Ceritasilat Novel Online

Pedang Hati Suci 2

Eps 2 Pedang Hati Suci - Jin Yong

Baca online Pedang Hati Suci - Jin Yong

Cersil Pedang Hati Suci - Jin Yong.

"Kalau menggunakan ratjun atau memakai sendjata untuk membunuh sitolol itu, boleh djadi sitjantik itu seorang wanita jang setia dan mungkin akan membunuh diri atau menuntut balas bagi sitolol, tentu urusan akan mendjadi runjam malah, maka djalan2 itu takbisa ditempuh. Maka kurasa djalan paling baik jalah seret sitolol itu dan didjebloskan kedalam pendjara. Untuk membikin sitjantik bentji pada sitolol, djalan pertama harus membikin se-akan2 sitolol itu telah mentjintai wanita lain; kedua, harus menundjukkan sitolol itu sebenarnja seorang jang djahat, suka mentjuri dan merampok, agar perbuatan2 demikian akan memuakan sitjantik."

Tik Hun mendjadi gemetar oleh uraian Ting Tian itu, tanjanja dengan suara tak lantjar.

"Apa jang kau........... kau katakan ini apakah........ apakah memang sengadja telah diatur oleh si ............. si Ba Ka itu?"

"Aku tidak menjaksikan sendiri, darimana aku tahu?"

Sahut Ting Tian tertawa.

"Tapi Sumoaymu itu sangat aju, bukan?"

Pikiran Tik Hun mendjadi butek, ia hanja memanggut. Lalu Ting Tian berkata pula.

"Ehm, untuk mengambil hati sinona, dengan sendirinja aku harus kerdja keras, aku akan keluarkan uang untuk menjogok pembesar disini, kataku untuk menolong engkau agar lekas dibebaskan. Usahaku itu sengadja kuperlihatkan sendiri kepada sitjantik agar dia merasa berterima kasih padaku. Dan uang sogokku itu memang benar2 telah kuserahkan kepada pembesar disini dan petugas2 lain."

"Dan sesudah membuang uang sebanjak itu, tentu akan berhasil sedikit bukan?"

Tanja Tik Hun.

"Sudah tentu, setan pun dojan duit, mengapa tak berhasil?"

Sahut Ting Tian.

"Habis, meng............. mengapa aku masih tetap dikerangkeng disini dan belum dibebaskan?"

Tanja Tik Hun.

"Hahahaha!"

Tiba2 Ting Tian ber-bahak2.

"Kau berbuat salah apa? Tuduhan jang mereka djatuhkan padamu paling2 djuga tjuma hendak memperkosa wanita dan mentjuri, toh bukan perbuatan masiat, djuga bukan membunuh orang. Dosamu apa hingga mesti dikurung sampai ber-tahun2 tanpa diputus perkaranja? Pula djuga tidak perlu tulang pundakmu ditembusi rantai segala? Dan ketahuilah, kesemuanja ini adalah hasil dari uang sogok itu. Ja, akal ini memang sangat bagus dan litjin, sinona tinggal dirumahku, tjintanja pada sitolol itu dengan sendirinja belum terlupakan, tetapi sesudah ditunggu setahun demu setahun, masakah achirnja sitjantik takkan menikah?"

"Trang,"

Mendadak Tik Hun membatjok goloknja kelantai. Serunja.

"Ting-toako, djadi aku dikerangkeng selama ini, semuanja adalah perbuatan si Ban Ka itu?"

Ting Tian tidak mendjawab, tapi ia menengadah untuk memikir hingga agak lama, tiba2 ia berkata pula.

"Ah, salah, salah, didalam muslihat it masih terdapat suatu kekurangan, salah, salah besar!"

"Masih kurang apa lagi?"

Kata Tik Hun dengan gusar.

"Sumoayku achirnja djuga sudah mendjadi isterinja, dan aku, kalau tidak ditolong olehmu, sudah lama akupun menggantung diri, bukankah semuanja itu telah memenuhi tjita2nja?"

Namun Ting Tian terus mondar-mandir didalam kamar pendjara itu sambil geleng2 kepala, katanja.

"Didalamnja masih terdapat satu kepintjangan besar. Mereka begitu litjik dan pintar mengatur, masakah tidak tahu?"

"Sebenarnja kepintjangan apa maksudmu?"

Tanja Tik Hun.

"Suhumu!"

Sahut Ting Tian tiba2.

"Suhumu telah melarikan diri sehabis melukai Supehmu. Ngo-in-djiu Ban Tjin-san dari Hentjiu tjukup tenar didalam Bu-lim, tentang dia tjuma terluka dan tidak binasa, kabar ini dalam waktu singkat sadja tentu tersiar, seumpama Suhumu malu untuk mendjumpai Suhengnja lagi, paling tidak dia toh dapat mengirim orang untuk memapak Sumoaymu pulang kerumah? Dan bila Sumoaymu sudah pulang, bukankah antero tipu muslihat kedji Ban Ka itu akan bangkrut seluruhnja?"

"Benar, benar!"

Ber-ulang2 Tik Hun menggablok pahanja sendiri.

Oleh karena tangannja dibelengu, maka terbitlah suara gemerintjing dari rantai belenggunja itu.

Sungguh tak tersangka olehnja bahwa seorang jang tampaknja kasar seperti Ting Tian itu ternjata tjara berpikirnja bisa begitu djauh dan teliti.

Tik Hun mendjadi kagum tak terhingga.

"Dan sebab apa Suhumu tidak memapak pulang puterinja itu, didalam situlah pasti ada sesuatu jang mentjurigakan,"

Tutur Ting Tian pula dengan suara pelahan.

"Kujakin sebelumnja Ban Ka dan komplotannja pasti djuga sudah dapat menduga akan hal ini, kegandjilan ini untuk sementara inipun aku merasa tidak mengerti."

Begitulah Ting Tian terus memeras otak untuk memikirkan hal itu.

Sebaliknja Tik Hun sama sekali tidak ambil pusing.

Baru sekarang ia paham dimana letak persoalannja mengapa dirinja didjebloskan pendjara oleh orang.

Ber-ulang2 ia ketok2 kepalanja sendiri sambil memaki dirinja sendiri terlalu tolol, urusan jang sederhana bagi orang lain itu ia sendiri djusteru tidak tahu sama sekali selama ber-tahun2.

Padahal harus dimaklumi djuga, sedjak ketjil Tik Hun hidup dipedesaan jang suasana masjarakatnja sederhana dan djudjur, ia tidak kenal betapa litjik dan kedjamnja orang Kangouw.

Sebaliknja Ting Tian biasa berterobosan ditengah rimba sendjata, banjak pengalaman dan pahit-getir jang telah dirasakannja, dengan sendiri ia lantas tahu duduknja perkara begitu mendengar tjeritanja Tik Hun.

Hal itu bukan soal pintar atau bodoh seseorang, tapi karena perbedaan pengalaman hidup kedua orang itu selisih terlalu djauh.

Begitulah sesudah Tik Hun mengomel dan memaki dirinja sendiri, ketika dilihatnja Ting Tian masih terus memeras otak, ia lantas berkata.

"Sudahlah, Ting-toako, tidak perlu kau memikirnja lagi. Suhuku adalah seorang desa jang djudjur, tentu saking takutnja sehabis melukai Ban-supek, ia telah lari djauh2 entah kemana, maka ia tidak mendengar berita masih hidupnja Ban-supek itu."

"Apa katamu? Suhumu hanja seorang desa jang djudjur?"

Ting Tian menegas dengan mata membelalak heran.

"Sehabis membunuh orang dia bisa ketakutan dan melarikan diri?"

"Ja, memang Suhuku benar2 seorang jang sangat djudjur,"

Sahut Tik Hun.

"Ban-supek mempitenah dia mentjuri sesuatu Kiam-boh (kitab ilmu pedang) apa dari Thaysuhu (kakek guru), dalam gusarnja ia mendjadi kalap hingga melukai Supek, padahal hatinja benar2 sangat baik."

Ting Tian hanja mendengus sekali sadja dan tidak berkata pula, ia duduk kepodjok kamar sana sambil pelahan2 bernjanji ketjil.

"Sebab apa engkau mendengus?"

Tanja Tik Hun heran.

"Tidak apa2,"

Sahut Ting Tian.

"Tentu ada sebabnja, Ting-toako, haraplah engkau suka bitjara terus terang sadja,"

Pinta Tik Hun.

"Baiklah,"

Kata Ting Hun achirnja.

"Tjoba terangkan dulu, siapakah djulukan gurumu itu?"

"Ehm, dia berdjuluk ‘Tiat-so-heng-kang’,"

Sahut Tik Hun.

"Apa maksudnja djulukan itu?"

Tanja Ting Tian. Tik Hun mendjadi gelagapan, maklum kurang makan sekolahan. Tapi djawabnja djuga kemudian.

"Aku tidak paham arti daripada kata2 sastra tinggi itu. Tapi dugaanku mungkin maksudnja menggambarkan ilmu silat beliau sangat hebat, mahir dalam hal bertahan, musuh sekali2 tak mampu membobol pertahanannja."

"Hahahaha!"

Ting Tian terbahak.

"Tik-hiati, engkau sendirilah sebenarnja jang terlalu djudjur dan polos. Tiat-so-heng-kang (rantai besi melintang disungai), supaya orang takbisa turun djuga tak dapat naik, bagi tokoh kalangan Bu-lim angatan lebih tua siapa orangnja jang tidak tahu arti daripada djulukan itu? Gurumu itu djusteru pintar dan tjerdik, lihaynja tidak kepalang, pabila ada orang menjakiti hatinja, pasti dia akan memeras otak mentjari akal untuk membalasnja, supaja orang serba sulit, turun tak bisa, naik takdapat, djadi ter-katung2 seperti sebuah kapal jang mengoleng2 ditengah sungai oleh pusaran air. Djika kau tidak pertjaja utjapanku ini, kelak kalau kau sudah keluar pendjara, boleh kau tjoba mentjari tahu betul tidak ramalanku ini."

Namun Tik Hun masih tidak pertjaja, pikirnja.

"Sedangkan Kiam-hoat jang diadjarkan Suhu padaku djuga banjak jang salah. Sebenarnja djurus. ‘seekor burung terbang dari lautan tidak sudi menghinggap di-rawa2’, tapi dia telah salah mengartikan. ‘ada bandjir orang ber-teriak2, ketemu rintangan tidak berani lewat’, dan lain2 djurus lagi. Ja, maklumlah, memangnja dia djuga tidak banjak bersekolah, mana dapat dikatakan dia sangat pintar dan tjerdik!" ~ maka katanja segera.

"Tapi suhu benar2 seorang djudjur, seorang petani jang dangkal sekolahnja."

"Mana bisa?"

Sahut Ting Tian dengan gegetun.

"Ia djusteru sangat tinggi sekolahnja dan banjak kepandaiannja, ia sabar dan pendiam, tentu ada maksud2 tertentu. Tapi mengapa sampai muridnja sendiri djuga dibohongi, inilah susah dimengerti orang luar. Sudahlah, djangan kita membitjarakan urusan ini sadja, marilah, biar kutempelkan berewokku ini kedjanggutmu!"

Habis berkata, Ting Tian angkat golok membatjok kemajat siTodjin.

Karena belum lama matinja Todjin djahat itu, maka darahnja masih segar dan terus mengutjur keluar dari luka batjokan itu.

Ting Tiang mentjelup setjomot demi setjomot bulu berewoknja sendiri jang tertjukur tadi untuk ditempelkan didjanggutnja Tik Hun dan kedua belah pipinja.

Sebenarnja Tik Hun mendjadi muak dan ngeri ketika mentjium bau anjirnja darah, tapi demi mengingat betapa akal kedjinja Ban Ka, betapa maksud tertentu sang guru jang tak diketahui orang itu serta masih banjak lagi hal2 jang tak diketahuinja, ia merasa tempat jang paling aman didunia ini sebenarnja adalah didalam pendjara malah.

Dengan Ting Tian bahwa didalam tiga hari pasti akan kedatangan musuh tangguh, ternjata baru saing hari kedua, didalam pendjara itu sudah ber-turut2 didjebloskan pula pesakitan2 baru jang beraneka matjam orangnja, ada jang tinggi, ada jang pendek, ada jang kurus, ada jang gemuk, tua, muda, semuanja ada.

Tapi sekali melihat bentuk mereka segera orang akan tahu bahwa pesakitan2 baru itu pastilah tokoh2 Kangouw, kalau bukan golongan bandit, tentu adalah pimpinan sesuatu gerombolan.

Melihat djumlah orang jang dimasukan kekamar pendjara tu semakin banjak, diam2 Tik Hun mulai kuatir.

Ia tahu orang2 ini pasti musuh2 jang hendak mentjari Ting Tian.

Bahkan bukan tjuma lima musuh tangguh seperti kata Ting Tian itu, tapi sekaligus telah datang 17 orang hingga kamar pendjara itu ber-djubel2, sampai merebahpun susah, terpaksa semua orang tjuma berduduk sadja sambil berpeluk dengkul.

Sebaliknja Ting Tian tetap berbaring dipodjok kamar itu sambil menghadap dinding, ia tidak ambil pusing terhadap dinding, ia tidak ambil pusing terhadap orang2 itu.

Pesakitan2 itu tiada hentinja bergembar-gembor, bertjanda dan ber-olok2, hanja sebentar sadja sudah ada jang bertengkar segala.

Dari suara2 mereka itu Tik Hun dapat mengetahui bahwa ke-17 orang itu ternjata terdiri dari tiga golongan dan sama2 lagi mengintjar sesuatu benda mestika apa.

Ketika tanpa sengadja sinar mata Tik Hun kebentrok dengan sorot mata orang2 jang bengis itu, ia mendjadi kaget dan tjepat berpaling kearah lain.

Pikirnja.

"Aku telah menjaru sebagai Ting-toako, tapi ilmu silatku sudah punah semua, kalau sebentar mesti bergebrak, bagaimana aku harus bertindak? Betapapun tingginja ilmu silat Ting-toako rasanja djuga tidak sanggup sekaligus membinasakan orang2 sebanjak ini."

Lambat-laun haripun sudah gelap. Tiba2 seorang laki2 jang bertubuh tegap berteriak.

"Marilah kita bitjara terang2an sebelumnja, sasaran pokok ini nanti harus mendjadi milik Tong-ting-pang kami, pabila ada jang tidak terima, hajolah lekas kita tentukan dengan kepandaian masing2, agar nanti tidak perlu banjak rewel lagi."

Rupanja orang Tong-ting-pang jang ikut datang disitu ada sembilan orang, 9 daripada 17 orang, itu berarti lebih dari separoh, dengan sendirinja kekuatannja djauh lebih kuat.

Segera seorang setengah umur dan rambut sudah ubanan menanggapi dengan suaranja jang bantji.

"Diputuskan dengan kepandaian masing2, itu bagus! Hajolah apa kita mesti main kerubut didalam sini atau bertarung dipelataran luar situ?"

"Dipelataran djuga boleh, siapa jang djeri padamu?"

Sahut laki2 tegap itu.

Habis berkata, segera ia pegang dua rudji lankan besi terus dipentang sekuatnja, kontan sadja djadilah sebuah lubang jang tjukup dibuat keluar-masuk orang dengan bebas.

Tenaga orang itu kuat mementang besi hingga bengkok, betapa hebat Gwakangnja dapatlah dibajangkan.

Dan selagi laki2 itu hendak menerobos keluar melalui lubang rudji besi jang telah melengkung itu, se-konjong2 sesosok bajangan berkelebat, seorang telah mengadang ditempat lubang itu.

Itulah dia Ting Tian adanja.

Tanpa berkata lagi Ting Tian terus djamberet dada orang itu.

Aneh djuga, perawakan laki2 itu sebenarnja lebih tinggi satu kepala daripada Ting Tian, tapi sekali kena dipegang olehnja, seketika lemas lunglai takbisa berkutik.

Terus sadja Ting Tian djedjalkan tubuh laki2 itu keluar kamar pendjara dan dilemparkan kepelataran.

Laki2 itu tjuma meringkuk sadja ditanah tanpa bergerak sedikit, terang sudah binasa.

Melihat kedjadian jang luar biasa itu, semua orang jang berada didalam pendjara itu mendjadi kesima ketakutan.

Menjusul Ting Tian mentjengkeram lagi seorang terus dilemparkan pula keluar.

Begitulah ia terus menjambar dan melempar hingga seluruhnja telah tudjuh orang terlempar keluar.

Setiap orang jang kena dipegang olehnja itu semuanja mati seketika tanpa bersuara sedikitpun.

Sisa 10 orang jang lain mendjadi lebih ketakutan lagi, tiga diantaranja mengkeret kepodjok dinding, sebaliknja tudjuh orang lainnja mendjadi nekat.

Berbareng mereka mengerubut madju dan menjerang serabutan kepada Ting Tian.

Namun sama sekali Ting Tian tidak berkelit djuga tidak menangkis, ia tetap ulur tangannja menjambar dan sekali tangannja bekerdja pasti ada seorang jang kena dipegangnja dan setiap orang jang terpegang itu pasti mati seketika.

Tentang dimana letaknja kematian mereka tiada seorangpun jang djelas.

Habis ketudjuh orang itupun terbinasa semua, tiba2 ketiga orang jang meringkuk ketakutan dipodjok itu lantas berlutut minta ampun.

Namun Tian anggap sepi sadja, kembali ia mentjengkeram dan dilemparkan keluar.

Saking kesima menjaksikan Ting Tian mengamuk itu, Tik Hun sampai terkesiap melongo seperti orang mimpi.

Habis itu, Ting Tian tepuk2 kedua tangannja dan tertawa dingin.

"Huh, tjum abegini sadja kepandaian mereka djuga berani datang kesini hendak mengintjar Soh-sim-kiam-hoat!"

Tik Hun melengak mendengar "Soh-sim-kiam-hoat"

Disinggung. Tanjanja segera.

"Apa katamu, Ting-toako, Soh-sim-kiam-hoat?"

Ting Tian seperti menjesal telah ketelandjur omong, tapi iapun tidak ingin membohongi Tik Hun, maka ia tjuma tertawa dingin beberapa kali tanpa mendjawab.

Sungguh selama hidup Tik Hun belum pernah menjaksikan orang setangkas Ting Tian, hanja sekedjap sadja 17 orang jang tegap kuat itu sudah menggeletak semua mendjadi majat.

Dengan gegetun ia berkata kepada Ting Tian.

"Ting-toako, kepandaian apakah jang engkau gunakan hingga begitu lihay? Apakah orang ini semuanja pantas digandjar kematian?"

"Pantas digandjar kematian rasanja djuga tidak semuanja,"

Sahut Ting Tian.

"Jang terang orang2 ini tidak bermaksud baik kepadaku. Pabila aku belum berhasil mejakinkan ‘Sin-tjiau-keng’ hingga kena ditawan oleh mereka malah, pastilah susah dibajangkan siksaan apa jang akan kuderita."

Tik Hun tahu apa jang dikatakan Ting Tian itu bukanlah omong-kosong, katanja pula.

"Sekenanja engkau memegang mereka, seketika mereka terbinasa ditanganmu, sungguh ilmu kepandaian ini mendengar sadja aku belum pernah. Pabila kutjeritakan kepada Sumoay, tentu diapun takkan pertjaja……" ~ teringat kepada sang Sumoay, hatinja mendjadi pilu dan dadanja se-akan2 kena dipukul orang sekali. Namun Ting Tian tidak mentertawainja, bahkan ia menghela napas pandjang dan menggumam sendiri.

"Padahal, sekalipun sudah berhasil mejakinkan imu silat maha tinggi djuga belum tentu segala tjita2 orang dapat tertjapai…….."

Belum habis utjapannja, tiba2 Tik Hun bersuara heran dan menuding kearah serangka majat dipelataran sana.

"Ada apa?"

Tanja Ting Tian.

"Orang itu belum mati sama sekali, kakinja barusan tampak bergerak,"

Kata Tik Hun. Sungguh kedjut Ting Tian bukan kepalang, serunja.

"Apa benar?" ~ bahkan suaranja sampai gemetar.

"Ja, barusan aku melihat kakinja bergerak dua kali,"

Sahut Tik Hun sambil memikir djuga.

"Seorang jang terluka parah dan tidak lantas mati, mengapa mesti dikuatirkan, masakan masih mampu berbangkit untuk bertempur?"

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Sin-tjiau-kang jang sudah berhasil dijakinkan Ting Tian itu, siapa sadja asal kena ditjengkeram olehnja, seketika orang itu akan binasa.

Kini kalau ada musuh jang ditjengkeram dan ternjata tidak mati, hal itu menandakan ilmu saktinja itu masih ada kekurangannja.

Begitulah karena itu, Ting Tian mendjadi heran dan tjemas, segera ia menerobos keluar dari lubang lankan itu untuk memeriksa orang jang masih bisa bergerak itu.

Diluar dugaan, tiba2 terdengarlah suara mentjitjit dua kali, dua sendjata gelap jang sangat ketjil telah menjambar kearah mukanja.

Namun Ting Tian sudah ber-djaga2 sebelumnja, tjepat sekali ia mendongak kebelakang hingga dua batang panah ketjil menjambar lewat dimukanja, bahkan hidungnja mengendus bau amis jang busuk, terang diatas panah2 ketjil itu terdapat ratjun djahat.

Dan begitu membidikan panahnja, orang itu terus melesat keatas emper rumah.

Melihat Ginkang orang itu sangat hebat, sebaliknja dirinja sendiri terbelengu, gerak-gerik kurang leluasa, untuk mengedjar belum tentu mampu mentjandaknja, terpaksa Ting Tian menjamber serangka majat sekenanja terus ditimpukan kearah pelarian itu.

Timpukan Ting Tian itu sangat keras dan tjepat.

"bluk" , tepat sekali kepala majat itu menumbuk dipinggang sipelarian selagi orang itu baru sadja sebelah kakinja mengindjak emper rumah. Kontan sadja ia terdjungkal kembali kebawah, segera Ting Tian memburu kesana dan mentjengkeram tengkuknja untuk diseret kembali kedalam kamar pendjara, ketika diperiksa napasnja, sekali ini orang itu benar2 sudah putus njawanja. Ting Tian buang majat itu, ia berduduk dilantai dan bertopang dagu untuk memikirkan.

"Sebab apakah tjengkeramanku tadi tidak membinasakan orang itu? Apakah ilmu jang kulatih itu masih ada sesuatu jang kurang sempurna?"

Tapi sampai lama sekali tetap ia tidak memperoleh sesuatu gagasan jang tepat.

Saking mendongkol, kembali tangannja mentjengkeram pula kedada majat disampingnja itu.

Mendadak ia merasakan ada sesuatu tenaga jang lunak tapi ulet telah mementalkan kembali djarinja.

Ting Tian terkedjut tertjampur girang, serunja.

"Ja, ja, tahulah aku sekarang!"

Tjepat ia terus mempelototi pakaian majat itu, maka terlihatlah dibadan majat itu memakai sebuah badju kutang jang berwarna hitam gilap. Maka Ting Tian berkata pula.

"Pantas sadja, sampai aku dibikin terkedjut sekali!"

Tik Hun heran, tanjanja.

"Ada apakah, Ting-toako?"

Ting Tian tidak mendjawab, ia melutjuti pakaian majat itu dan mentjopot badju kutang didalamnja itu, habis itu ia lemparkan majat itu keluar kamar pendjara, lalu katanja kepada Tik Hun dengan tertawa.

"Tik-hiati, ini, pakailah badju ini."

Tik Hun dapat menduga badju kutang warna hitam itu pasti barang mestika, maka sahutnja.

"Badju ini adalah milik Toako, aku tidak berani mengambilnja."

"Djadi kalau bukan milikmu, lantas kau tidak sudi?"

Tanja Ting Tian dengan nada agak keras. Tik Hun terkesiap, kuatir orang mendjadi marah, segera sahutnja.

"Tapi kalau Toako mengharuskan aku memakainja, biarlah aku memakainja."

"Kutanja padamu. Djika bukan milikmu, engkau mau tidak?"

Tanja Ting Tian dengan sungguh2.

"Ketjuali kalau sipemilik berkeras memberikannja kepadaku, terpaksa aku menerimanja, bila tidak........... bila tidak, karena bukan milikku, dengan sendirinja aku tidak mau,"

Sahut Tik Hun.

"Sebab kalau sembarangan mengambil milik orang, bukankah perbuatan itu mirip perampok dan pentjuri?" ~ Berkata lebih landjut, sikapnja mendjadi penuh semangat, sambungnja.

"Ting-toako, engkau tahu bahwa sebabnja aku didjebloskan kedalam pendjara ini adalah karena dipitenah orang. Selama hidupku sutji bersih, selamanja aku tidak pernah berbuat sesuatu kedjahatan."

Ting Tian meng-angguk2, katanja.

"Ja, bagus, bagus! Tidak pertjumalah aku mempunjai seorang kawan seperti engkau. Nah, pakailah badju ini dibagian dalam."

Tik Hun tidak enak untuk menolaknja, terpaksa ia membuka badju luarnja dan memakai badju kutang hitam itu dibagian dalam, lalu dirangkap pula dengan badju luarnja sendiri jang berbau apek lantaran sudah tiga tahun tidak pernah ditjutji.

Karena tangannja terbelenggu, dengan sendirinja sulitlah untuk berpakaian.

Tapi berkat bantuan Ting Tian jang merobek dulu lengan badjunja jang lama itu, badju kutang hitam itu mendjadi tidak susahlah untuk dipakainja.

Selesai membantu memakaikan badju kutang itu, kemudian Ting Tian berkata.

"Tik-hiati, badju ini adalah badju mestika jang kebal sendjata, jaitu dibuat dari sutera ulat hitam jang tjuma terdapat di Tay-swat-san. Terang keparat itu adalah tokoh penting dari Swat-san-pay, makanja dia memakai badju kutang Oh-djan-kah pusaka ini. Hahahaha, dia mengintjar mestika kesini, tak tahunja malah mengantarkan mestikanja."

Mendengar badju hitam itu adalah badju mestika, tjepat Tik Hun berkata.

"Toako, musuhmu sangat banjak, seharusnja badju ini engkau pakai sendiri untuk melindungi badanmu. Pula setiap tanggal 15............."

Namun Ting Tian lantas gojang2 tangannja, katanja.

"Aku mempunjai ilmu pelindung badan Sin-tjiau-kang, tidak membutuhkan ‘Oh-djan-kah’ ini. Tentang siksaan setiap tanggal 15, ha, memang aku sukarela menerimanja, kalau mesti memakai badju pusaka ini malah akan menundjukan ketidak tulusnja hatiku. Tjuma sedikit penderitaan kulit-daging sadja kenapa mesti dipikirkan, toh tidak sampai merusak otot-tulang."

Tik Hun ter-heran2 oleh djawaban itu. Selagi ia ingin tanja, tiba2 Ting Tian berkata pula.

"Meski aku minta engkau menjaru sebagai aku jang penuh berewok, tapi aku masih kuatir tidak sempurna melindungi engkau dari samping. Namun sekarang sudahlah baik, engkau sudah pakai badju pusaka, aku tidak kuatir lagi. Marilah mulai sekarang djuga aku akan mengadjarkan kuntji dasar Lwekang padamu, harap engkau beladjar baik2."

Dahulu bila Ting Tian hendak mengadjarkan ilmu kepandaiannja kepada Tik Hun, dalam keadaan putus asa, pemuda itu berkeras tidak mau beladjar silat apa2 lagi.

Tapi kini sesudah tahu seluk-beluk dirinja sendiri telah dipitenah orang, seketika tekadnja ingin membalas dendam itu ber-kobar2 didalam dadanja, sungguh kalau bisa detik itu djuga ia ingin terus keluar pendjara untuk membikin perhitungan dengan si Ban Ka.

Dengan mata kepala sendiri Tik Hun telah menjaksikan Ting Tian membinasakan djago2 silat sebanjak itu dengan begitu mudah, ia pikir asal dirinja mampu beladjar 3 atau 4 bagian dari kepandaian Ting-toako itu sudahlah tjukup untuk melolos dari pendjara dan membalas sakit hati.

Saking kusut pikirannja waktu itu, Tik Hun mendjadi se-akan2 tersumbat mulutnja, ia berdiri termangu dengan muka merah membara dan darah bergolak.

Ting Tian menjangka pemuda itu tetap tidak ingin beladjar Lwekang jang akan diadjarkan olehnja itu, selagi dia hendak memberi nasehat lebih djauh, tiba2 Tik Hun terus berlutut kehadapannja sambil menangis ter-gerung2, katanja.

"Ting-toako, baiklah engkau mengadjarkan kepandaianmu padaku, aku akan menuntut balas, aku pasti akan membalas sakit hatiku!"

Maka ter-bahak2lah Ting Tian hingga suaranja menggetarkan atap rumah, katanja.

"Hendak membalas dalam, apa susahnja?"

Dan sesudah perasaan Tik Hun tenang kembali, barulah Ting Tian mulai mengadjarkan pengantar ilmu Lwekang jang hebat itu.

Tik Hun sangat giat beladjar, sekali diberi petundjuk, segera ia melatihnja tanpa mengenal tjapek.

Melihat ketekunan pemuda itu, Ting Tian mendjadi geli, katanja dengan tertawa.

"Untuk mejakinkan Sin-tjiau-keng jang tiada tandingannja itu masakan kau sangka begitu gampang? Aku sendiri kebetulan ada djodoh serta dasar Lwekangku memang sudah kuat, makanja dapat mejakinkannja dalam 12 tahun. Orang beladjar memang perlu giat, Tik-hiati, tapi terlalu tjepat mendjadi djelek malah, maka harus madju setindak-demi-setindak dengan teratur. Hendaklah tjamkan utjapanku ini."

Walaupun sebegitu djauh Tik Hun masih memanggil "Toako"

Kepada Ting Tian, tapi dalam hatinja kini sebenarnja sudah menganggapnja sebagai "Suhu", apa jang dikatakannja pasti diturutnja.

Tapi rasa dendam dalam hatinja bergolak bagai ombak mendampar, mana dapat suruh dia tenang begitu sadja?

Besok paginja kembali geger pula ketika petugas2 bui melihat ke-17 rangka majat dipelataran pendjara itu, segera hal itu dilaporkan kepada atasannja dan baru sore harinja majat2 itu digotong pergi.

Ting Tian dan Tik Hun mengaku bahwa orang2 itu saling bunuh-membunuh sendiri, sipir bui pertjaja penuh pengakuan itu karena mereka berdua tetap terbelenggu kaki dan tangannja, tidak mungkin orang terbelenggu dapat membunuh 17 orang sekaligus.

Petangnja, kembali Tik Hun melatih diri menurut adjaran Ting Tian.

Pengantar dasar "Sin-tjiau-kang"

Itu ternjata sangat mudah, tapi makin lama mendjadi makin sulit.

Meski Tik Hun bukan anak pintar, tapi djuga tidak terlalu bodoh.

Setelah melatih satu-dua djam, lambat-laun perutnja sudah merasa ada reaksi.

Sedang tegang perasaannja, mendadak dada dan punggungnja berbareng se-akan2 kena dihantam sekali dengan sangat keras.

Begitu keras kedua hantaman dari muka dan belakang itu hingga mirip gentjetan dua batang godam besi, seketika Tik Hun merasa matanja ber-kunang2 dan napas sesak, hampir2 ia djatuh kelenger.

Setelah rasa sakitnja agak reda, waktu ia mementang matanja, ia lihat dikanan-kirinja sudah berdiri seorang Hwesio, waktu menoleh, ternjata dibelakangnja dan disamping djuga terdapat pula tiga Hwesio lain, djadi seluruhnja lima Hwesio telah mengepungnja di-tengah2.

Diam2 Tik Hun membatin.

"Ja, inilah lima musuh tangguh jang dimaksudkan Ting-toako itu, aku harus bertahan sekuatnja, djangan sampai penjamaranku diketahui."

Segera iapun ter-bahak2 dan berkata.

"Hahahaha, kelima Tay-su ini memangnja ada kepentingan apa mentjari aku orang she Ting?"

Hlm..Gambar. Tengah Tik Hun merasakan perutnja mulai timbul reaksi dari latihan Lwekang "Sin-tjiau-kang"

Jang sakti itu, se-konjong2 terasa dada dan punggungnja dihantam dari muka dan belakang dengan sangat keras.

Begitu hebat hantaman itu hingga matanja ber-kunang2, dadanja sesak dan hampir2 semaput.

Waktu sakitnja sudah mereda dan membuka mata, Tik Hun melihat lima Hwesio sudah mengelilingi dirinja.

Hwesio sebelah kiri itu lantas mendjawab.

"Dimana Soh-sim-kiam-boh itu, lekas serahkan! He, kau........... kau................"

Belum selesai utjapannja, tiba2 Hwesio itu sempojongan dan hampir2 terdjatuh.

Menjusul Hwesio kedua djuga memuntahkan darah segar.

Keruan Tik Hun sangat heran, ia tjoba memandang kearah Ting Tian dipodjok sana, tertampak Ting Tian sedang melontarkan pukulannja dari djauh, pukulannja itu tanpa suara tanpa wudjut, tapi Hwesio ketiga lantas mendjerit djuga dan terpental menumbuk dinding.

Kedua Hwesio jang lain tjukup tjerdik, tjepat merekapun menurutkan arah pandangan Tik Hun dan dapat melihat Ting Tian jang meringkuk dipodjok kamar jang gelap itu, berbareng mereka mendjerit kaget.

"He, Sin-tjiau-kang! Bu-eng-sin-kun!"

Segera Hwesio jang bertubuh paling tinggi diantaranja lantas menjeret kedua kawannja jang terluka tadi dan berlari keluar melalui lubang lankan.

Sedang Hwesio satunja lagi terus merangkul kawannja jang muntah darah, berbareng tangannja membalik menghantam kearah Ting Tian jang saat itu telah berbangkit dan sedang melontarkan pukulannja jang sakti dan tanpa wudjut itu.

Karena beradunja pukulan, Hwesio itu lantas tergetar mundur setindak, menjusul pukulan kedua orang saling bentur lagi dan dia mundur pula setindak, sampai pukulan ketiga, Hwesio itupun sudah mundur sampai diluar lankan besi.

Ting Tian tidak mengedjarnja, maka Hwesio itu tampak mulai ter-hujung2, tjuma beberapa langkah ia sanggup bergerak, habis itu tangannja lantas lemas hingga Hwesio jang dirangkulnja itu terdjatuh ketanah, lalu maksudnja seperti ingin melarikan diri sendiri, tapi setiap tindak, kakinja terasa semakin berat bagai diganduli benda beribu kati.

Sesudah melangkah 6 atau 7 tindak dengan susah pajah, achirnja ia tidak tahan lagi, ia terbanting ketanah dan tidak pernah berbangkit pula.

"Sajang, sajang!"

Udjar Ting Tian.

"Kalau engkau tidak memandang kearahku, pasti ketiga Hwesio itu takkan dapat melarikan diri."

Melihat kedua Hwesio itu sangat mengerikan matinja, Tik Hun mendjadi tidak tega, pikirnja.

"Biarlah ketiga Hwesio jang lain itu lari, sesungguhnja orang jang dibunuh Ting-toako djuga sudah terlalu banjak."

Melihat Tik Hun diam sadja, Ting Tian menanja pula.

"Kau anggap tjara turun tanganku terlalu kedjam bukan?"

"Aku.......... aku.........."

Mendadak Tik Hun merasa tenggorokannja se-akan2 tersumbat, ia djatuh mendoprok kelantai dan tidak sanggup berkata lagi.

Tjepat Ting Tian mengurut dada Tik Hun untuk mendjalankan pernapasannja, setelah diurut agak lama, barulah rasa sesak didada pemuda itu terasa longgar.

"Kau anggap aku terlalu kedjam, tapi begitu datang mereka lantas menghantam engkau dari muka dan belakang, pabila badanmu tidak memakai badju kutang pusaka, mungkin djiwamu sekarang sudah melajang,"

Demikian kata Ting Tian kemudian.

"Ai, hal ini adalah salahku sendiri terlalu gegabah dan tidak menduga bahwa begitu datang mereka terus menjerang. Aku tjuma menduga mereka pasti akan menanja dulu padaku. Ja, tahulah aku, sesungguhnja mereka djuga sangat djeri padaku, maka maksud mereka aku hendak dihantam hingga luka parah, habis itu barulah aku akan dipaksa mengaku."

Ia mengusap bersih berewok dimukanja Tik Hun, lalu berkata pula dengan tertawa.

"Sisa ketiga keledai gundul itu sudah petjah njalinja, pasti mereka tidak berani datang meretjoki kita lagi." ~ Kemudian dengan sungguh2 ia berkata.

"Tik-hiati, Hwesio jang paling tinggi itu bernama Po-siang dan jang gemuk itu bergelar Sian-yong. Jang pertama kali kena dipukul roboh itu paling lihay, namanja Seng-te. Kelima Hwesio itu berdjuluk ‘Bit-tjong-ngo-hiong’ (lima djago dari sekte Bin-tjong), ilmu silat mereka sangat tinggi, bila aku tidak menjergap mereka dari samping, belum tentu aku mampu melawan mereka. Kelak bila engkau ketemukan mereka di Kangouw, engkau harus hati2. Ja, tapi Ngo-hiong kini sudah tinggal Sam-hiong, untuk melajani mereka mendjadi djauh lebih gampang."

Oleh karena tadi Ting Tian banjak mengeluarkan tenaga murninja untuk menjerang musuh2 tangguh itu, untuk mana ia perlu bersemadi hingga belasan hari barulah tenaganja pulih kembali.

Sang waktu lewat setjepat anak panah, tanpa berasa dua tahun sudah lalu pula.

Selama itu keadaan aman tenteram, terkadang ada djuga satu-dua orang Kangouw jang bikin rusuh kekamar pendjara situ, tapi asal sekali ditjengkeram atau dipegang Ting Tian, dalam sekedjap sadja djiwa mereka lantas melajang.

Selama beberapa bulan paling achir ini Sin-tjiau-kang jang dilatih Tik Hun itu se-akan2 matjet, ia bertambah giat melatihnja, tapi ternjata tiada kemadjuan apa2, rasanja masih tetap seperti beberapa bulan jang lalu.

Biar otak Tik Hun kurang tadjam, namun dia mempunjai kemauan jang keras, ia tahu ilmu sakti jang tiada tandingannja didjagat itu tidak mungkin berhasil dilatihnja setjara mudah, maka ia melatihnja lebih tekun dan lebih sabar agar pada suatu waktu tjita2nja pasti akan tertjapai.

Pagi hari itu, sedang Tik Hun mendjalankan napas sambil berbaring seperti apa jang dilakukannja setiap bangun pagi, tiba-tiba didengarnja Ting Tian bersuara heran sekali, nadanja kedengaran rada kuatir pula.

Selang sedjenak, terdengar ia menggumam sendiri.

"Harini agaknja tidak sampai laju, boleh djuga diganti besok pagi."

Tik Hun heran, ia menoleh dan melihat Ting Tian sedang ter-mangu2 memandang djauh kepada pot bunga jang berada diambang djendela diatas loteng sana.

Sedjak Tik Hun mulai melatih Sin-tjiau-kang, indera penglihatan dan pendengarannja telah banjak lebih tadjam.

Maka begitu memandang segera ia melihat diantara tiga tangkai bunga mawar kuning jang mekar dipot bunga itu, satu diantaranja telah rontok satu sajap daun bunganja.

Sudah biasa ia melihat Ting Tian ter-mangu2 memandangi bunga jang mekar dipot itu selama beberapa tahun itu, ia pikir mungkin karena terlalu kesal terkurung didalam pendjara, hanja bunga jang elok dipot bunga itu dapat sekadar menghibur hati Ting Tian nan lara.

Namun djuga diperhatikan oleh Tik Hun bahwa bunga jang tumbuh dipot itu selalu mekar dengan segar dan senantiasa berganti, tidak sampai laju sudah diganti bunga lain djenis lagi.

Dimusim semi adalah bunga melati, musim rontok berganti bunga mawar dan begitu seterusnja, pendek kata siang-malam pasti ada satu pot bunga jang segar tertaruh diambang djendela itu.

Tik Hun ingat ketiga tangkai mawar itu sudah mekar dipot bunga itu selama enam atau tudjuh hari, biasanja selama itu pasti sudah diganti bunga jang lebih segar, tapi sekali ini ternjata tidak pernah diganti.

Hari itu dari pagi sampai malam Ting Tian tampak sangat kesal dan djengkel.

Sampai esok paginja, bunga mawar dipot itu masih tetap belum diganti, sedangkan daun bunganja sudah hampir habis rontok tertiup angin.

Lapat2 Tik Hun merasakan firasat jang kurang baik, ketika melihat pikiran Ting Tian semakin tidak tenteram, ia lantas berkata.

"Sekali ini orang itu telah lupa mengganti bunganja, mungkin sore nanti dia akan menggantinja."

"Manabisa lupa?"

Seru Ting Tian.

"Pasti tidak, pasti tidak lupa! Ja, apa barangkali ia.......... ia sakit? Tapi seumpamanja sakit, toh dia dapat suruhan orang mengganti bunga itu!"

Begitulah Ting Tian terus berdjalan mondar-mandir dikamar pendjara itu dengan wadjah jang muram dan perasaan tidak tenteram.

Tik Hun tidak berani banjak menanja, terpaksa ia duduk bersila untuk memusatkan pikiran dan melatih diri.

Petangnja tiba2 turun hudjan rintjik2, tertiup angin, kembali daun bunga mawar itu rontok beberapa sajap pula.

Selama beberapa djam itu Ting Tian terus memandangi bunga itu tanpa berkesip.

Setiap daun bunga itu rontok, rasanja se-akan2 menjajat hatinja.

Tik Hun tidak tahan lagi, segera ia menanja.

"Ting-toako, sebab apakah engkau tidak tenteram?"

"Peduli apa?"

Bentak Ting Tian dengan gusar.

"Tidak perlu usil!"

Sedjak dia mengadjarkan ilmu silat kepada Tik Hun, belum pernah dia bersikap sekasar itu.

Tik Hun mendjadi menjesal telah bertanja, maksudnja hendak berkata sesuatu pula untuk memberi pendjelasan, tapi demi nampak wadjah Ting Tian pe-lahan2 mengundjuk rasa pedih dan sangat berduka, ia urung buka suara pula.

Malam itu sedetikpun Ting Tian tidak pernah mengaso, Tik Hun mendengar dia mondar-mandir terus, rantai belenggunja tiada hentinja mengeluarkan suara gemerintjing, karena itu Tik Hun ikut tidak bisa tidur.

Esok paginja, angin meniup sajup2, hudjan masih rintjik2, dibawah tjuatja jang remang2 itu tertampak ketiga tangkai bunga mawar dipot bunga sana sudah rontok semua, tinggal ranting bunganja jang gundul se-akan2 menggigil kedinginan didampar angin dan air hudjan.

"Sudah meninggal? Sudah meninggal? Benarkah engkau sudah meninggal?"

Tiba2 Ting Tian ber-teriak2, ia pegang lankan besi dan di-gojang2kan terus. Saking tak tega, Tik Hun berkata pula.

"Toako, pabila kau kuatir kepada seseorang, marilah kita pergi mendjenguknja."

"Mendjenguk apa?"

Teriak Ting Tian mendadak.

"Kalau dapat pergi, sudah lama aku telah pergi, buat apa mesti menderita dalam pendjara berbau batjin ini?"

Karena tidak tahu seluk-beluknja perkara, Tik Hun hanja membelalak bingung, terpaksa ia bungkam sadja.

Sehari penuh hingga malam Ting Tian terus mendekap kepalanja sambil duduk termenung2 dilantai, tidak makan dan tidak minum.

Hari sudah malam dan malam semakin larut.

Kira2 tengah malam, pelahan2 berbangkitlah Ting Tian, katanja dengan suara tenang.

"Marilah sekarang kita tjoba pergi melihatnja, Tik-hiati."

Tik Hun mengia sambil berbangkit. Ia lihat Ting Tian telah pegang dua rudji lankan terus dipentang pelahan, maka melengkunglah rudji besi itu hingga tjukup untuk dibuat keluar-masuk.

"Angkatlah rantai belenggumu, supaja tidak mengeluarkan suara,"

Demikian pesan Ting Tian. Tik Hun menurut dan gulung rantai belenggunja terus ikut keluar. Sampai ditepi pagar tembok, sekali endjot, dengan enteng Ting Tian sudah melontjat keatas pagar itu.

"Melompat keatas sini!"

Serunja kepada Tik Hun dengan suara tertahan.

Tik Hun menirukan tjara orang dan melompat keatas.

Tak terduga sedjak otot kakinja dipotong dan tulang pundaknja tertembus, seluruh tenaganja sudah takbisa dikerahkan lagi.

Maka lontjatannja itu kurang lebih tjuma satu meter tingginja.

Untung Ting Tian tjepat meraup tangannja terus ditarik keatas pagar tembok, lalu mereka melompat kesebelah luar sana bersama.

Sesudah melintas pagar tembok itu, diluar pendjara terdapat pula selarik pagar tembok jang lebih tinggi, Ting Tian dapat melontjat keatasnja, tapi Tik Hun tidak sanggup lagi betapapun.

Karena tiada djalan lain, Ting Tian melompat turun kembali, ia tempelkan punggungnja memepet tembok, sekali ia mendengar dan mengerahkan tenaga, maka terdengarlah suara keresak-keresek jang pelahan, debu pasir bertebaran, menjusul batu batapun berdjatuhan.

Pandangan Tik Hun serasa kabur, tahu2 dinding pagar itu telah amblong berwudjut satu lubang bentuk manusia dan Ting Tiang sudah menghilang.

Kiranja Ting Tian telah menggunakan Sin-tjiau-kang jang maha sakti itu untuk membobol tembok dan orangnja sudah melesat keluar.

Kedjut dan girang Tik Hun, tjepat iapun menerobos keluar melalui lubang dinding itu.

Diluar ternjata adalah sebuah gang.

Dari djauh Ting Tian sedang menggape padanja.

Lekas2 Tik Hun berlari keudjung gang sana.

Agaknja Ting Tian sangat apal terhadap djalanan didalam kota Hengtjiu itu, setelah melintas sebuah djalan dan membiluk dua gang lain, sampailah mereka didepan sebuah bengkel pandai besi.

Ting Tian tempelkan tangannja kepintu dan mendorongnja sekali.

"pletak" , palang pintu didalam telah patah dan pintupun terpentang. Pandai besi rupanja sedang tidur didalam, ia mendjadi kaget dan melompat bangun sambil mendjerit.

"Maling!"

Namun Ting Tian keburu mentjekek lehernja sambil membentak tertahan.

"Diam! Lekas menjalakan api!"

Pandai besi itu tidak berani membangkang, segera ia menjalakan pelita.

Ketika melihat Ting Tian dan Tik Hun berambut pandjang dan penuh berewok, rupanja menakutkan, keruan lebih ketakutan dan tidak berani berkutik lagi.

"Tatah putus belenggu kami ini!"

Perintah Ting Tian pula.

Sipandai besi tahu kedua tamu tak diundang ini pasti adalah pelarian pendjara Tihu, kalau membantunja memahat belenggu mereka, bila kelak diusut dan diketahui oleh alat negara, tentu dirinja akan tersangkut.

Maka ia mendjadi ragu2.

Tiba2 Ting Tian menjambar sepotong besi, sekali ia remas, besi itu terus mengepal mendjadi satu bola.

Lalu bentaknja.

"Kau berani membangkang, apakah kepalamu lebih keras dari besi ini?"

Sungguh kedjut pandai besi itu bukan kepalang, disangkanja telah ketemukan malaikat dewasa, sebab dia tidak pertjaja manusia dapat meremas besi sekeras itu.

Dan kalau kepala sendiri benar2 diremas begitu rupa, wah, runjam.

Tjepatan sadja ia mengia terus mengeluarkan tatah dan palu.

Lebih dulu ia membuka belenggunja Ting Tian, kemudian Tik Hun.

Waktu Ting Tian melorot keluar rantai besi jang menembusi tulang pundak Tik Hun itu, saking sakitnja hampir2 pemuda itu djatuh kelengar.

Paling achir ia mendjadi ter-mangu2 sambil memegangi rantai putus jang bersedjarah itu, terkenang olehnja masa lima tahun kebebasannja terkekang dan baru sekarang rantai itu meninggalkan tubuhnja, ia mendjadi girang dan berduka pula hingga mengalirkan air mata.

Tik Hun simpan rantai putus itu kedalam badjunja, lalu ikut Ting Tian keluar dari bengkel besi itu.

Ia masih sempat melihat sipandai besi terus melemparkan kedua potong belenggu mereka jang ditatah itu kedalam tungku untuk digembleng, tentunja takut kalau meninggalkan bukti jang bisa bikin tjelaka padanja.

Terlepas dari kekangan belenggu berantai itu, Tik Hun merasa tubuhnja enteng sekali dan kurang biasa, beberapa kali hampir2 ia terdjungkal karena merasa kepalanja lebih antap daripada kakinja.

Tapi demi nampak Ting Tian berdjalan dengan kuat, bahkan makin lama makin tjepat, segera Tik Hun menjusulnja, ia kuatir ketinggalan terlalu djauh dalam kegelapan.

Tidak lama, sampailah mereka dibawah djendela dimana selalu tertaruh pot bunga itu, Ting Tian mendongak keatas dengan ragu2 hingga lama.

Tik Hun melihat daun djendelanja tertutup rapat, diatas loteng djuga sunji senjap.

Segera katanja.

"Bolehkah kutjoba melihatnja keatas situ?"

Ting Tian meng-angguk2 tanda setudju.

Segera Tik Hun memutar kepintu samping rumah bersusun itu, ia tjoba mendorong pintunja, tapi terpantek dari dalam.

Sjukurlah pagar tembok disitu sangat pendek, satu dahan pohon Liu kebetulan mendjulur keluar dari sebelah dalam sana, sedikit Tik Hun melontjat, dapatlah ia menggandul diatas dahan itu terus melompat kedalam pagar tembok.

Pintu masuk kedalam rumah itu ternjata tidak dikantjing dari dalam, maka dapatlah Tik Hun masuk dengan leluasa, pelahan2 ia menaiki tangga loteng, dalam kegelapan terdengarlah suara tindakannja ditangga loteng itu.

Ia merasa kakinja se-akan2 terapung dan tidak leluasa.

Maklum selama lima tahun hidupnja tjuma boleh bergerak didalam sebuah kamar, selama itu tidak pernah mengindjak tangga.

Sampai di atas loteng, keadaan masih sepi njenjak, dibawah sinar bintang jang remang2, Tik Hun melihat disisi kiri ada sebuah pintu pula, pelahan2 ia masuk kesana.

Tiada sesuatu suara didalam kamar itu, jang terdengar hanja suara napas sendiri jang agak memburu.

Lapat2 ia melihat diatas medja ada sebuah tatakan lilin, ia me-raba2 diatas medja dan dapat menemukan batu ketipan api, dengan alat itu ia dapat menjalakan lilin.

Entah mengapaa, dibawah tjahaja lilin jang terang itu, mendadak Tik Hun merasakan keadaan jang sunji dan hampa.

Ternjata didalam kamar itu memang hampa alias kosong melompong, ketjuali sebuah medja, sebuah kursi, dan sebuah ranjang, benda lain tak tertampak lagi.

Hanja dirandjang itu tergantung kelambu putih, diatas randjang terdapat sebuah selimut dan sebuah bantal, diudjung randjang ada pula sepasang sepatu kain wanita.

Dari sepatu inilah baru bisa diketahui bahwa kamar ini adalah tempat tinggal seorang wanita.

Tik Hun tertegun sedjanak, kemudian ia memeriksa pula kamar kedua, disana lebih hampa lagi, bahkan medja-kursipun tidak ada.

Melihat gelagatnja perabor dalam kamar toh bukan baru sadja dikosongkan, tetapi memang sudah sedjak lama keadaan telah hampa begitu.

Tik Hun turun kembali kebawah dan tjoba periksa tempat2 lain, namun bajangan seorangpun tidak kelihatan.

Diam2 ia merasa keadaan demikian agak gandjil, segera ia keluar untuk memberitahukan kepada Ting Tian apa jang telah dilihatnja itu.

"Djadi keadaan sudah kosong, tidak sesuatu barang apa2?"

Ting Tian menegas.

Tik Hun mengangguk membenarkan.

Agaknja keadaan demikian memang sudah dalam dugaan Ting Tian, maka sama sekali ia tidak kaget atau heran.

Segera katanya."Marilah kita tjoba melihat kesuatu tempat lain lagi."

Suatu tempat lain jang dikatakn itu ternjata adalah sebuah gedung besar dengan pintu gerabang tjat merah, diluar pintu tergantung dua tenglong beesar, jang satu djelas tertulis "Kantor Kang-leng-hu"

Dan jang lain tertulis "Kediaman keluarga Leng."

Tik Hun mendjadi kaget, pikirnja"

"Ini adalah kediaman Tihu kota Kang-leng, Leng Dwe-su, untuk apakah Ting-toako datang kesini? Apakah hendak membunuhnja?"

Sambil meng-gosok2 tangan sendiri, tanpa bersuara Ting Tian terus melintasi pagar tembok gedung itu dan masuk kedalam.

Terhadap seluk-beluk rumah keluarga Leng itu Ting Tian seperti sudah sangat apal, ia menjusur kesana dan menerobos kesini seperti berdjalan didalam rumahnja sendiri sadja.

Setelah menjusur dua serambi pandjang, achirnja sampailah mereka didepan sebuah ruangan tertutup, mendadak Ting Tian rada gemetar, katanja kepada Tik Hun.

"Tik-hiati, tjobalah engkau masuk melihatnja dulu."

Tik Hun terus mendorong pintu ruangan itu, jang tertampak olehnja per-tama2 jalah api lilin jang terang benderang menjilaukan, diatas medja tersulut dua batang lilin sembahjangan, ternjata ruangan ini adalah tempat abu orang mati.

Sedjak mula Tik Hun memang sudah kuatir akan melihat ruangan abu, peti mati atau majat, achirnja benar2 telah dilihatnja sekarang.

Walaupun sudah dalam dugaannja, tidak urung ia merinding djuga.

Ketika diperhatikannja, ia lihat dimedja sembajang itu sebuah papan kaju tertulis.

"Tempat abu puteri kesajangan Leng Siang-hoa."

Dan pada saat itulah, tiba2 terasa angin berkesiur disampingnja, Ting Tian sudah memburu kedalam situ.

Terlihat ia kesima sedjenak didepan medja abu itu, kemudian ia terus menubruk keatas medja sambil meng-gerung2 menangis, teriaknja.

"Siang-hoa, o, Siang-hoa, engkau ternjata sudah mendahului aku."

Sesaat itu dalam benak Tik Hun timbul matjam2 pikiran, tindak-tanduk Ting-toako jang aneh dan menjendiri itu dengan tangisannja mendekap diatas medja itu telah membuat Tik Hun mendjadi paham duduknja perkara.

Tapi bila dipikir lebih teliti, ia merasa banjak djuga segi2 jang ruwet dan susah dimengerti.

Sama sekali Ting Tian tidak pikirkan bahwa dirinja adalah pelarian dari pendjara, iapun tidak peduli tempat itu adalah kediamannja tuan besar Tihu.

Tapi suara tangisannja makin lama semakin keras dan bertambah duka.

Tik Hun tahu pertjuma sadja menghibur sang Toako itu, maka dibiarkannja Ting Tian menangis se-puas2nja.

Lambat-laun Ting Tian menghentikan tangisannja, pelahan2 ia berbangkit dan membuka tirai dibelakang medja perabuan itu, maka tertampaklah sebuah peti mati jang masih baru, tanpa pikir lagi ia menubruk madju dan merangkul peti mati itu dengan kentjang, ia tempelkan pilinja keatas peti mati dan katanja dengan ter-guguk2.

"O, Siang-hoa, Siang-hoa! Mengapa engkau begitu tega meninggalkan daku? Sebelumnja mengapa engkau tidak memberi kesempatan padaku untuk melihat engkau sekali lagi?"

Tiba2 Tik Hun mendengar ada suara orang berdjalan mendatangi, beberapa orang sudah sampai diluar pintu ruangan itu, tjepat serunja.

"Toako, ada orang jang datang!"

Namun Ting Tian asjik tempelkan bibirnja untuk mentjium peti mati itu, sama sekali tak dipedulinja apa ada orang jang datang atau tidak.

Didahului oleh tjahaja obor jang sangat terang, masuklah dua orang sambil membentak.

"Siapakah jang bikin ribut disini?"

Menjusul kedua orang itu, masuk pula seorang laki2 setengah umur berdandan sangat mentereng, sikapnja sangat tjekatan. Ia memandang sekedjap kepada Tik Hun, lalu menanja.

"Siapakah engkau? Ada keperluan apa datang kesini?"

"Dan engkau sendiri siapa serta untuk apa datang kemari?"

Demikian Tik Hun balas menanja dengan penuh dongkol.

"Bangsat, barangkali matamu sudah buta, ja?"

Bentak kedua orang jang membawa obor tadi.

"Ini adalah Leng-taydjin dari Kang-leng-hu, tengah malam buta kau berani sembarang masuk kesini, tentu kau tidak bermaksud baik. Hajo lekas berlutut!"

Namun Tik Hun hanja mendengusnja sekali dan tidak menggubris lagi. Tiba2 Ting Tian mengusap air matanja, lalu menanja.

"Hari apakah wafatnja Siang-hoa? Ia menderita sakit apa?"

Tik Hun ter-heran2 mendengar suara pertanjaan sang Toako itu diutjapkan dengan nada jang tenang dan ramah. Leng-tihu memandangnja sekedjap, lalu katanja.

"Aha, kukira siapa, tak tahunja adalah Ting-tayhiap. Tidak beruntung Siauli (putriku) meninggal dunia, penjakit apa jang dideritanja tabib pun takbisa menerangkan, hanja dikatakan Siauli terlalu menanggung rasa sedih jang tak terhapus."

"Dan dengan demikian tertjapailah tjita2mu bukan?"

Kata Ting Tian dengan mendongkol.

"Ai, Ting-tayhiap, engkau sendiripun terlalu kepala batu,"

Sahut Leng-tihu dengan gegetun.

"Tjoba kalau sedjak dulu engkau mengatakan padaku, pastilah Siauli takkan meninggal gara2 kebandelanmu dan kitapun akan terikat mendjadi menantu dan mertua, bukankah hal itu akan sama2 baiknja?"

Mendadak sorot mata Ting Tian memantjarkan sinar kebentjian, teriaknja.

"Djadi kau anggap aku jang mengakibatkan matinja Siang-hoa dan bukan engkau sewndiri jang mentjelakainja?" --Sembari berkata ia terus mendesak madju selangkah. Namun Leng-tihu sebaliknja sangat tenang, sahutnja dengan menggojang kepala.

"Urusan sudah ketelandjur begini, apa jang bisa kuktakan lagi? Siang-hoa, o, Siang-hoa, dialam baka tentu djuga engkau akan menjalahkan ajahmu ini tidak dapat memmahami isi hatimu." ~ sambil berkata ia terus mendekati medja perabuan serta mengusap air matanja. Hlm 31. Gambar Melihat Ting Tian terantjam bahaja, tjepat Tik Hun melompat madju dan berhasil menawan Leng-tihu hingga begundalnja mati kutu dan tidak berani sembarangan bertindak.

"Hm, kalau harini aku membunuh kau, dialam baka tentu djuga Siang-hoa akan bentji padaku,"

Demikian kata Ting Tian dengan gemas.

"Leng Dwe-su, mengingat kebaikan puterimu, biarlah derita selama tudjuh tahun jang kau siksa atas diriku, sekaligus kuhapuskan sekarang djuga. Tapi kelak kalau engkau kebentur lagi tanganku, djanganlah engkau menjalahkan orang she Ting tidak kenal budi. Marilah, Tik-hiati, kita pergi!"

"Ting-tayhiap,"

Sahut Leng-tihu tiba2 menghela napas.

"sudah begini akibat perbuatan kita, apakah manfaatnja sampai sekarang.

"Kau boleh tanja pada dirimu sendiri, apakah engkau djuga merasa menjesal?"

Kata Ting Tian.

"Hm, engkau serakah dan senantiasa mengintjar Soh-sim-kiam-boh, hingga tidak sajang membikin tjelaka puterinja sendiri."

"Ting-tayhiap,"

Kata Leng-tihu pula.

"engkau djangan buru2 pergi, lebih baik engkau katakan lebih dulu tentang rahasia ilmu pedang itu dan segera kuberi obat penawarnja, supaja djiwamu tidak melajang pertjuma."

"Apa katamu? Obat penawar?"

Seru Ting Tian terkedjut.

Dan pada saat itulah tiba2 terasa pipi, bibir dan tangannja makin lama makin kaku dan lumpuh.

Sadarlah ia telah keratjunan, tapi mengapa sampai keratjunan, seketika iapun tidak tahu.

"Aku kuatir ada kaum pendjahat mungkin akan membongkar peti mati untuk menodai lajon puteriku jang sutji bersih itu, maka........."

Belum selesai utjapan Leng-tihu itu, maka tahulah Ting Tian duduknja perkara, serunja dengan gusar.

"Djadi engkau telah memoles ratjun diatas peti mati? Sungguh kedji amat engkau Leng Dwe-su!" ~ Berbareng ia terus menubruk madju dan mentjengkeram kearah Leng-tihu. Tak tersangka kasiat ratjun itu benar2 lihay luar biasa, seketika telah memunahkan tenaga orang dan menjesap ketulang. Sin-tjiau-kang jang sakti itu takdapat dikerahkan lagi oleh Ting Tian. Sambil berkelit, Leng-tihu lantas berseru memberi tanda, segera menerobos masuk pula empat laki2 bersendjata dan berbareng mengerubut Ting Tian. Sekali lihat sadja Tik Hun lantas tahu bahwa kepandaian empat orang itu adalah pilihan semua. Terlihat Ting Tian angkat sebelah kakinja hendak menendang pergelangan lawan jang sebelah kiri, sebenarnja tendangan itu sangat djitu dan tjepat, pasti sendjata golok orang itu akan terpental dari tjekalannja. Siapa tahu tenaga tendangannja itu mendadak lenjap sampai ditengah djalan, kedua kakinja tidak mau mendengar perintah lagi. Ternjata ratjun sudah menjerang sampai dikakinja. Kesempatan itu tidak di-sia2kan orang itu, goloknja membalik.

"tak" , punggung golok tepat mengetok dibetis Ting Tian hingga tulang remuk dan orangnja roboh. Tik Hun terkedjut, dalam kuatirnja ia tidak sempat lagi memikir, mendadak ia menubruk kearah Leng-tihu. Ia pikir djalan satu2nja harus menawan Leng-tihu sebagai barang djaminan, dengan begitu barulah djiwa Ting Tian dapat diselamatkan. Tak terduga ilmu silat Leng-tihu itu ternjata bukan kaum lemah, mendadak tangan kirinja memapak kedada Tik Hun, baik tenaganja maupun ilmu pukulannja terang golongan kelas tinggi. Namun Tik Hun sudah nekat, ia tidak menangkis djuga tidak berkelit, tapi tetap menubruk madju.

"Plak" , terang gamblang pukulan Leng-tihu itu mengenai dada sasarannja. Tapi aneh bin heran, Tik Hun sama sekali tidak bergeming dan tetap menerdjang madju. Sudah tentu Leng-tihu tidak tahu bahwa Tik Hun memakai "Oh-djan-kah"

Atau badju kutang dari sutera ulat hitam jang tidak mempan sendjata. Karena itu, ia malah menjangka ilmu silat Tik Hun tingginja susah diukur. Dalam kagetnja, tahu2

"Tan-tiong-hiat"

Didadanja telah kena dipegang oleh Tik Hun.

Dan karena madjikan mereka tertawan musuh, orang2 tadi mendjadi mati kutu dan tidak berani sembarangan bertindak.

Sekali berhasil serangannja, terus sadja Tik Hun menggendong Ting Tian sambil mentjengkeram kentjang2 Hiat-to berbahaja didada Leng-tihu itu.

Melihat madjikan hendak ditjulik, laki2 tadi mendjadi djeri dan serba susah, mereka mem-bentak2, tapi tidak berani sembarangan madju.

"Buang obor kalian dan padamkan api lilin!"

Bentak Ting Tian.

Terpaksa laki2 itu menurut, maka seketika ruang lajon itu mendjadi gelap gelita.

Sambil sebelah tangannja tetap mentjengkeram Leng-tihu dan diseret keluar, Tik Hun menggunakan tangan lain untuk menggendong Ting Tian, dengan tjepat ia lari keluar dari gedung pembesar itu.

Ting Tian jang memberi petundjuk djalannja, maka sebentar sadja sudah sampai dipintu taman.

Segera Tik Hun depak pintu itu hingga terpentang, entah darimana pula datangnja tenaga, terus sadja ia gendjot sekali se-keras2nja di "Tan-tiong-hiat"

Didada Leng-tihu, lalu ditinggalkannja untuk lari sambil menggendong Ting Tian.

Ia terus lari se-tjepat2nja dalam kegelapan.

Sebenarnja sebelumnja Leng Dwe-su sudah menduga Ting Tian pasti akan datang berziarah kepada lajon puterinja, maka sudah disiapkannja djago2 pilihan untuk menangkap Ting Tian.

Tak tersangka perhitungannja telah meleset satu tindak, jaitu tak terduga olehnja bahwasanja Ting Tian telah membawa serta seorang pembantu.

Selama dua tahun Tik Hun giat melatih Sin-tjiau-kang, walaupun belum dapat dikatakan ada sesuatu hasil jang hebat, tapi dalam hal tenaga dalam sudah djauh lebih madju dan kuat daripada dahulu.

Apalagi hantamannja ke Tan-tiong-hiat didada Leng Dwe-su itu dilakukan dalam keadaan kepepet, maka tenaganja mendjadi keras luar biasa.

Keruan tanpa berkutik Leng Dwe-su terus roboh menggeletak.

Ketika kemudian begundalnja memburu datang dan buru2 berusaha menolong madjikan mereka, maka tiada seorangpun jang sempat memikir pengedjarannja kepada Ting Tian dan Tik Hun.

Berada diatas gendongan Tik Hun, Ting Tian merasa anggota badannja makin lama makin kaku, tapi pikirannja masih tetap sangat djernih.

Terhadap djalanan didalam kota ia sudah sangat apal, maka ia jang menundjukan djalannja kepada Tik Hun membiluk kekanan dan menikung kekiri, achirnja dapatlah mereka meninggalkan pusat kota jang ramai dan sampai disuatu kebun luas jang tak terawat.

"Leng-tihu pasti akan memberi perintah pendjagaan rapat dipintu gerbang kota dan diadakan pemeriksaan keras, keadaanku sudah sangat pajah keratjunan, untuk keluar kota setjara paksa terang tidak dapat lagi,"

Demikian kata Ting Tian.

"Kebun besar ini katanja ada setannja hingga tiada berani dikundjungi orang, biarlah kita bersembunji sementara disini sadja."

Tik Hun menurut, ia meletakan Ting Tian dengan pelahan kebawah sebuah pohon Bwe (plum), lalu katanya.

"Ting-toako, ratjun apakah jang telah mengenai badanmu? Tjara bagaimana harus mengadakan pertolongan?"

Ting Tian menghela napas, sahutnja dengan tertawa getir.

"Djangan dipikir lagi, pertjumalah! Ratjun ini sangat djahat, namanja ‘Hud-tjo-kim-lian’ (teratai emas tempat duduk Budha), tiada obat penawar didunia ini jang dapat menjembuhkannja. Biarlah aku bertahan sebisanja, dapat hidup sedjam lebih lama akan kupertahankan sedjam."

Kedjut Tik Hun tak terhingga, serunja dengan gemetar.

"Apa ka …….. katamu? Tiada obat penawarnja? Engkau …….. engkau tjuma bergurau sadja bukan?" ~ Namun demikian, iapun tahu sekali2 Ting Tian tidak sedang berkelakar dengan dia. Ting Tian lantas ter-bahak2, katanja.

"Ratjun ‘Hud-tjo-kim-lian’ milik Leng Dwe-su ini terkenal sebagai ratjun nomor tiga djahatnja didunia ini. Njatanja memang tidak omong kosong! Hahaha, dia benar2 tjukup sabar, sudah menunggu selama tudjuh tahun dan baru harini dia berhasil."

"Ting ……..Ting-toako, djangan …….. djangan engkau berduka,"

Udjar Tik Hun kuatir.

"Ja, selama masih ada kesempatan, masakah ……… masakah …….. ai, kembali gara2 wanita lagi, aku ………. aku djuga begitu, rupanja kita memang ……. memang senasib …… tapi engkau harus mentjari daja-upaja untuk menghilangkan ratjunmu ini ……… biarlah kupergi mentjari air untuk mentjutji badanmu jang terkena ratjun." ~ oleh karena pikirannja katjau, susunan kata2nja mendjadi tak keruan dan tak teratur. Ting Tian menggeleng kepala, katanja.

"Sudahlah, usahamu akan sia2 sadja. ‘Hud-tjo-kim-lian’ ini kalau ditjutji dengan air, seketika kulit daging jang keratjunan akan membengkak dan membusuk, matinja akan lebih mengerikan. Tik-hiante, banjak sekali ingin kukatakan padamu, hendaklah engkau djangan sibuk dan bingung, sebab kalau kau bingung, mungkin akan mengatjaukan pikiranku hingga kata2 penting jang hendak kuberitahukan padamu ada jang terlupa. Waktunja sekarang sudah mendesak, aku harus lekas mentjeritakan padamu, maka lekas engkau duduklah jang tenang dan djangan mengganggu tjeritaku?"

Terpaksa Tik Hun menurut dan duduk disamping Ting Tian, akan tetapi betapapun hatinja susah ditenangkan.

"Aku berasal kota Hengbun, keturunan keluarga Bu-lim,"

Demikian Ting Tian mulai menutur dengan sangat tenang, ja, tenang dan wadjar, se-akan2 jang ditjeritakan itu adalah urusan orang lain jang tiada sangkut-paut apa2 dengan dirinja.

"Ajahku djuga seorang tokoh persilatan jang rada terkenal disekitar Oulam dan Oupak. Dasar ilmu silatku masih lumajan djuga, ketjuali adjaran dari orang tua, aku pernah mendapat didikan pula dari dua orang guru lain. Diwaktu mudaku, aku suka membela keadilan dan membasmi kedjahatan. Karena itu namaku lambat-launpun sedikit terkenal.

"Kira2 delapanbelas tahun jang lalu aku menumpang kapal dari Sutjwan menudju kemuara, sesudah lewat Sam-kiap (tiga selat dimuara sungai Tiangkang), kemudian perahu kami berlabuh ditepi Sam-tau-peng. Malamnja tiba2 kudengar ditepi pantai ada suara ribut orang berkelahi. Dasar watakku memang gemar silat, tentu sadja aku tertarik oleh perkelahian jang ramai itu dan melongok kepantai melalui djendela perahu.

"Malam itu bulan sedang memantjarkan sinarnja jang terang benderang hingga aku dapat melihat djelas pertarungan dipantai itu. Kiranja ada tiga orang sedang mengerojok seorang tua. Ternjata ketiga pengerojok itu sudah kukenal semua, mereka adalah tokoh Bu-lim jang terkenal didaerah Liang-ou (dua propinsi Ou, jaitu Oulam dan Oupak). Jang pertama bernama Ngo-in-djin Ban-tjing-san..........."

"He, itulah Supekku!"

Seru Tik Hun tanpa merasa, walaupun tadi ia telah dipesan djangan mengganggu tjerita Ting Tian.

Ting Tian hanja melototinja sekedjap, lalu meneruskan tjeritanja.

.........

dan jang kedua adalah Liok-te-sin-liong (naga sakti di daratan) Gian Tat-peng........"

"Ehm, dia adalah Djisupekku!"

Kembali Tik Hun menjela. Ting Tian tak menggubrisnja lagi dan tetap meneruskan.

"Dan jang ketiga memakai sendjata pedang, gerak-geriknja sangat gesit, itulah Tiat-so-heng-keng Djik Tiang-hoat."

"Ha, Suhuku!"

Seru Tik Hun sambil melontjat kaget.

"Ja, memang benar ialah gurumu,"

Kata Ting Tian dan menjambung pula.

"Aku sudah pernah beberapa kali bertemu dengan Ban Tjin-san, maka tjukup tahu ilmu silatnja sangat hebat. Melihat mereka bertiga saudara perguruan mengerojok seorang musuh, kujakin mereka pasti akan menang.

"Waktu aku perhatikan pula sikakek jang dikerubut itu, kulihat punggungnja sudah terluka, darah mengutjur terus dari lukanja itu. Ia tak bersendjata pula hingga tjuma menempur ketiga pengerojoknja itu dengan bertangan kosong. Akan tetapi ilmu silatnja ternjata djauh lebih tinggi daripada Ban Tjin-san bertiga. Bagaimanapun djuga mereka bertiga tidak berani mendekati sikakek.

"Makin lama aku melihat, makin penasaran hatiku, Ban Tjin-san bertiga selalu melontarkan serangan2 jang mematikan, se-akan2 sikaker itu harus mereka bunuh. Perbuatan mereka bertiga sesungguhnja tidak pantas, masakah tiga orang muda mengerubut seorang tua. Tapi sedikitpun aku tidak berani bersuara, kuatir kalau diketahui mereka hingga akan merugikan diriku sendiri. Sebab dalam urusan bunuh-membunuh dikalangan Kangouw seperti itu bila dilihat orang luar, bukan mustahil jang melihat itu akan dibunuhnja djuga agar rahasianja tidak tersiar. Setelah lama sekali pertarungan sengit itu berlangsung, darah jang mengutjur dari punggung kakek itu semakin banjak, tenaganja lambat-laut mendjadi habis. Se-konjong2 orang tua itu berseru.

"Baiklah, ini kuserahkan pada kalian!" ~ berbareng ia mengulur tangannja kedalam badju seperti sedang mengambil sesuatu. Buru2 Ban Tjin-san bertiga merubung madju, satu-sama-lain seakan2 kuatir ketinggalan redjeki.

"Diluar dugaan sikakek mendadak memukul kedepan dengan kedua telapak tangannja, karena terantjam oleh serangan itu, terpaksa Ban Tjin-san bertiga melompat mundur. Kesempatan itu telah digunakan oleh sikakek untuk berlari ketepi sungai, plung, ia menerdjun kedalam sungai, Ban Tjin-san bertiga tampak mendjerit terkedjut, tjepat mereka memburu ketepi sungai.

"Akan tetapi arus air jang mendampar dari arah Sam-kiap itu sangat derasnja, betapa kerasnja arus sungai dimuara Sam-tau-peng itu, hanja sekedjap sadja bajangan sikakek itu sudah lenjap. Tapi Suhumu masih belum putus asa, ia melompat keatas perahuku, ia sambar galah situkang perahu terus digunakan untuk mengaduk ketengah sungai. Sudah tentu hasilnja nihil alias nol besar! "

Lazimnja sesudah mematikan kakek itu, seharusnja Suhumu bertiga akan kegirangan.

Tapi aneh, wadjah mereka djusteru muram dan sangat menakutkan.

Aku tidak berani mengintip lebih djauh, tjepat aku merebahkan diri ditempat tidurku sambil berkerudung selimut.

Sampai lama sekali lapat2 aku mendengar mereka bertiga ribut mulut ditepi pantai, satu-sama-lain saling menjalahkan karena lolosnja musuh.

Sesudah suara ribut ditepi pantai lenjap dan menunggu mereka bertiga sudah pergi djauh, kemudian barulah aku berbangkit.

Pada saat itulah tiba2 kudengar situkang perahu diburitan sedang berseru kaget.

"Tolong, ada setan!" ~ Tjepat aku memburu keburitan dan melihat ada seorang jang basah kujup sedang merangkak, lalu menggeletak digeladak perahu. Itulah dia sikakek jang menerdjunkan diri kedalam sungai tadi. Rupanja setelah tjeburkan diri kedalam sungai, kakek itu lantas selulup kebawah perahu dan memegang kentjang dasar perahu dengan Tay-lik-eng-djiau-kang jang lihay, setelah musuh pergi, barulah dia keluar dari bawah air.

"Lekas2 aku memajang orang tua itu kedalam perahu, kulihat keadaannja sudah sangat pajah, napasnja kempas-kempis, bitjarapun takbisa lagi. Kupikir Ban Tjin-san bertiga boleh djadi masih belum putus asa dan akan datang kembali, atau mungkin djuga akan mentjari majat orang tua ini kemuara sungai sana. Terpengaruh oleh djiwaku jang suka menolong sesamanja dan membela keadilan, kupikir djiwa orang tua ini harus diselamatkan, dan agar djangan sampai dipergoki Ban Tjin-san bertiga segera aku minta situkang perahu mendjalankan perahunja kehulu sungai, menudju kearah Sam-kiap. Mendjalankan perahu menjongsong arus air jang deras, sudah tentu situkang perahu keberatan dan menolak, pula ditengah malam buta susah mentjari pandu kapal, menjusur kehulu Sam-kiap bukanlah suatu pekerdjaan mudah. Akan tetapi, hahaha, uang memang berkuasa. Setanpun dolan duit. Pendek kata, achirnja situkang perahupun menurut keinginanku.

"Aku membawa obat luka, aku lantas mengobati luka orang tua itu. Luka dipunggungnja ternjata sangat parah, bekas tusukan itu menembus paru2nja, teranglah luka separah itu tidak mungkin disembuhkan. Namun aku berusaha sekuat tenagaku untuk mengobatinja, segala apa aku tidak tanja padanja, sepandjang djalan aku membelikan arak dan makanan2 jang enak untuknja. Aku sudah menjaksikan ilmu silatnja dan dengan mata kepala sendiri melihat dia tjeburkan diri kedalam Tiangkang serta selulup dibawah air begitu lama, dari nilai kepandaiannja serta keperkasaannja itu sudah tjukup berharga bagiku unuk berkorban djiwa baginja.

"Setelah kurawat orang tua itu tiga hari, ia telah tanja memaku, lalu katanja dengan tertawa getir.

"Bagus, bagus!" ~ kemudian dikeluarkannja sebungkus kertas minjak dari badjunja dan diserahkan padaku. Tanpa pikir kukatakan padanja. ‘Silahkan Lotiang (bapak) beritahu dimana tempat tinggal sanak keluargamu, barang Lotiang ini pasti akan kuhantarkan padanja, djangan engkau kuatir " ~ Orang tua itu tidak mendjawab, sebaliknja tanja padaku.

"Tahukah kau siapa diriku?" ~ Aku mendjawab tidak tahu. Maka katanja pula. ‘Aku adalah Bwe Liam-seng.’ ~ Sungguh kedjutku tak terkatakan demi mengetahui siapa gerangan sikakek itu."

Dan ketika melihat Tik Hun mendengarkan tjeritanja itu dengan melongo tanpa mengundjuk sesuatu perasaan apa2, segera ia menegurnja.

"He, engkau tidak heran oleh nama orang tua itu? Siapakah Bwe Liam-seng itu, apakah engkau tidak tahu? Ialah Tiat-kut-bek-gok Bwe Liam-seng. Engkau benar2 tidak kenal nama itu?"

Tik Hun menggeleng kepala, sahutnja.

"Selamanja aku tidak pernah mendengar nama orang itu."

"Hehe, pantas sadja, sudah tentu Suhumu tak mungkin mengatakan padamu,"

Djengek Tiang Tian dengan tertawa dingin.

"Tiat-kut-bak-gok Bwe Liam-seng adalah tokoh Bu-lim terkemuka dipropinsi Oulam. Dia mempunjai tiga orang murid, jang tertua bernama Ban Tjin-san, murid kedua bernama Gian Tat-peng dan murid ketiga bernama........."

"Apa katamu Ting........ Ting-taoko? Djadi orang tua itu kakek-guruku?"

Seru Tik Hun.

"Ja, murid ketiganja memang Djik Tiang-hoat adanja,"

Sahut Ting Tian.

"Kagetku waktu mendengar dia mengaku sebagai Bwe Liam-seng djuga kurang kagetnja seperti engkau sekarang ini. Aku sendiri menjaksikan pertarungan sengit ditepi pantai dibawah sinar bulan purnama itu dan melihat betapa ganasnja Ban Tjin-san bertiga hendak mematikan guru mereka, maka tidak heran kagetku djauh diatas kagetmu sekarang."

Dengan tersenjum getir lalu Bwee-losiansing berkata kepadaku, ‘Muridku jang ketiga itu paling lihay, lebih dulu punggungku telah ditusuk olehnja setjara mendadak, terpaka aku menjeburkan diri kesungai untuk menjelamatkan diri.’ ~ Aku diam sadja, aku tidak tahu tjara bagaimana harus menghiburnja.

Kupikir mereka guru dan murid berempat saling gebrak dengan mati2an, tentulah disebabkan oleh sesuatu urusan jang maha penting, aku adalah orang luar, tidak enak untuk ikut tahu urusan dalam mereka, maka akupun tidak tanja lebih banjak.

Tapi Bwe-losiansing lantas berkata pula.

‘Didunia ini aku tjuma mempunjai tiga orang murid jang kuanggap sebagai anak sendiri.

Siapa duga demi untuk mengintjar sed

Jilid Kiam-boh, mereka tidak segan2 untuk membunuh guru.

Hehe, sungguh murid baik, murid pintar!

Kini Kiam-boh jang diintjar itu memang sudah kena mereka rebut, tapi apa gunanja kalau tidak ada Kiam-koat (tanda2 rahasia, kuntji daripada ilmu pedang) jang lebih penting itu?

Betapapun bagusnja Soh-sim-kiam-hoat masakah dapat menandingi Sin-tjiau-kang?

Biarlah sekarang djuga kukatakan Kiam-koat dari Soh-sim-kiam-hoat dan kuberikan djuga Sin-tjiau-keng (kitab ilmu pantjaran sukma) padamu, harap engkau melatihnja dengan baik2.

Pabila Sin-tjiau-kang berhasil engkau jakinkan, pastilah engkau tiada tandingannja didunia ini, maka djangan sekali2 salah mengadjarkan lagi kepada orang djahat, ~ demikianlah asal-usul aku mendapatkan Sin-tjiau-keng hingga berhasil kujakinkan seperti sekarang ini."

Selesai Bwe-losiansing berkata, tiada dua djam kemudian iapun meninggal.

Aku telah menguburnja ditepi pantai Bu-kiap (sehat Bu diantara Sam-kiap).

Waktu itu aku tidak sadar bahwa Kiam-boh dan Kiam-koat dari Soh-sim-kiam jang diperebutkan itu mempunjai latar belakang jang begitu penting, kusangka tjuma perebutan sed

Jilid kitab ilmu pedang diantara perguruan mereka, makanja tidak pikir harus mendjaga rahasia menginggalnja Bwe-losiansing, tapi aku telah mendirikan batu nisan diatas kuburannja dengan tulisan.

‘Disinilah kuburan Liang-ou-tayhiap Bwe Liam-seng’.

Dan djusteru karena batu nisan itulah telah mengakibatkan aku kebentur banjak kesukaran2 jang tiada habis2nja.

Segera ada orang mentjari keterangan mulai dari batu nisan itu, melalui situkang batu, tukang perahu dan achirnja dapat diketahui akulah jang mendirikan batu nisan itu, diketahui pula akulah jang mengebumikan Bwe-losiansing, dan dengan sendirinja mereka jakin barang tinggalan Bwe-losiansing pasti telah djatuh kedalam tanganku semua.

"Benar djuga, tiga bulan kemudian rumahku lantas kedatangan seorang Kangouw. Pendatang itu sangat sopan, tapi bitjaranja melantur dan ber-tele2 tak keruan udjung pangkalnja. Tapi sampai achirnja ketahuan djuga maksud tudjuan kundjungannja itu. Ia mengatakan ada sebuah peta tentang suatu harta karun berada dalam simpanan Bwe-losiansing, tentunja peta itu kini sudah berada padaku, maka aku diminta suka mengundjukan peta itu untuk dipeladjari bersama dengan dia, pabila harta karun itu dapat diketemukan, aku akan diberi tudjuh bagian dan dia tjukup tiga bagian sadja.

"Kupikir apa jang diberikan Bwe-losiansing padaku tjuma sematjam kuntji rahasia melatih Lwekang jang tinggi serta beberapa kalimat rahasia dari Soh-sim-kiam jang hanja terdiri dari beberapa angka sadja, ketjuali itu tiada apa2 lagi, masakan ada peta harta karun segala seperti apa jang dikatakan. Karena itu aku lantas mengatakan terus terang, tapi orang itu tetap tidak pertjaja dan minta aku undjukan kuntji rahasia ilmu silat itu padanja. Padahal waktu Bwe-losiansing menjerahkan warisannja itu kepadaku telah memberi pesan agar djangan sekali2 salah diadjarkan lagi kepada orang djahat. Dengan sendirinja akupun menolak permintaan orang itu. Maka dengan tidak senang pergilah orang itu. Tapi tiga hari kemudian ia telah menggerajangi rumahku ditengah malam hingga bergebrak dengan aku, achirnja pundaknja kulukai dan melarikan diri.

"Dan sekali beritanja tersiar, orang jang datang mentjari aku mendjadi semakin banjak, keruan aku kewalahan melajani mereka. Sampai achirnja Ban Tjin-san sendiri djuga datang menjelidiki diriku. Untuk menetap terus dirumah sendiri terang tidak aman, terpaksa aku harus menjingkir djauh2 dengan berganti nama dan tukar she. Aku menjingkir keluar perbatasan dan mengusahakan peternakan disana. Setelah lewat 7-8 tahun, setelah suasana agak reda, pula sudah sangat merindukan kampung halaman, maka diam2 aku menjamar dan pulang ke Hengbun. Siapa duga rumah tinggalku sudah lama dibakar orang mendjadi puing, baiknja aku memang tidak punja sanak-kadang apa2, dengan demikian aku mendjadi bebas malah dan tidak perlu memikirkan apa2 lagi.........."

Dengan bingung dan kusut pikirannja Tik Hun mengikuti tjerita Ting Tian tentang asal-usulnja Sin-tjiau-keng itu.

Hendak tidak pertjaja kepada apa jang dikatakan sang Toako itu, namun selama ini Ting-toako itu tidak pernah sekalipun bohong padanja, apalagi hubungan mereka sekarang sudah bagai saudara sekandung, untuk apa sang Toako mendustainja dengan sengadja mengarang dongengan2 bohong itu?

Tapi kalau pertjaja, masakah Suhu jang sangat dihormati dan dikenalnja sangat djudjur dan sederhana itu ternjata adalah seorang manusia jang begitu kedji dan tjulas?

Hlm.41.

Gambar "Dengan ter-mangu2 aku mengikuti djedjak nona tjantik itu hingga keluar dari taman pameran itu,"

Demikian Ting Tian mentjeritakan pengalamannja."

Ia lihat muka Ting Tian ber-kerut2, agaknja ratjun sedang mendjalar dengan hebatnja, maka tjepat katanja.

"Ting-toako, tentang perselisihan antara Suhuku dan Thaysuhu itu tidak perlu kupusingkan. Jang penting sekarang hendaklah engkau tjoba pikirkan apakah........... apakah ada sesuatu akal untuk menjembuhkan ratjun ditubuhmu?"

"Sudahlah, aku telah minta engkau djangan menjela tjeritaku hendaklah engkau mendengarkan dengan diam,"

Sahut Ting Tian dan melandjutkan tjeritanja.

"Sampai achirnja kira2 didalam bulan sembilan pada delapan tahun jang lalu, waktu itu aku berada dikota Hankau untuk mendjual sedikit Djinsom dan bahan obat lainnja jang kubawa dari Kwangwa. ).

"Pemilik toko obat jang suka membeli barang daganganku itu adalah seorang jang suka keindahan, selesai mengadakan transaksi dagang dengan aku, Ia lantas mengadjak aku pergi melihat ‘Kiok-hoa-hwe’ 2) jang terkenal dikota itu. Bunga seruni jang dipamerkan didalam Kiok-hoa-hwe itu ternjata sangat banjak dan terdiri dan djenis2 pilihan. Jang berwarna kuning antara lain terdapat djenis Ui-ho-ek, Kim-khong-djiok, Eng-ub-ui dan lain2; jang berwarna putih ada. Gwe-boh-tan, Tiau-Sian-pay-gwe dan matjam2 lagi; jang ungu terdapat. Tji-giok-lian, Tji-lo-lan, Tju-hte-sia, dan lain2 dan jang djambon terdapat. Ang-hun-wan, Se-si-hun, dan banjak lagi lainnja........"

Begitulah Ting Tian menguraikan nama2 bunga seruni dengan lantjar dan tanpa pikir se-akan2 djauh lebih apal baginja daripada nama2 gerak tipu ilmu silatnja.

Semula Tik Hun heran oleh pengetahuan Ting Tian jang luar dalam hal bunga seruni itu, tapi segera ia mendjadi teringat bahwa Ting-toako itu memang seorang penggemar bunga.

Ia hubungkan pula dengan bunga segar jang selalu menghias didalam pot bunga jang tertaruh diambang djendela gedung bersusun itu, maka tahulah Tik Hun duduknja perkara, tentu Ting-toako ini dengan Leng-siotjia itu mempunjai kesukaan jang sama dan sama2 pula merupakan ahli bunga.

1) Kwangwa = diluar Kwan atau diluar perbatasan Jang diartikan Kwan adalah tembok besar jang merupakan perbatasan didjaman itu.

2) Kiok-hoa-hwe = pameran bunga Seruni.

Kegemaran bunga Seruni di Tiongkok sama halnja dengan kegumaran bunga Anggrek dinegeri lain.

Waktu bertjerita tentang pameran bunga itu, tertampak Ting Tian selalu mengulum senjuman bahagia, sikapnja sangat ramah dan lemah lembut.

Terdengar ia melandjutkan tjeritanja.

"Sungguh menawan hati pameran bunga Seruni itu sembari menikmati akupun tidak habis2nja memudji dan menjebut nama2 bunga jang dipamerkan itu. Tapi dimana ada jang djelek, akupun lantas memberi penilaian jang tegas. Habis menikmati bunga2 itu, ketika hampir keluar dari taman pameran, aku telah berkata kepadaku kawanku sipemilik toko obat itu.

"Pameran ini boleh dikatakan sudahlah berhasil, tjuma sajang tidak terdapat Seruni warna hidjau.’ ~ Tiba2 kudengar suara seorang nona ketjil menanggapi utjapanku itu dibelakang. ‘Siotjia, orang ini tahu djuga kalau Seruni ada jang berwarna hidjau. Memangnja ‘Djun-sui-pek-poh’ dan ‘Lik-giok-dji-ih’ dirumah kita itu masakah dapat sembarangan dinikmati orang biasa?’ "

Tjepat aku menoleh, kulihat dibelakangku ada seorang gadis djelita sedang menikmati bunga Seruni jang dipamerkan itu.

Gadis itu memakai badju kuning muda, tjantik dan sederhana seperti Seruni dalam pameran itu.

Sungguh selama hidupku belum pernah kulihat seorang nona setjantik seperti itu.

Disampingnja tampak mengiring seorang pelajan ketjil berumur belasan.

Melihat aku berpaling dan memandangnja, Siotjia itu mendjadi merah mukanja, dengan pelahan ia berkata kepadaku.

‘Maaf tuan, harap djangan marah karena otjehan budak tjilik jang tidak tahu aturan ini’.

~ Seketika aku terkesima hingga sepatahkatapun aku tidak sanggup bersuara.

"Dengan ter-mangu2 aku mengikuti djedjak Siotjia itu hingga dia meninggalkan taman pameran itu. Melihat aku terkesima begitu rupa, kawanku sipemilik toko obat lantas berkata kepadaku. ‘Siotjia ini adalah anak gadis keluarga Leng-hanlim dikota Buhan (Budjiang dan Hankau) kita ini. Tentu sadja lain daripada jang lain bunga jang terdapat dirumahnja itu.’ "

Sekeluarnja dari taman pameran dan berpisah dengan kawanku, sepandjang djalan hingga sampai dikamar hotelku, dalam benakku waktu itu melulu terbajang kepada Siotjia jang tjantik itu sadja.

Lewat lohor, aku lantas menjeberang ke Budjiang, setelah tanja tempatnja, aku lantas menudju kerumah Leng-hanlim†.

Sudah tentu aku mendjadi ragu2, tidak mungkin aku † Hanlim = gelar udjian sastra djaman khala Beng dan Tjing masuk kerumah orang begitu sadja, padahal masing2 tidak kenal mengenal.

Maka aku tjuma mondar-mandir sadja didepan rumah, kulihat ada beberapa anak ketjil sedang memain dipelataran situ.

Hatiku dak-dik-duk berdepar2 dengan matjam2 perasaan, aku merasa girang dan merasa takut2 pula.

Aku memaki diriku sendiri jang semberono itu.

Tatkala itu usiaku sudah tjukup dewasa, tapi kelakuanku waktu itu mirip seperti pemuda remadja jang baru sadja untuk pertama kalinja djatuh kedalam djaring2 asmara!

"Tjara bagaimanakah Ting Tian berkenalan dengan Leng-siotjia hingga saling djatuh tjinta dan achirnja gugur bersama?

Benarkah Tiat-so-heng-kang Djik Tiang-hoat ~ itu gurunja Tik Hun ~ adalah seorang tjulas dan kedji?

Batjalah d

Jilid 3 D

Jilid Terkenang kepada masa pertemuannja dengan puteri Leng-hanlim dipameran bunga Seruni dahulu, wadjah Ting Tian menampilkan sematjam tjahaja jang aneh, sorot matanja djuga terang penuh semangat.

Tapi Tik Hun djusteru merasa kuatir kalau2 sang Toako itu mendadak kehabisan tenaga, maka katanja.

"Ting-toako, lebih baik engkau berbaringlah mengaso dengan tenang. Biarlah kupergi mentjari seorang tabib, aku tidak pertjaja bahwa engkau benar2 takdapat disembuhkan." ~ sembari berkata, terus sadja ia berbangkit hendak pergi. Tapi tjepat Ting Tian telah menarik lengannja dan berkata.

"Begini dandananmu engkau hendak pergi mentjari tabib, apa engkau mentjari kematian sendiri?" ~ dan setelah merandek sedjenak, lalu katanja pula sambil menghela napas.

"Tik-hiante, tempo hari waktu engkau mengetahui Sumoaymu sudah menikah dengan orang lain, saking menjesalnja sampai engkau hendak menggantung diri. Sumoaymu itu tak berbudi dan menghianati kau, tiada harganja engkau mesti mati baginja."

"Benar, selama beberapa tahun ini akupun sudah insaf,"

Sahut Tik Hun.

"Akan tetapi bila Sumoaymu benar2 tjinta padamu dan achirnja rela mati bagimu, maka engkaupun harus mati djuga baginja,"

Udjar Ting Tian. Mendengar itu, tiba2 Tik Hun mendjadi sadar, tanjanja segera.

"Djadi kematian Leng-siotjia itu adalah demi engkau?"

"Ja,"

Sahut Ting Tian tegas.

"Dia mati bagiku, maka sekarang akupun rela mati untuknja. Hatiku kini sangat senang. Tjintanja padaku sangat mendalam, aku ........ akupun sangat mentjintainja. Tik-hiante, djangankan ratjun jang mengenai tubuhku ini memang tiada obat jang dapat menjembuhkannja, sekalipun dapat disembuhkan djuga aku tidak mau diobati."

Se-konjong2 perasaan Tik Hun mendjadi hampa, timbul sematjam rasa duka jang sulit dilukiskan.

Jang utama sudah tentu disebabkan sedih menghadapi adjal sang Toako itu, namun dalam lubuk hatinja sebaliknja malah rada mengagumi keberuntungannja, sebab paling tidak didunia ini terdapat seorang gadis jang benar2 telah mentjintainja dengan hatinja jang sutji murni dan rela mati baginja, sebaliknja sang Toako itupun membalas tjinta murni kekasihnja dengan sama sutjinja.

Tetapi bagaimana dengan dirinja?

Ja, bagaimana dengan dirinja sendiri?

Melihat pemuda itu tepekur, pelahan2 Ting Tian memegang tangannja dan tenggelam pula dalam lamunannja pada masa jang lampau.

Kemudian tuturnja pula.

"Begitulah aku terus mondar-mandir selama beberapa djam didepan gedung Leng-hanlim itu hingga magrib sudah tiba masih tidak merasa lelah dan lupa lapar. Aku sendiripun tidak tahu sebenarnja apakah jang kuharapkan disitu?"

"Hari sudah mulai gelap, tapi aku tetap belum pikir untuk pergi dari situ. Tiba2 sadja dari pintu ketjil disamping gedung itu keluar seorang gadis ketjil dan menghampiri aku pelahan2, lalu bisiknja kepadaku dengan lirih. ‘Tolol, kenapa berada disini terus? Siotjia mengharapkan engkau pulang sadjalah!’ ~ Ketika kuperhatikan, eh kiranja adalah pelajan ketjil jang mengiringi Leng-siotjia waktu menonton pameran Seruni itu. Hatiku mendjadi ber-debar2, dengan ter-gagap2 aku mendjawab. ‘Ap....... Apa katamu?’ ~ Dengan tertawa pelajan ketjil itu berkata pula. ‘Siotjia telah bertaruhan dengan aku mengenai kapan engkau akan pergi dari sini. Sampai sekarang aku sudah menangkan dua tjintjin perak dan engkau masih belum mau pergi?’ "

Aku bergirang tertjampur gugup, tanjaku tjepat.

‘Djadi.....

djadi Siotjiamu sedjak tadi sudah tahu bahwa aku berada disini?’ ~ Pelajan tjilik itu tertawa, sahutnja.

‘Malahan sudah beberapa kali aku melongok keluar, tapi engkau tetap tidak mengetahui aku, rupanja semangatmu sudah terbang ke-awang2 bukan?’ ~ Habis itu, ia lantas putar tubuh hendak masuk lagi.

Tjepat kuberseru.

‘Nanti dulu, Tjitji!’ ~ Ia berpaling dan menanja.

‘Ada apa lagi?’ ~ Maka berkatalah aku.

‘Kata Tjitji, didalam gedung kalian ini terpelihara beberapa djenis Lik-kiok-hoa (seruni hidjau), maka aku sangat ingin melihatnja.’ ~ Gadis itu angguk2, ia tuding sebuah loteng berlabur merah diudjung belakang gedung itu dan berkata.

‘Baiklah, akan kusampaikan permintaanmu kepada Siotjia, pabila beliau meluluskan, tentu akan taruh bunga2 itu diatas ambang djendela diatas loteng berlabur merah itu!’ "Semalam suntuk itu aku duduk menunggu diluar gedung Leng-hanlim itu.

Sungguh Hokkhi-ku memang besar, Tik-hiante, esok paginja diambang djendela loteng jang dikatakan itu benar2 muntjul dua pot bunga Seruni berwarna hidjau pupus.

Kukenal Seruni salah satu pot itu bernama ‘Djun-tjui-pik-poh’ (air dimusim semi beriak menghidjau) dan pot jang lain bernama ‘Pek-giok-dju-ih’ (kemala jidjau sesuai keinginan).

Kedua pot bunga Seruni itu benar2 sangat indah, akan tetapi jang terpikir olehku hanja orang jang menaruh kedua pot bunga itu.

Itulah dia, kulihat dibalik tirai djendela itu ada sebuah wadjah jang paling tjantik didunia ini sedang mengintip kearahku, hanja separoh wadjahnja kelihatan, ia memandang sekedjap kepadaku, mendadak mukanja merah djengah terus menghilang dibalik tirai dan untuk selandjutnja tidak muntjul lagi."

"Tik-hiante, engkau tahu sendiri, begini djelek muka Ting-toakomu ini, gagah tidak, ganteng tidak, kaja tidak, pangkatpun tidak, mana aku berani mengharapkan tjinta seorang gadis setjantik itu? Akan tetapi sedjak itu setiap pagi aku pasti datang keluar taman keluarga Leng dan memandang ter-mangu2 hingga lama. Rupanja Leng-siotjia djuga tidak pernah melupakan daku, setiap hari ia pasti mengganti sebuah pot bunga jang segar dan ditaruh diambang djendela loteng."

"Keadaan begitu berlangsung lebih dari sembilan bulan, tidak peduli hudjan angin atau hudjan saldju, setiap pagi aku pasti pergi menikmati keindahan bunga, sebaliknja Leng-siotjia djuga tidak pernah mengenal bosan untuk selalu mengganti sebuah pot bunga jang segar lagi indah. Setiap hari ia tjuma memandang sekedjap padaku dan tidak lebih. Setiap kali memandang, tentu wadjahnja bersemu merah, lalu menghilang dibalik tirai. Dan setiap hari asal kulihat kerlingan matanja dan semu diwadjahnja, rasaku sudah puas dan bahagia untuk selamanja. Tidak pernah ia bitjara padaku, akupun tidak berani mengadjak bitjara padanja. Kalau mau, dengan ilmu silatku sebenarnja aku dapat melompat keatas lotengnja dengan sangat mudah. Akan tetapi selama itu sedikitpun aku tidak berani mengundjuk kekasaran padanja. Untuk menulis surat pernjataan tjinta padanja aku lebih2 tidak berani lagi."

"Suatu malam pada tanggal 5 bulan 2 dalam tahun itu, pondokku telah kedatangan dua orang Hweshio dan serentak aku diserang. Kiranja Hweshio2 itu telah mendapat kabar dan ingin merebut Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat dariku. Paderi2 itu adalah dua diantara kelima Hweshio dari Bi-tjong-ngo-hiong itu. Satu diantaranja telah kubinasakan tempo hari didalam pendjara dan telah disaksikan sendiri olehmu. Namun tatkala itu aku belum berhasil mejakinkan Sin-tjiau-kang, ilmu silatku djauh dibawah mereka, aku terluka parah dihadjar mereka, hampir2 djiwaku melajang, untung aku sempat sembunji ditengah onggok rumput dikandang kuda. Karena lukaku itu, aku mesti menggeletak selama lebih tiga bulan baru achirnja dapat paksakan diri berbangkit. Begitu aku dapat berbangkit, segera aku menggunakan tongkat dan datang keluar taman keluarga Leng dengan berintjang-intjuk. Akan tetapi aku mendjadi ketjewa, setiba aku disana, suasananja sudah berubah sama sekali. Kutjoba tanja tetangga disekitar situ dan mengetahui keluarga Leng itu sudah berpindah rumah pada tiga bulan jang lalu. Kemana pindahnja ternjata tiada seorangpun jang tahu."

"Tjoba bajangkanlah, Tik-hiante, betapa ketjewa dan pedih hatiku pada waktu itu sungguh djauh lebih hebat daripada ratjun jang mengenai badanku sekarang ini. Aku merasa heran, Leng-hanlim adalah tokoh kenamaan dikota Budjiang ini, kemana beliau berpindah rumah masakah sama sekali tiada jang tahu? Namun memang begitulah keadaannja, meski aku sudah menjelidiki kesana dan kesini, tidak sedikit aku korban harta dan tenaga, toh tetap tidak memperoleh sesuatu kabar apa2. Aku jakin dibalik kepindahan keluarga Leng setjara rahasia itu pasti ada sesuatu jang mentjurigakan, kalau bukan Leng-hanlim ingin menghindari datangnja musuh, tentu ada sebab2 lain jang luar biasa hingga mesti pindah rumah setjara mendadak. Dan setjara kebetulan jalah diwaktu aku terluka parah itulah, mereka lantas pindah rumah."

"Sedjak itu aku mendjadi seperti orang linglung, aku tidak dapat bekerdja dengan tenang, achirnja aku terluntang-lantung di-kangouw tanpa sesuatu pekerdjaan jang benar. Dasar redjekiku memang setinggi langit, suatu hari, ketika aku sedang minum disuatu kedai dikota Tiangsah, tanpa sengadja aku telah mendengar pertjakapan dua orang gembong Pang-hwe (perkumpulan rahasia) jang lagi berunding hendak pergi ke Hengtjiu untuk mentjari Ban Tjing-san, katanja hendak merebut Soh-sim-kiam-boh dari orang she Ban itu."

"Kupikir sebabnja Ban Tjing-san bertiga saudara perguruan tempo hari berani berdurhaka hendak membunuh guru mereka, pangkal utamanja adalah karena hendak merebut Kiam-boh jang dimaksudkan itu. Sebenarnja apa matjamnja Kiam-boh itu, aku mendjadi ingin melihatnja djuga. Maka diam2 aku menguntit kedua gembong Pang-hwe itu ke Kangleng (nama lain dari Hengtjiu pada djaman itu). Tjita2 kedua gembong Pang-hwe itu memang boleh djuga, tapi napsu besar tenaga kurang, begitu kepergok Ban Tjing-san mereka lantas keok dan kena ditangkap serta digusur kepada pembesar Kanglenghu. Karena iseng, aku ikut2 pergi melihat keramaian dalam pemeriksaan kedua pesakitan itu."

"Setiba didepan kantor Kanglenghu dan membatja papan pengumuman didepan kantor itu, sungguh girangku laksana orang putus lotre 10 djuta. Kiranja Leng-tihu itu tak-lain-tak-bukan adalah ajahnja Leng-siotjia, Leng Dwe-su adanja. Malamnja, diam2 aku membawa satu pot bunga mawar utk ditaruh didepan djendela diatas loteng belakang tempat tinggal Leng-siotjia, lalu aku menunggu dibawah loteng situ semalam suntuk. Esok paginja ketika Leng-siotjia membuka djendela dan melihat pot bunga itu, ia telah berseru kaget sekali, tapi segera iapun dapat melihat diriku. Sudah lebih setahun kami tidak bertemu dan masing2 sudah menjangka selama hidup ini takkan bersua kembali. Kini dapat berdjumpa lagi, sudah tentu sama2 girang tak terkatakan. Leng-siotjia memandangi aku sedjenak untuk kemudian menutup pula djendelanja dengan muka merah. Ketika hari kedua bertemu pula, mulailah ia buka suara, tanjanja padaku. ‘Apakah engkau djatuh sakit? Engkau telah banjak lebih kurus!’"

"Sungguh rasa bahagiaku waktu itu susah dilukiskan. Untuk hari2 selandjutnja hidupku bukan lagi hidup manusia, tapi lebih menjerupai hidup dewata disorga. Ja, sekalipun dewata rasanja djuga tidak sebahagia seperti aku pada waktu itu. Setiap malam, bila orang lain sudah pergi tidur, aku lantas mendatangi loteng Leng-siotjia untuk mengadjaknja keluar dan ber-djalan2 disekitar rimba pegunungan diluar kota Kangleng. Kami senantiasa bergaul setjara sopan, sedikitpun tidak pernah menjeleweng dari adat istiadat. Tapi segala isi hati kamipun dibitjarakan setjara terbuka, djauh lebih akrab daripada sobat karib umumnja."

"Pada suatu malam Leng-siotjia telah menuturkan suatu rahasia besar kepadaku. Kiranja ajahnja meski ikut udjian sastra dan mendapat gelar Hanlim, tapi sebenarnja adalah Toaliongthau (kepala) dari Liong-soa-pang jang sangat berpengaruh diwilayah Liang-ou (Ouwlam dan Ouwpak). Karena Leng-siotjia adalah dewi pudjaanku, dengan sendirinja akupun sangat menghormati ajahnja, maka akupun tidak heran oleh tjeritanja itu."

"Pada suatu malam lagi, kembali Leng-siotjia mentjeritakan padaku bahwa sebabnja ajahnja tidak mau mendjadi Hanlim jang dihormati tapi tanpa tugas itu, malahan sengadja membuang ber-laksa2 tahil perak dan dengan susah pajah menjogok pembesar pusat hingga ajahnja diangkat mendjadi Tihu dari kota Hengtjiu, dibalik itu sebenarnja memang ada sesuatu maksud tudjuan tertentu."

"Kiranja ajahnja telah memperoleh ilham dari kitab sedjarah jang pernah dibatjanja bahwa disesuatu tempat didalam kota Hengtjiu itu pasti terpendam suatu partai harta karun jang tak ternilai djumlahnja. Menurut keterangan jang dibatja, didjaman dynasti Liang (502 ~ 557) dimasa Lak-tiau atau Lam-pak-tiau (Tiongkok selatan dan utara, 420 ~ 581), setelah kaisar Liang-bu-te wafat oleh karena pemberontakan Hou Keng, tahta digantikan oleh Liang-bun-te, tapi kaisar ini ditewaskan pula oleh Hou Keng, kemudian pangeran Siang-tong-ong Siau Tik naik tachta dikota Kangleng dengan gelar Liang-goan-te. Tapi Liang-goan-te ini terlalu lemah dan tidak betjus mengurus negaranja, jang dipentingkan tjuma mengumpulkan harta-benda pribadi atas derita rakjat djelata, hanja tiga tahun ia mendjadi radja di Kangleng, tapi harta-benda jang dikeduknja sudah tak ternilai djumlahnja. Pada tahun ketiga itulah keradjaan Gui menjerang Kangleng dan Liang-goan-te terbunuh. Pada hari tamatnja Liang-goan-te itu, radja jang lalim itu telah membakar habis perpustakaan negara jang berisi kitab2 berharga tidak kurang dari 140 ribu d

Jilid djumlahnja.

Akan tetapi dimana ia menjembunjikan harta bendanja hasil pemerasan darah-keringat rakjat itu ternjata tiada seorangpun jang tahu.

Guna menjelidiki harta karun jang besar djumlahnja itu, panglima tentara Gui jang bernama Ih Kin telah menawan ber-ribu2 orang jang disangkanja tahu rahasia tempat harta karun itu disembunjikan, namun meski orang2 itu disiksa dan dibunuh toh tetap tiada sesuatu keterangan jang diperoleh.

Achirnja karena kuatir tempat pendaman harta karun itu dikemudian hari mungkin akan dikeduk oleh orang jang mengetahui, panglima kedjam itu tidak berbuat kepalang tanggung lagi, antero penduduk Kangleng lantas digiring semua ke Tiangan, jaitu ibukota keradjaan Gui.

Beratus ribu penduduk Kangleng itu belum lagi tiba di Tiangan sudah terbunuh atau dipendam hidup2 ditengah djalan hingga tiada seorangpun jang lolos.

Karena itulah, selama be-ratus2 tahun rahasia tentang harta karun itu tetap tidak terbongkar, dan lambat-laun tiada seorangpun jang tahu lagi."

"Menurut tjerita Leng-siotjia, ajahnja telah mengorbankan temponja selama 7-8 tahun untuk membongkar arsip sedjarah kota Kangleng serta mempeladjari segala tjatatan dan kitab kuno, maka dapatlah dipastikan bahwa harta karun jang dikumpulkan Liang-goan-te itu tentu dipendam di sesuatu tempat di sekitar kota Kangleng ini. Radja Liang-goan-te itu sangat kedjam, bukan mustahil setelah dia menjembunjikan harta-bendanja itu, lalu petugas2 jang mengetahui rahasianja itu terus dibunuhnja semua. Makanja Ih Kin, itu panglima tentara Gui, meski betapapun kedjamnja dia menjiksa rakjat untuk menjelidiki tempat harta karun itu dipendam, namun tetap tiada sedikitpun keterangan jang diperolehnja."

Mendengar sampai disini, satu-persatu tanda tanja jang meliputi hati Tik Hun mendjadi terdjawab dan terang. Tanjanja kemudian.

"Ting-toako, djika begitu, engkau tentu mengetahui rahasia tempat harta karun itu bukan? Makanja begitu banjak orang jang mentjari engkau kedalam pendjara, tentu karena merekapun ingin mendapatkan harta terpendam itu."

Ting Tian tidak mendjawab, dengan tersenjum getir ia meneruskan tjeritanja pula.

"Setelah mendengar tjerita Leng-siotjia itu, waktu itu aku merasa ajahnja sesungguhnja terlalu serakah. Dia sudah ‘Bun-bu-tjoan-tjay’ (serba pandai ilmu silat dan sastra), sudah kaja lagi berpangkat, kenapa masih mengintjar harta karun apa segala? ~ Kemudian ketika aku berbitjara tentang matjam2 kedjadian dan pengalaman Kangouw, dengan sendirinja akupun mentjeritakan padanja tentang peristiwa Ban Tjing-san bertiga saudara perguruan mengerojok guru mereka untuk merebut Kiam-boh ditepi sungai Tiangkang itu. Dengan terus terang akupun mentjeritakan tentang Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat jang kumiliki itu kepadanja."

"Dengan begitulah kami telah lewatkan hari bahagia selama setengahan tahun. Pada hari tanggal 14 bulan tudjuh tahun itu, Leng-siotjia telah berkata kepadaku. ‘engkoh Tian, hubungan kita ini betapapun harus dibitjarakan kepada Tiatia untuk minta persetudjuannja, habis itu kita tidak perlu lagi pakai sembunji2 seperti sekarang ini.........." ~ baru berkata sekian ia sudah lantas susupkan kepalanja kepangkuanku saking malunja."

"Maka aku mendjawab. ‘Tapi engkau adalah Djian-kim-siotjia (puteri bernilai ribuan emas, maksudnja puteri keluarga hartawan atau bangsawan), aku kuatir ajahmu akan memandang hina padaku.’ ~ Leng-siotjia menjahut. ‘Leluhurku sebenarnja djuga orang kalangan persilatan, hanja ajahku sekarang telah mendjadi pembesar negeri, dan akupun tidak bisa ilmu silat sedikitpun. Namun ajah paling sajang padaku, sedjak ibuku meninggal, setiap permintaanku pasti diluluskan oleh beliau.’ "

Mendengar utjapannja itu, sudah tentu girangku tak terkatakan.

Siang harinja aku biasanja tidur, tapi hari tanggal 15 bulan tudjuh itu sehari suntuk aku tidak dapat memedjamkan mataku barang sedetikpun.

Sampai tengah malam, kembali aku mendjumpai Leng-siotjia diatas lotengnja.

Begitu bertemu, dengan wadjah merah ia lantas berkata.

‘Kata ajah, segala apa terserahlah kepada keinginanku.’ ~ Keruan girangku melebihi orang putus lotre 100 djuta.

Saking senangnja sampai aku tak sanggup bersuara, untuk beberapa saat lamanja kami tjuma dapat saling pandang dengan tertawa.

"Kemudian kami bergandengan tangan turun dari loteng, sampai ditaman, dibawah sinar sang dewi malam jang terang benderang, tiba2 kulihat diantara bunga2 disitu telah bertambah beberapa pot bunga jang berwarna kuning indah bagai emas jang gemilapan. Bentuk bunga kuning itu rada mirip bunga teratai, tjuma lebih ketjil. Kami berdua memangnja adalah penggemar bunga, segera kami menghampiri bunga kuning itu untuk menikmatinja. Leng-siotjia ber-ketjak2 merasa heran dan menjatakan tidak pernah melihat bunga kuning seindah itu. Segera kami bersama mendekatkan hidung untuk mentjium bunga itu agar mengetahui sampai dimana bau harum bunga itu......."

Waktu mendengar tjerita sang Toako ber-djalan2 ditaman bunga dibawah sinar bulan purnama sambil tangan bergandeng tangan bersama sang kekasih, betapapun Tik Hun ikut kesemsem djuga, maklum semangat muda.

Tapi achirnja demi mendengar nada suara Ting Tian berubah berat dengan napas jang rada seram, mau-tak-mau Tik Hun mendjadi tegang djuga hingga dadanja serasa sesak, se-akan2 ditaman bobrok itu penuh dikelilingi setan iblis jang siap menubruk kepadanja.

Se-konjong2 teringat sesuatu nama olehnja, terus sadja ia berteriak.

"He, itulah bunga ‘Hud-tjo-kim-lian’!"

Udjung mulut Ting Tian menampilkan senjuman pahit. Selang agak lama barulah ia berkata pula.

"Njata engkau sudah tidak bodoh lagi. Selandjutnja engkau takkan mudah ditipu orang Kangouw pula, untuk mana bolehlah aku merasa lega."

Mendengar utjapan orang penuh mengandung rasa kasih sajang dan penuh perhatian melebihi saudara sekandung, Tik Hun mendjadi terharu hingga air matanja bertjutjuran. Katanja kemudian dengan gemas.

"Sipembesar andjing Leng-tihu itu kalau tidak...... tidak boleh puterinja diperisteri olehmu, sebenarnja ia bisa katakan sadja terus terang, tapi mengapa........... mengapa mesti memakai tipu sekedji itu untuk mentjelakai engkau?"

"Waktu itu darimana aku bisa mendapat tahu?"

Sahut Ting Tian.

"Darimana pula aku bisa mengetahui bahwa bunga kuning emas itu tak-lain-tak-bukan adalah Hud-tjo-kim-lian jang berbisa luar biasa itu? Dan begitu aku mentjium bau harum bunga itu seketika kepalaku terasa pening, sekilas kulihat Leng-siotjia djuga ter-hujung2 terus roboh, tjepat aku bermaksud membangunkan dia, tapi aku sendiripun tidak kuat berdiri pula. Selagi aku mengerahkan Lwekang dan mengatur napas untuk menahan serangan ratjun bunga itu, tiba2 dari sekitar situ sudah muntjul beberapa laki2 bersendjata. Aku tjuma sanggup bergebrak beberapa djurus dengan mereka, habis itu pandanganku mendjadi gelap, menjusul aku tidak tahu lagi apa jang terdjadi."

"Ketika aku sadar kembali, aku merasa kaki-tanganku sudah terbelenggu, bahkan Pi-pe-kut dipundak djuga sudah ditembus dengan rantai. Kulihat Leng-tihu dengan pakaian biasa sedang mengadakan pemeriksaan atas diriku, petugas2 jang berada disitu djuga bukan lagi petugas2 negara, tapi adalah anggota2 perkumpulan rahasianja. Sudah tentu sikapku sangat keras, kontan sadja aku memaki kalang kabut. Segera Leng-tihu memberi perintah begundalnja menghadjar aku, kemudian aku dipaksa harus menjerahkan Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat.......... Kedjadian selandjutnja tidak perlu lagi kutjeritakan, engkau sendiripun sudah tahu, jaitu setiap bulan tanggal 15 aku pasti diseret keluar untuk dihadjar dan memaksa aku menjerahkan Bu-keng (kitab ilmu silat) dan Kiam-koat (kuntji ilmu pedang). Tapi tetap aku tidak guris padanja. Sungguh kesabarannja memang luar biasa djuga hingga bertahan sampai sekarang."

"Tapi bagaimana dengan Leng-siotjia waktu itu? Mengapa dia tiak berdaja untuk menolong engkau?"

Tanja Tik Hun tjepat.

"Pula, kemudian setelah engkau berhasil mejakinkan Sin-tjiau-kang, engkau dapat pergi-datang dengan bebas, mengapa engkau tidak pergi mendjenguk padanja? Mengapa engkau terima menunggu pertjuma didalam pendjara sampai kematiannja?"

Begitulah serentetan pertanjaan Tik Hun mengenai Leng-siotjia.

Tapi saat itu Ting Tian sedang merasakan pening kepala jang luar biasa, tubuhnja se-akan2 enteng dan terapung di udara.

Ia ulur tangannja meraba dan memegang sekenanja seperti ingin mendapatkan sesuatu pegangan.

Segera Tik Hun angsurkan tangannja untuk memegang tangan Toako itu.

Tapi mendadak Ting Tian terkedjut dan mengipatkan tangannja sekuatnja sambil berseru.

"Tanganku beratjun, djangan menjentuh aku!"

Tik Hun terharu pula dan tjemas melihat keadaan sang Toako itu. Sesudah pening sebentar, pelahan2 Ting Tian dapat tenangkan pikirannja lagi, ia membuka mta dan menanja.

"Tadi kau omong apa?"

Tik Hun tidak mendjawab, tapi mendadak teringat sesuatu olehnja, tjepat ia menanja.

"Ting-toako, waktu itu apakah pernah terpikir olehmu bahwa Leng-siotjia itu mendapat perintah dari ajahnja dan sengadja menipu engkau untuk.........."

"Omong kosong!"

Bentak Ting Tian mendadak dengan gusar sambil angkat tangannja hendak menggablok.

Tik Hun insaf telah kelepasan omong, maka ia tidak berani menangkis, tapi rela menerima hadjaran sang Toako.

Diluar dugaan kepalan Ting Tian lantas berhenti ditengah djalan, ia melototi Tik Hun sedjenak dengan terkesima, kemudian menarik kembali kepalannja pelahan2, lalu katanja.

"Tik-hiante, rupanja engkau sendiri dihianati gadismu, maka kepertjajaanmu kepada kaum wanita didunia ini sudah hilang, untuk mana memang aku tidak dapat menjalahkan engkau. Tapi bila Siang-hoa benar2 diperintahkan ajahnja dengan menggunakan ‘Bi-djin-keh’ (tipu menggunakan wanita tjantik) untuk menipu Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat dariku, hal itu akan sangat gampang aku tertipu. Bahkan ia tidak perlu berkata apa2, tjukup asal bilang. ‘Ting-toako, berikanlah kitabmu Sin-tjiau-keng dan Soh-sim-kiam-koat kepadaku.’ ~ Bahkan dia boleh tidak usah buka suara, tjukup memberi isjarat atau menundjukan sedikit keinginannja sadja, kontan tanpa tawar2 pasti akan kuberikan segala apa jang dia minta. Aku takkan pusing apakah kitab itu akan diserahkannja kepada ajahnja, akan disedekahkan kepada pengemis dipinggir djalan atau akan dia sobek2 sebagai mainan kanak2, ja, sekalipun akan dia bakar, pasti aku takkan mengkerut kening sedikitpun. Ketahuilah, Tik-hiante, meski Bu-keng dan Kiam-koat itu adalah kitab mestika jang tak ternilai di dunia Bu-lim, tapi kalau dibandingkan diri Leng-siotjia, dalam pandanganku kitab2 mestika itu tidak lebih tjuma sebangsa sampah belaka. Huh, Leng Dwe-su pertjuma mendjadi seorang Bun-bu-tjoan-tjay, tapi hakekatnja adalah seorang jang goblok. Tjoba kalau dia suruh puterinja membuka mulut minta padaku, tidak mungkin aku menolaknja."

"Boleh djadi ia sudah pernah bitjara dengan Leng-siotjia, tapi Leng-siotjia tidak mau menurut,"

Udjar Tik Hun.

"Tidak mungkin,"

Sahut Ting Tian menggeleng kepala.

"Andaikan terdjadi begitu, pasti Siang-hoa takkan membohongi aku." ~ Ia menghela napas, lalu menjambung pula.

"Hm, manusia matjam Leng Dwe-su itu lebih mementingkan nama dan kedudukan, harta dan kekajaan, dengan djiwanja jang ketjil itulah dia angap setiap manusia didjagat ini djuga serupa dirinja jang tidak berpribadi, ia menjangka kalau menjuruh puterinja minta padaku, tentu aku akan menolaknja, sebaliknja maksud djahatnja mendjadi ketahuan hingga aku akan lebih waspada. Disamping itu ada pula suatu alasan. Seperti diketahui, dia adalah seorang Tihu keluaran Hanlim, tapi puterinja djusteru djatuh hati kepada seorang kasar seperti aku. Ia merasa terhina dan harus membunuh diriku."

"Sesudah aku tertangkap, antero badanku telah digeledah merata, tapi tiada sesuatu jang diketemukan, pondokku djuga tiak terluput dari penggeledahan teliti, namun djuga tidak diketemukan apa2. Sedjak itu tiap2 tanggal 15 tentu aku diseret keluar pendjara untuk disiksa dan ditanjai, sudah banjak sekali usaha mereka, segala budjukan manis dan kata2 madu sudah habis terpakai, segala paksaan dan antjaman djuga sudah dilakukan, tapi aku tetap bungkam. Ia pernah mengirim orangnja menjamar sebagai pesakitan dan dikurung sekamar dengan aku dengan tudjuan memantjing pembitjaraanku. Orang itu pura2 penasaran karena dipendjarakan tanpa berdosa, ia mentjatji-maki Leng Dwe-su adalah manusia djahat. Akan tetapi segera aku dapat mengetahui rahasia penjamarannja, tjuma sajang waktu itu aku belum berhasil menjakinkan Sin-tjiau-kang, tenagaku tidak seberapa besarnja, maka kurang keras kuhadjar dia." ~ berkata sampai disini udjung mulutnja menampilkan senjuman puas. Lalu melandjutkan.

"Nasibmu djuga djelek, telah banjak menderita hadjaranku setjara penasaran. Pabila engkau tidak bermaksud menggantung diri, boleh djadi sampai harini djuga sudah mati dihadjar olehku."

Sahut Tik Hun.

"Aku sendiri menanggung penasaran dan dipitenah orang, pabila tak ditolong Toako ....."

Tiba2 Ting Tian menggojang tangannja menjetop utjapan pemuda itu, lalu katanja.

"Pertemuan kita ini boleh dikatakan ada ‘djodoh’. Segala kedjadian didunia ini memang tak terlepas dari ‘djodoh’."

Sekilas ia melihat diudjung taman bobrok sana bertumbuh setangkai bunga ungu jang ketjil dan sedang tergontai oleh tiupan angin bagai hidup kesunjian disitu. Katanja segera.

"Petikanlah bunga itu!"

Tik Hun menurut, ia petik tangkai bunga itu dan menjerahkannja kepada sang Toako.

Sambil memandangi bunga ungu ditangannja itu, terbajang pula kedjadian2 dimasa lampau, pelahan2 Ting Tian menutur lagi.

"Setelah tulang pundakku ditembus rantai dan dipendjarakan, segala apa sudah dapat kupikirkan dengan djelas, kujakin Leng Dwe-su pasti akan menghabiskan njawaku. Sehari lebih tjepat kuserahkan Keng dan Koat*) jang dia inginkan itu, sehari lebih lekas pula aku akan dibunuh olehnja. Tapi kalau aku tetap bungkam, mengingat benda2 mestika jang diintjarnja itu tentu ia malah tidak berani membunuh diriku, sekalipun dihadjar dan disiksa, paling2 djuga tjuma melukai sedikit kulit sadja, untuk menamatkan njawaku rasanja masih sajang baginja."

"Pantas!"

Udjar Tik Hun.

"Makanja tempo hari waktu Toako suruh aku pura2 hendak membunuh engkau, seketika sipir bui mendjadi kuatir malah dan tidak berani berlaku se-wenang2 lagi kepada kita."

"Ja. Setelah lebih sebulan aku disekap dalam pendjara, saking gusar dan penasaranku, hampir2 aku mendjadi gila,"

Tutur Ting Tian pula.

"Pada suatu malam, datanglah seorang pelajan ketjil, ia adalah Kiok Yu (kawan seruni), itu dajang pribadi Leng-siotjia. Sebabnja aku dapat berkenalan dengan Leng-siotjia adalah gara2 utjapan dajang itu ditaman pameran seruni di Budjian. Aku tidak tahu betapa banjak Leng-siotjia memberi sogokan kepada sipir bui hingga Kiok Yu diperbolehkan menemui aku. Akan tetapi sepatahkatapun Kiok Yu ternjata tidak buka suara dan tiada membawakan sesuatu benda atau setjarik kertaspun untukku, melainkan menatap aku dengan ter-mangu2 sadja. Sipir bui itu membawa golok tadjam dan mengantjam dipunggung Kiok Yu. Maka tahulah aku bahwa sipir bui itu terang ketakutan atas perbuatannja menerima uang sogok, maka Kiok Yu tjuma diperbolehkan bertemu muka dengan aku, tapi dilarang berbitjara."

"Dengan terkesima Kiok Yu memandangi aku sedjenak, sampai achirnja iapun mengutjurkan air mata. Sementara itu sipir bui ber-ulang2 memberi tanda mendesaknja lekas keluar dari situ. Kiok Yu melihat dipelataran diluar kamar pendjara bertumbuh setangkai bunga seruni jang ketjil, ia terus memetiknja dan diangsurkan kepadaku melalui langkah besi, lalu ia tuding2 pula kearah djendela diatas suatu loteng dikedjauhan. Diatas ambang djendela itu ternjata tertaruh sebuah pot bunga jang segar. Aku mendjadi girang dan tahu bunga itu diletakan oleh Leng-siotjia disitu untuk menghilangkan rasa hampaku."

Kiok Yu tidak berani tinggal terlalu lama disitu, segera ia putar tubuh bertindak keluar.

Siapa duga baru sadja ia melangkah keluar pintu pendjara, tiba2 dari tempat jang tinggi menjambar datang sebatang panah.

"tjrat" , punggung dajang ketjil itu tepat tertembus oleh panah itu dan seketika menggeletak terbinasa. Njata Leng Dwe-su kuatir kalau ada kawanku jang mengatjau kependjara untuk menolong aku, maka di-mana2 disekitar pendjara itu sudah didjaga dengan kuat. Ketika panah kedua menjambar pula, sipir bui jang korupsi itupun tidak terluput dari kematian. Bagitulah djalan pikiran Leng-Dwe-su jang tjulas dan begitulah kedji rentjananja."

"Belum lagi bunga seruni ditanganku itu laju, ternjata Kiok Yu sendiri sudah tewas. Sungguh aku mendjadi ketakutan, takut kalau Leng Dwe-su mendjadi kalap hingga puterinja sendiripun dibunuhnja. Maka aku tidak berani membikin marah lagi padanja, setiap kali ia memeriksa aku pula, aku tjuma membudek dan membisu sadja dan tidak memakinja lagi. Hlm..Gambar.

".................... diluar dugaan, baru sadja Kiok Yu melangkah keluar kamar pendjara, mendadak dari tempat jang tinggi menjambar tiba sebatang panah dan tepat menembus punggung gadis itu............................."

"Kiok Yu telah mati bagiku, usianja masih sangat muda, semuda bunga jang baru mekar. Kalau bukan karena pengorbanannja itu, mana aku sanggup menahan derita selama beberapa tahun ini? Dan darimana aku bisa tahu bahwa bunga segar dalam pot jang tertaruh diambang djendela loteng itu adalah kerdjaan Siang-hoa untukku? Akan tetapi Siang-hoa tetap tidak mengundjuk muka, ia tidak pernah mengintip lagi barang sekedjap dari balik djendela itu. Sungguh aku merasa tidak mengerti apakah sebabnja? Terkadang aku mendjadi menjesalkan dia mengapa begitu tega padaku?"

"Maka aku bertambah giat melatih Sin-tjiau-keng dengan harapan selekasnja dapat terlatih tamat dan sempurna, lalu takkan terkekang lagi kebebasanku oleh belenggu itu. Kuharap bisa terlepas dari pendjara untuk membawa kabur Leng-siotjia dari kurungan ajahnja. Akan tetapi Sin-tjiau-keng itu mengutamakan kesadaran pikiran dan harus melatih dengan sewadjarnja, sedikitpun takbisa dipaksakan dengan tjepat. Achirnja djerihpajahku toh tidak ter-sia2, sampai beberapa hari sebelum engkau hendak menggantung diri barulah ilmu sakti itu berhasil kujakinkan. Selama ini hanja berkat bunga segar dalam pot jang setiap hari ditaruh diambang djendela loteng oleh Leng-siotjia itulah dapat sekedar menghibur hatiku nan lara. Dengan segala tipu-dajanja Leng Dwe-su tetap berusaha memantjing rahasiaku. Engkau dikurung sekamar bersama aku djuga termasuk tipu-dajanja. Ia tahu aku tidak mudah terdjebak oleh begundalnja jang disuruhnja menjamar kedalam kamar pendjara, maka sekali ini ia sengadja mendjebloskan seorang pemuda jang benar2 tak berdosa kedalam kamar pendjara dengan aku."

"Menurut perhitungannja, lama kelamaan tentu aku akan dapat mengetahui benar tidaknja engkau berdosa dan dipendjarakan. Pabila tahu engkau benar2 pemuda jang tak berdosa, dengan sendirinja aku akan anggap engkau sebagai kawan senasib serta membeberkan rahasiaku kepadamu. Mereka tidak berhasil mengorek sesuatu apa dari diriku, besar kemungkinan akan dapat mengorek dari mulutmu. Sebab engkau masih muda dan kurang pengalaman, djudjur dan polos, engkau akan mudah terperangkap oleh kepalsuan manusia djahat. Tak terduga oleh mereka bahwa sebegitu djauh aku djusteru mentjurigai dirimu. Ja, oleh karena pengalamanku jang pahit, ditambah kematian Kiok Yu jang menjedihkan, maka kepertjajaanku kepada siapapun djuga sudah lenjap. Apa engkau mengira aku tidak pernah keluar dari pendjara? Ketahuilah bahwa pada hari Sin-tjiau-kang berhasil kuselesaikan, hari itu djuga aku lantas keluar pendjara. Tjuma sebelum pergi lebih dulu aku telah menutuk ‘Hun-sui-hiat’ (djalan darah membuat orang tak sadarkan diri) dibadanmu, dengan sendirinja engkau tidak mengetahui."

"Malam itu, ketika kulolos keluar pendjara, kusangka pasti akan menghadapi suatu pertarungan sengit. Tak terduga keadaan sudah berubah, mungkin sesudah sekian tahun, rasa waspada Leng Dwe-su kepadaku sudah lenjap, pendjagaan diluar pendjara sudah dihapuskan. Sudah tentu tak terduga sama sekali olehnja bahwa Sin-tjiau-kang jang kujakinkan ini bisa begini hebat, orang jang sudah ditembus Pi-pe-kutnja dan dipotong otot kakinja toh masih dapat menggunakan ilmu silatnja jang hebat."

"Sesudah aku sampai dibawah djendela loteng itu, hatiku ber-debar2 dengan keras sekali seperti kembali kepada perasaanku pada waktu untuk pertama kalinja aku bertemu dengan Leng-siotjia dibawah djendelanja dulu. Tapi achirnja aku memberanikan diri dan mengetok djendelanja perlahan2 sambil memanggil. ‘Siang-hoa!’ ~ Ia terdjaga bangun dari tidurnja terus berseru. ‘Ting-toako, Engkoh Tian, engkaukah jang datang? Apa aku bukan sedang mimpi?’ ~ Sesudah berpisah sekian lamanja dan kini dapat mendengar suaranja pula, sungguh girangku melebihi takaran, dengan suara gemetar aku menjahuti. ‘Ja, Siang-moay, akulah jang datang! Aku telah lolos keluar dari pendjara!’"

"Aku menunggu djendela itu dibuka olehnja, sebab biasanja diwaktu kami mengadakan pertemuan, selalu dia membukakan djendelanja dan barulah aku melompat masuk kedalam kamarnja, selamanja aku tidak pernah sembarangan masuk kekamarnja itu. Tak tersangka sekali ini dia tidak lantas membukakan djendelanja, tapi ia menempelkan mukanja diatas kertas penutup daun djendela sambil berkata dengan perlahan. ‘O, engkoh Tian, djadi engkau benar2 masih hidup dengan baik? Njata ajah tidak mendustai aku’ ~ ‘Ehm, ajahmu memang tidak mendustai kau,’ kataku dengan suara pedih. ‘Sampai saat ini djuga aku masih tetap sehat walafiat. Marilah, harap engkau membuka djendela, aku ingin melihat engkau.’ ~ Tapi tjepat ia mendjawab dengan gugup. ‘Tidak! Djang ..... djangan!’ ~ ‘Sebab apa?’ tanjaku dengan tjemas. Maka djawabnja. ‘Sebab aku sudah berdjandji kepada ajah. Beliau mendjamin keselamatan djiwamu, tapi untuk selamanja aku dilarang berdjumpa dengan engkau lagi. Ia mengharuskan aku bersumpah, suatu sumpah jang kedji bahwa pabila aku bertemu pula dengan engkau, arwah ibuku dialam baka akan tersiksa setiap hari oleh setan djahat,’ ~ berkata sampai disini, suaranja mendjadi sesenggukan. Sedjak ketjil ia sudah ditinggalkan ibundanja, maka tjinta kasihnja kepada mendiang ibunja boleh tidak usah diragukan lagi."

"Sungguh aku bentji kepada kekedjian Leng Dwe-su itu, dia tidak lantas membunuh aku adalah lantaran mengintjar kitab pusaka dariku, tapi apa sangkut-pautnja dengan Siang-hoa hingga puterinja itu diharuskan mengangkat sumpah sedjahat itu? Akan tetapi Siang-hoa sudah dipaksa mengutjapkan sumpah berat itu dan sumpah itupun telah melenjapkan segala harapanku. Namun aku tetap meminta. ‘Siang-hoa, marilah kita minggat sadja bersama. Tutuplah matamu dengan kain supaja tidak melihat aku untuk selamanja.’ ~ Ia menangis, sahutnja dengan ter-isak2. ‘Itulah ti ....... tidak mungkin, dan akupun tidak ingin engkau melihat aku pula.’ ~ Maka tertjetuslah rasa dendam jang memenuhi dadaku selama ber-tahun2 itu, seruku. ‘Sebab apa? Aku ...... aku harus melihat engkau.’" *) Keng = kitab. Kiam-keng = kitab peladjaran ilmu pedang. Kang = ilmu, kepandaian. Koat = tanda2 rahasia atau kuntji dari sesuatu ilmu. Kiam-koat = kuntji ilmu pedang. Hoat = ilmu. Kiam-hoat = ilmu permainan pedang.

"Mendengar nada suaraku agak lain, dengan lemah-lembut iapun berkata lagi. ‘Engkoh Tian, kutahu engkau telah ditawan ajah, ber-ulang2 akupun memohon beliau membebaskan dikau. Tapi semua permintaanku ditolaknja, bahkan aku lantas dipilihkan djodoh orang lain untuk mematikan tjintaku kepadamu. Ketika aku membangkang, ajah lantas hendak menggunakan kekerasan, maka....... maka aku telah menggurat mukaku sendiri dengan pisau.’"

Mendengar sampai disini, tak tertahan lagi Tik Hun berseru kaget dengan perasaan jang terguntjang hebat. Namun Ting Tian menjambung lagi.

"Betapa rasa terima kasih dan kasih-sajangku demi mengetahui kesetiaannja kepadaku. Terus sadja kuterdjang djendelanja hingga terpentang. Ia mendjerit kaget sekali dan tjepat memedjamkan kedua matanja sambil menutupi pula mukanja dengan tangan. Namun aku sudah dapat melihatnja dengan djelas. Selebar wadjah jang paling tjantik didunia ini kini sudah berubah sedemikian rupa bagai langit dan bumi bedanja, mukanja tergores malang-melintang belasan guratan pisau hingga dagingnja membalik keluar. Matanja jang djeli, hidungnja jang mantjung dan mulutnja jang mungil kini telah penuh dihiasi guratan2 tjodet merah bekas luka, wadjah jang tjantik bagai bidadari itu kini telah berubah seperti setan. Aku memeluknja dengan mesra. Biasanja Siang-hoa sangat sajang pada wadjahnja sendiri jang tjantik itu, pabila bukan disebabkan oleh laki2 sial seperti aku, mana dia mau merusak mukanja sedikitpun? Maka kataku. ‘Siang-hoa, ketjantikan lahir mana dapat membandingi ketjantikan batin? Engkau merusak muka sendiri untukku, dalam pandanganku engkau malah berpuluh kali, bahkan beratus kali lebih tjantik daripada dahulu.’"

"Ia menangis, katanja. ‘Keadaan sudah begini dapatkah kita hidup berdampingan lagi? Aku sudah berdjandji kepada ajah untuk selamanja tidak akan mendjumpai engkau lagi. Maka ........... Eangkoh Tian, haraplah engkau pergi dari sini sadja.’ ~ Aku insaf hal itu tak dapat ditarik kembali lagi, maka sahutku. ‘Siang-moay, aku akan kembali kedalam pendjara dan setiap hari akan kunikmati bunga segar didepan djendelamu ini.’ ~ Sebaliknja ia lantas merangkul leherku, katanja setengah meratap. ‘O, Engkoh Tian, djangan......... djangan engkau pergi!’"

"Begitulah kami saling berpelukan hingga lama dan tidak berbitjara pula. Ia tidak berani memandang aku, akupun tidak berani memandang dia. Sudah tentu bukan disebabkan aku tidak sudi kepada mukanja jang sudah djelek itu, tetapi....... tetapi, ja, mukanja sesungguhnja terlalu hebat rusaknja. Sampai lama dan lama sekali, dari djauh sudah terdengar ajam djago berkokok. Achirnja ia berkata pula. ‘Engkoh Tian, aku......... aku tidak boleh membikin susah ibuku jang sudah meninggal itu, maka...... maka selandjutnja djanganlah engkau datang menjambangi aku pula.’ ~ Aku mendjawab. ‘Apakah sedjak kini kita takkan berdjumpa pula?’ ~ Dengan menangis ia menjahut. ‘Ja, takkan berdjumpa pula. Jang kuharapkan hanja sesudah kita berdua meninggal dunia, semoga dapatlah dikubur didalam satu liang. Kuharap ada seseorang jang baik hati akan sudi melaksanakan tjita2ku ini, untuk mana dialam baka djuga aku akan berdoa untuk memberkatinja.’ ~ Aku berkata pula. ‘Siang-moay, aku mengetahui suatu rahasia besar, menurut tjerita orang Kang-ouw, katanja rahasia ini ada sangkut-pautnja dengan sesuatu harta karun. Rahasiaku ini disebut mereka Soh-sim-kiam-koat. Maka rahasia ini akan kuberitahukan padamu, engkau harus mengingatnja dengan baik2.’ ~ Ia menjahut tegas. ‘Tidak, aku tidak ingin mendengarnja, untuk apa aku mesti mengingatnja baik2?’ ~ Kataku. ‘Tapi engkau dapat mentjari seorang jang djudjur dan dapat dipertjaja untuk minta dia suka mengerdjakan tjita2 kita agar dikubur mendjadi satu liang, sebagai balas djasanja engkau akan beritahukan Kiam-koat ini kepadanja.’ ~ ‘Tapi selama hidupku sudah terang aku takkan turun dari loteng ini lagi, dengan matjamku ini mana dapat kutemukan orang pula?’ demikian ia menjahut. Tapi sesudah memikir sedjenak, segera katanja lagi. ‘Baiklah, katakanlah kepadaku. Engkoh Tian, betapapun aku ingin dikubur bersama dengan engkau. Biarpun aku harus memohon pertolongan orang dengan mukaku jang buruk ini, aku takkan takut.’ ~ Dengan begitu akupun lantas memberitahukan kepadanja tentang rahasia Soh-sim-kiam-koat, ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Sampai ufuk timur sudah remang2, fadjar sudah hampir menjingsing, barulah aku berpisah dengan dia dan kembali kedalam pendjara."

Utjapan Ting Tian itu makin lama makin berat hingga sampai achirnja suaranja semakin lirih dan hampir2 tak kedengaran.

"Ting-toako,"

Kata Tik Hun kemudian.

"djangan engkau kuatir, pabila terdjadi apa2 atas dirimu, aku pasti akan mengubur engkau bersama dengan Leng-siotjia. Tapi aku tidak mengharapkan balas djasamu tentang Kiam-koat apa segala, biarpun engkau akan memberitahukan kepadaku djuga aku tidak mau mendengarkan."

Wadjah Ting Tian menampilkan senjuman jang puas dan tulus, katanja.

"Saudara jang baik, tidak pertjumalah aku berkenalan dengan kau. Engkau berdjandji akan mengubur djenazah kami mendjadi satu liang, matipun aku dapatlah merasa lega. Sungguh aku merasa sangat girang.........." ~ lalu dengan bisik2 ia menjambung pula.

"Sebenarnja bila harta karun itu dapat engkau ketemukan, kujakin engkau pasti takkan menjelewengkan penggunaannja, tapi dapat dipakai untuk menolong sesamanja, untuk membantu kaum miskin, untuk menjokong kaum tertindas didunia ini. Orang2 jang menderita seperti aku, seperti engkau, seperti kita ini, didunia fana ini masih teramat banjak. Maka Soh-sim-kiam-koat ini bila engkau tidak mau mendengarkan, setelah aku mati, itu berarti akan musna untuk selamanja dan berarti pula suatu kerugian besar bagi kaum tertindas, bukankah sangat sajang?"

Tik Hun meng-angguk2 dan merasa utjapan sang Toako itu ada benarnja djuga.

"Makanja kuharap engkau sudilah mendengarkan rahasia Soh-sim-kiam-koat ini,"

Kata Ting Tian lebih djauh.

Ketika dilihatnja Tik Hun sudah siap dan mentjurahkan sepenuh perhatian untuk mendengarkan, segera ia meneruskan.

‘Nah, dengarkanlah jang baik2.

Kuntji daripada Soh-sim-kiam itu terdiri dari beberapa angka hitung sadja tapi bukan angka ‘buntut’, djangan engkau salah sangka.

Angka pertama adalah 4, angka kedua adalah 51, angka ketiga 33, dan angka keempat adalah 53 ............"

Tengah Tik Hun mendengarkan uraian itu dengan bingung, tiba2 terdengar suara tindakan orang mendatangi diluar taman bobrok itu. Seorang diantaranja sedang berkata.

"Hajolah kita tjoba memeriksa kedalam taman ini!"

Wadjah Ting Tian berubah seketika, tjepat ia melompat bangun.

Segera Tik Hun ikut melompat bangun djuga.

Ia lihat dari pintu belakang taman bobrok itu telah menerobos masuk tiga orang laki2 kekar.

Dua orang diantaranja bersendjata.

Ting Tian melirik sekali kepada ketiga orang itu, diam2 ia menghela napas gegetun, katanja didalam hati.

"Pabila aku belum keratjunan sedjahat ini, betapapun kuatnja ketiga kaki-tangan penguasa ini djuga akan kubereskan dengan Sin-tjiau-kang. Tapi kini aku tidak berani jakin kepada kemampuannja sendiri lagi. Apa barangkali Soh-sim-kiam-koat akan musna sedjak kini?" ~ Tapi dalam sekedjap sadja ia sudah ambil keputusan.

"Betapapun aku harus berdjuang mati2an."

Maka segera tanjanja kepada Tik Hun.

"Tik-hiante, keempat angka jang kukatakan tadi apa sudah kau ingat dengan baik?"

Tapi Tik Hun sendiri lagi kesima melihat ketiga musuh sudah mendesak madju dan telah mengurung mereka di-tengah2, jang seorang bersendjata golok dan jang lain bersendjata pedang, orang ketiga bertangan kosong, tapi bermuka paling litjik dan bengis.

Karena itulah ia mendjadi lupa untuk mendjawab pertanjaan Ting Tian tadi.

"Tik-hiante, engkau sudah ingat dengan baik belum?"

Kembali Ting Tian menggembornja. Karena itu, barulah Tik Hun terkedjut dan tjepat menjahut.

"Sudah, angka pertama adalah........"

Sebenarnja ia hendak mengatakan angka "4"

Itu, tapi segera teringat olehnja bahwa musuh sudah didepan mata, kalau dia berkata, bukankah akan didengar musuh?

Maka tjepat ia berdiri mungkur dan atjungkan empat djarinja kearah Ting Tian.

Dalam pada itu lelaki jang bersendjatakan golok sudah lantas berkata dengan tertawa dingin.

"Orang she Ting, betapapun engkau djuga terhitung seorang gagah, mengapa pada saat demikian ini engkau masih mengotjeh dan merengek seperti anak ketjil? Hajolah lebih baik ikut kembali dengan kami sadja, agar kita tidak saling menjusahkan."

Sedang kawannja jang memakai pedang lantas ikut bersuara.

"Tik-toako, sudah lama tidak berdjumpa, baik2kah engkau selama ini? Senang sekali bukan hidup didalam pendjara?"

Tik Hun terperandjat oleh teguran itu, ia merasa suara orang sudah pernah dikenalnja.

Waktu ia mengamat-amati orang, maka teringatlah dia.

Kiranja orang ini tak-lain-tak-bukan adalah murid kedua Ban Tjin-san jang bernama Tjiu Kin.

Sudah berpisah sekian tahun, kini Tjiu Kin telah piara kumis diatas bibir, ditambah pakaiannja perlente, maka Tik Hun mendjadi pangling.

Teringat Tjiu Kin adalah murid Ban Tjin-san dan termasuk salah seorang biangkeladi jang menjebabkan dirinja didjebloskan kedalam pendjara hingga menderita sampai kini, seketika Tik Hun mendjadi naik darah, dengan gusarnja terus sadja ia membentak.

"Hai, kukira siapa, tak tahunja adalah Tjiu........... Tjiu-djiko!"

Sebenarnja Tik Hun bermaksud menjebut langsung nama orang tapi achirnja urung dan tetap memanggilnja sebagai "Tjiu-djiko". Rupanja Ting Tian dapat meraba perasaan Tik Hun, ia berseru.

"Bagus!" ~ Ia pikir sebentar lagi pasti akan terdjadi pertarungan mengadu djiwa, pertarungan jang menentukan mati atau hidup, tapi Tik Hun toh dapat mengekang perasaan dendamnja kepada Tjiu Kin dengan memanggil "Tjiu-djiko"

Padanja, itu suatu tanda pemuda itu sudah tambah tjerdik dan bukan lagi orang kasar jang tahunja melulu hantam-kromo sadja. Lalu Ting Tian berkata pula.

"Hm, Tjiu-djiya ini tentunja adalah murid pilihan Ban Tjin-san, Ban-loyatju, bukan? Bagus, bagus, entah sedjak kapan Tjiu-djiya telah menghamba kepada Leng-tihu? ~ Ini, Tik-hiante, biarlah aku memperkenalkan padamu. Ini adalah tokoh terkemuka dari ‘Ban-sing-to’, Ma Tay-beng, Ma-toaya, orang memberi djulukan ‘Kiap-gi-khek’ kepadanja.’ "

Kiap-gi-khek (pendekar budiman)? Hm, indah amat djulukannja ini? Tapi entah tulen atau palsu, sesuai tidak perbuatannja dengan namanja?"

Djengek Tik Hun. Tentang hal itu, haha, aku tidak sanggup mengatakan,"

Kata Ting Tian dengan mengedjeknja.

"Dan jang itu adalah djago djebolan Siau-lim-pay, terkenal karena Tiat-sah-tjiangnja jang lihay dan bernama ‘Siang-to’ Kheng Thian-pa. Orang Bu-lim mengatakan telapak tangannja terlalu tadjam bagai sendjata, maka memberikan djulukan ‘Siang-to’ (sepasang golok) padanja. Padahal selamanja dia tidak pernah menggunakan sendjata."

"Bagaimana dengan kepandaian kedua tuan ini?"

Tanja Tik Hun.

"Hanja djago pilihan diantara djago2 kelas dua sadja,"

Sahut Ting Tian.

"Untuk bisa naik tingkat mendjadi kelas satu, ha, selama hidupnja tiada harapan."

"Sebab apa?’ tanja Tik Hun.

"Habis, bukan bahan dari kwalitet jang baik,"

Kata Ting Tian.

"Sudah tiada mendapatkan didikan guru pandai, bakat merekapun terlalu djelek."

Begitulah mereka bertanja-djawab seenaknja se-akan2 disamping mereka sudah tiada orang lain lagi.

Keruan hampir2 meledak dada Kheng Thian-pa dan Ma Tay-beng saking gusarnja.

Ma Tay-beng wataknja lebih sabar, ia tjuma mendengus sekali dan diam sadja.

Sebaliknja Kheng Thian-pa takdapat menahan gusarnja lagi, terus sadja ia memaki.

"Keparat, adjalmu sudah sampai, masih berani mengotjeh. Rasakan golokku ini!"

Apa jang dia katakan "golok"

Itu sebenarnja adalah telapak tangannja, tjuma tenaganja sangat kuat, asal kena ditubuh musuh, tadjamnja tidak kalah daripada golok badja.

Maka berbareng dengan bentakannja itu, terus sadja sebelah telapak tangannja memotong kearah Ting Tian.

Karena badannja keratjunan, Ting Tian tidak dapat lagi mengerahkan tenaga dalamnja dengan baik, maka ia tidak berani menangkis, melainkan mengegos untuk menghindar.

Tak terduga dalam hal Tjiang-hoat atau ilmu pukulan denga telapak tangan, Kheng Thian-pa itu memang benar2 lihay, sekali hantam luput, segera menjusul serangan kedua dengan menabas dari samping.

Ting Tian kenal serangan perubahan lawan itu, tjepat ia turunkan sebelah tangannja untuk menangkis.

Akan tetapi gajanja bagus, tjaranja tepat, hanja tenaganja kurang, hasilnja sama sekali diluar harapannja.

"Plok" , iganja tepat kena disabet sekali oleh telapak tangan Kheng Thian-pa. Tiat-sah-tjiang atau ilmu pukulan pasir besi dari Siauw-lim-pay memang benar2 tidak bernama kosong. Kontan Ting Tian sempojongan dan muntahkan darah segar.

"Nah, bagaimana? Aku hanja djago kelas dua, lantas kau kelas berapa?"

Demikian Kheng Thian-pa mengedjek dengan tertawa dingin. Ting Tian menarik napas dalam2 sekali, mendadak ia merasa djalan napasnja sangat lantjar. Kiranja setelah ratjun "Hud-tjo-kim-lian"

Jang djahat itu meresap masuk kedalam pembuluh darah, djalannja makin lama makin lambat.

Meski tadi ia memuntahkan darah dan luka dalam jang dideritanja sangat parah,tapi bekerdjanja ratjun untuk sementara mendjadi hilang malah.

Dalam girangnja, kontan sadja Ting Tian balas menjodokan sebelah telapak tangannja kedepan.

Ketika Thian-pa menangkis, mendadak Ting Tian memutar tangannja terus menampar keatas.

"plok" , tepat sekali pipi Thian-pa kena digampar. Menjusul tangan Ting Tian jang lain memutar pula dan menghantam.

"plak", kepala Thian-pa kena ditabok djuga sekali.

"Mati aku!"

Djerit Thian-pa ketika insaf kepalanja susah menghindarkan tabokan lawan itu.

Namun begitu, tjepat ia berusaha mendakan tubuh dan melangkah mundur.

Diluar dugaan kembali sebelah tangan Ting Tian menghantam lagi kedepan dan dadanja digendjot pula.

Kembali Thian-pa mendjerit.

"Aduuh!"

Dan tergentak mundur.

Melihat tiga kali serangan sendiri tepat mengenai tempat bahaja dibadan sasarannja, tapi musuh tidak roboh, hanja ter-hujung2 mundur.

Diam2 Ting Tian mendjadi tjemas, ia insaf tenaga dalamnja sudah banjak lenjap akibat keratjunan Hud-tjo-kim-lian itu.

Sebenarnja kalau Sin-tjiau-kang dapat mendorong kekuatan ketiga kali serangannja tadi, biarpun djago nomor satu didunia ini djuga akan binasa seketika oleh salah satu serangannja itu.

Tapi kini Kheng Thian-pa jang tjuma tergolong djago kelas dua ternjata sanggup menahan serangan2nja itu tanpa roboh, maka dapatlah dibajangkan keadaan Ting Tian jang sudah lemah itu.

Ting Tian sendiri tahu adjalnja sudah dekat, tapi kalau dirinja mesti dibinasakan oleh kerotjo seperti Kheng Thian-pa, sungguh ia sangat penasaran.

Diam2 ia berduka dan gelisah.

Sebaliknja Kheng Thian-pa sendiri sebenarnja sudah ketakutan dan merasa tak terhindar dari kematian ketika merasa muka, atas kepala dan dada kena dihantam lawan, padahal ketiga tempat itu adalah tempat2 berbahaja.

Namun ia tjuma ter-hujung2 mundur dan tidak terbinasa, ia mendjadi heran, tapi njalinja sudah petjah hingga untuk sementara ia tidak berani merangsang madju pula.

Segera Ma Tay-beng mengedipi Tjiu Kin sambil berseru.

"Tjiu-hiati, marilah kita madju bersama!"

Tjiu Kin mengiakan.

Sebenarnja ia merasa bukan tandingan Tik Hun, tapi mengingat dirinja sendiri bersendjata pedang, sedang lawan bertangan kosong, ditambah lagi djari tangan kanan pemuda itu dahulu sudah terpapas, otot kaki telah dipotong dan tulang pundak ditembus lagi, biarpun ilmu silat setinggi langit djuga takkan mampu dimainkannja.

Karena itulah Tjiu Kin mendjadi tabah, sekali pedangnja bergerak, terus sadja ia menusuk kepada Tik Hun.

Ting Tian tahu Sin-tjiau-kang jang dilatih Tik Hun itu belum djadi.

Ilmu silatnja kini malah belum setarap seperti waktu didjebloskan kedalam pendjara dulu.

Kalau mesti melawan Tjiu Kin dengan bertangan kosong, tentu djiwanja akan melajang pertjuma.

Segera ia bertindak, tjepat ia menggeser kesamping, dengan tangan kiri terus sadja ia hendak merampas pedangnja Tjiu Kin.

Gerak serangan Ting Tian itu sangat tjepat dan aneh luar biasa hingga sebelum diketahui Tjiu Kin, tahu2 ketiga djari Ting Tian sudah berhasil menggantol dipergelangan tangan murid Ban Tjin-san itu.

Keruan kedjut Tjiu Kin tak terkatakan, ia mengeluh sendjatanja pasti akan terlepas dari tjekalan dan tjelakalah dirinja.

Tak terduga meski djari musuh sudah kena pentjet diurat-nadinja ternjata Hiat-to pergelangan tangan itu tidak terganggu apa2.

Tanpa ajal lagi kesempatan itu digunakan Tjiu Kin untuk mengipatkan tangannja dan menjusul pedangnja membalik terus menusuk kedada kiri Ting Tian dengan tjepat.

Ting Tian menghela napas pandjang sekali dan berkata didalam hati.

"Ada tenaga takbisa dikerahkan, apa dajaku?" ~ namun begitu dengan mudah dapatlah serangan Tjiu Kin itu dihindarinja. Diantara ketiga penjatron itu, Ma Tay-beng adalah paling luas pengalamannja. Ia telah menjaksikan Ting Tian bergebrak dengan Kheng Tian dan Tjiu Kin, dalam pertarungan itu dua kali Ting Tian sudah diatas angin, tapi dua kali djuga tidak memperoleh kemenangan sebagaimana diduganja. Maka sesudah dipikir, segera tahulah dia apa sebabnja. Dari Leng-tihu ia diberitahu bahwa Ting Tian sudah keratjunan jang tiada obatnja, maka dapat diduga pasti ratjun dalam tubuhnja itu telah bekerdja hebat, maka tenaga dalamnja telah banjak berkurang. Achirnja Keng Thian-pa dapat mengetahui djuga keadaan Ting Tian jang sudah pajah itu, ia pikir makanan empuk jang tinggal ditelan sadja itu djangan sampai diganjang lebih dulu oleh kawannja. Begitu pula Ma Tay-beng djuga mempunjai pikiran jang sama, maka berbareng mereka terus menubruk madju.

"Huh, katanja djulukanmu adalah ‘Kiap-gi-khek’, tapi perbuatanmu ini apakah dapat dikatakan kelakuan seorang Kiap-gi?"

Bentak Tik Hun dengan gusar. Segera iapun mendjotos kearah Ma Tay-beng. Namun Ting Tian sempat mendorong kepundak Tik Hun sambil berkata padanja.

"Engkau mundur sadja, Tik-hiante!" ~ Menjusul mana tangannja membalik terus mentjengkeram hingga djidat Ma Tay-beng tepat kena dipegang. Tjengkeraman Ting Tian ini djuga serangan jang mematikan, djangankan Ting Tian menggunakan tenaga dalam jang hebat dari Sin-tjiau-kang, sekalipun Lwekang jang biasa sadja djuga tjukup membikin njawa sasarannja amblas. Keruan Ma Tay-beng ketakutan setengah mati dan tjepat mendjatuhkan diri ketanah terus menggelinding kesamping. Dalam keadaan begitu Ting Tian merasa tenaga dalam sendiri semakin lama semakin lemah, sementara ini tjuma berkat tipu serangannja jang djauh lebih lihay daripada musuh, maka dapatlah bertahan sekadarnja, pabila "Soh-sim-kiam-koat"

Tidak segera diberitahukan seluruhnja kepada Tik Hun, boleh djadi rahasia maha besar ini selandjutnja akan musna untuk selamanja, djika demikian rasanja sangatlah sajang.

Oleh karena dirinja bagaimanapun akan mati, maka lebih baik berusaha agar Tik Hun berhasil menjelesaikan tugas jang diselubung rahasia Kiam-koat itu.

Setelah ambil keputusan, segera ia berkata.

"Tik-hiante, dengarkanlah kata2ku. Engkau berlindung dibelakangku dan djangan gubris pada musuh, engkau tjuma apalkan sadja istilah rahasia jang akan kukatakan ini. Urusan sangat penting, maka djangan kau pandang sepele, sebabnja Ting-toakomu bisa mengalami nasib seperti harini djusteru disebabkan membela rahasia ini."

Tik Hun mengia dan tjepat sembunji kebelakang sang Toako.

"Ingatlah baik2, angka kelima adalah ‘18’ dan ........ dan angka keenam adalah ‘7’!"

Demikian Ting Tian menjambung rahasia Soh-sim-kiam-koat tadi.

Ma Tay-beng tahu sebabnja Leng-tihu memerintahkan penangkapan kepada Ting Tian, tudjuan pokoknja jalah ingin mentjari sesuatu rahasia Soh-sim-kiam-koat.

Sedangkan Tjiu Kin sudi menghamba dibawahnja Leng Dwe-su, tudjuannja bukan pangkat dan harta, tapi adalah tugas jang diberikan gurunja agar diam2 menjelidiki rahasia Kiam-koat itu.

Kini kedua orang itu mendengar Ting Tian mengutjapkan angka2 ‘18’ dan ‘7’, segera merekapun ikut mendengarkan dengan tjermat dan mengingatnja baik2 didalam hati.

Sebaliknja kedatangan Kheng Thian-pa ini adalah ditugaskan untuk menangkap Ting Tian.

Kini melihat Ting Tian berkomat-kamit mengutjapkan delapanbelas atau sembilanbelas segala, lantas Ma Tay-beng dan Tjiu Kin ter-mangu2 menirukan berkomat-kamit.

Ia pikir kalau bukan Ting Tian sedang main ilmu sihir untuk pengaruhi lawan2nja, tentu adalah Ma Tay-heng dan Tjiu Kin sengadja hendak melepaskan musuh.

Sebab itulah Thian-pa terus membentak.

"Hai, kalian sedang main gila apa?" ~ berbareng sebelah tangannja lantas membelah kearah Ting Tian. Tapi karena djeri kepada kesaktian lawan, belum lagi serangannja mengenai sasaran atau mendadak ia tarik kembali terus melompat mundur. Ting Tian sendiri lantas mengegos kekiri dengan maksud menghindarkan serangan Kheng Thian-pa itu. Tapi karena tenaga dalamnja sudah pajah, langkahnja mendjadi hampa, ia sempojongan akan roboh. Melihat ada kesempatan bagus, tanpa ajal lagi golok Ma Tay-beng tjepat membatjok kepundak kiri Ting Tian. Untuk sesaat Ting Tian merasa matanja mendjadi gelap hingga lupa untuk menghindarkan serangan itu. Keruan Tik Hun sangat terkedjut, dalam keadaan mendesak, tanpa pikir lagi ia terus menjeruduk madju hingga kepalanja kena tumbuk keperut Ma Tay-beng. Pertarungan setjara menggelut demikian djika perlu ternjata membawa hasil djuga. Pertjuma sadja Ma Tay-beng memiliki kepandaian tinggi, karena diseruduk oleh Tik Hun seperti banteng ketaton, Tay-beng mendjadi tidak sempat menggunakan ilmu goloknja jang lihay. Dilain pihak sesudah kepalanja pujeng, waktu Ting Tian membuka mata pula, ia melihat Tik Hun sedang gulat dengan Ma Tay-beng, sedang Tjiu Kin lagi angkat pedangnja hendak menusuk kepunggung Tik Hun. Tjepat Ting Tian bertindak, setjepat kilat ia gunakan dua djarinja untuk mentjolok kedua mata Tjiu Kin. Insaf tenaga sediri sudah habis, ketjuali menjerang kedua mata lawan jang merupakan tempat jang paling lemah itu, rasanja tiada djalan lain lagi. Benar djuga, karena kuatir mendjadi buta, tjepat Tjiu Kin melompat mundur kesamping. Dan pada saat itulah Ma Tay-beng berhasil menggunakan gagang goloknja untuk mengetok kepala Tik Hun hingga pemuda itu terperosot ditanah. Hlm..Gambar. Ketika Ma Tay-beng dan Tjiu Kin menubruk madju pula, mendadak Ting Tian memapak madju, maka terdengarlah "Tjrat-tjret’ dua kali, sendjata2 kedua lawan menantjap semua didada Ting Tian. Melihat keadaan sudah mendesak, tjepat Ting Tian berseru pula.

"Tik-hiante, djangan sekali2 engkau ikut turun tangan lagi. Ingatlah baik2 bahwa angka ketudjuh adalah ......." ~ mendadak dadanja terasa sesak hingga susah bersuara. Sedangkan pukulan Keng Thian-pa sudah tiba pula. Ia geleng2 putus asa, pikirnja.

"Rupanja sudah takdir ilahi, apa jang dapat kukatakan lagi? Soh-sim-kiam-koat ini agaknja akan musna untuk selamanja dari dunia ramai."

Akan tetapi dasar watak Ting Tian memang sangat teguh, sekali bertekad akan mengadjarkan Kiam-koat itu kepada Tik Hun, betapapun ia akan berdaja untuk mentjapai maksud itu.

Ia pikir kalau tidak membunuh ketiga "tjakar alap2" (maksudnja kaki tangan pembesar lalim) itu, biar bagaimana tentu akan susah untuk mengtakan Kiam-koat itu kepada Tik Hun.

Kalau tjuma mengatakan satu angka demi satu angka seperti sekarang ini sembari bergebrak, sampai kapan baru bisa selesai diuraikan?

Dan djika suatu ketika kepalanja pujeng lagi, mungkin djiwa kedua orang akan segera melajang malah.

Dalam pada itu sinar sendjata tampak ber-kelebat2, Ma Tay-beng dan Tjiu Kin sudah menubruk madju pula bersama.

Tubuh Ting Tian tampak bergeliat sekali, mendadak ia memapak madju kearah sendjata2 lawan, tanpa ampun lagi.

"Tjrat-tjret dua kali, golok dan pedang lawan tepat membatjok diatas badan Ting Tian hingga darah memuntjrat. Tik Hun mendjerit kuatir dan tjepat memburu madju untuk menolong. Tapi Ting Tian telah gunakan saat darah mengutjur dan daja ratjun dalam badannja agak berkurang itulah, sekonjong-konjong ia ajun telapak tangan kanan sekuatnja dan tepat menggablok kepilingan kanan Ma Thay-beng, menjusul tangannja membalik mengantjam Tjiu Kin pula. Serangan kedua itu sebenarnja pasti susah dihindarkan Tjiu Kin, tapi untung baginja dan kedjadiannja sangat kebetulan pula, pada saat itulah tahu2 Kheng Thian-pa menubruk tiba, saking keras ia menerdjang madju, tanpa ampun lagi dadanja persis memapak pada telapak tangan Ting Tian.

"plak" , seketika tulang iganja patah semua dan kontan terdjungkal dan tak berkutik lagi. Serangan Ting Tian itu sudah memakan antero sisa tenaganja jang masih ada, boleh dikata kini ia sudah berada dalam keadaan seperti pelita kehabisan minjak atau motor kehabisan bensin. Gablokannja jang pertama paling keras, maka kontan Ma Thay-beng terbinasa, sedangkan Kheng Thian-pa djuga sudah senin-kemis napasnja tinggal menunggu adjal sadja. Hanja Tjiu Kin sadja jang masih sehat dan bergas belum terluka, dengan tangan kanan memegang pedang jang menantjap dibadan Ting Tian itu, ia sedang berusaha hendak mentjabut sendjatanja itu untuk kemudian akan dipakai menusuk Tik Hun pula. Tekad Ting Tian sekarang jalah menjelamatkan Tik Hun, maka mendadak ia pepetkan badannja kedepan dan kedua tangannja terus menjikap pinggang Tjiu Kin sambil berseru.

"Lekas lari, Tik-hiante, lekas!" ~ Dan karena badannja mendesak madju itulah, pedangnja Tjiu Kin ambles lebih dalam lagi beberapa senti didalam badannja. Namun TikHun bukan pemuda pengetjut, mana ia mau melarikan diri sendiri? Tanpa pikir lagi ia menubruk kebelakang Tjiu Kin untuk mentjekek leher lawan itu sambil berteriak2.

"Lepaskan Ting-toakoku! Kau mau lepas tangan atau tidak?"

Keruan Tjiu Kin meringis kesakitan dan mendongkol pula.

Sebab bukan dia tidak mau melepaskan Ting Tian, tapi dia sendiri jang disikap se-kentjang2nja oleh Ting Tian, djadi Ting Tian jang mesti melepaskan dia dan bukan Tjiu Kin jang harus melepaskan Ting Tian.

Ting Tian merasa tenaga sendiri semakin lemas dan hanpir tidak kuat lagi menjikap Tjiu Kin.

Pabila sampai lawan dapat melepaskan diri, sekali pedangnja kena ditjabut, psti djiwa Tik Hun djuga akan melajang.

Maka tjepat teriaknja.

"Tik Hun, lekas lari, djang..... djangan engkau urus diriku, aku..... aku toh takkan hidup lagi!"

"Kalau mati, biarlah mati bersama!"

Sahut Tik Hun sambil berusaha mentjekek lebih kuat.

Tapi sedjak tulang pundaknja ditembusi dan otot pundak sudah rusak, maka betapapun ia mentjekek se-keras2nja, tetap susah membikin Tjiu Kin mati sesak napas.

"Saudara baik, engkau sangat....... sangat setia kawan.... tidak pertjumalah aku mempunjai seorang kawan seperti kau..... sajang ...... sajang Kiam-koat itu takbisa lengkap kukatakan ..... aku sangat senang..... sangat senang .......Djun-tjui-pik-po .... itu seruni hidjau ...... jang dia taruh didepan djendela .... lihatlah ..... lihatlah betapa indahnja .... betapa bagusnja ......"

Demikian suara Ting Tian semakin lama semakin lemah dan lirih, tapi tjahaja mukanja ber-seri2, sebaliknja tangan jang menjingkap Tjiu Kin itu lambat-laun mendjadi kendor.

Merasa kedua tangan Ting Tian sudah tak bertenaga, segera Tjiu Kin meronta sekuatnja, berbareng ia tjabut pula pedang jang menantjap ditubuh Ting Tian itu hingga sendjata itu penuh berlepotan darah.

Waktu ia putar tubuh, maka berhadapanlah dia dengan Tik Hun muka dengan muka, djaraknja tjuma belasan senti sadja.

Ia menjeringai iblis sekali, pedangnja diangkat terus menusuk se-kuat2nja kedada Tik Hun.

Saat itu Tik Hun sedang kuatir atas diri Ting Tian, ia telah berteriak2.

"Ting-toako, Ting-toako!" ~ mendadak dadanja terasa kesakitan sekali. Waktu Tik Hun melirik dadanja sendiri, ia lihat pedang jang dipegang Tjiu Kin itu telah menusuk diatas dadanja. Ia dengar Tjiu Kin sedang ter-bahak2 girang, suara ketawa orang jang lupa daratan oleh kemenangannja itu. Memang dapat dimengerti djuga bahwa pantaslah kalau Tjiu Kin kegirangan setengah mati oleh karena berhasilnja serangannja jang terachir itu. Habis, Leng-tihu memberi perintah dengan hadiah jang besar bagi siapa jang dapat menawan hidup2 Ting Tian dan Tik Hun berdua, kalau tak dapat menangkap dengan hidup, boleh djuga dibinasakan ditempat itu djuga. Kini Ting Tian terang sudah menggeletak mati, Tik Hun djuga tertusuk oleh pedangnja tinggal menunggu adjalnja sadja, sedangkan Ma Thay-beng dan Kheng Thian-pa sudah terbinasa djuga disitu, dengan sendirinja djasa besar ini akan diterima sendirian oleh Tjiu Kin. Dalam sekedjap itu dalam benak Tik Hun djuga telah berganti ber-matjam2 pikiran. Terbajang olehnja waktu masih ketjil beladjar silat dirumah Suhu dan memain bersama dengan sang Sumoay jang menjenangkan itu. Lalu teringat djuga olehnja penganiajaan selama lima tahun hidup didalam pendjara ....... kesemuanja itu seketika membandjiri benaknja, rasa dendam kesumat itu membuatnja bagaimanapun djuga tidak rela menerima kematian begitu sadja. Sementara itu didengarnja Tjiu Kin masih bergelak tertawa iblis. Dengan murka Tik Hun terus sadja berteriak.

"Biarlah aku ...... aku mati bersama engkau!" ~ berbareng kedua tangannja terus merangsang madju dan kena mentjengkeram dibahu Tjiu Kin. Meski Sin-tjiau-kang jang dilatih Tik Hun itu belum djadi, tapi paling tidak sudah ada dua tahun alas dasarnja. Kini karena merasa djiwanja terantjam, antero tenaga jang ada telah dikerahkan pada kedua tangannja untuk mentjengkeram se-kentjang2nja dibahu musuh hingga mirip djepitan sepasang tanggam jang kuat. Seketika Tjiu Kin mendjadi kesakitan, dengan napas memburu ia tjoba meronta untuk melepaskan diri, tapi tetap takbisa terlepas. Diam2 Tik Hun memikir.

"Kalau aku dapat mentjengkeram tempat lain jang lemah ditubuhnja mungkin akan dapat mampuskan dia, tapi kini tjuma dapat memegang bahunja, terang aku takdapat meng-apa2kan dia."

Namun begitu toh dia takdapat melepaskan tangannja, asal kedua tangannja mendjadi kendor mentjengkeram, pasti kesempatan itu akan digunakan Tjiu Kin untuk meloloskan diri dan untuk memegangnja lagi pastilah susah.

Ia merasa dadanja tambah lama tambah sakit, ia tahu udjung pedang lawan sedang menusuk lebih dalam.

Kini tiada tempo lagi baginja untuk memikir, kalau Tjiu Kin kena ditjengkeramnja sedikit, berarti sedikit pula ia telah membalas dendam kesumat itu.

Dalam pada itu udjung pedang Tju Kin menusuk semakin keras, sedang Tik Hun djuga mentjengkeram semakin kuat dan menarik se-kuat2nja kearah sendiri.

Dan aneh djuga, pedang lawan ternjata tidak dapat menusuk lebih mendalam lagi se-akan2 kebentur oleh sematjam tenaga kebal jang tidak mempan sendjata, bahkan batang pedang Tjiu Kin berbalik menekuk dan pelahan2 melengkung.

Sungguh kedjut dan heran Tjiu Kin tak terkatakan, sekuatnja ia mendorong pedangnja menusuk lebih keras agar badan Tik Hun kena ditembus oleh sendjatanja.

Akan tetapi pedangnja seperti tidak mau turut perintahnja lagi, sedikitpun tidak dapat ambles kedepan pula, sebaliknja sendjata itu semakin melengkung karena tekanannja itu.

Kedua mata Tik Hun sudah merah membara, dengan beringas ia melototi Tjiu Kin.

Semula ia melihat wadjah Tjiu Kin mengundjuk rasa sangat girang dan mengedjek dengan kedji, tapi lambat-laun air mukanja berubah heran2 kedjut, lalu penuh rasa kuatir, sedjenak kemudian dari rasa kuatir itu berubah mendjadi ketakutan, dan rasa ketakutan itu makin lama makin hebat, hingga achirnja kebingungan.

Kiranja Tjiu Kin merasa Tik Hun telah berhasil mejakinkan sematjam ilmu weduk jang tidak mempan sendjata.

Meski pedangnja sudah kena menusuk dibadan pemuda itu, tapi tjuma membuat daging tempat itu mendekuk kedalam dan tidak dapat menembus kulit dagingnja.

Karena selama hidupnja tidak pernah melihat didunia ini ada ilmu sakti seperti itu, maka rasa takutnja makin lama semakin besar.

Beberapa kali ia tjoba dorong pedangnja lebih kuat kedepan, tapi tetap tidak dapat menembus badan lawan, achirnja ia tidak berani mengharapkan melukai Tik Hun lagi, jang dipikir olehnja asal dapat meloloskan diri sudah beruntung baginja.

Namun djusteru untuk melepaskan diri itulah jang susah, sebab dengan kentjang Tik Hun memegangi bahunja sambil menarik sekuatnja.

Lambat-laun Tjiu Kin merasa tangan kanan sendiri jang memegang pedang itu mulai menikung balik dengan pelahan, menjusul gagang pedang sudah menempel didada sendiri, batang pedang djuga semakin melengkung hingga berwudjut setengah lingkaran.

Mendadak terdengarlah suara "pletak"

Sekali, batang pedang Tjiu Kin itu patah bagian tengah.

Tjiu Kin mendjerit sekali terus terdjungkal kebelakang, kedua potong pedang jang patah itu telah menantjap semua kedalam perutnja.

Dan karena robohnja Tjiu Kin itu, Tik Hun djuga ikut djatuh dan menindih diatas badan Tjiu Kin, tapi kedua tangannja masih memegang diatas bahu orang takmau melepaskan.

Segera Tik Hun mentjium bau anjirnja darah jang sangat keras, tiba2 dilihatnja Tjiu Kin meneteskan air mata, menjusul dari mulutnja mengeluarkan darah, ketika kemudian kepalanja terkulai kebawah, achirnja tidak berkutik lagi.

Tik Hun mendjadi heran.

Semula ia mengira Tjiu Kin tjuma pura2 mati sadja, maka tetap ia mentjengkeram se-kentjang2nja dibahu orang.

Ketika lain saat merasa dada sendiri sudah tidak sakit lagi, ia tjoba menunduk dan ternjata tiada terluka.

Dengan bingung Tik Hun melepaskan Tjiu Kin dan berdiri, ia melihat kedua potong pedang patah itu menantjap diperut Tjiu Kin, hanja sebagian ketjil sadja menondjol diluar.

Waktu ia periksa dada sendiri, ternjata badjunja terobek beberapa senti lebarnja dan kelihatanlah badju kutang warna hitam jang dipakainja.

Ia pandang pula pedang patah diperutnja Tjiu Kin dan mengamat-amati badju sendiri jang sobek, maka tahulah dia duduknja perkara.

Kiranja "Oh-djan-kah"

Atau badju kutang dari sutera hitam hadiah dari Ting Tian tempo hari itulah telah menolong djiwanja, bahkan berkat badju itulah telah dapat membunuh musuh.

Oh-djan-kah itu tidak mempan sendjata, maka tusukan Tjiu Kin itu hanja membikin dada Tik Hun kesakitan karena tertikam, tapi takdapat menembus badju kutang mestika itu.

Ketika kemudian pedangnja patah, karena Tik Hun memegang bahunja se-kentjang2nja serta ditarik merapat, maka pedang patah jang tadjam itu telah tertikam masuk kedalam perut Tjiu Kin sendiri hingga terdjadilah sendjata makan tuannja.

Sesudah Tik Hun dapat tenangkan diri, segera ia berlari mendekati Ting Tian, ia berdjongkok sambil berseru.

"Ting-toako, ken ....... kenapakah engkau?"

Pelahan2 Ting Tian membuka matanja dan memandang Tik Hun dengan sorot mata jang lemah se-akan2 memandang tapi tidak melihatnja lagi atau seperti tidak mengenal Tik Hun pula.

"Ting-toako, biar bagaimanapun djuga aku pasti ........... pasti akan menolong engkau kaluar dari sini,"

Seru Tik Hun.

"Sajang ......... sajang Kiam-koat itu sedjak kini ....... sedjak kini akan musna untuk selamanja,"

Kata Ting Tian dengan lemah dan ter-putus2.

"Harap ...... harap kubur ...... kuburlah aku ber ....... bersama Siang ...... Siang-hoa ...."

"Aku akan ingat baik2 pesanmu ini."

Seru Tik Hun dengan tegas.

"Pasti aku akan menguburkan engkau bersama Leng-siotjia sesuai dengan tjita2 kalian berdua."

Pelahan2 Ting Tian menutup kembali matanja, napasnja semakin lemah, tapi bibirnja tampak ber-gerak2 sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tjepat Tik Hun mendempelkan telinganja kepinggir bibir sang Toako, lapat2 terdengar Ting Tian berkata.

"Dan angka ....... angka seterusnja ........" ~ sampai disini lantas tiada kedengaran lagi. Telinga Tik Hun tidak merasakan pernapasan sang Toako lagi, ia tjoba meraba dada Ting Tian, ternjata denjut djantungnja djuga sudah berhenti. Sebelumnja Tik Hun sudah tahu bahwa djiwa Ting Tian tentu susah dipertahankan, tapi kini menjaksikan saudara angkatnja jang hubungannja selama beberapa tahun ini melebihi saudara sekandung itu telah meninggal, maka rasa duka dalam hatinja sungguh susah dilukiskan. Ia berlutut disamping Ting Tian dan meniupkan napasnja kemulut sang Toako se-kuat2nja sambil hatinja berdoa.

"O, Tuhan, hidupkanlah kembali Ting-toako, aku lebih suka kembali kedalam pendjara lagi untuk selamanja tidak keluar, lebih suka pula tidak membalas dendam dan biarlah selama hidup ini dihina dan dianiaja oleh Ban-bun-tetju (anak murid keluarga Ban), ja Tuhan, asalkan dapatlah Ting-toako dihidupkan kembali."

Akan tetapi kedua tangannja jang merangkul dibadan Ting Tian itu makin lama terasa badan sang Toako itu makin dingin.

Ia tahu doa sutjinja itu tidaklah berhasil dan tak terkabul.

Sesaat itu ia merasakan kesunjian jang tak terkatakan, merasa hidupnja hampa dan merasa dunia bebas diluar ini djauh lebih menakutkan daripada didalam kamar pendjara jang sempit itu.

Ia sadar hidup selandjutnja pastilah sangat sulit, ia lebih suka kembali kedalam pendjara lagi bersama Ting Tian.

Ia pondong majatnja Ting Tian itu dan berdiri.

Tiba2 berbagai rasa duka derita jang tak terkatakan berketjamuk membandjiri benaknja, kesedihannja pada saat itu boleh dikata susah dibendung.

Tak tertahan lagi ia menangis, menangis ter-gerung2 seperti anak ketjil.

Sama sekali tak terpikir olehnja bahwa akibat dari tangisannja jang keras itu mungkin akan didengar musuh, dan tak terpikir pula olehnja bahwa sesungguhnja memalukan seorang laki2 sedjati bertangisan sedemikian rupa.

Tapi ia ingin menangis dan menangis terus oleh karena rasa sedihnja jang susah ditahan itu.

Ketika kemudian air matanja pelahan2 mulai kering, gerung tangisnja berubah mendjadi suara sesenggukan pelahan karena rasa duka dalam hatinja masih tetap susah ditahan.

Namun pikirannja sudah djauh lebih djernih daripada tadi, maka ia mulai me-nimang2.

"Tjara bagaimana aku harus menjelesaikan djenazah Ting-toako ini? Dengan djalan bagaimana agar aku dapat membawanja untuk dikubur bersama dengan Leng-kohnio?"

Dalam saat demikian, soal paling penting jang terpikir olehnja sekarang hanja tentang penguburan Ting Tian mendjadi suatu kuburan dengan nona Leng itu.

Tengah ia ragu2, tiba2 terdengar suara derapan kuda jang ramai dari kedjauhan dan makin lama makin mendekat, djumlahnja kira2 ada belasan penunggang kuda.

Lalu terdengarlah suara orang berteriak diluar taman bobrok itu.

"Ma-toaya, Kheng-toaya, Tjiu-djiya, apakah kalian sudah dapat menemukan buronannja!"

Kemudian terdengar belasan ekor kuda itu diberhentikan serentak diluar taman dan ada orang berseru lagi.

"Marilah kita tjoba memeriksa kedalam!"

"Tidak mungkin mereka bersembunji disini!"

Demikian kata seorang lain.

"Darimana kau tahu?"

Debat orang pertama tadi.

Lalu terdengar suara orang melompat turun dari kuda.

Tanpa pikir lagi Tik Hun terus pondong majat Ting Tian itu dan dibawa lari keluar dari taman bobrok itu melalui pintu samping.

Dan begitu dia melangkah keluar lantas terdengarlah suara orang mendjerit kaget didalam taman itu oleh karena mengetahui Ma Thay-beng bertiga sudah menggeletak terbinasa disitu.

Tik Hun ber-lari2 terus didalam kota Kanglenghu itu, iapun tahu tjaranja melarikan diri sambil membawa majat sang Toako itu sangat berbahaja, sudah larinja takbisa tjepat, setiap saat mungkin akan dipergoki orang pula.

Namun ia lebih suka ditawan dan didjebloskan lagi kedalam pendjara dan menerima siksaan atau boleh djuga dihukum mati dengan segera, sebaliknja tidak nanti ia mau meninggalkan djenazah Ting Tian begitu sadja.

Setelah beberapa ratus meter ia berlari, tiba2 dilihatnja disuatu pagar tembok dipinggir djalan ada sebuah daun pintu ketjil jang terpentang, tanpa pikir lagi ia terus menjelinap masuk kedalam rumah itu, lalu pintu itu didepaknja dari dalam hingga tertutup.

Kiranja pintu itu adalah pintu sebuah kebun sajur jang sangat luas dan penuh tertanam matjam2 djenis sajur seperti sawi putih, lobak, labu, tomat, ketimun dan lain2 lagi.

Sedjak ketjil kerdja Tik Hun jalah bertani bertjotjok tanam.

Tapi sudah lima tahun lamanja ia meninggalkan kebun sajurnja.

Kini melihat suasana kebun itu, seketika timbul rasanja seperti berada dikampung halamannja sendiri.

Ia tjoba mengamat-amati sekitarnja, ia melihat diarah timur-laut sana ada sebuah gudang kaju bakar, dari djendela gudang itu tampak djelas penuh tertumpuk kaju bakar dan onggok djerami.

Tik Hun mendjadi girang, sekenanja ia bubut beberapa buah lobak sambil memondong majatnja Ting Tian, segera ia menjusup kedalam gudang kaju itu.

Hlm 35.

Gambar.

Dengan penuh rasa duka nestapa dan air mata meleleh Tik Hun pondong majatnja Ting Tian untuk meninggalkan taman itu dengan tjepat.

Ia tjoba dengarkan sekeliling gudang itu dan tidak kedengaran ada suara orang.

Segera ia menjingkirkan kaju dan djerami hingga lantainja terluang sedikit, ia taruh djenazah sang Toako disitu dan menutupinja dengan djerami dengan pelahan2.

Diwaktu menguruk djenazah Toako dengan rumput djerami itu, Tik Hun merasa se-akan2 Ting Tian masih mempunjai daja rasa, maka tidak berani membikin sakit badannja.

Dalam benak Tik Hun timbul sematjam sugesti.

"Boleh djadi Ting-toako mendadak bisa mendusin kembali."

Ia duduk disamping majat sang Toako, ia mengupas kulit lobak dan menggeragotinja mentah2.

Air lobak jang manis2 masam itu pelahan2 mengalir kedalam kerongkongannja.

Ja, maklum sudah lima tahun lamanja ia tidak pernah merasakan makanan segar seperti itu.

Teringat kampung halamannja di Ouwlam, disana entah sudah beberapa kali ia membubut lobak dan makan bersama sang Sumoay ~ Djik Hong, mereka bersenda gurau dengan gembira di sawah-ladang kampung halamannja itu sambil menggeragot lobak mentah ...........

Sebuah lobak mentah itu sudah habis dimakan olehnja dan mulai ia menggeragoti lobak jang kedua, kelopak matanjapun agak basah mengenangkan masa dahulu jang indah itu.

Se-konjong2 didengarnja suatu suara.

Seketika badannja bergemetar, separoh lobak jang terpegang ditangannja djatuh kelantai tanpa terasa, lobak jang putih bersih itu berlepotan tanah pasir dan debu djerami.

Ia mendengar suara seorang jang halus dan merdu sedang memanggil.

"Khong-sim-djay! Khong-sim-djay! Dimanakah engkau?"

Saking terguntjangnja perasaan, segera Tik Hun bermaksud berteriak mendjawabnja.

"Aku berada disini!" ~ Tapi belum lagi kata2

"aku"

Itu mentjetus dari mulutnja, ia merasa tenggorokannja seperti tersumbat, tjepat ia menutup mulutnja sendiri dengan badan gemetar.

Sebab apakah Tik Hun terguntjang perasaannja oleh suara itu?

Kiranja "Khong-sim-djay"

Atau sayur tak berhati alias kubis adalah nama djulukan Tik Hun.

Didunia ini hanja ada dua orang jang tahu nama djulukannja itu, jakni Tik Hun sendiri dan Djik Hong.

Bahkan gurunja sendiri djuga tidak tahu.

Djulukan itu adalah pemberian Djik Hong, sebab sang Sumoay itu berpendapat Tik Hun tidak punya otak, terlalu polos, terlalu lugu, sedikitpun tidak bisa berpikir, selain beladjar silat, segala apa tak dipikir olehnja dan segala apa tak dipahaminja, maka pemuda itu diibaratkan Khong-sim-djay atau kubis jang tidak punya hati.

Dikatakan orang tidak punya otak djuga Tik Hun tidak marah, sebaliknja ia ganda tertawa sadja.

Ia malah senang kalau Djik Hong suka memanggilnja.

"Khong-sim-djay!" ~ biar pun sehari penuh dipanggil begitu djuga dia tidak marah, asalkan sadja sigadis itu betah. Dan setiap kali kalau Tik Hun mendengar panggilan "Khong-sin-djay"

Atau si Kubis, selalu hatinja merasakan sematjam kenikmatan manisnja madu.

Sebab kalau ada orang ketiga diantara mereka pasti sekali2 Djik Hong takkan memanggil nama djulukannja itu.

Dan kalau dia dipanggil si Kubis, maka saat itu tentu tjuma mereka berada berduaan sadja.

Pabila Tik Hun berada berduaan sadja bersama Djik Hong, baik sigadis sedang gembira maupun sinona lagi marah, jang terasa oleh Tik Hum hanja rasa bahagia jang tak terkatakan.

Ia adalah seorang botjah ke-tolol2an jang tidak pandai bitjara, terkadang kedogolannja itu membikin Djik Hong mendjadi marah, tapi asal terdengar panggilan "Khong-sim-djay, Kong-sim-djay" , maka tertawalah keduanja dengan ter-kakah2 Tik Hun masih ingat pada waktu Bok Heng membawakan surat undangan kepada Suhunja dahulu, malam itu sang Sumoay telah memasak untuk mendjamu tamu, diantara lauk-pauk dan sajur-majur itu djuga terdapat semangkok gorengan Kubis.

Tengah sang Suhu asjik berbitjara dengan Bok Heng mengenai kedjadian2 didunia persilatan, Tik Hun sendiri mendengarkan dengan ter-mangu2, tiba2 tanpa sengadja sinar matanja telah kebentrok dengan sinar mata Djik Hong, ia melihat sang Sumoay telah menjumpit setjomot kubis goreng dan akan dimakan, tapi kubis itu tidak latas dimasukkan kedalam mulut, melainkan dengan bibirnja jang merah tipis sedang mendjilati kubis itu dengan pelahan2, sorot matanja penuh mengandung maksud tertawa.

Terang gadis itu bukan lagi hendak makan sajur, tapi sedang mentjiumi kubis itu.

Tatkala itu Tik Hun tjuma mengira.

"Ah, Sumoay sedang mentertawai aku lagi sebagai Khong-sim-djay!" ~ Tapi kini setelah dikenangkan kembali didalam gudang kaju ini, tiba2 ia dapat menangkap maksud jang mendalam dari kelakuan sang Sumoay itu, njata itulah tanda tjiuman mesra seorang kekasih. Kini suara panggilan "Khong-sim-djay"

Itu terdengar pula, terang gamblang suara itu adalah suaranja Djik Hong, hal mana sedikitpun tak bisa keliru lagi.

Suara panggilan itu penuh mengandung rasa tjinta kasih jang mesra, lemah-lembut dan meresap.

Dahulu, panggilan Djik Hong itu tjuma dirasakannja sebagai tanda persahabatan, suara panggilan jang penuh perhatian dan terkadang bermaksud sebagai tanda marah dan mengomelnja.

Namun suara panggilan jang didengarnja sekarang hanja penuh rasa tjinta kasih jang mendalam.

"Apakah karena dia telah mengetahui penderitaanku selama ini setjara penasaran makanja dia bertambah baik kepadaku?"

Demikian Tik Hun bertanja pada diri sendiri. Sesungguhnja Tik Hun tidak berani pertjaja kepada pendengarannja sendiri itu.

"Apa aku sedang mimpi? Sebab tidak mungkin Sumoay datang kekebun sayur ini? Bukankah sudah lama ia mendjadi isterinja Ban Ka, masakah dia dapat datang kesini untuk mentjari aku?"

Namun demikian suara panggilan tadi berdjangkit pula, bahkan sekali ini semakin mendekat lagi.

"Khong-sim-djay, dimanakah engkau bersembunji?"

Demikian suara itu dengan rasa senang dan penuh kasih-sajang.

Pelahan2 Tik Hun berdiri dan mengintip dari belakang tumpukan djerami.

Ia melihat seorang wanita berdiri membelakangi dirinja sedang mentjari sesuatu.

Ja, itulah dia, memang tidak salah lagi, pinggangnja jang ramping, perawakannja jang langsing, siapa lagi dia kalau bukan Djik Hong?

Terdengar ia sedang memanggil pula dengan tertawa.

"Hajolah Khong-sim-djay, masih engkau tidak mau keluar?" ~ dan mendadak wanita itu membalik tubuhnja kebelakang. Seketika pandangan Tik Hun mendjadi kabur dan kepalanja mendjadi pujeng. Memang benarlah gadis itu adalah Djik Hong. Bidji matanja jang bundar besar dan hitam pekat, hidungnja jang mantjung, hanja kelihatan agak kurus sedikit hingga tidak semontok dan segar seperti waktu masih berada dipedusunan didaerah Oulam dahulu. Akan tetapi gadis itu njata2 adalah Djik Hong, benar2 adalah sang Sumoay jang ditjintainja dan dirindukannja senantiasa itu. Dengan wadjah jang masih ber-seri2 tawa, Djik Hong sedang me-manggil2 pula. Khong-sim-djay, hajolah, tidak lekas engkau keluar sadja?"

Saking tak tahan segera Tik Hun bermaksud menjahut dan menemui Sumoay jang senantiasa dirindukannja itu. Tapi belum lagi ia bertindak, mendadak teringat olehnja.

"Ting-toako sering mengatakan aku terlalu djudjur, terlalu lugu dan gampang ditipu orang. Kini Djik-sumoay sudah menikah dengan Ban Ka, harini Tjiu Kin terbinasa pula ditanganku, siapa berani mendjamin bahwa Sumoay bukan lagi sengadja memantjing aku keluar?" ~ Berpikir demikian, hatinja mendjadi dingin dan urung undjuk diri. Ia dengar Djik Hong sedang me-manggil2 si Kubis pula. Kembali pendirian Tik Hun gojah. Pikirnja.

"Suara panggilannja sedemikian mesra penuh kasih-sajang, tentu bukanlah pura2. Lagi-pula, djika dia benar2 inginkan djiwaku, biarlah kumati dibawah tangannja sadja!" ~ Sekali hatinja terasa pedih, ia mendjadi nekat lagi. Tapi belum lagi ia berbuat apa2, tiba2 terdengar suara ketawa seorang anak perempuan ketjil, menjusul anak itu telah berkata.

"Mak, mak, aku berada disini!"

Ketika Tik Hun mengintai keluar djendela, ia lihat seorang anak perempuan berbadju merah sedang ber-lari2 mendatangi dari sebelah sana.

Tjuma umur botjah itu masih sangat muda, maka larinja masih belum kuat dan agak sempojongan.

"Khong-sim-djay, kau bersembunji dimana barusan?"

Terdengar Djik Hong menanja dengan suaranja jang lemah lembut.

"Dari tadi ibu mentjari kau tak ketemu."

"Khong-sim-djay berada dikebun sajur sana melihat semut,"

Sahut botjah itu dengan senang.

Seketika telinga Tik Hun serasa mendengung dan dadanja se-akan2 digodam orang sekali.

Sungguh ia tidak pertjaja pada pendengarannja sendiri.

Apa mungkin Sumoay sudah punja anak?

Apakah puterinja inilah jang bernama "Khong-sim-djay"?

Djadi panggilannja tadi ditudjukan kepada puterinja jang ketjil itu dan bukan memanggil aku?

Djadi setjara tidak sengadja dirinja sekarang telah masuk sarang harimau pula, jaitu rumahnja Ban Tjin-san jang bikin tjelaka dirinja itu?

Begitulah Tik Hun mendjadi bingung seketika.

Selama beberapa tahun ini lapat2 dalam hati Tik Hun terdapat suatu harapan, ia mengharap semoga kelak dapat melihat sang Sumoay itu toh tidak menikah dengan Ban Ka dan apa jang dikatakan Sim Sia adalah bohong belaka.

Pikirannja ini tidak berani dikatakannja kepada Ting Tian, tapi hanja terkeram dilubuk hatinja sendiri.

Baca Juga: Pendekar Patung Emas 2

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert