Ceritasilat Novel Online

Patung Dewi Kwan Im 3

Eps 3 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo

Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.

Jilid 06 beterbangan menyambarnya, sedangkan Siauw Ma hanya menggunakan tenaganya untuk menepuk batu-batu itu kembali atau mengadunya dengan batu yang dilemparkan hingga bertumbukan di udara.

Akhirnya kedua murid itu melihat pula kedatangan suhu mereka, maka mereka segera mengakhiri permainan itu.

Masing-masing lalu lari menghampiri gurunya.

"Tiong Li, kita berangkat sekarang,"

Kiang Cu Liong berkata kepada muridnya.

"Baik, suhu,"

Jawab Tiong Li, tapi ia memandang kepada Siauw Ma dengan mata kecewa.

Tapi Siauw Ma yang berhati keras hanya membalas pandangan itu dengan tersenyum manis dan ia menghampiri Tiong Li lalu memeluk bahunya.

"Sampai bertemu kembali, kawan!"

Katanya dan Tiong Li menjawab.

"Sampai bertemu kembali, sahabat!"

Maka berangkatlah kedua guru dan murid itu sambil memikul keranjang obat mereka.

Tiong Li berjalan di depan dan suhunya berjalan di belakang.

Kelenengan yang dipasang di pikulan mereka terdengar nyaring.

Beberapa kali Tiong Li berpaling ke belakang dan melambaikan tangan karena Siauw Ma semenjak tadi berdiri di depan kelenteng dan melambai kepadanya.

Ternyata sekali saja bertemu, kedua anak muda itu saling cocok dan saling suka.

Di tengah jalan Kiang Cu Liong berkata kepada muridnya yang jalan di depan.

"Kau suka kepada anak itu agaknya. Bagaimanakah dia?"

"Siauw Ma baik sekali, suhu. Ia jujur dan setia, teecu suka sekali padanya. Dan bagaimana dengan gurunya, suhu?"

Murid itu balas menanya, karena memang sudah biasa ia dan suhunya berjalan sambil mengobrol dengan ramah tamah.

"Gurunya? Kau maksudkan Beng Beng Hoatsu? Ah, ia seorang cabang atas dari Thang-la, seorang dari pada ke tiga tokoh Thang-la yang terkenal sakti. Ia memiliki ilmu silat dan ilmu Pedang Naga Sakti yang betul-betul luar biasa, karena biarpun aku sendiri belum pernah melihatnya, namun menurut pendengaranku, di dunia ini jarang dicari keduanya!"

"Kalau begitu, beruntunglah Siauw Ma!"

Kiang Cu Liong pandang belakang kepala muridnya dengan tajam, seakan-akan hendak menembusi kepala itu dan memandang wajahnya.

Kemudian ia percepat larinya hingga sekejap saja ia telah berdiri di depan muridnya.

"Tiong Li, jangan kau terlalu menganggap rendah diri sendiri. Kurasa, kalau kau betul-betul rajin mentaati semua petunjukku dan belajar dengan giat, belum tentu kepandaianmu berada di bawah kepandaian Siauw Ma!"

Tiong Li segera turunkan pikulannya dan berlutut.

"Suhu, maafkan teecu, bukan maksud teecu untuk merendahkan suhu. Teecu hanya berkata begitu karena girang mendengar Siauw Ma menjadi murid seorang pandai. Tentu saja teecu berjanji untuk mentaati segala petunjuk suhu dan takkan mengecewakan suhu."

"Nah, begitulah seharusnya!"

Mereka lalu melanjutkan perjalanan.

Kini dengan cepat sekali karena masing-masing menggunakan ilmu lari cepat.

Ketika melihat sebuah sungai yang lebar mengalir dalam sebuah hutan, Kiang Cu Liong menyuruh muridnya berhenti.

Tiong Li yang mengira bahwa suhunya melihat tetumbuhan obat di tempat itu, segera turunkan pikulan dan gunakan ujung bajunya untuk menghapus peluhnya dari muka dan lehernya yang kemerah-merahan karena panas.

"Tiong Li, sekarang sudah tiba waktunya kau perdalam gin-kangmu. Karena ketahuilah, untuk dapat mainkan ilmu silat yang kuajarkan kepadamu, kau harus mahir sekali menggunakan ilmu ringankan tubuh. Dengan gin-kang yang sempurna kau mudah untuk menyerang dengan cepat, melebihi kecepatan lawan. Nah, kau lihatlah baik-baik!"

Kiang Cu Liong lalu turunkan pikulannya dan kumpulkan lima batang kayu kering yang agak besar.

Kemudian ia ajak Tiong Li menghampiri tebing sungai yang ternyata sangat lebar itu, dengan airnya yang mengalir perlahan menandakan bahwa sungai itu cukup dalam.

"Lihatlah, sungai ini sangat lebar hingga tak mungkin dapat meloncatinya dengan sekali lompat saja. Bagaimana akalnya untuk dapat menyeberang jika di sini tiada jembatan sedangkan kau tak pandai renang? Nah, lihatlah kegunaannya ilmu gin-kang."

Setelah berkata demikian, tabib sakti yang berkepala besar itu melempar sepotong kayu kering ke air dan tubuhnya secepat kilat menyusul dan meloncat ke arah kayu yang mengambang itu, dan dengan ujung kaki ia menotol kayu itu sambil melemparkan lain kayu ke tengah.

Dengan meminjam kayu itu sebagai panjatan, ia enjot tubuhnya menyusul kayu kedua dan kembali ia menggunakan gerakan seperti tadi, yakni turun dan menjejakkan ujung kakinya ke atas kayu yang mengambang itu dan melemparkan kayu ketiga.

Demikianlah, seperti seekor capung bermain-main di atas air, ia dapat melintasi sungai itu dengan mudah dan selamat sedangkan jangankan bajunya, ujung sepatunyapun tidak basah sedikit juga?

Dari seberang sana, tabib sakti itu menggunakan cara seperti tadi untuk kembali.

Tiong Li merasa kagum sekali, dan ia mulai berlatih di bawah petunjuk-petunjuk suhunya.

Mula-mula ia berlatih di atas tanah dengan cara melempar-lempar kayu ke atas tanah dan disusul dengan tubuhnya untuk menginjak kayu itu dengan ujung kaki lalu melempar kayu ke dua dan mengenjotkan tubuh di atas kayu itu.

Demikianlah ia berlatih dengan giatnya.

Sambil melanjutkan perjalanan, di sepanjang jalan tiada hentinya Tiong Li mempelajari ilmu baru ini.

Karena Tiong Li memang sudah lama mempelajari ilmu silat tinggi hingga gin-kangnya memang sudah baik sekali, maka dengan sekali petunjuk suhunya cara-cara ia bergerak untuk mengenjot tubuh, maka dalam setengah bulan saja ia sudah sanggup melintasi sungai seperti yang telah dilakukan oleh gurunya itu!

Pada suatu hari, Kiang Cu Liong dan suhunya memasuki kota Him-kwan.

Tabib sakti itu sengaja pergi ke kota itu karena menurut penyelidikannya, si jahat dari timur kabarnya berada di kota itu.

Disebelah luar kota Him-kwan, terdapat sebuah telaga yang luas sekali dan di tengah-tengah terdapat pulau kecil.

Karena adanya telaga dengan pemandangannya yang indah inilah maka kota Him-kwan banyak mendapat pengunjung karena selain pemandangan di telaga itu menarik para pelancong, juga pengeluaran ikan yang dapat dijala dari telaga itu merupakan hasil yang membuat banyak para pedagang datang ke kota ini.

Kiang Cu Liong memang suka sekali akan tamasya yang indah, maka mendengar tentang telaga ini ia langsung mengajak muridnya melihat.

Ketika mereka mengunjungi telaga itu, keadaan di situ masih sunyi karena hari masih pagi benar.

Hanya ada beberapa buah perahu saja nampak bergerak-gerak di tengah telaga dan kebanyakan ialah perahu nelayan penangkap ikan.

Kiang Cu Liong menyewa sebuah perahu dan bersama muridnya ia mendayung perahu itu naik ke pulau dam melihat-lihat.

"Suhu, di sini sepi, bolehkah teecu melatih gin-kang? Air di sini diam hingga mudah untuk melatih diri dengan menggunakan perahu."

Suhunya melihat ke sana ke mari, ternyata memang keadaan masih sunyi hingga muridnya tentu takkan menarik perhatian siapa juga, maka ia mengangguk.

Tiong Li lalu dayung perahunya ke tengah sambil membawa beberapa potong kayu.

Setelah agak jauh, ia mulai berlatih dan dari perahu itu ia menyeberang ke darat, begitu sebaliknya dari darat ke perahu.

Ia telah berloncat-loncatan beberapa kali dari perahunya.

Ketika ia gunakan lemparan yang makin jauh hingga loncatannya juga harus lebih keras pula, ia dayung perahunya makin jauh, ia telah siap dengan kayu yang cukup.

Lalu dari perahunya ia mulai dengan lemparan kayu pertama yang disusul oleh tubuhnya melayang mengejar kayu itu.

Gerakannya demikian ringan hingga perahu yang dipakai landasan loncat itu bergoyangpun tidak!

Ia berhasil menginjak kayu pertama dan lemparkan kayu kedua itu.

Tapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sebuah benda yang dilempar keras sekali membuat kayu yang akan diinjaknya itu bergerak cepat dan tidak ampun lagi ia kena injak air!

Karena tidak pandai renang, otomatis tubuhnya tenggelam ke dalam air.

Tiong Li gerakkan kaki tangannya dan tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air.

Ia mendengar suara anak muda tertawa dan karena gugup dan takutnya Tiong Li menjerit.

"Suhuuuuuu...! Tolong...!"

Tapi tiba-tiba sebuah benda yang panjang berwarna merah datang menyambar, dan membelit tubuhnya dan sesaat kemudian ia merasa tubuhnya dibetot keras sekali hingga ia melayang ke atas.

Karena gin-kangnya memang sudah sempurna, Tiong Li dapat imbangi tubuhnya dan dengan berjumpalitan ia dapat melihat datangnya sebuah perahu kecil dari mana benda panjang merah itu datang.

Cepat ia melayang ke arah perahu itu dan turun dengan selamat!

Hanya pakaiannya saja yang basah dan wajahnya pucat.

Ketika ia memandang, ternyata yang menolongnya adalah seorang gadis kecil yang usianya sepantar dengan dia dan gadis itu kini pegang sabuk sutera merah yang panjang dan yang digunakan menolongnya tadi, dengan senyum yang manis di wajahnya yang cantik jelita dan putih.

Tiong Li memandang ke arah suara orang yang menertawakan tadi dan melihat seorang pemuda sebaya dengannya berdiri di atas perahunya sambil tertawa menyeringai.

Pemuda itupun berwajah tampan sekali, tapi mukanya memperlihatkan kekejaman dan kenakalan ketika in mengejek ke arah Tiong Li.

"Eh, bagaimana rasanya mandi di telaga? Dingin, ya?"

Tiong Li marah sekali dan hendak balas memaki, tapi pada saat itu ia melihat suhunya mendatangi dengan cepat bagaikan berjalan di atas air!

Juga gadis kecil itu terkejut dan kagum melihat betapa seorang kakek yang tubuhnya kecil dan kepalanya besar berlari cepat di atas air dan menuju ke perahu mereka!

Padahal Tiong Li tahu bahwa gurunya itu menggunakan gin-kang yang tinggi, karena orang tua itu tidak menggunakan kayu sebagai loncatan, tapi ia telah menggunakan batu-batu kecil yang dilempar sedemikian rupa hingga dapat berloncatan-loncatan di atas air dan segera dikejar dengan cepat sekali untuk dipakai sebagai batu-batu loncatan!

Ternyata Kiang Cu Liong tadi telah mendengar teriakan muridnya dan kini secepat terbang ia telah berada di atas perahu gadis kecil itu.

Dengan paras masih pucat karena marah, Tiong Li menceritakan kepada suhunya bahwa ketika ia sedang berlatih, ada seorang anak muda yang mengganggu dia dengan menyambit kayu injakannya hingga ia tercebur dalam air, tapi untungnya ada gadis kecil itu menolongnya dengan sabuk sutera merahnya yang panjang dan lihai.

"Mana anak muda itu?"

Tanya Kiang Cu Liong.

Tiong Li menengok ke arah perahu kecil tadi, tapi ternyata anak muda yang tadi mengganggunya telah tidak ada di situ pula.

Agaknya pemuda jahat itu melihat pula kedatangan orang tua yang lihai itu hingga ia menjadi takut dan mendayung pergi perahunya.

Kiang Cu Liong kini memandang gadis itu!

Anak perempuan itu paling banyak berusia empatbelas tahun, wajahnya bundar telur dan putih kemerah-merahan.

Mulutnya selalu tersenyum dan sepasang matanya seperti mata burung hong, dan yang sangat menarik hati ialah pandang mata yang halus itu menatap orang dengan terus terang dan terbuka hingga dapat diduga bahwa ia adalah seorang anak yang berhati mulia dan jujur.

"Anak, kau siapakah dan siapakah suhumu yang mengajarmu menggunakan sabuk sutera itu?"

Tanya Kiang Cu Liong karena ia tahu bahwa untuk dapat menggunakan sabuk sutera yang lemas itu untuk membelit dan membetot orang, dibutuhkan tenaga lwee-kang yang hebat juga dan latihan yang keras.

Anak gadis itu telah melihat kelihaian orang tua itu dan tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti, maka ia menjura dengan hormat dan sopan.

"Teecu bernama Hong Cu dan suhu adalah Hwat Kong Tosu."

Tiba-tiba Kiang Cu Liong berdongak ke atas dan tertawa lebar.

"Ha, ha, ha! Pantas, pantas! Tidak tahunya anak murid Hwat Kong Tosu, pantas saja kau lihai. Hei, Tiong Li, ini adalah murid dari Hwat Kong Tosu, seorang dari pada ketiga tokoh besar dari Thang-la. Nona, di mana suhumu sekarang?"

"Hei...! Kiang Cu Liong, aku di sini!"

Suara ini terdengar nyata sekali tapi orangnya tak tampak!

Ternyata Hwat Kong Tosu yang telah mempelajari ilmu untuk mendengar pembicaraan jauh telah dapat menangkap ucapan Kiang Cu Liong tadi dan ia yang duduk di pantai telaga lalu mengirim suaranya dengan menggunakan tenaga dalam yang terkumpulkan di suaranya.

Kiang Cu Liong tertawa lagi dan memandang ke arah pantai.

"Bagus, Hwat Kong! Aku datang!"

Ia lalu rogoh sakunya dan keluarkan beberapa buah batu yang lalu dilempar sebuah ke atas air lalu dikejar oleh tubuhnya.

Demikianlah ia tampak seperti berlari-lari di atas air dan sebentar saja tiba di pantai, di mana Hwat Kong Tosu telah berdiri menyambutnya sambil tertawa lebar.

"Suhumu lihai sekali, siapakah dia?"

Hong Cu memandang kepada Tiong Li sambil bertanya. Mau tak mau Tiong Li merasa bangga sekali, tapi ia tindas perasaannya hingga suaranya terdengar biasa saja ketika ia menjawab.

"Guruku itu ialah Tabib Dewa Kiang Cu Liong, sedangkan namaku sendiri Tiong Li. Tapi suhumu yang berada di pantai itu juga tidak kalah lihainya."

Sambil berkata demikian, Tiong Li pandang gadis kecil itu yang dalam pandangannya tampak sangat cantik jelita dan agung, hingga pemuda tanggung itu memandang dengan tiada bosan-bosannya dan mulut ternganga!

Melihat keadaan Tiong Li ini, Hong Cu merasa malu dan tak senang, maka ia berkata untuk memecahkan kesunyian dan suasana tidak enak itu.

"Pakaianmu basah semua, tentu tak enak dipakai. Hayo kita ke pantai menyusul suhu."

Tiong Li sadar dari lamunannya dan dengan muka merah karena teringat akan kelakuannya yang tidak sopan itu, ia tundukkan muka dan mengangguk.

Gadis itu jalankan perahunya dan ternyata tenaganya sangat besar hingga perahu itu meluncur laju.

Di dalam perjalanan perahu itu ke pantai, Tiong Li tetap tundukkan kepala dan tidak berani pandang wajah gadis kecil itu.

Mereka mendarat dan menghampiri ke dua guru mereka yang sedang duduk di pulau kecil bercakap-cakap dengan gembira.

Memang Kiang Cu Liong telah lama kenal kepada Hwat Kong Tosu.

Melihat muridnya, tabib sakti itu dengan tertawa memperkenalkan dan berkata kepada muridnya.

"Tiong Li, inilah tokoh dari Thang-la yang tersohor. Tidak kecewa kau tertolong oleh murid seorang di antara ke tiga Thang-la Sam-sian!"

Tiong Li dengan hormat dan sopan lalu berlutut di depan Hwat Kong Tosu memberi hormat hingga Hwat Kong Tosu merasa senang sekali melihat anak nuda itu.

Sebaliknya ia lalu perintah muridnya memberi hormat kepada tabib sakti itu yang dilakukan oleh Hong Cu dengan taat.

"Tiong Li, siapakah yang tadi menggodamu di atas telaga?"

Tanya Kiang Cu Liong.

"Entahlah, suhu. Teecu tidak kenal. Ia adalah seorang pemuda sebaya dengan teecu, dan wajahnya tampan dan putih."

"Teecu tadi melihat pemuda itu seperahu dengan seorang tua yang aneh. Kakek itu kepalanya gundul dan bertanduk."

Hwat Kong Tosu dan Kiang Cu Liong saling pandang penuh arti dan segera bertanya kepada Hong Cu.

"Di manakah orang tua itu?"

"Tadi teecu melihat ia berdua dengan pengganggu saudara ini dalam satu perahu, tapi setelah kau orang tua datang terbang di atas air, ia tak tampak lagi dan teecu tidak memperhatikan lebih lanjut padanya."

"Si Ular Tanduk Berbisa!"

Kata Kiang Cu Liong.

"Si jahat dari timur!"

Hwat Kong Tosu berseru. Tiong Li dan Hong Cu bertanya.

"Orang macam apakah dia itu?"

"Pencuri yang curang dan lihai,"

Kata Kiang Cu Liong.

"Hi, hi, hi, hi! Dua tua bangka sedang menakut-nakuti muridnya dan memaki orang seenaknya saja!"

Tiba-tiba terdengar, suara parau dan Tok-kak-coa, si jahat dari timur sendiri telah tampak berdiri muncul dari balik gerombolan tetumbuhan, membungkuk-bungkuk dan berjalan menghampiri mereka.

Tongkat ularnya yang mengerikan dipegang pada bagian kepala dan ekornya dipakai menekan tanah untuk menunjang tubuhnya yang bungkuk.

Ketika ia berjalan menghampiri, maka mulutnya menyeringai hingga giginya yang sudah ompong tampak dan matanya yang sipit itu hampir tertutup sama sekali.

"Siapa memaki? Memang kau curang dan lihai!"

Kata Kiang Cu Liong, si tabib sakti.

"Dan siapa tidak kenal dan tahu bahwa si jahat dari timur adalah jahat dan curang?"

Kata Hwat Kong Tosu.

"Ha, ha, ha! Sesukamulah aku merasa bangga bahwa orang tua renta seperti aku masih bisa mendatangkan rasa takut kepada kalian, jago-jago tua yang terkenal sakti."

Kemudian tanpa dipersilahkan lagi, ia duduk di dekat kedua orang tua gagah itu.

Tiong Li dan Hong Cu yang merasa ngeri dan takut melihat orang tua aneh itu, segera pindah tempat dan diam-diam mereka meninggalkan tempat itu setelah Tiong Li memberi isyarat dengan mata kepada Hong Cu.

Tiba-tiba Kiang Cu Liong meloncat berdiri.

Matanya memandang tajam dan kepalanya yang besar tegak menentang muka Tok-kak-coa.

"Tok-kak-coa! Kedatanganmu ini tentu terdorong oleh kesombongan hatimu yang memandang rendah kepadaku dan kepada Hwat Kong! Tapi memang kebetulan sekali karena aku memang mencari-carimu. Kau tentu tahu mengapa aku mencarimu!"

Tok-kak-coa masih saja tersenyum dan tertawa, ha, ha, hi, hi mendengar si Tabib Dewa itu.

"Kau sakit hati karena, sedikit obat tidurmu kuambil? Begitu kikirkah kau?"

Kiang Cu Liong perdengarkan suara penghinaan.

"Hah! Siapa yang sekikir itu? Kalau kau pakai obat itu untuk mengobati orang sakit atau untuk keperluan lain, aku takkan menyesal bahkan merasa bersyukur.

"Tapi kau gunakan obatku itu untuk melakukan pencurian di kelenteng orang! Bukankah itu berarti lempar batu sembunyi tangan? Kau yang dapat dagingnya, aku yang terkena tahinya!"

Tok-kak-coa tertawa lagi, sedikitpun ia tidak perlihatkan rasa takut.

"Habis kamu mau apa?"

"Bagaimana juga, hari ini kita adu kepandaian. Kalau aku kalah, aku takkan banyak cerewet lagi. Tapi kalau kau tak dapat kalahkan aku, kau harus kembalikan patung Kwan-im Pouwsat itu padaku!"

Tok-kak-coa masih duduk di atas rumput sambil tertawa ha, ha, hi, hi. Sebelum ia menjawab Hwat Kong Tosu telah bangun lebih dulu dan berkata kepada Kiang Cu Liong.

"Eh, eh. Jangan kau terburu-buru, kawan. Siluman ular ini harus melawanku dulu. Akupun mencari-carinya lama sekali. Gara-gara dia inilah maka aku dimusuhi imam-imam Kwan-im-bio!"

Ternyata Hwat Kong khawatir kalau-kalau patung itu nanti terjatuh ke dalam tangan tabib sakti itu, karena kalau si tabib itu yang mendapatkan patung, maka sukar baginya untuk merebutnya.

Bukan karena ia takut, tapi karena ia memang sudah kenal baik sekali dan tak enak hati kalau harus merampas patung itu dari tangan kawannya.

Tiba-tiba Tok-kak-coa bangun berdiri dan tertawa bergelak-gelak.

"Baru ini hari aku melihat dua orang berebut untuk dapat berkelahi melawan aku! Biarlah aku memilih. Kedatanganku ke sini bukan secara kebetulan. Aku memang sengaja datang hendak menemui Hwat Kong.

"Aku mendengar tentang ilmu tongkatmu yang disebut Ouw-coa-koai-tung-hwat! Entah sampai di mana kebenaran kabar yang mengatakan bahwa ilmu tongkatmu itu paling lihai di dunia ini.

"Ingin sekali aku mencobanya. Mana tongkatmu, Hwat Kong! Keluarkanlah dan kasih aku melihatnya. Baik mana dengan tongkatku ini?"

Sambil berkata demikian ia gerak-gerakkan tongkat ularnya. Hwat Kong Tosu berpaling kepada si tabib sakti dengan tersenyum.

"Nah, kawanku, terpaksa kau harus mengalah. Dia memilih aku!"

Kemudian ia gerakkan tongkat bambunya yang kecil bagaikan sepotong bambu kering yang tidak ada artinya.

"Terpaksa aku mengalah. Kau yang beruntung,"

Kata Kiang Cu Liong yang lalu duduk di pinggir dengan bersungut-sungut.

"Tok-kak-coa, inilah tongkatku. Sambutlah!"

Secepat kilat Hwat Kong Tosu lalu menyabet dengan tongkatnya ke arah muka Tok-kak-coa yang cepat berkelit.

Maka bertempurlah kedua orang itu.

Keduanya menggunakan sebatang tongkat kecil yang dimainkan seperti orang mainkan pedang, karena tongkat itu ujungnya runcing dan dapat digunakan untuk menusuk dan mengemplang.

Hanya Tok kak-coa memegang tongkatnya dengan aneh, karena yang dipegangnya ialah bagian ekor ular yang kecil sedangkan tongkat ular itu dipakai menyerang.

Namun gerakannya hebat sekali.

Tongkat ularnya bergerak-gerak bagaikan ular hidup yang menyambar-nyambar.

Ketika tongkat itu menyambar, maka tercium bau amis dan keras, tanda bahwa jika tongkat itu dimainkan, maka hawa racun keluar dari mulut ular itu!

Namun kali ini si Ular Tanduk Berbisa menemukan tandingan yang setimpal.

Hwat Kong Tosu cukup kenal akan kelihaian dan kecurangan Tok-kak-coa, tahu pula bahwa orang luar biasa ini adalah ahli racun yang berbahaya, maka ia mengeluarkan gerakan-gerakan ilmu tongkatnya yang paling tepat dan lihai hingga tidak saja sinar tongkatnya merupakan benteng hitam melindungi tubuhnya, juga angin sambaran tongkatnya itu jauh-jauh telah meniup pergi semua racun dan hawa racun yang mencoba menyerangnya.

Dengan gerakan-gerakan panjang, maka Tok-kak-coa tak berdaya sama sekali untuk mendekati lawannya, sebaliknya pukulan-pukulan maut yang dilayangkan oleh Tok-kak-coa dan disertai hawa racun yang disebarkan oleh tongkatnya membuat Hwat Kong Tosu tidak berani mendekat dan tidak berani menggunakan serangan dengan gerakan pendek.

Maka ramailah pertempuran itu.

Kalau tongkat Tok-kak-coa merupakan seekor ular yang panjang dan menyambar-nyambar, maka tongkat Hwat Kong Tosu adalah seekor landak yang mengeluarkan dan memasang semua duri-duri di sekitar tubuhnya hingga ular itu tidak berdaya melukainya, sebaliknya si landak juga tidak mampu menyerang ular yang gesit itu!

Ratusan jurus mereka bertempur dan diam-diam Si Tabib Dewa yang menonton dari pinggir merasa kagum akan kehebatan kedua orang itu.

Dilihat dengan teliti, maka tampak kehebatan ilmu tongkat Hwat Kong dan seandainya Tok-kak-coa tidak melindungi diri dengan hawa racun yang keluar dari tongkatnya, tentu sudah lama ia kena dirobohkan.

Sebaliknya iapun bersangsi apakah ia akan dapat mengalahkan Ular Tanduk Berbisa itu yang mengurung diri dengan hawa racun berbahaya.

Sementara itu, di sebelah sana pulau itu, terjadi lain pertempuran yang tak kalah hebatnya!

Kiranya Tiong Li juga sedang mengadu kepalan dengan Siauw Liong!

Tadi ketika melihat kedatangan Tok-kak-coa, Tiong Li telah dapat menduga bahwa murid dari si jahat dari timur tentu ikut datang pula, maka ia memberi isyarat kepada Hong Cu untuk meninggalkan tempat itu.

Gadis kecil itu agaknya dapat menangkap maksud isyarat mata Tiong Li, maka iapun berdiri dan bersama-sama mereka mengelilingi pulau itu.

Benar saja, mereka melihat Siauw Liong pemuda yang tadi mengganggu Tiong Li, sedang berdiri di pantai di mana tampak sebuah perahu kecil.

Melihat kedatangan mereka, Siauw Liong tersenyum dan tolak pinggang dengan sikap sombong sekali.

"Pakaianmu sudah kering?"

Tanyanya kepada Tiong Li, kemudian sambil memandang Ke arah Hong Cu dengan sikap kurang ajar ia berkata.

"Nona cantik, kenapa kau tolong buaya ini? Biarkan saja ia berenang di dalam telaga! Barangkali kau suka padanya karena wajahnya yang tampan? Ha, ha, ha!"

Bukan main marahnya Hong Cu karena kata-kata yang kurang ajar itu.

Ia buka sabuk sutera merahnya yang terselip di pinggang lalu gerakkan sabuk itu ke arah Siauw Liong.

Tiong Li yang tadi melihat bahwa gerakan gadis kecil itu masih sangat lambat dan menunjukkan bahwa gadis itu belum lama belajar silat, hendak mencegah, tapi sudah terlambat.

Sabuk sutera merah itu bagaikan seekor naga menyambar ke arah muka Siauw Liong.

Pemuda yang cakap tapi nakal inipun tahu pula bahwa kepandaian Hong Cu belum berapa hebat, maka ia sengaja berlaku lambat dan ketika ujung sabuk hendak menyabet mukanya, baru ia gerakkan kepala berkelit tanpa pindah dari tempatnya!

Untuk mengejek gadis itu, ia tertawa bergelak-gelak.

Tapi biarpun baru belajar silat belum cukup setahun, di bawah gemblengan Hwat Kong Tosu, ternyata Hong Cu mendapat kepandaian yang lumayan juga.

Melihat bahwa serangannya dengan mudah dapat digagalkan lawan, ia gerakkan tahgannya pula.

Kini ujung sabuknya mengelilingi tubuh Siauw Liong dan langsung menjirat kakinya lalu ditarik dengan sentakan keras!

Siauw Liong tak dapat menduga gerakan ini dan hampir saja ia kena dirobohkan.

Maka dengan marah sekali ia gunakan ilmu bikin berat tubuhnya seakan-akan berakar di tanah, kemudian cepat sekali ia pegang sabuk itu dan gunakan tenaganya yang besar untuk membetot.

Tentu saja Hong Cu jauh kalah dalam hal adu tenaga, maka tubuhnya segera terbetot ke arah Siauw Liong yang membuka tangan untuk memeluknya dengan sikap kurang ajar sekali sambil berkata.

"Mari, mari, manis! Mari datang kepada kokomu!"

Hong Cu coba pertahankan tubuhnya, tapi karena ia telah terhuyung ke depan, agaknya tak dapat ditolong pula ia tentu akan roboh dalam pelukan Siauw Liong.

Tiba-tiba pada saat itu Siauw Liong merasa sambaran angin pukulan dari samping hingga ia merasa terkejut sekali.

Sambaran pukulan itu membawa tenaga yang keras sekali hingga dengan cepat ia berkelit sambil loncat ke pinggir.

Karena pukulan inilah maka Hong Cu terlepas dari pada hinaan.

Sebaliknya Siauw Liong marah sekali dan pandang kepada penyerangnya dengan mata melotot.

Tiong Li dengan tenang menghadapinya dan berkata kepada Hong Cu.

"Biarlah aku yang melawannya!"

"Bangsat kecil kau sombong sekali, dan curang! Tidak tahukah kau bahwa kau berhadapan dengan murid dari Tok-kak-coa? Jangan kau berani main-main di depan tuanmu!"

"Pantas sekali kalau kau menjadi murid siluman ular itu! Kau sendiri tentu siluman cacing yang banyak tingkah tapi makananmu hanya tanah lumpur!"

Tiong Li balas mengejek dengan sikap tenang sekali hingga Siauw Liong makin marah .

"Beri tahu namamu kalau kau laki-laki!"

Bentaknya.

"Aku Tiong Li, murid Kiang Cu Liong si Tabib Dewa, sedangkan nona ini adalah Hong Cu, murid dari Hwat Kong Tosu."

"Bagus! Kalau begitu sekarang tentu kedua gurumu itu telah terbunuh oleh guruku. Maka sudah menjadi kewajibanku, Siauw Liong, untuk membasmi kau dan bawa pergi nona ini untuk dijadikan kawan seperjalanan!"

"Mulutmu kotor sekali!"

Tiong Li maju dan menyerang dengan kepalannya ke arah dada Siauw Liong.

Tapi Siauw Liong segera menangkis dengan keras dan ternyata tenaga mereka seimbang.

Siauw Liong balas menyerang dengan hebat tapi dapat ditangkis oleh Tiong Li.

Maka ramailah kedua anak muda itu mengeluarkan kepandaian masing-masing untuk menjatuhkan lawannya.

Siauw Liong mengeluarkan tipu dari Kun-lun-pai yang telah dicampuk aduk dengan tipu-tipu cabang lain hingga sangat membingungkan.

Memang gerak tipu Siauw Liong yang diajarkan oleh gurunya ini cocok dan sesuai dengan silat Tok-kak-coa, yakni curang dan licin.

Dengan bersilat cara demikian, maka secara tidak langsung ia telah mencemarkan nama baik cabang-cabang persilatan itu, karena kalau dibilang bahwa ia masih cucu murid cabang itu, bukan.

Tapi dibilang bukan, ilmu silatnya mencangkok tipu-tipu dari cabang itu.

Akan tetapi, seperti sifat gurunya, Tiong Li selalu tenang dan waspada.

Ia bersilat dengan Ilmu Silat Sin-hong-kun-hwat, yakni ilmu pukulan ciptaan si tabib sakti.

Ilmu silat ini sifatnya lebih banyak membela diri, tapi mengandung keuletan dan kekuatan yang hebat untuk memusnahkan serangan yang bagaimana jahatpun.

Dengan tenang dan cukup gesit Tiong Li menghindarkan semua serangan lawan dan menggunakan kesempatan-kesempatan kosong untuk mengirim serangan balasan yang tidak kalah berbahayanya.

Pada suatu ketika, siku kanan Tiong Li berhasil menggempur pundak kiri Siauw Liong hingga pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang sambil meringis kesakitan.

Tiba-tiba wajahnya menjadi menyeramkan karena marahnya.

Ia memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan bungkusan bubuk yang cepat digosokkan ke atas kulit ke dua lengannya.

Kemudian ia meloncat menerjang lagi.

Tiong Li cukup cerdik dan sebagai murid seorang ahli obat, ia dapat menduga bahwa obat itu tentu racun berbahaya.

Ia berlaku waspada dan hati-hati, tapi terlambat!

Serangan yang dilakukan oleh Siauw Liong bukan main hebatnya.

Tangan kanannya memukul ke arah leher dan tangan kiri mencengkeram ke arah anggauta rahasia!

Tiong Li dapat kelit pukulan ke arah lehernya, tapi cengkeraman dengan tenaga Eng-jiauw-kang itu tak sempat dikelit lagi dan terpaksa ditangkis!

Karena benturan itu terjadi ketika keduanya mengerahkan tenaga lwee-kang masing-masing, maka ke duanya terpelanting dan jatuh.

Ke duanya cepat meloncat bangun dan pada saat itu terdengar teriakan Tok-kak-coa.

"Siauw Liong, lekas jalankan perahu!"

Mendengar teriakan suhunya ini, Siauw Liong cepat loncat ke perahunya dan mendayungnya ke tengah.

Pada saat itu, dari jauh berkelebatlah bayangan orang yang dengan cepat sekali telah melayang mengejar perahu itu dan turun ke dalam perahu dengan ringan sekali.

Itu adalah Tok-kak-coa yang melarikan diri.

Guru dan murid itu cepat-cepat mendayung perahu mereka dan tinggalkan pulau itu!

Ternyata bahwa setelah bertempur ratusan jurus dengan Hwat Kong Tosu dan belum juga dapat mendesak lawannya bahkan dia yang terkurung oleh tongkat tokoh Thang-la itu, Tok-kak-coa menjadi gugup.

Baru melawan Hwat Kong Tosu seorang saja ia telah kewalahan, belum mencoba si Tabib Dewa.

Jangan-jangan Kiang Cu Liong kepandaiannya lebih hebat dari Hwat Kong Tosu!

Memikirkan hal ini Tok-kak-coa diam-diam merasa bingung juga hingga permainan tongkat ularnya agak kacau.

Hal ini diketahui baik-baik oleh Hwat Kong Tosu yang segera mendesaknya dengan serangan-serangan gerak pendek.

Ketika mendapat kesempatan baik, Hwat Kong Tosu maju merangsek dan hawa amis yang keluar dari mulut tongkat ular lawannya ia punahkan dengan tiupan keras, kemudian ia putar tongkatnya sedemikian rupa hingga menempel tongkat ular Tok-kak-coa dan membuat tongkat ular itu terpaksa ikut berputar.

Lalu dengan bentakan keras sekali Hwat Kong Tosu kerahkan lwee-kangnya dan membetot ke atas!

Tok-kak-coa tak dapat menahan pegangannya lebih lama lagi dan tongkat ular itu terlepas dan terlempar ke atas tinggi sekali.

Tapi Tok-kak-coa benar-benar lihai.

Melihat betapa tongkatnya itu terpental ke atas dan ke arah dari mana ia datang tadi, dengan gerakan kilat ia loncat ke atas dan sambar tongkat ularnya itu kemudian dibawa kabur!

"Aku tunggu kalian di Gua Selaksa Ular!"

Teriaknya dan cepat sekali ia ajak muridnya melarikan diri.

"Kejar!"

Kata Hwat Kong Tosu tapi Kiang Cu Liong mencegahnya.

"Jangan! Ia lihai sekali gunakan senjata rahasia beracun! Biarlah lain hari kita datangi gua ularnya itu!"

Sementara itu, setelah melihat Siauw Liong loncat ke perahunya, Tiong Li tadinya hendak menyusul.

Tapi ia melihat bahwa suhu Siauw Liong telah datang dan pada saat itu ia merasa betapa lengannya yang digunakan untuk menangkis lengan Siauw Liong tadi terasa gatal-gatal dan sakit, maka ia urungkan maksudnya.

Kini tangannya makin sakit sekali hingga ia meringis-ringis menahan rasa gatal.

Hong Cu lari menghampiri dan dengan khawatir gadis itu memandangnya.

"Lukakah kau?"

Tanyanya. Tiong Li terpaksa tersenyum karena melihat kekhawatiran gadis itu. Ia tidak mau membikin Hong Cu menjadi cemas, maka ia geleng-geleng kepala menyatakan bahwa ia tidak apa-apa.

"Tapi mengapa kau meringis seperti orang yang kesakitan?"

"Siauw Liong lihai sekali, dan aku lelah..."

"Ia masih kalah olehmu. Sayang kepandaianku rendah karena aku baru belajar silat setahun, kalau kepandaianku sudah tinggi, ingin sekali aku memberi hajaran kepada bangsat itu!"

Mata gadis itu memancar marah hingga biasanya melembut seperti mata burung hong itu kini menjadi menyala dan tajam menyambar.

"Kepandaianmu sudah cukup lihai, belum tentu kalah oleh aku sendiri."

Tiong Li memang berwatak sopan-santun dan suka merendah, terutama terhadap Hong Cu, gadis kecil yang menarik hatinya dan yang menimbulkan rasa suka.

Maka iapun sengaja menghibur dan meninggikan gadis itu.

Tapi ia tidak sangka bahwa hal ini mendatangkan rasa tidak senang dalam hati gadis itu.

Hong Cu berwatak jujur.

Segala apa ia menghendaki terus terang dan biarpun ia seorang anak perempuan, tapi ia tidak malu-malu untuk mengaku bodoh kalau memang hal itu benar.

Kini mendengar kata-kata Tiong Li yang merendahkan diri dan memuji-mujinya, ia menjadi tidak senang.

Pada saat itu ia melihat betapa lengan kanan Tiong Li bengkak dan merah.

Ia terkejut sekali dan otomatis ia ulur tangannya untuk pegang lengan itu dan memeriksanya.

Tapi tidak disangkanya, Tiong Li gerakkan lengannya dan berkelit.

"Jangan pegang!"

Katanya penuh rasa khawatir kalau-kalau gadis itu terkena racun pula.

Merahlah muka Hong Cu karena sesungguhnya ia tidak tahu akan hal itu.

Segera ia buang muka dan lari tinggalkan Tiong Li.

Tiong Li hanya menghela napas, kemudian iapun segera menuju ke tempat suhunya.

Ketika ia tiba di situ, dilihatnya ke dua orang tua itu sudah kembali duduk di atas rumput dan Hong Cu duduk di atas sebuah batu di belakang suhunya.

Gadis itu tampak cemberut!

"Tiong Li, kau terluka?"

Datang-datang suhunya berkata dengan heran.

"Benar, suhu. Teecu terluka oleh racun di lengan Siauw Liong."

"Siauw Liong? Siapakah itu?"

"Dia murid siluman ular itu, suhu."

Kiang Cu Liong mengangguk-angguk dan mendekati muridnya. Setelah melihat sebentar keadaan lengan muridnya, ia berkata.

"Ah, tidak apa-apa, hanya racun ular merah. Kau telan dua butir pek-tan dan gosok lenganmu dengan obat bubuk dalam bungkusan kuning itu."

Setelah berkata demikian, tabib sakti itu kembali berpaling kepada Hwat Kong Tosu dan bercakap-cakap dengan asyik, sedikitpun tidak acuhkan muridnya lagi, seakan-akan luka kena racun itu bukanlah hal yang penting baginya.

Mendengar percakapan itu, timbul rasa iba juga dalam hati Hong Cu.

Ia memandang ke arah Tiong Li dan timbul pertimbangan dalam kepalanya bahwa pemuda itu terluka karena tadi telah membelanya.

Ia merasa tidak adil kalau sekarang diam-diam saja.

Maka ia segera menghampiri Tiong Li.

Ketika melihat betapa pemuda itu gunakan tangan kiri saja untuk mencari-cari bungkusan di dalam keranjang, tanpa dapat gunakan tangan kanannya yang kini telah membengkak makin besar, Hong Cu segera berjongkok dan membantu.

Cepat sekali tangannya yang cekatan memilih-milih dan sebentar saja ia sudah dapatkan obat yang dicari.

Tanpa ucapan sepatah katapun Hong Cu ambilkan pek-tan atau obat pulung warna putih dan memberikan dua butir kepada Tiong Li yang terus menelannya.

Kemudian gadis cilik itu bantu menggosok-gosok lengan Tiong Li yang bengkak dengan obat gosok.

Tiong Li merasa sungkan dan malu sekali, tapi sebelum ia mencegah, gurunya berkata kepada Hong Cu.

"Nah, menggosoknya yang keras, nona. Dan jangan digosok dengan urutan ke atas, harus ke bawah. Sesudah menggosok kau harus mencuci tanganmu bersih-bersih, juga kau Tiong Li, kalau bengkaknya sudah kempis dan warna hitam sudah lenyap, kau harus mencuci tangan dan lenganmu biar bersih!"

Hong Cu adalah seorang gadis yang berwatak jujur dan tulus, maka tanpa ragu-ragu dan sungkan-sungkan lagi ia memajukan diri membantu Tiong Li dan sedikitpun tidak memperlihatkan malu-malu.

Tapi Tiong Li yang halus sekali perasaannya dan lebih tua setahun, merasa likat sekali dan malu.

Ia hanya menundukkan muka dan perasaan aneh menyerang lubuk hatinya.

Ia merasa girang, malu, dan aneh ketika merasa betapa lengannya digosok-gosok dan diurut-urut oleh jari-jari gadis yang halus dan hangat itu!

Sementara itu, Hwat Kong Tosu bertanya kepada Kiang Cu Liong.

"Ia menantang kita supaya datang di Gua Ular, entah di mana tempat itu."

"Lupakah kau? Gua Ular tentu berada di puncak Hek-coa-san."

"Ah, jadi ia sudah kembali ke timur lagi? Hal ini tak kusangka. Hm, bisa jadi ia bawa patung itu ke timur. Tadi aku tidak ada dugaan demikian karena bukankah ia meninggalkan timur setelah dikejar-kejar oleh kaisar?"

Kiang Cu Liong mengangguk-angguk.

"Memang, dulu memang demikian. Tapi dengan kepandaiannya, masakan ia takut kaisar? Pula, dia cerdik dan licin sekali, kalau cuma panglima-panglima istana saja agaknya sukar untuk menangkapnya."

"Memang ia lihai sekali, dan puncak Hek-coa-san juga tempat yang sangat berbahaya. Hm, kita akan menghadapi tugas yang berat. Tapi betapapun juga, kita harus ke sana, kalau tidak, tentu ia akan mentertawakan kita dan menganggap kita takut!"

"Tentu saja!"

Tabib Sakti menjawab dengan bernafsu.

"Masakan kita harus tinggal diam saja dan tidak berusaha mendapatkan patung itu?"

"Ha, ha, ha! Kau agaknya ingin sekali mendapatkan patung Kwan-im Pouwsat, kawan,"

Hwat Kong Tosu menyindir.

"Memang, memang ingin sekali. Pertama untuk menguji kepandaian dan berlomba dengan kalian Thang-la Sam-sian, kedua karena memang perlu sekali aku dapat memiliki patung itu, walau hanya beberapa hari saja sekalipun."

Sementara itu, lengan tangan Tiong Li yang tadinya gembung dan kehitam-hitaman, kini telah menjadi biasa dan bersih.

Maka keduanya lalu menuju ke pinggir telaga dan mencuci lengan dan tangan mereka.

Tiba-tiba Hong Cu bersorak.

"Hei, ikan! Ikan!"

Ketika Tiong Li memandang ternyata tampak beberapa ekor ikan tiba-tiba saja mengambang dengan perutnya putih di atas dalam keadaan mati!

"Ah, mereka terkena racun yang menempel di tangan dan lengan kita."

Maka ia lalu menggunakan tangannya menangkap bangkai ikan yang terdekat.

"Untuk apa kau ambil bangkai itu? Aku tidak sudi makan dagingnya,"

Kata Hong Cu. Tiong Li tersenyum.

"Bukan untuk di makan, tapi untuk dibuang agar jangan sampai dimakan oleh ikan lain, karena kalau terjadi demikian maka telaga ini akan penuh bangkai ikan."

Mendengar keterangan ini Hong Cu segera bantu mengambil ikan-ikan yang mengambang itu, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu dan memandang kepada Tiong Li dengan terkejut.

"Celaka!"

Katanya dan wajahnya yang cantik berubah muram.

"Percuma saja kita buang bangkai-bangkai ikan ini. Tidak urung semua ikan di telaga ini akan mati."

"Mengapa begitu?"

Tanya Tiong Li heran "Bukankah kita telah cuci tangan di sini? Racun itu akan membunuh semua ikan dalam telaga ini?"

"Jangan khawatir. Racun itu hanya sedikit sedangkan air telaga ini demikian banyak. Sebentar saja racun itu akan hanyut dan berpencaran hingga hilang ditelan air yang sebanyak ini dan tidak berbahaya lagi."

Hong Cu memandang kepada Tiong Li dengan heran dan kagum.

Ia anggap pemuda itu luar biasa pandainya dan agaknya mengerti segala hal yang baginya masih gelap.

Juga ketika bertempur melawan Siauw Liong tadi, ternyata bahwa kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Tiong Li ketika bertemu pandang dengan Hong Cu, tiba-tiba wajahnya memerah dan ia tidak berani memandang lebih lama.

"Hayo kita kembali kepada suhu,"

Ajaknya dan mereka lalu berjalan cepat ke tempat suhu mereka.

Ternyata tabib sakti telah siap dengan pikulannya dan hendak berangkat.

Ia panggil Tiong Li mendekat dan menegur muridnya itu dengan tiba-tiba.

"Tiong Li, tahukah kau sekarang bahwa kepandaianmu masih rendah sekali hingga sekali bertempur terluka?"

Mendengar teguran dengan suara keren itu Hong Cu merasa penasaran dan adatnya yang polos membuat ia tidak ragu-ragu lagi membela Tiong Li.

"Tapi, peh-peh, ia tidak kalah oleh Siauw Liong!"

Seruan ini membuat si tabib sakti tersenyum, dan Tiong Li cepat-cepat anggukkan kepala kepada suhunya.

"Benar, suhu. Memang teecu masih bodoh dan tadi kurang berhati-hati."

"Nah, baik juga kalau kau mengerti ini. Memang kau terlalu sembrono tadi. Biarlah pengalaman pahit ini menjadi pelajaran bagimu dan selanjutnya kau harus berlatih terlebih giat lagi."

"Baik, suhu."

Hwat Kong Tosu memandang murid perempuannya dan berkata dengan tertawa.

"Dengarlah, Hong Cu. Kepandaian Tiong Li sudah jauh lebih tinggi darimu, namun masih saja ia mendapat teguran dan merasa kepandaiannya rendah. Apa lagi dengan kepandaian yang kau miliki sekarang, ah, kau jauh sekali ketinggalan.

"Tapi jangan kau putus asa, karena kau belum juga setahun belajar silat. Kalau kau rajin, kelak kau tentu dapat mengejar kepandaian Tiong Li dan yang lain-lain."

Hong Cu mengangguk-angguk tanda mengerti dan tabib sakti itu bersama muridnya telah siap untuk berangkat.

"Nah, selamat berpisah, sahabat yang baik. Sampai bertemu kembali kira-kira sebulan yang akan datang di puncak Hek-coa-san. Aku akan mendaki puncak itu dari selatan,"

Kata Kiang Cu Liong.

"Dan aku akan naik dari utara. Sampai berjumpa kembali;"

Kata Hwat Kong Tosu. Sementara itu, selagi kedua guru itu bercakap-cakap, Tiong Li mendekat Hong Cu dan memberikan sebungkus obat.

"Kau minumlah ini, tentu lekas maju kepandaianmu,"

Bisiknya perlahan.

Hong Cu menerimanya dan mengangguk.

Sebetulnya ia takkan mau menerima karena ia paling benci minum obat-obat yang pahit, tapi melihat pandangan mata Tiong Li yang halus, lembut dan penuh desakan, ia menerima juga.

"Kalau nanti tidak kuminum, ia toh tidak tahu juga,"

Pikirnya.

Maka berpisahlah mereka.

Hwat Kong Tosu dan Hong Cu memandang kedua tubuh guru dan murid yang memikul keranjang obat itu menuju ke sebuah perahu kecil di tepi telaga dan dengan cepat perahu itu didayung.

"Hong Cu, kau diberi apakah tadi oleh Tiong Li?"

Tiba-tiba Hwat Kong Tosu bertanya kepada muridnya.

Hong Cu terkejut sekali.

Sedikitpun tidak disangkanya bahwa gurunya mengetahui hal itu.

Dengan cepat ia mengeluarkan bungkusan itu dari saku bajunya dan memperlihatkan kepada suhunya sambil berkata.

"Entahlah, suhu. Katanya tadi kalau teecu minum obat ini, tentu kepandaian teecu lekas maju."

Hwat Kong Tosu membuka bungkusan itu dan ternyata di dalamnya terdapat tiga butir obat berwarna putih.

Ketika obat itu ia dekatkan ke hidungnya, maka tercium bau yang harum tapi keras.

Hwat Kong Tosu bukanlah ahli obat-obatan, tapi dari baunya ia dapat menduga bahwa obat itu tentu semacam obat kuat yang membersihkan darah dan menguatkan tulang.

"Dia memang anak baik. Kau boleh percaya kepada Tiong Li dan kau minumlah obat itu."

"Kapan teecu harus minum ini, suhu?"

Tanya Hong Cu sambil memandang obat itu dengan mata tak senang karena belum apa-apa ia sudah merasa muak. Hwat Kong Tosu tertawa.

"Kalau obat itu aku yang memberi padamu, tentu saja harus kau minum sekarang juga, tapi karena yang memberimu adalah orang lain, maka terserah kepadamu kapan saja kau boleh minum."

Hong Cu tidak menjawab, tapi lalu menyimpan obat itu ke dalam saku bajunya.

Semenjak hari itu ia menerima latihan-latihan gin-kang dan lwee-kang dari suhunya.

Latihan-latihan ini dijalankan dengan rajin sekali hingga tiap hari sambil berjalan ia melatih diri.

Belum pernah suhunya berjalan biasa dan perlahan, bahkan sengaja percepat tindakan kakinya hingga terpaksa Hong Cu juga kerahkan kepandaiannya dan gunakan ilmu lari cepat yang sedang dipelajarinya.

Demikianlah, maka cepat sekali ia memperoleh kemajuan.

Tiap kali beristirahat, ia selalu duduk bersamadhi meniru gurunya, mengumpulkan semangat dan mengatur napas melatih ilmu lwee-kang yang tinggi.

Beberapa hari kemudian mereka melalui sebuah hutan yang lebat.

Hutan itu penuh dengan pohon-pohon yang aneh dan banyak sekali buah-buah yang lezat.

Hong Cu merasa girang sekali dan ia berpesta pora makan buah-buah sambil latihan gin-kangnya.

Ia naik ke pohon tidak dengan memanjat pohon itu, tapi dengan loncat ke atas pohon dan memetik buah-buahan yang masak.

Hwat Kong Tosu juga gembira sekali melihat hutan kecil yang penuh dengan pohon buah beraneka macam itu.

Di tengah-tengah hutan terdapat sebuah pohon yang sangat besar dan dari jauh sudah tercium bau harum dari pohon itu.

Hwat Kong Tosu dan muridnya lalu menghampiri pohon itu dan ternyata yang menyebarkan bau harum adalah beberapa belas buah warna merah yang bergantungan di pohon itu.

Pohon itu tinggi dan besar, tapi buahnya kecil-kecil dan hanya ada sebelas atau duabelas butir saja.

Besarnya paling banyak hanya setengah kepalan tangan, bentuknya bulat dan kulitnya halus tipis.

Hong Cu pandang cabang pohon yang tinggi itu.

Ia ragu-ragu untuk meloncat ke atas, karena ia sangsi apakah kepandaiannya sudah cukup untuk dapat mencapai cabang setinggi itu.

Tapi Hwat Kong Tosu berkata.

"Hong Cu, kau loncatlah ke cabang itu. Kalau loncatanmu kurang tinggi, kau bisa menggunakan gerakan Naga Terbang Jumpalitan dan pegang cabang itu. Cobalah, jangan takut-takut!"

Sebenarnya Hong Cu tidak takut, hanya tadi ia merasa ragu karena khawatir kalau-kalau loncatannya gagal dan ia merasa malu kepada suhunya yang tentu menegurnya.

Kini mendengar anjuran ini, ia bersiap.

Ia kumpulkan tenaga di ujung kakinya dan dengan seruan nyaring ia enjot tubuhnya ke atas.

Betul saja, cabang itu terlalu tinggi untuknya, maka ia segera berpok-sai yaitu membuat salto dan enjot tubuhnya ke atas lagi.

Ia berhasil dan kedua tangannya dapat mencapai cabang itu yang lalu ditangkapnya.

Tubuhnya terayun-ayun dan sekali ayun saja ia dapat menarik tubuhnya ke atas dan berdiri di atas cabang itu.

Setelah loncatannya berhasil, Hong Cu seakan-akan lupa kepada suhunya yang masih berdiri di bawah.

Ia segera memetik buah yang merah dan nampak segar itu, lalu langsung menggigitnya.

Ternyata buah itu enak sekali, manis segar, dingin dan harum.

Cepat ia makan sampai habis tiga butir.

Tiba-tiba is merasa ada angin berkelebat di belakangnya dan ketika ia menengok, tahu-tahu Hwat Kong Tosu sudah berada di belakangnya, berdiri di atas batang yang besar.

Batang yang diinjak oleh suhunya itu sedikitpun tidak bergoyang, menandakan bahwa kakek tua itu sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam ilmu meringankan tubuh.

"Anak nakal, jangan habiskan sendiri buah itu!"

Tegurnya sambil tertawa. Hong Cu baru ingat dan iapun tertawa gembira dan berkata.

"Suhu, enak betul buah ini. Kalau orang makan buah ini, apapun akan terlupa olehnya!"

"Betulkah?"

Suhunya lalu memetik sebuah dan memakannya. Jenggotnya yang panjang lagi putih itu berkibar-kibar tertiup angin dan matanya meram melek ketika ia menikmati rasa buah yang benar-benar lezat itu.

"Suhu, buah apakah namanya ini?"

Tanya Hong Cu.

"Entahlah! Selama hidup baru kali ini aku merasakannya. Rasanya seperti buah tho tapi macamnya dan harumnya berbeda."

Tiba-tiba Hong Cu ingat obatnya.

"Ah, kalau dimakan dengan buah yang manis ini tentu obat itu tidak terasa pahitnya,"

Pikirnya, maka segera ia mengeluarkan obat itu dari sakunya.

"Suhu, teecu hendak makan obat ini sekarang,"

Katanya dengan tersenyum.

Hwat Kong Tosu sudah biasa dengan adat muridnya yang jujur dan polos, pula sering kali memang gadis cilik itu mempunyai keinginan tiba-tiba maka mendengar kata-kata ini ia hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju, sementara terus saja ia makan buah yang lezat itu.

Hong Cu menjumput sebutir obat warna putih itu, menggigit sepotong buah dan memasukkan obat itu ke dalam mulut.

Ia menyangka akan merasakan pahitnya obat itu, tapi tiba-tiba matanya terbuka lebar.

Ternyata setelah obat itu masuk ke dalam mulutnya, hidungnya mencium bau harum yang luar biasa dan yang mengalahkan bau harum buah itu!

Rasa buah yang manis itu menjadi tambah manis dan tambah lezat.

Karena itu ia memandang suhunya dengan terheran-heran, tapi suhunya ternyata tidak memperhatikan dia dan tengah makan buah dengan meram melek dan giginya yang sudah ompong itu menggayem dengan enaknya!

Hong Cu tidak berani mengganggu suhunya, maka ia menggigit sepotong lagi, lalu memasukkan sisa obat yang tinggal dua butir ke dalam mulutnya.

Ia merasakan kelezatan yang luar biasa hingga tak terasa dua titik air mata keluar dari matanya.

Namun Hong Cu tidak merasakan ini dan ia terus saja memetik buah dan makan dengan enaknya.

Sebentar saja duabelas buah butir buah itu telah habis terbagi antara guru dan murid itu.

Hwat Kong Tosu menghabiskan lima butir dan Hong Cu telah makan tujuh butir!

"Aah...

enak sekali...

belum pernah aku makan seenak ini.

Luar biasa!"

Hwat Kong Tosu berkata sambil duduk di atas cabang pohon dan sandarkan punggungnya.

Tapi tiba-tiba ia loncat berdiri dan tubuhnya melesat ke bawah.

Untung ia berlaku gesit dan cepat untuk menyambar tubuh Hong Cu yang terpelanting ke bawah!

Entah mengapa, tiba-tiba Hong Cu merasa tubuhnya panas sekali dan perutnya berbunyi keras seperti ada beberapa ekor ayam jantan berkeruyuk di dalam perutnya.

Kepalanya menjadi pening dan matanya gelap!

Maka ia tak dapat menahan tubuhnya yang menjadi limbung dan kakinya lalu terpeleset hingga tubuhnya terpelanting ke bawah!

Setelah dapat menyambar tubuh muridnya, Hwat Kong Tosu lalu loncat turun.

Alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa muridnya telah pingsan dengan tubuh lemas dan tubuh itu menjadi merah sekali seperti warnanya buah yang mereka makan tadi, dan panasnya luar biasa!

Mata Hong Cu meram dan dari mulutnya terdengar suara rintihan-rintihan seakan-akan dalam pingsannya ia menderita sakit, sedangkan dari perutnya masih saja terdengar suara berkeruyukan keras!

Hwat Kong Tosu menjadi bingung sekali dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Ia benar-benar tidak berdaya pada saat itu, melihat keadaan muridnya yang tersayang itu, hampir saja ia menangis keras karena putus asa!

Cepat ia lari ke sana ke mari untuk mencari air.

Setelah menemukan sebuah anak sungai, ia segera mengambil air dan menggunakan air itu membasahi kepala dan muka muridnya.

Hwat Kong Tosu lalu duduk bersamadhi dan menggunakan kekuatan batin dan kekuatan tenaga dalamnya untuk membantu muridnya sambil memegang pergelangan tangan muridnya ia mengerahkan tenaganya yang dengan hangat dan tak tampak menjalar melalui jari tangannya dan memasuki tubuh muridnya melalui pergelangan tangan itu.

Lama mereka berdiam dalam keadaan demikian itu.

Dalam tekadnya, Hwat Kong Tosu takkan bangun sebelum muridnya sembuh.

Demikian besar cinta kasihnya terhadap Hong Cu, murid yang satu-satunya semenjak ia mengambil Souw Cin Ok sebagai murid dulu.

Perlahan-lahan jari tangannya merasa betapa hawa panas yang keluar dari tubuh muridnya itu berkurang dan bunyi perut berkeruyukan itu kini menjadi perlahan dan hampir tak terdengar lagi.

Dengan hati lega diam-diam ia berterima kasih kepada Thian Yang Maha Tunggal dan dengan perlahan ia membuka matanya yang tadi dimeramkan ketika bersamadhi.

Ternyata warna merah di kulit tubuh Hong Cu secara berangsur-angsur lenyap dan nafasnya menjadi biasa kembali.

Tak lama kemudian gadis cilik itu terdengar mengeluh dan biji matanya dalam pelupuk yang meram itu bergerak-gerak.

Kemudian mata itu terbuka dan mulutnya berkata lirih.

"Ah, haus... haus..."

"Ini air, Hong Cu, minumlah ini..."

Kata Hwat Kong yang lalu memberi minum gadis itu. Setelah minum air, Hong Cu menjadi sadar betul. Ia loncat bangun dan pandang suhunya.

"Eh, suhu, kenapakah?"

Ia kerut-kerutkan kening mengingat-ingat karena heran sekali mendapatkan dirinya terlentang dan suhunya duduk di dekatnya dengan wajah sedih dan aneh.

Maka teringatlah ia bahwa tadi ia merasa pening sekali berada di atas pohon dan terpelanting ke bawah.

"Suhu, tadi... teecu jatuh?"

Tanyanya. Hwat Kong Tosu tersenyum, karena hatinya telah lega dan girang.

"Kau bikin kaget orang tua saja. Tadi tiba-tiba kau jatuh. Untung dapat kusambar tubuhmu, tapi kau menjadi pingsan dan tubuhmu panas sekali."

Hong Cu berdiri dan memandang ke sekelilingnya dengan heran.

"Aneh, tubuhku terasa ringan dan mataku terang sekali, suhu, apakah yang terjadi dengan teecu?"

Hwat Kong Tosu mengelus-elus jenggotnya yang putih panjang.

"Kau tadi telah makan obat pemberian Tiong Li. Hatiku tadinya penuh curiga dan kebencian. Ah, kalau saja obat mujijat itu sampai mengakibatkan kau menderita sesuatu, aku pasti tidak dapat memberi ampun kepada Tiong Li dan tabib sakti!"

Hong Cu memandang suhunya dengan aneh.

"Oh, jadi obat itukah yang membuat teecu jatuh pingsan? Teecu tadi menyangka, buah itulah yang menyebabkannya."

Guru dan murid itu sama sekali tidak tahu bahwa dengan tidak disengaja, Hong Cu telah membuat ramuan obat yang ajaib, karena obat kuat pemberian Tiong Li tadi ketika di dalam mulutnya tercampur dengan buah merah itu, lalu menjadi obat yang luar biasa pengaruhnya.

"Suhu, alangkah ganjilnya perasaan teecu. Tubuhku ringan sekali."

Hong Cu lalu mengenjot untuk mencoba meloncat ke cabang pohon yang tinggi itu dan aneh!

Sekali meloncat saja ia telah melewati cabang itu sedangkan tadi sebelum makan obat itu ia telah mengerahkan tenaga dalam loncatannya namun tetap tak dapat mencapai cabang!

Tentu saja murid dan guru itu menjadi demikian girang hingga keduanya berloncat-loncatan!

(Lanjut ke

Jilid 07) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Kulihat gin-kangmu telah naik dua kali lipat. Heran, sungguh heran! Tapi, kalau betul obat kuat itu yang membantu begini, tentu Tiong Li yang mudah saja makan obat itu dari gurunya sudah memiliki gin-kang yang tiada bandingannya.

"Sedangkan melihat gerakan pemuda itu, kepandaian gin-kangnya mungkin sekarang hanya sedikit selisihnya dengan kepandaianmu. Aneh, aneh! Hong Cu, kurasa bukan obat itu yang mendatangkan kekuatan ini dalam tubuhmu. Ku rasa buah itulah!"

"Suhu juga sudah makan buah itu, adakah terasa perubahan dalam tubuh suhu?"

Hong Cu bertanya. Hwat Kong Tosu diam dan merasa-rasa lalu menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak terasa apa-apa, hanya hawa yang hangat dan enak dalam perutku."

Dengan girang sekali Hwat Kong Tosu lalu memberi tambahan pelajaran gin-kang kepada muridnya dan perlahan-lahan mulai memberi teori-teori ilmu silatnya yang lihai, yaitu Ilmu Tongkat Ular Hitam.

Mula-mula ia memberi pelajaran gerakan tangan kosong, sebagai lanjutan dari ilmu silat yang dulu telah diajarkan, yaitu dasar-dasar segala kuda-kuda dan pukulan.

Untuk melatih lwee-kang, dulu ia sengaja memberi pelajaran menggunakan sabuk sutera merah.

Makin dalam pelajaran lwee-kangnya, makin lihailah sabuk sutera itu hingga dengan memainkan sabuk sutera, dapat dijadikan ukuran bagi kemajuan lwee-kang gadis cilik itu.

Hampir satu hari mereka berdiam dalam hutan kecil penuh buah itu dan tiada bosan dan lelahnya Hong Cu berlatih silat.

Kemudian, setelah hampir sore, mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ilmu lari cepat.

Demikianlah, setelah makan obat campur buah yang mendatangkan tenaga luar biasa dalam tubuhnya, Hong Cu makin gembira mempelajari silat hingga mendapat kemajuan pesat sekali.

Ia demikian tekun belajar sampai-sampai ia tidak perduli lagi akan keadaan dirinya.

Pakaiannya kusut dan mulai ditambal-tambal, sepatunya yang kiri sudah bolong hingga ibu jari kakinya tampak.

Rambutnya yang hitam panjang dan halus itu tak terawat dan dikuncir sembarangan saja.

Sungguhpun demikian, namun kecantikannya tidak hilang, bahkan nampak manis dan aseli.

Jalan yang ditempuh oleh Hwat Kong Tosu dan Kiang Cu Liong biarpun satu tujuan yaitu Hek-coa-san, namun jurusannya berbeda, karena Kiang Cu Liong si tabib sakti bersama muridnya ambil jalan melalui Kam-leng untuk pergi ke kaki gunung itu sebelah selatan, sedangkan Hwat Kong Tosu ambil jalan melalui Lam-hu untuk pergi ke kaki gunung itu sebelah utara.

Karena itu maka yang seorang berjalan ke arah tenggara sedangkan yang ke dua ke arah timur laut.

Setengah bulan kemudian, Hwat Kong Tosu dan muridnya memasuki Lam-hu.

Hwat Kong Tosu yang suka makan enak, ajak muridnya masuk ke dalam sebuah rumah makan dan pesan masakan daging bebek.

Memang masakan-masakan di Lam-hu sangat tersohor lezatnya.

Pelayan rumah makan itu memandang heran kepada Hwat Kong Tosu dan Hong Cu, karena pakaian mereka tambal-tambalan seperti pengemis-pengemis saja mengapa berani masuk rumah makan besar yang mewah dan pesan masakan yang mahal harganya?

Maka beberapa orang pelayan itu saling bisik.

"Lote, awas. Jangan-jangan ia nanti tidak bisa bayar,"

Kata seorang pelayan kepada rekannya.

"Baiknya suruh bayar di muka saja,"

Kata yang lain.

"Tapi sinar mata mereka halus dan tajam, agaknya ahli-ahli silat. Bagaimana kalau mereka mengamuk?"

"Laporkan saja kepada penjaga keamanan kota."

Macam-macamlah pendapat mereka tapi tak seorangpun bergerak untuk menjalankan usul-usul itu.

Hwat Kong Tosu tak perduli semua itu dan duduk dengan tenang.

Tapi Hong Cu sayup-sayup mendengar juga percakapan mereka, maka ia menghampiri beberapa orang pelayan yang berdiri di sudut.

Gadis itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong perak yang beratnya beberapa tail, lalu berkata kepada mereka.

"Kamu orang jangan takut bahwa kami tidak akan membayar makanan yang kami pesan. Nah, ini boleh dibuat uang tanggungan!"

Sambil berkata demikian ia tekan perak itu ke atas meja kayu yang keras sambil kerahkan tenaga lwee-kangnya.

Setelah itu ia pergi ke meja suhunya lagi.

Lima orang pelayan yang tadinya kagum melihat kecantikan Hong Cu yang luar biasa ketika gadis itu mendekat, kini mereka berdiri bengong dengan mata terbelalak.

Semua mata mereka ditujukan untuk memandang potongan perak yang ditaruh gadis itu di atas meja tadi, karena perak itu telah melesak ke dalam kayu hingga rata dengan permukaannya.

Seorang di antara mereka ulurkan tangan hendak mencabut perak itu, tapi ternyata bahwa benda itu masuk dalam dan kuat sekali hingga ketika ia mencoba mencabut, sedikitpun tak bergerak!

Lain orang mencoba pula hasilnya sama.

Mereka saling pandang dan leletkan lidah.

Tapi Hong Cu dan suhunya sama sekali tidak melihat ke arah mereka hingga tidak tahu betapa ke lima orang pelayan itu memandang ke arah mereka dengan heran dan kagum.

Mereka buru-buru menyediakan masakan yang dipesan oleh Hwat Kong Tosu.

Dengan gembira Hwat Kong Tosu bersama muridnya makan bebek tim yang sedap dan empuk dan sebelum masakan yang dihadapinya habis termakan, Hwat Kong Tosu sudah pesan lagi lain masakan!

Tapi Hong Cu tidak banyak makannya, maka setelah merasa kenyang, ia tinggalkan suhunya yang masih enak-enak sikat habis semua makanan dan keluar dari rumah makan, berdiri di luar melihat-lihat.

Tiba-tiba dari kiri jalan terdengar suara gembreng dan tambur dan tampak iring-iringan orang yang mengiringkan joli pengantin.

Anak-anak kecil dengan gembira mengikuti iring-iringan itu sambil tertawa-tawa.

Dari sana-sini terdengar orang berseru.

"Pengantin! Pengantin!"

Hong Cu sudah lama tidak melihat iring-iringan pengantin.

Dulu memang pernah ia melihatnya, tapi setelah merantau dengan suhunya setahun lebih, belum pernah ia bertemu dengan rombongan orang menjemput pengantin.

Pengantin laki-laki yang menjemput pengantin wanita tampak naik kuda dan pakaiannya mewah dan indah, tersulam dan warnanya macam-macam.

Dalam pakaian yang mewah itu pengantin laki-laki itu nampak tampan dan gagah juga.

Dilihat dari pakaian pengantin laki-laki dan pakaian para pengawal, juga dari besarnya joli yang terukir indah, maka dapat diterka bahwa pengantin laki-lakinya tergolong orang kaya.

Hong Cu memandang iring-iringan itu dengan hati senang.

Tapi tiba-tiba telinganya yang terlatih dan tajamnya melebihi telinga orang biasa itu, mendengar keluhan dan tangisan yang memilukan dari dalam joli.

Suara itu ditahan-tahan di belakang saputangan oleh orang yang menangis, maka tak terdengar oleh orang lain.

Akan tetapi pendengaran Hong Cu memang lihai.

Ia mendengar keluhan yang berbunyi.

"Oh... Thian Yang Maha Agung, lebih baik hamba mati saja..."

Hong Cu merasa heran dan hatinya tergerak.

Tanpa perdulikan apa-apa ia melangkah lebar ke arah joli pengantin yang diarak dan dipikul oleh empat orang.

Seorang pengawal menggunakan cambuk kudanya untuk menghalangi Hong Cu, sambil membentak.

"Eh, pengemis cilik! Kau minggirlah, jangan terlalu dekat!"

Tapi Hong Cu tak perdulikan padanya dan terus saja maju ke arah joli hingga pengawal itu menjadi marah dan membentak lebih keras.

"He, tulikah kau? Minggir!"

Ia menggunakan cambuknya menyabet ke arah leher Hong Cu.

Tanpa menengok padanya dan hanya mendengar angin sabetan itu saja, Hong Cu mengulurkan tangan dan dapat menangkap ujung cambuk.

Sekali betot saja cambuk itu telah pindah tangan!

Gadis cilik itu terus maju ke dekat joli sedangkan pengawal yang tadi menyerangnya menjadi bengong karena heran dan juga malu dan marah!

Hong Cu menyingkap mui-li penutup joli dan di dalam ternyata duduk seorang gadis yang cantik tapi wajahnya muram dan kedua matanya merah, jelas bahwa ia sedang berduka dan menangis.

Melihat mui-li jolinya disingkap orang, pengantin perempuan itu terkejut, tapi wajahnya berubah heran ketika ia melihat bahwa yang membuka jolinya adalah seorang gadis cilik.

Karena herannya, maka ia hanya memandang muka Hong Cu tanpa dapat mengeluarkan kata-kata sesuatu.

Sebaliknya Hong Cu segera bertanya dengan suara halus.

"Cici, kenapa kau menangis? Kenapa kau ingin mati? Bukankah menjadi pengantin itu biasanya senang?"

Tapi pada saat itu, pengawal yang direbut cambuknya itu telah turun dari kuda dan tangannya bergerak hendak menjambak kucir di belakang kepala Hong Cu dan hendak menariknya pergi.

Tapi Hong Cu hanya gerakkan tangannya yang memegang cambuk dan terdengarlah suara cambuk yang nyaring, disusul suara teriakan kesakitan karena tepat sekali muka pengawal itu kena dihajar dengan ujung cambuk yang panjang dan lemas hingga tampaklah bekas cambuk yang melintang merah di muka orang itu!

"Kurang ajar!

Kau sudah bosan hidup!"

Pengawal itu maju menyerang dengan kepalannya ke arah dada Hong Cu.

Tapi Hong Cu dengan bibir tersenyum mengejek berkelit ke samping dan secepat kilat cambuknya bergerak lagi, kini cambuk itu membelit leher penyerangnya dan sekali menyentak, dengan cambuknya, orang sial itu terlempar dan bergulingan ke atas tanah.

Dari leher dan mukanya mengalir darah yang membuat mukanya tampak menyeramkan.

Maka ributlah orang-orang di situ, baik yang sedang mengantar pengantin, maupun orang-orang yang sedang nonton.

Para penonton bubar dan menjauhkan diri, sedangkan para pengawal segera mengurung Hong Cu, dikepalai oleh pengantin laki-laki.

Tapi dengan tenang Hong Cu mendekati joli dan sekali menekan ke bawah, maka keempat orang pemikul joli merasa seolah-olah joli itu dimuati barang ribuan kati beratnya hingga pundak mereka terasa sakit seakan-akan tulang pundak mereka hendak patah rasanya, maka buru-buru mereka turunkan joli ke atas tanah dan mundur ketakutan.

Hong Cu berkata kepada pengantin perempuan yang memandang semua itu dengan heran dan takut.

"Bagaimana, cici? Apakah aku harus hajar semua kutu busuk ini?"

Pengantin itu kagum memandang Hong Cu tapi berbareng juga takut melihat sikap orang-orang yang mengurung mereka.

"Ah, adik yang baik, jangan kau berbuat demikian! Kau... kita... akan dibunuh oleh mereka karenanya."

"Tak perlu kau takut, cici. Jangankan baru beberapa ekor kutu busuk ini, biar ditambah lima kali lipat juga aku takkan mundur dan mereka akan kuhajar satu-persatu. Kau lihat sajalah. Tapi katakan dulu, kalau aku hajar mereka, apakah kau akan senang? Apakah kau dipaksa oleh mereka?"

Pengantin perempuan itu tiba-tiba menangis sedih dan menjawab dengan suara terputus-putus.

"Aku... aku hendak dijual oleh dia itu!"

Ia menunjuk ke arah orang yang berpakaian pengantin laki-laki.

"Apa? Kau hendak dijual oleh suamimu?"

"Dia bukan suamiku! Dia penipu rendah, buaya darat yang kejam! Dia berhasil menipu orang tuaku dan mengawini aku, tapi... tadi ia telah bilang padaku... aku... aku hendak dijualnya menjadi bini ketujuh dari... dari seorang kaya raya di kota Lok-cu!"

"Jangan banyak buka mulut!"

Pengantin laki-laki itu membentak dan berkata kepada orang-orangnya.

"Pukul pengemis hina ini, lempar dia jauh-jauh!"

Sementara itu, mendengar cerita pengantin perempuan itu, Hong Cu marah sekali.

Ia berjalan perlahan menghampiri pengantin laki-laki yang kini telah turun dari kudanya, sikapnya mengancam sekali.

Tapi karena ia hanya seorang gadis cilik maka para pengiring pengantin itu tidak gentar dan dengan bentakan keras seorang pengawal yang tinggi besar meloncat maju sambil menyindir.

"Eh, eh, kau wanita cilik ini, apakah kau pun ingin menjadi pengantin? Kalau mau, hayo kawin dengan aku saja!"

Kawan-kawan pengawal itu tertawa geli dan seorang lain berkata keras.

"Ah tidak kusangka pengemis ini cantik juga. Lihat itu kulitnya putih bersih, matanya indah menarik. Ah, ah! Aku juga mau kawin dengan dia!"

Banyak olok-olok terdengar di sekelilingnya hingga muka Hong Cu yang putih kemerah-merahan itu menjadi makin merah saja.

Sepasang matanya mengeluarkan cahaya kilat sebagai tanda bahwa ia marah sekali, dan dalam keadaan demikian ia sangat berbahaya.

Namun para pengawal dan pengiring itu sama sekali tidak melihat hal ini dan terus saja menggoda.

Bahkan orang yang tinggi besar itu melangkah maju dan tangannya diulur hendak memegang tubuh Hong Cu.

Gadis cilik itu marah benar.

Ia tidak berkelit tapi menyambuti lengan yang besar itu.

Dengan cepat sekali ia berhasil menangkap pergelangan tangan yang besar itu dalam cengkeramannya dan sekali ia mengerahkan tenaganya maka terdengar bunyi tulang patah dan orang tinggi besar itu menjerit keras sekali karena ternyata Hong Cu telah mematahkan lengannya dengan sekali puntir saja!

Belum puas dengan hajarannya ini Hong Cu menarik lengan yang telah patah tulangnya itu dan sambil membentak nyaring ia mengayun tubuh tinggi besar itu hingga dengan berteriak-teriak ngeri orang itu terangkat dan diputar-putarkan di sekelilingnya untuk menghantam orang-orang yang datang mendekati!

Tiga orang segera roboh bergelimpangan kena hantam tubuh orang itu.

Ketika Hong Cu melepaskan lengan yang dipegangnya dan melempar orang itu ke pinggir, ternyata orang itu telah tiga perempat mati.

Juga orang-orang yang terkena pukulan tadi berguling-gulingan di tanah seperti cacing kepanasan.

Maka ribut dan paniklah semua pengawal.

Mereka kaget sekali dan marah melihat betapa gadis cilik itu telah menghajar kawan-kawannya.

Terutama pengantin laki-laki itu.

Dengan marah sekali ia berteriak-teriak, menganjurkan orang-orangnya untuk menyerbu dengan senjata tajam di tangan!

Sementara itu, seorang tamu di rumah makan itu segera lari kepada Hwat Kong Tosu yang masih enak-enak makan minum, dan berkata gugup.

"Eh, lo-suhu! Keluarlah lekas, muridmu berkelahi dengan orang banyak!"

Hwat Kong menunda sumpitnya dan bertindak keluar dengan tenang.

Pada saat itu, hampir delapan buah senjata golok, pedang dan tombak, menyambar ke arah Hong Cu.

Tapi Hong Cu yang telah memiliki gin-kang luar biasa, dengan mudah saja dapat menerobos di antara sekian banyak senjata itu dan meluputkan diri.

Tidak lupa sambil berkelit kaki tangannya bekerja hingga lagi-lagi ada dua orang yang berteriak kesakitan dan roboh tak dapat bangun lagi!

Hwat Kong Tosu melihat betapa pengeroyok-pengeroyok muridnya hanya buaya-buaya kecil biasa saja, dan melihat bahwa di situ terdapat seorang pengantin perempuan duduk di dalam joli sambil menangis dan ketakutan, segera berjalan kembali ke mejanya dan melanjutkan makan minum!

Menghadapi orang-orang yang ternyata hanya mengerti ilmu silat pasaran itu, Hong Cu dapat melayani dengan seenaknya saja.

Tapi karena pengeroyoknya makin banyak dan kini semua pengawal yang berjumlah belasan orang itu maju mengeroyoknya, ia terpaksa menarik keluar selendang suteranya yang berwarna merah.

Dengan selendang atau sabuk suteranya ini di tangan, maka Hong Cu mengamuk.

Sabuk itu bergulung-gulung dan melayang-layang, ujungnya menyambar dan membetot senjata lawan, kadang-kadang menyabet muka seorang, kadang-kadang membelit kaki dan membuat seorang lawan jatuh bangun.

Karena sabuk suteranya lihai sekali, maka Hong Cu dapat berdiri di tengah dan melawan semua pengeroyoknya yang mengelilinginya, tanpa ada seorang lawanpun dapat mendekatinya.

Hong Cu melihat betapa pengantin laki-laki yang disebut penipu itu hendak naik kuda, agaknya hendak kabur, maka cepat bagai kilat Hong Cu kebutkan sabuknya ke arah pengantin laki-laki itu.

Laki-laki itu ketika merasa betapa tiba-tiba ujung sabuk yang melingkar bagaikan ular itu membelit leher dan mencekiknya, menjadi kaget sekali.

Hong Cu betot sabuknya dan lelaki itu terguling dari atas kuda.

Malang sekali baginya, jatuhnya tepat di bawah kuda di mana terdapat kotoran kuda yang lembek dan masih hangat, dan karena tibanya tengkurap, maka tak ampun lagi mukanya masuk ke dalam kotoran kuda itu hingga ia menjadi gelagapan!

Sebentar saja, delapan orang telah dapat dirobohkan oleh Hong Cu dan sisanya lalu lari tunggang langgang!

Hong Cu dengan tenang kebut-kebut sabuknya yang kotor lalu menggulungnya perlahan, sementara itu dari dalam rumah makan keluarlah Hwat Kong Tosu.

"Bagus, Hong Cu. Kau telah mulai maju,"

Puji guru itu dengan bangga.

Tapi pada saat itu tampak seorang penunggang kuda balapkan kudanya hingga debu mengepul di belakangnya.

Para pengawal yang tadinya telah melarikan diri, kini berlari pula mendatangi sambil berseru girang.

"Coa-Kauwsu datang!"

Penunggang kuda yang disebut Coa-Kauwsu (guru silat Coa) itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan tubuhnya kekar.

Pakaiannya ringkas dan di pinggangnya tergantung golok besar.

Ia segera turun dari kuda dan suaranya terdengar bagaikan guntur ketika bertanya.

"Setan manakah yang berani menghina saudara-saudaraku?"

Seorang pengawal menghampirinya dan dengan menggerak-gerakkan tangan ia bercerita, kemudian sambil menuding ke arah Hong Cu ia berkata.

"Dia itulah siluman yang telah mengganggu kami!"

Pada wajah Kauwsu itu nyata sekali terbayang keheranan besar ketika ia menghampiri Hong Cu.

Hampir ia tak dapat percaya bahwa seorang gadis cilik seperti ini dapat menghajar habis-habisan para pengawal sebanyak itu!

"Eh, kau siapakah dan mengapakah memusuhi kami?"

Bentaknya kepada Hong Cu. Gadis ini tersenyum saja memandang kepada Coa-Kauwsu, dan menjawab dengan suara merdu halus.

"Siapa adanya aku tak usah Kau ketahui, dan tentu ada sebabnya maka aku memusuhi kalian!"

"Sebabnya apa? Hayo katakan!"

"Sebabnya tak perlu kukatakan padamu. Kau dapat bertanya kepada buaya darat yang suka makan tahi kuda itu, dan kau lepaskan cici yang berada di dalam joli, habis perkara!"

Jawab Hong Cu. Sementara itu, Hwat Kong Tosu yang rupanya terlalu kenyang makan minum tadi, kini duduk di bawah sebatang pohon di tepi jalan dan matanya meram melek, agaknya ia sedang tidur ayam.

"Kurang ajar!"

Guru silat itu membentak marah.

"Kau anak kecil keliaran mengapa usil dan berani mencampuri urusan orang lain? Kau sudah mengacau di sini dan melukai orang-orangku, maka sudah sepantasnya kuhajar! Bersiaplah menerima pukulanku!"

Sebagai penutup katanya, Coa-Kauwsu maju menubruk, tapi dengan lincahnya Hong Cu meloncat ke samping. Coa-Kauwsu kaget juga melihat kelihaian gin-kang gadis itu, lebih-lebih ketika Hong Cu mengejek.

"Cabutlah golokmu itu. Untuk apa kau pakai itu? Apakah untuk aksi saja dan menakut-nakuti orang?"

Maka dengan marah sekali Coa-Kauwsu mencabut goloknya yang besar dan ia membentak.

"Siluman perempuan! Hayo keluarkan senjatamu kalau kau memang pandai!"

Hong Cu mengangkat sabuknya yang sudah tergulung itu dan menjawab lucu.

"Senjataku sejak tadi sudah kupegang."

Coa-Kauwsu segera memutar goloknya hingga menimbulkan angin, lalu dengan bentakan yang keras ia meloncat dan menerjang dengan gerak tipu Sambar Mutiara di Kepala Naga.

Hong Cu siang-siang sudah mengulur sabuknya dan kini sabuk itu dipegang di tengah-tengah hingga kedua ujungnya merupakan sepasang senjata pendek.

Ia meloncat berkelit dari serangan berbahaya itu dan mata golok lewat cepat di dekat kepalanya.

Kemudian ia menyabet dengan sabuknya di tangan kiri.

Biarpun yang menyabetnya hanya ujung sabuk yang terbuat dari pada sutera, tapi guru silat itu maklum bahwa lawannya yang masih setengah kanak-kanak itu mempunyai kepandaian tinggi dan tenaga lwee-kang yang dalam, maka ia tidak berani menerima dengan tubuhnya.

Ia cepat menggerakkan goloknya untuk menangkis.

Inilah yang dikehendaki oleh Hong Cu, karena sekali tangannya bergerak, maka ujung sabuk yang tertangkis itu tiba-tiba melibat leher golok!

Tapi ia keliru perhitungan, karena Coa-Kauwsu bukanlah seorang lemah seperti para pengawal pengantin tadi.

Tenaga guru silat ini lebih besar dari pada tenaga Hong Cu maka dengan bentakan hebat golok itu dapat digerakkan dan terlepas dari libatan sabuk, bahkan mata golok itu dapat memutuskan sedikit ujung sabuk yang merah itu.

Bukan main terkejutnya hati Hong Cu.

Ia merasa bahwa ia takkan menang melawan guru silat ini, tapi karena ia memang tabah, ia tidak menjadi gentar.

Tiba-tiba terdengar suhunya berkata.

"Hong Cu, kau pakailah ini!"

Dan sebatang cabang kering menyambar ke arah gadis itu dengan perlahan. Hong Cu menangkap cabang kering itu dan Hwat Kong Tosu berkata lagi.

"Coba kau gunakan jurus ke lima sampai ke sepuluh dari Ouw-coa-koai-tung-hwat kita secara beruntun!"

Sementara itu, si guru silat yang melihat betapa gadis itu memegang sebatang kayu kering, lalu maju lagi menyabet dengan goloknya.

Hong Cu menggunakan gin-kangnya meloncat berkelit dan ia segera menjalankan perintah gurunya.

Ia mulai menyerang dengan jurus kelima, yakni gerak tipu Ular Hitam Keluar Gua dan kayu cabang di tangannya yang dipakai sebagai senjata tongkat itu meluncur ke arah iga dan menotok jalan darah lawan.

Kauwsu itu terkejut karena ketika meluncur dalam serangannya, kayu cabang itu gerakannya memutar hingga sukar diduga hendak menyerang bagian tubuh mana.

Ia kelebatkan goloknya untuk membacok putus kayu itu tapi Hong Cu rubah gerakannya, kini menyerang dengan jurus keenam, yakni gerak tipu Ular Hitam Naik Pohon, dan senjatanya yang istimewa itu kini cepat menyerang ke muka lawan, mengarah kedua matanya!

Karena gerakan gadis itu sungguh cepat dan tidak terduga, maka hampir saja mata kiri Coa-Kauwsu menjadi korban.

Tapi ia masih dapat berkelit dengan gulingkan tubuh ke belakang.

Baru saja ia bangun berdiri dan putar goloknya, tahu-tahu Hong Cu sudah bergeser kakinya dan loncat ke belakangnya, lalu mengeluarkan tipu pukulan ketujuh yang disebut Ular Hitam Semburkan Racun.

Ini adalah gerak tipu, ketujuh dari Ilmu Silat Ouw-coa-koai-tung-hwat dan lihainya bukan main.

Tongkat itu terputar ujungnya dan menyerang dengan bergantian, lima jalan darah di leher, pundak, dan lambung lawan!

Totokan pertama sampai keempat dikelit oleh Coa-Kauwsu, tapi totokan kelima dengan tepat menghantam jalan darahnya bagian twi-hong-hiat hingga ia menjadi lemas dan tubuhnya terguling ke atas tanah tanpa daya lagi!

Hong Cu hendak tambahkan dengan sabetan tapi Hwat Kong Tosu membentak.

"Sudah cukup, Hong Cu!"

Hwat Kong Tosu menghampiri pengantin perempuan itu dan bertanya bagaimana duduknya hal maka ia sampai dapat dibawa oleh pengantin laki-laki yang disebutnya penipu dan buaya darat itu?

Maka setelah berlutut menghaturkan terima kasih gadis yang malang itu bercerita.

Ia adalah anak seorang petani di sebuah kampung tak jauh dari situ.

Ayahnya orang miskin dan hidupnya hanya menjadi buruh tani dan mengerjakan sawah orang lain.

Karena anak banyak dan keadaan sangat miskin, maka orang tua itu banting tulang, peras keringat untuk dapat mencegah keluarganya kelaparan.

Kemudian datang musim kering yang agak lama sehingga ia tidak dapat menghasilkan banyak hasil bumi dan pendapatan yang hanya sedikit itu tentu saja menjadi bagian tuan tanah sebagai sewa tanah yang dikerjakan.

Maka keluarganya terancam bahaya kelaparan.

Lalu datanglah penipu itu yang menolong keluarga miskin itu dengan sedikit uang dan semenjak itu ia menjadi teman baik ayahnya dan ketika ia melamar dirinya, maka ayahnya tanpa ragu-ragu lagi menerima lamaran itu.

Ia sendiri juga tidak menolak, karena orang itu memang tidak buruk dan lagaknya seperti orang yang mempunyai harta.

Tapi tidak disangka sama sekali setelah mereka dikawinkan dan ia dibawa di dalam joli pergi dari rumah orang tuanya yang bobrok, Di tengah jalan pengantin laki-laki itu dengan secara terus terang berkata bahwa ia sebenarnya hendak dijual kepada seorang hartawan yang mencari seorang gadis untuk menjadi isteri ketujuh!

Laki-laki bajingan itu ternyata hanya memikat saja untuk mendapat keuntungan besar dan ia dipesan supaya berlaku manis kepada hartawan tua yang hendak membelinya nanti, kalau tidak, ia akan dibunuh!

Maka pengantin itu menangis sedih dengan takut-takut dan seberapa dapat menahan tangisnya dengan menekan kain pada mulutnya.

Tapi ternyata tangisnya tu terdengar oleh Hong Cu yang mengakibatkan pertempuran besar itu.

Hwat Kong Tosu lalu mengeluarkan dua potong emas dari kantung bajunya dan memberikan kepada perempuan yang malang itu.

Lalu ia menarik seorang penonton laki-laki tua yang berwajah jujur dan berpakaian rombeng.

"Eh lauw-ko, maukah kau menolong perempuan ini? Coba kau antarkan pulang ia ke kampungnya dan ini untuk upah lelahmu."

Ia memberi beberapa perak kepada orang tua itu yang menerimanya sambil tersenyum dan berterima kasih.

"Nah, nona kau pulanglah. Berikan itu kepada orang tuamu untuk membeli tanah agar kau sekeluarga tidak akan kelaparan lagi."

Gadis itu berlutut di depan Hwat Kong Tosu dan menganggukkan kepala berulang-ulang sebagai tanda terima kasih, kemudian merangkul dan menciumi Hong Cu dengan air mata mencucur deras.

Lalu ia diantar oleh orang tua itu pulang ke kampungnya.

"Hei, kau buaya rendah!"

Hwat Kong Tosu berkata kepada bekas pengantin laki-laki itu yang kini merangkak bangun.

"Masih untung muridku mengampuni jiwa anjingmu. Lain kali kalau kami mendengar tentang kecuranganmu, biarpun berada di tempat yang jauhnya ribuan lie, kami akan datang dan kami pisahkan kepalamu dari tubuhmu!"

Kemudian Hwat Kong Tosu menghampiri Coa-Kauwsu yang masih rebah tak berkutik karena menjadi korban totokan. Sekali depak dengan ujung sepatunya, guru silat itu terbebas dari totokan.

"Kau menjadi guru silat, tapi ternyata kecewa sekali telah menjual diri kepada orang kaya untuk menindas yang miskin dan lemah. Tidak malukah kau menjadi orang gagah?"

Hwat Kong Tosu membentak. Guru silat itu merasa malu sekali, ia menjura dan berkata.

"Teecu seorang buta, tidak melihat Gunung Thai-san di depan mata. Teecu berjanji takkan berani berlaku sewenang-wenang lagi."

Maka Hwat Kong Tosu dan muridnya lalu meninggalkan Lam-hu dan terus menuju ke timur.

Melihat kemajuan Hong Cu yang diperlihatkan ketika bertempur tadi, Hwat Kong Tosu makin gembira untuk melatih ilmu silat tinggi kepada muridnya itu dan Hong Cu yang baru sekali itu bertempur dan memperoleh kemenangan, merasa betapa pentingnya memiliki kepandaian, maka ia belajar makin rajin lagi.

Beberapa hari kemudian mereka memasuki kota Lam-koan.

Karena masih banyak waktu, Hwat Kong Tosu mampir di kota itu.

Seperti biasa ia mencari tahu tentang makanan enak di kota itu!

Ternyata bahwa kota itu terkenal sekali akan masakan panggang babinya.

Di pinggir pasar banyak sekali orang-orang berdagang panggang babi dan asap mengepul memenuhi jalan dan udara membawa bau sedap dari bumbu terbakar.

Hwat Kong tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan ia memilih pedagang yang nampaknya paling lezat masakannya lalu membeli lima mangkok.

Tapi Hong Cu sejak kecil tidak begitu suka makan daging, apa lagi daging babi, sedangkan daging-daging ternak lainnya seperti sapi, kerbau atau dombapun ia tidak doyan.

Di antara segala daging hanya daging burung, ayam atau ikan saja yang biasa dimakan olehnya.

Karena itu ia tidak ikut suhunya makan, hanya melihat-lihat di dekat situ.

Yang menarik perhatiannya ialah serombongan pengemis yang meneduh di bawah pohon besar di dekat tempat itu.

Kumpulan pengemis itu nampaknya menyedihkan sekali hingga Hong Cu memandang ke arah mereka dengan iba hati.

Tiba-tiba ia melihat seorang pengemis muda yang berbaju lengan panjang sedang makan sisa makanan yang didapatnya dari seorang tamu.

Melihat cara orang makan sisa makanan itu mendatangkan rasa haru dalam hati Hong Cu.

Gadis ini melihat betapa pandang mata pengemis muda itu penuh kesedihan.

Tiba-tiba hati Hong Cu berdebar karena heran dan kaget melihat bahwa cara makan pengemis yang selalu mendekatkan daun isi makanan yang dipegang di tangan kiri dengan mulutnya, pada saat ia menyuap makanan dengan tangan kanan adalah karena kedua pergelangan tangannya terbelenggu!

Belenggu itu terbuat dari pada besi kecil dan agak panjang hingga kedua tangannya agak bebas tapi dalam segala gerakan harus dekat pada waktu tangan kanan digunakan.

Tadi Hong Cu tidak melihat belenggu itu karena tertutup oleh lengan baju pengemis yang panjang.

Hong Cu dengan tertarik mendekat.

Ia tak dapat menahan rasa ibanya, maka lalu bertanya.

"Eh, siapakah yang membelenggu tanganmu?"

Pengemis itu menunda makannya dengan sedih, tapi ia hanya menggelengkan kepalanya.

"Kenapa tidak Kau buka saja?"

Tanya Hong Cu lagi. Pengemis itu membuka matanya lebar-lebar lalu menjawab.

"Aku tidak bisa."

Hong Cu makin mendekat dan memandang rantai itu. Rasanya ia sanggup mematahkan belenggu itu, maka sambil berkata.

"Aku bisa!"

Ia cepat sekali mengulur tangannya dan sebelum pengemis itu dapat mencegah, sekali renggut saja Hong Cu telah mengerahkan tenaga dalamnya dan patahlah belenggu itu!

Dengan kedua tangan memegang rantai yang telah putus, Hong Cu berkata sambil tertawa.

"Nah, lihatlah, rantainya telah putus! Sekarang engkau bebas. Bukankah lebih enak demikian?"

Tapi akibat dari perbuatannya ini sungguh jauh berbeda dengan apa yang disangkanya.

Wajah pengemis muda itu tiba-tiba menjadi pucat seperti mayat.

Kedua matanya memandang terbelalak ke arah patahan belenggu dan makanan yang berada di dalam daun jatuh terlepas dari tangannya.

"Celaka! Kau harus mampus lebih dulu!"

Dengan kata-kata ini pengemis muda itu meloncat menerkam Hong Cu dengan pukulan berbahaya.

Hampir saja Hong Cu celaka karena pukulan hebat itu, karena sedikitpun ia tidak pernah menyangka bahwa akibatnya akan begitu.

Untung sekali ia berlaku gesit dan secepat kilat meloncat jauh dan berdiri dengan tolak pinggang dan memandang heran.

"Eh, eh, eh! Gilakah kau ini? Ditolong orang, tidak berterima kasih malahan tanpa alasan menyerang! Benar-benar kau berotak miring!"

"Menolong apa? Perempuan celaka, kau lah yang harus mampus lebih dulu!"

Dan pengemis itu menyerang lagi dengan sengitnya.

Kini Hong Cu merasa gemas dan setelah berkelit ia lalu balas menyerang.

Ternyata kepandaian pengemis muda itu lihai juga karena ia menggunakan tipu-tipu pukulan dari Sin-kai-pang.

Tapi biarpun Hong Cu baru saja belajar silat kurang lebih satu tahun, namun gadis cilik itu adalah murid Hwat Kong Tosu yang telah makan obat tercampur buah mujijat, maka kepandaiannya telah melebihi kepandaian seorang yang telah sepuluhan tahun belajar silat biasa!

Baiknya gadis yang jujur itu masih saja menyangka bahwa pengemis itu adalah seorang gila, maka ia tidak mau turunkan tangan kejam.

Setelah bertempur puluhan jurus, Hong Cu berhasil menendang paha pengemis itu hingga terlempar dua tombak lebih jauhnya dan jatuh sambil merintih dan pegang-pegang pahanya!

Pada saat itu seorang pengemis yang memegang tongkat bambu, meloncat ke dekat pengemis muda dan meraba-rabanya.

"Kau kenapa?"

Tanya pengemis yang ternyata sudah tua dan kedua natanya buta.

Ketika pengemis muda tidak menjawab si buta meraba ke arah pergelangan tangannya dan kagetlah ia ketika kedua tangan itu kini tidak terbelenggu lagi.

Ia meloncat mundur dan bertanya dengan suara keren.

"Belenggumu terlepas?"

Tubuh pengemis muda itu menggigil dan buru-buru ia berlutut di depan pengemis buta sambil meratap.

"Ampunkan siauw-jin yang tidak berdaya, supek. Bukan siauw-jin yang mematahkannya, tapi gadis celaka itu!"

Sambil mengeluarkan suara.

"Hmmm, kau tunggu di sini sebentar!"

Pengemis buta itu meloncat mendekat dan tahu-tahu pengemis muda itu telah tertotok jalan darahnya hingga menjadi lemas dan tak dapat bergerak pergi dari situ!

Gerakan ini saja sudah cukup membuktikan betapa lihainya pengemis buta itu dan diam-diam Hong Cu memandang kagum dan heran.

Bagaimana seorang buta dapat bertindak demikian cepat dan serangannya demikian tepat?

Ia ingin sekali mencoba dan diam-diam mencari akal.

Sementara itu, pengemis buta itu yang belum pernah mendengar di mana adanya Hong Cu, segera berdiri diam dan memasang telinga lalu membentak.

"Eh, gadis celaka, di manakah kau yang lancang tangan?"

Hong Cu telah memungut sepotong pecahan bata dan melemparkan perlahan ke depan pengemis buta untuk mencoba apakah pengemis itu benar-benar buta!

Ternyata pendengaran pengemis itu luar biasa sekali dan jauh lebih tajam dari pendengaran orang biasa.

Lemparan bata kecil itu tertangkap olehnya dan ia tahu pula dari mana datangnya bata itu!

Dengan sekali gerakkan tangan, tongkatnya telah menghantam pecahan bata itu dan cepat sekali bata itu terpental ke arah Hong Cu!

"Bagus sekali!"

Tak terasa pula Hong Cu berseru memuji dan pengemis buta itu segera meloncat ke arah gadis tu.

Gerakannya cepat tak terduga dan tongkatnya yang melayang ke arah kepala Hong Cu juga sangat berbahaya dan lihai.

Tapi Hong Cu tak pantas disebut murid Hwat Kong Tosu kalau dengan mudah dapat dikalahkan oleh pengemis buta itu.

Dengan gin-kangnya yang hebat ia dapat berkelit ke sana ke mari dan ketika lawannya putar tongkatnya dengan cepat dan menyerang bertubi-tubi, ia mengikuti gerakan tongkat hingga merupakan seekor kupu-kupu melayang terbang di antara cabang pohon kembang!

Akan tetapi, karena bertangan kosong, bagaimanapun juga, lama-kelamaan ia merasa sibuk juga karena pengemis buta itu memang benar-benar lihai.

Permainan tongkatnya adalah pelajaran asli dari Sin-kai-pang dan ia telah memiliki lebih dari setengah pelajaran itu, sedangkan Hong Cu adalah seorang gadis cilik yang belum banyak pengalaman bertempur.

Sebenarnya kalau ia mau Hong Cu dengan mudah dapat meloncat pergi mengandalkan gin-kangnya dan meninggalkan pengemis buta itu, tapi ia mempunyai watak yang keras dan pantang mundur, maka ia masih terus melakukan perlawanan yang lebih tepat disebut pembelaan diri.

Dengan tangan kosong ia tak sempat untuk balas menyerang tanpa membahayakan diri sendiri.

Pada saat itu terdengar orang berseru.

"Hong Cu, terima ini!"

Dan sebuah tongkat bambu meluncur ke arah Hong Cu.

Gadis itu girang sekali karena yang berseru adalah suhunya dan tongkat bambu itu dengan cepat dapat dipegangnya.

Kini Hong Cu merupakan seekor harimau tumbuh sayap.

Dengan wajah gembira ia berkata.

"Nah, sekarang kita sama-sama bertongkat. Majulah, empek buta, kita main-main sebentar."

Pengemis buta itu memang sejak tadi sudah merasa heran sekali.

Biarpun ia buta, tapi ia dapat mengetahui dari gerakan Hong Cu bahwa yang dilawannya adalah seorang gadis cilik.

Tapi sebegitu lama belum juga ia dapat menjatuhkan gadis itu.

Kini tiba-tiba gadis itu memegang tongkat dan ketika tongkat mereka beradu, pengemis buta itu terkejut sekali!

Tongkat di tangan gadis itu demikian berat dan gerakannya lenggak-lenggok tak tertentu dan tak terduga sama sekali gerak-geriknya hingga baru beberapa jurus saja, ujung tongkat Hong Cu telah memberi gebukan perlahan di belakang pahanya!

Ia tidak tahu bahwa Hong Cu telah memainkan Ilmu Tongkat Ouw-coa-koai-tung-hwat, Ilmu Tongkat Ular Hitam, yang boleh dibilang pada masa itu merupakan ilmu tongkat nomor satu di kolong langit!

Mana pengemis itu bisa tahan?

Lebih-lebih terkejutnya ketika Hong Cu mencoba kepandaian barunya, yakni menggunakan tongkatnya dengan gerakan menempel dan membetot.

Dengan berseru nyaring Hong Cu berhasil menempel tongkat lawannya dan sekali gentak, tongkat pengemis itu telah terbetot lepas dari tangan dan membubung ke atas!

Hong Cu tertawa keras dan menangkap tongkat lawannya ketika benda itu melayang ke bawah, lalu mengajukan kepada pengemis buta.

"Empek buta, ini tongkatmu, terimalah kembali."

Pengemis buta itu menerima tongkatnya dan sekali tekuk maka tongkat itu patah tengahnya.

"Aku tua bangka goblok telah terjatuh dalam tanganmu, tak pantas lagi aku memegang tongkat."

Maka pergilah pengemis buta itu dengan maju perlahan dan menggunakan ujung ke dua kakinya meraba-raba jalan!

Hong Cu mengawasi pengemis itu dengan menyesal dan kasihan.

Sementara itu, Hwat Kong Tosu telah menghampiri pengemis muda yang kena totok tadi lalu membebaskannya dari totokan.

Begitu terbebas dari totokan, pengemis muda itu lalu menutup muka dengan kedua tangannya dan menangis sedih.

Tentu saja Hwat Kong Tosu dan Hong Cu yang kini telah mendekat pula, merasa sangat heran.

"Eh, anak muda, kenapa tingkahmu begini aneh. Muridku telah menolong kau membuka belenggumu, tapi mengapa kau tidak berterima kasih bahkan menyerang mati-matian? Dan siapakah kawanmu yang buta tadi?"

Tanya Hwat Kong Tosu.

Karena maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang pandai, pengemis itu lalu menceritakan riwayatnya.

Di daerah itu terdapat sebuah perserikatan pengemis yang disebut Sin-kai-pang atau Perkumpulan Pengemis Sakti.

Organisasi ini mempunyai anggauta ribuan orang pengemis yang semuanya mengerti ilmu silat dan yang dipencar di seluruh propinsi sebelah timur.

Ketua atau pang-cu dari perkumpulan ini adalah seorang tokoh persilatan terkenal dan berkepandaian tinggi.

Ia disebut Coa-kai-ong atau Raja Pengemis she Coa, karena tak seorangpun tahu siapa nama raja pengemis itu.

Semenjak mendirikan perkumpulan pengemis ini, maka Coa-kai-ong mengadakan peraturan dan disiplin yang keras sekali.

Pengemis muda yang terbelenggu itu adalah seorang anggauta Sin-kai-pang dan telah tertangkap basah oleh pengawas perkumpulan ketika ia sedang mencopet.

Perbuatan ini dilarang keras oleh perkumpulan itu, maka ia segera ditangkap dan diseret di depan Coa-kai-ong yang segera mengadilinya.

Hukumannya ialah kedua tangannya dibelenggu untuk selama dua tahun.

Selama itu ia tidak boleh membuka belenggunya dan kalau hal ini terjadi, maka tanpa banyak tanya lagi, ia akan dibunuh!

Setelah menuturkan keadaannya ini, pengemis muda itu menangis lagi dan wajahnya nampak sangat ketakutan.

"Mengapa kau begitu bodoh! Kalau dipersalahkan karena terbukanya belenggu bilang saja bahwa orang lain yang membukanya. Bukan salahmu!"

"Kau anggap mudah saja perkara ini, nona!"

Mencela pengemis itu.

"Aku pernah melihat dengan mata sendiri ketika seorang anggauta perkumpulan kami dibunuh oleh ketua kami yang sangat bengis dan memegang teguh peraturannya!"

"Hm, pernah pinto mendengar nama raja pengemis itu, sekarang lewat di sini, bukankah ini kebetulan sekali? Hayo, berdirilah kau dan antarkan kami menemui ketuamu. Jangan kau takut, kami membelamu."

Pengemis muda itu dengan wajah masih pucat lalu berdiri dan mengantar Hwat Kong Tosu dan Hong Cu menuju ke pusat perkumpulan pengemis yang berada di luar kota.

Sebetulnya Sin-kai-pang tidak mempunyai tempat atau markas tertentu, di mana saja ketua mereka berada, maka di situlah pusat mereka dan mereka mengadakan pertemuan-pertemuan di mana saja.

Ada kalanya dalam sebuah hutan, dalam kelenteng-kelenteng tua atau di gua-gua.

Kali ini Coa-kai-ong tinggal dalam sebuah kelenteng tua yang sudah tidak dipakai, dan para pengemis yang berada di dekat situ semua datang memberi laporan-laporan akan keadaan para pengemis di situ.

Tiap hari puluhan pengemis masuk ke dalam kelenteng untuk mendengar perintah dan pelajaran ketua mereka.

Raja Pengemis she Coa ini selain menjadi ketua, juga menjadi guru silat yang menyebar ilmu silat ciptaannya kepada para pengemis.

Ia terkenal sebagai seorang ahli main silat tongkat yang disebut Sin-kai-tung-hwat atau Ilmu Tongkat Pengemis Sakti.

Ketika sampai di depan kelenteng bobrok yang dijadikan markas sementara itu, pengemis muda yang mengantar Hwat Kong Tosu dan Hong Cu kelihatan takut sekali dan seluruh tubuhnya menggigil.

Di luar kelenteng terdapat banyak sekali pengemis dari macam-macam usia yang berkumpul merupakan kelompok-kelompok dan sedang bercakap-cakap atau bermalas-malasan.

Mata Hwat Kong Tosu yang sangat tajam itu dapat melihat beberapa orang pengemis tua yang memiliki ilmu silat tinggi berada pula di situ.

Melihat betapa pengemis pengantarnya sangat ketakutan, Hwat Kong Tosu mendesaknya maju dan menghibur.

"Jangan takut, hayo antar kami masuk!"

Semua pengemis yang berada di luar kelenteng memandang kepada Hwat Kong Tosu dengan mata lebar.

Tiba-tiba seorang pengemis tua yang tadinya duduk melenggut di emper kelenteng, jalan terseok-seok menghadang mereka.

Sambil tertawa ha, ha, hi, hi ia berkata kepada pengemis yang mengantar Hwat Kong Tosu.

"Eh, kau setan berani mati! Belenggumu Kau buang ke mana?"

Sambil berkata demikian ia menampar dengan telapak tangannya ke arah pengemis muda itu.

Tamparan ini hebat sekali karena dilakukan dengan tenaga lwee-kang sepenuhnya.

Kalau kepala pengemis muda sampai terpukul, pasti akan pecah!

Untung Hwat Kong Tosu segera bertindak.

Ia maju selangkah dan menggunakan ujung lengan bajunya menangkis tamparan itu sambil berkata.

"Maaf, sahabat. Kami tidak ada waktu untuk bermain-main dengan kau."

Pengemis tua itu tak keburu tarik kembali tangannya dan telapak tangannya segera beradu dengan ujung lengan baju Hwat Kong Tosu.

Alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa tenaganya sendiri membalik hingga ia merasa pundaknya seakan-akan hampir terlepas ketika terpental dengan keras!

Buru-buru ia menjura dan mundur.

Biarpun keadaan di luar kelenteng itu serba butut, tapi di sebelah dalam telah dibersihkan hingga menyenangkan.

Lantai telah disapu dan digosok bersih sampai mengkilap.

Di atas meja sembahyang yang biasanya ditempati oleh patung yang dipuja, kini duduk bersila seorang pengemis tua.

Pengemis ini tinggi kurus dan pakaiannya telah penuh tambalan.

Tapi anehnya, pakaian yang bertambal-tambal itu dihias sulam-sulaman indah, sulaman burung hong dan naga, sebagai tanda bahwa ia adalah seorang raja!

Ternyata bahwa Raja Pengemis itupun awas sekali.

Melihat tindakan kaki Hwat Kong Tosu yang demikian ringan seakan-akan tidak menginjak lantai tahulah ia bahwa ia sedang berhadapan dengan orang macam apa.

Raja Pengemis itu sedang makan biji kacang.

Melihat kedatangan tamunya, ia segera memasukkan segenggam biji kacang yang belum termakan ke dalam kantung jubahnya dan meloncat turun ia dari atas meja.

"Selamat datang, sahabat yang gagah!"

Katanya sambil menjura kepada Hwat Kong Tosu.

Hwat Kong Tosu membalas hormat itu dan untuk sejenak mereka saling pandang.

Tiba-tiba Raja Pengemis itu melihat pengemis muda yang berdiri menggigil di pinggir.

Matanya menyapu tubuh pengemis itu dan terlihatlah olehnya bahwa belenggu di tangan anggauta perkumpulannya itu telah lenyap.

Ia marah sekali, tapi dapat di tahannya dan ia dapat menduga sedikit bahwa belenggu itu tentu dipatahkan oleh tamunya ini.

Maka dengan senyum dingin ia menjura lagi sambil bertanya.

"Ada keperluan apakah maka tempatku menjadi kehormatan menerima kunjungan seorang gagah seperti tuan?"

"Kami datang hanya mengantar anak muda ini karena ia takut datang ke sini. Hendaknya diketahui bahwa belenggu di pergelangan tangannya telah patah, dan yang mematahkan adalah muridku ini. Tak lain kami mengharap kebijaksanaanmu untuk mengampuni anak muda itu yang telah ketakutan karena ia akan dibunuh!"

Mata Raja Pengemis itu berpaling ke arah Hong Cu yang berdiri dengan tenang dan sedikitpun tidak merasa gentar.

Tapi ketika pandang mata Raja Pengemis itu bertemu dengan pandang matanya, terpaksa ia melangkah mundur setindak.

Sepasang mata pengemis aneh itu sangat tajam dan saat itu agaknya ia marah sekali.

"Sungguh tidak menghargai kedaulatan orang di daerah sendiri."

Raja Pengemis itu berkata perlahan.

"Dia adalah anggauta perkumpulan kami, dia harus tunduk kepada peraturan-peraturan yang telah diadakan. Dia mau kami bunuh atau tidak, ada sangkut-paut apakah dengan kalian?"

Tak senang Hwat Kong Tosu mendengar kata-kata ini. Raja Pengemis itu terlalu memandang ringan padanya. Maka terdengarlah ketawa Hwat Kong Tosu yang nyaring.

"Biarpun ia anggauta perkumpulanmu, tapi ia tetap seorang manusia seperti aku. Dan aku tidak membiarkan begitu saja seorang manusia dibunuh tanpa salah. Pula, yang mematahkan belenggu bukanlah dia!"

"Yang mematahkan belenggu berarti menghina perkumpulan kami, dan dia harus mati pula!"

Hong Cu mendengar kata-kata ini menjadi marah sekali. Ia bertindak maju sedikit lalu berkata kepada suhunya.

"Suhu, orang ini sangat sombong. Siapakah orang ini sebenarnya?"

Gurunya tertawa keras.

"Ah, anak kecil, mana kau tahu! Inilah yang disebut Raja Pengemis she Coa yang merajai segala macam pengemis."

"Baru saja menjadi raja pengemis sudah sesombong ini, apa pula kalau menjadi raja tulen!"

Gadis itu menyindir, gurunya tertawa lagi.

"Orang-orang yang melanggar peraturan sendiri adalah segolongan pengkhianat, dan orang-orang yang tidak mengindahkan peraturan orang-orang lain dan sengaja melanggarnya, adalah orang-orang yang tidak tahu aturan dan harus dihajar!"

Coa-kai-ong itu berkata keras.

Tiba-tiba Raja Pengemis itu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebutir kacang.

Tangannya diayun dan kacang kecil itu melayang cepat ke arah pengemis muda yang masih berdiri sambil menundukkan muka.

"Kau tidak lekas berlutut?"

Teriak Raja Pengemis itu dan pada saat itu juga biji kacang yang disambitkan mengenai urat lutut pengemis muda itu hingga tak dapat ditahan lagi ia jatuh berlutut.

"Sekarang terima kematianmu!"

Raja Pengemis itu ayun pula tangannya, kini ia mengarah kepala orang!

Tapi Hwat Kong Tosu tak membiarkan orang dibunuh begitu saja di depannya.

Ia kebutkan ujung lengan bajunya dan angin yang keluar dari kebutan itu telah meniup pergi biji kacang yang disambitkan!

Diam-diam Coa-kai-ong kaget sekali, tapi ia juga marah.

Sambil membanting kaki ia berkata.

"Benar-benar kau tidak pandang mata padaku! Perbuatanmu itu berarti satu tantangan! Siapakah sebenarnya kau, pendeta tua?"

Hwat Kong Tosu tersenyum.

"Kita sudah tua sama tua, jangan kau anggap dirimu masih muda! Namaku Hwat Kong, dan soal nama itu tidak ada artinya, yang penting adalah perbuatan dan watak seseorang."

Baru terbukalah mata Raja Pengemis itu setelah mendengar nama itu.

"Ahh pantas saja setan pelanggar peraturan ini berani sekali menghadap di sini, tidak tahunya adalah kau, seorang pentolan dari pada Thang-la Sam-sian yang terkenal! Bagus, bagus! Hwat Kong Tosu, jangan kita bersikap seperti kanak-kanak. Katakan saja, apakah kau tidak puas dengan peraturan-peraturan dalam perkumpulanku sendiri?"

"Coa-kai-ong! Aku bukanlah orang yang terlalu gatal tangan dan suka mencampuri uruan rumah tangga orang lain, tapi kalau terjadi sesuatu perkara pembunuhan, tentu aku akan mencegahnya, apa pula pembunuhan terhadap seorang yang tidak berdosa. Kau adakan peraturan hukuman bagi anggauta-anggautamu yang menyeleweng, itu baik-baik saja. Tapi kekejamanmu untuk turunkan tangan jahat membunuh jiwa orang dengan alasan yang begitu kecil, ini membuat aku heran sekali, dan terpaksa aku harus menghalangi."

Tiba-tiba Raja Pengemis itu tertawa.

"Bagus! Sudah lama aku mendengar kelihaian ilmu tongkat darimu. Nah, sekarang cobalah kau lindungi setan ini dengan tongkatmu!"

Setelah berkata demikian, secepat kilat Coa-kai-ong cabut sebatang tongkat berkepala tengkorak dari bawah meja sembahyang dan langsung menghantam"kan tongkat itu ke arah kepala pengemis muda yang hendak dibunuhnya itu.

Hwat Kong Tosu tidak tinggal diam, sekali berkelebat saja ia sudah berhasil menangkis dengan tongkat bambunya hingga tongkat kepala tengkorak itu terpental.

"Akupun ingin sekali mencoba sampai di mana kehebatan Ilmu Tongkat Sin-kai-tung-hwat!"

Keduanya lalu bertempur ramai di ruang sembahyang itu.

Tongkat di tangan Coa-kai-ong memang hebat dan gerakan-gerakannya mendatangkan hawa dingin dan tongkatnya berbunyi bersiutan.

Tapi ilmu tongkat ciptaan Hwat Kong Tosu adalah rajanya sekalian ilmu tongkat.

Ketika mencipta ilmu ini, Hwat Kong Tosu telah mempelajari bermacam-macam ilmu tongkat hingga segala gerakan ilmu ini telah ditimbang dari segala sudut dan boleh dibilang tidak ada celanya sedikitpun.

Biarpun ilmu tongkat Coa-kai-ong juga hebat, namun menghadapi Ouw-coa-tung-hwat dari Hwat Kong Tosu, ia seakan-akan seorang murid bertemu, dengan gurunya!

Tadi ketika pengemis buta melawan Hong Cu, pengemis itu mudah saja dijatuhkan.

Padahal pengemis buta itu adalah murid Coa-kai-ong yang telah mewarisi lebih dari setengahnya Ilmu Tongkat Sin-kai-tung-hwat, sedangkan Hong Cu baru saja paling banyak mewarisi sepersepuluh bagian dari Ilmu Tongkat Ouw-coa-tung-hwat!

Melihat perbandingan itu saja, mudah diketahui betapa jauhnya perbedaan antara kedua ilmu tongkat itu.

Maka setelah bertempur beberapa puluh jurus saja, Coa-kai-ong terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu tongkat Hwat Kong Tosu.

Beberapa kali ujung tongkat bambu yang bergerak-gerak seperti seekor ular itu telah mengancam jalan darahnya di seluruh tubuh, tapi tiap kali ujung tongkat tinggal menotok saja, tongkat segera ditarik kembali oleh Hwat Kong Tosu.

Pertapa ini masih tidak tega untuk menjatuhkan dan membikin malu kepada Coa-kai-ong di depan murid-muridnya.

Coa-kai-ong adalah tergolong seorang yang memiliki kepandaian tinggi, maka tentu saja iapun tahu akan kemurahan hati Hwat Kong Tosu ini.

Ia merasa bersyukur, karena pada waktu itu berpuluh pengemis yang menjadi murid"-murid dan cucu muridnya telah berkumpul menyaksikan pertandingan tongkat ini.

Kalau sampai ia dijatuhkan oleh Hwat Kong Tosu, tentu kewibawaannya terhadap sekalian anggauta perkumpulannya itu akan merosot!

Maka ia menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Hwat Kong Tosu yang sengaja membuka lowongan atau jalan keluar dan cepat meloncat berjumpalitan ke belakang sejauh tiga tombak lebih!

"Benar-benar hebat!

Hwat Kong Tosu, benar-benar ilmu tongkatmu tidak ada bandingannya di seluruh dunia ini.

Aku takluk betul!"

Raja Pengemis itu susut keringatnya, melempar tongkatnya ke samping dan segera menghampiri Hwat Kong Tosu.

Murid-muridnya yang menyaksikan pertandingan itu merasa heran karena gerakan kedua orang tadi terlampau cepat bagi mata mereka hingga mereka tidak tahu tentang perbuatan Hwat Kong Tosu yang sudah mengalah itu.

"Biarlah kali ini menjadi pelajaran bagiku dan aku akan menghapuskan hukuman-hukuman mati!"

Kata si Raja Pengemis. Hwat Kong Tosu tersenyum puas.

"Kau adalah seorang laki-laki gagah, maka sedikitpun pinto tidak khawatir karena kau pasti akan memegang teguh janjimu. Memang, dalam perkumpulan yang mempunyai demikian banyak anggauta seperti perkumpulanmu ini, kau harus berlaku keras dan memegang teguh peraturan.

"Tanpa hukuman berat, mereka yang biasanya berwatak bandel tentu takkan tunduk dan takut. Akan tetapi, hukuman mati tak boleh diobral sembarangan saja."

Coa-kai-ong menjura.

"Terima kasih atas nasihat-nasihatmu."

Kemudian Raja Pengemis itu berpaling kepada muridnya yang berada di situ dan berkata dengan suara keras.

"Hai kalian semua! Lihatlah, ini adalah seorang Locianpwe yang gagah perkasa dari Pegunungan Thang-la. Namanya sangat tersohor, dan beliau ini boleh disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar yang lain dari Thang-la, yaitu Huo Sianli si Dewi Api dan Beng Beng Hoatsu! "Tamu agung telah datang dan kita mendapat kehormatan besar sekali, bahkan barusan aku sendiri telah mendapat pelajaran yang sangat berarti. Maka, hayolah kalian sediakan hidangan untuk menyambut beliau!"

Kawanan pengemis itu bersorak gembira dan sebentar saja tempat itu dibersihkan oleh mereka.

Sebuah meja besar dipasang di tengah ruangan dan tak lama kemudian, entah dari mana dapatnya, mereka datang membawa masakan-masakan yang lezat dan masih mengepul hingga menyiarkan bau sedap mendatangkan lapar!

"Marilah, Hwat Kong Tosu, kita makan sekedarnya.

Nona, jangan sungkan-sungkan, marilah!"

Hwat Kong Tosu tanpa ragu-ragu lagi lalu melangkah maju dan duduk di atas sebuah bangku menghadapi semua hidangan itu dengan wajah berseri.

Si Raja Pengemis dengan sekali tendang telah membebaskan totokan di tubuh pengemis muda tadi dan membentak.

"Nah, aku bebaskan hukumanmu tapi awas! Jangan kau melakukan pekerjaan mencopet lagi. Kau adalah anggauta pengemis dan pekerjaan pengemis hanya minta dengan rela belas kasihan orang, bukan mencuri atau mencopet!"

Kemudian si Raja Pengemis itu duduk di depan Hwat Kong Tosu dan Hong Cu yang sementara itu telah mengikuti gurunya dan duduk di samping pendeta itu.

Hwat Kong Tosu yang memang penggemar makanan enak terus saja sikat habis hidangan yang dianggap paling enak.

Setelah makan kenyang, Hwat Kong Tosu berpamit dan mengajak muridnya melanjutkan perjalanan.

Mereka diantar sampai di pinggir hutan oleh kawanan pengemis tua yang sangat mengagumi Hwat Kong Tosu.

Beberapa hari kemudian, Hwat Kong Tosu dan muridnya telah tiba di kaki Gunung Hek-coa-san sebelah barat.

Pada waktu itu, waktu yang dijanjikan, yakni satu bulan, masih kurang lima hari.

Hwat Kong Tosu mengajak muridnya bermalam dalam sebuah kelenteng kecil yang hanya dijaga oleh seorang hwesio tua yang baik hati dan ramah tamah.

Kelenteng itu berada dalam sebuah kampung yang melarat dan penduduknya semua kaum tani miskin.

Karena Hwat Kong Tosu membawa banyak potongan perak, maka hwesio tua itu senang sekali menerima sumbangan dari Hwat Kong Tosu dan memberikan kamar terbesar dalam kelenteng itu kepada Hong Cu, sedangkan Hwat Kong Tosu cukup dengan sebuah bantal duduk saja, karena pertapa sakti ini jarang sekali tidur dengan membaringkan tubuh.

Cukup baginya adalah mendapat tempat yang sunyi di mana ia dapat bersila dan duduk diam berjam-jam sebagai gantinya tidur.

Malam hari itu, bulan muda telah mulai menerangi angkasa dan cuaca suram-suram, terang tidak, gelap sekali juga tidak.

Hwat Kong Tosu memanggil muridnya dan berkata.

"Hong Cu, kita naik ke puncak gunung itu lima hari lagi. Si jahat dari timur itu banyak akalnya, maka keadaan di sana tentu berbahaya. Malam ini kau jangan pergi ke mana-mana, aku hendak naik menyelidik keadaan."

"Baik, suhu,"

Jawab Hong Cu, tapi karena ia tidak puas dan ingin sekali ikut, disambungnya dengan.

"Kenapa teecu tidak boleh ikut, suhu?"

"Sekarang tidak boleh, Hong Cu. Keadaan sangat berbahaya dan mungkin banyak perangkap dipasang oleh si jahat itu. Lima hari lagi kalau waktunya telah tiba, tentu kau akan kubawa. Berhati-hatilah seorang diri di sini."

Hwat Kong Tosu lalu menghilang ke dalam bayangan pohon-pohon dan tinggalkan muridnya.

Hong Cu merasa agak kecewa, karena selama ini jarang sekali suhunya meninggalkan dia dan selalu dibawanya.

Kali inipun ia ingin sekali ikut, karena betapapun berbahayanya keadaan mengancam mereka, jika pergi dengan suhunya, hati Hong Cu yang memang tabah itu makin tetap dan berani.

Tengah malam telah lewat, tapi Hong Cu tak dapat pulas.

Ia teringat kepada kedua orang tuanya dan tiba-tiba timbul rasa rindu.

Hatinya yang keras mencair dan beberapa titik air mata membasahi pipinya.

Ia pegang-pegang rambutnya yang kusut dan kacau balau.

Ah, dulu rambutnya selalu halus, bersih dan licin karena diminyaki.

Ia lalu memandang pakaiannya yang penuh tambalan.

Dulu ia selalu mengenakan pakaian indah-indah dan berkembang dengan tata warna yang bagus sekali.

Dalam lamunannya itu terbayanglah di depan matanya pengalaman-pengalaman yang penuh kesenangan ketika ia masih bersama dengan orang tuanya.

Tapi Hong Cu adalah seorang gadis yang berhati jujur dan berkemauan keras.

Ia telah memberi keputusan untuk menjadi murid Hwat Kong Tosu dan pertapa itu begitu baik kepadanya.

Pula, ketika mengingat bahwa kini ia telah memiliki kepandaian yang lumayan juga, hatinya yang tadinya duka menjadi terhibur.

Kerinduan pada orang tua agak berkurang ketika ia pikir bahwa setelah ia tamat belajar silat, tentu ia akan dapat bertemu kembali dengan mereka!

Tiba-tiba Hong Cu tersentak bangun dan sadar dari lamunannya.

Ia mendengar sesuatu di atas kelenteng.

Telinganya yang terlatih dapat menangkap suara tindakan kaki di atas genteng, dan gerakan kaki itu demikian ringan hingga ia menjadi ragu-ragu.

Ia tahu bahwa yang datang itu pasti bukan suhunya karena gin-kang suhunya sudah (Lanjut ke

Jilid 08) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 terlampau tinggi untuk dapat didengar dari bawah jika ia berjalan di atas genteng.

Tapi orang yang datang ini memiliki gin-kang yang cukup tinggi hingga Hong Cu merasa heran.

Cepat ia gunakan tiupan keras dengan bibirnya hingga api lilin di atas meja yang terletak agak jauh dari tempat tidurnya menjadi padam.

Kamarnya gelap gulita dan cahaya bulan tampak mengalir masuk ke dalam kamar melalui jendela.

Hong Cu menggunakan ketajam matanya memperhatikan.

Agaknya orang di atas genteng itu telah berhenti bergerak dan tidak terdengar sesuatu tapi perlahan-lahan Hong Cu melihat betapa genteng di atas digeser orang.

Hong Cu adalah seorang gadis pemberani.

Kenyataan bahwa beberapa kali ia berhasil menang dalam pertempuran, membuat hatinya makin tabah lagi dan percayaannya terhadap diri sendiri sangat besar.

Ia maklum bahwa pengintai di atas kamarnya bukanlah sembarang maling, tapi adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi, meskipun demikian, ia tidak merasa gentar.

Ia tahu bahwa yang datang itu tentu tidak mempunyai maksud baik, dan lebih baik bertindak mendahului dari pada menanti datangnya bahaya sedangkan ia berada seorang diri di situ!

Dengan hati-hati Hong Cu mengambil tongkat bambunya yang disandarkan di pojok kamar.

Semenjak mempelajari ilmu tongkat gurunya yang lihai, ia sengaja membuat sebatang tongkat bambu yang kecil dan cocok ia gunakan.

Tongkatnya itu terbuat dari pada bambu keras berwarna kuning dengan guratan-guratan hijau dan ia telah menggosok-gosoknya setiap hari hingga bambu itu mengkilap bagaikan emas.

Kemudian, dengan tipu loncat Burung Garuda Terjang Awan, ia keluar dari jendela dan langsung enjot tubuhnya ke atas genteng.

Gerakannya ini cepat sekali dan kedua kakinya ketika meloncat hampir tak mengeluarkan suara, tapi ketika tiba di atas genteng, ia menjadi heran sekali.

Ternyata di atas genteng itu tidak kelihatan bayangan seorangpun.

Dengan adanya cahaya bulan yang suram-suram, Hong Cu dapat melihat di sekelilingnya.

Tapi di sekelilingnya sunyi saja.

Tengah ia berdiri bingung dan heran, tiba-tiba terdengar suara ketawa keras di belakangnya.

Ia cepat memutar tubuhnya dan ternyata bahwa orang yang tertawa itu tadi bersembunyi di balik wuwungan rumah hingga tak tampak.

Kini orang itu, seorang pemuda tanggung yang memegang sebatang pedang di tangan kanan, berdiri dan tertawa mengejeknya.

"Kukira siapa, tidak tahunya kau si manis!"

Dan anak muda itu tertawa lagi.

Hong Cu memandang orang itu lebih teliti.

Pemuda itu berusia paling banyak limabelas tahun, wajahnya tampan pakaiannya mewah, tapi sikapnya kurang ajar sekali.

Maka teringatlah Hong Cu bahwa pemuda itu bukan lain ialah Siauw Liong, murid dari Tok-kak-coa Si Ular Tanduk Berbisa!

Seketika itu juga timbullah marahnya melihat musuh besar yang pernah mengganggunya itu.

"Bangsat kurang ajar, lihat tongkat!"

Ia lalu menubruk maju sambil gerakkan tongkatnya.

Siauw Liong yang pernah mencoba kepandaian gadis ini dan tahu bahwa Hong Cu belum berapa tinggi kepandaiannya, tak melihat sebelah mata padanya, apa lagi ketika dilihat bahwa senjata di tangan gadis itu hanya sepotong bambu.

Ia tertawa bergelak-gelak dan simpan kembali pedangnya lalu berkelit cepat dan ulur tangannya hendak menangkap pergelangan tangan Hong Cu.

Tapi alangkah terkejutnya ketika ujung tongkat Hong Cu bagaikan bermata dan dengan putaran yang aneh tahu-tahu telah meluncur ke bawah dan menotok jalan darahnya di iga kanan!

Baiknya ia berlaku cepat dan jatuhkan diri ke belakang lalu berjumpalitan, namun tak urung bajunya masih terkait ujung bambu dan terobek!

Hong Cu melihat hasil ini makin berbesar hati dan cepat maju menerjang lagi.

Siauw Liong benar-benar heran melihat permainan tongkat gadis itu yang demikian lihai.

Belum sebulan yang lalu gadis itu sangat rendah ilmu silatnya jika dibandingkan dengan ia sendiri tapi mengapa sekarang belum juga sebulan, ilmu silatnya sudah demikian maju?

Gin-kangnya bertambah hebat!

Maka dengan penasaran Siauw Liong lalu mencabut pedangnya karena ia tidak berani melayani dengan tangan kosong lagi.

Biarpun Hong Cu telah mempelajari ilmu tongkat yang luar biasa dari suhunya, tapi ia belajar baru saja beberapa puluh hari dan kepandaiannya belum masak betul, sedangkan Siauw Liong semenjak kecil telah digembleng dengan berbagai kepandaian silat yang tinggi dan ganas oleh suhunya, Maka setelah bertanding beberapa puluh jurus, gadis ini mulai terdesak oleh sinar pedangnya yang mengurung.

Tapi Hong Cu berkelahi dengan penuh semangat dan ia keluarkan seluruh kepandaiannya.

Ilmu Tongkat Ouw-coa-tung-hwat adalah raja ilmu tongkat yang mempunyai bagian-bagian tersembunyi dan tak terduga hingga biarpun kepandaian itu baru saja dikuasai oleh Hong Cu paling banyak sepersepuluh bagian, namun sudah cukup kuat untuk menjaga diri hingga pedang Siauw Liong tidak mudah memecahkan benteng penjagaan dari tongkat Hong Cu.

Pada saat itu terdengar bentakan keras dan nyaring.

Sebatang pedang dengan gerakan kuat sekali diputar di tengah-tengah dan memisahkan kedua orang yang sedang bertanding sengit itu.

"Tahan!"

Teriak pemisah itu sekali lagi.

Hong Cu loncat mundur dan melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda berusia kurang lebih tujuhbelas tahun.

Tubuh pemuda itu tegap dan wajahnya gagah.

Sinar matanya mengalahkan cahaya bulan dan dagunya yang berlekuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang tabah dan keras hati.

"Eh, eh! Dari mana datangnya orang hutan yang tak tahu aturan dan ikut campur urusan orang lain?"

Siauw Liong menegur marah ketika meilhat bahwa yang datang itu adalah seorang pemuda berpakaian tani biasa saja.

Ia maju dengan pedang mengancam.

Pemuda tegap itu memandang wajah Siauw Liong dengan tajam, kemudian ia tertawa.

"Ha, tidak tahunya kau! Pantas saja, karena siapa lagi selain engkau yang sudi berbuat tidak sopan dan kurang ajar?"

Siauw Liong marah sekali, dan ia pandang pemuda itu dengan penuh perhatian.

Akhirnya dapat juga ia ingat dan kenal bahwa yang datang itu bukan lain adalah Siauw Ma yang dulu pernah datang mengunjungi ia dan gurunya, bahkan sudah bersama-sama makan ular dan kelabang!

Siauw Liong tersenyum sindir.

"Ah, tidak tahunya yang datang adalah si tolol!! Kau berani sekali katakan aku tidak sopan dan kurang ajar. Apa maksudmu?"

"Kau seorang laki-laki pada tengah malam buta menghina seorang perempuan yang lebih muda dan lebih rendah kepandaiannya dari padamu. Kau main-main dengan pedang menyerang dia yang hanya bersenjata tongkat bambu. Apakah ini pantas dan adil? Kalau aku tidak melihat keganjilan ini masih tidak mengapa tapi sekarang aku telah berada di sini, pasti aku takkan bisa membiarkan kau berlaku kurang ajar!"

Siauw Liong tertawa bergelak-gelak.

"Nah, nona manis, dengarkah engkau? Kepandaianmu memang jauh lebih rendah dari kepandaianku. Bahkan orang tolol inipun dapat melihatnya. Apakah kau belum mau takluk padaku?"

Hong Cu hanya memandang marah dan mencibir.

"Kau jawab dulu pertanyaanku tadi, jangan bicara ngacau tidak karuan!"

Siauw Ma membentak.

"Eh, kau mengandalkan apa sih, galak-galak amat! Gurumu pernah dilukai oleh guruku, itu tandanya guruku jauh lebih lihai. Tentang hal kepandaianmu, ah, belum tentu kau dapat melawan tangan kiriku! Kau mau tahu mengapa kami bermain-main di sini? Ia, gadis manis ini, adalah tunanganku!"

"Bangsat tak kenal malu!"

Hong Cu memaki, tapi sambil tertawa Siauw Liong menyambung kata-katanya kepada Siauw Ma.

"Tunanganku ini tidak percaya bahwa kepandaianku lebih tinggi dari kepandaiannya maka kami saling mencoba kepandaian. Betapapun juga, kalau kelak ia sudah menjadi isteriku, ia harus mengalah juga! Ha-ha!"

"Bangsat rendah! Jangan kau berani main gila!"

Hong Cu tak dapat menahan marahnya dan menggerakkan tongkatnya menyerang lagi, tapi dengan pedangnya, Siauw Ma dapat menahan serangan itu sambil berkata.

"Sabarlah, nona!"

Kemudian ia berkata kepada Siauw Liong.

"Kau berkata bahwa nona ini tunanganmu, tapi ia menyangkal. Benarkah bicaramu tadi?"

Siauw Liong tertawa lagi.

"Nona manis, dengarlah. Ini adalah seorang sahabatku yang jujur. Namanya Siauw Ma dan kami pernah berjumpa dulu hingga boleh dikata kami adalah kenalan lama. Kau memang suka membohong, nona, tapi sahabatku ini selamanya tak pernah membohong. Guruku telah menemui Hwat Kong Tosu."

"Hwat Kong Tosu?"

Siauw Ma memotong.

"Ya, Hwat Kong Tosu. Pendeta itu adalah suhu nona ini. Kedua guru kami telah saling berjanji dan telah mengikat perjodohan kami, bukankah itu berarti bahwa kami telah bertunangan?"

Siauw Ma mengangguk-angguk, ia terlalu jujur hingga menganggap bahwa omongan orang lain semuanya benar belaka.

"Kalau memang betul demikian, kalian telah bertunangan."

"Bangsat rendah!"

Hong Cu memaki sambil menuding muka Siauw Liong. Kemudian ia memandang kepada Siauw Ma dan memaki pula.

"Dan kau, kau kuda tolol!"

Siauw Ma mundur dan kaget ketika ia dimaki kuda tolol, karena memang namanya memakai huruf Ma yang berarti kuda!

"Siapa sudi menjadi tunangan binatang ini?

Guruku Hwat Kong Tosu adalah seorang tokoh Thang-la yang kenamaan dan mulia, mana dia mau mengadakan perundingan dengan Tok-kak-coa si jahat dari timur?

Mereka bahkan bermusuhan.

Anjing kecil ini memang tukang membohong dan penjual obrolan kecil!"

Sementara itu, Siauw Ma telah dapat mempertimbangkan.

Memang, ia tahu bahwa Hwat Kong Tosu adalah seorang tokoh besar yang sejajar dengan suhunya sendiri, sedangkan Tok-kak-coa telah dikenalnya sebagai seorang kejam yang lihai dan jahat.

"Aku percaya padamu, nona. Aku tahu akan kelihaian dan kemuliaan suhumu, dan aku tahu pula orang macam apakah suhu anak kurang ajar ini. Siauw Liong hayo kau pergi dari sini dan jangan ganggu nona ini, kalau tidak, kau akan berkenalan dengan pedangku!"

"Ha, ha, ha! Kau petani busuk berani buka mulut besar!"

Sebagai penutup kata-katanya, Siauw Liong mengirim serangan hebat dengan pedangnya.

Siauw Ma menangkis dan sebentar saja kedua pemuda itu berkelahi dengan seru dan ramai.

Kepandaian Siauw Liong penuh tipu daya dan gerakan-gerakannya curang, maka ia lihai sekali.

Biarpun seorang lawannya mempunyai kepandalan tinggi, tapi kalau belum banyak pengalaman dalam perkelahian tentu akan tertipu olehnya.

Akan tetapi, Siauw Ma sekarang adalah Siauw Ma yang telah mendapat latihan-latihan keras dari Beng Beng Hoatsu, dan pemuda ini telah mempelajari Ilmu Pedang Sin-Liong-kiam-sut, kepandaian tunggal dari Beng Beng Hoatsu, maka menghadapi Siauw Liong, tipu daya dan kecurangan dalam ilmu pedang Siauw Liong mati kutunya.

Ketika Siauw Ma keluarkan gerakan-gerakan yang lihai dan cepat, Siauw Liong terkejut dan mundur terus, tak kuasa membalas menyerang.

Tiba-tiba Siauw Liong menggunakan tangan kiri merogoh saku bajunya dan mengeluarkan saputangan yang membungkus sesuatu.

Siauw Ma tidak perdulikan gerakan ini, tapi Hong Cu melihat ini menjadi pucat.

Ia teringat pengalamannya dulu ketika melihat betapa Siauw Liong dapat melukai Tiong Li, murid si Tabib Dewa.

Maka segera ia berseru.

"Siauw Ma! Awas tangan kirinya, ia hendak menggunakan racun!"

Tapi Siauw Ma yang belum kenal akan tipu daya keji ini tidak mengerti.

Untung baginya, Hong Cu dapat bertindak cepat.

Ketika Siauw Liong melempar saputangannya yang terbuka dan menyebar bubuk yang merupakan debu hitam ke arah muka Siauw Ma, Hong Cu melempar selendang suteranya yang tepat sekali melibat pinggang Siauw Ma.

Ia tarik dengan keras dan tiba-tiba, hingga tubuh Siauw Ma terjengkang dan pemuda itu berjumpalitan untuk menjaga diri jangan sampai jatuh.

Tapi ia terbebas dari pada bahaya racun yang tadi mengancamnya!

Siauw Liong melihat bahwa usahanya tidak berhasil, menjadi marah sekali.

Tapi ia tahu bahwa ia takkan dapat menangkan Siauw Ma yang lihai apa lagi di situ masih ada Hong Cu yang pasti akan mengeroyoknya, maka sambil memaki-maki ia loncat turun dan menghilang di balik pohon-pohon!

Siauw Ma tidak mengejar Siauw Liong karena bukan maksudnya hendak mencelakakan pemuda itu, apa lagi pada saat itu ia sedang marah kepada Hong Cu yang kini dipandangnya dengan mata mengandung teguran.

"Kau gadis tidak berbudi!"

Katanya dengan wajah merah.

"Kenapa kau yang kubantu sebaliknya malahan membantu dia dan hampir mencelakakan aku?"

Hong Cu terheran-heran.

"Benar-benar kau ini kuda bodoh! Ditolong orang tidak berterima kasih, bahkan marah-marah! Tahukah kau bahwa hampir saja jiwamu melayang, kalau aku tidak menggunakan selendangku pada saat yang tepat?"

Siauw Ma tercengang heran.

"Penjahat curang itu adalah seorang ahli dalam hal penggunaan racun, dan tadi ia telah menyebar racun jahat,"

Kata Hong Cu lebih lanjut.

Siauw Ma mengangguk-angguk, dan kini ia perhatikan gadis yang berwajah jelita ini.

Pakaiannya yang penuh tambalan menarik hatinya, karena di dalam perantauannya mengikuti Beng Beng Hoatsu, ia selalu bertemu dengan gadis-gadis yang berpakaian mewah.

Tapi gadis ini demikian sederhana, bahkan rambutnya yang panjang hitam itupun tidak terpelihara dengan baik!

"Betulkah kau murid Hwat Kong Tosu?"

Tanyanya.

"Apa kau lihat aku seorang pembohong seperti bangsat tadi?"

Hong Cu menjawab marah.

"Kalau betul, suhumu itu dengan guruku masih kawan lama."

Hong Cu tertarik.

"Siapakah nama suhumu?"

"Suhuku ialah Beng Beng Hoatsu."

Kini Hong Cu yang terkejut.

Pernah ia mendengar dari gurunya akan nama pendeta sakti itu.

Pada saat itu telah hampir subuh dan hawa luar biasa dinginnya hingga ketika angin pagi meniup rambutnya, Hong Cu merasa dingin sekali.

"Mari kita turun dan bicara di dalam,"

Ajaknya.

"Apakah suhumu berada di dalam kelenteng ini?"

"Tidak, suhu sedang pergi menyelidik ke atas puncak. Yang ada di kelenteng hanya hwesio penjaga yang hanya seorang."

"Aneh,"

Kata Siauw Ma.

"Apa yang aneh?"

"Suhuku juga pergi ke atas puncak dan menyuruh aku menunggu di kampung ini."

"Kalau begitu, mari turun. Kau boleh tunggu suhumu di kelenteng ini juga, bersama-sama aku."

Siauw Ma menggeleng-geleng kepala.

"Tidak baik."

"Eh, kuda tolol, bicaramu tidak karuan. Apanya yang tidak baik?"

Hong Cu menegur marah. Kedua anak muda itu memang adatnya hampir sama. Sama-sama keras kepala, sama-sama jujur dan tidak sungkan-sungkan.

"Kau seorang gadis, aku seorang pemuda. Hendak bersama-sama dalam sebuah kelenteng? Apakah itu kau anggap baik?"

Merahlah wajah Hong Cu, ia memandang wajah Siauw Ma dengan mata berapi.

"Kau berpikiran sempit! Kita ini orang macam apakah maka banyak pakai peradatan yang bukan-bukan?"

"Aku percaya kepada kepribadian sendiri, tapi apa kata orang!"

"Cih! Orang lain boleh bilang sesukanya tentang kita, asal kita tidak melakukan kesalahan. Perduli apa sama omongan orang lain? Pendeknya, kau mau atau tidak menunggu suhumu di sini, kalau mau hayo kau turun. Kalau tidak mau, tinggallah saja di atas genteng sini. Aku merasa dingin sekali!"

Tanpa menoleh lagi Hong Cu loncat turun.

Angin meniup dingin membuat Siauw Ma menggigil, maka iapun meloncat turun dan masuk ke dalam ruang tengah.

Di situ Hong Cu telah siap memasak air panas untuk menghangatkan perut mereka.

Kemudian gadis itu mengambil sebuah bangku dan duduk di depan Siauw Ma.

"Bagaimana kau bisa kenal murid Tok-kak-coa itu?"

Tanya Hong Cu sambil memandang muka Siauw Ma yang tampan dan gagah.

"Suhu pernah bentrok dengan Tok-kak-coa,"

Jawab Siauw Ma yang lalu menceritakan pengalamannya ketika Beng Beng Hoatsu bertempur melawan Kim Bok Sianjin karena disangka mencuri patung.

Ketika mendengar bahwa Beng Beng Hoatsu terkena racun pukulan Tok-kak-coa dan diberi obat oleh Kiang Cu Liong si Tabib Dewa, Hong Cu segera bertanya.

"Kalau begitu, kau tentu kenal kepada Tiong Li?"

Mata Siauw Ma memancarkan sinar gembira ketika nona itu menyebut nama Tiong Li.

"Ah, anak baik itu adalah sahabatku! Aku senang sekali padanya."

Dan ia menceritakan betapa ia dan Tiong Li bermain-main dengan batu besar ketika mereka bertemu.

Lalu ia bercerita terus.

Setelah berpisah dengan Tiong Li dan si Tabib Dewa, Siauw Ma dibawa merantau oleh gurunya.

Tiap hari tidak lupa Beng Beng Hoatsu melatih silat kepada muridnya itu dan menurunkan kepandaiannya Sin-Liong-kiam-sut yang hebat.

Beng Beng Hoatsu merasa marah dan penasaran sekali kepada Tok-kak-coa hingga ia selalu menyelidiki dan mencari si jahat dari timur.

Tapi di mana-mana ia tak mendengar nama Tok-kak-coa muncul di dunia kang-ouw, ia menduga bahwa si ular berbisa itu pasti kembali ke guanya dan bersembunyi di sana.

Ia pernah mendengar bahwa si jahat itu tinggal di puncak Bukit Hek-coa-san.

Maka diambil keputusan untuk mencoba mencari Tok-kak-coa di situ.

"Demikianlah, maka sore tadi suhu dan aku tiba di kampung ini. Suhu terus naik ke bukit dan aku diperintah untuk menunggu di kampung ini."

Demikian Siauw Ma menutup ceritanya. Kemudian ia bertanya mengapa gadis itu berada di situ dan mengapa Hwat Kong Tosu juga naik ke puncak.

"Suhu hendak merampas kembali patung Kwan-im Pouwsat dari tangan Tok-kak-coa,"

Kata Hong Cu.

"Kalau begitu, malam ini di puncak sana tentu ramai sekali! Si jahat itu kali ini tentu takkan dapat meloloskan diri!"

"Bukan mereka saja,"

Kata Hong Cu.

"Bahkan si Tabib Dewa juga barangkali malam ini sudah berada di puncak pula!"

"Ha? Kau maksudkan guru Tiong Li?"

"Benar, orang tua aneh itu telah berjanji dengan suhu untuk menaiki gunung Hek-coa-san masing-masing dari utara dan selatan. Kami dari utara dan Tabib Dewa itu dari selatan. Siapa tahu, diapun mungkin sudah berada di sana pula!"

Wajah Siauw Ma nampak gembira.

"Ah, sayang kita tinggal di sini. Kalau kita ikut, tentu akan melihat pergulatan hebat dan ramai."

Tiba-tiba Hong Cu bangkit berdiri.

"Mengapa kita tidak ke sana sekarang? Hayo, kita naik bersama."

"Aah, kata guruku sangat berbahaya, mungkin kita akan terkena celaka,"

Kata Siauw Ma.

"Suhu juga bilang demikian. Tapi sekarang matahari telah tiba dan dalam keadaan terang-benderang tidaklah begitu berbahaya seperti kalau mendekati di waktu malam gelap. Hayolah kita pergi, siapa tahu kalau-kalau kita masih sempat menonton si jahat itu dihajar!"

Tapi Siauw Ma yang taat kepada perintah suhunya hanya geleng kepala.

"Hm, kau takut barangkali!"

Hong Cu cemberut dan mencela. Ketika dianggap penakut, Siauw Ma penasaran. Iapun berdiri dan membusungkan dada sambil berkata.

"Bagus! Kalau begitu hayo temani aku mendekati ke puncak!"

Kata Hong Cu dengan cerdik.

"Bagaimana kalau suhu marah?"

"Kita pergi berdua dan atas kehendak berdua, dengan membagi kemarahan tentu agak lebih ringan menerimanya, bukan?"

Ketika Siauw Ma masih ragu-ragu, Hong Cu melanjutkan.

"Dan kalau ada kesempatan, mungkin kita ada waktu untuk menghajar Siauw Liong bangsat kecil itu! Mungkin pula kita bertemu dengan Tiong Li."

Mendengar kemungkinan-kemungkinan yang menyenangkan hatinya ini, Siauw Ma tertarik juga. Ia gigit bibirnya untuk menetapkan hati, lalu berkata keras.

"Hayolah! Hayo kita naik juga menyusul suhu."

Hong Cu girang sekali sampai melupakan air panas yang dimasaknya tadi.

Ia pegang tangan Siauw Ma yang merasa likat dan malu-malu juga ketika merasa betapa halus telapak tangan Hong Cu memegang tangannya, tapi karena wajah gadis itu nampak gembira sekali, iapun lari pula.

"Hayo kita berlumba naik!"

Ajak Hong Cu yang membungkuk dan kencangkan tali sepatunya.

"Boleh!"

Siauw Ma menerima tantangan ini karena iapun ingin tahu sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Hong Cu.

Kedua tubuh anak muda itu melesat cepat ketika mereka kerahkan ilmu berlari ocepat.

Ternyata kepandaian mereka berimbang, hanya Hong Cu yang bertubuh lebih ringan dan karena makan obat mujijat gin-kangnya cepat sekali majunya, maka dalam hal kepandaian meringankan tubuh, gadis itu memang setingkat.

Diam-diam Siauw Ma kagum dan heran melihat kelincahan gadis itu yang bagaikan seekor burung, meloncat dari batu ke batu dengan ringan dan gesit sekali!

Siauw Ma tidak mau kalah dan iapun keluarkan kepandaiannya hingga kembali mereka dapat berjalan berdampingan dengan cepat.

Tiba-tiba dari atas gunung kelihatan seorang gadis turun berloncatan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.

Gadis itu membawa sebuah bungkusan besar yang nampak berat.

Hong Cu yang melihat bayangan orang itu lebih dulu, segera menghadang di tengah jalan.

Gadis yang cerdik ini menduga sesuatu.

Siauw Ma juga melihat gadis yang turun itu dan ikut memapaki.

Setelah gadis itu turun dekat, maka jelaslah kelihatan bahwa itu adalah sebuah patung karena pembungkusnya yang tipis terbuat dari sutera itu mencetak jelas potongan patung yang dibawanya.

Hong Cu mengerti bahwa patung yang diperebutkan itu telah terjatuh ke dalam tangan gadis yang turun dari gunung itu.

Gadis itu cantik sekali, wajahnya nampak angker dan angkuh, sedangkan gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia seorang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Tapi Hong Cu teringat akan suhunya yang sedang bersusah payah hendak merebut patung itu, maka ia sengaja menghadang dan membentak.

"Hei! Kau tinggalkan patung itu di sini!"

Sementara itu Siauw Ma setelah datang dekat dan memandang segera berseru dengan suara gembira.

"Lian Eng...!"

Pemuda ini merasa gembira sekali melihat gadis itu, dan entah mengapa hatinya berdebar-debar girang melihat Lian Eng bertambah cantik dan jelita.

Tapi ia merasa heran mengapa gadis itu berada seorang diri di situ.

Gadis itu ternyata benar Lian Eng adanya.

Di bawah asuhan Huo Mo-Li, kepandaiannya telah maju pesat.

Ketika ia mendengar suara Siauw Ma, iapun kaget hingga hampir saja Hong Cu yang menubruknya berhasil merebut patung.

Hong Cu telah dapat memegang kaki patung itu den terjadilah saling membetot.

"Hong Cu, lepaskan dia, kawan sendiri!"

Tapi mana Hong Cu mau melepaskan dan ia bahkan membetot makin keras.

Lian Eng menjadi marah dan menggunakan kakinya menendang ke arah pergelangan tangan Hong Cu yang memegang kaki patung.

Tendangan ini hebat dan berbahaya maka terpaksa Hong Cu melepaskan patung itu dan balas melayani dan seperti orang yang tergesa-gesa saja, ia menghindarkan serangan Hong Cu dan meloncat jauh lalu melarikan diri!

Tapi Hong Cu merasa penasaran sekali.

Iapun menggunakan gin-kangnya dan meloncat mengejar sambil berteriak.

"Maling kecil hendak lari ke mana? Tinggalkan patung itu!"

Dalam hal ilmu meloncat dan lari cepat, agaknya Hong Cu tidak berada di bawah Lian Eng, karena selain mendapat sari pelajaran Hwat Kong Tosu, juga Hong Cu telah dapat makan ramuan obat dan buah yang luar biasa itu.

Maka ia segera dapat menyusul Lian Eng dan dengan nekat ia menyerang untuk merampas patung!

Melihat kenekatan gadis itu, Lian Eng menjadi marah sekali.

Ia lalu melawan dan menangkis pukulan Hong Cu.

Ketika lengan tangan mereka bentrok, Hong Cu merasa betapa kulit lengannya menjadi panas dan sakit, maka diam-diam ia terkejut sekali.

Ia tidak tahu bahwa di kedua lengan Lian Eng telah terisi tenaga Huo-mo-kang.

Untung bagi Hong Cu bahwa Lian Eng tidak mau mencelakakannya, karena gadis gagu ini melihat betapa lawannya tadi berjalan bersama Siauw Ma yang telah dikenalnya.

Kalau ia mau menggunakan pukulan Huo-mo-kang untuk membalas, tentu Hong Cu takkan kuat menahan!

Pada saat mereka masih ramai berkelahi, datanglah Siauw Ma.

"Siauw Ma, hayo Kau bantu aku merampas patung ini! Bukankah suhumu juga ingin mendapatkannya?"

Teriak Hong Cu.

Mendengar ini Siauw Ma bergerak maju, tapi tiba-tiba Lian Eng memandang dengan matanya yang begitu bagus seperti mata burung hong, hingga Siauw Ma menahan kakinya dan berdiri bengong!

Semenjak pertemuannya yang pertama kali dengan Lian Eng dan ia dapat dijatuhkan oleh gadis itu dulu, ia telah merasa tertarik sekali oleh gadis gagu ini, terutama ketika ia tahu bahwa gadis itu menderita sakit gagu, hatinya makin merasa iba dan duka.

Perasaan inilah yang membuat ia beberapa tahun yang lalu dengan nekat mengejar ke atas Bukit Harimau Salju ketika Lian Eng terculik oleh manusia salju!

Karena inilah, maka ia tidak jadi turun tangan untuk merampas patung itu dari tangan Lian Eng dan tidak membantu Hong Cu yang nampak terdesak!

Tiba-tiba Siauw Ma berseru kepada Hong Cu.

"Hong Cu, biarkan dia pergi! Lihat, siapa yang datang itu!"

Hong Cu yang memang telah terdesak, segera meloncat mundur dan menengok ke atas.

Sementara itu, sambil melepas pandangan berterima kasih ke arah Siauw Ma, Lian Eng menggerakkan tubuh dan lari pergi turun gunung dan cepat sekali.

Dari atas gunung tampak Siauw Liong mengejar dengan pedang di tangan.

Mulutnya berteriak-teriak.

"Maling perempuan, hayo kembalikan patung itu!!"

Agaknya ia tidak memperhatikan Siauw Ma dan Hong Cu, karena dari atas ia mengejar Lian Eng.

Setelah Lian Eng lari cepat dan meninggalkannya, maka Siauw Liong menjadi bingung.

Ia mencari dan melihat ke bawah gunung.

Tiba-tiba ia melihat Lian Eng sedang berkelahi dengan seorang gadis lain dan tiba-tiba Lian Eng lari pula turun gunung.

Tentu saja ia tidak mau tinggal diam, lalu mengejar sambil berteriak-teriak.

Maka alangkah kaget dan marahnya ketika Siauw Ma menghadang di tengah jalan sambil membentak.

"Berhenti!"

"Kau lagi, Siauw Ma? Agaknya kau telah bosan hidup!"

Dengan nekat Siauw Liong putar pedangnya dan menyerang hebat yang ditangkis oleh Siauw Ma dengan tenang.

Hati Siauw Ma agak heran melihat pakaian Siauw Liong basah kuyup.

Sementara itu, Hong Cu yang melihat Lian Eng melarikan diri, segera mengejar ke bawah gunung!

Ia melihat Siauw Ma yang tidak mau membantunya ketika bertempur melawan Lian Eng tadi.

Kini melihat Siauw Ma berkelahi dengan Siauw Liong, ia segera mengejar ke bawah dengan harapan dapat merampas patung itu!

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 2

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert