Ceritasilat Novel Online

Pendekar Muka Buruk 4

Eps 4 Pendekar Muka Buruk - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Muka Buruk - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Muka Buruk - Kho Ping Hoo.

Inikan malam perkawinan kita!"

"Suamiku, apakah permintaan sedikit saja dari isterimu pada malam pertama ini tidak kau turuti?"

Tanya Kwei Lan dengan manja sekali.

Lie Bun angkat pundak dan terpaksa mengalah.

Kwei Lan dengan girang lalu masak obat itu dengan air semangkuk sampai habis airnya.

Kemudian ia suruh pelayan mengumpulkan air yang tergantung pada daun-daun bambu.

Malam itu juga ia berhasil membuat ramuan itu dan ia paksa suaminya berbaring telentang.

Kemudian dengan halus dan hati-hati sekali, kedua tangannya yang halus lemas itu membedaki kulit muka Lie Bun dengan obat itu sampai tebal.

"Aduh! Gatal-gatal rasanya!"

Lie Bun merintih.

"Hush, diamlah jangan bergerak, nanti obatnya jatuh,"

Tegur Kwei Lan.

Demikianlah sehari semalam lamanya Lie Bun telentang dengan tak berani gerak-gerakan mukanya.

Ia makan dan minum dengan disuapi oleh isterinya yang tak pernah tinggalkan dia.

Lie Bun tak dapat membuka mata dan ia hanya merasa puas dengan pegangan erat isterinya yang halus.

Selama itu, Kwei Lan selalu masih pakai kerudungnya.

Pada malam kedua, maka cukuplah obat itu dipakai sehari semalam.

Dengan dada berdebar-debar dan leher seakan-akan tersumbat karena menahan gelora hatinya, Kwei Lan mencuci muka Lie Bun.

Ketika obat itu sudah tercuci habis dan muka itu sudah dikeringkan dengan kain, maka Kwei Lan memandang muka suaminya dan...

ia tak tahan lagi karena girang dan terharunya.

Ia tubruk suaminya dan menangis tersedu-sedu di atas dada Lie Bun!

Lie Bun heran dan bingung.

Cepat ia bangun dan mengambil alat cermin untuk melihat mukanya sendiri.

Hampir saja ia berteriak karena ia melihat muka Lie Kiat di dalam cermin itu!

Sungguh ia sama benar dengan Lie Kiat setelah mukanya menjadi halus dan putih!

Lie Bun peluk isterinya.

"Kwei Lan, kini kau harus buka kerudungmu."

"Koko... Apakah kau tidak jijik melihat mukaku yang buruk? Kau kan sudah menjadi cakap dan tampan sekarang, isterimu masih buruk menakutkan."

"Kwei Lan, jangan kau berkata begitu. Aku masih tetap Lie Bun yang kemarin, yang akan mencintaimu sepenuh jiwaku. Tak peduli kau akan berubah menjadi makhluk seburuk-buruknya di dunia ini!"

Kwei Lan memeluk suaminya.

"Kalau begitu, suamiku, aku hanyalah isterimu yang rendah dan setia... kau... bukalah kerudungku ini..."

Dengan kedua tangan gemetar, Lie Bun buka kerudung yang menutup muka dan kepala isterinya.

Ketika kerudung itu disentakkan ke atas hingga muka isterinya tampak, Lie Bun loncat ke belakang seperti tiba-tiba diserang senjata tajam.

Ia berdiri kesima dan memandang wajah isterinya dengan mata terbelalak.

Kwei Lan memandangnya dengan bibir tersenyum semanis-manisnya dan mata cemerlang menatap semesra-mesranya.

Dan wajah itu...

demikian cantik jelita, lebih cantik malah dari pada dulu...

kulit pipinya begitu putih kemerah-merahan dan halus...

rambut yang sebagian menutup jidatnya itu...

ah!

Lie Bun kucek-kucek matanya, lalu mencubit lengannya untuk menyatakan bahwa ia tidak sedang mimpi.

"Kwei Lan...!"

"Koko...!"

Mereka saling rangkul dan masing-masing mengeluarkan air mata karena terharu dan girang.

"Kwei Lan... bagaimanakah ini...? Sungguh aku tidak mengerti..."

"Aku hanya pura-pura, koko. Aku hanya memakai kedok pemberian ketua kelenteng Kwan-im-bio. Aku sengaja pakai itu untuk membuat kakakmu mundur teratur... dan sementara itu... aku selalu... menanti-nantimu..."

"Kwei Lan, kau sungguh mulia..."

Dan mereka berdua hidup bahagia sampai hayat meninggalkan badan! T A M A T andu,

http.//indozone.net

/literatures/literature/242 17 Desember 2007 jam 12.44am

Baca Juga: Si Bangau Merah 2

Baca Juga: Dewi Maut 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert