Eps 2 Tiga Dara Pendekar Siauw Lim - Kho Ping Hoo
Baca online Tiga Dara Pendekar Siauw Lim - Kho Ping Hoo
Cersil Tiga Dara Pendekar Siauw Lim - Kho Ping Hoo.
Akan tetapi mereka tidak berhenti sampai di situ saja, karena dari pertemuan pedang dan golok itu ia sengaja membuat pedangnya terpental untuk diteruskan dengan gerak tipu Duri Menusuk Dari Bawah Bunga.
Pedangnya menyerbu di bawah golok dan menuju ke dada lawan dengan amat cepatnya.
Gerakan ini benar-benar di luar dugaan Thio Kim Cai yang menjadi gugup dan terkejut sekali.
Ia berseru keras dan sambil menarik goloknya kembali ia mencoba untuk menjatuhkan diri ke belakang agar terlepas dari serangan berbahaya ini.
Akan tetapi ia kurang cepat dan ujung pedang Siang Lan masih menyerempet dan melukai lengannya.
Kali ini Thio Kim Cai benar-benar terkejut dan gentar.
Belum pernah ia menghadapi seorang murid Siauw-lim-pai yang selihai ini.
Bahkan ketika dulu menghadapi Yap Sian Houw, tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal itu, ia masih dapat melakukan perlawanan karena ia dapat menduga bagaimana perkembangan gerakan lawan itu.
Akan tetapi, terhadap gadis cantik ini ia benar-benar merasa bingung karena gadis ini selain mempunyai kepandaian jauh melampaui dugaannya, juga mempunyai ilmu pedang yang amat cepat dan aneh gerakan-gerakannya.
Pada saat itu, Thio Kim Cai mendengar teriakan-teriakan susul menyusul dari kawan-kawannya dan ketika ia mengerling, dua kawannya telah roboh mandi darah menjadi korban pedang kedua gadis yang mereka keroyok!
Hal ini membikin semangat Thio-ciangkun menjadi semakin kecil, maka ia lalu melompat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di atas kudanya untuk melarikan diri secepatnya.
"Bangsat she Thio jangan lari!"
Siang Lan berseru marah dan ketika melihat lawannya telah melompat ke atas kuda, gadis itu lalu merogoh kantong thi-lian-ci di pinggangnya dan sekali tangan kirinya bergerak, tiga butir thi-lian-ci menyambar ke arah tubuh Thio Kim Cai!
Perwira itu terkejut sekali dan menyampok dengan goloknya sehingga tiga buah senjata rahasia yang dilepas oleh Siang Lan itu terlempar ke atas tanah, akan tetapi kembali tiga butir thi-lian-ci yang lain menyambar dengan cepat sekali.
Thio Kim Cai menjadi sibuk sekali dan berpikir bahwa kalau ia berada di atas kuda, tak mungkin dapat melarikan diri dan bahkan berbahaya sekali, maka ia lalu menggulingkan tubuhnya dari atas kuda dan melarikan diri sambil melompat ke belakang pohon.
Dengan cara demikian, perwira she Thio itu dapat menghindarkan diri dari serangan senjata gelap, akan tetapi Siang Lan masih merasa penasaran kalau belum dapat merobohkan perwira yang menjadi biang keladi kematian Yap Sian Houw itu, maka ia lalu mengejar secepatnya.
Sementara itu, setelah merobohkan dua orang perwira lagi sehingga kini yang mengeroyoknya hanya tingga tiga orang, Hwe Lan dan Sui Lan melihat betapa enci mereka mengejar perwira muka hitam itu, merasa khawatir akan keselamatan Siang Lan.
"Sui-moi!"
Kata Hwe Lan sambil memutar-mutar pedangnya.
"Kau susul enci Siang Lan, biar aku sendiri yang bikin mampus tiga anjing kecil ini!"
Sui Lan maklum bahwa encinya ini takkan kalah menghadapi tiga orang perwira yang sudah terdesak hebat itu, maka ia lalu melompat jauh dan mengejar ke arah Siang Lan yang berlari.
Ia tadi melihat Siang Lan mengejar ke arah utara, maka secepatnya ia lalu menuju ke utara.
Setelah berlari beberapa lamanya, Sui Lan merasa heran mengapa ia tidak melihat bayangan Siang Lan maupun perwira yang dikejar oleh encinya itu.
Dengan heran dan gelisah, Sui Lan mencari-cari sampai beberapa lama, berlari ke sana ke mari, kadang-kadang berdiri untuk mendengarkan dengan penuh perhatian.
Akan tetapi yang didengarnya di dalam hutan itu hanyalah suara burung-burung berkicau.
Karena merasa penasaran, Sui Lan mencari pohon yang tertinggi di tempat itu, kemudian melompat ke atas cabang yang terendah, dan memanjat terus ke atas.
Ia berdiri di atas cabang yang paling atas dan memandang sekelilingnya terutama ke arah utara untuk mencari bayangan Siang Lan.
Akhirnya ia dapat melihat bayangan Siang Lan berlari-lari mengejar perwira muka hitam itu, akan tetapi mereka telah jauh sekali.
Ia telah terlalu banyak membuang waktu di dalam hutan sedangkan encinya itu telah mengejar naik ke bukit kecil di luar hutan.
Sui Lan hendak turun dari pohon itu.
Tiba-tiba ia mendengar suara mendesis keras dan ketika ia menengok, alangkah kagetnya karena yang mendesis itu seekor ular yang amat besar.
Ular tadi sudah semenjak tadi melingkar pada cabang pohon, dekat dengan cabang yang diinjaknya, dan ia tidak melihat sama sekali karena selain ular itu sama sekali tidak bergerak, juga warna kulitnya hampir sama dengan kulit pohon.
Ular yang terkejut dan marah itu membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan suara mendesis berikut uap keputih-putihan yang disemburkan ke arah Sui Lan.
Gadis ini merasa jijik dan terkejut sekali, maka untuk sesaat ia hanya memandang dengan mata terbelalak.
Belum pernah ia melihat ular sebesar ini, akan tetapi ketika ular itu tiba-tiba menggerakkan leber dan mulutnya yang lebar itu menyambar ke arah kaki Sui Lan, gadis itu dengan cepat melompat ke atas cabang yang lebih bawah.
Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika buru saja kakinya menginjak cabang ini, dari atas ia merasa angin menyambar dan tahu-tahu ular itu telah mengejarnya dan dengan mulut terbuka menyerang ke arah lehernya!
Karena ketika melompat ke atas pohon tadi, Sui Lan menyimpan pedangnya, maka ia tidak dapat menggunakan pedang itu dalam keadaan terdesak dan tidak leluasa maka kembali ia menggerakkan tubuhnya dan melompat ke bawah.
Ular itu tetap mengejar dengan kecepatan yang mengerikan.
Akhirnya Sui Lan dapat juga melompat sampai ke atas tanah dan cepat gadis ini mencabut pedangnya lalu menanti datangnya binatang buas itu.
"Turunlah, cacing pohon!"
Teriaknya sambil melambai-lambai dengan tangan kirinya.
"Apa kau kira aku takut padamu?"
Ular itu telah melilitkan tubuhnya pada cabang yang paling rendah dan agaknya merasa ragu-ragu untuk menyerang turun.
Kepalanya dijulurkan ke bawah dan lidahnya keluar masuk dengan cepatnya di ujung mulutnya.
"Ayo turun kalau ingin mampus!"
Kembali Sui Lan berseru.
Dara ini merasa marah dan gemas karena tadi telah menderita kekagetan dan melihat ular itu hanya memandang dan mempermainkan lidahnya yang panjang dan merah itu, ia lalu merogoh kantung thi-lian-ci dan menyambitkan dua butir biji teratai besi ke arah kepala ular itu, membidik ke arah matanya.
Akan tetapi ular itu dapat menggerakkan kepalanya ke samping dan thi-lian-ci itu tidak mengenai sasaran.
Namun Sui Lan sebagai ahli senjata rahasia, telah menyiapkan dua butir lagi tangannya dan begitu serangan pertama luput ia telah menyusul lagi dengan serangan kedua!
Kali ini, biarpun kepalanya mengelak, akan tetapi thi-lian-ci kedua yang ditujukan ke arah perutnya, mengenai dengan tepat dan menancap terus ke dalam perut ular itu!
Ular itu agaknya merasa kesakitan karena lingkaran pada batang pohon menjadi mengendur.
Memang tubuh binatang lebih kuat dari pada manusia dan biarpun biji teratai itu telah memasuki tubuhnya bagian perut, agaknya ular itu tidak tepengaruh geraknya.
Ia mendesis-desis lagi menyatakan marahnya dan tiba-tiba kepala lehernya meluncur ke bawah, ke arah kepala Sui Lan.
Panjang ular itu tidak kurang dari sepuluh kaki dan dengan melilitkan ekornya pada cabang pohon, kepalanya dapat bergantung ke bawah sampai ke tanah!
Sebetulnya Sui Lan tidak takut sama sekali terhadap binatang itu, hanya merasa ngeri dan jijik.
Kini melihat ular itu menyambar turun ke arahnya, ia cepat melangkah ke kiri untuk mengelak dan ketika kepala ular itu menyambar lewat, pedangnya cepat bergerak, disabetkan ke arah leher tepat di belakang kepalanya.
"Crak!"
Pedang yang digerakkan dengan kuat sekali itu menabas leher ular dan Sui Lan cepat melompat ke kiri.
Gerakan ini baik sekali karena ular yang telah dipenggal lehernya itu terlepas lilitan ekornya pada cabang dan tubuhnya yang panjang jatuh ke bawah, dari lehernya yang putus muncrat darah yang berbau amis sekali!
Sui Lan memandang ekor ular yang biarpun sudah tak berkepala lagi, akan tetpai masih dapat menggeliat itu.
Hatinya menjadi geli dan jijik, lalu ia bersihkan pedangnya pada batang pohon dan menyimpannya kembali pada sarung pedangnya.
Kemudian ia teringat akan maksudnya mencari Siang Lan, maka ia segera melompat dan berlari ke arah utara untuk keluar dari hutan itu dan mengejar ke bukit kecil di mana ia melihat encinya tadi berlari-lari mengejar perwira muka hitam.
Akan tetapi kembali ia kecewa dan bingung karena setelah tiba di tempat itu, ia tidak melihat lagi bayangan Siang Lan maupun Si Muka Hitam!
Ia mencari bahkan berteriak-teriak memanggil, akan tetapi hanya gema suaranya sendiri saja yang menjawabnya.
Sui Lan mulai merasa gelisah ke manakah encinya pergi?
Tak mungkin encinya tidak dapat menyusul perwira muka hitam, karena ia maklum akan kelihaian encinya.
Dan kalau sudah tersusul, tentu perwira itu binasa.
Akan tetapi mengapa tidak ada jawaban ketika ia memanggil encinya, suaranya itu dapat terdengar sampai jauh, maka tak mungkin Siang Lan tidak dapat mendengar suaranya.
Apakah Siang Lan mendapat bencana?
Sui Lan makin bingung dan karena tidak tahu ke mana akan mencari kakaknya ia pikir lebih baik kembali pada Hwe Lan dulu untuk kemudian mencari bersama.
Ia lalu berlari kembali ke dalam hutan tadi untuk memberitahukan hasil penyusulannya kepada Hwe Lan.
Ketika ia tiba di tempat pertempuran tadi, yakni di depan kuburan Nyo Hun Tiong, Sui Lan terkejut sekali karena di situ telah sunyi dan tidak nampak bayangan Hwe Lan, Bahkan para perwira yang tadi menjadi korban pedangnya dan Hwe Lan, tidak ada lagi di situ.
Yang ada adalah bekas-bekas pertempuran, darah berceceran di sana sini, rumput rusak terinjak-injak dan jejak kaki kuda memenuhi tempat itu.
Yang hebat adalah keadaan kuburan itu, karena tanah kuburannya telah dibongkar dan ketika ia menjenguk ke dalam kuburan, di situ telah kosong!
Agaknya rangka dari tubuh Nyo Hun Tiong telah ada yang mencuri dan membawa pergi.
Sui Lan benar-benar merasa bingung dan gelisah sekali.
Apakah yang telah terjadi pada Hwe Lan?
Kekhawatirannya memuncak dan membuat wajahnya yang cantik dan biasanya berseri gembira itu menjadi pucat.
Kedua matanya mulai basah air mata.
Siang Lan pergi tanpa meninggalkan jejak, dan kini Hwe Lan lenyap pula!
"Enci Hwe Lan...!"
Ia memanggil dengan suara keras.
Akan tetapi yang menjawab hanyalah bunyi kresekan daun tertiup angin.
Daun-daun itu seakan menceritakan sesuatu, menceritakan apa yang telah terjadi dengan Hwe Lan.
Beberapa kali Sui Lan memanggil lagi sekerasnya, akan tetapi, tetap tidak ada yang menjawab.
Akhirnya dara ini menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis.
Ia benar-benar merasa bingung dan sedih.
Baru kali ini ia ditinggal seorang diri dan tidak tahu harus berbuat apa, harus pergi ke mana!
Akhirnya ia dapat menetapkan hatinya dan menganggap saat seperti itu tidak tepat kalau diisi dengan kesedihan dan kebingungan.
Ia harus berusaha.
Gadis ini lalu bangun berdiri, menyusut air matanya kemudian ia mencoba untuk mencari jejak Hwe Lan.
Ia hanya melihat banyak jejak kaki kuda di tempat itu dan dengan dada berdebar ia menduga bahwa tentu datang banyak sekali orang berkuda di tempat ini.
Mungkin sekali Hwe Lan dikeroyok dan ditawan oleh mereka!
Ia merasa menyesal mengapa tadi meninggalkan encinya untuk mencari Siang Lan.
"Enci Siang Lan!"
Bibirnya bergerak ketika teringat kepada encinya yang sulung ini.
Ah, lebih baik ia mencari lagi Siang Lan, siapa tahu kali ini ia akan bertemu.
Kalau saja di situ ada seorang di antara kedua kakaknya itu, tentu ia tak sebingung ini.
Sui Lan lalu lari lagi keluar dari hutan untuk mencari Siang Lan di bukit yang berada di sebelah utara hutan ini.
Demikianlah, sehari itu ia lewatkan dengan mencari kedua encinya di sekitar tempat itu dengan hati bingung.
Sebetulnya ke manakah perginya Siang Lan?
Oleh karena kini tiga dara itu telah terpisah, maka agar lebih jelas mari kita ikuti pengalaman mereka seorang demi seorang.
Sebagaimana telah diketahui, Siang Lan mengejar Thio Kim Cai, anak murid Go-bi-pai yang menjadi kepala perwira pasukan Kim-i-wi itu.
Ia melarikan diri secepatnya untuk menghindarkan diri dari bahaya maut, akan tetapi Siang Lan tetap mengejarnya dengan sama cepatnya pula.
Ilmu lari cepat perwira itu cukup tinggi, karena ia memiliki ilmu lari cepat dari Go-bi-pai, yakni ilmu lati Liok-tr-hui-teng (Lari Terbang di Atas Bumi).
Oleh karena itu untuk beberapa lama ia berhasil menjauhkan diri dari Siang Lan yang tetapi mengejarnya.
Biarpun dalam hal ilmu berlari cepat, Siang Lan tak kalah dengan perwira itu, akan tetapi karena Thio Kim Cai lebih kenal keadaan tempat itu, maka untuk beberapa lama Siang Lan belum dapat menyusul lawannya dan hendak mengejar dari belakang, sungguhpun jarak di antara mereka masih tetap tak berubah.
Mereka berkejaran sampai ke bukit sebelah utara hutan itu.
Thio-ciangkun merasa bingung sekali melihat betapa gadis yang mengejarnya itu tetap tak mau melepaskannya, sedangkan ia telah lelah.
Kalau ia terus mendekati bukit di depan itu, tentu ia akan tersusul.
Jalan satu-satunya hanya ke kiri di mana terdapat sebuah rawa yang amat lebar dan luas.
Thio Kim Cai bergidik melihat rawa ini.
Ia tahu bagaimana cara menyeberangi rawa ini, akan tetapi ia tahu pula bahwa di seberang rawa ini adalah sarang gerombolan penjahat yang amat berbahaya.
Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya, maka tiba-tiba ia melompati sebuah jurang di sebelah kiri dan berlari terus menuju rawa yang lebar itu.
Siang Lan tetap mengejar dengan hati keheranan.
Mengapa musuhnya berlari menuju ke rawa?
Ketika tiba di pinggir rawa, tiba-tiba perwira muka hitam itu melompat ke tengah rawa dan berlari cepat sambil berlompatan.
Hal ini sangat mengherankan hati Siang Lan yang masih mengejar di belakan.
Apakah benar-benar orang Go-bi-pai itu dapat berjalan di atas air rawa?
Ia cepat mengejar ke pinggir yawa dan ketika ia sampai di tepi rawa itu, ia tersenyum.
Pantas saja orang yang dikejarnya dapat berlari di atas rawa, karena di situ terdapat bambu-bambu panjang yang mengapung di atas air rawa itu, sambung-sambung merupakan jembatan terapung-apung.
Hanya orang yang memiliki gin-kang tinggi saja yang berani melintasi rawa dengan cara berjalan di atas bambu itu, dan orang yang gin-kangnya belum tinggi, tentu takkan berani berlari di atas jembatan aneh ini, karena selain bambu yang terkena air itu licin sekali, juga bambu yang hanya satu itu benar-benar tidak mudah digunakan sebagai jembatan.
Sekali saja tergelincir, orangnya akan jatuh ke dalam air rawa yang berbahaya.
Bambu yang hanya sebatang itu apabila diinjak, bisa bergoyang dan berputar ke sana ke mari.
Melihat betapa Thio Kim Cai dapat berlompatan dan berlari dia tas bambu itu, dapat diukur bagaimna lihainya murid Go-bi-pai itu.
Akan tetapi Siang Lan tidak menjadi gentar menghadapi jembatan darurat itu.
Ketika ia masih berada di bawah gemblengan gurunya, Toat-beng Sian-kouw Si Dewi Pencabut Nyawa, ia dan adik-adiknya mendapat latihan gin-kang yang luar biasa dan jauh lebih berbahaya dari pada bambu di atas air ini.
Pernah suhunya melatihnya untuk menyeberangi jembatan yang terbuat dari ujung tombak yang runcing.
Ia harus berlompat-lompatan di atas ujung tombak itu dan apabila ilmu gin-kangnya belum sempurna, tentu sepatunya akan tertusuk tembus oleh ujung tombak itu!
Siang Lan tak mau membuang waktu lagi dan segera melompat ke atas bambu, terus mengejar sambil berlompatan dan berlari cepat.
Ketika tiba di tengah rawa yang airnya bercampur lumpur, ia melihat banyak sekali kepala binatang buas seperti buaya tersembul di kanan kirinya dengan mulut celangap dan gigi-gigi yang runcing dan tajam berkilauan!
Ia bergidik juga dengan hati jijik karena kalau saja ia tergelincir dan jatuh ke dalam air rawa, tentu binatang ini akan memperebutkan dagingnya.
Ketika Thio Kim Cai melihat betapa gadis itu tetapi mengejarnya, ia menjadi makin sibuk.
Ia maklum bahwa kalau ia melanjutkan perjalanannya, ia akan langsung memasuki daerah sarang penjahat yang dipimpin oleh Ang-hoa Siang-mo (Sepasang Iblis Bunga Merah) yang amat jahat dan terkenal sebagai penjahat iblis yang lihai sekali.
Oleh karena itu Thio Kim Cai lalu mengambil keputusan nekat untuk mengadu nyawa dengan gadis Siauw-lim-pai itu.
Melihat Thio Kim Cai berdiri di seberang rawa dengan golok di tangan menanti kedatangannya, Siang Lan tertawa dan melompat keluar dari rawa itu ke depan musuhnya.
"Orang she Thio, akhirnya kau menyerah juga! Kau harus menerima pembalasan atas kejahatanmu dan atas pembunuhan terhadap diri Yap Sian Houw."
Dengan marah Thio Kim Cai berkata.
"Anak perempuan yang bandel, sebetulnya siapakah kau? Ada hubungan apakah kau dengan Yap Sian Houw si pemberontak?"
"Yap Sian Houw adalah orang tuaku!"
Jawab Siang Lan yang segera maju menyerang dengan pedangnya.
Perwira muka hitam itu menangkis dengna goloknya dan mereka lalu bertempur mati-matian di pinggir rawa itu.
Kali ini karena sudah kepepet dan tidak ada jalan keluar lagi, Thio Kim Cai mengerahkan seluruh kepandaiannya dan melakukan serangan yang amat berbahaya.
Akan tetapi ia benar-benar harus mengakui keunggulan pedang Siang Lan.
Terutama yang amat mengagumkan hati perwira itu adalah ketenangan gadis ini.
Dengan amat tenang dan tetap ujung pedang gadis itu bergerak menangkis setiap gerakan dan membalas dengan desakan yang membuat perwira itu mulai main mundur.
Belum cukup tiga puluh jurus mereka bertempur, Thio Kim Cai sudah mandi keringat, bukan hanya karena lelah, akan tetapi karena merasa cemas sekali.
Ia maklum bahwa murid Siauw-lim-pai ini takkan mau mengampuninya, dan iapun insyaf berapa banyak murid Siauw-lim-pai yang telah ia tumpas dan binasakan, baik dengan tangan sendiri maupun dengan bantuan anak buahnya, yakni para pasukan Kim-i-wi.
Akan tetapi ia merasa heran mendengar gadis ini adalah anak dari Yap Sian Houw oleh karena sepanjang pengetahuannya dan pendengarannya, Yap Sian Houw belum pernah menikah dan selama hidupnya membujang, bagaimana sekarang tiba-tiba muncul seorang anaknya?
Thio Kim Cai yang berjuluk Kim-to (Golok Emas) ini dan yang selama beberapa tahun telah membuat ia disegani dan juga dibenci anak murid Siauw-lim-pai yang masih hidup, kini benar-benar merasa ketakutan ketika pedang Siang Lan berkali-kali mengancam nyawanya.
Biarpun dengan permainan goloknya ia masih dapat mempertahankan diri, akan tetapi ia maklum bahwa lambat tapi pasti, ia akan roboh juga oleh lawannya yang masih amat muda, tetapi memiliki keahlian yang mengerikan hatinya itu.
Maka diam-diam perwira muka hitam ini memutar otak mencari jalan keluar.
Ia melihat betapa binatang air yang buas itu kini berenang ke pinggir dan berada di dekat tepi rawa.
Hal ini mendatangkan sebuah akal yang hendak dijalankan untuk mengalahkan Siang Lan.
Ketika Siang Lan menusuk ke arah dadanya dengan gerak tipu Siang-jin-jit-lou (Dewa Menunjukkan Jalan), Thio Kim Cai mengelak sambil menggulingkan tubuh ke atas tanah, kemudian sambil menggunakan gerakan Yan-cu-hoan-sin (Burung Walet Putar-putar Badan) ia bergulingan dan mainkan Te-tong-to, yakni ilmu golok yang dimainkan dengan cara bergulingan di atas tanah dna menyerang musuhnya dengan golok diputar sedemikian rupa menyerang ke bagian kaki lawan!
Ilmu golok ciptaan cabang Go-bi-pai ini benar-benar lihai sekali dan Siang Lan terpaksa menggunakan gin-kangnya untuk melompat tinggi dan menjauhkan dirinya dari serangan ilmu golok yang amat berbahaya itu!
Siang Lan merasa gemas sekali dan membentak.
"Bangsat pengecut, kau hendak lari ke mana?"
Iapun melompat dan mengejar di atas bambu itu.
Sesungguhnya, mudahlah bagi Siang Lan untuk menjatuhkan musuh itu dengan thi-lian-ci, akan tetapi gadis ini memiliki sifat yang gagah dan tidak mau melakukan kecurangan dalam pertempuran di mana ia tidak berada di pihak terdesak itu.
Ketika gadis itu mengejar dekat, Thio Kim Cai yang sengaja tidak mau berlari cepat, menanti sampai Siang Lan menginjak bamu yang berada di belakangnya.
Ketika Siang Lan sudah melompat di atas bambu yang diinjak oleh perwira muka hitam itu, Thio Kim Cai tiba-tiba berhenti berlari dan dengan hati girang sekali melihat tipu muslihatnya berhasil, ia berjongkok di atas bambunya dan memegang ujung bambu yang diinjak oleh Siang Lan, lalu ia angkat tinggi-tinggi dan menggulingkan bambu itu sehingga Siang Lan yang berada di atas bambu itu, yakni di tengah-tengah, tak dapat menguasai imbangan tubuhnya lagi dan jatuh terguling!
"Ha-ha-ha!
Mampus kau, setan perempuan Siauw-lim!
Ha-ha!"
Thio Kim Cai berdiri di atas bambunya sambil tertawa girang, akan tetapi tiba-tiba ketawanya berhenti dan berganti dengan jerit kesakitan dan mukanya menjadi pucat menyeramkan sekali ketika ia melihat betapa kakinya telah digigit oleh dua ekor buaya rawa!
Ternyata saking girangnya, Thio Kim Cai tidak memperhatikan sebelah bawah.
Harus diketahui bahwa buaya-buaya rawa itu memang selalu menanti saat baik untuk menggigit orang yang berani menyeberangi rawa itu.
Mereka tak berdaya apabila orang yang menyeberang menggunakan ilmu lari cepat karena ia tidak mendapat kesempatan untuk menggigit.
Akan tetapi, ketika Thio Kim Cai tertawa terkekeh-kekeh, ia berdiri diam di atas bambu sehingga dengan mudahnya buaya itu menyambarkan mulutnya yang panjang dan lebar itu menggigit kaki Thio Kim Cai dengan gigi mereka yang tajam berbentuk gigi gergaji!
Thio Kim Cai berusaha melepaskan kakinya, akan tetapi makin banyak binatang buas itu datang mengeroyoknya sehingga ia tak kuat lagi menahan.
Dengan mengeluarkan teriakan menyeramkan sekali, perwira muka hitam itu kini terguling ke dalam air dan segera diseret oleh puluhan buaya.
Habislah riwayat perwira she Thio ini, lenyap seluruh daging, tulang dan bahkan seluruh pakaiannya.
Hanya warna merah yang menodai air rawa itu, menjadi bukti bahwa ia telah mati dan terkubur di dalam perut binatang-binatang itu.
Sementara itu, ketika tadi terlempar jatuh, Siang Lan mempergunakan ilmu entengkan badan.
Ia tidak mau terjatuh dalam keadaan membahayakan keselamatannya, maka dengan menggerakkan tubuhnya, ia dapat mengatur sedemikian rupa sehingga ia jatuh ke bawah dengan kaki dahulu.
Ia melihat beberapa ekor buaya dengan kepala yang mengerikan itu tersembul di permukaan air rawa.
Dengan tenang dan berani sekali, Siang Lan menurunkan kakinya tepat di atas kepala buaya!
Dan sebelum buaya yang lain dapat menyerangnya, ia menggunakan kepalanya itu sebagai batu loncatan dan pada saat Thio Kim Cai diseret ke dasar rawa, ia telah dapat melompat dengan selamat ke atas sebatang bambu.
Betapapun juga, hatinya merasa ngeri melihat keadaan Thio Kim Cai, maka ia menutup matanya dan segera berlari meninggalkan tempat itu, kembali ke pinggir rawa di mana ia tadi bertempur dengan perwira itu.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa daerah itu dikuasai oleh segerombolan perampok jahat di bawah pimpinan Ang-hoa Siang-mo yang ganas dan lihai!
Sebetulnya, Siang Lan ingin lekas kembali ke hutan untuk berkumpul dengan kedua adiknya lagi, akan tetapi karena tadi jalan pulang terhalang oleh peristiwa ngeri yang menimpa diri Thio Kim Cai, maka saking ngerinya, gadis ini melompat ke pinggir rawa.
Setelah keadaan air rawa menjadi tenang kembali, ia lalu berjalan ke pinggir dam hendak melompat ke atas bambu untuk menyeberangi kembali lalu mencari adik-adiknya.
Akan tetapi, baru saja ia hendak melangkahkan kakinya menginjak bambu pertama, tiba-tiba sebuah benda hitam menyambar bambu itu dan dengan mengeluarkan suara keras, bambu itu terpukul oleh benda tadi sehingga melintang di atas air!
Berbarengan dengan itu, terdengar suara ketawa yang nyaring di belakang gadis itu.
Siang Lan segera berpaling dan ia melihat seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya masih nampak cantik, dengan pakaian yang ringkas yang terbuat dari bahan pakaian yang indah dan mewah, berwarna hijau dengan berkembang merah.
Wanita itu selain berpakaian aneh, juga pada kepalanya dihias penuh dengan bunga-bunga merah sehingga ia seakan-akan terkurung oleh warna merah yang menyilaukan!
"Hi-hi-hi!"
Suara tertawanya penuh ejekan dan tarikan mulutnya mendatangkan rasa seram karena membayangkan kekejaman hebat.
"Orang yang sudah berani lancang masuk ke sini, tidak boleh pergi begitu saja, harus meninggalkan dulu barangnya yang paling indah dan berharga!"
Siang Lan bertanya kepada diri sendiri, apakah ia menghadapi seorang perampok atau seorang gila.
"Barang apakah yang kau anggap paling indah dan berharga?"
Ia bertanya dan masih bersikap tenang.
"Ha-ha-ha! Yang paling indah hanya kepalamu! Kau harus tinggalkan kepalamu! Ha-ha-ha!"
Sambil berkata demikian wanita itu menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu ia telah mencabut keluar siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya.
"Hm, kau mencari penyakit!"
Kata Siang Lan yang juga mencabut pedangnya sambil menanti dengan sikap tenang.
"Sebetulnya kau ini siapakah maka bersikap demikian kurang ajar terhadap seseorang yang belum kau kenal?"
Wanita itu nampak tercengang melihat sikap Siang Lan yang tetap tenang seakan-akan tidak merasa takut sama sekali.
Kedua matanya berubah sungguh-sungguh dan tajam sinarnya ketika ia memandang lagi dan berkata.
"Bukan aku yang kurang ajar, tetapi kau sendiri yang tidak tahu aturan! Kau menginjak daerah kekuasaan orang lain tanpa minta ijin terlebih dahulu!"
Siang Lan merasa makin heran.
"Daerah siapakah ini dan aku harus minta ijin kepada siapa?"
"Anak bodoh dan hijau seperti kau mengapa keluar masuk seorang diri sambil membawa pedang? Tidak tahukah bahwa daerah ini berada di bawah kekuasaan Ang-hoa Siang-mo? Sekarang kebetulan sekali kau bertemu dengan aku, Ang-hoa Mo-li (Iblis Perempuan Bunga Merah), kalau kau bertemu dengan anak buahku, jangan harap diberi kesempatan buka mulut! Sekarang melihat bahwa kau seorang anak-anak yang masih bodoh dan hijau maka aku memberi kesempatan hidup kepadamu dengan syarat bahwa kau harus menghadapi sepasang pedangku ini sampai tiga puluh jurus! Kalau dalam tiga puluh jurus kau dapat melawanku tanpa terluka, kau boleh keluar dari tempat ini dengan aman!"
"Kalau aku tidak tahan melawnamu dalam tiga puluh jurus, lalu bagaimana?"
Tanya Siang Lan. Ang-hoa Mo-li tertawa terkekeh-kekeh ketika menjawab.
"Anak bodoh! Kalau begitu halnya, tentu saja kau menggelinding di atas tanah ini tanpa berkepala lagi! Ha-ha-ha-ha!"
Kini Siang Lan dapat menduga bahwa perempuan ini tentulah seorang penjahat yang kejam dan ganas dan patus saja disebut Ang-hoa Mo-li atau Iblis Perempuan Bunga Merah, karena kekejamannya memang seperti seorang iblis saja yang mempermainkan orang lain sesuka hatinya.
Maka ia menjadi mendongkol juga dan berkata dengan tenang.
"Ang-hoa Mo-li, kau orang tua yang tak patut dihormati. Ketahuilah bahwa aku sedikitpun tidak takut kepadamu dan mari kita mencoba-coba kepandaian, hendak kulihat apakah kau kuat menghadapiku sampai tiga puluh jurus!"
Dengan marah sekali Ang-hoa Mo-li mendengar ucapan ini, sudah menjadi kebiasaannya mempermainkan orang lain, dan belum pernah ada orang yang berani mengucapkan tantangan seperti gadis ini yang bahkan membalikkan ucapan tadi dan kini menyindir bahwa ia takkan kuat menghadapi gadis ini dalam tiga puluh jurus!
Ang-hoa Mo-li mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya lalu menubruk maju sambil memutar sepasang pedangnya.
Melihat gerakan iblis perempuan ini cukup gesit, maka Siang Lan berlaku hati-hati, menangkis serangan lawannya dan maju membalas dengan serangan yang tak kalah cepat.
Mula-mula Ang-hoa Mo-li menganggap ringan kepada gadis muda itu, dan ia hanya melakukan serangan biasa saja, hendak mengandalkan tenaganya untuk merobohkan Siang Lan dalam beberapa jurus saja, Akan tetapi setelah berkali-kali ia menyerang tanpa hasil bahkan pedang lawan itu dengan gerakan yang luar biasa melakukan serangan balasan yang sukar sekali ditangkis, ia mengeluarkan seruan tertahan saking kagum dan merubah gerakannya dengan cepat.
Kini ia memainkan ilmu pedang yang cepat dan ganas sekali gerakannya.
Kedua pedang di tangan menyambar ke kanan ke kiri dan seakan-akan mengurung tubuh Siang Lan dengan sinar pedang itu.
Akan tetapi kembali Ang-hoa Mo-li terkejut sekali karena tiba-tiba ia lihat sinar pedang alwannya itupun dirubah dan dimainkan dengan lebih cepat lagi daripada gerakannya sendiri!
Kedua pedang di tangannya selalu tertumbuk dengan pedang tunggal di tangan gadis itu dan yang membuatnya makin terkejut adalah rasa kesemutan yang terasa oleh telapak tangannya tiap kali pedangnya beradu dengan pedang gadis itu!
Makin cepat ia mainkan pedang di kedua tangannya, makin cepat pula gerakan lawannya sehingga akhirnya ia tidak dapat melihat lagi bayangan lawannya, karena sinar pedang di tangan Siang Lan benar-benar dimainkan dengan cepat sekali!
Barulah Ang-hoa Mo-li maklum orang macam apakah sebenarnya gadis muda yang cantik jelita ini dan ia mengeluh.
Jangankan merobohkan dalam tiga puluh jurus, bahkan seperti yang dikatakan gadis tadi, belum tentu ia dapat mempertahankan diri sampai tiga puluh jurus!
Setelah pertempuran berjalan dua puluh jurus, pedang di tangan Siang Lan perlahan-lahan mulai mendesak dengan hebat dan permainan siang-kiam dari iblis perempuan itu mulai menjadi kacau.
Pada saat itu, terdengar seruan keras.
"Niocu, jangan takut aku membantumu!"
Siang Lan memandang dan melihat seorang laki-laki tinggi kurus yang usianya sebaya dengan perempuan itu, memakai pakaian yang aneh dan di kepalanya juga terhias kembang-kembang merah.
Ia dapat menduga bahwa ini tentulah suami perempuan ganas itu, karena menurut kata Ang-hoa Mo-li tadi, yang menguasai daerah ini adalah Siang-mo atau sepasang iblis.
Memang benar dugaannya, laki-laki yang baru datang ini berjuluk Ang-hoa Sin-mo (Iblis Bunga Merah) atau suami dari Ang-hoa Mo-li.
Ang-hoa Sin-mo memegang senjata yang panjang dan berbahaya yakni yang disebut Coa-kut-thi-pian (Pecut Besi Tulang Ular).
Pecut ini adalah sebatang rantai besi yang semakin ke ujungnya semakin kecil, sedangkan sambungannya disambung seperti tulang ular sehingga dapat digerakkan seperti ular.
Ketika Ang-hoa Sin-mo menggerakkan thi-pian itu, membantu isterinya, Siang Lan merasa angin pukulannya menyambar dengan ganas dan keras, maka ia cepat mengelak dan berlaku hati-hati sekali.
Karena dari serangan ini saja maklumlah bahwa laki-laki ini memiliki kepandaian dan tenaga yang lebih lihat dari isterinya.
Ia lalu memainkan ilmu pedang yang khusus diciptakan oleh gurunya, yakni Toat-beng Sian-kouw, yang mendasarkan ilmu pedang ini kepada ilmu pedang dari Siauw-lim-pai, Thai-kek, Kun-lun dan lain-lain ilmu pedang yang pernah dipelajari oleh wanita pertapa yang sakti itu.
Seperti juga Ang-hoa Mo-li tadi, Sin-mo ini terkejut sekali melihat gerakan pedang gadus muda yang cantik ini dan ia berusaha untuk menggunakan thi-piannya untuk menggempur pedang Siang Lan dan mengandalkan tenaganya yang besar untuk merampas pedang itu.
Akan tetapi Siang Lan yang cerdik dan bersikap amat tenang itu tidak membiarkan pedangnya bertemu dengan pecut besi yang berat dan kuat, maka dengan menandalkan kegesitannya dan ketenangan gerakannya, ia dapat mengimbangi keroyokan suami isteri iblis bunga merah ini!
Ang-hoa Siang-mo, suami isteri itu ketika melihat betapa lihainya nona ini, menjadi penasaran sekali.
Sin-mo lalu memutar thi-piannya dengan cepat sekali dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, sedangkan Mo-li tiba-tiba mengeluarkan suara bersuit nyaring sekali.
Tak lama kemudian, muncullah belasan orang yang tinggi besar dan bersikap buas.
Mereka berteriak dan mengurung Siang Lan yang menjadi terkejut karena maklum bahwa yang datang ini tentu anak buah iblis bunga merah itu!
Akan tetapi, Siang Lan dapat menenangkan hatinya dan melawan dengan mati-matian.
Ang-hoa Sin-mo berseru melarang orang-orangnya yang hendak maju mengeroyok, karena ia merasa penasaran sekali.
Benarkah ia dan isterinya yang telah terkenal sebagai sepasang suami isteri yang berkepandaian tinggi tak dapat merobohkan anak kecil ini?
Ia benar-benar penasaran, dan pada saat dia menahan pedang lawannya dengan cambuk besinya, ia berseru.
"Tahan dulu!"
"Apa kehendakmu?"
Tanya Siang Lan dengan tenang sehingga Ang-hoa Sin-mo merasa kagum sekali.
Belum pernah ia melihat seorang gadis muda yang berkepandaian selihai dan bersikap setenang ini walaupun ia telah dikurung oleh Ang-hoa Siang-mo dan anak buahnya yang menggemparkan dunia liok-lim (dunia perampok).
"Kau yang semuda dan selihai ini sebenarnya anak murid siapakah? Mungkin aku telah kenal gurumu dan melihat muka gurumu aku akan dapat memberi ampun kepadamu."
Siang Lan tersenyum manis sungguhpun pandangan matanya mengandung ejekan.
"Ang-hoa Siang-mo, kalian sombong dan sama kasarnya, dan kalian berdua memang cocok untuk berpasangan. Jangan kau main gertak, aku sedikitpun tidak takut kepadamu atau kepada semua kawan-kawanmu ini. Kalau kau ingin tahu keadaanku, aku adalah anak murid Siauw-lim-pai. Lebih baik kau jangan menggangguku dan membiarkan aku pergi dari sini, karena kalau kau lanjutkan kekurang ajaran kalian, kurasa kau akan menderita dan akan menyesal."
Biarpun Ang-hoa Siang-mo merasa kagum sekali dan heran melihat masih ada anak murid Siauw-lim-pai yang demikian lihai dan begitu berani keluar ke dunia kang-ouw, akan tetapi sebagai seorang tokoh persilatan besar tentu saja ia tidak sudi mengalah begitu saja.
"Aha, sombong benar kau! Benarkah kau tidak takut kepada kami? Beranikah kau menghadapi Ang-hoa-tin (Barisan Bunga Merah) kami?"
Siang Lan adalah seorang gadis yang tabah dan tenang sungguhpun ia belum pernah mengenal tentang barisan Ang-hoa-tin ini, akan tetapi ia merasa malu untuk mundur.
"Kalau memang kalian ingin mengeroyok aku, mengapa mesti menggunakan alasan pura-pura? Tak usah banyak cakap, mau mengeroyok, keroyoklah, aku sedikutpun tidak takut!"
"Sombong sekali!"
Seru Ang-hoa Mo-li yang menggerakkan siang-kiamnya lagi, akan tetapi suaminya mencegah dan berkata lagi kepada Siang Lan.
"Kami akan membentuk Ang-hoa-tin dan kalau kau benar-benar dapat keluar dari kepungan kami, tidak saja kau akan dibebaskan, bahkan kami semua akan mengaku kau sebagai guru kami!"
Kata Ang-hoa Sin-mo yang segera memberi aba-aba kepada kawan-kawannya.
Anak buah Ang-hoa Siang-mo ini berjumlah sebelas orang, sehingga bersama kedua suami isteri yang menjadi pimpinan itu, mereka berjumlah tiga belas orang.
Dengan cepat setelah menerima aba-aba ini, mereka bergerak mengurung Siang Lan dengan lingkaran yang lebar.
Semua orang mengeluarkan senjata masing-masing yang berupa pedang dan golok dan sebelum bergerak, mereka lebih dulu mengeluarkan bunga-bunga merah dari saku baju dan memakainya di atas kepala.
Siang Lan memasang kuda-kuda dengan tenang dan memperhatikan para pengurungnya dengan penuh kewaspadaan.
Mereka itu berjalan perlahan-lahan mengitarinya dengan senjatanya siap di tangan, akan tetapi sama sekali tidak menyerang.
Siang Lan berdiri diam saja dengan urat-urat menegang, siap menghadapi gempuran mereka.
Akan tetapi mereka sama sekali tidak menyerang, hanya bergerak mengelilinginya dengan langkah makin lama makin cepat.
Melihat orang-orang yang mengepungnya itu sekarang berlari-lari mengelilinginya, pusing juga pandangan mata Siang Lan, maka ia tidak mau memperhatikan mereka.
Akan tetapi, gerakan yang sedang berlari berputar itu tiba-tiba berhenti dan gerakan itu berbalik, kalau putaran tadi bergerak dari putaran tadi bergerak dari kiri ke kanan, kini bergerak dari kanan ke kiri!
Siang Lan tiba-tiba merasa kedua matanya kabur dan kepalanya pening melihat gerakan ini, dan ia lalu menyerang dengan pedangnya kepada Ang-hoa Siang-mo yang mengepalai barisan berputar itu.
Akan tetapi, baru saja ia menggerakkan pedangnya, dari belakang dan kanan kirinya, Tiga buah senjata menyerangnya dengan berbareng dan teratur sekali, yakni yang sebelah kiri menyerang kakinya, yang belakang menyerang pinggangnya dan yang kanan menyerang kepalanya!
Terpaksa ia menggagalkan serangannya dan menggerakkan pedang menangkis tiga serangan lawan itu sekaligus.
Setelah bergebrak sejurus ini, barisan Bunga Merah itu tetap berlari-lari dengan teratur, sebentar bergerak dari kiri ke kanan, sebentar kemudian berbalik dari kanan ke kiri dan tiap kali Siang Lan menyerang, ia selalu mendapat serangan seperti tadi!
Siang Lan terkurung dalam barisan yang disebut Ang-hoa-tin (Barisan Bunga Merah) yang benar-benar berbahaya sekali.
Barisan itu tidak menyerangnya, hanya mengurungnya sambil berlari-larian dengan teratur sekali sehingga dara yang dikurungnya itu makin lama makin merasa pening kepalanya.
Tiap kali ia hendak mencari jalan keluar dari kepungan dengan melakukan serangan untuk membobolkan kepungan itu, selalu serangannya itu didahului oleh serangan dari tiga penjuru yang dilakukan dengan gerakan teratur sehingga terpaksa ia harus menarik kembali serangannya tadi untuk melindungi tubuhnya dari tiga serangan lawan.
Keadaan dara ini benar-benar berbahaya karena maksud (Lanjut ke
Jilid 04) Tiga Dara Pendekar Siauw-Lim (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 dari barisan yang berlari-lari itu memang hendak membikin gadis yang terkepung itu menjadi pusing dulu hingga menjadi lemah, baru kemudian hendak diserang sekaligus!
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Siang Lan itu, tiba-tiba dari luar kepungan terdengar suara orang tertawa dan disusul dengan kata-kata ejekan.
"Ha-ha, tak tahunya Ang-hoa Siang-mo yang ditakuti orang itu tak lain hanyalah sepasang suami isteri pengecut yang biasanya hanya mengeroyok orang! Sungguh tak tahu malu, mengeroyok orang! Sungguh tak tahu malu, dengan mengandalkan kawan-kawan sebanyak tiga belas orang! Ha-ha-ha! Orang-orang di dunia kang-ouw bisa berdiri bengong saking herannya melihat kejanggalan ini!"
Biarpun Ang-hoa Siang-mo mendengar sindiran ini, akan tetapi mereka tidak peduli, seakan-akan tidak mendengar ucapan itu, oleh karena dalam barisan Ang-hoa-tin ini, pantangan terbesar ialah kalau anggota barisan itu mencurahkan perhatian ke lain jurusan.
Hal ini akan merupakan kelemahan yang mencelakakan karena barisan tak dapat bergerak secara otomatis lagi.
Oleh karena itulah, maka mereka menahan sabar dan tetap mengurung Siang Lan yang sudah hampir tak kuat menahan kepeningannya itu.
Akan tetapi, tiba-tiba orang yang baru datang itu berkata lagi.
"Ang-hoa Siang-mo, kalau kalian tidak mau menyambutku, baiklah aku mulai saja dari luar!"
Orang itu lalu mencabut pedangnya dan menyerang Ang-hoa Siang-mo dengan tusukan yang tak boleh dipandang ringan!
Ang-hoa Siang-mo tentu saja tidak membiarkan tubuhnya disate, maka ia lalu menggerakkan thi-piannya menangkis sambil berseru kepada kawan-kawannya.
"Tahan dulu!"
Ia sendiri melompat keluar dari barisan, diikuti oleh kawan-kawannya yang menahan senjata masing-masing.
Siang Lan merasa lega sekali dan ia melompat tinggi keluar dari kepungan itu dan berdiri di bawah pohon sambil memeramkan mata sejenak untuk membikin tenang hatinya dan menghilangkan kepeningan otaknya.
Ia merasa betapa segala apa di sekelilingnya, pohon-pohon dan daun-daun, berputaran tadi.
Maka cepat ia meramkan matanya lagi dan mengatur napasnya.
Tak lama kemudian ia menjadi sembuh kembali dan dengan marah ia memandang ke arah kedua iblis itu.
Akan tetapi mereka itu sedang berhadapan dengan seorang pemuda berpakaian serba putih yang memegang pedang di tanga.
Ia teringat akan ucapan yang ia juga dengar tadi dan menduga bahwa pemuda ini tentulah orangnya yang datang mengganggu Ang-hoa-tin, maka biarpun pemuda itu tidak sengaja menolongnya, akan tetapi ia merasa tertolong dan bersyukur sekali.
Ia berdiri diam dan mendengarkan percakapan mereka.
Pemuda itu masih muda, paling banyak tentu baru berusia dua puluh tahun, wajahnya tampan dan gagah, mukanya mundar dan sepasang alisnya tebal dan panjang.
Pada saat itu, ia tengah memandang kepada Ang-hoa Mo-li dengan mata penuh selidik, sehingga iblis perempuan itu menjadi merah mukanya dan berkata.
"Anak muda, siapakah kau? Melihat matamu, aku rasanya pernah bertemu dengan engkau, akan tetapi entah di mana!"
Suaminya lalu berkata dengan keras.
"Niocu, ucapanmu mengingatkan aku pula. Pemuda ini mukanya seperti pernah kukenal. Eh, anak muda, siapakah kau dan apa maksudmu berlaku lancang datang ke tempat ini dan mengganggu urusan kami?"
Pemuda itu tersenyum dan nampak senang sekali mendengar ucapan mereka.
"Tentu saja kau pernah melihat orang yang mukanya hampir sama dengan aku. Masih ingatkah kalian pada seorang pendekar bernama Kui Bok Beng?"
Mendengar disebutnya nama itu, tiba-tiba suami isteri Ang-hoa Siang-mo melangkah mundur dua tindak dan Ang-hoa Sin-mo memandang dengan mata terbelalak, sedangkan isterinya tiba-tiba menjadi pucat sekali.
"Anak muda, ada hubungan apakah kau dengan Kui Bok Beng?"
Tanya Ang-hoa Sin-mo dengan suara parau.
"Dia adalah ayahku! Kau berhutang nyawa kepada ayahku dan sekarang akulah yang datang menagihnya!"
Jawab pemuda itu.
Wajah Ang-hoa Sin-mo menjadi pucat dan terbayanglah olehnya peristiwa yang terjadi beberapa belas tahun yang lalu.
Kui Bok Beng adalah sute (adik seperguruan) dari Ang-hoa Sin-mo yang bernama Lim Pok, menyerbu sarang perampok di Bukit Te-an-san.
Ternyata bahwa gerombolan perampok itu dipimpin oleh seorang perampok wanita muda yang bukan lain ialah Ang-hoa Mo-li, seorang gadis anak perampok berusia dua puluh dua tahun dan berwajah cantik!
Terpikatlah hati Kui Bok Beng.
Ang-hoa Mo-li pun merasa tertarik, akan tetapi juga melihat kegagahannya.
Dengan tulus ikhlas, Ang-hoa Mo-li menyatakan takluk dan menyerang terhadap dua orang gagah itu.
Terjalinlah rasa cinta kasih antara Ang-hoa Mo-li dan Kui Bok Beng.
Akan tetapi, di luar prasangka kedua orang muda itu diam-diam Lim Pok juga tergila-gila kepada Ang-hoa Mo-li!
Ang-ho Mo-li yang semenjak kecil ikut ayahnya menjadi perampok, membujuk agar supaya Kui Bok Beng suka menjadi kepala rampok di gunung itu, akan tetapi tentu saja Kui Bok Beng tidak mau.
Sebaliknya Lim Pok menyatakan bahwa ia suka menjadi perampok di situ sehingga antara dua orang saudara seperguruan ini timbul perselisihan pendapat.
Telah setengah bulan mereka berada di puncak bukit itu, Kui Bok Beng berkasih-kasihan dengan Ang-hoa Mo-li, sedangkan Lim Pok diam-diam menaruh hati iri dan benci kepada sutenya, akan tetapi ia tidak berani menyatakan berterang karena merasa malu.
Kebetulan sekali pada malam hari ke lima belas, sepasukan tentara negeri menyerbu sarang perampok di bukit itu sehingga terjadilah pertempuran hebat.
Dalam keributan inilah terjadi perpecahan antara Lim Pok dan Kui Bok Beng.
Menurut Kui Bok Beng, mereka tak seharusnya melawan dan ia hendak mengajak Ang-hoa Mo-li melarikan diri dari jurusan lain, akan tetapi Lim Pok berkeras hendak melawan, bahkan lalu mengepalai anak buah perampok melakukan perlawanan!
Kui Bong Bek merasa penasaran melihat suhengnya menjadi tersesat dan berbalik pikir seperti itu, maka terjadilah percekcokan di antara mereka dalam keributan itu sehingga akhirnya mereka bertempur sendiri!
Kepandaian Kui Bok Beng kalah setingkat apabila dibandingkan dengan Lim Pok yang menjadi kakak seperguruannya, maka akhirnya ia tewas dalam tangan suhengnya sendiri!
Setelah membunuh sutenya, Lim Pok lalu mengajak Ang-hoa Mo-li melarikan diri dan membiarkan anak buahnya dihancurkan oleh tentara negeri.
Ternyata bahwa Ang-hoa Mo-li memang bukan seorang wanita baik-baik, karena setelah melihat kematian Kui Bok Beng, ia menerima menjadi isteri Lim Pok, bahkan dengan orang she Lim ini ia merasa lebih cocok!
Lim Pok amat dipengaruhi oleh isterinya yang cantik, maka setelah mereka mendapatkan tempat yang cocok di seberang rawa itu, mereka menjadi perampok dan mempunyai beberapa anak buah, kemudian atas anjuran isterinya, Lim Pok membuang namanya dan menggantinya dengan Ang-hoa Sin-mo, sehingga mereka berdua menjadi terkenal dengan sebutan Ang-hoa Siang-Mo (Sepasang Iblis Bunga Merah)!
Kedua orang itu lalu mencipta ilmu silat Ang-hoa kun dan anak buahnya dilatih pula untuk mainkan ilmu silat ini sehingga mereka dapat membentuk sebuah Ang-hoa-ti yang lihai!
Putera Kui Bok Beng yang pada waktu itu masih kecil, baru berusia enam tahun dan dititipkan oleh Kui Bok Beng kepada seorang bibinya, tahu pula akan kematian ayahnya maka anak ini lalu berlatih ilmu silat tinggi dan bercita-cita membalas dendam.
Anak ini adalah Kui Hong An, yaitu pemuda yang telah berhasil mendapatkan tempat tinggal musuh dan yang kini telah berhadapan dengan Ang-hoa Siang-mo itu!
Kedatangan Kui Hong An secara kebetulan sekali merupakan pertolongan bagi Siang Lan yang sedang te rdesak hebat dalam barisan Ang-hoa-tin.
Ang-hoa Sin-mo dan Ang-hoa Mo-li yang mendengar bahwa pemuda baju putih yang tampan dan gagah ini adalah putera dari Kui Bok Beng, maklum bahwa pertempuran mati-matian takkan dapat dihindarkan lagi.
Akan tetapi mereka sama sekali tidak merasa takut, bahkan Ang-hoa Sin-mo lalu tertawa mengejek dan berkata.
"Anak muda, kalau begitu aku adalah supekmu sendiri. Ayahmu telah tewas karena ia tak tahu diri dan berani melawanku, maka kalau kau suka mendengar nasihatku, lebih baik kau pergi dan lupakanlah urusan yang terjadi antara ayahmu dan kami berdua, karena urusan itu adalah urusan antara kakak dan adik seperguruan! Kalau kau berkeras hendak membalas berarti kau hanya mengantarkan jiwamu untuk mati di tempat ini. Bukankah itu sayang sekali?"
Kui Hong An tersenyum.
"Aku telah datang ke tempat ini setelah bertahun-tahun mencari kamu berdua. Setelah sekarang bertemu, apakah artinya kematian bagiku? Ang-hoa Sin-mo, bersiaplah untuk menerima pembalasan ayahku!"
Setelah berkata demikian, pemuda baju putih melangkah maju dengan sikap mengancam.
"Nanti dulu!"
Ang-hoa Sin Mo berkata.
"Ketika kau datang, kami sedang hendak membereskan seorang gadis liar yang ingin mampus, maka kalau kau pun tak tahu diri dan ingin mampus pula, kau majulah bersama dengan gadis itu menghadapi Ang-hoa-tin kami!"
Pemuda itu tertawa mengejek.
"Semua ucapan itu hanya menunjukkan betapa curang dan pengecut sifatmu, orang she Lim! Kau merasa ngeri untuk maju seorang diri, maka hendak menggunakan keroyokan dengan mengajukan barisanmu Ang-hoa-tin, dan untuk menutup rasa malu, kausuruh aku dan nona itu maju. Ha-ha-ha! Nona itu boleh jadi takut kepada Ang-hoa-tin, akan tetapi aku Kui Hong Ang, sama sekali tidak takut!"
Mendengar ucapan ini Siang Lan melompat dengan mata memandang marah.
"Siapa bilang aku takut?"
Sepasang mata nona itu menatap wajah Hong An dengan marah. Pemuda itu memandangnya sambil tersenyum, lalu berkata.
"Kalau Nona benar-benar tidak takut, mari kita hancurkan Ang-hoa-tin ini!"
Siang Lan tidak menjawab, hanya mempersiapkan diri dengan pedang dilintangkan di depan dada.
Ang-hoa Sin-mo tidak mau banyak bicara lagi, lalu memberi tanda kepada kawan-kawannya dan mulailah tiga belas orang itu bergerak mengurung dua orang muda itu, dan mulai pula berlari-lari memutari kedua orang yang terkepung.
Ang-hoa Sin-mo hanya mencurahkan perhatiannya kepada Siang Lan yang sudah diketahui kelihaiannya, dan ia memandang rendah pemuda itu, karena ayah pemuda itu hanya seorang sutenya yang kepandaiannya masih kalah olehnya, apalagi puteranya.
Namun ketika Hong An melihat barisan itu telah bergerak, ia berseru.
"Lim Pok, lihat pedang!"
Dan ia menyerang ke arah Ang-hoa Sin-mo dengan pedangnya.
"Pergilah!"
Bentak Ang-hoa Sin-mo sambil menggerakkan Coa-kut-thi-pian (Cambuk Besi Tulang Ular) dengan sekuat tenaga untuk menangkis pedang itu karena ia percaya bahwa dengan sekali tangkis saja pedang itu akan terlempar.
Akan tetapi, ia menjadi kaget sekali ketika terdengar suara keras dari pertemuan antara cambuk besi dan pedang itu.
"Trang!"
Dan ketika Ang-hoa Sin-mo memandang, ternyata ujung cambuknya telah terpotong!
Baiknya pada saat itu dari kanan kiri pemuda itu, dua orang anggota Ang-hoa-tin telah menubruk maju sehingga Hong An tak dapat melanjutkan dan terpaksa menangkis serangan dari kanan, sedangkan serangan dari kirinya ditangkis oleh Siang Lan yang tak dapat mendiamkan saja pemuda itu diserang dari kanan kiri.
Hong An memandangnya dan berkata.
"Terima kasih!"
Akan tetapi Siang Lan dengan mulut cemberut lalu membalikkan tubuh dan menyerang pengurung yang berada di belakangnya!
Juga Hong An lalu menggerakkan pedangnya lagi menyerang Ang-hoa Sin-mo yang kini tidak berani memandang rendah lagi!
Dua orang muda di dalam kurangan Ang-hoa-tin itu dengan berdiri saling membelakangi mulai melakukan serangan, akan tetapi kembali Ang-hoa-tin memperlihatkan ketangguhannya.
Ketika Siang Lan dan Hong An mulai menyerang, barisan itu bergerak berputaran lagi dan dengan demikian, maka serangan-serangan kedua anak muda itu saling dihadapi oleh orang kedua atau ketiga dalam barisan.
Misalnya, Ang-hoa Sin-mo berputar sampai ke depan Sian Lan dan gadis ini dengan gemas menyerangnya, Iblis Bunga Merah ini melanjutkan pergerakannya memutar sehingga serangan itu dihadapi oleh orang yang berada di belakangnya yang menangkis dengan bantuan orang ketiga, Sedangkan Ang-hoa Sin-mo dari samping membarengi serangan Siang Lan itu dengan serangan pula.
Demikianlah, barisan Ang-hoa-tin itu selalu menyambut setiap serangan dengan serangan-serangan pula dan tiap kali Siang Lan atau Hong An menyerang, ia langsung akan berhadapan dengan tiga atau empat orang!
Yang lebih menyukarkan Siang Lan dan Hong An adalah karena di dalam kurungan yang sempit itu, mereka berdua tak dapat bergerak leluasa dan untuk memecahkan kurungan itu bukanlah hal yang mudah.
Sudah beberapa kali Siang Lan atau Hong An mencoba untuk membobolkan kurungan akan tetapi tak berhasil karena ke mana saja mereka bergerak, kurungan tiga belas orang yang terus berlari memutar itu secara otomatis telah mengurung mereka pula.
"Jangan bergerak, kita mencari akal!"
Tiba-tibaa Hong An berkata kepada Siang Lan.
Gadis ini menurut dan mereka berdiri saling membelakangi dengan pedang disiapkan untuk menangkis serangan, akan tetapi sebagaimana tadi ketika Siang Lan dikeroyok, barisan itu tidak mau menyerang dan hanya berputaran untuk membuat pening dan kabur pandangan mata kedua orang muda itu.
Hong An memandang dengan penuh perhatian, demikian pun Siang Lan.
"Ah, ada jalan untuk memecahkannya!"
Tiba-tiba Hong An berkata.
"Aku pun mempunyai jalan yang baik!"
Kata Siang Lan.
Mereka berdua ini bicara dengan tubuh saling membelakangi, jadi tidak dapat saling pandang.
Mendengar ucapan Siang Lan yang kedengarannya tak mau kalah itu, Hong An tersenyum seorang diri dan bertanya.
"Apakah jalanmu?"
"Katakan dulu apa jalanmu!"
Jawab Siang Lan tak mau kalah. Kemudian Hong An tersenyum, alangkah tinggi hati gadis ini, pikirnya.
"Kita harus ikut berlari ke arah berlawanan dengan mereka, dengan demikian mereka menjadi kacau pergerakannya dan perhatian mereka terpecah, kalau sudah demikian baru kita menyerang!"
"Jalanku lain lagi! Aku hendak mempergunakan thi-lian-ci untuk menghajar mereka dari dalam!"
"Bagus, sambil berlari kau menghajar mereka dengan thi-lian-ci dan aku menyerang dengan pedang sehingga kurungan ini terbuka!"
Kata pula Hong An.
Demikianlah, dua orang muda yang sama sekali tidak saling kenal dan secara kebetulan berada dalam keadaan yang sama ini, kini tanpa melihat muka masing-masing, telah mengadakan perundingan seperti dua orang kawan senasib!
Tiga belas orang anggota barisan Ang-hoa-tin itu menjadi heran dan curiga melihat dua orang yang mereka kurung hanya bercakap-cakap dan berbisik-bisik.
Selagi Ang-hoa Sin-mo hendak memberi aba-aba untuk mulai dengan serangannya, tiba-tiba dua orang muda itu mulai bergerak dan berlari-lari dengan arah yang berlawanan!
Tentu saja semua anggota barisan itu menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Belum pernah mereka mengalami hal ini dan belum pernah ada orang yang mereka hadapi melakukan hal yang aneh ini.
"Serang mereka bergantian!"
Tiba-tiba terdengar Ang-hoa Sin-mo memberi aba-aba karena dengan berlari-larinya kedua orang muda itu, berarti bahwa usaha membuat mereka menjadi pening telah gagal sama sekali!
Kini mereka mulai menggerakkan senjata dan mulai menyerang setelah lebih dulu berhenti berlari.
"Bagus!"
Seru Hong An dan Siang Lan hampir berbareng karena setelah ketiga belas orang itu tidak berlari-lari lagi, mudahlah bagi mereka untuk bergerak.
Dengan berbareng pula, Hong An memutar pedangnya menangkis serangan lawan, sedangkan Siang Lan melompat ke tengah dan tangan kirinya menyambar.
Beberapa butir thi-lian-ci menyambar keluar dari tangan itu menuju ke arah ketiga orang anggota barisan itu yang menjadi terkejut sekali dan cepat mengelak.
Akan tetapi kembali beberapa butir thi-lian-ci menyambar lagi dengan kecepatan luar biasa.
Dua orang di antara mereka masih dapat mengelak dan menyampok dengan golok, akan tetapi yang seorang kurang cepat gerakannya sehingga sebutir thi-lian-ci dengan cepat memasuki daging di pundaknya, membuat ia menjerit kesakitan!
Siang Lan tidak mau membuang waktu lagi dan cepat melompat dengan pedang diputar, mendesak orang yang telah terluka itu.
Tiga orang kawannya membantunya dan menghadang untuk mencegah Siang Lan keluar dari kepungan akan tetapi kembali tangan kiri Siang Lan bergerak.
Kini sembilan butir thi-lian-ci dengan cepatnya menyambar ke arah tiga orang itu yang cepat harus melompat jauh untuk menghindarkan diri dari senjata rahasia yang berbahaya itu.
Saat ini digunakan oleh Siang Lan untuk menerjang orang yang terluka pundaknya tadi.
Orang itu mencoba u ntuk menangkis dengan goloknya, akan tetapi ia kalah cepat dan biarpun ia berhasil menangkis pedang Siang Lan, namun tendangan gadis itu yang menyusul gerakan pedangnya dengan cepat mengenai dadanya sehingga ia menjerit kesakitan dan tubuhnya bergulingan di atas tanah!
Kini pecahlah kepungan di bagian Siang Lan dan gadis itu melompat keluar siap menanti serbuan lawan dengan pedang di tangan.
Adapun Hong An yang juga bergerak cepat dengan pedangnya di tangan telah dikeroyok oleh empat orang, yakni Ang-hoa Sin-mo, Ang-hoa Mo-li dan dua orang anak buah mereka.
Gerakan pedang ini demikian cepat dan hebat sehingga Ang-hoa Sin-mo diam-diam mengeluh.
Ternyata bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari Kui Bok Beng, dan sama sekali tidak memiliki ilmu silat cabangnya, yakni cabang Bu-tong-pai yang telah banyak dirubah.
Melihat ilmu pedangnya, Ang-hoa Sin-mo dapat menduga bahwa Hong An tentu murid dari Kun-lun-pai yang terkenal memiliki ilmu pedang yang terkenal tangguh dan lihai.
Biarpun permainan cambuk besi dari Ang-hoa Sin-mo dan siang-kiam dari Ang-hoa Mo-li cukup tangguh, dibantu pula oleh dua orang anak buah mereka yang cukup tinggi ilmu silatnya, Namun ilmu pedang Kui Hong An dapat mengimbangi serangan mereka, bahkan dapat membuat kacau permainan kedua orang anak buah perampok itu.
Untuk menghadapi sambaran cambuk besi dari Ang-hoa Sin-mo yang lihai dan sepasang pedang dari Ang-hoa Mo-li yang ganas, Hong An mempergunakan kegesitan dan gin-kangnya.
Ia bergerak cepat dan tubuhnya berkelebat ke sana kemari, didahului oleh sinar pedangnya yang berkilauan.
Sementara itu, Siang Lan hanya menghadapi keroyokan tujuh orang anak buah perampok, menghadapi mereka dengan enak dan tenang.
Dua orang di antara anak buah perampok telah rebah di tanah, yakni yang tadi ia tendang dan seorang lagi yang terkena pedangnya pada saat mereka menyerbu setelah ia keluar dari kepungan.
Dengan robohnya dua orang, maka kini yang menghadapinya masih ada tujuh orang lagi.
Gadis ini sama sekali tidak merasa gentar dan pedangnya dimainkan sedemikian rupa sehingga pedang itu selain merupakan sinar gemilang yang melindungi seluruh tubuhnya, juga kadang-kadang melesai panjang dan jauh menyerang.
Ia juga menggunakan thi-lian-ci, maka kacau balau para pengeroyoknya.
Dua orang berteriak mengaduh-aduh dan mundur dari pertempuran karena perut mereka kemasukan biji-biji besi itu!
Hal ini membuat lima orang pengeroyok lain menjadi pucat ketakutan dan permainan mereka makin kacau balau lagi.
Akan tetapi mereka ini masih membandel dan terus menyerang dengan buas.
Melihat kebandelan mereka, Siang Lan merasa gemas juga.
Ia tidak mau membunuh banyak orang dan tidak suka pula melayani orang-orang kasar ini lebih lama lagi, maka ia berseru keras dan segera gerakan pedangnya dirubah cepat.
Gerakan pedangnya timbul dari tenaga lwee-kangnya, dan permainannya pun luar biasa, karena ia mainkan ilmu pedang Tat-mo Kiam-hwat, yakni ilmu pedang ciptaan Tat Mo Couwsu yang sakti.
Terdengar teriakan-teriakan terkejut karena begitu Siang Lan menggerakkan pedangnya dengan luar biasa ini, dua orang pengeroyok melempar pedang dan memegangi tangan kanannya yang mengalirkan darah, sedangkan seorang lagi mengeluh kesakitan karena pundaknya terbabat oleh ujung pedang gadis pendekar itu!
Mereka kini menjadi takut betul-betul dan ketika menengok ke arah pemimpin-pemimpin mereka ternyata bahwa keadaan pemimpin mereka juga terdesak sekali maka dua orang pengeroyok yang masih belum terluka segera berseru.
"Lari...!"
Orang yang telah menderita luka itu terhuyung-huyung lalu berlari cepat pergi dari situ, menyusul dua orang kawannya yang telah melarikan diri terlebih dulu.
Siang Lan tersenyum dan memandang ke arah pemuda yang masih bertempur itu.
Ia menjadi kagum melihat betapa pemuda itu telah berhasil pula merobohkan dua orang kawan Ang-hoa Siang-mo sehingga kini ia hanya menghadapi suami isteri Iblis Kembang Merah itu.
Sekali pandang saja maklumlah Siang Lan bahwa pemuda itu adalah seorang anak murid Kun-lun-pai yang memiliki gerakan cepat sekali sehingga diam-diam ia merasa kagum.
Tiba-tiba Siang Lan merasa betapa matanya menjadi merah ketika darah hangat menyerbut naik ke mukanya karena perasaan jengah dan malu mendorongnya.
Mengapa ia merasa kagum dan tertarik kepada pemuda ini?
Tak pantas bagi seorang gadis mempunyai perasaan semacam ini terhadap seorang pemuda yang baru saja dijumpainya.
Ia melihat betapa Hong An mendesak hebat suami isteri itu dengan pedangnya, bahkan kini Ang-hoa Mo-li hanya bermain dengan satu pedang saja karena pedang di tangan kirinya telah terlempar ketika ia menangkis pedang Hong An.
Tiba-tiba Ang-hoa Mo-li melompat keluar dari kalangan pertempuran itu sambil berseru.
"Lim Pok, kau hadapi sendiri dia! Kaulah yang dulu bermusuhan dengan Bok Beng, bukan aku!"
Setelah berkata demikian Ang-hoa Mo-li lari pergi dari situ!
Siang Lan merasa gemas sekali melihat ketidak setiaan iblis perempuan itu terhadap suaminya, maka ia mengambil segenggam thi-lian-ci dan disambitkan ke arah tubuh Ang-hoa Mo-li yang hendak melarikan diri.
"Ang-hoa Mo-lli bawalah hadiah ini dariku!"
Teriaknya.
Ang-hoa Mo-li cepat mengelak, akan tetapi karena sambitan thi-lian-ci yang dilepas oleh Siang Lan ini memang cepat sekali sambarannya, juga dilepas secara istimewa sehingga biji-biji teratai besi itu menyambar ketiga jurusan yakni tepat ke arah punggung dan sebagian ke arah kanan kiri tubuh Ang-hoa Mo-li, maka ketika iblis perempuan itu mengelak ke kiri, masih saja sebutir thi-lian-ci mengenai tangan kanannya!
Ia menjerit kesakitan, membalikkan tubuh dan memandang marah kepada Siang Lan.
Akan tetapi, melihat gadis gagah itu berdiri dengan tersenyum mengejek, ia menjadi ngeri karena maklum bahwa kepandaiannya takkan dapat menangkan lawan tangguh ini, maka ia berseru.
"Dasar anak murid Siauw-lim-pai yang jahat! Hati-hati kau, lain kali akan datang saatnya aku membalas kekurangajaranmu ini!"
Setelah berkata demikian, ia melompat maju dan melarikan diri.
Sementara itu, ketika melihat betapa isterinya lari meninggalkannya, hati Ang-hoa Sin-mo menjadi bingung sekali, dibantu oleh isterinya pun dia masih tak dapat menangkan pemuda ini, apalagi kalau menghadapinya seorang diri!
Biarpun ia telah memutar-mutar cambuk besinya dengan nekat, namun tetap saja terdesak.
Pada saat yang baik, Hong An mendesaknya dengan serangan Po-in-kian-cit (Menyapu Awan Melihat Matahari), ujung pedangnya bagaikan kilat secepatnya menyabet ke arah leher Ang-hoa Sin-mo yang segera menangkis dengan cambuknya.
Akan tetapi ketika pedang itu bertemu dengan cambuk, Hong An memutar pedangnya sehingga cambuk itu menggubat pedang.
Ang-hoa Sin-mo mengerahkan tenaga dan membetotnya dengan maksud untuk merampas pedang lawan, Akan tetapi ternyata bahwa tenaga Hong An juga besar sekali sehingga jangankan untuk merampas pedang lawan, akan tetapi ternyata bahwa tenaga Hong An juga besar sekali sehingga jangankan untuk merampas pedang, menggerakkannya saja pun Ang-hoa Sin-mo tidak sanggup!
Pada saat itu Hong An melancarkan serangan dengan kakinya yang bergerak bergantian dalam ilmu tendang Sa-tak-twi (Tendangan Segitiga).
Ilmu tendang yang amat lihai dan cepat ini tak dapat dihindarkan oleh Ang-hoa Sin-mo sehingga dalam dua jurus saja pergelangan tangannya yang memegang thi-pian telah kena tendang sehingga senjatanya terlepas dan terlempar ke udara!
Ang-hoa Sin-mo terkejut sekali dan karena tidak ada harapan untuk menang, ia lalu melarikan diri ke arah rawa!
Dengan sekali lompatan jauh, ia telah berada di pinggir rawa dan segera meloncat ke atas bambu yang terdekat.
"Lim Pok, jangan lari! Hutangmu belum lunas!"
Teriak Hong An mengejar dan tanpa sangsi lagi melompat ke atas bambu di mana Lim Pok Si Iblis Bunga Merah telah berdiri.
Mendengar seruan ini dan maklum bahwa pemuda itu mengejarnya, tiba-tiba Ang-hoa Sin-mo lalu membalikkan tubuh dan tangan kanannya bergerak melemparkan sesuatu ke arah Hong An.
Pemuda itu cepat menggerakkan tubuhnya sehingga miring dan sambitan itu tidak mengenai sasaran.
Ternyata yang disambitkan oleh Ang-hoa Sin-mo itu adalah hiasan emas berbentuk bunga merah yang tadinya menghias rambutnya.
Memang di antara bunga-bunga merah yang asli yang menghias dan memenuhi rambutnya, terdapat beberapa bunga terbuat dari emas yang indah sekali.
Biarpun Hong An dapat mengelakkan diri dari sambitan itu, akan tetapi karena ia menggerakkan tubuh sebelum menginjak bambu, kini ia turun tidak tepat di atas bambu!
Seekor buaya yang berada di dekat tempat itu ketika melihat tubuh pemuda itu jatuh dari atas lalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dari atas permukaan air dengan mulut terbuka lebar!
"Bagus!"
Hong An memuji dengan girang oleh karena binatang ini merupakan penolong baginya.
Ia menurunkan kakinya yang sebelah kanan lebih dulu ke arah mulut yang terbuka itu sebagai umpan!
Ketika buaya itu menggerakkan mulut yang ditutup dengan tiba-tiba, Hong An menarik kaki dan kini kaki kirinya menginjak mulut yang telah terkatup itu dan secepat kilat ia menggunakan kepala buaya itu sebagai panjatan dan melompat lagi ke atas bambu itu.
Ang-hoa Sin-mo tadinya telah bergirang hati karena menyangka bahwa pemuda itu pasti akan mati di dalam mulut buaya.
Alangkah terkejutnya melihat betapa dengan berani sekali pemuda itu dapat menghindarkan serangan buaya bahkan mempergunakan binatang buas itu sebagai jembatan!
Ia merasa menyesal mengapa ia berhenti untuk melihat hasil serangannya.
Kini untuk melarikan diri sudah tidak ada waktu lagi karena Hong An segera menyerbunya.
Terjadilah perang tanding yang mati-matian di atas sebatang bambu yang terapung di atas air!
Sementara itu, melihat betapa bambu itu tenggelam di bawah permukaan air karena terlalu berat bebannya, buaya-buaya di kanan kiri bambu itu dengan cepat berenang mendekat dengan mulut dibuka lebar-lebar.
"Kalau bukan kau, tentu aku!"
Tiba-tiba Ang-hoa Sin-mo berseru keras dengan menggerakkan tubuhnya menubruk dengan sepasang tangannya dipentang lebar ke arah lawannya!
Hong An hanya berdiri di atas sebatang bambu, maka tentu saja sukar baginya untuk menghindarkan diri dari terkaman nekat ini.
Ia melihat betapa jari tangan dari lawannya itu dibuka bagaikan kuku garuda dan maklum bahwa ia tidak dapat menyambut serangan ini dengan pukulan atau tendangan, karena tentu orang yang nekat itu akan menangkap kaki atau tangannya dan mengajaknya mati bersama di dalam air yang penuh buaya buas itu!
Jalan lain tidak ada lagi bagi Hong An, maka ia lalu berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas dengan cepat bagaikan menyambar kilat!
Ang-hoa Sin-mo menubruk tempat kosong dan tentu saja gerakannya yang hebat dan nekat ini membuat tubuhnya meluncur ke depan dan akhirnya jatuh ke dalam air mengeluarkan suara bercebur ketika air muncrat ke atas.
Buaya-buaya buas yang telah menanti-nanti korban itu segera memburu dengan mulut terbuka lebar!
Ang-hoa Sin-mo menggerakkan kedua tangannya dan dua ekor buaya terpukul ke kanan kiri!
Memang hebat pukulan Ang-hoa Sin-mo ini, akan tetapi di dalam air menghadapi sekian banyaknya binatang buas, ia tak berdaya dan tak lama kemudian terdengar pekik ngeri dan tubuhnya diseret ke dasar rawa!
Sementara itu, tubuh Hong An yang melompat ke atas itu, ketika melayang turun ke bawah kembali, agaknya juga akan mengalami nasib yang sama pula dengan Ang-hoa Sin-mo, karena di bawahnya tidak ada sesuatu yang dapat menahan tubuhnya.
Sekali ia terjatuh di dalam air, akan tamatlah riwayatnya.
Pemuda itu memandang ke bawah dengan mata terbelalak lebar.
Ia tidak merasa takut, akan tetapi tak berdaya.
Kalau saja ada seekor buaya yang kebetulan timbul di permukaan air itu, tentu ia bisa mempergunakannya sebagai batu loncatan.
Akan tetapi sebagian besar binatang itu sedang berpesta di dasar rawa dan sebagian pula berenang di dalam air.
Tiba-tiba dari pinggir rawa, melayang sebatang bambu yang jatuh tepat di bawah pemuda itu!
Hong An turun dan menginjak bambu itu untuk melompat kembali ke arah bambu yang berada di pinggir rawa, kemudian dengan dua kali lompatan lagi, sampailah ia di depan Siang Lan dan menjura dengan wajah berseri.
"Nona, terima kasih, aku Kui Hong An berhutang budi dan nyawa kepadamu, terimalah hormat dan terima-kasihku."
Memang yang melontarkan bambu untuk menolong Hong An tadi adalah Siang Lan.
Kini menghadapi pemuda yang menjura dan menghaturkan terima kasihnya itu, kembali Siang Lan merasa betapa mukanya menjadi merah karena hatinya berdebar keras.
Ia membalas memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke dada sambil berkata.
"Tak usah bicara tentang budi dan terima kasih. Kalau kau tidak cepat datang tadi ketika aku dikeroyok, tentu aku telah tewas dan kau sekarang akn tewas pula di dalam rawa! Saling bantu dalam usaha menghadapi si jahat, sudah menjadi keharusan yang sepantasnya. Perlu apa banyak upacara lagi?"
Hong An tersenyum dan mengangkat mukanya memandang.
Kebetulan sekali Siang Lan juga sedang menatap wajahnya, maka tanpa disengaja dua pasang mata bertemu pandang.
Entah mengapa, dua pasang mata itu seakan-akan tertarik oleh sesuatu yang mempunyai pengaruh sihir, empat buah mata itu terbuka lebar dan sampai lama tidak berkedip!
Akhirnya Siang Lan yang mengalihkan pandangan matanya lebih dulu, sedangkan Hong An lalu bertanya.
"Bolehkah aku mengetahui nama Nona dan mengapa pula Nona bermusuhan dengan Ang-hoa Siang-mo?"
Semenjak pertemuan pandang mata tadi, Siang Lan merasa jantungnya masih berdebar tidak karuan sehingga ia maklum bahwa kalau ia bicara, suaranya tentu terdengar gemetar.
Oleh karena itu ia tidak menjawab, bahkan lalu menggerakkan kaki menuju ke pinggir rawa.
Hong An merasa heran dan mengejarnya.
"Eh, Nona, mengapa kau seperti orang marah? Kalau aku tidak boleh mengetahui namamu, tidak apa, akan tetapi jangan marah kepadaku!"
Siang Lan menggigit bibirnya.
"Siapa marah? Dan tentang nama.., apa perlu kau yang tidak kukenal mengetahuinya. Aku bertempur dengan Ang-hoa Siang-mo karena mereka penjahat-penjahat kejam! Sudahlah aku harus pergi dari sini!"
Ia lalu melompat ke atas bambu dan segera menyeberangi rawa itu untuk mencari kedua orang adiknya!
Hong An berdiri bengong di pinggir rawa, mengikuti bayangan nona yang jelita itu dengan pandang matanya sampai bayangan Siang Lan lenyap dari pandangan.
Ia menarik napas panjang berulang-ulang.
"Sayang... sayang... aku tak kenal namanya."
Sekarang baiklah kita mengikuti pengalaman Hwe Lan gadis yang keras hati itu.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian pertama, ketika melihat Siang Lan mengejar perwira muka hitam, Hwe Lan menyuruh adiknya, Sui Lan, untuk menyusul encinya itu karena ia merasa tidak enak hati melihat encinya itu mengejar musuhnya seorang diri.
Perwira-perwira Kim-i-wi yang mengeroyok tinggal tiga orang lagi dan mereka ini bukan apa-apa bagi Hwe Lan yang gagah perkasa.
Setelah Sui Lan pergi untuk menyusul encinya Hwe Lan lalu memutar-mutar pedangnya sedemikian rupa sehingga dalam beberapa jurus saja kembali seorang perwira roboh mandi darah tertusuk oleh pedangnya.
Dua orang perwira yang masih mengeroyoknya kehabisan semangat dan keberanian, maka mereka lalu memutar badan lari tunggang-langgang!
Akan tetapi Hwe Lan tidak membiarkan mereka melarikan diri dari sebelah selatan.
Sibuklah kedua orang perwira itu ketika melihat bahwa nona yang kosen itu mengejarnya.
Pada saat itu, dari jauh datang tiga bayangan orang berlari-lari secepat terbang.
Seorang di antara mereka, yang lari paling depan adalah seorang kaki pendek gemuk yang berkepala gundul akan tetapi pakaiannya ganjil sekali, karena di luar ia memakai jubah pendeta namun di sebelah dalam ia mengenakan pakaian perwira tinggi!
Kakek ini larinya cepat sekali biarpun ia nampak berjalan seenaknya.
Di ketiak kirinya terkempit sebatang tongkat yang pada kedua ujungnya bulat seperti bola.
Kakek ini bukanlah orang sembarangan, karena ia bukan lain adalah Wai Ong Koksu atau guru negara, karena sesungguhnya kakek ini adalah seorang sakti dari Bu-tong-san, dan ilmu silatnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.
Wai Ong Koksu ini adalah seorang tokoh besar Bu-tong-oai yang menjadi kakak seperguruan dari tokoh Bu-tong-pai yang bernama Pang To Tek!
Memang telah lama Wai Ong Hosiang ini mengasingkan diri di atas pegunungan sebelah utara.
Ketika ia mendengar bahwa Kaisar memerlukan seorang guru silat dan juga penasehat, ia lalu turun gunung dan berhasil mendapatkan kedudukan tinggi itu.
Pangkat Koksu ini dikehendaki oleh banyak sekali jago-jago silat dan tokoh-tokoh kang-ouw, akan tetapi, mereka semua terpaksa mundur ketika melihat Wai Ong Hosiang karena maklum akan kelihaian kakek gundul ini.
Beberapa orang jago silat yang belum mengetahuinya dan mencoba untuk merebut kedudukan itu, seorang demi seorang jatuh dalam tangan Wai Ong Hosiang yang lihai.
Sayang sekali bahwa seorang pendeta yang sakti dan berkepandaian setinggi dia ini, masih mempunyai kelemahan terhadap kedudukan tinggi dan harta serta kemuliaan!
Orang kedua adalah seorang perwira tinggi dari kerajaan yang berpangkat bu-su dan juga merangkap menjadi pelatih para perwira.
Tubuhnya tinggi besar dan mukanya kuning membayangkan kekejaman hati.
Matanya tajam tanda bahwa ia berotak cerdik.
Dia ini juga bukan orang sembarangan dan tidak kalah terkenal di kalangan perwira kerajaan, karena ia adalah Gui Kok Houw yang berpangkat bu-su semenjak belasan tahun yang lalu dan mendapat kepercayaan penuh dari Kaisar.
Sungguhpun Gui Kok Houw masih kalah pengaruhnya jika dibandingkan dengan Wai Ong Koksu, akan tetapi di antara semua perwira, boleh dibilang ia menduduki tingkat paling tinggi dan pengaruhnya paling besar.
Juga ilmu silat Gui Kok Houw amat lihai, karena selain mengerti banyak macam ilmu silat dari pedalaman, ia pun mengerti pula dengan baiknya tentang ilmu silat dari Mongol.
Senjata yang biasa dipakainya juga amat luar biasa dan sukar dilawan, yakni tiga butir bola-bola berduri terbuat dari baja yang diikat dengan tali-tali baja.
Apabila ia mainkan bola-bola berduri ini, maka tiga bola itu akan menjadi beberapa belas banyaknya dalam pandangan lawan, dan lihainya bukan main!
Orang ke tiga yang larinya paling akhir adalah seorang pemuda yang berpakaian seperti bangsawan.
Usianya kurang lebih sembilan belas tahun, wajahnya tampan sekali sehingga kalau ia mengenakan pakaian wanita, tentu ia akan menjadi seorang gadis yang amat cantik sekali.
Gerak-geriknya lemah lembut dan sopan-santun, tanda bahwa ia mendapat pendidikan baik dan telah mempelajari kebudayaan dan kesusasteraan.
Namun, tindakan kakinya cukup gesit dan menunjukkan bahwa ia telah memiliki bu-ge (ilmu silat) yang cukup lihai.
Orang ini adalah seorang putera pangeran yang paling berkuasa di waktu itu, yakni Pangeran Souw Bun Ong yang selain kaya raya juga menduduki pangkat tinggi di istana dan menjadi tangan kanan Kaisar sendiri.
Pemuda putera Pangeran Souw ini bernama Souw Cong Hwi, putera tunggal yang amat dimanja, seorang pemuda bangsawan yang selain tampan, juga dapat disebut seorang bun-bu-cwan-jai (ahli sastra dan ahli silat).
Dua orang perwira yang dikejar-kejar oleh Hwe Lan dan sedang berlari ketakutan itu, tadinya telah merasa putus harapan ketika melihat gadis yang lihat itu mengejar dengan cepatnya.
Akan tetapi ketika mereka melihat bayangan Wai Ong Koksu, mereka menjadi gembira sekali dan segera berteriak-teriak.
"Koksu yang mulia, tolonglah jiwa kami..."
Akan tetapi belum habis mereka berteriak, mereka menjerit dan roboh dengan punggung mereka bolong-bolong karena ditembusi beberapa butir thi-lian-ci yang dilepas oleh Hwe Lan secara luar biasa sekali!
"Omitohud!
Ganas sekali...!"
Wai Ong Koksu berseru melihat sepak terjang Hwe Lan ini.
"Gadis liar dari manakah kau berani sekali mencelakai perwira-perwira kerajaan?"
Akan tetapi, ketika melihat bahwa tiga orang yang datang ini juga pihak musuh, karena yang dua berpakaian seperti perwira, Hwe Lan tidak banyak cakap dan kembali tangannya bergerak menyebar thi-lian-ci ke arah Wai Ong Koksu dan Gui Busu yang datang lebih dulu.
Gui Kok Houw melompat ke kiri dan mengelakkan diri dari sambaran thi-lian-ci, akan tetapi Wai Ong Koksu tidak mengelak dan hanya mengebutkan tangan bajunya ke arah dua butir thi-lian-ci yang menuju ke arah matanya.
Thi-lian-ci yang lain, yakni ada dua butir lagi yang menuju ke arah dadanya, ia biarkan saja dan ketika dua butir biji teratai besi mengenai badannya, senjata rahasia kecil ini terpental dan runtuh ke atas tanah!
Hwe Lan menjadi terkejut sekali melihat kelihaian perwira tua yang gundul ini.
ia telah menyambit dengan membidik jalan-jalan darah, akan tetapi ternyata sambaran thi-lian-ci yang dilepaskannya tadi mengenai bagian anggota badan lain.
Ia takkan heran melihat kekebalan kakak itu, akan tetapi karena ia maklum bahwa senjata rahasianya dengan tepat menghantam jalan darah, maka ia dapat menduga dengan terkejut bahwa kakek ini tentulah memiliki ilmu Pi-ki-hu-hiap (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah), Semacam ilmu khi-kang yang baru saja diajarkan oleh gurunya dan baik ia sendiri, maupun kedua saudaranya, belum dapat mempergunakannya dengan baik!
Ia maklum bahwa kini ia menghadapi lawan yang bukan main lihainya, sedangkan gerakan Gui Kok Houw ketika mengelak sambaran thi-lian-ci tadi saja cukup menunjukkan bahwa orang tinggi besar muka kuning ini pun memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Akan tetapi, Hwe Lan memang seorang gadis yang mempunyai keberanian yang luar biasa dan memang sudah menjadi wataknya tidak mau kalah terhadap lawan, maka ia sama sekali tidak merasa takut dan bersiap sedia menghadapi pertempuran yang bagaimana berbahayanya pun!
Pada saat itu, seorang di antara dua orang perwira yang tadi roboh oleh thi-lian-ci yang disambitkan Hwe Lan, dapat merangkak bangun dan segera berseru.
"Koksu... dia... perempuan itu... dia adalah pemberontak Siauw-lim-pai...!"
Mendengar ucapan ini, berubalah wajah Wai Ong Koksu. Dia memang menaruh hati dendam dan membenci Siauw-lim-pai, apalagi sebagai guru negara ia harus membasmi setiap pemberontak.
"Bagus, biar aku tangkap dia!"
Sambil berkata demikian, tiba-tiba tubuh kakek tua ini berkelebat dan sepasang ujung lengan bajunya menyambar ke arah kedua pundak Hwe Lan menyerang jalan darah Kin-ceng-hiat.
Serangan ujung lengan baju ini demikian keras, sehingga sebelum pukulan sampai, angin pukulannya telah terasa oleh Hwe Lan.
Gadis ini terkejut sekali dan maklum bahwa tenaga khi-kang kakek ini tak boleh dibuat main-main, maka ia lalu mengandalkan ilmu meringankan tubuh, mengelak ke kiri dengan cepat, kemudian dari kiri ia membalas dengan serangan pedang dalam gerak tipu merak sakti mematuk cacing.
Pedangnya dari arah kiri meluncur cepat bagaikan anak panah menusuk lambung lawan.
Wai Ong Koksu cepat memutar lengan bajunya dengan sabetan keras.
Ia bermaksud untuk melibat pedang gadis muda itu untuk kemudian dirammpas, akan tetapi ia menjadi terkejut sekali karena gadis itu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya menarik kembali pedangnya dan kini menusuk lagi ke arah mata!
"Bagus"
Teriaknya memuji dan timbul keheranan besar dalam hatinya, karena sungguh tak pernah ia menyangka bahwa gadis ini memiliki ilmu silat yang demikian hebat.
Karena tusukan ke arah matanya itu amat cepatnya, terpaksa untuk mengelak ia harus menarik kepalanya ke belakang dan berbareng dengan gerakan ini, kedua tangannya bergerak ke depan sehingga ujung lengan bajunya yang panjang itu menyambar ke arah pinggang Hwe Lan!
Makin kagum dan terkejutlah hati Wai Ong Koksu melihat bagaimana gadis itu melepaskan diri dari serangannya ini.
Dengan gin-kang yang luar biasa, tiba-tiba Hwe Lan melompat ke atas sehingga sambaran dua ujung lengan baju itu lewat di bawah kakinya, kemudian bagaikan seekor burung terbang, dara itu menukik dengan kepala ke bawah dan menyambar dari atas dengan pedang diputar-putar menyerang kepala yang gundul dari Wai Ong Koksu.
"Benar-benar lihai!"
Kakek gundul itu berseru dan cepat ia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serbuan dari atas ini.
Ia benar-benar terkejut melihat betapa baiknya gerakan garuda menyambar ular yang dilakukan oleh gadis itu, dan tahulah ia bahwa untuk mengalahkan gadis ini, ia harus mempergunakan sebagian besar dari kepandaiannya.
Maka Wai Ong Koksu lalu menggulung lengan bajunya yang panjang kemudian sambil berseru keras ia menyerang dengan kedua tangannya!
Guru besar ini masih merasa sungkan dan malu untuk mempergunakan senjatanya, yakni tongkatnya yang tadi ia tancapkan di atas tanah, karena ia tidak mau ditertawakan orang-orang gagah.
Masa seorang guru negara yang berkepandaian tinggi seperti dia harus mempergunakan senjatanya untuk menghadapi seorang dara muda yang lebih patut disebut anak-anak ini.
Kakek ini bergerak maju dengan langkah yang tetap dan cepat sedangkan kedua lengannya bergerak-gerak secara luar biasa sekali sehingga menimbulkan angin menyambar-nyambar.
Hwe Lan terkejut juga melihat gerakan ini dan tahulah ia bahwa kakek yang lihai ini hendak melawannya dengan ilmu silat Kong-ciu-cip-ban-kiam (Dengan Tangan Kosong Memasuki Laksaan Padang)!
Ia pernah melihat gurunya mendemonstrasikan ilmu silat yang lihai ini dan pernah pula mempelajarinya, akan tetapi karena sukarnya gerakan ilmu silat ini, maka kepandaiannya dalam ilmu silat ini masih jauh dari sempurna.
Kini ia melihat betapa kakek ini menggerakkan tangannya sedemikian rupa sehingga menurut penglihatannya, tidak kalah oleh gurunya sendiri!
Akan tetapi, dalam kamus hati Hwe Lan tiada terdapat kata-kata gentar atau takut.
Ia memutar pedangnya dan memainkan ilmu pedang Bidadari Menyebar Bunga, semacam ilmu pedang yang diciptakan oleh gurunya.
Ilmu pedang ini berdasar ilmu pedang Tat Mo Kiam-hoat dan Lian Gi Kiam-hoat, maka gerakannya pun aneh dan sukar diduga perubahannya.
Melihat gerakan pedangnya yang hampir sama dengan gerakan pedang cabang persilatannya sendiri ini, Wai Ong Koksu menjadi kaget, akan tetapi ia terheran-heran karena setelah diperhatikan, ternyata berlainan juga.
Memang, Lian Gi Kiam-hoat adalah ilmu pedang dari Bu-tong-pai sehingga tentu saja ilmu pedang ini dimengerti baik oleh Wai Ong Koksu yang menjadi pentolan Bu-tong-pai.
Maka heranlah kakek ini menyaksikan ilmu pedang yang aneh ini, aneh dan lihai sekali sehingga biarpun ia mempergunakan ilmu silat Kong-ciu-cip-kiam yang biasanya cukup kuat untuk menghadapi keroyokan belasan orang yang berpedang dengan hanya bertangan kosong saja, akan tetapi menghadapi ilmu pedang Hwe Lan, kakek gundul ini benar-benar merasa terdesak!
Wai Ong Koksu sama sekali tidak takut akan pedang Hwe Lan, Karena pedang ini adalah pedang biasa yang takkan dapat melukai tubuhnya yang kebal dan ia memiliki ilmu Pi-ki Hu-hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah) sehingga ia pun tidak takut terhadap totokan.
Akan tetapi Hwe Lan yang amat cerdik dan tahu akan kelihaian lawan, selalu menunjukkan pedangnya pada bagian-bagian tubuh yang lemah.
Pedangnya berkelebat menyambar ke arah mata, leher, pusar dan urat-urat besar yang tersembul di bawah kulit sehingga akan dapat terputus oleh pedangnya.
Biarpun Wai Ong Koksu tidak terdesak atau terancam oleh pedang Hwe Lan, akan tetapi kakek ini maklum bahwa dengan bertangan kosong saja, agaknya amat sukarlah baginya untuk mengalahkan gadis luar biasa ini.
Kalau sampai ia tidak berhasil mengalahkan, apalagi kalau sampai ia terluka oleh gadis ini, alangkah akan malunya!
Lebih baik ia mempergunakan senjatanya, Wai Ong Koksu berpikir.
Tak perlu ia merasa malu mempergunakan senjata, karena biarpun masih muda, gadis ini benar-benar memiliki kepandaian tinggi dan hal ini disaksikan pula oleh dua orang kawannya.
Memang, kedua kawannya itu semenjak tadi menonton pertempuran ini dengan bengong.
Gui Hok Houw memandang dengan penuh kekaguman, tidak saja untuk kelihaian gadis itu, akan tetapi terutama sekali karena kecantikan dan potongan tubuh Hwe Lan yang menggairahkan dan yang membuat semangatnya seakan-akan terbang meninggalkan tubuhnya!
Gui Kok Houw terkenal sebagai seorang perwira gila perempuan, dan biarpun sudah banyak sekali ia berjumpa dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi kali ini ia harus akui bahwa ia belum pernah melihat seorang gadis sejelita dara ini!
apalagi yang memiliki ilmu silat seperti ini!
Orang ketiga, yakni Souw Cong Hwi pemuda yang tampan itu, semenjak tadi pun memandang dengan mata menyatakan kekagumannya melihat ilmu pedang Hwe Lan, akan tetapi bibirnya dikatupkan rapat-rapat karena hatinya mengandung kekhawatiran hebat sekali.
Baru melihat sekali saja, timbul rasa suka dan simpati dalam hatinya terhadap dara ini.
Wajahnya yang manis dan jelita itulah yang menimbulkan rasa suka dan sikapnya yang gagah perkasa mendatangkan simpati.
Souw Cong Hwi maklum akan kelihaian Wai Ong Koksu, maka ia sangat gelisah menyaksikan pertempuran ini.
Diputar-putarlah otaknya untuk mencari daya upaya bagaimana ia dapat menolong gadis yang amat menarik dan yang mendebarkan hatinya ini.
Ketika ia melihat Wai Ong Koksu berseru keras dan mencabut tongkatnya yang tadi ditancapkan di atas tanah, Souw Cong Hwi terkejut sekali dan ia melompat dengan gerakan ringan ke dekat kakek itu.
"Koksu yang baik, harap sabar dulu!"
Katanya.
Wai Ong Koksu memandang dengan heran.
Biarpun, Souw Cong Hwi hanya seorang pemuda, akan tetapi ia tidak memandang rendah kepada pemuda ini.
pertama karena pemuda ini adalah putera tunggal dari Pangeran Souw Bun Ong yang selain berpengaruh besar di dalam istana, juga sikapnya amat baik terhadap semua pembesar dan bahkan ketika dulu diadakan pemilihan Koksu, Pangeran Souw Bun Bong yang membujuk Kaisar agar supaya Wai Ong Hosiang menjadi guru negara.
Kedua, pemuda yang masih muda ini adalah murid terkasih dari seorang tokoh persilatan yang dikenalnya baik dan yang telah terkenal pula serta disegani oleh para tokoh besar persilatan.
Guru pemuda ini adalah Pat-jiu Sin-kai Pengemis Dewa Bertangan Delapan karena memang orang tua ini hidup sebagai seorang pengemis, mengandalkan makan sehari-hari dari pemberian orang-orang yang menaruh hati kasihan kepadanya, pakaiannya tambal-tambalan.
Pat-jiu Sin-kai tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, mengembara ke seluruh penjuru dan namanya terkenal sekali karena di manapun ia berada, ia merupakan algojo bagi setiap penjahat dan merupakan pelindung bagi semua orang yang tertindas.
Wai Ong Koksu mendengar cegahan pemuda ini ketika ia memegang senjatanya, lalu berkata.
"Souw Kongcu, mengapa kau menyuruh aku bersabar?"
Souw Ceng Hwi menunjuk kepada Hwe Lan yang masih berdiri gagah dengan pedang di tangan dan tangan kirinya bertolak pinggang, sambil berkata.
"Koksu, kurasa bukanlah perbuatan yang bijaksana untuk membunuh seorang nona muda yang belum diketahui betul kesalahannya. Ketika kau tadi melawannya dengan tangan kosong dan berusaha menangkapnya, hal itu masih merupakan perkara kecil, akan tetapi melihat kau memegang senjata dan aku tahu bahwa sekali kau menggerakkan senjata maka jarang ada orang yang dapat keluar dengan nyawa masih di dalam tubuhnya, kurasa lebih baik Koksu bersabar dulu dan jangan sampai salah tangan. Menurut pendapatku yang bodoh, biarpun para perwira yang pengecut tadi menyatakan bahwa nona ini adalah pemberontak Siauw-lim-pai, akan tetapi, ketika tadi bertempur melawanmu, gerakan-gerakannya menunjukkan bahwa ia sama sekali bukanlah seorang ahli dari Shiauw-lim-pai, biarpun ada beberapa gerakannya yang berasal dari Siauw-lim! Soal kedua, apakah kesalahannya maka kau sampai berkeras hati hendak mengangkat senjata terhadap seorang nona muda seperti dia ini? Harap Koksu sudi mempertimbangkan dengan baik dan jangan sampai melakukan hal-hal yang akan menimbulkan aib bagi nama sendiri!"
Hwe Lan yang mendengarkan ucapan pemuda itu, memandang dengan kagum, heran, dan juga mendongkol.
Ia kagum mendengar kata-kata yang amat lancar, teratur dan penuh cengli (aturan) ini.
Ia heran karena pemuda yang nampak lemah ini ternyata dapat melihat bahwa gerakan silatnya, dan ia mendongkol karena pemuda itu seakan-akan hendak membelanya hendak menolongnya, seolah-olah ia berada dalam keadaan yang amat terancam.
Tiba-tiba perwira muka kuning itu pun berkata.
"Kokcu, ucapan Souw-kongcu betul juga. Sayang nona secantik ini kalau sampai dibunuh!"
Makin dongkol dan marahlah hati Hwe Lan mendengar ucapan ini dan melihat pandang mata perwira muka kuning itu yang ditujukan kepadanya penuh gairah dan nafsu birahi.
Ingin ia menusuk mampus perwira ini.
"Bangsat-bangsat rendah, apakah kau kira aku takut menghadapi kalian? Majulah kalian bertiga, tak usah banyak membuka mulut!"
Wai Ong Koksu yang tadi mendengar ucapan kedua orang kawannya, sudah mulai sabar kembali dan merasa juga bahwa tidak sepantasnya kalau dia, sebagai orang terpandai dan paling gagah dalam kerajaan, hendak mempergunakan senjata, membunuh seorang gadis demikian cantik lagi muda.
Apalagi kalau ia teringat akan permainan silat gadis ini memang bukan seperti anak murid Siauw-lim.
Akan tetapi, kini mendengar bentakan Hwe Lan yang galak, ia tersenyum memandang kepada mereka dan berkata.
"Coba kalian dengar, apakah anak perempuan jahat ini tak perlu dirobohkan. Kita harus tawan dia untuk dibawa ke pengadilan, karena setidaknya ia telah merobohkan perwira Kim-i-wi."
Tiba-tiba perwira yang tadi terluka oleh thi-lian-ci milik Hwe Lan, berkata lagi.
"Bukan hanya merobohkan, bahkan ia telah membunuh beberapa orang kawan-kawan kami!"
Terkejut juga hati Souw Cong Hui, dan Gui Kok Houw mendengar ini, dan Wai Ong Koksu tanpa banyak cakap lagi lalu menggerakkan tongkatnya menyerang Hwe Lan!
Gadis ini dengan tabah sekali menghadapi serangan Wai Ong Koksu dengan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.
Gui Kok Houw juga tidak mau tinggal diam dan begitu tangannya bergerak, tiga bolanya telah bergerak-gerak menyambar ke arah Hwe Lan.
Akan tetapi, gadis itu sama sekali tidak merasa gentar dan memutar pedangnya dengan hebat, mengerahkan seluruh kepandaian dan mencurahkan seluruh perhatiannya.
Memang patut dikagumi kegagahan Hwe Lan.
Seorang gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja turun dari tempat perguruan, ternyata dengan gigihnya dapat menghadapi Wai Ong Koksu dan Gui Kok Houw, dua orang jago paling pandai dari Kaisar!
Akan tetapi, betapapun juga, dua orang kosen itu bukan lawannya dan Hwe Lan hanya dapat mempertahankan diri sampai dua puluh jurus, karena kini ia mulai terdesak hebat!
Tongkat di tangan Wai Ong Koksu amat kuatnya dan sambaran tongkat itu membuat ia harus berloncat-loncatan ke sana kemari, karena untuk menangkis dengan pedang ia tidak berani, maklum akan kehebatan tenaga kakek itu.
Sementara itu, tiga bola di tangan Gui Kok Houw juga berbahaya sekali, karena bola-bola yang diikat tali baja itu bergerak-gerak mengarah jalan darahnya sehingga Hwe Lan harus mempergunakan gin-kangnya untuk mengelak dan balas menyerang.
Akhirnya, tali baja dari bola Gui Busu itu berhasil melibat pedangnya, tongkat Wai Ong Koksu telah menyambar ke arah pergelangan tangannya!
Terpaksa Hwe Lan harus melepaskan gagang pedangnya untuk mengelak dari sabetan ini karena kalau tidak, tulang lengannya pasti akan remuk!
Pada saat itu, bayangan Souw Cong Hwi berkelebat cepat di belakang Hwe Lan dan tanpa dapat dicegah lagi, jari tangan Souw Cong Hwi menotok jalan darah di punggung gadis itu sehingga Hwe Lan merasa tubuhnya lemas tak berdaya dan tentu akan roboh kalau tidak cepat ditangkap oleh Souw Cong Hwi.
"Aku sudah dapat menangkapnya!"
Kata Souw Cong Hwi sehingga Wai Ong Koksu dan Gui Kok Houw menarik kembali senjata mereka dan memandang dengan senang.
Hwe Lan benar-benar tak berdaya, tubuhnya lemas kehilangan tenaga dan hanya matanya saja yang masih memandang tajam penuh ketabahan, akan tetapi ia tidak kuasa membuka mulutnya.
"Souw-kongcu, biarkan aku yang memondong nona manis ini. Ha-ha-ha!"
Kata Gui Kok Houw sambil mengulurkan lengan hendak memegang lengan Hwe Lan. Dengan muka sungguh-sungguh Souw Cong Hui berkata.
"Gui-ciangkun! Patutkah kata-kata itu keluar dari mulutmu? Kau seharusnya malu!"
"Ha-ha-ha!"
Gui Kok Houw masih saja tertawa sambil menudingkan jari tangannya kepada Souw Cong Hwi.
"Kau sungguh pandai, Souw-kongcu! Pandai mencela orang, akan tetapi tidak melihat diri sendiri. Kau melarang aku memondong nona jelita ini agar supaya kau dapat memondongnya sendiri! Ha-ha-ha!"
"Cukup! Hatiku tidak secabul kau!"
Souw Cong Hwi membentak marah dan karena marahnya ia melepaskan tubuh Hwe Lan yang terguling dan rebah miring di atas tanah.
"Hm, kalian orang-orang muda selalu ribut apabila menghadapi wanita cantik biarlah aku tua bangka yang membawa gadis ini. Mari kita bawa dia dan menyerahkannya ke dalam tangan Tan-tihu di Ki-pang karena kota itulah yang terdekat. Biarlah pengadilan di Ki-pang yang akan memeriksa perkaranya!"
Kata Wai Ong Koksu.
Pada saat itu, datang belasan orang perwira Kim-i-wi lain lagi yang datang untuk mengirim bala bantuan karena mereka telah mendengar tentang pertempuran itu.
Mereka ini datang berkuda dan segera menolong para perwira yang telah mati dan terluka di dekat kuburan Nyo Hun Tiong itu.
Setelah Wai Ong Koksu dan yang lain-lain memeriksa kuburan dan memerintahkan anak buahnya untuk menggali dan mengambil rangka pemberontak Nyo Hung Tiong, mereka lalu pergi dari situ.
Hwe Lan yang masih dalam keadaan tak berdaya itu dinaikkan kuda dan dipegang oleh Wai Ong Koksu.
Rombongan perwira Kim-i-wi ini lalu pergi ke Ki-pang dan menemui jaksa di kota itu.
Melihat bahwa yang datang membawa seorang tangkapan adalah Wai Ong Koksu dari Kota Raja, maka jaksa di Ki-pang itu dengan tergopoh-gopoh lalu membuka persidangan pada waktu itu juga.
Penduduk Ki-pang yang mendengar bahwa ada pemberontak wanita ditangkap dan hendak diadili, berduyun-duyun datang melihat.
Di ruang pengadilan telah lengkap hadir jaksa dan para pembantunya, tak ketinggalan tiga orang algojo yang pekerjaannya menyiksa pesakitan apabila ada pesakitan tidak mau mengakui dosa-dosa yang didakwakan kepadanya.
Algojo-algojo ini tubuhnya tinggi besar dan nampak kejam.
Para perwira yang terluka oleh senjata tiga dara di depan makam Nyo Hun Tiong, telah hadir pula di situ, duduk di kursi rendah karena sungguhpun mereka itu perwira-perwira Kim-i-wi, akan tetapi di dalam persidangan, mereka harus memandang jaksa sebagai orang yang berkedudukan tinggi karena jaksa yang sedang memeriksa perkara adalah wakil Kaisar!
Tak lama kemudian para penonton memandang dengan mata terbuka lebar.
Pesakitan digiring memasuki ruang pengadilan.
Hwe Lan diiringkan Wai Ong Koksu, Gui Kok Houw dan Souw Cong Hwi.
Dara ini telah dibebaskan dari totokan dan berjalan dengan dada terangkat tinggi dan sikap yang angkuh.
Ia masih merasa lemah karena hampir sehari berada dalam keadaan setengah lumpuh.
Hatinya mendongkol dan marah sekali, akan tetapi dia cukup cerdik untuk berlaku sabar pada saat kekuatannya belum kembali.
Ia tahu bahwa tiga orang yang selalu menjaganya, yakni Wai Ong Koksu, Gui Kok Houw dan Souw Cong Hwi adalah orang-orang berkepandaian tinggi, dan akan percuma belaka apabila ia memberontak.
Maka ia berlaku cerdik dan menurut saja ketika digiring ke pengadilan, akan tetapi dia dalam hatinya siap sedia untuk memberontak dan melepaskan diri, mencari kesempatan baik.
Hwe Lan tidak memperdulikan pandang mata para penonton yang ditujukan ke arahnya dengan sinar mata terheran, kagum dan juga kasihan.
Mereka tak pernah mengira bahwa pemberontak wanita yang ditangkap itu adalah seorang dara muda yang demikian cantik jelita.
Dengan langkah tetap dan gagah Hwe Lan disuruh menghadap di depan meja hakim.
Ia berdiri lurus dan tegak sedangkan Wai Ong Koksu, Gui Kok Houw dan Souw Cong Hwi mengambil tempat duduk di kursi-kursi yang telah disediakan untuk mereka.
Untuk mereka ini yang berkedudukan tinggi dan tidak termasuk orang-orang yang diperiksa, disediakan kursi-kursi tinggi.
Melihat betapa gadis itu berdiri dengan angkuhnya di depan meja hakim, seorang algojo yang bermuka hitam melangkah maju dan menghardiknya.
"Jangan tak tahu aturan! Berlutut!"
Hwe Lan menggerakkan kepalanya perlahan, menatap wajah algojo yang kasar dan buruk hitam itu, lalu tersenyum mengejek.
Semua orang yang berada di luar ruangan itu memandang dengan hati khawatir.
Mereka maklum bahwa algojo yang bermuka hitam ini adalah seorang yang paling kejam di antara semua algojo yang berada di situ.
Kini Si Muka Hitam ini menyeringai kejam dan ia lalu melakukan pekerjaannya yang biasa dilakukan apabila menghadapi seorang pesakitan yang bandel.
Algojo ini berhati keras dan tidak dapat dilemahkan hatinya oleh wajah yang jelita maupun tubuh yang ramping dari seorang wanita.
Ia mengangkat kedua tangannya yang besar dengan lengan berbulu itu untuk menekan kedua pundak Hwe Lan, dibarengi dengan tendangan ke arah lutut gadis itu!
Semua penonton memandang ngeri karena gadis yang cantik itu tentu akan menjerit kesakitan dan terpaksa berlutut.
Akan tetapi, mereka segera membelalakkan mata dengan terheran-heran.
Bukan gadis itu yang menjerit dan berlutut bahkan algojo muka hitam itu sendiri yang terdengar memekik kesakitan dan tubuhnya yang besar itu terpental ke belakang dan terguling-guling!
Ternyata bahwa biarpun tubuhnya masih lemas namun Hwe Lan masih cukup lihai kalau hanya menghadapi seorang kasar seperti algojo itu saja.
Sebelum kedua tangan dan kaki algojo itu menyentuh tubuhnya Hwe Lan telah mendahului dan dengan cepat jari tangan kanan gadis ini "Memasuki"
Lambung (Lanjut ke
Jilid 05) Tiga Dara Pendekar Siauw-Lim (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 Si Algojo yang tak ampun lagi lalu terpental.
Ia merasa perutnya seperti diremas-remas dari dalam dan untuk beberapa lama hanya bergulingan sambil merintih-rintih!
Kemudian ia dapat menahan sakitnya, lalu melompat berdiri dan kini bersama dua orang kawannya ia hendak turun tangan membereskan pesakitan bandel yang berani berlaku kurang ajar itu!
Akan tetapi, tiba-tiba Souw Cong Hwi pemuda putera pangeran itu, berdiri dari kursinya dan berkata sambil mengangkat tangan kanan ke atas.
"Tahan! Jangan menggunakan kekerasan. Apakah kalian hendak mengacaukan pemeriksaan? Mundur!"
Para algojo melihat pemuda ini, segera mengundurkan diri. Mereka tahu siapa pemuda ini, maka mereka tidak berani melanggar perintahnya. Souw Cong Hwi lalu berpaling kepada hakim dan berkata.
"Harap Taijin suka melanjutkan pemeriksaan ini tanpa banyak upacara lagi."
Sebetulnya, hakim, jaksa dan lain-lain pembesar pengadilan merasa terhina sekali dengan sikap Hwe Lan ini.
Pada masa itu, seorang yang berani menghina pengadilan dan tidak mau berlutut saja sudah cukup menjadi alasan untuk menjatuhkan hukuman pukul pinggul lima puluh kali!
Akan tetapi, mereka tahu bahwa pada saat itu mereka tidak dapat memperlihatkan gigi, karena di situ hadir pula Souw Cong Hwi, putera pangeran yang amat berpengaruh, juga terdapat pula Wai Ong Koksu, Gui Kok Houw Busu dan lain-lain perwira berkedudukan tinggi.
Jaksa lalu memanggil para perwira yang terluka oleh Hwe Lan dan saudara-saudaranya, lalu minta keterangan dari mereka ini tentang terjadinya peristiwa di dalam hutan.
Seorang perwira yang tersabet pedang pundaknya oleh Hwe Lan lalu menuturkan dengan suara lantang.
"Kami di bawah pimpinan Thio Kim Cai Ciangkun sedang bekerja untuk membongkar kuburan pemberontak Nyo Hun Tiong untuk dibawa ke Kota Raja dan dijadikan barang bukti bahwa pemberontakan itu telah mampus. Tiba-tiba perempuan liar ini bersama dua orang perempuan liar lainnya, datang dan menyerang kami dengan senjata rahasia. Mereka bertiga lalu menyerbu dan terjadi pertempuran dengan kami. Akan tetapi, mereka benar-benar liar dan lihai sehingga kami semua kena dirobohkan oleh mereka. Dua orang perempuan liar lain yang menjadi kawannya berlari pergi, mengejar Thio-ciangkun yang sampai sekarang tak dapat diketemukan di mana adanya. Mungkin sekali sudah dibunuh pula oleh pemberontak-pemberontak itu. Demikianlah sampai datang Wai Ong Koksu yang akhirnya berhasil menangkap perempuan liar ini."
Kini jaksa memandang kepada Hwe Lan, dan juga semua mata para hadirin di ruang itu memandang kepada Hwe Lan.
Gadis ini semenjak tadi hanya berdiri tegak dan diam, akan tetapi diam-diam ia telah mengatur napas untuk memulihkan jalan darahnya sehingga kini ia tidak merasa lemas lagi.
"Perempuan muda, siapakah namamu dan mengapa kau berani mati menyerang, melukai dan membunuh para perwira Kim-i-wi!"
Tanya jaksa itu dengan suara angkuh, akan tetapi pandang matanya yang ditujukan ke arah Hwe Lan nampaknya nyata bahwa ia mengagumi kecantikan gadis itu!
Hwe Lan yang luar biasa tabah dan keras hatinya itu kembali tersenyum sinis dan menjawab.
"Aku she Yap dan tentang namaku tak perlu kuberitahukan kepada kalian karena tidak ada perlunya! Aku menyerang anjing-anjing kotor itu karena melihat mereka sedang menggali sebuah kuburan, mungkin hendak makan sisa-sisa tulang mayat yang dikubur di situ!"
Terdengar seruan-seruan heran dan terkejut di antara para penonton.
Alangkah beraninya gadis ini, menyebut pasukan Kim-i-wi sebagai anjing-anjing kotor.
Juga jaksa yang tadinya tertarik oleh kecantikan Hwe Lan, merasa ngeri mendengar kata-katanya ini, maka ia menggebrak meja dan membentak.
"Jangan membuka mulut lancang! Kau telah menyerang pasukan Kim-i-wi, itu berarti bahwa kau telah memberontak terhadap Hongte (Kaisar). Sebelum kami membuat keputusan, lebih dulu kau harus mengaku di mana adanya kedua kawanmu yang ikut menyerang itu!"
Tiba-tiba Hwe Lan tertawa nyaring dan sepasang matanya yang bagus itu memancarkan sinar mata tajam.
"Taijin (Pembesar), kau bukalah telingamu lebar-lebar dan dengarkan tiga macam pernyataanku ini! Pertama, aku adalah anak murid Siauw-lim-pai akan tetapi aku tidak memberontak terhadap Hongte. Kedua, kedua kawanku itu adalah enci dan adikku sendiri dan aku tidak tahu kemana mereka pergi dan di mana mereka berada. Ketiga, aku sudah bosan melihat mukamu dan muka semua orang yang berada di sini dan sekarang hendak pergi!"
Bukan main marahnya jaksa mendengar ucapan ini, bahkan semua penonton menjadi bengong tak dapat berkata-kata! "Tangkap dia dan beri pukulan lima puluh kali!"
Dengan muka merah jaksa itu menuding dan memerintah kepada algojo.
Gayanya ini baik sekali karena sudah amat biasa ia memberi perintah semacam ini.
Tiga orang algojo itu yang hendak membalas dendam segera melangkah maju.
Hwe Lan berkata lagi sambil tertawa.
"Taijin, masih ada satu lagi pernyataanku, yakni, aku merasa jijik melihat tiga ekor anjingmu ini dan sudah gatal-gatal tanganku hendak menghajarnya!"
Ketiga algojo marah, mereka maju menubruk dengan hebat, Hwe Lan miringkan tubuh ke kiri dan kakinya melayang ke arah dada algojo muka hitam itu.
"Bluk!"
Dan untuk kedua kalinya tubuh tinggi besar itu terjengkang sehingga kepalanya terbentur pada lantai!
Kali ini agak sukar baginya untuk merayap bangun karena selain kepalanya menjadi pening setelah terbentur lantai yang keras, juga napasnya menjadi sesak setelah ulu hatinya dicium oleh ujung sepatu Hwe Lan.
Dua orang kawannya maju dengan cambuk penyiksa di tangan, akan tetapi Hwe Lan lebih cepat lagi.
Sebelum mereka bergerak, gadis itu mengulur kedua tangan dan sekali renggut saja ia dapat merampas dua batang cambuk itu.
Kini ia mainkan cambuknya dan "Plak!
Plak!
Plak!"
Hujan cambuk menghantam tubuh kedua algojo itu yang menutupi mukanya dengan sibuk karena cambuk itu dengan tepat menghantam muka mereka bertubi-tubi sehingga sebentar saja hidung mereka menjadi merah karena mengalirkan darah.
Hwe Lan tertawa nyaring ketika melihat algojo muka hitam bergerak dan hendak merayap bangun, ia cepat melompat ke dekatnya dan sekali ia menendang keras sambil berseru nyaring, Tubuh Si Muka Hitam itu terlempar ke arah meja pengadilan dan tepat sekali jatuh menimpa jaksa dan pembantu-pembantunya sehingga mereka pun jatuh tunggang-langgang!
Para penonton menjadi panik dan segera mundur dan berlari keluar dari situ, karena mengira bahwa gadis pemberontak itu hendak mengamuk kepada semua orang!
Sebelum Hwe Lan dapat melarikan diri dari situ, Wai Ong Koksu dan Gui Kok Houw telah melompat dan menyerangnya.
Tubuh Hwe Lan masih lemah dan biarpun ia melawan sedapatnya dan sekuatnya, namun sebentar saja ia telah tertawan lagi dan Gui Kok Houw lalu mengikat kedua tangannya dengan rantai besi yang dimintanya dari pengadilan itu.
Wai Ong Koksu lalu berkata kepada pembesar-pembesar pengadilan di Ki-pang bahwa tawanan ini akan ia bawa ke Kota Raja.
"Urusan ini bukanlah urusan kecil, katanya."
Karena ternyata dari penuturan para perwira Kim-i-wi bahwa gadis ini benar-benar seorang yang ada hubungannya dengan mendiang Nyo Hun Tiong.
Yang lebih penting lagi, dua orang saudaranya masih belum tertangkap, maka dengan ditawannya gadis ini di Kota Raja, kita dapat mengharapkan kedatangan mereka di Kota Raja pula untuk sekalian ditangkap!"
Pembesar-pembesar di kota itu tak dapat menghalangi kehendak ini dan mereka bahkan merasa lega telah terlepas dari seorang tawanan yang demikian liar dan berbahaya.
Dengan kaki tangan terikat erat-erat, Hwe Lan dibawa oleh Wai Ong Koksu dan kawan-kawannya ke Kota Raja.
Souw Cong Hwi yang di dalam hatinya merasa kagum dan kasihan kepada gadis itu, tak berdaya sesuatu oleh karena ia melihat sendiri betapa gadis yang keras kepala itu melakukan hal-hal yang melanggar peraturan dan menghina orang.
Ia hanya menjaga jangan sampai gadis ini diganggu oleh Gui Kok Houw, karena dari pandang mata perwira she Gui ini, ia maklum bahwa Gui Kok Houw mengandung maksud kurang bersih terhadap gadis jelita itu.
Terhadap Wai Ong Koksu, ia percaya penuh karena tahu bahwa kakek tua yang kosen ini hanya mementingkan kedudukan dan jasa sama sekali tak ada tanda-tanda suka mengganggu seorang wanita.
Perjalanan menuju ke Kota Raja dilakukan cepat dan mengambil jalan lurus, maka tak sampai empat hari kemudian, tibalah mereka di Kota Raja.
Selama dalam perjalanan itu, Hwe Lan kelihatan tabah saja, sama sekali tidak pernah kelihatan takut.
Bahkan ia tidak kelihatan bersedih, dan selalu makan ransum yang diberikan oleh Souw Cong Hwi dengan muka gembira dan biasa saja.
Kepada pemuda ini ia merasa berterima kasih sekali karena berbeda dengan yang lain-lain, pemuda ini berlaku amat baik, sopan terhadapnya dan selalu berpihak dan membelanya!
Akan tetapi, Hwe Lan memang angkuh dan tidak mau melayaninya sungguhpun ia tahu dari sinar mata Souw Cong Hwi, bahwa pemuda tampan ini berhati jujur terhadapnya.
Atas permintaan dan tanggungan Souw Cong Hwi, Wai Ong Koksu tidak keberatan untuk melepaskan Hwe Lan seorang diri duduk di atas seekor kuda dengan kedua tangan masih terikat belenggu besi dan rantai yang diikatkan pada belenggu itu dipegang ujungnya oleh Wai Ong Koksu yang duduk di atas lain kuda.
Hal ini merupakan pertolongan besar bagi Hwe Lan, karena ia merasa mendongkol dan marah sekali kalau harus duduk sekuda dengan Wai Ong Koksu, biarpun kakek ini tidak memperlihatkaan sikap kurang baik atau tidak sopan.
Ketika rombongan ini memasuki gerbang Kota Raja, semua orang memandang dengan penuh perhatian dan heran.
Sebentar saja seluruh penduduk kota tahu belaka bahwa seorang gadis cantik jelita menjadi tawanan Koksu.
Berita seperti ini cepat sekali menjalar dari mulut ke mulut.
Menurut usul Wai Ong Koksu, Hwe Lan dimasukkan dalam pernjara dan dijaga keras.
Bahkan Gui Kok Houw sambil tersenyum berkata.
"Jangan khawatir, Koksu, aku sendiri yang akan mengepalai penjagaan ini agar jangan sampai ia lolos!"
Sambil berkata demikian, ia melirik dengan senyum penuh arti kepada gadis itu, sehingga diam-diam Souw Cong Hwi menjadi gelisah dan juga mendongkol sekali.
Ia dapat menduga bahwa Perwira Gui ini tentu mempunyai niat yang busuk sekali, maka diam-diam ia memutar otaknya.
Setelah Hwe Lan dimasukkan ke dalam kamar tahanan yang terbuat dari dinding tebal dan berpintu baja ang amat kuat serta tangannya masih dibelenggu pula, Wai Ong Koksu lalu pergi menuju ke istana untuk memberi laporan kepada Kaisar.
"Apakah kau juga mau menjaga terus di tempat ini, Kongcu?"
Tanya Gui-ciang-kun dengan bibir menyeringai penuh ejekan kepada Souw Cong Hwi.
Wajah pemuda itu menjadi merah dan ia lalu berpamit pulang tanpa banyak cakap lagi.
Setibanya di rumah, Souw Cong Hwi lalu menceritakan dengan terus terang kepada ayah dan ibunya.
Pangeran Souw Bun Ong adalah seorang terpelajar yang berhati mulia dan berbudi halus.
Mendengar nasib gadis itu, ia pun merasa kasihan, akan tetapi ia hanya bisa menarik napas panjang dan berkata.
"Memang harus dikasihani nasib seorang dara muda yang telah tersesat sedemikain jauhnya. Akan tetapi apakah daya kita? Dia telah berlaku salah, biarpun andaikata dia bukan seorang pemberontak, akan tetapi setidaknya ia telah berlaku kasar dan menghina alat negara terutama sekali ia telah melakukan pembunuhan. Hal ini bukanlah soal ringan.
"Akan tetapi, ayah. Sebagai seonrang pendekar wanita, tentu saja ia harus membunuh lawan-lawannya yang hendak mencelakakannya, dan tentang penyerbuannya terhadap para perwira yang hendak menggali kuburan Nyo Hun Tiong itu, kuanggap sebagai tanda bahwa dia benar-benar memiliki jiwa yang gagah. Aku sendiri andaikata menjadi dia, melihat kuburan seorang saudara seperguruan dibongkar orang, tentu takkan membiarkannya begitu saja!"
Ayahnya memandang tajam lalu berkata.
"Eh, Cong Hwi, agaknya kau telah jatuh hati kepada gadis itu!"
Pemuda itu terkejut, menatap wajah ayahnya. Untuk beberapa saat pandang mata mereka bertemmu dan akhirnya pemuda itu menundukkan mukanya yang berubah merah.
"Aku tidak tahu tentang hal itu, Ayah, hanya satu hal sudah pasti, yakni, betapapun juga, aku tidak rela melihat seorang gadis gagah seperti dia sampai mendapat bencana."
Ia lalu menuturkan sikap Gui Kok Houw yang mencurigakan dan yang diduganya tentu mempunyai niat buruk.
Akhirnya, Pangeran Souw Bun Ong yang amat memanjakan putera tunggalnya, menyetujui akal dan usaha pertolongan yang hendak dilakukan oleh pemuda itu.
Sebagai seorang putera pangeran yang berpengaruh, tentu saja banyak perwira yang tunduk dan setia terhadap Pangeran Souw Bun Ong, dan atas pertolongan perwira-perwira yang bekerja sama dengan Gui Kok Houw inilah Souw Cong Hwe menjalankan siasatnya.
Ia diam-diam menghubungi mereka dan mereka menyanggupi untuk membantu usaha pemuda itu.
Malam hari itu, setelah mendengar dari pembantu-pembantunya bahwa Gui Kok Houw pulang ke gedungnya sebentar dengan cepat Souw Cong Hwi menuju ke penjara di mana Hwe Lan terkurung.
Dengan mudah ia memasuki penjara menyamar sebagai penjaga dan dilindungi oleh para perwira yang telah menjadi pembantunya.
Berkat bantuan para perwira itu pula, ia dapat masuk ke dalam kamar di mana Hwe Lan dikurung.
Pada saat itu Hwe Lan tengah duduk melamun dan ia mulai merasa gelisah juga.
Ia tidak takut mati, akan tetapi ia bersedih kalau mengingat kepada kedua saudaranya.
Di manakah mereka itu sekarang berada?
Tugasnya membalas dendam kepada perwira Lee belum juga terlaksana dan ia sekarang telah tertimpa bencana.
Apakah yang harus ia lakukan?
Ia telah mengambil keputusan bahwa ia takkan terbunuh begitu saja tanpa melawan.
Sebelum terbunuh ia akan berusaha melepaskan diri dan mengamuk lebih dahulu.
Semenjak siang tadi ia telah mengerahkan seluruh tenaganya dan akhirnya ia dapat berhasil mematahkan belenggu tangannya!
Hal ini tidak terjadi dengan mudah karena ia baru berhasil setelah kulit pergelangan tangannya menjadi biru tua dan berdarah.
Akan tetapi, ia menghadapi pintu baja yang amat kuat.
Percuma saja ia mencoba untuk membukanya, sampai habis tenaganya dalam usaha ini, akan tetapi sedikitpun pintu itu tidak dapat digerakkan.
Pintu itu terbuat dari ruji-ruji baja sebesar lengan tangan yang bukan main kuatnya.
Menjelang tengah malam, ia melihat bayangan orang di luar pintu dan ketika ia memandang penuh perhatian, ia melihat bahwa bayangan orang itu bukan lain ialah Souw Cong Hwi, pemuda yang selama dalam perjalanan berlaku baik terhadapnya.
Apakah maksud dan kehendak pemuda ini?
Ia hendak membuka mulut akan tetapi Souw Cong Hwi memberi isyarat agar supaya gadis itu diam seja jangan mengeluarkan suara.
Kemudian ia mengeluarkan anak kunci dan membuka pintu kamar itu dengan hati-hati sekali.
Setelah terbuka, ia lalu menyelinap masuk dan berbisik dengan tergesa-gesa.
"Nona, jangan salah sangka. Aku datang hendak menolong kau keluar dari sini!"
Sambil berkata demikian, pemmuda ini membuka buntalan kain yang tadi dibawanya dan ternyata kain itu berisi sebatang pedang dan sekantung uang perak.
"Ini, terimalah, Nona dan lekas kau pergi dari sini. Jangan kau bunuh penjaga-penjaga di sini karena sebagian besar dari mereka itu bukanlah orang-orang jahat!"
Hwe Lan memandang dan matanya yang bagus itu terbelalak lebar. Ia benar-benar tercengang heran melihat tindakan pemuda ini yang demikian baiknya terhadap dia.
"Terimalah Nona, jangan ragu-ragu. Aku benar-benar tidak bermaksud jahat. Kalau kiranya Nona merasa sukar untuk keluar dari Kota Raja yang terjaga kuat, jangan Nona khawatir. Pergilah ke gedung Ayahku, yakni Pangeran Souw Bun Ong, gedungnya di ujung kota bagian utara, dikurung tembok merah. Nah, terimalah ini!"
Souw Cong Hwi mendesak melihat nona itu agaknya merasa ragu-ragu.
"Akan tetapi... bagaimana kau sendiri...? Kalau diketahui oleh mereka, kau... kau..."
Aneh sekali, Cong Hwi merasa hatinya amat girang mendengar ucapan ini. Ia merasa bahagia sekali melihat nona itu menguatirkan keadaannya! "Aku? Ah, mudah saja, Nona. Kau lihat!"
Sambil berkata demikian, pemuda ini lalu menggerakkan pedang yang diberikan kepada Hwe Lan dan yang belum diterimanya itu ke arah pundaknya sendiri.
"Cap!"
Mata pedang yang tajam itu menembus pakaiannya dan melukai pundaknya, darah mengalir membasahi bajunya. Cong Hwi masih tersenyum memandang dan berkata.
"Nah, kau telah merampas pedang dan melukai pundakku! Mudah saja bagiku bukan?"
Sambil berkata demikian, ia memaksa gadis itu menerima pedang dan kantung uang, dan berbisik.
"Jangan lupa kalau tidak ada jalan keluar, datanglah ke gedung orang tuaku!"
Kemudian, ia mendorong tubuh Hwe Lan supaya gadis ini berlari keluar, lalu ia berteriak-teriak keras.
"Aduh, celaka! Tawanan terlepas....Tangkap...!"
Hwe Lan maklum akan maksud pemuda itu yang benar-benar telah menolongnya secara luar biasa sekali.
Dengan hati terharu, ia lalu berlari keluar melalui lorong kecil di dalam rumah penjara itu.
Ia mendengar suara orang berlari dari depan dan lima orang penjaga telah mencegatnya dengan senjata di tangan.
Ia teringat akan pesan pemuda itu yang melarangnya membunuh para penjaga.
Maka ketika mereka menyerbu, ia lalu memutar pedangnya dan beberapa kali gerakan saja senjata di tangan para penjaga itu telah terlepas semua!
Hwe Lan mengayun kaki menendang roboh penjaga yang terdekat, lalu berlari cepat keluar.
Beberapa orang penjaga datang lagi menyerbu, akan tetapi dengan mudah ia membuat mereka jatuh tunggang langgang tanpa mendatangkan luka parah, dan akhirnya ia tiba di luar penjara!
Suara teriakan para penjaga menggema dari rumah penjara itu.
"Pemberontak wanita telah lepas! Tangkap! Kejar!"
Dan para penjaga itu dengan hati takut, akan tetapi khawatir kalau akan mendapat hukuman berat karena terlepasnya tawanan itu, segera mengejar keluar.
Dan pada saat itu, Gui Kok Houw dan beberapa orang Kim-i-wi datang untuk melakukan ronda malam di rumah penjara itu!
Melihat Hwe Lan telah berdiri di depan rumah penjara dengan pedang di tangan, mereka cepat menyerbu, dikepalai oleh Gui Kok Houw yang telah mengeluarkan senjatanya yang lihai, yakni tiga bola yang diikat rantai baja itu.
Hwe Lan berlaku gesit.
Ketika melihat datangnya tiga bola itu menyambar ke arah tiga bagian tubuhnya, ia cepat mengelak ke samping dan sambil membabatkan pedangnya ke arah pinggang Gui-ciangkun, kakinya diangkat menendang seorang perwira Kim-i-wi yang segera menjerit dan roboh.
Dua orang perwira lain bersama Gui Kok Houw mengeroyok dengan hebatnya, akan tetapi sambil memutar-mutar pedangnya, Hwe Lan mengamuk dan mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Ia maklum bahwa kalau ia lebih lama melayani mereka, tentu akan datang pula perwira-perwira lain dan kalau Wai Ong Koksu ikut datang maka ia takkan dapat melarikan diri lagi.
Sayang sekali bahwa ia tidak mempunyai thi-lian-ci lagi karena senjata-senjatanya telah dirampas.
Akan tetapi, tiba-tiba, ia teringat akan kantung pemberian Cong Hwi tadi, maka cepat ia meroboh kantung yang telah digantungkan di pinggang itu dan mengeluarkan beberapa potong uang perak.
Ia juga pernah mempelajari cara menyambit dengan chi-piauw (senjata rahasia uang logam), maka ketika ia menggerakkan tangan kirinya, tiga sinar putih dari uang perak itu menyambar ke arah Gui Kok Houw.
Perwira ini terkejut sekali dan cepat melompat untuk menghindarkan senjata rahasia yang hebat dan cepat sekali menyambarnya itu, dan saat ini dipergunakan oleh Hwe Lan untuk melompat ke atas genteng dan berlari cepat.
Pada saat itu, Souw Cong Hwi berlari keluar dari rumah penjara dan berteriak-teriak.
"Tangkap penjahat itu!"
Pemuda ini dengan pundak berlumuran darah lalu menggerakkan tangannya dan tiga batang hiang-leng-piauw (senjata rahasia pakai kerincingan) yang mengeluarkan suara berisik melayang ke arah bayangan Hwe Lan di atas genteng.
Gadis ini diam-diam memuji kecerdikan dan juga kepandaian pemuda ini dan cepat ia mengelak, lalu melanjutkan larinya.
Gui Kok Houw berseru keras.
"Bangsat perempuan hendak lari ke mana?"
Lalu ia mengejar, diikuti oleh beberapa orang perwira dan juga oleh Souw Cong Hwi!
Dengan ringan Gui-ciangkun mengejar ke atas genteng dan berlari cepat sekali.
Ketika melihat empat orang perwira ikut mengejar, ia berkata.
"Seorang di antara kalian turun dan memberi tahu kepada seluruh penjaga kota agar supaya menjaga keras. Jangan sampai penjahat itu kabur keluar kota!"
Seorang perwira lalu melompat turun lagi untuk melakukan perintah ini dan yang lain-lain melanjutkan pengejaran mereka.
Biarpun Hwe Lan memiliki ilmu lari cepat yang cukup tinggi, akan tetapi oleh karena bangunan-bangunan di Kota Raja tinggi-tinggi dan juga ia belum kenal jalan, maka para pengejarnya tidak tertinggal jauh.
Untung baginya bahwa malam itu agak gelap, hanya diterangi oleh bintang-bintang, maka tidak mudah juga bagi para pengejarnya untuk menangkapnya.
Pada saat itu, Hwe Lan melihat bayangan-bayangan hitam dari depan, disusul pula oleh bayangan para perwira Kim-i-wi dari kanan yang juga telah diberitahu dan mulai ikut mengejarnya!
Ia merasa terkejut sekali dan maklum bahwa sukar baginya untuk meloloskan diri dari Kota Raja, maka teringatlah ia akan pesan Cong Hwi tadi untuk bersembunyi di gedung Pangeran Souw Bun Ong.
Hwe Lan adalah seorang gadis yang cerdik, maka melihat betapa musuh di atas genteng makin banyak dan dirinya telah terkurung, ia lalu melompat turun dan berlari cepat sambil bersembunyi di antara bangunan-bangunan rumah!
Ia sengaja berlari di tempat-tempat yang gelap dan karena penuh dengan bayangan rumah-rumah, maka di bawah ia merasa lebih aman.
Memang tindakan ini tepat sekali.
Para pengejarnya di atas genteng yang tiba-tiba kehilangan bayangannya, menjadi bingung.
Gui Kok Houw menyumpah-nyumpah dan membagi-bagi perintah mencari ke sana ke mari, menyuruh para penjaga memperkuat penjagaan di pintu-pintu gerbang kota untuk mencegah gadis itu melarikan diri keluar kota.
Akan tetapi pada saat itu, Hwe Lan telah berada di ujung utara kota dan berhasil menemukan bangunan besar yang bertembok merah.
Ia lalu melihat ke kanan kiri dan ternyata para pengejarnya tidak ada yang mencari di bagian ini.
Dengan gesit ia melompat ke atas pagar tembok dan langsung masuk ke dalam taman bangunan besar itu, terus menuju ke pintu belakang gedung.
Sesosok bayangan orang muncul dari pintu dan menegurnya.
"Apakah kau Nona Yap?"
Tanya bayangan itu yang muncul dan berdiri di bawah lampu penerangan yang dipasang di atas pintu belakang.
Hwe Lan melihat seorang laki-laki setengah tua yang bersikap agung dan wajahnya menunjukkan kehalusan budi.
Wajah ini melenyapkan keraguannya dan ia dapat menduga bahwa orang ini tentulah Pangeran Souw Bun Ong, ayah pemuda baik hati yang telah menolongnya, maka ia lalu menjura dengan hormat.
"Benar, Taijin. Aku adalah Yap Hwe Lan yang bernasib buruk dan hanya akan mengganggumu saja."
"Ah, Nona, masuklah cepat!"
Kata pangeran itu yang telah sengaja menanti di situ, sesuai dengan petunjuk puteranya.
Ketika Hwe Lan berjalan masuk melalui pintu itu, Pangeran Souw diam-diam mengagumi kecantikan gadis ini yang benar-benar luar biasa.
Tanpa diketahui oleh para pelayan yang telah tidur dan yang memang dilarang keluar pada waktu malam itu, Souw Bun Ong lalu mengajak Hwe Lan masuk ke ruangan dalam dan menemui isterinya.
Nyonya Souw juga merasa kagum dan suka melihat Hwe Lan yang kecantikannya tidak kalah oleh puteri-puteri dari istana kaisar ini, dan segera mengajak gadis ini masuk ke dalam kamarnya.
Melihat keramahan dan kebaikan hati suami isteri bangsawan ini, Hwe Lan menjadi amat terharu dan tak dapat dicegah lagi ia lalu maju menjatuhkan diri berlutut.
Souw-hujin (Nyonya Souw) memeluknya dan mengangkatnya bangun.
"Anak yang malang,"
Katanya perlahan.
"biarlah untuk sementara kau tingga di dalam gedung ini dan anggap kami seperti orang tua sendiri."
"Nona, sungguhpun kami belum tahu betul siapa adanya kau, akan tetapi kami telah mendengar dari Cong Hwi tentang pengalamanmu. Kau tak perlu merasa khawatir setelah berada di dalam gedung ini, karena takkan ada orang yang dapat mencarimu ke sini."
Tiga orang itu lalu berunding dan bercakap-cakap.
Menurut pendapat mereka, agar jangan sampai menarik perhatian lain orang dan agar supaya persembunyian Hwe Lan sempurna, maka gadis akan menyamar sebagai orang pelayan dalam yang melayani Souw-hujin.
Hwe Lan mengambil keputusan untuk bersembunyi di tempat aman ini sampai keadaan tenang kembali.
"Kurasa para perwira akan menjadi penasaran dan akan menjaga seluruh kota mencari-carimu sampai dapat. Dalam satu dua bulan ini, tak mungkin bagimu keluar dari gedung ini tanpa menimbulkan kecurigaan. Aku akan berdaya upaya agar bisa mendapatkan jalan bagimu keluar dari kota tanpa ketahuan,"
Kata Pangeran Souw Bun Ong.
"Sebetulnya, mengapa pula harus pergi keluar kota?"
Kata isterinya sambil memandang wajah Hwe Lan yang manis.
"Apa salahnya kalau Nona Yap tinggal di sini seterusnya?"
Hwe Lan benar-benar merasa terharu mendengar ucapan-ucapan kedua suami isteri yang amat memperhatikan nasibnya ini.
Tak pernah disangkanya bahwa di Kota Raja ia akan bertemu dengan pemuda sebaik Cong Hwi dan bangsawan-bangsawan semulia Pangeran Souw dan isterinya ini.
teringat akan pengorbanan Cong Hwi yang melukai pundaknya sendiri, ia menjadi amat terharu dan tiba-tiba ia menjadi khawatir sekali akan keselamatan pemuda itu, maka ia lalu berkata.
"Taijin, harap Taijin suka menengok keadaan puteramu, aku khawatir kalau-kalau terjadi hal yang kurang baik dengan dia."
Ia lalu menceritakan betapa untuk menolongnya, Souw Cong Hwi telah datang melepaskannya dari kurungan dan melukai pundaknya sendiri. Pangeran Souw menggeleng-gelengkan kepala.
"Memang puteraku yang hanya seorang itu aneh sekali. Sebetulnya, dengan jalan halus mungkin aku pun akan dapat menolongmu, akan tetapi ia berkeras hati dan mengambil jalan menurut caranya sendiri. Dia benar-benar seorang petualang yang suka membikin onar!"
Mari kita melihat pengalaman Souw Cong Hwi, putera pangeran yang begitu berjumpa telah jatuh hati kepada Hwe Lan sedemikian rupa sehingga tak segan-segan untuk berkorban guna menolong gadis itu.
Sebagaimana diceritakan di depan, pemuda itu melukai pundaknya sendiri dengan pedang, kemudian sambil berteriak-teriak ia mengejar pula keluar, pura-pura ikut mengejar Hwe Lan, bahkan di depan Gui Kok Hwa, ia telah menyambit Hwe Lan dengan senjata rahasianya, yakni hiang-leng-piauw.
Gui Kok Houw merasa heran dan terkejut melihat munculnya pemuda itu di situ, dan timbullah kecurigaan besar di dalam hatinya.
Akan tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya dan melakukan penyelidikan.
Yang terpenting pada saat itu ialah mengejar dan menangkap kembali tawanan yang melarikan diri itu.
Ia memang semenjak ditangkapnya Hwe Lan, telah merasa curiga terhadap pemuda itu dan ia menganggap pemuda itu merupakan seorang penghalang besar bagi maksudnya yang jahat terhadap Hwe Lan.
Ia telah tergila-gila terhadap kecantikan gadis tawanan itu dan kedatangannya di malam buta ini pun bukan sekedar hendak mencari kesempatan untuk mengganggu Hwe Lan, gadis jelita yang membuatnya tak dapat tidur nyenyak dalam beberapa malam ini.
Setelah ternyata bahwa gadis itu lenyap tak dapat tertangkap, barulah ia kembali ke rumah penjara untuk melakukan penyelidikan.
Dan ia merasa makin heran melihat Souw Cong Hwi telah berada di situ pula, sedang bercerita dan didengarkan oleh beberapa orang perwira bahkan Wai Ong Koksu juga telah berada di situ pula!
"Souw-kongcu!"
Datang-datang Gui Kok Houw menegur dengan suara keras.
"Apa perlunya kau malam-malam datang ke tempat penjara ini?"
Souw Cong Hwi memandang dan sedikit pun tidak merasa takut.
"Gui-ciangkun, semenjak kapankah aku harus melapor kepadamu lebih dulu sebelum aku pergi ke mana-mana?"
Ia balas bertanya dengan pandang mata menantang.
Gui Kok Houw marah sekali, akan tetapi ia tidak berani berlaku kasar terhadap putera pangeran itu, dan melihat kepala penjaga penjara berdiri dengan tubuh gemetar di situ, ia lalu maju dan menampar dengan tangan kanan sehingga tubuh penjaga itu terguling ke atas tanah.
"Babi bodoh!"
Ia memaki marah.
"Bagaimana kau sampai berani melepaskan tawanan itu? Kau harus menggantinya dengan kepalamu!"
Kepala penjaga itu takut dengan tubuh menggigil karena takut lalu berkata.
"Mohon ampun, Ciangkun. Sebetulnya bukan hamba yang salah. Souw-kongcu ini diserang oleh penjahat perempuan tadi.."
Dan ia lalu menuturkan betapa ia dan kawan-kawannya mendengar teriakan Souw Cong Hwi yang terluka pundaknya dan mengejar-ngejar tawanan itu yang tahu-tahu telah terlepas dari kurungan.
Gui Kok Houw memandang kepada Souw Cong Hwi dengan mata tajam dan mulut menyeringai lalu berkata.
"Hm, agaknya hanya Souw-kongcu, sendirilah yang tahu bagaimana nona manis itu sampai dapat melepaskan diri!"
Kata-katanya penuh mengandung sindiran. Juga Wai Ong Koksu bertanya heran.
"Bagaimanakah dia bisa meloloskan diri, Kongcu?"
Souw Cong Hwi menarik napas panjang dan menjawab.
"Memang aku yang bodoh, mudah saja tertipu oleh nona itu. Aku yang merasa ikut bertanggung jawab dak aku ikut pula menangkap nona itu, sengaja datang hendak memeriksa karena khawatir kalau-kalau dua orang kawannya datang menolong, dan pula aku merasa khawatir juga kalau terjadi apa-apa yang tidak selayaknya dengan tawanan itu sampai di sini ia memandang kepada Gui Kok Houw dengan tajam penuh arti, maka aku datang menjenguk kurungan di mana nona itu berada. Ketika aku tiba di depan pintu kurungan, aku terkejut sekali melihat nona itu rebah telungkup dalam keadaan yang menunjukkan bahwa ia sedang pingsan, bahkan tadinya kusangkah ia telah mati. Aku lalu meminjam kunci dan membuka kurungan itu dengan pedang di tangan. Ketika aku membungkuk dan memeriksa, tiba-tiba nona yang kusangka pingsan itu menyerangku dengan tak tersangka-sangka sama sekali sehingga pedangku terampas dan ia melukai pundakku. Kemudian ia melarikan diri, aku berusaha mengejar, akan tetapi ia lebih cepat. Selanjutnya Cu-wi sekalian telah tahu apa yang terjadi."
"Aneh sekali,"
Seru Gui Kok Houw, suaranya mengandung ketidak percayaan.
"Bagaimana Souw-kongcu yang gagah perkasa sampai dapat tertipu sedemikian mudahnya seperti seorang anak kecil? Benar-benar aneh dan hampir tak mungkin!"
"Tidak percayakah Gui-ciangkun kepadaku?"
Kata Souw Cong Hwi sambil menatap wajah perwira itu.
"Penutusanmu tak masuk diakal dan amat meragukan,"
Kata perwira itu terus terang.
Gui Kok Houw juga memandang dengan tajam dan dua orang itu saling pandang dengan marah, keadaan menjadi tegang karena mereka telah menjadi panas hati.
Wai Ong Koksu lalu melangkah maju dan berkata.
"Sudahalah, hal ini tak perlu diperpanjang lagi. Lebih baik kita berusaha agar tawanan itu dapat ditangkap kembali. Gui-ciangkun, penjagaan di pintu gerbang kota harap diperkuat dan semua orang yang keluar dari kota harus diperiksa dengan teliti."
"Tapi, Souw-kongcu bertanggung-jawab atas lolosnya tawanan ini,"
Kata Gui Kok Houw yang masih merasa penasaran.
Pada saat itu, malam telah berganti pagi dan tiba-tiba para penjaga menyambut kedatangan serombongan orang dengan penuh hormat.
Rombongan ini ternyata adalah Pangeran Souw Bun Ong yang dikawal oleh pengawal pribadinya.
Melihat kedatangan Pangeran Souw ini, Gui Kok Houw lalu memberi hormat, juga Wai Ong Koksu menjura dengan hormat.
Pangeran Souw membalas penghormatan mereka dan langsung menghampiri Souw Cong Hwi.
"Benarkah kau terluka oleh pemberontak yang melarikan diri?"
Tanya pangeran ini sambil memandang kepada puteranya dengan muka khawatir.
"Hanya sedikit luka di pundak, ayah. Tidak apa-apa. Yang lebih hebat adalah tuduhan Gui-ciangkun yang seakan-akan menimpakan semua kesalahan kepadaku dan bahkan ia menyangka bahwa aku sengaja melepaskan tawanan itu."
Pangeran Souw Bun Ong memandang kepada Gui Kok Houw yang segera menundukkan kepalanya, memberi hormat kepada pangeran itu dan berkata.
"Maaf, maaf, bukan hamba menuduh secara membabi buta, akan tetapi sudah menjadi kewajiban hamba untuk mendapatkan kembali tawanan itu."
Setelah berkata demikian, perwira ini kembali memberi hormat dan mengundurkan diri dengan hati mendongkol sekali.
Pangeran Souw Bun Ong lalu mengajak puteranya pulang dan tak seorang pun yang berani melarangnya, sedangkan Wai Ong Koksu lalu menjumpai Gui Kok Houw untuk merundingkan hal itu.
Wai Ong Koksu juga merasa curiga kepada Cong Hwi, maka ia menghibur Perwira Gui dan berkata.
"Menghadapi Pangeran Souw, kita tak boleh berlaku sembrono. Jangan sampai urusan tawanan kecil ini saja menjadikan kau bermusuhan dengan Pangeran Souw, itu berbahaya sekali. Kurasa gadis liar itu masih berada di Kota Raja dan kalau kita melakukan penjagaan keras dan mencari di dalam kota menyebar mata-mata, tentu kita akan dapat menangkapnya kembali."
Demikianlah, semenjak saat itu, pintu gerbang Kota Raja dijaga dengan keras, dan banyak mata-mata dan penyelidik disebar untuk mengetahui di mana bersembunyinya tawanan yang lolos itu.
Sementara itu, Souw Cong Hwi merasa girang sekali mendengar dari ayahnya bahwa Hwe Lan telah datang ke gedungnya dan bersembunyi di situ menyamar sebagai seorang pelayan.
"Kau cinta padanya?"
Tanya ayahnya. Dengan muka merah Cong Hwi menjawab.
"Entahlah ayah. Akan tetapi aku... aku suka kepadanya, aku bersimpati padanya dan aku ingin melihat dai selamat dan berbahagia."
Ayahnya menghela napas.
"Hm, itu artinya bahwa kau mencinta padanya."
Pangeran itu mengangguk-angguk dan meraba-raba jenggotnya yang panjang dan hitam.
"Aku dan ibumu pun suka kepada gadis itu. Dia cukup cantik dan bersikap sopan. Akan tetapi...hm, kau tahu, Cong Hwi bagaimanapun juga, kita adalah bangsawan yang dihormati orang. Bukan kehendakku untuk berlaku kukuh dan memandang rendah orang lain, akan tetapi...kita harus ketahui dulu asal-usul gadis itu. Kalau memang ia keturunan baik-baik dan ada alasan yang kuat mengapa ia sampai menyerang pasukan Kim-i-wi, tentu aku dan ibumu akan memikirkan tentang perasaanmu terhadap dia itu."
Souw Cong Hwi maklum sepenuhnya maksud ayahnya ini.
Akan tetapi, ternyata bahwa dirinya, dan jarang sekali ia bicara tentang riwayatnya.
Harus diakui bahwa gadis itu rajin sekali, melakukan semua pekerjaan seperti seorang pelayan tulen.
Pelayan-pelayan lain dalam gedung itu tentu saja merasa heran dengan adanya pelayan baru ini, akan tetapi dengan cerdik, Nyonya Souw menyatakan bahwa pelayan ini adalah puteri seorang kenalan di dusun dan datang pada malam hari, dan diangkat menjadi pelayan dalam, melayani keperluan Nyonya Souw sendiri.
Cong Hwi adalah seorang pemuda terpelajar dan sopan, juga ia merasa malu-malu kepada Hwe Lan, maka jarang sekali dua orang muda ini bercakap-cakap.
Pertemuan mereka dalam gedung itu hanyalah sepintas lalu saja.
Sepekan kemudian, ketika Cong Hwi tengah duduk seorang diri di ruang dalam tiba-tiba Hwe Lan datang ke ruang itu dan bertanya tentang peristiwa pelariannya itu.
Dengan terus terang Cong Hwi menceritakan pengalamannya dan kemudian berkata.
"Karena itu, Nona, lebih baik kau jangan keluar dari gedung ini. mereka tahu bahwa kau masih belum keluar dari Kota Raja dan setiap hari kulihat mata-mata berkeliaran di dalam kota mencari-carimu, sedangkan untuk keluar dari pintu gerbang, amat sukar sekali. Jangankan kau, sedangkan aku sendiri pun selalu diamat-amati oleh para penyelidik, karena Gui-ciangkun merasa curiga terus kepadaku."
"Ah, kalau begitu, aku telah menerima budi besar sekali darimu, Kongcu, dan aku hanya membikin susah kau saja."
"Jangan berkata demikian, Nona. Sudah selayaknya kalau manusia saling menolong. Aku...aku percaya bahwa kau adalah seorang pendekar yang berbudi dan kepercayaanku akan lebih mendalam kalau saja kau suka berterus terang menceritakan riwayat hidupmu, agar aku dan orang tuaku mengetahui siapakah sebetulnya kau ini dan mengapa pula kau memusuhi Kim-i-wi."
Hwe Lan menarik napas panjang.
Ia memang merasa berhutang budi dan menganggap pemuda ini sebagai seorang yang amat baik dan patut dikagumi serta dipercaya, akan tetapi, untuk menceritakan riwayatnya kepada seorang pemuda yang bukan apa-apanya, ia masih merasa berat.
"Souw-kongcu, tidak ada apa-apanya yang menarik dalam riwayat hidupku, dan sukar bagiku untuk menceritakannya kepadamu. Hanya satu hal yang perlu kuceritakan, yakni bahwa aku mempunyai seorang enci dan seorang adik perempuan. Mereka berdua sewaktu-waktu akan memasuki Kota Raja dan mencariku. Maka, apabila kau melihat mereka tolonglah beritahu kepadaku. Kalau tidak ingin menanti mereka, agaknya aku pun takkan berani mengganggu rumahmu lebih lama lagi."
Souw Cong Hwi biarpun masih muda akan tetapi ia dapat mengetahui bahwa gadis ini adalah seorang gadis yang selalu tabah sekali, juga berhati keras.
Maka ia tidak mau mendesak karena tahu bahwa biarpun didesak akan percuma saja.
Ia hanya menyanggupi untuk melihat kalau-kalau kakak dan adik gadis itu sudah datang.
Diam-diam ia merasa khawatir juga mendengar bahwa dua orang gadis lain akan datang ke Kota Raja, karena kalau sampai terlihat oleh Gui-ciangkun dan Wai Ong Koksu, bukanlah itu berarti bahwa dua orang gadis itu hanya akan menghadapi bencana?
Sementara itu, setelah tinggal di dalam gedung sampai hampir sebulan dan belum juga ia mendengar tentang keadaan Siang Lan dan Sui Lan, Hwe Lan mulai gelisah dan tak tenang.
Sampai berapa lama ia harus menanti?
Ia sudah tak sabar lagi, ingin lekas-lekas mencari dan membalas dendam kepada perwira she Lee yang membunuh Nyo Hun Tiong dan gurunya, yakni Yap Sian Houw yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri.
Akan tetapi, kalau sendiri mencarinya, kemana ia harus mencari?
Ia sendiri masih menjadi orang buruan, maka berbahaya sekali kalau ia berusaha mencari di Kota Raja.
Lalu ia teringat kepada Cong Hwi.
Pemuda ini ilmu silatnya tidak rendah mungkin setingkat dengan kepandaiannya.
Kalau pemuda ini dapat berkorban menolongnya, mengapa ia tidak berterus terang saja dan menaruh kepercayaan kepada Cong Hwi?
Malam hari itu, Cong Hwi sedang duduk di dalam taman bunga.
Hatinya kecewa dan berduka.
Ia benar-benar jatuh cinta kepada Hwe Lan, akan tetapi gadis itu agaknya tidak mempedulikannya.
Bahkan tidak mempercayainya, buktinya gadis itu tidak mau menuturkan riwayat hidupnya.
Padahal ayah ibunya takkan mau mengambil menantu seorang gadis yang tidak diketahui riwayat hidupnya.
Andaikata ayah ibunya mau, belum tentu pula Hwe Lan suka menerimanya!
Memikirkan semua ini, Cong Hwi benar-benar menjadi patah hati dan ia duduk melamun memandang ke arah bulan purnama yang membuat taman itu nampak makin indah.
Akan tetapi tidak indah dalam pandangan Cong Hwi, bahkan melihat bulan berjalan-jalan seorang diri di angkasa itu membuat ia merasa lebih kesunyian lagi!
Tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki di belakangnya dan ketika ia menengok, ia melompat dengan girang.
Ternyata, Hwe Lan yang datang itu.
"Ah, kau... Nona Hwe Lan?"
Katanya.
"Kongcu, aku datang sengaja mencarimu untuk menuturkan riwayat hidupku untuk menuturkan riwayat hidupku dan juga untuk minta tolong kepadamu."
Bukan main girang hati Cong Hwi mendengar ini, seakan-akan suara ini datang dari bulan yang kini tersenyum indah.
"Katakanlah, Nona. Pertolongan apakah yang kau kehendaki? Tentu akan kulakukan sedapat mungkin."
Hwe Lan lalu menceritakan riwayatnya secara singkat.
Ia menuturkan betapa ia dan kedua saudaranya adalah anak pemberontak Yap Sian Houw, seorang tokoh Siauw-lim-pai yang dimusuhi oleh para perwira.
Ia ceritakan pula bahwa Nyo Hun Tiong pernah menolong jiwa mereka bertiga ketika masih kecil, betapa kemudian mereka belajar silat di bawah pimpinan Yap Sian Houw, Thian Hwa Nikouw, dan akhirnya digembleng oleh Toat-beng Sian-kouw, kemudian ia menuturkan pula betapa Yap Sian Houw yang mereka anggap sebagai ayah sendiri itu telah dibunuh oleh seorang perwira she Lee yang pandai mempergunakan panah.
"Demikianlah,"
Ia menutup penuturannya.
"Kami bertiga telah bertekat untuk mencari perwira she Lee itu untuk membalas dendam ini. Dan itu pula yang membuat kami bertiga menyerbu pasukan Kim-i-wi yang membongkar kuburan Nyo Hun Tiong Tahiap. Kami sama sekali tidak bermaksud memberontak terhadap Kaisar, sakit hati karena terbunuhnya banyak orang yang kami anggap sebagai orang tua dan penolong."
Souw Cong Hwi mengangguk-angguk mendengar penuturan ini.
Hatinya amat terharu dan kasihan terhadap gadis yang malang ini.
terutama sekali karena gadis ini adalah murid Toat-beng Sian-kouw sedangkan pendeta wanita itu adalah kawan baik sekali dari gurunya sendiri, bahkan ia pernah bertemu muka satu kali dengan pendeta wanita yang sakti itu.
"Kalau begitu, sebenarnya kita adalah orang sendiri,"
Katanya setelah penuturan gadis itu habis.
"Aku kenal gurumu itu karena Toat-beng Sian-kouw adalah sahabat baik dari Suhu."
"Siapakah suhumu?"
Tanya Hwe Lan tertarik.
"Suhuku adalah Pat-jiu Sin-kai Kwee-Sin."
"Aku pernah mendengar guruku menyebut nama ini. pantas saja ilmu silatmu demikian lihai."
"Ah, jangan terlalu memuji, Nona. Sekarang, ceritakanlah, pertolongan apakah yang dapat kulakukan untukmu? Dan kalau kau tidak berkeberatan, katakanlah sebetulnya kau ini anak siapakah? Siapakah ayah ibumu? Kau belum menceritakan hal ini tadi. Hanya kuketahui bahwa mendiang Yap Sian Houw adalah ayah angkatmu."
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba berubahlah wajah gadis itu, ia menjadi pucat dan hanya kekerasan hatinya yang dapat membuat ia kuat menahan jatuhnya air mata.
Ia nampak terharu sekali.
Cong Hwi terkejut melihat hal ini.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 14
Baca Juga: Si Tangan Sakti 6