Eps 1 Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo
Baca online Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo
Cersil Patung Dewi Kwan Im - Kho Ping Hoo.
Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Pegunungan Thang-La mempunyai daerah yang panjangnya ribuan lie dan lebarnya ratusan lie, mempunyai puncak-puncak bukit yang tak terhitung banyaknya.
Daerah Tibet memang terkenal sebagai daerah yang kaya akan gunung-gunung tinggi dan yang sudah diakui mempunyai banyak puncak yang tertinggi di dunia.
Selain Pegunungan Thang-La, masih banyak daerah-daerah pegunungan seperti Kun-lun, Thai-san, dan lain-lain.
Tempat-tempat yang sangat tinggi dan sukar dicapai oleh manusia ini dianggap sebagai tempat-tempat keramat kediaman para dewa dan pertapa suci.
Pegunungan Thang-La terletak di sebelah timur Tibet dan di sebelah selatan Kun-lun-san.
Dari pegunungan ini banyak terlahir mata air sungai-sungai besar seperti Mekong, Sungai Sai-ween dan lain-lain, juga Sungai Dretsyu yang menjadi permulaan Sungai Yang-tze yang terkenal di Tiongkok.
Di daerah ini memang terjadi perubahan-perubahan iklim yang sangat bertentangan dan menyolok perbedaannya.
Pada musim salju maka hawa yang diliputi salju demikian dinginnya hingga air ludah yang diludahkan dari mulut telah beku sebelum tiba di tanah dan jatuhnya mengeluarkan suara seperti batu dijatuhkan!
Kadang-kadang hawa dingin bahkan sampai menggigit putus daun telinga orang yang tak terlindung baju tebal.
Sebaliknya pada musim panas tempat-tempat yang agak rendah berubah menjadi neraka yang panas sekali, kecuali pada puncak-puncak bukit yang tertinggi, di mana selamanya tertutup salju, baik musim salju maupun musim panas.
Hanya bedanya, pada waktu musim panas, maka salju tebal yang menutup puncak menipis.
Selain hawa yang sukar ditahan oleh manusia itu, di daerah Pegunungan Thang-La banyak terdapat binatang-binatang buas.
Hutan-hutan di pegunungan yang belum pernah terinjak kaki manusia itu penuh dengan binatang-binatang liar, sedangkan di atas puncak dikabarkan orang banyak terdapat binatang-binatang aneh.
Menurut kata beberapa orang terdapat biruang-biruang salju yang berbulu abu-abu dan harimau salju yang berbulu putih dan sangat ganas.
Juga dengan takut-takut dan ngeri beberapa orang di antara mereka tuturkan akan adanya manusia salju, yakni manusia liar yang merupakan setengah manusia setengah monyet besar dan yang berbulu putih pula.
Keadaan yang berbahaya inilah yang membuat tempat itu agak terasing dan orang hanya berani tinggal di kaki-kaki gunung dan hidup mereka sebagian besar menjadi pemburu.
Di antara sekian banyak puncak, yang tertinggi dan terkenal paling banyak binatang buasnya ialah Puncak Harimau Salju.
Dari namanya saja orang dapat menduga bahwa di situ banyak terdapat binatang-binatang buas yang aneh.
Maka mendengar namanya saja para pemburu sudah menjadi gentar dan tidak berani mendekati bukit itu.
Pada suatu pagi dari dalam sebuah hutan di kaki Gunung Harimau Salju terdengar suara nyanyian bersama yang gembira dan gagah.
Nyanyian itu diiringi suara ketukan kayu untuk menjaga irama lagu.
Ternyata mereka adalah serombongan pemburu muda yang bergembira merayakan hasil buruan yang lumayan juga.
Mereka terdiri dari tujuh orang muda dan pada saat itu mereka duduk mengelilingi api unggun di atas mana terpanggang daging rusa muda yang masih utuh.
Bau sedap daging panggang itu membuat mereka merasa lapar sekali dan menambah kegembiraan mereka.
Sambil menanti matangnya daging itu mereka bernyanyi gembira dan dua orang ketuk-ketuk gagang tombak membuat irama.
"Siauw Ma, hayo nyanyikan sebuah lagu agar daging ini lekas matang!"
"Benar, hayo nyanyi untuk kami, Siauw Ma. Nyanyi Pemburu Di Bukit Salju."
Orang yang dipanggil Siauw Ma atau Kuda Kecil itu adalah seorang muda yang cakap.
Seperti kawan-kawannya, ia memakai pakaian dari kulit yang menutup seluruh tubuhnya.
Biarpun musim salju sudah lewat, namun pada pagi hari di tempat itu masih sangat dingin.
Mendengar desakan kawan-kawannya, Siauw Ma segera berdiri dan sambil mengangkat dadanya yang tegap dan bidang ia bernyanyi tunggal.
Suaranya nyaring dan jernih, menggema di dalam hutan, menembus di antara daun-daun pohon yang hijau mencari jalan lepas ke angkasa.
Berbaju kulit hasil buruan, Di tangan tombak peminum darah!
Menghitung langkah mengukur jarak Mengintai, merunduk menyelinap, berlari!
Dada berdebar, tombak menggetar Mata bersinar mengintai korban.
Biruang diterjang, harimau diterkam!
Takut?
Tak kenal!
Maju terus, tabah tak gentar, Pemburu di bukit salju yang gagah berani!
"Bagus, bagus!
Ulangi sekali lagi, Siauw Ma!"
"Ya, ulangi... ulangi...!"
Maka mengema sekali lagi suara nyanyian yang gagah dan indah itu, mencerminkan jiwa pemburu yang tak kenal takut.
Maka dagingpun matanglah dan mereka makan dengan lahap dan nikmatnya.
Demikianlah sifat pemburu sejati.
Kerja keras, semangat menyala, tak kenal takut, dan enak makan nyenyak tidur.
Tapi pada waktu berburu dan sedang mengikuti jejak calon kurbannya, ada kalanya seorang pemburu harus berjalan terus turun naik jurang dan keluar masuk hutan sampai dua hari!
Setelah daging rusa yang utuh itu habis dan lenyap ke dalam perut ke tujuh orang itu, mereka melanjutkan percakapan dengan gembira.
Empat orang di antara mereka sudah meringkuk di atas tanah dan terdengar dengkur mereka yang keras.
Tiga orang termasuk Siauw Ma, masih duduk di dekat api, seorang di antaranya mengisap pipa tembakau.
"Kalian masih ragu-ragu? Aah, mudah-mudahan saja kalian jangan bertemu dengan dia itu,"
Terdengar si pengisap pipa berkata.
Ia adalah yang tertua di antara kawan-kawannya, berusia kurang lebih empatpuluh tahun, tapi tubuhnya masih kokoh kuat dan sepasang matanya bersinar-sinar.
Kumisnya pendek tapi gemuk dan kaku beracungan ke kanan kiri.
"Bagaimana kau dapat berjumpa dengan dia, Lopeh?"
Tanya Siauw Ma.
Yang ditanya mengisap pipanya beberapa sedotan 1alu keluarkan asap putih bergulung-gulung ke atas dari mulut dan lubang hidungnya, sambil kedap kedipkan mata dengan nikmat.
Ia telah berpengalaman dan tahu pula menahan cerita karena dengan demikian akan makin tertariklah pendengarnya.
Kemudian setelah menengok ke kanan kiri seakan-akan takut akan sesuatu, ia bercerita.
"Beberapa tahun yang lalu, kau masih belum diperkenankan ikut dengan kami, Siauw Ma, aku berburu dengan empat orang kawan. Karena kawan-kawanku dan aku di masa itu masih muda dan kuat, juga tak kenal arti takut, tepat seperti yang telah kau nyanyikan tadi, Siauw Ma, maka kami berlima mengambil keputusan untuk mendaki Bukit Harimau Salju ini.
"Kami tahu bahwa bukit ini belum pernah dinaiki orang dan bahwa semua pemburu takut menaikinya, tapi seperti kukatakan tadi, kami tak kenal arti takut. Demikianlah, kami berlima lalu naik dari sebelah barat."
"Bagaimana jalannya, Lopeh? Sukarkah? Apakah kau harus gunakan tambang atau cukup dengan tongkat dan kaitan saja? tanya Siauw Ma.
"Dengarkan saja, Siauw Ma. Kau selamanya tidak sabar mendengar cerita orang. Nanti juga kuterangkan tanpa kau sela ceritaku."
"Lopeh benar, Siauw Ma. Dia kan pandai bercerita, dengarkan saja. Teruskanlah, Lopeh, dan maafkan Siauw Ma,"
Kata kawan yang seorang lagi yang memakai topi bulu domba. Si pengisap pipa melanjutkan ceritanya.
"Memang tidak mudah mendaki Bukit Harimau Salju, terutama dari sini yaitu dari jurusan selatan, agaknya tak mungkin dilalui jalan ke atas yang terhalang banyak jurang dalam. Jangan tanya lagi tentang hutan-hutan yang penuh binatang berbahaya.
"Kudengar di hutan yang tampak kehitam-hitaman dari sini itu penuh dengan ular berbisa. Jangankan kita, sedangkan harimaupun tak berani masuk ke sana. Tapi di antara ke empat jurusan, dari baratlah yang agak mudah.
"Aku katakan mudah sebagai perbandingan dengan jurusan timur, utara, atau selatan yang tak mungkin dilalui itu. Tapi kalau dibandingkan dengan semua jalan pendakian di gunung lain, ah jalan dari barat itu jauh lebih berbahaya dan sukar! Mula-mula kami memasuki hutan di mana terdapat banyak binatang buas.
"Tapi itu masih belum hebat, yang berbahaya sekali ialah rawa-rawa yang atasnya ditumbuhi rumput sehingga tampaknya seperti tanah biasa. Tapi kalau kau salah injak, di bawah rumput itu adalah air campur tanah endut yang dalam sekali! "Seorang kawan kami yang jalan di depan tiba-tiba saja lenyap dan amblas ke bawah sampai ke leher sebelum ia tahu apa yang terjadi! Untung aku segera melempar tambang kepadanya dan kami berempat berhasil membetotnya keluar dari tanah lumpur yang tak terkira dalamnya itu.
"Sekali kaki masuk ke dalam lumpur itu, jangan kau kira mudah untuk menariknya kembali. Makin keras kau berusaha menariknya, akan makin dalamlah kau tenggelam."
Siauw Ma dan kawannya si topi bulu mendengarkan dengan penuh perhatian.
Mendengar keadaan-keadaan yang mengerikan dan berbahaya itu mereka tak merasa gentar, bahkan agaknya tertarik sekali!
"Akhirnya setelah dapat loloskan diri dari berbagai bahaya, kami keluar juga dari hutan itu.
Di depan kami terbentang bukit-bukit karang yang tajam dan keras hingga habislah sepatu dan kaos kaki kami!
"Setelah dapat melalui barisan batu karang itu, maka kaki kami sampai luka-luka dan berdarah.
Terpaksa kami berhenti untuk merawat luka-luka itu dan makan bekal kami.
Kemudian barulah kami melanjutkan perjalanan.
Tapi ternyata makin tinggi kami mendaki, makin sukarlah perjalanan.
"Ada jalanan yang terputus oleh sebuah jurang yang tak terkira dalamnya dan mulut jurang itu kurang lebih sepuluh tombak hingga tak mungkin diloncati begitu saja. Kami hampir putus asa, tapi tiba-tiba seorang kawan kami mendapat akal.
"Dengan bergantian kami lempar batu yang diikat dengan ujung tambang ke seberang, dengan harapan mudah-mudahan tambang itu akan menjangkau sesuatu yang kuat untuk menahan tubuh kami. Berpuluh kali kami mencoba, tapi sia-sia, batu itu membawa tambang ke seberang tapi tidak menyangkut apa-apa hingga terpaksa kami tarik kembali. Akhirnya berhasil juga usaha kami.
"Batu yang kami lempar dapat melampaui segundukan batu karang dan batu itu menggelinding sedemikian rupa hingga tambang dapat membelit karang. Kami berlima menarik tambang itu sekuatnya untuk mencoba kekuatannya.
"Setelah yakin bahwa tambang itu membelit kuat pada karang di seberang, kami ikatkan ujung yang tertinggal pada sebuah batu karang besar. Maka jadilah sebuah jembatan istimewa yang menghubungkan ke dua seberang. Kalau orang tidak berhati tabah dan bersemangat besar, tak mungkin berani menyeberang dengan jalan bergantungan pada jembatan tambang itu. Tapi seperti kukatakan tadi, kami berlima masih muda-muda, kuat lagi tabah hingga selamatlah kami sampai di seberang. Kami tinggalkan tambang itu untuk perjalanan pulang nanti."
Siauw Ma mendengarkan dengan muka berseri.
"Aduh senangnya kalau aku dapat ikut mengalaminya."
Si pengisap pipa memandangnya dengan senang.
"Kau seperti aku ketika muda dulu, Siauw Ma."
"Teruskan, Lopeh,"
Mendesak si topi bulu.
"Kemudian perjalanan harus dilakukan sambil merangkak."
"Sambil merangkak?"
Kedua anak muda itu bertanya heran. Si pengisap pipa mengangguk-angguk.
"Ya, harus merangkak karena untuk jalan kaki sangat berbahaya. Jalan merupakan permukaan batu karang yang tertutup salju hingga menjadi licin sekali, sedangkan mulut jurang ternganga di kanan kiri. Kurang lebih tiga lie kami harus merangkak seperti itu, tapi akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang membuat kami berdiri diam terbelalak memandang ke depan tanpa dapat mengeluarkan suara."
"Apa yang kau lihat, Lopeh?"
Tanya Siauw Ma tertarik sekali.
"Ajaib! Betul-betul satu keajaiban yang sukar dipercaya. Ketika kami berdiri di sana, di depan kami tampak lereng bukit yang hijau dan di sana-sini terbentang luas lembah yang penuh dengan pohon-pohon hijau.
"Beberapa lapangan yang merupakan taman penuh bunga beraneka warna membuat pemandangan yang indah sekali. Tapi biarpun keindahan di situ menyaingi surga, agaknya kami takkan demikian tercengang heran kalau kami tidak melihat peristiwa yang mentakjubkan."
"Kau melihat apa, Lopeh?"
"Di dalam taman bunga terdekat, kami melihat dua makhluk aneh sedang berdiri dengan menggerak-gerakkan tangan. Makhluk itu bentuknya menyerupai manusia, tapi seluruh tubuhnya berbulu putih dan tidak berpakaian sama sekali!"
"Manusia salju?"
Tanya Siauw Ma.
"Mungkin, karena sampai sekarangpun kami tak dapat menetapkan dengan pasti. Ketika kami masih berdiri terheran, kedua makhluk itu lalu bergerak cepat dan ternyata mereka saling serang dengan gerak kaki dan tangan seperti orang bermain silat! Kami tertarik sekali dan maju mendekat.
"Tapi setelah kami berada dekat mereka, tiba-tiba saja mereka berhenti bersilat dan menerjang kami! Kami tidak takut karena kami berlima bukanlah orang-orang lemah yang tidak mengerti silat.
"Kami layani mereka dengan kepalan dan tombak. Tapi mereka itu hebat sekali. Dengan sekali gebrakan saja senjata kami dapat terampas semua dan kedua makhluk itu menuding-nuding ke arah bawah gunung dengan, bersuara cecowetan seperti monyet.
"Kami mengerti bahwa mereka mengusir kami. Ternyata mereka itu tidak jahat karena buktinya tidak membunuh sedangkan kalau mereka mau, mudah saja mereka dapat membunuh kami mengingat akan kepandaian mereka yang luar biasa itu.
"Kami lalu cepat-cepat kembali. Tapi tanpa senjata di tangan kami tak berdaya dan perjalanan dilakukan dengah lebih sengsara. Bahaya yang mengancam lebih besar dari pada di waktu berangkat, terutama karena kami telah lelah sekali. Dan di dalam perjalanan pulang ini tiga orang kawan kami tewas ketika kami diserang segerombolan anjing liar. Hanya aku dan seorang kawanku dapat mencapai kaki gunung dengan selamat. Setelah si pengisap pipa berhenti bercerita, keadaan menjadi sunyi karena kedua pendengarnya pun berdiam diri, tak kuasa berkata-kata setelah mendengar pangalaman hebat dan aneh itu. Tiba-tiba Siauw Ma bangkit berdiri dan berkata tegas.
"Lopeh, aku akan ulangi pendakianmu itu!"
"Kau? Seorang diri?"
"Kalau ada yang berani ikut, aku akan merasa lebih senang. Tapi kalau tidak ada yang berani, biarlah aku sendiri pergi."
Si pengisap pipa memandangnya kagum tapi ia berkata dengan khawatir.
"Siauw Ma, perjalanan itu betul-betul berbahaya dan aku tidak tahu apakah ada perubahan yang terjadi pada jalan-jalan itu selama bertahun-tahun ini. Pula, manusia salju itu betul-betul lihai. Tenaga mereka besar sekali dan kepandaian silat mereka tinggi luar biasa!"
Siauw Ma menghampiri sebatang pohon yang besarnya sepelukan tangan kanan.
Tiba-tiba ia gerakkan tangan meninju pohon itu.
Tinjunya tiba di batang pohon dengan keras sekali hingga tergetar seakan-akan tertumbuk oleh dorongan seekor kerbau mengamuk.
"Sekeras itukah tinju mereka, Lopeh?"
Kata Siauw Ma, kemudian pemuda itu memeluk batang pohon dan gunakan tenaganya menjebol.
Dengan keluarkan suara keras akar-akar pohon itu terlepas dari tanah dan terangkat naik!
Siauw Ma lemparkan batang pohon itu sampai tiga tombak jauhnya dan ketika jatuh mengeluarkan suara keras hingga empat kawannya yang sedang tidur mendengkur menjadi terkejut dan bangun semua!
"Sekuat itukah mereka, Lopeh?"
Kata Siauw Ma lagi. Si pengisap pipa mengangguk-angguk dengan kagum.
"Kau kuat sekali, Siauw Ma."
"Dapatkah kiranya aku melawan manusia salju, Lopeh?"
Pemuda itu bertanya gembira dan bangga. Yang ditanya menyedot pipanya dan memandangnya dengan ragu dan sangsi.
"Mungkin dapat, tapi coba perlihatkan kemajuan ilmu silatmu. Ketahuilah, ilmu silat mereka itu lihai sekali, Siauw Ma."
Siauw Ma segera buka baju kulitnya hingga ia hanya mengenakan baju dalam yang pendek dan ringkas.
Tampak jelas tubuhnya yang padat berisi dan bagus bentuknya itu.
Kini semua kawannya telah duduk memandangnya dengan senang.
Memang Siauw Ma adalah seorang pemuda yang terkenal pandai bernyanyi dan pandai bersilat pula, biarpun usianya baru enambelas tahun.
Ia adalah anak yatim yang telah di tinggal mati ayahnya ketika masih kecil.
Tapi ibunya adalah seorang wanita yang bijaksana dan pandai mendidik putera tunggalnya itu.
Juga karena ayah Siauw Ma dulu adalah ketua rombongan pemburu yang terkenal.gagah dan disegani, maka ,jandanya juga mendapat penghormatan dari para pemburu.
Demikianpun Siauw Ma, karena kedudukan ibunya dan karena kemungilannya, menjadi kesayangan para pemburu yang mendidiknya dalam keolaragaan dan cara-cara menjadi pemburu yang gagah.
Pernah seorang guru silat yang merantau bertemu dengan rombongan pemburu itu dan guru silat itu tertarik dan suka sekali kepada rombongan pemburu yang gagah berani itu.
Ia bermalam di situ dan dapat melihat Siauw Ma yang masih kecil.
Melihat keadaan anak itu, ia sangat kagum dan ia tahu bahwa anak itu mempunyai bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang gagah.
Maka dengan suka rela ia tinggal setahun dalam kampung pemburu itu dan mendidik Siauw Ma dalam ilmu silat.
Ternyata guru silat itu adalah seorang ahli silat cabang Siauw-lim, maka tentu saja ilmu silat yang diajarkan juga hebat.
Demikianlah, maka setelah menjadi dewasa, selain memiliki tenaga yang besar, juga dalam hal ilmu silat, boleh dibilang Siauw Ma lebih lihai dari pada semua kawannya.
Setelah membuka baju luarnya, Siauw Ma lalu bersilat.
Tubuhnya bergerak cepat.
Gerak dan langkah kakinya tetap dan kuat serta pukulan-pukulan tangannya mendatangkan angin karena kerasnya.
Betul-betul ia gagah dan ke enam kawannya bertepuk tangan memuji.
Tapi pada saat Siauw Ma tengah bersilat dan mengirim tendangan berantai yang hebat, tiba-tiba terdengar suara memuji tapi berbareng mencela.
"Bagus ilmu silatmu, sayang sekali kurang matang dan tendangan itu dilakukan salah!"
Siauw Ma masih muda dan darahnya masih panas.
Mendengar celaan ini, ia hentikan gerakannya dan cepat menengok ke arah suara.
Ternyata di bawah sebatang pohon berdiri seorang tua yang bertubuh kekar dan berjenggot panjang.
Kakek itu berpakaian sebagai petani, tapi di punggungnya tampak gagang pedang.
Di sebelah kirinya berdiri seorang anak perempuan yang berusia paling banyak duabelas tahun.
Anak itu kurus dan pucat, jelas tampak tanda-tanda kelelahan dan kesengsaraan, tapi bibirnya tertutup rapat dan sepasang matanya mengeluarkan sinar hingga di wajahnya yang cantik itu terbayang sikap keras dan ketetapan hati yang luar biasa.
Siauw Ma adalah scorang pemburu yang belum pernah menjelajah dunia dan pengalamannya masih dangkal sekali.
Melihat bahwa orang yang berani mencela permainan silatnya hanya seorang petani tua, biarpun membawa-bawa pedang, ia merasa penasaran dan mendongkol sekali!
"Eh, pencangkul tanah kering!
Kenapa kau berani katakan ilmu silatku kurang matang, dan apa yang salah dengan tendanganku tadi?"
Tegurnya dengan mata melotot. Kakek itu memandangnya dengan mata berseri dan mulut tersenyum.
"Kau baru belajar paling banyak setahun, mana ilmu silatmu bisa matang? Dan tendanganmu tadi, mungkin untuk menendang biruang atau harimau dapat berhasil baik, tapi kalau untuk menendang orang yang mengerti sedikit saja ilmu silat, tentu takkan berhasil!"
"Begitukah? Dan dapatkah kau buktikan omonganmu ini, orang tua?"
"Kau mau bukti?"
Kemudian kakek itu memandang anak perempuan di sebelahnya dan berkata.
"Eh, Lian Eng, kau sudah lihat tendangan tadi?"
Gadis kecil itu mengangguk.
"Orang mau minta bukti bahwa tendangan itu tak berguna, kau bisa buktikan, bukan?"
Gadis itu sekali lagi mengangguk.
Siauw Ma merasa gemas sekali, nyata orang telah memandang rendah.
Masa ia akan diadu dengan gadis cilik kurus lemah itu!
Sementara itu, kawan-kawannya yang tadinya hendak mencegah Siauw Ma berlaku kasar, segera menunda maksudnya melihat betapa kakek itu menghina Siauw Ma.
Juga si pengisap pipa yang telah berdiri dan hendak menyambut kakek itu secara ramah dan baik-baik, tunda maksud baiknya karena ia juga merasa penasaran.
Siauw Ma, kebanggaan pemburu, anak muda yang gagah perkasa itu hendak diadu dengan gadis cilik ini?
Ah, ia harus mencegahnya!
Mungkin dalam kemarahannya, Siauw Ma sampai salah tangan membunuhnya dan ia harus cegah hal ini.
Seorang pemuda gagah tidak seharusnya membunuh seorang gadis kecil yang lemah tak berdaya, biar dalam pertempuran adil sekalipun!
"Siauw Ma, jangan layani hinaan orang,"
Tegurnya kepada pemuda itu, lalu si pengisap pipa menghadapi kakek itu.
"Orang tua gagah, kalau benar kepandaian Siauw Ma ada salahnya, harap kau orang tua suka memberi petunjuk padanya, janganlah menghina dia dengan menyuruh ia memukul gadis kecil ini, Siauw Ma bukanlah seorang pengecut."
Petani tua itu usap-usap jenggotnya dan mukanya berseri melihat sikap dan mendengar ucapan si pengisap pipa yang menunjukkan sifat laki-laki dan kejujuran itu.
"Siapa bilang dia pengecut? Anak muda ini minta bukti bahwa tendangannya itu tiada guna, dan aku menyuruh cucuku ini memberi bukti padanya. Apa salahnya?"
"Kau gegabah sekali, orang tua. Tendangan Siauw Ma sangat kuat dan cukup keras untuk merobohkan seekor kerbau dengan dua tiga kali tendang saja. Masa kau hendak suruh cucu perempuanmu yang kecil dan lemah ini untuk mengujinya? Apakah itu tidak berbahaya?"
Si pengisap pipa membantah lagi.
"Sobat baik, kalau berbahaya masa aku menjerumuskan cucuku sendiri? Kami tidak hendak menghina pemuda ini, karena kalau ia satu kali saja dapat berhasil menendang cucu perempuanku, barulah ia boleh membanggakan ilmu tendangnya dan barulah ia terhitung seorang muda berkepandaian tinggi!"
"Apa susahnya menendang dia?"
Siauw Ma berteriak marah.
"Mari, mari, kau yang kurus dan pucat ini, ke sinilah. Hati-hatilah kau menghindari tendanganku dan jangan menangis kalau kena tendang!"
Gadis kecil itu tersenyum dan loncat ke tengah lapang lalu gunakan jari telunjuknya untuk menuding-nuding hidung sendiri sambil leletkan lidah kepada Siauw Ma dengan sikap yang sangat mengejek dan mempermainkan.
Melihat kelucuan gadis kecil itu, semua orang tertawa hingga Siauw Ma menjadi makin marah.
Ia pasang kuda-kuda lalu berseru keras.
"Awas tendangan!"
Kaki kirinya diayun ke arah lutut gadis itu.
Biarpun hatinya panas dan marah, namun jiwa jantannya masih tidak mengizinkannya untuk mencelakakan gadis itu maka ia menendang dengan tenaga dua bagian saja, tapi cukup cepat hingga ia merasa pasti bahwa tendangan perlahan ini akan cukup membuktikan kelihaiannya.
Siapa kira dengan hanya kisarkan sedikit kaki kanannya, Lian Eng telah dapat kelit tendangannya dengan mudah sekali.
Kembali gadis itu leletkan lidah padanya.
"Anak muda, jangan sungkan-sungkan. Tendanglah sekuatmu, kutanggung bukan dia yang akan kena tendang, tapi kau sendirilah yang akan terjungkal!"
Kakek petani itu berkata.
Siauw Ma makin marah, tapi ia masih tekan perasaannya dan mengirim tendangan beruntun tiga kali dengan tenaga setengah karena ia yakin kali ini pasti berhasil.
Tapi kembali ia kecele karena gadis kecil itu dapat loncat ke sana-sini dan hindarkan tendangan berantai itu dengan mudah saja dan sedikitpun tidak kelihatan gugup.
Setelah berhasil meluputkan diri dari tendangan, Lian Eng gunakan telunjuknya untuk tekan-tekan hidungnya yang mancung hingga hidung itu melesek dan pesek dan lidahnya dileletkan lagi!
Tentu saja Siauw Ma menjadi marah sekali.
Muka menjadi merah karena malu dan marah sedangkan dadanya serasa hendak meledak.
Ia maju dan kini kerahkan semua tenaga di kaki kiri dan kirim tendangan geledek sambil berseru.
"Awas tendangan maut!"
Lian Eng dengan senyum masih di bibir berkelit ke samping dan pada saat kaki Siauw Ma menyambar di sampingnya, ia ulur tangannya yang kecil dan putih lalu dorong kaki itu ke atas terus didorong lagi ke belakang hingga tidak ampun lagi tubuh Siauw Ma melayang ke belakang beberapa kaki dan jatuh terjungkal dan bergulingan!
Lian Eng berdiri sambil tepuk-tepuk tangannya.
Para pemburu berdiri tercengang dan kagum.
Tak disangka sedikit juga bahwa Siauw Ma yang mereka banggakan itu dipermainkan demikian rupa oleh seorang gadis kecil lemah dan pucat.
Sebagai orang-orang jujur para pemburu itu bertepuk tangan memuji kepandaian gadis cilik itu.
Hal ini membuat hati Siauw Ma makin gemas dan mendongkol, apa lagi ketika dilihatnya gadis kecil itu tersenyum dengan manisnya dan mulutnya cengar-cengir sambil telunjuknya menuding-nuding ke arah Siauw Ma seakan sedang mentertawakan sesuatu yang lucu!
Dengan marah yang meluap-luap Siauw Ma meloncat maju dan angkat tangan hendak menyerang, tapi entah mengapa, tiba-tiba ia berhenti dan tidak lanjutkan serangannya.
Ia lihat anak itu demikian mungil dan manis, juga tubuhnya demikian lemah tampaknya, maka hatinya tidak tega untuk menyerang.
Ia lalu menghadapi empek tua itu sambil berkata marah.
"Hei, pencangkul tanah tua! Kalau kau benar-benar seorang laki-laki, janganlah kau bersembunyi di balik cucumu! Kau majulah sendiri untuk buktikan bahwa ilmu kepandaianku rendah dan salah. Majulah dan mari kita coba-coba sebagai laki-laki sejati."
Siauw Ma marah sekali dan tubuhnya sampai menggigil karena menahan nafsu marahnya.
Kakek itu tertawa bergelak-gelak, mukanya berseri gembira dan ia memandang kepada Siauw Ma dengan kagum.
Ia suka sekali sikap jantan dari pemuda itu biarpun pemuda itu ia anggap sombong dan sembrono.
"Aku Souw Cin Ok selama menjadi orang belum pernah membohong!"
Katanya dengan suara keras, tetapi senyumnya masih belum meninggalkan wajahnya.
"Memang betul seperti yang kukatakan tadi ilmu silatmu masih mentah dan jauh dari pada sempurna. Kalau kau mau bukti, sekarang begini saja. Coba kau dan kawan-kawanmu maju mengeroyokku. Kalau aku sampai kena terpukul atau tertendang satu kali saja, aku menyerah kalah dan kata-kataku tadi akan kutarik kembali dengan pernyataan maaf. Nah, mulailah kalian bertujuh menyerangku!"
Para pemburu itu adalah orang-orang gagah yang setiap hari menghadapi bahaya di dalam hutan dan yang sering bertempur dengan binatang buas hingga hati mereka menjadi tabah dan berwatak keras tidak mau kalah.
Kini mendengar tantangan seorang kakek, mereka merasa heran sekali.
Akan tetapi, si pengisap pipa yang sudah banyak pengalaman dan dari gerak-gerik anak perempuan itu telah maklum bahwa kakek ini tentu memiliki kepandaian tinggi, tidak ragu-ragu lagi dan berkata kepada kawan-kawannya.
"Ada orang gagah hendak memberi petunjuk, mengapa sangsi dan ragu-ragu? Hayo, majulah dan mari kita lihat sampai di mana kelihaiannya!"
Lalu dengan pipanya yang panjang ia menyerang.
Ternyata pipa itu dapat digunakan sebagai senjata yang ampuh karena dipakai menotok jalan darah.
Siauw Ma dan kawan-kawannya lalu maju berbareng mengeroyok.
Biarpun mereka itu bergerak dengan kasar dan sungguh-sungguh, namun sedikitpun tiada terkandung dalam hati mereka untuk mencelakakan orang tua itu, maksud mereka hanya ingin merobohkannya untuk mendapat kemenangan.
Dengan demikian sikap mereka itu tiada ubahnya seperti anak-anak yang sedang bermain-main dan haus akan kemenangan.
Demikianpun Siauw Ma.
Karena ia tadi dicela ilmu tendangannya, kini ia khusus gunakan ilmu tendangan untuk mencoba merobohkan orang tua itu.
Terhadap orang tua itu yang juga seorang laki-laki, Siauw Ma tidak bersikap ragu-ragu lagi dan ia kerahkan semua tenaga serta keluarkan seluruh kepandaiannya.
Sebetulnya tendangan berantai yang dilakukannya adalah pecahan dari ilmu tendangan Soan-hong-twi atau Tendangan Kitiran Angin, hanya yang belum diyakinkan sempurna jadi hilang daya kekuatan dan kelihatannya.
Para pemburu lain menggunakan kepalan tangan untuk menyerang, jadi di antara ke tujuh pengeroyok itu, hanya si pengisap saja yang menggunakan senjata pipa, tapi itupun hanya untuk memperlihatkan kemahirannya menotok belaka, sedangkan semua serangannyapun bukan dilakukan untuk mematikan lawan.
Tapi pada saat mereka maju berbareng, mereka terkejut dan pandangan mata mereka menjadi kabur karena tiba-tiba tubuh kakek petani tua itu berkelebat dan lenyap.
Ketika mereka sedang bingung, terdengar suara tertawa kakek itu yang ternyata telah berdiri sambil tolak pinggang di tempat kira-kira tiga tombak jauhnya!
Ketujuh orang pemburu itu lari mengejar dan beramai-ramai menyerang lagi, tapi kini kakek tua yang mengaku bernama Souw Cin Ok itu memperlihatkan ketangkasannya.
Ternyata ilmu ginkangnya sangat tinggi karena di antara sambaran tangan ke tujuh orang lawannya, ia dapat berkelit ke sana ke mari dengan lincah bagaikan burung terbang dengan enaknya menghindari semua pukulan, dorongan dan tendangan.
Gerakannya demikian cepat hingga kedua tangannya di mata ke tujuh lawannya seolah-olah menjadi berpuluh yang dapat bergerak dan menangkis semua pukulan!
Lama-kelamaan ke tujuh orang pemburu itu, terutama Siauw Ma yang menyerang paling hebat, merasa pusing dan pandangan mata mereka berkunang-kunang.
Pada saat itu tiba-tiba terdengar jeritan Lian Eng.
Jerit ini demikian ganjil karena suaranya seakan-akan tertahan dan beda dengan suara atau jerit lain anak perempuan.
Semua orang berhenti bergerak dan cepat menengok ke arah di mana Lian Eng tadi berdiri.
Juga Souw Cin Ok cepat membalik dan memandang.
Alangkah terkejut mereka ketika melihat seekor makhluk berbulu putih yang aneh sekali.
Makhluk itu tubuhnya seperti manusia, tapi bulunya putih dan lebih tinggi sedikit setengah kaki dari pada manusia biasa.
Sepasang matanya mengeluarkan cahaya kilat dan hidung serta mulutnya tertutup bulunya yang panjang.
Kedua lengan tangannya yang panjang memeluk Lian Eng dan memanggul gadis kecil itu di pundaknya.
Lian Eng mengeluarkan suara ha-ha-hu-hu dan jari-jari tangannya bergerak-gerak ke arah Souw Cin Ok.
Pada saat itu barulah semua pemburu dapat menduga bahwa gadis itu sebenarnya adalah seorang gagu!
Ketika si pengisap pipa melihat makhluk yang aneh itu, tubuhnya menggigil dan wajahnya berubah pucat.
Tak terasa pipa yang terpegang di tangannya terlepas dan jatuh ke atas tanah.
"Dia... dia... manusia salju..."
Bisiknya gagap.
Kawan-kawannya terkejut dan memandang ketakutan.
Souw Cin Ok melihat cucunya dipanggul oleh makhluk itu dan agaknya hendak dibawa lari, segera berseru panjang dan keras dan tahu-tahu tubuhnya telah meloncat melayang ke arah makhluk itu.
"Lepaskan cucuku!"
Bentaknya lalu menyerang dengan kepalan keras ke arah kepala makhluk itu dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya bergerak hendak merampas cucunya.
Tapi alangkah heran dan terkejutnya ketika makhluk itu ternyata gesit sekali, karena dengan loncat ke samping ia hindarkan pukulan Cin Ok, sedangkan tangan kanannya bergerak menangkis cengkeraman tangan kiri kakek itu!
Ketika lengan tangan mereka beradu, Souw Cin Ok merasa betapa tenaga makhluk itu tidak di sebelah bawah tenaganya sendiri.
Souw Cin Ok bersilat dengan hati-hati karena ia tahu bahwa yang berada di depannya dan hendak menculik cucunya bukanlah sembarang binatang.
makhluk itu ternyata bergerak menurut gerakan ilmu silat yang sempurna sekali!
Baik lwee-kang maupun ginkangnya, makhluk itu sungguh-sungguh luar biasa hingga diam-diam Souw Cin Ok keluarkan keringat dingin.
Ia perhebat serangannya dan dengan jurus-jurus dari ilmu silat Tat-mo Kun-hwat yang lihai dengan dibarengi dengan tiam-hwat ia mencoba serang jalan darah di tubuh makhluk itu tapi lagi-lagi ia tercengang karena makhluk itu agaknya paham juga akan ilmu silat Tat-mo Kun-hwat dan dapat menangkis atau berkelit dengan menggunakan tipu-tipu dan gerakan ilmu silat itu juga!
Souw Cin Ok makin bingung, karena selain harus kerahkan tenaga dan kepandaian, ia juga harus berhati-hati jangan sampai kena pukul cucunya sendiri yang masih digendong oleh makhluk itu.
Tiba-tiba makhluk itu mengeluarkan suara nyaring dan keras, lalu tubuhnya melesat ke depan.
Gerakan ini luar biasa cepatnya, tapi Souw Cin Ok cepat loncat mengejar.
Makhluk itu terus lari sambil berloncatan cepat sekali menuju ke atas bukit!
Souw Cin Ok terus mengejar tapi ketinggalan.
"Mereka menuju ke Bukit Harimau Salju!'' si pengisap pipa berseru keras. Tiba-tiba Siauw Ma loncat maju.
"Aku akan susul mereka!"
"Jangan, Siauw Ma! Kembalilah kau, berbahaya di sana, Siauw Ma...! Kembalilah!"
Tapi pemuda itu sudah lari jauh dan tak perdulikan teriakan si pengisap pipa.
Kini semua pemburu berteriak-teriak memanggil nama Siauw Ma dan mereka ikut lari mengejar.
Tapi sebentar saja Siauw Ma telah lenyap di antara gerombolan pohon yang lebat hingga kawan-kawannya yang tadinya mengejar menjadi ragu-ragu dan kembali karena memang hutan di atas bukit itu merupakan hutan berbahaya dan belum pernah mereka memasukinya.
"Ah, anak itu memang terlalu keras hatinya! Ia bisa berbuat apa terhadap manusia salju yang hebat itu? Sedangkan Souw Cin Ok Lo-Enghiong yang sedemikian lihainyapun tidak berdaya terhadap manusia salju itu. Apa pula Siauw Ma yang terhadap gadis cilik itu saja sudah kalah!"
Demikianlah, dengan bingung dan cemas ke enam pemburu itu kembali ke kampung mereka dan menceritakan halnya Siauw Ma kepada ibu anak muda itu.
Ibunya menangis keras dan bingung juga karena ia tidak tahu bagaimana nasib putera tunggalnya itu.
Tapi para pemburu menghiburnya dengan memastikan bahwa Siauw Ma yang cerdik dan berhati baik itu tentu takkan mengalami bencana.
Sampai berhari-hari para pemburu itu tiada hentinya mempercakapkan hal Souw Cin Ok yang lihai, gadis kecil yang luar biasa dan gagu itu, lalu membicarakan Siauw Ma dengan hati makin khawatir.
Souw Cin Ok yang mengejar makhluk aneh yang menculik cucunya itu gunakan ilmu lari Hui-hen-sui yang telah dipelajari berpuluh tahun dan sudah hampir sampai di puncak kesempurnaan, namun ia masih tak mampu mengejar makhluk itu.
Setelah sampai dalam sebuah hutan yang gelap, makhluk itu telah lenyap dari pandangan mata hingga hatinya menjadi bingung sekali.
Namun ia tidak putus asa dan terus saja lari ke arah puncak bukit, karena ia yakin bahwa di atas puncak itulah sarang makhluk aneh itu.
Ia telah ambil keputusan untuk bertempur mati-matian untuk membela cucunya.
Ketika ia sudah mendekati puncak bukit dan hutan makin liar, tiba-tiba, dari belakang sebuah pohon menyambar keluar bayangan yang besar dan berat menerkamnya!
Biarpun sedang lari dengan pikiran bingung, namun Souw Cin Ok yang telah berpengalaman itu tidak kurang waspada.
Ia loncat ke samping sambil berkelit.
Ternyata yang menyerangnya adalah seekor biruang yang lain, beruang ini bulunya berwarna putih, hanya moncongnya berwarna hitam dan ujungnya yang merupakan bibir berupa merah darah.
Beruang itu karena tubrukannya meleset, berdiri di atas kaki belakangnya sambil memandang kepada Souw Cin Ok dengan menyeringai memperlihatkan gigi dan calingnya yang hebat dan mengeluarkan suara geraman yang menggetarkan daun-daun pohon.
Tiba-tiba beruang yang telah puas memandang lawannya yang kecil tapi gesit itu mengeluarkan gerengan dan menubruk secepatnya.
Kedua kaki depannya dengan kuku keluar merupakan cakar yang menyeramkan bergerak ke arah dada dan leher Souw Cin Ok.
Tapi kakek tua itu cepat loncat ke kanan dan berbareng mengirim tendangan dengan kaki kirinya ke arah perut beruang itu.
Heran sekali, beruang yang bertubuh besar dan berat itu ternyata dapat bergerak hebat dan gesit.
Sekali ia mengegos saja tendangan Souw Cin Ok yang lihai itu dapat dikelitnya!
Timbul gemas dan marah dalam hati Souw Cin Ok.
Hari ini benar-benar ia sedang bernasib malang!
Baru saja bertemu dengan seekor makhluk aneh yang menculik cucunya, kini diserang oleh seekor beruang yang luar biasa pula!
Ia lalu gunakan kegesitannya untuk mendahului gerakan binatang itu yang bagaimanapun juga masih kalah jauh olehnya.
Sebelum beruang itu dapat memutar tubuh, Souw Cin Ok sudah mendahului loncat ke sebelah kirinya dan kirim tonjokan ke arah lambung.
"Buk!"
Dan beruang itu terpental setombak lebih sambil menggereng kesakitan.
Tapi di luar dugaan Souw Cin Ok binatang itu cepat bangun lagi dan tampak masih segar dan gesit seakan-akan pukulannya tadi tidak melukainya.
Pada hal pukulan yang digunakan olehnya tadi adalah pukulan Cian-kin-lat atau Tenaga Pukulan Seribu Kati!
Jangankan terpukul tepat pada lambungnya, baru keserempet saja kalau lawannya seorang manusia yang tidak sangat tinggi ilmu lwee-kangnya pasti akan roboh binasa atau setidak-tidaknya mendapat luka dalam yang berat!
Tapi binatang itu begitu jatuh lantas bangun lagi seperti juga pukulannya tadi tak berarti apa-apa dan hanya berhasil membikin terpental belaka!
Souw Cin Ok penasaran dan marah sekali.
Sambil berseru keras ia mencabut po-kiamnya yang tertempel di punggung karena ia merasa takkan dapat memperoleh kemenangan tanpa menggunakan pedangnya.
Beruang itu agaknya tahu akan kelihaian po-kiamnya karena kini ia bercuitan dan gerakannya lambat, seakan-akan sudah siap hendak lari kabur.
Tapi Souw Cin Ok tidak mau memberi hati kepadanya.
Ia serang beruang itu dengan hebat dan ganas.
Setelah beberapa bacokan dan tusukannya dapat dikelit atau ditangkis, akhirnya ia berhasil juga menusuk tenggorokan beruang itu hingga tembus dan binatang besar itu menggeletak dan mati seketika itu juga.
Dengan terengah-engah Souw Cin Ok duduk mengaso dan membersihkan pedangnya dari darah beruang.
Ia memandang ke arah puncak dan bergidik.
Ternyata Puncak Harimau Salju itu tertutup salju putih dan keadaannya penuh rahasia, seakan-akan diliputi sesuatu yang menyeramkan dan tak mudah diterka apakah yang terkandung oleh puncak itu.
Dengan tabah Souw Cin Ok lalu melanjutkan perjalanannya.
Kini ia melalui jalan yang tertutup salju tipis yang makin ke atas makin tebal.
Hawa bukan main dinginnya.
Setelah tiba di tempat yang tinggi di mana salju bertumpuk tebal dan keadaan alam di sekitarnya seakan-akan mati, tanpa tampak sesuatu yang bergerak dan tak terdengar sesuatu yang berbunyi, ia berdiri diam bagaikan patung.
Jalan mana yang harus diambil?
Puncak di situ banyak sekali, lebih dari delapan buah, yang satu lebih tinggi dari yang lain.
Ternyata bahwa Gunung Harimau Salju adalah besar dan luas, serta mempunyai banyak puncak.
Tiba-tiba dari puncak terdekat terdengar suara auman harimau yang ganjil bunyinya.
Suara itu demikian rendah menggetarkan hingga Souw Cin Ok yang berhati tabahpun merasa dadanya berdebar.
Tapi ia sudah nekat dan telah mengambil keputusan lebih baik mati dari pada tidak berhasil menolong cucunya yang ia sayang.
Maka dengan hati tetap ia lalu lari di atas salju menuju ke puncak dari mana terdengar suara auman keras tadi.
Dari tempatnya berdiri tadi, puncak itu tampak dekat dan tidak tinggi.
Tapi setelah dijalani ternyata luar biasa jauhnya dan sangat tinggi hingga setelah matahari hampir menghilang di balik puncak tertinggi di barat, ia baru sampai di lereng puncak itu!
Souw Cin Ok merasa lelah sekali karena selain harus lari cepat, ia harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk membuat darahnya mengalir cepat hingga tubuhnya menjadi hangat dan dapat melawan serangan hawa dingin yang menyusup tulang.
Ketika ia sedang duduk di atas salju, tiba-tiba telinganya menangkap suara tindakan dari balik karang es.
Ia cepat berdiri dan siap sedia menghadap segala kemungkinan.
Ternyata yang ke luar dari balik karang es itu adalah seekor harimau yang luar biasa besarnya.
Harimau itu putih meletak, bulunya dan matanya mengeluarkan sinar kuning yang berkeredepan.
Lidahnya yang panjang dan merah terjulur keluar seakan-akan seekor anjing sedang kepanasan!
Harimau itu berdiri diam tak bergerak, hanya dadanya turun naik karena pernapasannya dan ke dua matanya memandang ke arah Souw Cin Ok dengan heran dan tak acuh!
"Celaka!"
Souw Cin Ok diam-diam mengeluh.
Ia melihat harimau itu demikian besar dan tampaknya kuat sekali, jauh lebih kuat dari beruang yang sudah dibunuhnya tadi!
Mengalahkan beruang tadi saja sudah sangat sukar baginya, apa pula harimau ini.
Aku harus mendahuluinya, pikirnya.
Tanpa ragu-ragu lagi Souw Cin Ok mencabut pedangnya dan dengan cepat sekali ia loncat menerjang dan sabetkan pedangnya ke arah leher harimau itu!
Harimau salju itu tidak gugup, juga tidak berkelit, tapi ekornya yang panjang bergerak menyampok dan pedang Souw Cin Ok beradu dengan ekor itu yang tiba-tiba berubah menjadi keras seperti toya baja!
Souw Cin Ok rasakan tangannya tergetar dan bukan main heran serta kagetnya melihat betapa harimau itu bertempur dengan cara demikian luar biasa, bukan seperti harimau biasa yang mencakar dan mengigit, tapi menggunakan ekor sebagai toya dan gerakannya seakan-akan seorang ahli silat saja!
Ia menyerang lebih hebat, tapi ternyata binatang itu cerdik sekali.
Gerakannya lincah dan ekornya yang panjang dan besar berputar cepat mengikuti gerakan pedangnya dan ekor itu dapat melindungi seluruh tubuhnya.
Kemudian, setelah beberapa lama mempertahankan diri saja, tiba-tiba harimau itu menjadi marah dan balas menyerang.
Dan bukan main hebatnya serangan balasan ini, karena binatang itu sekaligus gunakan cakar, ekor, dan giginya untuk menyerang Souw Cin Ok yang menjadi sibuk mempertahankan diri!
Kini harimau itulah yang menjadi penyerang dan perlahan-lahan Souw Cin Ok mundur dengan napas terengah-engah karena sesungguhnya ia sudah lelah sekali dan kini harimau aneh itu menyerang dengan mempergunakan tenaga yang luar biasa besarnya!
Memang kalau dilihat lucu sekali.
Ia, Souw Cin Ok yang sudah terkenal di kalangan kang-ouw sebagai seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi dan jarang tandingannya, kini terpaksa mundur dan terdesak melawan seekor harimau saja, terus diserang dengan hebat tanpa dapat membela sedikit juga.
Dan yang membuat Souw Cin Ok tak habis heran dan terkejutnya ialah bahwa seakan-akan harimau ini kenal akan tipu-tipu ilmu pedangnya!
Agaknya harimau salju ini tahu ke mana pedangnya hendak bergerak, dan tahu pula perubahan gerakan pedangnya.
Diam-diam ia mengeluh dan mulai menipislah harapannya untuk terlolos dari desakan binatang itu.
Pada suatu saat ketika ia loncat ke samping menghindarkan kuku harimau yang mencakarnya, ia menusuk ke arah lambung harimau itu dengan gerakan Han-ya-pok-cui atau Goak Menyambar Air, sebuah tipu dari Ilmu Pedang Tat-mo-kam-hwat, tiba-tiba ekor harimau itu menyambar dari samping demikian kerasnya hingga pedang Souw Cin Ok terlepas dari pegangannya!
"Matilah aku hari ini!"
Kakek tua itu mengeluh dengan kaki lemas karena tenaganya telah habis.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan harimau yang sudah siap menubruk itu tiba-tiba terduduk di atas kedua kaki belakangnya dan ekornya digoyang-goyangkan tanda girang!
Dari balik batu es yang merupakan karang itu muncullah seorang tua berpakaian seperti pelayan seorang pembesar.
Melihat pakaiannya yang rapi itu, Souw Cin Ok serasa dalam mimpi karena orang itu lebih tepat berdiri dalam sebuah gedung besar di kota melayani seorang pembesar.
Tapi pelayan ini berdiri di sini, di bukit salju yang sunyi senyap dan liar penuh binatang buas yang luar biasa!
Pelayan tua itu menjura memberi hormat kepada Souw Cin Ok dan berkata dengan suara hormat.
"Maaf, Souw Sianseng, kalau binatang peliharaan kami menganggumu! Majikanku mempersilahkan tuan Souw masuk ke istana. Silahkan ikut saya, tuan Souw."
Suara dan lagaknya tiada ubahnya seorang pelayan tulen dari seorang pembesar tinggi di kota!
Souw Cin Ok berdiri bengong dan bagaikan dalam mimpi ia ikuti pelayan itu.
Pelayan itu dengan perlahan jumput pedang Souw Cin Ok yang terpental tadi dan berikan pedang itu kepada Souw Cin Ok, kemudian sambil berkata kepada harimau salju tadi.
"Hayo kita pulang!"
Ia berjalan cepat di atas salju!
Souw Cin Ok terpaksa gunakan ilmu lari cepat untuk mengejar pelayan itu yang ternyata biarpun kelihatan berjalan biasa saja, namun ia telah maju sangat pesatnya hingga harimau salju itu pun harus lari keras agar jangan tertinggal!
Melihat Souw Cin Ok ketinggalan, pelayan itu berpaling dan berhenti sambil tersenyum.
Souw Cin Ok terlihat telah lelah sekali karena merasa betapa perlahan-lahan tubuhnya terasa dingin, tanda bahwa tenaga dalamnya hampir tak kuat menahan serangan hawa dingin.
Maka ia berkata.
"Tuan Souw sangat lelah. Silahkan naik ke punggung Pek-houw saja. Hei, Pek-houw, mari sini!"
Harimau salju yang sudah lari di depan lalu putar tubuhnya dan kembali menghampiri pelayan itu sambil goyang-goyangkan ekornya.
"Hayo kau gendong tamu kita yang terhormat ini. Ia sudah lelah sekali!"
Mula-mula harimau itu memandang kepada Souw Cin Ok dengan mata curiga dan marah, tapi ketika sinar matanya bertemu dengan pandang mata Souw Cin Ok yang kini tidak marah dan benci padanya, ia segera menghampiri kakek tua itu dan setelah dekat lalu membalikkan tubuh dan berlutut!
"Naiklah ke punggungnya, tuan Souw!"
Pelayan itu mempersilahkan.
"Nanti dulu, Lauw-te,"
Jawab Souw Cin Ok.
"Sebetulnya siapakah kau dan siapa pula yang menyuruhmu mengundangku?"
Pelayan itu tersenyum.
"Saya ialah pelayan, tak lebih tak kurang. Dan karena saya pelayan, maka tentu saya mempunyai majikan. Dan saya diperintah oleh majikan saya untuk menjemput tuan. Tentang hal majikanku, biarlah tuan melihat sendiri nanti, karena perintahnya supaya saya segera membawa tuan menghadap dan saya tidak berani buang-buang waktu di jalan. Silahkan, tuan Souw, si Pek-houw telah siap!"
Terpaksa karena memang sangat lelah, Souw Cin Ok duduk di atas punggung harimau itu seperti naik kuda.
Berlawanan dengan kelihatannya, punggung harimau itu hangat dan empuk sekali hingga enak benar duduk di atas punggungnya.
"Pegang lehernya, tuan Souw. Ia akan lari keras!"
Untung pelayan itu memberi peringatan, kalau tidak, mungkin sekali Souw Cin Ok akan terpelanting jatuh karena tiba-tiba saja harimau itu lari dan meloncat ke depan bagaikan terbang cepatnya!
Ketika Souw Cin Ok memandang ke arah pelayan itu, ternyata si pelayan telah berada di samping harimau dan lari cepat sekali hingga pelayan dan binatang itu lari berendeng selalu!
Bukan main kagum hati Souw Cin Ok dan diam-diam ia mengaku kalah dalam hal ilmu lari cepat dengan binatang maupun dengan pelayan itu.
Kalau baru pelayannya saja kepandaiannya sudah demikian hebat, apa pula majikannya!
Demikianlah Souw Cin Ok berpikir sambil pegang leher harimau kuat-kuat agar tak sampai terpelanting jatuh.
Ternyata mereka lari menuju ke puncak sebelah selatan.
Tak lama kemudian berhentilah mereka di depan sebuah gua yang berpintu batu besar warna hitam.
Souw Cin Ok heran dan kagum melihat pintu batu itu karena pintu itu terukir indah merupakan dua naga yang berebut mustika.
Salju di situ tebal sekali dan hawapun dingin bukan main.
Souw Cin Ok merasa betapa muka dan ujung jari tangannya bagaikan mati dan beku.
Pelayan itu menghampiri pintu batu dan dengan tangan kiri ia dorong pintu itu hingga menggeser ke samping, masuk ke dalam gua.
Souw Cin Ok taksir bahwa pintu batu itu beratnya paling sedikit tentu seribu kati, tapi dengan mudah saja tangan kiri pelayan itu dapat mendorongnya ke samping!
Pertunjukan kekuatan ini kembali membuat ia diam-diam menghela napas kagum.
Harimau itu mendahului mereka meloncat masuk ke dalam gua.
"Tuan Souw, silahkan masuk,"
Pelayan itu berkata hormat.
Setelah Souw Cin Ok masuk, pelayan itupun masuk ke dalam gua dan dari dalam ia geser pintu itu menutupi gua kembali.
Tapi Souw Cin Ok merasa heran sekali karena biarpun ditutup dari luar, di dalam gua itu terang dan ia dapat melihat sekelilingnya dengan jelas.
Pelayan itu membawanya melalui sebuah terowongan yang berlantai es tapi berdinding batu hitam.
Terowongan itu panjang, tapi di dalamnya tetap terang, entah dari mana datangnya sinar yang menerangi terowongan itu.
Setelah berjalan melalui terowongan yang panjangnya tidak kurang dari dua lie itu, mereka tiba di tempat yang luas, tapi Souw Cin Ok tahu bawah tempat itu masih berada di bawah tanah atau merupakan tempat di dalam gua yang luar biasa besarnya.
Yang membuat ia heran adalah hawa di situ tetap segar dan keadaan terang sekali, tak berbeda dari keadaan di luar gua, sedangkan jika ia melihat ke atas, jelas bahwa di atas mereka adalah langit-langit dari batu karang berwarna hitam yang mengkilap!
Tempat apakah begini aneh?
Dari tempat yang luas itu mereka memasuki sebuah pintu di sebelah kiri, pintu terbesar di antara banyak pintu-pintu di situ.
"Tuan Souw, silahkan masuk ke istana Tai-jin!"
Biarpun merasa heran ada sebutan Tai-jin yang artinya hampir sama dengan pembesar atau paduka yang mulia dalam tempat ajaib ini, Souw Cin Ok tidak berani membantah.
Ia mengulurkan tangan hendak membuka pintu itu, tapi tiba-tiba ia meloncat mundur.
Hatinya berdebar karena dari pintu kanan keluarlah seekor makhluk tinggi besar berwarna putih.
Inilah makhluk yang menculik Lian Eng tadi!
Souw Cin Ok segera mencabut pedangnya dan siap hendak menyerang!
Tapi pelayan itu dengan halus menangkap lengan tangannya mencegah.
Souw Cin Ok merasa betapa telapak tangan pelayan itu lunak bagaikan kapas tapi mengandung tenaga dalam yang hebat.
"Tuan Souw, sabarlah! Adakah seorang tamu terhormat hendak mengacau rumah tangga tuan rumahnya?"
Souw Cin Ok menjadi malu dan mukanya berubah merah, tapi ia membela diri.
"Dia... dia... itu telah menculik cucuku!"
Pelayan itu tersenyum.
"Bukan dia yang berbuat itu, tuan Souw. Lihat yang betul. Dia ini betina, bukankah yang menculik cucumu itu jantan?"
Mendengar sebutan itu tahulah Souw Cin Ok bahwa yang disangka manusia salju itu bukan lain ialah sebangsa monyet atau orang hutan yang besar dan berbulu putih.
Tapi bagaimana pelayan ini tahu bahwa cucunya telah terculik?
Rahasia semua ini tentu terletak dalam tangan "majikan"
Istana ini!
Memikir demikian, Souw Cin Ok segera mendorong pintu itu dan masuk.
Di dalamnya terdapat sebuah ruangan besar yang takkan pernah ia duga akan terdapat di tempat seperti itu.
Lantainya mengkilap, terbuat dari pada batu putih yang indah.
Dinding-dinding yang berwarna putih pula terhias lukisan-lukisan indah dan di sana-sini tergantung twie-lian yang ditulisi syair-syair kuno yang terkenal.
Di ujung ruangan sebelah dalam tampak duduk seorang yang berpakaian sebagai seorang Ti-hu.
Orang itu bertubuh gemuk pendek, pakaiannya berwarna kuning berkembang biru, kopiahnya berwarna hitam.
Pada saat itu dia sedang duduk di atas sebuah bangku tebal yang tampaknya bagaikan terbuat dari pada batu yang berwarna putih mengkilap mengeluarkan sinar.
Walaupun hawa di situ dingin sekali, namun pembesar aneh itu duduk di atas batu putih itu dengan pakaian terbuka di bagian dada dan Souw Cin Ok melihat betapa dada itu basah karena peluh!
Juga dari kepala dan leher orang itu tampak uap mengepul ke atas.
Di sebelah kiri orang itu duduk seekor makhluk dan ketika Souw Cin Ok memperhatikannya, ternyata ia adalah kera putih yang tadi menculik cucunya.
Dan betul saja, di sudut itu tampak Lian Eng sedang duduk dengan anteng sambil menggerogoti sebutir buah warna merah yang menyiarkan bau wangi dan sedap.
Tampaknya Lian Eng sedang menikmati buah itu karena ia tidak tahu bahwa engkongnya masuk ke ruangan itu.
Souw Cin Ok merasa betapa dadanya berdebar keras, tapi ia tahan nafsu hatinya yang hendak lari memeluk cucunya.
Ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang berilmu tinggi, maka ia tidak berani berlaku kasar.
Dengan hormat sekali ia maju menghampiri dan berlutut di depan orang gemuk pendek itu sambil berkata.
"Hamba Souw Cin Ok datang menghadap."
Ia tidak tahu harus menyebut apa kepada orang itu.
Melihat wajahnya, orang itu tentu lebih tua darinya sendiri, sedikitnya tentu enam puluh tahun usianya.
Orang gemuk itu batuk-batuk dan berkata dengan keras.
"Ha, bukankah kau Souw Cin Ok, kakek anak ini?"
Souw Cin Ok angkat muka memandang dan terkejutlah ia ketika pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang bagaikan sinar matahari membuat silau pandangan matanya! Ia tunduk kembali dan berkata.
"Benar Tai-jin!"
Ia teringat bahwa pelayan tadi menyebut orang ini. Tiba-tiba kamar itu penuh dengan suara tertawa yang keluar dari mulut si gemuk itu.
"Jangan kau sebut aku Tai-jin! Pelayanku boleh menyebut aku demikian, tapi kau tidak! Dengar baik-baik, aku adalah Beng Beng Hoatsu, karena dulu pernah menjadi Ti-hu maka orang orang masih menyebutku Tai-jin saja.
"Ha-ha-ha! Dan aku memang paling senang disebut Tai-jin dan berpakaian seperti seorang Ti-hu! Betapa tidak! Memang senang menjadi pembesar yang adil. Hai, Souw Cin Ok! Bukankah kau sedang mencarikan seorang guru yang pandai untuk mengajar cucumu ini?"
Ketika mendengar bahwa ia berhadapan dengan Beng Beng Hoatsu, bukan main terkejut hati Souw Cin Ok.
Pernah ia mendengar dari suhunya bahwa Beng Beng Hoatsu adalah seorang di antara orang-orang aneh dan gaib yang berilmu tinggi sekali di zaman itu!
Maka sikapnya makin hormat ketika ia menjawab.
"Benar, Locianpwe, maksud teecu ialah mencari suhu di puncak bukit Hong-Lun-San di sebelah utara."
"Hmm, aku tahu, aku tahu! Bukankah suhumu adalah Hwat Kong Tosu Si Tongkat Iblis! Ha-ha-ha! Kenapa harus jauh-jauh mencari dia? Aku tidak kalah lihai darinya."
Ucapan tekebur ini membuat Souw Cin Ok merasa tak senang dan berbareng kaget karena ia menduga tentu orang aneh ini bermaksud buruk.
"Apa... apa maksud Locianpwe?"
Tanyanya perlahan. Tiba-tiba Beng Beng Hoatsu memandang tajam dan suaranya menggema keras.
"Anak perempuan gagu ini harus tinggal di sini. Ia berbakat baik dan aku ingin ambil dia sebagai murid. Nah, sekarang kau pergilah dari sini!"
"Maaf, Locianpwe, biarpun dengan sangat menyesal, terpaksa teecu tidak berani tinggalkan Lian Eng di sini."
"Apa katamu? Kau berani menghalangi kehendakku?"
Uap yang mengepul dari tubuh Beng Beng Hoatsu makin tebal dan ketika Souw Cin Ok memandang lebih teliti, ternyata yang diduduki orang aneh itu adalah sepotong es salju yang besar!
Kini es itu mulai lumer di bawah tubuh yang gemuk pendek sedangkan dadanya yang terbuka makin basah karena peluhnya makin banyak keluar, tanda bahwa tubuh itu panas sekali!
"Jangan kurang ajar!
Hayo pergi dari sini dan jangan kembali sebelum sepuluh tahun kemudian untuk menjemput cucumu!"
Beng Beng Hoatsu gerak-gerakkan ujung lengan bajunya yang lebar dan dari kebutan itu keluarlah tenaga yang besar sekali ke arah Souw Cin Ok yang membuatnya terjengkang ke belakang!
Souw Cin Ok berdiri cepat dan memandang dengan tajam dan tak kenal takut.
"Baik, Locianpwe! Teecu telah menerima kebaikanmu. Sebulan lagi kita bertemu."
"Ha, ha! Kau mau panggil, gurumu? Baik, baik, sudah lama aku tidak bertemu dengan Hwat Kong."
Souw Cin Ok melihat ke arah cucunya yang masih duduk di situ dengan bengong. Anak perempuan itupun memandangnya dan Souw Cin Ok merasa hatinya diremas-remas.
"Lian Eng, jaga diri baik-baik, ya!"
Gadis kecil itu hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Biarpun gagu, namun Lian Eng dapat mendengar dengan baik, karena sebenarnya yang tidak bekerja hanya alat pembunyi dalam tenggorokannya.
Souw Cin Ok lalu selangkah keluar dari ruangan itu.
Di luar pintu sudah menanti pelayan tadi.
"Tuan Souw, kau hendak ke mana?" (Lanjut ke
Jilid 02) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02
"Pergi dari sini tentunya, ke mana lagi?"
Jawabnya singkat.
"Pergi? Bisakah kau pergi dari sini pada saat seperti sekarang?"
Souw Cin Ok tidak mengerti maksudnya tapi karena hatinya jengkel, ia tidak memperdulikan pelayan itu, tapi terus lari keluar dengan cepat.
Ketika tiba di belakang pintu besar itu, ia mencoba untuk mendorongnya ke samping.
Tapi ternyata tenaganya belum cukup untuk melakukan hal ini.
Ia mengeruhkan tenaga lagi, tapi sia-sia.
Tiba-tiba terdengar suara tawa tertahan di belakangnya.
Ketika menengok, ia melihat bahwa pelayan tadi telah berdiri di belakangnya.
"Kau mau keluar juga, tuan Souw? Biarlah saya bukakan pintunya untukmu,"
Pelayan itu berkata dan dengan mudah saja ia dorong daun pintu itu ke samping.
Tapi ketika pintu sudah terbuka, Souw Cin Ok menjadi tercengang dan menahan tindakan kakinya.
Di luar gua gelap gulita, hitam pekat tak tampak apa-apa.
Hanya di langit tampak beberapa puluh bintang berkelap-kelip.
Baru sekarang Souw Cin Ok teringat bahwa saat itu malam telah lama tiba.
Tak mungkin ia turun dari puncak itu dalam gelap, karana perjalanan sangat berbahaya.
Terpaksa ia harus bermalam di gua itu.
Souw Cin Ok menghela napas.
"Bagaimana, tuan Souw? Bukankah lebih baik bermalam di sini saja? Majikanku telah pesan supaya saya menyediakan sebuah kamar untukmu."
Souw Cin Ok mengangguk sunyi.
Ia tak kuasa berkata-kata lagi, dan dengan lesu diikutinya pelayan itu masuk lagi ke dalam setelah menutup pintu gua.
Mereka kembali ke ruang lebar itu dan pelayan itu membuka sebuah pintu di kanan lalu mempersilahkan Souw Cin Ok masuk.
Kamar itu kecil saja dan segi empat, tapi cukup menyenangkan dengan pembaringan kayu berada di ujung kamar.
"Mengasolah, tuan Souw, dan besok pagi-pagi kau bisa melanjutkan perjalananmu."
Habis berkata demikian, pelayan itu keluar dan menutup pintu kamar itu perlahan.
Souw Cin Ok telah penat sekali maka ia segera duduk di atas dipan kayu itu dan bersila memulihkan tenaganya.
Hampir setengah malam ia duduk tak bergerak, mengheningkan cipta dan menghisap hawa baru untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
Setelah hawa hangat dan segar mengalir ke dalam tubuhnya, baru dia berbaring untuk tidur.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pelayan telah membangunkannya.
"Tuan Souw, hari telah siang, bangunlah."
Souw Cin Ok bangun dan ketika ia keluar dari kamar itu, pelayan yang aneh itu telah berdiri menanti di luar pintu dan berkata.
"Sekarang, kau baru bisa berangkat, tuan Souw. Marilah kuantar keluar."
Setelah pintu batu dibuka dan berada di luar gua, Souw Cin Ok melihat betapa tempat itu adalah puncak yang tinggi dan tertutup salju. Matahari telah mengintip di ufuk timur.
"Bukankah Souw Sianseng hendak ke Gunung Hong-Lun-San?"
Souw Cin Ok memandangnya heran, tapi ia anggukkan kepala. Pelayan itu menunjuk ke arah utara.
"Di sanalah letak gunung itu, tapi jangan kau turun dari bukit ini dari sebelah utara, karena berbahaya sekali. Di sana banyak sekali air beku yang tipis sekali dan banyak bahaya jika kau melalui daerah itu. Kalau kurang hati-hati kau bisa injak bagian yang tipis dan tenggelam ke dalam air yang luar biasa dinginnya hingga sebelum sempat keluar lagi kau sudah akan beku! Maka lebih baik kau turun dari selatan, yakni dari tempat kita naik kemarin. Setelah sampai di kaki bukit, barulah kau memutar dan menuju ke timur lalu membelok ke arah utara."
Souw Cin Ok mengucapkan terima kasih, menjura kepada pelayan itu lalu lari turun gunung dengan cepat sekali.
Ia masih ingat jalan yang kemarin maka kali ini dapat turun lebih cepat dan lancar.
Ketika ia sampai di tempat di mana ia bertempur melawan beruang kemarin, ternyata bangkai beruang itu masih berada di situ tapi di bagian paha binatang itu telah ada yang mengambil dagingnya!
Ia tidak perhatikan hal ini lebih jauh, hanya cepat lari turun gunung.
Sesampainya di dalam hutan di bawah gunung di mana ia bertemu dengan Siauw Ma dan kawan-kawannya, ia melihat bahwa para pemburu yang kemarin masih berada di situ!
Pemburu-pemburu itu melihat Souw Cin Ok, menjadi sangat girang dan berlari-lari menyambutnya.
"Eh, Lo-Enghiong, kau sudah kembali dengan selamat?"
Si pengisap pipa datang-datang menegur.
"Bagaimana dengan cucumu? Dan apakah kau bertemu dengan Siauw Ma? Di mana dia kini berada?"
Tentu saja Souw Cin Ok tidak tahu bahwa Siauw Ma telah mengejarnya dan ikut naik gunung, maka ia tidak dapat menjawab, hanya balas bertanya.
"Kalian sedang menunggu apa? Apakah sejak kemarin kalian tidak tinggalkan tempat ini?"
Dengan singkat si pengisap pipa lalu ceritakan bahwa Siauw Ma telah lari mengejar ke atas dan bahwa mereka telah memberitahukan kepada ibu pemuda itu yang minta kepada mereka untuk menanti di situ dan menunggu kedatangan atau kembalinya Siauw Ma.
Baru tahulah Souw Cin Ok bahwa Siauw Ma pemuda yang berani dan jujur itu ikut mengejar ke atas.
Diam-diam ia khawatirkan keselamatan pemuda itu, karena pada saat itu ia sendiri sedang bingung memikirkan nasib cucunya, ia menjawab singkat.
"Aku tidak bertemu dengan Siauw Ma. Kalian tunggu sajalah di sini, kalau ia masih hidup tentu ia akan kembali. Tapi jangan sekali-kali kalian naik menyusul ke atas."
Kemudian tanpa banyak kata lagi Souw Cin Ok lari pergi tinggalkan Bukit Harimau Salju yang menjulang tinggi dan di mana ia berkali-kali mendapat kenyataan betapa ilmu kepandaiannya sebenarnya masih rendah sekali.
Ia percepat langkahnya untuk secepat mungkin menjumpai gurunya dan melaporkan segala kemalangannya dan minta pertolongan suhunya itu untuk merampas kembali cucunya!
Lian Eng semenjak diculik oleh kera salju dan dibawa ke dalam gua itu dan dihadapkan kepada Beng Beng Hoatsu telah tahu bahwa dirinya berada dalam tangan orang aneh dan luar biasa yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari kakeknya.
Walaupun ia sendiri tidak dapat bicara, tapi dari semua percakapan yang terjadi antara kakeknya dan pertapa gemuk itu, tahulah ia bahwa kakeknya tidak berdaya dan bahwa terpaksa ia harus tinggal dalam gua itu.
Sebenarnya ada juga rasa takut dan sedih di dalam hati Lian Eng ditinggal oleh kakeknya dan hidup seorang diri di antara orang-orang dan binatang-binatang aneh itu, tapi sebagai seorang gadis yang waspada dan cerdik sekali, ia tahu bahwa jika ia menjadi murid Beng Beng Hoatsu, maka kepandaiannya akan menjadi tinggi dan bahkan lebih tinggi dari kepandaian kakeknya sendiri yang sebelum ini sangat ia kagumi!
Maka di balik rasa takut dan sedih, ada juga rasa gembira dalam hatinya yang tabah.
Karena itu ia gunakan kecerdikannya dan tidak perlihatkan wajah murung, Bahkan sebaliknya ia selalu tersenyum kepada Beng Beng Hoatsu, kepada pelayan aneh, dan bahkan kepada dua ekor makhluk putih yang menjadi penghuni gua itu juga dan membantu pekerjaan pelayan.
Setelah kakeknya pergi, Beng Beng Hoatsu serahkan Lian Eng kepada pelayannya dan kepada kedua monyet putih besar yang ternyata mempunyai nama juga, yakni yang jantan disebut Wan Eng sedangkan yang betina bernama Wan Nio!
Sedangkan pelayan itu setelah mendapat perintah dari Beng Beng Hoatsu, segera bawa Lian Eng keluar gua dan di tempat terbuka ia mulai melatih gadis cilik itu dasar-dasar dari Ilmu Silat Sin-Liong Kun-Hwat yang luar biasa!
Ilmu silat ini adalah ciptaan Beng Beng Hoatsu, semacam ilmu silat gabungan, yang diambilkan dasarnya dari gerakan Im dan Yang sedangkan gerak kakinya menurutkan dasar peraturan Pat-kwa.
Beng Beng Hoatsu ketika mencipta Ilmu Silat Sin-Liong atau Naga Dewa, juga mencipta Ilmu Silat Pedang Sin-Liong-kiam-sut yang luar biasa lihainya hingga boleh dibilang pada zaman itu sukar dicari tandingannya.
Pelayan aneh itu dulu memang pelayan Beng Beng Hoatsu, yakni ketika pertapa aneh itu masih muda dan memangku jabatan Ti-hu.
Pelayan itu sangat setia dan adatnya baik dan jujur.
Maka ketika Beng Beng Hoatsu telah menjadi pertapa, ia teringat akan pelayannya itu dan mencarinya.
Dengan senang hati pelayan itu ikut padanya ke atas bukit dan menjadi pelayannya yang setia lagi.
Di samping menjadi pelayan, juga ia belajar silat dari Beng Beng Hoatsu yang mengajarnya secara sambil lalu saja, namun kepandaiannya sudah demikian hebat dan lihai.
Ini adalah karena biarpun sambil lalu, namun Beng Beng Hoatsu telah memberi dasar-dasar dari ilmu silatnya yang luar biasa.
Juga kedua orang utan salju itu, Wan Eng dan Wan Nio, setelah ditaklukkan oleh pelayan itu dibawa ke dalam gua, ternyata mendapat didikan istimewa hingga mereka yang memangnya cerdik sekali, dapat mengerti kata-kata manusia dan dapat berpikir secara manusia pula.
Kedua binatang itu juga mendapat bimbingan ilmu silat dari Beng Beng Hoatsu yang suka kepada mereka, hingga kedua binatang tersebut memiliki ilmu silat tinggi yang tidak mudah dimiliki oleh sembarang manusia!
Kini melihat Lian Eng, gadis kecil yang cantik manis tapi gagu itu, pelayan dan kedua binatang itu timbul rasa kasihan dan suka.
Terutama Wan Eng dan Wan Nio, mereka anggap gadis itu seakan-akan bangsanya sendiri yang tidak dapat bicara seperti manusia biasa!
Begitu mendapat ketika dan kesempatan, mereka segera mendekati Lian Eng dan ajak gadis itu bercakap-cakap dengan gerak jari tengah.
Lian Eng memang seorang anak yang luar biasa cerdiknya, pula karena gagunya, Ia mempunyai perasaan yang tajam dan halus, maka sebentar saja ia dapat membaca gerak jari tangan kedua monyet itu dengan baik, bahkan dapat menyatakan pikirannya dengan gerak yang serupa!
Tentu saja ke dua binatang itu menjadi girang sekali dan Wan Eng lalu peluk tubuh Lian Eng dan angkat ia ke atas lalu lempar gadis ke udara!
Ketika tubuh gadis kecil itu turun, maka ia diterima oleh sambutan kedua tangan Wan Nio yang melemparnya ke atas lagi.
Demikianlah, gadis kecil itu dipakai sebagai barang permainan oleh kedua binatang yang menyatakan rasa sayangnya dengan cara mereka sendiri itu.
Tapi Lian Eng hanya tertawa riang sungguhpun suara ketawanya tidak mengeluarkan suara keras, hanya terdengar bagaikan suara monyet kecil.
Mendapat latihan dasar Ilmu Silat Sin-Liong yang luar biasa itu, Lian Eng sangat memperhatikan.
Baginya latihan itu walaupun sulit, tapi tidak terlalu sukar dikerjakan, karena ia sudah mendapat latihan dasar-dasar Ilmu Silat Tat-mo Kun-hwat dari kakeknya, semacam ilmu silat yang tidak boleh dipandang ringan.
Namun, bentuk dan macam pasangan kuda-kuda dan gerak kaki ilmu silat baru ini sungguh-sungguh hebat dan jauh lebih sulit dari pada ilmu silat yang pernah dipelajarinya.
Mendapat kawan seperti kedua binatang yang baik itu, Lian Eng terhibur juga, sungguhpun ia tidak begitu senang kepada pelayan yang selalu hormat dan pendiam itu.
Lebih-lebih ia tidak senang kepada Beng Beng Hoatsu yang jarang kelihatan dan jika keluar selalu membuat ia merasa takut.
Selama beberapa hari, baru satu kali Beng Beng Hoatsu keluar dan melihat latihannya, tapi pendeta gemuk itu hanya keluarkan sepatah kata mencela.
"Tak baik, tak baik... pelajari lagi yang betul!"
Lalu pendeta itu tinggalkan dia dan masuk ke dalam gua lagi.
Tentu saja Lian Eng merasa gemas sekali dan ia makin tidak suka kepada pendeta gemuk yang aneh itu.
Setelah tinggal di situ lebih satu bulan, Beng Beng Hoatsu memanggilnya, dan dengan wajah sungguh-sungguh pertapa itu berkata.
"Lian Eng, biarpun kau baru belajar, sebulan dan belum belajar langsung dariku sendiri, namun kau sudah menurut jalan yang benar. Ketahuilah, ilmu silat yang kau pelajari ini tidak mudah dipelajari begitu saja tanpa ketekunan.
"Sekarang, sebelum kau belajar lebih jauh, aku hendak membawamu menemui seorang musuhku. Kau ikut saja dan jangan berbuat apa-apa, harus taat kepada semua perintahku. Kalau tidak, kau akan kulempar ke dalam jurang!"
Lian Eng hanya mengangguk.
Maka berangkatlah Beng Beng Hoatsu keluar dari gua dengan Lian Eng dalam gandengan tangannya.
Setelah keluar dari gua, Beng Beng Hoatsu lalu mengulur jari tangannya dan menekan pundak Lian Eng.
Gadis kecil itu hanya merasa sedikit kesemutan pada pundaknya, tapi selanjutnya tubuhnya tak merasa apa-apa lagi, seakan-akan ia sedang mimpi!
Pendeta itu lalu mengangkatnya dan memanggulnya di pundak, la]u lari keras turun dari puncak bagaikan terbang saja!
Biarpun tubuhnya tak dapat bergerak, namun Lian Eng masih bisa menggerakkan biji matanya, maka ia melihat betapa pohon-pohon dan salju di bawahnya beterbangan cepat.
Ia tidak merasa takut ataupun dingin, karena tubuhnya telah tertotok dan agaknya gurunya itu sengaja membuat ia demikian agar jangan terkena serangan angin atau dingin.
Sebentar saja Beng Beng Hoatsu telah turun dari bukit itu dan beberapa kali ia naik turun bukit, melalui jurang-jurang dan lembah-lembah yang curam.
Setelah berlari secepat kilat lama sekali hingga mata Lian Eng tertutup sendiri karena lelah, akhirnya Beng Beng Hoatsu terbang ke atas puncak bukit yang sangat tinggi di mana salju menebal sampai beberapa kaki dari tanah.
Keadaan di situ sangat dinginnya dan sedikitpun tidak terdapat pohon yang masih ada daunnya.
Pohon-pohon yang ada hanya cabang-cabangnya saja yang kini terbungkus salju tebal.
Ini adalah puncak bukit tertinggi di Pegunungan Thang-La, dan disebut Bukit Dewi Api!
Sungguh sebutan yang ganjil sekali, karena di tempat yang begitu dingin tak tepatlah terdapat kata-kata api!
Jangankan api, sedangkan matahari saja cahayanya tak dapat menembus kabut yang tebal dan dingin dan jarang sekali matahari dapat muntahkan cahaya di bagian ini!
Beng Beng Hoatsu berhenti di tempat yang tertinggi di mana terdapat sebuah gua yang sangat tinggi.
Gua ini dari batu karang berwarna putih kekuning-kuningan yang bersinar bagaikan mengandung bahan emas murni.
Pertapa itu menurunkan Lian Eng dari gendongan sambil menotok pundak gadis kecil itu hingga Lian Eng dapat bergerak lagi seperti biasa.
Setelah tidak terpengaruh totokan lagi, gadis itu merasa sangat dingin hingga kedua kakinya menggigil.
"Makanlah dua butir obat ini,"
Kata Beng Beng Hoatsu sambil memberi dua butir obat berwarna merah.
Lian Eng menerima obat itu dan menelannya.
Obat itu berbau harum dan rasanya masam.
Setelah obat itu memasuki perutnya, maka datanglah rasa hangat di sekujur tubuhnya hingga sebentar saja rasa dingin yang tadi menyerangnya telah lenyap.
Setelah merasa badannya enak, Lian Eng memperhatikan tempat itu.
Mereka telah berdiri di depan sebuah gua yang tinggi dan berpintu batu yang besarnya dua kali lebih besar dari pada pintu gua Bukit Harimau Salju.
Batu inipun berwarna putih kekuningan dan di atasnya terukir huruf-huruf yang berbunyi.
"Istana Dewi Api"
Beng Beng Hoatsu setelah memberi obat pemanas hawa kepada Lian Eng, lalu berdongak dan memanggil dengan suara yang luar biasa nyaringnya hingga Lian Eng merasa telinganya sakit.
"Huo Mo-Li!! Keluarlah kau, aku telah datang!!!"
Suara ini bergema ke bawah gunung dan kumandangnya saling sahut dari segenap penjuru.
Setelah menanti sebentar tapi tidak juga terdengar jawaban dari dalam, Beng Beng Hoatsu ulangi teriakannya, kini lebih keras hingga Lian Eng terpaksa gunakan kedua tangannya untuk menutup lubang telinganya.
"Huo Mo-Li!!! Keluarlah, jangan sembunyi seperti perawan kampung!!"
Tiba-tiba dari dalam gua terdengar suara ketawa yang merdu sekali, tapi nyaringnya tidak kalah dengan suara teriakan Beng Beng Hoatsu tadi, lalu disusul suara seorang wanita berkata.
"Beng Beng! Kau selalu masih ugal-ugalan! Aku sedang sibuk, kau masuklah saja!"
Beng Beng Hoatsu berdongak dan tertawa bergelak-gelak, lalu berkata kepada diri sendiri.
"Ah, ah... ia masih tinggi hati. Tidak mau rendahkan diri menyambutku. Baik..., aku masuk saja."
Setelah berkata demikian, Beng Beng Hoatsu maju mendekati pintu gua yang besar itu dan gunakan sebelah tangannya mendorong.
Terdengar suara bergeret keras dan Lian Eng rasakan betapa tanah yang diinjaknya bergerak karena batu berat itu menggelinding ke samping gua.
Setelah pintu gua itu terbuka, dari dalam gua bersinar keluar cahaya merah terang dan Lian Eng merasa hawa panas menyerbu keluar.
Tapi Beng Beng Hoatsu bahkan melangkah maju ke tengah-tengah pintu gua hingga tubuhnya terlanggar oleh cahaya merah itu dan pertapa gemuk itu tertawa girang sambil berkata berkali-kali.
"Hm, enak... enak... alangkah nikmatnya... Huo Mo-Li, kau bikin aku mengiri tiada habisnya!"
Kemudian Beng Beng Hoatsu pegang lengan tangan Lian Eng dan membawa gadis cilik itu memasuki gua.
Gua itu terang sekali karena cahaya merah yang menyorot keluar.
Kalau hawa di luar sangat dingin hingga membikin beku segala yang cair, keadaan di dalam sebaliknya.
Di sini hawa panas hangat dan tidak tampak sedikitpun salju.
Ruang gua itu lebar sekali dan di atas tampak batu-batu karang tajam bergantungan bagaikan ujung pedang dan tombak, dan dari tiap ujung yang runcing itu menitik turun air yang berkeliauan bagaikan butiran-butiran mutu manikam!
Titik-titik air itu jatuh ke bawah dan tempatnya segera diganti dengan titik lain.
Indah sekali pemandangan di situ hingga Lian Eng merasa seakan-akan berada dalam dunia mimpi.
Dari sebelah dalam terdengar suara halus.
"Silahkan, silahkan, masuk saja!"
Dan Lian Eng merasa betapa pegangan tangan gurunya makin erat ketika mereka berjalan maju ke ruang sebelah dalam.
Makin dalam, keadaan di situ makin indah.
Di kanan kiri tampak batu-batu karang yang warnanya bermacam-macam.
Ada yang hijau, biru, putih, kuning dan kesemuanya itu tersorot oleh cahaya merah yang menerobos dari dalam hingga mengeluarkan cahaya aneka warna yang indah sekali.
Juga hawa makin hangat dan panas.
Ruang terakhir adalah sebuah ruang paling lebar dan paling indah, juga di situ terang sekali.
Ukiran-ukiran dinding di sini luar biasa karena lukisan-lukisan itu diukir merupakan orang-orang dengan berbagai kedudukan kaki tangan yang tampak ganjil seperti orang menari tapi bukan menari.
Ukiran-ukiran itu nampak kuno sekali dan orang-orang yang diukir di situ seperti bukan orang pribumi.
Lian Eng sama sekali tidak mengerti, hanya tahu bahwa di situ indah dan menyenangkan sekali.
Di satu sudut tampak seorang laki-laki muda tengah menggunakan kain warna kuning menggosok-gosok ukir-ukiran itu.
Agaknya ia seorang pelayan yang kerjanya menggosok dan membersihkan semua lukisan dinding di situ, semua bersih dan mengkilap!
Tapi ketika Lian Eng melihat muka orang muda itu, tiba-tiba ia pegang-pegang tangan gurunya sambil menunjuk.
Beng Beng Hoatsu pandang muridnya dengan heran karena ia melihat mata gadis itu terbelalak heran tapi bibirnya yang manis tersenyum lucu.
Agaknya gadis itu kenal kepada orang muda itu.
"Eh, Lian Eng, kenalkah kau padanya?"
Tanyanya.
Lian Eng mengangguk-angguk dan dengan gerakan-gerakan tangan ia menceritakan bahwa pemuda itu dengan dia pernah pibu atau mengadu kepandaian.
Tapi Beng Beng Hoatsu yang tidak biasa bicara dengan bahasa gerak menjadi bingung dan tidak mengerti, tapi ia tidak perhatikan pemuda itu lebih jauh.
Pemuda itu ketika mendengar suara Beng Beng Hoatsu, lalu berpaling dan iapun terkejut ketika melihat Lian Eng tapi mukanya menjadi berseri-seri menandakan bahwa pertemuan dengan gadis itu membuat dia merasa girang sekali.
Pemuda itu bukan lain ialah Siauw Ma, pemuda pemburu yang gagah berani dan yang sebulan yang lalu telah mengejar kera putih yang menculik Lian Eng di kaki bukit Harimau Salju!
Bagaimana Siauw Ma bisa sampai ke situ dan tiba-tiba menjadi tukang gosok dinding gua yang aneh dan indah ini?
Marilah kita berhenti dulu dan menengok ke belakang untuk melihat pengalaman Siauw Ma semenjak berpisah dari kawan-kawannya karena ia lari dengan nekat naik ke Bukit Harimau Salju untuk mengejar dan menolong Lian Eng, gadis yang pernah menjungkir-balikkannya itu!
Ketika dulu melihat Lian Eng dibawa lari oleh manusia salju dan dikejar oleh Souw Cin Ok, entah mengapa hati Siauw Ma tiba-tiba menjadi cemas dan marah sekali hingga ia tidak pikir panjang lagi dan dengan tekad bulat ia lari mengejar ke atas dengan maksud membantu Souw Cin Ok dan menolong Lian Eng.
Mungkin hal ini digerakkan oleh hatinya yang merasa terharu ketika ternyata padanya bahwa gadis kecil itu adalah seorang gagu.
Ia kagum berbareng iba melihat gadis yang tinggi ilmu silatnya itu.
Tapi karena ilmu kepandaiannya masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan Souw Cin Ok atau manusia salju itu, maka ia tertinggal jauh.
Namun Siauw Ma bukanlah anak muda yang mudah putus asa atau mudah takut.
Ia terus saja lari ke atas ke mana saja kakinya membawa ia maju, karena mereka yang dikejarnya sudah tak tampak bayangannya sedikitpun dan ia tahu harus menuju ke mana.
Ia tidak tahu bahwa ia telah sesat jalan dan bukannya menuju ke puncak Bukit Harimau Salju, tapi menuju ke bukit lain yang penuh dengan beruang salju!
Ia mulai terserang dingin hingga ia berjalan sambil menggigil kedinginan.
Tapi ia masih tetap keras kepada dan terus melangkah maju.
Memang setelah sampai di tempat itu, ia tidak dapat memilih lagi.
Jalan pulang agaknya lebih jauh dari pada jalan ke puncak.
Akhirnya setelah cuaca hampir gelap dan hawa dingin makin menghebat, Siauw Ma tidak kuat lagi dan terpaksa menjatuhkan diri duduk di atas salju.
Ia mencoba menggerakkan kakinya, tapi kakinya telah menjadi beku dan terbenam ke dalam salju sampai di lutut.
Dan pada saat ia sudah tak berdaya sama sekali itu, barulah ia teringat akan ibunya dan teringat akan kawan-kawannya.
Barulah timbul rasa menyesal dalam hatinya.
Bukan menyesal karena ia berusaha menolong Lian Eng yang terculik manusia salju, tapi menyesal karena ketidak mampuan sendiri.
Ia merasa bahwa ia pasti akan mati kedinginan di situ, maka terbayanglah di depan matanya betapa ibunya menangis.
Ibunya yang kini terpaksa harus hidup seorang diri!
Dua titik air mata meloncat keluar dan membeku di bulu matanya!
Pada saat yang sangat berbahaya bagi Siauw Ma itu tiba-tiba terdengar suara gerengan hebat dari sebelah belakang.
Siauw Ma masih kuasa menggerakkan kepala berpaling dan alangkah terkejutnya ketika melihat seekor beruang salju yang besarnya seperti kerbau, berdiri di atas dua kaki belakangnya dengan matanya yang sipit bergerak liar dan dari mulutnya yang bercaling kuning tajam itu keluar air liur yang jatuh membeku di atas dada yang penuh buluh putih itu.
Siauw Ma tak kuasa menggerakkan tubuhnya.
Kakinya terbenam dalam salju, tubuhnya setengah beku, apa yang dapat ia lakukan?
Beruang itu kini menurunkan kaki depannya dan sambil merangkak ia mendekati Siauw Ma.
Pemuda itu terpaksa meramkan mata ketika moncong beruang itu menghembus mukanya.
Ia merasa hawa panas keluar dari mulut beruang dan mencairkan dua butir air mata yang telah membeku di bulu matanya.
Ia merasa betapa lidah yang merah itu dengan tajam menyapu-nyapu mukanya dan Siauw Ma hanya meramkan mata, menanti datangnya maut setiap saat jika beruang itu menanamkan caling-calingnya ke tubuhnya.
Tapi pada saat itu terdengar geraman keras yang merupakan pekik mengerikan di dekat telinga.
Siauw Ma membuka matanya dan melihat beruang itu bergulingan di atas tanah beberapa kali lalu rebah tak bergerak dan mati!
Dari leher binatang itu mengalir darah tapi hanya sebentar karena luka di leher itu sebentar saja tertutup oleh darah yang telah keluar dan membeku di luar.
Siauw Ma melihat sesosok bayangan tubuh bergerak cepat mendatangi dan sebelum ia jelas betul melihat orang itu, tahu-tahu ia merasa tubuhnya telah terbetot keluar dari salju dan iganya terasa ditotok orang.
Ia merasa hawa panas bagaikan dialirkan oleh jari yang menotoknya hingga di dalam tubuhnya mengalir hawa panas yang mengusir lenyap semua kebekuan tubuhnya.
Tapi sebelum ia sempat bertanya atau bergerak, tiba-tiba orang yang belum dilihatnya itu pegang leher bajunya sebelah belakang dan ia merasa dirinya diseret di atas salju!
Orang yang menyeretnya itu lari cepat sekali bagaikan terbang.
Kedua kaki Siauw Ma tergantung di atas salju dan ia diseret cepat sekali seakan-akan ia sendiri melayang sambil mundur!
Entah berapa lama ia ditarik sedemikian itu karena Siauw Ma tidak berani sembarangan bergerak, tapi berdiam diri bagaikan patung, takut kalau-kalau tubuhnya dilepas oleh yang menyeretnya.
Ia merasa ngeri sekali ketika orang yang menyeretnya itu membawa ia melalui sebuah jalan salju yang lebarnya paling banyak satu kaki sedangkan di kanan kirinya terdapat jurang salju yang luar biasa curamnya.
Suram-suram di dalam gelap ia melihat betapa di bawah jurang itu tampak batu-batu karang yang tajam bagaikan mata tombak menanti kejatuhannya untuk dipanggang seperti sate!
Maka Siauw Ma tak kuat lagi membuka mata lebih lama.
Ia meramkah mata dan serahkan nasibnya kepada orang yang menyeretnya.
Setelah diseret beberapa lama, tiba-tiba Siauw Ma merasa orang yang menariknya tidak lari lagi dan ia dilempar begitu saja di atas salju!
Cepat ia buka matanya dan melihat bahwa mereka telah berada di depan sebuah gua yang tinggi.
Di dalam gelap ia melihat bayangan hitam seorang wanita yang potongan tubuhnya ramping sekali.
Wanita itu gunakan tangan membuka atau mendorong batu yang menutup gua itu, lalu bertindak masuk sambil berkata kepadanya.
"Hayo kau masuk!"
Suaranya terdengar ketus dan galak, tapi sungguh merdu dan nyaring.
Siauw Ma berdiri perlahan dan dengan taat ia masuk ke dalam gua yang ternyata terang sekali di bagian dalamnya.
Namun wanita itu cepat gunakan tangan menutup batu tadi depan gua lagi.
Kini Siauw Ma melihat bahwa orang yang menolong dan menyeretnya adalah seorang wanita yang luar biasa cantiknya, seolah-olah bidadari yang baru turun dari kahyangan!
Tapi sepasang mata bintang yang sangat indah itu mengeluarkan cahaya dingin yang membuat Siauw Ma diam-diam merasa berdebar dan menggigil ketakutan.
"Kau siapakah?"
Wanita itu bertanya dan air mukanya yang berkulit putih halus kemerah-merahan itu sedikitpun tidak bergerak atau membayangkan perasaan hatinya seperti manusia biasa.
Muka itu lebih mirip dengan sebuah kedok yang manis tapi menyeramkan.
Dengan gagap Siauw Ma menjawab.
"Saya... saya... Siauw Ma. Di manakah kita? Apakah aku sudah... sudah mati?"
Siauw Ma memang anggap dirinya mimpi atau sudah mati karena ia tak percaya dapat tertolong semudah itu dan ada seorang wanita dapat menyeretnya sambil lari seperti terbang di antara jurang yang berbahaya itu.
Atau...
tiba-tiba hatinya berdebar takut...
mungkinkah wanita ini siluman?
Siauw Ma semenjak kecil hidup di dalam kampung dekat hutan dan sering kali mendengar dongeng-dongeng tentang siluman hingga sedikit banyak ada perasaan tahyul dalam hatinya.
"Siapa... siapakah nona?"
Wanita itu tidak menjawab, bahkan bertanya lagi, seakan-akan ia tidak biasa menjawab pertanyaan dan hanya bisa memerintah dan bertanya.
"Apa yang kau kerjakan maka naik ke gunung beruang itu? Kau mencari apa? Mencari siapa?"
Maka dengan singkat Siauw Ma menuturkan tentang perjumpaannya dengan Souw Cin Ok dan betapa Lian Eng gadis kecil gagu itu telah diculik oleh manusia salju dan dikejar oleh Souw Cin Ok dan betapa ia sendiri karena merasa kasihan kepada gadis itu lalu mengejar hingga sampai di situ.
"Hm, rupanya Beng Beng si tua bangka itu kembali hendak main gila. Bagaimanakah keadaan gadis gagu itu? Coba ceritakan keadaannya."
"Saya tidak tahu banyak. Yang saya tahu bahwa dia manis dan kurus pucat, tapi kepandaiannya... eh... aku pernah jatuh dalam tangannya. Usianya paling banyak duabelas tahun dan Souw Cin Ok adalah kakeknya. Gadis itu gagu, tak dapat bicara, tapi ketika terculik oleh manusia salju, agaknya ia tidak takut."
Wanita itu menggigit bibir dengan giginya yang putih berkilau bagaikan mutiara hingga ia tampak cantik sekali! Belum pernah seumur hidupnya Siauw Ma melihat wajah sejelita itu.
"Dan kau ikut mengejar untuk menolongnya? Kau bisa apa terhadap manusia salju itu sedangkan Souw Cin Ok sendiri tidak berdaya terhadapnya?"
Siauw Ma tak dapat menjawab hanya tundukkan mukanya.
"Hm, kau agaknya mempunyai hati juga. Bagus, tak percuma aku menolongmu. Tapi, sekarang kau harus berjanji padaku bahwa kau takkan berkata kepada siapa juga tentang aku dan tentang tempat ini!"
Suaranya mengandung ancaman demikian keras hingga Siauw Ma menjadi terkejut dan takut-takut.
"Tidak, tidak, aku takkan berkata kepada siapa juga."
"Dan besok pagi-pagi kau harus turun gunung dan pergi dari sini."
"Nona, kau berkepandaian tinggi. Apakah kau tidak mau menolong Lian Eng? Mungkin ia mendapat bencana. Kasihan gadis kecil itu,"
Suara Siauw Ma penuh permohonan.
"Aku tidak suka usilan seperti kau. Nah, kau tidurlah di pojok sana."
Ia menunjuk ke sebuah pojok di mana terdapat sebuah batu besar berbentuk bangku panjang.
Kemudian wanita aneh itu lalu meloncat ke dalam dan lenyap dari pandangan mata.
Siauw Ma mana bisa tidur setelah mengalami peristiwa aneh itu.
Ia hanya duduk di atas bangku itu sambil termenung.
Tiba-tiba ia tertarik kepada lukisan-lukisan atau ukiran-ukiran di dinding.
Tersorot cahaya merah, maka lukisan itu tampak indah sekali dan kelihatan demikian aneh dan ganjil hingga Siauw Ma menjadi tertarik dan bangun dari bangku batunya.
Ia berdiri di bawah ukiran itu dan memandang penuh perhatian untuk melihat apakah sebenarnya lukisan itu.
Tapi agaknya ukiran di situ banyak tertutup debu putih hingga tidak jelas.
Karena sangat tertarik, Siauw Ma lalu angkat bangku batu itu.
Ternyata bangku itu beratnya ratusan kati hingga ia harus gunakan seluruh tenaganya untuk mengangkat dan membawanya ke dekat dinding yang penuh dengan ukiran itu.
Ia lepaskan baju luarnya karena hawa di situ cukup hangat lalu dengan bajunya ia bersihkan ukiran-ukiran itu dengan berdiri di atas bangku.
Setelah debu yang menutupi ukiran itu lenyap, maka tampaklah bahwa ukiran-ukiran itu adalah lukisan manusia yang sedang menari atau bersilat.
Ia makin tertarik dan meneruskan menggosok lain bagian.
Siauw Ma memang cerdik biarpun ia berwatak agak kasar.
Dengan cepat ia dapat menduga bahwa lukisan-lukisan atau ukiran-ukiran itu adalah lukisan orang sedang bersilat, dan bahwa itu adalah ilmu silat yang luar biasa sekali.
Ternyata gambar orang itu banyak sekali dan tiap gambar mempunyai gerakan yang menyambung gambar sebelahnya hingga setelah menggosok bersih beberapa ukiran orang, ia dapat merangkai gerakan itu.
Ia turun dari bangku dan meniru gerakan-gerakan seperti yang tertunjuk pada ukiran dan dapatkan kenyataan bahwa gerakan itu adalah semacam tipu pukulan yang aneh.
Untuk melengkapkan semacam gerakan maka dilakukan oleh sedikitnya limabelas orang dalam gambar yang gerakannya sambung menyambung.
Ternyata olehnya bahwa pukulan yang dimainkan oleh lukisan-lukisan orang itu sangat banyak cabang atau jurusan dan berubah-ubah menyesatkan.
Siauw Ma makin girang dan semalam penuh ia tidak hentinya menggosok-gosok ukiran baru sambil mempelajarinya.
Ia tidak merasa bahwa hari telah pagi.
Ketika ia sedang menggerak-gerakkan tangan menuruti gerakan pukulan gambar yang baru saja digosoknya, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar dari belakang.
Dengan otomatis ia lanjutkan gerakan yang telah dipelajari dari malam tadi dan tubuhnya dapat berkelit sedemikian rupa.
"Eh, pencuri kecil! Kau sedang apa di sini?"
Tegur suara yang telah dikenalnya malam tadi, karena ia tahu bahwa yang menegurnya itu tentu wanita cantik yang menolongnya.
Ketika ia putar tubuh, benar saja di depannya telah berdiri seorang wanita yang luar biasa cantiknya.
Malam tadi ia tidak dapat melihat tegas, tapi sekarang nyata sekali kecantikan wanita itu yang berusia kurang lebih duapuluh tahun, tubuhnya berisi dan potongannya ramping tinggi, wajahnya mengeluarkan sinar sedemikian segar bagaikan setangkai bunga sedang mekar-mekarnya, tapi wajah yang sangat jelita itu seakan-akan mati tidak memperlihatkan perasaan apa-apa!
Siauw Ma cukup mengerti bahwa wanita ini bukanlah seorang sembarangan dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya, maka ia tidak berani main-main, lalu menjura dan menjawab dengan suara perlahan.
"Nona, maafkan saya. Saya tidak mencuri apa-apa, hanya karena melihat ukiran-ukiran yang demikian indahnya penuh tertutup debu, maka saya berusaha membersihkannya."
"Dengan maksud apa kau bersihkan ukiran-ukiran itu?"
Pertanyaan ini keras dan ketus.
"Maksudku hanya membalas budimu, nona."
"Apa maksudmu! Jangan kau main-main!"
"Siapa berani main-main dengan nona yang budiman dan gagah perkasa? Saya telah kau tolong dari bahaya maut, berarti jiwaku telah berada dalam tanganmu, nona.
"Kini melihat keadaan dalam tempat tinggalmu demikian kotor, hatiku tidak tega dan ingin membersihkannya. Bukankah kalau bersih bagus dipandang?"
"Tapi mengapa kau tiru-tiru gerakan orang dalam lukisan ini?"
Mendengar pertanyaan ini, terkejutlah Siauw Ma.
Ia dapat menduga bahwa wanita aneh ini tentu telah ketahui rahasianya, bahwa ia mempelajari pukulan-pukulan aneh yang terlukis di dinding itu.
Maka dengan nekat karena tiada jalan lain, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu dan memohon.
"Ampunkan saya, nona. Saya... saya ingin sekali memiliki kepandaian silat yang agak berarti karena saya merasa betapa rendahnya ilmu yang saya miliki sekarang. Dan... gerakan-gerakan dalam lukisan di dinding ini seakan-akan merupakan tipu-tipu silat yang hebat, maka perkenankanlah aku membersihkan semua dinding ini."
"Hm, kau hendak mencuri ilmu silat yang kuciptakan?"
Siauw Ma makin terkejut. Jadi ukiran-ukiran itu adalah perbuatan wanita ini? Ah, tak mungkin. Tiba-tiba timbul pikiran dalam kepalanya. Ia angguk-anggukkan kepalanya hingga membentur lantai.
"Nona, kalau begitu... siauwte mohon diterima menjadi murid."
"Apa? Kau gila! Siapa sudi mempunyai murid seperti engkau! Pendeknya jangan banyak rewel, hayo angkat kaki dan pergi kau dari sini!"
Siauw Ma menjadi bingung, tapi hatinya yang keras dan pantang mundur membuatnya tak kenal takut dan ia mendesak lagi.
"Nona, kalau aku tak cukup berharga menjadi muridmu, maka biarlah aku kau perkenankan membersihkan seluruh dinding yang ada di sini. Hitung-hitung sebagai balas budimu, nona. Setelah semua dinding bersih, barulah siauwte hendak pergi tinggalkan tempat ini. Siauwte takkan mengganggu kepada nona sedikitpun."
"Kau memang gila! Dinding di dalam gua ini luas sekali dan agaknya berbulan-bulan kau baru akan dapat selesaikan jika kau hendak menggosok semua ukiran! "Tapi, melihat ketekunan dan keteguhan hatimu, biarlah aku beri waktu padamu tiga bulan. Jika dalam tiga bulan ini kau berhasil menggosok bersih semua ukiran, kau akan kuberi petunjuk bagaimana untuk meniru gerakan-gerakan semua lukisan. Tapi jika dalam tiga bulan kau belum selesaikan semua itu, jangan mengeluh jika aku lempar kau ke dalam jurang!"
Mana Siauw Ma berani membantah? Ia tidak pikir panjang lagi, lalu mengangguk-anggukkan kepala.
"Baik, nona... baik, nona."
Wanita itu lalu buka batu penutup gua dan keluar.
Siauw Ma lalu mulai menggosok-gosok lagi, lupa kantuk lupa lelah.
Ia menggosok dengan giatnya dan kini ia tidak berani lagi turun dari bangku untuk meniru-niru gerakan ukiran itu karena takut kalau-kalau ia tidak dapat selesaikan tugasnya.
Tapi diam-diam ia ingat semua lukisan itu dalam hati untuk dipelajari kelak.
Sehari itu ia terus menggosok tanpa makan apa-apa hingga pada sore harinya ia merasa lelah dan lapar, namun ia tidak berani herhenti dari pekerjaannya.
Ia telah mengambil keputusan untuk terus bekerja, biarpun ia akan mati dalam melakukan pekerjaannya itu.
Hatinya memang keras dan kemauannya membaja, maka ketekunannya membuat ia kuat bertahan sampai hari menjadi malam lagi.
Tak terasa ia telah bekerja sehari semalam tanpa berhenti dan tanpa makan!
Tidak sembarang orang dapat bertahan sampai sehari semalam bekerja keras tanpa istirahat atau makan, kalau ia tidak mempunyai semangat yang bernyala-nyala dan ketetapan hati yang keras.
Maka ketika wanita itu pada tengah malam memasuki gua, ia heran juga melihat Siauw Ma masih bekerja dan sehari semalam itu telah berhasil bersihkan dinding sampai seluas kurang lebih sepuluh kaki persegi!
Wanita itu di tangan kirinya membawa seekor burung besar yang macamnya seperti ayam hutan dan ia lempar burung itu di dekat Siauw Ma sambil berkata.
"Kau makanlah dulu! Aku tidak mau kalau ada orang mati kelaparan di dalam guaku!"
Kemudian wanita itu menunjuk ke dalam dan berkata.
"Kalau kau sudah menggosok dinding sampai pada tirai bambu yang menutup kamarku, kau harus pindah ke dinding lain yang belum tergosok. Jangan kau sekali-kali berani membuka tirai bambu itu, karena perbuatan itu berarti kematian bagimu!"
Setelah berkata demikian dengan suara yang merdu tapi menyeramkan, ia tinggalkan Siauw Ma.
Pemuda itu berdiri bingung sambil memandang bangkai burung besar yang menggeletak di atas lantai.
Bagaimana ia harus makan daging burung itu?
Di situ tidak ada api untuk membakarnya, tidak ada sepotongpun kayu untuk dijadikan bahan bakar, apakah ia harus makan daging burung itu begitu saja tanpa dimasak dulu?
Siauw Ma lalu cepat membersihkan bulu burung itu.
Ternyata kulit dan daging burung itu berwarna putih kemerahan dan tampaknya enak sekali.
Namun ia masih ragu-ragu dan merasa muak untuk makan daging mentah.
Alangkah nikmat dan lezatnya kalau daging yang gemuk itu dimasak!
Memikirkan ini, tak terasa air liur di mulutnya membuat ia merasa makin lapar.
Dengan perlahan ia cabut paha burung itu dan dengan meramkan mata ia gigit dagingnya!
Tapi setelah daging itu beradu dengan giginya, ia buka mata lebar-lebar karena heran dan girang.
Daging itu ternyata enak sekali dan sedikitpun tidak berbau amis.
Rasanya seperti daging yang telah dimasak saja!
Mimpikah ia?
Atau karena laparnya yang hebat itu maka ia merasa daging itu enak seakan-akan sudah dimasak?
Ia tidak tahu bahwa burung itu memang mempunyai daging yang tidak amis dan rasanya gurih seakan-akan daging yang telah masak.
Dengan bernapsu ia gerogoti semua daging dari tulang-tulang burung itu dan sebentar saja habislah semua daging burung yang besar seperti seekor angsa itu!
Setelah perutnya kenyang Siauw Ma merasa senang dan ia lanjutkan pekerjaannya menggosok dinding.
Tapi baru saja mulai menggosok, ia merasa lelah sekali dan ia rebahkan tubuhnya di atas balai-balai batu.
Sebentar saja terdengar suara dengkurnya yang keras karena ia tertidur pulas sekali.
Menjelang tengah hari, tiba-tiba Siauw Ma terjaga dari tidurnya ketika ia mendengar suara nyanyian yang nyaring dan merdu dan ketika ia buka matanya ternyata sinar merah dalam gua itu makin besar dan hebat.
Ia sangka bahwa matahari tentu telah menyinarkan cahayanya yang menembus gua itu dan tidak ambil perduli lebih lanjut.
Kini perhatiannya tercurah kepada lukisan-lukisan terukir pada dinding yang telah ia bersihkan.
Lukisan-lukisan itu tampak jelas dan ia masih ingat akan janji wanita cantik kemarin.
Kalau ia dapat selesaikan semua penggosokan dinding itu dalam tiga bulan, maka ia akan diberi petunjuk untuk main silat seperti yang terlukis pada ukiran!
Cepat Siauw Ma loncat bangun dan mulai menggosok-gosok lagi secepat dan sekuat mungkin!
Siauw Ma bekerja rajin dan keras.
Ia tak kenal lelah dan tak pernah berhenti, kecuali kalau perutnya menagih dan ia makan daging burung yang enak itu yang tiap dua hari sekali dibawakan oleh wanita cantik itu, atau ia baru berhenti kalau matanya sudah tak kuat menahan kantuknya lagi.
Demikianlah maka sebulan kemudian, ketika Beng Beng Hoatsu ajak Lian Eng mengunjungi Huo Mo-Li dan masuk ke dalam guanya, mereka melihat Siauw Ma sedang menggosok dinding!
Siauw Ma melihat kedatangan Lian Eng secara tiba-tiba bersama seorang gemuk pendek yang berwajah aneh dan pakaiannya pun aneh pula, menjadi girang sekali.
Ia girang melihat bahwa gadis cilik itu ternyata selamat.
Maka tanpa terasa ia angkat dan melambaikan tangannya yang dibalas oleh gadis itu sambil tersenyum manis.
Karena ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh orang gemuk itu dan Lian Eng, dengan tak terasa lagi Siauw Ma turun dari bangkunya dan jalan mengikuti mereka menuju ke ruang di dalam gua yang paling dalam.
Tiba-tiba mereka membelok dan berdiri di depan sebuah tirai bambu warna hijau yang menutup sebuah pintu.
Siauw Ma teringat akan ancaman wanita aneh kepadanya bahwa sekali-kali tidak boleh membuka tirai bambu, dan kalau ancaman itu dilanggar, ia akan dibunuh!
Diam-diam Siauw Ma merasa ngeri dan takut.
Pertapa gemuk itu agaknya tidak berani membuka tirai itu, karena ia berdiri di luar dan berkata dengan halus.
"Huo Mo-Li, benar-benarkah kau tidak mau menyambut aku?"
Setelah hening sesaat dan gema suara Beng Beng Hoatsu telah lenyap, suara wanita aneh itu terdengar dari balik tirai.
"Tunggulah sebentar, aku sedang mandi!"
"Kebetulan sekali! Huo Mo-Li, sudah lama aku ingin melihat kau mandi!"
Siauw Ma mendongkol sekali mendengar kata-kata pendeta ini yang dianggapnya cabul dan kurang ajar, juga Lian Eng dengan wajah merah tundukkan kepala dan menyesal akan sikap kata-kata suhunya yang melewati batas kesopanan itu.
Tapi dari belakang tirai bambu, terdengar suara tertawa nyaring yang disusul jawaban.
"Begitukah? Akupun sudah mendengar bahwa kau seoranglah yang paling tidak percaya akan kesaktianku dan memandang rendah kepadaku!"
"Jangan jumawa, Huo Mo-Li. Beng Beng Hoatsu sepuluh tahun yang lalu bukanlah Beng Beng Hoatsu yang sekarang berada di luar kamarmu."
Terdengar suara sindiran dari Huo Mo-Li.
"Hmm, siapa yang tidak tahu bahwa kau menjadi kepala besar karena kepandaianmu Sin-Liong-kiam-sut? Tapi aku tidak gentar."
Beng Beng Hoatsu menjadi tidak sabar.
"Kalau begitu, keluarlah kau dan mari kita penuhi janji kita sepuluh tahun yang lalu!"
Ia menantang.
"Kau ternyata masih tidak sabaran dan penakut seperti dulu juga. Kau datang membawa seorang gadis kecil, tentu maksudmu untuk melindungi jiwa monyetmu! Tapi sebelum aku keluar, kau lihatlah dulu kesaktianku yang kau ragukan."
Pada saat itu terdengar suara ledakan kecil dan tirai bambu itu dengan perlahan tergulung sendiri ke atas!
Perlahan-lahan dari dalam kamar yang terbuka itu memancar keluar sinar merah terang yang menyilaukan mata hingga terpaksa Siauw Ma dan Lian Eng gunakan tangan menutupi matanya.
Ternyata bahwa cahaya yang menerangi dalam gua sebenarnya keluar dari kamar ini dan cahaya itu masih tertahan oleh mata karena terhalang tirai bambu itu.
Kini setelah tirai bambu terbuka, maka keadaan demikian terang seakan-akan matahari tergantung hanya beberapa tombak di atas gua itu!
Ketika Siauw Ma dan Lian Eng beranikan diri memandang melalui celah-celah jari tangan, hampir saja mereka berteriak karena kaget dan takut.
Pemandangan yang mereka lihat di dalam kamar itu betul-betul mengherankan dan membuat mereka merasa seakan-akan bukan berada di dunia, tapi lebih pantas di dalam neraka!
Ternyata bahwa kamar itu terhias indah sekali, tapi di sudut kamar yang lebar itu terdapat lubang besar di lantai yang lebarnya tidak kurang dari tiga tombak.
Lubang itu adalah sebuah kawah di bawah tanah dan dari kawah inilah keluar api merah yang menyala-nyala dan lidah api menjilat-jilat ke atas!
Dan apakah yang tampak?
Di atas kawah itu tampak melintang sebatang tongkat atau gala panjang yang entah terbuat dari pada apa, karena gala itu ternyata kuat sekali dan tidak termakan api.
Dan yang paling hebat, Huo Mo-Li si wanita cantik jelita itu berdiri di atas gala itu hingga lidah api yang kuning kemerah-merahan menjilat dan menyelubungi seluruh tubuhnya dari jari kaki sampai ke ujung rambutnya yang terurai sampai ke pinggang!
Ia mengenakan pakaian longgar warna putih mengkilap bagaikan terbuat dari pada benang perak dan rupanya pakaian itupun tahan api!
Huo Mo-Li menghadapi mereka sambil angkat dada dan dengan bangga sekali ia tersenyum manis dan memandang Beng Beng Hoatsu dengan mata bercahaya!
Beng Beng Hoatsu dapat menindas perasaan herannya, dan ia dongakkan kepala sambil tertawa bergelak-gelak.
"Pantas kau disebut Huo Mo-Li atau Setan Api Wanita! Memang kalau kau sedang mandi di dalam api macam ini, kau pantas menjadi setan api! Nah, aku sudah lihat kesaktianmu, Huo Mo-Li, tapi tetap aku hendak menagih utangmu sepuluh tahun yang lalu!"
Huo Mo-Li gerakkan tubuhnya dan ia loncat dari gala itu, kini berdiri di depan mereka.
Wajahnya nampak makin cantik dan kulitnya makin segar seakan-akan seorang yang baru saja mandi bersih.
Siauw Ma dan Lian Eng tak terasa turunkan kedua tangan dan memandang ke arah wanita itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Lebih-lebih Siauw Ma.
Sedikitpun tak disangkanya bahwa wanita yang menolongnya itu demikian lihai dan luar biasa hingga seakan-akan bukan manusia lagi!
Huo Mo-Li memandang kepada Beng Beng dengan senyum menghina di bibirnya.
Kemudian ia memandang kepada Lian Eng dan tiba-tiba senyum menghina di bibirnya berubah menjadi senyum manis yang ramah tamah dan matanya mengeluarkan cahaya lembut.
Ia membuat gerakan-gerakan dengan tangan dan jarinya dan Lian Eng memandang dengan heran karena ia dapat mengerti gerakan itu.
Wanita itu dengan bahasa tangan telah berkata bahwa Lian Eng sangat manis dan bahwa wanita itu suka padanya!
Kemudian mata Huo Mo-Li mengerling dan terlihatlah Siauw Ma di dalam kamarnya.
Wajahnya menjadi merah dan matanya berkilat!
Tiba-tiba saja tangan kirinya bergerak ke arah Siauw Ma dan angin pukulan besar sekali menyambar dada pemuda itu dan membuatnya terpukul dan terlempar keluar kamar.
Siauw Ma terbanting pada dinding di luar kamar dan rebah pingsan!
"Kurang ajar!
Ia berani masuk ke kamarku,"
Huo Mo-Li berkata perlahan sambil tersenyum lagi.
"Kau kejam! Ia anak baik,"
Beng Beng Hoatsu menegurnya lalu sekali bergerak saja ia sudah berada di luar kamar dan memeriksa dada Siauw Ma.
Ternyata angin pukulan tadi telah membuat dada pemuda itu menjadi hitam dan mendapat luka di dalam yang hebat juga!
Beng Beng Hoatsu lalu rogoh saku bajunya dan keluarkan sebutir obat berwarna putih.
Ia masukkan obat itu ke dalam mulut Siauw Ma dan beberapa kali ketok dan urut dada pemuda itu.
Sebentar saja Siauw Ma siuman kembali dan muntahkan darah hitam dari mulutnya.
Huo Mo-Li mendengar orang muntah, dengan marah loncat keluar.
"Celaka! Dia sekarang bikin kotor tempatku lagi! Orang begini harus mati!"
"Tahan!"
Beng Beng Hoatsu mencegah.
"Jangan ganggu dia!"
Huo Mo-Li memandang pertapa gemuk itu dengan heran.
"Mengapa? Kau sekarang berubah sekali, Beng Beng! Apa hubungannya dia dengan kau?"
"Dia muridku!"
Beng Beng menjawab dengan suara tetap.
"Eh, eh. Mulutmu benar-benar murah. Sejak kapan ia menjadi muridmu?"
"Sejak saat ini!"
Huo Mo-Li pandang wajah Siauw Ma yang kini telah berdiri dengan tegak.
Pemuda ini balas memandangnya dengan berani karena ia merasa penasaran dan tidak suka lagi kepada wanita yang kejam dan aneh ini.
Ia anggap wanita ini benar-benar seorang iblis jahat.
Melihat sikap Siauw Ma ini, mata Huo Mo-Li yang tajam dan keras agak melembut, lalu ia bertanya.
"Benar-benarkah kau suka menjadi muridnya? Murid Beng Beng ini?"
Siauw Ma telah insyaf bahwa pertapa gemuk pendek itupun bukan orang sembarangan dan tentu seorang sakti pula tadi telah menolongnya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia menjawab.
"Betul!"
Lalu ia jatuhkan diri berlutut di depan Beng Beng dan menyebut.
"Suhu!"
Beng Beng Hoatsu tertawa keras dan berkata kepada Huo Mo-Li.
"Nah, karena dia muridku, kau harus maafkan dia kalau bersalah."
Huo Mo-Li hanya buang muka dan tersenyum mengejek.
"Biarlah kita jangan ributkan perkara kecil ini. Kalau dia suka jadi muridmu, bawalah pergi. Tapi sekarang kau jawablah, apa kehendakmu datang ke sini?"
"Huo Mo-Li. Lupakah kau? Hari ini adalah tepat sepuluh tahun semenjak kau rampas guaku ini. Maka aku datang menagih."
"Jadi kau sudah merasa cukup kuat untuk mengusirku dari sini?"
Tanya iblis wanita yang cantik itu.
"Coba-cobalah!"
Jawab Beng Beng Hoatsu. Huo Mo-Li lalu gunakan tangan mengebut ke arah api di kawah dan lidah api ke atas dengan indahnya.
"Marilah keluar dan kita putuskan urusan ini di atas bumi."
Wanita itu lalu bertindak keluar, diikuti oleh Beng Beng Hoatsu dan kedua muridnya. Di luar gua, Huo Mo-Li berdiri menanti mereka dan dengan tolak pinggang ia memandang Beng Beng Hoatsu.
"Beng Beng Hoatsu, orang tua ingin mampus! Tak perlu aku bertanya lagi, kalau kau bisa menangkan aku, tentu gua itu kau minta dan aku kau usir dari situ, bukan?"
"Itu hanya pembalas budi yang telah kau berikan padaku sepuluh tahun yang lalu."
"Ya, ya! Tak perlu kau sebut-sebut lagi hal itu! Yang perlu dirundingkan sekarang ialah, bagaimana kalau kau yang kalah lagi?"
"Ha, ha, ha! Huo Mo-Li, jangan seperti anak kecil! Kalau aku kalah lagi di tanganmu, kau bunuh saja aku, habis perkara!"
"Ah kau orang tua memang benar-benar sudah bosan hidup! Yang dibicarakan hanya mati dan mati saja. Aku sendiri ingin hidup selaksa tahun lagi! Beginilah, kalau kau kalah lagi, maka murid perempuanmu itu harus ditinggal di sini untuk sepuluh tahun! Bagaimana?"
Beng Beng Hoatsu memandang kepada Lian Eng, kemudian ia menatap wajah Siauw Ma yang duduk di atas batu karang di dekat gadis kecil itu. Kemudian ia mengangguk-angguk.
"Baik, baik! Kalau aku kalah, kau bawalah Lian Eng, karena akupun sudah mempunyai murid baru. Untuk apa terlalu banyak murid? Bahkan, kalau kau yang kalah, kau pun boleh ambil Lian Eng dan tinggalkan tempat ini."
"Enak saja kau bicara. Siapa yang sudi tinggalkan tempat ini? Jangan kau mimpi!"
Beng Beng Hoatsu tertawa besar dan tiba-tiba saja tangan kanannya telah menggenggam sebilah pedang yang panjang dan tajam berkilauan.
Siauw Ma kagum sekali melihat pedang itu dan ia heran karena tidak tahu dari mana pertapa gemuk yang kini menjadi suhunya itu mencabut pedang itu, tahu-tahu sudah berada di tangannya bagaikan ilmu sihir saja!
Huo Mo-Li tertawa nyaring dan sebaris giginya yang putih bersih bagaikan mutiara itu tampak berkilauan.
"Kau hendak mengagulkan Sin-Liong-kiam-sut? Baik, baik! Nah, coba kau hadapilah ilmu pukulanku yang baru."
Beng Beng Hoatsu tahu baik akan kepandaian baru wanita itu, karena iapun tahu bahwa selama sepuluh tahun ini Huo Mo-Li telah mencipta dan memperbaiki Ilmu silatnya Huo-Mo Kun-Hwatnya, yaitu Ilmu Silat Iblis Api yang luar biasa dahsyatnya.
Selama sepuluh tahun itu Huo Mo-Li telah dapat mencipta pukulan Huo-mo-kang yang jika digunakan dapat menghancurkan musuh karena keras dan panasnya.
Bahkan angin pukulannya saja mengeluarkan hawa panas bagai lidah api menjilat dan dapat menghanguskan kulit tubuh lawan!
Tapi Beng Beng Hoatsu tidak gentar karena ia yakin bahwa Sin-Liong Kun-Hwat dan Sin-Liong-kiam-sut yang telah dipelajari sempurna itu akan dapat menghadapi kehebatan si iblis api wanita.
Dengan tenang tapi waspada Beng Beng Hoatsu berseru keras.
"Huo Mo-Li, majulah!"
"Awas pukulan, Beng Beng!"
Jawab Huo Mo-Li dan tubuhnya berkelebat cepat ke arah pertapa gemuk pendek itu dalam serangan maut yang berbahaya!
Tapi Beng Beng biarpun tampaknya gemuk sekali, ternyata gerakannya tidak kalah gesit dan ginkangnya tidak kalah tinggi.
Tubuhnya juga berkelebat cepat hingga merupakan bayangan saja, sedangkan pedang di tangannya mulai menjalankan gerakan-gerakan Sin-Liong-kiam-sut yakni Ilmu Pedang Naga Dewa hingga sinar pedang berkilauan mengurung bayangan-bayangan tubuhnya!
Biarpun Huo Mo-Li tidak bersenjata namun dari kedua lengan dan kepalan tangannya yang memukul atau menangkis keluarlah tenaga lwee-kang yang sedemikian sempurnanya hingga mengeluarkan hawa panas seakan-akan dari kedua lengan itu keluar api yang terbawa angin pukulan.
Dengan Huo-mo-kang yang hebat ini ia berani menangkis setiap senjata tajam karena sebelum kulit lengannya beradu dengan senjata lawan, Terlebih dulu angin gerakannya dapat menampar senjata itu dengan demikian kerasnya, hingga kalau bukan orang yang berkepandaian tinggi, angin pukulan ini saja sudah cukup untuk membuat senjata musuh terlempar dan terlepas dari pegangan!
Sepuluh tahun yang lalu gua yang kini ditinggali oleh Huo Mo-Li dan disebut Istana Dewi Api, adalah gua tempat Beng Beng Hoatsu bertapa.
Gua itu diberi nama gua sumber api dan pertapa itu tinggal berpuluh tahun di situ dengan senangnya.
Tapi pada suatu hari datanglah Huo Mo-Li, seorang tokoh wanita yang namanya tak kalah terkenalnya dengan Beng Beng Hoatsu sendiri dan yang telah kenal pula kepada pertapa itu.
Huo Mo-Li melihat gua itu, jadi ingin tinggal di situ dan ia minta Beng Beng Hoatsu suka mengalah dan menukarkan guanya dengan gua Huo Mo-Li di Bukit Harimau Salju.
Tapi Beng Beng Hoatsu tidak mau menerima permintaan ini hingga mengadu kepandaian dengan taruhan gua itu.
Setelah bertanding sehari semalam, akhirnya Beng Beng Hoatsu terpaksa mengakui kehebatan ilmu lwee-kang Huo Mo-Li dan ia dikalahkan dengan mendapat luka dalam yang agak berat, biarpun Huo Mo-Li sendiripun tak luput menderita luka dalam yang ringan.
Huo Mo-Li lalu ambil tempat itu sebagai tempat kediamannya dan Beng Beng Hoatsu tinggal di gua Harimau Salju dengan janji sepuluh tahun kemudian mereka akan mencoba ilmu kepandaian lagi.
Gua dan bukit itu oleh Huo Mo-Li lalu diubah namanya menjadi Bukit dan Gua Dewi Api, sedangkan ia sendiri oleh tokoh-tokoh persilatan yang bertingkat tinggi disebut Huo Mo-Li atau Setan Api Wanita!
Siauw Ma yang duduk dekat Lian Eng melihat pertempuran kedua orang lihai itu dengan kagum dan dada berdebar.
Juga Lian Eng duduk bengong sambil memandang ke arah dua bayangan orang yang kini bergerak demikian cepatnya hingga merupakan dua gunduk sinar.
Kedua pemuda-pemudi ini dapat menerka bahwa gundukan sinar putih itu tentu Huo Mo-Li dan gundukan sinar merah adalah Beng Beng Hoatsu karena Huo Mo-Li mengenakan baju putih dan pakaian Beng Beng Hoatsu berwarna merah.
Di antara dua gundukan sinar putih dan merah itu, kadang-kadang tampak sinar kehijau-hijauan yang bergerak panjang, melingkar-lingkar bagaikan seekor naga sakti.
Itu adalah po-kiam atau pedang mustika di tangan Beng Beng Hoatsu!
Siauw Ma dan Lian Eng tak dapat melihat bagaimana jalan pertempuran itu, tapi Huo Mo-Li dan Beng Beng Hoatsu yang sedang bertempur merasa kaget dan diam-diam memuji kehebatan masing-masing.
Pernah sekali terjadi gerakan pedang Beng Beng Hoatsu demikian tiba-tiba perubahannya dan demikian cepat gerakannya hingga berhasil menusuk tangan Huo Mo-Li bagian atas di dekat pundaknya.
Tapi alangkah terkejut pertapa gemuk itu ketika ujung pedangnya meleset dan tidak melukai lawannya!
Padahal pedangnya adalah sebuah pedang mustika yang ampuh dan gerakannya tadi dilakukan dengan tenaga dalam sepenuhnya.
Tak mungkin ilmu kebal, biar yang bagaimana tinggi jugapun, dapat menahan serangannya tadi.
Maka dapatlah ia menduga bahwa pakaian Huo Mo-Li yang tadi tidak termakan api, adalah pakaian wasiat yang terbuat dari pada bahan mujijat hingga dapat menahan serangan po-kiam yang bagaimana ampuh dan tajampun!
Diam-diam ia terkejut dan kagum sekali.
Sebaliknya pernah juga pukulan Huo-mo-kang dari tangan kanan Huo Mo-Li menyerang ke arah dada Beng Beng Hoatsu dan baju pertapa itu telah terkena angin pukulan dan robek, agak hangus bagai terbakar, namun dada pertapa itu sendiri dapat terhindar dari bahaya pukulan karena gerakan Beng Beng Hoatsu yang bersilat dengan Ilmu silat Sin-Liong atau Naga Dewa itu memang sungguh luar biasa dan tak terduga perubahannya.
Huo Mo-Li menjadi terkejut sekali karena tak pernah ia menduga pukulannya yang paling hebat dan tak mungkin dihindarkan oleh musuh yang bagaimana tangguhpun, kini hanya dapat merobek baju Beng Beng saja!
Maka kedua orang itu maju menyerang makin sengit, hingga kedua orang murid yang menonton perkelahian itu makin menjadi pusing karena pandangan mereka kabur.
"Suhu pasti menang!"
Tiba-tiba Siauw Ma berkata kepada Lian Eng karena masih belum lenyap marah dan penasarannya kepada Huo Mo-Li.
Tapi tiba-tiba Lian Eng sebagai jawaban menggerakkan kedua tangannya, tangan kiri terangkat dengan jari-jari lempeng ke atas, sedang tangan kanan dirobohkan.
Siauw Ma mengerti bahwa maksudnya ialah, bahwa Huo Mo-Li yang akan menang, karena gundukan sinar dari pakaian Huo Mo-Li berada di kiri.
Siauw Ma heran sekali.
Mengapa gadis gagap ini membela Huo Mo-Li?
"Huo Mo-Li jahat, aku dipukulnya.
Beng Beng Hoatsu baik dan gagah,"
Katanya lagi memperkuat belaannya.
Lian Eng cemberut, lalu gerak-gerakkan tangannya.
Mula-mula Siauw Ma tidak mengerti maksudnya hingga gadis itu dengan gemas dan mata melotot harus beberapa kali ulangi gerakannya itu.
Akhirnya mengerti juga Siauw Ma bahwa Lian Eng hendak berkata demikian.
"Salahmu sendiri dipukul karena kau lancang memasuki kamarnya, Beng Beng Hoatsu orangnya galak dan soal kegagahan masih kalah dengan Huo Mo-Li!"
Karena perbedaan paham ini, keduanya lalu duduk diam dan tidak mau saling pandang. Mulut keduanya cemberut tanda hati kesal. Ketika mereka (Lanjut ke
Jilid 03) Patung Dewi Kwan Im (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 memandang ke arah pertempuran, ternyata bahwa perkelahian masih berjalan seru.
Tiba-tiba kedua anak muda itu melihat segunduk sinar biru ikut bergerak di antara kedua sinar yang sedang bertempur itu dan pada saat itu terdengar suara nyaring.
"Kalian dua orang gila berhentilah dulu! Beng Beng orang tua malas, hayo kau kembalikan cucu perempuan Souw Cin Ok!"
Setelah terdengar suara ini, ke tiga gundukan sinar itu tiba-tiba berhenti bergerak dan di antara Huo Mo-Li dan Beng Beng Hoatsu tampak berdiri seorang kakek tinggi kurus berbaju biru dan cambang bauknya putih berkibar tertiup angin karena panjangnya sampai ke perut!
Di tangan kirinya terdapat sebatang tongkat kecil.
Pada saat itu tahu-tahu di belakang Siauw Ma dan Lian Eng telah berdiri Souw Cin Ok!
Lian Eng segera menghampiri engkongnya dan menjatuhkan diri berlutut.
Souw Cin Ok mengelus-elus rambut kepala cucunya dengan hati girang karena ternyata cucunya itu sehat selamat tak kurang suatu apa.
"Eh, eh, Hwat Kong Tosu si tua bangka! Kau datang juga dan berani mengganggu permainan kami mau apakah?"
Beng Beng Hoatsu menegur dan kedua biji matanya terputar-putar aneh.
"Ha, ha, ha! Beng Beng si malas tak tahu diri. Kau lah yang keterlaluan! Kau mengganggu muridku Souw Cin Ok. Itu sih tidak apa karena aku bahkan merasa bersyukur kau suka memberi petunjuk kepada muridku."
"Hm, kalau kau datang untuk membalaskan muridmu, kau orang tolol! Tapi kalau datangmu bukan untuk itu, habis ada apa lagikah?"
Tanya Beng Beng Hoatsu dengan mendongkol. Tiba-tiba Huo Mo-Li tertawa, suaranya nyaring dan merdu tapi menyeramkan bulu tengkuk Souw Cin Ok yang baru ini melihat wanita hebat itu.
"Sungguh lucu! Sungguh kebetulan sekali! Tiga tokoh besar dari Pegunungan Thang-La dengan tak tersangka-sangka bertemu di sini!"
Hoat Kong Tosu menjura ke arah Huo Mo-Li.
"Memang telah lama kita tidak saling berjumpa. Setelah puluhan tahun itu, ternyata Huo Mo-Li makin cantik dan makin gila saja!"
Tentu saja Souw Cin Ok dan kedua anak, muda hanya dapat memandang bengong mendengar pembicaraan antara ketiga orang-orang tua yang main-main seperti tiga orang kanak-kanak saja.
Tapi Souw Cin Ok terkejut sekali karena kini ia dapat menduga siapa adanya wanita itu.
Ia telah mendengar nama Huo Mo-Li sebagai seorang iblis wanita yang lihai sekali.
Kini melihat bahwa iblis itu hanya seorang wanita yang demikian cantiknya hingga tampak seperti seorang gadis berusia duapuluh tahun, ia memandang dengan kagum.
"Beng Beng, mengapa kau paksa anak perempuan ini menjadi muridmu? Tidak becuskah kau mencari murid sendiri? Ia dibawa dari dunia ramai ke sini untuk menjadi muridku."
Kembali terdengar ketawa nyaring dari Huo Mo-Li.
"Nah, nah! Memang Beng Beng hari ini sedang sial! Baru saja berkelahi dengan aku beberapa ratus jurus dan belum ada yang kalah atau menang, sekarang datang Hwat Kong mengajak berkelahi! He, Beng Beng! Dosamu sudah terlalu besar barangkali."
Beng Beng Hoatsu sendiri tertawa dan matanya berputar-putar cepat.
"Hwat Kong, aku dengar kau telah mencipta ilmu tongkat Ouw-coa-koai-tung-hwat yang lihai. Apakah kau mau ajar anak perempuan itu main tongkat? Ah, tidak pantas sekali!"
Terdengar Huo Mo-Li tertawa lagi, mengejek Hwat Kong.
"Biarpun hanya tongkat, tapi tidak kalah indahnya dengan Sin-Liong-kiam-sut darimu!"
Hwat Kong balas menyindir.
"Kalau begitu, mengapa tidak main-main barang seratus jurus? Yang lebih indah itu yang berhak menjadi guru, tapi harus berhadapan dengan aku dulu!"
"Tidak adil, tidak adil!"
Beng Beng Hoatsu tertawa.
"Kau setan perempuan mau enak sendiri saja. Baiknya kita maju bertiga berbareng dan siapa di antara bertiga yang paling indah ilmunya berhak mengajar!"
"Gila! Kau dua orang laki-laki tua bangka mau mengeroyok aku?"
Huo Mo-Li cemberut dan wajahnya tampak makin manis. Hwat Kong yang lebih sabar dan panjang pikiran berkata.
"Sungguh memalukan! Masa kita yang disebut tiga setan dari Thang-La saling hantam sendiri hanya karena berebut murid? Baiklah dicari jalan yang lebih menyenangkan."
Sebenarnya ketiga tokoh persilatan ini disebut Thang-La Sam-Sian atau Tiga Dewa dari Thang-La.
Mereka bertiga merupakan tokoh-tokoh tertinggi di kalangan persilatan dan nama mereka dikenal di antara para ahli silat kelas tinggi dan para Locianpwe sebagai orang-orang aneh yang berilmu tinggi.
Ahli-ahli silat golongan muda takkan kenal nama mereka karena sudah puluhan tahun mereka mengasingkan diri di atas Pegunungan Thang-La.
Ketiga orang ini memang saling kenal puluhan tahun yang lalu sebelum mereka menjadi orang pertapaan, dan mereka boleh dibilang satu tingkat dalam hal ilmu kepandaian, hanya mereka mempunyai kehebatan masing-masing.
Beng Beng Hoatsu terkenal dengan Sin-Liong-kiam-sut, ilmu silat pedang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali.
Huo Mo-Li hebat dengan ilmu silatnya Huo-mo-kang, yakni tenaga api yang lihai sekali dari kedua lengannya.
Sedangkan Hwat Kong yang dulu terkenal sebagai ahli dari semua cabang persilatan, akhir-akhir ini mencipta ilmu silat tongkat yang disebut Ouw-coa-koai-tung-hwat atau Ilmu Tongkat Ular Hitam.
Ilmu silat tongkat ini memang lihai sekali dan belum pernah terkalahkan.
Mendengar pendapat Hwat Kong, Beng Beng menghela napas dan berkata kepada Huo Mo-Li.
"Memang kau dan aku adalah orang-orang bodoh dan pengetahuan kita hanya sampai di ujung jari saja. Memang tiada gunanya kita bertiga ribut untuk memperebutkan hal-hal remeh. Setelah kupikir-pikir, biarlah kau tinggal di gua apimu itu, karena sebenarnya akupun sudah biasa dan senang tinggal di gua es. Setelah sepuluh tahun dibekukan di sana, agaknya aku takkan dapat tahan selalu dijilat api itu. Hanya mengenai Lian Eng, gadis kecil gagu itu, entah bagaimana baiknya untuk diatur, coba kau pecahkan persoalan ini dengan otakmu yang encer, Hwat Kong Toyu!"
Hwat Kong kempit tongkatnya memandang ke arah Lian Eng yang mendengarkan semua itu dengan mata berseri. Lalu tosu tinggi kurus itu raba-raba jenggotnya.
"Kita ini orang-orang tua, harus berlaku adil, jangan seperti orang-orang muda yang menuruti napsu sendiri belaka. Usulku begini, asal pengangkatan guru biarlah kuserahkan kepada anak yang bersangkutan sendiri. Biarlah gadis gagu itu memilih. Cin Ok, suruh cucumu ke sini!"
Dengan gerak tangan Souw Cin Ok menyuruh Lian Eng maju menghampiri tiga orang aneh itu. Lian Eng maju dengan tabah dan sedikitpun tidak memperlihatkan wajah takut.
"Bagaimana pendapat kalian dengan usulku?"
Tanya Hwat Kong. Beng Beng mengangguk-angguk dan Huo Mo-Li tersenyum.
"Kau makin lemah lembut saja, terlampau dipengaruhi perasaan. Pantas saja tubuhmu makin kurus kering!"
Huo Mo-Li menegur Hwat Kong yang diganda tertawa saja.
"Bagaimana, akurkah!"
Tanyanya. Huo Mo-Li dan Beng Beng menyatakan setuju.
"Nah, dengarlah kau, anak gagu. Coba kau pilih sendiri, di antara kami bertiga orang-orang gila ini, siapa yang kau pilih untuk menjadi gurumu?"
Kata Hwat Kong kepada Lian Eng.
Gadis itu tadinya hendak memilih Hwat Kong karena tahu bahwa orang tua itu adalah suhu dari engkongnya.
Tapi karena sudah dua kali orang tua tinggi kurus itu menyebutnya "anak gagu", ia menjadi tak senang, apalagi ketika dilihatnya betapa Huo Mo-Li pernah memuji kecantikannya dan pernah menyatakan bahwa suka padanya, maka kini tak ragu-ragu lagi gadis kecil itu maju dan berlutut di depan Huo Mo-Li sambil mengangguk-anggukkan kepalanya!
Hwat Kong Tosu tertawa bergelak-gelak dan memandang kepada Beng Beng Hoatsu.
"Dasar perempuan, bagaimanapun juga tentu memilih kaumnya sendiri! Ah, kitalah yang sial, tidak laku untuk mendapat murid baik, Beng Beng."
Beng Beng menjawab.
"Jangan berkata begitu, lihatlah di sana itu, bukankah dia juga murid yang cukup baik?"
Ia menunjuk Siauw Ma yang segera maju berlutut. Hwat Kong menatap tajam ke arah pemuda itu dan menghela napas.
"Hm, matamu juga tajam benar. Ah, kalau begitu, akulah yang sial. Cin Ok memang murid baik, tapi ia sudah tua untuk dapat mempelajari ilmu tongkatku!"
Pertapa tinggi ini menghela napas kecewa. Pada saat itu, dengan suara hampir berbareng ke tiga orang aneh itu berkata.
"Ada orang datang!"
Baru saju mulut mereka berhenti berkata, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan di depan mereka berdiri seorang paderi atau imam yang mengenakan jubah kuning dan di dadanya terdapat lukisan tiga bunga teratai.
Juga rambut imam itu diikat menjadi satu di tengah-tengah, ujungnya digunting dan ikatan itu dihias dengan setangkai teratai perak.
Wajahnya angker dan sikapnya agung-agungan.
Di pundaknya tampak gagang siang-kiam atau pedang pasangan.
"Siapakah di antara cu-wi yang menjadi ketua Pegunungan Thang-La?"
Tiba-tiba saja imam asing itu bertanya dengan suara parau dan dialek barat. Beng Beng Hoatsu berpaling kepada Hwat Kong Tosu.
"Hwat Kong, kau yang sudah banyak merantau, tahukah kau dari mana datangnya orang yang berpakaian seperti ini?"
Hwat Kong maju menghampiri iman itu dan berjalan mengelilinginya seperti seorang yang sedang menaksir-naksir sebuah benda asing.
Juga Huo Mo-Li maju dan melihat-lihat pakaian imam itu dari segala jurusan.
Imam itu ikut berputar dan memandang dengan curiga.
Akhirnya Hwat Kong berhenti dan menjawab Beng Beng Hoatsu.
"Akupun baru kali ini melihatnya, tapi aku pernah mendengar tentang ia. Kalau tidak salah, di perbatasan padang rumput sebelah barat terdapat sebuah Kwan-Im-Bio, yakni Kelenteng Dewi Kwan-Im yang sangat besar dan menjadi pusat dari pada perkumpulan pemuja patung Dewi Kwan-Im yang disebut Kwan-Im-Pai. Melihat lukisan tiga tangkai teratai di atas dada imam ini, boleh jadi sekali dia ini seorang anggauta Kwan-Im-Pai."
Imam itu melihat sikap ke tiga orang yang saling mempercakapkan dirinya seolah-olah sedang membicarakan sebuah benda aneh dan nyata sekali tidak memandang mata padanya, tentu saja menjadi marah sekali.
"Hai, siapakah di antara kalian yang menjadi ketua Thang-La? Katakanlah aku hendak bicara,"
Ucapnya terdengar angkuh, agaknya imam itu tidak merasa lebih rendah tingkatnya dari pada ke tiga orang itu.
"Jawab dulu pertanyaanku, apakah betul kau seorang imam Kwan-Im-Pai?"
Huo Mo-Li yang adatnya tidak sabaran balas bertanya.
"Benar, aku adalah pendeta tingkat ketiga dari Kwan-Im-Pai!"
Jawab imam itu.
"Di manakah ketua Pegunungan Thang-La?"
"Nanti dulu, kau jawab dulu pertanyaanku!"
Beng Beng Hoatsu memotong.
"Kau ternyata imam dari Kwan-Im-Pai dan tingkatmu tinggi juga! Siapakah namamu!"
Biarpun Beng Beng Hoatsu berkata memuji, tapi suaranya menyatakan bahwa ia memandang ringan sekali dan bertanya seakan-akan kepada seorang anak kecil.
Tapi imam itu menjawab juga, biarpun keningnya dikerutkan tanda tak senang hati.
"Aku tak perlu memberitahukan nama, cukup kalian ketahui bahwa aku adalah seorang pendeta Kwan-Im-Pai tingkat ketiga. Biarkan aku bertemu dengan ketua pegunungan ini!"
"Eh, eh! Tidak sabar amat! Ada apakah kau hendak bertemu dengan dia?"
Hwat Kong Tosu ikut memajukan pertanyaan.
Imam asing itu menujukan matanya yang tajam kepada Hwat Kong.
Melihat tosu yang tinggi kurus dengan jenggot panjang putih sampai ke perut itu, timbul dugaannya bahwa inilah barangkali ketua Thang-La.
"Kau kah ketua Thang-La? Kalau betul, hayo kau cepat ambilkan patung kami dan kembalikan itu padaku!"
Tentu saja Hwat Kong Tosu memandang heran. Beng Beng Hoatsu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan ia menggoda Hwat Kong Tosu.
"Ah, jadi kau tua bangka masih menginginkan barang indah! Kau mencuri patung?? Ha, ha, ha!"
"Patung apakah itu hingga kau sampai capaikan diri mencuri?"
Huo Mo-Li bertanya kepada Hwat Kong. Hwat Kong memandang imam itu dengan melotot lalu berpaling kepada dua orang yang menggodanya.
"Ah, barangkali imam ini sudah miring otaknya! Siapa yang mencuri patungnya? Hm, karena ia telah menyangka aku mencuri patung, maka timbul keinginanku untuk mencurinya! Kudengar patung itu tingginya sampai tiga kaki dan seluruhnya terbuat dari pada emas murni dan sepasang matanya dari dua butir mutiara yang jarang bandingannya karena warnanya indah dan besar sekali!"
Imam itu mendengar orang memakinya otak miring, tentu saja menjadi makin marah, dan mendengar Hwat Kong tahu bahwa patung Dewi Kwan-Im yang hilang itu terbuat dari pada emas, ia makin curiga.
Dengan cepat sekali tahu-tahu sepasang pedangnya telah berada di kedua tangannya.
Ia menuding dengan pedang kirinya ke arah Hwat Kong dan memaki.
"Bangsat tua! Tentu kau yang mencuri patung kami. Hayo kau kembalikan itu kepadaku, kalau tidak lekas-lekas kau ambil dan kau berikan padaku, jangan kau menyesal kalau sepasang pedangku ini takkan memberi ampun dan putuskan tulang leher kedua kawanmu ini!"
"Eh, eh! Lihat, imam ini benar-benar telah gila!"
Hwat Kong berkata lagi dan Beng Beng Hoatsu berdua Huo Mo-Li tertawa nyaring sambil menunjuk-nunjuk imam itu.
Pendeta Kwan-Im-Pai atau Kwan-Im-Kauw itu memuncak marahnya dan dengan teriakan keras ia maju dan gunakan kedua pedangnya menyerang dengan berbareng ke arah tubuh Hwat Kong dari dua jurusan!
Inilah ilmu pedang sepasang dari Kwan-Im-Pai yang lihai.
Tapi kali ini imam itu tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan tiga dewa dari Thang-La!
"Ha, ha!
Ia mau penggal kepala kita!"
Hwat Kong berkata sambil tertawa kepada kedua kawannya, kemudian ketika sepasang pedang itu menyambar ke arah tubuhnya, entah bagaimana cara menangkisnya imam itu sendiri tidak tahu, tapi tahu-tahu kedua sin-kiamnya itu terpukul oleh sebatang tongkat kecil tapi yang mengeluarkan tenaga demikian hebatnya hingga sepasang pedangnya terpental dan terlepas dari pegangannya!
Sebelum imam itu dapat hilang kagetnya tahu-tahu Hwat Kong menangkap batang lehernya dengan tangan kiri dan sambil ayun tubuh imam itu Hwat Kong Tosu berkata kepada Beng Beng Hoatsu.
"Nah, terimalah algojo yang hendak memotong lehermu ini!"
Tubuh imam itu dilempar ke arah Beng Beng Hoatsu dan pertapa gemuk pendek itu sambil tertawa bergelak-gelak gunakan tangan kiri menjambret leher imam itu dan seperti yang dilakukan oleh Hwat Kong Tosu tadi, iapun putar-putar tubuh itu dan setelah ayun beberapa kali, ia lemparkan kepada Huo Mo-Li, sambil berkata.
"Huo Mo-Li, sudah siapkah kau untuk dipotong lehermu?"
Tubuh itu terlempar cepat ke arah Huo Mo-Li.
Wanita luar biasa ini tidak sudi pegang tubuh imam itu, maka ia gunakan tangan kiri menolak keras dan angin tenaga tolakannya yang penuh kekuatan Huo-mo-kang itu membuat tubuh imam itu terpental sebelum menyentuh tangannya!
Imam yang malang itu tadi hanya merasa pusing dan matanya berkunang karena Hwat Kong Tosu dan Beng Beng Hoatsu telah memegang batang lehernya dengan ilmu cengkeraman Eng-jiauw-kang yang sempurna, tapi setelah kena pukulan angin Huo-mo-kang, ia menjerit keras dan tubuhnya terpental kembali ke arah Hwat Kong!
Tongkat di tangan Hwat Kong berkelebat dan ujung tongkat itu dapat menahan tubuh yang terpental keras hingga tubuh itu tertahan lalu jatuh ke tanah yang tertutup salju dan imam itu merintih-rintih.
Untung sekali ia mempunyai latihan ilmu tenaga dalam yang cukup tinggi dan iapun telah meyakinkan ilmu weduk hingga tubuhnya cukup kuat.
Kalau tidak demikian, ia tentu mampus terkena angin pukulan Huo-mo-kang itu!
Imam itu merayap bangun dan memandang ke arah tiga orang itu berganti-ganti dengan tajam.
Kemudian ia menjura.
"Maaf tidak melihat orang-orang pandai di depan mata. Setelah mendapat pelajaran dari cu-wi, bolehkah mengetahui julukan cu-wi yang gagah?"
Hwat Kong mengelus-elus jenggotnya yang putih dan tersenyum.
"Kau mencari penyakit sendiri. Mau tahu nama kami? Nah, orang tua gemuk pendek tak berguna itu adalah Beng Beng Hoatsu!"
Beng Beng Hoatsu tertawa dan sepasang matanya berputaran ketika ia memandang kepada imam itu dan berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah Huo Mo-Li.
"Dan bidadari yang cantik jelita ini bukan lain ialah Huo Mo-Li!"
Huo Mo-Li tidak tersenyum kepada imam itu, tapi memandang dengan penuh ejekan.
"Imam kecil tak tahu diri! Masih untung kami tidak turunkan tangan jahat. Kalau tidak, jiwamu tentu telah berlutut di depan Giam-Lo-Ong! Tahukah siapa orang tua tinggi kurus ini? Dia adalah Hwat Kong Tosu. Kalau kau bicara dengan kami, suruhlah kakek gurumu ke sini! Kau orang sombong dan kasar ini tak berharga untuk bicara dengan kami. Nah, pergilah!"
Imam itu mengeluarkan keringat dari jidatnya ketika mendengar nama ketiga orang itu.
Baru sekarang ia tahu bahwa ia berhadapan dengan tiga tokoh cianpwe yang namanya pernah menggemparkan kalangan persilatan.
Dan tadi ia telah berlaku berani mati dan sombong!
Dengan gugup ia membungkuk dan cepat pungut sepasang pedangnya yang terpental tadi, lalu angkat kaki berlari secepat mungkin meninggalkan tempat berbahaya itu!
Ketiga dewa atau iblis Thang-La tertawa nyaring dan suara tertawa itu mengikuti imam itu turun gunung hingga imam dari Kwan-Im-Kauw itu makin ketakutan dan percepat larinya.
Setelah imam itu pergi jauh, Hwat Kong berkata kepada Huo Mo-Li dan Beng Beng Hoatsu.
"Kalian telah mendapat murid, tapi jangan kalian sombong. Lihat saja nanti, akupun akan mencari seorang murid yang lebih hebat dari pada kedua muridmu. Kita sama-sama lihat saja nanti, siapakah di antara kita yang paling pandai mendidik. Sepuluh tahun kemudian kita ajak ketiga murid kita bertemu di sini dan kita boleh adu ilmu kepandaian mereka! Setujukah kalian?"
Beng Beng Hoatsu menyambut gembira.
"Baik, baik! Sepuluh tahun kemudian kita adu murid-murid kita. Kita sendiri sudah terlalu tua untuk main-main kepalan, tapi kalau perlu, rasanya kepalanku masih cukup keras!"
Huo Mo-Li perdengarkan ketawa sindir.
"Kau kira kepalanku kalah keras?"
Hwat Kong Tosu mencela.
"Ah, kalian memang orang-orang keras kepala dan berdarah panas. Hendak dimulai lagi percekcokan yang tadi? Kalau memang kita masih penasaran untuk menentukan kepandaian siapa yang tertinggi dan terlihai, aku ada jalan untuk mengujinya!"
"Coba katakan usulmu, kau memang selalu paling banyak akal busuk!"
Kata Beng Beng Hoatsu.
"Dengarkah kau tadi tentang tuduhan imam jahat dari Kwan-Im-Kauw? Ia menuduh bahwa seorang di antara kita mencuri patung kelentengnya.
"Sepanjang pendengaranku, patung Dewi Kwan-Im yang berada di dalam Kelenteng Kwan-Im-Bio dan yang dipuja-puja oleh orang-orang Kwan-Im-Kauw, adalah sebuah patung yang betul-betul indah dan jarang terdapat keduanya. Dan selain itu, Kwan-Im-Kauw terkenal sebagai perkumpulan agama yang kuat dan berpengaruh karena ketua-ketua Kwan-Im-Pai kabarnya sangat lihai."
"Apanya yang lihai? Imam tadi tidak becus apa-apa!"
Huo Mo-Li mencela.
"Yang tadi hanya tingkat ketiga saja. Tapi biarpun tingkatnya baru ketiga, kurasa lwee-kangnya sudah boleh juga, kalau tidak, mana bisa tahan pukulan Huo-mo-kangmu? "Juga anggauta perkumpulan agama itu banyak sekali dan patung itu terjaga kuat. Mengapa sampai lenyap dan ada yang curi? Tentu pencurinya bukan sembarang orang.
"Nah, mari kita berlomba. Kita pergi mencari patung Dewi Kwan-Im itu, siapa yang bisa mendapatkan dan mempertahankan selama sepuluh tahun boleh dianggap yang paling lihai di antara kita bertiga. Setujukah?"
"Dan apa taruhannya?"
Beng Beng Hoatsu bertanya.
"Kau selalu hendak bertaruh! Tapi, aku teringat sesuatu. Bukankah tadi imam busuk itu menanyakan ketua Pegunungan Thang-La? Nah, siapa yang menang dalam perlombaan mencari patung Dewi Kwan-Im ini, dia berhak menjadi Ketua Thang-La dan yang lain harus tunduk kepada ketua!"
Mendengar usul ini, Huo Mo-Li yang sifatnya tidak mau kalah merasa setuju.
Ia ingin benar menjadi ketua dan kedua orang tua lihai itu tunduk padanya!
"Aku setuju.
Kita berlomba mencari dan mendapatkan patung tapi bagaimanapun juga, sepuluh tahun kemudian kita harus menguji kepandaian murid-murid kita di sini."
Sementara itu, Siauw Ma dan Lian Eng yang semenjak tadi melihat segala peristiwa itu, merasa gembira dan kagum.
Mereka tidak saling iri lagi karena tahu bahwa guru masing-masing memang cukup lihai dan sama-sama aneh adatnya.
Hanya Souw Cin Ok yaug merasa agak kecewa karena harus berpisah dari cucunya.
Tapi melihat kehebatan Huo Mo-Li, iapun terhibur juga dan mengharap saja dalam hatinya supaya Lian Eng kelak hanya mewarisi ilmu kepandaian saja dan jangan mewarisi adat yang aneh dan keras dari setan api wanita itu!
Setelah semua setuju untuk sepuluh tahun kemudian mengadakan pertemuan dengan murid masing-masing di atas puncak itu, mereka lalu bubar.
Huo Mo-Li mengajak Lian Eng masuk ke dalam guanya.
Beng Beng Hoatsu bawa Siauw Ma pulang ke puncak Harimau Salju dan setelah pesan kepada pelayannya untuk menjaga puncak, ia ajak Siauw Ma turun gunung untuk mulai mencari patung Dewi Kwan-Im.
Hwat Kong Tosu juga kembali ke gunungnya bersama Souw Cin Ok dan ia menyuruh muridnya itu menjaga tempat pertapaannya karena iapun langsung turun gunung untuk mulai dengan perlombaan itu dan sekalian mencari murid.
Sebaliknya Huo Mo-Li yang memang cerdik dan licin, ia tidak mau turun gunung tapi berdiam saja di guanya mengajar Lian Eng dalam ilmu silat karena ia hendak melihat Lian Eng menjadi murid terlihai di antara murid-murid lain.
Adapun tentang patung Dewi Kwan-Im, ia pikir tak perlu sibuk mencari ke mana-mana karena nanti saja kalau ia mendengar bahwa seorang dari pada kedua pertapa itu telah berhasil mendapatnya ia bisa datang ke guanya dan curi patung itu!
Sebenarnya apakah patung Dewi Kwan-Im yang dicari-cari oleh imam dari Kwan-Im-Kauw itu?
Dan mengapa imam itu menyangka ketua Gunung Thang-La yang mencurinya?
Marilah kita melihat sebentar keadaan di Kuil Kwan-Im-Bio yang terletak di perbatasan Sin-kiang, sebuah kuil atau kelenteng yang sangat besar dan mewah.
Di sebelah utara Tibet, yakni di Pegunungan Kun-lun-san bagian ujung barat, terdapat sebuah puncak bukit yang disebut Kwan-Im-San.
Puncak ini terletak di perbatasan antara Sin-kiang dan Tibet, dan pegunungan yang menjadi bagian dari Kun-lun-san ini disebut juga Pegunungan Kokoshili oleh orang-orang Tibet.
Di Puncak Kwan-Im-San inilah letaknya kuil atau Kelenteng Kwan-Im-Bio yang besar dan megah.
Kelenteng ini dahulu didirikan oleh orang-orang Han yang hendak meluaskan penyebaran agama yang mereka anut, Yakni penganut-penganut atau pemuja-pemuja Dewi Kwan-Im Pouwsat, ke dalam daerah Tibet yang terkenal fanatik menganut Agama Buddha dan terkenal mempunyai banyak buddha hidup yang disebut Lhama.
Ternyata agama baru ini tidak dapat memasuki Tibet karena Bangsa Tibet sudah terlalu kukuh dan kuat kepercayaannya terhadap agama lama mereka.
Tapi Kelenteng Kwan-Im-Bio itu dilanjutkan oleh para penganut Kwan-Im-Kauw dan bahkan dijadikan pusat karena agama itu di pedalaman Tiongkok juga tidak mempunyai banyak penganut.
Tempat ini dijadikan markas besar di mana para pendeta-pendeta menjadi utusan-utusan untuk menyebar agama itu ke seluruh daerah.
Pendiri dari Kwan-Im-Kauw atau sucouw mereka adalah Bu Su Sianjin yang telah lama meninggal dunia.
Kini tiga orang muridnya yang melanjutkan usahanya.
Tiga orang murid ini merupakan pendeta-pendeta tingkat pertama dan memiliki ilmu silat yang tinggi dan lihai sekali.
Berkat kerajinan tiga pendeta inilah maka ilmu silat Kwan-Im-Pai mendapat kemajuan pesat hingga tidak sia-sia almarhum Bu Su Sianjin menaruh kepercayaan kepada tiga orang muridnya ini.
Baca Juga: Pendekar Sadis 12
Baca Juga: Asmara Si Pedang Tumpul 3