Ceritasilat Novel Online

Tiga Dara Pendekar Siauw Lim 3

Eps 3 Tiga Dara Pendekar Siauw Lim - Kho Ping Hoo

Baca online Tiga Dara Pendekar Siauw Lim - Kho Ping Hoo

Cersil Tiga Dara Pendekar Siauw Lim - Kho Ping Hoo.

"Nona Hwe Lan, maafkan kalau pertanyaanku ini kau anggap kurang ajar."

Hwe Lan menggeleng kepalanya dan setelah ia dapat menetapkan kembali hatinya, ia menjawab.

"Souw-kongcu, kau adalah seorang yang telah banyak melepas budi kepadaku, perlu apakah aku harus menyembunyikan sesuatu lagi? Baik, kau ketahuilah. Memang benar bahwa Yap Sian Houw hanyalah ayah angkatku, sedangkan ayah kandungku sendiri pun telah terbunuh oleh perwira she Lee itu. Ketika hal itu terjadi, kami bertiga masih kecil dan kami tertolong oleh Nyo-taihiap yang kuburannya dibongkar oleh perwira-perwira Kim-i-wi itu! Sekarang kau mengerti mengapa kami bertiga mengamuk melihat kuburan penolong itu dibongkar orang. Kami masih demikian kecil sehingga kami tidak ingat lagi siapakah orang tua kami yang sebenarnya, bahkan kami tidak tahu lagi siapakah she (nama keturunan) kami!"

Sampai di sini, Hwe Lan tak dapat menahan lagi keluarnya dua titik air mata dari pelupuk matanya.

"Karena itu, Kongcu,"

Akhirnya ia dapat melanjutkan kata-katanya.

"Tolonglah beritahukan kepadaku, di mana tempat tinggal perwira bangsat she Lee itu, karena aku tidak sabar lagi menanti kedatangan enci dan adikku. Aku hendak membalas dendam sekarang juga!"

Cong Hwi terkejut mendengar ini.

"Nona, kau tidak tahu! Perwira she Lee yang kau maksudkan itu tentulah Lee Song Kang yang bergelar Sin-to (Golok Sakti) dan yang berpangkat busu. Siapa lagi kalau bukan dia yang pandai mempergunakan anak panah? Dia memang gagah perkasa dan selain anak panahnya juga ilmu goloknya amat lihai. Akan tetapi, dia sekarang tidak tinggal di Kota Raja lagi dan telah pindah ke kota Siang-kan-bun di Propinsi Kiang-si untuk menjabat pangkat komandan barisan penjaga di sana. Kau...kau tidak bisa dan tidak boleh pergi ke sana seorang diri!"

Bukan main girang hati Hwe Lan setelah mengetahui tempat tinggal musuh besarnya itu, akan tetapi ia kecewa karena ternyata musuh besarnya itu tidak tinggal lagi di Kota Raja.

Mendengar kalimat terakhir dari pemuda itu yang melarangnya pergi ke sana, kedua matanya terbelalak heran.

"Mengapa tidak bisa? Dan apa sebabnya tidak boleh? Sekarang juga aku mau pergi ke sana!"

"Jangan...! Jangan, Hwe Lan!"

Mendengar sebutan namanya ini, tanpa panggilan Nona seperti biasanya, Hwe Lan memandang makin heran dan mukanya menjadi merah.

"Kalau kau pergi, hal itu berbahaya sekali,"

Kata Cong Hwi pula yang tidak sadar bahwa tanpa disengaja ia menyebut nama nona itu begitu saja.

"Sebelum kau keluar Kota Raja, kau tentu telah tertangkap! Penjagaan masih dilakukan keras sekali."

"Aku tidak peduli. Kalau memang aku akan tertangkap, biarlah, aku tidak takut. Bagaimanapun juga besar bahayanya, aku harus berusaha membalas dendam guruku, dendam orang tuaku, dan aku harus mencari keparat she Lee itu!"

"Hwe Lan...kalau sampai kau terkena celaka...ah, tidak tahukah kau bahwa orang satu-satunya yang akan kehilangan dan akan merasa berduka, adalah aku sendiri...?"

Bagaikan mimpi Cong Hwi membuka rahasia hatinya. Hwe Lan melangkah mundur dengan muka merah.

"Apa...? Apa maksudmu Kongcu...?"

Cong Hwi menundukkan mukanya dan berkata perlahan.

"Hwe Lan, aku... aku cinta kepadamu, telah kurundingkan dengan ayah ibuku untuk... meminangmu sebagai"

Isteriku!"

Bukan main terkejutnya hati Hwe Lan mendengar pengakuan ini. Ia melangkah mundur lagi dua tindak dengan mata terbelalak dan muka merah.

"Tidak, Kongcu!"

Katanya dengan napas tersengal.

"Aku tidak berharga! Kau seorang putera pangeran, seorang bangsawan yang mulia dan berkedudukan tinggi! Sedangkan aku...aku seorang yatim piatu yang hina dina. Pula, aku harus membalas dendam ini. hanya inilah satu-satunya cita-cita hidupku, yang lain itu aku belum pernah memikirkan!"

Setelah berkata demikian, gadis itu lalu berlari menuju ke kamarnya meninggalkan Cong Hwi yang berdiri bengong. Kemudian Cong Hwi teringat bahwa Hwe Lan akan pergi, maka ia cepat bangun berdiri.

"Aku harus melarangna pergi, kalau ia sampai celaka...!"

Ia tidak dapat melanjutkan jalan pikirannya yang membuatnya berduka dan ngeri ini.

Ia lalu berlari ke dalam gedung menemui ayah ibunya dan menceritakan segala percakapannya yang dilakukan demi gadis itu.

Pemuda ini dengan muka pucat minta kepada ayah ibunya supaya membujuk gadis itu jangan pergi menempuh bahaya.

Pangeran Souw Bun Ong beserta isterinya lalu pergi ke kamar Hwe Lan dan membujuknya.

"Nona Hwe Lan,"

Kata Pangeran Souw.

"Kami tahu tentang maksudmu membalas dendam dan tentu saja kami tak dapat menghalangi kehendakmu itu. Akan tetapi segala hal harus dilakukan dengan hati-hati dan sempurna. Apakah artinya usahamu membalas dendam kalau kau tertangkap sebelum dapat keluar dari kota? Apakah itu bukan berarti membuang jiwa secara murah? Mari kita bekerja sama kami akan membantumu keluar dari kota. Tunggulah beberapa hari lagi, kami akan mencari jalan yang baik bagimu."

Mendengar ucapan ini, terpaksa Hwe Lan menurut karena ia anggap bahwa usul ini memang tepat sekali.

Pada keesokan harinya, Pangeran Souw lalu mempergunakan pengaruhnya dan ia berhasil mengatur sedemikian rupa sehingga tiga malam kemudian, penjaga pintu gerbang di sebelah utara terdiri dari orang-orang kepercayaannya sendiri yang telah dipesan bahwa malam hari itu ia hendak menyelundupkan seorang pemuda keluar dari Kota Raja, agar supaya jangan diganggu.

Setelah beres, ia lalu memberitahu kepada Hwe Lan yang telah menanti-nanti tak sabar lagi.

"Malam ini kau boleh keluar kota, Nona,"

Kata Pangeran Souw.

"Akan tetapi kau harus menyamar sebagai seorang pemuda dan keluar dari pintu utara. Para penjaga takkan mengganggu lagi. Akan tetapi, berhati-hatilah kau dan semoga kau selamat serta tercapai cita-citamu."

Nyonya Souw yang telah menganggap gadis itu sebagai keluarga sendiri, sambil mencucurkan air mata berkata.

"Hwe Lan, mengapa kau berkeras hendak pergi? Kau harus kembali lagi, Nak. Kau harus berjanji akan kembali lagi, kalau tidak, aku tidak rela melepasmu pergi..."

Hwe Lan terharu juga melihat kecintaan nyonya ini kepadanya. Ia memeluk nyonya itu dan tidak dapat menahan air matanya sendiri yang mengalir membasahi pipinya.

"Aku akan kembali..."

Bisiknya dan Cong Hwi yang mendengarkan semua itu sambil menundukkan kepalanya, ketika mendengar suara ini lalu mengangkat muka memandang.

Pada saat mengucapkan kata-kata itu, Hwe Lan memang memandang kepada pemuda itu, maka untuk sekejab, dua pasang mata, bertemu, mengandung janji yang hanya dimengerti oleh pemiliknya.

Kemudian, Hwe Lan lalu mengadakan persiapan, dan dibantu oleh Nyonya Souw, ia menyamar sebagai seorang pemuda yang tampan!

Tanpa diketahui atau diduga sedikitpun oleh Hwe Lan, pada malam hari itu, seorang gadis lain berada pula di dalam kota dan gadis ini bukan lain ialah Siang Lan!

Bagaimanakah Siang Lan bisa berada di Kota Raja?

Sebelum menceritakan tentang Siang Lan, marilah kita bersama mengikuti lebih dulu perjalanan Sui Lan, gadis lincah gembira yang termuda di antara tiga dara pendekar Siauw-lim itu agar jangan terlalu lama kita berpisah dari dia!

Sui Lan yang terpisah dari kedua encinya, setelah tak berhasil bertemu dengan Hwe Lan atau Siang Lan, dengan bingung lalu melanjutkan perjalanannya seorang diri.

Betapapun juga, ia harus menurut petunjuk gurunya, dan melanjutkan perjalanannya sesuai dengan rencana yang telah diatur, yaitu melalui Propinsi Hu-pei, Ho-nan, Sian-tung, dan terus ke Kota Raja.

Ia menduga bahwa kedua saudaranya, entah lebih dulu atau belakangan, tentu juga mengambil jalan ini dan akhirnya ia mengharapkan untuk bertemu dengan kedua encinya itu di Kota Raja atau di tengah jalan.

Yang agak membingungkan hatinya adalah bahwa uang bekalnya telah habis sama sekali, karena ia memang tidak membawa uang dan kantung uang dibawa oleh Hwe Lan.

Akan tetapi, dasar ia bernasib baik, ketika ia sedang berjalan dengan bingung melalui sebuah hutan besar dan liar, tiba-tiba dari belakang gerombolan pohon berlompatan keluar delapan orang tinggi besar yang bersikap kasar.

Sekali lihat saja tahulah Sui Lan bahwa mereka itu adalah perampok-perampok kejam, akan tetapi Sui Lan pura-pura tak melihat mereka dan berjalan terus ke depan.

Seorang di antara mereka yang bermuka merah melompat di tengah jalan, menghadangnya, sedangkan kawannya lalu melangkah maju pula dan mengurung gadis itu sambil tertawa-tawa menyeringai.

Terpaksa Sui Lan menghentikan tindakan kakinya dan sambil tersenyum ia berkata.

"Eh, eh, kalian ini orang-orang apakah? Agaknya kalian ini yang biasa disebut orang-orang hutan, betulkah?"

Biarpun dimaki orang hutan, akan tetapi oleh karena gadis itu luar biasa cantik jelita dan juga tersenyum-senyum dengan mata berseri gembira, para perampok itu tidak menjadi marah, bahkan mereka semua lalu tertawa gembira.

"Ha-ha-ha!"

Kepala rampok yang bermuka merah itu tertawa sambil memegangi perutnya yang besar dengan kedua tangan.

"Kau benar, Nona cantik! Kita memang orang-orang hutan dan aku adalah rajanya, raja hutan yang kuat dan gagah! Dan kau patut menjadi permaisuriku, ha-ha-ha!"

"Ah, perutmu mengingatkan aku akan perut kerbau! Siapa sudi menjadi permaisurimu?"

Kata Sui Lan yang masih saja bersikap jenaka. Kata-katanya ini kembali disambut gelak tertawa.

"Kau pilih yang kecil perutnya? Lihat, perutku kecil sekali, Nona manis!"

Kata seorang anggota perampok yang melompat maju.

Sui Lan memandang perampok itu yang bertubuh kurus kering dan tinggi bagaikan batang bambu.

Tentu saja perutnya kecil sekali seakan-akan sudah sebulan perutnya tidak kemasukan sesuatu.

Sui Lan memicingkan matanya dan bibirnya cemberut.

"Hm, kau seperti cacing tana! Geli aku melihatnya!"

Berganti-ganti para perampok itu maju menawarkan dirinya, dan kesemuanya dicela oleh Sui Lan yang menyebutkan cacat-cacatnya. Akhirnya kepala rampok itu berkata.

"Gadis manis, kau hendak pergi kemanakah?"

"Aku sedang melancong. Mengapa kalian menghadang di jalan? Minggirlah dan beri jalan padaku."

"Ha-ha-ha! Enak sekali kau bicara. Kau sungguh sembrono sekali melakukan perjalanan seorang diri di dalam hutan ini. seorang gadis cilik yang cantik jelita seperti kau, sungguh aneh, sungguh aneh! Ayah ibumu benar-benar tega sekali membiarkan kau melakukan perjalanan seorang diri. Serahkanlah bungkusanmu itu dan kau harus ikut dengan ka mi, agar jangan hidup seorang diri seperti ini. Sungguh kasihan sekali!"

Sui Lan tersenyum.

"Hm, tak salah lagi. Kalian tentu perampok-perampok orang-orang hutan yang berlagak seperti manusia. Aku mendengar bahwa perampok-perampok mengumpulkan harta kekayaan dari orang-orang yang lewat dan karena sekarang aku perlu sekali uang bekal, maka kalian harus membayar pajak padaku!"

Para perampok itu saling pandang dan tertawa mengejek.

Baru kali ini mereka mendengar ada orang, seorang gadis cantik pula, minta pajak dari mereka!

Biasanya merekalah yang minta "Pajak jalan atau pajak hutan kepada para korban yang lewat di situ.

"Kau benar-benar mengagumkan begini tabah dan berani, sama sekali tidak takut! Alangkah baiknya kalau kau menjadi permaisuriku!"

Kata kepala perampok itu yang segera bergerak maju hendak memeluk. Sui Lan memandang dengan lagak yang mengejek dan berkata.

"Pernah ada orang bilang bahwa orang hutan pandai menari seperti monyet, hendak kulihat kebenaran ucapan itu!"

Begitu ucapan ini habis, ia bergerak cepat dan kakinya menendang ke arah kaki seorang anggota perampok yang berdiri dekat.

Perampok itu hendak mengelak, akan tetapi ia kalah cepat dan tulang kering pada kakinya telah berkenalan dengan ujung sepatu Sui Lan yang menendang keras.

"Plak!"

Dan orang itu meringis-ringis kesakitan, mengaduh-aduh dan tanpa dapat ditahan karena sakitnya, ia mengangkat kaki yang tertendang itu dan berloncat-loncatan dengan sebelah kaki seperti orang berjingkrak-jingkrak menari!

"Aduh...aduh...aduh...!"

Tiada hentinya ia mengeluh dan melompat-lompat dengan sebelah kakinya. Sui Lan tertawa geli dan menuding dengan tingkah lucu.

"Ha, benar saja, orang hutan pandai menari. Terus, terus! Alangkah lucunya. Kawanan perampok itu merasa geli juga melihat kawan mereka ini, akan tetapi mereka juga mendongkol karena kawan mereka itu dipermainkan sedemikian rupa oleh gadis ini. dua orang segera menyergap hendak memeluk gadis yang cantik dan lincah itu, akan tetapi Sui Lan telah mendahului mereka dan menggerakkan kakinya. Kembali dua orang itu kena ditendang tulang kakinya sehingga seperti orang pertama tadi, mereka pun berjingkrak-jingkrak karena kaki itu terasa sakit sekali dan tulangnya mungkin telah retak! "Aduh, lucunya..."

Sui Lan bertepuk-tepuk tangan dengan girang.

"Sekarang ada tiga monyet yang menari-nari! Ayo monyet yang mana lagi ingin menari?"

Para perampok tadinya mengira bahwa perbuatan Sui Lan yang pertama tadi hanya kebetulan saja, akan tetapi kini mereka maklum bahwa hal ini bukanlah terjadi secara kebetulan, akan tetapi memang gadis ini memiliki kepandaian.

Kepala rampok menjadi marah dan mencabut goloknya diturut oleh empat orang anak buahnya, sedangkan tiga orang yang telah tertendang kakinya itu hanya dapat menonton sambil duduk di atas tanah dan mengurut-ngurut kakinya y ang terasa sakit sekali.

"Eh, tidak tahunya kau dapat juga bersilat!"

Kata kepala rampok itu sambil menuding kepada Sui Lan dengan goloknya.

"Pantas saja kau berani melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi, jangan harap kau akan dapat keluar dari tempat ini sebelum menyerah kepada kami, baik menyerah hidup-hidup atau menyerah mati!"

Sui Lan tersenyum.

"Siapa yang mau keluar lekas-lekas? Kalau kau belum memberi pajak yang kuminta, yakni seratus tai perak dengan kantungnya yang baik agar mudah dibawa, jangan harap aku mau keluar dari tempat ini!"

Juga gadis ini menggunakan telunjuknya menuding dan meniru sikap kepala rampok itu.

Kepala rampok itu menjadi marah dan dengan seruan keras ia lalu mengayun goloknya menyabet ke arah leher Sui Lan diturut pula oleh kawan-kawannya yang menyerang dengan hebat.

Akan tetapi, tentu saja orang-orang kasar ini bukanlah lawan Sui Lan yang berkepandaian tinggi.

Sekali tubuh gadis itu berkelebat, para perampok menjadi melongo karena gadis itu telah lenyap dari depan mereka dan tahu-tahu telah terdengar suara ketawanya di belakang tubuh mereka!

Dengan cepat mereka berbalik dan menyerang lagi, akan tetapi mengandalkan gin-kangnya yang tinggi, Sui Lan bergerak cepat ke sana kemari dan mempermainkan mereka bagaikan seorang dewasa mempermainkan lima orang anak-anak kecil!

Sambil mengelak ke kiri, tangannya yang dibuka jari-jarinya merupakan golok menyambar ke arah lawan dan "Ngek!"

Seorang perampok terguling roboh karena perutnya kena dimasuki tangan itu. Ia bergulingan di atas tanah karena perutnya tiba-tiba menjadi (Lanjut ke

Jilid 06) Tiga Dara Pendekar Siauw-Lim (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06

"Mulas"

Dan sakit sekali. Sui Lan tertawa-tawa kemudian tubuhnya menyambar lagi dengan kaki diayun.

"Buk!"

Tubuh seorang pengeroyok terpental sampai lima kaki lebih dan jatuhnya kebetulan sekali menimpa seorang di antara tiga orang perampok yang kakinya kena ditendang tadi sehingga keduanya bergulingan sambil mengaduh-aduh.

Tenyata orang itu kena ditendang pantatnya dengan keras oleh kaki Sui Lan!

Kini pengeroyoknya tinggal tiga orang lagi.

Kepala rampok muka merah itu merasa penasaran sekali, dan juga terkejut.

Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis ini demikian lihai sehingga dengan tangan kosong sanggup menghadapi keroyokan lima orang bersenjata, bahkan dengan amat mudahnya telah merobohkan dua orang pengeroyok.

Ia memutar-mutar goloknya dengan cepat dan ingin sekali dengan bacokan goloknya ia membuat tubuh gadis yang kecil itu terpotong menjadi dua.

Kini nafsunya untuk mendapatkan gadis cantik itu lenyap, terganti nafsu untuk membunuh karena marah dan mendongkol.

Akan tetapi, dengan enaknya dan sambil tersenyum-senyum, Sui Lan mempermainkan mereka bertiga dan pada saat dua orang anak buah perampok menyerang dari kanan kiri, Sui Lan mengelak cepat, lalu kedua tangannya bergerak ke kanan kiri.

"Plok! Plok!"

Kedua telapak tangannya telah menyambar muka dua orang itu sehingga keduanya berteriak.

"Aduh...!"

Lalu menutupi muka mereka yang kena ditampar, karena tamparan tadi mengenai mata mereka sehingga terasa pedas dan kepala mereka menjadi pening.

Sebelum mereka tahu harus berbuat apa, tiba-tiba rambut kepala mereka ada yang menjambak dan tiba-tiba..."Duk!"

Kepala mereka diadu satu kepada yang lain sehingga seakan-akan pecahlah dunia ini bagi mereka.

Pandangan mereka berkunang-kunang dan tubuh mereka berputar-putar terhuyung-huyung ke kanan kiri, kemudian mereka roboh terguling dalam keadaan pingsan!

Tinggallah Si Kepala Rampok seorang yang masih melawan dengan goloknya, akan tetapi diam-diam ia mengeluh.

"Celaka! Kali ini aku bertemu dengan siluman!"

Akan tetapi Sui Lan tidak mau membiarkan kepala rampok itu menduga-duga lebih lama lagi.

Sekali tangannya digerakkan, ia telah berhasil menotok jalan darah tai-hwi-liat di punggung kepala rampok itu sehingga Si Muka Merah berdiri dengan tubuh kaku!

Biarpun ia masih berdiri dengan kuda-kuda kuat, kaki kanan di belakang dan kaki kiri di depan, tangan kirinya dikepal dan didekatkan di pinggang, sedangkan tangan kanan memegang golok yang diangkatnya untuk membacok, akan tetapi ia tidak kuasa menggerakkan tubuhnya lagi!

Sui Lan tertawa bergelak dan berkata.

"Bagus, kau seperti sebuah patung penjaga kelenteng!"

"Lihiap, ampunkan kami..."

Kepala rampok itu masih dapat bicara, walaupun suaranya terdengar perlahan sekali.

"Kau suruh dulu anak buahmu mengambil uang pajak seratus tail perak itu!"

Kata Sui Lan.

Akan tetapi, kepala rampok itu agaknya berat untuk melakukan perintah ini dan diam saja tak menjawab.

Sui Lan menjadi tak sabar dan sekali ia ulur tangan, golok di tangan kanan rampok itu telah ia rampas.

Dengan golok itu ia lalu menuding ke arah perut Si Kepala Rampok yang gendut itu sambil berkata.

"Kalau tidak lepas kau keluarkan pajak itu, akan kubelah perutmu dan hendak kulihat apakah sebenarnya isi perutmu yang besar ini!"

Kepala perampok itu diam saja sedangkan anak buahnya yang telah siuman kembali memandang dengan ketakutan dan muka pucat.

Mereka benar-benar telah membentur karang yang luar biasa kerasnya kali ini!

"Kau tidak rela memberi pajak itu?

Baik, mari kita sama-sama lihat isi perutmu!"

Sui Lan menggerakkan goloknya ke arah perut itu dan sengaja menusuk sedikit kulit perut di balik pakaian itu. Kepala perampok itu berjengit lalu berkata ketakutan.

"Baik, Lihiap, baik..."

Ia lalu berkata kepada seorang anak buahnya yang masih dapat berjalan untuk mengambil uang yang diminta itu dari sarang mereka yang berada di dalam hutan.

Anggota perampok yang diperintah itu lalu berlari ke dalam hutan dan tak lama kemudian, betul saja ia datang membawa sekantung uang.

Ia memberikan kantung uang itu kepada Sui Lan dengan sikap menghormat, dan Sui Lan menerimanya sambil menimbang-nimbang beratnya dengan tangan kiri.

Setelah membuka kantung dan mendapatkan kenyataan bahwa isinya betul uang perak, ia lalu tersenyum dan menyimpan kantung uang ittu ke dalam bungkusan pakaiannya.

"Nah, biarlah sedikit pajak ini menjadi pelajaran bagi kalian, bahwa ada kalanya merampas juga ada waktunya dirampas! Lain kali janganlah suka mengganggu gadis-gadis muda lagi dan jangan merampok secara sembarangan saja!"

Ia lalu mengangkat kakinya menendang ke arah punggung kepala rampok itu yang roboh terguling, akan tetapi sekaligus totokan yang membuatnya kaku tak dapat bergerak itu telah dapat disembuhkan!

Ketika mereka memandang ternyata gadis yang luar biasa itu telah melompat jauh dan lenyap dalam sebuah tikungan jalan.

Senanglah hati Sui Lan setelah mendapatkan bekal ini karena ia tak usah merasa kuatir lagi dalam perjalanan.

Beberapa hari kemudian, ia sampai di Propinsi Ho-nan dan ketika ia tiba di kota Kang-cu, ia berhenti dan bermalam di kota itu, karena ia amat tertarik dengan keindahan dan keramaian kota.

Ketika Sui Lan memasuki ruang sebuah hotel besar untuk mencari kamar, ia bertemu dengan tiga orang laki-laki yang sikapnya menunjukkan sebagai ahli-ahli silat, ia melihat tiga orang itu mengerlingkan dengan pandang tajam penuh kekaguman.

Ia tidak melayani mereka dan pura-pura tidak melihatnya, akan tetapi memandangnya dengan penuh perhatian.

Hatinya mendongkol bukan main karena biarpun ia tidak merasa heran melihat mata laki-laki mengikutinya dan hal ini sudah seringkali dialaminya di mana-mana, akan tetapi memandang orang di dalam hotel seperti itu, sungguh terlalu sekali!

Ia mendapatkan sebuah kamar di bagian belakang dan setelah memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa kamar itu cukup bagus, ia lalu memasuki kamar itu dan beristirahat.

Hari itu sudah mulai gelap, karena masih lelah, Sui Lan tidak mau keluar dari hotel dan mengambil keputusan untuk berjalan-jalan besok pagi saja.

Setelah membersihkan tubuh dan makan malam, ia terus tinggal di dalam kamarnya, tidak keluar lagi.

Akan tetapi, menjelang tengah malam, ia mendengar suara bisik-bisik di luar jendela kamarnya dan cepat ia melompat turun dengan hati-hati dan mengintai keluar.

Ia melihat ada bayangan tiga orang berada di luar kamarnya dan mendengar percakapan mereka sambil berbisik.

"Jangan, Sute, jangan berlaku sembrono. Kalau diketahui oleh orang lain, nama kita akan rusak!"

"Aku tidak takut,"

Jawab suara lain.

"apa peduli orang lain dengan urusan kita? Bunga seindah itu sayang sekali kalau tidak dipetik!"

"Hush, jangan begitu, Sute. Kita sedang menghadapi urusan besar besok pagi, kalau sampai diketahui orang, apakah kita tidak malu terhadap anak-anak murid Go-bi? Jangan kita merendahkan nama sendiri. Soal bunga itu, mudah saja kita petik kalau sudah selesai urusan besok pagi, atau kita boleh mencegatnya di luar kota kalau ia pergi. Akan tetapi jangan sekarang, apalagi jangan di tempat ini!"

Bayangan itu pergi lagi dan Sui Lan merasa gemas dan mendongkol sekali.

Ia maklum bahwa tiga bayangan itu adalah orang-orang yang siang tadi dilihatnya ketika ia memasuki hotel itu dan dari percakapan mereka, ia maklum pula bahwa mereka adalah bangsa jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang suka mengganggu anak bini orang.

Hal ini pernah ia dengar dari gurunya dan menurut pesan gurunya, apabila ia dan enci-encinya bertemu dengan penjahat macam ini, boleh terus dibunuh jangan diberi ampun lagi!

Memang dapat dimaklumi perasaan dan kebencian hati wanita menghadapi perusak-perusak wanita ini.

Sui Lan berjanji di dalam hati sendiri untuk menyelidiki keadaan tiga orang itu dan kalau betul-betul mereka adalah penjahat-penjahat pemetik bunga seperti yang ia duga, ia akan membasmi mereka.

Juga ia tertarik mendengar percakapan mereka yang menyebut-nyebut nama Go-bi-pai.

Terang bahwa mereka bukan anak murid Go-pi-pai, dan entah apa hubungan mereka dengan Go-bi-pai.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sui Lan telah bangun dan bersiap sedia melakukan pengintaian.

Ia tahu bahwa tiga orang yang hendak diselidikinya itu juga bermalam di situ, maka ketika ia melihat mereka keluar dari hotel, ia lalu cepat menyusul dan mengikuti mereka dari belakang.

Mereka menuju ke tengah kita, pusat keramaian kota itu dan dari jauh Sui Lan telah mendengar suara gembreng dan tambur.

Tiga orang yang diikutinya itu langsung menuju ke tempat yang ramai itu dan ternyata di tengah-tengah lapangan yang penuh orang, terdapat sebuah panggung lui-tai (panggung tempat bermain silat) yang tingginya hampir dua tombak.

Dia tas panggung yang lebar itu, terdapat dua orang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, dan mereka inilah yang memukul tambur dan gembreng.

Sikap kedua orang ini menyatakan jelas bahwa mereka adalah orang-orang kuat yang mengerti ilmu silat dan mereka selalu memandang ke sana kemari seakan-akan menanti datangnya orang-orang lain.

Tiga orang dari hotel yang diikuti Sui Lan itu menghampiri lui-tai dan gerakan tangan mereka melompat ke atas panggung, disambut oleh dua orang itu yang melepaskan tetabuhan mereka dan segera mereka bercakap-cakap.

Setelah itu, seorang di antara tiga orang yang diikuti oleh Sui Lan tadi, berdiri menghadapi penonton yang telah banyak berkumpul, mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata dengan suara lantang.

"Cuwi sekalian yang terhormat! Kami dan Go-bi-pai, hari ini sengaja membuka panggung lui-tai ini untuk mendemonstrasikan ilmu silat dari kedua cabang kami dengan harapan agar khalayak ramai dapat menikmati keindahan ilmu silat cabang Bu-tong-pai dan Go-bi-pai. Telah lama kami mendengar bahwa di kota ini terdapat banyak orang pandai dari berbagai cabang, di antaranya dari cabang Siauw-lim, cabang yang telah memberontak dan telah ditumpas oleh kerajaan itu. Dari para ahli silat lain cabang, kami mengharapkan petunjuk-petunjuk apabila terdapat kekurangan dalam pertunjukan kami, sedangkan apabila di sini masih terdapat sisa anak murid Siauw-lim-pai, kami menantang mereka untuk naik ke panggung dan mengadu kepandaian!"

Setelah anak murid Bu-tong-pai ini mengangkat bicara maka tambur dan gembreng dipukul lagi sedangkan para penonton makin banyak datang menonton.

Sui Lan merasa mendongkol sekali mendengar ucapan itu dan ia memperhatikan dengan mata tajam.

Orang yang bicara tadi usianya kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan matanya mengandung sifat kejam.

Orang kedua yang tadi diikutinya, adalah seorang yang berusia kira-kira tiga puluh tahun, Berwajah tampan dan pakaiannya mewah, tanda bahwa ia seorang pesolek.

Orang ketiga juga berusia kira-kira tiga puluh tahun dan bermuka hitam.

Tiga orang ini kini mudah diduga bahwa mereka adalah anak murid Bu-tong-pai dan melihat cara mereka melompat ke atas panggung tadi, dapat diduga bahwa kepandaian mereka cukup lihai.

Dua orang anak murid Go-bi-pai itu pun nampak gagah.

Yang seorang bermuka kuning dan biarpun tubuhnya tinggi besar, akan tetapi kelihatan kurus dan gerak geriknya lambat, tanda bahwa dia adalah seorang ahli lwee-keh yang memiliki tenaga lwee-kang tingkat tinggi.

Orang kedua mempunyai gerak gerik gesit dan matanya lebar dan bundar menakutkan.

Anak murid Go-bi-pai yang bermata bundar ini lalu maju ke tengah panggung dan menjura keempat penjuru kepada penonton sambil berkata dengan suaranya yang besar dan parau.

"Siauw-te Boan Swe memperlihatkan sedikit kebodohan!"

Setelah berkata demikian, ia lalu mencabut goloknya dan mulai bersilat.

Ilmu goloknya dari cabang Go-bi-pai cukup indah dan cepat sehingga goloknya berkelebatan menyilaukan mata penonton.

Semua orang menyambut permainan ini dengan tepuk tangan menyatakan kekaguman mereka, akan tetapi diam-diam Sui Lan mentertawakan karena permainan itu hanyalah di luarnya saja nampak indah dan menakutkan, akan tetapi sebenarnya kurang isi.

Setelah Boan Swe selesai bersilat, murid Bu-tong-pai yang tertua maju ke tengah panggung dan berkata kepada para penonton.

"Cuwi sekalian. Tadi seorang saudara dari Go-bi-pai telah mempertunjukkan ilmu goloknya. Apabila di antara saudara sekalian ada yang sudi naik ke panggung untuk bermain-main dengan dia, maka kami akan berterima kasih sekali. Terutama kami tujukan kepada anak murid Siauw-lim-pai, kalau kebetulan ada yang berada di antara para saudara penonton, harap naik dan boleh mencoba-coba kepandaian!"

Di dekat tempat Sui Lan berdiri, terdapat empat orang pemuda yang berpakaian seperti pelajar.

Mereka ini bicara bisik-bisik satu kepada yang lain dan Sui Lan yang berpendengaran tajam dapat menangkap sedikit kata-kata mereka ketika seorang di antaranya berkata.

"Lo-heng, tak perlu kita melayani segala macam orang kasar seperti mereka."

"Akan tetapi hatiku amat panas, mendengar Siauw-lim-pai dipandang rendah seperti itu!!"

Kata seorang lain.

"Biarlah aku mencobanya juga."

Setelah berkata demikian, orang yang bicara ini lalu melompat ke atas panggung.

"AH, Twa-suheng terlalu gegabah,"

Kata seorang lain.

Ketika pemuda yang berpakaian putih itu melompat ke atas panggung, semua penonton bersorak karena mereka merasa gembira dan mengharapkan menonton pertandingan yang hebat.

Pemuda itu menjura kepada murid Bu-tong-pai tadi dan berkata.

"Siuw-te seorang she Bun ingin menerima pelajara,"

"Bagus!"

Seru orang Bu-tong-pai itu.

"Aku bernama Gan Kong, tidak tahu saudara dari cabang persilatan manakah?"

"Siauw-te tidak termasuk anggota cabang persilatan yang manapun juga, akan tetapi siauw-te pernah mempelajari sedikit ilmu silat Siauw-lim."

Bersinarlah mata Gan Kong mendengar ini.

"Hm, jadi kau adalah anak murid Siauw-lim-pai?"

Juga kawan-kawannya yang empat orang itu memandang penuh perhatian.

"Sudah kukatakan bahwa aku bukan anggota cabang persilatan manapun juga, jadi bukan anggota Siauw-lim-pai, akan tetapi aku pernah mempelajari ilmu silat Siauw-lim. Apakah hal ini juga merupakan sesuatu yang harus dipandang rendah?"

Mendengar percakapan mereka yang telah mulai "Panas"

Itu, para penonton menjadi makin gembira dan tegang. Sementara itu, Gan Kong mengangguk-angguk dan tersenyum mengejek.

"Kalau saudara bukan anggota Siauw-lim-pai, itu bagus sekali. Lagi pula saudara tidak kelihatan seperti pemberontak, maka tentu saja saudara bukan anggota cabang persilatan penjahat itu! Dengan siapakah kau hendak bermain-main? Dengan saudara Boan dari Go-bi-pai tadi ataukah dengan aku atau sute-suteku dari cabang Bu-tong-pai?"

Sikap dan bicara orang she Gan ini amat memandang rendah dan berkali-kali ia menyatakan kebenciannya kepada Siauw-lim-pai, maka Sui Lan yang mendengar ini hampir saja tak dapat menahan kesabarannya lagi.

Pemuda baju putih she Bun itu tersenyum dan menahan kemarahannya.

"Dengan siapa saja pun boleh!"

"Kalau begitu, biarlah aku yang melayanimu. Mari, mari, ingin kulihat sampai di mana kau mempelajari ilmu silat busuk dari cabang persilatan Siauw-lim-pai yang jahat itu!"

Kata Gan Kong dengan sombongnya sambil membuka jubah luarnya dan tersenyum simpul.

Melihat sikapnya ini, hampir sebagian besar para penonton segera menaruh simpati kepada pemuda baju putih itu dan diam-diam mengharapkan agar supaya pemuda itu akan berhasil mengalahkan Gan Kong yang sombong itu.

Sui Lan mendengar betapa Gan Kong mengeluarkan ucapan yang amat menghina Siauw-lim-pai, tentu saja menjadi panas perutnya dan sudah gatal-gatal tangannya hendak memberi hajaran keras kepada orang itu.

Akan tetapi, oleh karena pemuda she Bun itu telah menghadapi Gan Kong, maka ia menahan sabar dan di dalam hatinya ia berjanji akan membantu pemuda she Bun yang pernah mempelajari ilmu silat Siauw-lim-pai.

Gan Kong tertawa mengejek ketika melihat pemuda itu memasang kuda-kuda sambil tertawa-tawa ia mulai menyerang dengan pukulan tangan kanan ke arah pelipis pemuda itu.

Lawannya cepat merubah kedudukan kuda-kudanya dan merendahkan tubuh sambil mengangkat tangan menangkis lalu balas menyerang dengan sodokan ke arah perut Gan Kong yang cepat menarik tangannya dan mencengkeram ke arah tangan lawan yang memukul.

Pemuda itu kaget melihat gerakan Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda) ini dan menarik tangannya lalu menyerang lagi dengan sambaran tangan kiri dari samping ke arah leher lawan.

Melihat gerakan pemuda ini, Sui Lan maklum bahwa pemuda itu telah mempelajari ilmu silat Lo-han Kun-hwat dari Siauw-lim-pai dan biarpun kepandaianya cukup baik serta kegesitannya juga lumayan, Akan tetapi sebentar saja ia dapat mengetahui bahwa pemuda ini bukanlah lawan berat bagi Gan Kong yang memiliki kepandaian lebih tinggi dan tenaga yang lebih besar.

Dugaannya memang benar, karena pada saat pemuda she Bun itu melakukan serangan dengan pukulan keras ke arah dada Gan Kong, murid Bu-tong-pai itu sambil berseru keras lalu menangkis dari samping sehingga ketika kedua lengan tangan beradu, pemuda she Bun itu terhuyung mundur dan mukanya meringis kesakitan sedangkan tangannya nampak biru!

Akan tetapi ia masih belum menerima kalah, juga tidak ada kesempatan untuk mengaku kalah, karena gan Kong sambil tertawa-tawa mengejek terus mendesak dengan pukulan-pukulan maut!

Sui Lan terkejut sekali karena kini Gan Kong akan mempergunakan ilmu Coat-meh-hoat, yakni ilmu tiam-hwat (totokan) dari Bu-tong-pai yang berbahaya.

Coat-meh-hoat adalah ilmu totok yang dilakukan tanpa mencari urat-urat tertentu dan jari-jari tangan Gan Kong yang nampak hitam itu mempunyai kekuatan yang dapat menembus dinding bata dengan sekali tusuk!

Tiga jari tangannya, yakni telunjuk jadi tengah dan jari manisnya, karena selalu dilatih, menjadi sama panjangnya dan celakalah kalau pemuda she Bun itu sampai terkena tusukan jari-jari ini yang biarpun tidak runcing, akan tetapi akan dapat menembus kulit dan dagingnya!

Apalagi Gan Kong ternyata berhati kejam dan ganas sekali, terbukti dari serangan-serangannya yang selalu ditujukan ke tempat berbahaya dari lawannya!

Ini bukanlah merupakan pibu (adu tenaga) lagi, bukan sekedar mengukur kepandaian, akan tetapi lebih tepat disebut usaha pembunuhan!

Dengan gerakan yang amat kuat, Gan Kong menusukkan jari tangan kanannya ke arah mata pemuda she Bun itu sambil berseru.

"Shaaaat!"

Dan pemuda itu terkejut sekali cepat miringkan kepala dan menghindarkan diri dari tusukan itu, akan tetapi jari-jari tangan kiri Gan Kong menyusul cepat, ditusukkan ke arah lambungnya dengan cepat dibarengi bentakan.

"Shiiii!"

Pemuda she Bun itu merasa betapa tusukan jari tangan itu mendatangkan angin sehingga ia cepat-cepat memutar tubuh dan merubah kedudukan kakinya.

Sungguhpun ia berhasil menghindarkan diri dari serangan ini, akan tetapi tubuhnya menjadi suli kedudukannya dan Gan Kong tidak mau memberi ampun lagi kepadanya, terus melancarkan tusukan-tusukan dengan kedua tangannya yang dibuka jari-jarinya.

Jari tangan yang kuat itu ditusukkan secara bertubi-tubi ke arah leher, lambung, perut, mata, pusar dan sambung menyambung sehingga pemuda she Bun itu menjadi sibuk sekali menangkis, mengelak, dan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas!

Akhirnya ketika keadaan sudah terdesak sekali, Gan Kong menyerang terus sambil tertawa masam dan mengejek.

"Ha-ha! Begini saja ilmu silat Siauw-lim yang buruk dan busuk! Ha-ha! Berkelitlah, tangkislah, larilah...!"

Dan kini setiap kali ia menusuk, ia barengi dengan ejekan-ejekan.

"Awas lehermu, awas perut! Awas mata!"

Dan ini pemuda she Bun itu hanya bisa mundur sambil melangkah berputar-putar di atas panggung dengan napas terengah-engah.

Ketika tusukan ke arah matanya ia hindari, ia kurang cepat dan jari-jari tangan kiri Gan Kong yang kuat telah menyerempet pipinya sehingga robek kulitnya dan darah memenuhi bagian mukanyaini.

Pemuda itu terhuyung-huyung, akan tetapi Gan Kong tidak mau berhenti dan terus maju menyerang dengan tusukan ke arah ulu hati yang tentu akan mendatangkan maut apabila terkena.

Pemuda she Bun itu cepat menjatuhkan dirinya untuk mengelak dari serangan maut ini, akan tetapi pada saat itu, kaki tangan Gan Kong menyambar sehingga ia terguling-guling di atas panggung.

Untung bahwa kaki itu hanya mengenai pahanya, akan tetapi Gan Kong benar-benar kejam.

Sambil tertawa-tawa ia memburu dan kakinya yang bersepatu sol besi itu diangkat tinggi untuk diinjakkan keras-keras ke arah kepala pemuda she Bun!

Para penonton menahan napas, bahkan ada yang berseru ngeri dan pemuda she Bun yang maklum bahwa apabila kepalanya kena injak ia akan menderita luka hebat lalu berusaha sedapatnya untuk menghindarkan kepalanya dari serangan ini.

Ia bergulingan dengan gerakan Naga Bermain-main Dengan Mustika.

Tubuhnya bergulingan dengan cepat, akan tetapi sambil tertawa-tawa Gan Kong mengejar dengan injakan-injakan kedua kakinya.

Benar-benar jiwa pemuda she Bun itu terancam hebat!

Pada saat itu, Sui Lan tak dapat menahan sabar lagi.

Ia melihat betapa tiga orang kawan she Bun itu memandang pucat dan tak berdaya ke atas panggung, maka ia lalu mengeluarkan thi-lian-ci dan dua kali tangannya bergerak menyambit dengan thi-lian-ci berturut-turut ke arah Gan Kong.

Gan Kong yang sedang berusaha menginjak kepala lawannya, tiba-tiba mendengar sambaran angin dekat sekali dengan telinga kanannya.

Ia terkejut dan maklum bahwa ada senjata rahasia yang menyambar, maka cepat ia miringkan kepala ke kiri.

Tak terduga sama sekali pada saat itu senjata rahasia kedua menyambar ke arah telinga kirinya dan biarpun ia berusaha mengelak, akan tetapi sudah tak keburu lagi.

Ia berteriak kesakitan dan pinggir daun telinganya sebelah kiri menjadi robek tertembus thi-lian-ci!

Darah mengucur dari daun telinganya dan ia menggunakan tangan untuk menutupi daun telinga kiri itu.

Sementara itu pemuda she Bun telah melompat berdiri lalu cepat-cepat melompat turun dari panggung.

Bukan main marahnya Gan Kong.

Mukanya menjadi merah bagaikan kepiting direbus.

Sambil memegangi telinganya ia memandang ke arah dari mana datangnya senjata rahasia tadi.

"Bangsat keji yang curang!"

Ia memaki.

"Orang yang melepas senjata gelap, naiklah untuk terima binasa!"

Tak seorangpun melihat gerakan Sui Lan yang amat cepat itu, maka semua penonton terheran-heran melihat betapa tiba-tiba telinga orang kejam itu telah menjadi robek pinggirnya.

Semua orang bersyukur melihat bahwa pemuda she Bun itu terhindar dari bahaya maut, akan tetapi sekarang mereka menjadi ketakutan ketika melihat Gan Kong menjadi demikian marah.

Sui Lan telah siap untuk melompat naik ke atas panggung, akan tetapi, tiba-tiba dari bawah panggung berkelebat bayangan putih dengan gerakan gesit sekali dan tahu-tahu di depan Gan Kong telah berdiri seorang pemuda yang tampan dan gagah, berpakaian putih bersih dan pinggangnya diikat sabuk sutera biru topinya juga berwarna biru dihias ronce-ronce benang emas.

Sui Lan tercengang dan memandang dengan mata terbelalak heran karena ia mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang menunggang kuda putih yang pernah bertemu bahkan bertempur dengan dia pada waktu ia baru saja turun dari gunung!

Entah mengapa, ia melihat pemuda ini, hatinya berdebar girang, seakan-akan merasa bertemu dengan seorang sahabat lama yang baik!

Kalau sekiranya lain orang yang naik ke panggung, tentu ia takkan memperbolehkan dan akan melompat pula dan menggantikan orang itu.

Akan tetapi, melihat pemuda itu yang melompat menghadapi Gan Kong ia bahkan merasa girang dan ingin sekali melihat sepak terjang pemuda itu, karena ia pun maklum bahwa ilmu kepandaian pemuda itu lihai sekali.

Dengan senyum lebar pemuda itu berdiri di depan Gan Kong yang memandangnya dengan mata bernyala.

"Kaukah yang melakukan serangan am-gi (senjata gelap) secara pengecut tadi?"

Bentak Gan Kong dengan tangan terkepal karena menahan marahnya. Pemuda itu tersenyum lucu dan menjawab sambil miringkan kepala dan memandang penuh ejekan.

"Bukan, bukan aku. Akan tetapi aku merasa girang bahwa telingamu yang tebal seperti telinga keledai itu diberi sedikit hajaran. Hanya sayang sekali, pelempar thi-lian-ci tadi terlalu seji (sungkan-sungkan), karena seharusnya bukan hanya telingamu yang dihajar, akan tetapi juga mulutmu karena terlalu kurang ajar dan sombong!"

Bukan main herannya hati semua penonton mendengar ucapan pemuda yang luar biasa beraninya ini, dan bukan main marahnya hati Gan Kong mendengar sindiran ini sehingga ia mengertakkan gigi menahan marah.

Bahkan Sui Lan juga merasa mendongkol sekali karena dicela oleh pemuda yang lihai itu.

Diam-diam ia merasa kagum karena pemuda itu telah tahu bahwa senjata rahasia yang melukai telinga Gan Kong adalah thi-lian-ci dan tiba-tiba Sui Lan merasa mukanya merah dan hatinya berdebar.

Kalau pemuda itu telah tahu bahwa senjata rahasia tadi thi-lian-ci, tentu pemuda itu tahu pula bahwa dialah yang melepaskan am-gi itu, karena dulu ia pernah pula menyerang pemuda itu, bahkan encinya, Hwe Lan pernah menyerangnya dengan thi-lian-ci ke arah telinganya!

"Bangsat bernyali besar!"

Teriak Gan Kong dengan marah.

"Aku tidak perlu dengan kau, yang kuminta naik adalah penyerang gelap tadi!"

Pemuda itu tersenyum pula penuh ejekan.

"Bangsat bernyali kecil!"

Ia balas memaki.

"Menurut aturan pibu, siapa yang maju lebih dulu, ia berhak ddilayani paling dulu pula! Tentang Si Penyerang dengan thi-lian-ci tadi, jangan khawatir, nanti dia juga tentu akan muncul untuk menambah dengan beberapa butir thi-lian-ci lagi pada mulut dan hidungmu sampai mukamu penuh dengan thi-lian-ci! Akan tetapi sekarang, akulah yang harus kau layani lebih dulu!"

Diam-diam Sui Lan tersenyum geli mendengar ucapan yang amat nakal dan jenaka itu, dan tanpa diketahuinya, sepasang matanya yang indah itu berseri gembira.

Gan Kong memandang tajam kepada pemuda itu dengan penuh perhatian.

Ia melihat bahwa pemuda yang cakap ini usianya paling banyak dua puluh tahun, sikapnya lemah lembut dan cara ia menegakkan kepalanya seperti seorang bangsawan.

Dari balik punggungnya nampak gagang pedang yang dironce benang merah.

"Kau siapakah? Apakah kau juga anak murid Siauw-lim-pai? Siapakah namamu?"

"Kau ingin mengetahui namaku? Baiklah, kau memang harus mengetahui namaku agar supaya kau tahu siapakah orangnya yang telah mengalahkan kesombonganmu. Aku bernama The Sin Liong, dan tentang cabang persilatanku, aku harus menyatakan bahwa aku tidak mempunyai cabang persilatan. Aku tidak mau membawa-bawa nama perguruan untuk dipakai menyombong dan menghina lain orang seperti kau dan kawan-kawanmu ini. Kalau kau memang mempunyai sedikit kepandaian, majulah dan kita boleh main-main sebentar. Sebaliknya kalau kau tidak becus apa-apa, lebih baik kau simpan kesombonganmu, pulang kembali ke tempat perguruanmu untuk belajar sedikitnya sepuluh tahun lagi!"

Orang-orang yang menonton mulai merasa gembira mendengar ucapan dan melihat sikap pemuda ini.

Dengan sikapnya yang lucu dan sama sekali tidak mempedulikan kemarahan orang yang diganda tersenyum saja itu, pemuda yang bernama The Sin Liong ingin melenyapkan suasana tegang dan menimbulkan kegembiraan dalam hati para penonton.

Pada saat itu, orang Go-bi-pai yang bermuka kuning dan kurus itu berdiri dan berkata kepada Gan-kong.

"Gan-loheng, biarlah siauw-te yang menghadapi pemuda ini. Kau telah bertempur dan lebih baik beristirahat dulu sambil merawat luka di telingamu."

Gan Kong memang hendak menyiapkan tenaganya untuk menghadapi orang yang telah melukai telinganya, dan karena darah dari daun telinganya masih membasahi leher, ia pikir lebih baik mundur dulu dan memberi giliran kepada kawannya ini.

maka ia mengangguk dan melompat mundur.

Murid Go-bi-pai ini yang bermuka kuning dan gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia ahli lwee-keh yang pandai, lalu menghadapi pemuda itu dan berkata.

"Saudara muda yang gagah, sebenarnya datang dari perguruan manakah? Aku Boan Kin dari Go-bi-pai mohon penjelasan."

Melihat sikap anak murid Go-bi-pai ni tidak sesombong Gan Kong, pemuda ini lalu berkata sambil memandang tajam.

"Saudara Boan Kin, lupakah kau akan pelajaran dari perguruanmu bahwa anak murid Go-bi-pai tidak boleh bergaul dengan orang-orang jahat? Akan tetapi kau tidak saja berkawan dengan orang-orang kasar dan jahat, bahkan sambil bersekutu dengan mereka kau hendak menyombongkan nama perguruan dan kepandaianmu, menghina orang lain secara sewenang-wenang? Kalau Pek Bi Locianpwe (Pek Bi Tojin) masih hidup, bukankah kau akan mendapat hukuman berat karena pelanggaran ini?"

Boan Kin tercengang dan wajahnya pucat.

Tentu saja sebagai murid Go-bi-pai ia mengerti tentang pelajaran itu dan mengerti pula bahwa Pek Bi Tojin ketika hidupnya amat keras terhadap anak muridnya yang melanggar larangan-larangan.

Akan tetapi, tidak sembarangan orang dapat melihat cacat diri sendiri.

Ia tidak merasa salah bergaul dengan anak murid Bu-tong-san, dan tidak merasa salah pula menghina orang-orang Siauw-lim yang pernah bermusuhan dengan cabang persilan Go-bi-pai.

"Anak muda!"

Katanya dengan suara mulai menyatakan kemarahannya.

"Jangan mencoba untuk menjadi penasehatku. Urusan peraturan dan lain-lain dari Go-bi-pai adalah urusan perkumpulan kami, kau sebagai orang luar tak berhak ikut campur! Terus terang saja, aku amat benci pada murid-murid Siauw-lim-pai dan kalau kau seorang murid Siauw-lim-pai, kita boleh mengadu jiwa di atas panggung ini. sebaliknya kalau kau bukan murid Siauw-lim-pai dan tidak mempunyai permusuhan dengan kami, lebih baik kau turun saja atau boleh saja kita mengadakan pibu untuk perkenalan!"

"Aduh galaknya!"

Kata Sin Liong sambil tersenyum.

"Memang sukar melihat bisul di punggung sendiri!"

"Apa maksudmu?"

Tanya Boan Kin.

"Melihat bisul di punggung sendiri berarti insaf akan kekeliruan diri sendiri. Baiklah, kau anggap saja aku seorang lancang yang naik ke panggung ini untuk mencoba sampai di mana kelihaian anak-anak murid Go-pi-pai dan Bu-tong-pai yang sombong. Kulihat di sini terdapat dua orang murid Go-bi-pai, mengapa kau tidak maju dengan saudaramu itu?"

Sambil berkata demikian, Sin Liong menuding ke arah anak murid Go-bi-pai yang lebih muda dan yang bermata lebar itu.

Para penonton makin terasa heran.

Apakah pemuda ini sudah gila dan tidak terlalu gegabah?

Sementara itu murid Go-bi-pai yang bermata lebar itu sebetulnya adalah adik kandung Boan Kin dan bernama Boan Swe, watak Boan Swe tidak sesabar kakaknya dan ia terkenal berangasan sekali.

Oleh karena itu, mendengar ejekan dan tantangan pemuda itu, ia melompat ke atas panggung dan sepasang matanya yang besar itu makin melebar dan bola matanya berputar-putar mengerikan.

"Bangsat pemuda yang sombong!"

Teriaknya gemas sambil menuding ke arah hidung pemuda itu.

"Apakah kau sudah bosan hidup maka berani bertingkah sesombong ini?"

"Bangsat tua!"

Tha Sin Liong balas memaki dan sengaja menyebut bangsat tua sebagai balasan, sungguhpun Boan Swe baru berusia tiga puluh tahun lebih.

"Kalau aku sudah bosan hidup, nanti aku naik ke panggung ini. Jangan banyak membuka mulutmu yang besar dan jangan pula menakut-nakuti aku dengan sepasang matamu yang seperti mata kerbau itu, kau dan saudaramu ini majulah!"

Akan tetapi, Boan Kin masih merasa ragu-ragu dan malu untuk mengeroyok seorang pemuda seperti ini, karena hal ini akan menjatuhkan namanya, maka ia bertanya.

"Anak muda, benar-benarkah kau menghendaki kami berdua maju bersama? Jangan kau main-main!"

"Saudara yang baik,"

Kata Sin Liong sambil tersenyum sabar.

"aku pernah mendengar bahwa seorang tokoh besar dari Go-bi-pai pernah menciptakan ilmu golok pasangan yang disebut Im Yang Siang-to-hwat dan yang amat kuat apabila dimainkan oleh dua orang. Kau dan kawanmu ini menggendong golok telanjang di punggung, tentu kalian adalah ahli-ahli ilmu golok tersebut. Oleh karena itu, biarlah kalian maju bersama mainkan ilmu golok itu agar aku dapat mengenal kelihaiannya!"

Kembali Boan Kin tercengang mendengar ini, tidak saja terkejut melihat ketabahan pemuda ini, akan tetapi juga heran mengapa pemuda ini tahu tentang Im Yang Siang-to-hwat.

Memang dia dan adiknya pernah mempelajari ilmu golok ini, bahkan ilmu ini pula yang mereka berdua andalkan dan yang telah membuat keduanya jarang terkalahkan.

"Baiklah, orang muda she The. Kau sendiri yang minta, bukan kami yang sengaja mendesak!"

Sambil berkata demikian, Boan Kin mencabut goloknya, diturut pula oleh Boan Swe.

Kedua kakak beradik ini lalu mengambil tempat di kanan kiri pemuda itu yang masih berdiri tenang-tenang saja.

Kemudian, Sin Liong mengangkat kedua lengannya dengan pangkal lengan menempel iga, tangan diangkat ke pundak dan telapak tangannya dikembangkan ke kanan kiri, seperti orang sedang memikul.

"Mulailah!"

Katanya.

Kedua saudara Boan itu sama sekali tak pernah menduga bahwa pemuda ini hendak melawan mereka dengan tangan kosong saja, maka mereka merasa heran berbareng marah dan mendongkol karena terang saja anak muda itu memandang enteng kepada mereka.

Sambil berseru keras Boan Swe yang berangasan lalu menyerbu dan goloknya yang lebar dan berkilau saking tajamnya itu menyambar ke arah leher Sin Liong dengan maksud memenggal leher pemuda itu dengan sekali tebas saja.

Dan hampir berbareng pada saat yang sama pula, golok di tangan Boan Kin telah menyambar pula, akan tetapi yang diserang adalah sepasang kaki pemuda itu.

"Bagus!"

Sin Liong berseru dan untuk mengelak dari dua serangan atas dan bawah ini, tubuhnya melompat ke depan dan ia hendak mengambil kedudukan berhadapan dengan kedua lawannya, akan tetapi dengan cepat pula Boan Kin telah melompat ke sebelahnya dan kembali ia berada di tengah-tengah dan kedua lawannya itu mengurung di kiri kanan.

Kalau ia menghadapi yang seorang maka orang kedua akan berada di belakangnya.

Kini Boan Kin yang melakukan serangan lebih dulu dengan menusukkan goloknya dari arah kiri sedangkan Boan Swe lalu menyusul dengan tusukan dari arah kanan.

Kembali Sin Liong mengelak dan selanjutnya pemuda ini mempergunakan gin-kangnya yang luar biasa sehingga tubuhnya seakan-akan tubuh seekor burung walet yang amat gesitnya, menyambar-nyambar di antara kedua golok yang berkelebat bagaikan dua ekor naga mengamuk.

Memang ilmu golok kedua orang itu lihai sekali gerakannya, dan selalu digerakkan dengan cepat dan dalam keadaan berlawanan.

Kalau golok pertama menyerang dari kanan, golok kedua menyerang dari kiri, kalau yang pertama menyerang dari atas, yang kedua menyerang dari bawah.

Demikianlah, maka kedua batang golok itu seakan-akan mengurung rapat-rapat dan tidak memberi jalan keluar kepada lawan yang amat gesit itu.

Para penonton menahan napas menyaksikan pertempuran hebat ini.

Mereka mmerasa kagum sekali melihat betapa dengan bertangan kosong, pemuda yang tampan itu berani menghadapi serangan dua batang golok yang demikian lihainya dan sebentar kemudian, para penonton menjadi melongo karena kini mereka tak dapat melihat pula tubuh pemuda itu yang berubah menjadi bayangan putih berkelebat ke sana kemari di antara sinar golok yang putih berkilau seperti ular-ular perak.

Gan Kong yang melihat ini, merasa terkejut sekali dan diam-diam bersukur bahwa tadi ia tidak bertempur melawan pemuda ini, karena betapa dengan tangan kosong pemuda itu dapat mempermainkan Boan Kin dan Boan Swe yang mainkan ilmu golok selihai itu, ia merasa sangsi apakah ia akan dapat kalahkan pemuda ini.

Sui Lan juga merasa kagum sekali, dan diam-diam megakui bahwa dalam hal gin-kang, pemuda itu tidak kalah dari dia!

Akan tetapi, ia maklum bahwa kalau pertempuran itu dilanjutkan oleh pemuda itu dengan tangan kosong saja, sukarlah baginya untuk memperoleh kemenangan bahkan banyak sekali bahayanya ia akan terluka oleh golok yang datang menyerang bagaikan hujan lebat itu.

The Sin Liong bukanlah seorang pemuda yang bodoh, dan ia tahu pula tentang kenyataan ini.

tadipun ia hanya ingin mengukur sampai di mana tingkat kepandaian kedua orang murid Go-bi-pai itu.

Maka setelah ia mempergunakan kegesitan dan gin-kangnya yang tinggi untuk melawan kedua lawannya sampai empat puluh jurus, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Sekarang sudah tiba saatnya kalian harus melepaskan golok itu!"

Dan berbareng dengan itu, tahu-tahu ia telah mencabut pedang yang tergantung di punggung dan bersama dengan menyambarnya sinar kebiru-biruan menyilaukan mata, terdengar bunyi "Trang!"

Dan kedua saudara Boan itu cepat melompat mundur sambil berseru kaget, karena ternyata bahwa dengan sekali babat saja golok mereka telah putus menjadi dua potong!

"Bagus, Saudara The.

Kau benar-benar lihai sekali!

Akan tetapi kekalahan kami adalah karena kau mempergunakan po-kiam (Pedang Mustika) yang baik.

Kami masih belum puas.

Mari kita bertanding lagi mengandalkan kaki dan tangan!"

Kata Boan Kin sambil melemparkan golok yang tinggal gagangnya saja itu.

Sin Liong tersenyum dan menyimpan pedangnya, sedangkan para penonton menjadi berisik karena orang-orang membicarakan pertempuran tadi dengan penuh kekaguman dan memuji-muji pemuda tampan itu.

"Tangan dan kaki adalah senjata yang kita bawa semenjak lahir, dan kegunaannya tidak kalah oleh pedang atau golok,"

Kata Sin Liong.

"Saudara Boan, kau adalah ahli lwee-kang sedangkan kawanmu ini ahli gwe-kang, apakah kalian berdua hendak mempergunakan ilmu silat dua serangkai Hok-thian Hok-te (Balikkan Langit dan Bumi) untuk mengeroyok dan menjatuhkan aku?"

Kembali Boan Kin tertegun mendengar ucapaan ini, karena ternyata bahwa pemuda itu dapat menduga tepat sekali, tanda bahwa dalam hal ilmu-ilmu silat tinggi dari Go-bi-pai, pemuda ini telah mempunyai pandangan yang luas sekali.

"Apakah kau takut?"

Tanyanya dengan senyum sindir. Sin Liong tertawa sinis dan sepasang matanya yang tajam itu berseri gembira.

"Takut? Ha-ha-ha, itulah pantangan besar bagi Suhuku Pat-jiu Sin-kai!"

Terkejutlah Boan Kin dan Boan Swe mendengar bahwa pemuda ini adalah murid Pat-jiu Sin-kai (Pengemis Sakti Bertangan Delapan) yang namanya amat terkenal di kalangan persilatan tingkat atas!

"Hm, jadi kau adalah murid dari Pat-jiu Sin-kai Kwe Sin?

Pantas, pantas!

Tak heran kau begini lihai.

Akan tetapi, Go-bi-pai tak usah kalah nama dengan suhumu itu!"

Kata Boan Kin.

"Siapa bilang Go-bi-pai kalah nama? Go-bi-pai adalah cabang persilatan yang tinggi tingkatnya, akan tetapi kaulah yang masih amat rendah tingkatmu, dan karena kau baru bertingkat lima dalam kedudukan Go-bi-pai, maka kepandaianmu yang masih rendah inilah kiranya yang membuat kau berlaku sombong dan bergaul dengan segala macam orang jahat!"

Kembali Boan Kin merasa terheran. Bagaimana pemuda ini bisa mengetahui bahwa tingkatnya adalah tingkat kelima? Akan tetapi, karena ia masih merasa penasaran sekali ia lalu membentak.

"Marilah kita coba!"

Dan ia lalu maju menyerang dengan hebat.

Pukulannya kelihatan perlahan dan tak bertenaga, akan tetapi karena ia mempergunakan lwee-kang, maka angin pukulannya mendatangkan hawa dingin pukulannya mendatangkan hawa dingin mendahului pukulan itu sendiri.

Juga Boan Swe bergerak mendahului dan memukul pemuda itu dengan pukurannya yang keras dan dilakukan dengan tenaga kasar.

Di dalam latihannya, Boan Swe dapat mempergunakan kekerasan kepalannya untuk memukul pecah sampai hancur lebur sepuluh bata merah yang ditumpuk-tumpuk, maka apa bila kepalan tangannya yang dipukulkan ke arah kepala Sin Liong itu mengenai sasaran, tentu kepala Sin Liong akan pecah pula!

Akan tetapi, kedua saudara Boan ini benar-benar tidak tahu diri dan kurang hati-hati.

Seharusnya, sebagai orang-orang sudah memiliki ilmu silat cukup tinggi, mereka tahu bahwa dari ucapannya dan juga dari gerakannya ketika bertempur melawan mereka dengan tangan kosong tadi, pemuda ini memiliki tingkat kosong tadi, pemuda ini memiliki tingkat kepandaian yang sedikitnya sebanding dengan ahli silat Go-bi-pai tingkat dua!

Ketika mereka menyerang, sambil tersenyum Sin Liong melompat ke atas dan ketika membalas dengan serangan-serangan kilat, kedua saudara Boan itu menjadi sibuk sekali!

Sin Liong telah melakukan serangan dengan gerak tipu Sam-hoan-to-goat (Tiga Lingkaran Membungkus Bulan), sebuah ilmu silat yang luar biasa sekali gerakannya dan sukar diduga perubahannya.

Mereka seakan-akan melihat lawannya telah berubah tiga orang dan berputar-putar di sekeliling tubuh mereka, membuat mereka menjadi pening dan pandangan mata mereka kabur.

Hal seperti ini selama hidup baru satu kali mereka alami, yakni ketika dulu su-couw (kakek guru) mereka, Pek Bi Tojin, pernah menguji kepandaian mereka dan kakek guru ini pun bersilat dengan cepatnya sehingga mereka menjadi pening seperti keadaan mereka sekarang!

Akan tetapi, kedua saudara Boan ini memang keras kepala dan tidak mau mengaku kalah.

Mereka memukul membabi buta dengan nekat sambil mengerahkan seluruh tenaga.

Pada suatu saat, hampir bersamaan, Boan Kin memukul dari sebelah kiri dengan gerak tipu Cio-po-thian-keng (Batu Meledak Langit Gempur), sedangkan Boan Swe dari sebelah kanan memukul pula dengan gerak tipu Pai-bun-twi-san (Atur Pintu Tolak Gunung).

Pukulan kedua orang ini sama cepat dan kerasnya dan dilakukan dalam keadaan mata berkunang dan kepala pening.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari Sin Liong yang merendahkan diri hampir berjongkok sambil menggerakkan kedua tangannya ke kanan kiri.

Pukulan kedua orang itu melesat arahnya karena disentuh oleh tangan Sin Liong dan tak dapat ditahan lagi kepalan mereka menuju ke tubuh lawan sendiri.

"Bluk! Blek!"

Dan kedua orang itu terjengkang ke belakang dalam keadaan pingsan.

Boan Kin terpukul dadanya oleh adiknya, sedangkan Boan Swe terkenal pukulan lwee-kang pada pundaknya oleh kakaknya sendiri!

"Eh, eh, bagaimanakah ini?"

Sin Liong tersenyum mengejek dan menghampiri kedua orang itu.

Dua kali tangannya bergerak ke arah dada mereka dan kedua saudara Boan itu siuman kembali, merangkak-rangkat sambil mengaduh-aduh!

"Eh, mengapa saling pukul sendiri?

Jangan begitu, ah.

Antara adik dan kakak sendiri mengapa saling pukul?

Apakah kalian sedang memperebutkan warisan??"

Bukan main malunya kedua saudara Boan itu, terutama ketika mendengar suara keta riuh rendah dari penonton yang menyambut kemenangan Sin Liong dengan kagum dan gembira.

Mereka berusaha bangkit sendiri dan Boan Kin lalu menjura kepada Sin Liong.

"Kepandaianmu sungguh lihai! Memang kami berdua harus belajar lagi sedikitnya sepuluh tahun!"

Setelah berkata demikian, ia lalu ajak adiknya melompat turun dan pergi dari situ tanpa pamit lagi kepada ketiga orang kawannya, murid-murid Bu-tong-pai itu!

Sin Liong menengok ke arah Gan Kong, murid tertua dari Bu-tong-pai itu dan berkata sambil tersenyum.

"Nah, sekarang tiba giliranmu untuk maju! Apakah kau masih menantang Si Penyambit thi-lian-ci tadi?"

Gan Kong dengan marah lalu melompat ke atas panggung.

"Tentu saja! Kecuali kalau pelempar gelap itu seorang pengecut, biarlah aku ampunkah jiwa ajingnya!"

Sin Liong tertawa terbahak-bahak.

"He, pelempar thi-lian-ci! Benarkah kau seorang pengecut? Kalau bukan, lekas kau maju!"

Sambil berkata demikian, Sin Liong melompat turun dari panggung dan berdiri menonton dibaris terdepan dari kelompok penonton yang makin banyak jumlahnya itu.

Bukan main panasnya hati Sui Lan mendengar ucapan ini.

"Tua bangka! Apakah kau kira kau saja yang berani mempermainkan tikus-tikus kelaparan?"

Sui Lan tujukan kata-katanya itu kepada Sin Liong yang disebutnya "tua bangka"

Karena dulu Sin Liong menyebutnya bocah. Akan tetapi tentu saja yang mengerti sindirannya ini hanya Sin Liong sendiri yang segera tertawa dan berkata dari bawah panggung.

"Bocah nakal!"

Hati-hatilah kau menghadapi tikus-tikus gunung itu!"

Para penonton merasa heran mendengar percakapan dua orang dari bawah panggung itu, dan ketika pada saat itu tubuh Sui Lan melayang naik ke atas panggung dan tahu-tahu mereka melihat seorang gadis cantik jelita berdiri di situ dengan gagah dan manisnya, pecahlah sorak-sorai yang gembira.

Tak mereka sangka sama sekali akan melihat gadis muda sedemikian cantiknya naik kek atas lui-tai untuk menghadapi Gan Kong yang galak dan menakutkan itu.

Inikah penyambit yang telah melukai telinga Gan Kong?

Sukar untuk dipercaya.

Nampaknya gadis ini demikian lemah lembut, demikian cantik jelita, demikian halus, dan putih kulit mukanya.

Dan sepasang matanya yang bercahaya bagaikan bintang kejora itu bergerak-gerak lincah dan berseri, mendatangkan kegembiraan hati kepada siapa saja yang melihatnya.

Sementara itu, Gan Kong dan kedua orang sutenya (adik seperguruannya), ketika melihat gadis ini, tak terasa pula membelalakkan mata selebar-lebarnya.

Inilah gadis jelita yang bermalam di hotel itu, dan yang semalam hampir mereka ganggu.

Bunga indah yang telah mereka intai dan yang akan mereka petik itu kini tahu-tahu telah berada di hadapan mereka!

Untuk sekejab ketiganya saling pandang dengan sinar mata penuh arti.

"Apakah benar kau yang menyambitku dengan am-gi (senjata rahasia) tadi?"

Tanya Gan Kong dengan hati-hati dan kurang percaya. Sui Lan tersenyum, demikian manisnya sehingga Gan Kong dan dua orang sutenya merasa seakan-akan semangat mereka terbetot oleh senyum itu.

"Kalian adalah penjahat-penjahat cabul yang bersembunyi di balik nama Bu-tong-pai yang besar dan kau biasa memetik bunga dan bahkan kau tadi juga hampir saja menjalankan perbuatan terkutuk. Memetik sedikit daun telingamu, bukankah itu hanya merupakan sedikit peringatan saja? Untuk apakah kau ribut-ribut?"

Gan Kong menjadi pucat mendengar ucapan ini karena ia merasa terkejut, demikian pula kedua sutenya.

Bagaimana nona ini bisa tahu akan kebiasaan mereka menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga)?

Tentu malam tadi gadis ini telah mengetahui perbuatan mereka ketika berada di luar jendela kamar nona itu!

Untuk menutup malunya dan mengalihkan percakapan kepada soal lain, Gan Kong lalu membentak.

"Jangan ngacobelo! Apakah kau juga seorang anak murid Siauw-lim-pai, maka kau membantu orang Siauw-lim-pai yang akan kuhajar tadi?"

Semenjak tadi, Sui Lan telah meluap kemarahannya karena mendengar Gan Kong menyebut-nyebut dan menghina nama Siauw-lim-pai, maka kini dengan mengangkat dada ia berkata.

"Bukalah matamu lebar-lebar dan dengarkan baik-baik! Nonamu adalah seorang anak murid Siauw-lim-pai asli! Tadinya nonamu masih tidak tega untuk mencelakakan kau dan dua sutemu yang sebetulnya pantas dibikin mampus ini, akan tetapi karena kau membuka mulut besar, terpaksa nonamu hendak turun tanga. Benar seperti yang dikatakan oleh tua bangka tadi, kali ini nonamu takkan turun tangan dengan murah hati, dan daun telinga kalian akan kupetik semua!"

Sebenarnya dalam ucapan ini, Sui Lan menyatakan mendongkolnya kepada Sin Liong yang disebutnya tua bangka, akan tetapi oleh karena Gan Kong tidak mengerti maksudnya, ia hanya memandang dengan tak mengerti dan marah karena mendapat kenyataan bahwa gadis ini adalah seorang anak murid Siauw-lim.

Para penonton juga merasa heran mendengar ucapan gadis itu yang bagi mereka juga tidak karuan artinya, akan tetapi mereka tetap gembira karena maklum bahwa tiap kali ini akan terjadi pertandingan yang tak kalah hebatnya dengan pertandingan yang tadi.

Sementara itu, Gan Kong yang maklum bahwa gadis ini tentu memiliki ilmu silat tinggi, dan juga karena ia merasa marah sekali melihat orang yang telah melukai telingan, cepat mencabut pedangnya dan berkata.

"Perempuan busuk dari Siauw-lim! Jangan kau banyak cakap lagi dan kalau kau betul seorang anak murid dari Siauw-lim, jangan harap akan dapat meninggalkan kata demikian, ia menggerak-gerakkan pedangnya, menyabet ke kanan-kiri sehingga pedangnya menerbitkan angin. Lagaknya ini hanya dibuat-buat untuk menentramkan hatinya yang agak ngeri setelah melihat kelihaian pemuda tampan tadi. Akan tetapi Sui Lan tetap tersenyum gembira dan memandang dengan mata mengejek dan menganggap rendah sekali. Dengan gerakan lucu ia menggerakkan kepalanya ke arah dua orang kawan Gan Kong sambil berkata.

"Apa gunanya dua ekor anjing banci dan muka hitam itu? Suruh mereka maju sekalian. Melawan kau seorang diri saja kepalang tanggung bagiku!"

Sui Lan memang sengaja hendak memperlihatkan kepandaian agar jangan sampai kalah "Muka"

Dengan pemuda yang bernama The Sin Liong tadi!

Meledaklah suara ketawa para penonton mendengar dan menyaksikan gadis itu berkata-kata.

Ternyata gadis ini lebih berani, lebih lucu, dan lebih hebat dari pemuda tampan tadi, maka ingin sekali mereka melihat apakah kepandaian dara jelita ini pun sehebat kepandaian pemuda tadi.

Muka Gan Kong menjadi merah padam sedangkan kedua orang sutenya pun marah sekali.

Orang kedua dari Bu-tong-pai itu yang berwajah tampan dan berpakaian merah serta pesolek sekali, merasa dihina karena disebut anjing banci, maka ia lalu melompat dengan pedang di tangan, demikian pula Si Muka Hitam.

Akan tetapi Gan Kang memberi tanda agar kedua sutenya itu jangan bergerak dulu.

Setidaknya ia merasa malu untuk melakukan pengeroyokan.

Coba saja pikir, masa tiga orang laki-laki gagah perkasa, anak murid Bu-tong-pai, harus mengeroyok seorang dara muda dari Siauw-lim-pai?

Kalau dunia kang-ouw mendengar akan hal ini, kemana mereka harus menaruh muka?

"Bangsat perempuan.

Kau berani menghina anak murid Bu-tong-pai?"

Teriak Gan Kong sambil menusukkan pedangnya ke arah dada Sui Lan tanpa mempedulikan kenyataan bahwa gadis itu masih belum memegang senjata.

"Jelek sekali!"

Seru Sui Lan dan secepat kilat ia memiringkan tubuh ke kiri, disusul dengan tusukan dua jari tangan ke arah mata Gan Kong dengan tangan kiri, akan tetapi ketika Gan Kong dengan kaget memiringkan kepalanya untuk menghindarkan matanya yang hendak dicongkel keluar, tiba-tiba tangan gadis itu yang sebelah kanan telah bergerak cepat menghantam jari-jari tangan Gan Kong yang menggenggam pedang.

"Plak!"

Tangan kanan Sui Lan dengan jari terbuka berhasil mengetok jari tangan Gan Kong yang memegang pedang dan trang...!"

Pedang itu terlepas dari pegangannya, terjatuh di atas lantai panggung!

Gerakan lihai yang baru saja dilakukan oleh Sui Lan dengan berhasil baik sekali ini adalah satu gerak tipu dari ilmu silat Bi-cong-kun (Ilmu Silat Kepalan Menyesatkan) yang penuh gaya-gaya palsu dan tipu-tipu yang benar-benar membingungkan dan menyesatkan dugaan lawan.

Sambil tertawa ha-ha hi-hi Sui Lan mengejek lawannya.

"Nah, apa kataku tadi! Jangan kau maju sendiri, ajaklah kedua sutemu itu maju bersama. Kau bandel sih!"

Mendengar ucapan dan melihat lagaknya yang seperti seorang ibu menegur dan memarahi anaknya itu, para penonton gelak tertawa dengan hati puas, mentertawakan Gan Kong yang memandang dengan penuh keheranan.

Dia sungguh tidak mengerti bagaimana dalam segebrakan saja gadis ini berhasil membuat pedangnya terlepas dari pegangan!

Sebagai seorang ahli silat yang mahir, tentu saja ia pun tahu bahwa gerakan tadi adalah jurus dari ilmu silat Bi-ciong-kun, akan tetapi jari tangan gadis itu menghantam tangannya, gerakan ini tidak termasuk gerakan Bi-ciong-kun lagi dan hampir mirip dengan ilmu silat Eng-jiauw-kang dari Bu-tong-pai sendiri!

Ia tidak tahu bahwa pukulan ke arah tangannya yang dilakukan oleh Sui Lan tadi adalah sebuah jurus dari Kiauw-ta Sin-na yakni gabungan kim-na dari Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai yang terdiri dari seratus dua puluh jurus dan yang telah dipelajari secara sempurna oleh gadis itu!

Dengan muka merah karena marah dan malu, Gan Kong mengambil pedangnya.

Kini tanpa malu-malu lagi ia memberi tanda kepada kedua orang sutenya yang segera melompat maju untuk mengeroyok.

Sui Lan tersenyum dan berkata.

"Nah, begitu baru betul!"

Kemudian ia melihat ke arah penonton dan berkata jenaka.

"Saudara penonton sekalian! Kalau tadi sudah dipertunjukkan kisah Bu-siong-bhak-houw, sekarang dipertontonkan kisah Bhok-lan-ta-sam-go!"

Para penonton tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ini.

Kisang Bu-siong-bhak-houw (Pendekar Bu Siong pukul Harimau) adalah sebuah cerita klasik dan amat terkenal di antara rakyat jelata, dan dengan ucapannya itu, Sui Lan hendak mengumpamakan Sin Liong sebagai pendekar Bu Siong dan kedua murid Go-bi-pai itu sebagai harimau-harimaunya.

Adapun Bhok-lan-ta-sam-go berarti Bhok Lan Memukul Tiga Ekor Buaya.

Hoa Bhok Lan juga terkenal sebagai seorang pahlawan wanita yang gagah perkasa dan dipuji-puji namanya, akan tetapi sebetulnya dalam cerita pahlawan wanita itu, tak pernah terjadi Hoa Bhok Lan memukul tiga ekor buaya.

Ini adalah ucapan yang merupakan ejekan belaka untuk membikin panas perut ketiga orang murid Bu-tong-san itu.

Benar saja, Gan Kong dan dua orang sutenya menjadi marah sekali dan sambil berseru keras mereka lalu menggerakkan pedang dan menyerang dengan hebat.

Sui Lan berseru nyaring dan tubuhnya lalu mencelat ke atas, berpoksai (membuat salto) sampai empat kali di udara dan turun di tempat yang agak jauh, berdiri tersenyum-senyum menanti datangnya serangan baru!

Para penonton memuji dan bersorak melihat gerakan yang hebat itu.

Juga Gan Kong merasa terkejut karena ia tahu bahwa gadis itu telah melakukan gerakan Sin-liong-seng-tian (Naga Sakti Naik ke Langit), dengan amat indahnya.

Maka ia tidak berani memandang rendah, lalu bersama sute-sutenya Gan Kong mendesak sambil mainkan ilmu pedang dari Bu-tong-pai yang cukup kuat dan dahsyat.

Sui Lan adalah murid terkasih dari Toat-beng Sian-kouw, seorang ahli silat yang telah banyak mempelajari ilmu silat Bu-tong-pai, maka sekali melihat saja Sui Lan maklum bahwa ketiga orang lawannya itu mainkan ilmu pedang Liang Gi Kiam-hwat dari Bu-tong, semacam ilmu pedang yang telah dikenalnya dengan baik, maka dengan mudah ia lalu mempergunakan ilmu gin-kangnya yang lihai, mengelak ke sana kemari dengan gerakan Jiauw-pouw-poan-san (Tindakan Berputar-putar), berloncat-loncatan sesuai dengan Toa-su-siang-hong-wi (Kedudukan Empat Penjuru Angin) sehingga tubuhnya lenyap dari pandangan mata!

Sorak sorai para penonton making menggegap gempira karena pertunjukan ini benar-benar amat menarik, jauh sekali ramai dari tadi ketika Sin Liong mempermainkan kedua orang lawannya.

The Sin Liong yang menonton di bawah panggung, diam-diam menarik napas kagum, dan hatinya yang memang telah tertarik oleh "bocah nakal"

Yang mengganggunya di dalam hutan dulu, kini makin tertarik lagi.

Kalau tadi Sin Liong mempermainkan kedua saudara Boan dari Go-bi-pai dengan mengelak ke sana kemari dengan gesitnya, kini Sui Lan berlaku lebih hebat lagi.

Tidak saja gadis ini mempergunakan kelincahannya untuk mengelak akan tetapi ia juga membalas dengan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang sengaja ditujukan ke arah belakang kepala dan belakang tubuh lawan.

Maka berkali-kali terdengarlah suara "Plak!

Plak!"

Ketika belakang kepala Gan Kong dan sute-sutenya ditempeleng oleh telapak tangan Sui Lan, dan suaran "bak! buk!"

Ketika belakang tubuh mereka kena ditendang!

Gadis yang mempunyai watak nakal dan suka menggoda orang itu sengaja tidak memukul atau menendang keras untuk menimbulkan luka parah, akan tetapi cukup mendatangkan rasa sakit pada tubuh dan hati!

Para penonton benar-benar mendapat hiburan yang menggembirakan dan tiada hentinya terdengar suara mereka tertawa dan bersorak, seakan-akan mereka sedang menonton pertunjukan anak-anak wayang sedang melawak.

Tiba-tiba para penonton di bagian kiri panggung menjadi panik dan ketakutan ketika serombongan perwira Kwi-i-wi mendesak dan mendekati panggung.

"Mana adanya pemberontak Siauw-lim yang membuat kekacauan?"

Seru mereka dan ketika melihat ke atas panggung dan mendapat kenyataan bahwa yang disebut "Pemberontak Siauw-lim-pai"

Yang sedang mengacau sebagaimana laporan yang mereka terima dari kedua saudara Boan tadi, Ternyata adalah seorang gadis cantik jelita yang dengan lincah dan jenaka sedang mempermainkan Gan Kong dan kedua orang sutenya!

Tak terasa lagi, sembilan orang Kim-i-wi itu berdiri bengong dan bahkan ikut menonton!

Sementara itu, Sui Lan yang sudah mulai merasa bosan dengan main-main ini, lalu bergerak cepat dan kini ia menyerang dengan Hun-kin-coh-kut-jiu-hwat (Ilmu Pukulan Putuskan Otot Lepaskan Tulang).

Dengan gerakan-gerakan yang cepat sekali ia mendesak dan terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan, disusul dengan robohnya ketiga orang pengeroyok itu seorang demi seorang dengan tulang lutut terlepas atau otot-otot terkelecoh karena pukulan-pukulan Sui Lan!

Pada saat itu barulah para perwira Kim-i-wi itu sadar dan dengan cepat mereka lalu berlompatan ke atas panggung sambil berteriak.

"Tangkap pemberontak Siauw-lim!"

Melihat kedatangan orang-orang ini, Sui Lan terkejut dan mencabut pedangnya.

Dan terjadilah pertandingan hebat di atas panggung di antara Sui Lan dengan para Kim-i-wi yang banyak jumlahnya itu.

Tiba-tiba dari bawah panggung melompatlah bayangan putih dan ternyata bahwa yang melompat itu adalah The Sin Liong yang membantu Sui Lan sambil mainkan pedangnya dan berseru.

"Bocah nakal, jangan takut, aku membantumu!"

"Kakek tua renta!!"

Sui Lan membalas.

"Siapa takut dan siapa pula membutuhkan bantuanmu?"

Akan (Lanjut ke

Jilid 07) Tiga Dara Pendekar Siauw-Lim (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 tetapi Sin Liong tidak peduli, hanya tertawa dan tetap membantu.

Adapun para Kim-i-wi ini rata-rata memiliki kepandaian yang lumayan juga sehingga pertempuran berjalan seru dan hebat.

Para penonton berlari pergi dari situ dengan ketakutan sehingga tempat itu menjadi sunyi sekali.

Baru saja Sui Lan dan Sin Liong berhasil merobohkan dua orang pengeroyok, tiba-tiba dari jauh datang serombongan perwira lagi yang dikepalai oleh seorang perwira tinggi besar gagah.

Sin Liong yang melihat perwira ini datang berkuda dari jauh, cepat berkata kepada Sui Lan.

"Nona, mari kita pergi! Makin banyak yang datang!"

Mendengar sebutan pemuda itu, Sui Lan maklum bahwa Sin Liong tidak main-main, maka ia pun lalu melompat keluar dari panggung, akan tetapi ia teringat akan sesuatu dan melompat naaik lagi!

Sebelum para pengeroyok tahu akan maksudnya, secepat kilat Sui Lan menyerbu kepada tiga orang murid Bu-tong-pai yang masih duduk mengaduh-aduh dan tiga kali pedangnya berkelebat, terdengar teriakan tiga kali dan daun-daun telingan sebelah kanan dari Gan Kong dan dua orang sutenya telah terbabat putus!

Sui Lan tertawa nyaring dan berkata.

"Biarlah hukuman ini membuat kalian tidak berani lagi melakukan pekerjaan memetik bunga!"

Kemudian, sebelum para pengeroyoknya mendesak lagi, ia lalu mempergunakan ilmu lompat jauh yang disebut Liok-te-hui-teng-kang-hu dan tubuhnya melayang dari atas panggung itu, menyusul bayangan Sin Liong yang sudah lari jauh!

Karena gin-kang dari Sui Lan telah tinggi, maka sebentar saja ia dapat meninggalkan para pengejarnya.

Akan tetapi ia merasa mendongkol sekali melihat betapa Sin Liong berlari terus sipat kuping bagaikan dikejar setan!

Pemuda itu berlari cepat sekali tanpa menoleh dan betapa pun cepat Sui Lan mengejar, tetap saja jarang antara dia dan pemuda itu tidak berubah.

Setelah tiba di sebuah padang rumput di lereng sebuah bukit kecil, Sui Lan lalu berteriak keras.

"Haaaii...!! Tua bangka penakut... Tunggu dulu...!!"

Teriakannya ini keras sekali dan pemuda di depannya itu lalu berhenti.

Ketika Sui Lan tiba pula di tempat itu dengan mulut cemberut, dan hendak marah karena pemuda itu demikian sombong dan hendak mengajaknya mengadu kepandaian, tiba-tiba rasa marahnya lenyap karena ia melihat betapa pemuda itu nampak pucat dan ketakutan!

"Eh, eh, kau kenapakah?"

Tanya Siu Lan dengan heran. Pemuda itu menarik napas panjang beberapa kali untuk menenteramkan hatinya, barulah ia berkata sambil mencoba tersenyum.

"Kau telah membikin aku bermusuhan dan bertempur dengan barisan Kim-i-wi. Kalau mereka tahu bahwa aku adalah keponakan seorang perwira, tentu celakalah aku!"

Sui Lan cemberut.

"Siapa suruh kau membantu? Aku tidak membutuhkan bantuanmu, bahkan kau lancang sekali berani membantuku tadi!"

Pemuda itu memandang dengan lucu dan senyumnya melebar.

"Teruskan marahmu. Aku senang sekali melihat kau marah-marah!"

Kini Sui Lan memandangnya dengan heran dan melihat sepasang mata yang tajam itu berseri seakan-akan mentertawakan, ia makin marah.

"Mengapa kau senang melihat aku marah? Apakah kau anggap aku orang gila?"

Sin Liong menggeleng kepala dan senyumnya makin melebar tanda hatinya gembira sekali.

"Nah, nah, makin besar marahmu, makin kau tajamkan dan cemberut, makin manislah kau!"

"Tua bangka ceriwis!"

Bentak Sui Lan dan tangannya melayang untuk menampar pipi Sin Liong.

Sin Liong tidak mengelak atau menangkis, bahkan ia mengangkat mukanya untuk menerima tamparan itu.

Setelah tangan Sui Lan dekat dengan pipi pemuda itu, Sui Lan cepat menarik kemabli tangannya karena sebetulnya ia pun tidak ingin menampar sungguh-sungguh.

Tidak tega dia melihat wajah tampan yang mandah saja menerima tamparan itu!

Sin Liong tersenyum.

"Nah, nah, kau tidak jadi menampar! Memang sudah kuduga hal ini maka aku tidak mengelak.

"Bagaimana kau bisa menduga lebih dulu? Kalau aku melanjutkan tanganku bukankah pipimu akan menjadi bengkak-bengkak dan gigimu akan copot?"

Sin Liong menggelengkan kepalanya.

"Tak mungkin. Aku sudah menduga bahwa dara secantik kau ini tak mungkin berhati kejam. Orang seperti kau harus memiliki hati yang mulia."

Biarpun mulutnya masih cemberut, akan tetapi di dalam hatinya, Sui Lan merasa senang sekali.

Pemuda yang tampan dan menarik hatinya ini biarpun mengeluarkan ucapan-ucapan yang sifatnya jenaka dan nakal menggoda, akan tetapi mengandung pujian-pujian terhadap dirinya yang benar-benar menggembirakan hatinya.

"Nona, sebenarnya siapakah kau dan di mana rumahmu?"

"Aku adalah orang dan rumaku tidak kubawa,"

Jawab Sui Lan jenaka.

"Tentu saja! Memangnya kau kura-kura yang membawa rumahnya ke mana-mana?"

Kata Sin Liong tertawa.

"Jangan main-main, Nona. Kita telah bertemu dan bercakap-cakap seperti sahabat lama. Sudah sepantasnya kalau kita saling mengenal nama dan mengetahui riwayat masing-masing. Sekali lagi kuulangi dengan hormat. Di manakah tempat tinggalmu, siapa namamu, dan darimana hendak ke mana?"

"Kuterima pertanyaanmu dan kukembalikan kepadamu."

"Apa artinya kata-katamu itu?"

"Kau harus menceritakan keadaan dirimu sebelum tiba giliranku."

Sin Liong tersenyum.

"Kau benar-benar nakal dan juga cerdik. Ditanya belum menjawab sudah berbalik menanyakan keadaan Si Penanya! Baiklah, memang pria selalu harus mengalah terhadap wanita. Dengarkan aku bercerita."

Pemuda itu lalu duduk di atas sebuah batu dan Sui Lan yang juga merasa lelah karena pertempuran dan berlari-lari tadi, lalu duduk menghadapinya, di atas rumput.

"Namaku The Sin Liong dan aku seorang yatim piatu, tak berayah tak beribu."

Baru saja menutur sampai di sini, entah mengapa, hati Sui Lan merasa amat terharu dan tak terasa lagi sinar matanya yang ditujukan kepada pemuda itu berubah mesra.

Mungkin karena ia teringat akan keadaannya sendiri yang telah yatim piatu pula.

"Orang tuaku meninggal dunia ketika aku masih kecil,"

Pemuda itu melanjutkan penuturannya.

"Baiknya aku mempunyai seorang paman yang baik hati dan yang membiayaiku bersekolah, kemudian setelah aku berusia sepuluh tahun aku lalu diajak tinggal di gedungnya dan dianggap sebagai puteranya sendiri. Aku benar-benar berhutang budi kepada pamanku itu. Kemudian aku bertemu dengan suhuku, yakni Pat-jiu Sin-kai Kwee Sin, dan menjadi muridnya. Selama hampir sepuluh tahun aku dibawa merantau oleh suhu, bersama seorang suhengku yang kini telah kembali ke rumah orang tuanya di Kota Raja. Sekarang karena aku telah tamat belajar, aku hendak mencari pamanku di Kota Raja, sekalian mencari suhengku yang bernama Souw Cong Hwi."

Sin Liong memandang kepada gadis itu dengan mata berseri.

"Dan tidak kusangksa sama sekali, sebelum sampai di Kota Raja, aku bertemu dengan kau di dalam hutan itu. Semenjak pertemuanku itu aku selalu terkenang dan ingin bertemu lagi, siapa kira harapanku itu terkabul dan hari ini kita bisa bercakap-cakap di tempat ini. sungguh Thian bersifat murah dan bukan main bahagianya hatiku dengan pertemuan ini."

Mendengar pernyataan yang jujur dan ucapan yang menyindirkan perasaan hati pemuda itu terhadapnya, Sui Lan hanya menundukkan mukanya yang menjadi merah karena jengah.

Ia diam saja sehingga setelah Sin Liong berhenti bercerita.

Keadaan menjadi sunyi.

"Eh, mengapa kau diam saja? Sekarang tiba giliranmu untuk bercerita tentang dirimu,"

Kata Sin Liong.

"Aku she Yap..."

Sui Lan memulai ceritanya.

"Ya, kau she Yap, dan namamu?"

"Namaku Sui Lan."

"Nama yang indah!"

Sui Lan mengangkat muka dan memandang dan dua pasang mata bertemu.

"Kalau kau tidak menutup mulutmu, aku takkan melanjutkan ceritaku!"

Katanya cemberut. Sin Liong mengangkat alisnya dan tersenyum.

"Baiklah aku akan menutup mulutku dan membuka telingaku selebar-lebarnya."

"Namaku Yap Sui Lan,"

Gadis itu mengulang dan menahan geli hatinya ketika melihat betapa Sin Liong merapatkan bibirnya dan hanya mengangguk-angguk kepala sebagai sambutan.

"dan aku yatim piatu pula."

Kemudian ia teringat bahwa pemuda itu telah melihat pula kedua enicnya, maka ia menyambung.

"Dan aku hidup bertiga dengan dua orang enciku yang sekarang entah berada di mana."

Sin Liong menggerakkan bibirnya yang hendak berkata.

"Enci-encimu lihai sekali!"

Akan tetapi ia menahan ucapannya mengatupkan bibirnya lagi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Sui Lan.

"Kami bertiga juga telah taman belajar silat dan turun gunung untuk...untuk...ah, hanya sekianlah ceritaku tentang keadaanku!"

Sin Liong memandang tak puas.

"Sama sekali belum lengkap. Siapa gurumu dan kemana hendak kau pergi? Mengapa kau berpisah dari enci-encimu dan apakah benar kau anak murid Siauw-lim-pai?"

"Eh, eh, kau ini seperti hakim memeriksa pesakitan saja lagakmu!"

Tegur Sui Lan.

"Kau tidak adil! Yang kauceritakan hanya singkat sekali dan sama sekali tidak merupakan penuturan riwayatmu. Aku...aku ingin sekali mengetahui sejelas-jelasnya, ingin mengetahui semua hal tentang kau!"

Sin Liong bicara dengan bernafsu sekali sehingga kembali wajah Sui Lan memerah.

"Ceritaku sudah cukup...untuk sekarang! Kita baru saja berkenalan."

"Hm...kau tidak percaya kepadaku."

"Guruku pernah berpesan agar supaya aku tidak menaruh kepercayaan kepada orang yang baru saja dikenal, terutama kalau orang itu laki-laki!"

"Ah, gurumu tentu seorang wanita!"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hanya wanitalah yang bisa menaruh hati curiga seberat itu terhadap pria. Akan tetapi biarlah, karena kita memang baru berkenalan. Mengetahui namamu saja sudah cukup menggembirakan hati. Sui Lan... eh, tentu aku boleh menyebut namamu, bukan?"

"Tentu saja boleh, memang nama diadakan untuk disebut orang."

"Bagus! Nah, Sui Lan, andaikata kau pun menuju ke jurusan yang sama, beranikah kau melakukan perjalanan bersama aku?"

"Mengapa tidak berani? Apa yang kutakutkan?"

"Bagus! Kalau begitu, mari kita melakukan perjalanan bersama!"

Sui Lan merasa betapa ia telah masuk perangkap.

Alangkah jenaka dan cerdiknya pemuda ini.

Akan tetapi ia tidak menyesal dan memang suka melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang selain lihai ilmu silatnya juga merupakan kawan yang jenaka dan menggembirakan ini.

"Boleh, asal kau tidak menggangguku. Akupun hendak pergi ke Kota Raja."

Girang sekali hati Sin Liong mendengar ini, kentara dari mukanya yang tersenyum-senyum dan matanya yang berseri-seri.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan berdua dan hubungan mereka makin baik saja.

Terdapat kecocokan watak antara keduanya dan perjalanan itu dilakukan dengan penuh kegembiraan.

Yang amat menarik hati Sui Lan adalah kenyataan bahwa pemuda itu, biarpun suka bergurau, akan tetapi selalu membatasi diri dan berlaku sopan santun terhadapnya, belum tentu pernah berani memperlihatkan sikap kurang ajar.

Tak heran apabila hati gadis itu makin tertarik.

Juga Sin Liong merasa hatinya telah jatuh betul-betul.

Melakukan perjalanan bersama gadis ini merupakan kebahagiaan yang luar biasa baginya.

Segala apa yang nampak di perjalanan berubah menggembirakan.

Setiap tangkai bunga tersenyum-senyum kepadanya dan daun-daun seakan-akan menari dan melambai-lambai kepadanya, Burung-burung bernyanyi gembira merayakan kebahagiaannya dan matahari bagaikan mencurahkan cahaya emas yang indah.

Pendeknya dunia ini seakan-akan berubah menjadi surga sebagaimana yang diceritakan dalam dongeng.

Setelah melakukan perjalanan dengan Sin Liong selama kurang lebih sepuluh hari, Sui Lan tak merasa ragu-ragu lagi bahwa pemuda ini memang seorang pendekar muda yang budiman dan boleh dipercaya.

Maka, ketika pemuda itu mengulangi pertanyaannya tentang riwayat hidupnya, ia tidak mau merahasiakannya lagi.

Hal ini terjadi ketika mereka bermalam di sebuah dusun, dalam sebuah kelenteng tua.

Bulan purnama menerangi seluruh permukaan bumi dan mendatangkan suasana yang amat romantis bagi orang-orang muda.

Sui Lan dan Sin Liong duduk di pekarangan kelenteng itu, di atas bangku-bangku tua yang terbuat dari batu.

"Sui Lan,"

Pemuda itu mulai membuka percakapan.

"Sesungguhnya apakah yang kau kehendaki pergi ke Kota Raja? Apakah kau mencari seseorang di sana atau hanya untuk melancong saja?"

"Untuk menjawab pertanyaanku ini, aku harus menceritakan riwayatku, Sin Liong,"

Jawab gadis itu.

"Mengapa tidak kau ceritakan saja?"

Aku telah lama ingin sekali mendengarkannya."

"Sin Liong, pernahkah kau mendengar tentang orang yang bernama Nyo Hun Tiong dan Yap Sian Houw?"

Sambil bertanya demikian, Sui Lan memandang tajam.

Ia mengambil keputusan untuk menggunakan jawaban pemuda itu atas pertanyaan ini sebagai dasar dari keputusannya melanjutkan penuturan riwayatnya atau tidak.

Sin Long mengerutkan kening mengingat-ingat.

"Kalau tidak salah, itu adalah nama dua orang pendekar gagah perkasa dan menjadi tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang dibasmi oleh Kaisar."

Legalah hati Sui Lan mendengar jawaban ini, karena kalau saja pemuda itu menyebut mereka sebagai pemberontak-pemberontak, tentu ia tidak akan mau melanjutkan ceritanya!

"Ketahuilah, untuk membalaskan sakit hati kedua orang pendekar itulah maka aku dan kedua enciku pergi ke Kota Raja.

Semenjak kecil, kami bertiga dipelihara oleh pendekar Yap Sian Houw itu yang kami anggap sebagai ayah sendiri, dan kami adalah murid-murid dari Toat-beng-Sian-kouw."

Sin Liong mengangguk-angguk.

"Aku pernah mendengar nama pertama wanita yang lihai ini dari Suhu. Pantas saja kepandaianmu demikian hebat."

"Seperti yang pernah kau dengar, Nyo Hun Tiong terbunuh mati oleh seorang perwira kerajaan ketika ia memimpin pasukan petani untuk menumbangkan pemerintah yang dianggapnya tidak adil dan jahat, sebagai usahanya membalas sakit hati karena Siauw-lim-si dibakar!"

"Hal ini aku kurang mengerti, karena semenjak kecil aku telah belajar silat dan ikut Suhu merantau. Sebelum ikut Suhu, aku masih terlampau kecil untuk mengetahui urusan dunia, apalagi karena orang tuaku tinggal di dusun yang jauh dari Kota Raja,"

Jawab Sin Liong.

"Seperti yang telah kuceritakan tadi, Nyo Hun Tiong dibunuh oleh seorang perwira kerajaan, dan kemudian setelah kami menjadi murid-murid Toat-beng-Sian-kouw, pada suatu hari Yap Sian Houw yang kami anggap sebagai ayah sendiri itu datang dengan luka parah dan tak lama kemudian meninggal dunia. Dan tahukah kau siapa pembunuhnya? Tak lain ialah perwira yang dulu membunuh Nyo Hun Tiong! Maka, kami bertiga lalu turun gunung untuk mencari perwira itu dan membalaskan sakit hati Nyo Hun Tiong dan Yap Sian Houw dan kami tidak ragu-ragu untuk mengak bahwa kami adalah anak-anak murid Siauw-lim-pai, sungguh pun guru kami tak dapat disebut tokoh Siauw-lim-pai!"

Sin Liong mengangguk-angguk.

"Aku dapat memahami perasaanmu dan enci-encimu. Hutang budi memang berat. Kalian bertiga telah berhutang budi kepada mendiang Yap Sian Houw dan menganggap pendekar tua itu sebagai ayah sendiri. Kalau dia terbunuh oleh musuh, dan kini kau mencari musuh itu untuk membalas dendam, itu namanya berbakti. Aku tak dapat menyalahkan tindakan ini, bahkan seorang anak memang harus berbakti kepada orang tuanya, dan dalam hal ini, orang tuamu adalah pendekar she Yap it."

Bukan main girangnya hati Sui Lan mendengar pernyataan ini. tanpa disadarinya lagi ia mengulurkan tangan dan menyentuh tangan pemuda yang duduk di hadapannya itu sambil berkata.

"Ah, Sin Long! Kau memang baik sekali. Aku girang bahwa kau menyetujui usaha kami untuk membalas dendam, dan karena aku selama hidup belum pernah pergi ke Kota Raja dan sekarang telah berpisah dari enci-enciku, maka aku mengharapkan bantuanmu sebagai seorang kawan untuk mencari tahu tempat tinggal perwira musuhku itu!"

Dengan hati berdebar Sin Liong memegang tangan gadis itu dan kedua tangan itu saling berpegang erat.

"Sui Lan, demi Tuhan! Aku bersumpah di bawah sinar bulan purnama, bahwa aku akan membantu dan membelamu, biarpun untuk itu aku harus berkorban nyawa sekalipun!"

Ucapan ini dikeluarkan dengan bibir gemetar dan Sui Lan tak berani menentang pandang mata pemuda itu lebih lama lagi.

Ia menunduk akan tetapi jari-jari tangannya masih saling berpegang dan menekan jari-jari tangan Sin Liong, tanda bahwa dari dalam hati mereka mengalir keluar perasaan yang sama hangatnya melalui urat-urat saraf dan sampai pada ujung jari-jari tangan mereka yang saling menggenggam itu.

Akan tetapi Sui Lan segera menarik tangannya kembali dan bibirnya berbisik perlahan.

"Terima kasih, Sin Liong. Kau memang seorang kawan yang baik."

"Sui Lan, kalau sampai di Kota Raja, aku akan minta paman meminangmu untuk menjadi...jodohku.."

"Sst! Tahanlah perasaanmu dan simpanlah kata-katamu tadi sampai aku bertemu kembali dengan kedua enciku, karena dalam hal seperti ini, kedua enciku adalah wakil ayah ibu yang akann mengambil keputusan!"

Sin Liong dapat menguasai dirinya kembali dan sambil tersenyum girang ia duduk kembali agak jauh dari gadis itu.

"Sui Lan, bagaimanakah kau sampai dapat berpisah dari enci-encimu?"

Sui Lan lalu menuturkan tentang pertempuran-pertempuran di depan makam Nyo Hun Tiong.

Sebagaimana diketahui Siang Lan mengejar perwira she Thio dan Hwe Lan menyuruh ia menyusul untuk membantu encinya itu sehingga akhirnya ia tidak bertemu kembali dengan kedua encinya.

"Ah, hebat sekali permusuhanmu dengan orang-orang Kim-i-wi!"

Kata Sin Liong sambil menarik napas panjang dengan hati khawatir sekali.

"Hal ini amat hebat, karena ketahuilah bahwa dalam barisan Kim-i-wi terdapat orang-orang yang amat lihai dan tinggi kepandaiannya."

Kemudian pemuda itu teringat akan pertanyaan yang semenjak tadi hendak ia ajukan.

"Sui Lan, sebetulnya siapakah perwira yang telah membunuh Nyo Hun Tiong dan Yap Sian Houw itu? Apakah dia lihai kepandaiannya sehingga kedua orang pendekar itu sampai kalah olehnya?"

Mata Sui Lan memancarkan sinar berapi ketika ia menjawab.

"Entah sampai di mana tingkat kepandaian anjing itu! Yang kuketahui hanya bahwa perwira jahanam itu berpangkat Busu dan she-nya Lee!"

Tiba-tiba Sin Liong melompat berdiri setelah mendengar ucapan gadis itu.

"Apa katamu?? Dia she Lee? Siapakah namanya??"

Sui Lan terkejut sekali melihat sikap Sin Liong ini dan ia pun bangkit berdiri.

"Aku tidak tahu siapakah namanya, akan tetapi yang sudah pasti ia she Lee dan ahli ilmu panah. Bahkan Nyo Hun Tiong dan ayah angkatnya juga mati karena anak panahnya!"

Kini Sin Liong memandang pucat bagaikan gadis yang berada di depannya itu tiba-tiba berubah menjadi iblis.

"Dia she Lee, ahli panah dan..dan..tahukah kau ia bersenjata apa?"

Sui Lan makin heran memandang pemuda itu, akan tetapi ia menjawab juga.

"Menurut mendiang ayah angkatku ia bergelar Sin-to, tentu saja bersenjata golok!"

"Ya Tuhan...! Benar dia...! Dan kau...kau hendak mencari dan membunuhnya?"

Sin Liong mengangkat kedua tanganna menutup mukanya seakan-akan tidak mau melihat sesuatu yang mengerikan.

"Sin Liong, kenapakah kau?"

Sui Lan melangkah maju dan menyentuh lengan pemuda itu dengan cemas. Tiba-tiba pemuda itu menurunkan tangannya, memegang pundak gadis itu dengan kedua tangannya dan berkata keras.

"Tidak! Tidak! Kau tidak boleh mencarinya, tidak boleh membunuhnya!"

Melihat muka pemuda itu menjadi pucat sehingga di bawah sinar bulan nampak kehijau-hijauan, Sui Lan terkejut sekali. Ia angkat kedua tangannya melepaskan pegangan Sin Liong dan bertanya.

"Sin Liong, kenapakah kau? Mengapa kau berkata demikian?"

"Sui Lan, ingatkah kau akan penuturanku dulu tentang pamanku yang baik hati, yang menjadi pelindungku, menjadi penolongku, dan yang kuanggap seperti ayah sendiri? Dia itu bernama Lee Song Kang, seorang perwira berpangkat Busu di Kota Raja, berjuluk Sin-to dan pandai menggunakan anak panah!"

Kini Sui Lan yang menjadi pucat dan tak terasa lagi ia melangkah mundur sampai tiga tindak.

"Apa...?? Jadi dia itu... pamanmu itu... adalah jahanam yang menjadi musuhku?"

"Jangan memaki dia! Kau tidak boleh menghinanya, tidak boleh membunuhnya! Aku...aku akan menghadapi siapa saja yang hendak mengganggu pamanku itu!"

"Bagus!"

Dengan mata berapi-api, Sui Lan mencabut pedangnya.

"Jadi kau hendak membela seorang jahanam? Tak peduli dia itu pamanmu, atau ayahmu sendiri, aku akan mencari dan membunuhnya!"

"Tidak boleh!"

Sin Liong juga mencabut pedangnya.

"Aku akan menghalanginya!"

"Bagus! Kalau begitu kaulah yang harus mati lebih dulu!"

Seru Sui Lan sambil melompat ke depan dan menyerang dengan tusukan hebat. Sin Liong menangkis dan menahan pedang gadis itu dengan pedangnya, suaranya gemetar ketika ia berkata.

"Sui Lan...jangan kau mengangkat pedangmu padaku...Sui Lan..aku cinta kepadamu. Ah.. bagaimana sampai terjadi begini. Bagaimana nasib bisa begini kejam, mempertemukan kau orang yang kucintai sepenuh jiwaku sebagai seorang musuh. Jangan, Sui Lan, demi cinta kita, jangan kau lanjutkan permusuhan ini. Aku tak kuasa menentangmu dengan pedang!"

Sui Lan tersenyum menyindir.

"Jangan bicara sembarangan tentang cinta! Cinta itu palsu belaka! Lupakah kau kepada sumpahmu tadi bahwa kau hendak membantu dan membelaku? Cih! Ucapan seorang laki-laki yang tak berharga! Bukan laku seorang gagah untuk menjilat kembali ludah sendiri yang telah dikeluarkan!"

Setelah berkata demikian, Sui Lan menarik pedangnya dan menyerang lagi.

"Tunggu, Sui Lan~"

Sin Liong cepat mengelak.

"Tadi aku tidak tahu bahwa orang yang hendak kau bunuh itu adalah pamanku sendiri! Katakanlah bahwa kau hendak memusuhi perwira lain, jangankan baru seorang, biarpun seluruh Kim-i-wi dari kerajaan, akan kubantu dan kubela kau! Akan tetapi jangan dia, jangan perwira Lee Song Kang, jangan pamanku!"

"Pengecut! Tak usah banyak cakap. Lihat pedangku!"

Sui Lan menyerang lagi dengan sengit dan dalam pandangan matanya, kini pemuda itu telah berubah menjadi musuh besarnya yang harus dibunuh!

Terpaksa Sin Liong menangkis dan dengan hati sedih pemuda itu melayani Sui Lan bertanding pedang.

Mereka sama lincah, sama cepat dan ilmu pedang mereka sama kuatnya sehingga pertempuran itu benar-benar hebat dan sengit sekali.

Pedang mereka berkelebat menyambar-nyambar, tubuh mereka lenyap dan selimutan sinar pedang, dan dibawah sinar bulan purnama, mereka kelihatan bagaikan dua ekor ular bersayap yang beterbangan dan bermain-main di alam mega-mega putih!

Lima puluh jurus telah lewat, enam puluh, tujuh puluh, seratus jurus!

Dan mereka masih saja bertanding mati-matian, tidak ada yang mau mengalah!

Sebetulnya pedang yang digunakan oleh Sin Liong adalah sebatang pedang pusaka dan kalau ia mau dan sengaja hendak mengadu kekuatan senjata, dengan mudah ia akan dapat membikin patah pedang Siu Lan.

Akan tetapi Sin Liong tidak mau melakukan hal ini dan ia hanya mengimbangi serangan gadis itu dengan ilmu pedangnya pula.

Tipu dibalas tipu, tenaga dilawan tenaga dan mereka telah mengerahkan seluruh kepandaian mereka, akan tetapi benar-benar mereka sama kuat.

Sui Lan merasa kecewa, menyesal, sedih dan juga marah sekali sehingga hilanglah kesabarannya.

Ia berseru keras dan tiba-tiba ia menyerang dengan gerakan yang nekat.

Dengan gerak tipu Sian-jin-tit-lou (Dewa Menunjuk Jalan) ia menusuk ke arah dada lawannya yang dilakukan dengan tenaga penuh dan cepat sekali.

Sin Liong merasa terkejut melihat serangan ini dan dengan membuang diri ke samping barulah ia terhindar dari tusukan ini dan secepat kilat ia menyabetkan pedangnya dari atas.

Terdengar bunyi "Traaaang!"

Yang nyaring sekali dan pedang Sui Lan terlepas dari pegangan dan menancap ke atas tanah!

Bukan main malu dan gemasnya hati Sui Lan.

Ia pandang muka pemuda itu dengan penuh kebencian, sepasang matanya mulai meneteskan air mata.

Sedangkan Sin Liong yang melihat ini, tiba-tiba hatinya menjadi lemah.

"Sui Lan...maafkan aku...Sui Lan! Akan tetapi, Sui Lan tiba-tiba mencabut pedangnya kembali dan mengirim bacokan ke arah lehernya! Pada saat itu Sin Liong sedang merasa terharu sekali dan sedih maka kewaspadaannya berkurang dan tubuhnya juga terasa lemah, maka ia tidak keburu menangkis atau mengelak. Agaknya lehernya akan putus karena sabetan itu. Akan tetapi melihat wajah pemuda itu, kebencian yang tadi membayang di mata Sui Lan tiba-tiba lenyap bagaikan awan tersapu dengan angin dan ia menahan pedangnya yang telah meluncur ke arah leher. Namun terlambat, karena ujung pedangnya masih saja menyerempet pundak Sin Liong hingga kulit pundak itu terluka, dan robek berikut bajunya. Darah merah mulai membasahi pakaian Sin Liong! "Ah...!"

Sui Lan berseru terkejut dan wajahnya menjadi makin pucat. Akan tetapi ia melihat pemuda itu tetap tersenyum memandangnya, sedikit pun tidak menjadi marah.

"Sui Lan, akan kau teruskankah pertempuran gila ini? Aku tidak! Kalau kau merasa penasaran, tusukkanlah pedangmu pada dadaku, aku takkan melawan! Lebih baik kau bunuh dulu aku sebelum kau bunuh pamanku!"

Akan tetapi, sebagai jawaban, Sui Lan hanya menangis terisak-isak menutupi mukanya dan air mata mengalir di antara celah-celah jari tangannya.

"Sui Lan..."

Sin Liong melangkah maju hendak memeluk gadis itu, akan tetapi tiba-tiba Sui Lan mengelak dan melompat pergi, terus berlari cepat sambil menangis!

Sin Liong hanya menarik napas panjang.

Sin Liong yang berpisah dari Sui Lan melanjutkan perjalanannya ke Kota Raja dengan hati sedih, sedangkan Sui Lan yang merasa bingung itu melanjutkan perjalanannya dengan berlari cepat dan tidak mau bertanya kepada orang-orang di jalan, sehingga akibatnya ia tersasar.

Ia berada di Propinsi Ho-nan dan menurut petunjuk gurunya, seharusnya ia pergi ke Kota Raja melalui Propinsi San-tung yang berada di timur laut, akan tetapi tanpa diketahuinya ketika melalui persimpangan jalan, ia mengambil jalan yang membelok ke selatan sehingga ia memasuki Propinsi Kiang-si!

Setelah beberapa pekan kemudian ia tiba di kota Nam-kang barulah ia tahu bahwa ia telah tersasar ke selatan, padahal ia pergi ke utara!

Oleh karena sudah kepalang, maka Sui Lan lalu mengambil keputusan untuk berpesiar dulu di daerah yang cukup indah itu untuk menghibur hatinya yang merasa kecewa dan berduka semenjak perpisahannya dengan Sin Liong.

Ia harus mengakui di dalam hatinya bahwa setelah berpisah ia melakukan perjalanan seorang diri yang paling tidak enak dan jauh berbeda dari perjalanan yang ia lakukan dengan pemuda itu.

Kalau tadinya ia bergembira-ria dan merasa bahagia sekali, kini ia merasa patah hati.

Tentu saja ia tidak pernah menyangka bahwa musuh besarnya yang ia cari-cari yakni perwira she Lee itu, kini telah pindah ke kota Siang-kan-bun di Propinsi Kiang-si, tidak jauh letaknya dari tempat di mana ia berada, yakni di Nam-kang.

Dan lebih-lebih ia tak pernha mengira bahwa kedua encinya juga sedang menuju ke Kiang-si dengan cepat, datang dari Kota Raja.

Tidak tahu pula bahwa selain kedua orang encinya, terdapat beberapa orang lagi menuju ke selatan, dan di antaranya terdapat Sin Liong!

Untuk beberapa hari lamanya, sampai hampir sebulan, Sui Lan berputar di daerah Kiang-si, dan nafsunya untuk mencari musuh besarnya di Kota Raja banyak mengurang.

Ia merasa ragu-ragu untuk pergi ke Kota Raja dan mencari perwira she Lee itu, karena segan kalau-kalau ia harus bertanding melawan Sin Liong!

Ia sama sekali tidak merasa takut menghadapi Sin Liong, hanya segan, karena ia maklum bahwa baik Sin Liong, maupun dia sendiri, takkan sampai hati untuk saling melukai apalagi membunuh!

Kita tinggalkan dulu Sui Lan yang sedang bimbang ragu dan berputar-putar di sekitar daerah Kiang-si tanpa tujuan, akan tetapi yang kebetulan sekali membawanya makin dekat dengan tempat tinggal musuh besarnya itu!

Kita sekarang menengok perjalanan Siang Lan yang telah lama kita tinggalkan.

Semenjak perpisahannya dengan kedua orang adiknya, Siang Lan melanjutkan perjalanan dengan cepatnya, sesuai dengan kehendak suhunya, yakni melalui Propinsi Syen-si, Ho-pai, Ho-nan, San-tung, dan akhirnya ia sampai di Kota Raja.

Di sepanjang jalan, pengalamannya bertempur dengan Ang-hoa Siang-mo dan bantuan yang ia dapatkan dari pemuda yang amat menarik hati, Kui Hong An anak murid Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi itu, selalu terbayang di muka matanya.

Ia tak dapat melupakan Hong An dan diam-diam ia mengharapkan perjumpaannya kembali dengan pemuda itu.

Ketika Siang Lan tiba di luar tembok Kota Raja, ia mengalami hal yang amat mengherankan hatinya.

Hari itu amat panas dan sinar matahari amat teriknya.

Di luar gerbang Kota Raja, terdapat seorang penjual arak dan teh di pinggir jalan dan dagangannya ini laris manis sekali oleh karena setiap orang yang keluar maupun memasuki pintu gerbang itu merasa haus dan berhenti sebentar di tempat itu untuk membasahi kerongkongan.

Siang Lan juga merasa haus dan lelah, maka ia pun berhenti di situ, mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku bambu memesan teh.

Di tempat itu hanya terdapat tamu-tamu lelaki dan semua mata memandang ke arah gadis yang amat cantik jelita ini dengan sinar mata menyatakan kagum dan gairah, sungguhpun mereka tidak berani memandang secara langsung oleh karena gagang pedang yang tersembul di belakang punggung Siang Lan itu memperingatkan mereka bahwa gadis ini bukanlah gadis yang boleh diganggu secara sembarangan saja.

Akan tetapi Siang Lan sama sekali tidak memperhatikan mereka dan ketika pelayan datang mengantarkan air teh yang dipesannya, ia minum menghilangkan hausnya.

Selain orang-orang yang terdiri dari pedang, pelancong dan pengembara yang berada di tempat itu, Juga terdapat pula belasan orang tentara penjaga, dan juga beberapa orang pengemis yang berdiri atau duduk di atas lantai di luar warung.

Ketika para penjaga itu melihat Siang Lan, terjadilah hal yang aneh.

Mata mereka jelalatan seperti melihat setan di tengah hari, bahkan mereka yang baru minum segera menunda minumnya.

Seorang demi seorang, para penjaga itu meninggalkan bangkunya dan pergi dari situ seperti orang ketakutan!

Hal ini tentu saja diketahui oleh Siang Lan yang merasa heran, akan tetapi dia diam saja, hanya berlaku hati-hati dan waspada, karena ia selalu tidak menaruh kepercayaan kepada tentara kerajaan.

Juga para tamu yang berada di situ dapat melihat sikap para penjaga ini, maka kini pandangan mereka terhadap Siang Lan mengandung keseganan dan ketakutan.

Pada saat itu, seorang di antara para pengemis yang berada di luar warung, berseru.

"Pada saat makan dan minum, teringat kepada orang-orang yang lapar dan haus, barulah disebut orang budiman. Siapakah di antara orang di sini yang berhati budiman?"

Pengemis itu berulang-ulang mengucapkan kata-kata ini sehingga para tamu memandangnya sambil tersenyum dan menganggapnya orang gila, akan tetapi tak seorangpun yang mau meladeninya.

Sebaliknya, Siang Lan merasa kasihan ketika melihat bahwa yang bicara itu adalah seorang pengemis tua yang kurus kering dan rambut kepalanya botak.

"Lopeh (Uwa Tua),"

Katanya dengan halus.

"biarpun aku bukan seorang budiman, akan tetapi kalau Lopeh suka, pesanlah makanan dan minuman, biar aku yang membayarnya."

Pengemis tua itu memandangnya dengan penuh perhatian. Pandangan matanya menatap tubuh gadis itu dari rambut sampai ke sepatunya, kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata.

"Nona muda, kau baik, kau baik! Apakah tawaranmu itu hanya berlaku untukku seorang?"

Siang Lan mengerling ke arah kumpulan pengemis yang jumlahnya tidak kurang dari tujuh orang itu.

Ia berpikir bahwa menolong orang miskin tidak boleh berat sebelah, maka sambil tersenyum manis, ia berkata.

"Aku menawarkan kepada siapa saja yang membutuhkan makan dan minum, Lopeh."

"Ha-ha-ha! Bagus, bagus! Hai, setan-setan kelaparan! Ada rezeki datang, mengapa tidak lekas menyerbu? Ayo pesanlah sesukamu, jangan sungkan-sungkan lagi!"

Maka menyerbulah tujuh orang pengemis itu ke warung dan memesan makanan dan minuman.

Semua memesan bakpau dan daging serta arak.

Pengemis kurus kering tadi bahkan memesan seguci arak wangi yang berharga mahal.

Para tamu yang berada di situ merasa sebal melihat tingkah laku para pengemis ini.

Tak tahu diri, pikir mereka.

Ada yang menolong, lalu berbuat sesuka hatinya!

Akan tetapi, biarpun uangnya tinggal tak berapa banyak lagi, Siang Lan tersenyum saja melihat kelakuan mereka itu, bahkan ada rasa terharu dalam hatinya.

Ia maklum bahwa kerakusan mereka itu bukan memang menjadi watak mereka akan tetapi timbul oleh karena nafsu telah dikekang dan terpaksa dibatasi tiap hari.

Mungkin telah berbulan-bulan atau bertahun-tahun mereka itu merindukan arak dan daging dan baru hari ini mereka berkesempatan menikmatinya.

Setelah para pengemis itu mengisi perut mereka sampai menjadi gendut dan kekenyangan, seorang demi seorang lalu keluar dari warung itu, ada yang terus pergi dari situ, ada pula yang merebahkan diri di bawah pohon dan tidur mendengkur bagaikan babi, sehingga tinggal pengemis kurus kering itu saja.

Sambil tersenyum senang pengemis botak ini lalu menghampiri Siang Lan yang merogoh saku menghitung-hitung uangnya yang tak berapa itu.

Pengemis botak ini dengan amat beraninya lalu mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk pundak Siang Lan sambil berkata.

"Nona yang baik, kau benar-benar mengagumkan orang!"

Siang Lan terkejut sekali ketika merasa betapa tangan yang menepuk pundaknya itu amat beratnya dan ia maklum bahwa pengemis ini menggunakan tenaga Jeng-kin-lat (Tenaga Seribu Kati) untuk mencobanya!

Tak pernah disangkanya, bahwa pengemis ini adalah seorang pandai, maka diam-diam ia lalu mengumpulkan tenaga dalam dan mengerahkan ilmu Sia-kut-hwat (Melepaskan Tulang Melemaskan Tubuh) sehingga ketika tangan pengemis itu menekan pundaknya, pengemis itu merasa betap pundak itu lemas dan lunak seperti tak bertulang dan tenaga tekanannya lenyap dengan sendirinya!

"Bagus sekali, Nona yang baik.

Hendak pergi kemanakah kau?"

"Lopeh, aku adalah seorang pengembara yang tidak mempunyai tujuan tetap. Karena telah berada di luar gerbang Kota Raja, tentu saja aku tidak sia-siakan kesempatan ini dan melihat-lihat Kota Raja.

"Ha-ha-ha! Tiada guna, tiada guna. Apakah yang patut ditonton di Kota Raja. Sambil berkata demikian, pengemis itu lalu menyeret kakinya keluar dari warung dan duduk di emper warung itu menyandar di dinding, terus tidur mendengkur! Para tamu merasa gemas sekali melihatnya. Alangkah kurang ajarnya pengemis tua bangka itu. Sudah ditolong berani menepuk-nepuk pundak gadis cantik itu, dan sekarang tanpa ucapan terima kasih sedikitpun, ia keluar dan mendengkur di luar warung seakan-akan tak pernah ada orang yang menolong dan memberinya makan minum! "Berapakah jumlah semuanya?"

Tanya Siang Lan kepada pemilik warung yang mulai menghitung-hitung dengan sui-poa (alat penghitung).

"Lima tahil delapan chi!"

Katanya dan para tamu merasa heran sekali karena sesungguhnya tak usah semahal itu.

Ternyata bahwa pemilik warung yang cerdik itu hendak menggunakan kesempatan ini untuk menarik keuntungan sebanyak mungkin.

Siang Lan juga merasa terkejut karena ia teringat bahwa uangnya tinggal empat tahil lagi.

Akan tetapi ketika ia merogoh sakunya, bukan main herannya karena uangnya yang tinggal empat tahil itu, entah bagaimana telah bisa bisa beranak dan kini menjadi sembilan tahil!

Darimanakah datangnya tambahan lima tahil ini?

tiba-tiba ia teringat bahwa tadi pengemis itu menekan pundaknya dan ia merasa seperti ada yang bergerak pada bagian kantung bajunya, maka ia merasa terkejut dan mukanya berubah.

Tak bisa salah lagi, tentu pengemis aneh itu yang memasukkan uang lima tahil ke dalam kantungnya!

Tanpa banyak cakap Siang Lan membayarkan uang itu kepada pemilik warung dan ia lalu melangkah keluar hendak mencari pengemis tadi.

Akan tetapi, baru saja ia tiba di luar warung, ia melihat rombongan penjaga tadi telah datang ke situ, mengiringkan seorang perwira yang dari pakaiannya dapat diketahui bahwa ia adalah seorang perwira Kim-i-wi berpangkat busu, tubuhnya tinggi besar, mukanya kuning dan di tangannya memegang senjata yang aneh, yakni tiga buah bola baja yang bertali.

Dengan langkah lebar perwira ini menghampiri Siang Lan dan tersenyum mengejek.

Perwira ini bukan lain adalah Gui Kok Houw yang dulu pernah menangkap dan menawan Hwe Lan!

Melihat Siang Lan yang berdiri memandangnya dengan tenang, perwira ini tidak ragu-ragu bahwa gadis yang berada di hadapannya tentu Hwe Lan yang dulu ditawannya dan kemudian dapat melarikan diri itu, maka ia tertawa sambil berkata.

"Ha-ha-ha! Tidak tahunya kau masih berada di sini! Ha-ha-ha! Sekali ini aku akan menawanmu dan mengurungmu dalam kamarku sendiri, kujaga siang malam hingga tak mungkin kau dapat minggat lagi!"

Setelah berkata demikian, ia menubruk maju dan mengulur tangan kirinya untuk menangkap pundak Siang Lan.

Gadis ini merasa terkejut, heran, dan juga marah sekali melihat sikap dan mendengar omongan yang kurang ajar ini.

Melihat sambaran tangan kiri yang kuat itu, ia maklum bahwa perwira ini memiliki tenaga besar, maka ia pun lalu memiringkan pundak dan tangan kanannya bergerak menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Plak!"

Dua lengan itu beradu keras dan tubuh Gui Kok Houw terhuyung-huyung ke belakang!

Perwira ini memandang dengan mata terbelalak heran.

Bagaimana dalam waktu sebulan saja tenaga gadis ini telah meningkat sedemikian hebatnya?

Sementara itu, Siang Lan yang merasa mendongkol lalu menuding dan bertanya.

"Perwira gadungan dari manakah datang-datang berani menghina orang?"

Gui Kok Houw mendongkol sekali melihat sikap gadis ini yang disangkanya sengaja pura-pura tidak mengenalnya maka ia lalu membentak marah.

"Gadis pemberontak dari Siauw-lim. Kau masih berpura-pura menyembunyikan dirimu yang sebenarnya? Ha-ha! Biarpun kau akan pergi bersembunyi di neraka sekalipun, kami takkan melepaskanmu. Setelah berkata demikian, perwira itu menggerakkan senjatanya dan tiga buah bola baja itu menyambar ke arah Siang Lan pada tiga bagian tubuh! Siang Lan terkejut mendengar ucapan itu. Dari mana perwira ini tahu bahwa dia adalah murid Siauw-lim? Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir tentang itu karena serangan perwira itu tidak boleh dibuat main-main. Cepat ia melompat mundur dan mencabut pedangya, kemudian dengan waspada ia menanti datangnya serangan lawan. Ketika Gui Kok Houw menyergapnya lagi dengan tiga bola bajanya ia cepat menangkis dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya sehingga sebentar saja kedua orang ini bertempur dengan seru dan sengit, ditonton oleh para penjaga dan para tamu yang menjadi ketakutan. Pengemis yang tadi tertidur, menjadi kaget dan segera pergi dari tempat itu ketika melihat pertempuran hebat ini akan tetapi pengemis kurus kering yang botak itu masih tetap duduk menyandar dinding warung. Akan tetapi kini matanya tidak tertutup lagi, ia telah terbangun dan duduk menonton pertempuran dengan tertarik sekali. Sungguhpun kepandaian Gui Kok Houw amat tinggi, akan tetapi menghadapi Siang Lan, ia merasa seakan-akan menghadapi sebuah dinding baja yang amat kuatnya. Gadis ini bertempur dengan gerakan yang tenang sekali, teliti dan hati-hati dalam setiap penyerangan atau tangkisan, dengan disertai tenaga yang amat mengagumkan. Ketenangannya membuat gerakan pedangnya menjadi luar biasa kuatnya dan setiap serangan dari Gui Kok Houw dengan tiga buah bola bajanya dapat ditangkis atau dielakkan dengan amat mudah. Betapapun juga, amat sukar pula bagi Siang Lan untuk mendesak lawan dengan ilmu silat dan senjatanya yang lihai itu, maka diam-diam Siang Lan mengeluh. Baru saja tiba di luar tembok kota, ia telah bertemu dengan pengemis lihai dan sekarang perwira yang lancang dan kurang ajar ini pun ternyata lihai sekali! Apalagi kalau aku sudah berada di dalam kota, pikirnya. Pada saat itu terdengar suara yang nyaring bicara seperti orang bernyanyi.

"Seribu orang sahabat masih terlalu sedikit, seorang musuh sudah terlalu banyak. Mengapa mencari permusuhan? Perwira besar mengganggu gadis muda, bukankah ini lucu dan keterlaluan?"

Begitu kata-kata itu berhenti, nampak berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakannya bagaikan kilat menyambar dan tahu-tahu di tengah-tengah antara dua orang yang sedang bertempur itu, telah berdiri pengemis tua kurus kering dan botak tadi!

Siang Lan dan Gui Kok Houw terkejut sekali dan menahan senjata masing-masing.

Ketika perwira itu melihat Si Pengemis Tua tadi, ia menjadi pucaat dan segera menjura sambil berkata.

"Ah, tidak tahunya Pat-jiu Sin-kai Pengemis Sakti Tangan Delapan) yang datang! Terimalah hormatku, Kwee-lo-cianpwe."

Akan tetapi pengemis itu tidak menghiraukannya, bahkan lalu menghadapi Siang Lan dan berkata.

"Tidak lekas melanjutkan perjalananmu, mau tunggu kapan lagi?"

Siang Lan sadar bahwa pengemis ini telah menolongnya, maka ia pikir bahwa kalau tidak lekas-lekas masuk ke Kota Raja, setelah bentrok dengan perwira itu, sukarlah baginya untuk kelak memasuki kota.

Maka ia mengangguk tanda terima kasih, lalu berlari cepat memasuki Kota Raja melalui gerbang yang terbuka.

Para penjaga tidak berani menghalanginya.

Ketika Gui Kok Houw hendak mengejar, Pat-jiu Sin-kai Kwee Sin, pengemis itu, lalu mengangkat lengannya ke atas dan berkata.

"Gui-ciangkun, tidak layak bagi seorang perwira menghina seorang gadis muda seperti dia!"

Gui Kok Houw memandang gemas.

"Locianpwe tidak tahu bahwa dia adalah seorang tawanan kerajaan yang melarikan diri! Dia adalah seorang pemberontak Siauw-lim yang harus ditangkap!"

Pengemis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sejak kapan aku mencampuri urusan pemberontakan? Aku tidak peduli gadis itu murid Siauw-lim-pai atau bukan, akan tetapi ia telah melakukan kebaikan dan melepas budi kepadaku. Kalau kau tidak percaya, kau boleh bertanya kepada semua tamu warung ini, bahwa dia tadi telah menjamu aku dan pengemis-pengemis lain sampai kenyang! Oleh karena itu, di depan mataku, tak seorangpun boleh mengganggunya!"

Setelah berkata demikian, sekali kakek itu berkelebat, tubuhnya telah lenyap dari depan Gui Kok Houw, hanya suara tawanya saja masih terdengar di sebelah belakang warung arak itu!

Gui Kok Houw tidak mempedulikan kakek pengemis itu lagi dan cepat memandang ke arah gadis itu tadi berlari, akan tetapi bayangan Sui Lan tak nampak lagi.

Dengan gemas Gui Kok Houw lalu berlari mengejar, memesan kepada para penjaga agar supaya penjagaan diperkuat sehingga gadis pemberontak itu takkan dapat lolos lagi.

Dengan enak saja Siang Lan memasuki sebuah hotel besar dan menyewa kamar.

Ia sedikitpun tidak pernah merasa curiga dan tidak tahu bahwa sebetulnya seluruh penjaga di kota dikerahkan oleh Gui Kok Houw untuk menangkapnya dan bahwa Siang Lan dianggap sebagai pemberontak yang telah melarikan diri dari tahanan!

Demikianlah, pada malam hari itu pada saat Hwe Lan meninggalkan gedung Pangeran Souw Bun Ong, Siang Lan juga bersiap dan setelah memadamkan lampu di dalam kamarnya dan mempersiapkan pedang dan kantung thi-lian-ci di pinggang, ia lalu melompat keluar dari jendela kamarnya dan langsung melompat naik ke atas genteng!

Sebagaimana telah diketahui, Hwe Lan menyamar sebagai seorang pemuda dan mendapat pesan dari Pangeran Souw Bun Ong untuk keluar dari kota melalui pintu gerbang sebelah utara di mana para penjaganya telah dapat "dibeli"

Oleh pangeran itu.

Pada malam hari, pada waktu Siang Lan sedang melompat keluar dari kamarnya dan berada di atas genteng hotelnya, Hwe Lan yang menyamar sebagai seorang pemuda berjalan di atas jalan raya menuju ke utara.

Akan tetapi, dia yang enak-enak berjalan itu sama sekali tidak tahu bahwa malam hari itu sebagai akibat dari kedatangan Siang Lan ke Kota Raja, penjagaan telah diperkuat dan diatur oleh perwira Gui Kok Houw yang mengerahkan semua barisan Kim-i-wi untuk menjaga di tiap gerbang kota!

Tentu saja para penjaga yang telah disuap oleh Pangeran Souw Bun Ong, tidak berdaya terhadap para perwira Kim-i-wi itu, dan mereka telah menanti datangnya "Pemuda"

Yang dijanjikan Pangeran Souw itu dengan hati berdebar, karena dengan adanya para perwira Kim-i-wi, tentu saja mereka takkan dapat membiarkan pemuda itu lewat dan keluar dari pintu gerbang begitu saja!

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Hwe Lan berjalan menuju ke pintu gerbang itu yang nampaknya sunyi saja.

Akan tetapi, begitu ia tiba di bawah lampung teng yang tergantung di pintu gerbang itu, tiba-tiba muncul enam orang perwira yang tinggi besar.

Mereka ini bukan lain adalah perwira-perwira Kim-i-wi yang bertugas menjaga di situ dan tak lama kemudian para penjaga juga muncul di belakang perwira-perwira itu sehingga jumlah mereka tidak kurang dari dua puluh orang!

"Siapa kau?

Dan hendak pergi ke mana?"

Tegur seorang di antara para perwira itu.

Hal ini benar-benar di luar dugaan Hwe Lan, karena tadinya ia mengira bahwa semua sudah dibereskan oleh Pangeran Souw dan penyamarannya itu hanya untuk memudahkannya menuju ke gerbang itu.

Ia maklum bahwa kalau ia membuka mulut dan bersuara, tentu mereka akan tahu bahwa ia adalah seorang wanita, karena ia tidak sanggup merubah suaranya.

Oleh karena ini, tanpa mempedulikan mereka, Hwe Lan lalu melompat dan berlari menuju ke arah pintu gerbang itu untuk berlari keluar, akan tetapi dengan cepat pla, pintu itu telah tertutup sebelum ia sempat keluar dan para perwira itu telah mengurungnya dengan senjata di tangan dan berteriak-teriak.

"Tangkap dia!"

Hwe Lan beradat keras dan ia tidak mau membuang banyak waktu untuk bicara karena dianggap tidak berguna maka melihat sikap mereka ini, ia segera mencabut pedangnya dan sebentar saja gadis yang berpakaian pria itu mengamuk dengan pedangnya dikeroyok oleh enam orang perwira Kim-i-wi dan beberapa orang penjaga lain!

Hati gadis ini merasa mendongkol sekali, karena tidak disangka ia akan menghadapi halangan yang sebesar ini.

Ia mengeluarkan kepandaiannya dan ketika pedangnya diputar-putar cepat dan hebat, enam orang Kim-i-wi itu tidak berani mengurung terlalu cepat.

Seorang Kim-i-wi yang memandang rendah, baru saja berlagak hendak mendesak, telah terluka lengannya dan goloknya terpental jauh!

Hal ini cukup membuat kawan-kawannya tak berani mendekat.

Setelah mengeroyok beberapa lama dan melihat permainan pedang gadis ini, para Kim-i-wi dapat mengenali Hwe Lan sebagai gadis pemberontak yang melarikan diri!

Maka cepat-cepat mereka lalu menyuruh seorang penjaga mencari bala bantuan dan tak lama kemudian, serombongan Kim-i-wi yang dikepalai oleh Wai Ong Koksu datang berlari ke tempat itu!

Bukan main terkejutnya hati Hwe Lan melihat pendeta gundul yang gemuk pendek itu!

Ia telah maklum bahwa kepandaian perwira tua gundul itu lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi Hwe Lan tidak merasa takut sedikitpun dan ia telah mengambil keputusan untuk mengamuk dan mengadu nyawa di tempat itu!

Wai Ong Koksu ketika melihat "Pemuda"

Ini, tertawa mengejek dan berkata.

"Nona, kau benar-benar nakan dan cerdik! Akan tetapi kau terlalu memandang rendah kepada kami. Kau kira dengan penyamaranmu itu kami tidak akan dapat menangkapmu kembali? Ha-ha-ha!"

Setelah berkata demikian, Wai Ong Koksu lalu menggerakkan tongkatnya dan menyerang ke arah Hwe Lan yang sedang dikeroyok itu dengan pukulan yang bukan main hebatnya.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika dari tempat gelap, tiba-tiba melayang keluar seorang tinggi kurus yang menggunakan tongkat kecil menangkap sambaran tongkatnya.

"Prak!"

Dua tongkat itu, biarpun yang satu besar dan yang satu kecil, ketika beradu di tengah udara, keduanya terpental ke belakang dan Wai Ong Koksu merasa betapa telapak tangannya tergetar oleh benturan hebat itu.

Ia cepat memandang dan bukan main terkejutnya ketika melihat seorang pengemis tinggi kurus berdiri di hadapannya sambil tersenyum-senyum mengejek.

"Pat-jiu Sin-kai!"

Seru Wai Ong Koksu setelah mengenal pengemis tua itu.

Akan tetapi Pat-jiu Sin-kai tidak menjawab, hanya menggerakkan tongkatnya menyerbu dan membantu Hwe Lan.

Karena hebatnya gerakan tongkatnya, para Kim-i-wi yang mengepung Hwe Lan bertolak mundur dan merasa menjadi ketakutan.

"Ha, Nona budiman! Kau benar-benar aneh, baru saja tadi masuk kota, sekarang sudah mau keluar lagi! Benar-benar kau orang aneh. Kau mau keluar, bukan? Lekaslah keluar, biar aku yang menyambut mereka!"

Setelah berkata demikian, pengemis tua itu berdiri membungkuk menghadapi Wai Ong Koksu dan para perwira dan penjaga yang memandang dengan heran dan marah.

Hwe Lan juga terheran-heran mendengar ucapan pengemis ini.

Ia belum pernah selama hidupnya bertemu dengan orang ini, mengapa pengemis ini mengatakan bahwa baru siang tadi ia masuk kota?

Akan tetapi ia tidak mau berpanjang-panjang tentang itu.

Ia tahu bahwa kakek ini tentulah seorang pendekar sakti, maka ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ia melompat ke atas pintu gerbang yang masih tertutup.

Dua orang penjaga yang melihatnya, hendak menyerang, akan tetapi dua kali ia menggerakkan kaki, penjaga-penjaga itu tertendang sampai terguling-guling, kemudian ia membuka pintu gerbang dan berlari keluar!

Wai Ong Koksu dan para perwira Kim-i-wi yang lain hendak mengejar akan tetapi Pat-jiu Sin-kai memalangkan tongkatnya di tengah jalan.

"Jangan ganggu dia!"

Katanya dengan tegas.

"Pat-jiu Sin-kai! Mengapa kau ikut mencampuri urusan kami? Gadis itu adalah seorang pemberontak! Apakah kau orang tua hendak membela seorang pemberontak?"

Pengemis tua itu mengeluarkan suara jengekan dari hidung.

"Hah, kalian ini mudah saja mengecap orang sebagai pemberontak! Aku tahu bahwa kalian menganggap gadis itu seorang murid Siauw-lim, maka kalian lalu mengecapnya sebagai pemberontak. Wai Ong! Kau seorang tokoh Bu-tong-pai, bukan anak kecil lagi. Apakah kau hendak meniru kesesatan Pang To Tek, sutemu yang melakukan permusuhan dengan Siauw-lim-pai itu? Siauw-lim-pai telah dimusnahkan karena permusuhan itu dan andaikata benar bahwa gadis itu seorang murid Siauw-lim-pai, apakah dosanya maka kau menganggapnya bahwa ia memberontak? Lucu sekali!"

"Pat-jiu Sin-kai, kau benar-benar orang tua usilan dan suka mencampuri urusan orang lain! Kau tidk tahu bahwa gadis itu telah melukai beberapa orang Kim-i-wi, bahkan ada beberapa orang pula yang tewas di dalam tangannya? Bukankah itu sudah merupakan bukti cukup bahwa ia memberontak?"

"Ha-ha-ha!"

Enak saja kau mengambil keputusan.

Orang baru disebut pemberontak kalau ia menentang Kaisar, apakah kalian ini bangsa Kim-i-wi sudah mengangkat diri sendiri sedemikian tinggi sehingga sama dengan Kaisar.

Sudah banyak kudengar tentang kelakuan Kim-i-wi, maka aku tidak heran kalau tindakan mereka yang sewenang-wenang.

Wai Ong, daripada kau mengganggu orang yang tidak berdosa, lebih baik kau lebih memperhatikan dan menjaga kelakuan para Kim-i-wi yang merupakan penjahat-penjahat berkedok!

"Pengemis busuk, kau benar-benar mencari perkara!"

Teriak Wai Ong Koksu yang cepat menyerang dengan tongkatnya yang besar dan panjang.

Pat-jiu Sin-kai cepat mengelak dan membalas dengan serangan tongkatnya yang biarpun kecil, akan tetapi digerakkan secara tepat dan istimewa kuatnya.

Pertempuran hebat terjadi antara dua orang tokoh persilatan kalangan atas yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini.

Gerakan mereka sedemikian cepat dan kuat, sehingga tidak saja tubuh mereka hanya merupakan bayang-bayang bagaikan dua setan sedang bertempur, akan tetapi juga debu-debu beterbangan tinggi dan angin pukulan mereka membuat pakaian para Kim-i-wi yang berdiri mengelilingi pertempuran itu menjadi berkibar seperti tertiup angin!

Tak seorangpun dari Kim-i-wi berani maju mengeroyok, karena mereka maklum bahwa kepandaian mereka masih terlampau rendah dan kalau mereka baju, tidak saja mereka mencari celaka sendiri, akan tetapi mereka bahkan akan merupakan gangguan bagi Wai Ong Koksu.

Maka mereka hanya menonton sambil membantu Wai Ong Koksu dengan suara saja.

Pertandingan itu benar-benar hebat dan ramai sekali, dan ternyata bahwa keadaan mereka seimbang, Sungguhpun harus diakui bahwa pengemis itu hanya berkelahi dengan tertawa-tawa seperti orang main-main saja, sedangkan Wai Ong Koksu berkelahi dengan bernafsu sekali.

Setelah bertempur lima puluh jurus lebih, kedua mata Wai Ong Koksu mulai berkunang karena ia harus mengakui bahwa dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh), kakek pengemis itu tingkatnya masih lebih tinggi darinya dan gerakannya benar-benar cepat sekali.

Terutama sekali karena tongkat yang dimainkan oleh kakek pengemis itu jauh lebih kecil dan ringan, maka tentu saja sambarannya lebih cepat dari tongkatnya yang besar dan berat.

Pantas saja kakek itu dijuluki Pengemis Sakti Bertangan Delapan, karena tongkat kecil yang bergerak-gerak bagaikan ular menyambar-nyambar itu seakan-akan dimainkan oleh delapan tangan, demikian cepatnya melakukan serangan-serangan yang seakan-akan mengurung seluruh tubuhnya!

Untuk menghadapi desakan Pat-jiu Sin-kai, Wai Ong Koksu lalu memainkan tongkatnya dengan ilmu toya Hok-liong-kun-hwat (Ilmu Toya Penakluk Naga) dan tongkatnya bergerak-gerak dengan keras, berputar-putar menutup tubuhnya merupakan benteng baja yang kuat sekali.

Andai kata orang yang menyiramnya dengan air, maka air itu hanya dapat mendekati tubuhnya kira-kira tiga kaki saja dan segera akan terpental karena benturan toyanya!

Tiba-tiba Pat-jiu Sin-kai tertawa gembira melihat ilmu toya lawannya ini dan gerakannya makin cepat, sehingga tongkat kecil di tangannya dapat menerobos di antara pertahanan pendeta gundul itu.

Tiba-tiba, dengan gerak pukulan Ang-liong-chut-tong (Naga Merah Keluar Gua), tongkat kecil itu dapat menerobos masuk di antara bayangan tongkat besar dan "Bret!"

Jubah Wai Ong Koksu di bagian dada terkena ujung tongkat dan robek! Pat-jiu Sin-kai tertawa lagi dan melompat ke atas sambil berseru.

"Cukup, Wai Ong! Cukup kenyang kita main-main!"

Akan tetapi Wai Ong Koksu yang merasa penasaran, malu, dan marah sekali, menyabetkan tongkatnya ke arah tubuh lawannya yang masih berada di atas dengan gerak tipu Leng-kong-sauw-goat (Di Tengah Udara Menyapu Bulan).

Hebat sekali gerakan ini dan agaknya pinggang kakek pengemis itu akan terpukul tongkat.

Kalau hal ini terjadi biarpun pinggang itu tidak akan terpotong menjadi dua setidaknya semua tulang di bagian pinggang itu akan patah-patah.

(Lanjut ke

Jilid 08) Tiga Dara Pendekar Siauw-Lim (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 Ternyata bahwa Pat-jiu Sin-kai benar-benar hebat sekali ilmu gin-kangnya, dalam keadaan berbahaya itu, Ia dapat menarik kedua kakinya ke atas, berjungkir balik dan ketika tongkat Wai Ong Koksu menyambar di bawah kakinya yang telah turun lagi, ia menotolkan kaki di atas ujung tongkat itu dan sambil berseru keras sekali ia meminjam tenaga sabetan tongkat itu untuk melayangkan tubuhnya, langsung naik ke atas genteng rumah dan menghilang di tempat gelap.

Hanya gema suara ketawanya saja yang masih terdengar sayup-sayup.

Wai Ong Koksu merasa marah sekali karena gadis yang dikejarnya tadi telah lama pergi dan tak mungkin dapat ditangkap lagi karena tidak tahu ke mana perginya, sedangkan di luar tembok kota keadaan demikian gelap.

Ia memeriksa padanya dan dengan terkejut ia mendapat kenyataan betapa bajunya telah berlubang dan ia maklum kalau kakek pengemis itu berlaku kejam, mungkin nyawanya telah melayang!

Sementara itu, di atas genteng sebuah gedung yang tinggi, terjadi lain pertempuran yang tidak kalah hebatnya, yakni pertempuran antara Siang Lan yang dikeroyok oleh para perwira Kim-i-wi di bawah pimpinan Gui Kok Houw!

Karena mata-matanya telah tersebar di mana-mana, maka dengan mudah Gui Kok Houw dapat mengetahui di mana gadis yang dikejar-kejarnya tadi menginap dan ia telah bersiap sedia mengepung tempat itu.

Demikianlah, ketika Siang Lan melompat naik ke atas genteng untuk melakukan penyelidikan dan mencari tempat tinggal musuh besarnya, yakni perwira Lee, dan baru saja gadis ini melompat ke atas sebuah bangunan besar dan tinggi, tiba-tiba dari empat penjuru muncul perwira-perwira Kim-i-wi yang dipimpin oleh Gui Kok Houw!

"Ha-ha-ha!

Pemberontak perempuan hendak lari ke manakah kau?"

Perwira tinggi besar bermuka kuning itu berkata sambil memutar-mutar tiga bolanya dengan hebat, dibantu oleh perwira-perwira Kim-i-wi yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh orang!

Hal ini sungguh di luar dugaan Siang Lan.

Tidak ada lain jalan baginya, selain melawan mati-matian.

Ia putar pedangnya tanpa berkata sesuatu dan sebentar kemudian di atas wuwungan genteng itu terjadilah pertempuran yang hebat sekali.

Sedangkan menghadapi Gui Kok Houw, seorang lawan seorang saja sudah merupakan lawan berat, apalagi kini perwira Gui itu dibantu oleh sembilan orang kawan-kawannya yang memiliki kepandaian lumayan, maka paerlahan-lahan Siang Lan mulai terdesak dan hanya dapat menangkis sambil mempergunakan gin-kangnya untuk mempertahankan diri.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Siang Lan, tiba-tiba berkelebat dua bayangan orang, dan terdengar suara nyaring.

"Nona, jangan takut, aku datang membantumu!"

Dua bayangan itu adalah dua orang pemuda, yang seorang berbaju serba putih dan berwajah tampan dengan sepasang mata yang berseri, sedangkan orang kedua kelihatannya juga seorang muda, akan tetapi mukanya memakai kedok saputangan sutera biru sehingga tidak dapat dikenal siapakah sebenarnya orang ini.

Akan tetapi, ketika datang tadi, yang mengeluarkan ucapan itu adalah Si Kedok Biru ini, seakan-akan hendak memperkenalkan suaranya kepada Siang Lan.

Akan tetapi Siang Lan tentu saja sama sekali tidak mengenal suara ini, karena belum pernah ia bertemu dengan orang berkedok biru.

Hanya Si Pemuda Baju Putih serasa pernah melihatnya, akan tetapi ia lupa lagi entah di mana.

Datangnya dua orang muda ini membuat kepungan para Kim-i-wi menjadi kocar-kacir!

Begitu pedang dua orang ini berkelebat, maka cepat sekali para Kim-i-wi yang kini terpecah menjadi tiga bagian, terdesak hebat dan tak lama kemudian terdengar suara mereka berteriak kesakitan dan terpentalnya beberapa batang pedang dan golok!

Kepandaian kedua orang muda itu lihai sekali dan agaknya tidak di sebelah bawah kepandaian Siang Lan atau Gui Kok Houw, maka begitu mereka menyerbu, para Kim-i-wi tidak berdaya dan dapat dipukul mundur.

Dengan datangnya bantuan ini, bangkit pula semangat Siang Lan dengan cepat pedangnya membuat serangan yang hebat.

Terdengar pekik ngeri dan seorang Kim-i-wi yang masih mengeroyoknya kena cium ujung pedangnya pada pipinya sehingga kulit pipi itu robek dan darah mengalir membasahi mukanya!

Siang Lan mendesak lagi dan kembali seorang Kim-i-wi terluka tangannya yang memegang golok sehingga goloknya terlepas dan orangnya cepat melompat mundur.

Karena para Kim-i-wi yang lain harus menghadapi dua orang pemuda itu, maka kini menyerang Siang Lan tinggal Gui Kok Houw sendiri dan kembali kedua orang ini melanjutkan pertandingan mereka yang dilakukan siang tadi di luar tembok kota!

Dengan amat cepatnya, kedua orang pemuda itu telah berhasil memukul mundur semua Kim-i-wi dan kini mereka menyerbu dan mengeroyok Gui Kok Houw.

Tentu saja perwira ini tidak kuat menghadapi tiga orang lawannya yang lihai itu dan dengan mengeluarkan suara keras, ketika tiga pedang dari tiga orang muda itu bergerak, bola-bola bajanya sebanyak tiga buah itu mencelat karena rantainya terbabat putus dan jatuh di atas genteng.

Terpaksa Gui Kok Houw melompat turun dari atas genteng dengan keringat dingin mengucur di jidatnya!

Siang Lan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh pemuda yang berkedok itu sambil berbisik.

"Hwe Lan... jangan kejar dia! Lihat Wai Ong Koksu datang!"

Benar ssaja, dari jauh nampak datang perwira-perwira Kim-i-wi yang dipimpin oleh pendeta gundul itu! "Mari, Hwe Lan! Mari kita pergi cepat-cepat!"

Si Topeng Biru itu lalu menarik tangan Siang Lan dan ketiganya melompat jauh, dan menghilang di dalam gelap, menuju ke gedung pangeran Souw Bun Ong!

Pemuda berkedok itu bukan lain adalah Souw Cong Hwi sendiri, sedangkan pemuda baju putih itu adalah The Sin Liong, sute dari Souw Cong Hwi.

Kedua orang muda ini adalah murid-murid dari Pat-jiu Sin-kai Kwee Sin!

Bagaikan mimpi, Siang Lan menurut saja dibawa ke dalam gedung.

Hatinya berdebar keras karena ia maklum bahwa pemuda ini tentu menyangka dia Hwe Lan!

Apakah adiknya itu telah berada di Kota Raja?

Setelah tiba di gedungnya, Souw Cong Hwi lalu membuka kedoknya dan Siang Lan melihat seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali.

ketika ketiganya melompat turun dan memasuki gedung itu dari pintu belakang terus ke ruang dalam mereka melihat bahwa di dalam ruang itu, selain terdapat Pangeran Souw Bun Ong dan isterinya, juga terdapat Si Pengemis Tua Pat-jiu Sin-kai duduk di atas sebuah bangku sambil minum arak!

Nyonya Souw memandang kepada Siang Lan dengan heran, kemudian maju memeluknya sambil berkata.

"Hwe Lan... kau sungguh membikin hatiku khawatir sekali!"

Kemudian ia melihat pakaian Siang Lan dan menjadi semakin heran.

"Hwe Lan, kau berangkat dengan pakaian laki-laki, akan tetapi mengapa sekarang telah berganti pakaian lagi? Dan kau... kau agak berubah! Apakah yang terjadi denganmu?"

Juga Pangeran Souw Bian Ong memandang dengan mata terbelalak heran, sedangkan Souw Cong Hwi melangkah maju dan menatap wajah gadis itu dengan penuh perhatian.

"Aneh... aneh...!"

Tiba-tiba pengemis tua itu berkata sambil menunda minum araknya.

"Nona yang baik!"

Katanya kepada Siang Lan sambil memandang dengan wajah lucu.

"Ketika kau menjamu arak padaku dan kawan-kawanku kau berpakaian seperti ini, akan tetapi tadi kau berlari keluar dari pintu gerbang kota menyamar sebagai laki-laki, mengapa sekarang kau muncul lagi dalam pakaian seperti ini pula? Aneh, aneh! Kau selain budiman, juga ajaib sekali!"

Sementara itu, The Sin Liong juga berkata.

"Aah... aku ingat sekarang! Kau pernah bertemu dengan aku di dalam hutan itu, betul tidak, nona?"

Siang Lan tersenyum dengan tenang dan sabar.

Ia maklum bahwa kekacauan ini disebabkan oleh persamaannya dengan Hwe Lan dan orang telah salah lihat dan tak dapat membedakan antara dia dan Hwe Lan, adiknya itu.

Maka ia diam-diam menjadi geli sekali.

"Kalian telah salah lihat! Yang bernama Hwe Lan itu adalah adikku, namaku adalah Siang Lan! Memang kami serupa dan sebentuk."

Semua orang menjadi bengong, dan tiba-tiba Sin Liong melompat ke atas.

"Aha, kalau begitu, kau adalah enci dari Sui Lan!"

"Di mana dia?"

Siang Lan bertanya girang.

"Di mana adanya Sui Lan dan di mana adanya Hwe Lan?"

"Duduklah, nona,"

Terdengar Pangeran Souw Bun Ong berkata dengan suaranya yang tenang.

"Banyak sekali hal-hal yang ruwet perlu dijelaskan dalam urusan yang ruwet ini. Bahkan ada sebuah hal lagi yang amat penting, yang agaknya akan membuka rahasia yang selama ini menggegerkan orang, dan mungkin sekali kenyataan terbukanya rahasia ini akan merupakan berita yang amat tak terduga olehmu."

Siang Lan duduk dengan sikapnya yang tenang sehingga semua orang menjadi kagum melihat sikap gadis muda yang gagah ini.

Souw Bian Ong lalu menceritakan tentang pengalaman Hwe Lan yang telah tinggal di situ selama sebulan lebih dan baru tadi pergi keluar Kota Raja untuk mencari dan menyusul musuh besarnya di kota Siang-kan-bun di Propinsi Kiang-si.

"Karena kebetulan sekali waktu datangmu bersamaan dengan waktu perginya maka terjadilah hal yang lucu dan kacau balau ini,"

Kata Pangeran Souw Bun Ong.

"Sebelum aku melanjutkan pembukaan rahasia yang kusebutkan tadi biarlah The-hiante ini menceritakan dulu kepadamu tentang pertemuannya dengan adikmu yang bungsu, sebagaimana yang telah ia tuturkan kepada kami!"

Dengan girang Siang Lan memandang pemuda baju putih yang tampan dan lincah itu untuk mendengarkan penuturannya tentang keadaan Sui Lan.

Pemuda ini menuturkan pengalamannya dan pertemuannya dengan Sui Lan, dan menutup penuturannya dengan ucapan yang mengejutkan hati Siang Lan.

"Hubungan kami yang baik sebagai dua orang sahabat akhirnya pecah ketika Sui Lan menyatakan bahwa ia hendak membalas sakit hatinya terhadap seorang perwira bernama Lee yang tinggal di Kota Raja, karena perwira itu, yang nama lengkapnya Lee Song Kang, bukan lain adalah Pamanku sendiri! Kami berselisikh dan bahkan telah bertempur!"

Mendengar penuturan sampai di sini, tiba-tiba sepasang mata Siang Lan yang indah itu memancarkan cahaya berapi-api yang mengingatkan Cong Hwi kepada sepasang mata Hwe Lan.

Melihat hal ini cepat-cepat Sin Liong melanjutkan penuturannya.

"Maaf, harap kau jangan tersinggung dan marah, nona! Biarpun kami bertempur, akan tetapi pertempuran itu tidak kami lanjutkan dan kami lalu berpisah. Aku cepat-cepat menuju ke Kota Raja hendak mencari Pamanku itu yang terancam bahaya karena aku mendengar dari Sui Lan bahwa selain dia, masih ada dua orang encinya yang hendak membalas dendam pula! Ternyata setibaku di sini, Pamanku itu telah pindah ke daerah Kiang-si. Dalam gugupku yang disertai kekhawatiran, aku lalu singgah di rumah suhengku ini yang belum tahu bahwa aku adalah keponakan perwira Lee Song Kang itu. Alangkah kagetku ketika aku mendengar dari orang tua suhengku ini tentang rahasia yang hebat itu!"

Pemuda ini lalu diam karena penuturannya telah habis.

"Nona,"

Cong Hwi.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 14

Baca Juga: Mutiara Hitam 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert