Eps 6 Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Si Teratai Emas - Kho Ping Hoo.
Akhirnya Pendeta itu berkata bahwa dia melepaskan anak itu, tetapi lima tahun lagi dia akan muncul untuk menagih janji dan mengambil anak yang menjadi calon muridnya itu.
Dan ia telah menyetujui, hanya untuk membuat Pendeta itu lega, karena lima belas tahun adalah waktu yang amat lama, Pendeta tua itu mungkin akan sudah mati dalam waktu itu.
Siapa kira, kini dia benar-benar muncul dan menagih janji!
Wu, adik dari Goat Toanio, membantu Kakaknya.
"Suhu, anak ini merupakan anak tunggal darl Kakak saya, dia adalah satu-satunya harapan untuk menjaga Ibunya di waktu tua kelak, dan mewarisi rumah, melanjutkan nama dan pekerjaan Ayahnya. Bagaimana kini Lo-Suhu hendak mengambilnya dari Ibunya, meninggalkan keduniawian dan menjadi murid dan pengikutmu?"
"Jadi permintaanku akan ditolak dan dia tidak akan diberikan kepadaku?"
"Lo-Suhu yang baik, harap jangan mengganggu kami. Kami masih harus melakukan perjalanan jauh, dan kami harus dapat mencari tempat berlindung sebelum malam tiba."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa,"
Kata Pendeta itu.
"Akan tetapi sekarang sudah mulai gelap dan amat berbahaya bagi kalian melanjutkan perjalanan di dalam kegelapan malam. Kalian akan tersesat. Ikutilah aku. Aku mengetahui Sebuah Kuil tak jauh dari sini di mana kalian dapat melewatkan malam dengan aman."
Goat Toanio setuju dan mereka lalu mengikuti kakek Pendeta itu.
Benar saja, tak lama kemudian tibalah mereka di Kuil Yung-Fu-Se.
Sebagian dari para Pendeta kuil itu telah melarikan diri mengungsi, hanya beberapa orang salah yang masih tinggal dan kini mereka nampak berlutut dan membaca doa di ruangan dalam.
Para pengungsi itu lalu mencari tempat beristirahat di sebelah belakang, di mana terdapat banyak ruangan kosong yang cukup bersih.
Seorang hwesio lalu menyuguhkan air teh dan nasi dengan sayur tanpa daging.
Setelah makan sederhana, para pengungsi yang kelelahan itu lalu beristirahat.
Goat Toanio, puteranya, dan Siauw Giok berada di sebuah kamar, sedangkan Wu dan A Tai di dalam sebuah kamar lain.
Sebentar saja mereka sudah tidur pulas karena kelelahan.
Dan dalam tidurnya, Goat Toanio bermimpi.
Mimpi yang demikian jelas seolah-olah dialaminya benar-benar semua itu dan bukan hanya sekadar mimpi.
Di dalam mimpinya itu, Goat Toanio dan keluarganya telah tiba di rumah Yuen Li Shu dan diterima dengan ramah, dan ternyata Yuen Li Shu telah menjadi seorang duda.
Akan tetapi, keramahan Yuen Li Shu itu ternyata mengandung maksud yang amat mengejutkan hati Goat Toanio.
Yuen Li Shu mengutus seorang perantara, meminang janda yang akan menjadi besannya itu!
Bahkan memutuskan untuk mengadakan perayaan pernikahan kembar, yaitu pernikahan putera dan puteri mereka, dan pernikahan mereka sendiri.
Tentu saja Goat Toanio menolak.
Akan tetapi, ketika Yuen Li Shu berkesempatan berdua saja dengan Goat Toanio di dalam sebuah kamar, laki-laki itu mempergunakan kekerasan dan hendak memperkosanya!
Goat Toanio menolak.
"Jangan sentuh aku! Akan kupanggil adikku dan kacungku!"
Yuen Li Shu tertawa.
"Wu dan A Tai? Ha-ha-ha, percuma saja karena mereka sudah kubunuh. Kau lihat!"
Dan dia memberi isyarat ke luar pintu.
Seorang pelayan masuk membawa baki dan di atas baki itu nampak dua buah kepala, kepala Wu adiknya dan A Tai kacungnya!
Goat Toanio hampir pingsan dan sambil tertawa Yuen Li Shu memondongnya dan hendak membawanya ke atas pembaringan.
"Jangan engkau menolak lagi, manis. Aku kaya dan berkedudukan, dan aku cinta padamu."
Goat Toanio terkejut dan ketakutan, lalu mencari akal.
"Baiklah, akan tetapi jangan memaksaku. Aku suka menjadi isterimu, akan tetapi hanya dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Engkau harus menikahkan dulu puterimu dan puteraku."
"Ha-ha-ha, itu urusan kecil dan mudah!"
Yuen Li Shu lalu memanggil kedua orang muda itu dan pada saat itu juga dia menuangkan arak pengantin dan menyatakan kedua orang muda itu telah menikah, dan dia menyuruh mereka berdua memasuki kamar pengantin.
Setelah itu, kembali dia merangkul dan memondong Goat Toanio, hendak dibawanya ke pembaringan.
Goat Toanio meronta, mencakar, menggigit dan memaki.
Yuen Li Shu menjadi marah sekali, lalu dengan sebatang pedang di tangan dia lari ke dalam kamar pengantin dan tak lama kemudian keluar lagi membawa kepala putera Goat Toanio yang berlumuran darah.
Goat Toanio menjerit dan sadar dari mimpinya.
Malam telah lewat dan mimpi yang menyeramkan itu membuat Goat Toanio bergegas hendak meninggalkan Kuil.
Akan tetapi, Hwesio Pu Ceng melangkah masuk dan langsung bertanya.
"Nyonya Wu, apakah nyonya tidak bermimpi dan melihat terbukanya rahasia apa yang akan terjadi pada keluargamu itu?"
Mendengar ini, Goat Toanio terkejut bukan main dan iapun menjatuhkan diri berlutut.
"Saya telah bermimpi, Lo-Suhu."
"Nah, sebaiknya engkau dan rombonganmu tidak melanjutkan perjalanan ke Ci-Nam-Fu, karena malapetaka menanti kalian di sana. Apabila kalian melanjutkan perjalanan, maka segala yang telah kubuka semalam kepadamu itu akan sungguh terjadi dan kalian berlima akan tewas semua. Ketahuilah bahwa puteramu masih membawa kutukan karena dosa-dosa yang dilakukan mendiang suamimu, maka hanya kalau dia menjadi muridku, maka dia akan dapat dibersihkan dari pengaruh buruk itu. Biarkan dia ikut denganku, dan kalian tidak usah pergi mengungsi dan tinggal saja di sini. Tak lama lagi musuh akan pergi dan keadaan akan kembali aman, dan kalian boleh kembali ke Ceng-Ho-Sian."
Goat Toanio kini tidak berani menolak lagi.
Dirangkulnya puteranya dan merekapun bertangis-tangisan.
Akan tetapi anehnya, puteranya itupun tidak mengatakan keberatan ketika Pendeta tua itu menggandengnya dan dengan lembut menariknya terlepas dari rangkulan Goat Toanio.
"Mulai sekarang, kuberi nama Kuil Beng Bu kepadamu,"
Kata kakek itu dan diapun menuntun pemuda itu pergi.
"Lo-Suhu, katakanlah, kapan saya akan dapat bertemu lagi dengan anakku?"
Goat Toanio menangis.
Akan tetapi Pendeta itu hanya tersenyum, kemudian tiba-tiba saja dia dan muridnya itu menghilang di antara kepulan asap, perlahan-lahan menghilang sambil melambaikan tangan kepada Goat Toanio dan yang lain-lain.
Mereka ini terkejut dan cepat berlutut untuk menghormati Pendeta itu yang mereka anggap sebagai penjelmaan Sang Buddha sendiri.
Tepat seperti dikatakan Pendeta itu, sebelum sepuluh hari mereka tinggal di Kuil itu, pasukan pemberontak itu mundur kembali ke utara.
Keadaan menjadi aman kembali dan segera Goat Toanio bersama rombongannya segera kembali ke Ceng-Ho-Sian.
Ternyata rumahnya masih utuh.
Kehidupan Goat Toanio menjadi tenang.
Karena kini ia tidak mempunyai anak, ia mengangkat A Tai menjadi ahli warisnya.
Dan ternyata A Tai menjadi seorang anak angkat yang amat baik dan berbakti, menjaga dan melayani Goat Toanio sampai di hari tua.
Karena kebaktian A Tai, Goat Toanio merasa terobatlah hatinya karena kehilangan puteranya, dan iapun hidup dalam keadaan tenteram sampai akhirnya meninggal dunia dengan tenang dalam usia lebih dari tujuh puluh tahun.
Demikianlah, kisah ini berakhir, sebuah kisah klasik oleh pengarang yang tidak dikenal yang menggambarkan kemaksiatan yang terjadi di jaman itu, di mana orang-orang yang berkuasa merajalela, dan orang-orang kaya menggunakan kekayaan mereka untuk melakukan penyuapan dan penyogokan, membeli kebenaran dan kemenangan untuk diri sendiri di mana manusia sudah kehilangan peri kemanusiaannya karena buta oleh pengejaran kesenangan duniawi.
Namun kisah ini menggambarkan pula bahwa segala akibat baik maupu buruk merupakan kelanjutan daripada sebab yang terjadi karena ulah manusia sendiri.
Segala peristiwa kehidupan, baik yang terjadi di dalam kehidupan, baik maupun buruk, hanya memiliki dua makna yaitu menuai ataupun menanam.
Tanamlah yang baik-baik saja, dan jangan mengeluh kalau kita menuai sesuatu yang buruk sekalipun karena itu bukan lain hanyalah hasil daripada tanaman kita sendiri.
Lereng Lawu, awal Juli 1981.
T A M A T.
Penerbit .
CV.
GEMA-Solo.
Pelukis .
Yanes.
Sumber Image .
Awie Dermawan.
Convert Image to text .
Yon Setiono.
Posting ke Grup Cersil Kho Ping Hoo .
Yon Setiono.
Di Edit ke Doc, PDF, TXT oleh .
Cersil KPH.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 1
Baca Juga: Si Bangau Merah 13