Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bunga Merah 4

Eps 4 Pendekar Bunga Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Bunga Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Bunga Merah - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi tiga orang ini sudah luka-luka, bagaimana dia dapat melayani bertanding tiga orang yang sudah luka-luka?

Maka dia hanya main kelit, loncat ke sana-sini dan tidak pernah membalas.

Pada saat itu, dari puncak bukit berlari seorang laki-laki berusia lima puluh tahun.

Orang itu memiliki pedang di punggung dan begitu melihat tiga orang yang luka-luka bertanding melawan seorang pemuda yang memakai bunga di dada dan yang gerakannya gesit mempermainkan tiga orang itu dengan berloncatan ke sana-sini, orang itu membentak.

"Tahan...!"

Tiga orang yang sudah luka-luka dan kini napasnya ngos-ngosan itu berteriak girang.

"Susiok, harap suka memberi hajaran kepada bocah kurang ajar ini!"

Sang Susiok mengerutkan alisnya dan mencabut pedangnya.

"Orang muda, kulihat engkau membawa pedang. Nah, cabutlah pedangmu. Engkau melanggar wilayah kami, bahkan menyerang tiga orang murid kami, engkau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu itu dengan pedang."

Sin Lee tersenyum dan kagum akan kegagahan orang itu. Timbul keinginan hatinya untuk menguji ilmu orang ini, maka tanpa banyak cakap dia juga mencabut pedangnya.

"Bagus, lihat pedang!"

Kata orang berusia setengah abad yang jenggotnya panjang itu. Jenggotnya berkibar ketika dia menyerang dengan dahsyat. Sin Lee menggerakkan pedangnya menangkis, karena dia ingin menguji tenaga lawan.

"Cringgg...!"! Bunga api berpijar ketika sepasang pedang bertemu. Keduanya meloncat mundur karena merasa betapa tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa lawannya memiliki tenaga sin-kang yang kuat. Ketika melihat tiga orang murid keponakan itu luka-luka mengeroyok pemuda itu, si jenggot panjang yang menduga mereka dilukai oleh Sin Lee, sudah dapat menduga bahwa Sin Lee lihai, maka begitu bertemu pedang dan merasakan tenaga yang kuat, diapun segera membuka serangan dengan lebih hati-hati, mengeluarkan jurus-jurusnya yang pilihan.

"Haiiittt...!"

Dia memekik dan pedangnya membuat gerakan melengkung membacok ke arah kepala Sin Lee dengan jurus Pek-hong-koan-jit (Pelangi Putih Menutup Matahari).

Sin Lee maklum akan datangnya serangan hebat, maka diapun segera menggerakkan tubuh dan pedangnya, membalik dan menggerakkan pedang dengan jurus Sin-liong-tiauw-si (Naga Sakti Menyabetkan Ekornya) menangkis serangan lawan itu dan membalas dengan lanjutan jurus Kong-ciak-kai-pang (Burung Merak Membuka Sayap).

Si jenggot panjang mengeluarkan seruan kaget dan segera meluncurkan pedangnya sambil mengelak dan tubuhnya miring tangannya seperti orang memanah karena dia memainkan jurus Likong-sia-ciok (Likong Memanah Batu).

Demikianlah kedua orang itu tukar menukar jurus, saling serang dan karena Sin Lee bermaksud hanya menguji kepandaian orang, maka diapun tidak bermaksud merobohkan atau melukai.

Si jenggot panjang agaknya merasakan ini dan diapun meloncat ke belakang sambil berseru.

"Tahan senjata!"

Dia mulai curiga.

Pemuda ini sama sekali tidak bermaksud menyerang sungguh-sungguh, bagaimana pemuda ini sampai membuat tiga orang muridnya luka-luka?

"Ilmu pedang paman sungguh hebat, saya mengaku kalah,"

Kata Sin Lee sambil memberi hormat.

Melihat sikap ini, orang itu semakin terkesan lagi.

Dari pertemuan pedang tadi saja dia sudah tahu bahwa pemuda ini memiliki sin-kang yang tidak kalah kuat dengan sinkangnya.

Dia memandang penuh perhatian dan melihat bunga merah di dada pemuda ini, teringatlah dia akan nama seorang pendekar baru yang sebentar saja namanya amat terkenal, yaitu Pendekar Bunga Merah.

Bahkan para pejabat daerah membicarakan nama ini, terutama penduduk dusun-dusun karena pendekar ini banyak menolong orang-orang dusun yang tertindas.

"Sobat muda, apakah engkau yang dijuluki Pendekar Bunga Merah?"

Sin Lee memberi hormat.

"Dugaan paman memang benar, sebetulnya julukan itu tidak pantas bagi saya yang muda dan bodoh."

"Hemm, Pendekar Bunga Merah. Kami mendengar bahwa engkau adalah seorang pendekar yang suka membela si lemah, akan tetapi sekarang engkau melanggar wilayah kami dan bahkan melukai tiga orang murid kami?"

Sin Lee tersenyum.

"Melukai? Sebaiknya paman bertanya kepada tiga orang itu dan kalau mereka tidak terlalu pengecut tentu akan bercerita yang sebenarnya."

Kini tokoh Kong-thong-pai itu memandang kepada tiga orang murid keponakannya, membentak.

"Hayo ceritakan mengapa kalian bertiga luka-luka dan mengapa pula berkelahi melawan Pendekar Bunga Merah."

"Ampun, Susiok (paman guru). Semua kesalahan kami. Pertama, kami tidak tahu bahwa sobat muda ini adalah Pendekar Bunga Merah dan yang melukai kami sama sekali bukanlah dia. Kami sedang mendaki bukit untuk pulang melapor akan malapetaka yang menimpa kami dan kami yang sedang sedih dan jengkel bertemu dengan pemuda ini. Karena kesalah pahaman maka kami menyerangnya dengan curiga kepadanya. Harap paman guru sudi memaafkan."

"Bodoh dan ceroboh kalian. Bukan kepadaku harus minta maaf, melainkan kepada Pendekar Bunga Merah."

Tiga orang itu memberi hormat kepada Sin Lee.

"Maafkan kami, Taihiap."

Mereka menyebut Taihiap karena maklum bahwa yang berjuluk Pendekar Bunga Merah memiliki kepandaian tinggi, bahkan tadi Susioknyapun tidak mampu menang. Sin Lee cepat membalas penghormatan mereka.

"Aku yang meminta maaf, karena tertarik maka aku lupa akan sopan santun dan bertanya mengapa sam-wi sampai luka-luka. Tentu saja aku tidak tahu bahwa sam-wi sedang jengkel dan sedih,"

Kembali dia membalas penghormatan mereka, juga kepada tokoh Kong-thong-pai itu.

"Apa yang telah terjadi kepada kalian? Atau, sudahlah, nanti saja kalian melapor sendiri kepada Pangcu (ketua). Taihiap, sebetulnya apakah ada keperluan penting yang membawa Taihiap berkunjung ke tempat kami?"

"Paman, saya hanya mendengar berita tentang kebesaran Kong-thong-pai dan ketika lewat di sini, saya ingin sekali singgah dan mengobrol dengan para pemimpinnya. Akan tetapi ternyata kini Kong-thong-pai menghadapi urusan dengan adanya tiga saudara ini yang tertimpa malapetaka, maka sebaiknya kalau saya pergi saja, tidak jadi singgah di Kong-thong-pai."

"Ah, jangan begitu, Taihiap. Taihiap adalah seorang pendekar terkenal, bahkan kalau terjadi malapetaka, kami mengharapkan petunjuk dari Taihiap. Mari, silahkan bersama kami menghadap ketua kami. Perkenalkan, saya adalah wakil ketua Kong-thong-pai bernama Kiang Cu I."

"Kalau paman Kiang berkata begitu, saya juga tidak berani menolak. Marilah!"

Lima orang itu lalu mendaki puncak tanpa banyak cakap dan setibanya di puncak, ternyata di sana terdapat sebuah bangunan besar yang menjadi pusat dari Kong-thong-pai.

Di pintu gerbang terdapat belasan orang murid Kong-thong-pai yang melakukan penjagaan.

Mereka memandang heran ketika wakil ketua kembali bersama seorang pemuda asing dan lebih heran lagi melihat tiga orang rekan mereka babak belur.

Akan tetapi di situ terdapat wakil ketua, mereka tidak berani bertanya.

Setelah menghadap ketua di ruangan yang luas, di mana ketuanya duduk bersila di atas sebuah dipan, Sin Lee ikut memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada.

Dia memperhatikan ketua Kong-thong-pai itu.

Usianya kurang lebih enam puluh tahun akan tetapi tubuhnya masih tegap dan nampak kuat.

Rambutnya berwarna dua, dibiarkan panjang dan diikat sutera kuning.

Kepalanya juga diikat sutera kuning agar rambut itu tidak awut-awutan.

Jubahnya kuning seperti jubah pendeta, dan wajahnya manis segar seperti wajah seorang pemuda.

Dia menyambut kedatangan mereka dengan sikap sabar walaupun pandang matanya membayangkan keheranan melihat Sin Lee.

Sutenya, yaitu wakil ketua yang bernama Kiang Cu I, setelah memberi hormat lalu melapor.

"Suheng, sobat muda ini adalah Pendekar Bunga Merah yang namanya terkenal belakangan ini. Dia datang untuk berkunjung dan berkenalan dengan kita. Saya sudah sempat mencoba ilmunya dan ternyata namanya bukan nama kosong belaka."

Kemudian Kiang Cu I menoleh kepada Sin Lee dan bertanya.

"Taihiap, kalau tidak berkeberatan, kami ingin sekali mengenal nama Taihiap."

"Maaf, paman Kiang. Saya seorang yatim piatu dan sebatang kara, ada sesuatu yang menyebabkan saya lebih suka dikenal sebagai Bunga Merah saja,"

Kata Sin Lee.

Dia khawatir bahwa kalau namanya banyak dikenal orang akan segera diketahui orang bahwa dia adalah seorang pangeran, adik Sribaginda Kaisar Kian Cung.

Dan kalau sudah begitu tentu dia tidak akan leluasa bergerak lagi.

"Ha-ha-ha, siancai... siancai..."

Inilah yang dinamakan menurut apa yang disebut.

Siapa yang menonjolkan diri tidak berhasil, siapa yang menjunjung diri tidak dapat berlangsung!

Taihiap tidak ingin memperkenalkan nama dan menggunakan nama Ang-hwa (Bunga Merah), sungguh mengagumkan sekali!"

"Harap Pangcu memaafkan saya dan tidak menganggap saya congkak dan sombong,"

Kata Sin Lee sambil kembali memberi hormat.

"Ah, tidak. Setiap orang berhak menentukan nama sendiri, Taihiap. Sekarang, kulihat kalian bertiga ini datang bersama Susiok kalian dalam keadaan babak belur. Bukankah kalian bertiga sudah bekerja membuka Pek-liong piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Naga Putih)?"

Tiga orang murid Kong-thong-pai itu lalu berlutut memberi hormat dan si kumis tebal melapor.

"Harap Suhu memaafkan teecu bertiga kalau hari ini terpaksa teecu membuat sibuk pikiran Suhu dengan laporan kami. Ada malapetaka menimpa diri teecu bertiga."

"Apa yang telah terjadi?"

Tanya ketua Kong-thong-pai itu. Mereka lalu mengerling ke arah Sin Lee dan Kiang Cu I yang maklum akan keraguan mereka, segera berkata.

"Kalian boleh menceritakan sejujurnya di depan Pendekar Bunga Merah. Dia adalah seorang pendekar perkasa, mungkin bahkan dapat memberi petunjuk kepada kalian."

Kam Sun Tojin, ketua Kong-thong-pai tertawa.

"Siancai, sebelumnya kami bahkan minta bantuan Ang-hwa Taihiap kalau-kalau kami menghadapi ancaman bahaya."

"Harap Pangcu tidak bersikap sungkan. Di antara orang sendiri, soal bantu membantu sudah merupakan kewajiban yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Apa lagi terhadap Kong-thong-pai, bahkan terhadap siapapun yang membutuhkan bantuan, kalau tenaga saya mencukupi, pasti akan saya bantu."

"Ci Toan, kau wakili saudara-saudaramu, ceritakan apa yang terjadi dengan kalian,"

Kata ketua itu kepada si kumis tebal.

Ci Toan, si kumis tebal itu, lalu bercerita.

Setelah lulus dari perguruan Kong-thong-pai, Ci Toan bersama adiknya, Ci Gu, dan seorang sutenya, Yong Hai, membuka sebuah perusahaan pengawal pengiriman barang dan mereka memberi nama pada perusahaan mereka itu Pek-liong Piauw-kiok.

Selama lima tahun membuka perusahaan itu, jarang terjadi gangguan.

Para perampok sudah puas dengan menerima sedikit sogokan dari Pek-liong Piauw-kiok.

Mereka tidak berani sembarangan mengganggun setelah para pengganggu sebelumnya dihajar oleh tiga saudara seperguruan itu.

Bendera yang bergambarkan naga putih, dan tulisan Kong-thong-pai amat berwibawa dan para perampok tidak berani menganggunya.

Sepekan yang lalu, Pek-liong Piauw-kiok mengawal kiriman sepeti terisi emas permata milik seorang pembesar yang pensiun dan hendak pulang ke dusunnya.

Karena barang yang dikirim itu amat berharga, maka Ci Toan, Ci Gu dan Yong Hai sendiri turun tangan mengawalnya.

Harta itu berharga amat besar sehingga kalau sampai hilang, biar bekerja keras sampai puluha tahunpun mereka tidak akan dapat menggantinya.

Demikianlah, pada hari itu, sepekan yang lalu sepeti emas permata itu dikawal oleh tiga orang pimpinan Pek-liong Piauw-kiok sendiri dan masih ditambah dengan para pengawal anak buah mereka sebanyak selosin orang.

Ketika rombongan pengawal ini tiba di kaki bukit Kwi-san, dalam perjalanan antara Lok yang dan Su-kiang, tepat pada jalan yang diapit hutan rimba, tiba-tiba saja muncul seorang pemuda.

Melihat pemuda itu rebah di atas tanah melintang menghalangi jalan, semua piauw-su merasa heran.

Disangkanya pemuda itu sakit, lalu mereka menghampiri dan mengurungnya.

Ternyata pemuda itu sedang tidur mendengkur, telentang dengan mulut terbuka.

Pemuda itu cukup tampan, akan tetapi rambutnya awut-awutan sebagian menutupi mukanya dan pakaiannya sungguh aneh sekali.

Pakaian itu berwarna-warni, berkembang-kembang pula dan ternyata terbuat dari bermacam-macam kain yang disambung-sambung, akan tetapi semua kain itu masih baru dengan bentuk potongan pakaiannya juga luar biasa.

Lengannya panjang pendek, di bagian leher dan dada terbuka sehingga nampak kulit dadanya yang putih.

Baju itupun panjang sampai ke lutut.

Celananya terlalu besar akan tetapi panjangnya hanya sampai bawah lutut dan di bagian bawahnya tidak terjahit sehingga menyerupai rumbai-rumbai.

Melihat bahwa orang itu tidak sakit melainkan tidur mendengkur, Ci Toan dan dua orang adiknya tertawa.

"Heii, bangun! Jangan tidur di tengah jalan, kami hendak lewat!"

Tegur Yong Hai. Orang itu tidak menjawab dan tetap tidur mendengkur. Yong Hai yang berwatak berangasan itu merasa dipermainkan, lalu diguncang-guncang pundak orang itu.

"Heii, bangun! Kalau tidak, kereta kami akan melindasmu hancur!"

Orang muda itu kini membuka matanya, akan tetapi hanya sebelah, lalu mulutnya mengomel.

"Huh, mengganggu orang sedang tidur. Pergi!"

Yong Hai marah. Dia sudah menggerakkan tangan hendak memukul, akan tetapi Ci Gu melarangnya.

"Suheng, jangan pukul. Orang ini agaknya tidak waras, otaknya miring, kalau tidak masa tidur melintang di tengah jalan?"

Lalu Ci Gu yang mengguncang pundaknya.

"Saudaraku, bangunlah dan biarkan kami lewat dulu, baru nanti kau tidur lagi."

Orang itu membuka mata lagi, menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan.

"Ahh, rewel, mengganggu orang tidur. Aku mau pindah kalau diberi upah."

"Sobat, minta diupah berapa? Katakanlah, akan kami beri upah kepadamu."

"Betul, berapapun yang kuminta, akan kau beri?"

Orang gila itu kini terkekeh-kekeh senang seperti seorang anak kecil dijanjikan akan diberi hadiah.

"Tentu saja boleh dan pasti kuberi,"

Kata Ci Toan yang menduga bahwa orang gila ini tentu akan puas diberi sedikit uang receh.

"Sumpah dulu, he-he-he, sumpah dulu..."

"Gila! Masa pakai sumpah segala macam?"

Bentak Yong Hai akan tetapi Ci Toan memberi tanda kedipan mata kepadanya.

"Baiklah aku bersumpah akan kau hajar babak belur kalau aku berbohong." (Lanjut ke

Jilid 09) Pendekar Bunga Merah (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Bagus!"

Si gila itu kini bangun berdiri dan tubuhnya ternyata cukup tegap.

Wajahnya juga tidak buruk, bahkan agak tampan akan tetapi jelas bahwa otaknya miring, matanya liar berputar-putar dan mulutnya tertawa ha-ha-he-he seperti anak kecil.

"Coba aku hitung. Pertama, kalian mengganggu tidurku, itu harus didenda. Kedua kalian membuat kaget aku, itupun ada dendanya. Kemudian kalian minta aku pergi dari sini, padahal jalan ini bukan milik kalian. Haaaaa, itu bertumpuk-tumpuk jadinya aku minta kalian serahkan saja peti itu kepadaku, habis perkara! Adil, bukan?"

Dia lalu menghampiri kereta itu untuk mengambil peti hitam yang terisi emas permata.

Semua orang terkejut dan tentu saja tiga orang Piauwsu itu dan anak buahnya segera mengepung kereta dan melarang orang itu datang mendekat.

"Gila! Mengapa upahnya begitu gila? Pantasnya upah itu uang beberapa keping. Nah, ini kuberi upah beberapa keping dan cepat pergilah!"

Kata Ci Toan sambil merogoh saku bajunya untuk mengambil beberapa potong uang receh.

"Tidak mau, ahhh, tidak mau... huu-huu-huuu... kalian mau berbohong melanggar sumpah, hu-huuu...!"

Laki-laki muda itu menangis!

Lucu dan aneh, bahkan mengerikan melihat seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh tahun itu menangis sambil mengusap-usap kedua matanya yang basah dengan punggung tangan seperti anak kecil.

Dan kembali dia rebah melintang di tengah jalan!

Tiga orang Piauwsu itu menjadi marah.

Terutama sekali Yong Hai, karena menurut dia, baik gila atau tidak, jelas orang itu hendak mempermainkan mereka.

"Orang gila, bangun dan pergi kau! Atau kau ingin kupukuli sampai babak belur?"

Mendengar ini, orang gila yang tadinya menangis itu mendadak tertawa bergelak-gelak.

"Ha-ha-ha-heh-heh, benar sekali. Bukankah kalian tadi bersumpah bahwa kalau kalian berbohong, biar kuhajar sampai babak belur? Nah, sekarang aku harus menghajar kalian sampai babak belur!"

Setelah berkata demikian, dia bangkit dan sekali tangannya menampar ke arah Yong Hai, terdengar bunyi.

"Plakk!"

Dan tubuh Yong Hai terpelanting karena tamparan itu kuat sekali dan membuatnya menjadi pening.

Suheng dan sutenya terkejut.

Kenapa demikian mudahnya Yong Hai terkena tamparan dan kenapa pula sekali kena tamparan si gila itu langsung terpelanting?

Yong Hai marah sekali.

Rasanya tadi seperti disambar halilintar saja akan tetapi dia tidak terluka parah, hanya pipinya agak membengkak dan rasanya nyut-nyutan.

Dia bangkit kembali.

"Orang gila, berani engkau memukul aku!"

Bentaknya.

"Mengapa tidak berani? Kalian sudah bersumpah, ha-ha-ha, dan aku boleh memukuli babak belur sesuka hatiku. Heii, kalian berdua belum kebagian. Mari sini kuberi hadiah tamparan!"

Berkata demikian kakinya melangkah mendekati Ci Toan dan Ci Gu, dan kedua tangannya bergerak menampar.

Ci Toan dan Ci Gu mengelak, akan tetapi sungguh aneh, lengan orang gila itu dapat mulur dan biarpun sudah dielakkan tetap saja dapat mengejar dan.

"Plak! Plak!"

Kedua orang itu terkena tamparan pada pipi mereka. Demikian keras dan kuatnya tamparan itu sehingga merekapun roboh terpelanting! Kini terkejutlah tiga orang Piauwsu itu.

"Kepung, hajar orang gila ini!"

Kata Ci Toan karena kini dia curiga bahwa orang gila itu hanyalah seorang perampok tunggal yang lihai sekali dan hendak merampas peti emas permata yang dikawalnya.

Dikepung oleh dua belas orang anak buah piauw-kiok dan tiga orang Piauwsu itu, si gila lalu berteriak-teriak minta tolong.

"Tolong... tolooongg... Ayah... ibu... toloongg...!"

Semua orang tidak perduli, dan menganggap orang gila itu berteriak asal saja.

Mereka semua menyerbu dan siap memukuli si gila.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tawa yang menyeramkan sekali.

Tawa yang parau bercampur baur dengan suara tawa terkekeh genit.

Mereka semua menoleh dan meremang bulu tengkuk mereka melihat dua orang laki-laki dan wanita setengah tua datang bergandeng tangan sambil tertawa-tawa.

"Hua-ha-ha-ha, Aceng, kenapa engkau menangis?"

Tanya si pria yang pakaiannya mirip pakaian pemuda tadi, berkembang-kembang aneh, sedangkan wanitanya berpakaian sutera merah polos!

Jelas dari pakaiannya saja dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang gila.

"Aceng sayang, jangan takut, mari kita hajar orang-orang gila ini!"

Kata si wanita sambil terkekeh-kekeh genit.

Orangnya memang cukup cantik akan tetapi kecantikan yang tidak menarik melainkan mengerikan dan menggelikan.

Rambutnya awut-awutan, digelung secara malang-melintang aneh, memakai hiasan bunga-bunga setaman!

Mulutnya memakai gincu merah sampai berlepotan di bibirnya.

Dan kini tiga orang keluarga gila itu menggerakkan tubuh mereka.

Semua Piauwsu dan anak buah mereka menggerakkan senjata untuk melawan, akan tetapi berturut-turut mereka roboh terpelanting.

Mereka bangkit lagi hanya untuk disambut tendangan atau tamparan.

Tiga orang itu seperti kanak-kanak yang mendapatkan permainan baru, tidak memukul terlalu keras sehingga tidak sampai membunuh akan tetapi cukup kuat membuat semua orang babak belur.

Biarpun Ci Toan, Ci Gu dan Yong Hai menggunakan pedang dan memainkan ilmu pedang Kong-thong-pai, tetap saja mereka dihajar babak belur dan pedang mereka terlempar entah ke mana.

Akhirnya, lima belas orang itu tidak dapat menahan lagi siksaan yang mereka derita dan merekapun melarikan diri agar jangan disiksa lebih lama lagi.

"Demikianlah, Suhu. Kami bertiga tidak berdaya melindungi peti dengan isinya yang dibawa pergi mereka. Kami harus mempertanggung-jawabkan terhadap Ouw-Taijin (Pembesar Ouw) yang memiliki barang itu, akan tetapi bagaimana caranya? Keluarga gila itu sungguh lihai bukan main."

Ci Toan menutup ceritanya sambil menangis.

"Siancai... di manakah di dunia kang-ouw ini ada keluarga gila seperti itu? Pinto belum pernah mendengarnya..."

Kata Kam Sun Tojin termenung.

"Aku juga belum pernah mendengarnya, Suheng. Taihiap yang sudah banyak menjelajahi kota dan desa, apakah pernah mendengar tentang adanya keluarga gila seperti itu?"

Tanya Kiang Cu I. Sin Lee menggeleng kepalanya.

"Belum pernah melihatnya, juga mendengarpun belum, paman."

Tiba-tiba di antara para murid Kong-thong-pai yang hadir di situ, terdengar suara wanita.

"Ayah, aku pernah mendengar tentang keluarga gila yang lihat itu!"

Semua orang memandang, juga Sin Lee dan dia kagum.

Gadis itu berusia sembilan belas tahun, cantik manis dengan kedua pipinya yang putih mulus itu kemerahan, seperti biasa pipi wanita muda dari pegunungan.

"Bi Hwa, benarkah engkau pernah mendengar tentang keluarga gila itu? Dari mana engkau mendengarnya?"

Tanya Kam Sun Tojin kepada murid keponakannya itu.

Kiang Bi Hwa adalah puteri atau anak tunggal Kiang Cu I, dan ia merupakan murid Kong-thong-pai yang menjadi kesayangan semua murid, karena bukan saja ia cantik dan ramah, akan tetapi juga dalam hal ilmu silat, kepandaiannya menonjol dan ia sudah menguasai semua ilmu yang diajarkan Ayahnya.

"Supek, saya mendengar ketika saya mewakili Kong-thong-pai berkunjung ke Thian-san-pai itu. Ketika itu di antara para tamu ada yang bicara tentang munculnya tiga orang gila di dunia kang-ouw yang terdiri dari suami isteri dan puteranya dan kabarnya ilmu kepandaian mereka memang luar biasa sekali. Akan tetapi yang saya dengar, mereka itu bukan penjahat, artinya di antara mereka tidak pernah melakukan perampokan atau kejahatan lain walaupun watak mereka memang aneh sekali. Kalau saya tidak salah ingat, mereka itu dari keluarga Song. Saya tidak menceritakan berita itu kepada Supek atau Ayah kerena saya anggap itu hanya kabar angin belaka, siapa kira hari ini kita berurusan langsung dengan mereka. Biar saya yang akan mendatangi mereka dan merampas kembali barang kawalan Ci Suheng dan kawan-kawannya, Supek!"

Diam-diam Sin Lee kagum akan ketegasan dan kegagahan gadis itu. Akan tetapi Ayah gadis itu cepat berkata.

"Suheng, urusan ini bukan urusan kecil, selain menyangkut pertanggungan-jawaban murid Kong-thong-pai, juga menyangkut nama dan kehormatan Kong-thong-pai. Kalau sampai tersiar berita bahwa barang yang dilindungi murid Kong-thong-pai dapat dirampas orang, tentu orang-orang akan memandang rendah kepada Kong-thong-pai. Dan mengingat bahwa keluarga gila itu amat lihai, maka saya minta perkenan Suheng untuk menangani sendiri urusan ini."

"Siancai..."

Hari ini Kong-thong-pai menghadapi urusan besar.

Engkau benar, sute, memang harus engkau sendiri yang menangani.

Akan tetapi jangan seorang diri.

Bawalah murid-murid yang terpandai untuk membantumu.

Urusan ini bukan urusan mengadu ilmu memperebutkan kehormatan, akan tetapi untuk mengambil kembali barang yang dirampok.

Jadi, tidak perlu sungkan menggunakan tenaga banyak murid."

"Baik, Suheng. Sekarang juga saya akan mengumpulkan murid-murid yang terbaik."

"Ayah, biarkan aku yang akan memilih para Suheng yang patut untuk menyertai kita, aku yang akan memimpin mereka!"

Kata Bi Hwa dengan gagah dan ucapan ini berarti bahwa ia, tidak boleh ditawar-tawar lagi, akan ikut dalam usaha perampasan kembali barang berharga itu.

Sin Lee yang sejak tadi merasa tidak enak karena dia bertamu kepada keluarga yang sedang sibuk menghadapi urusan besar, lalu minta diri berpamit kepada mereka.

"Harap Pangcu dan paman Kiang suka memaafkan aku. Akan tetapi kurasa aku tidak perlu mengganggu cu-wi (kalian) lebih lama lagi. Aku hendak melanjutkan perjalananku."

Kam Sun Tojin dan Kiang Cu I segera memberi hormat dan Kiang Cu I berkata.

"Taihiap harap maafkan kami tidak dapt menyambut sebagaimana mestinya."

"Siancai..."

Pendekar Bunga Merah kenapa demikian tergesa-gesa? Kenapa tidak tinggal di sini selama beberapa hari agar dapat bercakap-cakap dengan pinto?"

"Terima kasih, Pangcu. Biarlah lain kali saja saya datang berkunjung lagi kalau saatnya tepat, kalau Kong-thong-pai tidak sedang menghadapi urusan besar seperti ini."

Dia lalu memberi hormat dan meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Akan tetapi tentu saja Sin Lee tidak pergi jauh.

Sampai di luar wilayah Kong-thong-pai, dia bersembunyi dan menanti.

Hatinya sudah tertarik sekali mendengar cerita tentang keluarga gila itu.

Dia seperti dapat mencium adanya bahaya yang mengancam Kong-thong-pai, oleh karena itu dia menanti dan mengambil keputusan untuk membayangi mereka dan kalau perlu membantu mereka.

Dia tentu saja tidak berani mencampuri urusan orang lain secara berterang, karena hal itu sama saja dengan meremehkan kemampuan orang-orang Kong-thong-pai.

Tak lama kemudian, lewatlah rombongan orang Kong-thong-pai itu di situ.

Sin Lee mengintai.

Yang menjadi pimpinan rombongan adalah Kiang Cu I sendiri yang berjalan di samping puterinya, Kiang Bi Hwa yang nampak cantik dan gagah.

Gadis ini sudah berganti pakaian ringkas berwarna merah muda, dengan pedang di punggung dan rambut digelung ke atas ia nampak gagah dan jelita.

Di belakang Ayah dan anak ini berjalan Ci Toan, Ci Gu dan Yong Hai sebagai penunjuk jalan, dan masih ada lagi sepuluh orang murid Kong-thong-pai yang sudah lihai ilmu silatnya.

Mereka semua membawa pedang di punggung, sehingga kelihatan seperti barisan pedang.

Sin Lee membiarkan mereka lewat sampai jauh, baru dia membayangi mereka dari jarak jauh.

Dia teringat bahwa tempat di mana tiga murid Kong-thong-pai bertemu keluarga gila itu adalah di antara kota Lok-yang dan Su-kiang, di kaki bukit Kwi-san.

Melihat gerakan rombongan itu tidak begitu cepat, Sin Lee lalu menggunakn ilmu berlari cepat, hendak mendahului mereka karena dia ingin sekali "Berkenalan"

Dengan keluarga gila itu.

Menurut Bi Hwa, gadis jelita itu, keluarga gila itu tidak pernah berbuat jahat.

Kenapa sekarang mengganggu tiga orang murid Kong-thong-pai?

Dan dia teringat pula akan sikap tiga orang murid itu yang agak kasar dan tidak menghargai orang.

Apakah karena itu maka perampokan terjadi?

Ingin dia mengetahui sendiri dan kalau memang keluarga gila itu tidak jahat, dia harus mencegah terjadinya pertempuran.

Karena melakukan perjalanan dengan pengerahan ilmu berlari cepat, menjelang sore hari Sin Lee sudah tiba di tempat itu, di kaki bukit Kwi-san, jalan yang terapit hutan rimba itu.

Karena jalan itu sunyi saja, dia lalu memasuki hutan.

Dia mendaki bukit Kwi-san, karena dia menduga bahwa tinggal di daerah itu paling enak tentu memilih puncak Kwi-san.

Belum lama dia mendaki, dia mendengar suara orang tidur mendengkur.

Jantungnya berdebar.

Bukankah Ci Toan bercerita bahwa ketika pertama kali bertemu dengan pemuda gila yang oleh orang tuanya dipanggil Aceng itu, pemuda gila itu juga tertidur melintang jalan sambil mendengkur?

Makin keras saja suara dengkur itu ketika dia menyusup masuk hutan dan tak lama kemudian dia mendapatkan dari mana suara dengkur itu terdengar.

Nun di sana, jauh di atas pohon yang tinggi terjepit dahan dan ranting, nampak seorang laki-laki sedang tidur mendengkur!

Melihat betapa orang itu masih muda, berpakaian warna-warni berkembang, tahulah dia bahwa orang inilah yang disebut Aceng, pemuda gila itu.

Diapun bersikap hati-hati dan waspada.

Dia melihat sebuah sarang lebah tergantung di pohon itu dan dia mendapatkan pikiran baik untuk menggugah si gila tanpa terlihat bahwa dia yang melakukannya.

Dipungutnya sebutir kerikil dan sehelai daun.

Kerikil itu disambitkannya ke arah sarang lebah dan daun itu disambitkan ke arah kaki si gila yang sedang tidur mendengkur itu.

Dengan tepat sarang lebah itu kemasukan kerikil.

Tentu saja pada penghuninya menjadi geger dan beterbangan keluar, mengaung-ngaung.

Adapun sehelai daun itu mengenai kaki yang telanjang dan yang pipa celananya tinggi, dan itu sudah cukup untuk membangunkan orang yang sedang tidur.

Pemuda gila itu menguap dan menggerakkan tangannya, dan pada saat itulah lebah-lebah yang melihat gerakan ini, langsung saja menyerangnya.

"Aduh, aduh... auwww... aduh...!"

Si gila meronta, dan melayang turun dengan gerakan ringan sekali.

Akan tetapi lebah-lebah itu masih mengejarnya.

Dan ternyata si gila itu memang memiliki tubuh yang kebal.

Biarpun terasa nyeri dan gatal, namun tidak ada yang bengkak disengat lebah itu.

Dan diapun menjadi marah.

"Tawon gila! Tawon jahat! Apa salahku maka engkau menggigitku? Kau kira aku tidak mampu balas menggigitmu?"

Dan dia lalu menangkapi lebah yang menempel di tubuhnya, membawanya ke mulut lalu menggigit lebah-lebah itu.

"Ehh? Engkau manis! Enak!"

Dan diapun makin getol menangkapi lebah-lebah yang menempel di tubuhnya, langsung mengigit.

Tentu saja lebah yang digigitnya langsung hancur.

Sin Lee yang bersembunyi di balik pohon memandang dengan heran dan juga geli hatinya.

Orang ini memang gila seratus prosen.

Akan tetapi ketika melayang turun tadi jelas menunjukkan bahwa ginkangnya memang istimewa, dan disengat lebah-lebah itu mengapa tidak menjadi bengkak-bengkak malah membalas menggigit lebah dan menghisap darahnya yang dikatakannya manis?

"Heii, Aceng...!"

Dia memberanikan diri keluar dari tempat sembunyinya.

"Heii...!"

Aceng menoleh dan melambaikan tangan, seperti seorang anak kecil bertemu temannya.

"Mari sini, lebah-lebah ini menggigit aku, maka kubalas gigit mereka. Wah, rasanya manis lho!"

Sin Lee tidak mendekat.

"Ogah ah, aku takut disengat. Aceng, lebah-lebah itu bukan menggigitimu, melainkan menyengat. Engkau tidak boleh balas menggigit!"

Teriak Sin Lee yang asal bicara saja untuk mengadakan hubungan.

"Tidak boleh menggigit? Lalu bagaimana? Kalau mereka menyengat, bagaiman aku harus membalasnya?"

"Tentu juga dengan menyengat mereka!"

"Waaah, bagaimana caranya menyengat? Dengan apa? Pantatku tidak ada sengatnya!"

Dan Sin Lee tertawa mendengar ini, lalu terdengar pemuda itu juga tertawa.

Keduanya tertawa bergelak-gelak.

Sin Lee tertawa bukan dibuat-buat melainkan memang geli hatinya membayangkan pemuda itu mempunyai sengat di pantatnya.

Si gila itu lalu menghampiri Sin Lee.

"He-he-he, engkau menyenangkan sobat, mari kita main-main. Siapa namamu?"

"Namaku Sin Lee,"

Kata Sin Lee sambil mengambil bunga merah dari kancing bajunya dan menyerahkan kepada si gila.

"Apa ini?"

"Ini kembang merah, bagus sekali kalau engkau pakai menghias rambutmu,"

Kata Sin Lee yang mengagumi perhiasan yang dipakai pemuda gila itu.

Ada lima helai kalung melingkari lehernya, kalung emas dengan mainan permata besar-besar.

Juga lengannya memakai gelang, bahkan kedua kakinya juga memakai gelang!

Teringatlah dia akan peti perhiasan yang dirampas itu.

"Ha-ha, bagus sekali. Kembang merah bagus sekali."

Si gila itu menari-nari sambil memeluknya, agaknya dia memakai minyak wangi! "Sin Lee, nanti kalau aku menikah engkau akan kuberi sedikit."

"Beri apa?"

"Tentu kuberi apa yang kudapat. Aku memperoleh isteri, nah, kuberikan isteriku kepadamu sedikit."

"Wah, engkau ini aneh saja."

"Kenapa aneh? Kalau sahabat baik, tentu akan memberikan miliknya kepada sahabatnya itu dan engkau memang sahabat baikku."

Wah, berabe memang. Jalan pikiran orang gila memang sukar diikuti, tapi Sin Lee maklum bahwa selamg tidak menentangnya, tentu Aceng akan menganggapnya sahabat baik. Aceng memegang tangan Sin Lee.

"Mari ikut."

"Ke mana?"

"Pulang. Aku akan memberi tahu Ayah ibu bahwa aku telah mempunyai seorang kawan yang baik sekali. Mari, nanti kumintakan barang-barang bagus dari mereka untukmu."

Aceng lalu berlari cepat sambil menggandeng tangan Sin Lee.

Diam-diam Sin Lee mengendurkan tenaganya saja dan dia hendak melihat sampai di mana ilmu kepandaian Aceng.

Dan dia kagum.

Pemuda gila itu pandai berlari cepat.

Tubuhnya ringan dan tangan yang memegang pergelangan tangannya itu kuat sekali sehingga tubuhnya seolah terangkat dan dia dibawa lari secepat terbang.

Pantas saja tiga orang murid Kong-thong-pai itu tidak mampu melawannya.

Dia merasa kebetulan sekali karena memang inilah yang dikehendakinya.

Menyelidiki keadaan tiga orang gila itu.

Kalau dia yang mendatangi mereka mungkin saja berbahaya.

Akan tetapi kalau Aceng yang membawanya, tentu Ayah ibu pemuda yang tentu lebih lihai lagi tidak akan marah.

Aceng membawanya naik ke puncak Kwi-san dan ternyata di sana berdiri sebuah rumah besar yang terbuat dari pada kayu dan bambu.

Atapnya dari daun bambu dianyam.

Biarpun sederhana seperti gubuk, namun gubuk itu besar dan di sekitarnya ditumbuhi banyak kembang yang beraneka warna dan ragam.

Agaknya keluarga gila ini suka pula akan keindahan dan memiliki jiwa seni, pikir Sin Lee.

Dan biasanya, orang yang memiliki jiwa seni, jarang ada yang berwatak jahat.

"Ayah! Ibu! Lihat siapa yang kubawa ke sini!"

Teriak Aceng ketika mereka tiba di depan rumah.

Dia melepaskan tangan Sin Lee yang memandang sekeliling.

Indahnya pemandangan dari tempat itu.

Sungguh, tempat ini memiliki hong-swi (letak) yang bagus sekali.

Dan inipun menunjukkan bahwa orang-orang ini memiliki jiwa seni.

Seorang laki-laki berpakaian seperti Aceng datang menghampiri dan matanya bergerak liar memandang ke sekeliling, seperti berputar-putar.

Wanitanya tidak kalah anehnya.

Pakaiannya dari sutera merah, potongannya juga aneh, kedodoran.

Dan wanita ini berbedak tebal, bergincu dan tubuhnya penuh dengan perhiasan yang mahal-mahal seperti yang dipakai Aceng.

Wanita inipun tertawa-tawa mengerikan, walaupun harus diakui bahwa wajah itu sama sekali tidak buruk, bahkan cantik.

Kecantikan yang aneh dan membuat orang takut!

"Hooo, siapa kawanmu ini, Aceng?"

Tanya sang Ayah sambil matanya memandang kepada Sin Lee penuh selidik. Sin Lee merasa seolah-olah pandang mata itu menggerayangi tubuhnya dari kepala sampai ke kaki, membuatnya merasa tidak enak.

"He-he-hi-hi, pemuda begini tampan engkau dapatkan di mana, Aceng? Berikan saja kepada ibumu untuk teman main-main!"

Kata wanita itu dan Sin Lee merasa tubuhnya panas dingin. Kalau dia diberikan kepada wanita itu dan diajak bermain-main, sungguh mengerikan sekali.

"Aiih, ibu. Mana bisa? Aku yang menemukan dia."

Wanita itu mendekati Aceng dan mengelus-elus wajah puteranya.

"Aceng, kenapa pipimu ini? Dan lehermu? Kenapa ada tanda merah-merah ini. Engkau keracunan!"

"Ihh, ibu. Sialan itu lebah-lebah. Mereka menggigiti aku, dan aku sudah balas menggigit mereka sampai hancur. Eh, kawan baikku ini mengatakan bahwa lebah itu tidak menggigit melainkan menyengat. Ayah, ibu, ajarkan aku menyengat supaya kelak aku dapat membalas lebah-lebah atau apa saja yang menyengatku!"

Suara Aceng berubah manja seperti seorang anak kecil merengek minta dibelikan kembang gula.

Diam-diam Sin Lee merasa geli sekali, akan tetapi ditahannya agar jangan sampai tertawa karena dia khawatir kalau dikira menertawakan mereka.

"Hiiii, kalau ingin tertawa, tertawa saja. Jangan ditahan-tahan begitu, menyebalkan!"

Wanita itu tiba-tiba menudingkan telunjuknya kepada Sin Lee.

Sin Lee terkejut.

Begitu awaskah wanita ini sehingga dapat melihat bahwa dia ingin tertawa dan ditahan-tahannya.

Dan tiba-tiba saja ketiganya meledak-ledak tertawa dan mau tidak mau Sin Lee ikut pula tertawa haha-hehe.

Celaka, pikirnya, kini dia tertawa lepas tak ditahannya pula, ketawa lepas bebas dan dia pikir, kalau terlalu lama berada di antara mereka, tentu dia ketularan gila!

"Nah, begitu baru bagus!"

Kata kakek itu.

"Sin Lee, kami senang sekali padamu. Kamu waras seperti kami, tidak gila seperti orang-orang yang suka mencela kami dan mengatakan kami gila. Kamu adalah sahabat baik kami dan awas mereka kalau ada yang mengganggu kamu. Eh, Aceng, engkau ingin belajar menyengat?"

"Benar, Ayah. Aku ingin sekali, akan tetapi bagaimana mungkin? Pantatku tidak ada sengatnya."

"Siapa bilang tidak mungkin? Nah, kau lihat baik-baik."

Kakek itu lalu membuat gerakan jurus silat yang aneh. Mula-mula pantat disorongkan akan tetapi tiba-tiba saja tubuh itu membalik dan kakinya sudah menendang.

"Nah, tendangan kaki itu menggantikan sengatmu. Pasti orang menjadi terkejut dan tahu-tahu terkena tendangan."

Aceng menirukan gerakan Ayahnya dan Sin Lee kagum bukan main karena kakek itu seketika dapat menemukan gerakan jurus yang aneh, dan Aceng juga setelah mengulang tiga empat kali sudah dapat meniru gerakan Ayahnya tadi.

Tak terasa lagi Sin Lee bertepuk tangan memuji.

"Bagus sekali, Aceng!"

"Ha-ha-ha, engkau teman Aceng yang baik, Sin Lee. Ketahuilah, namaku Song Kian Ok, dan ini isteriku Nyonya Song. Dia bernama Song Ceng, panggilannya Aceng."

"Eh, suamiku, ada orang-orang datang ke sini!"

Kata Nyonya Song dan Sin Lee mengerahkan pendengarannya.

Barulah dia dapat menangkap suara dari jauh.

Wanita itu sambil bercakap-cakap dapat menangkap gerakan orang-orang yang mendatangi dari jauh.

Ini saja sudah menunjukkan bahwa ia memang memiliki sin-kang yang jempolan.

Ayah dan anka itu diam sejenak dan merekapun dapat mendengarnya.

Sin Lee dapat menduga bahwa yang datang itu tentulah rombongan orang dari Kong-thong-pai, maka diapun memancing omongan tentang mereka.

"Paman dan bibi Song, dan Aceng, tadi ketika aku mendaki bukit, di bawah sana aku melihat serombongan orang. Kalau tidak salah orang-orang itu adalah para muring Kong-thong-pai, dan beberapa orang adalah Piauwsu-Piauwsu dari Pek-liong Piauw-kiok. Apakah mereka yang naik ke sini?"

"Bagus, kalau mereka benar-benar datang, biarlah si tua Kam Sun Tojin sendiri yang datang menghadap aku!"

Kata Song Kian Ok.

"Sudah lama mendengar namanya, kalau dia tidak mampu mengajar adat kepada murid-muridnya, biarlah aku yang mengajar adat kepada Kam Sun Tojin."

"Suamiku, bukankah Kam Sun Tojin itu pewaris ilmu Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai?"

"Benar, dan kalau sampai ketua Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai mau datang dan ikut-ikutan, biar sekalian kuhajar?"

Sin Lee terkejut.

Kakek ini demikian congkak, hendak menghajar ketua Kong-thong-pai, ketua Siauw-lim-pai dan ketua Kun-lun-pai.

Sehebat apakah ilmu kepandaiannya?

"Wah, kalau akan timbul perkelahian, aku takut.

Lebih baik aku pergi dulu!"

Katanya dan di hendak pergi dari situ. Akan tetapi Aceng memegang tangannya. Pegangannya demikian kuat sehingga Sin Lee tidak mampu melepaskan diri.

"Sin Lee, kenapa takut? Kau kira aku tidak tahu bahwa engkaupun memiliki kepandaian? Kalau tidak ingin terlihat mereka, hayo bersembunyi di dalam rumah saja."

Dan dia menarik Sin Lee memasuki rumah.

Sin Lee terpaksa menurut karena tidak ingin mereka yang bersikap baik kepadanya itu tiba-tiba menaruh curiga.

Dia mengintai dari balik pintu.

Keluarga gila itu kini berdiri di pekarangan rumah dan bertolak pinggang, tertawa ha-ha-hi-hi menyambut datangnya belasan orang itu.

Kini nampaklah rombongan orang Kong-thong-pai itu.

Paling depan berjalan Kiang Cu I dan gadisnya Kiang Bi Hwa.

Sedangkan di belakangnya berjalan tiga orang Piauwsu yang nampak jerih dan sepuluh orang murid Kong-thong-pai yang masih muda-muda dan nampak gagah perkasa.

Barisan kecil ini nampak angker dan berwibawa.

Akan tetapi tiga orang gila itu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan Aceng lalu bermain-main dengan lima untai kalung emas permata yang melingkari lehernya.

Akan tetapi ketika melihat Bi Hwa, matanya terbelalak, dan tiba-tiba saja Aceng tertawa, mengejutkan semua yang baru datang karena tawanya keras sekali.

Pandang matanya tidak pernah lepas dari Bi Hwa dan Aceng lalu merengek.

"Ayah, ibu, itu ia pengantinku sudah datang! Ha-ha-ha-ha secantik bidadari! Lihat ibu, matanya itu, dan mulutnya... wah, manisnya. Ayah, ibu, kalau tidak mendapatkan isteri seperti itu, lebih baik aku mati!"

Wajah Bi Hwa seketika menjadi merah sekali lalu berubah agak pucat karena marah mendengar ucapan yang gila itu.

"Orang gila!"

Bentaknya dengan suara nyaring dan menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda gila itu.

"Cepat kembalikan peti perhiasan yang kau rampok atau terpaksa aku akan menghajarmu!"

"Bi Hwa, tenanglah,"

Kata Ayahnya yang melangkah maju menghadapi keluarga gila itu.

Kiang Cu I adalah seorang wakil ketua perkumpulan besar.

Dia sudah mempunyai banyak pengalaman maka biarpun yang dihadapinya sebuah keluarga gila, dia tidak berani memandang rendah.

Ada suatu sikap dari para tokoh kang-ouw, yaitu untuk tidak memandang remeh, bahkan berhati-hati sekali kalau bertemu dengan orang-orang yang nampaknya lemah seperti wanita, pendeta, pengemis yang nampaknya berpenyakitan.

Dia melangkah maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.

"Saya Kiang Cu I, wakil ketua Kong-thong-pai, minta maaf apa bila kedatangan kami serombongan mengganggu sam-wi yang menjadi penghuni tempat ini,"

Katanya lantang.

"Bagus, bagus! Kam Sun Tojin sudah berani memandang rendah kepada kita sehingga datang hanya mengirim wakilnya saja. Apa dia kira dia itu terlalu hebat dan tidak pantas untuk datang berkunjung?"

Kata Song Kian Ok kepada isterinya.

"He-he-hi-hi-hik, kirim wakilnya juga sudah lumayan, apalagi disertai tiga belas orang muridnya. Hei, siapa namamu tadi? Kiang Cu I? Kenapa Kong-thong-pai mempunyai pimpinan yang brengsek, tidak dapat mengajar adat kepada para muridnya?"

Kiang Cu I kembali mengangkat tangan memberi hormat.

"Saya mewakili Kong-thong-pai minta maaf apa bila ada murid kami yang bersalah dan harap suka jelaskan apa kesalahan mereka."

"Aceng, dia tanya apa kesalahan muridnya, ha-ha-ha!"

Kata Song Kian Ok kepada puteranya.

"Nah, katakan apa kesalahan murid mereka."

Aceng menggaruk-garuk kepalanya.

"Wah, apa, ya? Aku sudah lupa lagi. Coba kuingat... ya, sekarang aku ingat. Nah, itu tiga orang yang kurang ajar itu!"

Dia menudingkan telunjuknya kepada Ci Toan, Ci Gu, dan Yong Hai yang menjadi ketakutan.

"Hayo kalian pungkiri kalau bisa. Ketika aku sedang tidur di jalan. Eh, tahu-tahu orang-orang ini membentak dan menggugahku. Aku jadi terkejut dan terganggu. Eh, malah mereka marah-marah, memaki aku gila dan mengusirku dari situ. Siapa yang tidak muak. Orang-orang itu gila memaki aku sebagai orang gila. Kemudian yang lebih menjengkelkan lagi, mereka sudah bersumpah akan memberikan apa saja yang kuminta. Eh, setelah kuminta peti itu, mereka tidak mau memberikan, malah mengeroyok aku! Aku lalu menghajar mereka dan mengambil peti yang memang sudah dijanjikan akan diserahkan kepadaku kalau kuminta."

Pemuda itu lalu menjulurkan lidahnya kepada tiga orang itu, mengejek dan tertawa-tawa.

Kiang Cu I sudah mendengar penuturan tiga orang murid keponakan itu.

Tentu saja tak diceritakan tentang sumpah itu, dan agaknya orang gila ini mempunyai cara sendiri untuk mempertahankan kebenarannya.

Dia menoleh kepada mereka dan bertanya.

"Benarkah apa yang diceritakannya itu?"

Ci Toan mewakili saudara-saudaranya menjawab.

"Memang benar, Susiok, akan tetapi..."

"Tidak ada tapi, tidak ada tapi!"

Kata pemuda itu.

"Kalau sudah bersalah ya bersalah saja, tidak ada pakai tapi lagi."

"Ha-ha-ha, anak kami ini, jelek-jelek tidak pernah berbohong, Kiang-Pangcu. Jelas murid-murid Kong-thong-pai yang bersikap keterlaluan. Nah, sekarang kalian datang ke sini mau apa?"

"Locianpwe, kami mintakan maaf atas kesalahan para murid kami dan mereka sudah menerima hajaran dari putera Locianpwe. Kami kira hal itu sudah sepantasnya dan kalau yang bersalah sudah menerima hukuman, bukankah hal itu berarti sudah beres. Akan tetapi, kami datang untuk minta agar peti berisi perhiasan itu dikembalikan kepada kami. Hendaknya diketahui bahwa barang itu bukan milik kami, akan tetapi karena kami yang mengawalnya, maka menjadi tanggungan kami."

"Enak saja!"

Bantah Aceng.

"Barang itu sudah kuminta, dan sudah diberikan, bagaiman bisa diambil kembali. Tidak bisa!"

"Ha-ha-ha, orang-orang Kong-thong-pai seperti anak kecil saja. Heh, Kiang Cu I dengarlah, kalau memang kalian menghendaki kembalinya peti itu, saya minta agara Kam Sun Tojin datang sendiri ke sini dan kalian semua berlutut minta ampun. Kemudian Kam Sun Tojin harus dapat mengalahkan kami Ayah ibu dan anak, baru peti serta isinya kami kembalikan. Bagaimana?"

Wajah Kiang Cu I menjadi merah. Dia membanting kaki kanannya dan berseru lantang.

"Sungguh keterlaluan engkau menghina kami! Kami sudah banyak mengalah, akan tetapi engkau yang mendesak kami untuk menggunakan kekerasan!"

"Orang gila seperti mereka apa perlunya diajak bicara baik-baik, Ayah? Kita hajar saja mereka!"

Bentak Bi Hwa yang marah sekali dan gadis ini sudah mencabut pedangnya dan sekali melompat tubuhnya yang ringan seperti burung walet itu sudah berada di depan Aceng.

"Orang gila, kembalikan peti perhiasan itu atau aku akan memenggal batang lehermu!"

"He-he, engkau calon isteriku. Tadinya aku hendak meminangmu, akan tetapi karena pihakmu bermain kasar, engkau harus didenda. Mau tidak mau engkau harus menjadi isteriku, ha-ha-ha!"

"Gila!"

Bentak Bi Hwa dan pedangnya menyambar cepat ke arah leher orang gila itu.

Akan tetapi dengan gerakan aneh seperti orang mabok, menggeleng-geleng kepalanya sambil mundur, Aceng sudah berhasil menghindarkan serangan pedang itu dan tiba-tiba tangannya meluncur ke depan untuk mencengkeram pundak Bi Hwa.

Gadis ini terkejut karena biarpun ia sudah melangkah mundur, namun tangan itu tetap saja terulur hampir dapat mencengkeram pundaknya, maka terpaksa ia membuang diri ke belakang sambil berjungkir balij beberapa kali, barulah ia terhindar dari cengkeraman tangan yang dapat mulur itu.

Sementara itu, Kiang Cu I juga sudah mencabut pedangnya dan melompat ke depan Song Kian Ok.

"Sobat, silakan kalau hendak menguji ilmu kepandaian,"

Katanya. Song Kian Ok tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kalau Kam Sun Tojin yang datang sendiri, barulah ramai dan ada harganya untuk kulawan. Kini engkau hanya wakilnya. Kiang Cu I, majulah bersama semua muridmu itu agar keadaannya berimbang!"

Dia mengangkat tangan yang memegang tongkat dan menuding ke arah para anggota Kong-thong-pai itu.

Sikapnya memandang rendah dan tertawa-tawa.

Sementara itu, Nyonya Song lalu mencari tempat duduk di atas batu dan ia tertawa haha-hihi sambil memeluk lutut yang diangkat tinggi.

"Aduh, bagus, tontonan ramai sekali. Eh, Aceng, jangan engkau lukai calon isterimu itu, kasihan!"

Iapun kelihatan gembira sekali.

Melihat gerakan Aceng yang menggunakan tangan kosong melawan puterinya, Kiang Cu I terkejut bukan main.

Dia tahu bahwa tingkat kepandaian Bi Hwa sudah hampir sama dengan tingkatnya, akan tetapi pemuda gila itu menghadapinya dengan tangan kosong saja dan dalam gebrakan pertama saja gadis itu sudah terdesak hebat.

Baru kepandaian puteranya sudah demikian tingginya, apa lagi kepandaian Ayahnya.

Oleh karena itu dia tidak malu-malu lagi menggunakan keuntungan tantangan lawan untuk dikeroyok itu.

Bukan dia yang mengeroyok, melainkan pihak lawan yang menantang.

Apa lagi, sekali ini bukan pertandingan silat, melainkan usaha merampas kembali barang yang dirampok.

Maka dia memberi isyarat kepada tiga belas orang murid pilihan itu yang kesemuanya telah mencabut pedang dan mengepung Song Kian Ok yang tertawa bergelak kegirangan.

"Bagus! Bagus! Hayo maju semua, jangan ada yang ketinggalan, jangan nanti tidak kebagian gebukan ada yang iri hati heh-heh-heh!"

Karena merasa dipandang rendah sekali, Kiang Cu I lalu membentak.

"Lihat pedang!"

Dan dia mulai menyerang dengan dahsyatnya.

Kakek itu hanya terkekeh, menggerakkan tongkat seenaknya akan tetapi ketika tongkatnya membentur pedang, Kiang Cu I terbelalak karena hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan.

Tongkat orang gila itu seperti mengandung gerakan yang amat kuat.

Tiga belas orang muridnya lalu mengeroyok.

Diserang dari berbagai jurusan itu, Song Kian Ok girang sekali dan bergelak-gelak sambil menari-nari seperti orang gila.

Akan tetapi kemanapun dia menggerakkan tongkat, dengan tepat tongkat itu menangkis pedang para pengeroyok.

Dalam beberapa jurus saja beberapa orang pengeroyok kehilangan pedangnya yang terpental ketika ditangkis tongkat.

Pertandingan antara Bi Hwa melawan Aceng juga berat sebelah.

Biarpun gadis itu memiliki gerakan yang gesit sekali dan pedangnya diputar menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata, akan tetapi Aceng menari-nari dan selalu tusukan atau bacokan itu luput.

Bahkan beberapa kali Aceng sudah dapat menepuk pundak atau pinggul Bi Hwa, bahkan mengelus pipi.

Bukan gerakan yang mengandung kekurangajaran, melainkan seperti gerakan anak kecil yang suka menggoda.

Muka Bi Hwa menjadi sebentar merah sebentar pucat, akan tetapi ia merasa tidak berdaya melawan si gila yang amat lihai ini.

Pertempuran mengeroyok Song Kian Ok juga sudah nampak tanda-tanda bahwa para pengeroyok itu tidak akan mampu menang.

Beberapa orang sudah terkena tendangan atau tamparan tangan atau totokan tongkat Song Kian Ok, bahkan pundak Kiang Cu I pernah terkena hantaman tongkata.

Dari semua pukulan ini, Sin Lee dapat melihat bahwa Song Kian Ok sama sekali tidak ingin melukai parah kepada pengeroyoknya.

Hal ini amat menyenangkan hatinya dan menambah rasa kagumnya kepada keluarga gila itu.

Nyonya Song hanya bertepuk-tepuk tangan memuji suaminya saja.

Sementara itu, Bi Hwa nampak kepayahan sekali.

Gadis ini berkelahi dengan kedua mata basah karena saking jengkelnya, ia tidak mampu menahan air matanya walaupun tidak terang-terangan menangis.

Melihat keadaan Kiang Cu I dan Bi Hwa ini, Sin Lee merasa tidak tega dan sekali melompat dia telah terjun ke tengah pertempuran, dengan tangannya menangkis gerakan tongkat Song Kian Ok lalu melompat untuk menengahi Aceng dan Bi Hwa.

"Tahan senjata...!"

Dia berseru keras.

Nyonya Song sudah turun dari atas batu dan menghampiri Sin Lee bersama suaminya, juga Aceng menghampiri Sin Lee.

Sinar mata mereka liar dan mereka agaknya merasa penasaran sekali melihat Sin Lee turun tangan melerai pertempuran yang sudah hampir dimenangkan pihak mereka itu.

"Siapa suruh engkau ikut campur?"

Bentak Song Kian Ok.

"Sin Lee, anak tampan. Mau apa engkau menahan kami?"

Bentak pula Nyonya Song penasaran.

"Sin Lee, apakah engkau bukan sahabatku lagi?"

Kata pula Aceng penasaran.

"Justru karena aku sahabat baik kalian maka terpaksa aku melerai. Paman dan bibi Song, aku tidak dapat membiarkan kalian bertiga melakukan hal bo-ceng-li (tidak punya aturan)."

"Apa katamu? Kita bo-ceng-li. Mereka inilah yang bo-ceng-li, mereka datang hanya untuk menggangu kami, mengatakan kami gila. Hayo, siapa yang tidak tahu aturan?"

Kata Song Kian Ok.

"Ketahuilah, paman dan bibi Song, juga engkau Aceng. Mereka ini adalah keluargaku. Nona Kiang Bi Hwa itu adalah... tunanganku. Nah, apa benar kalau kalian sahabat-sahabat baikku mengganggu tunanganku dan keluarganya? Sama saja dengan mengganggu aku! Peti perhiasan itu adalah tanggungan murid-murid calon Ayah mertuaku, kalau kalian ambil tentu saja mereka akan celaka termasuk tunanganku dan aku pula. Maka demi persahabatan kita, paman dan bibi Song dan engkau Aceng sahabatku yang baik, kembalikanlah peti perhiasan itu kepada mereka dan jangan memusuhi mereka. Kalau mereka telah bersikap kasar dan membuat kalian marah, akulah yang mintakan ampun. Harap kalian bertiga memandang mukaku untuk memaafkan mereka."

"Wah, ia tunanganmu, Sin Lee? Aduh, aku sudah kedahuluan!"

Aceng merengek kecewa.

"Kenapa tidak dari dulu kau katakan bahwa mereka ini adalah keluarga calon isterimu, Sin Lee?"

Tegur Nyonya Song.

"Heh, sudahlah. Kalau memang mereka ini keluarga calon isteri Sin Lee, tentu saja kami memandang mukanya untuk dapat memaafkan. Akan tetapi, Sin Lee, tidak begitu mudah, ada syaratnya agar kami mau mengembalikan peti perhiasan berikut semua isinya."

"Paman Song, aku sanggup memenuhi semua syaratmu itu."

"Awas kalau engkau tidak dapat memenuhi, akan kuobrak-abrik mereka ini, kuberi hajaran agar jera. Nah, dengarlah syaratku. Pertama, engkau harus mewakili keluarga isterimu itu, bertanding melawan kami satu lawan satu. Aku sudah lama ingin melihat sampai di mana kelihaianmu. Syarat ke dua, engkau harus mengaku kami sebagai orang tuamu dan Aceng sebagai kakakmu. Dan syarat ke tiga, karena kami sudah ingin sekali mempunyai mantu dan menimang cucu, engkau sebagai putera kami harus segera melangsungkan pernikahan dengan tunanganmu ini, sekarang juga dan di tempat kami ini. Nah, bagaimana? Tidak boleh satupun syarat dilanggar, atau aku akan melanjutkan menahan peti perhiasan dan tetap menentang mereka itu."

"Syarat-syarat gila!"

Bentak Kiang Cu I yang tentu saja tidak ingin melihat Sin Lee berkorban demi mereka.

"Sstt, paman. Jangan berkata apa-apa lagi, aku menerima syarat-syarat itu!"

Katanya sambil mengedipkan matanya sebagai tanda bahwa penerimaan syarat itu hanya untuk meredakan kemarahan keluarga gila itu.

"Paman Song aku terima ketiga syaratmu!"

"Ha-ha-heh-heh, bagus, bagus! Aceng, kau mulailah, coba main-main sebentar dengan Sin Lee adikmu!"

"Bagus, Sin Lee, mari kita latihan sebentar. Lihat seranganku ini, jangan lengah atau engkau akan kubikin jungkir balik, ha-ha-ha!"

Aceng gembira sekali dan tangannya sudah menyambar ke arah Sin Lee.

Sin Lee maklum akan kelihaian Aceng, maka cepat dia mengelak dan sebelum tangan itu mulur dan mengejarnya, Dia sudah balas menyerang dengan menotok ke arah pergelangan tangan yang tadi menyerangnya.

Aceng juga lincah sekali, dia menarik tangannya sambil tertawa ha-ha-he-he dan menendang dengan kakinya yang panjang.

Sin Lee juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, mengelak lagi dan membalas.

Mereka serang menyerang dan kalau Aceng hanya main-main saja, Sin Lee bersungguh-sungguh, berusaha memenangkan pertandingan itu.

Pada jurus ke lima belas, ketika tangan kanan kiri Aceng melakukan dorongan ke arah dadanya, dia merendahkan tubuhnya sehingga kedua tangan itu meluncur ke atas kepalanya dan secepat kilat dari bawah dia mengirim totokan ke arah siku kanan kiri lawan.

Usahanya berhasil dan begitu terkena totokan jari tangan Sin Lee, maka seketika kedua lengan Aceng menjadi lumpuh.

"Wah, wah, tanganku... aaah, tidak dapat digerakkan... hu-hu-huuhh...!"

Dan Aceng menangis seperti anak kecil ketakutan. Sin Lee cepat merangkulnya dan membebaskan totokannya.

"Ilmu silatmu hebat, Aceng-ko, akan tetapi aku masih dapat mengatasimu."

"Wah, kau nakal. Sin Lee, aku tidak mau bermain-main denganmu lagi!"

Aceng meloncat menjauh. Nyonya Song tertawa.

"Heh-heh-heh, ternyata engkau memang hebat, Sin Lee anakku yang tampan. Akan tetapi engkau harus dapat mengalahkan aku! Nah, sambutlah ini!"

Nyonya itu sudah menyerang, serangannya berupa totokan-totokan dengan satu jari tangan, cepat bukan main gerakannya dan begitu menyerang, serangannya bertubi-tubi.

Sin Lee terkejut.

Ilmu totokan yang diperlihatkan nyonya itu memang aneh dan hebat dan kalau melihat betapa Nyonya Song hanya menggunakan satu jari tangan saja, mirip ilmu totokan It-sin-ci (Satu Jari Sakti), hanya saja gerakannya demikian aneh dan lucu, seperti gerakan orang main-main saja walaupun amat cepat.

Justeru keanehan gerakan ini yang berbahaya karena selain tidak dikenalnya, juga tidak dapat diketahui perubahannya.

Maka Sin Lee cepat mengerahkan gin-kangnya, Mempergunakan kecepatan gerakan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini seperti gerakan seekor burung walet saja, dan diapun membalas dengan ilmu tendangan berantai dari Bu-tong-pai, yaitu Soan-hong-twi (Tendangan Angin Puyuh).

Barulah setelah dia menggunakan ilmu tendangan Soan-hong-twi, desakan Nyonya Song kepadanya dapat ditahan dan mengendur karena nyonya itupun harus menyelamatkan diri dari hujan tendangan yang mendatangkan angin berputar, Nyonya Song bersilat sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa, nampaknya ia gembira bukan main mendapatkan lawan yang begitu tangguh.

Tiga keluarga ini memang orang-orang gila yang aneh.

Selain mereka tidak kejam dan tidak mau mencelakakan orang, juga agaknya mereka gila ilmu silat sehingga bertanding ilmu silat bagi mereka seperti mendapatkan permainan yang amat menggembirakan.

"Hai, kau hebat! Ahhh...!"

Nyonya Song menjerit-jerit ketika kaki Sin Lee seperti berubah menjadi banyak sekali, menendangnya bertubi-tubi dan kini nyonya itu mengubah gerakannya.

Ia tidak menghindarkan diri dengan berloncatan ke sana ke mari melainkan kini berusaha untuk menangkap kaki Sin Lee!

Seperti seorang anak kecil bermain-main hendak menangkapi burung-burung yang beterbangan menyambar-nyambar.

Sin Lee maklum akan bahayanya perbuatan wanita itu.

Kalau kakinya sampai terkena ditangkap, berarti dia akan kalah.

Baru lepas sepatunya saja dapat dianggap kalah.

Maka diapun menghentikan tendangannya dan kini diapun mengubah ilmu silatnya, kini dia memainkan ilmu silat yang diajarkan oleh Ciu-sian Lo-kai, Yaitu ilmu silat Dewa Mabok, semacam ilmu yang dirangkai oleh Ciu-sian Lo-kai dan cocok sekali dengan pengemis tua dewa arak itu.

Gerakannya seperti orang mabok, terhuyung-huyung akan tetapi pada saatnya yang tepat dapat mengirim serangan atau mengelak seperti tidak sengaja dan seperti orang mabok terhuyung-huyung ke sana ke mari.

Nyonya Song gembira sekali melihat gerakan Sin Lee yang hampir sama dengan gerakannya, hanya bedanya kalau gerakan Sin Lee seperti orang mabok, maka gerakannya seperti orang sinting!

Sampai lima puluh jurus kedua orang ini bertanding dan akhirnya dengan cara menggulingkan dirinya, Sin Lee berhasil menangkap kaki nyonya itu dan menariknya sehingga nyonya Song terpelanting jatuh!

Biarpun ia tidak terluka, namun ia terkejut sekali dan sambil bersungut-sungut ia melompat bangun.

"Sin Lee, bocah nakal kau, berani menarik-narik kaki ibumu?"

Kini Song Kian Ok sendiri yang melompat ke depan.

"Sin Lee, engkau pantas menjadi puteraku. Sekarang, kita main-main sebentar, pergunakan senjatamu!"

Dia sendiri lalu melepaskan sabuknya, sehelai sabuk kulit yang panjangnya satu setengah meter berwarna hitam seperti ular.

Sin Lee dapat menduga betapa ampuhnya senjata yang sederhana itu, maka diapun menengok ke kanan kiri mencari senjata.

"Twako, pakailah pedangku ini!"

Bi Hwa berseru sambil melolos pedang dari sarungnya.

"Bagus, calon mantuku sungguh mencinta calon suaminya!"

Kata Nyonya Song.

"Sin Lee, kau pakailah pedang calon isterimu itu."

Akan tetapi Sin Lee menolak dengan halus, dia harus bersandiwara, dan menyebut gadis itu "Siauwmoi"

Seolah memang ia tunangannya.

"Biarlah, Siauwmoi, karena ini hanya pertandingan antara keluarga, aku menggunakan tongkat ini saja."

Dia memungut sebuah kayu ranting yang besarnya selengan tangan dan panjangnya satu meter. Dia menghadapi Song Kian Ok dengan senjata itu di tangan.

"Nah, paman Song, aku sudah siap!"

Katanya.

"Bagus, nah, sambutlah sabukku ini, Sin Lee!"

Song Kian Ok mulai menyerang dan serangannya bukan seperti orang bermain silat melainkan seperti orang gila mengamuk.

Dia memutar-mutar sabuk di atas kepalanya dan menyerang dengan ganas.

Sabuk itu mengeluarkan suara bercuitan dan nampak bergulung-gulung hitam, mengeluarkan angin dahsyat pula.

Maklum bahwa gerakan yang kacau ini sesungguhnya merupakan gerakan silat yang aneh dan berbahaya, Sin Lee tidak berani memandang rendah dan diapun menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini sambil membalas dengan ranting.

Dia mencari celah-celah antara gulungan sinar hitam untuk memasukkan rantingnya, menusuk dan menotok ke tiga belas jalan darah di bagian depan tubuh lawan.

Song Kian Ok mengeluarkan suara aneh, kadang-kadang tertawa, kadang-kadang seperti orang menangis dan sungguh luar biasa sekali.

Semua orang hampir saja ikut terbawa menangis kalau dia mengeluarkan suara tangis, dan ikut tertawa kalau mendengar dia tertawa.

Ternyata suara itu mengandung khikang yang amat kuat!

Namun Sin Lee sudah mengerahkan sin-kangnya dan tidak hanyut oleh pengaruh suara itu.

Bahkan dia mampu mengimbangi kecepatan gerakan sabuk sehingga mereka itu saling serang dengan seru sekali.

Sudah lewat lima puluh jurus dan belum juga di antara mereka ada yang terkena senjata lawan.

Akhirnya Song Kian Ok melompat ke belakang.

Napasnya agak terengah dan mukanya penuh keringat, sedangkan Sin Lee sama sekali tidak berkeringat dan pernapasannya tidak memburu, ini saja sudah merupakan bukti bahwa dalam hal ketahanan tenaga dan napas, pemuda ini jauh lebih unggul walaupun dalam hal ilmu silat, dia masih belum dapat mengalahkannya.

Sin Lee harus mengakui bahwa selama dia meninggalkan gurunya, Ciu-sian Lo-kai belum pernah dia bertemu lawan setangguh tiga orang gila itu!

"Ha-ha-ha, engkau pantas menjadi puteraku.

Hayo penuhi syarat ke dua, engkau mulai hari ini harus menjadi putera kami, Sin Lee!"

Karena menghadapi orang gila, dia harus pula melayani seperti orang gila, untuk mencegah terjadinya keributan, maka dia lalu memberi hormat kepada Song Kian Ok dan menyebut Ayah, kepada Nyonya Song menyebut ibu, dan kepada Aceng menyebut kakak.

Mereka bertiga girang sekali, berloncatan seperti anak kecil mendapatkan mainan, bahkan Aceng lalu merangkul Sin Lee dan mengajaknya menari-nari sambil berkata.

"Aku girang sekali, mendapatkan adik yang lihai, ha-ha-ha!"

"Sekarang mari kita semua pulang. Aku undang orang-orang Kong-thong-pai sebagai keluarga sendiri. Putera kami akan menikah dengan puteri wakil ketua Kong-thong-pai, mari kita rayakan di rumah kami!"

Kata Song Kian Ok dan semua orang mengikuti.

Tadinya Sin Lee mengira bahwa pernikahan itu sudah cukup kalau diakuinya saja, akan tetapi dia menjadi pucat juga ketika suami isteri Song itu lalu mengatur meja sembahyang.

"Sepasang pengantin harus bersembahyang di sini untuk peneguhan pernikahan mereka!"

Kata Song Kian Ok.

"Nanti dulu!"

Kata Nyonya Song.

"Aku masih menyimpan pakaian pengantinku. Mantuku harus mengenakan pakaian pengantian biar lebih cantik!"

Nyonya itu lalu menggandeng tangan Bi Hwa diajaknya masuk ke dalam kamar dan Bi Hwa juga menurut saja.

Tak lama kemudian, Bi Hwa keluar lagi digandeng Nyonya Song, mengenakan pakaian merah, pakaian pengantin kuno!

Dan anehnya, Bi Hwa melangkah perlahan-lahan, persis pengantin, bahkan wajah gadis itupun bersungguh-sungguh!

Terpaksa Sin Lee lalu bersanding dengan Bi Hwa, keduanya disuruh berlutut dan bersembahyang di depan meja sembahyang melakukan sumpah sebagai sepasang pengantin.

Nyonya Song yang memberi contoh kepada mereka.

"Aku bersumpah disaksikan Bumi dan Langit bahwa mulai saat ini kami berdua telah menjadi suami isteri yang saling mencinta dan saling setia!"

Kembali terjadi keanehan.

Kalau Sin Lee menirukan suara Nyonya Song dengan ngawur saja, asal menggerakkan bibir akan tetapi tidak demikian dengan Bi Hwa.

Gadis ini mengeluarkan ucapan itu dengan suara lantang dan jelas dan sikapnya bersungguh-sungguh, bahkan kedua pipinya kemerahan dan sinar matanya berseri-seri.

Hal ini tidak luput dari penglihatan Ayahnya yang merasa heran pula, juga khawatir.

Setelah upacara pernikahan selesai, Nyonya Song lalu menyuruh semua orang membantunya memotong ayam dan kambing yang dimiliki keluarga itu, memasaknya dan hari itu mereka berpesta dengan gembira.

Kegembiraan yang aneh.

Orang-orang Kong-thong-pai tidak berpura-pura, mereka memang gembira karena peti perhiasan itu, lengkap dengan isinya benar-benar dikembalikan kepada mereka.

Hanya Sin Lee yang hampir tak dapat makan, karena dia merasa seperti terjepit.

Mengaku mereka sebagai keluarganya masih belum mengapa, akan tetapi pernikahan dengan Bi Hwa itu membuat jantungnya berdebar karena dia melihat betapa Bi Hwa demikian bersungguh-sungguh!

Ketika mereka semua sedang makan, tiba-tiba Nyonya Song menangis tersedu-sedu.

"Aih, ibu, mengapa menangis? Diamlah, ibu, aku akan ikut menangis kalau ibu tidak diam..."

Kata Aceng sambil mewek-mewek, siap untuk ikut menangis. Akan tetapi ibunya malah mengguguk dan akhirnya Aceng ikut menangis meraung-raung. Song Kian Ok memegang pundak isterinya.

"Sudahlah, isteriku yang tersayang, jangan menangis."

"Hu-huuh-huh, aku kehilangan putera, diambil oleh wanita lain, bagaimana tidak boleh bersedih dan menangis?"

Nyonya Song berkata dan kembali ia menangis.

"Hu-huk, akupun kehilangan saudara...!"

Aceng mengikuti contoh ibunya.

"Ha-ha-ha, kalian ini bodoh. Kalian tidak kehilangan anak dan adik, akan tetapi malah mendapatkan anak mantu dan adik ipar. Seharusnya tertawa, kenapa menangis?"

Kata Song Kian Ok. Mendengar ini, Nyonya Song menghentikan tangisnya lalu tertawa.

"Hi-hik-hik, engkau benar. Mari kita minum untuk mantu perempuanku yang cantik manis!"

"Hore, akupun mendapatkan adik ipar yang manis. Mari kita minum!"

Aceng ikut-ikut ibunya tertawa bergelak sambil minum araknya.

Setelah pesta bubaran, semua orang berpamit sambil membawa peti perhiasan dan kereta, sedangkan Sin Lee juga berpamit untuk berkunjung ke Kong-thong-pai, ke rumah "Mertuanya".

Untuk meyakinkan keluarga itu, dia sengaja menggandeng tangan Bi Hwa dengan mesra.

"Ya-ya, akan tetapi jangan lupa kadang-kadang menengok Ayah ibu dan kakakmu di sini, ya?"

Pesan mereka dan semua orang lalu meninggalkan tempat itu dengan hati lega dan cepat-cepat, takut kalau keluarga gila itu berubah pikiran.

Ketika mereka semua tiba di Kong-thong-pai, Bi Hwa terus lari memasuki kamarnya dan tidak mau keluar lagi.

Melihat ini, ibunya segera menengoknya dan ternyata Bi Hwa rebah telungkup sambil menangis terisak-isak.

Ibunya terkejut dan segera merangkul puterinya.

"Bi Hwa, kenapa engkau menangis bersedih? Bukankah peti perhiasan itu telah kembali dan semua orang bergembira di ruangan dalam, mengadakan pesta, kenapa engkau malah bersembunyi di kamar sambil menangis?"

Ditanya begitu oleh ibunya, Bi Hwa bangkit duduk merangkul ibunya dan tangisnya semakin mengguguk.

"Ibu... ah, ibu... aku ingin mati saja, ibu...!"

Tentu saja ibunya terkejut setengah mati.

"Hushhh... jangan bicara begitu, anakku. Kabarnya kalian semua berurusan dengan keluarga gila, apakah engkau ketularan penyakit itu? Ada urusan dapat diurus, ada permasalahan dapat diselesaikan, jangan berkata ingin mati begitu. Katakan, ada masalah apa yang membuat engkau begitu bersedih?"

Bi Hwa mencoba untuk menghentikan tangisnya. Setelah tangisnya mereda dan ia hanya kadang terisak saja, ia lalu berkata.

"Apakah ibu belum mendengar apa yang terjadi di rumah keluarga Song yang gila itu?"

"Tentu saja sudah. Mereka ramai membicarakan. Berkat pertolongan Pendekar Bunga Merah yang bernama Sin Lee itu maka peti perhiasan itu dapat diambil kembali. Kabarnya, Pendekar Bunga Merah mengorbankan dirinya, mengalahkan mereka dan bahkan mau mengakui mereka sebagai orang tua, dan juga berpura-pura menikah denganmu. Eh, ada apakah?"

Ibunya menegur melihat anaknya bersungut-(Lanjut ke

Jilid 10) Pendekar Bunga Merah (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 sungut.

"Ibu, di dunia ini mana ada pernikahan dilakukan pura-pura? Kalau pura-pura, itu merupakan suatu penghinaan bagiku. Ibu, ingat kami telah bersumpah di depan meja sembahyang, disaksikan bumi dan langit bahwa kami telah menjadi suami isteri. Bagaimana dapat berpura-pura lagi?"

"Akan tetapi, pernikahan itu hanya dilakukan oleh keluarga gila, dan hanya untuk memenuhi syarat saja."

"Bagi orang lain begitu, tetapi bagiku... ahh, aku malu disuruh mengenakan pakaian pengantin segala. Aduh, ibu... aku malu... aku malu kalau pernikahan itu dibatalkan begitu saja..."

"Maksudmu..."

"Tidak tahulah, ibu harus tahu sendiri..."

Gadis itu lalu menelungkup dan menangis lagi.

Ibunya lalu berlari keluar dan tak lama kemudian ia kembali memasuki kamar bersama suaminya.

Kian Cu I terkejut ketika mendengar pelaporan isterinya tentang puterinya.

Kini ia dapat mengerti.

Kiranya puterinya itu jatuh cinta kepada Sin Lee dan benar-benar menghendakinya sebagai suami.

Pantas ketika diadakan upacara di rumah keluarga Song yang gila, Bi Hwa begitu bersungguh-sungguh!

"Bi Hwa, apakah engkau menganggap upacara pernikahan di keluarga Song itu benar-benar?"

Tanyanya dengan halus. Bi Hwa menyusut air matanya dan bangun duduk, memandang kepada Ayahnya dengan mata merah.

"Habis bagaimana, Ayah? Apakah penyumpahan itu pura-pura belaka? Aku tidak bisa berpura-pura seperti itu. Aku akan mati karena malu, Ayah."

"Akan tetapi anakku, Pendekar Bunga Merah melakukan itu hanya untuk memenuhi syarat keluarga itu, hanya untuk membujuk mereka agar mengembalikan peti perhiasan dan dia sudah berhasil menolong kita. Dia melakukan upacara pernikahan pura-pura itu hanya untuk memenuhi syarat. Kalau kau anggap sungguh-sungguh, tentu harus dimintai persetujuannya dulu. Tidak mungkin pernikahan dilangsungkan hanya sepihak saja, anakku."

"Mengapa Ayah tidak bertanya kepadanya dan membujuknya? Orang lain boleh menganggap pura-pura, akan tetapi bagiku sungguh-sungguh, Ayah!"

"Katakan saja bahwa engkau telah jatuh cinta kepada Pendekar Bunga Merah, anakku."

"Apakah Ayah juga tidak akan bangga kalau mempunyai mantu dia?"

Gadis itu balas bertanya. Ayah ibunya mengangguk-angguk.

"Akan kubicarakan dengan dia, anakku. Akan tetapi engkau jangan yakin lebih dulu. Bagaimanapun juga, kita semua tahu bahwa dia bukan bermaksud mempermainkanmu, melainkan hanya untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh keluarga itu. Akan kucoba membujuk dia."

"Mudah-mudahan dia akan setuju, Ayah,"

Kata Bi Hwa sungguh-sungguh.

Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukannya kalau seandainya pendekar itu menolak.

Yang jelas, ia akan merasa terpukul, kecewa, patah hati dan malu sekali.

Dan semua ini gara-gara keluarga yang gila itu!

Seluruh murid Kong-thong-pai berpesta.

Setelah selesai perjamuan itu, dan Sin Lee sudah siap-siap untuk meninggalkan tempat itu, Kiang Cu I mendekatinya dan berkata.

"Taihiap, saya ada urusan penting sekali yang hendak saya bicarakan dengan Taihiap berdua saja."

"Ah, ada urusan apakah yang demikian pentingnya, paman Kiang? Dan harap paman jangan sebut saya Taihiap lagi. Dari keluarga Song tentu paman sudah mendengar bahwa nama saya adalah Sin Lee."

"Dan nama margamu?"

"Lebih baik aku dikenal sebagai Sin Lee saja, paman. Nah, ada urusan apakah yang hendak paman bicarakan denganku?"

"Mari, Sin Lee. Kita bicara di dalam. Sudah kukatakan bahwa aku ingin bicara berdua saja jangan terdengar orang lain."

Dengan penuh keheranan pemuda itu lalu mengikuti Kiang Cu I pergi ke tempat tinggal wakil ketua Kong-thong-pai itu dan dipersilahkan duduk di ruangan tamu.

Mereka hanya berdua saja, duduk berhadapan terhalang meja kecil.

Setelah mereka duduk, Kiang Cu I berkata.

"Sesungguhnya, amat sulitlah bagi saya untuk membicarakannya, Sin Lee. Akan tetapi apa boleh buat, demi sayangku kepada anak, terpaksa aku memberanikan diri membicarakannya. Ketahuilah, setelah pulang dari rumah keluarga Song yang gila itu, anakku Bi Hwa mengeram saja di dalam kamarnya dan tidak keluar ikut berpesta atas kemenangan itu."

"Pantas saya tidak melihatnya, paman. Ada apakah?"

"Ibunya mendapatkan ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya dan ketika ditanya, ia bercerita tentang pernikahan di keluarga Song itulah. Pernikahan pura-pura itu yang membuatnya bersedih, Sin Lee. Dan ketika aku datang bertanya, ia mengatakan bahwa ia telah melakukan sumpah di sana dan bahwa Bi Hwa tidak menganggapnya sebagai pernikahan pura-pura, melainkan sungguh-sungguh."

"Ahhh...!"

Sin Lee terbelalak dan mukanya berubah kemerahan.

Sama sekali tidak pernah disangkanya gadis itu akan menganggapnya demikian.

Semua orang tahu belaka bahwa hal itu dilakukan hanya untuk memenuhi syarat yang diajukan keluarga gila itu.

"Kenapa begitu, paman? Paman sendiri menjadi saksi bahwa hal itu dilakukan hanya untuk memenuhi syarat yang diajukan keluarga Song! Apakah artinya ini, paman?"

"Aku mengerti, Sin Lee. Dan aku tahu benar apa artinya. Artinya bahwa anak kami yaitu Bi Hwa, telah jatuh cinta padamu dan menghendaki agar engkau benar-benar menjadi suaminya. Dan kami semua juga mengharapkan begitu Sin Lee."

"Akan tetapi, paman. Aku sama sekali belum pernah memikirkan soal pernikahan..."

"Apakah engkau sudah menikah?"

"Belum."

"Apakah engkau sudah bertunangan?"

"Belum."

"Kalau begitu apa salahnya? Anak kami akan menjadi seorang isteri yang baik, hal ini kami berani menanggungnya!"

"Bukan begitu, paman. Akan tetapi pernikahan tidak dapat dilakukan secara begitu saja. Perjodohan haruslah didasari dasar cinta kasih dan cinta hanya dapat terjadi kalau kedua pihak menghendaki. Sedangkan aku..."

"Engkau tidak mencinta puteri kami?"

"Bagaimana mungkin, paman? Kami baru saja bertemu, tidak saling mengenal, dan terus terang saja, aku sama sekali belum berpikir tentang perjodohan."

Kiang Cu I menghela napas panjang.

"Kami tidak menyalahkanmu, Sin Lee. Kami juga terkejut melihat sikap puteri kami yang secara tiba-tiba jatuh cinta padamu. Akan tetapi, bagaimana kami harus memberitahu padanya, Sin Lee. Ia puteri kami, anak tunggal dan manja. Kalau kami menceritakan seperti yang kau katakan tadi, tentu ia tidak akan percaya kepada kami. Ah, kami sedih sekali, Sin Lee..."

Sin Lee merasa kasihan kepada orang tua itu.

Begitulah kalau mempunyai anak manja.

Kalau tidak dapat memenuhi permintaannya, menjadi bersedih hati karena anak manja biasanya segala permintaannya harus dipenuhi.

Pada hal urusan perjodohan dan cinta mencinta haruslah dihadapi dengan kejujuran hati, dengan keterus-terangan.

"Baiklah, paman. Kalau begitu biarkan aku sendiri yang bicara dengan adik Bi Hwa agar ia dapat yakin dan tidak akan menyalahkan paman dan bibi."

Wajah Kiang Cu I menjadi berseri.

"Benarkah itu, Sin Lee? Ah, terima kasih banyak kalau engkau mau bicara dengannya. Hanya dengan jalan itulah kiranya ia akan percaya. Akan kupanggil ia ke sini, Sin Lee."

Berdebar juga hati Sin Lee ketika Kiang Cu I pergi dan dia menanti kedatangan Bi Hwa.

Ternyata agak lama Bi Hwa tidak juga datang.

Dia tidak tahu betapa gadis itu menjadi gugup dan panik, sibuk mendandani wajah dan menghapus bekas tangisnya ketika Ayahnya memberitahu bahwa Sin Lee ingin bicara dengannya berdua saja.

Setelah merasa diri patut untuk berhadapan dengan Sin Lee, berdandan dan berganti baju, Bi Hwa muncul.

Ia berdiri di ambang pintu memandang kepada Sin Lee dengan tersipu.

Sin Lee bangkit berdiri dan menenangkan hatinya.

"Ah, adik Bi Hwa, silahkan duduk Hwa-moi,"

Katanya ramah dan mempersilahkan gadis itu duduk di atas kursi yang tadi diduduki Ayahnya, berhadapan dengan dia terhalang meja. Bi Hwa duduk.

"Kata Ayah, engkau memanggil aku, Lee-ko,"

Katanya lirih.

"Benar, Hwa-moi. Kita harus bicara untuk menghilangkan segala kesalahpahaman di antara kita. Aku sudah mendengar semua tentang engkau dari paman Kiang Cu I, dan beliau pun sudah menyampaikan niat beliau untuk menjodohkan kita."

"Ahhh...!"

Bi Hwa tersipu malu dan menundukkan mukanya.

"Hwa-moi, keterus-terangan dan kejujuran kadang terdengan tidak enak, bahkan menyakitkan hati. Ayahmu bicara tentan perjodohan, Hwa-moi. Akan tetapi, bukan aku tidak suka, aku berterima kasih sekali kepada keluargamu yang memberi kehormatan besar bagiku. Akan tetapi, pada saat ini aku sama sekali belum mempunyai pikiran untuk berjodoh, Hwa-moi. Dan engkau sendiri tahu bahwa aku terlibat dengan keluarga Song hanya karena aku ingin menolong Kong-thong-pai, ingin mengembalikan peti perhiasan itu kepada Kong-thong-pai. Dan pernikahan kita di sana itu, engkaupun tahu bahwa hal itu terjadi bukan atas kehendakmu, atau kehendakku, atau kehendak orang tuamu. Itu adalah syarat yang diajukan oleh keluarga Song yang mendengar pengakuanku bahwa engkau tunanganku. Dan engkau tahu mengapa aku mengaku engkau tunanganku, agar engkau tidak diperisteri oleh Aceng yang gila itu. Semua itu terpaksa kulakukan untuk menyelamatkan dirimu, untuk menyelamatkan Kong-thong-pai, bukan sungguh-sungguh."

Bi Hwa mendengarkan dengan tunduk. Wajahnya yang tadinya kemerahan dan disertai senyum tersipu malu, kini menjadi pucat dan alisnya berkerut.

"Jadi engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak suka kepadaku, Lee-ko?"

"Sama sekali tidak, adikku. Engkau seorang gadis yang baik, pandai dan cerdik. Akan tetapi perjodohan haruslah berdasarkan cinta kedua pihak. Apa engkau menghendaki menikah dengan orang yang tidak mencintamu dan kelak setelah menikah hanya akan bentrok dan cekcok, menciptakan rumah tangga yang penuh pertentangan? Marilah kita berpisah sebagai sahabat, sebagai saudara, karena sesungguhnya pada saat ini, hatiku belum menghendaki aku berjodoh dengan siapapun juga."

Bi Hwa terisak.

"Maafkan, maafkan aku, Hwa-moi. Memang menyakitkan, akan tetapi ini merupakan kata-kata yang sejujurnya dan kita berdua haruslah dapat menerima kenyataan hidup. Hidup ini memang banyak duka dan kecewa. Tidak semua keinginan kita terkabul dan tidak semua kejadian cocok dengan apa yang kita kehendaki. Dapatkah engkau menerima semua keteranganku ini?"

Bi Hwa mengangguk sambil terisak.

"Anggap saja aku ini kakakmu, Hwa-moi. Jangan berduka, seorang gadis seperti engkau ini kelak pasti akan bertemu jodoh yang cocok, yang sepenuh hatinya mencintamu, dan kau cinta. Nah, terimalah ini sebagai hiburan, tanda ketulusan hatiku kepadamu."

Sin Lee mengambil bunga merah dari kancing bajunya dan menyerahkan kepada Bi Hwa. Bi Hwa menerimanya dan sesenggukan.

"Nah, Hwa-moi, sekarang aku hendak pergi melanjutkan perjalanan, sampaikan salamku kepada Ayah ibumu, kepada Pangcu, kepada saudara-saudara yang lain."

Setelah berkata demikian dengan cepatnya Sin Lee keluar dari ruangan itu.

"Lee-ko...!"

Bi Hwa mengejar, akan tetapi ketika ia tiba di luar ruangan itu, Sin Lee sudah lenyap.

Hanya nampak bayangannya saja berkelebat di atas genteng.

Sin Lee terpaksa berhenti ketika di depannya di atas genteng, terdapat Kam Sun Tojin.

"Siancai, Taihiap hendak pergi begitu saja? Belum sempat pinto mengucapkan terima kasih atas bantuan Taihiap kepada Kong-thong-pai."

Sin Lee memberi hormat.

"Aih, Pangcu, mengapa sungkan? Perbuatan saya itu bukan pertolongan sama sekali, melainkan pelaksanaan kewajiban saya. Di antara kita ini mana ada bantuan dan pertolongan? Yang ada hanyalah pelaksanaan tugas kewajiban dan sudah menjadi tugas saya untuk membantu Kong-thong-pai memperoleh kembali peti perhiasan itu."

"Apakah Taihiap tidak ingin menanti barang sepekan di sini? Ketahuilah bahwa dalam sepekan ini, di sini akan berkumpul para tokoh partai besar, para tokoh pendekar dari segala jurusan."

"Ah, akan ada keramaian apakah, Pangcu?"

Tanya Sin Lee, hatinya tertarik. Bertemu dengan para tokoh kang-ouw tentu saja merupakan suatu pengalaman yang berharga sekali, dan juga amat menarik hati.

"Mereka memilih Kong-thong-pai sebagai tempat untuk mengadakan perundingan."

"Perundingan apakah itu, kalau saya boleh bertanya?"

"Siancai, kenapa tidak boleh? Semua tokoh itu akan membicarakan tentang penyerbuan kepada Beng-kauw."

Untung saja cuaca sudah mulai gelap sehingga ketua Kong-thong-pai tidak melihat betapa wajah Sin Lee berubah ketika mendengar bahwa para tokoh kang-ouw hendak menyerbu Beng-kauw!

"Menyerbu Beng-kauw?

Akan tetapi kenapakah, Pangcu?"

"Aih, apakah engkau belum mendengarnya, Taihiap? Beng-kauw terkenal selama beberapa bulan ini dengan perbuatannya yang jahat. Beng-kauw agaknya telah melakukan penyelewengan lagi, melakukan segala macam kejahatan yang keji. Kalau menyerbu Beng-kauw, haruslah semua kekuatan dipersatukan, karena Beng-kauw mempunyai banyak orang pandai dan kuat sekali. Apakah Taihiap tidak tertarik dan bukankah sudah menjadi kewajiban Taihiap pula untuk membantu para tokoh kang-ouw memberantas kejahatan seperti yang dilakukan oleh Beng-kauw itu?"

"Maaf, Pangcu. Saya mempunyai urusan lain yang penting sekali, akan tetapi kurasa kita akan dapat berjumpa kembali kelak, karena bagaimanapun juga, saya tidak dapat membiarkan saja kejahatan kalau benar dilakukan oleh Beng-kauw."

"Kalau begitu, selamat jalan, Taihiap, dan sekali lagi terima kasih."

"Selamat berpisah, Pangcu!"

Sin Lee berkelebat lenyap ditelan kegelapan yang mulai menyelimuti bumi.

Hatinya terguncang keras dan dia teringat kepada Giok Lan, Sumoinya yang menjadi ketua Beng-kauw.

Tidak mungkin Sumoinya membiarkan orang-orang Beng-kauw menyeleweng dan melakukan kejahatan.

Dia harus menyelidiki hal ini.

Dan yang terpenting sekarang dia harus cepat-cepat mengunjungi Sumoinya karena seperti yang diceritakan ketua Kong-thong-pai tadi, Sumoinya terancam bahaya.

Seorang gadis yang cantik keluar dari kota Kian-cu seorang diri.

Gadis itu memang cantik manis, matanya tajam dan pada punggungnya terdapat sebatang pedang dan buntalan pakaian.

Gadis ini bukan lain adalah Gan Lian Si, puteri guru silat Gan Kong yang tinggal di Shanghai itu.

Pernah kita bertemu dengan gadis ini ketika ia dan Ayahnya bertemu bahkan pernah bentrok dengan Sin Lee, akan tetapi kemudian menjadi sahabat.

Bahkan Gan Kong mengusulkan perjodohan antara puterinya dan Sin Lee yang ditolak Sin Lee dengan halus.

Kini gadis itu melakukan perjalanan seorang diri.

Ayahnya yang sudah merasa tua dan lemah tinggal di rumah, akan tetapi Lian Si yang haus akan pengalaman, melakukan perantauan seorang diri.

Ia tinggal di Kian-cu beberapa hari lamanya, menikmati pemandangan di telaga dekat kota Kian-cu dan baru hari ini ia meninggalkan Kian-cu untuk melanjutkan perjalanannya merantau.

Ia pamit untuk merantau selama setahun kepada Ayahnya dan sekarang baru berjalan tiga bulan.

Baru saja ia keluar dari pintu gerbang kota Kian-cu sebelah selatan, ia melihat lima orang pemuda keluar pula dari pintu gerbang itu dan mereka selalu berjalan di belakangnya, tidak mengejarnya dan tidak pula mau tertinggal melainkan menjaga jarak.

Ia menjadi curiga, sebab sikap lima orang itu seperti sedang membayanginya.

Pada hal, jalan itu makin lama semakin sunyi.

Akan tetapi, sebagai seorang ahli silat, seorang gadis kang-ouw tentu saja Lian Si tidak merasa khawatir.

Ia mampu membela diri dan sikap lima orang itu membuatnya waspada.

Akan tetapi ketika tiba di persimpangan jalan, lima orang pemuda itu bergabung dengan lima orang lain yang datang dari lain jurusan dan kini sepuluh orang pemuda itu mempercepat langkah mengejarnya!

Maklum bahwa agaknya mereka tidak mempunyai niat baik.

Lian Si sengaja berhenti dan menanti di tepi jalan.

Matanya yang tajam itu berkilat ketika sepuluh orang itu sudah datang mendekat.

Setelah dekat, ia mengenal dua orang pemuda hartawan yang pernah dihajarnya ketika ia bermain-main dekat telaga dan dua orang pemuda itu menggodanya dengan kata-kata cabul.

Ia hanya menampar mereka saja ketika itu.

Akan tetapi sekarang pemuda itu datang bersama delapan orang lain sehingga jumlah mereka menjadi sepuluh orang!

Lian Si pura-pura tidak mengenal mereka.

Sepuluh orang pemuda itu setelah tiba di depannya, langsung mengambil sikap mengepungnya.

Dan dua orang pemuda hartawan yang pakaiannya mewah itu lalu berkata.

"Inilah perempuan sombong yang telah berani menampar kami. Eh, nona galak, sekarang engkau harus minta maaf kepada kami dan bersedia menemani kami selama tiga hari tiga malam, atau kalau tidak kami akan menebus tamparanmu itu dengan menghajarmu babak belur lalu menyerahkanmu kepada anak buah kami agar engkau dikeroyok sampai mati!"

Lian Si memandang dan matanya berkilat.

"Dua anjing mata keranjang, kalian berdua berani muncul lagi dan membawa serta delapan anjing lain? Apakah kalian masih belum jera dan minta dihajar lebih keras lagi?"

Dua orang pemuda hartawan itu menjadi merah mukanya dan marah sekali.

"Tangkap perempuan setan ini! Tangkap dan telanjangi dia!"! Dan mereka yang mengepung itu memperlihatkan sikap seperti sepuluh ekor anjing srigala mengepung seekor domba. Seolah-olah hendak dikeroyok dan dicabik-cabiknya daging domba yang lunak itu. Melihat bahwa sepuluh orang yang mengepungnya itu tidak menggunakan senjata, agaknya memang hendak mengepungnya dan menangkapnya lalu menelanjanginya seperti yang diperintahkan dua orang pemuda hartawan itu, Lian Si juga tidak mencabut pedangnya. Biarpun dikeroyok, kalau pengeroyoknya tidak bersenjata, iapun enggan mengunakan pedang, kecuali kalau ternyata ia kewalahan. Bagaikan segerombolan anjing mengeroyok harimau betina, sepuluh orang itu, atau lebih tepat delapan orang karena yang dua hanya menggonggong saja memerintahkan anak buah mereka, para pemuda yang tidak tahu malu itu mengeroyok Lian Si. Akan tetapi gadis yang sudah marah itu mengamuk, kaki tangannya bergerak menendang dan memukul dan para pengeroyok berjatuhan. Mereka menjadi marah. Dua orang pemuda hartawan lalu mengeluarkan aba-aba.

"Pergunakan senjata. Bunuh saja ia!"

Mereka lalu mencabut senjata masing-masing, ada yang membawa golok, ada yang membawa pisau belati dan ada pula yang memegang pedang.

Setelah para pengeroyoknya mengeluarkan senjata, barulah Lian Si melolos pedangnya.

Akan tetapi, sebelum ia menggerakkan pedangnya untuk menghajar mereka, tiba-tiba terdengar bentakan.

"Banyak laki-laki mengeroyok seorang wanita, sungguh tidak tahu malu!"

Entah dari mana datangnya, seorang muda sudah meloncat ke dalam gelanggang pertempuran ini dan begitu dia menyerbu, dia menggerakkan sebatang suling perak dan kipas lebar untuk menghajar para pengeroyok itu.

Lian Si merobohkan dua orang dan ia memandang kagum betapa pemuda itu dengan gerakan yang gesit sekali menghajar sisa para pengeroyok.

Karena pemuda itu dengan mudahnya mengalahkan para pengeroyok, Lian Si cepat meloncat ketika melihat betapa dua orang pemuda hartawan itu hendak melarikan diri.

Sekali pedangnya berkelebat, ia telah melukai dua orang pemuda itu pada pundaknya sehingga luka di pundak mengucurkan banyak darah membasahi baju mereka.

"Aduh, tolong... tolong... pembunuh...!"

"Aduh, pundakku... pundakku putus...!"

Dua orang itu melolong-lolong dan minta tolong, akan tetapi siapa dapat menolong mereka?

Delapan orang anak buah merekapun keadaannya tidak lebih baik dari mereka.

Delapan orang itu sudah mengaduh-aduh dengan kepala benjol, ada yang tulang lengannya patah, hidungnya penyok berdarah, giginya rontok, salah urat dan perut mulas.

Kemudian tanpa diperintah lagi, dua orang hartawan dan delapan orang anak buahnya itu melarikan diri, ada yang terpincang-pincang, ada yang terseok-seok, ada pula yang setengan merangkak.

Melihat ini, mau tidak mau Lian Si tertawa, dan pada saat itu, si pemuda juga tertawa geli.

Mereka saling pandang dan berhenti tertawa.

Lian Si memandang kagum sekali, karena pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun itu memang tampan dan gagah.

Wajahnya bulat, kulit mukanya putih sehingga alisnya nampak hitam sekali.

Matanya tajam dan mulutnya tersenyum setengah mengejek, hidungnya besar dan pemuda ini mengenakan pakaian sutera putih dengan potongan seperti seorang sasterawan.

Pemuda ini masih memegang sebatang suling perak dengan tangan kanan dan sebuah kipas dengan tanan kiri.

Gagah dan tampan sekali, tidak kalah tampan dibandingkan dengan Sin Lee yang pernah digandrunginya!

Mereka saling pandang dan sinar kagum terpancar dari pandang mata pemuda itu, membuat Lian Si tersipu malu dan tidak tahu harus berkata apa.

Pemuda itu mendahului.

"Sungguh sepuluh orang itu tidak tahu diri, berani mengganggu seorang pendekar wanita yang gagah perkasa!"

"Ah, engkau terlalu memuji, kongcu."

Lian Si menyebut kongcu karena dandanan pemuda itu memang mirip seorang tuan muda yang terpelajar.

"Sebaliknya aku menghaturkan terima kasih atas bantuan kongcu mengusir orang-orang tidak sopan itu."

"Tidak perlu berterima kasih, nona. Bagiku suatu keuntungan besar karena aku jadi dapat berkenalan denganmu. Namaku Bhe Tun Hok, nona. Bolehkah aku mengetahui nama nona yang terhormat?"

"Namaku Gan Lian Si, kongcu."

"Lian Si... hemm, nama yang indah, seindah orangnya."

Kalau saja yang mengeluarkan ucapan itu seorang di antara pemuda-pemuda tadi, Lian Si tentu marah dan menganggapnya kurang ajar.

Akan tetapi karena yang memuji itu pemuda ini, mukanya berubah kemerahan dan hatinya menjadi senang sekali!

"Ah, kongcu terlalu memuji..."

Katanya sambil tersenyum dan tersipu.

"Nona hendak pergi ke manakah dan bagaimana dapat bertemu dengan serombongan anjing tadi?"

"Aku seorang perantau, kongcu. Kemarin dulu ketika aku berada di telaga di dekat kota Kian-cu, aku diganggu oleh dua orang pemuda hartawan itu dengan kata-kata cabul. Mereka itu kutampar dan mereka melarikan diri. Siapa kira, ketika hari ini aku keluar kota, mereka mengejarku bersama delapan orang anak buahnya."

"Hemm, kalau aku tahu begitu, tentu sudah kupecahkan kepala dua orang pemuda hartawan itu."

Lian Si terkejut.

Pemuda ini kelihatan demikian lemah-lembut, demikian halus dan ramah, akan tetapi ketika mengeluarkan ancaman itu, sungguh amat mengerikan.

Ia dapat merasakan bahwa itu bukan sekedar ancaman belaka, akan tetapi agaknya kalau dua orang pemuda hartawan itu berada di situ, akan benar-benar hancur kepala mereka.

"Ah, tidak perlu begitu keras, kongcu. Bagaimanapun mereka itu belum menjamah sama sekali, kekurangajaran mereka hanya terbatas dalam kata-kata saja."

"Nona Gan, setelah kita berkenalan, maukah kalau nona kupersilahkan singgah di tempat kediamanku? Tidak begitu jauh, di lereng bukit itu!"

Pemuda itu menunjuk dengan sulingnya ke arah bukit di sebelah kiri jalan.

Kembali Lian Si merasa heran.

Bagaimana pemuda yang kelihatannya seperti putera bangsawan pemuda yang kelihatannya seperti putera bangsawan atau hartawan ini tinggal di bukit yang sunyi itu?

Atau barangkali tentu saja rumah itu adalah rumah peristirahatan.

Biasanya kaum bangsawan atau hartawan memang suka mendirikan rumah-rumah peristirahatan di bukit-bukit, di dekat telaga atau di tepi laut untuk sekedar beristirahat dan bersantai.

Setelah orang demikian baiknya, membantunya dari pengeroyokan para pemuda berandalan tadi, bagaimana ia menolak undangan itu?

Apa lagi pemuda ini demikian sopan dan ramah, rasanya tidak pantas kalau ditolaknya.

Apa lagi ia adalah gadis kang-ouw yang dalam pergaulan tidak dapat disamakan dengan gadis pingitan.

Gadis kang-ouw sudah biasa bergaul, baik dengan pria sekalipun.

"Baiklah, kongcu, kalau tidak terlalu merepotkanmu."

"Ah, sama sekali tidak repot. Di sana terdapat beberapa orang pelayanku, dan aku akan menyuruh mereka menyediakan hidangan untuk kita makan bersama. Dan aku akan meniup suling untukmu, nona."

"Ah, engkau baik sekali, kongcu."

Keduanya lalu mendaki bukit itu, berjalan perlahan-lahan dan ketika mereka berjalan berdekatan, Lian Si mencium bau yang harum keluar dari pakaian pemuda itu.

Sungguh seorang pemuda tampan dan pesolek, pandai memikat hati wanita, pikirnya dengan gembira karena ialah yang menjadi pilihan pemuda itu.

Ia kelak akan menceritakan pengalamannya yang hebat ini kepada Ayahnya.

"Maaf, kongcu, kalau aku banyak bertanya. Kongcu ini kelihatan seperti seorang pemuda pelajar, seorang pemuda bangsawan, akan tetapi kongcu memiliki ilmu silat yang tinggi, sungguh mengagumkan sekali."

"Ha-ha-ha, dan engkau sendiri bagaimana, nona? Engkau begini cantik jelita, anggun dan nampaknya lemah-lembut, akan tetapi sepuluh orang dibuat kocar-kacir olehmu."

"Apakah rumah di bukit itu merupakan tempat tinggal tetap kongcu? Kongcu tinggal di sana bersama siapa? Keluarga kongcu?"

"Ha-ha-ha, maksudmu isteri dan anak? Ha, kau salah sangka, nona. Aku masih perjaka tulen, belum menikah dan rumah itu hanya merupakan rumah peristirahatan saja. Orang tuaku tinggal jauh dari sini, di kota raja."

Jantung Lian Si berdebar.

Di kota raja?

Jangan-jangan pemuda ini seorang pangeran.

Ia hanya puteri seorang guru silat biasa, maka tentu saja membayangkan pemuda itu seorang pangeran membuat jantungnya berdebar tegang.

"Dan Suhumu? Tentu guru kongcu seorang tokoh sakti yang amat terkenal di dunia persilatan."

"Ah, tidak. Guruku sama sekali tidak terkenal. Dia seorang pendeta Lama dari Tibet. Bagaimana dengan engkau sendiri, nona? Siapakah gurumu?"

"Guruku adalah Ayahku sendiri, kongcu. Ayah telah menjadi duda dan dia adalah seorang guru silat di Shanghai, hidup dari mengajar silat. Kami dari keluarga sederhana saja, kongcu, tidak seperti kongcu."

"Ah, sudahlah. Persahabatan tidak diukur dari kedudukan, bukan? Asal ada kecocokan hati, dua orang manusia bisa saja bersahabat dan aku suka sekali bersahabat denganmu, Nona Gan."

"Terima kasih, kongcu. Akupun senang sekali dapat bersahabat dengan orang seperti kongcu."

Kedua orang muda yang berjalan santai mendaki bukit ini tidak tahu bahwa dari jauh ada seorang yang membayangi dan mengintai mereka.

Orang ini bukan lain adalah Sin Lee.

Sin Lee tadi melihat ketika terjadi keributan dan dia heran bukan main mengenal gadis itu sebagai Gan Lian Si, puteri guru silat Gan Kong yang pernah diusulkan untuk dijodohkan dengan dia, akan tetapi yang ditolaknya dengan halus.

Tadinya dia hendak turun tangan membantu, akan tetapi melihat gadis itu dapat mengatasi semua pengeroyoknya, diurungkan niatnya untuk membantu dan dia melihat munculnya pemuda berpakaian putih yang lihai dan yang membantu Lian Si itu.

Kini mereka berdua mendaki bukit.

Sin Lee merasa tidak enak hatinya.

Dia tidak mengenal pemuda itu, akan tetapi ada sesuatu pada diri pemuda itu yang membuatnya waspada.

Mungkin karena gerakan suling yang dimainkan pemuda itu ketika menghajar para pemuda berandalan tadi.

Dia seperti pernah melihat gerakan seperti itu, akan tetapi lupa lagi di mana.

Dan sesuatu yang membuat dia waspada adalah sinar mata pemuda itu ketika memandang Lian Si.

Dia sudah cukup sering melihat sinar mata pria seperti itu kalau memandang gadis dan biasanya sinar mata seperti itu mengandung nafsu yang berkobar.

Karena khawatir akan keselamatan Lian Si yang begitu mudahnya diajak singgah ke rumah seorang pemuda, maka Sin Lee diam-diam membayangi mereka dan mengintai dari jauh.

Dia melihat keduanya bicara dengan akrab dan tidak melihat pemuda itu melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Biarlah, dia tidak akan memperlihatkan diri.

Kalau kekhawatirannya itu ternyata tidak betul, dia akan meninggalkan mereka tanpa memperlihatkan diri.

Bahkan kalau Lian Si dan pemuda itu saling jatuh cinta, dia akan ikut merasa gembira karena dia pernah menolak gadis itu Lian Si dan Tun Hok sudah tiba di sebuah rumah mungil yang berdiri terpencil di lereng bukit itu.

Mereka disambut oleh seorang pelayan pria berusia empat puluhan tahun dan dua orang pelayan wanita yang baru belasan tahun usianya dan cantik-cantik wajahnya.

"Cepat potong ayam dan kelinci, buatkan hidangan yang lezat untuk kami berdua,"

Perintah Tun Hok kepada tiga orang pelayannya yang tersenyum sambil mengangguk dan pergi ke belakang.

"Silahkan duduk, nona. Di sini tidak ada orang lain kecuali tiga orang pelayanku itu dan anggaplah seperti di rumah sendiri."

Akan tetapi Lian Si tidak duduk, melainkan melihat-lihat ruangan itu.

Semua prabot rumahnya serba mewah dan di situ tergantung banyak lukisan dan syair-syair berpasangan yang tulisannya indah sekali.

Ia kagum bukan main.

Tak salah lagi, pemuda ini tentu seorang pemuda bangsawan, bahkan mungkin saja dia seorang pangeran!

Kalau Ayahnya tahu bahwa ia diundang oleh seorang pangeran!

"Nona, maukah engkau mendengarkan permainan sulingku?"

"Tadinya aku mengira bahwa sulingmu itu hanya sebuah senjata yang lihai sekali, tidak tahunya engkau pandai pula meniup suling? Tentu saja aku suka sekali mendengarnya, kongcu!"

Tun Hok bertepuk tangan tiga kali dan muncullah seorang di antara dua pelayan wanita itu. Bahkan pelayan wanita inipun pakaiannya tidak seperti pelayan, dan cukup mewah serta cantik.

"A Mi, tinggalkan dulu dapur, biarkan A Lan dan Acian memasak. Kau ambil yang-kim dan temani aku meniup suling,"

Perintah Tun Hok.

Gadis itu membungkuk dalam dan cepat pergi dari situ.

Tak lama kemudian ia sudah kembali dan membawa sebuah yang-kim (semacam gitar) lalu duduk di atas lantai dengan yang-kim di depannya.

"Kita mainkan lagu "Menanti Kekasih!, A Mi,"

Kata pula kongcu itu.

"Baik, kongcu,"

Kata gadis itu dan jari-jari tangan yang lentik itu mulai memetik-metik dawai yang-kimnya.

Terdengarlah suara merdu dan nyaring berkerintingan.

Tun Hok lalu membawa suling yang tadi menjadi senjata ampuh itu ke depan mulutnya dan melengkinglah suara suling yang merdu, diikuti suara yang-kim yang berkerintingan.

Dan terdengarlah lagu yang merdu merayu, membuat Lian Si memandang kagum bukan main.

Hebat pemuda ini, lebih hebat dari pada yang diduganya.

Permainan sulingnya sungguh mengagumkan, membuat hatinya seperti ditarik-tarik.

Setelah beberapa lagu diperdengarkan, dan setiap habis satu lagu Lian Si bertepuk tangan memuji, hidangan dari dapur pun dikeluarkan.

"Wah, sudah matang. Mari kita makan dulu, nona Gan,"

Kata Tun Hok dengan ramah.

Mereka makan minum dengan gembiranya karena memang Tun Hok pandai bicara dan pandai mengambil hati.

Dalam waktu singkat saja Lian Si sudah tertarik, bahkan boleh saja dikatakan bahwa dia sudah terpikat dan jatuh hati kepada pemuda yang pandai membawa diri itu.

Dan gadis yang sudah dimabok dan dibuai perasaan cinta itu menjadi lupa diri dan setiap kali tuan rumah mengajaknya minum arak, iapun menuruti saja sehingga akhirnya Lian Si menjadi mabok!

Dan dalam keadaan mabok itu, secara setengah sadar Lian Si dituntun oleh Tun Hok, dipapah masuk ke dalam kamarnya.

"Kepalaku pening, semua rasanya berputaran...!"

Keluh Lian Si.

"Kalau begitu mengasolah dulu, nona. Mari, mari kuantar nona tidur-tiduran dulu sampai peningmu hilang."

"Aihh, tidak kongcu. Tidak baik kalau tidur di sini..."

Lian Si masih teringar akan kesopanan dan tahu benar bahwa tidak pantas sekali kalau ia tidur di kamar diantar pemuda itu.

"Tidak mengapa, nona..."

Pemuda itu merangkul dan memapahnya.

"Tidak, tidak baik, kongcu. Biar aku pergi sendiri ke kamar..."

"Dan membiarkan engkau jatuh? Lihat, kalau kulepas engkau akan jatuh."

Tun Hok melepaskan rangkulannya dan Lian Si terhuyung, tentu roboh kalau tidak dirangkul lagi oleh Tun Hok.

"Nah, kau lihat, hampir engkau jatuh. Marilah nona Gan, mari kuantar, jangan sungkan. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik?"

Dia memapah lagi dan Lian Si, sambil tersipu, terpaksa membiarkan saja dirinya dirangkul dan dipapah ke dalam kamar.

Setelah berada di dalam kamar, Tun Hok menutupkan daun pintunya, dan membawa gadis itu ke pembaringan.

Dia merebahkan Lian Si telentang di atas tempat tidur dan langsung saja ditubruk, dirangkul dan diciuminya gadis yang mabok itu.

Biarpun ia mabok, Lian Si masih sadar bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar.

Ia meronta lemah, akan tetapi apa artinya tenaganya dalam keadaan mabok dan pening itu?

Tun Hok berbuat lebih berani dan mulai menanggalkan pakaiannya.

"Jahanam busuk!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan daun pintu terbuka lebar, ditendang orang dari luar dan Sin Lee nampak di ambang pintu.

"Keparat, hentikan perbuatanmu yang terkutuk itu!"

Tun Hok terkejut sekali ketika melihat seorang pemuda berpakaian sederhana telah berdiri di ambang pintu dengan muka merah karena marah.

Dia menjadi marah sekali.

Daging yang sudah berada di mulut dan tinggal mengunyah saja hendak dirampas orang!

Setelah membereskan pakaiannya sendiri yang awut-awutan, Tun Hok lalu menyambar suling dan kipasnya dari atas meja, meloncat ke pintu dan memaki orang yang baru datang itu.

"Engkau yang jahanam busuk! Engkau memasuki rumah orang seperti maling dan mencampuri urusan orang lain. Engkau patut dihajar!"

Setelah berkata demikian, Tun Hok menyerang dengan sulingnya.

Kaget juga Sin Lee mendapat serangan yang dahsyat itu.

Tahulah dia bahwa pemuda ini seorang yang lihai sekali, maka dia melompat keluar untuk mencari tempat yang lebih luas.

Setelah tiba di mencabut pedang dari punggungnya dan terjadilah perkelahian yang sengit.

Kini giliran Tun Hok yang terkejut melihat gerakan pedang lawannya.

Ketika dia memperhatikan, dia melihat bunga di kancing baju Sin Lee dan semakin kagetlah dia.

"Engkau Pendekar Bunga Merah?"

Bentaknya sambil melompat ke belakang.

"Hemm, engkau sudah tahu siapa aku, maka tentu tahu pula bahwa aku tidak akan mengampuni orang yang berlaku keji terhadap seorang gadis."

Tun Hok menjadi gentar juga setelah mengetahui siapa yang dihadapinya.

Nama Pendekar Bunga Merah cepat terkenal karena dilindungi Kaisar, dan semua pejabat setempat diperintahkan menyambutnya dengan baik.

Bukan itu saja.

Dia mendengar dari Suhunya yaitu Bouw Sang Cinjin, bahwa Pendekar Bunga Merah adalah seorang pendekar yang sakti dan dia dipesar agar berhati-hati kalau bertemu dengannya.

"Pendekar Bunga Merah! Aku mendengar bahwa engkau seorang yang gagah perkasa, akan tetapi mengapa mencampuri urusan cinta antara aku dan kekasihku? Sungguh tak kusangka engkau ternyata seorang yang tidak tahu malu! Orang sedang berkasih-kasihan dengan pacarnya diganggu!"

Muka Sin Lee berubah kemerahan.

"Sobat, engkau tidak perlu berpura-pura suci. Aku tahu siapa gadis itu. Ia seorang gadis gagah dan sopan, puteri seorang guru silat. Engkau telah menjebaknya, bukan? Engkau menjamunya dan membuatnya mabok, kemudian engkau merayunya dan berusaha memperkosanya!"

Tun Hok marah sekali.

"Itu fitnah! Kami saling mencinta. Aku cinta kepadanya dan gadis itupun cinta kepadaku. Aku akan segera meminangnya untuk menjadi isteriku!"

"Bohong!"

Bentak Sin Lee dan dia sudah menerjang lagi dengan pedangnya.

"Trang! Tranggg!"

Dua kali pedangnya tertangkis suling perak dan tangkisan itu membuat Tun Hok terkejut sekali karena dia merasa betapa tangannya tergetar hebat.

Dia tidak dapat mengandalkan siapapun di rumah itu, maka terpaksa dia memutar suling dan menggerakkan kipasnya, menyerang lagi dengan lebih dahsyat.

Namun, sekali ini murid Bouw Sang Cinjin ini menghadapi seorang lawan yang amat tangguh.

Dia seolah bertemu dengan orang yang tingkat kepandaiannya seimbang bahkan lebih unggul dari gurunya sendiri.

Maka, ke manapun sulingnya menerjang dan kipasnya menotok dengan gagangnya, atau mengebut ke arah mukanya, selalu saja lawannya dapat menangkis atau menghindar dengan mudahnya.

Dan balasan serangan pedang yang dilakukan Sin Lee selalu membuat dia kewalahan.

Sin Lee mulai mendesaknya.

Akan tetapi Pendekar Bunga Merah ini bukan seorang yang kejam, bukan pembunuh.

Dia hanya ingin mengalahkan pemuda itu dan menyadarkannya bahwa perbuatannya itu tidak baik.

Karena itu, dia hanya mendesak dan bermaksud mengalahkan Tun Hok tanpa melukai berat atau membunuhnya.

Dan hal ini tidaklah begitu mudah mengingat bahwa Tun Hok juga sudah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.

"Haiiittt...!"! Tiba-tiba Sin Lee mengeluarkan bentakan nyaring dan pedangnya menyerang dengan kuatnya sehingga Tun Hok yang menangkis sampai terhuyung ke belakang. Sin Lee sudah mendesak dan hendak merobohkannya, akan tetapi tiba-tiba sebatang pedang menyambar dan menusuknya dari samping. Dia terkejut dan menangkisnya.

"Trangg...!"

Pedang itu terpental dan Sin Lee berhadapan dengan Gan Lian Si yang mukanya merah sekali.

"Lian Si... kau...!"

Sin Lee berseru heran. Baru saja dia membebaskan gadis itu dari ancaman perkosaan dan kini gadis itu mencegah dia merobohkan calon pemerkosanya.

"Jangan bunuh dia...!"

Lian Si berkata dengan suara gemetar.

"Aku tidak akan membunuhnya, akan tetapi..."

"Jangan mencampuri urusan kami!"

Bentak pula Lian Si dengan muka merah. Ia masih mabok akan tetapi agaknya ia telah mengambil keputusan tetap.

"Tapi dia..."

Sin Lee membantah.

"Kami saling mencinta!"

Kata pula Lian Si dan mendengar ini, Tun Hok yang tadinya sudah khawatir sekali lalu tertawa.

"Ha-ha-ha, Pendekar Bunga Merah, engkau mendengar sendiri pengakuan adik Gan Lian Si itu. Apakah engkau begitu jahil untuk mengganggu sepasang orang muda yang sedang berkasih-kasihan dan saling mencinta? Apakah engkau merasa iri hati? Ha-ha-ha!"

Wajah Sin Lee berubah merah sekali. Tak disangkanya sama sekali pengakuan yang diucapkan Lian Si itu. Tentu saja dia merasa terpukul dan tidak mampu menjawab ejekan Tun Hok.

"Adik Lian Si, benarkah apa yang kau katakan itu? Bahwa engkau mencinta pemuda ini? Sesungguhnyakah?"

"Aku mencinta pemuda ini dan apa hubungannya itu dengan engkau?"

Balas tanya Lian Si, pertanyaan yang dikeluarkan dalam keadaan setengah mabok dan bercampur dengan rasa sakit hati karena ia pernah ditolak oleh Sin Lee.

Gadis ini tadi mendengar pengakuan Tun Hok yang mengaku mencintainya, dan hal inilah yang membuat ia berani menentang Sin Lee.

Kalau Tun Hok memang mencintainya ia dapat memaafkan semua yang telah dilakukan kongcu itu atas dirinya.

Pula, mungkin saja Tun Hok ini seorang pangeran, atau putera bangsawan tinggi.

Sin Lee merasa seperti ditampar mukanya, apa lagi mendengar suara tawa mengejek dari pemuda itu.

"Baiklah, kalau begitu aku hanya dapat menghaturkan selamat!"

Katanya dan dua kali tangannya bergerak, nampak sinar merah menyambar ke arah Tun Hok dan Lian Si.

Dua orang ini tidak sempat mengelak dan di dada baju Tun Hok telah menancap setangkai bunga merah, demikian pula di sanggul rambut Lian Si.

Pemuda ini lalu berkelebat dan lenyap dari depan dua orang muda itu.

Tun Hok kini berhadapan dengan Lian Si.

Tun Hok menghampiri gadis itu, dan berkata lirih.

"Gan-Siocia..."

"Kongcu, masih perlukah kongcu menyebutku nona lagi?"

"Si-moi... ah, Si-moi yang tercinta..."

Dia merangkul.

"Koko, aku... aku cinta padamu, Koko... jangan sia-siakan aku..."

Bisik Lian Si dalam rangkulan pemuda yang pandai memikat hati itu.

Pengaruh arak dan juga pengaruh nafsu hatinya sendiri mendorong Lian Si untuk menurut saja ketika dibawa pemuda itu ke kamarnya, mabok dan gairah nafsu membuatnya lupa diri, lupa bahwa yang dilakukannya itu sebenarnya amat tidak baik dan merugikan dirinya sendiri sebagai seorang wanita!

Sampai tiga hari tiga malam Lian Si dikeram di rumah itu biarpun sudah berulang kali ia mengatakan hendak pulang dan memberi tahu Ayahnya agar mengatur dan membicarakan tentang pernikahan mereka.

Baru pada hari ke empat Tun Hok yang sudah puas kekenyangan itu membiarkan ia pergi dengan berjanji bahwa dia akan menanti di situ menunggu kedatangan Ayahnya.

Dengan hati penuh kebahagiaan, Lian Si melakukan perjalanan secepatnya ke Shanghai, memberitahukan kepada Ayahnya bahwa ia telah bertemu dengan jodohmya.

Ketika Ayahnya mendengar cerita anaknya, Ayah inipun merasa bangga dan berbahagia.

Puterinya hanya bercerita bahwa ia bertemu dengan seorang pemuda bangsawan yang berilmu tinggi dan keduanya jatuh cinta, bersepakat unutk menikah dan kini puterinya itu pulang memberi tahu kepadanya agar dia suka pergi mengurus soal pernikahannya itu.

Sama sekali Lian Si tidak bercerita tentang keributan yang terjadi dengan Pendekar Bunga Merah, juga tidak bercerita bahwa selama tiga hari tiga malam ia hidup seperti sepasang pengantin baru dengan pemuda pilihan hatinya itu!

Gan Kong, guru silat di Shanghai itu segera mempersiapkan diri dan pada keesokan harinya setelah Lian Si pulang, dia bersama Lian Si naik kuda dan melakukan perjalanan secepatnya menuju ke bukit di sebelah selatan kota Kian-cu seperti yang ditunjukkan oleh Lian Si itu.

Di sepanjang perjalanan Lian Si nampak sedemikian gembira sehingga Ayahnya ikut gembira, mengira bahwa tentu sekali ini Lian Si bertemu jodohnya yang tepat dan agaknya amat dicinta oleh puterinya itu.

Akhirnya, pada suatu pagi mereka sampai juga di bukit itu.

Dengan Lian Si yang melarikan kudanya di depan sebagai penunjuk jalan, mereka memasuki hutan dan tiba di depan rumah mungil itu.

Akan tetapi apa yang mereka dapatkan?

Rumah itu kosong, tidak ada seorangpun penghuninya!

Lian Si memandang dengan muka pucat, akan tetapi ia segera menghibur dirinya dan berkata kepada Ayahnya.

"Ayah, kurasa Hok-Koko pergi ke Kian-cu atau bermain-main di telaga sambil berbelanja. Mari kita cari dia di Kian-cu atau di telaga."

Gadis itu masih belum putus harapan dan Ayahnyapun hanya mengikutinya saja.

Mereka berputar-putar di kota Kian-cu tanpa hasil dan akhirnya Lian Si dan Ayahnya pergi ke telaga kecil yang berada dekat kota itu.

Dan benar saja, Lian Si melihat pria yang dicintanya itu sedang berperahu bersama seorang kakek yang tinggi besar berpakaian pendeta.

Ia memanggil dari daratan, dan agaknya Tun Hok melihatnya karena pemuda ini segera mendayung perahunya ke tepi, dan setelah tiba di tepi, meloncat ke darat dan mengikat perahunya.

Kakek tinggi besar masih duduk bersila di dalam perahu sambil memandang dengan sikap acuh.

"Ah, kiranya engkau, adik Lian Si,"

Kata Tun Hok.

Lian Si mengerutkan alisnya melihat sambutan Tun Hok tidak seperti yang diduganya itu.

Sambutan pemuda itu demikian dingin dan tidak bersemangat, seolah bertemu kenalan biasa saja.

Pada hal, ia merasa rindu sekali kepada pemuda yang sudah dianggap suaminya itu!

Akan tetapi karena Ayahnya berada di situ, ia tidak memperlihatkan rasa penasaran di hatinya.

"Koko, ini adalah Ayahku, sengaja kuajak ke sini!"

Lian Si memperkenalkan.

"Ayah, inilah kanda Bhe Tun Hok seperti yang kuceritakan kepada Ayah."

Sejak semula Gan Kong sudah mengerutkan alisnya.

Penyambutan pemuda itu kepada Lian Si bukan sambutan seorang kekasih, pikirnya.

Demikian dingin dan dia melihat kecongkakan pada sikap pemuda itu, seperti memandang rendah kepada dia dan Lian Si.

Apakah karena dia pemuda bangsawan seperti pengakuan Lian Si?

"Ah, pamankah yang menjadi guru silat di Shanghai, Ayah Lian Si?

Selamat bertemu, Gan-Kauwsu (guru silat Gan)!"

Kata Tun Hok malas-malasan. Ayah dan anak itu semakin kaget dan penasaran. Terutama sekali Lian Si yang mendengar betapa kekasihnya itu menyebut Ayahnya "Guru silat Gan."

"Koko, ini adalah Ayahku, calon Ayah mertuamu!"

Ia menegur.

"Aihh, Lian Si. Siapa bilang dia calon Ayah mertuaku?"

"Koko, bukankah engkau menjanjikan untuk mengawini aku?"

"Ha-ha-ha, janji kita berdua dalam suasana mabok seperti itu tidak ada artinya, Lian Si. Aku tidak akan kawin dengan siapapun."

Lian Si menjadi pucat sekali wajahnya dan ia memandang kepada Tun Hok dengan sepasang mata terbelalak, tidak percaya.

Apakah ini bukan pemuda dengan siapa ia tidur selama tiga hari tiga malam itu?

"Hok-ko, apa artinya ini!

Bukankah di rumahmu, di bukit itu, engkau menjanjikan akan menikah dengan aku, dan aku berpamit untuk memanggil Ayahku agar mengurus dan membicarakan pernikahan kita?"

Tiba-tiba kakek berpakaian pendeta yang duduk di perahu itu berkata.

"Tun Hok, ada apa ribut-ribut ini?"

"Ini, Suhu. Gadis ini pernah bersenang-senang dengan teecu selama tiga hari tiga malam dan sekarang ia minta dikawini!"

Kata Tun Hok sambil tertawa.

"Hemm, siapa ia?"

"Ia Gan Lian Si, puteri Gan Kong guru silat di Shanghai."

"Bagaimana ilmu silatnya?"

"Biasa-biasa saja, Suhu. Akan tetapi lumayan, lebih baik dari pada para pembantu kita."

"Kalau begitu, suruh mereka membantu kita menggempur Beng-kauw, baru kita bicara lagi. Mungkin engkau dapat mengambilnya sebagai seorang selir."

Tun Hok berkata kepada Ayah dan anak yang memandang dengan mata terbelalak itu.

"Nah, kalian dengar apa kata guruku. Maukah kalian membantu kami menggempur Beng-kauw yang menjadi musuh kami? Setelah itu baru kita bicara. Biarpun aku sudah mempunyai tujuh orang selir, ditambah seorang lagi pun tidak mengapa."

Hampir saja Lian Si menjerit seperti ditusuk jantungnya dengan pedang berkarat. Ia menudingkan telunjuknya ke arah muka Tun Hok.

"Bhe Tun Hok, laki-laki macam apa engkau ini? Engkau telah berjanji akan menikahiku dan sekarang di depan Ayah engkau hendak menyangkalnya?"

"Ha-ha, Lian Si, aku tidak akan menikah dengan seorang perempuan gampangan seperti engkau."

"Tun Hok!"

Lian Si menjerit.

"Engkau jahanam busuk, keparat! Aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Lian Si mencabut pedangnya dan menyerang dengan tusukan kilat.

Akan tetapi dengan mudahnya Tun Hok sudah mengelak dan dari samping menendang yang membuat Lian Si terhuyung.

Melihat keadaan ini, Gan Kong merasa tidak enak sekali.

Dia memegang tangan puterinya.

"Sudahlah, Lian Si. Kalau dia tidak mau, kita berdua pergi saja dari sini. Untung engkau belum menjadi isteri seorang pemuda seperti itu. Mari kita pergi."

"Tidak, Ayah! Dia harus menikah denganku, atau dia atau aku mati di sini!"

Lian Si merenggut tangan Ayahnya dan menyerang lagi membabi buta.

Karena penyerangan Lian Si amat bersungguh-sungguh, terpaksa Tun Hok mengeluarkan sulingnya dan terdengarlah bunyi kerontangan ketika pedang berkali-kali ditangkis suling.

"Ayah, bantu aku membunuh binatang berkaki dua ini. Dia telah menodai aku, Ayah!"

Mendengar ucapan anaknya yang dikeluarkan sambil menangis, Gan Kong terkejut bukan main.

"Jahanam...!"

Dia memaki dan kini Gan Kong juga mencabut pedangnya dan ikut membantu puterinya mengeroyok Tun Hok.

Namun, Tun Hok dengan tenangnya menggerakkan sulingnya, menangkis kedua pedang itu dan ketika sulingnya membalas, kembali Lian Si terhuyung.

Gan Kong mengerahkan seluruh tenaganya dan menyerang dengan sengit, namun memang tingkatnya kalah jauh.

Tun Hok dengan mudah menghindarkan diri dan ketika dia memutar sulingnya yang mengeluarkan suara berdengung-dengung, Gan Kong segera terdesak hebat.

Lian Si mengeluarkan teriakan melengking dan ia sudah menyerang lagi dengan sepenuh tenaga.

Tun Hok kembali dikeroyok dua.

Akan tetapi belum lewat lima belas jurus sulingnya berturut-turut menghantam pergelangan tangan Ayah dan anak itu, membuat pedang mereka terlempar dan suling ini terus menghantam ke depan, mengenai dada Gan Kong dan pundak Lian Si.

Ayah dan anak itu roboh terjengkang dan tidak dapat segera bangun kembali.

"Ha-ha-ha-ha, kepandaian kalian belum seberapa, membantu kamipun tidak ada gunanya."

Setelah berkata demikian, dia melompat ke atas perahunya dan mendayung perahu itu pergi ke tengah telaga.

Lian Si hendak bangkit, akan tetapi tidak kuat dan ketika ia menoleh, ia melihat Ayahnya juga terluka, maka ia lalu menubruk Ayahnya sambil menangis.

"Ayah... ahh, Ayah...!"

Ia menangis tersedu-sedu. Ayah itu merangkul anaknya dan membiarkannya menangis sampai puas, baru dia bertanya.

"Anakku, apa yang telah terjadi antara engkau dan dia?"

"Ayah, kami berkenalan dan... dan... dia melolohku dengan arak sampai aku mabok... dan ketika itu sudah muncul Pendekar Bunga Merah melarang Tun Hok sehingga mereka bertanding dan Tun Hok sudah kalah. Akan tetapi aku... ah, mataku seperti buta... aku malah melindungi Tun Hok dan minta Pendekar Bunga Merah pergi. Kemudian... kemudian, aku seperti kehilangan segala pertimbangan dan kesadaran, Ayah. Aku... aku menyerahkan diri kepadanya, selama tiga hari tiga malam aku..."

"Plakkk!"! Tamparan itu keras sekali mengenai pipi Lian Si yang jatuh terpelanting.

"Ayah, bunuhlah aku, Ayah..."

Lian Si menangis menggerung-gerung sambil menelungkup di atas tanah.Gan Kong tenang kembali dan diapun menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya air matanya yang menetes turun ke atas kedua pipinya.

Dia teringat bahwa Lian Si adalah anak tunggalnya.

Dirangkulnya gadis itu dan diangkatnya bangkit duduk kembali.

Keduanya berpelukan sambil menangis.

"Ayah, aku harus membalas dendam. Harus! Kalau tidak, selama hidupku aku akan merana, menderita aib yang tak tertanggungkan."

"Aku mengerti, Lian Si. Kesalahan langkahmu menghancurkan hidupmu dan pemuda jahanam itu memang harus dihukum. Mari, bukankah dia tadi mengajak kita membantu untuk menggempur Beng-kauw? Dia dan antek-anteknya tentu akan menyerang Beng-kauw. Jalan satu-satunya untuk membalasnya adalah kita pergi ke Beng-kauw dan membantu Beng-kauw memusuhinya."

Ayah dan anak itu lalu pergi menunggang kuda mereka, menuju ke Beng-kauw.

Semua peristiwa yang terjadi menimpa kita tidaklah terlepas dari pada perbuatan dan sikap kita sendiri.

Tidak ada akibat tanpa sebab dan sebabnya harus dicari dalam diri sendiri.

Kalau demikian, maka akan timbul kesadaran dan mawas diri ini mendatangkan keinsafan sehingga tidak akan mengulang kembali kesalahan yang pernah kita lakukan.

Akan tetapi, pada umumnya kita hendak melemparkan kesalahan kepada orang lain dan kita lupa akan kesalahan diri sendiri.

Timbullah dendam dan permusuhan turun temurun yang tidak ada (Lanjut ke

Jilid 11) Pendekar Bunga Merah (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 habis-habisnya.

Demikian pula dengan Lian Si.

Gadis ini merasa sakit hati dan mendendam kepada Tun Hok karena iapun tidak pandai mawas diri.

Semua kesalahan ia timpakan kepada pemuda itu sehingga yang ada hanyalah benci dan dendam dan ingin membuat pemuda itu sengsara atau mati, seolah kalau sudah begitu akan hilang pula penderitaannya.

Pada hal, penderitaan akan hilang dengan terhentinya sebab yang kita buat sendiri.

Penyesalan tiada guna.

Yang penting kesadaran akan kesalahan itu dan tidak akan mengulang lagi.

Keluarga gila itu bermain-main di telaga.

Song Kian Ok minum arak sambil bernyanyi, nyanyian kanak-kanak diseling syair-syair dan ujar-ujar dalam kitab suci sehingga terdengar aneh sekali.

Isterinya, Nyonya Song, memukul tutup panci sehingga berbunyi seperti canang.

Dan Aceng atau Song Ceng mencari ikan.

Caranya mencari ikan juga aneh dan luar biasa.

Dia menggunakan sebilah papan yang lebarnya satu kaki panjang satu meter.

Dan dia berdiri di atas papan yang meluncur ke sana ke mari sambil membawa sebuah bambu runcing.

Begitu dia melihat ikan berenang di bawah permukaan air, bambu runcingnya menikam ke bawah dan dapatlah dia seekor ikan yang besar, yang sambil tertawa-tawa dibawanya ke perahu lalu diberikannya kepada ibunya.

Dalam waktu tak lama dia telah berhasil menangkap enam ekor ikan yang besarnya sebetis kakinya.

Ibunya sibuk membersihkan ikan itu untuk dipanggang di atas perahu.

Tak jauh dari situ, seorang kakek tinggi besar menonton sejak tadi.

Hemm, pikirnya, mereka itu adalah keluarga gila yang terkenal di dunia kang-ouw.

Kalau saja dia dapat mempergunakan mereka, tentu akan berhasil usahanya.

Kakek itu adalah Bouw Sang Cinjin.

Seperti diketahui, Bouw Sang Cinjin adalah bekas tokoh Lama Jubah Merah yang diusir dari negerinya.

Tadinya dia sudah berhasil menguasai Beng-kauw dan hidup senang sebagai pimpinan Beng-kauw.

Akan tetapi kemudian muncul Souw Giok Lan dan Cu Sin Lee yang menghancurkan apa yang telah dibangunnya itu.

Dia kehilangan kedudukannya di Beng-kauw.

Karena itu, kini dengan segala daya dia ingin merobohkan kekuasaan Souw Giok Lan yang menjadi ketua Beng-kauw.

Dan untuk itu, dia membutuhkan banyak tenaga bantuan yang lihai karena Beng-kauw mempunyai banyak tokoh lihai, apa lagi Beng-kauw dibantu oleh Pendekar Bunga Merah yang namanya kian menonjol saja di dunia persilatan.

Melihat cara Song Ceng menangkap ikan, hatinya tertarik sekali.

Pemuda itu saja sudah memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang demikian hebat, apa lagi Ayah dan ibunya.

Kalau dia mampu menarik mereka bertiga memusuhi Beng-kauw, alangkah baiknya.

Bouw Sang Cinjin adalah seorang yang cerdik.

Dia sudaj mendengar banyak tentang keluarga Song yang gila dan tentang kehilaian mereka.

Mengajak berunding orang gila sama sukarnya dengan mengajak berunding kerbau gila.

Harus memakai akal, pikirnya.

Bouw Sang Cinjin segera berganti pakaian hitam, memakai topeng hitam dan diapun mengambil sebilah papan.

Lalu dia meluncurkan papan itu di atas air dan meloncat di atasnya.

Dengan jubah lebar sebagai layar terkembang, dia lalu meluncur mendekati Aceng yang masih tertawa-tawa itu.

Dengan cepat dia lalu mendorong dari belakang sehingga Aceng kehilangan keseimbangannya.

Kemudian, ketika Aceng terguling dan masuk ke dalam air, dia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, mana bisa kau menandingi Beng-kauw? Ha-ha-ha!"

Dan diapun meluncur mendekati perahu.

Sekali ini dia memegang kepala perahu dan menggulingkan perahu itu sehingga suami isteri Song terjebur pula ke dalam air.

Setelah ketiga orang itu gelagapan dan berenang, orang berpakaian hitam memakai topeng hitam itu berkata nyaring.

"Ha-ha-ha, keluarga Song Gila mana mampu menandingi Beng-kauw! Ha-ha-ha!"

Dan diapun meluncur pergi dari situ. Song Kian Ok, Nyonya Song dan Aceng memaki-maki sejadinya.

"Beng-kauw anjing, Beng-kauw kucing, Beng-kauw monyet, babi...!"

Akan tetapi mereka tidak mendapat jawaban dan merekapun dengan susah payah berenang ke tepi, basah kuyup dan kehilangan ikan dan segalanya. Sampai di pantai, Aceng menangis seperti anak kecil.

"Ah, ikan-ikanku! Beng-kauw nakal, ibu!"

"Diamlah, kita nanti beri hajaran kepadanya."

"Beng-kauw berani kurang ajar kepada kita, sungguh harus ditumpas!"

Kata pula Song Kian Ok.

"Akan tetapi Beng-kauw itu siapa?"

Tanya isterinya.

"Beng-kauw ya Beng-kauw, habis siapa?"

"Dia itu orang macam apa? Berkedok tadi? Di mana tempat tinggalnya?"

Pada saat mereka bersungut-sungut dan marah, muncul orang bertopeng hitam berjubah lebar tadi.

"Ha-ha-ha, kalian berani menentang Beng-kauw. Sama dengan cari mampus!"

"Orang gila kau!"

Aceng sudah berseru nyaring dan dia sudah meloncat ke depan, menyerang orang itu.

Serangannya kacau balau, akan tetapi mengandung sin-kang kuat dan orang bertopeng itu segera menangkis dan balas menyerang.

Ayah ibu Aceng sudah berloncatan dan merekapun menyerang sehingga orang bertopeng yang bukan lain adalah Bouw Sang Cinjin itu dikeroyok tiga.

Dia memang ingin mencoba kepandaian mereka, maka melayaninya dengan penuh semangat.

Kalau satu lawan satu, pasti dia menang, akan tetapi kalau dikeroyok tiga, dia repot juga.

Senanglah hatinya.

Kalau keluarga ini maju bersama, akan menjadi pembantu yang bahkan lebih tangguh dari pada dirinya.

Dia lalu melompat ke belakang dan melemparkan sebuah benda yang meledak dan mengeluarkan asap tebal.

Keluarga gila itu berteriak-teriak ketakutan, lari menyingkir.

Terdengar suara dari dalam asap itu.

"Kalau kalian memang berani, datanglah di Beng-kauw. Cari di lereng pegunungan Beng-san sebelah selatan dan kalian akan dapat menemukan tempat kami. Nah, sampai jumpa. Kalau kalian tidak datang, berarti kalian pengecut besar."

Setelah asap menipis, orang bertopeng itupun sudah lenyap dari situ. Song Kian Ok mencak-mencak, matanya mencorong aneh.

"Jahanam keparat busuk, engkau Beng-kauw! Siapa sih yang takut kepada Beng-kauw? Akan kudatangi Beng-kauw, akan aku obrak-abrik dan kubunuhi semua orang Beng-kauw!"

"Ait-ait-ait, suamiku. Jangan main bunuh, apa lupa akan pesan Si Dewa Arak?"

Tegur isterinya.

"Pemabok tua gila itu? Dia sendiri suka membunuh orang. Setidaknya, si tinggi besar itu akan kubikin patah kedua kakinya!"

Aceng tidak kalah semangatnya.

"Akan kubakari semua rumah Beng-kauw! Ya, dan akan kugoda gadis-gadisnya sampai kaku ketakutan!"

Keluarga gila itu memaki-maki dan mengancam sampai merasa puas. Pada saat itu terdengar suara orang tertawa.

"Ha-ha-ha, bagus sekali. Sekali ini Beng-kauw yang jahil dan jahat itu tentu akan mampus semua!"

Muncullah Bouw Sang Cinjin yang mengenakan pakaian biasa dari balik rumpun alang-alang.

"Heh, siapa kau! Orang Beng-kauw?"

Tegur Song Kian Ok dan sekali melompat dia sudah berada di depan Bouw Sang Cinjin.

"Siancai, pinto adalah seorang pendeta, sobat, bukan orang Beng-kauw. Pinto adalah sahabat, bukan musuh, kawan dan bukan lawan."

"Kawan atau lawan siapa tahu? Kau siapa?"

"Ha-ha-ha, pinto berhadapan dengan keluarga Song yang terhormat dan lihai, bukan? Pinto adalah Bouw Sang Cinjin, seorang pendeta."

Bouw Sang Cinjin adalah bekas Lama, akan tetapi kini dalam pelarian dan penyamarannya, dia mengaku sebagai seorang pendeta yang beraliran agama To.

"Dan alasan apa yang mengatakan bahwa engkau adalah sahabat kami?"

Tanya Nyonya Song.

"Pertama, pinto mempunyai hadiah untuk kalian untuk menunjukkan bahwa pinto ingin bersahabat."

Dia mengeluarkan tiga helai kalung dari mutiara dan menyerahkannya kepada mereka.

Nyonya Song dan Aceng girang bukan main menerima kalung itu dan segera dipakainya.

Hanya Song Kian Ok yang masih uring-uringan karena tadi dipaksa tercebur ke dalam air telaga, nampak masih bercuriga.

"Dan kedua, pinto mengundang sam-wi untuk makan bersama. Di balik ilalang itu pinto sudah mempersiapkan hidangan untuk kita berempat, lengkap dengan panggang ikan dan arak wangi."

"Panggang ikan? Wah, ikan-ikanku hilang. Mana ada panggang ikan?"

Kata Aceng gembira.

"Arak wangi...?"

Kini Song Kian Ok menjilat lidahnya.

"Mari, sam-wi, silahkan makan...!"

Bouw Sang Cinjin segera mengajak mereka ke belakang semak ilalang dan benar saja, di situ telah tersedia makanan dan minuman di atas tikar yang terbentang.

Memang semua telah diatur sebelumnya oleh Bouw Sang Cinjin dan para pembantunya.

Tiga orang keluarga Song itu tanpa sungkan lagi lalu makan minum dengan lahapnya sampai kekenyangan.

Song Kian Ok mengelus perutnya sambil mengangguk-angguk.

"Bouw Sang Cinjin, engkau memang seorang sahabat, sahabat baik. Ha-ha, kami senang mempunyai sahabat yang dapat menyuguhkan arak begini harum dan lezatnya."

"Dan ikan panggang ini gurih sekali, Ayah!"

Aceng memuji.

"Aku lebih senang kalung-kalung ini!"

Kata Nyonya Song yang memakai dua untai kalung karena bagian suaminya diberikan kepadanya.

"Pinto masih mempunyai hadiah yang ketiga, yaitu di mana kalian dapat menemukan Beng-kauw. Beng-kauw berada di bukit Beng-san, bagian selatan. Dan ketuanya adalah seorang gadis yang jahat sekali bernama Souw Giok Lan. Masih ada lagi Suhengnya yang tidak kalah jahatnya, dia adalah Pendekar Bunga Merah."

Tiga orang itu saling pandang dengan mata berputar.

"Pendekar Bunga Merah? Kami seperti pernah mendengarnya."

"Mereka semua musuh kalian, dan musuh kami pula. Maka, kalau kita bekerja sama, tentu sam-wi akan mampu membalas penghinaan mereka."

"Baik, baik. Kami mau bekerja sama dan sekarang juga kami hendak pergi ke sana,"

Kata Song Kian Ok.

Tentu saja Bouw Sang Cinjin merasa girang bukan main.

Dengan cara yang amat mudah dan murah dia berhasil menarik tiga orang keluarga gila yang amat lihai itu.

Bukan hanya tiga orang keluarga Song gila itu yang kini menjadi sekutu Bouw Sang Cinjin.

Akan tetapi ada pula seorang wanita yang amat berbahaya karena wanita inipun lihai sekali dan ia bukan lain adalah Lai Kim Li.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lai Kim Li adalah murid pula dari Bouw Sang Cinjin dan ia adalah Sumoi dari Bhe Tun Hok, juga selain Sumoi, ia menjadi pula kekasih Bhe Tun Hok.

Di bagian depan telah diceritakan bahwa wanita iblis ini pernah dapat menjebak Sin Lee yang ingin dipersuami, akan tetapi akhirnya Sin Lee dapat lolos bahkan mengalahkannya.

Karena takut terjatuh ke tangan penduduk dusun yang mengamuk dan mendendam karena ia telah menewaskan banyak pemuda, Lai Kim Li melarikan diri dan terjun ke dalam jurang.

Mestinya terjun dari tempat yang sedemikian tingginya ia tentu mati.

Akan tetapi kenyataannya, orang-orang dusun tidak menemukan mayatnya dan Lai Kim Li lenyap begitu saja.

Sebetulnya, Lai Kim Li sudah mengenal daerah itu dan ketika meloncat ke dalam jurang, ia sudah memperhitungkan bahwa ia akan menimpa sebatang pohon yang tumbuhnya miring di jurang itu.

Inilah yang menyelamatkannya, karena ia sudah dapat memegang cabang pohon itu dan ia tidak terbanting ke bawah.

Biarpun tubuhnya lecet-lecet dan lengannya terasa nyeri namun ia selamat.

Tentu saja ia mendendam kepada Pendekar Bunga Merah dan ketika bertemu gurunya ia mendengar bahwa gurunya juga mendendam kepada pendekar itu, ia lalu bergabung dengan gurunya untuk menyerbu dan memburuk-burukkan nama Beng-kauw.

Baginya, bukan karena hendak membalas kepada Beng-kauw seperti yang dikehendaki gurunya maka ia bergabung, melainkan karena Suhunya mengatakan bahwa ketua Beng-kauw adalah Sumoi dari Pendekar Bunga Merah dan kalau Beng-kauw diganggu, tentu pendekar itu akan muncul.

Semakin santer berita tentang orang-orang kang-ouw hendak menyerbu Beng-kauw dan di mana-mana Sin Lee mendengar berita ini.

Orang-orang kang-ouw marah karena kabarnya Beng-kauw melakukan segala macam kejahatan, bahkan banyak melakukan pembunuhan di antara para pendekar yang berani menentangnya.

Tentu saja Sin Lee amat mengkhawatirkan keadaan Sumoinya.

Kalau benar para tokoh kang-ouw dan partai-partai besar hendak menyerbu Beng-kauw, berarti Sumoinya terancam bahaya besar!

Dia teringat kepada Bu-tong-pai, maka dalam perjalanannya menuju ke Beng-kauw, dia singgah dulu ke Bu-tong-pai, dan segera menghadap ketua Bu-tong-pai.

Beng Sian Tosu menerimanya dengan gembira sekali dan dia cepat menyuruh Sin Lee bangun ketika pemuda ini dengan hormatnya berlutut kepadanya dan menyebut.

"Supek.!"

"Ahh, Sin Lee, Si Pendekar Bunga Merah. Jangan banyak sungkan, Sin Lee, bangkit dan duduklah. Angin apakah yang meniupmu terbang ke sini?"

Kata tosu itu dengan ramah dan gembira.

"Supek, saya datang ini sengaja untuk membicarakan tentang Beng-kauw dengan Supek dan mohon petunjuk Supek."

"Ahh, itu? Aku sudah mendengar desas-desus bahwa para tokoh kang-ouw akan mendatangi Beng-kauw bulan depan dan kalau perlu akan menyerang Beng-kauw karena ada berita bahwa Beng-kauw melakukan penyelewengan. Tentu saja aku tidak percaya begitu saja berita itu, maka aku telah mengutus beberapa orang murid untuk datang ke Beng-kauw dan membuktikannya sendiri."

"Dan buktinya bagaimana, Supek?"

"Tidak ada bukti akan penyelewengan Beng-kauw, dan para Suhengmu itu diterima oleh ketua Beng-kauw sendiri yang juga menyatakan sudah mendengar tentang berita itu. Ketua Beng-kauw membantah dan mengatakan bahwa berita itu fitnah belaka, bahkan menuntut bukti-bukti bahwa ada anak buah Beng-kauw melakukan kejahatan. Pinto yakin setelah dipimpin oleh Sumoi-mu itu, Beng-kauw menjadi perkumpulan yang mengambil jalan lurus, bahkan peraturannya terhadap para murid keras dan ketat sekali."

Sin Lee menghela napas lega.

"Kalau begitu, saya dapat mengharapkan suara Supek dalam pertemuan nanti, apa bila para tokoh kang-ouw itu mendatangi Beng-kauw. Kalau Sumoi tidak bersalah, sudah sepatutnya ditolong, bukan, Supek?"

"Siancai? Dengan lain kata-kata, engkai menghendaki agar pinto mendatangi pertemuan itu dan memberikan suara untuk kebersihan Beng-kauw? "Kalau Supek tidak berkeberatan tentu saja."

"Aihh, untuk membela yang benar, tentu saja pinto tidak berkeberatan dan pinto berjanji akan datang sendiri ke sana kalau saatnya tiba."

"Terima kasih banyak, Supek."

Sin Lee tidak lama berada di Bu-tong-pai, karena dia segera pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Beng-kauw.

Dia melakukan perjalanan cepat sekali dan tiba di Beng-kauw sebelum ada orang kang-ouw yang mendatangi perkumpulan itu.

Bukan main gembiranya Souw Giok Lan ketika ia melihat munculnya Suheng yang tercinta ini.

"Suheng, akhirnya engkau datang...!"

Serunya sambil lari menyambut dan kedua mata gadis itu menjadi basah.

"Sumoi, apa kabar...?"

Sin Lee berkata dan mereka saling berpegang tangan tanpa berkata apa-apa lagi, hanya sinar mata mereka yang bicara banyak, yang dengan jelas menyatakan betapa mereka saling merindukan.

Melihat sepasang mata Sumoinya perlahan-lahan meneteskan beberapa butir air mata ke atas sepasang pipinya, Sin Lee juga merasa betapa kedua matanya menjadi basah dan tahulah dia betapa sebenarnya mereka saling merindukan dan saling mencinta, bahwa perpisahan antara mereka itu dipaksakan sekali.

"Aih, Sumoi, rasanya sudah bertahun-tahun kita tidak berjumpa. Bagaimana, Sumoi, engkau baik-baik saja, bukan?"

"Baik, Suheng, dan engkau sendiri, bagaimana? Engkau kelihatan agak kurus, Suheng."

"Sama denganmu, Sumoi. Engkau sehat akan tetapi agak kurus, ada apakah, Sumoi?"

"Mari kita bicara di dalam, Suheng. Ada sesuatu yang amat penting kupikirkan dan kebetulan sekali engkau datang. Aku sedang gelisah, Suheng."

Mereka berdua memasuki ruangan dalam dan dua orang anggota wanita masuk menghidangkan minuman.

"Kalian keluarlah dan suruh jaga, kalau tidak penting sekali aku tidak mau diganggu karena hendak bicara penting dengan Suhengku."

"Baik, Pangcu,"

Kata kedua orang anggota itu dan mereka lalu keluar.

"Nah, Sumoi. Ada berita apakah, Sumoi?"

"Suheng, baru-baru ini, sekitar tiga bulan, Beng-kauw dihujani fitnah dari sana-sini!"

Giok Lan segera mengeluarkan kerisauan hatinya.

"Justeru karena itulah maka aku datang mengunjungimu, Sumoi. Akupun mendengar bahwa Beng-kauw telah menyeleweng, melakukan bermacam kejahatan dan kabarnya bulan depan para tokoh kang-ouw dan pimpinan partai besar akan datang untuk menghukum dan menyerbu Beng-kauw."

"Aih, jadi engkau sudah mendengarnya, Suheng? Kalau begitu, engkau tentu tahu betapa risaunya hatiku."

"Akan tetapi, kurasa tidak semua orang percaya akan berita itu, Sumoi. Bukankah baru-baru ini ada utusan Bu-tong-pai datang ke sini?"

"Benar, Suheng. Mereka menanyakan tentang berita itu dan aku menuntut agar kalau ada murid Beng-kauw melakukan kejahatan, ditunjukkan bukti-buktinya. Kukatakan kepada mereka bahwa itu semua hanya fitnah dan agaknya orang-orang Bu-tong-pai mempercayainya."

"Tentu saja, Sumoi. Aku sudah bertemu dengan ketua Bu-tong-pai, Supek Beng Sian Tosu dan beliau sudah berjanji untuk membela Beng-kauw kalau saatnya orang-orang kang-ouw berkumpuk di sini."

"Ah, bagus sekali kalau begitu, Suheng. Dan ada pula utusan dari Siauw-lim-pai yang seperti juga utusan dari Bu-tong-pai hendak menanyakan tentang berita itu. Kepada mereka aku juga menyangkal dan minta bukti."

"Aku percaya bahwa para pimpinan partai besar adalah orang-orang bijaksana yang tidak mudah termakan desas-desus tanpa melihat buktinya. Karena itu, jangan gelisah, Sumoi."

"Sekarang aku tidak gelisah lagi setelah engkau berada di sini, Suheng!"

Kata gadis itu gembira.

Baca Juga: Dewi Maut 4

Baca Juga: Memburu Iblis 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert