Ceritasilat Novel Online

Si Teratai Emas 5

Eps 5 Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo.

Dengan senyum memikat dan menantang, iapun keluar menemui Bu Siong dan memberi hormat dengan sikap paling manis yang dapat diambilnya.

Suaranya merdu merayu, matanya mengerling tajam dari sepasang barisan bulu mata yang ditundukkan, mulutnya tersenyum memikat dan tubuhnya yang ramping itu membungkuk seperti batang pohon liu tertiup angin.

"Dengan seluruh perasaanku, adik iparku yang baik, aku menerima penawaranmu dan akan kulakukan apa yang kau inginkan untuk mendidik Bu Ying dengan penuh perhatian."

"Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan!"

Tiba-tiba bibi Wang berkata.

"Goat Toanio tentu tidak akan membiarkannya pergi kalau imbalannya kurang dari seratus ons!"

"Kenapa ia minta demikian banyak!"

Tanya Bu Siong.

"Ia mengatakan bahwa mendiang tuan Shi Men telah mengeluarkan uang begitu banyak untuk Kakak iparmu ini, maka sudah selayaknya kalau kini iapun minta tebusan yang pantas."

"Baiklah. Aku akan membayar seratus ons, juga lima ons untuk upah perantara, untuk menyatakan terima kasihku."

Wajah Bibi Wang segera terbuka penuh senyum ompong.

"Hal itu tentu saja terserah kepadamu, Ciangkun. Sungguh kini Ciangkun telah menjadi seorang yang bersikap bangsawan."

Kim Lian pergi ke dapur dan dalam kegembiraannya ia memasak teh yang terbaik untuk adik ipar yang kini menjadi calon suaminya itu.

Sementara itu, Bibi Wang menjadi girang bukan main.

Rejeki nomplok ini sama sekali tidak pernah disangkanya akan dilimpahkan kepadanya.

Ketika Kim Lian datang lagi menyuguhkan teh wangi, ia segera berkata kepada Bu Siong.

"Sudah ada tiga empat orang berminat kepada Kakak iparmu, Ciangkun, agaknya banyak yang tertarik untuk mengambilnya sebagai isteri dan mereka adalah para pembesar dan hartawan. Karena itu, sebaiknya kalau engkau segera membayar uang tebusan itu, Ciangkun, jangan sampai engkau didahului orang lain."

"Benar sekali, adik iparku yang baik. Kalau memang engkau ingin mengambil aku sebagai isterimu, jangan sampai terlambat. Aku akan merasa jauh Iebih berbahagia menjadi isterimu daripada dimiliki orang lain."

"Jangan khawatir, besok akan kukirim pembayaran itu dan malamnya aku akan membawamu pulang."

Setelah Bu Siong pergi, Bibi Wang meragukan apakah seorang yang berpangkat komandan pasukan keamanan saja mampu mengeluarkan uang sebanyak itu.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Bu Siong sudah datang dan mengeluarkan uang seratus ons dari sebuah kantong kulit.

Sebenarnya uang ini adalah milik komandan penjara di Mong-Chouw di Tembok Besar yang mempercayainya untuk menyerahkan uang itu kepada seorang keluarganya.

Dapat dibayangkan betapa gembira hati Bibi Wang melihat perak bertumpuk-tumpuk di atas meja dan mengeluarkan sinar berkilauan Dengan teliti ia menimbang perak-perak itu karena ia tidak mau kalau dikurangi sedikit saja jumlah yang telah ditentukannya.

"Sekarang aku ingin mengajak Kakak iparku pulang,"

Kata Bu Siong.

"Kenapa begitu tergesa-gesa? Malam nantipun tidak akan terlambat. Aku akan pergi dulu menyerahkan uang ini kepada Nyonya Goat Toanio, kemudian aku akan mengantarkan Kakak iparmu kepadamu. Sementara itu, di rumahmu engkau dapat mempersiapkan segalanya untuk menerimanya. Peristiwa yang begitu penting selayaknya disambut dengan upacara yang patut pula."

Bu Siong tidak membantah dan pergi. Setelah dia pergi, Bibi Wang berpikir.

"Yang menjadi keinginan utama dari Goat Toanio adalah menyingkirnya Kim Lian yang tidak disukainya, ia tidak menentukan suatu jumlah tertentu. Kuberi dua puluh ons saja ia tentu sudah akan merasa puas."

Ia lalu menimbang dua puluh ons perak, menyimpan sisanya yang delapan puluh, kemudian pergi berkunjung ke rumah Goat toanio.

Benar saja seperti diduganya, Goat Toanio puas dengan jumlah itu.

Memang yang penting baginya adalah perginya Kim Lian dari rumahnya.

"Siapakah yang membelinya?"

Tanyanya sambil lalu. Bibi Wang tersenyum memperlihatkan mulut ompong.

"Betapapun jauhnya seekor kelinci berkeliaran, ia akan kembali ke semak-semak semula, Kim Lian, akan menikah dengan adik iparnya sendiri, Bu Siong."

"Hemm, kalau saja semua itu akan berjalan dengan beres, syukurlah,"

Kata Goat Toanio kepada Mong Yu Lok, akan tetapi diam-diam ia merasa tidak.

enak, seolah-oiah ada firasat tidak baik.

Setelah kembali ke rumahnya , Bibi Wang menyuruh puteranya untuk mengangkat dua buah peti pakaian dan meja rias Kim Lian ke rumah sebelah.

Kemudian, menjelang senja, setelah Kim Lian bersolek tebal, Bibi Wang menggandeng tangannya dan mengajaknya ke rumah barunya.

Bu Siong rnenyambut mereka dan mengajak mereka ke ruangan dalam yang dihiasi dengan lilin-lilin bernyala.

Tiba-tiba kedua orang wanita itu terhenyak kaget.

Di tengah ruangan mereka melihat meja sembahyang dari mendiang Bu Toa!

Tentu saja mereka merasa terkejut dan tidak enak hati.

Seolah-olah ada tangan tak nampak yang mencekik leher dan menyambak rambut mereka.

Sementara itu, atas isyarat dari Bu Siong, Bu Ying menutupkan daun pintu depan dan menguncinya.

Hal.

ini dapat dilihat oleh Bibi Wang.

Karena ia merasa curiga dan menduga akan terjadi buruk, Bibi Wang ingin keluar secepatnya dari situ.

Akan tetapi Bu Siong menahannya.

"Aih, Bibi Wang, bukankah engkau ingin minum arak pengantin bersama kami?"

Kata Bu Siong sambil tertawa.

Tentu saja Bibi Wang tidak dapat menolak dan terpaksa ia ikut duduk menghadapi meja di mana tersedia masakan dan arak yang disuguhkan oleh Bu Ying.

Biarpun mereka bertiga duduk menghadapi meja, namun Bu Siong kini makan minum tanpa memperdulikan mereka berdua sehingga mereka saling pandang dan merasa tidak enak dan gelisah.

Dengan terpaksa sekali Bibi Wang dapat menelan sedikit makanan dan minuman, kemudian ia berkata.

"Sekarang aku harus pulang. Kurasa kalian orang-orang muda tentu ingin berduaan saja."

"Omong kosong, Nenek tua! Engkau tetap tinggal di sini! Masih ada satu dua buah kata yang ingin kusampaikan kepadamu!"

Kata Bu Siong dengan keren.

Pada saat itu terdengar suara berdesing dan betapa kagetnya perasaan hati kedua orang wanita itu ketika melihat Bu Siong telah mencabut sebatang pedang dari balik jubahnya.

Terutama sekali Bibi Wang, karena pada saat itu Bu Siong memandang dengan mata mendelik kepadanya dan kata-kata yang keluar dari mulut pendekar itu sungguh menakutkan.

"Nah, tua bangka, jangan berpura-pura sedang tidur dan mimpi! Tidak ada hutang tanpa penagih, tidak ada kebencian tanpa sebab, itulah peribahasa kuno. Engkau bertanggung jawab atas kematian Kakakku!"

"Ah, Ciangkun. Hari telah malam dan agaknya engkau sudah mulai mabuk. Dalam keadaanrnu itu, sebaiknya jangan main-main dengan pedang "

"Diam! Aku akan berurusan dengan yang lain dulu, baru tiba giliranmu, tua bangka. Dan jangan engkau berani melangkah pergi, kalau tidak"

Bu Siong mengelebatkan pedangnya di depan mata Bibi Wang yang terbelalak dengan muka pucat itu. Kemudian Bu Siong menghadapi Kim Lian.

"Dengar baik-baik, perempuan hina! Bagaimana Kakakku sampai mati? Bicara terus terang dan mungkin aku akan mengmpunimu!"

Tentu saja Kim Lian tidak berani membuat pengakuan.

"Kakak kandungmu itu meninggal dunia karena serangan penyakit jantung. Aku tidak bisa menerangkan apa-apa lagi, aku tidak tahu apa-apa lagi tentang kematiannya."

"Cappp ...!"

Pedang pendek itu kini menancap di atas meja di depan Kim Lian, gagangnya bergoyang-goyang.

Kemudian Bu Siong menjambak rambut Kim Lian dengan tangan kiri, tangan kanannya mencengkeram baju wanita itu dan dia mengguncangkan dengan keras, menendang meja yang menjadi penghalang di depannya sehingga mangkok piring jatuh berserakan.

(Lanjut ke

Jilid 11) Si Teratai Emas (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Melihat ini, Bibi Wang bangkit berdiri d�n lari menuju pintu.

Akan tetapi pintu itu terkunci dan dengan langkah lebar Bu Siong telah mengejarnya, menendangnya roboh dan menggunakan ikat pinggang untuk mengikat kaki tangannya sehingga Nenek ini tidak mampu bergerak lagi.

"Lepaskan aku, ciangkun!"

Ia berteriak ketakutan.

"Apa hubunganku dengan semua urusan Kakak iparmu? Aku tidak berdosa!"

"Tutup mulutmu, Nenek jahat! Aku sudah tahu semuanya. Kebohonganmu tidak akan menolongmu. Tunggu Saja giliranmu. Pertama-tama aku harus menyelesaikan urusanku dengan perempuan hina ini."

Dia menyeret Bibi Wang kembali ke ruangan dan melemparnya ke atas lantai di depan meja sembahyang Kakaknya.

Kemudian dia mengambil pedang pendeknya dan menghadapi Kim Lian yang sejak tadi berdiri menggigil.

di sudut ruangan.

"Adik ipar� ampunilah aku�"

Ia memohon, Bu Siong menangkap lengannya dan menyeretrya ke depan meja sembahyang, memaksanya untuk berlutut di depan meja sembahyang mendiang Bu Toa.

"Dan sekarang mengakulah!"

Bentaknya sambil menempelkan pedangnya dileher Kim Lian.

Dengan semangat terbang meninggalkan tubuhnya saking takutnya dan karena tidak melihat kemungkinan lain untuk menyelamatkan diri, saking takutnya Kim Lian lalu dengan suara terputus-putus menceritakan semua peristiwa yang terjadi, tentang hubungannya dengan Shi Men ketika dia masih menjadi isteri Bu Toa, betapa Shi Men melukai Bu Toa dengan tendangannya, dan betapa atas nasihat Bibi Wang, ia meracuni suaminya sendiri itu sampai mati.

Mendengar semua pengakuan Kim Lian yang ketakutan itu , tentu saja bibi Wang menjadi panik.

"Bocah tolol,"

Pikirnya.

"Celaka kita semua "

Dengan tenang, Bu Siong mendengarkan semua pengakuan Kim Lian.

Dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menuangkan arak dan membakar kertas sembahyang.

Kemudian terdengar dia bicara, suaranya terdengar keren menakutkan.

"Dengarlah, toako, aku tahu bahwa arwahmu tentu dekat di sini. Saat pembalasan telah tiba dan aku. Bu Siong, yang membalaskan dendam sakit hatimu!"

Dengan ketakutan yang hebat Kim Lian kini mulai menjerit minta tolong.

Akan tetapi teriakannya terhenti ketika Bu Siong menjejalkan abu hio ke dalam mulutnya, dan tangan yang kuat dari pendekar itu menekan kepala Kim Lian ke atas lantai di depan meja sembahyang.

Dalam ketakutan yang hebat, Kim Lian dapat melepaskan tekanan itu untuk beberapa saat dan ia merenggut lepas semua perhiasan dari tubuhnya seperti orang yang tiba-tiba menjadi gila.

Sebuah tendangan pada perutnya oleh Bu Siong membuat ia terguling dan sebuah sepatu besar menindih dadanya.

"Perempuan hina, engkau sungguh berhati kejam dan tak berperikemanusiaan! Sekarang aku ingin melihat sendiri bagaimana macamnya hatimu!"

Seperti kilat menyambar, pedang itu telah menembus dada Kim Lian dan memutar pedang itu sehingga dada itu terbuka lebar.

Kim Lian berkelojotan lalu terdiam karena nyawanya sudah melayang pergi.

Bu Siong menggigit pedangnya dan dengan kedua tangannya, dia menguak lubang di dada itu dan mencabut keluar hati yang berlumuran darah.

Ditaruhnya benda itu ke atas piring dan meletakannya ke atas meja sembahyang.

Kemudian dia menghampiri Nenek Wang yang sudah setengah mati menyaksikan kengerian itu.

lapun menjeri -jerit minta tolong, akan tetapi sekali saja pedang di tangan Bu Siong berkelebat, kepala Nenek itu sudah terpisah dari lehernya!

"Paman, aku...

aku takut!"

Ying berkata sambil menggigil dan bersandar pada dinding, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

"Bu Ying, saat ini aku tidak dapat mengurusmu,nak,"

Dia berkata, kemudian dia berlari ke belakang rumah dan melompati pagar memasuki rumah Nenek Wang.

Dia bermaksud untuk membunuh putera Nenek itu, akan tetapi pada saat itu Ciang Chouw yang mendengar jeritan-jeritan tadi sudah lari keluar dan minta tolong kepada para tetangga.

Akan tetapi para tetangga juga takut menghadapi Bu Siong dan tidak ada yang berani mencampuri urusan itu.

Karena tidak menemukan pemuda itu, Bu Siong lalu mengaduk-aduk kamar Nenek Wang sam-pai dia menemukan perak yang delapan puluh ons itu, membawanya pergi menghilang di kegelapan malam dan mulai malam itu diapun melarikan diri ke dalam hutan hutan di Pegunungan Liang, di mana dia menjadi buronan pemerintah dan kemudian bahkan terkenal sebagai, seorang perampok yang ditakuti oleh para pembesar dan para hartawan karena yang diganggunya hanyalah dua golongan itu saja.

Akan tetapi dia dicinta dan dikagumi oleh orang-orang miskin karena semua hasil rampokannya selalu dibagi-kannya kepada kaum miskin di dusun-dusun.

TUHAN Maha Adil.

Siapa menanam dan memelihara padi akan menuai padi, siapa menanam pohon beracun akan memetik buah beracun.

Orang baik pada akhirnya akan menerima berkah dan orang jahat akan menerima hukumannya, cepat ataupun lambat.

Hidup menuruti nafsu, mengejar kesenangan, menjauhkan perikemanusiaan dan kasih sayang kepada manusia lain, mendekatkan kejahatan dari kekejaman demi untuk memreroleh kesenangan yang dikejarnya.

Menerima kesenangan seperti apa adanya tanpa menginginkan yang tidak ada merupakan berkah, sebaliknya mengejar kesenangan yang tidak ada merupakan awal daripada penyelewengan dan kejahatan.

Kematian Kim Lian dan Bibi Wang tentu saja menggemparkan seluruh penduduk kota Ceng-Ho-Sian.

Semua penghuni dalam keluarga Goat Toanio juga mendengar, dan mereka merasa heran mendengar betapa Cun Bwe mengeluarkan biaya secukupnya untuk penguburan jenazah Kim Lian secara pantas, bahkan dengan sebuah peti jenazah yang tebal dan cukup indah.

Ketika mendengar semua ini dari cerita Bibi Pi yang datang berkunjung ke rumah keluarga Goat Toanio Sun Siu Oh berkata dengan heran.

"Peti jenazah seperti itu tentu mahal harganya, dan upacara perkabungannya juga memakan biaya yang tidak kecil. Bagaimana anak yang dulu menjadi pelayan di sini itu mampu mengeluarkan biaya untuk semua itu? Apakah ia yang menjadi selir pembesar itu tidak akan mendapat marah dari suaminya?"

"Aih, engkau tidak dapat membayangkan keadaannya sekarang!"

Kata Bibi Pi sambil tertawa.

"Pembesar Chouw tergila-gila kepadanya dan memenuhi segala permintaannya. Ia kini mendapat tiga buah kamar yang lengkap dengan perabot-perabot mewah di bagian timur perumahan besar itu, memiliki dua orang gadis pelayan, dan begitu ia tiba di sana, ia telah dibuatkan pakaian untuk empat musim selama setahun penuh. Isteri pertama tidak masuk hitungan lagi, usianya sudah lima puluh tahun lebih, ,setengah buta, hanya duduk dalam kamarnya dan makan sayur-sayuran, setiap hari hanya membaca kitab suci bersembahyang. Isteri ke dua baru saja melahirkan seorang anak perempuan dan masih beristirahat di tempat tidur. Karena itu, semua kunci diserahkan kepada Cun Bwe dan ialah yang mengatur seluruh urusan rumah tangga, memutuskan apa yang harus dibeli, apa yang harus dimasak, dan biarpun ia hanya isteri ke tiga, akan tetapi ia seperti isteri pertama saja. Dan agaknya iapun sekarang sudah mengandung."

Goat Toanio dan Sun Siu Oh saling pandang dan tidak memberi tanggapan.

Akan tetapi mereka diam-diam merasa heran akan jalannya nasib seseorang, dan merasa kagum dan juga iri melihat nasib cemerlang dari seorang gadis pelayan yang kini memasuki masa gemilang dan bahkan lebih mulia daripada keadaan dan kedudukan mereka sebagai janda-janda.

Hari raya Ceng-beng tiba.

Hari raya di mana keluarga pergi berkunjung ke kuburan Nenek moyangnya, untuk membersihkan kuburan, bersembahyang.

Goat Toanio dan keluarganya juga pergi, dan setelah melakukan upacara sernbahyang, diantar oleh kacung A Tai, Mereka mengikuti orang-orang yang membanjiri lapangan untuk menonton pertunjukkan kesenian dan olah raga.

Pertandingan olah raga dipimpin oleh Li-Kongcu, putera dari Li-Taijin, pembesar yang berkedudukan tinggi dari Ceng-Ho-Sian.

Li-Kongcu berusia tiga puluh tahun, bertubuh tegap dan sejak kecil dia suka akan olah raga, pandai silat, suka berburu binatang, menunggang kuda dan dia terkenal di antara para ahli silat dan olahragawan di sekitar daerah Ceng-Ho-Sian.

Ketika itu, Li-Kongcu meninggalkan lapangan dan masuk ke dalam rombongan penonton untuk melihat-lihat dan tiba-tiba dia melihat serombongan wanita yang menarik perhatiannya, terutama seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi semampai.

Dia tertarik sekali dan ingin tahu siapa adanya wanita itu, sudah menikah ataukah masih bebas.

"Cepat kauselidiki siapa adanya tiga orang wanita yang mengenakan pakaian putih berkabung itu,"

Perintahnya kepada kacungnya. Tak lama kemudian kacung itu kembali dan melaporkan hasil penyelidikannya dengan suara berbisik.

"Mereka adalah keluarga dari mendiang Hakim Distrik Shi Men. Yang tubuhnya paling kecil itu adalah Kakak iparnya bernama Wu, yang bertubuh sedang itu adalah isteri pertamanya bernama Goat Toanio. Yang tinggi itu adalah isteri ke tiga, namanya Mong Yu Lok, dan sampai sekarang, seperti yang lain itu, ia belum menikah."

"Bagus, terima kasih,"

Kata Li-kong.

girang.

Pemuda ini terus mengamati Mong Yu Lok, sampai akhirnya wanita ini, bersama rombongannya, memasuki joli dan meninggalkan tempat keramaian itu.

Sementara itu, ketika Goat Toanio dan Mong Yu Lok, ditemani enci dari Goat Toanio, nonton keramaian, yang menjaga rumah adalah Sun Siu Oh, isteri ke empat, dan puteri Shi Men.

Mereka berdiri di pintu gerbang, melihat orang-orang yang talu lalang di depan rumah mereka.

Kebetulan sekali selagi mereka berdiri memandang orang-orang yang lewat, muncullah seorang pedagang barang-barang kelontong kebuTUHAN rumah tangga dan alat-alat rias, menawarkan dagangannya dengan teriakan nyaring.

Puteri Shi Men menyuruh penjaga pintu gerbang untuk mengejar pedagang itu, menanyakan apakah pedagang itu menjual minyak gosok untuk membersihkan cermin.

Pedagang itu mengatakan tidak menjual barang itu, akan tetapi dia tetap saja datang mendekat dan memandang dengan penuh perhatian kepada Sun Siu Oh.

"Kalau engkau tidak menjualnya, sudah saja! Kenapa berdiri di situ dan memandang seperti itu?"

Sun Siu Oh menegur.

"Apakah engkau tidak ingat lagi kepadaku? Aku adalah Lai Wang, dahulu menjadi pegawai di sini."

"Apa? Engkau Lai Wang?"

Seru Siu Oh, terkejut.

"Bagaimana aku dapat mengenalmu, engkau sekarang begini gemuk. Ke mana saja engkau seIama bertahun-tahun ini?"

Tentu saja Siu Oh ingat pada Lai Wang, orang yang menjadi korban karena ulah isterinya, Lian Cu, yang berjina dengan Shi Men sehingga akibatnya, Lai Wang dihukum buang dan Lian Cu menggantung diri sampai mati.

"Setelah aku diusir keluar dan aku menjalani hukuman sampai akhirnya diberi pengampunan dan keluar. Aku kembali ke kampung halamanku di Sui-cou. Sampai beberapa lamanya aku menganggur, kemudian aku bekerja sebagai pelayan seorang bangsawan. Kemudian aku berhenti dan membantu seorang pandai perak di kota ini dan aku berkeliling menjualkan barang-barang kelontong buatannya. Ketika aku melihatmu, aku tidak berani memperkenalkan diri, kalau saja tidak disusul."

"Engkau tidak perlu takut kepada kami. Apa saja sih daganganmu itu? Masuklah dan biarkan kami melihat-lihat,"

Kata Siu Oh dengan ramah dan akrab.

Lai Wang membawa dagangannya masuk ke pekarangan sebelah dalam dan di situ dia memperlihatkan dagangannya yang banyak macamnya.

Puteri Shi Men membeli hiasan rambut berupa kembang dan Siu Oh sendiri membeli mainan sepasang burung Hong dan sepasang ikan yang sedang bermesraan.

Tentu saja pilihan ini merupakan suatu isyarat halus untuk Lai Wang.

Akan tetapi Siu Oh mengatakan bahwa Lai Wang boleh mengambil uangnya besok dan hal inipun merupakan suatu undangan agar Lai Wang datang lagi pada keesokan harinya.

Ketika Lai Wang...

datang lagi dengan dagangannya, Goat Toanio juga menegurnya dengan gembira.

"Wang, mengapa selama ini engkau tidak pernah memperlihatkan dirimu?"

"Setelah apa yang terjadi dahulu, saya tidak berani lagi datang ke sini."

"Ah, kenapa begitu? Majikanmu telah meninggal dunia untuk beberapa lamanya dan dahulu engkau sudah seperti anggauta keluarga kami sendiri. Engkau boleh datang berkunjung kapan saja engkau suka. Adalah wanita itu, Nyonya ke Lima, yang bertanggung jawab atas peristiwa yang tidak menyenangkan dan yang menimpa dirimu itu. lalah yang selalu mencari gara-gara, dan ia pula yang membuat isterimu Lian Cu sampai membunuh diri, dan ia pula yang membuat majikanmu terpaksa mengusirmu dengan bermacam cara. Akan tetapi sekarang ia telah menerima hukumannya yang setimpal."

"Toanio, sungguh melegakan hati mendengar toanio bicara seperti itu."

"Apa saja sih macamnya daganganmu? Coba buka dan biar aku mellhat-lihat."

Goat Toanio lalu memilih-milih dan berbelanja seharga tiga ons lebih, bahkan menyuruh pelayan menghidangkan arak dan kue.

Siu Oh sendiri yang membuatkan makanan-makanan yang enak untuknya, dan setelah Lai Wang dengan berterima kasih berpamit dari Goat Toanio, Mong Yu Lok, dan puteri Shi Men, Siu Oh berhasil untuk bicara sendiri dengannya di luar.

"Datanglah lebih sering,"

Katanya berbisik.

"Jangan ragu-ragu. Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kalau engkau suka, aku akan menantimu besok malam di dalam kamar kosong di dekat tembok merah."

Lai Wang mengerti apa yang dimaksudkannya.

"Akan tetapi bagaimana aku dapat berkunjung malam hari? Bukankah pintu sebelah dalam ditutup sore-sore?"

"Tunggulah di luar tembok di ujung selatan sampai hari menjadi gelap. Aku akan memberi tanda dan engkau dapat menggunakan tangga naik ke tembok. Aku akan berada di dalam dan membantumu turun ke dalam."

"Tentu saja Lai Wang merasa girang bukan main. Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum, lalu memanggul dagangannya dan pergi dari situ. Pada keesokan malamnya, setelah semua penghuni rumah itu telah pergi tidur, Lai Wang membawa tangga dan menyandarkannya di tembok di ujung selatan, lalu menunggu. Dia tidak perlu menanti terlalu lama karena segera dia mendengar suara batuk seorang wanita dari balik tembok. Dia lalu menaiki tangga itu dan tiba di atas tembok. Di sana, di sebelah dalam, Siu Oh telah menantinya dengan sebuah tangga lainnya. Dengan mudah Lai Wang menuruni tangga itu dan ketika tiba di atas tanah, mereka saling peluk dan bergandengan tangan memasuki kamar yang tidak dipergunakan oleh keluarga itu. Bertemulah dua orang yang sama-sama haus akan belaian kasih sayang dan malam itu mereka mencurahkan semua perasaan rindu ini dalam suatu kemesraan yang memabukkan. Menjelang pagi, ketika Lai Wang harus pergi, Siu Oh memberinya sebuah bungkusan besar berisi perhiasan emas dan perak, juga pakaian-pakaian sutera mahal yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya.

"Datang lagi besok malam,"

Ia berbisik.

"Masih banyak barang berharga yang harus kau bawa keluar. Dan carilah sebuah rumah yang pantas untuk kita. Hubungan kita tidak mungkin dilanjutkan seperti ini seterusnya. Suatu malam kita harus minggat dari sini dan menjadi suami-isteri."

"Aku mempunyai seorang bibi yang tinggal di tempat sunyi, baik sekali untuk kita jadikan tempat persembunyian. Kelak, kalau kita lari, kita dapat bersembunyi di situ. Kemudian, setelah Goat Toanio tidak meributkan lagi soal kita, kita dapat pergi ke kampung halamanku dan di sana kita membeli tanah dan ber-tani. Kita akan hidup bahagia di sana."

Demikianlah setiap malam Lai Wang datang mengunjungi kekasihnya, bermain cinta dan membuat rencana-rencana untuk kehidupan mereka di masa datang, dan paginya Lai Wang keluar membawa makin banyak barang berharga yang dapat dikumpulkan oleh Siu Oh.

Setelah hal ini berulang sampai beberapa malam, dan merasa bahwa sudah cukup barang yang mereka ambil dari rumah itu, mereka berdua lalu lari minggat dari rumah itu dan langsung saja menuju ke rumah Bibi Kue seperti yang sudah direncanakan oleh Lai Wang.

Nenek Kue ini mempunyai seorang anak laki-laki yang nakal, yang setiap hari kerjanya hanya mabuk-mabukan dan berjudi.

Pemuda ini tentu saja dapat melihat betapa Kakak misannya datang ber-sama isterinya dan membawa banyak barang-barang berharga.

Maka, terjadilah hal yang sana sekali tidak diduga oleh Lai Wang dan Siu Oh.

Pemuda itu mencuri beberapa buah benda berharga, dan menjualnya untuk berjudi mabuk-mabukan.

Pada suatu malam, dia dan gerombolannya ditangkap petugas keamanan dan karena dia masih mempunyai beberapa barang perhiasan dari emas yang amat berharga, tentu saja para petugas itu menjadi curiga dan diapun disiksa untuk membuat pengakuan dari mana dia mencuri barang itu.

Pemuda itupun mengaku dan terbukalah semua rahasia pelarian Lai Wang dan Siu Oh itu.

Mereka ditangkap, juga bibi mereka, Nenek Kue itu.

Ramailah orang-orang melihat dan membicarakan peristiwa itu.

Segera semua orang tahu belaka bahwa isteri ke empat dari Shi Men itu telah minggat dari rumah keluarga itu bersama kekasihnya, seorang bekas pegawai mendiang Shi Men, dan mereka berdua membawa lari banyak barang-barang berharga yang mereka curi dari dalam rumah.

Ketika Goat Toanio pada keesokan paginya mendengar dari pelayan bahwa Siu Oh melarikan diri membawa barang-barang berharga, semua barang berharga yang berada di kamar pondok madunya yang ke empat itu, hanya meninggalkan tiga potong pakaian tua, tentu saja ia menjadi kaget setengah mati.

Kemudian ia mendengar bahwa bekas madunya itu tertangkap bersama Lai Wang, bibinya dan adik misan Lai Wang.

Segera ia menghubungi pengadilan dan setelah empat orang itu diadili, ia memperoleh kembali barang-barang yang dicuri dari rumahnya itu.

Lai Wang dan adik misannya dijatuhi hukuman buang dan kerja keras selama lima tahun.

Nenek Kue dan Siu Oh dihukum cambuk dan jepit jari.

Setelah menerima hukuman itu, Nenek Kue diperbolehkan pulang, dan hakim memberitahukan kepada Goat Toanio agar mengambil kembali Siu Oh.

Akan tetapi, Goat Toanio tidak sudi menerima kembali Siu Oh yang terpaksa harus dicarikan tempat baru melalui perantara yang diatur oleh kantor pengadilan.

Berita tentang peristiwa memalukan itu dengan cepat tersiar, bukan hanya di selurub kota Ceng-Ho-Sian, bahkan ke luar kota sampai pula terdengar oleh Cun Bwe yang menjadi isteri ke tiga dari Pembesar Chouw.

ia merasa kasihan mendengar akan hal itu, akan tetapi juga teringat akan permusuhan antara Nyonya ke empat itu dengan mendiang Kim Lian, majikannya, juga betapa isteri ke empat dari Shi Men itu dahulu bersikap tidak manis bahkan keras terhadap dirinya, karena ia adalah pelayan Kim Lian.

Inilah saatnya untuk membalas perlakuan tidak patut itu, di samping menolong pula karena dalam keadaan dilelang secara umum seperti itu belum diketahui akan terjatuh ke tangan orang macam apakah wanita yang malang itu.

"Ia pandai masak, dan kita membutuhkan tukang masak yang pandai,"

Demikian antara lain ia membujuk suaminya untuk diperbolehkan menebus Siu Oh dan dipekerjakan di dapur mereka.

Chouw-Taijin seperti biasa memenuhi permintaan lsterinya yang tersayang ini.

Dia mengirim utusan dan berhasil mendapatkan Siu Oh dengan harga yang retu-rah sekali, hartya delapan ons.

Siu Oh dibawa ke rumah gedung pejabat tinggi itu dan diperkenalkan kepada semua keluarga yang menjadi majikannya.

Ketika ia memberi hormat kepada Nyonya Ke Tiga ia terkejut sekali mengenal bahwa majikannya itu bukan lain adalah Cun Bwe!

Biarpun ia merasa malu dan terhina sekali, terpaksa Siu Oh harus berlutut di depan wanita yang pernah menjadi pelayan dan yang pernah pula dibentak-bentaknya, yang dulu harus mentaati perintahnya itu.

Ia masih mengenakan pakaian yang cukup indah, juga ada perhiasan di leher, telinga dan le-ngannya.

"Lepaskan pakaian dan perhiasannya itu, dan berikan pakaian tukang masak biasa saja yang bersih padanya. Ia harus bekerja di dapur!"

Demikianlah perintah Cun Bwe kepada para pelayannya.

Dengan menundukkan nuka dan merasa malu sekali, Sun Siu Oh mengikuti para pelayan dan mulai saat itu iapun berubah menjadi tukang masak yang sederhana.

Ia menyesali nasibnya.

Akan tetapi ia lupa bahwa yang dinamakan "nasib"

Tiada lain hanyalah buah daripada pohon yang ditanamnya sendiri, akibat daripada ulah perbuatannya sendiri.

Penyesalan tiada gunanya sama sekali, hanya memperbesar iba-diri dan mendatangkan duka.

Yang penting adalah kesadaran akan kesalahan sendiri yang telah dilakukan se-hingga kesalahan macam itu tidak akan terulang kembali di masa mendatang.

Peristiwa memalukan yang terjadi di dalam keluarga Goat Toanio itu ter-dengar pula oleh Chen Ceng Ki.

Dia mendengar dari Bibi Pi dan dia mengambil keputusan untuk menuntut haknya.

Sudah tiba waktu baginya untuk menuntut Goat Toanio mengenai keluarganya sendiri dan diapun menyatakan maksud hatinya kepada Bibi Pi yang dijadikan utusannya mengunjungi Goat Toanio.

Pada suatu hari, datanglah Bibi Pi berkunjung kepada Goat Toanio dan ia menyampaikan pesan dan permintaan Ceng Ki.

"Mantu mendiang suamimu itu menyebarkan berita di kota bahwa dia ingin bercerai dari isterinya yang kata-nya ditahan di sini. Juga katanya dia hendak menuntut Nyonya ke Pengadilan karena katanya banyak barang dan uang-nya ditahan di rumah ini, padahal barang-barang itu dibawanya ketika, pertama kali dia datang ke rumah ini, dan barang-barang serta uang itu adalah pemberian dari Pamannya, yaitu mendiang Jenderal Yang."

Goat Toanio yang masih belum pulih kembali perasaannya dari peristiwa yang terjadi pada diri Siu Oh dan Lai Wang, kini merasa gelisah mendengar akan ancaman dari Ceng Ki.

Tidak ada jalan lain baginya.

Puteri Shi Men telah menjadi isteri Chen Ceng Ki, maka laki-laki itulah yang lebih berhak.

Terpaksa ia lalu menyuruh A Tai, untuk mengantar puteri Shi Men, dalam sebuah joli, ke rumah Chen Ceng Ki.

Juga beberapa orang kuli disuruh mengangkat beberapa buah peti berisi barang-barang yang menjadi milik Ceng Ki dan isterinya.

Akan tetapi Chen Ceng Ki tidak puas menerima isterinya dan barang-barang itu dan dia memberitahu Bibi Pi agar kembali lagi kepada Goat Toanio, menyampaikan tuntutannya.

"Barang-barang ini hanyalah bagian dari milik kami berdua dalam pernikahan. Akan tetapi aku menghendaki kembalinya peti uangku. Dan selain itu, akupun minta agar pelayan isteriku, Yen Shiao, diserahkan kepadaku."

"Akan tetapi Ibu mertuamu itu mengatakan bahwa ia tidak tahu sama sekali tentang peti uangmu dan hanya inilah barang-barang yang dulu kau bawa datang ke sana,"

Kata Bibi Pi.

Akan tetapi ia harus kembali kepada Goat Toanio menyampaikan permintaan Ceng Ki.

Akan tetapi kembali Goat Toanio mengatakan tidak tahu menahu mengenai peti uang, dan mengenai Yen Shiao, ia mengatakan bahwa ia berkeberatan karena pelayan itu kini telah disuruh mengasuh puteranya.

Perebutan ini akhirnya ditengahi Ibu Chen Ceng Ki.

Dipanggilnya kacung A Tai menghadap dan ia berkata.

"Sampaikan salam dan hormatku kepada Nyonya majikanmu dan sampaikan pesanku bahwa ia tidak seharusnya menahan pelayan Yen Shiao karena pelayan itu adalah pelayan dari isteri anakku. Pelayan itu bukan hanya sudah melayani isterinya, akan tetapi bahkan telah pula melayani dan menyerahkan diri kepada puteraku."

Menghadapi alasan ini, Goat Toanio terpaksa mengalah dan iapun mengirim pelayan itu ke rumah Chen Ceng.

Ki yang membuat dia girang sekali dia memang merindukan pelayan yang merupakan seorang gadis muda yang manis dan segar ini.

Kita tinggalkan dulu Chen Ceng Ki yang kini berkumpul kembali dengan isterinya dan terutama, yang amat menyenangkan hatinya, dapat pula menguasai diri Yen Shiao, dan kita menengok Li-Kongcu, putera seorang di antara penguasa di distrik Ceng-Ho-Sian itu.

Semenjak dia melihat Mong Yu Lok, dia tergila-gila dan merindukan wanita itu, mengambil keputusan untuk memperisteri wanita yang sudah janda itu.

Sesungguhnya bukan hanya Li-Kongcu yang tergila-gila kepada Mong Yu Lok, akan tetapi janda muda inipun amat tertarik melihat pemuda bangsawan yang bertubuh tegap itu.

Dan diam-diam janda inipun mengkhawatirkan keadaan dirinya.

"Shi Men telah mati dan sekarang yang berkuasa adalah Goat Toanio. Diriku tidak ada arti dan harganya lagi dalam keluarga ini, karena aku tidak mempunyai anak. Sungguh bodoh kalau aku harus selalu berada di sini, membiarkan diriku melayu sampai tua. Alangkah baiknya kalau aku dapat mencari tempat baru bagi diriku, demi masa depanku, demi masa tuaku."

Maka, dapat dibayangkan betapa jantungnya berdebar penuh kegembiraan dan harapan ketika pada suatu pagi, Goat Toanio memberitahu kepadanya bahwa ada seorang perantara datang ingin bertemu dengannya, katanya diutus oleh seorang yang disebut Li-Kongcu.

"Ah, aku tidak percaya!"

Kata Mong Yu Lok, menyembunyikan kegembiraannya dari Goat Toanio.

Betapapun juga, ia bersedia menemui perantara itu dan segera mengenakan pakaian baru.

Perantara itu adalah Bibi Tao yang segera memberi hormat kemudian berkata.

"Benar, inilah wanita yang dimaksudkan Li-Kongcu, tepat seperti yang digambarkannya kepadaku. Nona memang seorang wanita yang teramat cantik jelita dan sungguh patut untuk menjadi isteri pertama dari putera bangsawan Li!"

Mong Yu Lok tersenyum mendengar pujian yang muluk ini.

"Bibi yang baik, harap jangan melebih-lebihkan. Lebih baik kita bicara serius dan membicarakan persoalannya. Berapa usia tuan muda itu? Apakah dia telah menikah? Apakah dia mempunyai selir-selir? Siapakah namanya? Apakah dia telah menjabat kedudukan? Harap jawab sejujurnya."

Bibi Tao menarik napas panjang.

"Ya TUHAN! Betapa kurang percaya sekali engkau ini, nona. Aku adalah seorang perantara yang diangkat oleh pemerintah, bukan seperti para perantara lain yang penuh dengan kebohongan dan suka membual. Dengarlah baik-baik, nona. Dia adalah putera tunggal Bangsawan Li. Ayahnya berusia lima puluh tahun, dia sendiri berusia tiga puluh satu tahun, lahir tanggal dua puluh tiga bulan pertama, shio Naga. Dia bersekolah di Akademi Pangeran Istana, dan sebentar lagi dia akan menerima gelar Siucai. Dia seorang putera bangsawan yang terpelajar, juga ahli olah raga dan ahli menunggang kuda. Dua tahun yang lalu dia kematian isterinya yang pertama, yang meninggalkan seorang pelayan wanita yang dibawanya ketika ia menikah dengan Li-Kongcu. Dia tidak mempunyai selir maupun anak."

Tentu saja Yu Lok girang bukan main mendengar keterangan ini, Hampir ia tidak percaya akan keberuntungan yang mengangkat dirinya setinggi itu.

Pada malam tanggal lima belas bulan itu, juga, Mong Yu Lok dalam dandanan yang membuatnya kelihatan semakin cantik, meninggalkan rumah keluarga Goat Toanio, menuju ke rumah baru.

Barang-barangnya telah dikirim ke rumah baru pagi tadi, dan Goat Toanio memperbolehkan ia membawa semua barangnya, dari perhiasan sampai perabot-perabot kamarnya.

Tempat tidurnya, yang biasa ia pakai tidur bersama Shi Men, ia tinggalkan dan ia hadiahkan kepada puteri Shi Men yang menerimanya dengan gembira.

lapun diperbolehkan membawa dua orang pelayannya.

Pernikahan Mong Yu Lok itu dirayakan dengan cukup meriah dan Goat Toanio juga datang berkunjung.

Ketika Goat Toanio pulang dari pesta ini, barulah merasa betapa sunyinya rumah besar yang ditinggalinya.

Dahulu, sewaktu suaminya masih hidup, setiap kali pulang dari bepergian, ia tentu disambut oleh sekelompok keluarga yang bergembira dan tiada akan habisnya celoteh di antara mereka diseling senda-gurau tertawa.

Akan tetapi sekarang, sunyi saja.

Tidak ada keluarga yang menyambutnya kecuali beberapa orang pelayannya.

la merasa demikian kesepian dan iapun menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang Shi Men sambil menangis.

Kita manusia mempunyai kelemahan, yaitu tidak mau membuka mata melihat keadaan seperti apa adanya, karena pikiran kita selalu dipenuhi oleh keinginan untuk menjangkau yang lebih, mencari kesenangan yang belum ada sehingga mata kita tidak melihat lagi keindahan yang terkandung dalam apa adanya.

Seorang yang tinggal di pegunungan ingin sekali tinggal di kota, karena dia tidak lagi mampu menikmati keindahan di pegunungan tertutup oleh keinginan mencari kesenangan yang dianggapnya akan dapat ditemukan di kota yang ramai.

Sebaliknya, mereka yang tinggal di kota, selalu haus akan keindahan di pegunungan yang jauh dari kotanya.

Kalau segala keindahan diraih untuk diri sendiri, maka keindahan itu berubah menjadi kesenangan, dan segala macam kesenangan sudah pasti dengan kebosanan.

Akan tetapi, kaiau kita mau membuka mata melihat keadaan apa adanya, tanpa adanya penggambaran pikiran yang mencari hal-hal yang tidak ada, maka akan nampak oleh kita bahwa keindahan itu ada di mana-mana, karena keindahan itu sebenarnya adalah keadaan batin yang tidak lagi mengejar sesuatu.

Chen Ceng Ki diberi modal oleh Ibunya sebanyak dua ratus ons perak untuk membuka sebuah toko cita di depan rumah mereka dan untuk mengurus toko itu dia mengangkat seorang pelayan tua bernama Ceng Ting.

Akan tetapi, kehidupan Ceng Ki amatlah royalnya.

Dia seorang yang gila perempuan dan suka berjudi, maka banyaklah dia menggunakan uang tokonya sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, toko itupun semakin kosong dan akhirnya bangkrut.

Untuk ini, Ceng Ki menyalahkan pengurusnya, Ceng Ting yang tua, dan setia sehingga pegawai ini dipecat dan diusir keluar bersama isterinya.

Sebagai penggantinya, Ceng Ki mengangkat seorang sahabatnya bernama Yang untuk mengurus tokonya yang kini dibuka kembali karena dia mendapat pinjaman dari Ibunya sebanyak tiga ratus ons.

Ceng Ki sama sekali tidak tahu bahwa Yang adalah seorang yang amat cerdik dan curang.

Dengan modal barunya, Ceng Ki mengajak Yang pergi ke kota pelabuhan Lin-Cing untuk membeli cita.

Kota pelabuhan ini, seperti kota pelabuhan lain, bukan hanya ramai oleh perdagangan, melainkan juga ramai dengan banyaknya pelacur yang melayani para pedagang yang banyak berdatangan ke kota ini.

Keadaan ini sungguh menyenangkan hati Ceng Ki dan dari uangnya, hanya sebagian kecil saja yang dibelikan cita.

Sebagian lain dipakai pelesir sepuasnya, bahkan ketika ia pulang, ia membawa seorang gadis penghibur berusia delapan belas tahun bernama Kim Giok yang dibelinya tidak kurang dari seratus ons.

Melihat kelakuan puteranya ini, Ibu Ceng Ki yang sudah tua dan berpenyakitan, menjadi sedemikian marah dan jengkelnya sehingga ia jatuh sakit berat sampai membawanya ke lubang kubur.

Setelah Ibunya meninggal dunia, bagaikan seekor harimau tumbuh sayap, Ceng Ki menjadi semakin binal karena kini semua warisan Ayahnya terjatuh ke tangannya.

Kim Giok yang pandai merayu itu dihujani kemewahan.

Kamar terbesar yang tadinya dihuni Ibunya, kini diberikan kepada Kim Giok yang dilayani oleh seorang pelayan dan hidup dalam kemewahan.

Sebaliknya, isterinya sendiri, puteri Shi Men, hanya, tinggal di bagian samping rumah dan diabaikan oleh suaminya.

Karena hidupnya royal-royalan bersama Kim Giok yang pandai membuang uang, Ceng Ki maklum bahwa dia harus mendapatkan sumber keuangan baru kalau dia tidak ingin hartanya ludes sama sekali.

Dan di dalam otaknya yang cerdik lalu timbul suatu siasat licik.

Dia sudah mendengar akan nasib baik Mong Yu Lok, bekas isteri ke tiga Ayah mertuanya, betapa kini Yu Lok hidup serba kecukupan sebagai isteri Li-Kongcu.

Dia masih menyimpan sebuah bros, perhiasan indah milik Mong Yu Lok yang kehilangan perhiasan itu di taman dan diam-diam ditemukan dan disimpan oleh Ceng Ki.

Benda ini sekarang amat berharga, karena dapat dia pergunakan untuk memeras wanita yang kini menjadi kaya raya itu.

Dia dapat menuduh bahwa peti uang yang dulu dibawanya, yang tidak dikembalikan oleh Goat Toanio, terjatuh ke tangan Yu Lok dan kini dia menuntut dikembalikannya uang itu.

Dia dapat mempergunakan perhiasan bros itu untuk memaksakan kehendaknya agar Yu Lok mau membayarnya, atau kalau tidak, perhiasan itu akan diperlihatkannya kepada mertua wanita itu, sebagai bukti bahwa Yu Lok bermain gila dengan dia Dan telah memberi hadiah perhiasan bros itu!

Kalau sampai terjadi demikian, tentu bangsawan Li akan menceraikan puteranya dari Yu Lok, dan menyerahkan Yu Lok kepadanya berikut sernua kekayaan yang telah menjadi milik Yu Lok.

Ceng Ki menggosok-gosok kedua tangannya dengan girang.

Siasatnya itu baik sekali!

Sementara itu, keluarga bangsawan Li telah pindah ke kota Yen-Cou-Fu di Propinsi Ce-Kiang karena dia telah memperoleh kenaikan pangkat dan kini menjadi Wakil Gubernur di kota itu.

Karena kota Yen-Cou-Fu merupakan kota besar di mana terdapat banyak industri sutera, maka Chen Ceng Ki hendak pergi ke sana berkunjung kepada Mong Yu Lok dan sekalian berbelanja sutera.

Berangkatlah dia, ditemani oleh Yang, dan membawa seribu ons perak.

Dia singgah di kota Hu-Couw yang menjadi pusat sutera dan dia membelanjakan setengah jumlah uangnya membeli sutera.

Kemudian dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat tujuan, seorang diri karena Yang dia tinggalkan untuk mengurus belanjaannya.

Kepada Yang dia memberitahukan bahwa dia akan pergi mengunjungi seorang sanak keluarganya di Yen-Cou-Fu selama Iima hari.

Yang menemani Ceng Ki pergi hanya kacungnya, Cen An, yang membawakan beberapa macam barang hadiah atau oleh-oleh untuk Mong Yu Lok dan suaminya.

telah tiba di kota itu, dia bermalam di sebuah Kuil dan pada Keesokan harinya menyelidiki di mana tinggalnya bangsawan Li.

Mudah saja baginya menemukan gedung tempat tinggal pejabat baru itu.

Setelah berdandan, Chen Ceng Ki lalu pergi berkunjung ke gedung itu, pelayannya yang membawa barang hadiah.

Kepada penjaga pintu, dia berkata, bahwa dia adalah adik laki-laki dari isteri putera Li-Taijin yang ingin berkunjung kepada Kakak dan Kakak iparnya.

Kedatangannya disambut oleh Li-Kongcu sendiri.

Li-Kongcu memandang tajam penuh perhatian, setelah mereka saling memperkenalkan diri dan memberi hormat, lalu bertanya.

"Adik ipar yang baik, kenapa saya tidak mendapatkan kehormatan berkenalan denganmu ketika saya menikah dengan Kakakmu?"

"Harap dimaafkan, Cihu (Kakak ipar). Pada waktu itu, saya melakukan perjalanan perdagangan menuju ke Se-Cuan dan Kwan-Tung, sehingga selama hampir satu tahun tidak berada di rumah. Baru setelah saya pulang dari perjalanan saya mendengar akan pernikahan Kakak saya, maka saya sekarang datang berkunjung untuk menyampaikan selamat dan sedikit hadiah pernikahan yang agak terlambat."

Li-Kongcu lalu mengutus seorang pelayan untuk menyampaikan kepada isterinya bahwa adik laki-laki isterinya datang berkunjung.

"Adik laki-laki?"

Pikir Mong Yu Lok ketika menerima kabar ini.

"Dia tentu adikku Mong Jui. Akan tetapi bagaimana dia dapat datang berkunjung dari tempat yang sedemikian jauhnya?"

Akan tetapi memang benar Mong Jui karena ia membaca nama ini di dalam daftar hadiah yang kini ditaruh di depannya.

"Bawa dia masuk,"

Katanya kepada pelayannya dan ia sendiri segera berganti pakaian, siap untuk menerima tamunya.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ia melihat dari tirai bahwa yang datang berkunjung itu sama sekali bukan Mong jui, melainkan Chen Ceng Ki!

Apa artinya ini, pikirnya heran.

Betapapun juga, Chen Ceng Ki bukanlah seorang asing dan ia harus pergi menemuinya.

Maka iapun memberi perintah kepada pelayan untuk mempersiapkan hidangan.

Biarpun hatinya penuh kecurigaan melihat betapa Chen Ceng Ki datang berkunjung mempergunakan nama Mong Jui, Akan tetapi melihat orang yang pernah tinggal bersamanya di dalam keluarga Shi Men, timbul keinginan hati Mong Yu Lok untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan Ceng Ki.

Seseorang yang baru saja meninggalkan tempat lama dan pindah di tempat baru yang asing, akan selalu bergembira bertemu dengan seorang kenalan yang datang dari tempat lama.

Kebetulan sekali pada saat Mong Yu Lok memasuki ruangan tamu, suaminya menerima laporan seorang pelayan bahwa di luar datang lagi seorang lain sehingga terpaksa Li-Kongcu meninggalkan isterinya dan adik isterinya itu untuk bicara berdua saja.

Tentu saja hal ini amat menyenangkan hati Ceng Ki karena kesempatan inilah yang ditunggunya agar dia dapat menyampaikan hasrat hatinya kepada Yu Lok.

Setelah saling mengucapkan selamat seperti layaknya dua orang anggauta keluarga saling bertemu, Ceng Ki segera berkata.

"Enci Yu Lok, selama ini aku rindu kepadamu seperti seorang kehausan merindukan air dingin. Masih ingatkah engkau betapa bahagia kita dahulu ketika kita bersama duduk semeja bermain catur? Betapa menyedihkan bahwa semua itu telah berlalu dan nasib demikian kejamnya memisahkan kita."

Mong Yu Lok yang masih belum dapat menangkap maksud hati pengunjungnya, tersenyum.

"Kita harus dapat menerima hal-hal yang tak dapat dihindarkan lagi."

Ceng Ki mengambil sebuah dompet yang terisi manisan. Dompet itu digambari sepasang kekasih yang saling memeluk. Dia menawarkan manisan itu kepada Yu Lok.

"Enci, kalau engkau masih mempunyai perasaan terhadap diriku, ambillah ini dan rasakanlah."

Seketika wajah Mong Yu Lok menjadi marah sekali, melepaskan dompet yang diterimanya itu ke atas lantai.

"Hemm, harap jangan engkau bermain gila! Aku telah menerimamu dengan baik, sebagai seorang sahabat. Harap jangan menyalahgunakan keramahanku, atau aku takkan sudi menerimamu."

Chen Ceng Ki maklum bahwa dia tidak dapat memikat hati wanita itu dan bahwa dia harus merubah siasatnya.

Dengan tenang dia memperlihatkan perhiasan bros itu dan berkata dengan suara yang lain, penuh nada mengancam.

"Akupun bermaksud baik, akan tetapi agaknya engkau tidak mengerti maksudku. Apakah engkau mengenal barang ini? Bahkan namamu terukir di sini. Apakah engkau dapat menyangkal bahwa engkau telah memberikan benda ini sebagai hadiah kepadaku untuk menyatakan cintamu, setelah engkau menyerahkan diri kepadaku? Kemudian engkau melupakan diriku, dan malah menikah dengan Li-Kongcu. Sudahlah, akupun tidak perduli, akan tetapi engkau harus mengembalikan milikku, yaitu peti-peti berharga yang kau bawa dari rumah Shi Men, karena semua itu sebetulnya adalah hak milikku yang datang dari mendiang Pamanku, Jenderal Yang."

Mong Yu Lok terkejut bukan main.

Ia mengenal benda perhiasan bros itu.

Ia kehilangan benda itu dan tak pernah dapat menemukannya kembali.

Bagaimana kini dapat terjatuh ke tangan Ceng Ki?

Iapun bukan seorang bodoh, sama sekali tidak, bahkan ia seorang wanita yang cerdik sekali.

Seketika ia mengerti persoalannya.

Perhiasan yang hilang itu ditemukan Ceng Ki dan kini dipergunakan oleh manusia jahat ini untuk memerasnya!

Akan tetapi, iapun maklum akan bahaya besar yang mengancamnya, maka ia dapat menyembunyikan semua kemarahannya dan iapun tersenyum, melangkah maju dan dengan sikap ramah dan mesra ia memegang tangan Ceng Ki.

"Aih, jangan marah, sayang. Akupun tetap sama seperti dulu dan aku juga amat merindukanmu."

Bukan main girangnya rasa hati, Chen Ceng Ki.

Semua pria memang dapat menjadi lunak seperti malam hangat kalau wanita menghendakinya.

Dirangkulnya Yu Lok dan diciuminya dengan mesra.

Yu Lok tidak menolak, bahkan membalas ciuman itu dengan tak kalah mesranya.

"Katakanlah engkau cinta padaku, agar aku dapat percaya bahwa engkau bersungguh-sungguh"

Bisik Ceng Ki yang merasa diayun di antara awan.

"Ssttt, hati-hati kalau ada yang melihat dan mendengar kita"

Yu Lok juga berbisik dan melepaskan rangkulan mereka, memandang ke kanan kiri.

"Dengarlah, sebuah kapal dengan muatan banyak kain sutera yang kubeli menungguku di Sungai Cing-kiang. Aku akan menunggumu di luar pintu gerbang malam ini. Engkau dapat menyamar sebagai penjaga pintu dan melarikan diri bersamaku."

"Aku akan melakukan semua permintaanmu. Akan tetapi lebih dulu aku harus dapat mengeluarkan barang-barang perhiasan yang amat banyak keluar dari rumah ini. Malam nanti, tepat tengah malam, engkau tunggulah di belakang tembok kebun rumah ini. Aku akan melemparkan bungkusan-bungkusan emas dan perak keluar tembok. Akan menarik perhatian kalau aku harus membawa semua barang itu keluar melalui pintu gerbang."

"Baik sekali!"

Kata Ceng Ki dengan girang.

"Aku akan menunggumu dan memberi tanda batuk tiga kali di luar tembok."

Dia minum tiga cawan arak ketika Li-Kongcu memasuki ruangan dan diapun berpamit, diantar oieh Li-Kongcu sampai ke pintu gerbang.

Chen Ceng Ki memang cerdik dan licik.

Akan tetapi dia lupa akan satu hal.

Andaikata Yu Lok menikah dengan seorang laki-laki yang tua dan lemah, yang sama sekali tidak menarik dan tidak memiliki kedudukan tinggi, mungkin siasatnya itu akan berhasil baik dan Yu Lok akan suka pergi minggat bersamanya dengan senang hati.

Akan tetapi, Yu Lok menjadi isteri Li-Kongcu, seorang laki-laki yang tampan dan gagah, yang berkedudukan tinggi, putera wakil gubernur yang kaya raya.

Oleh karena itu, tidak mungkin ia bersungguh-sungguh mau melarikan diri bersama Chen Ceng Ki yang sudah ia kenal baik bagaimana macam kelakuannya.

Ketika Ceng Ki sudah pergi, Li-Kongcu yang sama sekali tidak menyangka buruk, bertanya kepada isterinya.

"Di mana menginapnya adikmu itu? Aku ingin sekali berkunjung padanya besok untuk membalas kebaikannya."

"Adik apa? Dia sama sekali bukan Mong Jui adikku, melainkan Chen Ceng Ki mantu dari mendiang Shi Men! Dan dia berani datang menggodaku, jahanam kurang ajar itu! Aku tadi tidak membuat ribut untuk menghindarkan aib, dan aku pura-pura menyetujui. Dia memang orang yang berhati busuk sekali, Aku menjanjikan untuk memberinya emas dan perak melalui tembok taman tengah malam ini, dan dia akan menunggu. Kita harus mengatur agar dia ditangkap sebagai pencuri dan mendapat hukuman agar di kemudiann hari tidak akan mengganggu kita lagi."

Tentu saja. Li-Kongcu menjadi marah sekali.

"Jahanam busuk itu! Dia ingin meracuni pernikahan kita yang berbahagia? Dia harus membayar untuk itu Dan aku tidak memulainya, dia sendiri yang datang mencari penyakit."

Tepat pada tengah malam, Chen Ceng Ki berdiri di luar tembok dan dia memberi isarat dengan batuk tiga kali.

Dari balik tembok, Mong Yu Lok menjawabnya dengan lirih.

Tak lama kemudian, sehelai tali turun dari atas tembok ke depan kaki Ceng Ki dan di ujung tali ini terdapat sebuah buntalan besar yang terisi dua ratus ons perak.

Uang ini diambil dari gudang harta yang lebih dulu pintunya telah dirusak sehingga agaknya seolah-olah ada pencuri masuk ke situ mengambil uang.

Chen Ceng Ki membuka bungkusan itu dan memeriksa isinya, dibantu oleh pelayannya, Cen An.

tiba-tiba dari dalam gelap muncul empat orang laki-laki menyerang dan memukul mereka dengan tongkat sambil berteriak-teriak.

"Pencuri-Pencuri...!"

Sebelum Ceng Ki dan pelayannya dapat menyadari apa yang terjadi, mereka telah dibelenggu dan ditangkap, lalu digiring dan di masukan kedalam tahanan di mana Chen Ceng Ki termenung dengan gelisah memikirkan peristiwa yang sama sekali tak pernah diduga-duganya itu.

Pada keesokan harinya, Li-Taijin sendiri yang memeriksa pesakitan itu.

Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa peristiwa pencurian itu diatur oleh puteranya dan mantunya.

"Semalam, dua orang pencuri ini memasuki gudang harta dan mencuri dua ratus ons perak. Mereka ditangkap pada saat mereka hendak melarikan diri melalui tembok kebun. Mereka harus dihukum seberatnya,"

Demikian Li-Taijin berkata kepada hakim yang mengadili perkara itu.

Hakim minta kepada dua orang tertuduh untuk mendekat dan dia merasa heran melihat Chen Ceng Ki yang sikapnya seperti seorang keturunan bangsawan, terpelajar dan bukan seperti seorang pencuri.

"Bagaimana engkau dapat memasuki gudang harta dan melakukan pencurian?"

Dia bertanya, heran. Tentu saja Chen Ceng Ki tidak mampu menjawab. Dia hanya berlutut dan berkali-kali bersoja-sambil berkata.

"Saya tidak bersalah!"

Li-Taijin berbisik kepada hakim itu.

"Pemeriksaan kukira tidak perlu dilakukan lagi. Bagaimanapun juga, mereka berdua ini ditangkap basah. Dua ratus ons perak yang ada pada mereka merupakan bukti yang kuat. Dan pintu gudang harta juga dirusak oleh mereka. Mereka harus diberi hukuman!"

Hakim mengangguk dan memerintahkan petugas untuk menghukum mereka dengan dua puluh kali cambukan. Chen Ceng Ki berteriak-teriak kesakitan.

"Aduh... aduhhh saya tidak bersalah wanita itu yang menjebakku..."

Ucapan ini dapat ditangkap oleh pendengaran hakim.

Setelah sepuluh kali dicambuk, dia memerintahkan petugas untuk menghentikannya.

Dia adalah seorang hakim yang bijaksana, dan dia menduga bahwa tentu terjadi hal yang aneh di balik peristiwa pencurian ini.

Dia mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan untuk membongkar rahasia itu.

"Bawa mereka pergi. Pemeriksaan akan dilanjutkan besok pagi,"

Katanya.

"Kenapa masih harus dipertimbangkan?"

Bisik Li-Taijin.

"Mereka akan mencari akal untuk melakukan kebohongan-kebohongan kalau diberi waktu sehari untuk berpikir."

"Saya mempunyai alasan-alasan saya,"

Kata hakim dengan tegas.

Malam harinya, hakim yang cerdik itu lalu menyuruh seorang mata-matanya, menyamar sebagai , orang tahanan, untuk menyelidiki rahasia itu dari dua orang pencuri itu.

Mata-mata itu berada dalam satu sel dengan Chen Ceng Ki dan kacungnya, dan dia berkata sambil lalu.

"Eh, orang muda. Engkau agaknya bukan orang yang pantas berada di tempat ini. Apakah engkau masuk ke sini karena suatu kesalahan pengertian?,"

Karena yang bertanya adalah seorang tahanan pula, Chen Ceng Ki mencurahkan isi hatinya yang penuh penasaran.

"Aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa sampai terjadi aku ditahan sebagai pencuri. Aku adalah mantu dari mendiang Shi Men, hakim distrik Ceng-Ho-Sian, yang mempunyai hubungan cinta dengan seorang wanita she Mong yang kini menjadi isteri Li-Kongcu. Ketika menikah, ia membawa sepuluh peti terisi barang-barang peninggalan dari Pamanku, mendiang Jenderal Yang, yang menjadi hakku. Aku datang untuk minta barang-barang itu darinya. Akan tetapi ia bersekongkol dengan suaminya, mempermainkan aku dan menuduh aku sebagai pencuri dua ratus ons perak."

Ketika pada keesokan harinya diadakan pengadilan lagi, dalam persidangan itu, dengan suara nyaring hakim mengumumkan bahwa Chen Ceng Ki dan kacungnya dibebaskan dan tuduhan itu dicabut.

"Tapi kenapa?"

Tanya Li-Taijin.

"Kesalahan mereka sudah terbukti!"

Dengan sikap angkuh, yakin akan kekuasaannya sebagai hakim, hakim itu di depan para petugas di kantor itu lalu berkata.

"Kami diangkat menjadi hakim bukan untuk menindas yang lemah dan membela yang berkedudukan atau yang kaya. Pemuda itu datang untuk menuntut haknya, minta kembali barang-barangnya peninggalan mendiang Jenderal Yang dari mantumu, akan tetapi dia malah dituduh sebagai pencuri. Sungguh perbuatan itu tidak patut dilakukan oleh keluarga pejabat pemerintah yang seharusnya bertindak adil."

Li-Taijin tentu saja merasa malu sekali dan wajahnya menjadi merah. Kemarahan ini ditumpahkan ketika dia tiba di rumahnya.

"Sungguh kurang ajar sekali anak kita itu!"

Teriaknya kepada isterinya.

"Karena ulahnya maka aku mendapat penghinaan dan menerima tamparan keras sehingga menderita malu besar di depan banyak pejabat."

Dia lalu memanggil puteranya, menyuruh orangnya memberi hukuman tiga puluh kali cambukan dan membelenggunya, menahannya dalam sebuah kamar kosong, di mana dia akan dibiarkan mati kelaparan.

Dan mantunya akan diusir dengan tidak hormat dari rumah itu.

Akan tetapi isterinya membujuk dan memohon pengampunan kepadanya sehingga akhirnya Li-Taijin hanya menyuruh mereka berdua pergi meninggalkan rumah, dalam waktu tiga hari.

Sementara itu, Chen Ceng Ki yang masih merasa nyeri tubuhnya akibat pencambukan di pengadilan, kembali ke kapal yang memuat barangnya dan dijaga oleh Yang.

Uangnya sudah habis dan diapun pergi ke rumah penginapan di mana Yang tinggal ketika dia meninggalkannya.

Akan tetapi pembantunya itu tidak ada lagi di situ.

"Dia telah pergi kemarin dulu,"

Kata pengurus penginapan.

"Dia bilang bahwa engkau telah menyurat bahwa engkau tidak dapat datang dan bahwa dia tidak perlu menunggu lagi. Maka diapun sudah berangkat pulang dengan kapal yang membawa barangmu itu."

Tentu saja Ceng Ki terkejut dan marah sekali.

Dia lari ke pelabuhan dan benar saja, kapal itu telah pergi.

Dia harus pulang, akan tetapi uangnya telah habis.

Terpaksa dia harus menjual semua perhiasan yang menempel di tubuhnya, bahkan juga pakaian suteranya.

Uang hasil penjualan ini hanya cukup memberinya sebuah tempat buruk di dek sebuah perahu yang akan membawanya pulang ke Ceng-Ho-Sian.

Akhirnya, dalam perjalanan yang amat melelahkan, menderita kelelahan dan kelaparan, pakaiannya kotor dan robek-robek seperti pengemis, akhirnya tibalah dia di rumahnya.

Keadaan yang buruk dan sengsara ini ditambah lagi dengan keadaan rumah tangganya, yang membuat Chen Ceng Ki menjadi semakin marah.

Kiranya ketika dia tidak berada di rumah, selalu terjadi keributan antara isterinya dan Kim Giok, selirnya.

Dua orang wanita yang bersaingan ini selalu cekcok.

Ketika dia pulang, tentu saja dua orang wanita itu melaporkan keburukan lawan.

"Perempuan itu menggunakan semua uang keperluan rumah tangga untuk kepentingannya sendiri,"

Kata isterinya.

"Ia selalu mengundang seorang teman dari rumah pelesir ke sini dan memberi laki-laki itu entah berapa banyak uang dan selalu makan minum dengan laki-laki itu. Ia tidur sampai siang dan tak pernah membantu pekerjaan runah tangga."

Sebaliknya Kim Giok juga mengadu.

"Ia tidak pernah bekerja sehingga keadaan rumah tangga morat-marit. la memasak daging untuk ia sendiri dan pelayannya, dan membuat kue-kue. Untukku, sudah cukup kalau aku mendapatkan semangkok bubur."

Tentu saja Ceng Ki memihak kekasihnya.

"Engkau sungguh tidak pantas, pelit dan kejam!"

Bentaknya kepada isterinya, bahkan menendangi isterinya dan pelayan isterinya.

"Engkau perempuan pelacur!"

Isteri Ceng Ki memaki saingannya.

"Engkau memutarbalikkan kenyataan! Engkau ingin menyingkirkan aku dan menggantikan tempatku agar kelihatan penting. Akan tetapi, lebih baik aku mati daripada harus sederajat dengan perempuan macam engkau!"

"Diam!"

Bentak Chen Ceng Ki.

"Engkau memang bukan sederajat dengannya, engkau tidak lebih berharga dari sekuku hitam jari kakinya!"

Dan Ceng Ki menjambak rambut isterinya dan memukulinya sampai mulutnya berdarah dan wanita itu jatuh pingsan.

Pada malam hari itu, ketika Chen Ceng Ki tidur sambil memeluk Kim Giok, isterinya menggantung diri sampai mati dalam usia dua puluh empat tahun!

Peristiwa ini tentu saja menggegerkan dan pelayan yang merasa penasaran tentu saja mengabarkan keluar sehingga peristiwa kematian wanita yang malang itu sampai juga ke telinga Goat Toanio.

Memang sejak dahulu Goat Toanio membenci Chen Ceng Ki, maka berita itu membuat marah bukan main!

la lalu mengajak empat pelayan laki-laki dan empat orang pelayan wanita untuk menemaninya berkunjung ke rumah Chen Ceng Ki untuk berkabung.

la sembahyang di depan peti jenazah dan berkabung sejenak, kemudian ia memberi isarat kepada delapan orang pelayannya yang memang sudah dipersiapkan untuk itu.

Delapan orang ini lalu mengeroyok Ceng Ki, merobohkannya ke atas lantai dan memukulinya, menganianya, mencakarnya, Bahkan ada pelayan wanita yang menggunakan jarum dan tusuk sanggul menusukinya, Ceng Ki menjerit-jerit, babak belur mandi darah sampai setengah pingsan.

Kemudian, atas perintah Goat Toanio, mereka menyeret Kim Giok yang bersembunyi di bawah tempat tidur, kini memukulinya dan mencakarinya sampai wanita ini setengah mati baru dilepaskan.

Goat Toanio masih belum puas Bersama para pelayannya, ia lalu menghancurkan semua perabot rumah, memecahkan tirai-tirai, memecahkan semua mangkok piring, menyayati kasur bantal, pendeknya, tidak ada barang di rumah itu yang dibiarkan utuh!

Barulah Goat Toanio mengajak orang-orangnya pergi meninggalkan rumah itu.

Akan tetapi, ia masih juga belum puas dan setibanya di rumah, Goat Toanio mengadakan perundingan dengan dua orang saudara laki-lakinya.

"Dia telah mendorong isterinya untuk bunuh diri, dan hal ini dapat dilaporkan sebagai pembunuhan,"

Demikian Kakaknya memberi nasihat.

"Dia harus diberi pelajaran dan hukuman untuk menebus dosa-dosanya dan juga agar kelak jangan berani mengganggumu lagi."

Goat Toanio setuju dan pada hari itu juga ia mengajukan dakwaan dan tuntutan terhadap mantunya.

Petugas lalu datang dan menangkap Chen Ceng Ki dan Kim Giok.

Setelah membaca dakwaan dan tuntutan Goat Toanio, hakim lalu memberi hukuman pertama dua puluh pukulan kepada Ceng Ki, sedangkan Kim Giok sebagai pembantu yang melakukan kejahatan, dihukum siksa jepit jari tangan, kemudian dijebloskan lagi dalam kamar tahanan.

Karena pembantu Ceng Ki, yaitu Yang, telah melarikan semua barang yang merupakan kekayaan terakhir, Ceng Ki sudah tidak mempunyai apa-apa.

Akan tetapi Cen Ting, pelayannya, berhasil menjual barang-barang yang berharga dan berhasil mengumpulkan uang seratus ons untuk diberikan kepada hakim yang memeriksa mayat isteri Ceng Ki melaporkan bahwa kematian itu terjadi akibat bunuh diri menggantung, Bukan karena dibunuh walaupun wanita itu menggantung diri karena patah hati setelah dipukuli suaminya.

Kenyataan ini membuat hakim merasa lega.

Dia telah menerima seratus ons perak, dan kini dia mempunyai alasan untuk menghindarkan Ceng Ki dari tuduhan membunuh karena isterinya itu ternyata mati karena bunuh diri.

Ketika sidang pengadilan diadakan lagi, hakim memutuskan untuk menghukum Chen Ceng Ki dengan sepuluh cambukan lagi dan hukum penjara selama satu bulan saja, sedangkan Kim Giok dikirim kembali ke rumah pelesir.

Juga Ceng Ki diancam agar jangan mengganggu Ibu mertuanya, Goat Toanio, dan harus mengadakan penguburan yang patut bagi isterinya.

Sekali ini Chen Ceng Ki benar-benar bangkrut!

Pukulan-pukulan nasib buruk yang menimpanya bertubi-tubi, yang terakhir biaya penguburan isterinya, membuat dia habis-habisan.

Dua buah rumahnya yang lebih kecil sudah dijualnya untuk semua pengeluaran itu.

Dan kini, satu demi satu, perabot rumahnya yang besar harus pula dijualnya untuk biaya hidup.

Celakanya, dia sudah biasa hidup mewah dan royal, dan sukar baginya untuk menanggalkan kebiasaan ini sehingga dalam keadaan menganggur dan mengandalkan semua pengeluaran dari penjualan perabot rumah dan akhirnya rumah besarnya juga dan sisa uangnya dipakai untuk beroyal-royalan, untuk berjudi, sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, Chen Ceng Ki telah menjadi seorang pengemis!

Dia harus melewatkan malam harinya di antara para pengemis, di emper-emper, di kolong jembatan, dan di Kuil-Kuil kosong.

berbagi tempat dengan para pengemis lain, bahkan kadang-kadang membagi makanan dengan para pengemis lain.

Di kota Ceng-Ho-Sian tinggal seorang hartawan bernama Wang Ting Yang.

Hartawan yang usianya sudah enam puluh tahun ini, kini hidup sebagai seorang dermawan.

Setiap hari dia lebih suka bersamadhi, membuat doa dengan tasbihnya, dan membagi-bagikan sebagian dari harta kekayaannya kepada tempat-tempat ibadah, kepada fakir-miskin.

Pada suatu hari di musim salju yang dingin, dia duduk di depan pintu gedungnya, memegang tasbih dan memandang ke jalanan yang sepi.

Di luar rumah terlampau dingin sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ada orang yang ke-luar rumah, lebih enak tinggal di dalam rumah di mana bernyala api pemanas.

Kebetulan sekali, pada saat Kakek ini duduk melamun di depan rumah, lewatlah Chen Ceng Ki.

Ketika dia memandang Kakek itu yang seorang kenalan baik mendiang Ayahnya timbullah keinginan hatinya untuk minta tolong Kakek hartawan itu Dia lalu menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut memberi hormat, Kakek Wang membalas penghormatannya dengan ramah.

"Siapakah anda, orang muda? Mata tuaku sudah lamur dan tidak dapat mengenalmu lagi." (Lanjut ke

Jilid 12) Si Teratai Emas (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Saya adalah putera dari mendiang Cheng Hung,"

Kata Ceng Ki yang menggigil kedinginan, juga merasa malu, sekali mengingat akan keadaan dirinya.

Kakek itu memandang terbelalak, mengamati pemuda itu dari kepala sampai ke kaki, lewat pakaiannya yang kotor dan koyak-koyak, mukanya yang kurus pucat.

"Aih, keponakanku, bagaimana engkau sampai menjadi begini? Bagaimana kabarnya orang-tuamu?"

"Keduanya telah meninggal dunia."

"Apakah engkau tidak lagi tinggal di rumah mertuamu? "Ayah mertua saya telah meninggal dunia. lbu mertua saya mengusir saya keluar dari rumah, bahkan ia menuntut saya ketika baru-baru ini isteri saya meningga.! Karena pernikahan yang tidak patut itu saya telah kehilangan segala-galanya, harus menjual rumah dan segala barang yang saya miliki. Sekarang saya sudah tidak punya apa-apa lagl, dan terpaksa harus mengemis..."

Kakek itu menarik napas panjang "Sekarang engkau tinggal di mana?"

"Di bawah jembatan bersama para pengemis lain..."

"Ah... ah, sungguh menyedihkan! Masih teringat olehku ketika sahabat baik ku, Ayahmu itu, masih tinggal di sini dan engkau masih seorang anak kecil. Betapa terhormat dan makmur keadaan keluargamu ketika itu. Dan sekarang keadaanmu seperti ini, sungguh mengenaskan sekali. Apakah tidak ada anggauta keluarga lain yang dapat membantumu?"

"Tidak ada dan satu-satunya Paman saya yang tinggal di sini tidak mau menerima saya."

Kakek Wang Ting Yang mengajak Chen Ceng Ki masuk, memberinya makan sekenyangnya, kemudian memberinya pakaian yang pantas dan lima ratus uang tembaga ditambah satu ons perak.

"Di luar kota terdapat sebuah Kuil Tao, dan aku bersahabat, baik dengan ketua Kuilnya. Bagaimana kalau kita pergi ke sana dan akan kubujuk dia agar merimamu sebagai seorang kacung Kuil? Tentu saja engkau harus bekerja disana akan tetapi, bagaimanapun juga, engkau akan hidup terhormat dan cukup makan."

"Saya setuju sekali, Paman yang budiman."

Setelah membuatkan dua stel pakaian kacung Kuil untuk Chen Ceng Ki, Kakek itu lalu mengajaknya pergi ke Kuil Tao yang jauhnya ada tujuh belas li.

Setelah diterima oleh ketua Kuil, Kakek Wang menyerahkan sumbangan berupa segulung kain Sutera, seguci anggur, beberapa potong dendeng kering, dua ekor bebek panggang, dua keranjang buah dan lima ons perak, berikut permohonannya agar Chen Ceng Ki dapat diterima bekerja di Kuil itu sebagai kacung.

Yen Tosu, ketua Kuil itu, menerima sumbangan tadi dengan gembira, apalagi ketika dia melihat bahwa calon kacung itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan dan bertubuh tegap.

Tanpa banyak alasan lagi diterimanya Chen Ceng Ki dengan gembira dan setelah Kakek Wang pergi dan mereka berdua saja di dalam ruangan belakang, Yen Tosu bertanya.

"Berapakah usiamu?"

"Dua puluh empat tahun"

Jawab Ceng Ki.

"Baik, mulai sekarang engkau menjadi kacung Kuil dan pembantuku yang baru dan namamu yang baru sebagai angauta Kuil adalah Tiong Bi, yaitu Sumber Kecantikan."

Kepala Kuil Yen Tosu ini bukanlah seorang Pendeta yang menjauhi kesenangan dunia.

Dia masih suka pesta, makan daging, minum anggur.

Dia tidak kekurangan dana karena Kuilnya berada didekat kota Lin-Cing, sebuah kota pelabuhan sungai yang ramai oleh arus lalu lintas air.

Banyak pengunjung datang ke Kuil itu dan mereka ini tentu saja menyumbang agar permohonan mereka kepada dewa penunggu Kuil dapat mudah terlaksana.

Yen Tosu bahkan mempergunakan kelebihan uang penghasilan Kuil itu untuk membuka toko beras dan tempat penukaran uang di pelabuhan Lin-Cing, yang, menghasilkan keuntungan cukup banyak.

Untuk mengurus perusahaannya, dia mempunyai seorang kepercayaan yang pandai berdagang.

Dia sendiri telah mempunyai dua orang kacung yang tampan, yang menemaninya, melayaninya untuk keperluan sehari-hari, juga menjadi teman-teman tidurnya.

Semua teman dekatnya tahu belaka bahwa Yen Tosu adalah seorang Kakek yang suka membawa pemuda-pemuda tampan ketempat tidurnya.

Inilah sebabnya mengapa tosu ini demikian gembira menerima Chen Ceng Ki, karena pemuda ini amat tampan.

Beberapa hari kemudian, setelah mengajak Ceng Ki makan minum dan membuat pemuda itu agak mabuk oleh minuman keras, Yen Tosu mengajak Ceng Ki tidur di dalam kamarnya.

Ceng Ki adalah seorang muda yang berpengalaman dan melihat keadaan ini, ia menggunakan akal demi keuntungan dirinya.

Dia pura-pura menolak keras dan seolah-olah hendak berteriak.

Ketika Kakek yang terkejut itu menutup mulutnya dengan tangan, Ceng Ki berkata.

"Ah, kiranya engkau suka padaku. Baiklah, aku akan melayanimu, tetapi dengan tiga syarat."

Kakek Pendeta yang sudah dicengkeram nafsu itu, menjawab dengan penuh gairah.

"Jangan hanya tiga, biar sepuluh syaratpun akan kupenuhi"

"Pertama, tidak boleh ada lain orang menemanimu tidur. Ke dua, aku minta kunci dari kamar-kamar di Kuil dan pintu gerbang. Dan ke tiga, aku minta agar boleh keluar dan masuk Kuil sesuka hatiku."

"Hanya itu? Permintaanmu kusetujui!"

Kembali dengan kecerdikannya Ceng Ki dapat hidup senang walaupun dia menjadi kacung Kuil.

Dia bebas pergi kemana saja, dapat memakai uang dan ambil apa saja yang diperlukannya.

sementara dengan, kepandaiannya dia berhasil menguasai kepala Kuil itu yang menjadi tergila-gila kepadanya dan setiap malam tidur bersama pemuda yang menjadi kekasih barunya itu, Pada suatu hari ketika Chen Ceng Ki pergi mengunjungi kota Lin-Ceng, dari teman dia mendengar bahwa seorang sahabat lama, bekas kekasihnya, yaitu Kim Giok, berada di kota itu.

Bekas pelayan di dalam rumah keluarga Shi Men, setelah keluar dari situ, menjadi anggota keluarga rumah pelesiran milik Bibi Ceng di Ceng-Ho-Sian, akan tetapi sekarang wanita muda yang cantik ini bekerja di dalam sebuah kedai arak yang besar di Lin-Ceng.

Mendengar ini, giranglah hati Ceng Ki.

Dia membawa uang secukupnya dari Kuil, kemudian bersama temannya pergi mengunjungi kedai arak itu.

Ketika Kim Giok melihat munculnya Ceng Ki, Ia terbelalak dan sepasang mata yang indah itu lalu menjadi basah dan berderailah air matanya.

Ceng Ki juga merasa terharu, dengan lembut diapun membimbing tangan wanita itu dan diajaknya duduk di sampingnya.

Kini Kim Giok menangis di atas pundak bekas kekasih itu.

"Sudahlah sayang, kini aku. telah berada di sampingmu lagi, jangan bersedih."

Setelah teman Ceng Ki yang tahu ?iri meninggalkan mereka berdua saja, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing sejak berpisah, kemudian merekapun berpesta untuk merayakan pertemuan kembali itu yang ditutup dengan pelepasan kerinduan yang mesra dan memuaskan kedua pihak.

Mulailah hari itu terjadilah hubungan yang akrab antara Chen Ceng Ki dan Kim Giok, melanjutkan hubungan mereka yang dahulu terputus ketika isterinya mati menggantung diri dan Kim Giok akhirnya dijual ke rumah pelesiran.

Kini seminggu dua tiga kali Chen Ceng Ki datang berkunjung dan bersenang-senang dengan kekasihnya itu.

Kedai arak yang juga menjadi rumah pelesiran di mana kini Kim Giok tinggal adalah milik seorang she Liu dan dia adalah ipar dari Chang Shong, yang terkenal sebagai seorang tukang pukul yang ugal-ugalan, sewenang-wenang mengandalkan kekuatan dan keberanniannya yang didasari kedudukannya sebagai seorang pelayan pembesar tinggi.

Chang Shong ini bukan hanya suka, mabuk-mabukan akan tetapi juga suka mengganggu gadis-gadis penghibur yang datang ke kedai arak itu untuk melayani para tamu.

Dia memeras mereka dengan kekerasan, mengharuskan mereka membayar semacam uang pajak.

Setiap waktu dia menghendaki, wanita-wanita penghibur itu harus mau melayaninya dan dia memperlakukan mereka dengan kasar dan kejam.

Pada suatu siang, ketika Cheng ki sedang duduk bersendau gurau dengan Kim Giok di dalam kamarnya sambil minum arak, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar dengan keras.

Karena Kim Giok agak lambat membukakannya, pintu itu ditendang dari luar sehingga terbuka dan muncullah Chang Shong yang mukanya merah karena mabuk dan marah, matanya melotot penuh ancaman.

Chen Ceng Ki terkejut dan ketakutan, akan tetapi Kim Giok dengan sikap ditenangkan lalu bangkit dan menghampirinya, bertanya dengan sikap manis.

"Ada urusan apakah, Paman Chang yang baik?"

"Hemm, enak saja engkau main-main pelacur busuk! Engkau masih berhutang uang pajak tiga bulan kepadaku. Hayo bayar!"

"Biarlah nanti akan kubayar, Paman. Harap sabar sebentar,"

Kata Kim Giok masih menyembunyikan rasa takutnya di balik senyum manis.

Akan tetapi, dengan marah Chang Shong mendorong wanita itu sampai terpelanting dan kepalanya membentur meja sampai mengeluarkan banyak darah.

"Aku tidak bisa menunggu lagi! Aku harus menerimanya sekarang!"

Teriaknya kepada Kim Giok yang masih rebah di atas lantai.

Kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadapi Chen Ceng Ki, matanya melotot marah.

Sekali tendangan membuat meja di antara mereka terlempar, membuat mangkok piring berserakan.

Melihat kekasihnya diperlakukan kasar, Chen Ceng Ki merasa bahwa sudah tiba saatnya dia memperlihatkan kejantanannya.

"Hai. siapakah engkau itu yang masuk dengan kekerasan seperti orang biadab?"

"Apa? Seorang Pendeta laknat macam engkau berani membuka mulut? Engkau Pendeta busuk tukang lacur, biar kuhajar engkau"

Bentak Chang Shong dan diapun menerjang dengan marah.

Ceng Ki berusaha melawan, namun sia-sia saja.

Dia seorang pemuda yang lemah dan terlalu banyak pelesir dengan wanita, mana mungkin mampu melawan seorang jagoan tukang pukul seperti Chang Shong?

Dia dibanting ke atas lantai dan dihujani pukulan dan tendangan sampai jatuh pingsan.

Petugas Keamanan datang dan setelah mendengar dari Chang Shong yang mereka kenal sebagai pelayan kepercayaan Jaksa Chow, Tentu saja mereka lebih percaya kepada pelayan pembesar itu dan Chen Ceng Ki bersama Kim Giok lalu ditangkap dan diseret ke pengadilan.

Sebelum diadili, mereka dijebloskan ke dalam tahanan.

tempat tahanan, para petugas tahanan, yang juga merangkap sebagai tukang siksa di pengadilan, segera mengancam dan membujuk kepada Chen Ceng Ki agar 'bersikap baik"

Terhadap mereka, dan tidak melupakan "jasa"

Mereka.

Chen Ceng Ki mengerti apa maksud mereka yaitu mereka minta uang suapan, akan tetapi dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

Baju luarnya telah terobek ketika dia dipukuli Chang Shong, dan uang dalam sakunyapun hilang.

Yang dimilikinya hanyalah sebuah hiasan rambut dari perak dan benda itulah yang diberikan kepada petugas tahanan, yang diterimanya dengan wajah muram oleh para petugas itu.

Keadaan Kim Giok lebih baik.

Bibi Ceng, yaitu mucikari yang mengurus semua keperluan Kim Giok, cepat membagikan empat ons uang kepada Petugas tahanan yang tentu saja merasa senang dan mereka menjanjikan untuk bersikap lunak terhadap wanita pelacur ini kalau terjadi pemeriksaan pengadilan tiba.

Seperti kita ketahui,Chow-Taijin adalah jaksa yang, berkuasa dan dia telah menerima Cun Bwe sebagai selirnya yang tercinta.

Cun Bwe adalah bekas pelayan Kim Lian ketika masih bekerja di rumah keluarga Shi Men.

Setelah Cun Bwe melahirkan seorang putera, maka kesayangan Chow-Taijin terhadap dirinya menjadi semakin besar, Apalagi ketika isteri Pertama meninggal dunia, maka Cun Bwe diangkat menjadi isteri pertama!

Tentu saja kedudukannya menjadi tinggi dan mulia, dan segala keinginannya dipenuhi belaka oleh suaminya.

Anak laki-laki yang kini berusia enam bulan itu amat dekat dengan Chang Sheng tukang pukul yang menjadi pelayan kesayangan dan kepercayaan Chow-Taijin.

Seringali anak itu dipondongnya dan diajaknya bermain-main.

Bahkan kalau Chow-Taijin sedang mengadakan pemeriksaan dalam sidang pengadilan, dimana Chang Shong hadir, pelayan ini seringkali mengajak anak itu bersamanya.

Demikian pula, ketika Chen Ceng Ki dan Kim Giok diadili, Chang Shong juga hadir sambil mondong anak kecil putera Chow-Taijin.

dan Cun Bwe itu.

Keputusan pengadilan itu cepat sekali.

Setelah ditanya nama dan pekerjaannya, hakim memutuskan.

"Orang muda Chen, sebagai seorang anggauta Kuil Tao, engkau telah melanggar pantangan Kuil, engkau minum arak dan melacur di tempat umum, bahkan membikin ribut! Karena itu, kami Menuntut untuk memberi hukunan Cambuk dua puluh kali kepadamu, dan engkau tidak boleh lagi menjadi Pendeta Tao."

Kemudian kepada Kim Giok, pembesar itu berkata.

"Engkau kami jatuhi hukuman jepit jari lima puluh kali, dan engkau tidak boleh kembali ke kedai arak di Lin-Ceng melainkan harus kerumah pelacuran di mana engkau berasal."

Hukuman itu segera dilaksanakan.

Beberapa orang algojo melaksanakan hukumnan jepit jari kepada Kim Giok, akan tetapi mereka benar-benar melakukannya dengan lunak sehingga wanita itu tidak begitu tersiksa.

Sebaliknya, mereka melaksanakan hukuman terhadap Chen Ceng Ki, merangket orang muda itu dengan sepenuh tenaga tanpa mengenal kasihan lagi.

Tiba-tiba terjadilah suatu keanehan.

Anak laki-laki yang berada dalam pondongan Chang Shong, tiba-tiba meronta ronta dan mengulurkan kedua tangan ke arah Chen Ceng Ki.

Chang Shong berusaha mendiamkannya namun sia-sia saja, maka, khawatir kalau pembesar itu terganggu dan marah, Chang Shong segera mengajak anak yang masih menangis itu masuk ke dalam.

"Eh... apa yang terjadi dengannya?"

Tanya Cun Bwe ketika anak itu dibawa masuk ke dalam keadaan menangis semakin kuat.

"Sungguh saya sendiri merasa heran, Nyonya. Biasanya dia diam saja menyaksikan Semua peristiwa di pengadilan, akan tetapi ketika pesakitan Chen dari Kuil Tao itu dihukum cambuk, dia lalu menangis dan meronta-ronta, maka terpaksa saya ajak masuk,"

Kata Chang Shong.

"Chen...!"

Cun Bwe bertanya kaget dan iapun cepat menuju ke luar dan mengintai dari balik tirai.

Dan benar saja, sekali lirik tahulah ia bahwa pemuda yang mengaduh-aduh di bawah cambukan itu bukan lain adalah Chen Ceng, mantu Shi Men yang pernah menjadi kekasihnya pula ketika pemuda itu mengadakan hubungan gelap dengan Kim Lian, bekas majikannya.

Melihat ini, cepat Cun Bwe menyuruh Chang Shong untuk memanggil suaminya.

Chang Shong cepat keluar dan mendengar bahwa isterinya memanggilnya sekarang juga, Jaksa Chow yang segera meninggalkan ruangan sidang dan masuk ke dalam.

Para algojo yang baru mencambuk sepuluh kali, terpaksa menunda kelanjutannya hukuman itu sambil menanti kembalinya Chow-Taijin.

"Ada apakah?"

Tanya Chow-Taijin kep?da isterinya.

"Pendeta muda itu adalah saudara sepupuku dari pihak Ibu. Karena itu, aku mohon kepadamu, ampunkan dia dan aku ingin bicara dengannya."

"Ah, kenapa tidak lebih dulu engkau beritahu? Sekarang dia sudah menerima sebagian dari hukumannya."

Chow-Taijin kembali ke ruangan itu dan memberitahu kepada para pegawainya.

"Pesakitan itu dibebaskan dari sisa hukumannya, dan wanita itu segera dikirim kembali ke rumah pelacuran!"

Kemudian kepada Chang Shong dia berkata.

"Jangan biarkan Pendeta muda itu pergi, isteriku ingin bicara dengannya karena dia masih saudara sepupunya."

Sementara itu, dengan jantung berdebar, Cun Bwe menanti saat pertemuannya dengan Chen Ceng, sambil mengenang kembali saat-saat indah dan mesra ketika dia masih menjadi kekasih pemuda itu.

Akan tetapi tiba-tiba ia teringat Sun Siu Oh!

Ah, hampir saja ia lupa akan adanya wanita itu di dalam rumahnya dan bekerja sebagai pelayan dapur!

Tentu saja Sun siu oh akan mengenal Chen Ceng Ki dan akan membuka rahasia kepada Chow-Taijin bahwa pemuda itu bukanlah saudara sepupunya, melainkan bekas kekasihnya!

"Katakan kepada saudara misanku itu bahwa pada saat ini aku belum sempat menerimanya dan aku akan menentukan waktunya untuk bertemu dengannya,"

Katanya kepada Chang Shong.

Biarpun Chen Ceng Ki merasa menyesal bahwa dia tidak segera dapat bertemu dengan Cun Bwe lagi, namun dia merasa lega bahwa dia merasa telah dapat terbebas dengan mudah walaupun punggungnya merasa pedih oleh cambukan sepuluh kali tadi.

Diapun menerima pesan melalui Chang Shong itu dan dia meninggalkan kantor pengadilan, masuk ke kota Ceng-Ho-Sian dengan bebas, Cun Bwe mengasah otaknya yang cerdik.

Bagaimanapun juga, ia harus dapat mengadakan pertemuan.

dengan bekas kekasihnya itu, akan tetapi seorang yang menjadi penghalang harus disingkirkan lebih dahulu, yaitu Sun Siu Oh.

Dicarilah gara-gara.

Melalui pelayannya, Ia memesan kepada Siu Oh untuk membuatkan masakan sup ayam yang lezat.

Siu Oh melaksanakan perintah itu dengan hati-hati, iapun memasak sup ayam yang kelihatan lezat dan dengan baunya yang harum sedap, Akan tetapi, begitu mencicipi sedikit Cun Bwe memuntahkannya kembali dan memaki-maki, mengatakan bahwa sup itu tidak ada rasanya sama sekali, hambar dan tidak enak, dan minta kepada pelayan untuk membawanya kembali ke dapur.

Pelayan itu membawa masakan ke dalam dapur dan mengatakan kepada Siu Oh bahwa majikannya menganggap masakan itu hambar dan kurang bumbu.

Kini, setelah dicicipi lagi, Cun Bwe marah-marah.

"Huh, apakah ia ingin meracuni aku dengan masakan ini?"

Dan didorongnya panci sup itu sehingga isinya tumpah.

"Panggil ia ke sini untuk minta ampun, aku sungguh marah kepadanya."

Mendengar Ini Siu Oh mengomel.

"Hemm, baru saja ia mendapat kedudukan sedikit saja, ia sudah bersikap congkak dan menekan pelayan-pelayannya."

Si pelayan tentu saja menyampaikan omelan ini kepada Nyonya majikannya dan Cun Bwe semakin marah.

"Keparat bermulut busuk, seret ia ke sini!"

Lalu empat orang pelayan wanita menangkap Siu Oh dan menyeretnya ke depan kaki Cun Bwe.

"Bagus ya? Kami memperlakukanmu dengan baik-baik di Sini, memberimu tempat dan makan, dan engkau membalasnya dengan kekurang ajaran mulutmu! Aku tidak sudi mempunyai koki macam engkau!"

Cun Bwe memanggil suaminya dan minta kepada suaminya untuk menghukum Sun Siu Oh yang dikatakannya kurang ajar dan berani memakinya.

Tanpa banyak cakap lagi Siu Oh lalu diseret ke tempat penyiksaan dan merima hukuman tiga puluh kali cambukan dengan telanjang bulat.

Akan tetapi Siu Oh melawan ketika hendak ditelanjangi dan tidak sudi bertelanjang di depan umum.

Para pelayan juga meragukan perlakuan ini, sedangkan isteri ke dua Chow-Taijin juga merasa betapa hukuman itu keterlaluan Maka iapun berkata.

"Nyonya Besar, berilah ia hukuman cambuk sesukamu akan tetapi harap jangan menyuruh membuka pakaian di depan umum, ini tidak pantas."

Mendengar ini, Chow-Taijin mengangguk-angguk. Diapun tidak setuju dengan keputusan itu, akan tetapi tidak berani berterang menentang kehendak isterinya yang tercinta.

"Apa, engkau membelanya?"

Cun Bwe berteriak.

"Apakah kalian ingin aku menjadi gila? Akan kubanting mati anakku dan aku menggantung diri!"

Dan iapun melempar dirinya ke atas lantai. Chow-Taijin cepat merangkul dan memeluknya.

"Baiklah, kehendakmu akan terlaksana"

Dia menghibur dan demikianlah, Sun Siu Oh yang malang terpaksa harus menelungkup dan merima cambukan Sebanyak tiga puluh kali di pinggulnya.

Dan pada hari itu juga Siu Oh dijual kepada Bibi Pi yang membawanya pergi.

Cun Bwe hanya menjual Siu Oh seharga delapan ons saja, amat murah, akan tetapi Ia berpesan kepada Bibi Pi bahwa harga itu diberikan dengan syarat bahwa Siu Oh harus dijual ke rumah pelacuran!

Karena mendapat kesempatan untuk mengeduk keuntungan sebanyaknya, Bibi Pi lalu menyanggupi dan iapun mengatur rencana.

la menghubungi rumah pelacuran terbesar dan melalui seorang perantara yang menyamar sebagai duda Iapun menjual Siu Oh kepada duda itu untuk harga dua puluh lima ons.

Sang duda membayar harga itu dan membawa Siu Oh pulang, bukan ke rumahnya sebagai isterinya yang ke sekian karena isteri pertama sudah meninggal, melainkan ke rumah pelacuran itu.

Siu Oh terkejut bukan main, Ia menangis dan memberontak, namunn ia disiksa, dipaksa dan akhirnya semua kemarahan dan pemberontakannyapun dapat ditekan dan ditundukkan.

Ia harus belajar memainkan alat-alat musik dan setelah ia pandai, ia diharuskan berias diri, mengenakan pakaian indah dan mulailah ia bekerja sebagai seorang pelacur!

Rumah pelacuran itu bukan lain adalah milik Liu ipar dari Chang Shong!

Pada suatu hari, Chang Shong yang dihormati dan ditakuti sebagai pegawai berkunjung ke rumah pelacuran milik iparnya itu.

Seperti biasa, dia disambut dengan hormat dan dipersilakan memilih bunga-bunga hidup yang terdapat di situ.

Mendengar akan adanya seorang bunga baru yang cantik, ia memilihnya dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengenal pelacur ini sebagai Sun Siu Oh, bekas tukang masak rumah majikannya yang baru saja diusir keluar dari rumah itu.

Juga Siu Oh mengenalnya dan pura-pura tidak Mengenalnya di depan orang banyak.

Barulah setelah.

mereka bereda berdua di dalam kamar, Chang Shong bertanya.

"Bukankah engkau Sun Siu Oh? Bagaimana engkau bisa berada di tempat ini?"

Siu Oh menangis.

"Aku ditipu Bibi Pi, katanya dinikahkan dengan seorang duda, kiranya duda itu adalah perantara yang membawaku ke tempat ini. Aku dipaksa bernyanyi dan tertawa, padahal hatiku menangis air mata darah."

Chang Shong memang sejak wanita itu menjadi koki di rumah majikannya, juga merasa kagum dan suka kepada wanita ini.

Maka sekarang dia memperoleh kesempatan dan diapun mengajak Siu Oh makan minum, menyuruhnya bernyanyi dan malam itu dia menjadikan Siu Oh kekasihnya.

Pada keesokan harinya, Chang Shong berpesan kepada iparnya bahwa mulai hari itu, Siu Oh adalah miliknya dan tidak boleh melayani laki-laki lain.

Dialah yang akan memberinya belanja setiap bulannya.

Pertemuannya dengan Chang Shong ini sedikitnya merupakan hiburan bagi Siu Oh, membebaskannya dari siksaan batin harus melayani setiap laki-laki yang berani membayarnya sebagai seorang pelacur.

Pada pertengahan bulan ke dua belas, Cun Bwe berkata kepada suaminya.

"Sebentar lagi akan tiba saatnya peringatan tiga tahun kematian Shi Men dan ulang tahun kelahiran puteranya. Aku tidak ingin dianggap tidak tahu aturan, maka aku ingin mengirim beberapa sumbangan ke rumah Goat Toanio."

Chow-Taijin menyetujui keinginan isterinya itu, dan dikirimnya seorang utusan membawa seguci anggur yang baik dan sebaki penuh bahan-bahan sembahyang.

Keluarga Goat Toanio membalas dengan kartu undangan yang diantar oleh kacung A Tai, undangan dari Goat Toanio untuk Nyonya Jaksa Chow yang terhormat.

Dengan girang Cun Bwe datang berkunjung ke rumah yang mendatangkan banyak kenangan baginya itu.

la mendapatkan perubahan besar dalam rumah tangga itu.

Antara lain bahwa pelayan Siauw Giok kini telah menjadi isteri kacung A Tai yang telah dewasa.

Pegawai Lai Seng yang telah menjadi duda, kini menikah dengan pelayan Yu I.

Akan tetapi, hatinya kecewa karena ia tidak melihat Chen Ceng Ki di rumah itu seperti yang diharapkannya.

Ke manakah perginya Chen Ceng Ki, bekas kekasihnya itu?

Puteranya, yang semua orang menganggap sebagai putera Chow-Taijin, agaknya Secara ajaib telah mengenal Ayahnya yang sejati ketika Chen Ceng Ki menjalani hukumamya dahulu itu.

Melihat kemurungan isterinya, kemudian mendengar pengakuan isterinya bahwa isterinya mengkhawatirkan saudara misannya, Chow-Taijin lalu mengutus orang-orangnya untuk mencari Chen Ceng Ki dan mengajaknya ke gedungnya untuk dapat bertemu dengan isterinya.

Ke manakah perginya Chen Ceng Ki?

Dia tidak berani kembali ke Kuil karena dia mendengar bahwa kepala Kuil telah meninggal dunia dengan mendadak tentu karena mendengar akan peristiwa yang menimpa dirinya dan Kakek itu takut kalau sampai namanya terbawa.

Karena tidak ada lagi tempat berteduh, Ceng Ki kembali kepada keadaan semula, yaitu tinggal di bawah jembatan bersama para jembel dan tunawisma lainnya, mendapatkan makanan setiap harinya dengan cara mengemis!

Pada suatu pagi, dia bermalas-malasan duduk di ujung pintu gerbang, membiarkan matahari pagi menyinari tubuhnya yang berpakaian compang-camping, ketika dia melihat seorang laki-laki berkuda.

Seorang laki-laki yang gagah dengan pakaian mewah dan di tangannya terdapat seikat bunga seruni yang masih segar.

Ketika penunggang kuda itu melihat Ceng Ki, dia menahan kendali kudanya, dan meloncat turun dengan wajah gembira.

"Ah, kiranya engkau berada di sini! Betapa sulitnya kami mencari-carimu sampai ke mana-mana"

Ceng Ki memberi hormat dan bertanya dengan sikap sopan.

"Bolehkan saya bertanya, siapakah tuan dan dari mana?"

"Aih, Chen Kongcu. Lupakah engkau kepadaku? Aku adalah Chang Song pegawai Chow-Taijin. Engkau adalah saudara misan dari Nyonya Besar dan beliau khawatir sekali sejak engkau menghilang. Kami diutus mencarimu sampai dapat, dan kami sudah hampir putus asa. Tahu-tahu engkau berada di sini dan kami saling bertemu secara kebetulan. Marilah, Kongcu, kau naiki kudaku biar aku mengiringkanmu sambil jalan kaki"

Demikianlah, manusia sudah kehilangan kemanusiaannya, kehilangan kepribadiannya sebagai mahluk yang paling agung di dunia ini, Yang ada hanyalah kedudukan dan uang.

Kedudukan dan uanglah yang menentukan kehormatan orang, Kedudukan dan uang demikian dipuja sehingga yang dua itulah yang dihormati orang bukan manusianya!

Kelucuan yang menyedihkan, namun kenyataan ini dapat dilihat di manapun juga!

Setelah bersama Chang Shong dia tiba di rumah Jaksa Chow, melihat keadaan bekas kekasihnya itu, Cun Bwe lalu mengutus pelayan untuk menyediakan air harum agar "saudara misannya"

Itu dapat membersihkan diri, dan memberinya pakaian yang bersih dan indah.

la sendiri lalu berias dan akhirnya, kedua orang ini dapat bertemu di dalam ruangan tamu.

Karena berada di tempat terbuka dan dapat terlihat oleh para pelayan, Ceng Ki dan Cun Bwe bercakap-cakap seperti selayaknya dua orang saudara misan yang baru berjumpa.

Akan tetapi keduanya merasa demikian terharu sehingga dua pasang mata itu berlinangan air mata.

Pada waktu itu, Jaksa Chow masih berada di ruangan sidang, masih belum selesai dengan tugas pekerjaannya untuk hari itu.

Cun Bwe khawatir kalau sampai suaminya datang dan Ceng Ki salah tingkah dan salah omong, maka sambil berbisik-bisik iapun memberi peringatan.

"Jika dia datang dan bertanya kepadamu, katakan bahwa engkau adalah saudara. misanku dari pihak Ibu, Aku lebih tua setahun darimu, yaitu dua puluh lima tahun, lahir tanggal dua puluh lima bulan empat. Mengeri?"

"Mengerti"

"Ketika kukatakan kepada suamiku bahwa engkau saudara misanku, dia merasa sangat menyesal bahwa engkau telah menerima hukuman. Ketika itu aku sudah ingin menahanmu di sini, akan tapi pelayan Siu Oh itu berada di sini, maka hal itu tidak mungkin. Mengertikah engkau? Nah, aku berhasil mengusirnya keluar dan pada waktu itu, engkaupun menghilang sehingga kami bersusah payah mencarimu."

Tak dapat menahan keharuan hatinya.

mereka berdua menangis.

Akan tetapi mereka segera menghentikan tangis ketika seorang pelayan wanita muncul dan memberi tahu bahwa pengadilan telah selesai sehingga Chow-Taijin setiap saat akan datang.

Ternyata Chow-Taijin bersikap amat baik dan ramah terhadap Chen Ceng Ki, demi menyenangkan hati isterinya yang tercinta, Dengan rela tuan rumah ini menyediakan sebuah kamar yang besar dan cukup mewah untuk ditinggali Ceng Ki, di bagian perpustakaan sebelah barat dan Ceng Ki dianggap sebagai seorang anggauta keluarga Cun Bwe sendiri yang mengatur agar kamar itu dilengkapi dengan perabot, dan diberi pembaringan yang enak, bantal-bantal yang baru dan lunak, juga untuk saudara ltu dibuatkan pakaian yang cukup banyak, serba indah dari sutera mahal, sandal, sepatu dan pendeknya, lengkap!

Bahkan seorang kacung diberikan kepada Ceng Ki untuk menjadi pelayannya.

Sekali lagi bintang peruntungan Ceng Ki terang benderang dan dia hidup dalam kemewahan dan kecukupan, Seolah-olah dia kembali seperti ketika masih menjadi mantu Shi Men dan tinggal di rumah mertuanya itu.

Dan terbukalah kesempatan seluas-luasnya bagi Cun Bwe dan Ceng Ki untuk mengulang kembali hubungan yang pernah terputus, bahkan kini lebih erat dan lebih mesra daripada dahulu.

Chow-Taijin banyak kesibukan di siang hari dan jarang berada di dalam rumah, oleh karena itu leluasalah kedua orang itu untuk mengadakan pertemuan dan bermain cinta mengumbar nafsu mereka yang tak pernah mengenal puas, Kadang-kadang Cun Bwe berkunjung ke dalam kamar Ceng Ki, bahkan mereka kini bermain cinta di dalam kamar Cun Bwe!

Tidak ada waktu lowong dan kesempatan dilewatkan oleh dua orang yang menjadi hamba dari nafsu mereka sendiri itu.

Pada, suatu hari Chow-Taijin berkata kepada isterinya.

"Mentaati perintah lstana, tak lama lagi aku harus memimpin pasukan bersama Komandan dari Ci Nam Hok untuk menumpas pemberontakan di Pegunungan Liang-San. Urusan ini akan memakan waktu beberapa bulan lamanya. Karena itu, engkau segera mengurus dan mencarikan jodoh untuk saudara misanmu, agar dia tidak tinggal sendirian. Karena sepeninggalku, aku akan mengangkat dia menjadi satu di antara pembantuku untuk mengurus pekerjaan kantor. Jika perjalananku berhasil baik maka tentu Istana akan memberi pahala dan saudara misanmu akan dapat kumasukan ke dalam daftar orang-orang yang berjasa agar dia diberi anugerah pangkat. Dengan demikian maka nama baik keluargamu akan terangkat."

Tentu saja Cun Bwe menyambut usul ini dengan gembira.

la mencinta Ceng Ki dan ingin melihat kekasihnya itu berkembang kembali nasib baiknya.

lapun cepat mengutus pelayan untuk menghubungi seorang perantara, seorang comblang untuk memilihkan calon jodoh untuk Ceng Ki.

Akhirnya, ia memilih seorang gadis puteri pedagang sutera she Lo di Jalanan Raya dan iapun merencanakan persiapan pernikahan untuk Ceng Ki.

Ceng Ki tentu saja tidak dapat menolak hal baik untuk kemajuan dirinya itu, apalagi calon isterinya yang bernama Lo Cui Peng cukup cantik dan molek, bahkan gadis remaja yang menjadi pelayan dalam kamar juga manis.

Diam-diam Ceng Ki bersukur dengan nasibnya yang demikian baiknya.

Pernikahan itu Sama sekali tidak mengganggu hubungan Ceng Ki dengan Cun Bwe.

Dengan cerdik Cun Bwe segera akrab dengan Cui Peng dan membiasakan diri untuk sekali makan bersama Suami-isteri itu.

Tanpa menimbulkan kecurigaan dan hampir setiap hari dapat saja mengadakan pertemuan berdua saja dengan kekasihnya.

Ceng Ki diangkat menjadi sekretaris dan mempunyai sebuah kamar kerja sendiri, Maka mulailah bagi Cun Bwe untuk mengunjungi kamar kerja pria ltu atau sebaliknya ia memanggil Ceng Ki dengan alasan untuk nerundingkan sesuatu yang penting mengenai pekerjaan.

Lima bulan kemudian, pada suatu hari datanglah Chow-Taijin dan tugas yang pikulnya itu berhasil dengan baik sekali.

Pemberontakan berhasil dipadamkan sehingga Kaisar di Istana merasa gembira bukan main.

Chow-Taijin menerima banyak anugerah, di antaranya dia diangkat menjadi seorang Jenderal di Propinsi Shantung.

Semua pembantunya yang tercatat dalam daftar diberi kenaikan pangkat dan di antara termasuk juga Chen Ceng Ki yang diangkat menjadi Pembantu Sekretaris dan biarpun tidak besar namun setiap bulan dia menerima upah untuk pangkat itu.

Ketika pada malam harinya Cun Bwe tldur bersama suaminya, ia menceritakan tentang semua pelaksanaan dari pesan suaminya.

"Pesta pernikahan itu menghabiskan uang yang cukup banyak."

"Ah, sudah semestinya untuk merayakan pernikahan mengeluarkan tidak sedikit uang. Bagaimanapun, semua itu untuk keperluan seorang anggauta keluarga yang terdekat. Kita harus berani berkorban sedikit untuk saudara misan."

"Sungguh amat baik dirimu telah menolongnya mendapatkan suatu pangkat kecil yang mendatangkan kehormatan baginya. Tentu saja upahnya terlalu kecil untuk dapat mencukupi kebuTUHAN hidupnya dan isterinya."

"Engkau benar. Sementara ini aku tidak dapat berbuat banyak untuknya, apalagi dalam waktu dekat ini aku harus pergi ke Ci-Nan-Hok, untuk memulai dengan tugasku dalam kedudukan yang baru, Sebaiknya akan kutinggalkan sedikit uang modal baginya agar dia dapat, mempergunakannya sebagai modal berdagang sesuatu. Biarlah dia mencari seorang pengurus untuk pekerjaan itu. Dan setiap sepekan sekali, dia boleh membayar sedikit kepadaku dari keuntungan yang diperolehnya, sebagai uang bunga dari pinjaman itu. Dengan demikian, akan ada sesuatu yang membangkitkan gairah dan semangat dalam hidupnya."

Tentu saja Cun Bwe setuju dengan usul suaminya yang akan menolong kekasihnya memperbaiki kedudukannya.

Ia menunggu sampai suaminya berangkat meninggalkan rumahnya, lalu mengadakan pertemuan dengan Ceng Ki.

"Aku telah membicarakan masa depanmu dengan suamiku dan dia berpendapat bahwa sebaiknya engkau melakukan dagang kecil-kecilan untuk memperoleh hasil yang akan mencukupi kebuTUHAN hidup keluargamu. Kami akan menyediakan modal dan engkau harus mencari seorang pengurus perusahaan yang pandai dan memilih tempat yang cukup ramai."

Tentu saja Ceng Ki sangat menyetujui dengan gembira bukan main.

Setelah mengupah Cun Bwe dengan kemesraan yang meluap-Iuap untuk berita baiknya itu, Ceng Ki lalu pergi mencari seorang calon pengurus.

Kebetulan sekali pada suatu hari ia bertemu dengan, seorang bekas teman sekolah d?

jalan raya, yaitu Lu.

Mereka saling sapa dengan gembira dan saling menceritakan pengalaman masing-masing dan dahulunya merupakan sahabat yang akrab.

Ceng Ki menceritakan semua pengalamannya tanpa tedeng aling-aling lagi.

Lu mendengarkan penuh takjub, kemudian berkata.

"Sekarang dengarkan usulku yang akan mendatangkan keuntungan besar untukmu."

"Benarkah? Ceritakan usulmu itu, kawan!"

"Ingatkah engkau kepada Yang, bekas pengurusmu dahulu itu?"

Tentu saja Ceng Ki masih teringat kepada bekas pembantu yang telah menipunya itu.

Ketika dia bersama pembantu itu berbelanja sutera ke Hu-Couw sebanyak setengah kapal yang kemudian kapal itu berlabuh di Sungai Ceng-Kiang dekat Yen-Couw.

Ketika dia pergi berkunjung kepada Mong Yu Lok yang kini telah menjadi isteri Li-Kongcu yang bangsawan dan kaya raya, dia meninggalkan dagangannya dalam kapal, dijaga oleh pembantunya, Yang.

Akan tetapi kemudian ternyata bahwa Yang telah melarikan dagangan itu!

"Jangan sebut nama jahanam itu!"

Ceng Ki berkata dengan Suara marah karena hatinya panas teringat akan penipuan Yang kepadanya.

"Dia pernah menipuku habis-habisan, dan ketika aku berada dalam keadaan sengsara dan aku datang kepadanya untuk minta bantuan, dia mengusir dan memakiku seperti orang mengusir anjing atau pengemis saja!"

"Nah, sekaranglah saatnya engkau balas dendam dan memperoleh keuntungan besar,"

Kata Lu.

"Dia sekarang telah membuka sebuah kedai arak besar di Lin-Ceng, hidup serba kecukupan. Engkau tidak perlu membuka perusahaan baru, Kalau engkau dapat menguasai kedai araknya itu, engkau akan memperoleh keuntungan yang sudah berjalan dengan amat baiknya, Sekarang, ajukan sebuah gugatan ke pengadilan untuk menuntut daganganmu yang pernah dia larikan. Kedudukanmu sudah baik dan tentu pengadilan akan berpihak kepadamu Dan dia, si Yang pasti tidak akan mampu mbayarnya dan terpaksa dia akan melepaskan kedai araknya untuk membayar tuntutanmu. Engkau akan menguasai kedai arak yang sedang berjalan dengan baik itu. Engkau boleh mempertahankan pengurusnya yang sekarang, yaitu Shia, dan kalau engkau mengangkatku sebagai pembantunya, maka engkau akan mempunyai orang yang boleh kau percaya untuk mengamati jalannya perusahaan. Aku yakin bahwa sebulan kau akan mengantungi tidak kurang dari seratus ons keuntungan. Nah, bagaimana pendapatmu?"

Ceng Ki merasa girang sekali dan cepat dia pulang untuk merundingkannya dengan Cun Bwe yang segera menyetujuinya.

Dan seperti yang diperhitungkan oleh Lu, ketika Chen Ceng Ki mengajukan gugatannya ke pengadilan, tentu saja pihak pengadilan yang mengakuinya sebagai keluarga Chow-Taijin dan pemilik kedai arak Yang segera ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan.

Setelah mengalami siksaan, Yang mengakui bahwa dia telah melarikan dagangan Ceng Ki dan karena dia diharuskan segera membayar semua harga dagangan itu, tiada lain jalan kecuali menyerahkan perusahaannya kepada Ceng Ki.

Giranglah hati Ceng Ki.

Bukan Saja dia dapat membalas dendam, akan tetapi juga dia memperoleh keuntungan besar.

Dia lalu perbaiki kedai itu sehingga menjadi baru.

Kedainya itu berada di dekat pelabuhan sehingga dari situ dia dapat melihat perahu-perahu yang berlabuh dan membongkar muatannya.

Pada suatu siang, ketika dia duduk di depan kedainya, dia melihat dua buah perahu mendarat dan membongkar muatannya berupa beberapa peti dan karung yang oleh para kulinya diletakkan di depan kedai arak miliknya.

Ceng Ki lalu melihat dua orang wanita dari perahu.

Dia amat tertarik sekali dan, segera menghampiri mereka.

Wanita pertama berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, sedangkan yang ke dua kurang lebih dua puluh tahun.

Melihat munculnya Chen Ceng Ki, Hua, pengurus kedai, berkata.

"Chen-Kongcu, dua orang wanita ini hendak menitipkan barang-barangnya untuk beberapa hari lamanya, katanya karena rumah saudara mereka ternyata tutup dan penghuninya tidak ada. Bagaimana kita mampu menerima titipan barang-barang yang banyak ini?"

Ceng Ki sudah saling pandang dengan dua orang wanita itu, merasa seperti mengenal mereka dan akhirnya wanita yang lebih tua berkata.

"Maaf, bukankah Kongcu ini Chen Kongcu, mantu dari mendiang tuan Shi Men?"

"Benar sekali, akan tetapi bagaimana Nyonya dapat mengenal saya ?"

"Apakah engkau tidak mengenal saya? Saya adalah Wang Liok Hwa, dan ini puteri kami, Mei Li."

"Ah!"

Ceng Ki teringat. Wanita ini adalah isteri seorang pegawai Ayah mertuanya dan wanita inipun menjadi kekasih mendiang Ayah mertuanya itu.

"Bukankah kalian datang dari Ibukota Timur? Dan di mana adanya suami Nyonya, Han Tao Kok?"

"Di perahu, sedang mengurus pembongkaran barang-barang."

Han Tao Kok segera ditemui dan Ceng Ki melihat betapa orang ini telah nampak tua, rambut dan jenggotnya sudah memutih.

Mereka lalu bercakap-cakap dan Han Tao Kok bercerita tentang keributan yang terjadi di Ibukota Timur.

Di antara para pembesar tinggi terjadi persaingan dan perebutan kekuasaan.

Banyak pembesar tinggi yang kalah dalam persaingan ini, terkena fitnah dan dijatuhi hukuman, dan di antara fihak yang kalah ini termasuk pula menteri Ti, suami Mei Li kepada siapa Han Tao Kok menghambakan diri.

Han Tao Kok masih sempat mengajak anak isterinya melarikan diri ke Ceng-Ho-Sian.

"Maksud kami hendak, tinggal untuk sementara di rumah adik saya di Ceng-Ho-Sian ini, akan tetapi temyata adik saya itu telah pindah dan rumahnya telah dijual. Terpaksa kami akan pergi ke selatan, ke rumah keluarga kami, dan kami hanya akan menunda perjalanan di sini selama beberapa hari saja."

"Tidak perlu bingung, tinggallah di sini untuk sementara,"

Kata Ceng Ki dan diapun menceritakan keadaannya bahwa dia sekarang telah menjadi Sekretaris Pembantu dan membuka kedai arak itu.

Han Tao Kok dan anak isterinya berterima kasih dan tak lama kemudian Ceng Ki mendapatkan kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Mei Li yang sejak tadi amat dikaguminya.

"Berapakah usia Kongcu sekarang?"

Mei Li bertanya sopan dan ramah.

"Dua puluh enam tahun, dan engkau berapa, enci?"

"Sama,"

Jawabnya sambil tersenyum.

"Sungguh merupakan suatu kebetulan bahwa setelah berpisah selama bertahun-tahun, dalam jarak ribuan li, kini tiba-tiba kita saling berjumpa di sini."

"Ah, aku teringat sekarang, pernah aku melihatmu ketika engkau berkunjung bersama Ibumu di rumah Ayah mertuaku sebelum kalian pindah ke timur."

Wang Liok Hwa yang sudah berpengalaman dapat melihat kecondongan hati dua orang muda itu, lalu memberi isyarat kepada suaminya dan merekapun keluar meninggalkan mereka berdua dengan dalih hendak membereskan barang-barang mereka yang baru dibongkar dari perahu.

Chen Ceng Ki yang sudah biasa bergaul dengan wanita, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan tak lama kemudian mereka berdua bukan lagi duduk berhadapan melainkan bersanding dan bersendau gurau.

"lh, indah sekali penjepit rambut emas di kepalamu itu. Bolehkah aku melihatnya?"

Kata Mei Li dan sebelum Ceng Ki mengambilkannya, ia sudah menjangkau dan mengambil benda itu dari rambut Ceng Ki.

"Bagaimana kalau kita melanjutkan percakapan di atas? Banyak yang akan kuceritakan kepadamu,"

Kata Mei Li.

"Aku akan senang sekali,"

Kata Ceng Ki dan merekapun bergandeng tangan naik ke loteng memasuki sebuah kamar yang bersih dan nyaman.

"Nah, apa yang hendak kau ceritakan?"

"Bahwa kita agaknya telah berjodoh, karena Thian telah mempertemukan kita seperti ini."

Tentu saja Ceng Ki merasa girang sekali dan diapun merangkul wanita itu dan keduanya terjatuh ke atas pembaringan. Setelah mereka merasa puas, Mei Li berkata.

"Orang tuaku sedang menderita oleh peristiwa yang terjadi di Ibukota Timur itu. Harta simpanan kami habis di perjalanan. Kalau engkau suka membantu mereka dengan sedikit uang, mereka akan berterima kasih sekali."

Tanpa banyak cakap lagi Ceng Ki mengeluarkan uang lima ons dan Mei Li lalu berlari turun dan menyerahkan uang itu kepada Ayah-Ibunya.

Dan malam itu Ceng Ki tidak pulang, bersenang-senang dengan Mei Li dan dia merasa demikian puas dan bahagia seolah-olah dia menemukan Kim Lian ke dua.

Pada keesokan harinya, dengan tubuh lemas kelelahan, Ceng Ki baru pulang untuk menyerahkan bunga keuntungan kepada Cun Bwe.

Isterinya, juga Cun Bwe, tentu saja dapat mellhat keadaan tubuhnya yang lemas kecapaian, maka mereka tidak memperbolehkan Ceng Ki keluar lagi selama lima hari.

Hal ini membuat keluarga Han yang berada di Lin-Ceng merasa kebingungan.

Uang lima ons pemberian Ceng Ki sudah habis dan mereka membutuhkan uang lagi untuk keperluan sehari-hari.

Tidak ada lain jalan bagi Han Tao Ki kecuali mengandalkan isteri dan puterinya.

Banyak saudagar hartawan berdatangan ke Lin-Ceng untuk berdagang dan di antara mereka terdapat seorang hartawan she Hou.

Hartawan Hou ini berusia lima puluh tahunan dan dia berdagang kain sutera.

Tadinya, Mei Li yang ditugaskan Ayahnya untuk memikat hati saudagar ini, akan tetapi hati Mei Li yang dipenuhi kerinduan kepada Ceng Ki, tertutup untuk pria lain.

Maka Wang Liok Hwa yang turun tangan dan wanita yang sudah matang dan berpengalaman ini, segera dapat memikat hartawan Hou dan sekali mereka berhubungan, hartawan itu melekat dan tidak mau berpisah lagi.

Tentu saja kini keluarga Han tidak lagi kekurangan uang belanja, sedangkan Mei Li setiap hari masih menanti datangnya Chen Ceng Ki yang menjadi kekasih barunya.

Beberapa hari kemudian, setelah memperoleh kesempatan, dengan dalih memeriksa keadaan kedai araknya, Chen Ceng Ki segera pergi ke Lin-Ceng.

Tentu saja ini hanya merupakan alasan karena yang terpenting baginya adalah mengunjungi keluarga Han yang menyewa tempat tak jauh dari situ.

Dia mendapatkan kekasihnya duduk menulis sesuatu, ditemani Ibunya.

Ibu dan anak itu menyambutnya dengan gembira dan Wang Liok Hwa segera turun dari loteng, membiarkan puterinya berdua dengan Ceng Ki.

Tentu saja kedua orang ini segera saling dekap dan mereka melepaskan kerinduan yang sudah menyesak di dada.

Mereka hanya beristirahat sebentar untuk membaca sajak yang ditulis Mei Li, sajak yang menyatakan kerinduannya terhadap Ceng Ki.

Setelah membaca sajak ini, Ceng Ki merasa terharu dan merekapun melanjutkan kemesraan untuk melepaskan semua kerinduan mereka.

Mei Li segera memesan makanan dan arak, dan mereka pun berpesta, makan minum yang diseling cumbu rayu dan permainan cinta.

Sementara itu, Wang Liok Hwa yang duduk di bagian bawah, menerima pula kunjungan hartawan Hou.

Han Tao Kok segera meninggalkan mereka dan Wang Liok Hwa menjamu tamunya dengan manis budi, berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati hartawan itu.

Tiba-tiba muncullah tukang pukul Liu, ipar dari Chang Shong!

Orang kasar ini berteriak-teriak, mencari hartawan Hou dan jelas bahwa dia dalam keadaan mabuk.

"Mana dia. si keparat dari selatan, Hou itu? Keluarlah!"

Tak seorangpun berani melarangnya ketika dia menyerbu masuk dan dia melihat hartawan Hou sedang duduk makan minum bersama Wang Liok Hwa.

Melihat hartawan ini, dengan mata merah tukang pukul Liu segera membentak.

"Anjing Hou, engkau masih hutang sewa dua bulan dan uang untuk dua orang pelacur yang sudah melayanimu di kedai arakku tak lama yang lalu. Engkau tidak membayarku sebaliknya engkau malah melacur di sini bersama seorang pelacur baru."

Hartawan Hou terkejut lalu bangkit berdiri dan menyabarkan tukang pukul itu.

"Sabarlah, sahabat Liu. Besok akan kubayar semuanya dan sekarang harap jangan menggangguku."

"Pembohong tua, engkau patut dihajar!"

Bentak Liu yang mabuk dan dia sudah menerjang ke depan dan memukul muka hartawan Hou sehingga hartawan ini terpelanting dengan sebelah muka menjadi biru dan bengkak.

Tukang pukul itu kini menendang meja sehingga mangkok piring beterbangan dan melihat ini, Wang Liok Hwa menjadi marah.

"Hei, engkau ini jahanam keparat busuk dari mana berani memasuki tempat orang tanpa permisi? Kau kira aku takut padamu, anjing tukang pukul yang jahat?"

"Tutup mulutmu, pelacur tua, atau akan kutendang keluar semua isi perutmu. Engkau tidak mengenal siapa aku!"

Bentak Liu marah. Pada saat itu, orang-orang sudah memasuki tempat itu dan melerai. Seorang di antara mereka menenangkan.

"Nyonya Wang, engkau seorang asing di sini, tentu tidak mengenal dia. Dia adalah jagoan di sini, pemilik kedai minuman Liu, ipar dari pegawai kejaksaan Chang Shong, Harap jangan membikin marah dia, Nyonya, agar Nyonya tidak menghadapi malapetaka."

Akan tetapi Wang Liok Hwa tidak takut.

"Kalian orang-orang pengecut! Apakah sudah tidak ada seorangpun laki-laki jantan yang berani menantang jahanam keparat yang jahat ini?"

Untung bagi Wang Liok Hwa bahwa pengurus rumah dan beberapa orang tetangga datang melerai dan menyabarkan Liu, sedangkan Wang Liok Hwa dengan kemarahan meluap-luap sudah lari naik ke atas loteng untuk menemui puterinya dan Chen Ceng Ki.

Dua orang inipun sudah mendengar keributan tadi dan Ceng Ki sudah cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali ketika Wang Liok Hwa memasuki kamar itu.

Dengan suara gemetar saking marahnya, Wang Liok Hwa menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di bawah.

Mendengar ini, Chen Ceng Ki terkejut sekali.

Dia mengenal siapa adanya tukang pukul Liu, ipar dari Chang Shong itu dan dia merasa gelisah.

Pernah dia berurusan dengan mereka itu dan kini Liu kembali membikin ribut, seolah-olah menjadi pertanda baginya bahwa dari dua orang ini ada bahaya mengancam terhadap dirinya.

Dia harus mengenyahkan Liu dan Chang Shong, bukan hanya Liu, karena Chang Shong juga amat berbahaya.

Chang Shong tahu akan hubungannya dengan Cun Bwe dan kalau orang itu mengadu kepada Chow-Taijin, celakalah dia.

Dia harus dapat mencari jalan untuk mengenyahkan dua orang kasar itu.

Mulailah dia melakukan penyelidikan tentang dua orang itu.

Dari hasil penyelidikannya, tahulah dia bahwa Liu adalah seorang tukang pukul yang sudah biasa melakukan pemerasan, seorang yang kasar dan suka sewenang-wenang.

Adapun tentang diri Chang Shong, dia mendengar berita bahwa kini Chang Shong melakukan hubungan rahasia dengan Sun Siu Oh.

Berita ini menggembirakan hati Ceng Ki karena dia mempunyai bahan untuk menjatuhkan dua orang yang dianggap berbahaya baginya itu.

Sementara itu, terjadilah perubahan yang akan merusak semua rencana yang mulai diatur oleh Ceng Ki.

Pada waktu itu, terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh Suku Bangsa Kin.

Dengan pasukan berkuda mereka yang amat kuat, mereka menyerbu masuk melewati tapal batas utara.

Kaisar Kin Cung menjadi sangat khawatir dan diapun memerintahkan pasukannya untuk memerangi Bangsa, Tartar atau Kin itu.

Semua panglima dikumpulkan dan di antaranya termasuk Chow-Taijin yang sudah diangkat menjadi Jenderal.

Jenderal Chow ini harus segera bergabung ke markas di Tung-Cang-Fu.

Maka kesibukan terjadi di markas dan rumah Jenderal Chow yang mempersiapkan keberangkatannya untuk memenuhi perintah atasan.

Ketika Ceng Ki pulang dari Lin-Ceng dan mendengar bahwa Chang Shong juga diharuskan berangkat, dia mengambil keputusan untuk segera bertindak agar jangan sampai terlambat.

Kebetulan sekali Cui Peng, isterinya pergi mengunjungi Ibunya untuk beberapa hari lamanya, maka malam hari itu dengan leluasa dia mengadakan pertemuan dengan Cun Bwe.

Cun Bwe juga pada malam hari itu ditinggalkan Jenderal Chow yang sibuk di markas, maka wanita inipun segera menyelinap masuk ke dalam kamar Ceng Ki di mana keduanya melepaskan kerinduan hati masing-masing dalam kemesraan yang memabukkan.

Akhirnya, di antara kesunyian malam, Ceng Ki menceritakan apa yang telah direncanakan selama ini.

"Si Chang Shong itu makin lama menjadi semakin keterlaluan,"

Katanya dengan suara lirih ketika mereka beristirahat dari kelelahan.

"Dia selalu menyombongkan di tempat umum, kepada siapa saja bahwa aku berhutang budi besar kepadanya, bahwa dialah yang menemukan aku. Dan diapun mempunyai saudara ipar yang sombong dan jahat, yang disebut tukang pukul Liu, pemilik kedai arak dan rumah pelesiran. Dia seorang penjahat dan pemeras, dan dia telah bersikap kurang ajar terhadap langganan kedai arakku. Dan yang lebih memalukan lagi Chang Shong itu kini mempunyai hubungan gelap dengan Sun Siu Oh, dan mengambil wanita itu menjadi peliharaannya. Sudah lama aku ingin membicarakan urusan ini denganmu. Kalau dilanjutkan mereka itu merajalela, tentu tak lama lagi kedai arakku akan bangkrut. Dan keadaannya menjadi lebih berbahaya baik bagiku dan bagimu juga, setelah dia kini mempunyai hubungan dengan Sun Siu Oh."

Cun Bwe mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.

"Baiklah, kalau suamiku pulang, aku akan bicara dengan dia dan dua orang itu tentu akan habis riwayatnya."

Kedua orang itu agaknya lupa bahwa dindingpun kadang-kadang bertelinga.

Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa akan ada orang yang mendengarkan percakapan mereka.

Padahal, pada malam hari itu, kebetulan sekali Chang Shong melakukan ronda demi keamanan rumah tangga majikannya.

Ketika dia mendengarkan suara-suara dari dalam kamar Chen Ceng Ki, suara laki-laki dan wanita bermain cinta, dia merasa heran dan curiga.

Bukankah isteri Chen sedang tidak berada di kamarnya dan pergi berkunjung ke rumah Ibunya?

Diapun berindap-indap mendekati jendela dan dia mendengarkan semua percakapan tadi mengenai dirinya dan saudara iparnya.

Tentu saja Chang Shong menjadi terkejut setengah mati, juga marah.

Mati hidup berada di tangan TUHAN.

Hanya TUHAN yang menentukan kematian seseorang dan agaknya memang sudah dipastikan bahwa Cun Bwe akan terlepas dari ancaman maut malam itu.

Ketika Chang Shong pergi ke kamarnya untuk mengambil pedangnya, datang pelayan memberi tahu Nyonya bahwa putera Cun Bwe rewel, menangis dan mencari Ibunya.

Maka, ketika akhirnya Chang Shong memasuki kamar Chen Ceng Ki, dia mendapatkan orang muda itu seorang diri saja.

Melihat Chang Shong membuka daun pintu kamarnya dengan paksa dan melangkah masuk, Ceng Ki terkejut dan membentak marah.

"Hei, apa artinya ini?"

"Artinya aku akan membunuhmu!"

Kata Chang Shong. Aku mendengarkan percakapanmu dengan wanita itu. Engkau ingin menghancurkan aku, dan sekarang aku lebih dulu menghancurkanmu!"

Chang Shong menerjang dengan pedangnya dan tanpa dapat berteriak lagi Ceng Ki berkelojotan ketika pedang itu menembus jantungnya.

Kemudian Chang Shong memenggal batang lehernya, dan meninggalkan kamar yang sudah banjir darah itu.

Chen Ceng Ki baru berusia dua puluh enam tahun ketika dia terbunuh.

Setelah membunuh Ceng Ki, Chang Shong kini mencari Cun Bwe.

Setelah tidak berhasil menemukan wanita itu di kamar itu dan di kamar-kamar sebelah, dia menduga bahwa tentu wanita itu telah kembali ke kamarnya sendiri, kamar induk.

Maka dengan pedang di tangan diapun segera melangkah menuju ke bangunan induk.

Akan tetapi muncullah Li An, seorang kepala pengawal yang malam itu juga melakukan ronda.

"Hei, engkau hendak ke manakah?"

Chang Shong tidak menjawab dan melihat Li An menghadangnya, diapun menyerangnya.

Li An cepat mengelak ke samping dan setelah beberapa kali mengelak dari serangan pedang, akhirnya dia berhasil menendang pergelangan lengan Chang Shong dan menangkap pembunuh itu.

Dipuntirnya lengan Chang Shong ke belakang dan sekali menendang lutut, Chang Shong roboh terhimpit dan tidak perdaya ketika dibelenggu kedua tangannya.

Suara ribut-ribut di luar kamarnya itu membuat Cun Bwe berlari keluar.

Dia terkejut melihat Chang Shong.

"Apakah yang telah terjadi?"

Tanyanya kepada Li An. Pengawal ini memberi hormat.

"Dia ingin membunuh Nyonya, dia datang membawa pedang itu."

"Tapi pedang itu bernoda darah."

Cun Bwe berseru kaget.

Li An hanya menuding ke arah kamar barat di mana Ceng Ki tinggal dan Cun Bwe lalu berlari memasuki kamar kekasihnya.

Melihat kekasihnya sudah tewas dengan kepala terpisah dan mandi darah, Cun Bwe mengeluh dan jatuh pingsan.

Beberapa hari kemudian, Jenderal Chow pulang dan mendengar akan peristiwa yang terjadi di rumahnya, dia marah sekali kepada Chang Shong dan menjatuhi hukuman cambuk seratus kali dengan tongkat besar.

Chang Shong tewas ketika menjalani hukuman.

Kemudian, Liu, tukang pukul di Lin-Ceng itupun ditangkap dan dipukuli sampai mati.

Sun Siu Oh yang ketakutan telah menggantung diri sampai mati sehingga ia terbebas dari dendam Cun Bwe dan tidak sampai diseret ke depan pengadilan.

Setelah mengatur penguburan Chen Ceng Ki, Jenderal Chow akhirnya harus berangkat ke utara.

Cun Bwe yang masih terguncang perasaannya oleh kematian Ceng Ki, melayani suaminya makan dengan wajah muram dan penuh kekhawatiran.

"Suamiku, kapankah aku akan dapat melihatmu lagi?"

Katanya sambil menghapus air mata.

"Aku tidak tahu mengapa sekarang aku merasa begini gelisah melepasmu pergi perang. Berhati-hatilah suamiku, karena para pemberontak itu adalah yang ganas dan liar."

"Jangan khawatir, isteriku. Baik-baik saja menjaga dirimu dan anak kita. Aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk Kerajaan, yang telah memberi aku kehidupan yang penuh dengan kehormatan dan kemuliaan."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, jenderal itu berangkat meninggalkan kotanya dengan pasukannya.

Cun Bwe ditinggal seorang diri dalam keadaan kesepian dan setiap hari ia hanya menangis, menangisi kematian Ceng Ki dan menangisi kepergian suaminya.

Sementara itu, orang yang paling menderita karena kematian Chen Ceng Ki adalah Mei Li.

Perasaannya hancur luluh dan setelah gagal melayat, iapun pergi mengunjungi kuburan kekasihnya, di kuburan yang tidak jauh letaknya dari kuburan Kim Lian.

Setelah tiba di depan kuburan yang masih baru itu, Mei Li melempar dirinya di atas gundukan tanah itu, membakar uang kertas akhirat dan menangis dengan suara nyaring.

"Kekasihku, aku mengharapkan untuk hidup sampai Kakek Nenek di sampingmu, dan sekarang engkau telah meninggalkan aku seorang diri!"

Ia memukul-mukulkan kepalanya di kuburan Itu sampai jatuh pingsan. (Lanjut ke

Jilid 13 -Tamat) Si Teratai Emas (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 (Tamat) Selagi Ayah-Ibunya sibuk menolongnya, muncullah Cun Bwe dan Cui Peng, isteri Ceng Ki, di kuburan. Han Tao Kok segera memberi hormat kepada Cun Bwe yang mengenalnya.

"Dan siapakah wanita ini?"

Cun Bwe bertanya sambil menunjuk kepada Mei Li yang mengenakan pakaian berkabung dan yang baru saja siuman dari pingsannya.

"Ia adalah anak kami, Mei Li."

Han Tao Kok lalu menceritakan tentang keadaannya setelah melarikan diri dari Kota Timur, betapa di Lin-Ceng mereka bertemu dengan Ceng Ki dan tentang hubungan Ceng Ki dengan Mei Li.

"la memaksa untuk mengunjungi kuburan ini dan bersembahyang...!"

Han Tao Kok menutup ceritanya. Kini Mei Li melanjutkan cerita Ayahnya.

"Walaupun hubungan antara kami tidak sah, namun kami saling mencinta, hidup sebagai suami-isteri dan saling bersumpah untuk setia sampal mati."

Dan Mei Li menangis lagi sampai hampir kehabisan napas.

Melihat kedukaan yang mendalam ini, Cui Peng sendiri merasa terharu dan Cun Bwe juga percaya bahwa kekasihnya itu, Chen Ceng Ki, benar-benar saling mencinta dengan wanita ini.

Ketika Ayah dan lbunya akan pulang, Li berkata.

"Tidak, aku tidak mau pulang!"

Ia lalu berlutut di depan kaki Cun Bwe sambil menangis.

"Saya ingin hidup bersama Nyonya Besar. di rumah itulah, di rumah di mana kekasihku tinggal, aku akan melanjutkan hidupku, bersembahyang untuknya dan menjadi jandanya sampai mati. Kalau aku mati kelak, ingin dikubur di sampingnya."

Cun Bwe berkata dengan lembut.

"Adik yang baik, engkau masih muda. Engkau akan menderita kalau hldup menjanda. Apakah engkau akan meninggalkan kehidupan masa depanmu yang cerah?"

"Nyonya Besar, saya adalah milik kekasih saya itu, untuk selamanya. Biar mataku akan dicongkel dan hidungku di buntungi, saya bersumpah tidak akan melayani laki-laki lain."

Setelah berkata demikian, la menoleh kepada orang-tuanya.

"Pergilah kalian, aku akan Ikut Nyonya Besar!"

"Anakku, kami orang-tuamu mengharapkan untuk mendapat perawatanmu di waktu kami sudah tua. Inikah balas jasamu terhadap orang-tua?"

Kata Wang Liok Hwa. Namun Mei Li tidak mau memperdulikannya.

"Lebih baik aku mati daripada harus berkhianat kepada kekasihku."

Akhirnya, orang-tua Itu mengalah dan Mei Li ikut Cun Bwe tinggal di dalam gedung keluarga Jenderal Chow.

Tentu saja kepergian Mei Li dirasakan sangat berat oleh suami-isteri Han Tao Kok dan Wang Liok Hwa.

Mereka seolah-olah melihat gunung harapan mereka runtuh.

Untunglah bahwa masih ada hartawan Hou yang setelah kini tidak terdapat lagi gangguan dari Liu, melanjutkan hubungannya dengan Wang Liok Hwa.

Bahkan ketika dia hendak pulang ke kotanya, dia mengusulkan kepada Han Tao Kok agar suami-isteri itu, ikut saja dengan dia ke kota Hu-Couw, di mana mereka akan terjamin hidupnya.

Tidak ada jalan lain yang lebih baik bagi suami-isteri itu untuk menerima penawaran ini dan pergilah mereka mengikuti hartawan Hou.

Sementara itu, Mei Li hidup menjanda dan ia akrab sekali dengan Cun Bwe.

Akan tetapi, kalau Mei Li dapat hidup dengan tenang dan tenteram sebagai seorang janda yang setia, sebaliknya Cun Bwe merasa gelisah sekali.

Ia amat kaya raya, cukup segala-galanya, namun apa-bila malam tiba, ia gelisah sendiri di atas pembaringannya yang dingin.

Karena tidak dapat menahan gejolak berahi, yang mengganggunya setiap malam, akhirnya pandang mata Cun Bwe tertuju kepada Li An, kepala pengawal yang gagah perkasa dan cukup ganteng itu.

Pada suatu malam, selagi Li An rebah seorang diri dalam kamarnya, masuklah seorang pelayan wanita.

"Hemm, apa maksudmu mengunjungiku selarut ini?"

Tanyanya heran.

"Saya datang karena disuruh oleh Nyonya Besar,"

Jawab pelayan itu.

"Masuklah dan apa yang dikehendaki oleh Nyonya Besar?"

"Ini,"

Ia mengeluarkan buntalan dua pakaian wanita.

"Beliau mengirim pakaian ini untuk Ibumu, dan karena engkau telah menyelamatkannya dari maut di tangan Chang Shong, maka beliau menyuruh aku menyerahkan lima puluh ons ini kepadamu."

Setelah pelayan itu pergi, Li An termenung dan tidak dapat tidur, keesokan harinya, dia bergegas menuju ke rumah Ibunya dan membawa pakaian untuk Ibunya itu.

Uang lima puluh ons itu ditinggalkannya di dalam almarinya...

Sebagai seorang putera yang berbakti, dia menceritakan semua yang terjadi pada lbunya dan mohon petunjuk.

"Aihhh"

Wanita tua ltu berkata.

"Aku melihat hal yang tidak baik di balik semua ini. Kebaikan yang berlebihan itu tentu mengandung pamrih yang membahayakan. Apa yang akan terjadi denganmu kelak kalau engkau sudah dianggap tidak berguna lagi dan mengganggu? Ingat nasib Chang Shong... Lebih baik engkau mengingat nasib Ibumu yang sudah berusia lanjut dan Jangan engkau kembali ke sana,"

"Akan tetapi, aku akan kesalahan terhadap Jenderal Chouw"

"Pakai alasan bahwa engkau sakit, kemudian bersembunyilah di rumah Pamanmu di dusun."

Li An adalah seorang gagah yang berbakti kepada Ibunya, maka diapun mentaati permintaan Ibunya, Cun bwe kecewa sekali ketika berkali-kali dikirimnya utusan, namun tak pernah utusan itu berhasil membawa laki-laki yang diinginkannya itu kepadanya.

Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya dan tahu-tahu Tahun Baru telah tiba.

Jenderal Chow yang bertugas di markas besarnya di Tung-Cang-Fu merasa rindu kepada keluarganya dan diapun mengutus pembantunya ke Ceng-Ho-Sian untuk menjemput kedua isterinya dan anaknya.

Ketika keluarganya tiba dengan selamat, dia menanyakan ketidak hadirannya Li An yang semestinya mengawal keluarganya.

"Ah, jangan bicarakan orang tak mengenal budi itu!"

Cun Bwe berkata sambil cemberut.

"Karena dia telah menyelamatkan aku, maka aku ingin menyenangkan hatinya dan memberinya beberapa potong pakaian untuk Ibunya. Akan tetapi, pada malam hari ketika berjaga, dia mencuri lima puluh ons perak dari ruangan dalam. Aku lupa menaruh hasil panen sawah kita itu ke dalam gudang uang. Pada keesokan harinya, diapun minggat. Mungkin dia tidak berani kembali karena merasa bersalah."

"Ah, sungguh tak dapat disangka! Begitukah dia membalas budi kita? Aku akan mengutus petugas di Ceng-Couw-Fu untuk menangkapnya!"

Kata Jenderal Chow penasaran.

Cun Bwe tidak bicara sesuatu tentang Mei Li dan pertemuan di kuburan Ceng Ki itu.

Sayang bahwa pertemuan antara jenderal dengan keluarganya itu tidak leluasa dan dia dapat berkumpul dengan mereka hanya beberapa hari lamanya.

Tugas pekerjaannya bertumpuk, membuat dia tidak ada kesempatan untuk bercakap-cakap dengan keluarganya, bahkan di waktu malam dia begitu lelahnya sehingga tidur pulas.

Tentu saja hal ini amat mengecewakan hati Cun Bwe dan la merasa disia-siakan.

Wanita yang bernafsu besar ini tentu saja menjadi gelisah dan iapun mulai mendekati seorang kacung bernama Cu I berusia sembilan belas tahun yang bekerja di tempat tinggal suaminya.

Mula-mula Cun Bwe hanya menyuruhnya melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil membantunya, kemudian mengajaknya bercakap-cakap, membuatkan teh atau mengambilkan anggur untuknya, bermain catur dan kemudian wanita yang berpengalaman ini berhasil memikatnya seperti seekor laba-laba menjerat seekor lalat.

Sekali terkena jerat, Cu I menjadi kekasihnya yang baru, yang harus memuaskan nafsunya yang tak kunjung padam.

Jenderal Chow sama sekali tidak tahu akan hal ini karena seluruh perhatiannya dicurahkan untuk pekerjaannya.

Pemberontakan pasukan Kin Fan Tartar itu semakin menghebat, bahkan kini telah melampaui garis depan di utara, mulai mengancam daerah pedalaman di Wilayah Tengah.

Mereka berbondong-bondong menyerbu ke selatan, ratusan ribu orang banyaknya, semua berkuda dan setiap perajurit merupakan orang yang ganas, liar dan kuat.

Pasukan kuat itu menyerang dari dua bagian, dari utara berpencar masuk ke selatan melalui timur dan barat.

Tentu saja tentara kerajaan menjadi sibuk dan jenderal Chow mendapatkan tugas untuk membendung membanjirnya pasukan musuh yang mengalir ke selatan melalui Propinsi Shantung.

Dan dalam tugas inilah terbukti firasat tidak enak yang pernah dirasakan Cun Bwe.

Pada hari yang panas itu, dalam pertempuran mati-matian, Jenderal Chow berhadapan dengan seorang komandan pasukan musuh yang terkenal gagah, yang bernama Kanlipu.

Pertempuran antara mereka amatlah hebat dan serunya sampai tiba-tiba sebatang anak panah yang dilepas secara curang mengenai batang leher Jenderal Chow dan robohlah jenderal yang gagah perkasa ini, tewas seketika.

Untung bahwa anak buahnya berhasil merampas jenazahnya dan membawanya kembali ke markas.

Jerit tangis menyambut jenazah Jenderal Chow, dan Cun Bwe segera mempersiapkan peti mati yang tebal dan membawa jenazah itu kembali ke Tung-Cang-Fu agar dapat dikubur di makam keluarga di sana.

Kematian ini disambut dengan penuh duka cita dan keprihatinan oleh Cui Peng dan Mei Li yang merasa kasihan kepada Cun Bwe yang sudah melepas banyak budi kebaikan kepada mereka.

Kerajaan amat menghargai pengorbanan Jenderal Chow dan menganugerahkan pangkat Panglima Besar kepada jenderal yang gugur itu, memberi uang jaminan untuk keluarganya, bahkan puteranya memperoleh jaminan untuk kehidupannya kelak.

Namun, agaknya Cun Bwe tidak memiliki batin yang cukup kuat untuk membuktikan bahwa ia berharga untuk memperoleh kedudukan yang tinggi dan mulia itu.

Kini, setelah seluruh harta kekayaan berada di bawah kekuasaannya, ia mulai hanyut dibawa nafsunya, setiap hari ia bersenang-senang memuaskan nafsu tanpa mengenal batas lagi.

Kekasihnya yang masih muda, Cu I, kini tak pernah terpisah dari sampingnya dan siang hari malam tanpa mengenal waktu.

Ia mengharuskan kekasihnya itu melayani dirinya yang tak pernah mengenal puas.

Segala sesuatu ada batas kemampuan dan kekuatannya, dan segala hal tidaklah langgeng.

Tubuh hanyalah terdiri dari darah daging, kalau terlalu diperas kemampuannya, akhirnya akan rusak.

Demikian pula dengan Cun Bwe.

Karena terlalu, membiarkan nafsu menghanyutkan tanpa mengenal batas, akhirnya tubuhnya menjadi kurus kering dan lemah.

Namun celaka baginya, makin lemah tubuhnya, makin besarlah nafsu berkobar dalam dirinya, nafsu yang selalu menuntut pemuasan.

Akhirnya, pada suatu malam, setelah tenggelam dalam kemesraan bersama kekasihnya, wanita ini menghembuskan napas terakhir di dalam pelukan kekasihnya.

Usianya baru dua puluh sembilan tahun!

Ketika Cu I melihat bahwa wanita itu tak bernapas lagi, diapun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Diambilnya sebanyak mungkin perhiasan dan barang berharga yang dapat dibawanya dan diapun melarikan diri melalui pintu belakang.

Namun, para pelayan mengetahuinya dan diapun ditangkap.

Adik laki-laki Jenderal Chow yang berkewajiban mengamati keadaan rumah tangga mendiang Kakaknya, menjatuhkan hukuman cambuk sampai mati kepada Cu I.

Namun, demi menjaga nama baik dan kehormatan keluarga Kakaknya, dia tidak membiarkan berita itu keluar dan jenazah Cun Bwe dikubur dengan sederhana dan khidmat, di samping kuburan Jenderal Chow.

Pasukan pemberontak kini semakin maju ke selatan dan akhirnya, kota Kai-Hong-Hu, Ibukota Timur, diserbu dan Kaisar Hui Cung, juga puteranya, Kin Cung, beserta keluarga Kerajaan, puteri-puteri dan Pangeran-Pangeran, ditawan oleh musuh dan dibawa ke utara.

Gegerlah seluruh penduduk di Propinsi Shan-Tung dan rakyat melarikan diri mengungsi ke selatan.

Bahkan penduduk Ceng-Ho-Sian juga terseret oleh arus pengungsi yang ketakutan melihat sepak terjang pasukan pemberontak yang ganas.

Setiap kali mereka menyerbu kota, terjadilah pembunuhan besar-besaran, rumah-rumah dirampok dan dibakar, wanita-wanita diculik dan diperkosa.

Semua penghuni rumah keluarga Jenderal Chow, termasuk Cui Peng, lari mengungsi.

Hanya Mei Li yang tadinya masih bertahan.

Namun akhirnya iapun membawa buntalan pakaian dan dalam pakaian sederhana, iapun meninggalkan rumah itu menuju ke kota pelabuhan Lin-Ceng.

Mula-mula la ingin mencari Ayah bundanya.

Akan tetapi di kota ini, ia memperoleh kabar bahwa Ayah-Ibunya telah pergi ke Hu-Couw bersama hartawan Hou.

Mei Li lalu melanjutkan perjalanan ke Hu-Couw, berjalan kaki saja!

Namun ia tetap gembira dan penuh kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Kalau ia kehabisan uang bekal, ia meniup sulingnya, bernyanyi dan memperoleh sumbangan dari mereka yang mendengarnya.

Berhari-hari ia melakukan perjalanan dan hatinya tetap gembira.

Hanya satu hal yang mengganggu, yaitu kakinya yang kecil itu lecet-lecet karena tidak biasa melakukan perjalanan lama dan jauh.

Setelah melakukan perjalanan puluhan hari lamanya, pada suatu senja tibalah ia di sebuah dusun kecil tak jauh dari kota Shue Couw-Fu.

Karena hari telah menjelang malam, ia mengetuk pintu rumah kecil yang pertama kali dilihatnya di dusun itu, untuk minta perlindungan malam itu.

Seorang wanita tua membuka daun pintu dan begitu pintu terbuka, tercium bau masakan yang agaknya baru saja dimasak oleh Nenek itu.

"Selamat sore, Nek. Maafkan saya. Saya adalah seorang pengungsi dari Ceng-Ho-Sian yang hendak pergi ke Hu-Couw, di mana saya akan mencari orang tua saya. Bolehkah saya bermalam di rumahmu? Saya melanjutkan perjalanan besok pagi-pagi sekali dan saya mau membayar untuk kebaikanmu ini."

"Ah, masuklah dan beristirahatlah di atas dipan itu,"

Kata si Nenek yang dapat melihat bahwa pendatangnya bukan seorang pengemis.

"Maafkan dulu, saya harus menyelesaikan masakan untuk makan malam beberapa orang pekerja terusan sungai yang biasa makan malam di sini."

Tak lama kemudian, setelah masakan itu matang, enam orang laki-laki kasar memasuki rumah itu.

Wajah mereka terbakar matahari, pakaian mereka kasar, kaki mereka telanjang dan berlepotan lumpur.

Mereka nampak lapar sekali.

"Bibi, ada makanan?"

Mereka berteriak.

"Tunggu sebentar! Ada makanan cukup untuk semua orang."

"Eh, siapakah wanita di atas dipan itu?"

"Seorang pengungsi dari Ceng-Ho-Sian,"

Jawab Nenek.

"la sedang melakukan perjalanan ke selatan, mencari orang-tuanya dan ingin bermalam untuk malam ini di sini."

"Bolehkah aku mengetahui namamu?"

Tanya seorang di antara mereka kepada Mei Li.

"Aku she Han, puteri dari Han Tao Kok."

"Apa? Kalau begitu engkau tentulah keponakanku Mei Li!"

"Paman, engkaukah itu? Aih, aku tidak mengenalmu lagi."

Teriak Mei Li dengan gembira sekali. Laki-laki itu bangkit dan menghampirinya dan mereka berpelukan sambil mencucurkan air mata.

"Bagaimana engkau sampai terpisah dari orang tuamu?"

Tanya sang Paman.

"Kukira kalian semua masih berada di Ibukota Timur."

Mei Li lalu menceritakan apa yang telah terjadi dan bagaimana ia sampai berpisah dari orang tuanya.

"Mereka ditolong oleh seorang pedagang sutera she Hou dari Hu-Chouw, dan sekarang saya hendak mencari mereka di sana. Saya membawa suling dan kalau bekalku habis saya mencari uang dengan jalan bernyanyi dan bermain suling. Sekarang ceritakan keadaanmu, Paman."

"Semenjak orang-tuamu pindah ke Kai-Hong-Hu dan meninggalkan rumah kecil di Ceng-Ho-Sian itu kepadaku, aku merasa tidak betah mengganggur. Lalu kujual rumah itu dan aku pergi mengembara sampai akhirnya aku bekerja di sini dan bertemu denganmu. Kalau begitu, aku akan menemanimu ke Hu-Chouw mencari orang tuamu."

Tentu saja Mei Li merasa gembira bukan main.

Akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke selatan dan tibalah mereka di Hu-Chouw.

Dengan mudah mereka dapat menemukan Han Tao Kok dan Wang Liok Hwa.

Ternyata hartawan Hou telah meninggal dunia dan dia meninggalkan seluruh kekayaannya kepada suami-isteri itu, yang tentu saja kini hidup berkecukupan.

Akan tetapi setahun kemudian Han Tao Kok meninggal dunia karena sakit, dan Wang Liok Hwa lalu menikah dengan adik iparnya yaitu laki-laki yang menemani Mei Li mencarinya di Hu-Chouw.

Mereka berdua saling mencinta dan hidup berbahagia.

Wang Liok Hwa ingin agar puterinya menikah lagi, akan tetapi Mei Li tetap tidak mau menikah.

la tetap setia kepada sumpahnya, bahkan akhirnya ia mencukur gundul rambutnya dan hidup sebagai seorang Nikauw (Pendeta wanita) di sebuah Kuil.

Pasukan pemberontak semakin mendekati daerah Ceng-Ho-Sian dan hampir semua penduduk kota itu lari mengungsi.

Bahkan Goat Toanio yang biasanya tenang itu, kini tidak ragu-ragu lagi untuk pergi mengungsi pula, menyelamatkan keluarganya.

Setelah membawa barang-barang berharga dan mengunci semua pintu, iapun meninggalkan rumah ditemani adiknya, Wu dan puteranya yang berusia lima belas tahun, pelayan A Tai, dan pelayan wanita Siauw Giok yang setia.

Mereka terpaksa pergi mengungsi dengan jalan kaki dan mereka keluar dari pintu gerbang kota sebelah selatan.

Goat Toanio bermaksud untuk mengungsi ke kota Ci-Nam-Fu, di mana tinggal Yuen Li Su, seorang di antara sahabat-sahabat baik mendiang Shi Men.

Bahkan antara Shi Men dan Yuen Li Su telah ada perjanjian bahwa kelak putera Shi Men akan dinikahkan dengan puteri Yuen Li Su.

Maka, Goat Toanio merasa yakin bahwa ia dan keluarganya tentu akan dapat berlindung ke rumah calon besan itu .

Ketika mereka tiba di sebuah jalan perempatan, hari telah mulai senja dan di tempat ini, rombongan Goat Toanio bertemu dengan seorang Hwesio yang memegang sebatang tongkat Pendeta.

Hwesio itu muncul secara tiba-tiba dan dia melangkah, lebar menghampiri rombongan pengungsi itu.

"Nyonya hendak pergi ke manakah, Nyonya Wu? Dan mana calon pembantuku yang pernah nyonya janjikan kepadaku?"

Goat Toanio memandang dengan kaget dan heran, dan wajahnya berubah.

"Suhu, pembantu apakah yang kau maksudkan?"

"Harap jangan berpura-pura tidur dan mimpi, nyonya yang terhormat. Apakah nyonya sudah melupakan Pertapa Pu Ceng, yang pernah menerimamu di dalam guanya ketika nyonya tersesat ke dalam rimba pada malam hari di Thai-San? Lima belas tahun yang lalu dan sekaranglah tiba saatnya nyonya memenuhi janji itu."

Goat Toanio tertegun.

la teringat semua itu.

Memang benar, lima belas tahun yang lalu ia pergi berziarah ke bukit Thai-San ketika puteranya hampir setahun umurnya.

la tersesat jalan dan dalam kegelapan itu, ia tiba di gua Pertapa Pu Ceng yang menerimanya dengan ramah.

Pada keesokan harinya, ketika ia hendak memberi hadiah uang dan kain, Pertapa itu menolaknya, Ia menerangkan bahwa sudah menjadi takdir, TUHAN bahwa nyonya itu tersesat ke guanya dan sudah takdir pula bahwa putera nyonya.

itu berjodoh untuk menjadi muridnya.

Tentu saja ia menolak dan memberi alasan bahwa puteranya merupakan anak tunggal.

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 21

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 20

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert