Ceritasilat Novel Online

Si Racun Dari Barat 3

Eps 3 Si Racun Dari Barat - Jin Yong

Baca online Si Racun Dari Barat - Jin Yong

Cersil Si Racun Dari Barat - Jin Yong.

Apa boleh buat!

Orang itu terpaksa meloncat ke samping.

Kesempatan itu dimanfaatkan Ouw Yang Coan untuk menyerang orang yang bersenjata cambuk.

Orang itu sama sekali tidak menduga akan adanya serangan itu, sehingga tangannya terpukul oleh tongkat Ouw Yang Hong.

Wajah orang itu berubah pucat, dan dia langsung meloncat ke belakang.

Orang itu tahu bahwa tongkat di tangan Ouw Yang Coan mengandung racun ganas.

Kini tangannya terpukul oleh tongkat itu, maka sudah pasti dirinya akan keracunan.

"San Kun, tongkatnya ... mengandung racun ..."

Teriaknya.

Dia masih ingin menyerang Ouw Yang Coan, tapi mendadak roboh, tak mampu bangkit berdiri lagi.

Kedua temannya saling memandang.

Di saat bersamaan Ouw Yang Coan justru menyerang mereka berdua.

Serangan Ouw Yang Coan sungguh membahayakan.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan, ternyata keempat murid Pek Tho San San Kun yang membentak, sekaligus menyerangnya.

Apa boleh buat!

Ouw Yang Coan terpaksa berkelit, maka kedua orang itu selamat.

Ouw Yang Coan berseru keras.

"Jen lt Thian, kau sebagai majikan Pek Tho San Cung, apakah pantas bertarung dengan cara keroyokan? Itu terhitung kepandaian apa? Ayoh! Mari kita bertarung di halaman!"

Pek Tho San San Kun tertawa dingin lalu menyahut.

"Baik! Mari kita bertarung di halaman! Aku ingin lihat jago nomor satu daerah See Hek memiliki kepandaian apa!"

Kemudian dia menyuruh para anak buahnya ke halaman.

Begitu pula keempat muridnya, mereka berempat pun membawa Bokyong Cen dan Ouw Yang Hong ke halaman.

Semua orang berdiri di halaman dengan membawa obor, sehingga halaman itu menjadi terang.

Pek Tho San San Kun Jen It Thian berdiri di tengah-tengah, mengangkat sepasang tangannya dekat dada, kelihatannya sedang menunggu Ouw Yang Coan menyerang lebih dulu.

Ouw Yang Coan berdiri di hadapan Pek Tho San San Kun.

Hatinya terasa tegang juga, sebab pertarungan ini akan menyangkut namanya, bahkan juga menyangkut nyawa Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen.

Mendadak Pek Tho San San Kun berkata.

"Kata orang, tongkat ularmu itu amat lihay. Tapi menurutku jurus-jurus ilmu tongkat ularmu itu hanya biasa-biasa saja! Tadi kau bertarung dengan Soat San Sam Lo cuma mampu merobohkan satu orang itu, bagaimana bertarung denganku?"

Ouw Yang Coan mendengus dingin.

Ketika dia baru mau menggerakkan tongkatnya, mendadak terdengar suara aneh, yang disusul oleh suara pintu yang hancur herantakan, lalu tampak muncul seseorang dengan ramhut awut-awutan, sebelah tangannya memegang sebuah cambuk.

Dia meloncat ke hadapan Ouw Yang Coan, lalu menggeram dengan mata melotot dan wajahnya tampak kehijau-hijauan.

"Ouw Yang Coan, cepat berikan obat pemunah racun!"

Ouw Yang Coan tidak menyahut, hanya tertawa dingin.

Orang itu langsung menyerangnya dengan cambuk, tapi Ouw Yang Coan segera berkelit, sehingga cambuk itu menghantam tempat kosong.

Di saat bersamaan, Ouw Yang Coan menggerakkan tongkatnya untuk menggaet ujung cambuk itu, lalu dikibaskannya ke arah orang tersebut.

Ujung cambuk tersebut menghantam kening orang itu sehingga orang itu roboh dan nyawanya pun melayang seketika.

Bukan main terkejutnya semua orang menyaksikan kejadian itu.

Suasana di tempat itu menjadi hening seketika, tak terdengar suara apa pun.

Kini semua orang baru percaya akan kelihayan ilmu silat Ouw Yang Coan, maka mereka semua menyingkir lebih jauh, agar tidak tersambar tongkatnya.

Sebaliknya Pek Tho San San Kun Jen It Thian malah tertawa gelak, lalu menuding Ouw Yang Coan seraya berkata.

"Ouw Yang Coan, kau kira dengan tongkat ularmu itu, kau dapat meracuni seluruh Pek Tho San Cungku? Kau harus tahu, aku pernah mengumpulkan begitu banyak ular berbisa di Tiong-goan! Kalau tidak bertemu Oey Yok Su, pemilik Pulau Tho Hoa To, saat ini kau pasti akan menghadapi barisan ular berbisaku! Karena itu, tongkat ularmu tak dapat berbuat apa-apa terhadap diriku!"

Usai berkata, mendadak dia bersiul panjang, sekaligus menyerang Ouw Yang Coan secepat kilat.

Ouw Yang Coan berkelit lalu balas menyerang.

Maka terjadilah pertarungan yang amat sengit.

Ouw Yang Coan menggunakan tongkat ular.

Sedangkan Pek Tho San San Kun bertangan kosong, tapi gerakannya sangat cepat, gesit dan lincah.

Tongkat ular di tangan Ouw Yang Coan meliuk-liuk bagaikan seekor ular yang kadang-kadang juga bergerak bagaikan kilat.

Sementara Ouw Yang Hong telah siuman dari pingsannya, tapi tiga buah jalan darahnya dalam keadaan tertotok.

Dia tidak bisa bergerak, namun masih dapat menyaksikan pertarungan yang amat dahsyat itu.

Setelah menyaksikan sejenak, dia tersadar akan satu hal.

Kakaknya bertarung dengan Pek Tho San San Kun.

Mereka berdua menggunakna tenaga lunak dan jurus-jurus yang bergerak cepat.

Apabila salah seorang di antara mereka menggunakan tenaga keras, dalam beberapa jurus pasti dapat memenangkan pertarungan itu.

Walau Ouw Yang Hong sadar akan hal itu, tapi kedua orang yang sedang bertarung itu justru tidak tahu, sebab mereka berdua bertarung dengan gerakan cepat, maka tiada kesempatan untuk memperhatikan hal tersebut.

Mereka berdua bertarung seimbang.

Berselang sesaat Ouw Yang Coan berkata kepada Pek Tho San San Kun.

"Jen It Thian, lepaskanlah adikku dan Nona Bokyong, kita bertarung lain hari saja!"

Pek Tho San San Kun tertawa.

"Ouw Yang Coan, kau menganggap dirimu sebagai jago nomor satu di daerah See Hek, maka hari ini aku menghendakimu mampus di sini!"

Pek Tho San San Kun memberi isyarat. Sang Seng Kiam Giok Shia segera maju ke depan, lalu memberi hormat.

"Ada perintah apa, Guru?"

Tanyanya. Pek Tho San San Kun menunjuk Ouw Yang Hong, lalu menyahut.

"Bawa dia ke mari agar bisa berdekatan dengan kakaknya!"

Sang Seng Kiam Giok Shia mengangguk, kemudian menyeret Ouw Yang Hong ke tengah-tengah halaman. Pek Tho San San Kun tertawa terkekeh-kekeh.

"He he heee! Ouw Yang Coan, buang tongkat ularmu dan segera membunuh diri di hadapanku, aku pasti melepaskan Ouw Yang Hong dan Nona Bokyong, itu agar keluarga Ouw Yang punya keturunan!"

Betapa gusarnya Ouw Yang Coan. Dia tidak tahu harus bagaimana baiknya.

"Aku akan menyebut namamu tiga kali, kau harus membunuh diri! Kalau tidak, Ouw Yang Hong pasti jadi mayat!"

Kata Pek Tho San San Kun lagi. Ouw Yang Coan berdiri tak bergerak. Namun sepasang matanya berapi-api. Pek Tho San San Kun menudingnya.

"Ouw Yang Coan jago nomor satu di daerah See Hek, kau harus mampus atau tidak?"

Katanya dingin. Ouw Yang Coan berkertak gigi. Rupanya ingin sekali menghantam Pek Tho San San Kun dengan tongkatnya. Sedangkan Pek Tho San San Kun tertawa puas, menengadahkan kepala seraya berseru.

"Ouw Yang Coan jago nomor satu di daerah See Hek, kau harus mampus atau tidak?"

Ouw Yang Coan tidak menyahut, hanya mengangkat tongkatnya ke atas.

Saat ini pikirannya kacau balau.

Haruskah aku mati?

Keluarga Ouw Yang hanya tinggal kami berdua kakak beradik, maka keluarga Ouw Yang harus punya keturunan!

Kalau begitu, adikku harus hidup!

Apabila adikku mati, bagaimana mungkin keluarga Ouw Yang akan punya keturunan?

Keluarga Ouw Yang punya keturunan, mati pun tidak akan penasaran!

Tapi guru yang telah menyelamatkanku.

Sedangkan dendamnya belum terbalas, bagaimana mungkin aku mati?

Itu membuat pikiran Ouw Yang Coan semakin kacau.

Pek Tho San San Kun berseru lagi dengan suara lantang, kelihatannya dia tidak ingin Ouw Yang Coan berpikir banyak.

"Ouw Yang Coan jago nomor satu di daerah See Hek, kau harus mampus ..."

Sebelum Pek Tho San San Kun usai berseru, mendadak terdengar suara yang amat dingin.

"Dia harus mampus atau tidak, itu urusanku! Kau tuh apa, berani menentukan mati hidupnya?"

Semua orang terperanjat, karena tahu orang yang bersuara itu memiliki Iwee kang yang amat tinggi.

Mereka semua menengok ke sana ke mari, tapi tidak tampak seorang pun berada di sekitar mereka.

Bukan main terkejutnya Pek Tho San San Kun, sebab dia mendengar jelas suara itu.

"Siapa? Cepat keluar!"

Bentaknya. Berselang beberapa saat barulah terdengar suara sahutan, yang bernada ringan dan dingin.

"Kau menghendakiku keluar, itu tidak bisa! Sebab aku sudah tua, lagi pula cacat! Apabila aku keluar, kau pasti akan merasa kecewa!"

Sang Seng Kiam Giok Shia langsung membentak keras.

"Ayo cepat keluar!"

Terdengar suara sahutan lagi.

"Tanganmu memegang sepasang pedang! Pada hal kau adalah gadis cantik, tapi dalam hatimu penuh diliputi hawa membunuh! Hari ini kau harus merasakan tusukan pedangmu sendiri!"

Mendengar kata-kata itu, Pek Tho San San Kun cepat-cepat memberi isyarat kepada Sang Seng Kiam Giok Shia, agar muridnya itu diam.

"Cianpwee, harap perlihatkan diri!"

Katanya kemudian dengan serius. Terdengar suara sahutan.

"Jen It Thian, kau meremehkan muridku, itu memang masuk akal sebab kau memiliki ilmu silat yang beracun, maka tongkat ular itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu. Lagi pula kau pun memiliki tujuh puluh dua macam akal licik, sehingga membuatmu meremehkan orang lain!"

"Kau mau bagaimana?"

Tanya Pek Tho San San Kun. Terdengar suara sahutan lagi.

"Lepaskan mereka!"

Pek Tho San San Kun berpikir lama sekali.

"Baik! Ouw Yang Coan, kau boleh pergi sekarang!"

Katanya kemudian.

"Aku harus membawa serta adikku dan Nona Bokyong!"

Kata Ouw Yang Coan. Pek Tho San San Kun menggelengkan kepala.

"Tidak bisa! Tidak bisa! Aku tidak perduli akan Ouw Yang Hong, tapi Nona Bokyong adalah benda mustikaku! Bagaimana mungkin kau membawanya pergi?"

Terdengar suara orang itu.

"Anak Coan, urus dirimu sendiri saja, tidak usah memperdulikan orang lain!"

Hati Ouw Yang Coan tergerak, menyahut dengan suara rendah.

"Benar kata Guru."

Ouw Yang Coan membalikkan badannya, lalu berjalan mendekati Ouw Yang f tong dan Bokyong Cen, sekaligus membebaskan jalan darah adiknya yang tertotok itu.

"Adik, mari kita pergi!"

Katanya dengan ringan kepada Ouw Yang Hong. Kemudian dia juga berkata kepada Bokyong Cen, tapi tidak berani memandang wajahnya.

"Nona Bokyong, mari ikut kami pergi!"

Bokyong Cen memandang Ouw Yang Hong dengan ala berbinar-binar, namun bagaimana perasaan dalam hatinya, siapa pun tidak mengetahuinya.

Ouw Yang Coan menarik Ouw Yang Hong pergi, tapi hanya beberapa langkah, Ouw Yang Hong sudah menoleh ke belakang seraya berseru.

"Nona Bokyong, kalau kau tidak mau pergi, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?"

Ouw Yang Hong tidak mau melangkah, dan ini membuat Ouw Yang Coan terpaksa berhenti, tidak bisa meninggalkan halaman rumah itu. Terdengar tawa dingin.

"He he! Tidak salah. Anak Coan, apa yang kau katakan itu memang tidak salah. Mereka berdua sudah saling mencinta, maka kau harus membiarkan mereka berdua berada di tempat ini. Anak Coan, mari kita pergi!"

Ouw Yang Coan terpaksa menurut, Dia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti dan menundukkan kepalia.

"Guru, mengapa Guru melarang adikku dan Nona Bokyong ikut pergi?"

Tanyanya. Akan tetapi tiada sahutan. Sepertinya orang yang bersuara merasa serba salah, maka tidak menyahut. Itu membuat Pek Tho San San Kun Jen It Thian merasa tidak beres.

"Ouw Yang Coan, janganlah kau mendesakku!"

Serunya.

Ouw Yang Coan menatapnya tanpa mengeluarkan suara, kelihatannya seakan sedang menunggu perintah dari orang yang bersuara tadi.

Berselang beberapa saat, barulah terdengar suara orang itu, yang bernada ringan dan datar.

"Sudah belasan tahun aku tidak bertemu orang! Anak kecil, kau jangan mendesakku!"

"Kalau kau ingin membawa pergi Nona Bokyong, aku pasti akan mengadu nyawa denganmu!"

Sahut Pek Tho San San Kun.

Sementara para anak buah Pek Tho San San Kun sudah mulai mengurung kakak berdik Ouw Yang itu.

Apabila si Kerdil memberi perintah, mereka semua pasti menyerang Ouw Yang Coan dan adiknya.

Di saat bersamaan, terdengar lagi suara orang itu.

"Aku malas turun tangan, tapi tahukah kau siapa aku?"

Pek Tho San San Kun Jen It Thian tertawa dingin.

"Apakah kau adalah Tionggoan tayhiap Liau Bun Sen? Kau adalah Ong Tiong Yang, ataukah Su Ciau Hwa Cu, Tetua Kay Pang? Kalau kau adalah salah seorang di antara mereka, tentunya aku takut padamu! Tapi kalau bukan, kau justru harus takut padaku!"

Orang itu berkata perlahan-lahan.

"Belasan tahun aku tidak keluar, di kolong langit sudah kacau balau! Anak kecil, aku adalah Pek Bin Lo Sat!"

Seketika suasana di tempat itu menjadi hening.

"Jen It Thian, lepaskan gadis itu, aku akan mengampuni nyawamu!"

Kata orang itu lagi. Pek Tho San San Kun mengerutkan kening, kemudian berjalan mondar-mandir di hadapan Bokyong Cen sambil bergumam.

"Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Lebih baik ambillah semua perhiasanku, asal kau tidak membawa pergi Nona Bokyong! Tidak bisa! Tidak bisa ..."

Terdengar tawa aneh.

"Hik hik hik! Anak kecil, aku akan menemuimu!"

Mendadak terdengar suara 'Blam!' Ternyata tembok pagar berlubang, lalu tampak seseorang menyerupai setan berjalan masuk dari lubang tembok.

Di belakanggnya tiada bayangan, kakinya tidak mengeluarkan suara, bahkan tiada hawa manusia pula.

Dia berjalan ke hadapan Ouw Yang Coan dan adiknya.

Wajah orang itu tidak tampak karena tertutup oleh rambutnya yang panjang terurai ke bawah.

Dia menunjuk Ouw Yang Hong, kemudian manggut-manggut.

"Bagus! Bagus! Tak percuma Anda adik Ouw Yang Coan!"

Siapa orang itu? Ternyata memang benar adalah Pek Bin Lo Sat. Dia tertawa terkekeh dua kali, lalu memandang Bokyong Cen.

"Apakah kau memandang rendah diriku? Mengapa kau tidak bicara?"

Katanya.

Guguplah hati Bokyong Cen.

Dia mendengar wanita itu memanggil Ouw Yang Coan sebagai 'Anak Coan!' pertanda tingkatan tuanya.

Kemudian mendengar Ouw Yang Coan memanggil wanita itu 'Guru', membuat Bokyong Cen terkejut sekali, karena yakin wanita itu berkepandaian amat tinggi.

Ketika wanita itu bertanya, Bokyong Cen ingin menjawab, tapi jalan darah gagunya dalam keadaan tertotok, sehingga tidak dapat mengeluar-kan suara.

Itulah yang menyebabkannya gugup sekali.

"Kau dalam bahaya, namun mengapa tidak mau bicara? Dan ... mengapa tidak mau bangkit berdiri?"

Tanya Pek Bin Lo Sat sambil tersenyum.

Bokyong Cen diam dan mulai ragu terhadap Pek Bin Lo Sat.

Kalau wanita itu berkepandaian tinggi, bagaimana tidak tahu jalan darahnya dalam keadaan tertotok?

Gadis itu tidak habis pikir.

Sementara si Kerdil Jen It Thian juga merasa serba salah.

Dia sebagai majikan Pek Tho San Cung, tentunya tidak bisa mundur karena itu, maka dia terpaksa memberanikan diri.

"Pek Bin Lo Sat, kau mau apa?"

Bentaknya.

"Sudah belasan tahun, aku duduk diam bersemedi! Hari ini terpaksa aku turun tangan!"

Sahut Pek Bin Lo Sat lalu mengibaskan tangannya ke arah para anak buah Pek Tho San San Kun. Si Kerdil Jen It Thian langsung membentak.

"Serang wanita itu!"

Keempat murid Pek Tho San San Kun segera menyerang Pek Bin Lo Sat.

Menyaksikan itu, Ouw Vang Coan amat gusar.

Ketika dia baru mau menyerang keempat murid Pek Tho San San Kun, Pek Bin Lo Sat pun berkata.

"Anak Coan, kau tidak menghendaki guru turun tangan, apakah khawatir guru akan celaka di tangan mereka?"

Ouw Yang Coan tidak menyahut. Di saat itulah, Pek Bin Lo Sat bergerak. Tampak bayangannya berkelebat ke sana ke mari, dibarengi suara jeritan di sana sini dan darah pun muncrat ke mana-mana.

"Pek Bin Lo Sat, berhenti!"

Seru Pek Tho San San Kun gusar. Wanita itu berhenti menyerang, lalu menatap Pek Tho San San Kun.

"Anak kecil, kau mau bicara apa?"

Tanyanya.

"Pek Bin Lo Sat, aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Sahut Pek Tho San San Kun.

Pek Bin Lo Sat nianggut-manggut, tapi hanya diam di tempat.

Begitu pula Pek Tho San San Kun, dia berdiri dengan kaki ditekuk sedikit, sebelah tangannya diangkat ke atas, seakan menunggu Pek Bin Lo Sat menyerang lebih dulu.

Pek Bin Lo Sat tertawa dingin.

Kemudian mendadak pakaiannya berkibar-kibar, sepertinya terhembus angin kencang, kemudian badannya bergerak berputar tiga kali mengitari Pek Tho San San Kun.

Setelah itu ia berhenti, sekaligus menjulurkan sepasang tangannya ke depan.

Si Kerdil tertawa panjang, lalu dengan tiba-tiba badannya mencelat ke atas dengan ringan sekali, sambil menggerakkan kedua tangannya untuk me-notok jalan darah bagian dada Pek Bin Lo Sat.

Apabila totokan itu mengenai sasarannya, Pek Bin Lo Sat pasti menderita luka parah.

Akan tetapi, Pek Bin Lo Sat justru tidak berkelit, melainkan mengibaskan sebelah tangannya untuk menangkis serangan itu.

Kibasan tangan Pek Bin Lo Sat menimbulkan angin yang menderu-deru.

Pek Tho San San Kun cepat-cepat meloncat ke belakang sekaligus mengeluarkan senjatanya, lalu mulai menyerang Pek Bin Lo Sat.

Tak terasa pertarungan mereka berdua telah melewati belasan jurus, namun kelihatannya masih berimbang.

Itu membuat Pek Tho San San Kun bergirang dalam hati, karena Pek Bin Lo Sat yang amat terkenal itu, kepandaiannya cuma setinggi itu.

Sedangkan Pek Bin Lo Sat merasa amat penasaran, karena sudah belasan jurus, namun dia belum dapat merobohkan si Kerdil Jen It Thian.

Mendadak dia bersiul panjang.

Gerakannya juga berubah.

Ternyata dia mulai mengeluarkan ilmu Thian Lo Ci (Ilmu Jari Langit).

Pek Tho San San Kun terkejut bukan main, ketika tubuh Pek Bin Lo Sat mengeluarkan hawa yang amat dingin, sehingga membuatnya tak dapat mengerahkan kepandaiannya.

Keempat murid Pek Tho San San Kun tahu guru mereka sudah berada di bawah angin.

Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong dan Sang Pwe Jeh Nuh membentak keras, kemudian menyerang Pek Bin Lo Sat serentak.

Ketika melihat kedua orang itu menyerang Pek Bin Lo Sat, Ouw Yang Coan segera maju.

Akan tetapi, Pek Bin Lo Sat segera berseru.

"Anak Coan, aku masih dapat menghadapi mereka bertiga!"

Mendengar seruan Pek Bin Lo Sat itu, Ouw Yang Coan langsung diam, tidak berani menyerang kedua orang itu.

Pada saat bersamaan, Pek Bin Lo Sat bergerak meraih senjata Sang Pwe Jeh Nuh, yang berupa sepasang cangkir.

Itu membuat Sang Pwe Jeh Nuh bergirang dalam hati, karena dia yakin tangan Pek Bin Lo Sat akan terluka.

Dia cepat-cepat menarik senjatanya itu, namun mendadak merasa tangannya amat dingin, seakan membeku tak dapat bergerak sama sekali.

Bukan main terkejutnya Sang Pwe Jeh Nuh.

Dia ingin meloncat ke belakang, tapi mendadak salah satu dari kedua cangkir itu meluncur secepat kilat menghantam dadanya.

"Aaaakh ...!"

Jeritnya lalu roboh, pingsan. Tertegun Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong. Pek Bin Lo Sat tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia langsung mengibaskan lengannya menyerang orang tersebut.

"Aaaakh ...!"

Jerit Tay Mok Sin Seng Teng Khie Hong.

Badannya terpental beberapa depa, dalam keadaan luka parah.

Sang Seng Kiam Giok Shia dan Wan To Ma Sih terbelalak.

Mereka berdua sama sekali tidak berani maju.

Sedangkan si Kerdil Pek Tho San San Kun gusar sekali.

"Pek Bin Lo Sat, kau mau apa?"

Bentaknya berapi-api.

"Aku menghendaki kalian melepaskan gadis ini! Kalau tidak, kau pasti mampus di sini!"

Sahut Pek Bin Lo Sat.

"Kau menghendaki apa pun boleh, asal jangan menghendaki gadis ini. Kau juga seorang wanita, untuk apa kau menghendakinya?"

Kata Pek Tho San San Kun dengan ringan.

"Untuk apa aku menghendakinya! Hanya saja dia adalah kekasih adiknya Ouw Yang Coan, maka kau harus melepaskannya!"

Sahut Pek Bin Lo Sat.

Pek Tho San San Kun berkertak gigi, tidak bicara sepatah kata pun.

Pek Tho San Cung merupakan aliran yang amat besar di daerah See Hek.

Maka tidak mengherankan kalau si Kerdil Pek Tho San San Kun malang melintang dan bersikap sewenang-wenang di daerah tersebut.

"Pek Bin Lo Sat, hari ini aku terpaksa harus mengadu nyawa denganmu!"

Pekiknya dengan melotot. Wanita itu tidak melayaninya, melainkan mendekati Bokyong Cen, lalu memandangnya dengan penuh perhatian.

"Sungguh cantik kau! Anak Coan, pantas adikmu mau menolongnya!"

Katanya dengan suara rendah. Mendadak jari tangannya bergerak, tahu-tahu jalan darah Bokyong Cen yang tertotok itu sudah bebas.

"Terimakasih Cianpwee!"

Ucap Bokyong Cen sambil menatapnya.

"Mengapa rambut Cianpwee sudah putih semua?"

Pek Bin Lo Sat tertegun, kemudian tertawa ringan.

"Hi hi! Kalau kau terus memikirkan sesuatu, bagaimana rambutmu tidak akan berubah putih? Karena Ouw Yang Hong amat baik padamu, maka kau tidak merasa risau, rambut pun tidak akan berubah putih."

Usai berkata, dia menarik tangan Bokyong Cen mengajak pergi sambil bergumam.

"Sungguh kesepian melewati hari! Orang sudah tua, rambut pasti memutih, tidak tahu cinta kasih kemarin, hari ini sudah berakhir .. .?"

Ouw yang Coan dan Ouw Yang Hong mengikutinya dari belakang.

Pek Tho San San Kun amat penasaran, tapi tidak berani menghadang mereka, hanya memandang kepergian mereka dengan mata berapi-api.

Tak lama, mereka sudah hilang dari pandangannya.

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara jeritan Sang Seng Kiam Giok Shia.

"Wajahku! Wajahku ..."

Sementara itu, Pek Bin Lo Sat dan lainnya terus berjalan meninggalkan Pek Tho San Cung.

"Baik, mari kita beristirahat di sini sebentar!"

Ajak Pek Bin Lo Sat.

Wanita itu duduk di atas sebuah batu, Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong berdiri di sisinya, sedangkan Bokyong Cen duduk di hadapannya.

Bulan yang bergantung di langit bersinar remang-remang.

Sungguh sepi tempat itu, hanya kadang-kadang terdengar suara desiran angin.

"Nona Bokyong, kau adalah orang Kang Lam, berasal dari perguruan mana?"

Tanya Pek Bin Lo Sat sesaat kemudian.

"Aku adalah murid Kuil Cing Ani,"

Sahut Bokyong Cen.

"Kuil Cing Am di Kang Lam? Aku tidak pernah mendengarnya,"

Kata Pek Bin Lo Sat.

Nada kata-kata Pek Bin Lo Sat agak meremehkan kuil tersebut, maka sudah barang tentu membuat Bokyong Cen merasa tidak senang.

Namun dia tidak diperlihatkan perasaan itu pada wajahnya, sebaliknya malah tersenyum.

"Tentunya Cianpwee tahu, ilmu silat aliran Kuil Cing Am tidak begitu luar biasa, maka Cianpwee tidak pernah mendengarnya,"

Katanya. Pek Bin Lo Sat tertegun, tidak menyangka gadis itu begitu pandai berbicara, maka manggut-manggut seraya berkata.

"Lumayan! Kau memang lumayan!"

Ucapan tersebut membuat Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen terheran-heran, karena tidak tahu akan makna ucapan itu.

Tapi Ouw Yang Coan bergirang dalam hati.

Dia tahu gurunya yang jarang memuji orang itu kini memuji Bokyong Cen lumayan, pertanda terkesan baik padanya.

"Guruku jarang memuji orang lain ..."

Katanya. Bokyong Cen tidak mengerti, hanya tersenyum-senyum. Kemudian perlahan-lahan dia bangkit berdiri, lalu memberi hormat kepada Pek Bin Lo Sat.

"Terimakasih atas pujian Cianpwee!"

Ucapnya.

Di antara mereka bertiga, Ouw Yang Hong-lah yang sudah tahu jelas akan sifat Bokyong Cen.

Tapi kini dia justru termangu-mangu akan sikap gadis itu.

Kelihatannya sifat gadis itu telah berubah, tidak cepat emosi lagi.

Pikirnya sambil tersenyum.

"Anak Coan, kulihat ... kalian tidak bisa kembali ke Pek Tho San Cung lagi. Lebih baik kau pergi mengatur orang-orang yang ada di rumahmu, setelah itu pergi mencariku!"

Kata Pek Bin Lo Sat. Ouw Yang Coan memberi hormat.

"Aku memang harus pergi mencari Lo Ouw dan Ceh Liau Thou, menyuruh mereka pergi bersembunyi. Tapi adikku dan Nona Bokyong ..."

"Aku akan membawa mereka ke goa es, kau harus cepat kembali!"

Sahut Pek Bin Lo Sat. Wanita itu lalu bangkit berdiri, dan langsung berjalan pergi. Ouw Yang Coan segera berkata pada Ouw Yang Hong.

"Adik, ajaklah Nona Bokyong mengikuti guruku! Aku pergi sebentar dan akan kembali secepatnya."

Usai berkata, Ouw Yang Coan langsung melesat pergi.

Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen saling memandang, lalu mengikuti Pek Bin Lo Sat dari belakang.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah sampai di mulut goa es itu.

Pek Bin Lo Sat melesat ke dalam.

Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen terbelalak, berdiri termangu-mangu di mulut goa es itu.

"Saudara Ouw Yang, aku ..."

Kata Bokyong Cen dengan kening berkerut. Ouw Yang Hong tahu bahwa gadis itu merasa takut.

"Aku akan meloncat ke dalam duluan, lalu menyambutmu dari bawah,"

Sahutnya.

"Tangan dan kakimu begitu kaku, lagi pula amat bodoh! Bagaimana mungkin dapat menyambut diriku!"

Wajah Bokyong Cen tampak kemerah-merahan.

Tampaknya dia sedang berpikir, apabila meloncat ke bawah, Ouw Yang Hong tidak kuat menyambutnya.

Tentunya mereka berdua akan terjatuh bersama saling menindih.

Ouw Yang Hong menatap Bokyong Cen.

Menyaksikan wajah gadis itu yang tersorot sinar rembulan tampak kemerah-merahan, membuatnya ter-heran-heran.

Sungguh mengherankan nona Bokyong itu, kelihatannya dia takut meloncat ke dalam lubang goa, tapi ...

mengapa wajahnya kemerah-merahan?

Begitulah pikir Ouw Yang Hong yang tak dapat menduga pikiran gadis itu.

Berselang sesaat, Ouw Yang Hong berkata.

"Kalau begitu, kau meloncat duluan saja!"

Bokyong Cen menggeleng-geleng kepala, pertanda tidak mau. Ouw Yang Hong jadi gelisah, takut guru kakaknya tidak sabaran menunggu.

"Baik! Biar aku saja yang meloncat duluan!"

Ujarnya kemudian. Usai berkata begitu, Ouw Yang Hong langsung meloncat ke dalam lubang itu.

"Tidak bisa! Tidak bisa! Aku yang harus meloncat duluan, aku takut seorang diri berada di sini!"

Teriak Bokyong Cen.

Akan tetapi, bayangan Ouw Yang Hong sudah tidak tampak, karena sudah meloncat ke dalam lubang itu.

Bokyong Cen menengok ke sana ke mari.

Suasana gelap dan amat sunyi, sehingga menimbulkan rasa takutnya.

Tanpa banyak pikir lagi, dia memejamkan matanya lalu meloncat ke dalam.

Suara angin menderu-deru melewati telinganya.

Hal itu membuatnya terkejut sekali karena sama sekali tidak menduga sedemikian dalam lubang tersebut.

Entah berapa lama kemudian Bokyong Cen merasa badannya didorong orang hingga jatuh menyentuh sesuatu yang amat licin, tapi bergemerlapan memancarkan cahaya.

Sesaat kemudian terdengar suara seruan Ouw Yang Hong.

"Nona Bokyong, kau sudah meloncat turun?"

Suara nadanya penuh perhatian, membuat hati Bokyong Cen terasa hangat.

Ouw Yang Hong memang orang baik, katanya dalam hati.

Tiba-tiba ada orang meraba-raba tubuhnya, bahkan sampai ke bagian dadanya.

Dia menjerit karena terperanjat.

Mendengar jeritan itu, Ouw Yang Hong jadi terkejut sekali.

"Nona Bokyong, kau kenapa?"

Tanyanya kekerasan.

"Ti ... tidak apa-apa. Mari kita ke dalam!"

Ketika sampai di dalam, mereka tidak dapat melihat apa-apa.

Setelah lewat beberapa saat, barulah mata mereka dapat melihat tempat tersebut.

Tempat itu terdiri dari batu es yang bergemerlapan.

Terdapat sebuah terrowongan es yang amat panjang.

Mereka berdua memasuki terowongan tersebut.

Setelah berjalan, beberapa saat kemudian mereka melihat Pek Bin Lo Sat duduk di atas es batu yang amat besar.

Bab 12 Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen tidak kuat berdiri lama di tempat itu, karena hawanya sangat dingin.

Keduanya menengok ke sana ke mari, ingin mencari suatu tempat yang tidak terlalu dingin.

Namun goa itu seluruhnya terdiri dari batu es.

Kini mereka semakin merasa kedinginan.

Selain itu mereka mulai lapar.

Akhirnya terpaksa mendekati Pek Bin Lo Sat.

"Lo Cianpwee, apakah di sini tiada tempat yang hangat?"

Tanya Ouw Yang Hong. Pek Bin Lo Sat diam saja. Bokyong Cen pun ikut berkata.

"Cianpwee berkepandaian tinggi, tentunya dapat melawan hawa dingin di dalam goa ini. Tapi aku dan saudara Ouw Yang tidak dapat bertahan, mohon Lo Cianpwee memberi petunjuk!"

Pek Bin Lo Sat menatap mereka seraya menyahut.

"Tempat ini memang dingin, hati pun jadi beku. Kalau bukan suatu hal, bagaimana dingin dan panas jadi satu?"

Tertegun Ouw Yang Hong mendengar itu, lalu berpikir.

Kelihatannya guru kakakku memberitahukan, bahwa dia pun terpaksa tinggal di dalam goa es ini, maka harus bertahan hidup dalam kedinginan.

Di saat Ouw Yang Hong sedang berpikir, Bokyong Cen berteriak-teriak.

"Aku akan mati kedinginan! Aku akan mati kedinginan!"

Pek Bin Lo Sat tidak memperdulikan gadis itu, dia meloncat turun lalu menyambar Ouw Yang Hong, dan langsung dibawanya ke atas batu es itu.

Begitu berdiri di atas batu es itu, Ouw Yang Hong langsung menggigil.

"Cianpwee, batu es ini amat dingin ..."

Ujarnya dengan suara gemetaran. Pek Bin Lo Sat tertawa.

"Ini adalah batu es ribuan tahun, tentunya amat dingin sekali!"

Ouw Yang Hong terbelalak.

Dia merasa tak memiliki lwee kang yang tinggi, bagaimana mungkin dapat melawan hawa dingin itu.

Menyaksikan Ouw Yang Hong menggigil kedinginan, Bokyong Cen jadi tercengang seraya berpikir.

Aku dan dia sama-sama berada di dalam goa es ini, tapi mengapa dia tidak dapat bertahan, bahkan menggigil kedinginan?

Apakah batu es yang diduduki Pek Bin Lo Sat itu jauh lebih dingin?

Bokyong Cen menjulurkan tangannya meraba batu es itu.

Rasa dingin langsung menyerang telapak tangannya, itu membuatnya terkejut bukan main!

Sedangkan Ouw Yang Hong sudah tidak tahan, dia ingin meloncat turun dari batu es itu, tapi mendadak Pek Bin Lo Sat berkata.

"Aku dengar dari anak Coan, bahwa kau tidak mau belajar ilmu sastra lagi, melainkan ingin berkecimpung dalam rimba persilatan jadi seorang pendekar. Namun kau harus tahu, tidak gampang belajar ilmu silat, sebab harus tahan derita. Misalnya batu es ribuan tahun ini, dinginnya sampai menusuk ke dalam tulang sumsum, tapi tahukah kau? Batu es ini justru merupakan suatu benda mustika bagi orang yang belajar ilmu silat! Apabila kau dapat bertahan beberapa waktu, berarti kau dapat menahan derita dan akan berhasil menguasai ilmu silat tingkat tinggi!"

Mendengar itu, Ouw Yang Hong jadi tertarik dan berusaha menahan rasa dinginnya.

Dia duduk di hadapan Pek Bin Lo Sat.

Dirasakan badannya semakin menggigil.

Rasa dingin itu pun merasuk ke dalam aliran darahnya, membuatnya jadi seperti manusia es.

Dia tahu lwee kangnya masih dangkal, kalau tak untung dia akan mati kedinginan.

Tapi dia tetap berkeras hati.

Meski akan mati kedinginan, dia tetap harus duduk di atas es itu.

Hatinya sudah bulat bertekad.

Sementara Bokyong Cen terjadi beringsut mundur dari batu es itu.

Ia tahu betapa dinginnya.

Ketika melihat Ouw Yang Hong berkeras hati duduk di atas es itu, dia kelihatan gelisah sekali.

"Bodoh sekali kau! Batu ini amat dingin, sedangkan kau berkepandaian rendah, jangankan berlama-lama, sesaat saja kau pasti mati beku!"

Teriak gadis itu.

Walau Bokyong Cen berseru dengan suara keras, Ouw Yang Hong malah memejamkan matanya, tidak memperdulikan seruan gadis itu.

Beberapa saat telah berlalu, wajah Ouw Yang Hong tampak berubah putih kehijau-hijauan.

Bibirnya pun sudah kebiru-biruan.

Hawa dingin telah menjalar ke seluruh tubuhnya, sedangkan dia telah kehilangan kesadaran.

Ketika dia kembali tersadar, tampak goa itu telah diterangi nyala obor-obor.

Tampak pula Ouw Yang Coan dan Bokyong Cen menatapnya dengan penuh perhatian.

Ouw Yang Hong tercengang, karena dadanya terasa hangat dan sekujur badan pun terasa nyaman sekali.

"Adik, guruku telah menyelamatkanmu!"

Berkata tiba-tiba Ouw Yang Coan. Ouw Yang Hong terbelalak mendengar itu. Dia menoleh ke arah Pek Bin Lo Sat dengan tidak mengerti. Pek Bin Lo Sat menoleh ke arah Ouw Yang Coan.

"Anak Coan, aku lihat dia cukup gagah dan bertulang bagus. Kalau dia belajar ilmu silat, keherhasilannya kelak pasti tidak berada di bawahmu!"

Dengan penuh gembira Ouw Yang Hong langsung bersujud di hadapan Pek Bin Lo Sat.

"Ouw Yang Hong memang ingin belajar ilmu silat, harap guru menyempurnakan diriku!"

Ujarnya penuh harap. Ouw Yang Hong yang tidak begitu tahu peraturan rimba persilatan mengira guru kakaknya adalah juga gurunya, maka memanggil Pek Bin Lo Sat sebagai guru pula. Pek Bin Lo Sat tertawa.

"Anak Coan, perlukah aku menerima adikmu sebagai murid?"

Ouw Yang Hong memandang Ouw Yang Coan dengan wajah berseri-seri.

Pek Bin Lo Sat bertanya demikian pada kakaknya, tentu orang ini bersedia menerimanya sebagai murid, tentu kakaknya pasti setuju.

Akan tetapi, mendadak Ouw Yang Coan menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pek Bin Lo Sat.

"Guru, keluarga Ouw Yang hanya mengandalkan pada adikku, dia harus punya keturunan. Biar teecu saja yang ikut guru pergi menuntut balas, jangan menerimanya! Harap guru mengabulkan permohonan teecu!"

Apa yang dikatakan Ouw Yang Coan membuat Ouw Yang Hong terheran-heran, sama sekali tidak mengerti.

Kalaupun Pek Bin Lo Sat punya musuh besar, cari saja musuh besar itu dan membunuhnya, bukankah urusan jadi beres?

Mengapa kakaknya harus mengungkit tentang itu?

Aku ingin berguru pada Pek Bin Lo Sat, lalu apa hubungannya dengan keturunan keluarga Ouw Yang?

Apa-kah setelah aku berguru pada Pek Bin Lo Sat, seumur hidup tidak boleh kawin dan punya anak?

Ouw Yang Hong betul-betul merasa tak habis pikir.

Mendengar percakapan mereka, Bokyong Cen sama sekali tidak turut campur.

Gadis itu cuma diam saja.

Sementara Ouw Yang Coan terus memandang Pek Bin Lo Sat.

Kelihatannya dia sedang menunggu jawaban gurunya itu.

Oleh karena itu, Ouw Yang Hong berpikir lagi, Kakak berkepandaian amat tinggi, merupakan jago nomor satu di daerah See Hek, sedangkan diriku tak berguna sama sekali, selalu dihina dan dipermainkan orang.

Kalau guru kakakku tidak mau mengajarku ilmu silat, aku harus cari siapa untuk belajar ilmu silat?

Setelah berpikir begitu, Ouw Yang Hong pun bangkit berdiri dan mendekati Bokyong Cen.

Apabila Pek Bin Lo Sat tidak mau mengajarnya ilmu silat, lalu untuk apa berada di dalam goa es itu?

Ouw Yang Hong memandang Bokyong Cen.

Ternyata dia teringat akan seruan gadis itu yang penuh perhatian ketika dirinya duduk di atas batu es.

Namun dia tidak mengucapkan apa pun.

Pek Bin Lo Sat tetap duduk diam di atas batu es.

Berselang sesaat, dia berkata dengan suara rendah.

"Anak Coan, kemarilah kau!"

Ouw Yang Coan segera mendekati Pek Bin Lo Sat yang memandangnya.

"Anak Coan, kau pernah mengatakan bahwa di Tionggoan telah muncul sebuah kitab Kiu Im Cin Keng. Setelah kupikir-pikir, harus memperoleh kitab tersebut. Kepandaian musuhku itu amat tinggi sekali. Walaupun kita bergabung, mungkin masih bukan lawannya. Lagipula dia sudah belasan tahun tidak memunculkan diri dalam rimba persilatan, tentu kepandaiannya bertambah tinggi. Karena itu, kau boleh ke Tionggoan mencari kitab pusaka tersebut. Siapa tahu kau akan memperolehnya, sehingga kelak kita dapat menuntut balas dendam itu!"

Ouw Yang Coan manggut-manggut. Sementara Pek Bin Lo Sat memandang Bokyong Cen seraya tersenyum.

"Nona, kau dari keluarga di Kang Lam. Panorama di Kang Lam amat indah, tidak seperti di daerah See Hek. Oleh karena itu, kau ikut anak Coan ke daerah selatan, dia bisa menjagamu dalam perjalanan!"

Betapa girangnya Bokyong Cen, yang tak menduga Pek Bin Lo Sat akan mengatur demikian. Gadis itu buru-buru maju, lalu memberi hormat pada Pek Bin Lo Sat.

"Terimakasih, Cianpwee!"

Pek Bin Lo Sat tesenyum sambil manggut-manggut, sedangkan Ouw Yang Hong amat kesal dalam hati.

Kakakku pergi ke Kang Lam ditemani nona Bokyong Cen, dalam perjalanan mereka berdua pasti bersenda gurau sambil menikmati keindahan alam.

Sebaliknya aku harus tetap berada di dalam goa es ini menemani guru kakak.

Berpikir begitu, dia pun berseru sekeras-kerasnya.

"Kakak, kau kurang tahu jalan menuju ke Tionggoan, biar aku yang menemanimu ke sana!"

Ouw yang Coan menyahut.

"Adik, lebih baik kau menungguku di sini, aku pergi paling lama satu tahun, mungkin setengah tahun aku sudah pulang!"

Ouw Yang Hong mengerutkan kening.

Berada di dalam goa es ini setengah hari rasanya seperti sudah setengah tahun.

Bagaimana kalau harus menetap selama setengah tahun atau setahun?

Dia berkata dengan kening berkerut-kerut.

"Kakak ke Tionggoan, harus kenal beberapa orang di sana! Kalau tidak, begitu kakak muncul, pasti akan dianggap sebagai musuh, itu amat merepotkan!"

Pek Bin Lo Sat terus mendengar percakapan itu.

Dia tahu kalau Ouw Yang Hong lehih cerdik dari Ouw Yang Coan.

Apahila mereka bergahung, kemungkinan besar akan berhasil memperoleh kitab Kiu Im Cin Keng tersebut.

"Ouw Yang Hong, kau kenal kaum rimba persilatan Tionggoan?"

Tanya Pek Bin Lo Sat kemudian. Ouw Yang Hong menyahut dengan jujur.

"Aku pernah ke Tionggoan sampai di kotaraja, berkenalan dengan Oey Yok Su majikan Pulau Tho Hoa To, kepandaiannya amat tinggi. Aku juga melihat seorang padri muda bergelar It Sok Taysu. Dia mengadu kepandaian dengan Oey Yok Su. Kepandaiannya juga amat tinggi, seimbang dengan Oey Yok Su, dia berasal dari keluarga Tayli Yun Lam ti Mendengar nama It Sok Taysu, mendadak sekujur badan Pek Bin Lo Sat tampak tergetar.

"Kau bilang It Sok Taysu berasal dari keluarga Tayli Yun Lam?"

Ouw Yang Hong mengangguk.

"Tidak salah!"

"Dia mahir ilmu telunjuk?"

Lanjut Pek Bin Lo Sat. Ouw Yang Hong mengangguk lagi.

"It Sok Taysu memang mahir ilmu telunjuk. Ketika mengadu kepandaian dengan Oey Yok Su, aku melihat jari telunjuknya bergerak ke sana ke mari!"

Paparnya menjelaskan.

"Berapa usianya dan bagaimana rupanya?"

Ouw Yang Hong tercengang, sebab Pek Bin Lo Sat terus bertanya tentang padri tersebut.

"Usianya sekitar lima puluhan, berwajah ramah, dan suaranya pun amat lembut. Siapa yang melihatnya, pasti menaruh hormat padanya!"

Mendadak Pek Bin Lo Sat tertawa terkekeh-kekeh, kemudian menyingkap rambutnya yang amat panjang itu.

"Kau lihat aku, kira-kira berapa usiaku?"

Tanyanya dengan nada sedih.

Ouw Yang Hong terheran-heran, tidak mengerti mengapa Pek Bin Lo Sat bertanya begitu.

Kelihatannya Pek Bin Lo Sat kenal haik dengan It Sok Taysu.

Tapi mereka terpisah, yang satu di Yun Lam, yang satu lagi berada di See Hek, bagaimana saling mengenal?

Melihat Pek Bin Lo Sat begitu emosi, Ouw Yang Hong tahu pasti ada sebab-musababnya.

"Apakah jari telunjuknya bergerak demikian?"

Pek Bin Lo Sat memperagakan gerakan itu, Ouw Yang Hong melihat dengan penuh perhatian. Seusai memperagakan gerakan itu, Pek Bin Lo Sat bertanya.

"Apakah hweeshio itu bergerak demikian jari telunjuknya?"

Ouw Yang Hong mengangguk.

"Ya!"

Pek Bin Lo Sat menundukkan kepala agak lama. Kemudian dia membuka mulut dengan suara dalam.

"Ternyata dia sudah jadi hweeshio ..."

Ouw Yang Coan yang sejak tadi diam, kini mengerti, ternyata musuh perguruannya adalah It Sok Taysu, berasal dari keluarga Toan di Tayli.

Pek Bin Lo Sat mendongakkan kepala, dan berseru sekeras-kerasnya.

"Toan kongcu (Tuan Muda Toan)! Toan kongcu! Mengapa kau jadi hweeshio? Mengapa?"

Bersamaan itu, melelehlah air mata Pek Bin Lo Sat. Sedangkan Ouw Yang Hong cuma terbengang-bengong tidak mengerti sama sekali.

"Anak Coan, ada baiknya kau ajak adikmu ke Tionggoan!"

Ouw Yang Coan mengangguk.

"Ya, Guru!"

Wajah Ouw Yang Hong berseri-seri karena begitu gembiranya, sebab akan meninggalkan goa es yang amat dingin itu.

Ouw Yang Coan, Ouw Yang Hong, dan Bokyong Cen meninggalkan goa es.

Dan setelah melewati Mok Pak, akhirnya mereka bertiga sudah tiba di Ciau Liang.

Ciau Liang merupakan kota besar di wilayah utara, yang terbilang ramai.

Ouw Yang Hong yang rupanya banyak mengetahui kota ini banyak memberi penjelasan kepada kakaknya dan Bokyong Cen diam saja.

Kemudian mereka bertiga memasuki rumah makan.

Rumah makan Ting Ih Lou yang amat terkenal di kota Ciau Liang.

Suasananya tampak tidak begitu ramai sebab bukan waktunya makan.

Di lantai atas rumah makan itu terdapat dua puluh meja.

Selain mereka bertiga, tampak ada delapan orang, mereka duduk dekat jendela, menghadapi cawan arak dengan kepala tertunduk.

Ouw Yang Coan memperhatikan kedelapan orang itu.

Dia tahu kalau mereka memiliki kepandaian.

Salah satu dari mereka adalah wanita.

Empat orang yang duduk di sisi kanan meja, semuanya berpakaian compang-camping.

Di tubuh mereka tergantung sembilan buah kantong kecil, delapan buah kantong kecil, dan enam buah kantong kecil.

Pakaian mereka yang compang-camping itu menyiarkan bau busuk.

Sedangkan tiga lelaki dan seorang wanita yang duduk di sisi kiri meja, semuanya berpakaian amat indah.

Di atas meja terdapat tiga buah guci arak.

Ouw Yang Coan tahu mereka sedang menunggu orang.

Ouw Yang Hong tidak begitu memperhatikan mereka, terus hercakap-cakap dengan Bokyong Cen.

Gadis itu pun melayaninya dengan penuh semangat.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah.

Tampak dua orang berjalan menuju lantai atas.

Ouw Yang Hong mendongakkan kepala memandang.

Seketika hatinya bergirang karena ternyata dia kenal kedua orang yang baru muncul itu, yang tak lain adalah Su Ciau Hwa Cu dan Ang Cit Kong yang pernah membawanya ke istana mencuri makanan.

Ouw Yang Hong ingin pergi menyapa mereka, namun dicegah oleh Ouw Yang Coan, bahkan juga diberi isyarat agar dia tidak bersuara.

Sementara Su Ciau Hwa Cu dan Ang Cit Kong sama sekali tidak memandang ke arah meja Ouw Yang Hong, langsung menuju ke meja yang dekat jendela.

Ouw Yang Hong memperhatikan Su Ciau Hwa Cu dan Ang Cit Kong.

Yang membuatnya heran melihat Su Ciau Hwa Cu kelihatan tak bersemangat.

Dia mengenakan pakaian yang amat aneh, berlubang-lubang tapi amat bersih.

Dia dan Ang Cit Kong menuju ke meja itu dengan wajah muram.

Duduk di salah sebuah kursi yang kosong, kemudian manggut-manggut pada kedelapan orang itu.

Ouw Yang Coan terus memperhatikan mereka, sementara Su Ciau Hwa Cu sudah duduk, namun tiada seorang pun bersuara.

Berselang sesaat, barulah Su Ciau Hwa Cu membuka mulut.

"Arak wangi! Arak wangi! Ini adalah arak wangi berusia lima puluh tahun, aku harus minum secawan!"

Su Ciau Hwa Cu mulai meneguk arak wangi itu.

Sekejap saja sudah menghabiskan sembilan cawan.

Delapan orang yang duduk di sisi kiri kanan meja sama sekali tidak bersuara.

Mereka memandangi Su Ciau Hwa Cu yang meneguk arak wangi.

Tiba-tiba salah seorang yang berpakaian mentereng berkata.

"Pengcu (Ketua), lihat ..."

Belum juga orang itu usai berkata, Su Ciau Hwa Cu sudah membentak keras.

"Jangan panggil aku pangcu, kalian jangan panggil aku pangcu! Apa gunanya aku jadi pangcu kalian? Setiap hari kalian cuma berkelahi, sebentar disebut partai Baju Mentereng, kemudian jadi partai Baju Kembang, membuat kepalaku sakit sekali. Sekarang aku punya usul, lagipula kalian pun sudah melihat pakaianku ini. Separuh adalah pakaian mentereng, separuhnya lagi merupakan pakaian kembang, pertanda adalah partai Baju Mentereng dan partai Baju Kembang! Ya kan?"

Su Ciau Hwa Cu memandang mereka sambil melanjutkan.

"Tapi tidak baik aku berpakaian demikian, karena semua orang akan menganggap diriku sebagai makluk aneh! Tidak baik, ini sungguh tidak baik."

Orang berpakaian mentereng berkata.

"Pangcu berpakaian begini, memang kurang pantas ..."

Su Ciau Hwa Cu langsung membentak gusar.

"Kau hilang apa? Ini tidak pantas, itu tidak pantas! Lalu aku harus berpakaian apa?"

Orang berpakaian mentereng amat gugup ketika melihat Su Ciau Hwa Cu marah. Lalu dengan gugup dia menyahut.

"Maksudku pakaian Pangcu tidak sesuai dengan peraturan. Pangcu ..."

Mendengar orang berpakaian mentereng mengatakan begitu, kegusaran Su Ciau Hwa Cu memuncak, membentak dengan suara mengguntur.

"Bagaimana pakaianku tidak sesuai dengan peraturan kalian? Coh Lo Toa, katakanlah! Separuh pakaianku bukankah merupakan baju mentereng? Tahukah kau, aku telah mengeluarkan hampir lima puluh tael perak untuk membeli bahannya."

Coh Lo Toa terkejut mendapat bentakan.

"Pakaian Pangcu memang mentereng, persis seperti baju partai kami! Tapi ..."

Su Ciau Hwa Cu menyelak dengan suara lantang.

"Persis ya sudah! Ayo, mari kita minum! Sungguh bagus apabila partai Baju Mentereng kalian sudah tiada urusan lain, begitu pula partai Baju Kembang!"

Salah seorang lelaki langsung bangkit berdiri, memberi hormat seraya berkata.

"Pangcu, apa yang dikatakan saudara Coh memang benar. Pakaian Pangcu tidak mirip baju mentereng juga tidak mirip baju kembang. Kami murid Kay Pang tidak mengerti sama sekali, harap Pangcu memikirkan suatu cara yang terbaik!"

Su Ciau Hwa Cu menyahut dengan wajah lesu.

"Sudahlah! Harus memikirkan cara apa lagi? Kalian menyuruhku berpakaian compang-camping, yang lain menyuruhku berpakaian mentereng. Sungguh membuatku pusing tujuh keliling, lebih baik aku berpakaian begini saja!"

Semua orang diam.

Sementara Ouw Yang Coan, Ouw Yang Hong, dan Bokyong Cen sudah paham.

Ternyata orang-orang itu sedang mempermasalahkan pakaian, yang amat merepotkan ketua Kay Pang.

Ternyata pada masa itu terdapat partai yang amat besar, yaitu Kay Pang (Partai Pengemis).

Partai ini terbagi jadi dua aliran.

Aliran Baju Mentereng dan aliran Baju Kembang yang penuh tambalan.

Prinsip aliran Baju Kembang harus mengenakan pakaian yang penuh tambalan, sedangkan aliran Baju Mentereng harus berpakaian indah.

Oleh karena itu, kedua aliran tersebut sering terjadi keributan, bahkan ketuanya terbawa-bawa karena harus berpakaian mentereng dan berpakaian kembang.

Karena itu, ketua terpaksa membuat pakaian aneh tersebut.

Beberapa saat kemudian, Su Ciau Hwa Cu sudah tampak tidak saharan, dia berkata pada delapan orang itu.

"Aku tidak sudi jadi ketua kalian, aku mau pergi! Kalian mau melakukan apa, lakukan saja!"

Su Ciau Hwa Cu bangkit perlahan-lahan, setelah itu berkata lagi.

"Menurutku, kalian harus memilih seorang ketua lain. Aku sudah pusing dengan masalah pakaian, aku tidak tahu harus berpakaian apa!"

Dengan gugup delapan orang itu segera bangkit berdiri dan cepat-cepat menghadang kepergiannya.

"Hei! Apakah kalian menghendaki nyawaku?"

Bentak Su Ciau Hwa Cu. Su Ciau Hwa Cu ingin kabur, tapi delapan orang itu bergerak cepat menghadangnya. Hal itu membuat Su Ciau Hwa Cu mencak-mencak.

"Mengapa kalian menghadangku? Lebih baik kalian duduk minum arak wangi saja!"

Delapan orang itu tetap berdiri di hadapan Su Ciau Hwa Cu tanpa bergerak. Su Ciau Hwa Cu menatap Ang Cit Kong.

"Kau kenapa tenang-tenang saja? Kalau kau sudah jadi pangcu, barulah akan pusing!"

Sementara Ouw Yang Coan terus memperhatikan Su Ciau Hwa Cu.

Dia tahu kepandaian pengemis tua itu masih di atas kepandaian gurunya.

Sesunggguhnya, pengemis tua itu dapat kabur sesukanya, tapi rupanya dia tidak mau menyinggung perasaan delapan orang itu, maka duduk kembali.

Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara seman di lantai bawah.

"Siangkoan Pangcu dari Tiat Ciang Pang (Partai Telapak Besi) datang!"

Menyusul terdengar suara langkah menaiki tangga, tampak sembilan orang berjalan ke lantai atas.

Mereka bercakap-cakap dengan gembira.

Sampai di lantai atas dan ketika melihat Su Ciau Hwa Cu serta yang lain, mereka langsung diam.

Tampak salah seorang berbisik perlahan.

"Pangcu, perlukah kita pindah ke tempat lain?"

Seorang yang berdiri di tengah-tengah mereka menyahut.

"Tidak perlu pindah, kita duduk di sini saja!"

Orang yang berbisik itu mengangguk, lalu mempersilakan Siangkoan Pangcu duduk.

Setelah itu dia memanggil pelayan, memesan beberapa macam hidangan dan arak wangi.

Sementara si pelayan pergi, sembilan orang itu duduk diam menunggu hidangan disiapkan.

Dari tadi Ouw Yang Coan sudah memperhatikan mereka.

Dalam hati dia tahu, di antara sembilan orang itu terdapat tujuh orang berkepandaian tinggi, terutama orang yang dipanggil Siangkoan Pangcu itu.

Dia berusia empat puluh lebih, sepasang tangannya berwarna hitam sekali.

Tak seberapa lama kemudian, pelayan mulai menyajikan semua hidangan tersebut.

Siangkoan Pangcu segera berkata singkat.

"Cepat makan dan cepat melanjutkan perjalanan!"

Mereka mulai bersantap secepatnya bagaikan macan kelaparan.

Namun tampak Siangkoan Pangcu itu sama sekali tidak bersantap, hanya duduk tertegun sambil melihat semua orang yang bersantap.

Orang-orang itu tidak memperdulikannya, terus bersantap dengan cepat.

Sebentar kemudian, seorang pelayan membawakan seguci arak ke hadapannya.

Siangkoan Pangcu itu membuka tutup guci, lalu mencium arak di dalamnya.

Ketika dia mau menuang arak ke dalam cawannya, mendadak seorang anak kecil berpakaian compang-camping masuk dan menuju ke hadapannya.

Maksudnya ingin menuju meja orang Kay Pang, namun saking cepatnya berlari, sehingga menyenggol lengan Siangkoan Pangcu, membuat guci arak yang di tangan Siangkoan Pangcu terjatuh.

Anak kecil itu berseru kaget, tidak tahu harus berbuat apa.

Sedangkan guci arak itu terus meluncur ke bawah, kelihatannya sulit ditangkap lagi.

Di saat bersamaan, terdengar suara tawa Siangkoan Pangcu.

Dia mengayunkan kakinya menendang guci arak itu ke atas, lalu menjulurkan tangan menyambarnya dengan cepat.

Seorang lelaki yang berada di situ membentak gusar, langsung mencengkeram tangan anak kecil itu.

"Kenapa kau berlari begitu cepat seperti dikejar setan? Apakah ayah bundamu mati mendadak?"

Si anak kecil tak dapat bersuara, dia menahan rasa sakit di tangannya karena dicengkeram oleh orang itu.

Salah seorang lelaki lagi ketika melihat anak kecil itu diam, langsung bangkit berdiri seraya membentak.

"Kalau aku tidak membunuhmu, kau pasti akan berkeliaran di sini!"

Lelaki itu mengayunkan tangannya memukul anak kecil, tapi mendadak Siangkoan Pangcu menjulurkan tangannya menarik baju anak kecil itu.

Serrrt!

Baju anak kecil tersobek, sehingga membuatnya menangis seketika dan berteriak-teriak.

"Kau harus ganti pakaianku! Kau harus ganti pakaianku!"

"Kau telah menjatuhkan guci arak pangcu kami, sudah bagus kau tidak dihukum! Apakah kau mau dipukul?"

Bentak orang yang hendak memukulnya. Ketika lelaki itu hendak memukul anak kecil, Siangkoan Pangcu segera mencegahnya.

"Siapa namamu?"

Tanyanya.

"Aku bernama Ciu Cian Jen!"

Sahut si anak kecil dengan lantang.

"Nama yang bagus, Cian Jen! Cian Jen, apakah tinggi sekali?"

Anak kecil itu menyahut.

"Aku tidak tinggi sekali. Kakakku bernama Ciu Cian Cang, dia lebih tinggi dariku. Adik perempuanku bernama Ciu Cian Ciok, dia lebih pendek dariku."

Sementara Ouw Yang Coan yang memperhatikan kejadian itu, sudah siap menolong si anak kecil, apabila lelaki itu memukulnya.

Begitu pula Su Ciau Hwa Cu, tangannya memegang sebatang sumpit, siap menyambit lelaki tersebut.

Untung Siangkoan Pangcu mencegah lelaki itu bertindak.

Hal itu membuat Ouw Yang Coan dan Su Ciau Hwa Cu menarik nafas lega.

"Namaku Siangkoan Wei, namaku tidak sebagus namamu."

Siangkoan Wei berpaling pada temannya.

"Saudara Mai, kau ke toko pakaian yang di depan, belilah pakaian yang bagus!"

Mai San tampak tak mengerti.

"Pangcu, siapa yang akan ganti pakaian baru? Apakah Pangcu ingin ganti pakaian baru?"

"Buat apa aku ganti pakaian haru?"

Sahut Siangkoan.

"Kau lihat anak kecil ini! Pakaiannya sudah compang-camping tidak karuan, kau pergi beli pakaian untuknya, dia harus ganti pakaian baru!"

Mai San masih tidak begitu mengerti. Tapi karena itu perintah sang Pangcu, maka dia tidak berani membangkang, segera berlari ke toko yang di seberang.

"Di mana kakak dan adik perempuanmu?"

Tanya Siangkoan Wei pada si anak kecil. Anak kecil itu menyahut dengan wajah muram, kemudian air matanya meleleh membasahi pipinya.

"Mereka ... mereka kerja di rumah orang."

Siangkoan Wei bertanya dengan lembut.

"Mereka bekerja di rumah siapa?"

Ciu Cian Jen memberitahukan.

"Mereka bekerja di rumah dermawan Tio, kakakku bekerja sebagai budak, adik perempuanku bekerja sebagai pelayan."

"Orang itu disebut dermawan Tio, dia pasti baik sekali terhadap kalian kau?"

Ujar Siangkoan Wei. Mendengar itu, Ciu Cian Jen malah menangis sedih memilukan hati.

"Akan kusuruh orang pergi membawa kakak dan adik perempuanmu ke mari. Bagaimana?"

Bujuk Siangkoan Wei lembut. Anak kecil itu tampak tersentak. Cepat-cepat dia menolak.

"Tidak bisa! Tidak bisa! Kalau mereka kemari, orang-orang dermawan Tio pasti akan memukul mereka!"

Siangkoan Wei tersenyum.

"Kakakmu bekerja di sana, dermawan Tio memberikannya berapa tael perak?"

Ciu Cian Jen menyahut.

"Tidak diberi uang tapi hanya diberi makan saja!"

Siangkoan Wei manggut-manggut.

"Aku akan bawa kakak dan adikmu kemari, biar mereka bekerja padaku. Setiap bulan akan kuberikan mereka tiga puluh tael perak. Bagaimana?"

Tertegun Ciu Cian Jen mendengar itu, sehingga mulutnya jadi ternganga lebar, kemudian memandang Siangkoan Wei.

"Kau membohongiku? Kau pasti membohongiku!"

Siangkoan Wei tersenyum lembut.

"Mengapa aku harus membohongimu?"

Pangcu itu berpaling, lalu menjulurkan tangannya ke arah seorang lelaki yang berdiri di sini.

Lelaki itu segera mengeluarkan uang perak.

Siangkoan Wei mengambil uang perak itu, kemudian ditaruhnya ke tangan Ciu Cian Jen seraya berkata.

"Ini lima puluh tael perak, perlihatkan pada kakak dan adikmu, apakah mereka berdua mau ikut kau kemari?"

Ciu Cian Jen masih kecil. Dia tentu tidak pernah melihat uang perak sebanyak itu. Maka tampak terbengong-bengong melihat uang itu.

"Aku akan beritahukan mereka, mereka pasti mau kemari!"

Siangkoan Wei berkata pada lelaki yang di sisinya.

"Kau pergi ke sana, katakan pada dermawan Tio bahwa kau akan membawa kakak dan adik anak kecil ini ke dalam Pang kita!"

Lelaki itu mengangguk dan segera berangkat.

Ouw Yang Coan, Ouw Yang Hong, dan Bok-yong Cen semakin tidak mengerti, mengapa Siangkoan pangcu itu berbuat demikian.

Apakah betul dia berhati-hati?

Su Ciau Hwa Cu yang menyaksikan itu juga tidak mengerti.

Bab 13 Kalau Tiat Ciang Pang terkenal baik dalam dunia persilatan, itu memang tidak mengherankan.

Akan tetapi, semua orang tahu Tiat Ciang Pang merupakan partai yang jahat.

Siangkoan Wei adalah ketua partai tersebut.

Tentunya dia berhati jahat dan kejam.

Seharusnya dia memperlakukan anak kecil itu dengan galak, namun justru malah sebaliknya.

Dia memperlakukan anak Ciu Cian Jen dengan baik dan amat lembut.

Siangkoan Wei menuruh Ciu Cian Jen duduk, kemudian berseru.

"Tiam Keh (Pemilik Rumah Makan), cepat kemari!"

Pemilik rumah makan segera menghampiri Siangkoan Wei dengan terbungkuk-bungkuk, memberi hormat.

"Pangcu mau pesan apa, katakan saja!"

Siangkoan Wei menatapnya tajam.

"Tiam Keh, aku bertanya padamu, mengapa di dalam arak ini terdapat racun?"

Bukan main terkejutnya para tamu yang sedang minum di situ. Wajah mereka langsung berubah. Begitu pula pemilik rumah makan, wajahnya berubah pucat sambil menggoyang-goyangkan sepasang tangannya.

"Pangcu, jangan bergurau! Ini adalah arak wangi yang amat terkenal, baru diambil dari gudang. Bagaimana mungkin beracun? Apa yang dikatakan Pangcu, sungguh membuatku merasa tidak enak!"

Siangkoan Pangcu tersenyum sinis.

"Seandainya anak kecil itu tidak menabrak lenganku, aku tidak tahu kalau arak ini mengandung racun. Apabila aku mati keracunan oleh arakmu, apakah kau akan merasa gembira sekali?"

Siangkoan Wei mengangkat tangannya, sikapnya seakan ingin memukul pemilik rumah makan itu.

Pemilik rumah makan tahu jelas, kalau dirinya terpukul nyawanya pasti melayang seketika.

Dengan gugup dan panik orang itu segera memohon.

"Pangcu jangan gusar, aku akan pergi menyelidikinya, tapi ..."

"Tapi kenapa?"

Bentak Siangkoan Wei, sengit.

"Tapi apakah benar arak ini beracun?"

Tanya pemilik rumah makan.

"Kau kira aku sedang bergurau denganmu?"

Sahut Siangkoan dengan gusar sekali.

Mendadak Siangkoan Wei memukul guci arak itu hingga hancur.

Arak yang di dalam guci langsung mengucur ke lantai, mengeluarkan suara 'Ces!

Cess!' Itu pertanda arak itu mengandung racun.

Pemilik rumah makan terbelalak, memandang arak itu dengan mulut terbungkam.

"Lihatlah! Bukankah arak itu mengandung racun?"

Bentak Siangkoan Wei lagi. Pemilik rumah makan tak mampu mengeluarkan suara, karena sudah terbukti arak itu mengandung racun. Salah seorang bangkit berdiri, dan berkata dengan dingin.

"Kau berani meracuni pangcu kami dengan arak? Nyalimu sungguh besar!"

Orang itu menyambar leher baju pemilik rumah makan. Tentu saja si pemilik rumah makan tak bisa berkata apa-apa, karena dia sama sekali tidak tahu siapa yang menaruh racun ke dalam arak itu.

"Cepat bilang! Siapa yang menaruh racun ke dalam arak itu? Kalau kau tidak bilang, aku akan memhinasakanmu!"

Bentak orang itu sambil mengeluarkan belatinya.

Suaranya mengguntur, membuat pemilik rumah makan bertambah ketakutan.

Dia ingin bersuara tapi tenggorokannya seakan tersumbat.

Ternyata pemilik rumah makan itu masih punya bos besar, berada di lantai bawah.

Mendengar suara ribut-ribut di lantai atas, bos besar itu segera naik.

Begitu melihat Siangkoan Pangcu, dia berkeluh dalam hati, lalu segera menghampiri mereka dengan wajah berseri.

"Maaf, Tuan! Ada apa, bicarakan saja!"

Lelaki itu melepaskan pemilik rumah makan, kemudian dengan cepat mencengkeram bos besar itu dengan mata melotot tajam.

"Baik, kau adalah bos besar rumah makan ini? Aku ingin bicara denganmu!"

Bos besar itu manggut-manggut.

"Bicaralah! Tapi ... lepaskan tanganmu!"

Lelaki itu mendengus.

"Hmm! Tapi kalau hari ini kau tidak menjelaskan, aku pasti mencabut nyawamu!"

Kejadian itu diam-diam telah menggusarkan Ouw Yang Coan.

Dia ingin memberi pelajaran kepada lelaki yang bertindak kurang ajar terhadap pemilik rumah makan.

Karena berpikir demikian, dia melirik Bokyong Cen.

Wajah gadis itu tampak emosi sekali, begitu pula Ouw Yang Hong.

Sementara di meja Su Ciau Hwa Cu, semuanya tampak diam.

Saat itu mendadak seseorang berbicara, suaranya amat keras dan lantang, sepertinya kuatir orang-orang Tiat Ciang Pang tidak mendengarnya.

"Lihatlah! Apa baiknya dunia persilatan? Seperti halnya Tiat Ciang Pang itu, pada dasarnya memang seperti perampok! Entah bagaimana mereka berkecimpung dalam dunia persilatan, sehingga kini punya muka sedikit. Bukankah amat aneh sekali?"

Siapa yang berbicara itu?

Ternyata seorang pengemis tua Su Ciau Hwa Cu.

Dia memandang cawan araknya sambil berteriak-teriak.

Sementara pihak Tiat Ciang Pang tahu, di meja itu terdiri dari orang-orang Kay Pang, bahkan ketuanya juga hadir di situ, yaitu Su Ciau Hwa Cu.

Didampingi pula Ang Cit Kong yang sudah terkenal, sehingga pihak Kay Pang itu jadi amat kuat sekali.

Sesungguhnya pihak Tiat Ciang Pang tidak ingin berurusan dengan Kay Pang.

Namun kini Su Ciau Hwa Cu sudah mulai menyindir.

Apa boleh buat!

Siangkoan Wei terpaksa menyahut.

"Cianpwee menyindir Tiat Ciang Pang, apakah memandang rendah Tiat Ciang Pang kami?"

Su Ciau Hwa Cu tertawa gelak mendengar pertanyaan Siangkoan Wei.

"Mengapa aku harus menyindir Tiat Ciang Pang, aku sudah pusing mengurusi perkumpulanku. Bagaimana mungkin aku masih berniat menyindir Tiat Ciang Pang kalian? Hei, Sobat Siangkoan, lihatlah! Apakah pakaianku ini sedap dipandang?"

Su Ciau Hwa Cu tampak gembira, sebaliknya Siangkoan Wei amat gusar.

Kau telah menyindir Tiat Ciang Pangku, bahkan juga memandang rendah diriku!

Walau kau adalah Su Ciau Hwa Cu, namun aku tetap tidak dapat menerima sindiran-mu!

Kemudian Siangkoan Wei bangkit berdiri, lalu memberi hormat kepada pengemis tua tersebut.

"Kalau tidak salah dugaanku, Cianpwee pasti adalah Su Lo Cianpwee!"

Su Ciau Hwa Cu menyahut.

"Lo cianpwee atau bukan lo cianpwee, aku adalah Su Ciau Hwa Cu!"

Su Ciau Hwa Cu menyindir Siangkoan Wei di hadapan para anak buahnya.

Hal itu tentu saja membuat Saingkoan Wei amat marah.

Dia berkata dalam hati, Tiat Ciang Pangku juga tergolong partai besar dalam dunia persilatan, kau hebat apa?

Apakah Kay Pang boleh sembarangan menghinaku?

"Su Lo Cianpwee, aku sedang mengusut urusan ini, tapi Lo Cianpwee malah menyela dengan sindiran!

Apakah racun dalam arak itu berkaitan dengan Kay Pangmu itu?"

Su Ciau Hwa Cu bangkit berdiri, lalu berjalan ke hadapan Siangkoan Wei.

"Bukan! Bukan! Kay Pang berkecimpung di dunia persilatan, jika melakukan sesuatu pasti secara terang-terangan. Tidak akan meracuni orang, dan juga tidak akan membokong orang. Maka ... Kay Pang tidak melakukan itu!"

Ketika berkata demikian, wajah Su Ciau Hwa Cu tampak serius, tidak bersikap bergurau lagi seperti tadi. Tapi setelah itu, dia tertawa lagi seraya menatap Siangkoan Wei dan melanjutkan.

"Siangkoan Pangcu! Pihak Tiat Ciang Pangmu, bulan kemarin melukai orang di telaga Thai Ouw, bahkan juga merampok dua belas perahu nelayan! Ya, kan?"

Dalam hati Siangkoan yakin, bahwa pihak Kay Pang yang menaruh racun ke dalam aruk itu.

Kalian pihak Kay Pang berkumpul di sini, ternyata ingin meracuniku!

Kay Pang memang amat besar, namun Tiat Ciang Pangku juga cukup besar!

Setelah berkata dalam hati, Siangkoan Wei lalu berkata dengan sengit.

"Su Ciau Hwa Cu, apakah kedatanganmu sengaja ingin cari gara-gara dengan Tiat Ciang Pang kami?"

Su Ciau Hwa Cu menyahut.

"Tidak salah! Sesungguhnya orang-orangku kemari hanya ingin membicarakan pakaianku. Tapi begitu melihatmu, sudah tidak perlu membicarakan pakaianku lagi! Melainkan ... ingin cari gara-gara denganmu!"

Sebetulnya Siangkoan Wei masih ingin bersabar, jangan sampai bertikai dengan Su Ciau Hwa Cu. Tapi Su Ciau Hwa Cu terus menghinanya. Tentu saja itu membuatnya tidak dapat mengendalikan diri.

"Su Ciau Hwa Cu! Kau mau apa?"

Dengusnya dengan dingin. Su Ciau Hwa Cu tidak menyahut, melainkan langsung meloncati meja, lalu memandang mereka satu persatu.

"Kalian mau berkelahi? Itu bagus sekali! Tahukah kalian! Beberapa hari ini hatiku amat kesal, ingin melampiaskannya. Siangkoan Wei, ayolah! Kau adalah pangcu, aku pun pangcu! Bagaimana kita berdua saja yang berkelahi?"

Siangkoan Wei menyahut dengan dingin.

"Baik!"

Anak buahnya ingin maju, tapi Siangkoan Wei segera mencegah mereka.

Memang lebih baik aku saja yang bertarung dengan Su Ciau Hwa Cu.

Walau dia amat lihay, tapi hatinya tidak jabat!

Kalaupun aku kalah, tidak apa-apa!

Begitu pikir Siangkoan Wei.

Sementara Ouw Yang Coan, Ouw Yang Hong, dan Bokyong Cen juga tahu Siangkoan Wei tidak rendah kepandaiannya, sebab dia berani menerima tantangan Su Ciau Hwa Cu yang amat terkenal itu.

Sedangkan Su Ciau Hwa Cu ingin melampiaskan rasa kesalnya dalam hati, maka Siangkoan Wei jadi sasarannya.

Sambil tertawa gelak dia berkata.

"Rimba persilatan Kang Lam memiliki tiga perkumpulan yang suka bertindak sewenang-wenang, yaitu Sang Ih, Yang Kiam, dan perkumpulan Tiat Ciang! Sudah lama aku ingin mencarimu. Kebetulan bertemu di sini. Jangan me-nyalahkanku jika bertindak bengis terhadap kali-an!"

Siangkoan Wei cuma mendengus dingin.

Su Ciau Hwa Cu tertawa panjang, kemudian mendadak mulai menyerangnya.

Siangkoan Wei juga berkepandaian tinggi, dia segera mundur selangkah, lalu balas menyerang pula dengan ilmu pukulan Telapak Besi.

Kepandaiannya telah sampai ke tingkat enam, maka tidak mengherankan kalau ilmu pukulannya itu begitu lihay.

Ketika melihat Siangkoan Wei mengeluarkan ilmu pukulan tersebut, Su Ciau Hwa Cu tampak gembira sekali.

"Ha ha ha! Kau memiliki ilmu pukulan hebat, aku pun memiliki ilmu pukulan dahsyat! Tapi sudah pasti ilmu pukulanmu tidak dapat menandingi ilmu pukulanku!"

Katanya sambil tertawa gelak, lalu mulai mengeluarkan ilmu pukulan andalannya.

Begitu menyaksikan ilmu pukulan itu, hati Ouw Yang Coan tersentak seketika, bahkan juga tercengang.

Sebab ilmu pukulan yang dikeluarkan Su Ciau Hwa Cu tampak sederhana, apakah dapat digunakan untuk melawan musuh?

Ouw Yang Coan justru tidak tahu, bahwa itu merupakan ilmu rahasia Kay Pang, yaitu Hang Liong Cap Pwe Ciang atau Hang Liong Sip Pat Ciang (Delapan Belas Jurus Ilmu Penakluk Naga).

Siangkoan Wei terhuyung-huyung ke belakang dengan badan sempoyongan, membuatnya nyaris roboh.

Meja yang ada di belakangnya hancur berkeping-keping, dan beberapa orang yang berdiri dekat situ terpelanting tersambar angin pukulan Su Ciau Hwa Cu.

Ternyata Su Ciau Hwa Cu mengeluarkan jurus Ti Liong Yu Hui (Naga Menunduk Merasa Menyesal).

Jurus tersebut amat dahsyat, sehingga membuat Siangkoan Wei terhuyung-huyung sempoyongan.

Wajah Siangkoan Wei tampak berubah.

Kini dia baru sadar akan kelihayan ilmu pukulan Hang Liong Cap Pwe Ciang.

Kalau Su Ciau Hwa Cu menggunakan tenaga sepenuhnya, nyawa Singkoan Wei pasti sudah melayang ke akhirat.

Itu membuatnya berkeluh dalam hati, dan kemudian menjadi nekat.

Dia menggeram, lalu menyerang Su Ciau Hwa Cu dengan sepenuh tenaga.

Ciu Can Jen yang berusia tiga belas tahun itu merupakan anak yang cerdas.

Tadi Siangkoan Wei bersikap begitu lembut dan memberikannya lima puluh tael perak, guna menyuruh kakak dan adiknya bekerja di markas Tiat Ciang Pang.

Oleh karena itu, Ciu Cian Jen menganggap Siangkoan Wei sebagai tuan penolongnya.

Sebaliknya dia menganggap Su Ciau Hwa Cu adalah orang jahat.

Anak kecil itu menyaksikan pertarungan mereka dengan mata tak berkedip.

Ketika melihat Siangkoan Wei berada di bawah angin, dia ke-lihatan ingin sekali maju memukul pengemis tua itu.

Siangkoan Wei menyerang Su Ciau Hwa Cu dengan dahsyat sekali.

Pengemis tua itu menangkis dengan jurus Kian Liong Cai Tian (Naga Tampak Di Sawah), menggunakan tujuh bagian tenaganya.

Terdengar suara benturan, kemudian tampak Siangkoan Wei terpental membentur tembok.

Sepasang mata Siangkoan Wei melotot, kemudian dia mendadak menyerang Su Ciau Hwa Cu lagi.

Ouw Yang Coan, Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen menyaksikan itu dengan jelas.

Ketika Siangkoan Wei dan Su Ciau Hwa Cu mulai bertarung, para anak buah Siangkoan Wei kelihatan tegang sekali, sedangkan pihak Kay Pang malah kelhatan santai, Ang Cit Kong dan lainnya bersantap dan minum.

Para anak buah Siangkoan Wei menyaksikan pertarungan itu dengan mata tak berkedip.

Tangan mereka menggenggam senjata, siap menyerang Su Ciau Hwa Cu apabila Siangkoan Wei dalam bahaya.

Sementara Siangkoan Wei terus menyerang Su Ciau Hwa Cu.

Sedangkan pengemis tua itu cuma berkelit ke sana ke mari.

"Siangkoan Wei, kau berhati-hatilah!"

Bentak pengemis tua itu. Usai membentak, Su Ciau Hwa Cu balas menyerang dengan jurus Liong Can Kan Ya (Naga Menyerang Dengan Liar).

"Aaaakh ...!"

Jerit Siangkoan Wei terkena pukulan itu. Badannya terpental melayang bagaikan layang-layang putus, lalu roboh. Namun kemudian dia segera kembali berdiri tegak.

"Su Ciau Hwa Cu, lebih baik bunuhlah aku!"

Bentaknya sengit.

Di saat bersamaan, enam orang anak buahnya menggeram sambil menyerang Su Ciau Hwa Cu dengan senjata.

, Pengemis tua itu cuma tertawa, memandang remeh pada mereka.

Saat ini semua senjata telah mengarah pada dirinya.

Anak kecil bernama Ciu Cian Jen juga kelihatan ingin memukulnya.

Akan tetapi, mendadak terdengar suara hiruk pikuk.

Ternyata semua senjata para penyerang itu telah terbang dari tangan masing-masing.

Golok dan pedang menancap di dinding, sebuah cambuk melingkar di sebuah meja dan beberapa senjata lain menancap di lantai, sehingga keenam orang itu berdiri tertegun di tempat.

Ternyata delapan Tetua Kay Pang dan Ang Cit Kong berdiri di hadapan orang-orang itu.

Merekalah yang membuat semua senjata itu terlepas dari tangan mereka.

Pihak Tiat Ciang Pang telah mengalami kekalahan.

Wajah Siangkoan Wei tampak lesu tak bersemangat, sedangkan para anak buahnya berdiri dengan kepala tertunduk.

Su Ciau Hwa Cu menatap Siangkoan Wei seraya berkata.

"Aku masih memandangmu sebagai seorang ketua, maka aku tidak akan menyulitkanmu! Hanya saja apa yang kau perbuat di Kang Lain, Tetua Liang akan memperhitungkannya!"

Salah seorang berpakaian mentereng maju ke depan. Dia adalah Tetua Liang dari Kay Pang. Badannya agak gemuk, dan wajah selalu berseri-seri.

"Dalam dua tahun ini Siangkoan Pangcu telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang cukup menggemparkan. Agar kau tidak melupakannya, maka aku harus membacakannya!"

Katanya sambil tersenyum. Setelah berkata, dia mengeluarkan selembar kulit kambing yang mengkilap, lalu membacanya.

"Tahun kemarin, tanggal lima bulan lima, membunuh keluarga Liu seratus tiga orang, membawa kabur uang perak berjumlah tiga puluh ribu tael. Tahun kemarin akhir musim Rontok, ketika hari ulang tahun pendekar tua Chu, Tiat Ciang Pang membunuh orang di sana dengan racun ber-jumlah tiga puluh tujuh orang, menculik wanita dan anak kecil. Tahun ini tanggal delapan belas bulan satu, Tiat Ciang Pang membunuh tiga orang Pek Tho San Cung di daerah See Hek, lalu mayat-mayat mereka dibuang di dalam hutan. Tanggal sembilan bulan kemarin, ketua Tiat Ciang Pang membunuh keluarga mertuanya berjumlah tujuh orang, dan semua kasus pembunuhan itu dikambinghitamkan pada Kay Pang kami."

Mendengar itu, wajah orang-orang Tiat Ciang Pang itu langsung berubah, lalu mereka saling memandang.

Sedangkan suara Tetua Liang amat dingin.

Ketika membaca sampai di situ, dia menatap mereka dengan dingin.

"Apakah harus dibacakan terus?"

Tanyanya. Siangkoan Wei menyahut dengan wajah pucat pias.

"Apa yang kuperbuat, tentunya aku tahu jelas dalam hati."

Su Ciau Hwa Cu meloncat ke atas meja, kemudian duduk di situ seraya berseru.

"Tetua Sun, Siangkoan Wei melakukan perbuatan itu, dia harus dia pakan?"

"Aku tahu dosa orang itu sudah amat berat. Berdasarkan peraturan Kay Pang, dia harus dikeluarkan dari perkumpulan, biar dia mati di luar,"

Sahut Tetua Sun.

Usai menyahut, Tetua Sun merasa tidak enak dalam hati, sebab Siangkoan Wei adalah ketua Tiat Ciang Pang, bukan anggota Kay Pang.

Bagaimana mungkin menghukumnya dengan peraturan Kay Pang?

Lagi pula juga tidak masuk akal dia dikeluarkan dari Tiat Ciang Pang.

"Baik, harus dihukum mati! Biar dia mati di sini saja!"

Kata Su Ciau Hwa Cu.

Usai berkata, Su Ciau Hwa Cu mengibaskan tangannya.

Berdasarkan peraturan Kay Pang, apa yang diucapkan ketua, itu merupakan suatu ke-putusan yang tak dapat diganggu gugat, artinya Siangkoan Wei harus dihukum mati.

Ouw Yang Coan, Ouw Yang Hong dan Bokyong Cen menyaksikan itu dengan mata terbelalak.

Mereka bertiga tidak percaya Siangkoan Wei akan dihukum mati oleh ketua Kay Pang, hanya berdasarkan ucapan ketua Kay Pang saja.

Sementara wajah Siangkoan Wei semakin memucat, dan nafasnya pun memburu.

Namun dia dan para anak buahnya sama sekali tidak berusaha kabur, sebab Siangkoan Wei amat baik terhadap para anak buahnya, semua diperlakukan bagaikan saudara.

Maka, ketika melihat ketua dalam bahaya, para anak buahnya tidak mau pergi, tetap setia mendampingi sang ketua.

Salah seorang anak buah Siangkoan Wei yang sudah agak tua, memandang ketua itu, kemudian berkata.

"Tiat Ciang Pang Toan Kiam Cih Cak, Liong Pian Di Lip, Siau Yu Sin Hou Kim Hong, Khau Cioh Sin kakak beradik Su dan Pok To Cu Beng rela mati!"

Setelah berkata demikian, orang tua itu menatap Su Ciau Hwa Cu dan melanjutkan.

"Orang Kay Pang dengar baik-baik, pangcu kami telah terluka! Kalau kalian ingin membunuh ketua kami, harus membunuh kami berenam dulu!"

Orang tua itu menghunus pedangnya, yang ternyata sebilah pedang buntung, lalu diarahkan pada tenggorokannya sendiri.

"Jangan membunuh ketua kami, lebih baik bu nuh kami saja!"

Katanya.

Kemudian yang lain pun segera mengambil senjata masing-masng, lalu diarahkan pada tenggorokannya sendiri-sendiri.

Sesungguhnya pihak Kay Pang amat memandang rendah Tiat Ciang Pang.

Mereka mengira, bahwa dalam perkumpulan itu tidak terdapat anggota yang setia.

Namun justru di luar dugaan, ternyata para anak buah Siangkoan Wei amat setia, bahkan rela mati demi ketuanya.

Oleh karena itu, para Tetua Kay Pang segera memandang Su Ciau Hwa Cu, kelihatannya mereka sedang menunggu keputusan pengemis tua itu.

Su Ciau Hwa Cu mengerutkan kening sambil berpikir.

"Lihatlah! Yang harus mati tidak ingin mati, yang tidak harus mati malah ingin mati! Kalau begitu ... diubah!"

Katanya kemudian.

Pihak Kay Pang tentunya mengerti apa yang dimaksudkan Su Ciau Hwa Cu, tapi Ouw Yang Coan bertiga justru tidak mengerti.

Su Ciau Hwa Cu memang serba salah.

Apabila dia membunuh keenam orang Tiat Ciang Pang itu, sudah pasti nama Kay Pang akan tercemar, sebab yang harus dibunuh adalah Siangkoan Wei.

Di saat bersamaan, mendadak Ciu Cian Jen berlari ke arah Siangkoan Wei, lalu memeluknya erat-erat seraya berkata.

"Tuan! Kau ... kau tidak boleh mati!"

Dia menangis terisak-isak, lalu melanjutkan.

"Aku hidup hingga kini berusia tiga belas, tidak pernah bertemu orang baik, baru kali ini! Kau teiah berjanji akan membawaku pergi, dan juga membawa pergi kakak dan adikku, setiap bulan akan mem-berikan mereka tiga puluh tael perak! Kau orang baik, kau tidak boleh mati!"

Tergerak juga hati Su Ciau Hwa Cu dan lainnya.

Kalau ingin membunuh Siangkoan Wei, tentunya harus memisahkan anak kecil itu, bagaimana mungkin mereka tega melakukannya?

Berselang sesaat, Tetua Sun berkata pada Ciu Cian Jen.

"Nak, bangunlah! Jangan menangis! Dia bukan orang baik, mengapa kau harus menangis?"

"Kalianlah bukan orang baik! Kalian bilang dia bukan orang baik, bagaimana dia bukan orang baik?"

Sahut Ciu Cian Jen dengan air mata ber-linang-linang.

"Dia sering membunuh orang baik. Coba katakan, bukankah dia harus mati?"

Kata Tetua Sun.

"Menurutku dia tidak harus mati, yang harus mati adalah kalian!"

Anak kecil itu menunjuk Su Ciau Hwa Cu.

"Kau yang harus mati!"

Semua orang tertegun, sebab anak kecil itu sungguh berani berkata begitu terhadap ketua Kay Pang. Akan tetapi, Su Ciau Hwa Cu malah tertawa, lalu menunjuk hidungnya sendiri.

"Apakah aku harus mati? Betul! Betul! Aku memang harus mati dari dulu, aku harus mati! Tapi mengapa tidak mati? Itu dikarenakan aku tidak melakukan kejahatan seperti dia!"

Su Ciau Hwa Cu menunjuk Siangkoan Wei sambil tertawa, tapi kemudian melotot.

"Dia tidak cari gara-ara dengan kalian! Dia masuk ke mari hanya duduk minum arak saja! Tapi arak itu beracun! Mengapa dia tidak boleh bertanya? Kalian bilang dia tidak baik, justru yang tidak baik adalah kalian! Kau jahat, ajak dia berkelahi! Kalian semua adalah telor busuk ..."

Mendadak Ciu Cian Jen menerjang ke arah Su Ciau Hwa Cu, lalu memukul dan menggigitnya.

Su Ciau Hwa Cu berkepandaian amat tinggi, namun tidak pernah belajar ilmu yang khususnya menghadapi anak kecil.

Karena itu, tidak heran dia terpukul dan tergigit oleh anak kecil itu.

Ang Cit Kong yang berdiri diam itu, mendadak berkata.

"Guru, mari kita pergi!"

"Pergi? Baik, mari kita pergi!"

Sahut Su Ciau Hwa Cu.

Su Ciau Hwa Cu dan Ang Cit Kong langsung melesat pergi melalui jendela, sedangkan yang lainnya segera turun ke lantai bawah.

Di saat bersamaan, Siangkoan Wei yang pingsan dari tadi telah mulai siuman, lalu menengok ke sana ke mari.

"Apakah orang-orang Kay Pang sudah pergi?"

Toan Kiam Cih Cak mengangguk.

"Mereka sudah pergi, berkat anak kecil ini,"

Sahut Toan Kiam Cih Cak. Usai menyahut, Toan Kiam Cih Cak menutur tentang kejadian itu.

"Nak, sudah dua kali kau menyelamatkanku!"

Kata Siangkoan Wei sambil memandang Ciu Cian Jen. Ciu Cian Jen tidak menyahut, hanya memandangnya. Ketua Tiat Ciang Pang itu manggut-manggut.

"Cepat papah aku pergi, kita tidak boleh lama-lama di sini!"

Dua orang langsung memapah Siangkoan Wei turun ke lantai bawah, kemudian memanggil sebuah tandu, dan mereka lalu pergi dengan naik tandu itu.

Kini di lantai atas rumah makan itu hanya tinggal Ouw Yang Coan bertiga.

"Adik, aku lihat ilmu pukulan pengemis tua itu sungguh jarang terdapat di kolong langit, dan boleh dikatakan terhitung ilmu pukulan yang amat lihay dan dahsyat. Apakah para anggota Kay Pang berada di sini, dan bagaimana kepandaian mereka?"

Tanya Ouw Yang Coan.

"Aku pernah bersama Ang Cit Kong menyelinap ke dalam dapur istana. Kami berdua menikmati hidangan-hidangan lezat di sana. Kakak, menurutku di antara orang Kay Pang, Ang Cit Kong berkepandaian paling tinggi, tidak berada jauh di bawah kepandaian Su Ciau Hwa Cu."

"Itu belum tentu,"

Kata Ouw Yang Coan.

Ouw Yang Hong tampak tercengang akan perkataan Ouw Yang Coan, namun kakaknya itu tidak menjelaskan.

Seusai bersantap, mereka bertiga meninggalkan rumah makan tersebut, lalu jalan-jalan di kota Ciau Liang itu.

Bokyong Cen tampak gembira sekali, sebab Ouw Yang Coan amat lembut dan sabar terhadapnya.

Dalam hatinya menganggap Ouw Yang Coan lebih gagah dari Ouw Yang Hong.

Karena itu, gadis tersebut terus bercakap-cakap dengan Ouw Yang Coan.

Itu tidak terlepas dari mata Ouw Yang Hong.

Dia tahu Bokyong Cen lebih senang bersama Ouw Yang Coan.

Dia pun bergirang dalam hati dan membatin, mengapa aku tidak pergi main ke tempat lain biar kakak dan Nona Bokyong tetap bersama?

Setelah membatin demikian, Ouw Yang Hong lalu berjalan pergi, dan tak lama kemudian sampailah dia di pinggir kota itu.

Ouw Yang Hong menikmati pemandangan di tempat itu, kemudian melangkah mendekati seorang yang berbadan kurus.

Orang itu duduk di kursi, di hadapannya terdapat sebuah meja.

Di atas meja itu terdapat pula sebuah tabung bambu yang berisi belasan barang bambu kecil.

Berdasarkan itu, dapat diketahui bahwa orang itu adalah peramal.

Hati Ouw Yang Hong tergerak.

Dia ingin mengetahui bagaimana masa depannya, maka mendekati peramal itu, lalu berdiri di depan meja.

Peramal itu memandangnya seraya tersenyum.

"Tuan ada hati atau tidak ada hati?"

"Bagaimana ada hati dan bagaimana tidak ada hati?"

Ouw Yang Hong balik bertanya. Peramal itu tertawa.

"Sejak dahulu kala, orang yang ada hati pasti sukses. Yang tidak ada hati tidak akan sampai ke daratan."

"Ada hati justru terbengkalai, tidak ada hati malah sukses,"

Kata Ouw Yang Hong. Peramal itu tampak tertegun, kemudian tersenyum.

"Tuan ke mari, entah dikarenakan apa?"

"Ke mari tiada sebab, pergi tiada alasan. Itu yang paling haik di kolong langit,"

Sahut Ouw Yang Hong. Peramal itu manggut-manggut. ^ "Bolehkah aku melihat telapak tanganmu?"

Ouw Yang Hong segera memperlihatkan telapak tangannya. Peramal itu memperhatikan telapak tangan Ouw Yang Hong sampai beberapa lama.

"Aku bukan hanya mahrr meramal, tapi tahu pula tentang ilmu pengobatan. Tuan bertulang bagus, kelihatannya bukan orang biasa. Tapi entah bagaimana nasib Tuan, bolehkah aku menghitungnya?"

Ouw Yang Hong tersenyum.

"Tentu boleh."

Peramal itu memegang urat nadi di pergelangan tangan Ouw Yang Hong. Sesaat kemudian dia tampak gembira sekali.

"Kau ... ternyata kau tidak bisa ilmu silat!"

Ouw Yang Hong tertegun, tidak menduga peramal itu berpengetahuan luas.

"Aku tidak bisa ilmu silat, maka aku merasa kesal sekali. Sebaliknya kau malah tampak gembira, bukankah aku akan penasaran?"

Peramal itu tersenyum.

"Tuan mahir ilmu surat, maka tidak begitu mementingkan ilmu silat."

Ouw Yang Hong manggut-manggut.

"Bagaimana Tuan mengambil sehatang bambu kecil yang di dalam tabung bambu itu?"

Kata peramal itu lagi.

Ouw Yang Hong mengangguk, lalu mengambil sebatang bambu kecil yang ada di dalam tabung bambu, kemudian diserahkan kepada peramal itu.

Peramal menerima bambu kecil itu, lalu membaca beberapa baris tulisan yang tertera pada bambu kecil tersebut.

"Burung Hong Hoang (Phoenix) terbang di langit, kekuatan Hong Hoang menembus hembusan angin ..."

Dia memandang Ouw Yang Hong seraya berkata.

"Coba lanjutkan syair ini!"

Ouw Yang Hong berpikir sejenak, lalu melanjutkan syair tersebut.

"Ha Mo (Kodok) meloncat di tanah, Ha Mo meloncat sendiri dengan kekuatan Ha Mo Kang (Ilmu Kodok)."

Peramal itu tampak tersentak, bahkan nyaris meloncat dari kursi yang didudukinya. Kemudian dia menggenggam tangan Ouw Yang Hong seraya berkata dengan suara lantang.

"Bagus! Bagus! Tidak salah Ha Mo meloncat sendiri dengan kekuatan Ha Mo Kang! Bagus, bagus sekali!"

Sebaliknya Ouw Yang Hong malah melongo, tidak tahu apa sebabnya peramal itu kelihatan begitu girang.

Peramal itu terus menatap Ouw Yang Hong dengan penuh perhatian, kemudian tertawa gelak dan berkata lagi.

"Bagus! Bagus! Tak disangka Tuan telah ke mari! Sudah lama kutunggu ..."

Mendadak dia itu memukul meja, setelah itu tertawa lagi seraya berkata.

"Bagus! Bagus! Sungguh bagus! Sungguh ada Ha Mo meloncat sendiri dengan kekuatan Ha Mo Kang!"

Saking girangnya, peramal itu pun mengucurkan air mata.

Ouw Yang Hong tertegun.

Dia memandang peramal itu dengan tidak mengerti sama sekali.

Mengapa peramal itu begitu girang?

Apakah peramal itu kurang waras?

Sementara peramal itu terus tertawa gembira ...

Bab 14 Berselang sesaat, barulah Ouw Yang Hong berkata.

"Aku hanya melanjutkan syair itu, tapi mengapa Tuan begitu gembira?"

"Bagaimana hatiku, hanya Thian (Tuhan) yang tahu,"

Sahut peramal itu dengan wajah berseri-seri, namun air matanya masih tetap meleleh. Ouw Yang Hong termangu-mangu, tidak mengerti akan makna ucapan peramal itu. Peramal tersebut tersenyum.

"Maaf, kelakuanku pasti amat membingungkan Tuan! Oh ya, apakah Tuan bersedia minum bersamaku?"

"Kita tidak saling mengenal, tentunya tidak enak merepotkan Tuan,"

Sahut Ouw Yang Hong. Peramal itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa! Selanjutnya kita sudah saling mengenal, ini sungguh menggembirakan!"

Katanya.

Ouw Yang Hong semakin kebingungan.

Sementara sudah banyak orang mengerumuni tempat itu.

Akhirnya Ouw Yang Hong mengangguk, lalu mengikuti peramal itu meninggalkan tempat tersebut.

Peramal itu mengajak Ouw Yang Hong ke sebuah kedai di pinggir jalan.

Di depan kedai itu terdapat sebuah bendera.

Ketika melihat bendera itu, tersentaklah hati Ouw Yang Hong, sebab ben-dera itu bertulisan 'Racun'.

Sudah jelas itu adalah sebuah kedai arak, tapi mengapa bendera itu bertulisan 'Racun'?

Ouw Yang Hong memandang ke dalam kedai itu.

Tampak begitu banyak orang bermabuk-mabukan di dalamnya.

Peramal itu mengajak Ouw Yang Hong ke dalam.

Pemilik kedai langsung menyambut kedatangan mereka dengan penuh rasa heran.

"Adik, kau sudah ke mari minum arak, apakah sudah berhasil?"

Tanyanya kepada peramal itu.

"Tentu! Aku menunggu di tempat ini sudah melewati tiga kali musim semi, akhirnya aku berhasil menunggu orang yang kutunggu. Kalian lihat, inilah orangnya!"

Sahut peramal itu dengan gembira.

Seketika semua orang memandang Ouw Yang Hong dengan penuh perhatian.

Itu membuat Ouw Yang Hong bertambah heran dan bingung.

Semua orang yang berada di dalam kedai arak itu terus memandangnya, namun Ouw Yang Hong tidak kelihatan luar biasa, maka mereka mendengus dingin.

"Kaukah orangnya? Berhasil melanjutkan syair itu?"

Tanya salah seorang dari mereka kepada Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong tidak menyahut, hanya mengerutkan kening karena tidak mengerti, mengapa mereka mendadak mendengus dingin.

Orang itu menghampirinya, lalu menjulurkan tangannya.

"Saudara berilmu begitu tinggi, aku ingin men-cobanya!"

Katanya.

Orang itu ingin menarik Ouw Yang Hong, namun Ouw Yang Hong tidak tahu apa yang akan diperbuat orang itu, maka Ouw Yang Hong langsung mundur.

Tapi orang itu berhasil menggenggam lengannya.

Ouw Yang Hong menduga orang itu akan mempermainkan dirinya, karena itu dia diam saja.

Ketika melihat Ouw Yang Hong tak bergerak, orang itu tampak gusar sekali.

"Kau kelihatan meremehkan diriku, aku harus memberi sedikit pelajaran padamu!"

Bentaknya.

Orang itu menggenggam lengan Ouw Yang Hong menggunakan tujuh bagian tenaganya.

Tentunya membuat lengan Ouw Yang Hong terasa sakit sekali.

Namun Ouw Yang Hong tidak mengeluh sedikit pun, hanya menatap semua orang yang ada di situ dengan dingin.

Orang itu menambah tenaganya.

Dia mengira Ouw Yang Hong berkepandaian tinggi.

Akan tetapi, dia sama sekali tidak merasa Ouw Yang Hong mengerahkan Iwee kang untuk melawan.

Itu membuat orang itu tertegun dan bercuriga, apakah Ouw Yang Hong memiliki kepandaian yang amat tinggi?

Kalau tidak, dia pasti memiliki ketenangan yang amat luar biasa.

Orang itu menambah tenaganya lagi, membuat sekujur badan Ouw Yang Hong berkeringat, namun tetap tidak mengeluh sedikit pun.

Kini orang itu baru tahu bahwa Ouw Yang Hong tidak ber-kepad.-.ian, maka timbullah niat jahat dalam hatinya ingin mempermalukan Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong memang sama sekali tidak mengeluh.

Dia berkata dalam hati.

Ketika aku bersama Bokyong Cen di gurun pasir, aku memohon dengan cara yang baik, namun tidak dihiraukan.

Aku baru tahu, hati orang dibuat dari besi, mana ada orang baik di dunia?

Sekarang aku baru memasuki kedai arak ini, sudah menerima penghinaan dari orang ini.

Setelah berkata dalam hati, timbul pula rasa bencinya kepada orang itu dan ingin memukulnya.

Semula orang itu mengira Ouw Yang Hong akan memohon ampun padanya, tapi Ouw Yang Hong justru tidak mengeluh sama sekali.

Orang itu terheran-heran dan merasa ragu, bagaimana Ouw Yang Hong dapat bertahan?

Kalau dia memiliki kepandaian, mengapa tidak mau turun tangan, malah rela menerima siksaan?

Sementara si Peramal itu terus meneguk arak.

Ketika melihat sekujur badan Ouw Yang Hong berkeringat, dia berkata.

"Kalau Tuan berkepandaian, silakan turun tangan! Apabila orang itu teriuka, biar aku yang bertanggung jawab!"

Ouw Yang Hong berkeluh dalam hati.

Cara-cara syair itu, dia ikut peramal tersebut ke kedai arak, sehingga harus menerima penghinaan.

Pada hal Ouw Yang Hong tidak bermusuhan dengan mereka, tapi kenapa mereka menghinanya habishabisan?

Kini wajah Ouw Yang Hong meringis.

Ternyata dia sudah tidak kuat menahan sakit.

Di saat itulah dia teringat akan sebuah syair yang pernah dibacakan Pek Bin Lo Sat.

Karena itu, dibacanya syair tersebut agar menghilangkan rasa sakitnya.

"Dinginnya es membekukan bumi, hati orang memang begitu. Kalau tidak tahu masalah, bagaimana panas dan dingin bisa menyatu?"

Semua orang sedang menyaksikan orang itu menggenggam lengan Ouw Yang Hong.

Mereka semua tahu akan kelihayan genggaman itu, tapi mengapa tiada reaksinya?

Ketika mereka terheran-heran, justru terdengar Ouw Yang Hong membaca syair tersebut.

Semua orang tersentak, begitu pula orang itu dan langsung melepaskan tangannya.

"Adik, kau tepat mencari orang itu,"

Kata pemilik kedai arak kepada si Peramal sambil tersenyum. Si Peramal manggut-manggut, sedangkan orang yang menggenggam lengan Ouw Yang Hong juga tertawa sambil memberi hormat kepada Ouw Yang Hong.

"Maaf, tadi aku sudah berlaku tak sopan!"

Ouw Yang Hong tidak tahu apa sebabnya orang itu melepaskan tangannya, maka hanya mengangguk.

Orang itu menarik nafas lega, kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ouw Yang Hong, dan memanggut-manggutkan kepalanya.

Ketika bangkit berdiri, wajahnya tampak berseri-seri.

Tiba-tiba pemilik kedai arak itu berseru lantang dengan penuh kegembiraan, yang lain pun kelihatan gembira sekali.

"Kita sudah boleh pulang ke rumah! Kita sudah boleh pulang ke rumah!"

Semua orang kelihatan sudah lama berpergian. Ketika pemilik kedai arak berseru mata mereka semua menjadi basah saking gembira.

"Mohon tanya Tuan, siapa nama Tuan dan berasal dari mana?"

Tanya si Peramal. Ouw Yang Hong tertawa dalam hati, hampir setengah harian kita bersama, baru sekarang kau ingat menanyakan nama dan asalku.

"Namaku Ouw Yang Hong, berasal dari See Hek. Aku ke mari bersama kakakku, kami mau pesiar ke Kang Lain,"

Sahutnya kemudian dengan jujur.

Ouw Yang Hong memang cerdik, dia tidak memberitahukan tujuan kakaknya datang di Tiong-goan, itu agar tidak menimbulkan masalah yang tak diinginkan!

"Kami semua berasal dari daerah utara.

Semua yang ada di sini adalah saudara kami.

Mari ku-perkenalkan!

Ini adalah Cu Kuo Cia dan ..."

Kata si Peramal.

Si Peramal memperkenalkan mereka semua.

Tentunya Ouw Yang Hong tak dapat mengingatnya satu persatu.

Lagi pula mereka baru berkenalan, tidak perlu mengingat nama mereka satu persatu, sebab sebentar lagi akan berpisah dengan mereka.

Cu Sianseng berkata pada Ouw Yang Hong.

"Sudah tiga kali musim semi kami menunggu di sini. Majikan menyuruh kami menunggu seseorang di kota Ciau Liang ini. Katanya kau pasti ke mari. Perhitungan majikan tidak meleset, maka tidak sia-sia kami menunggu hingga tiga kali musim semi. Kau harus ikut kami pergi. Kalau kau tidak mau, tentunya kami akan menggunakan kekerasan untuk memaksamu ke rumah majikan kami."

Ketika Ouw Yang Hong teringat akan kakaknya dan Bokyong Cen, hatinya menjadi gelisah, karena seharusnya dia pergi bersama saudaranya, tapi dipaksa harus mengikuti orang-orang itu.

"Aku tidak mau pergi ke daerah utara,"

Sahutnya. Cu Sianseng tersenyum.

"Biar Tuan tidak mengabulkan, kami bertiga pasti dapat membawa Tuan ke daerah utara."

Ouw Yang Hong tertawa dingin.

"Kalau aku tidak mau, kalian bisa berbuat apa?"

Cu Sianseng berkata.

"Apabila Tuan mengabulkan, tentunya kami akan menyuruh seseorang pergi memberitahukan kepada saudaramu. Tapi kalau Tuan tidak mengabulkan, kami akan membawamu pergi secara paksa, sehingga dalam perjalanan tiada kebebasan sama sekali. Seandainya Tuan tetap tidak setuju, kami pasti akan pergi membunuh saudaramu, setelah itu kami pun akan membuatmu pingsan, barulah membawamu ke daerah utara."

Ouw Yang Hong tertawa, sebab orang-orang itu menganggap Ouw Yang Coan seperti dirinya, tidak berkepandaian apa-apa.

"Baik, aku akan ajak kalian pergi menemui kakakku. Kalau kakakku setuju, aku pasti pergi bersama kalian!"

Semua orang manggut-manggut, lalu ikut Ouw Yang Hong pergi menemui Ouw Yang Coan.

Sementara itu, Ouw Yang Coan dan Bokyong Cen duduk di dalam rumah penginapan dengan cemas.

Mereka menunggu Ouw Yang Hong dengan hati tercekam.

Apakah telah terjadi sesuatu atas diri adiknya itu?

Pikir Ouw Yang Coan.

Di saat Ouw Yang Coan sedang berpikir, mendadak tampak Ouw Yang Hong melangkah ke dalam rumah penginapan dan langsung menemuinya.

"Kakak, mari kuperkenalkan beberapa temanku!"

Ouw Yang Coan merasa heran melihat adiknya punya begitu banyak teman di kota Ciau Liang.

Siapa orang-orang itu?

Ouw Yang Coan memperhatikan orang-orang itu.

Heran pula hatinya, sebab mereka kelihatan bukan kaum dunia persilatan, namun justru memiliki kepandaian tinggi, terutama Cu Sianseng dan beberapa orang yang berdiri di belakangnya.

Salah satu dari mereka tampak sudah tua, berbadan kurus dan lemah, tapi justru berkepandaian tinggi.

Ouw Yang Hong yang belum berpengalaman dalam dunia persilatan, langsung memheritahu pada Ouw Yang Coan.

"Kakak, mereka ingin memaksaku ke daerah utara."

Bokyong Cen segera bertanya dengan heran.

"Mengapa?"

Ouw Yang Hong tidak menyahut, melainkan memandang Cu Sianseng sejenak.

"Bahkan ada tiga cara pula!"

Ujarnya memberitahukan. Bokyong Cen tercengang, dengan kening berkerut.

"Tiga cara? Mengapa harus ada tiga cara?"

Ouw Yang Hong memberitahukan.

"Cara pertama, aku harus ikut mereka pergi dengan baik-baik. Kedua, mereka akan memaksaku, dan ketiga, mereka akan membunuh kakak, kemudian membuatku pingsan. Setelah itu, mereka akan membawaku pergi."

Ouw Yang Coan tertegun.

Apakah mereka itu dari golongan hitam yang selalu menculik orang?

Tapi mengapa harus menculik Ouw Yang Hong adiknya?

Ouw Yang Coan sungguh tak mengerti dan tidak habis pikir.

Lalu dia bertanya pada Cu Sianseng.

"Cara ketiga itu, kau ingin membunuhku?"

Cu Sianseng menyahut.

"Tidak salah! Itu kalau Tuan Ouw Yang Hong tidak mau ikut kami ke daerah utara. Maka kau dan nona ini harus mati!"

Ouw Yang Coan tidak gusar mendengar itu, hanya berkata dengan dingin.

"Cu Sianseng, kau kira, kalian yang beberapa orang ini bisa begitu gampang membunuhku?"

Ouw Yang Coan menggenggam tongkat ularnya, air mukanya tidak berubah, hanya kening yang berkerut-kerut dan berdiri dengan tenang. Cu Sianseng menyahut.

"Kalau aku tidak bisa membunuhmu, masih ada saudara Ciok. Apabila saudara Ciok tidak berhasil, masih ada Cu Kuo Hu Cu. Kami menghendakimu mati, bagaimana kau bisa hidup?"

Kini Ouw Yang Coan tampak mulai gusar sekali.

"Kalau begitu, mengapa kau tidak coba?"

Ujarnya menantang.

"Jadi ... aku harus coba?"

Sahut Cu Sianseng dengan senyum sinis. Ouw Yang Coan manggut-manggut.

"Betul!"

Perlahan-lahan Ouw Yang Coan mengangkat tongkat ularnya, sudah siap menghadapi serangan.

"Kau boleh turun tangan membunuhku!"

Tanpa bicara lagi Cu Sianseng langsung mengeluarkan senjatanya yang berupa tiga buah uang logam berukuran besar, di tengah-tengahnya terdapat lubang.

"Maaf, aku akan mulai menyerang!"

Teriak Cu Sianseng dengan lantang. Cu Sianseng mulai menyerang dengan senjatanya. Satu keping logam langsung meluncur ke arah Ouw Yang Coan. Namun Ouw Yang Coan tertawa panjang.

"Bagus!"

Teriaknya.

Kemudian berkelit dengan cepat, dan mulai balas menyerang dengan tongkat ularnya.

Senjata yang dimiliki Cu Sianseng memang aneh.

Ketika Ouw Yang Coan berkelit, keping logam itu berbalik ke arah Cu Sianseng dan masuk ke tangannya.

Sementara itu Ouw Yang Coan sudah mulai balas menyerang.

Cu Sianseng meloncat mundur sambil mengibaskan tangannya.

Maka seketika dua keping uang logam melesat secepat kilat ke arah Ouw Yang Coan.

Meski sempat terkejut, Ouw Yang Coan cepat-cepat menghindar, sambil berseri dengan keras.

"Tahan!"

Ouw Yang Coan meloncat mundur.

Tampak kedua uang logam sudah kembali ke tangan Cu Sianseng.

Air muka Ouw Yang Coan memerah dan mulutnya pun membungkam.

Hal itu membingungkan Ouw Yang Hong, sebab semula dia mengira begitu kakaknya turun tangan, orang-orang itu pasti akan roboh.

Tidak dikira kalau teryata ketiga keping uang logam itu justru mampu mengatasi tongkat ular milik kakaknya.

Cu Sianseng tersenyum mengejek menyaksikan Ouw Yang Coan yang terbungkam.

"Tuan Ouw Yang pasti sudah setuju, saudaramu berangkat ke daerah utara. Aku berani jamin, tidak akan terjadi apa-apa terhadap adikmu ..."

Ouw Yang Coan masih diam membisu.

"Untuk bawa dia pergi, harus bertanya padaku dulu!"

Kata Bokyong Cen. Cu Sianseng menatap gadis itu seraya bertanya.

"Siapa kau? Ketika Ouw Yang Hong berbicara padaku, dia hanya menyinggung kakaknya, tidak menyinggung dirimu sama sekali!"

Bokyong Cen tertawa. Sungguh manis tawanya.

"Dia tidak menyinggung tentang diriku? Itu sungguh aneh ... Oh ya! Kuberitahukan pada kalian, gara-gara ribut denganku dia marah lalu pergi. Katanya mau pergi jalan-jalan. Tidak disangka justru bertemu kalian yang tidak karuan, kuberitahukan dia siapa, dia adalah ..."

Wajah Bokyong Cen tampak berubah aneh. Sesaat kemudian dia melanjutkan dengan suara rendah.

"Dia adalah suamiku!"

Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong jadi melongo, begitu pula Cu Sianseng dan lainnya.

Mereka tidak tahu harus berkata apa.

Cu Sianseng menatap Ouw Yang Hong.

Kelihatannya gadis itu tidak seperti istrinya.

Namun gadis itu telah mengatakan begitu, sudah pasti benar.

"Menurut Nona harus bagaimana?"

Bokyong Cen tertawa, lalu sambil menunjuk mereka dia menjawab.

"Aku akan bertanding dengan kalian. Tuan sudah bertanding dengan Ouw Yang Coan, aku akan bertanding dengan saudara Ciok. Kalau aku menang, aku akan bertanding lagi dengan Tuan Lo Hu Cu dan lainnya!"

"Bagaimana kalau Nona yang kalah?"

Sahut Cu Sianseng. Bokyong Cen tertawa mendengar ucapan Cu Sianseng barusan.

"Kalau aku menang, suamiku tidak usah ikut kalian. Apabila aku kalah, tetap akan bertanding dengan kalian!"

Cu Sianseng menggelengkan kepala.

"Tidak bisa, kau hanya boleh bertanding dengan salah seorang di antara kami. Kau menang terserah, tapi kalau kau kalah, Tuan Ouw Yang Hong harus ikut kami pergi! Apabila kau merasa khawatir, boleh ikut kami pergi ke daerah utara!"

Sementara itu Ouw Yang Coan terus memutar otak.

Tadi Bokyong Cen mencetuskan begitu, tentunya berdasarkan suara hatinya.

Dia memang mencintai Ouw Yang Hong, maka wajar mengatakan begitu.

Karena itu, Ouw Yang Coan memutus kan akan melawan mereka, agar tidak bisa membawa adiknya dan Bokyong Cen pergi.

Di saat Ouw Yang Coan sedang berpikir, Bokyong Cen pun berpikir.

Biar bagaimana pun aku tidak akan menikah dengan Ouw Yang Hong, dia tampak bloon dan tiada kegagahan.

Tadi aku bilang dia adalah suamiku, hanya agar dia tidak dibawa pergi oleh orang-orang itu.

Bersamaan itu, Ouw Yang Hong juga berpikir.

Sungguh sial diriku, aku kira begitu bertemu kakakku, semua urusan akan jadi beres.

Ternyata malah bertambah kacau.

Kalau tahu begini, aku tadi tidak harus melanjutkan syair si Peramal itu.

Ketika mereka bertiga sedang berpikir, wajah Cu Sianseng justru kelihatan murung sekali.

Dia menengadahkan kepala seraya berkata.

"Tuan Ouw Yang, majikanku sudah menunggu tiga tahun. Usia majikanku sudah tua.

"-«p hari berharap kami pulang. Kami semua punya keluarga, sudah tiga tahun kami berada di luar. Sudah pasti anak istri kami amat merindukan kami. Karena itu, kami mohon Tuan Ouw Yang sudi ikut kami ke daerah utara, juga memenuhi harapan majikan kami."

Begitu mendengar ucapan itu, Ouw Yang Hong tahu dia juga punya kesulitan.

Seketika timbullah rasa simpati, maka ingin menyatakan bersedia ikut mereka ke daerah utara.

Tapi mendadak dibatalkannya, karena tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya, jika ikut mereka ke daerah utara.

Seandainya terjadi sesuatu, menyesal pun sudah terlambat.

"Baik, kalau itu maumu, aku setuju. Aku akan bertanding dengan salah seorang di antara kalian!"

Ujar Bokyong Cen, manggut-manggut.

Bokyong Cen memandang mereka dengan penuh perhatian.

Gadis itu tahu mereka semua punya kepandaian.

Hanya ada satu orang yang tampak lesu tak bersemangat, mungkin orang itu tidak berkepandaian tinggi.

Siapa orang itu?

Tidak lain adalah orang tua yang kurus kering bernama Cu Kuo Lo Hu Cu.

Orang tua itu mirip mayat hidup, sudah pasti berkepandaian rendah.

Oleh karena itu, Bokyong Cen tampak gembira sekali.

"Aku akan bertanding dengan orang tua itu!"

Ujarnya, memandang Cu Kuo Lo Hu Cu.

Usai berkata begitu, Bokyong Cen masih tertawa gembira.

Namun sungguh di luar dugaan, mendadak Cu Sianseng dan Ciok Cuan Cak tertawa gelak.

Itu amat membingungkan Bokyong Cen.

"Nona, menurutku lebih baik kau jangan bertanding dengannya!"

Bokyong Cen mengira Cu Sianseng kuatir orang tua kurus kering itu akan roboh di tangannya, sehingga tanpa banyak pikir lagi, langsung menyerang orang tua itu dengan pedang.

"Lihat pedang!"

Pedangnya meluncur ke arah Cu Kuo Lo Hu Cu, sedangkan orang tua itu tetap berdiri diam di tempat.

Bokyong Cen girang sekali, namun juga merasa menyesal, sebab pedangnya akan menembus dada orang tua itu.

Ingin menarik kembali pedangnya, sudah terlambat.

Namun apa yang terjadi Ouw Yang Coan dan Ouw Yang Hong terpekik karena kaget bukan main.

Sementara orang tua itu tetap berdiri tak bergerak di tempat.

Cu Sianseng dan lainnya juga diam saja.

Ujung pedang itu telah menusuk dada orang tua itu, sehingga bajunya tersobek.

Akan tetapi, Bokyong Cen justru merasa pedangnya tak bisa bergerak lagi.

Ternyata pedangnya telah terjepit oleh kedua jari tangan si orang tua kurus kering.

Bokyong Cen terbelalak kaget dan kengerian.

"Nona, hatimu tidak begitu jahat! Pergilah!"

Ujar si orang tua kurus kering, lemah, seakan tak bertenaga.

Mendadak terdengar suara Trang!' Ternyata pedang itu telah patah jadi dua, sedangkan Bokyong Cen terhentak mundur beberapa langkah.

Setelah tegak berdiri, gadis itu memandang Cu Kuo Lu Hu Cu dengan mata terbeliak lebar.

Tidak disangkanya, orang tua itu ternyata berkepandaian paling tinggi di antara semua orang.

Cu Sianseng segera berkata.

"Tuan Ouw Yang, lihatlah! Nona itu akan pergi bersama kita atau kau seorang yang ikut kami?"

"Kalau menghendaki adikku pergi dengan kalian, kalian harus memberitahukan padaku, siapa sebetulnya kalian dan mengapa harus bawa adikku ke daerah utara?"

Tanya Ouw Yang Coan.

"Maaf, hanya dapat kuberitahukan, bahwa kami bawa adikmu ke daerah utara bukan untuk niat jahat. Kalian boleh berlega hati, kalau nona ini juga ingin ikut, tentunya boleh. Namun kalau dia ikut hanya akan termenung seorang diri, karena tidak akan melihat Tuan Ouw Yang Hong!"

Bokyong Cen melongo mendengarnya.

"Mengapa aku tidak akan melihatnya?"

Tanyanya penuh keheranan. Cu Sianseng memberitahukan.

"Karena Tuan Ouw Yang Hong akan sibuk sekali di tempat kami!"

Sibuk?

Gumam Bokyong Cen, merasa curiga.

Ouw Yang Hong akan sibuk apa di sana?

Mungkinkah dia akan menulis syair?

Selain menulis syair, dia tidak bisa apa-apa!

Ouw Yang Coan serba salah, sebab dia tahu dirinya tidak mampu melawan mereka.

Melawan orang tua itu saja dia tidak sanggup, apalagi harus melawan semua.

Mendadak Cu Sianseng menyambar tangan Bokyong Cen yang masih menggenggam pedang buntung, kemudian diayunkan ke arah jari tangannya.

Seketika itu putuslah jari kelingking Cu Sianseng.

Darah mengucur deras.

"Apabila aku mencelakai Tuan Ouw Yang Hong, maka diriku akan seperti jari kelingkingku!"

Sumpahnya sambil menatap Bokyong Cen dan Ouw Yang Coan, Ouw Yang Coan, Bokyong Cen, dan Ouw Yang Hong saling memandang.

Mereka tidak tahu mengapa Cu Sianseng berbuat begitu dan mencetuskan sumpah pula.

Mengapa harus membawa Ouw Yang Hong ke daerah utara?

Semua membuat heran hati ketiganya.

"Kalau begitu, aku memperbolehkan adikku ikut kalian. Tapi kapan dia akan kembali?"

Ucap Ouw Yang Coan.

"Asal dia sudah bertemu majikan, mungkn setahun dua tahun dia akan pulang. Kalau dia merasa cocok dengan majikan, mungkin tiga tahun kemudian haru pulang. Sebaliknya kalau tidak cocok kemungkinan besar hanya setengah tahun dia sudah pulang!"

Jelas Cu Sianseng. Ouw Yang Coan manggut-manggut, lalu berkata pada Ouw Yang Hong.

"Adik, aku juga ada urusan, tidak bisa menemanimu ke daerah utara. Terhadapmu hatiku khawatir ..."

Usai berkata begitu, Ouw Yang Coan memandang Bokyong Cen, maksudnya agar gadis itu menyertai adiknya ke daerah utara.

Bokyong Cen berpikir, kau kira aku mencintai adikmu yang bloon itu?

Kalau dia ikut mereka ke daerah utara, sudah pasti akan celaka.

Mengapa aku harus menyertainya?

Sudah cukup menderita ketika aku berada di Pek Tho San Cung, maka aku tidak akan menyertainya ke daerah utara.

Ouw Yang Coan pun tahu gadis itu tidak mau ikut adiknya ke daerah utara.

Itulah yang memuatnya tidak habis pikir.

Tadi gadis itu menyatakan bahwa Ouw Yang Hong adalah suaminya.

Maka sang suami kemana, si istri pun harus ikut.

Tapi kini Bokyong Cen masih merupakan seorang gadis, dia tidak mau ikut Ouw Yang Hong ke daerah utara, bagaimana mungkin memaksanya.

Sementara Ouw Yang Hong juga memandang Ouw Yang Coan.

Dia tahu pasti akan celaka jika berangkat ke daerah utara.

Sehingga tanpa sadar ia mengucurkan air mata.

Ouw Yang Coan menatapnya sejenak, kemudian berkata.

"Adik, aku datang di Tionggoan ini karena ada urusan penting. Setelah urusan itu beres, tentunya aku akan ke daerah utara mencarimu. Kalau tidak terjadi suatu apa pun atas dirimu, aku pasti berterima kasih pada mereka. Namun, apabila terjadi sesuatu atas dirimu, aku dan guru pasti membuat perhitungan dengan mereka."

Ouw Yang Coan berkata begitu, agar hati adiknya merasa tenang.

Mereka berdua bercakap-cakap, sedangkan yang lain diam saja.

Hingga tak lama kemudian, akhirnya Ouw Yang Hong ber-pamit pada kakaknya dan Bokyong Cen.

Dia ikut orang-orang itu pergi.

Sesaat dia masih sempat menoleh ke belakang melihat Bokyong Cen menundukkan kepala, sepertinya sedang mengucurkan air mata.

Ouw Yang Hong dan orang-orang itu telah tiba di sebuah kota.

Cu Sianseng membeli tujuh ekor kuda.

Mereka bertujuh menunggang kuda menuju ke daerah utara, menempuh jalan siang dan malam, hanya bermalam di dalam hutan.

Ouw Yang Hong sama sekali tidak tahu apa sebabnya mereka membawanya ke daerah utara.

Dia hanya tahu, mereka punya seorang majikan yang sudah tua, sedang menunggu dan ingin bertemu Ouw Yang Hong.

Sepanjang jalan, Cu Sianseng dan Cu Kuo Lo Hu Cu melarang semua orang menimbulkan masalah.

Namun Cu Sianseng berlaku amat sungkan terhadap Ouw Yang Hong.

Dalam perjalanan, Ouw Yang Hong sering bertanya pada Cu Sianseng, mengapa mereka membawanya ke daerah utara, apa yang harus dikerjakannya di sana, dan mengapa majikan mereka ingin menemuinya.

Walau Ouw Yang Hong bertanya berulang kali, Cu Sianseng cuma tersenyum tanpa memberi jwaban.

Hati Ouw Yang Hong jadi kesal, akhirnya tidak mau bertanya lagi, bahkan juga tidak mau bicara dengan mereka.

Kian lama hawa kian bertambah dingin.

Saat itu memang bulan delapan, pertengahan musim gugur.

Malam harinya, angin berhembus dingin menusuk tulang.

Ouw Yang Hong yang hanya mengenakan pakaian biasa, tentunya merasa kedinginan.

Sebaliknya orang-orang itu tidak tampak kedinginan, Cu Sianseng malah bersenandung.

"Langit tiada batas, rimba tiada ujung. Tinggal di rumah gubukku dan mencuci pakaianku, bulu burung amat panjang, adalah ibuku. Seekor kijang, kau, dan aku sama-sama menikmatinya. Melahirkan anak ..."

Mendengar senandung itu, semua orang segera menyambungnya dengan suara lantang.

"Lihatlah gubuk itu, ada istriku yang tercinta, menungguku pulang, hidup bahagia hingga berambut putih!"

Ouw Yang Hong yang juga mendengar, berkata dalam hati, mereka semua berasal dari daerah utara, tapi datang ke kota Ciau Liang menunggu diriku lingga tiga tahun.

Apakah hanya demi me-lanjutkan syair itu?

Sungguh tak dapat dipercaya, namun nyatanya memang begitu.

Malam itu mereka bermalam di sebuah rimba, menyalakan ranting dan menyuruh seseorang menjaga, yang lain boleh tidur.

Ouw Yang Hong tidak bisa pulas, dia tahu orang-orang itu amat sungkan padanya, maka dia tidak berniat untuk kabur.

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda, terdengar pula suara siulan yang saling menyusul.

Tak lama tampak beberapa orang berkuda menerjang ke arah tempat itu.

Mereka mengenakan pakaian kulit binatang, membawa busur, golok, dan tombak.

Setelah sampai di depan api unggun, terdengar suara bentakan yang amat keras.

"Kalian semua dengar, kami adalah Pak Cong Ngo Pit (Lima Jagoan Daerah Utara)! Harimau, Macan Tutul, Macan Belang, Srigala, dan Anjing! Cepat tinggalkan barang-barang kalian dan berlutut, kami akan mengampuni nyawa kalian!"

Orang-orang yang tidur itu langsung terjaga.

Ouw Yang Hong memandang mereka, tahu jelas mereka berkepandaian amat tinggi, tapi pendatang yang tak diundang itu membawa busur dan panah.

Kalau mereka melepaskan panah, tentunya akan merepotkan orang-orang itu.

Hatinya jadi cemas.

Akan tetapi, Cu Sianseng dan beberapa orang tetap duduk tak bergerak, memandang para pendatang itu sambil tersenyum.

Mereka tahu yang baru muncul itu adalah perampok, namun mereka tetap bersikap acuh tak acuh.

Kepala perampok membentak dengan suara mengguntur.

"Cepat tinggalkan barang-barang kalian, apakah aku harus turun tangan?"

"Kau menghendaki barang-barang kami?"

Sahut Cu Sianseng sambil tertawa. Kepala perampok itu mengangguk.

"Betul!"

Cu Sianseng tertawa sambil berkata pada kepala perampok itu.

"Kami memang memiliki sedikit barang, datang dari kota Ciau Liang, tentunya membawa barang."

Kepala perampok itu tampak tertegun.

"Siapa kalian?"

Cu Kuo Lo Hu Cu berkata sambil tersenyum.

"Lo Ji, Lo Sam! Kita ke Ciau Liang baru tiga tahun, orang-orang di sini sudah tidak mengenali kita lagi!"

"Toako (Kakak Pertama), asal kita mendekati mereka, sudah pasti mereka akan mengenali kita!"

Sahut Cu Sianseng menimpali. Mereka berenam bangkit berdiri. Kepala perampok itu tampak tersentak, lalu berkata dengan suara bergemetar.

"Kalian adalah orang Liu Yun Cun (Perkampungan Liu Yun)?"

Cu Sianseng dan lainnya tidak menyahut, hanya tertawa.

Menyaksikan itu kepala perampok tahu, mereka pasti orang-orang Liu Yun Cun.

Maka cepat-cepat meloncat turun dari kuda, dan langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan mereka.

"Tuan besar berenam, hamba tidak tahu Tuan-tuan berada di sini, hamba memang harus mampus!"

Cu Sianseng tertawa.

"Kalian berlima harus mampus atau tidak, aku juga tidak tahu. Tapi kami sedang tidur di sini. Kalian muncul mengganggu kami, tentunya kalian harus bertanggung jawab tentang itu!"

Orang yang dipanggil Hou toako berkertak gigi, kemudian berkata dengan suara bergemetar.

"Kami memang sial tidak mengenali Tuan besar berenam, maka aku ..."

Hou toako itu mengangkat sebelah tangannya, mendadak bergerak cepat mencungkil keluar sebuah matanya.

Dia menjerit keras, lalu roboh dan pingsan.

Yang lain tak berani bergerak sama sekali, tetap berlutut di tanah dengan wajah pucat pias.

Cu Sianseng memandang mereka sambil tertawa, setelah itu berkata perlahan-lahan.

"Kalian masih belum mau pergi dari sini? Aku mau tidur lagi!"

Mereka segera mengucapkan terimakasih, dan terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Bab 15 Tidak terjadi urusan apa-apa lagi.

Kini Cu Sianseng, Ouw Yang Hong dan lainnya sudah sampai di kaki Gunung Cian San daerah utara.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah berada di depan sebuah perkampungan.

Tampak pohon-pohon dan rerumputan menghijau.

Sungguh indah tempat itu!

Di depan pintu perkampungan, terlihat belasan orang menjaga.

Begitu melihat kedatangan mereka bertujuh, para penjaga itu tampak tersentak.

Ke-mudian salah seorang dari mereka yang berdandan sebagai pengurus segera menghampiri mereka, dan memegang bahu Cu Kuo Hu Cu erat-erat.

"Bagus! Bagus! Kalian sudah pulang!"

Katanya. Air mata pengurus itu meleleh. Dia pun me-meluk yang lain dengan air mata bercucuran. Se-telah itu dia berpaling seraya berseru.

"Cepat buka pintu! Salah seorang harus pergi melapor ke ruang tengah, ruang belakang dan harus memberitahukan pada paman guru kecil, bahwa lo toa dan lainnya sudah pulang!"

Usai berseru, pengurus itu memandang Ouw Yang Hong dengan penuh perhatian, lama sekali barulah tertawa seraya berkata.

"Toako, tentunya kalian berenam tidak salah mencari orang. Tahun kemarin, Coh Cun membawa seorang ke mari, katanya orang itu yang ditunggu majikan, tapi bukan. Kali ini kalau toako berhasil menemukan orang yang ditunggu majikan, majikan pasti girang sekali. Jangan seperti kejadian tahun kemarin, Coh Cun membawa seorang tolol ke mari, sehingga membuat majikan amat gusar sekali. Kami harap toako tidak akan mengecewa kan majikan!"

"Harap saudara berlega hati, kami berenam tidak akan salah melihat orang!"

Sahut Cu Sianseng sambil tersenyum. Pengurus itu manggut-manggut.

"Syukurlah!"

Dia lalu mengajak mereka masuk ke dalam perkampungan, menuju sebuah rumah yang amat besar.

Ketika memasuki halaman perkampungan tersebut, Ouw Yang Hong menjadi tercengang, sebab dia melihat begitu banyak syair bergantung di tembok halaman, bahkan terdapat tulisan 'Harimau' dan tulisan 'Tenang' serta sebuah tulisan yang amat besar, yaitu 'Racun'.

Setelah melihat tulisan-tulisan itu, Ouw Yang Hong yakin bahwa majikan perkampungan ini pasti orang aneh.

Ketika berjalan beberapa langkah, Ouw Yang Hong melihat sepasang syair yang bunyinya agak aneh.

'Rumah punya majikan banyak rejeki, dalam kamar terdapat ibu amat menakutkan hati.' Setelah membaca sepasang syair itu, air muka Ouw Yang Hong tampak biasa-biasa saja.

Pengurus itu menatap Ouw Yang Hong, ke-lihatannya memang ingin mengujinya, kemudian menjura seraya berkata.

"Yang menulis sepasang syair itu adalah majikan kami, tapi kami amat bodoh, tidak tahu apa maknanya. Tuan pasti orang cendekiawan, kalau tidak, bagaimana diundang ke Liu Yun Cun kami? Aku mohon tanya pada Tuan, sesungguhnya se-pasang syair itu mengandung makna apa?"

Ouw Yang Hong yang belum berpengalaman dalam dunia persilatan, langsung menjawab dengan sejujurnya.

"Berdasarkan sepasang syair itu, dapat diketahui bahwa majikanmu tergolong orang Sin Sang Tie. Dahulu kala, Sin Sang Tie menelan racun, itu bukan dikarenakan dia suka akan racun, melainkan agar keluarganya tidak keracunan. Di tempat ini terdapat begitu banyak tulisan 'Racun'. Lagi pula dua buah huruf yang terdapat di dalam kedua syair itu, kalau digabungkan akan menjadi huruf Ibu Majikan. Tulisan 'Racun' begitu penting bagi majikanmu, tentunya majikanmu bermaksud dengan Racun memunahkan Racun."

Ketujuh orang itu mendengarkan dengan serius, kemudian mereka memandang Ouw Yang Hong dengan kagum, terutama pengurus itu. Dia cepat-cepat memberi hormat seraya berkata.

"Terimakasih atas petunjuk Tuan!"

Kemudian dia memandang Cu Sianseng dan lainnya sambil memberi hormat.

"Kelihatannya toako tidak sia-sia menunggu di kota Ciau Liang hingga tiga tahun."

Semua orang tertawa gembira, lalu mengantar Ouw Yang Hong memasuki rumah besar itu.

Setelah melewati beberapa ruangan, barulah mereka sampai di ruangan belakang.

Wajah mereka tampak serius ketika berdiri di depan ruangan tersebut.

Badannya pun dibungkuk-kan sedikit.

Cu Kuo Hu Cu berdiri di paling depan.

Di belakangnya berdiri Cu Sianseng atau si Peramal dan lainnya.

Sesaat kemudian Cu Kuo Hu Cu berkata dengan suara ringan.

"Majikan, kami berenam sudah pulang dari kota Ciau Liang, kini melapor pada majikan!"

Suara Cu Kuo Hu Cu amat ringan dan halus, sepertinya dia khawatir akan mengejutkan orang sakit, atau mengejutkan bayi yang sedang tidur pulas.

Itu membuat Ouw Yang Hong terheran-heran dan tidak habis pikir.

Ketika bertemu Ouw Yang Coan dan Bokyong Cen, mereka tampak begitu gagah.

Namun kini justru berubah begitu tak bernyali, kelihatannya mereka takut kepada orang yang berada di dalam ruangan itu.

Cu Kuo Hu Cu memanggil dua kali, tapi tiada sahutan dari dalam ruangan tersebut.

Oleh karena itu dia tidak berani bersuara lagi.

Tujuh orang itu berbaris di depan ruangan, tak berani bergerak dan bersuara.

Ouw Yang Hong berpikir dalam hati, sungguh angkuh sang majikan itu!

Orang sudah memanggil dua kali, namun sama sekali tidak mau menyahut.

Di saat Ouw Yang Hong sedang berpikir, men-dadak terdengar suara anak kecil.

"Aku lihat tuh! Keenam orang itu juga tiada gunanya. Yang tua itu amat kurus! Terlampau banyak berpikir setiap hari, sering mempermainkan orang hingga badan menjadi kurus kering! Cu Sianseng itu tampak seperti lelaki sejati, wajah selalu serius, justru kelihatan angker, sepertinya banyak orang di daerah utara ini punya hutang kepadanya! Begitu pula yang lain, tiada seorang pun yang benar!"

Ouw Yang Hong mendengar jelas bahwa itu suara anak kecil, tapi dibikin-bikin seperti suara orang tua.

Siapa anak kecil itu?

Mengapa dia berani menegur keenam orang tersebut?

Sedangkan ke-enam orang itu tidak berani menyahut, hanya men-dongakkan kepala memandang ke atas sebuah po-hon, kemudian mereka serentak memberi hormat.

"Susiok (Paman Guru), apakah susiok baik-baik saja?"

Ouw Yang Hong memandang ke atas pohon itu.

Tampak seorang anak kecil duduk di dahan sedang tertawa-tawa.

Dia berpakaian kembang-kembang, rambut dikuncir ke atas.

Justru sungguh menggelikan, karena anak itu baru berusia sekitar se-puluh tahun, tapi mengapa keenam orang itu me-manggilnya paman guru?

Anak kecil itu menyahut.

"Cu Kuo Cia (Nama Cu Kuo Hu Cu)! Kau pergi tiga tahun, menantumu tidak baik terhadapku. Bulan kemarin dia bikin kembang gula, hanya berikanku sekotak kecil! Hm! Katanya khawatir aku sakit kebanyakan makan kembang gula. Itu jelas tidak menghormati tingkatan tua! Masih ada hal lain lagi, dia sering menghinaku! Kini kau sudah pulang, bagus! Kau harus menghajar mereka, agar selanjutnya mereka lebih menghormatiku!"

Ouw Yang Hong terbelalak mendengar ucapan anak itu. Namun keenam orang itu tetap bersikap biasa, bahkan Cu Kuo Hu Cu manggut-manggut.

"Terimakasih atas nasihat paman guru!"

Kata-nya. Anak kecil itu memandang Ciok Cuang Cak.

"Ciok Sam, mengapa istrimu terus menangis selama tiga tahun ini? Terutama di malam hari, dia memeluk bantal sambil menangis, tapi kemudian tertawa-tawa. Mengapa dia tertawa? Nanti tanyalah kau kepadanya, dan besok kau harus mem-beritahukan kepadaku! Jangan lupa!"

Wajah Ciok Cuang Cak alias Ciok Sam itu memerah.

Bibirnya bergerak tapi tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

OuwYang Hong memandang anak kecil itu yang duduk di dahan pohon.

Begitu tinggi hampir sepuluh depa.

Bagaimana cara anak kecil itu meloncat ke atas, dan bagaimana dia adalah paman guru keenam orang tersebut?

Ouw Yang Hong tidak habis pikir.

Di saat bersamaan, anak kecil itu justru memandangnya.

Ketika melihat Ouw Yang Hong, anak kecil itu tampak gembira, bertepuk tangan seraya berkata.

"Bagus sekali! Kaukah orangnya yang mereka cari?"

Anak kecil itu kelihatan periang, membuat Ouw Yang Hong menjadi gembira.

"Tidak salah, aku memang orang yang mereka cari,"

Sabutnya sambil tertawa. Mendadak air muka anak kecil itu berubah, kemudian berseru-seru.

"Celaka! Celaka! Kau terjebak, kau sudah ter-tipu!"

Ouw Yang Hong tersentak.

"Apa maksudmu?"

Tanyanya segera. Badan anak kecil itu tampak bergerak. Tahu-tahu dia sudah melayang turun dengan ringan sekali ke hadapan Ouw Yang Hong, lalu menyahut.

"Kuberitahukan, cepatlah kau kabur! Mereka mencarimu dengan maksud tidak baik. Kau akan disuruh belajar tentang racun. Padahal itu bukan pekerjaan yang baik. Sungguh sial kau jika bertemu mereka! Cepatlah kau kabur mumpung masih ada waktu! Aku akan memberimu uang perak dan sedikit makanan kering. Kau cepat kabur, biar aku yang menghadapi mereka bertujuh!"

Anak kecil itu menyodorkan sebuah bungkusan kecil kepada Ouw Yang Hong.

Apa yang dikatakan anak kecil itu, membuat Ouw Yang Hong menjadi curiga.

Akan tetapi, di saat bersamaan justru terdengar suara seorang tua yang amat perlahan.

"Apakah kalian berenam sudah pulang?"

Begitu mendengar suara itu, sekujur badan Cu Sianseng tampak gemetar.

"Guru, kami berenam sudah pulang,"

Sahutnya.

"Sudahkah kalian berhasil mencari orang itu?"

Tanya orang tua. Cu Sianseng segera menjawab.

"Sudah! Sudah! Dia adalah Tuan Ouw Yang Hong, berdiri di samping kami."

Sementara itu, setelah mendengar suara orang tua tersebut, wajah anak kecil itu pun berubah lesu.

"Habislah kau! Habislah kau! Tua bangka itu sudah mendusin, kau tidak bisa kabur lagi!"

Bisiknya kepada Ouw Yang Hong.

Usai berbisik, mendadak dia melesat pergi, dan dalam sekejap sudah hilang dari pandangan Ouw Yang Hong.

Ouw Yang Hong terheran-heran.

Dia mendengar suara tua itu, tapi tidak melihat orangnya.

Maka dia menengok ke sana ke mari, tapi tetap tidak melihat orang tua tersebut.

Di saat dia terheran-heran itulah, keenam orang itu mengajak Ouw Yang Hong ke dekat sebuah pohon besar.

Ouw Yang Hong terbelalak, karena melihat sebuah lubang besar di pohon itu.

Keenam orang itu membawanya ke dalam.

Dengan hati berdebar-debar tegang Ouw Yang Hong berjalan ke dalam lubang pohon itu.

Setelah memasuki lubang pohon itu, Ouw Yang Hong tampak tersentak.

Ternyata dia melihat se-orang tua bergantung dengan kepala di bawah kaki di atas.

Ujung kakinya bergantung di dahan, rambutnya panjang menyentuh tanah, dan sepasang matanya dipejamkan.

Ketika Ouw Yang Hong masuk ke dalam, orang tua itu langsung bertanya.

"Kaukah yang berhasil melanjutkan syairku?"

"Ya! Ketika itu aku berada di Kota Ciau Liang. Tanpa sengaja aku berhasil melanjutkan syair itu, sahut Ouw Yang Hong. Orang tua tertawa.

"Ha ha! Bagus, bagus! Ha ha ha . .."

Usai tertawa, dia lalu membaca sebuah syair, Ouw Yang Hong segera melanjutkan syair tersebut. Orang tua itu diam sejenak, baru kemudian berkata.

"Anak muda, kau salah melanjutkan. Sejak dahulu kala, syair apa pun yang terdapat huruf Langit, harus dijawab dengan huruf Bumi. Hem-busan Angin harus dijawab dengan arus Air. Kau mahir mengenai syair, tentunya tahu akan hal ter-sebut. Oleh karena itu, kau telah keliru melanjutkan syairku itu. Cobalah kau pikirkan yang lebih tepat untuk melanjutkan syairku!"

Ouw Yang Hong tertawa.

"Mohon tanya, apakah kau adalah majikan rumah ini?"

Orang tua itu diam sejenak, setelah itu baru menyahut.

"Aku memang majikan rumah ini."

Ouw Yang Hong tertawa lagi, lalu berkata.

"Ketika aku memasuki rumah ini, aku melihat sepasang syair, katanya kau yang menulis syair itu. Tentunya tidak salah kan?"

Orang tua itu manggut-manggut.

"Syair itu kutulis secara sembarangan, harap jangan ditertawakan!"

"Syair itu amat bagus, mengandung makna yang amat dalam. Aku kagum sekali,"

Kata Ouw Yang Hong. Orang tua tampak gembira karena Ouw Yang Hong memuji syair yang ditulisnya.

"Aku justru tidak tahu bagaimana bagusnya syair itu,"

Katanya.

Sebelum menyahut, mendadak Ouw Yang Hong teringat akan anak kecil yang menyuruhnya cepat-cepat kabur.

Maka dia yakin, cepat atau lambat nyawanya pasti akan melayang di tempat ini.

Oleh kaerna itu dia mengambil keputusan tidak mau mati secara penasaran.

"Terus terang, sepasang syair itu terdapat sedikit penyakit, boleh dikatakan tidak masuk akal,"

Sahutnya.

Orang tua itu sedang merasa bangga terhadap syair yang dituliskannya itu, namun kini Ouw Yang Hong justru mencelanya.

Maka seketika wajahnya berubah menjadi tak sedap dipandang, kemudian dia berkata dengan dingin sekali.

"Katakan, di mana letaknya kesalahan syairku itu!"

Mendadak dia mengibaskan tangannya, dan seketika tampak dua batang ranting meluncur ke arah Ouw Yang Hong.

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Ouw Yang Hong.

Namun dia cepat-cepat meloncat ke belakang, sehingga hanya satu ranting yang menyambar kepalanya.

Sedangkan ranting yang lain melesat lalu menancap di sebuah pohon.

Wajah Ouw Yang Hong pucat pias.

Perlahan-lahan dia mengangkat sebelah tangannya untuk meraba kepalanya.

Ternyata salah satu ranting itu menancap di rambutnya.

Ketika dia melihat tangannya, tidak bernoda darah, barulah hatinya merasa lega.

"Orang tua, mengapa kau berbuat begitu?"

"Cepat katakan, di mana letak kesalahan syair-ku itu?"

Orang tua balik bertanya.

"Kau menggunakan kata Majikan dan Ibu, serta menggunakan kata Rumah dan kamar, bukankah itu merupakan suatu kesalahan?"

Sahut Ouw Yang Hong dengan lantang. Orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh, sambil memandang Ouw Yang Hong dan berkata dengan suara nyaring.

"Kau memang pintar! Aku justru memandang remeh para sastrawan. Mereka menganggap dirinya berpengetahuan luas, bahkan sering membicarakan ajaran Sang Buddha. Tapi mereka cuma sok pintar. Rasanya aku ingin membunuh mereka satu persatu!"

Ouw Yang Hong menatap orang tua itu, ke-mudian mendadak berloncat-loncatan seraya ber-kata sekeras-kerasnya. 'Bagus! Bagus! Ucapanmu itu sesuai dengan maksud hatiku!"

Orang tua itu tertawa ringan, lalu berkata.

"Bagus! Tapi kau masih tidak tahu, bahwa di kolong langit ini terdapat seseorang yang berjalan sendiri. Kuberitahukan, namaku adalah Tok liang (Berjalan Sendiri)."

Kini Ouw Yang Hong baru tahu, bahwa ternyata di dalam dua pasang syair yang dilanjutkannya itu, terdapat nama orang tua tersebut.

"Siapa yang paling kau benci?"

Tanya orang tua.

Ouw Yang Hong tertegun mendengar perta-nyaan itu.

Siapa yang paling dibencinya?

Pek Tho San San Kun Jen It Thian atau gadis yang bernama Bokyong Cen?

Sebab gadis itu pernah menghina dan mempermainkannya.

Mungkinkah Su Ciau Hwa Cu Si Pengemis tua itu?

Ouw Yang Hong terus berpikir.

"Kalau kau bisa membunuh orang, apakah kau ingin membunuh mereka?"

Tanya orang tua itu lagi.

"Bunuh! Mengapa aku tidak membunuhnya?"

Sahut Ouw Yang Hong. Orang tua tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he! Oh ya, kau menyukai perhiasan, uang, kekuasaan dan wanita cantik?"

"Suka! Tapi bagaimana mungkin aku bisa memperolehnya?"

Sahut Ouw Yang Hong dengan suara dalam.

Orang tua tertawa gelak, kemudian bersiul pan-jang dan mendadak badannya melayang ke atas, setelah itu melesat turun sekaligus duduk di ha-dapan Ouw Yang Hong.

Dia tertawa sambil memandang Ouw Yang Hong lalu berkata.

"Bocah! Kau telah berhasil melanjutkan syairku itu, pertanda kau berjodoh denganku! Aku memiliki kungfu aneh, akan kuajarkan padamu!"

Usai berkata begitu, orang tua itu pun bergumam.

"Kodok berloncat di tanah, kodok berloncat sendiri dengan kekuatan Ha Mo Kang."

Setelah bergumam, orang tua itu bergerak cepat sekali, lalu mendadak berjongkok di tanah.

Dia membuka mulutnya sambil mengeluarkan suara Krok!

Krok!

Krok!

Lalu mendongakkan kepalanya dan sepasang tangannya bergerak cepat sekali se-hingga tampak menjadi puluhan pasang.

Kemudian dia membentak keras dan sepasang tangannya di-julurkan ke depan, ke arah sebuah pohon, sehingga pohon itu hancur berantakan.

Terbelalak Ouw Yang Hong menyaksikan itu.

Dia yakin kepandaian orang tua itu masih jauh di atas kepandaian guru kakaknya.

Orang tua itu tersenyum lalu berkata.

"Inilah dua macam kungfu yang amat tinggi di kolong langit, disebut Hong Huang Lat (Kekuatan Phoenix) dan Ha Mo Kang (Tenaga Sakti Kodok). Apabila kau setuju, aku akan mengajarmu kedua macam kungfu itu."

Tentu saja Ouw Yang Hong setuju. Bahkan saking girangnya dia langsung menjatuhkan diri bersujud di hadapan orang tua itu. Akan tetapi, mendadak orang tua itu men-cegahnya.

"Tidak bisa! Kau ingin belajar kungfuku, ter-lebih dahulu harus belajar menggunakan racun, makan racun dan menjadikan dirimu seorang bera-cun,"

Katanya.

Bukan main terkejutnya Ouw Yang Hong.

Dia teringat akan anak kecil yang menyuruhnya cepat-cepat kabur, apakah dikarenakan ini?

Seandainya dia makan racun, bukankah dirinya akan mati keracunan?

Setelah berpikir demikian, dia berseru sekeras-kerasnya.

"Aku tidak mau menjadi orang beracun, aku tidak mau menjadi orang beracun!"

Orang tua itu tersenyum, lalu berkata dengan ringan.

"Apakah tidak baik menjadi orang beracun? Di kolong langit itu banyak terdapat orang beracun. Kalau ditambah kau seorang, itu tidak akan menjadi masalah."

"Aku tidak sudi, aku tidak sudi!"

Sahut Ouw Yang Hong. Orang tua itu menatapnya seraya berkata.

"Kuberitahukan, kau jangan mendengarkan omongan anak kecil itu. Apa yang diomongkannya, hanya dusta belaka. Lebih baik kau dengar kataku. Bagaimana?"

Ouw Yang Hong menatapnya.

Dia merasa aneh dan tiba-tiba teringat akan Bokyong Cen yang me-natap Pek Tho San San Kun, lalu berjalan ke luar meninggalkan rumahnya, seakan dalam keadaan tak sadar.

Orang tua itu juga tampak demikian, apakah dia akan mempengaruhi Ouw Yang Hong dengan ilmu sesat?

Berselang sesaat, orang tua itu berkata dengan lembut dan ringan.

"Semua orang di kolong langit berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah mereka sering menghina, mencaci dan memukulmu? Mengapa kau tidak mau melawan mereka?"

Ouw Yang Hong tidak menyahut.

"Betul kan mereka sering menghina, mencaci dan memukulmu?"

Tanya orang tua itu lagi.

"Betul,"

Sahut Ouw Yang Hong.

"Kalau begitu, mengapa kau tidak, mau turun tangan melawan mereka?"

"Karena aku tidak memiliki ilmu silat tinggi, maka tidak dapat membalas mereka,"

Sahut Ouw Yang Hong tanpa banyak pikir.

"Ha ha!"

Orang tua itu tertawa.

"Kau boleh memiliki wanita cantik, juga boleh memiliki banyak budak dan pelayan! Kau menghendaki mereka mengerjakan apa, mereka pasti menurut! Bukankah itu baik sekali?"

Ouw Yang Hong mengangguk.

"Kau akan menjadi orang nomor wahid di kolong langit. Mau menjadi kaisar pun boleh. Kalau kau tidak mau menjadi kaisar, kau boleh menjadi raja dalam rimba persilatan! Bagaimana menurutmu, baik tidak begitu?"

Lanjut orang tua.

Timbul pertentangan dalam hati Ouw Yang Hong.

Aku tidak boleh menurutinya.

Kalau aku menurutinya, aku pasti akan menuju ke jalan iblis.

Tapi apabila aku tidak menurutinya, bukankah selamanya aku akan dihina, dicaci dan dipukul orang?

Ouw Yang Hong terus berpikir, sehingga tidak tahu harus bagaimana memberi jawaban.

Orang tua itu tersenyum, lalu memandangnya sambil berkata.

"Ouw Yang Hong, apakah kau ingin mencoba dan melewati hari-hariku?"

Mendadak orang tua itu berseru, dan seketika juga muncul seorang gadis pelayan, yang langsung memberi hormat kepadanya.

"Majikan ada pesan apa?"

Tanyanya.

"Bawalah Tuan Muda Ouw Yang ini ke dalam rumahku, biar dia tinggal di rumahku saja!"

Gadis pelayan itu tampak tersentak. Dipan-dangnya orang tua itu dengan terheran-heran, ke-mudian berkata.

"Majikan, sudah beberapa tahun rumah itu tidak dihuni."

Orang tua itu tertawa, lalu berkata dengan ringan.

"Bawalah Tuan Muda Ouw Yang ini ke sana, agar dia menikmati kesenangan hidup manusia!"

Gadis pelayan itu tersenyum, lalu menoleh me-mandang Ouw Yang Hong.

"Tuan Muda Ouw Yang, silakan!"

Ajaknya de-ngan lembut.

Gadis pelayan itu berjalan di depan, Ouw Yang Hong mengikutinya dari belakang.

Tak lama mereka sampai di sebuah rumah yang amat besar.

Mereka berdua berdiri di depan rumah besar itu.

Tampak dua penjaga berdiri di sana.

"Di sini adalah tempat tinggal majikan. Mengapa kau berani membawa orang luar ke mari?"

Tanya salah seorang dari dua penjaga itu. Gadis pelayan itu tertawa, lalu menyahut de-ngan nyaring.

"Kau kira dia adalah orang luar? Majikan sama sekali tidak menganggapnya sebagai orang luar, bahkan mengundangnya tinggal di rumah ini untuk menikmati berbagai macam kesenangan."

Kedua penjaga itu segera memberi hormat ke-pada Ouw Yang Hong.

"Silakan Tuan Muda, budak telah berlaku ku-rung hormat, harap Tuan Muda sudi memaafkan kami!"

Katanya dengan serentak.

Ouw Yang Hong berjalan ke dalam rumah.

Ketika memasuki rumah tersebut, terbelalaklah matanya, karena menyaksikan kemewahan rumah itu, yang dihiasi dengan berbagai macam batu mus-tika, mutiara dan benda-benda antik.

"Tuan Muda, kalau ingin menyalakan lampu, goyang saja perlahan-lahan pohon ini, lampu pasti menyala,"

Kata gadis pelayan itu.

Usai berkata, gadis pelayan itu menggoyangkan sebuah pohon perlahan-lahan.

Seketika juga muncul sebuah mutiara yang amat besar, sinarnya me-nerangi ruangan itu.

Setelah itu, gadis pelayan tersebut menjelaskan mengenai semua benda yang ada di sana.

Ouw Yang Hong mendengarkan dengan mulut ternganga lebar dan membatin.

Apakah aku bisa menikmati semua ini?

Mungkinkah aku akan menjadi orang yang demikian?

Bukankah aku akan menyerupai seorang pangeran atau sebagai majikan Perkampungan Liu Yu Cun ini?

Ketika Ouw Yang Hong sedang berpikir, gadis pelayan itu membuka pintu, lalu berjalan pergi meninggalkannya.

Ouw Yang Hong duduk di sana dengan hati berdebar-debar.

Mendadak terdengar suara lang-kah yang amat ringan, yang disusul oleh suara yang amat merdu.

"Tuan Muda harus mandi dulu!"

Ouw Yang Hong menoleh. Tampak dua wanita cantik berdiri di depan ranjang, memandang Ouw Yang Hong sambil tersenyum dan berkata.

"Tuan Muda pasti masih lelah dan badan Tuan Muda pun kotor. Lebih baik Tuan Muda mandi dulu, setelah itu barulah beristirahat!"

Usai berkata, kedua wanita itu mendekati Ouw Yang Hong, lalu memapahnya ke dalam melewati sebuah koridor, kemudian melewati halaman be-lakang dan sampai di sebuah rumah.

Kedua wanita itu membawa Ouw Yang Hong ke dalam rumah tersebut.

Begitu sampai di dalam, Ouw Yang Hong menjadi melongo.

Ternyata di dalam rumah itu terdapat sebuah kolam mandi yang cukup besar, dan tampak pula dua gadis telanjang bulat berdiri di sisinya.

Ketika melihat kedua gadis telanjang itu, hati Ouw Yang Hong berdebar-debar tegang, karena dia yakin mereka berdua akan memandikan dirinya.

Kedua gadis itu memberi hormat kepada Ouw Yang Hong, lalu berkata.

"Harap Tuan Muda mandi dulu!"

Mereka memapah Ouw Yang Hong ke dalam kolam mandi.

Air kolam itu hangat, namun sekujur badan Ouw Yang Hong malah gemetar.

Itu bukan karena kedinginan, melainkan karena badannya dipapah oleh kedua gadis yang telanjang itu.

Belum pernah dia mengalami hal seperti itu, maka badan-nya menjadi gemetar saking tegangnya.

Kedua gadis itu menatapnya,kemudian salah satu dari mereka bertanya.

"Apakah Tuan Muda merasa tidak enak? Biasa-nya majikan mandi dengan cara demikian."

"Baik, baik! Ikuti saja cara mandi majikan kalian!"

Sahut Ouw Yang Hong.

Kedua gadis itu tampak berlega hati, lalu me-nanggalkan pakaian Ouw Yang Hong dan mulailah jari tangan mereka yang halus menggosok-gosok badannya, sehingga membuat Ouw Yang Hong merasa nyaman sekali.

Selama ini aku tidak tahu sama sekali, seorang lelaki akan melewati hari-hari yang sedemikian senang dan nyaman, ini sungguh tak terduga ...

Di saat Ouw Yang Hong berkata dalam hati, kedua gadis itu terus menggosok badannya, mem-buat wajahnya menjadi memerah.

Kedua gadis itu tertawa cekikikan, kemudian berkata hampir serentak.

"Tuan muda jangan merasa malu!"

Ouw Yang Hong manggut-manggut, namun wajahnya tetap tampak memerah.

Di saat ber-samaan, mendadak dia teringat akan Bokyong Cen.

Kini dia baru sadar, bahwa dirinya terkesan baik terhadap gadis itu.

Tiba-tiba masuk beberapa anak gadis lagi, yang semuanya juga telanjang bulat seperti kedua gadis itu.

Mereka berjalan dengan lemah gemulai ke hadapan Ouw Yang Hong.

Ketika melihat gadis-gadis itu, salah satu gadis yang menggosok badan Ouw Yang Hong segera berbisik.

"Tuan Muda, kalau Tuan Muda tertarik salah satu di antara gadis-gadis itu, Tuan Muda manggut saja! Aku akan menyuruhnya menemanimu!"

Ouw Yang Hong segera memperhatikan gadis-gadis itu.

Semuanya cantik dan kelihatannya semua ingin menemaninya sehingga membuatnya menjadi bingung memilihnya.

Anak gadis yang menggosok badannya tahu akan hal itu.

Maka dia tersenyum seraya berbisik.

"Kalau Tuan Muda setuju, bagaimana kalau kusuruh mereka semua menemanimu?"

Ouw Yang Hong memang setuju, namun dia baru saja tiba di tempat itu, maka bagaimana mungkin bersama gadis-gadis tersebut?

Mendadak Ouw Yang Hong menolehkan kepalanya.

Dilihatnya seraut wajah yang berseri-seri, ternyata adalah salah satu gadis yang menggosok badannya.

Gadis itu tampak lemah-lembut dan amat cantik, mengapa tidak dia saja yang menemaniku?

Pikirnya.

Setelah berpikir demikian, dia berkata pada gadis itu dengan suara ringan.

"Bagaimana kalau kau saja yang tinggal di sini menemaniku?"

"Baik, tapi ... bagaimana dengan para gadis itu?"

Sahut gadis itu.

"Suruh mereka pergi!"

Bisik Ouw Yang Hong.

Gadis itu mengangguk, lalu segera memberi isyarat kepada para gadis tersebut.

Mereka meng-angguk, lalu meninggalkan kolam mandi.

Kini Ouw Yang Hong hanya bersama gadis itu, sebab salah satu gadis yang menggosok badannya juga ikut pergi.

Betapa tegangnya Ouw Yang Hong, karena sejak dia dewasa, belum pernah berdekatan dengan kaum gadis.

Saat ini dia begitu dekat dengan gadis itu, maka sudah barang tentu hatinya berdebar-debar tidak karuan, bahkan merasa je-ngah pula.

Tak lama kemudian, mereka berdua kembali ke rumah besar.

Ouw Yang Hong duduk di kursi, tampak segar dan bersemangat.

Seorang gadis mendekatinya, lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menyodorkan sebuah Cu Ko (Buah Cu Ko).

Gadis itu memberitahukan bahwa buah tersebut berusia seribu tahun, kalau dimakan dapat menambah Iwe kang.

Ouw Yang Hong tidak menyahut, tapi segera makan buah itu.

Rasanya manis terasa kepahit-pahitan.

Setelah makan buah itu, badannya merasa bertambah segar dan bertenaga.

Sesaat kemudian tampak beberapa anak gadis masuk ke dalam lagi.

Mereka memberi hormat lalu salah seorang bertanya.

"Tuan Muda, apakah Tuan Muda suka men-dengarkan musik?"

Hati Ouw Yang Hong girang bukan main, sebab dia memang amat menyukai musik.

"Majikan mengumpulkan kitab-kitab musik, akhirnya menciptakan musik. Mudah-mudahan Tuan Muda suka mendengarnya!"

Kata gadis itu. Ouw Yang Hong manggut-manggut, namun ha-tinya tidak percaya, bahwa para gadis itu mahir memainkan musik.

"Baiklah! Kalian boleh memainkan musik itu, aku ingin mendengarnya!"

Katanya.

Ketujuh gadis itu, menggunakan tujuh macam alat musik.

Ouw Yang Hong memperhatikan alat-alat musik itu, di antaranya ada yang belum pernah dilihatnya.

Sesaat kemudian, terdengarlah suara musik yang amat merdu, membuat Ouw Yang Hong ber-girang hati dan berseri-seri.

"Bagus! Bagus sekali!"

Serunya.

Ouw Yang Hong pun berkata dalam hati, kalau aku tidak ikut ke mari, bagaimana mungkin dapat menikmati musik ini?

Kalau bisa menjadi majikan perkampungan ini, tentunya amat menyenangkan sekali!

"Baik, kalian boleh pergi beristirahat sebentar!

Kapan-kapan aku akan menyuruh kalian main mu-sik lagi!"

Seketika musik berhenti dan gadis-gadis itu saling memandang, tapi tiada seorang pun yang mau meninggalkan tempat itu. Ouw Yang Hong tercengang.

"Mengapa kalian tidak mau pergi?"

Tanyanya sambil memandang gadis-gadis itu.

"Kami bersedia memainkan musik penggetar sukma untuk Tuan Muda!"

Sahut salah seorang gadis.

Ouw Yang Hong tersentak, mendengar ucapan gadis itu sebab dia tahu bahwa musik penggetar sukma adalah semacam musik bernada porno.

Ba-nyak orang tahu tentang hal itu, namun tidak pernah mendengarnya.

"Dulu majikan kami amat senang akan musik dan tarian penggetar sukma. Apakah Tuan Muda ingin menikmatinya?"

Lanjut gadis itu. Ouw Yang Hong berpikir sejenak, kemudian manggut-manggut.

"Baiklah! Aku ingin menikmatinya!"

Katanya.

Para gadis itu tampak girang sekali.

Kemudian mereka mulai memainkan musik tersebut.

Ouw Yang Hong memperhatikan gadis-gadis itu.

Mereka semua tersenyum-senyum, menatapnya dengan penuh rasa cinta, kemudian bernyanyi dengan merdu dan merangsang.

"Hatimu mendekap pada dadaku. Sepasang payudaraku merupakan bukit bagimu. Semoga hatimu selalu berada di dalam lubuk hatiku. Walau tidak bertemu orangnya, tapi hati tetap bertemu."

Ketika mendengar suara nyanyian itu, jantung Ouw Yang Hong berdetak lebih cepat, bahkan terasa bergejolak. Para gadis itu bernyanyi lagi.

"Kau bilang mau datang, maka aku menunggu-mu. Terus menunggu. Apakah kau sudah datang? Kau memang harus mati. Kau bilang mau datang, maka aku menunggumu. Menunggu dan terus me-nunggu. Apakah kau sudah datang? Kau memang harus mati."

Ouw Yang Hong mendengarkan nyanyian itu dengan hati berdebar-debar, sedangkan para gadis itu terus bernyanyi.

"Kau bilang mau datang, maka aku menunggu-mu. Menunggu dan terus menunggu. Aku takut tidak bisa hidup lagi. Tinggal kau seorang diri pasti akan kesepian. Lebih baik kau jangan datang ..."

Gadis-gadis itu mulai menari dengan indahnya.

Tarian mereka sangat merangsang, membuat Ouw Yang Hong tenggelam dalam lamunan.

Kalau ada seorang gadis menunggunya, dia pasti mencarinya.

Dia tidak akan membuat gadis itu terus menunggu.

Sesaat kemudian, musik, nyanyian dan tarian itu berhenti, para gadis itu mendekati Ouw Yang Hong.

Mereka mengerumuninya, duduk dan berlutut di dekat kakinya, lalu berkata dengan ringan.

"Tuan muda, ketika kau mendengar nyanyian kami, air matamu meleleh. Itu pertanda kau adalah orang yang berperasaan. Kalau kami bisa mem-peroleh cinta kasih darimu, kami pasti merasa bahagia dan beruntung."

Usai berkata, gadis-gadis itu mulai bernyanyi lagi dengan merdu. Bahkan mereka pun bersandar di badan Ouw Yang Hong.

"Aku menunggumu, terus menunggu. Aku takut tidak bisa hidup lagi. Tinggal kau seorang diri pasti akan kesepian. Lebih baik kau tidak datang ..."

Mereka bernyanyi sambil memandang Ouw Yang Hong dengan penuh rasa cinta kasih, bahkan juga menggoyang-goyangkan badannya dengan perlahan-lahan, sehingga membuat pikiran Ouw Yang Hong menjadi menerawang.

Demikian menjadi orang, memang sungguh me-nyenangkan!

Orang lain bisa demikian, aku Ouw Yang Hong juga harus bisa demikian.

Asal aku mau belajar ilmu Ha Mo Kang dari majikan tempat ini, bukankah aku akan menjadi orang yang tanpa tanding di kolong langit?

Pada waktu itu tentunya aku dapat malang melintang di dunia persilatan, mau berbuat apa pun bisa.

Pikirnya.

Pada malam harinya, ketika Ouw Yang Hong tidur sambil memeluk seorang wanita, tiba-tiba terdengar suara seseorang.

"Ouw Yang Hong, mengapa kau masih belum mau bangun?"

Ouw Yang Hong tersentak, lalu mendongakkan kepala, namun tidak melihat siapa pun berada di sekitarnya.

"Siapa kau? Mau apa kau ke mari?"

Sahutnya. Terdengar suara sahutan.

"Siapa aku, apakah kau tidak melihat?"

Di bawah remang-remang cahaya mutiara, tampak seorang tua duduk di pinggir ranjang, sedang memandang Ouw Yang Hong sambil ter-senyum.

"Bagaimana? Apakah kau mau melewati hari-hari yang begini?"

Ouw Yang Hong tentu mau, maka dia meng-angguk.

"Tinggallah kau di sini! Kau pasti akan hidup senang, sebab di sini banyak wanita cantik, berbagai macam benda mustika dan lain sebagainya. Aku mau berbuat apa, pasti dapat kulakukan. Aku ingin membunuh siapa, pasti bisa. Segala apa yang ada di dunia berada di tanganku. Apabila ku-senang, aku pun dapat menolong siapa pun. Tapi aku juga dapat memusnahkan semua perguruan dalam rimba persilatan dalam waktu sekejap. Cobalah kau pikir, haikkah aku orang yang begini macam?"

"Baik,"

Sahut Ouw Yang Hong.

"Aku menghendakimu menjadi orang beracun, justru menginginkanmu membunuh orang. Asal kau mau, kau boleh membunuh orang. Lihatlah! Wanita itu milikku, namun kalau aku turun tangan, dia pasti mati. Segera pula aku akan memperoleh penggantinya."

Orang tua memandang wanita yang tidur di atas ranjang.

Ternyata orang tua itu telah menotok jalan tidurnya, sehingga wanita tersebut tidak mendusin.

Berselang sesaat, dia menatap Ouw Yang Hong, kemudian melanjutkan kata-katanya dengan sungguh-sungguh.

"Asal kau mau, kau akan menjadi seorang pendekar besar di kolong langit, dan akan memiliki kungfu yang aneh."

Ouw Yang Hong mengangguk.

Dia rela menjadi murid orang tua tesebut, akan mewarisi semua kepandaiannya, menjadi orang beracun untuk malang melintang di dunia persilatan.

Bab 16 Di kolong langit, memang banyak terdapat ke-anehan.

Ketika Ouw Yang Hong tiba di perkam-pungan Liu Yun Cun, justru tidak terpikirkan bahwa dirinya akan rela menjadi murid orang tua itu, akan berubah menjadi orang beracun malang melintang di kolong langit.

Dia ingin belajar ilmu silat agar dirinya bisa berkepandaian tinggi untuk berkecimpung dalam dunia persilatan.

Kini dia ingin berguru kepada Tok Hang, si orang tua itu, yakni belajar ilmu Hong Hoang Lat dan ilmu Ha Mo Kang.

Di dalam sebuah rumah kecil yang berada di dalam lubang pohon, Cen Tok Hang berkata kepada Ouw Yang Hong.

"Kedua macam ilmuku ini, tidak pernah ku-turunkan kepada murid-muridku. Bukan karena mereka tidak berbakat, melainkan turun temurun harus orang yang melakukan sesuatu dengan hati keji. Lagi pula harus orang yang mengerti ilmu surat dan sastra, maka pilihanku jatuh pada dirimu. Mereka yang belajar ilmu silat harus dari sejak kecil, begitu pula belajar Iwee kang. Sepuluh tahun baru lumayan, dua puluh tahun berbentuk, tiga puluh tahun hingga empat puluh tahun baru bisa ternama, lima puluh tahun baru bisa sempurna. Itu adalah cara golongan lurus belajar ilmu silat. Bukankah akan membosankan? Berapa lama orang hidup di dunia? Kalau hanya untuk belajar ilmu silat, bagaimana mereka hidup? Tentunya akan keburu tua sebelum menikmati hidup. Ya, kan? Aku mengajarmu ilmu sesat, tidak seperti ilmu silat aliran putih. Yang kita kehendaki adalah aneh, cepat, racun dan keji. Asal begitu, barulah ada hasilnya. Ha Mo Kang adalah ilmu aneh di kolong langit. Semua orang meremehkan ilmu tersebut, tapi siapa pun tidak tahu akan kelihatannya. Tentang Iwee kangnya hanya mementingkan hawa. Lihat semua makluk yang ada di dunia, seperti halnya kuda berpacu, dan binatang kecil yaitu kodok. Hanya menggunakan hawa, kodok bisa meloncat tinggi dan jauh. Itu adalah Ha Mo Kang, lain hari akan kujelaskan. Mengenai Hong Hoang Lat, itu adalah ginkang (Ilmu Peringan Tubuh). Setelah aku berusia empat puluh, barulah kuciptakan ilmu tersebut. Hong Hoang Lat terdiri dari tiga belas jurus. Ketiga belas jurus itu merupakan ilmu gin-kang yang tiada duanya di kolong langit. Aku akan menjelaskan padamu .. ."

Kemudian orang tua itu menjelaskan tentang ilmu ginkang Hong Hoang Lat, dan setelah itu, dia pun memperagakannya.

Badannya mencelat ke atas ke sebuah pohon yang tingginya belasan depa.

Begitu ringan gerakannya, membuat Ouw Yang Hong terheran-heran.

Kemudian mendadak badan orang tua itu ber-gerak melayang turun, namun berhenti di tengah udara, lalu melambung kembali ke atas pohon itu.

Gerakannya sungguh mirip seekor burung Hong Hoang.

"Ouw Yang Hong, inilah ilmu Hong Hoang Lat,"

Katanya. Ouw Yang Hong manggut-manggut.

"Aku paling benci orang-orang golongan putih. Mereka pandai berpura-pura dan bermuka-muka. Rasanya aku ingin membunuh mereka satu persatu, agar mereka habis semua!"

Lanjut orang tua itu.

Ouw Yang Hong terus manggut-manggut.

Jiwa-nya mulai terpengaruh oleh ucapan-ucapan orang tua tersebut.

Di perkampungan Liu Yun Cun, Ouw Yang Hong selalu tinggal bersama orang tua itu.

Justru membuatnya tercengang, mengapa orang tua itu tidak mau tinggal di rumah, melainkan tinggal di dalam lubang pohon?

Ouw Yang Hong pun tidak tahu apa sebabnya Cu Kue Hu Cu dan lainnya begitu takut kepada orang tua itu.

Dia pun tidak tahu siapa anak kecil itu, mengapa menyuruhnya cepat-cepat kabur ketika dia baru tiba di perkampungan Liu Yun Cun?

Setelah tinggal bersama, orang tua itu dan Ouw Yang Hong sering membicarakan soal sastra, se-hingga membuat Ouw Yang Hong mulai menaruh hormat padanya.

"Kau akan menolong siapa? Seandainya kau berlayar seperahu dengan ayah, ibu dan istrimu, mendadak perahu itu tenggelam!"

Tertegun Ouw Yang Hong, lalu balik bertanya.

"Bagaimana ada kejadian yang begitu kebe-tulan?"

"Di kolong langit ini, tentunya ada kejadian yang kebetulan, justru kejadian tersebut. Kau harus bagaimana?"

Sahut orang tua. Ouw Yang Hong berpikir sejenak.

"Tentunya harus menolong ayah dan ibu, sebab anak merupakan darah daging mereka,"

Sahutnya kemudian. Orang tua itu menggeleng-geleng kepala.

"Salah! Salah!"

Ouw Yang Hong berpikir lagi. Tiba-tiba dia teringat akan keturunan, kalau tiada istri, bagai-mana mungkin punya keturunan? "Menurut Guru, harus menolong istri duluan?"

Tanyanya. Orang tua itu tertawa.

"Kuberitahukan, empat puluh tahun yang lam-pau, aku malang melintang di dunia persilatan, hingga memperoleh julukan Si Racun Tua. Karena tindakanku amat keji dan tak berperasaan, kalau perahu yang kau tumpangi itu tenggelam, harus menolong ayah ibu atau istrimu duluan, tentunya tidak bisa tanpa dipikirkan. Seandainya ayahmu amat kaya, dapat membuatmu hidup senang, meng-apa kau tidak menolongnya? Tapi apabila ayahmu hanya memberimu sesuap nasi, dan mengandalmu memeliharanya, bukankah kalau dia mati akan meringankan bebanmu? Tentang istrimu, jika dia cantik jelita dan lemah lembut, kalau kau tidak menolongnya, bukankah sayang sekali? Ke mana kau cari istri yang begitu cantik dan baik? Tapi seandainya istrimu selalu ribut denganmu, dan wa-jahnya terus masam setiap hari, kalau dia tidak mati, bukankah kau akan tersiksa setiap hari? Nah! Lelaki jantan, harus bisa mengambil dan menaruh-kannya, barulah bisa sukses!"

Ouw Yang Hong memberi hormat, mendengar-kan dengan khidmat.

Namun dalam hatinya dia tidak setuju akan apa yang dikatakan orang tua itu.

Walau demikian, dia tetap bersikap menurut.

Orang tua memandangnya, kemudian tertawa dingin seraya berkata.

"Kalau hari ini kau tidak mau mendengar per-kataanku, cepat atau lambat kau pasti akan men-derita!"

Ouw Yang Hong tidak menyahut.

Malam harinya, ketika dia berada di dalam ruangan orang tua itu, terdengar suara tawanya dan suara tawa wanita.

Sejak tinggal di perkampungan Liu Yun Cun, setiap hari dia bersenang-senang dengan wanita cantik.

Ouw Yang Hong pernah teringat akan Bokyong Cen, namun kini Bokyong Cen bersama kakaknya menuju daerah selatan.

Kelihatannya gadis itu amat tertarik pada kakaknya, sebaliknya amat me-mandang rendah pada Ouw Yang Hong.

Oleh karena itu, Ouw Yang Hong tidak mau memikirkannya lagi, karena di tempat ini begitu banyak wanita cantik, yang selalu siap menemaninya.

Saat itu ketika Ouw Yang Hong sedang ber-cakap-cakap dengan kedua gadis yang memandi-kannya, tiba-tiba terdengar suara yang amat nya-ring.

"Hei! Kaukah yang baru datang?"

Ouw Yang Hong segera menoleh.

Dilihatnya seorang anak kecil duduk di atas meja di belakang-nya.

Wajah Ouw Yang Hong langsung memerah, karena kebetulan sebelah tangannya sedang me-rangkul salah seorang dari kedua gadis itu.

Ke-mudian tangannya cepat-cepat dilepaskan.

Anak kecil itu tertawa, lalu menatapnya seraya berkata dengan nada orang yang sudah tua.

"Kelihatannya kau tidak begitu jahat, tidak seperti para murid tua bangka itu. kau bercumbu-cumbuan dengan gadis, lebih baik jangan terlihat oleh aku orang tua, aku akan marah ..."

"Kalau kau orang tua berminat, juga boleh ikut bersenang-senang. Di dalam perkampungan Liu Yun Cun banyak wanita cantik,"

Sahut Ouw Yang Hong. Mendengar ucapan Ouw Yang Hong itu, anak kecil tersebut tampak gusar.

"Kau kira aku ini siapa? Aku akan sepertimu? Aku orang tua sudah tiga puluh tahun lebih tidak pernah mendekati kaum wanita!"

Katanya dengan sengit.

Ouw Yang Hong tercengang.

Dia tahu bahwa anak kecil itu adalah paman guru Cu Kuo Cia dan lainnya.

Usianya baru sekitar sepuluh tahun, tapi selalu menyebut dirinya orang tua.

Bukankah itu sungguh menggelikan?

Biar bagaimana pun anak kecil itu tetap adalah adik seperguruan Cen Tok Hang, yang sudah pasti memiliki kepandaian tinggi.

Maka Ouw Yang Hong tidak berani bersikap kurang ajar terhadapnya.

"Bukankah dia akan mengajarmu dua macam ilmu silat, yaitu Hong Hoang Lat dan Ha Mo Kang? Dia pasti memberitahukan padamu, bahwa kedua macam ilmu silat itu amat tinggi, tiada seorang pun yang dapat dibandingkan dengannya. Ya kan?"

Kata anak kecil itu. Ouw Yang Hong tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Dia memandangnya dan mendadak bertanya.

"Apakah kau adalah adik seperguruan guruku?"

Anak kecil itu menepuk dada seraya menyahut.

"Tidak palsu! Kuberitahukan padamu, dia dipanggil Cen Tok liang, aku dipanggil Cha Ceh Ih. Aku adalah adik seperguruannya. Semua kaum dunia persilatan sudah tahu itu. Kalau kau tidak percaya, boleh bertanya kepada orang lain!"

"Kalau begitu, berarti kau adalah paman guruku. Usiamu masih kecil sudah menjadi paman guruku, bukankah akan membuat tidak enak hatimu?"

Anak kecil itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menyahut.

"Tidak benar. Tidak benar. Kau tidak usah perduli berapa usiaku. Aku adalah paman gurumu. Betul kan? Jangan kan kau yang baru mulai berkecimpung dalam rimba persilatan, yang sudah lama seperti Cu Kuo Cia dan lainnya pun harus menaruh hormat padaku. Katakan, berapa usiaku sekarang?"

Ouw Yang Hong tertawa seraya menyahut..

"Aku lihat ... Paman Guru berusia sekitar sepuluh tahun sekarang."

Anak kecil itu tertawa gelak mendengar ucapan itu, lalu bertepuk tangan seraya berkata dengan gembira.

"Ha ha! Kau memang bocah tolol, mengira usiaku sekitar sepuluh tahun. Kuberitahukan pa-damu, aku orang tua sudah berusia tiga puluh sembilan tahun."

Ouw Yang Hong tidak percaya, justru juga tidak bisa tidak percaya.

Wajah paman guru ini, kelihatannya baru berusia sekitar sepuluh tahun, namun dia mengatakan sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, entah apa sebabnya dia mengata-kan demikian?

Anak kecil itu mendekati Ouw Yang Hong, lalu berkata dengan suara ringan.

"Sebelum aku berusia dua puluh sembilan ta-hun, aku sudah belajar ilmu Ha Mo Kang. Namun gara-gara gurumu yang sial dangkalan itu, sehingga membuat diriku mengalami kesesatan. Untung guru menyelamatkanku, kalau tidak, nyawaku pasti sudah melayang."

Ouw Yang Hong tersentak, karena gurunya mengatakan bahwa ilmu Hong Hoang Lat dan Ha Mo Kang, hanya diturunkan dari generasi ke generasi penerus.

Bagaimana paman guru ini mem-pelajarinya?

Oleh karena itu dia segera berkata.

"Aku dengar dari guru, kedua macam ilmu itu hanya diturunkan kepada generasi penerus saja. Bagaimana Paman Guru juga bisa ilmu Ha Mo Kang?"

Anak kecil itu tertawa dingin lalu berkata.

"Kau sudah berguru kepada Cen Tok Hang itu, mengapa tidak bertanya kepadanya saja?"

"Kalaupun aku bertanya, belum tentu guru akan memberitahukan,"

Sahut Ouw Yang Hong. Anak kecil itu berkata dengan dingin.

"Tentunya dia tidak akan memberitahukan, Ketika itu aku bersamanya berguru kepada Kiu Sia Tok Ong (Raja Racun Sembilan Sesat). Dia murid sulung, sedangkan aku murid bungsu. Guru mengajarnya ilmu Hong Hoang Lat, dan mengajarku ilmu Ha Mo Kang. Di saat guru sedang sakit, dia melakukan suatu kejahatan, yakni menyerangku ketika aku berlatih lwee kang, sehingga membuat hawa murniku buyar. Untung guru berhasil menyelamatkanku. Tapi sejak itu aku tidak bisa tumbuh besar lagi."

Ouw Yang Hong memandangnya, kemudian berkata dengan suara keras.

"Aku tidak percaya! Aku tidak percaya! Kau omong kosong, kau membohongiku!"

Ternyata Ouw Yang Hong mendengar dari gurunya, bahwa ilmu Hong Hoang Lat diciptakan gurunya ketika berusia empat puluh tahun.

Baca Juga: Pendekar Misterius 2

Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert