Eps 12 Pedang Ular Emas - Yin Yong
Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong
Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.
Lie Gam tidak puas dengan kata-kata ini, ia gusar.
"Tidak demikian!"
Katanya.
"Kanglam masih belum dapat dibikin tetap, Gouw Sam Koei di San-hay-kwan masih belum menakluk, selagi hati umum masih belum tenang, bagaimana orang-orang yang mengepalai tentara bisa memikir untuk mengumpul uang? Apakah artinya itu?"
"Kenapa sih kalau orang mengumpul uang?"
Kata pula Song Hian Tjek dengan tawar.
"Yang dikuatirkan adalah kalau orang terkena bujukan orang lain, lantas dia kandung maksud jelek terhadap Tay-ong -itu Barulah jelek...."
Otot-otot di mukanya Lie Tjoe Seng bergerak-gerak sedikit, tanpa diingini, ia melirik kepada Lie Gam. Masih Lie Gam murka.
"Kami telah berhasil dengan usaha besar kami ini, bukankah itu disebabkan kami tahu hati rakyat, hingga rakyat tunjang kita?"
Kata pula dia dengan keras.
Tidak enak hatinya Sin Tjie akan lihat orang berselisih.
Ia bukannya orang lama dari Giam Ong, tidak mau ia campur perselisihan itu.
Maka ia lantas memberi hormat pada Giam Ong, terus ia undurkan diri dari istana.
Tidak lagi ia sempat bicarakan urusan hadiah puteri raja itu.
Ketika ia Baru keluar dari pintu istana, di depan ada seorang berlari-lari kepadanya.
"Siauw-soesiok, aku cari kau dimana-mana!" (Bersambung bab ke 24) Orang itu memakai pakaian kasar dan sepatunya sepatu rumput, di bebokongnya ada golok panjang, Sin Qe lantas kenali, dia adalah Cui Hie Bin, keponakannya Cui Ciu San.
"Ada apakah?"
Ia tanya pemuda itu.
Hie Bin tidak lantas menyahuti, ia hanya keluarkan sesampul surat dari sakunya, ia haturkan itu kepada ini "paman cilik" (siauw susiok), Sin Cie awasi surat itu, ia baca alamatnya.
"Kepada murid-muridku!"
Ia kenali surat gurunya, maka ia lantas menjura, habis itu ia menyambuti dengan kedua tangan nya. Kemudian ia buka sampul itu, akan keluarkan suratnya untuk dibaca, Guru itu menulis ringkas saja.
"Kami kaum Hoa San Pay mempunyai pesan turun menurun ialah sesuatu murid tak dapat pangku pangkat di dalam pemerintahan Karena sekarang Giam Ong sudah berhasil dengan pergerakannya yang besar, murid-murid kita pun sudah lakukan tugasnya, maka sesuatu murid mesti lantas undurkan diri Nanti di malaman bulan purnama dari bulan keempat kamu mesti berkumpul di puncak Hoa San. Surat itu dibubuhkan tanda tangan dua huruf "
Jin Ceng ". Sin Cie kaget "
Kalau begitu temponya rapat tidak ada satu bulan lagi kita mesti berangkat sekarang!"
Kata dia.
"Memang, Pamanku juga hendak lantas berangkat,"
Hie Bin kasih tahu.
"Mari kita pulang!"
Sin Cie mengajak Maka mereka berjalan dengan cepat Begitu lekas Sin Cie memasuki gang di mana terletak rumahnya, ia dengar ramai suara beradunya pelbagai alat senjata, ia juga dengar suara cacian, ia jadi kaget maka ia lantas lari Beberapa serdadu Beng kelihatan lari serabutan.
Tentara Beng Tiauw sudah buyar kenapa di sini masih ada lagi?"
Pemuda ini pikir.
ia lari semakin keras, hingga tibalah ia di depan rumahnya.
Di ambang pintu, Ho Tek Siu sedang labrak belasan serdadu Beng, yang berada di dalam rumah yang nampaknya hendak nerobos keluar Untung untuk mereka ini mereka hanya diancam saja, untuk dicegah lo!os, Kapan Tek Siu lihat gurunya datang, ia bersenyum ia lantas lompat minggir Maka serentak belasan serdadu peng itu lari keluar, saling tabrak hingga ada yang ngusruk jatuh, sebentar saja tidak kelihatan bajangan mereka juga, Selagi gurunya pandang dia, Tek Siu tertawa.
"Serdadu-serdadu Beng itu lihat rumah kita besar, mereka menyerang masuk untuk menggarong!"
Katanya, Sin Cie bersenyum.
"Syukur aku keburu pulang, kalau tidak celakalah mereka!"
Bilangnya.
"Bertiga mereka masuk ke dalam, justru mereka berpapasan dengan Ang Seng Hay, yang mendatangi sambil berlari keras, mukanya pucat sekali romannya sangat tegang.
"Celaka! Celaka!"
Demikian teriakannya beru1ang-ulang.
"Ada apakah?"
Tanya Sin Cie yang menjadi kaget Thia.... Thia... Thia Lo hucu...!"
Kata Seng Hay yang tak dapat bicara jelas, Melihat demikian, Sin Cie serta yang lainnya segera memburu ke kamarnya Thia Ceng Tiok, ketua dari Ceng Tiok Pay.
Begitu sampai di dalam kamar, semua orang kaget tidak terkira, Thia Ceng Tiok berlutut dengan tubuh sudah menjadi mayat golok tajam mengkilap nancap di dadanya, Tangkap si pembunuh!"
Berteriak See Thian Kong yang menjadi gusar bukan kepa1ang.
Malah ia segera mendahului lompat keluar jendela, Ouw Kui Lam Ho Tek Siu dan beberapa yang lain turut lompat keluar untuk susul si pembunuh, Sin Cie cari tahu napasnya Ceng Tiok hidungnya benar-benar napasnya ketua Ceng Tok Pay itu sudah berhenti, malah tubuhnya pun sudah jadi dingin, Jadi dia telah menutup mata sejak sekian lama, jadi kematiannya diketahui sesudah terlambat Kemudian anak muda itu perhatikan golok yang nancap di dada kawan itu.
Di gagang golok terikat selembar kertas yang ada tulisannya, terdiri hanya dari delapan huruf yang artinya.
"Hamba yang rendah mati bersama-sama Sri Baginda."
Surat peninggalan itu membuktikan Thia Ceng Tiok bukan mati dibunuh, dia hanya bunuh diri berkorban untuk junjungannya, Rupanya bekas pahlawan raja ini telah lantas dengar kematian dari kaisar Cong Ceng dan segera korbankan diri karenanya, untuk unjuki kesetiaannya terhadap raja itu yang dia tetap cintai.
Tanpa merasa, saking terharu, Sin Cie meneteskan air mata.
ia kagumi ketua dari Ceng Tiok Pay ini yang tidak melupakan junjungannya walaupun dia telah diperlakukan tak selayaknya oleh junjungan itu.
Lantas anak muda itu perintah orang susul See Thian Kong semua sambil berbareng perintah orang lekas beli peti mati dan lainnya barang keperluan untuk urusan jenazahnya Ceng Tiok, Sebagai ketua dari Ceng Tiok Pay, jenazah Thian Ceng Tiok tidak dapat dirawat sembarangan saja, akan tetapi suasana sedang kacau, terpaksa segala apa dilakukan secara sederhana, Semua anggota Ceng Tiok Pay juga tidak dapat diberi kabar lagi Di itu hari juga, jenazah dikubur dengan semua orang unjuk hormat mereka yang terakhir Selama kerepotan mengurus jenazah itu, Ceng Ceng seorang saja yang tidak kelihatan muncul Mulanya Sin Cie tidak menaruh perhatian adalah kemudian ia tanyakan Wan Jie.
"Mana Nona Hee?"
"Sudah sekian lama aku tidak lihat, nanti aku panggil dia,"
Kata nona Ciauw yang lincah, ia lantas pergi ke kamar Ceng Ceng, akan terus mengetok pintuk dengan perlahan.
"Adik Ceng, adik Ceng!"
Ia memanggil Tidak ada jawaban, Wan Jie ulangi ketokan pada pintu, ia pun memanggil berulang-ulang tetapi tetap tidak ada jawaban, sampai Sin Cie datang sendiri Karena heran, anak muda ini tolak pintu yang terus terbuka, Nyata kamar itu kosong, malah pakaian pedang dan abu ibunya si nona telah bawa semua!
Setelah melengak sekian lama, Sin Cie coba memeriksa kamar itu, sampai di bawah bantal ia dapatkan sepotong kertas yang ada tulisannya ringkas saja bunyinya.
"Karena sudah ada kim-kie giok yap, buat apa ada aku si orang rakyat jelata."
Kembali Sin Cie melongo sebab pikirannya kusut sekali ia mengerti kenapa Ceng Ceng kabur sebab dia bercemburu terhadap A Kiu alias Tiang Peng Kong-cu. Kata "kim-kie giok yap"
Itu -"cabang emas dan daun kumala" -berarti putri raja. ia menyesal untuk sifat cupat dari nona itu yang masih tidak bisa mengatasi diri "Adik Ceng, kelihatannya tetap kau belum mengerti aku,"
Ia mengeluh di dalam hati ia pun berkhawatir sekali ia langit "DuIu dia buron, hampir dia celaka di tangan orang asing, sekarang dia kabur pu!a, selagi suasana begini keruh, Kemudian dia pergi?"
Duduk di atas pembaringan, Sin Cie berdiam saja, Wan Jie heran, ia pergi keluar, untuk memberi kawan-kawannya maka orang lantas pada masuk, antaranya ada yang menghiburkan, ada yang memberi pikiran, Wan Jie masih muda tetapi cerdas sekali "Wan Siangkong,"
Katanya "Sekarang ini tidak ada faedahnya akan kau berkhawatir atau berduka saja, Nona Hee gagah, siapa berani main gila terhadapnya?
Aku pikir baik urusan jatuh begini waktunya rapat di gunung Hoa San sudah sangat mendesak, baik siangkong segera berangkat bersama paman A Pa, enci Ho serta lainnya, Biar aku sendiri berdiam di sini untuk rawat enci A Kiu, See Siokhu bersama Thie Losu, Ouw Siokhu dan semua orang Kim Liong Pang pun akan tetap berdiam di sini untuk berikhtiar membantu cari nona Hee.
Kiia nanti kirim pemberitahuan ke seluruh tujuh propinsi supaya semua saudara nanti tolong mencari juga serta memperhatikan nona Hee itu."
Sin Cie manggut-manggut mendengari nona Ciauw itu.
"Bagus pikiran kau, nona Ciauw,"
Katanya.
"Baik, aku nanti bekerja menuruti kau. Hanya mengenai Tek Siu, aku pikir baik ia tidak usah turut, ia boleh berdiam saja sama kau di sini. sekarang ini ia belum resmi menjadi anggota partai kami Hoa San Pay."
Kedua matanya Tck Siu bersinar kapan ia dengar perkataannya guru ini.
Tadinya ia hendak bicara, tetapi mendadakkan ia bata ikan itu, Tiba-tiba saja ia ingat Ceng Ceng juga agaknya cemburui ia.
jadi kalau ia ikut anak muda itu, si anak muda akan jadi kurang merdeka.
Akhirnya terus tutup mufut, ia melainkan bersenyum, Tetapi, di dalam hatinya ia kata.
"Kau tidak suka ajak aku pergi ke Hoa San, aku toh bisa pergi sendiri!"
Nona Ho ada bekas pemimpin Ngo Tok Kauw, ia sudah biasa ambil putusan scndiri, sudah biasa ia bertindak sendirian, walaupun ia telah ubah haluan, masih ada sisa-sisa adatnya ilu.
Maka itu, setelah ambil putusan akan pergi seorang diri ke Hoa San, ia terus pikirkan dayanya bagaimana agar ia bisa bertamu sama Couwspe, pemimpin dari Hoa San Pay.
Setelah bersiap, Sin Cie menghadap Tiong Ong untuk beritahukan maksud kepergian berapat di Hoa San, untuk pamitan, ia juga ambil selamat berpisah dari Lic Gam.
Tiong Ong memberi persen banyak barang pcrmata, Tempo Sin Cie hendak menampik, Lie Gam kcdipi mata padanya, maka ia lantas terima sambil menghaturkan terima kasih, Kctika Lie Gam antar saudara ini keluar dari istana, ia menghela napas dan kata.
"Saudara kau telah berhasil lantas sekarang kau undurkan diri, inilah tindakan paling tepat Di sini aku merasai gencetannya manusia rendah akan tetapi tak dapat aku meletaki jabatanku, maka aku ingin pertaruhan jiwaku untuk membalas budinya Tiong 0ng...."
Wajahnya jenderal ini menjadi guram.
"Toako, jaga saja dirimu hati-hati,"
Sin Cie pesan.
"Umpama kata kau menghadapi sesuatu bahaya, meski juga aku berada jauh selaksa lie, pasti aku akan datang untuk menyusulmu!"
Sambil linangan air mata, dua saudara angkat ini berpisahan, Besoknya Sin Cie berangkat dengan menunggang kuda hitam hadiah dari Giam Ong bersama ia turut A Pa si empe gagu, Cui Ciu San,.
Cui Hie Bin, An Toa Nio, An Siauw Hui dan Ang Seng Hay enam orang berikut Thay Wie dan Siauw Koay, kedua binatang piaraannya, Mereka ambil tujuan Barat, menuju ke Hoa San.
Mereka menunggang kuda pilihan, maka itu dengan lekas mereka telah sampai di Wan-peng dimana mereka singgah di holcl, untuk beristirahat Besoknya pagi habis bersantap dengan matanya yang awas, Seng Hay lihat seekor kalajengking dan seekor kelabang di pojok tembok, dipantek dengan paku, ia bercckat hati, segera ia tarik ujung baju Sin Cie untuk kisiki majikan ini, Kapan si anak muda saksikan dua ekor binatang berbusa itu diam-diam ia manggut ia mengerti, dua binatang itu mesti ada hubungannya sama Ngo Tok Kauw, maka ia sayangi Ho Tek Siu tidak turut bersama, kalau tidak tentulah murid itu bisa memberi penjelasan Seng Hay cerdik, ia dekati jongos untuk diajak bicara hal yang tidak ada kepentingannya, setelah mana, ia tunjuk kala dan kelabang itu sambit kata.
"Dua binatang berbisa di tembok itu tentulah dipantek oleh beberapa orang yang berbicara dengan lidah Selatan?"
Sang jongos tidak curiga, malah ketika ia menJawab, ia tertawa.
"Jikalau tidak karena telah dapat uang ingin aku buang saja dua makhluk jahat itu. S unggun menyebalkan."
Demikian jawabnya, ia tekuk-tekuk jarinya.
"Bclum sampai dua hari, orang-orang yang menanyakan itu seperti kau tuan ada belasan banyaknya!"
"Srapa sebenarnya yang telah pantek binatang itu?"
"Seorang pengemis wanita tua!"
Seng Hay segera lirik Sin Cie.
"Siapa saja yang telah menanyakannya?"
Tanya dia sambil dia scsapkan sepotong perak hancur di tangannya si jongos.
"Kalau bukan segala tukang minta-minta tentu segala orang tidak karuan!"
Sahut jongos itu sambil tertawa.
"Aku tidak sangka, tuan kau pun menanyakannya! Ah, kau upahi aku...."
"Ketika si uwa pantek paku itu, siapa saja yang melihat dia?"
Sin Cie turut menanya.
"ltu hari sungguh kebetulan!"
Berkata si jongos.
"Mulanya satu siangkong muda dan cakap, yang minum arak sendirian saja"
"Beberapa usianya siangkong itu? Bagaimana dandanannya?"
"Nampaknya dia lebih muda sedikit daripada kau siangkong. Dia demikian cakap hingga tadinya aku menyangka kepada anak wayang, Setelah dilihat pedang di pinggangnya, baru aku ubah dugaanku itu. Dia seperti lagi kematian sanaknya, mukanya lesu, sepasang alisnya mengkerut, Dia minum arak akan tetapi kedua matanya merah, Melihat dia, orang bisa merasa kasihan...."
Orang segera menduga pada Ceng Ceng.
"Eh, kau jangan omong sembarangan!"
Hi'e Bin menegur ia anggap sial akan sebut Ceng Ceng kematian orang di rumahnya...."
Kaget jongos itu tapi ia terus susuti meja.
"Apakah tuan-tuan hendak berangkat sekarang?"
Dia tanya.
"Habis bagaimana?"
Sin Cie masih tanya.
Jongos itu masih melirik pada Hie Bin, baru ia menyahut "Selagi siangkong itu minum, aku dengar tindakan kaki di tangga lauwteng, lantas aku lihat datangnya seorang tua, Rambutdan kumis jenggotnya putih semua, akan tetapi roman dan tubuhnya masih kekar sekali Dia membawa sepotong tongkat yang ia taruhnya sambil diketruki keras di lantai sampai cawan-cawan di atas meja turut menggetar.
Sin Cie terkejut "ltulah Oen Beng San,"
Pikirnya.
"Ceng Ceng bertemu sama Samyayanya, cara bagaimana dia dapat loloskan diri...?"
"Orang tua itu duduk di meja di samping mejanya siangkong itu,"
Jongos melanjuti, Dia lantas minta arak dan sayurannya, Dia baru duduk, lantas datang seorang tua tain, Anehnya beruntun telah datang semuanya empat orang tua, semua rambut dan kumisnya putih, mukanya merah segar Senjata mereka ini ada yang tombak cagak pendek, ada yang runcing kulit Mereka tidak melihat satu pada lain akan tetapi mereka duduk masingmasing di satu meja yang aneh ialah mereka kitari si siangkong.
Hal itu membuat aku sangat heran, Habis itu tidak lama datanglah si pengemis wanita tua.
Mulanya majikan hendak usir pengemis ini siapa tahu, Trang!"
Ia membuat satu suara nyaring, hingga aku terkejut Tuan sangka apa sudah terjadi?"
"Apakah itu?"
Hie Bin balik tanya.
"lni dia yang dibilang, Malaikat Uang berkeredong kulit anjing, orang tidak dapat dilihat dari wajahnya saja."
Jawab si jongos yang tegas kekagumannya.
"Suara nyaring itu adalah sepotong besar perak, yang dilemparkan di meja kuasa, Kemudian, sambil memandang dan menuding kepada empat orang tua itu ia bilang.
"Uang mukanya semua tuan-tuan itu masuki dalam perhitunganku Tuan, pernahkan tuan bertemu dengan pengemis wanita itu?"
Sin Cie menjadi sibuk, dia gelisah.
"Empat jago dari Cio Liang Pay sudah tak dapat dilawan Ceng Ceng, sekarang muncul Ho Ang Yo! itulah hebat -pikirnya, Gembira sangat si jongos dengan penuturannya, tanpa tunggu jawaban si anak muda, ia sudah meneruskan "
Walaupun uang arak mereka telah dibayarkan, empat orang tua itu tidak memperdulikannya, mereka terus repot dengan arak mereka sendiri Maka si uwa jadi mendongkol dengan tiba-tiba ia berseru, sebelah tangannya diayun, lantas satu benda putih mengkilap menyambar orang tua yang membawa tongkat."
"Jangan ngeberahol!"
Hie Bin tertegun "Mungkinkah pengemis wanita itu punya pedang wasiat?"
"Untung apa aku mendusta?"
Balik tanya si jongos.
"Memang itu bukannya pedang wasiat akan tetapi bedanya tak banyak! Si orang tua angkat sumpitnya, akan tanggapi serangan Segera terdengar suara nyaring, suara bentrokan di antara senjata dan sumpit itu. Habis itu aku tampak sumpit merupakan gagang rencengan Ketika aku mulanya melihat aku kaget bukan main! Tahukah kau apa adanya benda yang dipakai menyerang itu?"
"Apakah itu?"
Hie Bin tanya.
"ltu adalah serenceng sarung kuku! Dan semuanya kena tercantol di antara sumpit! Saking kagum, aku berseru dengan pujianku, Selagi aku memuji, aku dengar satu suara nyaring, Apakah suara itu kau tahu?"
"Apakah itu?"
"Kau lihat ini."
"Jongos itu tarik tangan Hie Bin untuk bawa dia kepada buah meja, untuk unjuki pinggiran meja itu. Di atas meja itu ada satu lubang yang kecil, ketika jongos ambil sebatang sumpit dan memasukinya ke dalam lubang itu, tepat busurnya.
"lnilah sumpitnya si orang tua, yang ditancapkan ke meja ini,"
Jongos itu menjelaskan "Tidakkah itu ada kepandaian yang luar biasa?
Mungkin si pengemis wanita melihat dia tidak punya kesanggupan melawan dia lantas lari keluar Kemudian, setelah si siangkong berlalu ber-sama-sama empat orang tua itu, Rupanya mereka ada dari satu rombongan, yang mengatur diri demikian rupa untuk layani si pengemis wanita tua itu...."
"Ke arah mana perginya mereka itu?"
Tanya Sin Cie diakhirnya.
"Mereka menuju ke Liang hiang, dusun di barat selatan sana,"
Sahut sang jongos, Tidak lama seberangkatnya mereka itu si pengemis wanita tua datang puIa, kali ini dia tinggalkan kala dan kelabangnya itu.
Dia lelah berikan sepotong perak kepadaku dengan pesan agar aku jagai itu kedua binatang berbisa supaya jangan ada yang ganggu, Selama ini keamanan ada sangat terganggu, majikan lelaki ingin tutup perusahaannya ini, nyonya majikan tidak mengijinkannya maka perusahaan di1an-jutinya...."
Sin Cie tidak tunggu sampai orang ngoceh habis, ia lantas lari keluar.
"Mari kita susul!"
Serunya pada kawan-kawannya, Maka semua memburu keluar untuk naik atas kuda mereka dan kabur.
Pada hari itu ia minggat, Ceng Ceng sedang mendongkol dan berduka, Setelah ambil putusan akan bawa abu ibunya ke Hoa San, untuk dikubur jadi satu dengan jenazah ayahnya, Malah ia telah ambil keputusan sesudah penguburan ayah dan ibunya itu ia akan habiskan jiwanya dengan bunuh diri di samping kuburan ayah dan bundanya itu....
ia merasa sangat tidak beruntung, sebab dapati bakal suami yang tidak mencinta....
Ceng Ceng mampir di Wan peng dengan niatan menghibur diri ia tidak sangka disitu ia bertemu sama keempat yayanya yang segera kurung padanya, kemudian datang Ho Ang Yo yang sudah adu kepandaian, hingga Oen Beng San perlunjuki kelihayannya akan bikin kuncup nyalinya pahlawan Ngo Tok Kauw itu hingga nyonya itu mundur sendirinya, Tahu bahwa dia tidak punya harapan akan lolos lagi dari tangannya keempat yaya itu, Ceng Ceng dapat mengatasi diri, hingga selanjutnya ia tidak jeri Iagi.
ia hanya khawatir ia nanti lantas dibikin mati di situ juga sedang giatnya adalah supaya ia bisa lebih dahulu mempersatukan dan mengubur abu ibunya dengan tu!ang-tulang ayahnya.
ia ada cerdik, dalam saat berbahaya itu, ia masih dapat akal Toa yaya,"
Ia mendengar Oen Beng Tat sambil ia hampirkan yaya yang terus itu, untuk beri hormatnya, sesudah mana ia juga kasih hormat kepada ketiga yaya lainnya, Empat yaya itu heran menampak orang tak jeri sedikit juga terhadap mereka hingga mereka mengawasi saja.
"Suwie-yaya hendak pergi ke mana?"
Kemudian Ceng ceng tanya sambil ia tertawa.
"Kau sendiri hendak pergi ke mana?"
Beng San tanya.
"Aku sedang tunggu sahabatku she Wan karena kita lelah berjanji akan bertemu di sini."
Ceng Ceng jawab dengan karangannya belaka.
"la masih belum sampai...."
Kelihatannya keempat yaya itu terkejut mendengar disebutnya nama Sin Cie, malah Oen Beng Gie, si Jie yaya segera berbangkit "Lekas ikut kami!"
Katanya.
"Aku lagi tunggu kawan...."
Ceng Ceng berpura-pura, Beng Gie ulur sebelah tangannya bagaikan berke1e-batnya kilat, sampai tahu-tahu Ceng Ceng merasai lengannya tercekal keras nadinya kena dipencet, hingga tanpa berdaya, ia mesti ikut bertindak keluar rumah makan, ia terus diajak naik bersama ke atas seekor kuda yang segera dilarikan keras ke luar kota, terus sampai di suatu tempat yang sepi sekali, Di sini mereka berhenti dan turun di bawah sebuah pohon besar, Tapi si nona dijoroki hingga dia jatuh terjungkal "Anak hina dina, anak tidak tahu malu!"
Begitu ia segera didamprat "Hari ini Thian adalah yang membikin kau bertemu kami!"
Ceng Ceng lantas menangis.
"Yaya, aku salah apa?"
Dia tanya.
"Aku minta yaya beri ampun padaku, Lain kali aku nanti dengar kata...."
"Hm, kau masih mengharap hidup?"
Bentak Oen Beng Gie, jie yaya itu. Malah dia segera hunus pisau belatinya yang tajam.
"Jie yaya, kau hendak bunuh aku?"
Tanya Ceng Ceng sambil menangis.
"Kau berdosa, pantas kau terima kematianmu!"
Kata Oen Beng Gie, si Ngo yaya.
"Sam yaya,"
Kata Ceng Ceng tanpa perdulikan ngo yaya itu.
"lbuku adalah anak perempuan kandung dari kau maka kepadamu aku minta tolong dalam satu ha1...."
"Tetapi buat minta dikasih tinggal hidup itulah kau jangan harap!"
Kata engkong luar itu. Ceng Ceng menangis pula.
"Kalau nanti aku telah mati,"
Katanya.
"Aku minta kau tolong sampaikan sepucuk suratku kepada itu sahabat she Wan, kau pesan supaya dia sendiri saja yang pergi cari mustika, tidak usah dia tunggu aku lagi-"
Tergerak hatinya keempat yaya itu mendengar kata-kata "cari mustika".
"Apakah itu yang hendak dicari?"
Tanya mereka hampir berbareng.
"Aku bakal mati, tak dapat aku buka rahasia,"
Jawab Ceng Ceng.
"Aku cuma minta supaya suratku tolong disampaikan...."
Nona ini robek ujung bajunya, ia ambil sepotong jarum dari sakunya, dengan itu dia tusuk jari tangannya, akan keluarkan darahnya itu, ia menulis di atas itu robekan baju, Masih keempat yaya itu tanya mustika apa itu yang hendak dicari, tetapi Ceng Ceng menulis terus, ia tidak berikan jawabannya, Ketika telah selesai ia menulis ia serahkan surat darah itu pada engkongnya.
"Untuk sampaikan surat ini, sama yaya tidak usah kau menemukan sendiri orang she Wan ilu,"
Ia bilang.
"Cukup jikalau kau kirim orang ke Wang peng ke rumah makan di mana kita lelah bertemu itu."
Meskipun ia sedang bersandiwara, tapi kapan ia ingat Sin Cie, yang dikatakan "tidak setia" , Ceng Ceng toh bersedih, hingga ia menangis pula dengan sedih, air matanya mengucur tak hentinya.
Kecmpat yaya itu tidak tahu orang sedang permainkan mereka, mereka tidak tahu apa sebabnya cucu ini menangis demikian sedih.
Ketiga yaya dekali Beng San, untuk baca surat darah itu.
Ceng Ceng menulis begini Toako Sin Cie!
Dalam penghidupan kita ini, tidak dapat kita bertemu pula satu dengan lain, Maka itu mustika kepunyaan ayahku, semuanya aku hadiahkan kepadamu, Pergilah kau yang gali sendiri, tidak usah kau tunggu aku pula.
Hormatnya adikmu si Ceng "Mustika apakah itu!"
Beng Go bentak "Mungkinkah kau ketahui tempat simpannya itu?"
Ceng Ceng cuma manggut dengan per1ahan.
"Fui, kau menjual orang!"
Ngo yaya itu bentak pula.
"Mana ada mustika! Ayahmu yang sudah mampus menjadi setan telah perdayakan kami, sekarang kau kembali hendak main gila pu!a!"
Ceng Ceng tidak menyahuti, hanya sambil tunduk, ia keluarkan dari sakunya sepasang kumala yang disu1am-kan kepada sepotong ikat pinggang sutera, itulah kumala model kupu-kupu yang dapat dari satu-di antara sepuluh peti harta karun, Karena kupu-kupu itu indah ukirannya dan mungil, ia sengaja ambil untuk disimpan, Setelah keluarkan kupu-kupu kumala itu, hingga dapat dilihat keempat yaya itu mendadak ia berbangkit untuk berdiri tegak untuk kata juga secara menantang, Terserah kepada kamu, suratku ini hendak kamu sampaikan kepada aiamatnya atau tidak!
sekarang kamu bunuhlah aku."
Di antaranya suaranya itu, kumalanya itu jatuh ke tanah sambil menerbitkan suara, ia lantas membungkuk untuk memungutnya, akan tetapi Oen Beng Go telah dahulu ia menyambar Merah matanya keempat yaya itu sesudah mereka lihat tegas itu kumala kupu-kupu.
Mereka ada penjahat-penjahat dari puluhan tahun, cara bagaimana mereka tidak kenal mustika berharga, Maka itu goncanglah hati mereka semua.
"Darimana kau peroleh ini?"
Akhirnya mereka tanya, Ceng Ceng tetap membisu.
"Kau kasih tahu pada kami, mungkin kami akan selamatkan jiwamu."
Beng San lantas membujuk "ltulah satu di antara barartg-barang mustika yang aku maksudkan,"
Sahut Ceng Ceng dengan roman ter-paksa.
"Bersama-sama Wan Toako itu, setelah kami pahamkan pengunjukan petanya, aku telah berhasil mendapat tempat mustika disimpan dan membongkarnya, Sama sekali ada sepuluh peti, yang memuat pelbagai batu permata dan uang, Adatah sukar untuk bawa itu semua, maka aku ambil ini sepasang kupu-kupu. Sekarang kita hendak pergi pula untuk ambil semua peti itu...."
Kembali ia menangis, Keempat yaya itu jauhkan diri mereka untuk berdamai Mereka tidak takut si nona nanti kabur, sebab di tempat sepi seperti itu dengan gampang mereka dapat mengejarnya.
"Nyatalah sekarang benar halnya mustika simpanan itu,"
Kata Oen Beng San.
"Baik, kita paksa dia antar kita, untuk kita yang ambil,"
Beng Gie usulkan. Tiga saudara itu manggut "Lebih dahulu kita dustakan dia bahwa kita akan memberi keampunan,"
Beng San utarakan tipu dayanya.
"Kalau nanti mustika sudah ada di dalam tangan kita, baru kita hukum dia!"
Tiga saudara itu setuju.
"Aku ada punya satu cara gampang,"
Kata Beng Gie.
"Lcbih dahulu kita ambil mustikanya, setelah itu kacung hina dina ini kita belesaki ke dalam lubang bongkaran itu, untuk diuruk pula, maka kalau nanti si binatang she Wan itu datang menggali, dia bakal gali hanya mustika hidupnya ini! Tidakkah itu bagus?"
Tiga saudara itu tertawa berkakakkan.
"Bagus pikiran ngotee!"
Kata mereka, yang puji adik bungsu itu, Mereka itu girang karena sudah dapatkan Ceng Ceng diluar dugaan, mereka juga bakal dapat harta karun.
Mereka hampirkan Ceng Ceng, untukdidesak akan antar mereka ke tempat simpanan mustika dengan si nona dijanjikan jiwanya akan dikasih tinggal hidup....
Ceng Ceng sedang bersandiwara, ia menampik akan antari semua yaya itu, adalah setelah dibujuk pulang pergi dan diancam juga, baru ia mau sebutkan, tempat simpan harta karun itu adalah di puncak gunung Hoa San.
ia telah pikir, selagi empat yaya itu repot bongkar tanah ia mau cari ketika akan cari kuburan ayahnya, supaya bisa dikubur bersama dengan abu ibunya, Sesudah itu seperti rencananya, ia hendak bunuh diri, Karena ia telah unjuk bukti dan alasan yang masuk di akal, empat tertua dari Cio Liang Pay itu percaya omongan nona ini.
Ketika dahulu Ngo Couw dapat bekuk Kim Coa Long kun, yang dibawanya ke Hoa San, mereka memang sudah dengar halnya harta karun itu dipendam di gunung tersebut, hanya itu waktu, kecuali Kim Coa Long kun bisa mengingat, mereka juga tidak peroleh suatu apa.
Belakangan pun terjadi lelakonnya Thio Cun Kioa dan si pendeta yang dapat sergap Sin Cie dengan kesudahan mereka mati semua, perjalanan dilanjutkan dengan segera, dengan cepat luar biasa, malah hari itu, mereka tidak singgah lagi, Sebabnya dari perjalanan cepat luar biasa ini karena kekhawatirannya keempat yaya itu nanti Sin Cie dapat susul mereka, karena mereka mengerti, asal mereka kesusul si anak muda, usaha mereka bisa gagal, jiwa mereka sendiri bisa hilang, Maka bukan main lelahnya mereka berempat ketika itu sore mereka sampai di tapal batas propinsi Shoasay, Lantas saja mereka cari hotel di mana paling dahulu mereka minta disajikan barang hidangan, Beng Gie ada orang yang paling sembrono di antara keempat saudaranya itu pun paling kuat daharnya maka dialah yang berteriak-teriak minta arak, sayur, dan mie.
Jongos telah bekerja sebat untuk layani tetamu-tetamunya ini.
Seperti biasanya, begitu lekas barang makanan sudah diatur di atas meja, Beng Gie lantas mendahului saudara-saudaranya, daharnya sangat bernapsu.
Ceng Ceng diperkenankan duduk dahar bersama, disaat nona ini dan Beng Tat bertiga angkat sumpit serupa benda, melihat mana, dia kaget tidak terkira, sampai tubuhnya berdiri tegak bagaikan patung, lantas rubuh.
Beng Tat bersama dua saudaranya, juga Ceng Ceng kaget bukan main, Benda yang dijepit sumpitnya Beng Gie itu adalah seekor kawa-kawa yang hitam dan besar Tiga saudara itu juga heran ketika mereka dapati eng Gie masih saja berdiam, maka Beng Tat lantas mendekati untuk raba tubuhnya.
Engko ini kaget sekali, apabila ia telah kena raba tubuh yang lantas mulai jadi dingin, sedang napas di hidungnya adik itu pun sudah berhenti berjalan Dia kaget berbareng gusar sekali, Dalam murkanya Beng San hampirkan kuasa restoran untuk dijambak, rubuh kuasa ini demikian keras, hingga tulang betisnya orang ini patah, hingga si kuasa pingsan, Beng San tunggu sampai orang sadar scndirinya, ia jambak dada orang, dilain pihak dia jepit bangkai kawa-kawa dengan sumpitnya untuk di antar ke depan muka kuasa itu.
"Kau bernyali sangat besar! Kau berani racuni kita! Apakah ini?"
Dia tanya dengan bengis. Kuasa itu kaget dan takut bukan main.
"Rumah makan kami sudah dibuka selama tujuh puluh tahun.,."
Katanya dengan tubuh bergemetar dan suara tidak lancar.
"Kita juga selalu jaga kebersihan dapur kita.... Heran entah darimana datangnya ini binatang...."
Beng San samber pipi orang, sekali ia memcncet, tcrpentanglah mulut si kuasa restoran itu, menyusul mana, bangkai kawa-kawa dimasuki ke dalam mulutnya, dijejaii, hingga bangkai itu kena tertelan.
Boleh dibilang dalam sekejap saja, kuasa restoran itu rubuh binasa, kulit di seluruh tubuhnya berubah menjadi hitam, Karena ini, kacaulah keadaan di rumah makan itu.
Beng Tat takut Ceng Ceng lari, ia sambar nona ini, untuk diseret keluar begitu lekas dia kempit tubuhnya Beng Gie, Beng San dan Beng Go jadi seperti kalap, mereka keluarkan senjata mereka dengan apa mereka menyerang kalang kabutan, akan obrak-abrik rumah makan itu, dimana ada beberapa jongos dan tetamu lainnya hingga sama sekali rubuh tujuh atau delapan korban, Kemudian sesudah melepas api akan bakar rumah penginapan berikut rumah makan itu, baru mereka angkat kaki.
Tidak ada orang lainnya yang berani maju mencegah.
Beng Tat pergi jauh juga, baru ia turunkan mayat adiknya buat bersama dua saudaranya menggali lubang, akan kubur secara sembarangan pada saudara itu.
Kemudian mereka singgah di sebuah kuil tua.
Tiga saudara itu gusar dan berduka dengan berbareng, Mereka menduga pada kejahatan kaum Ngo Tok Kauw, karena tidak bisa jadi orang hotel berbuat demikian jahat Ceng Ceng tahu lihaynya pihak Ngo Tok Kauw, ia juga menduga pada kaum agama yang memuja bisa itu.
"Pasti ini ada perbuatan Ho Ang Yo, si pengemis tua,"
Terkanya.
"Rupanya dia telah bayangi kita...."
Karena kejadian hebat itu, ketika dilain harinya mereka mampir di rumah makan, untuk bersantap, Beng Tat suruh jongos cobai dulu semua barang makanan yang disajikan, sesudah didapat kenyataan, barang hidangan itu tidak ada racunnya, baru mereka dahan Beberapa hari selanjutnya, perjalanan dilanjuti tanpa kejadian sesuatu, hingga hatinya tiga saudara Oen itu menjadi sedikit lega, mereka melainkan tetap waspada, Pada suatu malam di rumah penginapan, mendadak terdengar suara berisik di istal, jongos berteriak-teriak ada pencuri kuda, Beng Go kaget, ia pun gusar, sebab itulah kudanya, yang diganggu, ia lantas pergi ke belakang, untuk memeriksa, Baru saja ia sampai di depan istal, mendadak ia dengar suara siur-siur dari tempat gelap di sampingnya, Dengan sebal ia berkelit Tapi itulah semprotan barang cair, karenanya tidak dapat ia hindarkan diri, terutama mukanya yang kena tersemprot.
Dengan lantas ia dapat cium bau amis, ia lantas menduga jelek, Karena ia lihay, sebab ia tidak rubuh seketika, ia masih sempat cabut ruyungnya, ia menyerang ke arah si pencuri kuda.
ia bisa mendengar tegas hingga ia tahu ke mana ia mesti arahkan senjatanya, ia pun merasa bagaimana ia telah menyerang dengan jitu dan dengar suara senjatanya mengenai tubuh musuh, yang bebokongnya kena terhajar hingga tulangnya patah.
"Ha, tua bangka kau masih galak!"
Demikian satu bentakan yang dibarengi dengan satu bacokan.
Masih sempat Beng Go menyerang pula, Lebih dahulu ia menangkis, hingga ia dapat lilit kampaknya si penyerang, sesudah mana, ia membetot dengan keras, Musuh tidak dapat pertahankan diri, dia terbetot keras, sampai tubuhnya terlempar, tepat mengenai tembok, hingga kepalanya pecah dengan kepala hancur, tubuhnya terus rubuh binasa!
Beng Tat dan Beng San menduga pada orang-orang jahat tidak berarti, mereka percaya, Beng Go seorang cukup untuk hajar si pencuri kuda, baru mereka kaget ketika mereka dengar saudara itu berkaok-kaok, hingga mereka lompat memburu, Beng Go kedapatan sedang menggaruk-garuk mukanya, masih saja ia perdengarkan suaranya, sampai Beng Tat lompat untuk peluk tubuhnya.
"Kau kenapa ?"
Tanya ini kanda sulung, Beng San sendiri segera lompat kcluar, untuk cari musuh, akan tetapi sia-sia saja, ia tak dapatkan siapa juga, Maka ia lantas kembali ia kaget kapan ia dapat si kanda nya peluki adiknya sambil kanda itu menangis menggerung-gerung.
Nyatalah, dalam waktu yang pendek sekali, setelah dia berhenti menggaruki mukanya, Beng Go telah berhenti bernapas, mukanya telah jadi tidak karuan, terutama bekas digaruk pulang pergi tak hentinya, Karena ia telah terkena semprotan bisa, yang pertama membuat ia merasa gatal, hingga ia tak tahan akan tak menggaruki mukanya, sedang matanya terus tidak dapat dibuka lagi.
"Ketika duapuluh tahun dahulu Kim Coa Long kun minggat dari tangan kita,"
Katanya Bcng Tat sambil menangis.
"Dia sudah terputuskan urat-uratnya, dia telah jadi satu manusia bercacad, maka itu waktu, aku menyangka dia telah ditolongi orang-orang Ngo Tok Kauw...."
"Kau benar,"
Beng San bilang.
"Teranglah sudah, Ngo Tok Kauw telah memusuhkan kami, secara diam-diam. Kita telah diundang Co Hoa Sun untuk bekerja sama-sama, walaupun usaha kita bermusuh satu pada lain, maka itu kenapa Ngo Tok Kauw seterukan kami, Nyata Ngo Tok Kauw ada di pihak Kim Coa Lon kun. Oen Beng Tat berpikir sebcntar, lantas berjingkrak.
"ltulah mungkin,"
Katanya.
"Kim Coa Long kun punya bisa yang lihay, pasti dia punyakan perhubungan dengan Ngo Tok Kauw."
Dua saudara ini jadi ingat benar ketika dulu Kim Coa Long kun datang mengacau di Cio-Iiang untuk menuntut balas, Karena ini diam-diam hati mereka gentar Tanpa banyak omong lagi, mereka rawat mayat Oen Beng Go untuk dikubur, sesudah mana mereka ambil putusan untuk berangkat terus ke Hoa San, guna cari dan bongkar harta karun, sesudah itu mereka hendak berdaya mencari balas, Tctap mereka khawatir nanti diakali, maka itu baik diwaktu berislirahat, terutama diwaktu dahar, mereka berlaku sangat hati-hati.
Diwaktu malam, mereka sampai takut untuk mondok di hotel.
Pada suatu hari, Beng Tat dan Beng San ajak Ceng Ceng berhenti di sebuah kuil tua di tengah perjalanan Beng Tat, meskipun sudah tua, tenaganya tetap besar, maka dengan gampang ia angkat dua potong batu penggilingan yang berat, untuk dipakai menggalang pintu depan dan pintu belakang, supaya tidak ada orang yang bisa dobrak pintu itu di luar tahu mereka.
Secara demikian baru mereka dapat tidur dengan hati tentram Tepat tengah malam, ada terdengar suara berkelisik, Sebagai ahli-ahli ilmu silat, atu orangorang kang-ouw ulung, terang kupingnya dua saudara Oen ini.
Mereka mendusin dengan lantas, Mulanya terdengar suara seperti suara tikus, mereka tidak perhatikan maka mereka tidur pula, Oen Beng San sudah tidur pula sayup-sayup tatkala ia dapat cium bau harum, hingga ia merasakan hatinya, dirinya lega benar, hingga ia merasa sangat gembira, lantas seperti lagi melayang-layang, bagaikan ia berada di atas sorga, Tidak lama dari itu, hatinya goncang dengan tiba-tiba hingga ia mendusin sambil terus lompat bangun dengan berjingkrak.
Oen Beng Tat juga lantas bangun, tapi ia berotak sangat cerdas, masih ia ingat Ceng Cehg, tangan kiri siapa ia tarik, Maka dilain saat, keduanya sudah berada di samping meja.
Dari sini di antara sedikit sinar terang, mereka lihat Oen Beng San sedang bersilat dengan tongkatnya yang lihay, sampai dia kena hajar patung Buddha sampai patung itu patah dan rubuh, suara hajaran dan rubuhnya keras sekali, Serubuhnya patung itu, dari belakang patung muncul dua bocah yang mengenakan pakaian serba kuning.
Bo-cah yang satu yang bersenjatakan golok dengan berani terjang Beng San.
Bocah yang lain memegang sebatang pipa sumpitan, dia bersedia akan sumpit atau semprot jago she Oen itu, Menampak demikian, Toa-yaya tidak ayal lagi dengan panah di tangannya, maka kapan senjata rahasia itu sudah melesat, kedua bocah baju kuning itu rubuh saling susul jiwa mereka terbang melayang, Meski sudah tidak ada musuh, Oen Beng San masih terus berkelahi "Shatee, musuh sudah tidak ada,"
Beng Tat teriaki adik itu, Beng San seperti tidak gubris pemberitahuan itu, ia terus saja bersilat, malah gerakgerakannya makin hebat, Rupanya ia telah terkena pengaruh hebat dari bau harum tadi.
"Celaka!"
Pikir Beng Tat yang dari heran menjadi kaget, hingga ia bercuriga, ia lantas lompat maju, dengan niat rampas tongkat adik itu, akan tetapi Samyaya putar tongkatnya sangat cepat dan rapat, hingga ia tidak sanggup merapatinya, Selagi bersilat terus, mendadak yang ketiga dari Ngo Couw berteriak keras sendirinya, tanpa sebabnya habis mana, ujung tongkatnya diarahkan kepada dadanya sen-diri, hingga ia terserang sangat hebat, berbareng sama memuntahkan darah hidup, ia rubuh terguling, terus saja tubuhnya menjadi kaku.
BengTat kaget tidak kepalang, tidak terkecuali Ceng Ceng, ia telah saksikan ketiga yayanya binasa secara hebat, terbinasa oleh pihak Ngo Tok Kauw, Tidak lagi ia mempunyai rasa simpati kepada semua yayanya itu, toh sekarang ia merasa terharu juga, tanpa merasa ia ber-linangkan air mata.
Beng Tat sampai tidak sanggup bcrkata-kata lagi, dengan tenang ia pondong tubuh adiknya untuk dibawa keluar, akan digalikan lubang, buat dipendam secara demikian saja.
Dia ada seorang yang hatinya paling keras, bagaikan baja, maka itu meski ia beri hormat penghabisan kepada adiknya itu, tidak ia menangis.
"Mari kita berangkat!"
Kata dia pada Ceng Ceng.
Kendati juga yayanya tinggal seorang, Ceng Ceng masih jeri, dengan terpaksa ia mengikut, akan lakukan perjalanan dimalam yang gelap petang itu, sebelum mereka kenyang tidur, Kali ini Oen Beng Tat berlaku luar biasa waspada, Pada suatu hari semasuknya dalam wilayah Siamsay, Oen Beng Tat lihat satu bocah dengan pakaian serba merah menghampirkan dia sampai dekat scka1i.
Mungkin dia ingat bocah-bocah serba kuning, ia jadi curiga, malah tanpa bilang suatu apa, dengan mendadak saja ia menyerang.
Tidak ampun lagi, bocah itu pecah batok kepalanya, tubuhnya rubuh binasa dalam sekejap.
Ceng Ceng kaget, ia ngeri tetapi terus ia bungkam, ia jeri akan saksikan roman bermuram durja dari yaya itu yang wajahnya menjadi gelap dan bengis, sementara itu orang sekarang mulai menuju ke kaki bukit Hoa San, sebagaimana gunungnya sudah tertampak dari kejauhan, Mereka sudah jalan setengah harian, maka keduanya merasa sangat berdahaga, Karena ini, mereka singgah di sebuah paseban, untuk minum air, sedang kuda mereka dilepas untuk beristirahat Sebentar kemudian, Oen Beng Tat dihampirkan oleh seorang tani yang berlidah Siamsay, sebagaimana terdengarnya itu ketika dia menanya.
"Apakah aku bicara sama Oen Loyacu?"
Beng Tat berbangkit "Apa kau mau?"
Tanyanya dengan bengis.
"Tadi ada orang upahkan aku dua rencengan uang, aku diminta sampaikan surat untukmu,"
Sahut petani itu.
"Mana dia orang itu?"
"Dia sudah pergi lama, dia menunggang kuda."
"Coba sambuti suratnya!"
Beng Tat perintah Ceng Ccng, ia ada sangat licin, hingga ia tidak mau terima sendiri surat itu, Ceng Ceng sambuti surat itu yang tertutup dalam sampul, rupanya seperti surat biasa, tidak ada yang men-curigaL Baru setelah itu, jago tua ini berani menerima itu dari tangan si nona, Sama sekali surat itu ada tiga, Yang pertama memuat tulisan.
"Oen Loo-toa, Saat kematianmu sudah sampai. Panas hatinya Beng Tat, hingga ia jadi sangat gusar ia mau lihat surat yang kedua, tapi surat ini terlepit, sukar dibuka lepitannya, akan tetapi ia telah jadi tidak sabaran, maka ia tempel jari tangannya ke mulut, ia basahkan surat dengan air ludahnya, Baru sekarang surat itu dapat dibuka, Bunyinya.
"Jikalau kau tidak percaya bacalah surat yang ketiga."
Meluap hawa amarahnya jago tua ini.
Surat yang ketiga juga tertutup rapat, untuk dapat membukanya Beng Tat mesti bawa pula jari tangannya ke dalam mulutnya, untuk basahi itu dengan air ludah di lidahnya, maka setelah kena dibasahkan, barulah surat ketiga itu dapat dibuka, untuk dibaca, Akan tetapi kali ini, surat itu tidak ada huruf-hurufnya, Apa yang terlihat lukisan gambarnya seekor kelabang besar serta gambarnya satu tengkorak manusia.
Dalam murkanya, karena sangat mendongkol Beng Tat lemparkan surat itu ke tanah.
Boleh dibilang hampir berbareng dengan itu ketua dari Cio Liang Pay rasai sedikit sakit atau perih pada jari telunjuk dari tangannya yang kanan dan ujung lidahnya, Segera ia ingat suatu apa, mendadak saja ia rasakan tubuhnya panas dingin.
"Aku telah terpedaya!"
Pikirnya, kagetnya bukan kepalang, ia merasa pasti sudah jadi korban kelihayan musuh.
Surat-surat itu rupanya sengaja dilempel, supaya jadi sukar untuk buka lepitannya, supaya kalau toh mesti dibuka, ada diperlukan air untuk membasahkannya.
Air untuk membuka surat, yang paling gampang ialah air ludah, Lebih dahulu daripada itu, mestinya racun telah dikenakan kepada surat bagian yang ditempel lekat itu, supaya dengan menggunai ludah, orang akan keracunan tanpa merasa, Ini adalah satu di antara tiga puluh enam tipu daya dari kaum Ngo Tok Kauw, Dahulu Kim Coa Long kun dapat pelajari ini dari Ho Ang Yo maka ia bisa kenakan racun itu pada "Kim Co Pit Kipriya"
Yang palsu, hingga Thio Cun Kiu rubuh sebagai korban, Beng Tat teliti dan waspada, tetapi ia tidak ingat sampai begitu jauh, Maka sekarang ia telah menjadi korban, Begitu ia insyaf, ketua dari Cio Liang Pay lantas ingat si petani, Kapan ia angkat kepalanya, ia tampak orang sudah jalan pergi beberapa puluh tindak, Dalam gusarnya, ia lompat untuk mengejar Baru ia sampai di luar paseban, ia rasai kepalanya sangat pusing, matanya berkunang-kunang, ia kuatkan hati tidak perduli kepalanya lantas terasakan sangat sakit, ia kerahkan tenaganya, ia menimpuk dengan panah tangannya.
Petani itu memang ada orang Ngo Tok Kauw yang sedang menyamar ia sudah serahkan suratnya, ia percaya ia sudah berhasil, maka ia berlalu dengan tenang, ia menjerit dengan keras ketika tahu-tahu ia merasa bebokongnya tertancap panah tangan, terus tubuhnya rubuh, jiwanya melayang pergi.
Oen Beng Tat tertawa seram beberapa kali habis itu tubuhnya rubuh terjengkang, tidak sanggup dia pertahankan diri lagu "Toa yaya, kau kenapa?"
Tanya Ceng Ceng dengan kaget Nona ini masih belum tahu, suatu apa, ia tidak menyangka je1ek.
Malah ia hampiri yaya itu sambil membungkuk ia hendak melihat muka orang, Mendadak Beng Tat geraki tangan kirinya, menyusul itu, tombaknya melesat nyambar, Ceng Ceng kaget bukan main.
Mana dapat ia berkelit lagi?
jarak mereka berdua ada terlalu dekat ia cuma lihat berkelebatnya satu cahaya putih perak, menuju ke arah dadanya, Disaat nona ini tutup kedua matanya, untuk terima binasa, mendadak ia dengar suara barang keras beradu, menyusul rasa sakit pada belakang kakinya, Kapan ia buka kedua matanya, ia dapatkan tombak pendek terletak di dekat kakinya, Adalah tombak itu yang membuat ia merasa sakit, sekarang ia ingin tahu siapa-siapa sudah tolongi padanya, pada waktu ia berbalik mendadak ia rasakan bebokongnya terpegang keras, sampai ia tak dapat berbalik, Selagi ia heran dan bingung, tahu-tahu kedua tangannya telah ditelikung ke belakang, diikat dengan keras.
Adalah sesudah ia tidak berdaya baru, bisa menoleh.
Tapi kapan ia kenali siapa yang tawan padannya ia kaget melebihi waktu ia ditangkap keempat yayanya, Orang itu adalah Ho Ang Yo dari Ngo Tok Kauw, si uwa beroman jelek dan bengis yang menyeramkan Ceng Ceng merasa, di tangan perempuan tua ini, ia bakalan tinggal dunia dalam cara lebih hebat lagi...."
Ho Ang Yo tapinya tertawa pada nona ini tertawa dingin sekali.
"Kau inginkan kematian cara apa?"
Si uwa tanya.
"Kau pilih mati dengan satu kali bacok? Atau kau inginkan dipaguti seribu ekor ular selama tujuh kali tujuh menjadi empat puluh sembilan hari, sesudah mana baru kau mati.,.?"
Ceng Ceng bergidik, ia meramkan mata, ia tidak menyahut.
"Kau antar aku mencari ayahmu yang tidak berbudi itu!"
Kata pula si uwa.
"Dengan antari aku, aku akan bikin kau tidak sampai tersiksa...."
Ceng Ceng segera berpikir "Memangnya aku hendak cari tulang-tulang ayah, Baik aku antar padanya, Sampai di sana, aku mau lihat, apa dia bisa bikin...."
Maka ia menyahut dengan gagah.
"Aku juga hendak tengok ayahku, mari kita pergi bersama!"
Ho Ang Yo curiga orang terima tawarannya demikian gampang, Tapi Kim Coa Long kun telah jadi seorang bercacat, tidak perduli ilmu silatnya bagaimana lihay, ia toh tidak usah takut, begitu ia pikir.
"Baik, mari kau antar aku,"
Katanya sambil tertawa.
"Kau merdekakan dulu aku, supaya aku bisa kubur mayat toa-yaya,"
Ceng Ceng minta.
"Merdekakan kau? Hm."
Dia jemput tombak pendek dari Oen Beng Tat, seorang diri terus dia menggali lubang di tepi jalanan, sesudah dia buatkan satu lubang cukup besar, dia gusur tubuhnya Beng Tat, juga tubuh orangnya sendiri untuk dilempar ke dalam lubang itu, yang dia lantas uruki sekedarnya.
Sembari nguruk, uwa itu ngoceh seorang diri.
"Meski juga ayahmu ada satu telur busuk, tidak nanti aku antapkan dia diperhina orang 1ain. Empat tua bangka ini adalah yang membikin ayahmu mati tidak, hidup pun tidak, Sudah sekian lama aku hendak mencari balas kepada mereka, Mengapa kau panggil dia yaya?"
Ceng Ceng tidak mau menjawab, ia hanya jalan, mendaki gunung, Selama hari itu, dua orang ini cuma bisa jalan kira lima puluh lie, jalanan terus menanjak Mereka berhenti di tengah gunung, Untuk dapat beristirahat supaya si nona tidak berdaya dan tidak dapat kabur, kecuali kedua tangannya ditelikung terus, Ho Ang Yo juga belenggu kedua kakinya, Untuk itu ia telah sediakan tali kulit Besoknya pagi, baru terang tanah, orang sudah berjalan pula, Makin tinggi, jalanan makin sukar hingga dari bertindak saja, orang perlu bantuan kedua tangan, untuk pegangan Ho Ang Yo sudah kehilangan tangan kirinya, tidak dapat ia bantu tarik Ceng Ceng sebab tangan kanannya dipakai jambret batu atau oyot, maka itu, terpaksa ia buka ikatan tangan si nona.
ia suruh si nona jalan di depan ia sendiri di belakang, untuk sambil mengawasi.
Ceng Ceng belum pernah sampai di gunung Hoa San, maka itu si uwa yang berbalik mesti menunjuki ia jalanan.
Malam itu mereka tidur di cabang pohon di tepi jurang tapi Ceng Ceng tak dapat tidur dengan tenang, ia berpikir banyak, terutama pikiri nasibnya di tangan orang jahat ini.
Saban-saban ia juga dengar pekik orang hutan, Besoknya perjalanan dilanjuti, Adalah di hari ketiga baru sampailah mereka di puncak Hoa San, gunung kesohor di arah Barat, Dari Sin Cie, Ceng Ceng pernah dengar penuturan perihal keadaan di tempat dimana ayahnya dikubur, sekarang ia perhatikan daerah gunung di sekitarnya ia merasa tepat sekali lukisannya si anak muda, Maka itu mulailah hatinya goncang, hingga sendirinya, ia jadi ber-duka, tidak dapat ia cegah mengalir keluar air matanya.
"Dimana dia sembunyi?"
Tanya Ho Ang Yo dengan bengis, ia tidak perdulikan orang sedang berduka sangat "Disana,"
Ceng Ceng menunjuk kepada jurang.
"Di sana ada sebuah gua, ayah di dalamnya...."
"Baik! Mari kita pergi bersama!"
Si uwa mengajak Ceng Ceng bergidik waktu ia tampak wajah uwa itu.
Roman dia ini nampaknya jadi lebih bengis dan menakuti, Mereka mesti jalan mutar untuk sampai di jurang, Mereka baru jalan beberapa puluh tindak ketika keduanya dengar suara tertawa yang datangnya dari arah suatu tikungan, Ho Ang Yo tarik tangannya Ceng Ceng untuk diajak mendekam di antara rumput yang tinggi dan lebat, di sini lima jari tangannya yang berkuku lihay ditaruh dekat lehernya si nona.
"Jangan bersuara!"
Ia mengancam Tentu saja Ceng Ceng takut, sebab satu kali ia bersuara, tenggorokannya bakal kena tercengkeram sebelum ia sempat berdaya, Segera kelihatan dua orang mendatangi Yang satu ada imam tua, yang lain ada seorang tani dari usia pertengahan.
Ceng Ceng segera kenali Kwie eng cu.
Bhok Siang Tojin serta Tong-pit Thie shuipoa Oey Cin, masing-masing guru dan saudara seperguruan yang tertua dari Sin Cie, ia tahu mereka itu lihay tapi ia tidak berani menjerit untuk minta tolong, ia jeri untuk lima kuku beracun dari Ho Ang Yo.
"Suhu bakal sampai lagi beberapa hari!"
Terdengar suara Oey Cin yang berbicara sambil tertawa.
"Juga suteenya yang kecil bakal datang dalam lagi beberapa hari ini, maka itu waktu, lotiang tidak usah khawatir nanti tidak ada lawanmu main catur."
Bhok Siang tertawa dengan nyaring.
"Jikalau bukannya karena ingin main catur, untuk apa aku datang kemari justru kamu kaum Hoa San Pay hendak berapat?"
Kata imam itu.
"Apa untuk bantu meramaikan saja? Tidak!"
Mereka bicara sambil jalan terus, hingga mereka tinggalkan Ceng Ceng dan Ho Ang Yo.
Uwa itu tidak berani berkutik ia insyaf lihaynya kaum Hoa San Pay, tidak mau ia nanti kepergok!
Sesudah orang lewat jauh baru ia muncul pula, Untuk pergi ke gua, ia keluarkan dadungnya yang ujungnya ia ikat kepada sebuah pohon besar "Mari kita turun!"
Dia ajak Ceng Ceng. Tubuh si nona bersama tubuhnya sendiri ia ikat bersama untuk bisa turun ke gua.
"Di sini!"
Kata Ceng Ceng, setelah ia lihat lubang gua.
Hatinya Ho Ang Yo goncang keras, Setelah dua-puluh tahun memikiri saja, tak sedetik juga ia me1upa-kannya, maka sekarang ia dapat cari tempat sembunyinya orang yang ia cintai, yang kemudian ia anggap sudah sia-siakan padanya, Segera ia bakal bertemu sama orang yang dibuat pikiran itu.
ia berpikir keras, Apa ia mesti siksa lelaki itu, untuk kemudian baru bikin dia binasa?
Atau apa baik ia memberi ampun?
Kecuali berdebar hatinya, Ho Ang Yo pun bergemetar, tangannya dirasakan dingin.
Dengan tangan kanan, ia mulai singkirkan batu-batu di mulut gua, setelah itu, ia suruh Ceng Ceng merayap di depan.
Tadinya mulut gua sempit setelah Sin Cie babati dengan pedang mustika, jalanan itu jadi cukup lebar, leluasa untuk orang keluar masuk.
Ho Ang Yo mengikuti dengan hati-hati ia siap sedia kalau-kalau Kim Coa Long kun nanti terjaga ia secara diam-diam, Masih ia khawatirkan Jago Ular Emas itu.
Ceng Ceng memasuki gua dengan air matanya berlinang-linang, kemudian ia menangis sesenggukan Ketika mereka sampai di bagian yang gelap, Ho Ang Yo nyalakan api.
Sebagai sumbu atau obor, ia sulut ujung dadungnya, ia suruh si nona pegangi itu untuk maju lebih jauh, Ceng Ceng berkhawatir.
"Kalau dadung itu terbakar habis, cara bagaimana kita bisa keluar dari sini?"
Demikian pikirnya.
"Tidak heran kalau aku tidak kembali sebab di sini telah knmpul ayah dan ibuku, Tapi dia ini, apa dia juga tidak mau keluar pula?"
Nona ini tidak tahu, Ho Ang Yo juga sudah nekat, tidak mau ia keluar pula dengan masih hidup dari gua itu.
jalan lagi sedikit jauh uwa ini mulai bercuriga, ia lihat tempat bukan seperti ditempati manusia, Mendadak ia jambak pundak si nona.
"Hai, kau hendak main gila sama nyonyamu?"
Tegur-nya.
"Awas, aku nanti bikin kau mampus secara kecewa!"
Ceng Ceng cuma bisa berserah.
Jalan lagi sedikit, tiba-tiba ada angin dingin menyambar Lalu di depan mereka berdiri sebuah kamar ba1u.
Ho Ang Yo angkat obor untuk awasi di sekitarnya, pada empat penjuru tembok ia tampak gambar-gambar peta dari ilmu silat ia pun segera dapat baca pemberian tahu yang Sin Cie pernah ketemukan, yaitu.
"Mustika berharga, ilmu rahasia, diberikan kepada yang berjodoh, Siapa yang masuk dalam pintuku, menemui bencana jangan penasaran"
Ho Ang Yo kenali hurufi Tulisan Kim Coa Long kun. Melihat surat itu lenyap kesangsiannya. Tapi hatinya terus memukul pu!a, suratnya ada, orangnya belum nampak.
"Saat Gie, kau keluar,"
Ia memanggil Suara itu nyaring halus, kamar ada kecil, maka terdengarnya nyata sekali, Akan tetapi, jawabannya tidak ada.
Maka Ho Ang Yo lantas berdiam akan tenangkan diri, Kamar batu itu kosong dari manusia.
"Dimana dia?"
Tiba-tiba ia bentak Ceng Ceng, sesudah sia-sia saja ia memanggil lagi beberapa kali.
"Di sini!"
Sahut si nona sambil menangis, dengan tangannya menunjuk ke tanah, Dengan tiba-tiba saja Ho Ang Yo merasa matanya gelap, kepalanya pusing, hingga ia sambar lengan si nona, untuk ia pegangan, kalau tidak, ia bisa rubuh terguling.
"Apa?"
Tanyanya kemudian dengan suara serak.
"Ayah dikubur di sini,"
Sahut Ceng Ceng, yang menangis terus, Ho Ang Yo menjerit dengan tertahan.
"Qh... oh, kiranya dia sudah mati...."
Tak kuat lagi dia menahan tubuhnya, ia rubuh men-delepok di atas batu di mana Kim Coa Long kun biasa berduduk, Sekejap saja, hilang penasarannya sejak puluhan tahun, sekarang teringatlah ia akan cintanya kepada orang yang dicintainya itu.
"Nah, pergilah kau, aku beri ampun padamu..."
Akhirnya ia kata pada Ceng Ceng, suaranya lemah, Melihat orang demikian berduka, tanpa merasa, Ceng Ceng jadi berbalik merasa kasihan, ia ingat biar bagaimana, ayahnya toh telah sia-siakan uwa ini yang tadinya ada satu nona cantik dan mencinta keras, Memang ada sebab kenapa ayahnya belum ingin ketemui kekasih ini, sampai mereka jadi terpisah untuk se1ama-lamanya.
Karena rasa kasihannya ini, dengan tidak merasa Ceng Ceng peluk uwa itu, yang ia tadinya takuti bagaikan melihat iblis, ia menangis dengan keras.
"Pergi kau, lekasan,"
Kata pula Ho Ang Yo.
"Kalau sebentar dadung telah terbakar habis, kau tidak bakalan bisa keluar 1agi...."
"Kau sendiri?"
Tanya si nona.
"Aku hendak berdiam di sim"
Untuk temani ayahmu." 1
"Aku juga tidak mau keluar lagi,"
Kata Ceng Ceng, Ho Ang Yo sudah terbenam dalam kedukaan, ia tidak perdulikan lagi nona itu.
Ceng Ceng menangis terus, Tiba-tiba saja Ho Ang Yo berbangkit untuk dengan tangannya lantas mengkeruki tanah untuk digali ia bekerja bagaikan kalap.
"Kau hendak bikin apa?"
Tanya Ceng Ceng kaget.
"Aku telah pikir dia untuk dua puluh tahun,"
Sahut si uwa dengan sedih.
"Selama itu, tidak pernah aku ketemui orangnya, maka melihat saja tulang-tulangnya pun boleh juga...."
Ceng Ceng kaget dan berkhawatir.
ia tampak orang punya roman dan sikap yang berubah, Ho Ang Yo terus menggali, tangannya bekerja seperti pacul saja, setelah berselang lama juga, muncullah tulang-tulang manusia, itulah tulangnya Kim Coa Long kun, yang Sin Cie kubur dengan baik.
Sesudah sekian lama semua tulang itu masih tinggal utuh, Ceng Ceng menangis, ia tubruk tulang-tulang ayahnya itu, Ho Ang Yo masih menggali, sampai ia dapat angkat sebuah tengkorak, ia rangkul itu, ia menangis ia ciumi "Hee-long, Hee-long, aku datang melongok pada-mu..."
Katanya dengan sedih, ia memanggil suami kepada tengkorak itu, ia menangis lalu ia nyanyi dengan perlahan sekali.,.,"
Ceng Ceng dengar itu nyanyian, sepatah kata juga ia tidak mengerti Habis menyanyi, Ho Ang Yo ciumi tengkorak itu dengan bernafsu ia jadi seperti kalap, baru ia berhenti ketika ia menjerit dengan tiba-tiba.
Sebab ada apa yang tajam yang menusuk mukanya hingga ia merasa sakit dan kaget, Lantas ia bawa tengkorak itu ke depan api untuk diawasi dengan seksama, (Bersambung ke Bab 25) Nyata di mulutnya tengkorak, terjepit di antara gigi, terdapat sepotong tusuk konde, yang pendek sekali, yang tidak nampak apabila tidak diperhatikan Ho Ang Yo cabut tusuk konde itu dengan tangannya, dia tidak berhasil Jeriji-jeriji tangannya tidak dapat menjemput dengan seksama.
Rupanya Kim Coa Long kun gigit tusuk konde di waktu hidupnya sampai ia mati maka perhiasan rambut itu jadi terjepit keras, itu adalah sebuah tusuk konde emas, Ho Ang Yo penasaran, ia mencoba lagi sekali.
Kali ini gigi-gigi tengkorak pada copot, maka tusuk konde itu jatuh sendirinya, Lantas ia pungut untuk disusuti debu-nya.
"Sekonyong-konyong saja uwa ini terperanjat hingga wajahnya turut berubah, ia menjerit ketika ia tanya.
"Apakah ibumu bernama Gie?"
Tanyanya.
"Huruf "Gie"
Dari ibunya Ceng Ceng beda dari huruf "Gie"
Dari "Saat Gie"
Namanya ayah si nona, Ceng Ceng manggut dengan perlahan Ho Ang Yo berduka berbareng panas hatinya, hingga ia kertak gigi.
"Baik, baik!"
Katanya dengan sengit "Meskipun disaat kematianmu kau masih ingat saja si perempuan hina dina! Sampai kau gigit tusuk kondenya!"
Mengawasi dua huruf "Oen Gie"
Yang terukir di gagang tusuk konde, sinar matanya uwa ini bagaikan api hendak menyambar, dalam sengitnya, ia masuki tusuk konde itu ke dalam mulutnya, terus ia gigit dan ganyam hingga mulutnya itu mengeluarkan darah.
Ceng Ceng lihat kelakuan itu, ia percaya, pikiran sehat dari Ho Ang Yo sudah menjadi kabur ia pun insyaf, saat yang paling berbahaya bakal sampai, maka lantas saja ia keluarkan guci kecil yang memuat abu ibunya, ia buka tutup guci, akan tabur isinya ke dalam lubang, supaya bercampuran sama tulang-tulang rerongkong ayahnya, Ho Ang Yo bengong mengawasi kelakuan si nona ini.
"He, kau lagi bikin apa?"
Tegurnya kemudian. Ceng Ceng tidak berikan jawaban hanya setelah menuang habis, ia keruki tanah untuk dipakai menutupi lubang kubur itu, di dalam hatinya, ia memuji.
"Ayah dan ibu, harap kctahui, anakmu sudah kubur ayah dan ibu bersama-sama...."
Ho Ang Yo sambar guci kosong, ia pandang sebentar, segera ia sadar.
"Ha! ini jadinya abu ibumu!"
Serunya, Ceng Ceng manggut dengan perlahan Cepat luar biasa tangannya si uwa menyambar, Ceng Ceng lihat itu, ia berkelit, tidak urung pundaknya terkena juga, hingga ia terpelanting hampir ia rubuh.
Ho Ang Yo lantas menjerit-jerit.
"Aku larang kau kubur mereka bersama-sama. ia jadi seperti kalap, dia garuki lagi tanah untuk dibongkar pula, Akan tetapi abu sudah bercampuran sama tulang-tulang dan tanah tidak dapat di angkat untuk dipisahkan lagi, Tapi dalam sengitnya, uwa ini tarik keluar semua tu!ang.
"Aku nanti bakar kamu menjadi abu!"
Teriaknya.
"Aku nanti sebar abumu di kaki gunung Hoa San ini supaya terbang berhamburan ke empat penjuru, buyar ke segala jurusan, hingga kau tidak dapat berkumpul sama si kacung hina dina!"
Ceng Ceng menjadi gusar berbareng sibuk, ia tubruk si uwa untuk mencegah, ia menyerang, akan tetapi ia kalah kosen, baru beberapa jurus saja ia telah kena dirubuhkan, Untung untuknya, uwa ini tidak serang ia dengan kuku-kukunya yang lihay, Ho Ang Yo buka baju luarnya, untuk pakai itu sebagai umpan api setelah tulang ditumpuk di atas bajunya itu, ia mulai sulut itu.
Kemudian ia kipasi api menjadi berkobar Dilain saat tulang-tulang telah mulai terbakar nyala, hingga asap lantas mengu!ak di dalam kamar baru itu.
Memandang tulang-tulang terbakar Ho Ang Yo tertawa berkakakkan, tandanya ia sangat puas, Tiba-tiba saja ia melengak tatkala merasakan bau asap yang luar biasa, segera ia berteriak "Hee-Iong, oh, bagaimana kau kejam!"
Ceng Ceng juga lantas merasakan bau asap yang luar biasa itu, selagi ia merasa heran, ia pun segera merasakan kepalanya pusing, matanya kabur, hingga ia jadi kaget Tapi ia masih bisa lihat si uwa bengis menghadapi api unggun yang luar biasa itu berulang-ulang dia menyedot dan mengeluarkan napas, akan akhirnya dia berseru beru1ang-u!ang.
"Baik, baik! Memangnya ingin aku mati bersama-sama kau."
Mendadak saja ia angkat kepala, akan berpaling kepada Ceng Ceng.
Nona ini menjerit sekuat-kuatnya kapan ia tampak wajah bengis orang yang menakutkan, ia balik tubuhnya, akan lari ke arah mulut gua, akan tetapi baru ia lari beberapa tombak, tak tahan ia dengan rasa pusingnya, begitu kakinya dirasakan lemas, ia terus saja rubuh, Sin Cie sementara itu kaburkan kudanya bersama-sama kawannya, ia bisa menduga dua binatang berbisa dari Ho Ang Yo di rumah makan adalah si uwa sedang memanggil kumpul-kumpul anggota-anggota Ngo Tok Kauw untuk ikuti jejaknya, ia mengerti ancaman apa menghadapi Ceng Ceng.
Tidak perduli di tangan siapa kaum Cio Liang Pay atau Ngo Tok Kauw Ceng Ceng mesti bercelaka juga, Maka itu, ia gelisah bukan main.
Di sepanjang jalan sambil tanya sana sini, Sin Cie dengar hal hal kebinasaannya tiga di antara empat jago Cio Liang Pay ia dapat menduga kepada mereka itu, karena di situ tidak ada lain orang yang berombongan sebagai tertua-tua dari Cio liang Pang itu, ia jadi sangat berkhawatir, hingga ia jadi tidak nafsudahar, tidak tenang tidur Apa yang juga rada melegakan hatinya adalah jurusan yang diambil oleh orang-orang Cio Liang Pay itu ada jurusan Hoa San.
Dengan begitu, tidak usahlah ia menjadi nyasar diwaktu mengikuti jejak mereka itu, dan tidak usah ia gagal menghadapi rapat kaumnya, Begitulah mereka telah mendekati kaki gunung, Ang Seng Hay bermata jeli, selagi singgah sebentar di paseban, ia tampak gundukan tanah yang mencurigai, lantas saja ia bongkar gundukan tanah itu, hingga untuk kegirangannya, ia dapati mayatnya Oen Beng Tat.
"Dengan matinya dia ini, pasti Ceng Ceng telah jatuh ke dalam tangan Ngo Tok Kauw,"
Sin Cie beri kepastian.
"Mari kita lekas susul ke atas gunung!"
An Toa Nio menghiburi, dia kata.
"Sekarang ini saat rapatnya Hoa San Pay, umpama kata Bok Locianpwe sendiri masih belum datang tetapi Oey Cin Suheng atau salah satu di antaranya tentu sudah sampai lebih dahulu, Maka itu apabila kaum Ngo Tok Kauw naik ke gunung, pihakmu pasti akan beri pertolongannya kepada Nona Hee itu."
"Jikalau Ngo Tok Kauw berani mendaki Hoa San, pasti mereka sudah siap sedia dari siang-siang!"
Sin Cie bilang.
"Maka itu kita mesti jaga supaya jangan ada orang kita yang rubuh di tangan orang-orangnya berbisa itu...."
Inilah kekhawatiran yang bertambahtambah dari si anak muda.
"Kalau Couwsu juga telah datang apa yang kita mesti jerikan?"
Kata Cui Hie Bin.
"Mari lekas kita mendaki gunung!"
Oleh karena kuda tak dapat mendaki gunung, semua kuda lantas dititipkan pada seorang desa, dengan jalan kaki dengan berlari-lari, orang mulai mendaki gunung, Selagi mendaki puncak, Sin Cie dengar suara-suara mengaung di udara, tanda dari senjata-senjata rahasia, segera ia jadi girang seka1i.
"ltulah Bhok Siang Tojin di atas! Dia lagi memanggil kita!"
Katanya dengan kegirangan ia keluarkan tiga biji caturnya ia pun menimpuk ke udara sampai sekejap saja, tiga biji senjata rahasia itu lenyap sendirinya, akan lagi sebentar tiga-tiganya tampak pula sedang turun ke arah mereka.
"Sungguh hebat, siauw susiok!"
Hie Bin memuji, Sin Cie niat tanggapi ketiga biji caturnya, ketika tahu-tahu muncul beberapa senjata rahasia lain dari arah samping, yang menimpa ketiga biji catur itu hingga tiga-tiganya jstuh.
Me nyusul itu muncullah satu orang dengan sebelah tangannya mencekal shuipoa, alat penghitung, yang digoyang pergi datang, sembari dia itu tertawa gembira.
"Suhu,"
Seru Hie Bin, apabila ia tampak orang itu.
"Suhu sudah datang lebih dahulu."
Orang itu memang Tong-pit Thie shuiphoa Oey Cin.
Lantas Hie Bin lari kepada gurunya itu, tanpa perdulikan tempat itu tempat apa, ia jatuhkan diri untuk berlutut, untuk paykui tiga kali, maka waktu ia sudah berbangkit kelihatan jidatnya benjut!
Sebab ia manggut-manggut sampai membentur batu gunung,...
Melihat kelakuan tunangannya itu Siauw Hui mendongkol berbareng merasa kasihan ia mendongkol melihat ketololan orang tapi berkasihan dan terharu melihat kejujurannya, Ketika Hie Bin kembali padanya ia lantas sesali, Tapi Hie Bin tidak memperdulikannya dia hanya tertawa saja.
Sin Cie hampirkan suheng itu, untuk beri hormat akan tanyakan ini dan itu sejak mereka berpisah, sebagaimana sang suheng juga menanyakan dia.
Kemudian, selagi ia hendak tanya suheng itu kalau-kalau dia lihat Ceng Ceng atau orang Ngo Tok Kauw, sekonyongkonyong Tay Wie dan Siauw Koay berpekik beru1ang-ulang, terus saja keduanya lari ke arah jurang.
"Celaka, mereka minggat!"
Teriak Hie Bin. ia mau mengejar untuk melawan "lni ada tempat asal mereka mau pergi biarkan saja,"
Sin Cie bilang, Meski ia mengucap demikian pemuda ini heran juga sebab melihat dua binatang piaraan itu pergi tanpa sikap ragu-ragu, hingga ia mengawasi saja sampai keduanya pergi jauh, Selagi Sin Cie mengawasi, tiba-tiba ia lihat asap mengepul dari arah guanya Kim Coa Long-kun, ia menjadi kaget Adalah ke sana Tay Wie dan Siauw Koay lari, lalu di sana kedua binatang itu goyang pulang pergi tangannya seperti menunjuk ke tempat asap, ^seperti memanggil mereka, Siauw Hui juga lihat sikapnya kedua binatang itu, Toako dua binatang itu bukannya buron,"
Katanya.
"Lihat mereka lagi memanggil-manggil kau!"
"Benar!"
Jawab Sin Cie, yang terus menerjang A Pa, untuk memberi tanda dengan tangan nya.
Melihat demikian, A Pa segera lari ke gua mereka sendiri, untuk ambil dadung dan obor, lantas dengan diikuti kawan-kawannya ia lari ke arah jurang.
"Nanti aku yang masuki gua itu!"
Kata Sin Cie yang bilang, cuma ia sendiri ketahui baik keadaannya gua itu.
ia terus robek ujung bajunya, guna dipakai menyumpal hidungnya Dcngan sebelah tangan memegang obor, pemuda ini turun di dadung, yang sudah dipasang A Pa.
Tay Wie dan Siauw Koay masih berpekik saja, kaki dan tangannya tidak berhentinya digerak-geraki, nampaknya mereka sangat gelisah, sebentar saja, Sin Cie sudah sampai di dalam gua, Segera ia diserang asap, hingga ia merasakan sukar bernapas.
Untung baginya, hidungnya telah disumpal siang-siang, ia maju terus sambil berlari di jalan gua itu, sampai ia tampak satu tubuh manusia rebah di tengah terowongan, ia kaget kapan ia telah lantas kenali Ceng Ceng.
ia segera membungkuk ia taruh tangannya di depan hidung si nona, ia tidak rasai hembusan napas, akan tetapi waktu ia meraba dadanya, ia dapatkan dada itu turun naik dengan perlahan sekali, Di saat itu Sin Cie juga lihat seorang lain di dalam gua, ia pun sedang rebah.
MuIanya ia niat hampirkan orang itu, atau mendadak ia rasakan kepalanya pusing, matanya kabur, berdirinya pun limbung, hampir saja ia rubuh, Maka segera ia insyaf, asap itu mengandung racun, Tidak ayal lagi ia angkat tubuh Ceng Ceng, untuk di-pondong keluar ia sambar dadung yang terus tarik-tarik, A Pa terus tarik naik dadung itu, ia dibantu Seng Hay, hingga dalam tempo yang cepat, Sin Cie sudah bergelantungan dengan sebelah tangannya tetap me-mondong Ceng Ceng, Di sini di luar gua, baru Sin Cie berani bernapas, ia menahan sebisa-bisanya, Baru dua kali ia bernapas, ia merasa perutnya mual, tanpa tertahan lagi ia muntah-muntah, Semua orang di atas jadi berkhawatir, Kalau anak muda ini tak dapat pertahankan diri asal cekalannya terlepas, celakalah dia berdua Ceng Ceng, Maka itu, walaupun mereka menarik dengan cepat, A Pa dan Seng Hay toh berhati-hati, supaya mereka tidak menarik dengan kaget!
Ciu San bersama He Bin dampingi dua orang itu, untuk berikan bantuan mereka kalau saja A Pa dan Seng Hay membutuhkan itu, Mereka juga siap untuk sambuti Sin Cie.
Selagi itu dua orang terangkat hampir sampai, mendadak terdengar suara nyaring dari arah gua, seperti gua itu meledak gempur, lantas kelihatan asap mengepul naik dan batubatu terbang berhamburan.
Semua orang terperanjat tidak terkecuali Seng Hay, hingga ia hampir lepaskan cekalannya, syukur A Pa si gagu yang pekak, tidak dengar apa-apa dan masih menarik dengan tenang, Diakhirnya, untuk kelegaan semua orang, sampailah Sin Cie di atas, Akan tetapi setelah ia injak batu gunung, kakinya lemas, lantas saja ia rubuh, lupa akan dirinya, Ketika itu Bhok Siang Tojin pun sudah berkumpul di antara mereka, maka guru ini segera tolong muridnya, juga Ceng Ceng untuk pijat dan uruti mereka, Dari dalam gua, suara peledakan masih menyusul berulangkali Orang tidak tahu apa yang menyebabkan itu dan beberapa banyak tersimpannya bahan peledak di da!am-nya.
Orang saling memandang dengan merasa heran, Tidak antara lama, Sin Cie sadar, lantas ia bernapas dengan beraturan ia merasa sangat lelah.
"Sungguh berbahaya..."
Ia mengeluh sebentar lagi, Ceng Ceng pun ingat akan dirinya akan tetapi begitu lekas ia buka mata dan lihat si anak muda.
"Ia lepaskan tangisan, Baru sekarang semua orang berhati lega, Untuk scmentara, Bhok Siang antapkan muridnya itu beristirahat di situ, sedang suara perledakan sudah berhenti, tinggal asapnya yang masih sedikit mengepul "Nanti aku lihal!"
Kata Hie Bin dengan bcrani.
Ciu San setuju, ia ikat orang punya pinggang, akan kasih turun anak muda itu, yang dipesan mesti lantas membetot dadung andaikata ada ancaman bahaya di gua itu.
Kapan Hie Bin sampai di lubang gua, ia tidak lihat suatu apa, karena lubang itu telah tertutup rapat, hingga terpaksa ia mesti kembali dengan tangan kosong, Sin Cie tuturkan bagaimana ia ketemukan Ceng Ceng, sedang Ceng Ceng ceritakan pengalamannya yang penuh bahaya di dalam gua itu menghadapi Ho Ang Yo yang sudah kalap, Mendengar itu, Bhok Siang Tojin menghela napas.
"Ketika baru ini aku lihat panahnya Kim Coa Long-kun yang disembunyikan di dalam peti, aku sudah kagumi kepintarannya,"
Berkata imam ini.
"Siapa sangka sekarang terbukti kepintarannya begini luar biasa, Jauh sekali pandangannya...."
"Siapa juga tidak akan menyangka sekali pun di dalam tengkorak dia masih simpan bisa,"
Nyatanya Oey Cin yang tidak kurang kagumnya.
"Suhu, inilah aneh!"
Seru Hie Bin si sembrono.
"Ba-gaimana bisa itu bisa disimpan di dalam mulut tengkorak? Dia toh sudah mati dia tinggal rerongkongnya saja?"
Oey Cin tertawa, tetapi dia kata.
"Nanti saja kau coba sendiri, sesudah kau mati!"
Guru ini sebal-sebal geli untuk ketololan muridnya ini. Tentu saja semua orang tertawa ramai.
"Orang tidak tahu makanya dia menanya..."
Mendumal si pemuda she Cui itu.
"Hee Losu Kim Coa Long-kun ada seorang pintar luar biasa dan sangat teliti."
Sin Cie kasih tahu.
"Dia tahu bahwa semasa hidupnya dia mempunyai banyak musuh, dia mestinya telah menduga walaupun dia sudah mati, mesti ada musuh-musuhnya yang bakal terus cari pada-nya, untuk musnahkan tulang-tulangnya, dari itu karena dia sendiri ada ahli bisa, dia lantas buatkan persiapannya disaat dia hendak hembuskan napasnya yang terakhir Secara demikian, sampai dia sudah tinggal rerongkong-nya, dia masih bela dirinya...."
Mendengar ini Hie Bin tepok pahanya.
"Sekarang tahulah aku!"
Dia berseru.
"Dengan persiapannya itu, kalau nanti ada orang bakar tulang-tulangnya, maka racun yang disembunyikan di dalam tutang-tu!ang itu nanti bekerja sendirinya" .
"Hanya...."
Kata dia pula bilang sesaat "Kenapa gua itu bisa meledak? Apakah dia simpan juga bahan peledak di dalam tu1ang-tulangnya itu?"
Kembali orang bersenyum karena pertanyaan ini.
"Masa dia sembunyikan bahan peledak di dalam tulang-tulangnya?"
Kata Siauw Hui.
"Pasti dia sembunyikan itu di dalam tanah!"
Sin Cie tidak perhatikan kata-kata orang itu, ia manggut-manggut, ia menghela napas pula.
"Adalah keinginannya ibunya adik Ceng supaya ia dapat dikubur bersama suaminya, sekarang keinginannya itu telah tercapai,"
Katanya, Hie Bin sendiri masih saja terheran-heran, hingga ia ulur lidah nya.
"Kim Coa Long-kun benar-benar lihay!"
Katanya.
"Dia sudah menutup mata belasan tahun lamanya, dia masih bisa layani musuh-musuhnya. Sudah selayaknya saja kalau wanita tua dan jahat dari Ngo Tok Kauw itu nerima kebinasaannya."
"Meskipun dia jahat, akan tetapi cintanya adalah sejati harus dihargai,"
Sin Cie bilang.
"Dia bersengsara karena cinta...."
Siauw Hui sementara itu usap-usap kepalanya Tay Wie dan Siauw Koay.
"Kalau tidak getapnya mereka ini, asal lambat sedikit saja oh, bagaimana hebatnya kejadian inL."
Katanya.
"Ya, itu benar,"
Kata beberapa orang.
Maka sekarang orang kagumi kedua binatang piara-an itu yang mempunyai perasaan luar biasa.
Sampai di situ orang berangkat ke dalam gua, An Toa Nio dan gadisnya memayang Ceng Ceng yang masih lemah sekali, Dia telah ditukari pakaiannya lantas di-rebahkan di atas pembaringan untuk dia beristirahat Bhok Siang lojin berikan obat pulung, untuk punahkan racun, akan tetapi itu tidak lekas dapat menolong, karena racunnya Kim Coa Long-kun lihay sekali dan Ceng Ceng terkenanya cukup lama, Malah selang satu malam, mukanya si nona menjadi berobah hitam, keadaannya jadi bertambah berat, ada kalanya dia jadi tak sadarkan dtri, atau kalau dia mendusin, dia lantas menangis sendirinya, dia mengaco, Dalam tidurnya dia suka mengimpi, dia suka mengigau dengan katakan Sin Cie tidak punya budi rasa....
Sin Cie sendiri jadi sangat lesu dan putus asa, hingga melihat dia, orang merasa kasihan, malah orang ber-khawatir untuk kesehatannya.
Kapan anak muda ini ditinggal berduaan saja sama Ceng Ceng, yang rebah tidak berdaya ia coba hiburkan nona itu, ia berikan janjinya bahwa ia tidak mencintai nona lain siapa juga, Ceng Ceng tidak bilang suatu apa, masih saja dia suka keluarkan muntah cair hitam, mukanya sendiri kadang-kadang bersemu merah dadu tetapi lebih banyak hitam-nya.
Sin Cie lihay ilmu silatnya, sekarang ia habis daya.
Maka ia lebih banyak bercokol atau rebah dengan air mata berlinang-linang, ia tidak punya obat untuk tolong kekasih ini, karena mustika kodok es sudah Habis, Di luar orang ramai bicarakan Kim Coa Long-kun.
Biar bagaimana orang anggap jago Ular Emas ini telah membahayakan anak dara nya sendiri....
Karena ini orang umumnya tidak gembira.
Dihari itu mendekati magrib, Tay Wie dan Siauw Koay perdengarkan suara mereka yang berisik.
Nyata telah datang rombongannya Kwie Sin Sie suami istri serta murid-murid mereka ialah Bwee Kiam Hoo.
Lauw Pwee Seng, Sun Tiong Kun dan lainnya, jumlah berenang Kapan Kwie Jie Nio dengar Ceng Ceng terkena racun ia berikan sisa obat anaknya yaitu hok-leng dan ho-siu-auw.
Setelah makan obat ini, Ceng Ceng bisa tidur dengan tcnang, Ketika sang magrib datang, murid kepala dari Oey Cin datang bersama delapan suteenya serta dua putranya, Lebih dulu mereka kasih hormat pada Bhok Siang Tojin, baru guru mereka jie susiok Kwie Sin Sie suami dan istri, Murid kepala dari Oey Cin itu lihat Sin Cic, sang sam-susiok masih muda daripada anaknya yang pertama, maka untuk tekuk lutut di depan paman guru ketika ini, ia merasa sungkan, Maka itu ketika ia toh memanggil.
"susiok" , ia tetap ragu-ragu. Sin Cie lihat ini sutit, keponakan murid, berumur empat puluh lebih, dadanya lebar, pinggangnya tegar, suatu tanda tubuhnya kuat, sedang tubuh itu ada terlebih tinggi daripada tubuhnya sendiri Maka diam-diam ia memuji ia anggap pantas toa-suhengnya punyakan murid yang beroman gagah ini. Dia ini beda sangat jauh dari Hie Bin si toloL "Tidak usah berlutut,"
Ia mencegah, ketika ia tampak sembilan sutit itu hendak berlutut di depannya.
"Jangan pakai banyak adat peradatan!"
Segera Hie Bin perkenalkan saudara seperguruannya yang tertua itu.
"Toasuheng ini she Phang bernama Lan Tek,"
Kata-nya.
"Di dalam kalangan kang-ouw dia digetarkan Pat-bin Wie-hong." (Gelaran itu mempunyai arti "Keangkeran di delapan penjunC).
"Pasti saudara Phang telah mewariskan kepandaian toasuheng,"
Sin Cie bilang, Phang Lan Tek merendahkan diri Oey Cin tidak bilang suatu apa murid kepalanya itu tidak tekuk lutut terhadap sutee buncit itu, terutama sebab ia tahu, muridnya ini telah punyakan nama baik, ia sendiri juga memang paling sedernana, Sesudah itu baru Lan Tek suruh dua putranya berlutut kepada semua orang yang lebih tua, mulai dari Bhok Siang Tojin sampai pada Kiam Hoo berantai Dua anak itu ada Phang Put Po yang lebih tua, usianya dua puluh satu tahun, dan Phang Put Cui yang kedua, yang baru berumur tujuh belas, Untuk di wilayah Kam Liang, karena mengandal pada nama ayahnya, mereka telah punya nama juga, sedang kepandaian mereka sendiri boleh dibilang sudah cukup berarti sekarang Put Po lihat, paman gurunya yang termuda baru berumur kurang lebih dua puluh tahun, maka walaupun mereka berlutut, hati mereka tidak puas, Mustahil orang dengan usia demikian muda menjadi yang tertua lebih tinggi dua tingkat derajatnya?
Mereka juga tidak melihat mata karena tampak susiok itu beroman lesu dan kucel air mukanya, bekas-bekas air matanya masih belum Icnyap, Dua saudara Phang itu bergaul rapat dengan muridmu rid nya Kwie Sin Sie suami istri, malah mereka tahu, Sun Tiong Kun adalah yang paling jumawa dan kepala besar, ilmu silatnya pun sempurna, maka diam-diam mereka ini berdamai untuk sebentar ogok-ogok si Nona Sun, agar dia coba-coba kepandaiannya paman cilik itu, ingin mereka membuat paman guru cilik itu dapat malu di depan sucouw dan guru dan paman guru mereka, Mereka percaya, umpama ayah mereka ketahui perbuatannya tidak nanti mereka dipersalahi., Begitulah besoknya, pagi-pagi sekali mereka sudah bangun, lantas mereka pergi keluar, akan cari Sun Tiong Kun, Kebetulan, mereka ketemu Cio Cun, susiok mereka yang ke delapan, Cio Cun ini juga muda usianya dan gemar cari gara-gara ilmu silatnya berimbang sama mereka berdua saudara sebab di pipi kanannya ada tahi lalat biru orang juluki dia Cheebian-sin, Malaikat Muka Biru, Dia ingin menegor kapan dia saksikan roman luar biasa dari engko dan adik itu.
"Hai, katamu bikin apa?"
Demikian teguran nya.
"Kita lagi ajari Sun Su kouw!"
Sahut Put Cui sambil tertawa.
"Katakan selama di Shoatang, su-kouw sudah rubuhkan banyak orang Put Hay Pay, maka kita ingin dia beri penuturan kepada kita."
"Bagus!"
Cio Cun nyatakan akur.
"Tadi aku lihat dia lagi berlatih sama Bwee Suko, mari kita tengok padanya!"
Lantas tiga orang ini lari ke gunung belakang, Di sepanjang jafan, dua saudara Phang ini pikirkan, kata-kata apa mesti dihaturkan kepada Sun Tiong Kun supaya sukouw itu sang bibi guru jadi panas hatinya terhadap Sin Cie.
"Jikalau dia sedang berlatih pedang, baik bilang saja Wan Siauw-susiok-couw cela ilmu pedangnya itu,"
Kata Put Cui.
"Akur!"
Sahut Put Po sambil terlawa.
Selagi mereka mendekati ke tempat di mana katanya Sun Tiong Kun dan Bwee Kiam Hoo lagi berlatih silat, tiga orang ini sudah lantas dengar suara nyaring dan bengis dari Sun Tiong Kun seperti sang bibi guru lagi damprat orang, Mereka heran, maka mereka lari untuk lekas mcncmui.
Kelihatan Sun Tiong Kun lagi kejar seorang lelaki umur tiga puluh tahun lebih, dia ini sambil lari sambil mengupat caci mengatakan Sun Tiong Kun sebagai "wa-nita bangsat!
dan "wanita hina dina" , Tidak selamanya dia lari lcrus, Karcna dia pun mencekal golok, saban-saban ia berhenti, untuk lakukan perlawanan Nyata dia kalah lihay, saban-saban ia lari pula, kalau kecandak, kembali dia bikin perlawanan Dia mencaci terus selagi si nona damprat ia berulang-ulang.
"Mari kita pegal binatang itu, supaya dia tidak mampu lolos!"
Put Cui mengajak, Secara kalap terdengarlah suaranya orang yang dikejar-kejar Sun Tiong Kun itu.
"Kau telah bunuh istriku serta anak-anakku, maka kenapa kau bunuh juga ibuku yang sudah berumur tujuh puluh tahun lebih?"
Air mukanya Sun Tiong Kun merah padam "Manusia tidak punya malu!"
Si nona mendamprat.
"Umpama kala di rumahmu ada terlebih banyak orang lagi, aku pun akan bunuh semua!"
Mereka itu berkelahi dengan sengit sekali, karena sama-sama sedang sangat mendongkol "Hai, kenapa Sun Su-kouw tidak pakai pedang?"
Seru Phang Put Po.
"Dia menggunai sebatang gaetan, tak leluasa nampaknya gerakannya."
Cio Cun dan Put Cui pun segera lihat, itu bibi guru lagi gunai senjata yang tidak cocok. Maka orang she Cio ini lantas cabut pedangnya ia balik itu untuk pegang tajamnya.
"Sun Suci, sambut pedang ini!"
Kata dia sambil lemparkan pedangnya itu, Berbareng sama terlemparnya pedang, dari sam-ping, di mana ada pepohonan lebat, melesat satu bajangan, yang terus sambuti pedang itu, akan talangi Tiong Kun.
Ciu Cun bertiga terperanjat melihat kesehatan orang, kemudian mereka jadi kenali, bajangan itu adalah Bwee Kwie Hoo, murid kepala dari Kwie Sin Sie, Susiok Couw mereka.
"Bwee Susiok!"
Cio Cun memanggil "Ya,"
Bwee Kiam Hoo menyahuti, sambil manggill, setelah mana, dia lemparkan kembali pedang itu, seraya tambahkan.
"Sun Su kouw telah pahamkan lain alat, tidak lagi pedang."
Ciu Cun heran, hingga ia perdengarkan seruan tertahan ia memang tidak tahu, sebab Tiong Kun lelengas, dia sudah dilarang memakai pedang, pertempuran masih berjalan terus, Lama-lama, orang lelaki itu repot juga, maka setelah terdesak hebat, tangannya kena ditendang si nona, goloknya terlepas, hingga dilain saat dadanya jadi terbuka untuk tusukan gaetan.
"Tahan!"
Mendadak Kiam Hoo berseru dengan cegahannya, -ooo0ooo-Bagian ke tiga puluh empat Sun Tiong Kun heran, hingga ia tunda serangannya, karena mana, lawannya itu dapat kesempatan untuk angkat kaki ke arah bawah gunung.
"Kasih ampun pada nya!"
Kata Kiam Hoo sambil tcrtawa.
"Biarlah sucouw nanti beri pujian padamu!"
Sun Tiong Kun bersenyum, Orang itu lari beberapa puluh tindak jauhnya, ia berhenti, akan putar t ubun nya, buat kembali caci musuh nya, ia mengatakan pula.
"Perempuan bangsat! perempuan busuk dan hina!"
Kali ini bukan cuma Sun Tiong Kun, juga Kiam Hoo dan Cio Cun serta kedua saudara Phang turut jadi gusar Put Cui sampai mencaci.
"Makhluk apa itu berani datang mengacau di Hoa San?"
Dengan bawa ruyung besi nya, ia lantas mengejar Sun Tiong Kun dalam murkanya sesumbar "Jikalau aku tidak bunuh binatang itu, aku sumpah tak mau jadi manusia!
Aku tidak perduli biar Sucouw kutungi lagi sebatang jerijiku!"
Dia pun mengejar seraya putar gaetannya, Bwee Kiam Hoo paling sayangi sumoay ini, dipihak lain, ia khawatir sang sumoay nanti kembali bunuh orang, untuk cegah itu, ia ingin mendahului bekuk orang itu.
untuk hajar adat pada nya, supaya adik seperguruan ini puas hati, maka itu ia pun berlompat lari akan mendahului ilmu entengkan tubuhnya ada di atas semua kawannya itu sebentar saja ia sudah berada di sebelah depan mereka.
Musuhnya Tiong Kun itu tampak gelagat jelck, dia lari ke kiri di mana kebetulan ada jalan cagak, Cio Cun bersama dua saudara Phang segera menyerang dengan senjata rahasianya masing-masing, Baru hui hongsekdari Put Po menuju ke arah bebokongorang itu, Dia ini gesit, dia bisa dengar sambaran angin, maka ia berkelit ke kanan.
Tetapi "Sreet!"
Panah tangan dari Ciu Cun mengenai kempolannya, bahna sakit, ia ter-huyung-huyung terus dia rubuh terguling.
Disaat itu, Bwee Kiam Hoo sudah sampai dia lompat untuk mencekuk, Berbareng dengan itu dari samping terdengar desiran angin, menyambar ke tubuh orang itu, tubuh siapa dilain saat sudah lantas mencelat hampir menubruk orang she Bwee ini.
Kiam Hoo terkejut, dia berkelit ke samping, sekarang dia bisa lihat tubuh orang itu kena terkelit beberapa puluh lembar tambang dan telah terbetot Sun Tiong Kun dan yang lainnya memburu sampai di situ, mereka lihat kejadian itu, mereka terperanjat Nyata orang yang toIongi orang yang dikeroyok itu ada satu wanita yang cantik, bajunya putih bagaikan salju, rambutnya yang panjang terurai ke bcIakang.
Tetapi nona ini tak bersepatu dan kedua kaki dan tangannya memakai gelang emas, dandanannya bukan dandanan orang Han, bukan orang suku bangsa Ic.
Dan sehabis menoIongi dia lantas berdiri diam sambil tertawa manis, juga di tangan kanannya, yang putih seperti salju, ada terpegang setabung tambang entah terbuat dari kawat entah dari benang, Dan di belakang si cantik ini berdiri lagi satu wanita muda yang tubuhnya tertutup jubah putih dari kepala sampai ke kaki, hingga terlampak saja wajahnya, Dia beroman cantik tetapi kulitnya pias, tidak gembira, Mcrcka ini adalah Ho Tek Siu dan A Kiu.
Dilain harinya setelah keberangkatan Sin Cie berantai meninggalkan kota raja, Ouw Kui Lam dapat kaburnya halnya Wan Peng tertampak empat jago tua Cio Liang Pay serta Ho Ang Yo berikut Ceng Ceng, maka se pulangnya ia terus beritahukan itu padanya, ia terus beritahukan itu pada kawan-kawannya, Mendengar halnya ada binatang berbisa dipantek di pojok lemKok, Hb Tek Siu tahu itulah tanda Ngo Tok Kauw untuk mcngumpuIi orang, ia jadi khawatir Ceng Ceng dapat celaka, ia jadi niat memberi pertolongan kepada si nona, untuk kebaikan Sin Cic.
Untuk segera berangkat ia bersangsL ia sudah janjikan Sin Cie akan rawati A Kiu.
Bukankah keadaan di kota raja masih kalut?
Bukankah A Kiu ada putri raja yang menarik perhatian umum?
Maka tidak dapat ia tinggalkan A Kiu seorang diri di kota yang berbahaya itu.
Hebat kalau sampai putri ini menghadapi sesuatu, Sesudah lama bersangsi, akhirnya ia ambil putusan akan ajak tuan putri ini.
Ketika A Kiu diberitahukan bahwa ia hendak diajak pergi susul Ceng Ceng, dia menyatakan akur, maka itu, malam itu mereka menulis surat, dan setelah dengan diamdiam A Kiu bersembahyang di kuburan ayahnya, almarhum kaisar Cong Ceng, ia ikut Tek Siu berangkat dari kota raja, A Kiu belum sembuh betul dari lukanya, akan tetapi ia dapat pelayanan istimewa dari Tek Siu, seorang yang banyak pengalamannya yang pun anggap ia sebagai adik kandungnya, maka walaupun perjalanan dilakukan cepat, ia tidak terlalu menderita, Selama di tengah perjalanan, lukanya terus mendapat kemajuan, ia jadi sangat bersyukur kepada bekas kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu hingga keduanya jadi rapat betul satu dengan lain, Ketika hari itu mereka mendaki Hoa San, kebetulan mereka saksikan Ang Seng Hay sedang dikepung Sun Tiong Kun beramai maka Tek Siu dengan bandringan Joan-ang-cu-so.
"benang kawa-kawa"
Sudah lantas tolongi orang shc Ang itu, Memang Seng Hay adalah orang yang hendak ditangkap Kiam Hoo itu.
Dua-dua Bwee Kiam Hoo dan Sun Tiong Kun tidak tahu yang Ang Seng Hay telah turut Sin Cie, mereka juga tidak tahu Ho Tek Siu dan A Kiu orang-orang macam apa, tentu saja mereka jadi gusar, sebab mereka dapat anggapan, orang-orang asing ini berlaku kurang ajar di atas gunung Hoa San, yang menjadi daerah pengaruh mereka.
"Siapa kamu?"
Tiong Kun membentak "Apakah kamu semua dari Pun Hay Pay?"
Ho Tek Siu tidak gusar karena teguran itu, ia malah tertawa terus.
"Enci apa shemu yang mulia dan namamu yang besar?"
Ia tanya dengan hormat "Entah di dalam hal ini telah bersalah terhadapmu Apakah boleh siauwmoay membikin akur kamu berdua pihak?"
Ho Kauwcu sengaja membahasakan diri "siauwmoay" -adik yang kecil Tiong Kun dengar suara merdu orang tetapi suara itu mengandung sedikit kejumawaan, sedang dandanan orang luar biasa.
ia tetap tidak senang.
"Kamu siluman dari mana?"
Tanya dia.
"Apakah kamu tahu ini tempat apa?"
Tek Siu tidak jawab pertanyaan sombong itu, ia tertawa saja.
"Nona Ho, bangsat perempuan ini ada manusia paling jahat!"
Seng Hay kasih tahu.
"Dia yang dipanggil Hui Thian Ho-Iie si Hantu Wanita, istri serta anak-anakku, juga ibuku yang sudah berumur tujuh puluh lebih, semua terbinasa di tangan dia!"
Seng Hay gusar sekali, hingga matanya bersinar mirip api.
Mendengar perkataan Seng Hay ini, Bwee Kiam Hoo lantas ambil sikap Iain.
Mcmang sejak di Kim-Ieng ia peroleh pengajaran dari Sin Cie, ia telah jadi kuncup banyak, ia juga mengerti, couwsunya bakal datang kalau tidak hari ini, tentu besok, maka ia anggap baik jangan timbulkan onar "Sudah pergi kamu turun gunung, jangan bikin rcwel di sini!"
Katanya dengan maksud menyudahi urusan. Phang Put Cui pun turut berkata.
"Kamu dengar tidak perkataan susiok ku ini? Lekas kamu pergi, lekas!"
Ia lompat mendekati A Kiu niatnya untuk mengusir.
Nona ini memegang tongkat bambu Ceng-tiok-thung di tangan kanannya, ia mengawasi dengan roman agung, Bir,i bagaimana, dia adalah putri raja, dia mempunyai keangkuhan dan keangkerannya sendiri, Maka melihat sikap itu Put Cui heran.
"Apakah kamu datang untuk antari jiwa?"
Akhirnya Put Cui menegur ia tidak takut, sebaliknya ia jadi gusar.
ia lantas ulur tangannya akan sambar baju A Kiu, guna dorong putri ini.
Meski ia belum sembuh anteronya dari lukanya, kendati tangannya tinggal sebelah A Kiu tidak lupa ilmu silatnya warisan dari Thia Ceng Tiok, kematian siapa membuat ia sangat bersih-Maka itu tidak senang ia lantas perlakukan kasar dari pemuda itu, Tanpa bilang suatu apa, ia geraki tongkatnya, Tiba-tiba saja Put Cui menjadi limbung, terus ia rubuh celentang, Tetapi ia tidak dilukai, begitu bebokongnya kena tanah ia bisa kerahkan tenaga untuk mencelat bangun, ia masih muda dan tabiatnya keras, dibikin rubuh secara demikian gampang, ia jadi murka, mukanya menjadi merah.
ia lantas angkat ruyungnya untuk menyerang, Tek Siu mengawasi kembali ia tertawa, Tuan-tuan tok dari Hoa San Pay?"
Katanya.
"Kita adalah orang-orang sendiri!"
"Siapa sudi jadi orang sendiri dengan kamu siluman?"
Bentak Put Po.
Bwee Kiam Hoo khawatir suasana jadi keruh, ia lantas kedipi dua saudara Phang itu, Sebagai seorang kang-ouw ia pun telah cukup berpengalaman, ia percaya nona di depannya itu bukan orang tanpa asal-usuL ia juga telah saksikan kepandaiannya.
"Siapakah itu gurumu?"
Dia tanya.
"Guruku she Wan,"
Tek Siu jawab.
"Namanya di atas Sin, di bawah Cie. Guruku itu ada dari Hoa San Pay."
Bwee Kiam Ho menoleh pada Sun Tiong Kun, selagi sumoay ini pun berpaling kepadanya sebab keduanya heran. Mereka sangsi, Cio Cun tapinya tertawa, dia kala.
"Wan Susiok sendiri masih satu bocah cilik, ilmu silat kaum kita ia baru dapat pelajarkan tiga bagian, maka cara bagaimana dia boleh menerima murid?"
Tek Siu tidak gusar, ia tetap tertawa.
"Oh, begitu,"
Tanyanya.
Sun Tiong Kun pernah dapat malu dari Sin Cie, malah dia telah ditegur sucouwnya dan jari tangannya dibabat kutung maka biar bagaimana tidak puas hatinya, Sebagai orang perempuan, ia pun tetap kurang luas pandangannya, Kalau ia dengar orang sebut nama Sin Cie, ia jadi "gatal" , kumat kebenciannya, Tapi susiok itu lihay, derajatnya tetap lebih tinggi, ia tidak bisa berbuat suatu apa, Lain dari itu, sekarang ini guru dan subonya hormati sekali paman guru cilik itu, yang pernah to!ongi jiwa anak gurunya, dan saban menyebut nama Sin Cie, kedua guru itu nampaknya sangat berterima kasih hingga ia mesti telan saja kebenciannya, Tapi sekarang ia dengar nona asing ini ada muridnya itu paman guru cilik, tiba-tiba hatinya jadi panas pula.
"Apa benar kau ada murid Hoa San Pay?"
Dia tanya dengan bengis.
"Kenapa kau justru bergaul sama ini manusia tidak tahu malu?"
Dia maksudkan Ang Seng Hay.
"Dia adalah pengiring guruku,"
TekSiu jawab. Turut penglihatanku, dia bukannya tidak tahu malu! Eh, Seng Hay, kenapa kau menyebabkan nona ini gusar kepada-mu? Kau salah apa?"
Sementara itu ke situ telah datang Phang Lan tek bersama Lwee Seng dan lainnya, sebab mereka telah lantas dapat dengar suara berisik dari perselisihan itu.
"Ayah,"
Kata Put Po.
"lni anak perempuan bilang dia ada seorang she Wan punya eh, muridnya siauw susiok-couw,.,."
"Hm! Apakah yang direwelkan?"
Lian Tek tanya.
Put Cui lantas dului kandanya, untuk memberi penuturan Di dalam tingkat ketiga dari Hoa San Pay, Phang Lian Tek adalah yang usianya paling tinggi, dia pun masuk belajar paling dahulu, maka itu dalam kalangan kangouw dia telah diperoleh nama, hingga dengan sendirinya, dia adalah kepala di dalam kalangannya itu.
Ketika dia sudah dengar keterangan anaknya, dia lantas berpaling kepada Sun Tiong Kun.
"Sun Sumoay, bagaimana duduknya maka kau bermusuhan dengan nya ?H ia lanya, ia maksudkan Seng Hay, Mukanya Tiong Kun menjadi bersemu merah. Kiam Hoo segera menalangi sumoay nya itu.
"lni jahanam mempunyai satu kanda angkat,"
Demikian katanya.
"Dia tidak tahu selatan, dia berani melamar Sun Sumoay untuk dijadikan istrinya, karena itu, lamarannya ditolak, dia dimaki..."
"Dia mau terima baik atau menampik ia mara n, itu memang ada hak dia!"
Seng Hay nyeletuk.
"Akan tetapi kenapa dia tebas kutung kedua kuping saudara angkatku itu?"
"Siapa tanya kau?"
Memotong Lian Tek dengan mata mendelik Bwee Kiam Hoo melanjuti.
"Jahanam ini lantas kumpul sejumlah kawannya mereka gunai ketika selagi Sun Sumoay berada sendirian, mereka tangkap sumoay dan dibawa lari! Syukur aku bersama suhu keburu dapat tahu dan susul mereka dengan begitu sumoay dapat ditolong."
Kedua matanya Lian Tek berputar, sinarnya tajam sekali.
"Sungguh bernilai besar!"
Bentaknya kepada Seng Hay.
"Jadi sekarang kau masih tidak puas mencari rewel?"
"Mereka menculik orang untuk dipaksa suka me-nikah, itu adalah salah mereka,"
Kata Tek Siu yang belakan Seng Hay.
"Untuk itu bukankah Sun Sumoay telah bunuh saudara angkatnya itu? Bukankah kau telah diperoleh kepuasan? Maka kenapa kau masih satroni rumah dia ini dimana kau binasakan lagi istrinya, anak-anaknya, dan ibunya yang sudah tua yang telah berumur tujuh puluh tahun lebih? Dalam hal ini aku ingin penjelasan!"
Lian Tek semua lantas merasa, adik seperguruan itu benar keterlaluan "Pulang pergi, asalnya adalah kau yang jahat!"
Put Po masih salahkan Seng Hay.
"Sekarang orang sudah mati, habis kau hendak apakah?"
"Cukup!"
Tek Siu memotong "Sebentar aku nanti menemui guruku, untuk minta dia yang kasih pertimbangannya."
"Wan Susiok beramai sedang repot, mereka tidak ada tempo."
Kata Lauw pwee Seng.
"Mana suhu?"
Kim Hoo tanya.
"Suhu bersama subo, supeh dan susiok lagi repot berdamai untuk menolongi orang,"
Pwee Seng jawab.
"Kalau begitu,"
Lian Tek bilang.
"Baik ringkus dulu semua mereka ini! sebentar kita minta putusannya suhu dan susiok semua...."
Put Po dan Put Cui menyahuti, lantas mereka maju untuk tangkap tiga orang itu.
Put Cui tidak kapok.
Tek Siu menjadi tidak puas melihat orang begini galak, Dia sudah tukar haluan, dia telah coba merubah adat, tetapi belum lenyap semua sifatnya sebagai kauwcu, kepala agama.
Tadinya dialah yang biasa memerintah maka bagaimana sekarang ia yang hendak diringkus?
walaupun ia mendongkol ia masih bisa tertawa geli.
"Kamu hendak meringkus orang?"
Katanya.
"Di sini aku ada sedia tambangnya!"
Dia lantas acungkan Joan-ang Cu-so. Put Cui melotot "Siapa kesudian itu!"
Katanya.
Dia lantas maju bersama saudaranya, untuk hampirkan Seng Hay, Bekas jago dari Put Hay Pay itu tentu saja tidak suka mendekati dirinya diringkus, Kalau tadi dia diam saja, dia suka mengalah kepada Ho Tek Siu, yang ia tahu ke-lihayannya dalam sepak terjang dan dalam ilmu silat Disaat ketiga "orang itu hampir bergebrak, mendadak mereka dengar suara tertawa di samping mereka, dengan tiba-tiba saja dua saudara Phang merasa kaki meraka terangkat terangkat bersama-sama tubuh mereka, jumpalitan di atas tanah, seperti awan, hingga mereka kaget, semangat mereka seperti terbang, Sebelum mereka jatuh, mereka dengar pula suara tertawa tadi, disusul sama ajaran "
Lekas bergerak dengan'Lee-hie hoan sin"! itulah ilmu yang paling rendah, tentu ayahmu sudah mengajari-nya...!"
Phang Put Po turut itu ajaran, dia putar terus tubuhnya dengan gerakan "Lee hie hoan sin"
Itu ~ "lkan tambra lompat berbalik" , maka ketika kedua kakinya turun ke tanah, ia berdiri dengan tetap, Tidak demikian dengan Put Cui, yang tabiatnya keras, dia justru mencoba menggunai gerakan "Hui pauw liu coan"
Atau "Air tumpah mengalirkan air" , benar gerakannya bagus, tetapi dia terlambat, tubuhnya mendahului turun, hingga ia jatuh di tanah dengan duduk numprah, dia terbanting keras, hingga ia merasakan sangat sakit, sedang malunya bukan main, muka dan kupingnya menjadi merah.
Dua-dua mereka seperti tidak tahu kenapa tubuh mereka terangkat naik dan jadi jumpalitan di udara...
Phang Lian Tek jadi sangat murka karena anaknya dipermainkan "Hai, siluman!"
Dia membentak.
"Tapi kau bilang kau ada kaum Hoa San Pay, kami sangsi, tapi sekarang kau gunai kepandaianmu yang rendah ini, terang kau bukan orang golongan kami! Mari maju!"
Tidak sempat Pat-bin Wie hong buka kancing bajunya satu demi satu, dengan tangan kirinya ia membetot sebelah baju nya, maka berbareng sama suara memberebet pada putuslah kancing bajunya itu, sesudah mana, baru ia buka bajunya untuk dilemparkan, hingga sekarang terlihat pakaiannya yang berwarna biru dan sepan, sehingga ia nampaknya jadi sangat keren, berdirinya pun tegak bagaikan menara besi, Masih saja Ho Tek Siu tertawa manis.
"Ai, suheng, apakah kau hendak berlatih silat dengan siauwmoay?"
Tanyanya, itulah bagus! Kita bertaruh secara apa?"
Lian Tek lihat kegesitan orang barusan, tetapi ia tidak jeri, ia percaya benar kepandaiannya, sedang ia ada sangat ternama di See-keng.
ia tidak lihat mata pada nona ini.
Tapi, meski ia beroman bengis, dan adatnya keras juga, ia welas asih, Maka melihat si nona manis budi, hawa amarahnya menjadi kurangan dengan cepat Begitulah ia berkata.
"Kami berantai adalah orang-orang yang masih dapat diajak bicara, Kalau sebentar Kwie Jie-nio yang keluar, hm... kau nanti tahu rasa. Dia paling benci kejahatan, kalau dia lihat orang semacam kau, tidak nanti dia mau melepaskannya! sekarang hayo kamu lekas angkat kaki!"
"Kau bukan guruku, hak apa kau punya untuk usir aku?"
Tanya Tek Siu tetap dengan saban Put Cui masih tidak puas, tidak perduli sudah dua kali ia peroleh hajaran, Rasa malunya membuat ia nekat. Maka ia kedipi engko.
"Mari kita maju, jangan tanggung-tanggung,"
Katanya. Hampir berbarengi dua saudara itu lompat maju. Tek Siu lihat sikap dua pemuda itu. ia tertawa.
"Baik, aku akan berdiri diam, tidak bergerak Kamu akur?"
Dia tanya akan tetapi sikapnya agak menantang, ia lantas lilit tambang Joan-ang Cu-so di pinggangnya, ia pun masuki kedua tangannya ke dalam saku, Dua saudara Phang maju menyerang, ruyung besi mereka turun menyambar ke arah kepala si nona, Dia ini benar-benar diam saja, tidak menangkis atau berkelit Ketika kedua ruyung hampir mengenai kepala orang, dengan tiba-tiba Put Po dan Put Cui tahan turunnya lebih jauh.
Mereka pernah terdidik, maka mereka tidak mau sembarang lukai orang.
"Keluarkan senjatamu!"
Put Cui kata. Tidak usah,"
Jawab Tek Siu sambil tertawa.
"Kamu boleh serang aku, tidak nanti kakiku berkisar meski setengah dim, tidak nanti aku tarik keluar tanganku dari saku, asal aku berbuat demikian, anggap saja aku kalah, Kamu akur atau tidak?"
"Jikalau kami kesalahan turun tangan hingga kau jadi terluka, jangan kau penasaran,"
Put Po bilang, Masih Tek Siu tertawa.
"Jangan omong saja, bocah-bocah."
Katanya, Mukanya Put Po menjadi merah, maka tiba-tiba saja ruyungnya melayang dengan gerakan "Keng tek gie kah"
Atau "Ouw-tie Kiong meloloskan jubah perang."
Tek Siu berkelit tanpa ia geser kakinya, maka serangan lewat di tempat kosong.
Di sebelah itu Put Cui yang jadi sengit, lantas hajar pundak orang, ia jadi panas hati mengingat dua kali ia kena dibikin malu, Tek Siu tetap tidak angkat kakinya, ia cuma berkelit saja, dan ketika dua saudara itu serbu dia saling ganti, tubuhnya kelihatan bergoyang-goyang, tinggi dan rendah, keempat penjuru.
Malah ia masih bisa kasih dengar tertawa nya.
Orang banyak menjadi kagum, mereka saling mengawasi Entah ilmu silat apa yang nona ini pertunjuki, sebab sekalipun ujung bajunya tidak dapat terbentur ruyung, itu bukanlah pelajaran dari Hoa San Pay.
Dua saudara Phang jadi kewalahan, tapi mereka penasaran, maka akhirnya dengan satu tanda seruan, dua-duanya menyerang ke bawah, Mereka pikir biar bagaimana tangguh kuda-kuda si nona, dia toh mesti rubuh atau dia mesti angkat kedua kakinya.
"Hati-hati kamu!"
Seru Tek Siu sambil tertawa, tubuhnya lantas bergerak mendahului ke kiri dan ke kanan, kedua sikunya masing-masing membentur tubuh Put Po dan Put Cu, hingga mereka ini merasakan sakit, tanpa merasa, mereka lepaskan ruyungnya masingmasing, tubuh mereka terhuyung-huyung, Dalam herannya Phang Uan Tek berseru.
"Bwee Sutee, wanita ini aneh, biar aku mencoba-coba."
Bwee Kiam Hoo manggut Lian Tek lantas lompat maju.
"Mari aku belajar kenal!"
Katanya. Tek Siu lihat tindakan kaki yang antap itu, ia tahu dia ini berkepandaian tinggi, akan tetapi ia tetap masih tertawa, hingga kelihatan lesungnya yang manis, Hanya diam-diam saja ia waspada.
"Jikalau aku tidak sanggup melayani, harap kau tidak tertawakan aku!"
Dia minta.
"Baik!"
Jawab Lian Tek.
"Kau mulailah."
Ia geraki kedua tangannya, lantas ia rangkap itu, Tek Siu rangkap kedua tangannya, untuk membalas hormat Gerakan Lian Tek ada "Phe-giok-kun"
Atau "Kepala memecahkan batu kumala" , selagi ia bergerak, anginnya menyambar, tetapi balasan Tek Siu telah menolak mundur anginnya itu, hingga ia jadi kagum "Bagus!"
Katanya di dalam hati, Disaat Pat Biw Wie hong hendak mulai dengan serangannya, tiba-tiba mereka dengar suara berisik di tengah gunung, terdengar teriakan-teriakan rupanya dari orang yang sedang berkelahi atau saling kejar Saking heran, ia merandek, matanya mengawasi si nona, Tek Siu tertawa.
"Apa kau curigai aku membawa kawan?"
Kata si nona sambil tertawa.
"Mari kita lihat dulu, sebentar baru kita mulai bertanding, Tidakkah baik begitu?"
Lian Tek tidak lantas menjawab, ia hanya berpaling ke arah darimana suara itu datang, Suara itu terdengar semakin dekat Malah di antaranya ada suara orang perempuan, yang gusar dan mencaci "Baik,"
Katanya kemudian seraya manggut Semua orang lantas memburu, untuk bisa melihat dari dekat "Seorang wanita dengan pakaian serba merah, lagi berlari-lari mendaki, di belakangnya mengejar empat orang lelaki dengan tubuh mereka besar-besar, semuanya dengan mencekal senjata, Wanita itu dapat lihat ada orang di atas gunung, dia lari semakin keras.
Malah segera ia lihat tubuh besar dari Phang Lian Tek.
"Pat bin Wie hong tolongi aku!"
Dia berteriak, Phang Lian Tek terkejut, ia mengawasi "Ha, itu toh Ang Nio Cu!"
Serunya, Sebentar saja, wanita yang dipanggil Ang Nio Cu itu sudah sampai di antara Phang Lian Tek.
Nyata dia telah bermandikan darah dan lebih bukan main, Barusan ia telah habiskan setakar tenaganya, maka begitu ia sampai terus saja ia rubuh, dengan pingsan juga, Empat orang itu juga sudah lantas sampai, mereka tidak perdulikan orang banyak, mereka lari terus pada Ang Nio Cu itu, yang rupanya mereka hendak bekuk, Phang Lian Tek lantas majukan tangannya yang kiri untuk cegah majunya orang yang pa!ing terdepan, Orang itu menjaga dengan tangan kanannya, ketika kedua tangan bentrok, terdengar suara beradunya yang keras sesudah mana keduanya mundur sendirinya tanpa merasa, Maka itu, mereka saling mengawasi dengan hati heran, Sebab mereka masing-masing merasakan ketangguhan orang.
Lantas orang ini kata, dengan suara membentak "Kami datang kemari atas titah Song Kunsu dari markas Giam Ong, untuk tawan ini Ang Nio Cu, istri pengkhianat Lie Gam!
Kenapa kau berani menghalangi kami?"
Begitu dengar orang sebut nama Lie Gam, ada saudara angkat gurunya, Maka tanpa tunggu jawabannya Lian Tek, ia maju ke depan.
"Lie Gam itu ada satu enghiong, di kolong langit ini, siapakah tidak kenal dia?"
Katanya sembari tertawa.
"Aku minta tuan suka memandang kepada siauwmoay, harap dia tidak dibikin susah."
Orang itu bersikap sangat jumawa, rupanya ia andali sangat ilmu silatnya, sama sekali ia tidak pandang mata pada si nona Ho. ia titahkan tiga kawannya pergi ringkus si Ang Nio Cu, si nona Baju Merah.
"Baik!"
Kata Tek Siu.
"Nyata kamu sudah tidak inginkan jiwamu!"
Dengan tangan kanannya, ia meraba ke pinggangnya di mana ada tersimpan paku rahasia beracun.
"Hum see shia eng" , atau "Menggenggam pasir, memanah bajangan" . Begitu ia menekan pesawatnya, senjata rahasia itu lantas menyerang, Orang yang maju di muka segera terserang jitu, mukanya tertancap tujuh atau delapan batang paku berbisa, tanpa menjerit lagi, dia rubuh, jiwanya lantas melayang, Tiga orang lainnya menjadi sangat kaget, hingga mereka melongo, wajah mereka berubah.
"Siapa kau?"
Tanya mereka berubah "Sampai sebegitu jauh, Ho Tiat Chiu terus sembunyikan tangan kirinya, di dalam tangan bajunya yang panjang malah ketika tadi ia layani dua saudara Phang, ia tidak pernah perlihatkan itu, tetapi sekarang atas teguran orang, dengan lantas ia kibaskan tangan bajunya, ia kasih lihat tangannya yang merasakan gaetan itu, Bukan main kagetnya tiga orang itu, apa pula yang menjadi kepala, HKau...
kau.,., Ho Kauwcu dari Ngo Tok Kauw.,.?"
Katanya, menegasi, Ho Tiat Chiu bersenyum, ia lantas mengibas dengan tangan kanan, hingga ia perlihatkan gaetan emasnya, Melihat itu, tanpa bilang suatu apa lagi, tiga orang itu putar tubuh mereka, untuk segera lari turun gunung, sampai tak mau mereka memondong pergi mayat kawan mereka, itulah menyatakan semangat mereka seperti sudah terbang, Malah satu orang lagi dia terpeleset dan rubuh, tubuhnya berge1indingan.
Bwee Kiam Hoo semua heran kenapa tiga orang itu yang tadinya demikian garang, takut kepada si nona asing sampai sedemikian rupa.
Cuma Phang Lian Tek dan Bwce Kiam Hoo yang pernah dengar nama besar kaum Ngo Tok Kauw.
Dua saudara ini lantas mencoba memimpin bangun Ang Nio Cu dengan niat minta keterangan kenapa dia dikepung empat orang itu.
Tapi belum sampai mereka menanya mereka dapat dengar satu suara yang nyaring sekali.
"Hai, tiga manusia tidak punya guna! Pergi kamu semua!"
Suara nyaring itu seperti suara mendengungnya lonceng kuil, yang berkumandang di tengah lembah, dan orang yang mengeluarkannya ada satu imam jangkung sekali yang tubuhnya kurus dia perdengarkan suaranya itu sambil memandang kepada tiga orang yang kabur tadi, Tiga orang itu dengar suara nyaring itu, mereka berhenti Iari, apabila mereka lihat si imam, nampaknya mereka menjadi girang, maka bukannya mereka lari terus, sebaliknya mereka mendaki lagi, untuk menghampirkan, Semua orang serombongan Bwee Kiam Hoo mengawasi imam itu, jubah siapa mewah sekali, bukan terbuat dari sutera bukan juga dari cita biasa, Dan kopiahnya telah ditabur dengan sepotong batu pualam yang indah tanpa bandingannya, sinarnya menyorot ke empat penjuru.
Imam ini menggendol sebatang pedang panjang di bebokongnya.
Dia mempunyai sepasang alis panjang yang hampir menyambung sama rambut di pelipisnya, roman-nya suci dan agung, usianya kira-kira lima puluh tahun.
Phang Lian Tek lantas maju untuk memberi hormat "Totiang,"
Katanya.
"Maukah totiang perkenalkan gelaranmu yang mulia kepada kami? Adakah totiang menjadi sahabat dari couwsu kami?"
Imam itu tidak menjawab, ia kibaskan tangannya yang kanan di mana ia cekal sebatang hudtim, kebutan suci, kemudian ia awasi semua orang.
"Kamu berkumpul di sini, apa kamu sedang bikin?"
Dia tanya.
"Couwcu kami mengumpulkan semua murid untuk berapat,"
Lian Tek jawab.
"Ha apakah Bok Jin Ceng sudah datang?"
Tanya si imam.
Lian Tek dengar orang sebut langsung nama couw-sunya ia mau percaya benardugaan bahwa imam jangkung kurus ini ada sahabat kekal dari couwsunya karena itu, tidak berani dia berlaku ayal "Couwsu masih belum tiba,"
Sahutnya dengan lebih hormat imam itu tersenyum, terus ia berpaling sambil menunjuk Sun Tiong Kun, Tek Siu dan A Kiu bertiga.
"Lauw Bok telah dapatkan bukan sedikit murid-murid perempuan yang cantik molek!"
Katanya, ia gunai kata-kata "Lauw Bok"
Atau "Bok si tua"
Kepada Bok Jin Ceng.
"Sungguh dia sangat beruntung! Eh, mari kamu bertiga, mari datang dekat kepadaku sini, untuk aku lihat."
Semua orang terperanjat itu ada kata-kata tidak sopan.
"Kau siapa?"
Tanya Sun Tiong Kun yang keras tabiat-nya. Si imam tertawa.
"Sudahlah!"
Katanya.
"Mari kamu turut toya pulang, nanti dengan perlahan-lahan toya beri keterangan kepada kamu,.,."
Sun Tiong Kun jadi makin gusar, Nyata imam ini ceriwis sekali.
"Kau makhluk apa berani kurang ajar di sini!"
Ia bentak sambil ia maju setindak, Masih imam itu tertawa, malah sekarang ia tertawa haha hihi, ia pun angkat sebelah tangannya, untuk dibawa ke muka Tiong Kun, guna usap pipi orang, setelah mana, ia bawa pula tangannya itu ke arah hidungnya untuk diciumi "Sungguh harum!"
Katanya pula, terus sambil tertawa.
Dalam murkanya yang meluap, Sun Tiong Kun menikam dengan sebilah gaetannya, Si imam cuma geraki sedikit tangan atau tahu-tahu ia sudah cekal tangannya si Nona Sun, terpencet, hingga habis segera tenaga nona itu, seluruh tubuhnya jadi lemas.
Secara sangat cepat dan gampang imam itu sudah lantas rangkul Tiong Kun muka siapa ia pun cium.
"Sungguh tidak jelek nona kecil ini!"
Katanya pula.
"Phang Lian Tek, Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng jadi sangat kaget berbareng sangat gusar, dengan serentak mereka maju untuk menerjang. Si imam menjejak dengan kedua kakinya, sekejap saja ia sudah lompat mundur beberapa tindak, dengan tangan kirinya, ia masih pcluki Tiong Kun. ia bawa orang gerakannya toh gesit dan enteng, Menampak gerakan ini, kecuali persaudaraan Phang dan lainnya, Ciu Cun semua terperanjat Mereka lantas insyaf, imam ini sangat lihay. Mereka tergugu, Tahulah mereka, mereka bukan tandingan si imam, Akan tetapi, Sun Tiong Kun masih dipeluki orang, nona itu tidak mampu berontak, pasti sekali tak dapat mereka peluk tangan saja, Maka dengan terpaksa mereka maju, imam itu tersenyum, tangan kanannya bergerak, Cepat luar biasa, orang segera lihat suatu benda berkilau, angin mendesir dingin, Tahu-tahu si imam sudah hunus pedangnya yang tadi tergendol di bebokongnya. Bu-eng-cu Bwee Kiam Hoo si Tak Ada Bajangannya, bertubuh paling gesit diantara saudara-saudara seperguruannya, ia pun paling menyayangi Sun Tiong Kun, tidak heran kalau dialah yang lompat paling depan, Akan tetapi, kapan ia telah saksikan pedang si imam, tidak berani ia bentur pedang itu, yang mesti ada pedang musti ka. Maka ketika tiga kali ia mendesak, setiap kalinya ditangkis, ia egos pedangnya, ia menyerang hanya lempat-lempat kosong. Menghadapi pedang mustika, Kiam Hoo sudah punyakan sedikit pengalaman ialah ketika di Lamkhia ia tempur Wan Sin Cie, beberapa tebasan pedangnya paman guru cilik itu membuat pedangnya sendiri kutung, hingga karenanya, ia insyaf kepandaiannya masih jauh belum sempurna, dari itu belakang ia minta gurunya ajarkan dia terlebih jauh ilmu pedang, Selama setengah tahun, Tidak pernah ia keluar dari pintu pekarangan, karenanya ia telah peroleh kemajuan pesat. Demikian sekarang ia bisa berkelahi dengan baik.
"Tidak jelek!"
Memuji si imam apabila ia telah saksikan serangan orang beruIang-u1ang.
Memang tiga serangan saling susul itu ada serangan-serangan Kiam Hoo yang paling berbahaya dan telengas, Akan tetapi pujian si imam belum habis diucapkan atau dengan tiba-tiba pedang penyerangnya telah kutung menjadi dua, atas mana, Kiam Hoo kaget tidak terkira, Menurut kebiasaan di kalangan ilmu silat, siapa pedangnya terbabat kutung ia mesti timpuk lawannya dengan ujung pedang, habis itu ia mesti lekas lompat mundur, akan berdaya terlebih jauh guna lawan musuh, Kiam Hoo tidak berbuat demikian, ia khawatir dengan menyambit si imam, nanti Tiong Kun yang dapat celaka, Dari itu ia lantas lompat mundur Walau demikian kendati ia ada si Tak Ada Bajangannya, meski tubuhnya sangat enteng dan gerakannya gesit sekali, ketika ia berlompat, tidak urung "Sret!"
Ikat rambut di embun-embunannya telah tersabet putus!
(Bersambung ke Bab 26) Maka juga ia mundur dengan mandi keringat dingin sebab ia ingat bagaimana besar ada bahaya yang mengancam dia barusan, Phang Lian Tek, Lauw pwee Seng dan Ciu Cun lantas mengepung dengan dibantu Put Po dan Put Cui serta muridnya Oey Cin yang keempat dan keenam, Mereka baru bergebrak, si imam baru geraki pedangnya lantas terdengar suara senjata beradu dan putus, malah ada juga orang yang rubuh karena dupakan, hingga sebentar saja tinggal Phang Lian Tek dan Lauw Pwee Seng yang masih sanggup melayani terus, karena mereka ini bisa kelit senjata mereka dari sesuatu tebasan, Setelah itu, dengan jumput sebatang pedang yang menggeletak di tanah, Bwee Kiam Hoo maju pula untuk bantu saudara-saudaranya, Akan tetapi, walau mereka kosen, mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap imam tidak dikenal itu.
Lekas sekali mereka kena terdesak, sekonyong-konyong saja si imam lemparkan pedangnya ke udara, Melihat ini Lauw pwee Seng terperanjat dan kaget tidak tahu ia, si imam hendak gunai ilmu siluman apa.
Kiam Hoo pun kaget tetapi ia masih sempat berseru.
"Awas."
Hanya ia telah terlambat, karena1 segera terdengar satu suara membeleduk, dadanya pwee Seng kena kepalan si imam sampai dia mundur terjengkang rubuh numprah di tanah, Si imam tertawa berkakakkan.
"Kau andali kepandaianmu yang tinggi jikalau aku gunai pedang untuk lukai padamu, tentu kau tidak puas!"
Demikian katanya, Sambil berkata demikian, imam ini tanggapi pedangnya yang turun jatuh menyusut mana kembali dia babat kutung pedangnya Bwee Kiam Hoo, sedang dengan sikut kanannya itu, ia bentur iga kiri dari Lian Tek, hingga dia ini merasakan sangat sakit, matanya sampai kabur!
Sampai di situ, tidak ada lagi murid-murid Hoa San Pay yang berani maju pula, menampak mana, si imam tertawa berkakakkan.
"Lauw Bok agulkan ilmu pedangnya tidak ada tandingannya di kolong langit ini ternyata murid-murid yang ia didik semua tidak punya guna sebagai mereka ini!"
Ia mengejek "Nah, kalau sebentar couwsu kamu menanyakannya bilanglah bahwa Giok Cin Cu telah datang berkunjung kepadanya!
Kamu bilang juga, sebab Couwsu kamu jelek pengajarannya terhadap murid-muridnya sekarang aku hendak bawa pergi ketiga murid perempuan nya ini, untuk aku yang didik terlebih jauh nanti tiga tahun kemudian, sesudah bosan aku memberi pengajaran kepada mereka, baru aku akan antar mereka pulang kepada couwsu kamu itu,"
Sementara itu Ho Tek Siu si cerdik telah insyaf keadaan yang sangat berbahaya itu, ia insyaf lihaynya si imam, ia bisa terka maksud jahat orang, maka di sebelah memikiri daya untuk singkirkan diri, ia kata pada Seng Hay.
"Lekas undang suhu."
Benar dugaan Ho Kauwcu, baru saja Seng Hay memutar tubuh, untuk lari pergi, si imam sudah bertindak ke arah dia. Tapi ia sudah berpikir Maka papaki si imam sambil tertawa.
"Totiang lihay sekali kepandaian kau, Apakah getaran mulia dari totiang?"
Demikian ia memuji seraya menanya, Heran agaknya si imam melihat orang tertawa, sama sekali tidak nampak tanda-tanda takut Maka ia lantas awasi Ho Kauwcu, dari atas sampai ke bawah, hingga ia tihat tegas orang punya pipi merah dadu dan kedua kaki putih bersih bagaikan salju, Mukanya ramai pun sungguh menggiurkan hatinya hingga tulang-tulangnya jadi lemas dengan tiba-tiba.
ia pun maju setindak.
"Aku ialah yang dipanggil Giok Cin Cu,"
Sahutnya sambil tertawa.
"Kau sendiri, anak, apa namamu? Kau bilang, kepandaianku lihay, maka mari kau ikut aku pulang dengan perlahan lahan aku nanti beri pengajaran kepadamu? Kau suka, bukan?"
"Ah, nanti kamu dustakan aku?"
Tek Siu tertawa pula dengan manis.
"Apa nanti katamu bila kau menyangkal "Eh, siapa dustakan kau?"
Kata Giok Cin Cu.
"Mari ikut aku?"
Kata-kata ini dibarengi dengan uluran tangan, guna pegang lengan orang untuk ditarik Ho Tek Siu mundur setindak.
"Tunggu dulu!"
Katanya sambil tertawa pula.
"Aku hendak tunggu guruku, aku mesti tanya dia dahulu, boleh atau tidak aku turut padamu...."
"Hm.,.!"
Mengejek si imam.
"lkuti terus gurumu.,.! Apakah faedahnya itu? Tidak lebih tidak kurang, kau cuma punyakan kepandaian seperti gurumu itu? Guru bakul nasi seperti itu tidak perlu kau perdulikan lagi?"
Dan ia tertawa terbahak-bahak. Tek Siu tidak jadi gusar "Kau tahu kepandaian guruku itu lihay,"
Kata dia sambil bersenyum.
"Kalau suhu ketahui aku ikut kau, pasti dia tidak akan mau mengerti. Phang Lian Tek semua jadi sangat berkhawatir berbareng mendongkol Tidakkah Sun Tiong Kun masih saja dipeluki si imam dan si nona Sun itu tidak berdaya sama sckali? Kenapa perempuan ini yang tidak dikenal, yang mereka anggap mirip siluman, berlaku demikian genit terhadap si imam? "
Hai, imam busuk!"
Akhirnya Kiam Hoo berteriak.
"Hari ini aku akan adu jiwaku denganmu!"
Dengan bawa pedangnya, Bu Eng Cun bertindak maju, Giok Cin Cu tidak menoleh untuk bentakan si orang she Bwee.
"Aku nanti kasih lihat pula kepandaianku kepada-mu!"
Kata dia pada Ho Tek Siu.
"Nanti kau boleh bandingkan suhumu terlebih lihay daripada aku atau aku yang terlebih lihay daripada suhumu itu!"
Adalah sembari mengucap, ia kelit dari satu tusukan Kiam Hoo, untuk mana, ia cuma melirik, kemudian ia melanjuti berkata kepada si juwita yang boto manis ini.
ilmu silat semacam yang dipunyakan dia ini, di dalam kalangan Hoa San Pay tentu dianggap sudah luhur sekali!
Akan tetapi kalau dia berhadapan dengan aku?
Hm!
Hm!
Coba kau menghitung, mulai dari satu, sampai sepuluh!
Dengan sepasang tanganku yang kosong, aku nanti rampas pedangnya!"
Meluap haVa amarah Kiam Hoo karena ia sangat dihinakan tanpa bilang suatu apa ia menyerang pula dengan sengit dan hebat Tidak pea)uti aku menghitung cepat sekali, bukan-kah?"
Tek Siu tegasi sambil tertawa "Baik! Satu! Dua! Tiga! Empat! Limal"
Dan ia menghitung cepat luar biasa.
"Hai kau licik sekali!"
Senyum Giok Cin Cu, yang tahu orang menghitung seperti kilat saja, Tapi kau lihat."
Justru itu, ujung pedangnya Kiam Hoo sedang menyambar pula, Si imam egos tubuhnya minggir, menyusul mana, sebelah tangannya diulur panjang, Entah bagaimana, tahu-tahu dua jari tangannya sudah ada di depan mata Bu Eng Cu.
Kiam Hoo kaget sekali, hingga ia mengegos, cepat sekali, ia menangkis dengan tangan k iri nya.
Si imam tarik pulang serangannya, tangannya diputar scdikit, untuk dipakai membentur lengan lawan, atau mana, Kiam Hoo rasai jari-jari tangannya gemetar dan kaku, hingga pedangnya lantas terlepas dari cekalannya, menyusut mana, si imam sambar pedangnya itu.
Selama itu Ho Tek Siu baru menghitung sampai angka "delapan".
Giok Cin Cu tertawa berkakakan, ia terus geser pedang ke tangan kirinya dengan dua jari telunjuk dan lengah, ia pegang ujung pedang itu untuk ditekuk, menyusul mana terdengar suara membeletok, segera ujung pedang patah, Orang semua kaget sekarang orang lihat, pada lima jari tangannya ada sarung seperti bidal, yang ujungnya tajam sekali, Akan tetapi walau demikian, kekuatan jari-jari tangannya itu langka sekali.
Suara membentak itu segera terdengar saling susul, sebagai kesudahan dari mana, pedang itu kena dibikin patah jadi beberapa potong, Habis itu, Giok Cin Cu lemparkan gagang pedang berikut ujung pedang yang sudah jadi pendek itu, sembari berbuat demikian, ia keluarkan seruan panjang dan nya-ring, dibarengi juga dengan terulurnya tangan kanannya, untuk cekal lengan Tek Siu, Ho Kauwcu sebenarnya lagi gunai siasat memperayal kejadian guna menunggu waktu, supaya gurunya keburu datang, maka diam-diam ia sibuk juga menampak, sampai begitu jauh, Sin Cie masih belum juga muncul sekarang ia hendak dicekuk dalam keadaan terpaksa, ia mesti lindungi diri Tidak ada jalan lain ia angsurkan tangannya yang kiri untuk diantap kena tercekal si imam, Giok Cin Cu sudah menduga dia bakal pegang tangan yang putih halus dan empuk, maka bukan kepalang heran dan kagetnya apabila ia rasakan kena pegang barang keras dan dingin sifatnya, hingga sebat bagaikan dipagut ular, ia lepaskan segera cekalannya, ia tarik pulang tangannya berbareng dengan mana, ia awasi tangan si nona, Dan berkelebat lah di depan matanya cahaya kuning emas, yang bagaikan kilat terus menyambar ke arah alisnya!
Dan itulah sebuah gaetan emas yang ujungnya lancip dan tajam, Ho Kauwcu sudah lakukan serangannya secara sangat cepat, ialah begitu lekas si imam lepaskan cekalannya, ia hendak menggurat jidat orang, Giok Cin Cu sangat lihay tetapi hampir saja ia rubuh sebagai korban kelicinan si nona, Syukur untuknya, ia bisa dongakkan kepalanya, hingga ia lolos dari bahaya, Hanya berbareng dengan itu, hidungnya mencium desiran bau harum, bau dari bisa, Tanpa merasa imam ini keluarkan keringat dingin, Tapi ia tidak sempat melengak saja lagi sekali gaetan emas itu menyambarnya, hingga ia jadi gugup, Ketika itu pedangnya sudah dimasuki ke dalam sarungnya di be-bokongnya, sedang tangannya yang kiri masih memeluki tubuhnya SunTiong Kun, ia jadi sangat repot, sebab selagi ia main mundur penyerangnya merangsak, hingga akhir-akhirnya ia lepaskan pukulannya dan tolak tubuhnya Tiong Kun berbareng mana ia mencelat mundur hingga ia jauh pisahkan diri, sedang pedangnya dapat ia hunus dengan segera.
"Ha,., ha... haha!"
Dia tertawa besar "Aku tidak sangka kau mempunyai kelihayan sebagai ini! Baik, baik, mari kita mencoba-coba!"
Tek Siu insyaf dia sudah menang di atas angin untuk sekejap saja, karena serangannya secara mendadak itu yang diulangi dan diulangi sebat luar biasa, ia juga insyaf, kalau mesti berkelahi sungguhan, ia bukan tandingan imam luar biasa lihay ini.
Akan tetapi keadaan sangat mengancam, ia terpaksa mesti melayani juga, ia tetap berlaku tenang, ia terus gunakan otaknya yang lincah, Maka ia tertawa pula dengan manis.
"Boleh kita main-main tetapi janganlah kau sungguhan!"
Katanya.
"Kita main-main saja, cuma berke1a-kar...!"
Giok Cin Cu ada seorang ulung, ia sudah lantas curigai nona ini, Dia cantik sekali, gairahnya sangat menarik, akan tetapi orangnya licik, tangan kirinya itu tidak mengenal kasihan, Tapi ia percaya kepandaiannya sendiri, maka ia tidak jeri.
"Baik!"
Katanya.
"Cuma kalau kau kalah, kau mesti turut aku!"
"Baik,"
Jawab Tek Siu.
"Lihat gaetan."
Benar saja, kata-kata disusul sama serangan dua tangan berbareng, dua-dua tangan yang merupakan gaetan...
Tidak lagi Giok Cin Gu berani memandang enteng seperti tadi ia layani Kiam Hoo beramai, ia berkelahi dengan hati-hati akan halau suatu tusukan atau gaetan, dengan begitu, mereka berdua jadi bertempur dengan seru.
Bwee Kiam Hoo dilain pihak sedari siang-siang memimpin bangun pada Sun Tiong Kun, kemudian bersama yang lainnya mereka berdiri menonton pertandingan itu, yang katanya ada pertandingan untuk berkelakar, berguyon saja, Kesudahannya, mereka jadi kagum dan tercengang.
Tadi mereka saksikan Tek Siu dengan gampang rubuhkan dua saudara Phang Put Po dan Put Cui, mereka mau anggap itu disebabkan kepandaian dan pengalaman masih terlalu cetek dari engko dan adik itu, akan tetapi sekarang mereka dapat buktikan orang itu sungguh lihay, Ho Tek Siu berkelahi dengan mengunjuki kelincahannya, tubuhnya tampak sangat enteng, sepasang gaetannya menyambar-nyambar hingga mirip dengan berkelebatnya cahaya kuning emas saja, Sebab ia musti keluarkan antero kepandaiannya untuk bisa layani imam yang sangat lihay itu, Setelah kagum, Kiam Hoo semua ingat tidak dapat mereka diam saja mesti mereka bantui si nona, yang sekarang nyata ada di pihaknya, Akan tetapi meski juga mereka mempunyai ingatan untuk membantu, mereka tidak dapat wujudkan itu, si nona dan imam bertempur dengan seru, pedang dan gaetan rapat sekali, hingga tidak ada lowongan buat mereka maju menye1ak.
Mereka juga insyaf, kepandaian mereka masih beda terlalu jauh untuk dibandingi dengan kedua orang yang asyik bertanding sambil berkelakar itu....
pertandingan berjalan terus dengan keseruannya tak jadi berkurang, Adalah selang tidak lama, suara nyaring terdengar lantas kelihatan gaetan emas dari si nona ke ditabas putus pedang mustika dari si imam, menyusul mana, Tek Siu kibaskan sebelah tangannya, lantas serupa senjata rahasia menyambar ke arah si imam, setelah perdengarkan satu suara, senjata itu buyar bagaimana asap merah dadu yang bersinar, hingga berpetalah roman cantik dari si nona, Menyusul sambaran senjata rahasia yang luar biasa itu, Giok Cin Ciu mencelat mundur sambil berseru.
"Hai! Kau dari Ngo Tok Kauw? Kenapa kau bercampur baur di sini?"
Selagi Giok Cin Cu menegur dalam keheranan itu, Cio Cun berdua Put Cui rabuh dengan tiba-tiba sebab mendadak saja mereka merasa kepala pusing dan mata kabur Sebab siuran bisa dari Tek Siu mengenai mereka, yang berada di bawah angin, Ho Kauwcu sendiri hadapi si imam sambil tertawa.
"Sekarang ini aku telah ubah penghidupanku dari sesat aku pindah keprikebenaran!"
Sahutnya.
"Aku telah memasuki kaum Hoa San Pay. Maka kau juga baiklah keluar dari jalanmu yang sesat."
Giok Cin Cu menyampok ke kiri dan ke kanan, angin dari sam pokan nya itu telah menghalau baunya bisa setelah mana tanpa bilang suatu apa ia lompat maju seraya sebelah tangannya menyerang, serangan tangan itu mendatangkan suara angin, gerakan tubuh si imam juga mirip dengan "Pay san to hay"
Ialah gerakan dari tubuhnya gunung untuk menguruk lautan.
Tek Siu cuma tahu Giok Cin Cu lihay ilmu pedangnya, ia tidak tahu, tangannya juga tidak kalah lihay-nya, maka juga ia kaget bukan kepalang kapan ia saksikan serangan musuh ini, sambil menjerit dalam hatinya, ia putar lengan nya, dengan itu, ia cabut cambuknya "Kat-bwee-pian" -cambuk "ekor kalajengking-sambil miringkan tubuhnya, ia sambar lengan lawan untuk dililit.
Giok Cin Cu luas pengetahuannya sekarang pun tahu lawan dari Ngo Tok Kauw, maka ia telah bisa duga cambuk lawan ini juga mesti ada bisanya, Karena ini, ia bisa berlaku waspada, sebenarnya hatinya pun sangat panas, ia berjumawa untuk kepandaiannya, ia tidak sang-ka, sekarang satu wanita sanggup layani ia untuk banyak jurus, ia anggap wajahnya tidak bercahaya Iagi.
Karena itu tak mau ia mengantapkannya pu1a.
Kapan cambuk sampai, ia tidak kasih lengannya dililit, sebaliknya dengan dua jari tangannya yang kiri jari telunjuk dan tengah ia papaki untuk jemput ujung cambuk dan selagi si nona tak kesampaian niatnya membetot dia, ujung pedangnya sudah menyambar ke arah muka orang, Untuk jepit ujung cambuk, ia tidak jeri, sebab ia pun memakai sarung jari, Melihat percobaan gagal, Ho Tek Siu terpaksa cepat-cepat lepaskan cambuknya itu untuk menyingkir dari ujung pedang, ia mundur.
"Sudahlah aku menyerah kalah! Suka aku angkat kau jadi guru!"
Kata dia sambil tertawa, sesudah mana, ia membekuk untuk berlutut, guna jalankan kehormatan Giok Cin Cu juga tertawa, ia lemparkan cambuk lawan yang ia kena rampas, akan tetapi berbareng dengan itu, ia tampak suatu sinar hijau berkelebat menyambar ke arahnya hingga ia jadi heran, lekas-lekas ia mengibas dengan ujung bajunya yang gerombongan, tubuhnya sendiri juga mencelat mundur, Sebagai kesudahan dari kebiasaan ujung baju itu, dengan menerbitkan suara, sejumlah jarum halus menyambar ke arah gerombolan rumput di samping mereka.
Nyatalah Ho Kauwcu yang lihay tidak mau menyerah mentah-mentah, ia memberi hormat untuk menyerang dengan senjata rahasia jarum "Ham sce shia-eng"
Atau "Genggam pasir memanah bajangan" , itulah senjata rahasia yang sangat lihay, siapa tahu Giok Cin Cu lihay luar biasa, walaupun dibokong senjata demikian, masih ia bisa menangkis, menghindari diri dari malapetaka, Tentu saja ia jadi penasaran karenanya, maka setelah jarum-jarum tidak lagi menyerang padanya, ia lompat maju guna melakukan pembalasan Tubuhnya mencelat bagaikan garuda menyambar Selama pertempuran hebat itu, A Kiu terus menonton dari pinggiran ia memasang mata tajam sekali, sebenarnya keras niatnya untuk membantui Tek Siu, ia beckhawatir untuk itu kawan yang menghadapi musuh yang lihay ini, akan tetapi tak dapat ia memberikan bantuannya sebab ia terhalang oleh luka lengannya, sekarang ia lihat serangan hebat itu ia pun tampak air muka berubah dari Tek Siu, terpaksa ia serang si imam dengan piauw bambu Ceng tiok piauw, menyusul mana ia serukan kawannya.
"Sambuti!"
Itulah pedang mustika Kim-coa-kiam, yang putrinya kaisar Cong Ceng lemparkan kepada pemimpin Ngo Tok Kauw, Giok Cin Cu tidak kena dicelakai oleh senjata rahasia A Kiu, dengan satu kibasan ia bisa singkirkan bahaya, Tapi karena ini, serangannya jadi gagah Ho Tek Siu sendiri, setelah berkelit dari serangan berbahaya itu sudah terus berlompat akan sambar pedang yang dilemparkan A Kiu kepadanya, dengan punyakan senjata mustika ini, ia mendahului menyerang pula kepada musuh, sedang dengan piauw ia cegah lawan dului mendesak padanya, Kembali keduanya bertempur.
Sibuk juga Giok Cin Cu sebab desakan si nona, maka dengan tangan kiri ia cabut kebutan hudtimnya, akan dengan bantuan senjata ini bisa lawan musuh itu.
Sesudah bertarung pula beberapa jurus kembali Tek Siu kena terdesak Gaetan atau tangan kirinya ada lihay tidak demikian tangan kanannya, meski juga ia mencekal pedang mustika, sebabnya ini adalah pedang bukannya senjata pegangannya hingga tidak leluasa ia menggunai-nya.
Melihat si nona terancam bahaya, Pwec Seng be-ramai paksa juga maju lagi tetapi ketika ia disampok hudtim pada pundaknya ia merasakan sakit sampai ke tulang-tu!angnya, sebab kebutan itu bukan terbuat dari bulu hanya dari kawat emas halus, Coba dia bukannya telah cukup tinggi ilmu silatnya pasti ia sudah rubuh karena nya.
Melihat keadaan itu, Bwee Kiam Ho teriaki Sun Tiong kun.
"Lekas undang suhu dan subo, supeh dan susiok!"
Tiong Kun insyaf pada ancaman bahaya, ia lantas putar tubuhnya untuk lari ke gua tetapi begitu lekas ia putar tubuh, ia pun berteriak dengan kegirangan "To-tiang! Lekas! Lekas!"
Orang lagi berkelahi tidak ada yang sempat akan menoleh, hanya menyusul teriakannya nona Sun itu, segera terdengar suara yang keras dan nyaring.
"Bagus! Kiranya kau yang datang kemari!"
Giok Cin Cu mcnyampok beberapa kali untuk mun-durkan musuh, habis itu ia lompat mundur untuk mengawasi ke arah darimana datangnya suara keras yang berpengaruh itu.
"Hai, suko! Kiranya kau! Adakah kau banyak baik!"
Demikian suaranya yang dingin, yang sifatnya mengejek.
sekarang semua orang dapat menoleh, maka mereka lihat itulah Bhok Siang Tojin yang baru sampai, imam ini mencekal papan catur berikuf dua kotak bijinya, dia berdiri di belakang rombongan murid Hoa San Pay itu.
Semua orang berhati lega, karena mereka tahu, imam ini sama lihaynya dengan couwsu mereka dia adalah sahabat couwsu mereka, Tapi mereka dibikin tercengang kapan mereka dengar si imam lihay, lawan mereka memanggil suko --kanda seperguruan -kepada Bhok Siang Tojin.
Semua mereka jadi tercengang.
"Mau apa kau datang kemari?"
Bhok Siang tanya dengan tenang.
Giok Cin Cu terlawa.
Dari sikapnya itu, tidak saja ia tidak menghormat suheng itu, dia pun nampaknya tidak jeri sama sekali ".
Malah kepada suheng itu, ia tidak memberi hormat "Kau tentu datang kemari untuk main catur, aku sebaliknya untuk bekuk orang!"
Demikian ada jawabnya, yang pendek dan dingin, Terus saja ia tunjuk Ang Nio Cu yang diam saja sejak tadi, kemudian menunjuk Tiong Kun bertiga, ia tambahkan "Dan sekalian untuk terima tiga murid wanita."
Bhok Siang Tojin kerutkan alis.
"Sudah lewat beberapa puluh tahun, apa tetap kau tidak dapat ubah perangaimu?!"
Katanya.
"Hayo lekas kau berlalu dari gunung ini!"
"Hm!"
Begitu suara sang sutee.
"DuIu juga suhu tidak dapat urus aku, sekarang aku justru memusingkan kau, suko!"
Bhong Siang Tojin tidak gubris ejekan itu.
"Coba kau pikir-pikir sendiri,"
Katanya pula dengan sabar "Selama tahun-tahun yang belakangan ini, sudah berapa banyak perbuatan buruk dan kejam yang kau lakukan, sebenarnya sudah sekian lama aku niat pergi ke Sinkiang untuk cari kau"
Giok Cin Cu tertawa untuk kesekian kalinya.
"ltulah bagus!"
Katanya secara menantang.
"Memang kita berdua saudara sudah lama sekali tidak pernah bertemu satu dengan 1ain...."
"Dan hari ini adalah nasehatku yang paling akhir,"
Bhok Siang bilang, dengan kesabarannya yang luar biasa akan tetapi suaranya keren.
"Jikalau kau tetap berbuat jahat dan tidak ubah itu, jangan kau sesalkan yang suhengmu tidak kenal kasihan lagi.!"
Masih saja Giok Cin Cu, sang adik seperguruan tertawa dingin, sikapnya sangat menantang.
"Seorang diri dengan sebatang pedangku, aku telah malang melintang di kolong langit ini!"
Katanya dengan jumawa.
"Selama itu, belum pernah aku dengar ada orang yang berani mengucap sepatah saja perkataan kurang ajar lerhadapku!"
"Ada sangkutan apakah di antara Hoa San Pay dengan kau maka kau labrak murid-murid orang ini?"
Bhok Siang Tojin masih mau menanya.
"Jikalau nanti suheng Bok Jin Ceng pulang, apa aku mesti bilang kepadanya?"
Imam itu tertawa dengan ejekannya! "Sudah buat banyak tahun aku berdiam di Sinkiang!"
Katanya.
"Selama itu siapakah yang tidak tahu bahwa aku telah bikin putus persaudaraan denganmu? Kau sebut-sebut Bok Jin Ceng, Hm. Lain orang boleh jeri terhadapnya, tetapi aku Giok Cin Cu, tidak, Aku berani mendaki Gunung Hoa San ini, itu artinya aku tidak taruh di hati satu kunyuk tua yang bertangan tujuh dan berkaki delapan!"
Dengan kata-kala "kunyuk"
Itu, Giok Cin Cu menghina sangat pada Bok Jin Ceng yang seperti diketahui, bergelar "Pat chiu Sian Wan"
Atau "Lutung Sakti Tangan Delapan". Bhok Siang Tojin menghela napas, Dengan segan ia angkat papan caturnya.
"Jikalau tetap tidak dapat dihindarkan pertempuran di antara kita berdua,"
Katanya.
"Baiklah terpaksa aku tidak dapat pikirkan pula persaudaraan kita selama tiga puluh tahun dulu, Nah, kau majulah!"
Giok Cin Cu tidak lantas majukan diri untuk sambut tantangan itu, guna tempur sang suheng, sebaliknya ia bersenyum.
"Kau hendak lawan aku bertempur?"
Katanya.
"Hm. Coba lihat, ini apa?"
Ia merogoh ke dalam sakunya, akan kasih keluar sepotong pedang besi yang kecil mungil terus ia angkat itu tinggi-tinggi di atas embun-embunannya, Bhok Siang Tojin awasi pedang besi itu dengan tajam, selang sekian lama, hingga wajahnya mendadak berubah menjadi pucat, putih seperti kertas.
"Baik, baik,"
Katanya kemudian Tidaklahsia-sia kau keram dirimu di Sinkian untuk banyak tahun, akhirnya kau dapatkan itu,.,."
Giok Cin Cu tidak menjawab, tidak lagi ia bersenyum atau tertawa, hanya dengan roman bengis, dengan suara angker dia berseru.
"Bhok Siang! Kau telah lihat pedang besi dari suhu! Apakah kau masih tidak hendak berlutut?"
Bhok Siang tidak menjawab, dia lantas letaki papan caturnya kemudian dengan cara hormat sekali, ia menjura ke arah Giok Cin Cu, untuk memberi hormat seraya terus ia tekuk lutut Semua orang Hoa San Pay berdiri bengong, saking heran sedang tadinya mereka percaya, dengan datangnya imam ini, imam yang jahat itu bakal dapat diberi ajaran, Mereka pun jadi berkhawatir, Giok Cin Cu sudah lantas angkat tangannya yang kiri ia serangkan itu ke arah Bhok Siang Tojin.
Desiran angin keras membarengi serangan itu.
Bhong Siang Tojin tidak menangkis atau berkelit, ia malah berbalik badan dan pasang bebokongnya, ia melainkan kumpulkan ambekannya, Dengan suara keras, sampailah serangannya Giok Cin Cu mengenai dengan jitu, hingga bajunya sang suheng hancur dan beterbangan, tubuhnya bergoyang sedikit, suatu tanda hebatnya serangan walaupun demikian masih ini imam berlutut saja!
Wajahnya Giok Cin Cu menjadi merah padam, rupanya ia malu atau penasaran karena gagalnya serangannya itu, Maka ia ulangi serangannya yang kedua kali, Kali ini ia jadikan pundaknya Bhok Siang sebagai sasaran, Serangan ini tidak mendatangkan suara sebagai tadi, baju pun tidak sampai sobek, akan tetapi hebatnya bukan buatan, karena itu lakukan setelah pengerahan khie-kang, apa yang dinamai tenaga ambekan, Maka kali ini tubuhnya Bhok Siang ngusruk ke depan, segera ia muntahkan darah hidup, yang membasahi batu besar di depan-nya.
Tidak ada perasaan kasihan dalam hatinya Giok Cin Cu, habis serangannya yang dahsyat itu, lagi sekali ia angkat pula tangannya, mengulangi untuk yang ketiga kalinya, Kali ini dia hendak hajar batok kepalanya suheng itu, akan tarik orang punya nyawa, Orang-orang Hoa San Pay menjadi kaget, lupa pada bahaya, bahwa sang imam lihay luar biasa, mereka keluarkan senjata rahasianya masing-masing, untuk dipakai menyerang tangannya imam itu guna cegah dia turunkan tangan jahat itu yang mirip dengan kipas besi, Tangguh tangannya si imam, dengan kibasan tangannya itu, ia bikin semua senjata rahasia meluruk jatuh ke tanah, hingga ia sempat angkat pula tangannya, A Kiu berdiri paling dekat Bhok Sian Tojin, tidak tega ia menampak si imam bakal dibikin celaka secara demikian keji dan kejam, lupa kepada bahaya, ia lompat kepada imam itu untuk peluk rangkul batang leher orang, guna alingi kepalanya dengan tubuhnya sendiri, Tuan putri ini berbuat demikian karena ia tidak lihat lainjalan, walaupun pelbagai senjata rahasia masih tidak menolong.
Giok Cin Cu kaget melihat sikapnya wanita muda itu, hingga ia batal melanjuti penyerangannya, sedang dilain pihak, ia segera dengar suara batuk-batuk di sebelah belakangnya hingga lantas saja ia putar tubuh untuk mcno!eh.
Orang yang bcrbatuk-batuk itu ada seorang tua dengan dandanan sebagai seorang sastrawan Ho Tck Siu yang lihay juga terkejut tahu-tahu lihat orang tua itu muncul di antara mereka dan lantas berdiri di sampingnya A Kiu.
Nyata sekali, orang ini mempunyai ilmu cntengkan tubuh yang luar biasa sempurnanya.
ia tidak kenal orang tua ini, ia khawatir tuan putri nanti dibikin celaka, maka untuk menolong ia segera serang orang tua itu.
"Pergi kau!"
Ia membentak membarengi serangannya itu, Si orang tua geraki tangannya yang kiri, dengan tiba-tiba saja Tek Siu merasakan dorongan yang keras kepada tubuhnya, tidak ampun lagi, kuda-kudanya gempur, di luar kehendaknya, ia terhuyung beberapa tindak akan akhirnya rubuh numprah di tanah, hingga ia jadi sangat malu, seluruh mukanya berubah menjadi merah.
Dilain pihak ketika ia menoleh kepada orang-orang Hoa San Pay, ia dapatkan mereka itu semua maju paykui di depan si sastrawan tua itu.
Cuma Giok Cin Cu dan tiga kawannya yang berdiri tegak.
"Sucouw!"
Demikian Tek Siu dengar suara orang-orang Hoa San Pay ilu. Maka baru sekarang ia menduga kepada Pat chiu Sian Wan Bok Jin Ccng, hingga ia jadi kaget berbareng khawatir, ia jengah.
"Celaka.,."
Ia mengeluh ia hendak masuk dalam golongan Hoa San Pay diluar tahunya, ia serang couwsu dari partai itu.
itu adalah satu perbuatan sangat kurang ajar, Selagi Giok Cin Cu berdiam, A Kiu telah pimpin bangun pada Bhok Siang Tojin, Imam ini berdiri sambil berpegangan kepada putrinya kaisar Cong Ceng, ia coba jalankan napasnya dengan beraturan Kendati demikian, ia masih terus mengeluarkan darah sedikit-sedikit dari mulutnya, Bok Jin Ceng sendiri sudah lantas hadap Giok Cin Cu.
"Totiang, kau tentunya Giok Cin Cu adanya,"
Tanyanya.
"Terhadap suheng sendiri kau turunkan tangan begini rupa.... Bagus, bagus! Sekarang, totiang dengan beberapa potong dari tulang-tulangku yang sudah tua ini suka atau layani kau main-main untuk beberapa jurus!"
Sabar ia nampaknya, setelah sampai sebegitu jauh, Pat Chiu Sian Wan tidak ingin banyak omong pula, langsung ia menantang.
Giok Cin Cu tertawa, Tak berkurang kejumawaan-nya.
inilah juga maksud kedatanganku ke puncak Hoa san ini!"
Jawabnya secara menantang "Aku ingin mendapatkan bukti, apakah aku aku si Rase Muka Kumala atau kau si Lutung yang lebih sempurna."
HRase Muka Kumala"
Adalah Giok bin Molie dan dengan si Lutung dimaksudkan Pat chiu Sian Wan ialah Bok Jin Ceng, Semua orang Hoa San Pay kaget berbareng girang mendapatkan couwsu mereka hendak tempur imam yang sangat lihay itu, inilah ketikanya untuk mereka saksikan kepandaiannya sucouw itu, Dalam seumur mereka inilah ketika yang paling baik, Tadinya mereka cuma lihat sucouw itu memberi petunjuk -pctunjuk saja.
Bcda dari yang lain-lain ada Lauw Pwee Scng.
Biar bagaimana ia sangsikan umur yang sudah lanjut sekali dari Sucouw itu, sedang Giok Cin Cu sedang tangguhnya, Maka itu dia lantas kabur ke dalam gua, dengan niat pangguI suhu dan subonya, Talkala ia sampai di dalam, di kamar batu, ia dapatkan Sm Cie dengan air mata berlinang-linang dan romannya kucel sedang berdiri di depan pembaringan di sana ia pun lihat supchnya, ketua guru dan Ang Seng Hay semua berdiri diam dengan wajah suram, Ma!ah subonya pun mengucurkan air mata, Maka ia kaget tidak tcrkira, Rcbah di antara pembaringan adalah Ceng Ceng, mukanya hitam, kedua matanya celong, napasnya tinggal satu kali demi satu kalL inilah yang membikin orang berduka sangat, hingga mereka ini tidak tahu, atau tidak perdulikan, di luar "langit hendak ambruk atau bumi bakalan amblas" , Sesungguhnya, Ceng Ceng lagi menghadapi bahaya maut Tapi keadaan di luar sangat mcngancam, maka Pwee Seng toh dekati gurunya, akan kasih tahu.
"Suhu, imam di luar itu ada sangat lihay, sekarang Sucouw sendiri yang hendak turun tangan untuk melayani dia!"
Sin Cie dengar perkataannya keponakan murid she Lauw itu ia lantas ingat budi kebaikan gurunya, yang rawat dan didik ia sedari ia masih kecil, maka lantas ia ambil putusannya, ia pondong tubuhnya Ceng Ceng kepada Oey Cin dan Kwie Sin Sic suami istri, ia terus berkata.
"Mari kita keluar untuk me1ihat...."
Terus ia bertindak cepat, mendahului yang lain.
Pwee Seng lihat paman guru cilik itu memondong orang, gerakannya tidak nampak kesusu, akan tetapi buktinya ia dapatkan orang bertindak sangat pesat, melebihkan cepatnya ia ketika tadi ia lari masuk, maka ia kagum bukan main.
Begitu lekas orang sampai di gunung belakang, pertempuran baru saja hendak dimulai Bok Jin Ceng sudah berdiri berhadapan sama Giok Cin Cu.
Pat-chiu Sian Wan mencekal sebatang pedang panjang, Giok-bin Ho-lie sebaliknya, di sebelahnya pedangnya di tangan kanan, terus cekal kebutannya di tangan kiri.
Baru saja mereka selesai memberi hormat satu pada 1ain.
"Suhu! Suhu!"
Sin Cie berseru memanggil-manggil "Suhu, biarkan teecu saja yang layani dia!"
Teecu"
Adalah "murid"!
Dua-dua Bok Jin Ceng dan Giok Cin Cu seperti tidak dengar teriakan itu, sebab mereka sedang memandang hebat satu pada 1ain.
Sebab dua-dua mengerti, inilah saat runtuh atau berdirinya mereka masing-masing.
Melihat panggilannya tidak dapat jawaban, Sin Cie serahkan Ceng Ceng kepada Ho Tek Siu, baru saja ia kata kepada muridnya itu.
"Kau rawat dia!"
Ataukah ia tampak kebutannya Giok Cin Cu sudah bergerak ke arah pundak kiri dari gurunya, ia menjadi kaget ia tahu, satu kali dua orang itu sudah bertempur, sukar untuk nyelak di antara mereka.
Tentu saja tidak mau ia ijinkan gurunya itu turun sendiri Maka tanpa pikir panjang pula, ia enjot kedua kakinya untuk lompat mencelat ke arah Giok Cin Cu, buat menyerang dengan tangan kosong, pikirannya Sin Cie ini cocok benar sama pikirannya Oey Cin dan Kwie Sin Sie, maka ketiga suheng dan sutee ini meluruk bersama, Giok Cin Cu batal menyerang ketika ia tampak ada orang-orang bertempat ke arahnya, ia tarik kebutannya, ia mundur dua tindak, ia baru mundur atau ia rasai ada angin menyambar di atasnya kepalanya, lalu tubuhnya satu orang sampai di arah embunembunannya, ketika ia tarik kuncup batang lehernya, ia rasai sambaran hawa dingin, lalu diluar tahunya, kopiahnya kena dibetot copot itulah perbuatan Sin Cie yang hendak cegah serangannya, karena Oey Cin dan Kwie Sin Sie cuma berlompatan ke depan imam itu.
Bukan kepalang gusarnya si Rase Muka Kumala, ia lantas saja menyerang dengan pedangnya dengan gerakannya "Ling kian pauw sin"
Atau "Naga melilit malaikat jahat", ujung pedangnya menjurus ke lengan kiri si anak muda. itulah serangan hebat sekali, Hampir saja Sin Cie tidak dapat luputkan diri ujung pedang cuma "menegur"
Ujung tangan bajunya yang dengan menerbitkan suara keras menjadi terbabat inilah menandakan bukannya cuma pedang yang tajam juga Iweekang dari si imam sudah sangat sempurna, Kapan tubuh Sin Cie turun ke tanah, bersama dua saudaranya ia sudah berdiri berbaris di depan gurunya, Semua orang kaget dan kagum dengan gerakan Sin Cie barusan, Hampir saja ia dapat gempur batok kepala Giok Cin Cu siapa sebaliknya hampir tumblaskan ujung pedangnya di iga si anak muda, hanya akhirnya dua-duanya sama-sama tidak kurang suatu apa, cuma yang satu hilang kopiah sucinya yang lain robek tangan baju-nya.
Coba salah satu terlambat, celakalah dia!
"Bagus!"
Akhirnya memuji orang di sekeliling mereka, Giok Cin Cu andalkan betul-betul ilmu silatnya, ia tahu Bok Jin Ceng sangat tersohor, tetapi ia harap orang sudah kurang tenaga dan berkurang kegesitannya disebabkan usia yang lanjut, maka itu ia naksir benar melawan jago dari Hoa San Pay itu.
ia percaya, dengan keuletannya, akhirnya ia akan peroleh kemenangan Maka siapa sangka ia kena dipermainkan orang, apa pula kapan ia sudah awasi orang itu ada satu bocah mungkin umurnya belum cukup dua puluh tahun.
ia malu mendongkol dan gusar "Aku nanti bunuh mampus kau dulu, kunyuk kecil, baru si kunyuk tua!"
Ia membentak sambil menuding dengan pedangnya kepada anak muda kita.
Sin Cie sambut tantangan itu, itulah memang maksudnya, Tapi ia tetap dapat berlaku tenang.
^Suhu, biarlah teecu dulu yang lawan imam ini,"
Katanya.
"Kalau teecu gagal, barulah toa suheng dan jie suheng yang menggantikan! Suhu akur?"
"Baik!"
Jawab sang guru yang benar-benar tidak sudi banyak omong lagi. ini menandakan kebenciannya kepada Giok Cin Cu yang telengas dan jumawa itu.
"Asal kau jangan memandang enteng!"
"Teecu mengerti, suhu,"
Sahut sang murid, Dua-dua Oey Cin dan Kwie Sin Sie puas dengan sikapnya sutee cilik ini.
Mereka tahu, sutee ini lebih lihay daripada mereka akan tetapi sang sutee suka merendah terhadap mereka.
Sungguh sukar dicari bocah yang sabar dan tahu adat sebagai Sin Cie itu.
Maka hampir berbareng, suheng yang kesatu dan kedua ini lantas bilang.
"Jangan sungkan sutee! Kau tidak usah main kasihan-kasihan lagi.-!"
Juga dua saudara ini gusar sangat pada imam itu, Giok Cin Cu juga tetap sama kepala besarnya, tidak perduli musuh berjumlah lebih banyak, Begitulah ia jengeki Sin Cie.
"Kau inginkan toyamu gunai senjata atau tangan kosong untuk antar kau pulang ke Tanah Barat?"
Selagi pemuda kita belum jawab tantangan atau jengekansi imam itu, HoTekSiu serahkan Kim-coa-kiam pada A Kiu kepada siapa ia kata.
"Kau serahkan ini padanya!"
A Kiu menurut, ia lantas hampirkan anak muda itu, Sin Cie terkejut, akan tampak putri itu berada di antara mereka, hingga ia tercengang, Tadinya ia tidak dapat lihat karena ia belum sempat perhatikan semua kawan di sekitarnya.
"Kau... kau..."
Kata si nona, yang terus saja tak dapat bicara lebih jauh, saking hatinya sedih.
SinCie sambuti pedang yang diangsurkan kepadanya, segera ia lompat akan jauhkan diri dari putri raja itu, Ketika itu cuaca ada terang, karena kabut baru saja buyar dan matahari merah perlihatkan diri Semua orang Hoa San Pay berkumpul jadi satu, sedang Bok Jin Ceng terus repot uruti Bhok Siang Tojin, guna bisa tolong sembuhkan sahabat karibnya itu.
Oey Cin dan Kwie Sin Sie berdiri di luar kalangan rombongannya, masing-masing siap dengan senjata mereka.
Masih Giok Cin Cu tertawa.
"Umpama kata kamu mau maju berbareng, itu pun boleh!"
Demikian kejumawaannya, Akan tetapi belum sempat ia tutup mulutnya, mendadak ada bajangan hitam bertempat di depannya, tahu-tahu satu lawannya telah sampai dan ujung pedang menyambar ke arah mukanya, Maka ia lantas mengebut dengan kebutannya sambil pedangnya di tangan kanan hendak dipakai menyerang, ia baru bersiap secara demikian, atau pedang lawan sudah ditarik pulang, untuk disusuli dipakai menyerang puta, hingga ia jadi heran Begitu muda dia ada, lawan ini demikian gesit dan ancamannya sangat membahayakan Segera ia berkelit ke kiri.
Sin Cie tahu orang berjaga untuk segera menyerang, ia bakal diserang di sebelah kanan, maka ia pun terus berjaga-jaga, inilah lihaynya kedua jago yang seperti telah ketahui ke mana mereka bakal saling menyerang, Cuma pe-nonton-penonton yang masih rendah kepandaiannya heran mengapa dua jago ini agaknya berlaku lambat, seperti bukannya lagi menghadapi tegangan Mereka sama sekali tidak insyaf suasana justru sangat tegang, bahwa kepuasan bisa terjadi di sembarang saat Sun Tiong Kun sangat benci Giok Cin Cu, melihat sikapnya dua orang itu, ia hendak membokong dengan tusukan gaetannya kepada bebokong si imam ceriwis itu, Kiam Hoo lihat sikap adik seperguruan ini ia kaget ia segera menarik.
"Apa yang kau hendak lakukan? Apakah kau tidak sayangi jiwamu?"
"Jangan perdulikan aku! Aku hendak adu jiwa dengan imam durjana itu!"
Tion Kun membandel "lmam itu sudah tahu siauw-susiok lihay,"
Kata Kiam Hoo.
"la sekarang lagi gunai dayanya yang paling sempurna untuk lindungi diri, maka kalau kau maju sia-sia kau antarkan jiwa,.,."
Tiong Kun berontak akan loloskan tangannya dari cekalan suheng itu.
"Jangan perdulikan aku! Aku hendak bantu susiok!"
Katanya, ia benci susiok itu, si paman guru akan tetapi sekarang menghadapi si imam ceriwis lupa ia kepada rasa bencinya itu.
"Nah, begini saja,"
Kiam Hong kata kewalahan "Kau coba dulu dengan senjata rahasia...."
Kali ini Sun Tiong Kun menurut ia siapkan sebatang Kim-cie-piauw dengan sekuat tenaga ia timpuk bebokong Giok Cin Cu.
Si imam sedang berjaga-jaga dari Sin Cie kelihatannya ia tak tahu atas datangnya bokongan maka girang Sun Tiong Kun, yang merasa pasti serangannya akan berhasil Tapi kapan piauw itu menerbitkan suara nyaring, Kiam Hoo adalah yang berteriak "Celaka!"
Terus ia tubruk tubuhnya si Nona Sun, untuk dibawa jatuh ber-sama, Baru saja si nona Sun rubuh, atau piauwnya sudah mental balik kepadanya, mengarah dadanya, ia tidak lihat, bagaimana caranya Giok Cin Cu tanggapi piauwnya untuk dipakai menyerang membalas, Kalau ia kena terserang, celakalah ia.
ia memangnya sudah tidak berdaya untuk tangkis atau kelit diri pula, Dalam saat mati hidupnya itu satu bajangan putih berkelebat satu tangan halus menyambar pita merah yang menggelawer di gagang piauw itu!
Hatinya Tiong Kun dan Kiam Ho goncang keras, tapi kapan kemudian mereka kenali penolong mereka ada Ho Tek Siu, mereka bersyukur berbareng malu, sampai untuk menghaturkan terima kasih, mereka cuma manggut-manggut Segera setelah itu, Giok Cin Cun dan Sin Cie sudah mulai bergebrak, keduanya sangat bersungguh, keduanya unjuk kegesitan mereka, Kalau tadi ia nampaknya lesu, sekarang Sin Cie jadi bersemangat Giok-bin Ho-lie ada sutee, adik seperguruan dari Bhok Siang Tojin, maka tak mengherankan jikalau dia gesit luar biasa, Apapula setelah lihat musuh demikian gagah, segera ia bersilat dengan "Pekpian kwie-eng", itu ilmu silat entengkan tubuh "Bajangan setan seratus kali berubah."
Maka berkelebatlah tubuhnya di sekitar tubuh Sin Cie dengan niatnya jika anak muda itu mulai kabur matanya, ingin ia menikam anggota tubuh musuh yang lowong, Sin Cie sendiri ada ahli ilmu silat "Pek pan kwie eng"
Itu, ia tidak kasih dirinya dibikin pusing atau kabur mata, ia melayani dengan sama cepatnya tetapi tenang, tak mau ia memberi ketika kepada si imam telengas itu, hingga Giok Cin Cu menjadi heran sesudah ia berputaran sekian lama, ia tidak tampak lawannya jadi lambat atau gelisah.
"Eh, mengapa dia pun seperti mengerti ilmuku ini?"
Pikirnya sesudah mana dia lompat mundur, akan pisahkan diri dari lawannya itu, Terus saja dia keluarkan lagi pedang besinya -Thie kiam -yang ia kibasi sambil berseru.
"Kau adalah murid Thie Kiam Bun, maka melihat Thie kiam ini kau mesti berlutut. Sin Cie mengawasi dengan tajam.
"Apakah itu Thie Kiam Bun?"
Tegasi dia.
"Aku belum mendengarnya!"
Kembali si imam membentak "Jikalau kau bukan muridnya Bhok Siang Tojin, cara bagaimana kau bisa mengerti Pekpian Kwie-eng?
Ka-rena kau ada muridnya, kenapa kau bukannya anggota Thie Kiam ada di tanganku, maka lekas kau berlutut untuk terima hukuman dari aku!"
"Perduli apa aku dengan kau punya thie-kiam atau tong-kiam!"
Jawab Sin Cie, yang menyebut "pedang besi"
Dan "pedang tembaga", Giok Cin Cu mendongkol dan penasaran Dia lantas berpaling kepada Bhok Siang Tojin.
"Dia mengerti Pek-pian Kwie-eng bukankan telah turunkan itu kepadanya dengan tanganmu sendiri?"
Dia menegur dengan bengis, Bhong Siang Tojin, sang suheng, menggeleng kepala, Heran bukan main si Rase Muka Kumala, ia percaya suheng itu yang tidak pernah omong dusta, Tapi ia cuma berpikir scbentar, atau lantas ia menyerang pu!a, hingga pertarungan jadi dilanjuti, Sembari menangkis dan mcnyerang, Sin Cie pikirkan pcrkataan-perkataan imam itu sebagai seorang ccrdas, segera ia ingat.
"Ketika Bhok Siang Toliang ajarkan aku ilmu silat, dia mulanya janjikan itu sebagai hadiah adu catur, dia larang keras aku memanggil guru kepadanya, dan kemudian untuk ajarkan aku Pek-pian Kwie-eng ia pakai perantaraan Ceng Ceng. Kiranya dia telah berpikir jauh sekali untuk menjaga kejadian seperti hari ini, dia jadilah bukan lagi berguyon denganku...."
Dan sekarang barulah ia kctahui, Bhok Siang Tojin itu ada dari partai Thie Kiam Bun.
pedang Besi dan pedang besi itu -Thie Kiam -ada pedang pusaka dari partai itu, Karcna ia ingat Ceng Ceng, ia gunai ketika akan melirik nona Hee itu, siapa ia iihat, lagi kemuh sepotong obat merah dan Ho Tck Siu sedang uruti dia, maka terbukalah hatinya.
"Dia terkena racun Ngo Tok Kauw, Tek Siu adalah kauwcu dari Ngo Tok Kauw itu, pasti ia bisa meno-longnya,"
Ia berpikir "Pasti sekali Ceng Ceng bakal terto1ong...!"
Saking girangnya, tanpa ia merasa, Sin Cie berlaku agak lambat, pundak kirinya bergerak perlahan dari bisanya, inilah ketika yangdinanti-nantikan Giok Cin Cu.
Lantas saja imam ini menyerang dengan bengis, Sin Cie bcrkelit, tapi dasarnya lambat, selagi pundaknya bebas, ujung pedang lawan mengenai iga kirinya, Semua orang Hoa san Pay lihat itu, mereka terkejut, akan tetapi lebih kaget pula adalah Giok Cin Cu sendiri, si penyerang.
Scbabnya adalah ujung pedang tidak nancap di iga, tidak melukai daging atau kulit si anak muda, sebaliknya pedang itu mental balik, Giok Cin Cu tidak tahu, Sin Cie lelah pakai baju kaos mustika pemberian Bhok Siang Tojin, dia menyangka anak muda ini saking lihaynya, tubuhnya kedot, tidak mempan senjata tajam, maka ia jadi heran dan kaget, sampai ia keluarkan keringat dingin sendirinya, Sclama itu Ceng Ceng telah sadar, ia juga telah perhatikan jalannya pertempuran selagi ia kaget karena lihat Sin Cie kena diserang lawan, ia ingat ia ada bawa-bawa bumbung besi hitam, maka ia rogoh sakunya, ia keluarkan bumbung itu, begitu ia lekas buka tutupnya, ia timpuk si imam lihay, Satu benda kuning emas, kecil dan pcndek, melesat ke arah Giok Cin Cu.
itulah ular berbisa yang lihay, yang Kim-ie Tok Kay Cee In Go namakan "Kim-jie" , si "Anak cmas" , Binatang ini benar-benar cerdik sesampainya di atas kepalanya si imam, ia pertahankan diri, ia turun ke bawah untuk pagut imam itu!
Coba itu adalah lain orang yang disambar ular emas itu, tentu celakalah dia, tidak demikian dengan Giok Cin Cu, dengan satu kebutan dengan hud-tim, ia bisa bikin tubuh ular terlibat ia tidak mengebut lebih jauh akan buah ular itu ia tahu kalau ia berbuat demikian, lawannya bisa membarengi serang padanya, Maka itu, ia meneruskan saja ke bawah untuk lemparkan ular ke tanah, ia sendiri lantas loncat beberapa tindak, Sin Cie sedang berpikir keras, dengan ilmu silat apa ia bisa pukul rubuh\imam yang lihay itu, kapan ia lihat si ular emas, ntedadakan saja ia ingat gerakan si ular emas yang hendak ditangkap hidup-hidup oleh Cee In Go.
Maka tidak ayal lagi, ia balas menyerang dengan turuti gerak-geriknya si Kim-jie itu.
pedangnya lantas bergerak-gerak tak putusnya.
Giok Cin Cu melayani sekian lama, segera ia jadi kaget sekali, ia kena terdesak, tidak perduli ia sudah berdaya keras untuk mcnangkis, buat lindungi diri.
ia lihat gerakan orang tidak mirip dengan gerakan ilmu silat yang wajar, ia tertcgun, lantas saja ia dapat dibingungkan, hingga berbareng gclisah, ia main mundur terus, Sin Cie bermata awas, ia tampak orang mundur bukan sembarang mundur, mundur itu disebabkan kacaunya pikiran dan gerakan, maka sambil berseru, ia memperkeras desakannya, Datanglah saatnya ia me-nebas, ketika orang berkelit dengan mendak, ia menebas kembali, Lagi sekali Giok Cin Cu mendak, akan tetapi ia mendak kurang rendah atau memangnya pedang menyambar lebih rendah sanggulnya kena terbabat kutung, menyusul mana kepalan kiri Sin Cie mampir di dadanya!
itulah tonjokan Hoa San Pay yang lihay.
Tidak ampun lagi, imam yang lihay ini rubuh terjcngkang.
Begitu lehernya menyentuh tanah, bertepatan dengan itu ia merasa sakit dan gatal pada lehernya, hingga ia kaget dan heran, Diwaktu ia jatuh lehernya justru menindih Kim-jie dan si ular emas itu segera mencato!nya!
Tidak perduli serangan kepalan Sin Cie sangat keras, serangan itu cuma dapat merubuhkan tubuh tidak melukai bagian dalam, tidak demikian adalah pagutan si Kim-ji yang berbisa itu, tidaksempat Giok Cin Cu bangun, bisa ular sudah bekerja, lehernya terus berubah menjadi hitam, hitam juga mukanya, dan sejenak kemudian dia rebah tidak bergerak, napasnya bcrhenti....
Bila tiga orang yang hendak menangkap Ang Nio Cu dapatkan imam mereka rubuh binasa, tanpa pikir panjang lagi mereka putar tubuh untuk lari tunggang langgang turun gunung, Mereka bersyukur, karena tak ada seorang Hoa San Pay pun yang mengejar mereka, Semua orang menjadi sangat lega hatinya, semua bergirang sekali, Tanpa orang yang tak mengagumi si pemuda, malah Bok Jin Ceng pun amat bangga!
Bhong Siang Tojin menghela napas, setelah minta A Pa mengubur mayat suteenya, ia pegangi Thie-kiam, pedang pusaka partainya yang dipuja-puja.
Sesudah itu, sekalian ia tuturkan tentang partai itu yang asing bagi kebanyakan orang, tidak terkecuali Sin Cie.
Kaum mereka dipanggil Thie Kiam Bun, partai Pe-dang Besi, dan Thie Kiam pedang besi, adalah pusaka mereka, Bhok Siang Tonjin dan Giok Cin Cu ini adalah dua murid terakhir, mereka belajar bersma-sama, Guru mereka menutup mata di See-chon, Tibet, tanpa mereka ketahui, dengan begitu pedang pusaka mereka pun turut lenyap tak berbekas, Pada mulanya, Giok Cin Cu adalah jujur, akan tetapi setelah guru mereka menutup mata, hatinya berubah, ia jadi binal, ia terpisah dari Bhok Siang Tojin, maka dari itu, tidak ada lagi orang yang dapat mengendalikan padanya, ia menjadi imam semenjak masih kecil, ia tidak gemar main perempuan, tetapi sudah berubah sifat, ia jadi pengganggu orang-orang perempuan, perempuan hina dan orang-orang baik.
Karena tangkasnya tak seorang pun dapat me1awannya.
Satu kali ia bentrok dengan Bhong Siang yang nasihatnya ia tak gubris, namun lantas saja ia putuskan perhubungan suheng dan sutee.
Giok Cin Cu juga tahu bahwa sang suheng itu lihay, tak dapat ia melawannya oleh karena itu ia tidak mau berdiam lebih lama di Tiong-goan, dan segera merantau jauh ke Seechong, sembari melatih terus ilmu silatnya, ia coba mencari pedang pusaka kaumnya, Untung baginya, ia berhasil menemukan Thie Kiam, karena mana ia menjadi lebih berani terhadap suhengnya, Menurut aturan Thie Kiam Bun, melihat Thie Kiam, orang mesti memandang seperti menghadap Sucouw mereka, Atau tegasnya, siapa pegang Thie Kiam, dengan sendirinya dia jadi ciang-bun-jin, ahli waris atau ketua, siapapun anggota Thie Kiam Bun mesti tunduk pada ciang-bun-jin ini.
Demikian juga sudah terjadi dengan Bhok Siang Tojin yang jujur, ia tunduk pada Thie Kiam, ia menyerah atas hukuman yang dijatuhkan Giok Cin Cu, meski itu tidak adiL Bok Jin Ceng menghela napas bila ia sudah dengar keterangan itu.
Kemudian, ketua Hoa San Pay itu pandang Ang Nio Cu berlutut di depan orang tua itu, ia menangis.
"Aku mohon dengan sangat Bok Loyacu suka me-nolongi suamiku,"
Ratapnya.
Dulu-duIunya Sin Cie belum pernah ketemu sama Ang Nio Cu, sekarang dengan perantaraan An Toa Nio, ia ketahui nyonya serba merah ini ada istri Lie Gam, jadi enso atau iparnya, ia tahu Ang Nio Cu gagah, ia kaget dengan permintaan tolong nyonya ini.
"Kenapa dengan kanda Lie Gam itu?"
Tanyanya.
"Gouw Sam Kui sudah bersekongkol dengan Tatcu dari Boan-chiu,"
Berkata Ang Nio Cu.
"Dengan bekerja sama mereka menyerang San-hay-kwan. Giam Ong gagal dalam perlawanannya, ia mundur dari Pakkhia, Ketika itu Song Kumsu sudah mengadu biru, ia memfitnah Lie Ciangkun. Aku minggat, dengan niat cari bantuan, akan tetapi Song Kunsu mengetahui ini, ia segera kirim orang mengejar untuk menangkapku, Begitulah aku telah dikejar kejar sampai di sini,"
Semua orang kaget mendengar orang Boan telah memasuki San-hay-kwan. Sin Cie segera memimpin bangun ensonya itu.
"Mari kita lekas tolong toako terlambat sedetik, bisa gagal,"
Katanya, Meski ia mengucap demikian, Sin Cie toh mengawasi gurunya, Dengan tiba-tiba ia ingat, gurunya hendak mengadakan rapat, entah urusan apa yang bakal dibicarakan ia menjadi sangat ge1isah.
"Orang telah berkumpul, sekarang juga aku akan utarakan niatku,"
Berkata Bok Jin Ceng, yang mengerti akan kegelisahan muridnya.
Ketua Hoa San Pay ini ajak orang berkumpul di dalam gua, ia mengeluarkan gambar couwsu, lantas ia pasang lilin dan hio, semua muridnya dititahkan berlutut Ho Tek Siu berlutut sendirian di pojok, diam-diam ia lirik Sin Cie.
Bok Jin Ceng lihat kauwcu itu, ia bersenyum dan berkata.
"Kau berkeras juga hendak masuk Hoa San Pay, sedang sebenarnya dengan kepandaianmu kau sudah boleh malang melintang di kolong langit Tadi aku tolak kau, kau cuma mundur empat tindak, Di dalam kalangan kita kecuali tiga muridku tidak ada orang keempat yang tangguh seperti kau! Baik, baik, baik, kau boleh turut berlutut di sini!"
Bukan main girangnya Tek Siu, itu artinya ia telah diterima menjadi orang Hoa San Pay, maka ia berlutut di belakang Sin Cie, ia turut paykui akan menghormati Couwsu mereka, Setelah semua sudah menjalankan kehormatan, Bok Jin Ceng berdiri di tengah kalangan "Sekarang ini negara sedang kalut, aku sendiri sudah berusia lanjut tak dapat aku bekerja lebih jauh,"
Berkata guru ini.
"Maka dari itu pimpinan Hoa San Pay, mulai hari ini aku serahkan kepada muridku yang pertama, Oey Cin."
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 15
Baca Juga: Beruang Salju 5