Ceritasilat Novel Online

Keajaiban Negeri Es 4

Eps 4 Keajaiban Negeri Es - Khu Lung

Baca online Keajaiban Negeri Es - Khu Lung

Cersil Keajaiban Negeri Es - Khu Lung.

Dengan terkejut Koh-tiok memandang Sebun Jui-soat seolah-olah tidak percaya kepada apa yang telah terjadi itu.

"Sekarang tentunya kau tahu di mana pedangku?"

Ucap Sebun Jui-soat dengan dingin. Koh-tiok ingin bicara, tapi hanya terbatuk-batuk saja.

"Pedangku berada di tanganmu, pedangmu adalah pedangku,"

Kata Sebun Jui-soat pula.

Koh-tiok meraung, ia melolos pedang lagi.

Ketika pedang tercabut dari dadanya, darah segar lantas menyembur seperti air mancur.

Sebun Jui-soat tetap tidak bergerak, darah segar muncrat sampai di depannya dan jatuh berhamburan, ujung pedang juga menyambar ke depannya dan melambai ke bawah.

Waktu Koh-tiok ambruk, Sebun Jui-soat juga tidak memandangnya, yang dipandangnya ialah Liok Siau-hong.

"Kausuruh orang mengundangku dan aku sudah datang!"

Kata "Kutahu kau pasti datang."

Kata Siau-hong.

"Sebab aku berhutang budi padamu."

"Yang lebih penting, sebab engkau adalah sahabatku."

"Biar pun kita adalah sahabat, tapi inipun merupakan penghabisan kalinya."

"Penghabisan kali?"

Siau-hong menegas.

"Ya,"sudah kubayar lunas hutangku padamu."

Ujar Jui-soat dengan dingin.

"Aku tidak ingin hutang lagi padamu, juga tak mau kau berhutang padaku, maka....."

"Maka lain kali biar pun kau lihat aku dibunuh orang juga takkan turun tangan menolong lagi,"

Tukas Siau-hong dengan tersenyum getir.

Sebun Jui-soat hanya memandangnya dengan dingin tanpa menyangkal.

Lalu dia melangkah pergi dan menghilang di balik kabut secara misterius, serupa munculnya tadi secara mendadak.

Koh-siong tidak bergerak, sampai lama sekali ia tetap tak bergerak, seolah-olah benar telah berubah sebatang "koh-siong"

Atau cemara kering.

Kabut semakin tebal, sampai jenazah Koh-tiok yang cuma beberapa tombak jauhnya itu tidak terlihat lagi.

Tentu saja bayangan Sebun Jui-soat sudah menghilang sejak tadi.

Tiba-tiba Koh-siong menghela napas, katanya.

"Orang ini bukan manusia, pasti bukan."

Siau-hong tidak menyangkal, juga tidak membenarkan.

Ilmu pedang seorang kalau sudah terbaur dengan jiwa-raganya, maka orangnya kan sudah mendekati 'Sin' atau dewata.

Tiba-tiba sinar mata Liok Siau hong memancarkan semacam perasaan simpatik dan sedih.

Dapat juga Koh-siong menyelami perasaan Siau-hong itu, tiba-tiba ia bertanya dengan dingin.

"Kau bersimpati padanya?"

"Simpatiku bukan kepadanya,"

Jawab Siau-hong. Bukan dia?"

Koh-siong menegas.

"Dia sudah beristri dan beranak, mestinya kukira dia sudah berubah menjadi seorang."

"Namun dia tidak berubah."

"Ya, dia tidak berubah."

"Pedang kan benda abadi yang takkan berubah. Jika orangnya sama dengan pedangnya, mana bisa dia berubah?"

Siau-hong menghela napas. Pedang takkan berubah selamanya, pedang juga akan melukai orang selamanya.

"Seorang perempuan kalau sudah menjadi isteri pedang tentu hidupnya takkan enak,"

Kata Koh-siong.

"Kukira begitu,"

Ujar Siau-hong.

"Makanya simpatimu kepada isterinya."

Kembali Siau-hong menghela napas gegetun. Koh-siong memandangnya lekat-lekat, katanya kemudian.

"Di antara kalian pasti ada pengalaman yang sedih, sangat mungkin isterinya adalah sahabatmu, kenangan lama yang mengharukan maka kau ..."

Baru kata "kau"

Terucapkan, serentak pedangnya juga bergerak secepat kilat menusuk leher Liok Siau-hong.

Leher adalah bagian mematikan, saat ini juga merupakan kelemahan jiwa Siau-hong yang lagi mengenangkan masa lampau.

Koh-siong telah memilih kesempatan yang paling tepat untuk turun tangan.

Pedangnya terlebih cepat daripada pedang Koh-tiok, jaraknya dengan Liok Siau-hong juga sangat dekat, serangan kilat ini jelas serangan maut, untuk ini dia yakin sepenuhnya.

Cuma sayang, ia melalaikan sesuatu.

Yaitu, lawannya bukan orang lain, tapi Liok Siau-hong.

Pada saat sinar pedang berkelebat, pada detik yang sama tangan Siau-hong juga bergerak, hanya dua jarinya yang digunakan dan menjepit dengan pelahan.

Sukar untuk dilukiskan betapa cepat dan ajaibnya jepitan tangan Siau-hong itu Begitu sinar pedang lenyap, tahu-tahu ujung pedang juga sudah terjepit di tengah jari Siau-hong.

Koh-siong menarik pedangnya dan menarik lagi.

Tapi pedang tidak bergeming.

Gemetar Koh-siong karena takut, mendadak ia lepas tangan dan melompat mundur sejauhjauhnya.

Tenaga dan kecepatan lompatan ini juga sukar untuk dibayangkan, sebab ia menyadari saat ini menyangkut mati hidupnya.

Kekuatan manusia yang timbul pada saat menghadapi pilihan antara hidup dan mati memang sukar untuk dibayangkan orang.

Siau-hong tidak mengejar, sebab pada saat itu juga diketahuinya di tengah kabut tebal sana muncul lagi sesosok bayangan manusia.

Bayangan yang remang, lebih remang daripada kabut dan sukar diraba apa sesungguhnya.

Gerak cepat Koh-siong itu mendadak berhenti dan anjlok ke bawah, tenaganya seperti runtuh mendadak dalam sekejap itu, runtuh seluruhnya.

Sebab dia juga sudah melihat orang itu, orang yang serupa hantu itu.

"Bluk" , tokoh kelas tinggi dunia persilatan dengan Ginkangnya yang hebat ini mendadak jatuh ke tanah serupa sepotong batu yang terbanting, lalu tidak bergerak lagi. Tampaknya bukan cuma tenaganya yang runtuh habis-habisan, bahkan jiwanya juga sudah runtuh, tamat. Keruntuhan yang mendadak ini apakah lantaran dia melihat pendatang ini? Apakah pendatang ini membawa semacam kekuatan yang dapat membuat keruntuhan dan kematian orang? Kabut belum buyar, orang itu juga belum pergi. Orang dalam kabut itu seperti sedang memandang Liok Siau-hong dari jauh. Siau-hong juga memandangnya dan dapat melihat matanya. Sukar untuk dilukiskan bagaimana mata orang itu.

"Liok Siau-hong?"

Tegur orang dalam kabut itu tiba-tiba.

"Kau kenal diriku?"

Jawab Siau-hong.

"Bukan saja kenal, bahkan sangat berterima kasih."

"Terima kasih?"

"Ya, terima kasih mengenai dua hal. Selain terima kasih karena engkau telah menumpas anggota kami yang berkhianat dan musuh dari luar, juga berterima kasih karena engkau bukan musuhku."

Siau-hong menarik napas dalam-dalam, ucapnya.

"Jadi engkau ..."

"Aku she Giok,"

Kata orang itu.

"Jadi engkau Giok Lo-sat dari barat?"

Orang di tengah kabul mengiakan.

Kabut berwarna putih kelabu, samar-samar Giok Lo-sat juga kelihatan putih kelabu, serupa asap yang mengambang seperti ada seperti tak ada.

Sesungguhnya dia manusia atau hantu?

Tiba-tiba Siau-hong tertawa dan menggeleng, katanya.

"Sebenarnya sudah harus kupikirkan sejak tadi."

"Pikirkan apa?"

Tanya Giok Lo-sat.

"Tentang dirimu, bahwa kematianmu hanya sebagai kedok saja."

"Kenapa perlu kulakukan hal ini?"

"Sebab engkau adalah ketua Lo-sat-kau, tentunya kau harapkan agamamu akan berkembang dan takkan musnah untuk selamanya."

Giok Lo-sat diam saja, diam berarti membenarkan.

"Akan tetapi organisasi Lo-sat-kau sudah teramat besar, dengan sendirinya anggotanya juga meliputi berbagai unsur yang ruwet. Pada waktu hidupmu tentu tidak ada yang berani berkhianat, bila engkau meninggal, kau sangsi apakah semua anggota akan tetap setia kepada anak-cucumu?"

"Emas yang paling murni saja tetap ada kotorannya, apalagi manusia,"

Ujar Giok Lo-sat.

"Karena kau tahu di antara pengikutmu itu pasti ada yang tidak setia padamu, agar pondasi yang kau tinggalkan bagi anak-cucumu ini tetap kuat. unsur perusak ini harus kau temukan selagi engkau masih hidup."

"Pada waktu engkau hendak menanak nasi, bukankah butiran pasir dalam beras harus kau buang lebih dulu?"

Kata Giok Lo-sat.

"Tapi kau tahu usaha ini bukan pekerjaan mudah, ada biji pasir yang berwarna putih dan sukar untuk dibedakan di tengah beras. Mereka baru akan kelihatan dengan jelas bilamana mereka merasa tiada sesuatu lagi yang perlu ditakuti."

"Selama aku belum mati, tentu mereka tidak berani bertindak,"

Tukas Giok Lo-sat.

"Tapi sayang, bukan urusan gampang menghendaki kematian mu, sebab itulah engkau sendiri lantas pura-pura mati."

"Tipu muslihat kuno ini masih hidup sampai sekarang, justru lantaran dia selalu berhasil."

"Tampaknya sekarang tipu muslihatmu ini sudah sukses, bukankah engkau sangat gembira?"

Tanya Siau-hong dengan tertawa. Meski tertawa, namun suaranya seperti mengandung ejekan. Dengan sendirinya Giok Lo-sat dapat merasakannya, segera ia balas bertanya.

"Mengapa aku tidak boleh bergembira?"

"'Sekalipun usahamu telah sukses, akan tetapi bagaimana dengan anakmu?"

Tanya Siau-hong.

Mendadak Giok Lo-sat tertawa, tertawa seram, serupa orangnya, suara tertawa yang sukar diraba, suara tertawa yang kedengarannya juga penuh mengandung ejekan.

Siau-hong tidak mengerti mengapa Giok Lo-sat masih dapat tertawa begini.

"Haha, jika kau sangka orang yang mati di tangan mereka itu adalah putraku sesungguhnya, maka jelas engkau terlalu rendah menilai diriku,"

Kata Giok Lo-sat kemudian.

"Memangnya orang yang dibunuh mereka itu bukan Giok Thian-po yang sesungguhnya?"

"Yang mati itu memang Giok Thian-po yang sesungguhnya, cuma Giok Thian-po bukanlah putraku."

"Sudah sekian puluh tahun mereka menjadi pengikutmu, masa siapa putramu saja tidak mereka ketahui?"

Dengan perlahan Giok Lo-sat menjawab.

"Soalnya, putraku sendiri pada saat dilahirkan lantas bukan putraku lagi."

Liok Siau-hong merasa bingung.

"Kutahu engkau takkan mengerti urusan ini, sebab engkau bukan ketua Lo-sut-kau dari barat."

"Apabila aku menjabat ketuanya?"

Tanya Siau-hong.

"Jika kau jadi ketua Lo-sat-kau, tentu kau tahu seorang yang telah menduduki tempat setinggi itu pasti sukar untuk mendidik anaknya sendiri, sebab urusan yang harus dikerjakannya terlalu banyak."

Sampai di sini mendadak suaranya berubah berduka, katanya pula.

"Perempuan yang melahirkan anak bagiku itu, pada hari melahirkan juga dia lantas meninggal, bilamana seorang anak dilahirkan sebagai calon ketua Lo-sat-kau di kemudian hari, tapi tidak dapat lagi mendapatkan didikan ayah-bundanya. Lalu bagaimana jadinya dia kelak?"

"Tentu saja akan jadi orang serupa Giok Thian-po itu,"

Kata Siau-hong.

"Nah, makanya pada hari ketujuh setelah anak itu lahir segera kuserahkan dia kepada seorang kepercayaanku untuk dididik pada hari yang sama itu aku pun menerima seorang anak lain sebagai putraku, rahasia ini sampai sekarang belum diketahui oleh siapa pun."

"Mengapa sekarang kau beritahukan padaku?"

"Sebab kupercaya padamu."

"Kita kan bukan sahabat?"

"Justru lantaran kita bukan musuh, juga bukan sahabat, maka kupercaya penuh padamu."

Kembali sinar mata Giok-lo-sat menampilkan rasa ejekan.

"Jika kau jadi ketua Lo-sat-kau dari barat, tentu engkau akan paham maksudku ini."

Liok Siau-hong paham.

Ada sementara orang yang namanya sahabat terkadang jauh lebih menakutkan daripada musuh.

Tapi meski dia sendiri juga berpengalaman pahit begitu, namun dia bukan ketua Lo-sat-kau.

Liok Siau-hong tetap Liok Siau-hong.

Sinar mata Giok Lo-sat seperti menembus kabut dan menembus hati Liok Siau-hong, dengan tertawa ia berkata pula.

"Meski engkau bukan ketua Lo-sat-kau, tapi kutahu engkau sangat memahami diriku, sama halnya meski aku bukan Liok Siau-hong, tapi aku pun sangat memahami pribadimu."

Mau tak mau Siau-hong harus mengakui kebenaran hal ini.

Meski dia tidak melihat jelas wajah orang, tapi di antara mereka sudah timbul semacam saling pengertian dan saling menghormati yang sukar dipahami orang lain.

Giok Lo-sat seperti dapat menyentuh lagi jalan pikiran Siau hong, perlahan ia berkata pula.

"Aku bersyukur engkau bukan musuhku, sebab dapat kurasakan sesuatu yang sangat menakutkan."

"Urusan apa?"

Tanya Siau-hong.

"Engkau adalah orang yang paling menakutkan yang pernah kulihat selama hidup ini. Apa yang dapat kau lakukan banyak yang tidak dapat kukerjakan, sebab itulah, kedatanganku ini sebenarnya hendak membunuh dirimu."

"Dan sekarang?"

Tanya Siau-hong.

"Sekarang aku cuma ingin bertanya sesuatu padamu."

"Silakan tanya."

"Sekarang kita bukan sahabat, juga bukan musuh, tapi bagaimana kelak?"

"Kelak semoga juga begini."

"Sungguh engkau berharap demikian?"

"Sungguh,"

"Namun tidaklah mudah untuk mempertahankan hubungan baik begini."

"Kutahu."

"Engkau tidak menyesal?"

Siau-hong tertawa, katanya.

"Aku pun berharap engkau mengerti sesuatu."

"Coba katakan."

"Selama hidupku ini banyak juga kutemui orang yang menakutkan, tapi tiada satu pun yang lebih menakutkan daripadamu."

Giok Lo-sat tertawa.

Waktu dia mulai tertawa jelas dia masih berada dalam kabul, tapi waktu suara tertawanya berkumandang, tahu-tahu bayangannya sudah menghilang.

Tiba-tiba Siau-hong merasa dirinya seolah-olah menghilang juga di tengah kabut.

Ia tidak tahu apa yang telah dilakukannya ini berhasil atau gagal?

T A M A T

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Badik Buntung 6

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert