Ceritasilat Novel Online

Pedang Asmara 5

Eps 5 Pedang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Asmara - Kho Ping Hoo.

Sepasang mata datuk besar itu makin mencorong dan hatinya semaki suka kepada gadis itu yang ternyata cerdik sekali sehingga mampu menjenguk isi natinya.

"Hemmm, coba sekarang katakan, yang dikehendaki ayahmu mengutus engkau dan orang terluka parah karena pukulan beracun ini datang ke sini!"

Bukan main girangnya hati Siang Bwee, akan tetapi perasaan itu disembunyikannya dalam hati.

Memang hebat sekali kakek ini, pikirnya.

Melihat dari jauh saja dia sudah tahu bahwa San Hong terluka pukulan beracun!

Orang selihai itu tentu akan mampu mengobati San Hong sampai sembuh.

"Begini, Lo-cian-pwe. Pertama-tama, ayahku mengutusku untuk menyampaikan salamnya kepada Locian-pwe."

Biasanya, orang-orang kang-ouw yang datang menyampaikan salam tentu disertai bingkisan berharga.

Akan tetapi gadis ini tidak membawa apa-apa.

Hal ini saja dapat dianggap sebagai penghinaan bagi tuan rumah, akan tetapi setelah para tokoh itu mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Nam Tok, merekapun tidak lagi merasa heran.

Bagaimanapun juga, tingkat atau kedudukan Nam Tok dengan Tung Kiam adalah seimbang.

"Hemmm, bagus ayahmu si tua bangka beracun itu masih ingat kepadaku!"

Kata Tung Kiam untuk mengisi kekosongan yang menegangkan karena salam itu tidak disusul bingkisan.

"Selain itu, ayah mendengar bahwa ilmu pengobatan dari Lo-cian-pwe maju pesat dan terkenal di seluruh dunia. Akan tetapi ayahku meragukan berita yang sampai ke telinganya bahwa tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan tusukan jarum dari Lo-cian-pwe!"

Sejak tadi San Hong hanya mendengarkan saja.

Diam-diam dia kagurr bukan main.

Ternyata Siang Bwee se orang gadis yang cerdik luar biasa, dan kini dia dapat melihat akal bagaimaru yang dipergunakan gadis itu untuk "memaksa"

Datuk besar itu mengobati lukanya.

Ternyata gadis itu hendak membangkitkan keangkuhan orang itu, menantang dan menyinggung kehormatannya!

sebagai seorang ahli pengobatan.

Mendengar ucapan gadis itu, berkerut alis Tung Kiam.

Benar-benar dia ditantang oleh Nam Tok!

Semua orang tahu bahwa nyawa manusia tidak berada di tangan manusia lain, dan tidak ada obat apa pun yang dapat menyembuhkan semua penyakit di dunia ini!

Akan tetapi karena ditantang, dia pun berkata dengan lantang.

"Ang Siang Bwee, katakan kepada ayahmu yang sombong itu! Biarpun kepandaianku belum berapa tinggi dalam ilmu pengobatan, akan tetapi kalau hanya mengobati penyakit dan luka akibat pukulan beracun Nam Tok saja, aku sanggup!"

"Aih, sungguh kebetulan sekali, Lo-cian-pwe! Memang begitulah tantangan ayah untuk menguji kepandaian Locian-pwe. Lihat, saudara ini bernama Kwee San Hong dan oleh ayah dipakai sebagai kelinci percobaan atau ujian. Ayah sengaja memukulnya sehingga terluka parah dan ayah menyuruh aku membawa dia ke sini untuk melihat apakah Lo-cian-pwe mampu menyembuhkan luka bekas pukulan ayah ini. Menurut pesan ayah, kalau Lo-cian-pwe tidak mampu, Lo-cian-pwe sepatutnya mengakui keunggulan ayah. Sebaliknya kalau Lo-cian-pwe mampu menyembuhkannya, ayah titip salam dan hormatnya disertai pujian dan kekaguman atas kelihaian Lo-cian-pwe."

Wajah Tung Kiam menjadi semakin merah padam.

Hatinya terasa panas sekali karena ucapan gadis, itu sungguh merupakan tantangan baginya.

Dia marah sekali kepada Nam Tok dan andaikata datuk besar itu berada di depannya, tentu akan langsung diterjangnya dan diajaknya mengadu kepandaian.

Akan tetapi, yang berada di situ hanyalah puterinya, seorang gadis yang masih muda sekali maka tentu saja dia merasa malu sekali kalau harus melayani seorang gadis yang belum dewasa benar, baru berusia delapan belas tahun.

Tantangan Nam Tok yang disampaikan puterinya itu diucapkan di depan para tamunya, yaitu para tokoh kang-ouw.

Mereka semua menjadi pendengar dan kalau dia tidak menerima tantangan itu, tentu dia akan ditertawakan dan dijadikan bahan percakapan orang-orang kang-ouw bahwa dia telah kalah oleh Nam Tok.

Akan tetapi kalau dia menerima tantangan untuk menyembuhkan korban pukulan beracun Nam Tok yang dia tahu merupakan pekerjaan yang amat sukar, berarti dia seperti dipermainkan oleh Nam Tok.

Menjadi serba salah memang!

Akan tetapi untuk menolak, lebih salah lagi!

Tiba-tiba dia tertawa, suara ketawanya menggetarkan jantung semua orang dan diam-diam San Hong dan Siang Bwee terkejut.

Suara ketawa itu mengandung tenaga khikang yang amat kuat dan kalau suara yang mengandung tenaga kuat itu dipusatkan untuk menyerang lawan, tentu akan dapat membuat lawan itu roboh tanpa dipukul!

"Ha-ha-ha, Nam Tok yang terkenal di dunia selatan itu ternyata hanya seorang yang licik sekali!

Menantang aku akan tetapi menyuruh puterinya, tidak berani muncul sendiri!

Akan tetapi, aku sudah ditantang dan tidak akan mundur selangkahpun.

Hei, Ang Siang Bwee, engkau puteri dan anak tunggal, juga utusan Nam Tok, dengarlah baik-baik.

Aku Tung-hai Kiam-ong Cu Sek Lam bukan seorang pengecut, bukan seorang penakut dan selama hidup aku tidak pernah menghindarkan diri dari tantangan siapapun juga.

Karena itu, sekarang pun kuterima tantangan Nam Tok itu.

Akan kusembuhkan orang ini!

Akan tetapi dengan syarat, tanpa syarat itu aku tidak sudi!"

Dia sengaja berhenti untuk menanti jawaban Siang Bwee.

"Kenapa mesti ada syarat-syarat segala, Lo-cian-pwe?"

Siang Bwee maklum bahwa di depan banyak tokoh kang-ouw ia harus berani menggertak dan menying gung kehormatan kakek ini agar si datuk besar ini tidak akan menarik kembal segala yang telah diucapkan karena na itu tentu akan membuat nama besarny tercemar.

"Kalau ayahmu sendiri yang datang ke sini, tentu aku tidak akan mengajukan syarat, melainkan langsung saja menantangnya mengadu ilmu. Akan tetapi karena dia licik dan mengutus kamu, maka harus disetujui syaratku, kalau tidak, aku pun tidak sudi memenuhi permintaannya begitu saja."

"Nah, kalau begitu sebutkan apa syaratnya, Lo-cianpwe."

"Kalau aku tidak mampu menyembuhkan luka yang diderita orang ini akibat pukulan ayahmu, sudahlah tidak perlu banyak cakap lagi, tentu para saudara yang hadir ini menjadi saksi akan ketidakmampuanku. Akan tetapi kalau aku berhasil, engkau harus mau menjadi mantuku!"

Siang Bwee terkejut bukan main.

Tak disangkanya akan seperti itu syaratnya yang diajukan oleh tuan rumah ini.

San Hong juga terkejut dan kini dia terpaksa membuka mulut karena dia merasa tidak enak sekali kepada gadis itu.

"Sudahlah, tidak perlu engkau mengorbankan diri terlalu banyak, Bwee-moi. Biarkan aku pergi mencari sendiri pengobatan lukaku."

"Engkau diamlah saja, Hong-ko."

Lalu disambungnya lebih keras.

"Engkau tidak berhak menentukan karena engkau hanya korban pukulan ayah yang dijadikan bahan untuk mengadu ilmu. Lo-cian-pwe, engkau sendiri pun tahu bahwa setiap orang gadis itu tentu sepenuhnya milik orang tuanya. Aku pun demikian. Yang berhak memutuskan tentang pernikahanku hanyalah ayahku. Oleh karena itu, kalau Lo-cian-pwe ingin mengambil mantu padaku, harap Lo-cian-pwe suka minta kepada ayahku!"

"Ha-ha-ha, engkau anak yang licik seperti ayahmu! Kalau kelak ayahmu setuju dan engkau menolak, bukankah engkau berarti hanya akan mengakali aku saja? Ha-ha-ha, Tung Kiam tidaklah begitu bodoh! Harus engkau yang lebih dulu menyetujui, soal ayahmu kelak, tentu aku akan menemuinya untuk membicarakan tentang perjodohan itu! Nah, syaratku demikian, yaitu kalau aku berhasil menyembuhkan pemuda ini, engkau harus mau menjadi mantuku. Bagaimana?"

"Itu tergantung ayahku....."

Gadis itu tetap membantah.

"Sudahlah, Bwee-moi, kalau engkau tidak setuju, tidak saja. Aku pun tidak mengharapkan disembuhkannya."

Kata San Hong.

"Hsss, diam sajalah kau!"

Siang Bwee membentak lirih.

"Kalau begitu, aku pun tidak sudi memenuhi permintaan ayahmu!"

Kata Tung Kiam tak acuh.

"Dan jangan kira bahwa aku tidak mampu memaksamu kalau engkau dan ayahmu menolak. Sekarang juga dapat saja engkau kutangkap dan kupaksa menjadi jodoh anakku!"

Diam-diam Siang Bwee terkejut.

Orang ini licik dan jahat sekali, dan kalau sampai marah tentu akan melakukan apa saja, sehingga ucapannya tadi bukan sekedar ancaman kosong.

Dan tentu saja ia tidak sudi menerima begitu saja lamaran orang ini untuk dijadikan calon isteri puteranya yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak pernah dilihatnya.

Kalau ia kukuh menolak, tentu dia tidak akan mau mengobati San Hong.

Kalau, ia menerima.

Ah, apa salahnya?

Menerima hanya agar dia mau mengobati San Hong!

Perkara pelaksanaannya, bagaimana nanti saja.

Ia dapat membujuk ayahnya agar tidak menerima pinangan Tung Kiam dan andaikata ayahnya ternyata menerima dan menyetujui perjodohan itu, bisa saja ia melanggar janji!

Melanggar janji merupakan hal "biasa"

Saja bagi golongan ayahnya dan juga Siang Bwee tidak pernah menganggap hal itu sebagai urusan penting.

Yang terpenting adalah mencari pengobatan untuk luka yang diderita San Hong.

Yang lain-lain tidak penting!

"Baiklah, aku menerima....."

"Bwee-moi.....!"

"Diamlah, Hong-ko, ini bukan urusanmu, melainkan urusan pribadiku!"

Kata Siang Bwee dan pemuda yang menjadi pucat mukanya itu terpaksa berdiam diri akan tetapi San Hong merasa betapa hatinya sakit.

Dia tahu sekarang bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis ini, dan kini Siang Bwee begitu saja menerima pinangan orang di depan matanya.

Hati siapa tidak akan pedih mendengarnya?

"Akan tetapi, Lo-cian-pwe, aku menerima asal dipenuhi segala tantangan ayah.

Yaitu agar Lo-cian-pwe dapat menyembuhkan luka akibat pukulan ayah, dan korban ini haruslah sembuh seratus prosen dan kembali sehat seperti sebelum dia dipukul!"

Tung Kiam tertawa bergelak.

"Bagus, kita telah berjanji dan disaksikan oleh para orang gagah di dunia kang-ouw yang kini hadir. Para sobat yang hadir telah mendengarkan bahwa aku akan menyembuhkan pemuda ini, dan kalau berhasil, maka nona Ang Siang Bwee puteri Nam Tok ini akan suka menjadi mantuku....."

"Kalau ayahku setuju pula!"

Sambung Siang Bwee cepat.

"Tentu saja dia akan setuju. Nah, para sobat suka menjadi saksi?"

Mereka yang hadir bertepuk tangan menyatakan setuju sehingga Siang Bwee merasa betapa mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar, la telah melakukan permainan yang amat berbahaya, berjanji pada seorang datuk besar seperti Tung Kiam merupakan pertaruhan nyawa!

Namun, ia terpaksa melakukannya untuk menolong San Hong, karena kalau ayahnya sendiri tidak mau mengobatinya, hanya tinggal Tung Kiam seorang inilah yang boleh diharapkan.

Kalau Tung Kiam tidak mau menolong, berarti nyawa San Hong akan melayang dalam waktu paling lama setahun.

Tung Kiam memberi perintah kepada para pelayan untuk mempersiapkan meja lebar di tengah ruangan itu.

Para tamu diperbolehkan menonton, bahkan mereka itu dijadikan saksi agar menyebarkah berita ke seluruh kang-ouw bagaimana; Tung Kiam menyembuhkan luka beracun akibat pukulan Nam Tok dan dengan demikian memenangkan, tantangan Nam Tok!

Tentu saja Tung Kiam tidak akan berani demikian congkaknya kalau saja dia tidak sudah yakin bahwa dia akal mampu menyembuhkan San Hong!

Tadi diam-diam dia telah memperhatikan wajah pemuda itu untuk mencari tanda tanda orang terancam bahaya maut Akan tetapi, yang didapatkannya adala tanda bahwa pemuda itu menderita luka di dalam, luka beracun, akan tetapi nyawanya sama sekali belum terancam!

Dan memang penglihatannya itu tepat.

Nam, Tok memberinya pukulan beracun yang racunnya berjalan perlahan-lahan sehingga pemuda itu akan dapat bertahan hidup selama setahun!

Dan luka beracun macam ini bagi Tung Kiam tidaklah terlalu sukar untuk dilawan dan dikalahkan!

"Orang muda, engkau berbaringlah di tengah meja ini, buka bajumu dan menelungkup!"

Kata Tung Kiam sambil membuka buntalan jarum-jarumnya dan nemilih beberapa batang jarum, memasukkannya ke dalam cairan yang berada di dalam mangkok besar.

Biarpun hatinya masih tidak setuju melihat Siang Bwee mengorbankan diri, mau menjadi calon mantu datuk besar ini untuk menyembuhkannya, namun San Hong tidak melihat jalan lain kecuali menurut apa yang diperintahkan Tung-hai Kiam-ong Cu Sek Lam.

Dia membuka bajunya, lalu merebahkan diri menelungkup di atas meja yang panjang itu.

Siang Bwee berdiri di dekat meja, memandang dengan hati penuh ketegangan, namun wajahnya cerah, berseri dan ia tersenyum, senyum yang ia sengaja pasang dengan sikap mengejek seolah-olah ia mewakili ayahnya memandang rendah kemampuan Tung Kiam dan memperlihatkan sikap tidak percaya bahwa Tung Kiam akan mampu mengobati dan menyembuhkan korban pukulan ayahnya itu!

Sebelum memulai dengan pengobatanuya, Tung Kiam lebih dulu memeriksa keadaan luka bekas tangan Nam Tok di punggung.

Dia melihat bahwa pukulan itu tidak sampai merusak terlalu hebat bagian dalam punggung, akan tetapi hawa beracun yang mengeram di dalam tubuh itu lambat laun akan menjadi pembunuh yang kejam.

Memang tidak ada obatnya bagi luka seperti itu, kecuali kalau mengeluarkan hawa beracun itu lebih dulu Akan tetapi Nam Tok sungguh licik karena hawa beracun yang disalurkan lewat pukulan telapak tangan di punggung itu telah menyusup ke dalam di antara dada dan perut sehingga tidak mungkin disedot dengan sin-kang tanpa membahayakan bagian-bagian lemah di dalam rongga dada.

Jalan satu-satunya hanya mencairkannya dengan jalan menusuk syaraf-syaraf halus dan bagian tertentu sehingga hawa beracun itu akan dapat terseret oleh hawa dalam tubuh dan menguap melalui lubang-lubang kulit tubuh.

Memang tidak mudah, akan tetapi dia, ahli tusuk jarum nomor satu di daerah timur, pasti dapat melakukannya!

Diapun memeriksa kekuatan pemuda itu, karena untuk menerima pengobatan tusuk jarum membersihkan hawa beracun ini, tubuh si sakit harus memiliki kekuatan yang cukup.

Ketika dia menekan tubuh pemuda itu, dia terkejut sekali, terbelalak seperti tidak percaya.

Tekanannya bertemu dengan tenaga dalam tubuh yang amat hebat!

Padahal, pemuda itu sama sekali tidak mengerahkan tenaga, hal yang memang wajar karena kalau dia mengerahkan tenaga, luka itu akan menusuknya dari dalam.

Dia menekan lagi untuk meyakinkan, kemudian tertawa gembira sambil memandang kepada Siang Bwee.

"Ha-ha-ha, sekali ini Nam Tok ketemu batunya dan kecelik! Korbannya ini bukan orang sembarangan, bahkan kalau pukulannya itu tidak beracun, belum tentu pemuda itu roboh olehnya, ha-ha-ha! Hei, orang muda, engkau memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, mengapa engkau dijadikan korban oleh Nam Tok? Siapakah engkau sesungguhnya?"

"Namaku Kwee San Hong dan Nam Tok adalah musuh besarku!"

Kata San Hong terus terang.

"Ahhh? Begitukah? Akan tetapi mengapa dia mengirimmu kepadaku kalau memang dia musuh besarmu?"

"Lo-cian-pwe, engkau hendak mengobatinya ataukah hendak mengajaknya mengobrol? Hong-ko,engkau adalah tawananku, bukan orang bebas, ingat? Engkau tidak perlu banyak bicara. Lo-cian-pwe, memang benar Kwee San Hong ini musuh besar ayahku,dan dia ini juga sahabatku. Karena itu, maka ayah masih memberi kesempatan kepadanya dan hanya melukainya saja, belum membunuhnya. Ayah sengaja hendak menggunakan dia sebagai korban untuk mengujimu dan dia mengutus aku membawa Kwee San Hong ke sini untuk menguji kepandaianmu mengobati. Kalau dia sudah sembuh benar, sama sekali sembuh, dia masih boleh sekali lagi mencari dan menyerang ayah dan yang ke dua kalinya itulah ayah akan membunuhnya!"

Tung Kiam mengangguk-angguk, tidak heran akan keputusan aneh sekali itu.

Bagi dia, sikap aneh itu memang sudah sewajarnya bagi seorang datuk besar.

Dia sendiri pun suka melakukan hal yang aneh-aneh, di luar dugaan dan perhitungan manusia biasa!

"Bagus!

Kalau begitu, aku akan menyembuhkan dia!"

Pengobatan dimulai.

Pertama-tama, dengan jari telunjuknya, Tung Kiam menotok San Hong yang menjadi lemas dan tidak mampu bergerak.

Hal ini dilakukan agar semua syarafnya mengendur dan dia tidak akan bergerak selama dalam pengobatan.

Mulailah Tung Kiam menusukkan jarum-jarum emasnya.

Tiga buah jarum ditusukkan di ubun-ubun kepala dan kedua pelipis.

Lalu tengkuknya ditusuk pula, dan beberapa bagian punggung di sekitar luka.

Masing-masing jarum itu dibiarkan tinggal beberapa menit, dicabut ditusukan lagi di lain bagian.

Ketika ia melakukan ini, suasana hening sekali dan semua mata mengikuti gerakan tangannya dengan penuh kagum.

Memang tangan itu cekatan sekali, tidak pernah bergetar sedikit pun ketika menusukkan jarum, dan begitu pasti, begitu tepat.

Mata itu pun tidak pernah berkedip dan agaknya seluruh perhatian dan tenaga dikerahkan dan dipusatkan pada titik-titik penusukan jarum.

Dahi dan leher Tung Kiam penuh keringat dan bahkan dari kepalanya keluar uap putih!

Dari kenyataan ini saja jelaslah bahwa dia telah mempergunakan banyak tenaga untuk mengobati luka yang amat berbahaya itu, dan dari ini saja dapat diketahui betapa hebatnya pukulan dari Nam Tok!

Tusukan-tusukan jarum itu berlangsung terus menerus dan bertubi-tubi sampai satu jam lamanya!

Kemudian disusul dengan pemanasan bagian luka di punggung dengan mendekatkan bara api.

Dari dekat meja, dengan sepasang matanya yang jeli dan amat tajam, Siangi Bwee mengamati semua gerakan pengobatan itu dan ia melihat betapa perlahan-lahan, warna menghitam di punggung itu semakin menipis dan akhirnya setelah Tung Kiam meloncat mundur dan menjatuhkan diri di atas kursi sambil memejamkan mata, kemudian turun dari kursi dan duduk bersila di lantai sambil mengatur pernapasan, ia melihat punggung San Hong sudah bersih sama sekali!

Tahulah ia bahwa Raja Pedang Lautan Timur itu telah berhasil menyembuhkan San Hong!

Dan bukan mudah pekerjaan itu, karena kini buktinya Tung Kiam seperti kehabisan napas dan duduk bersila memulihkan tenaganya.

Tak lama kemudian, Tung Kiam bangkit lagi dan wajahnya berseri-seri, senyumnya melebar dan dia menggapai seorang pelayan wanita tercantik, menyuruhnya mengusapi muka dan lehernya yang penuh keringat dengan saputangan wanita itu.

Dengan penuh gairah dan kasih sayang, pelayan itu melakukan perintah ini.

Setelah selesai, Tung Kiam menghadiahinya dengan cubitan di dagu yang manis meruncing itu dan menyuruhnya mundur.

"Ang Siang Bwee, lihat! Pemuda itu sudah sembuh, tinggal memberinya sebutir pil dan dia akan sehat kembali seperti sebelum dia terkena pukulan ayahmu yang tidak berapa hebat!"

"Lo-cian-pwe, memang engkau hebat. Akan tetapi kulihat tidak mudah engkau menyembuhkan satu pukulan ayah, dan telah memeras banyak tenagamu!"

Tung Kiam menghela napas.

"Tidak kusangka bahwa selama hidupku, belum pernah aku melihat bekas pukulan seperti itu. Akan tetapi, bagaimanapun juga, buktinya aku telah mampu menundukkannya, mampu menyembuhkan akibat pukulan itu, bukan?"

Tung Kiam lalu membebaskan totokan pada tubuh San Hong dan memberinya sebutir pil untuk ditelan.

Setelah menelan pil itu, San Hong merasa betapa tubuhnya segar.

Dia mencoba untuk diam-diam mengerahkan sin-kang di dalam tubuhnya dan dia tidak lagi merasa nyeri.

Maka, dia pun cepat memberi hormat dan bersoja mengangkat kedua tangan ke dada kepada Tung Kiam.

"Banyak terima kasih atas pertolongan Lo-cian-pwe sehingga saya menjadi sehat kembali!"

Akan tetapi, Tung Kiam tidak mempedulikan ucapan terima kasih dari San Hong, melainkan kini dia memandang pemuda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, dan bertanya.

"Orang muda, engkau tadi mengatakan bahwa engkau adalah musuh besar Nam Tok, katakan, mengapa engkau memusuhinya?"

San Hong sebetulnya tidak suka membicarakan urusan permusuhannya dengan Nam Tok karena membicarakan urusan itu hanya mendatangkan perasaan tidak suka kepada Siang Bwee.

Akan tetapi, datuk besar ini baru saja menyembuhkannya, maka bagaimanapun juga dia harus berterima kasih kepadanya.

Maka, dia pun menjawab sejujurnya, bahkan jawaban ini seolah-olah dia katakan untuk membela dirinya di depan Siang Bwee.

"Karena Nam Tok telah membunuh ayah dan ibuku!". Mendengar ini, tiba-tiba Tung Kian. tertawa bergelak-gelak. Dan mendadak pula segera ketawanya berhenti dan kini dia sudah memandang lagi wajah pemuda itu penuh selidik.

"Siapakah gurumu dalam ilmu silat?"

"Saya murid Thian-san Ngo-sian."

"Uhhh!"

Tung Kiam mengerutkan alisnya.

"Murid mereka berlima?"

San Hong mengangguk dan Tung Kiam berkata lagi.

"Masing-masing dari mereka tidak akan mampu menandingi Nam Tok, akan tetapi kalau kelimanya yang maju, belum tentu Nam Tok kuat bertahan. Bagaimana engkau sampai terluka olehnya! Apa yang membuatmu sampai kalah?"

Wajah San Hong berubah kemerahan "Dia lihai sekali, terutama ilmu tongkatnya dan ilmu pukulannya yang beracun"

San Hong mengerling ke arah Siang Bwee dan dia merasa heran sekali melihat wajah gadis itu berseri dan agaknya gadis itu sama sekali tidak menaruh keberatan mendengarkan percakapan itu bahkan ada bayangan kegembiraan pada wajah yang cantik itu.

"Ha-ha-ha, tentu saja! Nam Tok terkenal dengan ilmu tongkatnya dan ilmu pukulan beracunnya. Nona, bukankah ilmu tongkat ayahmu itu Hek-liong-jio-cu dan pukulannya adalah Hek-in Pay-san?"

"Engkau sudah mengetahuinya, Lo-cian-pwe. Apalagi hanya pemuda ini, biar Lo-cian-pwe sendiri pun tidak akan mampu menandingi ilmu tongkat dan ilmu pukulan dari ayahku!"

Jelas bahwa gadis ini memandang rendah sekali kepada datuk besar ini walaupun tadi diakuinya ilmu pengobatan dari Tung Kiam yang bernasil menyembuhkan luka yang diderita San Hong.

"Hemmm, engkau sombong, Nona, seperti ayanmu! Kaukira ilmu-ilmu ayahmu itu tidak ada yang mampu menandingi? Oya, orang muda, apakah engkau akan kembali mengadu ilmu dengan Nam Tok?"

"Tentu saja!"

Siang Bwee mendahului San Hong.

"Dia akan kembali bersamaku menghadap ayah dan melanjutkan perkelahian mereka. Akan tetapi sekali ini ayah pasti akan memukulnya sampai mati!"

San Hong tertegun, sama sekali tidak mengerti akan sikap gadis itu.

Bukankah Siang Bwee selalu melindunginya dan sama sekali tidak menginginkan dia bermusuhan dengan ayahnya?

Akan tetapi sekarang, kenapa kepada Tung Kiam gadis itu berkata demikian?

Apa maksudnya?

Ataukah sikapnya memang sudah berubah?

Tung Kiam mengerutkan alisnya, lalu dia tertawa kembali.

Agaknya datuk besar ini pun seorang yang pandai sekali menutupi perasaan hatinya.

Biarpun dia merasa mendongkol dipandang rendah akan tetapi dia masih mampu menutupi rasa dongkolnya itu dengan suara ketawanya.

"Bagus, bagus! Orang muda, maukah engkau ikut denganku ke lian bu-thia (ruangan berlatih silat) dan akan kuajarkan kepadamu beberapa jurus pilihanku agar engkau dapat menandingi, bahkan mengalahkan Nam Tok!"

San Hong memang merasa bingung bagaimana agar dia dapat mengalahkan Nam Tok yang amat jahat dan kejam yang telah membunuh orang sekampungnya itu.

Maka, begitu mendengar betapa datuk besar yang amat lihai ini hendak mengajarkan silat untuk menjatuhkan Nam Tok, tentu saja dia menjadi girang dan tanpa banyak cakap lagi dia mengangguk dan siap mengikuti datuk besar itu.

Tung Kiam berpaling kepada para tamunya, mempersilakan mereka untuk melanjutkan makan minum dan sesudah itu mempersilakan pula untuk kembali ke tempat masing-masing.

Lalu dia menyuruh seorang pelayan untuk menyediakan sebuah kamar untuk Siang Bwee.

"Engkau boleh tunggu sampai kurang lebih seminggu, baru boleh membawa pemuda ini pulang. Sementara itu, engkau boleh tinggal di sini menjadi tamu kami, sekalian menanti pulangnya Cu See Han, tunanganmu agar kalian dapat saling berkenalan."

Siang Bwee hendak membantah atau mengeluarkan ucapan yang tidak enak, akan tetapi hatinya terlampau girang mendengar bahwa San Hong akan diberi pelajaran silat oleh datuk besar itu.

Dia memang sedang dalam keadaan gembira bukan main.

Gembira karena San Hong sudan sembuh sama sekali, hal itu berarti bahwa satu di antara syarat ayahnya telah dapat dipenuhi.

San Hong sudah sembuh dan dapat ia ajak menghadapi ayahnya sebagai calon suaminya!

Syarat ke dua adalah bahwa San Hong harus mampu menahan serangan ayahnya selama dua ratus jurus!

Kalau San Hong tidak mendapat gemblengan-gemblengan orang pandai, mana mungkin dapat bertahan sedemikian lamanya?

Maka, kini Tung Kiam hendak menggemblengnya walaupun dengan alasan yang sama sekali berlainan, maka tentu saja ia merasa gembira bukan main.

Tentang perkenalan dengan "tunangan"

Yang bernama Cu Se Han itu, ia tidak peduli amat.

Maka, ia pun mengangguk dan mengikuti pelayan cantik yang; membawanya ke sebuah kamar yang indah dan mewah yang jendelanya menghadap kebun bunga yang indah, sementara itu, San Hong diajak masuk ke dalam lian-bu-thia ole Tung Kiam.

Karena Siang Bwee tidak diperkenankan bertemu dengan San Hong, apalagi nonton cara pemuda itu digembleng oleh Tung Kiam, maka untuk melewatkan waktu, ia selalu berjalan-jalan di dalam kebun bunga.

Memang taman itu indah sekali dan terawat baik.

Luas dan ditanami bermacam-macam bunga yang pada waktu itu sedang berkembang.

Di tengah taman yang luas itu terdapat beberapa buah pondok kecil mungil yang dicat warna-warni, juga di antara kelompok pondok kecil ini terdapat sebuah danau kecil buatan yang penuh dengan bunga teratai dan ikan-ikan emas yang gemuk-gemuk.

Siang Bwee senang sekali duduk di atas bangku panjang yang berkasur, di depan pondok yang menghadap danau, atau kadang-kadang ia mendayung perahu kecil yang tersedia di situ sambil minum anggur.

Ia boleh minta makanan atau minuman apa saja dari para pelayan dan di tempat itu ia benar-benar dianggap sebagai tamu agung, apalagi karena semua pelayan meuganggapnyu sebagai tunangan kongcu mereka, tentu saja nona itu mereka layani dengan penuh penghormatan.

Malam itu adalah malam yang ke enam, Siang Bwee menghitung.

Sudah enam hari ia tidak bertemu dengan San Hong maupun.Tung Kiam.

Ia sudah berusaha menyelidiki, namun selalu gagal karena lian-bu-thia yang berada di bagian belakang bangunan itu selalu tertutup dan terjaga oleh para pelayan wanita.

Agaknya para tamu sudah pulang semua sehingga keadaan di gedung itu sunyi, ia mencoba untuk bertanya kepada para pelayan itu, namun selalu mereka itu menggeleng kepala mengatakan tidak tahu ke mana perginya Kwee San Hong dan Tung Kiam, walaupun mereka memberi jawaban dengan sikap hormat.

"Tung Kiam mengatakan akan mengajarkan ilmu selama seminggu kepada Hong-ko,"

Pikirnya.

"Dan sudah lewat enam hari. Tentu besok, hari. ke tujuh, dia .akan membebaskan Hong ko dan kita dapat meninggalkan tempat yang menyeramkan ini."

"Aiiih, bidadari dari manakah duduk termenung seorang diri dan merasa kesepian di sini? Bolehkah aku menemanimu dan bersama-sama mengusir kesunyian malam terang bulan ini, bidadari jelita?"

Siang Bwee terkejut, lalu cepat menoleh.

Ia melihat munculnya seorang pemuda, bertubuh sedang dan berwajah tampan, bahkan terlalu tampan sampai seperti wanita dengan wajahnya yang berkulit halus dan putih.

Pakaiannya seperti seorang sastrawan muda, serba bersih, akan tetapi pakaian sastrawan itu menjadi aneh ketika ia melihat gagang pedang tersembul di balik pundaknya.

Usia pemuda itu kurang lebih dua puluh tiga tahun, senyumnya memikat dan matanya mencorong aneh sehingga Siang Bwee seolah-olah merasa betapa sinar mata yang memandangnya, itu seperti hendak mencopoti pakaiannya dan menelanjanginya!

Dan sinar mata itu seperti meraba-raba seluruh tubuhnya sehingga ia diam-dram menggigil ngeri.

Kemudian teringatlah ia.

Mata dan mulut itu, dagu yang membayangkan ketinggian hati.

Ah, sudah pasti inilah pemuda putera Tung Kiam yang bernama Cu See Han itu.

"tunangannya"! Seketika wajahnya terasa panas dan berubah kemerahan. Pemuda itu agaknya memang seorang yang sudah mengenal betul gerak-gerik wanita. Biarpun perubahan wajah yang menjadi kemerahan itu sukar dapat di-lihat di bawah sinar bulan, namun agaknya dia mengetahuinya dari gerak-gerik dan sikap gadis itu.

"Wahai bidadari yang jelita, mengapa wajahmu tiba-tiba menjadi kemerahan, denyut jantungmu menjadi kencang dan dadamu yang indah itu berdebar-debar?"

Siang Bwee telah mampu menekan perasaannya dan mengembalikan ketenangannya.

Diam-diam ia memuji pemuda ini.

Sungguh seorang pemuda yang berbahaya sekali bagi wanita, pikirnya.

Tampan,!

pandai bicara dengan kata-kata yang manis merayu, sikapnya menarik dan menyenangkan!

Tentu banyak sekali wanita yang belum apa-apa sudah bertekuk lutut hanya karena kepandaiannya merayu dan mengambil hati, pikirnya.

Akan tetapi, ketika ia teringat bahwa kepada pemuda inilah ia hendak dipaksa berjodoh, hatinya menjadi panas sekali karena merasa penasaran.

Andaikata tidak ada urusan jodoh itu, tentu ia akan menyambut pemuda ini dengan lebih ramah karena ia pun seorang yang jenaka dan lincah, tentu akan senang bertemu dengan orang yang juga jenaka dan pandai bicara seperti pemuda ini.

"Eh, bukankah engkau ini yang bernama Cu See Han?"

Tanyanya.

Pemuda itu tertegun, merasa seperti ditodong saja!

Sungguh seorang gadis yang luar biasa, pikirnya.

Tadi dia pulang dan mendengar dari para pelayan, yaitu gadis-gadis pelayan cantik yang juga menjadi selir-selir ayahnya, juga menjadi para kekasih gelapnya, bahwa di rumah itu kedatangan dua orang, seorang pemuda dan seorang gadis cantik.

Si pemuda sedang sibuk di lian-bu-thia bersama ayahnya dan katanya tidak boleh diganggu, sedangkan si gadis kini sedang duduk seorang diri di taman bunga.Karena tidak dapat menemui ayahnya, maka dia pun pergi ke taman, hatinya segera tertarik mendengar bahwa di sana malam ini terdapat seorang tamu, seorang gadis cantik duduk seorang diri!

Dan kini, gadis itu dengan sikap begitu biasa, terbuka dan tanpa sopan santun, begitu saja mengemukakan dugaannya yang tepat.

Agaknya gadis ini pernah mendengar namanya.

Gadis itu seolah-olah tidak menghiraukan semua rayuannya tadi, seperti hembusan angin lalu saja.

Padahal, lain gadis kalau dirayu seperti itu, bukan hanya menjadi merah mukanya, akan tetapi juga biasanya menjadi lemas, tak mampu bicara dan hanya memejamkan mata ketika jatuh ke dalam pelukannya!

Akan tetapi gadis ini seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali, hanya merah mukanya sebentar lalu bahkan menodongnya dengan pertanyaan yang lantang dan terbuka!

Kini dialah yang menjadi salah tingkah, merasa berkurang harga dirinya dan dia pun tersenyum masam, lalu duduk di atas bangku panjang itu, di sebelah Siang Bwee.

Dan gadis itu tidak berdiri, seolah-olah tidak merasa kikuk melihat ada seorang pemuda asing duduk di sebelahnya.

Dia tidak tahu bahwa gadis itu bukanlah gadis dusun pemalu, atau gadis kota yang congkak, melainkan seorang gadis kang-ouw yang sudah biasa bergaul, menganggap sama antara pria dan wanita!

Timbul pula harapan See Han, pemuda itu.

Melihat gadis itu memperbolehkan dia duduk di sebelahnya, dia mengira bahwa bagaimanapun juga, gadis ini sudah tertarik kepadanya dan tidak keberatan untuk duduk bersanding.

Maka kembali senyumnya menjadi manis menarik dan matanya berkilat.

"Aih, tentu engkau seorang bidadari tulen yang baru turun dari angkasa melalui sinar bulan! Engkau cantik jelita seperti bidadari dan engkau juga pandai mengenal orang tanpa bertanya dulu, sudah tahu namaku.....!"

"Sudahlah, buang saja sikap menjilat-jilat itu, Cu See Han. Katakan apakah benar engkau Cu See Han putera Tung Kiam?"

Kembali senyum di bibir pemuda itu berubah masam.

Kurang ajar, pikirnya dongkol.

Perempuan ini sungguh tidak menghargainya sama sekali!

Dia yang menjadi rebutan semua gadia di daerah pantai timur, kini dianggap seperti seorang pelayan saja, bahkan seperti sampah!

"Hemmm, memang benar.

Aku Cu See Han, putera Tung-hai Kiam-ong Cu Sek Lam, pemilik rumah ini!

Dan engkau ini siapakah, Nona?"

"Namaku Ang Siang Bwee, puteri Nam-san Tok-ong Ang Leng Ki yang menjadi utusan ayah berkunjung kepada Tung Kiam untuk menguji kepandaiannya"

Jawaban itu dikeluarkan dengan sikap yang tidak kalah tinggi hati, dan sekali ini benar-benar Cu See Han terbelalak!

Tentu saja dia sudah mendengar akan nama Nam-san Tok-ong, datuk sesat yang setingkat dengan kedudukan ayahnya!

Pelayannya tadi tidak memberi tahu sehingga dia terkejut karena tidak menyangka sama sekali.

Gadis ini demikian cantik manis, dan sebagai puteri Nam-san Tok-ong tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi pula!

Jelas bukan seorang gadis biasa seperti yang selama ini dia dapatkan berganti-ganti setiap hari sehingga membosankan.

Tiba-tiba saja timbul gairahnya, sedemikian hebatnya sehingga seketika dia pun jatuh cinta kepada gadis itu.

Inilah gadis yang selama ini diidam-idamkannya, pikirnya.

Cantik, jelita, manis, nampaknya cerdik dan tentu gagah perkasa, puteri seorang yang setingkat kedudukannya dengan ayahnya!

Pantas menjadi isterinya Dia pun melempar kebiasaannya merayu seperti kalau berhadapan dengan wanita biasa dan dia pun cepat bangkit berdiri, lalu bersoja dengan tubuh membungkuk dan sikapnya sopan sekali.

"Ah, harap engkau sudi memaafkan aku, Nona. Kiranya Ang-siocia yang menjadi tamu ayah! Selamat bertemu, Nona dan terimalah hormatku sebagai seorang tamu yang kami hormati!"

Menghadapi sikap seorang "terpelajar"

Seperti ini, tentu saja Siang Bwee terpaksa juga membalas penghormatan itu, dan biarpun kini suaranya halus, namun tetap saja ia tidak meninggalkan kepolosannya.

"Aih, sudahlah, Cu-kongcu, tidak perlu engkau mengambil sikap yang terlalu sungkan. Aku menjadi tamu di sini hanya karena harus menanti sampai ayahmu selesai mengajarkan ilmu kepada Kwee San Hong."

Mendengar ini, tentu saja See Han menjadi penasaran sekali.

Ayahnya mengajarkan ilmu kepada seorang lain?

Dia yang tadinya sudah sama-sama duduk kembali dengan Siang Bwee, walaupun keduanya menempati kedua ujung bangku sehingga agak berjauhan dalam batas yang sopan, kini bangkit kembali dan kedua tangannya terkepal.

Bagaimana mungkin ayahnya mengajarkan ilmu kepada orang lain?

"Siapakah itu Kwee San Hong?"

Tanyanya dan karena marah dan penasaran, dia pun lupa akan sikap sopan santun.

Melihat betapa pemuda ini seperti orang penasaran dan marah, Siang Bwee mendapat kesempatan untuk memanaskan hatinya, juga sekaligus untuk menyatakan perasaan hatinya bahwa ia tidak mau dijodohkan begitu saja dengan pemuda ini.

Biarpun harus ia akui bahwa pemuda ini tidak kalah tampan dibandingkan San Hong bahkan lebih pandai mengambil hati, dan dalam hal ilmu kepandaian juga belum tentu pemuda ini kalah, akan tetapi ia sudah terlanjur panas dan tidak suka kalau perjodohan kepadanya dipaksakan seperti itu!

"Hemmm, Kwee San Hong itu adalah.....

calon suamiku!"

Katanya sambil tersenyum manis sekali, matanya ngerling dari samping, amat tajam dan indahnya.

Ia melihat dengan jelas betapa sepasang mata pemuda itu terbelalak dan kini pandang matanya mengandung kekecewaan dan penasaran yang lebih besar.

Akan tetapi sebelum dia sempat bicara tiba-tiba terdengar suara nyaring.

"See Han, engkau baru pulang? Bagus kulihat engkau sudah berkenalan dengan tunanganmu!"

Dan muncullah Tung-hai Kiam-ong Cu Sek Lam bersama Kwee San Hong.

Tentu saja See Han menjadi terheran heran mendengar ucapan ayahnya itu.

Dia memandang ayahnya, kemudian memandang kepada pemuda sederhana yang .muncul bersama ayahnya.

Hatinya merasa semakin penasaran.

"Ayah, apa maksudmu dengan tunangan itu? Dan mengapa pula Ayah mengajarkan ilmu silat kepada orang ini?"

Dia menuding ke arah San Hong dengan pandang mata tidak senang, apalagi ketika dia teringat bahwa pemuda yang bernama San Hong ini diakui sebagai calon suami oleh gadis cantik itu, gadis yang menurut ayahnya adalah tunangannya!

Tung Kiam tertawa.

"Ha-ha-ha, tentu engkau heran kalau tidak diberi penjelasan, Nona ini adalah puteri Nam Tok bernama Ang Siang Bwee. Ia datang ke sini diutus ayahnya untuk menguji ilmu pengobatan dengan membawa korban pukulan beracun ayahnya, yaitu Kwee San Hong ini yang menjadi musuh besar Nam Tok. Aku menyanggupi akan tetapi Siang Bwee lebih dulu harus memenuhi syaratku, yaitu ia harus mau menjadi calon mantuku, atau calon isterimu!"See Han (Lanjut ke

Jilid 13) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 mengerutkan alisnya.

Kalau gadis ini sudah menyatakan mau menjadi calon isterinya, kenapa tadi mengakui bahwa pemuda itulah calon suaminya?

"Akan tetapi mengapa Ayah mengajarkan ilmu silat kepadanya?"

Kembali pandang matanya menatap wajah San Hong dengan tidak senang.

"Hemm, itu pun perlu kauketahui. Setelah aku berhasil menyembuhkan San Hong ini, baru kuketahui bahwa San Hong menaruh dendam kepada Nam Tok dan dia akan kembali lagi ke sana untuk menantang Nam Tok berkelahi mati-matian. Maka aku pun melihat kesempatan untuk membalas keangkuhan Nam Tok dengan mengajarkan beberapa pukulan simpanan kepada Kwee San Hong agar dia dapat menandingi Nam Tok."

Kini Siang Bwee melangkah maju "Lo-cian-pwe, sekarang sudah tiba saatnya yang Kau janjikan. Bukankah Hong ko ini sudah selesai menerima latihan darimu?"

"Sudah, dia memang berbakat dan cerdik sekali."

"Kalau begitu, sudah tiba waktunya bagi kami untuk berpamit. Sekarang juga aku hendak mengajaknya kembali menghadap ayahku. Mari, Hong-ko, kita pergi sekarang juga."

"Ayah, yakin benarkah Ayah bahwa ia mau menjadi calon isteriku? Jangan-jangan ia hanya menipu kita saja!"

Tiba-tiba See Han berseru. Pada saat itu, Siang Bwee dan San Hong sudah melangkah hendak meninggalkan taman itu.

"Tunggu dulu, Siang Bwee!"

Tung Kiam berseru dan kedua orang muda itu terpaksa berhenti.

"Ada apa lagi, Lo-cian-pwe?"

"Anakku masih belum yakin bahwa engkau benar mau menjadi isterinya kelak! Hayo kau ulangi pernyataanmu itu, atau aku terpaksa akan menahan kalian!"

Biarpun hatinya mendongkol bukan main, namun Siang Bwee yang cerdik itu maklum bahwa mempergunakan kekerasan melawan datuk besar ini, amatlah berbahaya.

Apalagi di situ terdapat pula puteranya yang tentu juga amat lihai.

Maka ia pun cemberut.

"Ih, apakah kaukira aku ini seorang yang suka menipu dan berbohong? Sekali, berjanji, tentu kupegang teguh. Locian-pwe, engkau sudah mendengar janjiku bahwa aku mau menjadi calon mantumu. Akan tetapi, pernikahan seorang gadis ditentukan oleh keputusan ayahnya, maka andaikata ayahku kelak menolak, tentu saja aku tidak mungkin memaksanya! Dan tentu saja aku pun tidak mungkin menentang kehendak ayah, maka biarpun aku mau, jadi atau tidaknya pernikahan itu tentu tergantung dari keputusan ayahku!"

"Bagus. urusan ayahmu serahkan ke-padaku. Asal engkau sudah sanggup. Sekarang, untuk menyatakan kebenaran ucapanmu bahwa engkau mau menjadi calon isteriya, engkau harus buktikan?"

"Engkau harus membiarkan dirimu dicium oleh puteraku dan menyebutnya koko (kanda) untuk membuktikan bahwa pengakuan dan janjimu setulus hatimu."

Wajah gadis itu berubah merah sekali.

Kalau menuruti hatinya yang panas dan dongkol, mau rasanya ia berteriak memaki ayah dan anak itu.

Akan tetapi kecerdikannya membuat dia dapat menduga bahwa datuk itu sedang mengujinya dan bahwa ia dan San Hong berada dalam bahaya.

Maka, ia pun melangkah maju ke depan See Han dan berkata dengan suara lembut.

"Koko Cu See Han, aku minta diri."

Dan ia memejamkan kedua matanya, siap menanti datangnya ciuman.

See Han gembira bukan main, Dia adalah seorang yang sudah biasa melakukan kecabulan, maka mencium seorang gadis di depan ayahnya atau di depan siapa saja, bukan merupakan pantangan baginya.

Maka, diapun berkata lembut.

"Baiklah, moi-moi Ang Siang Bwee, dan terimalah ciumanku, selamat jalan"

Dia lalu merangkul dan mencium kedua pipi gadis itu sampai mengeluarkan suara ngak-ngok.

Setelah dilepaskan, Siang Bwee mundur, memegang tangan Sun Hong dan menariknya pergi dari situ.

Suara ketawa Tung Kiam melihat ulah puteranya tadi mengantar mereka keluar dari halaman gedung itu setelah mereka keluar dari taman.

Mereka lalu berlari cepat, atau lebih tepat, Siang Bwe menarik tangan San Hong dan mengajaknya berlari cepat tanpa bicara.

Diam-diam San Hong merasa heran sekali karena gadis itu mengajaknya berlari cepat dan tak pernah berhenti, juga bukan menuju ke selatan, melainkan ke utara!

Akan tetapi hatinya sendiri sedang mengkal bukan main, maka dia pun diam saja hanya mengikuti gadis itu berlari cepat.

Sementara itu, setelah dua orang muda itu pergi, Cu See Han mencela ayahnya.

"Ayah kenapa Ayah membiarkan ia pergi? Kalau memang Ayah setuju bahwa gadis itu menjadi isteriku, aku pun setuju sekali dan mengapa kita tidak menahannya saja di sini dan langsung menjadi isteriku?"

"Ha-ha-ha, mengapa tergesa-gesa, See Han? Kalau engkau begitu membutuhkan wanita, engkau boleh mencari di sini juga banyak. Siang Bwee tidak boleh kau perlakukan seperti wanita lain. Bagaimanapun juga, ia adalah puteri Num Tok. Jangan khawatir, ia pasti akan menjadi isterimu. Bukankah ia sudah menyatakan mau, bahkan tadi membiarkan dirinya kau cium? Ha ha ha!"

"Tapi aku masih belum percaya padanya, Ayah. Ia cerdik sekali dan agaknya kita berdua telah menjadi korban penipuannya!"

Tung Kiam mengerutkan alisnya.

"Apa kau bilang? Apa maksudmu?"

"Ayah, ketika tadi kami bicara di sini, ia mengaku bahwa pemuda yang bernama Kwee San Hong itu adalah calon suaminya!"

"Ehhh? Benarkah itu?"

"Ia yang memberitahu begitu, Ayah."

Kini Tung Kiam mengerutkan alisnya dan berpikir keras.

"Wah, memang ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang utusan ayahnya dan agaknya ia jatuh cinta kepada pemuda yang memusuhi ayahnya sendiri itu. Akan tetapi, ada pula kemungkinan lain! Mungkin ia hanya bermain sandiwara dalam usahanya mencari penyembuhan untuk pemuda yang dicintanya. Bagaimanapun juga, aku kelak dapat menemui Nam Tok untuk minta penjelasan, sekalian meminangnya dengan resmi."

"Tapi, pemuda itu harus kubunuh, Ayah. Dia menjadi penghalang. Sekarang juga aku akan mengejarnya!"

Tung Kium memegang lengan puteranya.

"Jangan, See Han. Pertama, ilmu kepandaiannya cukup tinggi. Dia murid dari kelima Thian-san Ngo sian, dan dia sudah kuberi beberapa jurus ilmu simpanan yang ampuh untuk menghadapi Nam Tok."

"Apakah Ayah masih percaya dia benar-benar musuh Nam Tok?"

"Tentu saja! Kalau bukan, tentu dia tidak dipukul sehebat itu, pukulan yang membahayakan nyawanya, dan pemuda itu kulihat jujur bukan main, tentu tidak mungkin dapat berbohong. Jadi, jangan kejar, biarkan saja dia berkelahi sendiri melawan Nam Tok. Kalau perlu, kelak masih banyak waktu untuk mencarinya. Sekarang yang penting, engkau harus memperdalam ilmu-ilmumu, jangan berkeliaran mencari perempuan saja!"

Akan tetapi diam-diam See Han merasa penasaran sekali.

Bagaimanapun juga, dia memang merasa perlu untuk memperdalam ilmunya dan agaknya kini ayahnya akan menurunkan ilmu-ilmu simpanannya dan dia harus tekun berlatih diri.

"Bwee-moi, berhenti dulu......"

San Hong berseru.

Mereka telah berlari hampir setengah malam penuh.

Kini sinar matahari pagi sudah mulai membayang di ufuk timur.

Mereka terus berlari tanpa berkata sepatah pun dan kini San Hong merasa perlu untuk menghentikan gadis itu.

Siang Bwee berhenti dan mereka tiba di luar sebuah hutan.

Mereka berdiri saling pandang di keremangan subuh dan keduanya menggunakan saputangan untuk mengusap keringat.

"Bwee-moi, kenapa kita berlari-lari seperti dikejar setan?"

San Hong mengeluarkan isi hatinya, perasaan penasaran yang pertama.

"Hong-ko, kalau hanya setan yang mengejar, aku tidak akan mengajakmu berlari-lari seperti itu! Akan tetapi yang mengejar jauh lebih ganas dan kejam daripada setan, yaitu Tung Kiam dan puteranya."

"Apakah mereka mengejar kita? Kenapa?"

"Belum tentu, akan tetapi besar kemungkinannya. Dan kalau benar dugaanku mereka mengejar kita, maka kalau sampai kita tersusul, kita tentu akan ditawan atau dibunuh!"

"Tapi mengapa?"

"Karena tentu Tung Kiam telah mengetahui atau dapat menduga bahwa semua itu adalah siasatku belaka, permainan sandiwara dengan tujuan agar dia mau menyembuhkanmu."

"Tidak mungkin! Bukankah dia sudah percaya kepadamu dan telah mengobatiku sampai sembuh?"

"Aih, Hong-ko. Engkau adalah seorang yang jujur dan belum banyak pengalaman. Engkau tidak tahu betapa berbahaya dan jahatnya orang-orang kang-ouw dan betapa cerdiknya seorang datuk besar seperti Tung Kiam. Dia tentu sudah tahu akan tipu muslihatku, karena aku telah salah bicara. Sedikit saja salah bicara, dia tentu akan dapat membongkar semua rahasiaku."

"Salah bicara bagaimana, Bwee-moi? Aku tidak mengerti,"

"Di taman itu, ketika engkau dan Tung Kiam belum muncul, Cu See Han menemuiku dan mengajak aku bercakap-cakap. Dalam percakapan itulah aku telah kesalahan bicara, aku mengatakan kepadanya bahwa engkau adalah calon suamiku....."

"Ahhh!"

San Hong mengerutkan alisnya dan dia menjatuhkan dirinya di atas rumput untuk menenangkan hatinya.

Siang Bwee juga ikut duduk di atas rumput.

Mereka kelelahan, tidak peduli bahwa rumput itu basah oleh embun sehingga membasahi celana mereka.

"Bwee-rnoi, dua kali engkau membohongi orang dengan mengatakan bahwa aku adalah calon suamimu. Yang pertama kali, engkau membohongi ayahmu sendiri....."

"Aku membohonginya agar dia tidak membunuhmu, Hong-ko."

San Hong menghela napas panjang. Justeru alasan itulah yang selalu menyakitkan hati bila dikenang. Pengakuan calon suami. itu hanya bohong belaka, hanya untuk menyelamatkan dirinya.

"Dan kali ini? Untuk apa kebohongan itu kau katakan kepada putera Tung Kiam?"

"Karena..... karena aku mendongkol sekali kepadanya, karena aku terpaksa harus menyetujui dijodohkan dengan dia! Biar dia tahu bahwa aku tidak suka kepadanya, maka aku katakan bahwa engkau adalah calon suamiku."

"Lalu, kenapa dengan pengakuan itu maka Tung Kiam akan mengetahui bahwa engkau telah bersiasat.....?"

"Aih, kenapa engkau begini bodoh, Hong-ko?"

"Memang aku bodoh, dan aku ingin penjelasanmu."

Jawab San Hong, kini tidak merasa sakit hatinya lagi kalau dibodohkan gadis itu. Dia sudah mulai menjadi terbiasa.

"Setelah kita pergi, tentu anak manja itu akan memberitahukan ayahnya tentang pengakuanku dan tentu Tung Kiam yang amat cerdik itu akan dapat menduga bahwa semua yang kulakukan itu hanya siasat belaka untuk menipunya, agar dia mau mengobatimu, mempergunakan kelemahan hatinya yang penuh kesombongan itu. Dan tentu mereka akan melakukan pengejaran, maka aku memaksamu untuk berlari cepat tanpa henti-henti."

San Hong mengangguk-angguk.

Diam-diam dia kagum.

Memang gadis ini luar biasa cerdiknya.

Cerdik, berani, tabah, cantik jelita, manis dan juga pandai sekali ilmu silatnya.

Gadis yang aduhai, tiada bandingnya di dunia ini!

Pertanyaan-pertanyaan yang tadi mengaduk hatinya, sudah banyak yang sudah terjawab, di antaranya mengapa mereka lari seperti dikejar setan.

Akan tetapi masih ada beberapa pertanyaan lagi menggodanya.

"Tapi mengapa kita lari dengan meninggalkan semua barang kita? Bungkusan pakaian dan lain-lainnya? Sebaiknya kalau tadi kita ambil dulu barang-barang kita."

"Dan untuk pakaian itu kita tertawan oleh mereka? Aih, apa artinya pakaian itu dibanding keselamatan kita, Hong-ko?"

"Tapi...., tapi tanpa bekal pakaian, kita tidak dapat berganti pakaian....."

Gadis itu tertawa, suara ketawanya renyah dan ia kini nampak sudah biasa kembali, tidak dicekam kekhawatiran.

"Aih, Kong-ko. Engkau ini ribut soal pakaian saja. Tentu tidak mungkin kita tidak pernah berganti pakaian. Itu tidak sehat dan kotor menjijikkan. Namun, betapa mudahnya membeli pakaian baru..."

"Harus memakai uang....."

"Jangan khawatir, perhiasanku selalu berada di saku bajuku. Baru sebuah gelangku ini saja, cukup untuk ditukar dengan sepuluh stel pakaian untukmu dan untukku, Hong-ko!"

"Tapi kita butuh untuk makan dan lain-lain. Ah, kalau saja aku dapat membawa kantung emasku itu....."

"Inikah?"

Bagaikan bermain sulap saja gadis itu sudah mengeluarkan buntalan kain berisi emas milik San Hong. Pemuda itu terbelalak dan menerima buntalan itu.

"Tapi, bagaimana engkau....."

"Memang sudah kupersiapkan pelarian ini, Hong-ko. Maka ketika aku menantimu di taman, buntalan emas itu sudah kubawa."

"Terima kasih engkau memang cerdik bukan main, Bwee-moi. Tadinya kukira emas ini tertinggal di sana."

"Tapi aku masih memiliki perhiasan..."

"Ah, aku seorang laki-laki, Bwee moi. Tentu aku malu sekali kalau harus menerima pakaian hasil penjualan perhiasanmu. Andaikata engkau tidak membawa emasku ini, aku tentu akan mencari pekerjaan untuk dapat memperoleh uang pembeli pakaian dan makanan kita. Sudahlah, kini kita dapat melakukan perjalanan dengan tenang. Akan tetapi, Bwee-moi, bukankah seharusnya kita menuju ke selatan? Kenapa engkau mengajak aku melarikan diri ke utara?."

"Tentu saja, Hong-ko. Kalau kita melarikan diri ke selatan, tentu sekarang ini kita sudah dapat dikejar oleh mereka Tung Kiam dan puteranya tentu melakukan pengejaran ke selatan,mengira kita kembali ke sana. Karena itu, aku mengambil jalan memutar, menuju ke utara, kemudian membelok ke barat, baru ke selatan."

San Hong merasa bingung, akan tetapi dia hanya mengangguk dan tidak membantah.

Bicara dengan gadis ini dia memang merasa ketinggalan dalam segala hal.

Dia tidak tahu bahwa memang di samping alasan yang dikemukakan Siang Bwee, gadis ini mempunyai niat lain.

Ia ingin memperpanjang perjalanannya berdua dengan San Hong, untuk mengenal, pemuda itu lebih baik, dan untuk memberi kesempatan kepada San Hong agar kesehatannya pulih sama sekali dan agar pemuda itu mematangkan ilmu silatnya sehingga kelak akan benar dapat bertahan kalau diuji ayahnya selama dua ratus jurus!

Memang benar pemuda itu telah menerima gemblengan dari Tung Kiam, akan tetapi apa artinya gemblengan yang hanya seminggu itu?

Pemuda ini harus menerima gemblengan lain yang lebih hebat, agar dia benar-benar menjadi seorang yang akan keluar sebagai pemenang di depan ayahnya, agar ayahnya menganggap bahwa pemuda ini benar-benar pantas menjadi calon suaminya!

Tanpa setahu San Hong, diam-diam Siang Bwee telah jatuh cinta setengah mati kepada pemuda tinggi besar dan serba canggung ini!

Perkumpulan Hek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Hitam) di kota Wang-cun terkenal sebagai perkumpulan orang orang yang pandai silat.

Kota Wang-cun terletak di sebelah selatan Tembok Besar dan merupakan kota perbatasan yang banyak dilewati para pedagang yang suka membawa dagangan untuk dijual kepada para suku bangsa di luar Tembok Besar.

Karena itu, kota ini cukup ramai dan setiap hari tentu ada saja rombongan pedagang lewat dan bermalam di situ.

Para anggauta Hek-eng-pang semua memiliki ilmu silat yang bagi para penghuni kota itu sudah amat mengagumkan.

Dan para anggauta Hek-eng-pang juga bersikap gagah, selalu menentang kerusuhan, bahkan oleh pejabat setempat perkumpulan ini diandalkan untuk ikut menjaga ketenteraman, membantu pasukan keamanan yang ada.

Oleh karena itu, maka kedudukan perkumpulan itu kuat dan namanya pun amat baik, disegani oleh semua penduduk.

Hek-eng-pang kini diketuai oleh Tang Cin Siok yang menggantikan mendiang ayahnya.

Tang Cin Siok atau biasa disebut Tang Pangcu ini berusia "empat puluh"

Lima tahun dan isterinya telah meninggal dunia.

meninggalkan seorang puteri bernama Tang Li Hwa yang kini sudah berusia delapan belas tahun, seorang gadis yang berkulit putih mulus dan berwajah manis.

Tang Pangcu menikah lagi dengan seorang wanita bernama Teng Kwi Nio yang kini berusia .kurang lebih tiga puluh tahun, seorang wanita yang cukup cantik.

Karena kedudukan Hek eng-pang yang baik dan berpengaruh, menerima banyak sumbangan dari para saudagar yang merasa terlindungi keselamatan dan keamanan mereka.

Maka kehidupan keluarga Tang ini cukup berlebihan, bahkan para anggauta Hek-eng-pang juga kebagian rejeki dan mereka hidup berkecukupan.

Anggauta Hek-eng-pang berjumlah kurang lebih lima puluh orang, diantaranya terdapat lima orang murid wanita yang usianya antara dua puluh sampai tiga puluh tahun.

Lima orang murid wanita ini tinggal di rumah ketua mereka, bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan juga penjaga keselamatan dalam rumah keluarga Tang.

Bahkan Teng Kwi Nio yang kini menjadi nyonya Tang Cin Siok, tadinya juga seorang anggauta atau murid wanita Hek-eng-pang.

Adapun para murid lain, yang belum berkeluarga tinggal di asrama Hek-eng-pang, sebuah bangunan yang bersambung dengan rumah keluarga Tang, sedangkan mereka yang sudah berkeluarga tinggal di luar asrama.

Pada suatu hari, ketika matahari mulai menggunakan sinarnya mengusir kegelapan dan hawa dingin, disambut oleh semua mahluk termasuk manusia dengan perasaan gembira, dari pintu gerbang selatan masuklah seorang pemuda berusia dua puluh tahun lebih ke dalam kota Wang-cun.

Dia memasuki pintu gerbang sambil menuntun kudanya, seekor kuda yang baik dengan tubuh yang tinggi besar dan ramping, berbulu hitam Akan tetapi kuda itu tidak ditunggang karena kaki depan sebelah kanan agak pincang.

Kuda ini terjatuh ketika tiba di luar kota, saking lelahnya, dan kaki depan itu terluka sehingga pincang.

Maka terpaksa pemiliknya tidak menungganginya dan menuntunnya memasuki kota, dengan niat untuk mengobati kuda itu atau menjualnya.

Kemunculan pemuda dengan kuda pincang ini tidak menarik perhatian karena kota itu seringkali didatangi bermacam orang dari segala golongan.

Pemuda itu berpakaian ringkas, berwajah tampan gagah dengan sepasang mata yang tajam.

Ketika melihat sebuah rumah penginapan, dia pun menuntun kudanya memasuki pekarangan rumah penginapan itu.

Seorang pelayan segera menyambutnya dan kepada pelayan, pemuda itu minta agar kudanya dirawat, dibawa ke dalam kandang dan diberi makan secukupnya.

Dia sendiri minta sebuah kamar dan langsung minta disediakan air untuk mandi.

Tak larna kemudian, pemuda itu sudah keluar lagi dari rumah penginapan, berjalan kaki, dengan wajah segar dan pakaian bersih.

Di rumah penginapan tadi dia sudah bertanya-tanya di mana letaknya asrama dari perkumpulan Hek-eng-pang.

Keterangan tentang perkumpulan itu dapat diperoleh dengan mudah karena semua orang di kota itu tahu belaka di mana adanya Hek-eng-pang.

Pemuda tampan itu bukan lain adalan Yeliu Tiong Sin, atau sesudah dia melarikan diri dari ayah angkat dan juga gurunya, Yeliu Cutay, dia mengenakan nama keturunan asalnya, yaitu Bu.

Selanjutnya dia pun bernama lengkap Bu Tiong Sin.

Seperti kita ketahui, Bu Tiong Sin minggat dari rumah gurunya; dan membawa serta Pedang Asmara, di samping beberapa potong emas berharga yang diperlukannya sebagai bekal dalam perjalanan merantau.

Ayah angkat dan juga gurunya melakukan pengejaran, akan tetapi, ketika tersusul.

Bu liong Sin melawan dengan Pedang Asmara di tangan, dia berhasil membuat gurunya sendiri kewalahan.

Kini Bu Tiong Sin tiba di kota Wang cun dengan-maksud mencari perkumpulan Hek eng-pang.

Dia mempunyai perhitungan dengan perkumpulan itu, karena dia mendengar dari gurunya bahwa mendiang ayahnya yang bernama Bu Siang Hok tewas di tangan orang-orang Hek-eng pang.

Dia mendendam kepada Hek-eng-pang, walaupun mendiang ibu kandungnya sendiri adalah puteri ketua Hek-eng-pang.

Berita yang dia dapat bahwa kini Hek-eng-pang dipimpin oleh ketuanya yang.

bernama Tang Cin Siok membuat dia agak bingung.

Bukankah menurut penuturan gurunya, ketuanya, ayah dari Ibunya atau kakeknya sendiri itu kini sudah berusia tujuh puluh lima tahun lebih?

Dan menurut keterangan yang diperolehnya ketua ini usianya baru empat puluh lima tahun.

Namun Tiong Sin adalah seorang pemuda yang cerdik.

Dia menduga-duga.

Kalau ibunya masih hidup, tentu usia ibunya sudah empat puluh tahun.

Dan ibunya she Tang, sama dengan she Tang Cin Siok, ketua Hek-eng pang yang sekarang.

Mudah diduga bahwa tentu ada hubungan keluarga antara ibunya dan ketua itu.

Agaknya, ketua yang sekarang adalah kakak dari ibunya.

Dia harus menyelidiki dengan teliti sebelum turun tangan membalas mereka yang dulu membunuh ayahnya.

Hek-eng-pang tidak menyetujui perjodohan antara ibunya dan ayannya, dan menurut gurunya, ayah kandungnya tentu tewas oleh orang-orang Hek-eng-pang yang melakukan pengejaran, sedangkan ibunya meninggal dunia ketika melahirkan dia.

Dia akan menyelundup ke Hek-eng-pang dan mencari keterangan sejelasnya, siapakah di antara mereka yang dulu ikut mengeroyok dan membunuh ayahnya.

Satelah itu, baru dia akan turun tangan melakukan balas dendamnya!

Demikianlah, dengan sikap gagah namun sopan, dia memasuki pintu gerbang perkumpulan Hek-eng-pang yang garang itu.

Segera dua orang murid Hek-eng-pang yang bertugas, jaga, menghadangnya.

Dua orang murid itu memandang tajam penuh selidik dan seorang di antara mereka bertanya dengan tegas, matanya menatap wajah tampan itu.

"Saudara siapakah dan ada keperluan apa datang ke tempat kami?"

Dengan sikap sopan Tiong Sin memberi hormat dan menjawab.

"Namaku Tiong Sin, Yeliu Tiong Sin, dan kedatanganku ini hendak menghadap pangcu dari Hek-eng-pang untuk urusan pribadi. Harap ji-wi suka berbaik hati menyampaikan berita kedatanganku agar pangcu suka menerimaku."

Dua orang murid Hek-eng-pang itu senang melihat sikap yang sopan dari pemuda itu, maka mereka pun mengangguk.

"Baiklah, saudara Yeliu. Silakan duduk dan menunggu di sini sebentar, akan kulaporkan kepada pangcu."

Kata seorang di antara mereka dengan sikap ramah.

Tiong Sin menghaturkan terima kasih dan duduk menunggu di atas bangku, ditemani anggauta penjaga yang seorang lagi.

Tiong Sin melemparkan pandangan ke empat penjuru.

Pekarangan itu lebar, bangunan itu besar dan megah dan di kanan kirinya masih terdapat tanah pekarangan yang luas.

Lalu pandang matanya terpancang pada papan nama perkumpulan itu.

Huruf-huruf besar berbunyi HEK ENG PANG dengan gagahnya tertulis di papan tulis berdasar warna kuning.

"Aku telah mendengar bahwa Hek-eng-pang kini telah menjadi sebuah perkumpulan yang maju sekali,"

Kata Tiong Sin sambil lalu kepada murid penjaga itu, tentu sekarang para murid yang menjadi anggauta Hek-eng-pang amat banyak. Apakah ada seratus orang, Toako?"

Melihat sikap yang sopan dan ramah dari tamu muda itu, murid Hek-eng-pang itu menjawab dengan sejujurnya.

"Ah, tidak begitu banyak, hanya kurang lebih lima puluh orang saja. Akan tetapi, kami semua adalah murid yang sudah belajar sedikitnya sepuluh tahun, jadi..... ya boleh diandalkan begitulah!"

Kata murid Hek-eng-pang itu tanpa bermaksud menyombongkan diri. Tiong Sin mengangguk-angguk.

"Aku sudah lama mendengar akan kehebatan. ilmu dari para anggauta Hek eng-pang. Tentu pangcunya lebih lihai lagi, dan entah siapa di antara para murid Hek-eng-pang yang paling lihai."

Karena cara Tiong Sin bicara-bukan seperti orang melakukan penyelidikan, maka mudah saja anggauta itu dipancing.

"Ah, kalau tingkat kepandaian para murid hanya terbagi dua, yaitu tingkat pertama dan ke dua. Akan tetapi, di antara para murid, kiranya tidak ada yang akan mampu menandingi tingkat kepandaian nona Tang yang telah mewarisi semua kepandaian pangcu kami."

"Nona Tang?"

Tiong Sin bertanya, akan tetapi sikapnya juga sambil lalu, tidak terlalu serius.

"Ah, benar, engkau agaknya seorang pendatang baru di sini maka belum tahu tentang nona kami!"

Dalam suaranya terkandung kebanggaan.

"Nona kami merupakan puteri dan anak tunggal dari pangcu kami, namanya nona Tang Li Hwa. Ia bukan saja ahli silat yang terpandai di antara kami, bahkan sukar mencari bandingnya di kota Wang-cun ini, baik mengenai kelihaiannya maupun kecantikannya!"

Mendengar ini, tentu saja hati.

Tiong Sin tergerak sekali dan dia merasa amat tertarik.

Dia hendak menyelidiki siapa saja di antara para anggauta Hek-eng-pang yang dulu ikut mengeroyok dan membunuh ayah kandungnya, dan sudah pasti bahwa gadis yang bernama Tang Li Hwa itu tidak ikut mengeroyok ayahnya!

Mendengar puji-pujian yang demikian muluk mengenai diri Tang Li Hwa, timbul keinginan hatinya untuk melihat sendiri bagaimana keadaan gadis itu.

Pada saat itu, penjaga yang melapor ke dalam nampak datang .sambil tersenyum dan mempersilakan Tiong Sin mengikutinya masuk ke dalam karena Tang Pangcu berkenan menerimanya di ruangan tamu yang berada di samping rumah.

Setelah tiba di depan pintu ruangan tamu, murid Hek-eng-pang itu berseru dengan suara lantang.

"Saudara Yeliu Tiong Sin datang menghadap Pangcu!"

Dari dalam kamar itu terdengar suara yang tenang dan berwibawa.

"Silakan masuk!"

Penjaga itu memberi isyarat kepada Tiong Sin untuk masuk, sedangkan dia sendiri lalu kembali ke depan karena tugasnya telah selesai.

Tiong Sin memasuki ruangan itu dan ternyata ruangan itu cukup luas, dengan kursi-kursi yang diatur dengan santai.

Seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun bangkit dari duduknya ketika melihat dia melangkah masuk.

Pria itu berpakaian sederhana, namun sikapnya gagah dan pandang matanya tajam, wajahnya berwibawa.

Mudah bagi Tiong Sin untuk menduganya bahwa tentu pria ini yang menjadi ketua Hek-eng-pang dan diam-diam ada perasaan bangga di hatinya bahwa pria gagah ini masih saudara dari mendiang ibu kandungnya.

Akan tetapi, perasaan bangga ini segera lenyap ketika dia teringat betapa keluarga Tang telah bersikap kejam, menentang perjodohan ibunya dengan ayahnya sehingga mengakibatkan ayah ibunya tewas.

Kalau ibunya tidak terpaksa melarikan diri dalam keadaan mengandung tua, belum tentu ibunya meninggal dunia, adapun ayahnya, jelas dibunuh oleh orang-orang Hek-eng-pang.

Tiong Sin cepat memberi hormat, merangkap kedua tangan di dada sambil membungkuk.

Tuan rumah juga membalas pengnormatan itu.

"Tang Pangcu, harap maafkan aku kalau kedatanganku ini mengganggu."

Kata Tiong Sin, hormat namun tidak merendahkan diri.

Pria itu memang Tang Cin Siok, ketua dari Hek-eng-pang, kakak dari mendiang Tang Siok Hwa ibu kandung Tiong Sin.

Setelah memandang tajam kepada tamu muda itu dan diam-diam merasa kagum, Tang Cin Siok lalu menggerakkan tangan mempersilakan.

"Duduklah, orang muda, dan jangan sungkan-sungkan."

"Terima kasih, Pangcu."

Setelah keduanya duduk berhadapan, terhalang meja, ketua Hek-eng-pang itu lalu berkata sambil menatap wajah tamunya.

"Nah, Saudara Yeliu, katakan apa yang dapat kami lakukan untuk membantumu? Ada persoalan apakah?"

Dari sikap dan ucapan ketua ini saja hati Tiong Sin sudah merasa senang.

Dia sama sekali tidak pernah mengetahui bahwa sikap yang amat ramah dan baik dari tuan rumah itu sebagian besar karena pengaruh pedang pusaka yang berada di balik jubahnya.

Pedang Asmara itu di mana memancarkan pengaruhnya yang aneh, membuat kaum pria merasa senang berhadapan dengan Tiong Sin, dan kaum wanita seketika jatuh cinta.

"Sekali lagi maaf, Pangcu. Kedatanganku ini untuk menghaturkan terima kasih kepada Hek-eng-pang yang telah membunuh musuh besarku pada sekitar dua puluh tahun yang lalu. Karena baru sekarang aku mengetahui, maka aku merasa berterima kasih sekali dan aku ingin sekali berjumpa dengan mereka yang telah membunuh musuh besarku itu untuk dapat menghaturkan terima kasih secara. langsung kepada mereka, dan memberi sekedar tanda mata untuk menyatakan terima kasihku itu."

Tang Pangcu memandang heran.

"Dua puluh tahun yang lalu? Apa yang kaumaksudkan ini, orang muda? Ceritakanlah yang jelas karena sungguh aku tidak mengerti peristiwa mana yang kau maksudkan."

Tiong Sin menarik napas panjang.Dia harus bersikap sabar dan tenang, karena tanpa mempergunakan akal, rasanya tidak akan mudah baginya untuk dapat mengetahui siapa saja yang dulu mengeroyok dan membunuh ayah kandungnya.

"Begini ceritanya, Pangcu. Mendiang ayahku, pada dua puluh tahun lebih yang lalu, tewas di tangan seorang musuh besar. Karena ketika itu aku masih kecil, maka ibu membawaku melarikan diri. Setelah dewasa, aku pergi hendak mencari musuh besar itu, untuk membalas dendam kematian ayahku. Akan tetapi, aku mendengar bahwa musuh besar itu telah tewas di tangan para pendekar Hek-eng-pang. Oleh karena itu, selain untuk minta keterangan apakah hal itu benar terjadi, aku pun datang hendak menghaturkan. terima kasihku kepada mereka yang telah berjasa membunuh musuh besarku itu."

Tang Cin Siok mengerutkan alisnya semakin dalam, mengingat-ingat.

"Dua puluh tahun yang lalu adalah waktu yang sudah lama. Ketika itu aku belum menjadi ketua Hek-eng-pang, dan ketuanya masih mendiang ayahku. Katakanlah siapa nama musuh besarmu itu, orang muda?"

Sambil mengamati wajah tuan rumah dengan sinar matanya yang mencorong Tiong Sin menjawab.

"Namanya adalah Bu Siang Hok!"

"Ah, dia....??"

Jelas nampak betapa tuan rumah terkejut bukan main mendengar nama yang agaknya tidak disangka-sangkanya itu.

"Karena musuh besarku itu dibunuh oleh para pendekar Hek-eng-pang, sudah tentu Pangcu mengenalnya, bukan?"

Tang Cin Siok termenung, seolah olah tidak mendengar pertanyaan pemuda itu.

Karena tidak menyangka sama sekali bahwa musuh besar tamunya ini adalah Bu Siang Hok, maka disebutnya nama itu membuat dia terkejut dan tercengang kemudian melamun karena dia teringatkan adiknya yang tercinta, yaitu Tang Siok Hwa!

"Bagaimana, Pangcu?

Tentu Pangcu mengenal Bu Siang Hok, bukan?"

Tiong Sin mendesak ketika melihat tuan rumah termenung. Tang Pangcu baru sadar dan terkejut.

"Ah, ya..... ya, tentu saja aku mengenal nama itu. Dia..... dia dimusuhi Hek eng pang, dia dibunuh oleh..... mendiang ayahku dan dibantu oleh beberapa orang murid Hek-eng-pang."

Tiong Sin mengangguk-angguk.

"Aku sudah mendengar akan hal itu, Pangcu. Sayang bahwa ayah Pangcu, yaitu locian-we Tang sudah meninggal dunia sehingga aku tidak dapat langsung menghaturkan terima kasih kepada beliau. Akan tetapi dapat diwakili Pangcu, dan aku mohon sudilah kiranya Pangcu memanggil para murid yang telah ikut membunuh musuh besarku itu agar aku dapat menghaturkan terima kasih secara langsung kepada mereka!"

"Tidak mungkin dilakukan seketika, orang muda. Mereka itu terdiri dari dua puluh orang lebih dan beberapa orang di antara mereka sudah ada yang meninggal. Kini tinggal beberapa belas orang lagi saja dan banyak di antara mereka yang tinggal di luar asrama."

"Aku tidak tergesa-gesa, Pangcu. Mohon kebijaksanaan Pangcu untuk memberitahukan mereka dan kapan kiranya aku dapat bertemu dengan mereka semua di asrama Hek-eng-pang? Aku ingin menghaturkan terima kasih dan memberi hormat kepada mereka semua sekaligus."

Tang Cin Siok mengangguk-angguk, biarpun sikapnya kini kurang bersemangat, seolah-olah urusan itu membuat hatinya merasa tidak enak.

"Baiklah, harap kau suka datang lagi ke sini dalam tiga hari ini, dan mereka akan kusuruh berkumpul di sini. Tiga hari lagi, pada pagi hari."

"Terima kasih, Pangcu. Terima kasih! Sungguh Pangcu seorang yang bijaksana dan baik budi. Saya mohon diri dan tiga hari lagi saya akan datang berkunjung."

Setelah memberi hormat, Tiong Sin lalu cepat meninggalkan asrama Hek-eng-pang, meninggalkan ketua Hek-eng-pang duduk termenung lagi seorang diri.

Terbayanglah dia akan peristiwa menyedihkan itu, peristiwa yang selalu mendatangkan kesedihan di hatinya.

Dia amat mencinta adiknya, yaitu Tang Siok Hwa.

Ketika adiknya itu jatuh cinta kepada Bu Siang Hok, dan ayahnya sama sekali tidak menyetujui, dia diam-diam tidak setuju dengan sikap ayahnya, walaupun dia juga tidak suka kepada pribadi Bu Siang Hok.

Maka, ketika ayahnya mengejar adiknya yang melarikan diri bersama kekasihnya itu, dalam keadaan mengandung, dia tidak mau ikut mengejar.

Kemudian ayahnya dan rombongannya pulang membawa jenazah adiknya, Juga Jenazah Bu Siang Hok!

Ayahnya menyesal sekali melihat akibat puterinya tewas dan kekasih puterinya juga tewas dalam tangannya dan para murid Hek-eng-pang.

Dan dia sendiri merasa berduka sekali.

Kini, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang ingin menghaturkan terima kasih bahwa orang-orang Hek-eng-pang telah membunuh Bu Siang Hok!

Kemudian dia teringat bahwa cerita pemuda she Yeliu itu belum lengkap.

Belum diceritakannya mengapa ayahnya tewas di tangan Bu Siang Hok.

Akan tetapi, itu bukan urusannya dan bagaimanapun juga, dia memang tidak begitu suka kepada Bu Siang Hok, walaupun demi cintanya terhadap adiknya, dia rela membiarkan adiknya itu menikah dengan pria yang dipilihnya sendiri.

Biarlah, pikirnya.

Biarlah peristiwa yang menyedihkan itu kini agak terobati.

Peristiwa yang membuat hampir semua anggauta Hek-eng-pang merasa menyesal, terutama yang dahulu pernah membantu ayahnya ikut membunuh Bu Siang Hok, kini agak terhibur karena perbuatan mereka itu ternyata dapat menyenangkan orang lain yang kini ingin menghaturkan terima kasih kepada mereka!

Maka, dia pun bangkit dan mulailah dia menyuruh panggil mereka yang dahulu ikut mengeroyok Bu Siang Hok, agar tiga hari kemudian mereka datang pagi-pagi menghadapnya di asrama Hek-eng-pang.

Sementara itu, dengan hati lega Tiong Sin kembali ke rumah penginapan.

Karena tidak mau pusing mengurus kudanya yang pincang, dia menjual kuda itu lalu membeli lagi seekor kuda yang baik, masih muda dan bertubuh kuat, juga sudah jinak.

Dia mempunyai banyak waktu.

Dia harus menanti sampai hari ke tiga.

Maka dia lalu mencari keterangan tentang tanah kuburan di kota itu, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah perrgi ke tanah kuburan untuk mencari kalau-kalau mendiang ayahnya dikubur di tempat itu.

Tanah kuburan itu, seperti biasa, nampak sunyi.

Memang hanya pada hari-hari tertentu saja keluarga berkunjung ke tanah kuburan, yang pasti pada hari Ceng-beng.

Pada hari itu para keluarga berkunjung ke makam nenek moyang atau kakek dan orang tua, membersihkan makam dan bersembahyang.

Kemudian makam itu ditinggalkan lagi bersunyi diri sampai hari tertentu di tahun berikutnya!

Semua orang, baik dia pernah menjadi orang terkenal maupun orang biasa, kaya maupun miskin, tinggi maupun rendah, akan mengalami nasib terakhir yang sama.

Hanya tinggal segunduk tanah dijadikan kenangan dan dikunjungi keluarga setahun sekali atau dua kali.

Akan tetapi ketika Tiong Sin memasuki tanah kuburan yang luas dan di situ terdapat banyak sekali makam dengan berbagai corak, dia tertarik sekali melihat dua orang wanita memasuki tanah kuburan.

Seorang wanita berusia kurang lebih liga puluh tahun, anggun dan jelita, bersama seorang gadis berusia delapan belas tahun yang cantik manis.

Tiong Sin terpesona.

Dua orang wanita itu memang cantik menarik, terutama sekali gadis itu!.

Dan mereka berdua sungguh berani, sepagi itu memasuki tanah kuburan yang masih sunyi, tanpa seorang pun pengawal pria.

Karena tertarik, dan dia sendiri belum tahu di mana makam ayahnya, kalau memang di makamkan di tempat itu, maka diam diam dia lalu membayangi kedua orang wanita itu dari jauh, dengan pura-pura berjalan-jalan di tanah kuburan itu.

Dua orang wanita itu agaknya tidak ragu-ragu lagi ke mana harus mereka tuju.

Tak lama kemudian mereka berdua sudah bersembahyang di depan sebuah makam.

Tiong Sin memperhatikan dari jauh, kemudian dia melangkah, mendekat karena dia ingin melihat makam siapa yang disembahyangi dua orang wanita itu.

Dengan perlahan dia berjalan melewati makam itu, pura-pura melihat-lihat makam-makam yang berjajar di situ dan ketika melewati makam yang disembahyangi, dia melirik ke arah huruf-huruf yang diukir di tembok nisan.

Jantungnya berdebar tegang ketika dia membaca bahwa makam itu adalah makam Nyonya Tang Cin Siok yang meninggal dunia dalam usia tiga puluh tahun!

Ah, kalau begitu gadis itu.....

ah, tentu saja!

Tang Li Hwa, puteri ketua Hek-eng-pang!

Akan tetapi, cepat dia membuang muka dan pura-pura tidak melihat ketika tiba-tiba gadis itu membalikkan tubuh dan memandang kepadanya.

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa gadis itu dapat mendengar gerak langkah kakinya, dan hal ini hanya menunjukkan bahwa ia adalah seorang gadis yang memiliki pendengaran tajam, seperti pendengaran seorang ahli silat yang terlatih.

Tiong Sin melangkah terus dan memandang ke kanan kiri, membaca nama nama pada batu nisan makam-makam itu Tiba-tiba dia menahan langkahnya dan matanya terbelalak memandang kepada batu nisan sebuah makam yang agak besar gundukan tanahnya.

Batu nisan yang hanya sebuah itu ternyata mengandung dua nama!

Nama Bu Siang Hok dan Tang Siok Hwa!

Dia terbelalak dan mukanya pucat.

Sungguh tidak pernah disangkanya bahwa dia akan berhadapan dengan makam ayah dan ibu kandungnya!

Ayah dan ibunya dikubur dalam sebuah makam!

Hal ini sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali.

Bukankah ayah kandungnya amat dibenci oleh Hek-eng-pang sehingga dia keroyok dan dibunuhnya?

Bagaimana kini makamnya menjadi satu dengan ibunya puteri ketua lama Hek-eng-pang?

Hal ini tidak mungkin terjadi!

Pihak Hek-eng pang tentu tidak akan memperbolehkan kalau andaikata ada keluarga ayah kandungnya yang melakukan hal ini!

Dia merasa bingung akan tetapi juga terharu hingga dia tidak menyadari bahwa sejak tadi dia berdiri termenung seperti patung, hanya memandang ke arah dua nama yang terukir di batu nisan itu.

"Sobat, apa hubunganmu dengan makam bibiku ini maka sejak tadi engkau memandang saja dan berdiri mematung di tempat ini?"

Teguran dengan suara halus namun mantap itu mengejutkan hati Tiong Sin dan ketika dia menoleh, wajahnya yang tadinya pucat berubah kemerahan, akan tetapi dia segera dapat menenangkan hatinya dan tersenyum ramah sekali, dengan gayanya yang biasanya memikat kaum wanita.

Karena dia sudah menduga dengan siapa dia berhadapan, maka cepat dia mengangkat kedua tangan ke depan dada dengan sikap sopan, lalu menjawab dengan suara yang halus.

"Maaf, Toanio (Nyonya) dan Nona. Aku tidak tahu bahwa ini adalah makam keluargamu, akan tetapi melihat nama Bu Siang Hok, aku terkejut sekali. Nama itu amat kukenal!"

Dia tidak mau berbohong karena dia menduga bahwa mungkin sekali gadis ini sudah mendengar dari ayahnya akan niatnya bertemu dengan mereka yang telah membunuh Bu Siang Hok yang diakui sebagai musuh besarnya.

Kini dia melihat betapa sepasang mata yang indah dan jeli itu memandang tajam lalu bersinar-sinar.

"Aih, kiranya engkau yang bernama Yeliu Tiong Sin itu? Dan mendiang Bu Siang Hok ini musuh besar keluargamu?"

Tiong Sin pura-pura kaget dan memandang heran.

"Benar sekali dugaanmu Nona! Akan tetapi bagaimana..... Nona dapat mengenalku.....?"

Gadis yang sama sekali tidak pemalu ini tersenyum.

"Aku bernama Tang Li Hwa, dan ketua Hek-eng-pang adalah ayahku. Dan ini ibuku, Teng Kwi Nio."

Tiong Sin cepat memberi hormat lagi.

Z"Ah, kiranya Toanio dan Nona adalah keluarga Tang Pangcu?

Maaf kalau aku tadi bersikap kurang hormat.

Aku mengharapkan bantuan ayahmu, Nona, karena aku ingin sekali menghaturkan terima kasih kepada para pendekar Hek-eng-pang yang telah menewaskan musuh besarku."

"Kami sudah mendengar dari ayah, dan ibuku ini..... ia adalan ibu tiriku, ibu kandungku telah meninggal dunia dan makamnya di sana itu."

"Ah, kiranya Nona sudah kehilangan ibu kandung, seperti juga aku yang sejak kecil sudah kenilangan ayah dan ibu. Akan tetapi, tadi aku sungguh terkejut dan heran melihat makam.... eh, musuh besarku ini. Kenapa di sini ditulis nama dua orang? Siapakah yang bernama Tang siok Hwa itu? Ia..... kenapa she Tang?"

"Ia adalah bibiku, adik dari ayahku!"

"Aih, mana mungkin ini.....?"

Tiong Sin pandai sekali bermain sandiwara sehingga dia kelihatan benar-benar terkejut, bahkan wajahnya berubah seperti orang yang terkejut sekali.

Gadis itu tersenyum akan tetapi senyumnya itu mengandung kegetiran, walaupun masih nampak manis sekali.

"Demikianlah kenyataannya, sobat Yeliu Tiong Sin. Dan karena hubungannya dengan bibiku itulah maka kongkong dan para paman di Hek-eng-pang membunuhnya!"

"Apa..... apa yang terjadi.....?"

Tio Sin mendesak, nampaknya ingin tahu sekali, padahal tentu saja dia sudah mendengar dari ayah angkatnya, juga gurunya tentang riwayat ayah dan ibunya.

Teng Kwi Nio atau Nyonya Tang Cin Siok yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, kini berkata kepada Li Hwa.

"Li Hwa, sudahlah, mari kita pulang saja Tidak baik bercakap-cakap dengan seorang laki-laki asing di tempat ini....."

Akan tetapi ia melirik ke arah Tiong Sin dengan sinar mata yang tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya terhadap pemudi itu.

"Maaf, Toanio,"

Tiong Sin membantah cepat, dengan suara lembut.

"Akan tetapi, aku bukanlah seorang laki-laki asing Aku sudah menghadap suami Toanio dan diterima sebagai sahabat yang berterima kasih. Dan aku pun hanya ingin mendengar tentang kedua orang yang di makamkan menjadi satu di sini.....!"

Tang Li Hwa tersenyum.

"Tidak mengapa Ibu. Biar kujelaskan sebentar kepada saudara Yeliu ini agar dia tidak merasa nasaran. Begini, saudara Yeliu. Mendiang bibiku, Tang Siok Hwa, saling mencinta dengan mendiang Bu Siang Hok ini. Mendiang kakekku tidak menyetujui, dan akibatnya, mereka berdua lalu melarikan diri, padahal mendiang bibi sedang dalam keadaan mengandung tua. Sebetulnya, menurut pengakuan ayahku kepadaku, ayah sendiri tidak setuju dengan kekerasan sikap kakekku. Akan tetapi kakek memang keras hati dan sekali tidak setuju, dia tetap tidak setuju. Kakek lalu membawa dua puluh orang paman yang menjadi muridnya melakukan pengejaran. Dia berhasil menyusul bibi dan Bu Siang Hok yang melarikan diri. Akan tetapi ternyata bibi telah meninggal dunia ketika melahirkan. Dalam kedukaan dan kemarahannya, kakek lalu menyerang Bu Siang Hok, dibantu para paman dan akhirnya Bu Siang Hok tewas pula."

Gadis itu berhenti berbicara dan kelihatan betapa ia merasa ikut berduka dengan nasibnya.

"Akan tetapi, bagaimana lalu mereka dapat dimakamkan bersama dalam satu makam di sini?"

Tanya Tiong Sin, kini tidak berpura-pura lagi karena dia memang merasa heran melihat betapa ayah dan ibu kandungnya dapat dikubur dalam satu makam.

"Setelah melihat keduanya meninggal dunia, kakek lalu timbul perasaan menyesal dan baru dia menyadari betapa dia telah bersikap terlalu keras sehingga mengakibatkan kematian puterinya sendiri. Maka, untuk menebus perasaan menyesal itu, kakek lalu memerintahkan agar kedua jenazah itu dimakamkan dalam satu lubang."

Hening sejenak. Biarpun di dalam hatinya Tiong Sin merasa terharu, namun dia tidak memperlihatkan perubahan. wajahnya. Bahkan dia masih dapat memancing.

"Lalu, apa yang terjadi dengan anak yang dilahirkan bibimu itu, Nona?"

"Entahlah. Ketika masih hidupnya kong-kong sudah berusaha mencari, bahkan ayahku juga berusaha mencari, namun gagal. Anak bibi itu lenyap tanpa meninggalkan bekas."

"Li Hwa, sudahlah, mari kita pulang. Nanti kita dinanti-nanti ayahmu.....!"

Kata pula ibu tirinya, melihat betapa sudah ada beberapa orang datang berkunjung ke pemakaman itu dan tentu saja ada yang melihat mereka berdua di situ, bercakap-cakap dengan seorang pemuda asing!

Li Hwa lalu mengangguk dan mereka pun berpamit.

Tiong Sin cepat memberi hormat.

"Ah, sebetulnya aku masih ingin sekali bercakap-cakap dengan Toanio dan nona. Sungguh menyenangkan sekali dapat berkenalan dan bercakap-cakap dengan Ji-wi (kalian). Sayang bahwa Ji-wi hendak pulang. Kalau saja aku boleh datang berkunjung untuk melanjutkan percakapan kita, alangkah akan senangnya hatiku. Bolehkah kalau aku datang berkunjung malam ini?"

Sungguh sebuah pertanyaan yang amat berani.

Akan tetapi Tiong Sin sudah mengucapkannya dengan penuh perhitungan sambil menyingkap mantelnya sehingga pedangnya nampak.

Dia tahu benar akan khasiat pedang itu dan pengaruhnya terhadap wanita, maka dia berani mengeluarkan pertanyaan yang berbahaya itu.

Benar saja.

Kedua orang wanita itu nampak terkejut sekali mendengar pertanyaan yang mengandung kekurangajaran ini, akan tetapi sungguh aneh, keduanya tidak jadi marah, bahkan tersenyum senyum dengan muka berubah kemerahan, lalu keduanya membalikkan tubuh dan pergi tersipu-sipu.

Mereka itu sama sekali tidak marah, bahkan kelihatan malu malu kucing!

Setelah mereka pergi, Tiong Sin tersenyum seorang diri.

Boleh jadi Tang Cin Siok tidak ikut mengeroyok ayah kandungnya.

Akan tetapi yang jelas dia adalah putera ketua lama Hek-eng pang, dan justeru ayahnya itulah yang telah membunuh ayah kandungnya.

Karena ayahnya sudah meninggal dunia maka kewajiban puteranya untuk membayar!

Dan dia tahu bagaimana dia akan membalas kepada ayah Li Hwa!

Malam itu hawa amat dinginnya sehingga sore-sore orang sudah memasuki rumah, Jarang yang tinggal di luar kalau tidak ada keperluan penting.

Lebih enak tinggal di dalam rumah yang terlindung dari hawa udara yang, amat dinginnya.

Apalagi kalau berada di dekat perapian, yang hangat.

Banyak pula yang segera memasuki kamar dan berlindung di bawah selimut atau mencari kehangatan dengan pasangan masing-masing.

Di rumah keluarga Tang juga sudah sunyi.

Tang Pangcu sendiri baru saja pulang dari sebuah pesta pernikahan keluarga seorang pembesar daerah, dan dia pulang dalam keadaan mabuk.

Begitu tiba di rumah, dia langsung tidur di dalam kamarnya, sebentar saja sudah mendengkur dengan pulasnya.

Lima orang murid wanita yang juga bertugas sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga, juga sudah memasuki kamar mereka di belakang.

Hanya ada seorang saja yang masih belum tidur, bahkan ia berada di taman bunga di belakang rumah, berlatih ilmu silat.

Karena hawa udara dingin sekali, ia berlatih silat golok untuk memanaskan tubuhnya dari sengatan hawa dingin.

Orang itu bukan lain adalah Tang Li Hwa.

Li Hwa bukan hanya karena kedinginan maka ia sengaja berlatih golok.

untuk memanaskan badan, juga ia merasa gelisah bukan main.

Hatinya gelisah tak menentu semenjak ia pulang dari tanah kuburan, semenjak ia bertemu dan bercakap cakap dengan Yeliu Tiong Sin!

Tak pernah ia dapat melupakan wajah pemuda itu, dan selalu terngiang-ngiang di telinganya ucapan pemuda itu ketika mereka hendak berpisah.

"Bolehkah kalau aku datang berkunjung malam ini?"

Kata-kata itulah yang membuat ia merasa gelisah.

Terjadi perang di dalam hatinya.

Ia dihantui harapan bahwa pemuda itu akan benar-benar datang berkunjung!

Akan tetapi harapan ini diserang oleh pendapat bahwa hal itu sungguh tidak semestinya, tidak sopan dan bahwa pemuda itu kurang ajar sekali.

Akan tetapi, hati yang sudah condong tertarik kepada pemuda itu selalu membantah dan bahkan membela Tiong Sin.

Dia hanya datang untuk bercakap-cakap, mengapa tidak sopan?

Karena perang batin ini, ia meresa gelisah, lalu ia keluar dari dalam kamar, menuju ke taman sambil membawa goloknya, yaitu senjata keluarga ketua Hek-eng-pang dan ia pun berlatih silat golok, untuk mendatangkan kehangatan tubuh dan juga untuk mengusir kegelisahan hatinya.

Anehnya, terselip pula harapan bahwa pemuda itu akan datang berkunjung sehingga ia seolah-olah "menanti"

Kunjungannya itu di dalam taman bunga, dengan dalih berlatih silat!

Sesungguhnya, malam itu amat indah, teramat indah!

Bulan purnama telah muncul sejak sore, menciptakan suatu keindahan yang sukar diceritakan.

Bukan hanya keindahan yang dapat dinikmati mata dan telinga, bahkan suatu keindahan yang menembus ke dalam batin.

Dunia seolah-olah telah berubah dari biasanya.

Semua yang nampak bermandikan cahaya bulan yang keemasan, kadang-kadang kalau ada awan tipis melayang lewat dan menyaring cahaya bulan, maka terciptalah sinar yang kehijauan.

Pohon-pohon besar nampak hidup dan penuh gairah, daun-daunnya melambai tertiup semilir angin, ranting-rantingnya seperti menggapai dan gemersiknya daun seperti suara tawa halus mulut-mulut manis yang tidak nampak.

Namun semua itu tidak nampak oleh Li Hwa.

Juga hampir tidak disadarinya pula betapa begitu ia memasuki taman hidungnya disambut semerbak harum bunga-bunga di taman.

Keharuman bunga bunga itu makin kuat ketika tertimpa cahaya bulan purnama.

Li Hwa yang sudah sepenuhnya dicengkeram kesibukan pikiran yang gelisah itu sudah kehilangan segala kewaspadaan, kehilangan kesadaran untuk dapat melihat, mendengar atau mencium keadaan yang sebenarnya.

Tuhan Maha Kasih!

Alam semesta telah diciptakanNya sedemikian sempurna demikian indahnya dan segala sesuatu yang nampak dan tidak nampak ini seolah-olah sengaja diciptakan untuk kepentingan manusia!

Namun sungguh sayang sekali, kepribadian kita, Jiwa kita sudah dicengkeram oleh kesibukan pikiran.

Pikiran yang bergelimang dengan daya-daya rendah, membangkitkan nafsu-nafsu, selalu menguasai diri kita sehingga kita seolah-olah telah menjadi buta akan segala nikmat itu, segala berkah itu, segala keindahan itu.

Sekali-sekali, kalau keadaan pikiran-pikiran kita tenang, baru kita dapat sedikit merasakan kenikmatan dalam kehidupan ini, sedikit saja.

Seolah-olah kita hanya kadang-kadang melihat ujung dari kebahagiaan, tanpa pernah mampu bertemu dan bersatu dengan kebahagiaan itu sendiri.

Semua ini adalah karena hati dan pikiran kita yang tadinya memang disertakan kepada kita sebagal alat untuk dapat menikmati dan mensyukuri ciptaan dan berkah dari Tuhan, telah berubah menjadi penyeret kita ke dalam pengejaran kesenangan nafsu belaka.

Mungkinkah bagi kita untuk dapat berbahagia, untuk dapat membebaskan diri dari cengkeraman nafsu-nafsu yang di timbulkan oleh daya-daya rendah yang sudan melekat pada hati dan pikiran?

Jelas tidak mungkin, karena "kita"

Yang hendak melepaskan diri ini pun timbul dari pikiran! "Kita"

Yang ingin bebas itu pun sudah bergelimang dengan nafsu sudah berada dalam cengkeraman nafsu daya rendah, maka segala usana kita untuk bebas pun masih dalam lingkungi nafsu!

Namun, ada yang lebih berkuasa dari segala nafsu daya rendah.

Ialah Sang Pencipta!

Pencipta dari segala yang ada.

Tuhan Sang Maha Pencipta!

Hanya Tuhanlah, hanya kekuasaan Tuhanlah yang akan mampu memulihkan keadaan kita, mampu membebaskan kita dari belenggu nafsu.

Ingat dan waspada, itulah obatnya.

Ingat selalu kepada Tuhan, setiap saat dan menyerahkan segalanya kepada kekuasaan Tuhan!

Waspada terhadap setiap gerak gerik badan dan batin, yaitu hati dan akal pikiran, tanpa ingin mengubahnya Mengapa tanpa ingin mengubah?

Karena KEINGINAN MENGUBAH ini pun masih merupakan kesibukan dari pikiran yang mendorong, maka sudah pasti bahwa di balik keinginan mengubah itu terdapat pamrih!

Pamrih untuk memperoleh kesenangan dari perubahan itu!

Akibatnya bukan berubah melainkan bertambah sarat dengan keinginan nafsu.

Hanya Tuhan yang mampu mengubah dan membersihkan!

Kekuasaan Tuhan meliputi segala, yang paling atas dan paling bawah, yang paling dalam dan paling luar.

Dan kita tinggal menyerah, penuh kepasrahan, penuh keikhlasan, penuh kesabaran dan ketawakalan.

Ingat dan waspada selalu.

Ingat kepada Tuhan setiap saat, menyerah total.

Dan waspada terhadap gerak-gerik badan, hati dan akal pikiran seperti kalau dalam perjuangan kita waspada terhadap gerak-gerik musuh yang amat berbahaya.

Li Hwa tidak melihat semua keindahan malam yang dingin itu.

Ia berlatih silat golok dan memang dalam latihan yang sungguh sungguh ini, tubuhnya menjadi hangat, darah mengalir cepat dan pencurahan perhatian kepada latihannya membuat ia melupakan kegelisahan, hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara orang memuji.

"Hebat, to-hoat (ilmu golok) yang indah dan hebat sekali!"

Li Hwa terkejut, menghentikan gerakan goloknya, membalik dan seketika ia merasa jantungnya berdebar dan mukanya menjadi merah.

Pemuda yang tadi selalu menggoda pikirannya itu telah berada di depannya!

Tiong Sin kini mencabut Pedang Asmara, perlahan-lahan, lalu membungkuk sambil melintangkan pedangnya di depan dada.

"Nona, malam dingin sekali, memari enak untuk berlatih. Bolehkah aku menemanimu berlatih? Sedikit-sedikit aku pernah belajar ilmu pedang, dan kumohon petunjuk darimu, Nona!"

Li Hwa yang tadinya merasa sungkan dan malu-malu, kini tersenyum.

Ia adalah murid terpandai dari Hek-eng-pang bahkan telah mewarisi seluruh kepandaian ayahnya.

Tentu saja ia tidak gentar menghadapi siapapun juga, apalagi pemuda yang asing ini, dan hanya untuk berlatih.

Bahkan ia berkesempatan untuk menguji kepandaian orang, dan untuk memamerkan ilmu sitatnya kepada pemuda itu dengan mengalahkannya.

"Akulah yang mohon petunjuk dan pelajaran darimu, saudara Yeliu!"

Jawabnya sambil balas memberi hormat dan melintangkan goloknya depan dada. Tiong Sin tersenyum.

"Baiklah, mari kita sama-sama saling belajar dan bersiaplah, Nona, aku mulai menyerang!"

Pedangnya membuat gerakan menusuk dan gadis itu cepat mengelak ke kiri sambil membalas dengan babatan goloknya dari samping ke arah pinggang lawan.

Keduanya bergerak perlahan seolah-olah merasa khawatir kalau-kalau gerakan senjata mereka benar-benar mengenai tubuh lawan yang disayangnya.

Akan tetapi, setelah masing-masing merasa yakin akan kelincahan lawan, gerakan mereka makin lama semakin cepat dan belasan jurus kemudian, bukan main rasa kagum dalam hati Li Hwa karena ia mendapatkan kenyataan bahwa pemuda lawannya itu selain memiliki ilmu pedang yang hebat, juga amat lincah dan memiliki tenaga yang kuat!

Lebih-lebih pedang di tangannya itu, sinarnya membuat ia seringkali silau dan membuat jantungnya berdebar kencang penuh gairah!

"Haiiiittt.....!"

Tiba-tiba golok itu membacok dari atas ke bawah, menyerang kepala Tiong Sin. Pemuda ini miringkan tubuh, menjauh dan pedangnya menyambar ketika menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

"Tranggggg..... aihhh.....!"

Golok itu terlepas dari tangan Li Hwa dan menancap ke atas tanah, (Lanjut ke

Jilid 14) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 sedangkan gadis itu menjerit lirih karena tubuhnya terpelanting.

Akan tetapi, lengan kiri Tiong Sin sudah merangkulnya sehingga ia tidak terbanting jatuh ke atas tanah, melainkan terjatuh ke dalam rangkulan pemuda itu!

"Ahhhhh.....!"

Li Hwa yang hendak meronta dan marah itu tiba-tiba saja merasa tubuhnya lemah lunglai dan ia memejamkan matanya tanpa melawan ketika merasa betapa bibir pemuda itu membelai pipi dan lehernya dan ia mendengar bisiknya.

"Siauw-moi..... di luar begini dingin.... aku ingin bicara denganmu di dalam..., marilah kita masuk ke rumah....."

Bagaikan orang dalam mimpi, atau yang sudah ling-lung kehilangan semua perlawanannya, Li Hwa mengangguk lalu melangkah meninggalkan taman, menuju ke bangunan rumah keluarganya.

Tiong Sin masih sempat mengambil golok gadis itu, kemudian sambil menggandeng tangan gadis yang seperti kehilangan semangat itu, dia mengikutinya berjalan ke arah rumah besar yang nampak sunyi.

"Di mana kamarmu....., kita masuk dari jendela saja agar tidak kelihatan orang lain....."

Tiong Sin berbisik dan dengan tangan kanan dia memegang Pedang Asmara yang terhunus.

Gadis itu hanya mengangguk.

Samar-samar ia masih teringat betapa janggal keadaan ini dan bahwa ia seharusnya menolak, Namun, ada kekuasaan dan kekuatan lain yang melumpuhkan seluruh kesadarannya.

Ia merasa demikian gembira, merasa betapa cinta kasih pemuda itu terhadapnya demikian besarnya, dan ia merasa pula bahwa ia telah jatuh cinta sepenuhnya kepada Yeliu Tiong Sin!

Mereka tiba di depan daun jendela itu.

Bagaikan dalam mimpi saja, Li Hwa membuka daun jendela itu lalu meloncat masuk ke dalam diikuti oleh Tiong Sin.

Setibanya di dalam kamar, Tiong Sin menutupkan daun jendela, meletakkan pedang dan golok di atas meja, lalu dia merangkul dan mendekap Li Hwa yang hanya pasrah dengan tubuh lemas sambil memejamkan mata.

Selanjutnya, Li Hwa hanya pasrah dan tidak pernah melawan sedikit pun, menuruti segala yang diinginkan Tiong Sin!

Sungguh tidak disangka sama sekali bahwa seorang gadis seperti Li Hwa, yang memiliki kegagahan, memiliki kekerasan hati, memiliki harga diri yang tinggi, pada malam hari itu berubah menjadi seperti malam lunak yang mandah saja diperlakukan sesukanya oleh seorang pemuda yang baru saja dijumpainya, la menyerahkan diri tanpa menolak, tanpa membantah, bahkan dengan suka rela dan dengan hati penuh rasa gembira.

Sama sekali tidak sadar bahwa aib dan noda telah mengotori diri dan namanya sebagai seorang gadis terhormat!

Sama sekali ia tidak menyadari hal ini, bahkan ia terlena, terseret oleh arus nufsu berahi dan pada saat itu hanya tahu bahwa apa yang dilakukanny adalah menyenangkan dan benar!

Dua orang muda itu membiarkan dirinya hanyut dan setelah keduanya terkulai, masih saja Li Hwa terbuai dala kemesraan.

Dalam keadaan setengah pulas itu, tiba-tiba daun pintu kamar Li Hwa diketuk orang.

Perlahan saja ketuan itu, disusul suara wanita yang memanggil nama Li Hwa.

"Li Hwa, bukakan pintunya.....!"

Tentu saja Li Hwa dan Tiong Sin yang sudah hampir pulas itu, terkejut bukan main mendengar suara ini.

"Ibu tiriku......"

Kata Li Hwa, berbisik.

"Cepat, engkau pergilah dari sini.."

"Li Hwa....."

Kembali terdengar suar Kwi Nio, ibu tiri Li Hwa, di luar.

"bukalah, aku tadi telah melihat kalian....."

"Celaka.....!"

Li Hwa berbisik lagi.

"Ia telah melihat kita!"

Tiong Sin merangkulnya.

"Tenanglah Li Hwa. Kalau ia sudah melihat kita satu-satunya jalan adalah melibatkan ia dengan hubungan ini. Nah, engkau pura-pura tidur saja, biar aku yang menghadapinya."

Berkata demikian, Tiong Sin meloncat turun dari pembaringan, meniup padam lilin di atas, meja, lalu menuju ke plntu kamar itu.

Daun pintu kamar dibuka.

Kwi Nio melangkah masuk kamar yang gelap itu memanggil.

"Li Hwa....."

"Ia sudah tidur, Toanio. Yang ada aku, marilah kita bicara di dalam."

Tiba-tiba ada dua lengan yang merangkulnya lalu menariknya ke dalam kamar itu, dan daun pintunya ditutup kembali.

Kwi Nio segera maklum bahwa pemuda itu yang merangkulnya.

Ia hendak meronta, hendak menjerit, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas dan ia tidak mampu mengeluarkan suara karena tubuhnya sudah tertotok.

Akan tetapi tidak lama kemudian, belaian dan rayuan pemuda itu, terutama sekali didorong oleh kekuatan dan pengaruh Pedang Asmara yang menggeletak telanjang di atas meja, membuat nyonya itu sama sekali tidak ingin meronta dan menjerit lagi.

Ketika totokannya itu dibebaskan, ia pun menyerah, bahkan menyambut belaian pemuda itu dengan penuh gairah.

Demikianlah, dua orang wanita itu seperti telah kehilangan kesadaran mereka, telah dikuasai iblis dan nafsu berahi yang berkobar-kobar, membuat mereka sama sekali tidak sadar bahwa mereka berdua telah melakukan hal yang amat kotor dan yang dapat menghancurkan nama dan kehormatan mereka.

Menjelang pugi, Tiong Sin berpamit dengan mesra dan meninggalkan dua orang wanita itu.

Setelah pemuda itu membawa pedangnya meloncat keluar dari jendela, barulah dua orang wanita itu seperti tersentak kaget, saling pandang dan berulang kali mulut mereka berbisik.

"Apa yang telah kulakukan ini.....?"

Akhirnya, mereka saling rangkul dan menangis tersedu-sedu, penuh penyesalan.

Namun, segalanya telah terlambat, terutama sekali bagi Li Hwa, dunia seperti hancur lebur.

Namun, apa yang akan dapat ia lakukan?

Mereka berdua bahkan berjanji untuk saling memegang teguh rahasia yang memalukan itu, karena keduanya terlibat langsung!

Tiga hari kemudian, sejak pagi di lian-bu-thia yang luas dari Hek eng-pang telan berkumpul belasan orang anggauta Hek eng pang.

Mereka adalah para murid yang dahulu ikut ketua lama untuk mengeroyok dan membunuh Bu Siang Hok Mereka mentaati perinlah Tang Pangcu untuk berkumpul di situ pada hari itu karena menurut perintah sang ketua, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan mereka, menghaturkan terima kasih dan juga berkenalan.

Diam-diam mereka itu saling bertanya-tanya, siapa gerangan tamu itu dan apa perlunya dengan mereka.

Urusan dengan Bu Siang Hok yang sudah lewat dua puluh tahun itu hampir terlupa oleh mereka, dan urusan itu merupakan peristiwa yang paling tidak enak bagi mereka.

Ketika Tang Cin Siok memasuki lian bu-thia, para anggauta tua Hek-eng-pang itu segera bertanya kepada sang ketua apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh tamu itu dan mana pula tamunya.

"Harap kalian tenang dan bersabar Tentu sebentar lagi dia datang dan kalian boleh mendengar sendiri darinya Akan tetapi, dia amat berterima kasih dan melihat sikap dan kata-katanya mungkin dia akan memberi hadiah kepada kalian."

Lima belas orang murid Hek-eng-pang itu tersenyum.

Tak mereka sangka bahwa urusan dua puluh tahun yang lalu itu kini dihidupkan kembali, bahkan ada orang yang hendak berterima kasih dan memberi hadiah kepada mereka, karena orang itu musuh besar Bu Siang Hok dan dia menganggap mereka telah berjasa!

Tak lama kemudian, muncullah Tiong Sin yang segera memberi hormat kepada Tang Pangcu.

Kemudian mereka semua memasuki lian bu-thia dan Tiong Sin diperkenalkan kepada lima belas orang murid itu."

Yang ada tinggal mereka ini, yang lain ada yang sudah meninggal, ada pula yang sudah berpindah ke kota lain, yang jauh."

Kata Tang Cin Siok. Tiong Sin memandang mereka. Mereka semua adalah laki-laki yang berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, bersikap gagah. Dia tersenyum ramah.

"Pangcu, apakah mereka ini dahulu itu ikut menyerang Bu Siang Hok? Aku hanya ingin bicara dengan mereka yang dulu ikut membinasakan musuh besarku itu, maka sebaiknya kalau yang dahulu tidak ikut, agar jangan masuk ke dalam lian-bu-thia ini."

Tang Cin Siok mengangguk dan tersenyum.

"Mereka lima belas orang itu memang dulu mengikuti ayah ketika melakukan pengejaran Aku sendiri mulai tidak ikut. Nah, silakan engkau bicara dengan mereka, orang muda, aku akan menanti di luar."

Berkata demikian, ketua itu lalu keluar dari lian-bu-thia. Tiong Sin lalu menutupkan daun pintu ruangan berlatih silat itu, dan menghadapi lima belas orang itu sambil tersenyum ramah.

"Cu-wi telah berjasa besar dan selain ucapan terima kasih yang sedalamnya, aku ingin memberi sekedar hadiah atau tanda mata kepadi Cu-wi (anda sekalian). Kuharap Cu-wi suka berdiri berjajar agar memudahkan aku membagi hadiah."

Lima belas orang itu tersenyum-senyum dan mereka pun bangkit, lalu berdiri berjajar di depan pemuda tampan yang tersenyum-senyum itu. Tiong Sin lalu berkata dengan lantang.

"Cu-wi, sesungguhnya aku ingin sekali dapat berhadapan sendiri dengan musuh besarku, Bu Siang Hok itu. Ingin sekali aku mencoba sampai di mana hebatnya ilmu kepandaiannyn. Namun sayang, dia telah mati dan karena yang membunuhnya ialah Cu-wi, maka kiranya melalui Cuwi,aku akan dapat menduga sampai di mana tingkat kepandaian Bu Siang Hok. Nah, harap Cu-wi suka bermurah hati dan mengeroyok aku seperti ketika Cuwi mengeroyok Bu Siang Hok dahulu, sehingga Cu-wi akan dapat mengatakan kepadaku, siapa di antara dia dan aku yang lebih lihai. Selelah mendengar pendapat Cu-wi, barulah hatiku akan merasa puas. Nah, harap Cuwi bersiap-siap dengan senjata Cu-wi, dan keroyoklah aku seperti ketika Cu wi mengeroyok Bu Siang Hok!"

Lima belas orang nuggauta Hek eng pang itu saling pandang.

Mereka terkejut mendengar permintaan yang aneh dan tidak mereka sangka-sangka itu.

Akan tetapi, kalau hanya menguji kepandaian saja, tidak ada salahnya, pikir mereka.

Biarlah pemuda yang agaknya amat mendendam kepada Bu Siang Hok ini merasa puas.

Sambil tertawa-tawa mereka pun lalu mencabut golok mereka dan mengepung Tiong Sin.

"Nah, mulailah, Cu-wi. Jangan ragu ragu, keroyok aku seperti dulu kalian mengeroyok Bu Siang Hok!"

Kata Tiong Sin sambil melintangkan pedangnya depan dada, sikapnya waspada.

Dia sama sekali tidak merasa gentar.

Dia sudah mendapat keterangan bahwa yang paling lihai antara para murid Hek eng pang adalah Li Hwa, dan dia sudah mengukur sampai di mana kepandaian gadis itu.

Kini, menghadapi lima belas orang itu, dia sama sekali tidak merasa gentar.

Dengan sikap main-main, seorang di antara para murid Hek eng pang yang berada di belakangnya membentak.

"Awas aku mulai menyerang"

Dan dia pun menggerakkan goloknya membacok dari belakang.

Tentu saja dia tidak mempergunakan seluruh tenaganya dan andaikata dia melihat pemuda itu kurang cepat menghindarkan diri atau menangkis, dia akan menahan serangannya karena memang sama sekali tidak ada niat hatinya mencelakai pemuda itu.

"Singgg..., tranggg.....!"

Nampak sinar terang berkelebat ketika Tiong Sin membalikkan tubuhnya, pedangnya menyambar dan sekali tangkis, golok di tangan murid Hek-eng-pang itu patah menjadi dua, dan sinar pedang masih terus meluncur dan pundak kanan orang itu tertusuk ujung pedang.

"Aduhhh.....!"

Dia terhuyung ke belakang memegangi pundaknya yang terluka. Terkejutlah semua murid Hek-eng-pang.

"Heiiiii! Apa artinya ini?"

"Kenapa kau melukai saudara kami?"

Namun, Tiong Sin tidak mempedulikan teriakan-teriakan dan teguran mereka itu, dia sudah memutar pedangnya, sinar Pedang Asmara bergulung-gulung, menyambar-nyambar dan kembali dua orang sudah roboh terluka!

Tentu saja para murid lain menjadi terkejut, heran akan tetapi juga marah sekali.

Kini mereka mengepung dan menyerang dengan sungguh sungguh karena jelas bahwa pemuda ini mempunyai niat yang buruk.

Dan terjadilah pengeroyokan seperti dahulu ketika Bu Siang Hok dikeroyok tepat seperti diinginkan Tiong Sin.

Dan dia pun mengamuk.

Tingkat kepandaian Tiong Sin memang jauh lebih tinggi daripada tingkat para murid Hek-eng-peng.

Apalagi dia memegang Pedang Asmara, sebatang pedang yang memiliki daya melumpuhkan wanita akan tetapi kalau bertemu dengan senjata lain merupakan senjata yang amat ampuh, mampu mematahkan senjata yang keras!

Baru belasan jurus saja, lebih dari setengah jumlah pengeroyok telah kehilangan golok mereka yang patah-patah disusul robohnya tubuh mereka, ada yang tertusuk, ada yang terbacok pedang yang ampuh itu.

Tiong Sin mengamuk sambil tertawa-tawa seperti orang gila!

Hatinya gembira bukan main melihat para pengeroyoknya, para pembunuh ayahnya roboh satu demi satu!

Sementara itu, Tang Cin Siok yang tadinya berada di luar lian-bu thia, berjalan-jalan di taman tak jauh dari ruangan berlatih silat itu, menjadi heran bukan main ketika dia mendengar suara beradunya senjata di dalam ruangan itu.

lebih kaget lagi ketika suara benturan senjata tajam itu disusul tenakan-teriakan kesakitan.

Dia pun cepat lari menghampiri dan sekali dorong, daun pintu ruangan itu pun terbuka.

Dia terbelalak, terkejut bukan main melihat pemuda itu mengamuk dan melihat betapa dengan cepat, semua anggauta Hek-eng-peng yang berjumlah lima belas orang itu, satu demi satu dalam keadaan terluka parah!

"Heiii, apa yang kau lakukan ini?"

Bentaknya dan dia pun sudah mencabut goloknya dan langsung saja melompat masuk dan menyerang!

Dengan pengerahan tenaga, dia membacokkan goloknya dari samping, dan gerakannya selain amat cepat, juga kuat sekali karena ketua ini sudah marah melihat betapa lima belas orang anggautanya roboh terluka.

Melihat dirinya diserang, Hong Sin tersenyum, pedangnya berkelebat menangkis dan dia mengerahkan tenaganya.!

"Tranggg....

Golok di tangan Tang Pangcu itu patah menjadi dua.

Tiong Sin tidak ingin melukai ketua itu.

Kalau di mau, tentu mudah baginya untuk membacokkan atau menusukkan pedangnya Akan tetapi dia tidak mau melukai ketua itu.

Bagi Tang Cin Siok, dia memilih pembalasan yang lain lagi caranya.

Ketika golok itu patah, Tang Cin Siok menjadi pucat dan dia memandang terbelalak ketika pemuda itu sambil tertawa melompat pergi dari situ.

"Heiii! Jelaskan dulu apa artinya perbuatanmu ini!"

Bentak Tang Cin Siok yang merasa tidak berdaya untuk melakukan pengejaran, maklum bahwa pemuda itu lihai sekali dan pedang di tangannya itu amat ampuhnya. Tiong Sin menoleh sambil tersenyum mengejek.

"Pangcu, kalau engkau ingin penjelasan, malam nanti aku akan menjelaskan!"

Setelah berkata demikian, sekali melompat, pemuda itu telah lenyap dari Situ.

Dia mencoba untuk mengejar keluar, akan tetapi pemuda itu tidak tampak lagi dan dari dalam rumah muncul puterinya, Tang Li Hwa yang memandang kepadanya dengan muka pucat.

"Ayah, apa yang telah terjadi?"

"Celaka, pemuda itu mendatangkan bencana!"

Kata Tang Cin Siok dan dia segera lari lagi ke lian-bu-thia.

Dengan muka menjadi semakin pucat.

Li Hwa mengikuti ayahnya.

Ketika mereka tiba di lian-bu-thia, Li Hwa terbelalak melihat betapa lima belas orang murid Hek-eng-pang yang katanya akan menerima ucapan terima kasih dan tanda mata dari pemuda bernama Yeliu Tiong Sin itu kini sudah rebah malang melintang, ada yang luka ringan, ada yang luka berat bahkan ada pula yang tewas.

Lian-bu-thia itu berubah menjadi seperti ruangan pembantaian dan lantainya berlepotan darah!

"Cepat, panggil para anggauta lain untuk menolong!"

Kata ayahnya.

Dengan muka pucat sekali dan hati tidak karuan rasanya, Li Hwa meloncat dan tak lama kemudian, para murid dan anggauta Hek-eng-pang berdatangan dan mereka segera menolong yang luka, dan mengurus yang tewas.

Malam itu, asrama Hek-eng-pang berkabung.

Lima buah peti mati berjajar di ruangan depan.

Di antara lima belas orang murid itu, lima orang tewas, tiga orang luka berat dan tujuh orang luka tidak begitu berat.

Li Hwa sendiri tidak keluar, melainkan mengeram diri dalam kamar dan terus-terusan menangis, ibu tirinya menemaninya dan ibu tiri ini pun menangis.

"Akan kubunuh dia! Ah, akan kubunuh dia.....!"

Berulang kali Li Hwa berkata seperti orang gila dan Kwi Nio juga hanya dapat menangis.

Wanita ini maklum bahwa ada sesuatu yang tidak wajar yang membuat ia dan anak tirinya begitu mudah menyerahkan diri kepada pemuda itu.

Dan kini pemuda itu bahkan telah merobohkan lima belas orang murid Hek eng-pang tanpa alasan apa pun.

Betapa kejamnya!

Tentu saja ia menyesal sekali telah menyerahkan diri dinodai pemuda itu.

Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?

Hal itu terjadi begitu saja malam tadi, seperti juga Li Hwa yang demikian mudahnya menyerahkan kehormatan dirinya yang masih gadis.

Tan Cin Siok sendiri duduk di ruangan depan, bersila di atas lantai, wajahnya murung dan keruh.

Sekali ini, nama Hek-eng-pang menjadi rusak oleh ulah seorang pemuda saja yang tidak diketahui benar asal-usulnya.

Karena Hek-eng-pang berhubungan baik dengan pasukan keamanan kota Wang-cun bahkan dia mengenal baik komandan perbatasan, maka beberapa orang perwira datang melayat dan mereka menjanjikan bantuan untuk menyelidiki dan kalau dapat menangkap pemuda yang mengaku bernama Yeliu Tiong Sin itu.

Para isteri dan keluarga yang mati, berkumpul pula di situ dan hujan tangis membuat suasana berkabung itu semakin menyedihkan.

Semua anggauta Hek-eng-pang berkumpul di situ dan pada wajah mereka jelas nampak kemarahan dan dendam terhadap pemuda yang mendatangkan bencana ini.

Siang tadi, mereka semua telah mencoba untuk mencari pemuda itu, semua penginapan diperiksa.

Akan tetapi pemuda itu telah meninggalkan kamar di rumah penginapan yang disewanya, dan menurut keterangan orang yang melihatnya, dia telah pergi meninggalkan kota Wang-cun dengan naik seekor kuda.

Biarpun demikian, malam itu mereka menanti dengan hati tegang, siap untuk mengeroyok dan menangkap hidup atau mati pemuda itu.

Apalagi mereka mendengar bahwa pemuda itu telah berjanji kepada ketua mereka, bahwa malam ini dia akan datang memberi penjelasan.

Kalau benar dia datang, mungkin pemuda itu telah gila!

Bukan hanya puluhan orang anggauta Hek-eng-pang yang menanti dan siap mengepung, bahkan Tang Pangcu sudah mendatangkan belabantuan yaitu para jagoan dari benteng pasukan pemerintah.

Sedikitnya ada lima belas orang jagoan dari benteng yang menyamar sebagai sahabat-sahabat yang datang melayat dan mereka ini sudah siap untuk membantu Hek-eng-pang kalau pemuda itu benar-benar berani muncul ke tempat itu.

Malam itu bulan masih purnama dan hawa udara masih tetap dingin seperti malam kemarin.

Akan tetapi, seorang penunggang kuda membalapkan kudanya, menuruni bukit kecil menuju ke kota Wang-cun.

Di luar kota, dia menghentikan kudanya dan melompat turun, menambatkan kudanya pada sebatang pohon dan membiarkan kudanya makan rumput di bawah pohon, lalu dia melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki.

Akan tetapi dia bukan berjalan, melainkan berlari, bahkan lebih mirip terbang karena kedua kakinya itu dengan kecepatan luar biasa bergerak dan tubuhnya meluncur ke depan, seolah-olah kedua kaki itu tidak menginjak bumi.

Itulah ilmu berlari cepat yang hebat.

Di luar tembok kota Wang-cun, dia berhenti di tempat gelap dan dia tersenyum melihat betapa berbeda dengan hari-hari biasa, kini bukan hanya pintu gerbang terjaga ketat, akan tetapi bahkan ada yang mondar-mandir di sepanjang tembok melakukan perondaan!

Seperti sudah diduganya, malam ini tentu pihak Hek-eng-pang melakukan penjagaan ketat, bahkan dibantu oleh pasukan pemerinlah.

Orang itu adalah Tiong Sin.

Dia memang sudah menduga bahwa dirinya tentu dicari dan kota itu tentu dijaga ketat apalagi karena dia sudah berjanji kepad Tang Cin Siok untuk datang memberi penjelasan.

Dan biarpun dia sudah membalas dendam kematian ayahnya kepada mereka yang dahulu mengeroyok ayahnya sampai mati, namun dia masih belum memberi pukulan terakhir kepada keluarga Tang, keluarga ibunya yang telah menghancurkan kebahagiaan ibunya, yang"

Menyebabkan ibunya sengsara, melarikan diri dalam keadaan mengandung tua sehingga ibunya tewas ketika melahirkan.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Tiong Sin untuk memilih tembok kota yang lepas dari penjagaan para peronda, melompati pagar tembok itu dan menyusup masuk ke dalam kota.

Malam itu dingin dan karenanya, seperti kemarin malam, keadaan kota menjadi sunyi biarpun malam belum begitu larut.

Dengan mudah Tiong Sin menyelinap dan melompat pagar tembok yang mengurung rumah dan asrama Hek eng-pang, masuk ke dalam taman dari mana dia dapat menghampiri kamar tidur Li Hwa!

Pukulan terakhir terhadap keluarga Tang akan dilakukannya dari kamar tidur gadis putih mulus yang cantik manis itu!

Tentu saja para murid Hek-eng-pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang dan di keempat sudut rumah dan markas Hek-eng-pang, tidak ada yang berani menjaga dekat kamar Li Hwa.

bukankah Li Hwa memiliki kepandaiannya yang lebih tinggi daripada mereka semua?

Gadis itu akan tersinggung hatinya kalau melihat kamarnya dijaga anggauta Hek-eng pang.

Dan justeru hal ini yang memudahkan Tiong Sin untuk menghampiri kamar itu dan sekali renggut, daun endela kamar itu terbuka dan dia lalu meloncat ke dalam kamar yang terang karena dipasangi banyak lilin untuk menambah terangnya lampu gantung.

Akan tetapi, begitu kakinya menyentuh lantai kamar, tiba-tiba saja terdengar bentakan.

"Jananam, mampuslah engkau!"

Dan sebatang golok sudah menyambar ke arah lehernya!

Tiong Sin cepat mengelak sambil mencabut Pedang Asmara.

Golok itu menyambar lagi.

Dengan kecepatan luar biasa.

Tiong Sin merendahkan tubuhnya dan ketika golok menyambar lewat ke atas kepalanya, dia menangkap pergelangan tangan kanan yang memegang golok, lalu menekan lengan itu dan di lain saat tubuh gadis itu telah berada dalam rangkulannya dan Pedang Asmara telah ditempelkannya di dada gadis itu, bukan ditodongkan ujungnya, melainkan ditempelkan.

"Aih, Li Hwa. Bukankah engkau cinta padaku?"

Dan dia pun mencium pipi gadis itu.

Li Hwa seketika merasa lutut nya lemas dan ia tidak melawan ketika pemuda itu mengambil goloknya dan memondong tubuhnya ke pembaringan.

Ketika Tiong Sin melihat Kwi Nio, ibu tiri gadis itu ternyata berada pula di situ dia tersenyum dan menyambar lengan nyonya muda itu dan ditariknya pula bersama-sama duduk di atas pembaringan.

Nyonya yang tadinya juga sudah siap untuk menjerit, kini keadaannya tidak berbeda seperti Li Hwa.

Ia menjadi lemas dan hanya memejamkan mata ketika pemuda itu membelainya, bergantian dengan Li Hwa.

Dua orang wanita itu sama sekali tidak dapat melawan ketika pemuda itu memadamkan semua penerangan dalam kamar dan terulanglah kembali peristiwa malam kemarin, di mana kedua wanita itu menyerah tanpa membantah sedikit pun juga karena mereka sendiri telah dibakar nafsu berahi yang berkobar tanpa mereka ketahui apa yang menyebabkannya!

Mereka samar-samar masih ingat bahwa pemuda ini telah mendatangkan bencana, dan hal ini amat menyedihkan hati mereka karena mereka kini menyerahkan diri seperti itu kepada pemuda yang mestinya mereka benci.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Pedang Asmara telah memperlihatkan pengaruhnya yang mujijat!

Ibu tiri dan anak tiri itu merintih dan menangis lirih, namun mereka tidak pernah menolak dan menyerahkan diri dengan suka rela menurut semua kehendak pemuda itu atas mereka.

Setelah Tiong Sin merasa puas mempermainkan mereka, dia membiarkan dua orang wanita itu menangis sambil memeluki bantal.

Sambil tersenyum kejam dia mengenakan lagi pakaiannya.

Pada saat itu, terdengar suara dari luar.

"Siocia (Nona).....! Toanio.....?"

Suara seorang wanita tua, yaitu murid atau anggauta Hek-eng-pang wanita yang juga bekerja sebagai pembantu dan penjaga.

Daun pintu diketuk dan agaknya wanita itu mendengar isak tangis mereka, maka didorongnya daun pintu itu terbuka, dan dengan tangan kanan memegang sebuah tempat lilin dengan tiga batang lilin bernyala, dengan hati-hati ia memasuki kamar.

Murid Hek-eng-pang itu tertegun.

Matanya terbelalak memandang ke dalam kamar, melihat nonanya dan nyonyanya menangis di atas pembaringan dalam keadaan tanpa pakaian, dan di dekat pembaringan berdiri seorang pemuda yang membereskan pakaiannya dan tersenyum kepadanya!

Pemuda yang pagi tadi telah merobohkan lima belas murid tingkat pertama dari Hek-eng-pang!

Tentu saja murid wanita itu terkejut dan menjerit, lalu berlari keluar.

Tak lama kemudian, muncullah Tang Cin Siok sendiri diikuti lima orang murid wanita dan beberapa orang murid lain.

Ketua itu memegang sebatang golok, dan semua murid Hek-eng-pang juga memegang golok.

Ketika Tang Pangcu melihat keadaan di dalam kamar, keadaan isterinya dan puterinya, mukanya berubah pucat sekali, lalu berubah merah padam dan matanya mencorong seolah-olah dia hendak membunuh Tiong Sin dengan sinar matanya.

Pemuda itu tersenyum.

Dia sudah selesai berpakaian dan kini pedang pusaka itu berada di tangannya.

"Pangcu, aku memenuhi janji. Engkau ingin penjelasan mengapa aku merobohkan lima belas orang murid Hek-eng-pang pagi tadi? Dan mengapa pula aku sekarang mempermainkan isterimu dan puterimu? Bukalah mata dan telingamu Pandang aku baik-baik dan dengarkan kata-kataku. Nama keturunanku bukan Yeliu melainkan Bu. Aku bernama Bu Tiong Sin! Mendiang Bu Siang Hok dan Tang Siok Hwa adalah ayah dan ibu kandungku! Hek-eng-pang telah mencelakakan ayah dan ibuku, maka hari ini aku datang membalas dendam!"

Kini mata Tang Cin Siok terbelalak "Kau..... kau..... anak yang dilahirkan Siok Hwa.... yang hilang itu?"

Tiong Sin tertawa.

"Tang Pangcu engkau adalah pamanku, kakak dari ibuku. Akan tetapi, ayahmu telah menghancurkan kebahagiaan ibuku, oleh karena itu hari ini aku datang untuk membalas dendam. Aku tidak bisa membalas kepada kakekku yang sudah mati, akan tetapi engkau sebagai keturunannya dapat mewakilinya menerima pembalasanku, ha-ha-ha!"

Setelah berkata demikian, dengan hati yang puas sekali, Tiong Sin melompat keluar melalui jendela.

Tang Cin Siok tentu saja sudah dapat menduga apa yang dilakukan oleh pemuda itu.

Tentu pemuda itu telah memperkosa isterinya dan puterinya.

Melihat betapa isterinya dan puterinya kini bersembunyi di dalam gulungan selimut sambil menangis, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Kejar! Bunuh jahanam keparat itu!"

Teriaknya dan keadaan menjadi kacau dan geger.

Para jagoan dari benteng yang menyamar sebagai tamu pelayat, sudah cepat mendengar dan mereka pun ikut mengejar pemuda yang melarikan diri melalui taman itu.

Sebagian pula cepat mengatur penjagaan dan kini kota Wang-cun seolah-olah dikepung dan tidak diberi kesempatan kepada siapapun juga untuk keluar kota tanpa diketahui para penjaga.

Tiong Sin yang memandang rendah Hek-eng-pang, ketika melarikan diri dan meloncat keluar dari pagar tembok asrama perkumpulan itu, terkejut juga ketika tiba-tiba muncul lima orang setengah tua yang tanpa banyak cakap sudah mengurungnya dengan pedang mereka.

"Hemmm, kalian sudah bosan hidup!"

Bentaknya dan dia pun memutar Pedang Asmara untuk membikin patah senjata di tangan para pengeroyoknya.

Akan tetapi lima orang itu menarik pedang masing masing dan menyerang lagi dengan cepat jelas bahwa mereka tidak mau mengadu senjata mereka dengan pedang di tangan pemuda itu.

Hal ini adalah karena para jagoan benteng ini sudah mendengar dari Tang Pangcu betapa ampuhnya pedang pemuda itu yang mampu mematahki semua senjata lain.

Melihat ini, Tiong Sin terkejut dan cepat dia pun memutar pedang melindungi tubuhnya, lalu membalas dengan serangan maut.

Bagaimanapun juga, tingkat kepandaian para jagoan itu masih belum mampu menandingi Tiong Sin sehingga mereka terdesak hebat apalagi karena pemuda yang lihai itu menggunakan pedang yang demikian ampuhnya.

Akan tetapi, Tang Pangcu bersama para anggauta Hek-eng-pang segera bermunculan dan ikut mengepung dan mengeroyok.

Juga lebih banyak lagi jagoan datang mengeroyok.

Tiong Sin terkejut mulai knawatir.

Biarpun pedangnya dapat mematahkan beberapa batang senjata para pengeroyok, namun jumlah mereka banyak sekali.

Dia pun melompat ke samping lalu melarikan diri.

Tang Pangcu yang marah sekali cepat mengejar bersama para jagoan, diikuti.

pula oleh banyak murid Hek-eng-pang.

Ketika Tiong Sin melarikan diri, setibanya di jalan perempatan, dia sudah dihadang oleh banyak lawan.

Terpaksa dia mengamuk lagi, akan tetapi dari belakang, para pengejarnya sudah tiba!

Kalau dia lanjutkan perkelahian yang berat sebelah itu, akhirnya dia tentu akan celaka!

Dia melawan mati-matian dan berhasil merobohkan beberapa orang.

Namun dia dihimpit dan didesak, sehingga terpaksa harus melarikan diri lagi.

Dia tidak tahu bahwa kota itu sudah dipenuhi orang-orang yang hendak menangkapnya, maka tak lama kemudian, dia sudah dihadang lagi dan terpaksa dia mengamuk lagi.

Karena Tang Pangcu dan para pendekar juga memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, dikeroyok oleh orang sedemikian banyaknya, mulailah Tiong Sin tercium ujung senjata para pengeroyok dan sudah menderita beberapa luka yang biarpun tidak terlalu parah, namun cukup membuat darah banyak keluar dan perlawanannya mulai lemah.

Dia merasa lelah sekali harus berlari-lari lalu dikepung dan dikeroyok lagi sampai beberapa jam lamanya.

Tiong Sin sudah berputar-putar di sebagian besar kota Wang-cun, namun tidak berhasil berlari keluar karena setiap kali tiba di tembok kota, di sana sudah menunggu pasukan keamanan.

Dia dikeroyok dihujani anak panah dan biarpun dia lihai, menghadapi pengeroyokan seperti itu, mulailah dia merasa cemas.

Tak disangkanya bahwa Hek-eng-pang memiliki pengaruh yang demikian besarnya, sehingga pemerintah setempat dan pasukan keamanan perbatasan mau membantu Hek-eng-pang seperti itu.

Tiong Sin menjadi semakin bingung dan akhirnya panik ketika melihat betapa sinar matahari pagi mulai membakar ufuk timur, siap untuk mengusir kegelapan malam.

Kalau sampai keburu terang, celakalah dia!

Akan lenyap, semua harapan untuk dapat lolos dan terpaksa dia harus mengamuk terus sampai mati!

Dan dia masih belum ingin mati!

Dia masih muda, dia tidak mau mati sekarang.

Tiong Sin menangkis sebatang tombak dan tombak itu patah, akan tetapi mata tombak itu meluncur dan mengenai paha kanannya, menancap di paha.

Biarpun tidak berapa dalam, namun menambah luka-lukanya.

Dia mencabut mata tombak itu dan melihat sebuah rumah yang tidak berapa tinggi di sebelah kiri, dia lalu mengerahkan seluruh tenaganya dan meloncat ke atas genteng rumah itu.

Karena kakinya sudah terluka.

maka dia tidak dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dengan baik.

Beberapa buah genteng yang diinjaknya pecah dan dia terhuyung.

Orang-orang yang tadi mengeroyoknya, mengejar dan berteriak-teriak di bawah rumah.

Sebelum rumah terkepung dan sebelum ada yang naik, Tiong Sin berlari dan meloncat lagi ke rumah lain, terus berloncatan dari rumah ke rumah dan akhirnya dia meloncat turun ke tempat yang agak gelap karena di situ terdapat beberapa batang pohon besar.

"Ssttt, ke sinilah. Aku akan menyembunyikanmu!"

Tiba-tiba terdengar suara orang.

Ada seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi kurus muncul di kegelapan.

Karena dia sendiri sudah hampir putus asa, Tiong Sin terhuyung menghampiri orang itu.

Orang itu memegang lengannya dan menariknya masuk ke sebuah pintu yang kecil dari pagar yang mengelilingi sebuah rumah besar.

Dia menarik Tiong Sin masuk ke balik pagar tembok, lalu menutup lagi pintu kecil dan menguncinya, lalu mengajak pemudi itu lari ke dalam rumah besar.

Rumah itu besar dan mewah, dan orang tinggi kurus itu terus mengajaknya masuk ke dalam.sebuah ruangan yang luas.

"Siapakah engkau? Dan mengapa engkau membantuku?"

Tiong Sin bertanya dengan pandang mata penuh selidik!. Orang itu tersenyum.

"Aku tidak mempunyai hubungan dengan persoalanmu, akan tetapi melihat, kelihaianmu, aku merasa sayang kalau sampai engkau mati konyol. Nah, engkau bersembunyi di kamar rahasia di balik dinding itu. Jangan mengeluarkan suara, dan jangan keluar kalau tidak kujemput. Engkau akan aman di sana."

Orang itu menggerakkan sebuah arca singa kecil dan tiba-tiba saja almari buku yang berada di ruangan itu bergerak, mengeluarkan suara berderit dan ternyata almari itu telah berputar dan di belakangnya terdapat pintu tembusan ke sebuah kamar.

"Masuklah dan engkau bersembunyi dulu di situ sampai keadaan aman kembali."

Kata orang tinggi kurus itu.

Tiong Sin tidak mempunyai pilihan lain.

Kalau dia menolak, dia akan terus menjadi buruan tanpa dapat keluar dari kota itu dan akhirnya dia akan roboh pula.

Kalau dia bersembunyi di sini, andaikata orang ini, mengkhianatinya, setidaknya dia sudah memperoleh kesempatan untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga.

Akan tetapi kalau orang itu benar-benar hendak menolongnya, dia akan selamat.

Maka, dia pun mengangguk dan memasuki kamar itu.

Si tinggi kurus memutar arca singa dan almari itu berputar kembali, menutupi lubang pada dinding.

Kamar yang dimasuki Tiong Sin itu cukup bersih.

Ada sebuah pembaringan kecil dan ada dua buah kursi, bahkan tersedia sebuah poci terisi air teh dan cangkir-cangkirnya, dan seguci arak dengan cawannya.

Tiong Sin lalu meneguk secawan arak, kemudian dia naik ke atas pembaringan dan duduk bersila, memeriksa luka-lukanya, menaruhkan obat luka yang dibawanya, kemudian dia pun duduk diam untuk menghimpun tenaga baru.

Dia dapat menduga bahwa penolongnya tadi bukan seorang Han, melainkan seorang suku bangsa Mancu atau Mongol.

Dari logat bicaranya saja dia sudah dapat menduga walaupun orang itu mengenakan pakaian seperti pribumi.

Dia menduga-duga apa yang menjadi pamrih orang itu menolongnya, walaupun tadi orang itu mengatakan sayang kalau dia sampai mati konyol.

Di tempat seperti itu, semua orang berjiwa dagang, tidak akan melakukan sesuatu kalau tidak mendatangkan keuntungan.

Dia tidak dapat menduga, keuntungan apa yang dituntut orang itu darinya.

Bagaimanapun juga kalau orang itu mampu menyelamatkannya, menyelundupkannya, sampai dia dapat keluar dari kota Wang-cun dengan selamat dia siap untuk membalas budinya yang besar.

Tiba-tiba dia terkejut dan cepat dia turun dari pembaringan, menyambar pedangnya yang tadi dia letakkan di atas pembaringan di depannya, lalu berindap-indap mendekati almari yang memisahkan dia dari ruangan luas itu.

Dia mendengar langkah kaki dan suara orang bercakap-cakap, suara itu jelas sekali dapat dia tangkap.

Dia mendengar suara orang tinggi kurus tadi.

"Nah, tuan-tuan sekalian. Sudah saya katakan bahwa saya tidak melihat siapapun memasuki rumah kami, apalagi pemuda yang dikejar-kejar itu. Saya tinggal di sini. bersama beberapa orang pelayan dan mereka semua sudah bertahun-tahun tinggal di sini. Karena hawa dingin, mereka semua belum bangun. Maka, saya terkejut sekali ketika sepagi ini pintu rumah kami digedor....."

Di dalam suara itu terkandung penasaran.

"Maafkan kami, saudara Barcan. Kami sudah mengenalmu selama beberapa tahun. Kami tahu bahwa saudara Barcan adalah seorang saudagar besar yang tidak pernah melanggar peraturan. Akan tetapi, malam ini kami mengejar seorang penjahat besar yang telah membikin kacau di Hek-eng-pang, dan tadi kami melihat dia lari menuju ke daerah ini. Maka, terpaksa kami mencarinya di seluruh tempat daerah ini, termasuk rumahmu. Siapa tahu dia bersembunyi di sini di luar tahumu."

"Ahhh! Maksudmu, pembunuh yang telah membunuh banyak saudara Hek-eng-pang? Betapa mengerikan! Dan dia berlari ke daerah ini? Kalau begitu, harus dicari, Ciangkun (Perwira). Mari saya bantu mencarinya, mungkin dia bersembunyi di dalam kebun. Oya, biar kubangunkan semua pelayanku agar mereka ikut membantu dalam pencarian!"

Tiong Sin bernapas lega ketika mendengar langkah kaki banyak orang itu keluar dari rumah dan suara mereka tidak terdengar lagi.

Ah, kiranya penolongnya itu bernama Barcan, seorang suku Mongol kalau begitu.

Dan kini dia percaya bahwa Barcan itu bersungguh-sungguh dalam usahanya menolongnya.

Kalau dia hendak berkhianat, betapa mudahnya tadi, dan tentu dia sudah dikeroyok dan mungkin tertawan atau tewas.

Sungguh besar sekali jasa Barcan itu, dan dia berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepadanya.

Dan Barcan seorang saudagar besar bangsa Mongol.

Agaknya dia cerdik sekali, maka boleh diharapkan akan mampu menyelundupkan dia keluar dari kota itu.

Tiong Sin sama sekali tidak tahu bahwa penolongnya itu, Barcan, adalah orang yang penting di Mongol pada waktu itu.

Barcan bukan seorang saudagar kaya biasa saja.

Sama sekali bukan!

Telah diceritakan di bagian depan bahwa Barcan ini adalah seorang kepala kelompok yang menjadi pembantu dari Temucin!

Bahkan dahulu, isteri Barcan yang masih muda bernama Ogui, yang cantik manis, telah mengadakan hubungan cinta dengan Temucin.

Mereka berdua menjadi korban dari pengaruh mujijat Pedang Asmara hingga mereka mengadakan hubungan gelap.

Akan tetapi, Temucin menyadari ketidakwajaran itu, dan dia diam-diam membunuh Ogui lalu memberitahu kepada Barcan bahwa isterinya itu berlaku tidak senonoh hendak menggodanya maka dibunuhnya wanita itu.

Barcan berterima kasih sekali dan memuji perbuatan Temucin yang membersihkan namanya.

Dia menjadi pembantu yang makin setia dan karena Barcan seorang yang cerdik, pandai dan gagah, juga banyak pengalamannya di perbatasan, maka dia lalu menerima tugas berat dari Temucin untuk menjadi mata-mata di perbatasan.

Demikianlah, Barcan menjadi saudagar kaya di perbatasan.

Dia memasukkan barang-barang dari dalam Tembok Besar keluar, dan mendatangkan rempah-rempah dan kulit binatang dari utara.

Dengan demikian hubungannya luas, namanya dikenal baik dan diam-diam dia pun menyelidiki keadaan di perbatasan.

Dia hafal benar siapa yang menjadi komandan, siapa-siapa para perwiranya, dan berapa besar kekuatan benteng pasukan pemerintah di tapal batas.

Dia mencatat semua kekuatan dan kelemahan pihak pasukan pemerintah!

Dia tahu pula bahwa Hek-eng pang terdiri dari orang-orang dengan kepandaian silat tinggi dan puluhan orang anggauta Hek-eng-pang itu membantu pemerintah menjaga keamanan.

Maka begitu melihat ada seorang pemuda membikin kacau Hek-eng-pang, bahkan kabarnya merobohkan belasan orang hatinya tertarik sekali.

Kebetulan sekali pada malam itu, ketika dikejar-kejar, pemuda itu lewat di belakang kebunnya.

Maka dia pun cepat turun tangan membantu dan menyembunyikan Tiong Sin, dengan harapan kelak pemuda ini akan berguna baginya, atau lebih tepat lagi, bagi pasukan yang.

dipimpin Temucin yang sejak lama sudah merencanakan untuk menyerbu ke selatan!

Baru setelah matahari naik tinggi Barcan membuka pintu rahasia kamar itu dan dia tersenyum lebar ketika melihat Tiong Sin bersila di atas pembaringan dengan pedang di tangan.

"Orang muda, simpan pedangmu. Bahaya telah lewat dan engkau aman di sini."

Tiong Sin menyarungkan pedangnya, turun dari pembaringan dan memberi hotmat kepada pria tua kurus itu.

"Paman, aku Tiong Sin menghaturkan terima kasih kepadamu dan aku bersumpah bahwa kalau keadaan mengijmkan, kalau terbuka kesempatan, aku akan membalas kebaikanmu hari ini. Akan tetapi, selama masih belum keluar dari Wang-cun, kukira keadaanku belum dapat dibilang aman."

"Duduklah dan mari kita makan pagi dulu sebelum bicara. Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu."

Mereka berdua sarapan pagi, dilayani oleh seorang pembantu rumah tangganya.

Kiranya Barcan tinggal di situ hanya bersama beberapa orang pembantunya yang sesungguhnya merupakah jagoan jagoan Mongol yang menyamar.

Barcan tidak membawa keluarganya yang ditinggalkan di utara, akan tetapi sedikitnya sebulan sekali dia menengok keluarganya di utara dengan dalih membawa barang dagangan.

"Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu, orang muda. Bahkan nama Yeliu Tiong Sin sama sekali tidak pernah kami kenal dan kami pun tidak mempunyai hubungan apapun denganmu Akan tetapi, mulai saat ini, engkau menjadi buruan pemerintah, engkau menjadi musuh pemerintah."

"Sebetulnya, aku pun tidak ingin bermusuhan dengan pemerintah, Paman Barcan, akan tetapi siapa kira bahwa Hek eng-pang ternyata bersekutu dengan pasukan pemerintah sehingga aku dikejar kejar oleh pasukan."

"Hemmm, memang Hek-eng-pang merupakan pembantu pasukan keamanan pemerintah. Oleh karena itu, engkau tidak mungkin lagi bebas seenaknya kalau berada di selatan. Tentu gambar tentang dirimu telah disebar dan kemanapun engkau pergi, kalau bertemu dengan penjaga keamanan kota, tentu engkau akan ditangkap."

Wajah yang tampan itu berubah panik dan sedih.

Hal ini sama sekali tidak pernah dibayangkannya.

Dia hendak membalas dengan kematian ayahnya kepada Hek eng pang dan tahu-tahu dia berhadapan dengan pemerintah, bahkan kini menjadi buruan yang membuat dia tak pernah merasa aman, di manapun dia berada.

"Karena itu, aku mohon Paman jangan kepalang tanggung menolongku. Harap paman dapat mengusahakan agar aku dapat keluar dari daerah ini dengan aman."

Barcan tertawa bergelak, hatinya senang sekali bahwa segala rencananya berjalan dengan baik.

Dia bersusah payah menolong pemuda ini memang ada pamrihnya.

Bukan hanya susah payah, akan tetapi amat berbahaya.

Kalau sampai ketahuan, semua usahanya selama bertahun tahun ini tidak ada artinya!

"Sudah kukatakan tadi, orang muda.

engkau tidak mungkin kembali ke selatan, karena di sana engkau akan selalu dikejar kejar.

Bukan mustahil karena Hek eng pang juga minta bantuan para pendekar dan tentu hidupmu akan selalu terancam bahaya dan engkau tidak dapat tenang.

Jalan satu-satunya adalah pergi ke utara!"

"Ke utara? Di daerah suku-suku bangsa liar?"

Dia lalu teringat bahwa penolongnya seorang suku bangsa Mongol maka cepat-cepat disambungnya.

"Maaf Paman. Akan tetapi aku harus berbuat apa di utara yang sama sekali asing bagiku?"

"Yeliu Tiong Sin, jangan menganggap bahwa suku-suku bangsa di utara hanyalah suku liar yang bodoh. Kini telah bangkit seorang pemimpin besar yang akan membawa suku Mongol menjadi bangsa yang paling besar di dunia! Kalau engkau suka membantu pemimpin kami kelak engkau akan memperoleh kedudukan tinggi!"

Kemudian Barcan bicara tentang Jenghis Khan. Hati Tiong Sin tertarik sekali dan akhirnya dia pun menyatakan kesediaannya untuk membantu.

"Baiklah, Paman Barcan. Aku akan membantu rajamu, ke dua untuk menyelamatkan diri dari kejaran pemerintah kerajaan Cin, dan ke tiga untuk bisa mendapatkan kemuliaan dengan mengabdikan diriku kepada Raja Jenghis Khan. Akan tetapi ketahuilah, namaku bukan Yeliu Tiong Sin, melainkan Bu Tiong Sin. nama keluarga Yeliu itu hanya kupergunakan agar keluarga Hek-eng-pang tidak mengenal aku sebagai keturunan musuh besarnya."

Tanpa diminta, Tiong lalu bercerita kepada Barcan tentang riwayat dirinya, tentang kedua orang, tuanya yang tewas ketika dia masih bayi dan tentang usahanya membalas dendam kepada keluarga Hek-eng-pang.

Hati Barcan menjadi semakin girang.

Pemuda ini dapat menjadi seorang pembantu yang baik sekali, pikirnya.

"Baiklah kalau begitu memang kita ini sudah saling cocok. Besok pagi-pagi kami akan mengatur agar engkau dapat lolos dari kota ini dan langsung menyeberang ke utara, melewati Tembok Besar. Kami akan mengirim kain-kain dalam peti beberapa besar dan engkau dapat bersembunyi di dalam sebuah di antara peti peti itu. Pemimpin kami sudah membuat persiapan untuk menyerbu ke selatan dan kebetulan sekali engkau menjadi pembantu kami, maka engkau depat membuat jasa."

Pagi itu terjadi kesibukan di rumah Barcan.

Sebuah kereta besar dibawa masuk dan empat buan peti besar berisi kain dan barang dagangan lain dinaikkan ke atas kereta.

Di tengah-tengah terdapat sebuah peti besar yang kosong dan Tiong Sin disuruh memasuki peti ini yang kemudian ditutup.

Akan tetapi peti itu berlubang-lubang kecil dari mana Tiong Sin selain dapat bernapas, juga dapat mengintai keluar.

Barcan sudah bersiap-siap, mengenakan pakaian dengan jubah lebar yang bersih berwarna coklat.

Juga dua orang diantara pembantunya yang akan ikut pergi, seorang di antaranya menjadi kusir.

Pembantu yang lain tinggal di rumah untuk mengurus perdagangan dan menjaga rumah.

Pada saat mereka siap untuk berangkat, tiba-tiba nampak berkelebat bayangan tiga orang dan di lain saat, di depan kereta yang masih berada di pekarangan dalam itu telah berdiri tiga orang laki laki yang sikapnya angkuh dan bengis.

"Barcan, kami mendapat tugas untuk memeriksa dan menggeledah seluruh tempat tinggalmu ini. Juga isi kereta itu!"

Bentak seorang di antara mereka.

Tiong Sin yang berada di dalam peti itu terkejut dan dia pun mengintai dari dalam.

Melalui lubang-lubang itu, dia dapat melihat dengan jelas.

Tiga orang laki-laki yang bertubuh tegap dan sikapnya gagah.

Di pinggang mereka tergantung sebatang pedang dengan sarungnya terukir indah, mudah diduga bahwa mereka bukan orang sembarangan, melihat betapa mereka muncul dengan gerakan demikian cepat, seperti masuknya tiga ekor burung garuda saja.

Dengan jantung berdebar tegang dia mengintai dengan penuh perhatian.

Kalau perlu, dia harus keluar dari peti dan membantu Barcan, pikirnya.

Dia melihat betapa Barcan bersikap tenang saja.

Orang Mongol itu tadi terkejut melihat munculnya tiga orang itu, akan tetapi dia segera bersikap biasa, nampak terheran dan dia segera menjura kepada mereka.

"Ah, kiranya Sam-wi Ciangkun (Tiga Perwira) dari pasukan Bulu Emas yang datang berkunjung!"

Serunya ramah.

"Tentu saja kami tidak berkeberatan kalau Sam-wi hendak melakukan penggeledahan di rumah kami, walaupun semalam sudah digeledah dan kami sendiri ikut membantu. Bukankan Sam-wi masih mencari pemuda yang kabarnya telah mengacau dan melakukan pembunuhan di Hek-eng pang itu?"

"Benar, dan kami memperoleh tugas untuk mencarinya sampai dapat. Karena dia menghilang di daerah ini, maka kami masih mempunyai keyakinan bahwa dia berada di sekitar tempat ini dan besar kemungkinan bersembunyi di dalam rumahmu, saudara Barcan,"

Kata orang pertama dari tiga perwira itu.

Mereka bertiga itu adalah perwira-perwira pasukan Bulu Emas yang amat terkenal.

Pasukan berani mati yang rata-rata pandai Ilmu silat, apalagi tiga orang perwiranya, menurut berita, tiga orang perwira ini memiliki kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi, Barcan dan para pembantunya kelihatan tenang-tenang saja.

Memang, dalam menghadapi bahaya seperti itu, ketenangan merupakan syarat pokok agar dapat melakukan tindakan yang tepat.

"Kalau ada orang bersembunyi di rumah kami, sudah pasti kami akan mengetahuinya, Ciangkun. Akan tetapi kalau Sam-wi Ciangkun menghendaki tentu saja kami tidak berkeberatan kalau Sam-wi melakukan penggeledahan ke dalam rumah. Silakan, Ciangkun. Akan tetapi kami tidak ingin kesiangan. Kami hendak mengirim barang ke utara dan karena tujuan perjalanan kami amat jauh, terpaksa kami akan meninggalkan Sam-wi lebih dahulu Ada para pembantu kami di rumah, Sam-wi Ciangkun boleh memeriksa sampai di semua sudut. Kami hendak pergi lebih dulu."

Berkata demikian, Barcan memberi isyarat kepada dua orang pembantunya, lalu dia masuk ke dalam, kereta, diikuti dua orang itu.

Akan tetapi, sebelum kereta itu bergerak, tiga orang perwira sudah melompat ke depan kereta dan pimpinan mereka yang berkumis tebal mengangkat tangannya ke atas.

"Saudara Barcan, berhenti dulu! Engkau tidak boleh pergi sebelum kami selesai menggeledah, dan kami pun ingin memeriksa isi kereta itu Apakah isi peti-peti itu?"

Tentu saja Tiong Sin terkejut buka main dan memandang tegang.

Agaknya tiga orang perwira itu memang cerdik dan berpengalaman.

Akan tetapi dia masih belum mau keluar, ingin melihat bagaimana sikap Barcan.

Ketika dia memandang, ternyata Barcan bersikap tenang saja.

Dia keluar lagi dari dalam kereta dan dengan lantang dia menjawab.

"Sam-wi Ciangkun sungguh membikin hati kami kesal! Kami tidak pernah mengganggu, mengapa dicurigai? Peti-peti itu adalah dagangan berupa kain-kain, alat dapur dan lain-lain yang akan kami jual ke daerah luar Tembok Besar. Dan biarpun kami pergi, ada para pembantu kami yang menjaga rumah dan Sam-wi boleh saja menggeledah sampai di seluruh kamar. Kami tidak ingin terlambat sampai ke dusun pertama di luar Tembok Besar!"

Si kumis tebal tersenyum mengejek.

"Bagaimanapun juga, kami harus lebih dulu memeriksa isi peti-peti itu!"

Berkata demikian, sekali meloncat dia sudah berada di atas kereta dan mulai mengetuk-ngetuk peti paling ujung yang terisi kain.

Melihat sikap perwira itu.

Barcan maklum bahwa tentu peti yang terisi pemuda itu akan ketahuan, maka dia pun memberi isyarat kepada para pembantunya.

Dua orang pembantunya berloncatan ke atas kereta dengan sikap keras mereka itu berkata.

"Ciangkun tidak boleh mengganggu barang kami!"

Berkata demikian, mereka mendorong tubuh perwira itu. Sang perwira berkumis tebal tentu saja terkejut dan marah. Dia meloncat turun lalu mencabut pedangnya.

"Huh, kiranya Barcan benar-benar hendak memberontak! Tentu engkau yang menyembunyikan pemuda itu maka kami gagal menangkapnya!"

Barcan sudah memberi isyarat kepada orang-orangnya, dan dua orang pengikut tadi sudah berloncatan turun dari atas kereta, lalu tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menyerang perwira berkumis tebal dengan golok mereka.

Perwira itu marah, menangkis dan balas menyerang sehingga terjadilah perkelahian di pekarangan itu!

Pintu pekarangan masih tertutup rapat sehingga kalau ada yang lewat di jalan depan pekarangan, tentu tidak akan melihatnya.

Melihat betapa teman mereka dikeroyok, dua orang perwira lainnya sudah maju dan terjun ke dalam perkelahian!

menggunakan pedang mereka.

Para pembantu Barcan juga sudah berdatangan dan mereka pun terjun mengeroyok.

Kini tiga orang perwira itu dikeroyok oleh enam orang pembantu Barcan yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Dari dalam petinya, Tiong Sin mengintai.

Dia melihat betapa tiga orang perwira itu pandai sekali bermain pedang sehingga biarpun enam orang pengeroyok mereka juga lihai, namun mereka bertiga mampu mempertahankan diri, bahkan pedang mereka bergulung-gulung semakin dahsyat dan mereka mulai mendesak enam orang pengeroyok itu yang mulai mundur.

Selagi Tiong Sin merasa khawatir dan timbul keinginannya keluar dari dalam peti untuk membantu enam orang itu, tiba-tiba dia melihat Barcan mengeluarkan sebuah busur berwarna hitam.

Busur ini ukurannya kecil, demikian pula anak panah yang dia pasang pada busur itu.

Dengan gerakan cepat sekali, Barcan menarik tali busur, terdengar suara menjepret dan sinar hitam meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah mereka yang sedang berkelahi, terdengar pekik dan seorang perwira terpelanting roboh, disusul bacokan dan tusukan golok para ngeroyoknya sehingga dia tewas seketika.

Masih dua kali lagi busur itu menjepret, dua kali sinar hitam meluncur dan dua orang perwira yang lain juga terjungkal dan menjadi korban tusukan dan bacokan golok para pengeroyok mereka.

Tiong Sin kagum bukan main.

Kiranya Barcan memiliki ilmu memanah yang amat lihai.

Dan dia melihat betapa Barcan memerintahkan para pembantunya untuk cepat mengubur tiga jenazah itu ke dalam kebun mereka yang cukup luas sedangkan dia sendiri bersama dua orang pembantunya, melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda tadi dengan sikap tenang.

Perjalanan kereta itu ternyata tidak menemui halangan lagi.

Para petugas jaga di pintu gerbang kota maupun para penjaga di perbatasan, mengenal Barcan dengan baik dan mereka semua percaya kepadanya yang sudah seringkah keluar masuk perbatasan membawa barang dagangan.

Apalagi karena Barcan amat royal dengan hadiah-hadiahnya.

Selagi para penjaga di perbatasan mendapatkan hadiah berharga darinya setiap kali dia lewat dengan barang dagangannya.

Demikianlah, dengan mudah Tiong Sin diselundupkan keluar perbatasan dan pemuda ini melanjutkan perjalanan dengan berkuda setelah lewat perbatasan, mengikuti Barcan yang membawanya menghadap pemimpinnya, yaitu Jenghis Khan yang sudah membuat persiapan untuk menyerbu ke selatan!

Jenghis Khan yang pandai sekali mempergunakan orang-orang yang dapat berguna bagi pemerintahannya, menerima Tiong Sin dengan girang, Dia sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang menurut Barcan memiliki ilmu silat tinggi ini adalah murid dan anak angkat Yeliu Cutay, dan bahkan pemuda itu menjadi pemilik Pedang Asmara yang tadinya menjadi miliknya.

Barcan sendiri membuat laporan tentang keadaan di kota Wang-cun, tentang kekuatan pasukan yang berjaga di perbatasan, bahkan dia telah berhasil membuat peta perbatasan sampai ke jalur yang menuju ke kota raja Kerajaan Cin.

Tentu saja Jenghis Khan menjadi girang bukan main dan mulailah raja baru ini mempersiapkan pasukan untuk nemulai dengan gerakan besar besaran yang sudah lama direncanakan, yaitu penyerbuan ke selatan, ke sebelah dalam Tembok Besar!

Jenghis Khan menjalankan siasat yang amat cerdik.

Diam-diam kekuatannya menjadi semakin besar, kekuasaannya kini meliputi seluruh daerah utara.

Suku-suku bangsa yang tadinya berdiri sendiri dan tidak pernah mau tunduk, diserangnya dan dia memaksa mereka itu tunduk dan menyerah kepadanya.

Tak lama kemudian, tidak ada lagi suku bangsa yang berani menentangnya Dan Jenghis Khan pandai mengambil hati mereka.

Dia tidak mau membeda-bedakan antara para suku bangsa, tidak mau merendahkan yang satu dan mengangkat yang lain.

Tidak mengherankan kalau suku bangsa yang tadinya terkenal, semua menggabungkan diri dengan pasukan Jenghis Khan.

Suku bangsa Uigur yang terkenal memiliki banyak ahli pikir yang pandai dan bijaksana, suku bangsa Karait yang terkenal setia, suku bangsa Yakka Mongol yang gagah perkasa dan tahan uji, suku bangsa Tartar yang terkenal keras dan ganas, suku bangsa Merkit yang berhati baja, pendeknya seluruh suku bangsa yang besar maupun yang kecil, akhirnya menggabungkan diri dengan pasukan Jenghis Khan, mengakui Jenghis Khan sebagai pemimpin besar mereka.

Jenghis Khan bersikap adil, akan tetapi juga keras.

Dia menciptakan hukum tertentu yang keras, sebagai pengganti hukum rimba yang berlaku di antara suku-suku bangsa liar itu.

Dia memberikan hukuman mati terhadap kejahatan-kejahatan seperti mencuri, memperkosa, apalagi merampok dan mencuri kuda.

Dia melarang perkelahian antara suku, melarang anak tidak patuh kepada orang tuanya, melarang suami bersikap kejam dan sewenang-wenang kepada isterinya dan mengancam hukuman berat bagi isteri yang melakukan penyelewengan.

Dia mengharuskan si kuat membantu lemah, si kaya membantu si miskin, orang-orang menghormati atasannya.

Semenjak Jenghis Khan menjadi raja atau pemimpin besar, mulailah diadakan penertiban dalam kehidupan para suku bangsa yang sebagian besar terdiri suku perantauan itu.

Jenghis Khan bukan hanya mengadakan penertiban ke dalam akan tetapi juga mengatur rencana jangka panjang untuk memenuhi cita-citanya yaitu mengangkat bangsa Mongol menjadi bangsa yang besar dan jaya, yang keolak akan menguasai dunia.

Dia menyebar orang-orang kepercayaannya menyusup ke dalam Tembok Besar, menjadi mata-mata yang menyamar sebagai pedagang.

Dia bahkan mengadakan hubungan baik dengan Negara Cin yang besar, bahkan tidak segan-segan membantu Kerajaan Cin ketika kerajaan itu diganggu dan dirongrong oleh suku bangsa di perbatasan.

Jenghis Khan mengirim pasukannya untuk membantu Kerajaan Cin, mengusir para pengacau.

Maka, Kerajaan Cin juga tidak pernah menaruh kecurigaan terhadap pemimpin besar bangsa Mongol di utara itu.

Pada jaman itu, negara di sebelah latan Tembok Besar disebut Negeri Kathai, dan bangsa yang tinggal di selatan Tembok Besar merupakan bangsa yang sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan mereka yang tinggal di Gurun Go-bi, di luar Tembok Besar.

Kebudayaan mereka berkembang sejak ribuan tahun dan mereka membangun kota-kota yang besar.

Keadaan kehidupan bangsa di sebelah selatan Tembok Besar ini sungguh jauh berbeda dibandingkan dengan kehidupan bangsa Mongol dengan banyak macam suku bangsa lainnya di utara itu.

Mereka itu terdiri dari kaum bangsawan, yaitu keluarga kaisar, lalu para pejabat yang tinggi sampai yang rendah, para perajurit dan perwiranya, kaum terpelajar yang menyebut diri mereka sastrawan dan filsuf, ada pula petani, pengemis dan budak-budak belian.

Mulai permulaan abad ke tiga belas, yang berkuasa di Kathai adalah Wangsa Cin (Emas) dan istana kaisar berada di Yen-king (dekat Peking).

Karena merasa dirinya kuat, maka kaisar Kerajaan menjadi lengah dan para pejabat tinggi hanya tenggelam ke dalam kesenangan dan kemuliaan.

Mereka merasa kuat dengan pasukan yang besar.

Apalagi ancaman satu-satunya yang mungkin datang dari utara, sudah tidak ada, melihat betapa bangsa Mongol yang kini merupakan suku bangsa terkuat di utara, bersikap baik dan bersahabat, bahkan mau membantu menindas suku-suku bangsa lain di perbatasan yang memberontak.

Ketika Kerajaan Cin menyerang musuh lamanya, yaitu Kerajaan Sung di selatan, Jenghis Khan juga menawarkan bantuannya.

Memang dia amat cerdik Selain ingin mengambil hati Kaisar Kerajaan Cin dan membuat kerajaan itu lengah terhadap ancaman yang datang darinya, juga dia ingin agar pasukan intinya memperoleh pengalaman di selatan dan dapat melihat bagaimana keadaan pasukan Kerajaan Cin, kekuatan dan kelemahannya.

Maka, Jenghis Khan lalu mengirim pasukan berkuda yang cekatan trampil, dibawah pimpinan beberapa orang panglimanya yang pandai, dikepalai oleh panglimanya yang dipercaya dan cakap, yaitu Chepe Noyon.

Panglima ini memang gagah perkasa, menunggang seekor kuda tinggi besar dengan pakaian baju perang disepuh perak, kedua kakinya mengenakan sepatu yang dihias bulu biruang putih.

Pasukan Jenghis Khan ini dengan gagah perkasa membantu pasukan Kerajaan Cin menyerang Kerajaan Sung di selatan dan di samping itu, para panglimauya mempelajari keadaan Negara Kathai sehingga ketika mereka kembali ke Gurun Go-bi, mereka sudah memperoleh gambaran yang cukup jelas dari kerajaan di sebelah Selatan Tembok Besar itu.

Semua pengalaman ini ditambah dengan pekerjaan para mata-mata yang disebar selama beberapa tahun di negara itu, maka matanglah sudah rencana Jenghis Khan untuk memulai dengan penyerbuannya ke selatan.

Telah menjadi kebiasaan sejak dahulu kala, kaisar dari kerajaan besar selalu menuntut upeti dari raja-raja dan penguasa kerajaan atau pemerintah lain yang telah ditundukkannya atau yang telah mengakui kedaulatannya.

Upeti itu merupakan tanda taluk, dan biasanya merupakan pengiriman barang-barang berharga setahun sekali.

Demikian pula dengan Kerajaan Cin yang menuntut upeti dari daerah-daerah yang mereka tundukkan, dan dari para kepala kelompok atau kepala suku yang mengakui kedaulatan dan kekuatan Kerajaan Cin.

Menolak pembayaran upeti dapat dianggap mengambil sikap bermusuhan, (Lanjut ke

Jilid 15) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 atau dianggap menentang dan akibatnya biasanya lalu pengiriman pasukan dari raja yang berkuasa untuk menundukkan mereka yang menolak pembayaran upeti itu.

Namun, Jenghis Khan selalu mengabaikan pembayaran upeti ini!

Karena beberapa kali dia mengirim pasukan untuk membantu Kerajaan Cin, maka kaisar juga tidak mengambil tindakan, bahkan pernah Jenghis Khan menerima hadiah barang-barang indah dari Kaisar Kerajaan Cin, dan dia pun diberi julukan Panglima Penunduk Pemberontak!

Hal itu terjadi ketika Jenghis Khan membantu Kerajaan ini membasmi para pemberontak di perbatasan.

Ketika Kaisar Kerajaan Cin meninggal dunia, seorang puteranya diangkat untuk menjadi kaisar baru.

Puteranya itu berjuluk Wai Wang bertubuh jangkung dan berjenggot panjang, dan ketika masih menjadi pangeran, Wai Wang suka sekali berburu binatang ke hutan-hutan dan suka pula melukis.

Begitu dia duduk di singgasana dan menjadi kaisar dari Negara Cin, Wai Wang lalu memeriksa daftar raja-raja muda yang penguasa yang dianggap bawahan Kerajaan Cin.

Lalu dia mengirim utusan-utusan untuk mengunjungi daerah-daerah itu, pertama untuk menyampaikan pengumuman tentang pengangkatan dirinya menjadi kaisar baru Kerajaan Cin, ke dua untuk menuntut pengiriman upeti dari mereka.

Nama Jenghis Khan termasuk pula dalam daftar itu, maka pada suatu hari, seorang perwira mengunjungi Jenghis Khan, membawa sepucuk surat dari Kaisar Wai Wang yang baru.

Biasanya, seorang utusan kaisar yang membawa surat kaisar diterima dengan penuh penghormatan, dan surat dari kaisar itu harus diterima sambil berlutut oleh raja muda yang dianggap bawahan kaisar.

Namun, Jenghis Khan tidak mau berlutut dan menerima surat dari Kaisar Wai Wang sambil berdiri saja.Bahkan di tidak menyerahkan surat itu kepada juru bahasanya untuk dibacakan dan diterjemahkan, melainkan dengan sikap angkuh dia melempar surat itu ke atas meja dan ditatapnya wajah utusan Kaisar Kerajaan Cin itu dengan sikap garang.

"Hemmm, Kerajaan Cin telah mempunyai seorang kaisar baru, ya? Siapa nama kaisarmu yang baru itu?"

Tanyanya tanpa banyak basa-basi dan sopan santun Perwira itu adalah seorang utusan kaisar, dan sebagai seorang utusan kaisar tentu saja dia seorang yang gagah perkasa dan dia sadar akan kemuliaan tugasnya yang amat terhormat.

Melihat sikap Jenghis Khan, dia merasa tida senang sekali.

Akan tetapi, dia hanya datang dengan pasukan pengawal yang berjumlah selosin orang, dan dia berada di tengah-tengah bangsa Mongol yang amat besar jumlahnya dan amat kuat.

Maka, sambil berdiri tegak dia menjawab.

"Kaisar kami yang mulia bernama Wai Wang!"

Jenghis Khan sudah mengenal siapa kaisar baru itu.

Seorang pangeran yang tidak pandai menunggang kuda sambil melepas anak panah, tidak pandai mempergunakan golok atau pedang.

Maka, dia pun tertawa mengejek, sama sekali tidak mau memberi hormat ke arah selatan, dan dia berkata dengan suara menghina.

"Huh, aku mendengar bahwa yang menjadi kaisar adalah putera dewa yang gagah perkasa. Tidak tahunya hanya seorang manusia tolol seperti dia!"

Lalu dia meloncat ke atas kudanya dan menoleh kepada para pembantunya, berkata, Sediakan hidangan dan tempat mengaso bagi para tamu ini!"

Kemudian Jenghis Khan meninggalkan tamu-tamu itu tanpa bicara lagi.

Sikap ini sudah jelas!

Menentang kekuasaan kaisar baru dari Kerajaan Cin!

Malam itu Jenghis Khan mengundang semua kepala suku yang menjadi bawahannya, semua panglimanya, dan para sekutunya, di antara mereka adalah kepala dari suku Uigur dan suku Turki, dia menjamu mereka dan mengadakan perundingan.

Jenghis Khan sudah memperhitungkan bahwa saatnya telah tiba untuk menyerbu Kerajaan Cin!

Ketika kaisar tua masih nidup, dia masih merasa agak sungkan karena hubungannya dengan kaisar tua cukup baik dan sikap kaisar tua juga baik kepadanya.

Biarpun dia tidak pernah mengirim upeti, Kaisar Kerajaan Cin yang tua tidak pernuh menegur.

Akan tetapi seorang kaisar baru?

Dia merasa tidak perlu untuk tunduk kepada Kaisar Wai Wang.

Dalam pertemuan besar dengan para pembantu dan sekutunyu itu, Jenghis Khan menceritakan rencana penyerbuannya ke selatan Tembok Besar.

Para sekutunya adalah suku-suku bangsa yang suka berperang, karena berperang dan menang perang berarti keuntungan besar sekali bagi mereka!

Maka, dalam pertemuan itu diambil kesepakatan untuk menyatakan permusuhan secara berterang kepada Kerajaan Cin melalui utusan yang menjadi tamu itu.

Demikianlah, pada keesokan harinya Jenghis Khan memanggil utusan Kaisar Wai Wang menghadap, lalu dia berkata dengan suara lantang.

"Sampaikan pesan kami kepada Kaisar Kerajaan Cin! Kami akan berkunjung ke Kathai dengan balatentara yang amat banyak dan amat kuat. Terserah kepada Wui Wang apakah dia akan menyambut kami sebagai kawan atau sebagai lawan. Kalau dia ingin menjadi kawan kami maka kami akan mengangkat dia sebagai raja muda dan daerahnya berada di bawah kekuasaan kami. Kalau dia lebih suka berperang, kami akan menghancurkan negaranya sampai lumat dan menjadikan Kerajaan Cin sebagai lautan api."

Pesan itu sungguh amat menghina dan keras.

Biarpun mukanya berubah merah sekali, namun perwira utusan itu tidak mampu berbuat atau berkata sesuatu kecuali menerima pesan itu, dicatatnya baik-baik semua kata yang keluar dari mulut Jenghis Khan, kemudian mohon diri dan meninggalkan tempat itu, kembali ke selatan bersama selosin perajurit pengawalnya.

Tentu saja Kaisar Wui Wang dari Kerajaan Cin menjadi marah bukan main mendengar laporan utusannya tentang penghinaan yang dilakukan Jenghis Khan terhadap dirinya.

"Keparat!"

Dia mengumpat.

"Jenghis Khan kepala suku liar berani menghina kami? Akan kuhancur leburkan dia!"

Kaisar Wai Wang lalu memanggil komandan pasukan yang berjaga di perbatasan utara. Panglima itu datang menghadap.

"Hem, apa saja kerja kalian di perbatasan? Coba katakan, apa yang dilakukan oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Jenghis Khan?"

Panglima itu menjadi gentar melihat kaisar yang baru itu marah-marah ke padanya.

"Mereka..... mereka hidup dengan aman, mereka membuat anak panah dan memelihara kuda....."

"Bodoh kau! Tidak melihat gerak-gerik lawan yang menentang kami!"

Kaisar memaki dan panglima itu pun disuruhnya tangkap dan dimasukkan dalam penjara.

Lalu Kaisar Wai Wang mengangkat seorang panglima lain untuk membuat persiapan dan memperkuat penjagaan di perbatasan utara.

Pada waktu itulah Barcan pulung ke utara dan menghadap Jenghis Khan sambil mengajak Bu Tiong Sin.

Juga Barcan membawa laporan lengkap tentang keadaan di perbatasan.

Dengan gembira Jenghis Khan menerima pembantunya itu dan menyambutnya dengan hidungan.

Akan tetapi, dia memandang kepada Bu Tiong Sin dengan alis berkerut.

Pemuda tampan yang nampaknya lemah ini hendak membantunya?

Menurut laporan Barcan, pemuda ini berkepandaian tinggi akan tetapi melihat keadaan tubuhnya tubuh yang sedang saja besarnya bahkan kelihatan lemah lembut, Jenghis Khan menjadi sangsi.

Setelah mendengarkan laporan Barcan tentang Bu Tiong Sin, Jenghis Khan menatap wajah pemuda yang duduk di depannya itu.

Sebagai seorang yang banyak pengalamannya, dalam usianya yang sudah limapuluh tahun, Jenghis Khan tidak mungkin dapat menerima penghambaan diri seorang asing begitu saja tanpa mengujinya.

Dia menoleh kepada Chepe Noyon, panglimanya yang amat dipercaya da disayangnya.

"Panggil puteramu Yuci ke sini dan suruh dia menguji kepandaian Bu Tiong Sin ini!"

Chepe Noyon segera pergi memanggil puteranya dan tak lama kemudian dia datang bersama seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap dan jelas nampak bahwa dia memiliki tenaga yang kuat sekali.

Sepasang matanya tajam dan cerdik, usianya sekitar dua puluh tahun lebih, sebaya dengan Tiong Sin.

Pemuda itu memberi hormat kepada junjungannya dengan berlutut sebelah kaki.

"Yuci, pemuda ini bernama Bu Tiong Sin dan dia datang bersama pamanmu Barcan, hendak mengabdikan diri di sini. Coba engkau boleh menguji kepandaiannya, apakah dia pantas untuk menjadi pembantu kami apakah tidak?"

"Hamba siap, Khan yang mulia!"

Jawab pemuda yang berkulit coklat gelap itu dengan sikap gagah.

"Bu Tiong Sin, kalau engkau mampu menandingi kekuatan dan kepandaian Yuci, baru kami akan mempertimbangkan apakah kami dapat menerima penghambaan dirimu ataukah tidak."

"Hamba siap, Sribaginda""

Jawab Tiong Sin tidak kalah gagahnya.

Para panglima yang hadir di situ menjadi gembira sekali.

Mereka adalah orang-orang yang menghargai kegagahan dan semua orang tahu belaka bahwa Yuci, putera Chepe Noyon itu adalah seorang pemuda gemblengan yang gagah perkasa, bahkan telah mewarisi kepandaian dan kegagahan ayahnya, dan mungkin sudah dapat mengimbangi kekuatan dan ketrampilan ayahnya sendiri.

Tidak mudah menandingi kekuatan dan kepandaian Yuci!

Tentu saja di dalam hati, mereka itu condong untuk memihak Yuci.

Akan tetapi, Barcan hanya tersenyum.

Dia sudah tahu benar akan kelihaian Tiong Sin, dan melihat sendiri betapa Tiong Sin melukai banyak anak buah Hek-eng-pang dan dapat meloloskan diri dari kepungan banyak sekali orang yang mengepung dan mengeroyoknya, bahkan mampu menandingi pengeroyokan para jagoan benteng.

Dan Barcan juga tahu sampai di mana tingkat kepandaian Yuci, jago muda Mongol itu.

Memang Yuci, merupakan seorang pemuda yang gemblengan, kuat dan jarang tandingannya di antara para jagoan Mongol yang masih muda, bertenaga besar dan kuat,dan memiliki ilmu gulat yang hebat, pandai menunggang kuda dan pandai melepas anak panah karena dia sendiri yang mengajari pemuda itu.

Akan tetapi dibandingkan dengan pemuda bangsa Han yang pandai silat ini, agaknya akan sukar bagi Yuci untuk dapat memenangkannya.

"Mulailah kalian, tidak perlu saling melukai. Siapa terjatuh ke atas tanah dia kalah!"

Kata pula Jenghis Khan berkata dengan gembira.

Yuci sudah melepaskan bajunya dan hanya meugenakan cawat saja, seperti biasanya kalau gulat hendak mengadu tenaga dan kepandaian.

Akan tetapi, Tiong Sin tidak mau lepas bajunya.

Melihat ini, dengan logat asing, Yuci berkata kepada Tiong Sin dalam bahasa Han yang dikuasainya.

"Saudara Bu Tiong Sin, lepaskanlah bajumu agar tidak sampai robek!"

Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa Yuci ialah seorang pemuda gagah perkasa yang jujur dan adil.

Kalau lawannya berpakaian maka hal itu akan amat menguntungkan dirinya, karena dengan mudah dia akan dapat mencengkeram baju lawan dan membantingnya, berbeda kalau lawan bertelanjang dada.

Namun, dia tidak mengatakan demikian, hanya memakai alasan agar baju lawan tidak sampai robek.

Sikap rendah hati yang sederhana.

"Harap jangan sungkan, saudara Yuci. Biarpun saya memakai baju ini dan kalau karena ituaku dirugikan dan sampai kalah, aku tidak akan menyesal."

Karena jawaban ini tidak mengandung kesombongan, Yuci tersenyum dan pemuda yang cerdik ini bersikap hati-hati.

Kalau saja Tiong Sin menjawab dengan nada sombong, dia malah akan memandang rendah calon lawan itu.

Akan tetapi karena Tiong Sin sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan, Yuci dapat menduga bahwa tentu lawannya itu memiliki sesuatu yang dapat diandalkan maka dia pun bersikap hati-hati sekali.

"Saudara Bu Tiong Sin, karena engkau adalah tamu atau rekan baru, silakan mulai, aku sudah siap!"

Kembali Yuci berkata, dan dia memasang kuda-kuda, dengan kedua kaki di depan dan belakang, tubuh agak membungkuk, kedua tangan terbuka dan tangan kiri di depan tangan kanan di pinggang, tubuhnya miring yang kiri di depan, matanya menintai dari muka yang agak menunduk.

Baca Juga: Suling Naga 10

Baca Juga: Istana Pulau Es 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert