu!"
Huo Mo-Li membentak dan mengirim serangan dengan tangan kiri.
Tok-kak-coa cukup tahu akan kehebatan kedua lengan Huo Mo-Li, maka ia berlaku hati-hati sekali.
Ia cabut keluar tongkatnya yang lihai dan melayani Huo Mo-Li dengan sengit.
Sebentar saja kedua tokoh persilatan yang sangat lihai itu bertempur seru dan keduanya hanya merupakan dua gunduk sinar yang berputaran dan bayang-bayang mereka bergerak-gerak di atas tanah karena tersinar api yang masih menyala di mulut gua!
Sementara itu, malam telah berganti subuh dan keadaan yang gelap pekat mulai terganti warna keabu-abuan yang suram.
Ke enam imam Kwan-im-kauw hanya menonton pertempuran itu.
Tadinya Cin Hwa Sianli hendak maju mengeroyok Tok-kak-coa, tapi Kim Bok Sianjin yang telah merasakan kelihaian Tok-kak-coa, mencegah sucinya.
"Biarlah Huo Mo-Li bereskan si jahat itu, kita perlu menyimpan tenaga kalau-kalau nanti Huo Mo-Li berkeras hendak membawa patung kita."
Kedua sucinya menganggukkan kepala dan mereka puji kecerdikan sute mereka.
Mereka juga curiga dan menyangka bahwa Huo Mo-Li tentu takkan mau menyerahkan patung itu kepada mereka.
Beng Beng Hoatsu di sebelah kiri dan Hwat Kong Tosu di sebelah kanan yang sama-sama mengintai dan menonton pertempuran itu, kesima dan kagum melihat kehebatan Huo Mo-Li menyerang Tok-kak-coa.
Ternyata dalam beberapa tahun ini, kepandaian Huo Mo-Li telah maju pesat.
Sementara itu, Lian Eng dengan mata tajam memeriksa keadaan hutan di belakang gua, tapi ia tidak dapat menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Ia memeriksa terus dan kini ia dapat berjalan lebih mudah karena malam telah mulai menghilang, terganti fajar yang suram-suram.
Tiba-tiba ia melihat bayangan orang lari cepat ke depan.
Lian Eng segera bersembunyi di balik pohon dan mengintai.
Bayangan itu adalah seorang pemuda yang gerak-geriknya cukup gesit.
Di tangan pemuda itu terpondong sebuah bungkusan sutera yang membuat hati Lian Eng berdebar.
Tak salah lagi, itu tentu bungkusan sebuah patung!
Maka ia segera mengejar dengan mengeluarkan gin-kangnya yang tinggi.
Pemuda itu bukan lain ialah Siauw Liong yang mendapat tugas dari gurunya untuk menyembunyikan patung Dewi Kwan-im.
Guru dan murid itu tadinya memang berada dalam gua ketika para penyerang itu tiba.
Setelah para imam Kwan-im-kauw membakar kayu dan menyerang gua dengan asap, Tok-kak-coa lalu mengatur barisan ularnya menyerbu keluar, sedangkan ia sendiri dengan membawa patung curiannya mengajak muridnya keluar dari sebuah pintu rahasia di belakang gua.
Ia perintahkan Siauw Liong untuk membawa pergi patung itu dan menyembunyikan di suatu tempat, sedangkan ia sendiri karena merasa marah lalu menemui para tamunya yang menuntut kembalinya patung Dewi Kwan-im.
Lian Eng terus saja mengikuti Siauw Liong dan ia heran sekali melihat pemuda itu menuju ke sebuah air terjun.
Air terjun itu tidak besar, tapi karena telah ratusan tahun menjatuhkan air, maka dibawahnya telah merupakan sebuah kolam yaag lebar dan dalam.
Agaknya orang telah sengaja memperdalam kolam itu dengan menggali tanah dan batunya, hingga kolam itu dapat digunakan untuk mandi.
Siauw Liong berdiri di pinggir kolam, lalu ia membuka bungkusan sutera tadi.
Benar sebagaimana dugaan Lian Eng, dari dalam kantung sutera itu ia mengeluarkan sebuah patung emas yang besar dan indah.
Siauw Liong dengan sayangnya membolak-balikkan patung itu dengan tangannya hingga tubuh patung itu berkilauan.
Kemudian pemuda itu melemparkan ke tengah-tengah kolam!
Memang dasar kolam itu merupakan tempat penyimpanan yang baik sekali.
Tapi sebelum ia melepaskan patung itu, tiba-tiba tubuh Lian Eng berkelebat dan langsung gadis ini mengirim pukulannya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar patung!
Siauw Liong kaget sekali karena serangan itu datangnya tiba-tiba dan cepat tak terduga.
Akan tetapi, ia juga bukan seorang pemuda lemah.
Dengan cepat pula ia dapat mengangkat tangan untuk menangkis pukulan itu, tapi inilah kesalahannya.
Ia tidak tahu bahwa pukulan Lian Eng ini mengandung tenaga Huo-mo-kang yang lihai.
Ketika lengan tangannya beradu dengan lengan tangan Lian Eng, ia merasa lengannya itu kesemutan dan panas sekali hingga patung di tangan lain itu dengan mudah dapat terampas oleh Lian Eng.
Sebelum Siauw Liong hilang kagetnya, Lian Eng telah kirim tendangan kilat yang berbahaya sekali ke arah perutnya!
Tidak ada jalan lain bagi Siauw Liong untuk menyelamatkan diri selain harus menjatuhkan diri ke belakang dengan berjumpalitan.
Tapi karena tadi ia telah memutar tubuh ketika menghadapi Lian Eng sehingga kini kolam itu berada di belakangnya, maka tidak ampun lagi ia jatuh ke dalam air hingga air kolam yang jernih itu muncrat ke atas!
Lian Eng tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan lari sambil membawa patung Dewi Kwan-im, setelah memasukkan patung itu ke dalam kantung sutera itu!
Siauw Liong marah sekali.
Ia segera berenang ke pinggir dan cepat mengejar.
Dengan menggunakan lwee-kangnya yang terlatih, ia berteriak keras memberitahukan suhunya.
"Suhu! Patung itu telah dibawa lari gadis cilik bertangan api!"
Setelah berteriak begini ia cepat mengejar Lian Eng yang turun gunung dengan cepat.
Siauw Liong cukup cerdik.
Tadi suhunya telah memberi tahu bahwa penyerang-penyerang yang datang adalah imam-imam dari Kwan-im-pai dan di antara mereka terdapat seorang wanita lihai bernama Huo Mo-Li yang mempunyai tangan api!
Maka ketika ia merasa betapa pukulan lengan Lian Eng panas dan lihai, ia dapat menduga bahwa gadis ini tentu murid dari wanita bertangan api itu.
Oleh karena itu, maka dalam pemberitahuannya ia sengaja menyebut demikian agar suhunya dapat mengerti.
Mendengar teriakan muridnya, Tok-kak-coa terkejut sekali.
Tapi cepat otaknya yang tajam mencari akal.
Ia segera loncat mundur dan menuding ke arah Huo Mo-Li.
"Ha, ha! Setan Api Wanita, kau ternyata licin sekali! Sementara menyerang aku di sini, diam-diam kau suruh muridmu mencuri patung itu!"
Kemudian si jahat dari timur itu memandang kepada para imam Kwan-im-kauw dan tertawa besar.
"Kalian imam Kwan-im-kauw memang benar-benar tolol! Kalian datang mencari patung atau hendak memusuhi aku? Patungmu telah dicolong oleh murid Huo Mo-Li, dan kalian masih saja berdiri seperti patung mati!"
Kim Bok Sianjin segera berkata kepada Huo Mo-Li.
"Huo Pouwsat. Lekas kau panggil kembali muridmu itu."
Tapi Huo Mo-Li hanya menjawab singkat.
"Yang dapat merampas berhak memilikinya!"
"Hm, begitukah kelakuan seorang tokoh dari Thang-la yang gagah perkasa?"
Cin Hwa Sianli menyindir.
"Patung sudah terjatuh dalam tanganku, kalau kau mau ambil kembali, kau harus dapat menjatuhkan aku!"
Huo Mo-Li menantang.
"Hm, tidak sangka tabiatmu seperti ini! Pinni selalu mendengar bahwa Thang-la Sam-sian, ketiga tokoh Thang-la itu adalah pendekar-pendekar gagah perkasa yang jarang bandingannya di dunia ini!"
Kim Hwa Sianli turun menegur.
"Siapa bilang gagah perkasa?"
Kim Bok Sianjin mencela.
"Ke tiga setan dari Thang-la itu kesemuanya orang-orang tidak baik dan tak dapat dipercaya. Ke tiganya pembohong besar dan palsu!"
Panas hati Huo Mo-Li mendengar ini.
"Jangan kau sebut-sebut Thang-la Sam-sian sesuka hatimu!"
Bentaknya keras. Tok-kak-coa tertawa bergelak. Ia senang sekali bahwa muslihatnya berhasil dan imam-imam Kwan-im-pai itu telah mulai ribut dengan Huo Mo-Li.
"Ya, ya! Kim Bok Sianjin jangan berani-berani sebut Thang-la Sam-sian sesuka hati. Siapa orangnya yang berani mempermainkan mereka? Apa lagi kalian imam-imam dari Kwan-im-pai, lebih baik pulang saja dan terima nasib, jangan berani main-main di depan Thang-la Sam-sian! Ha, ha!"
Diobor macam ini, ketua Kwan-im-pai menjadi berkobar dan dengan teriakan keras mereka segera terjang Huo Mo-Li.
Tapi pada saat itu dari kanan kiri keluarlah Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu dengan berbareng.
Setelah loncat keluar barulah mereka saling lihat dan tertawa besar.
"Ha, ha! Sungguh tak nyana nama kita diinjak-injak orang di sini!"
Kata Beng Beng Hoatsu.
"Huo Mo-Li! Kau teruskan memberi hajaran kepada si jahat dari timur itu, biarlah kami berdua mencoba kelihaian imam-imam dari Kwan-im-pai yang berani memandang rendah Thang-la Sam-sian!"
Huo Mo-Li girang sekali melihat munculnya dua orang itu, maka dengan gemas ia lalu maju menyerang pula kepada Tok-kak-coa yang merasa terkejut dan cepat-cepat membela diri.
Sedangkan ke enam imam Kwan-im-pai itu karena sudah terlanjur dan menganggap bahwa kedua jago tua dari Thang-la itu hendak membela Huo Mo-Li yang ternyata bersalah dan melarikan patung mereka, lalu dengan nekat maju mengeroyok Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu.
Ketiga murid kepala Kwan-im-pai membantu Kim Bok Sianjin mengeroyok Beng Beng Hoatsu, sedangkan Kim Hwa Sianli berdua dengan Cin Hwa Sianli menerjang Hwat Kong Tosu.
Tak perlu dijelaskan lagi betapa lihainya kedua Sianli dari Kwan-im-kauw itu yang memiliki kepandaian tinggi.
Apa lagi dengan maju berbareng, maka Hwat Kong Tosu tidak berani berlaku sembarangan.
Ia berseru keras dan tongkat bambunya dikerjakan dengan cepat sambil mengeluarkan tipu-tipu mujijat dari Ouw-coa-tung-hwat guna melindungi diri dan balas menyerang.
Kedua Sianli itu dengan tangan kanan putar pedang dan tangan kiri ayun kebutan, menyerang dengan teratur dan bergantian maka sebentar saja sepasang pedang dan sepasang kebutan telah merupakan sinar bergulung-gulung menjadi satu dengan sinar tongkat bambu yang hitam bagaikan ular hidup menyambar-nyambar.
Juga ketiga murid kepala dari Kwan-im-kauw bukanlah lawan ringan karena kepandaian mereka sedikitnya sudah mencapai dua pertiga bagian dari ilmu pedang Kwan-im-pai.
Maka dengan kekuatan mereka disatukan lalu ditambah lagi dengan Kim Bok Sianjin, Mereka berempat ini merupakan lawan tangguh bagi Beng Beng Hoatsu yang tertawa bergelak-gelak dan putar po-kiamnya terus saja keluarkan ilmu pedangnya Sin-Liong-kiam-sut yang lihai!
Sinar pedangnya yang panjang dan meluncur ke sana ke mari melayani keempat pedang lawannya bagaikan seekor naga sakti sedang berlaga hingga keempat lawannya berlaku hati-hati sekali dan mengeluarkan seluruh kepandaian mereka.
Sungguh hebat petempuran di atas Gunung Hek-coa-san pada waktu fajar tengah menyingsing itu.
Kekuatan kedua pihak berimbang dan tadinya mereka saling hantam hanya lebih condong kepada saling mencoba kepandaian dan mengukur ketinggian ilmu belaka, tapi setelah bertanding ratusan jurus belum juga dapat mendesak lawan, kedua pihak mulai bersungguh-sungguh, kalau perlu membinasakan lawan di depannya!
Huo Mo-Li yang bertempur melawan Tok-kak-coa mengerahkan tenaga dan ilmu untuk menjatuhkan si jahat dari timur itu.
Tapi Tok-kak-coa adalah seorang tokoh kang-ouw yang sudah berpengalaman, pula ilmu silatnya sangat curang dan banyak akal muslihat hingga Huo Mo-Li beberapa kali hampir tertipu maka Dewi Api itu bersilat lebih hati-hati.
Apa pula karena beberapa kali Tok-kak-coa mengeluarkan senjata beracun yang menyambar ke arah Huo Mo-Li dan hampir saja berhasil melukai Huo Mo-Li, maka wanita perkasa itu makin berlaku waspada.
Kehati-hatiannya ini menguntungkan Tok-kak-coa karena ia memang sudah payah menahan pukulan-pukulan Huo Mo-Li yang dilancarkan dengan tenaga Huo-mo-kang yang lihai sekali!
Mari kita tengok kembali para taruna remaja yang ribut memperebutkan patung di lereng gunung!
Lian Eng si gadis gagu dengan mengempit patung Dewi Kwan-im terus saja lari di sepanjang lereng bukit dengan cepatnya.
Ia merasa khawatir kalau-kalau ada yang mengejarnya, maka ia makin mempercepat larinya.
Maksudnya hendak mencari jalan pulang ke Thang-la, tapi karena memang belum pernah melalui gunung itu, ia sesat jalan dan menjadi bingung harus mengambil jalan mana!
Tiba-tiba dari jurusan depan tampak seorang pemuda tanggung lari cepat ke arahnya.
Lian Eng terkejut, tapi ia sudah tak ada kesempatan bersembunyi lagi.
Ia berlaku nekat dan bahkan memapaki.
Setelah mereka bertemu, Lian Eng segera kenali pemuda itu yang bukan lain ialah Tiong Li, murid Si Tabib Dewa yang dulu pernah bertemu dengannya di puncak tempat tinggal suhunya.
Kebaikan hati Tiong Li yang dulu ingin sekali melihat ia disembuhkan, masih berkesan dalam hati gadis gagu itu.
Maka kini setelah bertemu dengan Tiong Li, ia tersenyum manis dan mengangkat tangan tanda memberi salam.
Untuk sejenak Tiong Li ragu-ragu dan heran melihat gadis cantik itu, tapi setelah Lian Eng tersenyum dan tampak lesung pipit manis di pipi kirinya ingatlah Tiong Li akan gadis gagu murid Huo Mo-Li.
Wajahnya lalu menunjukkan muka girang dan Tiong Li segera menggerak-gerakkan tangan yang maksudnya bertanya dari mana gadis itu datang.
Karena sudah lelah sekali dan girang hati bertemu dengan pemuda yang sangat dipercayanya itu, Lian Eng segera membuka kantung sutera dan keluarkan patung Dewi Kwan-im, lalu dengan sibuk kedua tangan berikut sepuluh jarinya bergerak-gerak menceritakan betapa ia berhasil merampas patung itu dari murid Tok-kak-coa dan betapa kini subonya sekarang bertempur di atas puncak bukit.
Dalam bercerita ini selain menggunakan gerak tangan.
Lian Eng juga membuat corat-coret di atas tanah dengan telunjuknya yang lancip untuk membuat gambar atau menulis huruf.
Tiong Li melihat gerak-gerik gadis ini merasa terharu sekali dan tiba-tiba teringatlah ia bahwa menurut kata suhunya, di dalam patung itu tersimpan semacam obat yang demikian mujijat hingga mungkin sekali dapat sembuhkan Lian Eng dari sakitnya!
Maka ia segera menunjuk ke arah leher dan mulut Lian Eng, lalu sedapat-dapatnya menceritakan maksudnya, tapi ia lalu teringat lagi bahwa Lian Eng dapat mendengar dan mengerti omongan orang!
Demikianlah, dengan serba kaku dan kikuk, Tiong Li lalu tersenyum dan mengulangi maksudnya, kini dengan berkata.
"Nona, dalam patung ini terdapat semacam obat. Jika kita bisa membuka lubang rahasia dan mendapatkan obat itu, maka akan terdapat kemungkinan untuk menyembuhkan penyakitmu."
Mendengar ini, wajah Lian Eng menjadi pucat dan sebentar pula berwarna merah.
Ternyata ia menjadi sangat terharu dan dadanya berdebar keras.
Ia hampir tak percaya akan kata-kata pemuda itu, maka untuk menjelaskannya, ia menunjuk ke arah leher dan mulutnya.
Maksudnya hendak bertanya apakah yang dikatakan penyakit oleh pemuda itu ialah penyakit gagu yang dideritanya?
Tiong Li dapat menangkap maksud ini, maka dengan wajah berseri ia berkata dengan tetap.
"Betul, nona! Menurut suhuku, obat di dalam patung ini sangat mujijat dan barangkali dapat mengobati gagumu, karena sesungguhnya kau gagu karena semacam penyakit di tenggorokanmu."
Mendengar ini, dengan wajah berseri Lian Eng serahkah patung itu kepada Tiong Li dengan kedua tangannya.
Tiong Li lalu memeriksa patung itu dan mencari-cari barangkali ada semacam pintu kecil.
Tapi usahanya sia-sia.
Ia pencet sana-sini, dibantu pula oleh Lian Eng yang sudah tidak sabar dan ikut meraba-raba dan memencet di seluruh tubuh patung, tapi lubang rahasia itu tidak juga dapat ditemukan.
Ketika kedua muda-mudi itu sedang bingung dan tidak sabar meraba-raba patung Dewi Kwan-im hingga asyiknya Tiong Li sampai lupa kepada suhunya, tiba-tiba Kiang Cu Liong si Tabib Dewa tiba di situ.
Ia heran melihat kedua anak muda itu memegang patung Dewi Kwan-im yang banyak menimbulkan ribut itu, maka cepat ia menegur muridnya.
Barulah Tiong Li teringat dan ia berdiri dengan muka merah sambil menceritakan kepada suhunya bahwa Lian Eng murid Huo Mo-Li berhasil mendapatkan patung.
"Suhu, kami sedang bingung dan tak sabar mencari lubang yang suhu katakan dulu, tapi ternyata sia-sia!"
Kiang Cu Liong tertawa.
"Biarlah saja, nanti aku yang mengambil. Tapi coba ceritakan, bagaimana nona ini bisa mendapatkan patung ini?"
Dengan singkat Tiong Li menuturkan kembali cerita yang diketahuinya dari Lian Eng tadi.
Ia menuturkan betapa Huo Mo-Li sekarang sedang berkelahi dengan Tok-kak-coa di atas puncak, dan bahwa imam-imam dari Kwan-im-pai juga berada di sana.
Mendengar ini, berubahlah wajah Kiang Cu Liong.
"Aah, tentu terjadi keributan hebat di sana!"
Ia memandang ke arah puncak.
Kemudian dengan cepat ia mengambil patung itu lalu menggunakan tenaga lwee-kang yang tinggi menepuk-nepuk kaki patung sebelah kanan.
Ternyata bahwa lubang rahasia itu berada di punggung patung dan pintu kecil lubang itu jika ditutup dapat mengunci sendiri, sedangkan pencetannya berada di sebelah dalam hingga untuk membukanya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan tenaga lwee-kang yang sangat tinggi untuk menepuk dengan tangan hingga tenaga itu menembus ke dalam dan menggencet per yang dapat membuka pintu itu!
Sambungan pintu dibuat sedemikian halusnya hingga jika sudah tertutup tak tampak bekas dan sambungannya.
Setelah ditepuk beberapa kali oleh Kiang Cu Liong, maka terbukalah pintu di punggung patung.
Tabib Dewa itu lalu merogoh ke dalam dan mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutera warna merah.
Ia lalu menutup kembali pintu rahasia itu dan membuka bungkusan sutera merah.
Ternyata di dalamnya terdapat akar semacam jinsom, yakni akar yang bentuknya seperti orok kecil, berkaki dan bertangan.
Tapi anehnya, kalau jinsom biasanya berwarna putih dan kuning maka jinsom ini berwarna merah darah!
"Nona, kau bersiaplah!
Aku akan mencoba menyembuhkan kau, kalau Yang Berkuasa menghendaki, kau akan sembuh."
Lian Eng tanpa menjawab lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiang Cu Liong.
Tabib Dewa ini mengeluarkan sebuah jarum perak dari keranjang obatnya.
Kemudian ia menotok pundak Lian Eng hingga gadis itu menjadi lemas tak berdaya.
Dengan mata tajam dan jari-jari tetap, Tabib Dewa itu lalu menancapkan jarumnya ke arah leher Lian Eng sampai tujuh kali.
Kemudian ia mengeluarkan sebungkus obat, mencampur itu dengan sedikit air dan ditempelkan di sekujur leher gadis itu.
Ia lalu menggunakan ujung pisau memotong sedikit jinsom merah yang diambilnya dari dalam patung.
Sungguh aneh, getah jinsom itu pun berwarna merah, mengalir seperti darah manusia!
"Tiong Li, kau boleh mencampur jinsom ini dengan arak putih, dan dicampur semangkok air.
Masaklah obat ini sampai tinggal setengahnya dan minumkan airnya.
Kemudian ampasnya boleh suruh nona ini makan dan telan habis.
Mengerti?"
Tiong Li mengangguk.
Kiang Cu Liong lalu tepuk gadis itu hingga terbebas dari totokan.
Lian Eng merasa lehernya sakit sekali, perih dan panas.
Namun gadis ini tahan-tahan rasa sakitnya dan pejamkan mata.
"Nah, kalian tinggallah di sini, dan kau nona, kau turutlah saja kata-kata muridku. Kalian boleh beristirahat di dekat telaga itu dan tunggu kedatanganku. Aku perlu melihat pertempuran di atas dan kalau bisa hendak mencegahnya. Patung ini kubawa, nona!"
Lian Eng yang merasa kesakitan, tapi yang telah menyerahkan nasibnya kepada guru dan murid itu dengan setulus hatinya dan penuh kepercayaan, hanya mengangguk lemah.
Kiang Cu Liong kempit patung itu dan sekali berkelebat lenyaplah ia dan dengan cepatnya naik ke atas puncak.
Tiong Li segera ajak Lian Eng ke telaga yang tak jauh dari situ letaknya.
Mereka dapatkan tempat di bawah sebuah pohon yang besar dan tua.
Tiong Li masak obat itu sebagaimana yang diajarkan oleh suhunya.
Sementara itu, Lian Eng masih saja menahan sakitnya dan rasa perih telah memaksa air mata keluar mengalir di atas kedua pipinya.
Namun sedikitpun gadis itu tidak mengeluh.
Hal ini sungguh membuat kagum hati Tiong Li dan diam-diam ia berdoa semoga pengobatan itu berhasil baik.
Tak lama kemudian obat itupun mengebulkan uap dan mendidih.
Setelah airnya tinggal setengahnya.
Tiong Li lalu tuangkan obat itu ke dalam mangkok.
Lian Eng pandang obat dalam mangkok itu dengan mata penuh harapan, tapi ketika ia hendak meminumnya, Tiong Li mencegahnya.
"Sabar, nona. Obat ini masih panas sekali."
Ia lalu pegang mangkok itu dan menggunakan mulutnya meniup ke dalam agar obat itu lekas dingin. Setelah dingin, Tiong Li lalu angsurkan mangkok itu "Minumlah dan semoga sembuhlah kau!"
Lian Eng terima mangkok itu dengan kedua tangan yang gemetar karena keharuan hatinya, lalu dengan mata terbelalak lebar ia minum obat itu.
Ketika obat melalui lehernya, maka terasalah hawa dingin mengusir semua rasa perih dan panas di lehernya, tapi ketika obat itu masuk ke perutnya, ia merasa betapa hawa panas dari dalam perut naik ke atas dan memenuhi dadanya.
"Sekarang kau tidurlah, nona, agar obat itu dapat bekerja dengan baik,"
Kata Tiong Li dengan suara gemetar, karena iapun merasa terharu dan penuh harap akan berhasilnya pengobatan ini.
Lian Eng menurut dan gadis itu berbaring miring di atas daun-daun kering yang banyak bertumpuk di bawah pohon.
Angin telaga bertiup perlahan hingga sebentar saja gadis yang telah letih dan semalam penuh tidak tidur itu jatuh pulas.
Tiong Li duduk termenung di pinggir telaga dan melihat ikan-ikan berenang ke sana ke mari.
Ia mencabut beberapa rumput dan melempar-lemparkan akar rumput ke dalam air.
Puluhan ikan menyerbu akar rumput itu menimbulkan pemandangan di dalam air yang menarik hati.
Tiong Li sangat gembira dan berkali-kali ia melempar-lemparkan akar rumput ke arah ikan-ikan itu.
Tiba-tiba terdengar suara merdu menegurnya.
"Hei, kau baru melamun apa?"
Tiong Li terkejut dan menengok. Ternyata dengan rambutnya awut-awutan tapi yang menambah keaslian dan kejelitaan wajah manis yang memandang dengan senyum, Hong Cu telah berdiri di belakangnya.
"Hong Cu!"
Kata Tiong Li dengan girang sekali seakan-akan baru bertemu dengan seorang yang telah dirindukan bertahun-tahun padahal baru sebulan mereka berpisah.
"Kau dari mana dan hendak ke (Lanjut ke
Jilid 09) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 mana?"
"Aku sedang mengejar gadis gagu yang mencuri patung Kwan-im Pouwsat. Ia lari ke jurusan ini, apakah kau tidak melihatnya?"
"Kau maksudkan nona Lian Eng?"
Tanya Tiong Li.
"Entah siapa namanya. Ia seorang gadis sebaya dengan aku, gagu dan jahat sekali, katanya ia murid Huo Mo-Li."
Kemudian dengan lincah Hong Cu tuturkan pengalamannya dengan ringkas, dan Tiong Li pandang gerak-gerik gadis itu dengan kagum dan senang.
"Hei, jangan kau pandang orang saja!"
Tegur Hong Cu setelah habis tuturkan pengalamannya dan melihat pemuda itu masih bengong menatap wajahnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau melihat setan kecil itu lari lewat sini?"
Tiong Li tersenyum.
"Jangan khawatir. Patung itu telah diantar kembali ke puncak oleh suhu. Adapun tentang nona Lian Eng, ia berada di sana."
Ia putar tubuh dan menunjuk ke arah di mana gadis gagu tadi berbaring.
Tapi alangkah terkejut dan herannya ketika melihat betapa Lian Eng telah berdiri di belakang mereka dengan muka merah.
Agaknya gadis itu telah semenjak tadi berada di situ dan mendengarkan percakapan mereka yang gembira.
Tentu gadis itu mendengar pula betapa ia dimaki oleh Hong Cu.
Maka kini dengan mata marah sekali ia tatap wajah Hong Cu.
Sebaliknya Hong Cu ketika melihat Lian Eng berdiri di situ segera loncat menyerbu dengan tongkat bambu di tangannya!
Lian Eng berkelit gesit dan balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya.
Karena sekarang ia tidak membawa patung maka dapat bergerak lebih lincah.
Memang mengenai kepandaian, Lian Eng masih menang setingkat jika dibandingkan dengan Hong Cu, maka kini terdorong oleh perasaan marahnya, cepat sekali ia dapat mendesak Hong Cu dengan pukulan-pukulan Huo-mo-kang yang lihai.
Hong Cu gesit sekali dan ia seorang pemberani.
Biarpun sudah tahu akan kehebatan Huo-mo-kang, namun ketika ia dipukul, ia berani menangkis dengan tongkatnya.
Tongkatnya meluncur cepat memapaki lengan Lian Eng dan "Krak!!"
Tongkat itu hancur berkeping-keping!
Lian Eng tidak sia-siakan kesempatan itu lalu melancarkan serangan maut.
Tapi pada saat itu Tiong Li loncat dan sampok siku tangan Lian Eng yang memukul, hingga Lian Eng terpaksa batalkan pukulannya untuk kelit sampokan ini.
Ia pandang wajah Tiong Li dengan sayu dan sedih, dan untuk sesaat ia berdiri diam tak bergerak!
"Nona Lian Eng, kau belum sembuh benar, tak boleh banyak bergerak,"
Tegur Tiong Li.
"Coba lihat, alangkah jahatnya dia ini!"
Hong Cu berkata.
Lian Eng pandang mereka berdua, lalu terdengar isak tangis tersembul dari kerongkongannya dan berhenti di dalam mulut, lalu dengan cepat sekali ia balikkan tubuh terus loncat pergi dan lari secepatnya!
Tiong Li tidak mengejar, ia hanya geleng-geleng kepala dan berkata kepada Hong Cu sambil tersenyum.
"Ah, ia memang gadis aneh, tapi ilmu silatnya tinggi sekali."
"Hayo kita menyusul suhu-suhu kita ke puncak. Untuk apa berdiam di tempat ini?"
"Jangan, Hong Cu. Suhu telah pesan agar aku menanti di sini. Di puncak sedang terjadi keributan antara tokoh-tokoh besar. Berbahaya bagi kita kalau ke sana."
"Aaah, kau penakut sekali!"
Hong Cu mencela.
"Apakah kita sebagai murid mau enak-enak saja menanti di sini sedangkan guru kita sedang bertempur mati-matian? Apakah ini boleh disebut murid-murid yang setia kepada guru?"
Tiong Li bersangsi, tapi karena Hong Cu terus mengajaknya, terpaksa ia pun mengikuti gadis itu lari ke puncak.
Karena Tiong Li masih ragu-ragu, maka Hong Cu tidak perdulikan dia lagi dan lari secepatnya ke atas, diikuti oleh pemuda itu dari belakang.
Tiong Li adalah seorang murid yang taat sekali kepada suhunya, tapi kali ini ia tidak berani membantah kehendak Hong Cu, takut kalau-kalau gadis itu marah kepadanya!
Pada saat itu, dari atas tampak seorang turun sambil berlari cepat.
Dari jauh saja Hong Cu telah kenal siapa adanya orang itu, maka ia segera berteriak memanggil.
"Siauw Ma!!"
Dan ia lalu lari keras menghampiri pemuda itu. Siauw Ma sedang lari mencari-cari Lian Eng, maka mendengar panggilan ini iapun turun. Begitu bertemu dengan Hong Cu, ia segera bertanya.
"Hong Cu, di manakah Lian Eng?"
Pertanyaannya mengandung kecemasan dan kekhawatiran akan nasib gadis itu.
Sebenarnya biarpun tadinya Hong Cu merasa marah kepada Siauw Ma karena pemuda itu tidak mau membantunya ketika ia berusaha merebut patung dari Lian Eng, kini setelah bertemu dengan pemuda itu ia sudah melupakan marahnya dan memanggil dengan gembira.
Tapi, untuk kedua kalinya ia merasa mendongkol sekali karena begitu berjumpa, yang pertama kali ditanya oleh pemuda itu ialah Lian Eng!
"Gadis gagu yang jahat itu?
Ia ia telah pergi!"
Kemudian Hong Cu bertanya tentang perkelahiannya dengan Siauw Liong.
Ketika Tiong Li yang menyusul tiba di situ, Siauw Ma dengan Hong Cu sedang bercakap-cakap asyik sekali.
Melihat Tiong Li, Siauw Ma sangat gembira, demikianpun Tiong Li.
Kedua pemuda ini saling peluk dengan mesra, karena memang keduanya merasa suka kepada masing-masing.
Maka ramailah saling menceritakan pengalaman.
Diam-diam Tiong Li memperhatikan betapa sikap dan pandang mata Hong Cu terhadap Siauw Ma sangat manis sekali.
Siauw Ma datang menyusul ke lereng gunung adalah atas petunjuk Kiang Cu Liong Si Tabib Dewa.
Orang tua ini ketika dengan cepatnya naik ke puncak sambil mengempit patung, di tengah jalan melihat betapa Siauw Ma dan Siauw Liong saling serang dengan mati-matian.
Ia segera gunakan kepandaiannya tangkap Siauw Liong dan memberi tahu kepada Siauw Ma supaya turun dan berkumpul dengan Tiong Li di dekat telaga serta menanti di situ.
Kemudian sambil memanggul Siauw Liong, Tabib Dewa itu terus lari dengan cepat ke puncak.
Ketika ia tiba di puncak, pertempuran masih berjalan seru dan hebat sekali.
Hwat Kong Tosu masih saling gempur dalam perlawanannya terhadap keroyokan kedua Sianli dari Kwan-im-kauw, sedangkan Beng Beng Hoatsu sambil perdengarkan suara ketawanya yang menggema di seluruh puncak, menggerakkan Pedang Naga Saktinya menahan serangan ke empat pengeroyoknya.
Para pengeroyok ke dua tokoh Thang-la itu sudah tampak lelah dan sebentar lagi tentu Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu dapat merobohkan mereka.
Pada saat itu Huo Mo-Li sudah mendesak Tok-kak-coa dengan hebatnya.
Wanita gagah perkasa ini melancarkan serangan-serangan dengan tenaga Huo-mo-kang yang luar biasa lihainya dan telah beberapa kali Tok-kak-coa terkena pukulan itu hingga mendapat luka dalam.
Pada suatu ketika Tok-kak-coa dalam keadaan terdesak sekali berlaku nekat dan menggunakan tongkatnya menghantam ke arah dada Huo Mo-Li tanpa memperdulikan pukulan Huo Mo-Li yang mengarah lambungnya.
Huo Mo-Li menarik kepalan tangannya dan dengan tenaga penuh ia menggempur ujung tongkat itu.
Tongkat hancur beterbangan dan dari dalam tongkat melayang keluar jarum-"jarum halus penuh bisa ke arah Huo Mo-Li!
Huo Mo-Li terkejut sekali dan cepat berkelit, tapi ia merasa pundaknya sakit dan panas.
Ia tahu telah terluka jarum, maka dengan teriakan keras ia menubruk maju dan mengirim serangan ke iga lawannya.
Tok-kak-coa berteriak ngeri dan terpental beberapa kaki lalu roboh tak bergerak lagi!
Juga Huo Mo-Li terhuyung-huyung dan roboh pingsan.
"Cu-wi sekalian, tahan!"
Tiba-tiba Kiang Cu Liong berteriak keras dan meloncat ke tengah lapangan pertempuran.
Semua orang mendengar teriakan ini segera menahan serangan masing-masing dan memandang Si Tabib Dewa dengan heran, karena patung yang diperebutkan itu ternyata telah berada di tangan tabib aneh itu.
"Cu-wi, tak perlu kalian ribut-ribut mengadu jiwa di sini hanya untuk sebuah patung ini! Para ketua Kwan-im-kauw! Kalian juga salah sekali menyerang Thang-la Sam-sian sedangkan yang bersalah dalam hal lenyapnya patung ini adalah Tok-kak-coa seorang! "Ini, terimalah patungmu dan bawalah kembali ke kelentengmu, tapi berhati-hatilah menjaga patung itu agar jangan sampai lenyap pula dan menimbulkan geger yang bukan-bukan!"
Ia lalu melemparkan patung itu ke arah Kim Hwa Sianli yang menerima dengan kedua tangan.
"Patung sudah kembali, tidak lekas pulang tunggu apa lagi?"
Kim Hwa Sianli berteriak nyaring kepada kawan-kawannya dengan suara girang kemudian setelah mengangguk ke arah Si Tabib Dewa tanda terima kasih ia lalu loncat turun dari puncak, diikuti oleh kedua adik seperguruannya dan ketiga murid-muridnya.
Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu hendak mengejar, tapi Kiang Cu Liong angkat tangan mencegah.
"Kalian orang-orang tua apakah masih ingin memiliki emas tak berharga itu? Sungguh lucu!"
"Kau tahu, bukan emas yang diperebutkan di sini!"
Beng Beng Hoatsu membentak.
"Bukankah kita semua sedang berlumba mendapatkan patung itu?"
Hwat Kong Tosu bertanya dengan heran kepada Si Tabib Dewa. Kiang Cu Liong menghela napas.
"Aku pun mengerti, bahkan aku sendiripun ikut berlumba. Tadi patung telah berada di tanganku, kalau aku berpendirian sebodoh kalian, apakah dengan mudah begitu saja patung kukembalikan kepada pemiliknya?"
Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu saling pandang dengan tak mengerti.
"Dengarlah kau berdua orang-orang tua bodoh dari Thang-la! Urusan patung itu telah banyak mendatangkan ribut dan permusuhan. Perlu apa kita harus memperebutkan patung yang bukan menjadi hak milik kita? "Kalau hendak mengukur kepandaian masing-masing, biarlah murid-murid kita kelak yang menentukan, tak perlu kita orang-orang tua bangka harus bertindak sendiri! Yang bersalah dalam pencurian patung ini hanya Tok-kak-coa dan lihatlah, ia telah mendapat hukuman! Tapi Huo Mo-li harus dikasihani, iapun mendapat luka berat hanya karena memperebutkan patung tak berharga itu!"
Karena omongan Si Tabib Dewa yang pandai bicara itu dianggap betul juga, mereka lalu menghampiri Huo Mo-li yang masih menggeletak tak jauh dari Tok-kak-coa.
Ternyata jarum halus yang melukai pundak Huo Mo-li sangat berbahaya racunnya hingga sebentar saja tubuh Huo Mo-li telah berwarna hitam!
Melihat keadaan ini, Kiang Cu Liong geleng-geleng kepala.
"Sungguh berbahaya... sungguh jahat...!"
Tapi dengan cepat dan tak ragu-ragu lagi ia keluarkan mutiara salju yang dulu diambil dari puncak Gunung Dewi Api.
Ia gunakan mutiara salju itu untuk menyedot keluar darah yang terkena bisa dan dengan besi semberani ia sedot keluar jarum itu dari pundak Huo Mo-li.
Kemudian ia potong jinsom merah yang didapatnya dari dalam patung Dewi Kwan-im, lalu peras jinsom itu yang mengeluarkan getah merah seperti darah ke dalam mulut Huo Mo-li.
Sungguh mujijat obat itu.
Sebentar saja terdengar Huo Mo-li mengeluh dan siuman kembali.
Biarpun tubuhnya masih lemas, namun racun yang mengalir di tubuhnya telah dapat dibersihkan dan jiwanya tertolong.
Setelah ia sadar dan membuka matanya, maka ia tahu bahwa jiwanya telah ditolong oleh Si Tabib Dewa.
Maka ia berdiri dan menjura sambil berkata.
"Aku Huo Mo-li sungguh malu. Telah dua kali kau orang tua menolong aku, dan yang kedua kalinya ini kau telah menghidupkan aku kembali. Biarlah, kalau di waktu hidupku sekarang aku tak kuasa membalas budi, kelak di penjelmaan lain pasti akan kubalas!"
Kiang Cu Liong tertawa terbahak-bahak.
"Huo Mo-li, Huo Mo-li! Kau gagah perkasa, mungkin lebih gagah dari padaku, tapi jalan pikiranmu tetap seperti seorang wanita yang berperasaan halus! "Siapa hendak bicara tentang balas membalas budi? Aku menolong kau karena memang aku adalah seorang tabib, dan sudah menjadi kewajibanku menolong siapa saja yang perlu ditolong! Tentang membalas, mungkin sekarang ini akulah yang membalas budimu yang telah kau tanam pada penjelmaan kita yang lalu, si apa tahu?"
Beng Beng Hoatsu tertawa keras.
"Bicaramu betul sekali, orang she Kiang! Dari kata-katamu itu saja, pantas kalau kau ikut berlumba mengadu ilmu dengan kami Thang-la Sam-sian! Ha, ha!"
Huo Mo-li agaknya baru teringat akan imam-imam dari Kwan-im-kauw maka ia bertanya.
"Di manakah imam-imam Kwan-im-kauw yang nekat itu?"
"Mereka sudah pulang sambil membawa patung mereka."
Huo Mo-li terkejut.
"Patung? Bagaimanakah...?"
Hwat Kong Tosu lalu memberi tahu kepada Huo Mo-li akan peristiwa yang terjadi tadi.
"Aku setuju dengan tindakan Kiang-Sianseng. Memang patung itu harus dikembalikan kepada yang berhak. Kita berempat tidak membutuhkan emas itu."
"Tapi untuk mengukur kepandaian...?"
Tanya Huo Mo-li.
"Ini mudah dilakukan tanpa mengganggu barang lain orang,"
Kata Kiang Cu Liong.
"Marilah kita gembleng murid kita masing-masing dan kita tentukan pada lima tahun yang akan datang dengan mengadakan pertemuan di puncak Thang-la. Di sanalah kita nanti uji kepandaian murid-murid kita, siapa di antara mereka yang lebih unggul, karena dari murid dapat diukur pula ketinggian ilmu gurunya!"
Semua orang setuju dan menentukan untuk saling berjumpa di puncak Thang-la pada permulaan musim chun lima tahun yang akan datang.
Ketika Kiang Cu Liong memberi tahu kepada Huo Mo-li bahwa ia telah mengambil obat dari dalam patung dan telah menyuruh muridnya mengobati Lian Eng, Huo Mo-li menjadi girang sekali.
"Di manakah mereka itu?"
Tanyanya. Juga Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu menanyakan murid masing-masing.
"Kalau tidak salah, mereka berempat itu semua berkumpul di dekat telaga di lereng gunung,"
Jawab Tabib Dewa.
Mereka lalu mendekati Tok-kak-coa yang masih rebah dengan napas empas-empis.
Kiang Cu Liong memeriksa dada Tok-kak-coa.
Ternyata pukulan Huo Mo-li itu menyebabkan beberapa tulang iganya patah-patah dan isi perutnya mendapat luka dalam yang berat.
"Ah, pukulanmu hebat sekali, Huo Mo-li!"
Katanya perlahan. Dengan menggunakan kepandaiannya, Kiang Cu Liong menotok beberapa bagian tubuh Tok-kak-coa yang segera siuman dan merintih.
"Mana... mana muridku?"
Si jahat dari timur bertanya.
Kiang Cu Liong lambaikan tangan ke arah Siauw Liong yang semenjak tadi berdiri di bawah pohon dan tidak berani sembarangan bergerak karena telah diancam oleh Kiang Cu Liong bahwa tanpa perintahnya ia tidak boleh pergi dari situ.
Kini setelah Tabib Dewa yang sakti itu melambaikan tangan, Siauw Liong lalu lari menghampiri.
Ia kerutkan jidat dan tampak terharu melihat keadaan suhunya, dan Tok-kak-coa melihat bahwa muridnya masih selamat lalu tersenyum.
"Jangan... ganggu... muridku..."
Katanya. Huo Mo-li lalu berkata.
"Kau terkena bencana karena kejahatanmu sendiri, Tok-kak-coa, maka tak perlu penasaran. Muridmu masih kecil, maka kau harus didik baik-baik padanya. Kalau ternyata kemudian ia jahat, tentu ada orang yang akan bereskan padanya, dan ia akan menderita kematian yang menyedihkan."
Beng Beng Hoatsu sambil mendelik pandang Siauw Liong dan berkata.
"Anak inipun bertulang jahat. Awas kau! Kalau kau tidak mau mengubah watakmu, maka gurumu inilah sebagai contohnya!"
"Anak muda, kau telah menerima budi suhumu, maka sekarang kau harus balas budinya itu. Pondonglah dia ke dalam gua dan peliharalah dia sampai sembuh."
Siauw Liong mendengarkan semua ini dengan kepala tunduk dan hati tak karuan rasa. Kiang Cu Liong lalu mengeluarkan sebungkus obat dan menyerahkan itu kepada Siauw Liong.
"Gunakanlah obat ini dan beri minum kepada suhumu. Tapi jangan harap ia akan pulih kembali dan menjadi orang lihai seperti sediakala. Mungkin ia masih dapat hidup beberapa tahun lagi."
Siauw Liong terima obat itu, lalu dengan perlahan ia angkat suhunya dan pondong tubuh yang lemas itu ke dalam gua.
"Anak itu kelak hanya akan mendatangkan kerewelan belaka,"
Huo Mo-li berkata perlahan.
Ketiga orang tua gagah mendengar ini diam-diam membetulkan ramalan Huo Mo-li, karena merekapun tahu bahwa anak muda itu memang mempunyai dasar yang jahat!
Setelah melihat Siauw Liong menggendong gurunya dan menghilang ke dalam Gua Ular, ke empat tokoh besar itu segera meninggalkan tempat itu dan turun ke lereng mencari murid mereka.
Benar saja, mereka mendapatkan Siauw Ma, Tiong Li, dan Hong Cu berkumpul di dekat telaga sambil bercakap-cakap gembira.
Hanya Lian Eng yang tak tampak dan Huo Mo-li segera bertanya kepada para muda itu di mana perginya muridnya.
Ketika mendengar bahwa muridnya telah pergi tanpa alasan, ia menjadi heran dan khawatir, maka segera iapun minta diri dari ke tiga tokoh lainnya untuk menyusul muridnya.
Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, dan Kiang Cu Liong girang sekali melihat betapa ketiga orang murid mereka dapat bergaul dengan baik dan tampaknya rukun sekali.
Kiang Cu Liong bertanya kepada Tiong Li tentang Lian Eng, dan muridnya menceritakan semua keadaan gadis itu.
"Dia tadinya beristirahat setelah minum obat itu, suhu, tapi teecu tidak tahu mengapa ia tampak marah dan pergi dari sini setelah bertempur sebentar melawan nona Hong Cu."
Hwat Kong Tosu menghela napas.
"Ah, gadis gagu itu agaknya selain mewarisi ilmu lihai dari Huo Mo-li, juga mewarisi pula adatnya yang aneh."
Mendengar semua pembicaraan ini, diam-diam Siauw Ma merasa tidak senang dan kasihan kepada Lian Eng.
Baiknya Beng Beng Hoatsu, suhunya sendiri tidak ikut membicarakan tentang gadis itu, karena kalau suhunya ikut-ikutan mencela Lian Eng, tentu Siauw Ma akan merasa tidak puas sekali.
Setelah berjanji akan saling bertemu di puncak Thang-la lima tahun kemudian, ketiga tokoh luar biasa itu membawa murid masing-masing dan pulang ke tempat sendiri-sendiri.
Mereka diam-diam makin berkeras hendak menumpahkan seluruh kepandaian kepada muridnya, agar lima tahun kemudian murid itu akan menjadi orang terpandai hingga membuat gurunya bangga.
Beng Beng Hoatsu mengajak Siauw Ma kembali ke puncak Gunung Harimau Salju, sedangkan Hwat Kong Tosu juga kembali ke Hong-Lun-San, dan Si Tabib Dewa Kiang Cu Liong yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, lalu melanjutkan perantauannya dan akhirnya iapun menetap di sebuah pulau dekat pantai Laut Timur di Tiongkok Selatan, karena iapun perlu melatih muridnya agar tiap hari dapat rajin berlatih di bawah pengawasannya.
Selain ilmu silat, Tiong Li menerima pula pelajaran ilmu obat-obatan.
Demikianlah, untuk waktu tidak kurang dari tiga tahun, sedikitpun tidak terdengar berita tentang mereka itu karena dengan tekun guru dan murid berlatih silat dan tidak memperdulikan urusan dunia hingga boleh dikata mereka semua setengah mengasingkan diri.
Kurang lebih empat tahun kemudian, pada suatu pagi di atas puncak Pegunungan Thang-la yang tertutup salju tebal, tampak seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah berjalan dengan perlahan.
Biarpun hawa di atas daerah salju itu sangat dingin namun kulit muka pemuda itu kemerah-merahan dan sepasang matanya yang terang dan bersinar tajam itu memandang lurus membayangkan kejujuran hatinya.
Bibir dan dagunya membayangkan keteguhan iman dan kekerasan hatinya, sedangkan bahunya yang bidang dan tubuhnya yang tegap lurus menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemuda yang kuat dan sehat.
Pakaiannya sederhana berwarna biru muda sedangkan kopiahnya dari bulu menutup rambutnya yang hitam.
Keadaan pemuda yang gagah dan masih muda berada di atas puncak yang dingin itu sudah ganjil, tapi lebih aneh lagi kalau orang perhatikan tiga makhluk yang berjalan di dekatnya ini.
Di sebelah kirinya berjalan seekor harimau berbulu putih yang besar dan bertubuh kuat sekali.
Harimau macam ini jarang terlihat orang-orang biasa, karena harimau ini adalah harimau salju yang hanya terdapat di puncak Gunung Harimau Salju, sebuah dari pada puncak-puncak yang tinggi dari Pegunungan Thang-la.
Dan di sebelah kanan pemuda itu berjalan dua ekor makhluk yang lebih hebat lagi, karena tubuh dan gerak-geriknya seperti manusia-manusia, tapi tubuh yang besar dan berbulu putih itu lebih menyerupai binatang monyet yang besar!
Inilah sepasang monyet peliharaan Beng Beng Hoatsu yang diberi nama Wan-eng dan Wan-nio!
Melihat adanya dua ekor monyet salju ini, maka mudahlah untuk mengetahui siapa gerangan pemuda yang gagah dan tampan itu.
Ia bukan lain ialah Siauw Ma, murid tunggal Beng Beng Hoatsu.
Setelah selama empat tahun terus menerus rajin mempelajari Ilmu Pedang Sin-Liong-kiam-sut, maka Beng Beng Hoatsu menganggap bahwa muridnya itu telah mewarisi ilmu pedang itu seluruhnya, hanya tinggal memperdalam saja dengan latihan-latihan pertempuran melawan musuh-musuh yang lihai.
Maka ia anggap bahwa waktu pertemuan yang tinggal setahun lagi itu biarlah dipakai untuk meluaskan pengalaman muridnya, agar Siauw Ma dapat berkelana selama setahun dan menjalankan tugas sebagai seorang pendekar ilmu pedang yang tinggi untuk menolong sesama hidup dengan menggunakan kepandaiannya.
Dengan jalan inilah maka muridnya itu akan memperdalam ilmu silatnya, karena ia berkesempatan bertemu dengan lawan-lawan yang berat.
Setelah mendapat nasihat-nasihat Beng Beng Hoatsu dan juga menerima sebuah pedang kuno yang gagangnya berukiran seekor kepala naga dan disebut Sin-Liong-kiam oleh suhunya, maka berangkatlah pada pagi hari itu Siauw Ma turun gunung.
Keberangkatannya mengharukan hati kawan-kawannya.
Si pelayan, orang tua yang selalu menjaga pertapaan dan melayani Beng Beng Hoatsu dengan setia, mengantarkannya keluar gua, sedangkan harimau salju dan kedua monyet salju bahkan mengantarkan sampai jauh keluar gua.
Setelah sampai di lereng gunung.
Siauw Ma berpaling kepada ketiga kawannya yaitu binatang-binatang yang jinak itu.
"Kawan-kawanku, kalian pulanglah kembali! Kelak kita pasti akan bertemu kembali."
Harimau salju mengaum panjang hingga menggetarkan puncak, sedangkan dua monyet itu bergantian memeluknya.
Kemudian ketiga binatang itu kembali ke atas puncak, sedangkan Siauw Ma lalu turun dari lereng gunung dengan cepat.
Ia menuruti jalan yang telah ditunjuk oleh suhunya dan karena ia menggunakan ilmu lari cepat yang kini telah mencapai tingkat tinggi, Sebentar saja ia tiba di dalam hutan dimana dulu ia berkumpul dengan para pemburu.
Peristiwa pertemuannya dengan Lian Eng pada beberapa tahun yang lalu terbayang kembali di depan matanya, maka ia menahan kakinya dan untuk beberapa lama berhenti di situ, membayangkan kembali ketika ia dibikin jatuh bangun oleh gadis gagu itu!
Ia tersenyum geli dan dengan penuh harapan ia rindu akan pertemuannya kembali dengan gadis gagu itu.
Menurut suhunya, pada permulaan musim chun tahun depan, ia harus naik ke puncak Thang-la untuk mengadakan pertemuan dengan empat tokoh terbesar di kalangan persilatan, maka ia merasa terhibur, karena kegembiraannya.
Setahun lagi dan ia akan bertemu dengan kawan-kawan yang disukanya.
Tiong Li, kawan yang setia dan peramah itu.
Hong Cu, gadis yang cantik dan gembira jenaka, dan akhirnya Lian Eng, gadis gagu yang selalu terbayang di muka matanya!
Siauw Ma dengan wajah berseri lalu melanjutkan perjalanannya, kini langsung menuju ke kampung di mana ibunya tinggal!
Segala bayangan tadi lenyap dan tergantilah dengan bayangan ibunya, hingga wajahnya yang tadinya berseri gembira terganti dengan getaran halus karena terharu dan bahagia mengenangkan ibunya yang kini hendak dijumpainya!
Telah kurang lebih lima tahun ia meninggalkan ibunya.
Ketika pergi, ia baru berusia limabelas, tapi kini ia telah berusia duapuluh tahun, menjadi seorang pemuda dewasa yang memiliki kepandaian tinggi.
Sambil berlari cepat Siauw Ma teringat akan empe pengisap pipa yang sangat suka padanya.
Ah, masih hidupkah empe yang suka mendongeng itu?
Makin gembira, makin cepatlah Siauw Ma berlari hingga tak lama kemudian tibalah ia di kampung tempat ia dibesarkan!
Kampung itu kini lebih ramai karena datangnya penduduk baru.
Tapi dengan mudah Siauw Ma dapat mencari rumah ibunya.
Dan kedatangannya kebetulan sekali karena ketika itu orang-orang kampung sedang beramai-ramai menguliti beberapa ekor binatang buas hasil buruan dan para pemburu di kampung itu baru saja kembali dari hutan!
Mereka itu berkumpul di depan rumah ibu Siauw Ma.
Ketika orang-orang itu melihat Siauw Ma, mereka heran dan kagum tapi tiba-tiba seorang tua yang berambut putih meloncat bangun dan lari menghampiri Siauw Ma.
Ia itu bukan lain adalah empe si pengisap pipa!
Biarpun wajahnya telah penuh keriput dan rambutnya telah putih semua, namun pipa yang tergantung di mulutnya masih pipa yang dulu juga.
"Siauw Ma!!"
Empe itu berteriak girang.
"Lo pe-pe!!"
Siauw Ma balas menegur dengan gembira. Mereka berpelukan dan Siauw Ma harus kuatkan hatinya untuk menahan air matanya ketika merasa betapa pundaknya basah oleh air mata empe itu! "Lopeh, dimana ibu?"
Tanya Siauw Ma dalam pelukan.
Si pengisap pipa mempererat pelukannya ketika ia mendengar pertanyaan ini.
Kemudian ia lepaskan pelukannya dan memegang kedua buah bahu Siauw Ma dan memandang anak muda itu dengan wajah mengandung iba hati dan duka.
"Siauw Ma, ibumu... ibumu telah menutup mata."
Terbelalak mata Siauw Ma memandang orang tua itu.
"Apa?? Mengapa??"
"Tenanglah, anak,"
Orang tua itu tepuk-tepuk bahunya.
"Kehendak Tuhan tak dapat dibantah. Kau tahu sendiri betapa semenjak ditinggal ayahmu, ibumu selalu menderita penyakit di dadanya. Nah, ketika mendengar tentang kepergianmu, ia jatuh sakit lagi dan setahun kemudian ia meninggal dunia."
Siauw Ma menggunakan kedua tangan menekap mukanya.
"Aku... aku anak berdosa, Lopeh..."
"Dan ibumu meninggalkan pesan, Siauw Ma."
Siauw Ma melepaskan tangan dari mukanya dan pandang si pengisap pipa itu dengan wajah pucat.
"Apakah pesannya, Lopeh?"
"Ibumu setelah mendengar cerita tentang lenyapmu dulu itu, berpendapat bahwa gadis gagu itulah yang menjadi gara-gara hingga kau lenyap dan memisahkan kau dari ibumu. Karena ini maka ibumu sebelum meninggal, pesan bahwa jika aku dapat bertemu dengan kau harus kusampaikan padamu pesannya ini, yaitu karena katanya kau korbankan diri untuk menolong gadis itu, maka tentu kau suka padanya.
"Oleh karena itu, ibumu pesan agar kau cari dan mengambil gadis itu sebagai isterimu! Akan tetapi, jika dugaannya ini tidak benar dan kau tidak suka kepada gadis itu, kau tetap harus mencari padanya dan membunuhnya, karena menurut ibumu, gadis itulah yang menjadi sebab malapetaka menimpa kau dan ibumu."
Mendengar pesan ini, muka Siauw Ma sebentar berubah merah dan sebentar pucat.
"Siauw Ma, sudah mengertikah kau kehendak ibumu? Pendeknya, bagaimanapun juga, kau harus mencari gadis itu sampai dapat. Kemudian, untuk dibunuh atau dikawin terserah padamu!"
Siauw Ma mengangguk-angguk dan di dalam hatinya timbul berbagai macam perasaan.
Ia harus mencari gadis itu?
Ah sungguh ibunya seorang waspada.
Tahu saja orang tua itu akan segala yang bergerak dalam hatinya.
Ia harus mencari Lian Eng dan...
memperisterinya!
Ah, mudah saja ibunya itu.
Tidak tahu orang macam apakah gadis itu, agaknya begitu mudah untuk dibunuh atau dikawin!
Kalau ibunya tahu bahwa gadis itu adalah Lian Eng murid Huo Mo-li, gadis yang cantik jelita dan ilmu kepandaiannya tinggi sekali, tentu orang tua itu takkan meninggalkan pesan seperti itu.
"Di manakah makam ibu, Lopeh?"
Maka diantarlah ia oleh si penghisap pipa ke sebuah kuburan yang sederhana dan penuh ditumbuhi rumput hijau yang segar.
Nyata sekali bahwa kuburan yang sederhana itu terawat baik, hingga Siauw Ma merasa terharu dan berterima kasih sekali kepada si penghisap pipa dan orang-orang kampung itu.
Ia berlutut dan bersembahyang di depan makam ibunya dan bermalam di kuburan itu semalam penuh.
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali ia minta diri dari si pengisap pipa dan semua penduduk kampung, untuk pergi melanjutkan perantauannya.
Si pengisap pipa mengantarnya sampai di luar kampung.
"Siauw Ma, memang pesan ibumu itu hanya pesan seorang wanita yang tak dapat melupakan kepentingan puteranya biarpun sudah mendekati matinya. Kau adalah putera tunggal dan kewajibanmu terakhir ini untuk berbakti kepada ibumu, bagaimanapun juga harus kau penuhi. Tapi... kalau dapat diikhtiarkan... kulihat dulu bahwa gadis gagu itu cukup baik dan menarik. Kuharap saja kau tidak akan membunuhnya!"
Siauw Ma memegang lengan si penghisap pipa.
"Jangan khawatir, Lopeh. Aku takkan membunuh dia, bukan hanya belum tentu aku dapat menangkan dia, tapi juga tak mungkin aku dapat melakukan hal itu. Kami... kami telah berkenalan dan menjadi kawan, Lopeh."
Giranglah si pengisap pipa itu mendengar ini.
"Kalau begitu, kau... kau akan mengawininya?"
Tanyanya dengan wajah berseri gembira. Melihat kegairahan orang tua itu, mau tidak mau Siauw Ma terpaksa tersenyum lalu berkata perlahan sambil geleng kepala.
"Hal ini takkan semudah itu, Lopeh."
Orang tua itu sedot pipanya lalu berkata sungguh-sungguh.
"Besar harapanku sebelum aku mati akan dapat melihat kau datang ke kampung kita dengan dia sebagai isterimu!"
Kata-kata ini masih bergema dalam telinganya ketika Siauw Ma meninggalkan kakek pengisap pipa itu.
Dengan diam-diam iapun ikut mengharapkan sebagaimana yang diharapkan orang tua itu!
Siauw Ma berlari cepat melalui hutan di kaki Pegunungan Thang-la.
Tiba-tiba terdengar suara orang berseru.
"Hai, orang di depan. Berhenti kau!"
Siauw Ma heran sekali karena suara itu adalah suara seorang wanita.
Iapun tahan kakinya dan balikkan tubuh.
Seorang pendeta wanita yang sudah tua tapi yang memiliki ilmu lari cepat sekali mengejar dari belakang dan kini telah berdiri di depannya.
Pendeta wanita atau nikouw itu memegang sebuah kebutan yang panjang.
Dengan matanya yang bersinar sedih pendeta wanita itu memandang wajah Siauw Ma dengan penuh perhatian.
Siauw Ma merasa kenal kepada pendeta wanita ini, tapi ia lupa lagi di mana ia pernah bertemu dengan nikouw yang sekarang berdiri di hadapannya.
Maka ia lalu menjura untuk memberi hormat dan bertanya.
"Lo subo mengapa suruh teecu berhenti? Ada keperluan apakah?"
"Anak muda, kau siapakah dan mengapa kau berlari-lari secepat itu?"
Nikouw itu balas bertanya.
"Teecu bernama Siauw Ma,"
Jawab Siauw Ma dan merasa heran melihat sikap pendeta wanita yang kelihatan marah dan tak senang hati ini.
"Siapa gurumu?"
Pendeta wanita itu bertanya lagi, sikapnya seperti orang memaksa minta jawab.
Siauw Ma merasa tak senang tapi karena wajah nikouw itu tampak seperti orang yang sedang menderita sedih, ia bersabar hati dan menjawab juga.
"Suhuku ialah Beng Beng Hoatsu."
"Ha, benar dugaanku. Jadi gurumu ialah Beng Beng si jahat!"
Dan berbareng dengan kata-katanya itu, ia mencabut pedang yang terselip di punggungnya!
Kemudian nikouw itu melempar jubah luarnya.
Kini Siauw Ma dapat melihat lukisan bunga teratai besar di dada nikouw itu dan teringatlah dia.
"Kau... kau... bukankah Kim Hwa Sianli dari Kwan-im-kauw?"
Tanyanya. Kim Hwa tersenyum sindir.
"Bagus, jadi kau kenal aku? Sekarang aku ingat, kau adalah anak laki-laki yang dulu ikut Beng Beng! Nah, kau sambutlah seranganku ini!"
Langsung saja Kim Hwa Sianli maju menyerang dengan pedang dan kebutannya dengan gerakan yang hebat! Tentu saja Siauw Ma menjadi kaget sekali. Ia cepat loncat berkelit dan berkata.
"Eh, kenapa datang-datang menyerang orang?"
Namun Kim Hwa Sianli tidak perdulikan protes anak muda itu, ia terus menyerang dengan tipu-tipu gencar dan lihai hingga Siauw Ma tidak berani berlaku ayal.
Ia tahu bahwa ilmu silat pendeta ini lihai sekali, maka cepat ia cabut keluar Sin-Liong-kiam dari pinggangnya dan menangkis.
Mula-mula ia mengalah dan gunakan senjatanya untuk membela diri saja, tapi karena nikouw itu tidak memberi kesempatan padanya untuk berlaku seenaknya, perlahan-lahan ia tak mungkin hanya menangkis saja tanpa balas menyerang.
"Apakah kau tidak mau terangkan sebabnya kau menyerangku?"
Sekali lagi Siauw Ma membentak.
Tapi nikouw itu tanpa menjawab segera kirim serangan yang lebih hebat.
Kali ini Siauw Ma tidak mau mengalah lagi dan ia keluarkan kepandaiannya.
Pedangnya bergerak cepat bagaikan naga menyambar dan sebentar sinar pedangnya mengurung lawannya.
Tiba-tiba Kim Hwa Sianli loncat mundur dan berseru.
"Tahan!"
Siauw Ma tahan pedangnya, hatinya puas karena ia menduga bahwa nikouw itu merasa jerih padanya setelah ia keluarkan ilmu pedangnya.
Dengan perlahan ia masukkan pedang ke dalam sarung pedangnya kembali.
Tapi kata-kata yang dikeluarkan nikouw itu membuatnya makin heran.
Nikouw itu geleng-geleng kepala dan berkata.
"Bukan, bukan kau orangnya!"
"Eh, sebenarnya apakah kehendakmu, Kim Hwa Sianli yang terhormat? Kenapa kau sengaja hendak menghina orang muda?"
Kini Kim Hwa Sianli pandang padanya dengan tersenyum. Kedua matanya menyinarkan pandang kagum.
"Ilmu silatmu hebat sekali, anak muda. Kau tidak kecewa menjadi murid Beng Beng Hoatsu. Sayang bukan kau orang yang kucari!"
"Kalau aku orang yang kau cari, bagaimana!"
"Kalau kau orang yang kucari, kau akan kubunuh!"
Siauw Ma tersenyum.
"Ah, ternyata kau orang tua masih belum merubah adatmu yang galak."
Dengan cara terus terang Siauw Ma keluarkan pendapatnya. Kim Hwa Sianli tidak marah, bahkan melihat kepolosan pemuda itu, ia lalu bercerita.
"Kau tentu heran mengapa datang-datang aku menyerangmu. Sebenarnya aku hendak mencoba kepandaianmu untuk menguji, apakah kau orang yang kucari. Ternyata bukan, kepandaianmu cukup lihai, tapi tidak seaneh kepandaian dia."
"Dia siapakah yang kau maksudkan?"
"Dia, pencuri patung kami."
Siauw Ma memandang pendeta wanita tua itu dengan mata terbelalak.
"Apa? Patung Dewi Kwan-im itu hilang lagi?"
Kim Hwa Sianli mengangguk sedih.
"Bukan hanya patung itu hilang, tapi pencurinya bahkan telah membunuh Cin Hwa Sianli dan Kim Bok Sianjin."
Kini Siauw Ma benar-benar terkejut.
"Dan tadi kau menyangka bahwa teecu orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu?"
Nikouw tua itu menghela napas.
"Aku bingung sekali. Pencuri dan pembunuh yang datang mengacau kelenteng kami sebulan yang lalu adalah seorang pemuda.
"Ia memakai kedok sutera hitam hingga aku tidak dapat mengenal mukanya. Tubuhnya tegap dan ia masih muda benar, tapi kepandaiannya sangat aneh dan lihai.
"Ia berhasil menewaskan kedua saudaraku dan mencuri patung kami. Aku telah bertempur melawan dia beberapa lama, tapi ia dapat melarikan diri sambil membawa lari patung itu.
"Karena suhumu dan kedua tokoh Thang-la yang lain pernah ribut memperebutkan patung itu, maka dugaanku tidak lain tentu murid-murid Thang-la Sam-sian yang datang mengacau.
"Kalau bukan murid Thang-la yang berkepandaian tinggi, siapa lagi? Tapi ternyata bukan kau, karena ilmu silatmu berbeda dengan pencuri itu."
Sehabis berkata demikian, Siauw Ma melihat betapa mata pendeta wanita itu mengeluarkan air mata yang menuruni ke dua pipinya yang telah dimakan keriput. Timbullah rasa iba di hatinya.
"Kurang ajar betul pencuri itu. Jangan khawatir, teecu Siauw Ma pasti akan membantu membekuk batang leher maling jahat itu!"
Tapi Kim Hwa Sianli biarpun sudah tua masih mempunyai keangkuhan dan kesanggupan untuk membalas dendam, maka ia hanya tersenyum tawar dan berkata.
"Kau bukan pencurinya sudah cukup baik. Nah, selamat tinggal."
Nikouw tua itu lalu menggerakkan tubuhnya dan tubuhnya melayang pergi dengan cepatnya. Siauw Ma menghela napas dan berkata dalam hati.
"Heran sekali, patung Kwan-im Pouwsat itu mengapa selalu dicuri penjahat? Apanyakah yang berharga hingga penjahat itu tak segan-segan membunuh dua orang ketua Kwan-im-kauw?"
Kemudian iapun lari keluar dari hutan dan melanjutkan perjalanannya.
Pada suatu hari Siauw Ma masuk ke dalam kota Bie-koan.
Di depan sebuah kelenteng tua yang berpekarangan lebar, ia melihat panggung lui-tai, yakni tempat orang bermain silat, yang didirikan di depan kelenteng itu.
Panggung itu masih baru dan tingginya hampir dua tombak.
Di sekeliling panggung itu berdiri banyak sekali penonton hingga keadaan menjadi ramai dan hati Siauw Ma tertarik, maka iapun memasuki pekarangan dan mendekati panggung itu.
Ternyata di atas panggung berdiri dua orang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai ahli-ahli silat.
Kedua orang itu berusia kira-kira empatpuluh tahun dan tubuh mereka tegap.
Seorang di antaranya yang lebih tua dan mempunyai wajah peramah, berdiri dan rangkapkan kedua tangan sambil menjura ke sekeliling panggung.
"Cu-wi yang mulia, seperti yang telah kami nyatakan tadi, kami berdua saudara Oei tidak sekali-kali hendak pamerkan kepandaian yang masih rendah atau mencari permusuhan. Maksud kami mendirikan lui-tai ini bukan lain hendak berkenalan dengan para enghiong yang gagah perkasa di seluruh tempat. Maka kami persilahkan kepada para enghiong di tempat ini, sudilah kiranya memperkenalkan diri dan memberi tambahan pengertian kepada kami berdua."
Ternyata sikap orang itu halus dan sopan hingga Siauw Ma merasa suka dan tertarik. Ia bertanya kepada seorang penonton yang berdiri di dekatnya.
"Lauw-ko, sudah berapa lamakah kedua saudara itu membuka lui-tai di sini?"
Orang itu memandangnya dan menaruh perhatian ketika melihat betapa di pinggang Siauw Ma tergantung sebuah pedang.
"Mereka telah tiga hari membuka lui-tai dan selama itu mereka telah pertunjukkan kepandaian mereka yang luar biasa. Telah banyak guru silat yang naik dan mencoba kepandaian mereka, tapi tak seorangpun dapat mengalahkan mereka."
"Jadi keduanya itu sengaja menjatuhkan para guru silat di sini?"
Tanya Siauw Ma heran.
"O tidak, mereka baik sekali. Biarpun mereka menang tapi mereka tidak pernah jatuhkan pukulan. Mereka betul-betul hanya hendak adu kepandaian belaka dan mencari persahabatan. Para orang gagah yang mereka kalahkan tidak ada yang mendapat malu atau merasa kurang senang, bahkan semua lalu berkenalan dan memuji kedua orang she Oei itu."
Tapi pada saat itu tampak dua bayangan tubuh loncat naik ke atas lui-tai.
Gerakan mereka menarik dan cepat sekali hingga para penonton lalu cepat mendekati lui-tai dan memuji.
Tapi alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa yang loncat naik itu adalah dua orang pengemis.
Yang menarik perhatian adalah baju kedua pengemis itu karena baju yang mereka pakai adalah baju penuh tambalan, tapi semua tambalannya adalah terbuat dari kain berkembang hingga baju mereka menarik sekali, berkembang-kembang dengan warna beraneka ragam!
"Celaka, mereka adalah anggauta-anggauta Hwa-ie-kai!"
Terdengar seorang berkata perlahan. Siauw Ma yang mendengar itu lalu mendekati orang itu dan bertanya.
"Apakah itu Hwa-ie-kai?"
Tanyanya.
"Hwa-ie-kai atau Pengemis Berbaju Kembang adalah sekumpulan pengemis yang besar sekali pengaruhnya di selatan. Kau tentu bukan orang sini maka tidak kenal mereka,"
Orang itu memandang Siauw Ma dengan curiga.
Pada saat itu kedua saudara she Oei sudah berdiri dan menyambut kedatangan kedua pengemis itu dengan menjura memberi hormat.
Mereka tahu bahwa kedua pengemis yang masih muda ini bukanlah orang-orang sembarangan karena gerakan loncat mereka tadi sungguh cepat dan lihai.
Sebagai orang-orang yang berpengalaman, mereka juga pernah mendengar nama Hwa-ie-kai yang berpengalaman, bahkan mereka juga telah bertemu dengan ketua Hwa-ie-kai, maka kini melihat dua orang Hwa-ie-kai dengan ikat pinggang warna biru, mereka tahu bahwa yang naik itu adalah pengemis-pengemis tingkat tiga.
Sepanjang pengetahuan mereka, pengemis-pengemis Hwa-ie-kai terbagi menjadi beberapa tingkat.
Tingkat pertama tentu saja ketua Hwa-ie-kai sendiri, sedangkan tingkat kedua adalah pengemis-pengemis berikat pinggang kuning.
Tingkat ketiga adalah pengemis berikat pinggang biru.
Maka mengertilah kedua saudara Oei bahwa kedua pengemis itu tentu memiliki kepandaian tinggi.
"Ji-wi pheng-yu (sahabat) sudi naik ke lui-tai kami, sungguh merupakan kehormatan besar. Bagaimana dengan keadaan pang-cu perkumpulan ji-wi? Kami harap saja pang-cu (ketua) dalam sehat dan baik-baik saja."
Seorang dari pada kedua saudara Oei itu menyambut dengan senyum lebar. Tapi kedua pengemis itu hanya tersenyum menghina. Seorang pengemis yang berkepala gundul dan penuh kudis berkata menyindir.
"Pang-cu kami apa hubungannya dengan lui-tai kalian? Kami sudah datang, maka lekaslah kalian mengeluarkan kepandaian untuk mencoba-coba kami."
Mendengar ucapan yang terang mencari-cari perkara dan permusuhan ini, ke dua saudara Oei masih memperlihatkan sikap sabar.
"Harap ji-wi tidak salah paham. Telah kami nyatakan bahwa kami membuka lui-tai untuk mencari persahabatan dengan semua orang gagah. Kami sekali-kali tidak hendak menjual kepandaian, apa lagi di depan kedua jiwi yang terhormat dan berkepandaian tinggi, mana kami berani memperlihatkan kebisaan yang rendah?"
"Hem, hem, apakah kalian tidak menganggap kami termasuk orang-orang gagah maka tidak mau membuat perkenalan? Ah, kamu orang-orang dari Siauw-lim-si memang terkenal sombong! Hayo, kalian layani kami berdua, kalau tidak berani, lebih baik gulung tikar dan jangan banyak jual lagak di sini!"
Pengemis ke dua yang giginya ompong berkata dengan marah.
Mendengar kata-kata itu, Siauw Ma menjadi tidak senang, apa lagi setelah diketahui bahwa kedua saudara Oei itu adalah murid-murid cabang Siauw-lim-si karena ia sendiri pernah dididik oleh seorang guru silat Siauw-lim.
Maka ia memandang lui-tai dengan penuh perhatian.
Ternyata kedua saudara Oei itupun tidak dapat menahan sabar lagi.
Mereka tersenyum pahit dan berdiri lalu berkata.
"Kalau ji-wi memaksa, apa boleh buat, kami tak dapat tidak harus melayani kalian."
Para penonton menjadi berdebar dan suasana sangat tegang karena mereka menduga bakal terjadi perkelahian yang betul-betul seru dan hebat.
Tapi semua hati berpihak kepada kedua saudara Oei hingga diam-diam mereka mengharapkan kemenangan kedua saudara dari cabang Siauw-lim-si itu.
Tapi Siauw Ma berpendapat lain.
Ia tahu dari gerak-gerik mereka bahwa kedua saudara she Oei itu bukanlah lawan kedua pengemis muda yang memiliki lwee-kang tinggi, maka ia memandang dengan khawatir.
Melihat betapa kedua saudara Oei itu telah pasang kuda-kuda dan siap melayani mereka, kedua pengemis itu tertawa besar lalu dengan secara tiba-tiba mereka kirim pukulan kilat.
Kedua murid Siauw-lim cukup awas dan hati-hati.
Mereka menangkis dan balas menyerang hingga sebentar saja di atas panggung itu terjadi pertempuran yang seru.
Empat orang itu bertempur dengan sengitnya dan tidak mau saling mengalah.
Kini pertempuran terjadi berbeda dengan perkelahian kemarin, karena kemarin itu di atas panggung bukan terjadi perkelahian, hanya lebih pantas disebut mempertontonkan kepandaian dan mengukur ilmu silat masing-masing belaka.
Sekarang yang bertempur ada empat orang dan semua serangan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tak sungkan-sungkan.
Benar sebagaimana yang dikhawatirkan Siauw Ma, sebentar saja kedua saudara Oei itu terdesak hebat.
Kedua pengemis itu melancarkan serangan-serangan berbahaya, dibarengi tenaga lwee-kang yang jauh lebih tinggi dari pada tenaga ke dua saudara Oei.
Baiknya ilmu silat Siauw-lim-si mempunyai dasar yang kokoh kuat dan ilmu silat ini jika digunakan untuk membela diri sangat teguh hingga tak mudah bagi kedua pengemis itu untuk segera menjatuhkan kedua murid Siauw-lim-si itu.
Akan tetapi karena terdesak dan panggung di situ sempit hingga mereka harus berputar-putar sambil mundur, akhirnya mereka berdua kena terpukul.
Saudara Oei pertama terpukul dadanya hingga ia terlempar ke bawah panggung sambil muntahkan darah, sedangkan yang kedua kena tertendang perutnya hingga ia terpental lebih jauh ke bawah panggung dan jatuh terus pingsan!
Tentu saja hal ini membuat panik para penonton, tapi banyak orang segera menolong kedua saudara Oei itu, terutama para guru silat yang pada hari-hari kemarin telah mengikat persahabatan dengan kedua saudara Oei.
Mereka segera membawa kedua saudara itu pulang untuk diobati.
Hati mereka panas sekali, tapi mereka telah melihat kelihaian kedua pengemis Hwa-ie-kai itu hingga tidak ada seorangpun yang berani naik menuntut bela.
Setelah menjatuhkan kedua lawannya, kedua pengemis itu dengan sombong sekali tertawa bergelak-gelak.
"Ha, ha, sam-te, tak kusangka kedua cacing pita she Oei itu hanya sedemikian saja kepandaiannya!"
Si pengemis gundul berkata kepada kawannya.
"Memang mereka itu hanya lagaknya saja yang besar, ji-ko,"
Jawab pengemis ompong.
Lalu dengan sombongnya ia berkata kepada para penonton hingga mulutnya yang ompong tampak nyata dan mengherankan orang yang melihatnya betapa seorang yang masih begitu muda sudah ompong!
"Saudara-saudara sekalian!
Telah kalian lihat betapa cacing pita she Oei itu tak lain hanya gentong kosong belaka!
Orang macam itu mana ada harganya untuk mencari sahabat dengan orang-orang gagah di kalangan kang-ouw?
"Tapi kami bukanlah orang-orang pengecut yang tidak berani menanggung jawab tindakan kami.
Kalau ada kawan-kawan cacing pita she Oei yang hendak menuntut balas, silahkan naik sekarang juga agar lebih lekas dapat kami bereskan!"
"Ya, ya! Kalau ada jagoan Siauw-lim-si lagi, boleh naik segera, kami tak mau menunggu lama-lama di sini!"
Menyambung pengemis gundul.
"He, setan gundul dan siluman ompong! Kalau yang naik bukan orang Siauw-lim, bagaimana?"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring.
Siauw Ma dan orang-orang di situ heran sekali melihat betapa yang membentak itu adalah seorang pemuda berpakaian sasterawan yang tampan sekali, tapi yang tampaknya lemah lembut.
Karena pemuda itu berada di tengah-tengah sekelompok penonton yang banyak jumlahnya, kedua pengemis itu tak dapat menemukannya dan mereka hanya memandang ke arah kelompok penonton itu dengan mata marah.
"Cecunguk mana yang berani berkata-kata? Tak perduli orang Siauw-lim-si atau bukan, jika di antara kamu ada orang yang pandai dan berani, jangan hanya buka mulut, naiklah!"
Karena sambil bicara demikian kedua pengemis itu memandang ke sekeliling dengan sikap menantang sekali.
Siauw Ma tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Sekali berkelebat ia telah berada di atas panggung dan berdiri sambil bertolak pinggang.
"Heran sekali di dunia ada monyet-monyet seperti kamu orang,"
Siauw Ma menegur.
Kedua pengemis itu membalikkan tubuh dan terkejut sekali mereka karena mereka sama sekali tidak mendengar datangnya anak muda yang tampan dan gagah itu.
Mereka menduga bahwa yang membentak tadi tentu pemuda ini maka mereka berdua segera menubruk dalam serangan yang ganas.
Tapi sekali mengulur kedua lengannya, Siauw Ma telah berhasil menjambret leher baju kembang itu dan dengan ringan sekali kedua tangannya mengangkat tubuh kedua pengemis dan memutar-mutarkan mereka di atas kepalanya.
Gerakannya demikian cepat dan tak terduga hingga kedua pengemis itu menjadi bingung dan tak sempat berbuat sesuatu!
Ketika mereka sadar dari herannya dan hendak bergerak melawan, tiba-tiba Siauw Ma melempar tubuh mereka jauh ke bawah panggung yang kosong agar tidak menimpa orang sambil berkata keras.
"Pergilah kamu berdua anjing busuk!"
Perbuatannya yang luar biasa ini di sambut oleh sorak-sorai yang riuh-rendah dari para penonton karena kagum, heran, dan suka hati melihat betapa pengemis sombong itu diberi hajaran.
Tapi tempik sorak mereka tiba-tiba terhenti ketika melihat kejadian yang lebih aneh lagi!
Kedua pengemis itu bagaikan dua buah balok kayu melayang ke bawah panggung dan tahu-tahu di situ telah berdiri pemuda sasterawan yang cakap dan yang tadi membentak!
Pemuda cakap itu mengulur kedua lengannya seperti gerakan yang dibuat oleh Siauw Ma tadi, lalu dengan ringannya ia menangkap kedua pengemis itu pada leher baju mereka!
Kemudian, sambil berkata.
"Hajaran belum cukup!"
Ia memutar-mutar tubuh kedua pengemis itu di atas kepala seperti yang diperbuat oleh Siauw Ma tadi dan langsung melempar kedua pengemis itu kembali ke atas panggung.
Kedua tubuh itu menyambar ke atas, ke arah Siauw Ma yang berdiri bengong dan yang lalu tertawa gembira melihat permainan pemuda sasterawan yang "lemah lembut"
Itu!
Ia tidak menyambuti kedua tubuh itu, tapi menggunakan kedua ujung kaki dengan cepat bergerak menendang kedua tubuh itu kembali ke arah pemuda sasterawan di bawah panggung dengan kecepatan luar biasa!
Pemuda sasterawan itupun tertawa, suara ketawanya nyaring dan panjang, lalu dengan mengangkat ke dua tangannya ia gerakkan kepalan ke arah tubuh yang masih melayang ke arahnya.
Heran sekali, tubuh kedua pengemis itu yang masih berada di udara dan melayang ke arah bawah panggung, tiba-tiba seperti terdorong oleh tenaga raksasa, tahu-tahu mereka terlempar kembali ke atas panggung!
Siauw Ma terkejut sekali.
Ia tahu pemuda itu lihai, tapi tak disangkanya pemuda itu memiliki tenaga lwee-kang sedemikian tinggi hingga dengan gerakan Pai-in-cut-siu atau Dorong Awan Keluar Puncak dapat memukul kembali tubuh itu dalam jarak yang demikian jauh!
Ternyata pemuda itupun seorang ahli silat tinggi.
Maka iapun tidak mau kalah.
Dengan cepat ia gerakkan kedua lengannya dan menyampok ke arah tubuh yang melayang ke arahnya dengan gerakan Ombak Laut Terbawa Angin.
Dan seperti tadi, kedua tubuh itupun membal kembali seperti terdorong oleh tenaga raksasa!
"Bagus!"
Pemuda sasterawan itu berkata sambil tersenyum dan iapun mendorong kembali seperti tadi.
Siauw Ma juga terdorong kembali.
Maka perang tanding di antara kedua pemuda itu yang mengadu kekuatan lwee-kang terjadilah dengan hebatnya!
Para penonton menahan napas dan kepala mereka bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya mengikuti jalannya tubuh kedua orang itu, bagaikan orang sedang nonton bola yang dilempar ke kanan kiri pulang pergi!
Yang paling celaka adalah kedua pengemis itu karena tubuh mereka harus mengalami gempuran-gempuran dua tenaga lwee-kang yang sangat tinggi!
Karena ke dua pemuda itu bergerak dengan berbareng, maka akhirnya tenaga mereka bertemu di udara hingga kedua tubuh itu untuk sesaat tergantung di udara tak bergerak!
Mereka tergencet di antara dua tenaga lwee-kang yang saling dorong hingga ke kanan tidak, ke kiripun tidak!
Siauw Ma tahu bahwa permainan ini tak dapat diteruskan tanpa terjadi salah paham, maka iapun tarik lengannya, sambil loncat berkelit cepat agar jangan sampai terpukul tenaga lawan dan sambil tarik kedua lengan ia kerahkan lengan sedemikian rupa ke arah lantai untuk membuang tenaga yang ditarik kembali dan yang terdorong oleh tenaga lawan hingga terdengar suara "krak!!!"
Dan papan lantai itu pecah berlubang!
Pemuda sasterawan itupun tarik kembali kedua lengannya dan kini tubuh pengemis itu tiba-tiba melayang turun dan jatuh terbanting di atas tanah!
Ketika orang-orang melihatnya, ternyata kedua pengemis itu telah putus napasnya!
"Maaf, maaf!"
Pemuda sasterawan itu berkata ke arah Siauw Ma sambil melemparkan senyum di wajahnya yang tampan, lalu cepat ia meloncat pergi meninggalkan tempat itu! "Hei, sobat, tunggu dulu!"
Siauw Ma berseru dan meloncat mengejar.
Para penonton menjadi sangat kagum, heran dan bingung karena mereka hanya melihat dua bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu kedua pemuda yang gagah perkasa dan aneh itu telah lenyap dari situ!
Selama hidup belum pernah melihat yang seaneh itu, maka tentu saja mereka tidak habisnya membicarakan kedua pemuda lihai itu.
Mayat kedua pengemis juga diurus dengan baik oleh para guru silat di kota Bie-koan.
Siauw Ma mengerahkan seluruh kepandaian ilmu lari cepatnya untuk mengejar bayangan pemuda di depannya itu.
Tapi ternyata jarak antara pemuda itu dan dia tetap tidak berubah hingga ia makin kagum saja.
Dalam hal ilmu lari cepatpun pemuda itu tidak di bawah dia!
Tapi pemuda itupun diam-diam kagum sekali karena betapapun ia mengerahkan gin-kangnya, tetap saja Siauw Ma berada di belakangnya dan tidak tertinggal jauh.
Sebentar saja mereka telah lari puluhan lie jauhnya dan akhirnya pemuda itu berhenti di dekat sawah yang sepi dan menanti datangnya Siauw Ma sambil tersenyum.
Senyum inilah yang menarik hati Siauw Ma karena tiap kali tersenyum pemuda itu tampak demikian tampan dan menarik hingga siapa saja tentu akan senang bersahabat dengannya.
Setelah berhadapan, Siauw Ma menjura dengan hormat dan pandang wajah pemuda itu dengan kagum dan muka berseri.
"Sahabat, sudilah memperkenalkan diri padaku. Aku kagum sekali melihat kepandaianmu,"
Katanya. Pemuda itupun merendah dan balas menjurah.
"Kau lah yang membuat orang kagum. Kepandaianmu jauh lebih hebat dari pada sedikit kemampuan yang kumiliki."
"Namaku Siauw Ma dan aku adalah murid Beng Beng Hoatsu dari Thang-la di puncak Gunung Harimau Salju. Mohon tanya nama saudara yang mulia."
"Siauwte adalah seorang tak terkenal. Siauwte she Souw bernama Eng dan sedikit kepandaian yang siauwte miliki adalah pemberian seorang yang tak mau disebut namanya."
Melihat tutur bahasa yang sopan dan sikap yang merendah dari pemuda itu. Siauw Ma makin suka dan mereka bercakap-cakap dengan gembira.
"Bolehkah aku mengetahui, saudara hendak ke mana? Apakah mempunyai tujuan yang tetap?"
Tanya Siauw Ma ketika mereka telah berjalan perlahan di sepanjang pinggir sawah. Pemuda itu geleng-geleng (Lanjut ke
Jilid 10) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 kepala.
"Aku merantau tanpa tujuan, tanpa sanak tanpa kadang tanpa cita-cita, ke mana saja sepanjang kakiku membawa diriku."
Mendengar jawaban ini, Siauw Ma makin merasa cocok, karena keadaan itu justeru sama benar dengan keadaannya sendiri.
Bukankah ia juga tak bersanak dan berkadang dan tak mempunyai tujuan tetap?
"Kalau begitu, jika kau tidak keberatan, aku akan merasa suka dan terhormat sekali bila kau mau terima aku sebagai kawan seperjalanan.
Akupun sedang merantau tanpa tujuan tetap."
Untuk sejenak pemuda sasterawan itu memandangnya dengan pandang curiga dan tajam hingga Siauw Ma merasa heran, tapi kemudian Souw Eng tersenyum.
"Mengapa tidak? Asal kita tidak saling ganggu dan tidak saling menghalangi, kurasa tidak salahnya kita jalan bersama."
Siauw Ma merasa girang sekali. Karena pemuda ini memang jujur, ia tidak sembunyikan rasa girangnya dan dengan gembira sekali ia pegang tangan sahabatnya dan berkata.
"Kau lebih muda dari padaku, biarlah aku menyebutmu adik Souw dan kau boleh panggil aku twako, bukankah ini lebih baik?"
Siauw Ma merasa heran ketika tangan yang berkulit halus itu tiba-tiba mengeras dan merenggut lepas dari pegangannya.
Tapi ketika ia pandang wajah Souw Eng, pemuda sasterawan itu sama sekali tidak nampak marah, bahkan tersenyum dan menjawab.
"Baik sekali, twako!"
Siauw Ma terbelalak heran.
Aneh betul tabiat kawan barunya ini.
Wajahnya tersenyum dan menyatakan baik, tapi kenapa dengan keras dan kasarnya ia merenggutkan tangannya yang terpegang?
Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan bercakap-cakap gembira.
Ternyata Souw Eng suka sekali bicara dan pemuda ini memang pandai tentang ilmu kesusasteraan, terutama pandai sekali bersyair!
Tiap kali melihat Souw Eng tersenyum, maka berdebarlah jantung Siauw Ma.
Ia seperti pernah melihat senyum itu!
Senyum yang menarik hati dan mendebarkan dadanya.
Tapi ia lupa lagi di mana ia melihatnya dan siapa yang tersenyum semanis itu!
Pernah pikirannya melayang kepada Lian Eng, gadis gagu yang selalu terbayang di depan matanya.
Tapi segera ia mengusir perbandingan ini.
Lian Eng seorang gadis gagu pula...
Pemuda ini adalah seorang yang pandai sekali bicara!
Karena kedua pemuda itu melanjutkan perjalanan dengan berjalan perlahan sambil mengobrol dan menikmati pemandangan alam, maka sebentar saja mereka tersusul oleh empat orang yang sejak tadi mengejarnya dengan berlari cepat.
Mereka ini bukan lain ialah ketua Hwa-ie-kai atau Perkumpulan Pengemis Baju Kembang, seorang pengemis tua yang berkepandaian tinggi dan mendapat julukan Hwai-ie-kai-ong atau Raja Pengemis Baju Kembang.
Dari baju sampai ke celana dan sepatunya, terbuat dari kain berkembang hingga ia merupakan tontonan yang aneh!
Usianya sudah limapuluh lebih, tubuhnya tinggi kurus dan rambutnya panjang tak terpelihara.
Ketiga orang lain adalah murid-murid kepalanya, yakni pengemis-pengemis yang berikat pinggang kuning.
Mereka inipun bukannya orang-orang lemah dan kepandaian mereka cukup terkenal.
Souw Eng dan Siauw Ma berlenggang seenaknya, seakan-akan tidak mendengar akan datangnya ke empat orang dari belakang itu.
Tapi sesungguhnya bukan sekali-kali mereka tidak mendengar, karena ketika seorang pengemis ikat pinggang kuning dengan marah mengayun tangannya dan empat butir peluru kuningan menyambar ke arah kedua anak muda itu dari belakang, Siauw Ma dan Souw Eng tanpa menengok mengulur tangan ke belakang dan menangkap dua butir peluru yang menyambar ke arah masing-masing!
Setelah ke empat pengejarnya berada dekat di belakang, mereka saling memandang dan berkedip, lalu berhenti dan membalikkan tubuh, tapi pura-pura tidak melihat ke empat pendatang itu.
"Hei, orang muda! Apakah kalian yang membunuh mati murid-murid kami di Bie-koan tadi?"
Seorang pengemis botak berikat pinggang kuning bertanya kasar.
"Bukan kami yang membunuh mati, tapi merekalah yang mencari mampus sendiri. Mengapa kau tanyakan hal itu kepada kami?"
Souw Eng balas bertanya dengan halus tapi cukup tajam.
"Jangan kau lancang mulut, anak muda!"
Si raja pengemis mencela.
"Coba terangkan, mengapa kalian memusuhi kaumku dan terangkan siapakah kalian dan siapa guru kalian?"
Souw Eng tersenyum dan berpaling ke pada Siauw Ma.
"Twako, coba kau yang menjelaskan kepadanya, karena aku menjadi pening kalau lama-lama memandang pakaiannya."
Siauw Ma geli mendengar kata-kata kawannya dan ia anggap Souw Eng nakal dan lucu.
Karena menghadapi seorang yang usianya lebih tua, maka Siauw Ma tidak mau melanggar peraturan kesopanan.
Ia menjura dan berkata dengan suara halus.
"Sesungguhnya kami berdua orang muda tidak sekali-kali hendak memusuhi siapa-siapa juga tidak hendak memusuhi kaum Hwa-ie-kai yang terkenal. Akan tetapi, telah menjadi kebiasan kami berdua, dan untuk mentaati pesan suhuku, tiap kali melihat hal-hal yang tak pantas, tak dapat tidak kami harus turun tangan.
"Kedua anggauta Hwa-ie-kai yang mencari kematian sendiri itu terlalu jahat dan sombong. Tanpa alasan mereka mengacau dan melukai kedua saudara Oei yang tidak berdosa, kemudian mereka menyombong dan menghina orang-orang dari Siauw-lim-pai. Perbuatan dan sikap itu sekali-kali tidak dikehendaki oleh dunia kang-ouw yang mengutamakan kegagahan."
"Hm, agaknya kau hendak memberi pelajaran kepada kami, orang muda! Siapakah nama kalian dan siapa pula gurumu!"
"Siauwte bernama Siauw Ma dan kawanku ini bernama Souw Eng. Adapun suhuku bukan lain ialah Beng Beng Hoatsu dari Thang-la."
Pucatlah wajah Hwa-ie-kai mendengar nama Beng Beng Hoatsu.
Ia cukup kenal nama besar dari Beng Beng Hoatsu, seorang dari pada ketiga Thang-la Sam-sian yang ditakuti!
Tapi karena ia berhadapan dengan dua orang yang masih begitu muda, malulah ia kalau harus mengalah dan mundur begitu saja.
Ia juga bukan seorang yang tak bernama, maka tidak seharusnya kini ia takut dan mundur menghadapi anak-anak muda, biarpun anak muda itu murid Beng Beng Hoatsu sekali!
Maka ia segera tenangkan hatinya dan tersenyum sindir.
"Pantas, pantas! Tak heran kau lihai, tak tahunya murid dari suhu pandai! Kalau begitu, murid-murid kami itu tidak penasaran terjatuh dan binasa dalam tangan orang pandai.
"Tapi sekarang kita telah bertemu, tak dapat tidak kau harus layani aku barang seratus jurus. Ingin aku belajar kenal dengan ilmu silat tinggi dari Pegunungan Thang-la yang terkenal! Bersiaplah kau, anak muda!"
"He, nanti dulu!"
Souw Eng menegur ketika melihat raja pengemis itu hendak menyerang Siauw Ma.
"Twako, jangan kau borong sendiri! Yang berdosa kita berdua, maka untuk menerima hukumannya tak boleh kau serakahi semua. Biar aku menerima hukumanku dulu!"
Kemudian Souw Eng menjura kepada Raja Pengemis itu lalu berkata.
"Lo-Enghiong, kalau kau hendak memberi pelajaran, silahkan dan jangan tanggung-tanggung agar kami berdua puas menerimanya!"
Tadinya memang Hwa-ie-kai-ong tidak pandang mata kepada Souw Eng yang lebih muda dari pada Siauw Ma dan lebih kecil tubuhnya hingga tampak seperti seorang lemah.
Apa pula pakaiannya menunjukkan bahwa pemuda itu adalah seorang pelajar yang hanya kenal buku dan cinta, berbeda dengan Siauw Ma yang bertubuh tegap dan berwajah gagah.
Maka tentu saja ia merasa heran dan marah mendengar kata-kata mengandung tantangan ini.
"Anak muda, apakah kau juga murid dari Thang-la?"
Tegurnya.
"Mengapa Lo-Enghiong menyebut-nyebut Thang-la saja? Agaknya kau terlalu mementingkan orang-orang Thang-la saja dan berlaku berat sebelah. Apakah kalau aku bukan dari Thang-la kau lalu tidak mau memberi pelajaran?"
"Hm, anak muda, mulutmu celoteh sekali. Baiklah, biar kulihat apakah kaki tanganmu juga sepandai mulutmu itu. Nah, kau terimalah seranganku!"
Sambil berkata demikian Hwa-ie-kai-ong menggeser maju kakinya dan mengirim serangan kilat.
Harus diketahui bahwa raja pengemis itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang telah berpuluh tahun menjagoi daerah selatan dengan perkumpulannya yang cukup berpengaruh.
Ia adalah seorang ahli silat yang mahir sekali bermain silat dari cabang Bu-tong dan Siauw-lim.
Sebetulnya raja pengemis yang bernama Song Liat ini adalah bekas murid Siauw-lim yang tingkatnya cukup tinggi juga.
Tapi karena ia melanggar beberapa peraturan cabang Siauw-lim-pai, ia lalu dikeluarkan dan selain mendapat teguran keras, juga dicabut haknya sebagai anak murid Siauw-lim-pai.
Oleh karena inilah, maka Song Liat merasa sakit hati terhadap Siauw-lim-pai.
Tapi ia cukup tahu akan kekuatan dan kelihaian tokoh-tokoh Siauw-lim, maka tidak berani bertindak sembrono.
Ia lalu belajar silat dari cabang persilatan Bu-tong hingga mahir sekali.
Kemudian, setelah merantau berpuluh tahun dan memperdalam kepandaian silatnya dengan mempelajari pula ilmu pukulan dari lain-lain cabang, ia bertemu dengan seorang pengemis tua yang berbaju kembang-kembang.
Ia dikalahkan oleh pengemis ini dan kemudian ia menjadi murid pengemis itu.
Dari pengemis baju kembang yang aneh ini Song Liat menerima ilmu silat yang disebut Hwa-ie-kai-kun-hwat.
Setelah suhu baru ini meninggal dunia, maka Song Liat lalu mendirikan sebuah perkumpulan pengemis berbaju kembang dan mengangkat diri sendiri menjadi raja pengemis!
Sementara itu, ia perbaiki ilmu silatnya dengan mengkombinasikan pukulan-pukulan dari lain cabang persilatan hingga makin lihai saja.
Sayang Song Liat mempunyai tabiat sombong dan pengaruhnya besar sekali, hingga biarpun ia tidak pernah melakukan kejahatan, namun namanya tidak begitu bersih di kalangan kang-ouw.
Pula, ia mempunyai anggauta-anggauta yang banyak terdiri dari orang-orang gelandangan dan yang mengandalkan nama perkumpulannya lalu bertindak sewenang-wenang.
Tabiatnya yang sombong itulah yang membuat Hwa-ie-kai-ong itu tidak mau mundur walaupun ia mendengar bahwa Siauw Ma adalah murid dari seorang dari pada Thang-la Sam-sian, Tiga Dewa dari Thang-la.
Kini menghadapi Souw Eng, ia merasa bahwa lawan ini tentu seorang biasa saja, maka memandang rendah sekali dan tanpa banyak peradatan lagi kirim serangan kilatnya.
Akan tetapi, baru pada gebrak pertama saja ia dibikin terkejut oleh Souw Eng.
Ketika kepalan tangan raja pengemis itu menyambar datang, Souw Eng pura-pura tidak memperdulikannya, tapi begitu angin kepalan telah meniup dadanya, cepat pemuda sasterawan itu miringkan tubuh dan secepat kilat ia jambret lengan baju kembang lawannya dan membetotnya!
Karena betotan ini menambah tenaga pukulan yang dikerahkan, maka tak ampun lagi tubuh Hwa-ie-kai-ong ikut terbetot maju dan kuda-kuda kakinya tergempur hingga ia terhuyung ke depan tiga langkah!
Cepat ia perbaiki diri dan loncat membalik dengan heran dan marahnya.
Masa dia, si raja pengemis yang dimalui dunia kang-ouw, sekali gebrak saja hampir jatuh mencium tanah karena betotan seorang anak muda sasterawan!
Ia pandang Souw Eng dengan heran dan telinganya terasa panas ketika ia mendengar pemuda itu berkata.
"Ah, jangan tergesa-gesa, Lo-Enghiong. Hampir saja kau terjatuh! Kau belum beritahukan namamu kepada kami, tahu-tahu sudah mulai memberi pelajaran. Terangkan dulu namamu, Lo-Enghiong."
Hwa-ie-kai-ong marah sekali.
Ia kertak giginya dan tanpa menjawab ia menubruk dengan kedua tangan merupakan cakar garuda mencengkeram ke arah dada dan leher Souw Eng!
Inilah gerakan Eng-jiauw-kang yang lihai dan jahat!
Diam-diam Siauw Ma terkejut dan siap menolong kawannya bilamana perlu.
Tapi Souw Eng benar-benar lihai.
Dengan senyum masih menghias bibirnya ia gerak-gerakkan kedua tangannya dan buka sepuluh jarinya, kemudian cepat sekali jari-jarinya itu meluncur ke arah sambungan siku-siku lawan dari arah samping!
Gerakan ini cepat sekali dan aneh hingga Siauw Ma sendiri tidak mengenal gerakan kawannya itu, tapi langsung membuat Si Raja Pengemis dua kali terkejut!
Karena dengan cara-cara yang aneh, jari-jari lawannya itu dapat melewati tangan dan cengkeramannya dan sedikitpun tidak berkelit ketika kedua cakarnya mengarah pundak dan leher.
Akan tetapi, biarpun tidak berkelit, ternyata jari-jari tangan pemuda itu telah mendahului serangannya dan dengan jitunya meluncur hendak menotok siku-sikunya!
Kalau ia teruskan gerakannya mencengkeram, maka kedua sikunya akan tertotok lebih dulu dan ini berbahaya sekali, karena sekali kena totok, banyak kemungkinan sambungan lengannya akan terlepas!
Karena ini, maka terpaksa Si Raja Pengemis tarik kembali serangannya dan loncat mundur dengan muka makin terheran!
Sebenarnya Souw Eng tadi mendahului Siauw Ma hanya dengan maksud untuk menguji sampai di mana ketinggian ilmu silat lawan ini, karena betapapun juga, ia diam-diam masih belum percaya penuh akan kelihaian Siauw Ma dan takut kalau-kalau pemuda itu akan kalah.
Kini setelah melihat bahwa lawan si baju kembang ini ternyata tidak begitu berbahaya, muka iapun mundur sambil berkata kepada Siauw Ma.
"Twako, dia tidak mau memberitahukan namanya, biarlah aku tidak mau menerima pelajaran. Biar kau saja yang menerima hukuman!"
Siauw Ma yang kagum melihat gerakan-gerakan Souw Eng, tidak mengerti mengapa kawannya itu mengundurkan diri.
Ia sangka bahwa Souw Eng benar-benar tidak suka melayani lawan ini karena si lawan tidak mau memberitahukan nama.
Maka iapun maju menghadapi Hwa-ie-kai-ong dan berkata.
"Lo-Enghiong, kurasa, permintaan kawanku tadi cukup pantas. Kami telah memberitahukan nama kami, maka sudah sewajarnya kalau kau memberitahukan namamu dan nama kawan-kawanmu ini."
Dengan mata mendelik Raja Pengemis itu menjawab.
"Kami adalah orang-orang tak berarti. Aku ialah ketua Hwa-ie-kai, dan ketiga orang ini adalah murid-muridku."
"Ah, tidak tahunya Hwa-ie-kai-ong sendiri yang mengejar kami. Nah, sekarang terserah kehendak tai-ong, siauwte hanya menurut saja."
Sengaja Siauw Ma menyebut tai-ong yang artinya raja besar, atau yang biasanya digunakan untuk menyebut seorang kepala perampok!
"Sudahlah, jangan banyak cakap.
Kalau memang kau memiliki kepandaian, jatuhkan aku!"
Setelah berkata demikian, Si Raja Pengemis lalu maju menyerang Siauw Ma.
Ketika menyerang Souw Eng tadi, ia pandang rendah pemuda itu maka menyerang secara sembrono sekali, tapi kini mengetahui bahwa kedua lawannya adalah orang-orang tangguh, ia segera keluarkan kepandaiannya yang paling lihai, yaitu Hwa-ie-kai-kun-hwat.
Ternyata ilmu silat ini teratur sekali dan gerakan-gerakannya cukup kuat dan cepat.
Melihat hal ini, Siauw Ma tidak mau berlaku sembrono dan melayani dengan hati-hati.
Setelah melihat kedua orang itu bertempur beberapa jurus saja, tahulah Souw Eng bahwa biarpun ilmu silat Raja Pengemis itu cukup sempurna, namun ia masih belum nempil jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan Siauw Ma yang memainkan Sin-Liong Kun-Hwat yang lihai sekali itu.
Maka hati Souw Eng merasa lega.
Ia lalu melirik ke arah tiga orang pengemis lain yang masih berdiri berbaris seperti anak wayang.
Ia lalu menghampiri mereka.
Ketiga pengemis ikat pinggang kuning itu melihat Souw Eng bergerak, serentak memandangnya dengan tajam, karena mereka menyangka bahwa pemuda itu hendak mengeroyok gurunya.
Memang kalau dilihat jalan pertempuran, agaknya Siauw Ma terdesak, tapi Souw Eng cukup tahu bahwa si Raja Pengemis itu menggunakan tenaga kasar yang dilawan dengan tenaga lemas oleh Siauw Ma hingga tampaknya pemuda itu terdesak, tapi sebenarnya berada di pihak unggul dan kuat.
Melihat betapa ketiga pengemis setengah tua itu serentak memandangnya dengan mata melotot, Souw Eng tersenyum dan berkata.
"Eh, eh, kalian bertiga mengapa nganggur saja dan memandang orang dengan mata melotot? Jangan bikin takut orang, kalau kalian juga gatal tangan hendak memberi pelajaran, hayolah maju sekali bertiga agar urusan lekas beres. Lihat, cuaca sudah mulai gelap."
Ketiga orang itu merasa marah sekali.
Memang mereka merasa dendam dan sakit hati atas kematian kedua murid mereka, dan mereka memang merasa benci sekali kepada Souw Eng yang tadi telah mempermainkan ketua mereka.
Kini mendengar ajakan pemuda yang mengandung tantangan ini mereka tidak dapat menahan sabar lagi.
Serentak mereka meloncat menyerang dengan tongkat mereka.
Mendengar sambaran angin tongkat itu tahulah Souw Eng bahwa tongkat ke tiga orang itu bukanlah terbuat dari kayu, tapi adalah tongkat besi yang berat dan keras!
Tapi Souw Eng tidak merasa gentar dan gugup.
Ia menggunakan gin-kangnya yang luar biasa untuk menyusup di antara sambaran tongkat dan berkelit ke sana ke mari dengan lincahnya!
Sementara itu, Siauw Ma telah dapat mendesak Hwa-ie-kai-ong, hingga Raja Pengemis itu kini hanya mampu menangkis saja, tapi tiap kali menangkis, ia merasa lengan tangannya tergetar dan sakit beradu dengan tangan Siauw Ma.
Pada suatu ketika, kaki Siauw Ma berhasil menggaet kedua kaki lawannya hingga Raja Pengemis itu terjungkal!
Siauw Ma memang sengaja tidak mau melukai lawannya dan hanya hendak menjatuhkan saja.
Si Raja Pengemis merayap bangun sambil menghela napas panjang pendek.
"Sudahlah, sudahlah! Mana aku dapat melawan ahli dari Thang-la!"
Souw Eng melihat betapa Siauw Ma telah berhasil, tidak mau kalah muka.
Tiba-tiba ia gerakkan kedua tangannya dan entah bagaimana, tahu-tahu ketiga tongkat lawannya telah terampas olehnya!
Melihat hal ini, Hwa-ie-kai-ong berkata.
"Sudahlah, kita bukan lawan mereka! Biarlah lain waktu kalau ada jodoh kita bertemu lagi dengan kedua enghiong ini."
Kemudian setelah banting kaki dengan jengkel, Raja Pengemis itu loncat pergi, diikuti ketiga muridnya yang tadinya hanya bengong terheran-heran memandang kedua pemuda itu.
"Twako, hayo kita lanjutkan perjalanan dengan cepat, sebentar lagi gelap dan tidak enak kalau kita harus bermalam di tengah hutan!"
Siauw Ma setuju dan keduanya lalu menggunakan ilmu lari cepat untuk keluar dari hutan itu.
Tapi ternyata hutan itu luas dan panjang hingga setelah udara mulai gelap, belum juga mereka dapat keluar dari situ.
"Agaknya terpaksa kita mesti bermalam di hutan,"
Kata Siauw Ma.
Tiba-tiba mereka mencium bau sedap dan gurih dan mendengar suara musik yang aneh.
Dengan tertarik mereka menuju ke arah suara itu.
Mereka berjalan memutar dan dengan hati-hati mengintai dari balik pohon.
Ternyata di sebuah lapangan terbuka tampak lima buah kendaraan yang bentuknya seperti kereta berdiri di bawah pohon-pohon.
Sedangkan banyak sekali kuda terikat di dekat kendaraan-kendaraan itu.
Di tengah lapangan tampak api bernyala gembira dan banyak orang duduk mengelilinginya.
Seorang di antara mereka yang gemuk sekali tubuhnya, sedang memanggang sesuatu dan agaknya daging panggang inilah yang menyiarkan bau sedap tadi.
Kalau keadaan kendaraan-kendaraan itu tampak asing dan mengherankan, ketika melihat orang-orang di bawah sinar api unggun itu, makin heranlah Siauw Ma dan Souw Eng.
Mereka itu terdiri dari tigabelas orang wanita yang masih muda-muda dan lima orang laki-laki tua yang berpakaian aneh pula.
Gadis-gadis itu bertubuh tinggi ramping dan kesemuanya memiliki wajah yang cantik dengan hidung dan dagu yang tajam serta mata yang lebar.
Tapi sebagian besar dari mereka mempunyai kulit yang berwarna gelap, hanya tiga orang gadis yang berpakaian paling mewah mempunyai kulit keputih-putihan seperti salju tersinar matahari.
Pakaian mereka dari sutera yang panjang dibelit-belitkan di tubuh mereka yang ramping dan rambut mereka yang hitam itu terhias dengan hiasan rambut indah seperti mahkota kecil penuh kembang emas dan permata.
"Siapakah mereka ini?"
Souw Eng berbisik perlahan dan Siauw Ma hanya angkat pundak dengan heran karena iapun belum pernah melihat gadis-gadis asing itu.
"Marilah kita pergi, jangan kita membuat mereka terkejut,"
Kata Siauw Ma, karena ia merasa sungkan dan malu harus bertemu muka dengan gadis-gadis muda sebanyak itu di tengah hutan, pada malam hari lagi. Tapi Souw Eng memandang padanya dengan senyum.
"Tidak twako, kita lebih baik menjumpai mereka. Keadaan mereka menarik hati sekali. Lihat itu pakaian mereka begitu aneh!"
Siauw Ma memandang wajah Souw Eng dan ketika ia melihat betapa pandang mata pemuda sasterawan itu bersinar gembira, ia merasa tak senang menganggap bahwa Souw Eng mempunyai sifat ceriwis.
"Kau... kau hendak berbuat apa?"
Tanyanya keren.
"Eh, mengapa kau marah?"
Souw Eng mencela dan tertawa perlahan.
"Hm, kau tentu menyangka yang tidak-tidak, bukan? Percayalah, twako, yang menarik hatiku hanya keadaan mereka yang aneh pakaian mereka, dan terutama daging panggang itu!"
Mendengar ini, tiba-tiba saja Siauw Ma merasa betapa perutnya lapar sekali dan baru ingatlah ia bahwa semenjak siang tadi ia tidak makan apa-apa.
Gadis-gadis itu tidak berada sendiri, bahkan di dalam rombongan itu juga terdapat beberapa orang laki-laki, apa salahnya?
Lagi pula di tengah hutan pada malam hari, di mana harus mencari makanan?
Demikianlah Siauw Ma memutar-mutar otaknya, lalu ia mengangguk dan menurut saja ketika Souw Eng keluar dari tempat sembunyinya dan mengajak Siauw Ma menghampiri rombongan itu.
Tapi Souw Eng menahan langkahnya, karena saat itu ketigabelas gadis-gadis itu mulai menari-nari di sekeliling api dan dua orang laki-laki membunyikan gamelan yang terdiri dari sebuah kendang dan sebuah suling.
Alangkah indah gerakan mereka!
Lemah gemulai, berlenggak-lenggok dengan gerakan yang lemas dan indah sekali.
Tak terasa pula Souw Eng dan Siauw Ma menggerakkan kaki mereka menghampiri dan dengan kagum mereka berdiri di luar lingkaran sambil menikmati tarian gadis-gadis itu.
Mula-mula gadis-gadis itu menari menggerakkan tubuh dengan lemas menurutkan irama kendang yang dipukul perlahan, tapi makin lama kendang dipukul makin cepat dan gerakan tarian merekapun menjadi cepat berputar-putar.
Selama itu, ketiga gadis yang berkulit putih menari di tengah-tengah dan merupakan penari-penari utamanya.
Kemudian suara suling dan kendang melambat dan akhirnya berhenti.
Para penari juga berhenti dan kebetulan sekali ketiga penari utama itu berhentinya tepat di depan Siauw Ma dan Souw Eng.
Tanpa disadari, Souw Eng mengangkat kedua tangan dan bertepuk tangan dengan keras karena gembira.
Sepasang matanya memandang ke arah tiga orang gadis itu dengan penuh kekaguman.
Sedangkan Siauw Ma hanya menundukkan kepala sambil tersenyum, kemudian ia melirik ke arah tiga gadis di depannya itu.
Melihat penghargaan orang, ketiga gadis itu mewakili kawan-kawannya dan menjura dengan bungkukkan tubuh mereka ke arah Souw Eng.
Pada saat mereka menjura itu, sebuah benda putih jatuh dari rambut kepala seorang gadis yang berdiri di tengah, dan benda itu menggelinding ke dekat kaki Souw Eng.
Souw Eng melihat penghias rambut itu terlepas dari rambut kepala gadis itu dan terjatuh di dekat kakinya, lalu ia membungkuk dan mengambilnya, kemudian dengan tersenyum ia menghampiri gadis itu lalu tanpa sungkan-sungkan lagi ia pasangkan penghias rambut itu di kepala si gadis.
Gadis itu menunduk kemalu-maluan, lalu angkat wajahnya memandang tajam.
Wajah gadis yang berada dekat dengan mukanya sendiri itu berseri gemilang dan sangat cantiknya serta mengeluarkan keharuman seperti keharuman bunga mawar.
Kemudian gadis itu angkat tangannya, lepaskan pula penghias rambut tadi dan dengan kedua tangan memberikan benda itu kepada Souw Eng.
Pemuda ini tersenyum dan anggap bahwa gadis itu berterima kasih dan memberi hadiah atau tanda mata padanya, maka karena ia memang suka sekali akan keindahan penghias rambut itu, tanpa ragu-ragu pula ia terima dan menyatakan terima kasihnya dengan mengangguk-angguk!
Tidak disangkanya sama sekali bahwa setelah itu, tiba-tiba semua gadis-gadis yang lain tertawa riang dan mulai bersorak.
Ketika Souw Eng angkat kepala memandang, ternyata semua gadis itu memandang padanya sambil menunjuk-nunjuk, sedangkan gadis cantik yang memberi hadiah tanda mata padanya masih berdiri di depannya sambil tunduk kemalu-maluan.
Souw Eng dengan mata terbelalak heran memandang ke arah Siauw Ma dan bertanya.
"Eh, twako, apa artinya semua ini?"
Tapi Siauw Ma hanya gerak-gerakkan pundak tanda tak mengerti.
Pada saat itu, tukang kendang yang sudah lanjut usia berdiri dan berlari menghampiri Souw Eng.
Setelah menjura dalam-dalam ia berkata dalam Bahasa Han dialek selatan yang terdengar, lucu.
"Tuan, kami haturkan selamat padamu. Kau telah dipilih dan memilih nona kami yang terkenal menjadi bunga tercantik di antara bangsa kami. Kau takkan menyesal memilih dia, tuan. Sekali lagi selamat!"
Terkejutlah Souw Eng mendengar ini, dan ia gemas sekali ketika mendengar suara ketawa ditahan dari Siauw Ma.
Ternyata kemudian setelah ia menanyakan keterangan dari tukang kendang itu, bahwa mereka itu adalah bersuku Bangsa Nepal, tapi yang tinggal di batas daerah Tiongkok Nepal dan nenek moyang mereka adalah campuran darah Tiongkok Nepal pula.
Sudah menjadi tradisi atau adat lama di daerah mereka bahwa cara memilih jodoh adalah dengan upacara tari-tarian.
Si gadis menari dan si pemuda menonton, kemudian gadis-gadis yang menjalankan pilihan lalu sengaja lepaskan penghias kepala di kaki seorang pemuda yang disetujuinya.
Kalau pemuda itu tidak membalas cintanya, maka ia takkan mengambilkan benda itu dan si gadis lalu akan mengambilnya sendiri dan mencari pasangan lain.
Tapi kalau pemuda itu mengambilnya dan memasangkannya kembali ke kepala si gadis, dan si gadis sudah setuju benar, maka penghias kepala itu akan diberikan oleh gadis itu sebagai tanda mata atau sebagai benda pengikat perjodohan mereka!
Pada saat Souw Eng dan Siauw Ma datang, gadis-gadis itu sedang menari biasa saja, dan ketika penghias rambut gadis itu jatuh menggelinding ke kaki Souw Eng, hal itu sebenarnya bukan disengaja.
Tapi Souw Eng telah memungutnya dan memasangkannya di kepala gadis itu dan ternyata gadis itu ketika melihat wajah Souw Eng yang tampan, lalu jatuh hati dan memberikan penghias rambutnya yang juga diterima baik oleh Souw Eng!
Hal ini telah terjadi dan berarti bahwa semenjak saat itu si gadis telah menjadi tunangan atau calon isteri Souw Eng!
Mendengar uraian si tukang kendang ini, Souw Eng berdiri bengong.
"Tapi..., tapi... aku tadi tidak sengaja. Lopeh, kau tolonglah aku, batalkan pertunangan ini yang terjadi karena salah mengerti. Ini kau kembalikan benda ini kepadanya."
Agaknya gadis itupun mengerti akan kata-kata Souw Eng, karena tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan dengan isak tangis tertahan ia lari pergi ke arah kereta, tubuhnya yang langsing itu bergoyang-goyang dalam larinya, seperti tangkai pohon liu tertiup angin.
Tukang kendang itu menggeleng-geleng kepala.
"Tak mungkin, kong-cu. Lihat Aisyah tidak setuju akan penolakanmu dan ia lari ke keretanya.
"Kong-cu, ketahuilah, Aisyah adalah seorang gadis pilihan dan puteri tunggal ketua, suku bangsa kami. Gadis itu menjadi rebutan para pemuda dan selama ini Aisyah belum mau mencari pilihan. Ternyata sekarang pilihannya jatuh pada dirimu. Ini boleh dikata jodoh yang luar biasa dan kebetulan sekali."
"Tak mungkin... tak mungkin..."
Souw Eng menggelengkan kepala.
"Mengapa tidak mungkin, kong-cu? Apakah kau sudah beristeri? Kalau sudah beristeri dapat juga hal ini dirundingkan dengan Aisyah dan ayahnya, mereka juga takkan berkeberatan. Sudah biasa kami mempunyai dua atau tiga orang isteri."
"Souw-hiante, kenapa kau menolak? Kan kasihan dia itu!"
Kata Siauw Ma kepada Souw Eng. Souw Eng makin mendongkol dan membentak kawannya.
"Twako! Kau ini enak saja, melihat orang berada dalam kesukaran tidak mau membantu dan mencari jalan pemecahannya, bahkan menggoda."
Tapi Siauw Ma menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Bukan begitu, hiante, kita adalah laki-laki yang mengutamakan kegagahan dan tidak mau menghina kaum lemah. Nona itu sudah begitu baik hati menjatuhkan pilihannya padamu. Ia seorang puteri kepala suku, maka kalau kau kini menolak pilihannya, bukankah berarti kau menghinanya dan membuatnya malu? Pikirlah baik-baik."
Souw Eng makin marah dan hendak menjawab keras, tapi pada saat itu, seorang dari pada kedua gadis kawan Aisyah yang masih berdiri di situ, ketika mendengar kata-kata Siauw Ma yang agaknya dimengertinya pula, lalu maju dan berlutut di depan Siauw Ma, lepaskan penghias rambutnya dan meletakkan itu di dekat kaki pemuda itu!
Pucatlah seketika wajah Siauw Ma dan ia merasa betapa tubuhnya seakan-akan dimasuki api panas.
Matanya terbelalak, memandang ke sana ke mari seperti hendak mencari bintang penolong dan mulutnya dengan bibir menggigit, berkata.
"Eh, eh... apa... apa artinya ini?"
Tukang kendang menjawab dengan suara sungguh-sungguh.
"Artinya, kong-cu, bahwa gadis ini yang bernama Farida, mendengar ucapanmu tadi merasa sangat kagum dan menghormat dan kini ia bersedia untuk menjadi isterimu, yakni jika kau yang dihormatinya ini menyetujui dan sudi menerimanya!"
Siauw Ma tak dapat menjawab, hanya menelan ludah dan berkali-kali geleng kepalanya dengan keras.
Pada saat itu, Farida memandangnya dan melihat betapa pemuda pujaannya itu menolaknya, ia gigit bibir dan ambil kembali penghias rambutnya lalu bangun berdiri.
Ia lalu mengucapkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Siauw Ma.
"Kong-cu, Farida menuntut haknya sebagai gadis tertolak, yakni keterangan darimu mengapa kau menolaknya!"
"Aku... aku... tak ingin kawin,"
Jawab Siauw Ma sekenanya. Gadis itu tidak puas dan bertanya lagi.
"Apakah kong-cu sudah beristeri?"
"Belum, belum!"
Siauw Ma menjawab.
"Apakah kong-cu menolak Farida karena ia tidak cukup cantik?"
"Tidak, bukan. Ia cantik sekali, tapi..."
"Tapi apa, kong-cu. Katakanlah, karena hanya dengan mengaku terus terang maka kau membebaskan dia dari penghinaan,"
Kata si tukang kendang. Berat bagi Siauw Ma untuk menjawab, maka tukang kendang itu mengajukan pertanyaan lagi.
"Apakah kong-cu sudah mempunyai pilihan hati sendiri?"
Kini Siauw Ma mengangguk-angguk dan ia gemas sekali karena kini Souw Eng dari sampingnya mentertawakannya! "Siapakah nona pilihan kong-cu itu?"
Tanya si tukang kendang.
"Itu bukan urusanmu! Pula kalian takkan mengenalnya, biarpun kusebut namanya juga!"
Siauw Ma membantah.
"Tapi ini adalah sudah menjadi adat kebiasaan kami, kong-cu. Farida berhak mengetahui nama tunangan pria yang dipilih dan menolaknya."
"Twako, seorang laki-laki harus jujur. Mengapa kau mesti malu-malu kucing?"
Souw Eng menggoda hingga wajah Siauw Ma makin merah. Setelah menghela napas panjang pendek, akhirnya keluar juga pengakuannya.
"Nona pilihanku itu belum menjadi tunanganku, namanya... namanya... Lian Eng..."
Setelah mendengar nama pilihan hati pemuda itu, Farida lalu menjura dan pergi meninggalkan Siauw Ma.
Berbeda dengan Aisyah, gadis ini tidak tampak patah hati dan bersedih karena penolakan Siauw Ma yang memenuhi syarat-syarat kebiasaan.
Si tukang kendang lalu menghadapi Souw Eng kembali.
"Kong-cu, sekarang berilah keputusan akan nasib Aisyah, nona kami itu. Jangan kong-cu permainkan kami."
"Siapa yang mempermainkan kalian? Aku tidak mau menerima dia habis perkara! Kalau nona Aisyah menghargai persahabatan, biarlah penghias rambutnya ini menjadi milikku dan akan kuganti dengan barang lain, tapi kalau tidak, boleh dia ambil kembali barangnya!"
"Hiante, jangan bicara terlalu keras!"
Siauw Ma menegur sahabatnya, tapi Souw Eng tidak memperdulikannya dan pandangan matanya seakan-akan berkata.
"Jangan kau ikut-ikut!"
Pada saat itu, dari jurusan api unggun loncatlah seorang pemuda yang tadi meniup suling. Sekali loncat saja ia telah berada di depan Souw Eng dan berkata dalam bahasa Han yang lancar.
"Hah! Kau laki-laki pengecut! Hayo kau pergi minta ampun kepada nona Aisyah dan bersedia mengawininya, kalau tidak kau jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan masih bernyawa!"
Sambil berkata demikian, pemuda yang bertubuh tinggi besar dan tampak kuat sekali itu mencabut goloknya. Souw Eng berpaling kepada si pemukul gendang.
"Eh, Lopeh, siapakah orang ini?"
"Ia adalah pahlawan kelas satu dari suku kami dan ia tadinya menjadi harapan utama untuk menjadi suami nona Aisyah."
Souw Eng mengangguk-angguk maklum.
Diam-diam ia kagum juga melihat sifat ksatria yang dimiliki pemuda itu yang mencinta Aisyah tapi kini ternyata cintanya murni dan dalam kecewanya masih hendak membela gadis itu mempertahankan kebahagiaan hidupnya.
"Sahabat, kenapa tidak kau saja mewakili aku dan ambil dia sebagai isterimu?"
Katanya marah. Pemuda itu meludah ke bawah.
"Kau anggap aku laki-laki macam kau yang bersifat pengecut? Ia telah memilihmu, dan kau pun telah memilihnya, apakah kau kini hendak ingkar lagi? Hayo, cabut pedangmu itu kalau kau memang tidak mau menerima Aisyah!"
Souw Eng menghela napas.
"Terpaksa aku harus melayani dulu. Aku memang hendak menjumpai Aisyah, tapi tidak untuk mengawininya!"
Marahlah pemuda itu mendengar kata-kata ini, dan dengan berseru keras ia mengayun goloknya menyerang Souw Eng.
Ayunan goloknya keras sekali dan mengeluarkan angin, maka tahulah Siauw Ma bahwa pemuda itu hanya memiliki tenaga luar yang besar sekali, tapi soal kepandaian berkelahi tak usah dikhawatirkan.
Benar saja, Souw Eng berkelebat di bawah sinar golok lawannya dan dalam beberapa gebrak saja, pemuda sasterawan itu telah berhasil menotok lambung dan leher lawannya hingga seketika itu juga lawannya berdiri kaku dengan golok terangkat seperti sebuah patung batu.
"Nah, kau diamlah di sini sebentar sementara aku bereskan persoalan ini!"
Katanya sambil tersenyum manis ke arah Siauw Ma yang masih memandangnya dengan penasaran.
Souw Eng lalu meloncat ke arah kereta di mana tadi Aisyah masuk.
Siauw Ma merasa khawatir dan heran.
Ia takut kalau-kalau pemuda kawannya itu mempunyai maksud rendah, maka iapun lalu meloncat mengejar.
Alangkah mendongkol dan marahnya ketika tiba-tiba dari balik tirai kain yang menutup kereta itu, tampak tersembul keluar dua kepala yang bukan lain ialah kepala Souw Eng dan Aisyah, dan Souw Eng sambil mengedipkan sebelah mata padanya berkata.
"Twako, mengapa kau begitu tidak tahu malu dan hendak mengintai suami isteri yang sedang bercakap-cakap?"
Sementara itu, Aisyah tersenyum manis sekali!
Siauw Ma merasakan mukanya bagaikan kena tampar.
Ia berpaling dan menjauhi, sedangkan dari arah para gadis yang mengelilingi api terdengar suara ketawa riuh yang terang sekali mentertawakan dia!
Maka iapun kembali ke tukang kendang.
Melihat betapa pemuda lawan Souw Eng tadi masih berdiri kaku, ia merasa kasihan dan menepuk pundaknya dua kali untuk membebaskan pemuda itu dari pengaruh totokan.
Pemuda itu memandang ke arah kereta dan berkata perlahan.
"Sungguh seorang enghiong yang gagah sekali. Ia patut menjadi suami Aisyah!"
Lalu ia kembali ke dekat api dan mulai meniup sulingnya dalam lagu yang merdu tapi mengandung irama sedih.
Keadaan mereka menjadi gembira lagi dan Siauw Ma mendapat suguhan daging dan roti kering dengan minuman anggur manis.
Semua orang makan minum dan bernyanyi dengan gembira seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa, sedangkan keadaan Aisyah dan Souw Eng di dalam kereta seakan-akan telah dilupakan orang.
Tapi mana bisa Siauw Ma melupakan keadaan mereka itu?
Ia selalu melirik ke arah kereta dengan hati panas dan tidak senang.
Benar-benarkah Souw Eng yang dianggapnya seorang pemuda selain gagah perkasa juga terpelajar dan sopan itu kini melakukan perbuatan rendah?
Kalau benar Souw Eng mau terima menjadi suami Aisyah, mengapa tidak diadakan perayaan kawin lebih dulu?
Sungguh mereka berdua itu tidak tahu malu sekali dan Siauw Ma menganggap ia dihina oleh sahabatnya itu.
Tiba-tiba Aisyah tampak keluar dari kereta dengan wajah berseri dan tersenyum-senyum, menghampiri mereka yang duduk mengelilingi api.
Semua orang memandangnya dengan senyum penuh arti, dan dari kumpulan gadis-gadis terdengar suara terkekeh yang ditahan-tahan.
Kemudian Aisyah menghampiri si tukang kendang dan berbisik di telinganya.
Wajah tukang kendang itu berubah dan matanya terbelalak seperti orang terheran-heran, kemudian ia berdongak dan tertawa berkakakan seakan-akan telah mendengar sesuatu yang aneh dan lucu sekali.
Kemudian mereka bercakap-cakap dalam bahasa mereka sendiri yang tak dimengerti oleh Siauw Ma dan sebentar kemudian, termasuk pemuda yang ditotok Souw Eng tadi, tertawa riuh-rendah dengan gelinya.
Juga Aisyah tertawa gembira sampai keluar air matanya!
Tentu saja Siauw Ma menjadi bingung dan heran.
Ia merasa dirinya terpencil sekali, berada di tengah orang-orang yang mentertawakan sesuatu, sedangkan ia sendiri tidak tahu apa yang ditertawakan mereka itu.
Kemudian ia melihat betapa semua orang memandangnya, maka karena bingung dan gugup, ia pun lalu menyeringai dan mencoba tertawa gembira.
Tapi karena tak mengerti apa yang harus ditertawakannya, maka tertawa paksaan itu keluarnya masam dan tak sewajarnya hingga membuat mukanya tampak lucu.
Melihat lagak pemuda ini, semua orang tertawa makin keras, bahkan Farida, gadis yang ditolaknya tadi, tertawa sambil menuding-nuding ke arahnya!
Tiba-tiba Siauw Ma menjadi marah.
Ia bangun berdiri dengan cemberut dan mengambil keputusan hendak meninggalkan tempat itu, tinggalkan Souw Eng!
Tapi Aisyah segera lari menghampirinya dan berkata dalam bahasa Han yang lancar dan sungguh di luar dugaan Siauw Ma.
"Harap siangkong maafkan kami. Souw-kongcu memesan agar siangkong sudi bermalam saja di sini karena Souw-kongcu lelah sekali dan besok pagi baru melanjutkan perjalanan. Harap siangkong tidak marah. Souw-kongcu tidak mau dimarahi karena ia merasa tidak mempunyai kesalahan apa-apa kepadamu."
Siauw Ma berkata marah.
"Perbuatannya tiada sangkut-pautnya dengan aku, mengapa aku mesti marah? Ia mau berbuat baik atau buruk, itu sesukanya, karena ia sudah dewasa dan dapat bertanggung jawab sendiri!"
Siauw Ma sengaja berkata keras agar terdengar oleh Souw Eng yang masih bersembunyi di dalam kereta! Kemudian ia bertanya perlahan kepada Aisyah.
"Bagaimanakah, apakah ia mau menerima kau sebagai isterinya? Kalau ia hendak kawin denganmu, untuk apa aku harus menantinya? Kita boleh mengambil jalan masing-masing!"
Aisyah tertawa manis dan memperlihatkan sepasang deretan gigi yang rata dan putih berkilauan.
"Kami takkan menjadi suami isteri, melainkan menjadi kakak dan adik."
Mendengar ini, Siauw Ma bengong dan tak dapat berkata apa-apa lagi.
Ia hanya memandang seperti patung ketika Aisyah mengambil makanan dan menaruh itu di atas baki, lalu dengan tindakan kaki yang menggiurkan hati laki-laki, gadis cantik itu berjalan menuju ke kereta di mana Souw Eng berada.
Gadis itu lalu masuk ke dalam kereta sambil membawa makanan yang agaknya hendak diberikan kepada Souw Eng, dan ia maupun Souw Eng tidak tampak keluar lagi!
"Kong-cu, hayo makan lagi.
Kita habiskan daging ini, kemudian kita tidur,"
Kata si pemain kendang.
"Eh, Lopeh, mengapakah adat kebiasaan suku bangsamu demikian aneh?"
Tanya Siauw Ma kepada pemain kendang itu sambil makan daging panggang.
"Apa yang aneh, kong-cu?"
"Banyak hal yang aneh, di antaranya apa yang terjadi sekarang ini. Bolehkah seorang gadis tidur sekereta dengan pemuda bukan suaminya?"
Ia berpaling ke arah kereta di mana Souw Eng dan Aisyah berada. Tukang kendang itu tertawa, menahan geli hatinya.
"Mengapa tidak? Bukankah nona Aisyah tadi berkata bahwa ia dan kawanmu itu telah menjadi kakak dan adik?"
Siauw Ma membungkam.
Alasan itu kurang kuat, tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh.
Tidak enak kalau ia terus menerus bertanya soal itu karena mungkin ia akan dipandang iri hati!
Setelah menjelang tengah malam, para gadis itu menuju ke kereta dan masuk tidur.
Duabelas orang gadis itu memasuki tiga kereta, hingga tinggal sebuah kereta lagi yang kosong.
Kemudian empat orang laki-laki berikut tukang masak yang gendut itu, menuju ke kereta yang kosong dan masuk tidur.
Kini tinggal Siauw Ma dan si pemain kendang berdua saja yang masih duduk di dekat api.
Ternyata empe itu doyan mengobrol hingga semalam penuh Siauw Ma duduk saja bercakap-cakap dengannya.
Pemuda itu banyak mendengar tentang rombongan ini dari si pemain kendang.
Ternyata bahwa Aisyah adalah anak tunggal dari kepala suku yang lebih mendekati Bangsa Tibet itu.
Ayahnya bernama Abdullah dan dari nama-nama ini ternyata kebudayaan suku kecil ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan India dan Nepal, sungguhpun mereka itu berbahasa Tibet dan bahkan mengerti bahasa Han.
Aisyah semenjak kecilnya dimanja oleh ayahnya dan gadis itu suka sekali berburu, yakni mata pencaharian terutama bangsanya.
Selain pandai memanah binatang buas, Aisyah juga pandai menari dan menjadi bunga terharum di antara kawan-kawannya, gadis-gadis lain.
Pada saat itu mereka tengah berburu sambil bersenang-senang dalam hutan itu dan tidak disangkanya bertemu dengan kedua pemuda itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Souw Eng telah bangun dan keluar dari keretanya dengan Aisyah.
Juga semua anggauta rombongan telah bangun.
Mereka pergi ke anak sungai untuk mencuci muka dan tampak segar-segar dan gembira.
Bahkan Souw Eng tampaknya gembira sekali.
Melihat Siauw Ma yang agak kumal dan lesu karena semalam penuh tidak tidur, Souw Eng tersenyum dan menegur.
"Twako, apakah semalam kau tidur nyenyak?"
Siauw Ma yang masih merasa panas hatinya, hanya mengangguk dingin dan berkata.
"Hayo, kita lanjutkan, perjalanan, yakni kalau kau masih mau berjalan bersamaku."
Souw Eng memandangnya heran.
"Eh, eh, mengapa kau agaknya masih marah? Tentu saja aku mau berjalan bersamamu, twako. Akan tetapi, kalau kau tidak sudi, akupun tidak berani memaksanya."
Mendengar kata-kata ini, Siauw Ma sebaliknya jadi khawatir kalau-kalau Souw Eng marah padanya, maka ia berkata tak sabar.
"Sudahlah, hayo kita berangkat. Hari sudah siang!"
Siauw Ma dan Souw Eng lalu bermohon diri kepada rombongan itu dan dengan heran sekali Siauw Ma melihat betapa Aisyah sambil bercucuran air mata memeluk dan mencium jidat Souw Eng!
Karena merasa bahwa perbuatan mereka itu melampaui batas, maka Siauw Ma lalu mendahului kawannya lari pergi.
Dadanya terasa sesak dan ia menjadi heran sendiri melihat keadaan dirinya.
Mengapa ia harus bersikap demikian?
Apakah ia iri hati?
Ah, tidak!
Ia tidak iri hati sama sekali.
Apakah ia cemburu?
Ah, terkejutlah hatinya ketika memikir demikian.
Ia tidak pikir sedikit pun pada Aisyah, mengapa harus cemburu?
Habis, perasaan apakah yang membuat ia tidak senang melihat Souw Eng berlaku mesra kepada gadis itu?
Akhirnya kedua pemuda itu dapat ke luar dari hutan yang besar dan gelap itu dan bermalam di sebuah desa.
Siauw Ma mendapatkan keanehan kedua ketika selalu Souw Eng tidak mau tidur sekamar dengan dia.
"Mengapa, Souw-hiante? Kamar ini cukup besar dan kita dapat bercakap-cakap leluasa kalau tidur sekamar."
"Aku tidak bisa tidur berdua dalam satu kamar, twako. Aku tidak biasa dan jika dipaksa tentu takkan dapat tidur sekejap matapun."
"Kau ini aneh sekali, adikku,"
Kata Siauw Ma tertawa.
"Apakah bedanya kalau kita masing-masing mengambil sebuah kamar? Kalau kau hendak bercakap-cakap, sebelum tidurpun dapat kita bercakap-cakap di kamarku."
Sekali lagi Siauw Ma tertawa hingga Souw Eng mengerutkan jidatnya sambil bertanya.
"Eh, mengapa kau tertawa saja, twako? Apakah yang lucu?"
Siauw Ma menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, hiante, hanya aku teringat kata-katamu tadi. Kau bilang tidak biasa tidur berdua dalam sebuah kamar, tapi kemarin kau tidur sekereta dengan seorang nona dan agaknya semalam penuh kau tidur nyenyak dan pulas. Bukankah ini aneh?"
Siauw Ma memang sengaja menyindir untuk membalas kawannya itu dan membuatnya malu. Tapi anehnya, Souw Eng tidak menjadi marah, hanya memandang dia dengan tertawa dan menjawab.
"Ah, itu sih lain lagi soalnya!"
Demikianlah, selama hampir seminggu mereka merantau bersama, melalui beberapa buah kota dan desa, menuju ke arah timur.
Pada suatu senja mereka masuk ke dalam kota Kong-li-bun.
Karena mereka telah melalui perjalanan jauh dan hendak segera beristirahat dan masuknya di kota itu telah gelap, maka mereka gunakan ilmu lari cepat dan melalui genteng-genteng rumah orang.
Ketika mereka tiba di atas genteng sebuah rumah gedung yang tinggi dan melihat betapa agak jauh dari situ terdapat sebuah rumah penginapan yang besar papan namanya, Siauw Ma, mengajak kawannya turun.
Tapi pada saat mereka hendak meloncat turun, tiba-tiba Siauw Ma melihat sesuatu di atas genteng dan ia manahan kakinya sambil berkata.
"Hai, apakah ini?"
Souw Eng memandang dan ternyata di atas genteng rumah gedung terdapat sebuah lukisan memanjang.
Lukisan itu dilakukan dengan menaburkan bubuk hitam di atas genteng yang merah dan dilakukan sedemikian rupa hingga bubuk hitam itu merupakan lukisan memanjang di atas genteng-genteng.
Ketika mereka memperhatikan, maka lukisan itu adalah lukisan seekor ular, karena di ujungnya merupakan kepala ular sedang terbuka mulutnya.
Anehnya, ular itu tidak berekor dan di ujung bagian ekor juga merupakan kepala, hingga itu adalah lukisan seekor ular hitam berkepala dua!
Siauw Ma terheran dan tidak mengerti apa maksud lukisan itu dan mengapa orang menaruh bubuk hitam dalam bentuk lukisan aneh di atas genteng yang demikian tingginya.
Tapi Souw Eng tidak banyak cakap lagi dan mengajak Siauw Ma meloncat turun.
Melihat sikap kawannya itu, Siauw Ma menjadi curiga tapi ia diam saja.
Keduanya lalu turun dan berjalan kaki menuju ke rumah penginapan "Lok-thian"
Yang tadi tampak dari atas gedung.
Seperti biasa, Souw Eng ambil kamar terpisah.
Karena lapar dan lelah, keduanya segera makan dan Souw Eng katakan bahwa ia lelah sekali hendak segera tidur.
Siauw Ma juga masuk ke dalam kamarnya, tapi diam-diam ia merasa heran sekali akan sikap Souw Eng.
Maka, pemuda ini tak dapat tidur, lalu duduk di atas pembaringan sambil bersamadhi dan kerahkan pendengarannya.
Tak lama kemudian, benar saja ia mendengar sesuatu yang mencurigakan.
Suara itu terdengar di atas genteng dan sangat perlahan hingga jika ia tidak sedang duduk diam dan kerahkan tenaga pendengarannya, tak mungkin ia dapat mendengarnya.
Ia terkejut karena dapat menduga bahwa suara itu adalah suara tindakan kaki orang yang tinggi sekali ilmu gin-kangnya.
Siauw Ma membuka matanya lalu gunakan mulutnya meniup ke arah lilin di atas meja yang menjadi padam.
Ia memang belum buka pakaian, maka cepat sekali ia sambar po-kiam nya yang ia taruh di pinggir pembaringan.
Kemudian dengan hati-hati, ia buka daun jendela lalu loncat keluar langsung ke atas genteng.
Ia masih sempat melihat betapa sesosok bayangan tubuh orang dengan gesit dan cepatnya berkelebat loncat ke atas genteng rumah sebelah.
Ia cepat loncat mengejar, tapi bayangan itu telah lenyap!
Ia heran sekali dan kagum akan kecepatan orang, tapi ia menjadi curiga karena potongan tubuh bayangan itu seperti Souw Eng!
Ia segera loncat ke arah kamar kawannya itu dan dekatkan mulutnya ke celah-celah genteng lalu berteriak memanggil.
"Souw-hiante! Souw-hiante!"
Ternyata dari bawah tidak ada suara apa-apa.
Siauw Ma buka genteng dan mengintai ke dalam karena kamar itu masih terang.
Tapi ternyata kamar itu telah kosong!
Ah, kini ia merasa pasti bahwa bayangan tadi bukan lain adalah Souw Eng.
Ia makin heran dan tidak mengerti ke manakah perginya kawannya itu?
Mengapa tadi berkata lelah hendak mengaso tapi tahu-tahu keluar dalam cara demikian mencurigakan?
Kemudian ia teringat akan lukisan ular hitam berkepala dua di atas genteng gedung besar sore tadi.
Ah, tentu ada hubungannya dengan kepergian Souw Eng.
Dengan hati tetap Siuw Ma lalu loncat menuju ke gedung itu.
Betul saja, di atas genteng itu ia melihat Souw Eng tengah berdiri dan bicara dengan seorang berpakaian hitam yang sikapnya mencurigakan sekali.
Siauw Ma segera loncat mendekat dengan hati-hati dan waspada.
Ia lalu bertiarap di belakang wuwungan yang tebal, hanya terpisah beberapa kaki dari mereka yang sedang bicara itu, lalu mendengarkan dengan penuh perhatian serta mengintai dari balik wuwungan.
Ia melihat bahwa yang berdiri berhadapan dengan Souw Eng itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan dan berkulit putih bersih.
Tapi wajah yang dapat dilihatnya di bawah sinar bulan yang pada malam hari itu bersinar sepenuhnya, mendatangkan sesuatu yang menimbulkan benci dan tak senang dalam hatinya.
Ia mendengarkan percakapan mereka.
"Hm, sudah beberapa bulan aku mencari jejak Ji-thouw-hek-coa si Ular Hitam Kepala Dua, si jai-hoa-cat, bangsat pemetik bunga yang rendah! Tak tahunya yang menjadi bangsat itu bukan lain adalah kau!"
Pemuda berpakaian hitam itu tertawa besar.
"Ha, ha, ha! Nona Lian Eng, sungguh setelah kau dapat bicara, kau makin menarik saja. Biarpun berpakaian sebagai pemuda, kau tetap tidak kehilangan kecantikanmu."
"Jangan ngaco!"
Souw Eng membentak dan Siauw Ma rasakan tubuhnya gemetar ketika mendengar pemuda baju hitam itu menyebut kawannya sebagai Lian Eng!
"Nona Lian Eng, jangan kau kira bahwa kau dan kawanmu yang tolol itu sebagai orang-orang terpandai.
Kau bilang bahwa kau telah berbulan-bulan mencari jejakku, sebaliknya telah beberapa hari ini aku mengikuti bayanganmu dan kawanmu itu.
"Ha, ha, ha, ha! Sungguh lucu, sungguh tolol! Aku, sekali jumpa saja lantas dapat tahu dan mengenal kau, tapi Siauw Ma si tolol itu telah berhari-hari jalan sama-sama kau, namun belum juga ia tahu bahwa pemuda tampan yang menjadi kawannya bukan lain ialah Lian Eng gadis gagu yang kini berubah menjadi bidadari cantik!"
"Siauw Liong, bangsat kecil! Tidak ingatkah kau betapa suhu-suhu kami mengampuni gurumu yang jahat dan memberi nasihat-nasihat kepadamu? Tidak tahunya, kau kini menjadi makin jahat, bahkan lebih rendah daripada suhumu si jahat dari timur itu. Gurumu, Tok-kak-coa sendiri, kurasa belum pernah menjalankan kejahatan seperti yang kau lakukan ini. Kau berubah menjadi manusia rendah, maka sekarang bertemu dengan aku, jangan kau harap akan dapat hidup lebih lama lagi!"
"Lian Eng yang manis. Kenapa kau marah-marah? Ketahuilah, aku adalah seorang sebatangkara yang selalu bernasib malang.
"Aku telah lama merana mencari seorang sahabat yang cocok dan baik, seorang seperti engkau ini. Tapi kau bahkan bersahabat dengan seorang tolol seperti Siauw Ma, sungguh aku merasa penasaran sekali.
"Lian Eng, marilah kita habiskan permusuhan dan kita menjadi sahabat. Aku bersumpah takkan berlaku sesat lagi asal saja kau suka menjadi sahabat baikku dan kita merantau!"
"Cih! Laki-laki tak bermalu!"
Souw Eng yang sebenarnya bukan lain adalah Soauw Lian Eng adanya, memaki marah.
Siauw Ma makin berdebar hatinya.
Ah, benar si Siauw Liong itu.
Ia memang bodoh sekali.
Mengapa begitu saja ia tidak tahu?
Mengapa ia tak dapat mengenali Lian Eng, gadis yang selalu ia rindukan itu?
Pantas saja Souw Eng demikian ganjil tabiatnya, tidak tahunya ia adalah Lian Eng, murid dari Huo Mo-li di puncak Thang-la!
Pantas saja ia demikian lihai.
Dan kini ia dapat memecahkan peristiwa dengan Aisyah yang selalu merupakan teka-teki baginya itu.
Pantas saja semua anggauta rombongan mentertawakannya!
Tentu Lian Eng telah menceritakan rahasia dirinya kepada Aisyah dan kawan-kawannya.
Dan ia telah tak senang hati melihat Lian Eng tidur sekereta dengan Aisyah!
Dan, lebih hebat lagi, ia telah mengaku, ya mengaku di depan Farida dan di depan Lian Eng, bahwa gadis pilihan hatinya ialah Lian Eng!
Ah, malunya!
Siauw Ma merasakan mukanya panas karena malu.
Tapi melihat Siauw Liong berada di situ, rasa malunya dikalahkan dan diusir pergi oleh rasa khawatir.
Yakni, khawatir akan keselamatan Lian Eng.
Ia masih ingat ketika masih kecil Siauw Liong telah pandai dan Lihai.
Apa pula sekarang, buktinya setan itu telah dapat mengikuti jejak mereka berdua tanpa mereka ketahui!
Mengingat ini, ia lalu meloncat dan membentak keras.
"Siauw Liong, tak kusangka kau sejahat ini!"
Siauw Liong dan terutama Lian Eng, merasa terkejut.
Lian Eng melihat Siauw Ma muncul dengan tiba-tiba, merasa malu sekali karena rahasianya telah terbuka.
Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Siauw Ma, Lian Eng segera menundukkan muka dan gadis ini tak dapat menahan rasa malu dan sungkannya, maka tanpa berkata apa-apa lagi, ia lalu meloncat pergi dan meninggalkan kedua pemuda itu yang telah saling berhadapan!
"Ha, ha, Siauw Ma!
Lihat, bukankah kawanmu Souw Eng itu sangat pemalu?
Sungguh seorang pemuda aneh, ya!"
Demikian ia menyindir kebodohan Siauw Ma. Siauw Ma membentak.
"Tadi telah kudengar semua dan ternyata kau hanya menjadi seorang bajingan rendah. Kejahatan lain masih tidak apa, tapi setelah kau menjadi jai-hoa-cat, bagaimana pun juga aku tak dapat memberi ampun padamu!"
Siauw Liong tertawa lagi dan tiba-tiba ia mencabut keluar sepasang senjata yang aneh dari pinggangnya.
Senjata itu adalah sepasang tongkat yang terbuat dari pada dua ekor ular hitam, yang telah mati dan kaku keras seperti kayu.
Tapi ia memegang ekor kedua ular itu di tangan kanan kiri dan menggerak-gerakkan senjata istimewa itu seperti orang menggerakkan sepasang pedang!
"Orang tolol, kalau kau sudah bosan hidup, kau majulah!"
Tantangnya dengan sikap jumawa sekali dan wajahnya yang putih dan cakap itu tiada hentinya tersenyum dan memandang penuh penghinaan.
Siauw Ma menjadi marah dan ia segera menggunakan po-kiamnya maju menyerang.
Sebentar saja mereka telah berkelahi mati-matian di bawah sinar bulan purnama dan di atas genteng rumah gedung yang tinggi itu.
Karena genteng itu terbuat dari bahan baik dan tebal, maka mereka dapat bertempur dengan leluasa sekali.
Ternyata gerakan ilmu silat Siauw Liong sangat lihai dan cepat.
Siauw Ma terkejut sekali melihat kemajuan pemuda sesat itu.
Dilihat dari gerakan-gerakannya, ternyata keadaan Siauw Liong pada saat itu boleh dibilang tidak di bawah Tok-kak-coa kepandaiannya!
Sepasang ular hitam di tangannya dapat bergerak cepat sekali dan dari lubang mulut kedua ular itu menyambar-nyambar bau keras yang dapat membikin pusing lawan karena itu adalah hawa beracun yang sengaja ditaruh di dalam mulut ke dua senjata aneh itu!
Akan tetapi, Siauw Ma sekarang bukanlah (Lanjut ke
Jilid 11) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 13
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 2