Eps 4 Banjir Darah di Borobudur - Kho Ping Hoo
Baca online Banjir Darah di Borobudur - Kho Ping Hoo
Cersil Banjir Darah di Borobudur - Kho Ping Hoo.
"Sebelum sayembara ini dilanjutkan, perlu diketahui nama-nama para peserta yang lulus dalam syarat pertama. Orang pertama dan kedua telah diketahui, yaitu utusan-utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang bernama Senapati Kalinggapati dan Kalinggajaya. Orang ke empat adalah Raden Indrayana putera Wiku Dutaprayoga seorang kawula Syailendra sendiri, dan orang kelima adalah Siddha Kalagana yang terkenal sebagai seorang pendeta dan juga kini menjadi raja. Akan tetapi, seapakah peserta ke tiga? Harap suka memperkenalkan nama dan kedudukan!"
Sang Rakai Pikatan berdiri dengan tenang dan senyum di bibirnya yang tak pernah meninggalkan wajahnya.
"Sang Maha Raja yang mulai harap maklum bahwa saya adalah Raja dari Mataram yang berjuluk Sang Rakai Pikatan."
Berisiklah para penonton ketika mendengar nama raja muda yang amat terkenal ini.
Memang, nama Rakai Pikatan sebagai raja muda di Mataram amat terkenal dan menjadi buah bibir rakyat, karena raja muda yang masih perjaka itu dikhabarkan amat tampan, sakti dan bijaksana sehingga dalam waktu setahun saja telah berhasil membangun Mataram kembali menjadi jaya dan makmur.
Sang Prabu Samaratungga sendiri tertegun sejenak mendengar nama ini.
Ia merasa amat bangga dan juga binggung.
Raja Mataram merupakan tandingan berat bagi pangeran sriwijaya, maka kini pilihannya hanya condong kepada ketua calon ini, yakni pangeran pati dari Sriwijaya atau raja muda dari Mataram.
Sebaiknya, Pramodawardani mengerutkan keningnya.
Ia maklum bahwa raja muda dari Mataram itu beragama Hindu, maka bagaimanakah kalau sampai ia menjadi permaisurinya?
Kalau mengingat akan kedudukan, tentu saja lebih baik menjadi permaisuri Mataram, akan tetapi kalau mengingat akan agama, agaknya lebih baik menjadi istri Raden Indrayana.
Adapun tentang kegagahan dan kecakapan, sukarlah untuk memilih antara kedua pemuda ksatria itu!
Sama halus, sama tampan, sama gagah!
Tiba-tiba mendapat sebuah pikiran yang baik.
Betapapun juga, agaknya Ayahnya tentu akan memilih Raja Mataram daripada Raden Indrayana, dan untuk mencoba dari raja muda yang beragama Hindu itu hanya ada satu jalan yang amat baik.
Ibu kota Mataram dipindahkan kembali dari puncak Gunung ieng ke ibu kota medang yang makin lama makin menjadi besar dan ramai.
Belum setahun Sang Prabu Pikatan memegang tampuk kerajaan, Mataram telah menjadi besar dan jaya, bahkan boleh dikata lebih besar daripada dahulu-dahulu.
Semua ini berkat kebijaksanaan Sang Prabu Rakai Pikatan yang adil dan membela rakyat.
Para petugas yang curang dan memeras rakyat disapu habis-habisan.
Semua pamongpraja bekerja dengan setia dan jujur, benar-benar merupakan pimpinan dan pembimbing rakyat yang membela dan melindungi kawula Mataram, tidak seperti di bawah perintah Prabu Panamkaran, di mana tidak ada pemimpin yang benar-benar memimpin, yang ada melainkan pembesar yang hanya mementingkan urusan perut sendiri tak perduli akan keadaan rakyat jelata yang tercekik, kelaparan dan telanjang!
Setelah Sang Prabu Pikatan pindah ke Medang, Indrayana lalu minta diri dari sahabatnya ini untuk kembali ke Syailendra mencari Ayahnya, Sang Wiku Dutaprayoga.
"Aduhai, dimas Indrayana. Mengapa hendak meninggalkan aku? Kita telah bersama semenjak mengalami kesengsaraan, sama-sama berjuang bahu-membahu. Setelah kini aku mencapai pantai cita dan menikmati hasil perjuangan kita, mengapa kau hendak meninggalkanku? Marilah kita bersama menikmati kebahagiaan di Mataram dan kau bantulah pekerjaanku. Tidak ada patih yang lebih kuingini selain engkau, adikku yang budiman!"
Kata Sang Prabu Pikatan.
Indrayana tersenyum dan menyembah.
Setelah Pancapana menjadi raja, tentu saja ia tidak dapat bersikap seperti dahulu, dan menurut tatasusila, ia harus menunjukkan sikap sebagai seorang hamba kepada junjungannya.
"Paduka telah maklum bahwa tiada kegembiraan lain kecuali mengabdi kepada pasuka dan bekerja sama dengan paduka yang selalu menjadi cita-cita hamba. Akan tetapi, sekarang Mataram telah bangkit kembali, sudah tercapai idam-idaman hati yang dikandung selama kita berjuang. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban hamba untuk mengingatkan kembali kepada Kerajaan Syailendra. Oleh karena betapapun juga, hamba adalah kawula Syailendra. Hamba mendengar berita angin bahwasannya kerajaan Sang Prabu Samaratungga kini sedang berada dalam ancaman musuh dari timur. Tentu takkan membenarkan apabila hamba berpeluk tangan saja."
Sang Prabu Pikatan mengangguk-angguk."Kau benar, dimas, memang demikianlah seharusnya watak seorang ksatrya, siap-siaga berjuang membela negara, membela kebenaran, dam mengerahkan tenaga untuk menghancurkan segala macam kejahatan.
Akan tetapi, sebelum kau pergi ke Syailendra, kuharap kau suka mampir lebih dahulu di pondok paman Panembahan Bayumurti."
Merahlah wajah Indrayana mendengar ini karena tentu saja nama panembahan ini mengingatkan dia akan puteri panembahan itu, Candra Dewi, kekasihnya.
"Baiklah, dan ada pesan apakah yang harus hamba sampaikan?"
"Dimas Indrayana, dengarlah baik-baik, dimas. Aku hendak mengirim sebuah surat kepada paman panembahan, dan kau sebagai utusan dan wakilku, ada baiknya bila kau mengetahui apa yang menjadi maksud hatiku. Ketahuilah bahwa para pinisepuh yang mengembani Kerajaan Mataram, termasuk para panembahan dan senopati sepuh yang banyak berjasa semenjak tama prabu masih hidup, telah berkali-kali mendesak kepadaku untuk segera krama (menikah). Seorang raja besar tanpa permaisuri akan tampak janggal dan dapat mengecewakan hati para kawula. Kupikir benar juga desakan itu dan kurang enaklah kalau aku menolak terus-menerus, apalagi karena sekarang akupun telah cukup dewasa."
Indrayana tersenyum dan mukanya berseri gembira."Catatlah Sang Prabu, bahwa hamba juga menjadi seorang di antara mereka yang mendesak usul ini!
Alangkah gembira hati hamba menyaksikan paduka bersanding dengan permaisuri yang cantik dan juga mulia dan agung bijaksana."
"Benar katamu, dimas. Seorang permaisuri harus cantik dan juga mulia, harus indah lahir batin. Inilah yang amat kukhawatirkan. Mudah saja mencari wanita cantik jelita, akan tetapi sukarlah mendapatkan yang cantik hatinya. Oleh karena itu, menurut pandanganku, hanay seoranglah wanita di dunia ini yang cantik lahir batin, yang sudah kuuji dan kuketahui sendiri keindahan lahir batinnya. Hanay dia seoranglah yang patut menjadi permaisuriku, dan terutama sekali, menjadi seorang wanita termulia yang dipuja-puja oleh seluruh rakyat di Mataram!"
Makin berserilah wajah Indrayana. Tak pernah disangkanya bahwa Pancapana telah mempunyai pilihan! Belum pernah pemuda itu dahulu memberitahukannya.
"Bolehkah kiranya hamba mengetahui siapa adanya puteri yang mulia itu?"
Siapa lagi kalu bukan diajeng Candra Dewi? "
Kalau ada halilintar menyambar masuk ke dalam ruang keraton itu dan meledak di depan matanya, tak mungkin Indrayana akan sekaget itu.
Wajahnya seketika menjadi pucat dan sepasang matanya memandang ke arah Sang Prabu Pikitan dengan bengong bagaikan padang mata orang yang kehilangan semangatnya.
"Ampunkah hamba, mohon diulang sekali lagi nama puteri itu, agar haba tidak sampai salah dengar,"akhirnya Indrayana dapat juga mengeluarkan suara, lalu mendengarkan jawaban yang akan diucapkan oleh raja muda itu dengan penuh perhatian hampir tak bernapas saking tegangnya. Melihat pandangan mata Indrayana, terharulah Sang Prabu Pikitan, sehingga ia turun dari singasana, menghampiri kawannya itu dan memegang kedua pundaknya.
"Indrayana, tidak salah pendengaranmu tadi, memang yang kumaksudkan adalah diajeng Candra Dewi, puteri tunggal paman Panembahan Bayumurti, atau juga adik seperguruan kita."
Kedua pundak Indrayana mengeras di bawah pegangan Prabu Pikatan dan wajahnya kini seakan-akan tak berdarah lagi.
"Tidak ""
Tidak kelirukah pilihan paduka""?"tanyanya perlahan dan lemah. Sang Prabu Pikatan menarik napas panjang lalu duduk kembali di atas singgasananya. Ia memandang tajam lalu berkata dengan suara tenang.
"Dimas Indrayana, aku mklum akan perasaan hatimu. Aku tahu bahwa kau mencintai diajeng Candra Dewi dan mungkin juga dia mencintaimu. Akan tetapi, harus kauketahui bahwa sebelum dia berjumpa denganmu, akupun telah menaruh hati kasing sayang yang besar kepadanya. Kasih sayangku itu dahulu seperti kasih sayang kepada seorang adik kandung, akan tetapi sekarang, karena aku membutuhkan seorang permaisuri yang sempurna, kiraku selain diajeng Candra Dewi, tidak ada lagi lain wanita yang patut menduduki singgasana Mataram sebagai permaisuri. Kalai kiranay aku tidak menjadi raja di Mataram, agakany akan dapat aku merelakan hati, mengalah terhadapmu, dimas Indrayana. Akan tetapi ketahuilah bahwa mataram adalah yang terutama bagiku, yang harus kujaga, baik namanay maupun kemakmuran dan kejayaannya. Kerajaan Mataram bagiku lebih berharga, lebih suci dan lebih kuutamakan daripada apapun juga. Lebih besar daripada rasa sayangku kepadamu, bahkan lebih besar daripada sayangku kepada nyawa sendiri. Harap kau mklum akan hal ini, dimas,"
Ucapan yang panjang itu terdengar oleh Indrayana bagaikan suara dari Khayangan yang lambat laun turun dan berubah menjadi sebatang keris yang menacap di jantungnya sehingga berdarah dan perih ia menundukkan mukanya dan berkata dengan suara berisik.
"Sang Prabu, tidak adakah lain wanita yang sepadan menjadi permaisurimu?"
"Jangan salah faham, dimas Indrayana. Banyak sekali wanita yang cukup pantas mejadi isteri Pancapana, akan tetapi, selain diajeng Candra Dewi, kiranya tidak ada lain dara yang patut menjadi permaisuri Sang Prabu Pikatan, raja dari Mataram! mengerti aku?"
Indrayana tak kuasa menjawab, hanya mengganguk. Kemudian ia menggigit bibirnya dan berkata,"Serahkanlah surat itu kepada hamba, hendak hamba kerjakan tugas terakhir untuk paduka."
Sang Prabu Pikatan memberikan suaranya kepada Indrayana dan berkata,"Dimas Indrayana, selama hidupku takkan kulupakan kemuliaan budimu, dan kalau sewaktu-waktu kau telah menjatuhkan pilihanmu kepada seorang puteri, katakan saja kepadaku.
Akulah yang akan mendapatkannya untukmu, baik dengan cara halus maupun kasar!"
Akan tetapi, tanpa menjawab Indrayana lalu menerima surat itu dan mundur.
Bagaikan terbang, ia ia berlari keluar dari keraton dan terus melakukan perjalanan menuju ke tempat pertapaan Panembahan Bayumurti.
Setelah bayangan Indrayana lenyap dari hadapannya.
Sang Prabu Pikatan menarik napas panjang berulang-ulang dan berbisik seorang diri.
"Maafkan aku, dimas Indrayana. Aku tidak melihat jalan lain. Selain Candra Dewi, siapakah lagi yang patut disembah oleh rakyatku? Tidak ada pilihan lain bagiku. Biarlah kau dan aku berkorban perasaan demi kejayaan dan kebesaran nama Mataram"""
Candra Dewi, anakku yang ayu, anakku yang manis. Mengapa dalam beberapa hari ini kulihat engkau selalu bermuram durja?"
Demikian pertanyaan yang keluar dari mulut Sang Panembahan Bayumurti kepada puteri tunggalnya yang duduk menundukkan mukanya.
Dara itu hanya memandang sekejap kepada Ayahnya tannpa berani menentang pandang mata Ayahnya yang tajam menembus itu, lalu menunduk kembali.
"Tidak apa-apa, rama. Aku hanya merasa agak kesal dan sunyi. Rama, mengapa engkau tidka mau pindah ke kota? Alangkah akan senangnya kalau kita tinggal di ibu kota Mataram."
"Ayahnya tersenyum."Baru sekarang aku mendengar bahwa engkau merasa kesunyian di puncak bukit yang indah dan yang selamanya engkau suka ini. Mengapa, nak? Adakah sesuatu yang membimbangkan hatimu? Katakanlah terus terang kepada Ayahmu!"
Akan tetapi, gadis itu hanya menunduk dan menggelengkan kepala, dan tiba-tiba mukanya menjadi kemerahan seakan-akan jawaban yang terkandung dalam hatinya membuatnya merasa malu dan jawaban itu hanya terdengar yang manis itu tidak kuasa mengucapkannya.
"Candra Dewi, tak perlu kiranyanya kau menyembunyikan perasaan hatimu terhadap Ayahmu sendiri. Aku tahu bahwa engkau telah cukup dewasa, sudah tiba saatnya untuk meladeni pria, menjadi isteri dan ibu yang bijaksana."
Panembahan Bayumurti mengelus-elus jengotnya, lalu tersenyum-senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya."Candra, anakku, kurasa aku tidak mendahuli kehendak Dewata dan juga tidak menduga keliru kalau kukatakan bahwa ahtimu telah tertambat kapada jaka bagus Indrayana, bukan?"
"Ah, rama Panembahan """sambil menahan-nahan senyum gadis itu menunduk makin rendah dan jari-jari tangannya meremas-remas ujung kembennya.
"Candra, tak usah engkau ragu-ragu dan khawatir anakku yang manis. Aku sebagai Ayahmu dan juga kakang Wiku Dutaprayoga sebagai Ayah Indrayana, sudah cukup awasa dan mklum akan keadaan hatimu dan hati pemuda itu. Oleh karena itu, diam-dieam ketika kami berdua mengunjungi Sang Panembahan Ekalaya dahulu itu, kami telah berjanji untuk mengikat tali perjodohan antara engkau dan Indrayana!"
"Ah, rama """
"Ha-ha-ha, tidka senangkah hatimu, Candra?"panembahan itu tertawa dengan hati penuh kebahagiaan itu tertawa dengan hati penuh kebahagiaan."Betapapun juga, perjanjian kami belum resmi, nakku. Belum diadakan upacara untuk itu, hanya sebagai pembicaraan sambil lalu saja. Sebelum mengambil keputusan, aku dan kakang Wiku akan bertanya kepada orang-orang yang bersangkutan lebih dulu. Maka sekarang, jawablah, anakku. Maukah engkau menjadi sisihan Raden Indrayana?"
"Rama ""!"Candra Dewi tak dapat menahan rasa girangnya dan juga tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya, akan tetapi ia merasa amat malu. Ia bangkit berdiri dan sambil berkata,"Masabodoh rama panembahan sajalah!"Ia lalu berlari-lari ke belakang, keluar dari pintu belakang dan terus berlari ke dalam hutan di belakang rumahnya! Candra Dewi berlari ke sebuah tempat di mana banyak tumbuh pohon waringin yang besar-besar. Pohon itu tumbuh sedemikian rapatnya sehingga daun-daunnya merupakan atap dan tempat di bawah pohon-pohon itu tidak sampai basah kuyup apabila hujan turun dan juga tidak terlalu panas apabila Sang Surya memanggang jagat. Di sebelah kiri tempat teduh ini terdapat sebuah pondok kecil yang dipergunaka oleh Panembahan Bayumurti sebagai sanggar pemujaan, tempat bermuja samadhi, dan sebelah kanan dijadikan sebuah taman bunga oleh Candra Dewi. Tempat ini selain indah, harum, juga bersih sekali karena setiap hari disapu dan dibikin bersih oleh gadis itu, dijadikan tempat bermain, tempat membuat patung dan juga melepas lelah setelah bekerja dan melayani keperluan Ayahnay sehari-hari. Candra Dewi masuk ketempat itu dan mengambil sebuah patung tanah yang dibuatnya dan disembunyikan di balik semak-semak. Ia mengangkat patung itu ketengah taman, kemudian duduk bersimpuh di depan patung yang tak berapa besar itu. Dipandangnya patung itu sampai beberapa lamanya dengan mata mesra dan mulut tersenyum kemudian diraihnya patung itu dan diusapinya pipi patung beberapa kali.
"Mengapa malah setahun lebih kau tidak datang mengunjungiku? Mengapa kau tidak mengirim berita, tidka memberi kabar sedikitpun juga? Apakah kau sudah lupa kepadaku, lupa kepada Dewimu? Apakah hatimu terpikat oleh sinar mata seorang puetri di Mataram?"
Candra Dewi sama sekali tidak tahu bahwa semua perbuatannya itu diawasi oleh pasang mata yang semenjak tadi mengintainya, tidak menyangka bahwa semua ucapannya setengah berbisik itu didengarkan orang.
Dan orang ini bukan lain adalah Indrayana sendiri!
Sebagaimana telah dituturkan bagian depan pemuda ini dengan hati hancur meninggalkan Kerajaan mataram, menjadi utusan Sang Prabu Pikatan dan membawa surat lamaran raja itu untuk Candr Dewi kekasihnya.
Telah semenjak tadi ia tiba di lerang bukit tempat tinggal kekasihnya, akan tetapi berat rasa hatinya untuk naik ke puncak dan menyerahkan surat lamaran yang merupakan surat pembawa sengsara baginya itu.
Ia bahkan lalu naik dari belakang pondok Panembahan Bayumurti dan tiba di belakang rumah di mana terdapat taman bunga Candra Dewi.
Berkali-kali ia hendak melanjutkan perjalanannya menjumpai Sang Panembahan, akan tetapi kedua kakinya mengigil dan terpaksa berkali-kali ia menunda pula niatnya dan duduk di bawah sebatang pohon waringin yangbesar.
Kemudian ia melihat Candra Dewi berlari-lari memasuki taman di bawah pohon waringin itu!
Berdebar-debar jantung Indrayana ketika melihat gadis itu dan ia cepat menyembunyikan diri di belakang pohon.
Naik sedu-sedan dari dadanay yang membuat kerongkongannay tertutup dari sesak bernapas ketika ia menyaksikan betapa kekasihnya itu nampak makin ayu dan denok.
Dengan mata berlinang ia memandang Candra Dewi mengagumi kecantikan dara itu, bekas kekasihnya yang tal lama lagi akan menjasi permaisuri taja di Mataram!
"Dewi "", kekasihku """ratapnya di dalam hati, akan tetapi ia tidka keluar dari tempat sembunyinya da hanay mengintai dengan dada berdebar.
Ia melihat betapa dara itu lari ke rumput alang-alang dan mengeluarkan duduk menghadapi patung sambil bicara seorang diri.
Alangkah terkejut dan panas hati Indrayana ketika mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis itu kepada patung tadi.
Ia memandang denagn penuh perhatian dan telinga terasa panas.
Telinganya terngiang-ngiang dan pelupuk matanya menggigil.
Tiba-tiba saja ia merasa amat cemburu terhadap patung itu.
Memang sungguh mengherankan keadaan pemuda ini.
Kalau tadinya ia hanya dapat bersedih mengingat berapa kekasihnya akan diperistri oleh Sang Prabu Pikatan atau Raden Pancapana bekas sahabatnya, kini tiba-tiba ia merasa cemburu dan marah melihat kekasihnya bercumbu rayu terhadap sebuah patung!
Sesungguhnya, kalau saja hendak merampas gdis itu dari tangannya bukan Sang Raja Pikatan, tentu ia akan malabrak perampas itu dan mengajaknya bertanding mati-matian!
Ia memandang lagi dengan hati panas dan melihat betapa Candra Dewi mendekap patung itu sambil berkata.
"Ah, kusuma hatiku, tidka tahukah kau betapa kau telah membuat hatiku sunyi dan tak berarti semenjak kau meninggalkanku? Tidak tahukah kau betapa besar rindu dendamku kepadamu? Sudah musnakah rasa cinta kasihmu terhadap Candra Dewi?"
Indrayana tak dapat menahan sabar lagi.
Ingin ia merampas patung itu dan membantingnya sampai hancur berkeping-keping!
Ia melompat dari tempat persembunyiannya dan berdiri di depan Candra Dewi dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pingang!
Candra Dewi terkejut dan mengangkat muka memandang.
Sepasang matanya yang seperti bintang pati itu membelalak lebar, mulutnay yang berbibir indah segar itu ternganga, seakan-akan tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
Tak terasa lagi, patung yang dipegangnya terlepas terlepas dan patung itu rebah terletang sedangkan gadis itu sendiri perlahan-lahan berdiri sambil berbisik berkali-kali.
"kau ""? Kau ""? Kangmas ""??"
Akan tetapi Indrayana tidak memandang kepadanya.
Pemuda itu sedang tunduk, memandang kepada patung tadi dengan mata terbelalak.
Seperti belum maupercaya kepada matanya sendiri, ia menggerakkan kedua tangannya mengambil patung itumemandang wajah patung itu dengan penuh perhatian.
Ternyata patung itu adalah patung Indrayana sendiri!
Pemuda itu tiba-tiba membanting patung itu sampai hancur lalu mendekapkan kedua tangannya di depan mukanya.
Sepuluh jari tangannya mengigil, kedua kakinya yang berdiri juga ikut mengigil sedangkan dari celah-celah jari tangannya keluarlah butir-butir air mata!
"Dewi ""
Dewi """terdengar keluhnya tercampur isak tertahan.
Ia merasa seakan-akan dadanya ditusuk oleh ribuan ujung keris berbisa.
Melihat kekasihnya demikian setia, tetap mencintainya sepenuh jiwa, kemudian mengingat betapa ia tadi telah menyangka yang bukan-bukan!
Meyangka gadis sesuci ini berlaku serong mencinta orang lain!
Mengingat betapa kekasihnya yang demikian setia dan memang mencintainya, akan dipersunting oleh Sang Prabu Pikatan!
Ah, hancurlah hati Indrayana.
Sebaliknya, ketika Candra Dewi menyaksikan keadaan pemuda itu aia amat terheran-heran dan juag gelisah.
Terutama sekali ketika ia melihat air mata pemuda itu megalir keluar keluar dari celah-celah jari tangannya.
Serentak gadis itu melompat maju dan memegang kedua lengan indrayana, membetotnay dengan keras sehingga Indrayana melepaskan tangannya dari depan mata.
Pemuda itu memeramkan kedua matanya, hidungnya berkembang kempis menahan dorongan isak yang menaik dari dalam dada, mulutnya terengah menahan hawa perasaan yang bergolak.
"Kakangmas Indrayana ""
Kau kenapa??"Candra Dewi bertanya sambil mempererat pegangan tangan pada lengan pemuda itu.
Mendengar suara ini sadarlah Indrayana daripada keadaannya.
Ia membuak kedua matanya melalui jari-jarinya ia emmandang kepada wajah gadis itu.
Melihat betapa sinar mata gadis itu dengan sayu dan mesra menatapi wajahnya, Indrayana menggeleng-geleng dengan kepala dengan keras untuk menahan hasrat hatinya yang ingin memeluk dan mendekap kepala kekasihnya itu ke dadanya, Ia bahkan segera menarik kembali kedua tangannya sehingga terlepas dari pegangan Candra Dewi.
"Kakangmas Indrayana ""
Mengapakah? Apa yang terjadi?"gadis itu mendesak dan kini iapun menjadi pucat karena menduga bahwa pasti terjadi sesuatu yang amat hebat sehingga pemuda peujaan hatinya itu bersikap sedemikian rupa.
"Tidak ".. tidak ""
Jeng Dewi ""
Jangan kau menyentuh aku ""
Jangan."
Akan tetapi Candra Dewi bahkan menubruk maju dan memeluk pinggang pemuda itu, menjatuhkan mukanya pada ada Indrayana sambil menangis.
"Kangmas Indrayana ""
Agaknya kau telah membenci aku ""
Agaknya kau telah lupa kepadaku ""
Gusti Yang Maha Agung ""
Benar-benarkah kau telah terpikat oleh seorang gadis lain di Mataram ""?"Dara ini lalu menangis sehingga Indrayana merasa betapa kulit dadanya menjadi basah dan hangat oleh air mata gadis itu.
Lupakan segala hal dan kedua lengannya yang kuat itu segera merangkul dan memeluk kepala kekasihnya, didekapnay kuat-kuat ke dadanya.
"Dewi ""
Dewi ""
Dewata menjadi saksi bahwa kaulah satu-satunya wanita di mayapada ini yang menjadi pujaan kalbu dan kesuma hatiku """
"Kangmas Indrayana """bisik Candra Dewi dan terisaklah gadis ini karena terharu dan girang. Untuk beberapa lamanya, sepasang teruna remaja ini diam tak bergerak, tenggelam dalam ayunan perasaan masing-masing. Akan tetapi Indrayana sadar kembali dan segera melepaskan rangkulnya, lalu melangkah mundur sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Kangmas Indrayana ""!"Candra Dewi mengembangkan kedua lengannya dan memandang heran. Jeng Dewi, jangan "... jangan kau mendekati aku! Ketahuilah bahwa aku ""
Aku tak berhak menyentumu, aku tak berhak memandangmu ""
Bahkan ""
Bahkan aku seharusnya berlutut menyembahmu sebagai junjungan ""
Sebagai ""
Sebagai Maha Puteri Mataram "
"Eh-eh, kau kenapakah, kakangmas Indrayana? Sungguh berobah sekali sikapmu. Apakah yang telah terjadi? Katakanlah, aku bersedia menerima pukulan yang bagaimana beratpun, katakanlah."
"Diajeng ""
Aku ""
Aku datang sebagai utusan Sang Prabu Pikatan dari Mataram!"
Wajah Candra Dewi berseri."Apakah buruknay hal itu?
Tentu yang kau maksudkan dengan Sang Prabu Pikatan itu adalah Raden Pancapana, bukan?
Ah, kau tentu akan menjadi patihnya!
Bagaimanakah keadaan Sang Prabu?"
Melihat kegembiraan Candra Dewi mengenangkan Raden Pancapana yang hampir seperti kakak kandungnya sendiri itu, Indrayana menarik napas panjang."Ah, kau tidka tahu, Dewi """keluhnya di dalam hati,"kau tidak tahu """
"Jeng Dewi, memang kakangmas Pancapana yang mengutusku ke sini, untuk menyerahkan sepucuk surat kepada paman panembahan."
"Rama panembahan berada di dalam pondoknya, akan tetapi, kau masih belum menceritakan apa yang menjadikan kau bersikap seperti itu. Kau nampak berduka sekali, ada apakah? Apakah hubungannya penyerahan surat ini dengan kedukaanmu?"
"Dengarlah baik-baik, jeng Dewi, surat ini ""
Maksudnay tidak lain bahwa Sang Prabu Pikatan dari Mataram meminang engkau untuk menjadi permaisuri Kerajaan Mataram!"
Lenyaplah semua warna muka merah dari Candra Dewi, sepasang matanya terbentang lebar-lebar memandang kepada Indrayana.
"Tak mungkin Raden Pancapana mempunyai niat seperti itu! Dia seperti kakakku sendiri ""! Ah, tak mungkin!"
Indrayana menunduk."Bagaimanapun juga, memang demikianlah halnya. Sang Prabu harus menaikah dan mencari seorang permaisuri, dan ""
Menurut pandangannya ""
Hanay engkaulah orangnya yang patut menjadi permaisurinya, menjadi wanita termulia di Mataram! "Tidak ""
Tidak ""
Aku tidak mau! Ah, kakangmas Indrayana "", bagaimanakah engkau ini ""? dan kau ""
Justeru engkau yang melakukan tugas meminang ini ""? Apakah kita sudah gila?"
Melihat betapa kekasihnya berdiri dengan binggung dan wajah pucat, hampir saja Indrayana tidka kuat menahan gelora hatinya, hendak menghiburnya ingin sekali ia memeluk gadis itu, membisikkan kata-kata hiburan, menyenangkan hatinya, mengatakan bahwa semua itu hanay kelakar belaka, bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini, dewatapun tidak, yang sanggup untukmemisahkan mereka, memutuskan kasih sayang mereka.
Akan tetapi, ia harus menarik napas berkali-kali dan menunduk saja.
"Kakangmas Indrayana! Jawablah! Mengapa engkau membiarkan saja hal ini terjadi? Mengapa engkau tidka menentangnya, tidak mengajaknya bertanding, tidak mengubur ujung karismu di dadanya? Mengapa?"
Indrayana mengangkat muka dan memandang tajam."Tidak, jeng dewi, Sang Prabu Pikatan adalah seorang raja besar di Mataram.
Di dalam tangannyalah terletak keselamatan, kejayaan dan kemuliaan Mataram.
Sesunggunya daripada ""
Daripada ""
Mengikuti aku yang bodoh dan hina. Dan dalam pandanganku, tidak ada wanita yang lebih patut menjadi sesembahan rakyat Mataram selain engkau!"
Ucapan ini merupakan keris yang menusuk jantung Candra Dewi.
Ia memeramkan kedua matanya, keningnay berkerut dan giginya megigit bibir.
Tak sebutirpun air mata mengalir turun dari matanya, akan tetapi tubuhnya seakan-akan telah ditinggalkan sukmanya sehingga tiada daya sama sekali.
Akhirnya ia terhuyung-huyung dan tentu ia sudah roboh kalau tidak Indrayana cepat melompat dan memeluknya.
"Aduh, jeng Dewi ".. jeng Dewi, kuatkanlah hatimu "
Kata Indrayana dengan terharu sekali. Untuk beebrapa lama Candra Dewi tak bergerak dalam pelukan Indrayana, kemudian ia menangis tersedu-sedu.
"Kangmas Indrayana ""
Mengapa terjadi hal begini ""? Mengapa ""? aku lebih baik mati daripada harus mengalami derita sebesar ini ""
Sampai hati Raden Pancapana berbuat seperti ini an bagaimana pula engkau orangnya yang menjadi utusannya untuk melamarku""?"
"Tenanglah, jeng Dewi dan pikirkan baik-baik. Raden Pancapana yang dulu tisak ada lagi, yang ada adalah Sang Prabu Pikatan yang mulia dan berkuasa atas kawula Mataram. Kita tak dapat membantah kehendaknya dan anggaplah saja bahwa kita tidak berjodoh, diajeng. Akan tetapi percayalah bahwa selama hidupku aku takkan manikah dengan wanita lain dan bahwa cinta kasihku terhadapmu akan sama kekalnya dengan sukmaku!"
Tiba-tiba Candra Dewi merenggutkan tubuhnya dari pelukan Indrayana dan kedua matanya bersinar-sinar bagikan mengeluarkan api.
"Kangmas Indrayana! kau sungguh mengecewakan hatiku! Kau, seorang yang tadinya kukira segagah-gagahnya orang, ksatriya yang kusangka seorang raja ksatriya yang semulia-mulianya, ternyata hanay seorang pemuda yang lemah! Kau bukan seorang kawula Mataram, kau seorang kawula Syailendra, mengapa kau harus tunduk kepada Raja Maratam? Sudah terang bahwa Raden Pancapana telah berlaku khianat terhadap kawan dan adik angkatnya sendiri, mengapa kau diam dan mengalah saja? Aku akan seribu kali lebih senang melihat kau tewas dalam usahamu menentang kehendak Sang Prabu Pikatan yang kurang patut ini untuk membelaku, dari pada melihat kau berlemah hati dan mengalah serta mengorbankan aku! Kalau kau tidak berani, biarlah aku sendiri yang akan menentangnya! Awas kau, Pancapana, jangan kau kira bahwa aku Candra Dewi selemah Indrayana! Awas dan tunggulah datangnya pembalasanku!"
Setelah berkata demikian Candra Dewi melompat dan lari pergi dari situ.
Indrayana hendak mengejar, akan tetapi ia mengehal napas dan merasa bahwa untuk saat ini lebih baik menjauhkan diri dari gadis itu.
Ia lalu pergi menuju ke pondok tempat tinggal Panembahan Bayumurti.
"Selamat datang, Raden Indrayana!"tegur sang panembahan dengan gembira."Duduklah!"
Indrayana berusaha untuk menekan penderitaan hatinya, duduk memberi hormat, bersila dengan spontannya lalu berkata.
"Maafkan saya, paman panembahan, kalau kedatangan saya ini menaggangu."
"Ah, tidak sama sekali Raden. Apakah selama ini aku sehat-sehat saja?"
"Terima kasih paman panembahan, saya sehat dan selamat, karena doa restu paman. Tak lain saya menghaturkan sembah bakti kepada paman panembahan, juga saya membawa sambah bakti dari Sang Prabu Pikatan untuk disampaikan kepada paman panembahan."
Panembahan Bayumurti tertawa girang."Ya, ya, aku sudah mendengar tetang kemajuan Mataram dalam bimbingan Raden Pancapana.
Sukurlah, saat ini telah lama kunanti-nanti.
Adakah kau datang berkunjung untuk menengok saja ataukah ada keperluan khusus yang lain, Raden?"
"Pertama-tama saya datang untuk menengok keadaan paman panembahan yang etlah lama berpisah dan kedua kalinya, sebenarnya saya datang membawa perintah dari Sang Prabu Pikatan untuk menghaturkan sebuah suratnya kepada paman panembahan. Inilah surat itu, paman."Sambil berkata demikian, Indrayana lalu mengeluarkan surat dari Sang Prabu Pikatan itu dan menyerahkan kepada Sang Panembahan Bayumurti. Pertapa, itu mengeluarkan tanagn menerima surat itu lalu membuka kemudian membacanya. Indrayana hanay duduk bersila sambil menundukkan mukanya, maka ia tidka melihat betapa itu memandangany dengan tajam sehabis membaca surat, kemudian ia mendengar pendeta itu menarik napas panjang berkali-kali.
"Jagad Dewa Batara ""
Kehendak Dewata pasti terjadi!
Apakah yang dapat dilaklukan seorang manusia yang menjalankan dharma hidup di mayapada tanpa dikehendakinya?
Raden Indrayana, anakku, kau tentu sudah maklum akan isi surat ini, bukan?"
Indrayana mengangguk diam."Kau sudah maklum bahwa Sang Prabu Pikatan meminang adikmu Candra untuk diangkat menjadi permaisuri di Kerajaan Mataram?"Kembali Indrayana mengangguk diam Terdengar lagi pertapa itu menghela napas,"Aku tak akan menyalahkan Sang Prabu Pikatan.
Ia hanya hendak menjaga nama dan sekalian juga memuliakan nama Candr Dewi dan aku sebagai Ayahnya.
Akan tetapi ia lupa akan kata-kataku dahulu, lupa akan tugasnya mempersatukan Kerajaan Mataram Dan Syailendra, lupa akan tugasnya mempererat ikatan batin antara Agama Hindu dan Buddha."Kembali ia menarik napas,"Memang, segala kemuliaan dan kebaikan selalu harus ditebus oelh pengorbanan dari manusia-manusia mulia!
Raden Indrayana, aku orang tua yang dapat mengibur kepadamu yang kutahu sedang menderita tekanan batin!"Indrayana terkejut dan mengangkat muka memandang dengan heran akan tetapi segera menundukkan kepalanya lagi ketika melihat betapa sinar mata pendeta itu betul-betul menyatakan bahwa pertalian cinta kasih antara dia dan Candra Dewi buakn merupakan rahasia lagi bagi orang tua itu.
"Hanya sedikit peringantanku kepadamu Raden, yang patut kau jadikan obor ntuk menerangi kegelapan pikiranmu. Manusia hanay menjadi pelaku yang dapat berlaku menurut kehendak sendiri. Tak seorangpun manusia terlahir dan mati atas kehendak sendiri, namun sekali kelahiran dan kematian menyeretnya, iapun takkan dapat menolak atau membantah! Liku-liku hidup telah terbentang di depan kita, dan kita harus ebrjalan di atas lorong yang lebar, apakah kita suka atau tidak! Oleh karena itu, senjata yang paling ampuh hanyalah kesabaran dan ketenganan. Tenang dan sabarlah dalam menghadapi apapun juag yang terjadi dan menimpa padamu, karena tanpa dua senjata ini, kau akan mudah tergelincir dan tersesat. Sekian, Raden, sedikit nasehat untuk bekal kau pulang ke Syailendra!"
Kembali Indrayana terkejut karena tak disangkanya bahwa pendeta ini demikian waspada sehingga tahu pula bahwa ia mengambil keputusan hendak pulang ke Syailendra.
Ia menyembah dengan hormat lalu berkata.
"Terima kasih banyak, paman Panembahan. Mudah-mudahan saja saya yng bodoh ini dapat selalu mengingat akan nasehat dan petuah paman yang amat mulia. Karena tugas saya hanay menyampikan surat, maka setelah tugas ini selasai, perkenankanlah saya meneruskan perjalanan saya ke Syailendra."
"Baiklah,"pendeta itu menghela napas,"semoga para dewata melindungi perjalananmu."
Dengan hati kosong dan semangat lemah, Indrayana meninggalkan bukit itu dan berjalan cepat sekali menuju ke syailendra.
Di dalam hatinya, ia hanya dapat berdoa semoga Candra Dewi akan hidup bahagia dengan Sang Prabu Pikatan, dan ia mengobati jantungnya yang terluka dan berdarah itu dengan pikiran bahwa ia akan bertapa dan menjadi pendeta seperti Ayahnya.
Ayahnya merasa terharu melihat keadaan puteranya yang kurus dan pucat.
Ketika mendengar bahwa Sang Prabu Pikatan meminang Candra Dewi, diam-diam Wiku Dutaprayoga maklum pula akan luka di hati pueteranya, maka ia taidak banyak bertanya.
Kedua Ayah dan anak ini allu tinggal di atas bukit ebelah batar Sungai Praga di mana mereka hidup sebagai petani sambil bertapa dan kadang-kadang membuat senjata keris yang dipesan oleh para perwira Kerajaan Syailendra.
Walaupun kini tidak menjadi ahli Dutaprayoga masih tetap setia dan selalu mengerjakan perintah Sang Prabu Samaratungga apabila Raja ini membutuhkan senjata yang baik.
Kalau Kerajaan Mataram di bawah perintah Sang Prabu Pikatan makin lama makin jaya dan makmur, sebaliknya Kerajaan Syailendra makin lemah dan surut, sungguhpun Agama Buddha yang dikembangkan oleh kerajaan ini makin luas dan makin banyak pengikutnya.
Diam-diam Sang Maha Samaratungga merasa kagum akan kepandaian Sang Prabu Pikatan, karena di dalam waktu singkat saja Mataram telah bangun kembali, bahkan kini menjadi makin jaya, sehingga sebagian besar wilAyah yang dahulu dirampas oleh para raja kecil, kini telah kembali.
Anyak raja-raja kecil kini takluk tanpa diserang lagi dan kejayaan Mataram makin bersinar sampai di daerah Syailendra!
Syailendra pada waktu itu mengalami dua hal yang amat mengelisahkan pikiran Sang Maha Raja Samaratungga.
Pertama-tama karena danay gangguan dari gerombolan Srigala Hitam di bawah pimpinan Siddha Kalagana, pendeta yang sakti mandraguna, penyembah Sang Batari Durga itu.
Pendeta itu kini makin besar kekuasannya, makin berani melakukan penggaran di wilAyah kerajaan lain.
Bahkan kini Siddha Kalagana telah mengangkat diri senidri menjadi seorang raja dengan gelar masih tetap Sang Maha aja Siddha Kalagana dan kerajaannya disebut Kerajaan Durgaloka!
Hal kedua yang memusingkan Sang Prabu Samaratungga adalah puteri Pramodawardani.
Telah banyak pengeran dan raja yang datang mengajukan pinangan, akan tetapi selalu Sang Puteri menolak.
Hal ini amat mengelisahkan hari Sang Prabu Samaratungga, oleh karena pinangan datanganay dari banyak fihak dan kalau selalu ditolaknya, maka hal ini akan membuat sakit hati para pangeran itu dan menimbulkan permusuhan.
Pada suatu hari, rombongan perahu layar yang besar-besar dan mewah berlabuh dan merapat di pantai Laut Jawa Rombongan ini ternyata adalah perahu-perahu dari Kerajaan Sriwijaya di seberang, dan setelah para penumpangnya mendarat, ternyata bahwa mereka adalah utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang datang melamar Puteri Pramodawardani.
Menerma pinagan ini, Sang Maha Raja Samaratungga menjadi girang sekali, oleh karena pinangan ini dianggap yang paling berharga dan mulia bagi puterinya.
Pangeran manakah yang datang melebihi pangeran dari kerajaan yang juga beragama Buddha ini?
Setelah menerima para utusan itu diberi tempat yang layak segera Sang Prabu memanggil peuterinya menghadap Raja, permaisuri dan puteri mereka itu lalu mengadakan pertemuan di dalam istana.
"Pramodawardani, puteriku yang tercinta,"kata Sang Prabu Samaratungga dengan suara halus,"Ketahuilah bahwa hari ini datang warta yang amat menggirangkan dan membanggakan hatiku. Sudah sepatutnya pula kaumerasa bangga pula karena warta ini sesungguhnya merupakan penghormatan besar bagimu."
"Hamba ikut merasa gembira mendengar bahwa ramanda prabu menerima warta girang. Berita apakah gerangan yang mendatangkan kebanggaan itu, rama?"tanya Pramodawardani sambil memandang kepada Ayahnya dengan sepasang matanya yang indah dan bening.
"Baru saja ku menerima utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang besar di seberang, dan utusan itu membawa tugas dari Kerajaan Sriwijaya untuk meminangmu, anakku. Kau akan menjadi permaisuri dari kerajaan yang besar dan jaya! Nama Syailendra akan menjadi lebih besar dan terhormat karenanya. Maka, bergiranglah kau, anakku!"
Akan tetapi, sang puteri yang cantik jelita itu tidak menjadi girang sebagaimana yang diharapkan oleh Ayahnya, sebaliknya bermenunglah ia dengan sepasang alis yang hitam kecil dan panjang itu dikerutkan.
Setelah agak lama, Sang Prabu Samaratungga menegur puterinya.
"Pramodawardani, mengapa kau nampak tidak bergirang hati? Apakah kau tidka merasa puas menjadi calon permaisuri kerajaan besar itu?"
"Ramanda prabu, mohon ampun apabila hamba mengecewakan hati ramanda. Akan tetapi, terus terang saja hamba belum ada niat untuk meninggalkan ramanda dan bunda ratu. Hamba ingin pergi dari istana ini, di mana hamba dilahirkan dan dibesarkan. Kasihilah hamba, ramanda, jangan mengirim hamba ke tanah yang sasing bagi hamba itu!"
Merahlah wajah Sang Maha Raja Samaratungga mendengar ucapan puterinya ini."Pramodawardani!
Alasan-alasan usang yang kau ucapkan itu sudah membosankan hatiku.
Penolakan-penolakan atas pinangan banyak pangeran dan bangsawan masih dapat kuterima oleh karena mengingat bahwa para peminang itu derajatnya masih belum melebihi kita.
Akan tetapi kau harus tahu bahwa peminang yang terakhir ini adalah pangeran pati Sriwijaya!
Kau tak boleh selalu ebrkepala batu dan membantah orang tuamu.
Apakah selamanya kau takkan menikah?"
Ampun beribu ampun, ramanda!
Sesungguhnya, semenjak remaja puteri hamba telah mempaunyai serta telah mempunyai menanam sebuah prasetia di dalam hati tentang pernikahan hamba yaitu calon suami hamba haruslah seorang pemuda yang selain berbudi mulia, berwatak ksatria, juga harus memiliki kepandaian dan sakti mandraguna."
Tiba-tiba Sang Prabu Samaratungga tertawa bergelak, kemudian berkata,"Ha, ha, ha, tentu saja anakku!
Tentu saja!
Akupun tidak pastti suka mempunyai seorang anak mantu yang berbudi rendah, yang lemah dan tidak memiliki kepandaian.
Jangan kau khawatir, anakku.
Pangeran pati Sriwijaya memenuhi semua syarat.
Ia masih muda, gagah perkasa, dan bijaksana pula."
"Akan tetapi hamba menghendaki bukti, ramanda. Hamba hanya mau menjalani tugas pernikahan kalau calon suami hamba dapat membuktikan semua sifat-sifat yang menjadi syarat itu."
"Hm, jadi kau menghendaki agar suapaya diadakan sayembara untuk memilih calon suami?"
"Demikianlah yang menjadi prsetia hamba, ramanda prabu."
Sang Maha Raja Samaratungga mengangguk-angguk lalu menarik napas sambil meraba-raba kumisnya."Akan tetapi, di dalam sayembara, semua orang boleh memasukinya, Pramodawardani.
Bagaimana nanti kalau pemenang sayembara itu seorang keturunan biasa saja.?"
"Bagi hamba, lebih baik menjadi isteri seorang pemuda keturunan biasa yang memenuhi idaman hati daripada menjadi isteri seorang raja besar yang tidak memenuhi syarat!"
Setelah tertegun beberapa lama, Sang Prabu menggeleng-gelengkan kepala"Sungguh berbahaya, anakku.
Akan tetapi kalau sudah menjadi prasetiamu, tidak baik kalau dilanggar.
Biarlah Yang Maha Agung menetapkan pilihan untukmu.
Aku hendak mengadakan tiga macam sayembara.
Pertama, peminangmu harusa apat menarik gendewa pusaka Dewandanu.
Ke dua, ia harus dapat membersihkan hawa siluman yang mengotori puncak Gunung Papak.
Dan ke tiga, ia harus dapat bertanggung jawab dan menyambut semua erangan dari mereka yang menyerbu karena pinangannya ditolak dan harus membela Syailendra dari serangan musuh!
Sudah puaskah hatimu, Pramodawardani?"
Berserilah wajah puteri jelita itu.
Kalau seorang ksatria muda dapat melakukan tiga buah hal yang disebutkan oleh Ayahnya itu, maka terlaksanalah cita-citanya yaitu menjadi isteri seorang yang gagah perkasa dan sakti!
Ia hanya mengangguk lalu menundukkan kepalanya, akan tetapi kemudian terdengar kata-katanya perlahan.
"Sudah cukup, ramanda, hanya saja, siapapun juga yang memenangkan sayembara, harus pula melakukan sebuah syarat yang hamba tentukan sendiri kelak!"
Ayahnya tersenyum.
Ia maklum bahwa puterinya mempunyaai watak yang keras dan tinggi hati, dan tentu saja sebagai seorang puteri mahkota, Pramodawardani ingin"menghargai"diri sendiri setinggi mungkin.
Akan tetapi, bagi seorang yang telah dapat menyelesaikan tiga macam tugas berat di atas, syarat apa lagi yang tak dapat dilakukan?
"Baiklah, anakku.
Sekarang juga akan kuumumkan sayembara ini, sekalian dijadikan jawaban untuk pinangan Pangeran Kerajaan Sriwijaya!"
Setelah itu, Sang Maha Raja Samaratungga lalu bersiniwaka mengumpulkan semua pembesar dan hulubalang dan memerintahkan agar mengumumkan sayembara segera disebar luas.
Juga para utusan dari Sriwijaya mendapat jawaban yang sama, yaitu pinangan dari pangeran pati Sriwijaya hanay dapat diterima apabila ketiga syarat sayembara itu terpenuhi.
Utusan dari Sriwijaya itu dikepalai oleh dua orang senopati Sriwijaya yang bernama Kalinggajaya dan Kalinggapati, dua orang kakak beradik yang gagah perkasa.
Sebagai utusan yan berbakti, mereka berdua sanggup untuk mengerjakan dan memenuhi syarat sayembara itu atas nama pangeran pati.
Selain utusan dari Sriwijaya ini, banyak pula pangeran dan ksatria yang memasuki sayembara.
Hari yang baik untuk pembukaan sayembara itu dipilih dan kemudian diumumkan.
Di alun-alun telah dibangun sebuah panggung untuk Sang Prabu, Permaisuri dan Puteri Mahkota.
Pada pagi hari dibukanya sayembara itu, rakyat berduyun-duyun datang ke alun-alun, mengelilingi (Lanjut ke
Jilid 09) Banjir Darah di Borobudur (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 pagar prajurit yang menjaga alun-alun itu.
Di tengah alun-alun duduk bersila belasan laki-laki gagh perkasa belaka.
Kepada mereka itulah semua mata penonton ditujukan dan mereka menjadi pusat perhatian dan kekaguman.
Di depan para calon itu terdapat sebuah meja tinggi di mana gendewa pusaka keraton, pusaka Dewandanu, diletakkan, terbungkus sutera kuning.
Gamelan keraton sengaja dikeluarkan dan ditabuh meramaikan suasana.
Baru saja Sang Maha Raja Samaratungga beserta permaisuri dan Sang Dyah Ayu Pramodawardani telah keluar dari kedaton dan naik ke atas panggung itu, diiringi oleh para nayaka dan hulubalang.
Kini perhatian orang ditujukan kepada Sang Puteri yang cantik jelita itu, yang berjalan menaiki tangga panggung dengan gerakan tubuh yang lemah gemulai, kemudian duduk disebelah kanan Ayahndanya dengan sikap agung, bagaikan seorang bidadari surgaloka.
Para pengawal dengan tombak atau pedang di tangan berdiri berbaris di depan an bawah panggung, menjaga keselamatan keluarga besar itu, sedangkan para pelayan yang juga cantik-cantik itu segera menggerakkan kipas bulu merak dan menyediakan segala keperluan keluarga agung itu, seperti minuman, buah-buahan dan lain-lain.
Gendewa pusaka Dewandanu bukanlah sebuah gendewa biasa, karena gendewa itu adalah milik seorang pemberontak pada zaman pemerintahan raja wanita di Kerajaan Keling, yaitu Ratu Sima.
Pemberontak itu tinggi besar seperti raksasa bernama Kala Dibya, sakti dan memiliki tenaga yang mengerikan.
Akan tetapi pemberontak ini akhirnya binasa di tangan seorang senapati Ratu Sima dan gendewa dari Kala Dibya yang telah menewasakan banyak sekali senapati dan prajurit dari Kerajaan Keling itu, masi tesimpan sebagai senjata yang dahsyat dan ampuh, yang bernama puaka Dewandanu.
Akhirnya senjata ini terjatuh ke dalam tangan Sang Maha Raja Samaratungga dan dianggap sebagai pusaka keraton.
Sang Prabu Samaratungga memberi tanda dengan mengangkat tangan kanannya, maka dimulailah sayembara itu.
Seorang perwira kerajaan dengan penuh khidmat maju memberi hormat kepada pusaka itu, lalu membuka bungkusannya.
Nampaklah sebuah gendewa yang sebesar lengan dan panjangnya hampir dua depa, terbuat dari pada kayu yang kehitam-hitaman dan mengkilap.
Tali gendewanya berwarna putih dan kuat sekali karena tali ini terbuat daripada otot baak.
Pada saat seorang calon hendak maju menempuh ujian pertama ini, tiba-tiba para penonton di sebelah selatan terdengar ribut-ribut dan bergerak perlahan, memberi jalan kepada kedua pemuda yang tampan dan gagah.
Tadinya orang-orang ini hendak marah melihat pemuda yangmendesak ke depan akan tetapi setelah melihat betapa pemuda itu amat tampan an berpakaian mewah seperti seorang raja, juga wajah pemuda itu bercahaya dan penuh keagungan, maka mereka lalu mengundurkan diri dengan sikap menghormat sekali.
Seruan terdengar dari banayk mulut sebagai tanda kagum akan kegagahan dan ketampanan pemuda ini, terutama sekali ketiak mereka melihat bahwa pemuda bangsawan ini mempunyai belasan orang pegiring yang terdiri dari orang-orang bangsawan belaka.
Dengan tindakan kaki yang tenang dan tegap, pemuda ini menuju ke tengah alun-alun, kemudian duduk di deretan belakang, bersila dengan gagahnya, sama sekali tidak menyembah kepada Sang Prabu Samaratungga permaisuri dan puterinya yang berada di atas panggung.
Pramodawardani memandang dan sepasang matanya bercahaya penuh kekaguman.
Di dalam hatainya ia bertanya siapakah adanya pemuda yang tampan dan gagh itu, yang tejanya bersinar gemilang.
Juga Sang Prabu Samaratungga memandang dengan penuh perhatian, karena raja ini dapat menduga bahwa pemuda itu tentu bukan orang sembarangan.
Akan tetapi ia merasa penasaran melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak mau memberi hormat dan menyembah ke arah penggung sebagaimaan mestinya.
Seorang penjaga yang melaihat sikap pemuda itu, segera melangkah maju hendak menegur, akan tetapi ketika telah berdiri di depan pemuda itu dan bertemu pandang ia terejut dan melangkah mundur.
Bukan main hebatany pengaruh pandang mata pemuda itu, mengandung perbawa yang luar biasa.
"Kau siapakah, Raden? Agaknya kau tidak tahu bahwa yang berada di atas panggung itu adalah Sang Prabu sendiri bersama permaisuri. Kau harus memberi hormat terlebih dahulu."
"Ponggawa, mundurlah kau. Seorang raja tidak memberi hormat kepada raja lain kalau tidka bertemu muka. Lagipula, paman Prabu Samaratungga duduk di atas panggung sedangkan aku berada di bawah. Kedatanganku untuk mengikuti sayembara, bukan untuk menghadap Sang Prabu!"
Ponggawa itu tertegun.
Ucapan seperti itu hanay dapat dikeluarkan oleh seorang raja!
Siapakah raja muda ini?
Akan tetapi ia tidak berani banyak bertanya dan lalu mundur, berdiri di tempat penjagaannya kembali, yaitu di bawah.
Sementara itu, pemuda itu lalu mengerling ke atas panggung.
Siapakah pemuda ini?
Tentu mudah diterka, karena ia bukan lain ialah Sang Prabu Pikatan atau pemuda Raden Pancapana yang tampan dan gagah!
ebagaimana diketahui di bagian depan, Sang Prabu atau Sang Raja Pikatan ini mengutus Indrayana untuk meminang Candra Dewi puteri Penembahan Bayumurti, akan tetapi beberapa hari kemudian ia menerima berita balasan dari Panembahan bahwa Candra Dewi tidak mau menerima pinagannya, bahkan gadis itu telah melarikan diri tanpa memberi tahu kepada Ayahnya!
Mendengar ini, Sang Prabu Pikatan menghela napas dan ia tidak menjadi marah, bahkan berkata perlahan "Candra Dewi, engkau sungguh setia.
Aku tahu, penolakanmu ini tentu karena cintakasihmu terhadap Indrayana!"Raja muda ini mengira bahwa Candra Dewi melarikan diri bersama Indrayana, maka ia tidka memikirkan lagi tentang gadis itu, bahkan di dalam hatinya ia mendoakan kebahagiaan bagi Indrayana dan Candra Dewi yang disayanginya itu.
Kemudian, Sang Rakai Pikatan itu mendengar tentang sayembara yang diadakan oleh Kerajaan Syailendra.
Tergeraklah hatinya, dan ia teringat akan cerita Indrayana yang memuji-muji kecantikan Puteri Pramodawardani dari Syailendra.
Kalau Candra Dewi tidka suka menjadi sesembahan di Mataram, agakany yang patut menempati kursi kedudukan permaisuri, selain Puteri Mahkota Pramodawardani dari Syailendra, tidak ada orang lain lagi!
Kerajaan Syailendra terkenal sebagai kerajaan besar dan juga nama Sang Prabu Samaratungga cukup terkenal.
Tidak akan memalukan apabila ia dapat berhasil memboyong Puteri Pramodawardani ke keraton Mataram untuk dijadikan permaisurnya!
Akan tetapi, ketika ia berunding dengan senapati seph di Mataram, para senapati itu menyatakan kesangsian mereka oleh karena Kerajaan Syailendra beragama Buddha.
"Kalau paduka mengajukan pinangan sebagai Raja Mataram, kemudian sampai ditolak hanya karena alasan agama, bukankah itu meripakan tamparan besar bagi Kerajaan Mataram? Sebagaimana paduak telah mengetahui, banayk terjadi kesalahfahaman antara kawula Mataram dan kawula Syailendra karena agama maka janganlah sampai kesalahfahaman ini menjalar kepada keraton kedua kerajaan."
"Tidak demikian, paman senapati,"jawab Sang Raja Pikatan,"oleh karena Kerajaan Syailendra telah mengadakan sayembara pilih menantu maka siapapun juga, baik beragama Buddha atau lain, berhak untuk ikut memasuki sayembara, tidak sebagai seorang raja besar yang datang meminang dengan membawa bala tentara, melainkan sebagai seorang peserta dan aku harap akan pergi dengan beberapa orang pengiring saja."
Akhirnya berangkatlah Sang rakai Pkatan diiringi oleh beberapa belas orang prajurit saja.
Ketika Sang Prabu Pikatan mengerling ke atas panggung dan bertemu pandang dengan Puteri Pramodawardani, ia menjadi benggong dan tak dapat mengalihkan pandanagn matanya dari atas panggung!
Kecantikan puteri itu jauh melampaui dugaannya, jauh melampaui pujian-pujian Indrayana.
Hatinay berdebar keras dan pada saat itu juga ia merasa yakin bahwa inilah wanita idamananya dan ini pulalah wanita satu-satunya yang benar-benar ia inginkan menjadi permaisurinya, bukan hanya untuk pemantas atau demi keharuman nama kerajaannya akan tetapi oleh karena hatinya membisikkan sesuatu yang aneh, yang membayangkan bahwa hanya dengan puteri inilah hidupnya akan bahagia!
Sementara itu, Pramodawardani yang juga kebetulan sedang memandang kepada pemuda gagah dan tampan itu, tak dapat lama-lama bertahan dan cepat-cepat menundukkan mukanya yang berobah merah.
Sementara itu, sayembara telah dimulai.
Seorang demi seorang maju dan mencoba kekuatan mereka untuk menarik gendewa ampuh itu.
Orang pertama adalah seorang pangeran dari timur yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam.
Pangeran itu mengangkat dada, sengaja menanggalkan baju yang memperlihatkan dadanya yang bidang dan membusung.
Urat-uratnya melingkar-lingkar bagaikan ilar di seluruh tubuhnya.
Puteri Pramodawardani meramkan matanya.
Ia tidak tahan untuk membayangkan bagaimana kalau sampai pemuda raksasa ini berhasil memenangkan sayembara!
Diam-diam ia menggigil penuh kegelian hati.
Ketika terdengar tepuk tanagn para penonton yang menyatakan kagum atas kehebatan bentuk tubuh raksasa muda ini, Pramodawardani membuka matanya, Ia melihat betapa pemuda bermuka hitam itu membungkuk, mengambil gendewa dari atas meja, memegang batang gendewa dengan tanagn kiri, kemudian sambil tersenyum mengejek tangan kanannya memegang tali gendewa, lalu dipentangnya.
Mula-mula ia menarik perlahan-lahan, dan tali itu dapat dapat tertarik kedua ujungnya olehtali, ternyata tarikan pemuda itu menjadi mogok karena tali gendewa itu kali ini sama sekali tak dapat digerakkan.
Ia mengerahkan tenaga dan mulai hilanglah senyum ejekan yang tadi terbayang pada wajahnya yang hitam.
Akan tetapi percuma, gendewa itu benar-benar kuat dan masih lempeng, sama sekali tak dapat dipentang sedikitpun juga.
Ia mengerahkan tenagan sambil menahan napas, mukanay makin menghitam, urat-urat kedua tangannya tersembul makin besar, peluh sebesar kacang hijau memenuhi jidatnya, namun percuma belaka.
Beberapa kali ia memandang gendewa itu denagn penasaran dan heran, mengganti pegangan batang dengan tangan kanan dan menarik tali dengan tanagn kiri, amun usahanay tetap sia-sia.
Kini sorak-sorai penaonton makin ramai, akan tetapi bukan merupakan pujian lagi, melainan sorak menertawakan.
Akhirnya pangeran timur ini saking malunya, melemparkan gedewa itu di atas meja dan tanpa banayk cakap lagi lalu lari meninggalkan lapangan itu!
Suara terkekeh-kekeh mengikutinya dari belakang.
Sang Puteri Pramodawardani menarik napas panjang dengan hati lega, akan tetapi juga merasa kasian kepada pemuda raksasa itu.
Berturut-turut para calon itu mencoba tenaga mereka, akan tetapi gendewa pusaka Dewanana itu benar-benar luar biasa sekali.
Ada di antara para calon yang kuat menarik busur itu sampai setengah lengkungan, kan tetapi tidak dapat sampai busur itu membulat.
Baru setengah tarikan telah dilepaskan lagi karena tidak kuat dan kehabisan tenaga!
Orang-orang terakhir yang mengikuti sayembara itu adalah Kalinggajaya, Kalinggapati dan Sang Rakai Pikatan.
Para calon lain yang tidak dapat menarik busur itu telah meningalkan lapangan sehingga kini hanya tinggal tiga orang itu saja yang masih belum mengukur tenaga.
Sang Prabu Samaratungga telah menjadi gelisah dan kecewa sekali, harapannya untuk memilih mantu menipis.
Baru syarat pertama saja sudah sedemikian mengecewakan, belasan orang ksatria pilihan tak mampu menarik busur itu.
"Ah, anak muda sekarang tiada gunanya!"katanya perlahan akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh Pramodawarani yang duduk di sebelahnya.""aku biarpun sudah tua, masih sanggup menarik Dewandanu itu sampai bulat. Apakah benar-benar tiak ada orang gagah lagi di dunia ini?"
Akan tetapi, pada saat itu Kalinggapati adik Kalinggajaya, utusan dari Sriwijaya itu tampil ke muka.
Sebelum melakukan percobaan tenaganya, ia menyembah lebih dulu k earah panggung, kemudian ia menghampiri gendewa itu dengan wajah tenang.
Sang Prabu menahan napas dan berbisik kepada permaisurinya.
"Kudoakan semoga utusan-utusan dari Sriwijaya itu akan berhasil!"
Permaisurinya setuju dengan pendirian suaminya ini dan diam-diam ikut pula mendoa, akan tetapi Puteri Pramodawardani berpikir lain.
Diam-diam puteri juita ini berdoa semoga ksatria bagus itulah yang akan berhasil san keluar sebagai pemenang sayembara!
Betapapun tinggi pujian ramandanya akan kegagahan dan kebijaksanaan pangeran pati di Sriwijaya, akan tetapi ia belum menyaksikan dengan kedua mata sendiri, sedangkan ksatria yang tidak diketahui siapa orangnya itu sudah dilihatnya sendiri dan hatinya berdebat apabila ia melirik ke arah ksatria itu.
Kalinggapati berdiri menghadapi busur Dewandanu dan mulutnya berkemik membaca menteranya kemudian ia menggerakkan tenaga dan kesaktiannya, mengambil busur itu dan menarik tali gendewa.
Nampakbetapa mukanay menjadi merah dan dahinya berpeluh, akan tetapi ia berhasil menarik tali gendewa sampai melengkung!
Sorak-sorai menyambut menyambut hasil ini dan kalinggapati lalu menaruh kembali gendewa itu di atas meja, menyembah ke arah meja dan"mundur kembali", duduk di dekat kakaknya sambil memeramkan mata mengatur napas yang terengah-engah Gendewa itu terlampau berat sehingga ia harus mengerahkan seluruh tenaganya.
Kini kalinggajaya maju.
Seperti adiknya tadi, ia menyembah kepada Sang Prabu Samaratungga, kemudian iapun mengerahkan aji kesaktiannya, menarik tali gendewa yang segera melengkung.
Tidka ada peluh memenuhi dahinya, hanay wajahnay saja menjadi merah dan urat lehernya mengembung, tanda bahwa ia mengerahkan tenaga dan mudah di lihat bahwa Kalinggajaya lebih sakti dan lebih kuat daripada adiknya.
Kembali sorak-sorai riuh rendah menyambut kegagahan ini.
Bukan main girangnya Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya menyaksikan hasil yang diperoleh utusan-utusan Sriwijaya.
Sorak-sorai sebagai sambutan atas kegagahan kedua orang utusan Sriwijaya tadi masih riuh ketika Sang Sakai Pikatan berdiri dari tempat duduk, mengampiri meja itu dengan langkah seorang bambang yang lemah lembut dan tenang.
Berbeda dengan kedua orang utusan tadi ia tidak menyembah ke arah panggung, hanya membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan, kemudian ia menghampiri gendewa itu.
Para penonton diam kembali, kini memperhatikan ksatria yang tampan dan halus itu.
Orang yang begitu lemah lembut, mana dapat menarik gendewa pusaka Dewandanu?"terdengar orang berkata.
Puteri Pramodawardani juga mendengar ucapan itu dan ia menjadi gelisah.
Ketengannya dapat dilihat jelas karena ia duduk sambil membungkukkan tubuh depan, memandang denagn kedua mata tak berkedip.
Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya sebagai orang tua dara jelita itu, tentu saja melihat keadaan puterinya ini, maka mereka saling pandang denagn penuh pengertian, kemudian mereka menundukkan pandangan mata ke bawah panggung pula.
Sang Rakai Pikatan menunduk dan mencium gendewa itu, bibirnay bergerak dan tersenyum.
Kemudian dengan gerakan tenang dan lemah lembut ia mengambil gendewa itu dengan tanagn kiri, mengangkatnya ke tas kepalanya, memegang tali gendewa denagn tanagn kanan di belakang terpentang lebar, tubuhnya agak cendong ke belakang dengan pundak kanan merendah, muka mengadah memandang angkasa, mukanya yang tampan tersenym manis, kemudian tanagn kanannay menarik tali gendewa denagn amat mudahnya, seakan-akan busur itu hanya terbuah dari pada lidi aren dan tali gendewanya dari kulit pohon pisang.
Busur itu melengkung sampai menjadi bulat dan ketika tali gendewa dilepaskan, terdengar bunyi"sing!!"karena tali gendewa itu menggetar keras.
Biarpun gendewa itu tidak dipasangi anak panah, akan tetapi getaran tali gendawa mendatangkan sinar seakan-akan ada anak panah yang melesat ke cakrawala!
Bukan main hebatnya sambutan penonton atas hasil gemilang ini.
Gegap-gempita bunyi tepuk tangan dan sorak-sorai, jauh mengalahkan sambutan-sambutan yang tadi.
Sang Prabu Samaratungga dan permaisurinya menahan napas karena merekapun tertegun melihat kesaktian anak muda itu, dan ketika melihat betapa puterinya itu telah berdiri dari tempat duduknya dengan kedua tangan saling peluk, meremas-remas jari!
"Pramodawardani ""!"terdengar permaisuri menegur dengan bisikan.
Pramodawardani baru sadar ketika mendengar teguran ini, ia menengok ke arah kedua orang tuanya, kemudian duduk kembali dan menundukkan mukanya yang kemerahan.
Akan tetapi, pada saat itu, terjaid kegemparan baru di kalangan penonton.
Dua orang telah melompat masuk dalam kalangan, seorang dari utara dan seorang dari selatan.
Orang yang masuk dari utara adalah seorang pemuda tampan dan gagah, sama tampan, sama halus dan sama gagah jika dibandingkan dengan Sang Rakai Pikatan.
Pemuda ini lagsung menuju ke tempat ketiga calon yang berhasil itu duduk lalu menjatuhkan diri bersila dan menyembah ke tas panggung dengan penuh khidmat.
Ketika Pramodawardani memandang, kedua matanya terbelalak.
Ia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Raden Indrayana, pemuda"kurang ajar"yang dulu berani membuka tirainya ketika ia bersama Ayahnya menjunjung pembukaan Candi Lokesywara!
Juga Sang Prabu Samaratungga mengerutkan alisnya.
Sungguhpun pemuda itu cukup gagh dan tampan, akan tetapi ia hanya keturunan seorang wiku dan pernah melakukan pelanggaran.
Namun, apakah hendak dikata, setiap orang boleh saja mengikuti sayembara.
Yang lebih mengejutkan hati Sang Prabu adalah kedua yang masuk ke dalam kalangan selatan.
Orang ini adalah seorang pertapa tua yang amat menyeramkan.
Kulit mukanya hitam gelap dan mukanya menunjukkan bahwa ia adalah seorang Hindu.
Keningnya tinggi, matanya amat dalam, dipayungi oleh sepasang alis yang panjang dan tebal.
Hidungnya panjang, mulutnya tipis.
Telinganya oanjang dan lebar, dan kepalanya terikat oleh pengikat kepala yang berwaarna putih dilibatkan beberapa kali di atas kepalanya.
Jenggotnya pendek dan kasar sekali bagaikan duk.
Sang Prabu Samaratungga tidak tahu siapakah orang ini dan apa perlunya masuk ke dalam lapangan sayembara, maka ia lalu memberi isyarat kepada penjaga di bawah pinggang.
Penjaga itu segera maju dan menghampiri pertapa itu, lalu bertanya,"Hai, sang panembahan, engkau seorang pertapa tua mempunyai keperluan apakah memasuki lapangan ini?"
Pertapa itu tertawa begelak, suara ketawanya tinggi dan nyaring sekali sehingga menyeramkan semua pendengarnya.
Lalu ia mendorong penjaga itu dengan tangan kiranya.
Aneh sekali, biarpun tangannya tidak menyentuh dada penjaga yang berdiri sekira satu tombak jauhnya, penjaga itu terlempar ke belakang an bergulingan beberapa kali di atas tanah!
Kemudian pertapa itu lalu menjura ke arah panggung dan berkata .
"Sang Prabu Samaratungga, perkenankanlah saya memperkenalkan diri sebagai calon mantu Kerajaan Syailendra! Saya adalah seorang raja pula, seorang calon raja besar yang akan dapat mengangkat tinggi derajat Kerajaan Syailendra. Saya adalah Sang Maha Raja Siddha Kalagana, raja besar dari Kerajaan Durgaloka! Saya mendengar tentang sayembara pemilihan mantu, maka saya satang untuk memasuki sayembara. Mana gendewa itu, hendak saya tarik sampai patah. Ha, ha, ha!"
Akan tetapi, ketika ia menegok, ia melihat Indrayana sedang menghampiri gendewa itu, maka ia berdiri saja menonton sambil tersenyum mengejek.
Seperti Rakai Pikatan tadi, Indrayana dengan mudahnya dapat menarik gendewa itu sampai bulat, lalu menaruh kembali gendewa itu di atas meja, mengundurkan diri dan duduk di belakang kedua orang utusan dari Sriwijaya.
Ketika semua orang bersorak gemuruh memuji Indarayana.
Sang Rakai memandang ke arah Inrayana denagn muka pucat dan kening berkerut.
Apakah maksud Indrayana dengan mengikuti sayembara ini, pikirnya tak senang.
Bukankah Indrayana sudah melarikan diri dengan Candra Dewi dan sudah mengawini gadis itu?
Akan tetapi alagkah heran dan terkejutnya ketika kebetulan Indrayana juga memandangnya dengan sinar mata yang amat mengejutkan, karena sinar mata Indrayana mengandung kebencian besar!
Ia tahu bahwa Indrayana mempunyai perasaan yang sama, bahkan merasa marah dan penasaran.
Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, setelah Indrayana menyerahkan surat pinangan Sang Rakai Pikatan kepada Panembahan Bayumurti, pemuda yang patah hati ini lalu pulang ke Syalendra, selanjutnya tinggal bersama Ayahnya dan hidup sebagai seorang pertapa.
Penghidupannya sudah aman dan luka hatinya sudah mulai sembuh.
Akan tetapi ketika ia ikut menonton sayembara yang diadakan Sang Prabu Samaratungga, hendak melihat siap arangnya yang keluar sebagai pemenang dan menjadi calon suami Pramodawardani, tiba-tiba ia melihat Sang Rakai Pikatan memasuki sayembara!
Bukan main marahnya Raden Pancapana ini ikut pula memasuki sayembara."Keparat!"makainya di dalam hati."Baru saja mengambil Candra Dewi merampas kekasihku dari tanganku, sekarang ia sudah meninggalkannya untuk mencoba mendapatkan Pramodawardani!
aku harus menghalang-halangi kesesatannya ini untuk menolong Candra Dewi!"
Demikianlah, tanpa banyak pikir lagi, ia lalu masuk ke dalam kalangan sayembara dan ikut menarik gendewa itu hingga berhasil baik.
Melihat betapa Indrayana musuh besarnya dahulu berhasil menarik gendewa, Siddha Kalagana lalu melangkah lebar menuju ke meja gendewa itu, tanpa banyak peradatan lagi ia menyambar gendewa dengan tangan kiri, tangan kanan menyahut talinya dan ditariknya gendewa ini sekuat tenaga.
Akan tetapi ia merasa terkejut sekali karena gendewa itu benar-benar ampuh dan kuat sekali, sehingga jangankan untuk melengkungkannya, menggerakkannya saja ia tak mampu!
Memang sesungguhnya Siddha Kalagana tidak memiliki kedigdayaan yang timbul dari latihan-latihan oleh raga, akan tetapi ia hanay memiliki aji kesaktian yang timbul dari mantera dan segala ilmu hitam yang aneh-aneh.
Ia lalu berkemak-kemik membaca mantera, dari kedua tangannay mengepul uap hitam dan ketika ia menarik aya mukjizat yang melawan dan menolak tenaga hitam yang keluar dari tangan Siddha Kalagana.
Terjadilah pergulatan antara tenaga hitam dan daya mujizat, dan akhirnya terpaksa gendewa pusaka itu harus mengakui keunggulan tenaga luar biasa yang keluar dari kedua tangan pendeta itu.
"Krak!"maka patahlah gendewa itu pada tengahnya, karena biarpun gendewa itu telah melengkung dan membulat, Siddha Kalagana masih saja membekuknya terus denagn tenaga yang makin lama makin ganas! Ramanda prabu, hamba juga hendak menerangkan syarat hamba sendiri."
Kemudian Sang Puteri membisikkan sesuatu kepada Ayahnay dan wajah Sang Maha Raja Samaratungga berseri-seri.
Ia memandang kepada puterinya dengan kagum sekali, kemudian sambil tersenyum girang ia berdiri lagi dan mengangkat tanagn memberi tanda agar semua orang berdiam.
Kemudian terdengarlah kata-katanya yang lantang dan berpengaruh.
"Dengarlah, hai rakyatku di Syailendra! Dan terutama sekali kalian yang mengikuti sayembara ini! Selain syarat-syarat yang kuajukan tadi, puteriku sendiripun mempunyai prasetia dan hanya mau menerima peminang yang dapat membangun sebuah candi Buddha yang besarnay segunung anakan! Untuk bangunan itu telah tersedia tanah suci milik puteri mahkota sendiri yaitu Desa Teru di Tepusan. Nah, sekian adanya syarat-syarat sayembara dan rakyat menjadi saksi utama siapa yang akan sanggup mengerjakan semua syarat dan mengadakan bukti-bukti yang diminta, berhak menjadi suami dari pada anakku. Puteri Pramodawarani!"
Bukan main hebatnya sambutan rakyat atas syarat baru dari sang puteri ini.
Berarti bahwa agama baru dari sang puteri ini.
Berarti bahwa agama mereka akan tetap terjunjung tinggi, siapapun yang akan memenangkan sayembara itu akan memperisteri Sang Puteri Mahkota!
Sang Rakai Pikatan tertegun sebentar, kemudian ia mengangguk-angguk, di dalam hati ia memuji kebijaksanaan gurunya, yaitu Sang Panembahan Bayumurti yang pernah menyatakan bahwa tanah Jawa akan makmur dan persatuan dapat tercapai kalau Mataram sudah bangkit kembali dan jalannya hanya bersatu engan Kerajaan Syailendra.
Setelah itu, pertemuan di alun-alunpun dibubarkan.
Para pengikut sayembara yang lulus dalam ujian pertama itu dipersilakan untuk melakukan tugas dan pelaksanaan syarat-syarat selajutnya, sedangkan Sang Prabu beserta keluarga lalu kembali ke dalam keraton.
Sepasang senapati dari Sriwijaya, yaitu Kalinggajaya dan Kalinggapati, menjelajah seluruh Bukit Papak, mengelilinginya, masuk keluar hutan dan mendekati puncaknay sampai sehari, mereka berdua tidak menemukan sesuatu.
Menjaelang senjakala, kedua senopati itu mengaso dan duduk di bawah sebatang pohon randu alas yang amat besar.
"Dimas Kalinggapati,"kata Kalinggajaya kepada adiknya,"telah sehari penuh kita berputar di gunung ini, akan tetapi iblis yang kita singkirkan itu tak juga muncul. Aku merasa ragu-ragu apakah benar-benar ada iblis yang menganggu manusia tinggal di bukit ini?"
"Sesungguhnya, kangmas Kalinggajaya,"jawab Kalinggapati,"sungguhpun alas dan ggunung ini cukup angker adan liar, akan tetapi akupun tidak melihat sesuatu. Menurut cerita pendduduk di dekat gunung yang kutanyai sebelum kita berangkat, memang dahulu sering sekali terjadi penculikan atas diri gadis-gadis kampung yang dilakukan oleh seorang liar yang amat sakti. Boleh ajadi dahulu memang ada seorang sakti yang jahat tinggal di sini, akan tetapi siapa tahu kalau-kalau dia sudah mati."
Baru saja Kalinggajaya mendorong tubuh adiknya dan bersama-sama mengelundung dari tempat dudduknya sampai beberapa tombak jauhnya.
Kalinggapati hendak menegur karena heran, akan tetapi alagkah terkejutnya ketika ia melihat kepala seekor ular amat besar dan panjang bergantung dari cabang pohon randu alas itu!
Kalau saja Kalinggajaya tidak berlaku cepat, tentu tubuh Kalinggapati telah kena disambar oleh ular itu!
"Binatang keparat!"seru Kalinggapati dengan amat marah dan senapati ini mencabut pedangnya, siap menyergap maju menyerang ular besar itu.
Nanti dulu, dimas.
Kaulihat, bukankah ular ini aneh sekali?
Seperti bukan ular biasa?"
Seru kalinggajaya kepada adiknya yang segera memandang dengan penuh perhatian.
Memang ilar itu amat mengerikan.
Besar tubuhnay seperti gelugu ( batang pohon kelapa ).
Kulitnya mengkilap berwarna kelabu ( abu-abu ) kehitam-hitaman.
Kepalanya lebar dan gepeng, akan tetapi mulutnya dapat terbuka lebar.
Di antara kedua matanya yang kecil bergerak-gerak itu terdapat daging jadi yang bentuknya meruncing seperti tanduk.
Dari mulutnya mendesis-desis itu nampak mengempul uap kehitaman.
Inilah yang membuat Kalinggajaya menjadi heran dan sangsi, timbul kekhawatirannya dan mencegah adiknya berlaku gegabah.
"Awas, dimas, agaknya ia berbisa. Lebih baik menggunakan anak panah!"
Sambil berkata demikian Kalinggajaya mengambil busur dan anak panah, sedemikian Kalinggapati.
Kedua orang senapati setengah tua itu mementang busur dan ketika tali gendewa dilepas, melesatlah dua batang anak panah bagaikan kiliat menyambar, tepat menuju kea rah kedua mata binatang itu.
Akan tetapi ular itu benar-benar hebat.
Agaknya ua maklum bahwa kedua matanya takkan dapat menahan dua batang anak panah itu, maka cepat sekali kepalanya ditundukkan dan ia menerima datangnya kedua batang anak panah itu dengan kepalanya yang berbentuk daging!
Dan "..
alangkah kaget dan herannya kedua orang senapati Sriwijaya itu ketika melihat anak panah mereka mengenai kepala ular dan meleset tanpa melukainya sedikitpun juga.
"Dia kebal!!"
Seru Kalinggapati dengan kedua mata heran. Ular itu menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri, kemudian meluncur makin panjang dan agaknya hendak mengayun tubuhnya kea rah kedua orang penyerangnya.
"Lekas pergunakan panah putih!"
Kata Kalinggajaya kepada adiknya.
Kedua orang senapati ini memang memiliki anak-anak panah yang ujungnya terbuat daripada logam putih yang amat keras dan jangankan tubuh orang atau binatang kebal, bahkan besi dan bajapun akan dapat tertembus oleh anak panah ini.
Kedua orang senapati Sriwijaya ini telah memasang anak panah putih mereka pada busur masing-masing dan ular itu ketika melihat cahaya yang keluar dari ujung anak-anak panah itu agaknya tahu akan keampuhan senjata ini, karena kepalanya bergerak-gerak ke kanan kiri seolah-olah merasa gelisah.
Gendewa dipentang dan agaknya sebentar lagi tubuh ular itu akan termakan oleh dua batang anak panah itu, akan tetapi tiba-tiba kedua orang senapati itu memekik keras lalu roboh terguling.
Busur dan anak panah terlepas dari pegangan dan di punggung mereka menancap lembing-lembing yang dilepas dari arah belakang!
Mereka roboh mandi darah dan tak bernyawa lagi, dengan kulit berubah hitam karena lembing-lembing itu ternyata mengandung bias ular yang amat jahat!
Masih terdengar gema suara jeritan kedua orang senapati yang tewas itu ketika dari balik semak-semak melompat keluar dua orang laki-laki yang berkapa gundul dan bertubuh jangkung kurus.
Usia mereka ini kurang lebih empat puluh tahun dan keadaan mereka memang amat luar biasa sehungga siapapun juga yang bertemu dengan mereka, terutama di waktu malam hari tentu akan mengira bahwa mereka adalah iblis-iblis dan bukan manusia.
Selain kepala mereka yang gundul dan klimis, juga mereka tidak ebrkumis atau berjenggot sehingga muka mereka seperti muka bayi yang baru dicukur rambutnya.
Wajah mereka hamper sama, seperti pinang dibelah dua, hanya kulit muka mereka saja yang berbeda, seorang agak putih karena kulit mukanya penuh panu dan orang kedua agak kehitam-hitaman.
Sepasang mata bundar menonjol hamper keluar dari rongga mata, hidung pesek hampir rata dengan tulang pipi sedangkan mulut mereka berbibir tipis dan lebar sekali.
Mereka hanya mengenakan sebuah celana panjang hitam, adapun tubuh bagian atas telanjang sama sekali.
Inilah kedua saudara kembar yang menjadi iblis dari Gunung Papak.
Mereka ini dahulunya adalah periwa-perwira gagah perkasa dari Mataram du zaman pemerintahan Prabu Sanjaya, dan telah diusir dari kerajaan oleh karena mereka seringkali melakukan pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan.
Mereka melarikan diri dan akhirnya bertapa di atas Gunung Papak sambil memperdalam ilmu-ilmu dan kesaktian.
Gunung itu memang terkenal angker dan seram, mungkin agaknya mereka telah dimasuki oleh roh-roh yang sesat jalan karena belum lama mereka berada di atas gunung itu, mereka telah berobah seperti orang-orang yang miring otaknya.
Akan tetapi, mereka ini sungguh-sungguh amat sakti dan semua binatang ular yang berada du gunung itu seakan-akan menjadi balatentara mereka!
Ketika Kerajaan Syailendra makin luas daerahnya sehingga Gunung Papan inipun termasuk wilAyah Syailendra, Sang Raja Samaratungga telah beberapa kali berusaha mengusir atau membasmi kedua saudara kembar yang bernama Sarpajati dan Sarpawuyung.
Akan tetapi ternyata kedua orang ini amat sakti dan pandai sekali menyembunyikan diri sehingga selama itu usaha Sang Prabu Samaratungga tak berhasil.
Oleh karena kedua orang manusia iblis ini sering kali mengganggu keamanan, merampok bahan makanan dan menculik orang, maka Sang Prabu memasukkan kedua orang penjahat ini ke dalam sayembara pemilihan mantu itu.
Demikianlah sedikit keteangan tentang Sarpanjati dan Sarpawuyung yang berhasil menewaskan kedua senapati Sriwijaya yang bertugas mengalahkan mereka itu.
Dengan cara yang amat curang kedua orang manusia iblis ini menyerang Kalinggapati dan Kalinggajaya dengan lembing berbisa dari belakang pada saat kedua orang senapati itu tengah membidikkan panah putih kea rah ular besar itu.
"Ha, ha, ha! Hi, hi, hi!"
Sarpawuyung tertawa-tawa sambil menari-nari memutari dua tubuh yang menggeletak di atas tanah, kemudian mencabut lembingnya yang menancap pada punggung Kalinggajaya."Hanya sebegini saja macamnya orang-orang yang menjadi utusan Samaratungga untuk menumpas kita!
Ha, ha, ha!"
Sarpajati juga mencabut lembingnya yang menancap di punggung Kalinggapati, lalu berkata dengan suara bersungguh-sungguh."Adi Wuyung, jangan engkau gegabah!
Aku telah mendengar bahwa yang memenangkan sayembara di Syailendra adalah seorang ksatria Syailendra dan Raja Mataram sendiri, akan tetapi aku tidak takut menghadapi kedua orang yang masih muda-muda itu.
Yang membikin hatiku gentar adalah orang kelima, yaitu Sang Begawan Siddha Kalagana!
Ah, aku merasa bulu kudukku meremang kalau mengingat kepada penyembah Batari Durga itu!"
"Ah, kakang Jati,"
Menyela Sarpawuyung,"apa sih yang harus ditakutkan? Sampai dimana kedigdayaan penyembah Batari Durga? Biarlah dia dating, akan kuhancurkan tubuhnya dengan lembingku ini. Ha, ha, ha!"
Sarpawuyung mengangkat lembingnya yang berlepotan darah itu sambil tertawa lagi.
"Jangan sembrono adi Wuyung. Siddha Kalagana benar-beanr sakti dan ia telah menghabiskan jantung segar banyak anak-anak kecil. Ilmunya tinggi dan ia kebal terhadap segala macam racun. Daripada kita mendapat bencana, lebih baik bersembunyi dan mengerahkan barisan ular untuk menjaga keselamatan kita. Siapa saja yang memasuki hutan ini akan berhadapan dengan barisan ular kita lebih dahulu sebelum bertemu dengan kita!"
Kembali Sarpawuyung tertawa bergelak."Sesukamulah, kakang Jati, akan tetapi aku tidak takut sama sekali!"
Tiba-tiba Sarpajati menundukkan kepalanya yang gundul seakan-akan mendengar sesauatu."Sst, ada orang dating! Adi Wuyung, lekas kita bersembunyi dan kita kerahkan barisan ular!"
Kemudian ia menengok kearah ular besar yang masih bergantungan di cabang pohon randu alas itu dan berkata,"Hai Nagaluwuk, waspadalah kau berjaga disini!"
Bagaikan dua bayangan setan, sekali melompat ke dalam semak belukar lenyaplah kedua orang itu.
Pendengaran Sarpajati memang tajam.
Benar saja, tak lama setelah mereka menghilang, nampaklah bayangan orang berjalan dalam kesuraman senja.
Bayangan ini bukan lain adalah Raden Pancapana atau Sang Rakai Pikatan sendiri, yang menjalankan tugasnya mencari pengganggu keamanan yang berada di puncak Gunung Papak dan menewaskan mereka.
Sang Rakai Pikatan berjalan perlahan dan sungguhpun ia sedang berjalan mencari blis pengganggu di gunung itu, akan tetapi pikirannya melayang jauh dari situ, dan di depan matanya terbayang wajah Raden Indrayana yang dijumpainya di alun-alun tempat diadakannya sayembara menarik gendewa tadi pagi.
Ia masih merasa amat penasaran.
Bagaimana Indrayana dapat melakukan hal itu!
Apakah benar-benar Indrayana yang dikenalnya sebagai pemuda gagah dan berbudi ini telah meninggalkan Candra Dewi untuk mencoba menenangkan sayembara agar menjadi suami sang puteri mahkota?
Tadi ketika hendak meninggalkan alun-alun, ia sengaja mendekat dan memanggil Indrayana untuk ditanya, akan tetapi Indrayana tidak menjawab sama sekali, bahkan setelah melontarkan pandang mata yang marah lalu meninggalkannya!
Ia tidak tahu bahwa pada saat itu ia menaiki Gunung Papak dari selatan, Indrayana juga naik ke atas Gunung itu dari sebelah timur!
Senjakala telah membuat keadaan di dalam hutan itu agak gelap, namun sepasang mata Pancapana yang tajam penglihatannya itu masih dapat melihat bahwa yang menggeletak di bawah pohon randu hutan itu adalah tubuh dua orang yang telah tewas.
Ia cepat berlari menghampiri dan alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa yang menggeletak dan tewas di situ adalah sepasang senapati Sriwijaya yang mengikuti sayembara!
Sang Rakai Pikatan cepat menghampiri dan berjongkok untuk memeriksa keadaan kedua orang itu, akan tetapi tiba-tiba terdengar angina serangan dari atas mengarah kepalanya.
Pemuda perkasa ini cepat melompat ke samping dan meluncurlah kepala ular Nagaluwuk di dekat tubuhnya!
Nagaluwuk ini adalah seekor ular besar yang tadinya menjagoi dan merupakan raja hutan di atas puncak Gunung Papak.
Bahkan macan dan badak sendiri mengakui keunggulanya dan tidak berani jalan di dekatnya, akan tetapi ia telah ditaklukkan oleh saudara kembar Sarpajati dan Sarpawuyung sehingga menjadi pembantunya.
Melihat bahwa yang menyerangnya adalah seekor ular yang besar sekali, Sang Rakai Pikatan menjadi marah dan cepat ia mencabut pedangnya.
Nagaluwuk melihat serangannya tidak berhasil cepat mengubah ayunan kepalanya dan kini ia menyambar lagi ke arah pemuda itu.
Sang Rakai Pikatan cepat miringkan tubuhnya mengelak, dan ketika kepala ular itu menyambar lewat, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Secepat kilat pedangnya bergerak membacok dan"taK!!"
Pedangnya seakan-akan membentur batu dan membal kembali.
"Keparat!"
Seru Rakai Pikatan yang tidak menjadi gentar, sebaliknya malah merasa marah dan penasaran sekali.
Ia memandang penuh oerhatian dan maklum bahwa kekebalan ular itu terletak pada sisik ular itu.
Sisik itu tebal, kuat dan licin.
Lagi pula bertumpuk-tumpuk sehingga amat kuatnya.
Kembali kepala ular itu menyambar dengan mulut terbuka lebar.
Terdengar desis keras dan dari mulutnya tersemburlah uap hitam yang berbau amat amis.
Rakai Pikatan mengumpulkan hawa di dalam dada, menahan napas lalu meniup ke arah uap hitam yang menyerangnya itu sambil mengelak dari terkaman kepala ular.
Uap hitam itu menjadi buyar dan kembali terdorong oleh tiupan Rakai Pikatan yang kuat.
Kemudian, sebelum kepala ular itu berbalik kembali, sesigap rusa melompat, Rakai Pikatan menubruk maju dan masuk di bawah sisik, terus mengarah kulit dan melukai bagian leher ular itu.
Ketika pedang dicabut, tersemburlah darah ular itu.
Kepala ular mendesis-desis makin hebat sehingga tempat itu penuh dengan uap hitam.
Terpaksa Rakai Pikatan menahan napasnya dan tidak berani menyedot napas karena hawa di sekitar tempat itu telah mengandung raun.
Saking sakitnya karena luka di lehernya, Nagaluwuk melepaskan libatan ekornya pada cabang pohon sebelah atas dan dilibatkannya kembali ekor itu pada cabang yang rendah.
Kini kepalanya sampai menyentuh tanah dan ia menggeliat-geliatkan lehernya yang kesakitan.
Gerakannya demikian buas dan cepat sehingga sukarlah Rakai Pikatan untuk menyerang lagi.
Dalam penderitaanya karena luka itu, Nagaluwuk masih saja dapat menyerang bertubi-tubi yang dielakkan oleh Rakai Pikatan yang mengandalkan kegesitan tubuhnya.
Pemuda perkasa itu maklum bahwa kalau dilanjutkan pertempuran ini, ia akan menderita rugi, karena selain tidak mendapat kesempatan membalas serangan lawannya juga tak mungkin ia menahan terus pernapasannya.
Tiba-tiba ia mendapat akal.
Ketika ular itu menyerangnya lagi, ia bukan mengelak ke samping, melainkan menggenjot tubuhnya ke atas dan sekali saja pedangnya terayun, cabang pohon dimana ekor ular itu melilit, terbabat putus dan runtuhlah cabang itu berikut tubuh Nagaluwuk.
Kini ular itu telah berada di atas tanah dan tentu saja daya serangannya tak sehebat kalau ia menggantungkan diri dari pohon.
Rakai Pikatan tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi dan beberapa kali ia melompat-lompat ke kanan kiri dan belakang ular sambil mengirim tusukan-tusukan maut.
Beberapa tusukan lagi kea rah perut hingga binatang itu dan ular yang besar itu berhenti menyerang, menggelepar di atas tanah, menggeliat-geliat menanti datangnya ajal.
Rakai Pikatan meninggalkan tempat itu dan duduk mengaso di bawah pohon, agak jauh dari situ agar jangan sampai kena mengisap hawa beracun.
Ia menyeka pelupuhnya dan membersihkan pedangnya dengan rumput alang-alang, kemudian memasukkan pedang pusaka itu di dalam sarun pedang kembali.
Baru saja pedangnya disarungkan, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam di depan mukanya dan kalau saja ia tidak cepat mengelak, tentu pukulan yang dilakukan oleh bayangan itu akan mengenai dadanya!
Rakai Pikatan bangun dan memandang.
"Dimas Indrayana!!"
Serunya terkejut, heran, dan marah.
Memang penyerang itu adalah Indrayana sendiri.
Pada saat Rakai Pikatan mendaki Bukit Papak dari selatan, pemuda inipun mendaki bukit dari sebelah timur.
Ia hendak mencari pula pengganggu yang tinggal di Gunung Papak dan melenyapkannya sebagai yang diisyaratkan oleh sayembara itu.
Sesungguhnya, Indrayana mengikuti sayembara hanya dengans atu maksud dan tujuan yaitu menghalang-halangi Rakai Pikatan!
Ia tidak ingin memperisteri Sang Puteri Pramodawardani, ia tidak mungkin dapat mencintai seorang wanita lain lagi setelah hatinya terpatah oleh Candra Dewi yang dijadikan permaisuri oleh Rakai Pikatan karena Raja Mataram ini merampas Candra Dewi dari tangannya, akan tetapi karena mengira bahwa Rakai Pikatan telah meninggalkan atau menyia-nyiakan Candra Dewi, kemarahannya memuncak.
Celakalah orang yang mendatangkan sengsara kepada gadis yang dicintainya itu!
Ketika INdrayana mendaki bukit itu, sebelum tiba di puncak, tiba-tiba ia mendengar suara berkerosokan seperti daun-daun kering diinjak banyak kaki.
Ia cepat bersiap dan alangkah kagetnya ketika ternyata bahwa suara itu ditimbulkan oleh banyak sekali ular-ular kecil yang meluncur berlenggak-lenggok di atas tanah menuju ke arahnya seakan-akan barisan yang bersiap menyerang musuh!
Indrayana yang gagah dan tidak mengenal takut itu menjadi ngeri juga melihat betapa banyaknya ular-ular welang, dumung, sawah dan ular air berlenggak-lenggok menjijikkan.
Ia tidak mau melayani ular-ular ini dan hendak mengambil jalan memutar.
Akan tetapi, baru saja ia membalikkan tubuh ternyata dari belakang, kanan dan kiri telah penuh dengan ular.
Bahkan ketika ia mendengar suara dari atas pohon-pohon juga dating ular-ular yang merayap turun.
Ia telah terkurung oleh ratusan ekor ular!
"Hm, ini tentu perbuatan siluman gunung ini!"
Bisik Indrayana."Baiklah, kalau kau menghendakibalamu menjadi bangkai, aku takkan mundur setapak!"
Pemuda yang gagah berani ini lalu mencabut keris dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya melepaskan ikatan kepala yang dipegang ujungnya.
Setelah ular-ular itu merayap dekat dan mulai menyerangnya dengan mendesis-desis dan membuka mulut mereka yang lebar, Indrayana mulai bergerak.
Ikat kepala di tangannya diputar sedemikian rupa dan ternyata kain pengikat kepala yang lembek ini setelah berada di tangannya, merupakan sebuah senjata yang amat dahsyat.
Ujung kain itu ketika dipukul-pukulkan mengelaurkan bunyi bagaikan pecut dan setiap kali kepala ekor terkena ujung kain itu, pecahlah kepala ekor ular itu dengan otak berserakan!
Namun ujung kian itu sendiri tetap bersih dan tidak terkena darah ular.
Ular-ular yang agak besar dirobohkannya dengan keris pusakanya yang ampuh.
Tak usah sampai tembus, baru tergurat sedikit saja oleh ujung keris di tangan Indrayana, ular-ular itu bergelimpangan dan tidak berkelojotan lagi!
Betapapun hebatnya amukan Indrayana sehingga sebentar saja puluhan bangkai ular bertumpang tindih, namun ular itu merupakan lawan yang tidak mengenal arti mundur atau takut.
Matia satu dating dua, roboh dua dating empat sehingga lama-kelamaan Indrayana merasa ngeri dan jijik.
Tempat itu telah berbau amis karena arah ular-ular yang dibunuhnya.
Untuk pergi dari situ juga tak mungkin, karena kemana saja ia melompat, ia selalu terkurung dan sama sekali tak ada jalan keluar.
Dengan gemas Indrayana lalu mencari akal.
Ketika melihat batu hitam yang besar di dekat tempat itu, ia lalu melompat ke atas batu itu sambil membawa daun-daun kering.
Ular-ular yang masih mengurung lalu berlenggak-lenggok mengurung batu besar itu dan sudah ada beberapa belas ekor ular yang merambat menaiki batu untuk menyerangnya.
Indrayana terpaksa mempergunakan kain ikat kepalanya disabetkan ke kanan kiri dan ular-ular itu terbanting ke bawah kembali.
Indrayana menggunakan kerisnya digurat-guratkan kepada batu hitam.
Berpijarlah bunga api ketika keris yang ampuh itu ujungnya diguratkan pada batu hitam yang keras.
Sebentar saja terbakarlah daun-daun kering yang dibawanya tadi.
Dengan daun-daun terbakar ini, Indrayana lalu menyebarkan api pada daun-daun kering yang banyak terdapat di bawah batu, maka sebentar saja menjalarlah api membakar daun-daun kering dibawah pohon.
Akal Indrayana ini baik sekali, karena begitu menghadapi api, ular-ular itu menjadi ketakutan dan larilah binatang-binatang itu berserabutan!
Indrayana mentertawakan binatang-binatang itu dan melanjutkan perjalanannya, karena ia aingin"mendahului"
Rakai Pikatan membasmi penggangggu di gunung itu agar sang puteri mahkota jangan sampai terjatuh ke dalam tangan Rakai Pikatan sehingga merusak kebahagiaan Candra Dewi.
Tiba-tiba ia mendengar suara keras dan ketika ia berlari menghampiri, ia melihat Raja Mataram itu tengah berjuang mati-matian melawan seekor ular yang luar biasa besarnya!
Sungguh baik sekali bahwa kedua orang muad itu mendaki bukit dari dua jurusan, karena kalau saja tidak demikian halnya, maka mereka yang naik ke bukit itu tentu akan menghadapi ular besar itu dan dikeroyok pula oleh ratusan ular kecil!
Kalau terjadi demikian, maka hal itu akan berbahaya sekali.
Agaknya tak mungkin menghadapi Nagaluwuk jika masih dikeroyok pula oleh ratusan ular itu.
Tanpa disengaja, Indrayana dan Pancapana telah ebkerja sama, menghilangkan perintang yang berupa anak buah Sarpajati dan Sarpawuyung, sepasang manusia iblis di Gunung Papak itu!
Akan tetapi, ketika Indrayana menyaksikan betapa Rakai Pikatan telah berhasil menewaskan ular besar dan kini duduk mengaso di bawah pohon, ia tak dapat menahan kesabarannya lagi dan kebencianmeluap.
Terbayanglah wajah Candra Dewi yang menangis sedih karena ditinggalkan oleh suami yang mengikuti sayembara hendak memperebutkan puteri Syailendra.
Tanpa banyak cakap pula, ia lalu melompat dan menerjang Rakai Pikatan yang sedang duduk.
Sungguhpun ia tidak memberi tahu lebih dulu namun sebagai seorang ksatria ia menyerang dari depan dengan terang-terangan, memukul dada Raja Mataram yang masih muda itu.
Demikianlah setelah melihat bahwa yang menyerangnya itu adalah Indrayana, Rakai Pikatan lalu menegur pemuda itu dan kini mereka berdiri berhadapan, saling menatap muka masing-masing dengan pandangan bernyala.
"Indrayana, apakah artinya ini? Mengapa kau menyerangku dengan tiba-tiba tanpa alas an?"
Indayana tersenyum sindir."Sang Prabu Pikatan, sungguhpun aku menyerangmu, akan tetapi aku menyerang dari depan! Majulah kau dan mari kita sama lihat, siapa lebih unggul dan lebih digdaya!"
"Indrayana, apakah kau sudah gila!"
Bentak Sang Rakai Pikatan marah.
Merahlah muka Indrayana mendengar makian ini.
Ia membusungkan dadanya dan menjawab."Sang Prabu Pikatan!
Baru sekarang terbukti kebenaran kata-kata orang bijaksana bahwa kedudukan tinggi itu bercahaya gemilang sehingga dapat membutakan mata hati orang!
Kau yang dahulu kuanggap orang semulia-mulianya dan sebaik-baiknya, setelah mendapat kedudukan tinggi dan mulia, ternyata juga menjadi buta dan bukan aku yang gila, melainkan kau sendiri, gila perempuan!"
Bukan main marahnya Sang Rakai Pikatan mendengar ini."Indrayana! Tak patut kau mengeluarkan kata-kata sekeji ini! Agaknya kau marah kepadaku karena Candra Dewi."
"Jangan sebut-sebut namanya dalam persoalan ini! Sudahlah, kalau benar-benar kau laki-laki dan gagah, mari kita tentukan di tempat ini. Kita berdiri sebagai saingan dalam memperebutkan Sang Puteri Mahkota Syailendra. Kalau kau sanggup menyempal bahu Indrayana, barulah kau akan dapat memboyong puteri itu. Kalau tidak, kau harus mati dan puteri mahkota adalah hak Indrayana!"
"Keparat!"
Seru Sang Rakai Pikatan dengan mata bernyala."Sebelum pecah dadaku, jangan harap kau akan dapat menjadi suami Pramodawardani dan merusak kebahagiaan isterimu sendiri!"
Kata-kata terakhir ini tidak terdengar lagi oleh Indrayana yang sudah merasa marah sekali.
Ia melompat maju memukul dengan tangan kanannya, akan tetapi Rakai Pikatan dengan sigapnya menangkis dan balas menyerang.
Bukan main hebatnya pertandingan ini.
Keduanya sama tampan, sama gagah, sama sakti mandraguna dan pernah mendapat gemblengan yang sama pula dari guru mereka, yakni Sang Begawan Ekalaya di Gunung Muria.
Pukul-memukul, tendang-menendang, hempas-menghempas, membuat bumi yang terpijak oleh mereka seakan-akan tergetar karena hebatnya perjuangan kedua orang ksatria itu.
Tangan mereka sama ampuh, gerakan mereka sama gesit dan tubuh mereka sama kebal pula.
Pada suatu saat ketika Indrayana lengah, sebuah pukulan hebat dari Sang Rakai Pikatan dengan jitu mengenai dadanya, membuat ia terlempar sampai dua tombak lebih dan duduk dengan kepala pening beberapa saat lamanya.
Akan tetapi, ia segera bangkit kembali, membuat serangan balasan dengan hebatnya sehingga berhasil mengirimkan pukulan yang mengenai leher Sang Rakai Pikatan sehingga Raja Mataram ini terhuyung-huyung ke belakang dengan pandangan mata nanar untuk seketika.
Hm, tanganmu keras sekali Indrayana!"
Sang Rakai Pikatan memuji bekas sahabatnya ini dengan kagum.
"Babo, babo!"
Sumbar Indrayana."Kerahkan seluruh kekuatanmu Sang PRabu! Kalau kau masih penasaran, cabutlah pedangmu dan mari kau hadapi ksatria Syailendra ini!"
"Aduh, sumbarmu seakan-akan kau telah menggulingkan Gunung Mahameru! Jangan kau kira aku gentar menghadapimu. Akan tetapi, bukan watak ksatria untuk bertempur dalam gelap gulita, mempergunakan keadaan yang gelap untuk mencari kemenangan. Orang yang bertempur secara liar di dalam gelap hanya orang buas yang tidak mengenal tata kesusilaan. Kalau kau tidak mau kuanggap orang liar, kita tunda dahulu pertempuran ini dan kita lanjutkan besok pagi."
Memang pada saat itu malam telah tiba dan keadaan mulai menjadi gelap. Sebentar lagi tentu di dalam hutan itu gelap pekat tak kelihatan sesuatu. Indrayana menghela napas menjawab.
"Sesukamulah! Diteruskan sekarang atau besok pagi bagiku sama saja. Pendeknya, kali ini kita harus mengadu tenaga sampai salah seorang di antara kita roboh tak bernyawa pula. Nah sampai besok pagi Sang Prabu!"
"Indrauana""
Rakai PIkatan memanggil dengan suara halus, akan tetapi pemuda ini telah melompat dan menghilang di balik semak-semak.
Sang Prabu Pikatan menarik napas panjang karena ia memang amat lelah, ia lalu duduk menyandarkan tubuh di bawah pohon.
Tak lama kemudian iapun tertidu nyenyak.
Sementara itu, Indrayana yang tidak pergi jauh dari situ juga telah tertidur di atas pohon waringin.
Pemuda inipun merasa lelah sekali.
Belum pernah ia menemui tandingan sekuat Sang Rakai Pikatan dan dalam perkelahian tadi ia telah mengerahkan tenaganya sehingga merasa penat dan sakit-sakit tulang dan urat tubuhnya.
Menjelang tengah malam, dua pasang mata yang seperti mata harimau, yang dapat menembus kegelapan, mengintai Rakai Pikatan yang sedang tidur pulas di bawah pohon.
Mereka adalah sepasa manusia iblis di Gunung Papak, yaitu Sarpajati dan Sarpawuyung.
Ketika mereka sampai di tempat itu, mereka terkejut sekali melihat Nagaluwuk telah tewas.
Mereka tidak mengetahui tentang pertempuran antara ular besar itu dan Rakai Pikatan, karena mereka menyembuyikan diri di dalam gua dan tidak berani keluar sebelum tengah malam tiba.
Kini mereka mengintai Sang Rakai Pikatan yang sedang tidur.
"Kakang Jati, agaknya raja sinatria inilah yang telah membunuh Nagaluwuk. Keparat benar! Mari kita bunuh dia, membalas sakit hati Nagaluwuk!"
"Sst, nanti dulu, Wuyung. Jangan kita bertindak sembrono. Ketahuilah bahwa ksatria yang sedang tidur itu bukan sembarang orang yang mudah dilawan begitu saja. Aku sekarang ingat bahwa dia adalah Sang Prabu Pikatan, raja muda dari Mataram yang terkenal. Tadinya kukira ia seorang biasa saja, akan tetapi setelah ia berhasil menewaskan Nagaluwuk, dan melihat teja yang bercahaya dari kepalanya, ternyata ia tidak boleh dibuat gegabah. Lebih baik kita menguasainya dengan aji panyirepan lebih dulu agar ia tak berdaya."
Kedua kakak beradik ini lalu duduk bersila di atas tanah, menyilangkan kedua lengan di depan dada dan mengheningkan cipta lalu mengerahkan aji japa mantera mereka melakukan panyirepan.
Bukan main hebatnya aji ini karena semua binatang di hutan itu yang tidur di atas tanah, semua lalu jatuh pulas!
Tetapi, alangkah heran dan terkejut hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa Sang Rakai Pikatan belum juga terpengaruh oleh aji mereka.
Seorang manusia yang terkena aji panyirepan ini, dapat ditentukan dari suara mendengkur dalam tidurnya.
Biarpun tadinya orang itu tidak mendengkur dan tidak biasa mendengkur dalam tidurnya, akan tetapi apabila telah terkena pengaruh aji panyirepan ini, pasti akan terdengar dengkurnya, tanda bahwa tidurnya nyenyak sekali dan juga tidak sewajarnya!
Akan tetapi, ditunggu-tunggu sampai lama, ternyata Sang Rakai Pikatan masih saja tidur dengan napas perlahan dan halus, sama sekali tidak terdengar dengkurnya.
Hal ini tak usah diherankan apabila diingat bahwa Rakai Pikatan adalah seorang pemuda yang telah bertahun-tahun mendapat gemblengan dari Sang Panembahan Bayumurti yang sakti, bahkan kemudian ia mendapat bimbingan dari Sang Begawan Ekalaya yang suci dan berilmu tinggi.
Tidak sembarang ilmu hitam akan dapat mempengaruhi pemuda yang telah menjadi raja di Mataram ini.
Sepasang manusia iblis kembar itu menjadi penasaran sealo dan dengan sekuat tenaga mereka (Lanjut ke
Jilid 10 -Tamat) Banjir Darah di Borobudur (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 (Tamat) mengerahkan aji kesaktiannya dan pengaruh aji tenung mereka itu menyebarkan hikmat yang membuat daun-daun pohon seakan-akan ikut tertidur juga!
Biarpun demikian mereka masih harus menggunakan waktu hampir setengah malam sebelum mereka mendengar suara dengkur perlahan dan halus keluar dari dada Sang Rakai Pikatan.
Menjelang fajar, barulah Raja Mataram itu tunduk dan terkena hikmat aji kesaktian Sarpajati dan Sarpawuyung.
"Kurang ajar, hampir habis tenagaku!"
Kata Sarpawuyung sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
Pengerahan tenaga batin yang dipaksakan aitu benar-benar melelahkan kedua orang itu sehingga mereka tidak berdiri dari tempat duduk mereka dan mengaso sampai fajar menyingsing.
Setelah tenaga mereka terkumpul dan hari mulai terang, barulah mereka berdiri dan memandang ke arah Sang Rakai Pikatan yang duduk bersandar di batang pohon dan masih tidur mendengkur perlahan.
Keadaan di dalam hutan ini aneh sekali, karena biarpun matahari telah mulai mengusir halimun pagi, namun tidak terdengar suara ayam hutan atau binatang lain.
Semua penghuni hutan masih tertidur lelap karena pengaruh sirep dan sihir kedua orang itu.
"Kakang Jati, biarkan aku yang membunuh Raja Mataram ini!"
Kata Sarpawuyung smbil melangkah maju dan mencabut lembingnya.
Juga Sarpajati mencabut lembing dan kedua orang itu telah siap untuk menancapkan lembing mereka di dada Sang Rakai Pikatan.
Akan tetapi, tiba-tiba pada saat Sarpawuyung telah mengangkat lembingnya, dari atas pohon melayang turun sebatang anak panah tahu-tahu menancap di depan kedua orang yang hendak membunuh Raja Mataram itu!
Sarpajati dan Sarpawuyung terkejut sekali.
Mereka mendongak dan pada saat itu juga melayanglah turun sesosok tubuh yang gerakannya egsit sekali dan tahu-tahu Indrayana telah berdiri di depan Sang Rakai Pikatan, menghadapi raja itu dan sekali ia mengebutkan ikat kepalanya kea rah muka raja muda itu, terbangunlah Sang Raja Pikatan dari tidurnya!
"Jahanam!"
Seru Sarpawuyung dengan amat marah."Kami berurusan dengan Raja Mataram, kau siapakah berani mengganggu kami?"
"Iblis jahat dengarlah baik-baik! Aku adalah Raden Indrayana, ksatria Syailendra yang tidak membiarkan iblis-iblis seperti kalian berlaku curang!"
"Hm, dia inilah yang menjadi pengikut sayembara pula!"
Seru Sarpajati."Adi Wuyung, hayo kita sirnakan manusia sombong ini!"
Sarpajati dan Sarpawuyung lalu menggeram dan kedua orang ini menyerang dengan hebat sekali, lembing mereka yang ujungnya hitam dan berbisa itu menyambar-nyambar kea rah tubuh Indrayana.
Indrayana harus menggunakan kegesitannya untuk menghindarkan diri daripada bahaya maut itu.
Ia maklum akan keampuhan lembing itu dan ternyata bahwa gerakan kedua orang itu amat gesit.
Diam-diam Indrayana yang tidak tahu bahwa lawannya adalah bekas perwira-perwira Mataram, merasa heran sekali bagaimana orang-orang liar ini memiliki gerakan ilmu berkelahi yang cukup tinggi dan indah.
Ia mengerahkan kelincahan dan tenaga, menghadapi dua lembing yang berbahaya itu dengan kerisnya.
Berkali-kali ia mencoba untuk mematahkan senjata lembing lawan dengan kerisnya yang ampuh, akan tetapi ternyata bahwa lembing kedua orang kembar itupun terbuat daripada logam hitam yang kuat sekali.
Oleh karena kedua orang lawannya itu memiliki kepandaian tinggi, maka Indrayana yang dikeroyok dua lambat laun mulai terdesak.
Hanya berkat kegesitannya yang luar biasa saja pemuda ini masih dapat meluputkan diri mempergunakan kekebalannya untuk menahan serangan lembing, akan tetapi bisa yang amat kuat dan berbahaya di ujung lembing itu akan dapat menimbulkan bencana juga.
Indrayana maklum sepenuhnya akan bahaya ini, maka ia selalu menghindarkan diri dari tusukan senjata lawan sehingga tubuhnya berkelebatan di antara sinar senjata lawan.
Sementara itu, setelah tadi dikebut oleh ikat kepala Indrayana, Rakai Pikatan menjadi sadar dari pengaruh aji panyirepan dia ia mulai membuka mata dan menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku dan lemah karena pengaruh aji ilmu hitam itu.
Sang Pikatan maklum bahwa ia tentu terkena hikmat ilmu hitam, maka cepat-cepat ia bangun duduk dan bersila, mengumpulkan napas dan bersamadhi sebentar, mengatur jalannya pernapasan untuk membersihkan hawa yang menghikmatinya selama ia tertidur tadi.
Kemudian, ia membuka matanya dan melihat betapa Indrayana terdesak hebat oleh kedua orang gundul yang amat sakti itu, ia cepat melompat berdiri.
Rakai Pikatan dapat menduga bahwa ia tentu telah kena pengaruh ilmu hitam kedua orang itu dan bahwa Indrayanalah yang telah menolongnya.
"Dimas Indrayana, jangan khawatir, aku datang membantumu!"
Setelah berkata demikian, Raja Mataram ini mencabut pedangnya dan melompat ke dalam gelanggang pertempuran.
Kini pertempuran menjadi makin seru.
Rakai Pikatan dilawan oleh Sarpajati sedangkan Indrayana menghadapi Sarpawuyung.
Tiba-tiba saja Sarpajati menahan pedang Rakai Pikatan dengan lembingnya, lalu bertanya sambil memandang tajam."Kau Raja Mataram yang berjuluk Rakai Pikatan.
Melihat wajahmu, kau serupa benar dengan mendiang Sang Prabu Sanjaya.
Ada hubungan apakah kau dengan raja tua itu?"
"Sang Prabu Sanjaya adalah ramandaku. Apa perlumu menyebut nama mendiang ramanda prabu?"
Mendengar jawaban ini, Sarpajati tertawa tergelak dan mukanya nampak makin buas."Ha, ha, ha!
Kebetulan sekali!
Kalau begitu, kau tentulah Pangeranpati Pancapana!
Ha, akan tercapailah hasrat hatiku membalas dendam.
Ketahuilah, Sang Prabu Pikatan!
Aku dan adikku ini dahulu adalah perwira-perwira Kerajaan Mataram yang telah banyak membuat jasa terhadap kerajaan.
Akan tetapi, Ayahmu yang tidak mengenal budi itu telah mengusir kami.
Sekarang, karena Ayahmu telah meninggal dunia, kaulah yang menjadi penggantinya dan harus membayar hutang orang tuamu!"
"Sudah sepantasnya mendiang ramanda prabu mengusir kalian kaerna kalian adalah orang"orang yang jahat."
"Keparat, rasakan pembalasanku!"
Setelah membentak demikian, Sarpajati lalu menyerang dengan murka dan nekat.
Akan tetapi, Sang Rakai Pikatan dapat menahan dengan pedangnya dan mereka segera bertempur dengan seru sekali.
Kini, setelah menghadapi Sarpawuyung seorang saja, Indrayana tidak merasa berat, bahkan gerakan kerisnya sellau mengancam jiwa lawannya.
Sarpawuyung selalu mundur dan amat terdesak oleh keris Indrayana yang bagaikan telah berubah menjadi puluhan buah itu.
Sarpawuyung maklum bahwa ia takkan dapat menang, maka diam-diam ia membaca manteranya dan ketika ia menyemburkan hawa dari mulutnya, maka segumpal uap hijau menyerang kea rah muka Indrayana!
Pemuda ini maklum akan bahaya dan dapat menduga bahwa uap hijau itu bukanlah sembarang uap, akan tetapi uap yang terjadi karena ilmu hitam dan yang mengandung bisa berbahaya atau pengaruh yang kuat, maka ia lalu menahan napas untuk menjaga diri, kemudian ia mengebutkan ikat kepalanya yang selain ampuh juga digerakkan dengan tenaga luar biasa.
Sarpawuyung hendak mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, akan tetapi Indrayana cepat melompat mengejarnya.
Keparat keji, jangan lari!"
Teriaknya sambil menyerang dengan kerisnya.
Ketika Sarpawuyung menangkis dengan lembingnya, Indrayana cepat menarik kembali kerinsya dan mengirim sebuah tendangan dengan kaki kirinya ke arah lawannya.
Sarpawuyung terkejut sekali karena ia tidak menyangka akan serangan yang cepat sekali datangnya ini.
Ia lalu menyabetkan lembingnya ke arah kaki Indrayana yang menendang dengan maksud melukai kaki itu, karena sekali saja ujung lembingnya dapat melukai kulit tubuh lawan, berarti ia akan memperoleh kemenangan.
Namun, Indrayana tidak dapat di jatuhkan begitu saja.
Pemuda ini semenjak kecilnya memang telah mempelajari berbagai ilmu pukulan yang tinggi dan memiliki gerakan yang melebihi seekor raja kera gesitnya.
Ia sengaja memperlambat gerakannya dan ketika ujung lembing lawan sudah dekat sekali dengan kakinya, secepat kilat ia menarik kembali kaki itu dan berbareng pada saat itu juga kerisnya bekerja.
Keris itu di ditusukkan kedepan dan """cap!"uluhati Sarwapayung ternyata tidak dapat menahan serangan keris Indrayana sehingga keris itu menancap sambil ke gagangnya, Indrayana mencabut kembali kerisnya sambil melompat ke belakang, sebelum roboh Sarwapayung telah melontarkan lembingnya ke depan dan kalau saja Indrayana berada di depannya, maka agaknya akan sukar bagi pemuda itu untuk mengelak.
Sarwapayung roboh mandi darah dan tak dapat berkutik lagi.
Ketika Indrayana memandang ke arah Rakai Pikatan ternyata Raja Mataram itu masih bertempur ramai melawan Sarjapati yang ternyata juga hebat ekali kepandaiannya.
Semenjak tadi, memang ilmu pedang Rakai Pikatan lebih unggul dan dapat menekan lembing lawannya, akan tetapi seperti juga Indrayana, Rakai Pikatan, maklum akan kejamnya lembing berbisa itu, maka selalu bertempur dengan hati-hati jangan sampai terluka sedikitpun juga.
Sarjapati merasa kewalahan menghadapi Sang Prabu Pikatan, dan telah beberapa kali ia mencari jalan untuk melarikan diri.
Lebih-lebih setelah ia melihat betapa adiknya telah tewas dalam tangan Indrayana, semangatnya telah terbang dan keberaniannay lenyap sama sekali.
Ia lalu membaca mantera an ketika ia memekik nyaring, dalam pandang mata Rakai Pikatan lawannya itu lenyap berobah menjadi asap!
Akan tetapi Raja Mataram itu cepat mempergunakan aji kesaktian yang ia pelajari dari Bagawan Ekalaya untuk melawan ilmu hitam.
Tiga kali ia menggosok matanya sambil membaca mantera dan nampaklah lagi olehnya Sarjapati yang sedang melarikan diri.
"Jahanam, jangan kau lari!"serunya sambil mengejar. Bukan main terkejutnya Sarjapati ketika melihat lawannya dapat mengejarnya, maka terpaksa ia melawan lagi dengan nekad dan mati-matian. Seperti juga adiknya ia mengeluarkan uap hijau dari mulutnya, namun tetap saja lawannya yang gagah itu apat menghindar diri. Gerakan pedang Rakai Pikatan diperce[at sehingga mendatangkan angin dan sinar pedangnya berkilat-kilat menyambar. Uap hijau ketika terkena sambaran cahaya pedangnya, menjadi buyar pula. Akhirnya, engan sebuah bacokan hebat, leher Sarjapati hampir putus oleh pedang Rakai Pikatan! Tewaslah dua orang manusia iblis yang telah lama merupakan gangguan bagi rakyat Syailendra itu, binasa di dalam tangan Indrayana an Rakai Pikatan. Kini kedua orang muda itu berdiri lagi berhdapan, saling pandang engan senjata di tangan! Matahari telah naik tinggi dan wajah mereka berkilat karena peluh mereka membasahi jidat dan leher. Pertempuran melawan dua orang kembar tadi benar-benar membutuhkan pengarahan tenaga yang tidak sedikit. Apakah dua orang jago muda ini hendak melajutkan pertempuran mereka malam tadi? "Bagaimana Indrayana? Masih hendak kaulanjutkan jugakah kekurangajaranmu terhadap aku. Kalau kau memang membenciku, mengapa pula kau tadi menolongku dari ancaman kedua siluman ini? Sungguh kau orang aneh, Indrayana!"
Mengapa tidak kuteruskan? Kaukira aku takut kepadamu? "
Jawab Indrayana dengan keris menggigil di tangannya.
"Menolongmu tidak ada hubungannya dengan pertempuran kita. Sudah menjadi watak seorang ksatria untuk menolong siapa saja yang terancam bahaya karena kecurangan orang jahat."
Sang Prabu Pikatan tersenyum menyindir."Pandai kau berbicara, Indrayana.
Apakah kau sendiri juga tidak berlaku curang?
Ketika kau membawa suratku dan menjadi utusanku, kau masih menjadi seorang kawula yang bertugas.
Akan tetapi kau telah berlaku curang dan khianat.
Kau telah melarikan Candra Dewi yang kupinang.
Dan sekarang kau hendak menghalangi aku memboyong Pramodawardani?
Apakah semua puteri hendak kauborong?
Apakah kau tega untuk menyakiti hati Candra Dewi yang telah menjadi isterimu?"
"Kakangmas Pancapana ""
Demi Dewi Yang Maha Agung, katakanlah sekali lagi. Benarkah Candra Dewi tidak menjadi permaisurimu? Apakah artinya semua ini ""??"
Sang Prabu Pikatan juga memandang dengan penuh keheranan. Raja Mataram ini menyimpan kembali pedangnya.
"Dimas Indrayana! Bukankah Candra Dewi telah lari dengan kau? telah menjadi isterimu?"
"Tidak, tidak! Setelah memberikan surat pinanganmu kepada Paman Panembahan Bayumurti, aku lalu pergi kembali ke rumah rama wiku di syailendra. Di manakah adanya Jeng Dewi?"
Maka berceritalah Sang Prabu Pikatan akan berita dari Panembahan Bayumurti bahwa Candra Dewi menolak pinagan itu dan bahkan dara itu lalu melarikan diri.
"Tentu saja aku mengira bahwa Candra Dewi melarikan diri bersamamu karena kalian berdua saling mencintai. Itu pulalah yang membuat aku diam saja, bahkan aku telah merasa menyesal mengapa aku hendak memisahkan ikatan asmara yang denga amat teguhnya mengikat hatimu berdua. Sungguh sama sekali tidak kuduga bahwa Candra Dewi melarikan diri tanpa kau!"
Mendengar ini, lemaslah tubuh Indrayana,"mengapa aku sebodoh ini?
Sang Prabu, cabutlah pedangmu dan penggallah leherku.
Hamba telah berlaku bodoh dan sesat.
Ah, diajeng Dewi """Tak terasa pula air matanya menitik.
Sang Rakai Pikatan merasa terharu sekali.
Ia memegang kedua bahu Indrayana."Jangan kau bersikap demikian.
Kau hanya memperberat penderitaanku yang timbul karena penyesalanku.
Sesungguhnya akulah yang menjadi gara-gara semua ini.
Marilah kita pergi mencari Candra Dewi, dimas.
Aku akan mendapatkannya untumu.
Aku takkan merasa bahagia memboyong Pramodawardani sebelum melihat engkau berkumpul kembali dengan Candra Dewi!"
Dengan hati terharu kedua orang muda yang dahulu menjadi sahabat karib itu bersama-sama pergi menuju tempat pertapaan Panembahan Bayumurti untuk mencari Candra Dewi.
Akan tetapi mereka kecele, karena setelah tiba di tempat itu, ternyata bahwa Sang Panembahan Bayumurti dan puterinya tidak berada di situ pula.
Prabu Pikatan tidka putus harapan, dan ia lalu mengajak Imdrayana untuk mencari jejal Ayah dan anak itu yang menuju ke timur.
Raja Mataram ini tidak memperdulikan lagi akan sayembara meminang puteri mahkota Syailendra karena telah bertekad untuk mencari Candra Dewi sampai dapat.
Dia merasa berdosa terhadap Candra Dewi dan Indrayana.
Kita tinggalkan dulu Sang Rakai Pikatan dan Raen Indrayana yang berkelana mencari Candra Dewi sampai berbulan lamanya danmarilah kita menengok keadaan Kerajaan Syailendra yang mengalami keributan besar.
Pada hari Indrayana dan Sang Prabu Pikatan datanglah Siddha Kalaga memasuki hutan itu untuk memenuhi tugas sayembara, yaitu mencari kedua manusia iblis Sarpajati dan Sarpawuyung yang menjadi syarat sayembara.
Alagkah herannya ketika ia melihat mayat kedua sonopati Sriwijaya, bangkai ular Nagawuluk, dan mayat kedua orang manusi aiblis yang di carinya itu.
Ia dapat menduga bahwa semua ini tentulah hasil karya Indrayana dan Raja Mataram.
Akan tetapi oleh karena di situ tidak terlihat kedua orang muda itu, Siddha Kalagana lalu mendatangkan kawan-kawannya untuk mengangkat semua mayat itu ke ibu kota sebagai bukti bahwa dialah yang berjasa dalam menewaskan Sarjapati dan Sarpawuyung!
Sang Maha Raja Samaratungga terkejut sekali melihat tewasnya kedua senopati sriwijaya yang di harapkan akan menang.
Lebih gelisah lagi hatinay ketika bahwa yang berhasil membinasakan Sarjapati dan Sarpawuyung adalah Pendeta Siddha Kalagana yang dibencinya!
Hatinya curiga, karena ke manakah perginya Indrayana dan Sang Rakai Pikatan?
"Sang Prabu,"kata Siddha Kalagana dengan sikap sombong,"karena aku yang dapat membuktikan mayat kedua orang iblis ini, akulah yang ebrhasil memenuhi syarat dari sayembara.
Aku yang berhak memboyong Sang Diyah Ayu Pramodawardani sebagai permaisuriku.
Ha, ha, ha,!"
Sang Maha Raja Samaratungga menekan kegemasan hatinya melihat sikap yang kurang ajar dan sombong ini, lalu berkata denagn suara tenang.
"Nanti dulu, Siddha Kalagana! Sebagaimana kau tahu, pengikut sayembara ada lima orang jumlahnya. Yang dua, senopati-senopati dari sriwijaya, telah tewas dalam melakukan tugasnya, maka masih ada dua oran lagi, kau sendiri, Raja Mataram, dan Indrayana. Oleh karena dua orang muda itu belum kembali, maka kita belum menetapkan siapa yang berhal disebut pemenang! Lagi pula, masih ada syarat yang terpenting, yaitu membangun sebuah candi sebesar gunung anakan yang selain besar, juga harus indah ukiran-ukirannya danmenjadi lambang dari Agama Buddha!"
"Ha, ha, ha. Sang Prabu, jangan khawatir tentang candi itu! Di seluruh Syailendra dan Mataram tidak ada ahli-ahli seni ukir dan pahat sepandai orang-orangku! Anak buahku adalah ahli-ahli patung belaka yang dapat mengukir! Serahkanlah saja kepada Maha Raja Siddha Kalagana dan di atas dataran tinggi desa Tepusan tak lama lagi tentu akan berdiri sebuah candi indah sebesar gunung anakan. Akan kubuat yang seindah-indahnya sebagai hadian kepaa calon isteriku, Pramodawardani yang denok ayu! Ha, ha, ha!"
Bukan main sebalnya hati Sang Maha raja Samaratungga mendengar ini.
Maka ia lalu memberi isarat dengan tangannya agar supaya pendeta tua yang tidak dikehendaki ini segera pergi meninggalkan ruang pertemuan.
Sambil tertawa-tawa Siddha Kalagana keluar dari keraton dan ia segera menyuruh pengikutnya untuk memanggil ahli patung di Kerajaan Durgaloka yang jumlahnya ribuan orang itu.
Maka dimulailah pembangunan candi besar di desa Tepusan itu oleh anak buah Siddha Kalagana.
Desa itu menjadi ramai sekali karena penuh dengan para pembangun candi yang di kepalai sendiri oleh Siddha Kalagana.
Berkat pengaruhnya yang besar sekali dan jumlah pengikutnya yang puluhan ribu orang itu, Siddha Kalagana dapat mengumpulkan batu-batui besar yang hitam dan kuat.
Setiap hari, ribuan orang mengangkat batu-batu besar ke desa Tepusan.
Ahli-ahli pakar yang pandai dan cekatan lalu membentuk batu-batu itu menjadi halus dengan segi-segi yang lurus untuk kemudian di atur dan di pasang sebagai dasar candi yang hendak di bangun.
Siddha Kalagana telah mulai dengan pembagunan candi besar, dimulai denagn batu-batu besar dan kuat sebagai alas atau dasar, kemudian membauat kaki candi yang terbuat daripada batu-batu kasar dan kuat ditumpuk-tumpuk.
Takjublah semua orang ketika menyaksikan ukuran kaki candi ini.
Benar-benar besar sekali dan luar biasa.
Sebesar kaki bukit anakan betul sesuai dengan tuntutan sayembara.
Alas dan candi itu bentuknya segi empat, ukurannya tidak kurang dari tujuh puluh lima depa ( satu depa ukuran kedua tangan dibentangkan ke kanan kiri )!
Pekerjaan ini benar-benar merupakan pekerjaan raksasa yang hebat dan berat sekali.
Baru pengangkatan batu ke desa Tepusan saja sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa.
Akan tetapi Siddha Kalagana benar-benar amat berpengaruh dan berkuasa besar.
Ia mempunyai banyak tenaga ahli yang bersetia kepadanya, baik dibawah pengaruh sihir atau yang memang bersetia karena percaya dan tunduk kepadanya.
Siddha Kalagana juga cerdik sekali, karena untuk pekerjaan besar ini, ia tidak segan-segan menghibur diri para pekerja.
Maka terjadilah hal yang amat mengherankan rakyat di sekeliling tempat itu.
Biasanya, dalam pembuatan candi, orang-orang yang mengerjakannya selalu berada dalam keadaan tekun dan penuh khidmat, karena candi adalah tempat pemujaan yang suci.
Akan tetapi, kali ini orang-orang yang bekerja tidak berada dalam keadaan khidmat, bahkan sebaliknya.
Mereka bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa, apalagi kalau malam tiba.
Siddha Kalagana sengaja mendatangkan pelayan-pelayan wanita yang cantik jelita, yang juga menjadi penghiburnya dan juga penari yang pandai.
Setiap malam di atas kaki candi yang rata dan lebar itu tentu diadakan malam gembira dengan tari-tarian yang seperti biasa bersifat kecabulan yang luar biasa.
Kalau malam tiba, pekerja-pekerja laki-laki dan wanita seperti kemasikan iblis dan menari-nari di sekitar bangunan itu bagaikan gila.
Bahkan Kalagana secara terang-terangan mengangkut patung Batari Durga yang telanjang itu ke tempat pembangunan dan setiap malam diadakan upacara pemujaan patung Batari Durga seperti biasa dilakukan mereka.
Tentu saja hal ini merupakan penghinaan besar bagi Kerajaan Syailendra.
Sang Maha Raja Samaratungga ketika mendengar ini menjadi amat marah, disuruhnya seroang utusan untuk menegur Siddha Kalagana, menuntut agar supaya taria-tarian serupa itu dihapuskan dan patung Batari Durga disingkirkan.
Akan tetapi apakah jawab Siddha Kalagana?
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 12
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 5