Eps 8 Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong
Baca online Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong
Cersil Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong.
Ketika mendengar seruan kaget Po-ting-te bertiga tadi, Toan Ki tahu gelagatnja tentu tidak menguntungkan, tanpa pikir tangan kanan dan kiri terus menutuk kedepan sekuatnja, dalam kuatirnja itu, hawa murni dalam tubuhnja dengan sendirinja bergolak, maka sekaligus Siau-tjiong-kiam ditangan kiri dan Siau-tik-kiam ditangan kanan telah dilontarkan untuk menangkis Hwe-yam-to-hoat musuh, bahkan begitu kuat tenaganja hingga mampu balas menghantam Tjiumoti dengan daja tekanan jang hebat.
Karuan Tjiumoti kelabakan, tanpa pikir lagi ia bertahan sekuat-kuatnja.
Setelah beberapa kali menutuk, lapat-lapat Toan Ki sudah dapat merasakan bahwa terlebih dulu harus timbul sesuatu maksudnja, habis itu barulah kerahkan tenaga dan menutuk, dengan demikian tenaga dalam dan hawa murninja barulah dapat bekerdja serentak.
Namun mengapa bisa begitu, dengan sendirinja ia masih bingung.
Begitulah dalam sekedjap sadja Toan Ki menutuk berulang-ulang menurutkan perasaannja jang timbul dari apa jang dilihatnja digambar-gambar Lak-meh-sin-kiam itu.
Djarinja bekerdja dengan tjepat dan indah hingga makin lama Tjiumoti makin heran dan terkesiap.
Sekuatnja ia kerahkan tenaga dalamnja untuk melawan Lak-meh-sin-kiam jang lihay itu, hingga seketika hawa pedang samber-menjamber dengan tadjamnja.
Selang sebentar, Tjiumoti merasakan tenaga dalam lawan makin lama makin kuat, perubahan Kiam-hoatnja djuga tiada habis-habisnja dan susah diraba.
Makin lama Tjiumoti makin heran dan menjesal telah gegabah meretjoki Thian-liong-si, tahu-tahu kini muntjul seorang tokoh muda selihay ini.
Sekonjong-konjong ia menjerang tiga kali, lalu berseru.
?Berhenti dulu!?
Namun meski Toan Ki mahir Lak-meh-sin-kiam, ia takdapat menguasai hawa murni dalam tubuhnja, maka ketika lawan berseru minta berhenti, seketika ia mendjadi bingung tjara menarik kembali tenaga dalamnja, terpaksa djarinja diangkat keatas sehingga menuding keatap rumah.
Berbareng hatinja memikir.
?Biarlah aku tidak keluarkan tenaga lagi, tjoba apa jang dia hendak katakan.?
Tapi sekilas sadja Tjiumoti jang maha pintar itu sudah dapat melihat sikap bingung Toan Ki itu, tjaranja menarik kembali hawa murninja tampak kerepotan, kentara sekali kalau masih sangat hidjau.
Sedikit tergerak pikirannja, terus sadja Tjiumoti melompat madju terus mendjotos kemuka Toan Ki.
Tentang Toan Ki berhasil memperoleh peladjaran Lak-meh-sin-kiam jang hebat itu adalah disebabkan setjara kebetulan serta ada djodoh sadja, tapi mengenal ilmu silat jang paling umum sekalipun sebenarnja dia tidak paham.
Maka ketika djotosan Tjiumoti itu tiba, biarpun serangan ini sangat sederhana dan mudah dihindari, namun bagi Toan Ki malah sebaliknja susah ditangkis.
Umumnja segala matjam kepandaian didjagat ini lazimnja dipeladjari mulai dari jang tjetek, kemudian menudju jang dalam, tidak mungkin memahami jang dalam, tapi malah tidak bisa jang tjetek, dan hanja ilmu silat Toan Ki itulah merupakan suatu ketjuali besar.
Ketika melihat dirinja didjotos, walaupun serangan itu sangat sederhana, tapi ia djusteru kelabakan menangkisnja.
Karuan kesempatan itu tidak diabaikan Tjiumoti, mendadak ia hentikan djotosannja ditengah djalan dan terus menjampok tangan Toan Ki kesamping, menjusul dada pemuda itu lantas didjamberertnja ditempat ?Sin-hong-hiat.?
Tanpa ampun lagi antero tubuh Toan Ki terasa lemas linu takbisa berkutik.
Walaupun Tjiumoti telah dapat melihat diantara ilmu silat Toan Ki itu terdapat banjak lubang-lubang kelemahannja, tapi toh tak terduga olehnja bahwa setjara begitu gampang pemuda itu dapat ditangkpanja.
Ia kuatir Toan Ki sengadja ditawan dan masih ada tipu mulsihat lain, maka begitu kena tjengkeram Sin-hong-hiat didada pemuda itu, menjusul ia menutuk pula ?Tan-tiong,?
?Tay-tui?
dan beberapa Hiat-to penting lainnja.
Tapi pada saat jang sama, Tjiumoti djuga merasa tenaga murni dalam tubuh sendiri terus-menerus merembes keluar melalui telapak tangan kanan jang mentjengkeram dadanja Toan Ki itu.
Tjepat ia pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri sambil mundur beberapa tindak, lalu katanja.
?Siausitju (tuan ketjil) ini sudah apal benar dari ilmu Lak-meh-sin-kiam, sedangkan Kiam-boh itu sudah dibakar oleh Koh-eng Taysu ...?
sambil bitjara, ia megap2 djuga, sebab sekali mulutnja mengap, tak tertahan lagi hawa murninja lantas merembes keluar, terpaksa ia bitjara dengan tjepat dan berputus.
.....
namun Siausitju ini sama .....
sama sadja sebagai Kiam-boh hidup, biarlah kubawa ke .....
kekuburan Bujung-siansing untuk dibakar hidup2 disana, bukankah se .....
serupa djuga ....
?Dan karena kuatir kelemahannja diketahui Koh-eng dan kawan2nja , tjepat Tjiumoti keluarkan serangan Hwe-yam-to-hoat lagi be-runtun2 beberapa kali, sekali melesat, keluarlah dia dari ruang Bo-ni-tong itu.
Ketika Po-ting-te, Thian-in dan lain2 hendak mengedjar, namun mereka kena dipaksa kembali oleh serangan2 Tjiumoti jang hebat itu.
Begitu sampai diluar, segera Tjiumoti lemparkan Toan Ki kepada sembilan laki2 jang mendjaga diluar itu sambil membentak.
?Lekas berangkat!?
Segera dua laki2 diantaranja berlari madju menjambuti tubuhnja Toan Ki dan digondol lari melalui djalan jang tidak semestinja seperti mereka datang tadi.
Tjiumoti sendiri lantas merasa tenaga murninja tidak merembes keluar lagi begitu terpisah dengan tubuh Toan Ki, ia tetap melontarkan serangan2 Hwe-yam-to-hoat jang hebat kepintu keluar Bo-ni-tong, seketika Po-ting-te dan lain2 mendjadi tertahan didalam dan susah membobol djaring2an golok musuh jang tak berwudjut itu.
Setelah mendengar derapan kuda begundalnja sudah pergi agak djauh dengan menggondol Toan Ki, kemudian tertawalah Tjiumoti, katanja.
?Haha, Kiam-boh kertas terbakar, kini memperoleh Kiam-boh jang hidup malah.
Bujung-siansing boleh tidak usah merasa kesepian lagi dialam baka, beliau segera akan mendapat teman.?
~ Dan sekali tangannja memotong, terdengarlah suara gemuruh, dua pilar Bo-ni-tong telah dipatahkan olehnja, menjusul tertampaklah bajangan orang berkelebat, setjepat angin ia sudah menghilang dari pandangan mata.
Ketika Po-ting-te dan Thian-som kemudian memburu keluar, namun Tjiumoti sudah pergi djauh.
?Hajo lekas kita kedjar!?
seru Po-ting-te.
Segera iapun mendahului berlari kedepan.
Tjepat Thian-som ikut dibelakangnja untuk mengedjar musuh.
Dalam keadaan tak dapat berkutik karena Hiat-to tertutuk, Toan Ki merasa dirinja ditaruh diatas kuda dengan tengkurap hingga kepalanja mendjulur kebawah.
Karena itu ia dapat melihat sibuknja kaki kuda bekerdja, debu bertebaran memnuhi mukanja.
Ia dengar beberapa laki2 itu sedang mem-bentak2 dalam bahasa asing entah apa jang dipertjakapkan.
Ia tjoba menghitung kaki kuda, seluruhnja ada 40 buah, itu berarti ada 10 penunggang kudanja.
Setelah belasan li djauhnja, sampailah mereka disuatu simpang djalan.
Terdengar Tjiumoti berkata beberapa patah, lalu lima penunggang kuda mengambil djalan kiri, sedangkan Tjiumoti sendiri bersama laki2 jang menggondol Toan Ki serta tiga orang lain lagi membiluk kedjalan kanan.
Beberapa li pula, kembali ada simpang djalan lagi, kembali Tjiumoti membagi diri mereka mendjadi dua rombongan.
Toan Ki tahu Tjiumoti sengadja hendak mementjarkan perhatian pengedjarnja agar bingung kemana harus mengedjar mereka.
Dan tidak lama kemudian, tiba2 Tjiumoti melompat turun dari kudanja, ia ambil seutas sabuk kulit untuk mengikat pinggangnja Toan Ki, lalu tubuh pemuda itu lantas didjindjingnja terus dibawa menudju ke-lereng2 bukit.
Sedangkan kedua begundalnja mengeprak kuda mereka kedjurusan barat.
Diam2 Toan Ki mengeluh.
?Wah, tjelaka!
Djika demikian, sekalipun Pekhu mengerahkan pasukan besar untuk mengedjar, paling banjak tjuma kesembilan lelaki itu jang dapat ditangkap kembali, tapi susah untuk mendapatkan aku.?
Meski tangannja mendjindjing seorang, namun tindakan Tjiumoti tidak mendjadi lambat.
Makin lama makin djauh dan makin tjepat djalannja.
Dalam waktu beberapa djam lamanja ia selalu berkeliaran diantara lereng2 gunung jang sunji.
Toan Ki melihat sang surya sudah mendojong diufuk barat dan menjorot dari sebelah kiri, maka tahulah dia bahwa Tjiumoti membawanja menudju keutara.
Petangnja, Tjiumoti angkat tubuh Toan Ki untuk diletakkan diatas satu dahan pohon, ia ikat sabuk kulit itu diatas ranting pohon, sama sekali ia tidak adjak bitjara pada pemuda itu, bahkan memandangnjapun tidak, hanja sambil mungkur ia sodorkan beberapa potong roti kering padanja.
Untuk mana iapun membuka Hiat-to dilengan kiri Toan Ki agar pemuda itu dapat bergerak untuk makan.
Dengan tangan kiri jang sudah dapat bergerak itu, Toan Ki pikir hendak menjerangnja dengan Siau-tik-kiam, siapa duga sekali Hiat-to besar ditubuhnja tertutuk, hawa murni seluruhnja ikut tertutup, maka djari tangannja tjuma dapat bergerak sadja, tapi tak bertenaga sedikitpun.
Begitulah, selama beberapa hari Tjiumoti terus mendjindjingnja keutara.
Beberapa kali Toan Ki memantjing pembitjaraan orang dan menanja mengapa dirinja ditawan serta untuk apa menudju keutara?
Namun tetap Tjiumoti tidak mendjawab.
Setelah belasan hari, mereka sudah berada diluar wilajah Tayli, Toan Ki merasa arah jang ditempuh Tjiumoti telah berganti menudju ketimur-laut, tapi tetap tidak mengambil djalan raja, sebaliknja selalu mendjeladjahi lereng gunung dan alas belukar, tjuma tanahnja tampak kian lama kian datar, sungai pun semakin banjak, setiap hari hampir beberapa kali mesti menjeberang sungai.
Tjara perdjalanan Tjiumoti dengan mendjindjing Toan Ki se-akan2 orang mentjangking hewan itu, sudah tentu sangat menherankan orang jang berlalu-lalang disampingnja.
Tapi sampai achirnja, Toan Ki sendiri merasa bosan djuga setiap kali berdjumpa dengan orang ditengah djalan.
Sungguh mendongkol Toan Ki tak terkatakan.
Dahulu ketika ia ditawan oleh adik perempuannja, jaitu Bok Wan-djing, walaupun setiap hari ia dihadjar dan disiksa, banjak penderitaan jang dirasakannja, tapi rasanja toh tidak kesal seperti ditawan Tjiumoti sekarang ini.
Setelah belasan hari lagi, Toan Ki mendengar logat bitjara orang jang berlalu-lalang mulai ramah-tamah dan enak didengar, diam2 ia membatin.
?Ah, tentu tempat ini adalah daerah Kanglam (selatan sungai Yangtje).
Ia membawa diriku kekuburannja Bujung-siansing, rasanja tidak lama lagi sudah akan tiba ditempat tudjuannja.
Ilmu silat paderi asing ini sedemikian lihay, sampai Pekhu berenam djuga tak mampu merobohkan dia.
Sekarang aku djatuh dibawah tjengkeramannja, terpaksa aku menjerah pada nasib, masakah aku masih ada harapan buat lolos??
Berpikir begitu, hatinja mendjadi lapang malah, tanpa pikir lagi ia mendongak untuk memandang keadaan sekitarnja.
Tatkala itu adalah pergantian antara musim semi dan musim panas, hawa sedjuk pemandangan indah, angin meniup silir2 memabukkan orang.
Sudah lebih sebulan Toan Ki mendjadi barang tjangkingan Tjiumoti, hal itu sudah biasa baginja.
Kini melihat pemandangan alam jang indah permai itu, hatinja mendjadi gembira, tanpa merasa ia ber-njanji2 ketjil sambil menikmati pemandangan danau jang indah dipinggir djalan.
?Huh, hari adjal sudah dekat, masih begini iseng??
djengek Tjiumoti.
?Manusia mana didunia ini jang takkan mati??
sahut Toan Ki dengan tertawa.
?Paling banjak engkau tjuma hidup lebih lama buat beberapa tahun, apa bedanja kelak??
Tjiumoti tidak gubris padanja lagi.
Ia tjoba menanja orang dimana letaknja ?Som-hap-tjheng.?
Tapi meski sudah beberapa orang ditanja, tetap tiada seorangpun jang tahu dimana beradanja kampung itu.
?Tidak pernah kudengar sesuatu dusun jang bernama Som-hap-tjheng, barangkali kau salah dengar, Hwesio,?
demikian kata seorang tua.
?Djika begitu, apakah engkau tahu seorang hartawan she Bujung, dimana rumahnja??
tanja Tjiumoti.
?Dikota Sohtjiu sini banjak orang she Tan, she Li dan she lain2nja, semua hartawan besar, tapi tidak pernah mendengar ada hartawan she Bujung?
sahut orang tua itu.
Sedang Tjiumoti bingung, tiba2 didengarnja suara seorang sedang berkata didjalan ketjil ditepi danau sana.
?Kabarnja orang she Bujung itu tinggal di Yan-tju-oh kira2 tigapuluh li dibarat kota, marilah kita menudju kesana!?
?Ja, kita sudah sampai tempatnja, kita harus ber-hati2!?
demikian sahut seorang jang lain.
Suara pertjakapan kedua orang itu sangat pelahan, maka Toan Ki tidak mendengar, sebaliknja Lwekang Tjiumoti sangat tinggi, ia dapat mendengar dengan sangat djelas.
Diam2 ia heran apakah orang sengadja bitjara kepadanja?
Ketika Tjiumoti berpaling, ia lihat seorang berperawakan gagah berpakaian berkabung, seorang lagi kurus ketjil mirip pentjoleng.
Tapi sekilas pandang sadja dapatlah diketahui Tjiumoti bahwa kedua orang itu memiliki ilmu silat semua.
Dan belum lagi ia ambil keputusan apa mesti menanja kedua orang itu atau tidak, mendadak Toan Ki sudah lantas berseru.
?Hai, Ho-siansing, Ho-siansing!?
Kiranja laki2 kurus ketjil bermuka djelek itu tak-lain-tak-bukan adalah Kim-sui-poa Tjui Pek-khe, simesin hitung emas.
Dan laki2 jang lain adalah murid keponakannja, Tui-hun-djiu Ko Gan-tji.
Sesudah kedua tokoh itu tinggalkan Tayli, dengan semangat jang berkobar2 mereka hendak membalas dendamnja Kwa Pek-hwe.
Walaupun mereka djuga tahu susah untuk melawan orang she Bujung, tapi sakit hati itu harus dibalas betapapun akibatnja, maka achirnja mereka tiba djuga di Koh-soh.
Sebelumnja mereka telah menjelidiki dan mendapat tahu tempat tinggal keluarga Bujung, jaitu Yan-tju-oh, dan setjara kebetulan telah tiba pada waktu jang sama dengan Tjiumoti dan Toan Ki.
Ketika mendadak mendengar seruan Toan Ki tadi, Tjui Pek-khe tertjengang sedjenak, tapi segera ia melompat kedepannja Tjiumoti dan berkata dengan heran.
?He, Siauongtju (putera pangeran ketjil), kiranja kau?
Eh, Toahwesio, lekas engkau melepaskan Kongtjuya ini, apa kau tahu siapa dia??
Sudah tentu Tjiumoti tidak pandang sebelah mata kepada kedua orang itu, tapi karena dia lagi bingung mengenai tempat tinggalnja Bujung-siansing, kini kebetulan kedua orang ini mengetahui tempatnja, maka iapun tidak marah terhadap kata2 Tjui Pek-khe tadi.
Ia taruh Toan Ki ketanah membiarkan pemuda itu berdiri sendiri, lalu melepaskan Hiat-to dikakinja, kemudian berkata.
?Aku hendak pergi kerumah keluarga Bujung, harap kalian berdua suka menundjukkan djalannja.?
Pengetahuan dan pengalaman Tjui Pek-khe sangat luas, tapi meski dipikir toh tak teringat olehnja siapakah gerangan Hwesio ini.
Maka tanjanja.
?Numpang tanja, siapakah gelaran sutji Taysu?
Mengapa membikin susah kepada Siauongtju ini dan untuk keperluan apa hendak pergi kerumah keluarga Bujung??
?Banjak omong tiada gunanja, nanti tentu akan tahu sendiri,?
sahut Tjiumoti.
?Apakah Taysu adalah sobat baik Bujung-siansing??
tanja Tjui Pek-khe pula.
?Benar, makanja kalau Ho-siansing mengetahui dimana letak Som-hap-tjheng tempat tinggal Bujung-siansing itu, harap memberitahukan djalannja,?
sahut Tjiumoti.
Tadi ia mendengar Toan Ki menjerukan ?Ho-siansing?
kepada Tjui Pek-khe, maka ia menjangka tokoh Ko-san-pay itu benar2 she Ho.
Geli2 dongkol Tjui Pek-khe, sambil meng-garuk2 kepala ia tjoba menanja Toan Ki.
?Bagaimana baiknja, Siauongtju?.?
Toan Ki mendjadi sulit djuga oleh pertanjaan itu.
Ia pikir ilmu silat Tjiumoti itu teramat tinggi, didunia ini mungkin tiada seorangpun jang mampu melawannja, apalagi tjuma kedua tokoh Ko-san-pay ini, terang bukan tandingannja, kalau berani berusaha buat menolongnja, paling2 tjuma menghantarkan njawa sadja, lebih baik memperingatkan mereka sadja agar lekas2 melarikan diri.
Maka tjepat katanja.
?Taysu ini seorang diri telah mengalahkan pamanku dan kelima tokoh tertinggi dari Tayli, achirnja akupun tertawan olehnja.
Katanja dia adalah sobat kentalnja Bujung-siansing, maka aku hendak dibakarnja hidup2 didepan kuburan Bujung-siansing untuk memenuhi sesuatu djandjinja.
Kalian berdua selamanja tiada sangkut-paut apa2 dengan keluarga Bujung, maka silahkan menundjukkan djalannja sadja, lalu bolehlah kalian pergi.?
Mendengar Hwesio itu telah mengalahkan Po-ting-te dan djago2 lain di Tayli, Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji mendjadi kaget.
Lebih2 ketika mendengar pula bahwa paderi itu adalah sobat baiknja orang she Bujung.
Namun meskipun lahiriah Tjui Pek-khe itu djelek, tapi batinnja berdjiwa kesatria.
Ia pikir sudah belasan tahun dirinja bersembunji didalam Tinlam-ong-hu, untuk itu belum pernah ia membalas sesuatu kebaikan apa2.
Kini Siauongtju berada dalam kesulitan, mana boleh dirinja tinggal diam tidak urus?
Betapapun sekarang sudah berada di Koh-soh, memangnja keselamatan djiwa sendiri sudah tak terpikir, biarpun akan mati ditangan musuh atau orang lain toh sama sadja.
Berpikir begitu, sekali tangannja bergerak, segera ia menarik keluar sebuah Suipoa jang bersinar emas kemilauan, ia angkat tinggi2 sendjatanja itu dan dikotjak hingga mengeluarkan suara gemerintjing jang ramai.
Katanja.
?Toahwesio, kau bilang Bujung-siansing adalah sobat baikmu, sebaliknja Siauongtju ini adalah kawan karibku.
Maka lebih baik engkau melepaskan dia sadja!?
Melihat sang Susiok sudah bersiap, Ko Gan-tji tjepat melolos djuga rujung lemas jang melilit dipinggangnja.
?Hehe, apakah kalian adjak berkelahi??
djengek Tjiumoti.
?Sekalipun tahu takkan mampu menandingi engkau, namun apa boleh buat, betapapun aku ingin mentjoba, mati atau hidup ....
auuuh!?
mendadak Tjui Pek-khe mengaduh sebelum selesai utjapannja.
Kiranja mendadak Tjiumoti telah samber rujung jang dipegang Ko Gan-tji itu, sekali menjabet, tahu2 Suipoa emas Tjui Pek-khe itu kena tergubat, ketika rujung bergerak pula, kedua matjam sendjata itu mentjelat berbareng menudju ketengah danau disisi kanan.
Tampaknja kedua sendjata itu sekedjap lagi akan ketjemplung kedalam danau, tak tersangka tenaga jang dikeluarkan Tjiumoti itu ternjata sangat aneh dan tepat, udjung rujung itu mendadak mendjengat keatas dan tepat menggubat pada suatu ranting pohon Liu ditepi danau itu.
Ranting pohon Liu itu sangat lemas, digantungi lagi dengan sebuah Suipoa emas, maka tiada hentinja ranting itu berguntjang naik turun, air danaupun beriak oleh karena Suipoa emas itu menjentuh air.
Ko Gan-tji itu berdjuluk ?Tui-hun-djiu?
atau sipenguber njawa, suatu tanda betapa tjepat gerak-geriknja, apalagi rujung lemas itu adalah sendjata tunggal perguruannja jang terkenal, siapa sangka hanja sekali gebrak sadja sudah dirampas musuh.
Bahkan tjara bagaimana Tjiumoti mendekati dan merebut sendjata, tjara bagaimana menggubat Suipoa emas lalu orangnja melompat kembali tempatnja semula, Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji sama sekali tidak djelas melihatnja.
Kemudian sambil merangkap kedua tangannja, Tjiumoti berkata dengan suara lemah-lembut.
?Harap sudilah kedua tuan ini menundjukkan djalannja.?
Tjui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-tji dan bingung apa jang harus mereka lakukan.
Maka terdengarlah Tjiumoti berkata pula.
?Djikalau kalian tidak suka mengadjak kami kesana, silahkan menundjukkan arahnja sadja, biar Siautjeng mentjarinja sendiri kesana.?
Melihat ilmu silat sihwesio begitu tinggi, tapi sikapnja ramah-tamah, Tjui Pek-khe berdua mendjadi ragu2 dan serba salah, hendak main kasar toh orang bersikap sopan, hendak mengadjak bitjara setjara baik2, terang putera pangeran dari Tayli ditawan olehnja.
Untunglah pada saat itu terdengar suara meriaknja air, dari udjung danau sana tampak tiba sebuah sampan didajung oleh seorang gadis ketjil berbadju hidjau, sambil mendajung, gadis itupun sembari bernjanji dengan gembiranja, lagunja indah, suaranja merdu hingga makin menambah permainja suasana danau itu.
Sudah lama Toan Ki mengagumi keindahan alam Kanglam dari sjair2 gubahan pudjangga jang pernah dibatjanja.
Kini dihadapi pemandangan permai dengan njanjian merdu, semangatnja se-akan2 terbang ke-awang2 dan lupa daratan bahwa dirinja waktu itu sedang terantjam bahaja, serentak sadja ia memandang kearah sigadis itu.
Ia lihat kedua tangan sigadis putih bersih bagai batu kemala jang bening tembus.
Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji ikut tertarik djuga dan memandang sigadis.
Hanja Tjiumoti sadja tetap membuta dan membudek, katanja.
?Djika kalian toh tidak sudi memberitahu letak Som-hap-tjheng, biarlah Siautjeng mohon diri sadja.?
Saat itu sampan sigadis sudah dekat menepi.
Maka utjapan Tjiumoti itu dapat didengarnja, terus sadja ia menjela.
?Taysu ini hendak pergi ke Som-hap-tjheng, entah ada keperluan apakah??
Suara gadis itu ternjata sangat njaring dan manis hingga bagi jang mendengar akan timbul rasa nikmat jang tak terkatakan.
Usia gadis itu ternjata baru belasan tahun, wadjahnja lemah-lembut, dandanannja serasi.
Diam2 Toan Ki memudji.
?Wanita daerah Kanglam sungguh tak tersangka setjantik ini.?
Maka mendjawablah Tjiumoti.
?Siautjeng hendak pergi ke Som-hap-tjheng, entah apakah nona sudi menundjukkan djalannja??
?Nama Som-hap-tjheng djarang diketahui orang luar, entah dari mana Taysuhu mengetahuinja??
tanja gadis itu dengan tersenjum.
?Siautjeng adalah sobat lama Bujung-siansing, kini sengadja datang berziarah kekuburannja sekedar memenuhi djandji dimasa dulu,?
sahut Tjiumoti.
Gadis itu merenung sedjenak, lalu katanja.
?Wah, agak tidak kebetulan.
Djusteru kemarin dulu Bujung-kongtju bepergian, kalau Taysuhu datang lebih dulu tiga hari, tentu akan dapat berdjumpa dengan Kongtju.?
?Sungguh menjesal tidak sempat berkenalan dengan Kongtju, namun djauh2 Siautjeng datang dari negeri Turfan, biarlah aku berkundjung kemakam Bujung-siansing sekedar memberi penghormatan terachir.?
?Djikalau Taysuhu adalah sobat baik Bujung-loya, marilah silahkan minum dulu ketempat kami, kemudian akan kusampaikan maksudmu, maukah??
?Pernah apakah nona dengan Bujung-siansing dan tjara bagaimana aku harus menjebut setjara hormat??
tanja Tjiumoti.
?Ah, aku tjuma dajang jang melajani Kongtju memetik Khim dan meniup seruling,?
sahut sigadis dengan tersenjum manis.
?Namaku A Pik, maka djanganlah Taysuhu sungkan2, panggil sadja A Pik.?
?O, baiklah,?
kata Tjiumoti dengan sangat hormat.
Lalu si A Pik berkata.
?Djalan dari sini ke Yan-tju-oh harus melalui djalan air semua, djikalau tuan2 ini hendak kesana semua, marilah kuhantar dengan sampan ini, maukah??
Setiap kata ?maukah?
jang ditanjakan oleh A Pik, kedengarannja begitu luwes dan simpatik hingga membuat orang tidak enak untuk menolak.
Maka berkatalah Tjiumoti.
?Djika begitu, terpaksa mesti membikin repot nona.?
~ Berbareng ia terus gandeng tangan Toan Ki dan melompat keatas sampan dengan enteng.
Sampan itu hanja ambles kebawah sedikit dan sama sekali tidak terguntjang.
A Pik tersenjum kepada Tjiumoti dan Toan Ki, maksudnja se-akan2 memudji kehebatan kepandaian orang.
Lalu Ko Gan-tji djuga membisiki Tjui Pek-khe.
?Bagaimana, Susiok??
Sebenarnja kedatangan mereka jalah ingin menuntut balas pada orang she Bujung, tapi kedudukan mereka kini mendjadi serba salah dan sangat lutju kelihatannja.
?Djika tuan2 sudah datang di Sohtjiu, pabila toh tiada urusan penting lain, marilah silahkan mampir djuga ketempat kami untuk minum2,?
demikian kata A Pik lagi dengan tertawa.
?Djangan tuan2 ragu2 terhadap sampan jang ketjil ini, biarpun bertambah lagi beberapa orang djuga tidak nanti tenggelam.?
Pelahan2 A Pik mendajung sampannja, ketika lewat dibawah pohon Liu tadi, tiba2 ia ambil Kim-sui-poa dan rujung lemas jang tergantung diranting pohon itu.
Sekenanja ia ketik2 bidji Suipoa hingga menerbitkan suara ?tjrang-tjreng?
jang njaring.
Mendengar beberapa suara njaring itu, dengan girang Toan Ki terus berkata.
?He, apakah nona sedang memetik lagu ?Djay-song-tju?
(memetik bidji arbei)??
Hlm..gambar ?Djika tuan sudah datang di Sohtjiu dan tiada urusan lain, marilah silahkan mampir sekalian ketempat kami untuk minum2 sebentar,?
demikian kata si A Pik jang mengaku sebagai pelajan Bujung-kongtju.
Kiranja bidji Suipoa jang diketik si A Pik telah mengeluarkan suara jang ber-beda2 hingga berwudjut irama musik dari lagu ?Djay-song-tju?
jang merdu.
Dengan tersenjum A Pik mendjawab.
?Ah, kiranja Kongtju djuga pandai seni suara, maukah memetiknja barang selagu djuga??
Melihat gadis itu lintjah ke-kanak2an, ramah-tamah menarik, maka sahut Toan Ki dengan tertawa.
?Ja, tapi aku tidak dapat memetik Suipoa.?
~ Lalu ia menoleh kepada Tjui Pek-khe, katanja.
?Ho-siansing, Suipoamu telah digunakan orang sebagai alat musik jang bagus.?
?Benar, benar!?
sahut Tjui Pek-khe dengan senjum ewa, ?nona benar2 seorang seniwati, alat hitungku jang kasar itu, sekali berada ditangan nona, djadilah segera sebuah alat musik jang bagus.?
?Ai, ai, maafkan, djadi ini adalah milik tuan??
seru A Pik gugup.
?Wah, alangkah bagusnja Suipoa ini.
Ehm, tentu tuan ini seorang hartawan, sampai Suipoa djuga terbuat dari emas.
Ho-siansing, inilah kukembalikan.?
Sambil berkata, terus sadja A Pik angsurkan Suipoa jang dipegangnja itu.
Tapi Tjui Pek-khe berdiri ditepi danau, dengan sendirinja tidak sampai menerimanja.
Memangnja iapun merasa berat mesti kehilangan kawan setianja jang selalu dibawanja itu.
Maka dengan enteng ia lantas melompat kehaluan sampan untuk menerima Suipoa itu.
Kemudian ia berpaling melotot sekali kearah Tjiumoti.
Namun wadjah paderi itu tetap bersenjum-simpul dengan welas-asih, sedikitpun tidak marah.
Setelah Suipoa dikembalikan pemiliknja, kini tinggal rujung lemas itu jang masih dipegang si A Pik.
Ketika tangan kanannja memegang badan rujung dan sekali digesut dari atas kebawah, karena gesekan kuku djarinja dengan ruas2 rujung lemas itu, maka terbitlah suara matjam2 suara njaring jang menarik hingga mirip orang memetik harpa.
Ternjata sematjam sendjata jang pernah melajani berbagai djago2 Bu-lim itu setelah berada ditangan si A Pik, kembali telah berubah mendjadi sematjam alat musik lagi.
?Bagus, bagus!?
saking senangnja Toan Ki ber-teriak2.
?Sungguh pintar sekali nona, hajolah silahkan memetiknja satu lagu.?
Tapi A Pik lantas berkata kepada Ko Gan-tji.
?Mungkin rujung ini adalah milik tuan ini bukan?
Aku telah sembarangan mengambilnja, sungguh terlalu tidak tahu aturan, harap dimaafkan.
Marilah tuan, silahkan tuan naik djuga keatas sampan, sebentar akan kusuguh dengan daharan enak.?
Sebenarnja Ko Gan-tji sedang mendendam sakit hati karena gurunja dibunuh orang she Bujung, tapi menghadapi seorang nona tjilik jang selalu bersenjum manis dan ke-kanak2an, betapapun rasa dendam dalam hatinja djuga tidak mungkin dilampiaskan atas diri gadis itu.
Pikirnja.
?Dia bersedia membawa kami ketempat tinggal orang she Bujung, itulah jang djusteru sangat kami inginkan, bagaimanapun djuga aku harus membunuh beberapa orang mereka untuk membalas sakit hati Suhu.?
Karena itu, ia mengangguk terima tawaran A Pik, lalu iapun melompat keatas perahu.
Dengan hati2 dan menghormat A Pik menggulung rujung lemas itu dan dikembalikan kepada Gan-tji.
Sekali dajungnja bekerdja, segera sampannja meluntjur kearah barat.
Tjui Pek-khe saling menukar isjarat mata beberapa kali dengan Ko Gan-tji.
Diam2 mereka memikir.
?Hari ini kita telah memasuki gua harimau, entah bakal mati atau hidup.
Menghadapi keluarga Bujung jang kedjam dan sinona jang kelihatannja lemah-lembut ini, betapapun kita harus waspada djangan sampai masuk perangkap musuh.?
Begitulah sampan si A Pik terus meluntjur kedepan, setelah membiluk kian kemari, achirnja masuklah sampan itu ketengah danau jang luas.
Sepandjang mata memandang, danau itu se-akan2 tanpa udjung dan bergandengan rapat dengan langit.
Karuan Ko Gan-tji bertambah was-was, pikirnja.
?Danau besar ini tentulah Thay-oh adanja.
Aku dan Tjui-su-siok tidak dapat berenang, asal nona tjilik ini putar balik sampannja, pasti kami berdua akan kelelap kedasar danau sebagai umpan ikan, djangankan lagi bitjara hendak menuntut balas bagi Suhu.?
Rupanja Tjui Pek-khe djuga mempunjai firasat jang sama.
Ia pikir kalau dajung sampan dapat dipegang sendiri, bila nona itu hendak membalikkan sampannja tentu akan lebih sulit.
Maka segera katanja.
?Nona, marilah kubantu engkau mendajung, engkau boleh menundjukkan arahnja sadja.?
?Ai, mana boleh djadi begitu,?
sahut A Pik tertawa.
?Kalau diketahui Kongtjuya, wah, tentu aku akan didamperat tidak dapat menghormati tamu.?
Melihat orang tidak mau, rasa tjuriga Tjui Pek-khe semakin bertambah, katanja pula dengan tertawa.
?Haha, bitjara terus terang, sebenarnja kami ingin mendengar nona memperdengarkan ilmu kepandaianmu memetik sesuatu lagu dengan rujung lemas kawanku itu.?
?Ilmu kepandaian apa??
udjar A Pik tertawa.
?Kalau diketahui A Tju, pasti dia akan mentjemoohkan aku suka pamer didepan tetamu.?
Tapi Tjui Pek-khe terus memgambil rujungnja Gan-tji dan diserahkan kepada A Pik, katanja.
?Ini, petiklah lekas!?
~ Sembari berkata, terus sadja ia sambuti dajung sampan dari tangan sigadis.
?Baiklah, dan sekalian Kim-sui-poamu itupun pindjamkan aku sebentar,?
kata A Pik.
Diam2 Pek-khe mendjadi kuatir.
?Dia telah ambil sendjata2 kami, djangan2 ada tipu muslihat apa2??
~ Namun karena sudah ketelandjur, terpaksa iapun menjerahkan Suipoa emasnja itu.
Tapi Suipoa itu lantas ditaruh diatas geladak sampan oleh A Pik, sambil berduduk ia tarik gagang rujung dengan tangan kiri, udjung rujung itu diindjak dengan kaki kanan hingga rujung lemas itu tertarik dengan lempeng, lalu menarilah kelima djari kanannja meng-gesek2 diatas rujung hingga menerbitkan matjam2 nada suara jang njaring merdu melebihi Pi-pe (alat musik Tionghoa mirip gitar).
Sambil menggesek rujung, terkadang djari A Pik djuga sempat memainkan bidji Suipoa jang terletak dihadapannja itu, suara ?tjrang-tjring?
dari bidji Suipoa itu berselang-seling dengan suara ?trang-tring?
gesekan rujung hingga kedengarannja sangat menarik.
Sampai puntjaknja, saking gembiranja A Pik terus bernjanji pula mengiringi irama musik jang dimainkannja sendiri dengan merdu itu.
Mendengar suara sigadis jang mengalun empuk itu, sungguh semangat Toan Ki se-akan2 diombang-ambingkan diangkasa raja dan mendjadi seperti orang linglung.
Ia gegetun mengapa baru sekarang dirinja sempat pesiar ke Kanglam, ia kagum pula Bujung-kongtju mempunjai seorang dajang sepandai itu, maka dapatlah dibajangkan tokoh matjam apa madjikan sidajang itu.
Selesai A Pik membawakan satu lagu, kemudian iapun kembalikan Suipoa dan rujung itu kepada Pek-khe berdua.
Katanja dengan tertawa.
?Memalukan, tidak enak didengarkan, harap djangan ditertawai tuan tamu.
Nah, dajunglah kesana, ja benarlah!?
Pek-khe menurut dan mendajung sampan itu kesuatu muara sungai ketjil, di permukaan air situ tampak banjak tumbuh daun teratai jang lebat.
Tjoba kalau tiada petundjuk si A Pik, tentu tiada jang tahu bahwa disitu ada djalannja.
Setelah mendajung pula sebentar, kemudian A Pik berkata pula.
?Biluklah kesana!?
Dan permukaan air tempat baru ini ternjata penuh tumbuh daun Lengkak dengan buahnja jang ke-merah2an.
A Pik memetik beberapa buah lengkak jang merah itu, ia berikan Ko Gan-tji tiga buah, kemudian memetik pula bagi jang lain.
Meski kedua tangan Toan Ki dapat bergerak, tapi setelah Hiat-to ditutuk orang, sedikitpun ia sudah tak bertenaga, untuk mengupas kulit Lengkak terasa pula tidak kuat.
Maka berkatalah A Pik dengan tertawa.
?Rupanja Kongtjuya bukan orang Kanglam, makanja tidak biasa mengupas Lengkak.
Biarlah aku mengupasnja untukmu.?
Segera ia mengupas beberapa bidji dan diserahkan kepada Toan Ki.
Melihat daging Lengkak itu putih bersih, ketika dimakan rasanja manis gurih, dengan tertawa Toan Ki berkata.
?Rasa lengkak ini enak dan tidak membosankan, mirip sekali dengan njanjian nona tadi.?
Muka A Pik sedikit bersemu merah, sahutnja dengan tersenjum.
?Membandingkan njanjianku dengan Lengkak, baru pertama kali ini kudengar.
Terima kasih, Kongtju!?
Dan belum selesai sampan itu menjusur rawa Lengkak itu, A Pik telah menundjukkan arah lain lagi jang penuh tumbuh rumput kumbuh jang lebat.
Mau-tak-mau achirnja Tjiumoti mendjadi was-was djuga, diam2 ia mengingat baik2 djalan jang dilalui perahu itu, agar nanti kembalinja tidak kesasar.
Tapi rawa2 daun teratai, lengkak dan rumput kumbuh itu hakikatnja serupa sadja tak ada perbedaannja, apa lagi tumbuh2an air itu setiap waktu bisa berubah tertiup angin hingga dalam sekedjap sadja keadaan sudah berlainan daripada semula.
Tjiumoti, Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji telah berusaha djuga mengikuti sinar mata si A Pik untuk mengetahui tjara bagaimana gadis itu mengenali djalannja, namun tampaknja gadis itu atjuh-tak-atjuh sadja, sambil memetik Lengkak sembari memain air dan memberi petundjuk tanpa pikir, se-akan2 djalanan air jang bersimpang-siur itu sudah merupakan satu peta jang apal baginja.
Begitulah setelah sampan itu didajung berlika-liku kian kemari selama dua djam, lewat lohor, dari djauh tertampaklah pohon Liu me-lambai2 dengan rindangnja dan dibalik pohon tertampaklah udjung emper rumah.
?Itulah dia sudah sampai,?
seru A Pik segera.
?Ho-siansing, telah setengah hari membikin tjapek engkau, terima kasihlah.?
~ Ia dengar Toan Ki memanggil Pek-khe sebagai Ho-siansing, maka iapun menirukannja.
Dengan tertawa getir Pek-khe mendjawab.
?Asal bisa makan Lengkak sambil mendengarkan njanjianmu, biarpun aku disuruh mendajung selama setahun dua tahun djuga mau.?
?Ha, apa susahnja djika engkau benar2 senang makan Lengkak dan suka mendengarkan njanjianku,?
seru A Pik sambil bertepuk tangan dan tertawa.
?Untuk mana asal engkau tinggal sadja dilembah danau ini dan selama hidup ini djangan meninggalkan sini.?
Pek-khe mendjadi kaget oleh utjapan.
?selama hidup tinggal dilembah danau?
itu, ia tjoba melirik gadis itu, ia lihat A Pik tetap bersenjum simpul sadja seperti tidak punja maksud apa2 dibalik kata2nja itu.
Namun begitu hati Pek-khe mendjadi kebat-kebit djuga.
Segera A Pik mengambil penggajuh dari tangannja Pek-khe dan mendajung sampannja ketepian jang penuh pohon Liu itu.
Sesudah dekat, tertampaklah sebuah tangga kaju terbuat dari ranting pohon Siong mendjulur dari tepi kedalam air.
A Pik menambat perahunja diatas ranting pohon itu serta mendahului mendarat.
Ketika semua orang ikut mendarat, terlihatlah disana-sini ada beberapa buah gubuk jang dibangun ditengah sebuah pulau ketjil atau disemenandjung sana.
Gubuk2 itu ketjil mungil dan tjukup indah.
?Apakah disini inikah Som-hap-tjheng dari Yan-tju-oh??
tanja Tjiumoti.
?Bukan,?
sahut A Pik menggeleng kepala.
?Tempat ini adalah kediamanku jang dibangun oleh Kongtju, djelek dan sederhana, sebenarnja tidak pantas untuk menjambut tamu.
Tjuma Toasuhu ini menjatakan ingin berziarah kemakamnja Bujung-loya, aku sendiri tidak berani mengambil keputusan, maka terpaksa silahkan tuan2 tunggu sementara disini, biarlah kubitjarakan dulu dengan Entji A Tju.?
Mendengar itu Tjiumoti mendjadi dongkol dan menarik muka.
Betapa tinggi dan diagungkan kedudukannja sebagai Hou-kok-hoat-ong atau imam negara di negeri Turfan.
Djangankan di negerinja sendiri itu dia sangat dihormati oleh kepala negara Turfan, sekalipun pemerintah2 Song, Tayli dan negara2 tetangganja djuga pasti menjambut kedatangannja dengan penuh penghormatan.
Apalagi dia adalah sobat lama Bujung-siansing, kini ia datang sendiri buat ziarah, kalau Bujung-kongtju bepergian karena memang sebelumnja tidak tahu, itulah tak dapat disalahkan, tetapi seorang dajang seperti A Pik ini, tamu agung itu tidak dibawa keruang tamu untuk dihormati sebagaimana mestinja, sebaliknja malah dibawa ke suatu gubuk tempat tinggal kaum pelajan, karuan sadja Tjiumoti merasa terhina.
Tapi demi dilihatnja sikap A Pik tetap ke-kanak2an seperti biasa sadja, sedikitpun tidak mengundjuk maksud merendahkan, maka ia pikir mengapa mesti meretjoki urusan begitu dengan seorang pelajan ketjil.
Kemudian Tjui Pek-khe telah menanja.
?Siapakah entji A Tju jang kau katakan itu??
?A Tju ialah A Tju, dia tjuma lebih tua sebulan daripadaku, lantas berlagak sebagai Entji orang,?
demikian sahut A Pik dengan tertawa.
?Ja, apa boleh buat, terpaksa aku harus memanggil dia Entji, habis, siapa suruh dia lahir sebulan lebih dulu?
Namun engkau tidak perlu memanggilnja sebagai Entji, kalau tidak tentu lagaknja akan semakin garang.?
Sembari berbitjara, dengan lintjahnja A Pik terus menjilahkan keempat tamunja itu masuk kedalam pondoknja.
Toan Ki melihat didepan gubuk itu tergantung sebuah papan ketjil jang bertuliskan ?Khim-im-siau-tiok?
atau pondok mungil suara harpa.
Gaja tulisannja sangat bagus.
Setelah masuk, A Pik silahkan semua orang berduduk, kemudian lantas disuguhkannja air teh dan beberapa matjam makanan.
Tehnja wangi, makanannja sedap, karuan tiada hentinja Toan Ki memudji.
?Silahkan Kongtju menghabiskannja, persediaan masih tjukup,?
demikian A Pik.
Sambil melangsir penganan2 kedalam perutnja, terus-menerus Toan Ki memberi pudjian tiada habis2nja.
Sebaliknja Tjiumoti, Pek-khe dan Gan-tji bertiga tidak berani menjentuh minuman dan makanan itu sebab kuatir kalau didalam makanan itu ditaruh ratjun.
Diam2 Toan Ki mendjadi tjuriga djuga, pikirnja.
?Tjiumoti ini mengaku sebagai sobat lama Bujung-siansing, tapi kenapa berlaku se-hati2 ini ?
Pula tjara orang keluarga Bujung menjambut kedatangannja djuga rada tidak beres.?
Tjiumoti itu ternjata sangat sabar, ia menunggu hingga Toan Ki sudah habis minum dan selesai mentjitjipi semua penganan jang disuguhkan itu dengan pudjian2 setinggi langit, kemudian barulah dia berkata.
?Dan sekarang haraplah nona suka memberitahukan kepada Entji A Tju jang kau katakan tadi.?
?Tempat pondok A Tju itu dari sini masih berpuluh li djauhnja, hari ini terang tidak keburu kesana lagi, biarlah tuan2 berempat tinggal semalam disini, besok pagi2 aku lantas membawa kalian ke ?Thing-hiang-siau-tiok?
(pondok ketjil jang wangi) .?
?Tahu begitu, mengapa nona tidak tadi2 membawa kami langsung kesana??
tanja Tjiumoti dengan mendongkol.
?Kenapa mesti buru2 ??
sahut A Pik.
?Selama ini aku tiada teman mengobrol, rasanja terlalu sunji.
Kini kedatangan tamu sebanjak ini, sudah tentu aku ingin kalian suka tinggal barang sehari untuk meramaikan suasana pondokku ini.?
Sedjak tadi Ko Gan-tji hanja berdiam sadja.
Kini mendadak ia berbangkit dan membentak.
?Dimana tempat tinggal anggota keluarga Bujung?
Kedatanganku kesini bukan untuk minta makan-minum dan untuk mengobrol dengan engkau, tapi datang buat membunuh musuh.
Sekali orang she Ko sudah berani datang kemari, memangnja akupun tidak pikir bisa keluar dari sini dengan hidup.
Maka lekaslah kau laporkan sana, nona, katakan aku adalah anak murid Kwa Pek-hwe dari Ko-san-pay, hari ini sengadja datang untuk menuntut balas sakit hati Suhuku itu?
Habis berkata, sekali rujungnja menjabet, terdengarlah suara gedubrakan jang keras disertai hantjurnja sebuah medja dan sebuah kursi.
Namun sedikitpun A Pik tidak kaget djuga tidak marah, katanja dengan tenang.
?Sudah banjak orang2 Kangouw jang gagah perkasa datang hendak mentjari Kongtju, setiap bulannja paling sedikit ada beberapa rombongan.
Diantaranja banjak djuga berlagak garang dan kasar seperti Ko-toaya ini ......?
Belum selesai utjapannja, tiba2 dari ruangan belakang muntjul seorang kakek pendek ketjil berdjenggot dan berambut putih bagai perak, kakek itu membawa tongkat, sambil mendatangi ia berkata.
?A Pik, siapakah jang lagi ribut2 disini??
Tjepat Tjui Pek-khe melompat bangun dan berdiri sedjadjar dengan Ko Gan-tji sambil membentak.
?Suhengku Kwa Pek-hwe sebenarnja ditewaskan oleh siapa??
Toan Ki melihat kakek itu rada bungkuk, mukanja penuh keriputan, usianja kalau tiada seabad, paling sedikit djuga lebih dari 80 tahun.
Maka terdengarlah kakek itu berkata dengan suaranja jang serak.
?Kwa Pek-hwe?
Ehm, manusia dapat hidup sampai Pek-hwe (seratus tahun), sudah waktunja djuga untuk mati!?
Memangnja Ko Gan-tji sudah tidak sabar lagi hendak membalas sakit hati sang Suhu, kini mendengar pula kata2 sikakek jang kasar itu, ia mendjadi murka, sekali rujungnja bekerdja, terus sadja ia sabet kepunggung kakek itu.
Ia kuatir kalau Tjiumoti merintangi tindakannja, maka serangannja sengadja dilontarkan dari djurusan jang tak bisa dihalangi paderi itu.
Siapa duga Tjiumoti tjuma ulur tangannja sadja, seketika tangannja seperti mengeluarkan tenaga sedotan, rujung Ko Gan-tji itu kena ditarik ketangannja dari djauh.
Lalu katanja.
?Ko-tayhiap, kedatangan kita ini adalah tamu, ada apa2 hendaknja dibitjarakan setjara baik2, djanganlah memakai kekerasan.?
~ Habis berkata, ia remas2 rujung rampasannja itu hingga tergulung mendjadi satu, lalu dikembalikan kepada Gan-tji.
Muka Ko Gan-tji mendjadi merah djengah, ia mendjadi kikuk apakah mesti menerima kembali sendjatanja itu atau tidak.
Tapi demi dipikir tudjuan pokoknja jalah untuk menuntut balas, hinaan sementara waktu harus berani ditanggungnja.
Maka dengan agak malu ia terima kembali rujung itu.
Hlm..gambar Belum selesai A Pik melajani tetamunja, tiba2 dari ruangan belakang muntjul seorang kakek pendek ketjil, rambut dan djenggot sudah putih sebagai perak.
Lalu Tjiumoti berkata kepada sikakek.
?Siapakah nama Sitju jang terhormat ini?
Apakah masih pamili dengan Bujung-siansing atau sahabatnja?.?
Kakek itu tertawa, sahutnja.
?Aku tjuma seorang budak tua Kongtju sadja, masakah punja nama terhormat segala?
Kabarnja Taysuhu adalah sobat baik mendiang Loya kami, entah ada keperluan apakah??
?Urusanku harus kukatakan berhadapan dengan Bujung-kongtju,?
sahut Tjiumoti.
?Tapi sajang, kemarin dulu Kongtju telah bepergian, entah kapan baru dapat pulang,?
kata sikakek.
?Djika begitu, kemanakah Kongtju pergi??
tanja Tjiumoti.
?Wah, aku mendjadi lupa,?
sahut kakek itu sambil ketok2 djidat sendiri, ?beliau seperti mengatakan hendak pergi kenegeri He atau Tayli, ja, entah Turfan atau negeri mana lagi.?
Tjiumoti mendjadi kurang senang oleh djawaban itu, terang tidak mungkin seorang sekaligus keluar negeri sebanjak itu, ia tahu budak tua itu sengadja berlagak pikun, maka katanja.
?Djika demikian, akupun tidak menunggu lagi pulangnja Kongtju, harap Koankeh (kepala pengurus rumah tangga) suka membawa aku bersembahjang kemakam Bujung-siansing sekedar memenuhi kewadjiban sebagai seorang sobat lama.?
?Ah, permintaan ini aku tidak berani menerima, akupun bukan Koankeh segala,?
sahut sikakek sambil gojang2 tangannja.
?Djika begitu, siapakah gerangan Koankeh kalian?
Dapatkah kutemui dia??
tanja Tjiumoti.
?Ehm, baiklah, baiklah, akan kupanggilkan Koankeh,?
kata sikakek sambil mengangguk.
Ia putar masuk kebelakang dengan langkah sempojongan sebagaimana lazimnja orang tua sambil menggerundel pandjang-pendek.
?Ai, djaman ini memang terlalu banjak orang djahat, banjak jang menjamar Hwesio dan Tosu untuk menipu orang.
Huh, orang tua seperti aku pengalaman apa jang tak pernah terdjadi, mana dapat aku diingusi!?
Mendengar itu, saking gelinja sampai Toan Ki terbahak.
Sebaliknja A Pik lekas2 berkata kepada Tjiumoti.
?Taysuhu, harap engkau djangan marah, Ui-pepek itu benar2 seorang pikun.
Ia mengira dirinja sendiri sangat pintar, tapi kata2nja djusteru selalu menjakiti orang.?
Dalam pada itu Tjui Pek-khe lantas menarik Ko Gan-tji kesamping serta membisikinja.
?Keledai gundul ini mengaku sebagai sobat orang she Bujung, tapi orang disini terang2an tidak pandang dia sebagai tamu terhormat.
Ko-sutit, kita djangan sembarangan bertindak, biarlah melihat dulu apa jang akan terdjadi.?
Ko Gan-tji mengia dan kembali ketempatnja tadi.
Tapi karena kursinja sendiri telah dihantjurkan oleh sabetan rujungnja tadi, ia mendjadi tidak punja tempat duduk lagi.
Maka dengan tersenjum ramah A Pik lantas memberikan kursinja, katanja dengan tersenjum.
?Harap Ko-toaya duduk kursi ini sadja!?
Gan-tji mengangguk puas, pikirnja.
?Andaikan aku dapat membunuh bersih antero anggota keluarga Bujung, paling sedikit dajang tjilik ini harus kuampuni.?
Sementara itu hati Toan Ki sedang diliputi suatu tanda tanja jang aneh.
Ketika sibudak tua she Ui tadi masuk, diam2 ia merasa ada sesuatu jang kurang beres.
Tapi soal apa, ia sendiripun tak bisa mendjawab.
Ia tjoba memperhatikan alat perabot ruangan itu, kemudian memandang A Pik, Tjiumoti, Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji, namun tiada sesuatu tanda mentjurigakan jang dilihatnja.
Tapi anehnja perasaannja djusteru semakin merasa ada sesuatu jang tidak beres.
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara tindakan orang, dari belakang muntjul seorang laki2 kurus setengah umur.
Orang ini memiara djenggot matjam djenggot kambing, gerak-geriknja menundjukkan seorang jang tjekatan dan pandai mengatur rumah tangga, pakaiannja djuga radjin, djari tengah kiri memakai sebuah tjintjin berbatu kemala jang besar.
Agaknja inilah dia Koankeh keluarga Bujung.
Orang itu lantas memberi hormat kepada tamu2nja dan berkata.
?Hamba Sun Sam menjampaikan salam hormat kepada tuan2 sekalian.
Taysuhu, engkau bermaksud ziarah kemakam Loya kami, untuk mana kami menjatakan sangat berterima kasih.
Tapi Kongtjuya sedang bepergian, tiada orang jang dapat membalas kehormatan Taysuhu nanti, hal ini akan kelihatan kurang pantas.
Maka kelak kalau Kongtjuya pulang, biarlah kusampaikan sadja maksud baik Taysuhu ini ....?
Bitjara sampai disini, tiba2 Toan Ki mengendus sematjam bau harum jang halus.
Seketika pikirannja tergerak, ia tjuriga.
?Apakah mungkin demikian halnja??
Kiranja tadi waktu sibudak tua masuk keruangan situ, Toan Ki lantas mentjium sematjam bau wangi jang halus sedap.
Bau harum ini lapat2 seperti bau harum jang teruar dari badannja Bok Wan-djing, walaupun didalamnja memang banjak perbedaannja, namun satu hal adalah pasti, jaitu bau wangi badan anak perawan.
Semula Toan Ki menjangka bau harum itu timbul dari badannja A Pik, maka tidak menaruh perhatian.
Tetapi sesudah budak tua itu pergi, bau wangi itupun lenjap.
Karena itulah maka timbul perasaan Toan Ki bahwa ada sesuatu jang kurang beres.
Sebab mustahil badan seorang kakek tua bangka begitu bisa menguarkan bau harum anak perawan??
Kemudian ketika Koankeh kurus jang mengaku bernama Sun Sam itu muntjul, kembali Toan Ki mengendus bau wangi jang sama, maka timbul pikirannja pula.
?Barangkali dibelakang rumah ini tertanam bunga apa2 jang aneh, siapa sadja jang keluar dari ruangan belakang tentu membawa bau harum jang menggontjang sukma itu.
Kalau tidak, maka budak tua itu dan sikurus ini pastilah samaran kaum wanita.?
Meski bau wangi itu menimbulkan rasa tjuriga Toan Ki, tapi karena terlalu halus baunja, maka Tjiumoti bertiga sedikitpun tidak tahu.
Sebabnja Toan Ki dapat membedakan bau harum jang halus itu adalah karena dahulu ia pernah disekap bersama Bok Wan-djing didalam kamar batu oleh Djing-bau-khek alias Yan-king Thaytju itu.
Maka bau harum jang halus jang timbul dari badan anak perawan itu susah dirasakan orang lain, tapi bagi Toan Ki pengalamannja dulu itu sangat berkesan dan djauh lebih keras malah daripada bau wangi segala matjam wangi2an lainnja.
Meski ia mentjurigai Sun Sam itu adalah samaran wanita, tapi sesudah dipandang dan di-amat2i, toh tiada sesuatu tanda jang mejakinkan.
Bukan sadja gerak-gerik Sun Sam itu memang lakunja kaum laki2, bahkan mukanja dan suaranja djuga persis seperti kaum laki2 umumnja.
Tiba2 teringat oleh Toan Ki.
?Kalau wanita menjamar sebagai lelaki, bidji lehernja sekali2 tak mungkin dipalsukan.?
Karena itu, ia tjoba memperhatikan leher Sun Sam, namun djenggot kambingnja itu tepat mendjulur kebawah dan menutupi leher hingga tidak kelihatan apakah ada bidji leher atau tidak.
Toan Ki masih penasaran, ia berbangkit dan pura2 menikmati lukisan jang tergantung didinding sana, dari samping lalu ia melirik untuk mengintjar lehernja Sun Sam.
Sekali ini dapat dilihatnja dengan djelas bahwa leher Sun Sam halus lurus tiada sesuatu jang menondjol dilehernja.
Ketika mengawasi dadanja pula, tampak dada Sun Sam itu penuh montok.
Walaupun tanda ini tidak dapat dipastikan sebagai tanda wanita, tapi seorang laki2 kurus tidaklah lazim memiliki dada jang montok.
Dapat membongkar rahasia itu, Toan Ki mendjadi sangat senang, pikirnja.
?Ini dia sandiwaranja masih belum tamat, biarlah aku mengikuti terus permainannja.?
Dalam pada itu terdengar Tjiumoti sedang berkata dengan gegetun.
?Dahulu aku telah berkenalan dengan Loya kalian dinegeri Thian-tiok serta saling mengagumi ilmu silat masing2, disanalah kami telah mengikat persahabatan kekal.
Sungguh tidak njana segala apa didunia fana ini memang mudah berubah, orang bodoh seperti aku ini djusteru masih diberi hidup, sebaliknja Loya kalian malah sudah mendahului kenirwana.
Djauh2 aku sengadja datang dari Turfan untuk sekedar memberi hormat dihadapan makam sobat lama, soal ada orang membalas hormat atau tidak, mengapa mesti dipikirkan?
Maka haraplah Koankeh suka membawa aku kesana.?
Sun Sam tampak mengkerut kening, agaknja merasa serba salah, katanja.
?Aku .....
aku .....?
?Entah Koankeh merasakan kesulitan apa, silahkan memberi pendjelasan,?
tanja Tjiumoti.
?Ja, sebab watak Loya kami, sebagai sobatnja tentu Taysuhu tjukup tahu,?
sahut Sun Sam.
?Loya kami paling tidak suka ada orang berkundjung kepadanja, ia bilang orang jang datang mentjarinja kalau bukan hendak menuntut balas dan membikin rusuh, pasti adalah mohon beladjar dan ingin mendjadi muridnja.
Jang lebih rendah lagi bisa djuga datang untuk pindjam uang atau bila jang empunja rumah lengah, terus mentjuri.
Beliau mengatakan kaum Hwesio dan Nikoh lebih2 tak dapat dipertjaja lagi, auuuuh.....
maaf.....?
~ Tiba2 ia seperti tersadar telah menjinggung Tjiumoti, maka tjepat menutupi mulutnja.
Tingkah laku menutupi mulut dengan tangan itu terang lazimnja dilakukan oleh kaum anak gadis, bidji matanja jang hitam pekat mendelik itupun mengerling sekedjap.
Meski hanja sekilas sadja tingkah laku demikian, namun Toan Ki jang selalu menaruh perhatiannja itu sudah melihatnja, dia bertambah senang lagi.
?Ha, Sun Sam ini bukan sadja memang samaran wanita, bahkan adalah seorang nona jang masih sangat muda.?
Ketika ia melirik A Pik, ia lihat udjung mulut gadis itu tersimpul senjuman jang litjik.
Maka Toan Ki mendjadi lebih jakin lagi, pikirnja.
?Sun Sam ini sudah terang sama orangnja dengan sibudak tua tadi.
Boleh djadi adalah entji A Tju jang dikatakan itu.?
Dalam pada itu Tjiumoti sedang berkata.
?Memang manusia baik2 didjagat ini lebih sedikit daripada orang jang djahat.
Kalau Bujung-siansing tidak suka banjak bergaul dengan chalajak ramai, itupun adalah djamak.?
?Ja, dari itulah Loya kami telah meninggalkan pesan agar siapa pun jang datang hendak ziarah kekuburannja, semuanja ditolak,?
kata Sun Sam.
?Ia bilang para keledai gundul itu tidak nanti berniat baik, tentu bermaksud membongkar kuburannja.
Aija, maaf Taysuhu, keledai gundul jang dimaksudkan Loya kami itu besar kemungkinan bukan ditudjukan kepadamu.?
Diam2 Toan Ki mendjadi geli oleh pertundjukan itu, ini namanja ?dihadapan Hwesio memaki keledai gundul,?
benar2 sangat tepat.
Pikirnja.
?Keledai gundul ini tetap tidak marah sama sekali, semakin djahat dan semakin litjik orangnja, semakin pandai dia berlaku sabar.
Keledai gundul ini benar2 bukan sembarangan orang.?
Malahan Tjiumoti terus berkata lagi.
?Apa jang dipesan Loya kalian itu memang ada benarnja djuga.
Dimasa hidupnja dahulu terlalu banjak permusuhan jang telah ditanamnja, kalau waktu hidupnja musuh tidak berani padanja, sesudah beliau wafat, bukan mustahil ada jang berusaha membongkar djenazahnja untuk membalas sakit hati.?
?Berani mengintjar djenazah Loya kami?
Hahaha, djangan mimpi!?
udjar Sun Sam dengan tertawa.
?Tapi aku adalah sobat baik Bujung-siansing, aku hanja ingin memberi hormat dihadapan makamnja dan tiada maksud lain, hendaklah Koankeh djangan bersangka djelek,?
kata Tjiumoti.
?Dengan sungguh2 hal ini Siaudjin tidak berani mengambil keputusan, sebab kalau pesan Loya dilanggar, nanti kalau Kongtju pulang dan mengetahui, bukan mustahil aku akanmemdapat gandjaran jang setimpal,?
kata Sun Sam.
?Tapi begini sadjalah, biarlah kumintakan keputusan Lothaythay, nanti kuberitahukan lagi kesini.?
?Lothaythay (njonja besar)?
Lothaythay jang mana??
tanja Tjiumoti heran.
?Bujung-lothaythay adalah Entjim daripada Loya kami,?
sahut Sun Sam.
?Setiap tamu jang berkundjung kemari kebanjakan menghadap untuk mendjura dan menghormatinja.
Kini Kongtju tidak dirumah, segala apa harus minta keputusan kepada Lothaythay?.
?Baiklah djika begitu,?
kata Tjiumoti.
?Harap kau sampaikan kepada Lothaythay bahwa Tjiumoti dari Turfan menjampaikan salam selamat kepada beliau.?
?Ah, engkau terlalu baik, terima kasih, tentu akan kusampaikan pada Lothaythay,?
sahut Sun Sam.
Lalu masuklah dia kebelakang.
Diam2 Toan Ki membatin.
?Nona ini sangat litjin dan djenaka, entah apa maksud tudjuannja mempermainkan keledai gundul Tjiumoti ini??
Selang tidak lama, terdengarlah suara berkeriat-keriut orang berdjalan, dari dalam muntjul seorang nenek tua.
Belum tiba orangnja bau harum jang sedap halus tadi sudah tertjium oleh Toan Ki, maka ia mendjadi geli.
?Ha, sekali ini dia telah menjamar mendjadi njonja tua.?
Tertampak njonja tua itu memakai kun dari sutera warna tjoklat, tangannja memakai gelang kemala, gelungannja berhias aneka mutiara permata, dandanannja agung terhormat, mukanja sudah berkeriput, matanja lapat2 seperti sudah kurang penglihatannja.
Mau-tak-mau Toan Ki harus memudji dalam hati akan kepandaian menjamar orang, bukan sadja samarannja sangat persis, bahkan dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Begitulah sambil ber-ingsut2 dengan tongkatnja njonja tua itu berdjalan ketengah ruangan, lalu berkata.
?A Pik, apakah sobat baik Loyamu telah datang?
Kenapa tidak mendjura padaku??
~ Sembari berkata, kepalanja tampak menoleh kesana kesini seperti lazimnja orang tua jang sudah pikun dan kurang penglihatannja.
A Pik memberi tanda kepada Tjiumoti dan membisikinja.
?Lekaslah mendjura!
Sekali engkau sudah mendjura, Lothaythay tentu akan senang dan segala permintaanmu pasti akan diluluskan.?
Njonja tua itu lantas miringkan kepalanja, tangannja terangkat ditepi telinga seperti orang sedang mendengarkan sesuatu, lalu tanja keras2.
?A Pik, kau bitjara dengan siapa?
Orang sudah mendjura belum??
Maka berkatalah Tjiumoti.
?Lothaythay, baikkah engkau?
Siautjeng memberikan salam hormat.?
~ Lalu ia membungkuk memberi hormat, berbareng kedua tangannja mengerahkan tenaga hingga terdengarlah suara ?dak-duk?
diatas lantai seperti kepala orang mendjura jang mem-bentur2 lantai.
Tjui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-tji, diam2 mereka terkesiap oleh tenaga dalam sihwesio jang hebat itu, kalau bertanding, sudah pasti mereka berdua tidak mampu menangkis satu djurus serangannja.
Sementara itu sinjonja tua lantas manggut2 dan berkata.
?Baik, baik, sangat baik!
Orang djahat didjaman ini memang terlalu banjak, djarang sekali ada orang djudjur.
Seumpama orang mendjura sadja toh sengadja pura2 segala, sudah terang tidak mendjura, tapi sengadja membikin lantai bersuara dak-duk untuk mengelabui pandanganku jang sudah berkurang ini.
Ehm, engkau ini sangat baik, sangat penurut, keras sekali engkau mendjura ja.?
Saking gelinja tak tertahan lagi Toan Ki tertawa mengekek.
Pelahan2 njonja tua itu menoleh dan menanja dengan pandangan matanja jang me-lajap2, lalu tanjanja.
?A Pik, suara apa tadi?
Apa ada orang kentut??
~ Sambil berkata, ia terus meng-kipas2 didepan hidungnja.
?Bukan orang kentut, Lothaythay,?
sahut A Pik menahan tawa.
?Tapi Toan-kongtju ini telah tertawa sekali.?
?Toan?
Apanja jang putus??
tanja sinenek.
?Bukan Toan artinja putus, Lothaythay, tapi orang she Toan, Kongtju keluarga Toan,?
sahut A Pik menerangkan.
?Ehm, Kongtju terus-menerus, memang jang kau ingat selalu Kongtju sadja,?
udjar sinenek sambil manggut2.
?Lothaythay sendiri masakah djuga tidak selalu terkenang pada Kongtjuya??
sahut A Pik agak merah mukanja.
?Apa katamu?
Kongtjuya kepingin makan djenang??
tanja sinenek.
?Ja, Kongtjuya kepingin makan djenang, bahkan lebih suka pula engkau punja kue mangkok,?
sahut si A Pik.
Sudah tentu Toan Ki mengarti pertjakapan kedua orang itu bertjabang, maka ia mendjadi lebih jakin lagi sinenek itu pasti samaran si A Tju.
Kemudian nenek itu memandang kearah Toan Ki dan berkata.
?Kau botjah ini berhadapan dengan orang tua mengapa tidak mendjura??
?Lothaythay,?
sahut Toan Ki.
?Ada sesuatu ingin kubitjarakan dengan engkau, tapi tidak enak kalau didengar orang lain.?
?Kau bilang apa??
tanja sinenek sambil mendjulurkan kepalanja kedepan.
?Begini,?
kata Toan Ki.
?Dirumah aku mempunjai seorang keponakan perempuan ketjil, namanja A Tju, ia telah pesan padaku agar menjampaikan beberapa kata kepada Lothaythay dari keluarga Bujung.?
?Ah, semberono, semberono!?
ber-ulang2 sinenek menggeleng kepala.
Namun Toan Ki melandjutkan pula dengan tertawa.
?Keponakanku si A Tju itu memang sembrono dan terlalu nakal.
Dia paling suka menjaru seperti monjet, hari ini menjaru monjet djantan, besok menjamar monjet betina, malahan pintar main sunglap segala.
Tapi sering kutangkap dia dan hadjar bokongnja.?
Kiranja sinenek ini memang benar samaran si A Tju, temannja A Pik.
Kepandaiannja menjamar memang pintar luar biasa, bukan sadja wudjutnja mirip, bahkan tutur kata dan gerak-geriknja dapat menirukan dengan tepat dan bagus tanpa tjatjat sedikitpun.
Sebab itulah maka orang sepintar Tjiumoti dan sepengalaman Tjui Pek-khe djuga kena dikelabui.
Siapa duga dari bau harum jang teruar dari badannja itulah dapat dibongkar rahasianja oleh Toan Ki.
Karuan sadja A Tju sangat terkedjut, namun lahirnja ia tetap tenang sadja, katanja kemudian.
?Anak baik, sungguh pintar sekali kau, belum pernah aku melihat anak setjerdik engkau ini.
Anak baik djangan usil, nanti Lothaythay tentu memberikan kebaikan padamu.?
Toan Ki pikir dibalik kata2 orang itu terang meminta agar dirinja djangan membuka rahasianja, karena tudjuannja jalah untuk melajani sikeledai gundul Tjiumoti, dan ia kebetulan sedang mentjari kawan untuk menjelamatkan diri.
Karena pikiran demikian, Toan Ki lantas mendjawab.
"Lothaythay djangan kuatir, sekali Tjayhe sudah datang disini, segala apa aku tentu menurut perintah Lothaythay."
Dasar A Tju itu memang sangat nakal, segera katanja pula.
"Bagus, anak baik, engkau benar2 anak penurut sekali. Nah, sekarang lekaslah engkau mendjura tiga kali kepada Lothaythay, pasti nenek nanti takkan bikin rugi padamu."
Toan Ki melengak.
Kurangadjar, pikirnja.
Masakah seorang putera pangeran jang diagungkan dari negeri Tayli disuruh mendjura kepada budak ketjil?
Melihat sikap Toan Ki ragu2 dan serba susah, A Tju tertawa dingin, katanja.
"Ada manusia jang sudah dekat adjalnja, tapi masih sombong dan angkuh luar biasa. Anak baik, ingin kukatakan padamu, pastilah takkan merugikan engkau djika mendjura beberapa kali kepada nenekmu ini."
Ketika Toan Ki berpaling, ia lihat A Pik dengan bersenjum-simpul sedang melirik padanja, kulit badannja jang putih bersih itu bagai buah manggis segar jang baru dibuka, udjung mulutnja terdapat setitik andeng2 ketjil menambah ketjantikannja jang menggiurkan.
Hati Toan Ki tergerak, segera ia menanja.
"Entji Apik, katanja engkau masih mempunjai seorang teman entji A Tju. Apakah dia ................ dia setjantik molek engkau?"
"Ai, ai, rupaku jang djelek melebihi siluman ini mana berani dibandingkan entji A Tju,"
Sahut A Pik dengan tersenjum.
"Rupaku ini masih belum masuk hitungan, kalau entji A Tju mendengar pertanjaanmu ini, pasti dia akan marah. Ketahuilah bahwa entji A ju itu berpuluh kali lebih aju daripadaku."
"Apa betul?"
Toan Ki Menegas.
"Guna apa aku mendustai kau?"
Sahut A Pik tertawa.
"Berpuluh kali lebih tjantik dari kau, didunia ini tentu takada lagi", udjar Toan Ki.
"Ja, ketjuali .............. ketjuali sidewi didalam gua. Asal setjantik engkau sudah susah ditjari orangnja."
Wadjah A Pik mendjadi ke-merah2an, katanja dengan malu2 kutjing.
"Kau disuruh mendjura kepada Lothaythay, tidak perlu kau memudja-pudji diriku."
"Wah dimasa mudanja, Lothaythay pasti djuga seorang wanita maha tjantik,' kata Toan Ki pula.
"Untuk bitjara terus terang, merugikan atau tidak kepadaku sama sekali tak kupikirkan, tapi disuruh mendjura kepada wanita maha tjantik, aku benar2 suka dan rela." ~ Habis berkata, benar sadja ia terus berlutut sambil berkata dalam hati.
"Djika sudah mau mendjura, maka harus jang keras sekalian. Memangnja aku sudah pernah mendjura beratus kali kepada patung dewi didalam gua itu, apa halangannja kalau kini tjuma mendjura tiga kali kepada wanita tjantik di Kanglam?" ~ Lalu iapun mendjura tiga kali sampai kepalanja membentur lantai. Dalam hati A Tju sangat girang, pikirnja.
"Kongtjuya ini terang sudah tahu kalau aku tjuma seorang pelajan, tapi toh sudi mendjura padaku, sungguh susah ditjari orangnja.
" ~ Maka katanja kemudian.
"Ehm, anak baik, pintar sekali kau. Tjuma sajang aku tidak membawa uang retjeh untuk djadjan engkau..."
"Sudahlah asal Lothaythay djangan lupa, kasihlah lain kali bila ketemu lagi,"
Sela A Pik tiba2. A Tju melotot sekali pada kawan itu, lalu ia berpaling dan berkata kepada Pek-khe dan Gan-tji.
"Dan kedua tamu ini mengapa tidak mendjura djuga kepada nenek?"
Gan-tji mendengus dengan gusar, serunja keras2.
"Kau dapat ilmu silat atau tidak?"
"Kau berkata apa?"
A Tju menegas.
"Kutanja engkau bisa ilmu silat atau tidak?"
Gan-tji mengulangi.
"Djika berilmu silat tinggi, biarlah orang she Ko ini terima kematian dibawah tangan Lohudjin (njonja tua). Tapi kalau bukan orang persilatan, akupun tidak perlu banjak omong dengan engkau."
A Tju menggeleng kepala, katanja berlagak pilon.
"Kau berkata tentang ulat atau lalat apa segala. Ulat tidak ada disini, kalau lalat sih banjak. Idiiiih kotor ah!" ~ Lalu iapun berpaling kepada Tjiumoti.
"Toahweshio, katanja engkau hendak membongkar huburannja Bujung-siansing, sebenarnja engkau ingin mentjuri benda mestika apa dikuburannja?"
Tjiumoti sudah dapat melihat djuga bahwa nenek itu berlagak sangat pikun dan pura2 tuli, tjuma belum tahu kalau A Tju sebenarnja seorang gadis tjilik telah menjaru sebagai seorang tua.
Maka diam2 ia bertambah waspada, ia pikir.
"Bujung-siansing sadja sudah begitu lihay, angkatan tua dirumahnja tentu lebih hebat lagi."
Maka ia sengadja pura2 tidak dengar tentang pertanjaan tadi tapi mendjawab.
"Siautjeng adalah sobat baik Bujung-siansing, karena mendengar berita wafatnja, djauh2 dari negeri Turfan datang kemari sekedar memberi salam terachir kepadanja. Waktu almaarhum masih hidup, Siautjeng pernah berdjandji akan mengambilkan gambar Lak-meh-sin-kiam-boh dari keluarga Toan di Tayli untuk dipersembahkan kepada Bujung-siansing. Selama djandji itu belum terpenuhi, sungguh Siau-tjeng merasa sangat malu."
Mendengar kata2
"Lak-meh-sin-kiam-boh"
Itu seketika A Tju terkesiap.
Ia tahu ilmu silat itu bukan sembarangan, dirinja djuga belum lama dapat mendengar dari Kongtju.
Ia saling pandang sekedjab dengan A Pik dan sama2 berpikir sihwesio itu sudah mulai membitjarakan atjara pokoknja.
Maka sahut A Tju.
"Ada apa tentang Lak-meh-sin-kiam-boh segala?"
"Begini,"
Tutur Tjiumoti.
"Dahulu Bujung-siansing berdjandji pada Siautjeng asal dapat mengambilkan Lak-meh-sn-kiam-boh untuk dibatjanja barang beberapa hari, sebagai timbal-baliknja beliau membolehkan Siautjeng membatja kitab2nja beberapa hari dipondok 'Lang-goan-tjui-kok' dikediaman kalian ini."
A Tju terkedjut, ternjata paderi asing itu kenal nama "Lang-goan-tjui-kok"
Atau pondok air indah, mungkin apa jang dikatakan itu memang benar2 adanja. Tetapi ia tetap berlaga pilon dan menanja pula.
"Kau bilang 'Lang-goan-tjui-kok' apa? O, kau kepingin makan kue mangkok? Itulah mudah, dirumah kami selalu sedia kue mangkok."
Tjiumoti benar2 kewalahan, ia berpaling dan berkata kepada A Pik.
"Lothaythay ini entah benar2 sudah pikun atau tjuma berlaga pilon. Jang terang sekarang berbagai tokoh dari aliran persilatan di Tionggoan sedang berkumpul di Siau-lim-si untuk berunding tjara bagaimana menghadapi Bujung-si dari Koh-soh sini. Mengingat Siautjeng pernah bersobat dengan Bujung-siansing maka sebenarnja bermaksud mentjurahkan sedikit tenagaku jang tak berarti itu untuk membantunja. Tapi Lothaythay sedemikian sikapnja, sungguh membikin hati orang mendjadi dingin."
A Tju sama sekali tidak gubris utjapannja itu, ia malah berseru kepada A Pik.
"He, A Pik, kau dengar tidak, hati Toahwesio ini kedinginan, lengkaslah kau membuat kue mangkok jang hangat2 untuknja."
"Gulanja belum beli, Lothaythay,"
Sahut A Pik dengan menahan geli.
"Pakailah gula batu,"kata A Tju."Tepungnja habis, Lothaythay!"
Sahut A Pik pula.
"Wah, aku benar2 sudah pikun, lantas bagaimana baiknja?"
Udjar A Tju achirnja.
Dasar anak gadis Sohtjiu memang terkenal lintjah dan pintar bitjara, pula kedua dajang tjikik ini se-hari2 sudah biasa bergurau dan saling ber-olok2, keruan tingkah laku mereka ini membuat Tjiumoti benar2 mati kutu.
Maksud kedatangannja ke Sohtjiu ini memangnja berharap dapat berdjumpa dengan Bujung-kongtju untuk berunding sesuatu urusan penting.
Siapa duga orang jang ditjari tidak ketemu, sebaliknja masih bertemu dengan orang2 jang mengotjeh tak keruan hingga membuatnja bingung.
Namun Tay-lun-beng-ong ini benar2 satu tokoh jang hebat, sedikit memikir, segera ia jakin Bujung-lothaythay, Sun Sam, si budak tua dan A Pik itu telah sengadja meritanginja agar tidak dapat masuk perpustakaan "Lang-goan-tjui-kok"
Untuk membatja.
Kini tidak peduli lagi mereka berlagak apapun djuga, asalkan sudah dikemukakan dengan kata2, kelak apakah mesti pakai kekerasan atau setjara halusan, dirinja sendiri sudah lebih dulu dipihak jang benar.
Maka dengan sabar dan ramah iapun berkata.
"Lukisan Lak-meh-sin-kiam-boh itu sekarang djuga sudah Siautjeng bawa. Sebab itulah kumohon dapat diperkenankan pergi membatja ke 'Lang-goan-tjui-kok'."
"Bujung-siansing sudah wafat kini,"
Kata A Pik.
"Pertama djandji lisan itu tak berbukti. Kedua, meski Kiam-boh itu sudah dibawa kemari, tapi tiada seorangpun diantara kami jang paham. Maka sekalipun dahulu ada perdjandjian apa2, dengan sendirinja sudah batal."
Namun A Tju lantas berkata.
"Kiam-boh apakah itu? Dimana? Tjoba kulihat dulu apakah tulen atau palsu!"
"Toan-kongtju ini telah apal semua lukisan Lak-meh-sin-kiam itu,"
Sahut Tjiumoti sambil menundjuk Toan Ki.
"Kini telah kubawanja kemari, maka sama sadja seperti kubawa gambar2 aslinja."
"Huh, kukira Kiam-boh apa segala, kiranja Taysuhu tjuma bergurau sadja,"
Djengek A Pik.
"Siautjeng mana berani sembarangan bergurau?"
Sahut Tjiumoti sungguh2.
"Lak-meh-sin-kiam-boh jang asli itu telah dibakar Koh-eng Taysu di Thian-liong-si, sjukur Toan kongtju ini telah dapat mengapalkan seluruh isinja denga baik" .
"Sekalipun Toan-kongtju benar2 apal, itupun adalah urusannja Toan-kongtju sendiri,"
Udjar A Pik.
"Dan andaikan mesti pergi ke Lang-goan-tjui-kok, jang benar djuga Toan-kongtju jang pantas kesana. Apa sangkutpautnja dengan Taysu?"
"Untuk memenuhi djandji Siautjeng dahulu itu, Siautjeng ingin membakar Toan-kongtju ini dihadapan makamnja Bujung-siansing,"
Kata Tjiumoti. Keruan Semua orang terperandjat oleh utjapan itu. Tapi melihat sikap paderi itu sungguh2 dan sekali2 bukan berkelakar, kedjut merka mendjadi lebih hebat. Maka berkatalah A Tju.
"Ha, bukankah Taysu ini sedang bergurau? Masakah seorang baik2 akan kaubakar hidup2?"
"Ja, Siautjeng hendak membakarnja, rasanja iapun takkan mampu membangkang,"
Sahut Tjiumoti dengan tawar. Segera A Pik berkata pula.
"Taysu bilang Toan-kongtju telah apal semua isi Lak-meh-sin-kiam-boh, njata alasanmu ini sengadja di-tjari2 sadja. Pikirlah betapa lihaynja ilmu Lak-meh-sin-kiam itu, kalau benar2 Toan-kongtju mahir ilmu pedang sakti itu, masakah dia bisa dikalahkan olehmu?"
"Ja, benar djuga utjapanmu ini,"
Sahut Tjiumoti.
"Tapi nona tjuma tahu kepalanja tidak tahu ekornja. Toan-kongtju justeru telah kututuk Hiat-to jang penting, antero tenaga dalamnja tak dapat dikeluarkannja."
Nomun A Tju masih menggeleng kepala, katanja.
"Lebih2 aku tidak pertjaja pada alasanmu ini. Untuk membuktikan kebenarannja, tjoba kau melepaskan Hiat-to Toan-kongtju dan suruhlah dia memainkan Lak-meh-kiam-hoat itu. Tapi kujakin 99% engkau pasti bohong."
Tjiumoti manggut2, sahutnja.
"Baiklah, boleh djuga ditjoba!"
Kiranja waktu datang tadi, karena kesemsem oleh ketjantikan A Pik, pula sangat tertarik oleh njanjiannja jang merdu, maka Toan Ki telah memberi pudjian kepada dajang itu.
Kemudian Toan Ki sudi pula mendjura tiga kali kepada A Tju, hal inipun memperoleh simpatik dajang ini.
Maka demi mendengar Toan Ki tertutuk oleh Tjiumoti, segera kedua dajang tjilik itu sengadja menipu paderi itu supaja melepaskan Hiat-tonja Toan Ki.
Tak tersangka permintaan mereka itu telah diterima setjara mudah oleh Tjiumoti.
Segera paderi itu men-tepuk2 beberapa kali didada, paha dan pundaknja, lalu Toan Ki merasa djalan darahnja lantas lantjar kembali, sedikit ia mengerahkan hawa murninja, terasalah bergerak dengan sempurna.
Ia mentjoba mendjalankan tenaga menurut Tiong-tjiong-kiam-hoat dari Lak-meh-sin-kiam itu, ia tarik tenaga dalamnja ke Tiong-tjiong-hiat didjari tengah kanan, maka terasalah djari itu sangat panas, ia tahu asal sekali djarinja menuding kedepan, djadilah sedjurus tusukan pedang jang lihay.
"Toan-kongtju,"
Demikian Tjiumoti lantas berkata.
"Bujung-lothaythay tidak pertjaja engkau sudah mahir Lak-meh-sin-kiam, maka silahkan engkau mempertundjukannja. Begini, seperti aku menabas sebatang ranting pohon Kui ini."
Habis berkata, dengan telapak tangan kiri ia terus memotong miring kedepan dengan penuh tenaga dalam jang hebat. Itulah satu djurus jang lihay dari "Hwe-yam-to". Maka terdengarlah suara "krak"
Sekali, sebatang ranting pohon jang tjukup besar dan berada dipelataran sana tahu2 telah patah sendiri.
Saking kagetnja sampai Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji mendjerit.
Meski sebelumnja mereka tahu ilmu paderei asing itu sangat lihay lagi aneh, tapi mereka pertjaja palinng2 djuga tjuma sebangsa ilmu sihir dari kalangan hitam.
Tapi kini demi menjaksikan betapa tinggi Lwekangnja jang digunakan untuk menabas ranting pohon dari djauh itu, barulah mereka sadar telah salah sangka.
Maka Toan Ki berkata sambil menggojang kepala.
"Tidak, aku tidak bisa ilmu silat apa2, lebih2 tidak tahu tentang Lak-meh atau Tjhit-meh-kiam-hoat segala. Batang pohon orang jang indah itu kenapa engkau rusak tanpa sebab?"
"Kenapa Toan-kongtju mesti merendah diri,"
Sahut Tjiumoti.
"Diantara djago2 Toan-si di Tayli, engkaulah tokoh nomor satu. Didunia ini ketjuali Bujung-kongtju dan aku sihewshio mungkin tiada seberapa orang lagi jang mampu menandingi engkau. Tapi keluarga Bujung di Koh-soh ini adalah gudangnja ilmu silat didunia ini, bila kau suka pertudjukan beberapa djurus, kalau ada salah, boleh djadi Lothaythay nanti akan memberi petundjuk2 seperlunja, bukankah hal itu nanti akan menguntungkan kau?"
"Toahweshio, sepandjang djalan kau terlalu kasar padaku, kau telah membanting dan menjeret aku kesini, untuk mana aku mandah sadja diperlakukan sesukamu karena aku kalah pada ilmu silatmu. Sebenarnja aku tidak sudi lagi bitjara dengan engkau, namun setiba disini, aku telah dapat menikmati pemandangan indah dengan gadis2nja jang tjantik2, maka rasa dendamku padamu menjadi terhapus djuga. Maka untuk selandjutnja hubungan kita kuputuskan sampai disini, masing2 tidak perlu menggurus masing2" . Diam2 A Pik dan A Tju merasa geli oleh ke-tolol2an Toan Ki itu. Tapi demi mendengar mereka dipudji tjantik, betapapun mereka sangat senang. Lalu Tjiumoti telah berkata.
"Kongtju tidak sudi mengundjukan Lak-meh-sin-kiam, bukankah itu berarti omonganku tadi tjuma bualan belaka?"
"Memangnja mulutmu djuga tidak bisa dipertjaja,"
Sahut Toan Ki.
"Djikalau benar2 engkau ada djandji dengan Bujung-siansing, mengapa tidak dulu2 mengambil Kiam-boh ke Tayli, tapi menunggu setelah Bujung-siansing meninggal, sesudah tiada saksi, barulah engkau bikin rusuh kesini. Hm, kulihat engkau sebenarnja mempunjai maksud2 tertentu, kau kagum pada ilmu silat keluarga Bujung jang hebat, maka sengadja mengarang dongengan2 jang susah dipertjaja untuk menipu Lothaythay, tapi tudjuanmu sebenarnja ingin mengintip kitab2 pusaka adjaran silat dikamar perpustakaan keluarga Bujung ini, dengan begitu engkau akan meradjai dunia persilatan. Tapi, ha, Tjiumoti, kenapa engkau tidak pikir, bahwa nama orang sedemikian gemilangnja didunia persilatan, masakah terhadap sedikit akalmu ini mereka takkan tahu? Pabila tjuma mengandalkan sedikit otjehanmu ini sadja lantas mengira rahasia ilmu silat keluarga Bujung dapat kau tipu, wah, mungkin setiap orang didunia ini akan mendjadi penipu ulung semua?"
Namun Tjiumoti ternjata meng-geleng2 kepala, katanja.
"Tafsiran Toan-kongtju telah salah besar. Meski sudah lama djandji Siautjeng dengan Bujung-siansing itu, soalnja karena selama ini Siautjeng sedang menjepi untuk mejakinkan 'Hwe-yam-to' dan telah sembilan tahun Siautjeng tidak pernah keluar rumah, maka tidak sempat pula mengundjungi Tayli. Dan bila ilmu 'Hwe-yam-to' itu tidak berhasil dijakinkan Siautjeng, mungkin Siautjeng tidak dapat keluar lagi dari Thian-liong-si dengan selamat."
"Toahweshio,"
Kata Toan Ki pula.
"bitjara tentang nama, engkau memang sudah terkenal. Tentang kedudukan, engkau adalah Hou-kok-hoat-ong negeri Turfan, ilmu silatmupun sudah sekian tingginja. Tapi mengapa engkau tidak mau hidup aman tenteram dirumah dengan kedudukanmu jang agung itu, sebaliknja malah datang kesini untuk menipu orang? Kupikir lebih baik engkau lekas pulang sadja."
"Sudahlah, tak perlu banjak omong, pabila Kongtju tidak sudi undjukan Lak-meh-sin-kiam, djanganlah menjalahkan bila Siautjeng berlaku kasar,"
Kata Tjiumoti dongkol.
"Kasar? Memangnja engkau djuga sudah kasar padaku, masakan masih ada pula jang lebih kasar?"
Sahut Toan Ki dengan gusar.
"Ja, paling2 engkau sekali batjok mematikan aku, kenapa aku mesti takut?"
"Kongtju mau menurut kata2 Siautjeng apa tidak?"
Tjiumoti menegas pula."ja, boleh,"
Sahut Toan Ki. Tjiumoti mendjadi girang, katanja.
"Djika begitu, silahkan undjukan ilmu pedangmu jang sakti itu."
"Ilmu pedang sakti? Apa engkau membawa pedang? Boleh djuga dipindjamkan padaku,"
Sahut Toan Ki. Sungguh dongkol Tjiumoti tidak kepalang. Serunja tidak sabar lagi.
"Rupanja Kongtjuya sengadja hendak menghina Siautjeng, ja? Awas serangan!" ~ Berbareng telapak tangan kirinja terangkat miring terus memotong kemukanja Toan Ki dengan tenaga jang kuat. Namun Toan Ki sudah ambil keputusan bandel. Ia tahu ilmu silat orang teramat tinggi, bertempur atau tidak tetap dirinja tak bisa menang. Maksud paderi itu jalah ingin dirinja memainkan Lak-meh-sin-kam untuk membuktikan omongannja bukan bualan belaka, maka ia djusteru tidak sudi memenuhi keinginan orang. Ketika serangan Tjiumoti itu tiba, dengan nekad Toan Ki sama sekali tidak menghindar djuga tidak menangkis. Keruan Tjiumoti jang mendjadi kaget malah. Sudah pasti ia akan membakar Toan Ki didepan kuburan Bujung-siansing, maka ia tidak ingin membunuhnja sejarang djuga dengan tenaga dalam serangannja itu. Tjepat ia angkat tangannja keatas sedikit.
"sret"
Serangkum angin tadjam menjambar lewat diatas kepala Toan Ki hingga setjomot rambutnja terkupas.
Tjui Pek-khe saling pandang dengan Ko Gan-tji dengan terperandjat.
Begitu pula A Pik dan A Tju tidak kurang kedjutan menjaksikan ilmu sakti paderi itu.
"Apakah Toan-kongtju lebih suka korbankan djiwa daripada memenuhi permintaan Siautjeng?"
Tanja Tjiumoti dengan menjesal. Toan Ki memang sudah tidak pikirkan mati atau hidup, maka sahutnja dengan tertawa.
"Haha. Toahweshio sama sekali masih belum hilang daripada segala matjam pikiran keduniawian, mengada ada harganja disebut paderi saleh, huh, benar2 nama kosong belaka."
Tjiumoti tidak meladeni otjehan Toan Ki lagi, tapi mendadak serangannja ditudjukan kepada A Pik sambil berkata.
"Maaf, terpaksa kukorbankan dulu seorang budak dari keluarga Bujung ini!"
Sungguh kaget A Pik tak terkatakan oleh serangan mendadak itu, tjepat ia berkelit.
"brak" , kursi dibelakangnja seketika hantjur ber-keping2 oleh tenaga pukulan Tjiumoti. Bahkan golok tangan kanan Tjiumoti jang lain menjusul memotong pula, sjukurlah A Pik sempat djatuhkan diri kelantai dan menggelundung kesamping dgn tjepat, namun begitu keadaannjapun sangat mengenaskan. Pada saat lain, mendadak Tjiumoti menggertak sekali, golok tangan ketiga kembali dibatjokan pula. Saking takutnja sampai muka A Pik mendjadi putjat, meski gerak-geriknja sangat tjepat, tapi ia mendjadi bingung djuga menghadapi batjokan tenaga dalam jang tak kelihatan itu. Hubungan A Tju dengan A Pik bagai saudara sejandung, melihat kawannja terantjam bahaja, tanpa pikir lagi A Tju terus angkat tongkatnja dan menghantam kepunggung Tjiumoti. Dalam samarannja baik djalannja maupun bitjaranja, lagak-lagunja A Tju memang mirip benar seorang nenek rejot. Tapi kini dalam keadaan gugup dan buru2, gerak tubuhnja mendjadi sangat gesit dan tjepat sekali. Maka sekilas pandang sadja Tjiumoti sudah dapat melihat rahasianja A Tju itu, katanja dengan tertawa.
"Haha, masakah didunia ini ada lah seorang nenek2 berumur tjuma belasan tahun? Emangnja kau sangka Hwesio dapat engkau bohongi terus?" ~ Berbareng telapak tangannja membalik dan menghantam.
"krak" , tongkat A Tju itu kontan tergetar patah mendjadi tiga potong. Menjusul serangan Tjiumoti dilontarkan pula kearah A Pik. Dalam gugup dan kuatirnja, terus sadja A Pik sambar medja disampingnja untuk memapak serangan orang.
"Prak-prak. dua kali, medja jang terbuatdari kaju gaharu seketika petjah berantakan, tinggal dua kaki medja jang masih terpegang ditangannja A Pik. Melihat A Pik sudah terdesak mendempel dinding, untuk mundur lagi sudah buntu, hendak laripun susah, sementara itu serangan Tjiumoti telah dilantjarkan pula. Toan Ki takbisa tinggal diam lagi, jang dia pikir hanja lekas2 menolong sigadis, tak terpikir lagi olehnja bahwa dirinja sekali2 bukan tandingan Tjiumoti. Maka tjepat djari tengah kanan terus menuding kedepan, tenaga dalamnja lantas memantjar keluar melalui "
Tiong-tjiong-hiat"
Diudjung djari dengan suara mentjitjit, itulah Tiong-tjiong-kiam-hoat dari Lak-meh-sin-kiam jang lihay.
Sebenarnja Tjiumoti tiada maksud membunuh A Pik, tudjuannja tjuma hendak memantjing Toan Ki ikut turun tangan.
Bila dia hendak benar2 membunuh, mana A Pik mampu menghindari "Hwe-yam-to-hoat"
Jang tanpa wudjut dan lihay luar biasa itu?
Melihat Toan Ki telah tertipu olehnja dan turun tangan, segera Tjiumoti membaliki tangannja berganti menjerang A Tju.
Begitu hebat tenaganja, dimana angin tabasannja tiba, tampaklah A Tju ter-hujung2, badju bagian pundaknja terus sobek djuga, gadis itu mendjerit kaget sekali.
Tjepat Toan Ki menolong pula, djari ketjil tangan kiri terus menusuk kedepan dengan "Siau-tik-kiam"
Untuk menangkis "Hwe-yam-to"
Musuh.
Dengan demikian, A Tju dan A Pik terhindar dari bahaja, tapi sebaliknja Toan Ki jang harus melajani serangan2 Hwe-yam-to-hoat si Tjiumoti dengan Lak-meh-sin-kiam.Pertama Tjiumoti sengadja hendak pamer kepandaiannja, kedua ingin orang lain menjaksikan bahwa Toan Ki benar2 mahir "Lak-meh-sin-kiam"
Jang dikatakan tadi.
Maka ia sengadja mengeluarkan lwekangnja untuk saling bentrok dengan tenaga dalam Toan Ki hingga menerbitkan suara mentjitjit.
Dengan menghimpun tenaga dalam dari berbagai tokoh kelas wahid jang pernah disedotnja dengan Tju-hop-sin-kang, sebenarnja tenaga Toan Ki sekarang sudah lebih kuat daripada Tjiumoti, Tjelakanja dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat, Kiam-hoat jang dipahaminja di Thian-liong-si itu djuga tjuma diapalkannja setjara mati dan kaku, sedikitpun takbisa digunakan dengan hidup.
Maka dengan mudah sadja Tjiumoti dalam mempermainkannja dan ber-ulang2 memantjing tusukan djarinja itu hingga papan2 pintu dan djendela ber-lulang2 oleh tenaga dalam Toan Ki jang hebat, berbareng ia terus mengotjeh.
"Wah, sungguh hebat Lak-meh-sin-kiam ini, pantas mendiang Bujung-siansing memudjinja setinggi langit."
Tjui Pek-khe djuga ternganga heran, pikirnja.
"Kukira Toan-kongtju ini sama sekali tidak mengarti ilmu silat, siapa tahu ia memiliki ilmu sehebat ini. Toan-si dari Tayli benar2 tidak bernama kosong. Untung ketika meneduh di Tin-lam-ong-hu dahulu aku, tidak pernah berbuat sesuatu jang djahat, kalau tidak, masalah aku dapat keluar dari istana itu dengan hidup?" ~ Makin dipikir ia makin merinding sampai djidatnja penuh berkeringat dingin. Setelah menempur Toan Ki sebentar, kalau mau, sebenarnja setiap djurus dan setiap waktu Tjiumoti dapat mematikan pemuda itu, tapi seperti kutjing memain tikus sadja, ia sengadja menggoda Toan Ki agar mengeluarkan djurus2 Lak-meh-sin-kiam. Tapi sesudah lama, lambat laun hilanglah rasa memandang rendah Tjiumoti, ia merasa Kiam-hoat jang dimainkan pemuda itu sesungguhnja lain dari jang lain, tjuma entah mengapa, dimana letak kelihayannja sama sekali takdapat digunakan oleh Toan Ki. Djadi seperti seorang anak ketjil meski dibekali harta ber-djuta2 toh tidak tahu tjara bagaimana menggunakannja.
Jilid 9 Setelah bergebrak beberapa djurus lagi, tiba2 pikiran Tjiumoti tergerak.
"Pabila kelak timbul ilhamnja dan mendadak ia sadar serta memahami kuntji kemudjidjatan ilmu silatnja ini, ditambah lagi tenaga dalamnja dan Kiam-hoat jang bagus ini, pastilah akan merupakan satu lawan tangguh paling lihay bagiku!"
Toan Ki sendiri djuga sudah sadar bahwa mati-hidupnja sekarang tergantung dibawah tangan Tjiumoti, tjepat ia berseru.
"A Tju dan A Pik berdua Tjitji, lekaslah kalian melarikan diri, kalau terlambat mungkin tidak keburu lagi."
"Mengapa engkau bersedia menolong kami, Toan-kongtju?"
Tanja A Tju.
"Hwesio ini mengagulkan ilmu silatnja jang tinggi, maka suka malang-melintang menghina orang lain. Tjuma sajang aku tidak paham ilmu silat, susah untuk melawannja, lekaslah kalian melarikan diri!"
"Tapi sudah terlambat!"
Seru Tjiumoti tiba2 dengan tertawa.
Ia melangkah madju setindak, djari tangan kiri terus mendjulur hendak menutuk Toan Ki.
Toan Ki mendjerit kaget dan bermaksud menghindari namun sudah terlambat.
Tiga Hiat-to penting diatas tubuhnja sekaligus telah tertutuk, seketika kakinja terasa lemas terus roboh kelantai.
Akan tetapi ia masih ber-teriak2 pula.
"A Tju, A Pik, lekas kalian lari, lekas!"
"Hm, djiwamu sendiri tak terdjamin masih ada pikiran untuk mengurusi orang lain?"
Djengek Tjiumoti sambil kembali ketempat duduknja. Lalu katanja kepada A Tju.
"Nona inipun tidak perlu lagi main sandiwara segala. Sebenarnja siapa jang berkuasa dirumah ini, lekas katakan? Toan-kongtju ini telah apal Lak-meh-kiam-boh dengan lengkap, tjuma ia tidak mengarti ilmu silat, maka takdapat menggunakannja. Besok djuga aku akan membakarnja dihadapan kuburan Bujung-siansing, pabila Bujung-siansing mengetahui dialam baka, tentu beliau akan dapat memahami pula bahwa sobat lamanja ini telah memenuhi djandji dengan baik" . A Tju tahu dipondok Khim-im-tjing-sik ini tiada seorangpun jang mampu menandingi sihwesio. Tapi segera ia mendapat akal, katanja dengan tertawa.
"Baiklah, Toahwesio. Sekarang kami sudah pertjaja, kami akan membawa engkau kemakam Loya, tapi perdjalanan kesana memerlukan waktu satu hari, harini sudah tidak keburu lagi, besok pagi2 biarlah kami berdua menghantar sendiri bersama Toahwesio dan Toan-kongtju berziarah kemakam Loya. Kini kalian berempat silahkan mengaso, sebentar harap makan malam seadanja."
Habis berkata, ia gandeng tangannja A Pik terus masuk keruangan belakang.
Memandangi bajangan kedua gadis djelita itu, Toan Ki tjuma dapat tersenjum getir sadja.
Selang satu djam kemudian, seorang budak laki2 keluar memberitahu.
"Nona A Pik mengundang tuan2 berempat menghadiri perdjamuan sederhana di Thing-uh-ki!"
Tjiumoti menjatakan terima kasih, segera ia pegang tangannja Toan Ki dan mengikuti hamba itu kebelakang dengan disusul oleh Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji.
Setelah menjusur sebuah djalanan ketjil jang berlika-liku dengan batu2 ketjil jang berserakan, achirnja sampailah ditepi sebuah danau.
Dibawah pohon Liu tampak tertambat sebuah perahu ketjil.
"ltu, disana!"
Kata hamba tadi sambil menuding kearah sebuah rumah ketjil jang dikelilingi air danau.
Segera Tjiumoti, Toan Ki, Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji berempat melangkah kedalam perahu, lalu hamba itu mendajung perahunja kedjurusan rumah ketjil itu.
Sesudah dekat, kiranja ,Thing-ah-ki' atau villa mendengarkan hudjan jang dimaksudkan itu dibangun dengan pohon2 Siong jang tak terkupas kulitnja, mungil dan indah seperti buatan alam.
Setelah mendarat, Toan Ki melihat A Pik sudah berdiri didepan rumah menantikan kedatangan tamu2nja, Kini gadis itu memakai badju hidjau pupus, berbedak tipis dengan yantji jang ke-merah2-an.
Disampingnja berdiri pula seorang gadis tjilik lain berusia sebaja dengan A Pik, berbadju merah dadu, dengan sikapnja jang lintjah dan nakal sedang memandang Toan Ki dengan tersenjum-simpul.
Kalau raut muka A Pik berbentuk bulat telur, adalah gadis djelita ini berbentuk bundar bagai bulan purnama, bidji matanja hitam lekat dengan kerlingannja jang tadjam hingga mendjadikan ketjantikannja mempunjai daja penarik jang tersendiri.
Begitu Toan Ki menghampiri, segera tertjium olehnja bau harum jang halus.
Tanpa pikir lagi terus sadja ia menegur dengan tertawa.
"Entji A Tju, sungguh tidak njana gadis tjilik jang tjantik seperti engkau ini ternjata djuga pandai memainkan peranan sebagai nenek2!"
Gadis djelita disamping A Pik itu memang benar A Tju adanja. Ia melirik Toan Ki sekedjap, lalu sahutnja dengan tersenjum.
"Engkau telah mendjura tiga kali padaku, sekarang engkau menjesal bukan?"
"Tidak, tidak!"
Sahut Toan Ki sambil menggeleng kepala.
"Aku djusteru merasa perbuatanku itu tjukup berharga. Tjuma terkaanku sadja jang agak meleset."
"Terkaan apa jang meleset?"
Tanja A Tju.
"Sedjak mula aku sudah menduga bahwa Entji sendiri pasti serupa Entji A Pik, sama2 gadis tjantik jang djarang terdapat didunia ini."
Udjar Toan Ki.
"Tjuma dalam anggapanku, kujakin Entji akan tidak banjak berbeda daripada Entji A Pik. Siapa tahu sesudah bertemu muka, ternjata......... ternjata............"
"Ternjata djauh kalah dibandingkan A Pik, bukan?"
Sela A Tju dengan tjepat. Sebaliknja A Pik ikut menjeletuk djuga.
"Ternjata berpuluh kali lebih tjantik dariku hingga engkau terpesona, bukan?"
"Bukan, bukan! Salah semua!"
Sahut Toan Ki.
"Kupikir Tuhan ini memang maha adil, sudah mentjiptakan gadis tjantik seperti entji A Pik, siapa duga mentjiptakan pula gadis tjantik jang lain seperti entji A Tju. Raut muka keduanja sama sekali berbeda, tapi sama2 bagusnja, sama2 menariknja, hatiku ingin mengutjapkan pudjian2 kepadamu, tapi mulutku djusteru susah mengutjapkannja sepatahkatapun."
"Tjis!"
Semprot A Tju dengan tertawa.
"Engkau sudah mentjerotjos sepandjang lebar ini, tapi mengatakan susah mengutjapkan sepatahkatapun?"
Kalau A Tju bitjara dengan lintjah dan terus mentjomel, adalah A Pik lantas berkata dengan lemah lembut.
"Atas kundjungan tuan2 ketempat kami jang sunji ini, tiada sesuatu jang dapat kami persembahkan, hanja tersedia sedikit arak tawar dan sekedar makanan jang terdapat didaerah Kanglam sini."
Lalu iapun mempersilahkan tetamunja mengambil tempat duduk masing2, ia bersama A Pik mengiringinja semedja.
Melihat tjangkir, mangkok dan alat2 perkakas jang disediakan itu terdiri dari benda halus semua, diam2 Toan Ki sudah lantas memudji.
Ketika kemudian pelajan laki2 menjuguhkan penganan penghantar, menjusul lantas masakan2 panas seperti "Leng-pek-he-djin"
Atau udang goreng sawi putih.
"Ho-yap-tang-sun-theng"
Atau rebung muda masak daun teratai kuah.
"Eng-tho-hwe-tui"
Atau buah tho masak ham.
"Hwe-hoa-keh-ting"
Atau bunga Bwe masak ajam, dan matjam2 lagi, setiap masakannja sangat istimewa dan lain daripada jang lain, ditengah udang, ikan, daging dan lain2 ditjampur dengan buah2an dan bunga2an, warnanja indah daun rasanja lezat, dengan sendirinja membawa sematjam bau harum dan rasa jang sedap.
Keruan jang tidak habis2 memberi pudjian adalah Toan Ki, katanja sambil tidak lupa melangsir makanan dihadapannja kedalam mulut.
"Adatempat seindah ini, barulah ada manusia sepandai ini.Ada orang sepandai ini barulah dapat menjuguhkan makanan seenak ini."
"Eh, tjoba engkau terka, makanan ini adalah masakanku atau masakan A Pik?"
Tanja A Tju dengan tertawa.
"Eng-tho-hwe-tui dan Bwe-hoa-keh-ting itu kujakin adalah entji jang memasaknja,"
Sahut Toan Ki tanpa pikir.
"Dan Ho-yap-tang-sun-theng, Leng-pek-he-djin dan lainnja tentulah entji A Pik jang membuatnja."
"Ehm, engkau memang pintar,"
Seru A Tju dengan tertawa.
"Hai, A Pik, tjara bagaimana kita harus memberi hadiah kepada kepandaiannja ini?"
Dengan tersenjum A Pik menjahut.
"Toan-kongtju ingin apa, sudah tentu kita akan menurut sadja, masakah pakai memberi hadiah apa segala, kaum hamba seperti kita masak ada harganja untuk bitjara demikian?"
"Aduh, dasar mulutmu ini memang pandai memikat hati orang, pantas setiap orang memudji kebaikanmu dan mengatakan aku djahat,"
Kata A Tju.
"Jang satu lembah lembut, jang lain lintjah gembira, keduanja sama2 baik."
Udjar Toan Ki dengan tertawa.
"Entji A Pik, didalam perahu siang tadi engkau telah memetik sebuah lagu dengan sendjata rujung milik Ko-toaya, suara tetabuhan itu sampai saat ini se-akan2 masih mengiang ditelingaku. Pabila nona tidak keberatan, kumohon sudilah engkau memperdengarkan beberapa lagu pula dengan alat tetabuhan jang sungguh2, untuk mana andalkan besok aku harus mendjadi abu dibakar oleh Toahwesio ini, rasaku takkan ketjewalah selama hidup ini."
"Djika Kongtju sudi mendengarkan, sudah tentu aku akan memainkannja sekedar menghibur tuan2 tamu,"
Sahut A Pik terus berbangkit menudju keruangan belakang.
Waktu keluar pula, ia membawa sebuah Khim atau harpa.
Toan Ki heran melihat Khim jang djauh lebih ketjil daripada Khim umumnja, bahkan senarnja djuga tidak tudjuh, tapi ada sembilan senar dengan warna2 jang ber-beda2.
A Pik mengambil tempat duduk disuatu bangku ketjil, ia taruh harpa itu diatas pangkuannja, lalu katanja kepada Tjiumoti.
"Harap Toasuhu memberi petundjuk nanti!"
"Ah, djangan sungkan2", sahut Tjiumoti. Dalam hati ia mendjadi tjuriga.
"Mengapa dia menjatakan hendak minta petundjuk padaku?"
Dalam pada itu kedua tangan A Pik jang putih bersih bagai saldju itu telah mulai beraksi, kelima djari kirinja menekan pelahan2 diatas senar, sekali djari tangan kanan memetik, terdengarlah suara "tjrang-tjreng"
Jang njaring merdu. Meski Toan Ki sama sekali tidak paham ilmu silat, tapi dalam hal "Su-wah-khim-ki"
Atau seni tulis, seni lukis, seni musik (khim) dan seni tjatur, semuanja ia mahir Maka begitu mendengar suara pembukaan jang dipetik A Pik itu, segera ia mengetahui bahwa kesembilan senar khim itu terbuat dari bahan2 jang ber-beda2.Ada senar badja, ada pula senar tembaga, ada djuga senar benang biasa.
Jang keras teramat keras, jang lemas sangat lemas.
Hanja beberapa kali A Pik memetik pelahan, suara harpa itu sudah mulai mengalun dengan lambat, makin lama makin ulem, hingga keempat pendengarnja itu merasa kelopak matanja mendjadi berat, rasanja mendjadi kantuk dan ingin terus tidur.
Tjui Pek-khe adalah tokoh jang luas pengalamannja dan tjerdik, ia kenal betapa litjiknja orang Kangouw.
Maka begitu memasuki perkampungan keluarga Bujung, setiap saat ia selalu waspada.
Waktu matanja merasa sepat dan lajap2 akan pulas, mendadak ia tersadar.
"Tjelaka! Kiranja budak setan ini sedang merantjangkan sesuatu untuk menggasak kami." — Segera ia berseru. ,.Awas, Ko-Hiantit, banjak orang Kangouw jang berdjiwa kedji dan banjak tipu muslihatnja jang serba aneh, engkau harus hati2 dan waspada."
Ko Gan-tji meng-angguk2 dan menjahut dengan samar-samar.
"Benar ! Sampai ketemu besok pagi!" — Habis berkata, ia terus menguap. Kuapan Ko Gan-tji ini ternjata mempunjai daja menular, seketika Tjui Pek-khe dan Toan Ki ikut menguap dengan pikiran sudah mulai me-lajap2, jang terdengar hanja suara khim jang ulem merdu, sekelilingnja terasa sunji senjap, setiap orang merasakan tubuh sudah penat dan ingin tidur, kalau bisa tubuh hendak terus selondjor dan terpulas segera. Pada saat itulah, se-konjong2 terdengar "tjring"
Sekali, dada Toan Ki serasa diketok sekali dan "Thian-ti-hiat"
Disamping ketiak seketika lantjar kembali dari tutukan Tjiumoti tadi.
Sungguh girang dan kedjut Toan Ki tak terkatakan, ia masih menjangka kalau tutukan Tjiumoti tadi kurang keras hingga Hiat-to jang tertutuk itu tidak buntu seluruhnja, maka sesudah lewat sekian lamanja, djalan darahnja lantas lantjar dengan sendirinja.
Tak terduga senar harpa A Pik kembali dipetik sekali pula.
"tjring", lagi2
"Pek-hou-hiat"
Dipunggungnja telah lantjar pula dengan sendirinja.
Ketika Toan Ki mentjoba mengerahkan tenaga dalamnja, ia merasa separoh tubuhnja bagian atas sudah dapat bergerak dengan bebas, djalan darahnjapun lantjar tanpa suatu rintangan apa-apa lagi.
Baru sekarang ia tahu suara harpa A Pik itu dapat mengadakan kontak dengan hawa murni dalam tubuh orang dan mampu melantjarkan djalan darah.
Selang sebentar, Hiat-to dikaki jang tertutuk djuga terbuka semua mengikuti bunji harpa.
Dengan ter-mangu2 Toan Ki memandangi A Pik, hatinja merasa terima kasih tak terhingga.
Ia lihat A Pik masih terus memetik harpanja dengan penuh perhatian, disampingsana terdengar suara orang mendengkur dengan keras, Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji sudah tertidur njenjak.
Sebaliknja Tjiumoti masih tetap duduk dengan tenang, tampak djelas sedang mengerahkan Lwekang untuk melawan suara harpa si A Pik.
Tidak lama kemudian, Toan Ki melihat djidat A Pik mulai berkeringat, diatas kepalanja lapat2 mulai menguap.
Sebaliknja Tjiumoti masih tetap tenang dengan wadjah mengulum senjum dan muka berseri-seri.
Diam2 Toan Ki mendjadi kuatir.
"Pabila suara harpa si A Pik tak dapat mengatasi kekuatan sihwesio ini hingga malah kena dilukai olehnja, lantas bagaimana baiknja nanti ?"
Pada saat jang genting itulah, tiba2 terdengar A Tju menjanji dengan suaranja jang merdu, lagunja .
"Angin men-desir2 dingin disungai Ih, sekali pergi sang pahlawan tak kembali lagi!"
Suara harpanja sangat ulem dan halus, sebaliknja suara njanjian gagah penuh semangat, keduanja sama sekali tidak seirama.
Toan Ki mendjadi heran.
Tapi ber-ulang2 A Tju terus membolak-balik menjanjikan lagu "Angin men-desir2........."
Hingga tiga kali.
Toan Ki melihat tangkai bunga jang tersunting diatas sanggul A Pik tiada hentinja bergemetar, bibir sigadis jang tadinja merah dadu kinipun mulai putjat.
Hati Toan Ki tergerak, mendadak ia sadar .
"Ah, tahulah aku. Sebabnja A Tju menjanjikan kedua kalimat lagunja itu. maksudnja minta aku menirukan perbuatan Keng Ko membunuh radja Tjin didjaman Tjiankok. Ja, tenaga dalam A Pik sudah terang bukan tandingan sihwesio, kalau bertahan lebih lama lagi mungkin akan terluka dalam jang parah."
Diam2 Toan Ki mulai mengapalkan kembali Lak-meh-sin-kiam, ia tjoba mendjalankan tenaga dalamnja dan terasa lantjar tanpa sesuatu rintangan.
Tjuma sedjak ketjil ia telah mendapat peladjaran paham Khongtju dan Budha jang menjuruh setiap manusia harus berlaku badjik dan welas-asih kepada sesamanja, karena itu ia mendjadi ragu2 untuk menjerang, ia pikir seorang laki2 harus bertindak setjara terang-terangan, kalau menjerang orang setjara mendadak dan diluar pendjagaan, rasanja terlalu kotor dan rendah.
Tengah Toan Ki ragu2 itulah, se-konjong2
"tjreng"
Sekali, seutas senar harpa si A Pik telah putus, tubuh gadis itupun tergeliat sedikit, suara njanjian A Tju djuga berhenti mendadak, sepasang sumpit jang terpegang ditangannja segera siap hendak ditusukkan kearah Tjiumoti.
Menjusul terdengar pula suara "tjring"
Sekali, kembali seutas senar harpa A Pik putus.
Berbareng Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji telah berseru kaget, keduanja sama2 terdjaga bangun.
Toan Ki insaf keadaan sudah sangat mendesak, diam2 ia menggumam.
"Demi menolong orang, terpaksa aku harus berlaku pengetjut sebentar" . — Terus sadja ia angkat tangan kanan, dengan djari telundjuk dan djari tengah ia atjungkan kearah Tjiumoti.
"tjus-tjus" , seketika dua arus kekuatan jang tak kelihatan menusuk dengan tjepat. Itulah dua djurus serangan dari "Siang-yang-kiam"
Dan "Tiong-tjiong-kiam"
Jang lihay.
Apabila Tjiumoti lagi bertanding berhadapan dengan Toan Ki, betapapun tjepatnja serangan itu pasti akan dapat dipatahkan olehnja.
Tapi kini Tjiumoti menjangka Hiat-to pemuda jang telah ditutuknja itu masih bekerdja, untuk sementara ini pemuda itu terang tak dapat berbuat apa-apa, maka antero perhatiannja telah ditjurahkan untuk menempur suara harpa si A Pik.
Tatkala itu Tjiumoti sudah mulai diatas angin dan A Pik sudah terdesak, ia sudah berusaha mengatjaukan suara harpa untuk membingungkan pemusatan pikiran A Pik, kemudian suara harpa segera akan diperalat olehnja untuk melukai A Tju sekalian.
Sama sekali tak terduga olehnja bahwa Toan Ki bisa mendadak menjerang dengan Lak-meh-sin-kiam.
Dalam kagetnja Tjiumoti bersuit pandjang Sembari melontjat keatas.
"brak" , sekaligus senar harpa si A Pik djuga putus lima utas Menjusul tertampaklah darah mengutjur dibadan Tjiumoti, Bu-heng-sin-kiam atau pedang sakti tak berwudjut jang dilontarkan Toan Ki ternjata berhasil menusuk dibahu kanannja. Tjepat sekali A Pik terus tarik A Tju dan tangan lain menggandeng Toan Ki, sekali kakinja mengendjot, ketiga orang sudah melajang keluar melalui djendela pondok diatas air itu dan tepat turun kedalam perahu jang tertambat ditepi gili2. Segera A Tju menjuruh Toan Ki mendekam kedalam perahu, ia sendiri sambar penggajuh perahu terus didajung tjepat ketengah danau. Maka terdengarlah suara "plang-plung"
Jang keras, perahu ketjil itu sampai terombang-ambing bagai didampar ombak raksasa ditengah samudera, air danau mentjiprat kedalam perahu hingga Toan Ki basah kujup.
Waktu ia mendongak, ia melihat Tjiumoti berdiri ditepi gili2 sedang menimpukan medja batu, bangku batu dan sebagainja, untung A Tju tjukup tjekat dan dapat mendajung dengan tjepat, pula Tjiumoti telah terkena pedang tanpa wudjut dari Toan Ki tadi hingga lukanja tjukup parah, tenaganja banjak berkurang, maka timpukan2nja tiada satupun jang tepat mengenai perahu itu.
Namun begitu A Tju terkedjut djuga oleh ketangkasan sihwesio itu, Diam2 ia bersjukur dapat terlolos dari bahaja.
Sekuatnja ia mendajung lebih djauh pula hingga dapat diduga Tjiumoti tidak dapat mentjandak mereka lagi.
"Toan-kongtju,"
Kata A Pik kemudian.
"terima kasih atas pertolonganmu tadi, kalau tidak, saat ini tentu aku sudah terbinasa ditangan sihwesio itu."
"Akulah jang harus berterima kasih kepadamu,"
Sahut Toan Ki.
"Hwesio itu berani berkata berani berbuat, bukan mustahil aku benar2 akan dibakar hidup2 olehnja."
"Sudahlah, tidak perlu lagi terima kasih kesini dan terima kasih kesana, apakah kita dapat lolos dari kekedjaman paderi itu saat ini masih belum dapat dipastikan,"
Udjar A Tju. Pada saat itu djuga Toan Ki mendengar ada suara tersiahnja air, ada perahu sedang didajung kearah sini, segera katanja.
"Benar djuga, Hwesio itu sedang mengedjar kemari!"
Karena pertarungan Lwekang tadi, keadaan A Pik sudah sangat lelah, seketika tenaganja belum dapat dipulihkan, ia tjuma bersandar didinding perahu, katanja.
"A Tju Tjitji, marilah kita menjingkir sementara ketempat Liok-toaya sadja."
"Ja, terpaksa begitulah,"
Sahut A Tju dengan mendongkol.
"sungguh sial dangkalan, tentu kita akan ditertawai Liok-toaya lagi bahwa ilmu silat kita tak berguna, baru ketemukan musuh sudah lantas lari berlindung kerumahnja. Hidup kita selandjutnja pasti akan selalu dibuat buah tertawa olehnja."
Toan Ki sendiri sedjak tenaga dalamnja bertambah kuat, daja pendengarannja mendjadi sangat tadjam pula.
Ia dapat mendengar perahu jang sedang mengedjar mereka itu sudah makin mendekat.
Tjepat sadja iapun sambar penggajuh lain dan bantu mendajung.
Bertambah tenaga seorang, meluntjur perahu mereka mendjadi seperti anak panah terlepas dari busurnja, djarak dengan perahu pengedjar itupun makin lama semakin mendjauh.
"Kepandaian Hwesio itu sesungguhnja luar biasa, kalau kedua Tjitji jang masih muda belia dikalahkan olehnja, kenapa mesti di buat pikiran, apa jang mesti dimainkan?"
Udjar Toan Ki kemudian. Hlm 11. Gambar "Tjelaka! Hwesio itu sedang mengedjar kemari!"
Seru Toan Ki dengan kuatir. Tjepat ia sambar penggajuh lain dan bantu mendajung sekuatnja. Tiba2 dari djauhsana terdengar suara seruan orang.
"Wahai, A Tju dan A Pik! Kembalilah kalian, lekas! Hwesio adalah sobat baik Kongtju kalian, pasti takkan bikin susah kalian!" — terang itulah suaranja Tjiumoti, utjapannja itu kedengaran sangat lemah lembut dan bersahabat hingga menimbulkan daja penarik jang susah ditahan orang, rasanja segera akan menurut apa jang dikatakan itu. A Tju tertegun djuga oleh seruan itu, katanja.
"Dia menjerukan kita kembali kesana dan menjatakan takkan membikin susah kita." — Sembari berkata, ia memberhentikan dajungnja dengan pikiran tergerak dan bermaksud memenuhi permintaan Tjiumoti itu. Bahkan A Pik lantas ikut menjokong pula.
"Djika begitu, marilah kita kembali kesana!"
Sjukur tenaga dalam Toan Ki sangat kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh seruan Tjiumoti jang membawa daja penarik itu, tjepat ia berkata.
"Djangan kalian pertjaja, ia sengadja hendak menipu kalian!"
Namun suara Tjiumoti jang halus dan enak didengar itu kembali berkumandang pula.
"Kedua nona tjilik A Tju dan A Pik. Kongtju kalian telah pulang dan sedang mentjari kalian, maka lekaslah mendajung kembali, lekaslah kembali!"
"Baiklah!"
Kata A Tju tiba2 terus angkat penggajuhnja untuk membilukan arah perahu. Toan Ki mendjadi kuatir. Diam2 ia memikir .
"Djika benar Bujung-kongtju sudah pulang. ia sendiri tentu akan memanggil A Tju dan A Pik, kenapa mesti sihwesio jang memanggilkan ? Tentu suaranja itu adalah sematjam ilmu penggoda sukma orang jang sangat lihay."
Tjepat Toan Ki menjobek dua potong udjung badjunja untuk menjumbat telinga A Tju, lalu menjumbat pula telinganja A Pik. Setelah tenangkan diri sedjenak, segera A Tju berseru kaget, katanja.
"Wah, hampir sadja kita terdjebak!"
"Ja, Hwesio itu dapat menggunakan Liap-hun-tay-hoat (ilmu sakti mentjabut sukma, sebangsa hipnotis). hampir kita masuk perangkapnja" , seru A Pik. Segera A Tju mendajung sekuatnja lagi, katanja .
"Toan-kongtju, lekaslah mendajung, tjepat!"
Kedua orang terus mendajung dengan gotong-rojong hingga dalam sekedjap suaranja Tjiumoti sudah tak terdengar pula.
Toan Ki lalu memberi tanda agar sumbat telinga kedua nona itu dibuka.
Sambil menepuk dada sendiri A Tju berkata sambil menarik napas lega .
"Selamatlah sekarang. Tapi lantas bagaimana selandjutnja ?"
"Entji A Tju", kata A Pik.
"djika kita berlindung ketempat Liok-toaya di Siau-thian-djun, bila nanti sihwesio djuga menguber kesana, tentu ia akan bergebrak dengan Liok-toaya dengan sengit."
Benar, dan bila terdjadi begitu, tentu runjam,"
Sahut A Tju.
"Meski ilmu silat Liok-toaya tjukup tinggi, tapi tampaknja masih kalah dengan kepandaian sihwesio jang aneh dan litjin itu. Marilah begini sadja, biarlah kita terus main kutjing2-an didanau jang luas ini, kita terus berputar menghindari pengedjarannja. Kalau kita lapar, kita bisa petik Lengkak dan ubi teratai untuk tangsal perut, meski harus bertahan sampai 10 hari atau setengah bulan dengan dia djuga kita sanggup."
"Baiklah, terserah kepada keinginanmu,"
Udjar A Pik dengan tersenjum.
"Tjuma entah bagaimana dengan pendapat Toan-kongtju ?"
"Haha, djusteru itulah melebihi harapanku,"
Sahut Toan Ki sambil bertepuk tangan kegirangan."
Pemandangan danau ini indah permai, ditambah ada kawan dua nona tjantik, djangankan tjuma pesiar untuk setengah bulan.
sekalipun untuk selamanja djuga aku akur, hidup demikian biarpun malaikat dewata djuga tidak sebahagia ini!"
A Pik tersenjum geli oleh banjolan pemuda itu, katanja pula .
"Dari sini menudju kearah tenggara banjak sekali terdapat muara sungai dan teluk, ketjuali nelajan setempat djarang jang apal perdjalanan disekitar sini. Pabila kita sudah dapat memasuki Pek-kiok-ou' (danau beratus muara) itu, betapapun sihwesio itu takkan dapat menemukan kita lagi."
Dengan girang terus sadja Toan Ki mendajung lebih giat, tidak lama sampailah mereka ditengah danau jang banjak terdapat muara sungainja.
Pabila ketemukan simpang djalan begitu, terkadang A Tju dan A Pik djuga perlu berunding lebih dulu barulah dapat menemukan arah mana jang harus ditempuh.
Dengan begitulah perahu mereka telah meluntjur hingga satu dua djam lamanja.
Tiba2 hidung Toan Ki mengendus sematjam bau harum bunga jang aneh, waktu mentjium mula2 kepalanja merasa pening, tapi lantas terasa sangat enak dan segar pula.
Semakin kedepan perahu mereka, harum bunga itu semakin keras.
"Kedua Tjitji, bunga apakah jang harum itu ? Kenapa aku tidak pernah mentjium bau harum begini dinegeri Tayli kami?"
Tanja Toan Ki. Tiba-tiba A Pik membisikinja;
"Djangan engkau tanja, kita harus lekas2 meninggalkan tempat ini."
Toan Ki mendjadi heran oleh suara sinona jang rada gugup dan kuatir itu. Dalam pada itu didengarnja A Tju djuga sedang berkata dengan lirih.
"Akulah jang tersesat. Tapi engkau berpendapat lebih tepat membiluk kearah kiri, tapi aku berkeras menjatakan kearah kanan, dan njatanja aku telah salah djalan. A Pik, engkau sudah jakin arahmu jang tepat, mengapa engkau menuruti arahku ?"
"Waktu itu aku sendiripun ragu2, kupikir djangan2 arahmu jang benar,"
Sahut A Pik dengan gegetun.
Kini semangat A Pik sudah pulih kembali, ia ambil penggajuh dari tangan A Tju dan menggantikannja mendajung.
Mendengar pertjakapan kedua nona itu, Toan Ki menduga dibalik bau harum bunga jang aneh itu tentu terdapat sesuatu jang membahajakan.
Sebenarnja ia ingin menanja, namun A Tju telah menggojangkan tangannja untuk mentjegahnja supaja djangan bersuara.
Dalam kegelapan Toan Ki tak djelas melihat bagaimana sikap wadjah kedua nona itu.
Tapi dapat diduganja keadaan pasti gawat melebihi bahaja waktu terantjam pengedjaran Tjiumoti tadi.
Tiba2 A Tju mendekatkan mulutnja kepinggir telinga Toan Ki dan membisikinja .
"Toan-kongtju, aku dan A Pik akan berbitjara dengan suara keras, tapi engkau djangan ikut tjampur sepatah katapun, paling baik engkau berbaring sadja didalam perahu" . Toan Ki bingung karena tidak paham apa maksud sigadis itu. Namun ia manggut2 djuga dan menurut, ia menjerahkan penggajuh kepada A Tju dan merebahkan diri diatas geladak perahu. Ia melihat bintang2 ber-kelip2 ditengah tjakrawala, hatinja merasakan sematjam keheranan jang tak terkatakan.
"Adik A Pik,"
Demikian terdengar A Tju sedang berkata.
"djalanan disini susah dibeda2kan, kita harus hati2, djangan sampai kesasar." ,,Ja,"
Sahut A Pik.
"Hwesio jang mengedjar kita itu tentu tidak bermaksud baik. Sebaliknja kalau kita sampai tersesat djalan, orang akan menjalahkan kita sengadja datang pula kesini dan akan banjak membawa kesukaran bagi Kongtju."
Suara pertjakapan A Pik dan A Tju itu dilakukan dengan keras se-akan2 sengadja diperdengarkan kepada seseorang.
Tapi ketika Toan Ki melirik djauh kedepan, jang terlihat olehnja tjuma daun Lengkak melulu jang menghidjau terapung rapat dipermukaan air.
Ketjuali suara gesekan antara badan perahu dengan daun tetumbuhan itu, keadaan toh sunji senjap tiada sesuatupun jang mentjurigakan, hanja bau harum bunga jang aneh itu makin lama makin semerbak.
Dan harum bunga itu bukan mawar bukan melati, tapi sematjam harum jang susah dilukiskan dan susah diterka.
Tiba2 A Pik bernjanji pelahan2, dari suara njanjiannja itu terang mengandung rasa takut.
Njata ia menjanji hanja untuk menutupi perasaan takutnja itu.
"Apakah sihwesio itu telah mengedjar kemari?"
Demikian Toan Ki menanja.
"Ssssst!"
Tjepat A Tju menekap mulut pemuda itu agar djangan bersuara. Ia tjelingukan kian kemari, setelah sekitarnja sunji senjap, kemudian barulah dia membisiki telinga Toan Ki.
"Djangan engkau bersuara. Kita telah kesasar ketempat jang berbahaja, tuan rumah disini djauh lebih lihay daripada sihwesio itu."
"Sungguh tjelaka 13,"
Demikian pikir Toan Ki.
"belum terhindar dari bahaja jang satu, bahaja jang lain sudah mengantjam pula." — Tapi segera terpikir pula olehnja.
"Ah, kedua nona tjilik ini belum kenal betapa lihaynja Tjiumoti, didunia ini masakah masih ada djago jang lebih lihay dari Hwesio itu? Apalagi disini adalah tempat bertjokolnja orang she Bujung, mana dia suka membiarkan seorang tokoh lain hidup berdampingan dengan dirinja? Habis njanji, A Pik tidak bitjara pula, ia sedang menengadah memandang bintang2 dilangit. Ia sedang berusaha membedakan arah dari kedudukan bintang2 jang bertaburan ditjakrawala itu dan sambil mendajung bersama A Tju. Toan Ki tjoba memandang sekitarnja, keadaan hening sepi, ditengah danau seluas itu melulu perahu mereka sadja jang menjiah air hingga menerbitkan suara gemerisik jang pelahan. Ia merasa heran mengapa kedua gadis itu begitu ketakutan menghadapi suasana jang tjuma sepi itu? Setelah perahu meluntjur lagi agak djauh, tiba pula sampai disuatu muara sungai, A Tju dan A Pik bertukar pikiran pula kemana perahu mereka harus menudju. Padahal dalam pandanganToan Ki,ia merasa djalanan2 air disitu serupa semua tanpa sesuatu perbedaan, ia mendjadi heran berdasarkan tanda apa hingga kedua nona itu mengadakan perbedaan? Sesudah mendajung sekian lamanja, Toan Ki mendengar napas kedua gadis itu telah ter-sengal2. Segera ia mengambil penggajuh dari tangannja A Tju dan menggantikannja mendajung. Tidak lama kemudian, tiba2 A Pik berseru kaget. ,,Hai, kita............... kita telah kembali lagi ketempat tadi!"
Benar djuga segera Toan Ki mengendus bau harum bunga jang aneh seperti tadi.
Ia mendjadi lemas dan ketjewa, tampaknja mereka tjuma ber-putar2 sadja ditengah danau itu, pertjumalah mereka mendajung dengan susah-pajah selama setengah malam disitu.
Sementara itu sudah mendjelang fadjar, ufuk timur sudah mulai remang2 memutih.
Wadjah A Pik tampak sedih.
Tiba2 ia membuang penggajuhnja keatas perahu dan menangis ter-guguk2 sambil menutupi mukanja.
Segera A Tju merangkul A Pik dan menghiburnja.
"Kita toh tidak sengadja datang kemari. Sebentar bila bertemu dengan Ong-hudjin, kita katakan sadja terus terang, djangan engkau kuatir." -Walaupun ia menghibur kawannja. sebenarnja perasaan sendiri djuga katjau dan kuatir. Pada saat itulah tiba2 diangkasa terdengar suara bunji burung jang mentjitjit, dari arah baratsana terbang mendatangi seekor burung putih jang mirip bangau. Burung itu terbang mengitari perahu beberapa kali, kemudian terbang kearah barat pula dengan pelahan. A Tju mengangkat penggajuh pula dengan menghela napas, katanja.
"Sudah diketahui, terpaksa mesti kesana, marilah kita pergi kesana!'' — Segera ia mendajung perahunja mengikuti arah burung putih tadi.
"Kiranja burung itu adalah penundjuk djalan jang diutus madjikannja,"
Udjar Toan Ki dengan tertawa.
"Toan-kongtju,'' kata A Pik tiba2.
"engkau adalah orang luar dan tidak mengetahui banjak peraturan2 ditempat kami ini. Sebentar bila sudah sampai di 'Man-to-san-tjheng', tak peduli apa jang terdjadi, hendaklah engkau menurut perintah sadja, biarpun mesti dihina djuga engkau djangan membangkang."
"Sebab apa?"
Tanja Toan Ki.
"Apakah tuan rumahnja begitu, kasar dan sewenang-wenang ? Kita hanja sesat djalan, kalau perlu kita bersedia pergi dari sini, dosa apakah kalau tjuma kesasar sadja ?"
Tiba2 mata A Pik memberambang, katanja.
"Toan-kongtju, didalam persoalan itu banjak hal-hal jang susah kudjelaskan. Mereka berani berlaku kasar, mereka mempunjai alasannja sendiri. Pendek kata semuanja gara-gara Hwesio djahat itu hingga kita di-uber2 sampai kesasar kemari. Kalau tidak, masakah kita bisa masuk lagi kesini ?"
Rupanja sifat A Tju lebih periang, dengan tertawa ia berkata.
"Orang baik tentu diberkahi dengan redjeki besar. Kalau kita berdua jang datang kemari, tentulah baka; tjelaka, tapi Toan-kongtju adalah seorang beruntung, seorang jang membawa berkah, siapa tahu kalau kita djuga akan ikut diberkahi dengan keselamatan."
"Aku djusteru berkuatir bagi Toan-kongtju, soal kita berdua malah tidak kupikirkan", udjar A Pik.
"Ong-hudjin, telah menjatakan bila ada lagi orang laki2 berani mengindjak ke Man-to-san-tjheng, maka kedua kaki orang itu akan ditabasnja dari kedua matanja akan dikorek. Entji A Tju, sifat Ong-hudjin toh sudah dikenal engkau, sekali dia sudah omong. pasti didjalankannja. Kini kita membawa Toan-kongtju kesini, bukankah kita jang membikin susah padanja......" — berkata sampai disini, tak tertahan lagi air matanja kembali bertjutjuran.
"A Pik,"
Kata A Tju.
"siapa tahu kalau mendadak timbul rasa welas-asih orang, boleh djadi Toan-kongtju ini pandai omong dan pintar berdebat hingga dapat mematahkan perasaan badja orang, lalu kita bertiga dilepas pergi."
Sebenarnja tokoh matjam apakah Ong-hudjin itu ?"
Tanja Toan Ki.
A Pik memandang sekedjap kepada A Tju, hendak mendjawab, tapi urung.
Sebaliknja A Tju lantas memberi tanda beberapa kali dengan tangannja, lalu tjelingukan kesekitarnja, kemudian barulah berkata.
"Tentang diri Ong-hudjin ? Wah, betapa tinggi ilmu silatnja boleh dikata sudah mentjapai tingkatan jang susah diukur, didunia persilatan sekarang tiada seorangpun jang dapat menandinginja. Kongtju kami biasanja tidak mau tunduk kepada siapapun, hanja Ong-hudjin sadja jang paling dikagumi olehnja." — Meski begitu mulutnja berkata, tapi mimik wadjahnja djusteru mengundjuk beberapa tanda2 jang aneh, mulut merot2 dan mata ber-pitjing2 sambil mengangkat pundak pula. Pendek kata tanda2 jang menjatakan bahwa apa jang dikatakan itu sama sekali tidak dapat dipertjaja. tapi bualan belaka sekadar menjenangkan hati orang. Keruan Toan Ki mendjadi heran, pikirnja .
"Masakah bitjara ditengah perahu jang sekelilingnja tjuma air belaka kuatir didengar oleh orang ? Apakah Ong-hudjin itu begitu sakti hingga memiliki telinga jang mampu mendengarkan dari tempat djauh?"
Ia lihat burung putih tadi telah terbang kembali dan mengitar pula diatas perahu mereka seperti tidak sabar menunggu lagi.
Setelah berputar lagi dua kali, kembali burung itu mendahului terbang kedepan.
Setelah perahu didajung lagi mengikuti burung putih itu.
kini djalanan air itu penuh dengan teluk dan muara sungai jang berlika-liku.
Achirnja perahu mereka tiba sampai didepan selarik pagar bambu.
Pagar bambu itu djarang2 anjamannja sebagaimana umumnja dipakai kaum nelajan untuk mengurung ikan.
Sesudah dekat dengan pagar bambu itu, tampaknja perahu mereka terhalang dan takdapat meluntjur madju lagi.
Tak terduga begitu haluan perahu membentur pagar bambu itu, seketika pagarnja ambruk kebawah air hingga perahu dapat meluntjur terus, Kiranja pagar bambu itu dipasang dengan alat rahasia jang bisa dibuka-tutupkan.
Setelah melintasi beberapa rintangan pagar bambu lagi, achirnja tertampaklah didepansana pohon Liu melambai-lambai ditepi pantai, dari djauh kelihatan pula ditepi pantai penuh tumbuh bunga kamelia jang ke-merah2-an bertjerminkan air danau.
Melihat itu, tak tertahan lagi Toan Ki berseru heran sekali dengan pelahan.
"Adaapa?"
Tanja A Tju.
"Itu adalah San-teh-hoa (bunga kamelia) dinegeri Tayli kami, mengapa ditengah danau ini tumbuh djuga djenis bunga ini ?"
Sahut Toan Ki sambil menundjuk pohon2 kembang itu.
"O, ja ? Tapi mungkin San-teh-hoa di Tayli tidak dapat menandingi San-teh-hoa ditempat kami ini,"
Kata A Tju.
"Tempat ini bernama Man-to-san-tjheng, bunga Mantolo disini terhitung nomor satu didunia ini, betapapun bunga keluaran Tayli kalian djuga takkan mampu menandinginja" . Kiranja nama lain dari San-teh-hoa atau bunga kamelia adalah kembang Mantolo, jaitu berasal dari kata2 Mandala dalam basa Sangsekarta. Dan kembang Mantolo jang paling terkenal adalah keluaran Hunlam, orang menjebutnja sebagai "Tin-teh"
Atau bunga kamelia dari Hunlam.
Oleh karena itulah Toan Ki tidak dapat menerima pendapat A Tju tadi bahwa kembang kamelia Tayli takdapat menandingi bunga jang tumbuh di Manto-san-tjheng atau perkampungan bunga Mantolo.
Pikirnja.
..Pemandangan alam didaerah Kanglam memang harus diakui indah permai, dan susah ditandingi Tayli.
Tapi kalau bitjara tentang kembang kamelia jang merupakan bunga pusaka negeri kami, aku jakin tiada tempat lain jang dapat melebihinja."
Sebenarnja ia bermaksud menjanggah utjapan A Tju tadi, tapi dilihatnja gadis itu sedang memitjingkan mata dan memerotkan mulut pula sebagai tanda djangan banjak bitjara, maka Toan Ki mendjadi urung buka suara.
Ia pikir Man-to-san-tjheng itu sudah didepan mata, lebih baik djanganlah sembarangan bitjara.
Dalam pada itu A Tju telah mendajung perahunja menudju ke semak pohon kembang kamelia itu.
Sampai ditepi pantai, Toan Ki melihat sepandjang mata memandang disitu hanja bunga kamelia belaka jang berwarna merah dan putih, sebuah rumahpun tidak tertampak.
Ia dibesarkan dinegeri Tayli jang terkenal sebagai negeri kembang kamelia, maka ia mendjadi tidak heran oleh bunga2 San-teh jang berserakan itu.
Bahkan ia merasa bunga kamelia sebanjak itu tiada satupun terdiri dari djenis jang berharga.
Setelah merapatkan perahunja ke-gili2, segera A Tju berseru dengan suara njaring dan penuh hormat.
"Hamba A Tju dan A Pik dari keluarga Bujung dalam menghindari kedjaran musuh setjara tidak sengadja telah tersesat kesini, sungguh dosa kami pantas dihukum mati, maka mohon kemurahan hati Ong-hudjin sudilah mengingat ketidaksengadjaan kami dan memberi ampun, untuk mana hamba berdua akan sangat berterima kasih."
Akan tetapi biar A Tju sudah bergembar-gembor sendiri, dibalik semak2 pohonsana toh tiada sesuatu sahutan orang.
Tapi nona itu kembali berseru lagi.
,,Dan orang jang datang bersama ini adalah Toan-kongtju jang tak kami kenal, ia adalah tamu asing dan djuga tidak kenal-mengenal dengan Kongtju kami, maka tiada sangkut-paut apa2 dengan urusan kesasar kami ini."
Segera terdengar A Pik ikut berkata djuga.
"Kedatangan orang she Toan ini ketempat kami sebenarnja tidak punja maksud baik, tapi hendak membikin onar dengan Kongtju kami. Tak terduga setjara kebetulan ia telah ikut kesasar kemari."
Toan Ki mendjadi heran, pikirnja.
"Kenapa mereka menegaskan aku adalah musuh Bujung-kongtju, apa barangkali tuan rumah disini sangat bentji kepada Bujung-kongtju, asal aku mengaku sebagai musuhnja orang she Bujung itu, lantas aku takkan dipersulit disini?"
Tidak seberapa lama, tiba2 ditengah rimba pohon kembang kamelia itu terdengar ada suara tindakan orang, kemudian muntjul seorang pelajan ketjil berbadju hidjau, tangannja membawa segebung karangan bunga, usianja lebih tua satu-dua tahun daripada A Tju dan A Pik.
Sampai ditepi pantai, dengan tertawa dajang itu lantas berkata dengan tersenjum.
"A Tju dan A Pik, kalian benar2 bernjali besar sekali dan berani ngelajap lagi kesini? Karena itu Hudjin memerintahkan muka kalian masing2 harus disilang dengan pisau agar wadjah kalian jang tjantik aju terusak."
Namun A Tju mendjadi lega demi nampak sikap dajang jang bitjara itu. Sahutnja dengan tertawa. ,,Entji Yu Tjhau, tentunja Hudjin tidak berada dirumah, bukan?"
"Hm, Hudjin djusteru mengatakan pula bahwa kalian berani membawa laki2 asing kesini, maka kedua kaki orang itu harus segera dipotong pula,"
Demikian sahut sidajang jang dipanggil dengan nama Yu Tjhau itu. Tapi belum Selesai ia omong, ia sudah lantas menutup mulutnja dengan tangan dan tertawa tjekikikan.
"Entji Yu Tjhau,"
A Pik ikut bitjara sambil tepuk2 dada sendiri.
"djangan engkau me-nakut2i orang. Sebenarnja sungguh2 atau tidak utjapanmu itu?"
"A Pik,"
Udjar A Tju dengan tertawa.
"djangan gampang digertak olehnja. Kalau Hudjin ada dirumah masakah budak ini berani main gila seperti ini? Adik Yu Tjhau, katakanlah, kemanakah Hudjin telah pergi?"
"Huh, berapakah umurmu sekarang, berani kau menjebut aku sebagai adik?"
Sahut Yu Tjhau dengan tertawa.
"Kau memang siluman tjerdik tjilik, dengan tepat engkau dapat menerka Hudjin tidak berada dirumah." — Ia merandek sedjenak, tiba2 ia menghela napas, lalu meneruskan.
"A Tju dan A Pik, Sjukurlah kalian dapat berkundjung kemari pula, sungguh aku ingin menahan kalian agar supaja dapat tinggal barang beberapa hari disini, tjuma..............."
"]a, sudah tentu kamipun suka untuk tinggal sementara dengan engkau disini,"
Sahut A Pik.
"Entji Yu Tjhau. sebaiknja kalau engkau dapat datang ketempat kami sadja. Untuk mana kami bersedia tiga-hari-tiga-malam tidak tidur untuk menemani engkau!"
Tengah mereka bitjara, tiba2 dari semak2 kembangsana terdengar suara berkeresekan, kemudian muntjul pula seorang dajang tjilik, dengan ketawa2 dajang inipun lantas berseru girang.
"Hai, A Tju dan A Pik, nona kami mengundang kalian ketempatnjasana ."
"He. kiranja adik Hong Le,"
Sahut A Tju dengan tertawa.
"Terima kasihlah atas kebaikan nona kalian itu. Sampaikanlah bahwa Kongtju kami sedang bepergian. kedatangan kami kesini sungguh2 karena sesat djalan. Harap diberi maaf."
"Bagus,"
Kata Hong Le setengah mengomel.
"nona kami mengundang kalian, tapi kalian menolak. Baiklah, dan kalian djuga djangan mengharapkan Pek-ih-sutjia (perintis djalan berbadju putih. Maksudnja burung putih itu) akan membawa kalian keluar dari sini."
A Tju saling pandang sekedjap dengan A Pik, sikap mereka tampak serba salah.
Kemudian A Pik membuka suara.
,,Entji Hong Le, engkau sendiri tentu tahu, mana kami berani menolak undangan nonamu itu?
Akan tetapi bila nanti kebetulan Hudjin pulang, lantas...............
bagaimana............"
"Hudjin sedang pergi ketempat jang djauh, baru kemarin beliau berangkat, tidak mungkin pulang dengan begitu tjepat,"
Sahut Hong Le atau siburung kenari kuning "Hajolah ikut kesana, masakan kalian tidak tahu isi hati nona kami?"
"Baiklah, marilah A Pik, terpaksa kita menempuh bahaja lagi."
Udjar A Tju. Kedua gadis itu lantas melangkah ke-gili2. Kata A Pik kepada Toan Ki.
"Toan-kongtju, silahkan engkau menunggu sebentar disini, kami pergi menemui tuan rumahnja, segera kami akan kembali."
Toan Ki mengia dan menjaksikan kepergian empat gadis tjilik jang lintjah dan riang gembira itu. Sesudah sekian lamanja duduk didalam perahu, Toan Ki mendjadi iseng, pikirnja.
"Biarlah aku mendarat untuk melihat kembang Mantolo jang ditanam disini, ingin kulihat apakah ada djenis jang bagus atau tidak?"
Terus sadja ia melangkah kepantai dan menikmati pemandangan disepandjang djalan.
Ia lihat diantara tetumbuhan bunga2 selebat itu, ketjuali kembang kamelia, sama sekali tiada djenis bunga lain lagi.
Akan tetapi bunga kamelia itu djuga terdiri dari djenis2 jang umum dan tiada sesuatu jang bernilai tinggi, satu2nja keistimewaan jalah dalam hal djumlah.
Memang djumlahnja sangat banjak.
Tengah Toan Ki memandang kian kemari, tiba2 hidungnja mengendus bau harum pula.
Harum bunga itu sebentar keras sebentar halus hingga susah diraba darimana datangnja bau harum itu.
Jang terang bau harum itu serupa seperti bau harum jang aneh jang ditjiumnja semalam didalam perahu itu.
Diam2 Toan Ki heran, pikirnja.
"Disini toh tidak tampak ada djenis bunga lain lagi ketjuali kembang kamelia, apakah mungkin diantara kamelia sebanjak ini terdapat sedjenis jang dapat menguarkan bau harum jang aneh ini?"
Tertarik oleh rasa ingin tahu, terus sadja Toan Ki mengusut lebih djauh mengikuti arah datangnja bau harum itu.
Setelah berpuluh meter djauhnja, ia lihat djenis2 kamelia jang mekar bertambah banjak, terkadang djuga terdapat satu-dua djenis jang bernilai lumajan.
Tidak lama pula, sedang Toan Ki asjik memperhatikan kembang kamelia jang luar biasa djumlahnja itu, mendadak bau harum jang aneh itu lenjap sama sekali.
Meski Toan Ki sudah menjusur kesana dan kesini toh bau harum itu tetap tak terendus lagi.
Ia pikir.
"Sudahlah, aku harus lekas kembali, sebentar kalau A Tju dan A Pik kembali dan melihat aku tiada berada disana, tentu mereka akan kuatir."
Segera iapun berputar tubuh hendak kembali kearah datangnja tadi.
Akan tetapi tjelaka, ia mengeluh.
Kiranja sudah sekian djauhnja ia menjusur kian-kemari diantara hutan bunga itu, ia telah lupa memberi tanda pada djalanan jang telah dilaluinja itu.
Kini hendak kembali ketempat dimana perahunja berlabuh.
terang mendjadi agak sulit.
Ia tjoba membedakan arah menurut kejakinannja sendiri, pikirnja asal dapat mentjapai tepi danau.
urusan tentu akan mendjadi mudah.
Tak tersangka makin djauh ia berdjalan, makin tak keruan djurusan jang dipilihnja itu.
Mendadak didengarnja ada suara bitjara orang disisi kiri hutan bungasana , segera dapat dikenal bahwa itulah suaranja A Tju.
Pikir Toan Ki dengan girang.
"Biarlah kutunggu sebentar disini, bila mereka sudah Selesai bitjara, tentu dapatlah aku ikut kembali ketempat tadi bersama mereka."
Ia dengar A Tju sedang berkata.
"Kesehatan Kongtju sangat baik, napsu makannja djuga bertambah. Selama dua bulan ini beliau tekun mempeladjari 'Pak-kau-pang-hoat' (ilmu pentung penggebuk andjing) dari Kay-pang, mungkin karena sedang menjiapkan diri untuk mengukur kepandaian dengan tokoh Kay-pang."
Toan Ki mendjadi ragu2 mendengar pertjakapan itu, pikirnja.
"A Tju sedang membitjarakan urusan Kongtju mereka, tidaklah pantas kalau diam2 aku mendengarkan disini. Aku harus menjingkir jang djauh. Tapi djuga tidak boleh terlalu djauh, sebab sebentar kalau mereka sudah selesai bitjara, djangan2 aku malah tidak tahu."
Dan pada saat itulah, tiba2 Toan Ki mendengar suara seorang wanita menghela napas sekali dengan pelahan.
Begitu mendengar suara helaan napas itu, seketika tubuh Toan Ki serasa terguntjang, hatinja ber-debar2 dan mukanja merah.
Pikirnja.
"Suara orang menghela napas itu sungguh enak sekali untuk didengar, mengapa didunia ini terdapat suara semerdu itu?"
Sementara itu didengarnja suara jang halus dan. merdu tadi sedang menanja pula.
"Kepergiannja sekali ini menudju kemanakah?"
Ketika mendengar suara helaan napas tadi perasaan Toan Ki sudah terguntjang, kini mendengar pula utjapan itu.
darah seluruh tubuhnja serasa bergolak, tapi hatinja merasakan sematjam rasa getir dan ketjut, rasa kagum dan iri jang tak terkatakan.
Pikirnja .
"Jang ditanjakan itu sudah terang adalah Bujung-kongtju. Ternjata sedemikian besar perhatiannja kepada Bujung-kongtju hingga selalu dirindukan olehnja. Wahai, Bujung-kongtju betapa bahagianja hidupmu ini!"
Maka terdengar A Tju sedang menjahut.
"Waktu Kongtju hendak berangkat, beliau mengatakan hendak pergi ke Lokyang untuk mendjumpai djago2 Kay-pang. Malahan Lu-toako dan Pau-siansing djuga ikut pergi, maka harap nona djangan kuatir."
"Diwaktu Kongtju kalian melatih Pak-kau-pang-hoat apa kalian melihat ada sesuatu kesukaran atau rintangan ?"
Tanja suara wanita itu.
"Tidak."
Sahut A Pik.
"Kongtju dapat memainkan Pak-kau-pang-hoat itu dengan sangat lantjar dan tjepat sekali......
"Hai, salah besar!"
Tiba2 wanita itu berseru.
"apa betul dia memainkannja dengan sangat tjepat ?"
"Ja, kenapa dikatakan salah malah ?"
Sahut A Pik heran.
"Sudah tentu salah,"
Kata siwanita itu.
"Pak-kau-pang-hoat itu mengutamakan keuletan, makin lambat makin baik, bila perlu dapat dipertjepat dan segera diperlambat lagi. Tapi kalau terus-menerus dimainkan dengan tjepat, tentu susah mengerahkan kelihayan ilmu pentung itu. Ai, apakah...... apakah kalian dapat menjampaikan sedikit berita kepada Kongtju?"
Tapi sekarang Kongtju berada dimana, kami sama sekali tidak tahu, bukan mustahil saat ini beliau sudah selesai pula bertemu dengan tokoh2 Kay-pang,"
Demikian sahut A Tju.
"Kohnio, apakah terlalu tjepat memainkan Pak-kau-pang-hoat itu benar2 tidak boleh ?"
"Sudah tentu tidak boleh, masakah perlu kudjelaskan lagi ?"
Sahut sinona.
"Mengapa...... mengapa waktu akan berangkat dia tidak...... tidak datang menemui aku dahulu?" — sembari berkata iapun mem-banting2 kaki dengan rasa kuatir dan tjemas. Toan Ki mendjadi heran, pikirnja.
"Biasanja nama Koh-soh Bujung sangat dihormati dan disegani, tapi dari utjapan sinona ini, agaknja ilmu silat Bujung-kongtju itu seakan-akan memerlukan petundjuknja. Apa mungkin seorang nona muda belia seperti ini mempunjai kepandaian setinggi langit?"
Ia dengar sinona sedang berdjalan mondar-mandir, suatu tanda betapa gopoh perasaannja waktu itu. Tiba2 kedengaran nona itu berkata lagi dengan pelahan.
"Tempo hari, aku minta dia mempeladjari ilmu gerak langkah itu, tapi ia djusteru tidak mau beladjar, tjoba kalau dia sudah paham 'Leng-po-wi-poh' itu......"
Mendadak mendengar kalimat "Leng-po-wi-poh"
Atau langkah indah sidewi tjantik, Toan Ki mendjadi kaget dan tanpa merasa berseru sekali, tjepat ia tekap mulut sendiri, namun sudah terlambat.
"Siapa itu?"
Segera terdengar nona itu telah menegur. Tahu kalau takbisa menjembunjikan diri pula, terpaksa Toan Ki berdehem lebih dulu, lain mendjawab.
"Tjayhe bernama Toan Ki, karena terpesona oleh keindahan bunga kamelia sekitar sini hingga tanpa sengadja kesasar kemari, mohon diberi maaf."
"A Tju, apakah dia adalah Siangkong jang datang bersama kalian itu?"
Tanja nona itu kepada A Tju dengan pelahan.
"Benar, Kohnio", sahut A Tju tjepat.
"Orang ini adalah Sutaytju (peladjar tolol), djangan nona mengurusinja. Biarlah sekarang djuga kami mohon diri sadja."
"Nanti dulu,"
Kata nona tadi.
"tunggu aku menuliskan seputjuksurat untuk menerangkan tanda2 rahasia Pak-kau-pang-koat itu dan harap kalian segera berusaha untuk menjampaikannja kepada Kongtju."
"Hal ini............... Hudjin pernah menjatakan..............."
Sahut A Tju dengan ragu2.
"Menjatakan apa? Djadi kalian tjuma menurut kata2 Hudjin dan tidak mau menurut perintahku?"
Kata nona itu dengan nada marah. Tjepat A Tju mendjawab.
"Mana kami berani membangkang perintah nona. Asal sadja tidak diketahui Hudjin, sudah tentu kami akan menurut. Apalagi kalau ada paedahnja bagi Kongtju kami."
"Baiklah, mari kalian ikut aku kekamar,"
Kata nona itu.
Terpaksa A Tju mengia.
Dalam pada itu Toan Ki mendjadi lebih kesemsem sedjak mendengar suara helaan napas jang penuh daja penarik itu.
Kini mendengar sinona segera akan pergi, ia pikir sekali sinona sudah pergi, mungkin untuk selamanja takkan dapat melihatnja lagi, hal itu bukankah akan dibuat penjesalan selama hidup?
Meski nanti akan dikatai orang karena kelakuannja jang semberono, paling2 djuga tjuma didamperat sadja, betapapun aku harus melihat muka aslinja.
Karena pikiran itu, segera Toan Ki berseru sambil melangkah keluar.
"Entji A Pik, harap engkau tinggal disinilah untuk menemani aku, ja?"
Mendengar Toan Ki berdjalan keluar, nona itu berseru kedjut dan tjepat membelakangi tubuhnja.
Waktu Toan Ki menerobos keluar dari semak2 pohon, jang terlibat olehnja tjuma seorang wanita berbadju putih mulus dan berdiri mungkur, perawakannja ramping, rambutnja pandjang terurai sampai dipunggung dan hanja diikat oleh seutas benang sutera warna perak.
Tjukup melihat bajangan sigadis sadja Toan Ki sudah jakin pasti gadis itu sangat tjantik laksana dewi kajangan dan menimbulkan sematjam hawa keangkeran.
Segera ia membungkuk memberi hormat dari djauh sambil berkata.
"Terimalah hormat Tjayhe, nona!"
"A Tju,"
Tiba2 gadis itu membanting kaki.
"gara2mu membawa segala orang kesini. Aku tidak ingin bertemu dengan laki2 luar jang tiada sesuatu hubungan." — Habis berkata, terus sadja ia berdjalan tjepat kedepan, hanja sekedjap sadja bajangan gadis itu sudah menghilang dibalik semak2 bungasana . Dengan tersenjum A Pik lantas menoleh dan berkata kepada Toan Ki.
"Toan-kongtju, tabiat nona ini memang sangat angkuh, kini kebetulan malah, marilah kita pergi dari sini."
Hlm.
25 Gambar SelagiA Tju hendak mulai mendajung perahunja, tiba2 terdengar suara suitan njaring bagai naga merintih dari djauh.
Hanja sekedjap sadja sebuah kapal berbentuk kepala naga sudah mendekat dan dari dalam kapal berdjalan keluar seorang wanita setengah umur dengan dandanan keraton.
"Ja, berkat pertolongan Toan-kongtju jang telah melepaskan kami dari kesukaran,"
A Tju ikut berkata djuga dengan tertawa.
"Kalau Toan-kongtju tidak muntjul, tentu Ong-kohnio akan suruh kami hantarsurat segala dan djiwa kami ini mendjadi berbahaja akibatnja."
Semula sebenarnja Toan Ki merasa kuatir dan tentu akan diomeli A Tju dan A Pik karena dia setjara semberono telah heran undjuk diri hingga membikin nona Ong kurang senang.
Tak tersangka kedua dajang tjilik itu malah memberi pudjian padanja, keruan Toan Ki mendjadi bingung malah.
Segera mereka bertiga kembali keperahu mereka.
A Tju angkat penggajuh hendak mulai mendajung lagi.
Tapi belum sampai perahu meluntjur, tiba2 A Pik berkata.
,.Entji A Tju.
tanpa diberi petundjuk djalannja oleh Pek-ih-sutjia, betapapun kita susah keluar dari tempat ini.
Terpaksa kita harus menunggu dulu suratnja Ong-koh-nio.
Kita tjuma terdesak oleh keadaan, toh bukan sengadja datang kesini, andaikan diketahui Ong-hudjin djuga takdapat menjaksikan kita."
"Ja, semuanja gara2 sihwesio busuk itu.................."
Demikian sahut A Tju dengan gegetun.
Tapi belum Selesai utjapannja.
tiba2 dari djauh terdengar suara suitan njaring jang pandjang bagai naga merintih.
Demi mendengar suara suitan aneh itu, seketika wadjah A Tju dan A Pik berubah putjat.
Begitu pula Toan Ki djuga terkedjut Pikirnja.
"He, suara suitan ini sudah kukenal dengan baik. Wah tjelaka. itulah dia muridku Lam-hay-gok-sin jang telah datang. Tetapi, ah, salah, bukan dia, bukan dia!"
Sebagaimana diketahui, ketika mula2 Toan Ki bertemu dengan Lam-hay-gok-sin, ia pernah mendengar suara rintihan naga seperti tadi itu.
Tapi kemudian waktu Lam-hay-gok-sin sudah berada dihadapannja, kembali suara suitan njaring itu terdengar pula, karena itu, Lam-hay-gok-sin lantas buru2 menjusul kearah datangnja suara itu.
Maka dapat dipastikan suara suitan itu bukan dikeluarkan oleh Lam-hay-gok-sin, tapi masih ada seorang lain lagi.
Biasanja sifat A Tju sangat lintjah dan periang, tapi kini demi mendengar suara suitan itu, seketika badannja gemetar dengan ketakutan.
"Toan-kongtju,"
Kata A Pik dengan bisik2.
"Ong-hudjin telah pulang, terpaksa kita terserah pada nasib rnasing2. Tapi sebaiknja engkau berlaku kasar kepada kami, lebih kasar dan lebih kurang sopan kepada kami akan lebih baik bagimu."
Akan tetapi bagi Toan Ki tidak mungkin disuruh berlaku kasar terhadap kedua dara tjilik itu.
Sedjak dia meninggalkan rumah, sudah banjak pengalaman dan bahaja jang dihadapinja.
Ia pikir bila memang aku sudah ditakdirkan harus mati, biarlah terima nasib sadja masakah aku diharuskan berbuat tidak sopan kepada dua nona tjilik?
Karena itu, segera ia mendjawab.
"Lebih baik mati setjara sopan daripada hidup dengan kurangadjar. Entji A Tju engkau menjebut aku sebagai Sutaytju, dan memang beginilah sifat ketolol2an seorang Sutaytju seperti aku ini."
A Tju hanja melototinja sambil menghela napas gegetun.
Pada saat itulah dari djauh tertampak sebuah perahu sedang meluntjur tiba setjepat terbang, hanja sekedjap sadja sudah mendekat.
Tampak djelas perahu itu sangat besar dengan udjung berbentuk kepala naga jang mulutnja terpentang lebar dengan rupa sangat menakutkan.
Sesudah kapal itu lebih dekat lagi, mendadak Toan Ki mendjerit kaget.
Ia melihat diudjung tanduk kepala naga dari kapal itu tergantung tiga buah kepala manusia jang darahnja masih berketes2, njata kepala manusia itu baru sadja dipenggalnja.
"Rupanja ditengah djalan Ong-hudjin telah pergoki musuh dan lantas dibunuhnja, makanja pulang lebih tjepat daripada rentjananja. Ai, dasar nasib kita jang djelek,"
Demikian udjar A Tju pelahan.
Sementara itu kapal tjepat berkepala naga itu sudah merapat dengan gili2, A Tju dan A Pik telah berbangkit berdiri dengan kepala menunduk, sikapnja sangat menghormat.
Ber-ulang2 A Pik memberi tanda kepada Toan Ki dengan maksud menjuruh pemuda itupun ikut berdiri.
Namun Toan Ki menggeleng kepala, katanja dengan tertawa.
"Biarlah tuan rumahnja muntjul dulu, tentu aku akan berbangkit untuk menghormatinja. Seorang laki2 masakah mesti terlalu merendahkan deradjat sendiri?"
Tiba2 suara seorang wanita berkata dari dalam kapal itu.
"Lelaki darimanakah berani sembarangan masuk ke Man-to-san-tjheng sini? Apakah tidak pernah mendengar bahwa setiap laki2 jang berani masuk kesini pasti akan ditabas kedua kakinja?" — Suara wanita itu sangat kereng, tapi sangat njaring dan merdu pula dan enak didengar. Segera Toan Ki mendjawab.
"Tjayhe bernama Toan Ki, Tjayhe tersesat kemari dan bukan disengadja, harap suka memberi maaf."
Wanita itu tjuma mendengus lagi sekali dan tidak menggubrisnja.
Sesudah kapal itu berlabuh, dari dalam kamar kapal lantas muntjul dua dajang muda berbadju hidjau, jang seorang lantas melompat menjambar ketiga kepala manusia jang tergantung ditanduk kepala naga itu, dengan enteng sadja ia turun kembali kegeladak kapal sambil mendjindjing ketiga buah kepala manusia itu.
Gerakannja tjepat dan gajanja indah.
Melihat kedua dajang itu menghunus pedang semua, diam2 Toan Ki membatin.
"Kaum hambanja sadja sudah begini lihay, apalagi madjikannja? Biarlah, toh kepalaku tjuma sebuah sadja, kalau mau boleh mereka penggal sekalian."
Dalam pada itu terdengar wanita didalam kapal itu berkata pula.
"Hm, A Tju dan A Pik ini memang kepala batu dan berani sembarangan datang kemari lagi, dasar madjikanmu sibotjah Bujung Hok itu djuga tidak pernah berbuat baik, selalu main gila dan berbuat hal2 jang djahat."
"Lapor Hudjin,"
Sahut A Pik tiba2.
"hamba tidak sengadja datang kemari, tapi karena kesasar waktu diuber musuh dan tanpa sengadja masuk kesini lagi. Kongtju kami sedang bepergian, maka tiada sangkut-pautnja dengan beliau." — Karena urusan sudah kadung begini, dara jang tampaknja lemah-lembut itu mendjadi berani mendebat dengan tegas. Kemudian dari dalam kapal itu muntjul ber-pasang2 gadis berbadju hidjau jang lain, semuanja berdandan dajang, tapi menghunus pedang. Seluruhnja jang keluar itu ada delapan pasang, ditambah dengan kedua dajang jang pertama tadi, djumlah seluruh mendjadi 18 orang Mereka berbaris mendjadi dua larik dengan sikap kereng, habis itu, barulah dari dalam kapal berdjalan keluar seorang wanita berpakaian keraton. Begitu melihat wadjah wanita itu, terus sadja Toan Ki berseru kaget, seketika ia melongo dan merasa seperti didalam mimpi. Kiranja wanita itu berpakaian sutera putih mulus, dandanannja ternjata mirip benar dengan patung Dewi jang telah dilihatnja didalam gua di Tayli itu. Bedanja tjuma wanita ini sudah setengah umur, sebaliknja patung Dewi itu adalah seorang gadis djelita berusia belasan tahun. Dalam kedjutnja Toan Ki tjoba mengamat-amati wanita tjantik itu pula. Ia melihat wadjahnja benar2 seperti patung Dewi didalam gua itu, ketjuali perbedaan dalam umur, wadjahnja djuga sudah mulai berkerut, tapi makin dipandang makin mirip se-akan2 saudara kembar dengan patung tjantik didalam gua itu. A Tju dan A Pik mendjadi kuatir melihat Toan Ki memandangi Ong-hudjin itu dengan mata tanpa berkesip, kelakuannja benar2 sangat kurangadjar, tiada ubahnja seperti seorang pemuda jang mata kerandjang. Ber-ulang2 mereka memberi isjarat agar Toan Ki djangan menatap begitu rupa kepada Ong-hudjin itu, tapi sepasang mata Toan Ki itu se-akan2 sudah tak berkuasa dan terpaku pada wadjah Ong-hudjin. Segera Ong-hudjin itu mendjadi gusar djuga, katanja kepada kaum hambanja.
"Orang ini begini kurangadjar, sebentar sesudah potong kedua kakinja, harus korek pula kedua matanja dan iris lidahnja."
Salah seorang dajangnja jang berbadan lentjir dan berkulit badan hitam manis lantas mengiakan. Diam2 Toan Ki gelisah djuga. Pikirnja.
"Kalau aku akan dibunuh, paling2 djuga mati achirnja. Tapi kalau kedua kakiku dipotong lebih dulu, mataku dikorek dan lidahku diiris hingga mati tidak hidup tjelaka, wah, rasa derita ini tentulah berat."
Dan baru sekarang timbul rasa takutnja.
Ia tjoba berpaling memandang A Tju dan A Pik, ia lihat wadjah dara itupun putjat pasi seperti majat dan berdiri terpaku bagai patung.
Setelah Ong-hudjin itu mendarat, menjusul dari dalam kapalnja berdjalan keluar pula dua dajang berbadju hidjau jang lain, tangan mereka memegangi udjung seutas tali sutera, dan menjeret keluar dua orang laki2.
Toan Ki melihat salah seorang laki2 jang terikat tali dan diseret keluar itu bermuka putih bersih dan tjakap seperti putera keluarga hartawan.
Seorang lagi segera dapat dikenalinja sebagai Tjin Goan-tjun jang bergelar "No-kang-ong"
Atau siradja pengamuk sungai itu.
Waktu mengerojok Bok Wan-djing dahulu, lagak Goan-tjun itu luar biasa garangnja.
Tapi kini kedua tangannja terikat oleh tali sutera, kepala menunduk dengan lesu seperti orang sudah pasrah nasib.
Toan Ki mendjadi heran, orang ini selamanja tinggal di Hunlam, mengapa sekarang kena ditangkap kesini oleh Ong-hudjin.
Sementara itu terdengar Ong-hudjin sedang bertanja kepada Tjin Goan-tjun.
,,Sudah terang kau adalah orang Tayli, mengapa tidak mengaku?"
"Aku adalah orang Hunlam, tapi kampung halamanku tidak dibawah kekuasaan negeri Tayli" , sahut Tjin Goan-tjun.
"Hm, berapa djauh djarak tempat tinggalmu dengan Tayli?"
Tanja Ong-hudjin pula.
"Lebih dari empatratus li djauhnja,"
Sahut Goan-tjun.
"Belum ada limaratus li, engkau termasuk pula orang Tayli,"
Kata Ong-hudjin "Harus dipendam hidup2 dibawah bunga Mantolo sebagai rabuk."
"Aku bersalah apa?"
Teriak Tjin Goan-tjun penasaran.
"Silahkan engkau memberi pendjelasan, kalau tidak, matipun aku tidak rela".
"Hm,"
Djengek Ong-hudjin.
"Aku tidak peduli kau salah apa! Asal engkau orang Tayli atau orang she Toan, sekali kebentur ditanganku, tentu akan kupendam hidup2. Meski engkau bukan Orang Tayli, tapi adalah tetangga Tayli, bukankah sama djuga?"
Sungguh2 dongkol Toan Ki tak terkatakan, pikirnja.
,,Aha, kiranja akulah jang engkau maksudkan, mengapa mesti main sandiwara segala?
Biarlah aku mengaku lebih dulu dan tidak perlu engkau menanja padaku.
" — Karena itu, segera ia berteriak keras2.
"Ini dia orangnja, aku adalah orang Tayli dan she Toan pula. Kalau engkau mau kubur aku hidup2. silahkan lekas kerdjakan!"
"Dari tadi engkau sudah mengaku, katanja Toan Ki namamu,"
Demikian djengek Ong-hudjin "Hm, orang she Toan dari Tayli tidak nanti boleh mati setjara begitu mudah".
Habis berkata, ia memberi tanda dan sidajang tadi lantas menjeret pergi Tjin Goan-tjun jang tak berdaja itu, entah karena Hiat-to tertutuk atau karena terluka dalam jang parah, jang terang sama sekali Tjin Goan-tjun tidak dapat membangkang sedikitpun.
Ia tjuma dapat ber-teriak2 sadja.
,,Didunia ini masakah ada per-aturan begini?
Orang Tayli ada ber-djuta2 djumlahnja, apakah engkau dapat membunuhnja habis?"
Akan tetapi ia sudah lantas diseret ketengah rimba pohon bunga itu, makin lama makin djauh dan semakin pelahan suaranja hingga achirnja tak kedengaran lagi.
Kemudian Ong-hudjin berpaling kearah tawanannja jang lain jang bermuka putih bersih itu, lalu tanjanja.
.,Dan apa jang hendak kau katakan?"
Mendadak orang itu tekuk lutut dihadapan sinjonja dan ber-ulang2 memberi sembah, katanja.
"Ajahku adalah pembesar dipemerintah pusat, beliau melulu mempunjai seorang putera seperti diriku ini, maka mohonlah Hudjin memberi ampun. Untuk mana, apa sadja permintaan Hudjin, pasti ajah akan memenuhinja."
"Hm, ajahmu adalah pembesar negeri, apa kau sangka aku tidak tahu?"
Djengek Ong-hudjin dengan dingin.
"Untuk mengampuni djiwamu tidaklah sukar, asal sesudah kau pulang, segera isterimu dirumah itu kau bunuh dan besoknja lantas menikah dengan nona Biau jang berhubungan gelap dengan engkau diluar kawin itu, tapi harus dengan upatjara resmi dan lengkap memakai emas kawin. Nah, dapat tidak engkau laksanakan sjarat ini?" . Keruan pemuda bangsawan itu serba susah, sahutnja dengan gemetar.
"Su suruh aku membunuh isteri-kawin sendiri, itulah aku aku tidak tega Menikah setjara resmi dengan nona Biau, orang-tuaku tentu tentu melarang pula Bukanlah aku aku" .
"Seret pergi dia dan kubur hidup2" , bentak Ong-hudjin segera. Dajang jang menuntun tali pengikat pemuda itu mengia sekali, lalu diseretnja pergi. Dengan ketakutan pemuda itu berseru pula dengan gemetar "Ba............ baiklah, aku terima sjaratmu!"
"Nah, Siau Djui, kau giring dia kembali kekota Sohtjiu dan menjaksikan sendiri dia membunuh isterinja dan kemudian menikah dengan nona Biau, habis itu barulah kau boleh pulang,"
Pesan Ong-hudjin kepada dajang jang menuntun pemuda itu. Siau Djui mengia lagi dan menarik pemuda bangsawan itu melangkah kedalam perahu jang tadi ditumpangi Toan Ki itu.
"Harap Hudjin menaruh belas-kasihan,"
Demikian pemuda bangsawan itu memohon pula.
"Isteriku toh tiada sakit hati apa-apa dengan engkau dan engkaupun tidak kenal nona Biau, buat apa engkau mesti membantunja dan memaksa aku membunuh isteriku sendiri untuk menikah lagi padanja? Biasa............... biasanja aku pun tidak kenal engkau, apalagi djuga tidak berbuat salah apa2 kepadamu."
"Aku tidak peduli kau kenal aku atau tidak,'' sahut Ong-hudjin dengan gusar.
"Djika engkau sudah punja isteri, mengapa mesti menggoda anak gadis orang lain lagi? Dan sekali engkau sudah berani main gila dengan gadis lain, engkau harus kawin padanja. Hal ini sekali sudah kuketahui pasti akan kuselesaikan seperti ini, apalagi perbuatanmu ini bukanlah jang pertama kalinja, apa jang masih kau sesalkan? Siau Djui, tjoba katakan, perbuatan keberapakah kedjahatannja ini?"
"Hamba telah menjelidiki di-kota2 Busik, Kahin dan tempat2 lain, semuanja terdjadi tudjuh kali perbuatannja jang tidak senonoh, belum lagi Siau Lan dan Siau Si jang mengusut kekota lain2,"
Sahut sidajang itu.
Mendengar sudah begitu ketetapan hukuman jang biasa didjatuhkan oleh Ong-hudjin, pemuda itu tjuma dapat mengeluh sadja dan tidak berani membantah pula.
Segera Siau Djui mendajung perahunja dan membawanja pergi.
Toan Ki mendjadi melongo kesima menjaksikan tindak-tanduk Ong-hudjin jang aneh dan tidak masuk diakal itu.
Jang terpikir dalam benaknja waktu itu melulu "masakah ada peraturan begitu"
Atas keputusan sinjonja. Saking penasarannja sampai achirnja tanpa merasa iapun berseru.
"Masakah ada peraturan begitu! Masakah ada peraturan begitu?"
"Hm, mengapa tidak ada?"
Djengek Ong-hudjin.
"Didunia ini masih terlalu banjak peraturan jang begini?"
Sungguh ketjewa dan tjemas Toan Ki oleh tindakan Ong-hudjin itu.
Tempo hari waktu dia melihat patung dewi tjantik didalam gua ditepi sungai wilajah Tayli itu, ia begitu kagum dan begitu kesemsem kepada patung jang tjantik itu.
Wanita jang berada dihadapannja ini wadjahnja mirip benar dengan patung Dewi itu, sebaliknja tindak-tanduknja ternjata lebih mirip setan iblis jang tak kenal ampun.
Untuk sedjenak Toan Ki hanja menunduk dengan ter-mangu2 sadja.
Kemudian dilihatnja empat dajang Ong-hudjin itu telah masuk lagi kedalam kapalnja untuk membawa keluar empat pot besar bunga jang indah.
Melihat itu, seketika semangat Toan Ki terbangkit.
Kiranja empat pot bunga itu semuanja adalah bunga kamelia dan terdiri dari djenis2 jang terpilih.
Dalam hal kembang kamelia, diseluruh dunia ini tiada jang bisa melawan kamelia keluaran Tayli, lebih2 jang tertanam didalam Tin-lam-onghu.
Karena itu sedjak ketjil Toan Ki sudah biasa dengan bunga2 kamelia disekitarnja itu, diwaktu iseng iapun sering mendengarkan pertjakapan belasan orang tukang kebun bunga membitjarakan djenis2 bunga kamelia, dari itu tanpa beladjar iapun sangat paham akan pengetahuan bunga itu.
Tadi ia sudah djauh menjusur kebun Man-to-san-tjheng itu dan melihat tiada satu djenis bunga Mantolo jang tumbuh disitu jang ada harganja untuk dinikmati.
Maka kesannja kepada perkampungan jang bernama "Man-tosan-tjheng"
Itu rada ketjewa, sebab dianggapnja nama tidak sesuai dengan kenjataannja. Ia dengar Ong-hudjin sedang pesan kepada dajang2 jang membawakan pot bunga tadi.
"Siau Teh. Keempat pot kamelia 'Moa gwe' (bulan purnama) itu tidak mudah mendapatkannja, maka kalian harus merawatnja baik2" . Sidajang jang dipanggil Siau Teh itu lantas mengia. Toan Ki mendjadi tertawa geli oleh utjapan Ong-hudjin jang dianggapnja masih hidjau itu. Namun Ong-hudjin tidak gubris padanja, kembali ia pesan si dajang. ,,Angin danau terlalu keras, bunga2 itupun sudah tersimpan beberapa hari didalam kapal dan tidak pernah terkena sinar matahari, maka lekas kalian menaruhnja ditempat terbuka, biar didjemur sebentar dan tambahi sedikit rabuk."
Kembali Siau Teh mengiakan. Mendengar itu, Toan Ki bertambah geli hingga saking tak tahannja terus sadja ia ter-bahak2.
"Hahahaha!'' Karena heran oleh suara tawa sipemuda jang agak aneh itu, dengan mendongkol Ong-hudjin lantas menegur.
"Apa jang kau tertawakan?"
"Aku tertawa karena engkau tidak paham tentang kembang kamelia, tapi djusteru senang tanam bunga itu,"
Sahut Toan Ki "Bunga sebagus itu kalau djatuh kedalam tanganmu, itu sama dengan membakar sangkar untuk memasak burung kenari, benar2 runjam. Ong-hudjin mendjadi gusar, damperatnja.
"Hm, aku tidak paham kamelia, apakah kau jang pintar?" — Tapi segera pikirannja tergerak, bukankah barusan pemuda itu mengaku she Toan dan berasal dari Tayli, djika begitu bukan mustahil memang pemuda itu paham tentang bunga kamelia. Walaupun begitu pikirannja, namun dimulut tetap ia tidak mau undjuk lemah.
"Tempat ini bernama Man-to-san-tjheng (perkampungan bunga Mantolo atau kembang kamelia), di-mana2 penuh tumbuh bunga Mantolo dengan subur dan indah permai bukan?"
"Ja, barang kasaran sudah tentu dapat ditanam setjara kasar dan hidup kasar pula" , sahut Toan Ki dengan tersenjum.
"Tetapi bila keempat pot kamelia putih ini dapat engkau tanam hingga hidup subur, biarlah aku tidak mau she Toan lagi."
"Wah, tjelaka!"
Demikian pikir A Tju dan A Pik, bahaja sudah didepan mata, pemuda itu masih berani meng-olok2 Ong-hudjin tidak pandai tanam bunga, apa barangkali pemuda itu minta mati lebih tjepat?
Kiranja sifat Ong-hudjin itu sangat suka kepada bunga kamelia untuk mana ia tidak sajang membuang biaja jang besar untuk mengumpulkan djenis2 jang baik.
Akan tetapi bila djenis pilihan itu sudah ditanam ke Man-to-san-tjheng, selalu bunga itu mati kering, paling lama djuga tjuma tahan setengah atau satu tahun sadja.
Karena itulah Ong-hudjin sangat kesal oleh kegagalannja menanam bunga itu.
Kini mendengar utjapan Toan Ki, bukannja dia marah, bahkan mendjadi girang malah.
Segera ia melangkah madju dan menanja.
"Menurut kau, keempat pot bunga kameliaku ini ada kesalahan apa? Tjara bagaimana untuk bisa menanamnja dengan baik?"
"Djika maksudmu hendak minta petundjuk padaku, seharusnja ada tata tjaranja orang minta petundjuk,"
Demikian sahut Toan Ki.
"Tapi kalau engkau ingin pakai kekerasan untuk memaksa aku mengaku, itulah djangan kau harap dan bila perlu boleh engkau tabas dulu kedua kakiku."
Ong-hudjin mendjadi gusar, serunja.
"Untuk menabas kakinja apa susahnja? Siau Si, kau tabas kaki kirinja dahulu."
Pelajan jang dipanggil Siau Si itu mengia dan segera melangkah madju dengan pedang terhunus.
"Djangan, Hudjin!"
Tjepat A Pik mentjegah.
"Sifat orang ini sangat kepala batu. Pabila engkau melukainja, biarpun mati tentu ia takkan mengatakan lagi."
Memangnja maksud Ong-hudjin djuga tjuma untuk menggertak. Maka ia lantas memberi tanda suruh Siau Si urungkan maksudnja.
"Haha, paling baik kalau engkau memotong kedua kakiku untuk ditanam disamping keempat pot bunga, tentu akan merupakan rabuk paling subur dan kelak kamelia putih ini pasti akan mekar dengan indah dan sebesar njiru. Wah, tentu akan sangat tjantik dan bagus, ia baguuuus sekali!"
Demikian Toan Ki meng-olok2.
"Tidak perlu kau membual,"
Sahut Ong-hudjin dengan mendongkol.
"Dimana letak kebaikan dan kedjelekan empat djenis bunga kameliaku ini, tjoba kau katakan lebih dulu. Bila uraianmu beralasan dan dapat diterima, mungkin aku akan dapat menerima engkau dengan hormat."
"Ong-hudjin,"
Segera Toan Ki berkata.
"engkau bilang keempat djenis kamelia ini bernama 'Moa-gwe', sebenarnja engkau telah salah besar. Satu diantaranja djusteru bernama 'Ang-tjeng-soh-kwe' (berdandan sederhana dengan pupur merah) dan satu djenis lagi bernama Tjoa-boa-bi-djin-bin' (mentjakar luka muka orang tjantik)."
"Tjoa-boa-bi-djin-bin? Kenapa begitu aneh namanja? Djenis jang manakah?"
Tanja Ong-hudjin dengan heran.
"Haha, engkau ingin minta petundjuk padaku, engkau harus pakai aturan sebagaimana mestinja,"
Sahut Toan Ki dengan tertawa.
Ong-hudjin mendjadi kewalahan.
Tapi demi mendengar diantara bunga jang dapat dikumpulkannja itu satu diantaranja terdapat nama jang aneh menarik, ia mendjadi sangat girang.
Dengan tersenjum katanja kemudian.
"Baiklah! Nah, Siau Si, perintahkan kepada koki suruh menjiapkan perdjamuan di 'Hun-kim-lau' untuk menghormati Toan-siansing ini."
Siau Si mengia terus bertindak pergi.
Untuk sedjenak A Tju dan A Pik hanja saling pandang dengan melongo.
Sungguh mimpipun tak mereka pikirkan bahwa Toan Ki bisa lolos dari kematian, bahkan Ong-hudjin malah akan mendjamunja sebagai tamu terhormat.
Dalam pada itu Ong-hudjin telah memberi perintah pula kepada pelajan jang mendjindjing tiga buah kepala manusia itu agar ditanam ditepi kamelia merah didepan rumah 'Ang-he-lau', Segera pelajan itupun mengia dan pergi.
Habis itu, barulah Ong-hudjin berkata kepada Toan Ki.
"Marilah silahkan datang kekediamanku, Toan-kongtju!"
"Untuk mana tentu akan mengganggu ketenteraman Hudjin, harap suka dimaafkan,"
Sahut Toan Ki.
"Atas kundjungan Toan-kongtju jang serba pandai, sungguh Man-to-san-tjheng kami bertambah tjerlang-tjemerlang,"
Kata Ong-hudjin pula.
Begitulah diantara njonja rumah dan tetamunja itu saling mengutjapkan kata2 merendah sambil berdjalan kedepan.
Suasananja sama sekali sudah berubah, kalau tadi A Tju dan A Pik kebat-kebit menguatirkan keselamatan Toan Ki, adalah sekarang mereka mendjadi lega dan mengikut dari belakang.
Tapi mereka kenal watak Ong-hudjin jang susah diraba, sekarang sikapnja ramah-tamah, tapi sebentar lagi bisa berubah mendjadi gusar dan kasar.
Maka mereka tetap berkuatir bagi Toan Ki entah bagaimana djadinja nanti.
Sesudah menjusur rimba pohon bunga jang lebat, achirnja Ong-hudjin membawa Toan Ki sampai didepan sebuah gedung bertingkat jang ketjil mungil.
Pada papan dibawah emper rumah itu Toan Ki melihat tertulis tiga huruf "Hun-kim-lau".
Disekitar rumah itupun penuh tertanam pohon kembang kamelia.
Tapi bunga sebanjak itu kalau dibandingkan kamelia jang terpelihara di Tayli, maka nilainja boleh dikata tidak berarti, paling2 djuga tjuma kelas tiga atau empat sadja.
Dibandingkan gedung indah itu sesungguhnja tidak serasi.
Sebaliknja Ong-hudjin merasa sangat bangga, katanja.
"Toan-kongtju, kamelia dinegerimu Tayli sangat banjak, tapi kalau dibandingkan dengan tanamanku ini mungkin masih djauh ketinggalan."
Toan Ki mengangguk, sahutnja.
"Kamelia seperti ini memang tiada seorangpun jang menanam di Tayli kami."
"O, ja?"
Semakin Ong-hudjin baugga dan ber-seri2.
"Memang,"
Toan Ki menegas.
"Seorang desa jang paling bodoh sekalipun di Tayli kami djuga tahu bila menanam bibit bunga jang djelek seperti ini akan merosotkan harga diri" .
"Apa katamu?"
Seru Ong-hudjin tjepat dengan wadjah berubah.
"Djadi kau maksudkan Teh-hoa jang kutanam ini semuanja bernilai rendah? Ah, engkau ini berkata ke keterlaluan" .
"Djika engkau tidak pertjaja, terserahlah!"
Sahut Toan Ki. Ia tuding setangkai Teh-hoa atau kamelia jang berwarna pantjawarna didepan rumah itu dan berkata pula.
"Ini, seperti djenis ini tentu kau pandang paling berharga bukan? Ehm, pagar kemala jang mengelilingi bunga itu memang benar2 barang berharga dan sangat indah."
Ia hanja mengagumi kebagusan pagar kemala jang mengelilingi bunga dan tidak memudji bunganja, hal ini sama seperti memudji keindahan badju seorang wanita, tapi tidak memudji akan ketjantikan orangnja.
Baca Juga: Pendekar Bego 1
Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 9