Eps 3 Banjir Darah di Borobudur - Kho Ping Hoo
Baca online Banjir Darah di Borobudur - Kho Ping Hoo
Cersil Banjir Darah di Borobudur - Kho Ping Hoo.
Perasaan cinta yang pertama-tama dirasainya, berikut rindu dendam di dalam hati mudanya, adalah ketika ia bertemu dan melihat Sang Puteri Mahkota Pramodawardani, puteri dari Kerajaan Syailendra itu memang selama ini ia mengaku di dalam hatinya, bahwa ia mencintai puteri itu, dan mengganggap bahwa puteri itulah wanita tercantik di seluruh permukaan bumi ini.
Ia pernah tergila-gila kepada patung puteri itu, pernah gandrung di dalam hutan bagaikan seorang gila, mencumbu rayu patung itu.
Akan tetapi, semenjak patung itu lenyap, berubah menjadi patung Dewi Tara kembali, dan semenjak ia bertemu dan berkenalan dengan Candra Dewi, bayangan wajah Pramodawardani makin menipis dan suram.
Betapapun juga, sebagai seorang ksatria yang memiliki kesetiaan, di dalam hatinya sendiri Indrayana menyalahkan hatinya yang tertarik pada wajah Candra Dewi, dan memperkuat keyakinannya bahwa sesungguhnya yang ia cintai adalah Pramodawardani dan sudah seharusnay demikian, karena sebelum bertemu dengan Candra Dewi, ia telah menjatuhkan hatinya kepada Sang Puteri Mahkota Pramodawardani itu.
Sebagai seorang ksatria tidak seharusnya demikian mudah perasaan hatinya, demikian pikir Indrayana.
Pada hari itu, menyelesaikan sebuah patung yang hanya bagian mukanya saja belum sempurna.
Patung itu dibuatnya semenjak tiba di puncak Muria, di bawah petunjuk Pancapana dan Candra Dewi.
Dibuatnya dengan amat hati-hati dan cermat.
Melihat hasil pahatannya dan ukirannya yang telah menciptakan bentuk tubuh yang cukup baik, ia merasa amat girang.
Banyak rahasia dalam cara pengukiran petung ia pelajari dari kedua orang sahabatnya itu, dan diam-diam ia mengaku memang cara mengukir dan memahat patung dari Mataram sebagaimana yang dipelajarinya dari murid-murid Panembahan Bayumurti itu jauh lebih sempurna daripada pelajaran yang pernah ia tuntut di Kerajaan Syilendra.
Akan tetapi, telah beberapa pekan lamanya Indrayana merasa jengkel dan penasaran.
Patung yang dibuatnya itu adalah patung wanita.
Dari kaki sampai leher sudah baik sekali, akan tetapi ia melihat kesulitan dalam hal membentuk muka patung itu.
"Kakangmas Indrayana,"berkata Candra Dewi dengan suaranay yang merdu dan halus."Dalam mengukir dan membentuk bagian muka, memang lebih sukar daripada bagian-bagian lain, bahkan boleh di bilang yang paling sukar. Selain harus cermat, juga perlu bekerja denagn hati-hati sekali, karena sekali saja pahatmu meleset dan mendatangkan cacat pada muka patung, itu berarti bahwa seluruh pekerjaanmu terbuang sia-sia!"
"Inilah kelemahanku semenjak dahulu dalam membuat patung, diajeng Dewi,"jawab Indrayana sambil menarik napas panjang."Aah, memang aku yang bodoh! Betul seperti kata Ayahku dahulu, membuat patung yang indah memerlukan bakat, dan aku ""
Aku agaknya tidak berbakat!"Dengan muka sedih Indrayana menunda pekerjaannya, duduk di atas sebatang akar pohon waringin, kemudian memandang kepada telapak kedua tangannya yang ditelentangkan di atas pegkuannya."Tanganku terlampau kasar, tak patut bagi pekerjaan yang halus-halus!"
Candra Dewi memandang kepada Indrayana dengan sinar mata seperti seorang ibu memandang kepada seorang anaknya, lalu ia tertawa geli sehingga pemuda itu memandangnya dengan merenggut karena merasa penasaran mengapa orang sedang kesal malah ditertawakan?
Melihat mulut Indrayana yang cemberut itu, makin gelilah hati candra Dewi sehingga ia menggunakan tangan untuk menutup dan menahan ketawanya.
"Engkau seperti anak kecil yang sedang rewel!"kata gadis itu."Seperti anak kecil minta sesuatu dan tidak diperbolehkan oleh ibunya!"
"Alangkah baiknya kalau aku masih menjadi anak kecil dan masih mempunyai seorang ibu yang mencintaiku dan menghibur hatiku,"kata Indrayana mengerutkan keningnya.
"Eh-eh, jangan merajuk, kakangmas Indrayana. Aku khawatir jangan-jangan engkau akan menangis! Apakah sekarang engkau merasa demikian sengsara?"
Indrayana menghela napas,"sekarang?
Tak seorangpun peduli pada nasibku.
Bahkan dalam kekesalan dan kekecewaan seperti sekarang ini, tidak ada yang menghiburku bahkan ada orang yang mengejek dan mentertawakan aku!"
Tiba-tiba berobahlan wajah Candra Dewi, pandang matanya sayu ketika ia menatap wajah Indrayana. Ia mendekati pemuda itu dan menyentuh lengannya dengan ujung jari tangan.
"Kakangmas ""
Tak dapatkah engkau menerima kelakarku?
Benar-benarkah engkau demikian berduka dan menderita ""?
Melihat pandang mata gadis itu dan mendengar suaranya yang agak gemetar itu, Indrayana sadar kembali bahwa ia memang bersikap keterlaluan.
Dipegangnya pergelangan tangan gadis itu dan berkata sambil tersenyum lebar.
"Jeng Dewi, maafkan aku! Aku tadipun hanya bergurau dan mengodamu saja."
"Candra Dewi tiba-tiba membentot tangannya yang terpegang itu dengan wajah kemerah-merahan.
"Kakangmas Indrayana, janagn engkau cemberut lagi seperti tadi. Sungguh tak sedap hati rasanya memandang mukamu yang cemberut. Sekarang dengarlah baik-baik, orang muda pemarah. Tadi engkau menyatakan bahwa menurut ramandamu, pembuatan patung yang indah membutuhkan bakat. Ini memang benar, akan tetapi hanya sebagian saja, dan pernyataan itu masih belum lengkap. Kalau kau berkata bahwa tidak berbakat, itu sama kelirunya dengan pernyataan bahwa kau tidak berkepala."
Indrayana memandang kepada gadis itu dengan heran dan tertegun.
Memang, gadis ini amat pandai mengingat filsafat yang pernah ia dengar dari Ayahnya, dan memiliki pandangan yang amat luas dalam hal perikehidupan sehingga kadang-kadang Indrayana sendiri menjadi terheran-heran.
Melihat betapa mata Indrayana memandangnya dengan penuh keheranan, gadis itu tersenyum dan berkata,"Aku hanya mengulang kata-kata Ayahku belaka.
Menurut Ayah, segala macam kepandaian di dunia ini, telah ada pada diri setiap orang manusia.
Kepandaian ini masuk ke dalam tubuh bersama-sama denagn jiwa dan kepandaian asli yang berasal dari Hyang Agung inilah yang dinamakan bakat.
Bakat ini pula yang membuat setiap orang bayi dapat mempergunakan seluruh anggota tubuhnya yang sudah kuat tanpa diberitahu lagi.
Hanya terserah kepada manusia sendiri untuk menggali dan mencari bakat sendiri di dalam dirinya.
Berhasil atau tidaknya seseorang mendapatkan bakat sendiri di dalam dirinya, tergantung sepenuhnya kepada orang itu sendiri.
Ia harus rajin, tekun, tahan uji, ulet, sabar, dan segala sifat-sifat baik harus dikerhkan sebagai obor penerangan untuk mencari bakatnya sendiri yang tersembunyi itu."
Indrayana memandang kepada Candara Dewi dengan mata dipentang lebar dan bibirnya tersenyum.
"Eh, eh, mengapa kau tersenyum-senyum? Apakah kau tad mendengarkan kata-kataku? Jangan membikin aku capai berkata-kata dengan sia-sia!"
Indrayana cepat mengangguk-anggukkan kepalanya."Tentu saja aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Memang amat janggal dan aneh."
"Apanya yang janggal dan aneh?"tanya gadis itu curiga.
"Janggal dan aneh kedengarannya ucapan yang mengandung arti dalam sekali itu keluar dari bibir seorang dara semuda dan secantik engkau!"
"Hus, jangan kau menggoda, kakangmas Indrayana. Akan kulanjutkan petunjuk untuk membuat patung ini, atau tidak?"ia emngancam.
"Eh, tentu saja, tentu saja! Baik, aku takkan main-main lagi dan akan mendengarkan sebagai seorang murid yang baik."
"Oleh karena bakat telah ada di dalam diri setiap orang, maka aku katakan tidak benar kalau kau menganggap bahwa kau tidak berbakat. Setiap orang tentu dapat mengerjakan apa saja, asalkan ia usahakan dengan hati mantap, penuh kepercayaan kepada diri sendiri, penuh rasa sayang dan cinta kepada apa yang dikerjakan, dan tanpa ada penyelewengan kehendak. Buktinya, kau telah dapat membuat patung ini dengan cukup baik, hanya bagian mukanya saja belum juga dapat kauselesaikan sempurna. Menurut petunjuk rama panembahan dulu, membentuk muka patung harus menurut contoh yang dilukis dalam angan-angan sendiri. Pelukisan wajah seseorang dalam angan-anagn ini akan lebih jelas dan mudah muncul apabila kita memilih orang yang lebih dekat di hati, orang yang paling kau kasihi. Dulu, ketika akan membuat patung untuk pertama kalinya, baru aku berhasil setelah gambar dalam angan-anganku itu timbul dari cinta kasihku kepada Ayah dan ibu. Aku dapat membuat patung Ayah ibu dan dengan baik sekali."Indrayana mengangguk-angguk. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian."Hm, jadi begitukah caranya?"
Ya, dan sekarang kau bentuklah muka patung itu menurut wajah orang yang terdekat dengan hatimu."
Tiba-tiba muka Indrayana berseri."Ibuku! Benar ""
Sejak dulu aku ingin sekali membuat patung ibuku!
Tahukah kau, jeng Dewi, dulu aku pernah mencoba membuat patung dari batu-batu di tengah Kali Serang, untuk membuat patung mendiang ibuku, akan tetapi selalu taidak berhasil?
Sekarang aku telah tahu bagaimana cara mengukir bagian yang halus-halus dan agaknya wajah ibuku yang paling mudah timbul dalam angan-anganku."
Akan tetapi Candra Dewi menggelengkan kepalanya."Kau lihatlah tubuh patung itu, pantaskah kiranya kalau menjadi tubuh mendiang ibumu?"
Indrayana tertegun. Memang tubuh patung itu merupakan tubuh seorang wanita muda remaja, sedangkan wajah ibunya merupakan wajah seorang wanita yang sudah setengah tua.
"Kau benar diajeng, takkan sesuai."
"Pilihlah wajah seorang yang lebih muda. Dapatkah kau mengingat wajah ibumu ketika masih muda?"
"Indrayana menggelengkan kepala, kemudian ia berkata,"Oya aku akan membayangkan wajah Sang Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra"
Candra dewi memandang dengan mata bersinar."Ah, Sang Puteri Pramodawardani yang tersohor cantik jelita seperti bidadari itu?"
Indrayana mengangguk dan wajahnya berseri-seri.
Pembicaraan ini mengingatkannya lagi kepada Sang Puteri yang jelita itu dan ketika ia menyipitkan kedua matanya, terbayanglah wajah puteri jelita itu dengan jelasnya di depan matanya.
Benar!
mengapa ia begitu bodoh?
Bayangan wajah Pramodawardani yang pernah dirindukan itu demikian jelas, seakan-akan ia dapat merabanya.
Tentu mudah sekali membentuk wajah patungnya menurut contoh ini!
"Engkau benar ""
Engkau benar """Bagaikan dalam mimpi.
Indrayana lalu berjalan perlahan kepada patungnya yang berdiri tak jauh dari situ, lalu mengambil alat-alat pengukirnya, meraba-raba bagian muka patung itu sambil metanya masih setengah dikatupkan.
Ia tidak melihat betapa Candra dewi memandangnya dengan mata sayu dan wajah pucat, tidak mendengar betapa berkali-kali gadis itu berbisik"Pramodawardani ""??"kemudian pemuda itu hanya mendengar suara Candra Dewi berkata,"Nah, selamat bekerja, kakanda Indrayana.
Aku akan membantu Raden Pancapana di ladang!"
Indrayana tidak melihat betapa gadis itu berlari ke ladang menahan runtuhnya air matanya.
Memang sesungguhnya hati Candra Dewi terasa hancur dan perih.
Dari pandangan mata pemuda itu, gadis ini dapat menduga bahwa pemuda itu memilik perasaan hati yang sama denagn dia sendiri, menduga bahwa pemuda itu tentu menaruh hati cinta kasih kepadanya.
Bagaikan ciuman sinar matahari atau pelukan halimun pada bunga puspita, demikianlah dugaan akan cinta kasih pemuda ini mendatangkan kehangatan dan kesegaran kepadanya.
Ia maklum bahwa pemuda itu belum berani menyatakan perasan hatinya dan belum ada kesempatan bagi mereka untuk saling menyatakan perasaan ini sungguhpun dari pandangan mata, mereka telah merasa yakin bahwa mereka mempunyai perasaan hati yang sama.
Semenjak Indrayana belajar membuat patung dengan hati berdebar, Candra Dewi melihat betapa pemuda itu membentuk kaki tangan dan bentuk tubuh patung itu seperti dia!
bahkan Pancapana sendiri pernah berkata sambil tertawa.
"Ah, dimas Indrayana, melihat patungmu ini dari kanan, kiri, atau belakang, aku seperti melihat adikku Candra Dewi! Serupa benar."
Indrayana hanya tersenyum saja mendengar ini, dan Candra Dewi sambil melerok ke arah Pancapana lalu berkata.
"Ada-ada saja Raden Pancapana, semua orang dapat melihat bahwa patung ini terbuat daripada batu sedangkan aku dari pada kulit dan daging, mana bisa sama? Tentu saja bentuk tubuh kaki dan tangan semua hampir sama!"
Akan tetapi, diam-diam ie mengaku di dalam hati bahwa tak dapat tidak, dalam pembuatan tubuh patung itu, Indrayana telah mencontoh dirinya.
Diam-diam Candra Dewi merasa girang sekali.
Dan ketika merasa tadi mengadakan percakapan tentang pembuatan patung itu, terbukalah kesempatan bagi mereka berdua.
Kesempatan mencari keyakinan bagi Candra Dei dan kesempatan mengutarakan isi hatinya bagi Indrayana.
Candra Dewi telah merasa yakin dan pasti bahwa setelah ia memberi petunjuk kepada pemuda itu, tentu pemuda itu akan mempergunakan dia sebagai contoh pengukiran muka patung itu.
Tentu pemuda itu akan membuka rahasia hatinya bahwa Candra Dewi adalah wanita yang selalu dekat di hatinya, yang selalu terbayang-bayang.
Namun, apakah yang didengarkan?
Bukan lain ialah nama Puteri Mahkota Pramodawardani.
Naiklah sedu sedan dari dadanya ketika Candra Dewi meninggalkan Indrayana.
Dengan hati perih ia lalu berlari ke lereng gunung, di mana terdapat sebuah ladang yang luas.
Ladang ini adalah hasil pekerjaan mereka bertiga, di mana mereka bercocok tanam untuk di makan sendiri hasilnya.
Pada waktu itu, Raden Pancapana tengah mencangkul dengan rajinnya.
Ketika melihat Candra Dewi berlari-lari, ia menghentikan pekerjaannya.
"Eh, Candra, kenapakah?"tanyanya setelah gadis itu tiba di dekatnya. Biarpun Candra Dewi tidak menangis dan sudah berusaha menekan perasaannya, namun pandang mata Pancapana yang tajam itu masih dapat juga melihat kemuraman wajahnya. Candra Dewi semenjak kecil telah kehilangan ibunya dan hanya hidup berdua dengan Ayahnya yang tentu saja amat menyayangi puteri tunggal itu. Kemudian datang Pancapana yang menjadi murid Ayahnya dan yang dianggap sebagai kakak sendiri. Kini, berada di puncak gunung Muria bersama dengan Sang Panembahan Ekalaya dan kedua orang muda itu, Candra Dewi makin merasa betapa Pancapana merupakan pengganti Ayahnya dan hanya kepada pangeran inilah ia mengharapkan bimbingan dan perlindungan. Hatinya sedang perih dan hancur, kini mendengar pertanyaan yang mengandung penuh perhatian itu tak terasa lagi Candra Dewi menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis sedih. Terkejutlah hati Pancapana melihat keadaan gadis ini, ia tadi tahu bahwa Candra Dewi sedang memberi petunjuk kepada Indrayana tentang pembuatan patung, mengapa kini gadis ini datang dan menangis sedih? Untuk beberapa lama ia mendiamkan saja Candra Dewi menangis, kemudian setelah tangis adik angkatnya itu menjadi reda, ia bertanya.
"Candra Dewi, kau kenapakah? tak enakkah badanmu? Sakitkah kau? Atau, adakah terjadi sesuatu yang menyusahkan hati?" (Lanjut ke
Jilid 06) Banjir Darah di Borobudur (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Pertanayaan-pertanayaan ini tidak dijawab oleh Candra Dewi yang hanya menggelengkan kepala sambil menunduk.
"Kalau begitu, mengapa engkau menagis?"Kembali Candra dewi tidak menjawab, karena bagaimanakah ia harus menjawab? Bagimanakah ia dapat menerangkan kepada Pancapana apa yang menjadikan hatinya perih? Pancapana dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang menyusahkan hati gadis itu, akan tetapi tidak dapat di ceritakan kepadanya. Ia lalu duduk di dekat Candra Dewi, minum air dari sebuah kendi air yang tersedia di situ, lalu berkata dengan suara yang amat halus.
"Adikku, telah setahun lebih kita berada di sini dan banyaklah ilmu yang telah kita pelajari dari Eyang Panembahan Ekalaya. Dan menurut perhitungan dan pesan Panembahan Bayumurti, Ayahmu, paling lama beberapa bulan lagi kita tentu akan bertemu kembali dengan paman Panembahan."
Kata-kata ini diucapkan oleh Pancapana denagn maksud memacing dan ingin mengetahui apakah kesedihan gadis itu dikarenakan rindu kepada ramandanya.
Akan tetapi, Candra Dewi tidak manjawab dan masih saja menundukkan mukanya dengan muram.
Pancapana mengerutkan keningnya dan berpikir-pikir.
Kemudian ia tersenyum dengan suara masih biasa.
"Adikku yang manis, di manakah adanya dimas Indrayana? Mengapa ia tak ikut datang ke sini?"
Karena suara Pancapana terengar biasa saja, maka Candra Dewi dapat dapat menetapkan hatinya dan menjawab sambil lalu saja.
"Dia sedang sibuk membuat patung."
"Belum jadi jugakah patung itu? Alangkah lamanya! Bukankah hanya tinggal mukanya saja yang belum sempurna?"
"Sekarang ia sedang mengukir bagian mukanya,"jawab Candra Dewi dan hatinya mulai terasa perih lagi karena teringat betapa jari-jari tanagn Indrayana yang kuat itu sekarang tentu sedang membentuk muka Pramodawardani, meraba-raba muka patung puteri itu dengan belaian penuh kasing sayang! "Sudah tahukah ia akan rahasia mengukir muka patungnya?"
Candra Dewi mengangguk dan berkata perlahan,"Sudah kuberitahu agar dia menggunakan seorang yang dikasihinya sebagai contoh."
"Bagus! Sekarang tentu akan sempurna patung itu. Eh, aku jadi ingin sekali tahu siapakah gerangan wanita yang dijadikan contoh bagi pengukiran muka patungnya? mendiang ibunya? Candra dewi menggeleng cepat karena khawatir kalau-kalau pangeran itu menyangka dialah orangnya, maka ia cepat pula menerangkan dengan suara acuh tak acuh.
"Yang dijadikan contoh adalah Sang Puteri Pramodawardani!"
"Apa??"Hal ini benar-benar mengejutkan hati Pancapana dan sama sekali tak pernah disangka-sangkanya. Gurunya, yaitu Ayah Candra Dewi atau Panembahan Bayumurti, pernah menyatakan kepadanya bahwa Tanah Jawa baru akan aman dan segala pertikaian dan permusuhan dapat dilenyapkan apabila keturunan Sanjaya dan keturunan Syailendra dapat berjodoh, sehingga Agama kedua turunan itu, yaitu Agama Hindu dan Agama Buddha yang bersumber satu, dapat pula dijodohkan! Biarpun gurunya bicara dengan tidak langsung dan merupakan harapan belaka, namun amat berkenan di dalam hati pangeran ini dan telah lama ia mengandung keinginan hati yang besar untuk dapat melihat wajah Pramodawardani Puteri Syailendra itu. Kini mendengar bahwa Indrayana hendak membuat wajah patung itu seperti wajah Pramodawardani, tentu saja ia merasa terkejut dan juga heran serta kecewa. Ia menduga bahwa pemuda gagah itu mencintai adik angkatnya dan ia tahu pula betapa besar rasa cinta kasih Canda Dewi terhadap Indrayana! Mendengar keterangan itu, pemuda yang cerdik dan waspada ini dapat menduga bahwa tentu hal inilah yang membuat hati gadis itu bersedih. Candra Dewi, adikku yang ayu."katanya dengan suara menghibur,"tadiny aku merasa terkejut juga mendengar kata-katamu bahwa Indrayana membuat patung itu seperti wajah Pramodawardani dan timbul sangkaan yang bukan-bukan dalam hatiku bahwa ia mencintai puteri mahkota itu!"
"Tentu saja ia mencintainya."jawab Candra Dewi masih tunduk, kemudian ia mengangkat mukanya dan tersenyum ketika berkata."Akan tetapi, apakah hubungannya itu dengan kita? Biarlah dia mencintainya, apa peduli hal itu bagi kita?"
"Akan tetpi belum tentu demikian halnya, adikku. Belum tentu Indrayana mencintai Puteri Pramodawardani."
Tadi Candra Dewi memperlihatkan sikap acuh tak acuh terhadap urusan Indrayana, akan tetapi ketika mendengar ucapan Pancapana ini, tiba-tiba saja ia menaruh banyak perhatian!
"Kalau tidak mencintainya, mengapa wajah Puteri Pramodawardani sebagai contoh?"
Pancapana menahan senyumnya melihat sikap Candra Dewi ini, dan menjawab dengan sikap seakan-akan ia tidak tahu akan perobahan ini,"Pramodawardani adalah seorang Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra yang amat dicintai dan dihormati oleh semua rakyat kerajaan itu.
Sudah sepatutnya kalau sebagai seorang ksatria dari Syailendra, Indrayana menghormatinya pula dan memujanya, sehingga sebagai pengormatan terhadap puteri junjungannya itu, ia membuat patung itu seperti Puteri Pramodawardani!"
Bagai awan gelap tertiup angin, kemuraman wajah Candra ewi lenyap terganti cahaya harapan baru yang membuat sepasang pipinya berwarna merah kembali.
"Biar, aku intai dia Candra. Akupun ingin sekali melihat bagaimana rupa Puteri Pramodawardani yang tersohor cantik jelita itu."
Setelah berkata demikian, Pancapana meninggalkan ladang itu, meninggalkan Candra Dewi yang duduk melamun seorang diri, tidak gelisah dan berduka lagi seperti tadi, sungguhpun ia mesih meragukan kebenaran dugaan Pancapana tadi.
Sementara itu, Indrayana mengerahkan seluruh ingatannya untuk membayangkan wajah Pramodawardani yang pernah membuatnya tak sedap makan tak nyenyak tidur, gandrung-gandrung di sepanjang jalan.
Mula-mula memang wajah itu nampak nyata sekali, sehingga dapat ia gambarkan bentuk bibir yang indah itu, hidung yang mancung dan mata yang bersinar bagaikan bintang itu.
Kedua tangannya lalu bergerak mengerjakan alat pengukirnya pada muka patung itu yang hendak dibentuk seperti contoh bayangan wajah Pramodawardani.
Akan tetapi aneh sekali ketika ia mulai memahat bagian rambut yang panjang terurai itu, tiba-tiba pikirannya melayang ke arah rambut di kepala Candra Dewi!
Rabut kepala Candra Dewi tidak kalah hitam, panjang, dan halusnya daripada rambut Pramodawardani, sungguhpun rambut Candra Dewi tidak serapi dan seberes rambut puteri mahkota itu, melainkan lebih kasut dan tidak dipelihara baik-baik.
Akan tetapi, justruh rambut yang kasut itu, apalagi yang segumpal yang selal berjuntai di depan kening, kadang-kadang menggangu mata dan kepalanya lalu digerakkan tiba-tiba untuk menghalau segumpal rambut itu dari depan matanya, membuat gadis itu makin menarik dan manis!
Indrayana mengerahkan tenaga pikirannya untuk mengusir bayangan rambut Candra Dewi.
Hal ini bukan hanya terjadi karena cinta kasihnya kepada gadis itu, akan tetapi terutama sekali karena ia hanya sekali saja san sebentar melihat bentuk kepala Pramodawardani, sedangkan Candra Dewi dijumpai setiap hari, bahkan sering kali ia duduk mengagumi rambut gadis itu dengan diam-diam!
"Ah, biarlah, biarlah!"katanya dalam hati dengan perasaan mangkal."Tidak apa kegunakan contoh rambut kepala Candra Dewi untuk patung ini.
Tidak ada buruknya rambut ramodawardani disamakan dengan rambut Candra Dewi.
Untuk bagian-bagian lain pada mukanya akan kugunakan muka Sang Puteri sebagai contoh."
Akan tetapi pikiran ini lebih mudah direnungkan daripada dilakukan.
Setelah kepalanya mulai terbentuk dan ia hendak mulai dengan bagian kening dan telinga, kembali ia terbentur pada hal yang sama.
Tadinya memang kelihatan jelas kening yang halus dan telinga yang terhias mutumanikam dari Puteri Pramodawardani akan tetapi aneh sekali, kening itu yang tadinya berwarna putih kening berobah menjadi bentuk kening Candra Dewi yang segar kemerah-merahan dan agak nonong sedikit sedangkan daun telinga yang indah terhias mutumanikam itupun berobah pula menjadi daun telinga Candra Dewi yang terhias oleh sinom yang melingkar ke belakang dengan amat indahnya!
Karena telah capai mengerahkan tenaga batin dan pikiran untuk mengusir banyangan Candra Dewi tanpa hasil yang memuaskan, maka kembali ia menghibur hatinya dengan keputusan seperti tadi.
Tidak apa kening dan daun telinganya menyerupai kening dan daun telinga Candra Dewi, karena yang terpenting pada perasaan muka adalah mata dan hidung serta mulut, maka ia melanjutkan ukirannya dan membuat patung seperti contoh bayangan Candra Dewi, yaitu pada bagian kening dan daun telinganya.
Dan ketika ia hendak memulai mengukir bagian matanya dan diam-diam mengenakan sepasang mata bintang dari Puteri Pramodawardani yang indah itu, sehingga sepasang mata itu nampak jelas sekali seperti ketika sang puteri memandangnya dengan marah pada waktu secara lancang ia membukakan sutera penutup tempat keputren dahulu, tiba-tiba berubah menjadi sepasang mata yang jenaka, yang indah bening, yang manik-maniknya dapat hidup dan memancarkan cahaya yang mengandung seribu macam bahasa indah, mata dari Candra Dewi, pemuda itu melemparkan alat-alat ke atas tanah dan menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah!
"Celaka """keluhnya,"Mengapa Candra Dewi telah menguasai seluruh hati dan pikiranku?
Untuk beberapa lama pemuda itu duduk bersandar di batang pohon dan termenung.
Tak salah lagi, ia bukan mencinta Pramodawardani, hanya kagum akan kecantikan puteri itu.
Bukan Pramodawardani yang menguasai hatinya, melainkan Candra dewi!
Hal ini tidak aneh, karena pemuda inipun maklum akan kebenaran kata orang zaman dahulu bahwa cinta kasih murni akan berakar dan mendalam setelah kedua fihak sering kali bertemu dan ada penyesuaian watak dan sifat mereka.
Dengan Pramodawardani ia hanya bertemu muka satu kali, itupun amat sebentar sehingga rasa cinta kasihnya dahulu itu paad hakekatnya hanyalah rasa silau dan kagum karena kecantikan puteri yang sukar dicari bandingannya itu.
Hubungannya dengan Candra Dewi lain lagi.
Mereka telah bergaul sebagai murid-murid Panembahan Ekalaya bahkan sebelum itu mereka telah menghadapi bahaya bersama, senasib sependeritaan dan mereka telah mengenal baik sifatnya dan tabiat masing-masing.
"Aku cinta kepada diajeng Dewi """Indrayana menarik napas panjang dan mengaku kepada diri sendiri."Dia lebih cocok bagiku, juga sama-sama keturunan pertapa. Mengapa aku harus malu menyatakan kasihku?"
Setelah mengambil ketetapan dalam hatinya, pemuda ini lalu bangkit lagi, mengambil alat-alatnya dan melanjutkan ukirannya pada muka patung itu.
Kali ini ia membayangkan wajah Candra Dewi yang muncul bagaikan bulan purnama, bersih tidak terlarang oelh bayangan apapun juga.
Seyum dan kerling mata Candra Dewi paling menarik hati Indrayana, maka bayang-bayang wajah gadis itu tersenyum-senyum dan melirik-lirik, sehingga ukiran pada patungnya menurut pula bayang-bayang itu!
Dengan amat asiknya Indrayana mengukir muka patungnya, makin lama makin tertarik dan gembira sekali karena melihat betapa ukirannya benar-benar baik dan serupa benar dengan wajah gadis yang dikasihinya itu.
Benar sekali petunjuk Candra Dewi, dengan mencontoh bayangan yang terlukis jelas di dalam kenangannya, dengan mudah ia dapat menyelesaikan patung itu.
Saking asyiknya Indrayana sampai tidak tahu bahwa semenjak tadi ada sepasang mata yang mengintai dari balik daun pohon Pengintai ini bukan lain adalah Pancapana yang ingin sekali melihat bagaimana wajah Puteri Syailendra yang tersohor itu.
Akan tetapi, ketika melihat wajah patung itu, hampir saja ia tak dapat menahan ketawanya.
Ia mendekap mulutnya sendiri untuk menahan ketawanya, lalu pergi diam-diam dari tempat itu.
Pancapana berlari-lari ke ladang kembali di mana ia mendapatkan Candra Dewi yang masih saja duduk termenung dengan hati binggung.
Melihat Pancapana datang dengan muka gembira dan tertawa-tawa, Candra dewi bertanya heran.
"kau kelihatan gembira sekali, pangeran."
"Hush, jangan menyebut Pangeran kepadaku, Candra. Sejak dulu aku minta kau menyebutku kakangmas seperti menyebut seorang kakak sendiri, akan tetapi kau selalu tidak mau menurut. Apakah kau tidak suka menjadi adikku?"
Bukan demikian, Raden Pancapana.
Sungguhpun di dalam hati aku telah merasa seperti adikmu sendiri, namun betapa juga kau adalah seorang pangeran pati yang harus dihormati.
Itulah sebabnya, maka aku tidak dapat menyebutmu lebih sederhana dari sebutan Raden.
Eh, ya, kenapakah kau tertawa-tawa gembira?
Agaknya cantik jelita sekali patung yang di buat oleh kakangmas Indrayana itu sehingga hatimu terpikat oleh kecantikan Puteri Pramodawardani?"
Makin keraslah kini Pancapana tertawa."Itulah yang menggelikan hatiku, Candra! Memang benar. Indrayana mencontoh wajah Pramodawardani untuk patungnya. Akan tetapi, ha-ha-ha!"
"Eh, kenapa Raden?"
"Muka itu ""
Seperti muka wewe ( setan perempuan ) buruk dan menyeramkan! Kalau demikian buruk menakutkan wajah Pramodawardani mengapa Indrayana begitu bodoh untuk menjadikannya sebagai contoh patungnya?"
"Buruk? Tak mungkin, Raden Pancapana. Sepanjang pendengaranku, Puteri Pramodawardani amat cantik jelita, tiada taranya di permukaan bumi ini. Kabarnya, segala sifat baik wanita ada padanya. Ia agung dan ayu seperti Sumbadra, gandes luwes seperti Larasati, kewat merak hati seperti Srikandi!"
"Entah berita itu yang salah, atau Indrayana yang tidak dapat membayangkan wajah, puteri itu, akan tetapi nyatanya, muka patung itu tidak karuan macamnya!"
Pancapana pandai sekali membuat gadis itu merasa penasaran dan ingin tahu.
"Tidak percaya? Lihatlah sendiri, Candra. Akan tetapi jangan engkau mengejek Indrayana, itu akan menyinggung perasaannya, karena yang dipahat adalah puteri sesembahannya!"
Candra Dewi lalu pergi dari situ, menuju ke tempat mana Indrayana bekerja.
Hatinya riang, karena kalau memang benar bahwa Pramodawardani berwajah buruk, tidak mungkin Inrayana mencintai puteri itu.
Akan tetapi, ia masih merasa penasaran dan marah kepada Indrayana.
Betapapun hormatnya terhadap Puteri Mahkota Kerajaan Syailendra, mengapa pemuda itu lebih menghargai dan lebih mengasihi puteri itu dari padanya?
Salahkah pandangan matanya, mungkinkah sinar mata pemuda itu di waktu memandangnya merupakan kepalsuan belaka?
"Kali ini harus kucari kepastian.
Tak mau aku dipermainkan, tak mau aku bimbang ragu, menderita seorang diri!"Dipercepatnya langkah kakinya, karena hari telah mulai menjadi gelap, tanda senjakala telah mendatang.
Ketika ia tiba di tempat itu, ia memperlambat jalannya karena melihat bahwa Indrayana berdiri menghadapi patung dengan kedua tangan masih asyik mengerjakan muka petung itu yang berdiri membelakanginya.
Candra Dewi tidak mau dilihat tergesa-gesa dan tidak mau memperlihatkan bahwa ia ingin sekali melihat hasil kerja pemuda itu.
Akan tetapi Indrayana tidak melihat dia datang.
Pemuda ini sedang asyik menyelesaikan baian terakhir daripada pekerjaanya.
Kedua matanya bersinar-sinar menatap muka patung itu.
Senyum di bibir patung itu benar-benar hidup dan ia seakan-akan melihat Candra dewi yang hidup berdiri dan tersenyum manis kepadanya.
Tiba-tiba ia tak dapat menahan gairah hatinya lagi.
Dirangkulnya leher patung itu dan dibelai-belainya muka yang ayu itu.Pada saat itu, tiba-tiba pandang matanya bertemu dengan pandang mata Candra Dewi yang berdiri tak jauh di belakang patung itu.
Alangkah kaget, jengah dan malunya hati Indrayana tak dapat dibayangkan.
"Ah ""
Eh ""
Jeng Dewi ""
Kaukah itu? Kau datang seperti angin saja ""! Aku tidak mendengarnya sama sekali!"
Sementara itu, ketika tadi melihat betapa Indrayana memeluk dan membelai patung itu, seakan-akan hendak meledak rasa dada Candra Dewi karena cemburu!
Akan tetapi ia menekan perasaannya dan memperlihatkan muka biasa.
Untung bahwa udara mulai menyuram, sehingga Indrayana tidak melihat betapa mukanya sebentar merah sebentar pucat.
Ia melangkah makin dekat, akan tetapi sebelum ia dapat melihat muka patung itu.
Indrayana tiba-tiba mencegahnya dan menghadang di depannya.
"Diajeng, jangan kau melihat muka patung itu!"Suara pemuda itu bersungguh-sungguh sehingga Candra Dewi merasa heran sekali.
"Mengapa ""?"
"Jangan, diajeng, aku ""
Malu!"
"Aku ""
Aku malu, karena "". Patung itu ""
Ah, aku tidak berhasil patung itu buruk sekali!"
Candra Dewi tersenyum mengejek, bukan karena percaya bahwa patung itu buruk, akan tetapi karena keterangan ini sama sekali tidak cocok dengan kelakuan pemuda tadi yang memeluk dan membelai-belai patung itu.
"Hm, kalau buruk tidak nanti kau dapat membelai dan memeluknya dengan pandang mata demikian mesra, kakangmas Indrayana!"
Indrayana memandang dengan mata terbelalak lebar.
"Kau ""
Kau tadi melihatnya ""?"
"Tentu saja aku melihatnya, aku melihat betapa engkau gandrung-gandrung kepada patung itu Hm, karena itulah maka aku harus menyaksikan dengan mata sendiri sampai dimana hebatnya dan jelitanya Puteri Pramodawardani yang tersohor itu!"Kembali ia hendak melangkah maju, akan tetapi Indrayana minta dengan suara gugup,"Jeng Dewi""
Jangan ""!"
Candra Dewi mundur dua langkah, lalu memperhatikan kepala dan leher patung itu dari belakang.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang aneh baginya dan tak terasa lagi tangan kirinya meraba-raba rambutnya sendiri.
Mengapa rambut kepala patung itu sama benar letaknya dengan rambutnya sendiri?
"Kakangmas Indrayana """katanya perlahan,"rambut Sang Puteri Mahkota Syailendra ""
Seperti itu benarkah ""?"Tak terasa lagi Candra Dewi meraba-raba seluruh rambut di kepalanya.
"Be ""
Be ""
Benar!"jawab Indrayana sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Seperti rambutku!"
"Memang sama!"
"Apa ""?!?"
"Eh, ah ""
Maksudku, memang hampir serupa, yaitu ""
Letak dan modelnya ""
Lebih bagus """
"Bagaimana pula ini? Tentu saja rambutnya lebih bagus!"
"Tidak, tidak! Rambutnya memang lebih bagus, akan tetapi ""
Rambutmu lebih indah ""
Ya, lebih indah """Indrayana binggung sekali, karena ia merasa gelisah kalau-kalau gadis itu melihat muka patung yang sesungguhnya bukan lain adalah wajah gadis itu sendiri.
Ini masih belum hebat, yang mengerikan adalah karena gadis tadi tahu dan melihat betapa ia memeluk, membelai, dan menciumi patung itu!!
Sementara itu, Candra Dewi merasa makin curiga dan tidak mengerti melihat sikap Indrayana ini.
Mengapa patung itu begitu gugup dan gelisah?
Mengapa patung itu tidak boleh ia lihat?
"Kakangmas Indrayana, engkau kenapakah?
Apa salahnya kalau aku ikut mengagumi keindahan patung ini?"Ia melangkah lagi hendak mendekati patung itu, akan tetapi Indrayana buru-buru memutar tubuh patungnya sehingga tetap saja membelakangi Candra Dewi.
"Jangan ""
Diajeng "". Kalau kau kasihan kepadaku ""
Jangan sekarang. Besok saja engkau boleh melihatnya, kalau sudah kuperbaiki. Aku malu sekali kalau engkau melihatnya dalam keadaannya seperti sekarang. Amat buruk!"
Tiba-tiba Candra Dewi menjadi marah!"Kakangmas Indrayana, kau benar-benar keterlaluan!
Sudah demikian hinakah aku sehingga untuk memandang wajah puterimu yang ayu itupun masih kurang berharga?
Setidaknya, mengingat bahwa aku ikut pula memberi petunjuk dalam pembuatan patung ini, sudah sepatutnya kalau aku melihat kalau-kalau ada sesuatu yang kurang sempurna sehingga aku dapat memberi petunjuk lebih jauh.
Atau, kalau tidak mengingat akan perhubungan kita yang sudah lama sehingga seakan-akan aku menjadi adikmu sendiri, sudah sepatutnya kalau aku ""
Sebagai adikmu ""
Mengagumi kecantikan ""
Calon isterimu!"
Makin binggunglah Indrayana ketika melihat bahwa gadis itu benar-benar marah.
Ia menghela napas berkali-kali, kemudia sambil menundukkan muka dan melepaskan kedua tangannya di kanan dan kiri tubuhnya, ia berkata lemah.
"Kau yang memaksa, diajeng ""
Apa boleh buat, nah ""
Kaulihatlah, kemudia terserah kepadamu apa yang akan kau perbuat atas diriku yan bodoh ini """
Sambil berkata demikian, Indrayana memutar patungnya, dihadapkan kepada Candra Dewi. Gadis itu cepat memandang dan ""
Sukarlah memilih mana mana orang mana patung pada saat itu karena Candra Dewi berdiri dian tak bergerak, tak berkedip, bahkan napasnya seakan-akan terhenti, serupa benar dengan patung di depan itu!
Di depan Indrayana, seakan-akan kini berdiri dua buah patung kembar indah!
Lambat laun, sebuah dari pada patung itu bergerak, dadanya naik turun dan bibirnya bergerak, Candra Dewi berkata tanpa memalingkan mukanya dari patung itu.
"Mengapa ""
Bukan ""
Puteri Pramodawardani ""?"
Tadinya Indrayana merasa takut kalau-kalau gadis itu akan marah, akan tetapi mendengar suaranya yang lemah lembut dan sama sekali tidak marah itu, hatinya menjadi lega dan tabah kembali, sungguhpun rasa jengah masih membuat ia menundukkan maka tanpa berani memandang gadis itu.
"Jeng Dewi, kau sendiri yang memberi petunjuk agar aku mengukir patung ini menurut contoh wajah seorang yang paling mudah kuingat, seorang yang paling mudah di hatiku ""
Yang ku kasihi dengan sepenuh jiwaku. Telah kucoba membuat patung Pramodawardani, namun gagal, karena ""
Sesungguhnya ""
Bukan dialah yang selama ini memenuhi hati dan pikiranku. Aku hanya melakukan cara-cara yang telah kauajarkan kepadaku dan ""
Inilah hasilnya, diajeng. Aku membuat patung orang yang kukasihi, kusayangi, orang yang paling kucinta """
Tidak menanti sampai habisnya ucapan Indrayana itu, tiba-tiba Candra Dewi menengok menatap wajahnya dan ketika dua pasang mata itu bertemu, terdengar isak tertahan dan Candra Dewi lalu berlari pergi dari situ sambil terisak-isak menangis!
Indrayana mengangkat muka terkejut, lalu dengan lompatan jauh ia mengejar, memegang lengan kanan Candra Dewi dan berkata dengan suara penuh perasaan duka dan pernyataan maaf.
"Aduh, diajeng "". Maafkanlah aku tidak bermaksud menyinggung hatimu, aku tidak bermaksud menghinamu, diajeng. Sungguh, demi kehormatanku sebagai seorang ksatriya, demi semua Dewata Yang Maha Agung, aku bersumpah bahwa semua kelakuan dan ucapanku keluar dari hati yang suci murni, sama sekali tidak maksud hati untuk merendahkanmu. Aku tahu bahwa amat lancang, jeng Dewi, Orang seperti aku tidak patut dan tidak berharga untuk menyatakan perasaan hatiku terhadap kau yang agung dan mulia ""
Akan tetapi, apa dayaku, diajeng ""
Kau sudi memaafkan aku, bukan? Kalau kau kehendaki, aku bersumpah takkan berani berlaku seperti tadi lagi!"
Candra Dewi memandang muka pemuda itu dengan air mata masih membasahi pipinya, akan tetapi amat heranlah hati Indrayana ketika melihat bahwa biarpun mata gadis itu menangis, namun bibirnya senyum.
Tersenyum manis seperti patung itu.
"Bodoh """bisik dara itu,"aku menangis karena bahagia, masih belum terbukakah matamu ""?"
Kini Indrayana yang melenggong dan berdiri bagaikan patung batu, menatap wajah Candra Dewi seakan-akan berada di dalam mimpi.
Melihat pandang mata seperti itu, Candra Dewi melengoskan mukanya dan menarik tangannya."Lepaskan aku ""!"bisikinya dan hendak lari.
Akan tetapi kedua lengan tangan Indrayana lebih cepat lagi, pinggangnya yang ramping itu tertangkap dan sesaat kemudian ia telah berada dalam pelukan Indrayana.
Sambil memejamkan kedua matanya, Candra Dewi menyandarkan kepalanya di atas dada kekasihnya, mendengarkan bisikan cumburayu dari bibir Indrayana.
bagi sepasang kekasih yang sedang berbisik-bisik memadu kasih.
Waktu berlalu amat cepatnya tanpa terasa sedikitpun juga.
Demikian pula dengan Indrayana dan Candra Dewi.
Serasa baru beberapa patah kata saja keluar dari bibir masing-masing dan seakan-akan baru saja mereka duduk bersanding di atas akar pohon, akan tetapi tahu-tahu malam telah tiba dan bulan mulai muncul.
Namun belum juga mereka sadar dan masih tenggelam dalam buaian ombak samodera asmara yang memabokkan.
Memang aneh kalau orang sedang dimabok asmara.
Bulan purnama serasa suram dan tidka bercahaya apabila segala bunyi-bunyian dan gamelan, seakan-akan lagu dari surga.
Memang luar biasa sakti Dewa Asmara, dan bukan main ampuhnya anak panah dan gendewanya.
Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini, bahkan tiada dewata sekalipun manusia di dunia ini, bahkan tiada dewa sekalipun, yang kebal menghadapi senjatanya.
Akan tiba saatnya setiap orang manusia atau dewata terkena hikmatnya dan terpaksa mengakui kekuasaan dan keunggulan Sang Dewa Asmara.
Indrayana dan Candra Dewi baru sadar ketika tiba-tiba mereka mendengar suara ombak bertembang.
"Kakangmas Pancapana """bisik Indrayana sambil melepaskan tangan Candra Dewi yang dari dipegangnya.
"Ah, lebih baik aku pergi dlu, tentu kita akan di ejek habis-habisan dan diperoloknya kalau ia melihat kita disini."Setelah berkata demikian, Canda Dewi bangkit dan segera melarikan diri dari situ denagn lagkah ringan. Indrayana memandang bayangan kekasihnya dengan hati bungah. Ia tadi telah mendengar dari Candra Dewi bahwa Pancapana yang menjadi biang keladi dari semua ini. Pageran itu telah melihat ia membuat patung Candra Dewi dan sengaja membohongi gadis itu agar gadis itu melihat sendiri betapa Indrayana membuat patungnya. Nakal, akan tetapi juga amat baik hati. Indrayana tidka tahu apakah ia harus menegur ataukah menyatakan terima kasih, atas perbuatan Pancapana tadi. Ketika Indrayana keluar dari balik pohon dan menjumpai Pancapana yang sedang berjalan seorang diri sambil itu, Pancapana mengentikan tindakan kaki dan tembangnya.
"Eh, eh, dimas Indrayana!"katanya sambil senyum dan membelalakkan matanya."Teja bersinar indah melingkungi tubuhmu, tanda bahwa engkau telah bertemu dengan kebahagiaan dan mendapat berkah Dewata Yang Agung! Kebahagiaan apakah gerangan, dimas? Bagilah sedikit kepadaku."
"Kakangmas Pancapana, kau memang pandai menggoda orang,"jawab Indrayana.
"Tetapi tidak berbahaya, dimas godaanku tidak berbahaya, tidak seperti godaanmu! Hampir saja membuat Candra Dewi adikku itu patah hati! Jangan menggodanya sampai keterlaluan, dimas,ingat, dia adikku. Kalau sampai patah hati dan berduka, aku bisa marah kepadamu!"
Merahlah muka Indrayana dan sambil tersenyum malu ia berkata.
"Terima kasih, kangmas. Berkat campur tanganmu, sekarang semua telah menjadi baik."
Pancapana mengangguk-angguk sambil tersenyum"Bagus, bagus!!
Hatiku sudah gelisah melihat Candra Dewi menagis di ladang tadi, menangis dengan hati penuh cemburu kepada Puteri Mahkota dari Syailendra.
EH, dimas, sesungguhnya bagaimanakah rupanya Puteri Pramodawardani?
Benar-benar cantik jelita seperti yang disohorkan orangkah?"
"Cantik jelita!"kata Indrayana dengan bangga."Sungguhpun bagiku diajeng Candra Dewi lebih cantik, akan tetapi mencari seorang puteri di kolong langit ini yang cantiknya dapat menandingi Puteri Pramodawardani, agaknya tak mungkin dapat!"
Pancapana lalu duduk di atas sebuah batu, memberi isarat kepada Indrayana untuk duduk pula.
Dimas, kau tadi mengucapakan terima kasih kepadaku adakah ucapan itu tulus iklas dan keluar dari hati sanubarimu?"
"Tentu saja, kangmas. Tanpa reka dayamu itu, agaknya diajeng Candra Dewi akan selalu marah dan benci kepadaku."
"Kalau kau benar-benar berterima kasih, sekarang kau harus membalas jasaku itu dengan cerita tentang diri Puteri Pramodawardani! Ceritakanlah tetang keadaan kerajaannya, tentang keluarganya, tetang puteri itu sendiri, bagaimana cantiknya, betapa manisnya kalau tersenyum, bagaimana lagaknya kalau berkata-kata."
Demikian, kedua orang pemuda itu bercakap-cakap di bawah sinar bulan.
Indrayana menceritakankeadaan Syailendra, dan terutama sekali ketika menceritakan dan memuji-muji kecantikan Pramodawardani diceritakannya dengan cara yang menarik, dengan sejelasnya sehingga Pancapana yang mendengar merasa seakan-akan Puteri Pramodawardani itu telah berdiri di hadapannya!
Sudah tentu saja Indrayana banyak membohong dan hanay mengira-mgira saja dalam hal ini, oleh karena iapun baru satu kali saja bertemu muka dengan puteri itu!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali di kala ayam hutan masih belum berhenti berkokok saling sahut-sahutan, seperti biasa Sang Panembahan Ekalaya telah duduk bersila di atas batu hitam yang bentuknya bulat dan ketiga orang muridnya duduk pula bersila di atas tanah di hadapannya.
Kebiasaannya ini telah dilakukan semenjak mereka naik ke Muria.
Pada waktu fajar itulah mereka menerima pelajaran-pelajaran ilmu-ilmu kebatinan yang tinggi dari pertapa sakti itu.
Ada kalanya Sang Panembahan memanggil seorang di antara mereka pada siang atau senja hari untuk memberi pelajran khusus.
Akan tetapi, setiap pagi mereka bertiga tentu menghadap dan mendengar wejangan-wejangan dari guru mereka ini.
Hampir setiap pagi, Sang Panembahan Ekalaya menutup wejangan-wejagannya dengan kata-kata,"Sekarang pergilah bekerja, anak-anak!
Bekerjalah dengan hati riang dan laksanakanlah segala pitutur yang kaudengar dan pelajari di dalam perbuatan, karena pokok pangkal yang segala ilmu di dunia ini terletak pada perbuatan yang nyata.
Pengetahuan memerlukan pengertian, pengertian membutuhkan kesadaran, dan kesemuannya itu masih membutuhkan pula kenyataan.
Apakah artinya tahu kalau tidak mengerti, mengerti tidak sadar?
Dan apa pula artinya kesemuannya itu apabila ilmu yang dipelajarinya itu hanya merupakan pengetahuan kosong tanpa dilaksanakan dalam perbuatan?
Ingatlah selalu bahwa ilmu barulah sapat disebut sempurna apabila di alam pelaksanaannya dapat mendatangkan manfaat bagi kemanusiaan."
Akan tetapi, pada pagi hari itu, ucapan yang selalu ditekankan ke dalam hati murid-muridnya setiap pagi ini masih ditambah lagi dengan ucapan yang mendatangkan debar pada jantung ketiga orang muda itu.
"Indrayana, Candra Dewi, dan kau juga Pangeran Pancapana!"Sang Panembahan selalu menyebut Pancapana dengan Pangeran,"hari ini adalah hari terakhir dari kediamanmu sekalian di atas puncak gunung ini. Oleh karena itu, tak usah kalian melakukan pekerjaan seperti biasa dan duduklah saja di sini bersamaku. Masih ada beberapa pelajaran yang perlu kalian ketahui dan pelajari dengan baik."
Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang muda itu untuk mendengar ucapan-ucapan-ucapan yang penuh rahasia dari guru mereka dan mereka maklum bahwa tak boleh mereka menanyakan sesuatu yang tidak dibuka atau diberi tahu oleh gurunya.
Oleh karena itu, sungguhpun hati mereka ingin sekali bertanya tentang hari terakhir dari kediaman mereka di situ, namun mereka tak berani membuka mulut sebelum Sang Panembahan menerangkan sendiri.
Pernah satu kali Candra Dewi bertanya tentang sesuatu hal yang belum dijelaskan, dan dara itu mendapat teguran dari Panembahan Ekalaya.
"Berlakulah tenang dan sabar serta terimalah segala peristiwa yang terjadi dengan waspada, jangan sekali-kali kau ingin mengetahui lebih dalam tentang peristiwa yang belum terjadi. Memandang peristiwa yang terjadi kemarin sebagai sebuah pelajaran, menghadapi peristiwa hari ini denganpenuh kewaspadaan,dan menanti datangnya peristiwa esok hari dengan penuh ketenangan dan kesabaran. Itulah sifat seorang ksatria utama! Menjenguk peristiwa yang belum terjadi, selain dapat melemahkan iman, juga merupakan perbuatan yang curang dan pengecut. Curang terhadap kekuasaan nasib dan karenanya kesiku (melanggar pantangan) Dewata Agung, dan pengecut terhadap diri pribadi, tanda bahwa dia takut, khawatir akan datangnya kepahitan dalam kehidupannya."
Semenjak pertapa itu menyatakan demikian, maka ketiga orang muridnya tak pernah lagi berani bertanya tentang epristiwa yang akan datang.
Mereka maklum akan kesaktian gurunya, bahwa pertapa yang menjadi gurunya itu waspada dan tahu akan hal-hal yang belum terjadi.
Maka, mereka juga tidak bertanya tentang pernyataan bahwa hari itu adalah hari terakhir bagi mereka berada di tempat itu.
Dengan tenang dan sabar mereka hanya mendengarkan wejangan-wejangan gurunya dan menanti sampai pertapa itu memberi penjelasan.
Dan penjelasan itu datang ketika matahari telah mulai muncul di balik puncak, bersama dengan datangnya dua orang laki-laki tua yang mendaki gunung itu dengan gerakan cepat.
Setelah tiba di situ, keduanya lalu menjatuhkan diri brlutut dan menyembah kepada Panembahan Ekalaya.
"Hm, sukurlah kalian telah datang. Sudah lama kutunggu-tunggu kedatangan kalian,"
Kata pendeta itu dengan suaranya yang halus.
Bukan main heran, terkejut dan juga girang hati ketiga orang muda itu, karena yang datang itu bukan lain adalah Panembahan Bayumurti dan Wiku Dutaprayoga!
Candra Dewi segera menghampiri dan memeluk Ayahnya dengan sikap manja.
dua titik air mata membasahi pipi dara itu.
"Aku girang sekali melihat kau sehat dan segar, Candra!"
Kata Bayumurti sambil mengelus-elus rambut putrinya. Sementara itu, Indrayana lalu maju dan berlutut di depan Ayahnya.
"Ramanda, anakmu yang bodoh menerima segala hukuman yang hendak Ayah jatuhkan kepadaku."
Tidak ada yang dipersalahkan, Indrayana. Yang sudah terjadi merupakan pengalaman dan pelajaran bagi kita. Aku girang kau telah dapat menerima ajaran-ajaran dari eyangmu."
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Panembahan Bayumurti dengan cara yang amat mengagumkan dan gagah, menggantikan Sang Wiku Dutaprayoga untuk menjalani hukuman mati, kemudian dengan "pertolongan"
Pangeran Balaputra Dewa sendiri beserta kawan-kawannya atas suruhan Pramodawardani, Panembahan Bayumurti keluar dari dalam lobang kuburan di mana ia dipendam hidup hidup.
Ketika Panembahan Bayumurti keluar dari ibukota Kerajaan Syailendra, di luar pintu gerbang telah menanti Wiku Dutaprayoga dan mereka lalu melakukan perjalanan merantau bersama.
Kedua orang pertapa ini sesungguhnya memang merupakan dua orang sahabat karib di masa dahulu, yaitu sebelum Wiku Dutaprayoga menjadi Wiku di Syailendra.
Keduanya pernah melakukan tapa brata di atas puncak gunung-gunung dan melakukan lelanabrata bersama-sama di waktu mereka masih muda.
Keduanya memiliki kesaktian yang tinggi, dan kalau Wiku Dutaprayoga memilki keahlian dalam pembuatan senjata tajam, adalah Panembahan Bayumurti menjadi ahli dalam pembuatan patung.
Kedua orang tua ini melakukan perjalanan bukan untuk berpesiar atau menghibur hati, melainkan untuk meredakan ketegangan antara penganut Agama Hindu dan pemeluk Agama Buddha yang ditimbulkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab atau oleh mereka yang sengaja mengadakan kerusuhan dengan maksud mengeduk keuntungan bagi diri sendiri dari keadaan yang kacau itu.
Di mana terjadi keributan, datanglah Wiku utaprayoga bersama Panembahan Bayumurti.
Keduanya amat terkenal di antara penganut agama dan tentu saja nasehat-nasehat kedua orang pendeta itu mendatangkan hasil baik sekali.
Kedua orang pertapa itu memberi nasehat bahwa tidak seharusnya Agama Hindu dan Agama Buddha dijadikan dasar pertentangan dan pertempuran.
"Agama diturunkan kemuka bumi oleh Hyang Agung agar manusia dapat mempelajari kebaikan, mempertebal perikemanusiaan dan menjauhi iblis yang mendatangkan kekacauan dan permusuhan di dunia. Kalau kalian ini penganut-penganut Agama Hindu dan Agama Buddha, saling bermusuhan dan saling bunuh, maka berarti bahwa kalian kedua-duanya telah mnyeleweng dari pada ajaran agamamu masing-masing! Kamu yang memeluk Agama Buddha akan dikutuk oleh Yang Mulia Buddha sedangkan yang memeluk Agama Hindu akan mendapat murak para dewata!"
Demikian Bayumurti memberi nasehat. Lihatlah kami berdua ini,"
Kata Wiku Dtaprayoga.
"Aku adalah seroang wiku, seorang pendeta Agama Buddha. Sahabatku ini adalah seorang panembahan yang dalam ilmu pengetahuannya tentang Agama Hindu. Akan tetapi kami merasa bersaudara dan bersahabat, merasa bahwa kami adalah sama-sama manusia yang harus saling tolong-menolong. Sebaik-baiknya agama yang dianut, sesuci-sucinya orang itu menjalankan ibadah, ia tetap seorang manusia dan bukan dewa. Sebaliknya, betapapun jahat dan buruknya, orang lain itupun seorang manusia pula dan bukan setan. Orang yang merasa diri sendiri paling bersih dan menganggap orang-orang lain kotor sesungguhnya adalah orang yang sekotor-kotornya! Orang yang mengangkat tinju lebih dahulu dalam sebuah perkelahian, sesungguhnya adalah orang yang bersalah dalam keributan itu!"
Banyak sekali orang-orang yang menjadi insaf karena datangnya dua orang pertapa ini menghadapi tentangan-tentangan dari mereka yang sengaja mendatangkan keributan, akan tetapi berkat kesaktian Bayumurti dan Wiku Dutaprayoga, anasir-anasir itu dapat ditundukkan dan dikalahkan.
Setahun lebih kedua orang pendeta ini merantau, jauh sampai di dusun-dusun, baik yang termasuk wilAyah Kerajaan Syailendra maupun yang termasuk wilAyah Kerajaan Mataram.
Sesungguhnya kedua agama itu telah bercampur aduk memasuki seluruh dusun dan kampung dari kedua kerajaan itu.
Sementara itu dalam setahun ini telah terjadi banyak sekali perobahan dalam kedua kerajaan itu, terutama sekali Kerajaan Mataram.
Selama setahun lebih ini, Kerajaan Mataran mengalami kemunduran hebat sekali.
Sang Prabu Panamkaran kurang pandai memegang kendali kerajaan, lebih mementingkan kesenangan untuk diri pribadi.
Tanda-tanda akan keruntuhan Kerajaan Mataran yang tadinya jaya itu, nampak nyata.
Seperti biasa dan telah lazim terjadi, apabila rajanya tenggelam dalam kesenangan dan tidak memperhatikan keadaan kerajaannya, dan pembesar-pembesar tidak menjalankan tugasnya dengan baik bahkan mencari segala macam daya upaya dan jalan yang tidak halal untuk mengeduk keuntungan sebesar mungkin, kalau para cerdik pandai dan pendeta-pendeta bijaksana mengundurkan diri meninggalkan raja dan menteri-menterinya yang korup, maka kitulah tanda bahwa kerajaan itu menuju kepada keruntuhannya.
Raja merupakan payon rumah tangga negara, sedangkan para menteri dan petugas lain merupakan tiang-tiang, usuk-usuk balok-balok sesuai dengan besar kecil dan payon itu tidak sehat, bocor di sana-sini air hujan akan membuat kayu-kayu penahan payon menjadi lapuk dan membusuk, dan kalau sudah begitu, alamat akan celakalah seisi rumah WilAyah Mataram makin lama makin mengecil, dicaplok oleh kerajaan-kerajaan lain tanpa berhenti menentang sama sekali, karena maklum akan kelemahan sendiri.
Juga Sang Prabu Panamkaran tidak memperdulikan hal ini, baginya asalkan ia dapat hidup makmur dan mewah, cukuplah!
Tidak heran apabila Kerajaan Mataran makin terdesak dan terhimpit antara kerajaan-kerajaan lain, bahkan sebagian besar wilAyahnya secara terang-terangan dan kurang ajar sekali telah dikangkangi oleh pasukan-pasukan Serigala Hitam di bawah pimpinan Pendeta Siddha Kalagana.
Akhirnya Mataran terjepit dan hanya tinggal menjadi sebuah kerajaan kecil tak berarti di Gunung Dieng dan sekitarnya.
Sebaliknya, berkat kebijaksanaan Sang Maha Raja Samaratungga dan kesetiaan para pamong praja.
Kerajaan Syailendra makin kuat dan makmur.
Agama Buddha amat maju, pertanian subur, perdagangan ramai dan perahu-perahu layar dari Pulau Jawa datang dan pergi, membawa barang-barang kebutuhan rakyat dan mengangkut hasil bumi sebagai gantinya.
Hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain amat baik terutama dengan Kerajaan Sriwijaya di seberang lautan.
Raja-raja kecil menyatakan hormatnya dengan pengiriman barang-barang berharaga.
Semua hal ini diceritakan oleh Panembahan Bayumurti dan Wiku Dutaprayoga kepada Sang Bagawan Ekalaya, didengarkan juga oleh Indrayana, Pancapana dan Candra Dewi dengan penuh perhatian.
"Mataran perlu sekali ditolong daripada keruntuhannya, perlu sekali dibangun kembali. Dan hanya satu oranglah yang patut dan wajib melakukan hal itu dan menggantikan kedudukan Sang Prabu Panamkaran. Orang itu bukan lain adalah keturunan Sang Prabu Sanjaya, paman Bagawan dan oleh karena itu, hamba mohon perkenan paman Bagawan untuk memberi tugas kepada Pangeran Pancapana."
Sang Begawan ekalaya mengangguk-angguk perlahan dan tersenyum.
"Lakukanlah kehendak kalian, anak-anak. Memang kalian bertiga ini sudah waktunya turun gunung. Lakukanlah apa yang kalian rasa baik,"
"Ketika kedua orang pertapa itu dan tiga orang muda itu menyembah dan meminta restu untuk mengundurkan diri, Sang Bagawan Ekalaya hanya berkata singkat dan perlahan.
"Pergilah...tugas-tugas suci telah menanti kalian. Di bawah bimbingan Bayunurti dan Dutaprayoga, kalian takkan menyeleweng daripada kebenaran. Aku sebagai orang tua hanya memberi bekal doa restu."
Setelah memberi hormat kepada kakek sakti itu, mereka meninggalkan tempat itu, meninggalkan Bagawan ekalaya yang masih duduk bersila tak bergerak bagaikan patung, karena kakek ini telah tenggelam kembali ke dalam alam samadhi.
Setelah berada di kaki gunung dan tiba di tepi laut yang memisahkan gunung itu dengan pantai Pulau Jawa, mereka berhenti dan Panembahan Bayumurti memberi tahu kepada Pancapana apa yang harus dikerjakan oleh pangeran itu.
Raden Pancapana, ketahuilah bahwa keadaan pamanmu, Sang Prabu Panamkara kini sedang terancam bahaya besar.
Bupati Yudasena dari pesisir telah berkali-kali berusaha menggulingkan kedudukan pamanmu itu dan karena para panglima sepuh dari Mataran enggan membantu pamanmu, maka keadaan Mataran benar-benar amat berbahaya.
Aku telah menghubungi para panglima tua dan cerdik pandai di Mataram yang kini mengasingkan diri dan ketika beritahukan tentang keadaanmu, mereka menyambut dengan gembira sekali.
Kau sekarang pergilah ke ibu kota Mataram, dan usahakanlah agar serangan Yudasena dapat dipecahkan.
Kali ini pamanmu tentu takkan ragu-ragu lagi untuk menyerahkan kedudukannya kepadamu."
"Baik, paman Panembahan,"
Jawab Pancapana sambil menyembah. Tiba-tiba Indrayana berkata kepada Ayahnya.
"Rama, izinkanlah hamba ikut dan membantu uasha kakangmas Pancapana."
Wiku Dutaprayoga tersenyum.
"Seandainya kau tidak minta aku tentu akan menyuruh kau pergi juga mengawani Pangeran Pancapana, puteraku. Sudah menjadi tugasmu untuk membantu perjuangan Pangeran Pancapana, menegakkan kembali Mataram dan menolong keadaan rakyat Mataran daripada bencana besar."
"Bagus,"
Kata panembahan Bayumurti, 'dengan adanya Indrayana mengawanimu, hatiku lebih tentram dan yakin lagi akan berhasilnya usahamu, Raden Pancapana."
Pancapana juga merasa girang sekali. Ia memeluk pundak Indrayana dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar.
"Rama Panembahan, akupun ingin ikut membantu Raden Pancapana,"
Tiba-tiba Candra Dewa berkata kepada Ayahnya.
"Kau hendak membantuku atau membantu dimas Indrayana, diajeng Candra?"
Pancapana menggoda sambil tersenyum. Candra Dewi cemberut lalu berkata.
"Tentu saja membantu keduanya, bukannya kalian berdua adalah saudara-saudara seperguruan dan sudah menjadi kewajibanku untuk membantu pula?"
Bayumurti dan Dutaprayoga saling pandang dan diam-diam mereka tersenyum girang.
"Candra, anakku,"
Kata Panembahan Bayumurti kepadanya.
"kali ini kau tak boleh ikut kerena pekerjaan yang mereka hadapi adalah pekerjaan laki-laki. Sebagai seorang wanita, tugasmu hanya menunggu dan berdoa agar supaya usaha mereka berhasil baik."
Muramlah wajah Candra Dewi mendengar kata-kata Ayahnya ini, akan tetapi ia tidak berani membantah.
Indrayana memandang kepada kekasihnya ini dan berkata perlahan.
Jeng Dewi, kalau tugas kami sudah selesai, kita pasti akan bertemu kembali."
Senyumnya yang ramah dan menghibur dapat juga mengusir kemuraman yang membayang di wajah gadis itu.
"Berangkatlah kalian dan jangan membuang banyak waktu lagi."
Kata Panembahan Bayumurti kepada kedua pemuda itu yang segera melanjutkan perjalanannya.
Candra Dewi berdiri memandang bayangan kedua orang muda itu sampai lenyap pada sebuah tikungan.
Hatinya terasa sunyi dan tak sedap ditinggalkan oleh mereka, terutama sekali oleh Indrayana.
"Sudahlah, Candra, sekarang belum tiba waktunya kau ikut menunjukkan baktimu terhadap Kerajaan Mataram. Kita telah terlampau lama meninggalkan tempat tinggal kita, marilah kita pulang dan menanti perkembangan yang akan terjadi selanjutnya."
Kemudian Panembahan Bayumurti berpaling kepada Wiku Dutaprayoga dan berkata.
"Kakang wiku, baiklah kita berpisah di sini dan sampai bertemu kembali pada saat yang tepat."
"Baiklah, adi Panembahan, kalau sudah rampung tugas kita, kita lanjutkan perjalan yang kita setujui kemarin dulu itu."
"Baik, kakang Wiku, selamat berpisah!"
Pancapana dan Indarayana melakukan perjalanan dengan cepat sekali.
Dari pulau Gunung Muria, mereka menggunakan sampan untuk menyebrang ke pantai Pulau Jawa, kemudian mereka menggunakan kepandaian berlari cepat menuju ke Mataram.
Perjalanan mereka menuju ke selatan melalui hutan-hutan dan bukit-bukit.
Setelah tiba di Pegunungan Ungaran mereka lalu membelok ke barat untuk menuju ke Pegunungan Dieng yang pada waktu itu menjadi pusat Kerajaan Mataram yang telah hampir runtuh dan lenyap itu.
Akan tetapi, ketika mereka masuk dalam sebuah hutan liar di Pegunungan ungaran, tiba-tiba terdengar sorakan riuh dan dari belakang pohon-pohon dan alang-alang, berlompatan keluar perampok-perampok yang jumlahnya tidak kurang dari empat puluh orang!
Seorang yang tinggi besar dengan brengos sekepal sebuah, mata lebar bundar yang seperti mau melompat ke luar dari ruang mata, melangkah maju dengan klewang di tangan.
Baik melihat sikapnya maupun keadaan pakaiannya yang lebih lengkap daripada yang lain, mudah diduga bahwa si brengos tebal ini tentulah kepalanya.
"Hai, pemuda-pemuda bagus! Tinggalkanlah dulu semua barang dan pakaianmu sebelum kalian melanjutkan perjalanan melalui hutan ini!"
Seru si brengos itu dengan suaranya yang parau.
Pancapana melirik kepada para pengurungnya dan melihat bahwa puluhan orang perampok itu kesemuanya bertubuh tegap dan gagah hanya pakaian mereka saja yang tidak karuan dan compang-camping.
"Hm, manusia-manusia macam inilah agaknya yang mendatangkan kekacauan melemahkan keadaan Mataram!"
Katanya marah, kemudian sambil memandang kepada di brengos dengan mata tajam Pancapana membentak.
"Kalian ini orang-orang tak tahu malu, tidak patut menjadi kawula Mataram! Pantas saja Mataram menjadi semakin lemah tidak tahunya terdapat telur-telur busuknya macam kau dan anak buahmu ini!"
Bukan main marahnya di brengos mendengar ucapan ini. Sepasang matanya yang besar itu terputar-putar dengan dasyatnya, brengosnya yang sekepal sebelah itu bergerak-gerak dan berdiri mengerikan.
"Bocah gunung, alangkah sombongmu! Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan. Aku adalah Surarudira dan seluruh daerah Ungaran tahu siapa aku! Berani kau mengakat dada terhadap Surarudira? Hayo kau berlutut dan menyerahkan semua barang dan pakaian, baru aku memberi ampun!"
"Surarudira, nama yang terlampau gagah untuk seorang pengecut dan jahat seperti kau!"
Kata (Lanjut ke
Jilid 07) Banjir Darah di Borobudur (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 Pancapana mengejek.
"Jangankan kau seorang diri maju menghadapiku, keroyoklah dengan semua kawan-kawanmu, aku takkan mundur setapak!"
"Babo, babo! Sumbarmu seperti berkepala tiga berlengan enam saja! Agaknya kau sudah bosan hidup!"
Teriak Surarudira sambil membacok dengan klewangnya ke arah leher Pancapana.
Akan tetapi pemuda ini dengan mudah mengelak ke kiri sehingga klewang itu mendesing di pinggir kepalanya.
Begitu klewang itu lewat menyambar, tiba-tiba senjata itu telah menyambar kembali dari kanan dan sekarang membabat kedua kaki Pancapana.
Kaget juga pemuda ini melihat kecepatan gerakan lawan dan diam-diam ia memuji bahwa si brengos ini tentu telah mempelajari ilmu permainan golok yang cukup baik.
Cepat Pancapana melompat ke atas membiarkan klewang itu menyambar lewat dan sebelum kedua kakinya ia turunkan, ia telah melakukan gerakan menendang di udara dan dengan jitu sekali tungkak kaki kanannya mencium dada Surarudira yang bidang.
Blek!"
Surarudira merasa seakan-akan dadanya remuk dan diseruduk oleh seekor banteng.
Tubuhnya terlempar ke belakang dan berguling bagaikan sebuah kelapa dilempar dari atas.
Akan tetapi si brengos ini benar-benar kuat tubuhnya dan besar pula semangatnya!
Cepat dan beringas ia melompat bangun lagi, menggoyang-goyang kepalanya dan memberi tanda kepada kawan-kawannya.
"Serbu.....!"
Komandonya ini seakan-akan komando seorang panglima perang kepada pasukannya! Sedangkan ia sendiri dengan klewang diputar-putar di atas kepalanya lalu menyerang Pancapana lagi.
"Dimas Indrayana, mari kita hajar rombongan tikus sawah ini!"
Seru Pancapana.
Indrayana tadinya hanya berdiri diam saja menikmati kegembiraan hatinya melihat pangeran itu memberi hajaran kepada rakyatnya sendiri yang menyeleweng daripada jalan kebenaran.
Kini melihat empat puluh lebih orang itu maju menerjang bagaikan ombak Segara Kidul, tentu saja ia tidak tinggal diam.
Cepat dan trengginas seperti seekor bajing melompat, tubuhnya berkelebat menerjang maju.
Kedua kaki dan tangannya bekerja cepat merupakan empat baling-baling kitiran besar yang membagi-bagi pukulan dan tendangan.
Sekali tangannya bergerak, terdengar teriakan mengaduh dan seroang lawan jatuh terjengkang dengan kepala benjol, dan sekali kakinya terayun, terlemparlah tubuh lain pengeroyok sehingga jatuh berdebuk sambil peringisan karena pantatnya menimpa batu.
Surarudira mengamuk hebat dan menyerang Pancapana dengan gerakan klewang yang cukup dasyat, Pancapana dengan tenaga menyambut serangan si brewos ini dengan tangan kosong.
Pangeran ini memperlihatkan kegesitannya, bagaikan seekor burung serikatan ia bergerak mengikuti sinar klewang yang menyambar-nyambar sehingga Surarudira merasa terheran-heran.
Beberapa kali klewangnya seakan-akan sudah pasti mengenai tubuh lawan akan tetapi tubuh lawan itu melesat dan dapat mengelak dengan cepatnya.
Berdirilah bulu tengkuknya, karena ia seperti melawan dan berkelahi dengan sebuah bayangan setan!
Akan tetapi Surarudira adalah seorang kasar dan gagah yang belum pernah mengenal arti kata takut.
Ia mengamuk semakin hebat.
Sengaja ia berdiri sejenak untuk memandang kepada lawannya dengan tajam.
Ketika ia melihat pemuda itu juga berhenti berdiri di depannya sambil senyum mengejek, seperti kilat klewangnya menusuk dada Pancapana.
"Mampus kau!"
Serunya.
"Heeiit!"
Pancapana tidak mengelak, hanya miringkan sedikit tubuhnya dan membuka lengan kananya sehingga klewang itu masuk di bawah lengan kanannya.
Pancapana menggunakan kesempatan itu untuk majukan tubuhnya dan ketika lengan kanannya diturunkan dan mengepit, maka tangan Surarudira yang memegang klewang itu telah terjepit di bawah pangkal lengan kanannya!
Surarudira berusaha membelot tangannya akan tetapi sama sekali tak berhasil.
Kempitan itu luar biasa erat dan kuatnya.
"Lepaskan!"
Teriaknya sambil meronta, akan tetapi Pancapana hanya menggeleng kepala sambil tersenyum.
Surarudira marah sekali dan kini tangan kirinya yang dikepal sebesar buah kelapa itu menyambar hidung Pancapana.
Pemuda itu menggerakkan kepalanya ke belakangan dan dari belakang menangkap tangan kiri itu sehingga kini Surarudira tertangkap dengan kedua tangan di belakang tubuh.
Tangan kanan masih dikempit, sedangkan tangan kiri diuntir ke belakang.
"Menyerahkah kau?"
Kata Pancapana sambil menarik tangan kiri si brewok itu ke atas. Peluh berkumpul di kening Surarudira karena ia menahan sakit, akan tetapi dengan bandel ia menggeleng kepala dan membentak.
"Siapa sudi menyerah? Aku masih belum kalah!"
Gemas juga hati Pancapana melihat kebandelan ini.
Ia merasa suka kepada orang kasar ini karena ternyata gagah berani dan juga ilmunya berkelahi tidak lemah, akan tetapi kalau orang ini tidak diberi hajaran keras, sukarlah menundukkannya.
Ia lalu melepaskan pegangannya, mendorong tubuh lawan itu ke depan dan memberi sebuah tendangan pada pantat Surarudira dengan keras.
"Aduh...!"
Baru kali ini semenjak perkelahian tadi, Surarudira terdengar mengaduh, karena sesungguhnya tendangan itu amat keras dan mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa.
Tubuhnya terhuyung-huyung dan betapapun ia mengerahkan tenaga untuk menahan agar jangan sampai roboh namun akhirnya ia terjungkal juga.
Surarudira benar-benar harus dikagumi karena keberanian dan kebandelannya.
Ia merasa amat sakit pada tulang belakangnya akan tetapi ia masih juga bangun kembali dengan sinar mata bernyala-nyala, tanda belum mau takluk.
Ketika ia berjalan menghampiri lawannya lagi, ia merasa pantat dan punggungnya demikian sakit sehingga jalannya jadi egang.
Namun, biarpun jalannya sudah egang dan mekeh-mekeh, masih tetap ia menyerang lagi dengan klewangnya dan serangannya masih berbahaya.
Kalau bukan Pancapana yang diserang, tentu serangan ini masih akan dapat mengorbankan nyawa lawannya.
Pancapana sendiri merasa heran dan kagum.
Tendangannya tadi bukanlah tendangan biasa, akan tetapi ia mengarah urat lawan yang penting sehingga tendangannya telah membuat tulang dan urat lawannya bagian belakang menjadi terkelecoh.
Bagaimana si brengos ini masih sanggup menyerang lagi?
Melihat kekerasan hati ini, Pancapana lalu menerjang dan sebuah tempilingan tangan kirinya yang disertai aji kesaktian mampir di kepara Surarudira sehingga tanpa dapat berteriak lagi tubuh yang tinggi besar itu berputar beberapa kali dan jatuh menjerembab di atas tanah.
Pancapana memandang tubuh lawannya dengan senyum di bibir, akan tetapi tiba-tiba senyumnya menghilang, ketika ia melihat Surarudira bergerak, dan merayap lalu bangun kembali.
Bukan main!
Pukulannya tadi disertai Aji Wesi Kuning, bagaimana si brengos ini masih sanggup bangkit kembali?
Ajinya itu kalau dipukulkan, biar lawannya memiliki ilmu kekebalan, masih takkan mampu menahannya.
Dengan mata terbelalak kagum Pancapana melihat tubuh tinggi besar itu bangkit kembali.
Surarudira memang kuat tubuhnya.
Ketika pukulan tadi mampir dikepalanya, ia merasa seakan-akan tujuh petir menyambar kepalanya dan untuk sesaat dunia menjadi gelap gulita di depan matanya.
Akan tetapi, ia masih dapat mengeraskan hatinya dan bangkit kembali.
Namun, ketika ia sudah dapat berdiri, tiba-tiba bumi yang dipijaknya terasa berputar-putar, di depan matanya nampak seribu satu bintang besar kecil berjoget dan telinganya mendengar bunyi lengking dan hiruk pikuk.
Karena ini, kepalanya terasa pening sekali dan berat, seakan-akan kepalanya telah berobah menjadi besi yang amat berat dan akan jatuh saja.
Kedua kakinya masih mencoba untuk menahan akan tetapi tetap saja tidak kuat.
Ia berputaran beberapa kali dengan kedua manik mata mendekati hidung, kemudian jatuh lagi terlentang tanpa dapat berkutik kembali!
Ketika beberapa lama kemudian Surarudira siuman kembali dari pingsannya dan membuka mata, ia terkejut melihat betapa kedua orang pemuda yang tampan itu mengamuk bagaikan dua ekor garuda sakti menyambar-nyambar dikeroyok oleh puluhan burung pipit yang sama sekali tidak berdaya.
Jangan kata terkena patukan atau cengkeraman burung-burung garuda itu, baru terdorong oleh sambaran angin kibasan sayapnya saja, burung-burung pipit itu telah terpental jauh!
Di sana-sini tubuh para anggota perampok itu malang melintang, tumpang tindih dan mengaduh-aduh.
Ada yang benjol kepalanya terkena tempiling, patah tulang lengan ketika mencoba menangkis pukulan kedua anak muda itu, mulas perutnya karena sambaran ujung kaki, ada pula yang sesak nafasnya terkena sodokan jari tangan!
Melihat keadaan ini dan betapa sisa anak buahnya yang juga nekad-nekad dan berani-berani seperti pemimpinnya, Surarudira lalu berseru keras.
"Anak-anak...! Tahan...! Menyerahlah kepada ksatria gagah perkasa ini!"
Mendengar komando ini semua anggota perampok yang tadi masih melakukan perlawanan dengan nekad, tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan menyatakan takluk. Surarudira!"
Berkata Pancapana dengan suara keren.
"Melihat kau dan anak buahmu, agaknya kalian bukan perampok-perampok biasa dan pernah pula menerima pendidikan dalam ilmu perang. Mengapakah kalian tidak mempergunakan kepandaian itu membela Kerajaan Mataram, bahkan menimbulkan kekacauan dan menjadi pengganggu serta pengrusak keamanan?"
Surarudira yang kini telah berdiri kembali dengan tubuh masih terasa sakit-sakit menjawab dengan angkuh.
"Untuk apa aku harus membela Kerajaan Mataram yang dipegang oleh raja lalim? Biarlah, biar Mataram runtuh daripada dikuasai oleh seorang raja yang tidak tahu kewajiban! Dahulu, ketika Sang Prabu Sanjaya masih memegang pemerintahan, kami adalah sepasukan pegawai yang setia. Kami berani mengorbankan nyawa kami untuk membela Mataram yang jaya. Ah...kalau saja Mataram dipegang oleh keturunan Sang Prabu Sanjaya..."
Berdebarlah jantung Pancapana mendengar ini akan tetapi tiba-tiba Indrayana mendahului dan bertanya kepada Surarudira.
"Benar-benarkah kau dulu mengabdi kepada Sang Prabu Sanjaya?"
"Mengapa aku harus membohong?"
"Tahukah kau bahwa Sang Prabu Sanjaya mempunyai seorang putera?"
"Tentu saja, namanya adalah Pangeran Pancapana, akan tetapi semenjak kecil telah lenyap mungkin terbunuh oleh Sang Prabu Panamkaran..."
"Bodoh! bentak Indrayana.
"Surarudira, dan kalian semua! Bukalah matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik. Siapa yang berdiri di hadapanmu ini?"
Ia menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Pancapana.
"Perhatikanlah baik-baik, tidak adakah persamaan antara wajahnya dan wajah mendiang Sang rabu Sanjaya?"
Semua mata memandang kepada Pancapana dan terdengarlah seruan-seruan heran kaget.
"Serupa benar dengan mendiang Sang Prabu Sanjaya!"
"Dia Sang Prabu sendiri ketika masih muda!"
Demikian terdengar seruan-seruan, sedangkan Surarudira sendiripun memandang dengan wajah pucat.
"Ya jagat Dewa Batara...!"
Serunya.
"Raden katakan terus terang, siapakah sebenarnya kau ini?"
Pancapana tersenyum.
"Adindaku Indrayana telah mengatakan tadi. Mendiang Sang Prabu Sanjaya adalah ramandaku."
Untuk sekejap suasana menjadi hening dan semua orang menahan nafas ketika Surarudira bertanya gagap.
"Jadi... jadi paduka... ini....Gusti Pangeran...."
"Aduh, Gusti Pangeran....!"
Surarudira lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, diturut oleh semua anak buahnya.
Dari kedua mata kepala perampok yang kasar dan gagah itu keluarlah dua titik air mata karena sangat terharunya.
Terharu pula hati Pancapana melihat hal ini.
Ternyata ucapan gurunya, Panembahan Bayumurti benar.
Masih banyak orang-orang yang tetap setia kepada Mataram, terutama kepada mendiang Ayahnya yang berarti juga kepadanya.
Bahkan perampok-perampok kasar inipun masih setia.
Hal ini menggugah semangatnya dan Pancapana lalu berkata keras.
"Sudahlah, tak perlu segala kelemahan hati ini! Sekarang bukan waktunya untuk bertangis-tangisan! Mataram berada di ambang pintu mereka, di pinggir jurang kehancuran! Siapa lagi kalau bukan kita anak-anak Mataram yang membangunya kembali? Mataram sedang berada dalam bahaya, siapa lagi kalau bukan kita yang harus menolongnya? Siapa diantara kalian yang mau ikut dengan aku, Pangeran Pancapana, Putera Mahkota Mataram?"
Serentak semua mulut orang-orang di situ berseru hampir berbareng.
"Hamba ikut....!"
Pancapana girang sekali melihat hal ini dan ia lalu turun tangan bersama Indrayana memberi pertolongan kepada mereka yang menderita luka memulihkan kembali otot-otot yang keseleo, menyambung kembali tulang-tulang patah dan membebaskan pengaruh keampuhan bekas pukulan mereka.
Setelah menolong mereka semua dan juga memulihkan kesehatan Surarudira, si brengos ini lalu menceritakan keadaan Mataram yang masih terkurung oleh musuh yang kuat, yakni Bupati Yudasena.
"Memang Bupati Yudasena amat tangguh dan sakti Gusti Pangeran Pancapana. akan tetapi hamba belum pernah mencoba tenaganya. Jangan khawatir Gusti, kalau Gusti kehendaki hamba akan sanggup menghadapi Yudasena! Kata Surarudira yang tabah itu.
"Berapa banyakkah pasukan Yudasena yang mengepung Mataram?"
"Menurut berita yang hamba dengar, sedikitnya ada selaksa orang!"
Kalau begitu, marilah kita cepat-cepat pergi ke Mataram mengumpulkan tenaga-tenaga bantuan dari Rama Prabu dahulu, kemudian baru kita membantu Paman Prabu Panamkaran!
kata Pancapana.
Semua bekas perampok itu menyatakan setuju.
"Akan tetapi, paman Surarudira, apakah benar-benar engkau dan kawan-kawanmu sudah tetap hendak mengikut dan membantu? Dengan hati setia?"
"Hamba bersumpah, Gusti..."
"Ssst, tak perlu bersumpah. Hanya, harus kau ketahui bahwa aku dan dimas Indrayana adalah orang-orang miskin. Bahkan sekarangpun kami merasa lapar karena semenjak pagi belum makan. Apakah kalian sanggup menderita sengsara dalam mengikuti perjalanan kami ke Mataram?"
Tiba-tiba Surarudira tertawa gelak-gelak.
"Ha, ha, ha, ampun Gusti Pangeran. Mengapa paduka berkata demikian? Jangankan baru haus dan lapar, biarpun harus berkorban nyawa, hamba Surarudira dan kawan hamba yang empat puluh orang jumlahnya ini akan bersedia mengikuti dan membela paduka, sesembahan semua kawula Mataram!' "Bagus, paman Sura, kau benar-benar seorang panglima sejati. Hayo, kita berangkat!"
"Siap, Gusti!"
Maka berangkatlah Pancapana dan Indrayana diiringi oleh Surarudira dan pasukannya ketika mereka melewati dusun-dusun, Surarudira memperkenalkan Pangeran Pancapana kepada penduduk dusun sehingga ramai orang menyambut Pangeran Pati ini, menyambut dengan penuh penghormatan, penuh harapan bahwa pengeran akan mendatangkan bahagia pada Mataram dan rakyatnya.
Hidangan-hidangan dikeluarkan orang tanpa diminta lagi.
Makin dekat dengan Mataram, makin banyaklah pengikut Pancapana.
Bahkan para panglima tua yang dahulu mengabdi kepada Sang Prabu Sanjaya lalu datang membawa pasukan-pasukan mereka menggabungkan diri sehingga kini Pangeran Pancapana mempunyai sebuah pasukan besar yang amat kuat, terdiri tidak kurang dari setengah laksa orang.
Barisan besar ini masih berkembang lagi ketika dengan cepat bergerak ke ibu kota Mataram yang masih terkepung oleh pasukan-pasukan Yudasena.
Sudah sembilan bulan lebih barisan-barisan Yudasena mengepung Dieng di mana terletak pusat Kerajaan ataram.
Mataram telah kehabisan senapati-senapatinya karena semua orang yang maju menghadapi Yudasena terpukul kalah oleh Bupati yang digdaya ini.
Akan tetapi Yudasena masih ragu-ragu untuk menyerang naik ke atas, karena kedudukan benteng Mataram masih amat kuat terjaga oleh sisa-sisa barisan Mataram.
Pernah Yudasena mencoba untuk menyerang naik, akan tetapi ia dan berisannya disambut dengan anak-anak panah dan batu-batu yang datang melayang dari atas bagaikan hujan lebat sehingga terpaksa mereka turun kembali, mendirikan pesanggrahan di kaki bukit dan mengepung benteng Mataram.
Biarkan mereka mati kelaparan, akhirnya tentu menyerah kalah tanpa kita bersusah pAyah.
Ha ha ha!
kata Yudasena kepada para senapatinya.
Seluruh penduduk dan kawula Mataram yang terkepung merasa gelisah.
Akan tetapi Sang Prabu Panamkaran sendiri masih saja enak-enak menghibur diri dengan para selirnya, seakan-akan pengurungan itu tidak mengganggunya sedikitpun juga.
Padahal, sebetulnya di dalam hatinya, ia merasa amat gelisah dan khawatir.
akan tetapi, ia merasa yakin bahwa betapapun juga Yudasena takkan membunuhnya, hanya akan merampas kedudukannya yang sudah tak diperdulikannya lagi itu.
Oleh karena itu, dalam saat terakhir dari kejayaaanya, mengapa bersusah hati?
Lebih baik bersenang-senang selagi masih bisa.
Sang Prabu Panamkara belum tua benar, akan tetapi tubuhnya sangat ringkih dan lemah.
dalam kekuatan penjagaan kerajaan, ia hanya mengandalkan dua senapati tua yakni Senapati Bandudarma dan Bandupati, dua orang kakak beradik yang semenjak pemerintah Prabu Sanjaya dahulu telah menjadi senapati di Mataram.
Dua orang senapati inilah yang dulu membanti Panamkaran untuk menduduki tahta kerajaan dan mengejar-ngejar Pangeran Pati Pancapana.
Bahkan mereka berdua telah menyerahkan puteri-puteri mereka untuk menjadi selir dari raja itu agar mereka bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi.
Memang benar, keduanya kini telah menjadi panglima tertinggi, juga merangkap patih dalam.
Berkat pengalaman dan kepandaian kedua orang senapati tua inilah, maka sampai sedemikian jauh Mataram masih dapat dipertahankan, oleh Senapati Bandudarma serta adiknya, Bandupati yang juga mempertahankan benteng daripada serbuan Yudasena.
Sungguhpun Prabu Panamkara sama sekali tidak memusingkan pengepungan yang diadakan oleh Yudasena itu, namun kedua senapatinya ini merasa amat gelisah.
Mereka mengandalkan kedudukan dan kemuliaan mereka kepada Sang Prabu Panamkara saja.
Kalau Mataram dikuasai oleh lain raja, tak mungkin mereka berdua akan dapat mempertahankan kedudukan dan kemuliaannya.
Maka mereka berlaku nekad dan hendak membela Mataram dengan mati-matian.
Bukan Mataram, bukan rakyatnya ataupun kedudukan rajanya yang penting, akan tetapi kedudukan dan pangkat serta kemuliaan mereka sendirilah yang mereka pertahankan mati-matian!
Banyak di antara para prajurit Mataram yang telah melarikan diri, dan hanya berkat penghamburan uang dan hadiah belaka yang membuat sebagian besar masih bertahan dan menjaga benteng itu.
Hampir setiap hari terdengar suara seruan-seruan dan tantangan-tantangan dari Yudasena, tantangan-tantangan yang disertai makian-makian pedas.
Akan tetapi pihak Mataram yang mengakui kelemahan sendiri dan hanya mengandalkan kedudukan benteng yang amat kuat, tidak mau dan tidak berani melayani tantangan-tantangan itu.
Setelah Senapati Bandudarma roboh dan digotong dalam keadaan luka-luka, kalah oleh Yudasena yang digdaya, siapa lagikah yang berani menghadapi bupati itu?
Pada suatu malam gelap gulita, seorang muda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan bergerak bagaikan seekor ular, menyelinap di antara pohon-pohon dan tetumbuhan, berhasil melampaui penjagaan para barisan pengepung dan kemudian bagaikan seekor kijang ia berlari cepat sekali mendaki bukit.
Beberapa orang penjaga di benteng Mataram ketika melihat berkelabatnya bayangan hitam, lalu menyerang dengan anak panah, akan tetapi dengan mudah saja pemuda itu menerkam anak panah tadi dengan tangannya sambil berseru "Perajurit-perajurit Mataram, jangan salah sangka!
Aku bukanlah musuh dan kedatanganku membawa berita baik!
Bawalah aku menghadap Sang Prabu!"
Pemuda ini bukan lain adalah Indrayana sendiri.
Sebagaimana diketahui, Pancapana berhasil mengumpulkan perajurit-perajurit yang dibantu oleh panglima-panglima tua dan akhirnya pangeran ini sampai di perbatasan Mataram.
Ia sengaja berhenti di tempat yang agak jauh dari pesanggrahan Yudasena dan bala tentaranya, karena sebelum menyerang dan membebaskan Mataram dari kepungan mereka, para panglima tua hendak menyampaikan syarat dan tuntutan kepada Sang Prabu Panamkaran lebih dahulu.
Maka ditulislah surat oleh para panglima itu, ditandatangani oleh sebelas orang panglima-panglima tua dari Mataram.
Kemudian, mereka menemui kesukaran dalam memilih siapa orangnya yang dapat mengantarkan surat itu kepada Sang Prabu Panamkaran.
Bukit dimana kerajaan itu terletak telah dikurung oleh barisan musuh, maka bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk menerobos penjagaan rumah itu dan naik ke bukit.
tak seorangpun diantara merek, sungguhpun banyak yang mengajukan diri, dapat dipercaya akan berhasil melakukan tugas berat ini.
Bahkan Surarudira sendiri yang memaksa untuk membawa surat itu, tidak di perkenankan oleh Pacapana.
Akhirnya Indrayana maju dan tentu saja Pancapana setuju sekali, karena ia yakin bahwa adik seperguruannya ini pasti akan sanggup melakukan pekerjaan itu.
Demikian, dengan gerakan-gerakannay yang amat gesit, Indrayana bergerak di malam gelap itu akhirnya dapat juga mencapai puncak bukit dan berada di luar benteng.
Para penjaga setelah melihat dengan jelas bahwa pendatang itu hanya seorang pemuda yang tiada berkawan, lalu membuka pintu benteng dan memperkenankan Indrayana masuk ke dalam benteng.
Begitu ia melangkah masuk, setengah losin prajurit penjaga meyergapnya!
Empat menangkap kaki tangannya, seorang memeluk pinggangnya dan seorang lagi memiting lehernya!
Menyerahlah sebagai tawanan sebelum putus lehermu!"seorang di antara mereka mengancam.
Bukan main mendongkolnya hati Indrayana menghadapi penyambutan yang tak disangka-sangkanya ini.
Ia mengerahkan tenaganya dan sekali ia menggoyang tubuh dengan gerakan melempar, enam orang peyergapnya itu terpelanting ke kanan kiri lalu jatuh bergulingan.
Kurang ajar!"bentak Indrayana."Aku datang membawa berita pertolongan, akan tetapi kalian menyambut dengan serangan!
Butakan mata kalian menyambut dengan serangan!
Butakah mata kalian memaksakan dan menganggap aku sebagai musuh, hayo majulah!
Jangan maju seorang dua orang, kerahkan seluruh barisanmu.
Aku, Raden Indrayana takkan mundur selagkahpun!"
Pada penjaga terkejut menyaksikan kehebatan sepak terjang pemuda tampan ini, apalagi ketika mendengar ucapannya yang gagah, mereka menjadi gentar.
Seorang kepala pasukan yang telah agak tua usianya lalu bertanya.
"Anak muda, kau datang pada malam gelap, tentu saja mencurigakan hati kami. Sesungguhnya, engkau diutus oleh siapakah dan ada keperluan apa?"
"Nah, sedikitnya kalian harus bertanya dahulu sebelum turun tangan secara sembrono dan serampangan!"Indrayana menegur dengan gemas.
"Maafkan kami, anak muda,"kata penjaga kepala itu. Musuh telah berlalu mendesak, sehingga anak buahku merasa kurang sabar dan gelisah. Sekali lagi, siapakah yang mengutusmu naik ke sini?"
"Buka telinga kalian baik-baik! Aku adalah Raden Indrayana, utusan dari Pangeran Pancapana!"
Semua prajurit yang mendengar nama ini menjadi pucat dan memandang dengan mata terbelalak."tak mungkin ""
Gusti Pangeran sudah meninggal dunia ketika masih kecil """
"Memang demikian sangkaan orang!"kata Indrayana."Akan tetapi pada saat itu Gusti Pangeran Pancapana, telah atang bersama para panglima Mataram tua yang gagah berani, diikuti oleh barisan kawula Mataram yang setia dan yang hampir selaksa orang jumlahnya!"
Tiba-tiba bersoraklah semua orang mendengar ucapan ini dan dengan meriah mereka menyambut Indrayana. Ribuan macam pertanyaan dihujankan kepada Indrayana, akan tetapi pemuda ini berkata.
"Tidak ada gunanya semua pertanyaan itu dijawab. Kelak kalian akan tahu sendiri. Sekarang lebih baik bawalah aku ke hadapan Sang Prabu Panamkaran."
Penjaga kepala yang tua itu menggeleng kepala."Tidak bisa, Raden Indrayana. Tak mungkin menghadap Sang Prabu pada saat seperti ini. Tak seorangpun berani mengganggu Gusti Prabu dari pada tidurnya."
Menghadapi keadaan seperti ini, siapakah orangnya yang masih mementingkan urusan tidur?"Indrayana berseru marah, akan tetapi penjaga itu dengan isarat tangannya minta agar supaya pemuda ini bersabar.
"Orang lain boleh binggung dan gelisah sehingga lupa makan lupa tidur, akan tetapi Sang Prabu tak boleh diganggu kalau sedang berada di kamar beserta semua selir-selirnya! "Sambil berkata demikian sebelah mata penjaga itu dikejapkan kepada Indrayana. Pemuda ini mengigit bibirnya dengan gemas sekali.
"Pantas saja Mataram menjadi lemah dan menghadapi keruntuhannya!"Ia menggumam, Kemudian ia berkata kepada penjaga kepala itu."Kalau demikian, biarlah besok pagi-pagi aku menghadap dan sekrang akupun hendak mengaso dan jangan menggangu tidurku!"
Penjaga itu lalu membawanya ke sebuah bilik di tempat penjagaan. Setelah merebahkan dirinya di ats bale-bale, sebentar saja pulaslah Indrayana.
"Apa?"seru Patih Bandudarma dengan mata melotot memandang wajah Indrayana penuh kecurigaan."Pangeran Pancapana masih hidup? Tidak bohongkah kau, anak muda?"
Indrayana menantang pandang mata Bandudarma dengan sinar marah.
"Untuk apa aku membohong kepadamu? Aku datang sebagai utusan Pangeran Pancapana, Putera Mahkota Mataram, juga utusan para senopati sepuh dari Mataram untuk menyampaikan surat kehadapan Sang Prabu Panamkaran. Mengapa aku harus membohong? Untuk apa? Lekas bawa kau menghadap Sang Prabu!"Indrayana sudah kehilangan sabarnya karena semenjak ia datang di Mataram, orang selalu mencurigakannya dan menyambut tidak sebagaimana mestinya.
"Serahkan saja surat itu kepada kami. Sebagai patih dalam dan senapati Mataram, kami hendak menerima surat itu mewakili Sang Prabu."
"Tidak!"jawab Indrayana tegas."Harus tanganku sendiri yang menyerahkan surat ini kepada Sang Prabu Panamkaran. Itu adalah tugasku. Mengapakah kalian agaknya tidak rela membiarkan aku menghadap Sang Prabu?"
Bandudarma menyeringai."Kami masih belum percaya penuh kepadamu, Indrayana. Siapa tahu kalau-kalau kau adalah seorang pesuruh dari Yudasena yang datang untuk membunuh Sang Prabu 1"
Merahkan muka Indrayana mendengar ini."kalau aku benar seorang pesuruh Yudasena, yang kubunuh bukannya Sang Prabu, melainkan kalian berdualah yang semenjak tadi tentu sudah menjadi makanan kerisku!"
"Bangsat kurang ajar!"seru andupati marah sekali. Tanpa memberi peringatan terlebih dahulu, kepalan tangannya melayang ke arah kepala, Indrayana menangkap lengan lawan yang memukul itu, membetot, mengayun dan melepaskan dan ""
Melayanglah tubuh Bandupati keluar dari pendapat kepatihan itu, jatuh berdebuk di atas tanah! Indrayana berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang.
"Patih Bandudarma!"bentaknya dengan muka merah dan mata berapai,"Bukan aku yang kurang ajar, akan tetapi kau dan adikmu itulah! Kalian sebagai patih yang sudah tua tentu maklum akan tata susila, maklum bagaimana harus menyambut seorang utusan raja! Kalian tidak menyambut aku sebagai mana mestinya, bahkan berani menghina. Hayo, sekarang kau mau membawa aku menghadap Sang Prabu, ataukah aku akan menghadap dengan kekerasan?"
Melihat kedigdayaan pemuda ini, Bandudarma menjadi gentar juga dan cepat ia menghantarkan Indrayana menghadap Sang Prabu Panamkaran.
Bandudarma setelah sadar tadi, lalu mengikuti dari belakang tanpa banyak cakap lagi.
Seperti juga kedua orang patihnya, Sang Prabu Panamkaran merasa terkejut sekali mendengar bahwa pemuda yang tampan itu adalah seorang utusan dari Pangeranpati Pancapana.
Akan tetapi ia tidak menyatakan sesuatu dan hanya menerima surat yang di bawa oleh Indrayana dan membaca surat itu.
Kedua tangannya gemetar dan jantungnya berdebar keras ketika ia membaca surat itu, yang ditulis dengan singkat oleh para panglima tua dari Mataram.
Beginilah bunyi surat itu .
Sang Prabu Panamkaran.
Kiranya tak perlu dijelskan lagi betapa buruk dan lemah keadaan Mataram semenjak paduka menggantikan kedudukan mendiang Sang Prabu Sanjaya.
Pengepungan yang dilakukan oleh pemberontak Yudasena tentu akan menamatkan riwayat Mataram apabila tidak segera dipukul hancur.
Kami, sebelas orang panglima-panglima dari Kerajaan Mataram yang pernah mengabdi dengan setia,kepada mendiang Sang Prabu Sanjaya dan telah ikut pula membauat Mataram menjadi jaya pada masa itu, telah berkumpul dan bertemu dengan Gusti Pangeran Pancapana, putera mahkota yang berhak penuh menduduki singgasana Kerajaan Mataram.
Melihat bahaya mengancam mataram kami berpendapat perlu sekali untuk menghancurkan musuh Mataram dengan syarat bahwa setelah pemberontak Yudasena dapat kami hancurkan, paduka harus mengundurkan diri dengan baik dan memberikan hak atas singgasana kepada Gusti Pangeran Pancapana.
Kalau paduka menolak, kami akan membiarkan saja pemberontak Yudasena merampas kedudukan paduka, kemuliaan kamilah yang akan merampas pula singgasana Mataram dari tangan si pemberontak Yudasena.
Semua jawaban sapat dipercayakan kepada Raden Indrayana pembawa surat ini, Tertanda .
Sebelas orang Panglima sepuh Mataram Setelah membaca surat itu, untuk beberapa lama Sang Prabu berdiam diri, tak kuasa berkata-kata.
Apakah dayanya?
Daripada kerajan jatuh ke dalam tangan Yudasena, lebih baik diserahlan secara baik kepada Pancapana yang berhak dan masih terhitung keponakan sendiri.
Dari Pancapana ia dapat mengharapkan pengampunan dan mungkin kedudukan tinggi sebagai penasehat dan sebagainya.
Maka setelah berpikir-pikir, ia lalu berkata.
"Raden Indrayana, katakanlah kepada keponakanku, Pangeran Pancapana itu bahwa hatiku merasa amat terharu bahwa dalam keadaan terjepit ini, dia masih mau membantuku mengusir musuh. Aaku sendiri tidak mempunyai putera, amaka siapa lagi kalau bukan Pancapana yang menggantikan kedudukanku? Tentu saja singgasana akan kuberikan kepada Pancapana, ini sudah emestinya. Nah, kataklanlah kepada para senapati sepuh dan kepada Pangeran Pacapana agar supaya segera menghancurkan Yudasena. Aku berjanji bahwa setelah ia berhasil mengusir musuh, aku akan mengundurkan diri dan mengangkat dia sebagai Raja Mataram."
Giranglah hati Indrayana.
Kalau tadi ia masih bersikap angkuh terhadap Sang Prabu Panamkaran, kini ia menyembah dengan khidmat,"Duhai, Sang Prabu, legalah hati hamba mendengar kebijaksanaan paduka ini.
Hamba percaya bahwa tidak saja Gusti Pangeran akan merasa lega, juga para senopati dan prajurit Mataram tentu akan memuji keputusan paduka ini.
Sekarang hamba mohon diri untuk menyampaikan warta menggirangkan ini kepada Gusti Pangeran, harap saja paduka berhati-hati menjaga serangan-serangan musuh dalam selimut, karena di dalam setiap kerusuhan selalu timbul penghianat-penghianat."Dengan kata-kata yang merupakan sindirian bagi kedua patih itu.
Indrayna mengundurkan diri dan kembali kepada Pangeran Pancapana, melalui penjagaan musuh dengan agagh berani.
Berbeda dengan ketika berangkatnya, kini Indrayana tidka lagi bersembunyi-sembunyi, bahkan menjagaan pasukan Yudasena dengan berani, dan berhasil merobohkan dan menewaskan banyak musuh sebelum ia sampai di tempat pasukan pangeran pancapana berkumpul.
Sementara itu ketika kedua patih Bandudarma dan Bandupati mendengar jawaban Sang Prabu Panamkaran kepada Indrayana menjadi terkejut sekali.
Mereka mengundurkan diri dan berunding dengan cepat bersama para pembantu dan perwira lain yang menjadi kaki tangan mereka.
Setelah mengadakan perundingan kilat mereka lalu mengutus seorang perwira untuk diam-diam mendatangi kubu-kubu pertahanan musuh di bawah bukit, bertemu dengan Bupati Yudasena.
Perwira ini berhasil bertemu dengan Yudasena dan menyerahkan sepucuk surat yang ditandatangani oleh Bandudarma dan Bandupati.
Yudasena menjadi amat terkejut dan juga girang setelah membaca surat itu.
Di dalam surat itu, ia diberitahu bahwa sepasukan benar balatentara yang dipimpin oelh Pangeran Pancapana telah datang hendak membantu an menghancurkan pasukan Yudasena, dan kedua patih itu menawarkan kerjasama yang baik.
Karena pasukan-pasukan Pangeran Pancapana itu dipimpin oleh senopati-senopati yang pandai dan merupakan lawan berat, maka kedua patih yang menjadi penghianat itu mengusulkan agar supaya Yudasena pura-pura kalah dan melarikan diri, menjaga sedapat mungkin agar jangan sampai pasukan-pasukannya menjadi lelah karena pertempuran itu.
Jadi, dengan sengaja barisan-barisan Pangeran Pancapana itu dibiarkan naik ke atas menduduki Kerajaan Mataram, kalau sudah tiba di depan benteng, perajurit yang dipimpin oelh kedua patih itu akan menyerang dari dalam benteng dan pada saat itu, barisan Yudasena harus esegera naik dan menggempur tentara Pangeran Pancapana yang akan terjepit, digempur dari atas dan dari bawah bukit!
Sebagai penutup surat, kedua patih itu akan membantu agar singgasana kerajaan Mataram diserahkan kepada Yudasena, kemudian sebagai pengganti jasa, kedua patih itu akan diberi kedudukan tinggi dan tidak dianggap sebagai musuh!
Yudasena tertawa bergelak denagn girangnya"Ha, ha, paman Patih Bandudarma dan Bandupati memang benar-benar cerdik sekali.
Baiklah, akau setuju dengan uslnya, dan bawalah balasan surat ini ke atas bukit!"Demikianlah persekutuan gelap telah terjalin antara kedua penghianat an si pemberontak Yudasena itu.
Sementara itu,setelah mendengar penuturan Indrayana, para pengliam tua dan Pangeran Pancapana menjadi girang sekali.
Mereka lalu mengerahkan pasukan-pasukan mereka dan bergeraklah balatentara itu maju menuju ke kubu-kubu musuh, yakni tentara Yudasena.
Sebelum tentara Pangeran Pancapana sampai di kubu-kubu pertahanannya.
Bupati Yudasena telah mengadakan perundingan denagn para pembantunya dan semua anggota barisan telah tahu belaka bahwa dalam menghadapi pasukan penyerbu dari luar, mereka tidak boelh menyerang dengan sungguh-sungguh dan setelah ada komando untuk mundur, mereka harus segera mengundurkan diri.
Kedua pasukan besar itu berhadapan dan Yudasena sendiri beserta belasan orang senapatinya menyambut rombongan Pangeran Pancapana yang menunggang kuda."Ha-ha!"Yudasena tertawa bergelak."Aku mendengar bahwa ada orang yang ebrani mengaku bernama Pangeran Pancapana yang sudah meninggal dunia.
Manakah Pancapana palsu itu?"
Pangeran Panacana mengajukan kudanya dan membentak,"Yudasena, pemberontak rendah!
Di waktu kerajaan sedang mengalami kemunduran, kau tidak berusaha membantu dan membangun kembali, bahkan datang melakukan penyerangan.
Alangkah rendah watakmu!
Kalau kau pernah mengabdi kepada mending rama prabu, tentu kau dapat melihat bahwa aku adalah Pangeran Pancapana yang asli.
Tengoklah para panglima sepuh bekas senapati-senapati mendiang rama prabu, adakah mereka ini juga palsu?
Lihat paman Senapati Cakraluyung, paman Kelabangwulung, dan yang lain-lain.
Benar-benarkah kau tidak kenal mereka?"
Diam-diam Yudasena mengakui bahwa pemuda yang tampan ini memang serupa benar dengan mendiang Prabu Sanjaya, dan bahwa semua senapati tua itu memang benar jago-jago mataram pada masa Sang Prabu Sanjaya masihmemegang tampuk kerajaan.
Akan tetapi ia memang sengaja berpura-pura tidak kenal, untuk menjalankan siasat yang telah diatur bersama-sama kedua patih Mataram.
Seorang pembantunya, yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, adalah seorang senopati yang amat kuat.
Orang ini bernama Limandaka dan bersenjata ebuah penggada besar yang mengerikan.
Limandaka melompat maju dan berkata.
"Para perampok dari manakah berani datang menggangu kami? Laki-laki berunding dengan kepalan dan senjata, tidak seperti perempuan mengandalkan bibirnya. Hayo, aku menjadi senopati pertama dari barisan Pasisir, siapakah yang berani menghadapiku?"
Melihat sikap orang yang kasar ini, Pancapana lalu memberi tanda kepala Surarudira untuk maju menghadapi senopati musuh itu.
Surarudira menjadi girang sekali.
Ia melompat turun dari kudanya dan amenghampiri si muak hitam yang juga tinggi besar seperti dia, lalu menuding dengan telunjuknya.
"Eh, muka hitam bermulut lebar! Akulah orangnya yang sanggup mengirim kau kembali ke tempat asalmu, di neraka!"
Marah sekali Limandaka mendengar ucapan ini"Siapakah kau, siluman brengos bermata jengkol?
Katakan dulu namamu sebelum kedua matamu yang hampir keluar itu betul-betul melompat keluar terkena pukulan yang keras!"
"Aku tak pernah meninggalkan nama di rumah da tak pernah menyembunyikan nama atau menggantinya. Namaku Surarudira, senopati Mataram yang tiada taranya. Kau ini prajurit baru yang masih belajar memegang keris, siapakah namamu yang rendah?"
Surarudira, aku pernah mendengar bahwa orang yang bernama Surarudira hanyalah menjadi tukang membersihkan kandang kuda di Mataram!
Ha, ha ha!
Dan kau maju menjadi senopati menghadapi aku Senopati Limandaka yang sakti?
Kau benar-benar sudah rindu kepada kuburan!"
Surarusdira marah sekali.
Memang, sebelum ia menjadi seorang kepala barian pengawal dari Sang Prabu Sanjaya dahulu, ia bekerja sebagai pemeliharaan kuda, akan tetapi bukan kuda sembarangan kuda, melainkan kuda kelangenan ( kesayangan ) Sang Prabu Sanjaya, yang tidak mau mempercayakan pemeliharaan kuda itu ke tangan orang lain.
Kini mendengar ejekan Limandaka, Sararudira menjadi mata gelap dan menubruk dengan terkam kedua tangannya yang kuat!
Alimandaka tidak mau membiarkan dirinya diterkam bagaikan seekor kelinci diterkam harimau, Ia mengangkat kedua tangannya dan menangkis pukulan Surarudira.
"Buk!"ketika kedua lengan orang tinggi besar itu saling beradu, keduanya terhuyung ke belakang beberapa tindak. Ternyata tenaga mereka sama kuatnya.
"Jahanam, rasakan tendangan mautku!"seru Limandaka sambil mengayun kaki kanan yang sebesar kaki gajah, menyambar ke arah wadah nasi Surarudira yang gedut, Surarudira hendak mengelak, akan tetapi tendangan itu merupakan keistimewaan dari kepandaia Limanaka, dan bukan seperti tendangan biasa yang mudah dielakkan. Tendangan itu dapat mengikuti gerakan yang mengelak, sehingga ketika tubuh Surarudira mengelak ke kiri, secepat angin kakai yang besar itu ikut membelok pula, dan masih dapat menendang paha Surarudira sehingga mencelat empat dapa lebih! Namun, Surarudira adalah seorang yang kebal dan kulitnya lebih tebal daripada kulit seekor badak. Biarpun tendangan keras itu membuat tubuhnya mencelat dan membuat daging pahanya merasa sakit, njarem ( pegel-pegel ) dan ketika ia maju, kakinay agak terpincang-pincang, namun tidak mengurangi semangatnya bertempur. Ia mendengus lalu membentak.
"Keparat, rasakan pembalasanku!"Ia Ia menubruk dengan kedua tangan dipentang bagaikan seekor harimau menerkam. Limandaka menyambutnay dengan tangan terpentang pula sehingga keduanya lalu saling terkam dan saling piting, akan tetapi keistmewaan Surarudira adalah main gulat. Dengan beberapa gerakan yang amat cerdik ia berhasil memeting leher lawannya dan membekuk tubuhnya sehingga tubuh Limandaka ditekuk ke belakang, lehernya berada dalam kempitan ketiak Surarudira. Ia meronta-ronta, akan tetapi tak dapat melepaskan diri. Sebaliknya, sungguhpun tak dapat mengirim pukulan, karena kedua tangannya tak bebas. Sedikit saja ia mengendurkan kempitannya, lawannya yang sama kuatnya itu tentu akan dapat melepaskan diri. Terdengar suara,"ah, uh, ah, uh,!"dan dengus dari hidung dan mulut mereka ketika keduanya mengerahkan tenaga, yang satu hendak mematahkan batang leher lawan, yang laih hendak melepaskan diri. Bukan main ramainay pergulatan itu. Akhirnya, karena pAyah menahan usaha Limandaka yang hendak melepaskan diri, Surarudira lalu mengangkat tubuh lawannya dan membantingnya sekuat tenaga! Blek!!"Debu mengepul tinggi ketika tubuh Limandaka yang besar itu menimpa tanah dan bergulingan sampai enam kali. Kalau tadi ketika Surarudira kena tendang, barisan Pesisir bersorak-sorai, kini barisan Pangeran Pancapana bertepuk tangan dengan riang melihat Surarudira dapat membanting lawannya. Akan tetapi, ternyata bahwa Limandaka juga kebal dan kuat sekali tubuhnya. Bantingan yang cukup kuat itu hanya membuatnya nanar sejenak sehingga tanah yang dipijaknya serasa terputar-putar. Akan tetapi segera ia memeramkan mata dan menenangkan pikirannya dan tak lama kemudian, ia telah mengeluarkan senjata yang mengerikan, yakni penggada yang besarnya bukan main itu. Melihat lawannya mengeluarkan senjata. Surarudira tidak mau kalah dan dicabutnyalah klewangnya yang tajam dan lebar berkilau terkena sinar matahari. Dan kini keduanya saling serang dengan senjata, jauh lebih hebat dan menegangkan daripada tadi. Barisan kedua belah pihak bersorak-sorai memberi tambahan semangat kepada jago masing-masing. Sementara itu, beberapa orang senopati barisan Pesisir maju pula dan disambut oleh para senopati sepuh dari Mataram. Akan tetapi Indrayana mendahului para panglima tua itu dan pemuda yang gagah perkasa ini lalu mengamuk bagaikan seekor banteng terluka. Tiap lawan yang terkena pukulannya, roboh tak dapat bengun pula. Melihat kehebatan pemuda ini Yudasena marah sekali dan ia sendiri maju ke medan pertempuran, setelah memberi tanda para barisan untuk maju menyerbu. Maka menyerbulah kedua barisan itu dan perang di mulai dengan gemuruh dan hebatnya. Yudasena sendiri yang menyergap Indrayana segera ditandingi oleh Pangeran Pancapana sendiri, Yudasena memang hanya hendak perang secara pura-pura saja untuk kemudian melarikan diri sebagaimana yang telah direncanakan akan tetapi ebagai seorang panglima, hatinya belum merasa puas kalau belum mencoba sampai di mana kedisdayaan lawan. Ia tela mendengar akan kedigdayaan para senopati sepuh dari Mataram, sehingga ia merasa gentar juga menghadapi mereka, akan tetapi melihat Pangeran Pancapana dan Indrayana yang masih muda belia, tentu saja ia merasa penasaran kalau harus mundur tanpa mencoba dulu kepandaian mereka! Yudasena, bupati yang memberontak terhadap Mataram dan yang memimpin selaksa orang prajurit Pesisir untuk mengepung Mataram, adalah seorang yang mempunyai aji kesaktian di tangan kanannya yang disebut Asta Dahana ( Tangan Api ). Jarang sekali ada lawan yang sanggup menerima pukulan tangannya ini, ampuhnya melebihi tusukan senjata runcing atau babatan senjata tajam! Ketika perang tanding antara pasukan Pesisir melawan psukan Mataram berlangsung. Yudasena ikut menyerbu dan ia disambut oleh Pangeran sendiri, karena Indrayana sedang sibuk mengamuk dan melayani fihak musuh. Dengan seruan keras yang terdengar seperti seekor macam mengaum, Yudasena melompat dan mengirim pukulan tangan kanannya yan ampuh kepada Pangeran Pancapana. Melihat betapa pukulan itu didahului dengan sinar kemerahan berkilat dan juga terasa panas menyambar, maklumlah pemuda itu bahwa tangan lawannya ini ampuh dan mengandung hawa sakti. Cepat dan lincah sekali Pangeran Pancapana mengelak ke kiri dan tangan kirinya menyambar ke arah sambungan siku tangan lawan dengan maksud untuk mengetok sambungan siku itu agar terputus atau terlepas. Akan tetapi Yudasena adalah seorang perwira yang selain gagah perkasa, juga telah banyak sekali pengalamannya dalam perkelahian, maka tentu saja tak mudah dirobohkan dengan segebrakan saja. Sebelum tangan Pancapana berhasil menghantam sikunya, lebih dulu ia telah menarik lengan kanannya dan sebuah tendangan keras ia layangkan ke arah perut pangeran itu. Kembali Pancapana dapat menghindarkan diri denagn sebuah tangkisan tangan kanannya. Ramailah mereka bertempur, kuat sama kuat, ketangkasan di lawan dengan kesigapan. Untuk menandingi Aji Kesaktian Asta Dahana dari lawannya, Pancapana juga mengerahkan aji kesaktian yang disebut tangan Kilat ( Asta Braja ) juga berada di tangan kanannya. Yudasena cukup wasapada dan tahu pula bahwa tangan kanan pemuda itu ampuh sekali dan mengandung kekuatan yang berbahaya, maka seperti juga Pancapana, ia selalu mengelak pukulan tangan Pancapana, tidak berani untuk mencoba menerima pukulan itu. Keduanya memiliki kekuatan dan kekebalan, dan pukulan tangan kiri lawan diterimanya dengan senyum di bibir, akan tetapi pukulan tangan kanan selalu dielakkan atau ditangkis. Yudasena diam-diam terkejut juga menyaksikan kedigdayaan pemuda yang mencalonkan diri menjadi Raja Mataram itu. Lebih-lebih kaget dan herannya ketika ia memukul dengan tangan kananya sambil menggerakkan tenaga. Pancapana menyambut pukulan itu dengan pukulan tangan pula.
"Duk!!"Dua tanagn raksasa yang didorong oelh aji kesaktian yang amat ampuh bertumbuk melalui dua kepalan tangan itu. Tubuh keduanya tergoncang karenanya dan terhuyun-huyun mundur lima langkah. Yudasena benar-benar merasa kagum dan juga penasaran mengapa lawannya yan masih muda itu sangup menerima pukulannya dengan pukulan pula, bahkan dari pukulan pemuda itu ia maklum bahwa ilmu tenaga lawannya tidak kalah hebatnya. Menurut rasa penasaran di hatinya, ia ingin mencabut senjatanya, akan tetapi ia teringat akan siasat yang telah diaturnya, maka ia berpikir bahwa belum tiba saatnya untuk mengadu jiwa.
"Bagus, kepandaianmu tidak buruk!"serunya sambuil melompat mundur, lalu ia memberi aba-aba kepada anak buanya untuk mengundurkan diri. Para prajurit Pasisir yang telah maklum bahwa telah direncanakan sejak semula untuk penarikan mundur ini, dengan serentak meninggalkan gelanggang perang melarikan diri. Pancapana dan Indrayana saling pandang sambil tersenyum puas. Mereka merasa bangga dan menganggap bahwa musuh terlampau lemah dan pengecut sehingga belum lagi pertempuran itu sampai di pncaknya, musuh telah mengundurkan diri. Kalau saja di situ tidka terdapat banyak senopati sepuh yang telah banyak makan asam garam peperangan dan pengalaman pertempuran, tentu kedua orang muda ini terkena tipu muslihat yang dijadikan siasat oleh Yudasena.
"Gusti Pangeran,"kata senopati Cakraluyung yang sudah tua dan berpengalaman,"gerakan Yudasena ini benar-benar amat mencurigakan. Penarikan mundur barisannya yang belum mengalami kehancuran itu lebih menyerupai siasat peperangan daripada kekalahan yang sewajarnya. Hamba tahu sampai di mana kekuatan barisan Yudasena dan kiranya takkan semudah ini mereka dapat dipukul mundur."
"Habis, bagaimana baiknya, paman Cakraluyung?"tanya Pangeran Pancapana.
"Kita masih belum tahu siasat apakah yang mereka jalankan,"jawab senopati tua itu,"maka kita harus berlaku wasapada. Juga kita harus berlaku cerdik dan berbuat seakan-akan kita belum mempunyai kecurigaan terhadap mereka. Oleh karena itu, harap paduka membawa sebagaian pasukan menyerbu terus ke atas dan masuk ke dalam benteng Mataram. Adapun hamba bersama sebagaian pasukan pula bersembunyi di belakang dan melihat apakan yang sesungguhnya menjadi siasat Yudasena. Kalau kiranya hamba menduga salah dan mereka akan membawa betul-betul kalah dan mundur, hamba akan membawa pasukan menyusul ke atas bukit."
Pangeran Pancapana menyetujui rencana ini, maka ia lalu membawa barsiannay terus mendaki bukit yang kini tak terkepung oleh musuh lagi itu.
Sebagaimana telah di rencanakan oleh Yudasena dan kedua Patih mataram yang berkhianat, ketika melihat barisan Pangeran Pancapana naik ke bukit, kedua Patih Bandudarma dan Bandupati itu lalu menegrahkan barisan untuk menyambut kedatangan Pangeran itu dengan serangan tiba-tiba.
Sang Prabu Panamkara terkejut melihat persiapan ini dan ia menegur kedua orang paihnya, akan tetapi kedua orang patih yang berkhianat itu bahkan memerintahkan kaki tangannya untuk menangkap Sang Prabu Panamkaran dan dimasukkan ke dalam tahanan!
Sementara itu, setelah barisan Pangeran Pancapana tiba di luar tembok benteng, tiba-tiba pintu benteng itu terbuka dan dari dalam benteng menyerbulah tentara Mataram dibarengi dengan hujan anak panah dari atas tembok benteng yang menyerang pasukan-pasukan Pangeran Pancapana!
Pancapana dan Indrayana terkejut sekali melihat sambutan ini.
"Dimas Indrayana? Bagaimana ini? Bukankah paman prabu sudah berjanji akan menerimaku dengan baik?"
Entahlah, kangmas Pancapana. Aku sendiripun amat heran! Benar-benarkah seorang ratu menjilat ludah sendiri yang sudah keluar dari mulutnya?"
Tiba-tiba terdengar sorakan hebat dan dari bawah menyerbulah barisan Yudasena yang tadi mengundurkan diri!
Bukan main sibuknya barisan Pancapana yang diserang dari atas dan bawah ini!
"Kangmas Pancapana, biarlah aku masuk dulu ke dalam benteng dan mematahkan batang leher raja curang itu!"
"Nanti dulu, dimas, jangan kau binggung dan khawatir. Baiknya siasat curang ini telah diduga oleh paman Senopati Cakraluyung, kalau tidak celakalah barisan kita. Mari kita menyerbu dan merampas benteng. Pasukan Yudasena biarkan saja naik tentu akan diserang oleh paman Cakra luyung dari belakang." (Lanjut ke
Jilid 08) Banjir Darah di Borobudur (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Pangeran Pancapana lalu memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerbu terus ke dalam benteng.
Banyak korabn jatuh bertumpuk di fihak pasukan penyerbu, akan tetapi berkat kegagahan Pancapana dan Indrayana yang memberi contoh menyerbu paling depan, pasukan itu besar sekali semangatnya dan terus menyerbu sehingga pintu benteng dapat dibobolkan pertahannya!
Sementara itu, sorakan yang tadi dikeluarkan oleh pasukan-pasukan Yudasena ketika mengejar naik untuk menggunting barisan Pancapana, tiba-tibamenjadi sirep dan terganti oleh teriakan-teriakan kaget ketika tiba-tiba dari kanan kiri dan belakang keluar pasukan-pasukan Cakraluyung menyerbu mereka!
Yudasena terkejut sekali dan dalam kegugupannya, ia tak dapat memberi komando yang tepat sehingga barisannya berperang secara liar.
Banyak sekali korban tewas dalam pertempuran dahsyat ini, perang campur menjadi satu sehingga sukar dibedakan mana kawan mana lawan.
Yudasena dengan marah sekali lalu menyerbu dan akhirnya ia bertanding melawan Senopati Cakraluyung sendiri!
"Bangsat tua!"Yudasena memaki."Rupanya kaulah yang mengalahkan siasatku!"
"Pemberontak hina dina! Dewata selalu melindungi orang yang benar mengutuk yang sesat!"jawab Cakraluyung yang menagkis serangan tombak di tangan Yudasena dengan perisainya, kemudian membalas serangan lawan denagn pedangnya. Pertempuran hebat dan mati-matian terjadi. Sungguhpun dalam siasat perang Cakraluyung tak usah kalah oleh Yudasena dan juga dalam ilmu pertempuran senopati tua ini amat pandai, namun ia telah tua sekali dan tenaganya sudah banyak berkurang. Apalagi tombak di tangan Yudasena selain merupakan tombak pusaka yang ampuh, juga dimainkan secara luar biasa cepat dan kuatnya, setelah melawan mati-matian akhirnya, Senopati Cakraluyung roboh dengan dada terluka oleh tombak. Ha-ha-ha Cakraluyung! Ternyata kau tidak dilindungi oleh Dewata, maka tentu kau yang sesat dan aku yang benar!"Yudasena mengejek, lalu mengamuk dengan tombaknya sehingga barisan Mataram yang sudah kehilangan pemimpinnya ini sekarang menjadi kacau-balau dan kalau dilanjutkan pertempuran itu, tentu mereka akan terpukul hancur. Akan tetapi, pada saat itu fihak barisan Yudasena menjadi kacau dan prajurit-prajurit barisan ini lari ke kanan kiri, yang kurang ceopat larinya terlempar ke kanan kiri bagaikan rumput kering saja. Terdegar pekik kesakitan susul menyusul. Ternyata bahwa yang datang mengamuk itu adalah Indrayana! Para prajurit Mataram ketika melihat oemuda yang gagah perwira ini, timbul lagi semangat mereka dan kembali peperangan dimulai dengan lebih hebat. Yudasena ketika mengetahui bahwa yang mengamuk itu Indrayana, segera memburu dengan tombak di tangan. Pada saat itu, Indrayana tengah berlutut di dekat tubuh senopati Cakraluyung yang mandi darah an sudah tak berdaya lagi. Ketika Indrayana memangkunya, senopati sepu ini hanya bisa berbisik perlahan."Raden Indrayana ""
Sampaikan pesanku kepada Gusti Pangeran ""
Pandai dan bijaksanalah ia memerintah Mataram ""
Melindungi dan memimpin rakyat jelata ""
Semoga Mataram dapat di bangun kembali, makmur dan jaya sebagaimana dahulu """Maka meninggallah pahlawan tua ini di dalam pelukan Indrayana.
Ketika Yudasena datang menyerbu denagn tombaknya, Indrayana memandang kepada bupati ini dengan mata merah karena maranya.
Ia meletakkan tubuh Cakraluyung di atas rumput, mencabut krisnya dan melompat ke depan menyambut kedatangan Yudasena.
Tanpa banyak cakap Indrayana menyerang dengan kerisnya dan Yudasena pun tak mau mengalah begitu saja.
Tombaknya diputar-putar dan bagaikan seekor ular hidup, tombak itu meluncur mendatangkan angin dan menghujani tubuh Indrayana dengan serangan-serangan kilat.
Kalau melihat keadaan senjata mereka, sungguh berat sebelah, senjata di tangan Yudasena adalah sebatang tombak panjang sedangkan sebantang tombak Indrayana adalah sebilah keris yang pendek.
Akan tetapi, Indrayana memiliki kecepatan gerakan yang luar biasa sekali sehingga Yudasena tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mempergunakan tombaknya.
Tubuh pemuda itu berkelebat menyambar-nyambar bagaikan seekor burung serikatan, membuat Yudasena merasa terkejut sekali dan kepalanya pening.
"Yudasena, kau harus membayar dengan nyawamu untuk tewasnya Paman Cakraluyung! "Indrayana membentak dan sebuah tusukan kilat denagn kerisnya membuat Yudasena terhuyung mundur, tangan kiri mendekap luka di dada yang tertembus keris, sedangkan tanagn kananya mengangkat tombak ini cepat sekali datangnya dan Indrayana tidak terburu mengelak lagi. Pemuda yang gagah ini lalu mengibas dengan tangan kirinya sehingga tombak itu dapat tertangkis dan meluncur ke samping. Terdengar pekik ketika tombak itu menembus punggung seorang prajurit yang sedang bertempur. Sementara itu, Pancapana berhsil memasuki benteng. Dengan gemesnya pangeran ini mengamuk dan ketika ia dapat memegang batang leher seorang perwira, ia mencekik dan menghardik Sang Prabu Samaratungga berdiri dari kursinya dengan wajah pucat. Ia teringat akan sabda seorang wiku sakti yang telah meinggal dunia dahulu yang menyatakan bahwa apabila gendewa pusaka Dewandanu patah, maka itu berarti bahwa Kerajaan Syailendra telah tiba masanya untuk lenyap dari tanah Jawa! Siddha Kalagana melemparkan patahan dan gendewa itu ke tanah, tertawa bergelak dan berkata kepada Sang Prabu Samaratungga,"Ha, ha, ha! Tidak tahunya gendewa pusaka itu hanay terbuat dari bahan kayu yang lembek saja! Mana dia dapat menahan tenaga tanganku Sang Prabu, sekarang setelah saya dapat menempuh syarat pertama dengan baik, umumkanlah apakah syarat selanjutnya? Menurut pendengaranku, ditetapkan adanya tiga macam syarat!"
Terpaksa Sang Prabu Samaratungga lalu berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Telah kusaksikan bahwa yang kuat menarik gendewa pusaka Dewandana ada lima orang. Syarat-syarat sayembara ini masih ada dua macam lagi, yaitu pertama kali, peserta harsu dapat menlenyapkan hawa siluman yang mengotori puncak Gunung Papak. Adapun syarat terakhir ialah bahwa si peserta harus dapat mengusir semua ancaman musuh yang hendak menyerang atau menganggu keamanan Kerajaan Syailendra!"
Tiba-tiba Pramodawardani berbisik kepada Ayahnya.
"Ramanda Prabu, hamba kira lebih baik kalau para peserta itu memperkenalkan diri masing-masing terlebih dahulu."
Diam-diam Prabu Samaratungga memuji kecerdikan puterinya ini, karena memang perlu sekali mengetahui nama-nama daripada calon suami puteri mahkota.
Baca Juga: Pendekar Sadis 12
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 11