Eps 2 Pendekar Bunga Merah - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Bunga Merah - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Bunga Merah - Kho Ping Hoo.
Karena nafsu itu seperti asap api, mengepul bergulung-gulung akan tetapi mudah memadamkan apinya sendiri.
Kalau sudah terlampiaskan nafsunya, maka padam pula rasa cintanya.
Akan tetapi kalau belum dipuaskan nafsunya, maka berkobar-kobarlah sehingga dapat membakar segala macam dan menimbulkan perbuatan-perbuatan yang jahat.
Demikian pula dengan cinta Tang Mo San terhadap Siu Lin.
Isinya hanya cemburu, iri hati, dan kebencian penuh dendam.
Bahkan setelah mendengar Siu Lin tewas, dia masih memperdalam ilmunya dengan tekun sekali dan kini, dibantu dua puluh orang anak buahnya, dia menyerbu dan mengambil keputusan untuk membunuh Souw Kian dengan cara apapun juga.
Kalau tidak dapat dengan cara pendekar, yaitu bertanding dengan adil satu lawan satu, dia akan mengeroyoknya sampai berhasil membunuhnya.
Ketika melihat Giok Lan yang demikian cantik dan mirip Siu Lin, dia mengambil keputusan lain, yaitu dia hendak memperisteri puteri wanita yang dicintanya itu sebagai pengganti ibunya!
Souw Kian repot menghadapi serangan-serangan Tang Mo San.
Pada saat Souw Kian terdesak, Tang Mo San menggerakkan goloknya, membabat ke arah pinggang.
"Haiiiittt... singgg...!"
Golok itu menyambar dengan dahsyat sekali sehingga hampir tak terelakan oleh Souw Kian.
Dia cepat menggerakkan pedangnya menangkis, akan tetapi golok itu mental ke bawah dan bagaikan kilat telah menyambar pahanya.
"Srattt...!"! Darah muncrat ketika celana berikut kulit dan daging paha itu terbabat golok. Souw Kian terhuyung ke belakang dan kembali dengan dahsyatnya golok menyambar, sekali ini membacok dada Souw Kian yang roboh berlumuran darah.
"Ayah...!"! Giok Lan bertempur sambil memperhatikan Ayahnya, sempat melihat Ayahnya roboh mandi darah, maka ia meloncat dan pedangnya menusuk lambung Tang Mo San dari samping. Orang she Tang itu menggerakkan goloknya menangkis.
"Tranggg...!"
Pedang hampir terlepas dari tangan Giok Lan saking kuatnya tangkisan itu, dan golok itupun dengan cepatnya sudah diputar membuat Giok Lan mundur-mundur sambil menggerakkan pedangnya melindungi tubuhnya.
Melihat ini, Sin Lee juga melompat meninggalkan para pengeroyoknya.
Dia dan Giok Lan tadi telah berhasil merobohkan enam orang pengeroyok ketika terjadi perubahan dengan robohnya Souw Kian.
Dia melompat dan menerjang Tang Mo San yang sedang mendesak dan hendak menangkap gadis itu.
Tang Mo San terkejut mendengar desir angin di belakangnya.
Dia membalik dan menangkis keras sehingga pedang Sin Lee terpental.
Dua orang muda itu mengeroyok Tang Mo San yang ternyata lihai sekali.
Setelah para anak buahnya berlari mendatangi, mengepung dan mengeroyok dua orang muda itu, Sin Lee dan Giok Lan menjadi kerepotan sekali.
Akhirnya dua orang muda itu roboh, Giok Lan tertendang oleh Tang Mo San yang tidak ingin membunuhnya, sedangkan Sin Lee roboh karena pahanya terkena bacokan golok.
Walaupun dia sudah melindungi dengan sin-kang tetap saja kulitnya terluka dan dia roboh dengan paha berlumuran darah.
"Bunuh pemuda itu!"
Kata Tang Mo San dan dia sendiri sudah menubruk dan menotok Giok Lan. Belasan batang golok dibacokkan ke arah Sin Lee yang sudah roboh terluka.
"Trang-trang-tranggg...!"
Belasan batang golok itu terlempar dan beberapa orang terhuyung ke belakang ketika sinar hitam yang panjang menyambar-nyambar.
Semua orang terkejut dan ingin melihat siapa yang datang menolong pemuda itu.
Juga Tang Mo San yang sudah berhasil menotok gadis itu sehingga tubuhnya terkulai dalam rangkulannya, menengok dan melihat bahwa yang datang adalah seorang kakek kurus bertelanjang kaki, pakaiannya compang-camping namun bersih, tangan kiri mengempit sebatang tongkat hitam dan tangan kanan membawa guci arak.
Pengemis tua itu kini membawa guci arak ke mulutnya dan menuangkan isinya ke mulut sampai terdengar bunyi menggelogok.
"Ha-ha-ha, golok-golok setan mengacau lagi. Kalau sekali ini tidak kubasmi, kapan berakhirnya kegilaan ini, heh heh!"
Katanya sambil mengalungkan tali guci ke lehernya sehingga guci arak kini tergantung ke leher. Melihat pengemis tua itu, Tang Mo San menjadi marah.
"Gembel busuk, siapa engkau berani mencampuri urusan Twa-to Kwi-ong ketua Kwi-to-pang?"
Gembel tua yang seperti orang mabok itu tertawa lagi.
"Ha-ha-ha, aku memang gembel, tapi tidak busuk seperti engkau, Twa-to Kwi-ong. Aku adalah Ciu-sian Lo-kai Ong Su, sejak kecil tidak pernah menukar nama."
Tang Mo San terbelalak.
Biarpun baru sekali ini bertemu, akan tetapi sudah lama dia mendengar tentang Ciu-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Arak), pengemis tua pemabok yang kabarnya memiliki kesaktian yang sukar dicari tandingannya.
"Ciu-sian Lo-kai, selamanya kami, Kwi-to-pang tidak pernah menghalangi langkah hidupmu, kenapa hari ini engkau mencampuri urusan kami? Ketahuilah, bahwa urusan sekali ini adalah urusan permusuhan pribadi. Apakah engkau yang kabarnya menghargai kegagahan itu hendak memihak?"
"Omitohud...!"
Dia menirukan doa seorang pendeta Buddha.
"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu dengan Souw Kian. Akan tetapi setelah dengan perkelahian satu lawan satu engkau berhasil merobohkan Souw Kian, kenapa engkau menganggu pula anak perempuannya? Ini sudah bukan urusan pribadi lagi melainkan kejahatan yang tidak boleh kubiarkan begitu saja!"
Mendengar ucapan itu, Tang Mo San khawatir kalau dia akan kehilangan Giok Lan.
Setelah merangkul gadis yang terkulai itu dan merasakan kehangatan tubuhnya, mana dia mau melepaskannya?
Dia lalu berteriak kepada bawahannya.
"Serbu, bunuh gembel busuk itu!"
Dan dia sendiri lalu membawa Giok Lan meloncat pergi.
Anak buahnya menaati perintah ketuanya, akan tetapi ketika mereka menyerbu, yang diserbu sudah tidak ada.
Yang nampak hanya berkelebatnya bayangan hitam yang mengejar ketua mereka.
Tentu saja beramai-ramai mereka melakukan pengejaran.
Baru seratus kaki Tang Mo San berlari, tanpa disadarinya, sebuah batu kerikil menyambar mengenai punggung Giok Lan dan membuat gadis itu terbebas dari totokan, Giok Lan yang berada dalam pondongan Tang Mo San, begitu sadar cepat mengerahkan sinkang pada tangan kanannya dan tiba-tiba tangan itu menyambar ke arah leher Tang Mo San.
"Desss...!"
Sebuah pukulan dengan jari terbuka mengenai tenggorokan Tang Mo San.
Orang ini mengeluarkan suara aneh, lalu pondongannya terlepas, dia terhuyung lalu roboh telentang dengan muka perlahan-lahan berubah menghitam keracunan!
Kakek gembel itu ketika tiba di situ dan melihat wajah Tang Mo San, mengerutkan alisnya.
Akan tetapi Giok Lan sudah lari ke arah Ayahnya, membiarkan para anak buah Kwi-to-pang kini mengeroyok pengemis itu setelah melihat ketua mereka tewas dan pengemis itu berjongkok memeriksanya.
Mereka menduga bahwa tentu pembunuhnya adalah pengemis itu maka dengan riuh rendaj mereka lalu maju mengeroyok!
Giok Lan menubruk mayat Ayahnya dan menangis.
Tak lama kemudian Sin Lee menghampiri sambil menyeret kaki kirinya yang terluka pahanya.
"Nona, kuatkan hatimu, ditangisi juga sudah tidak ada gunanya lagi. Sebaiknya kita bantu Locianpwe itu, menumpas gerombolan Kwi-to-pang."
Giok Lan menghentikan tangisnya.
Akan tetapi ketika ia menengok seperti yang dilakukan Sin Lee ke arah pertempuran, pertempuran itu sudah terhenti.
Semua anggota gerombolan sudah roboh kena hantamam tongkat kakek itu.
Ada yang kepalanya benjol ada yang giginya rontok, ada yang tulang iganya patah dan ada yang salah urat.
Pendeknya semua orang kebagian dan kini pengemis itu berkata.
"Apakah sudah cukup? Atau kalian minta kupukul sampai mampus? Kalau sudah cukup hayo bawa pergi mayat ketuamu dan jangan berani muncul di sini kembali!"
Dua puluh orang itu semua luka-luka, bukan hanya oleh kakek gembel itu, juga yang terluka oleh Sin Lee dan Giok Lan tadi.
Mendengar ucapan itu, semua orang lalu membawa teman-teman yang terluka berat, mengangkat pula mayat ketua mereka dan berhamburanlah mereka pergi mencari kuda mereka untuk pergi dari situ.
"Kalian tidak boleh pergi begitu saja!"
Giok Lan membentak dan ia lari mengejar dengan pedang di tangan. Ia sudah memungut kembali pedangnya yang tadi terlepad ketika ia ditawan Tang Mo San.
"Sian-cai...!"
Kakek gembel itu berseru seperti seprang tosu dan sudah berdiri menghadang di depan gadis itu.
"Menyerang orang yang sudah kalah bukan perbuatan gagah!"
Giok Lan menyadari hal itu dan ia kembali lagi kepada Ayahnya dan berlutut di dekat mayat Ayahnya, lalu menangis kembali.
Sementara itu, terpincang-pincang Sin Lee menghampiri kakek itu, lalu mengangkat tangan memberi hormat.
"Locianpwe, terima kasih atas bantuan Locianpwe. Kalau tidak ada bantuan Locianpwe, tentu saya dan nona Souw sudah tewas di tangan mereka."
Dia tidak mau bicara tentang ditawannya Giok Lan, lebih baik bicara tentang kemungkinan gadis itu terbunuh bersamanya, karena dia merasa ngeri kalau membayangkan nasib gadis itu andaikata tertawan oleh kepala gerombolan tadi.
Ciu-sian Lo-kai Ong Su, kakek berusia enam puluh tahun itu, tersenyum dan mengangguk-angguk kagum memandang kepada Sin Lee.
"Dan engkau ini siapa, orang muda? Apa hubunganmu dengan keluarga Souw?"
"Bukan apa-apa, Locianpwe, hanya pagi tadi aku pernah menerima pemberian sebutir buah semangka oleh Nona Souw. Sewaktu aku makan semangka, Nona Souw diganggu lima orang anggota Kwi-to-pang dan aku membantunya. Setelah kami dapat mengusir lima orang itu, aku pergi melanjutkan perjalanan, akan tetapi di tengah jalan aku melihat rombongan ini. Karena khawatir Nona Souw akan diganggu lagi, aku lalu kembali dan sempat membantu. Akan tetapi, ketua itu lihai sekali dan kalau tidak ada Locianpwe, celakalah kami."
"Sudah, tidak ada budi ditanam dan tidak ada dendam dibalas, yang penting rawatlah luka di pahamu dan bantulah nona itu mengurus jenazah Ayahnya."
Oleh Ayahnya, Sin Lee memang diberi petunjuk tentang merawat luka dan juga membawa obat luka yang manjur buatan Ayahnya.
Mendengar ucapan kakek itu, dia sadar dan melihat kakek itu membalikkan tubuh dan pergi, diapun tidak dapat berbuat sesuatu.
Dia sudah banyak mendengar dari Ayahnya tentang keanehan orang-orang di dunia persilatan.
Setelah memeriksa lukanya, memberi obat dan membalut pahanya, terpincang-pincang Sin Lee menghampiri gadis itu.
Melihat Giok Lan menangisi lagi jenazah Ayahnya, dia menghibur.
"Sudahlah, nona. Dari pada ditangisi, sebaiknya kalau kita rawat jenazah Ayahmu sebagaimana mestinya. Mari kubantu engkau mengangkat jenazah ke dalam rumahmu."
Gadis itu menoleh dan melihat muka yang menangis itu, Sin Lee merasa terharu. Kalau menangis, wajah itu demikian kekanak-kanakan dan baru dia menyadari bahwa gadis ini memang masih muda sekali.
"Toako... aku... aku hanya hidup berdua dengan Ayah... dan sekarang dia meninggalkan aku... aku hidup sebatang... kara..."
Gadis itu menangis lagi dan Sin Lee merasa semakin iba. Dalam kesedihannya, gadis itu menyebutnya toako (kakak) tentu untuk mengisi perasaan sepi dan tertinggal sendirian saja di dunia ini.
"Sudahlah, Siauw-moi (adik), engkau harus berani menghadapi kenyataan hidup. Ayahmu telah meninggal dan dia tewas sebagai seorang pendekar yang gagah. Mati di tangan musuh merupakan kematian yang gagah bagi seorang pendekar dan agaknya Tuhan sudah menghendaki demikian. Sebaiknya kalau kita urus jenazah Ayahmu."
Dengan mata merah Giok Lan menjawab.
"Akan tetapi aku... aku hidup sebatang kara, tidak mempunyai siapa-siapa lagi..."
"Hemm, kenapa engkau berkata demikian? Engkau masih memiliki dirimu sendiri dan di dunia ini terdapat banyak manusia yang menjadi temanmu yang baik. Aku juga menjadi teman baikmu, bukan? Kenapa engkau mengatakan tidak mempunyai siapa-siapa?"
Hati Giok Lan terhibur dan ia menghentikan tangisnya, menoleh kepada pemuda itu dan bertanya.
"Engkau mau membantu aku mengurus penguburan jenazah Ayahku?"
"Tentu saja aku mau, dan memang akan kulakukan itu."
"Kenapa engkau begini baik kepadaku, toako?"
Sepasang mata yang masih basah kemerahan itu menatap wajahnya sedemikian rupa membuat Sin Lee tertegun.
"Mengapa...? Aih, Siauw-moi orang hidup haruslah bantu-membantu, bukan? Andaikan aku yang mengalami kesengsaraan sepertimu, apakah engkau yang kebetulan berada dekat denganku tidak akan mau membantuku?"
Hening sejenak, lalu gadis itu menggeleng kepalanya.
"Belum tentu, toako. Aku tidaklah sebaik engkau yang melimpahkan budi kepadaku."
"Ah, engkaupun memberi semangka kepada aku yang kehausan dan kelaparan, bukan? Sudahlah, tidak ada budi ditanam dan tidak ada dendam dibalas, ini kata kakek sakti yang menolong kita. Sebaiknya kita urus jenazah Ayahmu, kau bersihkan tubuhnya dan ganti dengan pakaian yang bersih. Aku akan mencari peti mati..."
Tiba-tiba Sin Lee teringat bahwa gadis itu tinggal di tempat terpencil dan dia tidak tahu di mana dapat dibeli peti mati. Melihat pandang mata Sin Lee yang kebingungan, gadis itu berkata sedih.
"Aku sendiri tidak tahu di mana kita bisa mendapatkan peti mati. Di dusun-dusun terdekat tidak ada yang jual, sedangkan kota terdekat jauhnya seratus li. Kalau diangkut dari sana dengan kereta, selain harga peti mati itu mahal, biaya angkutannya pun mahal sekali. Aku tidak akan mampu membelinya..."
Gadis itu menggigit bibir menahan tangis.
"Jangan khawatir, aku masih mempunyai uang untuk membelinya. Di mana kota yang ada penjual peti matinya itu?"
"Kota See-tung, kurang lebih seratus li dari sini di sebelah barat."
"Baik, aku akan berangkat sekarang juga membeli peti mati itu, Siauw-moi."
Pada saat itu terdengar suara orang dengan suara panjang-panjang, seperti orang bernyanyi.
"Sungguh bodoh, ribut mencari peti tebal, membiarkan mayat menjadi busuk sebelum peti datang."
Sin Lee dan Giok Lan meloncat keluar dan ternyata yang bicara itu adalah kakek pengemis yang telah menolong mereka.
Kakek itu duduk di atas tanah, bersandarkan sebatang pohon.
Melihat kakek itu, Giok Lan segera menghampiri dan gadis ini memberi hormat.
"Locianpwe sudah menyelamatkan nyawaku, sekarang aku mohon petunjuk, bagaimana jadinya dengan jenazah Ayahku? Kenapa Locianpwe mencela Liu-toako yang hendak membeli peti jenazah?"
"Ha-ha-ha, kota See-tung jauh, belum tentu besok pagi peti mati itu akan sampai di sini, sementara itu jenazah Ayahmu akan membusuk. Tegakah kau membiarkan jenazah itu membusuk? Jenazah itupun ingin sekali cepat-cepat kembali ke alam asalnya."
Sin Lee tidak mengerti ucapan itu.
"Bukankah Ayah nona ini sudah kembali ke alam asal, Locianpwe?"
"Yang kembali ke alam asal adalah jiwanya, akan tetapi apa kau kira jasmaninya juga tidak ingin kembali ke alam asal secepatnya? Jiwa kembali ke alam asalnya, yaitu alam baka, sedangkan napas kembali ke udara, Suhu badannya kembali kepada api, air jasmani kembali kepada air, tanah kembali kepada tanah. Dan kalian ingin menahan kembalinya semua itu dengan menaruh mayat di peti tebal, dibiarkan membusuk karena rindu kepada alam asalnya. Hayo, cepat bikin peti sederhana saja dari kayu, lalu kubur jenazah itu sebelum membusuk kalau kau memang sayang kepada Ayahmu, nona."
Mendengar ucapan itu, Giok Lan dan Sin Lee saling pandang. Giok Lan mengangguk dan Sin Lee lalu melangkah pergi.
"Aku akan mencari kayu untuk membikin papan peti."
Untung di dalam rumah itu terdapat alat-alat yang biasa dipergunakan Souw Kian untuk membuat meja kursi dan prabot rumah lain, tersedia paku, gergaji dan lain-lain.
Sin Lee dapat membuat peti yang sederhana sekali.
Setelah jenazah dibersihkan oleh Giok Lan dan diberi pakaian bersih, lalu dimasukkan peti mati dan dikubur di belakang rumah.
Sin Lee ikut memberi hormat di depan kuburan itu bersama Giok Lan sehingga gadis itu agak terhibur juga, merasa senang mempunyai teman yang baik hati.
Kakek pengemis itu duduk diam, tak jauh dari situ.
Giok Lan masih bersimpuh di depan gundukan tanah, tidak menangis lagi akan tetapi ia mengeluh.
"Ayah, engkau tidak dapat memberitahu kenapa engkau bermusuhan dengan ketua Kwi-to-pang itu dan mengapa pula dia tadi menyebut-nyebut nama mending ibuku. Ahhh... kini tidak akan ada lagi orang yang akan dapat menerangkan kepadaku."
Tiba-tiba kakek itu yang sejak tadi duduk tidak perduli akan semua kesibukan kedua orang muda itu, menjawab.
"Kalau ingin tahu, tanyalah kepada Ciu-sian Lo-kai!"
Giok Lan segera bangkit dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Locianpwe, kalau memang Locianpwe mengetahui persoalannya, mohon memberi petunjuk kepadaku."
"Hemm, kalau sudah tahu mau apa? Segala sudah terjadi, kalau dikenang hanya akan meracuni hati saja. Baiklah kalau kau ingin mengetahui. Dua puluh tahun yang lalu, Tang Mo San yang berjuluk Twa-to Kwi-ong itu menculik seorang gadis yang hendak dipaksa menjadi isterinya. Hal ini diketahui oleh Ayahmu dan dia mencegahnya. Terjadi perkelahian dan Tang Mo San kalah. Gadis itu bernama The Siu Lin dan Ayahmu lalu menikah dengannya. Nah, sejak saat itu, terjalin permusuhan antara Ayahmu dan Tang Mo San. Akhirnya Tang Mo San berhasil mengalahkan dan membunuh Ayahmu, akan tetapi dia sendiri tewas di tanganmu. Ini namanya sudah takdir."
Giok Lan tahu bahwa biarpun ia yang membunuh musuh Ayahnya, namun tanpa bantuan pengemis ini tidak mungkin hal itu ia lakukan.
Bahkan ia telah terjatuh ke tangan Twa-to Kwi-ong yang hendak memaksanya menjadi pengganti ibunya.
Ngeri ia membayangkan nasibnya andaikata tidak ditolong oleh kakek ini.
Karena itu, mengingat bahwa ia sebatang kara, ia lalu memberi hormat dengan menempelkan dahinya ke atas tanah.
"Locianpwe, sejak saat ini saya ingin ikut Locianpwe, harap suka menerima saya, menjadi murid."
Sebelum kakek itu menjawab, Sin Lee yang memang amat kagum kepada kakek itu dan baru saja dia mengalami pengalaman yang membuka matanya bahwa ilmu kepandaiannya masih belum cukup untuk melindungi dirinya sehingga dia ingin mempelajari ilmu dari kakek itu, serta merta menjatuhkan diri berlutut pula di samping Giok Lan.
"Saya juga mohon menjadi murid Locianpwe!"
"Siancai..."
Ini yang dinamakan jodoh. Kau kira mengapa aku belum juga pergi dari sini menemani kalian berdua? Memang aku melihat bakat kalian dan ingin mengambil kalian menjadi murid."
"Suhu...!"
Giok Lan berseru gembira.
"Suhu, teecu berdua menghaturkan terima kasih,"
Kata pula Sin Lee.
"Kalian sudah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, hanya tinggal mematangkannya saja. Karena kalian ingin belajar dariku, aku harus mengetahui benar keadaan kalian. Anak muda, siapa namamu dan siapa pula Ayahmu atau gurumu?"
"Teecu bernama Liu Sin Lee, guru teecu adalah Ayah teecu sendiri."
"Kulihat gerakan pedangmu seperti ilmu pedang Bu-tong-pai, apakah Ayahmu murid Bu-tong-pai?"
"Ayah bernama Liu Siong Ki dan menurut keterangan Ayah, memang ilmu silatnya mempunyai dasar dari Bu-tong-pai karena Ayah pernah menjadi murid Bu-tong-pai. Akan tetapi Ayah mempelajari banyak ilmu silat dari aliran lain."
"Liu Siong Ki? Hemm, tak pernah aku mendengar nama itu."
Sin Lee merasa lega karena untuk menyembunyikan keadaan dirinya yang sebenarnya, sebaiknya memang kalau Liu Siong Ki tidak dikenal orang.
"Dan engkau, nona cilik. Engkau puteri Souw Kian, siapa namamu?"
"Nama teecu Souw Giok Lan, teecu sekarang sudah yatim piatu dan sebatang kara, Suhu."
"Giok Lan, cara engkau menyerang Twa-to Kwi-ong, sungguh tidak menyenangkan hatiku. Engkau menggunakan pukulan beracun. Itu tentu Hek-see-ciang (Tangan Pasir Hitam), bukan?"
"Benar, Suhu. Sebetulnya Ayah juga melarang teecu mempergunakan Hek-see-ciang, akan tetapi karena terpaksa, teecu menggunakannya untuk membunuh musuh Ayah."
"Hemm, mulai sekarang engkau tidak boleh menggunakan ilmu-ilmu sesat lagi, mengerti? Aku akan mengubah ilmu sesat itu menjadi ilmu yang bersih."
"Maaf, Suhu. Apa yang Suhu maksudkan dengan ilmu sesat dan ilmu bersih?"
Tanya Sin Lee.
"Ilmu silat yang bersih mengandalkan kecepatan dan kekuatan, juga kecerdikan yang tidak mengandung kecurangan. Akan tetapi ilmu silat yang sesat mengandung tipudaya dan kecurangan, sehingga tidak segan-segan menggunakan senjata gelap beracun, atau pukulan beracun yang mematikan. Ilmu silat yang bersih bukan alat untuk membunuh, melainkan untuk membela diri dan menundukkan penyerangnya tanpa maksud membunuh. Tentu wajar kalau dalam adu ilmu silat ada yang terbunuh, namun bukan sengaja membunuh. Pukulan seperti Hek-see-ciang dari Beng-kauw itu sengaja dipelajari untuk membunuh orang, oleh karena itu kukatakan ilmu sesat."
Demikianlah, mulai saat itu, Ciu-sian Lo-kai Ong Su mengajak dua orang muridnya merantau.
Setiap hari dia menggembleng mereka, menyempurnakan ilmu yang sudah mereka miliki, dan mengajarkan ilmu-ilmu baru yang dahsyat.
Hubungan antara Sin Lee dan Giok Lan sebagai Suheng dan Sumoi semakin akrab.
Giok Lan amat sayang kepada Suhengnya ini yang dianggap sebagai pengganti keluarganya terdekat.
Juga Sin Lee amat menyayangnya dan menaruh iba hati kepada gadis itu.
Sin Lee menyimpan rahasia tentang dirinya.
Dia tidak ingin diketahui bahwa dia putera Kaisar sebelum Kaisar yang menjadi Ayah kandungnya itu menerimanya.
Dan dia bersyukur bahwa dia bertemu dengan gurunya, karena kalau hanya dengan kepandaiannya yang dibawanya dari utara dia berani mencoba untuk menyelidiki ke istana Kaisar, tentu dia akan celaka.
Menurut gurunya, di istana banyak terdapat jagoan-jagoan yang tinggi ilmunya.
Dalam perantauannya dengan gurunya, dia melihat sendiri akan kesengsaraan rakyat.
Ancaman musim kering yang diseling bahaya banjir yang terjadi setiap tahun amat menyengsarakan rakyat.
Akan tetapi yang lebih menekan kehidupan rakyat jelata adalah kesewenang-wenangan penguasa setempat yang memeras dengan bermacam "Pajak", ditambah lagi dengan kerja paksa membangun Tembok Besar dan menggali terusan yang menghubungkan Peking dengan Nan-king melalui terusan yang menyambung sungai Huang-ho (Lanjut ke
Jilid 04) Pendekar Bunga Merah (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 dengan sungai Yang-ce.
Dua pekerjaan besar ini depergunakan para penguasa daerah untuk memeras dengan cara memaksa rakyat untuk bekerja.
Gaji para pekerja dikorup, dan memaksa rakyat untuk mengusahakan agar terbebas dari kerja paksa dengan jalan menyogok pejabat.
Sin Lee melihat semua ini dan merasa muak.
Apa lagi kalau dia ingat bahwa orang pertama yang memerintahkan pembangunan Tembok Besar dan terusan itu adalah Kaisar, Ayah kandungnya!
Kalau dia bertemu Ayahnya dan diterima sebagai puteranya, tentu akan dibujuk Ayahnya itu agar melakukan pengawasan ketat sehingga rakyat tidak dipaksa dan diperas.
Ciu-sian Lo-kai Ong Su melihat betapa kedua orang muridnya merasa penasaran dan marah karena menyaksikan rakyat dipaksa bekerja yang menimbulkan bermacam korupsi dan pemerasan itu.
Dia menghela napas panjang dan berpantun.
Di bawah pemerintah yang baik Rakyat tidak merasa diperintah Di bawah pemerintah yang kurang baik Rakyat mendekati dan memujanya Di bawah pemerintah yang buruk Rakyat takut dan menghinanya Siapa yang kurang menaruh kepercayaan Tidak akan mendapat kepercayaan Waspadalah dengan kata-katamu yang berharga Supaya setelah engkau berjasa dan hasilnya nyata Rakyat akan berkata.
kami sendirilah yang membuatnya Sin Lee tahu bahwa itu adalah ujar-ujar dalam kitab To-tek-kong dari Nabi Locu.
Apakah sekarang ini dapat dikatakan pemerintah yang buruk?
Dan Ayahnyalah yang menjadi Kaisarnya.
Dan tiba-tiba hatinya berduka dan semangat untuk bertemu Ayah kandungnya menipis.
Apakah Ayah kandungnya memang jahat, seorang Kaisar lalim, ataukah para pejabatnya yang korup dan tidak melaksanakan perintahnya dengan baik?
Andaikata para pejabat itu tidak benar, tetap saja Kaisar bertanggung jawab.
Kaisar harus mengadakan penelitian dan penyelidikan dan kalau memang para pejabat tidak benar harus Kaisar turun tangan menghukum dan mengganti mereka!
Inilah sebabnya mengapa Sin Lee menunda niatnya untuk bertemu dengan Ayah kandungnya dan mengikuti gurunya merantau dan belajar ilmu silat sampai tiga tahun lamanya.
Tiga tahun lewat tanpa terasa semenjak Sin Lee dan Giok Lan menjadi murid Ciu-sian Lo-kai Ong Su.
Pada suatu hari, mereka bertiga, atas desakan Giok Lan yang ingin sekali makan di rumah makan besar yang dari luar saja sudah menghamburkan kesedapan masakan, masuk ke rumah makan itu.
Seorang pelayang menyambut mereka.
Rumah makan itu penuh dengan tamu dan selagi pelayan membungkuk-bungkuk untuk menerima tiga orang itu, seorang penjaga yang menjadi tukang pukul di rumah makan itu menghampiri.
Pada waktu itu, setiap rumah umum, baik rumah makan, penginapan atau rumah pelesir tentu memiliki tukang pukul untuk menjaga keamanan.
Demikian pula rumah makan besar di kota Nan-king itu, memiliki beberapa tukang pukul untuk menjaga keamanan, kalau-kalau ada orang yang makan tanpa bayar.
Nan-king merupakan ibu kota atau kota raja di selatan, yang merupakan kota terbesar ke dua setelah Peking, maka banyak terdapat rumah penginapan, rumah makan dan rumah pelesir yang besar.
Dan baru hari itu Ciu-sian Lo-kai dan dua orang muridnya memasuki kota Nan-king.
"Hei, gembel tua. Engkau tidak boleh memasuki rumah makan ini!"
Kata tukang pukul yang mukanya bopeng itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah Ciu-sian Lo-kai.
Tentu saja Sin Lee dan Giok Lan marah sekali, akan tetapi guru mereka mengedipkan mata memberi tanda agar muridnya tidak membikin ribut di tempat umum itu.
Dia terkekeh menghadapi penjaga yang mukanya bopeng itu.
"Kenapa aku tidak boleh memasuki rumah makan ini?"
Tanyanya sambil menurunkan guci araknya dari gantungan lehernya, membuka tutupnya dan menuangkan isinya ke mulut.
"Engkau pengemis kotor, hanya akan mengotori kursi dan mana engkau mampu bayar harga makanan yang mahal? Untuk mengemis, harus di luar rumah makan, tidak boleh mengemis di dalam!"
"Heh-heh-heh, aku berani bertaruh. Kalau pakaian kita dibuka, tubuhmu jauh lebih kotor dari pada tubuhku. Mau bertaruh? Hayo kita buka baju kalau berani bertaruh,"
Kata kakek pengemis itu.
Muka si bopeng berubah merah.
Memang ia sedang menderita penyakit kudis yang gatal, kalau pakaiannya dibuka tentu akan nampak kudisnya.
Dan harus diakuinya bahwa biarpun pakaiannya penuh tambalan, namun baju pengemis yang tidak memakai alas kaki itu cukup bersih.
"Sudah, jangan banyak cakap atau akan kuseret keluar dan kupukul!"
Dia mengangkat tangan mengancam. Giok Lan sudah tidak dapat mengendalikan kemarahannya dan ia membentak.
"Orang macam engkau berani menghina guruku?"
Dengan gerakan cepat sekali tangannya menotok dan tukang pukul itu tidak mampu bergerak lagi.
Dia masih berdiri dengan tangan terangkat ke atas, siap memukul.
Kini dia mirip patung, hanya matanya saja yang lirak-lirik cemas.
Dua orang tukang pukul lain yang tubuhnya tinggi besar sudah menghampiri.
"Hei, siapa berani memukul temanku?"
Kata mereka akan tetapi kembali Giok Lan menggerakkan tangannya dan dua orang inipun berdiri kaku tertotok.
Bukan main cepatnya gerakan Giok Lan ini sehingga sebelum dua orang itu sempat berbuat sesuatu, mereka sudah tertotok.
"Hayo antarkan kami ke meja kosong,"
Bentak Giok Lan kepada pelayan yang tadi menyambut mereka dan tergopoh pelayan itu mengantarkan mereka bertiga ke sebuah meja kosong di sudut ruangan itu.
Ciu-sian Lo-kai sambil tertawa-tawa berjalan bersama kedua orang muridnya, tanpa memperdulikan lagi tiga orang tukang pukul yang masih berdiri seperti patung.
Para tamu yang melihat peristiwa itu menjadi kagum dan juga khawatir kalau-kalau terjadi perkelahian di rumah makan itu.
Tak lama kemudian, pemilik rumah makan yang berusia lima puluhan tahun, tergopoh menghampiri meja itu dan memberi hormat kepada Ciu-sian Lo-kai dan dua orang muridnya.
"Harap sam-wi memaafkan saya dan memberi ampun kepada para penjaga saya yang kurang hormat. Saya mengaku salah dan untuk menebus kesalahan itu saya akan menjamu sam-wi (anda bertiga) dengan masakan paling istimewa di rumah makan kami."
"Ha-ha-ha, bagus! Giok Lan, bebaskan mereka!"
Kata Ciu-sian Lo-kai dengan girang.
Gadis itu memungut sepotong sumpit, mematahkannya menjadi tiga dan tiga kali tangan menyambitkan potongan sumpit itu dan tiga orang tukang pukul itu sudah dapat bergerak kembali.
"Hayo cepat minta maaf kepada Locianpwe itu dan dua orang muridnya!"
Kata pemilik rumah makan dan tiga orang tukang pukul itu yang maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang pandai, tidak malu-malu lagi mengangkat tangan memberi hormat untuk minta maaf.
"Pergilah dan jangan bersikap kasar kepada orang lagi!"
Bentak Giok Lan dan tiga orang itupun mengundurkan diri dengan muka merah.
Kejadian ini membuat banyak orang merasa gembira.
Baru sekarang ada orang berani melawan tukang pukul bahkan membuat mereka tidak berdaya.
Mereka lalu makan minum dengan gembira.
Ketika Ciu-sian Lo-kai dan dua orang muridnya selesai makan, selagi mereka akan memanggil pelayan untuk membuat perhitungan, nampak pemilik rumah makan berdiri di tengah ruangan dan dengan suara lantang berseru.
"Cuwi yang terhormat, hendaknya diketahui bahwa baru saja saya menerima berita duka dari kota raja. Sribaginda Kaisar Ceng Tung telah meninggal dunia!"
Semua orang menerima berita ini dengan kaget dan hening sejenak, kemudian mereka saling bicara sendiri dengan suara riuh rendah.
Akan tetapi mereka mengambil sikap acuh, seolah berita itu hanya berita kematian biasa saja, tidak ada yang kelihatan berduka.
"Suheng, kau kenapa...?"
Giok Lan memandang kepada Suhengnya dengan kaget dan heran.
Sin Lee yang mendengar berita itu menjadi pucat sekali wajahnya dan sepasang sumpit yang masih dipegangnya hancur berkeping-keping lalu dia menutupkan kedua tangan di depan mukanya.
Tentu saja dia terkejut dan berduka mendengar bahwa Ayah kandungnya yang belum sempat dia kunjungi itu telah wafat.
Ciu-sian Lo-kai juga melihat sikap muridnya, akan tetapi maklum bahwa di tempat umum yang ramai begitu tidak baik bertanya tentang sikap muridnya, maka dia bangkit berdiri dan berkata.
"Mari kita keluar!"
Dan dia mendahului melangkah pergi.
Sin Lee dapat menahan perasaannya dan diapun membayar harga makanan lalu keluar, diiringkan dengan sikap hormat oleh pemilik rumah makan.
Setibanya di luar, Ciu-sian Lo-kai mengajak mereka ke tempat sunyi di taman yang pada waktu itu belum dikunjungi orang, lalu mengajak mereka duduk di bangku.
"Nah, ceritakan mengapakah kau bersikap begitu ketika mendengar kematian Kaisar, Sin Lee."
Pemuda itu tadi sudah menyadari bahwa sikapnya yang terkejut dan duka itu tentu menarik perhatian Sumoi dan Suhunya. Dia diam-diam sudah mengatur jawaban untuk itu.
"Suhu, teecu terkejut sekali ketika mendengar bahwa Kaisar Ceng Tung telah meninggal dunia. Tentu Suhu mengetahui bahwa Kaisar itu telah lama tinggal di utara, menjadi tawanan suku Oirat di mana teecu dibesarkan, bahkan Ayah teecu mengenal baik Kaisar itu. Dan Ayah berpesan agar dalam perantauan teecu ini teecu berkunjung kepada Kaisar. Siapa tahu sebelum teecu mengunjunginya, dia telah meninggal dunia."
Keterangan ini agaknya dapat diterima oleh Ciu-sian Lo-kai dan Giok Lan sehingga mereka tidak bertanya lebih lanjut. Kakek itu kemudian berkata.
"Sekarang tiba giliranku untuk menyampaikan keinginanku kepada kalian. Telah tiga tahun kalian mengikutiku dan hampir semua ilmuku telah kuajarkan kepada kalian. Kini kalian bukan remaja lagi, melainkan telah menjadi orang dewasa. Nah, hari ini kita harus berpisah."
"Suhu...!"
Giok Lan terkejut, tidak pernah menduga akan terjadi perubahan secepat itu dalam hidupnya.
Ia sudah menganggap Suhunya dan Suhengnya sebagai pengganti keluarganya dan tiba-tiba saja Suhunya menyatakan akan berpisah.
"Hushh, Giok Lan, jangan cengeng. Engkau sudah dewasa, sudah berusia delapan belas tahun, haruskan aku menjagamu terus? Seekor burung sekalipun, kalau sudah mampu terbang sendiri, harus dapat hidup sendiri. Aku sudah tua, aku akan mengundurkan diri sama sekali dari dunia ramai, menjadi seorang pertapa di pegunungan Hoa-san. Kalian boleh mencari jalan masing-masing karena aku percaya bahwa kalian mampu melindungi diri sendiri, juga telah banyak mengenal dunia kang-ouw dalam perantauan selama tiga tahun ini."
Sin Lee menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki gurunya, diikuti oleh Giok Lan.
"Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas segala kebaikan Suhu kepada teecu."
"Teecu juga menghaturkan terima kasih atas budi kecintaan Suhu,"
Kata Giok Lan dengan suara terharu, hampir menangis.
"Ha-ha-ha, ingat, tidak ada budi ditanam atau dendam dibalas. Semua itu sudah wajar. Seorang pendekar hanya membela diri, bukan sengaja membunuh, ingat ini selalu!"
Setelah berkata demikian, kakek ini pergi sambil menuangkan arak ke dalam mulutnya.
Dua orang muda itu masih berlutut sampai kakek itu hilang dari penglihatan mereka.
Kemudian Sin Lee terkejut mendengar isak tangis Sumoinya.
"Sumoi, kenapa engkau menangis? Ada waktunya berkumpul dan ada waktunya berpisah. Kepergian Suhu tidak baik kalau ditangisi."
"Aih, Suheng. Aku tidak menangisi kepergian Suhu. Beliau telah berbuat banyak untuk kita, untukku. Aku tidak boleh menuntut lebih. Aku menangis karena bingung, Suheng. Selama ini aku seperti seekor burung dalam kurungan, ada yang mengamati ada yang kugantungi. Dan hari ini, tiba-tiba aku dilepas begitu saja. Suheng, apa yang harus kulakukan dan ke mana aku harus pergi? Aku tidak tahu, dan aku bingung, Suheng."
Sin Lee menghela napas panjang.
Pertanyaan serupa juga seringkali mengaduk hatinya.
Apa yang harus dia lakukan dan ke mana dia harus pergi?
Tidak ada tujuan tertentu setelah mendengar bahwa Kaisar, Ayah kandungnya, telah meninggal dunia.
Apa lagi bagi seorang gadis seperti Giok Lan.
Dia dapat memaklumi kebingungan hatinya.
"Tenanglah, Sumoi. Kita senasib, bagaikan dua orang dalam satu biduk di tengah samudera luas. Jangan khawatir, aku akan menemanimu. Mari kita lanjutkan perjalanan hidup ini bersama."
"Suheng! Terima kasih, Suheng!"
Giok Lan tersenyum dengan sepasang mata masih bercucuran air mata. Sin Lee tertawa.
"Sudah, hapus air matamu itu. Tidak pantas bagi seorang pendekar wanita seperti engkau ini menangis!"
Giok Lan cepat menyusut air matanya.
"Suheng, ke mana kita hendak pergi?"
"Aku mau pergi ke kota raja, hendak kulihat bagaimana macamnya kota raja yang terkenal itu. Dan... kalau mungkin... aku mau menengok makam Kaisar Ceng Tung."
"Eh, mau apa menengok makam Kaisar?"
"Lupakah engkau akan ceritaku, bahwa Kaisar itu sahabat baik Ayahku, jadi dia itu seperti pamanku sendiri, seperti keluarga sendiri. Karena itulah setelah aku tidak sempat bertemu dengannya, aku ingin bersembahyang di depan makamnya."
"Engkau sungguh berbakti sekali kepada orang tuamu, Suheng. Aku kagum kepadamu."
"Ah, jangan terlalu memuji, Sumoi. Sekarang kita telah berpisah dari Suhu dan melakukan perjalanan berdua saja. Oleh karena kita sudah tidak mempunyai sanak keluarga di tempat ini, seolah-olah hanya kita berdua, maka melakukan perjalanan bersama akan terasa lebih leluasa kalau kita menjadi kakak dan adik. Maukah engkau menjadi adik angkatku, Sumoi?"
"Adik angkat? Dan engkau kakak angkatku? Tentu saja aku suka, Suheng."
"Bagus. Mulai sekarang engkau jangan menyebut Suheng, akan tetapi menyebut Koko dan aku tidak menyebutmu Sumoi melainkan moi-moi. Kakak dan adik melakukan perjalanan bersama bukan hal yang aneh, akan tetapi kalau Suheng dan Sumoi, dapat mendatangkan persangkaan yang bukan-bukan."
"Perduli apa dengan persangkaan orang, Suheng... eh, Koko? Yang penting kita benar, kalau hendak dinilai salah oleh orang lain, perduli amat."
Sin Lee tersenyum.
Tentu saja sebagai puteri tokoh Beng-kauw, gadis itu berpendirian seperti itu.
Dan dia harus akui bahwa pendirian itu benar, akan tetapi mereka tidak boleh mengabaikan pandangan umum.
"Moi-moi, pendapatmu itu memang benar, akan tetapi kita harus mengakui bahwa kita hidup di tengah masyarakat dan masyarakat mempunyai anggapan dan pertimbangan sendiri. Kita tidak dapat mengabaikan pendapat umum ini kalau kita tidak ingin terasing dan tersingkir. Sudahlah, adikku yang manis, mari kita berangkat."
"Baik, Lee-Koko."
Sebutan itu terasa lebih manis dari pada sebutan Suheng, lebih akrab dan lebih dekat.
Sin Lee dan Giok Lan keluar dari kota Nan-king.
Pemuda dan gadis ini menarik perhatian orang karena mereka merupakan pasangan yang cocok sekali.
Sin Lee nampak tampan dengan tubuhnya yang tinggi tegap, hidungnya mancung dan matanya seperti mata burung Hong dengan mulut selalu tersenyum dan nampak wajahnya jantan karena dagunya berlekuk.
Sebatang pedang menempel di punggungnya, juga sebuah buntalan pakaian.
Pakaiannya memang sederhana saja namun bersih dan yang menarik perhatian adalah setangkai bunga merah yang tertancap di lubang kancing bajunya.
Karena bajunya putih, maka bunga merah itu dari jauh saja sudah nampak.
Giok Lan juga seorang gadis yang cantik jelita.
Bentuk wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang disanggul secara sederhana namun manis.
Matanya tajam seperti bintang, hidungnya kecil mancung dengan ujung agak menjungat ke atas dan cuping hidungnya itu dapat berkembang kempis kalau perasaannya tersinggung.
Bibirnya menggairahkan dengan hiasan lesung pipit di sebelah kiri ujung mulutnya dan setitik tahi lalat hitam di pipi kanan menambah manisnya wajah itu.
Sebatang pedang dengan ronce merah berada di punggungnya, juga sebuah buntalan pakaian.
Melihat pedang dan buntalan ini saja tahulah orang yang bertemu dengannya bahwa ia seorang gadis kang-ouw yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Setelah matahari naik tinggi, mereka telah jauh meninggalkan Nan-king dan tiba di lereng sebuah bukit yang sunyi, dari jauh mereka melihat sebuah kereta yang dikawal pasukan pengawal sebanyak dua belas orang.
Kemudian tiba-tiba muncul dua orang pria setengah tua yang menghadang kereta dan berdiri di tengah jalan.
Kereta dihentikan dan dua belas orang pengawal itu menghadapi dua orang laki-laki itu.
Terjadi percekcokan dan dua belas orang pengawal itu maju mengeroyok, akan tetapi dua orang itu lihai sekali, dengan gerakan yang cepat kaki tangan mereka bergerak dan dua belas orang pengawal itu dihajar dan terpelanting ke kanan kiri.
Terdengar jerit minta tolong dari dalam kereta.
"Mari kita mendekat, agaknya dua orang itu rampok dan kita perlu melindungi mereka yang berada di dalam kereta,"
Kata Sin Lee.
Giok Lan mengangguk dan kedua orang itu berlompatan cepat sekali.
Tepat kedatangan mereka karena dua orang itu kini telah merobohkan dua belas orang pengawal dan dengan golok di tangan mereka menghampiri kereta dengan wajah bengis!
Mereka terkejut ketika dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda dan seorang gadis telah berdiri menghadang mereka dan melindungi kereta.
"Siapakah kalian? Jangan mencampuri urusan kami. Pergilah!"
Kata seorang di antara mereka yang wajahnya penuh cambang dan kumis jenggot, nampak menyeramkan.
"Tentu kami mencampuri kalau kalian hendak berbuat jahat kepada penghuni kereta ini,"
Kata Sin Lee tenang.
"Jadi kalian hendak melindungi pembesar itu?"
Bentak yang seorang lagi, mukanya merah.
"Kalau kalian hendak mengganggunya, tentu kami melindunginya!"
Kini Giok Lan berkata dengan lantang.
"Kalau begitu kami harus menghajar antek-antek pembesar jahanam!"
Bentak si brewok yang segera mengayun goloknya menyerang Sin Lee.
Si muka merah juga mengayun goloknya menyerang Giok Lan.
Giok Lan mencabut pedangnya dan menangkis.
Ketika orang itu dengan cepatnya memainkan goloknya, Giok Lan terkejut.
Ia mengenal benar ilmu golok itu.
Itulah Kui-Liong-to (Golok Naga Selatan) ilmu golok dari Beng-kauw!
Ia lalu mempercepat permainan pedangnya.
Setelah mendapat gemblengan dari Ciu-sian Lo-kai, ilmu kepandaian Giok Lan meningkat cepat dan kini ia tidak pernah lagi mau memainkan jurus-jurus Beng-kauw yang curang.
Ilmu silatnya berubah bersih namun cepat dan kuat bukan main sehingga belum sampai lima belas jurus ia telah mampu merobohkan lawannya dengan sebuah tendangan kilat.
Sin Lee juga sudah merobohkan lawan tanpa melukai berat.
Giok Lan menodongkan pedangnya ke leher lawannya yang bermuka merah.
"Kami sudah kalah, mau bunuh kami bunuhlah. Jangan harap kami mau menyerah kepada antek-antek pembesar korup!"
Kata si muka merah.
"Ya, kami tidak mampu menandingi kalian. Bunuhlah kami!"
Kata pula si brewok yang sudah ditotok tak dapat bergerak lagi oleh Sin Lee.
"Kalian orang-orang Beng-kauw?"
Tanya Giok Lan dan pertanyaan ini selain mengejutkan dua orang itu, juga membuat Sin Lee memandang heran.
"Jangan tanya kami dari mana. Kami malu telah jatuh ke tangan antek-antek pembesar lalim!"
Kata si muka merah.
"Hemm, aku mendengar bahwa Beng-kauw adalah perkumpulan yang hendak membersihkan namanya dengan perbuatan-perbuatan gagah. Akan tetapi kalian hendak melakukan perampokan! Aku mengenal ilmu golokmu itu. Kui-Liong to, bukan?"
"Siapa bilang kami hendak merampok? Kami tokoh-tokoh Beng-kauw pantang untuk merampok. Kami menghadang untuk mencabut nyawa pembesar Ouw yang berada di kereta itu. Dia orang jahat, memeras rakyat, memaksa rakyat menyerahkan uang sumbangan bahkan anak-anak gadisnya dengan ancaman untuk dikerjapaksakan."
"Ah, benarkah?"
Tanya Giok Lan sambil menoleh ke arah kereta.
"Kalau tidak percaya, periksa saja ke dalam kereta. Di situ terdapat dua orang gadis yang dirampas dari orang tua mereka,"
Kata si brewok.
Giok Lan melompat ke dekat kereta, dengan pedangnya membuka tirai kereta dan di situ terdapat seorang pembesar gendut bermuka kuning mendekam ketakutan, juga ada dua orang gadis yang duduk berhimpitan sambil menangis.
"Jangan kalian menangis dan jawablah. Kenapa kalian berada di kereta ini dan siapa kalian ini?"
"Kami... kami dari dusun Ke-ciu... kami... dipaksa Taijin ini untuk ikut..."
Kata gadis yang manis berbaju hijau, sedangkan gadis kedua yang berbaju kuning hanya menangis. Giok Lan mengerutkan alisnya dan menodongkan pedangnya kepada pembesar gendut itu.
"Hei... kamu! Siapakah dua orang gadis ini dan hendak kau bawa ke mana?"
Dengan tubuh gemetaran pembesar itu menjawab gagap.
"Mereka... mereka... adalah... selir-selirku... hendak kuajak pulang. Nona, eh, Lihiap, mohon pertolongan Lihiap. Selamatkan kami dari ancaman dua orang perampok itu dan kami akan memberi hadiah besar kepada Lihiap."
"Plakkk!"
Tangan kiri Giok Lan menampar dan demikian kerasnya tamparan itu sehingga tubuh pembesar itu terpental keluar dari kereta dan jatuh ke atas tanah dengan pipi kanan bengkak.
Dia mengaduh-aduh dan menangis ketakutan.
Giok Lan tidak sampai di situ saja mengumbar amarahnya.
Tubuhnya berkelebatan dan dua belas orang pengawal itu semua mendapat hadiah tendangan sehingga mereka terlempar berserakan dengan tulang patah atau kepala benjol-benjol.
"Sudah cukup, Lan-moi, jangan sampai engkau membunuh orang."
Giok Lan menghela napas panjang.
"Sebetulnya mereka itu pantas dibunuh. Entah sudah berapa banyak rakyat yang mereka peras, gadis mereka paksa, dan nyawa orang menjadi korban kejahatan mereka."
Ia lalu menghampiri pembesar itu yang merangkak-rangkak minta ampun.
"Hayo naik ke kereta!"
Bentaknya dan pembesar itu dengan muka pucat merayap naik ke dalam kereta.
"Koko, biarkan aku menyelesaikan urusan ini, bolehkah?"
Giok Lan berkedip kepada kakaknya dan Sin Lee kagum sekali.
Tak disangkanya bahwa adik angkatnya ini demikian trampil menguasai keadaan bagaikan seorang pemimpin.
Diapun mengangguk.
Giok Lan membebaskan totokan pada dua orang Beng-kauw.
"Maafkan kami, kalian memang benar dan tidak mengecewakan menjadi anggota Beng-kauw. Akan tetapi ingatlah Beng-kauw tidak pernah menjadi pemberontak yang menentang pemerintah. Beng-kauw menentang pembesar jahat. Membunuh pembesar ini tidak akan ada gunanya. Akan muncul pembesar lain. Kita manfaatkan dia."
"Nona bijaksana sekali, kami mengaku bersalah,"
Kata si brewok.
"Bagus, kami juga ingin berjuang demi rakyat. Mau membantu kami membereskan pembesar ini?"
"Tentu saja, nona,"
Kata si muka merah girang.
"Nah, hayo ikut,"
Giok Lan dengan berwibawa lalu memerintahkan para pengawal kembali mengawal kereta.
"Kalian mengawal seperti biasa, kembali ke rumah Ouw-Taijin. Awas, jangan banyak ulah karena kami berada di dalam kereta, siap membunuh Ouw-Taijin kalau kalian membuat ribut."
"Jangan ribut, awas kalian, aku perintahkan taati perintah Lihiap ini!"
Ouw-Taijin menjulurkan kepala keluar pintu dan berteriak kepada para pengawalnya.
"Lee-ko, silahkan bergabung dengan para pengawal, juga dua saudara Beng-kauw, dan mari kita berangkat. Kusir, jalankan kereta seperti biasa, agak cepat sedikit!"
Sin Lee dan dua orang Beng-kauw mendapatkan masing-masing seekor kuda dan ada pengawal yang berboncengan, dan rombongan itu berangkat menuju kembali ke Nan-king.
Ketika melalui pintu gerbang, para penjaga memandang keheranan melihat para pengawal babak belur, akan tetapi karena Ouw-Taijin tidak memberi tanda apa-apa hanya menyuruh kusir cepat-cepat membawanya pulang, para penjaga juga tidak menaruh curiga.
Setelah tiba di pekarangan gedung milik Ouw-Taijin, empat orang pendekar itu mengawal si pembesar masuk.
Giok Lan melakukan penggeledahan dan membebaskan tujuh orang gadis dusun lagi.
Kemudian dia memaksa Ouw-Taijin untuk memberi uang bekal yang cukup banyak untuk para gadis itu dan memberi pula surat pembebasan orang tua mereka dari kerja paksa.
Giok Lan mengancam.
"Ini merupakan hukuman ringan bagimu, Ouw-Taijin. Sebetulnya melihat perbuatanmu yang melampaui batas, memeras rakyat, mempermainkan anak-anak gadis mereka, bahkan mengandalkan kekuasaan melakukan penyiksaan, sepatutnya engkau kubunuh. Akan tetapi biarlah ini menjadi peringatan bagimu. Mencari pekerja harus dengan cara yang benar, dan tidak boleh mengurangi upah mereka seperti ditentukan pemerintah, dan jangan memaksa. Awas, kalau kami berempat mendengar engkau masih melakukan kejahatan ini, kami akan datang lagi untuk membunuhmu!"
Ouw-Taijin hanya mengangguk-angguk dan memenuhi semua permintaan gadis itu.
Para gadis itu lalu dibebaskan dan diberi bekal uang seperti yang dimintakan Giok Lan.
Setelah itu, Giok Lan, Sin Lee dan dua orang Beng-kauw itu meninggalkan Nan-king.
Setibanya di luar Nan-king, Sin Lee dan Giok Lan pamit hendak memisahkan diri dari dua orang Beng-kauw itu.
Akan tetapi, dua orang tokoh Beng-kauw itu memberi hormat dan berkata.
"Banyak terima kasih atas bantuan ji-wi yang gagah perkasa. Karena kita telah bekerja sama, kami ingin sekali berkenalan dengan ji-wi sebelum kita saling berpisah. Nama saya Kam Tiong dan ini adalah sute Thio Kun. Bolehkah kami mengetahui nama ji-wi yang gagah perkasa?"
Sin Lee tersenyum.
"Namaku Liu Sin Lee dan ini adalah adikku Souw Giok Lan."
"Nona she Souw? Ah, kamipun sedang mencari seorang paman guru kami she Souw juga. Entah di mana dia sekarang?"
Kata Kam Tiong si brewok. Giok Lan tersenyum dan sambil lalu ia bertanya.
"Siapakah nama paman guru yang kalian cari itu?"
"Susiok bernama Souw Kian."
"Heii, itu nama mendiang Ayah saya!"
Seru Giok Lan terkejut. Dua orang Beng-kauw itu terbelalak, akan tetapi mereka kemudian mengerutkan alisnya.
"Mendiang...?"
Tanya Thio Kun si muka merah. Giok Lan menghela napas panjang.
"Ayah tewas kurang lebih tiga tahun yang lalu."
Dua saudara seperguruan Beng-kauw itu saling pandang dan tiba-tiba keduanya mengambil kesepakatan melalui pandang mata mereka dan Kam Tiong lalu berseru.
"Ya, mengapa tidak? Lihiap, kalau begitu kami mengharapkan agar Lihiap saja yang menggantikan Ayah Lihiap, menjadi ketua Beng-kauw!"
"Ya, benar juga. Tidak ada yang lebih tepat untuk menyelamatkan Beng-kauw kecuali puteri mendiang Susiok Souw Kian!"
Kata Thio Kun. Tentu saja Giok Lan terkejut sekali, membelalakkan mata.
"Eh , apa yang kalian maksudkan? Mengharapkan aku menjadi ketua Beng-kauw? Apakah kalian sudah gila?"
Sikap dan ucapan Giok Lan memang ada kemiripan dengan sikap orang Beng-kauw yang polos dan kadang kasar. Hal ini tentu karena ia terbawa oleh sikap mendiang Ayahnya.
"Lihiap, kami mencari Susiok Souw Kian untuk mohon agar dia menyelamatkan Beng-kauw. Karena dia ternyata sudah meninggal, dan mengingat akan ilmu kepandaian Lihiap yang tinggi, maka alangkah bahagianya kami seluruh anggota Beng-kauw apa bila Lihiap suka menggantikan Souw-Susiok."
Giok Lan mengerutkan alisnya.
"Hemm, menurut cerita Ayah dahulu, Ayah telah dikeluarkan dari Beng-kauw bahkan dianggap sebagai pengkhianat. Kenapa sekarang kalian mencarinya untuk diminta menjadi ketua?"
"Ah, peristiwa itu amat mendukakan banyak anggota Beng-kauw termasuk kami, nona. Ayah Lihiap adalah seorang tokoh penting Beng-kauw. Akan tetapi Souw-Susiok terlalu berani. Dia mengeritik ketua Beng-kauw yang menjadi Suhengnya, menganjurkan agar Beng-kauw menghentikan semua perbuatan tercela dan memberi hukuman kepada para anggotanya yang melakukan kejahatan, dan hidup damai dan rukun dengan para partai lain. Akan tetapi ketua Beng-kauw menjadi marah dan tersinggung, lalu menganggap Souw-Susiok sebagai pengkhianat dan mengeluarkannya dari Beng-kauw. Kami menyesal sekali dan sekarang, Pangcu kami terbunuh oleh seorang yang lihai dari luar Beng-kauw, bernama Bouw Sang Cinjin yang menguasai Beng-kauw. Karena itulah, Lihiap, kami sungguh memohon kepada Lihiap atas nama Beng-kauw, sudilah Lihiap menerimanya!"
Sin Lee yang sejak tadi mendengarkan saja, kini melihat kesempatan baik terbuka bagi Giok Lan.
Ya, mengapa tidak?
Kalau Giok Lan menjadi ketua Beng-kauw, ia akan dapat memperbaiki keadaan perkumpulan itu dan ini merupakan tugas yang berat namun luhur.
Hidupnya tidak akan kosong lagi, bahkan penuh arti.
Dari pada ikut dengan dia yang tidak karuan tujuannya.
Kebetulan Giok Lan menoleh kepadanya seperti minta pendapatnya.
Sin Lee berkata.
"Adik Giok Lan, kalau Beng-kauw terancam musnah dan akan dikuasai orang yang tidak berhak, maka sudah sepatutnya kalau engkau membantunya. Bagaimanapun juga, karena mending Ayahmu merupakan tokoh Beng-kauw, maka engkaupun dengan sendirinya masih ada hubungan dengan Beng-kauw."
"Tapi... tapi... bagaimana mungkin aku menjadi ketua? Seorang gadis yang semuda saya..."
"Lan-moi, soal ketua itu adalah urusan nanti. Yang terpenting sekarang adalah membebaskan Beng-kauw dari kekuasaan orang bernama Bouw Sang Cinjin, dan kita harus membantunya."
Dua orang tokoh Beng-kauw itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Giok Lan dan Sin Lee.
"Terima kasih kepada Taihiap dan Lihiap. Memang tepat seperti yang dikatakan Taihiap, urusan pengangkatan ketua dapat dibicarakan lagi kemudian. Yang terpenting mengusir Bouw Sang Cinjin dan anak buahnya dari Beng-kauw."
"Baiklah, akan kami bantu kalian. Mari kita berangkat."
Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat menuju ke pusat Beng-kauw.
Sejak ratusan tahun yang lalu, perkumpulan Beng-kauw merupakan perkumpulan besar berdasarkan ajaran dari aliran agama Terang.
Aliran agama ini sesungguhnya merupakan pandangan-pandangan hidup atau filsafat yang dianut oleh para anggotanya.
Namun, sudah beberapa kali para ketua Beng-kauw membawa perkumpulan itu melalui jalan sesat sehingga Beng-kauw dikenal sebagai perkumpulan sesat.
Hal ini adalah karena dalam aliran Beng-kauw terdapat banyak ajaran tentang kekuatan gaib, penggunaan kekuatan gaib seperti sihir dan sebagainya.
Juga dalam perkembangan ilmu silat yang dipelajari oleh para anggota Beng-kauw terdapat banyak jurus dan ilmu yang tergolong sesat, tidak segan menggunakan cara-cara yang keji untuk memperoleh kemenangan.
Ketika Souw Kian masih menjadi tokoh Beng-kauw, dia melihat gejala ini dan dia memprotes keras sehingga dia bentrok dengan Suhengnya sendiri yang menjadi ketua Beng-kauw.
Suhengnya, Louw Seng Hu, marah kepadanya dan Souw Kian dianggap pengkhianat, lalu diusir dari Beng-kauw.
Louw Seng Hu tertarik oleh segala macam ilmu hitam sampai akhirnya dia bertemu dengan Bouw Sang Cinjin, seorang bekas tokoh Lama Jubah Merah yang menjadi pelarian dari Tibet karena dianggap menyeleweng.
Di Beng-kauw, Bouw Sang Cinjin menemukan ladang baru.
Dengan mengajarkan ilmu hitam kepada ketua Beng-kauw itu, dia memiliki pengaruh besar sekali.
Dia menanam kukunya di Beng-kauw sampai akhirnya menjadi orang kedua setelah ketua Louw Seng Hu.
Kurang lebih tiga tahun yang lalu, setelah menempatkan murid-muridnya sebagai petugas yang berkedudukan tinggi di Beng-kauw, barulah dia membuka kedoknya.
Dengan ilmunya, dia membunuh Louw Seng Hu tanpa ada yang dapat membuktikan.
Anak buah Beng-kauw hanya melihat ketua mereka menderita sakit seperti orang gila, dan tak lama kemudian meninggal dunia.
Dan setelah Louw Seng Hu meninggal dunia, otomatis kekuasaan berada di tangan Bouw Sang Cinjin dan dia mengangkat diri sendiri sebagai ketua Beng-kauw.
Kam Tiong dan Thio Kun adalah dua orang di antara para tokoh Beng-kauw yang menaruh kecurigaan atas meninggalnya Louw Seng Hu.
Akan tetapi mereka tidak dapat membuktikan apa-apa untuk memperkuat kecurigaan mereka.
Setelah Bouw Sang Cinjin mengangkat diri menjadi ketua, dan ada beberapa orang tokoh Beng-kauw yang menentang menemui kematian secara aneh, Kam Tiong dan Thio Kun mengambil keputusan untuk melarikan diri dan mencari Souw Kian, yaitu Susiok mereka yang diusir dari Beng-kauw, karena hanya Souw Kianlah yang kiranya akan mampu menolong Beng-kauw yang keadaannya sedang gawat.
Dan tanpa disengaja mereka bertemu dengan Souw Giok Lan, puteri Susiok mereka itu yang telah menjadi seorang gadis yang berilmu tinggi dan Suhengnya, Liu Sin Lee.
Sebetulnya, sebagian besar dari anggota dan para tokoh Beng-kauw tidak rela kalau kedudukan ketua dipegang oleh Bouw Sang Cinjin.
Akan tetapi mereka takut menentang bekas Lama yang sakti itu.
Bouw Sang Cinjin selain sakti, juga mempunyai dua puluh empat orang murid yang tangguh dan para murid itu diberi kedudukan penting di Beng-kauw sehingga praktis semua kendali telah dipegang oleh Bouw Sang Cinjin dan para muridnya.
Setelah tiba di lereng Beng-san yang dijadikan pusat Beng-kauw, Kam Tiong dan Thio Kun minta kepada Sin Lee dan Giok Lan untuk tinggal dulu di dusun tak jauh dari situ dan mereka berdua lalu diam-diam menghubungi para anggota dan tokoh Beng-kauw.
Dengan diam-diam para tokoh Beng-kauw mengadakan pertemuan dan semua menyambut gembira ketika dua orang tokoh Beng-kauw itu memberi kabar tentang kesanggupan Giok Lan dan Sin Lee untuk menentang kekuasaan Bouw Sang Cinjin dan para muridnya.
Siasat lalu diatur dan seluruh anggota Beng-kauw yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang itu mendapat kabar dan perintah secara rahasia.
Mereka merencanakan pemberontakan.
Mereka semua akan menghadapi dua puluh empat orang murid Bouw Sang Cinjin sedangkan pendeta yang sakti itu akan dihadapi dua orang pendekar yang akan membantu mereka.
Pada hari yang telah ditentukan oleh mereka yang merencanakan pemberontakan, Sin Lee dan Giok Lan dengan tenang menghampiri pintu gerbang perkampungan Beng-kauw.
Sebetulnya, oleh Bouw Sang Cinjin, di sekitar perkampungan itu sudah dipasangi jebakan-jebakan yang membahayakan tamu yang tak diundang.
Akan tetapi oleh para anak buah Beng-kauw, kedua orang muda itu sudah diberitahu akan rahasia jebakan sehingga mereka dapat melewati dengan aman karena sudah tahu di bagian mana jebakan dipasang.
Para anggota Beng-kauw yang melakukan penjagaan di pintu gerbang tentu saja tidak merasa heran dengan munculnya dua orang muda itu karena mereka semua sudah tahu bahwa dua orang muda itulah yang akan membantu mereka terbebas dari kekuasaan Bouw Sang Cinjin.
Akan tetapi dua orang murid Bouw Sang Cinjin yang mengepalai regu penjaga, terheran-heran bagaimana dua orang muda itu dapat tiba di pintu gerbang dan melewati jebakan-jebakan dengan demikian mudahnya.
Mereka segera meloncat keluar gardu penjagaan di pintu gerbang, menghadang di depan Sin Lee dan Giok Lan.
"Berhenti! Siapakah kalian dan mau apa datang ke sini?"
Bentak seorang murid Bouw Sang Cinjin sambil melintangkan senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang golok bergagang panjang dan golok itu tajam sekali, juga ujung gagangnya runcing seperti tombak.
Adapun orang kedua bersenjata sepasang golok besar yang berat dan tajam pula.
Dari senjata mereka saja dapat diduga bahwa mereka itu memiliki tenaga besar.
Karena Giok Lan yang mempunyai kepentingan langsung dengan Beng-kauw, maka Sin Lee membiarkan gadis itu yang menjawabnya.
Giok Lan maklum akan sikap Sin Lee yang diam, maka ialah yang menjawab dengan tegas.
"Kami hendak bertemu dengan Bouw Sang Cinjin. Suruh dia keluar menemui kami!"
Dua orang itu terbelalak. Mendengar seorang gadis begitu saja menyuruh guru mereka keluar menemuinya, sungguh merupakan sikap memandang rendah yang keterlaluan.
"Suhu kami tidak ada waktu untuk berurusan dengan bocah perempuan seperti engkau!"
Kata seorang dari mereka.
"kalau ada urusan, beritahukan kepada kami yang akan melaporkan kepada Suhu, enak saja menyuruh Suhu keluar menemuimu!"
Giok Lan tersenyum mengejek.
"Kalau kalian tidak mau memanggilnya dan kalau dia tidak mau keluar, biarlah kami yang mencarinya ke dalam."
Gadis itu bergerak hendak memasuki pintu gerbang.
"Berhenti! Berani memasuki pintu gerbang berarti mati!"
Dua orang itu melintangkan senjata mereka menghadang di pintu gerbang dengan sikap yang bengis.
Giok Lan melangkah maju dan golok panjang menyambar ke arah lehernya.
Betapa bengisnya orang itu, mengirim serangan yang jelas bermaksud membunuh.
Dengan mudah gadis itu mengelak dan begitu golok lewat, kakinya menyambar ke depan dengan tendangan kilat.
Akan tetapi pemegang golok panjang itu mampu meloncat ke belakang sehingga tendangan itu luput.
Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa anak buah Bouw Sang Cinjin itu memang cukup lihai.
Kini pemegang sepasang golok juga sudah menerjang ke depan, membabatkan goloknya dengan gerakan menggunting dari kanan kiri.
Kembali Giok Lan mengelak dengan loncatan jauh ke atas sehingga orang itu terkejut, mendongak ke atas untuk melanjutkan serangannya.
Akan tetapi tubuh Giok Lan sudah menukik dan sekali tangannya menampar, pundak orang itu terkena tamparannya sehingga pemegang sepasang golok itu roboh bergulingan.
Si pemegang golok panjang memutar senjatanya dan menyerang dengan dahsyat.
Giok Lan malah menyambut maju dan ketika golok menyambar, ia bukan mengelah malah melangkah ke depan, mendekati lawan dan dapat menangkap gagang golok, kakinya menendang dan sekali ini, karena orang itu tidak dapat mengelak mempertahankan goloknya, tendangan Giok Lan mengenai sasaran dan orang itu terjengkang bersama goloknya.
Namun, keduanya memang cukup kuat sehingga tamparan itu tidak sampai merobohkan mereka dan kini mereka sudah bangkit kembali.
"Pukul tanda bahaya...!"
Teriak mereka kepada anak buah mereka yang berada di gardu penjagaan.
Para anggota Beng-kauw yang sudah tahu apa yang mereka harus perbuat, segera memukul tanda bahaya berupa canang bertubi-tubi sehingga menimbulkan suara yang bising.
Dan berdatanganlah anak buah Beng-kauw dari segala penjuru.
Juga para murid Bouw Sang Cinjin bermunculan dengan senjata mereka mengepung Sin Lee dan Giok Lan.
Sin Lee melihat bahwa semua murid Bouw Sang Cinjin yang berjumlah dua puluh empat orang itu telah berada di situ mengepung ketat, dan melihat pula mereka itu membentuk semacam barisan yang berantai dan saling melindungi.
Jelas bahwa barisan bermacam-macam senjata seperti itu amatlah tangguh, maka dia berkata.
"Lan-moi, pergunakan pedang dan kita saling melindungi."
Dua orang muda itu beradu punggung sehingga tidak dapat diserang dari belakang.
Mereka berdiri tak bergerak, hanya memandang dua puluh empat orang itu yang kini bergerak mengelilingi mereka.
Ketika mereka mulai menyerang, dua puluh empat orang itu maju bersama dan berbareng sehingga terpaksa Sin Lee dan Giok Lan harus memutar pedang untuk melindungi tubuh mereka dari hujan senjata itu.
Sin Lee terkejut.
Mereka itu rata-rata memiliki tenaga yang kuat dan gerakan cepat sehingga kalau dilanjutkan, mereka berdua tentu akan terdesak dan tidak ada untungnya dalam perkelahian hanya menahan serangan tanpa mampu membalas.
"Kita pecahkan kepungan!"
Katanya kepada Giok Lan dan Giok Lan maklum apa yang dimaksudkan kakak angkatnya.
Ia mengeluarkna suara melengking dan pedangnya berubah menjadi gulungan yang panjang dan kini pedang itu bukan hanya menangkis, melainkan mencuat ke kiri mengikuti gerakannya dan menerjang tiga orang yang berada di depannya.
Juga Sin Lee mengeluarkan bentakan nyaring dan dia berbuat serupa, meloncat ke kanan sambil menggerakkan pedangnya yang menyambar-nyambar bagaikan kilat.
Kepungan itu mengendur dan melonggar karena para murid Bouw Sang Cinjin terkejut sekali melihat gerakan pedang yang amat berbahaya itu.
Mereka terpaksa memecah barisan, masing-masing dua belas orang mengepung Sin Lee dan dua belas orang mengepung Giok Lan.
Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring sekali.
"Keparat, dua orang muda kurang ajar dari mana berani sekali mengacau di Beng-kauw?"
Ketika melihat Bouw Sang Cinjin muncul sambil melintangkan tongkat naganya yang berwarna hitam, Kam Tiong dan Thio Kun memberi aba-aba kepada para anggota Beng-kauw dan menyerbulah kurang lebih seratus orang Beng-kauw itu.
Mereka itu disangka akan membantu dua puluh empat orang murid Bouw Sang Cinjin, akan tetapi alangkah terkejut hati mereka ketika anggota Beng-kauw itu berbalik malah menyerang mereka!
Karena diserang secara mendadak dari belakang oleh banyak sekali lawan, enam orang anak buah Bouw Sang Cinjin ini roboh di bawah bacokan dan tusukan puluhan buah senjata dan yang lain segera melakukan perlawanan mati-matian.
Sin Lee maklum bahwa pendeta itu tentu lihai sekali, maka dia segera meninggalkan Giok Lan yang kini dibantu seratus orang anggota Beng-kauw dan sekali loncat tubuhnya melayang dan turun di depan pendeta itu.
Dia memandang penuh perhatian.
Bouw Sang Cinjin adalah seorang kakek tinggi besar berusia enam puluh tahun.
Tubuhnya kekar dan mukanya hitam, jubahnya masih menunjukkan bahwa dia bekas Lama Jubah Merah.
Jubah merahnya lebar dan tangannya memegang sebatang tongkat kepala naga yang nampaknya berat.
Bouw Sang Cinjin juga terkejut setengah mati melihat betapa anak buah Beng-kauw semua telah memberontak.
Tahulah dia bahwa dua orang muda liha itu tentu telah berhasil membujuk semua anggota Beng-kauw untuk memberontak, maka marahnya makin membakar.
"Keparat, siapa engkau berani menentang Bouw Sang Cinjin?"
Teriaknya sambil memandang Sin Lee dengan matanya yang bundar besar.
"Namaku Liu Sin Lee dan adikku itu bernama Souw Giok Lan. Kami sengaja datang untuk membebaskan Beng-kauw dari kekuasaanmu yang tidak sah! Bouw Sang Cinjin, sebaiknya engkau cepat pergi meninggalkan Beng-kauw dan jangan mengganggunya lagi."
"Engkau sudah bosan hidup!"
Bentak kakek itu dan dia mengeluarkan suara mengaum seperti harimau.
Sin Lee terkejut karena auman itu mempunyai daya serang yang amat kuat, membuat jantungnya tergetar.
Bahkan banyak anggota Beng-kauw terhuyung mendengar suara itu.
Sin Lee mengerahkan sinkangnya untuk melawan suara itu.
Melihat betapa lawannya yang masih muda itu tidak roboh oleh serangan suaranya yang serangannya itu ditujukan kepadanya, Bouw Sang Cinjin menjadi penasaran sekali.
"Heiiittt...!"
Dia membentak dan tongkat naganya menyambar dahsyat, mengeluarkan angin dan suara mengaung.
Namun Sin Lee sudah siap.
Pemuda ini menggunakan keringanan tubuhnya untuk meloncat dan menghindar dari sambaran tongkat, kemudian secepat kilat tubuhnya membalik dan membalas dengan tusukan pedangnya.
"Tranggg...!"
Tongkat naga itu menangkis pedang.
Nampak bunga api berhamburan dan keduanya terkejut karena ternyata senjata mereka terpental ketika bertemu dengan senjata lawan.
Segera terjadi perkelahian yang seru di antara mereka.
Bouw Sang Cinjin terkejut.
Selama hidupnya belum pernah dia menemui lawan semuda ini akan tetapi memiliki ilmu kepandaian selihai ini.
Sebaliknya Sin Lee juga maklum bahwa andaikata dia belum menerima gemblengan dari Ciu-sian Lo-kai selama tiga tahun, tentu dia akan kalah oleh pendeta yang tinggi besar itu.
Akan tetapi dalam gebrakan-gebrakan pertama Sin Lee tidak mampu menahan gelombang serangan yang dahsyat sehingga terpaksa dia main mundur, menangkis atau mengelak.
Setelah dia dapat mengenal sifat serangan lawan, barulah dia dapat membalas dan terjadilah saling serang yang amat seru.
Sementara itu, anak buah atau murid Bouw Sang Cinjin yang tinggal delapan belas orang itu, melawan mati-matian atas pengeroyokan anggota Beng-kauw yang jauh lebih banyak jumlahnya itu.
Karena para murid Bouw Sang Cinjin itu memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi, maka banyak juga anggota Beng-kauw yang roboh disambar senjata mereka.
Akan tetapi di situ terdapat Giok Lan yang mengamuk hebat.
Amukan gadis ini mendorong semangat para anggota Beng-kauw sehingga mereka semakin nekat.
Akhirnya delapan belas orang murid Bouw Sang Cinjin itu roboh bergelimpangan, yang enam orang roboh oleh pedang di tangan Giok Lan dan selebihnya roboh oleh pengeroyokan para anggota Beng-kauw.
Tak seorangpun dari dua puluh empat murid Bouw Sang Cinjin itu lolos dari maut.
Mereka tewas dengan tubuh hancur karena amukan para anggota Beng-kauw yang selama ini ditekan oleh kekejaman mereka.
Melihat Sin Lee masih bertanding seru melawan seorang kakek tinggi besar, Giok Lan menjadi marah dan segera ia meloncat dan membantu kakak angkatnya.
"Jahanam busuk, kau layak mampus!"
Bentak Giok Lan dan ketika pedangnya menyambar dengan tusukan ke arah leher Bouw Sang Cinjin, kakek itu terkejut bukan main.
Lehernya nyaris tertusuk dan terpaksa dia melempar tubuhnya ke belakang, lalu bergulingan menjauh.
Dari gerakan tadi saja tahulah dia bahwa gadis itupun lihai sekali.
Apa lagi melihat semua anak buahnya telah roboh, hatinya menjadi jerih.
Kalau para anggota Beng-kauw itu ikut mengeroyok, bagaimana mungkin dia dapat meloloskan diri.
Dia mengambil sesuatu dari saku jubahnya dan melemparkan ke depan.
Terdengar ledakan dan nampak asap mengepul tebal.
Sin Lee memegang tangan Giok Lan dan menariknya.
Mereka berdua melompat jauh ke belakang sambil berjungkir balik menghindarkan diri dari asap karena mereka khawatir kalau asap itu beracun.
Juga para anggota Beng-kauw mengundurkan diri.
Mereka semua tidak asing dengan senjata peledak ini karena Beng-kauw sendiri juga memiliki senjata seperti itu.
Akan tetapi mereka tidak tahu apakah asap itu beracun atau tidak.
Ketika asap menipis kembali, ternyata Bouw Sang Cinjin telah lenyap.
Kiranya serangan itu hanya untuk melarikan diri saja.
Orang-orang Beng-kauw bersorak gembira ketika Bouw Sang Cinjin melarikan diri dan dua losin muridnya telah tewas.
Dipimpin oleh Kam Tiong dan Thio Kun, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap Giok Lan dan Sin Lee.
Semua anggota Beng-kauw sudah mendengar bahwa gadis perkasa itu adalah puteri dari Souw Kain yang mereka kenal sebagai tokoh yang gagah perkasa dan adil.
"Atas nama seluruh anggota Beng-kauw, kami menghaturkan terima kasih kepada Taihiap Liu Sin Lee dan Lihiap Souw Giok Lan. Dan kami semua mengulang permohonan kami agar Lihiap sudi memimpin kami dan menegakkan kembali Beng-kauw.
"kata Kam Tiong.
"Urusan itu kita bicarakan di dalam dan sekarang aku minta agar semua mayat ini diurus dengan baik, dan yang luka dirawat."
Kata Giok Lan.
Kam Tiong menaati perintah ini.
Setelah menyuruh Thio Kun mengatur semua tugas membersihkan tempat pertempuran itu dari mayat yang malang melintang.
Kam Tiong mempersilakan Giok Lan dan Sin Lee untuk masuk ke bangungan induk yang tadinya menjadi tempat tinggal Bouw Sang Cinjin.
Di tempat ini, juga di rumah-rumah yang ditempati para murid kakek itu, Giok Lan menjumpai banyak gadis yang diculik dan disekap.
Ia segera membebaskan para wanita yang sengsara itu, menyuruh mereka pulang ke dusun masing-masing dan membekali mereka dengan emas yang banyak terdapat di rumah induk itu.
Ternyata Bouw Sang Cinjin dan para muridnya telah mengumpulkan banyak harta dan wanita.
Atas perintah Giok Lan, semua mayat dikubur baik-baik, biarpun mayat para murid Bouw Sang Cinjin juga diurus dengan baik.
Setelah itu, atas desakan Sin Lee, gadis perkasa itu menerima bujukan para tokoh Beng-kauw untuk memimpin Beng-kauw dan menjadi ketuanya.
Ia menemukan pula banyak kitab Beng-kauw di perpustakaan perkumpulan itu sehingga kelak ia akan dapat mempelajari banyak hal tentang Beng-kauw juga mempelajari ilmu-ilmunya yang terdapat di dalam kitab-kitab pelajaran ilmu silat Beng-kauw.
Beberapa hari kemudian, dilakukan upacara pengangkatan ketua kepada Giok Lan.
Meja sembahyang perkumpulan itu penuh dengan sarana sembahyang.
Lilin-lilin besar dinyalakan dan Giok Lan bersembahyang di depan meja sembahyang mengucapkan sumpah kepada para ketua Beng-kauw yang telah tiada, untuk memimpin Beng-kauw dan membawa Beng-kauw kepada kejayaan.
Semua itu dilakukan dengan penuh khidmat, disaksikan pula oleh Sin Lee dan setelah selesai upacara itu, di depan semua tokoh dan para anggota, Giok Lan memberi pengumuman pertama.
"Mulai sekarang, kami memberi tambahan nama kepada perkumpuan kita, yaitu menjadi Beng-kauw-pang. Kami telah resmi menjadi Pangcu (ketua) dari Beng-kauw pang dan untuk urusan agama, harus diangkat seorang kauwcu (pemimpin agama) yang ahli dalam hal Agama Terang."
Akhirnya dipilih seorang kakek bernama Can Kui To menjadi kauwcu, karena memang biasanya kakek Can ini yang memimpin semua upacara yang diadakan oleh ketua Beng-kauw pada waktu lalu dan dia mengerti benar tentang Beng-kauw.
Setelah memeriksa buku catatan, tahulah Giok Lan bahwa Beng-kauw bukanlah perkumpulan kecil, melainkan perkumpulan yang besar, memiliki banyak cabang di kota-kota besar dan kalau dihitung semua, seluruh jumlah anggota Beng-kauw ada beberapa ribu orang!
Ia merencanakan untuk mengundang semua ketua cabang, untuk diajak berembuk demi kemajuan Beng-kauw.
Sin Lee merasa girang sekali.
Kiranya Giok Lan memang cocok untuk menjadi ketua dan gadis itu demikian penuh semangat untuk membawa Beng-kauw ke arah kemajuan.
Dia percaya bahwa Sumoinya atau adik angkatnya itu akan menemukan kebahagiaan dalam kedudukannya yang baru itu, tidak lagi membutuhkan dia sebagai pendamping.
Oleh karena itu, setelah semua beres, dia lalu minta diri kepada adik angkatnya.
"Lan moi, engkau menghadapi tugas yang banyak dan berat namun mengasyikkan. Ku harap saja engkau akan dapat melaksanakan tugas dengan baik, membawa Beng-kauw ke jalan benar. Kalau engkau berhasil, maka jasamu akan besar sekali dan tidak percuma engkau menjadi murid Suhu selama ini. Aku sekarang hendak melanjutkan perjalanan ke kota raja."
Giok Lan terkejut.
Dalam kesibukannya tak pernah ia membayangkan akan berpisah dengan kakak angkatnya.
Diam-diam ia telah jatuh cinta kepada Suhengnya, bukan cinta seorang adik kepada kakak, melainkan cinta seorang wanita kepada pria.
Wajah Giok Lan agak pucat ketika ia memandang kepada pemuda itu.
"Lee Koko kau... kau... hendak pergi? Meninggalkan aku seorang diri?"
Tak terasa lagi begitu mengucapkan kata-kata ini, kedua matanya menjadi basah air mata.
"Aih, Lan moi, kenapa engkau menitikkan air mata? Cepat hapus air matamu. Ingat, engkau seorang Pangcu, tidak boleh selemah itu! Dan kenapa kau bilang meninggalkan engkau seorang diri? Engkau tidak serang diri lagi, Lan moi. Engkau ketua dari perkumpulan yang memiliki anggota ribuan orang!"
Giok Lan menghapus air matanya, akan tetapi wajahnya masih pucat dan matanya membayangkan kesedihan besar.
"Akan tetapi, Lee-ko, aku-aku...akan merasa kehilangan, kesepian sekali. Apakah engkau tidak bisa tinggal di sini bersama aku, Lee-ko? Setidaknya untuk beberapa bulan saja. Jangan tinggalkan aku begini tiba-tiba, aku menjadi bingung dan kehilangan pegangan, Lee-ko. Selama ini, engkaulah orang tempat aku bergantung, berharap dan bersandar...."
Sin Lee tersenyum.
"Ah, engkau merendahkan kemampuanmu sendiri, adikku. Kulihat engkau sudah matang dan trampil ketika memimpin para anggota Beng-kauw. Aku harus pergi ke kota raja. Jangan khawatir, lain waktu aku tentu akan berkunjung ke sini."
"Benarkah, Koko? Engkau akan segera kembali ke sini. Ingatlah selalu, aku senantiasa mengharapkan kedatanganmu, merindukanmu..."
Giok Lan hampir menangis lagi. Sin Lee melepas setangkai bunga merah dari lubang kancingnya dan memberikan itu kepada Giok Lan.
"Engkau adikku yang baik tentu saja aku akan datang berkunjung."
Giok Lan menerima bunga itu dan menekan bunga itu pada dadanya, matanya memandang dengan sayu.
"Engkau tidak akan melupakan aku, Koko?"
"Ihh, mana bisa aku melupakan adikku yang baik dan manis? Selamat tinggal, Lan-moi. Aku sudah berkemas sejak pagi tadi tinggal berangkat saja."
"Selamat jalan, Koko..."
Suara gadis itu tergetar dan ia merasa nelangsa sekali.
Para tokoh Beng-kauw berdatangan dan menghaturkan selamat jalan kepada Sin Lee.
Mereka menganggap pemuda yang menjadi kakak angkat ketua mereka ini sebagai bintang penolong.
Giok Lan sendiri mengantar keberangkatan Sin Lee sampai jauh di luar perkampungan Beng-kauw.
Kini tidak ada lagi jebakan atau perangkap dipasang di luar perkampungan.
Semua disuruh buang dan hancurkan oleh Giok Lan.
"Sudah cukup Lan-moi. Jangan mengantar lebih jauh lagi. Kembalilah dan selamat tinggal."
Melihat gadis itu berdiri lemas dan air matanya kembali bercucuran, Sin Lee menjadi terharu.
"Jangan menangis, adikku..."
Giok Lan lari menghampiri dan merangkul pemuda itu menangis di atas dada pemuda itu.
"Koko... aku... aku akan kesepian..."
Sin Lee merasa terharu. Diangkatnya wajah yang basah air mata itu dan dikecupnya dahi yang halus itu.
"Adikku, jangan begini. Bagaimana kalau ada anggota Beng-kauw melihat ketuanya selemah ini dan menangis seperti anak kecil. Engkau harus belajar kuat, adikku."
"Koko....!"
Dengan lembut Sin Lee melepaskan rangkulannya dan setelah mengucap.
"Selamat tinggal!"
Dia lalu menggunakan ilmu meringankan tubuh, berkelebat lenyap dari situ.
"Koko....!"
Giok Lan mengeluh dan diciuminya setangkai bunga merah pemberian Sin Lee tadi.
"Aku cinta padanya... ah, aku cinta padanya...."
Bisiknya sambil mengusap air matanya dan perlahan ia memutar (Lanjut ke
Jilid 05) Pendekar Bunga Merah (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 tubuh, kembali ke perkampungan Beng-kauw.
Hanya orang-orang yang pernah hidup dalam kemiskinan sajalah yang pernah mengalami dan tahu apa artinya kelaparan.
Orang yang keadaan hidupnya berkecukupan tentu tidak tahu bagaimana rasanya kalau anak menangis kelaparan, isteri merengek membutuhkan sandang dan pangan.
Orang berkecukupan akan menganggap si miskin itu memang malas dan sebagainya.
Pada hal, para penghuni dusun Sia-san bukanlah orang-orang malas.
Sama sekali tidak.
Mereka adalah orang-orang yang sejak kecil bekerja keras untuk sekedar dapat mengisi perut agar tidak kelaparan dan menutupi tubuh agar tidak telanjang.
Bercocok tanam, berburu binatang, pekerjaan apa saja mereka lakukan demi memperoleh nafkah.
Akan tetapi tahun-tahun belakangan ini, kemiskinan dan kelaparan melanda daerah Sia-san.
Bermacam malapetaka dan bencana melanda dusun Sia-san.
Kalau musim hujan, banjir menghancurkan dan menyapu bersih segala milik penghuni dusun.
Rumah dan isinya, sawah ladang menjadi rusak.
Kalau musim kering tiba, tanaman di sawah ladang diserbu belalang.
Apa lagi untuk manusia, untung binatang saja kekurangan makanan sehingga hasil buruanpun langka.
Kemiskinan dapat membuat orang tidak segan melakukan apa saja.
Berbagai perbuatan jahat lahir dari kemiskinan.
Di dusun itu, banyak penghuni dusun melakukan hal-hal yang nampak kejam.
Mereka hanya menghendaki anak laki-laki karena bagi mereka, anak laki-laki merupakan tambahan tenaga untuk membantu mencari nafkah.
Sebaliknya, anak perempuan hanya akan menjadi beban sampai dewasa, dan akhinya setelah dewasa dibawa pergi orang dan sia-sialah semua "Modal"
Yang ditanam untuk memeliharanya sejak lahir.
Oleh karena itu, lahirnya seorang anak perempuan hanya dianggap sebagai bertambahnya sebuah mulut lain untuk diberi makan.
Seringkali terjadi, anak perempuan yang baru lahir itu di bunuh secara diam-diam.
Dan kalau orang tuanya tidak tega melakukan ini, setelah anak perempuan itu berusia sepuluh atau belasan tahun, anak itu akan dijual seperti ternak!
Terutama sekali dalam tahun-tahun terakhir ini, penghuni dusun Sia-san merasa tertekan hebat sekali.
Dengan adanya petugas pemerintah yang berkeliaran ke dusun-dusun untuk melaksanakan perintah kerja paksa membangun Tembok Besar kepada rakyat, dusun itu merasa terancam pula.
Baru untuk makan pakaian saja sudah sulit, ditambah lagi ancaman para pelaksana perintah kerja paksa itu.
Bila malam tiba, dari pondok-pondok para penghuni dusun yang butut seperti gubuk itu membubung tinggi ratap tangis mereka.
Pada suatu pagi, dusun itu nampak ramai.
Ada sebuah kereta besar memasuki dusun dan penghuni dusun yang sudah tahu si apa yang datang berbondong mengantarkan anak perempuang mereka yang berusia sepuluh tahun lebih menghampiri kereta itu.
Pemilik kereta itu adalah seorang yang bernama Ji Houw, seorang laki-laki setengah tua yang pekerjaannya membeli gadis-gadis cilik dari dusun-dusun kelaparan itu.
Gadis-gadis yang berkulit bersih dan berwajah manis dibelinya de ngan harga murah, kemudian gadis-gadis itu dibawanya ke kota dan setelah tiba di sana, diberi pakaian yang bagus, dan wajahnya dirias, maka lakulah gadis-gadis cilik itu dengan harga mahal.
Kadang puluhan kali lebih mahal dari pada harga belinya.
Para pembeli di kota adalah hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan hidung belang, tentu saja.
Ji Houw selalu mendatangi dusun-dusun yang sedang dilanda kelaparan karena dalam keadaan terhimpit, kelaparan itu, gadis-gadis cilik akan dijual lebih murah oleh orang tuanya.
Dalam peristiwa itu terdengarlah tangis gadis-gadis cilik yang dipaksa berpisah dari keluarganya, diseling hardik orang-orang tua mereka.
Ketika jual beli gadis-gadis cilik tengah berlangsung, muncullah seoranng laki-laki berusia lima puluhan tahun bersama seorang gadis berusia sembilan belas tahun.
Laki-laki itu bertubuh sedang dan bersikap gagah, mengenakan pakaian ringkas seperti pakaian orang kang-ouw.
Adapun gadis yang berjalan di sampingnya, cantik manis dengan mata tajam, pakaiannya juga ringkas dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Ketika mereka yang sedang lewat itu tiba di tengah dusun dan melihat kereta besar, dirubung banyak orang dan nampak gadis-gadis cilik menangis dihardik orang-orang tua mereka, Ayah dan anak ini menjadi tertarik sekali.
Mereka segera menghampiri tempat itu.
Mereka melihat seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun dengan pakaian mewah duduk nongkrong di atas bangku kereta dan di belakangnya berdiri sepuluh orang pengawalnya yang berlagak jagoan-jagoan tukang pukul.
Orang-orang dusun yang merubung kereta menawarkan gadis-gadis mereka dan ada pula yang sudah menerima pembayaran dan gadis-gadis cilik anak-anak mereka dipaksa naik ke dalam kereta.
"Hei, apa yang terjadi di sini?"
Tanya laki-laki setengah tua itu ketika melihat gadis-gadis cilik itu menangis ketiak dipaksa naik ke atas kereta sedangkan yang masih berada di bawah nampak ketakutan.
Dua orang tukang pukul segera maju menghadapi laki-laki setengah tua itu.
"Mau apa kau ikut campur? Majikan kami sedang menolong penghuni dusun yang kelaparan, membagi-bagikan uang dan rejeki, tahu?"
"Hayo pergi atau... kau mau menjual pula gadis itu?"
Kata seorang tukang pukul lain sambil menuding ke arah gadis di sebelah laki-laki setengah tua itu. Laki-laki setengah tua itu mengerutkan alisnya dan berkata dengan marah.
"Sobat, jangan main-main. Aku adalah Gan Kong, atau yang biasa disebut Gan Kauwsu (guru silat Gan) dan ini adalah putriku. Kami hanya ingin bertanya apa yang terjadi di sini, dan mengapa gadis-gadis cilik itu dipaksa naik ke kereta dan menangis."
Orang yang berpakaian mewah itu lalu turun dari keretanya dan memandang kepada Gan Kong dengan alis berkerut.
"Eh, guru silat kampungan, jangan engkau mencampuri urusan kami. Kami menolong saudara-saudara penduduk dusun ini yang menderita kelaparan dan hendak mencarikan pekerjaan untuk puteri-puteri mereka di kota. Jangan engkau ikut campur karena tidak ada sangkut pautnya dengan kalian. Pergilah!"
"Hemm, kami sudah mendengar dari beberapa dusun tentang kau dan pekerjaanmu yang busuk! Engkau membeli gadis-gadis cilik ini untuk kau jual lagi di kota dengan harga tinggi, bukan? Engkau menipu orang-orang dusun yang tidak tahu, dan memaksa anak-anak ini untuk menjual diri, engkau manusia terkutuk!"
Kini gadis puteri guru silat itu yang bernama Gan Lian Si, berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arah Ji Houw.
Ji Houw yang bertubuh tinggi kurus bermata sipit dan bermuka kuning tiu membelalakkan matanya namun tetap saja kelihatan tipis dan sipit.
Dia marah sekali.
"Engkau lancang mulut!"
Lalu dia menoleh kepada sepuluh orang tukang pukulnya.
"Beri hajaran kepada anak dan Ayah yang lancang ini!"
Sepuluh orang tukang pukul itu menyingsingkan lengan baju dan dengan langkah perlahan penuh ancaman dari muka mereka yang bengis mereka menghampiri Gan Lian Si dan Ayahnya, Gan Kong.
Sepuluh orang tukang pukul itu memandang rendah dan mereka hanya bermaksud untuk menghajar dan tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk mempermainkan gadis cantik itu, Maka mereka semua maju dengan tangan kosong saja.
Dua orang tukang pukul, yaitu pimpinan mereka, menyeringai dan menghampiri Lian Si, lalu sambil membentak mereka menubruk, dengan maksud untuk menyergap dan mendekap gadis cantik itu.
Akan tetapi, terkaman mereka hanya mengenai tempat kosong karena gadis itu dengan lincahnya sudah melompat melampaui kepala kedua orang penyerangnya.
Dua orang tukang pukul itu terkejut dan cepat membalikkkan tubuh untuk menghadapi gadis yang sudah berada di belakang mereka.
Akan tetapi baru saja mereka membalikkan tubuh dan belum sempat menyerang, dua buah tangan yang halus kecil namun mengandung tenaga yang hebat telah menghantam dada mereka.
"Buk..., buk...!"
Dada mereka kena dihantam tangan yang terbuka itu membuat mereka terjengkang dan mereka terbatuk-batuk seperti orang tertelan tulang.
Mereka menjadi marah setelah batuk mereka mereda, dan bangkit kembali sambil menghunus golok mereka!
Delapan orang tukang pukul yang lain juga maju mengepung, kini mereka semua mencabut golok.
Gadis itu mencabut pedangnya dan siap mengamuk sementara Ayahnya yang sejak tadi sudah memegang tongkat cabang pohon yang dipungutnya di jalan, maju mengayun senjatanya pula.
Terjadilah pengeroyokan terhadap Ayah dan anak itu.
Akan tetapi ternyata mereka terlalu tangguh untuk sepuluh orang tukang pukul.
Para tukang pukul bahkan dihajar babak belur oleh tongkat si guru silat.
Lian Si juga merobohkan empat orang, dengan tendangan-tendangan kakinya dan goresan pedangnya.
Akan tetapi seperti juga Ayahnya, ia tidak berniat membunuh mereka maka pedangnya hanya mendatangkan luka ringan saja.
Melihat ini, Ji Houw terkejut dan ketakutan.
Dia melompat ke tempat kusir kereta dan membantu kusir hendak mengaburkan kereta akan tetapi sekali melompapt Lian Si sudah berada di dekatnya dan menendang roboh Ji Houw dan kusirnya ke bawah kereta lalu gadis itu memegang kendali menghentikan kuda yang akan mengaburkan kereta.
Setelah itu ia meloncat turun dan menodongkan pedangnya ke arah leher Ji Houw yang menjadi ketakutan.
"Lihiap... ampunkan saya..!"
Katanya meratap sementara para tukang pukul yang sudah dihajar babak belur itu akhirnya berlutut di belakang majikan mereka.
"Lian Si, lepaskan dia."
Kata si guru silat.
"Nah, harap kalian menyadari pekerjaan kalian yang sesat dan biarlah sekali ini mejadi peringatan bagi kalian. Lain kali kami tidak akan bermurah hati dan tidak akan segan membunuh kalian. Hayo suruh turun semua anak perempuan itu lalu pergi dari sini. Cepat!"
"Baik, baik..."
Ji Houw memberi hormat dan Lian Si lalu memasuki kereta, menyuruh turun semua anak perempuan yang berhenti menangis dan dengan girang kembali ke orang tua masing-masing.
Setelah semua gadis cilik itu turun, Ji Houw lalu menaiki keretanya dan para tukang pukulnya berlari-lari di belakang kereta, terengah-engah.
Akan tetapi ketika Gan Kong dan puterinya menghadapi para penduduk dusun itu, mereka menghadapi wajah-wajah yang nampaknya tidak puas dan marah.
"Hemm, harap kalian undang kepala dusun Sia-san ke sini, kami mau bicara dengannya."
Seorang berlari-larian melapor dan tak lama kemudian kepala dusun datang bersama beberapa orang pembantunya. Kepala dusun ini bertubuh kurus dan mukanya pucat.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa ada ribut-ribut? Kepala dusun itu bertanya dan Gan Kong segera menghadapinya.
"Chung-cu (lurah), apakah engkau tidak mengetahui bahwa gadis-gadis cilik di dusunmu ini dijual oleh orang tua m ereka dengan murah seperti hewan ternak untuk diperjualbelikan orang? Kenapa engkau sebagai kepala dusun di sini membiarkan saja perbuatan yang biadab ini berlangsung?"
Tegur Gan Kong. Sang lurah menghela napas panjang.
"Kamipun mengetahui akan peristiwa itu. Akan tetapi apa dayaku? Mereka ini miskin, dusun dilanda kelaparan dan kesengsaraan karena sawah ladang rusak oleh musim kering dan hama. Dan anak-anak perempuan ini tidak dapat membantu apa-apa, maka dijual untuk sekedar penyambung nyawa keluarga mereka."
"Tapi anak-anak itu menderita penghinaan, seperti binatang saja!"
Lian Si berseru penasaran.
"Apa boleh buat, tidak ada lain jalan. Biarlah anak-anak itu membalas budi orang tua mereka dengan berkorban diri akan tetapi, untuk menyelamatkan keluarga dari bahaya kelaparan."
"Itu salah sama sekal! Keadaan begini haruslah diubah, dan paman sebagai kepala dusun harus memberi pengertian, bukan membiarkan penduduk menjadi korban pedagang anak perempuan seperti orang tadi!"
Kata Lian Si penuh semangat. Kini penduduk dusun sudah berkumpul semua dan Lian Si lalu bicara kepada mereka dengan suara lantang penuh semangat.
"Para paman dan bibi sekalian, kenapa tega kepada anak perempuan sendiri, menjualnya seperti babi dan membiarkan mereka disembelih orang-orang kota? Tidak kasihankah kalian kepada anak-anak sendiri yang merintih dan menangis ketika dipermainkan orang-orang itu, diperjualbelikan bahkan kemudian banyak dijadikan pelacur?"
"Akan tetapi Ji Wan-gwe (Hartawan Ji) berjanji akan mencarikan pekerjaan bagi anak-anak kami,"
Seorang diantara mereka menjawab.
"Mencarikan pekerjaan apa bagi seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun? Dan mengapa dia selalu memilih anak-anak perempuan yang manis dan berkulit bersih? Kalian dibohongi. Anak-anak itu diperjual belikan seperti binatang, kalau kebetulan bernasih baik mereka akan dijadikan selir seorang hartawan, atau bangsawan, dan inipun belum menentukan nasib mereka. Kebanyakan mereka diperjualbelikan dan kemudian yang terakhir mereka terlempar ke dalam rumah pelesir dijadikan pelacur. Mereka diperas seperti binatang dan hidup mereka penuh derita yang tak terlukiskan. Sebetulnya, pandangan kalian terhadap anak perempuan keliru. Kenapa anak perempuan kalian remehkan, tidak dihargai? Perempuan juga manusia, apa bedanya dengan laki-laki? Kalau sejak kecil perempuan diremehkan, dan dididik seperti kepada anak laki-laki, tentu mereka dapat bekerja seperti anak laki-laki sehingga tidak merugikan keluarganya."
Para penghuni dusun tercengang mendengar ucapan gadis penuh semangat itu, dan sebagian besar dari mereka mulai menyadari bahwa dengan menjual anak perempuan mereka itu, mereka telah menjerumuskan mereka ke dalam lembah penghinaan dan kesengsaraan.
"Ucapan Lihiap memang benar,"
Kata kepala dusun.
"Kita semua perlu mengubah keadaan ini. Kita harus berjuang untuk hidup bukan mencari enaknya saja, bukan mencari jalan keluar yang mudah dengan mengorbankan anak-anak kita sendiri."
Selagi semua orang saling bicara sendiri menanggapi ucapan Gan Lian Si dan kepala dusun, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh datangnya kereta besar milih Ji Houw tadi.
Ternyata orang itu datang kembali dengan sepuluh orang anak buahnya, dan kini bersama mereka datang pula seorang pemuda tampan dan gagah.
Pemuda itu bukan lain adalah Sin Lee.
Seperti diceritakan di bagian depan, Sin Lee meninggalkan Beng-kauw menuju ke kota raja.
Dalam perjalanan itu, ketika tiba di tempat sunyi, dia melihat sebuah kereta dijalankan, perlahan, diikuti oleh sepuluh orang yang babak belur dan nampak ketakutan.
Dia menjadi tertarik karena tentu telah terjadi suatu perkelahian dan orang-orang itu agaknya kalah.
Karena ingin tahu, dia menghadang di tengah jalan menghentikan kereta.
Pimpinan tukang pukul yang masih murung dan marah karena telah mengalami penghinaan di dusun oleh guru silat dan puterinya, merasa dongkol sekali melihat kereta dihentikan dan dihadang oleh seorang pemuda.
Dia lalu menghampiri Sin Lee dan dengan mata berang dia bertanya.
"Orang muda, mau apa engkau menghentikan kereta kami?"
"Maaf, paman. Melihat keadaan paman sekalian babak belur dan ketakutan, aku menjadi tertarik sekali. Apakah yan telah terjadi dan siapa yang membuat paman babak belur seperti ini?"
Pimpinan tukang pukul itu merasa diejek dan dia menjadi marah sekali. Akan tetapi sebelum dia bertindak sesuatu, dari dalam kereta dia ditegur oleh Ji Houw.
"Jangan bersikap kasar!"
Kemudia Ji Houw keluar dari kereta dan melihat pemuda itu membawa pedang di punggung, dia lalu memberi hormat.
"Taihiap, kami mengalami hal yang membuat hati penasaran sekali. Kami adalah orang-orang yang merasa kasihan kepada penghuni dusun Sia-san di sana itu, akan tetapi ketika sedang membagi-bagikan uang kepada mereka untuk mengatasi bahaya kelaparan yang sedang melanda dusun itu, mendadak muncul seorang iblis wanita dan Ayahnya yang tanpa sebab hendak membunuh kami. Kami melakukan perlawanan akan tetapi dara iblis itu lihai sekali. Untung kami masih dapat melarikan diri. Mohon bantuan Taihiap untuk mengusir iblis betina dari dusun itu, karena dusun itu terancam."
Sambil bicara, Ji Houw menatap setangkai bunga merah di dada pemuda itu dan bertanya-tanya dalam hati apakah pemuda yang memakai bunga di bajunya ini sanggup menandingi Ayah dan anak yang lihai itu.
Sin Lee mengerutkan alisnya.
"Apa maksud wanita itu menyerang kalian?"
Dia merasa heran karena tidak diterangkan alasan perkelahian itu.
"Entah. Mungkin dia melihat kantong uang kami dan berniat untuk merampok."
"Hemm, kalau begitu, biar aku melihat ke sana. Kalau memang ada iblis mengacau, sudah menjadi kewajibanku untuk mengusirnya. Demikianlah, dengan langkah lebar Sin Lee memasuki dusun Sia-san diikuti oleh Ji Houw dalam keretanya dan sepuluh orang tukang pukulnya yang sudah babak belur. Semua orang di dusun itu terkejut melihat Ji Houw kembali bersama para tukang pukulnya dan melihat ini, Lian Si dan Ayahnya segera maju ke depan menyambut untuk melindungi orang-orang dusun.
"Hemm, kalian masih berani datang lagi? Apakah hajaran tadi belum cukup dan kalian m inta dihajar sampai mampus?"
Bentak Lin Si galak.
Sementara itu, Sin Lee tertegun melihat "iblis betina!
itu.
Sama sekali bukan seperti iblis, melainkan seorang gadis yang manis dan gagah, dan orang setengah tua itupun nampak gagah, tidak pantas menjadi Ayah iblis betina.
Akan tetapi melihat sikap galak nona itu, Sin Lee melangkah maju.
"Nona, apakah engkau yang disebut iblis betina dan yang memukuli semua orang ini?"
Tanya Sin Lee. Mata yang indah tajam itu terbelalak.
"Iblis betina? Keparat, jadi jagoan mereka ya? Majulah dan hadapi pedangku!"
Gadis itu mencabut pedangnya dan pada saat itu, orang-orang dusun yang digerakkan oleh lurah mereka sudah maju membawa berbagai senjata dan berteriak-teriak menyerbu ke arah Sin Lee, kereta itu dan sepuluh orang pengawal!
Melihat ini, Ji Houw segera memutar kereta dan kabur dari situ diikuti para tukang pukulnya membiarkan Sin Lee seorang diri menghadapi amukan orang-orang dusun.
Sin Lee terpaksa berlompatan ke sana-sini dan dia merasa heran bukan main.
Kalau gadis ini seorang iblis betina yang mengacau dusun, bagaimana mungkin kini orang-orang dusun malah membelanya?
Ada sesuatu yabg salah besar di sini.
Tubuhnya melompat ke atas dan tahu-tahu dia sudah hinggap di cabang sebatang pohon, mengejutkan semua orang yang melihat keringanan tubuh seperti terbang ini.
"Saudara-saudara, tahan dulu!"
Teriak Sin Lee.
"Aku mendengar bahwa ada iblis betina dan Ayahnya mengacau di dusun ini, maka aku datang hendak menolong kalian. Akan tetapi kenapa kalian malah hendak mengeroyok aku?"
Kini Gan Kong yang maju mendekati pohon. Dia tahu dari gin-kang yang diperlihatkan Sin Lee bahwa pemuda itu sungguh lihai, maka dia bertanya dengan dengan hati-hati.
"Sobat muda, apakah engkau tukang pukul dari hartawan Ji Houw yang berkereta tadi?"
"Paman, aku hanya bertemu di jalan dengan dia dan kawan-kawannya dan dari dialah aku mendengar bahwa dusun ini dikacau oleh seorang... iblis betina bersama Ayahnya."
Dia melirik ke arah gadis itu yang memandang kepadanya dengan mata marah sekali. Gan Kong berkata kepada lurah yang tinggi kurus itu.
"Chung-cu, agaknya ini menjadi tugasmu untuk memberi penjelasan kepada sobat muda itu."
"Orang muda, turunlah dan orang-orangku tidak akan mengeroyok kalau engkau bukan tukang pukul hartawan itu, dan marilah kau dengarkan penjelasanku,"
Kata lurah. Sin Lee memang tidak takut dikeroyok. Dia hanya menghindar untuk dapat bicara tadi. Kini tubuhnya melayang turun dan tanpa menimbulkan suara dia sudah turun di depan lurah itu.
"Jelaskanlah, paman,"
Katanya.
"Begini, orang muda. Gan-Kauwsu dan nona Gan ini sama sekali bukan pengacau. Ketika mereka memasuki dusun kami, mereka melihat Ji Wan-gwe sedang membeli anak-anak perempuan dari penduduk yang menderita kemiskinan. Untuk menolong keluarga lain dari bahaya kelaparan terpaksa banyak warga dusun yang menjual anak perempuannya kepada Ji Wan-gwe. Mendengar keterangan ini, Gan-Kauwsu dan puterinya menasehati agar kami membuang kebiasaan menjual anak perempuan itu. Hal ini membuat Ji Wan-gwe marah dan dia mengerahkan sepuluh orang tukang pukulnya untuk mengeroyok Gan-Kauwsu dan puterinya. Ayah dan anak ini menghajar mereka sehingga mereka babak belur dan melarikan diri. Kemudia setelah mendapat nasihat dari Gan-Lihiap ini dan Ayahnya, kami menyadari kesalahan kami. Karena itu, ketika engkau hendak memusuhi Gan-Kauwsu dan Gan-Lihiap, tentu saja kami membela mereka."
Sin Lee terkejut sekali dan mukanya merah karena tertipu. Dia telah ditiup oleh Ji Wan-gwe! "Keparat, kalau begitu Ji Wan-gwe itu yang perlu diberi hajaran!"
Dia lalu memberi hormat kepada Gan-Kauwsu dan puterinya.
"Paman dan nona, maafkan kebodohanku, dapat saja ditipu mereka."
"Enak saja engkau minta maaf! Engkau telah menghinaku, mengatakan aku iblis betina! Tak dapat aku membiarkan diri disebut iblis tana menjawab. Nah, cabutlah pedangmu, hendak kulihat sampai di mana kepandaian orang yang lancang mulut memaki aku iblis betina!"
Gadis itu mencabut pedangnya dan bersiap siaga memasang kuda-kuda.
Sin Lee menjadi serba salah.
Dia ditantang, akan tetapi dia berada di pihak salah.
Dia tadi telah memaki gadis itu sebagai iblis betina, tidak mengherankan kalau dia marah-marah.
"Nona, karena dibohongi orang dan aku percaya, maka aku tadi lancang dengan ucapanku. Harap nona suka memaafkan."
"Aku maafkan kalau engkau mau menyambut tantanganku. Kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu!"
Jawab Lian Si ketus. Sin Lee menghela napas panjang. Jawaban itu sama saja dengan dia harus melayaninya. Dia harus berani mempertanggung-jawabkan kesalahannya.
"Baiklah, nona. Akan tetapi semua saudara di sini menjadi saksi bahwa nona memaksa saya untuk mengadu kepandaian. Nah, saya sudah siap, nona!"
Dia mencabut pedang dari punggungnya dan berdiri di depan Lian Si dengan sikap menanti, tidak mau bergerak lebih dulu.
Sementara itu Gan Kong, guru silat itu memandang dengan hati tertarik sekali.
Tidak biasanya puterinya bersikap demikian galak apa lagi kalau pemuda itu sudah minta maaf mengakui kesalahannya.
Bagaimana juga, pemuda itu bermaksud membela orang-orang yang disangkanya telah diganggu orang jahat.
Tentu ada sesuatu di hati puterinya maka memaksa pemuda itu mengaju kepandaian dan ketika dia melihat dengan penuh perhatian keadaan pemuda itu, dia tersenyum girang.
Tak salah lagi.
Pemuda itu memang tampan menarik, maka agaknya hati puterinya telah tertarik dan kini puterinya ingin menguji sampai di mana tingkat kepandaian pemuda yang menarik hatinya itu!
Maka diapun mendiamkannya saja, maklum dari sikap pemuda itu bahwa agaknya pemuda seperti itu tidak akan melukai puterinya.
"Lihat pedang!"
Tiba-tiba Lian Si berseru nyaring dan pedangnya bergerak menyerang dengan tusukan ke arah tenggorokan Sin Lee.
Serangan itu cukup cepat dan gerakannya indah.
Itulah jurus Liu-seng-kan-goat (Bintang mengejar bulan).
Sin Lee menggerakkan pedangnya menangkis dari samping dengan pengerahan tenaga terbatas.
"Cringgg...!"
Bunga api berpijar ketika kedua pedang bertemu di udara.
Dari pertemuan pedang ini Sin Lee dapat mengukur tenaga lawannya, sebaliknya gadis itupun kegum ketika merasa betapa pedangnya terpental, tanda bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang kuat sekali.
Iapun mempercepat serangannya dan kini ia tidak ragu-ragu lagi, tidak takut kalau melukai pemuda itu setelah yakin bahwa imlu kepandaian pemuda itu dapat mengimbangi tingkatnya.
Kalau dia menghendaki, tentu Sin Lee akan dapat mengahkan Lian Si dalam waktu singkat saja, akan tetapi dia tidak ingin membikin malu atau menyinggung perasaan gadis yang sudah dimakinya sebagai iblis betina itu.
Maka, dia membatasi tenaganya dan lebih banyak mengalah, dengan mengelak atau menangkis dan hanya kadang saja membalas.
Akan tetapi sikap ini membuat Lian Si menjadi penasaran.
Ia tidak tahu apakah memang pemuda itu tidak mampu membalas atau memang dia tidak mau membalas.
Setelah lewat dua puluh jurus, gadis itu lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan pedangnya berkelebat dengan cepat, menyerang dengan jurus Lian-cu Sam-kiam.
Jurus ini amat cepat dan pedang itu melakukan tiga kali tikaman secara berantai.
Ke manapun lawan mengelak, akan dikejar oleh susulan tikaman berikutnya.
Sin Lee mengelak dari tikaman pertama, tikaman kedua ditangkisnya dan ketika untuk ketiga kalinya pedang itu menikam, dia miringkan tubuhnya dan ketika pedang meluncur di samping tubuhnya, tangan kirinya bergerak dan jari-jari tangak kirinya menjepit pedang itu.
Lian Si terkejut bukan main.
Dicobanya untuk menarik kembali pedangnya akan tetapi pedang itu seperti dijepit oleh jepitan baja yang amat kuat, sama sekali tidak mampu ia gerakkan.
Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangan kiri memukul dan ketika tangan kanan Sin Lee yang memegang pedang itu menangkisnya, ia mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik pedangnya.
Pada saat itu, Sin Lee tiba-tiba melepas jepitan tangannya dan tentu saja gadis itu seperti didorong keras oleh tenaga betotannya sendiri sehingga ia terhuyung ke belakang sampai tujuh langkah!
Karena penasaran Lian Si menggerakkan tangan kirinya dan sebuah senjata piauw (pisau terbang) menyambar ke arah Sin Lee.
Pemuda ini menangkap piauw itu dan ketika tangan kirinya bergerak, ada sinar merah menyambar dan hinggap di rambut kepala Lian Si.
Gadis itu terkejut bukan main.
Ia meloncat mundur dan meraba kepalanya.
Ternyata di sanggulnya telah menancap setangkai mawar merah!
Sementara itu, Sin Lee berseru.
"Selamat tinggal!"
Dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.
Gadis itu mejadi bengong, memegang setangkai bunga merah sambil termangu-mangu, sementara Ayahnya juga memandang kagum bukan main.
Melihat keadaan puterinya yang tertegun dan berdiri seperti patung memandang ke arah perginya Sin Lee, Gan-Kauwsu lalu berpamit kepada lurah dusun Sia-san.
Dia mengajak puterinya keluar dari dusun itu dan setelah tiba di luaur dusun dan melihat puterinya masih saja memegangi setangkai bunga merah tadi sambil melamu, Gan-Kauwsu tersenyum dan berkata.
"Lian Si, apa yang sedang kau pikirkan dalam lamunan?"
Dia menepuk pundak puterinya. Lian Si bagaikan baru sadar dari mimpi.
"Ah, Ayah... aku... aku tidak apa-apa, tidak memikirkan apa-apa..."
Ayahnya tersenyum.
"Kau tidak dapat membohongi Ayahmu, Lian Si. Sejak engkau bertanding dengan pemuda itu, engkau terus saja melamun. Engkau tertarik kepadanya bukan?"
Wajah gadis itu menjadi merah dan dengan tersipu ia berkata.
"Ayah, pernah aku menjawab bujukan Ayah untuk menikah bahwa aku hanya akan menikah dengan seorang pemuda yang dapat mengalahkan aku dan yang cocok denganku. Pemuda tadi... dia mengalahkan aku, akan tetapi kita tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Tidak tahu siapa namanya yang kita ketahui hanya setangkai bunga merah ini darinya."
Ayahnya mengangguk.
"Dia memang pemuda aneh dan hebat. Biarlah kita serahkan saja kepada Tuhan, anakku. Kalau memang engkau berjodoh dengannya, tentu kita akan dapat berjumpa pula dengan dia."
Mereka melanjutkan perjalanan dan Lian Si terus memakai kembang merah itu di rambutnya.
Mudah saja bagi Sin Lee untuk menemukan rumah besar milik Ji Houw karena orang kaya baru ini memang terkenal di kota Kin-san.
Dia memiliki beberapa rumah pelesir dan rumah penginapan di kota itu, terkenal pula sebagai mucikari yang melayani kebutuhan para laki-laki hidung belang yang kaa raya atau yang berkedudukan tinggi.
Dan lebih mudah pula bagi Sin Lee untuk pada malam hari itu memasuki rumah gedung itu.
Ketika Sin Lee mengintai dari atas genteng, dia melihat hartawan Ji Houw tengah makan minum dilayani oleh lima orang selirnya yang muda-muda dan cantik.
Ji Houw menghibur hatinya setelah siang tadi mengalami kegagalan di dusun Sia-san.
Dia mendongkol sekali kepada guru silat she Gan dan puterinya itu yang telah menggagalkan semua pekerjaannya di dusun Sia-san, bahkan membuat dia dan para pengawalnya dikeroyok orang dusun.
Kerugian itu besar sekali karena tentu saja dia tidak berani lagi kembali ke dusun Sia-san.
Berbahaya kalau penduduk dusun sudah marah kepadanya.
Dan sikap itu dapat saja menular ke penduduk dusun yang lain!
Untuk mendekati mereka, harus diadakan bujukan dari permulaan lagi, mungkin harga para anak perempuan itu jadi meningkat tinggi!
Selagi dia makan minum dilayani para selirnya untuk menghibur hatinya yang gundah tiba-tiba terdengar suara dari atas dan sesosok bayangan melayang turun.
Ketika Ji Houw memandang, dia mengenal pemuda yang pernah dimintai tolong untuk menghajar guru silat dan puterinya, akan tetapi ternyata disambut oleh penduduk dusun yang berbalik marah kepadanya.
"Ah, kiranya engkau, Taihiap!"
Katanya sambil bangkit berdiri menyambt.
"Engkau mengejutkan aku saja. Bagaimana, sudahkah engkau berhasil memberi hajaran kepada iblis betina itu dan Ayahnya? Aku sudah menyiapkan hadiah besar untukmu, Taihiap."
Pemuda yang memakai kembang merah di dadanya itu tersenyum dan melangkah maju.
"Ji Houw, engkau manusia busuk yang sudah sepatutnya dihajar!"
Melihat sikap pemuda itu, Ji Houw terbelalak pucat dan diapun berteriak memanggil penjaganya.
Pintu terbuka dari luar dan berserabutan masuklah belasan orang tukang pukulnya.
Melihat ada seorang pemuda memakai bunga merah di bajunya berada di ruangan itu, para penjaga itu terkejut dan heran.
Dari mana masuknya pemuda ini?
"Tangkap maling itu!"
Teriak Ji Houw ketika belasan orang tukang pukulnya sudah memenuhi ruangan.
Mendengar kata-kata itu para tukang pukul mengira bahwa pemuda itu tentu seorang pencuri yang menyelundup masuk, segera bergerak hendak menangkapnya.
Di antara mereka tidak ada yang mengawal Ji Houw ke dusun Sia-san, maka tidak ada yang mengenal Sin Lee.
Para pengawal siang tadi beristirahat karena mereka telah dihajar babak belur oleh Gan Kauwsu dan puterinya.
Ketika belasan orang tukang pukul itu mau mengurungnya, Sin Lee makin tahu orang macam apa adanya Ji Houw itu yang mengandalkan tukang-tukang pukulnya melakukan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.
Diapun menggerakkan kaki tangannya dan belasan orang itu roboh seperti diserbu angin badai.
Melihat ini, Ji Houw menjadi ketakutan dan diapun melarikan diri pergi dari ruangan itu.
Akan tetapi sebelum dia tiba di pintu, Sin Lee yang melihat ini sudah meloncat dan menangkap tengkuk bajunya dan sekali, totok tubuhnya menjadi lemas seperti tak bertulang lagi.
Tubuh Ji Houw jatuh terkulai di atas lantai dan Sin Lee menginjak dadanya.
Melihat ini, para tukang pukul yang sudah roboh itu merangkak-rangkak menjadi ketakutan.
"Kalian berdiri di tempat!"
Bentak Sin Lee dan merekapun tidak berani bergerak lagi. Lima orang selir itu saling himpit di sudut ruangan, menggigil ketakutan dan ada yang sampai terkencing-kencing.
"Katakan, apa yang kau lakukan di dusun Sia-san siang tadi!"
Bentak Sin Lee.
"Saya... saya... menolong penduduk yang kelaparan...!"
Ji Houw berkata dengan suara gemetaran.
"Bohong! Engkau membeli anak-anak perempuan mereka untuk kau perdagangkan. Benarkah?"
"Ti... tidak, taihap. Warga dusun itu kelaparan dan dengan suka rela menjual anak-anak mereka. Karena merasa kasihan, saya menolong dan membeli anak-anak itu untuk dididik dan diberi pekerjaan..."
"Bangsat kau! Kau didik untuk kau jual dengan mahal kepada para hidung belang bukan? Kau paksa mereka menjadi pelacur, itukah yang kau namakan pertolongan?"
"Ti... tidak... ampun...!"
Kata Ji Houw ketika merasa betapa kaki yang menginjak itu menjadi berat sekali menghimpit tubuhnya.
"Keparat kau! Kalau mau tolong orang dusun kenapa harus membeli anak perempuan mereka? Hayo suruh ambil sekantung emas untuk menolong mereka!"
Kembali kaki itu menginjak kuat-kuat sehingga Ji Houw terengah-engah dan memerintahkan selirnya mengambilkan sekantung emas seperti yang diminta Sin Lee.
Sin Lee menerima kantung emas itu dan merasa sudah cukup.
"Nah, sekali ini kuampuni kau, akan tetapi sekali saja aku mendengar engkau membeli gadis-gadis cilik lagi, aku akan datang kembali dan membunuhmu!"
Dia merenggut bunga merah dari bajunya dan meletakkannya ke dada Ji Houw, kemudian dia melompat ke atas dan lenyap melalui lubang pada genteng.
Sin Lee malam itu juga mendatangi lurah Sia-san dan mengetk daun pintu rumah lurah itu.
Lurah Sia-san membuka pintu dan terkejut melihat bahwa yang datang adalah pemuda berbunga merah itu.
Pemuda itu kini sudah berdiri di ambang pintu, setangkai bunga merah yang masih segar dan baru dipetik tertancap di lubang kancingnya.
"Ahh, kiranya engkau, Taihiap. Silahkan masuk,"
Katanya ramah. Sin Lee masuk dan mereka duduk di ruangan tengah. Sin Lee menaruh kantung emas itu di atas meja dan berkata.
"Aku membawa emas ini, harap Chung-cu besok membagikan dengan adil dan rata kepada penduduk dusun ini. Aku percaya bahwa Chung-cu tidak akan melakukan kecurangan dalam membagi-bagikan emas ini karena kalau demikian aku tidak akan tinggal diam."
"Baik, Taihiap, atas nama warga dusun kami menghaturkan terima kasih."
Kata lurah dan dia mengantar Sin Lee sampai ke pintu depan.
Sin Lee lenyap ditelan kegelapan malam dan lurah itu tercengang dan terkagum-kagum ketika membuka kantung dan melihat emas dalam jumlah yang banyak.
Cukup untuk menjamin kehidupan para penduduk dusun sehingga tidak akan menderita kelaparan sampai sawah ladang mereka dapat menghasilkan bahan makanan lagi.
Sin Lee melewatkan malam di sebuah gubuk di tengah ladang luar dusun Sia-san.
Dia termenung membayangkan betapa tidak adilnya keadaan kehidupan di antara manusia.
Ada yang kaya raya dan berlebihan, banyak yang miskin sampai makanpun tidak kenyang, mengapa begini?
Dia mengepal tinju, hatinya trenyuh dan nelangsa kalau membayangkan betapa untuk dapat memberi makan kepada keluarga saja, sebuah keluarga harus menjual anak perempuannya!
Dan dia benci membayangkan mereka yang membeli anak-anak perempuan itu, demi melampiaskan nafsu binatang mereka.
Mereka sanggup bersenang-senang di atas penderitaan keluarga itu yang menangis air mata darah.
Menggunakan kesempatan selagi orang-orang miskin itu terhimpit, mereka malah menjepit.
Ini kesalahan pemerintah.
Kesalahan Kaisar.
Begitu banyaknya pembesar yang korup, pejabat yang menekan rakyat, apakah Kaisar tidak tahu?
Apakah sengaja mendiamkannya saja?
Kalau penguasa daerah tidak bertidak korup, kalau bersikap bijaksana, tentu akan dapat mengatur dan mengatasi semua penderitaan rakyat ini.
Soal keuangan dapat dikerahkan bantuan dari para hartawan, soal pemikiran dapat dikerahkan bantuan orang-orang terpelajar dan pandai, dan soal tenaga dapat dikerahkan tenaga rakyat banyak.
Kenapa masih ada rakyat yang kelaparan?
Kenapa masih ada pembunuhan bayi-bayi perempuan dan penjualan gadis-gadis cilik?
Kalau dia memikirkan bahwa Kaisar yang baru saja meninggal adalah Ayah kandungnya, dia mengepal tinjunya lagi.
Kalau dia dekat dengan Ayahnya waktu itu, tentu dia akan membujuk Ayahnya agar memperhatikan nasib rakyat kecil.
Dengan rasa penasaran menggores hati, Sin Lee tertidur akan tetapi tentu saja tidurnya tidak dapat nyenyak, terganggu oleh mimpi-mimpi buruk.
Pada keesokan harinya, ketika dia berjalan menuruni lereng, dia melihat Gan Kauwsu dan puterinya telah menghadang di tengah jalan!
Karena sudah tak dapat menghindari lagi, dia menghampiri mereka dan memberi hormat.
"Orang muda, kami berbahagia sekali dapat bertemu kembali denganmu!"
Kata Gan Kauwsu.
"Sesungguhnya memang kami sedang mencarimu, dan tidak kami sangka pagi ini dapat bertemu denganmu di sini."
Sin Lee tersenyum dan memandang kepada Lian Si.
Dia melihat gadis itu memegang setangkai bunga merah yang sudah hampir layu, bunga yang kemarin dia lontarkan dan menancap di rambut kepalanya!
Dan kini gadis itu berdiri dengan kepala ditundukkan, kedua tangan mempermainkan bunga, mukanya kemerahan dan ia tersenym-senyum simpul tersipu malu.
Sin Lee memandang heran.
Sungguh jauh bedanya sikap gadis itu kini dibandingkan dengan sikapnya kemarin yang galak.
Kalau kemarin sikapnya seperti seekor harimau betina yang anaknya diganggu, sekarang mirip seekor kucing yang manja.
"Paman bersusah payah mencari saya sebetulnya ada keperluan apakah, paman?"
Tanya Sin Lee yang merasa heran karena dia tidak merasa mempunyai urusan dengan mereka.
"Ayah, aku pergi dulu...!"
Tba-tiba gadis itu berkata dan tanpa menanti jawaban, dia lalu berlari kecil meninggalkan mereka berdua.
Sin Lee memandang dengan heran dan melihat gadis itu berhenti jauh dari situ, di bawah sebatang pohon.
Dia memandang guru silat itu dan bertanya lagi.
"Sebetulnya ada urusan apakah, paman?"
"Sebelum aku bicara, bolehkah aku mengetahui namamu, orang muda?"
"Tentu saja, paman. Namaku Liu Sin Lee."
"Begini, Sin Lee, hemm... apakah engkau sudah berkeluarga? Sudah menikah maksudku?"
Sin Lee membelalakkan matanya dan menggeleng kepala.
"Belum, paman. Akan tetapi apa hubungannya..."
Gan Kong tertawa.
"Ha-ha, jangan heran, Sin Lee. Terus terang saja, kalau engkau belum mempunyai isteri, aku... kami berdua anakku, telah sepakat untuk mengajukan usul kepadamu. Aku ingin agar engkau suka menerima puteriku Lian Si sebagai isterimu. Bagaimana pendapatmu?"
Sin Lee tertegun dan kedua pipinya menjadi kemerahan.
Jelasnya, guru silat ini menawarkan puterinya untuk menjadi isterinya!
Sama sekali tak pernah disangkanya.
Gan Kauwsu akan membicarakan urusan perjodohan.
Kalau dia tahu tentu tadipun dia sudah pergi tidak menemui mereka.
"Bagaimana, Sin Lee? Ketahuilah, puteriku sudah setuju dan mengingat sikapmu kemarin ketika engkau memberi setangkai bunga merah kepadanya, kami yakin bahwa engkau tentu juga menyetujuinya."
"Paman, harap jangan kecil hati. Urusan perjodohan tak dapat kuputuskan begitu saja selain saya sendiri belum berminat untuk menikah, juga hal itu haruslah ditentukan oleh Ayah-ibuku. Oleh karena itu, harap paman tidak melanjutkan pembicaraan tentang masalah perjodohan."
"Akan tetapi... anakku..."
Kata guru silat itu dengan wajah berubah kecewa dan muram.
"Biar saya yang akan memberitahu kepadanya, paman."
Kata Sin Lee dan tanpa menunggu jawaban dia segera berlari cepat menghampiri Lian Si yang masih berdiri di bawah pohon.
Melihat pemuda itu datang menghampirinya, Lian Si menyambut dengan senyum malu tersipu.
Sin Lee berdiri di depan gadis itu dan melihat bunga di rambut gadis itu sudah mulai layu, dia mengambil bunga di kancing bajunya dan menyodorkannya kepada Lian Si.
"Nona terimalah bunga ini sebagai tanda persahabatanku."
Dengan pandang mata penuh pertanyaan Lian Si menerima bunga itu dan Sin Lee melanjutkan.
"Ayahmu telah bicara kepadaku tentang perjodohan, akan tetapi pada saat ini aku sama sekali belum berminat untuk mengikat diriku dengan sebuah pernikahan. Maafkan aku, nona. Bukan aku menolak, melainkan sekarang belum tiba saatnya bagiku untuk memilih jodohku. Apalagi orang tuaku berada di tempat jauh. Harap jangan marah. Gadis seperti nona akan dapat menemukan jodoh yang jauh lebih baik dariku. Selamat tinggal."
Diapun tidak memberi kesempatan kepada gadis itu untuk membuka mulut karena dia sudah meloncat pergi seperti terbang cepatnya.
Lian Si masih berdiri termangu dengan bunga merah di tangannya.
Pandang matanya kosong memandang ke arah perginya Sin Lee, dan ia termenung dengan hati sedih.
"Lian Si..."
Panggilan Ayahnya yang sudah berada di dekatnya menariknya kembali dari dunia lamunan dan ia menubruk Ayahnya.
"Ayah...!"
Gadis itu menangis di pundak Ayahnya. Gan Kauwsu menepuk-nepuk pundak puterinya.
"Sudahlah, Lian Si. Hentikan tangismu. Perjodohan tidak bisa terjadi atas keinginan sepihak saja. Dan jodoh berada di tangan Tuhan."
Dia menghibur.
Setelah Lian Si menumpahkan kekecewaannya melalui air matanya, Ayah dan anak itu melanjutkan perjalanan dengan langkah lesu.
Sin Lee mendaki bukit Bu tong.
Dia mendengar bahwa Bu-tong pai mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang para tokoh kang-ouw.
Mengingat bahwa Ayahnya adalah seorang murid Bu-tong-pai dan dia sendiri juga mempelajari ilmu silat Bu tong pai dan Ayah angkatnya itu, maka dia tertarik dan mengambil keputusan untuk mengunjungi dan menghadiri pesta perayaan di Bu tong san itu.
Ketika Sin Lee tiba di ruangan depand yang luas dari Bu tong pai, ternyata di sana telah berkumpul banyak tamu.
Bukan saja para tokoh kang-ouw dan perkumpulan-perkumpulan besar yang hadir, juga ada beberapa orang berpakaian sebagai Panglima hadir.
Mereka ini mewakili pemerintah dan datang dari kota terdekat.
Bu tong pai memang merupakan satu di antara partai-partai besar yang mempunyai hubungan baik dengan pemerintah.
Sin Lee diterima dengan baik oleh para murid Bu tong pai yang bertugas menerima para tamu dan dianggap mewakili undangan seperti para tamu lainnya.
Sin Lee menyusup di antara para tamu dan ketika dia ikut antri untuk memberi selamat kepada Beng Sian Tosu, ketua Bu tong, tiba-tiba seorang perwira yang berpakaian gemerlapan berseru kepada pengawalnya.
"Benar, kau tidak salah lihat?"
Pengawal itu berkata lantang.
"Benar, Ciangkun, dialah yang dulu menyerang Ouw-Taijin bersama orang-orang Beng-kauw. Dia adalah seorang Beng-kauw!"
Tentu saja keributan dan disebutnya Beng-kauw itu menimbulkan gaduh. Beng Sian Tosu yang sedang menerima ucapan selamat itupun mendengar dan dia melangkah turun dari tangga, menghampiri perwira itu.
"Lu-Ciangkun, apakah yang terjadi di sini?"
Akan tetapi perwira she Lu itu agaknya khawatir kalau buruannya melarikan diri, maka dia menyiapkan pengawal dan kawan-kawannya.
"Tangkap pemberontak ini!"
Dan dengan pedang terhunus dia dan para pengawal sudah maju hendak menyerang Sin Lee.
"Tahan...!"
Bentak Beng Sian Tosu dengan penuh wibawa.
"Lu-Ciangkun, apa artinya ini? Ciangkun dan semua yang hadir adalah tamu-tamu kami, tidak boleh bertindak sembarangan, dan juga semua tamu adalah tanggung jawab kami untuk melindunginya. Kalau terjadi apa-apa di sini, yang berhak adalah tuan rumah, bukan tamunya. Ucapan yang tegas dan keras ini membuat para Panglima dan anak buah mereka mundur kembali, akan tetapi Lu Ciangkun yang tinggi besar itu membantah.
"Pangcu, apakah Bu-tong-pai yang terhormat sekarang berganti haluan dan akan membela Beng-kauw yang sesat?"
Ketua Bu-tong-pai itu mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada perwira itu.
"Lu-Ciangkun apa maksud kata-katamu itu?"
"Pemuda ini!"
Dia adalah orang Beng-kauw pernah bersama tokoh-tokoh Beng-kauw lainnya menyerang seorang pembesar she Ouw di Nanking!"
Beng Sian Tosu terkejut dan memandang kepada Sin Lee dengan penuh perhatian.
"Engkau orang Beng-kauw?"
Tanyanya penuh wibawa. Sin Lee menggeleng kepala.
"Bukan, Locianpwe,"
Katanya tegas.
"Dia bohong! Seorang pengawalku dulu bekerja pada Ouw Taijin dan dia ini yang menjadi saksi,"
Kata Lu-Ciangkun. Pengawal itu dengan muka pucat, membenarkan ucapan atasannya.
"Dialah yang dulu menyerang Ouw-Taijin, bersama seorang gadis dan dua orang laki-laki Beng-kauw lainnya,"
Katanya.
"Orang muda, kalau benar engkau orang Beng-kauw terpaksa kami akan mengusirmu dari sini,"
Kata Beng Sian Tosu.
"Jangan khawatir, selama di sini dan menjadi tamu kami, takkan ada seorangpun boleh mengganggumu. Akan tetapi setelah keluar dari daerah kami, kami tidak mempunyai urusan lagi dengan kamu. Nah, kalau engkau benar orang Beng-kauw, cepat angkat kaki dari sini, kami tidak mengundang orang Beng-kauw!"
"Locianpwe, sungguhpun aku tidak tahu mengapa Beng-kauw dimusuhi, akan tetapi aku bukanlah orang Beng-kauw, Ouw-Taijin adalah seorang pembesar korup yang menyalah gunakan kekuasaannya, menindas rakyat, dengan ancaman kerja paksa dia menangkapi gadis-gadis cantik dari dusun-dusun. Kalau aku bertindak menghajar pembesar korup yang merusak nama dan wibawa kerajaan, salahkah itu? Aku bukan Beng-kauw seperti yang dituduhkan perwira ini!"
"Nah, Lu-Ciangkun. Pemuda ini sudah menyangkal. Dan saksimu adalah pengawalmu sendiri, hal itu belum dapat dijadikan kepastian bahwa pemuda ini benar orang Beng-kauw. Kecuali ada orang luar di antara tamu yang menjadi saksi."
Tidak ada di antara tamu yang maju menjadi saksi karena mereka memang tidak mengenal Sin Lee. Tiba-tiba Lu-Ciangkun yang merasa penasaran lalu berkata kepada Sin Lee.
"Orang muda, kalau engkau memang bukan orang Beng-kauw, engkau tentu berani menghadapi tantanganku untuk mengadu ilmu silat agar semua menyaksikan bahwa engkau memang bukan murid Beng-kauw."
Sin Lee tersenyum dan kini perhatian semua orang ditujukan kepadanya. Terdengar suara seseorang di antara para tamu.
"Pendekar Bunga Merah! Dia Pendekar Bunga Merah!"
Memang di kancing baju pemuda itu seperti biasa, terdapat setangkai bunga merah yang dipetiknya dalam perjalanan naik bukit Bu-tong tadi.
Sin Lee tersenyum.
Kiranya beberapa kali perbuatannya yang menolong rakyat jelata telah memberinya julukan Pendekar Bunga Merah.
Dia tersenyum.
"Baiklah, Lu-Ciangkun. Aku menerima tantanganmu, hanya untuk menunjukkan bahwa aku bukan orang Beng-kauw."
Semua orang mundur untuk memberi ruangan kepada dua orang yang hendak mengadu ilmu itu.
Ruangan itu memang cukup luas dan setelah semua orang mundur, dua orang itu saling berhadapan seperti dua ekor ayam yang hendak berlaga.
Sin Lee nampak pendek dibandingkan dengan lawannya yang tinggi besar dan kekar.
"Kami tidak menghendaki pertumpahan darah,"
Kata Beng Sian Tosu "di hari baik ini kami tidak boleh terjadi keributan di sini. Karena itu, kami harap kalian tidak mempergunakan senjata dan pertandingan ini sekedar menguji ilmu belaka."
"Baik, Pangcu,"
Kata Lu-Ciangkun.
"Saya tidak akan melanggar peraturan yang dikeluarkan Bu-tong-pai."
Kata pula Sin Lee.
"Lu-Ciangkun, mulailah, aku sudah siap siaga. Lu-Ciangkun yang berusaha untuk membongkar rahasia Sin Lee dan memaksa pemuda itu mengeluarkan ilmu silat Beng-kauw untuk membela diri, segera menerjang dengan cepat dan kuat. Dia memang seorang Panglima yang terkenal memiliki ilmu silat tangguh, maka serangan-serangannya berbahaya sekali. Semua orang memandang penuh perhatian, ingin mengetahui bagaimana pemuda itu akan membela diri. Melihat serangan yang hebat dari Panglima itu, mau tidak mau pemuda itu harus mengeluarkan ilmu simpanannya dan kalau dia murid Beng-kauw, akan segera dapat terbukti dari gerakannya. Akan tetapi begitu pemuda itu bergerak, Beng Sian Tosu tertegun dan para murid Bu-tong-pai bereru melihat Sin Lee meloncat ke atas untuk mengelakkan terjangan Lu-ciangkan.
"Heii, itu adalah Yan-cu coan-in (Burung Walet Menembus Awan)..."
Terkaman itu luput dan ketika tubuh Sin Lee turun, Lu-Ciangkun sudah menyerang lagi dengan pukulan kedua tangannya dari atas dan bawah.
Sin Lee bergerak ke depan dan menangkis dengan kedua tangan pula, lalu membalas dengan pukulan tangan miring, kembali terdengar seruan orang-orang Bu-tong-pai.
"Kim-liong-hian-jiaw (Naga Emas Mengulur Kuku)...!"
Setelah kedua orang bertanding seru, berkali-kali para tokoh Bu-tong-pai berseru menyebut nama jurus yang dimainkan Sin Lee.
Bahkan Beng Sian Tosu sendiri kini tidak meragukan bahwa Sin Lee adalah murid Bu-tong-pai, bukan orang Beng-kauw.
Gerakannya itu seratus prosen ilmu silat Bu-tong-pai, bahkan dimainkan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.
Hal ini adalah karena ilmu silat yang dipelajari Sin Lee dari Ayah angkatnya memang berdasarkan Bu-tong-pai walaupun dia juga mempelajari banyak macam ilmu dari aliran lain, dan ilmu-ilmu silatnya menjadi makin mantap dan gerakannya menjadi luar biasa setelah dia menerima gemblengan dari Ciu-sian Lo-kai.
Kini, untuk membuktikan bawa dia sama sekali bukan anggota Beng-kauw, Sin Lee sengaja memainkan ilmu silat Butong-pai.
Setelah lewat dua puluh jurus, Lu-Ciangkun mulai terdesak dan semua jurus yang dikeluarkan Sin Lee adalah jurus Bu-tong-pai asli.
Ramailah sorak pujian para anggota Bu-tong-pai melihat ini dan ketika desakannya membuat Lu Ciangkun mundur, Sin Lee mendorong dengan tangannya sambil mengerahkan tenanga sinkang dan Lu-Ciangkun terhuyung-huyunng dan hampir saja terjengkang.
Akan tetapi, Sin Lee tidak mendesak terus, melainkan berdiri tegak.
"Bagaimana Lu-Ciangkun? Apakah engkau sudah yakin bahwa aku bukan anggota Beng-kauw?"
Lu-Ciangkun terbelalak.
Dia tadi merasa betapa dadanya terdorong dan ada sesuatu yang mengenai dadanya.
Ketika dia memandang ternyata di saku baju Panglimanya sudah terselip setangkai bunga merah.
Semua orang berseru kagum dan Lu-Ciangkun yang merasa penasaran dan malu, merenggut bunga merah itu dari bajunya dan dengan gemas dia meremas bunga itu sampai hancur.
Dia lalu memberi hormat kepada ketua Bu-tong-pai.
"Pangcu, kami telah salah sangka dan dikalahkan seorang murid Bu-tong-pai. Selamat tinggal!"
Dia lalu keluar dari tempat itu diikuti oleh para rekan dan pengikutnya. Beng Sian Tosu menghela napas panjang. Lalu dia menghampiri Sin Lee, mengamati orang muda itu dari kepala sampai ke kaki.
"Orang muda, dari mana engkau mempelajari ilmu silat Bu-tong-pai?"
Suaranya menuntut jawaban pasti.
"Locianpwe, saya mempelajarinya dari Ayah saya sendiri."
Jawab Sin Lee sejujurnya.
"Siapa nama Ayahmu?"
"Ayah bernama Liu Siong Ki."
Ketua Bu tong pai nampak terkejut dan gembira sekali.
"Ah, sute (adik seperguruan) Liu Siong Ki itu Ayahmu? Kalau begitu engkau masih keponakan seperguruan kami sendiri. Orang muda, siapa namamu?"
"Nama saya Liu Sin Lee, Locianpwe."
"Jangan sebut aku Locianpwe, aku adalah Supekmu (uwa gurumu)!"
"Baik, Supek."
"Mari, mari kita duduk kembali. Cu wi (saudara sekalian), silahkan duduk kembali. Orang muda ini adalah keluarga Bu-tong-pai sendiri dan maafkan sedikit keributan yang terjadi tadi."
Sin Lee diterima sebagai keluarga Bu-tong-pai dan dia dihujani pertanyaan tentang Ayah angkat atau Ayah tirinya yang juga gurunya itu.
Tentu saja Sin Lee tidak menceritakan bahwa Liu Siong Ki bukan Ayah kandungya.
Setelah pesta bubar, Sin Lee masih tinggal di Bu tong pai selama tiga hari karena Supeknya selalu menahannya.
"Ayahmu memang sejak muda suka mempelajari ilmu lain di samping ilmu silat Bu-tong-pai. Dan melihat gerakanmu tadi, agaknya Ayahmu memperoleh kemajuan pesat. Ada sedikit perbedaan dalam gerakanmu dan terutama dalam hal kecepatan dan tenaga, engkau jauh lebih kuat dari pada murid Bu-tong-pai manapun."
"Ah, Supek terlalu memuji,"
Kata Sin Lee merendah lalu mengubah bahan percakapan.
Mereka bercakap-cakap di ruangan baca perkumpulan itu, berdua saja karena ketua Bu-tong-pai ini ingin mendengar segalanya tentang sutenya yang sudah puluhan tahun tidak dijumpainya.
Dan Sin Lee sudah menceritakan semua tentang Ayahnya yang kini tinggal di antara suku Oirat, bahkan menikah dengan puteri kepala suku Oirat atau Wala.
Akan tetapi, ketua Bu-tong-pai itu ternyata seorang yang bijaksana.
Mendengar keponakan itu peranakan suku Oirat, yaitu termasuk bangsa Mongol, dia bersikap biasa saja.
"Supek, saya masih tertarik sekali akan sikap Supek yang agaknya membenci Beng-kauw sehingga ketika tempo hari mendengar tuduhan bahwa saya orang Beng-kauw, Supek hendak mengusir saya. Kenapa Supek membenci Beng-kauw?"
Beng Sian Tosu mengerutkan alisnya.
"Ah, apa anehnya itu? Beng-kauw adalah sebuah perkumpulan sesat dan orang-orangnya tidak segan melakukan segala macam kejahatan. Semua orang dunia persilatan, golongan bersih, membencinya."
"Bagaimana kalau ternyata Beng-kauw sekarang tidak lagi menjadi perkumpulan sesat, tidak ada lagi orang Beng-kauw melakukan kejahatan? Apakah masih juga dibencinya?"
"Tentu saja tidak, kalau memang betul terbukti orang Beng-kauw tidak ada yang melakukan kejahatan. Akan tetapi mengapa engkau bicara tentang Beng-kauw, Sin Lee?"
"Karena saya tahu, Supek, bahwa selama ini Beng-kauw dikuasai oleh seorang bekas pendeta Lama yang bernama Bouw Sang Cinjin. Orang inilah yang menguasai Beng-kauw dan anak buahnya melakukan segala macam kejahatan. Akan tetapi sekarang, Bouw Sang Cinjin telah terusir, dan Beng-kauw dipimpin seorang ketua lain yang tentu akan membawa Beng-kauw ke jalan benar."
"Hemm, Sin Lee. Bagaimana engkau bisa mengetahui semua tentang Beng-kauw?"
"Karena saya ikut pula mengusir Bouw Sang Cinjin dan membersihkan Beng-kauw dari pengaruh dan kekuasaan orang-orang jahat, Supek. Dan yang menjadi ketuanya sekarang ada Sumoi saya sendiri."
"Apa...??! Murid Ayahmu menjadi ketua Beng-kauw? Berarti murid Bu-tong-pai menjadi ketua Beng-kauw...??"
"Harap Supek tidak salah sangka. Sumoi saya itu bukan murid Ayah. Hendaknya Supek ketahui bahwa saya pernah menerima gemblengan dari Ciu-sian Lo-kai, nah Sumoi juga murid dari Suhu Ciu-sian Lo-kai Ong Su itu."
Beng Sian Tosu mengangguk-angguk.
"Siancai, jadi engkau telah menjadi murid Ciu-sian Lo-kai? Pantas, gerakan ilmu silatmu demikian cepat (Lanjut ke
Jilid 06) Pendekar Bunga Merah (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 dan kuat. Coba ceritakan tentang engkau dan Sumoimu itu membersihkan Beng-kauw."
Kepada Supeknya, Sin Lee menceritakan segalanya, tentang bagaimana dia dan Sumoinya itu menentang pembesar Ouw bersama dua orang Beng-kauw yang gagah perkasa, kemudian betapa mereka melakukan pembersihan dalam tubuh perkumpulan Beng-kauw.
Mengingat bahwa mendiang Ayah gadis itu adalah seorang tokoh Beng-kauw.
"Saya hanya membantu Sumoi, Supek. Melihat bahwa Sumoi bermaksud membersihkan Beng-kauw dan membawa Beng-kauw ke jalan benar, tentu saja dengan senang hati saya membantu."
"Siancai... kalau ada orang kang-ouw mendengar akan hal ini, tentu mereka akan menaruh curiga kepadamu, Sin Lee. Akan tetapi, aku percaya kepadamu dan kita lihat saja nanti perkembangannya. Mudah-mudahan Beng-kauw benar-benar akan mencuci bersih namanya sehingga dapat berhubungan baik dengan semua golongan bersih di dunia persilatan."
Sin Lee merasa girang mendengar ini dan yakinlah dia bahwa kakak seperguruan dari Ayah tirinya ini adalah seorang yang bijaksana.
Pada hari keempat dia berpamit dan meninggalkan Bu-tong-san.
Dalam perjalanannya, Sin Lee melihat banyak sekali kesengsaraan melanda kehidupan rakyat jelata dan dia selalu menjulurkan tangan menolong mereka yang terhimpit, menentang mereka yang mengail di air keruh, yaitu mereka yang mempergunakan kesempatan selagi rakyat hidup menderita itu untuk mengeruk keuntungan bagi diri sendiri sebanyaknya.
Dia tidak pernah meninggalkan nama, hanya meninggalkan setangkai bunga merah sehingga semakin terkenal nama julukan Pendekar Bunga Merah yang diberikan oleh rakyat jelata dan kemudian tersebar di dunia kang-ouw.
Pendekar Bunga Merah yang selalu menolong rakyat yang sengsara, menentang pembesar lalim dan hartawan kkir pemeras rakyat.
Daerah pegunungan kapur di daerah Nanyang dilanda musim kering yang berkepanjangan.
Rakyat di sekitar daerah itu kekurangan pangan.
Tanah sudah berbulan-bulan tidak menghasilkan sesuatu.
Dalam keadaan seperti itu para tuan tanah dan lintah darat melepas umpan; memberi hutang kepada para petani.
Dengan bunga besar maka hutang itu akan menggembung sehingga tak mungkin terbayar kembali dan kalau sudah begini, kalau hutang itu menjadi beberapa kali lipat besarnya maka dengan ancaman-ancaman yang dilakukan tukang-tukang pukul mereka, terpaksa para petani melepas sawahnya, atau bahkan anak gadisnya, sebagai pembayar hutang!
Dengan demikian para tuan tanah dan lintah darat itu dapat membeli sawah ladang atau gadis muda dengan harga yang murah sekali.
Di sepanjang jalan di daerah ini Sin Lee melihat tubuh yang kurus-kurus, mata cekung yang nampak sayu, pakaian kumal dan rambut kusut.
Pada pagi hari itu, pagi yang cerah, terlalu cerah bagi penghuni daerah yang kekeringan itu yang selalu menanti datangnya mendung dan hujan, Sin Lee berjalan seorang diri di bawah terik matahari.
Di depan terdapat sebuah dusun dan dia melewati sawah ladang yang luas kering gundul.
Menyedihkan sekali.
Tiba-tiba dia mendengar suara orang berkeluh kesah dan meratap dan menangis.
Dia merasa heran dan menoleh ke kiri.
Di sana, di tengah ladang gundul itu, dia melihat seorang laki-laki yang kurus kerempeng sedang mencangkul-mencangkuli tanah kering itu denga penuh semangat sambil meratap.
"Semua makanan datang dari tanah... ahh, semua datang dari tanah..."
Dia berhenti mencangkul lalu mencari-cari di antara tanah yang terbongkar itu, seolah mengharapkan mendapatkan makanan dari situ.
"Ya Tuhan... semua tumbuh-tumbuhan hidup dari tanah..., kalau tanah menghasilkan segala macam makanan, kenapa tanah tidak dapat dimakan...?"
Orang itu menemukan segumpal tanah lalu...
mulai makan tanah itu!
Orang itu sudah menjadi gila karena kelaparan, pikir Sin Lee dengan hati yang penuh haru.
Dia lalu memasuki ladang itu dan menghampiri orang yang makan tanah dengan lahapnya.
Ketika melihat Sin Lee datang menghampirinya, orang yang usianya sekitar lima puluh tahun itu lalu menyodorkan gumpalan tanah dan berkata kepada Sin Lee.
"Orang muda, engkau tentu juga lapar seperti kami. Nih, makanlah, agar engkau tidak mati kelaparan."
Sin Lee merasa jantungnya seperti diremas.
Biarpun gila, jelas bahwa orang ini mempunyai watak yang baik.
Yang dimiliki hanya tanah, namun masih menawarkan "Makanan!
itu kepada orang lain yang disangka kelaparan!
Padahal, banyak sekali orang kaya yang hidup berlebihan, enggan membagi sedikit saja dari hartanya yang banyauk untuk menolong mereka yang kelaparan, bahkan mencemooh mereka yang kelaparan itu dan mengatakan mereka malas, sudah sepatutnya kalau kelaparan.
Harta benda memang dapat membuat orang menjadi lupa bahwa dirinya adalah seorang manusia yang memiliki akal budi, memiliki hati dan perasaan sehingga sepantasnya kalau memiliki perikemanusiaan.
Harta benda kadang membuat mereka lupa diri dan menjadi budak dari hartanya, merasa takut kalau hartanya berkurang, bahkan mendatangkan angkara murka untuk membuat hartanya bertambah bear, dengan cara dan jalan apapun.
Penduduk dusun memang berpikiran sederhana sekali, bahkan mendekati bodoh dan memerlukan bimbingan.
Orang dusun itu kurang luas pengetahuannya, pandangannyapun sempit sehingga mereka tidak memperkembangkan atau memperluas usahanya kalau menemui kesulitan di dusunnya.
Bahkan banyak yang sampai mati kelaparanpun tidak beranjak dari dusunnya.
Sin Lee ikut berjongkok di dekat orang itu.
"Paman, ingatlah paman. Yang kaumakan itu adalah tanah, bukan makanan. Mari, paman, mari pulang, dan aku mempunyai sedikit uang yang boleh paman ambil untuk membeli makanan."
"Ini memang tanah, dan apa salahnya makan tanah? Semua makanan, semua tumbuh-tumbuhan bukankah dari tanah asalnya. Tanah mengandung semua kehidupan itu, karenanya tentu dapat dimakan untuk menyambung hidup!"
Kata orang itu dan melanjutkan makan.
Sin Lee tertarik, lalu mengambil sedikit tanah dari gumpalan itu dan memasukkan ke mulutnya.
Dia terbelalak.
Bukan tidak enak rasanya!
Seperti roti kering yang tidak ada rasanya.
Tidak asin tidak manis, akan tetapi juga tidak pahit atau getir.
Tanpa rasa dan karenanya, tentu saja dapat dimakan.
Ketika dia teringat akan keadaannya, makan tanah bersama seorang dusun yang pakaiannya kumal, dia tertegun.
"Apakah kita berdua sudah gila?"
Orang itu menghentikan makannya, lalu menangis.
"Tidak, orang muda, aku tidak gila... walaupun sudah sepantasnya kalau aku menjadi gila. Rumah sudah tidak ada makanan sedikitpun selama beberapa hari ini, dan hutangku sudah bertumpuk sehingga tidak akan bisa memperoleh pinjaman lagi. Bahkan hari ini orang-orangnya Chi Wan-gwe akan datang menagih, tentu aku akan dipukuli atau... ah, aku mengkhawatirkan sekali kedua orang anak perempuanku. Chi Wan-gwe sudah lama mengincar mereka, akan tetapi aku tidak sudi! Aku tidak sudi menyerahkan dua orang anak perempuanku untuk pembayar hutang!"
Dia meratap pula sambil menangis. Sin Lee bangkit berdiri, memegang tangan orang itu dan menariknya bangkit.
"Kalau begitu, mari kuantar pulang, paman. Bagaimana paman dapat meninggalkan dua orang puteri paman sendiri saja di rumah?"
Tapi... orang-orangnya Chi Wan-gwe tentu mencariku..."
"Jangan takut. Aku yang akan menghadapi mereka nanti."
Kata Sin Lee dan agaknya baru sekarang orang itu melihat bunga merah di lubang kancing baju pemuda itu. Dia terbelalak penuh harapan dan menuding ke arah kembang di dada itu.
"Kau... kau... Pendekar Bunga Merah...? Sin Lee tersenyum.
"Orang-orang menyebutku begitu. Mari, jangan takut, paman."
Kini orang itu tidak ragu-ragu lagi dan berjalan di sam ping Sin Lee.
Agaknya makanan tanah tadi memulihkan tenaganya dan dapat berjalan cukup cepat.
Harapannya akan dapat tertolong timbul setelah dia melihat kembang merah di dada pemuda itu.
Dia sudah mendengar berita akan munculnya seorang pendekar memakai bunga merah di dadanya, yang kabarnya suka menolong rakyat yang sedang menderita sengsara.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 12
Baca Juga: Kisah Sepasang Naga 5