Eps 2 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo
Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo
Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.
Ketiga ketua Kwan-Im-Kauw ini, atau yang disebut kauw-Cu (Ketua Agama) adalah orang-orang yang alim dan betul-betul mencari jalan kesucian dengan perantaraan kesucian Kwan-Im Pouwsat yang mulia.
Yang pertama adalah seorang wanita bernama Kim Hwa Sianli, kedua juga seorang wanita bernama Cin Hwa Sianli, dan yang ketiga seorang laki-laki bernama Kim Bok Sianjin.
Ke tiga ketua ini mempunyai banyak anak murid, dan murid-murid inipun sebagian besar sudah berusia tinggi dan telah mempunyai murid-murid lagi.
Menurut taksiran, ke tiga ketua Kwan-Im-Kauw itu telah berusia delapanpuluh tahun lebih, sedangkan murid-murid mereka rata-rata berusia enam puluh tahun.
Karena itu, tidak heran bahwa imam yang mencari patung ke Pegunungan Thang-La dan yang mengaku bertingkat tiga, juga sudah tua, karena murid-murid tingkat ketiga semuanya berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun.
Jumlah seluruh imam yang berdiam dalam kelenteng itu lebih dari seratus orang belum terhitung yang sedang berada di luar karena tugas menyebar agama di lain daerah.
Karena itulah maka nama Kwan-Im-Kauw cukup terkenal dan berpengaruh, pertama karena ketuanya memegang teguh disiplin dan peraturan keras menjaga nama baik kelenteng, kedua karena semua imam adalah orang-orang berilmu tinggi.
Di depan dan belakang kelenteng terdapat empang-empang yang indah karena penuh dengan bunga teratai.
Bunga teratai terkenal sebagai bunga suci, terutama bagi penganut Kwan-Im-Kauw yang memuja Kwan-Im Pouwsat karena bunga teratai adalah tempat dewi suci itu bersemayam.
Di tengah ruang besar terdapat sebuah empang kecil yang tak terisi air tapi di situ terdapat beberapa belas bunga teratai emas murni yang bercahaya mengkilap!
Daun-daun dan bunga-bunga teratai itu semuanya terbuat dari pada emas yang terukir indah sehingga kelihatannya begitu hidup seolah-olah daun dan bunga tulen yang diwarnai emas.
Dan di tengah-tengah empang itu, dikelilingi bunga-bunga teratai emas terdapat sebuah-patung emas bermata mutiara, patung Dewi Kwan-Im duduk bersila di atas sebuah bunga teratai!
Daun-daun dan bunga-bunga emas itu memang indah, tapi kalau dibanding dengan patung itu, semua itu tidak ada artinya, karena patung itu merupakan hasil seni yang luar biasa dan buatannya demikian halus, emasnya demikian murni, hingga tak ternilai harganya!
Di luar empang, menghadap ke arah patung Dewi Kwan-Im itu, dipasang meja sembahyang yang besar dan di atas meja terdapat tujuh batang lilin yang selalu menyala, tak kenal siang maupun malam.
Di sinilah para imam itu bermuja samadhi dan bersembahyang kepada Kwan-Im Pouwsat, dewi kebajikan yang mereka puja.
Selain paderi-paderi lelaki, di situ terdapat juga Nikouw-Nikouw atau pendeta-pendeta perempuan, murid-murid dari Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli dan kesemuanya rata-rata memiliki ilmu silat Kwan-Im-Pai yang lihai.
Dan para Nikouw inilah yang siang malam dengan bergilir menjaga di sekeliling patung Dewi Kwan-Im itu.
Tapi, hal yang tak terduga-duga dan aneh telah terjadi.
Pada suatu malam beberapa bulan yang lalu, patung itu telah dapat tercuri orang dan lenyap!
Padahal malam hari itu di sekeliling patung duduk bersila beberapa puluh pendeta laki-laki perempuan yang bermuja samadhi sambil menjaga.
Setelah menjelang tengah malam, entah mengapa, semua pendeta itu tak dapat bergerak dan seakan-akan dalam keadaan terkena pengaruh ilmu sihir yang mujijat.
Mereka seolah-olah tertidur dalam keadaan setengah sadar.
Dengan samar-samar mereka melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu patung itu telah lenyap dari situ!
Sebelum bayangan orang ajaib itu lenyap, terdengar suara ketawanya yang menyeramkan dan disusul kata-katanya yang diucapkan dengan keras dan parau.
"Hei, para imam tolol Kwan-Im-Kauw! Kalau kalian merasa penasaran dan hendak mencari patung ini, datanglah ke puncak Pegunungan Thang-La!"
Kemudian suara itu hilang berikut bayangan orang dan patung Dewi Kwan-Im yang dicurinya!
Tentu saja hal itu menimbulkan heboh besar dalam Kelenteng Kwan-Im-Bio.
Harus diketahui bahwa yang pada malam hari itu menjaga di situ, sebagian besar adalah anak-anak murid ke tiga ketua Kwan-Im-Pai, yakni tokoh-tokoh kedua yang ilmu kepandaian tinggi.
Namun pencurian itu bisa dilakukan demikian sempurna dan semua pendeta di situ sama sekali tidak berdaya, bahkan pencuri itu dengan kurang ajar dan beraninya telah memberitahukan tempat tinggalnya!
Setelah diselidiki oleh Kim Hwa Sianli, Cin Hwa Sianli, dan Kim Bok Sianjin bertiga ketua Kwan-Im-Pai menyelidiki dengan teliti, ternyata bahwa pencuri itu telah menggunakan semacam obat bubuk yang merupakan racun halus dan pengaruhnya membuat orang tak sadar seperti mabok!
Entah bagaimana pencuri itu bisa sebarkan obat bubuk itu ke arah semua pendeta yang sedang bersamadhi tanpa diketahui oleh mereka!
Ini menandakan bahwa pencuri itu bukanlah sembarang orang dan memiliki ginkang yang tinggi sekali.
"Sepanjang pengetahuanku, yang memiliki obat tidur aneh ini tidak ada keduanya tentu si tabib dewa Kiang Cu Liong. Tapi untuk apa ia lakukan hal ini? "Sedangkan ia terkenal sebagai seorang aneh yang menjalankan dharma berata dan mengembara ke mana-mana tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Tapi mengapa pencuri itu mengaku bertempat tinggal di Puncak Pegunungan Thang-La?"
Kim Bok Sianjin utarakan pendapatnya.
"Di Thang-La sejauh yang kuingat, hanya tinggal Beng Beng Hoatsu, ada juga Hwat Kong Tosu yang tinggal di Hong-Lun-San, sebelah utara tapi termasuk puncak Pegunungan Thang-La juga. Apakah seorang di antara nereka yang mencurinya? Tapi mereka adalah orang-orang luar biasa yang berilmu tinggi, aku tidak percaya mereka mau mengganggu kita,"
Cin Hwa Sianli utarakan kesangsiannya.
"Lupakah kalian bahwa Huo Mo-Li juga tinggal di puncak Thang-La?"
Tiba-tiba Kim Hwa Sianli berkata.
"Apa? Setan api wanita itu?"
Kedua adik seperkumpulan itu bertanya. Kim Hwa Sianli mengangguk.
"Mereka bertiga ini disebut Thang-La Sam-Sian atau Tiga Dewa dari Thang-La, dan kalau benar seorang dari mereka mengambil patung kita, tentu Huo Mo-Li itulah yang melakukannya! Setelah mengadakan perundingan dengan masak, lalu diambil keputusan oleh Kim Hwa Sianli.
"Kita jangan sembrono dalam menuduh seseorang, apa lagi kalau orang itu satu di antara ke tiga Dewa Thang-La itu! Mereka bukanlah orang sembarangan dan kita lebih baik jauhkan diri dari mereka dan tidak mencari keributan. Biarpun pencuri itu telah mengaku bahwa ia tinggal di Thang-La, tapi obat bubuk yang ia gunakan sungguh mencurigakan.
"Lebih baik kita juga mencari si tabib dewa dan menanyakan hal ini kepadanya. Tapi sebelum jelas siapa yang mencurinya, tak perlu kita sendiri turun tangan. Lebih baik kita menyuruh anak murid kita untuk menyelidiki ke Gunung Thang-La."
Demikianlah, maka lalu dipilih seorang anak murid tingkat tiga untuk menyelidiki di atas Thang-La dan sebagian lagi pergi mencari Kiang Cu Liong Si Tabib Dewa yang tak tentu tempat tinggalnya itu.
Dan kebetulan sekali penyelidik yang diutus menyelidiki di atas Pegunungan Thang-La telah bertemu dengan ketiga tokoh Thang-La itu dan berlaku agak kurang hormat hingga ia dipermainkan oleh Thang-La Sam-Sian!
Dengan menderita luka dalam dan malu sekali, anak murid Kwan-Im-Pai itu lari menuju pulang.
Dan semenjak saat itu, maka tertanamlah bibit permusuhan di antara Kwan-Im-Kauw dan ke tiga tokoh Thang-La itu!
Lian Eng si gadis gagu mendapat gemblengan hebat dan pelajaran silat dengan tak kenal lelah oleh Huo Mo-Li.
Setan api wanita itu memang seorang yang keras hati dan Lian Eng biar pun gagu, namun ternyata berotak cerdik sekali serta kerajinannya tak kalah dengan subonya.
Setelah mempelajari dasar-dasar Huo-Mo Kun-Hwat yang luar biasa untuk beberapa bulan, otaknya yang tajam sudah dapat menangkap sari-sari dasar ilmu silat itu.
Maka mulailah ia diajak oleh gurunya untuk mempelajari lukisan-lukisan di dinding yang dulu digosok bersih oleh Siauw Ma.
Huo Mo-Li jika bicara dengan muridnya menggunakan bahasa campuran, yaitu dengan mulut dan jari tangan, maka Lian Eng dapat menangkapnya dengan jelas sekali.
Sebaliknya gadis gagu itu sekali saja gerakkan tangannya, gurunya segera dapat mengerti maksudnya.
"Lian Eng, kau jangan memandang rendah ukiran-ukiran di dinding ini. Ukiran-ukiran ini kubuat dengan susah payah selama sepuluh tahun lebih. Semua lukisan dinding ini jika digabung menjadi satu merupakan pelajaran Ilmu Silat Huo-Mo Kun-Hwat yang lengkap, yaitu mengenai pokok-pokoknya saja karena pecahannya akan datang dengan sendirinya jika telah hafal pokok-pokoknya.
"Jangan kira kau akan mempelajari dengan mudah semua ukiran ini tanpa memahami dasar-dasarnya lebih dulu. Huo-Mo Kun-Hwat berdasarkan kegesitan dan selalu berusaha mendahului gerakan lawan. Kalau lawan cepat, kita harus lebih cepat lagi. Kalau lawan terlalu cepat bagi kita dan memiliki ginkang yang lebih sempurna, kita harus menggunakan gerakan lambat tapi keras.
"Pendeknya, gerakan kita harus seperti gerakan setan api, lihatlah nyala api yang berkobar di dalam ruang dalam itu. Ia bisa bergerak sangat cepat atau sangat lambat menurut bagaimana keadaan di luar.
"Tapi, cepat atau lambat, selalu didorong dengan tenaga hebat dan panas! Juga gerakan kita kalau didorong dengan tenaga Huo-mo-kang, sama saja dengan gerakan api."
Demikian Huo Mo-Li memberi pelajaran kepada murid tunggalnya yang dimengerti baik oleh Lian Eng.
Kemudian Lian Eng diberi pelajaran permulaan melatih ilmu silat menurut lukisan-lukisan di dinding itu dan mulai mempelajari ilmu mujijat Huo-mo-kang!
Untuk melatih ini, ia mula-mula harus menyabetkan tangannya melalui api yang menyala.
Karena ia menggerakkan tangannya dengan cepat memotong nyala api itu, maka tidak merasa panas dan kulitnya hanya sekejap saja tersentuh api hingga tidak meninggalkan bekas.
Tapi lama-kelamaan gurunya menyuruh ia memperlambat gerakan tangannya hingga api itu agak lama memanggang tangannya.
Setelah itu tangan yang dipanggang itu diberi obat yang digosokkan sampai masuk melalui lubang-lubang di kulit.
Lambat laun Lian Eng dapat menahan dan menaruh tangannya di dalam nyala api tanpa terbakar!
Setelah berlatih berbulan-bulan gadis gagu itu mulai belajar mencuci kaki tangan dengan nyala api yang keluar dari kawah di dalam ruang gua itu tanpa terganggu sedikitpun.
Untuk dapat mandi api seperti yang dilakukan gurunya, ia masih harus berlatih deagan giat beberapa tahun, karena ia harus dapat menggunakan lwee-kangnya sampai ke rambut-rambutnya, agar rambut itu jangan habis dimakan api!
Untuk mempelajari kegesitan atau ginkang, gurunya mengajak Lian Eng ke luar gua dan di atas sebuah puncak yang terdapat banyak burung.
Huo Mo-Li menangkap burung itu dengan pukulan Huo-mo-kangnya, lalu muridnya disuruh meloncat menubruk burung yang dilepas.
Mula-mula hal ini sukar sekali, tapi karena Lian Eng pernah mempelajari silat dari kakeknya, Souw Cin Ok, dan pernah pula sebulan lebih dilatih pelayan dan kedua manusia salju dari Beng Beng Hoatsu, Ia telah memiliki kepandaian yang lumayan juga dan dasar-dasarnya sudah cukup kuat, maka kini mempelajari ilmu luar biasa yang diturunkan oleh Huo Mo-Li kepadanya, ia tidak mengalami banyak kesukaran.
Tak lama kemudian, ia telah berhasil tiap kali tubruk pasti dapat menangkap burung yang hendak terbang itu.
Dengan demikian, maka kecepatan gerakan tubuhnya sudah melebihi kecepatan burung yang hendak terbang!
Setelah Lian Eng telah mulai berani mempermainkan nyala api dengan kedua tangannya seolah-olah orang bermain-main air saja, ia mulai memiliki tenaga Huo-mo-kang.
Pada suatu pagi Huo Mo-Li ajak muridnya keluar untuk mencoba ilmunya Huo-mo-kang.
Di atas mereka banyak burung-burung warna putih dan beterbangan rendah.
Huo Mo-Li gunakan tangan kiri memukul ke atas, dan berseru.
"Turun!"
Benar saja, seekor burung yang dibidik kepalan tangannya itu seakan-akan kena pukul dan bergulingan ke bawah!
Huo Mo-Li tangkap burung itu yang ternyata tidak mati karena memang sengaja dipukul untuk menjatuhkannya saja.
Kemudian ia lepaskan burung itu dan memerintah muridnya.
"Pukul!"
Lian Eng mengerti maksud gurunya, maka ia segera kerahkan tenaga dalamnya ke arah tangan kanan dan pukulkan itu dengan jari-jari terbuka ke arah burung yang telah terbang dan berada kira-kira satu tombak di atasnya!
Hebat sekali akibatnya.
Terdengar suara "Buk!"
Yang keras dan burung itu terpental lalu jatuh ke tanah dengan bulu-bulunya rontok dan dadanya yang berkulit putih kini menjadi matang biru! Burung itu mati seketika itu juga. Gurunya memuji.
"Bagus... bagus!"
Tapi pada saat itu juga terdengar seruan merdu dan halus.
"Siancai... siancai... kepandaian yang tinggi, luar biasa, dan ganas..."
Ketika Huo Mo-Li dan Liang Eng memandang, ternyata yang datang adalah seorang pendeta wanita yang berpakaian hijau gelap dan di dadanya terdapat sulaman dua tangkai bunga teratai.
Pendeta itu berusia kurang lebih limapuluh tahun dan wajahnya tampak alim dan agung serta bibirnya selalu tersenyum ramah dan sabar hingga sekali lihat saja dapat mendatangkan rasa hormat dan senang dalam hati.
Huo Mo-Li tahu bahwa Nikouw itu berkepandaian boleh juga karena dapat datang ke situ tanpa ia ketahui, sungguhpun hal ini baru dapat terjadi karena ia tadi terlampau girang dan curahkan semua perhatian kepada muridnya.
Nikouw itu angkat kedua lengan dan memberi hormat lalu berkata dengan halus.
"Maafkanlah pinni jika mengganggu kalian guru dan murid yang lihai. Kalau mata pinni tidak salah lihat dan kalau pikiran pinni tidak salah terka, bukankah pinni menghadap di depan Dewi Api dari Thang-La yang sangat sakti dan terhormat?"
Biarpun kata-kata Nikouw itu sangat halus dan penuh hormat hingga membikin Lian Eng merasa suka, tapi Huo Mo-Li yang melihat bahwa Nikouw itu hanya memakai tanda lukisan dua tangkai bunga teratai, ia tidak memandang sedikitpun juga.
Ia tahu bahwa Nikouw itu hanya anak murid tingkat dua saja dan ia tak perlu mengacuhkan.
"Kau murid siapakah?"
Tanyanya karena ia tahu dari Hwat Kong Tosu bahwa Kwan-Im-Pai mempunyai tiga orang ketua. Nikouw itu tetap bersikap hormat.
"Pinni yang bodoh adalah murid dari Cin Hwa Sianli subo,"
Jawabnya.
"Cin Hwa Sianli itu ketua yang ke berapakah?"
Tanya pula Huo Mo-Li.
"Guruku adalah ketua kedua dari Kwan-Im-Pai,"
Jawab Nikouw itu. Huo Mo-Li perdengarkan ketawa menyindir.
"Hm, ketua kedua dari Kwan-ia-pai mengutus kau datang ke sini ada perlu apakah?"
Nikouw itu tetap sabar.
"Pinni diutus mintakan maaf atas kelancangan murid tingkat tiga yang berani berlaku kurang ajar kepada Pouwsat."
Nikouw itu sengaja menyebut Huo Mo-Li dengan sebutan Huo Pouwsat atau Dewi Api, karena sekali-kali ia tidak berani menyebut Mo-li atau Setan Perempuan.
"Kalau kami tidak maafkan padanya, tentu sekarang ia telah berada di neraka! Nah, kau pergilah, jangan mengganggu kami lebih jauh."
Tapi Nikouw itu tetap berdiri membungkuk dan tidak mau pergi.
"Eh, eh, kau tidak juga pergi?"
Tanya Huo Mo-Li gemas.
"Pinni diutus untuk menghaturkan maaf dan untuk memohon kemurahan Pouwsat untuk mengembalikan patung Kwan-Im Pouwsat dari kelenteng kami."
Huo Mo-Li merah mukanya dan sepasang matanya yang jeli dan indah itu memancarkan sinar api.
"Kau juga berani menuduh aku?"
Ia segera maju dan menggerakkan tangan kirinya ke pundak Nikouw itu untuk mendorong.
Tapi Nikouw itu telah mewarisi kepandaian Cin Hwa Sianli sampai tingkat yang cukup tinggi, maka dengan cepat ia berkelit.
Huo Mo-Li makin marah hingga kedua lengan tangannya berubah merah.
Lian Eng terkejut melihat perubahan subonya itu karena ia tahu bahwa dalam keadaan demikian maka tenaga Huo Mo-Li yang lihai telah menguasai sepenuhnya di kedua tangan gurunya dan pukulan yang dilakukan oleh tangan itu adalah pukulan maut belaka!
Huo Mo-Li menyerang lagi, tapi kembali Nikouw itu dapat berkelit karena telah menggunakan gerak ilmu silat Kwan-Im-Pai yang lihai.
Setelah diserang dua kali, Nikouw itupun balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya, tapi air mukanya tetap tenang dan sabar.
Huo Mo-Li merasa terlalu rendah untuk membinasakan seorang murid tingkat dua dari Kwan-Im-Pai, maka ia segera kerahkan ginkang dan lwee-kangnya hingga sebentar saja ia telah dapat mengurung Nikouw itu.
Baru saja belasan jurus, Nikouw itu telah merasa pening dan tiba-tiba jari tangan Huo Mo-Li berhasil menepuk pundaknya!
Tepukan itu perlahan saja, tapi cukup membuat Nikouw itu sempoyongan mundur dengan muka pucat karena ia merasa sakit sekali di dada sebelah kanan.
Ia tahu bahwa ia telah mendapat luka dalam yang cukup berat, maka ia menjura sambil menahan sakit dan berkata.
"Terima kasih atas kemurahan hati Pouwsat, dan pasti budi ini akan pinni sampaikan kepada ketiga kauw-Cu kami."
Huo Mo-Li tersenyum sindir.
"Kau tidak akan mati, jangan khawatir! Tapi kalau dalam waktu tiga kali duapuluh empat hari kau tidak sampai ke kelentengmu, aku tidak tanggung akan keselamatan jiwamu. Kalau kauw-Cu dari kelentengmu penasaran dan tetap hendak mencari patung di sini, janganlah suruh muridnya, tapi datang saja sendiri!"
Kemudian ia balikkan tubuh dan ajak Lian Eng pergi dari situ.
Nikouw itupun segera lari turun untuk pulang dan memberi laporan kepada guru-gurunya.
Lian Eng diam-diam merasa tak senang dan terkejut melihat watak gurunya yang ternyata kejam dan keras.
Diam-diam timbul rasa tak suka kepada gurunya itu.
Tapi Huo Mo-Li bersikap baik sekali padanya hingga gadis gagu itu lama-lama lenyap rasa tidak sukanya.
Melihat betapa hebat dan tinggi ilmu silat gurunya, maka Lian Eng perhebat ketekunannya dan ia mulai mempelajari lukisan dinding itu dengan lebih teliti karena tahu bahwa ilmu silat yang diukir itu benar hebat.
Ia pelajari ukiran pertama dan cocokkan itu dengan pelajaran lisan yang didapat dari gurunya.
Dengan bantuan lukisan itu, ia dapat melakukan gerak yang sempurna.
Kadang-kadang Lian Eng sampai lupa makan tidur karena rajinnya mempelajari dinding itu hingga sering kali gurunya menegurnya.
Beberapa bulan telah lewat pula dan kini kepandaian Lian Eng sudah maju pesat.
Tapi belum juga ia memiliki tenaga yang cukup kuat untuk menolak batu besar penutup gua Dewi Api, maka jika gurunya keluar gua dan menutup batu itu ia hanya berada di dalam gua seorang diri dan tekun mempelajari lukisan-lukisan di dinding.
Pada suatu hari, ketika ia asyik mempelajari gerak yang keduapuluh tiga, tiba-tiba batu penutup gua itu terbuka.
Gurunya sedang keluar, maka tadinya Lian Eng menyangka bahwa gurunya telah kembali hingga dengan wajah girang ia meloncat keluar untuk menyambutnya.
Tapi alangkah kagetnya ketika melihat dua orang pendeta perempuan yang berpakaian putih memasuki pintu gua itu.
Dua orang pendeta itu berusia tinggi, lebih dari tujuhpuluh tahun, sedangkan wajah mereka agung dan keren.
Rambut mereka digelung ke atas dalam bentuk bunga teratai dan pada baju bagian dada terlukis setangkai teratai besar.
Di punggung mereka tampak gagang po-kiam dan di tangan kanan memegang sebuah hud-tim, yaitu kebutan pertapa yang berbulu putih.
Lian Eng berdiri memandang dengan tak bergerak kepada dua pendeta wanita itu.
Kedua pendeta itu ketika melihat Lian Eng segera menghampiri dan seorang di antara mereka bertanya dengan suara halus.
"Eh, nona yang baik, di manakah perginya Huo Mo-Li? Apakah dia gurumu?"
Lian Eng menggeleng-gelengkan kepala, tanda bahwa ia tidak tahu ke mana perginya gurunya, kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban bahwa ia benar murid dari Huo Mo-Li.
Kedua pendeta itu saling pandang, dan seorang lagi berkata.
"Nona, kau belum jawab pertanyaan kami."
Lian Eng merasa mendongkol sekali.
Ia sudah menjawab mengapa dianggap belum?
Tiba-tiba timbul marahnya karena terang sekali kedua wanita tua ini hendak mempermainkannya.
Sudah terang ia seorang anak gagu bagaimana disuruh bicara?
Maka ia lalu duduk dan buang muka!
"Hm, hm, gurunya setan, muridnyapun iblis!"
Seorang di antara mereka memaki.
Tentu saja Lian Eng merasa marah sekali mendengar betapa ia dan gurunya dimaki orang.
Ia berdiri dan dengan banting-banting kaki gunakan jari telunjuk menuding keluar yang maksudnya ia marah dan mengusir orang-orang itu.
Tapi kedua pendeta itu tidak mengerti, hanya menganggap gadis kecil itu mempermainkan mereka.
"Suci, mari kita geledah saja ke dalam. Agaknya iblis perempuan itu bersembunyi di dalam."
"Sumoi, untuk apa mencari keributan?"
Kim Hwa Sianli mencegah adiknya.
"Ah kita hanya ingin mencari patung kita yang hilang. Hayolah, suci, jangan ladeni anak gila ini!"
Keduanya lalu bertindak ke dalam, tapi tiba-tiba Lian Eng loncat menghadang di depan mereka dengan tolak pinggang!
Kedua pertapa wanita itu tersenyum geli dan tidak ladeni gadis itu terus saja maju melangkah, tapi sungguh tak dinyana, tiba-tiba Lian Eng itu kirim pukulan Huo-Mo-Kangnya!
Cin Hwa Sianli yang berada di depan terkena langsung oleh angin pukulan Lian Eng.
Ia merasa betapa satu tenaga yang kuat dan panas menyambarnya dengan hebat sekali, maka ia berseru kaget dan menangkis dengan kebutannya.
Angin pukulan Lian Eng yang telah dapat menjatuhkan burung yang terbang di atas itu tertangkis punah oleh hud-tim Cin Hwa Sianli, tapi tak urung kebutan itu telah rontok beberapa helai bulunya!
Tentu saja hal ini mengagetkan kedua ketua Kwan-Im-Pai itu karena tidak mereka sangka bahwa gadis kecil ini mempunyai kelihaian sehebat itu!
Cin Hwa Sianli meloncat maju menyerang tapi sucinya yang khawatir kalau-kalau sumoinya salah tangan melukai gadis kecil itu, segera membetot baju adiknya dan berkata.
"Mundurlah kau, sumoi!"
Kemudian ia sendiri maju, Lian Eng menyambut dengan pukulan Huo-mo-kang lagi.
Tapi Kim Hwa Sianli sudah siap hingga ia dapat berkelit sambil membongkokkan diri ke samping lalu terus maju menyambar Dengan jari tangan kirinya ia menotok pundak Lian Eng hingga gadis itu berdiri kaku dan dia seperti sebuah patung.
"Hayo sumoi, kita mengadakan penyelidikan sebentar untuk mencari patung kita, nanti kita lepaskan gadis lihai ini."
Mereka lalu menggeledah ke dalam gua dan mereka heran sekali melihat betapa dalam gua yang diselimuti salju di puncak itu bisa terdapat api bernyala-nyala yang keluar dari dalam kawah.
Mereka memeriksa dengan teliti, tapi tak berhasil menemukan patung yang mereka cari-cari.
Dengan kecewa dan menyesal mereka keluar.
Kecewa karena patung yang dicari tidak ketemu, dan menyesal karena kalau ternyata bahwa Huo Mo-Li bukan pencurinya, maka berarti mereka mendapat seorang musuh baru yang tangguh dan lihai sekali!
Ketika tiba di luar, mereka kaget sekali karena gadis kecil yang tadi ditotok, sekarang telah duduk di atas bangku dengan senang sambil makan paha seekor burung.
Paha itu mentah, tapi gadis itu makan dengan tampak lezat sekali.
Selain gadis itu, di situ tidak tampak orang lain!
Kim Hwa Sianli segera menghampiri Lian Eng dan berkata dengan suara halus.
"Nona kecil, nanti katakan kepada gurumu bahwa kami menyesal sekali telah mengganggu tempat tinggalnya dan sampaikan pernyataan maaf kami."
Lian Eng hanya memandang dengan mata tajam, dan tiba-tiba dari belakang kedua pendeta wanita itu terdengar orang berkata dengan suara merdu.
"Aduh enaknya! Menghina anak kecil, masuk tempat orang tanpa permisi, bisakah dibikin habis begitu saja?"
Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli cepat memutar tubuh dan mereka melihat seorang wanita yang sangat cantik berdiri sambil tersenyum menghina.
Mereka kagum sekali melihat kecantikan Huo Mo-Li.
Biarpun mereka telah mendengar tentang kecantikan Setan Api Wanita itu, namun baru kali ini mereka melihat dengan mata sendiri.
"Hm, kalian ini bukankah ketua dari Kwan-Im-Pai?"
Kim Hwa Sianli menjura dan membenarkan pertanyaan Huo Mo-Li yang lalu berkata lagi.
"Bagus betul perbuatan ketua-ketua Kwan-Im-Pai. Kalian sungguh tidak pandang mata kepada orang lain. Apa kau sangka semua orang harus tunduk dan takut kepada Kwan-Im-Pai? Yang manakah di antara kalian bernama Cin Hwa Sanli?"
Cin Hwa Sianli maju setindak.
"Apakah maksudmu menanyakannya? Pinni sendirilah bernama Cin Hwa!"
Huo Mo-Li pandang pendeta wanita itu dengan tajam.
Biarpun wajah Cin Hwa Sianli menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang tinggi ilmu batinnya dan telah dapat mengekang segala nafsu dunia, namun sinar matanya tidak selembut Kim Hwa Sianli.
"Jadi Nikouw yang datang dua bulan yang lalu itu adalah muridmu? Dan sekarang kau sendiri datang mau apa? Kenapa kau geledah-geledah guaku tanpa permisi? Bagaimana kalau kau mencuri sesuatu dari guaku?"
Karena sedih dan menyesal telah kehilangan patung Dewi Kwan-Im dan mencari tanpa hasil, maka Cin Hwa Sianli kini menjadi marah mendengar ia dituduh mencuri!
"Siapa yang sudi mencuri barang-barangmu?
Hm, kami datang sebaliknya hendak mencari barang kami yang dicuri oleh orang rendah!"
Huo Mo-Li memandang marah.
"Mengapa dicari dalam guaku?"
Melihat kedua orang itu telah bersitegang, Kim Hwa Sianli maju dan angkat kedua tangan memberi hormat, lalu berkata dengan hormat.
"Harap Toanio sudi memaafkan kekeliruan kami dan biarlah lain kali kalau ada kesempatan kami akan memperbaiki kesalahan terhadap Toanio ini. Sumoi, marilah kita pergi."
Tapi Huo Mo-Li berkata dengan suara garang.
"Sudah suruh murid datang mengacau lalu diri sendiri datang melanggar kesopanan, mau pergi begitu saja? Tak mungkin... tak mungkin!"
Cin Hwa Sianli menjadi gemas dan berkata keras.
"Habis kau mau apa?"
Huo Mo-Li memandangnya dengan mata bersinar.
"Kau jauh-jauh telah datang ke sini, maka mau tidak mau aku harus menyambutmu. Ingin aku mencoba kelihaian ketua dari Kwan-Im-Pai yang mempunyai murid-murid yang tak becus apa-apa!"
"Kau menantang bertanding?"
Cin Hwa Sianli bertanya.
"Kalau kau berani!"
Jawab Huo Mo-Li. Dengan sekali gerak saja Cin Hwa Sianli telah cabut pedang dengan tangan kanan dan kebutannya telah pindah ke tangan kiri, lalu sambil berkata.
"Kalau begitu, aku si tua bangka tidak baik kalau menolak ajakanmu. Bersiaplah kau, Huo Mo-Li!"
Sambil berkata demikian, kebutan di tangan kirinya bergerak ke arah muka Huo Mo-Li, tapi gerakan ini hanya untuk mengelabui mata lawan saja, karena yang sebenarnya menyerang hebat adalah pedang di tangan kanannya!
Karena maklum bahwa lawannya ini lihai sekali, Cin Hwa Sianli membuka serangan dengan langsung mengeluarkan ilmu yang mematikan dan berbahaya.
Tapi dengan tenang dan mudah sekali Huo Mo-Li berkelebat ke samping dan menghindarkan serangan itu, kemudian iapun balas menyerang dari samping dengan pukulan yang hebat.
Melihat lawannya begitu bergebrak sudah mengeluarkan gerakan mematikan, iapun tidak berlaku sungkan lagi.
Pukulannya dari samping ini adalah gerakan Setan Api Menjilat Air yang mengandung tenaga Huo-mo-kang penuh.
Sekiranya terkena pukulan ini, biarpun memiliki kepandaian tinggi dan lwee-kang yang cukup sempurna, Cin Hwa Sianli tentu takkan dapat menahannya.
Tapi pertapa wanita itu ginkangnya juga sudah cukup tinggi maka cepat sekali ia meloncat menyingkir dari pukulan itu.
Angin pukulan yang keluar dari lengan tangan Huo Mo-Li menyambar dinding batu dan sebagian dinding itu tergempur!
Alangkah kaget dan kagumnya ke dua ketua Kwan-Im-Pai itu melihat kehebatan pukulan Huo Mo-Li.
Sebaliknya Huo Mo-Li sendiri melihat betapa lawannya cukup gesit dan ternyata pukulan pertamanya bahkan merusak dinding guanya sendiri, ia segera meloncat keluar dan menantang.
"Cin Hwa! Kau memang gagah, marilah keluar dari gua dan bertempur sampai seribu jurus dengan aku!"
Cin Hwa Sianli tidak takut dan menyusul keluar, di belakangnya menyusul pula Kim Hwa Sianli.
Lian Eng merasa gembira melihat perkelahian itu dan diam-diam iapun keluar dari gua dan duduk di atas tanah yang tertutup salju sambil bersandar ke batu karang guanya.
Begitu melihat lawannya telah datang menyusul segera Huo Mo-Li menyerang bertubi-tubi dengan Huo-Mo Kun-Hwat yang luar biasa gerakannya itu.
Biarpun di tangan kanannya ada pedang mustika dan di tangan kirinya ada kebutan dan kedua senjata itu dapat dimainkan dengan lihai, Namun menghadapi serangan-serangan Huo Mo-Li yang hebat, Cin Hwa Sianli terdesak juga!
Lebih-lebih ketika setelah bertempur puluhan jurus ia berhasil menggunakan pedangnya menyabet pinggang Huo Mo-Li tapi terpental dan tidak mempan, hatinya menjadi gentar.
Ia tidak sangka bahwa selain lihai ilmu silatnya, Setan Api Wanita itupun bertubuh kebal dan dapat menahan sabetan pedangnya!
Padahal jelas tampak bahwa baju Huo Mo-Li di bagian pinggang telah robek karena sabetannya tadi.
Ia mana tahu bahwa di sebelah dalam dari pakaian luarnya, Huo Mo-Li mengenakan baju wasiat yang terbuat dari pada serat yang diambil dari semacam rumput salju yang jarang terdapat.
Huo Mo-Li sengaja memperlihatkan kesaktiannya untuk mengacaukan pikiran lawan.
Benar saja, setelah melihat bahwa Huo Mo-Li tak dapat terluka oleh pedangnya, Maka permainan silat Cin Hwa Sianli menjadi kendur dan pada suatu saat Huo Mo-Li berhasil kirim pukulan yang tepat mengenai pundak kanan pendeta wanita itu.
Cin Hwa Sianli terlempar beberapa tombak jauhnya dan ia roboh tak berkutik lagi.
Biarpun ia dapat menahan sakit dan sedikitpun tidak mengeluarkan keluhan, akan tetapi lukanya cukup hebat dan sambungan tulang pundaknya telah terlepas!
Huo Mo-Li yang melihat bahwa lawannya biarpun terluka tapi tidak akan tewas, segera loncat maju hendak kirim pukulan kedua, tapi pada saat ia angkat tangannya, tiba-tiba ia merasa tangan itu sakit dan pada lengannya terasa panas, perih dan ngilu sekali!
Ia turunkan tangannya dan melihat bahwa pada lengan bagian atas tangan itu telah mengucurkan darah.
Ia tahu dirinya telah terkena serangan senjata rahasia, maka ia menghadapi Kim Hwa Sianli dengan marah.
"Bukan lakunya seorang gagah untuk menyerang dengan curang dan diam-diam!"
Teriaknya dan siap untuk menyerang. Kim Hwa Sianli menjura.
"Maaf, Toanio. Kepandaianmu sungguh hebat dan sumoiku bukan tandinganmu, juga pinni sendiri takkan dapat melawanmu. Tapi setelah kau menang, tak perlu kau turunkan tangan membunuh sumoiku. Itupun bukan lakunya seorang gagah. Aku menyerangmu dengan Kwan-Im-ciam hanya dengan maksud menolong jiwa sumoi yang hendak kau bunuh tadi."
Huo Mo-Li terkejut ketika tahu bahwa yang melukai lengannya adalah Kwan-Im-ciam, semacam jarum halus yang tentu saja karena runcing dan halusnya, dapat menembus lubang-lubang kecil di antara pakaian wasiatnya, dan ia tahu pula bahwa jarum itu dapat memasuki jalan darah dan berjalan perlahan dengan darah menuju ke jantung!
Dan mendengar kata-kata Kim Hwa Sianli yang mencelanya karena hendak membunuh Cin Hwa Sianli, ia merasa bahwa kata-kata itu memang benar, maka ia hanya tundukkan muka.
Kim Hwa Sianli tarik keluar (Lanjut ke
Jilid 04) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 sebungkus obat dari kantung jubahnya dan berkata lagi.
"Toanio, kita tak pernah bermusuhan, maka mengapa harus saling bunuh? Adikku telah terluka olehmu, begitu pula murid kami, dan kau telah terluka oleh jarumku.
"Bukan pinni hendak katakan bahwa pinni lebih pandai darimu, Toanio. Tapi dengan kedua pihak telah terluka, maka kita telah saling bayar utang. Biarlah persoalan ini habis sampai di sini saja. Ini terimalah obat ini, jika kau campur obat ini dengan air dan tempelkan pada luka di lenganmu, pasti jarum itu akan dapat disedot keluar."
Huo Mo-Li biarpun mengaku bahwa Kim Hwa Sianli bicara benar, namun adatnya yang keras dan angkuh tak dapat ditaklukkan. Ia berkata dengan senyum pahit.
"Aku sudah salah tangan melukai muridmu dan sumoimu, kini kau melukai aku, apakah anehnya? Kalau sampai aku mati karena luka ini, apakah halangannya? Yang kusesalkan adalah kesembronoanmu dan murid-muridmu. Yang curi patungmu adalah Hwat Kong, tapi kalian kejar-kejar aku. Hm, sungguh tolol!"
Mendengar ini, Kim Hwa Sianli girang sekali.
"Oh, jadi Hwat Kong Tosu kah yang lakukan perbuatan itu? Terima kasih, terima kasih atas keteranganmu, Toanio. Nah, ini, pakailah obatku agar kau lekas sembuh dari pengaruh jarum itu!"
"Bawalah obatmu dan pergilah cepat! Kalau terlalu lama kau di sini, mungkin aku tak dapat menahan sabar lebih lama. Pergilah kau dan bawa sumoimu!"
Huo Mo-Li tidak mau terima obat itu bahkan mengusir.
Kim Hwa Sian-li tidak menjawab lagi, lalu angkat sumoinya dan setelah menjura sekali lagi, ia berkelebat turun gunung sambil panggul tubuh sumoinya yang terluka.
Setelah kedua pendeta wanita itu pergi, barulah Huo Mo-Li periksa luka di tangannya.
Ternyata luka yang kecil sekali dan bekas tempat di mana jarum halus itu menerobos masuk ke dalam lengannya, terdapat tanda merah dan rasanya gatal dan panas.
Ketika ia meraba-raba, ternyata jarum halus itu telah memasuki lengan tangannya dan berada di dekat tulang lengan!
Ia tidak tahu bagaimana harus mencabut jarum itu, maka dengan nekat ia hendak membedah lengannya untuk ambil jarum yang berbahaya dari daging lengannya.
Lian Eng lari menghampiri gurunya dengan khawatir.
Dengan gerak tangan dan jari ia bertanya yang maksudnya begini.
"Bagaimanakah luka di lenganmu? Berbahayakah?"
Wajah gadis kecil itu tampak bingung.
"Jangan khawatir, muridku. Marilah kita masuk ke dalam gua dan aku akan coba keluarkan jarum terkutuk ini!"
Jawab gurunya.
Tapi sebelum mereka memasuki gua, tiba-tiba dari lereng bukit terdengar suara kelenengan nyaring dan ketika mereka memandang, tampaklah seorang anak laki-laki berusia paling banyak tigabelas tahun mendaki puncak sambil memikul pikulan keranjang tukang obat.
Ternyata anak itu dapat panjat puncak Dewi Api dengan cepat dan kepandaiannya ringankan tubuh sudah mengagumkan.
Huo Mo-Li heran melihat anak itu berani naik ke puncak, tapi ketika ia melihat seorang tua dengan kepala besar dan tubuh kecil jalan di belakang anak itu sambil memikul keranjang besar di mana dipasangi kelenengan yang berbunyi nyaring itu, tahulah ia bahwa anak kecil itu tentu pembantu atau murid tukang obat itu.
Ia perhatikan tindakan kaki tukang obat itu yang walaupun tampaknya berjalan seenaknya namun cepat sekali telah bisa menaiki puncak.
Maka tergeraklah hati Huo Mo-Li, lebih-lebih ketika orang tua kepala besar itu tujukan tindakannya ke arah guanya.
Setelah orang tua aneh itu berada di depannya, dengan sikap sambil lalu ia berkata dengan suaranya yang besar dan dalam.
"Huo Mo-Li. mengapa berada di luar gua?"
Kaget juga hati Setan Api Wanita itu mendengar orang telah tahu julukannya. Sebelum ia menjawab, tampak wajah tukang obat itu terkejut dan memandangnya dengan tajam, lalu berkata lagi.
"Heran, heran! Huo Mo-Li sampai menderita luka!"
Makin heranlah Huo Mo-Li, maka ia segera bertanya tanpa banyak upacara lagi.
"Orang tua aneh, siapakah kau maka kenal namaku dan tahu bahwa aku menderita luka?"
"Aku tukang obat biasa dan kerjaku mengobati orang yang membutuhkan obat! Tentu saja aku kenal kau karena siapa lagi kalau bukan Huo Mo-Li yang berada di atas puncak ini? Tentang lukamu, aku bukanlah tukang obat kalau tidak mengetahui apakah orang yang kuhadapi itu sakit atau tidak!"
Huo Mo-Li teringat sesuatu.
Orang ini aneh sekali dan agaknya memiliki kepandaian tinggi, tukang obat yang berilmu tinggi di dunia ini setahunya hanya seorang, yaitu Kiang Cu Liong yang disebut.
Tukang Obat Dewa.
"Apakah kau setan obat she Kiang?"
Tanyanya dengan sengaja menyebut setan karena ia tidak mau mendewa-dewakan Kiang Cu Liong. Tukang obat yang berwajah aneh dan kepalanya yang besar itu tertawa bergelak mendengar pertanyaan ini.
"Aku memang Kiang Cu Liong! Huo Mo-Li kebetulan sekali aku datang pada saat kau menderita luka."
"Apa katamu? Kebetulan mengapa?"
Kiang Cu Liong tertawa lagi.
"Kebetulan sekali, karena aku dapat menolongmu dan mengeluarkan jarum itu dari lenganmu."
"Eh, bagaimana kau bisa tahu aku terluka oleh jarum?"
"Hem, Huo Mo-Li, jangan kau anggap tidak ada orang lain yang lebih pintar darimu. Aku tadi bertemu dengan ketua Kwan-Im-Kauw yang menggendong sumoinya. Siapa lagi kalau bukan dia yang sanggup lukai kau? Dan lukamu tentu karena jarumnya Kwan-Im-ciam."
Sebenarnya Kiang Cu Liong hanya melihat Kim Hwa Sianli menggendong adiknya turun dari puncak itu, dan ia tidak menemuinya, tapi karena ia memang cerdik, ia dapat menduga tepat sekali.
Tapi ia tidak tahu akan watak Huo Mo-Li yang angkuh dan tidak sudi menerima pertolongan orang, maka alangkah herannya ketika Huo Mo-Li menjawab dengan wajah muram.
"Kiang Cu Liong, jangan kau anggap aku tidak bisa keluarkan jarum ini sendiri. Aku tidak pernah menerima pertolongan orang dengan cuma-cuma!"
Untuk sesaat tukang obat she Kiang itu berdiri bengong, tapi ia segera tertawa bergelak.
"Siapa ingin menolong orang dengan cuma-cuma? Dengar Huo Mo-Li, aku tadi bilang kebetulan karena kedatanganku ialah hendak minta pertolonganmu! Maka, sekarang kita bisa saling tolong hingga tidak ada di antara kita yang menerima pertolongan cuma-cuma!"
"Pertolongan apa?"
Huo Mo-Li bertanya dengan hati tertarik, karena kalau saling tolong itulah lain lagi soalnya.
"Aku membutuhkan beberapa potong mutiara salju yang hanya dapat diketemukan di atas puncak ini, yaitu cairan salju yang terpanggang oleh api kawah kemudian membeku lagi dan setelah beberapa tahun mencair dan membeku maka menjadi potongan karang putih keras yang disebut mutiara salju. Aku butuh beberapa potong untuk dipakai bahan obat semacam penyakit yang berbahaya. Berilah padaku beberapa potong mutiara salju itu dan aku akan bantu kau mengeluarkan jarum itu."
"Hm, kalau begitu, baiklah."
Huo Mo-Li lalu gulung lengan bajunya yang tadi ia turunkan kembali melihat ada orang datang.
Kiang Cu Liong lalu keluarkan sepotong besi yang bentuknya melengkung seperti besi kaki kuda dan ternyata besi itu mengandung kekuatan sembrani yang kuat sekali.
Ia tempelkan besi itu di atas luka di lengan Huo Mo-Li, lalu gunakan jari tangannya mengetuk-ngetuk ke arah belakang jarum yang mengeram dalam lengan itu.
Tak lama kemudian, setelah jarum yang di dalam lengan itu terdorong oleh ketukannya dan disedot oleh besi sembrani, ia lepaskan besi itu dan ternyata jarum itu telah tampak keluar sedikit dari kulit Huo Mo-Li!
Dengan mudah saja kakek kepala besar itu mencabut jarum Kwan-Im-ciam dan tertawa senang.
Ia lalu simpan jarum itu ke dalam kotak obatnya.
Kemudian ia gunakan obat untuk dipoleskan di bekas luka itu hingga Huo Mo-Li merasa lengannya dingin dan enak.
"Nah, ayoh kau kuantar mengambil mutiara salju yang kau butuhkan itu,"
Kata Huo Mo-Li kemudian, dan mereka berdua lalu tinggalkan tempat itu dan berpesan kepada murid masing-masing untuk menanti sebentar.
Pemuda kecil yang tadi datang bersama Kiang Cu Liong adalah pemuda yang sangat cakap.
Kulit mukanya putih bersih, bibirnya merah dan matanya sangat tajam dan jujur sinar matanya.
Daun telinganya lebar hingga ia tampak tampan dan gagah.
Setelah melihat gurunya pergi dengan Huo Mo-Li, ia mendekati Lian Eng yang masih berdiri di situ.
Ia berdiri di depan gadis cilik itu sambil memandang tajam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Kemudian ia menggerakkan jari telunjuknya ke arah dadanya sendiri dan membungkuk lalu menggunakan jari telunjuk menulis di atas salju yang berbunyi.
"Namaku Tiong Li."
Melihat bahwa pemuda itu tahu bahwa ia tidak bisa bicara, maka Lian Eng menjadi girang.
Dulu ia pernah diajar menulis oleh kakeknya dan tahu pula arti tiap huruf yang tidak begitu sukar.
Maka iapun segera menulis namanya sendiri di atas salju.
Dengan menggerakkan jari-jari tangan, Tiong Li menceritakan kepada Lian Eng bahwa semenjak kecil ia ikut suhunya merantau dan ketika Lian Eng bertanya kepadanya ia belajar apa, Tiong Li menjawab bahwa ia diajar memilih daun-daun dan akar obat, diajar pula cara mengobati.
Melihat gerakan yang menceritakan hal ini, Lian Eng tersenyum manis dan tiba-tiba ia menunjuk ke atas.
Beberapa ekor burung terbang rendah di atas mereka.
Lian Eng segera mengumpulkan tenaganya dan dengan pukulan Huo-mo-kang is menjatuhkan seekor burung.
Burung itu masih hidup tapi dadanya terpukul angin pukulan itu hingga menjadi biru dan ia pukul-pukulkan sayapnya kesakitan.
Lian Eng lalu ambil burung itu dan diberikan kepada Tiong Li dan minta pemuda itu coba mengobati luka burung yang terpukul tadi!
Tiong Li tadinya terkejut sekali melihat kehebatan ilmu pukulan gadis gagu itu, tapi kini ia mengerti maksudnya, ialah gadis itu hendak menguji kepandaiannya memberi obat.
Dengan segera ia periksa dada burung tadi dan jidatnya yang lebar dan putih halus itu berkerut ketika ia melihat betapa dada itu matang biru oleh angin pukulan Lian Eng.
Ia cepat mengambil selembar daun obat dari keranjangnya lalu meremas-remasnya dalam tangan kiri.
Setelah ia meremas sedikit salju ke dalam tangan kanannya, ia lalu mencampur hancuran daun itu dengan salju, lalu memupukkan ramuan obat itu di dada burung tadi sambil mengurut-urut tubuh burung dengan jari-jari tangannya yang cekatan dan halus.
Aneh sekali, tak lama kemudian burung itu tampak segar kembali dan ketika Tiong Li melempar burung itu ke atas, maka binatang itu sambil cecowetan dapat terbang kembali!
Lian Eng berjingkrak memuji, ia senang sekali melihat kepandaian Tiong Li.
Tapi pemuda kecil itu dengan gerakan tangannya mencela perbuatan Lian Eng yang dianggap kejam telah melukai burung tadi.
Lian Eng tidak senang melihat celaan ini dan ia menunjuk ke atas sambil menantang kepada Tiong Li untuk menangkap seekor burung yang sedang terbang.
Pemuda itu tersenyum dan berkata kepada diri sendiri.
"Hm, kau kira hanya kau saja yang pandai menangkap burung?"
Ia tadinya menyangka bahwa gadis itu adalah gagu dan tuli, tapi ia tidak tahu sama sekali bahwa Lian Eng hanya gagu saja dan dapat mendengar baik, bahkan dapat mengerti kata-kata biasa.
Mendengar pemuda itu berkata demikian, Lian Eng menjadi makin penasaran dan mendesak pemuda itu memperlihatkan kepandaiannya.
Tiong Li menjadi heran dan bertanya.
"Kau mengerti dan dapat mendengar kata-kataku?"
Lian Eng mengangguk. Tiong Li menjadi tertarik sekali dan mendekati gadis itu.
"Coba kau buka mulutmu agar kulihat!"
Bukan main marahnya Lian Eng ketika pemuda itu menyuruhnya membuka mulut. Disangkanya pemuda itu hendak memperolok-oloknya, maka ia loncat mundur sambil memandang marah.
"Jangan kau salah sangka. Aku hendak melihat tenggorokanmu dan mengetahui apakah yang menyebabkan kau tidak bisa bicara. Aku tidak bermaksud buruk!"
Mendengar ini, lenyaplah kemarahan Lian Eng, tapi sebaliknya ia menjadi malu.
Mukanya merah dan ia tetap tidak mau membuka mulutnya untuk diperlihatkan kepada pemuda itu!
Segera ia mendesak kembali kepada Tiong Li untuk menangkap burung karena ia hendak saksikan apakah selain pandai mengobati, pemuda itupun mempunyai kepandaian lain pula.
Tiong Li segera pungut salju lembek dan berdongak memandang ke arah burung-burung yang sedang terbang.
Ia menuding ke arah burung yang terbang paling tinggi, lalu ia ayun tangan melempar salju lembek yang dikepal itu ke atas.
Benar saja, kepalan salju lembek itu tepat menempel ke sayap burung hingga burung itu tak dapat terbang lagi lalu jatuh terputar-putar ke bawah!
Tiong Li pungut burung itu dan memperlihatkannya kepada Lian Eng untuk membuktikan bahwa burung itu sama sekali tidak menderita luka.
Kemudian ia lepaskan salju itu dan burung itu terbang kembali ke udara.
Lian Eng girang sekali melihat kepandaian ini maka ia segera meniru-niru.
Untuk dapat melempar salju lembek itu demikian keras, dibutuhkan tenaga lwee-kang yang tinggi.
Tapi dalam hal ilmu lwee-kang, Lian Eng tak usah kalah oleh Tiong Li, maka sebentar saja ia pun sudah dapat menembak jatuh seekor burung.
Kalau ia bisa bersuara, Lian Eng tentu bersorak karena girang dan gembira.
Tapi karena ia gagu, ia hanya bisa berloncat-loncatan dengan muka berseri-seri!
Tiong Li juga ikut berloncatan-loncatan girang hingga mereka sambil berpegang tangan menari-nari di atas salju.
Pada saat itu dari puncak turun Huo Mo-Li dan Kiang Cu Liong.
Kedua guru ini melihat murid mereka demikian gembira dan dapat bergaul baik, ikut pula gembira.
Huo Mo-Li berkata.
"Muridmu tidak tercela!"
"Tapi muridmu tidak kalah hebat,"
Jawab Kiang Cu Liong.
Kemudian Kiang Cu Liong bertanya mengapa Huo Mo-Li sampai dapat bertempur dengan ketua Kwan-Im-Pai.
Huo Mo-Li lalu ceritakan tentang patung Dewi Kwan-Im yang lenyap dicuri orang dan bahwa ketua Kwan-Im-Pai menuduh dia yang mencurinya.
Mendengar ini Kiang Cu Liong merasa kecewa sekali, tapi kemudian ia tertawa bergelak-gelak ketika Huo Mo-Li bercerita bahwa Setan Api Wanita itu bersama Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu membuat perlombaan, untuk mencuri atau memiliki patung yang hilang itu dalam sepuluh tahun.
"Huo Mo-Li, ketahuilah. Sebenarnya aku sendiri dari sini hendak pergi ke Kwan-Im-Bio dan hendak pinjam patung itu sebentar, baik dengan secara berterang maupun dengan jalan mencurinya sebentar untuk kemudian dikembalikan lagi."
Huo Mo-Li memandangnya heran.
"Kau juga ingin memiliki patung itu? Untuk apakah emas dan mutiara itu bagimu?"
"Jangan salah sangka. Aku tidak ingin emas maupun permata. Yang kuingin ialah sebuah benda yang tersembunyi di dalam patung itu. Dulu ketika patung itu dibuat, seorang ahli obat dari barat yang berilmu tinggi telah menyimpan beberapa jinsom yang jarang terdapat dan yang mujijat khasiatnya di dalam patung itu.
"Jinsom itu adalah simpanan dalam istana Raja Mongol dan ketika beberapa orang asing datang hendak merampas jinsom itu, maka oleh orang berilmu itu lalu disimpan di dalam patung emas Kwan-Im Pouwsat. Maka karena kalian bertiga telah berlomba, anggaplah aku sebagai orang keempat yang mengikuti perlombaan ini! Kalian hendak rebut patung itu hanya untuk main-main belaka, tapi aku lain lagi.
"Kalau tidak salah, selain jinsom yang kusebutkan tadi, di situ tersimpan pula buku ilmu obat-obatan dari orang berilmu itu. Sayang bahwa patung itu telah dicuri orang hingga agak sukarlah bagi kita untuk mencarinya."
"Menuruti ketua Kwan-Im-Kauw, yang mencuri patung itu memberi tahu bahwa jika orang hendak mendapatkan kembali patung Dewi Kwan-Im, maka harus dicari ke atas pegunungan ini. Heran, siapakah orangnya yang begitu kurang ajar?"
Huo Mo-Li berkata gemas. Kiang Cu Liong putar-putar otak dalam kepalanya yang besar itu, tapi ia juga tak dapat menerka siapa.
"Tentu orang itu seorang yang berkepandaian tinggi dan seorang yang suka main-main atau memang berwatak curang. Kalau mau mencari orang palsu dan curang dan berkepandaian tinggi, di dunia ini selain Tok-Kak-Coa si Ular Tanduk Beracun, siapa lagi!"
"Apa? Kau maksudkan si iblis dari timur itu?"
Tanya Huo Mo-Li dengan kaget karena iapun pernah mendengar Tok-Kak-Coa sebagai seorang yang sangat jahat dan sangat lihai di daerah timur.
"Mungkin dia, siapa tahu? Baiklah kita mencari jalan kita masing-masing. Kemudian tukang obat dewa itu menghampiri muridnya."
"Tiong Li,"
Katanya lalu menunjuk ke arah Lian Eng.
"Ingatlah, di kelak kemudian hari gadis cilik ini akan menjadi pendekar wanita yang jarang tandingannya."
"Tapi kasihan sekali, suhu, dia menderita sakit gagu. Bukankah suhu dapat menolongnya? Karena ia tidak tuli, suhu, dia bisa mendengar dengan baik!"
Suara Tiong Li memohon kepada gurunya itu terdengar oleh Lian Eng hingga gadis itu menundukkan kepada dengan terharu. Tapi Kiang Cu Liong berkata.
"Tak usah kau ceritakan, akupun sudah tahu bahwa ia menderita sakit tenggorokan dan membuatnya tak bisa bicara. Tapi, aku tak berdaya. Kalau ia sudah mencapai usia duapuluh tahun, barangkali baru aku dapat menolongnya, kecuali jika obat ajaib yang kucari itu dapat ditemukan. Obat itu dapat menyembuhkan segala penyakit!"
Kemudian si Tabib Dewa itu mengajak muridnya turun gunung dengan cepat setelah berkata kepada Huo Mo-Li.
"Selamat berpisah dan sampai berjumpa pula!"
Huo Mo-Li berkata kepada Lian Eng.
"Muridku, mereka itu adalah orang-orang baik, ingatlah ini! Mungkin di kemudian hari kau masih harus berurusan dengan mereka. Juga kepandaian mereka itu tidak berada di bawah kita."
Lian Eng mengerti maksud gurunya dan semenjak itu ia mempelajari ilmu silat dengan lebih rajin lagi.
Hwat Kong Tosu, kakek pertapa yang tinggi kurus dan berilmu tinggi setelah membawa muridnya, Souw Cin Ok, kembali ke Hong-Lun-San, lalu ia berpesan kepada Souw Cin Ok untuk menjaga tempat pertapaannya dan ia sendiri lalu turun gunung untuk mulai dengan perantauannya mencari patung Dewi Kwan-Im yang tercuri itu, sekalian mencari seorang murid yang cocok dan yang berbakat baik.
Tapi, tidak mudah baginya untuk mencari murid yang sebaik Siauw Ma atau Lian Eng, dan lebih tidak mudah lagi baginya untuk mencari patung yang hilang itu karena ia tidak tahu siapa yang mencurinya.
Dengan menubruk sana-sini seperti laku seorang buta, Hwat Kong Tosu mendatangi segala maling dan perampok yang terkenal lihai dan menggunakam kepandaiannya untuk menangkap mereka itu lalu dipaksa mengaku, kalau-kalau mereka itu yang mencuri patung.
Tapi tak seorangpun di antara para maling dan perampok cabang atas itu mencuri patung Dewi Kwan-Im hingga Hwat Kong Tosu merasa bosan sendiri.
Sebaliknya, sepak terjangnya itu menggegerkan kalangan liok-lim karena belum pernah para tokoh persilatan itu mendengar nama Hwat Kong Tosu dan tahu-tahu kakek pertapa yang luar biasa itu turun gunung mengaduk-aduk dan mengacaukan kalangan kang-ouw tanpa pilih bulu.
Tapi apakah yang dapat mereka lakukan terhadap orang tua yang kosen dan lihai itu?
Banyak jagoan-jagoan yang tadinya merasa diri lihai dan belum pernah terkalahkan, ternyata merupakan anak-anak kecil yang tak berdaya jika berhadapan dengan Hwat Kong Tosu!
Pada suatu hari, Hwat Kong Tosu ke luar dari sebuah hutan di mana tinggal seorang perampok besar yang baru saja ia datangi dan ia paksa untuk memberi keterangan perihal patung itu hingga terjadi pertempuran di situ.
Tapi sebagaimana biasa, perampok itu dan semua anak buahnya dibikin jatuh bangun dan tak perdaya sama sekali menghadapi Hwat Kong Tosu hingga mereka menyerah.
Tapi sekali lagi Hwat Kong Tosu kecewa karena dari situpun ia tak mendapat keterangan apa-apa.
Maka dengan hati kesal ia keluar dari hutan dan menuju ke sebuah kota yang ramai, ialah kota Bun-an-kwan.
Ia masuk ke dalam sebuah kedai dan pesan arak seguci besar.
Melihat seorang berpakaian tosu menghadapi guci arak besar seorang diri dan minum arak dari mulut guci begitu saja, orang-orang menjadi heran, tapi karena mereka dapat menduga bahwa tosu itu tentu bukan orang sembarangan, mereka tidak berani mengganggu.
Hwat Kong Tosu sebenarnya bukan orang peminum arak, tapi karena sudah berbulan-bulan ia merantau tanpa hasil apa-apa, murid tak dapat, patungpun tak dapat, ia hendak hibur hatinya yang kesal dengan arak wangi.
Tiba-tiba seorang anak perempuan muncul dari dalam.
Ia adalah puteri seorang pembesar yang kebetulan lewat di kota itu dan bermalam di rumah penginapan yang menjadi satu dengan kedai arak itu.
Anak perempuan ini wajahnya manis dan sikapnya gembira.
Sepasang matanya yang jeli memandang bebas dan berani kepada segala apa yang tampak.
Melihat seorang kakek tinggi kurus dengan jenggot putih panjang sampai ke perut duduk seorang diri dan minum arak dari mulut guci besar, ia menjadi heran dan mendekati.
Jenggot yang panjang dan putih itu mengherankan anak itu, maka tak heran pula ia berkata.
"Kakek, jenggotmu bagus sekali!"
Hwat Kong Tosu tunda minumnya dan pandang anak perempuan itu lalu tertawa gembira.
"Ha, ha, ha, ha!"
Tapi kemudian ia tenggak lagi mulut gucinya.
"Kakek tua, kau mabok!"
Anak itu berkata lagi dan memandang Hwat Kong Tosu dengan tersenyum geli.
Hwat Kong Tosu turunkan gucinya yang hampir kosong itu di atas lantai, lalu ia pandang anak perempuan itu dan menjawab dengan suara sungguh-sungguh.
"Betul, kau betul, nak. Aku memang mabok, mabok sekali. Aku telah terlalu kenyang akan kekotoran dunia sampai menjadi mabok!"
Anak perempuan itu memandang bingung karena ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata-kata orang tua aneh itu. Seorang perempuan yang berpakaian pelayan keluar dari dalam dan memanggilnya.
"Ang-Siocia, ibumu mencari-carimu."
Pemudi kecil itupun segera lari masuk ke dalam, tinggalkan Hwat Kong Tosu yang segera tenggak araknya lagi.
Tiba-tiba dari luar masuk seorang pertapa lain yang usianya juga sudah sangat tua, barangkali tidak kurang dari tujuhpuluh lima tahun.
Pertapa ini rambutnya diikat ke atas dan pakaiannya yang bersih itu tersulam setangkai kembang teratai di bagian dada.
"Pantas saja kau mabuk kekotoran dunia karena kau suka usilan dan ganggu orang, Toyu!"
Pertapa yang baru datang itu tegur Hwat Kong Tosu.
Hwat Kong Tosu turunkan gucinya yang kini telah kosong sama sekali dan pandang pertapa itu dengan heran.
Ia tahu bahwa orang tua ini adalah pemimpin Kwan-Im-Pai karena ia kenal dari sulaman teratai di dadanya, dan ia tahu pula bahwa imam Kwan-Im-Pai ini tentu berilmu tinggi, tandanya ia tadi telah mendengar ucapannya biarpun belum sampai ke situ!
Maka ia lalu berdiri dari tempat duduknya dan menjura.
"Apakah sahabat dari Kwan-Im-Kauw yang mulia hendak memberi petunjuk sesuatu kepada pinto?"
"Hwat Kong Tosu, ternyata kau bermata tajam. Kalau kau tahu bahwa pinceng datang dari Kwan-Im-Kauw, kau tentu tahu pula siapakah pinceng ini."
Hwat Kong Tosu memandang sejenak, lalu dongakkan mukanya ke atas dan tertawa keras.
"Ha, ha! Tidak tahunya orang nomor tiga dari Kwan-Im-Pai, sungguh beruntung sekali aku yang tua dan pikun hari ini dapat bertemu dengan Kim Bok Sianjin!"
Pertapa itu yang memang bukan lain adalah ketua ketiga dari Kwan-Im-Kauw yaitu Kim Bok Sianjin, juga tertawa menyeramkan.
"Kalau kau sudah tahu siapa aku, tentu tahu pula mengapa hari ini aku datang mencarimu, sahabat baik!"
Katanya. Hwat Kong Tosu memandang ke atas dan dengan mata berseri ia menjawab.
"Kalau tidak salah, tentu gara-gara patung yang hilang itu, bukan?"
"Ha, ha, ha! Kau jujur dan mudah diajak urusan, Toyu. Biarlah lain kali saja pinceng menghaturkan terima kasih dan penghormatan dengan mengunjungi tempat tinggalmu.
"Sekarang karena pinceng banyak urusan yang harus diselesaikan, maka mohon kau sahabat baik berlaku murah hati. Keluarkan barang itu dan berikan pada pinceng, tentu pinceng akan segera pergi dan tidak akan mengganggu pula."
Hwat Kong Tosu mendengar ini lalu menghela napas dan jatuhkan diri di atas kursi lagi, kemudian tanpa menjawab permintaan Kim Bok Sianjin ia panggil pelayan dengan suara keras.
Pelayan yang memang tidak berada jauh dari situ lalu datang berlari dengan muka takut-takut.
"Ambilkan arak seguci lagi!"
Perintah Hwat Kong Tosu kepada pelayan itu.
Pelayan memandangnya dengan mata terbelalak.
Selama hidupnya belum pernah ia melihat, bahkan mendengarpun belum, seorang dapat menghabiskan seguci arak seorang diri.
Apa lagi kalau orang itu kini minta tambah seguci lagi!
Selain heran, iapun khawatir, karena seguci saja harganya sudah puluhan tail, apa lagi kalau dua guci besar.
Melihat keraguan pelayan itu, Hwat Kong Tosu rogoh saku bajunya yang lebar dan longgar, dan keluarkan sepotong emas kuning yang beratnya lima tail!
Ia berikan emas itu kepada si pelayan yang menerimanya dengan tambah heran, lalu ia timang-timang dan periksa dengan teliti potongan emas itu takut kalau palsu.
"Emas tulen, jangan kau main lambat-lambatan. Hayo ambil arakku seguci!"
Hwat Kong Tosu membentak hingga pelayan itu terkejut dan lari terbirit-birit hingga pertapa tua tinggi kurus itu tertawa bergelak-gelak.
Kim Bok Sianjin melihat bahwa Hwat Kong Tosu tidak memperdulikannya, menjadi tak senang lalu berkata lagi.
"Hwat Kong Toyu, bagaimanakah jawabanmu?"
Hwat Kong menghela napas lagi.
"Mengapa begitu tergesa-gesa, kawan? Mari, duduklah dahulu!"
Dan ia sahut sebuah bangku kayu dan lempar bangku itu ke depan Kim Bok Sianjin.
Aneh bangku itu biarpun hanya terbuat dari pada kayu biasa, namun ketika jatuh di atas lantai yang keras ia segera tertancap sampai setengah lebih!
Kim Bok Sianjin pandang bangku itu dan tertawa ha-ha-hi-hi, lalu sambil berkata.
"Terima kasih, Toyu, kau baik sekali!"
Ia gunakan telapak tangan menepuk bangku dan ketika ia angkat telapak tangannya, ternyata bangku itu telah menempel dan tercabut ke atas dan tergantung di bawah telapak tangannya seakan-akan tertempel erat!
Kemudian ia turunkan bangku itu dan duduk dengan tenang.
Hwat Kong Tosu melihat demonstrasi kekuatan lwee-kang yang lihai ini dengan tersenyum karena ia tahu bahwa tenaga lwee-kang Kim Bok Sianjin sungguh tidak berada di bawah tenaganya sendiri.
Sementara itu datang tiga orang dari dalam dan mereka itu dengan susah payah menggotong seguci besar arak.
Dua orang memikul dan seorang bantu menggotong!
"Bagus, bagus!"
Kata Hwat Kong Tosu setelah orang-orang itu turunkan guci arak di depannya, lalu dengan tangan kiri ia memegang bibir guci dan menyentak ke atas.
Guci itu seperti terangkat oleh tangan yang tidak tampak, melayang ke atas dan ketika Hwat Kong Tosu lonjorkan telapak tangan yang terbuka di bawah guci, maka guci itu terletak di atas tangannya dengan tak tergoyang sedikitpun!
"Kim Bok Sianjin!
Sebelum kita berurusan, marilah kau temani aku minum dulu,"
Katanya dan dengan perlahan ia lemparkan guci arak yang besar itu ke arah Kim Bok Sianjin.
Tapi tokoh ketiga dari Kwan-Im-Pai ini dengan senyum sindir terima guci itu dengan tangannya, guci itu tertolak kembali dengan cepat ke arah Hwat Kong Tosu, diikuti jawabannya.
"Maaf, kami dari Kwan-Im-Kauw dilarang karma minum arak!"
Hwat Kong Tosu tertawa bergelak-gelak dan entah kapan mengambilnya, tapi tahu-tahu tongkat bututnya telah berada di tangan kanan dan kini ia gunakan tongkat itu untuk menyambut guci arak yang terlempar cepat ke arah kepalanya.
Ujung tongkatnya menempel di bawah guci dan sekali ia gerakkan tangannya maka guci yang penuh arak itu terputar-putar di atas ujung tongkatnya!
Para pelayan kedai arak dan para tamu yang kebetulan minum di ruang itu, memandang adu tenaga yang luar biasa ini dengan terheran-heran dan kesima.
Kini melihat betapa Hwat Kong Tosu dengan tongkat dapat permainkan guci yang berat itu bagaikan seorang main-main dengan guci kecil yang ringan, maka mau tak mau mereka berteriak memuji.
Hwat Kong Tosu memandang kepada mereka yang memuji itu dengan tersenyum, lalu ia turunkan tongkatnya hingga guci arak itu terletak di atas tanah dengan tidak tumpah sedikitpun araknya.
Ia lalu berkata kepada orang-orang itu.
"Pinto telah bosan minum, nah, sekarang kalian minumlah arak ini karena tamuku tidak mau minum pula."
Lalu ia berkata kepada pelayan.
"Hai, pelayan! Kalau uangku lebih, maka lebihnya itu simpanlah saja untuk bayar makanan yang kau berikan kepada mereka yang datang makan tapi tak kuat membayar!"
Kemudian ia berkata kepada Kim Bok Sianjin.
"Aku memang makin tua makin sial. Kini ditambah kesialan lagi karena tahu-tahu kau datang menuduh aku mencuri patung!"
"Hwat Kong Toyu, siapa yang menuduh? Kalau tidak ada orang yang memberitahu, mana pinceng berani menuduh buta tuli padamu?"
"Eh, eh, ada pula yang memberi tahu? Siapakah dia?"
"Yang memberi tahu kami ialah Huo Mo-Li!"
Tiba-tiba Hwat Kong Tosu berdongak ke atas dan tertawa keras, hingga suara ketawanya yang bergelak-gelak itu menggema di semua ruang kedai arak itu.
"Ha, ha, ha!"
Hwat Kong Tosu tertawa terus sampai kedua matanya mengeluarkan air mata yang turun berbutir-butir dan besar-besar.
"Kau kena dibohongi setan api itu! Yang mencuri bukan aku, tapi si malas Beng Beng Hoatsu! Ha, ha, ha!"
"Beng Beng Hoatsu? Ah, pinceng tidak percaya!"
Kim Bok Sianjin ragu-ragu sambil memandang tajam.
"Kau percaya Huo Mo-Li, mengapa tidak percaya padaku."
"Huo Mo-Li ketika berkata kepada kedua suciku, tidak dalam keadaan mabok, sebaliknya kau baru saja minum seguci arak. Kalau kau tidak bohong, bersumpahlah!"
Hwat Kong Tosu tertawa lagi.
"Kau seperti anak kecil saja, orang setua aku disuruh bersumpah. Aku tidak biasa bersumpah. Bicaraku benar atau bohong adalah urusanku sendiri, orang boleh percaya atau tidak, masa bodoh!"
"Kalau kau benar-benar tidak mengambil, tentu kau berani bersumpah. Tapi kalau kau yang mengambil dan tidak mau mengaku berarti kau takut padaku!"
Mendengar kata-kata ini, Hwat Kong Tosu bangun berdiri dan memandang wajah Kim Biok Sianjin dengan sungguh-sungguh.
"Kim Bok Toyu, jangan kau bicara seenakmu saja."
"Biarlah, karena patung itu penting sekali bagi kami. Baik dengan halus maupun dengan kasar, aku harus minta kembali patung itu darimu."
"Eh, eh, agaknya kau sengaja mau menguji tongkatku yang butut ini?"
Kata Hwat Kong Tosu, lalu dengan menyeret tongkatnya ia berjalan terseok-seok ke arah luar kedai yang lega. Kim Bok Sianjin mengikutinya dengan tenang sambil berkata.
"Kalau perlu, biarlah aku merasai kelihaian Ouw-coa-koai-tung yang terkenal darimu."
Hwat Kong Tosu memalangkan tongkatnya yang lapuk dan kecil di depan dada lalu berkata.
"Baik, baik... Memang akupun ingin mencoba kelihaian Kwam-im-pai dengan kiam-sutnya yang lihai."
Kim Bok Sianjin lalu cabut pedangnya dan tanpa sungkan-sungkan lagi ia loncat menerjang.
Hwat Kong Tosu gerakkan tongkatnya dan sebentar saja mereka bertempur dengan hebat sekali.
Orang-orang yang semenjak tadi mendengar dan melihat mereka bercekcok, kini menjadi ketakutan.
Ada juga beberapa orang yang tabah melihat pertempuran hebat itu dari tempat aman.
Beberapa orang mendekat, tapi segera mundur lagi dengan kaget dan terkejut ketika mereka merasa sambaran angin pedang dan tongkat merobek pakaian mereka!
Biarpun ilmu pedang Kim Bok Sianjin sangat lihai, tapi mana ia dapat melawan gerakan Ouw-coa-koai-tung-hwat yang luar biasa dan tak terduga gerakannya itu.
Mereka bertempur puluhan jurus dengan cepatnya hingga tubuh mereka tertutup sinar pedang dan tongkat, tapi perlahan-lahan Kim Bok Sianjin mulai terdesak dan terkurung sinar tongkat hingga ia hanya berada di pihak mempertahankan diri saja tanpa mampu balas menyerang lagi.
Hwat Kong Tosu memang seorang tua yang berwatak jenaka, hingga ia mempermainkan Kim Bok Sianjin.
Kalau ia mau, maka sejak tadi ia sudah dapat robohkan lawannya, atau sedikitnya membuat pedang lawan terpental, tapi ia sengaja permainkan lawan dengan mengurungnya makin hebat.
Pada saat itu, dari dalam keluarlah anak perempuan yang manis dan yang tadi menegur Hwat Kong Tosu.
Melihat ramai-ramai itu, anak perempuan tadi segera lari keluar dan melihat.
Dengan beraninya ia mendekati kedua kakek yang sedang bertempur itu.
Hal ini ternyata menolong Kim Bok Sianjin karena kedua orang tua itu cukup berhati mulia untuk tidak mencelakakan seorang anak perempuan.
Mereka perlambat gerakan senjata mereka dan kurangi tenaga hingga angin pukulan tidak akan mencelakakan anak perempuan itu.
Kini anak itu dapat melihat tubuh kedua kakek itu yang berloncat-loncatan ke sana ke mari sambil gerak-gerakkan pedang dan tongkat.
Kim Bok Sianjin yang merasa kalah segera ambil kesempatan itu untuk loncat mundur, sedangkan anak perempuan itu bersorak-sorak gembira.
"Kakek, kau pandai sekali menari!"
Katanya kepada Hwat Kong Tosu. Hwat Kong Tosu tertawa girang.
"Dia lebih pandai dariku,"
Katanya sambil menunjuk ke arah Kim Bok Sianjin hingga pertapa itu merasa tersindir lalu berkata dengan muka merah dan suara sungguh-sungguh.
"Hwat Kong Tosu! Jangan kau permainkan aku. Betul-betulkah kau tidak ambil patung kami?"
"Ah, kau sungguh menjemukan!"
Hwat Kong Tosu bersungut-sungut.
"Biarlah aku bersumpah agar kau puas. Aku tidak ambil patung itu."
"Itu bukan bersumpah namanya,"
Kim Bok Sianjin mencela.
"Kakek jenggot panjang! Apakah kau mencuri? Ah, kalau begitu kau jahat!"
Anak perempuan itu memandangnya dengan benci dan takut. Hwat Kong Tosu buru-buru menjawab.
"Tidak, anak, sungguh aku tidak pernah mencuri."
"Kalau begitu, kenapa tidak berani bersumpah?"
Anak itu bertanya. Hwat Kong Tosu memandang ke arah Kim Bok Sianjin deagan mata melotot.
"Baiklah, biar aku bersumpah, kalau aku ambil patung itu, biar aku tidak selamat! Tapi sumpahku ini tidak berlaku untuk perbuatanku yang belum kulakukan, ingat!"
Kim Bok Sianjin tampak puas.
"Dan benarkah Beng Beng Hoatsu yang mencurinya?"
"Untuk hal ini aku tak sudi bersumpah. Betul atau tidaknya kau selidikilah sendiri, itu urusanmu!"
Setelah menjura, Kim Bok Sianjin lalu tinggalkan tempat itu. Hwat Kong Tosu pandang anak perempuan itu dengan wajah berseri.
"Kakek, aku girang, kau bukan pencuri. Kau pandai sekali menari tongkat!"
"Anak baik, maukah kau belajar menari tongkat dari aku?"
Anak itu berseru girang.
"Mau...! Mau...!"
"Kalau kau mau, hayo berlutut dulu dan angkat aku menjadi suhumu."
Anak perempuan itu segera jatuhkan diri berlutut dan menyebut "Suhu!"
Dengan suaranya yang nyaring dan merdu.
Hwat Kong Tosu tertawa bergelak-gelak karena girangnya.
Pada saat itu dari dalam lari keluar beberapa orang, di antaranya seorang berpakaian seperti orang berpangkat yang berseru.
"Hong Cu! Ke sini kau!"
Orang berpangkat itu adalah ayah anak perempuan itu dan yang lain-lain adalah pegawai dan pelayannya.
Ang Hong Cu, anak perempuan itu, mendengar panggilan ayahnya, lalu berdiri dan hendak menghampiri, tapi pada saat itu tiba-tiba ia terbetot ke atas oleh Hwat Kong Tosu, dan sekali gerakkan tangannya, pertapa tua itu telah loncat ke atas dan lenyap di atas genteng sambil pondong muridnya!
Semua orang berteriak-teriak, tapi tiba-tiba dari atas genteng terdengar suara Hwat Kong Tosu.
"Tai-jin jangan kaget dan cemas, puterimu berbakat menjadi muridku. Sepuluh tahun kemudian ia pasti kembali dan menjadi seorang yang berguna!"
Kemudian sunyi senyap dan ketika beberapa pengawal yang pandai loncat tinggi mengejar ke atas genteng, pertapa itu dan muridnya telah lenyap!
Kedua orang tua Ang Hong Cu dan para pelayan hanya bisa menangis sedih, tapi akhirnya ayah Hong Cu dapat menetapkan hati dan melarang orang-orang menangis.
"Pertapa itu bukanlah sembarang orang. Ia seorang berilmu tinggi. Kurasa Hong Cu memang berjodoh untuk menjadi murid seorang berilmu tinggi. Biarlah kita bersembahyang saja siang malam kepada Thian agar Hong Cu mendapat berkah keselamatan,"
Demikian katanya kepada isterinya.
Hwat Kong Tosu ajak muridnya merantau dan mulailah ia menggembleng muridnya itu dengan pelajaran-pelajaran silat tinggi.
Biarpun belum pernah mempelajari ilmu silat, namun Hong Cu benar-benar berbakat dan otaknya tajam sekali, hingga suhunya menjadi sangat girang.
Memang lebih baik mengajar seorang murid yang belum mengerti apa-apa dalam hal ilmu silat hingga sebagai buku masih kosong dan dapat dilukisi apa saja yang indah menurut kehendak si pelukis.
Kalau murid sudah dikotori oleh pelajaran dari lain cabang, agak sukarlah untuk dapat memahami sedalamnya pelajaran ilmu silat tinggi seperti yang diajarkan oleh Hwat Kong Tosu.
Tentu saja, kalau murid yang diajarnya itu tadinya telah mempelajari ilmu silat lain yang tinggi dan bersih hal itu tidak menjadikan halangan.
Bagaimanapun juga, kebersihan Hong Cu yang tadinya belum mengenal sedikitpun ilmu silat itu, membuat ia dapat lebih asli lagi menerima warisan ilmu silat yang lihai dari Hwat Kong Tosu!
Marilah kita ikuti perjalanan Beng Beng Hoatsu yang pergi merantau untuk mencari patung Dewi Kwan-Im, diikuti oleh muridnya yang baru, yakni Siauw Ma.
Anak muda yang tadinya beradat keras dan ingin menang selalu ini mendapat guru yang tepat karena Beng Beng Hoatsu adalah seorang kakek aneh yang adatnya juga keras sekali, tapi ia sangat jujur.
Dengan sikapnya yang galak itu maka Siauw Ma menjadi tunduk dan Beng Beng Hoatsu berusaha keras untuk menggembleng muridnya menjadi orang pandai karena pertapa pendek gemuk ini tidak mau kelak muridnya sampai kalah oleh murid lain orang.
Sambil merantau ia tidak lupa untuk selidiki patung yang lenyap itu, dan ia juga mendengar tentang sepak terjang Hwat Kong Tosu yang hantam kromo dan bikin keder semua kalangan liok-lim.
Ia merasa geli melihat sepak terjang kawannya itu tapi tentang patung Dewi Kwan-Im ia tidak sangat pentingkan.
Yang terpenting baginya ialah mendidik Siauw Ma, karena menurut anggapannya, jika Siauw Ma menjadi pandai, maka kelak mudah saja untuk merampas patung itu dari tangan siapa juga!
Berbulan-bulan kemudian Beng Beng Hoatsu merasa bosan juga merantau karena sedikitpun ia tidak mendengar tentang patung yang hilang.
Sebaliknya ia mendengar berita yang menggemparkan kalangan kang-ouw, yakni bahwa Kelenteng Gak-im-tong di kota Swi-Ciang kabarnya didatangi seorang Sai-kong dan pertapa ini mengusir semua penghuni kelenteng, bahkan membunuh ketua kelenteng itu.
Hal ini membuat kalangan kang-ouw merasa marah karena kelenteng itu adalah kelenteng paderi wanita dan yang tinggal di situ semuanya ialah para Nikouw dan ketuanya juga seorang pertapa wanita.
Beng Beng Hoatsu mendengar bahwa telah ada beberapa orang gagah dari kalangan kang-ouw karena merasa penasaran, lalu mendatangi kelenteng yang sekarang diduduki seorang diri oleh Sai-kong jahat itu, tapi mereka semua tak mampu jatuhkan pendeta yang sangat lihai itu, hingga di kalangan kang-ouw masih ramai orang bicarakan hal ini dengan penasaran dan secara kebetulan Beng Beng Hoatsu mendengar pula hal ini.
Siauw Ma yang berhati keras dan berdarah panas, mendengar hal yang tidak adil ini lalu mendesak suhunya untuk pergi ke kota itu dan "membereskan"
Sai-kong yang demikian jahatnya.
"Suhu, menurut pikiran teecu, kalau seorang pertapa yang biasanya harus menjadi contoh dari manusia suci, sampai berlaku sekejam itu, ia harus dienyahkan dari muka bumi ini!"
Kata Siauw Ma dengan bernapsu. Beng Beng Hoatsu tertawa bergelak-gelak sambil pandang muridnya dengan sepasang matanya yang bundar itu terputar-putar.
"Kau ini seperti anak harimau yang baru keluar saja. Kau kira kau sanggup menandingi Sai-kong jahat itu?"
"Mengapa tidak sanggup, suhu? Kalau aku tidak sanggup membasmi pendeta jahat seperti itu, teecu bukan... murid Beng Beng Hoatsu yang termashur sakti dan adil!"
Memang, biarpun ia kasar, Siauw Ma sebenarnya cerdik dan dapat mengetahui watak dan hati orang.
Jawabannya itu dengan tidak langsung membakar hati Beng Beng Hoatsu, hingga orang tua itu sekali lagi tertawa besar.
"Baiklah, mari kita pergi ke kota Swi-Ciang. Mari kita lihat, orang macam apa Sai-kong itu!"
Beng Beng Hoatsu sengaja berjalan cepat sekali hingga Siauw Ma harus kerahkan semua tenaga dan kepandaiannya untuk mengejar suhunya!
Selama beberapa bulan itu, kepandaian ginkang dan Hwie-heng-sut yang dimilikinya telah maju pesat sekali dan jauh jika dibandingkan dengan dulu.
Di samping memperdalam ginkang dan lwee-kang, iapun tekun mempelajari Ilmu Silat Naga Sakti, kepandaian yang luar biasa ciptaan Beng Beng Hoatsu.
Ketika secara iseng-iseng ia mainkan ilmu silat meniru gerak-gerik semua lukisan di dinding gua Huo Mo-Li dulu, Beng Beng menegurnya marah.
"Jangan mainkan ilmu silat busuk tiada berguna itu."
Semenjak itu ia tidak berani lagi main-main dengan Ilmu Silat Huo-Mo Kun-Hwat yang ia hanya tahu sedikit karena dulu menggosok-gosok dinding gua Huo Mo-Li.
Karena guru dan murid itu lari cepat, maka tidak sampai setengah hari mereka memasuki gerbang dinding kota Swi-Ciang dan masuk ke dalam kota dengan tenang.
Mudah saja mereka cari kelenteng Gak-im-tong dan ternyata kelenteng berada di ujung kota dan di bagian yang sunyi karena jauh dari tetangga.
Kelenteng itu dari luar tampak sunyi sekali, tapi sayup sampai terdengar suara yang parau dan besar sedang membaca liam-keng, yakni semacam doa yang diucapkan dengan keras.
Siauw Ma yang tidak sabar menanti lebih lama segera membetot ujung lengan baju suhunya dan mereka berdua masuk ke dalam pekarangan kelenteng itu.
Kini suara liam-keng terdengar nyata dan ketika ia memperhatikan suara itu, Siauw Ma menjadi terkejut sekali, karena syair yang dibacakan oleh suara itu sekali-kali bukanlah syair doa, tapi syair kacau balau yang isinya menyindir mereka berdua.
Ia mendengarkan dengan lebih teliti.
Di antara kata-kata yang isinya makian kotor terdapat kata-kata yang menyindir bahwa ada naga gemuk pendek bersama seekor ular kecil berhati panas datang, dan bahwa mereka berdua, ular dan naga itu barangkali sudah bosan hidup dan ingin tahu betapa rasanya masuk ke neraka!
Siauw Ma merasa disindir dan ia menjadi marah sekali, sama sekali ia tidak ingat bahwa tanpa melihat sudah dapat mengerti keadaan mereka dan tahu akan kedatangan mereka menyatakan betapa lihainya orang di dalam kelenteng itu.
Ia lupa segala bahaya dan hendak meloncat ke dalam.
Tapi tiba-tiba lengan tangannya terpegang oleh gurunya dan tubuhnya di tarik ke belakang.
Betul saja, dari sebelah kiri kelenteng menyambar sebuah batu besar yang beratnya ratusan kati, tepat menyambar di mana Siauw Ma tadi berdiri.
Sebelum batu itu jatuh kembali, tiba-tiba berkelebat bayangan kecil dan seorang anak muda kira-kira berusia tigabelas tahun loncat menyambut batu itu!
Kemudian ia berdiri menghadapi Beng Beng Hoatsu dan Siauw Ma sambil tertawa-tawa.
Anak muda itu bertubuh tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, mulutnya besar dan sepasang matanya mengeluarkan sinar nakal.
Setelah tertawa sekali lagi dengan suara nyaring, anak itu lalu lempar batu ke arah Siauw Ma dan berkata.
"Kau sambutlah batu ringan ini!"
Dari sambaran angin yang mendahului batu itu, Siauw Ma maklum bahwa batu itu sangat berat, tapi ia cukup waspada dan tenang.
Ia tanam kakinya dengan kuda-kuda yang kuat dengan gerakan yang disebut Tanam Pilar Besi, lalu kedua tangannya menyambut batu itu.
Dengan cepat ia barengi gerakan batu itu kemudian potong tenaga batu ke atas hingga sebentar saja batu itu sudah berada dalam sebelah tangannya dan diangkat tinggi di atas kepala.
"Kau terimalah kembali!"
Katanya dan ia ayun batu itu kembali kepada anak itu.
Dengan ketawa lebar anak itu gunakan tangan kiri untuk tolak batu itu keluar dan batu itu jatuh berdebuk ke atas tanah, mengeluarkan debu mengepul ke atas.
Kedua kaki Siauw Ma ternyata juga sudah melesak ke dalam tanah sedalam kira-kira satu dim!
Dari kenyataan ini dapat diukur sampai di mana tenaga lemparan anak kecil itu!
"Siauw Liong, jangan ganggu tamu!
Dia adalah sahabat baikku!"
Tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam dan Siauw Ma melihat seorang kakek gundul yang luar biasa berjalan keluar dengan sebatang tongkat di tangan.
Kakek ini sungguh luar biasa.
Tubuhnya tinggi bongkok, mukanya persegi dan totol-totol hitam.
Di atas kepalanya yang gundul licin itu tumbuh sebuah daging jadi yang menyerupai tanduk, tepat di tengah-tengah batok kepala, kira-kira satu dim!
Mulutnya yang lebar selalu menyeringai!
Pakaiannya juga aneh, dari sutera putih dan hanya merupakan kain yang lebarnya dua kaki tapi panjang sekali, dilibat-libatkan di seluruh tubuhnya dari leher sampai ke bawah lutut.
Tongkat di tangannya tak kalah ganjilnya, karena tongkat itu berwarna hitam kemerah-merahan dan bentuknya menyerupai ular yang sedang pentang mulut dan julurkan lidah!
Kalau benda itu diperiksa lebih teliti, barulah orang tahu bahwa itu sebenarnya adalah seekor ular tulen yang sudah mati dan kering, dan tubuh ular itu demikian kaku dan keras hingga dapat digunakan sebagai senjata yang ampuh.
Inilah Tok-Kak-Coa Si Ular Tanduk Beracun!
Melihat orang ini, untuk seketika Beng Beng Hoatsu berdiri ternganga, tapi ia lalu memandang dengan wajah berseri, kemudian sambil putar-putar kedua biji matanya ia berdongak dan ketawa keras.
"Kukira setan dari mana yang mendiami kelenteng ini, tidak tahunya si jahat dari timur! Pantas saja sekalian anak-anak dari kang-ouw itu tak mampu membekukmu. Ah, ular jahat, kau makin lama makin jahat saja!"
Tok-Kak-Coa melebarkan mulutnya hingga ia menyeringai menyeramkan, dan sepasang matanya yang kecil itu merupakan dua buah garis panjang berkeriput.
"Beng Beng, sudah lama tak bertemu kau makin gemuk menjijikkan! Eh, muridmu ini boleh juga, hampir sama baiknya dengan Siauw Liong! Sayang ia agaknya bodoh."
Lalu Si Ular Tanduk Beracun itu tertawa ha, ha, hi, hi mendatangkan rasa mendongkol, gemas, dan marah campur takut di hati Siauw Ma.
"Beng Beng, sahabat baik. Mari masuk ke istanaku, mari, mari! Aku ada arak wangi untukmu dan muridmu. Masuklah!"
Siauw Ma ragu-ragu, tapi suhunya bertindak masuk tanpa ragu-ragu, bahkan dengan senyum di mulut. Setelah tiba di dalam, Beng Beng Hoatsu berkata kepada Siauw Ma.
"Siauw Ma, hayo kau memberi hormat kepada Tok-Kak-Coa si setan tua ini."
"Hi, hi, hi, hi! Bukankah benar kataku tadi bahwa muridmu memang tolol?"
Tok-Kak-Coa mengejek, dan Beng Beng Hoatsu juga tertawa.
"Sebut saja susiok padanya, karena biarpun kelihatannya seperti mayat hidup, namun aku masih lebih tua dari padanya!"
Kata Beng Beng Hoatsu. Siauw Ma mengangguk-anggukkan kepala lagi dan kini menyebut.
"Susiok!"
"Bangunlah, bangunlah!"
Tok-Kak-Coa berkata sambil memegang tangan Siauw Ma.
Pegangan itu keras, maka Siauw Ma maklum bahwa orang aneh ini sedang menguji tenaganya, karena itu ia segera mengumpulkan tenaganya hingga tubuhnya menjadi keras bagaikan batu!
Ketika orang tua itu mengangkat pundak yang dipegangnya, maka tubuh Siauw Ma terangkat naik dengan keadaan masih berlutut.
Ia seolah-olah berubah menjadi sebuah patung batu yang sedang berlutut!
Tok-Kak-Coa menurunkan lagi tubuh anak muda itu, lalu sambil mengangguk-angguk ia berkata kepada Beng Beng Hoatsu.
"Bagus, bagus! Tidak malu aku mempunyai keponakan macam ini, Ha, ha, ha!"
Kemudian orang tua bongkok kurus itu berteriak ke arah belakang.
"Hei! Siauw Liong! Kau sembunyi di mana? Ke marilah kau!"
Dari belakang muncullah anak laki-laki yang tadi menggoda Siauw Ma.
Sepasang matanya memancarkan kenakalan dan tidak malu-malu.
Siauw Liong terpaksa maju berlutut dan ia hanya mengangguk-anggukkan kepala karena tidak tahu harus menyebut apa.
"Teecu harus memanggil bagaimana, suhu?"
Siauw Liong berpaling dan memandang gurunya.
"Siauw Liong, aku telah menerima penghormatan murid supekmu, hayo kini kau wakili aku memberi hormat kepada supekmu."
Siauw Liong gunakan kedua matanya yang bersinar tajam untuk menatap wajah Beng Beng Hoatsu, kemudian dengan alis mata bergerak-gerak hingga menambah kecakapan dan kegagahan wajahnya ia berkata kepada suhunya.
"Suhu, apakah kau kalah pandai dari kakek ini?"
Suhunya tertawa.
"Aaaah... Beng Beng Hoatsu lihai sekali, ilmu pedangnya Naga Dewa jarang bandingannya di dunia ini..., tapi aku kalah pandai darinya? Hi-hi-hi-hi... jangan kau khawatir, muridku... gurumu lebih lihai lagi! Bukankah begitu, Beng Beng, sahabatku?"
"Memang, kau lihai sekali, Tok-Kak-Coa, lihai dan licin. Terutama tentang muslihat dan akal bulus, aku takkan menang dari kau!"
Siauw Liong lalu maju ke hadapan Beng Beng Hoatsu dan menjura dalam sambil menyebut.
"Supek..."
Ia tidak mau berlutut karena anggapannya, untuk apa berlutut kepada seorang yang kalah lihai dari suhunya? "Dan ini adalah murid supekmu, kepandaiannya boleh juga!"
"Teecu telah berkenalan dengan kepandaiannya, suhu!"
Kata Siauw Liong, dan ketika Siauw Ma menjura ke arahnya tanda salam, ia sengaja buang muka ke samping, sama sekali tidak pandang sebelah mata!
Bukan main panas hati Siauw Ma, tapi Beng Beng Hoatsu bahkan tertawa bergelak-gelak.
"Ha, ha, ha! Ular jahat, kau mendapat seorang murid yang cocok dan cerdik."
Tok-Kak-Coa tahu dirinya disindir.
Memang ia tidak setuju melihat sikap muridnya ini, tapi ia sangat sayang kepada Siauw Liong yang semenjak berusia tiga tahun telah dipeliharanya.
Anak itu dimanja luar biasa olehnya dan boleh dibilang tiada semacam pun permintaan anak itu yang tidak dipenuhi.
Apa lagi ketika ternyata bahwa Siauw Liong sangat cerdik dan bakatnya dalam ilmu silat hebat sekali, makin sayanglah guru itu kepada muridnya.
Karena rasa sayangnya ini, ia tidak mau tegur muridnya ketika Siauw Liong bersikap kurang hormat kepada Beng Beng Hoatsu dan Siauw Ma.
"Duduklah, duduklah..."
Demikian ia mempersilahkan Beng Beng Hoatsu dan Siauw Ma. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang lebar.
"Kebetulan sekali, aku dan muridku baru saja selesai memasak. Ha, ha, ha! Beng Beng, mari kita pesta besar! Memang mulutmu sedang mujur, datang-datang kau rebut sebagian dari hidangan kami yang lezat! Hi-hi-hi!"
Beng Bang Hoatsu hanya tersenyum dan berkata.
"Keluarkan semua hidanganmu!"
Memang Beng Beng Hoatsu telah lama kenal kepada Si Ular Tanduk Berbisa itu.
Berpuluh tahun yang lampau ia dan Tok-Kak-Coa pernah menjagoi daerah timur Tiongkok.
Tok-Kak-Coa disebut si jahat dari timur dan tak seorangpun di kalangan kang-ouw yang berani menghalangi segala sepak terjang ular berbisa yang lihai itu.
Juga tak seorangpun ditakuti oleh Tok-Kak-Coa kecuali kepada Beng Beng Hoatsu ia menaruh segan dan hormat.
Ia tak pernah mengganggu Beng Beng Hoatsu setelah mereka pernah bentrok dan bertempur sampai sehari semalam lamanya.
Keduanya mendapat luka, tapi keduanya tak dapat disebut kalah atau menang!
Kepandaian mereka memang seimbang.
Setelah pertempuran itu mereka saling menaruh segan dan kagum dan diam-diam mereka perhebat latihan dan memperdalam kepandaian.
Kini berpuluh tahun telah lewat dan mereka bertemu di tempat itu, masing-masing merasa curiga karena tahu bahwa masing-masing telah mendapat kemajuan hebat dalam ilmu kepandaian mereka.
Beng Beng Hoatsu tahu benar bahwa si jahat dari timur itu kini tidak dapat disamakan dengan dulu di waktu mudanya.
Ia mendengar bahwa Tok-Kak-Coa telah mempelajari segala macam ilmu yang ada hubungannya dengan racun ular hingga ia mendapat sebutan Tok-Kak-Coa.
Dulu ia tidak begitu mendesaknya, karena memang kejahatan Tok-Kak-Coa hanya terbatas kepada ingin berkuasa dan ingin menjadi orang yang paling ditakuti dan paling disegani, sedangkan kejahatannya hanya berupa perampokan harta saja.
Ia hanya membunuh orang-orang dalam pertempuran yang adil, dan sama sekali tidak mau mengganggu orang-orang lemah.
Karena inilah maka ia lebih terkenal di kalangan kang-ouw di mana ia selalu menjagoi dan menjatuhkan tiap orang kang-ouw yang mulai terkenal kegagahan dan namanya.
Beng Beng Hoatsu juga tahu bahwa makin tua, Tok-Kak-Coa makin lihai dan licin dan ia maklum pula betapa curangnya orang tua ini.
Karena itu ia berlaku waspada, namun di luar, ia berlaku pura-pura tak acuh dan sembrono.
Tok-Kak-Coa lalu berkata kepada Siauw Liong yang berdiri di situ.
"Muridku yang baik, supekmu datang, maka kita harus menjamu dia. Coba keluarkan masakan daging naga dan daging kilin yang kita masak tadi!"
Siauw Liong tersenyum dan sambil mengerlingkan mata ke arah Siauw Ma, ia mengangguk dan pergi ke belakang.
Beng Beng Hoatsu tersenyum-senyum saja tapi diam-diam Siauw Ma hatinya berdebar karena ia merasa curiga.
"Tok-Kak-Coa! Kau terlalu sungkan, kami bukan tamu yang harus dijamu, sebenarnya tak perlu kau repot-repot. Kedatanganku ini sebenarnya hendak mencari seorang Sai-kong jahat yang kabarnya telah mengusir semua Nikouw dan dengan paksa merampas kelenteng. Bahkan kabarnya ia telah membunuh ketua kelenteng. Di manakah Sai-kong itu?"
Beng Beng Hoatsu pura-pura memandang ke langit-langit kelenteng yang berukiran burung-burung hong indah, tapi sebenarnya ujung matanya dengan tajam mengerling dan menatap wajah Tok-Kak-Coa.
Kakek tua tinggi bongkok itu tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal, hingga Siauw Ma memandangnya dengan kening berkerut karena ia sungguh tak mengerti (Lanjut ke
Jilid 05) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 orang aneh ini yang begitu mudah tertawa.
"Beng Beng! Tak kusangka kau makin tua makin tolol. Pantas saja muridmu juga tolol, karena rupanya kau beri pelajaran tentang ketololan padanya! Sai-kong yang manakah yang kau cari? Orang yang membunuh ketua kelenteng dan mengusir semua penghuni kelenteng bukan lain ialah aku sendiri!"
Beng Beng Hoatsu tidak terkejut mendengar ini karena memang ia sudah menduga sebelumnya. Kini ia hanya tundukkan kepala dan dari bawah, sinar ke dua matanya menyambar tajam.
"Hm, si jahat dari timur agaknya telah lupakan kegagahannya dan tua-tua berubah menjadi pengecut!"
Kata-kata ini sangat pedas dan Siauw Ma tahu bahwa suhunya mulai marah, maka iapun siap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Tapi Tok-kak-coa yang dimaki dengan pedas ini hanya sebentar saja memandang wajah Beng Beng Hoatsu dengan tajam dan untuk saat sebentar itu dari kedua matanya yang sipit seakan-akan memancar cahaya api yang membakar kulit!
Kemudian ia tersenyum dan berkata perlahan, seperti kepada diri sendiri.
"Haya... Beng Beng masih belum kenal betul siapa sebetulnya Tok-kak-coa dan orang macam apakah adanya aku!"
Kemudian ia menghadapi Beng Beng Hoatsu dan berkata tajam.
"Beng Beng! Untuk kata-katamu itu saja sudah cukup alasan bagiku, untuk mengadu nyawa denganmu, tapi kau adalah sahabatku, dan kita sedang menghadapi pesta besar! Nanti saja kalau kita sudah selesai makan, kita bereskan urusan ini lebih lanjut."
Pada saat itu Siauw Liong masuk membawa baki besar dengan beberapa buah mangkok besar terisi masakan yang masih mengepulkan uap.
Beng Beng Hoatsu teringat akan sopan santun dan kewajiban seorang tamu, maka iapun mengangguk dan berkata.
"Baiklah, mari kita makan dulu!"
Siauw Liong lalu taruh semua mangkok besar itu di atas meja, lalu cepat ia loncat ke dalam dan keluarkan sebuah guci arak yang besar sekali dan penuh dengan arak wangi.
Dari perbuatan ini saja dapat diukur sampai di mana kehebatan tenaga anak kecil itu!
Ketika Siauw Liong dengan tersenyum-senyum manis buka tutup semua mangkok, mata Siauw Ma terbelalak karena terkejut dan jijik!
Ternyata yang disebut daging naga adalah masakan yang terdiri dari ular-ular kecil yang masih utuh, bercampur dengan kelabang yang ke merah-merahan dan seakan-akan masih hidup mengambang di atas kuah!
Yang disebut daging kilin adalah kalajengking dan ulat yang dagingnya kehijau-hijauan.
Masih ada beberapa macam masakan lain, tapi semuanya terbuat dari pada daging binatang-binatang berbisa!
Siauw Ma rasakan wajahnya mengeluarkan keringat dingin dan kerongkongannya seakan-akan ada yang cekik hingga ia sukar bernapas.
Diam-diam ia keluarkan potongan perak dari saku bajunya.
Tok-kak-coa tertawa bergelak-gelak melihat laku Siauw Ma.
Ia ternyata telah tahu apakah yang dikeluarkan oleh Siauw Ma dari sakunya, karena ia berkata di antara suara tawanya.
"Anak tolol, kau masih tidak percaya? boleh, cobalah dengan potongan perak itu dan lihatlah sendiri bahwa semua yang dihidangkan adalah barang tulen!"
Karena sudah terlanjur mengeluarkan potongan perak dari sakunya dan sudah diketahui oleh tuan rumah, terpaksa Siauw Ma tanpa malu-malu lagi celupkan perak itu ke dalam kuah dan ketika ia angkat perak itu, benda yang tadinya putih bersih kini telah menjadi ke hijau-hijauan!
"Suhu, makanan ini beracun!"
Siauw Ma bangun dari duduknya dengan kaget.
Beng Beng Hoatsu gunakan tangannya untuk pegang dan tekan pundak muridnya hingga Siauw Ma duduk kembali.
Sementara itu, dengan sumpitnya, Siauw Liong dan Tok-kak-coa telah ambil potongan-potongan daging binatang berbisa itu ke dalam mangkok dan Tok-kak-coa berkata.
"Hayo, Beng Beng, makanlah. Kalau dingin kurang sedap!"
Dan si jahat dari timur itu tertawa menyeringai.
Siauw Ma pandang suhunya dengan khawatir, tapi dengan tenang sekali Beng Beng Hoatsu gunakan sumpitnya jepit seekor ular kecil yang berwarna hijau dan taruh itu ke dalam mangkoknya.
Kini Siauw Liong sambil tertawa dan mata bersinar gembira berkata kepada Siauw Ma.
"Dan kau, tak beranikah kau makan suguhan kami? Benar-benarkah kau begitu penakut?"
Ejeknya.
iauw Ma menjadi penasaran dan hatinya terasa panas.
Ia pandang suhunya dan orang tua ini gerakkan jari tangannya dan tahu-tahu sebutir obat pulung putih telah menggelinding ke dalam mangkok Siauw Ma yang masih kosong.
"Kau makanlah, Siauw Ma. Daging ini enak sekali, bisa bikin tubuh kuat dan sehat!"
Karena percaya kepada suhunya, maka Siauw Ma lalu jepit seekor kelabang yang bentuknya lebih kecil dari pada ular, dan ia paksa hatinya usir rasa jijik.
"Hi, hi, hi, hi!"
Si jahat dari timur tertawa, lalu berkata sambil gerak-gerakkan sumpitnya.
"Mari, mari! Mari makan..."
Kemudian ia jepit ular di mangkoknya dan sekali pentang mulut, ular itu telah lenyap ke dalam mulut dan dikunyah dengan enaknya!
Mendengar betapa gigi Tok-kak-coa menggayem tulang ular hingga berbunyi "kretak-kretik"
Dan nampak orang tua itu makan sambil meram melek karena nikmatnya, hampir saja Siauw Ma tak dapat menahan rasa jijiknya.
Tapi ia melihat Siauw Liong juga menggigit ularnya di bagian ekor hingga putus dan makan ekor itu dengan enaknya, sama enaknya kalau ia makan ekor dari ikan yang lezat.
Ia melirik suhunya, dan Beng Beng Hoatsu juga tanpa ragu-ragu lagi menggigit putus ularnya dan makan potongan bagian kepala ular itu.
Tidak ada jalan lain bagi Siauw Ma.
Ia meramkan matanya dan dengan mengeraskan hati ia menggigit sepotong dari pada kelabang di dalam mangkoknya.
Pada saat ia menggigit kelabang itu, ia membuka matanya karena terheran sekali.
Ternyata kelabang yang digigitnya rasanya enak sekali!
Lebih enak dari pada daging ayam atau ikan laut.
Gurih dan manis, dan sedikitpun tidak mengandung bau amis.
Entah mengapa, kulit kelabang yang tebal dan kasar itu sama sekali tidak keras, bahkan lunak dan pulen sekali.
Maka iapun lalu terus makan dengan enaknya, karena perutnya memang lapar.
Ia melihat betapa obat yang menggelinding ke dalam mangkoknya itu mencair merupakan air yang berwarna putih seperti tepung.
Karena tahu bahwa obat itu adalah pemunah racun, maka tiap kali ia celupkan sepotong daging yang hendak dimakannya, jadi ia menggunakan obat itu seperti bumbu atau seperti pengganti kecap saus tomat!
Sebentar saja Beng Beng Hoatsu sudah menghabiskan seekor ular kecil, dua kelabang dan tiga kalajengking, sedangkan Siauw Ma telah menghabiskan dua ekor kelabang dan seekor ular!
Sementara mereka makan minum yang diseling dengan percakapan gembira dari kedua orang tua itu yang membicarakan masa lalu dengan penuh kegembiraan seakan-akan dua orang sahabat lama yang baru berjumpa, tahu-tahu hari telah mulai gelap.
Siauw Liong menunda sumpitnya dan menyalakan dua batang lilin besar di kamar itu.
Akhirnya mereka selesai juga makan minum.
Siauw Liong membawa mangkok dan sumpit ke belakang, dibantu Siauw Ma.
Kini Siauw Liong tidak begitu menghina jika ia memandang Siauw Ma, tapi tetap saja ia tidak mau mengajak tamunya bicara.
Setelah mangkok sumpit dicuci bersih dan ditaruh di dalam sebuah keranjang, kedua anak muda itu kembali ke dalam kamar dan duduk di belakang suhu masing-masing.
Ternyata kedua guru itu sedang bercakap-cakap dengan suara mulai sengit.
"Beng Beng! Kuulangi kata-kataku tadi. Kau sungguh-sungguh tolol seakan akan belum tahu aku ini orang macam apa!"
"Tak perlu kau putar lidah, Tok-kak-coa. Katakan saja dengan ringkas mengapa kau lakukan perbuatan biadab itu!"
Tiba-tiba kedua orang tua itu diam tak bergerak sambil pasang telinga, tapi Siauw Liong dan Siauw Ma tidak mendengar sesuatu.
"Nah, lihatlah saja, Beng Beng. Kalau mereka itu sudah datang, baru kau tahu barangkali!"
Kata Tok-kak-coa dengan perlahan, lalu ia bersila di atas bangku dan meramkan matanya. Beng Beng Hoatsu berpaling kepada muridnya dan memesan.
"Jangan kau bergerak dari tempatmu!"
Sebelum muridnya mengangguk, pendeta gemuk pendek inipun bersila dan meramkan mata sambil menaruh kedua tangan di atas paha!
Siauw Ma terheran dan memandang ke arah Siauw Liong, tapi anak ini tak mengacuhkan semua itu, agaknya kelakuan suhunya itu tidak aneh baginya.
Malahan anak itu mengambil se
Jilid buku dari laci meja dan mulai membaca dengan asyiknya!
Siauw Ma makin heran, tapi tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang ringan sekali di atas genteng kelenteng!
Ia terkejut ketika mendengar bahwa yang datang di atas genteng sedikitnya ada enam orang.
Tentu mereka itu bermaksud jahat!
Ia memandang suhunya yang masih bersila dengan anteng, juga Tok-kak-coa duduk diam seperti Beng Beng Hoatsu, maka hati Siauw Ma menjadi khawatir juga.
Ketika ia mengerling Siauw Liong, ternyata anak muda itu masih membaca bukunya dengan anteng.
Diam-diam Siauw Ma mencela Siauw Liong yang dianggapnya tidak hati-hati atau masih rendah kepandaiannya hingga ada begitu banyak orang di atas genteng masih juga belum tahu!
Tiba-tiba seperti sedang melamun atau main-main, tangan kanan Siauw Liong meraba-raba mencari potongan-potongan tulang ular sisa makan tadi, sedangkan matanya tetap membaca buku.
Kemudian tangan kanannya terayun ke atas dan terdengar bunyi "Pletak, pletak"
Ketika genteng itu tertembus oleh peluru tulang yang dilempar oleh Siauw Liong!
Siauw Ma kagum sekali, karena walaupun ia dapat meniru perbuatan itu, namun ia kagum akan kecerdikan anak itu dan alangkah hebatnya Siauw Liong yang dapat menyerang tanpa berhenti membaca bukunya!
Tapi sambitan tulang itu agaknya dapat dikelit oleh orang-orang di atas genteng, karena tidak menimbulkan akibat apa-apa.
Sebaliknya, dari atas genteng lalu terdengar suara makian dan bentakan.
"Siluman ular jahat! Keluarlah kau, jangan gunakan senjata rahasia menyerang secara gelap. Kau rasakanlah pembalasan kami!"
Kemudian genteng tampak terbuka dan beberapa belas piauw dan pelor besi menyambar turun dengan keras sekali ke arah Tok-kak-coa dan Beng Beng Hoatsu!
Hampir saja Siauw Ma berteriak kaget karena ia melihat kedua orang tua itu sama sekali tidak bergerak.
Senjata-senjata rahasia itu tepat sekali mengenai sasaran dan terdengar suara "tak-tik-tok"
Dan kesudahannya hebat sekali dan di luar dugaan Siauw Ma.
Kepala Tok-kak-coa yang licin gundul itu ketika terpukul oleh pelor dan piauw, semua senjata-senjata kecil dari besi itu membal kembali seakan-akan menghantam sebuah bola besi yang keras!
Tak sedikitpun kulit kepala yang licin itu terluka.
Dan Beng Beng Hoatsu lebih hebat lagi karena piauw yang menghantam kepalanya patah-patah sedangkan pelor besi yang bulat itu menempel di kepalanya dan telah menjadi gepeng!
Siauw Ma merasa kagum bukan main, juga Siauw Liong tersenyum-senyum dengan wajah bersinar karena setelahnya melihat kelihaian orang-orang tua itu.
Dari kenyataan ini maka tak dapat disangsikan pula bahwa tenaga lwee-kang dari kedua orang ini sudah mencapai puncak kesempurnaan dan di atas dunia ini mungkin hanya ada beberapa orang saja!
Dari atas genteng terdengar seruan seseorang.
"Kawan-kawan, gelombang besar!"
Ini adalah kata-kata rahasia yang berarti bahwa lawan sangat kuat dan mereka hendak lari, tapi tiba-tiba Tok-kak-coa membuka matanya lalu berkata perlahan.
"Perlahan dulu, pinto perlu mendengar keteranganmu!"
Kemudian Tok-kak-coa menggerakkan tangan kanannya ke atas.
Ini adalah ilmu pukulan Hong-ciang-kang atau Ilmu Telapak Tangan Angin.
Pukulan ini dilakukan dengan tenaga lwee-kang yang hebat hingga dari telapak tangan orang tua itu bertiup angin ke atas, memukul seorang dari pada penyerbu-penyerbu itu.
Maka terdengarlah suara keluhan seseorang.
"Siauw Liong, bawa orang itu ke sini,"
Kata Tok-kak-coa kepada muridnya.
Pendengarannya yang tajam sekali dapat mendengar bahwa penjahat-penjahat lain telah lari ketakutan sambil meninggalkan pemimpin mereka yang terpukul itu.
Sebentar saja Siauw Liong telah masuk ke dalam ruangan itu kembali sambil menyeret seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam.
Orang itu ternyata pingsan!
Beng Beng Hoatsu juga telah membuka matanya dan ia memandang laki-laki itu.
Setelah melempar orang tinggi besar itu di hadapan suhunya, Siauw Liong duduk kembali di tempatnya tadi.
Si jahat dari timur mengulur tangannya dan sekali tepuk saja orang itu siuman kembali.
Ia memandang dengan mata liar ke sekelilingnya, ketika ia memandang wajah Tok-kak-coa ia menjadi pucat dan berdiri diam seperti patung.
Ia mengerti bahwa tak mungkin ia melarikan diri, juga tak mungkin melawan, maka ia diam saja menanti nasibnya.
"Siapakah kau dan mengapa kau berkali-kali datang membawa kawan-kawanmu untuk membunuhku?"
Tok-kak-coa bertanya dengan suara parau.
"Berkali-kali kami sudah memberi tahu padamu, tapi kau masih bertanya lagi. Aku telah kau tangkap, mau bunuh boleh saja. Buat apa banyak cakap?"
"Sekali ini saja kau beritahu padaku. Aku telah lupa lagi."
Si jahat dari timur menjawab dengan bujukannya. Laki-laki itu menghela napas, kemudian berkata juga.
"Aku adalah Lok Kung. Kami datang untuk membunuhmu, untuk menebus sakit hati sumoi kami yang kau bunuh dan yang kelentengnya kau rampas!"
Tok-kak-coa tertawa bergelak-gelak.
"Oh, ya kini aku ingat lagi. Kenapa kau menuntut balas? Sumoimu itu sudah selayaknya dibunuh dan semua nikouw di sini sudah selayaknya pula dibasmi.
"Aku hanya membunuh pemimpinnya dan usir semua nikouw, boleh dibilang perbuatanku itu masih murah hati sekali! Tidak tahukah kau bahwa sumoimu itu telah melanggar pantangan keras dari aturan orang-orang suci? "Ia dan para muridnya telah melakukan perbuatan cabul di dalam kelenteng ini, telah menculik pemuda-pemuda dan dikeram di sini. Perbuatan ini sungguh sangat menyuramkan nama para pendeta umumnya dan sangat mengotori kelenteng yang suci. Tak pantaskah mereka dibunuh?"
"Apa hubungannya semua itu dengan kau? Tak usah kau turut campur urusan pribadi orang lain. Kau memang ular berbisa yang kejam dan ganas!"
"Hi, hi, hi, hi! Tak tahukah aku bahwa kau juga menjadi kekasih para nikouw di sini? Kau pun harus mati. Tapi kau tak boleh mati di sini. Hayo kau minggat!"
Tok-kak-coa menuding ke arah dada laki-laki itu dan entah mengapa, laki-laki tinggi besar itu seakan-akan terdorong oleh pukulan keras dan ia terjengkang roboh sambil muntahkan darah segar!
Kemudian tanpa pamit lagi ia loncat keluar dan lari dengan sempoyongan, diikuti suara ketawa ha, ha, hi, hi dari Tok-kak-coa.
Beng Beng Hoatsu putar-putar kedua matanya dan memandang kepada si jahat dari timur, kemudian iapun tertawa.
"Aah, benar-benar aku tolol, si jahat dari timur masih tetap seperti dulu. Pinto telah salah sangka. Nah, kalau begitu perkenankan kami berdua guru dan murid tinggalkan tempat ini!"
Tapi tiba-tiba, seperti tadi, mereka berdua diam dan kali ini pada wajah kedua jago tua itu nampak ketegangan.
"Hm, yang datang kali ini bukanlah orang sembarangan,"
Beng Beng Hoatsu berkata perlahan dan mereka berdua seperti tadi pula bersila di atas bangku sambil meramkan mata.
Siauw Liong pandang wajah Siauw Ma dengan heran karena kali ini mereka berdua tidak mendengar sesuatu.
Juga ketika tiba-tiba di atas genteng terdengar suara orang padahal mereka belum mendengar suara kakinya, maka berdebarlah hati mereka karena maklum betapa tinggi ilmu gin-kang tamu yang sekarang ini.
Orang di atas genteng itu berkata halus.
"Ah, tidak tahu bahwa Tok-kak-coa toyu yang tinggal di sini. Toyu, maafkan pinceng telah berani mengganggu tempatmu. Perkenankanlah pinceng bertemu dengan Beng Beng Hoatsu!"
Kedua jago tua yang sedang duduk bersila itu membuka mata berbareng dan saling pandang dengan heran. Kemudian terdengar suara ketawa dari Tok-kak-coa dan ia berkata perlahan kepada Beng Beng Hoatsu.
"Nah, nah! Sekarang kau yang dicari orang! Entah kesalahan apa yang telah kau perbuat, anak tua yang nakal!"
Kemudian ia berdongak dan berkata kepada orang yang berkata dari atas genteng tadi.
"Hei, tamu yang di atas genteng, turunlah saja jangan banyak pakai peradatan. Beng Beng Hoatsu ada di sini!"
Siauw Ma dan Siauw Liong dengan hati berdebar mencurahkan semua perhatian untuk melihat tamu yang lihai itu.
Tiba-tiba dari luar berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang kakek tua telah berdiri dalam kamar itu!
Kakek ini usianya telah tujuhpuluh lebih dan di bagian dadanya terdapat lukisan setangkai bunga teratai.
"Oh, kiranya Kim Bok Sianjin yang sudi singgah di pondokku yang bobrok ini,"
Si jahat dari timur berkata.
"Silahkan duduk."
Kim Bok Sianjin, tokoh ketiga dari Kwan-im-kauw itu mengangkat kedua lengan dan menjura juga kepada Beng Beng Hoatsu.
Sikapnya sangat lembut dan menghormat dan penuh kesopanan, berbeda dengan sikap Beng Beng Hoatsu dan Tok-kak-coa yang berandalan.
"Maaf kalau pinto mengganggu ji-wi. Pinto terpaksa malam-malam datang karena urusan yang hendak pinto bicarakan dengan Beng Beng Hoatsu adalah penting sekali."
"Kim Bok Sianjin, kau bicaralah,"
Kata Beng Beng Hoatsu tanpa banyak komentar lagi.
Kim Bok Sianjin melirik ke arah Tok-kak-coa dan Beng Beng Hoatsu yang sudah dapat menduga bahwa kedatangan imam Kwan-im-kauw ini tentu ada hubungan dengan soal hilangnya patung Kwan-im Pouwsat, lalu berkata.
"Kim Bok toyu, bicaralah di sini saja. Siluman ular ini adalah sahabat sendiri."
"Hi, hi, hi, hi! Kim Bok Sianjin terlalu sungkan, seperti gadis kampung membicarakan lamaran orang saja, ha, ha, ha!"
Kata Tok-kak-coa dengan geli. Kim Bok Sianjin yang adatnya sopan merasa tidak senang mendengar olok-olokan kasar ini, tapi karena ia datang di situ sebagai tamu, maka ia menahan kemarahan hatinya.
"Baiklah kalau kau menghendaki demikian, Beng Beng Hoatsu. Kedatangan pinto malam-malam dan jauh-jauh mencarimu tak lain ialah hendak mengharap kebijaksanaanmu untuk menjauhi godaanmu kepada kami. Harap malam ini juga serahkan patung kami kepadaku agar kubawa kembali ke Kwan-im-bio!"
Tiba-tiba terdengar Tok-kak-coa tertawa keras sekali.
Kali ia benar-benar tertawa karena geli hati hingga suara ketawanya bukan ha, ha, hi, hi lagi, tapi ia tertawa ngakak seperti suara burung gagak atau suara ular besar hingga terdengar.
"kak, kak, kak, kak...!"
Ia ketawa keras terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang kempis.
"Ha, ha, ha...! Beng Beng... kau... mencuri patung...!! Hi, hi, hi... alangkah lucunya! Eh, pendeta gendut, kau sungguh tak tahu malu! Datang-datang menuduh aku berbuat jahat, tidak tahunya kau sendiri mencuri patung! Ha, ha, ha!"
Beng Beng Hoatsu hanya tersenyum menghadapi godaan ini, dan ia berkata kepada Kim Bok Sianjin.
"Dengan alasan apakah kau menuduh aku mencuri patungmu? Siapa yang menyaksikan aku lakukan perbuatan itu?"
Kim Bok Sianjin memandang tak senang.
"Apakah Beng Beng toyu tidak mau mengaku?"
"Katakanlah dulu siapa yang memberi tahu padamu."
"Yang memberi tahu adalah Hwat Kong Tosu. Dia yang bilang kepadaku bahwa kau yang ambil patung itu."
Kini Beng Beng Hoatsu yang putar-putar kedua matanya dan berdongak sambil tertawa keras.
"Dan kau percaya padanya?"
Kim Bok Sianjin memandang dengan mata marah.
"Mengapa tidak? Ia tidak pernah membohong!"
Lagi-lagi Beng Beng Hoatsu tertawa geli.
"Aku juga tak pernah membohong! Kau telah ditipunya. Akulah yang tahu siapa orangnya yang mencuri patungmu!"
Maka heranlah Kim Bok Sianjin.
"Siapa? Siapa, katakanlah."
"Yang mencuri patungmu bukan lain ialah Huo Mo-li!"
"Kurang ajar!"
Tiba-tiba Kim Bok Sianjin marah sekali.
Ia banting kaki kirinya dan Siauw Ma serta Siauw Liong terpental dari tempat duduknya ke atas beberapa dim tingginya!
Seantero kamar seakan-akan tergetar dan ada gempa bumi.
Demikian hebatnya tenaga Kim Bok Sianjin, tokoh ketiga dari Kwan-im-pai itu.
"Apa artinya ini? Kau bilang Huo Mo-li yang curi, Huo Mo-li bilang Hwat Kong Tosu yang curi sedangkan Hwat Kong Tosu berkata bahwa kau yang curi patung kami! Apa artinya ini? Kalian memang pembohong semua!"
Wajah kakek tua dari Kwan-im-pai, ini demikian menyesal, kecewa, dan mendongkol hingga agaknya ia mau menangis.
Hal ini mendatangkan kegembiraan luar biasa kepada Tok-kak-coa dan Beng Beng Hoatsu yang tertawa semakin keras!
Bahkan Siauw Ma dan Siauw Liong saling pandang dan ikut tertawa geli, hingga Kim Bok Sianjin, makin marah saja.
"Diam! Mengapa tertawa seperti orang gila?"
Ia membentak dengan wajah marah.
Di kelentengnya ia disujuti dan ditaati semua murid yang ratusan jumlahnya, tapi di sini, berhadapan dengan dua orang tua dan dua orang kanak-kanak saja, ia dijadikan buah tertawaan!
Dengan masih tertawa, Tok-kak-coa berkata padanya.
"Kim Bok Sianjin! Ini malingnya! Kenapa tidak lekas kau getok kepalanya? Itu dia, patungnya disembunyikan di bawah perutnya yang gendut!"
Terang ini adalah olok-olok yang kasar, maka Kim Bok Sianjin membentak padanya.
"Tok-kak-coa! Kau ini anak kecil atau orang gila?"
Tok-kak-coa makin keras ketawanya.
"Kim Bok Sianjin, pada hakekatnya kita semua ini hanya anak-anak kecil yang sudah terlalu lama bermain-main dengan nakal di dunia, dan tentang gila manusia manakah yang tidak gila? Hanya gilamu dan gilaku lain, aku gila tertawa dan kau gila menangis dan marah-marah. Ha, ha, ha, ha hi, hi, hi, hi!"
Beng Beng Hoatsu berkata kepada Kim Bok Sianjin.
"Kim Bok toyu. Kau lebih baik pulanglah saja dan carilah patung itu di tempat lain. Aku tidak mencuri patungmu, mungkin lain waktu aku akan mencurinya."
Mendengar kata-kata ini, makin besar rasa curiga Kim Bok Sianjin. Ia tidak sudi pulang dengan tangan kosong.
"Aku tidak percaya!"
Katanya berkeras kepala. Tiba-tiba Tok-kak-coa berkata dengan wajah sungguh-sungguh kepada Beng Beng Hoatsu.
"Beng Beng, kawanku! Buat apakah patung emas macam itu? Kembalikanlah saja, kalau kau butuh emas, sahabatmu ini jelek-jelek masih sanggup memberimu! Kasihanilah Kim Bok Sianjin dan saudara-saudaranya, lebih baik kau kembalikan saja."
Inilah keistimewaan Tok-kak-coa.
Ia pandai sekali main sandiwara dan pandai mengubah wajahnya dari geli hati menjadi sungguh-sungguh hingga siapa saja yang melihat wajahnya dan mendengar kata-katanya tentu percaya penuh.
Beng Beng Hoatsu tidak heran mendengar kata-kata ini karena ia tahu sampai di mana kecurangan dan kelicinan si jahat dari timur itu, maka ia hanya berkata.
"Kalau kalian tidak percaya padaku terserahlah!"
"Kalau dengan jalan baik kau tidak mau mengembalikan, terpaksa pinceng melupakan kebodohan sendiri dan pakai jalan kekerasan!"
Kata Kim Bok Sianjin. Siauw Ma tak dapat menahan sabar lagi karena mendengar suhunya disangka mencuri patung. Tanpa kesadaran lagi ia berdiri dan membentak.
"Orang dari manakah berani mati menghina suhuku? Suhu tak pernah mencuri patung!"
Kim Bok Sianjin berpaling dan memandang wajah Siauw Ma dengan marah, tapi sinar matanya melembut kembali.
"Bagus, kau setia kepada suhumu."
Beng Beng Hoatsu tersenyum girang melihat ketabahan Siauw Ma, tapi ia membentak.
"Siauw Ma, kau duduk saja di tempatmu!"
Dengan hati mendongkol Siauw Ma duduk kembali, mulutnya cemberut.
"Kim Bok Sianjin! Kalau kau hendak memberi pelajaran kepadaku, terpaksa aku melayanimu,"
Kata Beng Beng Hoatsu dengan mata terputar.
"Bagus sekali. Tontonan hebat! Hayo Siauw Liong, nyalakan lima lilin besar di ruang silat! Hayo Beng Beng dan kau Kim Bok ikut aku ke belakang, di sana ada ruang adu silat yang lebar sekali. Mari, mari!"
Tanpa banyak cakap lagi mereka menuju ke belakang di mana Siauw Liong telah mendahului mereka dan telah memasang lima buah lilin besar hingga tempat itu menjadi terang sekali.
Siauw Ma diam-diam juga mengikuti dari belakang.
Kim Bok Sianjin kencangkan ikat pinggangnya.
Ia tahu bahwa Beng Beng Hoatsu lihai, tapi karena yakin bahwa pendeta itu yang ambil patungnya, maka ia hendak kerahkan seluruh kepandaiannya, kemudian ia pasang kuda-kuda dan menanti.
Beng Beng Hoatsu sambil tersenyum simpul memasuki gelanggang dan berkata.
"Kim Bok Sianjin. Silahkan!"
Kim Bok Sianjin buka serangannya dengan pukulan Lima Teratai Hanyut, ilmu pukulan dari Kwan-im-pai yang hebat karena di dalam serangan ini terdapat tiga kali pukulan tangan dan dua kali tendangan kaki.
Tapi Beng Beng Hoatsu dengan tenang sekali keluarkan kepandaiannya dan bersilat dengan Sin-Liong Kun-Hwat atau Ilmu Silat Naga Sakti.
Tubuhnya lincah dan biarpun perawakannya gemuk pendek, setelah bersilat dengan Sin-Liong Kun-Hwat, ia melesat ke sana ke mari dan bergerak cepat bagaikan seekor naga mengamuk.
Adapun ilmu silat Kwan-im-pai sebetulnya berdasarkan pat-kwa-kun yang langkahnya menurutkan garis-garis pat-kwa hingga pertahanannya kuat sekali.
Tapi kali ini ia menghadapi Beng Beng Hoatsu yang mainkan ilmu silat ciptaannya sendiri sedangkan di waktu mencipta ilmu silat itu ia telah perhatikan dan menjaga segala kemungkinan dari serangan berbagai macam cabang persilatan, hingga Ilmu Silat Naga Sakti boleh dibilang telah direncanakan untuk menghadapi lawan yang menggunakan ilmu silat apapun juga.
Setelah saling mencurahkan tenaga dan kepandaian dan saling gempur selama seratus jurus lebih, dengan perlahan tapi tentu Kim Bok Sianjin mulai terdesak mundur.
Dalam marahnya ketua ketiga dari Kwan-im-kauw itu cabut po-kiamnya.
Tapi inilah kesalahannya.
Kalau ia tidak cabut pedang dan ajak Beng Beng Hoatsu bertempur dengan tangan kosong, mungkin ia masih dapat bertahan puluhan jurus lagi.
Tapi sekarang ia telah cabut pedang hingga tiba-tiba tampak sinar berkelipan karena tahu-tahu Beng Beng Hoatsu telah pegang sebatang pedang pula dan sambil tertawa keras ia putar pedangnya dengan jurus-jurus Sin-Liong-kiam-sut yang hebat.
Maka terkejutlah Kim Bok Sianjin, karena ternyata bahwa ilmu pedang pertapa gendut itu benar-benar lihai dan gerakan-gerakannya luar biasa.
Terpaksa ia mundur sambil menangkis dengan sibuk.
Tok-kak-coa tepuk-tepuk tangan dan bersorak-sorak.
"Beng Beng, hayo desak terus! Ha, ha, ha, imam Kwan-im-kauw itu telah mandi keringat dingin. Kematian telah berada di depan mata, hi, hi, hi! Biar ia tebus patungnya dengan jiwa."
Si jahat dari timur itu terus ngoceh dan berteriak-teriak, tapi Beng Beng sekali-kali tidak mau mencelakai Kim Bok Sianjin.
Dengan pedangnya ia mendesak dan tiba-tiba ia membuat gerakan berputar hingga po-kiam lawan seakan-akan kena terlilit oleh pedangnya lalu sekali sentak pedang lawan itu terbetot dan terlepas dari pegangan!
"Bunuh dia, bunuh dia!"
Tok-kak-coa membujuk, tapi Beng Beng Hoatsu bahkan masukkan kembali pedangnya dalam sarung pedang sambil menjura kepada Kim Bok Sianjin.
"Kau telah mengalah, terima kasih,"
Katanya. Tiba-tiba Siauw Ma berteriak.
"Suhu, awas!"
Mendengar ini secepat kilat Beng Beng Hoatsu loncat ke samping dan terdengar suara angin dari belakang oleh Tok-kak-coa dengan tongkat ularnya! "Eh, gilakah kau?"
Beng Beng Hoatsu menegur, tapi Tok-kak-coa hanya tertawa saja, lalu dengan terbungkuk-bungkuk ia pegang tangan Siauw Liong.
"Mari kita pergi, muridku!"
Ia bawa muridnya loncat dan sekali bergerak saja tubuhnya telah berada di luar kelenteng.
"Beng Beng, kau makin tua makin tolol saja! Ha, ha, ha! Kim Bok, kau pun goblok dan buta. Patung Kwan-im Pouwsat akulah yang ambil. Kalau kau ada kepandaian, carilah sendiri!"
Bukan main marahnya Kim Bok Sianjin mendengar ini.
Ia lupakan kelemahan sendiri dan loncat mengejar.
Siauw Ma hanya lihat tubuh imam yang tua itu berkelebat keluar tapi saat itu juga tubuh itu terlempar kembali dan jatuh ke dalam kamar tak dapat bergerak lagi.
"Tok-kak-coa, kau bangsat tua!"
Beng Beng Hoatsu memaki lalu loncat ke luar.
Dengan ilmu gin-kangnya yang tinggi ia berhasil mengejar Ular Tanduk Berbisa itu dan menyerang dengan kepalan maut.
Tok-kak-coa berkelit dan tak berani melayani karena dalam keadaan marah, Beng Beng Hoatsu sungguh berbahaya.
Setiap gerakannya merupakan serangan maut yang sukar dilawan.
Maka sambil tertawa nyaring si jahat dari timur itu loncat ke atas genteng dan menghilang dalam gelap.
Beng Beng Hoatsu hendak mengejar, tetapi tiba-tiba ia merasa terkejut sekali karena pundak kirinya terasa linu dan tidak sewajarnya.
Ia gunakan tangan kanan meraba dan alangkah terkejutnya ketika terasa betapa kulit pundaknya itu panas sekali.
In cepat lari kembali ke dalam kelenteng untuk periksa pundaknya di bawah sinar lilin.
Ternyata pundak itu tidak kelihatan luka, hanya di situ terdapat tanda merah sebesar kacang hijau dan dari tanda merah itulah keluar hawa panas.
Ia terkejut karena ia telah terkena tangan berbisa dari si jahat itu, biarpun ia tidak tahu bilakah ia terkena pukulan ini.
Siauw Ma menghampiri dengan khawatir.
"Kau kenapa, suhu?"
Suhunya menggeleng-gelengkan kepala dan balas bertanya.
"Bagaimana dengan Kim Bok Sianjin?"
"Ia masih pingsan, suhu. Dadanya bengkak dan kulit mukanya berubah hitam. Tapi napasnya masih ada."
Beng Beng Hoatsu mengeluarkan sebungkus obat bubuk warna merah dari saku bajunya dan menuang isinya ke dalam mulut.
Kemudian ia memeriksa keadaan Kim Bok Sianjin.
Melihat betapa imam Kwan-im-kauw itu rebah dengan mata meram dan kulit muka berwarna hitam, ia menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas.
"Aah, sungguh Tok-kak-coa jahat sekali. Jahat dan lihai!"
"Suhu, kita harus mencari dia. Kita harus merebut kembali patung yang dicurinya dan membalas dia untuk kecurangannya telah menyerang suhu dengan menggelap tadi!"
Beng Beng Hoatsu hanya tersenyum dan ia menggunakan obat yang sama untuk dituang ke dalam mulut Kim Bok Sianjin.
Tapi ia tahu bahwa obatnya itu hanya untuk mencegah menjalarnya racun ke jantung saja, dan ia maklum bahwa jiwa Kim Bok Sianjin, juga jiwanya sendiri, berada dalam keadaan bahaya.
Kemudian ia perintah Siauw Ma menjaga tubuh imam Kwan-im-kauw itu, dan ia sendiri duduk bersila mengumpulkan semangat dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menolak bisa yang telah menyerang tubuhnya.
Demikianlah, mereka berdiam diri sampai malam terganti fajar dan ayam terdengar berkokok riang.
Biarpun berkat dari tenaga dalamnya, racun yang memasuki pundaknya itu tidak sampai menjalar makin hebat, namun keadaan Beng Beng masih berbahaya.
Lebih-lebih keadaan Kim Bok Sianjin yang kini napasnya tinggal empas-empis menanti maut sewaktu-waktu datang mencabut nyawanya.
Kalau tidak dicekok obat Beng Beng Hoatsu, mungkin imam tua itu telah tewas malam tadi.
Beng Beng Hoatsu, yang biasanya tenang dan tabah, melihat keadaan Kim Bok Sianjin, wajahnya berubah muram dan berkali-kali ia menghela napas.
"Suhu, biarlah teecu pergi ke kota untuk mencari tabib yang pandai agar ia memberi obat kepada Kim Bok Sianjin dan terutama sekali kepada suhu sendiri,"
Kata Siauw Ma.
"Percuma, Siauw Ma. Tidak ada tabib yang sanggup mengusir racun yang disebar oleh Ular Tanduk Berbisa. Ia terlalu lihai!"
"Biarlah suhu, biar teecu coba!"
Siauw Ma membujuk. Melihat kekerasan hati muridnya, Beng Beng Hoatsu terpaksa mengangguk dan berkata.
"Aaah, sesuka hatimulah...!"
Tapi ia lalu tunduk dengan wajah muram.
Ia sebetulnya menyedihi keadaan Kim Bok Sianjin karena ia yakin bahwa imam tua itu tentu takkan tertolong.
Untuk dirinya sendiri ia tidak khawatir, karena racun yang dilepas oleh Tok-kak-coa hanya sedikit mengenai pundaknya dan dengan tenaga lwee-kang yang dimilikinya, ia tidak usah khawatir dirinya takkan tertolong.
Siauw Ma lari keluar dari kelenteng Gak-im-tong menuju ke tengah kota.
Kota Swi-ciang sangat besar dan setelah bertanya kepada orang di situ, ia dapat juga menemukan rumah seorang tabib yang kata orang terpandai di kota itu.
Tabib itu seorang she Cia dan tubuhnya kurus kering.
Ketika Siauw Ma mengutarakan maksudnya dengan kata-kata sabar, tabib itu hanya mendengarkan dengan tenang sambil sedot huncwenya dengan mata meram melek.
Setelah Siauw Ma mengakhiri permohonannya, ia hanya keluarkan sekalimat kata-kata.
"Kau bawa uang berapa?"
Alangkah marahnya Siauw Ma. Ia rogoh saku, tapi ternyata ia tidak membawa sepotongpun uang karena semua ditaruh dalam buntalan pakaian yang ditinggal di dalam kelenteng.
"Lopek, kau ikutlah saja, nanti kubayar semua,"
Katanya tak sabar. Tabib she Cia itu geleng-geleng kepala.
"Tidak bisa, harus bayar dulu. Orang-orang seperti kamu banyak sekali yang menipuku. Sudah diperiksa, sudah diberi obat sampai sembuh, tidak mau bayar sama sekali, alasan tidak punya uang. Aku tidak mau ditipu lagi."
"Tidak, tidak. Aku tidak menipu. Nanti pasti kubayar!"
Tapi tabib itu hanya goyang-goyang kepala sambil sedot pipanya dan semburkan asap putih dari mulutnya hingga asap yang berbau tembakau itu membuat Siauw Ma hampir terbatuk-batuk.
"Tapi... ini mengenai urusan jiwa orang! Mungkin kau masih keburu menolong jiwanya dan jiwa suhu!"
Siauw Ma membujuk, suaranya keras karena ia sudah habis sabar. Tabib she Cia itu hanya berkata kukuh.
"Uang dulu!"
Dan ia tinggalkan Siauw Ma masuk ke dalam.
Tapi kemarahan Siauw Ma sudah memuncak.
Dengan sekali loncatan ia sudah mendahului tabib itu menghadang di depan pintu tengah dan sebelum tabib itu sempat menegur, Siauw Ma telah mengulur jari tangannya menotok urat syarafnya sehingga ia tidak dapat lagi menguasai dirinya.
Seketika itu juga tabib itu merasa hilang daya kemauannya seakan-akan semua perintah Siauw Ma harus diturutnya.
Siauw Ma sambil berkata.
"Kau mencari penyakit sendiri!"
Lalu mengajak tabib itu mengikutinya, dan tabib itu hanya menurut seperti sapi yang dituntun gembala (seperti hypnotisme).
Tentu saja semua orang yang berada di dalam toko obat itu kaget dan marah.
Mereka berteriak-teriak dan mencoba mencegah Siauw Ma keluar.
Tapi dengan beberapa gerakan saja Siauw Ma telah membikin mereka roboh terguling-guling dan sebentar saja anak muda itu telah lari cepat, dikejar oleh orang-orang yang berteriak-teriak.
"Rampok penculik! Tangkap... kejar!"
Tapi mana mereka mampu mengejar Siauw Ma yang menggunakan ilmu lari cepat.
Beban tubuh itu tak berarti baginya dan ia percepat larinya.
Tiba-tiba, di sebuah jalan tikungan, ia mendengar suara kelenengan nyaring dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang anak muda baju biru cakap memikul dua keranjang obat.
"Sobat, tahan dulu. Kau mau bawa ke mana orang ini?"
Anak muda itu bertanya.
"Bukan urusanmu. Minggir!"
Kata Siauw Ma dan ia menggunakan tangannya nendorong anak muda itu ke sisi.
Tapi anak muda itu yang bukan lain ialah Tiong Li, murid Kiang Cu Liong Si Tabib Dewa, menggunakan sebelah tangan menahan dorongan Siauw Ma.
Kesudahan benturan tangan ini membuat kedua-duanya heran bukan main.
Tadinya mereka sangka bahwa gerakan mereka itu tentu akan membuat lawannya terdorong mundur, tapi ketika kedua tangan beradu, baik Tiong Li maupun Siauw Ma terhuyung-huyung mundur!
Siauw Ma menjadi marah sekali.
Ia perintahkan tabib she Cia itu duduk di rumput dan dengan mata menyala dan ke dua lengan baju tergulung ke atas ia menghampiri Tiong Li.
"Apakah kau sengaja hendak mencari perkara dengan aku?"
Tegurnya sambil memandang wajah yang tampan itu dengan marah dan heran.
"Tiong Li yang sifatnya lebih sabar dan lemah lembut balas memandang. Ia mengagumi wajah Siauw Ma yang gagah dan alisnya yang berbentuk golok serta tubuhnya yang tegap dengan dada yang bidang itu menarik hati Tiong Li benar. Iapun menurunkan pikulannya di mana terpasang kelenengan kecil dan ia berkata dengan halus.
"Sahabat yang baik, siapa mencari perkara dengan kau? Aku baik-baik bertanya ke mana kau hendak bawa orang ini karena ia adalah segolongan dengan aku. Kau telah menotok ia punya urat syaraf dan kau ajak ia sambil berlari-lari, apakah maksudmu?"
"Kau... kau segolongan dia? Apa maksudmu?"
Siauw Ma balas bertanya.
"Dia ini adalah tukang obat,"
Kata Tiong Li.
"dan akupun tukang obat pula."
Mendengar Tiong Li menyebut-nyebut "tukang obat"
Maka Siauw Ma teringat lagi akan suhunya, maka cepat ia ajak pergi tabib she Cia itu dan sambil berkata.
"Ah, aku tidak ada waktu untuk mengobrol denganmu,"
Ia lari keras.
Ia sengaja mengerahkan tenaga dan menggunakan ilmu lari cepat yang paling tinggi agar dapat segera tinggalkan anak muda yang mengganggunya itu.
Ia tidak mau berkelahi dengan anak itu, karena entah mengapa wajah yang lembut lagi jujur itu membuat ia tak sampai hati untuk memukulnya.
Tapi alangkah terkejutnya ketika.
ia melihat betapa Tiong Li juga lari menyusul dan kini mereka lari berendeng.
Ternyata ilmu lari cepat dari anak muda itu tidak kalah dengannya.
"He, kau hendak ke mana?"
Tanyanya tanpa jawab yang ditanya.
"Eh, engkau mau apakah sebenarnya?"
Siauw Ma berkata dengan curiga.
"Akulah yang ingin tahu kau mau apa sebenarnya,"
Jawab Tiong Li.
"Aku hanya mau tahu kau hendak berbuat apa dengan tabib ini."
Siauw Ma tidak menjawab karena mereka telah tiba di depan kelenteng.
Ia langsung loncat masuk ke dalam sambil memondong tabib Cia, disusul oleh Tiong Li di belakangnya.
Siauw Ma bawa tabib itu di depan suhunya yang masih bersamadhi dan sambil berlutut ia berkata.
"Suhu, inilah tabib yang pandai, suhu."
Beng Beng Hoatsu buka matanya dan setelah mengerling sekali ke arah tubuh kurus kering yang masih belum terlepas dari pengaruh totokan itu, ia tersenyum dan berkata.
"Siauw Ma, mana ia bisa mengobati kami? Sudahlah, buka totokannya dan suruh ia pulang. Jangan bikin susah orang saja."
Siauw Ma menuruti perintah suhunya dengan kecewa.
Ia melepaskan totokan pada tubuh tabib Cia yang segera dapat menguasai dirinya kembali.
Tapi pada saat itu, Tiong Li yang semenjak tadi berlutut di dekat tubuh Kim Bok Sianjin, tiba-tiba berteriak kaget.
"Celaka! Racun ular jahat. Mana suhu? Suhu...! Suhu...!"
Sambil berteriak-teriak menyebut suhunya, ia lari ke luar, diikuti pandang mata Siauw Ma dan Beng Beng Hoatsu yang terheran.
Tabib Cia lalu disuruh pulang dan Beng Beng Hoatsu memberinya sepotong perak.
Siauw Ma lalu menceritakan tentang Tiong Li yang dijumpainya di jalan.
Beng Beng Hoatsu menduga-duga.
Tak lama kemudian dari luar terdengarlah suara kelenengan dan dari luar masuklah seorang tua yang tubuhnya kecil tapi kepalanya besar sekali memikul keranjang obat, diikuti oleh anak muda tadi.
Ia ini ialah Si Tabib Dewa Kiang Cu Liong dan muridnya, Tiong Li!
Setelah melihat tabib dewa yang bertubuh aneh itu, maka teranglah wajah Beng Beng Hoatsu yang tadinya muram.
"Ah, Kau datang. Baik sekali! Orang she Kiang lekas kau tolong jiwa Kim Bok Sianjin."
Tanpa banyak peradatan lagi Beng Beng bangun berdiri dan menunjuk ke arah tubuh Kim Bok Sianjin yang kini telah kaku dan warna hitam telah memenuhi kepala dan lehernya.
Kiang Cu Liong berpaling dan memandang tubuh itu sebentar, kemudian ia memandang kepada Beng Beng Hoatsu dengan tajam, lalu berkata.
"Kau sendiri pun terserang racun, Beng Beng Hoatsu!"
"Ah, biarlah. Tidak berbahaya, kau tolonglah dulu dia itu."
Tapi Tabib Dewa itu berlaku ayal-ayalan, seakan-akan di situ tidak ada orang yang sedang bergulat dengan maut.
"Hm, hm, kauw-cu ketiga dari Kwan-im-kauw berada di sini dalam keadaan terluka hebat, dan kau sendiripun dapat terluka. Ah, ah, kalau bukan siluman ular jahat yang turun tangan, siapa lagi yang dapat melakukan semua ini? Aku akan heran sekali kalau ini tidak ada hubungan dengan hilangnya patung Dewi Kwan-im!"
"Kau tahu apa tentang patung yang hilang itu?"
"Heh, heh, heh! Bukan kau saja yang tahu, Beng Beng. Aku sudah bertemu dengan Huo Mo-li, dan aku tahu pula tentang perlombaanmu bertiga dengan Hwat Kong Tosu! "Sekarang jadikanlah perlombaan itu menjadi perlombaan empat orang. Masukkan aku di dalamnya karena akupun mencari patung itu. Dan apa salahnya kalau sepuluh tahun kemudian akupun ikut pula menguji kelihaian ilmu masing-masing? Heh, heh, heh!"
"Sudahlah, Kiang Cu Liong, jangan banyak ngobrol. Nanti gampang kita bercakap-cakap lebih lanjut. Sekarang kau tolong Kim Bok Sianjin. Keadaannya berbahaya."
"Sabar, sabar. Aku pasti tolong dia, bahkan menolong kau juga, tapi berjanjilah dulu bahwa kau suka menerima aku mengikuti perlombahan itu."
Beng Beng Hoatsu maklum akan kelihaian tabib itu dan kini ia tahu bahwa bagaimanapun juga tabib itu perasaannya sama saja dengan dia dan yang lain-lain, yakni tidak mau kalah.
Maka ia tertawa dan berkata.
"Apa boleh buat. Kau terlalu mendesak. Biarlah kau kuterima. Nah, lekas sembuhkan dia."
Dengan gerakan perlahan sekali seakan-akan yang dihadapi hanya seorang yang menderita masuk angin biasa saja, Kiang Cu Liong memeriksa tubuh dan terutama dada Kim Bok Sianjin.
"Hm, terkena pukulan Tok-jiauw-kang atau cengkeraman berbisa dari si jahat dari timur."
Sambil berkata begini Si Tabib Dewa itu mengeluarkan sebuah golok kecil dari kantung goloknya.
Golok kecil ini adalah sebuah hui-to atau golok terbang yang semuanya berjumlah sembilan di kantung itu.
Salah satu kepandaian Tabih Dewa ialah menyambit dengan hui-to ini yang lihainya bukan main, apa lagi kalau ke sembilannya disambitkan berbareng!
Dengan golok kecil yang mengkilap putih karena terbuat dari pada perak tulen itu, Kiang Cu Liong membuka dada Kim Bok Sianjin.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah batu karang yang kering berwarna putih seperti kapas.
Inilah mutiara salju yang tempo hari ia minta dari Huo Mo-li!
Mutiara salju ini setelah dijemur kering menjadi sebuah batu mujijat yang khasiatnya dapat menyedot darah yang dikotori racun.
Sementara itu Tiong Li dengan cekatan sekali membuat api dan masak air.
Setelah suhunya selesai menggunakan mutiara salju untuk mengisap habis racun dari tubuh Kim Bok Sianjin, Tiong Li angkat air itu dan dekatkan tempat air panas pada suhunya.
Kiang Cu Liong menggunakan kapas kering mencuci luka di dada dengan air panas.
Beng Beng Hoatsu dan Siauw Ma melihat pengobatan itu dengan kagum.
Guru dan murid ahli obat itu bekerja tanpa banyak cakap dan tangan mereka begitu cekatan seakan-akan telah diatur sebelumnya.
Apa yang diperlukan oleh Kiang Cu Liong telah tersedia oleh Tiong Li yang melayani suhunya dengan wajah berseri-seri dan mata bersinar-sinar.
Siauw Ma makin suka kepada anak ini.
Setelah selesai mencuci luka di dada Kim Bok Sianjin, Kiang Cu Liong lalu menempelkan obat bubuk warna hitam di atas luka itu, lalu Tiong Li menggunakan kain bersih membalut dada imam itu dengan rapi.
Perlahan-lahan ketika mutiara salju mengisap darahnya, wajah Kim Bok Sianjin berubah merah lagi dan warna hitam berangsur lenyap.
Kemudian pada waktu Tiong Li mengangkat kepalanya untuk membalut dada, ia siuman setelah menghela napas panjang.
Ketika ia membuka mata, pertama-tama yang dipandangnya adalah Beng Beng Hoatsu.
Pandangan matanya nampak penuh penyesalan akan kesembronoannya yang telah menuduh orang dengan tanpa penyelidikan teliti lebih dulu.
Karena Kim Bok Sianjin juga memiliki lwee-kang yang cukup sempurna, maka sebentar saja ia bisa mengatur napasnya dan tenaganya berangsur-angsur pulih.
Ia bangun dan mengangkat kedua tangan ke arah Beng Beng Hoatsu.
"Beng Beng toyu, maafkan pinceng yang bodoh, dan terima kasih atas perawatanmu. Sebetulnya orang macam pinceng ini sudah seharusnya dibiarkan mati."
"Ho-ho! Jangan berterima kasih padaku. Tabib tua inilah penolong jiwamu,"
Jawab Beng Beng Hoatsu sambil tertawa.
Kim Bok Sianjin baru melihat bahwa di situ ada orang lain.
Ia berpaling dan alangkah terkejutnya ketia ia melihat Kiang Cu Liong yang telah dikenalnya karena ia pernah bertemu satu kali dengan Tabib Dewa itu.
Cepat ia menjura dan menghaturkan terima kasih, tapi dengan merendah Kiang Cu Liong balas menjura.
"Ah, pinceng memang orang bodoh. Barangkali karena sudah tua maka sudah pikun. Orang macam pinceng mana akan dapat berhasil mendapatkan kembali patung itu?"
Dan imam Kwan-im-kauw itu menghela napas panjang, lalu menjura ke arah utara dan berkata perlahan.
"Aku hanya membikin kecewa kepada Pouw-sat yang mulia saja."
Paras mukanya berubah sedih sekali.
"Sudah tahukah kau siapa sekarang yang mencuri patung itu?"
Kiang Cu Liong bertanya dengan halus. Kim Bok Sianjin mengangguk-angguk, dan berkata malu.
"Tadinya dalam otakku yang kotor bahkan ada juga rasa curiga kepada Kiang-sinshe, karena sesungguhnya pencuri itu menggunakan obat bubuk yang membuat orang pada tidur di sekeliling patung itu. Sepanjang pengetahuan pinceng, yang memiliki obat itu hanya kau, Kiang-sinshe, karena pernah kudengar bahwa obat bubuk itu kau gunakan untuk menidurkan orang jika kau perlu membedah tubuh atau otak orang itu."
"Ha, memang ada orang yang mencuri sebagian obatku itu. Tapi kini aku sudah tahu siapa pencuri obatku!"
Beng Beng Hoatsu memotong.
"Si jahat dari timur, bukan? Dia sudah mengaku telah mencuri patung Kwan-im Pouwsat!"
Kiang Cu Liong mengangguk.
"Memang dia, Tok-kak-coa yang licin dan curang itu. Hm, sayang datangku terlambat, kalau tidak, ingin aku mengadu ilmu dan mencoba sampai di mana kesaktiannya hingga ia berani berlaku begitu kurang ajar!"
Beng Beng Hoatsu bersungut-sungut.
"Kepandaiannya sih tidak mengherankan, tapi kecurangannya yang membuat kita harus berhati-hati. Tadi ia serang aku secara curang dari belakang tapi dapat kuhindarkan. Hanya entah bagaimana ia berhasil juga mengirim racunnya ke pundakku!"
"Ia hebat... lihai sekali... baru sekali gebrakan saja aku terpukul olehnya..."
Kim Bok Sianjin menghela napas.
"Coba kuperiksa lukamu,"
Kata Kiang Cu Liong dan tanpa menanti jawaban, ia menghampiri Beng Beng Hoatsu dan periksa luka di pundak kirinya.
Setelah memeriksa seketika lamanya, ia mengangguk-anggukan kepalanya yang besar dan berkata.
"Ah, kau telah diserang dengan tongkat ularnya, bukan?"
Beng Beng Hoatsu mengangguk.
"Tapi tidak kena."
"Itulah lihainya senjata tongkat itu. Karena kau belum tahu rahasianya, maka sampai terluka. Ketahuilah, jika tongkat ular itu digunakan untuk menyerang, maka pada waktu tongkat itu tidak mengenai sasaran, dari mulut ular itu keluarlah jarum-jarum yang kecil dan lembut sekali hingga siapa terkena takkan merasa sakit.
"Juga sambaran jarum itu sama sekali tidak mendatangkan angin karena lembutnya. Maka kau sampai kena dilukai olehnya. Lain kali kalau berhadapan dengan dia, jagalah ke mana mulut ular itu menghadap!"
Beng Beng Hoatsu mengangguk-angguk.
"Untung lukamu tidak parah karena hanya terkena dua buah jarum berbisa dan lwee-kangmu kuat sekali untuk menahan menjalarnya racun."
Dengan dua tiga kali tempelkan mutiara salju pada luka itu, maka sembuhlah luka Beng Beng Hoatsu karena semua racun telah dihisap keluar!
Beng Beng Hoatsu tidak mengucapkan terima kasih, hanya berkata kepada Kim Bok Sianjin.
"Kim Bok Sianjin, dengarlah. Kau telah menuduh kami Thang-la Sam-sian mencuri patungmu, maka kami bertiga telah mengadakan perjanjian untuk mencuri dan mendapatkan patung itu.
"Sekarang bertambah dengan Kiang Cu Liong tabib tua ini yang juga ingin memiliki patung itu. Maka marilah kita mencari jalan masing-masing dan berlomba untuk mendapatkan kembali patung itu.
"Jangan kau khawatir, kami berempat bukanlah orang-orang yang serakah dan inginkan emas, tapi hanya menguji kepandaian dan kecerdikan saja. Seandainya seorang di antara kami yang berhasil mendapatkan patung itu, maka sepuluh tahun kemudian patung itu pasti akan dikembalikan ke Kwan-im-bio dengan pernyataan maaf."
"Memang begitulah baiknya,"
Kiang Cu Liong menyambung.
"Beng Beng Hoatsu telah berkata terus terang. Memang aku juga ingin mencoba hokhi-ku dengan ke tiga tokoh perkasa dari Thang-la! Dan jika aku beruntung bisa mendapatkan patung Dewi Kwan-im yang bijaksana itu, akupun hanya akan menyimpannya paling lama hanya sepuluh tahun dan setelah itu akan kukembalikan ke Kwan-im-bio tanpa diminta!"
Kim Bok Sianjin menghela napas.
"Memang ini adil, Kwan-im-kauw yang rendah kepandaian memang harus mengandalkan tenaga Thang-la Sam-sian dan kepandaian Kiang-sinshe untuk mendapatkan kembali patung kami, dan sudah sepantasnya kalau patung itu ditahan selama sepuluh tahun oleh pendapatnya, sebagai tanda kebodohan kami dan sebagai upah dia yang bisa merampasnya kembali. Nah, sekarang maafkan pinceng, karena pinceng harus segera kembali untuk melaporkan hal ini kepada suci."
Setelah menjura, Kim Bok Sianjin tinggalkan Kelenteng Gak-im-tong.
"Nah, sekarang kitapun harus berpisah, Beng Beng Hoatsu!"
"Baiklah, dan sampai bertemu kembali di puncak Thang-la sembilan tahun kemudian!"
"Kenapa sembilan tahun?"
"Karena janji kami bertiga untuk saling bertemu setahun yang lalu. Waktunya tinggal sembilan tahun lagi."
"Ah, kalau begitu aku harus mulai mencari patung itu sekarang juga. Dan sudah beberapa hari ini Tiong Li tidak kutambah pelajarannya, hm, jangan-jangan ia kelak tidak akan dapat berdaya sedikit juga terhadap murid-murid Thang-la Sam-sian!"
Tabib sakti yang berkepala besar itu tertawa keras. Ketika Kiang Cu Liong hendak berangkat, ia memandang ke kanan kiri tapi tidak kelihatan muridnya.
"Eh, di manakah anak-anak itu?"
Tanyanya.
Juga Beng Beng Hoatsu tidak melihat mereka.
Tiba-tiba dari halaman belakang terdengar suara teriakan dan tertawa-tawa.
Kedua kakek itu saling pandang dan tanpa berkata apa-apa mereka berdua bertindak ke belakang untuk melihat.
Ternyata Siauw Ma dan Tiong Li ketika melihat ke dua orang yang membutuhkan pertolongan itu telah diobati dan ke tiga kakek itu sedang bercakap-cakap yang tidak menarik hati mereka, diam-diam mereka pergi ke belakang dan bercakap-cakap sendiri.
Tiong Li sifatnya halus dan ramah, ditambah wajahnya yang tampan maka amat menarik hati Siauw Ma.
Sebaliknya murid tabib itu suka sekali melihat sifat-sifat Siauw Ma yang gagah, jujur dan agung itu.
Mereka mengobrol tentang suhu masing-masing dan tentang pelajaran-pelajaran silat.
Ternyata tingkat mereka tidak berbeda banyak.
Dalam hal tenaga, Siauw Ma lebih unggul, tapi ia kalah gesit dan gin-kang Tiong Li lebih lihai dari padanya.
Ketika mereka melihat batu-batu bundar yang besar dan berat, Siauw Ma teringat akan perbuatan Siauw Liong murid si ular jahat ketika melempar sebuah batu kepadanya.
Ia menceritakan hal itu kepada Tiong Li yang mendengarkan sambil tertawa dan mereka sama-sama mentertawakan sikap Siauw Liong yang sombong.
Kemudian mereka bermain-main dengan batu itu.
Mereka pilih batu-batu yang terlicin dan terberat, lalu saling melempar batu.
Seorang melempar yang lain menyambut untuk dilempar kembali, hingga batu-batu itu beterbangan di udara dan ada kalanya bertumbukan hingga mengeluarkan suara keras dan mengeluarkan api!
Ke dua anak muda itu dalam kegembiraannya sampai melupakan suhu mereka dan sambil berlempar-lemparan batu mereka tertawa gembira.
Dan ke dua suhu mereka mendapatkan mereka dalam keadaan demikian.
"Lihat, tenaga muridmu lebih besar dari pada tenaga muridku,"
Kiang Cu Liong berkata kepada Beng Beng Hoatsu. Benar saja, pada saat itu dua buah batu bertubrukan di udara dan ke duanya jatuh ke atas tanah, tapi batu lemparan Tiong Li lebih jauh terlemparnya.
"Tapi muridmu lebih lincah dan gagah menyambut batu yang dilempar kepadanya."
Memang benar pula, karena Tiong Li tampak berkelebat ke sana ke mari menyambut batu-batu yang berat dan banyak (Lanjut ke
Jilid 06) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Baca Juga: Darah Pendekar 8
Baca Juga: Pendekar Sakti 2