Ceritasilat Novel Online

Raja Silat 14

Eps 14 Raja Silat - Chin Hung

Baca online Raja Silat - Chin Hung

Cersil Raja Silat - Chin Hung.

Ia segera berjalan menuja kedinding sebelah kiri, setelah menemukan tombol rahasianya ia tekan tombol itu.

Dengan cepat air terjun berhenti mengalir dan tidak setetes air pun yang menetes ke luar.

Hal ini membuat pemuda kita menjadi keheranan, pikirnya.

"Alat rahasia ini sungguh bagus sekali, bahkan membuat cairan racun mengalir keluar tiada hentinya, apa yang terjadi?"

Ia berjalan mendekati telaga di bawah air terjun.

dilihatnya telaga tersebut tidak besar juga tidak ada setetes air pun yang menyalir kelain tempat, lalu mengapa cairan racun bisa mengalir terus menerus?

Setelah dipikir dan diperiksa beberapa saat, akhirnya ia jadi sadar kembali.

kiranya telaga kecil itu langsung berhubungan dengan sumber dimana berasalnya air terjun tersebut dalam kenyataan air itu hanya mengalir dengan berputar terus dari telaga dialirKan kembali ke arah sumber dialirkan kembali ke air terjun.

tidak areh ka 'au alat rshasiacya dipencet dan saluran tertutup maka air tidak mengalir lagi.

Setelah memahami hal tersebut Liem Tou tidak dibuat tercengang lagi, seraya menggandeng tangan si gadis cantik ia balik lagi kelembah Boe Beng Kok.

Suasana di tempat itu telah sunyi, tak seorang anggota Sin Beng Kauw pun yang tersisa disana.

Memandang bangunan rumah yang berderet-deret, tiba-tiba Liem Tou berpaling seraya ujarnya kepada si gadis cantik pengangon kambing.

"Wan-moay, kiia tak perlu masuk lagi, lebih baik kita bakar habis rumabh-rumah ini dari pada ditinggalkan sehingga digunakan orang lain untuk buat jahat, setelah itu kita harus buru-buru mengejar si Boe Bek Tok-su dan membasminya dari muka bumi."

Sigadis cantik pengangon kambing mengangguk, mereka berdua segera menyulut api dan mulai membakar seluruh bangunan perkumpulan Sin Beng Kauw tersebut.

Dalam sekejap mata markas besar yang di gunakan pihak Sin Beng Kauw selama banyak tahun telah terjilat didalam kobaran api, membuat seluruh gunung Tjiong Lay-san jadi terang benderang.

Ditengah kobaran api yang sangat santer itulah Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing berlalu.

"Eeei...engkoh Liem."

Tiba-tiba Lie Wan Giok berseru.

"Apakah kau tidak ingin menonton pertarungan antara Suo Kut Mo Pian melawan sihwesio gundul yang kakinya buntung itu ?"

"Jika kita harus balik lagi kesana kemungkinan besar kedua orang itu sudah berlalu aku lebih menguatirkan tentang keadaan diri Pouw Sauw Ling." . Mendengar disebutkannya nama Pouw Sauw Ling air muka si gadis cantik pengangon kambing segera berubah hebat.

"Hmm! bila aku bisa berjumpa kembali dengan dirinya, akan Kusuruh ia tak bisa hidup terlalu lama lagi."

Liem Tou tahu hampir saja si gadis cantik pengangon kambing menderita kerugian besar ditangannya sehingga tidak aneh kalau ia membenci dirinya hingga merasuk ketulang sum-sum.

Tetapi demi Pouw Djien Tjoei mau tidak mau ia harus melindungi juga keselamatannya.

setelah berpikir sebentar ujarnya.

"Wan-moay, aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, Entji Ie bisa lolos dari mara bahaya tahukah kau siapa yang telah menolong dirinya?"

"Bukan kau yang tolong dirinya ? lalu siapa ?"

"Adik dari Pouw Siuw Ling yang bernama Pouw Djien Tjoei, ia mohon kepadaku agar aku suka mempertahankan jiwa Pou w Sauw Ling, sudah tentu aku harus menyanggupinya."

Kata Liem Tou sambil tertawa sedih. Sigadis cantik pengangon kambing termenung berpikir sejenak, akhirnya ia menggenggam tangan Liem Tou erat-erat.

"Aku sudah memahami maksudmu, kalau begitu lakukanlah sesuai dengan keinginanmu."

"Aaah. akupun mengerti kesemuanya ini kau lakukan demi diriku..."

Seru Liem Tou tak tertahan lagi.

ia putar badan dan menciumi pipi serta bibir gadis cantik pengangon kambing dengan penuh kemesraan.

Tak terasa lagi kedua orang itu sudah tiba dikaki gunung, mendadak terdengar suara rintihan berkumandang datang.

Liem Tou yang mendengar suara tersebut segera pasang telinga baik-baik kemudian setelah tentukan arah bergerak mendekati.

Akhirnya ia temukan seorang menggeletak ditepi tebing.

orang itu bukan lain adalah Pouw Sauw Ling.

Lengan kirinya yang kena dipatahkan Liem Tou dengan ilmu pukulan, belum sampai sembuh kini kena dihantam pula oleh Boe Beng Tok-su keras-keras, setelah terjatuh kebawah badannya terluka hampir memenuhi seluruh tubuhnya.

ia tak dapat berkutik sedang darah segar mengucur keluar membasahi tanah.

Tanpa berpikir panjang lagi Liem Tou angkat bangun badannya karena takut pemuda she Pouw itu berbuat keanehan, lagi kendati dalam keadaan luka, Liem Tou sekalian menotok jalan darah pingsannya kemudian baru digotong dipunggung.

Seraya menoleh kearah sigadis cantik pengangon kambing ujarnya.

"Terpaksa aku akan serahkan orang ini kepada diri Enci Djien Tjoei.

". Lie wan Giok tersenyum dan mengangguk. Demikianlah dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, selama perjalanan selanjutnya kedua orang ini tidak menemui halangan apapun! Menanti mereka tiba disuatu bukit, tampaklah Siauw Giok Tjing dengan keren telah menanti disana.

"Enci Tjing!"

Tak kuasa lagi si gadis cantik pengangon kambing berseru memanggil.

"Ayoh cepat kemari! coba kalian lihat kematian mereka berdua sungguh teramat mesra!"

Teriak Siauw Giok Tjing.

Liem Tou dan si gadis cantik pengangon kambing buru-buru mengejar kemuka dilihatnya si hweesio tujuh jari Tjhiet Tji Tauw Too saling berpeluk pelukan dengan eratnya diri Suo Kut Mo Pian, mayatnya menggeletak ditepi jalan.

sedang telapak tangan masing-masing pihak saling menempel dipunggung lawan dan tangan yang lain saling mencekal cambuk panjang kuat-kuat.

Keadaannya mirip dengan dua ekor ular yang saling bergulat sehingga susah untuk dipisahkan.

Lama sekali Liem Tou berdiri disana akhirnya ia menggunggam.

"Dosa! dosa! dengan begini boleh dihitung dendam sakit hati mereka selama empat puluh tahun sudah bisa diselesaikan!"

Pemuda ini segera meletakkan tubuh Pouw Sauw Ling keatas tanah, meminjam pedang Lam Beng Kiam dari Siauw Giok Tjing dan membuat sebuah lubang untuk mengubur jenasah dari Tjhiet Tji Tauw Tou serta Sou Kut Mo Pian dalam satu liang yang sama, setelah itu baru ujarnya kepada Siauw Giok Tjing serta sigadis cantik pengangon kambing.

"Mari kita pergi, tubuhku sudah penuh berpelepotan darah. kita harus membeli pakaian baru dulu dikota kemudian baru melanjutkan pengejarannya terhadap diri Boe Bang Tok-su."

Ia bergerak terlebih dahulu kemuka sehabis berbicara, terpaksa sigadis cantik pengangon kambing serta Siauw Giok Tjing mengiringi dari belakang.

Setelah mereka memandang sejenak kobaran api yang membakar seluruh markas besar perkumpulan Sin Beng Kauw di lembah Boe Beng Kok dari sebuah bukit, Liem Tou dengan menggendong Pouw Sauw Ling serta membawa si gadis cantik penganton kambing dan Siauw Giok Tjing malam itu juga keluar dari daerah pegunungan Tjiang Lay-san untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan di kota dekat pegunungan tersebut.

Setelah tukar pakaian, mereka pun berisrirahat untuk sementara.

Malam itu Liem Tou bersemedi dua jam untuk memulihkan kembali tenaga sinkangnya yang banyak berkorban sewaktu bergebrak melawan Suo Kut Mo Pian, menanti pagi hari telah menjelang datang ia baru selesai dan tepat waktu itu si gadis cantik pengangon kambing serta Siauw Giok Tjing sedang mengetuk pintu.

Liem Tou segera buka pintu, tetapi .."Aaah!

engkoh Liem, coba lihat selembar wajahmu, kenapa jadi begitu?"

Sigadis cantik pengangon kambing serta Siauw Giok Tjing sama-sama berkaok-kaok kaget ketika melihat tampang dari Liem Tou.

"Aku masih baik-baik saja, kenapa dengan wajahku???"

Liem Tou kelihatan rada tercengang.

"Kau tentu keracunan, coba lihat wajahmu timbul gelembung air hitam yang menemui wajah."

Setelah mendengar ucapan dari ke dua orang itu Liem Tou baru ikut merasa cemas, setelah berpikir sebentar akhirnya ia teringat kembali sewaktu kemarin malam harus menghindarkan diri dari sambitan dua batang senjata rahasia beracun, ketika tubuhnya menerobos lewat melalui asap beracun badannya pernah terasa gatal dan kaku, mungkinkah hal ini disebabkan oleh karena asap beracun itu?

"Cepat ambil sebaskom air biar aku cermini wajahku sendiri,"

Buru-buru serunya, Siauw Giok Tjing dengan sebat berjalan keluar, tidak lama kemudian ia sudah masuk kembali dengan membawa sebaskom air, setengah mangkok minyak dan hancurkan rumput pemunah racun untuk kemudian direndam kedalam minyak tersebut.

Ketika Liem Tou mencerminkan wajahnya diatas air.

ia baru naik pitam sehingga berkaok-kaok tiada hentinya.

Ternyata selembar wajahnya yang tampan kini sudah tidak mirip manusia, tampannya kelihatan begitu tua dan galak sekali bahkan jeleknya luar biasa.

"Anggota perkumpulan Sin Beng Kauw sungguh ganas. jika aku tahu begini kemarin malam tak kulepaskan seorang pun diantara mereka, coba kau lihat setelah wajahku jadi begini, apakah entjie Ie serta Wan-moay masih mau dengan aku ?"

Ucapan ini seketika itu juga menimbulkan rasa geli dari Siauw Giok Tjing sehingga tertawa cekikikan, Sedangkan si gadis cantik pengangon kambing dengan nada manja berseru.

"Engkoh Liem, tutup mulutmu, siapa yang suruh kau bicara sembarangan!. ."

Liem Tou hanya tertawa meringis belaka, segera ia menceritakan secara bagaimara kemarin malam ia keracunan di dalam barisan asap beracun.

"Tidak mengapa, tidak mengapa."

Potong Siauw Giok Tjing dengan wajah tenang.

"Hal ini sudah kuduga sebelumnya, asalkan kita gosokkan rumput pemunah racun tersebut maka wajahmu segera akan pulih kembali tanpa membuang waktu yang terlalu lama !"

"Tidak bisa jadi."

Teriak Liem Tou kembali.

"Sedetikpun aku tak boleh berdiam diri, coba kau pikir Hong Susiok kena ditangkap ke-Hong, bagaimanakah keadaannya pada saat ini kita tidak tahu. Boe Beng Tok-su pun berhasil melarikan diri. Aaaaaai...sebenarnya aku harus pergi mencari siapa dahulu ?" .

"Sudah tentu harus mencari Hong Susiok terlebih dahulu."

Sela si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat-Siauw Giok Tjing tidak ikut bicara,ia hanya bantu poleskan minyak bercampur hancuran rumput pemunah racun itu keatas wajah Liem Tou.

Ketika mendengar timbrungan dari Lie Wan Giok, pemuda she Liem ini termenung sejenak.

kemudian mengangguk berulang kali.

"Benar, benar. kita harus pergi mencari Hong Susiok dahulu bahkan balaskan dendam bagi kematian supek. tetapi aku harus kembali dulu kegunung Tjing Shia untuk membawa serta Giok djie, karena dia tahu tempat persembunyian dari Thian Pian Siauw tju".

"Betul! aku harus turun tangan membunuh sendiri diri Thian Pian Siauw-tju, untuk balaskan dendam kematian ayahku."

Samsung si gadis cantik pengangon kambing dengan sedih.

"Luka racunmu belum sembuh, beristirahatlah dua hari disini. biar enci Tjing tetap tinggal disini melayani dirimu. aku pulang dulu kegunung Tjing Shia untuk membawa serta Giok djie turun gunung tiga hari kemudian kita berjumpa kembali dikota Ih Djan lalu menungang perahu menuju ke Timur". Sewaktu mengucapkan kata-kata itu wajahnya kelihatan sangat teguh dan bulat tekad, kemudian tidak menanti jawaban dari Liem Tou serta Siau Giok Tjing lagi ia segera putar badan dan berlalu dari rumah penginapan itu dengan langkah lebar. Menanti Siauw Giok Tjing selesai mempolesi wajah Liem Tou dengan minyak rumput pemunah racun, bayangan sigadis cantik pengangon kambing telah lenyap tak berbekas. Kedua orang itu tak bisa berbuat apa-apa terpaksa menuruti ucapan sigadis cantik pengangon kambing untuk berangkat kekota Ie Djan. Waktu itu luka racun diwajah Liem Tou telah mengering dan lepas dari wajahnya sehingga kulit muka pemuda iiu terkupas dengan ganti kulit muka lain. Setelah membeli dua ekor kuda dan membawa serta Pouw Sauw Ling mereka berangkat melanjutkan perjalanan, tetapi ditengah perjalanan dibikin terheran dan terperanjat. Ternyata disepanjang jalan mereka banyak menjumpai mayat-mayat yang bergelimpangan ditepi jalan. rata-rata sebab kematian orang-orang itu adalah tertembusnya dada mereka oleh tusukan pedang. Pada mulanya menemukan dua sosok mayat Liem Tou serta Siauw Giok Tjing masih menganggap sebagai penemuan secara kebetulan saja, tetapi setelah jang ditemukan makin lama semakin banyak hatinya baru mulai diliputi kecurigaan.

"Eeei..apa yang telah terjadi?!??"

Seru Liem Tou tertegun.

"Siapa yang tahu??"

Siauw Giok Tjing sendiripun tidak paham mengapa begitu banyak mayat yang berserakan disepanjang jalan.

Menanti mereka tiba dikota Sam Khe Tjeng untuk beristirahat, mendadak ditengah jalan menemukan kembali dua sosok mayat laki dan perempuan, yang satu tua dan yang lain muda kemudian disampingnya berserakan alat-alat senjata yang bisa digunakan untuk menjual obat.

Lama kelamnan Liem Tou tak dapat menahan diri lagi, ia segera menanyakan persoalan ini dengan si pelayan kedai.

Sang pelayan yang ditanyai kontan menjulurkan lidahnya.

"Aiaahh! Khee-koan. inilah yang dinamakan takdir!"

"Takdir?? apa yang dinamakan takdir???"

"Takdir adalah kehendak dari para malaikat. sudah..jangan ditanyakan lagi aku mohon kau kau jangan menanyakan urusan ini lagi!" . Sepasang alis Liem Tou berkerut. mendadak ia naik pitam. seraya meloncat bangun bentaknya keras.

"Dikolorg langit tak akan ada malaikat sejahat ini cepat katakan apa yang telah terjadi!"

Dengan sebat Liem Toa mencengkeram pergelangan sipelayan itu erat-erat sehingga menjeritlah orang itu kesakitan.

Setelah Mendengar orang itu menjerit, Liem Tou baru tersadar kembali dan segera mengendorkan tangannya.

"Aaakh! maaf, maaf! aku sudah bikin kau jadi sakit."

Katanya penuh rasa penjesalannya.

"Cepat kau katakan, apa sebenarnya yang telah terjadi..."

Dengan mendongkol sipelayan itu melototi sekejap wajah pemuda she Liem, lalu setelah matanya menyapu empat penjuru ujarnya;

"Anggota perkumpulan Sin Beng Kauw telah membinasakan ayah beranak dua orang itu dengan kejam, kau tidak tahu kemarin sewaktu anggota Sin Bing Kauw lewati tempat ini bagaikan hujan badai saja mereka sudah membinasakan tiga puluh orang?"

Mendadak Liem Tou melotot bulat-bulat, ia semakin gusar lagi. Seraya melirik sekejap wajah Siauw Giok Tjing tiba-tiba teriaknya.

"Entji Tjing; perbuatan ini pasti dilakukan oleh Boe Beng Tok-su. aku lihat ia sudah hampir gila."

"Apa yang ingin kau lakukan?' tanya Siauw Giok Tjing perlahan. sikapnya masih sangat tenang.

"Ayoh berangkat, kita cepat berangkat menyusul dia. sebab membiarkan dia hidup mungkin beratus-ratus orang bakal mati konyol, aku lihat pikiranrya sudah jadi sinting "

Bicara sampai disitu matanya melirik sekejap diri Pouw Sauw Ling yang masih tidak sadarkan diri, kepingin sekali pada saat ini juga ia kirim satu pukulan mencabut nyawanya.

Pada waktu itu hidangan sayur yang di pesan telah siap.

tetapi Liem Tou tidak ingin membuang waktu terlalu banyak.

ia robek pakaiannya untuk bungkus santapan tersebut, kemudian dengan tangan kiri mencekal tubuh Pouw Sauw Ling segera melayang keluar dari kedai.

Tanpa perduli diri Siauw Giok Tjing lagi ia kempi perut kudanya dan Siauw Giok Tjing yang melihat hal itu tak bisa berbuat apa2 lagi, terpaksa ia mengejar dari belakang.

Menanti gadis itu hampir menyandak diri, tampaklah wajah Liem Tou penuh diliputi kegusaran yang memuncak.

ia lemparkan tubuh Pouw Sauw Ling yang tidak sadarkan diri ketengah udara seraya ujarnya keras;

"Enci Tjing, cepat terima orang itu dan tolong bawa kembali kegunung Ha Moo San untuk diserahkan kepada Pouw Djien Tjoei. aku sudah bertekad untuk mengejar Boe Beng Tok-su. kau serta Wan-moay dan Giok djie boleh menunggu diriku dikota Ih Djan. nah, selamat berpisah!!"

Sekali kakinya menjejak tanah, badannya segera meluncur sejauh puluhan kaki dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Kita tinggalkan dulu Liem Tou yang mengejar Boe Beng Tok-su dan kembali pada diri Siauw Giok Tjing yang menunggang kuda dengan membawa serta Pouw Sauw Ling dikuda yang lain, ia tetap melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Sejak ia tinggalkan kota terakhir, selama perjalanan tidak dijumpai lagi barang sesosok mayatpun dalam hati terpikir olehnya apa bila Liem Tou pasti tak akan menemukan keadaan seperti ini.

lalu apa sebabnya???

Apakah mungkin pikiran Boe Beng Tok-su sudah normal kembali dan berhenti membunuh orang??

Dan kemana pula perginya Liem Tou untuk mencari jejak Boe Beng Tok-su.

Walaupun pikiran Siauw Giok Tjing ruwet, tetapi kini Liem Tou sudah pergi dan ia tak dapat berbuat apa-apa lagi.

Terpaksa kudanya dilarikan cepat-cepat melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Selatan.

Sepanjang jalan ia tidak menemui kesulitan tetapi menjelang magrib mendadak awan tebal menutupi seluruh angkasan hujan pun turunlah dengan sangat derasnya.

Sekitar tempat itu sunyi tak kelihatan sebuah rumah penduduk pun yang dapat digunakan untuk berteduh, ia tak bisa berbuat apa-apa.

terpaksa dengan menempuh hujan lebat, ia melanjutkan perjalanannya kedepan, ia hanya berharap sebelum tengah malam tiba bisa sampai di kota Liong Wo, untuk kemudian esok harinya berangkat lagi ke gunung Tjing Shia dan menyerahkan Pauw Sauw Ling kepada adiknya Pouw Djien Tjoei.

Melakukan perjalanan ditengah hujan yang deras sungguh susah sekali, kurang lebih sepertanak nasi kemudian secara lapat-lapat ia temukan adanya cahaya lampu di tempat kejauhan.

"Aaaah...! tempat itu pasti rumah tinggal penduduk."

Pikirnya dihati.

Karena tiada tempat lain yang dapat digunakan untuk berteduh.

maka tanpa berpikir panjang lagi gadis ini mendekati rumah penduduk dimana berasalnya cahaya lampu tadi, Tak selang berapa saat ia sudah mendekati tempat itu yang bukan lain terdiri tiga rumah gubuk, cahaya lampu memancar keluar dari salah sebuah bangunan gubuk tadi.

Gadis she Siauw ini segera berjalan mendekati tempat itu, siapa sangka sewaktu ia tiba tiga, lima tombak dari pintu rumah mendadak dilihatnya sesosok bayangan hitam berjubah panjang berkelebat lewat, hatinya segera bergerak, pikirnya.

"Dalam dusun yang miskin seperti ini, darimana munculnya seseorang memakai jubah panjang?"

Karena berpikir sampai disitu buru-buru ia menghentikan gerakannya dan melompat turun dari atas pelana, kemu dan dengan membawa Pouw Sauw Ling mendekati wuwungan rumah serta menambatkan tunggangannya di pohon.

Pada saat itulah dari dalam ruangan terdengar suara langkah kaki yang berat berjalan hilir mudik, Siauw Giok Tjing tahu bila ia berkelebat lewat melewati jendela maka jejaknya pasti konangan.

Akhirnya ia berputar kepintu depan yang terbuat dari bambu serta rumput kering.

di antaranya masih terdapat pula beberapa buah lubang yang bisa digunakan untuk mengintip.

Tanpa ragu-ragu lagi ia mengintip kedalam, lalu berseru tertahan.

"Aaakh. .! beruntung aku belum masuk ke dalam rumah ini dengan ceroboh.

Kiranya didalam ruanpan tersebut terdapat enpat orang, mereka bukan lain adalah Boe Beng Tok-su beserta tiga orang anggota Sin Bang Kauw yang berusia pertengahan.

jelas mereka tentu adalah jago-jago lihay yang paling diandalkan.

Orang yang berjalan bolak balik barusan adalah Boe Beng Tok-su, sedangkan ketiga orang lainnya duduk termenung disamping.

Dengan sangat tenang Siauw Giok Tjing mengintip terus diluar pintu, beberapa saat kemudian terdengarlah Boe Beng Tok-su dengan mata melotot alis menjungkat dan depak-depakkan kakinya berseru kelang kabut;

"Liem Tou! Lien Tou! aku benci dirimu. Sehingga ingin kubongkar kuburan nenek moyangmu !"

Merandek sejenak kemudian gumamnya kembali.

"Entah bagaimana keadaan guru? mungkinkah ia terluka dengan Suo Kut Mo Pian?"

Ia mendengus berat kemudian sambungnya.

"Kedatangan suhu sungguh terlalu kebetulan, kenapa ia justru datang sewaktu Liem Tou bergebrak mati-matian melawan Suo Kut Mo Pian. Aaai . , kalau tidak maka mereka berdua pasti akan sama-sama terluka parah dan mengambil kesempatan itu kubasmi mereka berdua, bukankah hal ini jauh lebih bagus?"

Mendadak ia berhenti bergebrak kemudian berpaling ke arah ketiga orang lainnya.

"Markas besar sudah hancur, perkumpulan Sin Beng Kauw tinggal puing-puing berserakan, walaupun di daerah Utara maupun daerah Selatan masih ada istana cabang yang bisa digunakan untuk bersembunyi sementara waktu. tapi apa gunanya?"

Ketiga orang anggota Sin Beng Kauw itu menghela napas berat-berat, ask seorang pun yang menyahut.

Suasana di dalam ruangan kembali pulih jadi sunyi senyap Boe Beng Tok-su pun berjalan bolak-balik lagi kesana kemari.

Siauw Giok Tjing setelah berhasil melihat jelas keadaan disana dengan jalan menginti ia segera berpikir.

"Sebenarnya apa yang sedang mereka inginkan? dari Tjiong Lay-san melarikan diri kemari, sepanjang jalan membinasakan orang apakah semua orang yang ada di kolong langit mempunyai dendam sakit hati dengan dirinya?. , Hujan turun makin lebat, mendadak kuda yang di tempat dekat pohon meringkik panjang. Jilid-52 Boe Beng Tok-su melepas pedang dan kitab.

"ADUUH CELAKA!"

TAK KUASA LAGI Siauw Giok Tjing berseru tertahan.

Sedikitpun tidak salah ketika mendengar suara ringkikkan kuda Boe Beng Tok-su serta ketiga orang anggota Sin Beng Kauw yang ada didalam ruangan segera memadamkan lampu lentera dan meloncat ke luar.

Melihat munculnya keempat orang itu Siauw Giok Tjing menyembunyikan dirinya rapat-rapat dari pandangan mata mereka, tetapi setelah dilihatnya beberapa orang itu meluncur keatas pohon dimana kudanya tertambat dan teringat pula Pouw Sauw Ling masih ada disini, gadis she Siauw ini baru merasa sangat cemas, badannya segera bergerak menubruk kedepan.

"Kauwtju, kau hendak melarikan diri ke mana?"

Bentaknya. Badannya mengenjot segera melayang ke arah Boe Beng Tok-su dengan sebat mencabut keluar pedang hitamnya, air muka berubah dingin, berat dan menyeramkan.

"Apakah kalian sungguh-sungguh hendak membinasakan diriku??"

Serunya kaku. Siauw Giok Tjing tetap berdiri tak berkutik, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan wajahnya kemudian perlahan-lahan mencabut keluar pedang Lam Beng Kiam.

"Aku dengar dari Liem Tou katanya pedang hitam kautju sungguh luar biasa bahkan selama ini diantara kita berdua tiada kesempatan saling bergebrak, mari-mari, malam ini merupakan kesempatan baik yang susah ditemukan. Silahkan Kauwtju memberi petunjuk."

Boe Beng Tok-su mendengus dingin selagi ia hendak menyahut mendadak salah seorang anak buah datang berbisik .

"Lapor Kauwtju Pouw siangtju ada disini."

Pada mulanya Boe Beng Tok-su kelihatan rada tertegun. akhirnya dengan gusar ia meraung.

"Dia berada dimana?? Cepat tangkap dirinya."

Orang itu segera putar badan dan berlalu, Siauw Giok jing yang mendengar ucapan itu dengan sangat jelas hatinya jadi cemas, dengan cepat ia putar badan pedang Lam Beng Kiamnya laksana sambaran kilat berkelebat lewat kedepan.

Walaupun orang itu adalah salah seorang jago lihay yang paling diandalkan didalam perkumpulan Sin Beng Kauw tetapi mimpi pun ia tidak pernah menyangka apabila Siauw Giok Tjing yang berdiri didepan Boe Beng Tok-su bisa melancarkan serangan sedemikian cepatnya.

baru saja ia berseru keget, Siauw Giok Tjing telah membentak keras pedang Lam Beng Kiamnya menembusi dada orang itu dan tanpa berteriak lagi orang itu roboh binasa diatas tanah.

Buru-buru Siauw Giok Tjing cabut keluar pedangnya, darah segar muncrat memerah.

Pada saat itulah dari belakang tubuhnya menyambar datang serentetan hawa pedang yang dingin bagaikan orang gila Boe Beng Tok-su menerjang kedepan.

Pedang hitamnya laksana serentetan jaringan pedang mengurung datang.

Melihat datangnya serangan Siauw Giok Tjing segera menggetarkan pedang Lam Beng Kiamnya menciptakan serentetan bunga pedang untuk mengunci datangnya serangan, sedang badannya mundur tiga langkah kebelakang, bentaknya keras;

"Kauwcu, tunggu sebentar! bagaimana pun malam ini aku harus merasakan bagaimanakah kelihaian dari ilmu pedang hitammu ini. Cuma, aku ingin bertanya kepadamu, mengapa kau begitu benci dengan Pouw Siauw Ling?"

"Pouw Siauw Ling sebagai anggota Sin Beng Kauw berani coba membunuh kauwtjunya, orang semacam ini tak boleh diampuni lagi". Siauw Giok Tjing tertawa dingin.

"Heeh...heeh...heeh . .kauwtju, perkataanmu sama sekali salah besar!"

Serunya.

Suhumu Tjhiet Tji Tauw Tuo serta suhu dari Pouw Sauw Ling, Suo Kut Mo Pian telah saling mengikat permusuhan sedalam lautan sejak dahulu, kalau mereka bersumpah tidak akan hidup bersama Sudah tentu saja waktu mereka saling bertempur Pouw Sauw Ling harus membelai gurunya, inilah yang dinamakan berbakti pada sang guru, Tidak bisa kau cap dirinya sebagai penghianat!"

Boe Beng Tok-su kontan sirap hawa amarahnya seraya menggetarkan pedangnya membentuk serentetan cahaya pedang.

"Jika demikian adanya apakah tindakannya lah yang benar?"

"Sudah tentu dia yang benar,"

Siauw Giok Tjing pun mulai naik pitam "Kini aku hendak serahkan dirinya kepada adiknya, maka dari itu aku peringatkan kepadamu.

Jika kau berani mengganggu barang seujung rambutnya pun aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu.

Terus terang saja kuberitahu, apa yang telah terjadi di dalam perkumpulan Sin Beng Kauw serta beberapa besar kekuatan yang kalian miliki sudah kuketahui bagaikan melihat jari tangan sendiri.

Seluruh rencanamu tak bakal lolos dari perhitunganku."

Sembari berkata pedang Lam Beng Kiamnya digetarkan membentuk selapis cahaya merah, sambungnya lebih lanjut.

"Kauwcu, aku lihat luka yang kau derita bekas terkena pukulan Kiem Tou belum sembuh benar-benar, bila sungguh-sungguh bergebrak didalam lima puluh jurus saja kemungkinan kau masih bisa bertahan, tapi setelah lewat jumlah itu kau bakal kalah total. Apalagi karena bentrokan serta gebrakan yang dipaksakan, maka luka yang belum sembuh akan kambuh lagi sehingga lukanya akan sepuluh kali lebih hebat. Aku menasehati dirimu lebih baik segera lepaskan pedang dan mengundurkan diri kepegunungan yang sunyi, sejak ini tidak mengganggu kaum Bu-lim lagi. Asalkan kau suka menyanggupi permintaanku ini sudah tentu akan kuberikan satu jalan hidup untukmu."

Boe Beng Tok-su yang mendengar ucapan ini saking khekinya seluruh wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat. Ia mendongak tertawa seram.

"Budak busuk yang tidak tahu diri, kau ingin paksa aku lepaskan pedang? haah... haah. .haah . .kau anggap aku bisa menurut perkataanmu dengan demikian saja? Terus terang saja kuberitahukan kepadamu Pedangku ini adalah pemberian dari suhuku tempo dulu Sebelum memperoleh perintah dari suhuku siapapun jangan harap bisa paksa aku buang pedang". Melihat ketentuan orang itu, Siauw Giok Tjing mulai berpikir didalam hatinya. 'Agaknya aku harus turun tangan dengan kekerasan!' "Kauwtju, ucapanku ini adalah bermaksud baik untuk pribadimu sendiri, akupun sudah dapat menduga apabila kau tak mau mendengar. Baiklah, setelah kau berhahil menerima limapuluh jurus seranganku. akan kuberitahukan satu persoalan padamu."

Mendengar gadis itu hendak memberitahukan suatu urusan kepadanya, sepasang mata Boe Beng Tok-su melotot bulat-bulat.

"Urusan apa???"

"Terima dulu kelimapuluh jurus seranganku!"

Bentak Siauw Giok Tjing keras-keras.

Pedang Lam Beng Kiamnya di getarkan sehingga membentuk selapis bayangan pedang yang menyilaukan mata menghajar dada lawan.

Boe Beng Tok-su tidaK mau mengalah, pedang hitamnya balas digetarkan menerima datangnya serangan lawan.

Boe Beng Tok-su mendengus berat, sepasang pundaknya sedikit bergerak mengundurkan diri sejauh lima depa kebelakang, wajahnya yang selalu dingin kini makin pucat.

Sedangkan Siauw Giok Tjing pun buru-buru tarik kembali pedangnva untuk diperiksa apakah gumpil atau tidak.

Setelah mendongak kembali ia mulai melancarkan serangan gencar meneter pihak lawannya, kali ini ia menggunakan jurus serangan lihay dari Beng san-pay dalam sekejap mata delapan jurus sudah dikerahkan.

Tetapi Boe Beng Tok-su benar-benar bisa dikatakan sebagai seorang ahli didalam penggunaan ilmu pedang, dengan tenang ia hadapi serangan-serangan musuh.

setiap menjumpai jurus dihancurkan dengan jurus pula selembar wajahnya yang pucat pasi kini pulih kembali seperti sediakala, bahkan senyum pun mulai menghiasi wajahnya.

Siauw Giok Tjing yang melihat desaknya yang gencar sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ditengah kalangan, didalam hati kembali berpikir.

"Jelas ia masih bisa mempertahankan diri, aku harus ganti cara bertempur,"

Mendadak permainan ilmu pedangnya berubah dari gerakan yang sangat cepat berganti dengan gerakan yang sangat lambat.

setiap jurus dilancarkan dengan mengerahkan hawa murni yang dimilikinya.

khusus ia tunjukkan untuk menghajar ujung pedang Boe Beng Tok-su.

Baru saja permainan pedangnya berubah Boe Beng Tok-su telah waspada, air mukanya telah berubah hebat.

seluruh perhatian dipusatkan untuk menghadapi lawan dan sedikitpun tak berani berlaku ayal.

Terutama sekali di dalam menghindari bentrokan-bentrokan kekerasan dengan ujung pedang Siauw Giok Tjing yang tajam.

Setelah Siauw Giok Tjing berhasil menemukan titik kelemahan dari Boe Beng Tok-su, serangannya semakin ganas memaksa Kauwtju dari perkumpulan Sin Beng Kauw ini harus menggunakan gerakan badan yang lincah untuk mengimbangi gerakan lawan.

Dalam sekejap mata tiga puluh jurus sudah lewat.

Melihat pihak lawan belum berhasil juga dirubuhkan Siauw Giok Tjing mulai naik pitam, cahaya pedang di perketat bersamaan itu pula telapak kirinya mengeluarkan sejurus ilmu pukulan Sian Hong Tjiang.

Boe Beng Tok-su yang belum sembuh dari lukanya terhajar oleh pukulan Liem Tou, saat ini tak berani menerima datangnya serangan dengan kekerasan, setiap kali ia harus meloncat ataupun berkelit dari bentrokan-bentrokan kekerasan Hingga tiba pada suatu saat secara tiba-tiba gadis she Siauw mengirim sebuah ilmu pukulan Sian Hong Tjiang-hoat bersamaan pula pedang Lam Beng Kiamnya menyambar datang Buru-buru Boe Beng Tok-su menyingkir kesamping, pedang hitamnya dibalik membabat lengan gadis tersebut.

Dengan cepat Siauw Giok Tjing mundur selangkah kebelakang pedang Lam Beng Kiamnya diayun setengah jalan.

"Kauwtju kali ini kau menderita rugi!"

Bentaknya keras.

Ujung pedang laksana sambaran kilat meneter lebih kedepan, untuk kedua kalinya sepasang ujung pedang itu saling bentrok dengan nyaringnya sehingga menimbulkan percikan bunga-bunga api.

Boe Beng Tok su segera merasakan darah panas didalam rongga dadanya bergolak, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat hampir saja ia roboh terjungkal keatas tanah.

Ia tahu luka dalamnya kembali kambuh, tapi dengan paksakan diri ia mempertahankan diri.

Siapa sangka pada saat itulah ilmu pukilan Sian Hong Tjiang yang dilancarkan Siauw Giok Tjing tadi telah menyambar lewat dari belakang punggungnya.

Menanti ia menyadari akan datangnva serangan dari belakang untuk menghindar sudah terlambat satu langkah.

"Braaak!"

Pundaknya kontan terkena hajar dengan telaknya.

Tak kuasa lagi Boe Beng Tok-su muntah darah segar badannya mundur dua langkah kebelakang dengan sempoyongan, menggunakan pedang hitamnya ia coba mempertahankan badannya sehingga tidak sampai roboh keatas tanah.

Setelah mengetahui pihak lawan tidak sanggup untuk bergebrak lagi, Siauw Giok Tjing pun mengundurkan diri kesamping, kedua orang anggota Sin Beng Kauw yang melihat kauwcunya terluka, dengan cepat maju menghampiri untuk membimbing bangun dirinya, tetapi dengan penuh kegusaran Boe Beng Tok-su telah mendorong mereka kebelakang.

"Minggir!"

Teriaknya keras.

"Tapi ...kauwcu, lukamu sangat parah!"

"Minggir, minggir! siapa yang suruh kalian ikut campur."

Boe Beng Tok-su semakin gusar lagi.

Kedua orang anggota Sin Beng Kauw itu terpaksa lepas tangan dan mundur tiga langkah bebelakang.

Diatas wajah Boe Beng Tok-su yang pucat pasi tiba-tiba berkerut, agaknya ia sudah teringat akan sesuatu hal.

Sinar mata yang sayu perlahan-lahan menyapu sekejap wajah kedua orang itu, kemudian dengan nada lemah katanya .

"Kiem siangtju, Than siangtju berpalinglah kesana !"

Kedua orang siangtju itu kelihatan tertegun, tetapi perintah dari sang Kauwtju tak terbantahkan terpaksa mereka berpaling juga.

Dengan tenang Siauw Giok Tjing memperhatikan semua gerak-gerik Boe Beng Tok-su, dilihatnya orang itu tarik napas panjang seraya memandang langit nan gelap dengan mata mendelong.

Sekonyong-konyong....

Cahaya hijau berkelebat lewat diiringi suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

"Aku terpaksa harus berbuat begini."

Terdengar ia berseru.

Batok kepala kedua orang itu siangcunya sudah terbabat putus sehingga mengelilingi diatas tanah, darah segar bagaikan sumber mata air menyembur ke udara dan menggeletaklah dua sosok mayat tak berkepala itu diatas genangan darah mereka sendiri.

Lama...lama sekali perlahan-lahan ia baru putar badan memandang wajah Siauw Giok Tjing dengan pandangan mendelong sinar matanya penuh diliputi kesedihan, mendendam serta benci "Masih ada perkataan apa lagi yang belum habis kau ucapkan??

cepat katakan !"

Bentaknya keras.

Melihat sinar mata yang begitu menggidikkan kepingin sekali gadis she Siauw membereskan dirinya didalam sekali tusukan sehingga untuk selamanya ia tak dapat berbuat kejahatan lagi.

Tetapi sewaktu melihat wajahnya telah digenangi dengan air mata, ia jadi tidak tega.

"Lepaskan pedangmu!"

Ujarnya halus.

"Karena hanya inilah satu-satuaya jalan kehidupan untukmu. Tetapi Boe Beng Tok-su masih melototi gadis itu dengan pandangan mendelong, wajahnya bergetar dengan mimik yang mengenaskan. Pedang pemberian suhu sampai mati tak akan kulepaskan!"

"Jikalau suhumu sudah tak ada dikolong langit lagi??"

Sambung Siauw Giok Tjing sambil tertawa ringan.

Mendadak sepasang kaki Boe Beng Tok-su jadi lemas.

badannya gontai hampir-hampir saja roboh keatas tanah.

SeteTah berpikir sebentar, wajahnya mulai jadi tenang kembali.

"Kau jangan coba mengibul apakah dia orang tua sungguh-sungguh "

Ucapan selanjutnya sudah tidak jelas lagi, kacau balau tidak karuan, , Selagi Siauw Giok Tjing siap hendak berbicara, mendadak angin dingin menyambar lewat.

Tahu-tahu Liem Tou sipahlawan kita sudah berdiri disana dengan angkernya.

Siauw Giok Tjing kegirangan setengah mati, sebaliknya Boe Beng Tok-su dengan andalkan pedangnya sebagai pengganti tongkat mundur tujuh delapan langkah kebelakang.

Terdengar pemuda she Liem mendengus dingin.

"Aku sudah mencari dirimu disekitar beberapa ratus li, tidak disangka ternyata kau berada disini!"

Serunya. Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Boe Beng Tok-su.

"Engkoh Liem jangan bunuh dirinya,"

Tiba-tiba Siauw Giok Tjing mencegah.

"Ia sudah terluka parah, tiada bertenaga lagi baginya untuk berbuat sesuatu."

Liem Tou tidak menggubris ucapan gadis itu, ia melanjutkan langkahnya mendekati Boe Beng Tok-su "Engkoh Liem, ia sudah bersiap sedia akan lepaskan pedang mengundurkan diri dari dunia kangouw mengapa kau mengharuskan ia mati???"

Kembali Siauw Giok Tjing berteriak. Liem Tou merandak sebentar lalu tertawa dingin.

"Heee .. heee. ..hee. melepaskan pedang apa gunanya??? sebelum ia suka menyerahkan kitab Pek Tok Toh nya maka orang ini masih bisa berbuat keonaran dan meninggalkan bencana dikemudian hari."

"Aaakh. !"

Sehabis mendengar ucapan tersebut gadis she Siauw baru berseru tertahan, ia tidak pernah berpikir sampai hal itu.

"Kauwtju! segera teriaknya keras.

"Terus terang kuberitahu kepadamu, gurumu telah bertempur mati sewaktu melawan Suo Kut-mo-pian dilembah Boe Beng Kok, cepat lepaskan pedang dan serahkan kitab pusaka Pek Tok Toh kemudian berlalulah! kalau tidak mungkin engkoh Liem sungguh-sungguh akan membinasakan dirimu."

Sampai detik inilah Sang Kauwtju dari perKumpulan Sin Beng Kauw tak berkutik lagi.

ia hanya jatuhkan diri berlutut kearah Barat dan angguk anggukkan kepalanya berulang kali.

Setelah bangun berdiri katanya penuh ketegasan;

"Liem Tou, apabila kau ingin membinasakan diriku cepatlah turun tangan."

Dengan sikap jumawa ia mendongak ke angkasa, sedikitpan tidak menunjakan rasa jerih.

"Kauwcu. kau tak boleh berbuat demikian."

Cegah Siauw Giok Tjing dengan nada keras.

"setelah aku melepaskan satu jalan hidup untukmu mengapa kau malah tidak mau terima?? dengan kepandaian silat yang kau miliki, saat ini, asalkan bisa lemparkan kesesatan kembali kejalan yang benar. maka dalam kalangan Bu-lim kau tentu bakal menerima satu nama yang dikagumi."

Boe Beng TOK SU tidak memperdulikan ucapan dari Siauw Giok Tjing. hanya teriaknya kepada Liem Tou dengan suara keras.

"Liem Tou, kau mau turun tangan membunuh atau tidak??"

Liem Tou tetap berdiri ditempat semula sambil melototi wajahnya, ia sama sekali tak berkutik. Lama sekali Boe Beng Tok-su menanti, tapi akhirnya ia menghela napas sedih.

"Liem Tou, bila malam ini kau tidak membinasakan diriku maka dikemudian hari kau bakal menyesal!!"

Sesudah melirik sekejap wajah Siauw Giok Tjing. dari dalam sakunya ia ambil keluar se

Jilid kitab yang tebal bersama-sama dengan pedang hitamnya dibuang keatas tanah, lalu putar badan tanpa menoleh lagi berlalu dari sana dan lenyap ditangan kegelapan.

Menanti bayangan dari Boe Beng Toksu lenyap dari pandangan, Liem Tou serta Siauw Giok Tjing baru berpaling kearah kitab pusaka Pek Tok Toh serta pedang hitam yang menggeletak diatas tanah.

"Tjing-moay! ujar Liem Tou memecahkan kesunyian.

"Tindakan ini bukaakah sama halnya melepaskan harimau pulang ke gunung?? menanti ia munculkan dirinya lagi, mungkin kita bukan tandingannya."

"Liem Tou kau jangan mengucapkan kata-kata itu"

Teriak Siauw Giok Tjing penuh kegusaran.

"Jika kau menyesal, kenapa tidak kau bunuh sekalian orang itu sewaktu ia belum pergi tadi?? setelah melepaskan dia pergi, seharusnya jangan kau ucap kata-kata macam begini lagi."

Liem Tou membungkam dalam seribu bahasa, ia berbongkok memungut kembali pedang hitam itu, setelah dipandangnya sebentar ia memuji.

"Pedang bagus, pedang bagus., sungguh sebilah pedang bagus". Ia memandang pula kearah kitab pusaka Pek Tok Toh tersebut mendadak pedang hitam yang dicekalnya berkelebat berulang kali menusuk kitab tadi sehingga hancur berantakan.

"Barang macam begini ditinggalkan dalam kolong langit hanya bisa mencelakai orang saja. lebih baik aku musnahkan saja."

Untuk menolong Siauw Giok Tjing tidak sempat lagi, ia hanya bisa menghela napas panjang seraya menegur.

"Apa gunanya kau hancurkan kitab tersebut sehingga musnah??? Kauwtju telah hapalkan seluruh isi kitab tadi masak-masak dan bila ingin digunakan hanya tinggal tarun tangan belaka, apa gunanya menggunakan kitab ini lagi?? jika kau membiarkan ia tetap bertahan mungkin sekali di kemudian hari kita masih bisa gunakan cara racun melawan racun untuk memusnahkan dirinya, eei. kenapa kau begitu keburu napsu?"

Liem Tou yang telah berbuat salah kini berbuat salah lagi hatinya merasa sangat kecewa.

"Baik-baik, hitung-hitung aku yang salah, Lebih baik kau tak usah menegur diriku lagi. Eei, dimana Pouw Sauw Ling? apakah ia masih ada??"

Siauw Giok Tjing mengangguk.

ia simpan kembali pedang Lam Beng Kiamnya dan membawa Liem Tou menuju ke arah bawah pohon dimana kedua ekor kudanya ditambat.

Tampak Pouw Sauw Ling masih berada diatas punggung kudanya, Siauw Giok Tjing segera melepaskan tali les kudanya yang sebuah diserahkan ketangan Liem Tou.

"Mari kita pergi, malam ini kemungkinan besar masih bisa menginap dikota Boen Tjing, besok pagi segera berangkat menuju ke kota Ie Djan. Aaah, kali ini kau harus pergi ke gunung Tjing Shia dahulu."

"Kau tidak ikut pergi??"

Mendengar ucapan tersebut sang pemuda berseru.

"Apa gunanya aku pergi kesana??".

"Kau harus pergi kesana, jika Wan-moay tahu kau tidak ikut hatinya tentu tidak tenang. Apalagi selama setahun ini harus menyusahkan dirimu kaupun seharusnya pergi beristirahat, tentang soal menghadapi Thian Pian Siauwtju serta menolong Hong Susiok biarlah aku berangkat kesana bersama Wan-moay serta Giok djie."

"Baiklah."

Akhirnya gadis itu mengangguk.

"Biarlah aku pergi bantu Oei-heng membangun kembali perusahaan Tjing Liong Piauw-kiok disamping menantikan beritamu. Mari kita pergi."

Demikianlah Siauw Giok Tjing serta Liem Tou segera melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Ie Djan dengan menempuh dibawah hujan gerimis.

Diatas sungai yang lebar sebuah sampan laksana kilat meluncur kemuka mengikuti arus sungai yang deras.

Diatas sampan terbanglah tiga ekor burung rajawali yang berkaok-kaok tiada hentinya.

Mendadak dari atas sampan meluncur lewat sepuluh titik hitam mengarah ketiga ekor burung elang tadi.

Sang burung elang bersama-sama berkaok dan menyambar kearah bayangan tadi dengan kecepatan luar biasa.

Tak sebuah hitampun yang akhirnya jatuh kembali keatas permukaan, semuanya lenyap tak berbekas Kiranya titik-titik hitam tadi bukan lain adalah sepulun potong daging yang segera dilalap habis oleh ketiga ekor burung elang itu, Bersamaan itu pula dari atas sampan terdengar suara tepuk tangan serta sorakan memuji yang gegap gempita, seorang bocah perempuan dengan suara yang merdu berseru.

"Paman Liem, kepandaianmu sangat lihay tapi untuk saling berebut daging dengan rasa-rasanya belum tentu menang. bukankah begitu?"

Diatas sampan itu duduk tiga orang, mereka adalah Liem Tou sigadis cantik pengangon kambing serta Giok djie.

Saat ini mereka bertiga dengan menunggang sampan sedang bergerak kearah Timur menuju kelautan Timur untuk mencari Tian Pian Siauwtju serta menolong si perempuan tunggal Touw Hong Terdengar Liem Tou segera tertawa "Jikalau aku sama sekali tidak becus untuk mengalahkan ketiga ekor binatang berbulu itu, lalu apa gunanya kau mengatakan kepandaianku sangat lihay."

"Engkoh Liem. kau jangan bergurau lagi."

Si gadis cantik pengangon kambing ikut tertawa.

"Kau telah melepaskan Boe Beng Tok-su, dan cabang-cabang Sin Beng Kauw yang tersebar dimana -mana belum menderita kerugian apa2. apakah kau berani tanggung mereka tidak akan munculkan dirinya kembali?"

Liem Tou menggeleng.

"Boe Beng Tok-su merasa kepandaiannya tidak becus sekali dan munculkan dirinya kembali juga percuma saja. Apalagi Tjhiet Tji Tauw Tuo baru saja mati sehingga ia kehilangan kekuatan yang menyokong dirinya jelas ia tak akan berani munculkan dirinya kembali".

"Tetapi. kau pun harus tahu sekalipun markas besar Sin Beng Kauw berhasil dipukul hancur tetapi kantor-kantor cabangnya masih melanjutkan berbuat jahat agaknya ia masih belum tahu apabila markas besar mereka sudah kau obrak-abrik." .

"Soal ini memang bisa dirasakan benar, paling sedikit harus ada orang untuk memberitahukan urusan ini kepada mereka,"

Setelah berpikir sebentar Liem Tou mengangguk.

"Cuma. setelah kepergian Boe Beng Tok-su malam itu, ia tentu punya rencana baru lagi. Menurut pandanganku lebih baik kita tinggalkan jalan air menempuh jalan darat saja disamping menyeliki urusan ini. Menurut perhitunganku apalagi cabang-cabang Sin Beng Kauw dipelbagai tempat telah bubar maka ini bisa diduga dibalik hal tersebut masih tersembunyi sesuatu, tetapi jikalau ia pergi dengan begitu saja maka ini berarti apabila ia sudah kecewa dan putus asa..."' "Engkoh Liem, otakmu sungguh cermat, baiklah. Kita akan segera mendarat."

Sewaktu Liem Tou hendak menggerakan sampannya menepi, mendadak dari arah depan muncul sebuah perahu yang memmuat seorang pemuda berbaju putih.

Dari tempat kejauhan Liem Tou dapat mengenali kembali bila orang itu bukan lain adalah Boe Beng Tok-su.

Segera serunya kepada sigadis cantik pengangon kambing;

"Wan-moay coba kau lihat, bukankah orang itu adalah Boe Beng tok-su?? bila di tinjau dari pakaiannya yang dikenakan berwarna putih, terang ia sudah bubarkan diri sebagai kauwtju perkumpulan Sin Beng Kauw. Entah apa maksudnya mengenakan baju putih ini adalah menandakan apabila ia sudah tobat dari perbuatan jahatnya dan kini kembali kejalan yang benar atau sebaliknya"?' "Bagus sekali. benar-benar dia orang adanya!"

Sela Giok djie pula dari samping.

"Biar aku perintahkan burung-burung elangku untuk patuk buta sepasang matanya." ' "Giok djie, jangan ceroboh!"

Bentaknya Liem Tou segera. Si gadis caritik pengangon kambing yang melihat kemunculan Boe Beng Tok-su dengan terang terangan, hatinya mulai curiga, pikirnya.

"Dikolong langit mana mungkin ada peristiwa yang begitu kebetulan?? Jelas pada mulanya ia sudah menyelidiki dahulu jejak kita kemudian baru sengaja memapaki. ."

Dengan suara rendah ia segera kasih peringatan kepada diri Liem Tou.

"Engkoh Liem, hati-hati apabila ia sedang menggunakan siasat. Seharusnya pada saat seperti ini ia bersembunyi di gunung atau alam yang sunyi, dan kini sebaliknya ia malah menyongsong kita. dibalik hal tersebut tentu ada hal-hal yang tidak beres. Kita jangan sampai kena tertipu!"

Liem Tou mengangguk.

"Aku rasa dalam keadaan seperti ini ia tak bakal bisa main setan dengan kita, cuma, bilamana ia sudah tahu tujuan kepergianku kaii ini dan ia keburu bekerja sama dengan Thian Pian siauwtju maka hal ini merupakan tanda bahaya bagiku tapi sekarang kita masih bisa menghadapinya kau boleh berlega hati!"

Kedua buafh sampan itu makin lama makin mendekat, saat itulah Liem Tou dapat menangkap wajah Boe Beng Tok Su penuh diliputi keseriusan, alisnya berkerut dan matanya berkilat.

Sikapnya amat jumawa, dingin dan gagah mendatangkan perasaan kagum dihati semua orang.

Walaupun terang-terangan ia dapat melihat perahu yang ditumpangi Liem Tou sekalian bergerak mendekat, tetapi ia tetap tak menggubris maupun berbicara, hanya sepasang matanya melototi diri Liem Tou tajam-tajam.

Perahu dengan cepatnya bergerak hingga jaraknya tinggal seratus tombak saja, apabila salah satu tidak menyapa terlebih dahulu maka perahu itu tentu akan berlalu lewat dari sisinya.

Liem Tou pertama-tama yang tak dapat menahan diri.

ia segera berteriak menegur.

"Orang yang berada diujung perahu sebelah depan benarkah Kauwtju dari perkumpulan dari Beng Kauw, Boe Beng Tok-su adanya??? tidak kusangka dunia sesempit ini, dimanapun kita selalu berjumpa."

Mendadak Boe Beng Tok-su mengebutkan ujung bajunya mengirim satu pukulam kosong keatas permukaan sungai, perahu yang sedang meluncur datang seketika itu juga menjadi perlahan.

Liem Tou pun dengan gerakan yang sama melancarkan satu pukulan ketengah sungai, perahu yang ditumpangi ikut menjadi perlahan.

Pada sast itulah Boe Beng Tok-su buka suara berseru.

"Liem Tou, jangan kau sebut aku sebagai Kauwtju lagi. perkumpulan Sin Beng Kauw telah musnah di tanganmu, kini markas kami tinggal puing-puing yang berserakan."

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya.

"Cuma saja, walaupun perkumpulan Sin Beng Kauw telah musnah tetapi dendam diantara kita berdua belum selesai. kau harus membayar kerugianku ini dengan suatu nilai yang jauh lebih besar."

Liem Tou bergidik mendengar ucapan itu, kemudian tertawa tergelak.

"Haaahh...haaaaahh.. .Sun Tji Si. aku lihat kau sedang bermimpi disiang hari bolong, setelah kau ketahui bahwa kepandaian silatmu tidak becus, mana mungkin bisa kau tuntut balas dendam tersebut?? terus terang saja kuberitahu kepadamu' dengan dosa yang keu perbuat selama setahun ini ber-sama2 perkumpulan Sin Beng Kauswmu sekalipun belum bisa menebus dosa sebesar ini, bilamana buktinya aku masih teringat akan ucapan yang pernah diutarakan Tjing-moay, ingin sekali aku cabut jiwamu."

Air muka Boe Beng Tok-su sangat hambar sedikitpun tidak kelihatan adanya perubahan.

"JUstru inilah letak kebodohanmu, karena itu kau bakal mendatangkan bencana kematian buat dirimu sendiri" . Suara gelak tertawa Liem Tou semakin keras lagi.

"Haaaahh...haaahh,,.sungguh menggelikan, kau lagi mengigau di siang hari bolong, ayoh cepat katakan kau hendak membinasakan diriku dengan cara apa?? terus terang saja kuberitahu kepadamu, aku Liem Tou adalah seorang manusia yang tidak mempan terhadap tusukan pedang maupun bacokan golok, tidak hancur terbakar api dan tidak tenggelam ditelan air, sekali pun kau hendak menggunakan cara membokong juga percuma saja,"

Bibir Boe Beng Tok-su tampak bergerak-gerak tapi tak kedengaran sedikit suara pun tidak usah diragukan lagi ia tentu semasih sedang marah sehingga sukar ditahan tapi kini ia berusaha untuk mengendalikan sendiri.

Beberapa saat kemudian ia baru berkata dengan nada dingin.

"Liem Tou, asalkan kau ingat-ingat perkataanku itu sudah cukup, sebelum aku menemui ajalnya pasti akan datang kemari untuk menuncut balas dendam sedalam lautan ini. Sepuluh tahun, dua puluh tahun masihi belum terlambat, bahkan lima puluh tahun kemudian pun belum terlalu lama pokoknya kau tunggu saja saatnya!"

Liem Tou yang mendengar perkataan itu hatinya mulai merasa tidak tenang, karena selama ini apa yang telah diucapkan Boe Beng Tok-su selalu dilaksanakan.

Kendati begitu air mukanya masih tetap tenang-tenang saja.

"Itu terserah kepadamu sendiri, tetapi sebelumnya aku ada pertanyaan yang hendak kutanyakan padamu, apakah istana-istana cabang perkumpulan Sin Beng Kauw sudah pada bubarkan diri??"

"Soal ini kau tak usah kuatir lagi, setelah aku bukan menjadi kauwcu lagi, sudah tentu perkumpulan Sin Beng Kauw telah lenyap dari kalangan Bu-lim."

"Itulah dia."

Kata Liem Tou seraya mengangguk, air mukanya berubah membesi.

"Bukankah kau ingin menuntut balas terhadap aku orang she Liem, nah! Silahkan turun tangan. setiap saat aku akan menantikan kedatanganmu, tapi bila kau berani membunuh seorang manusia yang tak berdosa .heeee .. heeee.. terus terang kuberitahu kepadamu, kau jangan harap bisa hidup lebih lama lagi dikolong langit."

Ketika Liem Tou menyelesaikan pembicaraannya sampai disitu, mendadak dari tengah udara berkelebat datang tiga titik bayangan hitam yang menyambar kearah Boe Beng Tok-su dengan kecepatan laksana sambaran petir, ia segera merasa keadaan tidak beres.

Tapi waktu sudah terlambat ketiga sosok titik hitam tersebut dalam sekejap mata telah menubruk keatas tubuh Boe Beng Tok-su.

"Sun Tji i! hati-hati."

Bentak sang pemuda she Liem keras-keras.

Bersamaan dengan suara bentakan tersebut ia mengirim sebuah angin pukulan yang santer menghadang jalan pergi ketiga ekor burung elang tersebut.

Siapa nyana ketiga ekor burung elang yang sudah lama memperoleh didikan keras dari Thian Pian Siauw tju, memiliki kegesitan yang sangat luar biasa.

Dimana angin pukulan Liem Tou menyambar lewat, dua ekor diantara ketiga ekor burung elang tersebut kena terpukul pental sejauh lima, enam tombak dari tempat semula.

Sebaliknya burung elang terakhir yang tidak terkena sambaran aDgin pukulan mendadak terbang menukik beberapa tombak lebih kebawah.

Angin pukulan menyambar lewat dari sisi badannya, dan dalam sekejap mata itulah burung tersebut berpekik nyaring.

Paruhnya yang runcing dan kuat bagaikan baja langsung menutul mata sebelah kiri dari Boe Beng Tok-su.

Boe Beng Tok-su jadi gelagapan setengah mati, tahu-tahu mata kirinya terasa amat sakit sehingga tak kuasa lagi ia menjerit ngeri.

Bersamaan itu pula tangannya menyambar kedepan dengan tepat menangkap tubuh burung elang tersebut dengan kalap badan burung itu dibetoti kedua arah yang berlainan.

"Kraak!"

Seketika itu juga burung elang yang besar dan kuat kena dibetot Boe Beng Tok-su sehingga robek menjadi dua bagian, usus serta isi perutnya muncrat keluar di iringi semburan darah segar, matilah burung tersebut seketika itu juga.

Boe Bang Tok-su yang kesakitan saat ini merasa benci dan mendendam, tubuhnya gemetar keras dengan penuh kemurkaan teriaknva serak.

"Liem Tou, tidak kusangka manusia macam kaupun bisa turun tangan sekeji ini untuk membokong diriku. terhitung jagoan gagah macam apakah kau?? Baik! kita lihat saja akhirnya, pada suatu hari kau akan menyesal dengan perbuatanmu ini hari."

Liem Tou tak bisa berbuat apa-apa, ia berdiri termangu-mangu ditempat semula. Ketika itulah suara dari Giok djie kembali berkumandang datang.

"Paman Liem. terhadap manusia penuh dosa macam dia sekalipun dibunuh mati juga tak perlu disesali, bila tidak sekarang juga kita lenyapkan bangsat itu dari muka bumi, apakah kita sengaja tinggalkan dirinya untuk membalas dendam kepada kita dikemudian hari??"' Liem Tou tersentak kaget dan tersadar kembali dari lamunannya setelah mendengar teriakan tersebut, ujarnya penuh kegusaran.

"Giok djie! kau jangan banyak ikut campur dalam urusan ini. Perkataan seorang lelaki sejati selamanya tak perrah ditarik kembali setelah aku menyanggupi untuk biarkan ia hidup lebih lanjut apakah kau suruh aku jilat kembali ludah yang telah kukeluarkan??? kau perempuan cilik tahu urusan apa???"

"Paman Liem! kau berbuat demikian bukankah sama artinya mendatangkan bencana buat diri sendiri."

Teriak Giok djie kembali, agaknya iapun dibikin mendongkol.

"Jikalau kau diganti dengan Thian Pian Siauwtju. maka selamanya ia belum pernah memberi kesempatan bagi musuhnya untuk melancarkan pembalasan. apakah kau tidak mengerti pepatah yang mengatakan babat rumput seakar-akarnya untuk lenyapkan bencana dikemudian hari???."

Liem Tou yang kena terdesak semakin gusar lagi dibuatnya.

"Giok djie! jika kau berani bicara sepatah kata lagi, aku segera akan bertindak tidak sungkan-sungkan lagi kepadamu."

Ancamnya penuh kemarahan.

"Secara bagaima boleh bandingkan aku dengan Thian Pian Siauwtju?? dia adalah manusia macam apa? dia adalah seorang iblis sasat."

Pada dasarnya Giok djie memang seorang gadis berwatak keras, mendengar ancaman itu ia makin mendongkol.

"Tidak salah, dia adalah seorang iblis sesat tetapi siapa yang bilang dari tubuh seorang iblis sesat tak dapat kita contoh kebaikannya??"

Kembali bantahnya.

Pada saat itu air muka Liem Tou sudah berubah hijau membesi, padahal yang sebetulnya Liem Tou sendiripun bukannya tidak tahu, melepaskan Boe Beng Tok-su dari kematian merupakan suatu perbuatan yang tolol!

tetapi justru kesalahan terletak pada janji yang pernah ia ucapkan sendiri, setelah salah ia bersikeras untuk melanjutkan kesalahan tersebut, dan kebetulan waktu itulah Giok djie mengorek-korek rahasia hatinya, tidak aneh jikalau ada hawa gusar yang terpendam dalam hatinya kontan meledak.

Sigadis cantik pengangon kambing dapat melihat seluruh peristiwa ini dengan sangat jelas, karena ia takut percekcokkan antara Liem Tou dengan Giok djie makin lama semakin membesar, ia segera menukas dari samping.

"Boe Beng Tok-su sudah lama berlalu, apa gunanya kalian bercekcok terus menerus?? setelah kejadian jadi begini terpaksa kita harus berbuat mengikuti keadaan. Ayoh! kita harus segera melanjutkan perjalanan. aku rasa setelah kali ini Boe Beng Tok-su menderita Kekalahan hebat bahkan kehilangan sebuah mata kirinya sejak kini ia tak dapat berbuat apa-apa lagi!"

Mendengar ucapan tersebut Liem Tou serta Giok djie sama-sama mendengar, sedikitpun tidak salah tampak oleh mereka berdua Boe beng Tok-su dengan menunggang perahu sampannya ketika ia sedang melarikan diri ketengah sungai kemudian menyeberangi dan menepi ditepian seberang.

Setelah melihat pihak musuh melarikan diri Liem Tou melirik sekejap kearah Giok djie lalu menghela napas panjang.

"Aiaai..coba kau lihat dia! betapa risihnya manusia macam orang itu, semoga saja sejak ini hari ia bisa melepaskan kesesatan kembali kejalan yang benar dan baik-baik jadi manusia, bila ia bisa berubah pendirian aku Liem Tou dengan hati gembira akan membantu dirinya."

Giok djie yang mendengar ucapan tersebut dari samping kalangan segera mendengus berat.

Liem Tou termangu mangu, setelah termenung sejenak ia baru meresapi bahwa tindakan Giok djie tadi sebenarnya adalah bermaksud baik.

ia segera berjalan menghampiri dia menepuk-nepuk pundaknya.

"Giok djie. kau jangan menyalahkan paman Liem mu!"

Ujarnya dengan nada yang halus.

"Terus terang kukatakan bahwa ucapanmu memang cengli dan bukannya aku tidak mengetahui, cuma setelah kujanjikan akan melepaskan sebuah jalan hidup buat dirinya, bagaimanapun juga aku tak bisa menjilat kembali ludahku sendiri. bila aku pungkiri apa yang telah kujanjikan maka tindakan ini bukan tindakan seorang lelaki sejati. kau mengerti maksudku bukan??? tadi. sebenarnya aku tidak patut marah-marah dengan kau, eku rasa kau sudah tidak menyalahkan diriku lagi bukan?"

Giok djie mengerling sekejap ke arah Liem Tou, mendadak ia tertawa cekikikan dan melengos.

Melihat sikap gadis cilik ini, dalam hati Leim Tou tahu ia sudah tidak menyalahkan dirinya lagi, segera ia bertepuk tangan memerintahkan para pengemudi perahu untuk menjalankan kembali sampan itu melanjutkan perjalanan.

Ketika matahari lenyap dibalik gunung, mereka telah keluar dari keresidenan Tsuan Ching.

Setelah melewati karesidenan Auh Wan dan Su kurang lebih tiga, empat hari maka simpan itu tiba di Lautan Timur Setelah sampan berada ditengah lautan timur yang luas, beberapa orang itu menemukan sebuah samudra yang luas tidak kelihatan ujung pangkalnya.

Liem Tou baru kebingungan kemana mereka harus pergi mencari diri Thian Pian SiauWtju???

Sekalipun mereka tahu Thian Pian Siauwtju tinggal diatas sebuah pulau kecil tapi di arah sebelah mana letak pulau kecil itu??

Tidak kuasa lagi Liem Tou bertanya kepada diri Giok djie.

"Kini kita sudah berada di Lautan Timur, tahukah kau Thian Pian Siauwtju tinggal di sebuah pulau kecil yang berbentuk seperti apa??"

"Aku hanya tahu diriku datang dari tengah samudra luas, tentang diarah manakah pulau kecil itu. aku sendiri juga bimbang dan kebingungan!. ,"

Jawab Giok djie dengan alis berkerut. Mendengar jawaban tersebut kontan semangat Liem Tou mendingin separoh, pikirnya.

"Samudra demikian luasnya dengan empat penjuru tiada bertepian. jikalau ia tidak tahu diarah sebelah manakah Thian Pian Siauwtju berdiam, apakah suruh aku membawa sampan ini mengarungi seluruh penjuru samudra??? bila demikian adanya sampai bulan dan tahun yang keberapa aku baru dapat menjumpai Thian Pian Siauwtju?? semisalnya sungguh-sungguh harus berbuat demikian, bukankah Hong susiok sudah keburu mati tersiksa olehnya?"

Setelah berpikir sejenak. tiba-tiba suatu pikiran cerdik berkelebat dalam benaknya.

"Giok djie, kau sudah banyak tahun berdiam diatas pulau kecil yang jauh letaknya dari daratan, tidak aneh kalau kau tidak mengetahui diarah sebelah manakah pulau itu terletak. Tapi tahukah kau diatas pulau tersebut mempunyai sesuatu ciri-ciri khas yang mudah diingat??"

"Di segala penjuru pulau kecil itu banyak terdapat batu-batu karang."

Jawab Giok djie dengan cepat.

"Burung-burung elang baik yang besar maupun yang kecil semuanya dipelihara diantara gua-gua karang tersebut. bahkan diseluruh pulau dipenuhi dengan tumbuhan pohon Lie Hoa, setibanya bulan tiga atau bulan empat bunga Lie Hoa mekar diempat penjuru, pemandangannya sangat indah sekali. Inilah keistimewaan dari pulau kecil itu."

"Aaah! Kalau begitu pulau tersebut bernama pulau Lie Hoa To?"

Giok djie segera mengangguk.

"Kemungkinan benar, tetapi ia belum pernah mengungkap nama pulau tersebut". Dalam benaknya Liem Tou segera mengambil keputusan, kepada Giok djie serta si gadis cantik pengangon kambing ujarnya.

"Aku rasa disekitar tepi lautan ini tentu banyak penduduk yang hidup disana sebagai kaum nelayan penangkap ikan, malam ini kita menginap disebuah rumah nelayan tersebut sekalian mencari tahu letak dari pulau Lie Hoa To ditambah pula sampan yang kita tumpangi sekecil ini mana mungkin bisa digunakan untuk keluar lautan? kita harus berganti dengan sebuah perahu besar untuk mengarungi samudra, entah bagaimana merurut pendapat kalian ?"

Si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Djie sudah tentu tak ada perkataan lain mereka membungkam dalam seribu bahasa.

Mendadak Liem Tou taringat kembali akan kemampuan dirinya untuk berenang didalam air, jikalau menggunakan sebuah sampan kecil untuk melakukan perjalanan bukankah gerakannya akan jauh lebih cepat dan gesit dalam penyelidikan letak pulau Lie Hoa To tersebut?

"Aakh..benar.

biar aku gunakan sampan kecil untuk menyelidiki terlebih dahulu kemudian baru bicara soal yang lain."

Pikir pemuda she Liem itu dihati.

Tetapi ia tidak sampai mengutarakan ke luar maksud hatinya ini.

demikianlah mereka bertiga dengan menumpah sampan kecil itu mendarat disebuah tepi pantai desa kaum Nelayan.

Melihat mnnculnya tiga orang manusia asing didesa tersebut, kaum nelayan penduduk disekitar sana jadi tercengang dan keheran-heranan, karena dalam dusun tersebut jarang sekali dikunjungi oleh orang asing.

Ketika Liem Tou melihat datang dari dusun Nelayan tersebut sangat miskin.

dan jumlah perempuan jauh lebih banyak dari kaum lelaki.

dalam bhati lantas berpikir;

"Kaum perempuan jelas tidak pernah keluar lautan untuk tangkap ikan, dari mulut mereka tidak mungkin bisa ditanyakan letak dari pulau Lie Hoa To tersebut, lebih baik aku pergi mencari sebuah keluarga yang kelihatannya rada kaya saja untuk berdiam sementara waktu,"

Setelah mengambil keputusan dalam hatinya ia lantas bertanya kepada seorang nelayan.

"Saudara, entah rumah siapa dalam dusun ini yang agak longgar dan dapat menampung kami bertiga untuK sementara waktu???"

Nelayan itu tidak langsung menjawab. ia melirik wajah Liem Tou, sigadis cantik pengangon kambing serta Giok djie lalu berpikir sejenak.

"Entah ada urusan apakah Khe-koan harus berdiam selama beberapa hari dalam dusun ini???"

Akhirnya ia bertanya.

"Urusan penting sih tidak ada, kami hanya ingin mencari tahu apakah disekitar lautan ini ada sebuah pulau kecil yang bernama Lie Hea To??" . Kembali Nelayan itu berpikir kembali mengeleng.

"Disekitar Lautan Timur sebelah sini hanya ada sebuah pulau Tauw Hoa To saja, belum pernah aku dengar nama pulau Lie Hoa To. Koan djien! mungkin kau salah mendengar!"

Serunya.

"Salah sih tidak mungkin salah lagi, atau mungkin karena kecilnya pulau ini sehingga kalian tidak begitu memperhatikan. Aaaakh? benar, aku ingin menanyakan satu hal lagi. Pernahkah kalian melihat beribu-ribu ekor burung elang yang terbang berbareng melewati tempat ini? jikalau pernah menjumpainya, masih ingatkah kau dari arah sebelah manakah mereka munculkan diri?"

Pertanyaan ini kontan membuat nelayan itu berdiri melongo dengan mata terbelalak keheranan lama sekali ia baru berseru.

"Pertanyaan yang Koan-djien ajukan sungguh lucu sekali , . cuma, pada suatu ketika agaknya pernah terjadi peristiwa macam ini.. coba biar aku berpikir sebentar... Aaakh-benar, agaknya peristiwa ini terjadi dua tahun berselang, agaknya pernah ada beribu-ribu ekor burung elang kecil maupun besar berbareng terbang lewati lempat ini. sedang dari arah menakah mereka datang aku kurang begitu ingat, pokoknya mereka datang dari tengah Lautan."

Mendengar kabar berita itu Liem Tou kegirangan setengah mati, buru-buru ia mengucapkan terima kasih kepada si nelayan tersebut. Sang Nelayan pun tertawa.

"Koan-djien! bilamana aku ingin mengetahui keadaan tersebut lebih jelas lagi lebih baik pergilah kedusun sebelah Utara untuk menjumpai Tjiau Toa pek. dia adalah Kepala kampung dusun ini dan banyak urusan yang ia ketahui". Sembari berkata nelayan itu menuding ke arah rumah kediaman Tjiau Toa pek yang dimaksudkan. Liem Tou segera ucapkan terima kasih, dengan membawa serta sigadis cantik pengangon kambing serta Giok djie mereka berangkat menuju kedusun sebelah Utara. Ditengah perjalanan si gadis cantik pengangon kambing tak dapat menahan rasa ingin tahunya lagi ia bertanya.

"Aku lihat sewaktu tadi kau mendengar pernah ada burung elang yang lewati tempat ini, wajahmu lantas kelihatan begitu gembira. sebenarnya apa sebabnya??".

"Usalkan kau pikir persoalan ini lebih cermat maka kau segara akan mengetahui alasan-alasannya"

Jawab Liem Tou setelah memandang sekejap gadis tersebut.

"Burung-burung elang tersebut terbang lewat tempat ini. ini berarti mereka sedang melakukan perjalanan dari pulau Lie Hoa To menuju kegunung Tjing Shia. asalkan kita bisa mengetahui arah gunung Tjing Shia yang tepat kemudian mengikuti arah kebalikannya pergi mencari, aku rasa tidak sulit untuk menemukan dimanakah letak pulau Lie Hoa To tersebut. coba kau pikir betul tidak???"

Baik si gadis cantik pengangon kambing mau pun Giok djie setelah mendengar ucapan tersebut jadi kegirangan seten gah mati.

Tidak lama kemudian mereka telah tiba didusun sebelah Utara, Kiranya Tjiau Toa pek yang di maksudkan berdiam disebuah bangunan rumah yang dikelilingi oleh pepohonan bambu yang hijau dan tumbuh sangat rapi, jelas tempat itu di atur dengan cermat sekali sehingga di pandang dari luar tempat itu tenang.

bersih dan menyenangkan.

Liem Tou segera mengetuk pintu dan berseru keras;

"Tempat inikah rumah kediaman dari Tjiau Toa pek??"

Dari dalam ruangan rumah.

"Yaya lagi keluar laut tangkap ikan, ada urusan??"

Belum selesai suara itu bergema Liem Tou mimpipun tidak menyangka orang yang keluar hanya seorang bocah cilik berusia delapan.

sembilan tahun dangan perbatasan pagar bambu ia mengalihkan separang matanya yang kecil dan jeli untuk perhatikan Liem Tou beberapa orang.

"Ooouw..sungguh bagus dan bersih wajah bocah ini,"

Tidak kuasa Liem Tou berseru memuji setelah melihat bocah kecil tersebut, Tidak lama pintu pagar dibuka dan bocah tadi munculkan diri untuk memberi hormat.

"Kalian bertiga tentu tamu-tamu yang datang dari tempat kejauhan, untuk mencari yayaku ada urusan apa? sebentar lagi yaya akan pulang dari laut."

"Engkoh cilik, usiamu masih sangat muda tapi banyak urusan yang telah kau ketahui, sungguh hebat ! Sungguh mengagumkan."

Puji Liem Tou sambil tertawa.

"Kami datang ke sini hanya ingin menyambangi yayamu belaka dan sebetulnya tak ada urusan yang penting. bolehkah kami duduk di dalam?"

Buru-buru si bocah cilik itu membuka pintu pagar mempersilahkan Liem Tou bertiga masuk kedalam.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Liem Tou melangkah masuk, tampak olehnya pintu jendela bersih dari debu.

ruang tamu diatur dengan perabot yang sederhana tapi menarik, sedikitpun tidak mirip rumah kediaman seorang nelayan !

Teringat pula akan kecepatan gerak sang bocah sewaktu melongok keluar pagar tadi, diam-diam pemuda she Liem ini ambil perhitungan didalam hatinya "Tentu rumah ini adalah kediaman seorang pendekar silat yang tidak suka menampakkan kepandaiannya jelas mereka bukan kaum nelayan biasa ."

Pikirnya dihati. Karena berpendapat demikian timbullah hasrat Liem Tou untuk menyelidiki urusan tersebut dari mulut sang bocah yang sedang menghidangkan air teh".

"Engkoh cilik!"

Ujarnya sambil tertawa.

"Kau berdiam diri disini hanya dengan yayamu saja?? dimana Tia mu???"

Air muka sang bocah kontan berubah hebat sewaktu mendengar pertanyaan dari Liem Tou ini. tetapi dengan cepat ia sudah berubah tenang kembali.

"Soal ini aku sendiri juga tidak tahu. sejak aku mengerti urusan aku telah hidup berdua bersama yaya seorang bahkan iapun belum pernah membicarakan persoalan ini dengan diriku, harap suka memaapkan. bolehkah aku menanyakan nama besar dari Koei-khek (Tamu terhormat)?? Menanti Yaya pulang dari laut akupun bisa beritahu kepadanya sehingga tidak perlu Koei-khek repot-repot menperkenalkan diri lagi."

Melihat cara serta sikap bocah ini berbicara Liem Tou segera menyadari bahwa bocah cilik ini bukan saja mengerti urusan bahkan sangat terlatih.

Selagi Liem Tou hendak memberikan jawaban, mendadak terdengar Giok djie sudah berebut berkata.

"Aakh! kulihat usiamu masih sangat muda kenapa sikapmu begitu pakai aturan sehingga bikin orang kurang leluasa melihatnya, nah? biarlah aku yang beritahukan urusan ini kepadamu. Dia she Liem bernama Liem Tou, sedang aku bernama Giok djie. sekarang aku? siapa namamu?" , Sembari berkata Giok djie bersuit nyaring, kearah luar pintu. dua ekor elang raksasa dengan cepat segeta meluncur masuk ke dalam ruangan dan hinggap di atas kedua belah pundak Giok djie.

"Giok djie ! kenapa kau begitu nakal?"

Tegur Liem Tou sewaktu melihat kecerobohan si gadis tersebut."

Bukankah usiamu jauh lebih tua daripada dirirya??

coba kau lihat bocah ini sungguh tahu kesopanan".

Bocah itu hanya tertawa ringan.

ia melirik sekejap keatas wajah Giok djie kemudian memandang ke dua ekor burung elang itu dengan cermat, beberapa saat kemudian mendadak ia bertanya.

"Kau benar bernama Gok djie?"

Siapa yang lagi membohongi dirimu ??"

Seru Giok djie cemberut, ia merasa sedikit diluar dugaan dengan pertanyaan tersebut. Bocah itu menelan air liur, ujarnya ragu-ragu.

"Aku bernama Tjioe..."

Siapa nyana belum selesai ia berkata mendadak dari pintu luar berkumandang datang suara teguran seseorang dengan suara yang berat dan mantap.

"Cucuku, kau lagi bicara dengan siapa? apakah rumah kita telah kedatangan tetamu?"

Mendengrr suara tersebut bocah lelaki itu segera menubruk ketempat luaran.

"OOUW ..yaya kau sudah kembali!"

Teriaknya keras.

"Benar, rumah kita telah kedatangan tiga orang tetamu. mereka datang dari tempat kejauhan !"

Buru-buru Liem Tou bangun menyambut kedatangan orang yang disebut "Yaya"

Oleh bocah cilik itu.

Dari luar pintu berjalan masuk seorang nelayan tua yang telah berusia lima enam puluh tahunan, pada pundaknya ia menjinjing sebuah jaring ikan yang besar, dandanannya tiada berbeda dengan nelayan-nelayan lainnya.

Tapi sewaktu sinar mata mereka berdua saling berbentrok satu sama lainnya, seketika ke dua orang itu sama-sama dibikin melengak.

Terang orang ini bukan seorang manusia biasa, kenapa ia bisa berdiam ditempat ini?"

Pikir Liem Tou dihati. Siorang tua itu sendiri setelah memandang sekejap wajah Liem Tou, dengan wajah penuh dihiasi dengan senyuman, ujarnya.

"Aaaaakh...! aku si orang tua tidak tahu akan kedatangan tetamu terhormat harap di maafkan ! harap dimaafkan !"

"Tidak berani!"

Seru Liem Tou seraya menjura.

"Cianpwee terlalu banyak adat justru seharusnya Kamilah yang minta maap karena dengan lancang telah mengganggu ketenangan Loocianpwee!"

Orang tua itu mendongak memperdengarkan suara gelak tertawa yang nyaring dan lantang, mendadak sinar matanya berkelebat dan melototi sepasang burung elang yang hinggap diatas pundak Giok djie dengan pandangan melotot.

iem Tou yang dapat melihat sikap aneh dari siorang tua itu timbullah rasa curiga dalam hatinya.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi??"

Pikirnya dihati.

"apakah burung elang ini mempunyai hubungan yang erat dengan kakek serta cucunya itu??"' Dihati ia berpikir demikian sedang diluaran ujarnya.

"Tjayhe datang kemari menyambangi Cianpwee, tentu Cianpwee merasa tercengang dan heran atas kedatangan kami bukan?? padahal kami tidak ada urusan penting lainnya. tjayhe bertiga kecuali ingin minta ijin kepada cianpwee untuk berdiam beberapa hari disini, disamping itu tjayhe pun ingin minta keterangan akan letak sebuah pulau kecil. entah dapatkah cianpwee mengetahuinya!"

Mendengar ucapan tersebut Tjiau Toa pek Siorang tua itu mendongak kembali tertawa tergelak.

"Tju-wi adalah tamu terhormat yang datang dari tempat kejauhan, asalkan aku si orang tua tahu tentu akan kami beritahu sejelas-jelasnya. sedangkan mengenai tempat tinggal aku si orang tua merasa bangga karena kalian suka berdiam disini, hanya gubuk kami kotor mungkin tidak menyenangkan hati kalian. .!"

"Mana..mana..mana, terlebih dahulu tjayhe ucapan banyak terima kasih atas kemurahan hati cianpwee!"

Ujar Liem Tou ambil tersenyum.

"Pulau kecil yang ingin tjayhe cari bernama Lie Hoa To, tahukah cianpwee akan letak pulau tersebut??", Mendengar disebutkannya nama pulau itu kontan Tjiau Toa pek kerutkan keningnya. Belum sempat ia berkata si bocah cilik cucunya yang berada di samping sudah berteriak terlebih dahulu.

"Ooouw..pulau Lie Hoa To, ada. .. ada."

Mendadak air muka Tjiau Toa pek berubah hebat.

"Tjioe djie, apa yang kau ketahui? cepat pergi siapkan santapan, sekalian masak beberapa ekor ikan segar untuk menghormati tetamu."

Kena ditegur Tjioe djie membungkam dan segera putar badan berjalan masuk kedalam. Setelah sang bocah masuk kedalam. Tjieu Toa pek baru berpaliag kearah Liem Tou.

"Tolong tanya siapakah nama besarmu?"

"Boanpwee Liem Tou."

Jawab sang pemuda berterus terang.

Secara samar-samar dari sepasang mata Tjiau Toa pek memarcarkan cahaya berkilat tapi hanya sebentar saja sudah lenyap kembali.

Hal ini semakin menambah tebal rasa curiga Liem Tou dalam hatinya, ia pertinggi kewaspadaannya.

Terdengar Tjiau Toa pek tertawa terbahak-bahak.

"Haaa... haa ..haa... aku si orang tua perrah mendengar berita bahwa dari daerah Tionggoan telah muncul seorang pendekar kerbau hijau yang bernama Liem Tou, apakah Koei-khek adalah si Tjing Gouw Hiap khek?"

Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut dengan pandangan yang tidak leluasa ia pelototi wajah sang pemuda tajam-tajam.

"Tidak berani, gelar itu hanya pemberian kawan-kawan dunia kongouw kepada tjayhe belaka."

Kata Liem Tou tertawa.

"Padahal kepandaian tjayhe peroleh hanya ilmu silat kaki tiga belaka, mana berani menerima gelar sebagai seorang Hiap-khek? bila pandanganku tidak melamur justru locianpweelah seorang Tjianpwee dari Bu-lim, tjayhe masih mengharapkan banyak petunjuk dari diri tjianpwee !"

"Haa...haaa... haa..seorang kakek tua yang hidup tergantung dari menangkap ikan mana boleh disebut seorang Bu-lim tjianpwee?"

Sekali lagi Tjiau Toa Pek tertawa tergelak.

Melihat si orang tua itu tidak suka menerangkan asal usul sendiri Liem Tou merasa tidak enak untuk mendesak lebih lanjut.

Waktu itu ketika Giok djie mendengar apa yang diucapkan kedua orang itu makin lama makin menjauh dan sama sekali tidak menyinggung-nyinggung soal pulau Lie Hoa To lagi, hatinya merasa sedikit tidak sabaran, diam-diam ia bangun berdiri dan menyelinap masuk kedalam bilik.

Tampak olehnya Tjioe djie seorang diri sedang menanak disana.

Giok djie segera berjalan menghampiri.

"Heei...! aku lihat wajahmu ada sedikit kukenal"

Tegurnya. Tjioe-djie memandang pula sekejap kearah gadis itu kemudian mengagguk.

"Akupun demikian, agaknya aku pernah berjumpa dengan dirimu, benarkah kau bernama Giok djie?"

Pertanyaan yang sekali lagi diulang Tjioe djie ini membuat Giok-djie jadi kaget dan tercengang.

"Mengapa kau selalu saja menanyakan namaku?"

Tegurnya.

"Karena aku merasa pernah mendengar nama ini!". GioK-djie tertegun, ia berpikir keras tapi hasilnya tetap nihil karena itu tanyanya kembali.

"Eeei, . pulau Lie Hoi To yang tadi kau katakan sebetulnya terletak dimana??".

"Ditengah lautan! dahulu Yaya sering membawa aku pergi kesana, ditempat itu banyak terdapat burung-burung elang tapi setelah aku menjadi besar. yaya tidak pernah mengajak aku pergi kesana lagi'".

"Apakah yayamu tidak suka membawa kau pergi kesana??"

"Aku tidak tahu, yaya belum pernah mengungkap persoalan tersebut sampai kesoal ini". Giok-djie membungkam. sejurus kemudian mendadak ia teringat akan satu persoalan. tiba-tiba tanyanya;

"Kau pernah berlatih ilmu silat??"

Lama sekali Tjioe-djie melototi dirinya, akhirnya ia mengangguk.

"Pernah!"

Jawabnya lirih.' Tapi yaya melarang aku beritahu urusan ini kepada orang lain, kau jangan katakan kepada orang lain lho!"

"Aku tahu, dan sekarang kau harus harus beritahu kepadaku dimana letak pulau Lie Hoa To tersebut !"

Kembali Tjioe-djie berpikir kemudian ujarnya lirih.

"Bukankah tadi kau mendengar sendiri apa bila yaya sedang marah kepadaku? agaknya ia tidak perkenankan diriku untuk beritahu letak pulau tersebut kepada kalian, apa maksudmu mencari tahu letak pulau Lie Hoa To?"

Giok-djie yang makin melihat makin menaruh simpatik terhadap bocah ini, sekarang sama sekali tidak mengelabuhi dirinya.

"Kami hendak pergi mencari seseorang, kepandaian silat yang ia miliki luar biasa lihaynya dan dahulu aku mengikuti dirinya."

Sahutnya setengah berbisik.

"Aaakh. sekarang aku teringat sudah, bukankah ramamu Tjioe Leng Tju ?"

Sepasang mata Tjioe-djie yang terbelalak semakin melebar lagi. ia pelototi diri Giok-djie tak berkedip.

"Eeei..benar! darimana kau bisa tahu??"

Serunya terkejut bercampur tercengang.

"Ooouw..tidak kusangka kau adalah Tjioe Leng Tju."

Waktu itu Giok-djie sendiripun pun rasa kaget dan melengak.

"Aku adalah enci Giok mu. sewaktu berada diatas pulau Lie Hoa To kita hanya pernah berjumpa dua kali, tapi begitu kujumpai dirimu aku lantas suka padamu kau sangat baik dan penurut! kejadian itu mungkin telah berlangsung lima tahun berselang, bukankah waktu itu kau berdiam didalam rumah putih yang ada diatas pulau, bagaimana sekarang bisa berada disini??". Jilid-53 Liem Tou kepulau Lie Hoa To. AKU SUDAH tidak lagi semua urusan ini. Oouw...enci Giok ! maukah kau beritahu kepadaku tentang hal itu??". Dengan adanya penemuan ini perasaan hati Giok djie semakin tertekan lagi, ia menggeleng.

"Aku sendiripun tak dapat menceritakan persoalan itu. cuma bila dugaanku tidak salah kau seharusnya adalah putra Thian Pian Siauwtju coba lihat! potongan wajahmu sangat mirip sekali dengan dirinya."

"Thian Pian Siauwtju?? siapa itu Thian Pian Siauwtju, aku belum pernah mendengar nama orang ini !"

Sewaktu mereka sedang bercakap-cakap dengan asyik.

mendadak dari luar jendela dapur Tjioe djie menemukan adanya bayangan putih yang berkelebat lewat, tak kuasa lagi dengan seluruh tenaga yang ada dia berteriak.

"Yaya kau dimana! Coba kau lihat dari luar jendela agaknya ada bayangan manusia sedang berkelebat lewat."

Teriakan tersebut seketika membuat hati Liem Tou tergetar bayangan hijau berkelebat lewat tahu-tahu ia sudah melayang keluar kamar dan sekali enjotkan badan berdiri diatas atap rumah.

dimana sinar matanya berkelebat mendadak dari tempat kejauhan ia temukan adanya sesosok bayangan putih sedang berlari menjauh.

Bila ditinjau dari potongan badan mau pun caranya berlari tak usah diragukan lagi Liem Tou dapat mengenali sebagai potongan badan Boe Beng Tok-su.

tidak kuasa lagi ia menggerutu didalam hati.

"Kurang ajar, sungguh orang itu bernyali berani mengikuti aku sampai disini!"

Dengan hati gemas Liem Tou segera meloncat turun kebawah.

"Benar-benar ada orang??"

Buru-buru si gadis cantik pengangon kambing menegur.

"Benar!"

Liem Tou mengangguk.

"Kembali simanusia yang tidak tahu diri itu."

"Siapa ??"

Tanya Tjiau Toa Pek secara tiba-tiba dengan sinar mata berkilat.

"Aku Tjiau Toa pek seharusnya merasa bangga bisa mendapat kunjungan begitu banyak kawan."

"Tjianpwee kau jangan marah, Cayhe telah membawa datang kerepotan buat diri Tjianpwee, bila dibicarakan sebetulnya orang ini mempunyai nama besar yang sangat terkenal, dia adalah Sin Beng kauwtju yang bernama Boe Beng Tok-su. Tjianpwe! pernahkah kau mendengar nama orang ini? "

Seluruh tubuh Tjiau Toa Pek tergetar keras setelah mendengar nama orang itu, wajahnya kelihatan begitu ketakutan.

"Sin Beng kauwtju? Siapa yang tidak tahu nama besarnya? Aduuh celaka, jika ia betul-betul datang habislah sudah..."

Melihat sikap siorang tua yang berpura-pura Liem Tou diam-diam tertawa dingin tiada hentinya.

"Kendati aku Liem Tou lebih tak becus pun masih dapat melihat apabila kau pandai bersilat."

Pikirnya dihati.

"Mungkin kepandaianmu tidak berada di bawah ilmu silat Boe Beng Tok-su apa gunanya kau perlihatkan sikap yang berpura-pura macam ini?"

Hingga detik inilah Liem Tou tahu Tjiau Toa pek yang berada di hadapannya saat ini kemungkinan besar mempunyai hal-hal yang tidak cocok dan berdiri pada posisi berlawanan dengan dirinya, teringat akan hal ini Liem Tou pun tidak sungkan-sungkan lagi.

"Kedatangan cayhe kali ini ke Timur terus terang saja sebetulnva hendak pergi mencari pulau Lie Hoa To untuk menjumpai Thian Pian Siauwtju, Ke Hong guna menghitung piutang tempo dulu, hanya sayang tidak kami ketahui dimanakah letak pulau Lie Hoa To tersebut, apabila loocianpwee mengetahui letak pulau tersebut harapkan suka memberi petunjuk. Tjayhe tentu merasa sangat berterima kasih sekali."

"Aku si orang tua sudah hidup puluhan tahun lamanya ditempat ini, dan nama pulau Lie Hoa To pernan kami dengar hanya saja arah yang sebetulnya kurang terang. Jikalau thayhiap ada maksud pergi kesana, demikian saja. bagaimanapun ini hari cuaca sudah menggelap, untuk sementara kalian berdiamlah sehari disini besok pagi aku akan bantu kalian pergi mencari tahu letak pulau Lie Hoa To tersebut, tentu aku tak akan bikin thayhiap jadi kecewa."

Liem Tou yang merasa ucapan itu memang rada cengli segera menyanggupi, hanya saja pada waktu itu pemuda kita dapat menemukan air muka Tjiau Toa pek rada sedikit tidak beres, timbullah rasa curiga dalam hatinya.

"Mungkinkah dibalik kesemuanya ini sedang menjalankan suatu siasat licik? Aku harus waspada dan selalu bersiap sedia."

Pikirnya didalam hati.

Ketika itu Giok djie telah berjalan keluar dari dalam dapur, sekalipun ia berhasil mendapat tahu keadaan yang sebenarnya dari Tjioe djie tapi ia gagal dalam mencari tahu letak dari pulau Lie Hoa To tersebut.

Malam itu setelah habis bersantap malam Giok-jie mencari satu kesempatan baik untuk memberitahukan urusan ini pada diri Liem Tou!

"Paman Liem.

aku ingin memberitahukan satu urusan kepadamu, bocah cilik itu pernah kujumpai sewaktu masih berada diatas pulau Lie Hoa To.

Kemungkinan besar dia adalah putra dari Thian Pian Siauwtju!".

"Hakh, dikolong langit mana ada urusan seaneh ini??"

Mendengar perkataan itu mendadak Liem Tou tertawa.

"Ke Hong tidak punya istri, darimana ia bisa punyak anak?"

"Benar, tentang urusan itu aku sendiri pun kurang jelas cuma aku masih ingat bukankah pernah aku bercerita kepalamu apa bila diatas pulau itu terdapat sebuah rumah berwarna putih kecuali siauwtju seorang siapapun dilarang memasuki tempat itu, menurut pemikiran kemungkinan besar istrinya ia sembunyikan disana". Liem Tou tetap menggeleng.

"Persoalan ini tidak mendekati kenyataan aku masih kurang percaya.."

Katanya. GIOK jie langsung mencibirkan bibirnya dengan mendongkol katanya.

"Thian Pian siauwtju justru merupakan seorang manusia yang tidak kenal aturan, apanya yang perlu diherankan??"

Ia segera putar badan menemani sigadis cantik pengangon kambing pergi istirahat.

Liem Tou tetap beristirahat diruang tetamu.tapi mana ia sanggup pejamkan mata?

teringat akan kelihayan dari sikap Tjiau Toa pek tak terasa ia bangun dan duduk bersemedi sebentar.

perlahan-lahan pikiran serta semmgatnya jadi segar kembali Pendengarannva semakin tajam, ratusan tombak disekeliling tempat itu dapat ia dengar dengan jelas bahkan rontoknya setangkai daun keringpun tak bakal lolos dari telinganya.

Pada saat itulah telinganya dapat menangkap suara lari seseorang yang ringan tapi cepat melayang turun dari ratusan tombak jauhnya di luar gubuk tersebut orang itu datang dari tempat luaran.

Liem Tou dapat mendengar suara berkibarnya ujung baju tersampok angin, dalam beberapa kali loncatan saja orang itu sudah berada disamping gubuk tersebut lalu disusul dengan suara sentilan jari mengetuk jendela.

Suara itu berasal dari kamar Tjiau Toa Pek siempunya rumah.

"Oooow . kiranya ia mendatangkan pembantu."

Diam-diam pikir Liem Tou dalam hati. Tidak selang beberapa saat Liem Tou kembali dapat menangkap suara dibukanya sang jendela disusul dengan suara lirih dari sang bocah.

"Yaya kau pergi kemana !"

Kau pergilah tidur?"

Sahut Tjiau Toa pek lirih.

"Disini tak ada urusanmu lagi, dan haruslah kau ketahui persoalan ini sangat menegangkan, setelah kau menginjak dewasa kau bakal tahu sendiri, jikalau besok pagi orang-orang itu bertanya kemana aku pergi, kau harus menjawab aku sedang pergi kedusun untuk mencari tahu letak pulau Lie Hoa To. jangan sekali-kali kau ceritakan persoalan malam ini."

Suasana kembali sunyi senyap. Liem Tou tahu Tjiau Toa pek telah meloncat keluar dari jendela dan kini ia telah berada diluar rumah.

"Asalkan mereka belum keluar dari seratus tombak dari sini, aku tak boleh mengejutkan mereka, aku harus dengar dulu siapa yang barusan datang kemari."

Pikir Liem Tou didalam hati. Sedikitpun tidak salah, kedua orang itu sama-sama berhenti disuatu tempat lima puluh tombak dari ruangan gubuk. Terdengar Tjiau Toa pek berkata.

"Jikalau dugaanku tidak salah, kau pastilah Sin Beng Kauwtju." .

"Ooow.. dia?"

Seru Liem Tou sangat terperanjat didalam hatinya.

"Jika kudengar dari nada ucapannya jelas mereka saling mengenal."

Boe Beng Tok-su tertawa ringan.

"Bila dugaanku tidak meleset, kau dapat mengelabuhi sepasang mata Liem Tou si bangsat cilik itu tapi tak bakal bisa mengelabuhi diriku kau tentu adalah mertua Thian Pian siauwtju yang disebut orang sebagai Siauw Bian Thiat Tjiang atau si Telapak besi berwajah riang Tjiau Thian Kie adanya."

Tjian Toa pek mendengus dingin.

"Tempo dulu kau kirim orang datang untuk mengundang aku masuk perkumpulanmu sekarang apa maumu?? walaupun tempo dulu aku dengan si hweesio tujuh jari Tjhiet Tjie Tauw tuo mempunyai sedikit ikatan persahabatan, tapi akhirnya aku menyesal telah bergaul dengan dirinya. apa maksud kedatanganmu kemari jika kau tidak mau bicara ajoh cepat pergi dari sini." .

"Orang budiman tidak bicara kata-kata sembunyi."

Ujar Boe Beng Tok-su kembali tertawa.

"Tjiau Susiok aku lihat bukankah kau hendak menyeberang kepulau Lie Hoa To untuk mengirim kabar kepada diri Ke Hong?? aku lihat tak berguna usahamu ini, Liem Tou sudah bulatkan tekad dengan taruhan nyawa hendak menjumpai dirinya, cepat atau lambat ia bakal terluka ditangan Liem Tou' apa gunanya kau pergi mengirim kabar buat dirinya?"

"Siapa yang bilang aku mau pergi kepulau Lie Hoa To??"

Seru Tjiau Toa pek gusar.

"Siapa yang mau mengurusi urusan menantu jahanam tersebut?"

"Heee ..heeee. heeee . aku lihat kau sedang bicara lain diluar lain dihati! Walau pun Ke Hong dengan paksa mengawini putrimu bahkan dalam keadaan gusar ia telah menyelesaikan istrinya ditangan sendiri. tapi menantumu sampai akhirpun tetap merupakan menantumu apalagi kau sekarang sudah mempunyai cucu luar!"' Agaknya Tjiau Toa pek telah dibikin gusar oleh ucapan tersebut. ia membentak gusar.

"Kau siluman jahanam. sebenarnya ada urusan apa datang kemari???..."

"Sekarang ku masih belum boleh beritahu hal ini kepadamu, tapi lambat laun kau akan jadi jelas dengan sendirinya. Cuma kau boleh berlega hati, terhadap dirimu aku tidak bermaksud untuk mencelakai, nah sekarang bila kau mau pergi cepatlah pergi, maaf badanku masih menderita sedikit luka yang parah sehingga tak dapat membantu diri Ke hong. tetapi Liem Tou sibangsat cilik itu pada suatu hari pasti akan menemui ajalnya ditanganku. aku bisa bicara pasti bisa melakukannya,"

Terhadap apa yang diucapkannya Sun tji si, agaknya Tjiau Toa pek masih merasa tidak berlega hati. desaknya lebih lanjut.

"Setelah kedatanganmu punya maksud tertentu kenapa tidak cepat kau utarakan? seorang lelaki sejati bisa berbicara bisa berbuat kenapa tidak kau sekalian terangkan?? kemungkinan sekali aku sitelapak besi berwajah riang bisa menyembuhkan dirimu !"

"Urusan yang lain mungkin kau masih bisa menyempurnakan diriku. tapi urusan ini kau pasti tak dapat melakukannya."

Seru Boe Beng Tok-su dengan memperendah suaranya.

"Sekali lagi kuulangi perkataanku kepadamu kedatanganku kemari adalah bermaksud baik. kita sama-sama memperoleh manfaat yang tidak saling merugikan, dan malam ini sekalipun kukatakan kepadamu kau juga tak akan percaya, tapi sepuluh tahun kemudian kau pasti akan berterima kasih sekali kepadaku."

"Sepuluh tahun . .?"

Saking kaget dan tertegunnya Tjiau Toa pek berseru tertahan, Liem Tou dapat mendengar kesemuanya itu dengan sangat jelas.

Kembali Boe Beng Tok-su tertawa diiringi dengan ujung baju tersampok angin ia telah meloncat keluar dari lingkungan seratus iombak dan tidak kedengaran lagi suaranya.

Hingga saat inilah Liem Tou sudah tahu kedudukan yang sebenarnya dari Tjiau Toa-pek bahkan mengetahui pula bila malam ini ia hendak berangkat menuju pulau Lie Hoa To, kesempatan baik susah dipastikan ia segera bangun berdiri dan mengintip dari celah-celah pintu.

Tampak olehnya Tjiau Toa-pek dengan berpangku tangan sedang berjalan bolak-balik diluar pintu pagar.

Tidak usah diragukan lagi ia sedang memikirkan apa maksud kedatangan Boe Beng Tok-su kemari, tujuan orang itu membuat hatinya tidak tenang.

Beberapa saat kemudian ia mendongak, setelah diketahui waktu telah menunjukkan kentongan ketiga hatinya semakm cemas dan gelisah lagi, sepasang telapak tangannya mengepal kencang dan merasa cemas.

Akhirnya ia hentakkan kakinya ketanah kemudian berkelebat menuju kearah tepi lautan.

Melihat orang itu telah berlalu Liem Tou pun enjotkan badannya menerobos keluar dari jendela dan menguntil dari belakang.

Setelah berlarian beberapa ketika, sepasang mata Liem Tou yang bisa melihat sesuatu dengan jalan ditengah kegelapan dapat menemukan munculnya sebuah teluk alam disisi lautan dimana berpuluh-puluh sampan nelayan berlabuh disana.

Tjiau Toa pek langsung berkelebat menuju keteluk itu dengan kecepatan laksana sambaran kilat, Liem Tou yang melihat gerakan tubuhnya segera dapat menduga apa bila tenaga sinkang yang dimiliki orang tua ini telah berhasil mencapai kesempurnaan.

Diam-diam hatinya kegirangan, ia berpikir.

"Asalkan malam ini kau bisa tiba dipulau Lie Hoa To sudah tentu akupun bisa sampai juga."

Tapi iapun tahu jelas.

asalkan membiarkan ia melepaskan perahunya untuk berangkat ketengah lautan kemudian baru melakukan pengejaran dari belakang maka tindakannya ini pasti konangan.

Daripada berbuat demikian ia ambil keputusan untuk mendahului orang tua itu bersembunyi terlebih dahulu dibawah perahunya, setelah ia berangkat bukankah ia bakal ikut??

Ketika ia sudah berhasil mengambil keputusan.

jarak mereka dengan teluk dimana pada berlabuh tinggal seratus tindak belaka.

sedang Tjiau To pek hanya lima puluh tomdak didepan.

Liem Tou dengan kepandaian pemuda ini ia masih sempat mengejar sebelum orang itu menjalankan perahunya.

Dengan cepat badannya berkelebat lewat sejauh tujuh delapan tombak, dalam dua kali loncatan ia telah berada tiga puluh tombak jauhnya lalu dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya ia berputar satu kalangqn besar dan muncul kembali dari arah yang berlawanan dengan Tjiau Toa pek.

Setibanya ditengah teluk tersebut pemuda ini bersembunyi dibalik perahu para nelayan lainnya, dengan demikian Tjiau Toa pek sama sekali tidak menemukan jejaknya.

Pada waktu itu Liem Tou dapat melihat Tjiau Toa pek telah berjalan naik keatas sebuah perahu sampan dengan layar tunggal, diatas sampan tersebut hanya terdapat sebuah barak kecil yang hanya muat untuk menampung seseorang dari curahan hujan, Setelah melepaskan jangkar Tjiau Toa pek siap menjalankan perahunya menuju ketengah lautan.

Melihat keadaan dari sampan tersebut, Liem Tou mulai berpikir didalam hatinya.

"Untuk bersembunyi diatas perahu sampan sekecil ini tanpa konangan rasanya merupakan suatu hal yang mustahil."

Terpaksa secara diam-diam ia turun kedalam air untuk bersembunyi di belakang barisan perahu sampan itu turun dan membonceng dari sana.

Pada dasarnya ilmu berenang dari Liem Tou sangat lihay, setelah berada di dalam lautan ia tidak takut lagi kena didorong oleh ombak lautan yang besar.

Tidak lama kemudian Tjiau Toa pek dengan menggunakan sampan kecil itu telah meninggalkan teluk menuju kelautan bebas.

Suasana diempat penjuru sunyi senyap tak ada sedikit suarapun.

yang terlihat hanya rembulan yang tergantung di tengah awang-awang dan bintang berkelip di tempat kejauhan, angin laut berhembus tajam mendatangkan rasa perih di badan.

Setelah berada ditengah samudra bebas, Tjiau Toa pek bekerja makin keras.

sampan kecil tersebut bagaikan sebuah daun kering saja laksana anak panah yang terlepas dari busur meluncur kearah depan.

Kurang lebih setengah jam kemudian sampan telah berada ditengah samudra yang amat dalam, ombak segulung demi segulung bergelora mendatang membuat perahu sebentar naik sebentar turun.

Sampan itu dimainkan ombak bagaikan sebentar berada diatas puncak gunung sebentar kemudian terperosok kedasar lembah yang dalam sungguh membuat hati merasa bergidik.

Tapi Tjiau Toa pek sebagai seorang nelayan yang kerjanya setiap hari ada ditengah lautan, ombak sebesar itu sama sekali tidak mempengaruhi dirinya.

Kembali setengah jam lewat dengan cepatnya, agaknya Tjiau Toa-pek merasa jalannya perahu terlalu lambat terlihat tangan kirinya mencekal dayung dan tangan kanan mulai mengirim pukulan kosong menghantam permukaan air laut.

Dengan demikian gerakan sang perahu jadi lebih cepat berkali kali lipat, terutama sekali pukulan Tjiau Toa pek yang berat bagaikan hantaman benda ribuan kati ini semakin mempercepat gerakan perahunya.

Liem Tou yang membonceng dibelakang, sembari secara diam-diam memperhatikan arah yang mereka tuju pikirnya dihati.

"Kenapa aku tidak membantu dirinya sehingga bisa lebih cepat tiba dipulau Lie Hoa To ???"

Berpikir secara demikian tanpa berpikir panjang lagi telapak tangannya mengirim sebuah pukulan lunak keatas permukaan, pukulan ini halus dan sama sekali tidak meninggalkan bekas diatas permukaan laut walaupun kekuatannya sangat luar biasa.

Sang perahu kontan saja meluncur kedepan dengan kecepatan bertambah puluhan kali lipat.

Bantuan yang diberikan Liem Tou secara diam-diam ini segera mendatangkan rasa kaget dan tercengang bagi diri Tjiauw Toa pek, terdengar ia bergumam seorang diri.

"Sungguh aneh sekali, perahuku kenapa bisa meluncur dengan kecepatan beberapa kali lipat lebih hebat dari biasa?". Mendengar ucapan itu Liem Tou mengerti dihati Tjiau Toa pek telah timbul perasaan was-was, karena bersamaan dengan berhentinya si orang tua itu mengirim pukulan kosong keatas permukaan laut Liem Tou terpaksa berhenti pula membantu. Dengan demikian setelah perahu itu menerjang puluhan tombak jauhnya kedepan perlahan-lahan jadi lambat kembali. Melihat hal tersebut tak terasa lagi Tjiau Toa pek tertawa geli sendiri.

"Aku sungguh bodoh, buat apa kukhawatirkan hal yang tak berguna, kejadian apa lagi yang bisa menimbulkan keanehan kecuali perbuatan sendiri."

Karena berpikir demikian iapun kembali mengirim pukulan kosong keatas permukaan sehingga Liem Tou dapat membantu pula mempercepat perjalanan yang sedang mereka tempuh.

Perahu bergerak dengan cepatnya dan kentongan keempat pun telah tiba.

Liem Tou yang bersembunyi dibelakang perahu tidak berhasil mengetahui apakah mereka telah tiba dipulau Lie Hoa To atau belum, hanya secara mendadak ia dapat menangkap suara suitan Tjiau Toa pek yang nyaring dan bergema memenuhi seluruh permukaan lautan yang luas.

Suitan panjangnya berkumandang jauh sampai puluhan lie, dimana suara suitan lewat angin pukulanpun kembali menyambar.

"Aah, mungkin sudah hampir sampai pikirnya dalam hati.

"Jelas suara suitan itu ditujukan untuk mengirim kabar ke arah pulau."

Dengan tenaga murninya yang hebat Lim Tou menghantam keatas permukaan air laut.

Siapa sangka justru ketika itulah perahu sedang bergerak dengan kecepatan penuh.

tenaga tekanan dari Liem Tou ini kontan mengangkat sampan tersebut meninggalkan permukaan air setinggi beberapa coen dan menyusup puluhan tombak jauhnya.

Tjiau Toa pek yang ada diatas perahu segera merasakan badannya gontai sehingga hampir hampir saja terlempar jatuh ke dalam laut.

Saat ini ia tak dapat menahan diri lagi segera bentaknya.

"Keadaan pada malam ini sangat mencurigakan, hei siapa yang ada didasar perahu, ayoh cepat munculkan diri untuk berjumpa dengan diriku."' Teguran ini membuat Liem Tou berdesir, pikirnya.

"Pulau Lie Hao To belum kelihatan bayangannya, jikalau jejakku benar ditemukan bukankah usahaku selama ini akan menemui kegagalan??"

Ketika itulah Liem Tou secara mendadak merasakan kaki Tjiau Toa pek bergeser ke arah belakang perahu dan agaknya hendak melongok kebawah perahunya.

Liem Tou gelisah, diam-diam ia menyusupkan diri kedasar lautan sedangkan tangannya mencekal bagian perahu yang berada didasar air.

dengan berbuat demikian maka jejaknya akan terhindar dari pemeriksaan Tjiau Toa pek.

Sedikitpun tidak salah.

Tjiau Toa pek benar-benar bongkokkan badan untuk memeriksa dasar perahu tapi mana mungkin ia temukan bayangan manusia disana?

tak terasa lagi siorang tua ini bergumam seorang diri.

"Sungguh ini hari kutemui setan, kenapa baik perahuku bisa terbang sendiri?? apa mungKin ada ikan hiu raksasa yg lewat dibawah lantas sekalian mengangkat badan perahuku? tapi ...siapa yang mau percaya dengan hal tersebut?"

Sejurus kemudian Liem Tou munculkan dirinya kembali keatas permukaan air laut tanpa menimbulkan sedikit suarapun, ia kuatir benarkah mereka sudah tiba dipulau Lie Hoa To atau belum!

sembari mencekal pinggiran perahu sedikit demi sedikit ia bergeser keujung perahu dan memandang kedepan.

"Aaah... bukankah itu adalah sebuah pulau kecil??' serunya dalam hati. Dihadapan matanya tampak terbentang sebuah palau dengan bukit yang menjulang keangkasa sungguh indah dan megah pemandangannya. Liem Tou kegirangan setengah mati melihat munculnya pulau tersebut. meminjam tertutupnya pemandangan dari arah belakang kedepan oleh sebuah bilik kecil Liem Tou menerobos masuk kedalam perahu dan bersembunyi dibalik bilik tadi. Pada dasarnya perahu itu sudah dibasahi oleh ombak maka walaupun dengan badan basah kuyup ia naik keperahu sama sekali tidak meninggalkan bekas apapun juga. diam-diam ia menghembuskan napas panjang.

"Kenapa tidak sejak tadi aku datangi tempat ini??? tahu begini tak perlu repot-repot badanku terendam air laut selama satu kentongan lebih. Dengan badan capai ia membaringkan diri didalam perahu dan pejamkan mata atur pernapasan. Sedangkan Tjiau Toa pek yang ada diluar satu pukulan demi satu pukulan masih menggerakan perahunya. hanya saja kali ini kendati ia sudah keluarkan seluruh tenaga perahunya tidak juga berhasil bergerak secepat waktu tadi. Tidak lama kemudian perahu sudah menepi dan Tjiau Toa pek pun gerakkan perahunya mendekati pantai teriaknya secara tiba-tiba.

"Ke Hong! Ke Hong! jika kau berada di atas pulau cepatlah datang kemari, aku Tjiau Thian Kie ada perkataan yang hendak disampaikan kepada kamu,"

Walaupun ia sudah berteriak beberapa saat dari atas pulau belum juga kedengaran suara sahutan seorang manusiapun.

Terpaksa ia menjalankan kembali perahunya mengikuti sepanjang pantai dari tempat kejauhan akhirnya ia temukan cahaya lampu' Buru-buru teriaknya kembali.

"Adakah manusia diatas pulau?? cepat datang menjumpai aku Tjiau Thian Kie!"

Suara teriakan ini amat lantang dan nyaring tidak mungkin kalau orang yang ada diatas pulau tidak mendengar suaranya.

Siapa sangka begitu suara tadi meluncur keluar lampu yang semula berkelip-kelip di atas pulau kini padam sama sekali.

Tjiau Thian Kie jadi gusar dan mencak-mencak dengan langkah berat berjalan keujung perahu untuk melemparkan jangkar kelaut sedang ia sendiri meloncat naik ke atas pantai.

Liem Tou yang berada didalam bilik segera ikut bangun untuk menguntil dari belakang tapi belum sempat ia melakukan sesuatu mendadak tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat diatas pantai dan menghadang jalan pergi siorang tua itu.

"Siapa kau?? berani benar kau berteriak-teriak diatas pulau Lie Hoa To."

Tegur orang itu penuh kemarahan.

"Malam ini Siauwtju sedang merayakan hari perkawinannya berani benar kau merusak kesenangannya, ayo cepat menggelinding pergi dari sini !"

Liem Tou yang mendengar Thian Pian Siauwtju sedang kawin hatinya tergetar keras.

Kiranya orang yang barusan datang adalah Thiat Bok Thaysu, agaknya ia sudah kebanyakan meloloh air kata-kata, walaupun pikirannya belum sinting tapi wajahnya tidak sedingin keadaan biasanya.

Tjiau Thian Kie yang mendengar Tjian Pian Siauwtju sedang kawin.

seketika itu meladaklah rasa gusar dihatinya, tanpa banyak berbicara lagi telapak tangannya segera diayun kedepan mengirim sebuah pukulan yang maha dahsyat, Setelah itu barulah bentaknya.

"Budak jahanam itu berani kawin??? kurang ajar ia berani kawin dengan siapa ayoh cepat suruh ia menggelinding keluar menemui diriku!"

Walaupun ilmu pukulan tunggal beracun yang paling diandalkan Thiat Bok Thaysu telah dihancurkan oleh Liem Tou.

tetapi kepandaian yang sebenarnya sama sekali belum hilang.

dengan gesit ia melejit dan mundur beberapa tombak kebelakang.

Dengan demikian ia berhasil menghindarkan diri dari serangan dahsyat Tjiau Toa pek itu.

"Thiau Thian Kie! kau kira aku benar-benar tidak mengenali dirimu lagi?"

Teriaknya penuh kegusaran.

"waktu itu beruntung kau lari terlalu cepat sehingga tidak sampai mati bersama dengan Tjiat Tjie siiblis tua dipuncak Lau Hong selama puluhan tahun kemudian kita berjumpa lagi disini. hal ini sungguh merupakan suatu pertemuan yang amat menggembirakan."

Oleh teguran itu sebaliknya Tjiau Thian Kie yang dibikin melengak, setelah memandang beberapa kejap wajah Thiat Bok Thaysu dengan teliti mendadak ia mendongak tertawa terbahak-bahak.

"Haaa ...haaa. ,aku kira siapa tidak tahunya ialah Thiat Bok-heng. bagaimana kabar Thiat Bok-heng selama perpisahan kita?"

"Tjiau Thian Kie, siapa yang mengaku saudara dengan kau?? mau bergebrak ayoh cepat turun tangan."

Teriak Thiat Bok Thaysu dengan muka masam.

Liem Tou yang menonton kejadian itu disisi kalangan, dalam anggapannya Tjau Thian Kie pasti tak kuat menahan diri dan diantara mereka tentu terjadi suatu pertarungan yang amat sengit, Siapa sangka Thiau Toa pek malah mendongak tertawa terbahak-bahak.

"Thiat Bok-heng, kau jangan salah sangka, aku bukannya takut dan jeri kepadamu justru karena kedatanganku kemari ada persoalan penting yang tak boleh diulur lagi waktunya. mau bergebrak waktu dikemudian hari masih panjang. cepat kau suruh Kie Hong keluar menjumpai diriku, aku hanya akan memberitahukan sesuatu kepadanya kemudian segera balik kembali."

"Hmm, Siauwtju kau boleh menemuinya, tapi kau jangan berpikir untuk pulang lagi dari sini." . Sembari berkata tangannya diayun kedepan melemparkan sebuah benda ke tengah udara. Benda tadi dengan meninggalkan suitan nyaring dan meledak diudara. Dalam pada itu Liem Tou telah menyelinap keluar dari bilik perahu, diam-diam merangkap ketepi pantai dan bersembunyi dibalik semak belukar. Terhadap apa yang terjadi antara Thiat Bok thaysu dengan Tjiau Toa pek ia dapat melihatnya dengan sangat jelas. Tak selang beberapa saat setelah tanda pengenal tadi dilempar ketengah udara, di tengah kegelapan muncullah seorang lelaki berjubah biru yang berjalan lambat-lambat dan limbung dengan didampingi seorang perempuan berusia empat atau lima belas tahunan. Sekali memandang Liem Tou segera mengenali orang itu sebagai Tian Pian siauwtju yang didampingi oleh Kiem djie. Sebelum Thian Pian siauwtju tiba ditengah kalangan, ia sudah berseru menegur.

"Thiat Bok-heng, waktu perkawinan tiba, ada urusan apa kau mengirim tanda memanggil aku datang kemari??"

"Siauwtju belum sadar dari maboknya mana mungkin bisa kawin?"

Kata Thiat Bok Taysu sambil tertawa.

"Apalagi malam ini kita telah kedatangan tamu tak diundang. Aku lihat lebih baik siauwtju kerahkan tenaga sinkang untuk paksa keluar arak tersebut dari badan dan persegar dikit pikiranmu. Aku lihat urusan tak akan segampang itu."

"Haah.,.haah.. haah. .siapa yang telah datang kemari,"

Seru Thian Pian siauwcu sambil tertawa tergelak.

"Kebetulan kedatangannya tepat sewaktu pulau kita sedang merayakan hari perkawinanku.". Beberapa patah kata ini membuat Tjiau Thian Kie naik pitam, ia tak dapat mengendalikan hawa gusar yang bergelora dalam dadanya lagi, sekali loncat ia telah berada disisi Thian Pian siauwtju.

"Ke Hong, aku Tjiau Thian Kie datang memberi ucapan selamat kepadamu."

Teriaknya keras-keras.

"Aku lihat kematianmu sudah berada diambang pintu kau masih mengigau!"

Mendengar disebutkannya nama "Tjiau Thian Kie"

Thian pian siauwtju jadi terperanjat badannya buru-buru mundur tiga langkah kebelakang sedang pengaruh arak pun hilang separuh.

Pada saat itu Thiat Bok taysu telah meloncat ke depan dan menghadang dihadapan Tjiau Thian Kie.

Dengan gusar Si orang tua she Tjiau meraung keras.

sepasang telapak bersama-sama bergerak mengancam seluruh bagian tubuh yang berbahaya diatas badan Thiat Bok thaysu, bersamaan itu pula teriaknya keras.

"Ke Hong, aku bunuh mati dulu Thiat Bok sibajingan tua ini kemudian akan mendatangi pulau ini untuk mencari balas. kau disini masih mabok-mabokan sembari mengigau. siapa yang suruh kau kawin lagi? siapakah perempuan itu? ayoh cepat jawab pertanyaanku!"

Diiringi raungan keras, angin pukulan menderu-deru memenuhi seluruh angkasa.

berturut-turut ia mengirim delapan buah serangan sekaligus.

Thiat Bok Thaysu menderita rugi karena kesepuluh jari tangannya telah putus semua, mana ia bisa melancarkan serangan balasan badannya terdesak hebat dan terpaksa harus menggunakan ilmu meringankan tubuh berkelit kekiri menyingkir kekanan, sama mempunyai kekuatan untuk balas melancarkan serangan.

Melihat kejadian itu Thian Pian Siauwtju segera berteriak keras.

"Mertua yang terhormat, kau salah paham, untuk sementara bagaimana kalau mendengar dulu penjelasan menantumu???"

"Sreet! sreet! sreet!"

Kembali Tjiau Toa pek melancarkan tiga buah serangan gencar kemudian baru menarik diri kebelakang.

"Cepat bicara ."teriaknya gusar.

"Aku sudah tidak mengakui kau sebagai menantuku lagi, bilamana bukan memandang diatas wajah Tjioe Leng Tju saat ini sudah kucabut nyawamu."

Entah mengapa sikap Thian Pian Siauwtju terhadap Tjiau Toa pek amat halus dan menurut, hal ini membuat Liem Tou agak mendongkol dan mangkel.

Tampak Thian Pian Siauwtju dengan sangat hormat kepada orang tua itu ujarnya.

"Gak-hu Thaydjie jangan keburu marah, dengarlah dulu ucapan menantumu, perempuan itu bukan lain adalah susiok dari Liem Tou dan merupakan anak murid Auw Haa Siang Hiap"

Lok Yong tempo dulu. aku berbuat demikian justru ingin menghukum dirinya sehingga selama hidup ia malu untuk menjumpai orang lagi."

"Omong kosong. apa maksud ucapanmu itu??"

Bukannya mereka hawa amarah Tjiau Toa-pek semakin berkobar.

Mau menghukum boleh dibunuh sampai mati, jikalau kau berani menggunakan alasan ini untuk menipu orang .

Hmm!

jangan salahkan kalau aku tak akan mengampuni dirimu lagi."

Sepasang telapak disilangkan didepan dada, agaknya ia akan melancarkan serangan kearah Thian Pian Siauwtju.

Kiem djie yang berdiri disamping suhunya, melihat sikap pihak lawan dengan sebat ia meloncat kedepan sembari melototi diri orang tua itu dengan pandangan gusar.

Tjiau Toa-pek melihat Kiem djie berani mengacau ditengah jalan, hawa gusar tak bisa dikendalikan lagi.

sepasang lengan ditekan kebawah dengan melancarkan sebuah pukulan yang berat bagaikan gunung thay-san membabat tubuh bocah tersebut.

Kiem diie yang berusia sangat muda sama sekali tidak menunjukan rasa jeri barang sedikitpun juga, ia mengempon napas meloncat kedepan.

agaknya dengan keras lawan keras ia akan menerima datangnya angin pukulan tersebut.

Gerakan kedua belah pihak cepat laksana sambaran kilat, sewaktu telapak masing-masing pihak hampir bertemu mendadak terdengar Thian Pian Siauwtju menjerit ngeri.

"Gak-hu Thaydjien! jangan bunuh bocah itu!"

Braak ..

sepasang telapak berbentrok satu sama lain, sekalipun Kiem djie telah memperoleh seluruh warisan dari Thian Pian siauwtju tapi tenaga sinkangnya masih tidak memadahi.

mana ia sanggup menerima datangnya serangan pukulan seorang kenamaan???

terutama sekali pukulan Thiau Thian Kie sebagai sitelapak besi yang amat tersohor???

Walaupun dari bentrokan ini angin pukulan Tjiau Thian Kie sebagian telah tertahan oleh bentrokan tersebut, tapi air muka Kiem djie berubah hebat, badannya mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh di dalam pelukan suhunya.

"Kiem djie. kenapa kau?"

Teriak Thian Pian siauwtju penuh rasa kuatir.

Tampak badan Kiem djie gemetar sangat keras.

kesepuluh jarinya bengkok bagaikan pancingan.

sepasang mata terpejam rapat-rapat dan air mukanya dari pucat pasi telah berubah hijau membiru.

Liem Tou yang melihat peristiwa itu diam-diam Herseru dihati.

"Habis,.. habislah sudah! memang hebat sitelapak besi berwajah riang ini !"

Dugaan Liem Tou tidak salah, setelah seluruh urat nadi dan otot Kiem jie berkerut, ia menjerit ngeri lalu muntahkan darah segar. Bersamaan itu pula pemuda cilik ini berteriak.

"Suhu Kiem djie berangkat dulu!" . Akhirnya ia meronta untuk bangun berdiri sepasang matanya melotot bulat-bulat mengawasi wajah Tjiau Thian Kie sedang sepasang telapak tangannya pelahan-lahan diangkat keatas dengan gaya hendak melancarkan serangan tetapi akhirnya ia muntah darah kembali dan badannya roboh keatas tanah binasa ! Dalam pada itu Thian Pian siauwtju sama sekali dibikin tertegun di tempat itu. ia memandang bodoh wajah Tjiau Thian Kie lalu memandang pula jenasah Kiem djie yang menggeletak diatas tanah.

"Siauwtju, kau telah bikin persiapan??"

Mendadak Thiat Bok taysu menegur dingin. Bagaikan kehilangan pikiran Thian Pian Siauwtju berdiri tertegun ditempat itu, ia tidak bergerak maupun bicara.

"Ke Hong!"

Kembali Tjiau Thian Kie berteriak keras.

"Aku hendak beritahu kepadamu Liem Tou segera akan tiba di pulau ini untuk menuntut balas. Perkataan ku telah selesai dan sekarang aku mau pergi."

Sekali lagi Thiat Bok taysu mendengus dingin Pada saat itulah kesadaran Thiat Pian siauwtju telah pulih kembali. Ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Haah , haah..,baah .. Liem Tou mau datang? bagus, bagus sekali. Justru aku ingin menjumpai dirinya! terima kasih atas pemberitahuan Gak-hu untuk membalas budi ini harap kau tunggu sebentar. aku akan pergi dan segera kembali lagi". Habis berkata ia putar badan dan berlalu. Melihat orang itu pergi, Liem Tou merasa agak kaget, pikirnya.

"Hong Susiok ada disimpannya. Apa maksud Ke Hong pergi dari sini?? apakah ia hendak turun tangan jahat terlebih dahulu terhadap diri Hong Susiok??"

Berpikir akan soal itu tentu tanpa banyak cakap lagi ia meluncur keluar dari persembunyian dan bergerak ke depan.

Menanti Tjiau Thian Kie serta Thiat Bok Taysu menemukan adanya manusia yang lewat dari samping mereka, Liem Tou telah berada puluhan tombak jauhnya menguntil di belakang Thian Hian siauwtju.

Tampak Thian Pian sisuwtju dengan langkah lebar berjalan maju kedepan.

menanti tiba diluar sebuah rumah berbatu disisi gunung ia agak merandek, agaknya ia bermaksud masuk kedalam tapi akhirnya ia batalkan maksudnya dan berputar menuju kekaki gunung, Liem Tou mengempos napas menguntil terus dari belakang.

tidak lama kemudian dibawah sorotan sinar rembulan muncullah sebuah bangunan rumah berwarna putih.

Melihat bangunan tersebut tanpa terasa Liem Tou teringat kembali akan ucapan Giok djie yang pernah mengatakan bahwa rumah putih ini kecuali Thian Pian siauwtju seorang tak seorang manusiapun diperkenankan masuk kedalam.

Setelah mantapkan hati Liem Tou berpikir.

"Malam ini aku hendak memasuki rumah berwarna putih ini untuk memeriksa rahasia apakah yang ia sembunyikan disana!"

Pintu bangunan berwarna putih itu terkunci rapat-rapat.

dari dalam sakunya Thian Pian siauwtju mengambil keluar sebuah kunci dan membuka pintu tersebut.

Liem Tou yang mengintip dari tempat kejauhan dapat melihat keadaan di dalam ruangan itu gelap dengan diterangi oleh sebuah lentera berbentuk panjang, suasana amat menyeramkan sehingga membuat bulu kuduk pada bangun berdiri.

Ketika itu Thian Pian siauwtju telah berjalan masuk kedalam, buru-buru Liem Tou mengejar dari belakang dan bersembunyi dibalik pintu kemudian menyelinap masuk kedalam.

Thian Pian siauwtju perlahan-lahan masuk kedalam ruangan dan langsung mendekati sebuah tempat yang tertutup oleh kelambu warna ungu, lampu lentera tergantung tepat diatasnya Melihat benda yang ada dalam ruangan itu hanya terbatas itu-itu saja, Liem Tou jadi keheranan.

Sebuah ruangan kosong macam begini bisa mengandung rahasia apa?

ada apa pula maksudnya dalam keadaan seperti ini ia mendatangi tempat ini?

Tanpa disadari sinar mata Liem Tou dialihkan keatas kelambu berwarna ungu itu ia merasa apibila Thian Pian Siauwtju mempunyai rahasia yang tidak ingin diketahui orang maka rahasia tersebut pasti berada dibalik kelambu tersebut.

Sedikitpun tidak salah.

Thian Pian Siauwtju menerangkan dulu lentera untuk menerangi seluruh ruangan, wajahnya pada saat ini penuh diliputi kerisauan, suasana hening sunyi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Lama sekali Thian Pian siauwtju berdiri termenung dibawah lampu lentera, agaknya ia sedang memikirkan suatu hal yang memberatkan hatinya.

Lama...lama sekali akhirnya ia berpaling memandang keluar ruangan, buru-buru Liem Tou menyembunjikan diri.

Tapi sepintas lewat itulah ia temukan wajah Thian Pian siauwtju penuh dibasahi dengan air mata.

keadaan ini sungguh diluar dugaan semua orang.

Beberapa saat kemudian Liem Tou dapat melihat Thian Pian siauwtju telah berdiri di depan kain kelambu itu.

Tiba-tiba Liem Tou mencium bau harum yang amat aneh, bau harum itu muncul dari balik ruangan dan terasa sangat aneh, ..Akhirnya Thian Pian siauwtju menyingkap kain kelambu, Liem Tou semakin keheranan lagi melihat pemandangan yang berada dihadapannya.

Ternyata di balik kelembu itu merupakan sebuah pembaringan be warna merah yang berukiran naga serta ourung hong kain sutra yang mewah dan mahal harganya, menutupi hampir seluruh pembaringan.

Liem Tou membelalakan matanya bulat-bulat selagi ia merasa keheranan mendadak terdengar Thian Phian siauwtju menangis ter-isak2.

"Tjioe Ling, aku merasa berdosa terhadap dirimu, malam ini aku hendak antar kau pergi."

Dari atas pembaringan tak terdengar suara jaaban, juga tak nampak seseoraog yang bangun berdiri.

Ketika itulah Liem Tou menemuKan adanya sebuah Hioloo yang mengepulkan asap tebal.

dapat diduga bau harum yang sangat aneh tadi berasal dari asap dupa ini.

Kembali Thian Pian Siauwtju menangis tersedu-sedu.

"Semuanya ini adalah ayahmu yang paksa aku berbuat demikian"

Serunya setengah merengak.

"Sukmamu yang ada diatas tentu tahu bukan tidak lama kemudian aku akan datang menjumpai dirimu. Liem Tou telah datang, aku menyadari dengan kekuatanku tak mungkin dapat menandingi kepandaian silatnya, asal ia turun tangan aku punya maksud tidak membalas. Tapi. , Tjioe Ling! ayahmu kembali membinasakan satu-satunya ahli warisku, dalam keadaan begini aku merasa tidak rela meninggalkan dunia yang penuh dosa ini."

Sembari bergumam ia menyingkap kelambu yang menutupi pembaringan tersebut.

Setelah mendengar serangkaian ucapannya Liem Tou dapat memahami apa sebenarnya yang telah terjadi.

Yang berada diatas pembaringan tentu istrinya.

yaitu putri Tjiau Kie yang ia kawini dengan paksa, tapi sekarang perempuan itu telah menjadi sesosok mayat dan Kematian perempuan itu justru terhajar oleh angin pukulannya.

Bersamaan itu pula Liem Tou mempunyai suatu pandangan yang lain terhadap Thian Pian Siauwtju, ia tidak menyangka sijagoan dari Lautan Timur ini sebenarnya adalah seorang manusia yang dibodohi oleh cinta.

Tanpa disadari lagi Liem Tou berkelebat mesuk kedalam.

geraK geriknya sama sekali tidak meninggalkan sedikit suarapun, Tapi pada saat itu pula setelah Thian Pian Siauwtju membopong tubuh Tjioe Ling dan secara mendadak menemukan Liam Tou telah berdiri dibelakangnya, air muka orang ini langsung berubah hebat.

Tapi Liem Tou sudah punya perhitungam didalam hatinya, tampak ia tersenyum.

"Ke-heng! kau tidak menyangka bukan bahwa aku bisa muncul disini pada saat dan keadaan seperti ini, tapi kau boleh berlega hati. detik ini aku masih tidak ingin mengganggu diri Ke-heng barang seujung rambut pun, kau boleh pergi menyelesaikan pekerjaanmu", Sembari berkata sepasang mata Liem Tou mengerling sekejap wajah sang perempuan yang berada dalam bopong Thian Pian Siauwtju, tampak wajah perempuan itu masih tetap utuh dan bagus seperti semasa hidupnya. tubuh mayat itu tidak kaku dan keadaannya mirip seorang perempuan cantik yang berada dalam impian. kecantikan wajahnya bila dibandingkan dengan kecantikan wajah ke dua orarg istrinya Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing maka perempuan ini boleh dikata jauh lebih menarik beberapa kali lipat. Pada saat itulah sekalipun Liem Tou tahu perempuan yang berada didalam bopongan ke Hong hanya mayat belaka, tapi sinar matanya terasa rada berat untuk dialihkan dari atas wajahnya. Selama ini Thian Pian Siauwtju hanya berdiri memandang diri Liem Tou dengan termangu-mangu, ia sama sekali tak berkutik. Akhirnya Liem Tou tersentak kaget. buru-buru ia melengos.

"Ke-heng! besok siang aku akan menyelesaikan urusun kita yang belum selesai. aku rasa seharusnya kau memahami apa yang kuucapkan bukan setahun berselang ketika berada digunung Tjing Shia kau telah mengingkari janji datang mencari balas terhadap diriku, perbuatanmu itu sudah melanggar peraturan Bu-lim yang terbesar." . Thian Pian Siauwtju tetap membungkam dalam seribu bahasa, sembari membopong tubuh Tjioe Ling selangkah demi selangkah ia maju kedepan. Terpaksa Liem Tou ikut mundur kebelakang sehingga akhirnya hampir keluar dari ruangan tersebut. Ketika itulah Thian Pian Siauwtju buka suara, ujarnya;

"Susiokmu berada didalam rumah berbatu didepan sana, kau bawalah pergi! besok siang aku pasti menantikan kedatanganmu". Liem Tou sendiripun tahu dalam keadaan begini Thian Pian Siauwtju tidak ingin banyak berbicara. ia segera mengangguk. Sedikit kakinya menutul permukaan tanah badannya laksana petir menyambar telah berkelebat keluar dari pintu. Pemuda ini tidak menggubris diri Tnian Pian Siauwtju lagi, ia segera menerobos masuk ruangan berbatu itu, suasana amat gelap susah melihat kelima jari tangan sendiri, pemuda she Liem berhasil melatih sepasang matanya dapat melihat ditengah kegelapan. Dalam rumah berbatu terdapat belasan kamar .satu demi satu ia lakuKan pemeriksaan, akhirnya dikamar yang terakhir ia temukan sebuah pembaringan dan diatas pembaringan terlentang siperempuan Tunggal Touw Hong. Saat ini ia hampir telanjang. hanya bagian-bagian terlarang saja yang masih tertutup oleh selapis kain dalam yang tipis dan tembus lihat, sedangkan perempuan itu sendiri berada dalam keadaan tidak sadar. Dengan cermat Liem Tou melakukan pemeriksaan disekitar badannya, segera diketahui olehnya apabila jalan darah tidur perempuan ini telah tertotok. Dengan cepat ia totok bebas jalan darah tersebut kemudian berkata dari luar ruagan.

"Susiok. maaf sutit Liem Tou datang terlambat sehingga mengharuskan susiok lama sekali menjalankan penderitaan. silahkan cepat berpakaian dan kita harus buru-buru meninggalkan tempat itni.".

"Ehmm..."

Dari dalam ruangan terdengar suara sahutan dari si perempuan tunggal Touw Hong.

"Liem Tou, Liem Tou..kau benar-benar adalah Liem Tou? Siauwtju mengatakan bahwa kau sudah mati pada setahun berselang bagaimana kau bisa mengaku dirimu bernama Liem Tou ?"

"Ke Hong sama sekali tidak tahu apabila aku belum mati, hanya hampir saja jiwaku melayang."

"Aaaakh ! kalau begitu kau benar-benar adalah Liem Tou?"

Mendengar ucapan dari si perempuan tunggal Touw Hong, Liem Tou berpikir didalam hatinya.

"Susiok sudah setahun lamanya ditawan di atas pulau ini, jikalau dikatakan menderita seharusnya sudah sangat tersiksa. mengapa terhadap diri Ke Hong ia tak memperlihatkan rasa benci atau menyalahkan ? sungguh aneh urusan ini. Apakah rela dirinya dikawini oleh orang itu?". Karena menjumpai hal-hal yang tidak dipahami ia lantas berkata.

"Susiok, aku pikir selama setahun ini kau tentu amat menderita sekali ?"...

"Masih untung agak baikan. siauwtju tak bermaksud jahat terhadap diriku, iapun belum pernah memperlihatkan tindakan-tindakan yang menyeleweng dari kesopanan, selama ini aku tidak pernah diganggu . .."

"A-akh...! begitu?", saat inilah Liem Tou baru tahu peristiwa yang bakal terjadi nanti malam sama sekali tidak diketahui oleh gadis ini, jikalau malam ini ia tidak keburu datang kemari entah apa yang bakal terjadi besok pagi? Liem Tou pun tidak membocorkan rahasia Thian Pian siauwtju lagi, sambungnya.

"Susiok, cepat kau berpakaian, malam ini kita harus segera meninggalkan tempat ini apalagi ditempat luaran masih ada tontonan bagus yang dapat kita tonton."

Sewaktu ia menyelesaikan kata-katanya, si perempuan tunggal Tauw Hong telah berjalan keluar.

Jilid 54 .

Kematian Thian Pian Siauwcu Bersamaan itu pula meraka pun merasa bahwa hidup manusia sebenarnya hampa belaka bagaikan sesosok mayat yangg tertelan di tengah deburan ombak.

semua cinta kasih.

kekayaan, kecemerlangan tersapu bersih oleh gulungan ombak yang sambung menyambung.

Perlahan lahan mayat itu tertelan ombak dan bergerak lambat tenggelam ke dasar lautan, lelenyaplah sudah sudah jenasah seorang perempuan yang memiliki wajah sangat cantik.

Liem Tou menghela napas panjang sepasang telapak tangannya dengan kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya serta mendorong perahu itu untuk bergerak lebih ke depan.

Tidak selang beberapa saat kemudian perahu telah menepi ketika mereka sudah berada di atas daratan, Ciau Thian Kie yang mendarat paling akhir mendadak melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar hancur perahu sampan tersebut.

Sedang ia sendiripun muntahkan darah segar tapi orang tua ini tidak menggubris keadaan dirinya.

Dengan lari kencang ia pulang ke rumah karena hatinya sangat menguatirkan akan keselamatan dari Cioe Leng Cu setelah ditinggalnya sehari semalam.

Liem Tou serta si perempuan tunggal Touw Hong membuntuti dari belakang ikut kembali ke rumah si orang tua itu.

Si gadis cantik pengangon kambing dan Giok jie yang telah menanti kedatangan mereka di luar pagar rumah, sewaktu melihat munculnya beberapa orang ini jadi kegirangan setengah mati.

"Engkoh Liem, kau telah pergi kemana?' teriak si gadis cantik pengangon kambing keras keras. Tapi setelah menjumpai si perempuan tunggal Touw Hong mengikuti di sisi pemuda tersebat. ia jadi tersadar kembali. Aaah! engkoh Liem! kau berhasil menemukan dirinya, kau telah berhasil menolong Hong susiok lolos dari mara bahaya!"

Buru buru ia maju ke depan untuk memberi hormat kepada si perempuan tunggal Touw Hong ini.

"Sudahlah jangan banyak adat'. kita bicara lagi seteiah kembali ke gunung Cin Shia!"

Kata si perempuan tersebut seraya membangunkan sang gadis. Setelah itu ia berpaling ke arah Liem Tou. ujarnya lebih lanjut.

"Liem Tou! aku akan berangkat terlebih dahulu karena hendak kembali dulu ke gunung Go bie kemudian baru pergi ke gunung Cing Shia, kapan kau kembali?" 'Setelah urusan disini selesai kami segera berangkat pulang ke gunung... jawab sang pemuda setelah berpikir sebentar.

"Tapi sewaktu sutit pulang ke gunung mungkin akan berputar dulu untuk mampir sebentar di pantai Sah Kiem Than, paling lambat sepuluh hari kemudian aku pasti sudah tiba di gunung Cing Shia!"

Si perempuan tunggal Touw Hong segera mengangguk setelah mendengar ucapan tersebut.

Pada saat itulah terdengar Ciau Thian Kie berteriak keras "Cioe Ling Cu!

kau berada dimana, yaya, telah kembali !".

Ia lari masuk ke dalam ruangan kemudian keluar lagi ke depan seraya berteriak teriak tiada hentinya, tapi belum juga menemukan jejak bocah itu Pada waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing berjalan menghampiri Liem Tou dan berbisik lirih.

"Kemarin malam pada kentongan keempat Cioe Ling Cu si bocah tersebut.,.."

Belum habis ia berkata hati Liem Tou sudah terasa tergetar keras. Ia segera sadar apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Kau tak usah lanjutkan ucapanmu, bukankah ia kena diculik Boe Beng Tok su?' sambungnya. Si gadis cantik pengangon kambing mengangguk. Air muka Liem Tou berubah membesi. Ia menghela napas panjang panjang.

"Aai.. ternyata Boe beng Toksu belum juga matikan niatnya! aku takut di kemudian hari kembali akan terjadi suatu badai yang menimbulkan banjir darah! aku sudah mulai bosan dengan dendam mendendam balas membalas yang terjadi di dalam dunia persilatan, entah sampai kapan keadaan seperti ini akan berakhir?? . Si perempuan tunggal Touw Hong pun ikut bersedih hati "Bagaimanapun aku telah berjuang sepenuh tenaga demi enciku"

Katanya sambil menghela napas panjang "Jikalau Sun Ci Si tetap tidak sadarkan diri, biarlah ia berbuat sesuka hatinya!

Pada suatu hari ia pasti mati tanpa liang kubur.

Selamat tinggal !

aku hendak berangkat dahulu".

Bayangan hitam berkelebat lewat tahu tahu tubuhnya berada sepuluh tombak lebih dari tempat semula.

Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing buru buru memberi hormat.

"Maaf kami tidak mengantar susiok lebih jauh!". Si perempuan tunggal Touw Hong berpaling memandang sekejap wajab Liem Tou akhirnya ia melengoskan buru buru berlalu. Belum saja bayangan perempuan itu lewat, Ciau Thian Kie telah menerjang datang, kepada si gadis cantik pengangon kambing teriaknya keras.

"Kau bawa kemana Cioe Ling cu ku ? apakah kau perempuan rendah yang mencelakai dirinya?"". Ciau Thian Kie telah kehilangan kesadarannya, ia mulai berteriak dan menerjang datang dengan kalap. Si gadis cantik pengangon kambing yang kena dimaki dalam hati merasa mendongkol bercampur kasihan. Ciao Toa pek!' bentaknya.

"Apa maksudmu berkata demikian??? kenapa pentang mulut kau lantas menyakiti hati orang? Aku sama sekali tidak mencelaki Cioe Ling Cumu, siapa yang tahu ia telah pergi ke mana'"

Ciau Thian Kie meraung kalap. Badannya berputar kemudian menerjang ke arah dusun kaum nelayan. Sembari berlari teriaknya berulang kali.

"Cioe Ling Cu, yaya telah kembali. kau ada dimana?? Tidak lama kemudian seluruh penduduk dusun nelayan itu sudah tahu akan lenyap nya Cioe Ling Cu, berbondong bondong mereka ikut mencari sehingga suasana jadi gaduh dan gempar. Ketika itulah Liem Tou berkata kepada diri si gadis cantik pengangon kambing.

"Tahukah kau siapa Cioe Ling Cu itu? "Sudah tentu cucu dari Ciau Toa pek!"

"Bukan!"

Sembari tertawa Liem Tou menggeleng.

"Dia adalah cucu luar Ciau Toa pek atau yang jelas bocah tersebut adalah putra dari Thian Pian Siauwcu."

"Aaaah..! ada kejadian seperti ini!' teriaknya sang gadis dengan mata terbelalak. Liem Tou mengangguk.

"Ayoh kita segera berangkat!' serunya mengajak si gadis cantik pengangon kambing berangkat.

"Kita beritahu dulu kepadanya kemudian segera berangkat menuju pulau Lie Hoa To Thian Pian Siauw cu, Ke Hong sedang menantikan kita di sana! "

Demikianlah mereka bertiga segera berangkat menuju ke dusun kaum nelayan itu, dari kejauhan mereka dapat melihat banyak nelayan yang sedang berkerubung disekeliling Ciau Thian Kie sembari bicara dan berpendapat dengan ramainya.

Ada yang mengatakan pagi itu masih menjumpai Cioe Ling Cu, ada pula yang mengatakan dia seorang diri menuju ke tengah lautan.

Sedangkan Ciau Thian Kie tetep berteriak teriak keras.

Liem Tou segera mendesak maju dari antara kaum nelayan yang sedang berdesak desakan dan menghampiri diri orang tua itu.

"Ciau Toa Pek, kau tak usah pergi mencari Cioe Ling Cu lagi, mungkin sebelum sepuluh tahun ia tak akan kembali!"

"Apa??' teriak Ciau Tnian Kie dengan sepasang mata melotot bulat bulat. Liem Tou, apa kau kata??"

"Terus terang kuberitahu kepadamu! masih ingatkah kau terhadap ucapan yang diutarakan Boe Beng Tok su kepadamu kemarin malam?"

Kata Liem Tou sembari tertawa hambar.

"Ingat. kenapa aku bisa lupa? ia datang karena bermaksud untuk berbuat sesuatu."

"Nah! itulah dia, jikalau kedatangannya karena hendak berbuat sesuatu apakah kau sekarang tidak tahu kemana Cioe Ling cu telah pergi???.."

Seketika Ciau Thian Kie berdiri mematung tak berbicara juga tak berkutik, sepasang matanya terbelalak lebar melototi diri Liem Tou.

Beberapa saat kemudian ia muntah darah segar dan roboh ke atas tanah.

Liem Tou buru buru berkelit dari semburan darah segar yang meluncur ke badan nya sekali bergerak telapak tangannya di tabokan ke atas punggung Ciau Thian Kie.

"Ciau Thian Khie baik baik kusampaikan berita kepadamu apa sebabnya kau malah bersikap demikian terhadap diriku?"

Bentaknya keras.

Gerakan yang dilakukan Liem Tou cepat laksana sambaran kilat, di dalam beberapa kali getaran ia telah menotok beberapa buah jalan darah penting di seluruh tubuh si orang tua itu.

Setelah urat urat peredaran darah menjadi lancar kembali.

Ciau Thian Kie pun sadar dari kalapnya.

Terdengar ia tertawa sedih.

ujarnya .

"Tidak aku sangka kedatangannya justru hendak melakukan pekerjaan ini, ia berani benar membawa lari cucu kesayanganku! Tempo dulu si hwesio tujuh jari Ciet Ci Tauw Tuo berbuat keji melebihi peri kemanusiaan, aku si telapak besi berwajah riang merasa tak senang dengan perbuatannya maka secara diam diam menyelinap pergi tidak disangka ini hari Cioe Ling Cu telah terjatuh ke tangan anak muridnya. apa yang harus kulakukan saat ini''?'' Ia merandek beberapa saat mendadak teriaknya kembali.

"Liem Tou. soal Ke Heng aku tidak mau ikut campur lagi kau boleh menghukum dirinya dengan cara apapun, tapi luka parah yang sedang kuderita kini dapatkah kau sembuhkan?? sekalipun harus menyeberangi lautan luas ataupun menuju ke ujung langitpun aku harus mencari balik diri Cioe Ling Cu'. dapatkah kau bantu diriku untuk kali ini?' Dari sepasang mata Ciau Thian Kie memancar cahaya kebulatan tekadnya, sikap ini muncul dari rasa sayang terhadap cucunya yang tak terkendalikan dan menimbulkan rasa hormat di hati Liem Tou, Dari dalam sakunya ia mengambil ramuan obat berbentuk tali yang tinggal sedikit itu lalu diserankan ke tangan Ciau Thian Kie.

"Telanlah obat ini!' katanya lirih. 'Biasanya seutas saja sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan luka parahmu tidak sam pai tiga hari, Ciau Thian Kie! aku Liem Tou merasa amat kagum terhadap dirimu. jikalau bcrjodoh aku bisa menumpai Cioe Ling Cu, aku Liem Tou pasti akan membantu sampai berhasil Nah! selamat tinggal."

Dengan tangan gemetar Ciau Thian Kie menerima angsuran tali obat itu air mata jatuh bercucuran membasahi kelopak matanya. 'Cing Gouw Thayhiap! terima kasih"

Serunya.

Liem Tou ulapkan tangannya.

bersama sama si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie mereka menuju ke tepi pantai.

dari seorang nelayan mereka pinjam sebuah perahu dan segera berangkat menuju ke lautan bebas.

Setelah perahu berada di tengah lautan Liem Tou serta si gadis cantik pangangon kambing segera menggerakan perahunyu dengan melancarkan pukulan pukulan kosong ke atas permukaan air sehingga perahu dapat bergerak lebih cepat lagi.

'Wan moay!

sekarang aku baru merasa kasihan terhadap nasib Thian Pian Siauwcu' kata sang pemuda lirih.

"Ooooow .. jadi kau simpatik terhadap dirinya"

Seru si gadis cantik pengangon kambing sambil mengerling sekejap kearahnya.

"Aku sendiri juga tak tahu hatiku sebenarnya menaruh rasa simpatik kepadanya atau tidak, henya aku merasa amat kasihan atas nasibnya yang begitu buruk coba kau pikir salah tidak caraku berpikir??? " '"Tidak. sama sekali tidak lucu dan perlu ditertawakan. Ayahku mati di tangannya dan sekarang kau malah menaruh simpatik terhadap dirinya, bukannya lucu aku malah merasa sedikit takut!"

Agaknya Liem Tou benar benar ada maksud untuk menaklukan perasaan hati gadis ini. ia merasa sebenarnya Thian Pian siauwcu adalah seorang yang romantis dan baik hati.

"Ia mengasingkan diri di sebuah pulau yang sunyi dan terpencil di tengah lautan untuk hidup bersama istri dan berkawan dengan burung burung elang sehingga akhirnya ia pandai berbicara dengan binatang peliharaannya, Selama itu belum pernah ia melakukan perbuatan jahat. Tapi sejak ia kesalahan membunuh mati istrinya dan bentrok dengan sang mertua Si telapak besi berwajah riang Ciau Thian Kie wataknya jadi berubah hebat. Tindak tanduknya jadi kukoay dan mengikuti perasaan sendiri, kendati begitu tidak banyak kejahatan yang telah ia lakukan. Menurut pendapat Liem Tou, Thian Pian Siauwcu bisa berbuat demikian justru karena tekanan batinnya yang begitu menghebat sehingga tanpa disadari telah mengubah watak asalnya."

Liem Tou yang melihat sikap si gadis cantik pengangon kambing amat tegas tak terasa ia menghela napas panjang "Wan moay, maafkan diriku.

Aku tidak seharusnya punya pikiran demikian' katanya dengan nada minta maaf"

Dengan ucapan ini bukankah urusan jadi lebih baik, sebaliknya si gadis cantik pengangon kambing dibikin makin terperanjat. Air mukanya berubah serius.

"Engkoh Liem kau benar benar bermasud menaruh simpatik terhadap dirinya??' kenapa secara mendadak kau bisa punya pikirkan demikian? jikalau kau sudah punya pikiran demikian mengapa pada mulanya kau mengusulkan diriku untuk datang mencari dia ?"

Liem Tou jatuhkan diri berbaring keatas perahu.

Dia memandang ke angkasa.

Lama sekali ia berpikir kemudian baru katanya.

Wan moay tahukah kau bahwa kemarin malam dengan mengikuti diri Ciau Toa pek aku telah mengunjungi pulau Lie Hoa To, saat itulah aku baru memahami watak Tian Pian siauwcu dahulu aku hanya memandang dari perbuatan perbuatan jahatnya tapi kemarin aku dapat melihat pula hal hal yang mulia dan bajik dari perbuatannya.

Terutama cinta kasih terhadap isterinya.

aku rasa di kolong langit sukar untuk mencari orang kedua macam dirinya".

Demikianlah, Liem Tou lantas menceritakan seluruh kejadian yang telah dialami kemarin malam, akhirnya sewaktu ia menceritakan secara bagaimana Thian Pian Siauwcu melempar mayat istrinya ke tangan Ciau Thian Kie seraya melancarkan serangan.

si gadis cantik pengangon kambing tak dapat menahan lelehnya air mata membasahi pipi.

Buru buru ia menggelengkan kepalanya berulang kali "Aku berharap kau jangan melanjutkan kembali kata katamu.

kematian ayahku di tangannya adalah suatu peristiwa nyata.

Ia tidak menepati janji sendiri dan diam diam menyelinap ke dalam gunung Cing Shia sehingga mengakibatkan hampir hampir saja kau mati juga merupakan suatu peristiwa yang nyata.

Hong susiok dikurung selama setahun lamanya bahkan terakhir kali ia masih punya maksud jelek terhadap dirinya kejadian ini juga nyata.

Terhadap manusia macam begini dapatkah kau mengampuni jiwanya?"

Liem Tou dipaksa membungkam dalam seribu bahasa setelab gelagapan beberapa waktu ia berkata lirih.

"Akupun merasa tidak seharusnya punya pikiran demikian maka dari itu aku minta maaf terhadap diri Wan moay"

Selamanya si gidis cantik pengangon kambing belum pernah marah, tapi kali ini ia agak sedikit naik pitam. Sembari putar badan mengirim dua babatan kosong teriaknya keras.

"Terhadap urusan lain kau hendak bicara secara bagaimanapun aku pasti akan menuruti dirimu, tapi dendam berdarah sedalam lautan ini tak bisa mengubah jalan pikiranku!"

Liem Tou tahu si gadis cantik pengangon kambing benar benar telah marah. terpaksa ia memobon dengan suara lirih.

"Wan moay kau jangan marah! baiklah! aku pasti akan membiarkan kau membalas dendam dengan tanganmu sendiri!' Setelah mendengar ucapan itu si gadis cantik pengangon kambing baru tidak bersuara lagi, sepasang telapak secara beriring mengirim pukulan kosong ke atas permukaan air. Liem Tou pun duduk bantu melancarkan pukulan kosong, dengan demikian perahu segera berlayar dengan kecepatan penuh. Tidak selang beberapa saat kemudian dari atas permukaan air laut di tempat kejauhan muncullah sesosok bayangan hitam. Ketika kedua ekor burung elang yang ada di perahu dapat melihat titik hitam itu mereka berkaok kaok dengan kecepatan penuh burung burung elang itu melayang ke udara dan meluncur terlebih dahulu ke depan. Hal ini membuat Giok jie jadi kalang kabut teriaknya keras keras. 'Aaaah . burung elangku terbang, .burung elangku terbang .."

Liem Tou menoleh dan memandang sekejap wajah si gadis cantik pengangon kambing, tampak air mukanya penuh keseriusan semakin perahu bergerak ke depan wajahnya makin menegang sedang bayangan hitam itu makin lama semakin besar dan akhirnya muncullah sebuah pulau kecil dengan tebing yang tegak lurus tinggi menjulang ke angkasa.

Teringat akan kematian ayahnya si cangkul pualam Lie Sang dalam keadaan mengerikan, sembari melancarkan pukulan kosong ke atas permukaan air laut si gadis cantik pengangon kambing menangis tersedu sedu.

Liem Tou segera membawa gadis itu duduk di atas geladak sedang ia sendiri menggantikam kedudukan gadis cantik pengangon kambing untuk menjalankan perahu sampan itu, Selang beberapa waktu kemudian mereka telah tiba ditepi pantai puiau Lie Hoa To.

Setelah perahu merapat ke pantai, Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing bersama sama meloncat ke tepi pantai, sebaliknya Giok jie kelihatan agak ragu ragu.

Melihat gadis itu ketakutan.

Liem Tou segera berkata.

"Giok jie. kau tidak seharusnya takut terhadap dirinya lagi, ada aku disini kutanggung kau tak bakal menjumpai mara bahaya."

Giok jie mengangguk, namun segera meloncat naik ke tepian.

Tak jauh mereka berlalu.

Diatas sebuah tanah berbukit di tepi pantai beberapa orang itu menemukan seperangkat tengkorak manusia yang penuh berpelepotan darah, tengkorak itu berwarna hitam pekat dan memacarkan cahaya berkilat.

Melihat hal tersebut kepada si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie, Liem Tou menerangkan .

"Bila dugaanku tak salah, tulang belulang ini tentu tengkorak dari Thiat Bok Thaysu. Ilmu pukulan beracun yang dilatih Thiat Bok Thaysu adalah suatu ilmu berbisa yang amat jahat dan dapat mengubah tulang tengkorak seseorang jadi berwarna hitam pekat. Setelah Thian Pian Siauwcu membinasakan dirinya tentu mayat ini ia hidangkan buat burung burung elangnya."

Mendengar tentang burung elang seluruh tubuh gadis cantik pengangon kanbing bergidik.

"Kalau ini hari ia mengeluarkan burung elangnya untuk bergebrak melawan kita. maka kita harus membuang banyak tenaga serta pikiran lagi". bisiknya lirih.

"Hal itu merupakan suatu peristiwa yang di luar dugaan dan kita harus menghadapi dengan hati tenang '. asalkan ia tidak pergi dengan menunggang burung elangnya maka tak bakal orang she Kie itu meloloskan diri dari serangan telapakku."

Mereka bertiga dengan mengikuti jalan kecil yang ada memasuki sebuah hutan lebat tapi belum jauh mereka melangkah mendekati di atas tanah ditemuinya mayat beratus ratus ekor burung elang yang kebanyakan mati karena keracunan.

Tanpa berpikir lagi Liem Tou menjulurkan lidahnya sembari berkata.

"Burung burung elang ini mencari mati sendiri, sedang Thiat Bok Thaysu pun luar biasa kejinya. sampai matipun ia masih bisa membunuhi burung elang sebanyak ini. Jikalau bukannya aku berhasil mematahkan kesepuluh jari tangannya sewaktu bergebrak di gunung Cing Shia tempo dulu selama beberapa tahun ini entah berapa banyak jago kangow yang akan mati di tangannya. bicara sesungguhnya jlkalau kesepuluh jari tangannya bukan kuputus lebih dahulu dalam bergebrak belum tentu Thian Pian Siauw cu bisa mengalahkan dirinya dengan begitu gampang "

Tapi dengan cepat pemuda ini telah berganti nada ucapannya.

"Tapi urusan ini ada sedikit aneh, terang terangan Thian Pian siauw Cu tahu bila mana seluruh tubuh Thiat Bok thaysu beracun, kenapa ia membiarkan burung burung elang kesayangannya menyantapi daging tersebut? bukankah dengan berbuat demikian sama artinya ia ada maksud meracuni burung burung elang tersebut??."

Karena berpikir demikian ia makin tegang rasanya.

Tidak jauh dari tempat itu Liem Tou menemukan rumah kediaman Thian Pian Siauw cu telah hancar barantakan tinggal batu batu yang berserakan, tempat itu sudah punah sama sekali.

"Aaakh! Thian Pian siauw cu telah menghancurkan rumah kediaman sendiri, ia pasti telah melarikan diri teriak Liem Tou penuh rasa terperanjat.

"Bangsat! ternyata dia adalah seorang manusia yang tidak pegang janji! Dengan kerahkan ilmu meringankan tubuhnya buru buru pemuda ini lari ke rumah berwarna putih diiringi si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie dari belakang. Tapi setibanya di tempat itu rumah gedung warna putih itupun sudah hancur berantakan tidak berwujud lagi. Sekali lagi Liem Tou berseru tertahan lalu memaki kalang kabut .

"Anjing, anak jadah..."

Waktu sudah hampir siang hari berarti waktu yang telah dijanjikan dengan Thian Pian Siauw cu kemarin malam hampir tiba. si gadis cantik pengangon kambing jadi cemas.

"Bila ia sudah pergi, bukankah kedatangan kita kemari hanya sia sia belaka?? hendak kemana kita pergi mencari dirinya??"

Teriaknya dengan hati mendongkol.

"Selamanya aku selalu mempercayai orang lain, kalau tahu begini kemarin malam tak akan kulepaskan dirinya."

Si gadis cantik pengangon kambing makin marah lagi, gembornya .

'Ke Hong sudah satu kali mengingkari janji.

kenapa kau masih juga mempercayai dirinya??

' Kena ditegur, Liem Tou tak bisa berbicara, ia bungkam Mendadak terdengar Giok jie berteriak keras sambil menuding ke arah puncak bukit yang tertinggi.

'Coba lihat!

Bukankah itu adalah burung elang kita???

Apa yang sedang ia lakukan di atas sana???"

Liem Tou segera mendongak.

dilihatnya kedua burung elang tersebut sedang berputar putar tiada hentinya di atas puncak.

Hati sang pemuda jadi sedikit tergerak, seraya menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing katanya .

"Ayoh cepat pergi, kita tengok ke atas puncak tersebut!' Dengan salurkan hawa murninya ia berlari menuju ke atas puncak bukit tersebut. Gerakan mereka kali ini benar benar cepat laksana kilat. dalam sekejap mata mereka, sudah tiba di kaki puncak, tapi mungkinkah Giok jie dapat mengimbangi mereka?? Saking cemasnya gadis ini berteriak teriak.

"Eeee...kalian jangan tinggalkan aku seorang diri!"

Terpaksa Liem Tou menanti kedatangan Giok jie kemudian satu tangan mencekal Giok jie lain tangan mencekal Lie Wan Giok dibawanya lari ke atas puncak.

Tebing ini hampir boleh dikata tegak lurus, masih beruntung tenaga sinkang Liem Tou telah berhasil mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun di tangan kanan mencekal si gadis cantik pengangon kambing sedang tangan kiri mencekal Giok jie tapi larinya masih tetap cepat bagaikan terbang.sekali loncat sepuluh tombak jauhnya telah dilewati.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie yang ditarik hanya merasakan sepasang kaki mereka mengambang di tengah udara.

Kurang lebih seperminum teh kemudian sampailah mereka di atas puncak sedang jidat sang pemuda penuh dibasahi dengan air keringat.

Puncak tebing itu hanya seluas tiga tombak persegi tapi mayat burung elang berserakan dimana mana.

Thian Pian siauwcu dengan memakai seperangkat baju baru, duduk terpekur di tengah bangkai bangkai burung elangnya.

Si gadis cantik pengangon kambing sama Giok jie yang melihat kejadian ini diam diam menghembuskan napas dingin, 'pikir mereka di dalam hati.

Apa yang sebenarnya telab terjadi?

Liem Tou tenangkan dulu hatinya kemudian berkata.

Ke Hong, kali ini kau telah menepati janji, .

Mindengar suara dari Liem Tou.

perlahan lahan Thian Pian Siauw cu membuka matanya dan melirik sekejap wajah ketiga orang itu, tapi sewaktu sinar matanya terbentur dengan Wan Giok jie mendadak dari sepasang matanya memancar cahaya kebuasan, tapi hanya dalam sekejap saja telah lenyap kembali.

Di ujung bibirnya tersungging suatu senyuman yang memilukan hati.

"Sekalipun kau tidak datang kemari aku pun telah bersiap sedia untuk bunhn diri di atas puncak It Ci Hong ini!"

"Kenapa?? kenapa kau bendak berbuat demikian?"

Tanya Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing hampir berbareng mereka sama sama dibikin tertegun. Thian Pian Siawcu tertawa.

"Tidak karena apa apa aku sedang gembira berbuat demikian! ' Mendengar ucapan itu si gadis cantik pengangon kambing segera naik pitam, teriaknya..

"Ke Hong, kau jangan bicara terlalu sombong tahukah kau bahwa ini hari kau tidak bakal lolos dari ganjaran atas perbuatan jahatmu''? kedatanganku ini hari justru hendak menuntut balas atas kematian ayahku."

Air muka Thian Plan Siauw cu sama sekali tidak berubah ia tertawa bambar.

"Justru aku sedang menantikan kedatangan kalian di sini, bagaimanapun juga seorang manusia hanya memiliki selembar nyawa kalau kalian mau mah, ambillah sendiri! aku mengerti kepandaianku tak bakal menangkan kepandaian Liem Tou. Tapi jikalau membicarakan soal melarikan diri, asalkan aku Ke Hong benar benar berniat demikian mungkin saat ini aku sudah berada di ujung langit sebelah Barat. Selama hidup kalian jangan harap bisa menjumpai diriku lagi."

Perkataan ini aku bisa mempercayainya' Liem Tou perlahan lahan mengangguk.

"Kau punya kawanan burung elang yang bisa digunakan sebagai kendaraan. kemanapun kau ingin pergi bisa kau datangi, tapi ada satu urussn yang belum kupahami, apa sebabnya kau begitu tega menghancurksn seluruh burung elang yang tak berdosa ini????."

Sekali lagi Thian Pian Siauwcu tertawa sedih.

'Setelah aku mati, siapa yang kesudian mengurusi mereka'?

apalagi mereka adalah kawan karibku selama banyak tahun, asalkan aku mati merekapun tidak akan suka hidup lebib lanjut, dari pada mereka tersia sia jauh lebih baik kubunuh dulu mereka ini."

"Oooouww , di kolong langit tak akan ada kejadian semacam ini' seru Liem Tou tidak percaya. Thian Pian Siauwcu tidak membantah lagi, mendadak air mukanya membesi, perlahan lahan ia bangun berdiri dan bentaknya terhadap diri Giok jie.

"Giok jie, setiap orang yang pernab mengikuti diriku kecuali putraku hanya kau seorang yang tetap hidup bahkan melanggar pula peraturan perguruan sebetulnya aku ingin membunuh mati dirimu. tapi sekarang aku tidak ingin menyusahkan kau lagi, hanya ada satu tugas yang harus kau laksanakan. kalau tidak Hmmm.Hmmm.! sekalipun jadi setan aku tak akan mengampuni dirimu,"

Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah bungkusan kecil kemudian dilemparkan ke depan.

Tanpa banyak bicara Giok jie menerima benda tersebut, ketika itulah Thian Phian Siauwcu telah melanjutkan kembali kata katanya.

"Serahkan benda itu kepada putraku Ciu Ling Cu, tapi aku larang kau membuka untuk dilihat"

Giok jie setelah menerima benda tersebut jadi kebingungan sendiri.

Sebentar ia memandang Liem Tou lalu memandang pula wajah si gadis cantik pengangon kambing menantikan pendapat mereka.

Pada dasarnya si gadis cantik pengangon kambing memang sangat suka dengan Giok jie, ia bermaksud hendak terima gadis cilik ini sebagai muridnya.

Ia tertawa dingin tiada hentinya "Heeee .

heee...Ke Hong, sebenarnya urusan ini patut bila kita penuhi, tapi tahukah kau kemanakah Ciu Ling Cu pergi?"

Oleh ucapan tersebut mendadak sepasang mati Thian Pian Siauwiju memancarkan cahaya tajam "Bukankah ia ikut Ciau Thian Kie???"

Teriaknya keras.

"Tidak. ia dibawa pergi Boe Beng Tok-su"

Jawab si gadis cantik pengangon kambing berterus terang.

"Aaaakh. .!"

Suara seruan tertahan bargetar memenuhi angkasa, tapi sebentar kemudian dengan nada yang kukuh Thian Pian Siauw cu telah berkata kembali.

"Soal ini aku tak mau tahu, perduli ia berada dimana Giok jie harus menyelesaikan tugas ini". Mendengar ucapan yang tidak pakai aturan si gadis cantik pengangon kambing bermaksud mengobarkan hawa amarahnya. tapi tindakan tersebut keburu dicegah oleh Liem Tou.

"Biarlah urusan ini serahkan ditanganku. aku pasti bisa menyelesaikaa tugas ini. Nah! kau masih ada urusan lain???' kata pemuda itu menyela.

"Tidak ada, kalian boleh mulai turun tangan."

Dengan perlahan lahan Ke Hong memejamkan matanya.

Tapi berada dalam keadaan tiada perlawanan, jangan dikata Liem Tou sekalipun si gadis cantik pengangon kambing yang mempunyai dendam sedalam lautanpun tidak dapat turun tangan.

ia merasa serba salah.

Seketika kedua orang itu berdiri tertegun dan tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun, Beberapa saat berlalu dengan cepatnya, mendadak Thian Pian siauwcu membuka mata kembali, dengan ragu ragu tanyanya.

"Kenapa? bukankah siang hari sudah tiba dan saat perjanjian kita sudah lewat ?? apa yang kalian nantikan lagi?'.

"Ke Hong!' ujar sang pemuda dengan perasaan kikuk.

"Selama ini kami belum pernah melancarkan serangan terhadap seseorang yang sama sekali tidak memberikan perlawanan. lebih baik kau bangunlah dan bergebrak secara sungguh sungguh melawan, bukankah tempo dulu kita belum pernah berjumpa dalam keadaan macam begini ?' 'Liem Tou, bukannya aku tidak berani bergebrak melawan kalian justru karena pada seat ini semangat maupun napsuku untuk bergebrak sudah punah, mati bidup buatku sangat hambar, aku tidak ingin bergebrak melawan siapapun juga' Ketika itulah si gadis cantik pengangon kambing melayang ke depan memerseni sebuah tempelengan ke atas pipi Thian Pian siauwcu bentaknya keras.

"Kau lelaki konyol, kau anggap dengan berbuat demikian maka jiwamu bisa selamat ?? kau anggap darah ayahku mengalir dengan sia sia belaka?"

Thian Pian siauwcu hanya memandang gadis itu sambil tertawa hambar, ia sama sekali tidak menjawab sedang matanya tak bergerak. Saking cemasnya si gadis cantik pengangon kambing mengucurkan air mata.

"Engkoh Liem ! aku tak akan perduli banyak urusan lagi. Ia tak mau melawan, hal ini dikarenakan kerelaannya sendiri. Kau tak bisa salahkan aku bertindak keji."

Sembari berkata ia maju dua langkah ke depan dan mengirim satu pukulan dahsyat ke atas dada Thian Pian Siawcu..

"Braaak ..!"

Serangan tadi dengan telak bersarang di tubuh Ke Hong.

Seluruh tubuhnya bergetar keras tapi tidak roboh ke atas tanah.

Dari ujung bibirnya perlahan lahan mengucurkan darah segar.

Ia buka matanya memandang wajab si gadis cantik pengangon kambing, sinar matanya begitu halus dan berperasaan, hal ini membuat Lie Wan Giok merasakan badannya semakin bergidik.

'Ke Hong, kenapa kau tidak membalas ??

jika kau mau membalas aku rela membiarkan diriku kena dipukul satu kali kemudian sekali lagi kita bertempur dari depan!"

Thian Pian siauwcu tetap menggeleng tanda tidak mau.

Habis sudah kesabaran si gadis cantik pengangon kambing, telapak tangannya diayunkan sekali lagi melancarkan satu serangan dahsyat mengamcam dada lawan.

Tapi belum sempat serangannya dilancarkan tangan kanan Liem Tou secepat kilat sudah menangkap pergelangan tangannya.

"Wan moay maukah kau dengar dulu sepatah kata ucapanku?? asalkan Ke Hong suka berubah watak dan berbuat kebajikan maka dia adalah seorang tayhiap yang susah didapat di dalam dunia persilatan. Mungkin pada saat ini kau dapat melihat sendiri bukan, betapa halus dan ramahnya sinar mata orang ini?? Bagaimanapun juga kita harus memberikan satu kesempatan bagi dirinya."

"Engkoh Liem. sudah tentu aku dapat melihat kesemuanya itu, tapi dendam sakit hart ayahku apakah harus ditinggalkan demikian saja?? seru sang gadis cantik pengangon kambing sambil menangis.

"Wan moay. Supek sebagai seorang pendekar sejati yang membela keadilan akhirnya mati di tangan Ke Hong yang tidak pegang janji, Seharusnya kita tidak boleh melepaskan dirinya. tapi asalkan Ke Hong dapat melepaskan kejahatan kembali ke jalan yang benar dan melakukan kebajikan buat semua orang, aku rasa sukma supek yang ada di alam bakapun setelah tahu ini, dia tidak akan menyalahkan Wan Moay, karena tidak balaskan dendam bagi dirinya! Wan moay! coba kau pikir benar bukan??"

Ia merandek sejenak kemudian sambil berbisik katanya lagi.

'Wan moay!

masih ada satu urusan lagi harus kuberitahukan kepadamu, kita suami istri belum pernah berkumpul karena banyaknya peristiwa dalam dunia kangouw yang harus kita tangani.

Jikalau kita biarkan dia terjunkan diri ke dalam dunia persilatan untuk mewakili kita mengurusi persoalan persoalan itu bukankah kita bisa bersenang senang??

Inilah sedikit keinginanku yang terlalu serakah.

Nah Wan Moay ampunilah dirinya!.."

Merah padam selenbar wajah si gadis cantik pengangon kambing sebab mendengar ucapan tersebut, tapi ia tidak banyak bicara.

Melihat si gadis cantik pengangon kambing sudah setuju.

Liem Tou segera mengambil kembali buntalan kecil tadi dari tangan Giok jie dan dikembalikan ke tangan Thian Pian Siauwcu.

"Ke heng, keadaan kita ini haru jauh berbeda dengan keadaan tempo dulu. mengingat kau ada maksud untuk kembali ke jalan yang benar, Wan moay hendak melupakan dendam sakit hati atas kematian si cangkul pualam Lie Sang untuk sementara waktu dan tiga tahun kemudian kita baru bereskan kembali. Asalkan Ke Hong sungguh sungguh ada maksud menjadi orang baru, urusan ini akan kami sudahi sampai disini saja. Nah! pikirkanlah urusan ini sebaik baiknya."

Tidak menanti jawaban dari Thian Pian Siawcu lagi, ia tarik tangan si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie untuk diajak berlalu turun dari puncak.

Setelah Liem Tou membawa si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie turun dari puncak It Ci Hong mereka tidak lagi berdiam lebih lama di atas pulau Lie Hoa To, dengan menunggang perahu semula perlahan lahan berangkat ke tengah lautan.

Liem Tou menghela napas panjang, sinar matanya dialihkan kembali ke atas it Ci Hong, mendadak ia berseru tertahan.

"Ahhh...! Wan Moay, coba kau lihat kenapa di atas puncak ada bayangan putih yang sedang bergerak?"

"Sungguh aneh!, teriak si gadis cantik pengangon kambing pula setelah melihat ke arah puncak.

"Menurut apa yang kamu ketahui di atas puncak Lie Hoa To kecuali Ke Hong serta kedua ekor burung elang itu sudah tidak ada kehidupan lagi, tapi darimana datangnya bayangan putih itu?. Makin dilihat Liem Tou makin keheranan, mendadak hatinya sedikit tergerak, teriaknya keras keras.

"Cepat kembali! Cepat kembali!"

Dengan kerahkan tenaga dalam sepenuhnya ia mengirim pukulan kosong ke atas permukaan air laut, perahu yang ditumpangi sekali lagi berputar haluan dan menuju ke tepian, menanti pukulan kedua dilancarkan.

perahu tersebut telah meluncur dengan cepatnya ke arah pantai.

Si gadis cantik pengangon kambing tidak mengerti apa yang telah terjadi.

dengan cemas tanyanya.

"Kau teringat apa? kenapa sikapmu bagitu gelisah?". 'Wan moay. untuk sementara kau jangan bertanya, cepat bantu aku mendorong perahu balik ke pantai,"

Teriak Liem Tou sembari mnggerakkan tangannya berulang kali.

Padahal perahu itu sudah meluncur cepat hanya pemuda ini merasa terlalu lambat.

Melihat sikap orang pemuda yang gugup si gadis cantik pengangon kambing ikut cemas.

'Engkoh Liem, sudah tentu akan kubantu dirimu.

tapi beritahu dulu kepadaku apa yang telah terjadi"

Teriaknya keras.

"Bayangan putih itu pasti Boe Beng Tok su adanya, jikalau benar dirinya maka keadaan Ke Hong sangat berbahaya"

"Tapi bukankah Boa Beng Tok su dengan Thian Pian siauwcu tidak terikat dendam sakit hati apapun ? mengapa kau mengatakan keadaannya dalam bahaya??.Agaknya gadis ini masih tidak paham maka dari itu ia mendesak terus.

"Wan Moay! coba kau pikir apa maksudnya Boe Beng Tok Su membawa pergi putra Thian Pian Siawcu?? Pertama, karena bocah ini memiliki bakat yang bagus sehingga dapat dididik menjadi seorang jago lihat. Kedua asalkan Thian Pian Siawcu dapat dibinasakan ini hari maka dilain waktu ia bisa menggunakan alasan ini untuk memerintahkan bocah tersebut menuntut balas kepada kita. Boe Beng Tok Su telah mengambil keputusan untuk mendidik bocah ini selama sepuluh tahun. Ia akan pinjam kekuatan bocah tersebut membalas dendam sakit hatinya tapi ini hari setelah ia naik ke puncak Ie Cie Hong dan melihat Thian Pian Siawcu tidak mati karena takut rencananya gagal. coba kau pikir, dapatkah ia melepaskan diri Thian Pian Siawcu???"

Mendengar ucapan itu rada cengli, si gadis cantik pengangon kambing mengirim pukulan kosong makin santer lagi.

Ketika itulah dari tempat kejauhan di tengah lautan mendadak Giok Jie menemukan sebuah titik hitam sedang bergerak mendatang.

"ach..! di sanapun datang sebuah perahu"

Teriaknya tak tertahan. Liem Tou adalah seorang pemuda yang cerdik, setelah berpikir sebentar segera ujarnya.

"Perahu itu pasti dltumpangi Ciau Toa Pek. tentu ia berhasil menemukan jejak Boe Beng Tok Su maka segera mengejar kemari". Ketika perahu mereka tiba sepuluh tombak jauhiya dari tepi pantai, mendadak Liem Tou bangun berdiri.

"Tak bisa ditunggu lagi, aku harus berangkat selangkah terlebih dahulu.."

Serunya.

Ia enjotkan badan kemudian dalam bebeerapa kali tutulan di atas permukaan air laut tubuhnya sudah berada di tepi pantai.

lalu dengan kerahkan ilmu meringankan tubub meluncur ke atas puncak It Cie Hong.

Sawaktu ia lari naik dengan cepatnya itulah tiba tiba terdengar dua kali pekikan nyaring bergema di tengah angkasa, tampak kedua ekor burung elang tersebut mendadak meluncur ke bawah dengan gerakan sedang menyerang musuh.

Liem Tou makin mempercepat larinya, seluruh tenaga sinkang yang dimiliki dikeluarkan semua.

Di bawah sorotan sinar sang surya tampaklah sesosok bayangan manusia berkelabat naik ke atas puncak, saking cepatnya sehingga susah dibedakan lagi lelaki atau perempuan orang itu.

ketika itulah dari atas puncak berkumandang keluar suara gelak tertawa Boe beng Tok Su.

mendengar suara itu, Liem Tou merasakan hatinya bergidik, pikirnya.

"Suara gelak tertawanya ini menunjukkan rasa bangga karena ia berhasil memenuhi maksud hatinya. atau mungkin ia sedang melangsungkan suatu pertarungan sengit melawan Thian Pian Siauwcu? Mereka berdua sama sama menderita luka, hanya saja luka Thian Pian Siawcu baru sana diterima sedangkan luka Boe Beng Tok su sudah agak lama dan hampir mendekati kesembuhan..."

Sedikitpun ia tidak berani berhenti, dalam sekejap mata ia sudah tiba di puncak gunung tersebut.

Ketika itulah terdengar suara tertawa dingin yang pendek dan rendah berkumandang keluar, suara itu berasal dari Thian Pian Siawcu hal ini menandakan apabila Thian Pian Siawcu belum menemui ajalnya.

Liem Tou segera bersuit panjang dan tertawa bergelak.

"Sun Ci Si, kau jangan pergi! tindakanmu sungguh keterlaluan!"

"Haa ..haaa..haaa. , . Liem Tou; kedatanganmu terlambat satu langkah"

Suara sautan dari Boe Beng Tok Su bergema turun dari puncak.

Bagaikan selapis cahaya Liem Tou meluncur naik ke atas puncak "Sun Ci Si, jika kau berani mencelakai Thian Pian Siauwcu, maka kau tak bakal lolos dari tanganku lagi!"

Ketika Liem Tou tuba kurang lebih sepuluh tombak dari puncak mendadak tampak bayangan putih berkelebat lewat.

"Aduh celaka..!"

Tak terasa lagi ia berseu tertahan.

Tubuhnya meluncur makin cepat lagi.

Siapa sangka ketika ia tiba di atas puncak tampaklah tubuh Thian Phian Siawcu telah terlentang di atas tumpukan bangkai bangkai burung elangnya, dada bagian depan basah oleh nada dorah.

Sepasang matanya melotot bulat sedang sinar matanya sudah buyar.

Jelas ia tak ada harapan untuk hidup lebih lama.

Menanti keadaan itu Liem Tou jadi sangat gusar, melihat bayangan putih tadi sedang bergerak menuju bawah puncak.

Ia sengera mengejar dari belakang.

Tapi, waktu itulah Thian Pian Siawcu muntah darah dan menegur lirih.

"Liem Tou!"

Buru buru Liem Tou menghampiri dirinya.

"Ke heng. bagaimana keadaan lukamu'"

Tanyanya serius."

Biarlah aku kejar dulu Boe Beng Tok su kemudian baru kembali menjumpai dirimu!"

Tapi Thian Pian siauwcu menggeleng. Ia meronta kemudian meloncat bangun.

"Liem Thayhiap, aku serahkan anakku kepadamu !' teriaknya keras. Kembali ia muntah darah berulang kali, tubuhnya roboh ke atas tanah dan si jagoan aneh dari Bu Lim ini pun menghembuskan napasnya yang penghabisan.

"Apa yang Ke Heng pesankan pasti akan siawte lakukan"

Kata Liem Tou dengan sedih.

Menanti ia berpaling kembali ke bawah puncak, bayangan putih tadi sudah lenyap di tengah hutan.

Waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie sama sama telah tiba di atas puncak, melihat Thian Pian Siawcu sudah mati buru buru tanyanya.

"Benar ia mati di tangan Boe Beng Toksu?"

Liem Tou mengangguk.

"Kali ini aku tidak akan mengampuni dirinya lagi, aku akan segera mengejar kebawah puncak, aku rasa ia belum jauh melarikan diri dari tempat ini."

Baru saja pemuda ini menyelesaikan kata katanya, dari bawab puncak sudah terdengar suara teriakan seseorang.

'Sun Ci Si, cepat kembalikan Cioe dji-ku, kau tak bakal lolos dari sini".

Tampak si telapak besi berwajah riang Cau Thian Kie lari naik ke atas puncak.

Liem Tou yang ingin memperlihatkan diri kepada Ciau Thian Kie apabila Thian Pian Siawcu mati di tangan Boe Beng Tok Su, ia segera menyongsong kedatangan sembari berseru.

"Ciau Locianpwee. aku ada satu perkataan hendak diutarakan kepadamu' dan kami berharap cianpwee mau mempercayainya". Ketika Ciau Thian Kie menemukan diri Liem Tou ada di sana, air mukanya berubah serius, seluruh tubuhnya tergetar keras. 'Bukankah kau telah berhasil menuntat balas? buat apa kau beritahukan urusan ini kepadaku?"

"Dendam sih telah kami balas. tapi Thian Pian Siauwcu tidak kami bunuh, ia masih hidup"

Kata Liem Tou sambil mengangguk.

"Siapa sangka ketika kami datang kesini lagi, ia telah dicelakai orang. Sebelum Ke heng menemui ajalnya, ia memberi pesan terakhir untuk serahkan putranya Cioe Ling Cu kepadaku, dan aku sudah menyanggupi untuk pikul tugas ini. Inilah yang hendak kuberitahukan kepada Cianpwee, serahkan saja soal Cioe Ling Cu ke tangan aku Liem Tou, aku pasti pergi mencari diri Boe Beng Tok Su"

Agaknya Ciau Thian Kie merasa sedikit diluar dugaan setelah mendengar ucapan itu, ia berdiri melengak.

"Jika sungguh sungguh demikian. Aku harus mengucapkan terima kasih dahulu padamu...tapi Cioe Ling Cu tetap akan kucari sendiri..ohh, aku ingin bertanya kepadamu..."

Mendadak air mukanya berubah jadi serius.

sambungnya.

'Kau mengatakan bahwa Ke hong mati di tangan orang lain apakah ia mati di tangan Boe Beng Tok Su?

Antara Ke Hong dengan Boe Beng Tok su tiada ikatan dendam sakit hati apapun.

mengapa ia akan turun tangan keji terhadap dirinya??

"Inilah sebabnya ia hendak mercelakai dan memfitnah diriku, sepuluh tahun kemudian setelah Cioe Ling Cu menginjak dewasa.

ia punya alasan untuk secara berterus terang untuk menuntut balas kepada diriku"

"Hmm! Liem Tou! kau takut setelah Cioe Ling Cu menginjak dewasa lantas datang menuntut balas terhadap dirimu"

Teriak Ciau Tbian Kie sambil mendengus dingin. Mendengar ucapan tersebut Liem Tou jadi sangat terperanjat.

"Ciau Thian Kie, apa maksud ucapanmu ini??? aku Liem Tou adalah seorang manusia yang suka berterus terang dan belum pernah melakukan suatu pekerjaan yang tidak boleh diketahui orarg lain, Siapa yang patut kutakuti??? yang kukatakan kesemuanya adalah benar. Kau aku anggap aku bicara begini karena aku takut ada orang datang mencari balas dengan diriku?? kau anggap Ke Hong mati ditanganku dan kini menimpahkan kesalahan ini ke pundak orang lain??."

"Liem Ton soal ini Kau tak perlu pungkiri lagi. aku bisa pergi cari Boe Beng Tok su untuk bertanya sendiri kepadanya"

Teriak Ciau Thian Kie dengan nada berat.

Tanpa menanti jawaban dari pemuda itu lagi ia putar badan lari turun dari puncak.

Melihat orang tua itu berlalu Liem Tou tidak turun tangan mancegah, ia pikir biarlah Ciau Thian Kie pergi dari sana untuk mencari jejak Boe Beng Tok su.

Setelah orang itu berlalu Liem Tou balik lagi ke atas puncak, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap seluruh pandangan di pulau Lie Hoa To tersebut.

menanti ia gagal mendapatkan jejak Boe Beng Tok su.

dalam hati lantas berpikir;

"Asalkan Boe Beng Tok su masih ada disini, apa yang perlu kukatakan lagi.. mungkinkah ia berhasil lolos dari tangaku?"

Kepada si gadis cantik pengangon kambing segera ujarnya.

"Bagaimanapun juga sekarang kita harus pergi mencari diri Boe Beng Tok su, tapi bilamana kita tidak menghancurkan dahulu perahu yang ia tumpangi maka mungkin sekali menggunakan keadaan gelap nanti malam ia bisa ngeloyor pergi dari sini, ayo jalan! setelah menemukan perahunya, kita tak perlu takut ia berhasil meloloskan diri lagi"

Si gadis cantik pengangon kambing mengangguk.

Bila ditinjau dari atas bukut dapat dilihat sekeliling pantai pulau itu banyak terdapat tempat tempat yang digunakan untuk persembunyian.

Kembali Liem Tou berkata.

"Kau tunggulah aku di atas puncak ini, paling banyak setengah jam, aku akan kelilingi seluruh pantai pulau Li Hoa To ini, setelah kuhancurkan perahu yang ditumpangi Boe Beng Tok Su kita baru cari tempat persembunyiannya."

Setelah memperoleh ijin dari si gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou segera lari turun gunung dan melakukan pemeriksaan di sepanjang pantai pulau kecil itu, akhirnya di ujung sebelah barat laut pulau tersebut sang pemuda berhasil temukan perahu yang digunakan Boe beng Tok Su.

perahu tersebut kosong tak berpenghuni.

Dari pinggir pantai Liem Tou segera mengirim satu pukulan gencar menghantam perahu kecil itu, dengan kekuatan daya pukulan pemuda itu, kontak perahu tadi hancur dan tenggelam tersapu ombak.

Setelah berhasil menenggelamkan perahu tersebut, ia berpaling sembari bersuit panjang memberi tanda buat si gadis cantik pengangon kambing sedang ia sendiri berkelebat menuju ke atas puncak.

Siapa nyana di atas puncak kosong tak tampak bayangan gadis itu, hatinya menjadi kaget.

"Wan Moay, kau berada di mana?"

Teriaknya dari atas puncak Suaranya halus tapi memanjang sehingga seluruh pulau Lie Hoa To dapat menangkap suaranya itu, setelah lama ditunggu akhirnya dari arah sebelah barat terdengar suara sebutan dari si gadis cantik pengangon kambing serta bentakan Ciau Thian Kie.

Tak usah diragukan lagi tentu mereka berhasil menemukan diri Boe Beng Tok su dan kini mungkin telah bergebrak dengan sengitnya.

Buru buru ia salurkan hawa sinkang dengan ilmu meringankan tubuh lari turun ke bawah puncak.

Seperminum teh kemudian dari tempat kejauhan Lien Tou dapat menangkap suara hembusan angin pukulan serta suara Boa Beng Tok su sedang berkata.

"Ciau Thian Kie, aku lihat lebih baik kita jangan bergebrak kembali, kalau kau samapai berhasil membinasakan diriku. maka hal ini berarti Cioe Ling Cu selama hidup tidak akan berhasil kau temukan kembali".

"Sun Ci Si ! Kau dengan si bangsat tua Ciat Ci Tauwto boleh dikata berasal dari satu cetakan, banyak akal dan keji". Teriak Ciau Thian Kie sangat gusar! 'Hmm jikalau ini hari kulepaskan dirimu. dikemnudian hari kau tentu akan mencelakai Cioe jie sehingga mati tanpa mendapatkan tempat kubur." 'Pada malam itu aku pernah berkata kepadamu. aku berbuat demikian kesemuanya adalah bermaksud baik. Jikalau Cioe Ling Cu ikut diriku maka sepuluh tahun kemudian aku tanggung dia tak bakal menjumpai tandingan di kolong langit. Di samping itu iapun bisa balaskan dendam sakit hati kematian ayahnya." 'Boe Beng Tok su ! kau bilang siapakah si pembunuh ayah Cioe Ling Cu? . .' Bentak si gadis cantik pengangon kambing gusar. 'Sudah tentu Liem Tou si bangsat cilik serta itu si gadis cantik pengangon kambing, apa yang perlu kau tanyakan lagi?"

"Haaa .haaa . Sun Ci Si, tindakanmu ini hanya merupakan suatu permainan lagu lama dari Thiat Ci Tauw to, mungkin kau bisa mengelabui orang lain tapi jangan harap bisa mengelabui diriku"

Teriak Ciau Thian Kie sambil tertawa tergelak.

'Sun Ci Si, cepat katakan kau sembunyikan Cioe Ling Cu dimana?

aku mau mencari kembali dirinya guna balaskan dendam sakii hati terbunuhnya Ke Hong.

karena musuh besarnya bukan lain adalah kau sendiri"

"Eeeiii. Ciau Thian Kie, kau jangan bicara begitu, aku dengan Ke Heng tiada ikatan dendam maupun sakit hati apalagi putranya sudah angkat diriku sebagai guru, apa gunanya aku mencelakai dirinya??"

Ketika itu Liem Tou telah bersembunyi di belakang sebuah pohon besar mencuri dengar pembicaraan mereka, di samping itu ia pun menonton jalannya pertarungan antara Boe Beng Tok Su melawan Ciau Thian Kie.

Pada dasarnya baik Sun Ci Sie maupun si telapak besi berwajah riang sama sama telah terluka parah, sekalipun di dalam pertarungan ini mereka sama sama menggunakan tenaga penuh, kedahsyatannya tidak sehebat tadi lagi, angin pukulannya tidak santer.

Selama ini si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie berdiri disisi kalangan hanya menonton belaka, mereka tidak ikut campur dalam pertarungan tesebut.

Agaknya Ciau Thian Kie sengaja mengulur waktu untuk menanti kedatangan Liem Tou ke sana, sudah tentu saja maksudnya ini dapat diketahu pula oleh Boe Beng Tok Su.

Beberapa kali ia ingin melarikan diri dari sana, tapi takut kalau si gadis cantik pengangon kambing yang ada di sisi kalangan setiap saat turun tangan mencegah, saking ragu ragunya terakir ia harus melepaskan kesempatan bagus.

Setelah Liem Tou merasa waktunya telah tiba, iapun meloncat keluar dari tempat persembunyiannya.

Melihat munculnya sang pemuda, Boe Beng Tok Su menjerit kaget, dengan kalap ia mengirim dua babatan dahsyat ke depan memaksa Ciau Thian Kie mundur dua langkah ke belakang.

"Sun Ci Si. kau jangan pikir untuk pergi lagi"

Seru Liem Tou sembari tersenyum.

"Kenapa kita tidak berjumpa dalam keadaan bersahabat saja seperti waktu perjumpaan kita di atas sampan tempo dulu??"

Setelah melihat munculnya Liem Tou di sana, Boe Beng Tok Su pun mengerti tidak mungkin baginya lagi berhasil melarikan diri, dalam keadaan seperti ini, karenanya ia berdiri tak berkutik.

"Liem Tou, apa yang kau kehendaki?? ucapanmu masih mengus di telingaku, apakah sekarang kau ada maksud berubah pikiran?? "Sun Ci Sie aku bisa saja mengampuni selembar jiwamu. tapi aku takut ini hari ada orang lain yang tak bakal suka melepaskan dirimu"

Jengek Liem Tou kembali sambil tertawa. Mendengar di antara ucapan pemuda she Liem itu mengandung maksud hendak membinasakan dirinya, dengan gusar Boe Beng Tok Su membentak keras.

"Liem Tou! kau bangsat cilik, ucapanmu lebih bau daripada kentut anjing."

Liem Tou hanya tertawa saja mendengar makian tersebut, sejak ia memperdalam ilmu semedi, napsu angkara murkanya sudah banyak berkurang.

Terhadap ucapan macam begitu sudah tidak banyak mmpengaruhi dirinya lagi.

"Sun Ci Si!"

Ujarnya hambar.

"Ada baiknya kau jangan memaki orang lain, terus terang kuberitahukan kepadamu. Ke Heng telah menitipkan putranya Cioe Ling Cu kepadaku. Sekarang aku hendak tuntut dirimu,bocah itu telah kau sembunyikan dimana??" 'Heee.. heee..heee, . kau jangan harap bisa menemukan dirinya, apalagi tidak mungkin Thian Pian Siauwcu bisa titipkan anaknya kepadamu! !'. seru Boe Bang Tok su sambil tertawa dlngin tiada hentinya. Melihat kelakuan lawannya, timbul rasa gusar di dalam diri Liem Tou. Air mukanya membesi dan menunjukkan sikap wibawa yang membuat orang lain bergidik, katanya serius. 'Sun Ci Si! sewaktu kau berada di puncak It ci Hong aku dengar kau berteriak.

"Liem Tou, kedatanganmu terlambat satu tindak!", ini membuktikan apabila Thian Pian Siawcu menemui ajalnya ditanganmu, kenapa tidak kau akui saja seluruh perbuatan terkutukmu di hadapan Ciao Loo Cianpwee saat ini? Aku lihat ada baiknya cepat dikit kau beritahu dimana kau sembunyikan Cioe Ling Cu berada, kalau tidak...hmm! Selamanya Liem Tou tidak takut orang lain tak suka bicara terus terang"

Kembali Boo Beng Tok su tertawa dingin tiada hentinya.

"Aku lihat belum tentu!"

Mendadak tampak bayangan putih berkelebat lewat, sesosok tubuh meloncat tiga tombak ke angkasa.

Liem Tou tegap berdiri tak berkutik di tempat semula, hanya sepasang matanya dengan cepat mengikuti semua gerak geriknya.

Mendadak dari tengah udara Sun Ci Si merogoh sakunya, melihat hal tersebut hati Liem Tou rada tergerak.

"Wan Moay, Giok Jie cepat mundur ke belakang"

Teriaknya keras. Pada saat itulah Boe Beng Tok Su telah membentak keras.

"Liem Tou! Kau terlalu mendesak diriku, sekarang rasakanlah kelihayanku..."

Sepasang tangan bersama sama diayunkan ke depan, mendadak dari telapak tangannya menyambaar datang dua gulung angin pukulan yang santar.

Di balik kesantaran angin pukulan tersebut dengan ketajaman mata Liem Tou mendadak ia temukan adanya segulung bubuk warna merah ikut menyambar datang.

Liem Tou makin terperanjat lagi, diam diam pikirnya.

"Jika akupun mengirim sebuah pukulan untuk memukul buyar bubuk merah itu, si gadis cantik pengangon kambng dan Giok jie serta Thian kie beberapa orang pasti akan jadi korban. jikalau aku tidak mengirim pukulan maka dirikulah yang akan terkurung di bawah ancaman serangan lawan. Terhadap angin pukulannya sich tak perlu takuti. justru bubuk merah inilah yang berbahaya, benda itu pasti semacam bubuk beracun yang sangat ganas". Setelah ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, mengetahui urusan amat bahaya buru buru teriaknya.

"Wan moay! Giok Jie! cepat kirim angin pukulan untuk menahan datangnya bubuk bubuk beracun itu mengenai badan", Bersamaan itu pula sepasang telapaknya bersama sama didorong ke depan melancarkan sebuah pukulan bertenaga singkang lunak yang maha hebat, tanpa suara tanpa gerakan tahu tahu bagaikan selapis tembok baja yang sangat kuat menahan datangnya serangan angin pukulan Boe Beng Tok Su. Si gadis cantik pengangon kambing yang ada di samping buru buru menarik Giok jie berdiri berdempet dengan dirinya, lalu bersama sama mengirim angin pukulan dengan mengikuti gerakan dari Toa loo Cin Keng. Setelah melihat si gadis cantik pengangon kambing selamat, Liem Tou siap mengirim sebuah pukulan dahsyat lagi untuk merubuhkan diri Sun Ci Si, tapi ketika itulah mendadak terdengar Ciau Thian Kie berkaok keras.

"Sun Ci Si, kau berani turun tangan keji terbadap diriku!"

Sepasang tangannya dengan kalap mencakar wajah sendiri disusul badannya bergelindingan di atas tanah bagaikan orang berpenyakit ayan.

Melihat keadaan seperti ini diam diam Liem Tou menghembuskan napas dingin, telapak tangannya segera dibabat keluar sehebat hebatnya.

Boe Beng Tok su menjerit tertahan, badannya kena tersapu mental sejauh lima tombak dan jatuh terbanting di atas tanah keras keras.

Liem Tou sama sekali tidak berhenti sampai disitu saja, kembali bentaknya keras.

'Wan moay.

Giok jie cepat mundur seratus tombak ke belakang!"

Si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie sama sama menurut dan meloncat mundur beberapa tombak ke belakang.

Menanti kedua orang gadis tersebut telah mengundurkan diri, Liem Tou muli menggerakkan sepasang telapaknya mengirim pukulan maut yang menggidikkan hati, seketika itu juga lima puluh tombak di sekeliling kalangan dipenuhi dengan desiran angin pukulannya.

Jilid 55 .

Ie Hee San-cung kembali ramai (Tamat) BEBERAPA saat kemudian bubuk beracun telah tersapu bersih dari tempat itu.

Tapi pada saat itu pula bayangan tubuh Boe Beng Tok su telah lenyap tak berbekas entah orang itu telah melarikan diri kemana?

Sekalipun begitu Liem Tou tahu Boe Beng Tok su telah menderita luka, ia tak bakal berhasil melarikan diri terlalu jauh.

Tanpa berpikir panjang lagi badannya segera menyusup masuk kedalam sebuah hutan Lie Hoa Liem disisi kalangan.

Ketika itulah ia temukan sesosok bayangan putih dengan gerakan yang cepat sedang menerobos masuk kedalam hutan.

"Sun Ci Si.kau hendak melarikan diri kemana?"

Bentak Liem Tou keras keras.

Bagaikan sebatang anak panah ia meluncur masuk kedalam hutan Lie Hoa Liem dimana Boe Beng Tok su sedang melarikan diri terbirit birit.

Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya.

diam diam ia kumpulkan tenaga sinkang nya keatas kedua jari tangan serta telunjuknya, lalu dengan gusar bentaknya.

"Sun Ci Si! berhenti."

Bersamaan dengan suara bentakan tersebut jari taagannya berkelebat lewat mengirim sebuah sentilan tajam kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat laksana angin taupan menghajar punggung Boe Beng Tok su.

Bagaimanapun juga Boe Beng Tok su adalah seorang jago Bu lim yang memiliki pengalaman sangat luas mendengar adanya angin serangan mengancam punggungnya dengan sebat ia berkelit kesamping.

Liem Tou tidak menjadi bingung.

hawa murninya disalurkan lebih menghebat sekejap mata ia melancarkan tujuh, delapan buah totokan sekaligus.

Setiap desiran jari tangan meluncur tanpa menimbulkan suara yang keras tapi bagi Boe Beng Tok su cukup mengejutkan batinya ia tahu kali ini dirinya akan musnah.

Sembari putar badan tanpa menghindar atau berkelit bentaknya kalap"

"Liem Tou, seluruh kolong langit sejak ini menjadi milikmu, kenapa kau begitu mendesak aku orang?"

Sembari membentak ia kumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya mengirim segulung angin pukulan yang maha dahsyat.

Tetapi bagaimana pun juga Boe Beng Tok su yang masih menderita luka tidak memadahi untuk melawan serangan jari tangan Liem Tou.

Terdengar ia mendengus berat tahu-tahu badannya sudah tertotok kaku dan roboh keatas tanah.

kendati begitu dengan gusar ia melototi diri Liem Tou tajam2.

Saat itulah lambat lambat Liem Tou berjalan menghampiri diri Boe Beng Tok su, meroooh sakunya dan mengambil keluar sebungkus bubuk warna merah, 'Heee...hee Sun Ci Si !

sekarang akan kulihat kau dapat berbuat jahat lagi tidak?

ayoh terangkan dimana kau sembunyikan diri Cioe Ling Cu??* Sekalipun seluruh tubuh Sun Ci tak dapat berkutik, dengan paksakan diri ia menggeleng juga.

Liem Tou tertawa dingin mendadak ia cengkeram lehernya lalu dengan menggunakan ilmu melepaskan otot dan tulang ditekannya keras-keras.

Seketika itu juga Boe Beng Tok Su merasakan seluruh badannya sakit hingga merasuk ke tulang sumsum.

"Liem Tou!"

Makinya kalang kabut.

"Aku benci kau sehingga pingin kutelan dagingku mentah-mentah, jangan harap kau bisa mendapatkan jawaban dari mulutku,' Liem Tou menambahi lagi tenagaaya dengan dua bagian, kontan Boe Beng Tok-su merasa kesakitan. keringat dingin sebesar kacang kedelai bagaikan curahan hujan mengucur keluar tiada hentinya, bedan pun gemetar keras. Tetapi sambil gertak gigi ia tetap mempertahankan diri. Melihat keketusan serta kekerasan kepala orang ini, Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya.

"Oooouw, ..jadi kau ingin mencari siksaan buat dirimu?? baik! Satu detik kau tidak mau bicara satu detik pula tak akan kulepaskan cengkeramanku!' Kelima jarinya yang mencengkeram tengkuk Sun Ci Si makin diperkencang lagi bahkan makin lama makin kuat dan makin kencang. Lama kelamaan Boe Beng Tok-su tak dapat menahan rasa sakitnya lagi, ia mulai menjerit-jerit bagaikan babi disembelih, air mukanya pucat pasi melebihi mayat, ia tidak kuat menahan diri lagi.

"Ayoh cepat bicara, asal kau suka bicara akan kulepaskan dirimu""

Jeritan Boe Beng Tok-su yang keras ini segera memancing datangnya sigadis cantik pengangon kambing serta Giok-jie. terdengar gadis itu berbisik kepada diri Liem-Tou dengan suara yang lirih.

"Ciau Thian Kie sudah mati, sepasang matanya berubah jadi dua buah lubang darah"

Bila tidak mendengar berita ini masih tidak mengapa, setelah mendengar berita kematian si orang tua itu Liem Tou jadi gusar, cengkeramannya makin diperkencang.

Kali ini Boe Beng Tok-su benar-benar tidak kuat menahan diri, teriaknya keras;

"Cepat lepas tangan. aku bicara, aku bicara!"

Liem Tou segera lepas tangan.

"Kau bebaskan dulu jalan darahku yang tertotok, aku hantar kalian kesana!"

Kata Boe Beng Tok-su sambil menghembuskan napas panjang. Liem Tou memandang sekejap kearahnya kemudian tertawa dingin.

"Heee.. .heee.,,. aku takut kau bisa melarikan diri dari hadapanku "

Sekali tabok punggungnya sepasang lutut Boe Beng Tok-su melemas dan jatuh berlutut diatas tanah, Tapi sebentar kemudian ia sudah meloncat bangun dan berjalan menuju ketepi pantai.

"Eeei...kau hendak kemana???'' tegur Liem Tou cepat.

"Menumpang perahu kembali ke daratan" 'Haaa... haaaa perahumu sudah hancur, lebih baik ikut bersama-sama kami saja!"

Mendengar perkataan itu Boe Beng Tok-su tertawa dingin tiada hentinya.

"Perahumu pun sudah kuhancurksn sejak tadi"

Kali ini Liem Tou yang tertegun. tapi sebentar kemudian ia sudah teringat akan perahu yang ditumpangi Ciau Kie, segera pemuda ini tertawa dingin.

"Kalau begitu kita gunakan perahu dari Ciau Thian Kie saja"

Untuk ketiga kalinya Boe Beng Tok su tertegun, akhirnya ia menunduk dan bungkam dalam seribu bahasa.

Liem Tou memimpin beberapa orang itu menuju keperahu Ciau Thian Kie, dengan si gadis cantik pengangon kambing yang pegang kemudi Liem Ton serta Boe Beng Tok su duduk di ujung perahu.

Waktu itu sang surya telah condong ke-barat, cahaya keemasan memancarkan sinarnya keempat penjuru membuat permukaan air laut berwarna kemerah merahan, pemandangan waktu itu amat indah sekali.

Liem Tou serta Boe beng Tok su, si jagoan dari kalangan putih serta dari kalangan hitam itu duduk diujung perahu dengan pikiran yang berbeda beda.

Dengan waiah penuh senyuman mendadak Liem Tou berbisik lirih.

"Cahaya sang surya waktu sore amat indah sekali, hanya sayang senja telah menjelang datang"

Beberapa ucapan ini sekalipun tiada bermaksud apa-apa tetapi dalam pendengaran Boe Beng Tok-su bagaikan sebilah pisau yang dihunjamkan kedalam perutnya, kontan wajahnya berubah hebat, dengan sinar mata mendongkol ia melirik sekejap wajah Liem Tou.

Tapi pemuda kita tidak ambil perduli"Sun Ci Si!"

Ujarnya kembaii "Aku ingin bertanya satu hal kepadamu, Ah-ie mu begitu menaruh perhatian kepadamu bahkan berharap kau bisa lepaskan kejahatan kemball ke jalan yang benar.

Kenapa kau selalu tidak menggubris dirinva??" (Ah-ie adalah panggilan untuk adik ibu.) Boe beng Tok su mendengus dingin.

"Liem Tou! Aku tidak ada perkataan yang bisa diutarakan kepadamu kau jangan ngaco belo lagi"

"Tidak! Aku tetap merasa apabila kau dapat melepaskan jalan yang sesat, kembaii ke jalan yang benar tanpa kehilangaa kejantananmu serta juga kegagahan seorang jago Bu lim sejati"

Kata Liem Tou seraya menggeleng.

'Karena itulah beberapa kali aku memberi kesempatan bagimu untuk memilih jalan yang benar, Siapa nyana kau tidak mau tahu maksud baikku, bukannya berbuat kebaikan sebaliknya malah berbuat kejahatan.

"aaaai ! kali ini kau tak dapat salahkan diriku lagi, karena Ah-ie mu sendiripun tak suka menggubris dirimu lagi "

"Hmm! siapa yang minta ia mengurusi diriku??? aku tidak punya Ah ie macam dia "

Tapi secara mendadak ia mengucurkan air mata. Mengambil kesempatan itulah Liem Tou segera membentak keras .

"Sun Ci Si, asal kau suka kembali ke jalan yang benar aku Liem Tou pasti akan memberikan satu jalan hidup buat dirimu"

Siapa nyana Boe Beng Tok su tetap menggeleng, suara tangisannya makin terisak.

'Lebih baik kalian bunuh saja diriku kapan pun juga aku tak bisa kembali kejalan yang benar, aku benci diriku sendiri!

aku benci diri kalian pula !"

Liem Tou jadi melengak, pikirnya.

"Bila kutinjau dari kucuran air matanya, jelas ia muiai menyesali semua perbuatannya, tapi kenapa ia perlihatkan sikap begitu lagi ?? jikalau demikian adanya ia pasti punya kesulitan yang tak dapat diutarakan keluar"

Ia termenung, otaknya mulai berputar memikirkan persoalan ini. Akhirnya Liem Tou berhasil juga mendapatkan suatu gambaran ujarnya kembali.

"Sun Ci Si ! kau dapat memiliki sikap tidak takut terhadap suatu kematian, aku Liem Tou merasa sangat kagum ! tapi aku pikir dalam hati kecilmu pasti ada suatu rahasia suatu kesulitan yang susah diutarakan kepada orang lain, kenapa tidak kau beritahukan kepadaku ?? aku Liem Tou bukan seorang yang berhati keji, mungkin sekali kesulitanmu bisa kubantu"

Boe Beng Tok-su tidak menggubris sekali pun Liem Tou mengulangi pertanyaan itu berulang kalli ia tetap membungkam.

Tapi lama kelamaan Boe beng Tok-su dibikin terharu juga dengan suara yang hampir tidak terdengar katanya .

"Bagaimanapun juga aku tidak ingin hidup lagi, akupun tak takut beritahukan urusan ini kepadamu, tahukah kau seorang manusia yang normal mempunyai berapa macam napsu yang paling dibutuhkan?"

Liem Tou melengak, ia tidak mengerti apa maksud Sun Ci Si mengungkap persoalan ini, tapi jawabnya juga .

"Menurut apa yang kuketahui, manusia mempunyai dua macam napsu dasar yang harus dipenuhi. Pertama adalah napsu untuk tetap hidup dan kedua adalah napsu sex, napsu mengadakan hubungan senggama dengan lawan jenisnya."

Boe beng Tok su mengangguk, tetapi ia tak bicara lagi Melihat orang itu membungkam, Liem Tou jadi tercengang.

"Apa maksudnya bicara demikian? ' diam diam pikir sang pemuda dalam hati mendadak hatinya bergerak.

"Apakah kehidipanmu mendapat tekanan dari sesuatu ? benda atau orang?? Aku rasa dahulu tak mungkin demikian"

Boe beng Tok su tetap menggeleng dan tidak menjawab Tapi perlahan lahan Liem Tou dapat meraba kejadian yang sebenarnya.

"Ia bukan tertekan hidupnya, hal ini tentu di sebabkan alat kelaminnya ada suatu masalah yang tak dapat di berltahukan kepada orang lain"

Pikirnya dalam hati.

Karena berpikir sampai kesitu, iapun teringat kembaii akan sikap Boe Beng Toksu yang sama sekali tidak mendekati perempuan walaupun semua tindakannya adalah pekerjaan busuk.

Hatinya langsung terbuka, segera tanyanya lirih .

"Sun heng! Apakah anumu telah dikebiri oleh seseorang??"

"Liem Tou, kau jangan bertanya lagi, mau bunuh ayoh cepat bunuh!' bentak Boe beng Tok su keras keras dari sepasang matanya memancarkan cahaya tajam. Detik ini juga Liem Tou dapat memabami persoalan tersebut, ia merasa kejanggalan ini tak mungkin ditolong siapapun iapun tahu justru karena persoalan inilah membuat pikirannya mempeoleh pukulan yang berat sehingga tanpa terasa ia berbuat jahat. Timbulah rasa simpatik di hati liem Tou. Perlahan lahan Boe Beng Tok su bangun berdiri, sinar matanya memandang ketengah samudra dengan terpesona kemudian duduk kembali.

"Liem Tou, terus terang kuberi tahu kepadamu, Cioe Ling Cu berada disebuah hutan kurang lebih dua puluh li disebelah dusun kaum nelayan, kau pergi carilah sendiri ! "

Mendengar ucapan itu Liem Tou merasa berterima kasih.

"Asalkan Sun heng suka berubah pikiran hal ini merupakan rejeki bagi kalangan Bu-lim kita"

Boe Beng Tok su tersenyum, mendadak air mukanya berubah hebat, telapak tangannya laksana kilat menyapu keluar.

"Liem Tou, kolong langjt ini menjadi milikmu"

Bentaknya keras. Dalam keadaan tidak bersiap sedia pundak Liem Tou terpukul telak badannya dengan sempoyongan mundur kebelakang hampir hampir saja terjatuh kedalam lautan.

"Eeeei ,, buat apa kau berbuat demikian?"

Teriak Liem Tou kaget.

Dengan cepat iapun ikut meloncat keda1am air lalu menyelam cepat cepat untuk menolong diri Boe Beng Tok su.

Segulung ombak besar menghajar datang membuat Liem Tou terpelanting beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, menanti ia menyelam kembali kedalam air jejak Boe Beng Tok su lenyap tak berbekas, Liem Tou segera muncul kembali keatas permukaan air, segulung ombak datang menghajar badannya., Sekuat tenaga ia berusaha menenangkan hatinya, melihat jarak dengan perahu sudah terpaut sejauh lima puluh tombak, ia tidak berani berbuat gegabah, dengan cepat pemuda ini berenang kembaii ke perahu.

"Wan moay! Berhenti, berhenti, Sun Ci Si sudah mati tenggelam dalam laut"

Si gadis cantik pengangon kambing mengirim dua buah pukulan menghentikan gerakan perahu, Liem Tou segera meloncat naik.

"Bagaimana?? ia berhasil melarikan diri?"

Tanya sang gadis cemas.

Liem Tou menggeleng tanpa banyak bicara lagi ia mengirim sebuah pukulan mengundurkan perahunya ke belakang sehingga sang perahu berturut-turut mundur sejauh puluhan tombak lebih.

Maksud Liem Tou ia ingin mengitari samudra itu sekalian menolong Boe Beng Tok su, tapi sejak Sun Ci Si meloncat kedalam laut jejaknya lenyap tak berbekas sekali pun dapat dicari beberapa waktu tidak berhasil juga menemukan dirinya, Akhirnya Liem Tou menghela napas panjang, ia mengerti Boe Beng Tok su tentu sudah tertelan oleh ombak samudra yang sangat deras ini, ujarnya.

"Aaaaai tidak kusangka sebetulnya dia seorang cacad. tidak aneh kalau sifatnya demikian kasar, berangasan dan keji"

"Bukankah baik baik saja kenapa kau bilang cacad ?"

"Ia memang cacad, hanya dibagian manakah ia cacad aku merasa kurang leluasa untuk beritahu kepadamu "

Kata Liem Tou sambil melirik sekejap kearahnya.

Liem Tou mengatakan kurang leluasa, pada hal kenyataan telah beritahukan hal ini kepadanya, kontan merah padam selembar wajah gadis itu sehingga buru buru melengos.

Liem Tou tersenyum sepasang telapaknya bergerak berulang kali, tidak selang beberapa saat mereka telah tiba kembali di tepian.

Ucapan Boe Beng Tok su sedikitpun tak salah, disebuah hutan kurang lebih dua puluh li disebelah utara dusun nelayan mereka berhasil menemukan Cioe Ling Cu tapi bocah itu telah diikat diatas pohon selama sehari semalam.

Terpaksa Liem Tou menceritakan kejadian naas yang dialami yayanya Ciau Ihian Kie serta ayahnya Thian Pian Siauwcu, walaupun bocah itu menangis sedih iapun tak bisa berbuat apa apa.

Sejak itu hari Cioe Ling Cu mengikuti diri Liem Tou, karena melihat bakatnya yang bagus pemuda kita jadi kegirangan karena ia bisa menerima murid sebaik ini.

Malam itu Liem Tou dengan membawa si gadis cantik pengangon kambing, Giok-jie serta Cioe Ling Cu beristirahat di sebuah rumah makan dalam sebuah kota kecil tapi yang aneh kali ini Liem Tou bersikap istimewa memesan dua buah kamar, Tindakan dari sang pemuda ini tentu saja mendatangkan rasa heran dihati si gadis cantik pengangon kambing.

"Eeeei biasanya kita hanya menggunakan sebuah kamar saja. kenapa ini hari kau minta dua kamar?"

Liem Tou hanya tertawa tidak menyahut kembali ia suruh sang pelayan menyediakan sayur serta arak. Setelah itu barulah ujarnya;

"Wan moay, apakah ini hari kau merasa tidak senang?"

"Hm! ini hari ada tiga orang yang mati, kenapa aku harus gembira?"

"Kenapa tidak gembira? pertama, dendammu sudah terbalaskan, kedua. permusuhanku dengan para jago Bu lim pun telah beres dan sejak ini aku dapat hidup tenang. ketiga dua orang iblis pentolan yang sering mengacau dunia kangouw sudah lenyap, ke empat malam ini kita boleh menikah secara resmi, kenapa kau tidak gembira ?"

Bicara tentang hal yang terakbir Si gadis cantik pengangon kambing jadi malu dengan gemas ia menowel pipi Lien Tou.

"Hmm aku tidak mau menggubris dirimu,' Liem Tou tidak mengurusi perbuatan gadis ini ia meneguk secawan arak lalu ujarnya lagi.

"Wan moay, aku tidak boleh tidak harus berbuat demikian"

Ia merendek sejenak, lalu dengan suara yang lirih bisiknya disisi telinga gadis itu.

"Karena kau sudah menjadi hujien-ku !"

Saking malunya si gadis cantik pengangon kambing tak berani mendongakan kepalanya, dengan suara lirih ia hanya berkata. 'Lain kali enci Ie bisa menyalahkan diriku."

Liem Tou mendongak dan tertawa terbahak-bahak ia segera memerintahkan Giok-jie serta Cioe Ling Cu tidur dikamar yang lain.

Perjamuan telah selesai.

Lampu dimatikan.

Kehidupan manusia pun dimulai di atas ranjang.

XXXX Diatas jalan raya Cian Tiam tampak seekor kerbau dengan di tunggangi seorang pemuda berusia tujuh, delapan belas tahunan perlahan lahan berjalan melakukan perjalanan.

Wajah pemuda perlente itu penuh dihiasi senyuman, sembari menyanyi tiap kali ia menyapa orang orang yang sedang melakukan perjalanan disepanjang jalan raya.

Ia begitu bangga dan gembira menunjukkan ada sesuatu hal yang telah terpenuhi olehnya Orang itu bukan lain adalah Liem Tou, baru saja ia mengambil kerbaunya dipantai Sat Kiem Than dilautan Auh Hay, Auh Hay Ong dengan kumpulkan semua anggotanya menghantar perjalanan pemuda ini dengan penuh kemeriahan hal ini membuat pemuda she Liem jadi gembira dan bangga.

Kini ia sedang melakukan perjalanan ke rumah kegunung Go bie setelah melakukan perjalanan sehari semalam melewati daerah keresidensn Tsuan Tiam.

Setelah berlari keras, kini Liem Tou menjalankan kerbaunya lambat lambat disamping ia hendak beristirabat sebentar.

'Engkoh Cing Houw-ko!

"ujar Liem Tou sambil tertawa "

Selama beberapa tahun ini kau telah banyak menbantu diriku.

entah bagaimana seharusnya kuucapkan terima kasih padamu??

beruntung sejak kini kita tak akan berpisah kembali, kita akan selalu bersama sama!"

Kerbau itu mendengus psnjang tanda mengerti. Mendadak dalam hati Liem Tou timbul suatu pikiran aneh, sembari tertawa keras ujarnya.

"Engkoh kerbau! orang mengatakan kuda larinya paling cepat. sekarang aku hendak pergi ke gunung Go bie, dapatkah kau membawa aku kesana dengan cepat?"

Sekali lagi kerbau itu mendengus berat. 'Bagus sekali engkoh kerbau. ayoh cepat kita berangkat kegurung Go bie!"

Seraya berteriak ia menjepit kakinya keatas perut kerbau itu.

Kerbau milik Liem Tou ini sangat pintar mendengar perintah tersebut ia mulai berlari cepat, larinya kerbau itu boleh dikata laksana petir yang menyambar di tengah udara.

Dengan mata serta telinga biasa, orang hanya mendengar suara derapan kaki yang santar tapi dalam sekejap mata hanya terasa angin tajam menyambar lewat kemudian suara derapan kaki tersebut lenyap tak berbekas.

Selama perjalanan kerbau ini entah sudah mengejutkan berapa banyak orang, bahkan ada kalanva ketika Liem Tou sedang gembira sewaktu kerbaunya berkelebat lewat disisi orang orang itu pemuda Liem Tou sekalian menoleh wajah orang orang itu.

Tidak aneh kalau orang tersebut ketakutan setengah mati sehingga berteriak kalang kabut.

Ada siluman!

Ada siluman!' Demikianlah, didalam beberapa hari saja mereka telah tiba dikaki gunung Go bie.

Demi menghormati gurunya jauh-jauh Liem telah turun dari binatang tunggangannya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tidak selang beberapa saat telah tiba di tebing Leng Ay pintu gua tampak tertutup rapat-rapat, suasana sunyi senyap tak kedengaran suara sedikitpun.

Dengan sangat hormat Liem Tou berlutut di depan pintu, setelah memberi hormat katanya lirih.

"Tecu Lien Tou datang menghunjuk hormat kepada sucouw, suhu dan susiok sekalian."

Lama sekali ia menunggu di depan pintu, tapi di balik ruangan sama sekali tak terdengar suara sahutan.

Akhirnya pemuda ini bangun berdiri siap berlalu dari sana.

Mendadak, suara ledakan keras bergema memenuhi angkasa, pintu batu tersebut tahu-tahu hancur berantakan jadi berkeping-keping.

Liem Tou terperanjat, dengan cepat ia berpaling.

Tampak olehnya didalam ruang tersebut duduk empat orang dalam kedudukan setengah busur.

Orang yang duduk ditengah adalah Lok Yong Sucouw, salah seorang Auw Hay Siang Hiap, disebelah kanan adalah suhunya Thiat Sie poa, sedang disebelah kiri si siucay buntung serta si pengemis pemabok.

Liem Tou jadi keheranan, gumamnya.

"Pintu batu baik-baik menutupi ruangan tersebut, kenapa secara mendadak bisa hancur sendiri?? jelas hal ini dikarenaka suatu pukulan yang maha dahsyat "

Bila ditinjau dari besarnya pintu tersebut, paling sedikit beratnya ada ribuan kati, mana mungkin bisa dihancurkan dalam satu kali hantaman saja??

Kecuali seorang telah berhasil melatih tenaga sinkangnya mencapai puncak kesempurnaan kalau tidak siapa yang bisa berbuat demikian?

Lalu siapakah yang diantara keempat orang itu yang berbuat??

Ia tak berani berlaku ayal lagi, dengan cepat badannya menjatuhkan diri berlutut walaupun ia tahu saat ini mereka berempat sedang bersemedi dan tak bakal tahu akan kedatangannya, tapi sebagai adat istiadat ia tak mau melanggarnya.

Ketika itulah mendadak sepasang mata Thiat Sie poa terpentang, melibat sorotan cahaya matanya Liem tou merasa terperanjat karena cahaya itu tajamnya luar biasa dan belum pernah ia temui selama ini diam diam ia merasa girang buat kesuksesan gurunya.

Thiet Sie poa pun memandang sekejap ke arahnya kemudian mengangguk setelah melirik sekejap kearah sisiucay buntung serta sipengemis pemabok kembali ia pejamkan mata.

Liem Tou tidak mengerti apa maksudnya si Thiat Siepoa berbuat demikian, iapun berpaling memandang sekejap wajah si siucay buntung serta si pengemis pemabok.

Bila tidak melihat masih tidak mengapa justru kerena itulah keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Terlihat olehnya air muka siucay buntung maupun si pengemis pemabok telah berubah menguning dan hijau membiru, seluruh tubuh mereka gemetar keras sedang keringat mengucur membasahi seluruh jidatnya.

Jelas mereka telah salah jalan menuju ke neraka.

Keadaan semacam ini sangat membahayakan jiwa seseorang sekalipun tidak sampai binasa paling sedikit akan membuat seseorang jadi cacad selama hidupnya.

Liem Tou segera mengerti maksud dari lirikan Thiat Sie poa kearahnya tadi.

Ia tak berani buang banyak waktu lagi.

buru buru berjalan menghampiri sisiucay buntung serta si pengemis pemabok lalu duduk di belakang mereka, sepasang telapak bersama sama ditempelkan keatas punggung kedua orang itu.

Dengan mengerahkan tenaga menurut ajaran So Kong Sim hoat ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh mereka berdua dan menembusi bagian urat yang membeku di badan mereka sewaktu berlatih tadi.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian si siucay buntung serta si pengemis pemabok sama sama batuk dan muntahkan riak kental.

dengan demikian napas pun jadi lancar kembali.

Tapi Liem Tou tidak melepaskan mereka dengan demikian saja, bisiknya lirih .

'Susiok berdua harap pejamkan mata mengatur pemapasan menanti seluruh badan sudah merasa leluasa barulah bangun."

Kedua orang itu benar benar mengikuti ucapan pemuda tersebut, mereka pejamkan mata kembali untuk mengatur pernapasan pula.

Si siucay buntung serta pengemis pemabok bersama sama bangun berdiri.

mereka mengerti barusan saja jiwa mereka ditolong Liem Tou.

Diam diam kedua orang itu merasa sedih tak disangka olehnya karena ingin mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi hampir hampir saja jiwa sendiri ikut melaysng.

"Eeeei ..pengemis busuk bagaimama kita sekararang ?"

Tanya sisiucay buntung kemudian. Si pengemis pemabok tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana lagi? aku si pengemis bisa bermabok-mabokan sepanjang hari sekali mabok semua kemurungan lenyap dengan sendirinya. justru kau si kutu bukulah yang harus menanggung sengsara !"

Mendengar ucapan itu si siucay tertawa tergelak .

"Justru didalam kitab terdapat emas segudang, kitab dapat membuat aku lupa makan lupa tidur. apa yang perlu kutakuti ?"

"Bagus, bagus , . , bagus kau membaca buku aku minum arak, kita sama sama kehilangan semangat seorang enghiong hoohan, ,ayo jalan, temani aku si pengemis minum arak dulu, selama beberapa bulan ini sepasaug kakiku sudah terlalu linu untuk duduk terus"

"Eeei apa yang perlu kau cemaskan, Bocah cilik itu sudah menolong selembar jiwa kita, bagaimanapun juga kita harus menantikan dirinya."

Tapi baru saja ucapannya selesai sambil tersenyum Liem Tou telah berjalan keluar dari dalam gua.

"Susiok berdua! Kalian tak boleh pergi dengan begitu saja pada saat ini!"

Serunya cepat.

"Kenapa tidak boleh?? Apakah kau berani menanggung kelinuan sepasang kakiku?"

Teriak sipengemis pemabok sambil mendelik.

"Bukannya begitu.' kata Liem Tou sambil menggeleng, 'Pintu gua sudah hancur berantakan, kita harus berusaha untuk membetulkan. apakah kalian hendak membiarkan sucouw serta suhu yang ada didalam gua mandah tertiup angin?"

"Aaakh!! Aku tidak pernah berpikir sampai disini. Baik. kita cepat turun tangan"

Sambung si siucay buntung cepat.

Demikianlah mereka bsrtiga dengan bekerja sama mencari sebuah batu besar seberat ribuan kati untuk menutup kemtali gua tersebut.

Sewaktu Liem Tou menceritakan secara bagaimaoa suhunya Thiat Sie poa pukul hancur gua tadi, mereda berdua sama-sama mengagumi disamping mereka pun mulai memaki .

'Dengan andalkan sebuah sie poa bututnya dimana pun ia tak pernah menderita kerugian, justru kita berdua yang jujur malah jadi kujur kurang ajar,..

kurang ajar !"

Liem Tou melihat urusan telah selesai, segera ujarnya kepada sisiucay buntung serta sipengemis pemabok;

"Daripada susiok bsrdua berjaga disini dengan percuma, jauh lebih baik ikut aku saja pergi keperkampungan Ih hee sancung di gunung Cing Sbia, disana sutit bisa baik menjamu susiok berdua dengan arak serta sayur bagus". Mendengar ada arak bagus, sipengemis pemabok nomor satu berteriak terlebih dahulu.

"Bagus sekali, kita segera berangkat"

Liem Tou segera menggape kerbaunya, seraya menepuk pantat binatang itu katanya lagi.

"Engkoh kerbau, dapatkah kau mengangkut kami bertiga?". Kerbau itu segera goyang-goyangkan ekornya. 'Bagus sekali"

Liem Tou kegirangan ' Silahkan susiok berdua naik didepan".

Si siucay buntung saling bertukar pandangan sekejap dengan sipengemis pemabok lalu sambil tertawa terbahak-bahak meloncat naik ke atas punggung kerbau dan tinggalkan sedikit tempat dipantat kerbau itu untuk Liem Tou.

Setelah meloncat naik Liem Tou pun membentak.

'Engkoh kerbau, ayoh berangkat!"

Kerbau itu mendengus berat, dengan cepat ia meloncat turuni tebing Leng Ay menuju ke bawah puncak gunung Go bie, larinya gesit dan mantap sedikit pun tidak terlihat keberatan, Demikianlah mereka bertiga pun dengan menunggang seekor kerbau berangkat menenuju kegunung Cing Shia.

Malam hari telah tiba, mereka bertiga tetap melanjutkan perjalanan, kurang lebih kentongan keempat sampai juga mereka dibawah gurung Ha Mo san ditepi sungai yang besar.

Suasana amat sunyi dan gelap, susah melihat jari-jari tangan sendiri.

Liem Tou saat ini amat gembira.

tidak lagi ikut mengganggu ketenangan rakyat dalam perkampungan, bisiknya kepada diri si-siucay buntung serta sipengemis pemabok.

"Kurang ajar, mereka lagi enak enakan tidur kita pulang mana boleh tidak disambut oleh mereka??"

Pemuda ini segera mengepos napas bersuit nyaring, dengan tidak sungkan sungkan ia berteriak.

"Eeeei..adakah manusia diatas gunung??? Cung-cu telah kembali! .."

"Hey Liem Tou, kau sudah gila? bukankah perkampungan Ih Hee San cung sudah musnah??"

Tegur si siucay buntung serta si pengemis pemabok hampir berbareng dengan nada curiga.

Liem Tou tidak menjawab, ia tersenyum.

Saar itulah dari atas gedung tampak berkelebatcya cahava lampu disusul dengan munculnya lampu diseluruh penjuru, dalam sekejap mata puncak gunung Ha Mo san seperti meledak, seluruh penjuru bermandikan cahaya suara riuh pun meledak gegap gempita.

Dibawah sorotan cahaya yang amat terang benderang itulah sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Liem Tou dapat melihat beratus-ratus manusia berkerumun di samping jembatan Pancabut nyawa seraya menggape gape kearah mereka.

Melihat suasana itu mereka bertiga jadi melengak.

Keadaan dari perkampungan Ie Hee San cung telah berubah sama sekali, rumah rumah gedung berdiri berjajar dengan megahnya, pepohonan, gardu semuanya lengkap.

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok yang melihat kejadian itu merasa agak tercengang, merasakan pula keadaan diri sendiri yang kusut tidak karuan mereka merasa malu pada diri sendiri.

Mendadak Liem Tou membentak keras;

"Engkoh kerbau, ayoh jalan !' Kerbau tersebut mendengus, badannya segera menyusup kedepan menyeberangi sungai dengan aliran yang deras itu. Karena takut kerbaunva tidak kuat, Liem Touw segera salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan kemudian disalurkan kedalam tubuh kerbau tadi, dengan demikian kerbau itu dapat bergerak diatas permukaan air dengan cepatnya. 'Ooo ...sungguh lihay"

Teriak si siucay buntung serta sipengemis pemabok hampir berbareng seraya menjulurkan lidahnya.

"Kita berdua jadi ketinggalan bila dibandingkan dengan berbau ini"

Liem Tou tersenyum. 'Susiok berdua !' katanya.

"Sekalipun kalian jalan api menuju ke neraka dan gagal mempalajari ilmu sakti, tapi tenaga sinkang kalian telah bertambah beberapa kali lipat jika di bandingkan dengan keadaan dahulu, kalau tidak percaya, nah cobalah sendiri."

Pertama-tama si pengemis pemabok yang tidak tahan, ia segera meloncat turun dari atas punggung kerbau dan menutul di atas permukaan air untuk bergerak ke depan.

Sekalipun tidak salah, ia merasakan badan sendiri ringan bagaikan burung walet, tak kuasa lagi pengemis ini mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

Melihat kejadian itu, si siucay buntung segera berteriak.

"Bagus, akupun ikut !"

Badannya segera menutul dari ujung air dan iapun bergerak dengan ringannya diatas permukaan sungai dengan kaki tunggalnya.

Melihat tontonan itu orang yang ada di atas gunung segera bertepuk tangan memuji, suasaca makin gempar.

Si pengemis pemabok jadi girang, teriaknya.

"Eei, buntung tua. begaimana kalau kita coba bertanding ilmu silat kita berdua ??"

Tidak menanti jawaban dari si siucay buntung lagi badannya segera menubruk kedepan, angin pukulan dengan membawa suara desiran tajam di hantam ke dada lawan.

Si siucay buntung pun tidak ingin perlihatkan kelemahannya, ia berteriak keras.

"Bagus !"

Ujung kaki menutup permukaan air, badannya berkelebat menyingkir dari datangnya serangan tersebut kemudian telapaknya menyambar mengirim sebuah serangan balasan.

Seketika itu juga terjadilah suatu pertarungan yang amat ramai diantara mereka berdua, air sungai muncrat keempat penjuru mengiringi berkelebatnya bayangan manusia kesana kemari, suasana amat ramai.

Melihat tontonan gratis itu, orang-orang yaug ada diatas gunung bersorak sorai memberi semangat mereka berdua.

Siapa sangka mereka bergebrak semakin lama mereka berdua makin gembira.

siapa pun tak mau berhenti terlebih dahulu.

Bila demikian terus mungkin bergebrak sepanjang tiga hari tiga malam pun tiada habis nya.

Melihat keadaan mereka Liem Tou tertawa.

"Susiok berdua harap berhenti ssbentar,, kalau bergebrak demikian terus menerus tak akan selesai, lebih baik lain kali kalian cari musuh tangguh dalam dunia kangouw saja."

Si siucay buntung serta sipengemis pemabok bersama-sama menarik kembali serangannya dan tertawa terbahak bahak. Mendadak terdengar si pengemis pemabok berkata;

"Eei...buntung tua. Karena barusan aku kepingin minum arak maka badanku agak lemah, kalau sudah minum arak...ha haa haa... siapa yang sudi kalah ditanganmu??"

"Baik"

Teriak si siucay buntung tidak terima.

"Besok kita bergebrak lagi, sebelum berhasil temukan siapa menang siapa kalah jangan berhenti..."

Mendadak si siucay buntung teringat akan sesuatu hal, tanyanya kepada diri Liem Tou.

"Bocah buyung, menurut pendapatmu bagaimana kalau suhu si sie poa butut-mu dibandingkan dengan kami?"

Liem Tou tertawa.

"Menurut pendapatku, sie poa suhuku telah banyak membantu kita, dengan kelihayannya meramal Kioe Keng Pat Kwa ia mencampurkan diri dengan hasil latinan yang diterimanya saat ini, menurut pandanganku kalau tidak salah maka tenaga sinkang yang ia miliki sudah berada diatas sucouw, tenaga lweekangnya sudah berhasil mencapai puncak kesempurnaan"

Mendengar ucapan itu semangat si siucay buntung serta pengemis pemabok jadi mendingin.

"Aaaakh! aku tak percaya* teriaknya.

"Mau percaya atau tidak itu urusan susiok sendiri". Siapa sangka baru saja ia menyelesaikan kata katanya, mendadak sesosok bayangan kuning menggulung datang. Sebelum Liem Tou dapat melihat jelas wajah orang itu, tahu tahu angin pukulan tela h menyambar datang. Merasakan kadahsyatan serangan itu Liem Tou berteriak keras.

"Bagus! susiok, cepat terima datangnya serangan !"

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok bersama-sama membentak keras, kedua orang itu segera meloncat kedepan menghadang datangnya orang itu sedangkan telapak dibabat keluar dengan mengirim sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Tapi gerakan dari bayangan kuning itu sangat cepat, dengan gesit dan lincah ia berhasil menerobos masuk kemudian melayang keluar di antara menyambarnya angin pukulan gencar itu.

Melihat kelihayan pihak lawan Liem Tou menjulurkan lidahnya.

"Entah manusia darimana memiliki kepandaian silat sedahsyat ini??' pikirnya di hati. Biarpun dia mengamati, sampai saat ini belum berhasil juga mengingat siapakah orang ini. Pada saat itulah bayangan kuning yang sedang beegebrak melawan si siucay buntung serta si pengemis pemabok tertawa terbahak-bahak.

"Bocah cilik, kau sungguh gembira sekali, setelah dikelilingi istri yang cantik ternyata melupakan aku si bangkotan tua yang hampir mati, aku tak akan membiarkan dirimu enak-enakkan terus, 1ihat serangan !"

Dari antara berkelebatnya bayangan tubuh si siucay buntung serta si pengemis pemabok segulung angin pukulan yang keras menyambar kearah Liem Tou.

Baca Juga: Si Pedang Tumpul 4

Baca Juga: Naga Sakti Sungai Kuning 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert