Ceritasilat Novel Online

Si Teratai Emas 4

Eps 4 Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo.

Kembang api dibakar di luar pintu gerbang dan menarik perhatian banyak sekali penonton yang berdesakan.

Shi Men sendiri tidak suka akan semua kesibukan itu.

Dia lebih suka berjalan-jalan ke dalam Pasar Lentera bersama dua orang sahabatnya, Ying Po Kui dan Cia Si Ta, kemudian dia memisahkan diri dan mendekam di dalam kamar Wang Liok Hwa, kekasihnya.

Di dalam bulan pertama dari tahun yang baru itu, terjadilah dua hal penting dalam kehidupan Shi Men.

Pertama-tama terjadi ketika isteri-isterinya pergi berkunjung ke rumah gedung keluarga Kiao, tetangga sebelah yang kaya raya itu.

Mereka mengajak pula Kwan Ko yang masih kecil yang dipondong oleh pengasuhnya, Yu I.

Ketika para isterinya itu berada di rumah gembira gedung Kiao, mereka disambut dengan gembira.

Keluarga Kiao juga hanya mempunyai seorang anak perempuan yang baru berusia tiga bulan.

Kwan Ko lalu oleh Yu I dibaringkan tak jauh dari bayi perempuan Nyonya rumah itu.

Ketika para wanita itu memasuki kamar sehabis bersantap bersama, mereka masuk kembali ke kamar, mereka melihat betapa dua orang anak kecil itu sudah saling mendekati dan bermain-main dengan tangan kaki mereka.

Para wanita itu tertawa melihat ini dan mereka semua merasa setuju dengan pendapat bahwa hal itu merupakan suatu isyarat dari Langit bahwa kedua anak itu saling berjodoh.

Mereka setuju kalau dua orang anak itu ditunangkan.

Goat Toanio segera mengutus seorang pelayan pulang mengambil sutera merah dan dengan sutera ini mereka menghias dinding ruangan depan gedung keluarga Kiao sebagai tanda bahwa di situ telah terjadi hal yang menggembirakan.

Dan pada keesokan harinya keluarga Kiao mengirim hadiah-hadian pertunangan yang berharga kepada keluarga Shi Men.

Shi Men terkejut dan merasa tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh para isterinya tentang ikatan perjodohan puteranya itu.

"Tidak dapat disangkal bahwa tetangga kita, keluarga Kiao adalah keluarga yang kaya raya dan terhormat,"

Demikian katanya kepada Goat Toanio.

"Akan tetapi Kiao hanyalah seorang rakyat biasa, tanpa pangkat dan kedudukan apapun, sehingga dia tidak cukup pantas menjadi-besan keluarga Shi Men yang telah menjadi pejabat dan bangsawan."

Agaknya keberatan dan tidak persetujuan Shi Men ini tentu telah sampai pula ke telinga keluarga Kiao karena dua hari kemudian, keluarga Klao berkunjung ke rumah keluarga Shi Men dan Nenek Kiao dalam percakapan mereka menyinggung bahwa seorang di antara keponakannya menjadi selir dari Sribaginda tingkat ke dua.

Tentu saja pernyataan ini rnerupakan isyarat bahwa sesungguhnya martabat keluarga Kiao lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga Shi Men.

Peristiwa ke dua yang menimpa keluarga Shi Men ada hubungannya dengan jabatan Shi Men sebagai pembantu hakim.

Pada suatu hari Shi Men menerima undangan yang tergesa-gesa dari Hakim Cia yang menjadi rekannya.

Cepat Shi Men datang ke rumah rekan itu dan mereka segera terllbat dalam pembicaraan serius di kamar hakim Cia, pembicaraan empat mata.

"Celaka, sobat Shi Men, celakalah kita sekali inil"

Kata tuan rumah dengan muka pucat.

"Ada apakah?"

Tanya Shi Men, juga terkejut dan gelisah melihat keadaan rekannya yang biasanya tenang itu.

"Pagi ini aku menerima kunjungan Komisaris Besar Distrik Li dan dia memberitahu kepadaku bahwa Pejabat Gubernur di Shantung mengirim laporan ke Kotaraja untuk mengadukan kita sebagai petugas-petugas yang tidak baik dan mengusulkan agar kita dipecat dengan tidak hormat. Dia membawa salinan surat laporan itu. inilah surat Itu."

Dengan jari tangan gemetar Shi Men menerima surat laporan yang telah agak kumal itu dan membaca isinya.

Makin lama wajahnya menjadi semakin pucat.

Di situ, si pejabat Gubernur Ciong melaporkan ke Istana bahwa Hakim Cia dan Pembantu Hakim Shi Men merupakan dua, orang yang tidak layak menduduki jabatan mereka.

Hakim Cia dikatakan sebagal orang yang suka menerima uang suap sehingga menjatuhkan keputusan yang tidak adil sama sekall di dalam pengadilan, mengalahkan yang benar dan memenangkan yang salah, dan tidak mampu mengurus kantor kehakiman, kejam terhadap terdakwa yang belum tentu bersalah jika terdakwa tidak mampu memberi uang sogoknya.

Mengenai Shi Men sendiri dikatakan bahwa Shi Men adalah orang yang suka mempergunakan uangnya untuk mempermainkan para pejabat, Orang yang bergaul dengan orang-orang tingkatan rendah dan golongan hitam, bahkan suka memperalat penjahat untuk memaksakan kehendaknya, seorang yang sama sekali tidak terpelajar sehingga bodoh dan buta huruf sama sekali tentang hukum, orang yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi terkenal royal di rumah-rumah pelacuran, mempunyai banyak selir dan membiarkan selirnya menjual kecantikan dijalan-jalan secara tidak sopan.

Surat laporan itu ditutup dengan permohonan agar kedua pejabat daerah itu dipecat, bahkan kalau perlu dan kalau terdapat bukti-bukti penyelewengan agar mereka dituntut untuk menjadi contoh bagi para pejabat lainnya.

Dengan muka pucat dan mata terbelalak penuh kegelisahan Shi Men memandang rekannya.

Akan tetapi otaknya bekerja dan dia mengerutkan alisnya, termenung.

"Bagaimana sekarang?"

Hakim Cia berkata dengan suara gemetar.

"Hanya ada satu jalan dan kita harus bertindak secepatnya"

Kata Shi Men.

"Kita harus mohon pertolongan Perdana Menteri agar diri kita dapat diselamatkan."

Kedua orang inl cepat-cepat menyediakan uang dan benda-benda berharga yang mereka miliki, batangan-batangan emas dan perhiasan, ratusan ons uang perak dan dengan barang yang amat berharga ini, Lai Pao dan seorang utusan yang dipercaya dari Hakim Cia segera berangkat ke Kotaraja.

Utusan Hakim Cia itu bernama Shia Sou.

Kedua orang kepercayaan ini mempergunakan kereta dan melakukan perjalanan siang malam dengan cepatnya, dan begitu tiba di Kai Hong Hu, yaitu Kotaraja timur, mereka cepat menghadap Ti-Ciangkun yang jadi kepala pengawal Istana Perdana Menteri.

Ketika Ti-Ciangkun membara surat dari Shi Men, dia menghibur kedua orang utusan itu.

Dia masih berterima kasih kepada Shi Men tentang pengiriman gadis cantik Mei Li yang kini menjadi isterinya yang ke dua, dan dia tahu apa yang harus dllakukan untuk menyelamatkan Shi Men dan Hakim Cia, apalagi melihat betapa kedua orang itu membawa barang hadiah yang luar biasa banyaknya.

"Tidak usah khawatir,"

Demikian katanya.

"Laporan pejabat gubernur Ciong itu belum sampai ke sini. Kalau laporan itu datang, saya akan dapat membujuk Perdana Menteri untuk menunda dan membekukan laporan itu sampai beberapa lamanya. Pejabat gubernur Ciong itu sudah mundur dari kedudukannya, maka surat laporan itu tidak ada harganya dan tidak perlu dilanjutkan ke Istana. Karena Itu, pulanglah dan katakan kepada majikan kalian bahwa aku menjamin laporan itu tidak akan sampai ke Istana."

Dua orang itu segera pulang dan menyampaikan berita yang amat menyenangkan itu kepada majikan masing-masing.

Demikianlah kembali kekuasaan uang memperlihatkan kemenangannya dan keunggulannya.

Celakalah bangsa dan negara kalau pemerintah dikendalikan oleh pejabat-pejabat yang selalu hanya memperhitungkan keuntungan bagi dirinya sendiri seperti pedagang-pedagang.

Modal pejabat-pejabat macam ini adalah kedudukannya, lupa bahwa kedudukan mereka itu sesungguhnya adalah pemberian rakyat!

Tanpa rakyat tidak akan ada pejabat-pejabat itu, dan setelah memperoleh kepercayaan rakyat untuk memegang kekuasaan, mereka bahkan menyalah-gunakan kekuasaan, bukan untuk melindungi rakyat melainkan uniuk menindas rakyat!

Tepat seperti yang dikatakan oleh Kepala Pengawal Ti dalam janjinya kepada kedua utusan itu, beberapa bulan kemudian.

Pejabat Gubernur di Shantung yang bernama Ciong itu pensiun dan kedudukan gubernur untuk propinsi itu diganti oleh Sung Pan.

Dia ini masih ipar dari putera Perdana Menteri.

Ketika Gubernur Sung yang baru ini menuju ke Kotaraja di mana dia akan menjabat kedudukannya yang baru, dia bertemu dengan seorang pejabat tinggi lain yang juga sedang menuju ke tempat jabatannya sebagai Kepala Urusan Garam di Huai.

Kedua orang pejabat ini kebetulan lewat di kota Ceng-Ho-Sian dan Gubernur Sung yang sudah mendapat pesan dari Kepala Pengawal Ti, tidak lupa untuk mampir ke rumah Shi Men.

Bagi Kepala Urusan Garam yang masih anak angkat Perdana Menteri Cai dan bernama Cai Shen, Shi Men bukanlah orang asing.

Kunjungan dua orang tamu besar itu menarik perhatian penduduk kota, dan mengangkat nama Shi Men.

Betapa hartawan itu kini telah menjadi orang penting, pikir mereka, sehingga dua bangsawan tinggi itu memerlukan singgah dan nenunda perjalanan mereka.

Tentu saja Shi Men merasa girang dan terhormat, maka diapun menyambut secara berlebihan sehingga tidak sayang mengeluarkan biaya yang banyak sekali.

Bukan hanya kedua orang bangsawan itu yang dijamunya akan tetapi juga semua pengikut dan pengawal mereka.

Dan ketika kedua orang tamu Itu melanjutkan perjalanan mereka, Shi Men membekali mereka dengan barang-barang hadiah yang amat banyak.

Kunjungan dua orang ini saja telah menguras sebagian dari harta Shi Men, tidak kurang dari seribu ons banyaknya.

Gubernur Sung berangkat lebih dahulu meninggalkan rumah Shi Men.

Pembesar Cai Shen, atas bujukan Shi Men, mau bermalam untuk semalam di rumah itu dan tuan rumah mempersiapkan pondok yang paling mewah untuknya.

Lebih dari itu, ketika Cai-Taijin memasuki pondok agak terhuyung karena setengah mabuk, di pintu depan pondok itu dia disambut oleh dua orang gadis yang amat cantik penuh senyum manis.

Tentu saja hal ini merupakan kejutan yang amat menggembirakan hati pembesar itu.

Dalam keadaan setengah mabuk dan gembira, dia lalu menggunakan alat tulis untuk membuat sajak di atas dinding, dengan huruf-huruf indah memuji kebaikan tuan rumah dan kecantikan dua orang gadis.

Mereka sengaja didatangkan dari rumah-rumah pelesir yang paling terkemuka di kota itu oleh Shi Men.

Shi Men bukan seorang bodoh yang suka membuang-buang uang begitu saja.

Semua penyambutan yang teramat royal ini sudah diperhitungkannya baik-baik.

Cai-Taijin adalah kepala urusan garam menguasai pembagian dan perniagaan garam dari pemerintah.

Dalam kesempatan yang baik ini, Shi Men memperkenalkan Lai Pao sebagai pembantunya yang dipercaya dan mengajukan permohonan agar atas namanya Lai Pao dapat diberi jatah garam sebagai agen tunggal untuk daerah Ceng-Ho-Sian dan sekitarnya.

Atas permohonan ini, Cai Shen menyanggupi sambil tersenyum.

Shi Men juga tersenyum penuh kemenangan.

Pembagian jatah untuk satu bulan saja sudah mendatangkan keuntungan yang hampir cukup untuk menutup semua biaya yang telah dikeluarkannya hari itu!

Pada keesokan harinya, Shi Men mengantar tamu agungnya sampai ke pintu gerbang kota dan sebagai sambutan terakhir, dia mempersilakan tamunya menikmati hidangan perpisahan yang sudah dia persiapkan di Kuil Yung-Hok-Si.

Setelah bersama-sama menikmati hidangan dan membagi salam perpisahan, rombongan Cai-Taijin berangkat dan karena lelahnya, Shi Men beristirahat di dalarn Kuil yang menjadi sunyi kembali itu.

Ketika dia hendak pulang, Shi Men mernberi sumbangan besar kepada kepala Kuil untuk biaya perbaikan dan sebelum keluar dari Kuil, lebih dulu dia berjalan-jalan dl bagian belakang Kuil yang luas itu.

Di sebuah ruangan dia melihat banyak Hwesio sedang membaca ayat-ayat suci.

Seorang di antara mereka yang berlutut menghadapi kitab suci itu menarik perhatiannya.

Hwesio itu kurus kering, hanya tulang-tulang terbungkus kulit.

Jubahnya sederhana sekali namun cukup bersih.

Sepasang matanya seperti mata harimau, mengeluarkan sinar mencorong.

Kepalanya yang gundul itu mengkilap, seolah-olah terbuat dari batu marmar dan di dagunya tumbuh sedikit jenggot yang tidak terpelihara.

Hwesio ini, berbeda dari yang lain, nampak berwibawa dan tenggelam ke dalam samadhinya.

"Ah, Hwesio itu bukanlah manusia sembarangan,"

Pikir Shi Men dan timbul keinginan hatinya untuk bercakap-cakap dengan Hwesio itu. Dengan suara nyaring dia lalu bertanya sambil mendekati Hwesio itu.

"Lo-Suhu, siapakah namamu dan dari manakah Lo-Suhu datang?"

Setelah diulang dua kali, barulah Hwesio itu sadar dan membuka matanya. Melihat Shi Men, diapun cepat bangklt berdiri dan menjawab dalam suara yang parau.

"Pinceng (aku) bernama Hwan Hwesio dan Pinceng datang dari daerah barat, di perbatasan india. Pinceng adalah seorang Hwesio perantau yang suka berjalan-jalan di antara awan-awan dan Pinceng menguasai, sedikit ilmu pengobatan untuk menolong orang yang sakit. Apakah yang Taijin kehendaki dari Pinceng?"

"Ah, kiranya Lo-Suhu pandai dalam hal ilmu pengobatan. Apakah kiranya Lo-Suhu mempunyai obat kuat untuk laki-lakl?"

"Pinceng punya"

"Bagus, kalau begitu saya mengundang Lo-Suhu untuk berkunjung ke rumah saya. Maukah pergi bersama saya?"

"Boleh, boleh."

Hwesio itu mengambil sebatang tongkat dari bawah bangku dan membawa pula sepasang kantong obat yang dipikulnya dengan tongkat itu.

Setelah tiba di luar pintu gerbang, Shi Men rnenyuruh Siauw Thai mencarikan seekor kuda untuk Hwesio itu.

"Tidak perlu repert-repot, Taijin,"

Hwan Hwesio berkata.

"Pinceng tidak pernah menunggang kuda tetapi dengan jalan kaki pincang akan sampai di tempat tujuan lebih cepat daripada Taijin yang menunggang kuda."

Pada waktu itu, di depan pintu gerbang rumah Shi Men nampak seorang pemuda remaja yang sudah sejak tadi hilir mudik seperti ada yang dinantikannya...

Dia adalah adik laki-laki dari Liok Hwa atau Nyonya Han, kekasih Shi Men.

Encinya yang merasa rindu kepada Shi Men, mengutusnya untuk menyampaikan keinginan hatinya bertemu dengan kekasihnya itu melalui pelayan Siauw Thai.

Karena, mendengar bahwa Siauw Thai pergi mengikuti majikannya keluar, dia menanti di depan pintu gerbang.

Akhirnya, muncullah Siauw Thai menunggang keledai, diikuti oleh seorang Hwesio yang berjalan kaki.

Anehnya, kalau Siauw Thai yang menunggang keledai nampak berkeringat kelelahan, Hwesio itu kelihatan segar saja.

Melihat orang yang dicarinya, pemuda itu cepat menyampaikan pesan Encinya kepada Siauw Thai, yang berjanji akan memberitahukan majikannya.

Tak lama kemudian datanglah Shi Men berkuda dan melihat betapa Hwesio itu benar-benar telah berada di situ, dia merasa heran dan kagum sekali.

Cepat dituntunnya Hwesio itu masuk ke dalam rumannya.

Hwan Hwesio bengong dan kagum menyaksikan isi gedung yang demikian mewah dan indahnya.

Dia dipersilakan duduk di ruangan tamu dan Shi Men masuk untuk berganti pakaian.

Ketika dia kembali menemui tamunya, Shi Men bertanya.

"Apakah Lo-Suhu suka minum arak?"

"Arak dan daging bukan merupakan pantangan bagi seorang Hwesio perantau seperti Pinceng. Semua adalah rezeki yang harus diterimanya."

Karena hari itu adalah hari ulang tahun kelahiran Sun Siu Oh, isteri ke empat dari Shi Men, tentu saja di dapur terdapat banyak sekali masakan dan Hwesio itu disuguhi makanan yang belum pernah atau jarang sekali dihadapinya.

Diapun tanpa malu-malu menyikat masakan itu ditemani arak dan setelah perut yang kempis itu menggendut, barulah dia menghentikan makan minumnya.

"Wah, perut Pinceng kenyang sekali,"

Katanya puas. Seorang pelayan lalu membersihkan meja itu dan kembali mereka ditinggal berdua saja atas isyarat Shi Men.

"Nah, sekarang saya menagih janji Lo-Suhu tentang obat kuat itu,"

Katanya.

"Jangan khawatir, Taijin. Karena Taijin telah bersikap amat ramah dan baik kepada Pinceng, maka Taijin berhak menerima beberpa butir pil obat kuat yang luar biasa dari Pinceng, obat ini menurut resep dari nabi Lo-Cu yang mendapatkannya menurut petunjuk Ibu Suri dari Barat."

Dia mengeluarkan sebuah dompet obat dari kantong obatnya dan menuangkan keluar seratus sepuluh butir pel "Sekali minum sebutir pel saja, Taijin, tidak boleh lebih dan telanlah dengan arak,"

Katanya.

"Dan apakah khasiatnya?"

Tanya Shi Men gembira.

"Khasiatnya? Tidak saja akan membuat Taijin nampak lebih muda, mempertebal tumbuhnya rambut, memperkuat gigi, menajamkan mata, akan tetapi juga akan memperkuat kejantanan sehingga Taijin mampu mengalahkan sepuluh orang wanita dalam waktu semalam. Kalau Taijin kehabisan tenaga, segelas air putih saja cukup untuk memulihkan tenaga Taijin."

Sebagai seorang yang gila perempuan menjadi hamba dari nafsu birahinya, tentu saja Shi Men girang bukan main mendengar keterangan akan khasiat obat dan keserakahannya membuat dia membayangkan bahwa seratus sepuluh pel itu akan cepat habis, maka alangkah baiknya kalau dia mampu memiliki resep obat kuat itu untuk dibuatnya sendiri Maka, dia menawarkan berapa saja harga resep obat itu untuk dibelinya.

Mendengar ini Hwan Hwesio tertawa.

"Maaf, Taijin. Pinceng sudah bersumpah untuk meninggalkan keduniawian. Karena tidak membutuhkan barang dunia, apa artinya uang banyak bagi Pinceng? Pinceng memberi obat untuk membalas keramahan Taijin. Pinceng tidak mambutuhkan uang."

Setelah berkata demikian, Pendeta itupun pergi.

Sementara itu, di sebelah ruang dalam, di antara para tamu yang datang memberi selamat kepada Nyonya keempat Sun Siu Oh, terdapat.

dua orang Nikouw, yaitu Wang Nikouw yang kali ini memehuhi janjinya membawa seorang Nikouw tua dan sikapnya agung, yaitu Pi Nikouw yang diiringkan dua orang Nikouw muda yang cantik.

Para nikauw itu dijamu di meja terpisah oleh Goat Toanio dengan hidangan tanpa daging.

Dalam kesempatan ini, Pi Nikouw memberi wejangan-wejangan tentang Agama Buddha dan pelajarannya, dan para wanita di situ mendengarkan dengan asyik, kecuali Kim Lian yang merasa bosan mendengar teori-teori tentang hidup saleh dan baik itu.

Goat Toanio merupakan pendengar yang paling serius.

Melihat betapa para isterinya sibuk menjamu Nikouw-Nikouw, setelah mengantar Hwan Hwesio sampai di depan pintu gerbang, Shi Men langsung saja pergi mengunjungi kekasihnya, Nyonya Han.

Dia tadi telah diberitahu oleh Siauw Thai bahwa kekasihnya itu mengharapkan kunjungannya, karena pada hari itu kebetulan merupakan hari ulang tahun Liok Hwa pula.

Kebetulan sekali, pikir Shi Men, teringat akan obat kuat di dalam sakunya.

"Siauw Thai, kalau orang rumah menanyakan, katakan bahwa aku akan mengadakan pemeriksaan ke toko-tokoku,"

Pesan Shi Men kepada kacungnya.

dan diapun langsung saja mengunjungi Nyonya Han.

Liok Hwa menyambutnya dengan girang bukan main, apalagi ketika kekasihnya itu mengeluarkan sepasang bros emas dengan huruf "Panjang Umur"

Yang indah sekali. Juga Shi Men memberinya setengah ons perak.

"Suruh orang membeli arak yang baik."

Dan dia menambahkan.

"Arak jagung."

"Apa? Arak jagung? Apakah engkau telah bosan dengan arak anggur yang baik maka engkau menghendaki arak jagung yang murahan?"

Tanya Liok Hwa heran, akan tetapi ia segera menyuruh adik laki-lakinya untuk membeli arak yang dikehendaki oleh Shi Men.

Hwesio Hwan berpesan agar pel itu diminum dengan arak jagung!

Setelah araknya datang, Shi Men mengeluarkan sebutir pel merah dan di-minumnya dengan arak itu.

Melihat ini, Liok Hwa tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Aih, kiranya arak jagung itu untuk minum obat itu? Obat apakah itu?"

Kekasihnya tidak menjawab, namun jawabannya segera didapat oleh Liok Hwa ketika ia berada dalam pelukan kekasihnya.

Mereka berdua barmain cinta sedemikian rupa seperti yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Wang Liok Hwa dihantarkan ke puncak kenikmatan sampai ia hampir pingsan, dan tentu saja Shi Men girang bukan main melihat khasiat obat pemberian Hwan Hwesio itu.

"Dengar, manisku. Aku akan mengutus suamimu yang tua itu bersama Lai Po ke pusat pembuatan garam di Yang-Couw, kemudian dari sana terus ke pabrik sutera di Hu-Couw. Dengan demikian untuk beberapa lamanya kita berdua akan menikmati cinta kita tanpa ada gangguan."

Sementara itu, para isteri Shi Men bortanya-tanya ke mana perginya suami mereka, itu.

"Heran, ke mana perginya?"

Tanya Goat Toanio kesal.

"Ke mana lagi kalau bukan ke rumah pelesir?"

Kata Kim Lian cemberut.

Siapakah di antara mereka yang dapat menduga betapa pada saat itu suami mereka berenang di lautan nafsu bersama Nyonya Han Tao Kok?

Dua orang Nikouw itu bermalam di rumah Goat Toanio dan pada malam harinya, Wang Nikouw mengeluarkan sebotol obat yang telah dijanjikannya itu.

"Inilah obat yang Pinni (saya) janjikan itu,"

Katanya. Pi Nikouw rnenambahkan.

"Obat ini harus diminum tepat pada malam bulan purnama, dan pada malam itu, minum obat ini dan Toanio tidur bersama suami Toanio, tentu Toanio akan mengandung seorang bayi laki-laki. Akan tetapi Toanio tidak boleh membicarakan hal ini dengan siapapun juga."

Goat Toanio menerima botol kecil itu.

"Terima kasih banyak atas bantuan ji-wi (kalian berdua) yang amat berharga..."

"Wah, tidak mudah mendapatkan benda yang menjadi syarat utama itu. Untuk mendapatkan benda untuk campuran obat itu, kami harus mencari ke mana-mana. Untunglah bahwa akhirnya Pi Nikouw dapat memperolehnya dan kami sudah mencucinya bersih dengan arak, mengeringkannya dan mengabukannya, melembutkannya dan mencampurkan dengan obat ini."

Goat Toanio mengerti akan maksud yang tersembunyi di balik ucapan itu. Ia lalu menyerahkan satu ons perak kepada mereka.

"Kalau berhasil permohonanku dan obat ini ternyata manjur, kelak saya akan menyumbangkan kain untuk bahan pakaian,"

Ia menjanjikan.

Malam terang bulan masih kurang dua hari lagi dan ketika pada keesokan harinya Shi Men pulang lalu memasuki pondok Goat Toanio, suami ini memperlihatkan sikap manis, bahkan dia merangkul pinggang isteri pertamanya dan memperlihatkan sikap mengajak tidur.

Akan tetapi Goat Toanio dengan halus terpaksa menolaknya karena bulan purnamanya adalah besok malam.

Ia berkata dengan suara halus kepada suaminya.

"Malam ini aku merasa kurang enak badan, harap kau tidur di kamar seorang di antara mereka. Kalau besok malam "

Goat Toanio melempar senyum malu-malu. Shi Men yang setengah mabuk itu tertawa.

"Baiklah, baiklah, agaknya engkau tidak suka melihat aku mabuk "Harap maafkan, bukan maksudku rnenyinggungmu. Bukan karena engkau agak mabuk, melainkan ah, besok malam sajalah."

Malam itu Shi Men tidur di kamar Kim Lian.

Pada keesokan harinya, Goat Toanio bersiap-siap.

la bersembahyang kepada Kwan Im Pouwsat memohon berkahnya setelah sehari berpuasa dan membersihkan diri, mengenakan pakaian bersih dan baru.

Dibakarnya dupa dan iapun membaca ayat-ayat suci seperti yang diajarkan oleh Pi Nikouw.

Kemudian ia mengeluarkan guci kecil berisi obat pemberian Pi Nikouw dan Wang Nikouw, menaruhnya di atas meja sembahyang, berlutut dan berdoa dengan suara lirih.

"TUHAN Yang Maha Kuasa, demi berkah Kwan In Pouwsat yang welas asih, dengarlah permohonan hambamu ini, dengan kekuasaanmu, melalui kekuatan obat yang hamba terima dari Pi Nikouw dan Wang Nikouw, kurniailah hamba dengan seorang anak laki-laki!"

Dibantu oleh Siauw Giok, Goat Toanio Lalu menuangkan sedikit anggur ke dalam obat itu, rnemasukkannya ke dalam cawan dan setelah diaduk rata, ia berlutut menghadap ke barat Ialu minum obat itu.

Obat itu rasanya agak masam, akan tetapi ia dapat menelannya semua.

Setelah kembali berlutut menghadap meja sembahyang dan menghaturkan terima kasih.

Selesailah sudah upacara itu dan memasuki kamarnya, tidak keluar lagi sampai malam.

Ketika malam itu Shi Men memasuki kamarnya, dia mendapatkan isteri pertamanya itu sedang menunggunya dengan pakaian bersih rapi, cantik dan anggun, dan kamar itupun bersih dan berbau harum.

Mereka lalu makan malam bersama.

"Mengakulah, bahwa semalam engkau tidak mau menerimaku karena aku mabuk?"

Tanya Shi Men, tersenyum.

"Tidak, aku sungguh merasa agak tidak enak badan kemarin"

Katanya karena kedua orang Nikouw itu memesan agar rahasia obat itu jangan diceritakan kepada orang lain.

"Bagaimana engkau dapat bercuriga? Pasangan suami-isteri yang begitu lamanya seperti kita tidak mempunyai rahasia terhadap satu sama lain."

Setelah makan dan minum beberapa mangkok arak, bangkitlah gairah Shi Men dan malam itu dia tidur bersama Goat Toanio, melepaskan semua kerinduannya melalui gairah cintanya karena sudah agak lama dia tidak tidur bersama isteri setia ini.

Undangan yang amat penting dari Kotaraja, yaitu undangan hari ulang tahun Perdana Menteri Cai, merupakan undangan yang amat penting bagi Shi Men maka diapun mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi ke Kotaraja menghadiri pesta itu.

Semua isterinya membantunya bersiap-siap karena kepergiannya ini membawa barang-barang hadiah yang amat banyak.

Shi Men memilih empat orang kacungnya untuk menyertainya, yaitu Kiu Tung, Ta An, Shu Tung, dan Tung, Di samping ini, ada pula pasukan pengawal dan pelayan-pelayan lain.

Sebelum berangkat, Shi Men lebih dulu menjenguk isterinya yang ke enam, Nyonya Peng, yang selama beberapa hari ini tidak enak badan.

Dia mengucapkan selamat tinggal dan menimang puteranya.

"Jangan lupa untuk minum obat yang diberikan oleh Tabib Yen agar engkau cepat sembuh dan sudah sehat kembali ketika aku pulang."

"jagalah dirimu baik-baik dalam perjalanan dan cepatlah pulang dengan selamat,"

Kata Nyonya Peng sambil mengusap air matanya.

Berangkatlah Shi Men, diantar oleh lima orang isterinya yang lain sampai ke pintu gerbang dan menunggu di depan pintu gerbang sampai suami mereka dan rombongannya menghilang di sebuah tikungan jalan.

Perjalanan itu cukup jauh, membutuhkan waktu sepuluh hari barulah Shi Men tiba di Pintu Gerbang Selaksa Keturunan, dan memasuki Kotaraja timur.

Di sepanjang perjalanan, banyak dia melihat pembesar-pembesar lainnya dengan rombongan masing-masing menuju ke tempat yang sama untuk memberi hormat dan selamat kepada Perdana Menteri Cai yang berulang tahun.

Shi Men langsung menuju ke gedung Kepala Pengawal Ti yang sudah dikenalnya dengan baik.

Ti-Ciangkun menyambut Shi Men dengan pesta yang mewah sekali.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Shi Men untuk minta bantuan Ti-Ciangkun agar dia dapat diterima menghadap secara terpisah dari para tamu lain oleh Perdana Menteri agar dia dapat bercakap-cakap langsung dengan pembesar tinggi itu.

Juga dia mengharapkan bantuan dan dorongan Ti-Ciangkun agar Perdana Menteri itu mau menerima dia sebagai "anak angkat", julukan yang diberikan kepada pembesar-pembesar bawahan yang "dilindungi"

Oleh Perdana Menteri. Melihat daftar hadiah yang amat banyak yang dibawa Shi Men, Ti-Ciangkun menjawab gembira.

"Harap jangan khawatir. Biarpun kami adalah bangsawan-bangsawan dengan kedudukan tinggi, bagaimanapun juga kami adalah manusia yang mempunyai kehormatan dan kasih. Melihat daftar hadiah yang anda bawa, saya merasa yakin bahwa Perdana Menteri akan menerima anda sebagai anak angkat, bukan saja itu, bahkan besar kemungkinan anda akan diberi kenaikan pangkat."

Tentu saja Shi Men menjadi girang bukan main dan malam itu terpaksa dia harus tidur sendirian di sebuah kamar tamu yang indah.

Tentu saja dia yang biasa tidur dengan seorang wanita setiap malam, merasa gelisah dan sukar pulas.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ti-Ciangkun sudah menghadap Perdana Menteri sambil membawa daftar barang hadiah yang dlbawa oleh Shi Men dan tak lama kemudian, setelah Shi Men makan pagi dengan royal, Ti-Ciangkun menemuinya dan mengatakan bahwa Perdana Menteri berkenan menerimanya sebelum menerima para tamu lain yang hendak menghaturkan selamat.

Berangkatlah mereka berdua memasuki Istana Sang Perdana Menteri.

Di sepanjang jalan memasuki Istana yang besar itu, tiada habisnya Shi Men mengagumi prabot-prabot ruman dalam Istana itu, yang membuat seisi rurnahnya sendiri nampak tidak ada artinya sama sekali, bahkan miskin!

Ruangan-ruangan yang serba indah, yang selamanya belum pernah dilihatnya, membuat Shi Men merasa sesak bernapas saking kagumnya.

Taman-taman indah dengan segala macam burung, sampai merak menghiasinya, bunga-bunga yang belum pernah dilihatnya, semua itu membuat Shi Men merasa dirinya kecii dan rendah.

Akhirnya mereka tiba di Ruangan Pertemuan di mana Sang Perdana Menteri biasanya menerima tamu.

Rungan ini lebar dan lantainya dari marmer mengkilap, dindingnya penuh dengan lukisan-lukisan dan sajak-sajak berpasangan yang serba indah dan nyeni.

Ti-Ciangkun memasuki ruangan ini dulu, di ikuti oleh Shi Men berusaha menutupi rasa rendah dirinya dengan langkah yang tegap dan gagah.

Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi besar tertutup kulit harimau, menghadap pintu masuk.

Di atas kursi itu duduk Sang Perdana Menteri, memakai pakaian kebesaran berwarna merah dengan sulaman ular-ular hijau dan biru dengan dasar kuning emas.

Di belakangnya nampak tirai halus yang tembus pandang sehingga kelihatanlah tirai itu kurang lebih tiga puluh orang wanita cantik seperti sekelompok bidadari di antara awan putih, mengipasi diri mereka dengan kipas atau sapu-tangan sutera, dengan penuh perhatian menonton apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.

Ti-Ciangkun melangkah minggir dan membiarkan Shi Men berhadapan dengan Perdana Menteri Cai, Shi Men berlutut dan memberi hormat dengan, bersoja empat kali.

Perdana Menteri Cai bangkit berdiri dan mengangguk sediklt, sebagai tanda pembalasan penghormatan ltu.

Ti-Ciangkun lalu melangkah, mendekati kursi dan berbisik di dekat telinga atasannya..., Shi Men tahu bahwa bisikan itu berhubungan dengan keinginannya untuk rnenjadi "anak angkat"

Pembesar tinggi itu.

Ketika Ti-Ciangkun mundur kembali, Shi Men memberi hormat lagi dengan empat kali soja (merangkap kedua tangan di depan dada), dan sekali ini Sang Perdana Menteri tetap duduk saja.

Hal ini menandakan bahwa pembesar itu menerimanya sebagai anak angkat, dan sebagai Ayah angkat tentu saja tidak perlu membalas penghormatan puteranya.

Shi Men lalu berkata dengan penuh hormat.

"Ayahanda yang mulia, untuk merayakan hari bahagia ini puteranda datang membawa beberapa barang yang tidak berharga untuk dihaturkan di bawah kaki Ayahanda, sekedar tanda bahwa puteranda selalu menghormat Ayahanda dari jauh."

Sang Perdana Menteri memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk mengambilkan sebuah kursi dan memberi isyarat kepada Shi Men untuk duduk.

Ketika kepada Shi Men dihidangkan air teh, Ti-Ciangkun lalu menghampiri pintu masuk dan membuka daun pintu.

Maka berbondong-bondong masuklah para tamu yang hendak manghaturkan selamat berikut barang-barang hadiah yang mereka bawa dan semua barang yang serba indah ltu ditumpuk di atas lantai di depan kaki Perdana Menteri yang melihat dengan wajah berseri sambil membaca daftar barang sumbangan itu, memerintahkan pengawal untuk membawa barang-barang itu ke dalam, mengucapkan kata-kata terima kasih dan menyuruh orang-orangnya menyuguhkan arak kepada semua tamu.

Shi Men yang sudah diterima sebagai "anak angkat"

Itu merasa tidak pantas kalau tinggal terlalu lama di situ karena Sang Perdana Menteri masih harus menerima tamu, maka setelah mencicipi arak dia lalu berpamit.

"Malam ini kuharapkan engkau menjadi tamuku,"

Kata Perdana Menteri dengan ramah, bahkan dia mengantarkan Shi Men sampai beberapa langkah ke arah pintu depan.

Setelah tiba di gedung Ti-Ciangkun, Shi Men menanggalkan pakaian kebesarannya, lalu merebahkan diri beristirahat.

Pada sore harinya, dengan mengenakan pakaian kebesaran lagi, Shi Men untuk ke dua kalinya mengunjungi Istana Perdana Menteri.

Undangan untuk makan malam bersama sang Perdana Memteri ini merupakan kehormatan besar sekali bagi Shi Men.

Semua ini berkat sikapnya dan terutama sekali keroyalannya dalam memberikan hadiah.

Tidak ada di antara tamu yang menyerahkan hadiah sebanyak yang diberikan Shi Men dan hal ini amat berkenan dihati Sang Perdana Menteri.

Selain itu, juga pujian-pujian yang diberikan oleh Kepala Pengawal Ti-Ciangkun kepada atasannya itu membuat pembesar tinggi itu merasa lebih suka kepada Shi Men.

Memang Shi Men pandai sekali mengambil hati.

Hatinya sendiri merasa gembira sekali dan menganggap bahwa usahanya telah berhasil baik.

Ketika malam itu dia diterima oleh Sang Perdana Menteri dengan penuh keramahan, diajak makan malam berdua dihibur oleh dua puluh empat orang gadis cantik yang menari, bernyanyi dan bermain musik, dia merasa seolah-olah dia telah menjadi keluarga Perdana Menteri!

Pembesar itu bahkan menyuguhkan secawan arak kepada Shi Men dengan tangannya sendiri.

Shi Men mula-mula tidak berani menerimanya, akan tetapi atas desakan Sang Perdana Menteri, dia meminum habis arak itu sambil berdiri.

Kemudian dia memberi isyarat kepada Shu Tung, seorang kacungnya, yang mengeluarkan sebuah cawan terbuat dari emas berukir dalam bentuk bunga, cawan yang sengaja dibawanya dari rumah.

Dengan cawan emas ini terisi penuh arak, sambil berlutut Shi Men menyuguhkannya kepada Sang Perdana Menteri sambil berkata.

"Ananda mohon Ayahanda minum arak ini, semoga Ayahanda diberi panjang usia sampai ribuan tahun!"

Sang Perdana Menteri menerima suguhan itu dengan terharu menyaksikan kebaktian anak angkatnya yang baru itu, dan diapun menerimanya sambil berkata.

"Bangkitlah, puteraku"

Kemudian dia minum habis arak itu.

Tehtu saja cawan emas yang amat indah itu dimaksudkan untuk hadiah pula kepada sang pembesar tinggi.

Setelah makan minum sepuasnya, Shi Men yang tahu diri maklum bahwa sudah waktunya untuk mengundurkan diri.

Tidak lupa dia membagi-bagikan uang kepada semua gadis penghibur, kepada para pelayan secara royal sekali dan dengan penuh penghormatan sebagai seorang "anak angkat"

Yang baik dan berbakti, dia berlutut dan berpamit dari Ayahnya dan kembali ke gedung Ti-Ciangkun untuk beristirahat.

Delapan hari lamanya Shi Men berada di Kotaraja, dan kesempatan ini dipergunakannya untuk mengunjungi pembesar-pembesar dengan membawa sekedar hadiah sehingga namanya semakin dikenal di kalangan pembesar Kotaraja dan hubungannya menjadi semakin baik.

Akhirnya diapun berpamit dari Ti-Ciangkun dan pulang ke kotanya secepatnya, karena dia sudah merasa rindu sekali dengan para isterinya.

Kedatangan Shi Men ini disambut oleh para isterinya di depan pintu gerbang dan kesibukanpun terjadilah di rumah itu, karena puiangnya Shi Men disambut dengan pesta oleh keluarganya.

"Bagaimana keadaan puteraku? Apakah engkau sudah sembuh dan mlnum obat dari Tabib Yen secara teratur?"

Pertanyaan ini yang pertama keluar dari mulutnya, ditujukan kepada isterinya yang ke enam, Nyonya Peng.."Anak kita sehat saja, dan aku sendiri merasa agak mendingan setelah minum obat,"

Nyonya Peng menjawab. (Lanjut ke

Jilid 09) Si Teratai Emas (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 Kim Lian memelihara seekor kucing dalam pondoknya.

Kucing Itu besar dan memiliki bulu yang indah, tebal halus berwarna putih seluruhnya, kecuali sedikit warna hitam di tengah kepalanya.

Karena bulunya itu maka Kim Lian memberinya nama Salju.

Kucing inilah yang menjadi sahabat baik Kim Lian, bahkan di waktu Shi Men tidak datang mengunjunginya dan tidak tidur di kamarnya, ia membawa Salju ke tempat tidurnya.

Kucing itu bersih dan agaknya setia dan penurut terhadap Kim Lian yang menyanyangnya.

Sekali panggil saja, kucing yang sudah mengenal benar suara, majikannya, akan berlari datang, dan sekali menggerakkan tangannya, Kim Lian dapat menyuruhnya, pergi.

Kim Lian bahkan melatihnya untuk mengambilkan kipas dan saputangan.

Sebagai upahnya, ia memberinya daging segar setiap hari, baik dipanggang atau dimasak.

Tldak mengherankan kalau Salju menjadi semakin gemuk, bulunya makin tebal dan indah.

Baru-baru ini Kim Lian memberi permainan baru untuk Salju.

Ia mengajarnya untuk mencari daging makanannya sendirl yang dlsembunyikannya dan dibungkus dengan kain merah.

Akhirnya kucing itu menjadi pandai sekali menemukan dan mengambll daging Itu betapapun dibungkus kain merah.

Tanpa setahu orang lain, Kim Lian kini memberinya daging mentah Pada suatu hari, Nyonya Peng meninggalkan puteranya yang masih bayi itu, dalam pakaian serba merah yang indah, di atas sebuah dipan di beranda terbuka dari pondoknya, dijaga oleh Ciu Hwa.

Nyonya Peng sendiri pergi ke rumah induk untuk membantu Goat Toanio, dan wanita pengasuh Yu sedang makan di kamar sebelah.

Karena anak itu tertidur nyenyak, Ciu Hwa menjadi agak lengah dan ia bercakap-cakap dengan pengasuh Yu I sambil berdiri di pintu kamar yang dekat itu.

Mereka berdua tidak melihat betapa pada saat Itu, dengan loncatan ringan, kucing putih Salju meloncat ke atas dipan dan melihat Bayi dalam bungkusan pakaian merah, Mungkin dia mengira bahwa ltu adalah segumpal daging besar untuknya.

Dia menerkam dan menggunakan kedua cakar depannya untuk mencengkeram dan mencakar berusaha mengambil daging itu dari bungkusannya, juga menggigiti Dua orang wanita ltu terkejut bukan main mendengar jerit tangis anak itu.

Mereka lalu menghampiri dan terbelalak ngeri melihat betapa anak majikan mereka dicengkeram dan dicakari seekor kucing putih besar yang bukan lain adalah Si Salju Mereka cepat menubruk dan Yu I memondong anak itu, sedangkan Ciu Hwa mengejar kucing yang segera melarikan diri ketakutan.

Anak itu berlumuran darah, tidak menangis lagi.

Pakaiannya robek-robek, demikian juga kulit tubuhnya.

Dia pingsan dan berkelojotan, matanya terbalik hanya nampak putihnya saja.

Mereka segera menjerit-jerit minta tolong.

Gegerlah keadaan di rumah tangga Shi Men.

Nyonya Peng berlarian dengan muka pucat mendengar bahwa puteranya tertimpa kecelakaan.

Hatinya seperti ditusuk-tusuk, penuh kengerian, kedukaan dan kekhawatiran ketika ia melihat keadaan puteranya yang masih mendelik dan berkelojotan itu.

Didekapnya puteranya sambil mendengarkan cerita Ciu Hwa dan Yu I yang menceritakan kejadian itu sambil menangis.

Goat Toanio datang dan mendengar apa yang terjadi, ia segera menyuruh pelayan memanggil Kim Lian.

Yu I dan Ciu Hwa menerangkan dengan pasti bahwa kucing putih milik Nyonya ke lima itulah yang menyerang Kwan Ko, anak bayi itu.

Ketika Kim Lian ditanya, ia bersikap tenang dan berbalik tanya.

"Siapakah yang mengatakan bahwa Si Salju yang melakukannya?"

Goat Toanio menunjuk kepada pengasuh dan pelayan itu.

"Merekalah yang menjadi saksi?"

"Hemm, mereka adalah dua orang pembohong besar!"

Kata Kim Lian dengan sikap dingin.

"Pada waktu itu kucingku sedang tidur tenang di atas pembaringanku."

Goat Toanio kehabisan akal.

"Bagaimanakah kucing itu dapat masuk ke sini?"

Ia bertanya kepada dua orang saksi itu.

"Sebelum ini ia memang sering meloncat masuk ke sini,"

Kata Ciu Hwa.

"Kalau begitu, kenapa ia tidak pernah mengganggu anak itu sebelumnya? Nah, jelaslah bahwa itu hanya fitnah belaka."

Kata Kim Lian, merasa menang, dan dengan sikap marah ia lalu kembali ke pondoknya.

Tentu saja sikap ini hanya permainan sandiwara saja bagi Kim Lian.

Telah lama ia merencanakan ini.

Dengan hati penuh cemburu dan iri ia melihat suaminya kini semakin dekat dengan Isteri ke Enam dan anaknya.

Ia tahu bahwa ia kalah dalam memperebutkan perhatian Shi Men hanya karena adanya anak bayi itu.

Oleh karena itu, demiklan ia mengambil keputusan, bayi itu harus disingkirkan!

Tabib Liu yang diundang segera memeriksa keadaan bayi itu.

Alisnya berkerut ketika dia berkata.

"Anak ini menderita guncangan batin yang hebat. Kalau saja dia dapat mengatasi ini secepatnya."

Segera tabib itu membuatkan ramuan jamu yang dimasak dan setelah dingin, dicekokkan ke dalam mulut anak itu. Tabib Liu masih belum puas dengan pengobatannya dan dia berkata.

"Cara terbaik untuk menolongnya adalah pembakaran di beberapa bagian tubuhnya menggunakan bara kayu cacing."

"Akan tetapi hal itu hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Ayahnya, kalau tidak dia akan marah."

Goat Toanio rnenyatakan keberatannya. Akan tetapi Nyonya Peng yang amat mengkhawatirkan keadaan puteranya, berkata.

"Ini adalah urusan mati hidup. Kalau kita menanti sampai Ayahnya pulang. jangan-jangan akan terlambat. Biarlah, aku yang bertanggung jawab kalau dia marah."

"Kalau begitu, terserah dia adalah anakmu,"

Kata Goat Toanio.

Tabib Liu lalu membakar ujung kayu cacing, dan dengan bara api itu dia membakar lima tempat, diantara alis mata, di bawah tenggorokan, di belakang kedua tangan, dan di pusar.

Setelah dilakukan pengobatan ini, bayi itu tertidur nyenyak.

Ketika malam itu Shi Men pulang, Goat Toanio memberi uang kepada tabib itu dan cepat menyuruhnya pergi.

Ia menceritakan kepada suaminya bahwa anak itu menderita sakit sawan dan sekarang belum begitu sembuh.

Akan tetapi agaknya Shi Men merasa tidak enak hatinya, apalagi melihat betapa kedua mata isterinya yang ke enam merah bekas tangis, dan kecurigaannya timbul karena pengasuh dan para pelayan nampak diam saja dan tidak ada yang berani bercerita kepadanya ketika ditanya.

Dia lalu memasuki kamar Goat Toanio dan dengan serius memaksa isteri pertamanya membuat pengakuan.

Karena maklum bahwa hal itu tidak dapat disembunyikan lagi, Goat Toanio lalu menceritakan bahwa anak itu dikejutkan oleh kucing putih Si Salju sehingga terkena sawan dan diobati oleh Tabib Liu dengan bara kayu cacing.

"Ibunya menghendaki agar anak itu segera diobati karena ia khawatir akan keselamatannya sehingga tidak menunggu engkau pulang. Tabib Liu membakarnya di lima tempat dan anak itu kini dapat tidur dengan nyenyak."

Shi Men terkejut dan marah bukan main.

Sambil mengeluarkan suara kutukan dia meloncat dan lari ke pondok Kim Lian.

Dia melihat kucing berbulu putih itu tiduran.

Disambarnya kucing itu, dipegangnya kedua kaki belakangnya dan dibawa ke pekarangan, lalu diayunnya tubuh kucing dan dihantamkan ke dinding sehingga kepala kucing itu pecah, otak dan darah berhamburan, semua giginya rontok dan mati seketika.

Dengan alis berkerut, duduk tak bergerak di atas dipan, Kim Lian melihat semua itu.

"Hemm, betapa kejamnya. Apa salahnya kucing yang malang itu maka dibunuh secara kejam dan penasaran?"

Shi Men diam saja. Setelah membunuh kucing itu, dengan hati gelisah diapun memasuki pondok Nyonya Peng.

"Bagaimana engkau membiarkan tabib itu melakukan pengobatan seperti itu kepada anak kita?"

Shi Men menegur isterinya yang ke enam. Kalau pengobatan itu berhasil baik, sudahlah. Akan tetapi kalau sebaliknya, aku akan membawa tabib itu ke pengadilan dan akan menghukumnya dengan siksaan."

"Ah, sudahlah! Dia bermaksud baik, berusaha rnenyelamatkan anak kita."

Nyonya Peng membelanya.

Akan tetapi harapannya untuk melihat puteranya Sembuh makin menipis.

Malam itu, anaknya terserang demam panas dan pingsan, dan pada keesokan harinya, bayi itu tidak mau menyusu lagi.

Segala usaha dilakukan, bahkan seorang dukun peramal di undang untuk menolong.

Segala macam pengobatan pedukunan dipergunakan, namun anak itu tidak dapat ditolong lagi Pada malam harinya, tepat ketika Shi Men datang, anak itu menghembuskan napas terakhir.

Nyonya Peng tak dapat menahan ksedihannya.

Seperti kemasukan setan Nyonya ini menangis, bergulung-guJung di lantai, mencakari pipinya sendiri sampai berdarah, menjambaki rambutnya seadiri dan memukul-mukulkan kepalanya di atas lantai sampai pingsan.

Setelah siuman, ia memondong mayat anaknya dan menangis terus tiada hentinya.

Setelah berkabung selama dua puluh tujuh hari, akhirnya peti kecil yang terbuat dari kayu tebal dan dirias bagus itu diangkatlah oleh empat orang menuju ke pintu gerbang.

Di depan peti berjalan orang-orang yang membawa bendera merah tanda kematian, kipas-kipas bulu, dupa mengepul dan segala macam alat perlengkapan penguburan.

Dua belas orang Pendeta To dari Kuil Raja Kemala barjalan di kanan kiri peti, membunyikan musik kematian dan berdoa di sapanjang jalan.

Setelah masa perkabungan selesai, kehidupan yang meriah dan gembira kembali nampak dalam rumah tangga keluarga Shi Men.

Pesta meriah diadakan ketika Shi Men membuka sebuah toko cita yang baru.

Lai Pao dan Han Tao Kok telah kembali dari perjalanan mereka ke Yang-Couw untuk urusan garam dan mereka kembali membawa ijin monopoli penjualan garam yang mendatangkan keuntungan besar.

Kemudian kedua orang pegawai ini diutus lagi, yang seorang ke Nang-Kouw, seorang ke Nan-King, untuk membeli sutera seharga sepuluh ribu ons untuk mengisi tokonya yang baru.

Toko sutera besar ini dibuka oleh Shi Men dengan berkongsi.

Kongsinya adalah keluarga Kiao, tetangga mereka yang kaya raya itu.

Dan pesta pembukaan toko itu dirayakan dengan meriah, dihadiri oleh Shi Men dan Kiao, semua pegawai dan sahabat baik.

Tentu saja Lai Pao dan Han Tao Kok yang diutus untuk mengurus pembelian sutera itu, selain memperoleh hadiah, juga diam-diam mereka dapat menyisihkan keuntungan untuk mereka sendiri di tempat pembelian.

Maka, ketika Han Tao Kok pulang, dia memperlihatkan uang dua ratus ons kepada isterinya.

Itulah uang keuntungan yang diperolehnya di tempat pembelian sutera, dan suami-isteri ini menjadi gembira sekali karena mereka diam-diam telah dapat mengumpulkan sejumlah modal uang yang tidak kecil untuk persiapan modal.

Nyonya Peng tak pernah dapat sembuh kembali dari guncangan batin yang amat hebat sejak anaknya meninggal dunia.

Semua usaha pengobatan dari tabib yang diundang, sia-sia belaka.

Wajahnya menjadi pucat sekali, tubuhnya semakin kurus sehingga kecantikannya memudar.

Pada suatu malam, ia tidur dengan gelisah sekali, ia tersiksa oleh sebuah mimpi.

la seperti mendengar ada orang mengetuk-ngetuk daun jendela kamarnya.

Tergesa-gesa ia bangkit, mengenakan sandal dan pakaian, lalu memanggil pelayan dan pengasuh.

Akan tetapi tidak ada jawaban karena mereka itu tidur pulas.

Karena itu, ia sendiri lalu keluar dari pintu untuk melihat siapa orangnya yang mengetuk daun jendela itu.

Dan di bawah sinar bulan ia melihat suaminya yang dulu, yaitu Hua Ce Shu yang telah mati, kini berdiri di depannya.

Hua Ce Shu memondong anaknya yang, telah mati di dalam rangkulannya, dan memberi isyarat kepadanya untuk ikut.

"Rumah baru untuk kita bertiga telah jadi. Mari ikut bersamaku!"

Dia berbisik.

Nyonya Peng menggigil.

Ia tidak ingin meninggalkan Shi Men, namun ia ingin sekali berada bersama anaknya.

la berusaha untuk merampas anak itu dari pondongan suaminya yang pertama.

Akan tetapi dia mendorongnya dengan keras sehingga ia terhuyung ke belakang dan diapun lenyap bersama anak itu.

Dengan kaget dan mengeluarkan keringat dingin, Nyonya Peng kembali ke tempat tidurnya.

la telah bermimpi.

Hidup memang seperti mimpi saja.

Suka dan duka datang silih berganti.

Tiada yang kekal di dunia ini.

Yang pasti, kesenangan hanya selewatan saja seperti tiupan angin, lalu berganti dengan yang agaknya lebih berkuasa, lebih sering mengisi kehidupan manusia.

Ciu Hwa terbangun dengan kaget, seperti ada yang menggugahnya.

Lampu perak di atas meja masih menyala.

la bangkit dan menghampiri tempat tidur majikannya, membungkuk dan mengamati wajah majikannya yang disangkanya masih tidur pulas.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati pelayan itu.

Wajah Nyonya majikannya demikian pucat, dan tidak ada pernapasan keluar dari hidung dan mulutnya!

Ia meraba, mendengarkan, dan akhirnya menjerit dan menangis sehingga mengejutkan seluruh anggauta keluarga yang segera lari berdatangan.

Seorang wanita muda yang cantik jelita telah meninggal dunia dalam usia yang Muda sekali!

Dan kembali Kim Lian memperoleh kemenangan untuk ke sekian kalinya!

Akan tetapi benarkah bahwa kejahatan selalu memperoleh kemenangan atas kebaikan?

Benarkah orang-orang yang curang dan jahat dapat hidup makmur penuh kemenangan, sebaliknya orang-orang yang jujur dan baik hidup serba kekurangan?

Benarkah bahwa yang jahat selalu menang dan sebaliknya yang baik selalu kalah?

Memang demikian nampaknya, karena memang di dunia ini penuh dengan kepalsuan manusia.

Kekuasaan setan kelihatan menang di dunia ini, sehingga kebenaran dan keadilan nampaknya terinjak-injak, teriakan penasaran menjulang tinggi ke langit.

Namun, yang jahat tapi menang dan yang baik tapi kalah tidak boleh melupakan bahwa bagaimanapun juga, terdapat HUKUM KARMA di dunia ini.

Hukum Karma adalah bukti Keadilan TUHAN.

Siapa menanam, dia menuai.

Cepat atau lambat, Hukum Karma akan menyusul dan menangkapnya, dan akan menjatuhkan imbalan yang setimpal dengan segala perbuatannya.

Di dalam kehidupan ini, yang ada hanyalah dua hal yang tersembunyi dalam setiap peristiwa dan perbuatan, yaitu menanam atau menuai.

Asal saja kita ingat untuk menanam yang baik-baik saja dalam perbuatan kita!

Asal saja kita ingat bahwa segala peristiwa yang menimpa kita hanyalah buah yang kita tuai dari Bibit yang kita tanam sendiri!

TUHAN Maha Adil, dan jalan keadilan yang diambil TUHAN memang sukar dimengerti oleh otak kita yang terbatas kemampuannya, namun keadilan itu PASTI datang.

Karena itu, dalam lembaran-lembaran berikutnya, kita akan melihat betapa hukum karma akan mengejar dan menangkap semua tokoh dalam cerita ini, menjatuhkan hukuman atau memberi ganjaran sesuai dengan amal perbuatan mereka masing-masing.

HUKUM KARMA tak dapat dielakkan!

Ada tiga peristiwa dalam hidup yang amat penting bagi setiap orang manusia, di mana dia menjadi pusat perhatian orang-orang lain, yaitu di waktu dia lahir, kemudian di waktu dia menikah dan yang terakhir, di waktu dia meninggal yang pertama dan terakhir merupakan peristiwa yang bertolak belakang, dengan sambutan-sambutan yang saling bertolak belakang pula.

Setiap orang manusia terlahir dengan menangis dan gaduh akan tetapi disambut oleh orang-orang lain dengan tertawa gembira, kemudian ketika mati dia tersenyum atau setidaknya wajahnya tenang, namun disambut oleh orang-orang lain dengan tangis sedih!

Dan waktu antara lahir dan mati demikian singkatnya!

Berbahagialah orang yang dapat mengisi waktu sesingkat itu dengan suatu perbuatan yang bermanfaat, bagi orang lain maupun bagi diri sendiri.

Rumah tangga keluarga Shi Men berkabung.

Kematian Nyonya Peng, isteri ke enam dari Shi Men, mendatangkan kedukaan dan kehilangan besar, terutama bagi Shi Men setelah baru saja dia kehilangan anak laki-laki tunggalnya, yaitu putera Nyonya Peng.

Pagi itu Shi Men sedang duduk menghadapi sarapan pagi bersama beberapa orang temannya yang berlayat, ditambah pula mantunya, Chen Ceng Ki, pengawal baru Han Tao Kok, dua orang Kakak dari Goat Toanio yang datang berlayat, ketika pelukis Han yang diundang Lai Pao datang ditemani Lai Pao.

Shi Men menyambut pelukis kenamaan ini lalu mengantarnya ke ruangan di mana jenazah Nyonya Peng diletakkan.

Pelukis itu menyingkap tirai "Seribu Musim Gugur"

Yang menutupi muka jenazah, dan untuk beberapa lamanya dia mengamati wajah itu.

Biarpun telah mati, wanita itu masih memiliki kecantikan yang mengagumkan.

Kecuali amat pucat sehingga tidak wajar, wajah itu masih memperlihatkan kecantikan yang membuat Shi Men kembali menitikkan air matanya melihat wajah isteri tercinta itu.

Pelukis Han segera mulai bekerja, melukis wajah wanita itu di atas kain sutera yang dipegangi oleh Lai Pao dan Kiu Tung.

Orang-orang lain merubung dan menonton gerakan tangan yang dan mantap dari si pelukis.

"Wajah yang anda lihat ini adalah wajah orang yang telah menderita sakit. Sebelum itu wajah ini lebih gemuk dan lebih cantik,"

Kata Ying Po Kui.

"Saya tahu,"

Jawab si pelukis.

"Kalau saya tidak salah ingat, saya pernah melihatnya, yaitu pada tanggal satu bulan Iima ketika ia mengunjungi Kuil Lima Gunung Suci untuk bersembahyang."

"Benar,"

Kata Shi Men.

"Ketika itu ia masih kuat dan sehat, Pergunakanlah seluruh kepandaianmu untuk melukisnya. Saya menghendaki dua lukisan darinya, sebuah setengah badan dan sebuah lagi seluruh badan. Saya akan memberimu sepuluh ons perak dan segulung kain sutera."

"Baiklah, jangan khawatir, saya akan membuat sebagus mungkin,"

Jawab pelukis Han dan diapun mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Ketika dia menyelesaikan lukisan pertama, semua orang memujinya.

Shi Men merasa senang sekali dengan hasil lukisan itu dan dia segera menyuruh Tai A untuk membawa lukisan itu ke dalam, memperlihatkannya kepada Goat Toanio dan isteri-isteri yang Iain.

"Majikan minta pendapat Nyonya-Nyonya mengenai lukisan ini,"

Kata kacung itu.

"Kalau ada kekurang miripan, harap memberi tahu agar dapat dirubah oleh pelukisnya."

"Waah, terlalu berlebihan!"

Kata Kim Lian dengan suara tidak setuju.

"Boleh jadi ia kelihatan seperti ini di waktu masih gadis muda, akan tetapi tidak, sesudah menjadi isterinya. Terlalu muda dan terlalu cantik! Akan tetapi aku ingin sekali tahu apakah kitapun akan dibuat gambar kita kalau kita mati? Kitapun berhak!"

"Memang agak terlalu cantik,"

Kata isteri ke dua dan ke tiga.

"bibirnya terIalu penuh."

"Dan alisnya seharusnya lebih melengkung,"

Kata Goat Toanio.

"Betapapun juga, gambar ini mirip sekali."

"Pelukis itu pernah rnelihalnya di Kuil Lima Gunung Suci ketika sedang bersembahyang. Dia mengingat wajahnya seperti ketika dilihatnya dahulu,"

Kata A Tai menerangkan. Ketika gambar itu dibawa kembali, A Tai memberi tahu kepadanya.

"Menurut pendapat para Nyonya, Bibirnya agak lebih tipis sepasang alisnya lebih melengkung."

"Ah, itu mudah saja,"

Kata si pelukis dan dengan beberapa goresan saja dia telah membereskan kekurangan itu. Tetangga Kian juga kongsi Shi Men yang datang menjenguk, juga berseru kagum melihat lukisan itu.

"Sungguh bagus sekali, seperti hidup saja!"

Dengan girang Shi Men lalu menjamu pelukis itu dan memesan gambar setengah badan itu cepat di selesaikan.

untuk digantung di atas meja sembahyang si mati.

Adapun gambar yang sepenuh badan boleh dikerjakan di rumah, karena, gambar itu kelak akan dibawa di depan peti mati pada saat penguburannya.

Perkabungan itu berlangsung empat minggu dan selama itu, Shi Men setiap malam tidur di atas dipan sederhana bertilamkan tikar, dekat dengan peti mati Nyonya Peng, hanya tertutup tirai, Setiap malam dia tidur di situ, dan pada keesokan harinya baru dia memasuki kamar Goat Toanio untuk mencuci badan dan membereskan rambutnya, Dia tidur ditemani kacungnya, Shu Tung dan pagi harinya, setelah dia bangun, dipan di mana dia tidur itu dibereskan oleh Siauw Giok, pelayan manis itu, Karena setiap pagi bertemu maka terjadilah keakraban antara Shu Tung dan Siauw Giok.

Mereka seringkali menggunakan kesempatan bertemu di pagi hari ini untuk mengobrol dan bersendau gurau.

Hubungan antara pria dan wanita memang mengandurng bahaya, seperti kalau minyak bakar dan api didekatkan.

Mudah terbakar!

Terdapat daya tarik satu sama lain antara pria dan wanita, maka kalau keduanya didekatkan, mudah terbakar.

Terdapat daya tarik satu sama lain antara pria dan wanita, maka kalau keduanya di dekatkan munculah selalu bahaya kebakaran itu.

Demikian pula dengan Shu Tung dan Siauw Giok.

Pada suatu hari dalam minggu ke dua, Shi Men bangun pagi sekali.

meninggalkan dipannya dan pada waktu itu semua isi rumah masih tidur, Shu Tung dan Siauw Giok mempergunakan kesempatan ini untuk pergi berdua ke pondok perpustakan di dalam taman dan di sana mereka berdua tenggelam ke dalam kemesraan cinta mereka.

Pada saat itu, Kim Lian juga bangun pagi-pagi, dan segera mengunjungi Shi Men.

Ketika ia tidak melihat suaminya, juga tidak melihat para pelayan, ia lalu mencari Shi Men ke dalam taman.

Dan ketika ia tiba di dekat pondok perpustakaan, iapun mendengar suara-suara orang bermesraan.

la membuka pintu dan menerjang masuk, dan mendapatkan kedua orang pelayan itu bersatu dalam pelukan.

"Hemm, bagus sekali, ya?"

Bentak Kim Lian. Kedua orang itu terkejut, cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Kim Lian yang berdiri memandang mereka dengan senyum mengejek.

"Shu Tung, ambilkan sutera putih dan kain putih untukku,"

Perintahnya dengan suara ketus.

Shu Tung cepat lari ke gudang untuk mengambilkan barang yang diminta.

Kim Lian sedikitpun tidak memperdulikan Siauw Giok yang masih berlutut, bahkan iapun diam saja ketika gadis itu mengikutinya dari belakang dengan sikap takut-takut.

Ketika mereka tiba di pondok, Siauw Giok menjatuhkan dirinya berlutut dan dengan suara pilu mohon kepada Kim Lian agar jangan dilaporkan kepada Shi Men apa yang telah terjadi di dalam pondok perpustakaan tadi.

"Mengakulah sejujurnya, perempuan tak tahu malu!"

Kim Lian memakinya.

"Sudah beberapa kali engkau bermain gila dengan Shu Tung?"

Dengan suara gemetar Siauw Giok mengaku bahwa baru pertama kali itulah ia mengadakan pertemuan rahasia dengan pelayan itu dan betapa hubungan antara mereka menjadi akrab semenjak Shi Men tidur di ruangan itu sehingga mereka berdua dapat saling bertemu di pagi hari.

"Kau ingin agar aku mengampunimu dan tidak melaporkanmu. Nah, aku akan memenuhi permintaanmu, akan tetapi hanya dengan tiga syarat."

"Baiklah, Nyonya, katakan tiga syarat itu dan saya pasti akan melaksanakan perintah itu."

"Pertama, di masa depan engkau harus menceritakan kepadaku segala yang terjadi di dalam kamar Nyonya majikanmu, Goat Toanio. Kalau engkau merahasiakan sesuatu aku akan melaporkanmu. Ke dua, segala perintahku haruslah kau taati. Dan ke tiga, ceritakan bagaimana majikanmu dapat hamil kembali setelah bertahun-tahun mandul."

Siauw Giok yang sudah tersudut oleh Kim Lian, tak dapat menolak untuk membuka semua rahasia tentang obat kesuburan dari Pi Nikouw yang berhasil membuat Goat Toanio mengandung.

Diam-diam Kim Lian mencatat semua itu di dalam hatinya.

lapun membiarkan gadis pelayan itu bebas.

Akan tetapi Shu Tung sudah menjadi ketakutan.

Membayangkan hukuman berat yang akan diterimanya, dan ancaman dalam pandangan mata yang dingin dari Nyonya majikan kelima.

dia lalu pergi meninggalkan pekerjaannya sebagai pelayan keluarga Shi Men.

Tibalah hari ke dua belas bulan sepuluh, hari pemakaman yang dinanti-nanti itu.

Untuk keperluan ini, dari para sahabatnya yang menduduki jabatan tinggi, Shi Men menerima bantuan berupa lima puluh orang perajurit untuk melakukan pengawalan dan penjagaan ketika peti jenazah diusung ke pemakaman.

Sejak pagi sekali di depan rumah Shi Men telah terjadi kesibukan yang luar biasa, suara ringkik kuda dan kegaduhan kereta para pejabat yang berdatangan dari dalam dan luar kota untuk ikut melayat.

Lebih dari seratus joli besar kecil berbaris di situ, diduduki keluarga wanita dari rumah Shi Men dan para tamu.

anggauta keluarga wanita dalam rumah tangga Shi Men ikut dalam pawai pemakaman itu, kecuali isteri ke empat Sun Siu Oh yang tinggal menjaga rumah ditemani oleh Wang Nikouw dan Pi Nikouw, sedangkan pelayan Ping An ditemani sepuluh orang perajurit, berjaga di pintu gerbang.

Tepat jam delapan pagi, pemimpin pawai meniup peluitnya dan tiga puluh empat pemikul peti mati yang amat berat itupun bersiap siaga.

Dan mulailah pawai pemakaman yang mewah itu.

Di depan sekali berjalan mereka yang membawa bendera dan umbul-umbul kehormatan, dan banyak patung-patung kertas dan uang kertas perak yang nanti akan dibakar sebagai "bekal"

Untuk si mati.

Di depan peti berjalan pasukan yang membunyikan musik pemakaman.

Tepat di belakang peti mati yang dipikul oleh banyak orang itu adalah joli yang ditumpangi Goat Toanio dan para isteri Shi Men yang lain, disusul joli para wanita tamu yang merupakan barisan panjang.

Chen Ceng Ki, mantu Shi Men yang semenjak perkabungan itu bertindak selaku wakil putera keluarga itu, berjalan di dekat peti dengan satu tangan memegang pikulan, seolah-olah dia sedang membantu pengusungan peti mati, seperti yang selayaknya dilakukan seorang putera yang berbakti.

Pagi itu cerah sekali.

Di sepanjang jalan yang dilalui pawai pemakaman penuh dengan penonton dan mereka semua mengagumi kemewahan yang berlebihan dalam pawai pemakaman ini, seperti pesta saja, dan sudah lama sekali mereka tidak pernah menyaksikan pemakaman yang demikian indahnya.

Ketika keluar dari Jalan Kedelapan, pawai itu berhenti atas isyarat pemimpin pawai.

Bu Tosu, ketua Kuil Giok-Ong-Bio yang mengenakan pakaian resmi sebagai seorang Pendeta, di luar jubah Pendeta kemerahan itu dia memakai mantel dari bulu bangau lima warna, di atas kepalanya sebuah mahkota susun sembilan melambangkan guntur dan kilat, dan kakinya memakai sepatu baru, dan tangannya memegang meja kecil dari gading.

Diapun dipikul di atas tandu oleh empat orang pemikul dan kini Bu Tosu, atas isyarat dari Shi Men, tiba-tiba membuka gulungan gambar lengkap dari si mati yang telah dilukis oleh pelukis Han.

Chen, mewakili putera keluarga, segera berlutut di depan gambar itu, di atas jalan berdebu dan dengan suara yang lantang Bu Tosu mengucapkan kata-kata berkabung dan pemujaan terhadap si mati.

"Biarpun arwahnya telah memasuki Sorga dan tubuhnya kembali ke bumi, namun di dalam gambar ini, ia akan terus hidup dalam generasi ini dan generasi mendatang."

Demikianlah dia rnelanjutkan kata-kata pujian sambil mengibarkan gambar itu di atas kepala para pengikut.

Kemudian dia turun dari tandu dan kembali lagi, diiringi bunyi musik, dan pada, saat itu, dari para pelayat membubung tangis dan ratap yang bergema sampai ke awan dan mengguncang bumi.

Dan pawai itupun bergerak maju lagi.

Dari Pintu Gerbang Selatan, Shi Men dan para pelayat lainnya yang tadi berjalan kaki, kini menunggang kuda atau kereta.

Hanya Chen saja, sebagai wakil putera keluarga, harus melanjutkan dengan jalan kaki, dengan tangan di pikulan, sampai akhir perjalanan itu.

Ketika pawai tiba di pintu gerbang tanah kuburan, di situ telah menanti dua ratus pasukan yang menyambut dengan gambar dan canang sebagai penghormatan.

Pada tengah hari itu, setelah diadakan persembahyangan kepada Ibu Bumi, peti mati ltu perlahan-lahan diturunkan ke dalam tanah dan pemakamanpun berlangsung.

dengan penuh kehormatan, dengan upacara-upacara yang mengikutinya, pembakaran segala macam patung kertas sebagai bekal.

Keadaan di situpun menjadi bising, pengap dan panas.

Setelah pemakaman selesai dan semua orang kembali ke rumah keluarga Shi Men, meja sembahyang yang tadinya ditaruh di ruangan itu kini dipindahkan ke dalam kamar si mati yang telah dibersihkan, dan ditempatkan di sudut yang terhormat.

Tidak lupa diadakan upacara pengorbanan kepada para dewa penjaga rumah tangga, dan membersihkan rumah itu dari pengaruh-pengaruh setan jahat, menyapu lantai di luar pintu dan segala macam tradisi dan kepercayaan tahyul yang berlaku.

Berakhirlah upacara yang berlangsung selama empat minggu itu, semenjak kematian sampai ke pemakaman dan tentu saja upacara itu menghabiskan uang yang tidak sedikit jumlahnya.

Pada malam harinya, setelah semua pelayat pulang dan rumah itu menjadi tenang kembali, Shi Men terdorong oleh keinginan besar untuk mengunjungi pondok isterinya yang telah mati.

Dia ingin bermalam di kamar itu, di dekat meja sembahyang dekat jendela kamar.

Di meja sembahyang itu terpasang gambar setengah badan dari si mati, dan dinding tergantung gambar yang seluruh badan.

Kamar itu diatur presis seperti ketika penghuninya masih hidup, tempat tidurnya baru saja dibereskan, dengan tilam dan bantal yang serupa seperti biasanya.

Di sandaran kursi tergantung pakaian yang biasa dipakai si mati, di atas meja rias terdapat segala macam alat rias yang biasa ia pergunakan, juga nampak sepasang sandal yang biasa menyembunyikan kakinya yang kecil mungil.

Tempat bunga segar, dan di meja kecil dekat tempat tidur terdapat tempat buah yang terisi buah, manisan dan kue, dan juga dua buah cawan yang sering ia pergunakan minum sedikit anggur sebelum tidur.

Melihat semua benda yang tidak asing ini mengingatkan Shi Men akan isterinya yang telah meninggal dan air matanya jatuh bercucuran.

Sambil menghela napas panjang diapun merebahkan diri di atas tempat tidur sambil memandang ke arah gambar isterinya tercinta itu.

Akhirnya, kelelahan membuat dia tertidur nyenyak.

Pada keesokan harinya, ketika makan pagi dihidangkan, dia meletakkan piring ke dua untuk isterinya yang tidak nampak, seperti yang biasa mereka lakukan kalau sarapan berdua, menaruhkan sedikit masakan di atas piring kosong itu dan berbisik.

"Mari kita makan, sayang,"

Seolah-olah isterinya itu benar-benar duduk disampingnya.

Dengan perasaan iba, perawat Yu I dan pelayan Ciu Hwa melihat kelakuan aneh dari majikan mereka itu.

Demikianlah keadaan Shi Men selama tiga hari tiga malam, tak pernah meninggalkan kamar.

Pada hari ke tiga, dia menerima tamu-tamu di sore hari dan malam itu dia merebahkan diri dengan tubuh yang terasa lesu dan lelah, juga dia merasa haus sekali, ingin minum semangkuk air teh yang segar.

Akan tetapi malam itu telah larut dan Ciu Hwa telah tidur, dan tidak mendengar panggilannya.

Karena yang mendengar permintaannya itu adalah pengasuh muda Yu I, maka ialah yang bangkit dan membawakan air teh seperti yang diminta majikannya.

Ketika Yu I berlutut di samping tempat tidur, menyuguhkan air teh, tiba-tiba saja bangkit gairah nafsu berahi Shi Men dan tanpa banyak cakap lagi, setelah minum air teh itu, dia merangkul Yu I dan menciuminya.

Pelayan ini sedikitpun tidak meronta, bahkan membalas rangkulan Shi Men dan melayani segala keinginan hati Shi Men dengan senang hati.

Dan malam itu Shi Men berhasil memiliki Yu I yang kebetulan muncul pada saat berahi membakar dirinya, setelah selama masa perkabungan dia menahan diri dan menjauhi kesenangannya itu.

Pada keesokan harinya, Shi Men berjanji untuk tidak melupakan Yu I dan pengasuh muda ini diberinya empat penjepit rambut dari emas yang dahulu menjadi milik Nyonya majikannya.

Rahasia ini segera diketahui oleh Ciu Hwa, melihat dari sikap Yu I yang sama sekali berubah, dan iapun menerima hal ini sebagai suatu kenyataan bahwa kini Yu I setidaknya memiliki kedudukan yang tidak berada di sebelah bawahnya.

Asap tak dapat ditutup, dan tak lama kemudian, dari sikap Yu I sendiri, hampir semua penghuni rumah tangga dari keluarga itu dapat menduga apa yang telah terjadi antara majikan dan Yu I.

Dan tentu saja Kim Lian segera dapat mengetahui akan hal itu.

Dengan marah ia mendatangi Goat Toanio untuk melaporkan akan hubungan antara suami mereka dan Yu I.

"Hal ini tidak boleh dilanjutkan, Toaci, engkau harus turun tangan! Sungguh memalukan sekali cara dia bermain gila dengan pengasuh itu di belakang kita. Hal itu terjadi sama seperti dengan isteri pegawai dahulu itu, si Lian Cu. Apakah kita harus membiarkan peristiwa memalukan itu terulang kembali sekarang? Kalau babu momong itu kelak melahirkan anak darinya, bagaimana kita dapat berhadapan dengannya? Wah, ia tentu akan mentertawakan kita!"

Akan tetapi Goat Toanio tidak memperdulikan semua bisikannya. la teringat akan pesan terakhir dari Nyonya yang ke enam sebelum meninggal dunia agar ia berhati-hati terhadap Kim Lian.

"Aku tidak mau campuri urusan Ini"

Katanya dengan sikap ?ingin.

"Engkau selalu minta agar aku menjadi pembicaranya, dan apabila keributan tiba, kalian semua menyelamatk�n diri dan bersembunyi, sedangkan aku sendiri yang harus menghadapinya. Sekarang aku telah berpengalaman, dan jika engkau tidak menyukai peristiwa itu, engkau sendirilah yang harus bicara kepada, suami kita"

Mendengar Ini, Kim Lian mundur tanpa berkata apapun.

Pada kesempatan lain, ketika Pi Nikouw datang berkunjung kepada keluarga itu, diam-diam ia mengundangnya ke dalam pondoknya, memberinya satu ons uang perak, dan minta kepada Nikouw itu agar memberi obat ajaib seperti yang penah ?iberikannya kepada Goat Toanio agar ia dapat mengandung.

Semenjak kematian isterinya, yang ke enam satu-satunya Wanita di antara semua isterinya yang dicintanya secara mendalam, yang merupakan satu-satunya wanita yang dapat membuat dia betah tinggal di rumah, kini penyakit lama Shi Men kumat kembali dan mulailah dia hampir setiap malam keluyuran ke luar rumah, mengunjungi tempat-tempat pelesiran.

Cumbuan yang canggung dari seorang pengasuh seperti Yu I yang tidak berpengalaman, tentu saja tidak dapat memuaskan hatinya.

Pada suatu hari, dia menerima undangan seorang sahabat dagangnya bernama Huang Se, untuk makan minum dalam rumah pelesiran Bibi Chong, dihadiri pula oleh dua orang sahabat baiknya, Ying Po Kui dan Cia Si Ta.

Mereka dilayani oleh dua orang "anak"

Dari Bibi Cong, yang bernama Siang Hwa dan Siauw Goat, Shi Men amat tertarik dan suka kepada Siauw Goat yang mungil.

Empat orang gadis penyanyi ikut memeriahkan pesta itu, dan Siauw Gin, seorang gadis dari rumah pelesiran tetangga, datang pula memenuhi undangan.

Setelah puas minum.

Shi Men menggandeng Siauw Goat, diajaknya berjalan-jalan dan masuk ke dalam kamar yang terpencil.

"Manis, kalau engkau mau bersikap manis kepadaku dan tidak melayani pria lain, aku akan memberimu uang belanja setiap bulan."

"Untuk dua puluh atau tiga puluh ons sebulan, saya mau melayanimu seorang,"

Jawab gadis itu.

"Baiklah, akan kuberikan engkau tiga puluh ons."

Shi men mendapatkan seorang kekasih baru yang cukup menarik hatinya sehingga dia berjanji akan sering datang berkunjung.

Pada hari ke sepuluh bulan sebelas, datanglah surat perintah dari Ibukota Timur, yang memanggil semua pejabat tinggi untuk datang berkumpul ke kota Kai Hong Hu, menghadiri rapat di mana akan diadakan upacara kenaikan pangkat bagi mereka yang telah dianggap berjasa.

Shi Men termasuk seorang diantara mereka yang dianggap "berjasa."

Dan Mendapat kenaikan pangkat, yaitu menjadi Hakim Pertama distrik Ceng-Ho-Sian menggantikan kedudukan rekannya, Hsia.

Adapun Hakim Hsia kini dinaikkan pangkatnya sebagai Komandan Pengawal Istana.

Sedangkan seorang keponakan dari Thaikam Hou memperoleh jabatan yang tadinya dipegang Shi Men.

Menerima surat perintah ini, Shi Men cepat berkemas dan pada tanggal dua belas bulan itu Shi Men berangkat bersama rekannya, Hakim Hsia, dengan pengawalan dua puluh orang, menuju ke Ibukota Timur.

Selama kepergian Shi Men yang akan memakan waktu kurang lebih dua minggu itu, Goat Toanio melakukan penjagaan ketat untuk ketertiban rumah tangganya.

Penjaga pintu gerbang Pang An dipesan untuk membuka pintu hanya kalau ada keperluan mendesak dan hanya atas ijin darinya.

Pintu masuk ke bagian tempat tinggal para wanita, dikunci dari sore sampai pagi hari berikutnya.

Goat Toanio sendiri melakukan pengawasan ketat pada siang harinya, bahkan ia melarang seorang anggauta keluarga seperti Chen Ceng Ki, mantu suaminya, untuk masuk ke rumah tanpa alasan yang penting, dan kalau keperluan mengharuskannya masuk, dia selalu didampingi seorang pelayan.

Karena itu, sekali ini Kim Lian, sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk berbuat semaunya, melainkan seperti para isteri lainnya, duduk dengan tenang di dalam pondoknya, melakukan pekerjaan rumah atau menghibur diri dengan para pelayan.

Namun ia masih sempat memuaskan hatinya dengan sering mengomeli Yu I, kekasih suaminya yang baru.

Pada akhir bulan sebelas itu tibalah Shi Men kemball ke rumahnya dan hal pertama yang dilakukannya, setelah dia mencuci diri dan berganti pakaian bersih, adalah melakukan sembahyang di pekarangan dan dengan berpuasa dia berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada Bumi dan Langit karena dia rnemperoleh anugerah kenaikan pangkat dan keselamatan dalam perjalanan itu.

Dia tergesa-gesa pulang untuk dapat ikut merayakah hari ulang tahun isterinya yang ke tiga, yaitu Mong Lok.

Pesta ulang tahun itu diadakan dengan meriah dan di antara para tamu yang berdatangan, terdapat Pi Nikouw dan Wang Nikouw yang bermalam di situ.

Pi Nikouw memenuhl janjinya dan membawakan obat yang dipesan oleh Kim Lian.

Dengan cerdik Pendeta wanita itu berhasil menyelinap keluar dari pondok Goat Toanio dan mengunjungi Kim Lian secara diam-diam.

"Inilah obat yang saya janjikan itu,"

Katanya sambil memberikan botol yang terisi obat itu kepada Kim Lian.

"Pada hari tujuh kali tujuh dari dua bulan, obat ini harus dicampur dengan sedikit anggur, dan diminum dengan perut kosong. Jika malam harinya engkau tidur dengan suamimu, tentu engkau akan mengandung seorang anak laki-laki. Nyonya majikan yang tinggal di bangunan induk telah mengandung setelah minom obat ini. Dan sebagai tambahan saya berikan bubuk merah ini kepadamu, asal dipergunakan menurut ajaran saya, sudah dapat dipastikan engkau akan mengandung seorang calon putera."

Dengan girang sekali Kim Lian menerima dua macam obat itu dan menyembunyikannya di dalam laci.

la lalu membuka kalender dan melihat bahwa hari ke empat puluh sembilan dari dua bulan jatuh pada tanggal dua puluh sembilan bulan itu.

la lalu mengambil sejumlah uang dan menyerahkannya kepada Pi Nikouw sambil berkata.

"Terimalah sedikit hadiah lni, kalau kelak aku benar dapat mengandung, saya akan menghadiahkan kain untuk membuat pakaian."

"Harap Nyonya jangan memikirkan tentang hadiah. Saya tidaklah begitu haus akan hadiah seperti halnya Wang Nikouw. Bayangkan saja betapa ia telah mengomel panjang pendek karena mendapat bayaran sedikit ketika menyembahyangi Nyonya yang meninggal dunia baru-baru ini, Saya melakukan semua ini tanpa pamrih, untuk diri sendiri melainkan karena saya Suka melakukan kebaikan kepada orang lain."

Ketika Kim Lian melihat betapa Shi Men memberi tanda-tanda hendak pergi tidur, iapun cepat meninggalkan ruangan keluarga itu dan menanti di ruangan luar, mengharapkan suminya akan segera muncul dan nenemaninya kembali ke pondoknya.

Malam ini ia harus dapat menarik suaminya ke tempat tidurnya, karena malam ini adalah malam yang ditentukan sebagai syarat pengobatan agar ia memperoleh keturunan, yaitu malam ke empat puluh sembilan dari dua bulan.

Namun sia-sia saja ia menanti.

Shi Men tidak muncul.

Akhirnya ia kehabisan kesabaran.

la membuka pintu tembusan ruangan itu dan berkata dengan suara nyaring kepada suaminya.

"Saya tidak bisa menunggu lebih lama. Saya pergi dulu."

"Pergilah dulu! Aku akan menghabiskan minumku kemudian menyusulmu!"

Teriak Shi Men dengan ramah dan Kim Lian lalu melangkah pergi.

"Aku tidak setuju kalau engkau pergi kepadanya malam ini!"

Tiba-tiba Goat Toanio berkata dengan alis berkerut.

"untuk sekali ini aku harus bicara dengan sungguh-sungguh padamu. Aku tahu betapa engkau amat sayang kepadanya. Akan tetapi, bagaimanapun juga sungguh merupakan suatu cara yang tidak patut kalau ia memaksa dan mengajakmu keluar dari kamarku. Ia bersikap di sini seolah-olah engkaulah yang menjadi isterinya, yang harus mentaati perintahnya, dan kami semua ini seolah-olah tidak ada saja. Semenjak kembalimu kami semua hampir tak pernah dapat melihatmu karena ia menguasai dirimu sepenuhnya, dan tidak semalampun engkau tinggal dengan seorang di antara kami. Hal itu tentu saja tidak mengapa bagi diriku sendiri, akan tetapi aku tahu ada seorang yang menderita karena ulahmu ini, walaupun ia tidak berkata sesuatu. Adik Mong Yu Lok yang berulang tahun hampir tidak dapat makan atau minum karena tekanan batinnya. Malam ini adalah ulang tahunnya, dan engkau seolah-olah tidak perdulikan padanya sama sekali. Sepatutnya engkau malam ini pergi kepadanya dan menanyakan kesehatannya."

Shi Men dapat disadarkan dan pergilah ia ke pondok isterinya yang ke tiga itu.

Mong Yu Lok telah menanggalkan pakalan luarnya dan melepaskan hiasan rambutnya.

Ia rebah menelungkup di atas tempat tidurnya dan muntah-muntah ke dalam tempolong.

Melihat ini, Shi Men terkejut sekali dan cepat duduk di tepi pembaringan.

"Sayangku, engkau kenapakah? Katakan, aku akan memanggil tabib besok pagi-pagi."

Mong Yu Lok tidak menjawab dan muntah lagi. Shi Men membantunya duduk dan merangkulnya.

"Perutku mual,"

Katanya sambil memegangi perutnya.

"Akan tetapi kenapa engkau bertanya? Apa gunanya? Pergilah dan bersenang-senanglah!"

"Sayangku, aku tidak tahu bahwa engkau sakit. Aku baru saja rnendengarnya."

"Hemm, itu saja membuktikan bahwa bagimu aku ini seperti tidak ada saja! Pergilah, pergilah kepada kekasihmu sana!"

Shi Men memeluk dan menciumnya, lalu dia memanggil Siang Bwee, pelayan isterinya ke tiga itu.

"Cepat, ambil air teh pahit!"

"Saya baru saja membuatnya."

"Berikan padaku dan bawa pergi tempolong itu!"

Shi Men menerima mangkok air teh yang pahit dan panas itu dan dengan hati-hati mendekatkannya pada Bibir isterinya yang ke tiga.

"Biarlah kuminum sendiri,"

Kata Mong Yu Lok sambil menerima mangkok air teh itu.

"Kenapa engkau bersusah payah untukku? Melihat engkau datang ke sini sama dengan melihat matahari terbit dari barat. Aku tahu bahwa tentu Goat Toanio yang membujukmu datang ke sini. Aku tidak mengharapkan kunjunganmu."

"Sungguh aku tidak dapat datang lebih pagi karena aku sibuk sepanjang hari,"

Kata Shi Men dengan suara minta maaf.

"Aku tahu bahwa harimu sibuk setiap hari."

"Engkau tentu lapar,"

Shi Men mengalihkan percakapan.

"Akupun lapar, mari kita makan."

"Tidak, terima kasih. Engkau sudah makan kenyang, dan akupun tidak ada nafsu makan."

"Kalau begitu akupun tidak makan. Besok aku akan memanggil Tabib Yen, dan marilah kita tidur."

"Tidak usah repot memanggil Tabib."

"Oya, aku akan mengobatimu sendiri. Seorang kenalanku baru-baru ini memberiku sepuluh butir pel empedu Kwan Tung yang terbaik. Obat yang manjur sekali untuk penyakit perut. Siang Bwee, pergilah engkau kepada Goat Toanio dan mintakan dua butir pel itu, di dalam botol yang kutaruh dalam laci meja riasnya. Dan bawakan seguci arak panas sekalian."

"Aku ingin sekali tahu Tabib macam apa engkau ini!"

Kata Mong Yu Lok yang mulai mencair hatinya.

"Kalau perlu arak, di sinipun ada."

Tak lama kemudian Siang Bwee datang membawa dua butir pel yang diminta.

Shi Men membuka buntalan malam dari obat itu dan mencairkannya dalam secawan anggur panas.

Setelah isterinya meminum obat itu, Shi Men minta kepada Siang Bwee untuk membawakan seguci arak untuk dirinya sendiri.

"Akupun akan minum obat,"

Katanya. Mong Yu Lok tahu obat apa yang ingin diminum suaminya.

"Huh, apakah tidak lebih baik kalau engkau pergi ketempat lain tempat untuk itu? Kurasa di sini bukan tempatnya untuk mempergunakan obat semacam itu!"

"Ah, baiklah, aku tidak akan meminumnya,"

Kata Shi Men dan diapun merangkul Mong Yu Lok yang kini sudah, merasa enak perutnya karena sesungguhnya bukan perutnya yang sakit, melainkan hatinya yang menderita kerinduan.

"Bagaimana rasanya perutmu sekarang?"

Tanya Shi Men sambil mencumbunya.

"Sudah enakan."

"Syukurlah. Oya, tahukah engkau bahwa sehari penuh aku sibuk merencanakan susunan hidangan yang akan dikeluarkan dalam pesta penghormatan terhadap Sung-Taijin yang akan kuadakan besok lusa? Sehari penuh aku sibuk merundingkannya dengan Lai Seng. Pesta itu akan makan biaya sekitar lima puluh tail. Kemudian aku harus pergi ke Kuil di mana aku bersembahyang untuk membayar kaul. Lalu aku harus menghadiri undangan seorang teman untuk makan siang. Belum lagi tugas-tugas kantor yang memakan banyak waktuku sehingga aku kekurangan waktu untuk urusan rumah tangga."

Dengan pandainya, dengan kata-kata lembut, dengan cumbu rayunya, akhirnya Shi Men dapat melenyapkan sama sekali perasaan mendongkol dari hati isterinya yang ke tiga dan tak lama kemudian Mong Yu Lok telah melayaninya dengan penuh perasaan, seolah-olah hendak menumpahkan semua kerinduan hatinya selama ini di malam itu.

Dan Kim Lian malam itu harus rebah sendirian di atas pembaringannya dengan hati mengkal karena harapannya untuk menguji kemanjuran obat Pi Nikouw ternyata telah gagal.

Hati Shi Men mulai gelisah.

Butiran-butiran pel obat kuat pemberian Pendeta itu makin menipis dan semenjak dia mempergunakan obat itu, nafsu berahinya menjadi semakin berkobar dan tidak pernah dapat dia merasa puas.

Bahkan pada saat tidur dengan seorang kekasihnya, hatinya merindukan kekasih lain dan biarpun dia telah memiliki banyak sekali wanita cantik yang menjadi isterinya, selirnya, peliharaan dan langganannya di rumah-rumah pelesir, namun tetap saja dia selalu merindukan seorang gadis baru.

Dia telah menjadi hamba dari nafsu berahinya sendiri dan kadang-kadang dia ingin sekali tubuhnya dapat menjadi dua agar dia dapat lebih sering menuruti desakan nafsu berahinya yang tak kunjung puas itu.

Di antara semua wanita yang setiap saat siap melayaninya itu, tidak ada yang dapat mengikatnya, walaupun hanya untuk sementara waktu, seperti yang pernah dirasakannya terhadap mendiang Nyonya Peng, isterinya yang ke enam itu.

Pelayan pengasuh Yu I sudah lama digantikan kedudukannya oleh isteri dari pegawai barunya, Lai Kwe, dan wanita ini sepuluh tahun lebih rnuda dari pada Yu I.

Pelayanan yang pernah memabukkannya dan Wang Liok Hwa yang berpengalaman, kini tidak lagi begitu memabukkan semenjak Shi Men berhasil main gila dengan isteri pengurus dagangannya, ya itu Pen Se.

Bahkan setiap kali mendengar cerita orang tentang seorang wanita cantik, dia sudah mengilar dan timbul seleranya.

Ketika pegawainya yang baru kembali dari Yang-Chouw bercerita tentang kecantikan gadis berusia enam belas tahun di sana, ingin rasanya Shi Men dapat terbang seketika ke Yang-Chouw untuk mengunjungi gadis itu.

Dan ketika Goat Toanio dalam kejujurannya, setelah pulang dari kunjungannya kepada Hakim Pembantu Hou, bercerita tentang kecantikan isteri rekannya itu, Seorang wanita berusia delapan belas tahun yang menurut Goat Toanio cantik jelita seperti bidadari, masih keponakan dari Thaikam Lan, Shi Men berjanji dalam hatinya bahwa dia harus dapat memenangkan wanita ini!

Kini Shi Men dengan penuh gairah menanti datangnya tanggal dua belas bulan itu.

Pada hari itu, malam Pesta Lentera, di rumahnya akan diadakan pesta besar.

Di bagian depan dia akan menjamu teman-teman baiknya, dan di bagian belakang rumahnya, para isterinya akan berpesta dengan mengundang beberapa orang isteri dari pejabat tinggi dan kenalan mereka.

Dan dalam kesempatan itulah Shi Men ingin sekali dapat melihat wanita-wanita cantik yang akan menjadi tamu isteri-isterinya, terutama sekali isteri dari rekannya, Hou, seperti yang diceritakan oleh Goat Toanio kepadanya.

Hari yang dinanti-nantikan itupun tibalah.

Pagi hari itu Shi Men tidak pergi ke kantornya.

Pagi-pagi dia sudah bangun karena dia ingin mengawasi sendiri persiapan yang diadakan untuk pesta di rumahnya.

Setelah hari naik tinggi mulailah tamu-tamu wanita berdatangan, hanya isteri rekannya Hakim Pembantu Hou belum juga muncul.

Shi men merasa gelisah dan sudah tiga kali dia mengutus pelayannya untuk mengulangi undangannya ke rumah keluarga Hou.

Akhirnya muncullah orang yang dinanti-nantikannya itu.

Shi Men mengintai dari balik tirai kamar barat dan jantungnya berdebar keras, tubuhnya gemetar penuh gairah, ketika dia melihat tamu ini turun dari joli dan disambut oleh Goat Toanio.

Usianya paling banyak delapan belas tahun.

Pakaiannya serba indah dan mewah, dan tubuhnya yang tinggi semampai dan padat itu nampak langsing sekali dengan adanya sabuk kemala dan emas yang mencekik pinggangnya.

Wanita muda ini sungguh cantik jelita, bahkan penggambaran Goat Toanio itu masih jauh daripada kenyataannya.

Betapa cantik jelita, dan anak rambutnya yang melingkar-lingkar di pelipisnya itu seperti menantang.

Sepasang mata itu Begitu jernih dan jeli, dengan kerling yang tajam memikat, dan mulut ltu!

Sepasang Bibir yang kecil tapi penuh dan menantang, merah membasah.

Pinggang itu agaknya diciptakan untuk dipeluk, dan suaranya!

Seperti hembusan suling perlahan di malam terang bulan musim semi.

Sepasang kakinya begitu kecil mungil dan ringan, seolah-olah tubuhnya tidak melangkah melainkan melayang-layang seperti seorang bidadari.

Dia lebih indah dari bunga, lebih indah dari permata.

Menyaksikan keindahan ini, mendengar suaranya yang lembut, Shi Men terpesona dan keharuan menyusup sampai ke tulang sumsum.

Dia seperti mabuk dan sukmanya melayang-layang.

Baru dia sadar ketika dia diundang oleh Goat Toanio untuk diperkenalkan kepada tamu ini.

Ketika dia membungkuk dengan hormat di depan bidadari itu, jantungnya melompat-lompat seperti gila, dan matanya menjadi silau.

Hanya tata susila dan kesopanan yang memaksanya untuk segera mundur setelah perkenalan itu dan bagaikan seorang yang kehilangan semangat dia duduk di antara teman-temannya, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata.

Sering kali dia menyelinap keluar, dari ruangan pesta kaum Pria itu untuk mengintai dari balik tirai, melahap kecantikan isteri rekannya itu.

"Engkau kenapakah, toako?"

Ying Po Kui bertanya.

"Apakah engkau merasa tidak enak badan?"

"Aku kurang tidur selama beberapa malam ini dan aku merasa agak lelah, jawabnya dan berpura-pura, menguap. Pembaca yang mulia, purnama tidak selamanya penuh, warna awan tidak bertahan selamanya. Apabila nasib baik sudah mencapai puncak tertinggi, sudah menjadi hukum alam bahwa nasib buruk akan mulai muncul, dan demikian sebaliknya. Shi Men selama ini mengira bahwa nama dan kedudukannya merupakan jaminan terlaksananya semua gairah nafsunya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa iblis telah lama mengintai untuk menghadapkannya kepada pembayaran hutang-hutangnya pada saat dia mencapai puncak kesenangan dan kemewahan. Ketika para tamu wanita hendak meninggalkan rumah itu pada sore harinya, pelayannya yang terpercaya, A Thai, memberi isyarat dan cepat Shi Men meninggalkan meja pesta, mengintai lagi dari tempat sembunyinya di kamar barat. Bagaikan seorang kelaparan melahap. hidangan yang nikmat, shi Men seperti hendak menelan wanita cantik yang menjadi isteri rekannya itu ketika Nyonya muda itu meninggalkan ruangan dan menaiki jolinya untuk diangkut pergi. Dengan lemas dan berulang kali menghela napas panjang Shi Men kembali ke tempat teman-temannya berpesta. Ketika dalam cuaca yang mulai gelap itu dia kembali ke tempat para tamunya yang sudah mulai mabuk, hampir saja dia bertabrakan dengan Hui Yen, isteri yang masih muda dari pelayan Lai Kwe dan peristiwa ini terjadi tepat diluar kamar wanita itu. la baru saja kembali dari ruangan tamu wanita di mana ia membantu melayani mereka. Melihat wanita ini, makin berkobarlah gairah yang sudah membakar hati Shi Men karena dia tergila-gila kepada isteri rekannya tadi. Tidak ada orang di situ dan suami wanita inipun sedang sibuk, entah dimana. Tanpa banyak cakap lagi Shi Men memondongnya ke dalam kamar itu.

"Kalau batin sudah dicengkeram nafsu... Segala yang lain sudah tidak berlaku... sasaran tujuan hanyalah satu... memuaskan nafsu...!"

Pada keesokan harinya, Shi Men merasa lelah dan lesu, dan diapun tidak pergi ke kantornya, mengambil keputusan uhtuk santai hari itu.

Dia mencoba memasuki perpustakaan dan membaca, namun otaknya juga terlalu lesu untuk dapat membaca, maka diapun hanya merebahkan diri dan menyuruh kacungnya yang bernama Wang Ceng untuk memijati kakinya.

Selesai kacung itu memijatinya, masuklah Siauw Giok si pelayan membawa setengah botol air susu dari dada Yu I sendiri.

Hal ini saja menyatakan betapa Yu I amat memperhatikan kesehatannya.

Dia menyuruh kacung Wang Ceng pergi dan minum air susu itu, kemudian memberi dua buah penjepit rambut emas kepada Siauw Giok.

Hadiah ini bukan karena air susu Yu I, melainkan untuk diberikan kepada kekasihnya yang baru Hui Yen.

Melihat ini, Siauw Giok melihat suatu keuntungan bagi dirinya sendiri karena ia mempunyai suatu berita yang amat menarik untuk disampaikan kepada Nyonya Ke Lima Kim Lian.

Sementara itu, kacung Wang Ceng yang melihat majikannya tinggal seorang diri, segera mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan berkata.

"Cici saya mengirim ini kepada tuan dan mengharapkan kunjungan secepat mungkin,"

Katanya lirih.

Wang Ceng adalah adik dari Wang Liok Hwa, kekasih Shi Men, Shi Men membuka bungkusan itu dan dengan hati terharu dia melihat segumpal.

rambut wanita yang halus dan hitam berbau harum, yang diikat dengan benang dari lima warna, dan dua helai pita sutera.

Ini merupakan pernyataan cinta dan rindu dari kekasihnya itu!

Dia cepat menyembunyikan benda itu ke dalam lengan bajunya ketika tiba-tiba muncul Goat Toanio dari balik tirai.

"Aih, ke mana saja engkau? Aku telah menyediakan sup yang akan menguatkanmu. Apakah engkau masih merasa tidak enak badan?"

"Kedua kakiku terasa pegal-pegal,"

"Mungkin engkau masuk angin. Marilah, sup yang kusediakan akan menyehatkan tubuhmu."

Shi Men bangkit dan mengikuti isteri pertamanya ke dalam ruangan dalam dan memakan sup yang telah disediakan itu.

"Pesta-pesta Tahun Baru ini agaknya terlalu melelahkan dirimu,"

Kata Goat Toanio.

"Engkau harus lebih banyak beristirahat dan tidak membiarkan teman-temanmu untuk membujukmu terlalu banyak minum arak."

"Engkau memang benar sekali istriku. Aku seharusnya agak menjauhi tempat minum arak itu. Akan tetapi bagaimapun juga, tidak mungkin dapat menghindarkan undangan makan resmi. Hari ini, siang nanti, aku harus mengunjungi pesta ulang tahun saudara ipar Hua. Malam harinya aku akan berjalan-jalan melalui Pasar Lentera, dan aku akan mampir dan melihat keadaan toko kita di Jalan Singa, di mana aku dapat makan malam secara sederhana tanpa arak bersama dua orang pengurus, tokoku."

Akan tetapi, biarpun mulutnya bicara demikian, tentu saja pikirannya melayang kepada rumah yang berlainan di Jalan Singa itu. (Lanjut ke

Jilid 10) Si Teratai Emas (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Setelah dia berkunjung kepada saudara iparnya Hua, kemudian menonton keramaian Pasar Lentera dan menikmati suasana pesta di situ, dia lalu singgah di tokonya di jalan Singa.

Dia mendengarkan laporan pekerjaan dari Pen Se dan adik ipar Wu yang untuk sementara menggantikan kedudukan Han Tao Kok yang sedang melakukan pekerjaan dan ke luar kota, kemudian Shi Men makan bersama mereka.

Sebagai seorang isteri yang amat memperhatikan keperluan suaminya, Goat Toanio telah mengirimkan makanan dan anggur ke toko itu.

Setelah makan malam, bersama dua orang pengurus tokonya Shi Men untuk beberapa lamanya menikmati suasana pesta di Pasar Lentera yang menjadi semakin meriah setelah malam tiba karena lentera-lentera itu menjadi seribu satu macam cahaya.

Kemudian Shi Men meninggalkan tokonya, bukan untuk pulang, melainkan untuk mengunjungi kekasihnya, Wang Liok Hwa, isteri dari pegawainya, Han Tao Kok, yang tinggal tidak begitu jauh dari tokonya.

Wanita ini telah mendengar akan kunjungan majikan yang juga menjadi kekasihnya ini, maka iapun sudah mempersiapkan diri, bersolek secantiknya.

"Hemm, kenapa sudah lama engkau tidak datang berkunjung ke rumah? Goat Toanio sudah dua kali mengundangmu,"

Tanya Shi Men setelah mereka berdua duduk bersanding.

"Akhir-akhir Ini saya merasa malas dan tidak bersemangat untuk pergi ke luar rumah."

"Wah, agaknya rindu kepada suamimu, ya?"

"Sama sekali tldak! Akan tetapi, kunjunganmu ke sini semakin jarang saja sehingga saya berpendapat bahwa agaknya Kongcu mulai bosan denganku. Apakah barangkali ada yang baru ?"

"Huah, omong kosong! Kesibukan Tahun Baru ini membuat aku repot dan kehabisan waktu."

"Kemarin adalah hari pesta besar di rumahmu, bukan?"

"Ya, Goat Toanio harus mengadakan pesta untuk membalas undangan yang banyak itu. Bukan pesta besar, hanya untuk pemantas saja."

Wang Liok Hwa dengan sikap manja, ingin mengetahui segala tentang pesta itu, kemudian menghela napas panjang dan berkata.

"Aih, tentu saja hanya tamu-tamu dari kalangan bangsawan saja yang diundang ke pesta di rumahmu. Orang-orang macam kami ini tentu tidak masuk hitungan."

"Bukan begitu. Pada tanggal enam belas nanti tibalah giliran pesta untuk para pengurus perusahaanku dan isteri-isteri mereka, dan engkau tentu akan diundang pula,"

Kata Shi Men menghibur.

Mereka lalu duduk menghadapi meja makan yang sudah dipersiapkan oleh pelayan dan tak lama kemudian mereka berdua minum arak yang menghangatkan hati mereka dan suasana menjadi semakin mesra.

"Apakah engkau telah menerima kirimanku, Kongcu?"

Tanya Wang Liok Hwa dengan kerling tajam memikat dan senyum manja.

"Sukakah engkau akan benda itu? Saya telah mengorbankan segumpal rambut saya untukmu "

"Wah, indah sekali barang kirimanmu itu. Terima kasih!"

Setelah tubuh dan hati menjadi panas, Shi Men lalu menelan sebutir pel kuat pemberian Pendeta Fan itu, kemudian mengajak kekasihnya pindah ke tempat tidur.

Akan tetapi, biarpun Shi Men telah meminum pel dan Wang Liok Hwa telah mengeluarkan semua keahliannya untuk menyenangkan hati kekasihnya, tetap saja Shi Men tidak kelihatan bergembira seperti biasa.

Pikirannya masih melayang-layang kepada Nyonya Hou yang telah membuatnya tergila-gila.

"Apakah engkau masih sungguh-sungguh mencintaku?"

Tanya Shi Men sambil lalu untuk menghibur pikirannya yang terus membayangkan wanita lain itu.

"Perlukah engkau bertanya lagi kepada saya, Kongcu? Aih, saya mencintamu dengan sepenuh jiwa dan ragaku, Kongcu, tanpa Kongcu, hidupku akan menjadi kosong tiada artinya bagiku. Saya selalu merasa gelisah kalau membayangkan kembalinya suamiku dari perjalanannya. Saya membencinya, bahkan untuk bicara saja dengannya saya merasa muak."

Senanglah hati Shi Men mendengar ini, percaya sepenuhnya bahwa kekasihnya bicara sesungguhnya.

"Bagaimana kalau sepulangnya nanti aku akan memberi seorang isteri lain kepadanya?"

"Ya, Kongcu, carikanlah seorang isteri lain untuknya!"

Kata Wang Liok Hwa yang kelihatan gembira.

"Kalau sudah begitu, terserah Kongcu apakah, saya akan tinggal sendirian ataukah akan Kongcu boyong ke dalam rumah keluarga Kongcu."

Ia merangkul manja.

"Sekarang tubuh dan nyawaku adalah milikmu seorang."

Shi Meh mengeluarkan selembar uang kertas.

"Ambillah ini, dan engkau boleh mengambil sebuah pakaian baru, sesukamu, di toko suteraku yang ke dua itu!"

Wang Liok Hwa mengucapkan terima kasih dengan pencurahan kasih sayang yang semakin mesra.

Ia membayangkan bahwa ia akan diboyong ke dalam keluarga Shi Men sebagai pengganti isteri Ke Enam, maka iapun mencurahkan seluruh perasaannya untuk melayani dan memuaskan hati Shi Men malam itu.

Setelah tengah malam, Shi Men naik ke atas pelana kudanya dan berangkat pulang.

Perlahan-lahan dia menjalankan kudanya melalui Jalan Singa menuju ke barat.

Jalan itu kini telah menjadi sunyi sekali, diterangi oleh sinar bulan yang dikurung awan.

Shi Men berada dalam ke adaan mabuk dan juga lelah sekali, mengantuk.

Dua orang kacungnya, A Tai dan Kiu Tung, berjalan di kanan kiri kudanya, berjaga-jaga kalau-kalau majikan mereka itu akan terjatuh dari kudanya setelah tadi mereka membantunya naik, sedangkan kacung ke tiga, Wang Ceng, membawa lentera berjalan di depan untuk menerangi jalan.

Ketika mereka tiba di ujung jalan Singa, di dekat jembatan marmar yang menyeberangi kanal, tiba-tiba Shi Men melihat bayangan aneh yang kabur, berwarna abu-abu melayang-layang keluar dari bawah jembatan dan terbang dekat sekali di depannya.

Kudanya agaknya juga melihat ini karena kuda itu meringkik kaget, mengangkat kedua kaki depan kemudian dengan ketakutan kuda itu meloncat dan lari secepatnya seperti.

di terbangkan angin dan baru setelah tiba di depan pintu gerbang rumah Shi Men, kuda itu berhenti secara mendadak dengan mulut berbuih dan tubuh gemetar.

Ketika kuda tadi kabur, Shi Men menelungkup dengan takut sekali, dan berhasil mencengkeram bulu kuda sehingga tidak terlempar jatuh, dan kini, telah kehabisan tenaga, dia melorot turun dibantu oleh penjaga pintu gerbang.

yang cepat berlari menyambutnya.

Tiga orang kacung datang dan ketakutan karena mereka tahu bahwa tadi telah bertemu dengan Malaikat Elmaut dan Ini menandakan bahwa dalam waktu dekat akan terdapat kematian.

Dalam keadaan lelah dan masih ketakutan, Shi Men dibantu oleh kacung-kacungnya, minta diantar ke pondok Kim Lian.

Kim Lian memang sedang menunggunya, dan belum tidur.

Ia membantu Shi Men membuka sepatu dan pakaian, membawanya langsung ke tempat tidur.

Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Shi Men segera tertidur.

Dia demikian lelah dan mabuk, dan kini Kim Lian hanya dapat mendengar dengkurnya saja.

Hati wanita ini mendongkol.

Sejak tadi dia menanti dengan hati penuh kerinduan, dengan gairah yang ditekan-tekan dan ditahan-tahannya.

Sekarang, setelah yang ditunggu-tunggu datang, ternyata laki-laki ini hanya datang untuk tidur mendengkur!

Ia lalu mulai mencumbu suaminya itu.

Akan tetapi Shi Men tetap saja tidur.

Karena tidak sabar lagi, Kim Lian menguncang-guncang tubuhnya sampai dia terbangun.

"Di mana engkau menyimpan pel kuat dari Pendeta Fan itu?"

Tanyanya, berbisik di dekat telinga suaminya.

"Aahh, biarkan aku tidur. Jangan ganggu aku, aku lelah sekali. Malam ini, aku tldak ingin apa-apa lagi kecuali tidur,"

Shi Men menggumam setengah sadar.

"Tapi, di mana pel itu kau simpan, Koko?"

Kim Lian mendesak. Karena tidak ingin diganggu, Shi Men menjawab dengan mata masih terpejam.

"Di dalam saku bajuku, dalam peti emas kecil"

Kim Lian cepat mencari peti kecil itu dan hatinya merasa gembira menemukan benda yang dicarinya.

Ketika tutup peti dibukanya,di situ tinggal empat butir pel.

Dia amat lelah dan tidak bergairah, kalau hanya minum sebutir sepertl biasa, mungkin kurang kuat pikirnya.

Maka iapun memasukkan empat butir pel itu ke dalam arak, lalu mengangkat leher Shi Men.

"Minumlah, koko, biar engkau tidak lemas lagi"

La membujuk.

Dalam keadaan lelah dan mengantuk, juga amat haus, Shi Men dalam keadaan setengah sadar minum semua arak dalam cawan itu tanpa membuka matanya.

Begitu arak yang mengandung cairan empat butir pel kuat Itu memasuki perutnya, nampaklah akibatnya yang amat menyenangkan hati Kim Lian.

Shi Men menjadi buas, menerkam Kim Lian seperti seekor singa kelaparan.

Dan Kim Lian mendapatkan apa yang diinginkannya sejak tadi, secara yang sangat memuaskan, lebih daripada yang diharapkan.

Akan tetapi, kegembiraannya tidak berlangsung lama.

Di tengah pergumulan ltu, tiba-tiba Shi Men menjadi lemas dan tidak bergerak lagi.

Dia telah jatuh pingsan!

Tentu saja Kim Lian menjadi terkejut dan panik.

Diguncang-guncangnya tubuh Shi Men, dipanggil-panggilnya dan dibasahinya dahi suaminya itu dengan air dingin.

Baru setelah agak lama Shi Men siuman kembali, dalam keadaan yang amat lemah.

"Koko, bagaimana perasaanmu. Apanya yang terasa sakit?"

Tanya Kim Lian dengan penuh kekhawatlran.

"Aku... aku merasa pening"

Shi Men berkata lirih dan lemah.

Tentu saja Kim Lian tidak mengatakan bahwa ia telah memberi minum suaminya empat butir pel kuat, bukan hanya sebutir seperti biasanya.

Tiada sesuatu di dunia ini yang dapat bertahan selamanya, kekuatan apapun di permukaan bumi ini akhirnya akan rontok.

Apabila minyaknya habis, lampunya akan padam dan apabila sumsumnya habis dari tulang punggungnya, seorang laki-laki akan mati.

Pada keesokan harinya, berkali-kali Shi Men jatuh pingsan dan setelah siuman, dia hanya dapat duduk seperti seorang Kakek tua renta di atas kursi, sama sekali tidak mampu berbuat apapun.

Berdiripun dia tidak kuat lagi.

Tentu saja hal ini segera diketahui oleh para pelayan dan tak lama kemudian Goat Toanio yang mendengar akan berita itu, lari memasuki pondok Kim Lian.

Di situ, ia menemukan suaminya duduk di atas kursi, hampir tidak mampu bergerak, Pandang matanya kosong dan kedua lengannya tergantung seperti mati di kanan kiri kursi.

"Aih, ke mana saja malam tadi engkau pergi?"

Tanya Goat Toanio, belum tahu bahwa keadaan suaminya amat parah.

"Tentu engkau telah minum terlalu banyak lagi."

Shi Men tidak menjawab.

"Bagaimana perasaanmu"

Tanya pula Goat Toanio, kini agak Cemas.

"Aku tak tahu... aku merasa kepalaku kosong dan segalanya berputar di depan mataku"

"Tentu engkau tidak dapat ke kantor sekarang."

"Tak rnungkin aku tidak kuat, melangkahpun kakiku berat, mantuku harus menulis beberapa kartu undangan untuk pesta malam ke lima belas."

"Sudahlah jangan memikirkan hal-hal itu. Engkau harus minum susu untuk menguatkan dirimu."

Cun Bwe, pelayan Kim Lian disuruh cepat lari mencari Yu I untuk minta sebotol air susu dari padanya.

Dengan patuh Shi Men minum susu itu, yang sudah dlcampuri obat penguat tubuh oleh Goat Toanio.

Kemudian, dipapah oleh isteri dan pelayannya, dia tertatih-tatih pergi ke kamar perpustakaan.

Akan tetapi baru beberapa langkah saja, dia harus kembali lagi karena tidak kuat.

"Engkau harus sedlkitnya beristirahat selama dua hari,"

Kata Goat Toanio, dan jangan memikirkan tentang undangan dan urusan-urusan lain..."

Isteri pertama ini lalu membujuknya untuk merebahkan diri di atas pembaringan dan tidur kembali.

Harapan Shi Men untuk dapat bangun kembali setelah mengaso beberapa jam di pembaringan, ternyata sia-sia.

Bahkan pada keesokan harinya, lambungnya terasa panas dan dia mendapat kesukaran kalau ingin kencing.

Bahkan dia sama sekali tidak dapat bangun kembali.

Tabib Yen segera dipanggil.

Ketika tabib ini memeriksa keadaan Shi Men, wajahnya berkerut dan menjadi muram.

Dia menggumam tentang penggunaan tenaga yang berlebihan, keletihan, kekosongan pada otak, dan dia memberi resep obat yang dapat mengurangi perasaan nyeri dan tersiksa dari si sakit, namun tidak mengurangi penyakitnya.

Dalam kebingungannya, Goat Toanio lalu mengundang Tabib Hou, Tabib tertua dari kota itu yang berusia delapan puluh dua tahun.

Tabib ini memeriksa dan menyatakan bahwa keadaan si sakit amat parah, kehabisan daya tahan tubuh karena tenaga yang terlalu dihamburkan dengan bersenang-senang dan menuruti nafsu birahi.

Obatnyapun tidak menolong banyak dan keadaan Shi makin hari semakin payah.

Hampir semua tabib di kota itu dan kota-kota yang berdekatan telah diundang untuk menolong, namun semua usaha yang dilakukan Goat Toanlo sia-sia belaka.

"Suamiku, apakah engkau hendak mengatakan sesuatu kepadaku?"

Akhlrnya Goat Toanio bertanya sambil menangis ketika keadaan Shi Men sudah payah sekali dan seluruh keluarganya sudah berkumpul di sekitar pembaringannya.

Beberapa lamanya Shi Men hanya memandangi mereka satu demi satu, kemudian dia menjawab lirih.

"Ya, aku ingin meninggalkan beberapa pesan terakhir. Apabila setelah aku mati engkau melahirkan anak laki-laki, aku ingin agar semua isteriku tetap tinggal bersama seperti saudara dan bersama-sama menjaga dan merawat anak itu. Dan Kim Lian, harus dapat melupakan semua perbuatannya yang telah lalu"

Goat Toanio tak dapat menahan tangisnya mendengar ini, diikuti oleh para isteri yang lain.

Setelah kebisingan itu mereda, dan setelah napasnya agak longgar, Shi Men melanjutkan, ditujukan kepada Chen Ceng Ki, mantunya.

"Mantuku, karena aku tidak mempunyai putera, engkaulah yang harus mengubur jenazahku sebagai pengganti putera dan selanjutnya, engkaulah yang harus menjadi tulang punggung keluarga kita, melindungi isteri-isteriku. Kuharap saja engkau cukup berharga untuk melaksanakan tugas itu."

Dia berhenti lagi untuk bernapas, karena napasnya sudah terengah-engah.

"Mantuku, setelah aku tiada semua toko harus dihentikan. Toko sutera perkongsianku dengan Saudara Kiao berharga lima puluh ribu ons, jual dan kembalikan modal Saudara Kiao berikut separuh dari keuntungannya. Juga dua tokoku yang lain harus di hentikan dan uangnya disimpan untuk keperluan kehidupan keluarga ini. Yang boleh dilanjutkan hanyalah toko obat yang berharga lima ribu ons, dan pegadaian yang berharga dua puluh ribu ons. Ada pula para piutang yang harus ditagih menurut daftar. Uruslah semua itu."

"Ayah mertua, saya akan mentaati semua perintahmu dengan patuh,"

Jawab Chen Ceng Ki dengan suara parau oleh keharuan.

Kemudian Shi Men menyuruh panggil semua kuasa dari toko-tokonya, juga pegawai-pegawai terpenting.

Kepada mereka dia mengulangi permintaannya tadi dan mereka semua berjanji akan mentaati.

Sesudah itu, Shi Men hanya bertahan hidup satu hari lagi saja.

Teman-temannya berdatangan untuk menjenguknya di ranjang kematiannya, dan pada keesokan harinya, setelah mengalami sekarat sampai berjam-jam lamanya dengan sengsara, menderita kenyerian yang hebat, diapun meninggal dunia dalam usia yang tidak lebih dari empat puluh empat tahun.

Seluruh keluarganya menangisi kematian Shi Men.

Akan tetapi Goat Toanio, yang memiliki watak tenang, tidak mau tenggelam dalam kedukaan.

Ia segera menyuruh adik laki-lakinya dan seorang pegawai untuk cepat memesan peti mati yang patut, dan mengambilkan uang untuk keperluan itu.

Akan tetapi baru saja hal ini selesai ia lakukan, tiba-tiba ia merasa perutnya nyeri dan iapun segera dipapah oleh para pelayat dalam keadaan kesakitan ke dalam kamarnya.

Dan pada saat di dalam kamar kematian orang masih menangisi kematian Shi Men, di lain kamar terdengar pula jeritan yang nyaring dari seorang anak laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh Goat Toanio.

Pada jam yang sama, Goat Toanio telah menjadi janda dan juga menjadi Ibu.

Tentu saja karena baru saja melahirkan, Goat Toanio tidak dapat ikut berkabung di dekat peti jenazah suaminya.

Banyak tamu berdatangan untuk menyatakan ikut berbelasungkawa, melayat.

Nampak pula Bi Hwa, gadis penyanyi yang menjadi kekasih Shi Men datang melayat dan ia disambut oleh Bibinya, yaitu Li Kiao yang menjadi isteri ke dua dari Shi Men.

Dalam kesempatan ini, Bi Hwa menyampaikan pesan Ibunya kepada Bibinya bahwa setelah Shi Men meninggal dunia, Bibi Li Kiao itu telah bebas dan diharapkan kembali ke rumah pelesiran.

"Ibu memesan agar Bibi jangan begitu bodoh, membiarkan diri menjadi janda selamanya tinggal di sini. Sebaiknya Bibi mengumpulkan uang dan perhiasan sebanyak mungkin, dan kembali kepada kami. Bibi harus mengingat masa depan Bibi sendiri."

Demikian Bi Hwa mengakhiri pesan itu.

Li Kiao tentu saja memperhatikan pesan ini dan berjanji akan bertindak semestinya.

Wang Liok Hwa juga melayat, akan tetapi tak seorangpun dari isteri-isteri Shi Men mau menyambutnya.

Dari A Tai, ia mendengar bahwa para isteri itu menyalahkannya karena bagaimanapun juga, Shi Men jatuh sakit setelah malam sebelumnya datang berkunjung kepadanya.

Tentu saja Wang Liok Hwa merasa malu dan marah, dan diam-diam ia berjanji akan membalas penghinaan ini.

Semenjak hari kematian Shi Men, banyak kesempatan didapatkan oleh Kim Lian dan Chen Ceng Ki untuk mengadakan pertemuan.

Setiap hari kedua orang ini mengadakan pertemuan rahasia untuk mengadakan perjinaan, memuaskan gejolak berahi mereka setelah kini mereka tidak melihat adanya penghalang lagi.

Shi Men telah mati, dan Goat Toanio tidak dapat meninggalkan kamarnya maka mereka berdua bermain cinta sepuas hati mereka.

Demikianlah kesetiaan hanya menjadi janji mulut belaka.

Beberapa hari setelah Shi Men mati, selagi jenazahnya masih hangat berada di dalam peti jenazah dan belum dikubur, masih di dalam lingkungan rumahnya, isterinya yang paling disayangnya mengkhianatinya, berjina dengan mantunya sendiri!

Sementara itu, Li Kiao, isteri ke dua Shi Men, juga sudah bersiap-siap mengumpulkan uang dan perhiasan sebanyak mungkin.

Setelah jenazah suaminya dikubur, ia selalu mencari kesempatan untuk dapat berselisih pendapat dengan Goat Toanio.

Kesempatan itu tiba ketika pada suatu sore ia mendengar dari pelayan bahwa Goat Toanio sedang minum teh bersama Mong Yu Lok, isteri ke tiga.

Li Kiao memasuki ruangan itu dan menangis karena merasa dihina dan tidak dihargai oleh Goat Toanio.

Kenapa kalau Mong Yu Lok diajak minum teh bersama, ia yang menjadi isteri ke dua tidak diundang?

Ia menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang suaminya dan menangis bergulung-gulung seperti gila.

Bahkan malam itu ia berusaha untuk menggantung diri, dan tentu saja para pelayan mencegahnya.

Melihat ini, Goat Toanio menjadi marah, memanggil Bibi Li dan minta agar Bibi Li mengajak Li Kiao kembali ke rumah pelesiran.

Inilah yang dikehendaki Bibi Li, juga Li Kiao.

Wanita seperti Li Kiao adalah wanita yang menganggap tubuhnya sebagai barang dagangan.

Siapa mampu membelinya, dia akan memiliki tubuhnya.

Pembeli terakhir adalah Shi Men, maka begitu Shi Men meninggal dunia, iapun merasa dirinya bebas untuk dijual kepada siapa saja yang mau dan mampu membelinya.

Wanita seperti ini tidak pernah mengenal arti cinta antara suami-isteri, rnelainkan hanya mengejar pemuasan nafsu berahi dan nafsu untuk hidup wah dan senang.

Ketika puteranya berusia hampir satu.

tahun, Goat Toanio ingin sekali memenuhi, keinginannya yang sudah lama terpendam di dalam hatinya, yaitu mendaki Gunung Thai-San untuk bersembahyang.

Perjalanan itu akan memakan waktu kurang lebih dua minggu dan ia dikawal oleh Kakaknya dan dua orang kacung yaitu Lai An dan A Tai.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di kota distrik Tai-An-Couw, dan Gunung Thai-San sudah nampak menjulang tinggi di depan mereka.

Mulailah mereka mendaki Gunung Thai-San.

Perjalanan yang cukup melelahkan dan sukar.

Tujuannya adalah sebuah Kuil di satu diantara puncak Pegunungan Thai-San yang tidak begltu tinggi namun cukup melelahkan bagi Goat Toanio walaupun ia dipikul dalam sebuah joli.

Ketika mereka kemalaman di lereng gunung, mereka melihat sinar api di kejauhan.

Mereka segera menghampirinya dan ternyata api itu adalah lampu minyak yang menyinar dari dalam sebuah guha dan seorang Pertapa duduk bersila di situ.

Kakak Goat Toanio segera memberi salam dan menanyakan jalan ke Kuil yang mereka ingin kunjungi.

"Pinto adalah Pertapa Pu Ceng yang sudah tiga puluh tahun bertapa dan tinggal di guha"

Kata Kakek itu.

"Kalian berada di lereng timur Thai-San. Bukan kebetulan saja kalian tiba di guha ini, melainkan sudah dlkehendaki oleh Takdir. Kelak akan kalian rnengerti sendiri. Akan tetapi sebaiknya kalian tidak melanjutkan perjalanan malam ini. Di daerah ini tidak aman, terdapat perampok dan binatang buas. Kalian boleh melewatkan malam di sini dan besok Pinto (saya) akan menunjukkan jalan kepada kalian."

Terima kasih, Totiang (bapak Pendeta),"

Kata Kakak Goat Toanio.

"Siapakah Nyonya itu?"

Tanyanya.

"Nyonya itu adalah adik saya, janda dari mendiang Hakim Distrik Ceng-Ho-Sian."

Sepasang mata yang tajam dari Pertapa itu mengamati Goat Toanio penuh perhatian.

Kemudian ia menunjukkan kamar-kamar dalam guha yang luas itu kepada para tamunya.

Pada kesokan harinya, ketika hendak melanjutkan perjalanan setelah mengaso semalam dalam guha yang melindungi mereka dari kegelapan dan angin dan hawa dingin itu, Goat Toanio hendak menghadiahkan segulung kain untuk membalas kebaikan Pertapa itu.

Akan tetapi Pertapa itu menggeleng kepala dan berkata.

"Pinto tidak menghendaki benda, akan tetapi menginginkan putera Toanio. Dia akan menjadi murid Pinto dan kelak melanjutkan pekerjaan Pinto yang suci."

Tentu saja permintaan ini mengejutkan hati Goat Toanio yang memandang kepada Kakaknya dengan bingung.

"Memang benar bahwa adik saya mempunyai seorang putera, akan tetapi puteranya hanya seorang itu,"

Kata Wu, Kakak Goat Toanio.

"Kelak dia akan menjadi ahli waris tunggal dari, keluarganya, dan akan melanjutkan pekerjaan Ayahnya. Karena itu, kiranya Totiang maklum bahwa tidak mungkin kami memenuhi permintaan Totiang. Andaikata ia memiliki beberapa orang putera, tentu akan senang sekali ia memenuhi permintaan Totiang."

"Juga puteraku itu masih terlalu kecil, belum satu tahun usianya, sehingga tidak akan ada gunanya bagi Totiang,"

Goat Toanio menambahkan.

"Pinto dapat menunggu,"

Kakek itu mendesak.

"Dalam waktu lima belas tahun Pinto akan mengulangi permintaan Pinto. Apakah Toanio akan memenuhi permintaan Pinto kelak?"

Goat Toanio berpikir.

la tidak ingin menyinggung perasaan Kakek yang sudah begitu baik kepadanya.

Dan lima belas tahun adalah waktu yang lama, segala boleh terjadi dalam waktu selama itu, Kakek ini mungkin sudah mati, dan urusan itupun akan dilupakan.

"Baiklah, saya setuju. Setelah lewat lima belas tahun, Totiang boleh mengambil puteraku,"

Katanya dengan hati ringan.

Kita pada umumnya demikian mudah melempar janji, dan kita mengabaikan urusan kecil.

Kita lupa bahwa api yang besar berkobar itu dimulai dari api kecil.

Segala sesuatu terjadi karena kata-kata yang keluar dari mulut kita.

Oleh karena itu, orang bijaksana lebih suka menutup mulut daripada membukanya.

Selalu yakin bahwa, sekali membuka mulut, yang masuk mulut hanyalah yang bersih dan bermanfaat saja, sebaliknya yang keluar dari mulut juga hanya yang bersih dan bermanfaat saja.

Setelah selesai bersembahyang di Kuil Pegunungan Thai-San itu, Goat Toanio pulang dan ia disambut dengan gembira oleh semua anggauta keluarga.

la segera bersembahyang di depan meja sembahyang suaminya, kemudian menimang puteranya yang sudah dirindukannya, dan mengambil keputusan untuk beristirahat di dalam kamarnya selama dua tiga hari untuk melenyapkan kelelahan yang diderita tubuhnya selama melakukan perjalanan mendaki gunung itu.

Hubungan jina antara Kim Lian dan Chen Ceng Ki sudah menjadi rahasia umum bagi semua keluarga di rumah itu.

Siauw Giok, pelayan Giok Toanio, sudah merasa gatal mulut untuk melaporkan peristiwa memalukan itu kepada majikannya.

Akan tetapi ia ingin agar majikannya menangkap basah pertemuan rahasia itu agar ia tidak dituduh pelempar fitnah tanpa bukti.

Ia harus hati-hati menghadapi Kim Lian yang licik dan cerdik.

Karena itu, setelah majikannya pulang, mulailah ia membayangi Kim Lian dan melakukan pengintaian.

Beberapa hari kemudian, usahanya berhasil.

la melihat Kim Lian dan Cheng Ceng Ki memasuki kamar di loteng.

Cepat ia menghadap Goat Toanio dan membuat laporan.

"Sudah lama sekali mereka mengadakan hubungan kotor,"

Katanya mengakhiri pelaporannya.

"Bahkan saat inipun mereka sedang berjina di dalam kamar di atas loteng. jika Toanio tidak percaya kepada saya, marilah, Toanio dapat melihat dan membuktikannya sendiri."

Goat Toanio cepat bangkit dan mengikuti Siauw Giok memasuki taman.

Pada saat itu, Kim Lian sedang berpelukan dan berciuman dengan Chen Ceng Ki, ketika Siauw Giok lari naik ke loteng sambil membuka pintu kamar loteng dan berteriak.

"Awas Goat Toanio datang!"

Mendengar ini, Chen Ceng Ki berlari keluar kamar dengan hati merasa tidak enak sekali. Kemudian barulah Kim Lian keluar dari dalam kamar, rambutnya awut-awutan, demikian pula pakaiannya.

"Hemm, engkau sepatutnya memiliki sopan santun dan menjaga tata susila di rumah tangga ini!"

Kata Goat Toanio marah dan iapun lalu membalikkan tubuhnya, meninggalkan Kim Lian yang berdiri dengan muka merah.

Dan akibatnya, malam itu Chen Ceng Ki bertengkar dengan isterinya yang mendengar akan hal itu dari Goat Toanio.

Ceng Ki dapat menerima makian isterinya tentang ketidaksetiaannya, akan tetapi dia bangkit marah ketika isterinya memakinya sebagai orang yang hidup bermalasan dan tidak tahu malu bersandar kepada keluarga Ayahnya.

"Siapa yang bersandar?"

Bentaknya.

"Bukankah ketika aku datang ke sini, aku menanam saham sebanyak lima ratus ons? Akupun bekerja di sini, bukan bermalas-malasan saja!"

Teriaknya dan dengan marah diapun pergi meninggalkan isterinya yang menangis.

Tentu saja peristiwa itu tidak memungkinkan bagi Kim Lian dan Ceng Ki untuk mengadakan pertemuan rahasia lagi.

Sampai sebulan mereka tak pernah saling bertemu, bahkan tidak pernah saling berpapasan.

Tentu saja keduanya merasa rindu dan gelisah sekali.

Pada suatu hari, Ceng Ki berjumpa dengan Bibi Pi, seorang yang sudah biasa menjadi perantara dalam pernikahan maupun dalam pencarian seorang calon selir.

Dia mengajak wanita tua itu ke dalam sebuah kedai arak dan di situ, sambil berbisik-bisik dia menceritakan bahwa dia telah mengadakan hubungan rahasia dengan Kim Lian dan betapa mereka berdua telah dipergoki Goat Toanio sehingga selama sebulan terakhir ini mereka merasa tersiksa dan sama sekali tak pernah dapat saling bertemu.

Bibi Pi rnembelalakkan matanya dan bertepuk tangan menyatakan keheranan dan kekagetannya mendengar keterangan Ceng Ki itu.

"Ya TUHAN, engkau sungguh keterlaluan sekali, Kongcu Bermain cinta dengan selir dari Ayah mertua sendiri,! Sungguh suatu pelanggaran dari kesusilaan. Nah, apa yang dapat kulakukan dalam urusan ini?"

"Tolonglah aku untuk menyampaikan suratku ini kepadanya."

"Ah, begitukah? Baiklah, akan kuadakan kunjungan kepada Goat Toanio dan kesempatan itu dapat kupergunakan untuk menghadap padanya."

Tentu saja Ceng Ki menjadi girang, menyerahkan suratnya berikut satu ons uang untuk "minum teh."

Pada hari berikutnya, Bibi Pi mengunjungi keluarga Shi Men.

Pertama-tama ia menghadap Goat Toanio, menawarkan beberapa macam perhiasan rambut seperti yang sering ia lakukan.

Kemudian iapun berkunjung kepada Nyonya ke Tiga dan ke Empat, dan untuk menjaga agar tidak dikatakan tidak sopan, iapun berkunjung kepada Nyonya ke Lima.

Pada saat itu, Kim Lian sedang menghibur hatinya yang kesepian dengan minum arak, dilayani oleh Cun Bwe, pelayannya.

Melihat betapa kedua orang wanita itu dalam keadaan gembira karena pengaruh arak, Bibi Pi lalu berbisik.

"Kemarin Tuan Muda Mantu mengunjungi saya dan mengeluh betapa kerasnya Nyonya Pertama memegang peraturan di dalam keluarga ini. Dia minta kepada saya untuk menyerahkan surat ini kepadamu, agar Nyonya ketahui bahwa dia bersungguh-sungguh dalam hatinya. Dia mengharapkan agar Nyonya tidak berputus asa."

Kim Lian membaca surat pendek itu di mana Ceng Ki menyatakan perasaan hatinya yang penuh rindu, dan mengharapkan agar kelak mereka akan dapat memperoleh jalan sehingga mereka dapat hidup sebagai suami-isteri.

Setelah membacanya, senyum kegembiraan kembali muncul di bibir Kim Lian yang mungil, dan isi surat itu ternyata telah melegakan hatinya.

"Cheng-Kongcu minta agar Nyonya suka membalas atau memberi tanda bahwa suratnya telah Nyonya terima,"

Kata Bibi Pi yang pandai sekali dalam urusan semacam itu.

Kim Lian masuk ke dalam kamarnya, mengambil sehelai saputangan sutera putih dan sebuah cincin emas.

Di atas saputangan putih itu ia tuliskan kata-kata tentang pernyataan dan setianya, juga kerinduannya kepada Ceng Ki.

Bibi Pi cepat menyimpan surat saputangan itu dan cincinnya, berikut pula upahnya sebanyak lima potong uang, dan cepat ia keluar dari rumah keluarga itu dan menjumpai Ceng Ki yang telah menantinya di kedai arak.

Setelah menyerahkan saputangan dan cincin yang diterima dengan girang oleh Ceng Ki, ia memberitahukan bahwa sebelum pergi tadi ia dipanggil oleh Goat Toanio dan diberitahu bahwa ia harus kembali malam hari itu untuk membawa pergi Cun Bwe karena dianggap bahwa Cun Bwe bekerja sama dengan Kim Lian dalam hubungannya dengan Ceng Ki, bahkan pelayan itu sendiripun mempunyai hubungan dengan Ceng Ki.

Karena itu, menurut Goat Toanio, ia harus dikeluarkan dan dijual kepada keluarga lain.

Mendengar ini, Ceng Ki menarik napas panjang.

Goat Toanio yang berkuasa dalam keluarga itu, dan dia tidak dapat berbuat sesuatu dan tidak berani menentang keputusan yang di-ambilnya.

Malam itu, Bibi Pi kembali menghadap Goat Toanio.

"Dahulu aku membelinya darimu untuk enam belas ons,"

Kata Goat Toanio kepada perantara ini.

"Sekarang aku hanya minta harga yang sama."

Kemudian Goat Toanio dengan sikap tenang berwibawa berkata kepada Siauw Giok, pelayannya sendiri.

"Bawa Bibi Pi kepada Cun Bwe. Ia harus membawa semua miliknya sendiri dan siap untuk berangkat sekarang juga bersama Bibi Pi. Akan tetapi semua pakaian dan perhiasannya tidak boleh dibawa."

Kim Lian terkejut sekali melihat Bibi Pi datang lagi dan memberitahukan bahwa ia diperintahkan oleh Goat Toanio untuk membawa pergi Cun Bwe malam itu juga.

Ia merasa berduka karena harus kehilangan satu-satunya orang di dalam rumah itu yang dipercayanya.

"Aih, kami telah menjadi sahabat baik,"

Katanya dengan mata basah.

"Sejak kematian suamiku, kami telah mengalami banyak kesulitan bersama, dan sekarang ia diambil dariku, ini sungguh kejam, sungguh jahat Goat Toanio terhadap diriku! Hanya karena dapat mempunyai seorang anak yang buruk itu ia mengira bahwa ia dapat menginjak-injak kami!"

Betapapun juga, Kim Lian tidak mungkin dapat membantah atau menentang keputusan yang diambil oleh Goat Toanio yang kini menjadi orarng yang paling berkuasa di dalam rumah tangga itu.

la dan Cun Bwe hanya dapat saling rangkul, dan bertangisan ketika pembantunya itu berpamit.

Pada keesokan harinya, Chen Ceng Ki mengunjungi rumah Bibi Pi dan minta bertemu dengan Cun Bwe.

"Bagus sekali engkau ini!"

Cun Bwe menyambutnya dengan celaan.

"Engkau dan majikanku telah melempar aku ke dalam lembah kesengsaraan!"

"Adik manis,"

Kata Ceng Ki dengan ramah.

"Setelah engkau pergi aku tidak tahan lagi tinggal di rumah itu. Aku telah mengambil keputusan untuk menceraikan isteriku dan menikah dengan majikanmu. Akan tetapi aku harus lebih dulu pergi ke Ibukota Timur untuk berunding dengan orang-tuaku. Dan untukmu sendiri, dengan bantuan Bibi Pi, kuharap dengan setulus hatiku agar engkau dapat memperoleh jodoh yang baik."

Dan Bibi Pi memang merupakan seorang perantara yang pandai sekali.

Baru beberapa hari saja, ia telah dapat menarik hati Pembesar Chouw yang berani membeli gadis muda yang segar dan hangat, juga pandai dan cantik dengan harga lima puluh ons.

Bibi Pi mengantungi keuntungan tiga puluh empat ons dalam jual beli ini, dan dengan wajah berseri ia menyerahkan enam belas ons kepada Goat Toanio.

Di depan Goat Toanio, ia masih dapat mengeluh bahwa ia hanya menerima hadiah satu ons saja dari pembesar yang membeli Cun Bwe, dan tentu saja Goat Toanio tidak tinggal diam dan memberinya hadiah setengah ons lagi.

Demikianlah nasib Cun Bwe, seorang gadis yang tidak mempunyai hak atas dirinya sendiri yang dijadikan seperti barang dagangan, dapat diperjual-belikan sesuka hati yang "memilikinya"

Atau menguasainya.

Pada suatu hari, Chen Ceng Ki dan Pengurus Toko Obat yang bernama Fu sedang sibuk melayani para langganan, ketika pengasuh Yu I masuk menggendong putera Goat Toanio.

Melihat banyak orang yang tidak dikenalnya di tempat itu, anak itu mulai merengek dan menangis.

"Diamlah engkau, anak nakal!"

Ceng Ki membentak dan seketika anak itu diam karena takut dibentak seperti itu. Melihat hasil ini, Ceng Ki berkata kepada para langganan yang berada di situ.

"Lihat, dia mentaati perintah Ayahnya. Aku adalah Ayahnya, tentu saja."

Tentu saja ucapan ini dimaksudkan sebagai kelakar, akan tetapi Yu I menerimanya dengan hati panas karena marah.

"Bagus sekali apa yang kau katakan di depan semua orang ini. Tunggu saja. Akan kuberitahukan majikanku!"

"Kalau kau berani, akan kutendang pinggulmu!"

Ceng Ki masih berkelakar dan membuat gerakan seolah-olah hendak menendang pinggul Yu I.

Akan tetapi Yu I tidak melayani kelakar Ceng Ki, bahkan segera lari dengan marah menghadap Goat Toanio dan melaporkan kejadian itu.

"Coba Nyonya bayangkan, tuan muda Ceng Ki mengatakan di depan semua orang bahwa dia adalah Ayah dari putera Nyonya!"

Mendengar ini, wajah Goat Toanio menjadi merah sekali.

Keterlaluan kelakar Ceng Ki itu yang dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya, seolah-olah mengatakan bahwa ia telah berbuat serong dengan mantu suaminya!

Seketika ia jatuh pingsan.

Tentu saja seluruh keluarga menjadi panik dan lari berdatangan mendengar jeritan Siauw Giok dan Yu I.

Setelah Goat Toanio ditolong, diberi minum jahe hangat dan siuman kembali, ia tidak dapat berkata apa-apa saking marahnya.

Para isteri yang lain, juga para pelayan, mengundurkan diri dan hanya Sun Siu Oh, Nyonya ke empat saja yang masih tinggal.

Sun Siu Oh memang sejak dahulu merasa tidak suka kepada Kim Lian yang dianggap memonopoli suami mereka.

Kini ia memperoleh kesempatan untuk menyatakan tidak sukanya kepada saingan itu di depan Goat Toanio.

"Ceng Ki tentu merasa jengkel karena engkau tidak membolehkan dia bermain gila dengan Kim Lian, dan juga karena engkau telah mengusir Cun Bwe. Karena itu dia menyatakan kejengkelannya dengan menghinamu. Kalau aku menjadi engkau, Taci, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan bertindak. Engkau tidak akan dapat tenteram sebelum menyingkirkan pasangan yang busuk itu. Satu-satunya kesukaran hanyalah bahwa kita harus mengingat kepada puteri suami kita. Akan tetapi bagaimanapun juga, setelah ia menikah ia sudah menjadi keluarga lain. Tidak seorangpun akan membenarkan kalau engkau terus menahan mereka tinggal di sini, selamanya. Kalau aku, hemm, aku akan memberi hukuman cambuk kepada Ceng Ki, kemudian aku akan mengusirnya. Dan aku akan memanggil Bibi Wang agar membawa pergi Kim Lian dari sini. Dengan adanya perempuan yang selalu mendatangkan keributan itu di sini, hidup kita takkan tenteram. Ia harus pergi dari sini. Untuk apalagi mempertahankan seorang yang jahat sepertinya"

Goat Toanio mendengarkan ucapan itu dengan hati yang sedang marah dan iapun mengangguk, menyetujui ucapan madunya dan berunding dengan Sun Siu Oh, tindakan apa yang harus diambil.

Pada keesokan harinya mereka melaksanakan rencana mereka.

Dengan alasan hendak membicarakan urusan perusahaan, Chen Ceng Ki dipanggil menghadap di ruangan duduk.

Begitu dia muncul, Goat Toanio memerintahnya untuk berlutut, sambil membentak.

"Apakah engkau mengakui kesalahanmu?"

Akan tetapi Chen Ceng Ki tidak mau berlutut dan tidak mau mengakui kesalahannya, maka, atas isyarat Goat Toanio, delapan orang pelayan yang kuat-kuat dan yang tadi bersembunyi di balik tirai, kini datang mengepung Ceng Ki dan mengeroyok, memukulinya dengan tongkat-tongkat panjang dan pendek.

Tentu saja Ceng Ki terkejut sekali dan percuma saja dia mencoba melakukan perlawanan karena tubuhnya sudah dihujani pukulan tongkat-tongkat itu sehingga dia roboh ke atas lantai.

Dia menjadi panik sekali.

Bisa mati dia dikeroyok dan dipukuli wanita-wanita yang sedang marah ini.

Maka muncullah suatu gagasan yang baik untuk menyelamatkan dirinya.

Cepat dia membuka dan memerosotkan celananya sehingga bertelanjang.

Melihat ini, delapan oreng wanita itu tentu saja menjadi malu sekali dan mereka segera mengundurkan diri, berlarian bersembunyi di balik tirai seperti kanak-kanak melihat setan.

Goat Toanio sendiri diam-diam merasa geli dan untung ia masih dapat menahan diri untuk tidak tertawa.

Melihat Ceng Ki merangkak bangun dan melarikan diri tanpa berkata sepatahpun kata, ia hanya memaki.

"Manusia tak tahu malu!"

Sambil melarikan diri, Ceng Ki memuji diri sendiri.

Akalnya tadi sungguh baik dan telah menyelamatkan dirinya, karena setidaknya dia tentu akan mengalami siksaan dan luka-luka kalau pengeroyokan tadi dilanjutkan.

Goat Toanio menyuruh pelayan Lai An mengejar Ceng Ki dan memberitahu bahwa orang itu harus segera membuat perhitungan dan menyerahkan urusan toko kepada pengurus Fu.

Chen Ceng Ki maklum bahwa tak mungkin dia tinggal terus di rumah itu, maka diapun mengemas barang-barangnya dan pergi hari itu juga meninggalkan keluarga itu mengucapkan selamat tinggal.

Dia pergi pindah ke rumah orang-tuanya, di mana Paman dan Bibinya Chang tinggal.

Beberapa hari kemudian Goat Toanio yang sudah berhasil mengusir Chen Ceng Ki, mengutus kacung A Tai ke rumah Bibi Wang.

Belum lama ini, Bibi Wang telah menutup kedai tehnya, karena puteranya yang tadinya bekerja keluar kota kini telah pulang, berhasil mengumpulkan sedikit modal dan kini membuka penggilingan gandum di pekarangan rumah mereka.

Bibi Wang menerima kacung A Tai.

"Aih, sudah lama sekali aku tidak mendapatkan kehormatan kunjungan dari keluarga majikanmu. Tentu engkau datang atas suruhan Nyonya Ke Lima. Apakah barangkali ia ingin minta bantuanku dalam suatu hal?"

"Sama sekali tidak "

Jawab A Tai.

"Yang mengutus aku ke sini adalah Nyonya Pertama. Ia menghendaki agar bibi mengambil Nyonya Ke Lima dan mencarikan seorang suami untuknya. la telah berbuat serong dan melakukan hubungan gelap dengan tuan muda Chen, mantu majikan."

"Ya TUHAN, sungguh memalukan! Aku pernah berkata kepada diri sendiri bahwa Ia takkan dapat bertahan lama setelah majikan Shi Men meninggal dunia. Ketika suaminya. masih hidup dan aku pernah datang berkunjung, wah sombongnya bukan main dan Ia hampir tidak mengenalku lagi. Aku diberi suguhan teh murah dan ketika aku pulang, aku diberi penjepit rambut yang patah. Sekarang, lenyaplah semua kemuliaan darinya."

Ketika Kim Lian dipanggil oleh Goat Toanio.

diberitahu akan keputusan yang diambil, bahwa ia harus meninggalkan keluarga itu, diam-diam Kim Lian merasa lega.

Semenjak kepergian Chen Ceng Ki dan pelayannya, Cun Bwe, ia memang sudah merasa tidak tahan lagi tinggal dalam kungkungan keluarga itu, merasa seperti dalam penjara.

Akan tetapi, mendengar keputusan itu, ia bersikap pura-pura penasaran, seolah-olah orang tak berdosa menerima hukuman.

"Apakah yang kulakukan maka engkau mengusir aku begini tiba-tiba sekali?"

Ia bertanya dengan Suara penuh rasa penasaran kepada Goat Toanio.

"Sesungguhnya tidak benar kalau engkau mendengarkan celoteh para pelayan yang melontarkan fitnah kepadaku sehingga engkau mengusir aku begini kejam setelah aku tinggal di sini sebagai saudaramu selama bertahun-tahun. Tentu saja aku tunduk kepada perintahmu yang memegang kekuasaan di sini. Akan tetapi, tidak sepantasnya kalau engkau memamerkan kekuasaan sampai berlebihan dan memukul rekan sendiri di mukanya."

Tak seorangpun di antara para anggauta keluarga yang mengantar Kim Lian keluar, kecuali Siauw Giok yang diam-diam merasa kasihan juga melihat pengusiran terhadap Kim Lian.

Siauw Giok mengantarnya sampai ke pintu gerbang dan memberikan dua buah tusuk sanggul dari emas kepada Kim Lian.

"Terima kasih, engkau ternyata masih memiliki perikemanusian,"

Kata Kim Lian yang merasa oleh sikap Siauw Giok.

Kemudian ia memasuki joli, dan beberapa orang kuli yang dikirim Bibi Wang, memikul dua buah peti pakaian Kim Lian.

Dunia berputar terus!

Nasib ikut pula berputar, ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah!

Karena maklum akan hal ini, bahwa manusia tidaklah abadi, seorang bijaksana tidak menjadi mabuk dan tinggi hati apabila sedang berada di atas akan tetapi juga tidak putus asa dan rendah diri apabila sedang berada di bawah.

Di dalam rumah Bibi Wang, Kim Lian Menempati sebuah kamar, duduk sendiri, akan tetapi di Waktu malam ia harus tidur dalam satu kamar dengan Nenek itu.

la menghabiskan waktunya dengan berias diri kemudian berdiri di depan untuk melihat orang-orang yang lalu lalang, presis seperti keadaannya dahulu.

Atau ia duduk dalam kamarnya dan bermain siter, atau kadang-kadang ia bermain kartu dengan Chouw, putera Bibi Wang, kalau kebetulan Bibi Wang pergi.

Dalam kesepian dan haus kasih sayang pria, dalam waktu beberapa hari saja, diam-diam Kim Lian telah mengadakan hubungan gelap dengan Chouw, Pada malam hari, kalau Bibi Wang telah pulas, dia meninggalkan kamar itu dan masuk ke dalam kamar pemuda itu untuk menyalurkan gairahnya yang tak pernah padam!

Berbeda sekali dengan nasib Kim Lian, Kini Cun Bwe, bekas pelayan Kim Lian, mendapatkan nasib yang amat baik sebagai seorang selir dari Pembesar Chouw yang terkasih, ia menjadi isteri ke tiga, akan tetapi karena isteri pertama sudah tua dan berpenyakitan sehingga setiap hari hanya tinggal di dalam kamar sedangkan isteri ke dua baru saja melahirkan seorang anak perempuan, maka segala urusan rumah tangga berada di tangan Cun Bwe sehingga seolah-olah kedudukannya bukan Isteri Ke tiga, melainkan yang pertama.

Pada suatu hari, Bibi Pi yang menjadi perantara datang berkunjung dan dari perantara ini, Cun Bwe mendengar bahwa Kim Lian telah diusir dari rumah keluarga Shi Men dan kini tinggal di rumah Bibi Wang, dengan masa depan yang tidak tentu akan nasib bekas majikannya itu, tergeraklah hati Cun Bwe dan ia kasihan sekali, Ia segera membujuk suaminya dengan kedua mata basah air mata.

"Ia adalah sahabatku, sepenanggungan dan kawan sependeritaan. Aku merasa kasihan sekali padanya. Aku akan berterima kasih sekali kalau engkau mengambilnya sebagai isterimu Kalau engkau suka menerimanya, biarlah aku mengalah dan aku menjadi Yang Ke Empat dan ia menjadi Yang Ke Tiga."

Cun Bwe lalu menceritakan tentang kecantikan Kim Lian, memuji-mujinya dengan maksud agar suaminya suka menerima bekas majikannya itu.

Tentu saja penawaran isteri tercinta ini menggerakkan pula hati Pembesar Chouw.

Dia lalu menyuruh dua orang kepercayaannya untuk melakukan penyelidikan apakah benar seperti yang digambarkan oleh Cun Bwe, tentang kecantikan wanita yang berada di rumah Bibi Wang, menghubungi Bibi Wang.

Agaknya matahari mulai bersinar terang lagi bagi nasib Kim Lian!

Niat baik dari Cun Bwe yang penuh setiakawanan itu membuka kesempatan besar baginya untuk kembali memasuki kehidupan yang penuh dengan kemewahan dan kesenangan!

Akan tetapi, hal inipun belum dapat ditentukan melihat adanya awan hitam tebal yang perlahan-lahan terbawa angin mendekat matahari, mengancam untuk menutup kembali sinar matahari yang baru saja muncul sehabis hujan.

Para pembaca tentu masih ingat kepada Bu Siong, pendekar perkasa pembunuh harimau dengan tangan kosong itu!

Dia telah menjalani hukuman buang, kini telah diberi pengampunan dari Istana, bahkan dia diperbolehkan menduduki kembali jabatannya sebagai Komandan Keamanan di distrik.

Bu Siong melakukan perjalanan jauh dan pada suatu hari tibalah dia di Ceng-Ho Sian.

Dengan Surat keputusan pembebasan dan pengangkatannya kembali sebagai komandan keamanan, dia menghadap pembesar setempat dan diterima dengan gembira karena para pejabat tentu saja senang dengan adanya seorang kepala jaga yang demikian lihainya untuk menjaga keamanan di kota mereka.

Dia tinggal di bekas rumah mendiang Kakaknya, Bu Toa, yang berada di Jalan Batu Ungu Dia lalu mengambil keponakannya, Bu Ying, yang dahulu di titipkan kepada keluarga Yao yang menjadi tetangga.

Ketika dia mengambil keponakannya, dia mendengar banyak hal dari para tetangga.

Dia mendengar bahwa musuhnya, Shi Men, telah meninggal dunia, dan bahwa bekas Kakak iparnya, Kim Lian kini tinggal bersama Bibi Wang dan kabarnya akan menikah lagi.

mendengar tentang Kim Lian, dendam dalam hatinya berkobar dan dia mengambil keputusan untuk melaksanakan pembalasan sakit hati yang sudah di kandungnya terlalu lama itu.

Pada keesokan harinya, dia mengenakan pakaian baru dan berkunjung ke rumah Bibi Wang, Kim Lian yang seperti biasa berdiri di ambang pintu depan telah melihat kedatangannya dari jauh dan segera mengenalnya.

Dengan wajah pucat ketakutan, Kim Lian melarikan diri ke dalam rumah dan bersembunyi ke dalam kamar.

Bu Siong melihat hal itu, akan tetapi dia diam saja dan melihat Bibi Wang di pekarangan sibuk dengan penggilingan gandum, Bu Siong memberi hormat dengan ramah.

Bibi Wang juga terkejut melihat munculnya pendekar ini, dengan gugup mempersilakan tamunya masuk ke depan, dan menyambut dengan gembira.

"Ah, kiranya engau telah tiba ke rumah."

Nenek ini menyambut Bu Siong Ciangkun (Perwira) untuk mengambil hati.

"Ya, aku telah diampuni dan aku telah kembali untuk beberapa hari lamanya. Aku ingin menghaturkan terima kasih atas kebaikanmu yang telah membantu untuk mengamati rumah kami selama aku tidak ada!"

Bibi Wang menarik napas lega.

"Aih, Ciangkun kini sungguh telah berubah sekali. Engkau tampan dan gagah daripada dahulu. Dan jenggot itu cocok sekali untukmu. Tentu kehidupan di tempat jauh itu telah menambah kebijaksanaan Ciangkun."

Bu Siong dipersilakan duduk dan di suguhi air teh.

"Ada hal lain yang mendorongku datang berkunjung, Bibi, Wang. Aku mendengar bahwa Tuan Shi Men telah meninggal dunia dan bahwa bekas Kakak iparku kini tinggal bersamamu, juga aku mendengar bahwa ia mau menikah lagi bibi, maukah bibi bertanya kepadanya apakah ia bersedia untuk menjadi isteriku? Aku ingin agar keponakanku Bu Ying mempunyai s?orang pengganti Ibu. la sekarang telah cukup usia untuk menikah, dan aku ingin agar bekas Kakak iparku itu memberi pelajaran kepadanya agar ia dapat memperoleh jodoh yang layak. Selain itu, aku ingin menghilangkan prasangka buruk orang-orang kalau aku hanya tinggal berdua. saja dengan keponakanku itu."

Bibi Wang berpikir sejenak.

"Benar bahwa ia tinggal. bersamaku akan tetapi aku tidak tahu apakah langkah selanjutnya yang akan diambilnya. Sebaiknya aku bertanya kepadanya apa pendapatnya tentang lamaranmu ini."

"Terima kasih, sampaikanlah kepadanya."

Semetara itu, diam-diam Kim Lian telah mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.

Melihat pendekar yang gagah perasa itu, dan kin� nampak lebih matang dan lebih tampan, jantung dalam dada Kim Lian sudah berdebar penuh gairah.

Inilah seorang laki-laki jantan!

jauh sekali bedanya dengan Chen Ceng Ki yang lemah, atau dengan putera Bibi Wang yang kasar dan dusun!

"Ah, kiranya Nasib mempertemukan kita,"

Pikirnya, girang sekali dan iapun tidak sabar menanti masuknya Bibi Wang ke dalam kamar.

Baca Juga: Istana Pulau Es 18

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert